Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Petualangan Seks Liar Janda Pembokat bi Resti dengan Anak Majikan 'Jumbo'

Petualangan Seks Liar Janda Pembokat bi Resti dengan Anak Majikan 'Jumbo'

Petualangan seks antara bi Resti, seorang janda dan bekerja sebagai pembokat, dengan mas Bagas. Pria muda berbadan atletis yang awalnya seorang pemuda yang cuek dan culun, akhirnya menjadi seorang laki² perkasa dan menjadi pemuas nafsu wanita² yang haus kepuasan seks.

Pak Andi (60thn), yang menikahi Bu Siti (48thn), memiliki anak bernama Bagas (33thn), panggilan Gas. Sebuah keluarga kecil yang terbilang berkecukupan. Mereka tinggal di sebuah perumahan yang cukup ternama di kota Malang. Pak Andi sendiri adalah seorang wirausahawan di bidang kuliner, beliau pemilik restoran ayam bakar yg memiliki 4 cabang di kota Malang dan 2 cabang di kota Batu.

Cerita Sex Gatotkaca Perkasa Cerita Sex Gatotkaca Perkasa – Bertubuh tinggi, tambun dan berkumis. Beliau pensiunan militer berpangkat. Jadi pesangonnya yang cukup besar beliau gunakan untuk mengembangkan usaha kuliner yang awalnya hanya 2 cabang. Sedangkan Bu Siti sendiri seorang ibu rumah tangga yg cantik, putih, berjilbab panjang dan tubuhnya selalu terawat. Tentu saja perawatannya tidak murah, beliau juga rajin berolahraga, sehingga di usianya yang sudah kepala 4 ini, tubuhnya masih segar dan singset.

Mas Gas sendiri bekerja sebagai ASN disebuah instansi pemerintah, dan baru dia jalani selama 2 bulan karena mutasi dari tempatnya bekerja dulu di luar jawa. Termasuk pegawai yang rajin dan selalu hadir tepat waktu sehingga jadi pegawai teladan di instansi tempat dia bekerja.

Wajahnya sih standar, gak jelek gak ganteng, tapi dia putih, tinggi, berotot karena rajin fitness mengikuti ibunya yang juga rajin berolahraga, pokoknya idaman tiap wanita yang menginginkan pasangan yang macho dan perkasa. Namun di usianya sekarang ini, belum menemukan jodoh, padahal di kantornya, banyak pegawai² wanita yang kesengsem, bahkan yang sudah ibu².

Tentu saja, mereka tertarik bukan karena wajahnya, namun body nya yang atletis, dan tentu saja, otongnya yg tergolong jumbo. Begitu menonjol mumpluk di selangkangannya saat memakai celana kantor. Saat jam masuk kantor, iapun jadi idola rekan² sekantornya, termasuk bu Erni (42thn), seorang ibu rumah tangga, yang menjabat kepala bagian humas yang ruangannya bersebelahan dengan meja tempat mas Gas bekerja.

“Maaah… Gas berangkat dulu ya”, suara mas Gas yang cukup lantang terdengar oleh mamanya yang sedang ada di dapur.

“Gak sarapan dulu nak, ini mama bikin nasgor?” Sahut mamanya yang berjilbab biru muda lebar, memakai rok warna biru donker, nampak serasi dan rapi. Sibuk membuatkan kopi setelah selesai memasak nasgor untuk sarapan anggota keluarganya tercinta.

“Nggak mah, Gas takut telat”. Gampang ntar ma, Gas bisa order di gofood”. Timpalnya sembari setengah berlari menuju pintu depan.

“Dasar anak jaman sekarang, susah betul disuruh sarapan. Dibelain bangun pagi², makanan siap, ditinggal gitu aja”, gerutu bu Siti sambil membawa kopi untuk sang suami ke meja makan.

Pak Andi yang keluar dari kamar rupanya mendengar omelan istrinya, mencoba menenangkan. “Maaaah..mah.. anak kita udah gede, lagian dia kan gak tiap hari gak sarapan di rumah”, sahut pak andi sembari menarik kursi meja makan.

“Papah selalu aja belain Gas, kapan belain mamah?”, balas bu Siti manja.

“Hahahaha, kamu ini maaaah..mah.. terbaik, the best wife. Selalu manja-manjaan dengan papah, bikin papah makin tresno (makin cinta).

“Heleeeeeh…. guombal terus kamu ini pah. Hihi..”, bu Siti terkekeh mendengar pujian pak Andi yang tengah duduk sambil menyalakan rokok. “Nyoh kopinya pah, tapi dimakan dulu nasgor buatan mamah ya!, biar gak kena maag”.

“Wah..wah.. aromanya sedep tenan (sedep bener) mah. Istriku memang top markotop. Jadi makin guemeeees papah ini”, sambil genit, beliau menepuk pelan bokong semok bu Siti yang tengah berdiri di sampingnya.

“Aduhh, pah, loro looo (sakit loo), kamu ini, sukanya nyeples (menepuk) bokongku pah”. Ucapnya dengan nada genit.

“Haaahahaha… lha abis, bokongmu itu gemesin mah, guede kayak semangka”. Tawa pak Andi renyah.

“Nyooooh…nyoooh… ceplesen maneh nyoooh… ben puas (nih..nih..tepok lagi nih..biar puas?” Sembari tersenyum² mengarahkan bokong besarnya ke tangan pak Andi.

“Nesuuuuu..nesuuuu. sini tak remes² ae (sini kuremas² aja), ben tambah menthek (biar makin montok)”, goda pak Andi sembari meremas² bokong gede bu Siti yg tertutupi jilbab lebarnya. Meski menggunakan jilbab lebar panjang, karena berbahan sutra, membuat bongkahan dan belahan pantat bu Siti samar² terlihat, apalagi jika ia menungging.

“Uuuh… paaah. Papah ini, masih pagi udah ngerangsang mamah aja. Wes ah (udah ah), dimakan ini nasgornya ya pah, mamah mau ke rumah bu Warni, mau bikin kue sama ibu² pkk yang lain”.

“Lah mamah iki, nafsuan. Baru juga diremas remas. Hahaha… ya wes mah, siap-siap sana. Papah tak sarapan trus nyruput kopi, trus mau ngecek cabang yang di Malang.” Ucap pak Andi.

“Iyaa iyaaaaa pah, jangan pulang sore² ya, mamah mau minta antar beli benang di citra. Klo sore wes tutup toko e (kalo sore sudah tutup tokonya)”, sahut bu Siti sambil berlalu ke arah kamar.

“He..em…” sahut pak Andi sembari menyuapkan nasgor ke mulutnya.

Begitulah keseharian keluarga kecil pak Andi, selalu harmonis dan saling bercanda. Namun sifat senang bercanda mereka tidak menurun ke Gas, ketika melihat bapak ibunya bercanda, yon hanya sesekali melempar senyum. Pembawaan sifat pemalu dari kecil, terbawa sampai dewasa.

Sementara itu…

Tampak mas Gas datang dengan berpakaian seragam ASN coklat necis memarkir kendaraanya, lalu merapikan baju dan berkaca di spion motornya, sejurus kemudian, ia melangkah menuju pintu kantornya. Klek…klek…klek…klek, suara sepatu pantofel kinclong yang dipakai yon beradu dengan lantai keramik.

“Pagi semuaaaa…”, sapanya.

“Pagiiii..pagi…pagiii mas Gas”, sahut Ambar, Tika dan Ajeng bebarengan seperti paduan suara. 3 wanita berjilbab gaul rekan kerja mas Gas.

Mas Gas pun melempar senyum sesaat kepada ketiga wanita cantik itu. Saat memalingkan muka dan berjalan menuju mejanya, ketiga wanita cantik itupun saling berbisik satu dengan lainnya.

“Gatotkacamu dateng tuh”, bisik Tika ke Ambar.

“So pasti, badannya ituloh, ssssh…. bikin merinding, kamu yo suka aja lo”, balasnya sambil berbisik ke Tika.

Ambar mematung, tak henti² kedua bola matanya yang dihiasi bulu mata lentik memandang tubuh mas Gas yang berjalan menuju mejanya. “Bokongnya ituloh, semok, duuuh… deloken talah (lihat aja tuh), gumamnya.

“Halah, badannya apa badannya? Hihihi”, sahut Ajeng. “Metuntung yo gaesss… (menonjol ya gaesss), marai kepingin (bikin kepengen)”.

“Hihi, rudale guede pol, lemes ae semunu, opomaneh lek ngaceng, dowo e mendah (hihi, rudalnya gede banget, lemes aja segitu, apalagi kalo tegang, gak kebayang panjangnya)”, “lha iyo, duuuh kah githokku merinding (lha iya, aduuuh bulu kuduk ku merinding)”, “mesti njeduk senep nikmat (pasti mentok mules nikmat)”, mereka saling sahut menyahut melempar pandangan mesum satu dengan yang lain. 3 wanita cantik bertubuh langsing dan berjilbab itu nampak bernafsu sekali manakala mas Gas datang ke kantor.

Meski begitu, harapan mereka akan gayung bersambut, seperti pupus, karena mas Gas terlihat pemalu dan pendiam, lebih ke cuek. Mungkin karena ia belum pernah sama sekali dekat dengan wanita manapun. Berpacaran pun sewaktu sma, hanya sebatas chat dan makan. Itupun hanya sekali ia berpacaran dan tergolong singkat, karena sifat pemalu dan dingin nya mas Gas, membuat sang mantan pergi meninggalkannya.

Dari ke 3 wanita rekan kerjanya mas Gas, memang belum ada yang berani mendekati, maklum karena mas Gas juga baru beberapa bulan bekerja disana.

Lain halnya dengan bu Erni, wanita paruhbaya itu nampak dengan santainya mengobrol dengan Gas. Meskipun sudah bersuami, terkadang ia suka ngobrol dan menggoda mas Gas dengan topik² yang sedikit menjurus ke arah seksual. Maklum, semenjak suaminya didagnosa stroke ringan 2 tahun lalu, hasrat seksualnya jadi tidak terpenuhi. Ia manfaatkan jabatannya untuk lebih leluasa dan sering memanggil mas Gas ke ruangannya.

Mengetahui kedatangan mas Gas, bu Erni segera meraih gagang telpon di ruangannya. Sesaat setelah mas Gas duduk, telpon link di meja mas Gas berdering.

Kriiiing…kriiiing…kriiing.. mas Gas pun langsung dengan cepat mengangkat telpon itu yang ternyata panggilan dari bu Erni.

“Halo, pagi mas Gas, nanti jam setengah sembilan, tolong ke ruangan saya ya!”, perintahnya kepada Gas.

“Ehh pagi juga bu, baik bu, siap”, jawab mas Gas dengan nada tegas, menandakan kepatuhannya kepada atasan. Itulah yang menjadikan mas Gas segera dimutasi ke Jawa, karena dia begitu cekatan dan patuh kepada atasan, cepat menyelesaikan tugas² kantornya.

Di meja seberang mas Gas, nampak ketiga rekan kerja wanitanya kembali bergunjing saat mas Gas menerima telpon dari bu Erni.

“Ssst…sssst… tuh liat mas Gas, makin hari makin sering di telpon sama bu Erni, kayak penting² aja”, bisik Ajeng ke Tika dan Ambar. Ketiganya saling mendekatkan badan agar tidak didengar oleh Gas. Seperti anak sd yang sedang ujian, tubuh ketiga wanita itu dibungkukkan mendekati meja, namun kepala mereka saling menoleh satu dengan lainnya sambil berbisik².

“He em, kita kalah berani sm bu Erni, asem…”, sahut Tika.

“Iya tuh, bu Erni ganjen, udah bersuami juga masih genit”, sahut Ambar. “Mas Gas juga sih, penurut banget”, imbuhnya.

“Jangan-jangan, mas Gas udah kena pelet, hihihi…”, canda Tika menimpali.

“Ehh bisa jadi tuh, body bu Erni kan montok, lagian denger kabar slentingan, suami bu Erni sakit diabetesnya makin parah, jadi loyo deh”. Ungkap Ajeng kepada kedua temannya.

“Masa sih? Tau darimana kamu jeng?”, tanya Tika penasaran.

“Tiga hari yang lalu, bu Erni kan pulang awal, katanya mau ke rumah sakit, jemput suaminya yang checkup. Aku tau dari pak satpam waktu jam istirahat”, jelasnya.

“Waduh, alamat mas Gas jadi budak seks bu Erni tuh. Tapi aku gak yakin deh bu Erni bisa dapetin mas Gas, secara mas Gas kan pemalu”, sahut Ambar. Sering memang bu Erni memperlihatkan gelagat menaksir mas Gas, namun ditanggapi Gas biasa aja.

“Ehemmmm…ehemm…”, suara batuk yang dibuat-buat oleh mas Gas, karena mendengar sayup² ketiga wanita itu sedang gosipin dia.

Karena merasa ketahuan, ketiga wanita itupun langsung memperbaiki posisi duduknya, seolah-olah, tidak terjadi apa².

Jam dinding diatas pintu masuk kantor menunjukkan pukul setengah sembilan, mas Gas ingat bahwa bu Erni menghendakinya ke ruangan, iapun segera beranjak dari kursi, dan mengetuk pintu ruangan bu Erni.

Tok..tok..tok.. Tampak bu Erni dari dalam ruangan mengangguk, menandakan agar Gas memasuki ruangannya. Dengan sopan dan menunduk, Gas mulai meraih gagang pintu, membukanya sembari menunduk, “permisi bu”, Ucapnya.

“Iya mas Gas, silahkan masuk”, jawab bu Erni. Gas pun melangkah memasuki ruangan, ia masih menundukkan pandangan tanda kesopanan. “Mas Gas, santai aja, jangan kaku seperti itu terus, kan udah berulang kali saya panggil ke ruangan saya”, ucap bu Erni sembari tersenyum dan memandang tubuh Gas yang berotot dan menonjol di bagian selangkangannya. Hampir 20 detik lamanya, mata bu Erni tertuju pada tonjolan selangkangan Gas. Karena tubuh Gas yang masih berdiri tegap di depan bu Erni, menunggu untuk dipersilahkan duduk.

“Ehmm…ehm…bu…”, sapa Gas

“Maaf bu… bu Erni…buu…”, kembali Gas menyapa diikuti sadarnya bu Erni dari pandangan matanya yang nanar. “Eeeh… iyaaa..iya mas Gas, duduk aja loh. Kok masih berdiri dari tadi”, dalih bu Erni yang salting dan segera mengalihkan pandangan ke wajah Gas. “Berulangkali masuk ruangan saya, masih aja mas Gas nunggu sy suruh duduk”, tegas bu Erni seolah takut ketahuan jika ia terpesona dengan terong si Gas yang super.

“Ahh iya bu, saya hanya berusaha sopan aja dengan ibu”, jawabnya. Mas Gas pun segera duduk tanpa ada fikiran aneh² terhadap bu Erni.

Diluar nampak, ketiga teman kerja wanita Gas, mulai menggosip lagi. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti, topik yang mereka bicarakan tak lain adalah teman kerja mereka, mas Gas. Karena tampak dari gelagat mereka, sesekali melihat ke arah ruangan bu Erni sembari saling berbisik satu dengan yang lain.

Sementara itu, di ruangan bu Erni, Gas yang begitu sopan, duduk di depan bu Erni, nampak memperhatikan semua yg bu Erni ucapkan sembari mengangguk.

“Mas Gas, tujuan ibu panggil mas Gas kesini, untuk meminta tolong”, sambil jari jemari bu Erni memainkan pensil diatas meja.

“Oh nggeh bu (oh iya bu), maaf kalo boleh tau minta tolong apa ya?”, tanya mas Gas penasaran.

“Gini mas Gas, tempo hari kan saya ijin pulang awal, sy ijin untuk menjemput suami saya yg checkup ke rumah sakit, hasil diagnosa diabetes suami saya makin parah”, nampak raut muka bu Erni tertunduk lesu. Meski begitu, dalam hati bu Erni, tersimpan sebuah rencana mesum, karena tergila-gilanya dia dengan tubuh Gas dan tonjolan penggugah hasrat birahi itu.

“Oh iya bu? Sy baru tahu sekarang. Waktu itu saya hanya melihat jenengan (anda, kata² sopan untuk orang yg usianya lebih tua) nampak terburu² keluar kantor. Saya pikir ada urusan apa, ternyata ke rumah sakit to bu?”. Balas Gas dengan wajah serius memperhatikan apa yang diucapkan bu Erni.

“Iya mas Gas, memang saya sengaja gak kabar² ke orang kantor, saya hanya bilang ke bagian absensi dan pak satpam waktu itu, kalo saya ijin jemput suami di rumah sakit”, jelas bu Erni.

Gas pun hanya diam sambil tetap menyimak setiap kata2 yang keluar dari mulut bu Erni.

“Maka dari itu, saya meminta bantuan mas Gas untuk sehari dua kali menjenguk suami saya di rumah, pagi dan sore, mengambil obat di apotik seminggu sekali, lalu sekalian menyiapkan obatnya untuk suami saya biar tinggal minum. Karena tugas saya cukup padat sebulan ini dari divisi humas.” Jelas bu Erni. “Saya juga meminta tolong mas Gas, untuk membantu membuat laporan excel di rumah saya”, imbuhnya.

Dalam hati, bu Erni berharap, apa yang dia rencanakan menuai keberhasilan dengan kesanggupan Gas merespon positif keinginannya. Ditambah lagi, suaminya yang kini lebih sering bedrest, menambah peluang bu Erni untuk segera merasakan kenikmatan disodok rudal perkasa si Gas. Seolah melupakan kondisi suaminya yang sedang sakit dan dosa zina yang akan dia lakukan. serambi lempitnya mulai berkedut, otot² serambi lempitnya menarik² mengeluarkan sedikit cairan kewanitaan.

“Ooh begitu toh, ya kalo saya sih mau-mau aja bu bantu ibu, tapi, ijinnya gimana bu?” Tanya Gas kembali.

“Jangan kuatir mas Gas, saya sudah menghadap ke kepala kemarin, sy sudah ceritakan masalah saya dan rencana saya. Beliau menginjinkan mas Gas untuk membantu saya. Kan mas Gas juga baru awal disini dan pekerjaan mas Gas juga belum terlalu banyak, jadi nanti tugas mas Gas yang belum selesai di kantor, biar dibantu sama Ambar, Tika atau Ajeng. Nanti saya yang akan ngomong sama mereka”, tegas bu Erni. “Toh ijinnya mondar mandir juga kan gak seharian, sampai saya menunggu kabar bu Resti, calon pembantu rumah saya”, tambahnya.

“Lalu bu, untuk mengerjakan excelnya gimana?”, lanjut mas Gas penasaran.

“Ooh kalo itu, saya minta mas Gas untuk datang malam aja setelah isya’, itupun kalo mas Gas berkenan, soalnya saya lihat hasil kerja mas Gas menyusun laporan excel begitu bagus dan rapi, cepat lagi ngerjainnya”, jawab bu Erni. “Jangan kuatir juga untuk masalah bonus, nanti sy akan kasih tiap hari”. Imbuhnya. Dengan perasaan senang dan tidak curiga, mas Gas mengiyakan keinginan bu Erni.

“Oh begitu bu, baik klo memang ibu rasa saya mampu, saya akan bantu ibu, dengan senang hati bu. Tapi gimana dengan Tika, Ambar dan Ajeng, mereka kan juga bisa excel. Apa mereka gak cemburu?”, tanya mas Gas kembali.

“Ya klo kerja mereka lebih bagus dari mas Gas, gak mungkin dong saya minta tolong mas Gas untuk bantu saya, iya gak?” Dengan nada optimis meyakinkan mas Gas, bercampur dengan perasaan lega karena rencana mesumnya berhasil, bahkan sempat membuat serambi lempit bu Erni berkedut dan basah sedikit oleh lendir.

“Tapi nak Gas diam aja untuk urusan excel itu, karena mereka juga gak tau klo saya minta tolong mas Gas, bersikaplah seolah-olah tidak ada apa²”, sahut bu Erni meyakinkan.

“Oh begitu, baik bu, saya sih siap siap aja. Klo boleh tau, mulai kapan ya saya bantu jenengan?”, tanya mas Gas kembali.

“Klo untuk bantu antar dan siapkan obat, mas Gas mulai besok, kalo untuk yang bantu kerjakan excel, mas Gas bisa datang malam ini, gimana mas Gas apa mau bantu saya?” Kembali bu Erni meyakinkan.

“Oooh, baik bu. Mungkin ada yang lain barangkali bu?” Tegas mas Gas kembali.

“Hmm…bolehlah mas Gas bantu anu…”, pikiran mesum bu Erni kembali mondar mandir di dalam kepalanya hingga keluar kata² ‘anu’ tanpa sengaja. Sebenarnya ingin sekali dia berfantasi melakukan seks di kantor, ataupun di kamar mandi kantor. Begitu bernafsunya bu Erni akan mas Gas.

Ia juga membayangkan tubuh montoknya disentuh, payudaranya yang besar berukuran 38B diremas² sambil dikenyot bibir mas Gas yang seksi, diisap² puting nya yang berwarna coklat, dipijat lembut dengan tangan² kekar mas Gas. Namun karena sadar ada banyak cctv di ruangan itu, ia urungkan niatnya, dan ia mencoba dengan cara lain.

“Ya bu, bantu anu, anu apa itu?” Tanyanya lagi.

“Ahh nggak kok, bukan apa²” jawabnya dengan mata sedikit menggoda dan senyum mesumnya.

“Cukup itu aja mas Gas, mas Gas bisa kembali ke meja kerja lagi”, kembali bu Erni tersenyum dalam hati, merasa rencananya sudah 100% berhasil, serambi lempitnya pun kembali berkedut, payudaranya membusung dan ia mulai menurunkan tangannya ke bawah meja. Mulai menggaruk² selangkannya yang sudah basah sambil sedikit menggeliat keedanan.

“Baik bu, klo gitu saya ijin kembali bekerja”, balas mas Gas sembari berdiri dan menempatkan kembali kursi yang ia duduki, lalu berjalan keluar dari ruangan bu Erni. Iapun menutup pintu, lalu menoleh ke arah teman² kerja wanitanya, yang terlihat klincutan, lalu membetulkan posisi duduk mereka di depan laptopnya masing². Seolah seperti baru membicarakan sesuatu.

Tanpa perasaan curiga, mas Gas kembali duduk di mejanya dan mulai sibuk dengan laptopnya sendiri. Betul² seorang laki² yang cuek dan polos.

Waktupun berlalu, semua orang di ruangan itu larut dengan pekerjaanya masing², sampai pada akhirnya, jam menunjukkan pukul 15.45. Ngocoks.com Nampak ketiga teman kerja wanita mas Gas sibuk beberes sembari mematikan laptop, bersiap untuk pulang, sedangkan mas Gas sendiri masih asik di depan laptopnya. Tak berselang, Ambar yang berdiri duluan menyapa mas Gas, ia berpamitan untuk pulang duluan.

“Mas, Aku duluan yah, Jeng, Tik, aku duluan yah, udah dijemput ojol di depan”, ucap Ambar pada mereka sambil berdiri dan berlalu meninggalkan ruangan kantor.

“Iya mbak, hati²”, timpal mas Gas.

“Iyaaaa Mbar”, sahut Ajeng dan Tika hampir bersamaan.

Disusul Tika, “aku juga duluan ya mas, Jeng…”. “Iya mbak, hati² juga”, balas Gas. “Kamu pulang sama siapa Tik?”, sahut Ajeng. “Aku dijemput kakak ku Tik, katanya minta ditemenin ke Mall, kamu bawa motor lagi? katanya motor kamu rewel”, balas Tika sambil memasukkan kotak pensil dan flashdisk ke tasnya, “Iya Tik, ya udah duluan sana”, timpal Ajeng, Tika lalu melihat Ajeng, sambil mengedipkan mata lalu melirik ke arah mas Gas yang masih sibuk.

Menangkap isyarat itu, Ajeng lalu nampak senyum² menandakan rencana dadakannya untuk bisa minta tumpangan mas Gas pulang. “Pssst….”, balasnya ke Tika sembari menempelkan jari telunjuknya yang berkutek merah di bibirnya yang merah merona. Lalu nampak tersenyum dengan ditutupi telapak tangan kanannya.

Mas Gas mendengar jelas perkataan Tika yang sambil berjalan keluar ke arah pintu dan berlalu. Tapi ia diam dan cuek akan kondisi motor rewel si Ajeng, ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dalam hati Ajeng, “laki² ini cuek amat yah, denger motorku rewel tapi kok gak menawarkan sesuatu”, Ajeng pun nampak melamun dan memikirkan ide agar bisa numpang motor mas Gas.

Ia lantas berdiri dan berpamitan pulang. Entah apa yang ada dalam benaknya, karena ia langsung berjalan menuju pintu. Namun, ia tidak langsung menuju tempat motornya diparkir, ia menuju ke pos satpam, seperti hendak menanyakan sesuatu.

Setibanya di pos satpam, ia langsung menyapa pak Samsul, security favorit di kantor itu. Pak Samsul sendiri adalah pria tua yang ramah dan suka menolong, ia sering diminta tolong untuk membeli makanan, memfotokopi dokumen, dan lain² oleh karyawan disana, termasuk Ajeng, Tika dan Ambar. “Pak Sam, Ajeng mau nitip kunci motor yah, simpan dulu tapi jangan sampai ketahuan mas Gas, hihi”, katanya sambil terkekeh ke arah pak Samsul. “Loh..loh.. kok dititipin bapak mbak, lalu hubungannya apa dengan mas Gas? Memangnya jenengan gak pulang”, balas pak Samsul terheran².

“Aduuuh pak Samsul iniloh, lugu banget, aku pengen dianterin mas Gas paaaaaak… makanya aku nitip kunci ke pak Samsul, nanti aku ngakunya ke mas Gas klo kunciku ilang, besok pagi biar aku diantar bapak ke kantor, aku nitip sekalian motornya, hihi…”, jawab Ajeng.

“Owalaaaah gitu toh, iyaaa iyaa mbak, beres” sambil memasukkan kunci motor Ajeng ke saku celananya. Padahal motor Ajeng sendiri gak kenapa², rupanya kata² Tika tadi sebelum pulang sudah direncanakan oleh mereka bertiga, untuk bergantian minta boncengin mas Gas pulang. Namun sore itu, giliran Ajeng duluan karena menang suit saat mas Gas ada di ruangan bu Erni.

Akhirnya Ajeng pun kembali ke ruangan kantor, sambil berlagak buru² dan kebingungan, ia masuk ke kantor, lalu dengan wajah seolah kebingungan, bertanya ke mas Gas yang mulai membereskan laptop dan alat tulisnya. “Mas, liat kunci motorku gak? Mungkin jatuh disekitar sini, ada gantungan helo kitty nya mas.” Tanyanya.

Di ruangan bu Erni tampak kosong, rupanya bu Erni sudah pergi meninggalkan kantor sejak jam makan siang tadi. Entah ada urusan apa, mereka berempat juga tidak tau dan tidak bertanya² satu sama lain.

“Kunci motor? Nggak tuh mbak, ilang yah?” Balas mas Gas sambil berjalan mendekati Ajeng dan mengalungkan tas slempang miliknya. “Gak lupa naruhnya mbak?”, tanya mas Gas lagi ke Ajeng sambil menatap ke arah Ajeng yang bertingkah seolah sedang mencari kunci.

“Itu dia mas, aku terkadang suka lupa, hihi…, tapi perasaan tadi abis keluar beli makanan pas jam istirahat, udah kumasukkan lagi ke tas, tapi kucari di dalam tas kok gak ada yah…” sahutnya sambil berpura² mengobok² isi tasnya, disitu mas Gas melihat si Ajeng yang sedikit membungkukkan badannya, nampak payudaranya yang berukuran besar sedikit terombang-ambing di balik seragamnya.

Melihat itu mas Gas hanya diam tak bereaksi apapun. “Udah setengah 5 lagi, di rumah ada arisan abis maghrib, aku mesti buru² bantuin mamah siap², haduuuuuh….”. Dalam hatinya nampak senang, karena rencananya berhasil, karena mas Gas akhirnya menawarkan untuk mengantarkan Ajeng pulang.

“Mbak Ajeng jangan panik gitu, gini aja, pulang kuanterin aja, mau gak?”, sahut Gas. “Nanti motornya titipin aja pak satpam, klo udah ada waktu, atau besok, mbak kesini bawa kunci cadangan dari rumah”. Kata mas Gas berusaha menenangkan Ajeng, padahal ia tak tahu kalo itu adalah akal²an Ajeng agar bisa berduaan pulang dengan mas Gas.

“Ehhh…hmmmm…kalo gak merepotkan sih, sebenernya aku bisa aja pesen ojol, tapi klo jam sibuk gini, pasti lama nyampenya”, balas Ajeng. Sandiwara malu² di depan mas Gas, menutupi luapan kegembiraan dalam hatinya.

“Iya gak lah mbak, toh juga udah jam pulang dan masih 1 kota, y udah yuk buruan, udah setengah 5 lebih nih, katanya tadi mau bantu mamah siap2 arisan di rmh”, jawabnya. “ahh iya iya, yuk…”, sahut Ajeng. Keduanya pun beranjak dari ruangan kantor menuju parkiran. Mereka pun akhirnya pulang berduaan, Ajeng pun tak lupa memberi arahan sebelum pulang melewati jalan mana aja agar sampai ke rumahnya.

Setelah keduanya naik diatas motor, mas Gas kaget, karena di perutnya sudah ada tangan Ajeng yang melingkar. “Mas, aku pegangan yah, kan mau ngebut pulang, aku takut”, dalih si Ajeng sembari memeluk erat tubuh Gas. Harum parfum mas Gas makin membuat desiran² nafsu dalam diri Ajeng menyapa, memompa darah menuju otaknya hingga ia merasakan getaran² di dalam serambi lempitnya.

Sambil agak melamun, dalam hati Ajeng berkata “Duuuh mas Gas, sekel banget body mu mas, kamu idolaku banget mas, padahal dikit lagi aku turunin tanganku, aku bisa pegang tonjolan gede di celanamu itu, gemes pengen megang mas Gas sayang…”. Namun ia masih belum menemukan alasan agar bisa memegang rudal mas Gas yang memang sungguh menggoda nafsu wanita.

Ajeng hanya makin erat memeluk tubuh mas Gas, menempelkan payudaranya yang berukuran besar di punggung mas Gas.

“Mas Gas pun kaget, seolah tak percaya, ada bongkahan empuk 36D, kenyal dan besar yang menempel dan bergeser2 di punggungnya, dan sepasang tangan yang melingkar di perutnya, saling berkaitan jari jemarinya di bawah pusar mendekati selangkangannya.

“Ehhh mbak Ajeng, anu….” sontak ia kaget, lidahnya serasa kelu. Ia merasakan getaran² aneh, laju darahnya semakin kencang menuju otak, membuat isi dalam sempaknya mulai berkedut dan mulai mengembang. Padahal belum disentuh oleh tangan Ajeng.

“Iya mas, kenapa?”, tanya Ajeng.

“Anu mbak…anu… ahh gakpapa kok mbak”, jawabnya sambil keringat dingin tiba² muncul di keningnya. Mas Gas pun mulai menstarter motornya dan pergi meninggalkan kantor dengan agak ngebut. Pikirannya semakin dirasa aneh, rudalnya juga makin mengeras, berulangkali mas Gas selama perjalanan membetulkan posisi rudalnya hingga merasa nyaman.

Kini ia luruskan letak rudalnya sejajar dengan paha, hingga menimbulkan tonjolan yang membujur panjang, setengah panjang paha nya lebih dikit, kira² sekitar 21 senti an. Menampakkan lipatan kain yang berbentuk menyerupai rudal dibalik celananya.

Sadar kegelisahan mas Gas, Ajeng makin menempelkan bongkahan payudaranya yg besar, menekan² punggung mas Gas. Ia tahu rudal mas Gas pasti tegang, karena ia merasakan berulang kali mas Gas menurunkan tangan kirinya dari setang setir, untuk membetulkan posisi rudalnya yang menekan dari dalam kain celana dan sudah tegang.

Sesampainya di rumah, Ajeng pun turun dari motor, sambil sengaja menggesekkan payudara besarnya kembali ke punggung mas Gas. Iapun berdiri di samping mas Gas dan melirik ke arah bawah, ke arah selangkangan mas Gas sejenak. Ajengpun kaget dan melotot, tak mampu berkata apa², sambil menggigit bibir bawahnya, seolah kagum dan bernafsu. Nampak di depan matanya, ada tonjolan panjang dan tebal di kain celana mas Gas, berbentuk seperti rudal lengkap dengan kepala rudalnya dari arah selangkangan mas Gas, yang tak lain adalah rudal mas Gas yang tengah tegang mengeras.

“Alhamdulillah sdh sampai mbak”, kata mas Gas. Sembari melirik ke arah Ajeng, sadar Ajeng sedang memperhatikan paha kirinya, buru² mas Gas menutupi dengan tangan kirinya yang berotot. Keringat dingin pun dirasa mengalir dari kepala turun ke lehernya. Sadar gerakan tiba2 mas Gas menurunkan tangannya berusaha menutupi, Ajeng pun kaget dan buru² juga mengalihkan pandangan.

“Ehh iya mas, makasih banyak yah, Ajeng masuk dulu”, iapun segera pamit dan berlalu masuk ke dalam rumahnya. “kampreeeet, gede banget rudalnya, duuuh pengen banget ngerasain. Bener² beda dari rudal pacarku. Aiiiihhh… lom digenjot aja udah kerasa ngilu perutku. Liat aja bikin merinding…. uuuuh…”, ungkap Ajeng dalam hatinya.

Sambil menoleh ke arah Ajeng yang berjalan masuk, mas Gas pun pulang dengan hati berkecamuk bercampur malu. Belum pernah seumur hidupnya merasakan sensasi yang begitu aneh tapi menggairahkan. Yah memang jika lelaki normal, rudal laki² akan menegang otomatis saat pagi hari bangun tidur.

Tapi yang ia rasakan ini begitu berbeda. Dan desiran angin pun selama perjalanan pulang, menurunkan libidonya, menurunkan laju darahnya dan membuat rudalnya berangsur kembali ke ukuran normal, yah meski dikatakan normal, tetap aja, terbilang gede.

Sesampainya di rumah, ia disambut oleh ibunya yang sedang menyirami tanaman dan bunga favoritnya.

“Assalamualaikum mamah, Gas pulang”, sambil memarkir motornya di carport, disamping mobil pajero bapaknya.

“Walaikumsalam, sudah pulang le (le itu sebutan untuk anak laki² dalam bahasa jawa). Gmn di kantor hari ini”, balas ibunya sembari tetap mengarahkan selang ke kanan dan kekiri, agar semua tanamannya tersiram rata.

“Alhamdulillah baik mah, lancar. Tapi Gas malam nanti mau keluar abis isya’, Gas diminta bu Erni, atasan Gas membantu membuat laporan excel di rumahnya”, sahut mas Gas sembari berjalan menuju kursi di teras rumah. Iapun duduk dan mulai melepas sepatunya.

“Mulai besok juga, Gas diminta bu Erni untuk mondar mandir apotik ke rumahnya, mengambil dan menyiapkan obat untuk suaminya yang terkena diabetes akut”, jelas mas Gas kepada ibunya yang masih asyik menyiram tanaman dan membelakanginya.

Tak lama berselang, acara siram tanaman pun selesai, seraya membalikkan badan dan menutup putaran air di kran, ibunya berjalan menuju kursi di samping mas Gas, lalu ibunya duduk sambil mengelap peluh di keningnya. “Y udah klo memang tugasnya seperti itu, toh membantu orang lain juga berpahala le. “Yang penting positif”, tegas ibunya.

“Iya ma, klo gitu Gas masuk dulu ya, mau mandi. Gerah banget rasanya, kulit udah peliket kena keringat”. Gas lalu berdiri berlalu dari hadapan ibunya, menuju kamarnya yang ada di bagian depan. Kamarnya dilengkapi dengan kamar mandi dalam, ber AC dan terlihat rapi untuk ukuran kamar seorang pria.

“Ya wes sana mandi, trus jangan lupa ke masjid”, jawab ibunya, yang ikutan masuk setelah menggulung selang air. Bu Siti sendiri adalah seorang perempuan muslimah yang selalu taat beribadah, beda dengan mas Gas dan suaminya yang sering bolong² sholatnya.

Setelah mandi, mas Gas yang hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pingganganya, menutup hingga atas lututnya, rebahan di kamarnya. Ia mengingat kejadian sore tadi. Cukup lama ia termenung, dalam hatinya, bertanya² , apakah itu yang dinamakan birahi, sangat nikmat dan begitu menggoda. rudalnya yang semula lemas menjuntai di depan pelernya yang besar, perlahan mengembang lagi hingga handuknya tertarik naik. Iapun memejamkan matanya sejenak, dan mengabaikan azan maghrib yang sudah berkumandang.

Pikirannya kembali mengingat rasa empuk dan kenyal, ya.., benar, ia mengingat kembali ukuran payudara Ajeng yang besar dan menggoda. rudalnya pun semakin menegang. Handuknya semakin tertarik naik, menjulang tegak dan tersingkaplah rudal mas Gas yang terlihat begitu gede dan berurat. Kain handuknya pun perlahan turun dan lunglai menutupi sebagian batang dan pelernya.

Dengan kepala yang ia rebahkan di atas bantal yang ditumpuk, sembari memejamkan mata dan membayangkan payudara Ajeng tadi, rudalnya pun berkedut, bergerak² naik turun. Sekitar 15 menitan Gas merasakan sensasi berfantasi membayangkan teman kerjanya Ajeng yang tengah telanjang, berjalan ke arahnya, dengan payudara yang besar berayun. Puting yang berwarna merah muda kecoklatan, dan bodynya yang montok dengan perut sedikit berlemak, pinggul yang agak lebar dan pantatnya yang naik turun bergetar seiring gerakan langkah kakinya menuju mas Gas.

Begitulah fantasi yang mas Gas rasakan. Betul² terhanyut ia dalam imajinasinya, sembari ia memejamkan mata dan rebahan. Tubuhnya yang atletis, dengan dada bidang dan perut sixpack, dihiasi bulir² air yang masih menempel dan bercampur keringat, terlihat naik turun tak teratur karena nafasnya yang menderu², tak menyadari, ada sepasang mata yang melihatnya dari luar kamar.

Ya, sepasang mata itu adalah ibunya mas Gas, bu Siti yang kebetulan lewat depan kamar Gas untuk menyalakan lampu teras dan lampu jalan, yang saklarnya ada di dinding belakang pintu depan. Perasaan campur aduk menyelimuti pikiran bu Siti. Antara Nafsu dan amarah, melihat anaknya yang tidur telentang, dengan kondisi rudal yang tegak mengacung, sungguh menggoda hati bu Siti. Namun segera ia tepis perasaan itu, godaan syetan segera pergi menjauh darinya, dikarenakan seringnya ia beristighfar.

Bu Siti sadar, bahwa nafsu seorang anak akan semakin besar, seiring bertambahnya umur. Dari semenjak SMA, memang anaknya tersayang itu hanya sekali membawa dan mengenalkan pacarnya ke bu Siti. Ia juga tau bahwa anaknya itu sangat cuek, jadi ia yakin anaknya gak akan berbuat macam². Dugaanya benar, 2 minggu setelah mas Gas membawa pacarnya ke rumah, ia tampak murung sejenak.

Mas Gas bercerita kepada ibunya bahwa ia baru saja putus. Semenjak saat itu, mas Gas tak pernah pacaran lagi. Bu Siti yang sering melihat² isi chat WA anaknya juga tau, temannya semua laki², ada beberapa teman wanita namun bisa dihitung dengan jari. Itupun tak ada chat yang mengarah ke pacaran.

Bu Siti lalu mendekatkan tubuhnya di kusen pintu kamar anaknya, berjalan jinjit agar tidak membangunkan anaknya. Dengan sedikit mencondongkan badannya, mengintip dan menunggu aksi apa yang akan dilakukan anaknya kemudian.

Anaknya memang tidak terlihat beronani, ia hanya tidur terlentang namun rudalnya terlihat berkedut dan bergoyang², itulah yang membuat amarah bu Siti tertahan. Bu Siti menganggap Gas sedang tidur dan bermimpi. Tangannya mas Gas hanya diam di samping kanan dan kiri tubuhnya, sambil sesekali terlihat meremas² sprei.

Bu Siti tersenyum kagum dengan bentuk rudal anaknya yang besar dan panjang, ia bahkan berfikiran bahwa rudal anaknya ini sangatlah besar, tidak seperti kebanyakan rudal orang indo yang rata² berukuran 14 – 16 senti saat tegang. Dibandingkan dengan rudal suaminya, memang rudal anaknya lebih besar dan panjang, sekitar dua genggaman tangan kira². Dari semenjak mas Gas kecil, bu Siti memang tidak begitu memperhatikan ukuran rudal anaknya, ia anggap ukuran rudal anak kecil 9 senti itu normal. Padahal sejatinya, ukuran 9 senti saat lemas untuk anak kecil itu berarti diatas wajar.

Ia beranikan diri mendekat, perlahan mengendap² mendekati anaknya yang tengah terbuai fantasi. Jarak mereka kini hanya 1 meteran. Ia amati betul rudal anaknya yang sungguh tebal itu. Otot yang menyeruak menonjol di permukaan kulit batangnya membuat bu Siti merinding, ditambah lagi ketebalannya, yang jika bu Siti coba memegangnya, tidak akan muat dalam satu genggaman.

Bu Siti hanya terus mengamati senjata torpedo anaknya itu yang bergerak² berkedut, handuk yang membungkus sebagian batang rudal anaknya semakin lama semakin melorot, akhirnya tersibak pula karena gerakan pinggul anaknya yang naik turun, bergeser ke kanan dan kiri, seolah menikmati fantasi seks.

Terlihat utuh sudah rudal jumbo anaknya yang ditumbuhi bulu² halus di pangkal dan perut bawahnya, menjalar naik sampai ke pusarnya. Biji zakar anaknya juga nampak seperti buah duku, bulat agak lonjong dan besarnya kira² 1 genggaman tangan.

Gleeegk… Bu Siti sempat menelan ludah, menikmati pemandangan yang mungkin tidak akan ia temui di lain waktu, pemandangan yang langka.

Ia sempat terkaget dengan erangan anaknya yang tiba² terdengar, aaaarghh….hhhmmm…ssshh….sssshh..aah….uuuuuuuuh, meskipun mata anaknya masih terpejam. Ia pun semakin kaget, karena dari lubang kepala rudal anaknya tiba² menyemburkan pejuh yang cukup banyak meski tanpa adanya gesekan dengan tangan atau jepitan dinding serambi lempit, diikuti erangan dan desisan mas Gas yang menandakan ia telah klimaks.

Cairan pejuh yang putih kental itu meluber dan meleleh membasahi kepala dan batang rudal anaknya, mengalir turun perlahan karena saking kentalnya, hingga berhenti di pangkal selangkangan. Menggenang dan meninggalkan kesan mengkilat dan lengket.

“Astaga nak, pejuhmu banyak sekali”, kata bu siti dalam hati. “Jujur punya papahmu gak sebanyak ini, itupun sambil ibu kocok”. Ck..ck..ck..

Sadar anaknya telah orgasme, bu Siti pun buru² mengendap keluar dari kamar anaknya. Ia terlihat cukup terkesan dan takjub, meskipun sempat membangkitkan syahwatnya, menggodanya kembali untuk menyentuh dan berinteraksi dengan rudal anaknya. Namun ia masih bisa menepis gejolak syahwat yang tergolong tabu itu.

Ia segera tinggalkan anaknya, kemudian menuju dapur, memulai kembali aktivitasnya menyiapkan makan malam, bertingkah seolah tidak terjadi apa², walaupun dalam hatinya merasakan rangsangan melihat rudal yang besar dan panjang milik anaknya.

Sementara itu, mas Gas terbangun dari imajinasi dan fantasinya, menyadari ada bagian tubuhnya yang terasa hangat. Ia tau itu adalah spermanya, yg menggenang di bawah perutnya dan melumuri batang dan kepala rudalnya. Badannya saat ini terasa begitu fresh, segar dan bugar karena klimaks. Padahal, klimaks yang sesungguhnya akan ia peroleh sebentar lagi dengan seseorang, entah itu bu Erni, Ajeng, Tika, atau Ambar. Sosok wanita² yang kini sedang mengidolakannya.

Segera ia bangkit dari tidurnya dan mandi lagi, kemudian bersiap² untuk pergi ke rumah bu Erni, karena waktu sudah menunjukkan pukul 18.45 wib. Ia raih arloji dan hape di mejanya, lalu berjalan keluar kamar menuju ruang makan. Nampak ibunya yang sedang menyiapkan makanan. “Malam mah, lagi sibuk ya?”, sapa mas Gas ke ibunya. Ibunya pun menjawab sambil menuju dapur lagi, “nggak juga le, nih udah selesai juga nyiapin makan malam buat kita”, sahut ibunya.

“Oh iya, kamu mau minum apa nak? Nutrisari atau teh hangat?”, tanya ibunya. “Air putih aja mah”, jawabnya. Ia dan ibunya memang tergolong orang yang benar² menjaga kesehatan tubuh, mereka berdua mengkonsumsi air putih dalam sehari bisa lebih dari 8 gelas. Efeknya terlihat dari kulit mereka yang putih, bersih dan segar.

“Oke deh, y udah ambil nasi sana. Oh iya le, kamu jadi berangkat ke rumah bu siapa tadi…?”, “bu Erni maksut mamah?”, Gas langsung menyahutnya. “Ehh iya bu Erni”. “Iya jadi dong mah, kan udah janjian, tuh Gas baru terima WA dari orangnya. Udah ditunggu”, jawab mas yon.

“Tadi udah sholat maghrib nak?”, tiba² bu Siti bertanya kepada mas Gas.

Mas Gas nampak sedikit kaget, “eee…eee… Gas ketiduran mah, maaf”. Padahal ia sadar, telah terbuai dalam gulatan nafsu fantasi seks. Ia berharap mamahnya tidak marah karena lalai menunaikan ibadah wajib. Wajahnya tampak menunduk dan sedikit panik.

“Jangan diulangi lagi ya lain kali”, ucap mamahnya. Kalo capek, mending ditahan dulu, tunaikan kewajiban pada Yang Punya Hidup Gas. Padahal mamahnya tahu apa yang mas Gas lakukan, hanya saja bu Siti berpura² tidak tahu. Lalu bu Siti mengalihkan pembicaraan. Gas pun tampak tertegun, karena mamahnya tidak marah ia meninggalkan sholat. Sedikit perasaan lega bercampur penasaran akan sikap mamahnya malam itu.

“Tolong panggil papahmu nak, ajak makan sekalian”, perintah mamahnya. “Iya mah…” Tanpa menunggu lama, mas Gas bangkit dari kursinya, menuju kamar papahnya untuk mengajak makan malam.

Makan malam pun berlangsung seperti biasa, hening, hanya suara kecil antara sendok, garpu dan piring yang beradu. Karena sudah kebiasaan bagi keluarga mereka, makan malam dilakukan tanpa ada obrolan apapun sampai tuntas.

Setelah makan malam usai, mamahnya mengambil piring yang kotor, dibantu oleh mas Gas yang membawa gelas yang sudah digunakan ke tempat cuci piring. “Mah, biar Gas yang cuci ya, mamah kesana aja temenin papah” ucap mas Gas saat mereka berdua di depan bak cuci piring. “Alhamdulillah, anak mamah rajin, makasih ya le”, balas mamanya. Sepertinya mamahnya sudah melupakan perkara meninggalkan sholat tadi, pikir mas Gas. Ia pun segera menuntaskan cuci piring tadi, lalu menyusul mamah papahnya yang kini sudah ada di depan ruang keluarga. Ia hendak pamit berangkat ke rumah bu Erni.

“Mah, pah, Gas pamit berangkat dulu ke rumah bu Erni yah, gak tau sampai jam berapa, nanti kunci rumah Gas bawa aja duplikatnya, kunvinya jangan lupa dicabut ya”, kata mas Gas sembari mencium tangan mamah dan papahnya yang sedang menonton televisi.

“Kok tumben malam gini keluar lagi le?” Tanya papahnya, yang memang belum tau akan kegiatan dadakan Gas malam itu.

“Loh, mamah belum kasih tau papah to?” Tanya mas Gas sambil merapikan kemeja yang dibalut jaket kulit berwarna coklat.

“Ah iya, mamah lupa tadi kasih tau papahmu”, celetuk mamahnya sembari meneruskan berbicara kepada papahnya perihal kegiatan anaknya malam itu.

“Oooh gitu toh, yawes hati², jangan lewat jalanan yang sepi. Jangan ngebut juga, kan barusan gerimis.” Sambung papahnya setelah mendapat penjelasan dari mamahnya.

“Siap pah, mah. Ya udah Gas berangkat ya. Assalamu’alaikum.

“Walaikumsalam”, jawab mamah dan papahnya.

Mas Gas pun berjalan keluar, menutup pintu depan, dan berhenti sejenak di samping motornya, iapun mengeluarkan HP, hendak memberi kabar bu Erni, bahwa ia akan berangkat.

“Selamat malam bu, saya berangkat sekarang ya, kira² 15 menitan perjalanan kesana”, kata mas Gas dalam pesan WA ke bu Erni. Tak lama, pesannya pun dibalas oleh bu Erni.

“Ah mas Gas, iya mas, saya tunggu di rumah ya. Sudah tau alamatnya kan?”. Balas bu Erni.

“Iya bu, tadi saya sudah buka serlok dari jenengan”, balas mas Gas singkat.

“Ya sudah mas Gas, hati² di jalan, saya tunggu nggeh!”. Mas Gas pun hanya membaca, lalu ia segera berangkat dengan motornya.

Bersambung… Bu Erni, yang siang itu ijin untuk pulang lagi lebih awal, segera memacu mobilnya menuju rumah sakit. Ia hendak menebus resep obat yang nanti malam akan mulai dikonsumsi untuk suaminya, pak Wito (47 thn). Laki² berwajah tampan, berperut buncit, namun tajir melintir. Rumahnya sangat wah.

Sebuah perumahan elit di kota Malang yang mayoritas penghuninya adalah etnis keturunan cina. Berbagai bisnis yang ia kelola, investasi di beberapa perusahaan terkemuka, ditambah lagi investasi di forex, membuat ia dan bu Erni tak kuatir akan kekurangan hingga 7 turunan.

Rumahnya sendiri hanya memiliki 1 lantai, namun luas halaman depannya saja bisa untuk main futsal. Mobil yang terparkir di garasinya sebanyak 4. Semuanya mobil yang bisa dibilang mobil mewah. Namun hingga saat ini, mereka belum dikaruniai keturunan. Itu karena pak Wito divonis mandul oleh dokter.

Sebelumnya, ia memiliki pembantu berjumlah 2, namun sebelum diabetes pak Wito semakin parah, kedua pembantunya pamit pulang, dan tidak kembali. Itulah yang membuat pak Wito dan bu Erni cukup kelabakan mengurus rumah.

Mereka sering menyeleksi pembantu dari agen, namun kebanyakan hanya bertahan 1 minggu, dikarenakan bu Erni sendiri cukup cerewet dan jam kerja yang melebihi standar.

Kekayaan yang dimiliki pak Wito sendiri, tidak bisa ia nikmati lagi, semenjak sakit diabetesnya makin parah. Makanan dibatasi, aktivitas pun juga dibatasi. Sehingga pak Wito lebih banyak bedrest di rumah. Ia sangat tersiksa dengan keadaannya sekarang, tapi itu semua juga karena kebiasaan pak Wito sendiri yang suka mengkonsumi alkohol, minuman manis, makanan yang tinggi kolesterol dan seringnya begadang. Segala aktivitasnya berlawanan dengan pola kehidupan sehat.

Sedang bu Erni sendiri, adalah seorang ibu rumah tangga yang dikenal cukup supel, royal, dan suka memberi, begitu pula pak Wito, laki² yang suka memberi hadiah tak terduga kepada orang lain, apalagi orang yang tergolong miskin. Sudah banyak orang miskin yang mereka bantu cuma², mereka juga suka membantu orang yang terlilit hutang. Oleh sebab suka membantu itulah, kekayaannya seperti tak pernah surut, bahkan makin bertambah.

Sebetulnya, dari sebelum suaminya mengidap diabetes, hasrat seksual bu Erni sendiri tak pernah bisa dipenuhi pak Wito, karena setiap kali berhubungan badan, pak Wito mengalami ejakulasi dini. Sehingga membuat bu Erni, tak pernah merasa terpuaskan.

Bu Erni sendiri adalah seorang wanita berjilbab, pandai merawat diri, meskipun ia jarang sekali olahraga. Terlihat dari bodynya yg sedikit gemuk, namun masih terbilang seksi, pinggulnya yang berisi, bokong yang semok dan montok menjadi senjatanya memikat lawan jenis. Payudaranya yang aduhai besarnya juga turut mendukung keseksiannya. Karena pentilnya dulu sering diisap oleh pak Wito, membuatnya perlahan membesar, namun justru pentil besar itulah yang membuat dirinya makin hot.

Bu Erni sendiri adalah orang yang cukup selektif. Semenjak suka menonton bokep yang bertema ‘Big Dick, Huge Dick, Monster Cock’, membuatnya lebih sering masturbasi, dikarenakan ia tidak lagi bernafsu dengan suaminya sendiri yang memiliki rudal kecil.

Ia melakukan hubungan badan dengan suaminya hanya untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang istri. Apalagi semenjak pak Wito loyo, ia tak pernah lagi berhubungan badan, ia lebih sibuk dengan urusan kantor dan video² bokep sebagai pengalihan dan pelampiasan nafsunya.

Bu Erni juga pernah menjalin hubungan gelap dengan beberapa lelaki. Ia rela mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar laki² yang pernah memenyetubuhinya. Namun tak satupun yang bisa membuatnya puas, karena memang rata² rudal mereka standar ukurannya dan pendek.

Ada yang berdiameter 6cm, namun cebol alias pendek, ada yang berdiameter 3 cm, tapi panjang. Lagi² panjang rudal yang pernah dirasakan bu Erni juga masih standar. Belum ada yang berhasil menusuk² dinding rahim bu Erni dan memenuhi liang serambi lempitnya. Blm ada yang bisa membuat perut bu Erni merasakan mules dan ngilu. Tidak ada yang bisa membuat bu Erni mendesah hebat dan mengerang keenakan.

Bertemu dengan mas Gas, akrab dan sering ngobrol, dinilai bu Erni seperti menemukan sebuah bongkahan emas dan permata. Wajahnya sih biasa, namun body dan senjatanya yang luar biasa. Ia menyamakan Gas dengan artis² bokep luar negeri yang memang rata² memiliki rudal yang besar dan panjang. Membayangkan mas Gas, membuat bu Erni selalu colmek setiap kali menonton film² porno yang dengan mudah bisa dia akses kapanpun dia mau.

Gairah seksualnya yang begitu mudah terangsang, membuatnya sering melakukan hal² yang cukup berani. Seperti colmek di toilet kantor, di mobil, di ruang ganti toko baju, bahkan di pos security pun tak luput dari aksi gilanya. Ngocoks.com Intinya setiap kali ia menonton bokep dan libidonya naik, ia akan mencari cara apapun untuk menuntaskan hasrat biologisnya.

Entah apa yang akan dialami oleh mas Gas, orang yang sekarang menjadi incaran bu Erni. Orang yang nampak polos dan cuek di mata bu Erni. Tak ada yang tahu.

Hari ini, adalah hari yang dinanti² oleh bu Erni, karena mas Gas sudah setahap masuk dalam jebakan nafsu gila bu Erni. Disela² waktu siang tadi, setelah menebus resep, ia sempatkan diri mampir di toko obat cina. Dibelinya 2 kapsul obat perangsang untuk memuluskan aksinya.

Sesampainya di rumah, ia segera menemui suaminya yang tengah rebahan di kamar tidur utama. Meski pak Wito hampir bisa dikatakan lumpuh, namun bu Erni yang haus akan rudal jumbo itu masih perhatian dan sayang dengan pak Wito. Ia begitu telaten merawat pak Wito saat berada di rumah.

Ia lebih sering memasak sendiri, menyiapkan makanan, menyuapi pak Wito, membantu pak Wito mandi, dan beres² rumah. Cukup melelahkan memang, ditambah lagi kesibukan bu Erni di kantor yang semakin padat. Jelas membuat bu Erni sangat membutuhkan seorang pembantu rumah tangga yang cekatan, yang bisa merangkap sebagai perawat pak Wito.

Bu Erni cukup beruntung, ada orang di kabupaten Malang, lebih tepatnya di daerah pakis, dimana ibunya tinggal, mau bekerja menjadi pembantu sekaligus menjadi perawat suaminya, setelah mendapat penawaran dari ibundanya.

Bi Resti (48 thn), tetangga satu RT dari bu Bekti Rahayu (63 thn), ibunda dari bu Erni, yang ikut mencarikan tenaga pembantu, tiba² menghubungi bu Erni melalui WA yang diberikan oleh ibunya. Menurut bu Bekti, ortu dari bu Erni, bi Resti adalah orang yang cekatan dan amanah, cocok untuk bekerja di rumah anaknya.

“Selamat siang bu Erni, saya bi Resti, tetangga bu Bekti di pakis. Kata ibu, jenengan sedang membutuhkan pembantu yang merangkap sebagi perawat ya?, begitulah isi dari pesan WA bi Resti.

“Siang juga, iya betul sekali bi. Saya memang sangat membutuhkan pembantu. Jenengan bisa mulai bekerja kapan bi?”, tegas bu Erni to the point.

“Monggo bu, (silahkan bu), kapanpun jenengan minta sy berangkat. Tapi saya mohon kesediannya untuk mengganti ongkos transportasinya”. Timpal bu Resti.

“Owalah gampang itu bi, biaya transportasi akan saya kirim secepatnya. Gimana klo hari ini jenengan berangkat? Saya minta nomor rekeningnya jenengan ya bu”, balas bu Erni sambil menarik nafas lega.

“Waduh maaf sekali bu, saya ndak punya. Gimana klo semisal saya minta dulu ke ibunya jenengan?

“Oh ya boleh, kalo gitu jenengan langsung aja minta berapa yang dibutuhkan ke Ibuk, nanti biar saya ganti ke ibuk” balas bu Erni dengan semangat.

Bi Resti sendiri bertubuh sintal, payudaranya lumayan besar, bahkan lebih besar sedikit dari payudara bu Erni. Hampir sama perawakannya dengan bu Erni, hanya usia dan tenaga yang membedakan diantara keduanya.

Meski lebih tua 6 tahun, bi Resti memilki tenaga yang cukup kuat. Karena sebelumnya, ia seminggu 3 kali bekerja di ladang milik tetangganya. Kulitnya sawo matang khas orang jawa, berbibir sedikit tebal dan sensual. Bi Resti menjanda sudah sekitar 8 tahunan, suaminya direbut orang ketiga yang ternyata masih saudara dengannya, sungguh ironis nasibnya.

Hubungan keluarganya dengan saudara² suaminya juga ikut renggang, karena saudara² suaminya lebih membela suaminya. Ketiga anaknya yang masih bersekolah membuatnya menjadi ibu merangkap kepala rumah tangga. Beruntung juga ia bertemu dengan bu Erni, ia berharap ada kenaikan pendapatan untuk menyokong kehidupan keluarganya.

Sementara itu,

Bu Erni yang sudah menunggu kedatangan mas Gas, hatinya berbunga², hasrat seksualnya mulai naik, membayangkan berbagai macam aksi mesum dan kenikmatan yang akan ia dapatkan dari seorang pemuda perkasa dan macho.

Kondisi cuaca yang dari pagi mendung, akhirnya tak mampu membendung air hujan untuk turun. Gerimis pun mengguyur lembut jalanan kota Malang, berikut mas Gas yang hampir tiba di rumah bu Erni. Yang makin lama makin deras, sehingga membuat mas Gas yang lupa membawa jas hujan basah kuyup.

Akhirnya penantiannya pun tiba. Mas Gas yang kedinginan, sempat berteduh di bawah kanopi sebuah ruko dekat rumah bu Erni. Ia lalu mengirim pesan bahwa ia sudah dekat.

“Bu, saya sudah dekat rumah, posisi saya di depan ruko xxx”. Tak sampai 5 detik, pesannya pun mendapat balasan. Nampaknya bu Erni benar² menunggu mas Gas tanpa meninggalkan hape dari genggaman tangannya. Sehingga pesan dari mas Gas langsung mendapatkan respon.

“Iya mas Gas, dari gerbang perumahan lurus aja, ada bundaran pertama belok kanan, rumah saya yang paling ujung kanan jalan, pagar hitam, saya bukain pagar biar mas Gas bisa langsung masuk ya. Motornya dimasukin aja ya mas”, tukas bu Erni.

Tanpa membalas, mas Gas pun bergegas menuju ke rumah bu Erni. Sesampainya disana, bu Erni pun menyambut kedatangan mas Gas hanya mengenakan daster terusan sepaha berwarna merah marun. Wajahnya yang tanpa makeup makin terlihat cantik natural, apalagi bodynya yang montok, terpampang jelas di depan mata mas Gas yang barusan datang.

Sambil memarkir sepeda motornya, dalam hati mas Gas berkata, “ini beneran bu Erni yah, atasanku di kantor yang selalu memakai jilbab gaul… sungguh beda banget, cantik juga, malah lebih cantik tanpa makeup”. Sejenak lamunannya buyar saat bu Erni menyapa.

“Mas Gas, kok melamun, hayoooo mikirin apa?, sapanya sambil tersenyum menggoda. “Gak pernah ya liat saya berpakaian seperti ini? Hihi… maaf ya saya klo di rumah ya seperti ini mas, jadi mas Gas santai aja”, imbuhnya.

Mas Gas menjawab bu Erni sambil menunduk, “aah nggak bu, saya gak melamun kok, saya mikirin baju saya yang basah, nanti lantai bu Erni jadi kotor”, dalihnya. Mas Gas masih kagum ukuran payudara bu Erni. Lalu ia dalam hati membandingkan dengan milik teman kerjanya, si Ajeng yang sore tadi ia antar pulang.

Akibatnya, rudalnya pun berkedut kembali. Buru² ia tutupi dengan tas slempangnya.

Bu Erni yang melihat baju mas Gas basah kuyup oleh air hujan, tiba² memiliki ide mesum baru. Sambil tersenyum nakal, ia pun mengajak mas Gas untuk segera masuk ke dalam rumahnya.

“Ya udah yuk buruan masuk mas, diluar dingin. Sy pinjami baju bapak nanti, mas Gas bebersih dulu aja”, lanjut bu Erni sambil membalikkan badannya, berjalan masuk ke dalam rumah diikuti mas Gas dibelakangnya. “Apa gak merepotkan bu, sy pulang aja dulu gimana buat ganti”, jawab mas Gas.

“Halaaah, klo pulang apa gak tambah kemaleman? Iya klo ujannya reda, kalo makin deres gimana coba?”, kata bu Erni meyakinkan.

“Oh iya juga ya bu, baik klo gitu, makasih banyak sebelumnya ya bu”, jawab mas Gas.

“iya mas, sama². Y udah yuk ikuti saya”, ajak bu Erni.

Setelah di dalam rumah, ia berjalan agak cepat menuju dapur, menyiapkan teh hangat yang diseduh dengan air dispenser, tak lupa ia menuangkan serbuk perangsang yang sengaja sudah disiapkan sebelumnya. Ia taburkan diatas air teh dan gula, lalu diaduknya hingga bercampur rata. Iapun sempat mencicipinya, karena juga ingin mencoba bagaimana rasanya libidonya naik dengan cepat. Lalu ia bawa air teh hangat tadi ke ruang tamu. Mempersilahkan mas Gas untuk meminumnya.

“Ini mas, disruput dulu teh nya, biar badan agak anget, saya ke kamar dulu ya, ambil baju ganti”, ucap bu Erni.

“Wah jadi merepotkan bu Erni lagi, ngapunten bu (maaf bu)”, ucap mas Gas lalu meminum teh hangat yang sudah bercampur dengan obat perangsang tadi.

Karena tubuh mas Gas belum pernah merasakan obat²an semacam itu, tak menunggu lama obat itupun bereaksi. Pelipis, telinga, dan mata mas Gas mulai hangat, pembuluh darahnya membesar, memompa darah semakin kencang. Tak ayal, rudalnya pun dirasa semakin mengembang. Begitu pula bu Erni, ia juga merasakan hal yang sama.

Saat memasuki kamar, bu Erni melihat suaminya sedang tertidur pulas dan mendengkur. Ia tau jika suaminya sudah tertidur pulas, membangunkannya bakalan susah. Gempa bumi sekalipun takkan mampu membuka mata suaminya. Melihat kesempatan makin terbuka lebar, ia buru² mengambil baju dan celana boxer milik suaminya. Ia sengaja memilih celana boxer, agar ia lebih leluasa memandangi rudal mas Gas. Membayangkan hal mesum itu, nafsu dan gairah bu Erni semakin menjadi². Ia segera keluar kamar.

“Mas Gas, ini baju gantinya yah. Maaf kalo kekecilan, abis badan suami sy dengan saya hampir sama, hihi”, kata bu Erni yang muncul dari balik pintu, seraya memberikan baju untuk mas Gas. “Maaf saya gak punya celana yang seukuran mas Gas, jadi sy inisiatif pinjamkan ini aja”, sambil menyodorkan celana boxer yang berukuran L. Jika dipakai oleh mas Gas yang berpostur tinggi, maka celana boxer itu hanya bisa menutupi bawah pusar hingga setengah paha atas mas Gas.

“Mas Gas yang terkena efek obat perangsang tadi, memperlihatkan kegelisahan. rudalnya yang setengah mengembang, berusaha ia tutupi lagi dengan tas.

“Kenapa mas Gas, kok kayaknya gelisah gitu”, tanya bu Erni setengah menggoda, padahal bu Erni tahu itu efek dari obat perangsang yang ia berikan tadi. Bu Erni yang juga sebenarnya nafsunya semakin membara, segera mengajak mas Gas ke kamar tamu yang berada di dekat dapur.

“Ehhh, nggak bu….gapapa…”, jawabnya sambil gelisah.

“Oh ya uudah klo gakpapa, yuk, ibu antar ke kamar tamu, biar mas Gas bisa mandi air hangat”, sahut bu Erni yang juga gelisah.

“Ahh tt..terimakasih sekali bu”, iapun mengikuti bu Erni sambil menenteng baju dan boxer yang dipinjamkan tadi.

Sesampainya di kamar, bu Erni lalu menunjukkan kamar mandinya, terlihat elegan, berdinding kaca bening, dihiasi stiker bunga² yang berwarna putih buram, sehingga jika diamati terlihat semi tembus pandang. “Itu handuknya ya mas Gas, sabun sama shampoo nya udah ada di dalam”.

“Iya bu, terimakasih sekali lagi”

“Iya sama² mas Gas, saya keluar dulu ya, saya angin² dulu baju basah mas Gas di jemuran belakang, kalo saya tungguin di dalam nanti malah gak mandi mas Gas nya, hihi”, tiba² saja kata² bu Erni semakin berani menggoda.

“Oh iya bu, hehe, ada² aja ibu nih, kan saya juga malu, keliatan dari luar pas mandi”, dan mas Gas pun tak habis pikir, mulutnya seakan mulai berani untuk mengucapkan kata² godaan. Ia merasakan aliran darahnya semakin deras, memacu libidonya semakin naik. Ia mencoba mengendalikan perasaannya, namun seperti mati kutu. Mas Gas pun segera melepas bajunya di dalam kamar mandi, mulai menyetel air hangat di shower.

Sssssssshhhhhhhhhhhh…….terdengar air hangat menyembur membasahi seluruh tubuh mas Gas yang perkasa dan atletis.

Setelah menjemur baju mas Gas, bu Erni kembali mendekati kamar tamu, ia menunggu momen saat air shower mengucur hangat, dan dalam setengah menit, dinding kaca itupun mulai terlihat buram oleh embun dan cipratan air hangat. Perlahan bu Erni menyelinap masuk untuk mengintip mas Gas yang sedang asik membasahi seluruh tubuhnya dengan air hangat.

Bu Erni mengendap² lalu duduk diatas kasur di samping kamar mandi, jaraknya sekitar 2 meteran. Ia tahu jika air hangat dinyalakan, maka yang berada di dalam tidak akan bisa melihat yang diluar. Namun sebaliknya, yang diluar bisa melihat yang didalam meskipun sedikit agak buram.

Mas Gas yang tak menyadari kehadiran bu Erni, asik membasuh tubuhnya yang kekar, menikmati air mengalir dan membasahi setiap lekuk tubuhnya. Ia pun memandangi rudalnya yang dari tadi setengah menegang akibat efek dari obat perangsang. Ia biarkan air mengalir menyusuri batang rudalnya yang besar dan berurat.

rudalnya pun berkedut, semakin mengembang hingga membujur kedepan. Ia tuangkan sabun cair, lalu dari arah leher ke bawah, ia mulai menyabun permukaan kulitnya, makin turun, hingga sampai ke bagian selangkangannya. Tangannya lalu menyentuh pangkal rudalnya, mengurut pelan dengan sabun hingga ke ujung kepala rudalnya. Ia merasakan sensasi yang berbeda lagi.

Perlahan ia mulai mengocok rudalnya, hingga makin mendongak keatas mendekati perutnya. Kepala rudalnya yang berbentuk jamur yang mengembang dan mengkilat, kini berada sekitar 5 senti dari atas pusar. Betul² rudal perkasa yang membuat wanita tergila², termasuk ke 4 wanita rekan kerjanya. Dengan panjang hampir selengan orang dewasa, sekitar 22 senti, dan berdiameter 5,5 senti, wanita mana yang tak ingin mencobanya.

Mas Gas sendiri agak heran, kenapa tangannya bisa melakukan hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya, mengocok rudalnya hingga menegang maksimal. Deru nafasnya pun semakin menggebu², dadanya naik turun, dan ia mulai membayangkan payudara Ajeng dan bu Erni yang besar dan kenyal. Iapun terus mengocok rudalnya keatas dengan pelan, menikmati sentuhan dengan kulit batanganya yang berotot, ia urut perlahan hingga ke kepala rudalnya yang telah licin oleh sabun.

Bu Erni yang dari awal sudah diatas kasur, begitu takjub dengan pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Sosok bawahannya yang bertubuh kekar, berrudal panjang dan besar, tengah mandi di dalam rumahnya, sambil mempertontonkan keperkasaannya.

Karena semakin bernafsu, bu Erni lalu menurunkan tali yang melilit di pundaknya, menarik turun dasternya hingga jatuh ke lantai, sambil ia duduk di tepi kasur, ia pun menurunkan tangan kanannya ke arah serambi lempitnnya yang telah basah, sedang tangan kirinya meremas² payudaranya yang besar, sembari menopang dan mengarahkan pentilnya yang mengeras ke arah mulutnya.

Ia isap², jilat putingnya sendiri dan mengkobel serambi lempitnya yang sudah dicukur mulus. Sesekali ia usap² klitorisnya, lalu memasukkan dua jarinya ke liang serambi lempitnya dan mulai mengocok keluar masuk jarinya. Lendir di dalam serambi lempit yang membasahi jari²nya, memberikan kenikmatan tersendiri.

Mata bu Erni tak pernah lepas dari memandangi tubuh kekar mas Gas, terutama rudal besarnya yang menggemaskan. “Gila mas Gas, rudalmu bisa segede itu, aaaakuuu….akuuu… mauuu Gas sayaaaang….”, racaunya. Antara takut dan nafsu, membuat bu Erni berulang kali membuka tutup matanya.

“Maaasssss….ssssh… aaah….uuh, enak banget rudalmu maaaas…gedeee…. sesak… penuh perutku sayaaaaangmmmmhhhfff… mmpfff…ssssh…aaaaah.. terus maaas, dorong lebih dalem, pentokin, amblesin semua”, ucap bu Erni dalam hati, sembari membayangkan ia tengah digempur rudal mas Gas.

Suara bu Erni makin lama makin tinggi, ia seolah lupa jika mas Gas satu kamar dengannya. Hanya dinding kaca yang buram pemisahnya. Samar² akhirnya mas Gas mendengar ada suara² desahan yang begitu dekat dengannya. Perlahan, ia mengelap dinding kaca, mengusap dengan tangannya, begitu kaget dirinya, dibalik dinding kaca itu, ia dapati bu Erni yang telanjang bulat sedang bermasturbasi di atas ranjang.

Matanya melotot, seolah tak percaya, orang yang ia jadikan fantasi seks, kini ada di depan matanya. Begitu menggoda birahinya, tangan mas Gas pun tak berhenti mengocok. Namun ia masih takut untuk keluar, ia pun tak berani mematikan kran shower, apa jadinya jika tiba² bu Erni sadar dan melihatnya telanjang dengan rudal tegak menjulang.

Kalut bercampur nafsu, itu yang kini dirasakan mas Gas. Sebetulnya ia ingin sekali segera menyetubuhi wanita itu, tapi ia tak tahu bagaimana memulainya. Iapun menempelkan telinganya di dinding kaca, mencoba mendengar apa yang keluar dari mulut bu Erni. Asumsinya, bu Erni masturbasi karena melihatnya telanjang. Hanya itu. Tak pernah terpikirkan mas Gas, jika nyatanya, bu Erni masturbasi karena betul² menginginkan seluruh lekuk tubuh atletisnya yang begitu menggoda, terutama rudalnya yang jumbo, melesak ke dalam liang serambi lempit bu Erni yang tembem.

“Mas Yoooon sayang…. tekan maaas… dorong yang dalem mas, buat dinding rahimku meronta² minta ampun maaaassss… buat rahimku ngilu maaas… tusuk juga anusku Gas sayang, puasin ibu sayang…”, meski tak begitu jelas, mas Gas mendengar namanya disebut berulang kali dalam fantasi seks bu Erni. Kini nafsunya makin membara, jantungnya memompa darah semakin deras ke otak dan rudalnya. rudalnya makin menengang, seolah meronta² ingin segera beradu dengan serambi lempit bu Erni.

Ia bingung lagi, harus mulai darimana, karena belum pernah sekalipun ia entot seorang wanita. Akhirnya mas Gas perlahan membuka pintu kaca kamar mandi, kran shower sengaja tidak ia matikan, ia hanya ingin mendekat di depan bu Erni tanpa sepatah katapun. Ia berharap, bu Erni yang memulainya dulu.

Ia lalu berdiri di depan bu Erni. Bayangannya menutupi sebagian tubuh dan wajah bu Erni. Bu Erni masih belum sadar, pria yang ia idamkan kini sudah berdiri di hadapannya.

Lelaki itu masih berdiri mematung, ia pandangi dan nikmati setiap lekuk tubuh bu Erni, tak terkecuali payudaranya yang tak cukup satu genggaman. Bergoyang mengikuti setiap gerakan tubuh bu Erni yang sesekali menggelinjang. serambi lempit bu Erni yang tembem pun tak luput dari sorot matanya.

Karena mas Gas yang agak membungkukkan badannya, menyebabkan bulir² air yang ada di wajahnya menetes, mengenai perut bu Erni, hingga bu Erni pun sontak membuka matanya.

Seperti tersambar petir, keduanya saling terkejut, saling pandang tanpa sepatah kata apapun. Namun situasi ambigu itu tak berlangsung lama. Bu Erni yang sudah berumah tangga dan beberapa kali bersetubuh dengan laki² lain mencoba mencairkan suasana.

“Auuuw… mas Gas”, sapa bu Erni memulai. Kedua tangannya berusaha menutupi payudara dan serambi lempitnya. Ia pandangi tubuh mas Gas dari dada hingga ke selangkangannya. Begitu menggoda bu Erni, sampai² ia menggigit bibir bawahnya dan tak berkedip. “Isssshhh..”,Tatapan mata nanarnya sontak terhenti di selangkangan mas Gas. rudal gede dan panjang impiannya kini sudah mengacung di depan matanya.

“Mmm…mm…maa..maaf bu…, aaa…aku..aa..a..aku…”, lidah mas Gas serasa kelu, seketika ia menunduk tak berani memandang wajah dan tubuh bu Erni. Bongkahan payudara nya yang besar dan sekal dengan puting yang bulat menonjol berwarna coklat sungguh menggoda mas Gas untuk sesekali melirik. Kepala mas Gas yang masih menunduk, membuat matanya masih bisa menikmati keindahan perut bu Erni yang sedikit berlemak dan paha putih mulus yang ia rapatkan.

“Mas Gas sayang… jangan takut dong, ibu tau kamu di dalam tadi menyebut² namaku, jujur ibu juga berfantasi membayangkan mas Gas”, ucapnya sedikit menenangkan. Walaupun jantung bu Erni pun kini sedang berdegup cepat.

Mas Gas cukup terkejut, kata² sayang yang ia dengar, membuat dirinya seperti sedang memiliki seorang kekasih.

“Aahh iii…iya..bu…, aa..aku..eee..e..anu..aa..anu bu…eee…”, ucapnya sambil memandang wajah bu Erni yang cantik.

Dugg..dug..dug..dug..dug, jantung mas Gas berdegub cepat…

Ia merasakan sepasang tangan lembut bu Erni yang tiba2 mendarat di pinggang kanan dan kirinya, sesekali mengelus kulit mas Gas yang sedikit basah oleh air. rudal mas Gas kini semakin dekat dengan wajah bu Erni yang masih duduk di pinggiran kasur, hanya tinggal beberapa senti saja. rudalnya kembali berkedut, bergerak² sedikit, membuat mata bu Erni semakin nanar karena posisinya yang mengacung tegak, benar² berada di depan matanya, persis di tengah² wajahnya.

Bu Erni lalu berdiri, kini kepalanya sejajar dengan dada mas Gas, sembari melihat wajah mas Gas yang putih bersih dengan bibir mas Gas yang berwarna merah muda merona, menandakan ia tak pernah merokok, semakin membuat bu Erni tergila². Lalu ia mengalungkan kedua tangannya di bahu mas Gas. Ia dekatkan wajahnya dengan bibir mas Gas sambil berbisik.

“Gas sayang.., ibu bimbing yah. Mas Gas ikutin aja, ibu tau mas Gas baru pertama kali kan”, ucapanya lembut.

“iii…iya buu..”, suara mas Gas terdengar pelan dan bergetar.

Bibirnya semakin dekat dengan bibir mas Gas. Lalu dengan perlahan, ia tempelkan bibirnya dengan bibir mas Gas, ia kecup lembut. Tampaknya mas Gas yang pemula sangat kaku. Terlihat bibir mas Gas hanya diam, tak bergerak mengikuti gerakan bibir bu Erni.

Kembali bu Erni dengan sabar membimbingnya. “Gas sayang, lingkarkan tanganmu di pinggang ibu yah, gini loh…”, seraya memegang lengan kekar mas Gas, kemudian menempelkan kedua tangannya di pinggang kanan dan kiri. Semangka bu Erni yang lembut dan kenyal kini menekan tubuh mas Gas, seiring bu Erni yang semakin mendekatkan badannya, dan rudal mas Gas yang tegang menempel di perut dan sebagian payudara bu Erni, karena panjangnya hampir selengan dan tebal, kepala rudalnya menyentuh belahan bawah payudara bu Erni, terasa hangat dan semakin memacu aliran darah bu Erni. “Gede banget sayang…., panjang lagi…”, ucap bu Erni pelan.

“Hah, aaa..apa..nya yya..yang gge..gede bbbuuu…” tanya mas Gas.

“Tuh…rudalmu, gede banget, ibu merinding sayang….” sembari melirik ke arah bawah.

Mas Gas pun kaget, karena baru kali ia mendengar dari mulut wanita yang menilai rudalnya gede. “Ggge..gede bu?”, tanyanya penasaran. “Bbu..bukannya sse..semua.llaki-laki ssa…sama uukuurrrannya?”

“Ya gak dong sayang, klo kamu liat rudal suami ibu, baru kamu tau kalo punya kamu itu super”, ucap bu Erni meyakinkan dan memuji. Maklumlah, mas Gas berfikiran seperti itu karena memang tak pernah sekalipun ia melihat kemaluan laki² lain. Begitu polos dan lugu.

Obrolan mesum itupun sejenak terhenti, manakala bu Erni kembali mencium mas Gas, sambil berbisik, “ikutin bibir dan lidah ibu ya sayang”. Mas Gas pun mengangguk. Kini bibir keduanya saling berpagut mesra, lidah mereka saling berpadu, saling melumat satu dengan lainnya. Sambil tangan kanan bu Erni mengelus² rambut mas Gas, tangan kirinya ia turunkan ke bawah sambil membelai lembut bahu, turun ke dada, ia usap² mesra, lalu ia susupkan ke belakang dan mulai mengelus² punggung mas Gas yang padat berotot.

Tampaknya mas Gas mulai bisa mengimbangi gerakan bu Erni, kini tangannya yang masih melingkar di pinggang bu Erni, perlahan ia gerakkan. Ia elus² punggungnya, dan ia turunkan ke bokong besar bu Erni. Ia remas² dengan kedua tangan, terasa kenyal dan sintal. Jari²nya pun ia arahkan ke belahan bokong bu Erni, ia raba² sampai² bu Erni pun sedikit menggelinjang.

Mmmmppff…mmmpff..sluurp…mmmpf…mmpf…mmmpf… sluuurp…cluup…clupp…mppf…

ciuman kedua pasangan hot itu semakin menggebu², keduanya semakin bernafsu. Sekitar 10 menitan lamanya mereka saling berciuman dan berpelukan erat. Air bercampur keringat saling membasahi permukaan kulit keduanya, menjadikan licin dan berpadu lembut.

“Mas Gas, sambil tiduran yuk”, mas Gas pun hanya menurut, dengan tubuhnya yang kekar dan berotot, ia tahan punggung dan kepala bu Erni, ia rendahkan dan dengan lembut ia rebahkan di kasur. Bu Erni pun semakin melayang² merasakan keperkasaan tubuh mas Gas. “Perkasa banget sih mas Gas badan kamu, keker, bikin ibu makin sayang…” bisik bu Erni di dekat telinga mas Gas, yang kini ada di samping kepala bu Erni. “Jenengan bbb..bisa aa.ja buuu”, balasnya dengan tersenyum.

Ia robohkan tubuhnya disamping bu Erni, lalu bu Erni memiringkan badannya ke kanan, ia silangkan pahanya ke atas perut mas Gas yang sixpack dan basah oleh keringat bercampur bulir² air, paha putih mulusnya pun bergesekan dengan rudal mas Gas yang masih tegang.

“aaah… buuu…”, sentuhan lembut dari paha mulus bu Erni membuat mas Gas mendesah nikmat.

“gemesin banget rudalmu mas Gas”, ucap bu Erni mesra.

“Iibuuu…”, hanya itu yang keluar dari mulut mas Gas sambil memejamkan mata, menikmati sentuhan tubuh bu Erni.

“Belum di pegang aja udah mendesah, gimana klo dikulum, hihi…”, ucap bu Erni dalam hati sambil tersenyum genit. Ia sengaja tak memegangnya dulu, karena ia ingin mas Gas juga menyentuh dan melumat serambi lempitnya dengan bibirnya. Ia ingin kenikmatan itu dirasakan bersama pasangannya.

Tangan kiri bu Erni mengelus2 dada mas Gas yang ditumbuhi rambut2 halus. Iapun menyandarkan kepalanya diatas dada mas Gas. Sudah seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Tangan kiri mas Gas menyangga belakang kepala bu Erni sembari mengelus² rambut bu Erni yang harum. Mas Gas pun mulai berani mencium kening bu Erni, ia kecup dengan mesra. Bu Erni pun dibuat melayang, ia pejamkan mata seolah betul2 menikmati keromantisan yang berbalut hasrat birahi malam itu.

Mas Gas pun seakan² melupakan tujuan utamanya malam itu. Ia larut juga dalam pelukan atasannya, bu Erni. Dalam hatinya sebenarnya berontak, karena teringat akan nasehat mamah papahnya, bahwa ia tidak boleh menyentuh wanita, apalagi berzina sebelum menikah. Apalah daya, nafsu dan godaan wanita montok dan seksi itu begitu besar. Membuatnya semakin larut dalam hasrat birahi.

Hampir 30 menit lamanya mereka rebahan tanpa satu patah katapun. Jam dinding saat itu menunjukkan pukul 20.30 malam. Dan diluar, hujan nampaknya telah reda. Bu Erni yang meninggalkan hapenya di kamar dengan mode getar, otomatis tidak menyadari ada 3 pesan masuk dan 3 panggilan tak terjawab dari seseorang. Ya, pesan dan misscall itu dari bi Resti. Seorang janda yang tak kalah seksi dan montok dari bu Erni, hanya nasib dan warna kulit yang membedakan mereka.

Bi Resti datang malam itu menggunakan kaos longgar dan celana kain. Ia ikat rambutnya yang sebahu, dengan balutan lipstik tipis di bibirnya. Meski memakai kaos longgar, bongkahan payudaranya yang disangga BH ukuran 40B itu masih terlihat menonjol. Celana jeans biru muda pun seperti tak cukup menahan bokong bi Resti yang besar dan montok.

Rupanya bi Resti sudah ada diluar pagar sekitar 15 menit. Bi Resti pun kembali menelpon bu Erni, yang membuat hapenya bergetar mendekati bibir meja, dan….. GLODAK… HP bu Erni jatuh ke lantai, namun tetap bergetar. Suaminya yang masih terlelap juga tak mendengar suara gaduh itu.

Mendengar ada suara benda jatuh, bu Erni pun kaget dan tersadar. Ia bergegas bangun dari pembaringan, meninggalkan mas Gas sendiri di kamar. “Sebentar ya sayang…”, ia bangkit dan segera memakai kembali dasternya, karena buru², BH dan sempaknya ia tidak ia pakai. “Iiiya buu…”, jawab mas Gas yang agak terheran².

Mas Gas pun buru² menegeringkan badannya, dan memakai pakaian yang sudah disiapkan bu Erni tadi. Kaosnya sih cukup nyaman, namun, boxernya yang kekecilan, sehingga rudal mas Gas yang perlahan kembali ke bentuk semula, tak cukup bersembunyi di balik boxer milik suami bu Erni. Kepala rudalnya menyembul keluar di paha sebelah kiri karena saking besarnya.

Iapun mencoba menaikkan, lalu ia posisikan miring. Memang sudah tertutupi sempurna, namun ketika ia coba berjalan, posisinya berubah lagi menjuntai kebawah, menyembul lagi keluar melewati batas boxer kecil itu. Berulang kali mencoba posisi baru tetap saja sama. Akhirnya ia berinisiatif berjalan sambil menahan dengan tangan, agar posisi rudalnya tidak menjuntai lagi ke kanan ataupun ke kiri celana boxer itu.

Sementara itu, bu Erni yang sudah di kamar utamanya, mengecek keadaan suaminya, karena masih tertidur pulas, ia pun merasa lega. Ia segera memungut HP nya yang jatuh, lalu membuka pesan. Benar saja, itu adalah pesan dan misscall dari bi Resti yang sedari tadi sudah berdiri di depan pagar.

Bu Erni pun bergegas menuju ke depan dengan hanya menggunakan daster tanpa dalaman. Setengah berlari sehingga membuat payudaranya yang besar berayun naik turun, pantatnya pun bergoyang dan bergetar indah. Mas Gas yang akan keluar kamar, melihat itu, ia pun lalu mundur selangkah, dan hanya mengintip dari balik kusen pintu.

Ia terpesona lagi akan keindahan tubuh atasannya. Sembari dalam hati bertanya² ada apa gerangan hingga bu Erni buru² keluar. Dan perasaan cemas pun menghinggapi benaknya. Ia takut ada tamu atau saudara bu Erni yang tiba2 datang. Iapun tetap bersembunyi di kamar itu sambil sesekali mengintip keluar.

“Assalamu’alaikum bu. Betul bu Erni ya? Tanya bi Resti yang melihat seorang wanita berdaster berlari kecil menuju pagar.

“Walaikumsalam, iiiya betul. Jenengan bbb..bi Resti ya?” Balas bu Erni sambil mendengus² nafasnya karena berlari.

“Nggeh betul bu. Saya pikir jenengan ketiduran karena saya datangnya malam sekali. Ngapunten nggeh bu (maaf ya bu), saya mesti nuggu anak saya bisa mengantar, soalnya tadi anak saya ada acara tahlil di tetangga”, terang bi Resti.

Drrrreeeeeeeedegdegdegdeg… pintu pagar pun dibuka bu Erni sambil mempersilahkan masuk.

“Mboten nopo² bi (tidak apa² bi), nggak kok, saya gak ketiduran, tadi saya sedang mengerjakan tugas dari kantor di dapur. Lha HP nya saya taruh di kamar. Sambil putar musik di laptop, jadi saya gak kedengeran ada chat masuk”, kilah bu Erni. Sebuah alasan spontan yang cerdik.

Keduanya lalu masuk, dan bu Erni mempersilahkan bi Resti duduk di sofa. “Ayo bi, silahkan duduk, saya buatin dulu teh hangat ya”, tukas bu Erni. Bi Resti yang merasa statusnua sebagai pembantu, langsung duduk di lantai.

“Nggak usah bu, makasih”, ia jawab sambil melipat kakinya di lantai.

“Loh, kok duduk bawah bi?, nyantai aja, ayo dong, duduk di sofa. Jangan karena mau kerja sebagai pembantu, bi Resti lalu duduk di bawah!”, balas bu Erni, sembari mendekati bi Resti lalu menyuruhnya bangkit.

“Anggap aja saya sebagai teman bi Resti”. Meskipun kaya raya, bu Erni adalah sosok wanita yang humble.

“Aduhh, bu Erni, saya malu bu, nanti dilihat bapak, dipikir saya tidak sopan”.

“Halaaaah bi Resti, udah duduk aja di sofa. Bapak sudah tidur bi. Klo bi Resti gak duduk di sofa, saya suruh pulang loh…”, ancam bu Erni sambil terkekeh.

“Saya kebelakang dulu ya bi, duduk² aja dulu!”.

Bi Resti pun menuruti kata² majikannya. Sambil ia duduk di sofa yang empuk dan elegan, ia pandangi isi dalam rumah bu Erni. Baru kali itu ia bekerja di sebuah rumah mewah. Dinding rumah bu Erni yang dilapisi wallpaper berkelas, lampu gantung di ruang tamu yang berkilauan, sofa dan meja tamu yang lux, membuat bi Resti takjub.

Di dapur, bu Erni lalu membuat teh hangat, mengambil dua toples camilan, lalu ia bawa ke depan.

“Nah, gitu dong, kan jadi gak kikuk”, ucap bu Erni yang berjalan ke arah ruang tamu. “Diminum dulu bi, jangan sungkan, ini juga cemilannya. Maaf hanya dua macam kue kering, maklum jarang ada tamu.”, tegas bu Erni sambil ia duduk di depan bi Resti.

“Aduuuh bu Erni iniloh, saya makin sungkan”, balas bi Resti sambil menunduk.

“Halaaah bi Resti ini. Anggap aja rumah sendiri bi, kan nanti juga bi Resti bakal sehari² di rumah ini”, sahut bu Erni.

“Oh iya bi, saya langsung aja jelaskan tugas² bi Resti ya?”

“Bi Resti seminggu dua kali mengepel, setrika baju juga seminggu 2 kali saja. Dan yang penting, bi Resti jagain bapak, bapak minta makan apa, bi Resti yang masakin, jangan lupa pantangan makanan bapak ya!. Nanti seminggu sekali, ada mas Gas yang datang tiap jumat, mengantarkan obat untuk bapak. Bi Resti nanti yang menyiapkan obatnya, pagi dan sore, jangan lupa juga baca aturan pakainya.

“Baik bu, siap”, jawab bi Resti dengan yakin.

“Ada tukang sayur yang lewat tiap pagi, biasanya tukang sayur itu berhenti di dekat bundaran, nanti bi Resti belanja aja disitu. Uang belanja saya letakkan di bufet televisi ya”,

“Nanti klo ada kembalian atau sisa uang belanja, bi Resti simpan boleh. Mau pakai untuk keperluan bi Resti juga boleh. Asalkan bi Resti sudah masak buat bapak.”

“Baik bu, saya paham. Moga² bu Erni cocok dengan hasil kerja saya ya” balas bi Resti.

“Aamiin, sebelumnya maaf ya bi, kalo nanti saya agak cerewet. Hihi, soalnya saya suka kalo rumah saya bersih. Saya yakin bi Resti bisa mengerjakan semua, saya juga sudah mendengar dari ibuk saya tentang bi Resti. Moga² kita bisa cocok ya bi”

“Nggeh bu, aamiin…”

“Kalo gitu, sekarang saya antar bi Resti ke kamar pembantu ya. Dihabiskan dulu itu teh nya bi!” Kata bu Erni sambil mulai berdiri.

Glek..glek…glek…

Bi Resti pun menghabiskan teh hangat tadi, lalu membawa serta gelas dan toples camilan, sambil mengikuti bu Erni menuju ke kamar pembantu.

Sambil mengikuti bu Erni, ia menoleh ke kanan dan kiri, memang tak begitu besar bangunan utamanya. Yang membuatnya tampak besar dari luar adalah halamannya. Di belakang juga ada kolam renang berukuran 4×8 meter. Terpisahkan dinding kaca dapur dan ruang makan. Kamar bi Resti sendiri ada di depan kolam renang, cukup besar menurutnya.

Mas Gas yang dari tadi sembunyi di kamar tamu, menguping sayup² pembicaraan bu Erni dan bi Resti. Ia tak menyangka ternyata calon pembantu bu Erni juga datang malam itu. Tak lama kemudian, bu Erni akhirnya menemui mas Gas, ia lalu menutup pintu kamar.

“Mas Gas, maafin ibu ya…”, sapanya dengan wajah sedikit cemas, takut pria idamannya kecewa. “Ibu bener² gak nyangka bi Resti datang semalam ini”, jelasnya. Ia pun memeluk tubuh mas Gas dengan erat. Menandakan penyesalan.

Memang mas Gas terlihat sedikit kecewa, namun apa daya, gairah dan nafsu liar telah merasukinya. Memandang wajah bu Erni yang memelas, ia tak tega.

“Iya gakpapa bu, trus gimana dengan bapak? Apa masih tertidur?”, tanya mas Gas. Bu Erni pun mengangguk sambil kepalanya disandarkan di dada bidang mas Gas. Mas Gas pun membalas pelukan bu Erni dengan tangan kanannya.

“Kok cuman satu tangan aja peluknya sayang?”, tanya bu Erni yang mesakan tangan kiri mas Gas mengganjal di payudara dan perut bu Erni.

“Hmmm…Jujur saya bingung gimana pulangnya bu, dengan pakaian seperti ini”, sambil melirik ke arah boxernya yang ia pegangi terus dari tadi.

Bu Erni tak menjawab pertanyaan mas Gas, ia malah balik bertanya dengan senyum². Dalam hatinya senang, ia bisa melihat pria perkasa itu dengan pakaian minim. Seolah bu Erni tahu, rudal mas Gas gak akan muat di celana boxer itu.

“Kekecilan yah?, tanyanya sembari tersenyum.

“Hehe, tuh liat aja bu”, lalu ia melepas pegangan tangannya. Dan rudal mas Gas pun seketika itu melorot menjuntai ke bawah, terlihat kepala rudalnya mengintip keluar.

“Iiiihhh… kaget ibu, rudalnya nongol, keliatan seksi kamu mas Gas, menggoda ibu banget”. Godanya. Jarinya pun memelintir² puting mas Gas, membuat mas Gas mendesah. “Sssh… aaah.. ssssshhh…, buuu, oooouuhhh…”. Lalu rudalnya yang menjutai mulai berkedut, mulai mengembang, menekan sedikit demi sedikit kain boxernya.

“Bu Erni yang melihat perubahan rudal mas Gas yang begitu cepat, ikut terangsang. “Wiiih… sayang….sssshh…. dedenya cepet bangun”, ia lalu menurunkan tangan kanannya, ia mulai membelai² dan mengusap² batang rudal mas Gas. Mas Gas yang kaget dengan sentuhan bu Erni, makin mengerang merasakan sensasi baru.

“Aaargghh…ooohh…iii..ibu sayang….. enak banget dipegang ibu sambil dielus² gitu. .”, ucap mas Gas sambil ia mendongakkan kepalanya ke atas, merasakan kenikmatan di ubun²nya. Kata² yang keluar dari mulut mas Gas makin berani, ia mulai berani memanggil bu Erni dengan kata sayang.

“Sayang…ini baru ibu pegang loh, belum ibu….”, sahut bu Erni yang terus mengelus, sambil sesekali mengocok rudal gede mas Gas.

“Belum diapain sayang?”, tanya mas Gas.

Tanpa menjawab, bu Erni melepas genggamannya, lalu memasukkan tangannya ke dalam boxer mas Gas, meraih rudalnya yang semakin menegang, ia bimbing keluar dari celana boxer itu. Setelah rudal mas Gas membujur di depan perutnya, lalu ia pelorotkan boxernya.

Bu Erni menurunkan badannya hingga kini wajahnya sudah ada di depan batang rudal mas Gas, ia raih rudal yang sudah menjulang ke atas itu, lalu ia coba arahkan agar sejajar mulutnya. Agak susah memang, karena saking tegang dan kerasnya rudal mas Gas, akhirnya bu Erni menaikkan badannya, hingga ia membungkuk, ia lalu jilat kepala rudalnya, ia coba masukkan ke dalam mulutnya.

Mas Gas kaget, saat melihat ke bawah, hanya nampak kepala bagian belakang bu Erni yang sedang membungkuk, menempel di tukaknya. Merinding bercampur nikmat. Itulah yang dirasakan mas Gas.

Karena hanya kepala rudal yang bisa masuk ke dalam mulut, bu Erni kocok pelan naik turun rudal mas Gas. Sembari sesekali membelai buah zakarnya yang besar. “Gak kebayang rudal sebesar ini masuk ke serambi lempitku, menjebol anusku….aaaah….ssssssh…..”, ucap bu Erni dalam hati sambil terus memainkan lidahnya di kepala rudal mas Gas hingga becek oleh air liur. Ia mencoba memasukkan lebih dalam, namun apadaya, terlalu tebal rudal mas Gas. Padahal ia sudah membuka mulutnya lebar².

Mas Gas hanya bisa mendesah, ia tak penasaran aksi apapun yang dilakukan bu Erni, ia hanya pasrah dan menurut.

Kepala bu Erni naik turun di depan mas Gas sekitar 10 menitan, wanita itu tengah asyik mengulum² jamur mas Gas, menjilat, dengan penuh nafsu. Bu Erni benar² menikmati batang perkasa anak muda itu. Ia juga menciumi, membasahi batangnya yang panjang dengan air liurnya, naik turun mengikuti arah rudal mas Gas yang menjulang keatas, menonjolkan urat² yang sangat menggairahkan.

“Bbbuuuu….sayang…aaaargh…aarhhh….oooh….sssh…ooooh…ooh….ssh, enak banget buuuu…”, erang mas Gas.

“Enak ya sayang…. mmmpffff…mmpff…sluuurp…sluurp..clup…mick…mick…mmmpfff..clup…clup..”

“Iii…ibu..ssss..sayang… aku mmm…mmaaa..mauuu kkekke..keluaaar…., awas minggir buuu….”, ucap mas Gas sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Ia menyuruh bu Erni untuk mundur karena ia akan orgasme. Namun bu Erni malah terus mengulum kepala rudalnya, yang makin lama makin mengkilat. Batangnya pun berkedut², buah zakarnya tertarik naik, menandakan anak muda itu akan klimaks.

Namun bu Erni tak melepaskan kepala rudal itu, ia diamkan di dalam mulutnya sambil mengocok batangnya dengan cepat, ia juga elus² buah zakar mas Gas agar mas makin terangsang. “Tahan yyyaa…mmmpff ..ssa…yaaang.. tahan sammppf..pai…kkamuuff.. ggakhh…kuatfff”, ucap bu Erni sambil tetap mengulum kepala mas Gas.

“Sssaaaayaaaaang…. aaaaaaargh…..aku gak nnnaahan buuu….”, seketika tubuh mas Gas mengejang hebat dan….

Serrrrr….serrr…serrrr….serrrrr…..seeeeeerrr….sseeeer..ssseeeeeeeeeer…serrr..serr. Semburan pejuh yang amat banyak itu memenuhi mulut bu Erni. Dengan lahap ia menelan cairan yang putih dan kental dari mas Gas. Karena tak mampu menampung, ada sebagian kecil yang mengalir keluar lewat sela² mulutnya. Ia pegangi paha mas Gas yang masih sesekali bergetar, mengalirkan kejutan² ke kepalanya, rudalnya pun berdenyut² dan masih tegang. Bu Erni yang mulut dan dagunya belepotan pejuh, tersenyum puas, memandang ke arah rudal mas Gas yang masih tegang, ia sasar lubang pipisnya, lalu ia sruput sisa² pejuh dengan menekan² jamurnya.

Sluuurrrpppp…clup…slup…

“Aaaaaahh….sss…. ibuu…, enak banget rasanya buuu”, ucap mas Gas yang puas dengan orgasmenya. Ia terperanjat, cairan pejuh yang ia keluarkan ternyata diminum habis oleh bu Erni. “Ii..ii.ibu…minum spermaku?”, tanya mas Gas keheranan. “Hehehe…, lezat sekali sayang”, nampak wajah bu Erni tersenyum kepadanya. “Huuummmm…yummy”, sambil lidah bu Erni menjilat yang tersisa dan menempel di sekitar bibirnya.

“Ini protein buat kulit mas Gas, emang gak tau yah? Juga bisa mengurangi stress. Makanya ibu suka telen, punya mas Gas juga buanyak banget, kental lagi, sampai gak cukup mulut ibu”, ucap bu Erni memuji. “Sperma yang sehat, warnanya putih kental sayang, itu artinya kamu bener² fit dan jarang onani”. Jelas bu Erni.

“Oooh gitu, aku baru tau bu”, jawab mas Gas. “Tapi iniku gak lemes² bu, gimana?”, tanyanya khawatir karena rudalnya masih belum juga kembali ke ukuran normal.

“Hihihi, itu artinya minta nambah, nambah yang lebih seru… xixixixi”, canda bu Erni sambil meremas² lembut rudal mas Gas yang masih tegang dan keras. “Inilooooh bikin gemes ukurannya…gede banget, hihi”, ucap bu Erni lagi menggoda, sambil ia ciumin lagi kepala rudalnya mas Gas.

“Aaaauuuhhh…buuu….godain aku terus sih, sssshh…ooh…”.

“Hihi, kamu perkasa banget sayang…, udah ngecrot segitu banyak, rudalmu masih keras seperti ini”, kagumnya bu Erni sambil menggeleng²kan kepala. Ia makin yakin jika obat perangsangnya memang sudah bekerja.

“Mau ibu ajarin yang lain sayang?, lebih nikmat lagi lohh”, bu Erni menggoda lagi. “Diajarin apa lagi bu?”, tanya mas Gas penasaran.

Tiba²….

Buuuu…buu…. terdengar suara panggilan dari arah belakang.

Mereka berdua pun terkejut. Mas Gas berusaha memakai boxer dan menyarungkan kembali rudalnya yang masih tegang. Karena gak cukup, ia arahkan ke atas menempel perutnya, ditekan oleh karet pinggang boxer lalu ia tutupi dengan kaos. Namun masih terlihat menonjol di atas perutnya. Apa daya hanya itu yang bisa ia lakukan. Iapun menutupi perutnya dengan tangan.

Bu Erni pun lalu memakai dasternya lagi, ia segera membuka pintu kamar, “sebentar yah sayang…”, ucapnya sambil berjalan keluar kamar, lalu ia tutup pelan².

Ceklek…

Bi Resti kini sudah ada di dapur, melihat bu Erni keluar kamar, ia pun menghampirinya. Sebetulnya bu Erni tadi hendak mengambil minum di dapur, karena berdekatan dengan kamar tamu, ia mendekat ke dinding, lalu ia tempelkan telinganya, ia sayup² mendengar suara² saling mendesah dari dalam kamar. Ia dengar percakapan keduanya tadi, dan ia pun kaget. Namun ia tak berani berbuat apapun, ia hanya menunggu sampai mereka berdua selesai. Bi Resti tau saat mereka sudah selesai dengan mendengar erangan mas Gas. Lalu segera menuju dapur, agar seolah² ia dari arah kamar belakang. Ia beralasan bertanya dimana letak mesin cuci dan ingin diajarin cara menggunakannya.

“Ya bi, ada apa panggil² saya barusan?”, tanya bu Erni.

“Anu bu, aaa…aanu… itu bu Er”, agak gugup bi Resti menjawabnya. “Kok gelagapan gitu toh bi? Ada apa? Ada tikus, kucing, ato ada apa?”, tanya bu Erni.

“Itu bu, saya mau tanya tempat mesin cuci, sekalian saya minta diajari cara pakainya”, jawab bi Resti. “Biar besok saya bisa mulai mencuci baju² kotor, soalnya sy lihat di keranjang baju kotor sudah numpuk”, imbuhnya.

“Oowalaah, iya bi, kirain ada apa”, jawab bu Erni, “sini ikuti saya!”, sambil berjalan ke arah pintu di samping bak cuci piring. “Nah ini mesin cucinya, ada di dalam pintu ini. Gini caranya…”, kata bu Erni sambil menjelaskan ke bi Resti.

Dalam hati bi Resti, “bu Erni dasternya keliatan basah, kulitnya juga seperti keringetan. Kalo mandi malam² gak mungkin, soalnya pas ketemu tadi bu Erni rambutnya harum shampo Memang orang ini sedang ada sesuatu sama orang lain di kamar tadi”. Nampak bi Resti gak seberapa fokus.

“Bi, gimana, udah bisa kan. Gampang kok”.

“Ehh iya bu, gitu aja nggeh. Jemurnya dibelakang situ ya bu?”, jawab bi Resti sambil tersadar dari lamunannya.

“Iya disana bi, tapi sebelum jemur, dikeringin dulu disini, biar jemurnya gak terlalu lama, pake tombol yang ini”, jawab bu Erni sambil menunjuk tombol ‘drain’.

“Nggeh bu, siap, saya mengerti”. Sahutnya. “Ya udah kalo gitu saya ijin tidur duluan nggeh bu?”

“Iya bi, silahkan. “Oh iya sebentar, jangan lupa besok pagi jam 5 bi Resti sudah harus siapkan makanan. Bahan² ada di kulkas, menunya sudah saya tulis kertas, sy tempel di kulkas, disitu juga ada jadwal bapak minum obat, semisal mas Gas, orang suruhan saya gak datang kesini. Mas Gas datang seminggu sekali sesuai arahan saya, orangnya yang ambilkan obat buat bapak. Kalo mas Gas datang, ya obatnya langsung disiapkan, kalo gak, ya bi Resti yang siapkan.” Terang bu Erni panjang lebar.

“Nggeh bu, saya paham, saya duluan nggeh bu”.

“iya bi, silahkan”

Sambil berlalu, dalam hati bi Resti menduga jika laki² yang bersama bu Erni itu adalah mas Gas. Hanya saja ia belum tau seperti apa wajahnya.

Bu Erni sengaja berlama² di dapur, ia menunggu bi Resti masuk ke kamarnya. Sedang bi Resti sendiri, sebenernya penasaran laki² itu, ia pun berencana menguping lagi. Namun apa daya, selama dia menunggu dengan rebahan, ia tertidur.

Setelah 5 menit, ia melongok ke arah kamar bi Resti, saat dirasa aman, bu Erni pun segera kembali ke kamar tamu.

Ceklek, suara pintu kamar tamu dibuka. Mas Gas yang was was, bersembunyi di balik lemari yang ada di samping pintu.

“Sayang…. dimana?”, tanya bu Erni.

Mendengar suara bu Erni, iapun lega, ia lalu keluar dari balik lemari. Lagi², mas Gas buat bu Erni bernafsu, karena ia jalan dengan rudal yang menjuntai kebawah melebihi boxer pinjaman itu.

“Bi Resti ya bu?” Tanyanya sambil berjalan ke kasur, lalu merebahkan diri. “Iya sayang, bi Resti tadi nanya tempat mesin cuci, sama minta diajarin cara pakainya”, jawab bu Erni.

“Sayang, rudalmu loh, intip² aku dari tadi. Hihi… gemes banget”, goda bu Erni yang juga berjalan ke kasur, namun ia hanya duduk di bibir kasur, sembari memandangi mas Gas yang rebahan dengan tangan dilipat di belakang kepalanya. Lalu ia mengelus² batang mas Gas yang tertidur, hingga akhirnya mulai mengembang lagi.

“Aiiih ibuuu… ada² aja loh, abis celananya gak cukup”, ucap mas Gas sembari melempar senyum. “Ibu suka banget anuku ya?, tanya mas Gas berbalik menggoda. Rupanya mas Gas makin berani bermesum ria dengan bu Erni.

“Banget sayang, suka banget, perkasa rudalmu”.

“Sayang jangan sebut anu dong, sebut aja rudal, biar kita makin kerangsang”, pinta bu Erni dengan wajah manja.

“Hihihi, iyaaa iya, ibuku sayang, rudal yah”, jawab mas yon mengiyakan.

“Gitu dong, nanti ibu ajarin yang lain, yang bikin kamu makin keenakan, hihhii…” sahut bu Erni. Sambil terus mengelus rudal mas Gas yang udah setengah tegang.

“Dede gede, nakal banget, godain ibu terus nih… iiiihhhh…”, iapun mulai sedikit membungkukkan badannya lalu mengulum kepala rudal mas Gas, sambil mengelus² batang. Tangan kirinya menahan tubuhnya, dan karena sedikit membungkuk, payudaranya yang besar akhirnya menyembul keluar di lipatan kiri kain dasternya. Mas Gas pun mengelus² payudara bu Erni, meremas² lalu memilin² putingnya.

“Ibu nakal banget yah, ssssh… aaah… sssh.. tete nya keluar juga tuh, ooooh buuu…. gge..gede banget tete nya buuu… aaaaah…”, ucapnya sambil mendesah keenakan karena kuluman bu Erni.

“Hihi, iya sayang, ssssh… oooh… tete ibu punya aaah…kamu, lakuin sesukamu sayang… oooh…sssh…, nakal sekarang tangan….aaah.. tanganmu.. aaauww.. sayang…”, balas bu Erni sambil mendesah juga.

Bu Erni lalu pelorotkan boxer mas Gas, dan rudal mas Gas pun… settt… berayun ke arah perut mas Gas, makin lama makin tegang, mengeras dan menggairahkan.

“Awww… dedenya nakal lagi…hihi… tegang banget, gemeeees…..”. Bu Erni pun menaiki tempat tidur dan mulai menunggingkan badan dan bokongnya yang semok diantara paha mas Gas. Iapun mulai menjilat² buah zakar dan batang mas Gas bergantian.

Memberikan kenikmatan untuk pria idamannya itu. Ia kulum² biji zakar yang berbulu halus itu, ia mainkan didalam mulutnya, sembari lidahnya diputar² seolah memijit² biji zakar, ia sedot, lalu jepit dengan bibirnya. Sambil sesekali melihat ke arah mata mas Gas, yang terpejam menikmati aksi bu Erni.

“Oooohhh…buu….sssh….nikmat banget…”

Tak luput juga biji zakar satunya, ia perlakukan sama. Hingga basah oleh air liurnya. Sembari tangan kanannya mengocok lembut batang mas Gas yang gede. Ia lingkarkan jarinya, namun karena terlalu tebal, maka tak cukup ujung2 jarinya bertemu. Makin membuat bu Erni bergairah.

“Mmmpfff…sluuurp…hhhmmm…hmmm…yock…yockk…flop..flop..flop..flop… hhmmmm…mppff… yock….yock…”, bi Erni lumurin semua bagian rudal mas Gas dengan air liurnya. Ia lumat habis²an. Mas Gas terus mengerang keenakan, bu Erni pun makin ganas mendengar erangan keenakan mas Gas.

Bu Erni pun berhenti sejenak, sambil tangannya tetap mengocok², mengelus² rudal mas Gas. “Sayang…. aku juga mau dienakin dong…” pinta bu Erni dengan manja. Mas Gas yang tengah menikmati, membuka mata dan melihat ke arah bu Erni.

“Dienakin gimana caranya bu? Gini kah?” Balas mas Gas sembari meremas² payudara bu Erni.

“Aaaw…. ssssh….. sayang… diremas² enak juga, tapi ada yang lebih enak, hihi…” tawanya nakal.

“Ooh, gimana itu sayang?” Tanya mas Gas.

“Kamu emut juga serambi lempit ibu yah… perlakuin seperti ibu manjain rudal gede kamu”. Jawab bu Erni.

“Oh gitu, ii…iiya boleh aja sih bu. Aku ngikut aja. Trus gimana caranya bu?” Tanya mas Gas lagi penasaran.

“Kamu rebahan aja, bantalnya diganjal lagi 1 yah, biar kepala kamu agak menunduk”. Bu Erni mengambil lagi 1 bantal, lagu ditumpuk untuk sandaran kepala mas Gas. Tanpa melepas daster, bu Erni memutar badannya, hingga kini kaki bu Erni mengapit kepala mas Gas. serambi lempit bu Erni pun tepat berada di depan mulut mas Gas.

Mas Gas yang pemula, diam² mengendus² serambi lempit bu Erni. Tak ada bau pesing atau apapun, hanya bau khas serambi lempit yang sedikit basah oleh lendir.

“Bau gak mas Gas, serambi lempitku?” Tanya bu Erni.

“Nggak bu, ada bau tapi bau yang aku gak pernah tau, dan tidak menyengat sih”. Balas mas Gas.

“Itu namanya bau serambi lempit sayang, klo sering merawat, baunya ya seperti itu, hihi”, balas bu Erni terkekeh, begitu polosnya mas Gas hingga bau serambi lempit pun tak tau.

“Ooh gitu bu, trus aku gimanain nih?”. Tanya mas Gas sambil kedua tangannya kini memegang pinggul bu Erni.

“Kamu jilat bibirnya, masukin juga lidahmu ke lubangnya yah. Kamu putar² lidahmu, trus kan ada benda kecil yang sebesar kacang, itu kamu emut dan jilat, nanti sesekali dua kali, kamu pasti mahir. Hihihi…” ucap bu Erni yang merinding karena gerakan bibir mas Gas tadi sesekali mengusap² bibir serambi lempitnya.

“Begini ya bu……”, jawab mas Gas sembari memulai aksi bibir dan lidahnya. Iapun ikutin arahan bu Erni tadi. Ia jilat² bibir serambi lempit bu Erni, sesekali diemut dan tarik, lalu lidahnya masuk ke dalam liang sambil diputar². Dia sruput juga lendir yang membasahi liang serambi lempit bu Erni. Membuat bu Erni kelonjotan.

“Aaaaah… sayang…. sssh….iiih….nikmat banget mas Yoooon…”

“auww…ahh..ah..ah…sssh…aah…ssssh…sssh.., ttte ruuus sayaaaang… tttee…tteerruuuussin…”

Tubuh bu Erni yang tengah menungging itu membuat pinggulnya bergerak naik turun, menggosok² serambi lempitnya di mulut dan wajah mas Gas. Tangan bu Erni pun melanjutkan mengocok² rudal mas Gas, sambil sesekali mengulum dan menjilati batang dan biji zakarnya. Hampir sepuluh menitan mereka saling lumat nelumat.

Bu Erni pun makin tak tahan dengan aksi bibir mas Gas. “Ssaaaayaaaang… ibu mau kkkee..keeeluuaaaar… ooooohh..oh..ah..aaah.. aaaah…iiiihhh…ssaaayang… telan lendir iiibbuuu yaaa…” erang bu Erni. “Iiibbbuuu…kkeeellluuuuaaaaar…..”

Pekikan panjang bu Erni dibarengi semburan lendir serambi lempit yang hangat di mulut dan wajah mas Gas. Buru² mas Gas menutup liang serambi lempit bu Erni dengan mulutnya, agar cairan lendir kenikmatan itu bisa ia telan.

Ssseeerrrr…serrr …serrr…..crottt..crroooot…mmmppfff…glek…glek…serrrr …glek….serrrrr…..serrr ….glek…..sluuurpp…sluuurrrp… glek…glek..

Sangat banyak cairan yang disemburkan serambi lempit bu Erni ke dalam mulut mas Gas, mas Gas pun tampak kewalahan, hingga yang tak tertelan mengalir keluar mulut mas Gas, membasahi dagu dan lehernya. Ia jilat² habis lendir yang setengah lengket di bibir serambi lempit bu Erni, ia sruput lagi lubang pipisnya sambil sesekali ia emut dan tarik.

Tubuh bu Erni pun lemas, lunglai, roboh diatas tubuh mas Gas dengan posisi memeluk rudal mas Gas yang masih tegang. Biji zakarnya menempel dengan mesra di bibir bu Erni, ia kecup² manja sambil ia kulum.

“Ssayaaaang….makasih ya udah bikin ibu enak”.

“Hmmmpfff…hhhmmm..iiya sayang, ibuku sayang….sluuurp…sluurrp..”, ucap mas Gas sambil membersihkan sisa² lendir yang menempel di mulutnya.

Sekitar 10 menit mereka saling berpelukan dengan posisi badan berlawanan. Tanpa ada satu katapun, hanya dengusan nafas kelelahan dan kepuasan yang nampak diantara keduanya.

Dddrrrrt….drrrrt….drrrrt….drrrrt ….

Terdengar suara HP yang bergetar. Rupanya suara itu berasal dari dalam tas mas Gas. Bu Erni yang nampak tertidur, perlahan dipindahkan mas Gas, ia letakkan bantal di kepala bu Erni. Mas Gas pun mengambil selimut untuk menutupi tubuh bu Erni. Sudah seperti suami istri. Lalu perlahan mas Gas bangkit dari tempat tidur, mengambil HP dari dalam tas nya.

“Le… sudah malam. Mau pulang jam berapa? Pintu depan mamah kunci ya, kuncinya sudah mamah cabut. Cepet pulang, besok kan harus bangun pagi subuhan.” Chat dari ibu mas Gas rupanya. Ia pun bingung, ingin pulang, tapi siapa yang bakal mengunci pintu rumah bu Erni. Karena bajunya ada di jemuran belakang. Akhirnya ia mengendap² keluar, menuju jemuran belakang untuk mengambil bajunya yang memang masih agak basah. Bi Resti yang terjaga karena kebelet pipis akhirnya bangun.

Tak disangka tak dinyana, mas Gas yang hanya memakai boxer bertemu dengan bi Resti. Keduanya kaget dan hampir berteriak. Bi Resti pun tertegun, melihat ada laki² lain di rumah itu. Dan yang paling membuatnya syok, ia melihat rudal sesuatu yang menyembul keluar dari balik celana boxer pendek itu. Ia segera menutup kedua matanya.

“Aduhhhh…, apa²an sih, kamu siapa?” Tanya bi Resti dengan sedikit mengernyitkan dahinya.

“Mmmaaa..maa.maaf..aaa aaku mas Gas..tteman…bu Erni” sambil buru² mas Gas mengambil baju dan celana yang agak basah tadi lalu memakainya.

“Aaan..da bbi Mminah ya?, tanya mas Gas balik.

“Iya, saya bi Resti, pembantu baru bu Erni” jawabnya.

“Ooh ya udah, aku pulang dulu bi, tolong pintunya ya dikunci a”. Ucap mas Gas sambil berlalu keluar.

Dalam hati bi Resti, rasa penasarannya terjawab sudah. Rupanya itu yang bernama mas Gas. Namun dalam rasa penasaran itu, ada rasa penasaran juga dengan sesuatu yang tadi ia lihat, sesuatu yang ukurannya melebihi jauh dari ukuran milik mantan suaminya.

Karena kebelet pipis, pikirannya tadi terbang bersama angin. Ia segera ke kamar mandi lalu membuang hajatnya dan kembali ke kamar.

Sedang bu Erni yang terlelap tidur di kamar tamu, tak menyadari bahwa pria idamannya pergi tanpa pamit, namun meninggalkan kesan yang membuat bu Erni makin sayang dan bernafsu.

Mas Gas yang pulang malam itu dengan pakaian agak basah, membawa sebuah pengalaman baru yang akan selalu membekas, bahkan mungkin akan terulang lagi, dari guru seks cantik dan montok.

Bersambung… Sudah beberapa hari ini, kota Malang diselimuti mendung di pagi hari. Bahkan terkadang pagi juga turun hujan, kadang sebentar, bahkan pernah juga 3 hari berturut² hujan tanpa jeda.

Pagi itu, cuaca nampak mendung. Mas Gas yang dibangunkan ibunya pagi itu setengah 5, untuk menunaikan sholat subuh, terlihat begitu segar bugar. Mamahnya pun heran, karena biasanya, ketika dibangunkan subuh agak susah, tapi pagi itu, sebentar saja ia sudah beranjak dari tempat tidur.

“Tumben leee …. “, kata ibunya.

“Hihihi…”, mas Gas hanya tersenyum ke ibunya, tanpa berkata², ia langsung ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.

30 menit kemudian, ayahnya yang sudah menunggu di meja makan dengan ibunya memanggil mas Gas.

“Le, kalo sudah selesai sini sarapan, papah mau tanya sesuatu ke kamu”, panggil ayahnya.

“Iya pah, sebentar”, jawab mas Gas. Agak takut dan penasaran mas Gas, apa yang akan ditanyakan ayahnya. Di meja makan juga ada bu Siti, ibunya yang nampak mengaduk kopi untuk pak Andi, suaminya.

Setelah keluar kamar, mas Gas segera menuju meja makan, mengambil tempat duduk di seberang ayahnya.

“Iya pah, mau nanya apa?”, tanya mas Gas.

“Itu semalem, kamu pulang jam berapa dari rumah bu Erni? Tanya ayahnya.

“Ooh itu pah, aku pulang jam 11 kurang, abis banyak banget yang dikerjain, bu Erni juga minta diajarin”, dalih mas Gas. Ia mulai berani berbohong, karena gak mungkin juga ia menjelaskan dengan jujur apa yang ia lakukan semalam dengan bu Erni, bisa dipecat sebagai anak, katanya dalam hati.

“Hmmmm, bukan begitu le, bukan papah mamahmu melarang kamu bantu orang, tapi bu Erni kan juga punya suami, gak baik kamu pulang selarut itu dari rumah orang. Dilihat tetangga kan juga gak enak”, kata ayahnya.

“Iya le, mamah sih gak masalah, toh kamu juga sudah dewasa, tapi ya itu yang mamah papahmu khawatirkan”, imbuh ibunya.

“Oh gini mah, pah, sebenernya aku sudah mau pulang jam 9, aku juga udah bilang bu Erni kalo kerjaannya aku bawa ke rumah, tapi orangnya gak mau. Trus suaminya juga kena diabetes akut, lebih banyak tidur, kata suaminya juga gak masalah pah, mah” tukas mas Gas meyakinkan.

“Iya tapi le…”

“Lagian perumahan disana juga sepi, kayak gak punya tetangga. Anak² main diluar aja gak ada”, potong mas Gas. “Sebentar ya pah, mau ke kamar mandi dulu, kebelet”, ucap mas Gas sambil agak berlari ke kamar mandi.

Di meja makan, tampak kedua orangtua Gas sedang berbincang². Mereka berdiskusi kedepannya akan seperti apa memperlakukan mas Gas. Ibunya yang masih menyimpan rahasia hari itu tentang aksi mas Gas di kamar, mengungkapkan kepada suaminya untuk lebih membebaskan mas Gas, karena dirasa sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan. Mereka juga membicarakan tentang calon istri mas Gas yang mereka pilih, anak dari teman rekanan bisnis ayahnya.

Setelah dari kamar mandi, mas Gas kembali ke kamarnya dahulu. Ia melihat kedua orang tuanya sedang ngobrol serius. Ia makin penasaran dan sedikit takut, jikalau orangtua nya bakalan marah dengan sikap mas Gas semalam. Sikap yang tidak biasa. Tidak seperti mas Gas pemalu dan cuek yang dikenal ayah ibunya.

Saat hampir selesai menyiapkan keperluan kantornya, mas Gas mendengar ayahnya memanggil.

“Gas, coba kesini le !”, ayahnya memanggil.

“Iya pah”, sahut Gas.

“Duduk sini nak, papah sama mamah mau ngomong sesuatu”, perintah ayahnya. “Iya pah”,

“Gini nak, kamu saiki lak wes (kamu sekarang kan sudah) umur, piro (berapa) bu, 32 yo?”, “husss, 33 pak”, “lho iya toh, wes nambah (sudah nambah, laaahh lali (laaahh lupa) bapak, hahaha”, “paaak..pak.. genah wingi seng nguwehi kado yo bapak dewe (bukannya kemarin yang ngasih kado bapak sendiri)”, sahut menyahut ayah ibunya sambil terkekeh. “Lha itu lo le, apa ndak (tidak) kepikiran menikah to?”

Sambil garuk² kepala, mas Gas hanya diam.

“Kamu wes ono calon le?”, tanya ayahnya lagi.

“Ndak ono pah, sopo yoan?”, mas Gas balik nanya.

“Hmmmm… ini papah sama mamah ada calon, anak om Wisnu, rekanan bisnis papah. Namanya Tika, cantik, putih, berjilbab, sudah punya kerjaan juga, wes pokoke mantap le. (dah pokoknya mantap nak)”.

Tika??? Kok namanya seperti nama teman sekantor ya, pikir mas Gas dalam hati.

“Kerja dimana dia pah, ada fotonya pah?”, tanya mas Gas penasaran.

“Hahaha, penasaran juga anaknya papah. Itu tandanya kamu kepingin, tapi ndak punya calon le. Ndak punya ato ndak berani? Hahaha…”, canda ayahnya lagi. “Yeeeeh papah iki, ojo digarapi ae anake (jangan diledekin terus anaknya) iku”, bela bu Siti. Nampak pak Andi masih ketawa², terkekeh. ”

“Contonen (tiru/ikuti) papahmu ini le, papah dulu nembak mamahmu itu sampek 3x ditolak, papah ndak putus asa, akhirnya diterima juga. Ya to mah”, “heleh yo iyo, mamah kasihan papah melas gitu dulu. Hihihi”, canda bu Siti balik. “Tapi lak cinta to mah, cinta mati, hihihi”. Bu Siti pun nampak tersipu malu sambil mencubit manja lengan pak Andi.

Melihat mereka becanda, mas Gas tampak ikut bahagia. Dari dulu sampai sekarang, bertengkar aja gak pernah. Hanya beda pendapat tapi itu juga tak lama, karena bu Siti sendiri lebih memilih taat kepada suami, jadi lebih banyak mengiyakan. Mas Gas sendiri mau punya pasangan yang seperti bu Siti, ibunya. Yang sabar, rajin ibadah, dan suka becanda.

“Laaah kok malah guyonan to pah, mah. Hahahaha… ya wes aku manut ae (nurut aja) papah sama mamah”, ucap mas Gas sambil terkekeh.

“Lha sekarang kok pasrah gitu le, hihi, ya dilihat dulu anaknya, kalo kamu cocok mau lanjut ya papah mamah dukung”, kata bu Siti sambil tersenyum.

“Ya wes Gas berangkat dulu ya mah, pah”

“Iya le, hati². Papah sama mamah mau rundingan rencana selanjutnya tentang masa depan kamu”, sahut ayahnya.

“Jangan lupa mantelnya le !”, imbuh ibunya.

“Iya maaaah….”, jawab mas Gas sambil menstarter motornya dan berlalu.

Sementara itu…

Di rumah bu Erni. Terlihat ia dan bi Resti sedang berada di dapur. Bu Erni menyiapkan sarapan dan obat untuk suaminya, sedangkan bi Resti sedang mengeringkan baju yang sudah ia cuci sejak subuh tadi. Mereka sambil beraktivitas juga asik mengobrol, saling bertukar cerita kehidupan mereka masing².

“Bi, sudah lama menjanda?”, tanya bu Erni.

“Ehh, iya lumayan lama bu, 8 tahun. Sebetulnya mantan suami saya itu orangnya setia, romantis, dan hot”, jawab bi Resti sambil menerawang ke arah mesin cuci yang bergetar, tatapannya kosong namun ia juga sedikit tersenyum. “Tapi dia lebih memilih saudara saya yang lebih muda, saudara² suami juga membelanya.”. Lanjut nya dengan raut wajah murung.

Bu Erni yang mendengar cerita bi Resti, jadi ikutan sedih. “Ya Allah bi, sabar yah! Nanti pasti dapat gantinya kok”. Sahut bu Erni.

“Owalah buuu, usia saya sudah gak muda lagi, siapa juga yang mau sama saya. Jelek, kumel, gak putih. Hihi…”, jawab bi Resti dengan senyum yang agak kecut.

“Ehh jangan salah bi, jodoh gak ada yang tau. Body bi Resti loh masih montok. Saingan sama body saya. Hehe”, canda bu Erni.

“Hahahaha.., ibu bisa aja”,

“Loooo serius bi. Tuh susu sama bokongnya aja saya kalah. Hahahahaha….”, tawa bu Erni memecah suasana hening pagi itu.

“Walaaaaah bu Erni iniloh, bikin saya malu. Tapi memang kata suami saya dulu, body saya istimewa”, aku bi Resti terang²an. “Suami saya dulu pasti tiap hari minta jatah bu, bahkan kadang sehari sampai 3x, saya kewalahan. Hihihi…”, lanjutnya sambil ikutan tertawa.

“Oh ya bi, wuihhh hebat banget suaminya yah. Tapi…” tiba² raut wajah bu Erni berubah sedikit murung.

“Tta..tapi kenapa bu?”

“Suami saya setelah didiagnosa kena diabetes, jadi jarang sentuh saya. Itunya letoy, jadi gak nafsu gitu bi”. Ucap bu Erni. “Itunya juga cebol bi. Hihi….”, lanjutnya sambil senyum yang ditutupi dengan tangannya.

“Ooh gitu bu, sabar yah bu. Bisa diterapi kok. Biar bapak sembuh”. Sahut bi Resti.

“Sudah nyoba kemana² bi, yah sekarang saya cuman bisa merawatnya, jujur saya sayang sama suami saya. Meskipun keadaannya seperti itu. Apalagi kini makin lemah, kebanyakan bedrest”, jawab bu Erni sambil menaruh obat dan makanan diatas nampan.

“Saya ke kamar bapak dulu ya bi, nanti kita lanjut lagi…” kata bu Erni sambil mulai berjalan ke kamar utama.

“Ii iya bu… siapp”.

30 menit kemudian, nampak bu Erni berjalan lagi ke arah dapur sambil membawa nampan kosong. Jadwal meminum obat suaminya berikut sarapan telah ia berikan.

“Bapak tidur lagi ya bu? Tanya bi Resti sembari mengeluarkan baju yang akan dijemur.

“Iya bi, udah sarapan, minum obat ya rebahan lagi. Biasanya kalo pagi dia nonton tivi, kalo gak ya utek² HP nya. Tapi biasanya dia tidur kalo saya udah berangkat ngantor”, jawab bu erni. Ngocoks.com

“Ehmmmm… ya ya bu. Trus kalo siang waktu makan gimana bu? Lanjut bi Resti bertanya.

“Oh iya, kalo siang, bi Resti bangunin bapak abis dhuhur ya, sekitar setengah 1, buat minum obat sama makan siang. Agak susah bangunin bapak, jadi bi Resti harus menggoyang² kaki bapak pas bangunin. Jangan ditinggal sampai bapak bangun. Klo malam, saya yang ngeladenin. Oh iya bi Resti bersih² tiap hari ya. Kalo ngepel seminggu 2x aja. Cuci baju juga kalo di keranjang udah penuh aja.” Jelas bu Erni panjang lebar.

“Nggeh bu, saya laksanakan”, jawab bi Resti meyakinkan.

“Nanti untuk bayaran bi Resti, saya kasih seminggu sekali ya. 2 juta cukup kan bi?

Kaget bukan main bi Resti mendengarnya. Seolah tak percaya, seminggu bekerja digaji 2jt, sebuah bayaran yang luar biasa banyak. Namun ia tak heran, meskipun bu Erni pekerja kantoran, suaminya kaya raya. Ibunya bu Erni juga memiliki rumah di desa yang besar dan bagus, mobilnya oun ada 2.

“Aaaa…aah iya bu, terimakasih banyak”.

“Oh iya, bi Resti nanti pulangnya sebulan sekali gakpapa kan?” Tanya bu Erni.

“Ii..iya bu, siap, nanti saya kabarin anak² di rumah”, jawabnya.

Sambil menyruput susu hangat, bu Erni kembali bertanya, “Oh iya bi, gimana tadi ceritanya, lanjutin dong, saya seneng sekali di rumah sekarang ada teman ngobrol”.

“Ooh yang tadi, ya gitu bu. Suami saya kepincut sama sodara yang lebih muda usianya. Cantik dan putih. Beberapa kali saya pergokin chat dia sama wanita itu. Gak nyangka aja dia bisa berbuat seperti itu dengan sodara dia sendiri. Padahal saya gak kurang² melayani nafsunya” ungkap bi Resti.

“Nafsunya gede ya bi suaminya itu. Biasanya klo udah main perempuan, keterusan loh. Jadi sama yang baru kemungkinan bakal main perempuan lagi”, terang bu Erni.

“Oh gitu ya bu. Saya ndak paham. Padahal saya terima dia apa adanya. Tiap dia minta, selalu saja dia yang keluar duluan. Dasar nafsu gede tapi peltu. Hihi. Beda sama pacar saya dulu. Burungnya gede panjang, bener² puas. Tapi sayangnya, kami harus putus. Dia jadi tki ke taiwan. Segini nih bu panjangnya kalo tegang, sambil menunjuk botol plastik kecap kecil yang 130ml.” Kata bi Resti dengan bangga.

“Hihi…bisa aja bi Resti. Masih mending bisa menyetubuhi biii..” balas bu Erni sambil senyum.

“menyetubuhi, apa itu bu?”, tanya bi Resti penasaran.

“Oooh, itu bersetubuh, kalo orang jawa bilangnya…”

KENTU, ucap keduanya bebarengan sambil tertawa.

Dalam hati bu Erni, “hihi…belum tau rudal mas Gas, bisa² kamu pingsan bi”.

“Bi Resti, saya lihat bi Resti ini orangnya asik juga ya. Saya harap bi Resti kerasan disini. Saya yakin bi Resti orangnya amanah”, puji bu Erni.

“Ah jenengan bisa aja bu, insyaa Allah bu saya amanah, saya bisa jaga kepercayaan. Kalo kita dipercaya orang jangan sampai kita khianati, iya kan. Soalnya nanti pasti bakal balik ke kita juga”, tegasnya.

“Aah iya iya bi, betul itu”.

“Sssoalnya ssaya mau cerita sesuatu bi. Tapi saya harap bi Resti bisa jaga rahasia ya. Jangan sampai siapapun tahu”.

“Iya bu, siap. Kalo memang jenengan mau curhat, ndakpapa bu saya dengarkan”.

“Ehmmm… oke deh. Makasih ya bi. Gini bi, semenjak suami saya kena diabetes akut, jujur saya haus kepuasan ranjang. Akhirnya saya mulai nonton film² porno. Saya bener² haus sama yang gede dan panjang². Hihi..”

“Wiihh bu, seleranya sama seperti saya lhoo”

“Hihi, iya, kan enak kalo panjang gede, bisa mentok, puas banget kan”.

“Hihihi, iya bener bu. Enak pol itu. Saya dulu tiap kentu sama pacar, selalu keluar bu. Ya meskipun gak sampai mentok, tapi cuma burungnya pacar saya itu yang paling panjang. Saya juga pacaran gak cuman sekali bu. Hahahaha”, kata bi Resti sambil terkekeh.

“Wah wah, bi Resti petualang seks juga rupanya. Oh iya, karena saya sering nonton film porno itu, saya mulai cari laki² lain, hanya untuk kepuasan birahi saya bi. Saya rela keluarkan uang untuk bayar mereka.

“wihh bu, sampai segitunya” bi Resti keheranan.

“Tapi ya gitu bi, rata² ukuran mereka ya sama, standar orang indo. Gak ada yang super. Hihi.. tapi saya gak mau main hati bi, jadi saya gak ada perasaan cinta sama mereka, beda dengan bi Resti kan. Kalo bi Resti kan sama pacar.” Ungkap bu Erni.

“Iya bu, saya cuman sama pacar saya. Saya baru tau loh, ada wanita yang mau keluar duit buat cari kepuasan. Hihi. Maaf ya bu”

“Ndakpapa bi, kita sama² sudah dewasa, kebetulan selera kita juga sama. Saya jadi seneng bisa curhat. Tapi jaga rahasia saya ya bi !”.

“Siapp buuuu..”

“Bu, saya mau tanya, tapi jenengan jangan marah ya”, ucap bi Resti sambil agak takut.

“Iya tanya aja bi, mau tanya apa?”.

“Aa aanu bu, aanu..”

“Heleh, anu apa bi? Anu bi Resti gatel? Hahaha”, canda bu Erni.

“Hihi, bukan buuu. Aaanu itu semalem bu. Ssa saya pas mau kkke ke kamar mandi, sssaya ketemu sama laki², cuman pake celana pendek, trus langsung buru² pergi”.

“Hmmm trus trus…” bu Erni merasa bi Resti tau yang dia lakukan dengan mas Gas di kamar tamu.

“Eeee..eee.. sssa saya jjuga, maaf bu…”

“Waduh, bi Resti, cerita aja gakpapa, saya gak marah”.

“Ii itu bu, ssa saya semalem dengar dari luar kamar itu, ada suara jenengan sama laki², Seraya menunjuk ke arah kamar tamu.

“Hehehe…pssst… jangan bilang bapak ya bi !”. Tegas bu Erni.

“Aah ii iya bu, saya jaga rahasia ibu kok”, balas bi Resti.

“Iya bi, saya memang lagi enak² sama laki² lain. Baru kali ini saya lakukan di rumah. Dia mas Gas, orang yang saya ceritain ke bi Resti kemarin”.

“Ooooh mas Gas, nggeh nggeh bu”.

“Saya sebenernya mau ketawa waktu bi Resti bilang punya pacar bi Resti dulu panjangnya sebotol plastik kecap kecil itu. Karena punya mas Gas 2x nya bi. Hihihi… duuuh kalo inget jadi bikin saya nafsu bi”. Jelas bu Erni sambil menerawang ke langit².

“Haaaah… 2x panjangnya? Bi Resti melongo. Dalam hati bi Resti, pantas yang semalam ia lihat menjuntai kebawah pas lemes aja segitu panjang, apalagi pas tegang.

“Iya bi, gede banget, panjang lagi. Baru kali ini saya liat yang segede itu dan sepanjang itu. Pokonya bikin merinding bi” racau bu Erni.

“Wah kalo 2x panjangnya apa ndak sakit to bu? Kan jebol rahim kita. Punya pacar saya dulu aja udah enak. Hiiiiii serem banget buuu..”

“Hehe, bi Resti, saya juga belum pernah nyoba bi. Semalem saya cuman saling emut aja. Saya ngeliat rudalnya mas Gas aja udah bikin nafsu pengen nyoba. Tapi pas saya keluar semalem karena dia emut, saya ketiduran. Saya juga ngerasa diperhatiin sama mas Gas, karena paginya saya bangun, sudah pake selimut.”. Terang bu Erni sembari wajahnya berbunga².

“Iii iiya bu”, bi Resti masih tertegun dengan cerita bu Erni.

“ya sudah bi, jaga rahasia ya. Saya mau siap² berangkat kerja”. Potong bu Erni.

“Nggeh bu, siap”, saya juga mau nyapu jalan sama teras.

Bu Erni pun berlalu, menuju kamar, dan tak lama ia pamitan dengan suaminya, lalu dengan bi Resti yang tengah menyapu halaman depan.

Seperti hari² biasa, mas Gas, Tika, Ambar dan Ajeng kembali beraktivitas dengan berlembar² tugas. Tak terkecuali bu Erni atasan mereka. Yang pagi itu datang terburu² memasuki ruangannya, tak lama berselang, iapun beranjak keluar lagi dengan membawa setumpuk berkas.

Sambil berlalu didepan meja mas Gas, bu Erni mengerlingkan mata ke arah mas Gas, mas Gas pun membalas nya dengan senyuman.

Segera mas Gas mengambil HP nya sesaat setelah bu Erni keluar ruangan.

“Hati² ya ibuku sayang….mmmuaaach…”, isi chat mas Gas ke bu Erni.

Sekitar 10 menitan, chat dari pria idamannya pun terbalas.

“Iya sayang, makasih ya semalam udah care sama aku. Kasih selimut, hehe. Mmmuuaach…”

“Hihi, biar kamu gak kedinginan sayang. Oh iya, Jam berapa nanti aku ke rumah?”

“Lebih awal lebih enak, biar bisa lama² sama kamu. Hihihi. Trus bapak gimana? Kan ada bi Resti juga di rumah”

“Kalo mereka aku yang urus, aku janji gak akan ada yang ganggu waktu kita lagi. Aku mau ajarin yang baru sama kamu. Hihihi”

“Iiih jadi pensaran. Hehe… y udah nanti sore aku chat kalo mau berangkat yah”.

“Hu um, ya udah aku rapat dulu ya. Mmmuuuuuaaaach…”

“Mmmuuuuaaach…”

Tika dan Ambar yang melihat mas Gas senyum² mulai beraksi.

“Ehh tuh liat mas Gas, gak biasanya dia seperti itu. Senyum² di depan HP, kayaknya lagi chat sama seseorang”, ucap Ambar.

“Iya i, lagi kasmaran mungkin, hihihi…” sahut Tika.

Ajeng yang serius di depan laptopnya hanya senyum². Tika yang melirik ke arah Ajeng spontan langsung bertanya.

“Ehh jeng, kamu kan menang suit kemaren. Gimana² ceritain!”, tanya Tika.

“Ho..oh, yokpo critane Jeng?”, imbuh Ambar

“Hihihi…”, Ajeng lagi² senyum sambil melirik ke arah kedua temannya itu.

“Lah yokpo arek iki (lah gimana nih anak), ditakoni malah mesam mesem (ditanya malah senyum²). Ayo i, crita o, penasaran aku!”

“Husss, ntar aja. Pas istirahat. Ada cctv. Tuh.tuh.tuh”, sambil menunjuk ke adah 3 cctv di ruangan itu.

“Oh iya, hihi, ya wes awas tak tagih nanti.” Ucap Ambar.

Merekapun kembali bekerja, sementara itu, sekitar jam 10 an, mas Gas keluar dari kantor untuk melaksanakan tugas dari Bu Erni. Mengambil obat di rumah sakit dan menyiapkannya untuk suami bu Erni.

Saat jam istirahat, di kantin, Ajeng pun mulai bercerita bersama 2 bestie nya, Ambar dan Tika.

“Ya gitu deh, sore itu aku alasan kunciku ilang. Abis kan kamu nyletuk motorku ngadat, eeeh mas Gas diem aja. Ya aku putar otak dong. Hahahaha…”, ujarnya sambil tertawa.

Disusul tawa kedua temannya. Hahahaha…

“Trus trus?”

“Pas dibonceng ya aku peluk dong, tak tempelin susuku yang gede ini ke punggungnya. Aku tau mas Gas gelisah. Lha wong empuk gede gini, siapa yang gak suka. Hihi…”

“Edan kamu Jeng. Nekaaaaaat”, sahut Ambar. “Trusss..?”

“Trus mas Gas kan sering gerak pas di jalan, aku liat tangan kirinya berulang kali turun ke arah pahanya, ya aku diemin aja sambil tak gesek²in susuku. Hihi.. aku tau dia betulin rudalnya gaiss… hahahahaha…”

“Heh, ojo banter² (jangan kenceng²), malu Jeng diliatin orang!”. Tampak beberapa orang pegawai dikantin menoleh ke arah mereka.

“Oh iyo, hihi…”, Ajengpun kembali bercerita sambil berbisik².

“Trus, pas aku turun, tau gak kalian aku liat apa?”

“Aku tau, kamu pasti ngelirik ke rudalnya kan?”, sahut Tika.

“Ho oh. Waduuuuh gais, guendheng (gilaaaak), rudalnya ngaceng (tegang). Nlolor dowo ndek pupune (menjulur gede panjang di pahanya). Aku merinding kalo inget itu. Bayangin, panjangnya setengah paha lebih. Ngecap rudal (nonjol bentuk rudal)”, ungkap Ajeng sambil menerawang.

Gleekkk…. kedua temannya termangu, menelan ludah. Sejenak hening, tanpa ada kata² keluar dari mulut mereka. Ambar dan Tika seolah² terbius.

“Woyyy…hayoo mbayangin yaaa”, kata² Ajeng membuat mereka sadar dari lamunan.

Ajeng lalu meraih botol kecap kaca, “nah, kira² segini nih panjangnya.” Ajengpun menerawang lagi sambil menggigit bibir bawahnya. “Kalo kena aku kamu bakal tak perkosa mas, sumpah kamu bikin aku tergila²”, lamun Ajeng dalam hati.

Kedua temannya juga melamun, seperti membayangkan sesuatu.

“Duh mas Gas, penasaran pengen ngerasain punyamu. Aku rela putusin pacarku demi kamu masss…aaah… “, ucap Tika dalam hati.

“Buset mas Gas, punya pacarku setengah punyamu mas, pasti ngilu enak itu nyodok rahimku”, Ambar pun membatin.

Treeeeeeeeet…treeeeeeeeet…treeeeeeeet..

Lamunan mereka buyar, saat bel tanda istirahat telah usai berbunyi. Merekapun segera kembali ke ruangan kerja. Kini mereka bertiga makin penasaran plus tergila² dengan pria berbadan atletis itu. Entah apa yang bakal mereka rencanakan setelah mendengar seklumit pengalaman dari teman mereka sendiri, Ajeng.

Sementara itu…

Mas Gas yang tiba di rumah bu Erni siang itu sekitar jam 11 an, sudah sekitar 10 menit mengetuk² pintu rumah bu Erni. Itu karena ia tak punya nomor bi Resti, dan bu Erni yang dihubungi dari tadi hanya centang 1.

Ternyata bi Resti ada di kamar mandi, setelah keluar dari kamar mandi, iapun sayup² mendengar ketukan pintu pagar. Iapun berfikir kalo itu mas Gas, segera ia kedepan hanya menggunakan handuk sebagai kemben. Setelah ia melongok dari balik jendela, ternyata benar, orang di depan pagar itu mas Gas, yang ditemuinya semalam di halaman belakang, yang hanya menggunakan boxer pendek dan rudalnya menjuntai nongol. Tiba² terbesit dalam benak bi Resti untuk menggoda mas Gas, dengan keluar hanya memakai handuk yang hanya sampai paha atas.

Setelah membuka pintu, ia langsung berlari ke arah pagar. Sambil setengah berlari, payudaranya yang tak cukup ditutupi oleh handuk, nampak berayun naik turun. Mas Gas pun hanya melongo melihat pemandangan itu.

“Mas Gas ya?”, sapa bi Resti sambil membuka pagar.

“Eee..ee.. iya benar bi…”, jawab mas Gas. “Ini mau antar obat sama siapin buat bapak”. Lidahnya agak kelu saat melihat payudara jumbo bi Resti yang mnegkilat, sedikit basah oleh air. Tak henti²nya matanya memandang susu bi Resti, betul² membuat darahnya berdesir, aliran darahnya mengalir cepat menuju otak dan rudalya. Hingga rudalnya pun berkedut dan mulai mengembang.

“Mas Gas, kok diem, gak masuk nih, saya malu loh pake handuk keluar?”, kata bi Resti menyadarkan lamunan mas Gas. Ia tahu kalo mas Gas melihat payudara nya berulang kali. Pentil bi Resti yang besar juga terlihat menonjol dibalik handuk. Makin membuat mas Gas salah tingkah.

“Ahh iya bi, saya masuk ya, permisi”, ia berlalu melewati bi Resti sambil menutupi selangkangannya yang mulai mengembang.

Bi Resti senyum², gairahnya yang dulu terkubur, kini bangkit setelah mendengar cerita bu Erni tadi pagi. Rasa penasaran bagaimana bentuk rudal pria atletis itu membuat nya bertingkah agak nakal.

Mas Gas pun segera ke dapur, ia siapkan obat bapak, ia letakkan di atas nampan, dan sisanya ia taruh diatas meja dapur disertai tulisan jadwal minumnya. Lalu ia menuju kamar bapak. Saat akan berjalan ke kamar utama, ia berpapasan lagi dengan bi Resti.

Saat itu rudalnya masih mengembang, sehingga terlihat agak menonjol, dan ia lupa menutupi dengan tangannya. Bi Resti pun yang melihat itu, sempat berhenti dan mengamatinya. Gairahnya pun perlahan semakin naik. Keduanya saling bertatapan satu dengan lain. Wajah mas Gas pun malu, buru² ia ke kamar bapak.

Bi Resti pun yang gelisah, mencoba menutupi selangkangannga dengan 2 tangan, karena lengannya merangsek ke dalam, membuat payudaranya tertekan dari kanan dan kiri, semakin menyembul keluar. Seperti akan tumpah.

10 menit kemudian, mas Gas keluar, dan berpapasan dengan bi Resti lagi yang masih memakai handuk.

“Bb..biii… maaf kok masih pakai handuk dari tadi?”, tanya mas Gas.

“Eee…eee iya mas, ini saya buatkan teh hangat, nanti keburu mas Gas pergi. Makanya saya belum sempat ganti. Mas Gas duduk dulu aja.”, jawab bi Resti. “Ibu tadi pagi juga udah masak, saya ikut bantu. Kalo mas Gas mau makan, ayo saya temenin ke dapur.

“Aa…aa..iya bi, gampang kalo sarapan. Saya udah tadi di rumah”. Ucapnya sambil menutupi celananya yang makin menggembung. Ia cukup kesakitan karena posisinya ke bawah. Sedikit demi sedikit ia geser saat pandangan bi Resti ke tempat lain, hingga akhirnya sekarang udah sejajar sama pahanya.

“Hihi, bi Resti gak ganti baju, nanti melorot loh”. Canda mas Gas menggoda. Rupanya kini mas Gas makin tak tahan godaan, apalagi godaan payudara jumbo, pinggul yang seksi dan bokong yang montok.

“Iiih mas Gas, hihi. Ya nggak mungkin lah, kan ketahan anunya bibi ini”, sambil ia pegang payudaranya. Baru 2x bertemu, bi Resti pun juga makin berani menggoda. Ia seolah lupa kesedihan masa lalunya.

“Waduhh bii…hihi… kok gitu”, mas Gas pun semakin gelisah, rudalnya makin lama makin menegang. Makin mejulur di pahanya. Iapun berinisiatif menutupinya dengan tas. Iapun buru² meminum teh yang disuguhkan tadi, karena mulutnya terasa kering, berulang kali ia menelan ludah. Bi Resti yang melihat gelagat mas Gas yang salah tingkah, makin menggodanya.

“Mas Gas, mau lagi teh nya yah?, atau mau es teh?” Kata bi Resti sambil membungkukkan badannya seraya mengambil gelas teh tadi di depan mas Gas. Berusaha menggoda dengan menyuguhkan bongkahan payudaranya yang menggantung saat tubuhnya membungkuk. Membuat mas Gas makin gelisah.

“Atau mau susu mas?”, tanya bi Resti lagi sambil tersenyum nakal.

“Eee…ee..iya boleh deh bi, susu aja”, jawab mas Gas. Mata mas Gas tak berkedip melihat bongkahan payudara besar bi Resti yang menggantung tertahan handuk itu. Seolah² mau menyembul keluar.

“Susu yang asli apa yang bibi punya mas? Hihi…”, godanya lagi.

“Waduhhhh biii, jangan yang bi Resti punya. Nanti saya gak bisa balik ke kantor. Hahahaha…, bisa aja bi Resti nih”. Balas mas Gas yang juga berusaha menggoda.

Tiba² tanpa sengaja, saat akan merapatkan tangannya yang sembari memegang gelas, simpul handuk bi Resti terbuka, handuknya pun terlepas dan jatuh ke lantai. Nampaklah sepasang payudara yang berukuran jumbo, agak kendor dikit tapi tetap menggairahkan, pinggul yang seksi dan rambut serambi lempit bi Resti yang lebat. Kulitnya meskipun sawo matang, tetap terlihat indah karena mulus tanpa cacat.

Karena kaget, buru² bi Resti menarik handuk tadi dan segera melilitkannya lagi. Raut wajahnya memerah. Namun di balik kejadian tak terduga itu, bi Resti senang, karena ia tanpa sengaja berhasil menggoda mas Gas.

Karena kaget, mas Gas buru² menutup matanya dengan kedua tangannya, ia duduk diam terpaku, sehingga membuat tasnya yang ia pakai menutupi rudalnya yang menonjol di balik celana lunglai ke samping.

Saat itu juga bi Resti kaget, syok, bercampur merinding, melihat tonjolan berbentuk rudal yang membujur di paha mas Gas. Terbungkus kain celana cokelat mas Gas yang memang agak ketat. Ia kaget sekali karena ukurannya melebihi setengah panjang paha mas Gas. Sepanjang botol kecap berbahan kaca warna hijau.

“Astaga….burungnya, gede banget, kepalanya, ototnya, nonjol banget, bener² menggairahkan”, ucap bi Resti dalam hati. “Beruntung banget bu Erni kenal sama orang ini, andai saja mas Gas ngajak aku kentu, aku pasti langsung mengiyakan, tapi apa bisa muat ya?”, ia melamun sambil tak berkedip memandang tonjolan yang menggoda itu.

Sambil mengintip di balik jari²nya, mas Gas yang tau bi Resti sudah mengenakan kembali handuknya lalu menurunkan tangannya.

“Aah…mm.mmaaa..mmaaf bi, saya gak sengaja melihat bi Resti…”, ucap Gas lirih.

“Eh iya gakpapa mas, ini kesenggol tangan saya, jadi nya jatuh deh. Hihi…” balas bi Resti sambil cekikikan.

“Kok bi Resti ketawa?”, tanya mas Gas heran.

“Hihi…ii..iya mas, abis itunya loh, nonjol banget. Itu yang di paha kiri mas Gas, Hihihi…”, ucap bi Resti sambil kepalanya menunduk dan senyum².

“Aiiihhh…mm…mma..maaf bi, bukan maksut saya anu…. aa…anu…bb.biii….”, mas Gas yang sadar langsung menutupinya dengan tangan. Meski ia tutupi dengan tangan, tetap aja ada bagian rudalnya yang masih tercetak jelas di celananya.

“Hihihi…itu mas, masih nongol”, bi Resti sambil melirik ke arah kepala dan batang rudal mas Gas yang tidak tertutupi tangan.

“Oohh..aduuuh….mma…maaf bbb..bii…”, mas Gas berusaha menutupinya lagi menutup pahanya. Lalu ia tutupi dengan tas.

“Kegedean burung mas Gas itu. Hihihi…”, canda bi Resti lagi.

“Aiiih bi Resti bisa aja. Bukannya ukuran laki² rata² juga segini bi”, ucap mas Gas sambil melihat ke arah wajah bi Resti.

“Wah yo nggak dong mas Gas, punya mas nya itu ukuran orang afrika. Hahaha”, bi Resti terkekeh.

Semalam bu Erni yang bilang kalo rudalnya mas Gas jumbo, gede banget. Sekarang bi Resti. Kapan hari waktu antar Ajeng pulang, ia juga kaget melihat rudalnya yang sempat tegang. Mas Gas jadi sempat berfikir, apakah benar rudalnya itu diatas standar orang² indo. Nampak ia termenung.

“Mas, bi Resti ganti baju dulu ya. Takut nanti melorot lagi, nanti mas Gas bingung. Hihi….”, goda bi Resti lagi. Mas Gas pun hanya mengangguk namun pandangannya menerawang. Ia lalu melihat bi Resti yang berjalan ke arah belakang, tampak ia mampir menaruh gelas teh di dapur, setelah itu ia berjalan ke kamarnya.

Mas Gas terkesima juga dengan goyangan bokong bi Resti yang gede, naik turun bergetar. Ia berfikir, dua wanita berbadan montok ini hampir sama dari perawakannya. Hanya saja kulit yang membedakan. Sama² manis, sama² berpayudara besar, dan sepertinya sama² haus kepuasan ranjang. Mas Gas menyimpulkan sendiri dari cara mereka berbicara dan menggoda.

“Aku coba intip bi Resti deh, mumpung bapak juga udah tidur dari tadi”, ucap mas Gas dalam hati. Iapun berjalan ke belakang dengan rudal yang mulai agak berubah ke ukuran semula. Namun masih saja menonjol di bagian kiri paha atasnya.

Perlahan ia intip dari kamar yang tidak ditutup. Sepertinya bi Resti sengaja ingin pamer kemontokan dirinya di depan mas Gas. Dari balik daun pintu, mas Gas betul² menikmati pemandangan indah itu. Ia melihat dari kaki bi Resti yang mulus, naik ke betisnya yang ramping dan pahanya yang berisi, naik ke bokongnya yang besar, belahan pantatnya yang seksi dengan garis gelap memanjang dari pangkal paha ke bawah panggul, lalu pinggulnya yang lebar. Body nya betul² mirip bu Erni.

Bi Resti yang sadar ada yang mengintip, ia sengaja berlama² telanjang. Semakin lama sadar dirinya dipandang mas Gas, bi Resti semakin bernafsu. Dan benar saja, rudal mas Gas pun menegang lagi.

“Masuk aja mas, gakpapa. Bi Resti dah tau kalo mas Gas ngintip. Hehehe…”, ucap bi Resti mengagetkan mas Gas. Keringat dingin langsung menghinggapi tengkuk dan punggung mas Gas. Ia sungguh terkejut keberadaan nya diketahui bi Resti.

“Masuk sini mas, gakpapa”, ajaknya lagi.

“Loh kok diem aja mas, siniii….”, panggil bi Resti.

“Eee..ee, anu….aa..aa..an…anuuu…itu bii aa..nu. tergagap mas Gas yang terbongkar aksi nakalnya.

“halah, mas, sini lo masuk. Ngobrolnya disini aja!”, ucap bi Resti lagi sambil berjalan ke arah suara mas Gas.

Lalu tangan bi Resti dari balik pintu menggapai tangan mas Gas. “Ehhh…siniiiii….”, ditariknya tangan mas Gas, diajaknya masuk ke kamar.

Tak sehelai benang pun melilit tubuh bi Resti, ia juga tak berusaha menutupinya. Ia biarkan dirinya telanjang bulat di depan mas Gas. Mas Gas yang ditarik masuk, tetap menunduk. Cemas tapi senang, mas Gas terlihat belingsatan sambil menutupi paha dan selangkangannya.

“Mas… mau lihat bibi telanjang kan. Bibi tau mas. Soalnya rudal mas Gas tadi kan tegang pas handuk bibi melorot. Jangan gugup gitu dong. Hehehe…”, goda bi Resti. Sambil bi Resti menutup pintu.

“Eee..ee.. a.a..anu bb..b.bi…”, ia masih gugup, ingin mengaku tapi malu. “Iii..iii..nggak bi, nggak kok,” dalihnya. Ia masih menunduk, tak berani melihat terang²an.

“Hihi, suka sama susu besar ini ya”, sambil bi Resti menempelkan payudaranya yang besar menggantung, putingnya yang besar berwarna coklat, menekan² punggung mas Gas. Makin tak karuan jantung mas Gas berdegup. Lalu ia merasakan ada sebuah sentuhan yang mengelus² rudalnya yang tegang.

Bi Resti raba dan elus dari pangkal rudal, perlahan turun ke batangnya, lalu memainkan jarinya di jamur mas Gas yang tercetak jelas di celananya. Membuat rudal mas Gas makin menegang, ia merasakan sakit di pangkal rudalnya, karena saat tegang, rudalnya harusnya menjulang ke atas hampir menyentuh perutnya. Saat ini dihimpit celananya yang agak ketat, terkurung tak bisa bergerak bebas.

“Gak sakit apa mas ditaruh menyamping gini, kenceng banget loh ini. Kerassss…”, bisik bi Resti di telingannya dari belakang. Bi Resti garuk² manja batangnya dan sesekali ia remas.

Perasaan mas Gas makin gak karuan, panas dingin, jantungnya makin berdegup kencang, diikuti rudalnya yang berkedut² saat diraba² bi Resti.

“Ee..eeh… rudalnya gerak² mas, aiiihhh…. kok makin gede gini ?”, bisik bi Resti. Berdiri bulu kuduk bi Resti, ia juga merasakan gairah yang menggebu². Aliran darahnya mengalir cepat, jantungnya memompa tak beraturan. Susunya yang menekan² punggung mas Gas mulai berkeringat, terkena hawa panas keduanya. Menjadikan gesekan yang dirasakan mas Gas begitu lembut. serambi lempit bi Resti pun mulai basah, lendir hangat mulai mengalir membasahi bibir serambi lempitnya, menelusuri rambut serambi lempitnya yang lebat.

“Bb…biii….bi Resti nnn..naa..kal…”, bisik mas Gas. “rudalku kena gencet celana bii.., udah dong biii….”.

“Bukaaa yaah maaasss….”, bisiknya manja dengan menempelkan bibir bi Resti di telinga mas Gas. Dengus nafas bi Resti dan gerakan bibir bi Resti membuat mas Gas geli dan makin terangsang. Ia pun berani mencium dan menjilat telinga mas Gas. Ia lingkarkan tangan kanannya ke perut mas Gas, meraba² perut sixpacknya, lalu naik ke dadanya yang bidang. Sementara tangan kiri bi Resti asik bermain dengan rudal mas Gas.

“Badan mas Gas bagus banget….”

“Ininya loh….bikin bibi gemesss…aaah…”, ucapnya lagi sambil mencium telinga mas Gas, dan tangannya meremas agak kuat batang rudal yang sudah menegang keras. “Bibi buka yah mas, celananya…ssshh.., kasihan mmm… rudalnyaaaah mas….”

“Jjjaa..jjaangan bb..b..bii, nn…nnan…nanti…ggimaa…na…oooh….ssssh…”, desah mas Gas sambil memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan dan dekapan tubuh montok bi Resti.

Tangan kanan bi Resti kini menelusuri resleting mas Gas. Dilepasnya pengait ikat pinggang itu, ia kendorkan, lalu ia turunkan resleting celana cokelat itu dan ia buka dengan kedua tangannya. Lalu kedua tangan bi Resti memegang celana bagian pinggang. Ia turunkan perlahan hingga sampai di atas pangkal paha. Ia turunkan lagi perlahan² hingga yang menahannya kini adalah rudal tegang mas Gas yang menonjol mengarah ke bawah.

Setelah celana kerja mas Gas jatuh ke lantai, tampaklah boxer mas Gas yang masih membungkus bokong dan rudal jumbonya. Bi Resti pun kembali mengelus² rudal mas Gas yang masih terbungkus boxer. Tangan kirinya menelusuri paha bagian kiri yang tertekan rudal mas Gas yang tegang. Menekan hingga boxer itu membumbung.

Tangan bi Resti mengelus² sisa batang dan kepala rudal mas Gas yang menyembul keluar dari boxer itu, seolah berontak ingin keluar. Bi Resti pun menggigit bibir bawahnya, ia nikmati permukaan kulit batang rudal yang berurat, ia telusuri hingga ke kepala jamur nya yang berbentuk indah, jari² tangannya memainkkan kepala rudal yang mengkilat itu, sesekali jarinya mengusap² lubangnya yang sedikit basah oleh pejuh yang keluar, ia usap² diratakan ke sekitar lubang pipis.

“Ssshhh… mas, kamu perkasa banget”, bisik bi Resti lagi.

“Bbbii….aaaah….ssssh….”, mas Gas hanya bisa mendesah.

“Bibi gemes banget sama gede nya mas, puanjang lagi….iiiiihhh…..mmmm….”, ucap bi Resti lagi, ia nampak sangat bernafsu dengan rudal torpedo mas Gas. Ia lalu mengarahkan tangannya lagi ke boxer, lalu memelorotkannya. Kini celana dan boxer mas Gas sudah jatuh kebawah semua meski masih melilit kedua kakinya.

Lalu tangan kiri bi Resti menyusuri paha, naik lagi ke atas hingga kedua tangannya bertemu di pangkal rudal mas Gas. Bi Resti lalu mengenggam batang rudal mas Gas, Ia coba lingkarkan jari tengah dan jempolnya dibatang berurat itu, tak sampai bertemu memang kedua jarinya itu, karena saking tebalnya batang rudal mas Gas. Bi Resti semakin merinding, nafasnya makin menderu².

“Tttebel bbbanget maaas….., oooh….maaas….”, bisiknya lagi sambil menciumi leher mas Gas. Bi Resti memang cukup tinggi, hampir setinggi mas Gas, hanya selisih sekitar 10 sentian. Itu yang membuatnya mudah memeluk tubuh pria kekar itu dan berbisik di telinganya.

“Aaaargh…aaah…sssh…..oooh…bii….bibiii…”, mas Gas hanya bisa mendesah dari tadi, ia begitu menikmati rangsangan dari bi Resti.

Tangan kiri bi Resti mulai mengocok perlahan batang rudal mas Gas yang mengacung ke atas mendekati perutnya yang sixpack. Sedang tangan kanannya memainkan bagian kepala jamurnya. Perlahan ia kocok lembut dengan kedua tangannya naik turun. Sambil sesekali ia elus juga biji zakar mas Gas yang gede. Ia mainkan kedua biji zakarnya bergantian dengan jari²nya.

Sesaat bi Resti melepas tangan kirinya, ia lalu meludah ke telapak tangannya, ia gunakan untuk melumuri rudal mas yon dari arah pangkal, lalu ia meludah lagi untuk melumuri bagian batangnya. Ia urut naik ke atas hingga sekarang, tangan kirinya menggenggam kepala rudal yang menjulang panjang. Ia mainkan dengan menempelkan kepala rudal mas Gas diperut atas pusar mas Gas. Tangan kanannya mengelus² batang kekar itu dari pangkal, hingga kedua tangannya bertemu di pusar mas Gas.

“Panjaaaaaang….mmm…gedeeee…..mas, bibi gemes banget pengen nyoba….sssh…” bisiknya kembali dengan kini bibirnya menciumi tengkuk mas Gas.

“Bbbiii….ooooh…sssssh…..aaaargh…bbii…biii..pppee…ngen…nnyoooba apa bbi….?”, tanya mas Gas dengan gugup dan nada suara bergetar. Kini tangan mas Gas yang sedari tadi diam, mulai ia arahkan kebelakang, mengelus pinggang bi Resti.

“Dddiii..mmasuukin…ssshm..mmserambi lempit bbbiibi mmaas…, ppe..pengen bbangeeet….bbibi pengeeen bbangeeeet…aaah…maaaass”, balasnya sambil mendesah. Sebetulnya bi Resti sendiri agak takut, karena baru kali ini ia menjumpai rudal yang panjangnya se botol kecap. Ia takut ngilu. Tapi hawa nafsunya membujuknya untuk mencoba.

“Hhhaaah…ddima…sssukin?”, tanya Gas kaget.

Mereka berdua yang tengah asyik terbius gairah, tiba² saling menghentikan aksinya. Pergumulan hot itu harus berhenti ketika HP mas Gas berdering.

“Mas, HP nya bunyi tuh. Dilihat dulu, siapa tau bu Erni!”, ucap bi Resti.

“Ahh iya bi”, dengan celana dan boxer yang masih melorot, mas Gas pun segera meraih tasnya diatas ranjang bi Resti, ia ambil HP yang masih berdering, dan benar ternyata dari Bu Erni. Saat akan diangkat, tiba² berhenti berdering. Mas Gas tak menelpon balik, karena panggilan tak terjawab itu baru sekali. Iapun membuka WA dan mengirim pesan ke bu Erni.

“Iya sayang, maaf aku tadi di kamar mandi rumahmu, perutku mules, ada apa?”

“Oooh nggak sayang, cuman mau nelpon aja, mau ingetin kamu ke rumah, eeeh ternyata udah di rumah. Obat bapak udah dikasih sayang? Bi Resti lagi ngapain?”

“Hehe, ya gak lupa lah sayang. Udah kukasih tadi. Bapak sekarang lagi tidur. Aku gak tau bi Resti lagi ngapain sayang, emang kenapa? Aku mau balik ke kantor ini”, dalih mas Gas.

“Oh gitu, gakpapa say, cuman nanya aja kok. y udah sayang, ati² yah. Nanti sore jangan lupa ke rumah. Mmmuuuaaach…”

“Iya sayang, mmmuaaach…”

Bi Resti yang menunggu duduk di tepian ranjang, tak berhenti mengagumi rudal mas Gas. Ia belai², ia genggam dan kocok² perlahan saat mas Gas tengah balas membalas chat dari bu Erni.

“Sssh… biii….udah dong, dipegangin terus. Hihi”

“Abis bibi gemes banget mas. Guedenya gak ada lawan. Duuuuuh…. iiih…”, balas bi Resti dengan raut wajah gemas. “Oh iya kenapa bu Erni mas?

“Nanyain aku lupa apa gak antar obat, sama nanyain bi Resti lagi ngapain, gitu katanya”, jawab mas Gas. “Aku juga bilang mau balik ke kantor”, imbuhnya.

“Oooh gitu, yaaah gak jadi deh sama mas Gas. Hihi…”, ucap bi Resti terkekeh.

“Aku takut bi, aku belum pernah”, balasnya.

“Loh, yang malem itu sama bu Erni, emang gak dimasukin?” Tanya bi Resti penasaran.

“Nggak, cuman diemut, punya bu Erni juga ku emut. Trus keluar deh. Bu Erni suka banget telen pejuhku. Katanya putih kental, bagus buat kulit, buat ngilangin stres juga katanya.” Jelas mas Gas sambil menaikkan boxernya. Lalu ia membetulkan posisi rudalnya yang perlahan mulai kembali ke bentuk semula.

“Lah emang bener itu mas. Bibi dulu juga suka telen punya pacar sama punya suami. Nih liat kulit bibi, bersih mulus kan”, balas bi Resti sambil memamerkan susu dan kulitnya yang bersih. “Cuman dulu punya pacar sama suami agak bening, dan dikit yang keluar. Kalo gak 3, ya 4 kalo crot”, imbuhnya.

“Hihi, iya kulit bibi bersih emang, masih kenceng lagi”, puji mas Gas.

Dalam hati mas Gas lalu berkata, “bi Resti belum tau ganasnya bu Erni nelen pejuh, bi Resti juga belum tau sebanyak apa pejuhku. Hihihi..”.

“Ngelamun apa mas?”, sambung bi Resti sambil memakai handuknya kembali.

“Ehh, nggak kok, mikir kerjaan, hehe”, dalih nya. “Oh iya bi, aku pergi dulu ya, kalo ada kesempatan lain waktu kita bisa terusin. Hihi, tapi ajarin aku ya bi Resti!” Kata mas Gas.

“Hihi, ajarin apa sih mas?, iyaaa iyaaa…. nanti bibi ajarin yang enak² sama punya mas yang gede itu”, balas bi Resti sambil tersenyum malu².

“Ihhh apaan si bi Resti nih, gede-gede aja dari tadi, dah ya biii, saya berangkat dulu, nanti sore bu Erni minta aku kesini lagi”, tukas mas Gas.

“Iya mas, bibi antar sampai depan ya. Sekalian nutup pagar. Oh iya mas, jangan cerita² ke bu Erni ya, nanti bibi dipecat lagi, rahasia kita berdua!”, ucapnya sambil mengerlingkan mata.

“Ya iya lah biiii, masa aku cerita ke ibu. Hehe, bisa² perang dunia”, balasnya sambil tertawa.

Akhirnya bi Resti dan mas Gas berpisah di batas pagar siang itu. Nampaknya cuaca kembali panas. Matahari membagi sinarnya dengan terik.

Bi Resti yang siang itu menyetrika baju di kamarnya, tiba² dihampiri bapak. Bapak mengetuk pintu bi Resti, bi Resti pun kaget karena ia merasa asing dengan suara laki² itu. Suara yang beda dengan suara mas Gas.

Cerita Dewasa Ngentot - Petualangan Seks Liar Janda Pembokat bi Resti dengan Anak Majikan 'Jumbo'
“Bi, permisi. Bi Resti, bisa saya minta tolong dibuatkan bubur sumsum. Sekalian kalo belanja di alfa saya minta tolong dibelikan vix inhaler ya. Ini kok tiba2 hidung buntu”, suara bapak terdengar dari luar kamar.

Bi Resti seketika itu juga menghentikan setrikanya, ia segera membuka pintu.

“Ooh bapak, nggeh pak. Siap. Saya pake jilbab dulu nggeh”, jawab bi Resti.

“Iya bi, silahkan. Oh iya ini uangnya”, seraya menyerahkan uang 200rb rupiah.

“Pak, ini kebanyakan, kan cuman beli santan kara sama vix, seratus aja cukup pak, nanti ada kembalian”, jawab bi Resti sambil mengembalikan uang 100rb ke bapak.

“Bawa aja bi, kalo kembalian ya bawa juga. Diambil aja buat bi Resti”, sahut pak Wito.

“Loh pak tapi…”,

“Sudah simpan aja bi, rejeki itu”, ucap bapak memotong pembicaraan. Lalu bapak kembali ke kamar.

Baru kali ini bi Resti terheran², biasanya kebanyakan orang² kaya juga kembalian diminta. Ini malah dilebihin duitnya. Rupanya ini yang membuat bu Erni setia cintanya dengan pak Wito. Meskipun bu Erni mencicipi beberapa lelaki.

“Bi, tadi saya melihat ada laki² keluar dari rumah ini, itu siapa? Tanya pak Wito..

“Oooh dia mas Gas pak, orang suruhan bu Erni, kata ibu sih dia yang dimintain tolong buat ambil obat bapak sama menyiapkannya”.

“Owalaaah, mas Gas toh. Dia itu bawahan istri saya bi. Baik, sopan anaknya. Masih muda, rajin, kerjanya cepat dan cekatan. Ibu kapan hari cerita ke saya, dia pegawai baru di kantor.”, ungkap pak Wito.

“Bii, saya nitip jagain rumah sama bantu² ibu ya. Bi Resti tau sendiri, diabetes saya akut, jadi lebih banyak tidur. Oh iya, klo saya waktunya minum obat, dibangunkan ya, digoyang² aja kakinya, soalnya saya susah dibangunin!”, imbuhnya.

“Owalah nggeh pak, sy sudah anggap bapak sm ibu kakak saya sendiri. In syaa Allah nggeh pak, saya makasih juga sudah diterima kerja disini, moga² jenengan sm ibu cocok”, sahut bi Resti.

“Wooo iya bi, sama². Klo ada masalah keuangan, bilang aja sama ibu, atau sama saya. Nanti kami bantu. Uang juga gak dibawa mati bi. Saya seneng bisa bantu orang lain”. Ungkap pak Wito.

“Nggeh pak”, bi Resti mengangguk. Kalo gitu saya siap2 dulu ya pak. Mau belanja. Apa ada yang lain yang bapak pingin beli?”

“Ndak bi, wes itu aja, makasih ya bi, saya mau tiduran lagi, kalo buburnya sudah jadi, tolong saya dibangunkan.

“Nggeh pak”. Jawab bi Resti.

Sementara itu, sore harinya…

Di rumah pak Andi, bu Siti dan pak Andi sedang duduk² santai di teras depan. Secangkir teh manis kesukaan pak Andi, sebuah toples cemilan, menemani kedua pasangan yang harmonis itu dalam perbincangan hangat.

“Mendung maneh (mendung lagi) mah, cuaca kok gak menentu ngene yo mah”, sapa pak Andi memulai obrolan.

“Ya wolak walik e jaman pah (jaman yang kebolak balik), dunyo e tambah tuwek pah (dunianya makin tua pah). Oh iyo, gimana menurutmu pah, Tika yang kita temui tadi?” Sahut bu Siti.

“Yo cantik, berjilbab, santun juga koyoke (sepertinya), ya kan kita bisa lihat dari wajah dan sikapnya to mah”.

“Hmmm, iyo pah, tapi aku takut kalo cuman kedok aja. Nanti pas sudah nikah, berbanding terbalik. Kan mesakno (kasihan) Gas, sudah gak punya teman perempuan, sekali ketemu langsung nikah, eeeh malah loro ati (sakit hati).

“Gas wes gede mah, dia pasti tahu mesti bagaimana, biar dia juga se yang tentuin pilihan”.

Sluuurp, bu Siti menyruput minuman jahenya, sambil memandangi hijau² tanaman di halamannya.

“Mah, kamu tadi kan wes dapat fotonya to?”, tiba² pak Andi nyeletuk. “Nanti jangan lupa kasih lihat ke Gas klo dia sudah pulang!”.

“Sudah pah, itu masih ada di HP. Kan tadi temen papah yang ngirim di WA mamah. Ya wes pokoknya kan tugas kita bantu si Gas, soale anake gak aktif koyok kamu loh pah, hahaha” canda bu Siti.

“Aahahahaha… iyaa iyaa mah, papah kan memang nguber² mamah dulu. Istriku ini is the best pokoke. Makasih yo mah, wes nemenin papah sampai sekarang, cuup…cup…”, ucap pak Andi sambil mencium kening bu Siti.

“Guombalmu paaaah pah… hehehe… iyo pah, sama², aku juga makasih kamu selalu setia, awas lek aneh², tak ketok (potong) manukmu pah. Hihi…” canda bu Siti.

“Cuacane cocok mah….hehe” sambil mengkode bu Siti untuk mengajak bercocok tanam.

“Mosok yo sore² gini to pah, abis ini Gas pulang, trus masuk waktu maghrib, opo ndak keganggu nanti paaaah pah..” balas bu Siti dengan wajah heran.

“Lha habis, susumu itulo, bikin burung papah cenut². Dari tadi kok ngawe awe minta dikenyot. Hahaha….”, ucap pak Andi dengan tatapan menggoda.

Sambil melihat ke arah payudaranya yang besar, bu Siti bilang “oooo kamu toh, yang buat suamiku klepek²”, ucapnya sambil meremas² bongkahan payudara dibalik gamisnya.

“Hahahaha… iyoo iyo mah, ya wes nanti malam aja. Biar Gas tidur dulu. Hihi…”

Lalu nampak Gas datang dengan motornya. Setelah turun, ia copot mantelnya yang sedikit basah oleh gerimis.

“Assalamualaikum mah, pah” sapa Gas.

“Walaikumsalam le”, hujan toh, dimana?” Balas pak Andi.

“Itu tadi di deket kantor pah, lha kok disini terang loh. Hahaha”, jawab mas Gas sambil ketawa. Ia lalu melepas sepatunya, dan mencium tangan kedua orangtua nya yang sedang duduk2 di teras.

“Le, papah sama mamah sudah ke rumah Tika. Sudah dapat fotonya, orangtuanya juga mau lihat fotomu. Nanti kamu kirim ke papah ya!” Ucap pak Andi.

“Wih cuepet e to pah. Hehe. Ya wes, kirim ke WA ku yo pah. Nanti tak kirim fotoku ke papah”. Balas mas Gas sambil melepas sepatu. “Oh iya pah, mah, abis mandi Gas langsung berangkat lagi ke rumah bu Erni, ngelanjutin bantu orangny yang kemarin”, jelasnya.

“Kesana lagi to le?” Tanya bu Siti.

“Iya mah, lumayan kan dapat tambahan”.

“Ya wes terserah kamu, pokoknya jangan ninggal sholat!, itu pesen mamah”. Ucap bu Siti dengan nada tegas.

“Iyaaa iya mah, beres”, balas mas Gas sambil berlalu masuk.

Apa yang akan terjadi dengan mas Gas selanjutnya? Apakah hari itu ia bertempur dengan bu Erni? Siapakah Tika yang disebut akan menjadi calon istrinya, apakah benar teman kantornya? Simak terus ya cerita panas yang team Ngocoks upload hari ini. Thanks…

Bersambung… Nada chat masuk terdengar di HP mas Gas.

“Berangkat jam berapa kesini sayang?” Tanya bu Erni dalam chat nya. Mas Gas yang kebetulan berada dekat dengan HP nya, langsung membuka dan membacanya. Iapun segera membalas chat dari ibu² bernafsu tinggi itu.

“Ini udah siap² sayang, mau berangkat abis ini, mau nitip dibeliin sesuatu tah?”, balas mas Gas.

“Beneran nih? Tapi aku takut kamunya ntar malu, hihi…”, balas bu Erni.

“Loh, emang mau beli apaan kok pake malu?”, tanya mas Gas heran dengan mengernyitkan dahi. Ia penasaran.

“Kondom sayang”.

“Hah??? Gak salah sayang, buat apa? Beli dimana?”, tanyanya heran sambil garuk² kepala. Pikirnya, bu Erni ini aneh, kemarin nelen semua pejuhku, eeeh sekarang minta kondom. Namun karena sudah diminta oleh wanita yang spesial buatnya, ia hanya menuruti. Bu Erni lama tak membalas pertanyaan mas Gas. Lalu mas Gas mengechat lagi. “Iyaaa iya, nanti aku belikan. Mau yang merk apa sayang?”, tanya mas Gas.

“Hehehe. Asiiiikkk…. beli yang durex yah, yang extra protection. Itu lebih kuat, makasih ya sayang, dah buruan berangkat gih, ati²”, jawab bu Erni.

“Hmmm iya iyaa, ya udah aku berangkat sekarang. Mmmuuaaach…”

“Mmuaach..”

Akhirnya mas Gas berjalan keluar kamar, di ruang keluarga sudah ada papah mamahnya yang lagi asik nonton acara televisi.

“Mau berangkat kesana le?”, ucap ibunya yang sambil memangku toples cemilan.

“Iya mah, seperti kemarin ya, kalo ngunci pintu, kuncinya jangan lupa dicabut. Biar Gas bisa masuk”, jawabnya.

“Le, sudah kamu kirim fotomu ke HP papah?”, sela ayahnya.

“Oooh iya pah, ya udah tak kirim sekarang”, sejenak mas Gas membasuh² HP androidnya untuk memilih fotonya yang akan dikirim. “Udah pah, aku dah kirim 2, ntar papah pilih aja yang mana terserah”, imbuhnya.

“Ya wes, nanti papa lihat, jangan pulang larut malam, inget ndak enak dilihat tetangganya. Masio (meskipun) kamu gak ngapa²in disana.” Pesan papahnya. Mas Gas pun hanya tersenyum mendengar kata² papahnya.

“Paaah paah… kan udah cerita anakmu kalo perumahannya sepi, tetangganya gak peduli.”. Celetuk mamahnya. “Tapi yo ndak ada salahnya sih le ikutin kata papahmu, cuman ya terserah sih le…”

“Heleeeeh… iya iyaaa mah, pah, tak usahakan gak malam² pulangnya, ya wes Gas berangkat. Assalamualaikum”

“Walaikumsalam”, sahut mereka berdua.

Tak lama kemudian, mas Gas tiba di sebuah minimarket. Ia memarkir motornya, lalu masuk dan segera membelikan keinginan wanita idamannya. Ia tampak kikuk, sedikit kebingungan bercampur malu. Belum pernah seumur hidupnya ia membeli kondom. Hatinya degdegan saat akan memasuki minimarket itu, karena saat itu memang sedang banyak sekali pelanggan.

Selamat sore, selamat datang di indomaret, selamat berbelanja. Ucap kasir indomaret, seorang wanita cantik, dengan bernama Feni Artika Ghani, kulitnya putih, payudaranya sih standar, gak kecil dan gak besar, ukuran 34C, pantatnyapun juga tak terlalu besar. Bisa dikatakan body nya ideal. Tau sendiri kan kasir minimarket makin hari makin cantik² dan seksi.

“Permisi mbak, aa..anu…ssaya maau…sasaya…eeh aaada ddurex?”, tanyanya sambil mengalihkan pandangan ke arah camilan di depan kasir.

“Ada mas, mau yang merk apa?”, tanya kasir lain yang bernama Aulia Eka Putri. Seorang kasir cantik juga, namun bodynya lebih berisi. Payudaranya berukuran 36B lumayan besar, karena begitu tercetak jelas di bajunya yang tidak terlalu ketat. Semok, montok, putih, namun wajahnya biasa.

“Aanu mbak, dd..durex” jawab mas Gas sambil melihat ke arah kedua kasir itu. “Kasir sekarang cantik dan seksi, edian. Yah memang daya pikat minimarket ya ini salah satunya”, ucap mas Gas dalam hati. Melihat kedua kasir montok itu, darah mas Gas pun berdesir. rudalnya berkedut dan mulai mengembang. Kini mas Gas setiap melihat wanita dengan body montok, jadi mudah terangsang, terutama yang berpayudara besar, pinggul khas ibu² beranak, dan bokong yang semok. Semenjak kejadian sore bersama Ajeng, hasrat birahai laki² dewasa seperti bangkit dari tidur panjangnya.

Kedua kasir itu tersenyum². Rupanya mereka juga kesengsem dengan pria yang ada di depannya. Lumayan tinggi, badannya atletis, wangi, macho, dengan kaos warna putih yang ia gunakan, mempertontonkan dadanya yang bidang.

Aulia yang kini ada di depan mas Gas, memandangi pria macho itu dari atas ke bawah. Iapun berhenti dan sedikit terkejut saat matanya melihat ke arah selangkangan mas Gas, begitu menonjol dan menggoda hati. Karena memang mas Gas saat itu mulai terangsang dengan pemandangan kedua kasir montok.

Sehingga rudalnya yang mulai mengembang perlahan, terlihat makin menonjol. Sadar kasir itu memandangi selangkangannya, ia sengaja membiarkan. Ia penasaran apakah benar miliknya itu termasuk jumbo. Ia penasaran apakah kebanyakan wanita suka dengan ukuran rudal jumbo. Dugaannya tak salah, karena setiap melirik kasir itu, pandangannya sering tertuju ke arah rudalnya.

“Masss…mass… itu pengamannya ada di depan mas. Mau durex yang mana yah?”, tanya Aulia sambil senyum² dengan mata sesekali melihat tonjolan besar menggoda milik mas Gas.

“Eee..iya mbak, yy..yang extra protection ada?”, jawab mas Gas.

Aulia pun segera mencari yang diminta mas Gas, sambil mencari, lagi² ia mencuri² pandang ke arah tonjolan itu. Mas Gas sengaja membiarkannya sambil sesekali ia gosok² dan memegang batangnya seolah sedang membetulkan posisinya. Hingga rudalnya yang mulai mengembang setengah, nampak makin menonjol dan menekan celananya. Aulia pun seperti tidak fokus, pandangan matanya seolah tak mau lepas dari benda keramat itu. Mas Gas pun hanya senyum². “Ada mbak?” Tanyanya mengagetkan Aulia.

“Ooh iya mas, iii…ini mas”, balas Aulia. Feni yang melirik dan memperhatikan tingkah teman jaga nya itu, penasaran. Karena melihat pandangan mata temannya itu kenapa ke arah bawah namun tangannya mencari² merk kondom. Ia tak paham apa yang dilihat temannya karena terhalang mesin kasir dan sebuah banner kaca diatas meja.

“Ahh ini dia, iya bener mbak. Extra Protection, berapa ini ya?” Tanya mas Gas..

“Sebentar yah mas, saya scan dulu. Aah ini harganya 30.900 mas”, tukasnya.

Mas Gas lalu segera mengeluarkan uang 50 ribu, “ini mbak uangnya, kembaliannya simpan aja, buat mbak nya yah” ucapnya sambil tersenyum agak menggoda. Aulia pun membalas senyum pria macho itu, “wah makasih banyak ya mas”.

“Iya mbak sama²”. Mas Gas pun bergegas memasukkan ke dalam tas nya, ia pun lalu pergi menuju pintu keluar minimarket. Ternyata benar kata bu Erni dan bi Resti, sudah 3 wanita yang ia temui, ketiganya seperti menyukai rudal jumbo. Sambil berjalan ke arah motornya, iapun senyum², ia membayangkan menyetubuhi banyak wanita dan memuaskan mereka. Pikiran mas Gas kini seolah berubah. Dsri yang cupu, berubah menjadi suhu. Ia pun menstater motornya dan menuju rumah bu Erni.

Di dalam minimarket, Feni yang heran ke Aulia, segera bertanya. “Ul, kamu liatin apa to tadi?”, tanya Feni. “Hihi, kamu gak tau tah Fen, itulo, rudale mas iku maeng guede pol, hihihi… koyok rudal e bule”, jawabnya sambil terkekeh. “Mosok se Ul, aku seh cuman liat body nya, bodynya bagus atletis, tapi wajahnya sih biasa”, ungkap Feni.

Obrolan keduanya berhenti saat ada pelanggan yang menghampiri mereka. “Wes kerja kerja”, sahut Aulia. Sambil melayani, Aulia sesekali matanya menerawang, membayangkan andai pria tadi datang lagi, ia mungkin akan meminta nomor WA nya untuk bisa lebih dekat, dan tentu tujuannya untuk bisa menikmati batang perkasa mas Gas.

Dalam perjalanan, mas Gas memikirkan apa yang bakal bu Erni ajarkan kali ini. Apa mungkin ia akan diajarkan seperti yang bi Resti katakan. Ataukah hal lain yang ia tak ketahui. Ia sendiri gak menyangka, dirinya kini semakin berani memamerkan rudalnya di depan wanita asing. Ia juga sedikit penasaran apa yang dibilang bu Erni dan bi Resti, jika miliknya bener2 gede dan panjang. Terbesit ide di pikirannya untuk membandingkan ukurannya dengan milik orang lain, tapi siapa….

Tak lama kemudian, mas Gas sudah sampai di depan rumah bu Erni. Petang itu, matahari yang tenggelam tertutup mendung dan angin bertiup agak kencang. Rasa dingin mulai menerpa mas Gas. Ia buru² menghubungi bu Erni.

“Sayang, aku dah di depan nih”, tulis mas Gas di chatnya. Lalu tak sampai semenit, terdengar suara pintu depan dibuka. Nampak bi Resti yang keluar menyambut mas Gas. Bi Resti mengenakan daster warna hijau tua. Payudaranya yang naik turun berayun seiring tubuhnya yang berlari² kecil menuju mas Gas. Daster seukuran paha atas itupun semakin menampilkan tubuh montok bi Resti. Melihat itu, darah mas Gas pun mulai berdesir, dan efeknya mulai terlihat dari bentuk rudalnya yang mulai mengembang menekan celana kainnya.

“Masuk mas, udah ditunggu ibu dari tadi. Hihi… wiiiih udah kedutan itunya ya? Pasti liat bibi pake ini yaaaa…”, goda bi Resti.

“Hehe…iya bi. Bi Resti montok banget…”, ucap mas Gas. Kata² yang keluar dari mulut mas Gas makin lama makin berani. 180° berbanding terbalik dengan pribadi mas Gas yang dulunya pendiam dan cuek. Mendengar pujian itu, bi Resti semakin bertingkah menggemaskan dan menggoda. Sambil membuka pagar, ia berbisik di telinga mas Gas, “bibi gak pake BH mas, hihi…”.

Mendengar itu, rudal mas Gas pun makin menegang. Bi Resti yang berdiri di sampingnya, menurunkan tali dasternya sebelah kanan, lalu ia pelorotkan kainnya setengah, hingga payudaranya menyembul keluar. Ia tempelkan di lengan mas Gas, dan mas Gas pun tak mau kalah, tangannya meremas² dan memelintir puting besar bi Resti. “Ssshhh…aaaah….masss ..”, desah bi Resti pelan. Aksi nekat di halaman depan itu tak berlangsung lama, karena dari kejauhan, ada suara mobil yang hendak berlalu di depan rumah Bu Erni. Buru² bi Resti merapikan kembali dasternya.

“Udah mas, bibi nanti kerangsang, udah ditunggu ibu juga di dalam!”, ucap bi Resti. “Ahh iya bi, Gas masuk dulu ya….”, balas mas Gas. Sambil berlalu, ia setengah berbisik ke bi Resti, “serambi lempitnya udah basah juga tuh, hihi….”, goda mas Gas.

“Nakal mas Gas, awas ya….”, sahut bi Resti sambil mencubit manja pantat mas Gas dari belakang.

“Aww….bibi…..hihi”, seraya menoleh ke belakang dan tersenyum. Iapun segera berbalik dan menuju pintu depan. Bi Resti dalam hati mengharap, bahwa majikannya bakal mengajak nya serta menikmati rudal jumbo mas Gas. Namun ia tepis jauh² angan² itu, ia tahu itu sama dengan 1000 : 1. Meskipun ia tahu majikannya bernafsu dengan mas Gas, namun ia berfikir ini bukan di film yang dengan mudah merubah keadaan. Lalu bi Resti pun dengan wajah sedikit lesu, berjalan masuk ke dalam rumah.

Mas Gas yang sudah berada di dalam, segera disambut oleh bu Erni. Seperti biasa, suami bu Erni sedang tidur karena sore tadi ia sudah meminum obat. Sehingga bu Erni yang tahu kebiasaan suaminya, seperti merpati yang lepas, bebas. Ia pun menyambut mas Gas dengan menggunakan handuk sebagai kemben. Mas Gas pun tak takut lagi mengekspresikan gairahnya. Ia seperti seorang lelaki yang baru reinkarnasi menjadi sosok pemuda perkasa yang haus wanita.

“Sayaaaaaang…kangeeeen…cupp…cuppp….mmmppfff….mmmmppf…ehmmm….cup….mmpff”, suara bibir mereka berdua beradu, saling bermain lidah, tangan keduanya pun saling memberi rangsangan ke tubuh pasangannya. Tangan Bu Erni memegang wajah kanan dan kiri mas Gas sambil melumat bibirnya, sedang mas Gas, meremas² bokong semok bu Erni. Tangannya menyelinap masuk ke balik handuk bu Erni, ia remas² lagi pantat sekal itu, ia juga mainkan belahan bokongnya.

“Ssssshh….aaah…..mmmmpfff….mmppff….hmmmm…mmm…sssh….uuuh… sayaaaaang…., kamu mmmaakin jja…jago sayang….”, desah bu Erni

Mas Gas tak menjawab apa², ia tengah asik dengan bibir bu Erni, ia sungguh menikmati ciuman dan pagutan penuh gairah itu. Bi Resti yang dari tadi di depan pintu, tak berani masuk, ia tak mau mengganggu mereka. Tapi bu Erni yang tiba² membuka mata mengisyaratkan dengan tangan agar bi Resti masuk aja, langsung ke belakang. Sementara mas Gas yang terus melumat bibir bu Erni, sebetulnya tahu bu Erni sedang mengkode siapa, namun ia biarkan, ia tak pedulikan gangguan². Ia terus melumat bibir bu Erni, sambil tangannya meremas² payudara dan mengusap² putingnya dengan jari.

“Ooooh…. sayaaaang….. kenyot dong…. isep puting ibu sayang…., abisin, lumat, jilatin sampai basah sayang….lumuri dengan liurmu….aaaaah…..aaaw….sssh….ssaa..sayang”, suara bu Erni sayup² terdengar.

Mendengar permintaan wanita idamannya, mas Gas segera membuka simpul handuk bu Erni, hingga jatuh ke lantai. Kini tubuh bu Erni telanjang bulat di depan mas Gas. Mas Gas yang makin terangsang mengusap² dan mengocok rudalnya yang makin mengeras dari luar celana.

“Sayang, pindah ke kamar yuk…”, ajak mas Gas. “Kamar bapak juga masih terbuka tuh”, imbuhnya.

“Oh iya sayang…hihi…sebentar ya aku tutup dulu, kamu duluan ke kamar gih, lepas semua yaaah…. mmmuaaach…” ucap bu Erni.

Sambil berjalan ke kamar, mas Gas menengok ke arah dapur, dimana diluar pintu kaca itu, kamar bi Resti sudah nampak. Ia melihat bi Resti sedang mengintip sambil memainkkan serambi lempitnya. Mas Gas pun tersenyum sambil mengerlingkan matanya. Iapun lalu masuk ke kamar tamu. Rupanya bu Erni sempat menyaksikan aksi mas Gas itu, ia membiarkannya, dan ia malah menemukan ide baru saat itu.

Setelah menutup pintu, ia segera menuju ke belakang, ke tempat bi Resti berdiri. Bi Resti pun kaget melihat kedatangan majikannya yang tiba². Ia tak bisa berkata apa², terpaku dan melongo.

“Bi Resti, hayooooo ngapain disini….hihi..”, canda bu Erni. “Udaaaah jangan tegang gitu deh, saya tau bi Resti juga kepengen ngerasain rudal mas Gas kan? Goda bu Erni sambil cekikikan.

Bi Resti heran, kenapa majikannya tidak marah mengetahui hal itu.

“Aa..anu bu, nggak kok….”, jawab bi Resti sambil menunduk.

“Udah jangan bohong. Di rumah ini ada kamera cctv biii, saya tau apa yang bi Resti lakuin sama mas Gas tadi siang di kamar belakang. Hehehe.. Nyantai aja bi, saya gak akan pecat bi Resti kok. Kalo saya jadi bi Resti, saya juga gak akan bisa tahan godaan dengan rudal mas Gas yang guede panjang itu. Hihi….” ucap bu Erni sambil tersenyum.

“Aduh…mmma…maaf…buuu, sssaaa…saya….”

“Iya saya tau bii, udah tenang aja, nanti saya bakal kasih kesempatan bi Resti. Hehe….tapi sekarang saya dulu ya….hihi…”, goda bu erni lagi.

Bi Resti kaget mendengar kata² bu Erni, ia hampir tak percaya, majikannya memberikan ia kesempatan merasakan gede dan panjangnya rudal mas Gas. Sesuatu yang amat sangat ia inginkan siang tadi. Yang sempat terhenti hingga bi Resti penasaran.

“Ii..ii..ibu serius??? Tta…ta..tapi bbb..buuu…”, ucap bi Resti dengan terbata².

“Iya biii…. udah tenang, jangan berisik, saya mau bi Resti awasin bapak ya. Kasih kode ke kamar kalo ada sesuatu, ketuk pintunya 3x ato panggil saya aja. Hihi… nanti kalo bi Resti saya suruh masuk, bi Resti masuk ya…!” Sambungnya, kemudian berjalan dengan telanjang ke arah kamar tamu. Bi Resti yang memandang tubuh bu Erni dari belakang hanya bisa menggeleng²kan kepala, sepertti mimpi, jika ia akan mengalami suatu kejadian diluar nalar.

Mas Gas yang kini sudah telanjang di dalam kamar, merebahkan tubuhnya, ia letakkan 2 bantal yang disusun untuk mengganjal bahu dan kepalanya. Sambil ia kocok pelan rudalnya yang sudah menengang, dengan memandangi pintu yang terbuka, menanti kehadiran bu Erni.

Lalu nampak bu Erni yang masuk dengan keadaan telanjang, memandangi mas Gas yang sudah bugil juga, dengan rudal jumbonya yang sudah mengeras. Mas Gas pun yang melihat tubuh mulus dan montok bu Erni, semakin bernafsu, ia gigit bibir bawahnya, ia mainkan pelernya, ia kocok² batangnya, dengan pandangan nakal menggoda bu Erni.

Bu Erni yang berjalan masuk sembari meremas² payudaranya berucap “Sayaaaang…. udah telanjang aja ihh…nakal sekarang yaaaa…”, tatapan matanya yang liar dan penuh nafsu, sembari ia gigit² bibir bawahnya, lalu dengan senyum menggoda perlahan ia naik ke atas ranjang. Ia merangkak melewati paha kiri, kemudian dengan posisi menungging, ia ciumi tangan mas Gas yang tengah memegang batang rudalnya yang gede, lalu ciumannya ia turunkan ke pangkal rudal, ia jilat², ia cium buah zakar mas Gas yang berbulu tipis, ia kulum kedua bininya bergantian. Tangannya mengelus² paha mas Gas yang berbulu, menaikkan gairah mas Gas.

“Cupp…cluuurp…mmmpff….mmm…mmmm…sluurp….cup….cup… slopf….sloppfff…kekar sekali rudalmu sayang…mmmmm….mmpfff….sluuurp…cup..” nampak bernafsu sekali bu Erni melumat rudal mas Gas.

“Ooohh….saayaaaang….enak banget….sssh….uuuh….aaaaah…..ssssshhh….”, desahnya sambil menengadahkan kepalanya. Mas Gas pun elus² rambut bu Erni, tangannya mengikuti gerakan naik turun kepala bu Erni yang menjilat² batang mas Gas. Ia remas2 juga payudara besar bu Erni yang bergesekan dengan pahanya. Ia pelintir² putingnya. Bu Erni pun mendesah nikmat. Bu Erni lalu menjilat² kepala rudal mas Gas yang ada diatas perut berbulu halus itu. Dengan gerakan dari pangkal bawah, naik perlahan ia basahi dengan liurnya, naik menyusuri batang yang besar dan berotot. Begitu panjang dan besar rudal mas Gas, hingga kepala bu Erni kini ada diatas dada mas Gas. Lalu bu Erni mengulum kepala rudal, dan memainkan lidahnya di lubang pipis mas Gas.

“Uuuuhh sayang, aaaaargh….., cup…cup…”, dengan sedikit menundukkan kepalanya, ia cium rambut bu Erni yang harum.

“Enak sayang…. mmm…sluuurp….”, tatapan bu Erni menggoda. Ia lalu mendekatkan kepalanya dengan kepala mas Gas. Ia rekatkan bibirnya, berciuman mesra, mereka berdua saling memainkan lidah dan bibir mereka.

Cup…mmmph….mmmphh…cup…cupp….mmmphh….

Tangan bu Erni kini ada di atas pundak mas Gas, mas Gas pun melingkarkan tangan kanannya di punggung bu Erni, sementara tangan kirinya meremas² bokong semok dan mulus bu Erni. Sambil sesekali mengelus² paha bu Erni yang kini menjepit pinggang mas Gas. Posisi bu Erni kini ada diatas mas Gas, kulit keduanya saling menempel, bergesekan lembut karena keringat yang mulai keluar.

Bu Erni lalu menggesek²kan bibir serambi lempitnya yang basah diatas pangkal rudal mas Gas. Dengan gerakan maju mundur hingga ke pusar mas Gas, membuat rudal mas Gas mengkilat oleh lendir serambi lempit bu Erni. Bu Erni lalu tegakkan badannya, hingga nampak utuh payudaranya yang besar berputing coklat muda. Ia raih kedua tangan mas Gas yang sedang mengelus² pahanya, ia arahkan ke payudaranya.

“Ooohhh…ssaayaaaang…remaaas….remaass… isep putingnya sayang….”, pinta bu Erni.

Mas Gas pun membungkukkan badannya mendekati payudara bu Erni. Ia lumat kedua payudara bu Erni bergantian. Sambil ia hisap² dan sedot putingnya. Tangan mas Gas pun aktif meremas² bongkahan besar payudara bu Erni, ia tenggelamkan wajahnya diantara payudara besar itu, ia tekan payudara besar itu dari kanan dan kiri, ia gesek²kan wajahnya sembari menjilat.

“Aaaaaah…..sssaaaayaaaaang…. ee.eeeenaaaak…bba…baaangeeet…., remas sayang, remaaaaasss…. aaaah…ooohh….”, desah bu Erni sambil menggeliat² keenakan. Ia goyangkan juga pinggul dan pantatnya diatas rudal jumbo mas Gas.

“Ssaa…sayaang…. aku di bbbawah yaaah…”, bisik bu Erni. “Masukin rudalmu ke serambi lempit ibu yah…ibu gak tahan….”. Mas Gas pun mengangguk. Kini mereka bertukar posisi. Bu Erni telentang dengan membuka kedua pahanya, hingga serambi lempitnya yang merekah dan mulus itu terlihat jelas oleh mas Gas. Dengan posisi kaki dilipat di bawah paha bu Erni, ia kocok² pelan rudalnya, ia mulai mengarahkan kepala rudalnya ke serambi lempit bu Erni.

Ia tekan ke arah bawah, cukup susah karena rudal mas Gas yang tegang itu mengarah ke atas, ke arah perutnya. Ia perlahan turunkan, lalu ia gesek²kan dengan bibir serambi lempit bu Erni. Lendir serambi lempit bu Erni pun mulai membasahi kepala rudal mas Gas yang terlihat memang besar. Ia gesekkan ke liang serambi lempitnya. Hingga bu Erni menggelinjang geli.

“Sayaaang….geliii…..ooooh……ssssh…..” desahnya.

“Masukin doooong…. tekan dikit² sayang….ssssh….aaaah…. jangan digosok²in teruuuusss….aaahhhh…”, pinta bu Erni manja.

Mas Gas pun mengangguk. Sambil ia gesek² dengan kepala rudalnya, ia mulai menekan kepala rudalnya ke liang serambi lempit yang basah dan nampak sempit. Perlahan ia tekan, hingga masuk setengah kepala rudalnya. Karena basah oleh lendir, kepala rudalnya pun menekan liang serambi lempitnya dengan mudah. Hingga bleeeesssss…… terbenam sudah kepala rudal mas Gas.

“Aaaaah….ssssh…..sssa….sa…sayaaaaang…. oooh…gge..ge..gede bba…bangeeeet…., sesak maaasss…..aiiiihh….ssssh….” tatapan bu Erni sambil mengernyitkan dahinya.

“Sempit banget buuu….mserambi lempit nya sempit” ucap mas Gas. “Aaangeet…rudalku seperti dipijat²…uuuuh….”, ucap mas Gas. Sambil ia tekan² lagi kepala rudalnya yang sudah tak terlihat. Lalu ia keluarkan lagi hingga rudalnya kembali tegang menjulang keatas.

“Kok dicabut sayang? Ayooo masukin lagi, tekan dikit²….”, ucap bu Erni sambil tangannya memainkan bibir serambi lempitnya. Ia lalu memasukkan dua jarinya kedalam liang serambi lempit yang basah itu. Ia kocok keluar masuk jarinya hingga berbunyi…

Kecipak…kecipak…kecipak…nyeekk..nyekk..

“Aku takut nanti ibu kesakitan. Abis kayak gak cukup loh…”, ucap mas Gas sambil tangannya mengelus² kedua paha bu Erni. Ia kini sadar, rudalnya yang besar itu seperti gak muat.

“Kamu deketan sini dong, coba tempelin pangkal rudal kamu diatas serambi lempit ibu”, pinta bu Erni sambil meraih rudal mas Gas. Mas Gas pun memajukan badannya hingga kini pangal rudalnya menempel selangkangan bu Erni. Lalu bu Erni tarik turun rudal mas Gas, dan ia tempelkan diatas perutnya, hingga nampak panjang rudalnya sampai menutupi pusar bu Erni.

“Iiiihhhh….sayang….kepala rudalmu nyampe sini” ungkap bu Erni, sembari menahan kepala rudal mas Gas yang memang melebihi pusarnya. “Panjang bangeeett…. aaaiiihhhh….” ucap bu Erni sambil mendesah. Bulu kuduknya berdiri. Ia membayangkan rudal gede panjang itu menekan dinding rahimnya. “Maaaasss… panjangnya rudalmuuu….aaah….”

Mas Gas pun melihat rudalnya yang ditekan tangan bu Erni menempel di perut itu, nampak membujur keras panjang melebihi pusar bu Erni. “Memangnya bisa masuk semua bu?” Tanya mas Gas.

“Bisa sayang….tapi pelan². rudal suami ibu aja gak sampai setengah panjang rudalmu sayang. Hihi….” balas bu Erni sambil tersenyum. “Kerasanya cuman di perut bawah ini, hihi…”, ucap bu Erni sambil menunjuk ke bagian perut bawah diatas serambi lempitnya.

“Tapi kaki ku pegel kulipat seperti ini sayang, hehe”, canda mas Gas.

“Ooh gitu, ya udah kita ke bibir ranjang aja yah!”, balas bu Erni. Kini keduanya berpindah posisi ke bibir ranjang. Mas Gas menarik pinggang bu Erni ke arah pinggiran springbed. Lalu mas Gas pun berdiri di depan bu Erni yang kedua pahanya telah ia buka lagi. Bu Erni pun mulai memainkan lagi serambi lempitnya sambil meremas² payudara dan memilin putingnya. Dan serambi lempitnya pun mulai basah lagi oleh lendir. “Sayang, kepala rudalnya basahin pake ludah kamu sayang, biar makin licin, hihi…, ludahin juga batang kekarmu. Mas Gas pun mengangguk.

Kini kepala rudal mas Gas terlihat basah oleh air liurnya, setengah batang rudalnya juga nampak sedikit mengkilat. Lalu mas Gas kembali mengarahkan rudalnya ke serambi lempit bu Erni. Ia gosok² lagi, lalu ia benamkan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya ambles lagi kepala rudalnya.

“Shhh….aaah….dd…do…rong sayang…aaah…”, pinta bu Erni sambil kedua kakinya yang mengangkang itu menekan² pinggul mas Gas agar mendorong maju.

“Aaargghhh….sssh….”, mas Gas pun memaju mundurkan bokongnya sedikit demi sedikit, hingga rudalnya mulai menekan masuk ¼.

“Oooohhh….sssshh…., iiiyya…bbe..bener gitu ssayaaang, tekan lebih dalam lagi”,

“Aahh… sesek serambi lempitmu buuuu…. tapi nikmat banget, dipijit² seperti ini batangnya”, kata mas Gas sambil memaju mundurkan pelan rudalnya. Mas Gas coba dorong makin masuk lagi, hingga kini setengah panjang rudalnya sudah terbenam.

“Aaaaaaah….sss..sssaa…yaaaaang….. penuuuh….mmmmhhh….ppeelaan…ssa..yaaang …ra..ra..him ku ke…ken..kena tekaaan…aaah….kkon..tol…gggee..de….koon…toooooolll….”, racau bu Erni sembari memegangi perutnya yang terasa penuh.

“Oooh…uuh….sssh ….ssh…aah…”, desah mas Yob menikmati sambil menggoyang pelan maju mundur.

Aaah…ah…ah…sss..saa…yang… uuh…uuh.. ah…

“Saaayaaang….ssst…stop duuluuu….ngiiiluuu maaaaass…. ppperut ku aaa..agak..ngiiluu…”, ucap bu Erni sembari memegang batang rudal mas Gas yang masih belum terbenam di serambi lempitnya.

“Hhaaaah…hhh….hhhh…aaaah…..ssayaang….stop duulu…., tapi jja..jangan dddi..cabut…” pinta bu Erni lagi dengan dahi berkerut menahan ngilu. Mas Gas pun menghentikan genjotannya, ia merasakan rudalnya dipijit² di dalam liang serambi lempit bu Erni. Ia juga merasakan kepala rudalnya seperti menyentuh sesuatu.

“Aaaahh….ssssh….”, mata bu Erni terpejam, ia pegangi perutnya yang terasa mules, namun ia juga merasakan kenikmatan karena batang rudal yang tebal itu memenuhi liang serambi lempitnya.

“Bbuuu….ii..ibu gakpapa kkan…?”, tanya mas Gas sedikit khawatir. Bu Erni tampak diam sambil memercingkan mata dan mengernyitkan dahinya.

“Eeeerrrggh….sssh…..oooooooh….kkoon…tooolll mu ssa..sa..yaaaaang … gilaaaaak…” racaunya lirih.

Bu Erni lalu membuka matanya, membungkukkan badannya seraya melihat batang rudal mas Gas yang begitu gede, masih tersisa diluar serambi lempitnya. Baru setengah yang bisa masuk melesak di serambi lempitnya. Melihat dan merasakan penuhnya liang serambi lempitnya, mata bu Erni kembali terpejam. Ia mengelus² perut sixpack mas Gas. Saat nafasnya mulai teratur, ia membuka matanya kembali, lalu memandangi mas Gas yang hanya terdiam melihatnya meraung² kesakitan.

“Ssaayang…rudalmu gilaaaak….mules perutku sayang…oooooohhh….. belum semua bisa masuk yaaah….”, ucap bu Erni.

“Iiiya buuu….sakit banget ya? Aku cabut ya buuu!”, ujar mas Gas.

“Jangan dicabut mas, biar serambi lempit ibu terbiasa dulu yaaa… tapi muleeees sayang, lom pernah ada yang segede ini, sepanjang ini”. Air mata bu Erni mulai mengalir, mengiringi rasa mules namun nikmat itu.

“Iiyaa iyaa buuu, aku gak akan cabut kok”, tukas mas Gas. Ia elus² paha dan perut bu Erni yang basah oleh keringat. “Kalo sakit aku cabut aja gakpapa buuu, yang penting ibu gak mules lagi…”. Percobaan penetrasi pertama buat mas Gas cukup lama. Sekitar 15 menitan setengah rudal mas Gas yang masih tegang itu berada di dalam liang serambi lempit bu Erni. Mungkin karena rajin fitness yang membuat rudal mas Gas awet tegangnya.

Dalam hati bu Erni, “rudalmu sayang, bikin perutku mules banget. rudal laki² lain gak pernah ada yang bisa bikin ibu seperti ini. Kalo masuk semua mungkin aku bakalan pingsan, hmmmm… apa aku harus panggil bi Resti ya, kenapa aku kepikiran pengen liat mas Gas menyetubuhi bi Resti ya, hihi….”

“Buuu… aku cabut ya?”, tanya mas Gas lagi.

“Iiiih jangan dong sayang….ini udah enakan perut ibu. Tekan lagi pelan², mundur, trus maju tekan lagi agak dalem yah”, pinta bu Erni sembari mengelus² dan meraba² sisa batang rudal mas Gas yang masih ada di luar serambi lempitnya.

“Aaaarrghh…….sssssh……ddorong ssa..sayanggghhmmmphhf….” pinta bu Erni. Mas Gas pun mulai mengayunkan lagi pinggulnya maju mundur, saat rudalnya merangsek maju, ia tekan sedikit demi sedikit, lalu ia tarik lagi mundur sampai ujung kepala rudalnya. Lalu ia dorong lagi maju sambil menekan lebih dalam.

“Oooh…….ooooh….oooohh….aaaaaaaaaaah…..ssssh…..ssssh……hmmmmm….saaayang……aah….aah… dorong sssa yaang….uuuh….uh…oooh…..mmmpph…mmmpff”, kata² yang keluar dari mulut bu Erni, seiring gerakan pinggul mas Gas yang mengayun maju mundur makin cepat. Hingga kini sudah ¾ rudal mas Gas yang sudah terbenam.

“Aah…sssh….aaah…..bbbuu….nikmat bbangeeet…. aaah….ah….sssh….”, desah mas Gas diikuti sodokannya yang makin cepat. Saat rudalnya ia tarik dan lalu ia hujamkan lagi, tanpa sengaja mas Gas menekan terlalu dalam hingga akhirnya rudal mas Gas yang sepanjang botol kecap kaca itu ambles semua. Sontak bu Erni kaget bukan kepalang.

Jiwanya serasa pergi tiba² dari raganya. Diikuti desahan dan erangan panjang, sembari tangannya meremas sprei. Matanya melotot ke arah wajah mas Gas. Tubuhnya mengejang hebat. Tusukan rudal mas Gas benar² menekan dalam² dinding rahimnya hingga terasa di ulu hatinya.

“Aaaaaaaaaaaaaarggggh……….oooooooohhhh…”

Ia jepit batang rudal mas Gas, ia tahan rasa ngilu yang luar biasa bercampur kenikmatan itu. Ia tahan pinggang mas Gas, ia gepit dengan kakinya, ia lingkarkan di belakang pinggul mas Gas. Hingga mas perut mas Gas menempel di selangkangan bu Erni.

“Aaaah….mmm…mmaaf ssaayaaaang…” rudal mas Gas sudah tak nampak lagi, ambles semua di dalam serambi lempit bu Erni. Selama semenit bu Erni memejamkan matanya, otot serambi lempitnya berkedut hebat, memijat² batang rudal jumbo yang memenuhi rahim dan rongga serambi lempitnya.

“Ssaaayaaang…tahan…dduluuu ssayaaang…ssssh….” pinta bu Erni. “Aiiih…penuh banget rasanya, sambil mengelus² ulu hatinya”. Bagian perut atas pusar, dimana ujung rudal mas Gas ia rasakan.

Kembali keduanya terdiam dalam dengusan nafas yang menderu, bu Erni menikmati rasa mules bercampur nikmat, sedangkan mas Gas menikmati pijatan di batang rudalnya. “Jangan dicabut dulu saayang…aaah….., biar ibu terbiasa dulu”, ucap bu Erni. “Tunggu aba² ddda..dari ku yyya…ssayang…”

“Iiyaa iibuku sayang….”, angguk mas Gas.

Sementara itu, diluar kamar tamu, bi Resti nampaknya sedang menguping. Rupanya sudah cukup lama bi Resti berada disana. Selama ia mendengar suara desahan keduanya, bi Resti meremas² susu besarnya dan mengocok² serambi lempitnya. Hingga cairan serambi lempitnya menetes di lantai. Ia juga cukup kaget dengan erangan panjang bu Erni yang terakhir ia dengar. Sayup² ia mendengar percakapan keduanya. Ia makin penasaran, membayangkan sedalam apa rudal mas Gas bisa terbenam di dalam serambi lempitnya.

Didalam kamar itu, setelah beberapa menit, bu Erni yang merasakan mules nya sudah berkurang, memberi aba² mas Gas untuk mulai menggenjot lagi. Ia menganggukkan kepala sembari tersenyum, lalu menekan kebelakang pinggul mas Gas dengan kedua kakinya, hingga ujung rudal mas Gas saja yang masih berada di dalam, lalu menariknya lagi maju agak cepat hingga perutnya bertumbukan dengan selangkangan bu Erni. Mengisyaratkan agar mas Gas mulai menghujam dengan gerakan cepat dan membenamkan semua batang rudalnya di serambi lempit bu Erni. Hingga tercipta suara tumbukan yang bertalu-talu.

Splog…plogh…plog…plog…plog….plog…

Aaah..ah..ah..ohh..ssssh…ssh…ah..ah…ooh…

Tampak bu Erni begitu menikmati rudal jumbo mas Gas yang bergesekan dengan liang serambi lempitnya. Menekan dinding rahimnya yang kini sudah tak ngilu lagi. Ia rupanya sudah mulai terbiasa. Setiap hentakan mas Gas begitu ia nikmati. Keringat keduanya mulai bercucuran. rudal mas Gas yang kini bisa ambles semua, membuat mas Gas bisa meremas² dan melumat payudara bu Erni, semakin membuat bu Erni mengerang nikmat.

Plogh…plog..plog…plog…plog..

Ah..ah….ah..ah… ah…uuh…ah…sssshhh…ah..

Plog…plog..plog…plog…plog…

“Ssaaayaaaang….yyyaang kken…aah…ah…ceng….ah….aaaah….sssh…”, desah bu Erni.

Mas Gas pun semakin kencang menggenjot bu Erni, tangannya meraba dan menikmati setiap lekuk tubuh bu Erni. Mereka juga sesekali berciuman, berpagut mesra, saling bermain lidah.

Cup…cup..sluurp..mmmpf..mmpff..cupp..

“Buuu…mmmpf..cup…eee..mmpf..cup…eenak..banget vvva..gi..na…mmpf….mmpf…ooh…mu…”, ucap mas Gas disela² ciumannya yang semakin ganas di bibir bu Erni. Tangan bu Erni pun seraya merangkul pundak mas Gas, ia elus² juga rambut mas Gas sambil ia lumat bibir mas Gas. Lalu mas Gas kembali menegakkan tubuhnya, ia genjot lagi semakin kencang. Kedua nya saling mendesah nikmat.

Plog….plog…plog..plog..plog.plog.plog.plog.plog.

Aah..ah.ah.ah.uh..uh.uh.uh.aah…ah…ss..ah..ah..

“Kkkon…ah..ah.ah..ah..tol..ah..uh..uh..uh…ah..kkaammuuu…aah..ah..ah..nnik..oh..oh..mat..ssa..sss…ah…ah..sa..ah..yang….”, racau bu Erni yang tangannya meremas² sprei. Suara nya tenggelam dan kalah oleh suara tumbukan tubuh keduanya yang makin berkeringat.

Sodokan mas Gas membuat kaki bu Erni yang mengapit pinggulnya merenggang, lalu berayun maju mundur naik turun tak terarah. Tumbukan perut mas Gas di selangkangan bu Erni yang becek oleh lendir serambi lempitnya, semakin membuat keduanya melayang².

Lalu mas Gas menarik rudalnya perlahan mundur, sampai ujung rudalnya menyentuh bibir serambi lempit bu Erni, lalu ia hujamkan dengan cepat dan dalam². Mata bu Erni pun sampai terbelalak. Ia ulangi sodokan panjang itu berulang kali. Suara tumbukan badan keduanya terdengar cukup kencang.

Sleeeeeepph…..plogh…….sleeeeeeeeph…..plogh…….sleeeeeeeeph…plogh……sleeeeeeph….plogh..

“Sssaayaaang….ttee…rusin….hha…jaar…mme…meek…aah…..aaah……aaaaaaah…..iii…bu…ooooh….oh….ssa….aah….yang….” desah bi Erni yang makin mendekati klimaksnya.

“Enaak bbb…plogh….plogh…..bbuuu….sssh….?”, bisik mas Gas sambil menekan dalam² rudalnya.

“Hhhnnnghh….eeeenghhhh….ppen…to..kin….sa…yang….iiibu…mmmmaaauuu….kkekkeee…lluuuuaaaar….aaah….” desah bu Erni. Dengan rudal yang masih tertancap semua, mas Gas putar² pinggulnya, hingga dinding rahim bu Erni seperti diaduk² dan digosok². Bu Erni pun semakin kelonjotan, ia meremas kain sprei, kakinya mengejang tak karuan. Menandakan bu Erni mengalami orgasme hebat diikuti erangan panjang.

“Aaaaaaaaaaaaaarghh…….hhhhhhmmmmppff..ssaayaaaaaaaaang…..oooooh….sssssh……aaaaah…..uuuuuhh….sayaaaang…..” erang bu Erni yang lalu mendudukkan badannya dan merangkul bahu mas Gas. Dengan ciuman ganas dan pagutan lidah, ia menikmati orgasme yang belum pernah ia alami selama ini. Sekitar 1 menit bu Erni mengalami orgasme. rudal mas Gas pun merasakan kehangatan lendir serambi lempit bu Erni, dengan rentetan pijatan di batang rudalnya. Peluh di kedua tubuh mereka tampak mengkilat terkena cahaya lampu kamar.

Setelah serambi lempitnya menyemprotkan berkali² cairan, tubuh bu Erni pun lunglai. Perlahan pelukannya mengendur, ia pun menjatuhkan badannya diatas ranjang. Ia memejamkan matanya, seiring deru nafasnya yang mulai teratur.

“Aaahhh………hmmmm…hmmm…mmm”

Melihat bu Erni yang lemas, mas Gas pun perlahan mencabut rudalnya yang mengkilat oleh cairan serambi lempit. serambi lempit bu Erni nampak menganga, ada rongga gelap seukuran buah anggur yang mengalirkan cairan serambi lempitnya.

Ia memegang paha bu Erni, lalu mendorong tubuh bu Erni maju, hingga posisinya kini di tengah ranjang. Lalu ia turunkan kedua kaki wanita idamannya itu ke atas ranjang. Lalu ia duduk di samping bu Erni. rudalnya yang masih tegang ia pandangi. Ada rasa penyesalan karena ia telah melanggar amanah kedua orang tuanya, namun penyesalan itu seperti tertutup oleh kenikmatan yang ia dapat, meskipun mas Gas sendiri belum orgasme.

“Sssayaaaang…ka..kamu belum keluar yah? Tanya bu Erni dengan mata terpejam.

“Ehhh, iii..iya bbuuu….gakpapa kok, dah kamu tiduran aja sayang”, ucap mas Gas sambil membelai rambut bu Erni yang basah oleh keringat. Ia pandangi tubuh montok wanita itu. Lalu bu Erni memiringkan badannya, sehingga ia bisa memeluk paha dan kepalanya ia rebahkan di samping pinggul mas Gas. Tangannya kanannya meraba dan mengelus rudal mas Gas yang masih tegang.

“rudalmu masih tegang sayang…kamu kuat banget, ibu gak nyangka. Hmmmm….gemeeeees banget sama rudal nakal ini” ucapnya sambil menggenggam kuat pangkal rudal mas Gas.

“Hehe, rudalnya kan punya kamu ibuku sayang” balasnya.

“Jangan bo’ong, yakin cuman punya ibu?” Canda bu Erni.

“Ya iyalah, masa punya orang lain buuu?” Sahut mas Gas sambil tersenyum.

“Yakiiin, bukan punya bi Resti juga?”

Deggg….degg..deg..deg..deg..deg.. sontak jantung mas Gas berdegup kencang. Ia berfikir, apakah bu Erni tau apa yang ia lakukan sebelumnya dengan bi Resti.

“Udaaaah jangan bo’ong sayang, gakpapa kok. Ibu udah tau. Kamu kepengen gak sama bi Resti?” Goda bu Erni.

Mas Gas heran, kenapa sepertinya bu Erni gak marah, malah menawarkan bi Resti. Ia berfikir mungkin bu Erni mengujinya.

“Eee…ee….e..aa..anu…bu..aa…mma..af…bbu..kan…”

“Sayang, gakpapa kok. Gak usah cerita, ibu tau. Ibu udah denger dari bi Resti sendiri. Hehe” potongnya sambil tersenyum ia pandangi wajah mas Gas yang nampak gugup.

“Sebentar ya sayang….”, tiba² bu Erni beranjak dari ranjang, kemudian berjalan keluar kamar. Mas Gas sempat berfikir, apakah benar bu Erni betul² menawarkan bi Resti untuk memuaskan hasratnya yang sempat terhenti. Memikirkan hal itu, rudal mas Gas berkedut², jika benar, maka malam itu ia telah menyetubuhi 2 wanita sekaligus.

Diluar kamar, bu Erni cukup kaget melihat bi Resti yang berada di balik dinding. Tak ayal, bi Resti pun juga terkejut melihat kehadiran bu Erni. Apalagi lantai di bawah selangkangannya basah oleh cairan serambi lempit.

“Bi Resti, hayoooo abis ngapain disini? Nguping yaaa….hihihi…”, sapanya sambil terkekeh. “Bi Resti gak sabar yaaaa di entot mas Gas?” Tanyanya menggoda.

“Iiiih ibu apa²an, hihi….” jawabnya sambil tersipu².

“Mau apa gak? Hihi… saya sudah puas bi, udah keluar sekali”. Ungkapnya. “Cuman mas Gas masih belum”

“Ehhh, yyyaa..yya ibu terusin lagi sama mas Gas, biar mas Gas bisa keluar juga. hihi…., saya kebelakang dulu ya bu” balas bi Resti.

Tiba² saat ia akan berbalik, tangan bu Erni menggenggam lengannya.

“Bi….gak usah malu², ayo gantian sama saya. Bi Resti cobain rudal mas Gas. Kita sama² cari kepuasan. Saya tau bi Resti amat sangat kepingin kentu sama dia. Iya toh?, tapi cobain dulu pelan² bi, soalnya rudal mas Gas bener² gede dan panjang, sesek banget di perut. Saya aja tadi sampai mules 2x, hihi” imbuhnya.

“Tttaapi bbuuuu….”

“Uweeees, ojo tapi², ayo sini masuk!” Kata bu Erni sambil menggandeng tangan bi Resti, menariknya masuk ke kamar.

Setengah kaget, bi Resti yang berjalan masuk, terhenti langkahnya, ia melihat mas Gas yang telanjang bulat sedang rebahan di atas ranjang dengan rudal jumbonya yang sangat menggoda. Seketika itu juga bulu kuduk bi Resti berdiri, serambi lempitnya berkedut². Mas Gas yang melihat bi Resti datang juga agak terkejut, namun ia juga senang, karena bisa melesakkan lagi rudalnya di serambi lempit wanita lain.

“Tuh liat, mas Gas udah siap bii”, ucap bu Erni. Lalu bu Erni melepas kaitan tali daster bi Resti, hingga dasternya pun jatuh ke lantai. Nampaklah pemandangan menggairahkan, tubuh bahenol dan montok bi Resti dengan susu yang besar, pinggul yang lebar terpampang jelas di hadapan mas Gas. rudal mas Gas pun berkedut² naik turun.

Kulit bi Resti yang sawo matang, mengkilat karena keringat di payudara dan pahanya, makin membuat bi Resti tampak seksi. Di belakang bi Resti, ada bu Erni yang juga telanjang bulat, sedang menutup pintu. Sehingga pantat bu Erni dan belahannya yang seksi itu juga membuat mas Gas makin bergairah.

Bi Resti yang tersipu malu, berjalan mendekati mas Gas yang telentang dengan rudal besarnya menegang dari tadi. Mas Gas pun tersenyum, menyambut tubuh telanjang bi Resti mendekati ranjang, lalu duduk di tepian. Karena tak tahan melihat rudal jumbo mas Gas, bi Resti beranikan diri untuk membelai dan mengelus² paha mas Gas yang berbulu tipis, memijit² lembut mengarah ke biji zakarnya yang berwarna kecoklatan.

Bu Erni pun mengikuti mendekati mas Gas, lalu rebahan disampingnya. Ia silangkan pahanya diatas paha mas Gas, tangan kanannya memeluk perut mas Gas sambil mengusap²nya. Payudaranya yang besar menekan tubuh mas Gas hingga menyembul keluar, terasa lembut dan kenyal.

“Bi, jangan tunggu lama lagi, tancepin. Hihi…., oh iya sayang, kamu udah beli titipanku tadi kan?”, tanya bu Erni.

“Iya udah, ada di dalam tas ku”, jawab mas Gas.

“Bi, maaf, sebelum bi Resti nikmatin rudal mas Gas, boleh minta tolong ambilin tas yang di meja rias itu!”, pinta bu Erni.

“Oh baik bu”, jawab bi Resti. Lalu ia berjalan dan mengambil tas mas Gas. Ia berikan ke bu Erni.

Lalu bu Erni langsung membuka tas mas Gas, ia nampak mencari sesuatu. Rupanya ia menemukan sesuatu, karena bu Erni nampak tersenyum.

“Nah, ini dia”, ucap bu Erni sembari mengeluarkan kotak warna biru bertuliskan Durex Extra Ptorection. Ia lalu buka, dan sobek salah satu plastik pembungkusnya.

Bi Resti kaget, yang ternyata itu adalah kondom. Namun ia tak berani berkata apa², ia hanya melihat apa yang dilakukan bu Erni. Bu Erni lalu mengambil kondom itu, ia lebarkan lubangnya, lalu ia pasangkan di rudal mas Gas.

Ia tempelkan lubang kondom tadi di kepala rudal mas Gas yang besar. Dan berusaha memasangnya, meski agak kesusahan. lalu lingkarkan jarinya di sekeliling karet kondom tadi, lalu ia tekan dan arahkan menuruni kepala rudal mas Gas.

“Susah banget sayang, kegedean rudal kamu. Hihi….” ucapnya sambil berusaha menyarungkan di jamur mas Gas yang merekah. Karena kesusahan dengan 1 tangan, ia lalu duduk bersila, dan mencoba menyarungkan lagi dengan kedua tangannya. Ngocoks.com Ia lingkarkan kedua pasang jari telunjuk dan jempolnya, ia turunkan gulungan kondom yang ketat menyelubungi batang rudal mas Gas, hingga gulungan karet itu berakhir.

Kini nampaklah rudal jumbo mas Gas terbungkus kondom berwarna putih bening, namun tak sampai seluruh batangnya yang tertutupi. Menyisakan ¼ bagian batang yang tak terbungkus kondom. Karena saking panjang dan gedenya, bi Resti dan bu Erni terkesima sekaligus merinding dibuatnya.

“Bu, gak enak banget rasanya, seperti ketekan batang rudalku”, ucap mas Gas.

“Hihi…sayang, itu karena memang rudalmu yang kebangetan gede dan panjangnya, sampai gak cukup loh, edan”, sahut bu Erni sambil menggelengkan kepala dan tersenyum bangga.

Bi Resti yang memegang biji peler mas Gas pun tersenyum, ia elus² dan mainkan bijinya dengan jari. “Mas, guede polll….”, sahutnya sambil menggigit bibir bawahnya. Kondom itu memang terlihat sangat ketat melapisi rudal mas Gas, seperti mau sobek.

“Bi, naik sini, cobain rudal mas Gas, bisa masuk semua gak bi? Hihi….” canda bu Erni sambil meraih tangan bi Resti agar berdiri di atas selangkangan mas Gas.

“Ttaa..tapi bu, ii..ibu serius, saya gak tau bu bisa masuk semua apa gak, abis panjang plus gede punya mas Gas, hihi…?” Tanya bi Resti, padahal dalam hatinya, ia benar² telah menunggu kesempatan itu. “Mas Gas, pper..misi..ya…”, perlahan ia turunkan badannya, hingga agak setengah jongkok. Mas Gas pun tersenyum sambil mengarahkan rudalnya yang tegang agar mengarah keatas. Tiba² bu Bu Erni menahan tangan mas Gas.

“Sayang, biar ibu yang pegangin, biar ibu yang arahin masuk serambi lempit bi Resti ya….!” Ucap bu Erni diikuti anggukan mas Gas.

Bi Resti yang sudah setengah jongkok harus menaikkan lagi sedikit bokongnya agar ujung rudal mas Gas mengarah persis di bibir serambi lempitnya. Lalu bu Erni menggoyang² rudal jumbo itu, mengaduk² bibir serambi lempit bi Resti, bi Resti pun terpejam matanya, merasakan geli bercampur nikmat, hingga serambi lempitnya makin basah.

“Ayo bi, turunkan lagi pantatnya, biar masuk kepalanya!” Pinta bu Erni.

Sleeeeep….”Oooooooh…sssssh….”, desah bi Resti saat kepala rudal mas Gas menekan lubang serambi lempitnya, dan perlahan masuk. “Mmaaaassss…..gggede…bangeeet”, ucap bi Resti saat kepala rudal mas Gas terbenam di liang serambi lempitnya. Kedua tangan bi Resti menopang dengan memegang kedua lututnya.

Sambil memegang rudal mas Gas, bu Erni mendekatkan tubuhnya ke mas Gas, ia lalu mencium bibir mas Gas. Mereka saling berpagut mesra. Memainkan lidah dan saling melumat.

“Ayo bi…mmmpff….cup…cup…mmmpfff….cupp.. tekan lagi bi…. mmmppff…cup…cup…biar lebih nikmat” ucap bu Erni di sela² ciumannya dengan mas Gas. Tangan bu Erni pun beralih memegang tangan bi Resti seolah menariknya agar jongkok lebih rendah lagi.

“Uuuuuh….oooooh…….sssssssshhh….”, desah bi Resti sambil menurunkan lagi bokongnya, membuat penetrasi rudal mas Gas makin dalam memenuhi liang serambi lempitnya.

“Enak ya bi….hihi…”, sahut bu Erni menghentikan ciumannya. Ia melihat rudal mas Gas sudah terbenam separuh. Tiba² bu Erni bangkit, lalu berdiri di belakang bi Resti, ia memegang pinggul bi Resti dan menekannya turun, hingga rudal mas Gas langsung ambles semua.

“Buuuuuuu……iiiiiiihh……”, erang bi Resti. Ia kaget, karena tiba² rudal jumbo sepanjang botol kecap itu melesak masuk menekan dinding rahimnya. Matanya terbelalak, tubuhnya bergetar mengejang. rudal sebesar dan sepanjang itu tiba² memenuhi rahimnya. Bu Erni tampak tetap menekan bahu bi Resti beberapa saat.

“Enak gak bi, hihi? Biarin dulu di dalem, saya tau pasti ngilu” Bisik bu Erni. “Buuuu….pppe..nuuuh..bb…baangeeeet….”, erang bi Resti. Kini dengan posisi duduk jongkok diatas perut mas Gas, tangan bi Resti meraih tangan mas Gas, ia arahkan ke susunya. Mas Gas tahu keinginan bi Resti untuk meremas² susu besar menggantung itu yang basah oleh keringat.

“Aaah…..ssssssh….maaas…reeemaaaas…. teruuusss….”, desahnya sambil memutar² pinggulnya diatas rudal mas Gas yang terbenam seluruhnya. Bi Resti merasakan rahimnya diaduk², ditekan² oleh rudal mas Gas. Matanya merem melek. Bu Erni pun makin bernafsu melihat mereka. Ia lalu berpindah posisi lagi, berdiri diatas kepala mas Gas, lalu ia berjongkok dan mengarahkan serambi lempitnya ke mulut mas.

Dengan lahap mas Gas menjilat² serambi lempit bu Erni yang basah, ia masukkan lidahnya ke liang serambi lempit bu Erni, lalu ia putar². Ia cucup juga bibir serambi lempit bu Erni, ia jilat, ia hisap² klentitnya yang makin menonjol dan mengeras. Anusnya pun tak luput dari sapuan lidah mas Gas, lidahnya seolah mengebor lubang sempit itu. Bu Erni pun menggelinjang geli dan keenakan, ia pun meremas2 dan menjambak rambut mas Gas. Sementara bi Resti yang sedang memutar² pinggulnya, sejenak diam menikmati penuhnya rahimnya dan rasa ngilu nikmat.

Lalu bi Resti topang tubuhnya dengan tangan di perut mas yon, ia mulai memompa naik turun rudal mas Gas. Perlahan ia gerakkan naik turun hingga pantatnya bertumbukan dengan perut bawah mas Gas.

Plogh…….plogh……plogh…….plogh……plog…..

“Sssssh…..ah……..ah……..ah………ah……”, desah bi Resti. Ia yang begitu energik, menggejot rudal mas Gas dengan tempo yang konstan. rudal mas Gas dijepit tarik dengan ganas oleh bibir dan otot² serambi lempit bi Resti. Saat bokong bi Resti bergerak keatas, bibir serambi lempitnya seperti tertarik keluar karena begitu tebalnya rudal mas Gas. Batang rudal mas Gas pun mengkilat karena cairan serambi lempit bi Resti.

Hampir setengah jam bi Resti memompa rudal mas Gas naik turun. Keringat pun mengalir dari lehernya, menuruni bongkahan payudara besarnya, sebagian memercik mengenai perut dan dada mas Gas. Sodokan ujung rudal mas Gas yang berulang kali menekan dinding rahim bi Resti, membuatnya berulang kali memejamkan mata, ngilu bercampur nikmat membuat aliran darah bi Resti mengalir deras.

Genjotan bi Resti pun makin lama makin cepat. Nampaknya bi Resti sudah tak bisa menahan untuk segera klimaks.

Plogh..plogh..plogh..plogh..plogh..plogh..plogh..plogh..plogh..plogh..

“Kkkencengin aaah….sssh…terus bbb..bi.. genjotan…aaah…mu, pentokin, kita….ssssh….aah…ppu..aaasin rudal mmmas…ooooh… Gas malam ini!”, ucap bu Erni sambil mendesah karena serambi lempitnya diobok² lidah mas Gas. Bu Erni menggoyang² memutar² dan memaju mundurkan pinggulnya, sambil menekan ke arah bawah, hingga mulut dan hidung mas Gas berulang kali terbenam dalam serambi lempitnya yang basah.

“Ah..ah..ah..ah..ah..oh..kkon..tol.. sssh..mmu..ee..ee..ssssh…gge..oh..oh..de..baa..ba..nget..ah..uh..mmm..aasss..oh..oooh” desah nya.

“Bbb…ah..ah..bi…ah..oh..mmma..mau…aaah….ooh…ke..luu…aah…ah…ar…mmmaaaa…mmaaaaassss….ah…uuuuuuh…..uuuuuuuuuuhhh…..sssssh…….aaaaaaaaaaaaaah…kkkon….toooooolll……..”, erang bi Resti panjang diikuti tubuhnya yang mengejang, dengan rudal mas Gas yang terbenam seluruhnya, ia jepit dan pijit² dengan otot² serambi lempitnya, diikuti semburan cairan serambi lempit yang cukup banyak, hingga meluber keluar membanjiri perut mas Gas.

Bi Resti lalu terkulai lemas diatas tubuh mas Gas. Keringat kedua nya berpadu, payudara bi Resti yang besar terasa hangat dan kenyal bergesekan dengan dada mas Gas. Mas Gas yang masih asik melumat serambi lempit bu Erni, mengalungkan tangannya ke punggung bi Resti. rudalnya yang berkedut² di dalam serambi lempit bi Resti, terasa hangat.

Bu Erni yang melihat ke belakang, lalu perlahan berdiri. Tampak cairan serambi lempitnya menetes ke wajah mas Gas, sebagian ada yang masuk ke mulut mas Gas. “Anget ya sayang, gurih kan lendir ibu?” Tanya bu Erni sambil melihat ke bawah.

“He em bu, gurih banget, plus lengket, hihi…” ucap mas Gas sembari menelan dan membersihkan sisa² lendir serambi lempit bu Erni di sekitar mulutnya dengan lidah.

“Ehhh, udah keluar bii…? Lama juga yah, hebat bi Resti. Sini gantian aku bi. Biar mas Gas ngerasain sensasi baru. Hihi…” ucap bu Erni. Bi Resti yang masih memeluk tubuh mas Gas, menganggukkan kepalanya, “iiiya..bu..ssi..silahkan”, ia lalu berpindah ke sisi kanan mas Gas. rudal mas Gas yang masih tegang itupun terbebas keluar. Begitu basah oleh lendir bi Resti.

“Sayang, rudal kamu masih tegang aja tuh, hihi…., ayo gantian sekarang ibu nungging ya, kamu genjot dari belakang!” Pinta bu Erni.

Mereka pun berpindah posisi. Kini bu Erni menungging di samping bi Resti yang terkulai lemas. Pantat besar bu Erni terpampang di depan mas Gas. Nampak basah di sekitar selangkangannya karena cairan serambi lempitnya sendiri, begitu menggoda.

“Mas Gas, jangan dimasukin dulu yah, kobel anus ibu dengan jari²mu, basahin dulu jarinya pake lendir di serambi lempit ibu sayang!” Pinta bu Erni.

“Hah, di anus bu?” Tanya mas Gas heran. “Emang gak sakit bu?”, imbuhnya sambil mengobok² serambi lempit bu Erni, hingga jarinya kini basah.

Bi Resti yang lemas, mendengar itu juga merasa heran. Baru kali ini ia mendengar permainan anus. Dalam hatinya, “emang gak sakit apa ya, ttapi kalo emang enak, harus kucoba juga. Hihi…”.

“Nggak lah sayang, malah enak. Hihi…., jari telunjuk sama jari tengahmu basahin semua sayang. Masukin ke serambi lempit ibu!”. Mas Gas pun mengikuti kemauan wanita idolanya itu. Kini dua jari yang ia masukkan dan mengobok² serambi lempit bu Erni. Bu Erni pun mendesah keenakan.

“Ssssh……..aaaah……hmmmmm…., bi Resti kalo udah seger, boleh nyoba juga loh anusnya disodok. Hihi….” goda bu Erni ke bi Resti sambil menoleh ke arahnya dan tersenyum genit.

“Eeeh….hihi….belum pernah bibi” sahut bi Resti.

“Hehe, bi Resti. Makanya dicobain. Ntar bikin nagih. Cuman saya gak tau, muat gak yah pake rudal mas Gas yang jumbo ini. Hihi… saya kok agak merinding”, ucap bu Erni.

“Iiya buuu… punya mas Gas gede banget, panjang lagi. Nanti jenengan mules lagi loh. Hihi…” balas bi Resti.

“Yah dicoba dulu dong. Pelan² ya sayang. Anus ibu memang pernah disodok rudal, cuman gak segede dan sepanjang punya kamu. Hihi”, ucap bu Erni sambil tersenyum ke arah mas Gas. “Oh iya, lepasin dulu kondomnya sayang!”.

“Oooh..ii..iya bu. Aku ngikut maunya ibu aja”, tukas mas Gas sambil melepas kondomnya.

“Klo jarinya udah basah, masukin ke anus ibu sayang. Pake 1 jari dulu yah, trus obok² ke kanan kiri, biar lubangnya melar dikit!” Pinta bu Erni. Mas Gas pun mulai memasukkan jari telunjuknya ke anus bu Erni perlahan. Otot² bibir anusnya menjepit² jari mas Gas. Ia kocok keluar masuk dan ia obok² ke kanan kiri memutar agar lubang anus bu Erni agak melebar.

“Aaaaah……ssssshh…iiya…ggii..tu …sayang…”, desah bu Erni. “Masukin jari satunya lagi sayang!”. Mas Gas hanya menuruti kemauannya, ia lalu memasukkan 2 jari ke dalam anusnya, lalu ia kocok keluar masuk. Hingga setelah beberapa menit, lubang anusnya tampak sedikit menganga seukuran kelereng.

“Bi, saya bisa minta tolong gak, emut rudal mas Gas, basahin pake liur bi Resti. Ludahin juga kalo perlu biar makin basah dan licin!” Pinta bu Erni ke bi Resti. Bi Resti pun mengiyakan, ia lalu bangkit dan duduk di samping bokong bu Erni, ia raih rudal mas Gas, lalu ia berlutut dan mulai menjilat² kepala rudal dan meludahi batangnya. Mas Gas pun mendesah keenakan.

“Ooooh…bii……enak…..basahin semua biii”, ucap mas Gas. Bi Resti tampak lahap sekali menjilat² dan mengulum kepala rudal mas Gas. Ia lumuri kepala dan batang mas Gas yang berurat itu dengan liurnya.

“Buuu, udah basah nih rudalnya mas”, kata bi Resti.

“Aaah iya, sekarang cabut jarimu sayang, trus pegang pangkal rudalmu yah! Jangan dipegang batangmu, nanti pelumas liur bi Resti ilang. Arahin ke anus ibu yah, trus dorong pelan²”, pinta bu Erni manja.

Mas Gas mulai menekan ke bawah rudalnya yang menegang keatas, ia tekan hingga kepala rudalnya berada di depan lubang anus bu Erni. Ia dorong perlahan, hingga lubangnya makin menganga, namun karena sempit dan kepala rudalnya basah, membuatnya licin dan beberapa kali terbabit. Bu Erni pun senyum² menengok ke belakang.

“Sayaaaang, pelan², jangan keburu dorong. Di pas in lubangnya, lalu tekan perlahan. Anus ibu gak seperti serambi lempit sayang. Hihi…”, canda bu Erni. “Bi Resti, tolongin dong, kobel lagi lubangnya, basahin jari bi Resti dulu ya, biar main lebar lubangnya.”, pinta bu Erni.

Bi Resti pun menuruti, ia jilat dan emut jarinya hingga basah, lalu ia masukkan ke anus bu Erni sembari mengobok². Lalu diikuti mas Gas yang mengarahkan lagi kepala rudalnya ke anus bu Erni.

Sleeeeeeeeep….., perlahan kepala rudal yang besar itu seperti dihisap oleh lubang anus bu Erni dan langsung terbenam.

“Aaaaaaah….., masuk buuu…”, ucap mas Gas, ia tak berani memaju mundurkan rudalnya. Ia menunggu komando dari bu Erni.

“Aaaaaaauwwww…..gedeeeee kerasa banget sayang…”, desah bu Erni sambil menungging dan telungkup, kedua tangannya melebarkan pantat nya ke kanan dan kiri.

Bi Resti pun seperti mulai terangsang dengan pemandangan sodomi rudal jumbo itu. Ia lalu tanpa disuruh, menjilati sekitar lubang anus bu Erni dan batang rudal mas Gas, ia ludahi dan ia ratakan di sekeliling batang berurat itu, sambil mengelus² biji peler mas Gas.

“Oooooh….bibiii….mulai nakal yaaa….ssssh…..” ucap bu Erni. “Tapi enak biii, geli nikmat, terusin jilat bibir anusku biii!” Desah bu Erni.

“Iiya bu, bibi bantu biar bisa licin. Hihi…”, balas bi Resti.

“Sayang, dorong lagi pelan doooong….ssssh…., masukin lebih dalem maaaas….!” Pinta bu Erni.

“Iya bu, ibu siap² ya, Gas dorong lagi sekarang”, balas mas Gas. Ia lalu memegang panggul bu Erni, ia tahan sambil ia tekan rudalnya masuk senti demi senti, lalu ia tarik lagi mundur. Lalu ia dorong lagi hingga setengah batang rudalnya sudah terbenam.

“Uuuuuuuuh….sesek banget anus ibu sayang. Eeeenaaaaaaak bangeeet….”, desah bu Erni sambil meremas² sprei. “Tekan lagi lebih dalam sayang….ssssh……aaaaaaah….aa…yooo….tekaaaan….!”

Mas Gas pun meludahi lagi batang rudalnya yang belum terbenam, ia lumuri merata, lalu ia tarik lagi mundur rudalnya hingga ujung kepala rudalnya saja yang di dalam, ia meludah lagi, ia lumuri lagi hingga licin. Lalu ia tekan lagi perlahan hingga masuk ¾, bu Erni pun mengerang keenakan. Ia tepok² pantatnya berulang kali, ia lalu juga mengkobel² serambi lempitnya. Bi Resti yang menyaksikan itu, sambil duduk bersimpuh, ikutan mengkobel serambi lempitnya sendiri, dengan jarinya yang basah oleh lendir serambi lempitnya, bi Resti memasukkan jarinya ke dalam anusnya. Ia kocok keluar masuk jarinya di dalam anus. Ia ingin mencoba anusnya digempur rudal mas Gas yang besar dan panjang.

“Seret banget bu anusnya”, ucap mas Gas. Ia sejenak terdiam membiarkan ¾ rudalnya tenggelam di dalam anus bu Erni. Ia merasakan pijatan² otot anus bu Erni, merasakan keenakan, ia lalu tiba² mencabut rudalnya, lalu ia lesakkan tiba² di serambi lempit bu Erni yang sudah basah. Dengan sekali dorong langsung ambles semua. Bu Erni pun kaget dan meraung².

“Aaaaaaaaaaarghhh…..sssa…yaaaaaaang….., kkk…kkook….tt..ti…”, belum selesai ucapannya, mas Gas yang makin terbakar gairah, menghujam serambi lempit bu Erni dengan cepat.

Plogh..plogh..plogh..plogh..plogh..plogh..plogh…plogh……….

“Aaahh…ah..ah..ah..uh…ah…ss…ssa…ah..ah…ah..sa…yang….oh..oooohh…ah..ah..ss..ssaa….sayang…ee..een…ah….ah….nak…ss……sssh….aaaargh….oh..oh..oh…..” desah bu Erni sambil kedua tangannya meremas dan menggigit sprei. Mas Gas seperti kesetanan, ia lesakkan rudalnya dalam² di anus bu Erni, hingga suara becek itupun berpadu dengan tumbukan.

Splock..splock..splock..splock..splock..splock..splock..splock..splock…

“Uuh..uh..uh..mm..mmm..mmm…oh…ah…ssa..ah..ah…ssayang….ii..ibu…mm….ah…ooooh…aaah .ah…ah..mmaau….kke…aah..uh..uh..keluaaaaaaaaaaaaaarrr…..” erang bu Erni diikuti tubuhnya yang mengejang hebat, kedua kakinya ia angkat dan bergetar. Ia terguling ke samping bi Resti.

Bi Resti yang makin terangsang pun, segera menungging, menggantikan posisi bu Erni.

“Mas, ayo bibi juga mau maaaasss….”, pinta bi Resti.

“Ayok bi, sini biar ku pentokin juga di serambi lempitmu bi….aaaah …ssssssh….”, balas mas Gas. Kali ini mas Gas menaiki ranjang, ia berdiri mengangkang di atas bokong bi Resti. Ia gosok²an kepala rudalnya di serambi lempit bi Resti, lalu saat bibir serambi lempitnya terbuka dan makin basah, ia tancapkan dengan cepat. Lalu memasukkan setengah panjang rudalnya, kemudian mengayunkan pinggul nya naik turun. Dia makin mempercepat sodokannya.

“Uuh..uh..uh…ah..oh…oh…aaaah…ah…mmas….ah..ah..kkok…gak…ah..ah..sse..mua….di…ah…ah…ah…ah..masukin….?” Desah bi Resti sambil meminta mas Gas untuk membenamkan semua batang rudalnya.

“Bibi….mau semua ya…hah….he em….aaaah….oh ….mma…mau…ah…di…pen…ah…tokin…juga….aaah…ah…?, desah mas Gas sambil menggenjot bi Resti. Lalu ia tarik kebelakang, dan ia sodok dengan cepat dan dalam. Bi Resti pun mengerang. Ia gosok² klentitnya, tangan yang lain meremas² susunya. Kini posisi mas Gas dengan rudal yang masuk seluruhnya, ia tekan maju dalam², dengan posisi setengah membungkuk. Ia mulai menggenjot dengan cepat.

“Plogh.plogh.plogh.plogh..plogh..plogh..plogh..plogh…plogh..

“Ah..ah..ah..ah..uh..ah..terus…mm..mas…gen..jot…bbb..ah..oh..oh..bi..bi…mas…aaah…aaah…”, sesekali bi Resti mengerang panjang saat mas Gas menekan dalam² rudalnya. Dengan posisi menungging memang penetrasi bisa benar² dirasakan sepenuhnya. Apalagi rudal mas Gas besar dan panjang. Bi Resti merasakan rudal itu menekan hingga ke ulu hatinya.

“Ooooooooohh…mmmaaaaaasssss…..ah…ah..oh…oh..oh…ah..mm….mmaas….gg..gi…laaaaa…..”, desah bi Resti hebat sambil kini tangannya memegangi ulu hatinya yang terasa ngilu² nikmat.

Hngghk….hegkk..hegkk…engh…engh..

Plogh..plogh..plogh..plogh..plogh..splock..splock..splock..splock..splock..

“Enak…sssh….ah…ah…ee..enak..biii…?” Ucap mas Gas sambil terus memompa. Kemudian mas Gas menurunkan badannya tanpa mencabut rudalnya, ia mulai berlutut di belakang bokong bi Resti, dan mulai memompa lagi.

Splock..splock..splock..splock..splock..splock..

“Aah..ah..ah..uh..uh..m..mm…mm..mm..ah…oh..ah..ah..mmas..mas.., bbi..bi…ah..aah..kke..lu…aaaaaaar…aaaaaaaaaaaaargh……ooooooooooooohhh….sssssss…ss…sssss…ssssh…aaah…..aiiiiiiih……aaaaah….” erang bi Resti sambil menggelinjang hebat. Otot serambi lempitnya menjepit² rudal mas Gas. Mas Gas pun merasakan akan segera klimaks. Ia makin percepat sodokannya di serambi lempit bi Resti.

“Mmmasss…aah..ah..ah…oh…mma..masukin…anus…bbi…aah..ah..bi…mas….ayooo….” pinta bi Resti agar mas Gas ganti menghajar anusnya. “Hajar..ah..ah..aja aaa..oh..oh..oh..anus bibi mmmaaas…!” Pinta bi Resti lagi.

“Iiya…bb..bbi….aku jujuga…mmau …keluar…”, mas Gas pun mencabut rudalnya, lalu ia arahkan ke lubang anus bi Resti. Karena udah pernah melesak di anus bu Erni, kini mas Gas nampak lebih mudah memasukkannya di anus bi Resti. Hanya 2 kali percobaan, kepala rudalnya sudah terbenam. Ia lalu tanpa aba² langsung menusuk dalam² anus bi Resti yang memang lobangnya lebih besar dari milik bu Erni. Bi Resti pun melotot, rudal sepanjang botol kecap itu melesak semua ke dalam anusnya.

“Mmaas…..aaaaauww……sssaa…..kit…aaaah….”, erang bi Resti.

Tak menghiraukan ucapan bi Resti, mas Gas yang akan segera klimaks itu langsung menggenjot anus bi Resti dengan cepat. Betul² brutal.

Plogh..plogh..plogh..plogh..plogh..plogh..plogh..

“Aaah..ah..ah..oh..ah..ah..ah..ah…” desah bi Resti yang awalnya kesakitan, berubah menjadi kenikmatan anal seks.

“Ooh..oh..ssse…reet…bbi…aah..ah..oh..ah..oh…aaku…mma…mau…kke..lu…ah..uh…uh..ar..bbbi…aah..ah..ah..ah..uh..mm..mm..bbi..bi..te…ah..oh..telan…pe..juh..ku…yah….”, desah mas Gas yang lalu mencabut rudalnya. Ia genggam batang bawah kepala rudalnya, ia lalu segera berpindah ke depan wajah bi Resti, ia berlutut lalu mengocok dengan cepat rudalnya sembari ia arahkan ke mulut bi Resti.

Yock..yock..yock..yock..yock..

“Ayo mmmasss…keluarin yang bba..nyak…bbi..bi ..haus…”, ucap bi Resti sambil membuka mulutnya lebar².

“Biiii….aaaku…keluaaaaaar…..aaaaaah…aaaaah…aah….ooooooooh….aaaaah…..sssssh…sssh…aaaah….ooooooooh……oooh….ssssssh”, erang mas Gas diikuti semburan sperma yang kental dan buanyak sekali di wajah dan mulut bi Resti.

“Aaaaangh….aaanghh…hengck…hengck…hengck…glek…glek…glek….hengck…aaanghh…glek…glek….glek..sluuurp…glek…glek…” hanya suara itu yg keluar dari mulut bi Resti. Pejuh kental dan putih yang menyemprot ke dalam mulutnya berusaha ia telan. Saking banyaknya, ia meluber keluar mulut bi Resti. Ia telan dengan lahap sambil melihat ke arah wajah mas Gas yang mengerang keenakan. Sekitar delapan kali semburan pejuh mas Gas membanjiri mulut dan wajah bi Resti.

Dengus nafas mas Gas yang menggebu² kini semakin menurun. Ia pun duduk di depan bi Resti, sambil melihat bi Resti menyapu pejuh yang membasahi wajahnya dengan jari, lalu ia arahkan ke mulutnya untuk ditelan. Bi Resti pun ikut tersenyum puas. Dengan anus menganga dan serambi lempit yang becek itu, ia ambruk di depan selangkangan mas Gas.

“Bbba…nyak..banget pejuhmu mas…, kamu perrrkasa sekali….” ucap bi Resti yang badannya terlungkup dengan mata terpejam.

Bu Erni yang telah lemas dan tertidur, tak menyadari pertempuran bi Resti dan Mas Gas. Seluruh tenaganya terkuras, anusnya juga menganga, tapi tak selebar anus bi Resti. Ketiganya lemas tak berdaya di atas ranjang. Persetubuhan threesome itu berlangsung cukup lama. Hingga hampir tengah malam.

Mas Gas yang tersadar lebih dulu, segera membersihkan diri dan menutup tubuh kedua wanita yang telanjang bulat itu dengan selimut. Setelah memakai baju, ia pun berjalan pelan² keluar kamar, sambil menengok kamar utama. Disana bapak masih tertidur pulas. Ia pun segera pergi meninggalkan rumah bu Erni dengan meninggalkan pesan di WA bu Erni.

“Ibu sayang, makasih ya malam ini. Sampein juga makasih buat bi Resti. Kalian berdua betul² mengagumkan. Kalo boleh besok lagi yah, hihi…Mmuuaaach…”

Malam yang menggairahkan dan takkan bisa dilupakan oleh seorang mas Gas, malam dimana ia di perjakai oleh kedua wanita montok, malam dimana pertama kali rudalnya membuat takluk wanita² yang berpengalaman. Bagaimanakah dengan Ajeng, Ambar dan Tika, apakah impian mereka juga akan segera terwujud? Apakah Aulia dan Feni, kasir jaga minimarket memiliki kesempatan untuk bertemu mas Gas lagi?

Bersambung… Hari² mas Gas berlalu seperti biasa, ketika sore tiba, ia selalu ke rumah bu Erni untuk memuaskan nafsu kedua wanita setengah baya yang haus akan seks. Kedua wanita yang sangat suka di anal oleh rudal jumbo mas Gas, membuat lubang anus kedua wanita stw itu menganga kecil.

Semenjak saat itu, sikap dan sifat mas Gas yang pemalu dan cuek, perlahan terkikis. Ia lebih berani membuka obrolan dengan teman wanita, lebih supel, hangat dan mau berbaur. Bahkan tak jarang ia berani menggoda. Hingga akhirnya, suatu pagi, di tengah sibuknya pekerjaan kantor, bu Erni memanggil mas Gas yang sedang mengerjakan laporan di depan laptopnya.

Kriiing…..kriiingg….nampak mas Gas langsung mengangkat telpon, setelahnya ia lalu beranjak daei kursi menuju ruangan bu Erni.

Tok..tok..tok..

Dari dalam bu Erni menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan mas Gas untuk masuk.

“Duduk sayang, ibu mau ngobrolin sesuatu” ucap bu Erni.

“Ya bu, kayaknya serius banget” balas mas Gas.

“He em, sebenernya sedih mau ngomong, tapi mau gimana lagi. Udah tugas dari kepala. Ibu disuruh keluar kota, kunjungan kerja sama studi banding kinerja tiap bagian dengan kantor cabang di surabaya. Jadi….”

“Jadi gak bisa ketemu lagi tiap hari?” Sahut mas Gas.

“He em….”, ucap bu Erni sambil tertunduk lesu.

Mas Gas pun tampak terdiam,agak kecewa mendengar berita mendadak itu. Namun apa daya, ia berfikir jika ia ikutan sedih, bu Erni malah tidak bisa fokus, akhirnya akan membuat semuanya jadi berantakan, dan malah bisa membuatnya dan bu Erni tidak bisa ketemu lagi. Lalu mas Gas tersenyum.

“Ibuku sayang, kok sedih?, hehe…kan cuman sebentar. Nanti kalo pulang kan bisa makin asyik. Hihihi…. kan cuman ke surabaya” hibur mas Gas sambil memegang tangan bu Erni.

“Kok malah ketawa sih kamu sayang, ya iya sih. Cumaaaaan…. kalo aku kepengen gimana? Hahaha….” sahut bu Erni sambil terkekeh. “Iya kamu enak, disini bisa sama bi Resti, lah ibu? Sama laki² sewaan?”

“Hehe, buuu, klo emang mau, gakpapa. Daripada ditahan. Lagian aku juga gak mungkin tiap hari sama bi Resti. Kesanapun kalo pas antar obat aja buat bapak seminggu sekali. Kerjaan ku numpuk, banyak laporan yang mesti dikerjakan. Kalo gak nyicil di rumah, gak bakalan selesai. Gas janji, kalo ibu pulang, Gas milik ibu seharian. Hihi…”, hiburnya lagi sambil tersenyum.

“Sayang, ibu yakin laki² lain gak punya rudal segede dan sepanjang punya kamu. Sama mereka gak akan kerasa. Hihi…. kamu mau bukti?, coba deh ajak teman kantor kamu laki² yang tinggi besar ke hotel, trus panggil bi Resti, ajak threesome, bandingin rudal kamu sama rudal temen kamu. Nanti kamu bakalan tahu.”, tegas bu Erni.

“Ehh tapi janji ya, nanti kalo ibu balik, seharian sama ibu?”, pintanya memelas. Mas Gas pun mengangguk sembari memegang tangan bu Erni dan mengusapnya. Tangan perkasa itu membuat bu Erni dimabuk asmara. Hingga iapun terhibur dan tak bersedih lagi dengan tugas mendadak itu.

“Masa sama bi Resti sayang, hihi” ucap mas Gas sambil tersenyum.

“Yaaa itu sih terserah kamu sayang, emang mau sewa PSK? Tanya bu Erni balik. “Saranku sih jangan sayang, kecuali kamu pake kondom. Kapan hari pake kondom gak nyaman kan? Hihi…”, canda bu Erni.

“Hehe, iyaa iyaa, nanti deh aku pikirin caranya bu”, balas mas Gas. “Chat aku ya bu selama disana, telpon juga boleh, biar kangennya terobati. Hehe!” Pinta mas Gas.

“Iyaa sayang, apapun yang kamu minta, ibu turutin” jawab bu Erni mengiyakan.

“Ya udah bu, aku balik ke meja ya, buanyak banget yang mesti kukerjakan”, ucap mas Gas sambil berdiri.

“iyaaa iyaaa, ya udah sana sayang, jangan lupa nanti balik kesini, tak tagih janjimu. Hihi…”, canda bu Erni sambil mengerlingkan mata.

Lalu mas Gas pun kembali ke meja. Dan seperti biasa, ia jadi buah bibir teman² kerja wanitanya. Ajeng, Ambar dan Tika memang sedang membicarakan mas Gas yang kian hari kian dekat dengan bu Erni, dan perubahan sikapnya yang awalnya cuek jadi mudah bergaul.

Saat memandangi laptop, mas Gas kepikiran apa yang dibicarakan bu Erni. Ia memang belum pernah threesome dengan teman laki². Ia juga penasaran apakah yang dikatakan bu Erni benar, jika rudalnya memang benar² gede, berbeda dengan lelaki indo pada umumnya. Mas Gas tampak melamun, pikirannya sedang berada di suatu tempat meskipun ia menatap laptopnya. “Temen kantor, siapa ya……”, dalam hati mas Gas berfikir, sambil melamun.

“Ehemmm….ehemm….”, mas Gas terkejut, saat suara itu berasal dari bangku seberang, tempat ketiga teman kerja wanitanya duduk. Rupanya suara itu berasal dari Ajeng, temannya yang berpayudara besar. Berbeda memang dengan Ambar dan Tika yang memiliki payudara berukuran sedang, namun bokong ketiga teman wanitanya itu semuanya bulat dan sekal.

“Lagi ngelamunin apa sih mas?” Celetuk Ajeng.

“Ahh nggak jeng, iniloh, crosscheck laporan kok gak sinkron”, dalih mas Gas. Ia berpura² sedang mengetik di atas keyboard laptopnya, padahal ia berbohong.

“Crosacheck apa crosscheck, hihihi…. alesan ae to maaaaas mass”, canda Tika. Entah angin apa yang menerpa mas Gas, seketika itu, sambil tersenyum, ia menghampiri ketiga rekan kerjanya. Sontak mereka bertiga kaget bukan main, mereka langsung berpura² fokus di depan laptopnya masing².

Mas Gas lalu duduk di tepian meja kosong di samping meja kerja Ajeng, ia memandangi Ajeng yang berkerudung hitam, payudaranya yang dihimpit tangannya itu tampak sedikit menyembul kesamping. Mas Gas yang duduk di tepian meja, dengan 1 kaki menggantung dan kaki lainnya menahan tubuhnya, memperlihatkan tonjolan rudalnya yang terlihat jelas. Ajeng hanya melirik sejenak, “brengsek mas Gas, pagi² dah bikin horny lagi”, gumamnya dalam hati. Berbeda dengan Ambar dan Tika, yang mengamati mas Gas dari mulai ia berjalan hingga duduk, mata keduanya pun tak beralih dari tonjolan di selangkangan pria bertubuh kekar itu. Karena mas Gas hanya fokus memandang Ajeng, ia tak sadar, kedua temannya yang lain memperhatikannya.

“Jeng, lagi sibuk ya?”, tanya mas Gas tiba².

“Ehh, nggak juga mas, ada apa, tumben?” Ucap Ajeng sambil memandang wajah mas Gas. Ajeng merubah posisi duduknya yang semula menghadap meja, kini ia menghadap ke arah mas Gas sambil menyilangkan kaki.

“Hehe, anu Jeng, kira² ada waktu gak sore nanti setelah pulang kerja, ato mungkin malam? Pengen ngobrolin sesuatu.” Jawab mas Gas.

“Wuiihh, ngajak kencan nih. Hahaha”, canda Ajeng. Sontak kedua temannya kaget, sambil senyum².

“Cieeee…cieee…..dinner nih yeee….”, goda Tika. “He em, kita gak diajak yo Tik”, sahut Ambar.

“Halah, kok kencan, haha…. kalo mau ikut yo ayo toh. Malah asik rame²”, ucap mas Gas. Mendengar itu, Ambar dan Tika berbunga², beda dengan Ajeng, yang agak kecewa karena tidak jadi berduaan dengan mas Gas. “Asem, nggangu ae se rek”, ucap Ajeng dalam hati.

“Gimana Jeng? Bisa gak?”, tanya mas Gas lagi.

“Lah kok nanya aku, itu tanya mereka. Kan mereka juga ikut” balas Ajeng sambil tersenyum kecut.

“Nggak nggak Jeeeeeng, kita gak akan ganggu kalian. Hahaha. Becanda loh, kok nesuuuu”, ucap Tika. “Hahahaha, iyo jeng, pokonya aku bungkusin makanan, beres”, sahut Ambar. Mendengar kedua temannya berkata seperti itu, hati Ajeng mulai berbunga² lagi. Senyumnya tak lagi kecut, kini malah tersipu malu.

“Hihi, ngerti ae sek rek karepku (ngerti aja sih mauku), iyaaa iya tak bungkusin jajanan masing² nanti”, ucap Ajeng. Ia lalu menatap wajah mas Gas dengan wajah berseri², sambil mengerlingkan mata. Mas Gas pun membalas dengan senyuman.

“Jadi nanti jam berapa mas?” Tanya Ajeng.

“Habis maghrib ae ya, nanti tak WA kalo mau berangkat. Rumahmu masih tetep disana dulu kan? Jelas mas Gas.

“Ya iyaaaaa laaaah, masa pindah, nanti mas Gas bingung nyari aku. Hihihi…”, canda Ajeng. Ia berharap nanti malam mas Gas bakal ngelakuin sesuatu yag lebih dari sekedar makan. Ia hanya akan menuruti apa kemauan mas Gas, asal hasrat terpendamnya terpenuhi. Betul² tak jauh beda dengan bu Erni dan bi Resti.

“Ehemmm…ehemmm…, awas ada cctv”, kata Ambar. Menyadari itu, seketika mas Gas pun segera kembali ke mejanya, berikut Ajeng dan kedua temannya kembali fokus di kerjaan mereka masing².

Mas Gas yang kini sudah kembali ke mejanya, tiba² ingat obrolan dengan kedua orang tuanya beberapa hari yang lalu. Cepat² ia buka chat dari ayahnya yang tenggelam oleh obrolan grup dan chat dari teman² nya. Disitu, ada kiriman foto dari ayahnya yang belum ia buka. Foto yang ngeblur itu lalu ia buka.

Nampak seorang wanita cantik dan manis yang sepertinya pernah bertemu dengannya, namun ia lupa dimana. Ia coba mengingat², namun tetap saja mas Gas lupa dimana pernah bertemu dengan wanita itu. “Ah, ntar aja deh sambil jalan, barangkali nanti aku bisa ingat”, gumam mas Gas.

Sore harinya, setelah tiba di rumah, seperti biasa bu Erni langsung menyiapkan obat suaminya. Ia lalu mengobrol sambil meminta ijin jika ada tugas luar kota selama 2 minggu. Awalnya suaminya agak keberatan, namun setelah bu Erni menjelaskan ini itu, akhirnya pak Wito pun mengizinkan.

Bu Erni lalu menuju ke dapur, dimana bi Resti saat itu nampak sedang mengelap perabotan. Bu Erni lalu menarik kursi meja makan.

“Bi, boleh menyela sebentar kerjaannya, saya mau ngobrol sama bi Resti!” Ucap bu Erni.

“Oh iya bu, boleh sekali”, balas bi Resti. Ia lalu berhenti dan berdiri di depan bu Erni.

“Duduk aja loh bi, saya udah anggap bi Resti kakak sendiri. Kakak nakal bareng ketemu gede. Hahaha”, canda bu Erni.

“Waduh ibu ada² aja”, balas bi Resti sambil tersenyum malu².

“Hihi… abis nakal bareng mas Gas kan juga sama kamu bi. Berapa hari loh kita dipuasin sama dia. Hihi”, canda bu Erni. “Nyantai aja loh bi kalo ngobrol sama saya, anggap aja adik sendiri, losss pokoknya”, jelas bu Erni.

“Hehe, iya bu. Tapi ya tetap aja jenengan itu majikan saya, saya harus hormat dan santun. Oh iya bu, maaf saya tadi gak sengaja dengar obrolan jenengan sama bapak. Emang bener nggeh bu mau tugas luar kota?”, tanya bi Resti sambil menarik kursi lalu duduk bersama bu Erni.

“Iya bi, bener. Udah diijinkan bapak juga. Saya titip rumah sama bapak ya bi. Sama titip mas Gas. Hihi”, tukas bu Erni sambil terkekeh. “Misal bi Resti pengen kentu sama mas Gas, ya silahkan aja. Justru saya lebih seneng kalo mas Gas cuman ngeseks sama bi Resti, gak jajan kemana²”. Imbuhnya.

Bi Resti agak kaget dengan perkataan bu Erni. “Walah bu, saya hanya mau kentu kalo ada jenengan saja. Gimana ya bu, hihi, apa jenengan ndak cemburu?” Tanya bi Resti.

“Halaaaaah ngapain cemburu biii, saya juga udah sering sama laki² lain, ya memang cuman mas Gas yang spesial barangnya. Kayaknya saya cuman mau sama mas Gas kalo untuk urusan kentu, dan saya entah kenapa ikut seneng kalo bi Resti juga ikut menikmati rudalnya yang gede. Hihi…” ucap bu Erni sambil agak berbisik.

“Wihh bu, hihi. Ya saya hanya manut (nurut) aja deh sama jenengan, cuman gimana ya bu, agak aneh loh, masa jenengan ijinkan saya kentu sama mas Gas disini”, balas bi Resti sambil bermain² memutar2 jarinya.

“Wes to bi, tenang aja. Mas Gas juga udah janji sama saya, kalo saya pulang, bakal seharian puasin nafsu saya. Pokoknya jangan tinggalin rumah ya bi, kalo keadaan aman disini, ya lanjut aja bi. Intinya jangan sampai bapak tau. Itu aja. Bisa marah besar dia”, kata bu Erni.

“Hmmm, nggeh bu. Siap kalo gitu”, jawab bi Resti. “Mas Gas hari ini gak kesini bu?”, tanya bi Resti.

“Haha, hayooooo, kita sudah beberapa hari sama dia loh bi, tapi memang bikin nagih ya. Hihi… mas Gas hari ini gak bisa kesini, katanya ada urusan keluarga bi”, ungkap bu Erni.

“Oh gitu toh, yaaah gak bisa kentu deh hari ini. Ehh bu, beneran baru sama jenengan loh anus saya disodok. Burungnya mas Gas buuuesar dan panjang lagi, bikin mules. Hihi”, balas bi Resti juga sambil terkekeh. “Anus saya jadi seperti sejuk, lubangnya gak rapet kayak dulu lagi”.

“Mules tapi kan enak bi, hehe. Anus saya juga. Coba ada 2 laki² ya. Pasti enak bi. Apalagi yang rudalnya kayak punya mas Gas”, ucap bu Erni sambil pandangannya menerawang ke langit² rumahnya.

“Wah ya susah nyarinya bu. Punya suami saya aja cuman setengahnya burungnya mas Gas, gedenya juga masih gedean punya mas Gas. Kan rata² orang indo ya segitu itu ukurannya. Sukur² dapat yang panjang. Jenengan beruntung sekali loh bu”, puji bi Resti.

“Ya itu dia bi, susah. Kepengen 2 lubang saya dimasukin rudal. Rasanya pasti enak. Cuman serambi lempit sama anus saya udah kena rudal mas Gas, pasti kalo sama laki² lain gak kerasa. Lobang saya dua²nya udah longgar. Hahahaha”, kata bu Erni sambil ketawa.

Mereka berdua tampak asik mengobrol, bercanda sore itu hingga malam tiba. Kedua wanita stw yang haus kepuasam bercinta. Mereka tak mengetahui jika mas Gas hari itu sedang janjian dengan Ajeng untuk mengobrol.

Sementara itu…

Di rumah mas Gas selepas maghrib, tampak ayah dan ibunya mas Gas sedang di depan televisi. Menonton berita sambil ngemil berdua. Sungguh pemandangan romantis tiap hari yang dilihat mas Gas.

Tampak mas Gas keluar kamar, sudah rapi, memakain celana jeans, kaos hitam, dan harum parfum CK-b yang lembut namun tegas menambah kesan jantan dan gagah.

“Wah wah, wes ganteng anaknya mamah. Mau kemana le? Ke bu Erni lagi?”, tanya ibunya.

“Ndak mah, mau keluar ngopi sama temen² kantor”, jawab mas Gas sambil berjalan duduk di sofa depan televisi. Ia lalu nampak mengeluarkan hapenya, lalu sibuk memencet², seperti mengobrol dengan seseorang. Ya benar, yang sedang ia chat adalah Ajeng. Teman kantornya yang tadi siang ia ajak ketemuan.

“Le, sibuk tah?” Sapa ayahnya.

“Aahh iya maaf pah, lagi chat sama temen yang mau ngopi bareng”, dalih mas Gas.

“Sudah diliat belom foto yang papah kirim? Kok gak ada tanggapan apa² dari kamu le”, tanya papahnya.

“Ooh itu, sudah pah. Gas kayaknya juga pernah liat wajah itu kapan hari, tapi lupa dimana. Cantik sih. Hehe” jawab mas Gas.

“Lah itu, klo memang sreg yo wes to le. Nanti papah mamah kapan gitu ngajak kamu kesana. Ketemuan langsung sama om Wisnu dan anaknya, piye (gimana)? Tegas ayahnya.

“Waduh, sek to pah, Gas pikir² dulu ya. Gampang wes, nanti kalo sreg kan Gas pasti bilang ke papah mamah”, jawab mas Gas.

“Ya udah kalo gitu le, tapi yo jangan lama² mikirnya, keburu tua. Hihi”, sahut ibunya.

“Hmmmm iyaaa iya. Dah Gas berangkat dulu ya, assalamualaikum”. Pamitnya.

“Iya hati² le. Walaikumsalam”, balas ayah ibunya.

Mas Gas lalu melangkah keluar rumah, dan disaat ia berjalan, terdengar nada pesan masuk. Rupanya pesan itu dari Ajeng lagi.

“Mas, sudah berangkat tah?” Chat Ajeng

“Sabaaaar, ini udah mau berangkat. Tadi diajak ngobrol sebentar sama mamah papah, dah aku otw. Mau nitip sesuatu?” Balasnya.

“Boleh, coklat silverqueen aja 1. Dah itu aja, dah berangkat gih, ati² ya mas”, balas Ajeng.

“Iyaaa iya tak belikan”.

Motorpun distarter, mas Gas pun berangkat menjemput Ajeng. Tak lupa ia mampir di indomaret yang tempo hari ia datangi sebelum menuju rumah bu Erni. Mas Gas pun segera memarkir motornya, dan berjalan masuk. Secara kebetulan, yang tugas jaga kasir saat itu adalah cewek yang sama saat mas Gas datang pertama kali disana. Aulia dan Feni. Dari dalam minimarket, tanpa sengaja, Aulia yang tempo hari mengharap kehadiran mas Gas, terlihat kaget, apa yang ia harapkan akhirnya keturutan.

“Fen fen, mas² itu datang lagi. Hihihi…”, ucap Aulia.

“Ehh iya Ul, keren juga sih. Badannya ituloh, macho. Hihi…”, balas Feni. Mereka berdua tampak sedikit berbenah, merapikan dandanannya. “Kamu naksir dia juga ya?” Tanya Aulia sinis. “Hehehe…gak lah. Kan dia incaran kamu, masa aku mau rebut sih, pssst…psst… dia masuk”, balas Feni yang melihat mas Gas berjalan masuk.

Saat sampai di dalam, mas Gas menuju meja kasir. Ia menyapa kedua kasir cantik itu dahulu.

“Malaaaam, hehe, ketemu lagi”, sapa mas Gas.

“Malam juga mas”, ucap keduanya hampir bebarengan.

“Wah, kompak banget jawabnya. Haha”, canda mas Gas.

“Bisa aja mas ini, ya kan kebetulan. Oh iya mas, mau beli apa?”, tanya Aulia mendahului Feni. Keduanya tampak terpesona dengan mas Gas yang berkaos hitam dan harum. Mata keduanya tak lepas dari memandangi body laki² itu dari atas hingga bawah. Terutama Aulia yang agak lama memandangi bagian selangkangan mas Gas yang makin menonjol karena celana jeans ketat yang dikenakan.

“Saya mau beli silverqueen aja 1”, jawab mas Gas. Karena Aulia yang tengah asyik memandang tonjolan besar itu, Feni pun mendahului menjawab permintaan mas Gas.

“Oh iya mas, itu ada di rak bawah. Pilih aja yang mana”, jawab Feni. Mendengar jawaban itu, mas Gas lalu melihat ke arah bawah, diambilnya 1 coklat silverqueen tadi, lalu ia berikan ke Feni. Ia nampak serius memandangi wajah Feni, seperti pernah melihat wajah wanita cantik itu. Sontak ia kaget, dia adalah calon yang akan dikenalkan oleh mamah papahnya.

“Kamu Tika ya, anak om Wisnu? Tanya mas Gas tiba².

“Loh, kok kamu tau mas? Tau darimana?” Jawab Feni yang agak kaget mendengar ucapan mas Gas. Lalu mas Gas mengeluarkan HP nya, ia tunjukkan foto Tika yang saat itu mengenakan kerudung, foto kiriman dari ayahnya, pak Wisnu ke HP mamahnya mas Gas.

“Nih, aku dikasih papahku. Bener kamu kan?” Tanya mas Gas lagi meyakinkan.

“Ii..iiya bener itu aku. Oooo jadi kamu to mas, yang kapan hari ayah ceritakan. Hihi….”, ucap Tika yang kegirangan karena tau bahwa jodoh yang akan dikenalkan oleh ayahnya, kini ada di hadapannya. Laki² bertubuh atletis, berkulit putih dan berpenampilan rapih.

Aulia yang mendengar pembicaraan mereka, nampak penasaran. “Hmmm, kalian ini saling kenal ya?” Tanya Aulia.

“Nggak Ul, gakpapa. Ntar aja aku ceritain. Hihi” jawab Feni. Ia segera memotong pembicaraan, karena dibelakang mas Gas, ada 2 orang yang sedang mengantri untuk membayar belanjaan.

“Udah ini aja ya mas?” Tanya Feni.

“Iya Tik, itu aja”, ntar aja ngobrolnya dilanjutin yah. Ini nomor WA ku. 082xxxxxxxx3. Kemudian Feni tampak mengeluarkan pulpen dan mencatat nomornya di secarik kertas.

“Udah kucatat mas. Nanti aku WA kamu yah. Oh iya ini cokelatnya 26ribu” balas Feni.

Lalu mas Gas mengeluarkan uang dari dompetnya sebesar 50ribu.

“Simpan aja kembaliannya ya, hehe..”, ucap mas Gas.

“Ehhh….hmmm”, gumam Feni.

Lalu mas Gas ambil cokelatnya, sembari mengerlingkan mata ke arah Feni. Mas Gas pun berlalu diikuti langkahnya menuju pintu. Feni pun tersipu malu dan membalas kerlingan ke mas Gas. Aulia makin penasaran, laki² itu dilihatnya bermain mata dengan teman kerjanya. Namun rasa penasaran itu buyar, ketika ada seorang pelanggan menyerahkan belanjaannya.

Di perjalanan, mas Gas senyum², calon yang akan diperkenalkan dengannya begitu cantik, seksi. Badannya juga tak setinggi bu Erni dan bi Resti. Body nya tergolong kecil. Buah dadanya juga standard namun berisi. Keunggulannya ada di wajah dan bokongnya yang montok. Tak lama kemudian, ia tiba di rumah Ajeng. Ia lalu mengeluarkan HP nya dan menghubungi Ajeng.

“Jeng, udah diluar nih, udah siap kan?” Tanya mas Gas. Tak sampai semenit chat mas Gas pun terbalas.

“Iya mas, masuk dulu ya, pamit sama bapak ibuk, sebentar aku ke depan”, balas Ajeng.

Lalu tampak Ajeng dengan kaos merah dan celana jeans ketat keluar. Payudaranya yang besar berayun, pantatnya yang bahenol juga bergoyang naik turun. Melihat itu, birahi mas Gas mulai naik, rudalnya berkedut. Ia berusaha mengalihkan pikirannya, karena celana jeans yang ia kenakan cukup ketat. Ia berfikir jika rudalnya menegang, bakalan susah untuk diarahkan ke paha seperti biasanya. Ia pun turun dari motor dan menyambut Ajeng.

“Wew jeng… hihi….”, sapa mas Gas.

“Kenapa sih, kok ngeliatin gitu?, gak suka ya Ajeng pake baju gini? Gendut ya? Jelek?” Tanyanya bertubi².

“Ya gak lah, beda sama di kantor. Hahahaha….” canda mas Gas. “Ya udah yok masuk, nemuin bapak ibuk!” Ajak mas Gas.

“Hmmmm…”, jawabnya sambil memalingkan muka. Mereka berdua pun masuk dan pamitan. Ajeng pun berlari ke kamar untuk mengambil jaket parasut warna hitam besar. Tujuannya untuk menutupi payudaranya yang memang menonjol sekali.

“Jaket kamu gede banget Jeng, hahahaha…”, goda mas Gas sambil tertawa.

“Lah diledekin, ya iyalah, buat nutupi ini nih!”, jawab Ajeng sambil memegang dan meremas kedua payudaranya yang besar.

“Waduh…haha…iyaaa..iyaa… dipraktekin segala si Ajeng nih. Nanti…”

“Nanti opo? Kamu ngaceng yaaa, hahaha”, balasnya mulai berani menggoda mas Gas.

“Yeeee, gak yooo. Enak aja”, dalih mas Gas yang memang sebenernya bernafsu juga dengan Ajeng. Pakaian yang ketat, memamerkan lekuk tubuhnya yang seksi dan montok, laki² mana yang tidak akan bernafsu. “Wes ayo naik, aku dah laper!”, ajaknya.

“Hmmm, iyaaa iya”, jawab Ajeng. Mas Gas pun menstarter motornya dan mereka pun berlalu. Ia membonceng dan memeluk mas Gas dengan kedua tangannya ia letakkan di paha kanan dan kiri mas Gas. Agak kelimpungan juga mas Gas dibuatnya, namun ia tak berkata apa², karena memang itu juga yang sebenarnya ia inginkan.

Birahinya mulai naik lagi perlahan, merasakan punggungnya ditekan dan digesek² bongkahan payudara Ajeng yang besar. Bagi Ajeng sendiri, ini kesempatan baginya, ia ingat saat diantar waktu itu oleh mas Gas, rudal mas Gas yang gede panjang itu menegang dan membujur di pahanya, apalagi kalo bukan mas Gas terangsang oleh aksi Ajeng memeluknya dari belakang. Ajeng ingin nanti berpura² tak sengaja memegang rudal mas Gas yang menegang dan ia arahkan ke paha.

“Mas, aku peluk ya, takut jatuh, hihi”, bisik Ajeng dari belakang.

“Iya Jeng, sakarepmu wes (terserah kamu deh)”, jawab mas Gas. “Awas tangannya jangan mepet² ke tengah!”, goda mas Gas.

“Hahaha, ngarep nih ye”, goda Ajeng sambil mencubit paha mas Gas. “Aduh, Jeng. Nyubit segala loh”, ucap mas Gas mengaduh.

“Genit sih, nanti lama² tak remet manukmu loh mas. Hihi…”, balas Ajeng sambil tangannya ia usap² hampir mendekati pangkal paha mas Gas.

“Husss….ngawur”, kata mas Gas. Karena Ajeng yang makin nakal dan berani, membuat rudal mas Gas berkedut², dan mulai mengembang. Ia bingung karena rudalnya mulai mendesak celana jeans nya yang ketat. Apalagi rudalnya ia arahkan ke bawah, sehingga kepala dan batang rudalnya yang mulai mengembang tertahan dan cenut².

Mas Gas lalu percepat laju motornya sambil melihat kanan kiri. Ia berusaha mencari resto yang terdekat, agar ia bisa segera ke kamar mandi membetulkan posisi rudalnya. Sukur² bisa lemas dan kembali ke ukuran semula. Setelah sekitar 2 kiloan berkendara, ia menemukan sebuah resto ramen yang cukup sepi. Ia lalu segera memarkir motornya.

“Loh, mas, kok berhenti, emang mau makan disini?”, tanya Ajeng.

“Iya disini aja, sepi juga, kan enak buat ngobrol. Aku juga kebelet pipis”, jawab mas Gas. Padahal sebenarnya ia tak begitu suka ramen, namun karena kondisi rudalnya tak memungkinkan, terpaksa ia berhenti.

“Hmmm, ya wes lah, terserah”, jawab Ajeng. Dalam hati Ajeng, ia tahu sebenarnya rudal mas Gas mulai mengembang karena sentuhan dan obrolannya tadi yang menggoda. Ia juga tahu karena mas Gas sedikit gusar saat berboncengan. Ia hanya senyum² bahagia, ia berfikir, mungkin nanti saat pulang, ia bisa benar² bercinta dengan mas Gas karena tak tahan godaan²nya yang lain.

Mas Gas yang setengah berlari ke dalam resto, segera memesan meja, lalu meminta pelayan menunjukkan kamar mandi. Lalu tampak pelayan resto tadi menghampiri Ajeng untuk mengantarnya menuju meja yang dipesan mas Gas sambil membawa buku menu.

“Silahkan mbak, maaf ini buku menunya”, ucap pelayan tadi. Ajeng pun membuka² dan membolak² menu makanannya. Lalu ia memesan sepaket ramen berdua berikut minumannya. Ia duduk santai menunggu mas Gas yang cukup lama di kamar mandi. Tak lama berselang, tampak mas Gas yang berjalan menghampiri meja yang ia pesan.

“Lama banget di kamar mandi mas, boker ya, hihi?”, tanya Ajeng sambil terkekeh.

“Yeee, gak lah. Pipis aja loh, kok boker. Malu di tempat umum boker”, jawab mas Gas sambil menarik kursi untuk duduk di depan Ajeng.

“Pipis apa pipis, hayooooo” canda Ajeng lagi.

“Haduuuh apaan si Ajeng, udah ah. Ehh iya kamu pesan yang mana?” Tanya mas Gas mengalihkan obrolan tadi.

“Hihi…iyaa iya, iniloh, aku pesan paket yang berdua. Oh iya kamu memang suka ramen ya mas, kok ngajak aku kesini?”, tanya Ajeng.

“Gak juga sih, sebenernya, aku intinya tadi kebelet pipis. Hihi….”, jawab mas Gas. “Gakpapa juga sih, dicoba. Nanti kalo gak habis, kamu yang habisin ya?”, imbuhnya.

“Yeeee enak aja, gak mau. Aku gak mau gendut. Jelek”, jawab Ajeng sambil cemberut. “Oh iya mas, emang mau ngobrolin apa sih?”, tanya Ajeng. Belum sempat menjawab, nampak pelayan resto itu datang membawa pesanan mereka. 2 porsi ramen dan 2 gelas es jeruk.

“Permisi mas, mbak, ini pesanannya. Silahkan. Selamat menikmati”, sapa pelayan resto itu.

“Eeh iya, makasih ya mas”, jawab Ajeng.

Mereka berdua mulai menyantap makanannya. Mas Gas yang kurang suka dengan ramen, hanya makan 3 suap. Ajeng terlihat cukup lahap, namun karena ia tak mau gendut, hanya setengah porsi yang ia makan.

“Gak dihabisin Jeng?”, tanya mas Gas.

“Udah kenyang mas. Aku gak mau gendut. Oh iya, mau ngobrolin apaan sih?”, tanya Ajeng.

“Mmmmmm, mulai darimana ya. Hihi”, jawab mas Gas. Ia bingung memulai darimana obrolannya, terlihat clingukan di depan Ajeng.

“Hadeeeeh, mas Gas, trus kalo gak mau ngobrol, emang mau ngeseks sama aku, hihi?”, ucap Ajeng yang spontan membuat mas Gas kaget.

“Gila kamu Jeng. Hahaha… gak lah”, jawab mas Gas terkekeh. “Mana sanggup kamu”. Kata² terakhir mas Gas ia ucapkan sedikit samar. Namun tetap didengar oleh Ajeng, hingga membuat Ajeng penasaran.

“Eeh, mana sanggup apaan?”, tanyanya penasaran.

“Nggak… sanggup apaan sih, aku gak bilang gitu”, dalih mas Gas.

“Iyaaa aku denger kok. Hayoooo. Terusin yang tadi!!!”, desak Ajeng.

“Nggaaaaak Jeng. Gak bilang gitu aku. Eeh iya, itu Jeng, aku mau nanya. Kamu pernah pacaran gak?”, tanya mas Gas berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Hmmm… tadi terusin apa, mas Gas buat Ajeng penasaran”, tanya Ajeng ngotot.

“Ihh, ituuuu jawab dulu pertanyaanku, kamu pernah pacaran gak? Hehe, kok masih ributin yang tadi”. Jawabnya.

“Hadeeeh, iya iya. Aku pernah pacaran, berkali kali lagi. Hahahaha”, balasnya. “Pasti mas Gas mau nanya juga, apa aku pernah nge seks sama mereka, iya kaaaan?”, imbuh Ajeng.

“Ehh kok kamu tau, hahaha”, lanjut mas Gas sambil ketawa.

“Ya iyalah mas. Berkali kali malahan. Hihi…, emang kenapa, kok nanya gitu?”, tukasnya.

“Itu Jeng, eee..ee…”, kata mas Gas terbata².

“Itu apa sih mas?”, lanjut Ajeng penasaran.

“Eee..ee….gede panjang gak?”, tanya mas Gas agak ragu². Ia takut juga pertanyaannya membuat Ajeng marah.

“Oooh manuke tah mas? Haha. Hmmmm….segini mas”, tampak Ajeng lalu meraih botol saos ABC yang kecil. Ia genggam², ia tatap botol itu. “Iya, segini sih, tapi gak sepanjang botol ini sih, kan emang rata² orang indo segini ini. Malah aku pernah juga sama yang lebih pendek lagi dari ini. Hihi”, imbuhnya sambil senyum².

“Ooooh, ya ya ya… trus pacar kamu tinggi besar gak? Lanjut mas Gas. Seperti detektif yang sedang menyelidiki sesuatu.

“Iyalah mas, aku gak mau pacar yang pendek. Rata² lebih tinggi dari mas Gas juga sih, cuman body mereka gak kayak mas Gas. Atletis. Hihi….”, jawab Ajeng sambil memuji.

“Halah, badanku biasa kok dibilang atletis. Hehe” ucap mas Gas.

“Kenapa sih nanya itu?” Lanjut Ajeng penasaran.

“Ya nggak sih, cuman pengen tau aja. Pengen bandingin sih. Hahahaha”, jawab mas Gas sambil tertawa.

“Bandingin sama punya kamu mas? Hahaha…”, Ajeng pun ikut tertawa. “Kan aku lom pernah tau punyamu, mana bisa dibandingkan, hayooo!”, lanjut Ajeng sedikit memancing dan menggoda mas Gas. Mas Gas yang malu, menggaruk² rambutnya.

“Hehe, iya juga sih. Udah ah. Jangan dilanjut”, kata mas Gas. Ia pun segera bangkit dari tempat duduknya menuju meja kasir. Tak lama kemudian, ia datang lagi menghampiri Ajeng, mengajaknya pulang.

“Pulang yuk Jeng. Udah jam 8 nih”, ajak mas Gas.

“Lahh gitu aja toh, biyuuuuuh (ya ampuuun), yaaaayaya…”, jawab Ajeng. Iapun bangkit juga dari kursinya, mengikuti mas Gas yang berjalan duluan.

Merekapun pulang. Seperti sebelumnya, Ajeng pun memeluk mas Gas dari belakang. Ia tekan² payudaranya ke punggung mas Gas. Mas Gas pun mulai gelisah, karena rudalnya mulai berkedut dan mengembang lagi.

“Mas….emang punya mas seberapa sih?”, bisik Ajeng.

“Hah….apaan sih Ajeng, gak ah, malu”, jawab mas Gas.

Tiba², tangan kanan Ajeng yang semula berada di paha kanan mas Gas, bergeser ke arah selangkangan. Ia memegang dan mengelus tonjolan besar itu. Sontak mas Gas pun kaget bukan kepalang.

“Jeng, apa²an kamu. Malu diliatin orang banyak!”, ucap mas Gas gusar.

“Berhenti dulu mas, nih pake jaket Ajeng, tapi dibalik ya!”, pinta Ajeng.

“Lah, buat apa Jeng, aku gak kedinginan kok!”, jawab mas Gas.

“Udahlah, pake aja. Nih”, imbuh Ajeng sambil memakaian jaket dengan menghadap kebelakang. “Dah jalan lagi mas!”, pinta Ajeng.

Lalu Ajeng mulai lagi meraba rudal mas Gas yang agak mengembang tadi, ia belai², ia rasakan rudal mas Gas bergerak² menekan celana jeansnya.

“Nah, kan gak keliatan sekarang, udah ketutup jaket. Hihi…”, ucap Ajeng.

“Aduh Ajeng, tapi kan….”, kata mas Gas yang makin gelisah karena tangan Ajeng tak berhenti mengusap² tonjolan selangkangan mas Gas.

“Udah diem mas. Hmmmm punya kamu gede banget ya mas. Hihi… tapi kok dihadepin bawah ya. Emang gak sakit apa?, goda Ajeng. “Sini Ajeng kendorin celananya, biar Ajeng yang betulin. Hihi….”. Mas Gas hanya bisa pasrah, pasrah yang dinanti. Lalu Ajeng membuka kancing celana jeans itu, menurunkan resletingnya, lalu merogohkan tangannya ke dalam boxer mas Gas. Tampak jaket penutup tadi bergerak². Namun karena malam, tak begitu kelihatan oleh orang lain.

“Wiiiih… masss, segini gedenya loh, anget lagi mmmm…, kuhadepin ke atas ya, biar gak sakit!” ,ucap Ajeng. Ia arahkan rudal mas Gas yang setengah tegang tadi menghadap ke atas. Mas Gas pun lega karena rudalnya tak lagi ditekan oleh celana jeans ketatnya. Sembari masih di dalam boxer dan setengah mengembang, Ajeng mulai lagi mengelus² lagi dengan setengah mengocok rudal mas Gas.

Hingga makin lama makin menegang dan memanjang ke atas perut mas Gas. Ajeng mengurut dan mengelusnya hingga tangannya kini berada diatas pusar mas Gas. Ia tercengang, rudal yang tadi setengah tegang sampai bawah pusar mas Gas, kini sudah menjulang melebihi atas pusar mas Gas panjangnya.

“Weeeeew…. tambah guede gini mas….hihihi”, puji Ajeng. Birahi Ajeng pun maikin naik. Ia terus mengocok² pelan batang rudal mas Gas yang gede dan panjang itu. Sesekali ia mainkan kepala rudalnya dengan jari. Ia usap² lubang jamur nya dengan jari telunjuknya.

“Ssssh….Jeng…udaaah….jangan…”, desah mas Gas. Ajeng tak mempedulikannya. Ia tetap menikmati mengelus dan mengocok batang rudal idamannya itu. Bahkan kedua tangannya bermain naik turun dibalik jaket yang dipakai mas Gas tadi. Ajeng cukup takjub dengan ukuran rudal mas Gas, karena dengan dua tangan yang menggenggam batangnya, masih bisa naik turun mengocok. Kira² 3 genggaman tangan Ajeng menggambarkan panjang rudal mas Gas. Benar² membuat Ajeng makin bergairah.

“Mas… emang mau pulang tah?”, tanya Ajeng. “Puter² dulu ke tempat sepi dong, masa buru² pulang?”, bisiknya lagi. Mas Gas sepertinya sudah terbawa nafsu gilanya. Ia menuruti apa kata Ajeng. Bahkan sekarang ia juga berani menggoda Ajeng.

“Emang, ssssh…kka..mu mau liat bben..ssh..tuknya? Ttapi yyaa jja..ngan…sssh… di tempat umum lah jeng…aaah”, ucap mas Gas terbata² karena rangsangan tangan Ajeng. Motor yang mereka naiki oleng ke kanan dan kiri, beruntung lalu lintas saat itu tidak sedang ramai. Mas Gas seakan dirasuki sesuatu hingga ia selalu memilih jalanan yang sepi dan gelap.

“Mau banget maaas….hmmmm…. aku ngikut aja mas Gas mau bawa aku kemana, yang penting aku bisa liat manukmu yang gede panjang ini”, jawab Ajeng.

“iyaa terserah kamu Jeng. Mau diapain aja aku manut kok”, ucap mas Gas. Dalam hati Ajeng, rencananya sudah 90% berhasil. Ia senang bukan kepalang. Antara senang dan takut menghampiri benaknya. Bercampur aduk, takut karena ukuran rudal mas Gas yang benar² diluar dugaannya, senang karena sebentar lagi ia bisa menikmati keperkasaan mas Gas. serambi lempitnya pun mulai basah oleh cairan serambi lempitnya.

“Kkkita kke..ke red..doorz yah Jeng…ssssh….uu…udaaaah nnan..nanti puas²in ddi…dikamar Jeng…aaah…”, pinta mas Gas. Karena dari kejauhan ia melihat ada neonbox merah khas reddoorz.

“Hehe…iyaaa maaas..iyaa…”, jawab Ajeng yang lalu melepas pegangan dan kocokannya. Ia tutup rudal mas Gas tadi dengan kaos.

Setelah Ajeng melepaskan genggamannya, rudal mas Gas pun perlahan menyusut. Ia segera melarikan motornya menuju reddoorz yang ia lihat dari jauh tadi. Ia tepikan motornya di parkirannya, lalu turun sambil menggandeng Ajeng. Ajengpun seperti diistimewakan diantara Ambar dan Tika, pikirannya melayang², terbuai mesra dengan genggaman tangan kekar mas Gas.

Mereka lalu cek in dan memilih kamar di lantai 2 menghadap ke jalan. Cukup sepi juga penginapan kelas 3 itu. Hanya ada beberapa kamar yang terisi oleh pasangan muda mudi juga yang dimabuk asmara. Ajeng dan mas Gas yang berjalan menuju lantai 2 sempat mendengar desahan² lirih dan suara² tumbukan ranjang dengan tembok. Mereka berdua saling melempar senyum, dan menyempatkan untuk berciuman di lorong lantai 2 depan kamar mereka.

Mas Gas lalu membuka kamar dengan bibir masih berpagutan dengan bibir Ajeng. Kedua pasangan ini seperti tak sabar untuk memulai petualangan seks malam itu. Ciuman dan permainan lidah Ajeng membuat rudal mas Gas mulai mengembang. Apalagi payudara Ajeng menekan² bergesekan dengan dada bidang mas Gas.

Mmmpff…cup..cup…mmmpf…mmmm..cup.. sejenak Ajeng dan mas Gas saling memandang, sorot mata keduanya saling memancarkan aura romantis.

Ciuman mereka pun berlanjut setelah kamar mereka kunci, mas Gas yang memeluk Ajeng, menariknya ke arah ranjang hingga Ajeng menindih badan mas Gas. Kedua kaki Ajeng menggapit pinggang mas Gas, dengan posisi menungging, ia melanjutkan ciuman dengan membelai² rambut mas Gas. Sangat intim dan romantis kedua pasangan ini.

Cup…cupp…mmmpff…mmmm…mmpf..cup..

“Massss… wes ngaceng manukmu, aku mau lihat boleh ya?”, tanya Ajeng di sela ciumannya.

“He em, buka aja Jeng”, jawab mas Gas sambil membelai rambut, pipi, dan bibir Ajeng.

Ajeng pun menurunkan bokong semoknya duduk diatas paha mas Gas. Ia lalu buka kancing celana jeans mas Gas yang sudah menonjol, ia turunkan resleting celananya sambil memandangi mas Gas dengan tatapan nakal. rudal mas Gas yang menegang mengarah ke arah pusarnya, tertutup tepian celana dan kaos hitamnya, nampak menonjol mengarah keatas.

Ajeng lalu menarik turun celananya hingga terlepas semua. Senyumnya yang nakal diikuti oleh tangannya yang melucuti boxer hitam mas Gas. Lalu terlihatlah biji peler mas Gas yang bulat besar dan pangkal rudalnya yang gede. Setengah batangnya ke atas masih tertutupi oleh kaosnya. Ajengpun menyibakkan kaos hingga ke dada mas Gas.

“Weeeeeeeew masssss…..super…..”, pujinya. Ia lalu sejajarkan rudal mas Gas yang tegang tadi dengan lengannya. “Ada yah yang sepanjang lenganku ini. Panjang gede, berurat rudalmu mas….aiiiih….”, ucap Ajeng sembari mengelus² biji peler dan batang rudal jumbo itu.

Ia lalu beranjak dari atas tubuh mas Gas, ia raih tas nya dan mengambil HP. Ia aktifkan kameranya, lalu memfoto rudal mas Gas berulang kali.

Cekrek….cekrek…cekrek…cekrek……cekrek…

“Jeng, ngapain difoto anuku, jangan aneh² lah?”, tanya mas Gas.

“Hehe, buat koleksiku pribadi mas. Kalo kangen kan tinggal liat punyamu. Buat bahan onani juga. Hihi….”, jawab Ajeng. “Aku gak foto wajahmu kok, tenang aja”, ujarnya menenangkan.

“Hmmmmm….terserah kamu lah, dah sekarang udah liat kan bentuk anuku?”, tanya mas Gas.

“Hihi, iya mas, guedenya gak karu²an gini. Punya cowokku sama mantan pacarku gak ada yang segini panjang dan gedenya”, ucapnya sambil memegang rudal mas Gas dan mengayun²kan naik turun.

Ia tegakkan rudal mas Gas yang tegang mengarah keatas. Ia sejajarkan dengan wajahnya, nampak rudal mas Gas yang tegang tadi melebihi ukuran wajah Ajeng dari dagu hingga ke ubun². Ajeng lalu menggenggam batang mas Gas dari pangkal, lalu ia berkata..

“Nih panjang rudal pacarku cuman segini, cuman satu genggaman tanganku lebih dikit, hihi…”, jelas Ajeng.

“Masa sih Jeng?, bukannya pacarmu tinggi besar”, tanya mas Gas keheranan.

“Lah emang mas pernah liat punya pacarku? Punya mantan²ku?”, ucap Ajeng.

“Ya gak lah”, balas mas Gas.

“Lah iya, emang cuman segini panjangnya, kok gak percaya. Makanya aku bilang punya mas Gas super banget”, jelasnya lagi sambil sesekali mengocok batang rudal mas Gas di samping wajahnya. Tak henti²nya ia memandangi rudal mas Gas, seperti suatu kekaguman yang tak bisa ia ungkap dengan kata².

“Mas… udah gini aja nih? Hihi…”, goda Ajeng dengan tatapan mata yang seolah ingin melakukan hal yang lebih dari sekedar mengocok dan mengelus. Bibirnya berulangkali hampir bersentuhan dengan batang rudal mas Gas, hanya dengus nafas hangatnya yang mendarat di batang panjang itu.

“Ehhh, hihi… terserah Ajeng deh, aku ngikut aja”, balas mas Gas.

“Hihihi….kalo aku sih, hmmmmm gimana ya, hihi… aa..aku……aku…. kalo mas Gas, maunya gimana? Hahahaha….”, kata Ajeng sambil terkekeh. Cukup lama mereka berdua mengobrol, dan selama itu pula tangan Ajeng tak pernah lepas dari menggenggam rudal mas Gas. Akhirnya mas Gas memberanikan diri memulai.

“Eee…ee…Jeng, gimana kkaalooo….eee…itu… anu Jeng… “, ucap mas Gas terbata². Berulang kali tubuh atas mas Gas dibungkukkan sedikit dan disangga dengan kedua sikunya diatas ranjang. Berulangkali pula saat rangsangan Ajeng ia rasakan, ia rubuhkan lagi tubuhnya.

“Anu opo to mas?”, tanya Ajeng.

“Eee..eee….Jeng, boleh gak kita saama…ss..sama… te..lan..jang?”, pinta mas Gas sambil sedikit takut jika apa yang ia inginkan tidak berkenan di hati Ajeng, dan bisa menggagalkan hasratnya malam itu.

“Owalaaah, mbok ya dari tadi maaaas…maass, hihi….ya boleh lah. Lagian siapa juga yang mau cuman gini² aja”, jawab Ajeng sambil ia menarik diri untuk berdiri didepan mas Gas di tepian ranjang. “Mas juga ya, buka kaosnya. Bodymu bagus banget mas, gak kayak pacarku menang gede sama ganteng aja, tapi perutnya agak buncit. Hihi …”, imbuhnya sambil mulai satu persatu pakaiannya ia lucuti.

Mas Gas pun tersenyum dan ikut melepas kaosnya. Ia masih terbaring di ranjang dengan rudal yang masih menegang. Ia kocok² rudalnya naik turun sambil memandangi Ajeng yang membuka pakaiannya satu persatu. rudalnya makin menegang saat ia melihat Ajeng menarik keatas kaosnya, payudara Ajeng yang terbungkus BH berukuran 36D itu menyembul keluar.

Ajeng pun tersenyum ke arah mas Gas, tatapan mata yang nakal itu semakin menggugah birahi mas Gas. Lalu Ajeng membuka tali pengikat BH nya, ia turunkan BH nya dan kini nampaklah sepasang payudara jumbo putih mulus dengan puting berwarna coklat muda. Ia lanjutkan dengan menarik turun celana dalamnya hingga jatuh ke lantai. serambi lempit yang mumpluk gundul mulus itu sedikit memperlihatkan belahannya.

Mas Gas yang terkesima dengan body Ajeng, lalu duduk dan memegang pinggang Ajeng. Tanpa berkata², ia langsung mendaratkan bibirnya di payudara Ajeng, menjilat dan menghisap kedua putingnya bergantian. Ngocoks.com Ia baluri kedua payudara Ajeng tadi dengan jilatan basah lidahnya. Ia remas² lembut, ia hisap putingnya, ia kenyot dengan penuh nafsu. Ajeng pun sangat menikmati aksi mas Gas itu. Ia mengalungkan tangannya di bahu mas Gas sambil mengusap² rambut mas Gas.

“Ooooohhh….maasss…..hmmm….enak banget…. terusin masss…aaah…ssssh… remas sss…su..suku. Ggi..git² putingnya…aaah….aaaww… mas…kenyot abis susu ku maaaas….uuuuh….”, desah Ajeng. Ajeng lalu menurunkan tangannya, meraih kepala rudal mas Gas, ia elus², lalu kocok² lembut. Mas Gas pun menurunkan satu tangannya untuk mengelus² punggung, lalu turun ke panggul, dan akhirnya mendarat di bokong besar Ajeng yang mulus. Ia remas² bongkahan pantat semok itu.

Ajeng pun mendongakkan kepala mas Gas, ia pandangi mata mas Gas sejenak, lalu perlahan mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka berdua bersentuhan. Deru nafas mereka berdua beradu, satu kecupan lembut mendarat di bibir mas Gas. Ia biarkan bibir mereka saling menempel dan berpagut mesra.

“Mas, cup….mmmph…cup…Ajeng pengen ngerasain manukmu…cup…cup….tapi takut sakit…cup….hihi”, bisik Ajeng disela² ciumannya.

“Cup…yakin Jeng…cup…mmmpf…cup…ya…ppelan pelan Jeng” balas mas Gas.

“he..em, ttapi…janji pelan² ya”, ucap Ajeng sembari telapak tangannya mengelus² kedua pipi mas Gas.

Ajeng lalu naik dan duduk di pangkuan mas Gas, kedua pahanya mengapit pinggang mas Gas, selangkangannya menekan batang rudal mas Gas sehingga menempel dan bergesekan di perutnya dan perut mas Gas. Ia rasakan rudal yang besar dan panjang itu mengganjal dan menekan² pusarnya. Payudaranya menyembul keatas, menekan dada mas Gas dan bergesekan lembut. Putingnya pun mengeras. Sementara mas Gas, mengusap² punggung dan bokong Ajeng, sambil sesekali meremas²nya.

Cupp…mmmpfff…..mmpff…cup…cup…mmmph…mmpp…mmmppf… cukup lama kedua nya menjalin keromantisan dengan berciuman. Hangat tubuh yang keduanya keluarkan semakin menaikkan gairah, ditambah lagi suasana sepi diluar seolah² membuat dunia serasa hanya milik mereka berdua. Hanya ada satu dua motor yang berlalu lalang di jalan depan kamar mereka. Sunyi dan romantis.

“Jeng… rebahan ya…”, ucap mas Gas. Ajeng pun mengangguk. Mas Gas lalu mengangkat tubuh montok itu, ia rebahkan diatas tengah² ranjang. Kini tubuh mas Gas berada di atas Ajeng. Ia lanjutkan ciumannya di bibir Ajeng, lalu turun ke dagu, leher, payudara Ajeng yang bulat, ia kecup kedua putingnya bergantian. Ia jilat dan remas² bongkahan melon itu. Ajeng pun mendesah² kelonjotan. Tangannya meremas² dan menjambak rambut mas Gas.

“Aaaaaah…..ssssh…. maaas……ssssh….”

“Gede banget susumu jeng…cupp….sluuurp….cupp….montok….cuppp..”

“Maaaaas…..uuuuh…..isep…kenyot pentilnya mas….gigit masss…..aaaah…sssh…” pinta Ajeng berbisik. Mas Gas pun menggigit² lembut puting Ajeng, sambil ia hisap dan kenyot. Birahi Ajeng pun semakin naik. Ia menggelinjang keenakan.

Lalu mas Gas turunkan lagi ciumannya di perut, ia putar² lidahnya di pusar Ajeng, ia kecup lembut perut Ajeng kanan dan kiri, ia gerakkan mulutnya mengitari perut Ajeng dengan lidahnya. Mas Gas turunkan lagi jilatannya ke bawah pusar Ajeng, ia ciumi hingga mendekati serambi lempit Ajeng yang mumpluk itu. Apa yang dirasakan Ajeng hanya mampu diungkapkan dengan desahan² kenikmatan.

Jantungnya memompa semakin kencang, deru nafasnya makin tak teratur manakala bibir dan lidah mas Gas menciumi dan menjilat bibir kemaluannya yang gundul. Mas Yob basahi bibir yang mumpluk itu tadi hingga mengkilat, sesekali ia cium dan kenyot² sambil tangannya meremas² payudara Ajeng. Ajeng pun ikut meremas² payudaranya, ia pegang tangan mas Gas, ia tahan di atas payudaranya, seakan meminta remasan tangan mas Gas tak berhenti.

“Maaaaasss……ooooooooh……maaaaas….”

Tangan mas Gas lalu menahan dan membuka lebar² kedua paha Ajeng. Ia mulai menjilat² lagi bibir serambi lempit Ajeng, ia mainkan lidahnya berputar² dan menyibakkan bibir serambi lempit mumpluk itu ke kanan dan kiri. Ia kenyot² dan sedot klentit Ajeng, lalu mengobok² liang serambi lempitnya dengan lidah, Ajeng pun makin menggelinjang, tubuhnya mengejang, tangannya menjambak rambut mas Gas, ia tekan wajah mas Gas ke serambi lempitnya berulang kali. Rupanya Ajeng orgasme hebat. Ia mengerang dan mendesah, saking nikmatnya, kaki Ajeng pun bergetar.

“Uuuuuuuhhh…..sssssh….maa…maaaaasss….aaahhh…….ee…en…enaaaak bb…baangeeeet….”, desah dan erangnya diikuti gerakan tangannya menjambak² rambut mas Gas.

“Sluuurp…sluuurp…mmmmpfh….sluuurp…gurih Jeng lendirmu….hmmmm…nyammm…mmmpf..” ucap mas Gas sambil mulutnya menikmati cairan yang dikeluarkan serambi lempit Ajeng. Ia biarkan Ajeng klimaks hingga puas, ia tak berontak saat Ajeng menjambak² rambutnya dan mengapit kencang kepalanya dengan paha.

Cairan serambi lempitnya mengalir keluar, membasahi bibir dan dagu mas Gas, sebagian ada yang masuk ke dalam mulutnya dan mas Gas telan. “Gurih, hangat… hmmm nyam..nyam..”, kata mas Gas sambil menatap wajah Ajeng.

“Iiih mas, gak jijik apa?”, tanya Ajeng dengan ekspresi nyengir. Enak lagi, gurih. “Kamu mau nyoba juga gak rasain pejuhku Jeng?”, tanya mas Gas.

“Hmmmm….aku pernah sih sama pacarku, dulu ku emut itunya, trus dia gak bilang klo mau keluar, akhirnya ada yang ketelen. Punya dia pahit mas!”, ungkap Ajeng. “Liat ntar deh ya mas… hihi…”, imbuhnya. Setelah Ajeng klimaks, ia lalu bergegas ke kamar mandi mencuci serambi lempitnya. Mas Gas yang menunggu tiduran di atas ranjang, terlihat rudalnya perlahan kembali ke ukuran semula. Nampak lunglai menutupi biji zakarnya, dan sebagian mendarat di atas kasur. Seperti belalai gajah.

Badan mas Gas yang telanjang, tertiup hawa AC, membuatnya tertidur. Lalu nampak Ajeng keluar dari kamar mandi, ia juga dalam keadaan telanjang bulat. Berjalan menuju mas Gas. Payudaranya yang besar dan montok bergetar seiring langkahnya. Bokongnya pun naik turun, terlihat indah dengan kulit yang mulus dan putih. Ia lalu mendekati mas Gas, ia dapati lelaki idamannya itu tertidur. Perlahan ia menaiki ranjang, lalu ia duduk bersimpuh diantara kaki mas Gas.

Tatapannya tertuju pada rudal mas Gas yang lemas. Meskipun lemas, panjangnya masih melebihi panjang rudal pacarnya yang dalam keadaan tegang. Besar pula diameter batang mas Gas. Membuat Ajeng tak bisa menolak birahinya yang naik perlahan.

Ia lalu mengelus² paha mas Gas yang kekar, ia belai² rambutnya, ia ciumi pahanya, lalu perlahan naik ke pangkal mendekati rudal mas Gas. Ia melihat rudal mas Gas sesekali berkedut. Senyum nakalnya mengawali bibir dan lidahnya yang mulai menciumi dan menjilati kepala dan batang mas Gas yang menjulur panjang.

Ia kecup kepala rudal mas Gas, lalu menggapitnya dengan bibir, ia tarik dengan lidahnya masuk ke dalam mulutnya. Kepala rudal mas Gas itupun menjadi santapan lidah Ajeng yang berputar² membasahi dan melumurinya dengan air liur.

Hingga ia rasakan semakin lama, mengembang dan semakin besar. Hampir memenuhi mulutnya. Batang rudal mas Gas pun mulai menegang. Ajeng buka lebar² mulutnya mencoba menjaga agar kepala rudal mas Gas tetap berada di mulutnya. Ia cukup kesusahan, karena rudal mas Gas pun makin menegang dan terus membesar.

“Brengsek nih rudal, mulutku sampai gak muat. Kepalanya aja bikin mulutku kesusahan memutar² lidah. Bisa sobek serambi lempitku kayak perawan kalo disodok”, gumam Ajeng. Ia lalu keluarkan kepala rudal mas Gas, dan seketika itu juga, rudalnya yang menegang mencuat mendekati perut mas Gas.

Ajeng yang penasaran dengan panjang rudal mas Gas, perlahan menaiki pahanya dengan selangkangannya menempel dengan pangkal rudal mas Gas. Ia lalu meraih rudal jumbo itu, dan ia tempelkan di perutnya. Ia takjub, panjang rudal yang akan ia nikmati itu, menjulang ke atas melebihi pusarnya. Kepala rudal mas Gas kini menempel di perut bagian atas pusar Ajeng. Tepatnya di posisi ulu hati Ajeng.

“Anjing, ini namanya bunuh diri. Gimana rahimku nanti. Aiiiiih mas Gas, rudalmuuu…..ssssh…..”, gumamnya lagi sambil memejamkan mata dan tangannya mengelus² batang mas Gas yang menempel di perutnya. “rudal Dimas (pacar Ajeng) aja cuman nyampe di bawah puser ku mas, ooooh…..hmmmmm”.

“Cuman aku penasaran banget, kucoba ah pelan². Hihi…..”, ucap Ajeng dalam hati. Ia lalu perlahan turun dari ranjang, ia raih tas nya dan mengeluarkan sesuatu. Rupanya Ajeng membawa sebuah pelumas bermerk durex. “Hihi…biar licin, biar gak terlalu sakit masuknya”, ucapnya lagi dalam hati sambil berjalan lagi untuk duduk diatas mas Gas.

Ia lalu memencet tabung pelumas itu tadi, hingga keluarlah cairan pelicin dingin yang cukup banyak di telapak tangan kirinya. Sambil duduk diatas mas Gas, ia raih lagi rudal mas Gas yang masih tegang tadi, lalu ia lumuri dengan pelumas, merata, kepala, batang hingga pangkal rudal mas Gas. Ia lalu mengocok perlahan pangkal batang mas Gas. Sejenak ia terdiam karena melihat mas Gas merubah posisi kepalanya, namun tetap dalam keadaan tertidur.

Sembari ia pegang pangkalnya, ia mulai menarik badannya naik setengah berdiri dengan badan membungkuk. Iapun majukan posisinya hingga serambi lempitnya kini berada tepat diatas kepala rudal mas Gas. Lalu turunkan sedikit badannya sambil tetap membungkuk, dengan kepala menunduk menatap rudal mas Gas yang menjulang tegak tadi.

Kemudian menggoyang² pangkal batang mas Gas, hingga kepala rudal nya mengobok² bibir serambi lempitnya yang telah basah dari tadi. Iapun turunkan lagi badannya, hingga kepala rudal mas Gas tadi akhirnya masuk membobol serambi lempitnya.

“Sssh….uuuh.. bangsat…..sssh..sesek banget serambi lempit ku. Kampret bener kkkon..rudalmu masss….ssssh…..uuuuh…” desah Ajeng. Sejenak ia diamkan kepala rudal mas Gas tadi terbenam memenuhi rongga serambi lempitnya.

“Oooooh….gggee…gede……njirrrr…..”

Tanpa disadari Ajeng karena kepalanya melihat ke arah serambi lempitnya yang sedang dibobol, mas Gas terbangun, namun ia tak bersuara. Ia hanya melihat Ajeng tampak setengah berdiri sambil membungkuk, pandangannya tertutup rambut Ajeng yang jatuh terkulai diatas dadanya. Mas Gas mencoba menahan agar tak bersuara, menikmati dalam diam. Mas Gas pun mendengar gumaman Ajeng, memuji² ukuran rudalnya, membuatnya makin bangga dengan keistimewaan yang ia miliki.

“Oooooh….maaaas….”, desah Ajeng lagi seiring badannya menekan ke bawah, membuat rudal mas Gas masuk perlahan senti demi senti. Ajeng cukup kewalahan dengan besarnya rudal mas Gas. Meskipun sudah ia lumuri dengan pelumas, tetap saja ia rasakan sesak, permukaan liang serambi lempitnya serasa tertarik maju mundur. Lubang serambi lempitnya pun membuka maksimal, membuatnya tertarik keluar saat ia naikkan bokongnya.

Dan terdorong masuk saat ia menekan turun. Ajeng pun menaikkan lagi badannya, hingga kepala rudal mas Gas berada diluar bibir serambi lempitnya. Ia tekan lagi tabung pelumas, lalu ia balurkan di sekujur batang mas Gas. Ia ludahi kepala rudal mas Gas lalu ia arahkan lagi ke bibir serambi lempitnya. Ia tekan lagi lebih dalam, ia meringis kesakitan meskipun kini sudah setengah rudal mas Gas yang berhasil terbenam.

“Fiuuuuh…..hhhh…ssssh……brengsek rudalmu mas…sesak banget rasanya…fuhh..fuh…”, dengus nafas Ajeng.

Tiba²…

“Sini biar aku bantu Jeng, kamu rebahan aja”, suara mas Gas tiba² terdengar di telinganya.

“Eeeeh…mas udah bangun, hihi…., iya sini bantuin dong. Capek aku berdiri membungkuk kayak gini. Hihi…”, ucap Ajeng.

“Ya udah kamu rebahan aja”, timpal mas Gas. Ajengpun menurutinya. Ia lalu melepaskan rudal mas Gas yang sudah setengah tertancap. Kini ia sepenuhnya berdiri diatas selangkangan mas Gas, sambil mengusap² panggulnya yang menandakan ia kecapekan membungkuk.

“Aku rebahan dimana nih mas?”, tanya Ajeng.

“Disini aja Jeng”, tunjuk mas Gas sambil tangannya mengarah ke bibir ranjang. Ajengpun lalu berpindah posisi. Mas Gas pun bangkit dan turun dari ranjang. Diikuti Ajeng yang rebahan dengan posisi bokong ada di bibir ranjang. Ajeng buka lebar² pahanya, hingga serambi lempitnya yang mulus dan mengkilat terpampang di depan mas Gas.

Sambil berdiri di depan Ajeng, ia turunkan rudalnya yang tegak mengacung keatas, hingga kini kepala rudalnya berada di depan serambi lempit Ajeng. Ajeng pun menyangga badannya dengan kedua sikunya, agar ia bisa melihat rudal mas Gas yang besar itu mengobok² serambi lempitnya.

Lalu mas Gas memajukan badannya, hingga kepala rudalnya menyibakkan bibir serambi lempit Ajeng. Ia gosok²an naik turun, lalu ia basahi dengan ludahnya. Karena tadi sudah berhasil terbenam, kini mas Gas lumayan gampang menusuk serambi lempit Ajeng. Hingga kini kepala rudalnya sudah terbenam.

“Kamu jangan tegang Jeng, rileks. Jangan ditahan. Biar aku yang atur masuknya”, pinta mas Gas sambil tangan kirinya mengelus² bibir serambi lempit Ajeng.

“Uuuuh….ii..iya masss….pelan pelan ya….”, pinta Ajeng. “Jangan langsung dimasukin semua, biar adaptasi dulu serambi lempitku dengan rudalmu”, ucapnya lagi dengan wajah sedikit khawatir.

“Iya lah Jeng, nanti kamu pingsan lagi. Hihi….”, ucap mas Gas sambil mendorong masuk rudalnya lebih dalam.

“Ssssh….aaaaw…..masss…. aiiih….. penuh serambi lempitku masss…”, desahnya sambil memegang perut bawahnya. “Kencengin…aaaah…ssssh… ddi..kit…sodo…uuuh..kanmu…masss…aaah….”, pinta Ajeng sambil menggigit bibir bawahnya, merasakan sodokan lembut dari mas Gas.

Mas Gas tarik lagi mundur, lalu ia dorong lagi pelan hingga setengah rudalnya masuk. Ajeng menggeliat keenakan, tangannya mengocok bibir serambi lempit dan klentitnya, sedang tangan satunya meremas² payudaranya.

“Aaawww….ah…….ah…..uh…..sssh…..ah……oh……mmm……massss…..eee….ee…enak….bba…nget…aaah….ah….ah…kkken…ce….ah….aw….ngin……ooh ….mmmmh….mmm….laaa…giii…..”, desahnya meminta sodokan mas Gas dipercepat.

“Aaah….ooooh…..jeng…..sssh……njepit…bba…nget….serambi lempitmu…..aaah…..ah………sssh….”, erang mas Gas yang merasakan rudalnya bergesekan sengit dengan liang serambi lempit Ajeng. Batangnya mengkilat keluar masuk karena cairan serambi lempit Ajeng. Ia percepat sambil sedikit mendorong masuk lagi rudalnya. Saat ia dorong lebih dalam, Ajeng menggelinjang dan mengerang, dinding rahimnya seakan ditekan², didorong lebih melar kedalam.

“Aaaaaaaah…..mmmaaas….ah……aaaaaaah……sssh….ngilu…..maaaass….” erang Ajeng. Sambil ia agak menahan perut mas Gas, mengisyaratkan agar tidak menekan terlalu dalam. “Mmmaaaaaaassss……..aaaaaaaah……aduuuuuuh….mass……..sssh…..”, tubuh Ajeng menggeliat ke atas bawah, kanan kiri, kepalanya ia dongakkan keatas, kocokan tangannya pun ia percepat agar rasa sakit itu sedikit terkurangi.

Mas Gas yang melihat itu, lalu mengurangi laju genjotannya. Ia juga menarik kebelakang rudalnya yang tadi telah terbenam setengah. Ia lalu bungkukkan badannya, lalu menciumi payudara Ajeng, ia jilat dan hisap putingnya. Membuat Ajeng semakin tak karuan. Ia remas² payudara Ajeng yang besar dan kenyal tadi dengan ganas. Ia maju mundurkan lagi pinggulnya, dengan kaki Ajeng yang kini menggapit pinggul mas Gas. Tanpa disadari Ajeng, rudal mas Gas sudah hampir tenggelam semua. Ajeng hanya merasakan dinding rahimnya semakin ditekan ke dalam, rasa ngilunya dibalut nikmat yang terasa hingga ubun².

Kaki Ajengpun makin menekan pinggang mas Gas, menandakan ia ingin ditekan lebih dalam lagi. Mas Gas pun beralih naik menciumi bibir Ajeng. Keduanya saling berciuman ganas, lidah mereka saling beradu. Mas Gas pun semakin menekan lebih dalam rudalnya hingga tanpa terasa sudah terbenam seluruhnya di serambi lempit Ajeng.

“Mmmpfff…..sssh….ah……oh……mmmpf….cup….cup…masss….enak…bba…ngeeet…..sssh…”, bisik Ajeng disela² desahan dan ciumannya.

“Enak ya Jeng….mmmpff…mmpf…cupp….mmmh….serambi lempit kamu…..nikmat….Jeng….sssh…..mmpff….”, balas mas Gas sambil lidahnya ia putar² didalam mulut Ajeng. Ia tekan² rudalnya dalam² hingga Ajeng makin mendesah hebat.

“Aaaaaaaargh massss…..mmmen….tok…..mmm…aaaah….maaasss…..uuuuuuuuuh…..”, erangnya sambil tetap berciuman dengan mas Gas, ia jilat² juga pipi, telinga mas Gas, ia jambak rambut mas Gas sambil ia peluk erat dan cakar² punggung mas Gas.

Lalu mas Gas memundurkan badannya, ia posisikan tangannya dilipatan kaki Ajeng, hingga paha Ajeng pun tertekuk menghadap atas. serambi lempit Ajeng yang masih dipenuhi rudal mas Gas makin becek. Ia dorong tubuh Ajeng ke tengah ranjang. Lalu mas Gas dengan posisi jongkok sambil menahan paha Ajeng menghadap keatas, menarik mundur rudalnya hingga kepala rudalnya saja yang terbenam, ia dorong masuk lagi hingga ambles semuanya. Dengan posisi mengangkang lebar seperti itu, Ajeng merasakan rahimnya makin tertekan, ulu hatinya serasa didorong naik.

Mas Gas lalu memundurkan kakinya hingga posisi kaki dan badannya seperti pushup. Dengan lengan yang menahan kaki Ajeng, ia hujamkan dengan cepat dan dalam rudalnya. Mata Ajeng terbelalak, mengerang sejadi²nya, tubuhnya bergetar, kakinya mengejang, dan tangannya menjambak rambut mas Gas makin liar.

Plogh….plogh…plogh…plogh…plogh…plogh…

“Sssin…tiing…aah..ah..hegk..ah..oh..hegk..hegk..ggi..gi..laaaa…..mmmaaaass…oh..ugh..ugh..hegk..hegk..oh…sssh…sssh..” desah Ajeng berirama seiring tumbukan badan mas Gas dengan badannya.

Sodokan cepat dan dalam itu menbuat Ajeng tak mampu berkata apa². Ia hanya melotot, memandangi wajah mas Gas sambil melumat bibirnya. Keringat yang menetes dari tubuh mas Gas membasahi tubuh Ajeng. Mas Gas yang rajin fitness itu membuat tenaganya seperti tak terbatas. Ia genjot dengan cepat tubuh Ajeng cukup lama.

“Ah..ah..ssh..ah..sssh..oh…uh…mas….mas….aah…ah….uh…uh..uh..oh…mas….mmm…mmm…ah..”, desahnya.

Plogh..plogh..plogh…plogh..plogh..plogh..plogh..plogh..plogh..

Sekitar 30 menitan tubuh sepasang rekan kerja itu saling bertumbukan. AC kamar mereka pun tak terasa dingin karena begitu gencarnya genjotan mas Gas, sehingga tubuh keduanya memancarkan panas dan mengeluarkan keringat yang cukup banyak.

“Mmmass….kku..at…ah..ah..ah..bbangeeeet….aaa..aku….ggak….nna…han….masss….aaku….aaah……aaaaaaaaaaaargh…..aaaaah…..uuuuuuuuuuuuh……mmmmmmmmm….”, desah dan erangan Ajeng diikuti tubuhnya yang menggelinjang, menjepit² pinggang mas Gas. serambi lempitnya yang menjepit dan memijit batang rudal mas Gas menyemburkan cairan yang cukup banyak.

Plogh..plogh..plogh..plogh…….

Mas Gas masih menggenjot ganas tubuh Ajeng, ia hujamkan dalam² rudalnya ke dalam serambi lempit Ajeng. Sodokan demi sodokan mengujam dalam rahim Ajeng. Ajeng yang telah orgasme 2x, menciumi bibir mas Gas, ia pelintir² puting mas Gas, sambil satu tangannya meremas pantat mas Gas yang sekal.

“Ayo masss…ah…ah…tusuk…serambi lempitku mass…..ah….sssh…..keluarin masss…semprot yang banyak…..ah…ah…”, desah Ajeng yang telah lelah, agar mas Gas segera klimaks.

Mas Gas yang mendengar kata² rangsangan Ajeng, makin menghujam dalam² rudalnya, ia rasakan aliran darah di rudalnya makin deras. Membuat kepala rudalnya makin mengembang, menandakan ia akan segera keluar.

“Jeeeeeng….aaaku…..aku…mau ….keluaaaar…..aaaah…..ah….ah….” erang mas Gas. Segera ia cabut rudalnya, ia lalu setengah bersimpuh di depan selangkangan Ajeng sambil mengocok kencang rudalnya. Ajeng pun membantu merangsang dengan mengelus² biji peler mas Gas.

“Aaaaaaaargh….uuuuuh….sssssh…sssh….jeeeng….aaaaargh…” erang mas Gas.

Crooot…crott…crot…crot…crot…serrrr ..serrrr

Semburan sperma putih kental dari rudal mas Gas membasahi perut dan payudara Ajeng. Kencang dan banyak hingga dagu Ajeng pun tak luput dari cipratan pejuh kental itu. Hampir seluruh perutnya tertutupi sperma putih kental mas Gas. Ajengpun kagum dengan banyaknya pejuh mas Gas.

“Masss…banyak banget pejuhnya, putih kental lagi, hihi….” ucap Ajeng sambil tersenyum dengan jarinya yang masih membelai biji peler mas Gas. “Sebanyak ini ditelen, hihi…kenyang perutku masss”, kata Ajeng sambil terkekeh.

“Incipin Jeng pejuhnya, gimana rasanya!”, pinta mas Gas. Lalu Ajeng mengangguk dan mencolek sperma putih kental di perutnya, ia berusaha menampung dengan telapak tangannya. Lalu ia suapkan ke mulutnya. Mulutnya nampak merasakan pejuh mas Gas itu, ia lalu jilat² lagi yang masih menempel di tangannya. Sepertinya Ajeng cukup menikmati rasa pejuh mas Gas, karena ia terlihat lahap sekali.

“Eeh mas, gurih loh ini. Hihi…. enak, gak kayak punya pacarku. Apa mungkin karena dia merokok ya?”, tanya Ajeng.

“Waduh, aku gak tau Jeng, hahaha….emang aku dokter”, jawab mas Gas sambil tertawa. “Tuh masih banyak yang di perutmu Jeng, gak dihabisin sekalian?”, pinta mas Gas.

“Nggak ah, dingin gak enak. Hahahaha….enak kalo anget mas. Lain kali crotin di mulutku aja ya. Biar kutelen semua pejuhmu”, balas Ajeng sambil tertawa.

“Hahaha, iyaaa iya deh, terserah Ajeng. Emang kapan mau lagi?”, tanya mas Gas.

“Besok. Hahahaha…tiap hari. Hahahah…..mas Gas nakal, bikin aku keenakan”, canda Ajeng sambil mencubit genit perut mas Gas yang sixpack.

“Aww…. genit kamu Jeng. Hihi….cuppp…cupp…” balas mas Gas sambil memajukan badannya dan mencium bibir Ajeng. Ajeng pun membalas ciuman mas Gas dengan mesra. Mas Gas lalu merebahkan tubuhnya di samping Ajeng. Dan Ajeng memiringkan badannya ke arah tepian ranjang, lalu mas Gas memeluknya dari belakang.

“Mas, kalo misal aku cerita ke Ambar sama Tika, boleh gak?” Tanya Ajeng.

“Cerita apaan Jeng?”, tanya mas Gas sambil mendekatkan wajahnya ke rambut Ajeng. Ia cium² rambut Ajeng yang wangi sambil merekatkan pelukannya.

“Ya cerita malam ini, kita… hihi…”, jawab Ajeng cekikikan.

“Hah… jangan lah. Ntar malah nyebar kemana² loh. Aku tuh sebenernya tadi mau ngobrol, mau nanyain tentang ukuran rudal laki². Hahaha…”, ucap mas Gas terkekeh.

“Loh, kok? Kenapa nanya itu? Emang sebelum sama aku ada yang bilang kalo rudal kamu gede ya mas?” Tanya Ajeng.

“Ehh…ee..ee…enggak lah. Gak ada”, balas mas Gas sambil agak gugup. Ia salah berucap, padahal bu Erni dan bi Resti adalah 2 wanita pertama yang bilang rudalnya super, beda dengan ukuran laki² normal indo.

“Hayooooo….jujur, hahaha. Ketahuan kaaaaan… sama bu Erni yaa?” Canda Ajeng.

“Nggak lah, cuman baru sama kamu loh”, dalih mas Gas.

“Udaaaah jujur aja, kalo aku sih gak masalah mas. Kita udah sama² dewasa juga loh”, desak Ajeng.

“hmmmm…eee…ee…. iyaaaaa…iyaaa aku ngaku deh. Emang pernah sama bu Erni. Beberapa kali malahan. Ya dia itu Jeng, yang bilang anuku gede banget, beda sama laki² indo normal. Makanya aku penasaran emang bener yang dia bilang.”, aku mas Gas.

“Tuh kaaan…ngaku, hihi…., aku sebarin yah, hahaha….”, goda Ajeng.

“Ihhh usil ya, jangan lah, bisa berabe. Ortuku juga bakalan malu. Aku pasti diamuk besar²an”, tegas mas Gas.

“Hehe, iyaaa iya aku janji gak bakal buka rahasia ini. Asalkan…..”, kata Ajeng mengancam.

“Apa Jeng, asal apa?”, tanya mas Gas penasaran.

“Asalkan kamu mau ngeseks sama aku tiap aku mau. Gimana mas?”, ungkap Ajeng. Nampak mas Gas berfikir sejenak. Ia diam dan menerawang ke langit² kamar.

“Hmmmm, iya deh, terserah kamu. Cumaaaan…”,

“Cuman apa mas, kamu gak suka entotin aku? Aku jelek? Item ya? Ituku bau ya?”, desak Ajeng penasaran.

“Bukaaan itu Jeng. Kamu cantik, putih, mulus, montok, susu kamu juga gede, aku suka. Itumu juga gak bau kok. Cuman ini Jeng…..eeee…aku juga harus layani bu Erni dan bi Resti. Hihi…., aku dah janji sama mereka”, ungkap mas Gas sambil terkekeh.

“Hah….bi Resti? Siapa lagi itu?”, tanya Ajeng.

“Itu pembantu bi Resti Jeng. Tiap kali aku entot bu Erni, dia selalu ikutan. Cuman mereka berdua sukanya dimasukin anus. Hihi….”, jelas mas Gas.

“Gilaaaa, edan kamu mas. Berarti udah 3 wanita yang ngerasain rudalmu dong. Sampai pembantu bu Erni ikutan juga. Apa kubilang, emang rudalmu itu menggoda banget mas”, ucap Ajeng.

“Ii..iiiya Jeng. Kamu gak marah kan, kalo misal aku bagi waktu ke mereka juga. Soalnya mereka yang duluan perjakain aku, mereka juga baik sama aku”, kata mas Gas sambil menciumi pundak Ajeng.

“Hehe, iyaa iya gakpapa mas. Asalkan aku juga masuk di list ya. Hihi….”, ucapnya sambil mengelus² tangan mas Gas yang mendekapnya.

“Jujur ya mas, kita tuh dari awal emang penasaran sama kamu. Aku, Tika, Ambar klo kamu datang ke kantor, selalu ngeliatan tonjolanmu. Hahahahaha…..”, imbuh Ajeng. “Ehh mas, kalo Ambar sama Tika minta juga kamu layani gak?”, tanyanya lagi.

“Menurutmu gimana?”, tanya mas Gas balik.

“Ya aku sih terserah kamu mas, kan kamu yang punya rudal. Hahaha….”. Canda Ajeng sambil menciumi tangan mas Gas. “Aku sih kepikiran main berempat sama mereka, hihi… itu kalo kamu mau”.

“Waduh, dikeroyok dong. Hahaha…., tttapi….hmmmm…ya boleh deh, terserah kamu deh Jeng. Aku sih ngikut aja”, kata mas Gas.

“Oh iya mas, kamu beneran pengen ngebandingin rudalmu sama punya orang lain?”, tanya Ajeng.

“Iya sih, penasaran aja. Emang bener punya laki² indo itu kecil². Itu aja”, jawab mas Gas. Sejenak Ajeng berfikir. “Ngelamun Jeng?….”

“Eee…gini aja mas, gimana kalo kita main bareng bertiga sama Dimas, pacarku? Hihi….”, canda Ajeng sambil nyengir.

“Ihhh gila, nanti dia marah. Ntar dia liat ounyaku minder. Lagian masa dia mau pacarnya dientot orang lain loh. Gak ah. Nambah masalah aja. Gak ada ide lain apa?”, ungkap mas Gas sedikit jengkel.

“Haha, yaaaa namanya juga ide. Kali aja dia mau mas. Nanti aku yang atur cara ngomongnya ke dia. Ato mas Gas nyari aja temen kantor cowok, trus ajak menyetubuhi bu Erni ato bi Resti tuh. Hihi….”, usul Ajeng.

“Hmmm temen kantor siapa ya? Apa mereka mau?”, tanya mas Gas balik.

“Coba aja mas, itulo si Pramono sama Hendra, liat dari wajahnya kayak muka² mesum gitu. Sering godain aku juga, kalo pas liatin aku, Ambar sama Tika, suka garuk²in itunya. Badan mereka juga gede tinggi. Kayaknya sih lebih tinggi dari kamu deh. Aku yakin rudal mereka juga gede. Hehehe….”, kata Ajeng.

“Oh ya?, hahahaha…. besok deh aku coba lobi mereka. Moga² aja mau”, ucap mas Gas optimis. Dalam hati mas Gas juga berfikir, “apa bi Resti mau main bertiga sama mereka?”.

“Ya udah terserah mas. Eehh kita pulang yuk mas, udah malem loh”, ajak Ajeng. “Mas, kalo aku besok pengen lagi gimana? Hihi….”, tanya Ajeng sembari merubah posisinya menghadap mas Gas.

“Haha, iya boleh lah. Kan liat sikon juga Jeng, gampang lah, diatur besok ya, cup…cup…”, jawab mas Gas sambil mencium bibir Ajeng. “Cupp..cup…”, Ajeng pun membalas ciuman mas Gas.

“Ya udah yuk beberes. Kita mandi bareng dulu yuk. Tapi jangan saling rangsang ya, hihi…” ajak mas Gas sambil bangkit, menarik tangan Ajeng menuju kamar mandi.

“Eeeeeeh….iyaaa.iyaaa….”, jawab Ajeng sambil mengikuti mas Gas.

Mereka pun mengakhiri pertempuran malam itu, dengan perasaan masing² begitu bahagia dan terpuaskan. Ajeng yang telah berhasil menikmati rudal jumbo mas Gas nampak sumringah, pun mas Gas yang juga penasaran dengan Ajeng, nampak begitu bahagia karena rasa penasarannya terbayar lunas.

Setelah mas Gas mengantar Ajeng pulang, di tengah jalan, HP nya bergetar. Rupanya misscall dari bu Erni, dikuti sebuah pesan masuk. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com

“Sayang, lagi di rumahku tah? Gak ada kabar”, chat bu Erni.

“Nggak ibuku sayang, aku lagi di rumah. Tadi bantuin mamah mindahin perabotan, trus udah nyantai² di depan tivi, hehehe…. baru juga tadi berangkat. Hahaha”, jawab mas Gas.

“Oh gitu, hehe namanya kangen sayang. Ehh sayang, kalo aku kepingin menyetubuhi, boleh gak aku sewa gigolo?, hehehe….” balas bu Erni.

“Haha, iya boleh lah sayang, asal aman aja. Jangan lupa suruh gigolonya pake kondom. Janji nanti kalo ibu pulang, seharian kupuasin”, balas mas Gas.

“Beneran loh ya. Awas klo gak tepatin. Ya udah aku bobok dulu sayang, nih udah di kamar hotel lagi rebahan. Mmmuaach….”, kata bu Erni mengakhiri obrolan. “Iya met bobok sayang, mmuaaaach…”, jawab mas Gas.

Cerita Sex Budak Anak Orang Kaya

Malam itu mas Gas tampak gelisah, ia bingung bagaimana memulai obrolan dengan bi Resti, sementara ia sangat penasaran sekali membandingkan ukuran rudalnya dengan kedua teman kantornya, Pramono dan Hendra, yang menurut cerita Ajeng, mereka berwajah mesum. “Hahaha, ada² si Ajeng”, gumam mas Gas. Kini wanita haus seks miliknya bertambah lagi 1, yaitu Ajeng, teman kantornya. Ia pun memejamkan matanya, karena besok ia harus bekerja lagi dan melancarkan misinya.

Apa wanita haus seks mas Gas bertambah lagi? apa kah Hendra dan Pramono mau untuk gangbang dengan bi Resti? Ataukah bi Resti mau mencoba dengan teman² mas Gas? Lalu bagaimanakah dengan bu Erni. Simak terus ya kelanjutannya hanya di situs Ngocoks.