
Vallery Gracia gadis polos yang harus memasuki kehidupan kedua pria yang sangat terobsesi padanya, hidupnya menjadi penuh dengan hal hal yang tak pernah Vallery alami sebelumnya, bagaimana cara Vallery mengatasinya jika Vallery menyukai keduanya.
Cerita Sex Private Love – Semua berawal saat seorang gadis remaja yang tak sengaja menumpahkan kopi miliknya mengenai mobil hitam mewah yang terparkir di depan kampusnya.
Vallery Gracia gadis remaja yang hanya memiliki tinggi badan 160 cm itu kini sedang duduk di halte bus, berniat untuk pergi ke kampus namun tidak seperti biasa hari ini Vallery sedikit terlambat karena membeli kopi terlebih dahulu ditambah semalam sibuk mengerjakan beberapa tugasnya hingga larut.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya bus yang sedari tadi ditunggu Vallery tiba juga, dengan sigap Vallery menaiki nya berharap tidak telat untuk mengikuti kelasnya.
Cerita Sex Private Love Ngocoks Setelah sampai di kampus Vallery berlari namun sayang mungkin ini hari sialnya kopi yang dipegang erat oleh tangan Vallery harus jatuh mengenai mobil hitam yang terparkir tepat di depan gerbang kampusnya.
“Ahh kenapa ini terjadi sekarang, kenapa mobil ini terparkir disini, bagaimana ini” Vallery kebingungan antara ingin meminta maaf kepada pemilik mobil atau mengejar kelasnya yang sudah dimulai 5 menit yang lalu.
Mau tidak mau Vallery mengambil sebuah kertas dan menuliskan kata ‘Maaf atas kekacauan ini, Vall’ hanya itu yang tertulis Vallery menempelkan kertas itu di mobil dan segera berlari untuk mengikuti kelasnya.
*****
“Huftt akhirnya , sebaiknya aku harus mengerjakan tugas lebih awal” Vallery membereskan alat alat belajarnya hendak pulang karena kelas sudah selesai, setelah sampai gerbang ternyata mobil hitam yang pagi dilihatnya masih terparkir disana.
“Tunggu, kenapa mobil ini masih disini, dan dimana kertas yang aku simpan disini apa pemiliknya sudah mengambilnya?” Tanya Vallery pada dirinya , dengan inisiatifnya Vallery mengeluarkan tisu dari dalam tasnya dan membersihkan sisa kopi yang masih berada di atas mobil.
Sseett
“Akkhhh-”
Vallery kebingungan dan terkejut karena seseorang membalikan badannya membuat Vallery terpojok dan berhadapan dengan Pria berjas rapi di depannya ini.
“Bisakah sedikit lebih pelan? , siapa kau?” tanya Vallery dengan wajah polosnya.
“Kau? Vall?” tanya Pria dihadapannya ini membuat Vallery mengangguk pelan.
“Begini caramu meminta maaf?” Pria itu menunjukan kertas maaf yang Vallery simpan dimobilnya, Vallery menelan ludahnya mendengar pria ini berbicara dengan nada kesalnya.
“Maaf aku ada kelas pagi tadi , karena tidak ingin terlambat aku menuliskan kata maaf di kertas, enghhh aku akan membersihkan mobilmu, ” ucap Vallery lalu membalikan badan dan mengelap mobil itu dengan perlahan.
Pria itu tersenyum melihat tingkah laku Vallery , dengan senang hati pria itu menatap Vallery yang sedang membersihkan mobil miliknya.
“Huftt sudah selesai , kupikir ini terlihat lebih baik dari sebelumnya, ” Ucap Vallery setelah selesai membersihkannya.
“Siapa namamu?” tanya Pria itu.
“Vallery Gracia, maaf sudah membuat kekacauan pada mobilmu, ” ucap Vallery.
“Permintaan maafmu belum aku terima,” ucapnya lalu pergi begitu saja menaiki mobilnya.
“Apa apaan? apa maksudnya tadi? bahkan dia tidak mengucapkan terimakasih? jika tau begini aku tinggalkan saja mobilnya” Vallery berdecak kesal lalu memutuskan untuk pulang.
*****
Malamnya Vallery kedatangan seorang teman yang sangat berbeda dengan dirinya, siapa lagi kalo bukan Leana Marcelline , Leana seorang anak tunggal dari keluarga konglomerat sekaligus teman baik Vallery semasa SMA, berbeda dengan Vallery , Leana justru seorang gadis yang liar hampir setiap malam pergi ke club, meminum alkohol dan berdandan layaknya bukan seperti gadis kuliah.
“Valll, kenapa kau lama sekali membuka pintu” ucap Leana kesal yang hampir beberapa menit menunggu di depan rumah Vallery.
“Seperti biasa , datang dengan keadaan mabuk lalu tidur dirumahku?” Vallery sudah tidak asing dengan kebiasaan temannya ini.
“Aku tidak mabuk Vall, hanya sedikit minum sajaa, ” ucap Leana lalu membaringkan dirinya di kasur empuk milik Vallery.
Melihat Leana berbaring dengan lemas Vallery membuatkan minuman madu untuk Leana.
“Minumlah kau akan merasa baikan setelah meminumnya, ” dengan anggukan yang diberikan Leana ia pun meminumnya.
“Vall, besok adalah hari ulang tahunku, aku ingin kau datang” ucap Leana.
“Ahh benar besok ulang tahunmu, tapi dimana kau merayakan ulang tahunmu itu?”
“Di J-Club, kau tidak perlu minum alkohol hanya hadir saja bisa kan Vall? Ayolahh, ” bujuk Leana karena dia tau Vallery tidak akan mau untuk datang ke tempat seperti itu.
“Emhh akan kupikirkan, sekarang istirahatlah, ” Leana mengangguk lalu mereka pun tidur bersama.
*****
Keesokan harinya Leana pergi mengajak Vallery membeli beberapa pakaian untuk acara nanti malam, Leana mengambil beberapa dress yang ia suka lalu meminta Vallery untuk memakainya, ya Vallery tidak terbiasa memakai pakaian yang seperti itu, namun untuk ulang tahun sahabatnya ini Vallery menurut saja.
“Tunggu, Ana bukan kah ini terlalu mahal? lihat saja pakaian ini 20juta? satu pakaian?” Vallery hampir gila melihat harga dari dress yang sedang ia kenakan.
“Tenang saja kau tidak tau siapa aku hah? sudah pakai saja nanti malam yaa, aku tunggu” ucap Leana dengan santai.
Setelah beberapa jam menghabiskan waktu untuk persiapan Leana mengantar Vallery pulang.
“Aku tunggu nanti malam, jangan lupa pakai baju yang aku berikan tadi dandan yang cantik yaaa” teriak Leana sembari melajukan mobilnya.
Vallery menghela nafasnyaa tidak biasanya ia harus mengenakan pakaian seperti itu , setelah bebenah untuk waktu yang cukup lama akhirnya malam tiba Vallery yang sehabis mandi langsung bersiap untuk pergi ke acara ulang tahun Leana.
Dress yang sekarang melekat di tubuh Vallery membuatnya terlihat sangat berbeda , bahkan riasan yang Vallery gunakan terasa sangat berbeda menurutnya.
“Apa ini tidak terlalu pendek? kenapa selera Leana seperti ini, huft baiklah Vallery hanya untuk malam ini saja buatlah Leana merasa senang”
Setelah siap Vallery memesan taksi dan pergi ke J-Club tempat yang untuk pertama kalinya ia datangi kalo bukan karena Leana tidak akan pernah Vallery pergi kesana.
*****
Suara riuh dan lampu remang remang membuat Vallery enggan untuk memasuki tempat itu, namun mau tidak mau Vallery harus masuk.
“Maaf bisa aku lihat undangannya?” ucap salah satu security ketika Vallery hendak masuk.
“Undangan? ahh maaf aku teman dekat Leana aku diundang secara langsung olehnya” ucap Vallery.
“Maaf kau tidak membawa undangannya maka tidak diperbolehkan masuk” ucapnya lagi.
Vallery menghela nafas ia mencoba menghubungi Leana namun Leana tidak menjawabnya mungkin karena suara berisik dari musik Leana tidak mendengar dering telfonnya.
Ketika Vallery sibuk menghubungi Leana seorang pria merangkul nya membuat Vallery terkejut setengah mati, pria itu membawa Vallery untuk masuk.
“Maaf tuan, nona ini tidak membawa undangan” ucap security lagi dan lagi.
Pria itu menunjukan undangan miliknya lalu berkata “Gadis ini kekasihku, biarkan aku masuk” seketika security mengangguk dan membiarkan Vallery dan pria itu masuk kedalam.
Sesampainya di dalam Vallery menjauhkan dirinya dari Pria itu, Pria yang baru saja ia lihat, tidak sopan? memang Vallery baru kali ini memakai pakaian yang terbuka seperti itu sontak membuat nya terkejut saat pria di hadapannya ini merangkulnya.
“Tidak berterimakasih kepadaku?” tanya Pria itu.
“Terimakasih, ” Ucap Vallery lalu hendak pergi begitu saja sebelum sebuah tangan menariknya.
“Hanya itu?” tanya pria itu yang sekarang jaraknya dan Vallery sangatlah dekat.
Pria itu mendekati telinga kiri Vallery dan membisikan sesuatu.
“Terimakasihmu saja tidak cukup untukku gadis kecil,” ucapnya lalu pergi begitu saja.
“Apa? apa maksud dari ucapannya itu?” Vallery mengumpat dalam hatinya, lalu pergi untuk mencari Leana.
Lambaian tangan Vallery yang melihat Leana sedang asyik dengan beberapa temannya mengalihkan pandangan Leana , sontak Leana menghampiri Vallery.
“Lihat dirimu Vall, kau cantik sekalii” ucap Leana seraya menatap Vallery dari atas hingga ujung kakinya.
“Aku tidak nyaman, dan kau bodoh sekali kenapa tidak memberiku undangan? aku hampir tidak masuk kesini tadi, ” Vallery masih kesal karena kejadian barusan.
“Hahaha, maafkan aku Vall aku lupa memberi tau security kalau aku mengundangmu secara personal, ayolah nikmati pestanya jangan cemberut seperti itu” goda Leana membuat Vallery sedikit tersenyum.
Selang beberapa menit teman Leana dari AS datang, Leana pun meninggalkan Vallery untuk menyambut tamu lainnya, Vallery dengan senang hati membuat Leana nyaman dengan pestanya, sementara itu Vallery mencari tempat duduk karena kakinya pegal memakai high heels yang digunakannya.
Seorang pria dengan kemeja hitam yang melekat ditubuhnya menghampiri Vallery yang tengah duduk.
“Wahh dunia ini sempit sekali bukan? kita bertemu lagi” ucap Pria itu lalu duduk di dekat Vallery.
“Bukan sempit tapi kita disatu tempat yang sama sudah jelas akan bertemu, ” ucap Vallery.
“Aku Devary Dereen, kau ?”
“Vallery Gracia, kau temannya Leana?” tanya Vallery.
“Bisa dibilang teman tapi aku tidak dekat dengannya, aku kesini karena temanku mengajakku, ” Vallery hanya mengangguk.
Melihat gelas yang berisikan air putih Devary tertawa kecil.
“Tidak bisa minum alkohol?” Vallery mengangguk.
“Wahh bagus sekali cocok dengan wajahmu” ucap Devary membuat Vallery memasang wajah cemberut.
Ketika asik mengobrol seorang pria datang menghampiri mereka.
“Ahh Vall, ini temanku Calion Neuville,” Sontak Vallery mendongak melihat Calion dan mereka pun saling menatap.
“Kau??” Vallery terkejut karena pria bernama Calion ini adalah Pria pemilik mobil hitam yang terkena tumpahan kopi itu.
“Sangat berbeda dengan yang aku lihat” ucap Calion melihat Vallery mengenakan pakaian yang sangat jauh berbeda seperti yang ia lihat di depan kampus.
Vallery memutar bola matanya kesal karena ucapan Calion.
Calion pun duduk di sebelah Vallery yang sekarang posisinya Vallery berada ditengah antara kedua Pria tampan ini.
“Maaf bisakah kalian cari tempat kalian sendiri? aku merasa tidak nyaman” ucap Vallery.
Ucapan Vallery sama sekali tidak digubris oleh kedua Pria tampan ini, Devary yang sibuk menikmati pestanya dan Calion yang sibuk dengan ponselnya sampai akhirnya Vallery berdiri berniat untuk mencari tempat lain.
“Ucapan maafmu belum aku terima.” “Ucapan terimakasihmu belum aku terima.”
Vallery menghela nafas panjang bisa bisanya kedua pria ini berbicara secara bersamaan ketika ia hendak pergi.
“Lalu? aku harus bagaimana aku sudah meminta maaf padamu soal kopi itu, dan aku juga sudah berterimakasih padamu karena undangan tadi, ” Vallery sedikit kesal.
Calion menampilkan smirk nya menarik lengan Vallery agar dekat dengannya.
“Aku belum selesai denganmu, ” ucap Calion membuat Vallery berdegup kencang karena jarak mereka yang terlalu dekat.
Devary yang melihat nya hanya tersenyum lalu menyodorkan satu gelas berisi alkohol.
“Minumlah, aku ingin melihatmu meminum ini” Vallery memandangan gelas yang berada ditangan Devary.
“Aku tidak mau, ” ucap Vallery.
“Ahh begitu yaa,” Devary memasang wajah kecewanya membuat Vallery lagi lagi menghela nafas panjang.
“Baiklah hanya satu gelas setelah itu biarkan aku pergi dari sini” Devary mengangguk.
Dengan berat hati Vallery meminum segelas wine lalu pergi dari sana, Calion dan Devary yang melihatnya hanya tersenyum melihat gadis polos seperti Vallery yang membuat mereka tertarik.
Beberapa jam telah berlalu Vallery merasa kepalanya pusing padahal ia hanya meminum satu gelas saja, apa karena tingkat alkoholnya yang tinggi? atau sesuatu dimasukan kedalam wine itu Vallery juga tidak tau, sekarang ia hanya merasa pusing dan pergi ke kamar kecil. Ngocoks.com
Ketika sedang bercermin dengan kepalanya yang pusing seorang pria yang tak lain dan tak bukan yaitu Calion menghampiri Vallery lalu memeluknya dari belakang.
“Emhh lepaskan aku, ” ucap Vallery dengan kesadarannya yang setengah mabuk.
“Hanya satu gelas tapi sudah semabuk ini?” Calion membalikan badan Vallery yang sekarang posisinya mereka berhadapan.
Vallery dengan wajah mabuknya memandang lekat bibir tebal milik Calion membuat Calion menelan ludahnya.
“Jangan memasang wajah seperti itu, kau kira aku tahan melihatnya?” ucap Calion , tidak ada jawaban dari Vallery dirinya sibuk menatap bibir tebal Calion.
Tanpa sadar Vallery menaikan sedikit posisinya, lalu mencium bibir Calion kilas.
“Akhh kau memulainya? baiklah sekarang giliranku,” lirih Calion.
Calion yang merasakan bibir mungil cherry milik Vallery ini hanya tersenyum menampilkan smirknya, tanpa pikir panjang kedua tangan Calion memegang kedua pipi Vallery lalu mencium bibir Vallery dengan lembut.
Bersambung… Vallery tersadar matanya perlahan terbuka yang ia lihat bukan kamar tidurnya melainkan kamar bernuansa mewah dengan warna elegan abu abu dan hitam, Vallery segera bangun mendapati dirinya berada di tempat yang baru ia lihat, mata Vallery tertuju pada baju yang dipakainya, masih sama seperti semalam dress hitam yang dipakainya.
“Tunggu kenapa aku terbangun disini? dimana ini?” Vallery bertanya tanya ia bingung apa yang harus dilakukannya.
tanpa pikir panjang Vallery melihat ke arah pintu tentu saja ia mendekati pintu itu saat membuka pintunya betapa terkejutnyaa Vallery rumah yang sedang ia lihat ini begitu mewah entah siapa pemiliknya Vallery lebih penasaran kenapa dia bisa ada disini.
“Sudah bangun?” ucap seorang pria membuat Vallery terkejut.
“Calion? kau??!!”
“Semalam kau mabuk jadi aku membawamu kesini.” ucap Calion menjelaskan.
“Kenapa membawaku kesini? dan apa yang k-kau -mmmphhh” Mata Vallery terbuka lebar bagaimana tidak saat ini Calion mencium bibirnya tanpa aba aba membuat Vallery mematung.
“Emhhh lepaskan apa yang kau lakukan??” Vallery mendorong pelan tubuh kekar Calion.
“Kau banyak bicara,” ucap Calion.
‘Ciuman pertamaku? pria ini? kenapa dia bisa menciumku dengan mudahnya menyebalkan sekali’ umpat Vallery dalam hatinya.
Vallery dengan rasa kesal pergi begitu saja meninggalkan Calion dan hendak keluar dari rumah mewah itu.
“Tidak mau kuantar?” tawaran Calion membuat Vallery menghentikan langkahnya.
“Kau tidak tau malu? sudah menciumku lalu kau menawarkan tumpangan? tidak akan!”
“Aku sudah menciummu kedua kalinya, ”
Degg
‘Apa? kedua kalinya?’
“Calion apa kau sudah gila kau mencium orang yang baru saja kau kenal dan apa kau bilang ? dua kali? kau gila yaa?” Vallery terus saja berbicara membuat Calion gemas terhadapnya.
“Aku tidak akan menciummu kalau kau tidak memulainya,”
Deg
lagi dan lagi Vallery dibuat kebingung , ucapan Calion membuat wajahnya memerah karena malu, apa ucapannya itu benar atau hanya menyangkal kata kata Vallery saja, Vallery memalingkan wajahnya tidak ingin Calion sampai melihatnya.
“Kau menatap bibirku terus menerus, ingin melakukannnya lagi?”
“Cukup, jangan bicara lagi sialan,” Calion yang mendengar decakan kesal dari Vallery pun mendekat kearah Vallery.
“Katakan sekali lagi, ” Ucap Calion.
“Sialan brengsek tidak tau malu,” ucap Vallery seraya menampilkan wajah kesalnya.
“i like it,” itulah yang diucap Calion ketika Vallery yang sedari tadi mengoceh karena kesal.
Vallery tidak mempedulikan Calion yang hanya tersenyum saat ia sedang kesal Vallery pun langsung meninggalkan rumah mewah itu.
*****
Kringg kringg…
“Bagaimana permainanmu semalam?” suara Devary dari seberang sana membuat Calion tertawa kecil.
“Sepertinya aku makin menyukainya,” Ucap Calion.
“Kau tidak pernah berubah, baiklah 10 menit lagi aku akan menjemputmu, banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan, ”
beep
Calion menutup telfonnya ia segera bersiap.
*****
Calion Neuville , siapa yang tidak kenal dengannya? CEO muda berparas tampan ini banyak disukai oleh para gadis bagaimana tidak paras tampan, bertubuh kekar, apalagi seorang CEO di perusahaan N’vile Vors , perusahaan besar yang sangat maju.
Calion anak tunggal yang sedari kecil dipaksa untuk mandiri karena kedua orang tuanya yang sibuk bekerja di luar negeri, dan Devary lah satu satunya orang yang selalu menemani Calion seseorang yang sudah dianggap sebagai adik kandungnya oleh Calion, berbeda dengan Calion Devary justru hidup di dalam keluarga yang sangat harmonis sayangnya saat Devary menginjak SMA kedua orangtuanya mengalami kecelakaan yang membuat Devary harus kehilangan keduanya.
Calion yang sudah bersiap dengan jas hitam dan dasi yang melekat di tubuhnya segera menuruni anak tangga untuk bertemu dengan Devary , keduanya sama sama pergi ke N, vile Vors karena pekerjaan, di perjalanan Calion hanya membicarakan bagaimana sikap Vallery terhadapnya, ya gadis yang menciumnya di club waktu itu.
“Kurasa itu ciuman pertamanya bukan begitu?” tanya Devary, Calion mengangguk membenarkan.
“Aku bertemu dengannya saat ke kampus, dia benar benar sangat lugu,” Devary tersenyum mendengar penjelasan dari Calion.
Beberapa menit mengobrol mereka sudah sampai di kantor, keduanya mulai sibuk untuk mengurus pekerjaan mereka masing masing.
*****
Vallery yang baru saja menyelesaikan kelasnya itu membuang nafas lega karena beberapa hari lagi liburan musim panas akan tiba, hanya satu yang terlintas dipikirannya ‘magang’ yaa tentu saja dengan kondisi Vallery yang hidup sendiri tanpa kedua orang tuanya Vallery harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya, walaupun Leana terus saja membantu Vallery tapi disisi lain Vallery ingin hidup mandiri tanpa merepotkan sahabatnya itu.
Vallery melihat mading di kampusnya matanya tertuju pada perusahaan terkenal pikirannya langsung dipenuhi oleh rasa ingin magang disana, sedang fokus melihat lihat Leana menghampiri Vallery berniat untuk mengajaknya membeli beberapa pakaian.
“Vall, kau sudah berencana akan kemana liburan nanti?” tanya Leana.
“Sepertinya aku akan magang, bagaimana denganmu?”
“Hei apa apaan, aku akan mengajakmu ke London untuk berlibur, ayolah untuk apa magang apa kau tidak lelah?” Vallery tersenyum mendengar sahabatnya ini benar benar sangat perhatian padanya.
“Dengarkan aku Ana, aku sudah banyak merepotkanmu aku tidak mau terus seperti ini, jadi nikmatilah liburanmu” Mendengar jawaban dari Vallery raut wajah Leana sedikit kecewa.
“Baiklahh, jaga dirimu baik baik yaa Val, jika sesuatu terjadi padamu hubungi aku secepatnya, oh yaa apa kau sudah menentukan ingin magang dimana?”
“Belum, tapi apa kau tau perusahaan N’ville Vors? aku berharap bisa magang disana, ”
“Tentu saja aku tau, ayahku pernah bekerja sama dengan perusahaan itu, tenang saja Val aku akan membantumu untuk bisa magang disana, ” Vallery terlihat senang lalu memeluk Leana dengan erat.
*****
4 hari kemudian
Kring kringgg
Mata Vallery yang masih mengantuk terpaksa harus melihat layar ponselnya karena bunyi dering telfon membangunkannya, nomor tak dikenal tertampang jelas di layar ponselnya Vallery yang penasaran mengangkat telfonnya.
“Selamat pagi apa benar ini dengan nona Vallery Gracia?” suara diseberang sana membuat Vallery membenarkan posisinya.
“Benar, ” ucap Vallery
“Bagus, Nona Vallery anda diterima untuk magang diperusahaan kami N’Ville Vors, untuk itu bersiaplah untuk datang pukul 10 pagi,”
beepp
Vallery tersenyum lebar impiannya untuk magang diperusahaan itu terwujud pasti ini karena bantuan dari Leana juga, dengan sangat siap Vallery bebenah kemeja putih dan celana hitam panjang yang melekat ditubuh Vallery yang mungil ini menandakan dirinya sudah siap.
Sesampainya di depan perusahaan Vallery terkejut bukan main perusahaan yang selama ini ia lihat di brosur ternyata bisa ia lihat secara langsung sangat besar bahkan entah berapa lantai tingginya, dengan senang hati dan perasaan gugup Vallery memasuki perusahaan itu lalu seorang gadis berambut pendek menghampirinya.
“Maaf apakah anda Nona Vallery?” tanya nya , Vallery mengangguk.
“Mari ikuti aku, akan aku tunjukan ruanganmu, ” Vallery tersenyum lalu mengikutinya dari belakang.
Setelah sampai diruangan Vallery diajarkan bagaimana seharusnya ia bekerja setelah Vallery benar benar paham , gadis berambut pendek itu pergi meninggalkannya. Ngocoks.com
beberapa jam berlalu Vallery benar benar lah ternyata begini rasanya bekerja seharian penuh, ketika Vallery beristirahat sejenak pria dengan kemeja hitam datang memberikan sebuah dokumen kepada Vallery.
“Vallery tolong bereskan dokumen ini setelah itu antarkan ke ruangan Tuan Cal” ucapnya, Vallery mengangguk lalu menyelesaikan dokumen nya.
Setelah selesai Vallery membawa dokumen itu namun dia tidak tau dimana ruangan Tuan Cal yang dimaksud , Vallery bertanya kepada pria yang memberinya dokumen tadi.
“Lantai 5, kau bisa naik lift sebelah sana” Vallery mengangguk.
Sesampainya di lantai 5 perhatian Vallery tertuju pada pintu kaca yang bisa dilihat seseorang sedang duduk sembari membelakanginya, Vallery pun mengetuk pintu kaca itu lalu masuk.
“Permisi Tuan, aku ingin mengantar dok-” belum selesai berucap pria itu memutar kursinya yang sekarang Vallery bisa menatapnya.
“Kauu??!” ya siapa lagi kalau bukan Calion.
Bersambung… Bukan hal yang mudah bagi Vallery, bagaimana tidak dirinya harus bertemu lagi dengan sosok menyebalkan seperti Calion, ditambah pria yang sedang duduk di hadapannya ini adalah pria yang mengambil first kiss nya, bukan tidak suka hanya saja Calion bukan siapa siapa bagi Vallery, orang yang baru saja kenal di club karena pesta Leana kini harus menjadi bos di tempat magang nya.
“Bertemu lagi?” Calion berucap sembari menampilkan senyum jahatnya.
“Maaf aku tidak berharap bertemu denganmu lagi, aku hanya ingin mengantarkan dokumen ini,” Vallery tidak banyak menganggap ucapan Calion, ia menaruh dokumen itu lalu berbalik untuk meninggalkan ruangan Calion.
“Tunggu, ” langkah Vallery seketika terhenti Calion yang sedari tadi duduk sekarang menghampiri Vallery yang masih membelakanginya.
“Urusanku denganmu belum selesai,” ucapan Calion membuat Vallery kebingungan.
“Maksudmu?”
“Aku sangat menginginkannya lagi,, ” ucapan Calion kali ini membuat Vallery menelan ludahnya , bagaimana tidak sedari tadi Calion hanya memperhatikan bibir cherry milik Vallery.
“Maaf tuan, ini kantor aku harus kembali, ” Vallery menunduk berharap Calion membiarkannya pergi.
“Apa masalahnya jika ini kantor?” Vallery terdiam benar juga ini kantor miliknya jadi dia bebas melakukan apa saja.
Perlahan Calion melangkah maju membuat langkah Vallery mundur mendekati sudut meja milik Calion, kedua tangan Calion mengunci kanan kiri dari Vallery, membuat Vallery tidak bisa kemana mana dan sekarang Vallery hanya bisa menunduk, tidak berani menatap Calion yang jaraknya sedekat ini sekarang.
“Ini kantor milikku, aku berhak melakukan apa saja, ”
Vallery masih menunduk berusaha menghindari eye contact dengan bosnya ini.
“Tatap aku atau aku akan menciummu,” mendengar hal itu sontak Vallery menatap Calion.
“Kau milikku, dan tidak ada yang bisa menyentuhmu selain aku” Lagi dan lagi, ucapan Calion terus saja membuat Vallery kebingungan apa maksudnya ini? baru saja Vallery mengenal Calion tapi Calion sudah berani mengunci Vallery kedalam hidupnya.
“Aku tidak mau,” hanya itu yang bisa Vallery katakan, setelah mengatakannya dengan penuh keberanian Vallery mendorong pelan tubuh kekar Calion lalu pergi dari ruangan.
*****
Pekerjaan Vallery sudah selesai dirinya harus pulang larut karena beberapa pekerjaan tambahan, Vallery langsung bersiap untuk pulang ketika sampai di lantai bawah perhatian Vallery teralihkan oleh pria yang sedang bersandar di mobil.
Perlahan pria itu mendekat kearah Vallery, tak disangka ternyata Devary lah yang sekarang berada tepat di hadapan Vallery.
‘Sekarang apalagi? aku sudah menghindari Calion tapi sekarang harus bertemu dengan sahabatnya ini’ Vallery tak berhenti mengumpat di dalam hatinya.
“Hai gadis kecil, butuh tumpangan?” ucapan Devary membuat Vallery tersenyum.
“Tidak , aku bisa pulang sendiri” jawab Vallery dengan santai.
“Tidak ada penolakan aku akan mengantarmu, ” belum saja Vallery menyetujuinya Devary langsung menarik lengan Vallery untuk ikut bersamanya mau tidak mau kali ini Vallery diantar oleh Devary.
Suasana tenang di dalam mobil Devary membuat Vallery mengantuk tanpa sadar dirinya sudah tertidur, Devary yang melihat Vallery tertidur hanya bisa tersenyum perlahan tangannya mulai mendekati bibir cherry Vallery lalu menyentuhnya.
*****
Pagi itu Vallery terbangun tepat di atas tempat tidurnya namun Vallery penasaran kenapa dirinya bisa tidur dikamarnya seingatnya Devary mengantarnya pulang, Vallery yang menyadarinya langsung berganti pakaian lalu keluar dari kamar betapa terkejutnya Vallery saat melihat Devary yang tengah tidur di sofa miliknya tanpa menggunakan pakaian hanya celana hitam nya saja yang melekat.
“Oh tidak, apa dia melakukan sesuatu? atau aku? bagaimana ini apa yang terjadi kenapa aku tidak mengingatnya, ” Vallery langsung menghampiri Devary yang masih tertidur, Vallery mencoba membangunkannya namun Devary tetap tertidur.
Devary yang mulai sadar perlahan membuka matanya walaupun samar Devary tau Vallery sekarang sedang di hadapannya tanpa pikir panjang Devary menarik lengan Vallery lalu memojokkannya di sofa , tindakan Devary membuat Vallery terkejut karena sekarang Vallery tepat berada di bawah Devary.
“T-tunggu, Dev apa yang akan kau l-lakukan?” tanya Vallery dengan wajah polos dan nada bicara yang membuat Devary gemas.
“Sedikit memberimu sarapan pagi, ” tanpa aba aba Devary mencium bibir mungil Vallery membuat Vallery lagi lagi mematung dengan tindakan Devary yang mendadak ini, Vallery hanya bisa mendorong pelan badan kekar Devary berharap Devary menghentikan aksinya ini, namun semakin Vallery mendorongnya semakin Devary memperdalam ciumannya.
Vallery kewalahan Devary benar benar tidak memberinya ruang untuk mengambil nafas ditambah tangan Devary yang kini menyentuh paha mulus Vallery yang hanya memakai dress itu memudahkan Devary untuk membuat Vallery merasakan sesuatu yang berbeda.
“Mphhh aku sudah menahannya semalaman, ” ucap Devary ditengah ciumannya.
“Enghh, cukupp apa yang kau lakukan?!” dengan nada kesal Vallery berhasil menjauhkan Devary dari dirinya.
“Menciummu, kau suka kan? ” ucapan Devary membuat wajah Vallery memerah bukan karena suka, tapi karena malu mengakui bahwa Vallery tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti suasana.
“Cukup, pergilah dari rumahku Dev” Devary tersenyum lalu ia memakai pakaiannya.
“Baiklah aku akan pergi, tapi ingat satu hal kau adalah milikku gadis kecill, ” setelah mengucapkannya Devary pergi.
Vallery teringat dimana saat Calion mengucapkan hal yang hampir sama persis seperti yang Devary ucapkan barusan, apa arti dari semua ini kenapa mereka menjadikan Vallery milik keduanya, ditambah sekarang Vallery harus pergi ke kantor lagi yang artinya dia harus bertemu dengan Calion disana.
*****
Calion yang sedari tadi mondar mandir membuat Devary kebingungan.
“Apa yang kau pikirkan? ada apa?” tanya Devary , Calion menatap Devary lalu duduk di sampingnya.
“Mira kembali nanti malam, ” mendengar ucapan Calion Devary menghela nafasnya.
“Lalu bagaimana, kau akan menemuinya?” tanya Devary yang langsung diberi anggukan oleh Calion.
“Kau tau kan bagaimana aku mencintainya?” Devary mengangguk menandakan bahwa ia mengerti apa arti dari ucapan Calion.
Setelah berbincang cukup lama Vallery yang baru saja sampai di kantor duduk dengan tenang berharap kali ini dia tidak bertemu dengan Calion maupun Devary, namun belum sempat Vallery memulai pekerjaannya dirinya dikejutkan oleh dua sosok pria siapa lagi kalo bukan Devary dan Calion yang menghampiri semua karyawan disana.
Sontak semua karyawan menundukkan setengah badannya memberi rasa hormat kepada bos nya, mau tidak mau Vallery melakukan hal yang sama namun dengan jarak yang sedikit menjauh agar dirinya tidak dilihat oleh Calion maupun Devary.
“Untuk malam ini kalian semua pulang lebih cepat, ” mendengar ucapan Calion membuat karyawan bersorak ria begitu juga dengan Vallery.
Setelah mengumumkan hal itu Calion dan Devary menatap Vallery secara bersamaan Vallery menunduk menghindari eye contact dengan keduanya, tatapan mereka seolah mengintimidasi Vallery sekarang, beberapa menit kemudian Calion dan Devary pergi membuat Vallery membuang nafas lega karena untungnya tidak berurusan dengan mereka.
*****
20.15
Malam yang sepi dan sunyi Calion bersiap untuk menjemput Mira di bandara kemeja hitam yang melekat di tubuhnya membuat Calion sangat bahkan benar benar tampan, Calion pergi mengendarai mobil hitam mewah miliknya setelah sampai di bandara Calion langsung terpaku pada Mira yang menghampirinya.
Pelukan hangat dan kerinduan kini diberikan oleh Calion pada Mira, Calion memeluk erat Mira dan mencium bibir Mira kilas.
“Kau merindukanku?” pertanyaan Mira membuat Calion tersenyum.
“Masih bertanya? aku sangat merindukanmu” Lagi lagi Calion memeluk Mira dengan erat menumpahkan semua kerinduannya selama ini.
Setelah melepas kerinduan dengan memeluknya Calion membawa Mira ke rumahnya meminum beberapa gelas wine untuk berbincang bersama, semua itu Calion rasakan hal hal yang ditunggunya kini sudah terpenuhi, keberadaan Mira disamping Calion membuat Calion merasa nyaman, tanpa sadar Calion mabuk dan tidak mengingat apa apa.
*****
Mira Quelline namanya saja sudah terdengar sangat cantik, Mira adalah teman sekolah Calion dan juga Devary bukan hanya teman melainkan cinta pertama untuk Calion namun ditengah tengah perjalanan antara hubungan Mira dan Calion, Mira terpaksa pergi ke Sydney untuk melanjutkan bisnis kedua orang tuanya bertahun tahun Calion melupakan Mira tapi entah ingatannya bersama Mira tidak mudah untuk dilupakannya.
Setelah Mira pergi ke Sydney Calion menyibukkan dirinya untuk pergi ke club, bekerja dan terkadang tidak melakukan apa apa , disamping itu Devary yang selalu menemani Calion membuat Calion sedikit demi sedikit melupakan Mira.
Hingga saat ini Mira memutuskan untuk kembali namun belum tau akan tinggal disini atau tidak melihat Mira saja sudah membuat Calion senang, kali ini Calion benar benar tidak bisa melupakan sosok Mira dalam hidupnya. Ngocoks.com
*****
Pagi itu Vallery seperti biasa pergi ke kantor untuk magang, untung saja dari kemarin tidak ada gangguan dari Calion maupun Devary , setelah Vallery merasa dirinya tidak akan berurusan lagi dengan mereka berdua Vallery dikejutkan oleh Calion yang berada tepat di depan kantor membuat Vallery menghentikan langkahnya.
‘Haruskah aku bertemu dengannya sepagi ini?’ umpat Vallery dalam hatinya , tapi pandangan Vallery tertuju pada gadis yang baru saja turun dari sebuah mobil putih mewah dan elegan, gadis itu menghampiri Calion siapa lagi jika bukan Mira, gadis yang pertama kali dilihat oleh Vallery , Cantik benar benar sangat cantik, Vallery pun tidak menggubrisnya dirinya sibuk memperhatikan Calion dan Mira pergi memasuki kantor.
‘Apa itu kekasih Calion?’ pertanyaan itu tiba tiba saja terlintas di pikiran Vallery.
Vallery menggelengkan kepalanya menghapus semua pikirannya tentang Calion untuk apa juga Vallery sibuk memikirkan pria menyebalkan seperti Calion.
“Tidak sopan mengintip, ” ucapan seseorang membuat Vallery terkejut lalu Vallery menoleh kebelakang nya lagi dan lagi Devary sudah berada di belakang Vallery.
“K-kau? lagii??”
“Wahh benar sekali ya dunia ini memang ditakdirkan untuk kita, lagi lagi aku bertemu denganmu apa itu arti-” belum sempat Devary menyelesaikan pembicaraanya jari mungil milik Vallery sudah menutup mulut Devary.
“Hentikan, pikiranmu terlalu jauh, lupakan saja, ” setelah mengeluarkan kekesalannya Vallery masuk ke dalam diikuti oleh Devary di belakangnya.
Bersambung… Devary kali ini benar benar sangat menganggu Vallery, bagaimana tidak saat masuk ke kantor bahkan sampai Vallery duduk diruangannya pun Devary tetap mengikutinya.
“Apa maumu Dev?” tanya Vallery dengan kesal.
“Hanya ingin bersamamu” jawaban dari Devary membuat Vallery tidak mempedulikannya lagi.
Selama Vallery mengerjakan pekerjaan nya Devary terus berada di dekat Vallery bahkan pekerjaan Devary pun ia kerjakan diruangan yang sama seperti Vallery, beberapa menit tanpa berbincang Devary yang selalu mencuri kesempatan untuk menatap Vallery yang sangat menggemaskan, Devary pun memecahkan suasana tenang di dalam ruangan itu.
“Ayo, temani aku membuat kopi” ucapan Devary membuat Vallery tertarik Vallery mengangguk dan mengikuti Devary yang hendak membuat kopi.
Namun saat akan membuat kopi mereka harus berpas-pasan dengan Calion dan Mira membuat Vallery dan Devary menghentikan langkah mereka.
“Dev? kau tidak merindukanku??” ucap Mira dengan senang hati mengadahkan kedua tangannya untuk memeluk Devary, tanpa segan Devary memeluk erat Mira.
“Aku sangat merindukanmu” balas Devary sembari memeluk Mira.
Hal yang terjadi di depan Vallery ini membuatnya sedikit tidak nyaman , entah karena Vallery tidak terlalu dekat dengan Calion maupun Devary atau entah karena Vallery tidak mengenal Mira, namun disisi lain Vallery lebih memperhatikan Calion yang biasanya sering menganggunya namun sekarang hanya berdiam tanpa sepatah kata pun.
“Dev siapa ini? kekasihmu?” pertanyaan Mira membuat semua perhatian tertuju pada Vallery yang sedari tadi diam saja.
“Aahh, aku Vallery Gracia kebetulan aku murid magang disini” jelas Vallery yang diberi respon senyuman manis oleh Mira.
“Aku Mira Quelline,” ucap Mira seraya bersalaman dengan Vallery.
Setelah perkenalan yang cukup singkat Mira menoleh kearah Calion lalu memegang lengan Calion untuk membawanya pergi tindakan Mira membuat Vallery bertanya tanya apakah Mira ini adalah kekasihnya atau hanya sebatas temannya, namun tidak seharusnya Vallery memikirkan hal itu karena itu bukan urusannya.
Mira pun membawa Calion pergi darisana namun sebelum benar benar meninggalkan Devary dan Vallery tangan kanan Calion menyentuh lengan Vallery memberinya sebuah kertas lalu mereka pergi darisana.
tanpa pikir panjang Devary pun ikut menarik lengan Vallery persis seperti apa yang dilakukan Mira kepada Calion, kertas yang sekarang berada tepat di genggaman Vallery ini sekarang Vallery pindahkan kedalam saku outernya.
Ketika Devary sibuk membuat kopi Vallery dengan rasa penasaran membuka kertas yang diberikan oleh Calion.
‘Kau milikku, ingat itu’
Hanya dua kalimat yang tertulis disana pikiran Vallery kini kacau benar benar tidak mengerti baru saja Vallery melihat Calion dan Mira yang begitu dekat tapi bisa bisanya Calion memberikan kertas itu padanya, karena rasa penasaran Vallery mencoba bertanya pada Devary.
“Dev, boleh aku bertanya?” Devary mengangguk sembari mengaduk kopi yang baru saja ia buat.
“Apa hubunganmu dengan Mira?” pertanyaan dari Vallery ini membuat Devary tersenyum.
“Kau cemburu karena dia memelukku tadi?”
‘Bodoh kenapa aku bertanya tentang hubungan Devary dengan Mira’
“Kapan aku cemburu? aku hanya bertanya”
“Kau tidak perlu tau dia siapa, kau hanya perlu mencintaiku saja,” mendengar jawaban Devary membuat Vallery tersadar bahwa salah sekali untuk menanyakan hal ini pada pria yang tidak ada bedanya dengan Calion ini.
“Kenapa kau ingin tau Mira?” Vallery menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada, hanya bertanya saja” jawab Vallery.
Selesai membuat kopi lagi lagi perhatian Vallery tertuju pada Calion dan Mira yang tengah berbincang kelihatannya mereka sangat dekat begitu pikir Vallery, terlebih Calion menatap Mira dengan sangat dalam membuat Vallery berpikir bahwa Calion hanya mempermainkannya saja tanpa peduli lagi Vallery pun mulai sedikit berbincang bincang dengan Devary.
Waktu berlalu begitu cepat inilah saat saat yang ditunggu oleh Vallery yaitu pulang kerumah untuk beristirhat, tapi harapannya itu terputus saat seorang karyawan disana memberikan tumpukan dokumen yang harus Vallery selesaikan malam ini.
“Bisa aku kerjakan besok saja?” tanya Vallery dengan hati hati.
“Kau murid magang kan? mengerjakan seperti ini saja banyak mengeluh, kerjakan lalu antarkan ke ruangan Tuan Calion,” mendengar jawaban karyawan itu membuat Vallery hanya mengangguk terdiam benar dirinya hanya murid magang tidak seharusnya menolak pekerjaan.
Vallery kini hanya sendiri semua karyawan dan murid magang lainnya sudah pergi meninggalkan kantor, pukul 21.50 ini benar benar sudah larut untuk mengerjakan dokumen sebanyak ini, Vallery hanya memasang wajah cemberutnya menatap laptop di hadapannya ini membuatnya sangat pusing lalu Devary datang membawa segelas kopi dan duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.
“Minumlah sayang, kau pasti lelah” ucap Devary yang sekarang sibuk menatap layar ponselnya.
“Bagaimana kau tau aku lembur?”
“Sudah tugasku untuk menemanimu” jawab Devary.
Setelah meminum segelas kopi yang Devary berikan Vallery melanjutkan pekerjaan tapi sayang kopi tidak berpengaruh pada dirinya Vallery tetap mengantuk bahkan sampai tertidur sebentar.
Devary yang melihat Vallery kelelahan langsung beranjak berdiri menghampiri meja Vallery membawa dokumen bertumpuk itu dengan satu tangannya.
“Kerjakan dirumahku saja” ucap Devary membuat Vallery berdiam sejenak mengingat dimana Vallery dicium paksa oleh Devary saat dirumahnya membuat Vallery enggan untuk mengerjakan pekerjaanya itu.
“Tidak tidak, aku akan mengerjakannya disini saja” ucap Vallery lalu berusaha merebut dokumen yang berada di tangan Devary.
“Tidak ada penolakan” ucap Devary mau tidak mau Vallery pasrah dan mengikuti Devary dari belakang.
*****
Saat sampai Vallery terkejut yang dilihatnya adalah rumah milik Calion dimana saat ia mabuk Calion membawanya kesini.
“Tunggu Dev ini rumah Calion” Devary mengangguk.
“Benar ini rumah Calion,”
“Kenapa membawaku kesini? kau bilang tadi akan mengerjakannya dirumahmu kan?”
“Calion ingin kau mengerjakannya disini, ayo turunlah,” Vallery berdiam tidak mendengar kata Devary yang menyuruhnya turun.
“Tenang saja dia tidak akan macam macam , ada aku yang menemanimu” mendengar ucapan itu Vallery berpikir benar jika ada Devary mungkin Calion tidak akan melakukan apa apa padanya.
Sesampainya di dalam Devary dan Vallery duduk di sofa empuk milik Calion, rumah yang dilihat Vallery untuk kedua kalinya ini membuatnya bertanya tanya untuk apa Calion tinggal sendiri dirumah sebesar ini, saat Vallery sibuk mengerjakan pekerjaannya dan Devary yang sibuk dengan ponselnya Calion pun turun dengan menggunakan piyama kimono tidurnya.
“Cal aku mengantuk, Vallery fokus saja pada pekerjaanmu aku akan tidur” ucapan Devary membuat Vallery tidak tenang itu artinya dirinya akan ditinggal berdua saja dengan Calion. Ngocoks.com
“Dev tetaplah disini,” ucao Vallery sembari memperhatikan Calion yang sedang meminum soda.
“Tenang saja dia tidak akan macam macam,” setelah mnegucapkan itu Devary menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar Calion, Vallery pun mulai fokus pada pekerjaannya berusaha untuk tidak menotice Calion.
Calionpun menghampiri Vallery lalu duduk di sofa yang artinya Calion sekarang berada tepat di sebelah Vallery, Vallery yang mulai sadar keberadaan Calion disampingnya ini tetap berusaha fokus menatap laptopnya.
Vallery yang sedari tadi fokus dikejutkan oleh tangan Calion yang mendadak menutup Laptopnya, Vallery pun terdiam lalu menatap Calion merekapun saling menatap.
“Apa yang kau lakukan aku sedang menger- mmpphh” Mata Vallery terbuka lebar ciuman mendadak yang dimulai Calion ini membuatnya mematung benar saja tidak akan aman jika hanya berduaan dengan Calion.
“Call- mmpphh lepass” tidak mendengarkan ucapan yang dilontarkan Vallery, Calion terus saja melumat bibir cherry Vallery dengan agresif.
Vallery kewalahan ciuman Calion kali ini benar benar seperti apa yang Devary lakukan padanya waktu itu, berontak tidak bisa berteriakpun tidak guna, Vallery kini terpojok dan hanya berdiam saja menunggu Calion melepaskan ciumannya itu.
Selang beberapa menit Calion melepas ciumannya membuat keduanya bernafas secara tidak teratur, Vallery yang masih berdiam hanya memejamkan matanya.
“Kau menyukainya?” pertanyaan Calion membuat Vallery menatapnya.
“Kau gila? menyukai apa? kau tidak waras yaa?” Vallery mengeluarkan kekesalannya sekarang.
“Akan kulakukan lagi kalau kau terus berbicara” Vallery terdiam mendengar Calion yang mulai mendekatinya lagi.
“Hentikan, Cal apa maksudmu ini?” Calion tersenyum mendengar pertanyaan dari Vallery.
“Sudah kukatakan, kau milikku ingat itu” Vallery membuang muka berusaha untuk tidak menatap Calion.
“Berani memalingkan tatapanmu dariku?” Mendengarnya membuat Vallery berdecak kesal lalu kembali menatap Calion.
“Aku ingin pulang” tiga kata yang dilontarkan oleh Vallery lagi lagi membuat Calion tersenyum.
“Tidak aku izinkan”
“Maumu apa Cal?”
“Dirimu”
“Lalu Mira??” Calion memasang wajah kebingungan dengan pertanyaan Vallery.
“Mira? tidak usah memikirkannya”
“Aku tidak ingin menjadi milikmu” ucapan Vallery kali ini membuat Calion terdiam.
“Aku tidak butuh persetujuanmu.”
‘Apa apaan? apa yang salah dengan otak Calion ini kenapa dia bersikeras untuk menjadikan aku miliknya, aku benar benar muak dengan ini’
Sebuah cara terlintas dipikiran Vallery sekarang entah apa resikonya Vallery tidak bisa berpikir apapun lagi.
“Aku sudah mempunyai kekasih” Calion tersenyum.
“Benarkah? siapa?”
“Emh- Dev yaa Devary kekasihku” ucap Vallery sambil terbata bata dengan ucapannya ini.
‘kenapa Devary? kenapa nama itu yang aku sebutkan bagaimana ini apa aku gila? astaga apa yang akan terjadi selanjutnya’
“Ahh begitu yaa, baiklah” setelah mengucapkan itu Calion menarik lengan Vallery untuk mengikutnya, dan arah Calion menuju pada kamarnya apa yang akan dilakukannya kali ini, Vallery mencoba untuk melepas genggaman tangan Calion namun tidak cukup kuat untuk melepaskannya.
Terpaksa Vallery mengikuti Calion yang sekarang mereka sudah sampai di depan kamar, Calion membuka kamarnya dapat dilihat Devary yang sedang tertidur di tempat tidur Calion, melihat iti Vallery kebingungan apa yang akan dilakukan oleh Calion sekarang.
“Kenapa membawaku kesini?” tanya Vallery.
“Devary, kekasihmu kan?” Vallery mengangguk.
“Apa yang akan dilakukan Devary jika dia melihat kita berciuman?” pertanyaan Calion membuat Vallery terkejut.
“Kau gila Call??!!!” ketika Vallery hendak pergi langkahnya terhenti karena tangannya sekarang ditahan oleh Calion.
“Lepaskan aku”
Calion mendorong pelan tubuh Vallery membuatnya tersudut kearah tembok yang membelakangi Devary yang sedang tertidur, kedua tangan Vallery dikunci oleh Calion membuat Vallery tidak bisa berbuat banyak.
‘Dev bangunlah selamatkan aku dari temanmu yang gila ini, Dev ayolahhhh,, ”
Ketika Calion mulai mendekati bibir Vallery , Vallery memejamkan matanya berharap Devary terbangun agar Vallery bisa pergi dari posisi seperti ini.
Bersambung… Suara seseorang yang memanggil Calion dengan keras membuat Calion melepaskan Vallery, Calion beranjak meninggalkan kamarnya dan turun ke bawah, di sisi lain Devary terbangun karena teriakan itu lalu melihat Vallery yang terdiam di dekat pintu kamar.
“Sedang apa kau disitu?” tanya Devary membuat Vallery menggelengkan kepalanya, tanpa sepatah katapun Vallery meninggalkan kamar dan hendak turun kebawah dilihatnya ada Calion dan Mira yang sedang berpelukan Vallery pun mengurungkan niatnya untuk menuruni anak tangga dan hanya memperhatikan Calion dari atas saja.
“Cinta pertama Calion,” ucapan Devary membuat Vallery menoleh kearahnya.
“Ahh begitu,” Vallery mengangguk sekarang dia tau kenapa Calion sangat menyayangi Mira seperti itu.
“Dev, aku ingin pulang” ucap Vallery, mendengar permintaan dari Vallery pun membuat Devary mengangguk lalu mereka berdua turun kebawah.
“Kalian disini?” pertanyaan Mira membuat Devary dan Vallery menoleh secara bersamaan.
“A-aku baru mengerjakan tugas untuk Calion,” Ucap Vallery dengan hati hati.
“Baiklah aku akan mengantarnya pulang dulu,” Devary yang berpamit membuat Calion sedikit memasang wajah cemburunya , tatapannya pada Vallery membuat Vallery terasa di ancam untuk tidak terlalu dekat dengan Devary namun tidak dihiraukan Vallery justru sengaja menarik lengan Devary untuk segera pergi dari sana.
Sesampainya dirumah Vallery berterimakasih karena Devary sudah mengantarnya , Devary pun dengan senang hati memberikan senyuman manisnya kepada Vallery, tanpa banyak waktu Vallery memasuki rumahnya meninggalkan Devary yang hendak pergi dari sana juga dengan mobil hitamnya.
*****
Tidak terasa waktu secepat ini hari ini adalah hari terakhir Vallery untuk magang pekerjaan yang semalam diberikan sudah selesai Vallery kerjakan, Vallery bersiap untuk pergi ke kantor dan Vallery benar benar senang karena dirinya tidak lagi harus bertemu dengan Calion ataupun Devary.
Sesampainya di kantor Vallery menaruh dokumen dokumen tugasnya di meja Calion, ya pagi itu tidak ada Calion di ruangannya mungkin dia belum datang atau semacamnya Vallery tidak peduli, seperti biasa Vallery kembali ke ruangannya dan mengerjakan beberapa dokumen lagi karena ini hari terakhirnya.
*****
Mira yang sedari tadi menatap Calion dengan lekat membuat Calion tersenyum, gadis cantik dihadapannya ini benar benar tidak bisa Calion lupakan, Mira dan Calion yang sama sama punya rasa obsesi tersendiri bahkan membuat mereka sampai saat ini tidak memiliki kekasih lain, tapi disamping itu tatapan Calion teralihkan oleh ponsel Mira yang berdering.
Mira dengan cepat mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dengan menjauhkan diri dari Calion, Calion merasa ada yang berbeda dari Mira biasanya Mira tidak terburu buru seperti itu untuk menjawab panggilan, bahkan Mira tidak pernah menjauh darinya ketika sedang berbicara dengan seseorang lewat ponsel.
Selesai sudah Mira berbincang dirinya kembali mendekati Calion membuat Calion bertanya tanya.
“Siapa?” tanya Calion.
“Ahh, a-aku emm Call sepertinya aku harus memberi taumu sesuatu,” Mira yang memasang wajah kebingungan membuat Calion penasaran.
“Ada apa? katakan saja,”
“Call, mungkin ini terdengar menyakitkan bagimu, tapi harus kuakui bahwa aku harus kembali ke Sydney,” mendengar penjelasan Mira membuat Calion menghela nafas kasarnya.
“Apa yang membuatmu harus pergi kesana?”
“A-aku sebenarnya, akan menikah”
Degg
‘Menikah?
Calion terdiam sekarang hatinya seperti disayat perih dan sakit, bagaimana tidak apa maksud dari perlakuan Mira selama ini kepadanya? bukankah Mira memiliki perasaan yang sama seperti Calion ribuan pertanyaan muncul dikepala Calion saat ini, dirinya marah , kesal juga sangat kecewa hal yang seharusnya tak didengar sekarang diucapkan oleh Mira orang yang sangat Calion cintai.
“Lalu apa maksudmu?” Calion kini tidak bisa meredam rasa sakitnya.
“A-aku hanya menganggapmu sebagai teman saja Call kau mengerti’kan?”
“Teman? pelukanmu, kasih sayangmu, ciumanmu, semua itu kau anggap teman?” Calion menajamkan tatapannya rasa sakit ini benar benar membuatnya muak melihat wajah Mira.
“Call, jangan marah seperti itu, aku tau kau mencintaiku, t-tapi aku-”
“Cukup! pergilah ke Sydney jangan pernah muncul di hadapanku lagi,” Calion kecewa perkataannya ini kini harus terlontar dari mulutnya, Calion pergi begitu saja meninggalkan Mira yang masih mencoba untuk menjelaskannya.
*****
Akhirnya pekerjaan yang melelahkan telah selesai Vallery yang sudah berkemas untuk pulang dikejutkan oleh karyawan yang menyiapkan suatu acara untuk berpisah dengan pegawai magang, Vallery akan sangat merindukan semua orang yang berada disana pesta kecil yang diadakan di kantor itu membuat Vallery mengabadikan momennya, semua orang bersuka ria Vallery pun merasa senang karena tidak ada Calion maupun Devary yang menganggunya.
Setelah acara selesai Vallery bergegas pulang angin malam dan suasana jalanan membuat Vallery merasa tenang, tapi tidak lagi ketika Vallery melihat Calion yang tengah duduk dan bersandar di depan pintu rumahnya.
‘Kenapa dia ada disini? ‘
Vallery mendekati Calion mencoba untuk bertanya namun saat ini Calion mabuk berat botol wine digenggaman Calion kini sudah hampir habis, Vallery hanya bisa membuang nafas kasarnya kenapa Calion bisa ada disini tanpa pikir panjang Vallery membawa Calion masuk kerumahnya karena angin diluar mulai terasa dingin.
Vallery membaringkan Calion di sofa, melihat Calion yang sudah sangat mabuk membuat Vallery berinisiatif memberi Calion minuman madu agar Calion merasa reda, namun setelah meminumnya Calion masih tertidur mungkin terlalu banyak meminum Wine sehingga efek alkoholnya tidak mudah hilang.
Vallery meninggalkan Calion di sofa lalu menuju ke kamarnya untuk mandi, setelah beberapa menit menghabiskan waktu untuk mandi Vallery terkejut Calion kini sudah ada di kamarnya , duduk dikasur sembari menatap Vallery yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Kau gila yaa???!!!!” Vallery berteriak sontak menutup seluruh tubuhnya dengan kedua tangan walaupun saat ini Vallery memakai handuk tetap saja Vallery menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dirinya.
Calion hanya terdiam menatap Vallery dan menampilkan smirk nya Vallery yang merasa ketakutan dengan tatapan Calion mencoba untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi namun Calion dengan cepat menghampiri Vallery dan memojokkan Vallery ke tembok.
“Call jangan bodoh, keluar dari kamarku,” Vallery sedikit ketakutan bagaimana tidak sekarang jaraknya dengan Calion hanya menyisakan sedikit ruang.
“Kenapa? aku tidak boleh menatapmu?” ucap Calion dengan santai.
“Ini kamarku, keluarlah” pinta Vallery lagi.
Calion tidak menghiraukan permintaan Vallery, dirinya menatap Vallery dari ujung kaki hingga pucuk kepala Vallery.
“Kau menggodaku?” pertanyaan Calion membuat Vallery membuka matanya lebar.
“Menggodamu? keluarlah aku harus memakai pakaianku”
“Aku ingin lihat”
“Call kau gila ya?”
“Benar aku bisa gila melihatmu seperti ini”
“Kau mabuk Call, menjauhlah dariku”
“Biarkan aku bermain sebentar”
“Bermain? Apa maks- mmpphhh” tanpa aba aba atau persetujuan dari Vallery Calion menciumnya , bibir cherry milik Vallery ini tidak bisa Calion diamkan begitu saja Vallery juga tidak bisa menahannya karena kedua lengannya kini memegang erat handuk yang melekat ditubuhnya takut saja tiba tiba Calion membuka handuknya.
Calion makin memperdalam ciumannya dirinya tidak membiarkan Vallery bernafas secara teratur lengan kekar Calion membuat Vallery tidak bisa berbuat apa apa, sudah bosan dengan posisi seperti itu Calion menggeser posisi Vallery agar mengikuti arahnya yang dimana sekarang Vallery harus terdorong ke kasur membuat
Vallery makin ketakutan, Calion menciumnya dengan nafsu tak terkendali Vallery yang terbaring dikasur membuat Calion semakin mudah untuk memimpin.
“Call- mpphhh lepaskan akuu-mpph” perkataan Vallery tidak digubris oleh Calion yang sibuk memainkan bibir Vallery.
Selesai menciumnya Calion memberi sedikit ruang bagi Vallery untuk bernafas secara teratur namun Vallery hanya bisa bernafas dengan terburu buru membuat Calion merasa senang.
“Kau suka?” pertanyaan Calion sangat tidak wajar Vallery kini mencoba mendorong tubuh kekar Calion.
“Lepaskan aku brengsek!” Vallery mencoba mendorongnya lagi namun Calion tidak beranjak ataupun menjauh.
“Kau mau lagi?”
“Kau ini bodoh atau gila? tidak mengerti ucapanku ya?”
“Kau menolak?”
“Kau bukan siapa siapa Cal, menjauhlah”
“Baik sekarang kau kekasihku, jadi aku boleh menciummu kapan saja kan?”
Cerita Sex Keinginan yang Terkabul
Calion mendekati leher jenjang milik Vallery dirinya menghisap lalu membuat tanpa kepemilikan di leher Vallery, ya itu menandakan bahwa Vallery miliknya sekarang, Vallery hanya bisa diam dan mengerang agar Calion melepasnya namun kini lehernya sudah berbekas setelah membuat tanda itu Calion menjauh dari Vallery dan tidur dengan pulas di kasur Vallery, dengan cepat Vallery beranjak menggunakan pakaiannya.
Vallery bercermin, tanda yang diberikan Calion sangat terlihat jelas di lehernya , ‘brengsek’ hanya itu yang sekarang dipikiran Vallery bagaimana bisa dipaksa seperti ini, bagaimana saat besok ke kampus nanti apakah syal berguna untuk menutupi nya? atau baju berkerah yang bisa menutupi tanda itu? menyusahkan saja Vallery kini harus memilih pakaian yang akan digunakannya besok saat pergi kuliah, dan terpaksa malam ini Vallery harus tidur di sofa.