
Cerita Sex Janda yang Tidak Bersalah – Selamat malam sobat Ngocokers. Elvira Birawa tak pernah bermimpi untuk menikah muda. Mimpinya adalah menjadi wanita karier yang sukses. Elvira hidup bersama ibunya yang adalah seorang pegawai pemerintah dengan jabatan rendah. Warisan yang ditabung ayahnya selama hidupnya jatuh ketangan Elvira.
Sebelum ajal menjemput, ayahnya berpesan agar Elvira meneruskan bisnis keluarga. Namun apa daya, dirinya yang baru menjejak bangku kuliah jatuh cinta kepada seorang Axel Budiono. Pria tampan nan rupawan yang ditemuinya saat berlatih gym bersama.
Axel menunjukkan ketertarikan kepadanya dan mereka mulai sering keluar bersama menghabiskan waktu. Hanya dalam waktu singkat, Axel mengajaknya menikah. Ibu Elvira tidak pernah setuju akan pernikahan itu karena waktu berkenalan yang masih sangat singkat.
Memang dasar polos dan apa adanya, Elvira jatuh kedalam perangkap Axel. Elvira begitu percaya dan menyerahkan semua kekayaan keluarganya kecuali sertifikat rumah yang ditinggalinya dan ibunya.
Cerita Sex Janda yang Tidak Bersalah Ngocoks Pernikahannya dilaksanakan sederhana. Ibunya tidak hadir. Elvira bagai wanita paling bahagia hari itu. Sebelum badai menerpa. Tepat dihari yang sama, Axel kabur dengan seluruh uang itu, membuangnya dan meninggalkannya bagai sampah.
Elvira menangis meraung-raung, hatinya hancur seketika. Ibunya jatuh sakit dan dirawat intensif. Elvira meminta pengampunan orangtuanya. Nasi sudah menjadi bubur. Hanya beberapa hari setelahnya, ibunda terkasihnya meninggalkannya juga untuk selama-lamanya.
Elvira hidup sendirian dalam kesulitan ekonomi. Elvira harus membanting tulang bekerja sana sini. Betapa bodohnya dia tidak melanjutkan kuliahnya untuk mendapat ijazah agar bisa bekerja dengan layak.
Biaya kuliah sungguh mahal. Beruntung dia tak memberikan sertifikat rumah kepada Axel. Rumah ini adalah kenangan satu-satunya mengenai keluarganya.
Elvira bekerja menjadi pelayan resto untuk menyambung hidupnya setiap hari. Tubuhnya remuk karena tidak biasa bekerja. Seiring waktu, Elvira sudah terbiasa dengan keadaan itu.
Maya, sahabat terdekatnya di resto selalu membantunya jika dalam keadaan sakit. Semenjak keluarganya tidak lagi kaya, Elvira mulai kehilangan banyak teman-teman sekolahnya dulu. Kini Elvira menyadari siapa saja teman sejatinya.
“Aku punya kabar baik untukmu.” Maya menghampiri Elvira semangat.
“Mengenai?”
“Pekerjaan baru.”
“Huh? Bos mau memecatku?” tanya Elvira syok. Dirinya sudah 8 bulan bekerja di resto tersebut.
Maya menatapku simpatik. “Aku baru mendengar kabar burung. Setidaknya kamu bersiap-siap.”
“Kamu menyebutnya kabar baik?” tanya Elvira cemberut.
“Itulah mengapa aku ingin membantumu.”
“Caranya? Kamu tahu aku hanya memiliki pekerjaan ini.”
“Aku tahu.” Maya menepuk-nepuk punggungku. “Malang sekali dirimu. Aku mendengar bos ingin menambah chef baru sehingga mengurangi biaya administrasi dengan memecat beberapa pramusaji.” Terang Maya. Elvira menghela napas panjang. “Tapi… aku mendapatkan pekerjaan baru untukmu! Yeaaaay!”
Elvira menatap Maya tak percaya. “Be..benarkah?”
“Yep! Kebetulan tetanggaku adalah pelayan di sana. Mereka membutuhkan tenaga pelayan tambahan. Namun…”
“Namun?”
“Tetanggaku mengatakan bosnya terkenal galak dan kurang ajar. Bosnya masih single jadi emosinya labil.”
“Apa?”
“Aku dengar sih usianya sudah 30-an. Hanya saja karakternya menjengkelkan. Tetanggaku sudah bersamanya nyaris 15 tahun, hanya dia yang bertahan karena gajinya lumayan besar.”
Mencium-cium bau uang, mata Elvira seketika terbuka lebar. “Aku mau!” jawabnya semangat.
“Kamu yakin?”
“Aku sangat butuh uang sekarang.”
“Baiklah. Aku akan mengabarimu secepatnya.”
“Thank you!” Elvira memeluk Maya erat kegirangan.
Menjelang sore, Elvira memasuki rumahnya dengan beberapa bahan makanan dari pasar. Elvira menghela napas panjang, rumahnya terasa sangat sepi saat seperti ini. Kenangan tentang kedua orangtuanya selalu menghantuinya belakang ini.
Diusianya yang sudah 21 tahun, dia belum ingin memulai sebuah hubungan meski Maya sering mengenalkannya dengan beberapa pria. Menjadi janda diusia muda seperti aib baginya. Orang-orang yang mengenalnya akan menghakiminya karena menjadi janda diusia ini.
Mereka menerka jika Elvira hamil di luar nikah. Jangankan hamil, Axel pun tak sempat menyentuh tubuhku. Pria laknat itu tiba-tiba saja menghilang setelah resepsi. Sudah satu tahun berlalu namun traumanya enggan untuk hilang.
Elvira meraih susu di dalam kulkas dan meneguknya habis. Hatinya panas mendengar berita Maya jika dia akan dipecat. Sisi positive-nya adalah dia mendapatkan pekerjaan baru. Elvira menuju kamarnya dan membersihkan dirinya.
Keesokan harinya, Maya menghampirinya. “Ini alamat rumah itu. Kamu hanya perlu datang ke sana jam 7 malam. Bosnya baru memiliki waktu senggang dijam segitu.”
“Lalu tetanggamu? Apa dia gak akan bersamaku?”
“Ah… karena dia memiliki keluarga, dia tidak tinggal di rumah itu. Tetapi syarat pekerjaan ini, kamu harus tinggal di rumah itu. Hari Minggu baru kamu bisa pulang. Kamu juga sendirian bukan, jadi tak masalah.” Elvira memandang kertas digenggamannya lekat. Dirinya harus mencoba. Kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya.
Malam harinya, Elvira sudah berada di depan gerbang rumah besar itu. Elvira menunggu dengan gugup, rumah ini begitu besar. Mansion yang biasanya hanya dia saksikan melalui film-film Disney. Tak lama gerbang terbuka otomatis. Elvira terhentak kaget. Bahkan gerbangnya pun otomatis. Orang macam apa yang tinggal di mansion ini. Seorang petugas keamanan menghampiri Elvira.
“Anda Elvira Birawa?” tanya pria paruh baya itu.
“I… iya.”
“Mari ikut saya.” Pria itu berjalan duluan. Elvira tak henti-hentinya menatap takjub. Mansion ini begitu indah dan bergaya modern. Langkahnya terus memasuki rumah luas tersebut hingga berdiri di depan sebuah pintu besar. Pria itu mengetuk dan membukanya. Elvira lagi-lagi menatap takjub, ruang baca ini sungguh luas. Terlihat seperti kantor.
“Tuan, calon pelayan itu sudah hadir.”
“Oke.” Jawabnya masih membelakangi mereka. Punggungnya lebar dan terlihat kokoh. Elvira ditinggal berdua sendirian.
“Ehm… saya mendengar anda membutuhkan pelayan.” Elvira mencoba memulai percakapan. Bos tersebut masih enggan untuk berbalik. Kemeja putih yang dikenakannya membuat figurenya lebih terlihat maskulin.
“Berapa yang kamu inginkan?”
“Uhu? Apa?”
Bos situ berbalik menampakkan seluruh wajahnya. Elvira terkejut, dia sangat tampan. Terlebih lagi dengan tubuh erotis hasil latihan beratus-ratus jam di ruang gym. Elvira terpana. “Suka melihatku?” suara baritonnya mendominasi ruangan.
“Ah… maaf.” Elvira menurunkan matanya dan menunduk. Elvira mengutuk dirinya untuk bersikap memalukan.
“Janda?”
“Hu? Iya. Dari mana anda tahu?”
“Salah satu pelayanku merekomendasikanmu.”
“Iya benar.” Pria itu tertawa kecil, Elvira merasa tersinggung olehnya. Banyak orang meremehkannya karena berstatus janda. Bahkan ada beberapa pria terang-terangan ingin memperkosanya. “Kenapa? Anda tidak ingin pelayan anda seorang janda?” tantang Elvira gusar.
Merasa ditantang, pria itu maju beberapa langkah dan berdiri menjulang di depan Elvira bagai seorang predator. Elvira tanpa sadar mundur beberapa langkah, apa pria ini akan memukulnya karena lancang?
“Aku tidak berkata seperti itu.” jawabnya tenang, mata elangnya begitu mempesona dengan alis tebal dan hidung mancung. Belum lagi bibir tebal merah itu. Ah… Elvira merasa dia membasahi celana dalamnya.
“Tetapi tawa anda melecehkan saya!” Elvira mengumpulkan kekuatannya untuk protes. “Apa dosa menjadi seorang janda? Aku tidak pernah memintanya!”
Pria itu lagi-lagi tersenyum, “Apa dia menyentuhmu? Menikmati tubuhmu?” “A… apa?” “Mantan suamimu. Aku rasa tidak. Kamu terlihat kaku dan tidak terbiasa dikelilingi pria.” PLAAK!
Tanpa sadar, Elvira menampar wajah calon bosnya itu keras. Elvira menatap tangannya tak percaya. Apa yang sudah dilakukannya? Tamatlah sudah. Tubuhnya bergetar, Elvira berbalik akan pergi ketika tangan besar nan maskulin itu memeluk tubuhnya erat. “Lepaskan!’ Elvira memberontak.
“Berani sekali…” desisnya.
“Kamu memulainya duluan. Ini salahmu!” Elvira berusaha mengurai pelukannya.
“Kamu tak ingin pekerjaan ini?” Elvira terhenti dan menatap tak percaya. “Aku masih bisa memiliki pekerjaan ini?”
“Ya. Hanya…” “Hanya?”
“Menikahlah denganku.”
Elvira menatap pria itu dengan tatapan bingung. Dirinya yang salah dengar atau pria tampan ini yang sudah gila? “Me… menikah?”
“Ya, menikah.” Ulangnya lagi. Pria itu mendekatkan wajahnya sehingga wangi napasnya menyapu lembut pipi Elvira.
“Anda sudah keterlaluan!” dengan keseluruhan kekuatannya Elvira mendorong tubuh pria itu.
“Jack.”
“Uh?”
“Jack Pratama, itu namaku bukan ‘anda’.”
Elvira menelan ludah keras. “A… aku hanya ingin bekerja dengan damai di sini jika anda memperbolehkannya.”
“Tawaranku jauh lebih menggiurkan.”
“Anda memandangku rendah karena aku seorang janda begitu?” Elvira mengepalkan kedua tangannya kuat. Wajahnya memerah antara malu dan gusar.
Jack menatap Elvira dengan tanda tanya. Wanita di hadapannya ini cantik dan menawan, hanya saja karena dia tidak memiliki waktu merawat diri, rambut dan bagian lain tubuhnya terlihat berantakan dan kotor. “Kenapa kamu berpikir seperti itu?”
“Semua pria sama saja!” Elvira menatap tajam Jack. “Anda memiliki segalanya, lalu mempermainkan hidup seseorang seperti mereka tidak memiliki perasaan.”
Jack menghela napas panjang. “Tapi kamu membutuhkan uang.” Elvira tertegun, udara seakan tercekat di antara tenggorokannya. Benar. Dirinya sangat membutuhkan uang. Jack masih mengamati reaksi Elvira dan memilih menekan tombol interkom.
“Ya, Tuan?”
“Siapkan satu cangkir kopi dan cokelat panas.” Perintah Jack dan berjalan menuju sofa yang tak jauh dari meja mahoganinya. “Duduklah.” Pinta Jack.
Elvira menatap ragu dan pada akhirnya mengikut dengan patuh. Tak lama minuman itu terhidang di hadapan mereka masing-masing. Jack berusaha membuat Elvira terlihat nyaman. Entah mengapa dia memutuskan memikirkan ide gila ini.
Jack mengusap wajahnya lelah. Jika saja ibunya tidak terus-terusan mendesaknya untuk menikah, mungkin dia tidak akan sefrustasi ini. Elvira menatap Jack dengan rasa ingin tahu. Elvira tahu benar sosok seperti Jack akan dengan mudah memperoleh banyak wanita sesuai dengan keinginannya.
“Mengapa anda memilih aku?” tanya Elvira pada akhirnya, Elvira meninggalkan formalitasnya. Tangannya meraih cokelat panas itu, dia cukup terkejut dengan sisi Jack yang menyajikan minuman ini.
Jack mengangkat bahunya tanpa alasan. “Kamu yatim piatu.”
“Maksud anda?”
“Setidaknya kamu berdiri sendiri dengan mandiri.”
Elvira masih mencerna perkataan Jack, “ah… anda tidak ingin keluarga mempelai wanita anda ikut campur?”
“Ya.” jawab Jack singkat. Elvira menatap dirinya masih dengan tanda tanya besar.
“Aku rasa, aku bukanlah kandidat yang baik.”
“Oh?” Jack balik bertanya.
“Aku akan mempermalukanmu. Kamu kaya raya dan aku hanya rakyat jelata.”
“Kamuu hanya perlu polesan sedikit.”
“Kamu bisa memolesku dari luar, tetapi tidak dengan kepribadianku.” Tegas Elvira.
Jack terkejut dan mengamati ekspresi Elvira. Baru kali ini ada wanita yang berani beradu argumen dengannya. “Lalu?”
Elvira menunduk memainkan jarinya. “Aku hanya ingin bekerja dengan tenang.”
Akhirnya Jack menyetujui itu. “Kepala pelayanku akan memberitahumu detailnya. Sekarang kamu bisa pergi.” Jack bangkit dan kembali bekerja di depan laptopnya.
“Uhm… mengenai perlakuanku tadi… aku meminta maaf sudah menamparmu. Aku sungguh sangat menyesal.” Setelah mengatakan itu Elvira berlalu meninggalkan Jack yang menatap punggungnya intens.
Elvira berjalan keluar dan bertemu Oman, kepala pelayan manison Jack. Oman menunjukkan kamar tidurnya dan memintanya untuk datang besok pagi-pagi buta untuk memulai bekerja. Elvira juga diharapkan tepat waktu. Sepanjang malam itu Elvira tidak dapat tidur. Pikirannya melayang dengan tawaran menggiurkan Jack.
Tetapi traumanya terhadap pria belum juga reda. Jika membayangkan itu, dia sangat ingin mencabik-cabik foto Axel. Tetapi pikiran nakalnya yang lain tidak bisa berhenti berfantasi tentang tubuh dan perlakuan maskulin Jack. Harus diakuinya, Jack merupakan sosok pria yang memiliki pesona luar biasa.
Elvira menghela napas panjang dan meraih pil tidurnya. Jika dia terus seperti ini, dia akan terlambat untuk bekerja besok.
Esok harinya, Elvira mulai bekerja dengan arahan Oman. Mansion ini memiliki 10 pelayan, 3 chef, 4 penjaga keamanan dan 2 tukang kebun. Hanya dua pelayan yang tinggal di mansion itu terhitung hari ini yaitu Elvira dan Arta. Usia Arta terpaut 5 tahun darinya yaitu 26 tahun. Arta juga berstatus janda sama seperti Elvira.
Saat sarapan, Elvira akan membantu menyusun piring dan makanan yang terhidang. Elvira dan Arta berdiri tak jauh dari Jack kalau-kalau pria itu membutuhkan tambahan sesuatu. Semenjak malam itu, sikap Jack menjadi berubah.
Elvira menyadari statusnya dan memilih bersikap professional. Awalnya dia merasa sedikit kecewa dengan sikap dingin Jack namun dia perlahan mengerti bahwa itulah sifat asli Jack. Lagipula dia bukanlah siapa-siapa. Sudah beruntung Jack ingin mempekerjakannya.
Bersambung… Setiap hari Minggu Elvira akan menyempatkan waktu untuk pulang dan membersihkan rumahnya. Elvira mengerti dengan jadwal pekerjaan Jack. Pria itu jarang berada di mansion karena kesibukannya. Adapun jika dia memiliki waktu, dia baru akan pulang mendekati malam. Elvira merasa pekerjaannya tidaklah sulit. Pada hari liburpun tak jarang dirinya mengajak Maya untuk bertemu.
“Hey, Vir.” Arta menepuk pundaknya tiba-tiba.
“Eh, hai.” Elvira menutup handphonenya dan berhadapan dengan Arta.
“Kamu sedang apa?” Arta mengambil duduk di hadapan Elvira.
“Hanya membaca berita.” Elvira menyelipkan kembali handphonenya kedalam kantung.
“Oh gitu. Bagaimana perasaanmu sejauh ini bekerja di sini?”
“Tidak terasa, sudah lebih dua bulan.” Jawab Elvira dengan senyuman.
“Kamu melakukannya dengan baik.”
“Tuan memang selalu seperti itu? Jarang di mansion?”
“Ya, beliau sangat sibuk. Apa kamu ingin menemuinya?”
“Ah, tidak. Aku hanya jarang melihatnya.”
Arta tersenyum lebar. “Tuan kita sangat tampan bukan? Elvira tertawa renyah. “Well… no debat.”
“Kamu tahu tidak kalau dulu Nyonya besar selalu datang mengamuk setiap weekend?”
“Uh? Kenapa?”
“Beliau tidak ingin menikah.”
“Secara tidak langsung aku juga bisa mengerti posisi orangtua Tuan kita. Mereka ingin menimang cucu apalagi Tuan adalah orang mapan dan sukses.” terang Elvira mencoba memberi alasan logis.
“Padahal Tuan memiliki banyak wanita simpanan, kenapa dia tidak menikahi salah satu dari mereka saja? Perkaranya menjadi lebih mudah.”
“A… apa? Wanita simpanan?”
“Ups!” Arta menutup mulutnya cepat. “Aku terlalu ember sepertinya. Oman selalu memarahiku membicarakan kehidupan cinta Tuan.”
Elvira terhentak, lalu penawaran itu apa artinya? Elvira berpikir Jack sulit bergaul dengan wanita sehingga harus membutuhkan bantuannya. Sepertinya dirinya terlalu naif dan percaya diri. Elvira menghela napas panjang. Hatinya kembali kecewa. Satu bulan kemarin dia berhasil melupakan itu tetapi kini kekecewaannya tumbuh lagi. Wait? Bukannya dia memang tidak ingin berhubungan dengan Jack.
“Kamu terlihat sedih. Terjadi sesuatu?”
“Arta…”
“Ya?”
“Jika seorang pria dengan status luar biasa memintamu menikahinya, apa reaksimu?”
“Aku akan menerimanya!”
“Begitu?”
“Tentu saja! Kita ini wanita-wanita dengan strata terendah. Menurutmu pria macam apa yang menginginkan kita? Aku hanya mencoba realistis. Ujung-ujung paling kita mendapat pria dengan kedudukan yang sama. Pria yang hebat dengan status tinggi juga membutuhkan wanita dengan status yang sama. Mereka saling tarik menarik bagai magnet.” Terang Arta.
“Jadi jika pria itu memintamu menikahinya? Apa maksudnya?”
Arta berpikir sejenak dan menatap Elvira dari ujung kaki hingga ujung rambut. “Seks?”
Elvira tertawa sedih. Perih dihatinya berusaha diabaikan. Seks? Hanya itukah sesuatu yang dilihat pria-pria di dunia ini darinya?
Sejak percakapan itu Elvira menutup diri. Memang benar dia sudah berulang kali tersakiti, tetapi kali ini harapannya terlalu tinggi dan tidak nyata. Jack memang pernah menawarinya, tetapi itu hanya seperti bermimpi disiang bolong. Pria seperti Jack tidak akan memperlakukannya berharga.
Elvira terduduk di depan jendela kamarnya. Mansion ini dibangun sangat indah termasuk kamar pelayan yang diterimanya. Elvira menatap langit senja yang mulai menguning. Awalnya dia menolak mentah-mentah tawaran Jack karena berpikir menjadi orang biasa-biasa saja sudah cukup.
Namun berjalannya waktu, dia mulai merasa melayang dengan respon baik Jack meski mereka jarang bertemu. Jika dipikir-pikir kembali Jack memperlakukannya sama dengan pelayan yang lain. Pada dasarnya pria itu dijuluki manusia es karena sikap cuek dan angkuhnya.
Apa dirinya terlalu kegeeran? Toh sejak malam itu Jack bahkan tidak pernah menatap kearahnya lagi. Elvira tertawa nyaring, melampiaskan malu dan rasa tidak nyamannya. Sungguh memalukan. Elvira mengusap wajahnya keras. Dirinya bahkan membenturkan kepalanya pelan kearah pinggir jendela.
“Bodoh… memalukan… menyedihkan…” lirih Elvira. Malam yang dingin itu berlalu dengan perenungan panjang penuh dengan pergulatan batin.
Semenjak hari itu Elvira seperti kembali pada akal sehatnya. Dirinya tidak lagi memandang Jack diam-diam sambil menyimpan harapan, dia lebih bisa bersikap professional. Bentuk dari aksinya dengan memilih berlalu pergi dan bergantian dengan pelayan yang lain saat menghidangkan makanan untuk Jack.
Baginya mencuci piring, membuang sampah atau bahkan sekedar membersihkan got atau gorong-gorong lebih baik daripada dia harus berhadapan dengan Jack. Elvira takut kecewanya justru membuat dirinya yang bukan siapa-siapa hancur berkeping-keping.
Jack sedang mengerjakan beberapa berkasnya ketika Oman menghampirinya. “Tuan memanggil saya?”
“Ya.”
“Ada yang ingin anda diskusikan?”
“Aku tidak melihat Elvira akhir-akhir ini.”
“Elvira?”
“Ya, biasanya dia yang selalu menghidangkan makanan sejak pertama dia bekerja.”
“Sudah dua minggu ini dia bekerja di belakang bersama pelayan yang lain.”
“Kamu yang menukarnya?”
“Tidak, beliau yang memintanya.”
Jack mengerutkan kening bingung. “Apa yang dikerjakannya di belakang?”
“Mencuci piring, membuang sampah, membersihkan gorong-gorong atau got dan bahkan pembuangan sampah.”
Wajah Jack memerah saat mendengar itu. “Gorong-gorong katamu?”
“Y… ya Tuan.” Oman terkejut dengan respon Jack.
“Aku sudah mempekerjakan orang lain untuk itu kenapa Elvira yang mengerjakannya?!” suara Jack sedikit meninggi.
“Terkadang pelayan kita juga melakukannya, Tuan.”
“Tukar kembali posisinya. Aku tidak ingin Elvira mengerjakan pekerjaan kotor itu.”
“Beliau bersikeras tidak ingin mengganti posisinya.”
Jack mengepalkan tangannya seketika. “Panggil Elvira!”
“Baik.” Oman berlalu pergi meninggalkan Jack yang gusar. Jack meneguk air mineralnya. Kenapa dia harus semarah ini?
Tak menunggu lama Elvira berdiri di hadapannya. Jack memperhatikan ujung kaki hingga ujung rambut wanita di depannya itu. Elvira yang sekarang jauh lebih kurus dan terlihat menjaga jarak. “Apa kabar?” tanya Jack berusaha membangun komunikasi.
“Baik, Tuan.” Elvira menjawab dengan singkat, ekspresinya terlihat datar.
“Kamu menyukai pekerjaanmu?”
“Ya, Tuan.” Lagi-lagi Elvira hanya menjawab singkat.
“Kamu suka di sini?”
“Saya membutuhkan uang.” Elvira tidak menjawab pertanyaan Jack tetapi dia memilih mengeluarkan pernyataan yang lain. Dari sudut pandang Jack, Elvira semakin sopan. Dulunya dia terlihat tegas tidak seperti ini. Jack bisa merasakan jarak yang semakin jauh.
“Bukan itu yang kutanyakan.” Komentar Jack. Elvira tidak menjawab.
“Apa salah satu pengawaiku membuatmu tidak nyaman?”
“Tidak ada.”
“Lalu?”
Elvira mengangkat wajahnya dan menatap bingung Jack. “Saya tidak mengerti.”
Jack menghela napas panjang. “Aku sudah mendengarnya dari Oman, kamu bisa kembali ketugasmu yang seperti biasa. Kamu tidak perlu berkubang dengan kotoran itu setiap hari.”
“Saya menolaknya.”
“Apa?” Jack bangkit, dia jelas merasakan ada yang salah. Elvira terhentak dalam sikap siaga. Matanya melirik kearah pintu keluar dan Jack mengetahuinya. “Kamu suka berkubang dengan kotoran?”
“Itu bagian dari pekerjaan saya. Apa pekerjaan saya kurang memuaskan?”
Jack tak bisa menjawab. Menurut laporan Oman, keadaan sekitar mansionnya jauh lebih bersih berkat kerja keras Elvira. Tetapi kenapa dia justru kecewa? Jack melihat kearah jemari Elvira yang kasar dan memiliki banyak luka baret kecil. Luka itu pasti diperolehnya dari pekerjaan kasar yang dilakukannya.
“Kenapa?”
“Uh?” Elvira menatap Jack bingung.
“Kenapa kamu menyiksa dirimu seperti ini?”
“Saya tidak mengerti alur pembicaraan anda, Tuan.” keduanya diam tanpa ingin memulai percakapan yang lain. Elvira menunggu tetapi Jack tak kunjung berbicara. “Jika tidak ada yang ingin anda bicarakan lagi, saya mohon diri.” Elvira membungkuk hormat dan berlalu pergi. Tangan Jack sudah ingin meraih lengan kanan Elvira namun terlambat. Jack mematung menatap tangannya dengan perasaan yang semakin tidak nyaman.
Elvira memasuki kamarnya dengan langkah pelan. Ditekannya dadanya kuat. Beruntung hatinya mau bekerja sama. Elvira bisa melihat jelas bekas lipstick yang berada dikemeja Jack saat pria itu mendekatinya. Tuan yang dilayaninya ini memiliki banyak simpanan, dia bersikap seperti itu hanya untuk mendapatkan kepuasan sama seperti pria-pria lainnya.
Elvira berbaring menatap langit-langit ruang kamarnya. Benar. Dirinya sangat membutuhkan uang. Pekerjaan ini memberinya penghasilan yang jauh lebih besar dari pekerjaan pertamanya. Elvira mulai menabung dan berpikir untuk meninggalkan mansion ini jika uangnya cukup untuk dirinya memulai usaha kecil-kecilan.
Esok harinya, Elvira bangun pagi dan berkutat dengan sampah. Matanya enggan tertutup dan memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Pelayan lain masih terlelap dan dia sudah bekerja keras. Elvira tidak menyadari jika Jack memperhatikannya dari kejauhan.
Elvira bahkan tidak segan-segan menggunakan kedua tangannya yang telanjang untuk memegang sampah-sampah bau itu. Wajahnya terlihat lelah tetapi ada kelegaan. Sisi lain hati Jack terluka. Kenapa wanita ini menolaknya dan memilih bergelut dengan kotoran? Apa sampah lebih berharga dari dirinya?
Jack terus memperhatikan Elvira yang bekerja tekun tanpa henti. Tidak ada satu pelayanpun yang bangun ataupun sudah datang. Bahkan petugas keamanannya masih terlelap. Tanpa disadarinya, Jack mulai mengikuti Elvira kemanapun wanita itu pergi.
Hari semakin siang ketika Elvira memilih untuk menggulung lengan bajunya dan celana yang dikenakannya. Dirinya terlihat siap untuk memasuki gorong-gorong. Dengan sigap Jack berlari sekuat tenaga dan menghentikan Elvira.
Elvira yang sama sekali tidak menduga itu berbalik kaget. Wajahnya terlihat syok melihat Jack berdiri di depannya. “Tu… tuan?” Elvira berusaha melepaskan genggaman Jack.
“Enough.” Jack menyeretnya pergi.
“Tunggu! Tuan, saya harus menyelesaikannya ini.” Elvira berusaha berontak tetapi Jack tidak ingin mendengarkan. “Tuan!” Elvira akhirnya mengerahkan seluruh kekuatannya dan menghempaskan tangan Jack. “Anda sudah keterlaluan!” jerit Elvira menggenggam lengannya yang merah. Jack menatap wajah Elvira tajam.
“Aku tidak memintamu untuk berlaku serendah ini.”
“Hah?”
“Jika kamu tidak ingin mendengarkan perkataanku, lebih baik kamu mundur.” Ancam Jack.
Elvira terpaku, wajahnya membeku. “Mu… mundur? Anda memecat saya?”
Jack memalingkan wajahnya tak ingin menjawab. Bagai palu besar yang menghantam kepalanya, Elvira akhirnya sadar. Mungkin sejak awal dia tidak cocok berada di sini. Jack bahkan tidak ingin menatapnya. Elvira mengamati keseluruhan tubuhnya, pakaian yang dikenakannya dan kedua tangannya.
Elvira tertawa di dalam hati, dia tidak menyadari betapa kotornya dirinya sekarang, terang saja majikannya tidak ingin menatapnya. Sejak subuh dia sudah bergulat dengan segala macam bau dari berbagai jenis sampah. Elvira menghela napas panjang menerima keadaan.
“Baik jika itu keinginan Tuan.” Elvira berjalan mundur dan berbalik pergi tanpa ingin menoleh lagi.
Elvira segera mengunci pintu kamarnya dan menangis meraung-raung. Hatinya tercabik-cabik sampai dititik terendah. Hidup sendirian tanpa orangtua membuatnya hanya bisa bersandar pada air mata. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuknya melepaskan semua kesedihan itu.
Elvira bangkit dan segera membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, dia langsung meraih koper miliknya dan mengumpulkan baju-baju yang berada di dalam lemari. Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Lebih baik dia segera pergi sebelum menarik banyak perhatian. Tuannya sendiri yang langsung memecatnya, akan sangat memalukan jika dia masih menunjukkan wajahnya.
Elvira melihat sekeliling mengecek kembali jika ada satu atau dua barangnya yang lupa dibereskan. Elvira membuka pintunya dan menoleh kiri kanan. Lorong mansion terlihat sepi, namun dia bisa mendengar suara sibuk dari lantai bawah di mana terdapat dapur.
Elvira segera berlalu dengan cepat setengah berlari. Dua orang petugas keamanan menghentikannya. Mereka melihat Elvira dengan pandangan bingung dan melirik kopernya. Elvira segera menangkap maksud itu dan membuka kopernya. Dua petugas itu segera memeriksanya dan membiarkannya lewat.
Elvira melangkah dengan cepat tanpa ingin lagi menoleh kebelakang. Baginya dua bulan ini cukup memberikan banyak pelajaran berharga. Matanya enggan melirik kesana kemari. Tatapannya lurus kedepan, dia berjanji tidak akan pernah lagi dipermalukan seperti ini.
Jack menuju ruang kerjanya dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Apa yang baru saja dilakukannya? Bodoh, terlampau bodoh. Elvira bekerja sangat baik lalu kenapa dia memperlakukan wanita itu dengan tidak hormat. Apa karena dirinya merasa terluka? Jack menatap interkomnya berulang kali, dirinya berharap Oman bisa membersihkan segala kesalahpahaman ini. Tetapi di mana sebenarnya titik kesalahan itu? Jack berusaha menutup matanya dan akhirnya dapat menenangkan diri. Di tekannya tombol interkom tersebut.
“Ya, Tuan?”
“Ke kantor.”
“Baik.” Tak lama Oman sudah berdiri di hadapan Jack. Oman sedikit terkejut melihat wajah galau majikannya ini. Selama ini Jack selalu terlihat tenang, jika pikirannya kalut seperti ini, sesuatu serius pasti terjadi. “Anda memerlukan sesuatu?”
“Elvira…”
“Elvira?”
“Sepertinya terjadi kesalahpahaman, aku ingin kamu meluruskannya.”
“Mengenai?”
“Aku tidak sengaja memecatnya.”
Mata Oman membelalak terkejut. “Kenapa Tuan memecatnya?”
Jack mengusap wajahnya lelah. “Aku juga tidak tahu.”
“Anda tidak tahu?” Oman berusaha mengerti situasinya. “Sejauh pengamatan saya, Elvira bekerja sangat baik. Tidak ada satu haripun dia terlambat untuk bekerja. Terkadang Elvira bahkan mulai bekerja saat kami semua masih terlelap. Wanita muda itu tidak pernah menuntut dan mengikuti arahan dengan baik. Jika anda…”
“Stop! Aku tahu. Itulah mengapa aku ingin membereskan kesalahan ini.”
“Anda ingin saya memanggilnya?”
“Tidak sekarang.”
“Baiklah. Lalu anda ingin segera bersiap?”
“Ya, aku akan berangkat menuju kantor lebih awal.”
Oman berlalu meninggalkan kantorku dan aku beranjak menuju kamar utama untuk bersiap. Baru saja keluar dari kamar mandi, aku mendapat interkom dari Oman jika Elvira sudah pergi. Kamarnya bersih dan seluruh pakaiannya sudah tidak ada. Mendengar itu tubuhku mematung, hatiku tertusuk ribuan jarum. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa sesedih ini. Aku terduduk di king bedku merenung.
“Tuan? Tuan?” suara Oman masih menyapaku. “Anda ingin saya menemuinya? Saya memiliki alamat rumahnya.”
Pikiranku cerah seketika tetapi semangatku menjadi luntur. Kesalahpahaman ini terlampau dalam untuk diperbaiki. Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Akal sehatku bahkan berbisik kenapa aku harus repot-repot meminta maaf kepada wanita seperti dia? Banyak wanita lain bisa dengan mudah kudapatkan dari segala jenis latar belakang. Aku menghela napas panjang, mungkin lebih baik aku mengikuti akal sehatku.
2 tahun kemudian.
Elvira sedang bersiap untuk bekerja. Selepas dari pekerjaan di mansion Jack, Elvira mendapatkan pekerjaan sebagai bartender di sebuah club malam. Maya membantunya memasuki club itu. Meski bayaran awalnya kecil, tetapi Elvira bertahan karena dia diberikan kursus dan bekal ilmu.
Terkadang banyak pelanggan juga memberinya tips. Elvira menjalaninya dengan semangat, apalagi kehidupan malam dengan dentuman musik keras mampu mengalihkan pikirannya dari masa lalu. Elvira sudah bisa membeli kendaraan mobil meskipun harus mencicil.
Pulang setiap subuh sangat berbahaya untuknya yang seorang wanita dan tinggal sendiri. Setidaknya dengan mobil dia merasa aman dan tidak basah jika hujan turun.
Bersambung… Setibanya di club, Elvira segera mengganti pakaiannya dan memoles sedikit make up. Elvira mengikat rambutnya yang panjang dan mengganti sandal jepitnya dengan heels berwarna merah. Elvira mendekati bar dan mulai membersihkan. “Hey.”
“Hey.” Elvira menoleh. Teman sekerjanya Rayne menyapa.
“Kamu cepat sekali.” Rayne melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 4 sore. Elvira tertawa kecil dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Rayne mengganti pakaiannya dan bergabung bersama Elvira. Club ini adalah salah satu club elit. Hanya kalangan tertentu yang sudi menginjakkan kaki di sini. Rayne adalah bartender senior yang juga mengajarinya dalam meracik segala macam minuman mengandung alkohol.
“Aku dengar kamu ingin mengambil cuti minggu depan.” Lanjut Elvira.
“Ya, orangtuaku benar-benar gusar kali ini.”
Sudah menjadi rahasia umum jika Rayne adalah putera bungsu dari salah satu hakim ternama. Rayne kabur dari genggaman keluarganya dan memutuskan mengikuti karier sebagai bartender sesuai dengan mimpinya.
Dua kakak perempuannya berprofesi sebagai pengacara dan hakim. Karena konflik itu, Rayne diusir dari rumah tetapi ibunya sering sakit-sakitan dan memintanya pulang. “Bukannya sudah saatnya kamu menyerah?”
“Menurutmu?”
“Kamu pandai, aku rasa mengikuti ujian kesetaraan tidak menjadi masalah.”
“Aku sama sekali tidak memiliki passion di bagian hukum.”
“Bartender selalu mendapat pandangan negative.”
“Aku tidak peduli itu.”
“Tapi kamu berbeda, orangtuamu adalah sosok terpandang.”
Rayne mendekati Elvira dan berdiri dekat di belakangnya. Elvira tidak menyadarinya dan sibuk membersihkan debu gelas. “Elviiraaa…” bisiknya. Elvira terkejut dan berbalik cepat.
“Ha?” Elvira lalu menjaga jarak. “Damn! Rayneeee!” Elvira nyaris menjatuhkan gelas yang dibersihkannya.
“Gitu doang marah. Sensitif amat.” Rayne manyun.
“Huh!” dengus Elvira dan kembali melanjutkan kegiatannya.
“Sampai kapan sih kamu pura-pura bego?”
“Hu? Maksudnya?”
“Tentang perasaan aku.” Imbuh Rayne nyaris berbisik. Elvira terdiam dan memilih berdiri membelakangi Rayne, dia masih belum siap menerima pria lain lagi. “Vir…”
“Please, Rayne. Kamu janji untuk tidak memojokkanku.”
“Kamu takut apa sih sebenarnya? Jika kamu ingin kita menikah, ayo!” Kali ini Elvira benar-benar menghadap kearah Rayne dengan tatapan gusar.
Elvira membanting lap yang digunakannya ke atas meja. “Kamu keterlaluan, Rayne!” keluhnya.
“Apa yang salah? Kita sama-sama dewasa bahkan aku lebih tua darimu. Kita sudah diusia menikah.”
“Pernikahan bukan sesuatu yang bisa kamu permainkan seperti ini.”
“Permainkan? Aku serius, kamu yang selalu menghindar.” sanggah Rayne. Elvira berjalan masuk menuju ruang belakang meninggalkan Rayne sendirian.
Menjelang malam, club mulai kedatangan dengan beberapa tamu. Rayne dan Elvira sibuk menyajikan berbagai jenis minuman. Jam menunjukkan pukul 10 ketika seorang pria menghentikan langkah Elvira yang akan mengantarkan minuman. Mereka kekurangan tenaga pramusaji karena banyaknya tamu yang memesan.
“Elvira?” Elvira berbalik kaget saat ditemukannya Axel Budiono, mantan suaminya dulu yang kabur dengan semua harta bendanya. Wajah Elvira menjadi merah menahan marah. Namun dia tak bisa meledak di sini, ini tempat kerjanya. “Hey! Kamu Elvira bukan?”
Elvira segera meletakkan baki yang dibawanya dan menghempaskan tangan Axel. “Aku tidak mengenal anda.” Elvira berlalu pergi dengan cepat. Namun rupanya setelah kejadian malam itu Axel selalu mengunjungi clubnya dan berlalu lalang disekitarnya. Seminggu kemudian Elvira sudah tidak mampu menahannya lagi dan berbicara empat mata dengannya.
“Apa maumu?”
“Hey, jangan gitu dong. Kita dulu suami istri.”
BUUUUUK!
Akhirnya Elvira tidak bisa lagi memendam emosinya dan meninju keras wajah Axel. “Bajingan.” Lontar Elvira.
Axel mengusap pipinya dan tertawa sinis. “Ah, kamu masih marah soal uang itu? Oke, fine! Aku kembalikan semuanya.” Tantangnya.
Elvira balik tertawa sinis. “Sekalian dengan nyawa kedua orangtuaku ya.”
Axe terdiam menelan ludah keras. “Kamu tahu itu mustahil.”
“Aku ingin hubungan kita berakhir malam itu. Aku tidak mau mengingatnya. Jangan ganggu-ganggu aku lagi.”
“Aku menyesal, Vir. Maafin dong, lagi pula kejadiannya sudah lama.” Tutur Axel. Amarah Elvira kembali membara, dengan entengnya Axel mengatakan itu. Hidupnya hancur berkeping-keping dan dia masih bisa bersikap secuek ini.
“Vir?” Rayne tiba-tiba muncul dari balik pintu. Axel dan Elvira menoleh serentak. Elvira merasa lega tidak jadi meninju wajah Axel kedua kalinya. Rayne menghampiri keduanya dan berdiri di samping Elvira. “Kamu tidak apa-apa?” ditatapnya Axel dengan tatapan menyelidik.
“Ya.” Elvira berlalu.
“Vir!” Axel berusaha meraih tangannya tetapi Rayne lebih cepat menghalau. “Lepaskan!” tukas Axel.
“Aku masih meminta baik-baik untuk tidak menganggu Elvira.” Ancam Rayne.
“Kamu siapanya? Pacar?!” sindir Axel. Rayne tidak bisa menjawab membuat Axel tertawa terbahak-bahak. “Asal kamu tahu, wanita itu sudah pernah menikah!” celoteh Axel berkelanjutan. Rayne terhentak tidak yakin dengan apa yang didengarnya. “Kamu tahu siapa suaminya? Itu aku! Minggir!” Axel mendorong tubuh Rayne dan mengejar Elvira.
Rayne berdiri mematung, jadi itukah alasan kenapa Elvira tidak pernah ingin menerima cintanya? Karena dia sudah dimiliki oleh pria lain. Elvira kembali bekerja dan tenggelam larut dalam euphoria club malam itu. Axel memilih membiarkan Elvira hari ini toh dia bisa datang setiap hari.
Awalnya Axel terkejut bertemu mantan istrinya di tempat seperti ini. Wanita lugu nan polos itu kini berubah menjadi wanita dewasa yang menggiurkan. Memang diakuinya dulu jika Elvira sudah memiliki figure yang cantik tetapi dia tidak menyangka perubahan Elvira akan sedrastis ini.
Uang yang dirampasnya dulu digunakannya untuk membiayai wanita-wanita simpanannya. Salah satu selingkuhannya mengandung anaknya, Axel harus menutup mulut wanita itu dengan menggugurkan kandungannya dan memberikan kompensasi.
Saat dia ingin kembali, Axel sadar bahwa Elvira bukanlah wanita yang bisa menjamunya dengan kenyaman. Axel belum rela lepas dari dunia foya-foyanya dan mengurus rumah tangganya. Namun saat bertemu dengan Elvira beberapa waktu lalu, pandangannya berubah.
Elvira bisa mandiri. Diantara semuanya, Elvira bertransformasi menjadi wanita seksi yang selalu diimpikannya. Entah mungkin karena dia bekerja di club ini sehingga dia harus menyesuaikan diri atau memang dia adalah Elvira yang sudah dewasa.
Axel kembali menyecap bir nya dan memilih meninggalkan club. Tujuannya kemari hanya untuk menggoyahkan kebencian Elvira, tidak lebih. Elvira menghela napas panjang, jam masih menunjukkan pukul 11 dan tenaganya sudah terkuras habis. Rayne di sebelahnya tidak berhenti mencampurkan berbagai macam alkohol. “Istirahatlah sejenak.” Rayne berseru kemudian.
“Tapi kita sedang sibuk.” Kilahnya.
“Aku bisa menghandlenya. Here.” Rayne menempelkan satu buah botol bir kecil kepipi Elvira, perasaannya merasa segar seketika.
“Thanks.” Elvira meraih botol itu dan membukanya. Langkahnya menuju balkon dan memilih menikmati angin untuk sementara. Pemandangan malam yang tenang membuat hatinya ikut merasa nyaman. Elvira menyecap bir tersebut perlahan.
Ketika nyaris habis, Elvira mendengar pertengkaran tak jauh dari tempatnya berdiri. Elvira tertawa kecil, kejadian ini sudah sering terjadi apalagi jika salah satu dari mereka mabuk. Elvira harus menghindar, dia tak ingin terkena imbas.
Adu mulut itu terjadi antara pria dan wanita, topiknya kurang lebih karena pria tersebut tidak pernah menganggap wanita itu sebagai pacar sehingga wanita malang itu mulai membeberkan semua pengorbanannya. Elvira berjalan mengendap-endap agar tidak menganggu.
BUUUUUK! BRAAAK! SPLASSSH!
Elvira terdorong dan terjatuh kelantai. Tak lama Elvira bisa merasakan red wine yang mengalir jatuh membasahi wajahnya. “Tikus tidak tahu diri! Mau menguping hah!” wanita yang sedang mengamuk itu menarik tubuh Elvira dan menghempaskannya kelantai lalu menyiramnya dengan minuman mahal itu. Elvira terdiam mencerna apa yang sebenarnya terjadi, dia sudah mengendap-endap dengan baik tadi.
“Dianti!” pria itu menahan tangan wanita tidak waras yang sudah akan mencakar Elvira. Mendengar suara pria itu dari dekat, Elvira kembali mematung. Dirinya mengenal pemilik suara itu.
Seketika Elvira mengangkat wajahnya dan bertatapan langsung dengan Jack, mantan bosnya, pria yang membuatnya kecewa begitu dalam. Elvira segera memalingkan muka berharap Jack belum melihat wajahnya jelas.
“Lepaskan! Aku ingin memberi pelajaran pelayan brengsek ini.” Amuk wanita itu disertai dengan kata-kata kotor. Elvira segera bangkit dengan cepat.
“Dianti!” Jack masih berusaha memegangi tubuh wanitanya. Tanpa menunggu waktu, Elvira berjalan cepat meninggalkan mereka berdua. Elvira berlalu menuju kamar mandi staff dan membasuh wajahnya. Pantulan dirinya yang kotor dan berantakan kembali tercermin jelas. Noda red wine memenuhi seluruh seragam bagian depannya yang berwarna putih.
Elvira tertawa miris. Kenapa dirinya selalu dalam keadaan menyedihkan saat berhadapan dengan Jack? Elvira menggelengkan kepalanya kuat, dia tidak boleh kembali ke level rendah itu. Dirinya sudah jauh bangkit dari segala kekecewaannya. Elvira membasuh pakaiannya tetapi noda itu tidak kunjung hilang.
Bagaimana dia akan membantu Rayne? Elvira menatap dirinya yang terpantul dicermin. Lebih baik dia pulang lebih awal. Elvira mengambil handphonenya dan menghubungi Rayne, namun Rayne tidak menjawabnya dan memilih menemui manajernya yang berada di ruang kantornya. Elvira meminta ijin secara langsung dan mendapat persetujuan. Setelah selesai mengganti pakaiannya, Elvira berjalan menuju area parkir.
“Elvira?” Tepat saat dirinya sudah akan menaiki mobilnya, seseorang memanggil namanya. Elvira tahu siapa orang itu. Tidak lain dan tidak bukan adalah Jack. Meski dia tidak perlu melihat wajahnya tetapi Elvira mengenal baik suara itu jika dengan jarak dekat ini.
Elvira tak ingin menoleh dan tetap membuka pintu mobilnya. “Elvira, wait!” Jack menahan pintu mobilnya. Jack berdiri tepat di depannya. Elvira mengangkat wajahnya dengan ekspresi dingin, dia tak ingin berucap satu katapun. “Hai.” Sapanya lirih.
“Minggir!” desis Elvira tanpa basa basi dan menampar tangan Jack yang berada dipintu mobilnya.
“Elvira.” Kali ini Jack mulai meraih tangannya.
“Lepaskan!” Elvira menghempaskan genggaman itu. Jack tertegun, wajahnya menjadi mendung seketika. Elvira hanya melirik sebentar Jack dari atas kebawah dengan tatapan sedingin es dan memasuki mobilnya. Pintu mobilnya dibanting keras tepat di depan hidung Jack. Elvira segera melajukan mobilnya kencang. Ada apa dengan hari ini? Kenapa dia sial sekali bertemu dengan Axel dan Jack dimalam yang sama?
Mendiamkan Jack dan Axel adalah malapetaka. Mereka terus menerus mendatangi club sejak malam itu secara teratur. Elvira bahkan tidak bisa bekerja dengan tenang ditambah Rayne yang mulai bersikap berlebihan. Rayne semakin berlaku manja dan mencari perhatian.
Jack tidak pernah datang sendirian, dia selalu membawa salah satu wanitanya. Hal itu membuat Elvira menjadi tidak nyaman meskipun Jack hanyalah berstatus sebagai pelanggan VVIP tetap di clubnya. Jack mampu membuat manajernya meminta layanan antar minuman spesial hanya untuknya. Tidak akan menerima jika itu pramusaji yang lain, haruslah dirinya yang melayani Jack secara pribadi. Jackpun sudah menekankan dengan jelas bahwa hanya Elvira yang boleh mengantarkan pesanannya.
Seperti malam ini… Sudah dua minggu berturut-turut Elvira harus melayani Jack hingga tengah malam. Jack memberi tip besar kepada manajer itu agar Elvira menemaninya minum bersama dengan wanitanya. Terang situasi ini begitu menganggu. Wanitanya akan memandang jengkel kearah Elvira yang tidak memiliki pilihan lain. Elvira terang seperti obat nyamuk.
Pekerjaan ini terlalu bagus untuk dilepaskan. Jika sudah seperti itu, Elvira memilih duduk di pojok ruangan merenung sedih. Meratapi nasipnya kenapa dia harus dipertemukan dengan pria-pria yang menjengkelkan. Tatapan Jack tidak pernah lepas dari dirinya. Apa Jack tidak memiliki pekerjaan? Setiap hari dia datang terus menerus. Padahal dulu saat bekerja di mansion, Jack harus menghadiri banyak meeting di luar kota.
Apa Jack bangkrut? Tidak mungkin. Ruangan VVIP ini menghabiskan biaya setara dengan dua kali lipat gajinya dan itu hanya untuk sewa ruangan. Barulah Elvira akan diijinkan pergi jika dia bersabar selama dua jam di sana, meskipun statusnya tidak jauh beda dengan guci disudut ruangan.
Elvira merasa tidak enak hati kepada Rayne yang harus sibuk bekerja sendirian. Elvira tidak pernah ingin mengambil tip yang diberikan Jack, itu mencoreng hati dan kebanggaannya. Dulu saat meninggalkan mansion, dia bahkan diperiksa seperti pencuri.
Hingga suatu malam Jack dalam keadaan mood yang buruk. Dua orang wanitanya datang namun Jack mengusir mereka dengan kasar. Jack meminta kehadiran Elvira seperti biasa. Saat Elvira melangkahkan kaki kedalam ruangan itu, Jack sudah dalam tahap setengah mabuk.
Elvira mencari-cari wanita-wanita yang sering bersama Jack, biasanya mereka di sini menempel bagai lem. Tak jarang dari wanita-wanita itu adalah selebgram atau sekedar artis pemula. Siapa yang akan menolak pesona seorang Jack Pratama?
Namun yang sering kali menjadi tanda tanya Elvira, Jack tidak pernah terlihat bermesraan dengan mereka. Satu kecupan atau pelukan pun belum pernah terjadi di depan mata Elvira. Padahal terlihat sekali wanita-wanita itu haus belaian.
Elvira duduk di sudut ruangan seperti biasa. Wajahnya jarang terangkat menatap Jack. Elvira takut tangannya akan terangkat mencakar wajah tampan itu. “Elvira…” lirih Jack, wajahnya tertunduk, duduknya sudah dalam posisi tidak tegak. Terang sekali Jack bukan hanya setengah mabuk tetapi benar-benar mabuk.
Bersambung… Elvira tak ingin menoleh dan tetap duduk mematung. “Elvira… please…” kali ini suara Jack memohon perih. Tubuhnya bergoyang kesana kemari, tangan kanannya terangkat memanggil. Elvira masih bersikap cuek, dia tak ingin disentuh oleh tangan itu. “Elviraaa…” kali ini suara Jack semakin kecil, tak lama isak terdengar.
Elvira menoleh kaget. Apa dirinya salah dengar barusan? Jack menangis. “Elviiiraaaa…” panggil Jack lagi. Elvirapun melawan hati nuraninya untuk membantu Jack, dia tak ingin berurusan lagi dengan pria ini. Elvira punya perasaan buruk tentang takdir pertemuan mereka. Jack mencoba bangkit dan jatuh tersungkur, dengan panik Elvira berlari keluar memanggil petugas keamanan.
Tak lama dua pengawal Jack datang seketika. Mereka membopong tubuh Jack tetapi genggaman Jack pada baju Elvira enggan terlepas. Semakin mereka mencoba mengurai, Jack semakin mengamuk. Jack bahkan memukul salah satu pengawalnya. Dengan berat hati Elvira ikut memasuki mobil dan duduk diam di sebelah Jack yang sudah tertidur.
Setibanya di mansion, Jack kembali bangun dan memaksa Elvira ikut kedalam kamarnya. Oman terkejut akan pertemuan yang tidak disangka itu dan membantu menyiapkan kamar utama Jack. “Nona Elvira, tolong temani Tuan sebentar saja.” Pintanya.
Elvira tidak menjawab apa-apa, hatinya terlanjur pahit terhadap tempat ini. Elvira mengikuti Jack memasuki kamarnya. Begitu tiba di sana, Jack mengusir seluruh pengawal dan pelayannya. Elvira tertinggal sendirian bersama Jack yang mabuk berat.
Waktu berlalu lambat, Elvira berusaha menguraikan genggaman Jack pada ujung bajunya. Apa lebih baik dia robek saja baju ini? Itulah pikiran gila yang terlintas. Elvira melihat sekeliling, mencari benda tajam. Tidak masalah gajinya dipotong karena merusak seragam kerjanya asal dia bisa meninggalkan tempat ini.
Tepat saat Elvira mendapat gunting di laci paling bawa lemari di sebelah king bed, Jack bangkit dan menarik Elvira terbaring. Tubuh Elvira terhempas dan terlentang pasrah. Jack segera membuka pakaiannya dan menelanjangi dirinya sendiri. Elvira berontang dengan keras tetapi sia-sia. Jack menduduki kedua pahanya.
“KAMU GILA JACK! LEPASKAN AKU!” Gelegar Elvira yang diabaikan 100% oleh Jack. Bahkan kini Jack mulai melucuti pakaian yang dikenakan Elvira. “AKU AKAN MEMBENCIMU SEUMUR HIDUPKU JIKA KAMU TERUS SEPERTI INI JACK!” Elvira berteriak hingga suaranya habis.
Sayang sekali kamar ini memiliki kedap suara terbaik. Air mata Elvira mengalir deras saat Jack menarik paksa penutup terakhir tubuhnya yaitu celana dalam. Elvira menangis meraung-raung meminta pengampunan tetapi Jack sudah hilang akal. Alkohol benar-benar menutup hati nurani dan kesadarannya.
Bahkan ketika organ intim berurat panas dan besar itu memasukinya, Elvira hampir pingsan karena rasa sakit yang luar biasa. Pria yang merenggut keperawanannya justru pria yang paling dibencinya. Suaranya habis karena berteriak sia-sia.
Jack terus menyetubuhinya dengan liar tanpa ampun. Terlihat sekali Jack menikmati penyatuan tubuh itu, apalagi bisa dipastikan dialah pria pertama yang menjajah wilayah itu dengan leluasa. Jack mengosongkan benihnya dua kali di dalam tubuh Elvira sebelum dia jatuh tertidur karena kelelahan.
Elvira terus menangis terisak meratapi hidupnya yang miris. Kenapa dia harus merasakan perih ini? Kenapa dia terus menerus mendapat masalah jika bersangkutan dengan lawan jenis? Kamar megah dan besar itu sunyi, hanya sesekali isak Elvira masih terdengar.
Seluruh tubuhnya sakit, dia tak bisa menggambarkan bagaimana kombinasi luka fisik dan batinnya secara bersamaan. Yang jelas, saat itu dia ingin mengakhiri hidupnya. Pikiran gila itu benar-benar terlintas. Elvira bangkit dan meraih gunting yang tadi sempat ditemukannya. Elvira mencari benda tajam lainnya dan menemukan pisau cutter.
Tanpa berpikir panjang, Elvira menyabet lengan kirinya. Darah segar mengucur dengan cepat, pandangan Elvira menjadi kabur seketika. Tubuhnya yang telanjang bulat tergeletak di atas lantai marmer yang dingin. Elvira menangisi hidupnya yang begitu tidak beruntung. Dinginnya lantai itu seakan menyambut hangat perasaannya yang hancur lebur. Elvira tersenyum tenang, lebih baik begini. Berakhirlah semua penderitaannya.
Jack terbangun dengan kepala begitu perih. Ditatapnya bed cover dan sprey yang berantakan. Terdapat bercak darah juga pada kain itu. Jack mengecek tubuhnya di tengah sakit itu tetapi dia tak merasa terluka. Jack melihat sekeliling dan terkejut saat tak sengaja menginjak sesuatu.
Begitu dia menoleh kebawah, jantungnya hampir berhenti. Elvira sudah terbaring bersimbah darah dalam keadaan telanjang. Jack segera meraih tubuh Elvira yang dingin. Wajahnya pucat dan bibirnya nyaris berwarna biru. “ELVIRA! ELVIRA!” Jack benar-benar ketakutan.
Ditekannya interkom berulang kali dan meraih sprey untuk menutupi tubuh telanjang Elvira, apa yang sebenarnya terjadi? Ditambah sakit kepalanya justru memperparah situasi. Oman memasuki kamarnya dengan wajah kaget. Darah dilantai itu bukanlah jumlah yang sedikit ditambah sprey yang juga menambah kesan horrornya. “PANGGIL AMBULANCE!” Teriak Jack tidak menatap Oman, dia begitu ketakutan sehingga memeluk tubuh dingin Elvira erat. “Please… Elvira… Please…” lirihnya.
Ambulance datang dengan cepat, Elvira dilarikan kerumah sakit setelah Jack memakaikannya baju miliknya. Elvira segera dibawa kedalam ruang operasi. Jack terduduk dengan tubuh bergetar. Baru kali ini Jack merasakan takut yang luar biasa. Oman berdiri di sampingnya diam tanpa ingin menyela. Banyak perawat bolak balik membawa berkantung-kantung darah. Jack bahkan menangis terisak dalam diam. Oman tidak bisa berbuat apapun.
Waktu berjalan lambat, Jack tidak ingin beranjak dari duduknya. Meski kepalanya sakit luar biasa, tetapi rasa bersalahnya lebih besar. Oman kembali dengan penghilang rasa sakit dan minuman panas. Jack meminumnya dan merasa lebih baik. Dirinya mencoba mengingat dengan jelas apa yang terjadi tadi malam.
Kenapa Elvira dalam keadaan telanjang dan bersimbah darah? Jack masih mencoba mengingatnya. Meskipun dia harus mengorek isi kepalanya, dia harus ingat. “Apa yang terjadi setelah aku kembali dari club?” tanya Jack bergetir.
“Anda pulang bersama Nona Elvira.”
“Lalu?”
“Anda menolak untuk melepaskannya sehingga Nona Elvira ikut memasuki kamar Tuan. Anda mengusir kami semua dan sepanjang waktu itu kami tidak bisa menebak apa yang terjadi.”
Jack semakin merasa bersalah, sepertinya dia mengerti secara perlahan apa yang terjadi. Kenapa bisa dia kehilangan akal seperti ini? Bodoh! Sangat bodoh! Urusan bisnisnya memang sedang sibuk-sibuknya ditambah tuntutan keluarganya membuatnya mumet.
Disaat dia bertemu dengan Elvira setelah dua tahun lamanya berlalu, rasa penasaran itu semakin tumbuh besar. Terlebih lagi Elvira yang dulu bekerja sebagai pelayannya berbeda dengan Elvira yang kini berdiri di hadapannya. Wanita itu tumbuh dengan sangat baik. Dari dulu dia sudah mempesona tetapi versi dewasanya jauh lebih memikat.
Terang pikirannya berusaha untuk waras tetapi rasa ingin tahunya bertambah. Tanpa dia sadari, setiap hari dia akan menghabiskan waktu di club itu tanpa arah tujuan yang jelas hanya untuk seorang wanita. Sangat disayangkan wanita itu semakin menjauh.
Dari pengamatannya pun Elvira banyak digilai pengunjung yang datang. Namun Elvira lambat dalam mengerti. Bahkan rekan sekerjanya itupun terang-terangan menunjukkan sikap posesifnya padahal mereka tidak memiliki status.
Jack kehilangan pendirian dan akal sehatnya. Dulu dia berpikir wanita tidak akan pernah membuatnya jungkir balik, tetapi Elvira mampu. Tanpa disadarinya Elvira sudah menguasai pikiran dan hatinya. Elvira yang menawan. Elvira yang membuat penasaran.
“Tuan sebaiknya pulang. Saya akan mengabari anda jika Nona Elvira sadar.”
“Aku tidak bisa. Hatiku tidak tenang.”
“Apa anda ingin berbaring? Saya bisa menyiapkan kamar VVIP untuk anda beristirahat.”
“Tidak, aku tidak ingin pergi dari sini.” resah Jack.
“Baik.” Oman menunggu menemani Jack dengan setia. Tak menunggu lama, dokter dan empat perawat keluar dari ruang operasi dengan wajah kelelahan. Perawat-perawat itu meninggalkan Jack dan Oman untuk berdiskusi dengan dokter kepala bedah.
“Bagaimana, Dok?”
“Kami nyaris kehilangan pasien.”
Tubuh Jack bergetar, tubuhnya luruh. Beruntung Oman memegangnya sigap. “La… la… lalu sekarang?”
“Pasien masih dalam masa kritis. Kita hanya bisa menunggu.”
“Apa yang terjadi?”
Dokter itu menatap Oman dan Jack bergantian. “Saat dibawa kemari, pasien mengalami pendarahan di bagian organ intimnya. Pasien baru saja kehilangan keperawanannya secara paksa karena kami juga menemukan beberapa luka ditubuhnya.” Mendengar penjelasan itu, Jack ingin sekali menggedorkan kepalanya ke dinding. Ini semua kesalahannya, dia pantas untuk mengalami luka yang sama. “Kami sudah melakukan perawatan semaksimal mungkin. Kita hanya bisa berdoa dan menunggu.” Lanjut dokter tersebut dan pamit pergi.
Jack meremas kepalanya kesal, kepalan tangan kanannya dengan cepat meninju dinding menyebabkan luka memar dan berdarah. “TUAN!” Oman berusaha menghentikan aksi gila Jack. Dua pengawalnya juga membantu memeganginya. Oman berlari meminta bantuan perawat agar menenangkan majikannya. Tak beberapa lama Jack sudah terbaring tidak sadarkan diri di ruang VVIP oleh obat bius.
“Apa yang terjadi?” Ellani memasuki ruangan dengan gerakan gemulai. Wajahnya terang tidak suka putera satu-satunya ini terbaring menyedihkan dengan penampilan tidak karuan.
Oman melirik kedua pengawal Jack dan menghela napas. “Tuan mabuk dan terluka.”
“Anak ini!” Ellani duduk di sofa dengan memijat kening.
“Kamu sudah memberitahu dokter agar memberikan pelayan terbaik?”
“Tentu saja, Nyonya.”
Ellani duduk merenung menatap puteranya itu. Semenjak dua tahun ini Jack semakin frontal menolak jika disangkutkan dengan pernikahan. Ellani bahkan mengikuti gerak gerik Jack sejak saat itu tetapi dia tidak mendapatkan informasi apapun.
Sejak beberapa bulan lalu Ellani menyerah dan memilih mengikuti kemauan Jack. Tetapi bulan lalu, mertuanya mendesak Ellani yang merupakan istri kedua untuk menikahkan Jack secepat mungkin agar seluruh harta suaminya dapat jatuh ke tangan Jack.
Mereka memang bertengkar hebat dalam seminggu ini. Ellani menyodorkan banyak kandidat dari berbagai macam latar keluarga dan tak satupun yang menarik hati putera tunggalnya itu. Dan kini Jack justru terbaring tanpa arah tujuan di atas tempat tidur rumah sakit.
Apa tindakannya selama ini salah? Ellani hanya ingin Jack bahagia. Baginya asal anaknya memiliki harta dan kekuasaan, hidupnya akan baik-baik saja. Ellani menghela napas panjang dan menyerahkan seluruh tanggung jawab ke tangan Oman. Pria setengah baya itu sudah mengikuti Jack sejak masih kecil, dia bisa menghandle semuanya.
Esok harinya Jack membuka mata dan mulai merasa tenang. Dirinya ingin segera menemui Elvira tetapi dokter melarang siapapun berkunjung. Kondisinya Elvira masih kritis dan belum stabil. Jack akhirnya menghabiskan waktu dengan bekerja dari rumah sakit.
Dua hari kemudian kondisi Elvira berlangsung membaik, Jack setia menunggu dari balik pintu ruang rawat. Barulah dihari yang kelima, Jack bisa memasuki ruangan itu. Elvira terbaring lemah dengan napas pelan. Wajahnya masih juga pucat. Tangannya yang terbaret terbungkus perban rapi.
Tubuh Elvira yang terbaring tak berdaya memukul keras kepalanya. Jack terduduk mematung bersama air matanya yang mengalir. Kenapa dia tega melukai wanita tak bersalah ini? Dia sudah menghancurkan satu hidup yang berharga.
Jack ingin menyentuh wajah Elvira tetapi tangannya terhenti diudara, dia merasa sangat kotor. Apa ini bentuk dari karma yang diperolehnya karena mempermainkan banyak hati wanita? Oman memasuki ruangan dan berdiri disebelahnya. “Pengacara anda sudah bersiap, Tuan.”
“Pengacara? Untuk?” Jack menoleh terkejut.
“Jika Nona Elvira menuntut, anda bisa membela diri. Pengacara anda juga sudah menyiapkan sejumlah kompensasi agar nama anda tidak tercoreng.”
Wajah Jack murka seketika, dirinya bangkit menjulang dengan gusar. “Apa katamu?! Kamu lihat wanita ini! Apa dia masih sempat untuk menuntut?! Elvira bahkan ingin mengakhiri hidupnya! Aku kecewa kamu sama sekali tidak memiliki empaty!”
Oman terkejut dengan respon Jack. Empaty? Sejak kapan Tuannya memiliki empaty? Oman menghela napas panjang, Jack sedang kalut. “Baik, saya akan menunggu arahan selanjutnya.”
“Aku tidak membutuhkan pengacara, Elviralah yang harusnya mendapat perlindungan itu.”
“Tapi…” Oman berusaha membantah.
“Tidak ada tapi-tapian. Kamu bisa pergi.” Pungkas Jack.
Beberapa hari kemudian Elvira sadar dari komanya dan berontak ketakutan. Seperti yang diduga, dia mengalami gangguan psikis. Perawat bahkan harus meredakan amukannya dengan obat penenang karena Elvira berusaha melukai dirinya lagi.
Jack berdiri bergetar di depan pintu. Kenapa dia harus peduli? Seharusnya dia kabur saja dan mengikuti saran Oman. Kehidupan gemerlapnya tidak akan terganggu karena dia memiliki harta dan kekuasaan. Toh Elvira hanya satu dari ratusan wanita yang datang silih berganti memenuhi rasa penasarannya.
Jack akhirnya mengambil langkah itu, dia tidak ingin mengunjungi Elvira lagi. Dirinya yang berkuasa memilih jalan seperti pengecut menyedihkan. Jack menenggelamkan diri dalam pekerjaan berusaha melupakan rasa bersalahnya.
Meeting-meeting itu diagendakan di luar kota dalam satu bulan kedepan tanpa terkecuali. Lalu disaat dirinya sudah mulai terbiasa, rumah sakit memberitahukannya berita yang kembali membuat dunianya runtuh berkeping-keping. “Ya?” jawab Jack setelah dering pertama telepon.
“Nona Elvira…” Oman memberi laporan. Mendengar nama Elvira disebut, tubuhnya bergetar kembali.
“Ada apa dengannya?”
“Nona Elvira masih dirawat di rumah sakit sampai sekarang.”
“Aku tahu itu, semua biayanya akan dibebankan kepadaku. Lalu?”
“Kondisinya belum juga berkembang dengan signifikan. Dan…”
Jack menunggu dengan cemas, mendengar suara pilu Oman, Jack merasakan sesuatu yang salah. “Katakan secepatnya, jangan bertele-tele.”
Bersambung… “Nona Elvira sedang mengandung. Dokter mengatakan usianya memasuki 5 minggu. ”
Jack nyaris menjatuhkan handphonenya. Berita semacam ini bukan pertama kali dialaminya. Wanita-wanitanya sudah sering mencoba menjebaknya dengan alasan klise seperti ini. Tetapi dia yakin 100% Elvira hamil dari benihnya.
Elvira masih perawan saat dia menyetubuhinya, selama itu Elvira selalu berada di rumah sakit ditambah usia kandungannya pun sama persis dengan kejadian itu. Semua fakta menunjuk padanya. Jack mematikan handphonenya cepat dan meremas kepalanya nyeri. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Haruskah dia meminta dokternya menggugurkan kandungan itu dan berlaku seperti pengecut untuk kedua kalinya?
Jack berdiri mematung di luar ruangan Elvira. Dirinya baru tiba tiga jam lalu dan langsung ke rumah sakit setelah pekerjaannya selesai. Elvira ditempatkan di ruangan berdinding kaca tanpa furniture lain. Di sana hanya terdapat tempat tidur dan meja kecil.
Seluruh tubuh Elvira dibalut oleh kain penenang agar dirinya tidak meronta. Jack menutup wajahnya malu. Elvira yang cantik dan menawan menjadi seperti ini karena dirinya. Harusnya dari awal dia tidak pernah mendekati Elvira lagi untuk kedua kalinya.
BUK!
“YOU!” sebuah bungkusan terjatuh dan seorang wanita menyerang Jack dengan tiba-tiba. Jack berlindung di belakang dua pengawalnya cepat. “KURANG AJAR! BRENGSEK! PRIA BAJINGAN!” Maki wanita itu. Satu pengawal berusaha menenangkannya. “Elvira menjadi seperti ini karena ulah busukmu!” Wanita itu segera dibawa pergi paksa. Jack menatap bingung kearah satu pengawalnya.
“Dia adalah teman baik Nona Elvira, Maya.”
“Teman baik? Dari mana dia tahu…”
“Maya melaporkan ke kantor polisi tentang hilangnya Nona Elvira. Beliau mengetahui detailnya dari Oman.” Jack menghela napas lelah dan terduduk dibangku. “Ibu anda juga sudah mengetahuinya.”
“A… apa? F*ck!” maki Jack. Ibunya adalah sosok yang menyebalkan, dia pasti akan berusaha melakukan sesuatu sesuka hatinya. “Apa Papi juga mengetahuinya?”
“Nyonya berusaha menutupi kasus ini.”
“Oke, good.”
Jack berinisiatif untuk memasuki ruangan Elvira. Jack mendekatinya dengan perlahan. Elvira menoleh pelan, ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat dingin. “Apa maumu?”
“Bagaimana keadaanmu?” Jack mengumpulkan keberaniannya. Elvira tertawa sinis tanpa ingin menjawab. Jack melirik kearah perut Elvira dan menelan ludah keras. Dokter belum memberitahu apapun mengenai kehamilan itu kepada Elvira jika emosi Elvira masih selabil ini.
“Ibumu mendatangiku dan menuntutku sana sini. Aku sudah ingin mati sesaat kamu selesai memperkosaku tetapi kamu menyelamatkanku alih-alih rasa kemanusiaan. Jika masih ada secuil rasa bersalah dihatimu, biarkan aku mati dengan tenang saat ini juga. Berhenti menyiksaku dengan mengikatku seperti ini. Aku lelah atas semuanya.” Papar Elvira tegas.
Jack terhentak dan meremas kedua tangannya menenangkan diri. Ibunya sudah ikut campur sejauh ini.
“Elvira…”
“Setiap kali kamu menyebut namaku, aku selalu ingin lari sejauh mungkin. Aku takut kepadamu. Kamu iblis yang menyerupai manusia.”
“Elvira…”
“Hanya satu itu pintaku, biarkan aku mati. Aku sudah meminta Maya untuk tidak menganggumu lagi.” Elvira memalingkan wajahnya.
“Elvira…”
“Aku benar-benar ingin mati.” Keluh Elvira perih.
“Tak biasakah kamu memaafkanku?” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Jack tanpa disadarinya. Awalnya dia sudah ingin melarikan diri lagi, tetapi mendengar kata-kata menusuk Elvira, Jack justru sadar bahwa dia jatuh hati terhadap wanita tangguh ini.
Elvira memiliki kepribadian luar biasa dibandingkan wanita-wanitanya terdahulu. Itu yang membuat Jack terpukau dan terpikat. Mendengar permintaan maaf Jack, Elvira masih bungkam tidak ingin menjawab. “Demi bayi kita yang sedang kamu kandung.”
Elvira menoleh syok mendapat informasi itu. “A… Apa? Bayi?”
Jack mengangguk pelan dan mendekati Elvira. Serta meraih Elvira dalam pelukannya erat, sangat erat melebihi eratnya kain penenang ini. Jackpun akhirnya menyadari jika Elvira berhasil merebut hatinya. Untuk pertama kalinya dia jatuh cinta.
Tak ada kata yang terlontar, baik Elvira maupun Jack mematung dengan pikiran kalut masing-masing. Air mata Elvira mengalir perlahan. Hatinya tercabik-cabik hingga level terendah. Kenapa, kenapa dan kenapa? Haruskah dia sepilu ini? Jack mengetahui Elvira menangis dan mengetatkan pelukannya, dia tidak ingin lagi lari bersembunyi dan memutuskan menghadapi semuanya dengan keseluruhan tekadnya.
Hangat tubuh Elvira membuatnya nyaman. Untuk pertama kalinya dia merasa tenang, bebannya seperti terangkat.
“Aku tahu kesalahanku begitu fatal, tetapi aku ingin memulai semuanya dari awal. Maafkan aku, Elvira.” Jack mengurai pelukannya dan meraih wajah Elvira. Kening mereka saling menempel erat. Elvira berusaha berontak tetapi Jack mempertahankan posisi mereka. “Aku… aku ingin berubah. Aku tidak ingin lari lagi.”
“Ke… kenapa?”
Jack meletakkan tangan kanannya diperut Elvira, “terima kasih sudah mengandung anakku. Aku cinta kamu, Elvira.” Ungkap Jack tulus. Matanya berkaca-kaca menatap tepat dimanik mata Elvira. Ungkapan manis itu membuat Elvira bergerak mundur, dia tidak mempercaya ini. Apa dia masih bermimpi? “Elvira…” Jack kembali ingin memeluk Elvira.
“Stop!” Elvira bergerak kesusahan karena seluruh tangannya terbalut bersama tubuhnya oleh kain.
Jack bangkit berdiri dan berlutut di atas lantai menghadap Elvira.
“Please Elvira…” Lagi-lagi Elvira terkejut dan memalingkan wajahnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Elvira melirik pelan dan masih menemukan Jack yang berlutut menatap dengan mata sendu.
“Kenapa?” Elvira memberanikan diri bertanya lagi.
“Aku menyesali semuanya. Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa menerimaku?”
Elvira terdiam menatap Jack lama, dia masih tidak mempercayai pria di hadapannya ini. “Aku tidak mengerti sikapmu selama ini.”
“Aku berusaha untuk mencari perhatianmu. Itulah mengapa aku selalu mengunjungi tempatmu bekerja.”
“Kamu memiliki banyak wanita yang jauh lebih cantik.”
“Aku mencoba berkilah dari perasaanku yang sebenarnya. Pada akhirnya aku justru menyakitimu. Aku sangat menyesal.” Simpul Jack menunduk lesu.
Elvira menghela napas panjang dan terdiam. “Aku tidak bisa percaya semudah itu.”
“Aku tahu.” Jack bangkit dan memanggil perawat. “Buka ikatannya!”
Dua orang perawat itu menolak tegas. “Kami tidak bisa, Pak. Resikonya terlalu besar.” Salah satu perawat itu bahkan memberi kode kepada Jack mengenai kehamilan Elvira. Perawat itu kuatir Elvira akan membahayakan janin yang dikandungnya.
“Elvira tidak akan menyakiti bayi kami.” Tegas Jack. Dirinya mendekati Elvira dan meletakkan tangannya diperut Elvira tenang. Kedua perawat itu saling melirik.
“Kami harus menunggu persetujuan dokter.”
“Panggil dokter itu sekarang!” perintah Jack tak surut…
“Panggil dokter itu sekarang!” gelegar Jack. Tak menunggu lama balutan kain itu terbuka. Jack meraih minyak zaitun dan mengurut pelan kedua lengan Elvira lembut. Elvira cukup terkejut dengan aksi Jack dan memilih menurut. “Siapkan makanan sekarang juga.” Lagi-lagi Jack memerintah tegas. “Ada sesuatu yang ingin kamu makan?” lirihnya pada Elvira.
“Uh? Oh? Emmm…” Elvira masih tidak terbiasa dengan perlakuan baik Jack. “Aku ingin sesuatu yang asam.” Mendengar permintaan Elvira, salah satu perawat itu segera menyiapkan.
“Aku ingin Elvira dipindahkan ke ruang VVIP dalam satu jam kedepan. Kalian bisa pergi.” Jack mengusir seluruh staff rumah sakit beserta pengawalnya agar memberikan privasi kepada mereka berdua.
Jack terus memijat lembut lengan Elvira dan bertanya dibagian mana lagi yang sakit. Meski Elvira belum sepenuhnya percaya, tetapi sikap Jack membuat hatinya sedikit berbunga-bunga. Ternyata dirinya semudah itu luluh.
Satu jam kemudian Elvira sudah berganti kamar dan sedang membersihkan diri. Setelah selesai, Jack menunggunya dengan semangkuk bubur dan satu piring rujak. Jack duduk dekat di sebelahnya mengamati Elvira yang makan secara perlahan. “Bagaimana perasaanmu?” tanya Jack ketika Elvira selesai menyantap makan malamnya.
“Lebih baik.”
“Kamu tidak akan berpikir aneh-aneh lagi bukan?” Jack menggenggam kedua tangan Elvira memohon.
“Tergantung.”
“Elvira…” resah Jack.
Elvira mengelus perutnya lembut, “berapa usianya?”
“5 minggu. Besok dokter akan memeriksanya lebih lanjut.”
“Dokter masih harus memantau kejiwaanku.”
“Tapi kamu berjanji untuk tidak melakukan yang aneh-aneh lagi bukan?”
Melihat wajah serius Jack, Elvira justru tertawa kecil. “Apa karena bayi ini kamu berubah? Jika aku mati, bayi ini akan mati bersamaku. Kamu tidak harus kuatir untuk itu.”
“ELVIRA!” Murka Jack membuat Elvira juga ikut terkejut.
“Itu benar bukan? Kamu tidak harus menanggung beban ini.” Balas Elvira.
“Aku sudah mengatakannya tadi, aku jatuh cinta kepadamu. Akupun ingin lari dan pura-pura lupa tetapi ujung-ujungnya aku justru semakin mencarimu. Bayi ini hanyalah pelengkap manis.”
Elvira menghela napas panjang dan bersandar pada bantalnya. “Aku lelah, banyak sekali yang terjadi.” Pengakuan Jack hari ini seperti menjungkir balikkan fakta yang diketahuinya dulu.
“Bisakah aku tidur di sebelahmu?” pinta Jack memelas. Sungguh di luar nalar Jack bisa berubah sedrastis ini.
“Uh? Why?” Elvira menoleh dengan bingung.
“Tempat tidur ini cukup untuk dua orang.”
“Untuk apa kamu tidur di sini saat kamu memiliki mansion mewah?”
“Itu tidak ada hubungannya.” Jack memaksa berbaring dan meraih Elvira dalam pelukannya. Elvira ingin berontak tetapi Jack terlanjur dalam posisi nyaman.
“Kamu tidak ingin mengganti baju?”
“Uh? Aku bau?” Jack mengendus area keteknya.
“Tidak, hanya saja tidur dengan kemeja tidak nyaman untukmu.”
“Oh…” Jack menghubungi Oman untuk membawakan baju tidur.
Sambil menunggu baju tidurnya, Jack dan Elvira kembali berbaring dalam posisi berpelukan. Elvira menyandarkan kepalanya di dada bidang Jack. Lengan kanan Jack melingkari erat tubuh Elvira. “Kamu sungguh egois.” Ungkap Elvira tiba-tiba.
Jack mengangkat wajahnya dan menatap Elvira. “Mengenai?”
“Kamu bertindak sesukanya, kamu bahkan tidak bertanya tentang perasaanku.”
“Aku tidak ingin ditolak.” Jack kembali memeluk erat Elvira. Tidak ada ruang di antara mereka. Jack bahkan mengecup berulang kali puncak kepala Elvira.
“Benar kamu tak ingin tahu?” tantang Elvira.
Jack mulai penasaran, “oke kalau begitu. Bagaimana perasaanmu tentangku?” jantung Jack berdebar keras, Elvira bahkan bisa merasakannya jelas. Meski Jack terlihat tenang tetapi dia sedang berpura-pura mengendalikan situasi. Elvira tertawa kecil tanpa ingin menjawab. “Elvira…”
“Kamu tahu kenapa aku menukar pekerjaanku di mansion sebelumnya?”
“Tidak. Aku bahkan memarahi Oman karena membiarkanmu bekerja dengan kubangan sampah.”
“Aku ingin menghindarimu.”
“Kenapa?”
“Aku mulai berharap lebih atas perhatianmu. Tetapi aku sadar status kita seperti bumi dan langit. Jadi aku memilih menguburnya dalam-dalam dan pergi setelahnya.”
“Saat itu aku belum mengerti perasanku sendiri. Bodohnya aku.” Sesal Jack.
“Kita berdua bodoh.”
“Tidak, aku seharusnya lebih berani dan jujur.” Jack meraih tangan kanan Elvira dan mengecupnya. “Bagaimana perasaanmu sekarang?”
“Aku…” Elvira menatap lekat wajah Jack.
“Hm?”
“Aku masih takut.” Elvira menyembunyikan wajahnya di dada Jack kembali.
“Takut tentang apa? Berarti kamu mengakui jika kamu memiliki perasaan yang sama?” Jack berbinar. Elvira tidak menjawab. “Sayang, benarkan?” desak Jack berusaha melihat wajah Elvira tetapi gagal. Jack tertawa terbahak-bahak kegirangan. Kembali dipeluknya Elvira gemas. “Maaf aku sudah menyakitimu berulang kali. Aku menyesali semuanya.” Bisik Jack. Elvira tidak menjawab tetapi membalasnya dengan anggukan.
Esok paginya, Ellani mendatangi Elvira yang sedang menjalani terapi. Terpaksa kegiatan itu terhenti. Sepertinya Ellani memiliki firasat tajam jika puteranya itu akan luluh. Jack sedang bekerja di kantornya terkejut menerima berita itu.
Dengan panik dia memerintahkan anak buahnya untuk menahan ibunya sementara dia menuju kesana. Elvira tahu benar menghadapi situasi ini. Semenjak bekerja di club, dirinya banyak berurusan dengan berbagai macam pelanggan.
Ellani menatapnya sinis dari atas hingga kebawah. “Aku pikir kamu ingin bunuh diri?” sindirnya. Elvira tidak menjawab dan memilih diam. Mereka sedang berada di ruang rawatnya. “Jadi itu hanya sandirawa licikmu kemarin agar puteraku tertipu? Jawab!” Ellani bangkit dan nyaris menjambak Elvira. Beruntung pengawal Jack berada di sana.
Bersambung… “Mami!” Jack segera memasuki ruangan begitu dirinya sampai. Ellani terus berusaha melukai Elvira sementara wanita yang dicintainya itu memilih diam tak bergerak. Rambutnya berantakan sementara diwajahnya terdapat luka cakar. Jack menatap kesal kearah pengawalnya. Sudah jelas dia memerintahkan mereka untuk melindungi Elvira.
“Hah!” Ellani memperbaiki pakaiannya dan menunjuk kesal Jack yang kini berdiri memeluk Elvira. “SUDAH KUDUGA! WANITA ULAR!”
“Mami sudah keterlaluan!” sergah Jack marah.
“You!” Ellani bangkit menarik tubuh Jack memisahkannya dari Elvira. “Mami sudah capek-capek mengandungmu 9 bulan dan ini balasanmu!”
“ENOUGH!” Gelegar Jack. Ellani terkejut mematung. Jack meraih Elvira yang terduduk dilantai tanpa ingin melawan. “Panggil perawat!” perintahnya kepada pengawalnya.
“Kamu sudah buta! Lihat wanita hina itu.” Ellani menunjuk-nunjuk kearah Elvira geram.
“Aku bilang cukup, Mi!”
“Kamu terus membantah Mami karena penipu ini bukan?”
Begitu perawat masuk, Jack menarik ibunya keluar untuk berbicara diruang inap lain yang sedang dalam keadaan kosong. “Elvira tidak pernah salah dari awal, akulah yang berdosa.”
“Wanita ular itu mendekatimu sebagai pelayan dan sekarang dia mengandung anakmu.”
“Mami sudah tahu jika aku yang memperkosanya. Elvira selalu menghindariku, aku yang mengejar-ngejarnya! Sudah dua tahun lamanya dia pergi, jika memang dia berniat memperdayaiku, kenapa dia tidak bertahan bekerja di mansion?” desak Jack balik.
“HAH!” Ellani tertawa tidak percaya.
“Elvira bahkan mencoba bunuh diri, itu semua karena kesalahanku! Elvira innocent!”
“Lalu?” Ellani menatap tajam Jack, wajahnya memerah karena amarahnya yang sudah memenuhi kepalanya meledak-ledakkan emosinya.
“Mami melukainya tadi!”
“Seharusnya dia mati! Kenapa kamu justru membelanya sekarang!?”
“Aku mencintainya, Mi.”
Ellani terhuyun mundur memegang kepalanya. Puteranya benar-benar hilang akal. Ditatapnya Jack dengan seksama. Jack sama sekali tidak bergeming. “Jadi kamu lebih memilih dia dibanding Mami keluarga kamu sendiri?”
“Mami…”
“Lepaskan wanita itu!” Ellani tidak ingin berdebat lagi.
“Aku yang memperkosa Elvira dan dia mencoba bunuh diri. Itu sudah menjadi tanda jika dia tidak pernah ingin berniat jahat terhadapku. Hanya karena statusnya yang yatim piatu dan bukan dari keluarga kaya raya, Mami menolaknya mentah-mentah begitu?” sambung Jack frustasi. Ellani diam tak ingin menjawab. “Aku ingin menikahi Elvira sesegera mungkin.”
“HAH?” Ellani menoleh dengan mata membulat syok. “YOU!”
“Elvira mengandung buah hati kami, Mi. Jika Mami masih seperti ini, aku akan memberitahu Papi. Aku yakin Papi akan mengerti dan merestui kami.”
PLAAAAAK!
Tamparan pedas mendarat di pipi Jack tanpa ampun. “Kamu ingin kita jatuh dengan aib ini? Anak bodoh. Mami masih bisa merestui artis-artis yang kamu tiduri silih berganti itu, tetapi wanita dengan penyakit gangguan mental? Jangan harap Mami merestuinya.”
Jacck menatap Ibunya dengan napas naik turun, hatinya perih ibunya menghina Elvira tanpa ingin bersikap objektif. Jackpun tak bisa membenci ibunya, wanita ini sudah menjadi bagian lain dari jiwanya. Jackk berlutut kemudian. “Please, Mi…”
“BERDIRI!” Kali ini suara Ellani semakin menggelegar. “Tidak ada satupun keturunan keluarga kita yang harus berlutut di hadapan manusia lain! Kamu lupa itu, Jack? Berdiri!” Ellani bahkan menarik-narik lengan Jack yang bersimpuh kukuh. Jack menunduk tanpa ingin menjawab. “JACK!” Ellani terus memaksa putera satu-satunya itu untuk bangkit tetapi gagal.
Ellani akhirnya terduduk di lantai, dadanya nyeri. Selama ini dia berusaha keras untuk membanggakan keluarganya dengan menikahi pria mapan dan sukses meskipun menjadi istri kedua. Semua keberhasilannya dan kejayaannya didapatkan dengan air mata.
Ketika Jack tumbuh dewasa dan mampu membiayai dirinya sendiri, perlahan semua orang semakin hormat kepadanya. Terlebih Jack merupakan salah satu entrepreneur sukses di negeri ini. Tetapi semuanya jatuh sia-sia. Jack berubah tanpa dia sadari, puteranya ini mulai mementingkan kebahagiaannya sendiri. Ellani berpikir selamanya dia bisa mengontrol kehidupan Jack. Tetapi Elvira datang tanpa diduga dan menghancurkan semuanya.
Ellani akhirnya menangis meraung-raung. “Bunuh saja Mami sebagai gantinya.”
“Mi…” Jack memeluk ibunya erat.
“Mami malu. Semaunya akan menertawakan keluarga kita. Lebih baik Mami mati.” Jerit Ellani pilu.
“Aku tidak akan pernah meninggalkan, Mami. Aku hanya ingin Mami merestui Elvira.”
“Elvira yang akan membuat keluarga kita hancur!”
“Jika aku menikahi Elvira, Papi akan mempercayakan harta gono gini itu ke tanganku.”
“Alin tidak akan pernah membiarkan itu. Wanita angkuh itu selama ini hanya diam menunggu kejatuhan kita.” Ellani takut istri pertama suaminya akan melakukan pergerakan yang sulit ditebaknya.
“Aku akan bekerja keras untuk melindungi Mami dan Elvira serta buah hati kami. Aku janji, Mi. Jadi, aku mohon terima Elvira dengan tangan terbuka.” Ellani tidak ingin menjawab dan tetap memalingkan wajahnya. Egonya belum ingin menerima. Jack terus memeluk tubuhnya memenangkan.
Sepeninggal ibunya, Jack memasuki kamar Elvira. Wanita ringkih itu sedang berbaring beristirahat. Sejak pagi mual membuatnya lemas. Jack terduduk di kursi yang terletak tepat di sebelah tempat tidur Elvira. Wajah Elvira yang terluka sudah diberikan perawatan. Jack menghela napas dan meraih tangan Elvira lalu mengecupnya. Elvira terkejut dan membuka matanya. “Maaf membangunkanmu.” Bisik Jack.
“Tidak apa. Ibumu sudah pulang?”
“Ya, baru saja.”
“Kamu terluka?” cemas Elvira dan bangkit duduk.
Jack tersenyum kecil dan menggeleng. “Kamu sudah makan?”
“Perutku masih mual.”
“Kamu harus memaksanya.”
“Iya.” Balas Elvira lirih. Jack tahu benar jika saat ini Elvira merasa tidak nyaman karena ibunya terang tidak merestui hubungan mereka.
“Mami merestui hubungan kita.” Kata Jack menenangkan.
Elvira menatap terkejut. “Tidak mungkin…” gumamnya.
“Mami tidak sekejam itu.” bela Jack. Penyataannya jelas bertolak belakang dengan luka yang tercetak diwajah Elvira.
“Ibumu benar, kamu seharusnya mendengarkannya.”
“Aku tak ingin melepaskanmu.” Resah Jack. Dirinya bangkit dan berbaring di samping Elvira, dia tak peduli jika kemejanya kusut.
“Tapi mereka keluargamu.” Bujuk Elvira.
“Kamu dan anak kita juga bagian dari keluargaku sekarang.” Jack mengelus perut Elvira penuh cinta.
“Bagaimana kamu begitu yakin jika bayi yang kukandung adalah anakmu?” tantang Elvira.
Wajah Jack mengeras, tubuhnya sontak terbangun duduk berhadapan dengan Elvira lekat. “Kamu masih virgin saat aku menyetubuhimu.”
“Itu tidak benar.” Elvira memalingkan wajahnya.
“Aku memang mabuk pada malam itu tetapi ingatanku yang kembali sangat jelas.”
“Aku bekerja di club, kamu yakin aku masih suci?” kini Elvira berusaha menggoyahkan keyakinan Jack.
“Itu tidak ada hubungannya.” Sanggah Jack.
“Jelas ada hubungannya. Sering kali mereka berpikiran negative kepada wanita yang bekerja di club malam, ibumu salah satunya.”
“Tapi kamu tidak seperti itu. Berhenti memandang rendah dirimu, Elvira. Aku tidak suka.” Jack meraih wajah Elvira dan mengecup keningnya.
“Dasar keras kepala.” Gumam Elvira.
“Kamu pikir aku masih perjaka sehingga tidak bisa membedakan mana wanita yang benar-benar suci?”
“Kamu tidak sesempurna itu.” cibir Elvira.
Jack tertawa kecil, “benar, tetapi mengenai dirimu, aku yakin 100%.”
“Aku janda.” Elvira masih mencoba.
“Enough. Aku akan menyetubuhimu saat ini juga jika kamu tak ingin berhenti.” Tukas Jack yang membuat Elvira diam seketika, wajahnya merah merona.
1 minggu kemudian Elvira diijinkan untuk pulang. Jack membawanya menuju mansionnya meski awalnya Elvira menolak keras. Maya juga masih menganggap Jack sebagai musuh sehingga selalu mengecek keadaan Elvira bagai pacar yang posesif. Terkadang Jack dengan kesal mematikan total handphone Elvira agar mereka tidak terganggu.
Oman menyambut kedatangan Elvira dengan senyum ramah, dia tak pernah menyangka jika wanita muda yang pernah jadi pelayan di sini akan menjadi nyonya mansion ini. Jack membawa barang-barang Elvira memasuki kamar utama miliknya. Meski mereka belum berstatus suami istri, tetapi Jack menolak membiarkan Elvira sendiri. Dirinya sangat takut jika Elvira tiba-tiba berpikir untuk kabur.
“Kita akan menemui Papi besok. Apa kamu siap?” Jack baru saja selesai membersihkan diri. Air masih membasahi dada bidangnya yang terbuka, dia hanya mengenakan handuk yang menggantung rendah dipinggulnya. Elvira yang melihat itu memalingkan wajah malu, tubuhnya membeku.
Elvira tahu benar jika tubuh Jack sungguh menggiurkan tetapi melihatnya dari jarak sedekat ini dengan dihiasi bulir-bulir air membasahi merupakan godaan berat. “Sayang?” Jack mendekati Elvira yang sudah memakai piyama terduduk di pinggir king bed mereka.
“Ya?” lirik Elvira masih memalingkan wajah.
“Kamu dengar apa yang aku bilang tadi?”
“Uh? Oh? Ya.” Elvira menjawab lebih keras.
Kini Jack berdiri di hadapan Elvira menjulang, “apa ada yang salah?” Jack meraih wajah Elvira dan tersenyum kemudian. Wanita pemalu ini malu melihat tubuhnya yang setengah telanjang. Jack tertawa kemudian membuat Elvira semakin merona. Jack meraih kedua tangan Elvira dan menempelkannya di kedua pipinya. “Sayang…” panggilnya lembut.
Pada akhirnya Elvira melirik perlahan. “Hm?” jawah Elvira lirih. Jack mengecupi telapak tangan Elvira satu persatu dan tersenyum hangat. Entah sejak kapan tersenyum menjadi bagian dirinya. Jack yang dulu terkenal dingin dan cuek, hanya kepada Elvira dia berani menggoda dan bersikap bebas. “Pa… pakai piyamamu. Nanti kamu masuk angin.”
“Jika aku masuk angin, kamu mau menghangatkanku?” goda Jack.
“Ke… ke… kenapa? Mansion ini memiliki penghangat ruangan.”
“Oh well… aku biasa tidur dengan keadaan telanjang, tidak apa kan?”
“Ha?”
“Ha?” mata Elvira membulat syok, bibirnya sudah monyong sana sini ingin protes tetapi tak ada satu katapun yang terlontar. Jack tertawa terbahak-bahak. “Jangan menggodaku terus!”
“Alright…” cengir Jack dan mengecupi perut Elvira penuh cinta. “Mamimu gampang ngambek, Nak.” Adu Jack mengelus-elus perut Elvira kemudian. Elvira tersenyum mendengarnya dan melirik kearah meja lampu. Disitu terdapat handuk kecil yang tadinya diletakkan Elvira untuk mengusap wajahnya yang basah.
Elvira meraihnya dan membantu mengeringkan rambut setengah basah Jack. Sementara itu Jack masih berbicara seolah-olah sedang mengobrol dengan buah hati mereka.
“Ambilkan hair dryer, aku akan membantu mengeringkan rambutmu.” Pinta Elvira. Jack bangkit dan meraih hair dryer tersebut. Jack masih dalam posisi menghadap perut Elvira dan terus mengoceh tanpa terganggu.
Setelah itu mereka tertidur berpelukan. Jack memang jujur atas statementnya. Dirinya benar-benar telanjang saat tidur meskipun Elvira menolak dan mereka berdebat hebat. Tetapi bukan Jack namanya jika tidak keluar sebagai pemenang.
Elvira tidak bisa tidur nyenyak. Ini pertama kalinya dia tidur dengan lawan jenis. Bersama Axel dulu mereka tidak sempat melakukan apapun. Apalagi ditambah dengan senjata Jack yang mengacung keras terus menggoda bokongnya. Organ intim itu bahkan dapat masuk disela-sela paha Elvira mencari kehangatan, meski Elvira terus menghindar tetapi pelukan erat Jack mengurungnya.
Tangan kiri Jack memasuki piyamanya dan menggenggam payudaranya gemas. Elvira benar-benar berontak kali ini tetapi Jack menyakinkannya bahkan dia hanya akan menggenggamnya sepanjang malam hingga pagi.
Esoknya Elvira terbangun. Jam masih menunjukkan pukul 5. Biasanya Jack akan bangun sekitar 30 menit lagi untuk berolahraga, itu rutinitasnya dulu saat dirinya masih menjadi pelayan. Elvira menggeliat berusaha terlepas dari pelukan erat Jack.
Setelah 10 menit bergulat, akhirnya dia bisa terlepas. Elvira memasuki kamar mandi dan menggosok giginya. Setelah kembali, Jack masih tertidur lelap. Dirinya memutuskan untuk menuju dapur. Oman, 4 pelayan dan dua chef sudah terbangun. Mereka menyiapkan sarapan.
“Anda lapar?” tanya Oman.
Elvira tersenyum kecil, “Elvira, panggil aku Elvira.”
“Saya segan melakukannya, anda calon Nyonya mansion ini.”
“Itu belum pasti.” Balas Elvira dan menuangkan air mineral ke dalam gelas kosong.
Oman memilih tidak membahas lebih lanjut dan mendekati Elvira, “apa anda ingin memakan buah?”
“Roti gandum, itu saja.” Jawab Elvira. Sebenarnya semenjak kehamilan ini, dia selalu merasa lapar tetapi dia mudah juga memuntahkannya.
“Selai?”
“Polos saja.” Lanjut Elvira dan menatap kearah luar jendela. Langit masih gelap. Elvira mengobrol ringan dengan Oman ketika Jack memasuki dapur. Wajahnya terlihat panik tetapi begitu melihat Elvira sedang menyantap rotinya, hatinya tenang.
“Uh?” bingung Elvira saat Jack mendekatinya dan memeluknya.
“Aku pikir kamu kabur.” Lontar Jack.
“Kabur? Dengan pengawal setiap sisi rumah?” Elvira bertanya balik.
Jack duduk disebelah Elvira dan meminta pelayan menuangkannya air mineral. “Kamu bangun cepat sekali.”
“Aku lapar.”
“Kenapa kamu hanya memakan roti tawar ini?” Jack mulai ingin mengomel dan menatap Oman tajam.
“Aku takut muntah lagi.”
“Ah, ok -”
Elvira tersenyum kecil melihat Jack buru-buru meneguk air mineralnya. “Kamu tidak berolahraga?”
“Tidak pagi ini.” Jawabnya.
“Lalu? Kamu bisa tidur kembali, aku akan membangunkanmu jika sudah waktunya bersiap ke kantor.” Usul Elvira dan menggigit pinggiran roti terakhir.
“Kita harus kembali bersama.” Jack menatap intens Elvira yang makan dengan lahap. Setelah selesai, Jack menuntun Elvira kembali ke kamar. Mereka kembali berbaring dan bersiap untuk tidur.
“Aku boleh bertemu dengan Maya hari ini?”
“Tidak, kita harus bersiap untuk menemui Papi malam ini.”
“Kami hanya bertemu saat siang.”
“Aku tidak ingin kamu kelelahan.” Kukuh Jack memeluknya semakin erat. Elvira tidak ingin berargumen lagi dan memilih menutup matanya
Elvira mengenakan dress Dolce & Gabb*na berwarna hitam dan bersiap dibantu oleh dua pelayan. Dress tersebut terbelah hingga paha atasnya memperlihatkan kulitnya yang mulut. Bagian belakangnya pun sedikit rendah. Dress itu memeluk tubuhnya erat dan dipadukan dengan high heels 12 cm berwarna putih. Jack sedang bersiap di kamar ganti dan memasuki ruang utama tak beberapa dengan jas berwarna hitam rancangan Arman*.
“Apa harus semewah ini?” protes Elvira melihat pantulannya di cermin.
“Why? Jelek?” Elvira sedikit merasa kecewa, dia sudah bersiap dan duduk diam ketika didandani selama 1 jam.
Jack menghampirinya dan wajahnya semakin mendung. “Ganti dress ini!” desisnya kepada salah pelayan itu.
“Eh? Tapi Tuan—”
“Ganti.” Potongnya tajam.
“Hey, kenapa?” Elvira mendekati Jack berusaha menenangkannya.
“Dress ini terlalu seksi, aku tidak ingin pria-pria itu memfantasikan tentang tubuhmu.” Lengan kanan Jack melingkati pinggang Elvira posesif.
“Kamu yang memilih dress ini.” Protes Elvira.
“Ganti.” Jack bersikeras menatap pelayannya yang kini kocar kacir mencari dress lain.
“Benarkah? Aku merasa biasa saja.” Elvira melihat kembali pantulannya.
Tanpa diduga Jack mengecup leher terbuka Elvira dan menyedot kulitnya gemas. Elvira terkejut dan berusaha mendorong tubuh Jack tetapi pria besar dan kekar itu tidak bergeming. Akibatnya terdapat bekas ciuman yang memerah dilehernya, bukan hanya satu tetapi dua. Elvira menatap cermin dengan horror. Air matanya serasa ingin mengalir. Tanda itu begitu mencolok di lehernya.
“Ini lebih baik.” Puas Jack dengan hasil karyanya pada permukaan kulit Elvira. Senyumnya mengembang lebar. Elvira berpaling dan menatap tajam Jack, “kamu sengaja kan!”
“Mereka harus tahu kamu milikku.” Imbuh Jack dan mengecup bibir Elvira cepat. “Dengan begini tidak masalah.”
“Aku tidak mau pergi.” Tolak Elvira.
“What?”
“Kamu membuat aku malu dengan ini? Apa kata ibu tirimu dan Papimu nanti? Mereka berpikir aku wanita—”
“Tidak akan.” Yakin Jack.
Elvira menunduk, air matanya benar-benar jatuh. Pelayannya kembali dengan dress berwarna merah ditangannya. Jack mengusirnya dan mengatakan tidak jadi mengganti. “A… aku butuh syal.” Kata Elvira kemudian. Mulut Jack sudah akan terbuka protes ketika Elvira memotong cepat. “Iya atau tidak sama sekali.”
“Ok—”
30 menit kemudian, Elvira tiba disebuah aula mewah dengan suara music mengalun pelan. Dirinya berdiri mematung didepan pintu masuk. Beberapa paparazzi dan wartawan mengambil foto mereka. Elvira masih bingung, dia berpikir hanya akan menghadiri makan malam di rumah dan bukannya acara besar seperti ini.
Bersambung… Syal berbulu yang dikenakannya semakin terangkat naik berusaha menutupi kecupan Jack yang kini bertambah menjadi 3. Mereka masih berdebat akan syal itu sehingga sebagai kesepakatan Jack akan memberikan tanda kecupan yang lain. Parahnya Elvira berpikir kenapa dia setuju begitu saja.
Ayah dari bayinya begitu mudah memanipulasinya dengan manis. Jack berdiri disebelahnya memeluk pinggangnya erat. Beberapa pasang mata melihat mereka dengan pandangan menyelidik sekaligus iri. Tangan Elvira berkeringat, dia belum pernah berada di acara mahal seperti ini.
“Aku tidak berpikir kita harus kepesta seperti ini.” Bisik Elvira saat mereka memasuki aula.
“Papi menyelenggarakan acara amal, aku akan memperkenalkanmu pada beliau.”
“Jika aku mempermalukanmu bagaimana?”
“Hu?” Jack menatap Elvira bingung.
“Mereka terlihat seperti deretan orang-orang terkaya di negeri ini sedangkan aku hanya gadis yatim piatu miskin.” Bisik Elvira, ada kepanikan dari getaran suaranya.
Jack tersenyum tipis dan mengecup keningnya. Elvira terkejut, bisa-bisanya Jack mengecupnya didepan mata semua orang. Jack sedang menjadi pusat perhatian sekarang. Entah karena mereka mengetahui jika penyelenggara acara ini adalah ayahnya atau mereka menghakimi betapa rendahnya selera perempuannya. “Kamu sangat cantik malam ini.” Bisik Jack kemudian. Elvira tidak bahagia dengan pujian itu, dipikirannya masih berlari-lari mengenai makian yang akan diterimanya nanti.
Jack membimbingnya menduduki bangku yang tersedia, seorang pria setengah baya duduk di seberang mereka. Pria itu seperti kembaran versi tua dari Jack, apalagi saat Elvira duduk dengan kaku, Jack bangkit meninggalkannya dan menghadap pria itu. Elvira mencuri-curi pandang dan terkejut ketika pria itu mengangguk kecil kearah Elvira. Sebagai balasan, Elvira hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Jack pergi kemudian entah kemana meninggalkan Elvira kemudian.
Elvira mengutuk dalam hati, dia tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih selang beberapa menit, Ellani duduk disebelah pria setengah baya itu. Elvira memilih menunduk dan sesekali meminum air mineral yang terhidang. Awalnya dia ingin menyantap red wine yang terhidang tetapi Jack sudah mewanti-wanti semua pramusaji bahwa dirinya hamil.
Acara itu dimulai dengan kata sambutan dari Jack di podium. Dirinya terlihat sangat tampan dengan lampu menyorotnya elegan. Elvira tak bisa lepas menatap kagum, dia mengakui jika pria yang menjadi ayah dari janinnya ini sungguh mempesona. Setelah kata-kata sambutan itu seluruh hadirin memberikan tepuk tangan. Jack mendekati Elvira kembali dan bertahan disisinya hingga acara makan malam.
Elvira memilih bangkit dan menuju balkon, dia tak ingin berlama-lama diruangan yang pengap oleh banyak orang. Belum lagi mualnya yang bisa saja tiba-tiba muncul. Jack menghilang lagi entah kemana berdiskusi dengan rekan bisnisnya.
“Hey, Nak.” Sebuah suara mengangetkannya. Elvira menoleh dan terkejut melihat pria setengah baya itu dan Ellani berjalan mendekatinya.
“Ah… Hallo.” Jawab Elvira kikuk sambil menunduk.
“Tidak perlu malu.” Pria itu tersenyum. “Siapa namamu?”
“Elvira… Elvira Birawa.”
“Nama yang indah. Kamu mengenal saya?” Elvira menggeleng pelan dan disambut tawa pelan. “Aku adalah ayah Jack, Cedric.”
“Ah… maaf, aku tidak mengenal anda.” Elvira semakin merasa kikuk, wajahnya merona malu.
“Tidak masalah.” Cedric tersenyum ramah. “Ellani Sayang, aku ingin berbicara empat mata dengan Elvira.”
“Ok.” Ellani segera beranjak jauh setelah memberikan satu kecupan di pipi Cedric.
Elvira berdiri canggung, hanya mereka berdua di balkon tersebut. Itu karena pengawal Cedric berjaga agar tidak ada satu orangpun yang menganggu mereka. “Jadi bagaimana kabar calon cucuku?”
“Ehm… dia baik-baik saja.”
“Usianya?”
“Memasuki 6 minggu lebih.”
Cedric mengangguk kemudian, “Jack datang kepadaku dan berbicara panjang lebar tentangmu. Apa kamu tahu nasip Jack berada ditanganmu?”
“Uh? Maksud anda?”
“Jika dia tidak menikahin seseorang dalam tahun ini, aku tidak akan mewariskan hartaku kepadanya.”
Wajah Elvira menjadi pucat. “A… apa?” jadi Jack hanya memanfaatkannya. Lalu kata-kata manisnya selama ini tidak tulus? “Kamu adalah wanita pilihannya, jaga puteraku dengan baik.” Lanjut Cedric tanpa mempedulikan wajah pucat Elvira. Mereka terdiam membiarkan angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka. “Apa kamu sanggup berada di sisi Jack?”
Elvira menatap pandangan berkharisma Cedric, dia terlanjur kecewa. “Aku tidak sanggup.”
“Lalu mengapa kamu mengiyakan ajakan Jack? Apa kamu hanya mengincar hartanya?”
Elvira terdiam tidak ingin menjawab, kenapa harus dia yang menjelaskan semuanya? Dari awal dia tidak pernah ingin mengejar Jack, kenapa pandangan menghakimi itu selalu ditujukan kepadanya? Apa karena dia miskin sehingga orang selalu berpikir dia mengejar kekayaan yang di miliki Jack?
Padahal tanpa Jack-pun dia bisa mandiri dan hidup baik sebelumnya. Elvira tertawa sedih tanpa sadar, Cedric disebelahnya menatap penuh tanya. Angin yang berhembus menambah perih hatinya, dengan keberanian yang dimilikinya, Elvira menatap Cedric tepat di manik matanya.
“Menurut anda?” Elvira bertanya dengan senyum tipis. Satu menit berlalu dan Cedric seperti sedang menyelidiki sikapnya saat ini, terlihat dia tak berniat menjawab. “Jika tidak ada lagi yang anda ingin bicarakan, aku pamit undur diri.” Elvira menunduk hormat dan berlalu pergi. Hati dan jiwanya lelah di saat bersamaan, belum lagi tubuhnya yang lemas. Elvira melangkah menuju pintu keluar ketika pengawal Jack menghalaunya.
“Anda ingin kemana, Nyonya?”
“Rumah.” Jawabnya pelan memijat kening. Pengawal Jack segera membantunya memasuki mobil. Sepanjang perjalanan Elvira merenung, ingin rasanya dia tertawa sekeras-kerasnya. Dia ingin menertawakan dirinya yang bodoh dan mudah ditipu. Ini sudah kali keduanya seperti ini, kenapa dia tidak sadar juga jika Jack dan dirinya berada pada dunia yang berbeda. Tidak ada pria mapan dan tampan yang akan jatuh cinta pada itik buruk rupa yang miskin.
Elvira kembali memijat keningnya, kepalanya begitu sakit. Ingin rasanya dia segera berbaring. Setibanya di mansion, Elvira memasuki kamar utama. Dirinya segera melepas gaun mewah yang dikenakan dan menggantinya dengan kaos oblong. Elvira membuka pintu pelan dan melirik kanan kiri.
Biasanya pengawalnya ada di sini, tetapi sepertinya mereka mengira jika Elvira sudah tertidur dan meninggalkan penjagaan. Elvira meraih handphonenya, dibelakang pelindung alat komunikasi itu Elvira menyelipkan beberapa lembar uang. Elvira mulai berjalan disekitar lorong dan memasuki salah satu kamar tamu. Dirinya segera mengunci pintu dan berbaring ditempat tidur.
Hatinya berat namun dia harus beristirahat. Tangannya mengelus perutnya pelan, perih yang dirasakannya kembali memukulnya berkali-kali lipat. Haruskah dia menggugurkan kandungan itu agar Jack melepaskannya? Memikirkannya saja membuat tangan Elvira bergetar. Sungguh menyedihkan dia harus mengorbankan buah hatinya agar lepas dari cengkeraman orang lain. Kini dia tak ada bedanya dengan pembunuh berdarah dingin.
“ELVIRA! ELVIRA!” Jack menggedor-gedor pintu keras. Dirinya yang terlelap terpaksa terbangun. Elvira menutupi telinganya dengan bantal, toh pria itu akan lelah sendiri. Tak lama Elvira mendengar Jack memerintahkan pelayannya mengambil kunci cadangan. Elvira mendengar pintu yang dengan paksa dibuka menggunakan kunci serep.
“ELVIRA!” Jack mendekatinya. “ELVIRAAA!” Jack meraih tubuhnya. Napasnya terengah-engah dan berat, wajahnya pucat. Elvira menatapnya dengan wajah datar. Terang Jack kuatir jika dirinya kabur, harta itu bisa saja lolos dari tangannya, setidaknya itulah yang dipikirkan Elvira. “Kamu tidak apa-apa?” Jack bertanya disela napasnya yang putus-putus.
Elvira tidak menjawab dan menghempaskan tangan Jack pada lengannya. Elvira kembali berbaring membelakanginya. Jack terdiam dan memerintahkan seluruh pengawal dan pelayannya keluar meninggalkan mereka berdua. “Apa yang terjadi?” Jack berusaha membujuk.
Namun bukan Elvira namanya jika dia tidak keras kepala. Elvira tahu jika dia bertanya tentang harta itu, Jack akan menjelaskan dengan manis dan pada akhirnya dia akan luluh kembali. Lebih baik dia memilih diam dan saat ada celah, dia akan kabur.
Cukup melelahkan dikelilingi orang yang berpura-pura. Axel pernah memperdayainya, akan sangat lucu jika Jack juga melakukan hal yang sama. “Elvira… please… Apa yang terjadi?” bujuk Jack sembari memelas, tangannya memegang lengan Elvira dan mengelusnya. Elvira menutup matanya erat berusaha mempertahankan akal sehatnya. Jack terus memohon tiada henti malam itu tetapi tak ada satupun kata yang terlontar dari mulut Elvira.
Esok paginya Jack memilih untuk mengambil waktu libur, dia menemani Elvira yang hanya berbaring tidur tidak ingin menyentuh sarapannya. Sepanjang malam dia sudah mengemis dan memohon tetapi Elvira tetap diam. Tubuh Elvira terus terbaring bahkan hingga siang.
Jack memaksanya bangun dan Elvira kembali berbaring tanpa ingin menatap wajahnya. Malam pun datang dengan kejadian yang sama, Elvira tak menyentuh makan malamnya. Jack mulai frustasi karena Elvira sedang mengandung buah hati mereka, bahkan setetes airpun tidak mengaliri tenggorakan Elvira.
Jack terus memohon dan respon diam yang diterimanya tetap sama. Pada akhirnya Jack mengambil cara pintas dan menyuapi makanan kedalam mulut Elvira dengan paksaannya. Dua pelayannya memegangi tubuh Elvira tetapi Elvira kembali memuntahkan makanan itu.
Matanya bahkan tidak terbuka, Elvira hanya berontak dan terus berontak. Pada akhirnya Jack menyerah dan membiarkan Elvira kembali berbaring. Malam yang panjang berlalu lambat, Jack berbaring disisi Elvira terus membujuk sembari memeluknya erat. Namun sepertinya hati Elvira terlanjut dingin dan membeku.
Jack menghubungi seluruh anggota keluarganya dan bahkan menginterogasi setiap pengawalnya untuk mencari alasan kenapa ibu dari anaknya itu diam seribu bahasa. Tak ada jawaban jelas hingga salah satu supirnya mengatakan jika Elvira tiba-tiba pulang setelah berbicara empat mata dengan ayahnya.
Jack yang mengetahui itu mendatangi ayahnya dengan wajah gusar. Ellani berusaha menghentikannya karena kondisi kesehatan suaminya sedang tidak baik. Jack yang diliputi amarah tidak ingin mendengarkan. Jack memaksa masuk kedalam kamar ayahnya.
Cedric yang terbaring sedang diperiksa oleh dokter keluarga menyambut dengan tenang. Semua orang dalam ruangan itu meninggalkan Cedric dan Jack yang berbicara empat mata. “Papi mengancam Elvira bukan?!” bentak Jack. Cedric cukup terkejut melihat respon anak ketiganya itu. Baru kali ini Jack bersikap frontal dihadapannya.
“Duduklah dulu.”
“Aku tidak bisa, Pi! Apa yang Papi lakukan kepada Elvira?”
“Ah… Elvira mengadu kepadamu?” ledek Cedric.
Wajah Jack semakin memerah, tangannya terkepal keras. “Elvira sedang dirawat dirumah sakit karena menolak berbicara dan makan denganku sejak acara amal itu.”
“Oh? Benarkah?” Cedric kembali dikejutkan.
“PAPI!” suara Jack menggelegar.
“Papi tidak mengatakan apapun.”
“Lalu kenapa Elvira seperti itu?”
“Entahlah… kamu harus mendapatkan jawabannya sendiri.”
“Elvira menolak berbicara, dia sedang menyiksa dirinya sendiri.”
“Hm… wanita yang aneh.” Guman Cedric yang disambut dengan amukan Jack. Kedua pengawal Cedric terpaksa harus menerobos masuk dan memegangi Jack erat. “Papi tidak mengatakan apapun.”
“Lepaskan!” Jack meronta. Cedric mengangguk kepada kedua pengawalnya untuk keluar. “Apa Papi tahu Elvira pernah mencoba bunuh diri setelah aku memperkosanya? Elvira berusaha melarikan diri dariku berulang kali tetapi aku yang selalu mengejarnya. Bahkan tinggal di mansion saat ini juga atas paksaanku.
Aku menahannya dengan alasan aku adalah ayah dari janin yang dikandungnya. Aku masih berusaha mendapatkan kepercayaannya tetapi Papi menghancurkannya. Sekarang dia kembali pada kondisi ingin bunuh diri, hanya infus yang menjadi sumber makanan bagi tubuhnya dan bayi itu!” Air mata Jack akhirnya mengalir.
Cedric tertegun melihat puteranya yang perkasa itu menangis. Alin istri pertama hanya dapat melahirkan dua puteri untuknya hingga Cedric memutuskan menikah dengan Ellani sebagai istri kedua dan mendapatkan Jack. Cedric tahu benar jika kedua istrinya itu memperebutkan yang terbaik untuk anak-anak mereka.
Sejak lahir Jack sudah mandiri sesuai dengan harapannya. Namun sikap tegasnya diterima salah oleh Jack yang menikmati petualangan tanpa status. Itulah sebabnya dia mengajukan syarat agar Jack bisa mewarisi sebagian besar hartanya dengan menikah.
Kembali ke masa sekarang. Jack terduduk dilantai dengan kepala tertunduk, bahunya bergetar menahan isaknya yang tanpa suara. “Kamu mencintai wanita itu rupanya.”
Wajah Jack terangkat, “aku sangat mencintainya, Pi. Aku sudah pernah kabur darinya dan berusaha menyangkal perasaanku berulang kali, dan pada akhirnya aku semakin jatuh terpuruk. Mami tidak ingin menerima Elvira karena dia bukan dari keluarga terpandang dan kaya raya.
Mami pernah melukai Elvira tetapi wanita itu hanya diam pasrah, menungguku melepaskannya. Tetapi aku tidak pernah ingin melakukannya. Itulah mengapa aku membawanya dihadapan Papi berharap Papi bisa melihatnya secara objektif.” Terang Jack panjang lebar.
Cedric terdiam berpikir, “jika hanya seperti ini dia ingin bunuh diri, kamu yakin dia tidak akan melakukannya dikemudian hari? Bagaimana jika suatu saat dia akan menyakiti keluarga kalian?”
“Elvira bukan wanita seperti itu. Dia adalah tipikal wanita yang lebih baik mengalah dan mundur dari pada bersikeras untuk hal yang menurutnya tidak pantas dia terima. Papi akan jatuh hati saat mengenal kepribadiaannya.”
Cedric tertawa kecil, “ini kali pertamanya kamu memuji seseorang begitu tinggi.” Jack diam tak menjawab, wajahnya hanya menunduk lemas. Pikirannya tidak tenang memikirkan kondisi Elvira yang semakin parah. “Papi mengatakan sesuatu kepadanya malam itu.”
“Mengenai?” wajah Jack mengeras.
“Kamu akan menerima harta gono gini jika kamu menikah.”
“F*ck!” maki Jack dan segera bangkit dari duduknya. Kakinya segera melangkah meninggalkan kamar ayahnya terburu-buru. Akhirnya dia tahu apa yang terjadi. Elvira merasa cintanya tidak tulus. Wanita rapuh itu pernah ditipu dalam pernikahannya dan kini mempercayai seseorang mustahil baginya. Tetapi Elvira bersedia membuka hati untuk dirinya tetapi kata-kata ayahnya malam itu menghancurkan kepercayaan Elvira yang mulai terbangun.
Jack terburu-buru memasuki mobilnya dan memerintahkan supirnya untuk membawanya menuju rumah sakit. Setibanya di sana kondisi Elvira tidak juga membaik. Wajahnya pucat dan detak jantungnya lambat. Dokter bahkan mengatakan untuk menerima kenyataan jika mereka harus menggugurkan janin tersebut. Janin tersebut tidak berkembang sebagaimana mestinya dengan kurangnya asupan gizi yang baik. Jika Elvira terus seperti ini, mereka benar-benar harus kehilangan bayi itu.
Jack terduduk di samping Elvira menangis, dunianya jatuh dan berputar keras. Kenapa cinta pertamanya begitu menyedihkan? Apa ini hukuman bagi dirinya yang dulu suka menyakiti hati banyak wanita?
Elvira tidak sadarkan diri selama tiga hari penuh. Pada hari keempat Cedric mendatangi rumah sakit dan melihat secara langsung kondisi Elvira. Penampilan putera satu-satunya itu tidak jauh berbeda. Jack terlihat berantakan, lingkaran hitam terdapat dibawah matanya dan wajahnya pucat. Meski kondisinya kurang sehat, Cedric memaksa untuk mengecek dengan mata kepalanya sendiri.
Sebelum menemui Jack, Cedric menemui dokter dan mendengar langsung keadaan Elvira. Ada sedikit penyesalan dihati Cedric mendengar semuanya, terlebih lagi dokter ini pula yang merawat Elvira dulu pasca insiden bersama Jack.
Kini matanya terbuka melihat secara jelas bagaimana posisi Elvira sebenarnya. Dia bisa dengan mudah menyambung alasan mengapa Elvira tidak ingin menjawab pertanyaannya mengenai harta. Calon menantunya itu lelah memberikan penjelasan kesemua orang, termasuk dirinya. Pada dasarnya dia merasa terpaksa di tempat pertama.
Cedric mengetuk pintu dan pengawalnya membantu membukakan pintu itu. Jack sedang duduk membaca dokumen dari kantornya. Dirinya cukup terkejut melihat ayahnya datang. Jack berdiri menyambut dan membantu Cedric duduk. “Ada apa—”
“Papi sudah mendengar semuanya.” Potong Cedric.
Jack melirik kearah Elvira yang masih terbaring tak sadarkan diri, “oh oke—” respon Jack lemah. Rasanya dia benar-benar tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengan ayahnya saat ini.
“Papi minta maaf.” Sambung Cedric. Wajah Jack terangkat menatap ayahnya terkejut. “Papi merestuimu.” Simpulnya dengan senyum kecil. Jack tidak yakin dengan apa yang didengarnya, apa dia sedang bermimpi?
“Ke… kenapa?”
“Setiap orang layak untuk mendapat kesempatan, Nak.”
“Tapi Mami masih membenci Elvira.”
“Itu urusan Papi. Fokus kamu sekarang untuk membangun kembali kepercayaan Elvira.”
Bagai beban berat yang terangkat dari pundaknya, Jack tersenyum tipis. Lelahnya beberapa hari ini seakan berkurang drastis. “Terima kasih, Pi.” Jawab Jack tulus.
“Jika Elvira sudah sehat, datanglah ke rumah untuk makan malam.”
“Ya, Pi.”
Keesokan harinya dokter menemui Jack dan memutuskan untuk menggugurkan janin yang dikandung Elvira. Jack berdebat hebat, dia takut jika janin itu tidak ada lagi, Elvira akan benar-benar meninggalkannya. Jack tidak punya alasan kuat untuk membuat Elvira bertahan di sisinya.
Selama ini Elvira diam bukan karena cintanya yang besar kepada Jack, lebih kepada masa depan buah hati yang dikandungnya. Elvira tak ingin anak itu lahir tanpa mengetahui siapa ayahnya.
Bersambung… Jack sudah diambang batas, dia tidak menyetujui saran dokter tersebut. Namun Ellani dan Cedric jelas menyetujuinya. Mereka berkeras jika kondisi ini juga akan memperburuk kondisi Elvira. Akhirnya dengan keterpaksaan, Jack bersedia merelakan janin itu.
Operasi dilakukan secara singkat meski Elvira masih dalam kondisi tidak sadar. Jack berdoa diluar ruang operasi, dirinya merasa tubuhnya tidak bertulang lagi. Kejadian ini begitu menguras emosi jiwa dan kekuatan raganya meski dia tahu benar itu yang terbaik.
Setelah operasi, Elvira kembali dirawat di dalam ruang VVIP. Jack terus setia bersamanya dan mengerjakan urusan kantornya dari ruangan tersebut. Memasuki hari kedua sesudah operasi, Elvira sadar dari komanya. Jack memanggil perawat sembari menggenggam erat tangan Elvira. Air mata syukurnya mengalir deras, disebutnya nama Elvira berulang kali.
Dokter memeriksa keadaan Elvira dan mengatakan jika tubuh Elvira masih sangat lemah. Untuk sementara Elvira tidak boleh di bawah tekanan sehingga lebih baik bagi Jack untuk tidak menemuinya dulu. Jack mengikuti saran dokter tersebut dan meminta bantuan Maya memulihkan mood Elvira. Sahabat selalu menjadi salah satu obat agar pasien bisa kembali memiliki harapan.
Satu minggu lamanya Elvira bisa duduk dengan tegak dan mengonsumsi makanannya habis. Maya setia di sampingnya memberikan penguatan. Elvira belum mengetahui jika janin itu sudah tidak ada lagi. Jack hanya bisa melihat Elvira dari luar, sebisa mungkin dia tidak terlihat agar kondisi Elvira dapat pulih. Itu yang terpenting.
“Kamu ingin buah?” tanya Maya mengangkat apel dari keranjang.
“Tidak, aku ingin istirahat.” Elvira kembali berbaring.
Maya mendekatinya dan duduk di sebelahnya. “Bagaimana perasaanmu?”
“Lebih baik.”
“Jack sangat mengkhawatirkanmu, dia setia menunggumu selama dirimu tidak sadar.” Maya berhati-hati menyebut nama Jack. Elvira diam tak ingin menjawab. “Kesalahpahaman kalian seharusnya diselesaikan dengan diskusi, tindakanmu salah.” Lirih Maya.
“Ini bukan kesalahpahaman.” Tekan Elvira dingin.
Maya diam dan bangkit berdiri, dia tahu Elvira benar-benar terluka. “Aku harus pergi bekerja.”
“Ya.”
“Hubungi aku jika kamu ingin makan sesuatu.”
“Oke.”
“Dan pikirkan tentang Jack, maaf jika aku mungkin terdengar lancang tetapi kamu harus mendengarkan dari sisinya dulu.”
“Kamu jadi membelanya. Apa Jack juga menyogokmu?” kritik Elvira tajam. Matanya menusuk hati nurani Maya.
“Jack tidak pernah melakukan itu, aku hanya memikirkan kebahagiaanmu Elvira. Aku ingin kamu bahagia.”
“Kamu tidak terlambat?” Elvira mengalihkan pembicaraan.
“Oh oke. See you.” Maya memeluk Elvira sebelum meninggalkan ruangan.
Beberapa hari kemudian Jack memberanikan diri memasuki ruangan saat Elvira sedang menonton, tetapi pikiran Elvira seperti tidak mengarah pada acara TV tersebut. “Hey.” Sapa Jack.
Elvira menoleh dengan ekspresi dingin. Dalam hati dia cukup terkejut melihat kondisi Jack. Pria perkasa, tampan dan berkharisma itu kini terlihat kurus dan kelelahan. Lingkaran hitam terdapat di bawah matanya. Elvira membuang muka dan mengencangkan volume TV.
Jack mendekatinya dan duduk dibangku dekatnya. Elvira masih juga tidak ingin memandangnya. “Bagaimana keadaanmu?” suara Jack seperti tenggelam oleh suara TV tersebut. Jack akhirnya bangkit dan mencabut kabel aliran listrik TV tersebut. Elvira mengangkat selimutnya dan menyelimuti seluruh tubuhnya lalu memejamkan matanya.
“Maafkan aku.” Jack memulai percakapannya. “Aku sudah mengerti kenapa kamu bersikap seperti ini, Papi menjelaskan semuanya.” Tutur Jack. Elvira tak bergeming, dia memutuskan untuk tidak ingin mempercayai Jack lagi. “Memang benar jika aku menikah, aku akan mendapat harta gono gini.
Itulah yang diperjuangkan Mami juga. Aku tidak pernah berniat untuk menikah sejak dari awal. Tetapi semuanya berbeda saat kita bertemu pertama kali, aku masih ingat jelas saat aku memintamu menikahiku. Awalnya itu terdengar seperti permainan sampai kamu pergi dari mansion.
Aku terpuruk berusaha menyangkal perasaanku. Saat melihatmu pertama kali di club, hati kecilku bersorak girang. Tanpa aku sadari, aku mulai mendekatimu tanpa kenal lelah. Aku memang belum mengerti apa yang diinginkan hatiku pada saat itu.”Jack berhenti sejenak mengenang yang terjadi.”
“Lalu kedua orangtuaku semakin menekanku, hanya padamu aku bisa melarikan diri. Kamu selalu menjadi penawar kepenatanku. Tetapi responmu tidak semanis yang kuharapkan, aku merasa frustasi karena kamu selalu menolakku. Itulah mengapa kejadian pahit itu terjadi.
Aku mencoba melarikan diri tetapi aku semakin merindukanmu. Saat kamu hamil, duniaku terasa runtuh seketika. Aku kembali ingin menyangkal dan lagi-lagi aku kembali mengejarmu. Elvira, aku jatuh cinta padamu. Aku tidak pernah berpikir memanfaatkanmu agar aku bisa mewarisi harta itu.
Aku mampu berdiri sendiri secara finasial tanpa harus bergantung dari bantuan orangtuaku. Harta itu hanya pemanis, kamulah inti dari semuanya.” Diakhir suara Jack bergetar, hatinya penuh dengan emosi yang sulit dijelaskan. Punggung dingin Elvira seperti membunuhnya dengan luka perih menganga.
“Elvira, please… percayalah padaku. Aku bukan mantan suamimu. Aku ingin memulai semuanya dari awal denganmu.” Elvira bisa mendengar jelas tangis Jack di ruangan luas ini. “Elvira… Sayang… please…”
Elvira tak bergeming, hatinya juga bergemuruh hebat. Rasanya hati dan akal sehatnya tidak memiliki pendapat yang sama. Baru saja 10 menit yang lalu dia berjanji untuk tidak mempercayai Jack lagi tetapi kini hatinya kembali goyah. Elvira membenci hatinya yang lemah. Hening menyelimuti keduanya.
Jack berusaha meredakan tangisnya. “Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?” Elvira lagi-lagi tak ingin menjawab. Tangannya bergerak mengelus perutnya, janin ini membutuhkan ayahnya kelak. Tepat saat Elvira akan berbalik, Jack kembali berbicara. “Dokter telah menggugurkan janin yang kamu kandung.”
Elvira terhentak dan bangkit. Tubuhnya berbalik menatap tajam. “Ke… kenapa?”
“Janin itu tidak berkembang dan membahayakan kondisimu.”
“Dan kamu menyetujuinya?” kali ini suara Elvira terdengar marah bercampur kecewa.
“Ya.” jawab Jack tegas. “Aku harus menyelamatkanmu.” Jack bangkit dan meraih tangan Elvira tetapi dengan cepat Elvira menghindar. “Maafkan aku.”
Elvira tertawa kecil, hatinya terasa hampa sekaligus perih, dia ingin menangis tetapi air matanya enggan mengalir. Elvira menutup matanya erat. Awalnya dia tidak bahagia dengan janin ini, tetapi setelah Jack membawanya ke mansion, dia mulai mencintai janin ini dan sekarang janin itu tidak ada lagi. Apa harus dirasakannya? Sedih? Senang? Marah? Kecewa?
“Jadi, setelah janin ini tidak ada, bisakah kamu melepaskanku?” pinta Elvira pada akhirnya.
“No, please Elvira—” Jack segera meraih kedua tangan Elvira erat mengabaikan sang empu yang berontak. “Please… please.” Jack memohon, air matanya kembali mengalir. Entah mengapa pria ini sering menangis di hadapan Elvira. “Jangan tinggalkan aku.” Rengeknya.
Elvira menghela napas panjang, “kamu bisa mendapatkan—”
“NO!” potong Jack.
“Wanita-wanita lain bisa—”
“NO!”
“Kamu pantas—”
“NO!” Jack semakin menggenggam tangan Elvira erat. Tubuhnya kembali bergetar.
“Aku—”
“Papi meminta maaf atas sikapnya terhadapmu, Mamipun perlahan menerimamu. Apa yang salah?” kini Jack terdengar seperti protes.
“Kamu.” Pungkas Elvira.
Jack terkejut berusaha membela diri, “aku? Aku jelas mencintaimu.”
“Sulit bagiku untuk percaya.”
“Ijinkan aku membuktikan.”
“Apa yang ingin kamu buktikan?”
“Semuanya.” Janji Jack.
“Aku lelah, aku ingin kamu pergi.” Elvira menarik tangannya dan kembali berbaring memunggungi Jack.
“Aku bukan mantan suamimu. Aku akan menjagamu sama seperti aku menjaga diriku sendiri!” Jack tidak ingin menyerah tetapi Elvira tidak menjawab. “Elvira!”
“Äku. Ingin. Beristirahat.” balik Elvira tanpa simpati.
“Baiklah, istirahatlah. Aku akan datang kembali.” Dengan itu Jack bangkit mengecup pundak kepala Elvira dan pergi.
Keesokan harinya, Jack benar-benar membuktikan perkataannya. Dirinya membawa Cedric untuk mengunjungi Elvira. Meski Ellani melarang dikarenakan kondisi Cedric yang belum pulih, tetapi melihat kesungguhan hati Jack, akhirnya Ellani luluh. Cedric memasuki ruang rawat saat Elvira sedang menyantap makan siangnya. Elvira menoleh terkejut dan menghentikan aktivitas makannya. Maya yang berada di sebelahnya segara bangkit kikuk.
“Ah, aku datang disaat yang tidak tepat.” Kelakar Cedric. Elvira tidak menjawab candaan itu dan berbisik kepada Maya agar menyingkirkan makanannya untuk sementara. “Kamu bisa menghabiskan makananmu, aku akan menunggu.” Jawab Cedric santai dan duduk di sofa.
Maya melirik Elvira yang tetap kukuh menyingkirkan makanannya. Maya mengerti dan meninggalkan mereka berdua. Cedric bangkit kemudian dan mendekati Elvira. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Cedric lembut berusaha mencairkan suasana yang dingin.
“Baik.” Jawab Elvira singkat, terang dia terlihat tidak menyukai kehadiran Cedric.
“Kamu terlihat membenci Papi.” Cedric kembali duduk dibangku di sebelah Elvira. Dalam hati Elvira mengutuk keadaan ini, dirinya belum pulih benar dan makian datang silih berganti. “Sepertinya perkataanku tempo hari sangat menyakiti hatimu.” Lanjut Cedric yang disambut diam oleh Elvira.
Jack dan ayahnya adalah sejenis, mereka sama-sama manipulative. Dirinya tak boleh luluh dengan mudah. Setidaknya itu yang dipikirkan oleh Elvira. Mendapat sikap dingin tersebut Cedric menghela napas panjang, “perjalanan puteraku meluluhkan hatimu pasti akan sulit, kamu keras kepala.” Keluh Cedric kemudian.
“Jack tidak perlu melakukan itu, anda bisa mencarikan wanita yang jauh lebih baik dan bermartabat.” Disaat itulah Elvira menjawab setenang mungkin dan menatap lurus mata Cedric.
Hening mengelilingi mereka berdua. “Aku kemari bukan karena Jack yang meminta, aku datang atas kemauanku sendiri. Aku rasa baik memperbaiki kesalahpahaman.”
“Anda tidak salah sedikitpun.” Sergah Elvira.
“Aku sudah mendengarkan seluruh penjelasan dokter. Selama ini istriku menyembunyikan fakta itu. Aku bisa mengerti mengapa dia melakukannya, kehidupan keluarga kami pun tidak semulus apa yang dipikirkan orang lain. Lagipula jika memang kamu mencintai Jack, kamu bersedia mempertahankannya meskipun kami orangtuanya menentang.” Terang Cedric.
Elvira tertawa kecil tanpa disadarinya dan kembali diam. Tenaganya benar-benar menguap untuk berdebat. “Jadi kamu tetap memutuskan pergi meski aku dan Ellani menyetujui hubungan kalian?” Elvira tetap bungkam. “Elvira… Papi sedang berbicara kepadamu.” Kini Cedric mulai kesal dengan sikap acuh Elvira.
“Ya.” hanya jawaban singkat itu cukup menyimpulkan semuanya. Wajah keras penuh luka batin yang diderita Elvira membuat Cedric bungkam.
“Apa tak ada rasa cinta dan belas kasihan dihatimu untuk Jack?”
“Aku anak yatim piatu miskin dan hina, aku hanya akan mencoreng nama keluarga anda yang agung. Tindakan istri ada sudah benar. Jack bisa mendapat wanita terhormat lainnya di luar sana.” Simpul Elvira.
“Elvira…”
“Aku hanya ingin kembali ke kehidupanku sebelum bertemu Jack. Anda berkuasa, permintaan kecil ini tidak ada apa-apanya. Tolong hormati keputusanku.”
Setelah mengatakan itu, Cedric tidak bisa menjawab lagi dan diskusi mereka terhenti saat itu juga. Elvira diijinkan keluar dari rumah sakit malam harinya. Maya membantunya berkemas. Mereka cukup terkejut dapat dilepaskan begitu saja. Kedua pengawal Jack mengantar Elvira ke rumahnya. Rumah itu sudah cukup lama ditinggal sehingga debu menumpuk di mana-mana. Maya memutuskan membawa Elvira beristirahat di rumah sewanya untuk sementara.
“Aku akan menyewa cleaning service agar rumahmu bersih dulu.”
“Baiklah. Terima kasih, May.”
“Anytime.” Maya tersenyum dan meletakkan barang-barang Elvira di sudut kamarnya.
Waktu berlalu lambat, tidak terasa dua bulan sudah Elvira ‘dibebaskan’. Sudah satu bulan ini dia bekerja di restoran steak dan pasta yang tak jauh dari rumah sewa Maya. Kebetulan yang membawa keberuntungan. Manager restoran itu adalah teman Maya saat masih dijenjang kuliah sehingga Elvira dengan mudah diterima. Elvira memulai kehidupannya lagi dengan harapan, dia akan baik-baik saja untuk kedepannya.
“Elvira, tamu meja 5 belum mendapat menu.” Teriak Ayu, teman sekerjanya yang sedang sibuk melayani pelanggan yang lain.
“Ah, ya. On my way.” Elvira meletakkan piring kotor di tempat pencucian dan segera mengambil notenya. Elvira terkejut ketika pelanggan itu adalah Axel.
“Sh*t!” maki Elvira pelan. Kenapa dia terus bertemu pria ini? Elvira menenangkan hatinya, dia harus bersikap professional. Setidaknya jemarinya tidak terangkat untuk mencakar pria penipu itu. “Selamat siang, anda sudah menentukan pilihan?”
“Ya, paket A setengah matang, carbonara dan jus mangga.” Ucap Axel cepat.
“Ada lagi?”
“Itu sa— Elvira!” Axel terkejut saat baru menyadari Elvira berdiri di sampingnya.
“Baik, mohon ditunggu.” Elvira segera berlalu pergi cepat sebelum Axel menahannya. Dan begitulah seterusnya, Axel terus mendatangi restoran tersebut demi bertemu Elvira. Beruntung karena sibuknya pekerjaan, Elvira selalu memiliki alasan untuk menghindar. Mungkin karena pengalamannya bersama Jack begitu rumit, perasaan gusarnya terhadap Axel sudah pudar. Padahal jika diingat, Axel-lah yang menghancurkan hidupnya dari awal.
“Tolong bersihkan meja dapur sebelum kamu pulang ya, Vir.” Ujar Ayu melepaskan seragamnya.
“Oke.” Jawab Elvira setengah berteriak karena dia masih berurusan dengan beberapa piring kotor. Elvira melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 11. Akan sangat sulit untuk kembali ke rumahnya apalagi dia tidak membawa mobil. Elvira meraih handphonenya dan menghubungi Maya.
“Aku bisa menginap malam ini di kos?”
“Ya, kamu memiliki kuncinya bukan?”
“Ya.”
“Aku akan pulang terlambat.”
“Tidak masalah. Terima kasih, May.”
“Yep. See ya.”
Selesai membersihkan, Elvira segera mengganti pakaiannya dan memastikan bagian dapur aman. Kompor dan bahan-bahan untuk esok hari sudah rapi tersusun. Elvira menghela napas lega. “Duluan, Pak.” Elvira menyapa satpam yang sedang berkeliling di dalam restoran.”
“Oke, Mbak.”
Elvira berjalan pelan sembari memutar musik dari handphonenya. Hari ini pelanggan begitu banyak, sehingga dia pulang terlambat. Biasanya jam 10 dia sudah meninggalkan restoran namun kali ini dia harus rela lembur. Jam menunjukkan pukul 12 lewat 10 menit. Elvira bernyanyi-nyanyi kecil melepaskan kelelahannya.
“Elviraaaaa!” seseorang memanggilnya dan menggenggam tangannya. Elvirapun lalu menoleh kaget, handphonenya nyaris jatuh.
“Axel!” kejutnya.
“Hehehe, aku mengejutkanmu?”
“Tentu saja!” Elvira mengelus dadanya dan mencopot earphone dari telingannya dan memasukkannya ke dalam tas.
“Kamu pulang terlambat?” Axel setengah tertawa. Elvira tidak langsung menjawab dan menatap menyelidik. Terang dia bisa menghirup bau alkohol dari mulut Axel. Elvira segera membalikkan badan ingin segera pergi. “Wait! Kenapa kamu pergi?” Axel meraih tangan Elvira.
Bersambung… “Lepaskan!” rontanya. Elvira melirik kiri dan kanan, jalanan yang dipilihnya kebetulan lagi dalam keadaan kosong. Elvira memaki dalam hati.
“Aku mencarimu kemana-mana, ini balasanmu?” Axel menggenggam tangan Elvira erat.
“Lepaskan!” Elvira berusaha kabur.
“Aku hanya ingin berbicara, kenapa kamu menolak?”
“Kamu mabuk. Kita bisa berbicara besok.” Bujuk Elvira. Tubuhnya bergetar jika Axel berniat jahat.
Axel tertawa, “aku maunya sekarang.”
“Oke, lepaskan aku dulu.”
“Tidak mau~” Axel menggoda dan meraih Elvira dalam pelukannya. Elvira dengan panik berusaha mendorong tubuh Axel dengan keras.
“Tolong! To—” saat teriakan kedua, Axel membungkam mulutnya.
“Sssttttt… orang-orang lagi bobo.” Cengirnya.
“Hmpph!” Elvira terus berontak.
“Yuk, kita kerumahku.” Axel menyeret tubuh Elvira menuju mobilnya sembari tetap mendekap mulut Elvira.
Air mata Elvira perlahan mengalir, tangan kanannya pasti memar karena Axel menggenggamnya erat. Tenaga yang tersisa dari tubuhnya terus keluar meronta tetapi kekuatan Axel jauh lebih besar. “Hmmmmphhh!” Elvira terpaksa memasuki mobil Axel tetapi kakinya masih tertahan. Elvira berusaha untuk meronta jauh lebih liar.
PLAAAAAK!
Axel menampar wajahnya membuat Elvira terdiam kaget. “Aku sudah memperingatkanmu untuk diam, aku hanya ingin mengobrol.” Tak lama Axel kembali tersenyum setelah kemarahannya. Elvira tidak pantang menyerah, sekarang atau tidak sama sekali. Axel menindihnya dan kini tangannya mulai meremas payudaranya gemas.
“Hmnmmmph… TOL— TOLO—”
PLAAAK!
Axel kembali memukulnya. Elvira terus meronta dan disitulah Axel berhasil merobek kaos yang dikenakannya. Branya yang berwarna hitam terpampang jelas di hadapan Axel membuat Axel menjadi semakin gelap mata. “TO—LONG!” Teriak Elvira lagi.
BUUUUK!
Axel tertarik keluar dan Elvira melihat seseorang memukulnya. Elvira menangis seketika, tangannya menutup bagian tubuhnya yang terbuka. Hatinya hancur seketika, kenapa dia mengalami kejadian tidak mengenakkan ini? Axel adalah sampah yang ingin dibuangnya jauh-jauh. Manusia ini sudah jahat dari dulu dan semakin jahat saat mereka kembali bertemu. Elvira hanya ingin hidup dengan tenang.
“Elviraa?” seseorang membuka pintu mobil lebih lebar. Elvira mengenal suara itu dan menoleh. “Elviraaa?” Jack di hadapannya menatapnya dengan wajah cemas. Matanya melihat kaos Elvira yang robek dan dengan segera melepaskan jasnya. “Kamu bisa bangkit?” Jack meraih tubuhnya dan menyelimutinya dengan jasnya. Elvira tidak bisa menjawab dan hanya menangis sesegukan.
Elvira bisa merasakan tubuhnya yang mulai kehilangan tenaga. Dia masih mengingat jelas ketika Jack menggendongnya bridal style keluar dari mobil dan memerintahkan anak buahnya yang sedang memukuli Axel untuk berhenti sebelum kegelapan menyelimutinya.
Elvira membuka matanya karena sinar matahari yang menerpa wajahnya. Elvira mengerjap beberapa kali dan melihat sekeliling. Ini kamar utama Jack, kamar yang pernah menjadi miliknya juga dulu. Elvira memegang kepalanya yang sedikit pening.
Matanya menebar keseluruh ruangan, tidak ada yang berubah dari kamar ini kecuali potret wajahnya yang bertebaran di mana-mana dibingkai dengan berbagai ukuran. Elvira cukup merasa malu melihatnya. Kapan Jack memiliki foto-foto ini? Tak lama Jack melangkah keluar dari ruang ganti dengan setelan rapi bersiap untuk bekerja.
“Elvira?” melihat Elvira yang sudah sadar, Jack tergopoh-gopoh mendekatinya. “Bagaimana perasaanmu? Bagian mana yang sakit?” Wajah Jack terlihat begitu kuatir. Elvira sedikit takjub melihat sikap Jack atau mungkin karena mereka lama tidak bertemu? Jack segera menekan interkom untuk memerintahkan Oman memanggil dokter.
“A… aku… baik-baik saja.” Suara Elvira sedikit serak sehingga Jack membantunya untuk minum.
“Dokter sudah memeriksanya tadi malam. Tapi tangan dan wajahmu memar.” Panik Jack.
“Aku baik-baik saja jika sudah beristirahat.” Elvira perlahan menuruni tempat tidur.
“Kamu mau kemana?”
“Pulang.” Mereka berdua terdiam, Jack hanya menatap Elvira mengenakan sepatunya dan meraih tasnya. “Aku akan mengembalikan baju ini setelah aku mencucinya. Terima kasih sudah menolongku.” Lanjut Elvira melirik baju robeknya yang sudah terganti dengan baju yang lain. Jack menatapnya dengan wajah keras. Tangannya terkepal kuat.
“Kenapa?” lirih Jack pelan tetapi Elvira bisa mendengarnya jelas. “Kenapa kamu begitu ingin lari dariku? Aku sudah mengatakannya berulang kali jika aku benar-benar mencintaimu, aku bukan mantan suamimu.” pertanyaan itu menghentikan langkah Elvira. “Kamu bekerja keras banting tulang dan nyaris terluka. Bagaimana jika aku tidak datang pada saat itu juga? Pada kenyataannya aku bisa memenuhi apa yang kamu butuhkan. Kenapa Elvira? Kenapa?” suara Jack bergetar.
Elvira menghela napas panjang, matanya justru menatap foto-fotonya yang tergantung di dinding. Hatinya sedikit tersentuh. Jack bangkit dan berjalan mendekatinya. Jack berdiri tepat di belakangnya dan memeluknya erat. “I love you, Elvira Birawa. Aku sangat mencintaimu. Jangan pergi, aku mohon.” Lirih Jack. Elvira bisa merasakan kedua tangan Jack yang dingin dan gemetaran.
Elvira menghela napas panjang, “tolong lepaskan.”
“A… aku mohon Elvira.” Jack enggan melepaskan pelukannya bahkan pelukan itu semakin erat. Jack menyembunyikan wajahnya di leher Elvira dan perlahan menangis di sana. Sejujurnya hati Elvira mulai merasa tenang setelah dua bulan ini berjauhan dengan Jack. Pikirannya kembali jernih sehingga dia memikirkan semuanya. Sepanjang waktu itupula Maya membantunya untuk melihat sedua sisi dengan adil.
“Tolong lepaskan, Jack.”
“Lalu kamu pergi menjauh lagi begitu?” rajuk Jack. Suaranya baritonnya terdengar lucu merengek seperti ini.
“Kita tidak bisa berbicara dengan tenang jika seperti ini.”
Wajah Jack terangkat terkejut, “berbicara?”
Elvira menguraikan pelukan Jack dan berjalan menuju sofa, Jack mengikuti menurut bagai kerbau yang di cucuk hidungnya. Jack meraih tisu dan menghapus air matanya. Harga dirinya sudah tidak ada lagi di hadapan wanita ini. Meskipun dia harus memohon sambil merengek, dia akan melakukannya tanpa ragu. Elvira menatap Jack tepat dimanik mata, Elvira bisa merasakan penyesalan dan rasa sakit. “Aku akan mempertimbangkan semuanya.”
“Be… benarkah?” wajah Jack kembali menjadi cerah.
“Tapi aku membutuhkan waktu.”
“Lebih baik untuk kita berdua kembali tinggal bersama.” Usul Jack. Kening Elvira mengerut seketika.
“Aku bilang aku membutuhkan waktu.”
“Bagaimana jika pria-pria itu melukaimu lagi?”
“Wait, sebelum itu. Kenapa kamu bisa berada di TKP?” tanya Elvira menyelidik. Jack memalingkan wajahnya cepat, dia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. “Jack!”
“Aku menempatkan pengawal rahasia untukmu.” Aku Jack pelan.
“Untuk?” tanya Elvira kesal. “Itu sama saja kamu selalu membuntutiku.”
“Itu memang tujuanku.” Timpal Jack tanpa rasa penyesalan. Elvira menghela napas panjang dan menutup mata sejenak. “Aku hanya ingin kamu baik-baik saja. Saya sudah mengatakannya berulang kali. Aku akan menjagamu sama seperti aku menjaga diriku sendiri.” Tambah Jack menatap tepat di wajah Elvira. Matanya masih tertutup enggan melihat kedua mata Jack yang bisa menghipnotisnya seketika. “Elvira…”
“Oke! Fine!” Elvira mengalah. “Ah, mengenai Axel… Apa yang terjadi padanya?”
“Di penjara.”
Mata Elvira membulat terkejut, “kenapa dia bisa berada di sana?”
“Kamu pikir pria yang berani menyentuh tubuhmu akan baik-baik saja? Tidak sebelum aku mati!” Jack berapi-api.
Elvira tertegun dan kembali menatap Jack, sejujurnya dia merasa lega karena selama ini Axel terus menganggunya. “Terima kasih.” Lirih Elvira.
“Itu sudah menjadi tugasku, Sayang.” Jack kembali meraih tangan Elvira. “Aku akan tenang jika kamu tinggal di mansion ini.”
“Aku tidak bisa.”
“Kamu ingin tetap bekerja begitu?”
“Ya.”
“Aku akan memberimu pekerjaan lain.”
“Misalnya?” dipikiran Elvira terlintas untuk menjadi pelayan lagi. Sungguh lucu.
“Sekretarisku di kantor.”
“Uh? Sekretaris?”
“Ya.”
“Aku tidak memiliki pendidikan setinggi itu.”
“Kamu memilih jurusan sekretaris sebelumnya dan berhasil lanjut hingga semester 6.”
“Ah ya…” jawab Elvira lesu, karena cinta monyetnya dia memilih berhenti kuliah dan menikahi Axel.
“Aku yakin kamu sudah memiliki basicnya, tangan kananku akan mengajarimu banyak hal tentang administrasi.” Tutur Jack semangat. “Kamu juga bisa kuliah lagi jika itu yang kamu inginkan.”
Wajah Elvira terangkat berbinar, tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk menyelesaikan jenjang itu. Hatinya menghangat seketika. “Oke?” lanjut Jack tak sabar.
“O… oke.” Elvira menjawab lirih. Hanya sebatas itu dan dia kembali berbaikan dengan Jack. Sungguh di luar dugaan. Apa meditasinya bersama Maya membuatnya menjadi sepercaya ini pada Jack? Elvira tidak bisa memungkiri jika Jack tidak datang, Axel sudah memperkosanya secara brutal. Elvira melirik kedua pergelangan tangannya yang memar. Lagi-lagi Jack menjadi penyelamatnya. Takdir memutarkan kembali dunianya di sekitar pria ini.
“YES!” Jack memeluknya seketika. Elvira terkejut dengan rengkuhan tiba-tiba itu. “Aku akan memindahkan semua pakaianmu dari rumah lama—”
“What? Pindah?” Elvira menahan dada Jack.
“Ya, kamu akan tinggal di mansion ini kembali.”
“Aku bilang—”
Sebelum protes itu berlanjut, Jack sudah mengulum bibir Elvira dalam. Elvira mencoba berontak tetapi pelukan Jack jauh lebih kuat. Dirinya hanya bisa pasrah ketika pria bertubuh kekar ini melesakkan lidahnya ke dalam mulutnya dan mencecap dengan lapar. Elvira terbuai dengan kecupan manis itu. Ini kali pertamanya dia merasakan ciuman sepanas ini. Jack memperlakukannya dengan lembut. Seluruh tubuhnya rileks seketika. Ha… Benar bukan? Dia akan sulit lepas setelah ini.
Selang beberapa menit kemudian, bibir mereka terlepas secara naluriah mencari oksigen. Jack menatapnya penuh cinta dan kembali mengulum bibirnya untuk aksi kedua. Kali ini tangan Jack mengelus rambutnya mesra. Elvira benar-benar tenggelam dalam gelora yang baru pertama di rasakannya.
Tangannya yang dari awal berusaha mendorong dada Jack kini menggenggam erat kerah kemeja Jack mencari tumpuan. Tubuhnya seperti lemas tidak bertenaga. Jack terus menautkan lidah mereka berdua secara erotis.
Awalnya Elvira tidak mengetahui harus melakukan apa tetapi nalurinya seakan mengikuti panduan Jack. Kini lidahnya dengan berani beradu mendominasi membuat Jack tersenyum lebar. Lagi-lagi bibir mereka terlepas mencari udara. Jack mengecup kening Elvira kemudian.
“Istirahatlah hari ini, hm?” kedua lengannya masih memeluk tubuh Elvira erat.
Elvira masih terbuai sehingga dia tidak bisa menjawab langsung, “a… aku harus bekerja.”
“Simon bisa mengurus itu.”
“Ta… pi…” Elvira mengumpulkan napasnya.
“No buts.” Jack kembali mengulum bibirnya tanpa ampun. Kali ini ciuman itu berlangsung lebih lama dan intens. Elvira sepenuhnya menyerah pada akhirnya.
Beberapa waktu kemudian, Jack berangkat bekerja dan dirinya ditinggal sendirian beristirahat di dalam kamar. Jack memerintahkan Oman agar menjaga Elvira dengan baik. Untuk membunuh waktu Elvira memilih berendam di dalam bathtub dan menikmati aroma relaksasi yang menenangkan.
Dikedua tangannya terdapat bekas genggaman tangan Axel yang kuat. Bekas itu tidak sakit tetapi mulai terlihat membiru. Elvira menikmati makan siangnya dan menghubungi Maya setelahnya.
Dokter memeriksa lagi tubuhnya mendekati sore dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Sebelum makan malam, Jack kembali dari kantor dan membersihkan diri. Mereka menyantap makan malam dan kembali menuju kamar setelahnya.
“Apa kata dokter?” tanya Jack menghampiri Elvira yang sedang membaca buku di sofa.
“Hanya memar kecil.”
“Bagaimana dengan MRI atau rontgen?”
Elvira tersenyum kecil tanpa menoleh dari bukunya. “Aku baik-baik saja.”
“Pria itu pasti membantingmu, Sayang.”
“Axel menyeretku dan memasukkanku paksa ke dalam mobilnya tetapi tidak ada benturan.”
“Kamu yakin?”
“Ya.” Elvira mengangkat wajahnya dan menatap Jack lembut.
“Syukurlah.” Jack mendekatkan wajahnya dan bibir mereka kembali bertemu saling merindu.
“Aku menghubungi Maya hari ini.”
“Dan?”
“Aku menceritakan semua yang terjadi.”
“Jangan kuatir, pria itu tidak akan pernah menyentuhmu lagi.”
“Axel… pria itu bernama Axel.”
“Aku tak peduli.” Jack terdengar cemburu membuat Elvira kembali ingin menggodanya.
“Dia mantan suamiku.”
“Aku tahu.” Cetus Jack dingin. Elvira tertawa kecil sembari menggeleng-geleng dan melanjutkan aktivitas membacanya.
“Aku bertemu Papi hari ini. Beliau senang kamu kembali.” Jack meraih tangan kanan Elvira dan mengecupnya. “Beliau mengatakan kapan kita bisa makan malam bersama.”
“Tidak sekarang.” Jawab Elvira pendek.
“Baiklah.” Jack menemani Elvira membaca hingga mereka memutuskan untuk tidur.
Satu minggu kemudian Elvira bersiap untuk menghadiri undangan makan malam dari Cedric. Jaack akan menjemputnya dan mereka pergi bersama. Jackpun menunggu di halaman parkir ketika selang beberapa menit Elvira muncul dan mereka meluncur kemudian. Jackk baru saja dari tempat kerjanya dan tak memiliki waktu lagi untuk mengganti pakaian. Di dalam mobil Jacckk tak henti-hentinya memuji Elvira yang mengenakan gaun putih ketat hingga batas mata kakinya. Elvira memang memiliki tinggi di atas rata-rata, itu yang membuat kakinya terlihat jenjang dan indah.
“Kamu cantik sekali malam ini.” Jack mengecup pipi Elvira mesra.
“Benarkah? Aku rasa ini terlalu berlebihan.” Elvira tidak yakin dan selalu mengecek gaunnya berulang kali. Dirinya masih tidak terbiasa dengan kemewahan ini.
“Percaya padaku.” Jack meraih tubuh Elvira dan membawanya dalam pelukannya. Jack mengecup kening Elvira lembut. Setibanya di mansion Cedric, Elvira melangkah menuju ruang makan. Di sana Cedric, Alin, Ellina dan saudari-saudari Jack sudah menunggu. Dari perkenalan barusan, Elvira tahu jika Jack merupakan anak ketiga dan saudara lainnya berasal dari ibu tirinya, Alin. Mereka makan dengan nikmat dan memilih waktu bersantai setelahnya di taman belakang.
“Jadi, kapan pernikahan kalian berlangsung?” tanya Alin tiba-tiba. Elvira diam membiarkan Jack mengambil alih.
“Secepatnya.” Jack menyecap champagne-nya dan mengelus punggung terbuka Elvira lembut. Jack suka merasakan halus lembut kulit itu pada tangannya.
“Wow, kita akan mengadakan pesta besar kalau begitu.” Alin tertawa berusaha menghidupkan suasana. Ellani memilih diam dan sesekali tersenyum. “Puteri-puteriku harus tampil memukau.”
“Tentu saja, terbaik dari yang terbaik.” Imbuh Cedric.
“Lebih cepat, lebih baik.” Ellani akhirnya bersuara.
Mereka menikmati suasana malam yang hangat sebelum Jack mengajak Elvira kembali. Setibanya di kamar utama mereka, Elvira menarik Jack untuk berbicara serius setelah membersihkan make up-nya. “Menikah? Kamu gila?”
“Kenapa tidak? Toh aku memang hanya memilihmu.”
“Ini terlalu cepat. Aku belum siap dengan komitmen itu.” Kilah Elvira.
“Tidak ada yang berubah, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau.”
Elvira menatap Jack sendu. “Benarkah?”
“Ya.” Jack meraih wajah Elvira dan mengecup bibirnya.
“Ki… kita belum selesai berbicara.”
“Oh, oke—” Jack terpaksa menahan birahinya untuk tidak menyentuh Elvira. Dari sejak awal di mobil, celananya terasa ketat dan tidak nyaman. Sudah lama dia tidak pernah menyalurkan syahwatnya semenjak pertemuannya dengan Elvira di club pertama kali setelah dua tahun berpisah.
“Keluargamu luar biasa… aku tidak bisa.”
“Simon dan Oman akan membimbingmu.” Yakin Jack.
“Tapi—”
Belum reda protes Elvira, Jack sudah meraih wajah Elvira dan mengulum bibirnya keras. Mau tak mau Elvira pasrah dan mengikuti alurnya. Lengannya melingkar memeluk leher Jack sebagai tumpuan. “Kamu cantik sekali malam ini.
Bersambung… Sayang, ijinkan aku memasukimu.” Bisik Jack di sela kecupannya. Napasnya memburu bagai banteng yang sedang marah. Diangkatnya tubuh Elvira dan dibaringkannya di atas king bed. Tangannya dengan gesit membuka gaun Elvira.
“Wa… wait.” Elvira menahan tangan Jack dan mengatur napasnya.
“Kita tidak bisa melakukannya.”
“Kenapa?” sambil menjawab tangannya membuka kemejanya dan memperlihatkan dada bidang dan perut sixpacknya yang seksi. Elvira kembali gagal fokus.
“Tidak bisa—”
“Mengenai?” desak Jack yang kini membuka celana kainnya. Celana dalamnya itu terlihat menggunung. Elvira menelan ludah keras, dari luar saja terlihat besar… apalagi jika… “Hm?” tanya Jack kembali.
“Tidak—” lirih Elvira menutup matanya.
“Kamu tidak tahu berapa banyak kekuatan yang kubutuhkan untuk menahannya hingga hari ini.” Bisik Jack.
“No.” Elvira masih memejamkan matanya. Jack mulai mengecupi kedua telapak tangannya, lehernya, dadanya dan sekujur lengannya. Elvira tahu dia akan menyerah pada akhirnya. “Apa akan sesakit dulu?” Elvira masih menatap gundukan senjata Jack, dia tidak sempat melihat benda besar itu memasukinya dulu karena dia sibuk meronta-ronta.
“Tidak.” Jack terus mengecupi basah leher Elvira. “Oke?”
Elvira mengangguk sebagai tanda setuju. Tanpa menunggu waktu, Jack membuka gaun Elvira beserta dengan bra dan celana dalam warna senada. Elvira menutupi area intimnya dan kedua gunung kembarnya malu. Napasnya naik turun cepat menahan diri.
“Kamu milikku seutuhnya.” Bisik Jack di sela desahannya.
“Jack… wait…” Elvira berusaha menahan kepala Jack yang berada di depan kedua payudaranya. Lidahnya yang lihai mulai menjilat lapar.
“Hm?”
“Aku merasakan sesuatu yang aneh?”
“Apa itu?”
“Gatal.” Lirihnya.
“Gatal?” Jack mengangkat wajahnya, “di mana?”
“Di sini.” Elvira malu-malu menunjuk area intimnya. Jack tersenyum lebar dan menggosok pelan milik Elvira dengan jari telunjuknya.
“Bagaimana sekarang?” goda Jack
Elvira tidak bisa menjawab dan sibuk mengerang. Kedua pahanya semakin terbentang lebar. Jack mulai memasukkan satu jari gemuknya ke dalam liang tersebut. Elvira terkejut, jari tersebut seperti merenggangkan organ intimnya. “Ah…” Elvira tak kuat menahan sensasi nikmat yang pertama kali dirasakannya. Menjadi wanita tak berpengalaman membuatnya hanya bisa pasrah menanti hal-hal baru lainnya.
Tak lama tubuh Elvira bergetar hebat, klimaks itu datang dengan dahsyat. Tubuh Elvira terangkat dan bergetar di saat bersamaan. Jack bisa merasakan jarinya yang berlumuran dengan cairan hangat tersebut. Jack meraih keluar jarinya dan memasukkannya dalam mulutnya.
“Tasty.” Bisiknya menatap Elvira penuh cinta. Pandangan berkabut Elvira semakin terasa panas melihat aksi erotis Jack. Tanpa membuang waktu, Jack memposisikan dirinya di antara paha Elvira yang kini kembali merenggang. Liang milik Elvira terlihat berkedut lembab. Jack meraih miliknya dan mengocok pelan. Kepalanya yang keras kembali menggesek milik Elvira yang terlihat semakin menonjol mendominasi.
“AH!” Elvira kembali mengerang mencengkram bed cover. Jack tersenyum lebar dan melanjutkan aksinya. Secara perlahan senjata miliknya tersebut memasuki tubuh Elvira.
“Katakan jika terasa sakit.” Imbuh Jack yang disambut anggukan oleh Elvira. Jack mendorong masuk semakin dalam hingga setengah dari miliknya tenggelam. Jack memperhatikan kening Elvira yang mengerut. “Sakit?”
“Sedikit. Masukkan semuanya.” Pinta Elvira.
“Kamu yakin?”
“Ya.”
Mendapat aba-aba tersebut, Jack mendorong keras sekali hentakan. Elvira mengerang nyeri, perasaan aneh itu muncul kembali. Miliknya terasa penuh dan sesak, dia hanya belum terbiasa. Jack tersenyum memejamkan mata menikmati hangat dan sempitnya area tersebut.
Jika dia harus terus menerus dalam posisi ini, dia akan senang hati melakukannya. Jack menunggu Elvira siap menyesuaikan ukuran miliknya. Begitu dirasanya tepat, Jack mulai menggoyangkan pinggulnya dan memompa dengan ritme pelan. Semakin lama semakin cepat. Elvira turut menikmati sensasi gesekan tersebut. Otot organ intimnya memijat cepat menyambut seirama.
15 menit kemudian Jack mengosongkan benihnya hingga tetes terakhir. Elvira tergeletak pasrah, lagi-lagi seluruh sel-sel dalam tubuhnya terguncang hebat. Rasa puas ini membuatnya ketagihan. Elvira tidak yakin apa dia akan baik-baik saja kedepannya.
Apa Jack akan selalu meresponnya dengan gairah yang sama? Jack dan Elvira jatuh tertidur setelahnya. Elvira tidak memiliki kekuatan lagi untuk membersihkan diri dan terlelap setelahnya. Keesokan harinya Elvira terbangun dengan area pribadinya yang terasa memar.
Jack sudah tidak berada di sisinya, bagian tempat yang ditinggalkannya pun terasa dingin. Elvira merapikan rambutnya dan terkejut ketika sebuah cincin dengan berlian besar tersemat di jari manisnya. Elvira mengamati benda mewah itu dengan kening berkerut. Kapan benda itu berada di sana? Elvira memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap sarapan. Setelahnya dia melangkah menuju dapur.
“Di mana Jack?”
“Tuan berangkat pagi-pagi sekali untuk bisnis di luar kota.” Terang Oman. Elvira mengerutkan keningnya heran, Jack tidak mengatakan apapun padanya tadi malam. “Dan kembali malam ini.” Lanjut Oman melihat kekuatiran Elvira.
“Oke.”
Sepanjang hari itu dihabiskan Elvira di ruang baca Jack. Tanpa dia sadari, dia mulai mempelajari ilmu bisnis dan managemen. Beberapa di antaranya pun dia mulai mengorek kembali diktat kuliahnya mengenai ilmu administrasi. Elvira sampai melupakan waktu dan beruntung Oman sangat pengertian membawakan makan siang ke dalam ruangan itu. Jack memasuki ruangan ketika Elvira masih asyik membaca.
“Hey.” Jack mendekati Elvira dan mengecup pipinya.
“Eh, hey.” Elvira terkejut Jack berada di hadapannya, senyumnya merekah melihat pria itu.
“Kamu menghabiskan waktu di sini, apa kamu tidak lelah?” Jack duduk di sebelahnya dan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Elvira.
“Not really.” Elvira kembali membaca buku tersebut.
“Kamu belum makan malam.” lanjut Jack.
“Ah, jam berapa ini?” Elvira menatap Jack penasaran, kini dia merasakan matanya yang perih. Elvira menutup buku tersebut dan meletakkannya kembali ke rak.
“Jam 8.”
“Oh. Aku keasyikan membaca.” Elvira merenggangkan tubuhnya membuat Jack tersenyum kecil.
“Aku juga belum makan, yuk.” Ajaknya mengulurkan tangannya. Elvira menyambutnya kemudian, mereka melangkah menuju ruang makan bersama.
“Mengenai cincin ini—”
“Why? Kamu tidak suka?” tanya Jack menyuapkan salad ke mulutnya.
“Ini terlalu besar.”
“Itu cincin keluarga, Mami memberikannya kepadamu.” Jawab Jack terus menghabiskan makanannya dan menatap Elvira bersamaan.
“Ha? Aku tidak bisa.” Elvira buru-buru ingin melepaskannya.
“Itu sudah menjadi milikmu.”
“Ini terlalu berharga.”
“Kamu harus menjaganya dengan baik kalau begitu.” Jack tersenyum menyakinkan.
“Apa aku pantas?”
“Hanya kamu yang pantas lebih tepatnya.”
Elvira masih menatap cincin itu ketika Jack bangkit dan berlutut di hadapannya. “Will you marry me?” Jack menyodorkan cincin lainnya yang duduk manis disebuah kotak kecil bludru berwarna putih. Cincin itu tidak kalah mewahnya. Rahang Elvira terbuka tanpa sadar.
“Jack—”
“Will you marry me? Please?” pinta Jack lagi. Elvira menghela napas dan mengangguk. Jack bangkit seketika dan mengecup bibirnya gemas. Jack bahkan mengangkat tubuhnya dan memeluknya erat. “I love you so much.” Bisik Jack dan memasangkan cincin itu. Kini Elvira semakin merasa bertanggung jawab, setiap cincinnya seperti senilai satu mansion.
“I know.” Balas Elvira memeluk tubuh Jack.
Pertunangan mereka diadakan seminggu setelahnya. Setiap harinya Elvira harus bergulat dengan schedule ketat dari Ellani dan Alin. Kedua ibu Jack itu terus mengontrolnya untuk melakukan yang terbaik. Elvira mulai mengikuti kelas etika, kelas memasak, kelas make up, kelas fashion, kelas gym dan kelas-kelas lainnya hingga dia lulus.
Ellani tidak mengharapkan nilai excellent, asal Elvira lulus dengan nilai baik, Ellani akan menyudahi kelasnya. Elvira bisa memahami karena mereka dari keluarga yang terpandang. Jika bukan karena Jack, Elvira seperti sudah ingin menyerah.
Setiap malam dengan lembut Jack akan memijat tubuhnya yang kelelahan. Jika dia atau Jack sedang dalam keadaan terangsang, mereka akan melakukan hubungan badan itu meski hanya untuk satu ronde. Mau bagaimana lagi, tenaganya sudah terkuras saat siang.
Elvira bertekad untuk melakukan yang terbaik sebelum pernikahannya yang dilaksanakan tiga bulan lagi. Selama itu dia berjanji akan menyelesaikan kelasnya satu persatu. Dalam kurun waktu itupula Elvira memilih bertahan di mansion dan belajar sungguh-sungguh. Cintanya kepada Jack yang membuatnya melakukan ini semua, dia tahu Jack berjuang untuk mendapatkan kepercayaan orangtuanya dan diapun harus melakukan hal yang sama.
Ellani dan Alin cukup puas dengan pencapaian Elvira. Tahap demi tahap Elvira bisa mengikuti gaya hidup mewah keluarga Jack. Namun Elvira memiliki prinsip, kekayaan ini tidak akan pernah memangkas keprimanusiaannya. Elvira tidak ingin menjadi sombong dan angkuh hanya karena dia bisa menikmati kekayaan ini.
Pernikahan itu diselenggarakan dengan mewah. Beberapa media meliputnya, Elvira terlihat cantik dengan dress rancangan Di*r berwarna putih yang memeluk tubuhnya ketat. Jack terlihat menawan menggenakan tuxedo hitam dari perancang yang sama.
Acara resepsi diselenggarakan disebuah aula milik keluarga Jack berkapasitas 10.000 pengunjung. Aula itu biasa digunakan untuk pertunjukan opera dan acara-acara penting kenegaraan. Disitulah Elvira semakin menyadari betapa tajirnya keluarga suaminya tersebut.
“Kamu baik-baik saja?” bisik Jack yang berada di sisinya sepanjang waktu. Jack terus menerus menemaninya karena dia tahu pasti betapa lelahnya berada di posisi Elvira. Tamu undangan terus berdatangan dan menyapa mereka.
“Ya.” jawab Elvira tegar.
“Kamu ingin duduk dulu?”
“Tapi mereka terus datang. Tidak apa, aku baik-baik saja.” bisik Elvira.
“Jangan memaksakan diri, kita bisa undur diri setelah ini.”
Elvira melirik jam yang menunjukkan pukul 10 malam sebelum menjawab. “Oke.” Balasnya.
“Good girl.” Jack mengecup kening mesra.
Elvira berhasil bertahan hingga acara selesai. Kedua betisnya terasa ingin copot karena heels tinggi yang dikenakannya. Ototnya yang nyeri meronta ingin berendam pada air hangat. Elvira bersyukur pelayannya sudah menyiapkan bathtub berisi kelopak mawar menenangkan.
Elvira mandi sejenak sebelum beralih pada bathtub tersebut. Tak lama Jack bergabung bersamanya. Mereka berendam saling berpelukan, bibir mereka pun tak lepas saling bertautan rindu. Selama tiga hari ini mereka tidak bisa bertemu karena ibunya ‘menculik’ Elvira dari mansionnya.
“Kamu cantik sekali hari ini. Kamu tahu aku harus selalu memperbaiki bagian depan celanaku karena rudalku terasa sesak.” Goda Jack.
“Aku tahu.” Bisik Elvira dengan senyum nakal. “Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke kamar mandi belakang tetapi mata Mami seperti elang mengawasiku.” Sesal Elvira. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com
“Ha… akhirnya acara itu selesai juga. Hello, Mrs Pratama.” Rayu Jack. Elvira tersipu malu dan memukul dada Jack pelan. “Kamu ingin sarapan apa untuk besok?”
“Kamu bisa memasak sekarang?” Jack terus menggoda Elvira, padahal perkembangan kelas Elvira selalu dalam pengawasannya.
“Tentu saja. Kamu seharusnya merasa terhormat, ini adalah masakan pertama yang akan aku buat untuk orang lain.”
“Well, skip untuk hari lain. Besok aku ingin kita menghabiskan waktu di tempat tidur.” Jack mengulum bibir Elvira intens. Lidah mereka bertautan lapar.
“Dasar nakal.” Rajuk Elvira dan melingkarkan lengannya ke leher Jack mencari tumpuan.
Bersambung… Selesai mengeringkan tubuh, Elvira dan Jack menaiki king bed mereka. Ciuman itu terus berlangsung penuh gairah. Jemari Jack bahkan sudah menggoda bagian tubuh Elvira yang sensitive sejak dari kamar mandi. Keduanya menolak beristirahat sebelum melampiaskan birahi masing-masing.
Sepanjang malam itu mereka bersetubuh dengan berbagai posisi. Jack bangga melihat perubahan terbuka dari Elvira. Wanita yang kini menjadi istrinya itu tidak lagi malu-malu terhadapnya. Pada dasarnya dia adalah pria berdarah panas, libidonya selalu tinggi pada waktu-waktu tertentu dan Elvira dapat mengimbanginya. Mendekati pukul 3 subuh barulah keduanya memilih beristirahat.
Mereka menghabiskan waktu sepanjang hari di tempat tidur sesuai dengan rencana Jack. Mereka menikmati sarapan, makan siang dan makan malam di dalam kamar. Elvira bangkit duduk dan mengecek organ intimnya yang memar. Pikirannya seketika kosong. Apa dia dan suaminya terlalu berlebihan? Jika dulu memarnya karena paksaan, kini memar itu karena suka relanya. Hidup kadang terasa bercanda.
Jack sedang berada di kamar mandi membersihkan diri. Elvira meraih obat oles yang pernah diberikan dokternya dan berharap obat tersebut membantu meredakan nyerinya. Elvira memang sudah mengantisipasi betapa liarnya Jack di atas tempat tidur tetapi level yang dialaminya sejak tadi malam jauh berbeda.
Jack berubah seperti binatang buas berdarah panas. Elvira tergolek pasrah ketika Jack terus menyetubuhinya tanpa ampun. Elvira merasa bersyukur dia memilih alat kontrasepsi yang benar.
Awalnya Ellani menyarankan untuk menggunakan IUD dan Alin menyarankannya menggunakan spiral, tetapi Maya menyarankan untuk menjalani KB suntik. Keputusannya jatuh pada pilihan Maya. Elvira ngeri membayangkan jika IUD tersebut gagal menahan sperma aktif Jack dan membuat dirinya hamil seketika.
Elvira juga mempertimbangkan kebuasan Jack. Bisa ditebak spiralnya mungkin akan berpindah tempat kemana-mana jika dia memilih menggunakan alat tersebut. Elvira sadar jika setiap kontrasepsi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Pada kasusnya, KB suntik adalah alternative terbaik. Sejauh ini tubuhnya juga tidak mengalami kenaikan berat badan yang signifikan. Jack melangkah keluar kamar mandi dengan telanjang bulat. Rambutnya sudah setengah mengering dan mendekati Elvira.
“Apa yang terjadi?” Jack melihat Elvira baru saja meletakkan obat oles tersebut di meja.
“Aku mengoleskan obat.”
“Uh? Kamu terluka?”
“Ya, di sini.” tunjuk Elvira.
“Ups. Sorry.” Jack tak bisa menyembunyikan senyum bangganya. Dasar pria.
Elvira kembali menaiki tempat tidur, malam membuat udara semakin dingin. “Kemarilah.” Pinta Elvira manja memanggil Jack menaiki tempat tidur.
“Ya, setelah aku menjawab telepon ini.” Jack tersenyum meminta maaf dan meraih handphonenya. Jackpun berbicara tak jauh darinya kepada Simon. Jack terlihat marah dan nyaris memaki. Elvira sudah terbiasa dengan pemandangan itu.
Jack adalah pemimpin yang berhati dingin namun cerdas, dia penuh tanggung jawab dan disiplin, itulah mengapa dia tegas terhadap bawahannya yang melakukan kesalahan. Lebih dari 10 menit Jack mengomel di telepon dan mematikannya. Jack meraih air mineral dan meneguknya habis sebelum bergabung dengan Elvira di atas tempat tidur.
“Sesuatu terjadi?” Elvira mengelus dadanya menenangkan.
“Ya, sekretaris bodoh itu tidak becus melakukan tugasnya.” Adu Jack. Elvira menggumam pelan menenangkan Jack. Elvira bahkan mengecupi rahang dan bibir Jack bergantian. “Dia lupa menyetor surat perjanjian. Kamu tahu bagaimana fatalnya itu, Sayang.” Oceh Jack tak henti.
“Simon tidak mengontrolnya?”
“Simon sedang di luar kota. Harusnya pekerjaan mudah seperti itu tidak perlu ada kesalahan. Aku mempekerjakannya karena deskripsi luar biasa di CVnya. F*ck! Itulah sebabnya aku ingin kamu segera bekerja bersamaku. Kamu mau kan, Sayang?” lanjut Jack.
“Aku masih memiliki dua kelas yang belum selesai.”
“Kapan ujiannya?”
“Dalam sebulan ini.”
“Apa berat untukmu untuk mengambil kelas bisnis bersama Simon? Simon memang akan disiplin mengajarimu tetapi aku yakin kamu bisa melaluinya.”
“Asal tidak bertabrakan dengan yang lainnya. Kamu tahu Mami benar-benar memintaku menyelesaikannya.”
“Aku paham, Sayang. Aku beruntung kamu di sini bersamaku, sentuhanmu membuatku tenang.” Jack mengecup bibir Elvira dan menatap bagian depan tubuh Elvira yang memanggil nakal. “Aku ingin bermanja-manja di antaranya.” Tutur Jack genit.
“Kamu seperti bayi saja. Sudah tidak marah lagi?” Elvira tertawa kecil.
“Kamu selalu menjadi obat penawar marahku.” Hela Jack tenang. “Sebelum kita memiliki anak, aku ingin dimanja olehmu.” Lanjut Jack lagi.
“Kemarilah.” Elvira membuka pelukannya. Tanpa menunggu komando untuk kedua kalinya, Jack langsung menempel manja. Jack terlelap kemudian setelah Elvira mengelus rambutnya lembut sambil bersenandung pelan.
Satu bulan setelahnya, Elvira bekerja sebagai asisten pribadi Jack di kantor. Posisinya sebenarnya hanya pemanis karena Jack butuh seseorang untuk menjalankan bisnisnya bersama. Terlebih lagi dia bisa terus bersama istrinya kapanpun dan di manapun. Ini hari pertama Elvira mulai diperkenalkan kepada seluruh staffnya yang bekerja di kantor utamanya.
Gedung itu memiliki lantai hingga 50 menjulang megah. Jack adalah salah satu entrepreneur sukses di luar dari kekayaan keluarganya. Elvira mengenakan dress berwarna hitam elegan yang dipadukan dengan heels maroon. Jack tidak sekalipun melepaskan genggaman tangannya di pinggang Elvira posesif.
Dirinya tahu benar jika banyak dari karyawan pria menatap Elvira dengan pandangan menginginkan meski mereka bersikap sopan. Jack harus mengakui jika Elvira cantik dan menawan ditambah Elvira tahu menempatkan posisi pada situasi tertentu.
Elvira memiliki aura yang membuat banyak pria terpesona bukan hanya penampilannya tetapi dari tutur katanya. Wanita yang berhasil dinikahinya ini memiliki kecantikan luar dan dalam. Jack banyak menemui wanita hebat di luar sana tetapi wanita-wanita itu enggan tunduk dan cenderung tidak membutuhkan siapapun karena mampu melakukan semuanya sendirian.
Elvira lagi-lagi berbeda. EMampu belajar dengan cepat dan bisa dikatakan cerdas, tetapi dia tetap menempatkan Jack seperti kepala keluarga. Ellvira secara naluriah bersikap layaknya pasangan dan melengkapi apa yang tidak dimiliki Jack.
Elvirapun diperkenalkan kepada pejabat-pejabat pemegang saham, staff kepercayaannya dan bahkan hingga ke level cleaning service-nya. Respon yang diterima Elvira sungguh di luar dugaan. Elvira merasa dihormati terlepas dari rumor yang beredar jika Jack adalah pemimpin yang kasar dan egois.
Simon pun mengiyakan akan sifat atasannya tersebut. Jika disandingkan, Jack dan Elvira bagai batu dan kapas. Batu kuat digunakan untuk membangun tetapi kapas lembut digunakan untuk menyembuhkan. Pengawai-pengawai Jack seakan tidak percaya jika orang seperti Jack akan menikahi wanita dengan karakter seperti Elvira. Mereka selalu berpikir jika Jack akan menikahi wanita yang sejenis dengan ambisinya.
Elvira selesai mengecek setiap sisi kantor dan berakhir pada ruang utama tempat Jack bekerja. Di depan pintunya terdapat 3 meja bersekat untuk dua sekretarisnya dan satu pegawai administrasinya. Simon membukakan pintu, Jack di sisinya mempersilahkannya masuk. Elvira terkejut melihat betapa mewahnya kantor tersebut.
Setiap sisi dindingnya terbuat dari kaca. Satu meja mahogani besar terletak di tengahnya. Satu set sofa berwarna hitam elegan di sebelah kanan dan satu set sofa berwarna hitam dengan model yang lain di sebelah kiri. Sisi kiri tersebut dipenuhi dengan dua rak lemari berisi buku dan satunya lagi berisi banyak piala dan penghargaan.
“Ini adalah meja kerjamu, Sayang.” Jack menunjuk pada meja mahogani mini tak jauh darinya.
“Thanks.” Kata Elvira masih terpukau dengan kantor tersebut. Jack menuntunnya kepada sebuah pintu. Jack membuka pintu itu dan terdapat sebuah tempat tidur modern serta lemari baju mini. “Kamar?”
“Ya, kita bisa beristirahat di sini.” terang Jack membiarkan Elvira berjalan mengeksplore. Elvira juga menemukan kamar mandi di sisi yang lain.
“Kamu biasa menyetubuhi mereka di sini?” tanya Elvira tajam tiba-tiba.
“Well—”
“Dasar playboy.” Dengus Elvira dan melewati tubuh Jack cepat.
“Sayang!” Jack terburu-buru meraih tangan Elvira.
“Aku cemburu.” Rajuk Elvira.
“Itu semua di masa lalu. Jangan marah, oke?”
“Ganti tempat tidur itu.”
“Segara, hari ini juga.” Sambung Jack cepat dan meraih interkom membuat Elvira menyembunyikan tawanya. Sebenarnya dia tak berniat menggoda Jack seperti ini tetapi Jack begitu responsive. Elvira duduk di meja kantornya dan mulai menyalakan komputer.
“So, tugasku?”
“Menemaniku?” cengir Jack, dirinya memilih duduk di atas meja tepat di depan Elvira. Mereka saling berhadapan menatap. Melihat senyum nakal Jack, kini dia menyadari tujuan sebenarnya. Suaminya itu ingin dirinya selalu berada di sana dan mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan tanpa harus memaksakan diri. Jadi sebenarnya itu hanya akal-akalan Jack agar dirinya tidak bosan di mansion.
“Oh, sekarang aku tahu—” Elvira menatap jengkel Jack, padahal dirinya sudah bersemangat untuk belajar bisnis sebulan ini.
“Tidak sekarang, Sayang. Semuanya butuh waktu, kamu perlu menyesuaikan diri dulu.” Balas Jack bijak.
“So?”
“So?” Jack bertanya dengan nada menggoda. Elvira melirik ke arah area privat Jack yang tepat berada sejajar dengan di wajahnya.
“Bagaimana jika Simon atau pengawai yang lain masuk?”
“Tidak masalah.” Jack meraih sebuah remote dan mengarahkannya ke arah pintu. “Sudah terkunci.” Elvira takjub dengan pintu otomatis itu.
“Wah—” tanpa sadar Elvira memuji.
“So, Sayang?”
Elvira tertawa kecil. Tangan kanannya terangkat mengelus milik Jack dari balik celana kainnya. “Kamu tidak capek? Tadi pagi kita baru melakukannya.”
“Tidak.”
“Oke, baiklah suami tercintaku~” Elvira menyambut sama nakalnya. Seperti yang bisa dibayangkan, adegan erotis itu terjadi di dalam ruang kerja megah ini tanpa hambatan. “Kamu benar-benar wanita yang hebat, Sayang.” Jack meraih wajah Elvira dan mengecup bibirnya begitu istrinya itu selesai memuaskannya dengan bibirnya yang sensual.
Wajah Elvira merona menerima pujian itu. “Tidak masalah.”
“I love you.” Kata Jack menatap Elvira penuh cinta. Elvira terdiam tak ingin menjawab. “Sayang, I love you.” Kali ini dengan berbisik.
“I…” Lidah Elvira keluh. “I love…you too.” Lirihnya.
Jack tersenyum lebar dan segera meraih tubuh Elvira dalam pelukannya erat. Ini kali pertamanya Elvira mengakuinya. Jack begitu bahagia mendengarnya tanpa menyadari jika pintunya terketuk entah berapa lama. “Damn.” Maki Jack, siapapun dibalik pintu itu akan menerima kejengkelannya. Ini moment langkah dan tiba-tiba gangguan datang. Jack menekan remote. “Masuk.”
Elvira memperbaiki dress-nya dan duduk tenang. Simon melangkah masuk kemudian. Wajahnya yang dingin siap-siap mendapat omelan. “Maaf mengganggu pagi romantis anda tetapi meeting akan diadakan 5 menit lagi.” Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com
“Oh, shut up!” Jack meraih handphonenya dan mendekati Elvira. “Aku tidak akan lama, Sayang.” Jack mengecup keningnya.
“Ya, tidak perlu terburu-buru.” Elvira menjawab lembut.
Simon mengangguk hormat ke arah Elvira sebelum menutup pintu. Elvira menghela napas panjang, diteguknya air mineral dan lanjut mencari informasi dikomputernya. Tugasnya akan berat, Jack hanya masih sungkan untuk menyibukkannya.
Bersambung… Sudah seminggu ini dia mengikuti Jack bekerja dan melakukan apa yang dia bisa untuk membantu Jack. Pada hari ke delapan, seorang wanita memaksa masuk ke dalam ruang Jack. Saat itu hanya Elvira yang berada di sana. Sejak siang Jack mengikuti meeting bersama staffnya dan belum kembali.
Wanita itu memiliki wajah familiar, dirinya mengenakan dress ketat off-shoulders pendek berwarna merah. Wajahnya di tutupi make up tebal. Rambut panjangnya yang bergelombang membuatnya terlihat sensual. Elvira bangkit tenang, pastilah wanita ini salah satu mantan teman tidur Jack terdahulu.
“Huh? Di mana Jack?” Wanita itu menatap Elvira rendah. Matanya melirik dari atas ke bawah.
“Nyonya, maafkan kami—” salah satu sekretaris Jack terlihat panik karena tidak mampu menghentikannya.
“Tidak apa. Tolong tinggalkan kami berdua, siapkan kopi untuk dua orang secepatnya.” Jawab Elvira tenang.
“Hmph!” wanita itu tersenyum sinis, rambutnya sengaja dikibaskan memancing emosi.
Elvira menghela napas panjang, drama-drama seperti ini cepat atau lambat akan datang di dalam pernikahannya. Elvira sadar benar Jack memiliki masa lalu yang panjang dengan berbagai macam wanita sebelum serius bersamanya. “Suamiku sedang meeting.” Elvira sengaja memprovokasi. Kadang pikiran jahilnya muncul tiba-tiba.
“Suami? Menggelikan!”
“Anda adalah?” Elvira dengan tenang mendekati sofa dan duduk tenang. Sebenarnya Elvira merasa tidak asing dengan wajah wanita ini. Apa dia artis?
“Dianti.” Jawabnya pendek. Barulah Elvira sadar bahwa wanita ini adalah seorang artis FTV dan dia pernah memukulnya dulu saat masih bekerja di club. Dianti mengira Elvira menguping pertengkarannya dengan Jack. Elvira tertawa kecil, jadi wanita ini satu dari jalang tak beretika yang pernah ditiduri Jack. Peran di depan TV selalu seperti wanita lemah lembut namun pada dasarnya bagai singa mengamuk. “Kamu menertawaiku?” wajah Dianti menjadi merah.
“Jangan menganggu suamiku lagi. Kamu tahu bahwa kamu hanya masa lalunya bukan?”
“Aku melihatmu di koran dan social media. Aku heran kenapa Jack bisa jatuh hati pada itik buruk rupa macammu.”
“Setidaknya lebih baik darimu.” Elvira memancing amarah Dianti.
“A… apa katamu?” Dianti mendekati Elvira dan menunjuk-nunjuk marah.
“Jack pernah menghamiliku, dia memiliki banyak wanita. Jangan harap karena dia menikahimu, Jack akan setia.”
“Well, kita lihat saja.” Elvira tersenyum manis membuat Dianti semakin kesal.
“Jack tidak akan pernah setia!”
“Lalu?” tantang Elvira menatap Dianti tajam. “Jika suamiku tidak setia, apa kamu berharap dipilih begitu?”
“APA?!” Dianti dengan brutal ingin menampar Elvira tetapi Elvira segera menghindar. Dengan kesal Elvira bangkit dan memukul wajah Dianti dengan majalah yang tergeletak di meja. Dianti tak bisa mengelak. Pukulan telak itu terlihat lemah tetapi menyakitkan. Harga dirinya terinjak-injak.
“Aku tidak takut terhadapmu, entah kamu public figure atau sebagainya. Berhenti mendekati Jack karena kamu tidak akan berhasil.”
“Kamu hanya pemanis dalam pernikahannya!”
“Kamu tidak tahu apa-apa. Berhenti mengoceh semaumu.” Timpal Elvira.
Dianti memegang pipinya dan bangkit. “Aku memiliki anak Jack!”
“Aku tidak masalah dengan itu. Buktikan saja.” Tutur Elvira berdiri menjulang dengan dagu terangkat.
“Hmp!” Dianti bangkit meraih tasnya. “Kamu akan membayar ini.”
Karena gemasnya, Elvira mendekati Dianti dan menarik rambutnya kasar, “aku memperingatkanmu, aku bukan wanita yang suka bermulut manis dan bermain halus. Jika kamu masih ingin laku di depan televisi, pikirkan ucapanku baik-baik sebelum aku merusak wajahmu.” Desis Elvira. Dianti menatap dengan horror.
Air matanya serasa ingin mengalir. Elvira menghempaskan kepala Dianti dan berbalik duduk dengan elegan. Dianti menegakkan tubuhnya dan pergi dengan rasa malu.
Elvira menghela napas, tepat saat itu sekretarisnya membawakan dua kopi. “Kamu bisa meminumnya. Aku akan beristirahat untuk beberapa menit.” Kata Elvira dan memasuki area istirahat. Harusnya dia sudah siap dengan ‘gangguan’ kecil seperti ini.
“Baik, Bu. Maaf—”
“Sudah terjadi. Kalian harus lebih tegas ke depannya. Ini terakhir kalinya.”
“Pasti, Ibu. Kami akan lebih memperhatikan untuk ke depannya.”
“Good. Kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian.” Tutup Elvira dan berbalik pelan memegang keningnya. Ini baru satu wanita dan tenaganya seakan tersedot banyak.
Elvira tidak menghitung berapa lama dia terlelap. Dirinya terbangun oleh kecupan mesra Jack di bibirnya. “Hey.” Sapa Jack dengan senyuman.
“Hey, ugh… Jam berapa ini?”
“3.”
“Huh? Aku ketiduran.” Keluh Elvira dan mencoba bangkit.
“Tidak apa, bertengkar juga butuh tenaga.” Cengir Jack.
“Ah… kamu sudah tahu?”
“Tentu saja, Simon melaporkan semuanya. Jadi kamu keluar sebagai pemenang?” Jack mulai membuka kancing kemejanya.
“Aku kesal karena dia pernah melukaiku dulu di club.”
“Benarkah?”
“Kamu tidak ingat sewaktu kita bertemu pertama kali?”
“Ah! Iya benar. Maaf, Sayang.” Jack terkejut.
“Dianti bahkan mengancam memiliki anakmu.”
Jack tertawa kecil. “Aku selalu tidur dengan mereka menggunakan pengaman, Sayang. Hanya padamu aku memberikan pengecualian.”
“Entahlah, dia mengamuk tentang itu.”
“Kamu marah?” Jack meraih tubuh Elvira dalam pelukannya.
“Tentu saja.” Elvira berusaha mendorong tubuh Jack. “Anyway, kenapa kamu membuka bajumu?”
“Aku lapar.”
“Aku akan memesankan makanan kalau begitu.” Elvira berusaha bangkit tetapi Jack menahannya.
“Aku ingin memakanmu.” Bisik Jack mendesah. Elvira tertawa geli karena napas Jack yang mengenai daun telinganya.
“Aku masih marah.”
“Jangan lama-lama dong marahnya.” Rajuk Jack.
“Dianti juga bilang kalau kamu tidak akan pernah setia.” Imbuh Elvira.
Jack tertawa kecil dan menyusupkan tangannya ke dalam kemaja Elvira. “You know me so well pokoknya.” Balas Jack. Bibirnya kini mengecupi leher jenjang Elvira.
“Kita belum selesai bicara, Sayang. Keluarkan tanganmu.” Elvira berusaha menarik tangan Jack tetapi lengan kekar itu kukuh dan kini jemarinya mempermainkan puncak dadanya nakal.
“Hmmm… Kamu wangi sekali.” Jack semakin intens menyerang Elvira. Miliknya menggunung dari balik celana.
“Kamu harus bekerja.” Kali ini Elvira berusaha mengalihkan perhatian Jack lagi.
“Aku sudah menyelesaikannya tadi.”
“Tapi tetap saja—”
“Aku ingin berada di dalammu, Sayang. Sepanjang meeting aku hanya memikirkanmu.” Aku Jack memelas.
“Kamu jadi tidak fokus bekerja, apa sebaiknya aku tidak perlu mengikutmu ke kantor?”
“NO!” tolak Jack keras, “aku akan kesepian di kantor.” Jack kembali menyusupkan kepalanya di sela bagian depan tubuh Elvira yang menggoda.
“Kamu semakin tidak fokus bekerja, kamu tahu betapa frustasinya Simon mengatur jadwalmu yang terus bergeser.”
“Simon akan terbiasa nantinya. Hm…” Jack berhasil membuka bra Elvira tanpa disadarinya dan menangkup dua gunung kembar erotis itu.
“Sayang!” Elvira berusaha meronta tetapi dia bisa merasakan jelas rudal Jack yang terus menekan-nekan nakal.
“Aku tidak akan fokus bekerja jika aku tidak berada di dalammu.” Desah Jack kini mulai membuka kancing kemeja Elvira.
Wajah Jack memelas sempurna, Elvira akhirnya pasrah. “Oke, tapi hanya untuk hari ini?” tawar Elvira.
Jack mengangguk cepat, dia tahu janji seperti itu tidak akan pernah ditepatinya. Di manapun dia melihat Elvira dan menghirup aroma tubuhnya, dia akan menjadi seperti binatang buas yang dikelilingi birahi.
Sedetik setelah Elvira mengatakan ok, Jack segera menelanjangi Elvira dan melepaskan semua pakaiannya. Kali ini dia benar-benar menahan geloranya selama meeting, entah mengapa dia merasa begitu frustasi dengan gejolak ini. Apa ibunya memberi sesuatu pada bubur ayam yang dimakannya tadi pagi? Apa kedua orangtuanya begitu tidak sabar memiliki cucu?
Istrinya pasrah terlentang di atas tempat tidur yang empuk. Elvira benar-benar cantik dan mempesona. Aktivitas buas itu terjadi tanpa bisa dijeda. Jack terus menyetubuhi Elvira dengan keras dan cepat. Tangan Elvira memeluk leher Jack erat mencari tumpuan.
Napasnya seakan terasa sesak. Sepertinya setelah ini dia harus mulai melakukan olahraga kardio. Klimaks demi klimaks dicapai dengan peluh dan sedikit ambisi. Keduanya tergeletak kelelahan di antara bed cover dan busana yang berceceran.
“Gimana?” goda Jack. Elvira tidak menjawab tetap menarik wajah Jack dan mengulum bibirnya intens. “So, iya?” Jack butuh jawaban. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com
“Luar biasa.” Bisik Elvira. “Tapi, aku merasa milikku memar lagi.” Keluh Elvira.
“Dokter sudah memberimu obat oles bukan?”
“Ya, hanya saja…” Elvira menutup matanya lelah.
“Apa tidak ampuh? Aku akan mencari dokter yang lebih baik.” kuatir Jack.
“Dokter yang sekarang adalah dokter terbaik dibidangnya. Lagipula beliau juga dokter keluarga, kamu tidak bisa—”
“Aku bisa menggantinya sesukaku, Sayang. Aku tidak bilang jika dia tidak baik. Hanya saja jika dokter lain akan lebih cocok untuk kesehatanmu.”
“Obat yang diresepkan sejauh ini adalah obat-obat ampuh, hanya saja kamu terus—” omelan Elvira terhenti oleh tawa terbahak-bahak Jack.
“Kamu begitu cantik dan menggoda, pria mana yang diam saja?” balas Jack cepat. “Maafkan aku ya.” Elvira menghela napas panjang, “sepertinya aku benar-benar harus tinggal di rumah Mami.”
“What? Wait—”
“Mami bisa menegurmu.” “Kamu mulai membawa-bawa Mami karena kamu menjadi anak kesayangannya sekarang.”
Cerita Sex Personality Bubbly
Elvira membalikkan tubuhnya lelah. “Aku kehilangan tenaga.” Jack memeluk Elvira dari belakang mesra. “Maafkan aku ya.” ulangnya. “Tidak ada yang salah, Sayang. Kamu tidak perlu minta maaf.”
“Sebaiknya kita memanggildokter malam ini. Mungkin kamu perlu mengganti resep baru.” Saran Jack ikutmenutup matanya lelah yang diikuti oleh Elvira. Keduanya terlelap tanpa sadar.