Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Calon Dokter Berhijab Menjerit Nikmat di Kontrakan Buruh Pabrik

Calon Dokter Berhijab Menjerit Nikmat di Kontrakan Buruh Pabrik

Belinda merupakan seorang mahasiswi kedokteran dari sebuah universitas swasta di Yogyakarta yang terkenal memiliki banyak mahasiswi cantik serta seksi, tidak hanya itu saja, disana juga banyak mahasiswi yang katanya bisa di-booking, walaupun dengan harga mahal tentunya.

Belinda sendiri merupakan mahasiswi kedokteran yang sebentar lagi akan melakukan praktek di daerah terpencil di daerah Purwokerto, Jawa Tengah.

Belinda mempunyai seorang pacar yang bernama Rangga, dia hanyalah seorang buruh pabrik, walaupun begitu tekad kerja keras untuk menjadi tulang punggung keluarganya-lah yang membuat Belinda jatuh hati dan akhirnya bersedia menjadi pacarnya. Belinda sendiri memakai hijab modern ketika keluar rumah, tapi tidak ketika bersama Rangga.

Cerita Sex Mahasiswi Kedokteran Berjilbab Cerita Sex Mahasiswi Kedokteran Berjilbab – Belinda merupakan seorang mahasiswi kedokteran dari sebuah universitas swasta di Yogyakarta yang terkenal memiliki banyak mahasiswi cantik serta seksi, tidak hanya itu saja, disana juga banyak mahasiswi yang katanya bisa di-booking, walaupun dengan harga mahal tentunya.

Belinda merupakan mahasiswi kedokteran yang sebentar lagi akan melakukan praktek di daerah terpencil di daerah Purwokerto, Jawa Tengah. Ia mempunyai seorang pacar yang bernama Rangga, dia hanyalah seorang buruh pabrik, walaupun begitu tekad kerja keras untuk menjadi tulang punggung keluarganya-lah yang membuat jatuh hati dan akhirnya bersedia menjadi pacarnya.

Belinda sendiri memakai hijab modern ketika keluar rumah, tapi tidak ketika bersama Rangga, seperti sore itu di kontrakan Rangga..

“Aaahh uuhh.. Ranggaaa.. nikmatnya sayangg!” Teriakan dan desahan nikmat berasal dari bibir seorang calon dokter yang sehari-harinya berhijab, Belinda. Belinda sedang mendaki bukit kenikmatan bersama kekasihnya, Rangga. Seperti biasa, sore itu ketika semua teman Rangga pulang ke kampong halamannya masing-masing, dia mengayuh perahu birahi bersama Belinda.

“Uuuhh serambi lempit kamu enak banget ngejepit rudal aku sayangg uuhh!”. Rangga hampir tidak tahan untuk menyemprotkan isi testisnya ketika Belinda berkata, “Iyaaa, rudal kamu juga nusuk banget kedalem serambi lempit aku bebbb!”

Ngocoks Belinda yang saat itu hanya tinggal memakai bra, masih menggoyang pantatnya diatas pangkuan Rangga. “Uuuhh kamu kuat banget sih sayangg udah 15 menit belum keluar juga! Uuuhh!”. Rambutnya yang tergerai panjang membuat kesan menggairahkan bagi Rangga.

“Aku udah mau keluar yang uuhh aku harus keluar dimana nih?” Rangga sudah sangat ingin mengeluarkan spermanya daritadi pagi ketika melihat foto-foto selfie telanjang Belinda yang dikirim via Line.

“Diluar sayangg! Uhh aku masih masa subur soalnya nih uuhh bareng-bareng ya sayangg!” Belinda mengingatkan.

Crott! Crootts! Hampir lima kali semprotan sperma dari rudal Rangga akhirnya jatuh keatas perutnya sendiri ketika rudalnya dikeluarkan dari serambi lempit Belinda, Belindapun membantunya dengan mengocok rudalnya agar semua isinya keluar, serta sesekali mengulumnya.

“Uuuhh sayangku Belinda, makasih ya buat menyetubuhi sore ini uuhh aku keluar banyak banget nih!” Rangga tidak sadar bahwa Belinda hampir klimaks tapi belum mencapai puncak orgasme. Oleh karena itu, dia seolah tidak peduli ketika jatuh tertidur dan Belinda mengocok serambi lempitnya sendiri dengan dua jari tangannya sendiri.

“Uuuhh uuhh Rangga, rudal kamu enak banget uuhh serambi lempitku bakal selalu kangen rudal kamu kalo aku udah di Purwokerto uuhh rudal kamu boleh aku bawa aja gak uuhh.

Itulah kebiasaan Belinda untuk menaikkan birahinya, bicara kotor. Dan akhirnya, crott! Crott! Belinda mencapai puncak orgasmenya dan ikut tidur disebelah Rangga yang sudah tidur lebih dulu. Belinda tidak tersenyum.

Keesokan harinya..

Belinda terbangun dan memakai sebuah kemeja putih polos yang terlalu besar ukurannya karena itu punya Rangga, dan didalamnya sudah tidak memakai dalaman. Dia menuju dapur dan mengambil minum ketika ada suara pintu diketuk.

Tok tok! Belinda sempat mengintip dari jendela dan itu adalah Pak Jarwo, ketua RT disini. Belinda mengenakan hotpants dan mengancingkan kemejanya sampai atas, dia membuka pintu.

“Iya, Pak Jarwo kan? Ada apa ya pak?”

“Eh ada mbak Belinda, begini mbak, ada sesuatu yang harus dibicarakan, boleh saya masuk? Mas Rangga- nya ada? Atau teman-temannya yang lain?”

Bingunglah Belinda untuk menjawab pertanyaan tersebut, kalau dibilang ada maka teman-teman Rangga akan dipanggil tapi kalau dijawab tidak ada, maka Belinda dan Rangga akan langsung diarak keliling desa karena dituduh berbuat asusila. Mata Pak Jarwo pun tak pernah lepas dari paha putih Belinda, wanita yang selama ini tertutup dan memakai hijab ternyata bisa menjadi binal juga, begitulah pikir Pak Jarwo.

“Tidak ada pak”. Akhirnya Belinda menjawab dengan jujur. Pak Jarwo tersenyum licik.

“Ah begini, tadi malam ada laporan dari warga bahwa mbak Belinda menginap berdua disini dengan mas Rangga. Sudah menjadi etika moral disini bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan, bisa jadi fitnah bahkan bisa kita arak keliling desa.” Pak Jarwo menjelaskan duduk permasalahan dengan santai.

“Iya pak, saya minta maaf. Lain kali tidak akan kita ulangi lagi.” Belinda berusaha memilih kata-kata dengan hati-hati agar tidak salah ucap dan supaya kejadian kali ini tidak menjadi buah bibir masyarakat desa. “Ohya bapak mau minum apa? Saya bikinkan kopi ya.” Belinda berusaha mengalihkan bahan pembicaraan.

“Tapi ada beberapa syarat ketika mbak Belinda ingin kejadian ini tidak menjadi besar, mungkin mbak Belinda bisa buatkan saya kopi terlebih dahulu.” Ujar ketua RT ini dengan begitu santainya.

Belinda pun berjalan menuju dapur diikuti ekor mata Pak Jarwo yang sudah sangat lapar untuk menyantap belahan pantat montok kepunyaan Belinda. Diam-diam Pak Jarwo mengikuti Belinda ke dapur, dan seketika itu pula mendekap Belinda dari belakang dan menutup mulutnya.

“Ini syarat pertama, saya mau kopi susu dan.. susunya langsung dari sini..” Pak Jarwo mengelus pelan payudara Belinda yang tidak ditutupi bra dan hanya dilapisi kemeja tipis. Seketika Belinda berusaha berontak tapi apalah daya Belinda melawan kekuatan Pak Jarwo. Belinda juga takut Rangga terbangun dan memergoki mereka.

“Hmm kamu memang binal, pagi-pagi sudah menggoda saya dengan tidak memakai bra dan memakai celana pendek..” ujar Pak Jarwo.

“Belinda baru bangun tidur, Pak Jarwo..” Belinda sudah memahami maksud dari Pak Jarwo yang mendekapnya saat ini dan mencoba santai. “Pak Jarwo mau pakai susu? Yang kanan apa yang kiri? Aahh..” kata Belinda manja. Seketika itu juga Belinda berubah menjadi sangat binal dengan harapan permainan ini cepat selesai.

Mendengar Belinda yang dipikirnya susah ditaklukan lalu menjadi seperti pelacur, tak ayal rudal Pak Jarwo pun menegang kuat bahkan hampir keluar dari celana bahannya saking panjangnya.

“Belinda.. Belinda.. kamu luarnya saja berhijab, mahasiswi kedokteran, tapi dalamnya tidak beda dengan para perek yang saya temui di jalanan. Kalau begitu langsung masuk ke syarat kedua, Kamu harus menjadi budak seks saya..” kata Pak Jarwo sambil tangannya terus menerus meremas payudara milik Belinda.

“Apa pak? Budak seks? Belinda siap memberikan semuanya buat Pak Jarwo kok, Pak Jarwo bisa entot Belinda dimanapun kapanpun. Uuuhh remas terus tetek Belinda dong pak.. Belinda yakin rudal Pak Jarwo lebih bisa muasin serambi lempit Belinda daripada rudal Rangga.. uuhh uuhh..” Belinda semakin tidak bisa mengontrol kata-katanya ketika dia merasakan kerasnya rudal Pak Jarwo yang sengaja digesekan ke belahan pantat Belinda.

“Oke, bawa kopi dan susunya ke ruang tamu. Kamu harus telanjang, hanya pakai handuk dan temui saya. Bisa?” Pak Jarwo dengan sangat jumawa memerintah Belinda.

Belinda pun berbalik dan mengemuti jari-jari tangan Pak Jarwo sambil berkata dengan suara manja, “Apapun yang Pak Jarwo mau dengan tubuh Belinda, Belinda akan berusaha muasin Pak Jarwo dan membuat Pak Jarwo setia sama serambi lempit Belinda uuhh.. Pak Jarwo tunggu aja di ruang tamu yaa..” usai berkata begitu, Pak Jarwo pun akhirnya meninggalkan Belinda di dapur dan menuju ruang tamu.

Belinda sendiri masih merenung di dapur, dia bingung kenapa dia mau mengiyakan permintaan Pak Jarwo untuk melayaninya pagi ini padahal Rangga, kekasihnya yang tampan, masih tidur nyenyak di kamarnya. Tapi dia tak ingin dia dan Rangga pada akhirnya dituduh berbuat asusila dan diarak keliling desa, mau ditaruh dimana harga diri dan nama baik keluarganya?

Padahal sehari-harinya Belinda memakai hijab, banyak pertanyaan muncul di kepalanya saat itu. Satu hal yang membuat Belinda akhirnya mantap menjadi budak seks Pak Jarwo mulai pagi ini adalah ukuran rudal Pak Jarwo yang tadi digesekkan ke pantat Belinda, seakan membelai serambi lempit dan lubang pantatnya. Belinda seketika itu juga tersenyum dan membawa kopi panas ke ruang tamu.

“Ini pak kopinya, Belinda mau siap siap dulu, Pak Jarwo tunggu ya..”

Sambil mengelus pantat Belinda, Pak Jarwo berkata, “Iya pelacur, jangan lama-lama ya, saya tidak punya waktu banyak.” Pak Jarwo tersenyum menjijikan.

Belinda pun berjalan menuju kamar tidur sambil menggoyangkan pantat, mempertontonkan kemontokan tubuhnya pada Pak Jarwo, sampai didepan pintu, ia menengok ke belakang dan dengan kerlingan mata nakal, Belinda menjilat bibirnya sendiri. Uuuh! rudal milik Pak Jarwo sudah tidak tahan ingin segera mencoblos serambi lempit Belinda saat itu juga tapi Pak Jarwo masih bersabar.

Tak berapa lama kemudian, Belinda keluar hanya memakai handuk, ia berjalan menuju ruang tamu dan duduk menyamping di pangkuan Pak Jarwo. “Pejantannya Belinda, nih maunya udah diturutin, sekarang pak RT cabul ini mau apalagi?”. Belinda berusaha menjadi pelacur yang baik walau dalam hatinya masih ada sedikit keraguan.

Pak Jarwo yang ditanya seperti itu malah semakin memuncak birahinya, tapi memang beliau adalah pria yang sudah sangat matang, tidak mau terburu-buru maka sambil mengelus lengan Belinda yang terbuka, ia berkata, “Sekarang berdiri di hadapan saya, buka handuknya, terus rentangkan sambil kamu duduk di pangkuan saya sekarang, ayo lakukan.”

Belinda segera berdiri, membuka lipatan handuknya dan memperlihatkan serambi lempitnya yang tercukur rapi serta payudaranya yang montok dengan putingnya yang berwarna pink mencuat keatas, tanda dia sendiripun sebenarnya dalam kondisi terangsang.

Perlahan-lahan dengan menyunggingkan senyum nakal, dia duduk di pangkuan Pak Jarwo, “Hmm bapak ini banyak maunya deh, aku juga paham kok caranya muasin tua bandot mesum kayak bapak, bapak tenang aja ya..”

Sehabis berkata begitu, Belinda perlahan mendekatkan bibirnya yang ranum ke telinga Pak Jarwo, “Jangan selesai terlalu cepat ya.. suamiku sayang..” Belinda berbisik dengan begitu mesra dan itu membuat jantung Pak Jarwo semakin berdetak kencang.

Belinda mengulum telinga Pak Jarwo dengan pelan dan mesra, dengan tangan masih memegang handuk dan memeluk leher Pak Jarwo, seakan-akan mereka tak ingin terlihat orang lain. Pak Jarwo pun tersenyum licik, menyadari ketidakpercayaannya begitu mudah ia menaklukan mahasiswi kedokteran yang sehari- harinya berjilbab ini.

Dengan tangannya yang kasar, Pak Jarwo mengelusi buah dada yang hanya bisa dibayangkannya selama ini, “uuhh Pak Jarwo nakal ya tangannya, kok cuma dielus sih pak? Diremes juga dong. ini kan punya bapak sekarang hihi”.

Belinda pun mulai terbawa arus birahinya ketika bibirnya menyentuh bibir Pak Jarwo yang kental dengan bau tembakau, tapi itu malah menambah gairahnya untuk mengulum bibir pejantan tuanya. “uhh hmm mmhh hmm uuhh Pak Jarwo lebih aktif dong uuhh hmm mmhh.”

Lidah mereka berdua saling bertautan, beradu seakan saling mendorong keluar. Kecipak suaranya juga sangat keras karena Pak Jarwo sangat menyukai seks yang sedikit kasar dan berisik, maka dia coba meludahi mulut Belinda dan Belinda dengan sangat setia menelan semua liur Pak Jarwo.

Pak Jarwo meremas payudara Belinda dengan sedikit kasar, membuat Belinda melenguh nikmat. Jari-jari tua itu mulai memilin puting mahasiswi kedokteran tersebut, pegangan tangan Belinda pada handuk pun lepas karena Belinda tidak tahan dengan sentuhan- sentuhan tangan pak RT tersebut.

Tangan Belinda mengelus rambut Pak Jarwo yang sudah memutih dengan penuh rasa sayang. “uuhh Pak Jarwooo.. bapak pasti udah lama gak ngerasain tubuh montok kayak Belinda ya? Belinda pagi ini jadi istri bapak deh, Belinda akan bikin bapak ngerasain surga dunia ya.. uuhh..”. Belinda menarik kepala Pak Jarwo menuju payudaranya berharap putingnya diemut bibir tua namun menggairahkan tersebut.

“Hmm umm mmm puting kamu memang manis, sama seperti orangnya hihi..” Pak Jarwo mencolek dagu Belinda sehingga pipi Belinda pun semakin memerah mendengar pujian Pak Jarwo tersebut. Pak Jarwo terus mengemuti puting Belinda dan akhirnya.. mencupang payudara Belinda dengan keras dan berisik.

“Auuuww!! Pak Jarwo pelan- pelan dong ah, Belinda gak mau Rangga sampe bangun nanti Belinda gak ngerasain rudal Pak Jarwo pagi ini..”.

Pak Jarwo melempar handuk yang tadi dipakai Belinda, meremas pantat Belinda dan menciumi lehernya. Pakr Jarwo berubah menjadi beringas karena ia sebenernya sudah tidak tahan dengan segala kata-kata yang keluar dari mulut Belinda saat ini.

Belinda melenguh menahan desahannya yang sebenaarnya sudah tidak tertahankan, ia baru ingat bahwa ia lupa mengunci pintu kamarnya dan Rangga bisa keluar sewaktu-waktu. Tapi rasa takut ketahuan malah membuati birahinya makin meningkat.

Belinda berusaha melepaskan kancing-kancing kemeja Pak RT saat lidah Pak Jarwo semakin ganas melumuri leher mahasiswi kedokterhan itu dengan liur. Belinda melempar kemeja Pak Jarwo entah kemana, ia begitu kagum melihat dada bidang Paka Jrwo dan sedikit berbulu, “aaahh Pak Jarwo, biarkan saya yang bekerja melayani bapak ya..”

Belindapun tersenyum manja dan turun dari pangkuan Pak Jarwo secara perlahan sambil menciumi leher Pak Jarwo. “Aaahh Belinda, kamu memang pintar sekali memainkan lidahmu di kulit bapak uuhh!” Pak Jarwo baru kali ini dimanjakan oleh lidah seorang perempuan, apalagi ketika ciuman Belinda turun menuju putting Pak Jarwo, ia mencium, menjilat dan sedikit menggigit putting Pak Jarwo.

Birahi Belinda sudah tak tertahankan lagi, ia sudah bertransformasi menjadi layaknya pelacur jalanan yang menghamba pada kenikmatan seksual. Ciumannya kembali turun menuju perut Pak Jarwo yang sudah sedikit buncit, walau begitu sisa-sisa hasil fitness zaman dulu masih terlihat.

Hmm dengan sedikit tergesa-gesa, Belinda mencoba melepas ikat pinggang dan celana panjang milik Pak Jarwo, ia sendiri tidak sabar untuk memanjakan rudal yang tadi digesekkan ke belahan pantatnya.

Bersambung… “Pak Jarwo..” Belinda memanggil nama ketua RT tersebut sambil mendesah dan mengerlingkan matanya dengan nakal, tangannya meremas rudal Pak Jarwo sambil menciuminya dari luar celana dalam. Ah bagai mimpi jadi kenyataan bagi Pak Jarwo sendiri, ia bisa mengelusi rambut seorang Belinda yang sedang membuka celana dalamnya dan akhirnya mengelus rudalnya. Kulit bertemu kulit.

Bagaikan adegan film slow motion. Belinda mengecup pelan kepala rudal Pak Jarwo. Cup! Lalu ia mulai menjilati pinggiran rudal Pak Jarwo, masih dengan gerakan yang lambat karena Belinda ingin meresapi rasa rudal yang mungkin akan menjadi rudal favoritnya untuk selamanya.

Belinda menjilat rudal Pak Jarwo senti demi senti, sambil menutup matanya bagaikan mencoba pertama kali es krim coklat kesukaannya saat SD. “Hmm mmhh umm Belinda suka rasa Pak Jarwo, mulut ini bakal selalu kangen disentuh rudal Pak Jarwo hmm mmm..”. rudal Pak Jarwo makin tegang mendengar Belinda berkata kotor seperti itu.

Mulailah Belinda memasukkan semua bagian rudal Pak Jarwo setelah dirasa cukup basah oleh liurnya. Perlahan, sangat pelan, Belinda memasukkan semuanya kedalam mulutnya, ia ingin rudal tersebut menyentuh ujung tenggorokannya. Lalu juga dengan pelan sekali, Belinda melepaskan rudal tersebut. Cup! rudal tersebut sudah begitu tegang ketika pada akhirnya Belinda menghisapnya, dari pelan perlahan menjadi semakin cepat, cepat dan semakin cepat.

“Uhh hmm mmhh hmm Pak.. Jarwo.. hmm mmhh!!”

“Iyaa mbak Belinda? rudal saya sepertinya jodoh sama mulut mbak hehe…”

Tapi Pak Jarwo tetaplah seorang pria tua, ia tak akan tahan kalau begini terus, maka dari itu sebelum spermanya keluar maka ia membangunkan Belinda dan menyuruh Belinda kembali dipangku oleh Pak Jarwo sambil memasukkan rudalnya kedalam serambi lempitnya.

Belinda juga berpikir kalau lama-lama, Rangga bisaa bangun dan memergokinya bergumul mesra dengana Pakk Jarwo. Maka Belinda pun naik dan duduk dia pangkuan Pak Jarwo, tangannya yang lembut memegang dan mengarahkan rudal Pak Jarwo ke dekat bibir serambi lempitnya.

“Uuuhh Pak Jarwo.. puaskan saya ya pak.. cup!” Belinda mencium pipi keriput Pak Jarwo dan menurunkan tubuhnya perlahan-lahan supaya rudal Pak Jarwo bisa masuk secara sempurna kedalam serambi lempitnya.

“Hhhh saya tidak menyangka bisa menyetubuhi sama mbak Belinda, tenang aja, bukan Jarwo namanya kalau gak bisa muasin serambi lempit perempuan hehe..” Pak Jarwo membantu dengan menaikkan pinggulnya menyambut pantat Belinda yang semakin turun menyelimuti rudalnya dengan hangatnya serambi lempit Belinda.

“Uuhh hhh mmhh uuhh!!” Belinda mulai mendesah ketika ia mulai memompa rudal Pak Jarwo dengan serambi lempit sempitnya bak perawan, sambil menggenjot, ia meremas rambut Pak Jarwo dan menciumi pipinya.

“Aahh mbak Belinda! Uuhh uuhh serambi lempit mbak enak banget, belum pernah saya menikmati serambi lempit seperti ini uuhh!” Darah tua Pak Jarwo mulai berganti menjadi darah muda kembali, tangannya mengelus punggung dan pantat Belinda yang sedikit demi sedikit mulai berkeringat.

Kecipak pertemuan rudal dan serambi lempit perempuan dan lelaki berbeda usia ini begitu berisik, untung saja Rangga memang terbiasa bangun siang karena ini hari Minggu. Belinda yang mengetahui hal itu menerima saja tumbukan rudal di serambi lempit yang sehari- harinya hanya diisi oleh rudal kekasihnya.

“Uuuhh teruusshh Pak Jarwoo, rudal bapak memang tidak ada duanyaaa!!” Selesai berkata seperti itu, bibir Belinda mencium, mengulum bahkan seperti akan memakan bibir Pak Jarwo, begitu ganas, liar dan beringas. Belinda terbiasa menerima perlakuan seksual yang lembut dari Rangga tapi sekarang ia menjadi liar karena kenikmatan yang kelewat batas.

“Uuuhh uuuhh mbak Belinda! Ayo ganti gaya, saya mau mbak nungging, saya mau doggy style! Uuhh hhhh!” Pak Jarwo merasa bahwa ia harus mengeluarkan spermanya di serambi lempit Belinda, kalau bisa menghamilinya.

Belinda akhirnya turun dari pangkuan Pak Jarwo dan dengan berpegangan pada sofa, ia menunggingkan pantatnya yang montok kearah Pak Jarwo. Pak Jarwo berdiri dan mencoba memasukkannya ke serambi lempit Belinda saat tiba-tiba ia berkata, “Mbak Belinda yang binal, rayu rudal saya biar mau masuk ke serambi lempit mbak dong hehe..” Dia tersenyum menjijikan.

“Uuhh Pak Jarwo.. Belinda mendesah sambil menggoyangkan pantatnya seakan menyambut rudal Pak Jarwo yang semakin mendekat ke serambi lempitnya. “Ayo dong rudalku sayang, masuk ke serambi lempit aku, aku udah gak tahan banget pengen disodok sama kamu terus disemprot pake peju uuhh!”

Belinda berkata dengan manja sambil memperlihatkan muka sayu, menggigit jarinya sendiri dan itu cukup membuat Pak Jarwo kembali menusukkan rudalnya ke serambi lempit Belinda dengan ganas!

“Uuuhh ouhh dasar ya perek nakal! Mahasiswi emang semuanya bisa dipake! Uuhh ouuhh! Ini bapak entot! Uuuhh!” Pak Jarwo menggenjot serambi lempit Belinda dengan ganas, sambil menampar pantat Belinda sampai merah. Uhh! Ohh!

Uuhh! Uuhh! Desahan mereka saling bersahutan tetapi tetap berusaha untuk tidak terlalu keras, Belinda juga ikut menggoyangkan pantatnya dan mencari kenikmatannya dengan menggosok kelentitnya dengan jari-jarinya.

“Uuuhh uuuhh teruus Pak Jarwooo!! Sudah hampir setengah jam berlalu, bapak belum keluar juga! Uuhhh!” Belinda terus mendesah, sebentar lagi ia akan mencapai klimaksnya!

“Aaahhh Pak Jarwoo!! Saya keluaarrrrr!! Aaahhhhh!!” Belinda mendorong pantatnya ke belakang dengan keras, ia ingin rudal Pak Jarwo menyentuh ujung rahimnya. “Aaaahhhhh nikmatnya Pak Jarwo.. aahhh bapak belum keluar ya? Yuk keluarin aja pak didalem juga gapapa hehe..” Kata-kata Belinda yang menggoda membuat Pak Jarwo tidak sabar menyirami serambi lempit mahasiswi kedokteran ini dengan spermanya.

“Aaahh aahhh!” Pak Jarwo semakin ganas menusuka serambi lempit Belinda sampai suara tumbukan antara pantat Belinda dan pinggul Pak Jarwo semakin berisik, untung saja tidak berapa lama kemudian Pak Jarwo merasa bahwa spermanya telah berada di ujung rudal dan siap ditembakkan.

“Aaahh aaahhh! serambi lempit mbak enak banget! Sumpah saya ndak bohong! Aaahhh uuuhh saya keluar yaaa aaaaaaaaahhhhhhhhh!!!” Dengan satu lolongan kuat dan dorongan yang kuat akhirnya sperma Pak Jarwo meluncur masuk kedalam rahim Belinda.

“Aaaahhh akhirnya saya bisa puas menyetubuhi sama serambi lempit perempuan kayak kamu, uuhh..” Jatuhlah tubuh tua namun masih bertenaga milik Pak Jarwo kes sofa, ia masih menutup mata dan terengah-engah.

Belum benar-benar bangun dari kenikmatan surgawi yang baru ia rasakan, Belinda sendiri juga ikut menyusul merebahkan dirinya diatas tubuh Pak Jarwo, ia bersandar pada dada bidang Pak Jarwo sambil memainkan rudal Pak Jarwo yang masih sedikit tegang namun sangat basah.

“Hmm saya puas banget bisa main sama Pak Jarwo.. hmm rudal bapak sekarang bebas keluar masuk serambi lempit saya deh.. oke pejantanku sayang?” Belinda sekarang benar-benar manja dan terlihat tidak mau melepas rudal milik Pak Jarwo, ia sudah takluk dan menghamba pada kenikmatan seksual yang diberikan oleh Pak Jarwo.

Cerita Dewasa Ngentot - Calon Dokter Berhijab Menjerit Nikmat di Kontrakan Buruh Pabrik
“Iya mbak, saya juga puas banget hmm.. yasudah pokoknya mbak harus janji selalu sedia serambi lempit setiap kali saya sange ya mbak hehe cup!” Pak Jarwo mengecup kening Belinda, membuat perempuan itu semakin terbang melayang.

Akhirnya Pak Jarwo memakai kembali pakaiannya dan pergi dari kontrakan Rangga sebelum hari makin 1siang dan Rangga kembali terbangun. Sebelumnya, Pak Jarwo dan Belinda sempat bertukar liur sebelum mereka berpisah.

Ah, hari yang indah! Belinda akhirnya mandi dan pulang meninggalkan Rangga yang sebenarnya.. berpura- pura tidur..

Dua hari lagi. Belinda akan menjalani prakteknya di Purwokerto. Dan hari ini sesuai dengan janji yang sudah ia buat dengan Rangga, ia akan menghabiskan waktu seharian berjalan-jalan berkeliling Yogyakarta.

Belinda tahu bahwa pada akhirnya ini akan berakhir pada permainan ranjang yang panas di kontrakan Rangga seperti pada hari-hari sebelumnya. Yang Belinda tidak tahu bahwa di ujung hari, ia tidak akan bergumul dengan kekasihnya, tetapi oleh Pak Jarwo.

Sudah beberapa hari ini sebenarnya Belinda sering bermain cinta dengan Pak Jarwo tanpa diketahui Rangga, kekasihnya. Dengan beralasan sedang praktek, responsi dan lain-lain maka Belinda dengan bebas ‘bertamu ke rumah Pak Jarwo.

Istri Pak Jarwo sendiri adalah seorang buruh migran yang entah kapan akan pulang dan tidak tentu mengirimkan uang untuk Pak Jarwo di Indonesia. Tapi semua itu tidak menjadi masalah karena banyak kebutuhan Pak Jarwo yang pada akhirnya ditanggung Belinda, Belinda sudah seperti istri kedua Pak Jarwo.

Pak Jarwo bagaikan raja yang menikmati kenikmatan lahir batin, kebutuhannya tercukupi dan lain-lain dari Belinda. Kita tarik cerita dari sekitar dua minggu kebelakang, beberapa hari setelah permainan cinta pertama antara Belinda dan Pak Jarwo.

Saat itu hari Rabu pagi dan Belinda kebetulan kuliahnya sedang kosong karena dosen yang berkepentingan sedang berada di luar kota. Belinda terbangun karena ada sms masuk ke handphone-nya, setelah dilihat ternyata dari Pak Jarwo.

Setelah pertemuan pertama mereka, memang mereka pada akhirnya bertukar kontak supaya Pak Jarwo bisa menghubungi Belinda lagi di lain kesempatan. Selain itu juga, hampir tiap malam Pak Jarwo mengirim sms mesra kepada Belinda dan Belinda juga tak kalah mesra membalas sms-sms tersebut. Ah indahnya hubungan kedua insan berbeda usia jauh ini.

“Pagi cewek bispak, kuliah gak hari ini? Hmm kayaknya pagi pagi begini kalo sarapan sambil disepongin sama mahasiswi berjilbab pasti nikmat, kamu ke rumah bapak dong sayang..”

“Ah Pak Jarwo kok pagi pagi udah sms sih? Bikin serambi lempitku cenat cenut kalo inget kemaren di kontrakan pacar saya. Saya gak kuliah hari ini nih hmm Pak Jarwo mau ditemenin? Yaudah kasih saya alamatnya ya, sama Pak Jarwo mau dibeliin sarapan apa?”

“Kamu tau aja maunya bapak hehe saya mau bubur ayam aja deh, beli dua buat kamu juga ya sayang. ohya jangan lupa mandi yang bersih dan wangi, dandan, pake jilbab yang bikin kamu paling cantik ya, tapi pake baju dan celananya yang ketat, oke pelacur?”

“Duh kalo bapak bilang saya pelacur tuh bikin saya makin terangsang hmm yaudah nanti bapak sms aja alamat rumah bapak ya, saya manasin mobil dulu, sampai nanti pejantanku sayang mmuuaacchh!”

Sms-sms yang terjadi diantara keduanya memang sudah kelewat mesra bahkan cabul, dan Belinda sebagai seorang mahasiswi berhijab dan calon dokter malah lebih terangsang ketika direndahkan oleh kata-kata kasar oleh seorang bapak tua yang jadi ketua RT di daerah kontrakan Rangga.

Tidak berapa lama kemudian Belinda sudah meluncur untuk membeli sarapan dan menuju rumah Pak Jarwo. Belinda memberi tahu Rangga bahwa ia tidak enak badan dan tidak ingin diganggu selama seharian ini, supaya Rangga juga fokus dengan pekerjaannya, sebuah alasan cukup klasik.

Akhirnya mobil Belinda sampai di sebuah rumah yang cukup asri, kecil namun banyak ditumbuhi tumbuhan- tumbuhan liar, sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Pak Jarwo. Seorang bapak tua kemudian keluar untuk membuka gerbang dan menyuruh Belinda memarkirkan mobilnya untuk masuk ke garasi, setelah itu ditutup dengan cover mobilnya sehingga setiap orang yang lewat tidak mengetahui mobil siapa yang ada di garasi Pak Jarwo saat ini.

“Masuk aja sayang, langsung buka sarapannya di meja makan ya, bapak udah kangen banget sama kamu nih!” kata-kata Pak Jarwo dibarengi dengan tepukan di pantat Belinda. Ngocoks.com

“Duh bapak, jangan diluar gini ah nanti ada yang liat loh hihi masa cewek berjilbab mesra sama bapak bapak hihi tapi gapapa deh kan sama Pak Jarwo ini” sambil tersenyum manja, Belinda mengatakan hal tersebut yang membuat Pak Jarwo makin kelimpungan.

Akhirnya mereka berdua sudah duduk di meja makan tetapi Pak Jarwo bilang, “Loh kok disitu sih? Sini dong..” sambil menepuk pahanya memberikan isyarat agar Belinda duduk di pahanya. “Aduh bapak manja deh hihi yaudah Belinda duduk menyamping di paha bapak ya..”.

Belinda akhirnya duduk di pangkuan Pak Jarwo, lalu ia membuka bungkusan buburnya tapi lagi lagi Pak Jarwo menyela, “Eh punya kamu nanti aja, punya bapak aja dulu hehe saya mau sarapan sambil disepong sama mahasiswi berjilbab, impian bapak dari dulu nih, boleh ya sayang?”

Pak Jarwo mencolek dagu Belinda membuat Belinda tersipu malu dan akhirnya menganggukkan kepala menuruti kemauan pak RT cabul yang satu ini. Belinda mencium bibir Pak Jarwo dan mengulumnya secara tiba-tiba, Pak Jarwo sendiri kaget.

“Loh kok?”

“Daritadi ketemu kan bibir kita belum ketemu, saya gak boleh ya cium bibir Pak Jarwo? Tiba-tiba saya jadi kangen banget sama rasa bibir bapak uh!”. Dalam hatinya, ia merasa bahwa ada perasaan tersendiri jika berduaan dan bermesraan seperti ini dengan Pak Jarwo.

Setelah itu, perlahan Belinda turun dari pangkuan Pak Jarwo dan duduk dibawah meja. Pikiran Pak Jarwo telah melayang-layang kemana-mana, ah seandainya ia bisa memperistri Belinda dan bisa ia pakai setiap hari, pasti hidupnya akan lebih bahagia.

“Saya buka ya pak, ups! Besarnya hmm..” Belinda membuka celana panjang Pak Jarwo dan menurunkannya sebatas paha, lalu menciumi paha Pak Jarwo yang telanjang. Perlahan mendekati rudal Pak Jarwo yang berukuran besar, rudal itu masih layu dan sedikit bau pesing tapi Belinda tidak peduli.

Perlahan ia mengenduskan hidungnya pada pangkal rudal itu, menciumnya dengan sangat mesra dan penuh kasih sayang. Sementara diatas, Pak Jarwo mulai menikmati sarapan buburnya sambil juga menikmati sarapan yang lain, ia tersenyum licik karena berhasil menaklukan seorang mahasiswi fakultas kedokteran, berjilbab pula, bawa mobil juga, ah hidupnya terasa sangat indah sekarang.

Belinda mulai menciumi rudal Pak Jarwo sekarang dan perlahan rudal tersebut mengembang dan mengeras bagaikan batang kayu, Belinda tertawa kecil melihat rudal kesayangannya menjadi sebesar ini karena usahanya.

Belinda akhirnya menjilati rudal Pak Jarwo dengan sangat perlahan, memindahkan rasa yang ada kedalam mulutnya, menstimulasi rudal tersebut agar makin mengeras, seakan-akan rudal tersebut adalah pisang yang dilumuri oleh susu kental manis.

Ah Belinda sangat ketagihan sekarang. Ia mulai membasahi semua bagian rudal tersebut dengan liurnya, mulai memasukkannya kedalam mulutnya secara perlahan.

Suara Belinda yang sedang mengulum rudalnya membuat Pak Jarwo makin bernafsu, kecipak pertemuan antara bibir indah berlipstik tipis, behel dan rudal hitam Pak Jarwo menghasilkan nafsu Pak Jarwo menjadi semakin meningkat.

Bersambung… Sementara Pak Jarwo terus melanjutkan sarapannya, Belinda masih mengulum rudal Pak Jarwo yang sudah benar-benar tegang. Belinda kocok dengan tangannya yang halus, jari- jarinya yang lentik dan kukunya yang baru tadi pagi di-kutek.

Uh tidak ada yang bisa menandingi sensasi dan aroma sensualitas yang ada di ruang makan rumah Pak Jarwo. Tiba-tiba Pak Jarwo membuka kotak sarapan bubur milik Belinda dan menarik Belinda keatas.

“Duh kayaknya kamu napsu banget nyepong rudal bapak? Suka banget ya sama rudal bapak?”

“Mulut saya kayaknya udah jodoh sama rudal Pak Jarwo, uuhh rudalnya Pak Jarwo tuh bikin mulut saya jadi gatel dan yang bisa garukin cuma rudalnya Pak Jarwo, pak RTku tersayang ini hihi”

“Yaudah sayang, kamu makan dulu ya, biar nanti kita menyetubuhinya bisa kuat seharian, kamu ga ada janji sama pacar kamu kan?”

“Ah saya lebih milih seharian dientotin sama Pak Jarwo daripada harus kencan sama dia pak, hmm pak.. saya boleh minta tolong sesuatu gak?”

“Buat kamu, bapak akan turutin, apa sih sayang?”

“Suapin..”

Dengan senyum malu-malu. Belinda mengungkapkan keinginannya untuk dimanja oleh Pak Jarwo, perempuan kalau sudah tersentuh hatinya, apalagi serambi lempitnya, itu sudah akan takluk walaupun lawan mainnya adalah seorang bapak tua.

Belinda menganggap Pak Jarwo sebagai suaminya sendiri, Belinda bahkan akan gelisah kalau satu hari tidak berkomunikasi dengan Pak Jarwo. Tetapi bukan Pak Jarwo namanya kalau tidak punya ide gila, ia akan menyuapi Belinda lewat mulut, dan hanya dijawab oleh anggukan serta senyum manis dari Belinda.

Akhirnya Pak Jarwo mengaduk buburnya dan menyuapi dirinya sendiri, sehabis itu layaknya orang berciuman, Pak Jarwo mendekatkan mulutnya ke mulut Belinda, perlahan-lahan bubur tersebut pindah ke mulut Belinda.

“Gimana? Enak sayang?”

“Makasih ya pejantanku sayang. Pak Jarwo tuh satu satunya cowok yang bikin saya sendiri, walaupun berbeda usia, jadi meleleh.. bapak tuh jantan banget..”. Sambil berkata begitu, Belinda yang masih duduk di pangkuan salah satu kaki Pak Jarwo, kembali mengelus dan mengocok rudal Pak Jarwo yang belum mengeluarkan isinya. Pak Jarwo yang sudah berpengalaman dengan berbagai wanita hanya melenguh pelan dan kembali menyuapi Belinda dengan mulutnya.

“Belinda uuhh.. pelacur pribadi saya.. uuhh saya bentar lagi mau keluar nih, saya campurin pejunya ke bubur kamu ya sayang, gimana? Uuhh..”

“Ih bapak nanti buburnya rasa peju deh, tapi jadi enak hihi yaudah pak keluarin aja pejunya uuhh..”

Dengan muka penuh birahi, Belinda kembali mengocok dengan kuat rudal Pak Jarwo, akhirnya tidak berapa lama kemudian sperma itu akhirnya keluar..

“Aaaaahhhhhh uuuhhhhhhh.. nikmatnyahhhhh uuhhh terus kocok sayang uuhh..” pak Jarwo akhirnya ejakulasi diatas bubur ayam milik Belinda, sampai tetes terakhir sperma Pak Jarwo pun tidak disia-siakan Belinda, ia membersihkan rudal Pak Jarwo dengan lidahnya, ia terlihat tidak ikhlas ketika satu tetes sperma jatuh ke lantai.

Uh hanya dengan melihatnya saja Pak Jarwo jadi semakin bernafsu untuk menggarap tubuh molek berbalut jilbab dan gamis panjang ini.

Lalu Belinda akhirnya keluar dari kolong meja makan dan dengan kerlingan mata genitnya pada Pak Jarwo, Belinda menjilat bibirnya sendiri dan berkata nakal, “Hmm enaknya peju Pak Jarwo, buat saya awet muda nih hihi..”. Akhirnya Belinda sarapan dengan bubur ayam yang sudah dicampur oleh sperma Pak Jarwo dengan lahap.

Pak Jarwo sendiri pergi ke kamar mandi untuk mandi dan memulihkan staminanya setelah spermanya dikuras habis pagi ini oleh mahasiswi cantik berhijab seksi.

Pak Jarwo bersiul bernyanyi pelan di kamar mandi, memikirkan nasibnya yang sekarang seakan-akan telah menjadi raja dan Belinda menjadi selirnya yang menjamin semua kebutuhannya, lahir dan batin. Lalu tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan persis diluar kamar mandi.

Pak Jarwo bisa melihat Belinda yang perlahan-lahan menelanjangi dirinya dari mulai hijabnya, bajunya dan akhirnya bra dan celana dalamnya. Belinda melangkah perlahan mendekati Pak Jarwo yang masih saja ternganga dan hampir tidak percaya seorang mahasiswi kedokteran berhijab melakukan hal tersebut.

“Saya boleh ikutan mandi kan, Pak Jarwoku sayang?”

“Tentu saja boleh, pelacur pribadiku hehe..”

Ketika berada di depan Pak Jarwo, Belinda memutarkan tubuhnya, mempertontonkan bagian tubuh belakangnya yang polos tanpa selembar penghalang pun. Lalu ia menempelkan tubuhnya pada tubuh Pak Jarwo, sambil sedikit mendesah, ia mengambil tangan Pak Jarwo dan menyentuhkannya pada payudaranya, seakan meminta untuk diremas dan dimanjakan.

“Ayo Pak Jarwo.. uuhh.. sentuh tiap senti tubuh saya, saya kangen sama kulit kasarnya Pak Jarwo yang bikin saya geli geli gimana gitu, cium setiap inci kulit saya.. uuhh ayo pejantanku sayang uuhh..”

Sambil berkata begitu, Belinda menggoyangkan pantatnya dan membuat rudal Pak Jarwo yang tadinya lemas karena air yang dingin, jadi mengembang dan mengeras bak batang kayu jati.

Pak Jarwo hanya diam menikmati goyangan pantat Belinda yang mengaduk rudalnya sehingga rudalnya menjadi ereksi total, tangannya dengan lembut meremas payudara Belinda sehingga si empunya kembali melenguh merasakan nikmatnya bersetubuh dengan pria yang jauh berbeda usianya.

Ini juga membuat Pak Jarwo tidak pernah merasa bosan untuk menggarap tubuh muda dan sekal milik Belinda. Saat ini rudal Pak Jarwo mulai mencari jalan untuk masuk ke serambi lempit Belinda. Belinda yang mengerti kemauan Pak Jarwo langsung menundukan badannya agar lubang serambi lempitnya bisa lebih mudah untuk dimasuki rudal Pak Jarwo.

Belinda pun mendesah ketika senti demi senti rudal Pak Jarwo akhirnya berhasil memasuki liang serambi lempitnya. Ketika semuanya sudah masuk, mereka berdiam diri untuk sesaat meresapi nikmatnya persetubuhan terlarang ini dibawah guyuran shower yang tidak terlalu kencang.

Perlahan Pak Jarwo mulai untuk menggoyangkan badannya maju mundur, menusuk liang peranakan milik Belinda, sambil memegang pinggul Belinda yang tak kalah semok dengan bagian tubuh lainnya, Pak Jarwo kembali mendapatkan semangat mudanya. Belinda pun mulai mendesah dengan rindunya seakan akan memang dia sangat mengharapkan tusukan rudal Pak Jarwo di serambi lempitnya, itu juga yang membuat Pak Jarwo semakin semangat untuk melakukan penetrasi.

“Ah ahh aaahh terusshh Pak Jarwo uuhh enak banget tusukan rudal bapak di serambi lempit saya uuhh nikmatnya menyetubuhi sama bapak uuuhh..”

“Uhhh uuhh nih saya tusuk teruss! Uhhh serambi lempit kamu pernah dihargai berapa paling mahal sayangg? Uuhh!”

Omongan yang mulai melantur menandakan mereka berdua sudah tenggelam dalam lautan birahi dan hanya mengejar kenikmatan. Belinda yang direndahkan seperti itu tidak merasa terhina bahkan dia merasa lebih terangsang ketika direndahkan seperti itu. Dia memutuskan lebih baik ia berdrama supaya ia dan Pak Jarwo lebih terangsang.

“Uuuhh cuma tiga ratus ribu Pak Jarwooo uuhhh! Kalau sama Pak Jarwo, saya rela terus terusan dientot sama rudal besar dan enaknya Pak Jarwo uuhh! Saya kan pelacur pribadinya Pak Jarwo uuhh! Uhhh..”

Mendengar itu pun Pak Jarwo makin ganas menusukkan rudalnya ke tubuh Belinda, ia membalikkan tubuh Belinda dan mendudukkannya di pangkuannya diatas kloset. Ah ganas sekali Pak Jarwo hari ini, begitulah pikir Belinda. Tetapi ia sangat senang kalau Pak Jarwo begini, itu artinya ia sangat bisa membuat pria seusia Pak Jarwo masih bergairah seperti anak muda.

Belinda kembali menggoyangkan tubuhnya, tidak hanya keatas dan kebawah tetapi juga kesamping dan ini membuat rudal Pak Jarwo seperti digiling dan rasanya.. sangat nikmat! Pak Jarwo sampai menutup matanya agar membebaskan Belinda untuk bergoyang lebih binal dan liar.

Hanya ada suara shower yang belum mati dan juga desahan mereka berdua dan ini membuat suasana kamar mandi semakin mesum dan romantis. Posisi Belinda yang membelakangi Pak Jarwo membuat Pak Jarwo tambah bergairah melihat goyangan pantat Belinda yang.. hmm liur Pak Jarwo semakin menetes dan tidak tahan untuk menahan ejakulasinya.

Tetapi Pak Jarwo belum mau melepaskan laharnya sekarang. ia menangkap payudara Belinda dari belakang, meremasnya dan membuat Belinda harus merebahkan dirinya ke belakang, menyenderkan dirinya ke tubuh Pak Jarwo yang hangat.

“Uuuhh Belindaku.. jangan terburu-buru dong sayangg uuhh goyangan pantat kamu buat saya gak tahan hehe uuhhh..”

“Abis suruh siapa punya rudal gede dan nikmat banget kayak punya Pak Jarwo uuhh.. mmuuuaaccchh!”

Belinda dengan manjanya melingkarkan tangannya ke belakang, memeluk leher Pak Jarwo dan mencium pipi kasar Pak Jarwo.

“Uuuhh cium bibir saya dong Pak Jarwokuu sayangg. saya udah gak tahan banget nih pengen ngeluarin peju Pak Jarwo pake gilingan serambi lempit saya uuhh!”

Pak Jarwo mengabulkan permintaan Belinda untuk mencium bibirnya, dan ciuman tersebut berlangsung sangat panas sambil perlahan Belinda menggoyang pantatnya pelan pelan. Membuat napsu Pak Jarwo yang sempat turun menjadi perlahan naik.

Tidak hanya Belinda yang menaikturunkan tubuhnya diatas rudal Pak Jarwo tapi juga Pak Jarwo yang berusaha menusuk keatas. Membuat tubuh Belinda bergoyang cukup keras, desahannya pun makin keras dan kadang ditutup oleh mulut Pak Jarwo.

Tangan Pak Jarwo pun tidak tinggal diam, ia meremas dan memilintir dengan lembut puting tegang Belinda, membuat sang empunya tidak tahan untuk tidak mendesah nikmat. Ngocoks.com

Pak Jarwo juga terus menerus merangsang Belinda tidak hanya dengan rudal besarnya, tetapi juga dengan remasan di seluruh bagian tubuhnya, Pak Jarwo bertekad memberikan Belinda orgasme yang tidak pernah akan Belinda lupakan seumur hidupnya.

“Teruusshh Pak Jarwo uuhh terusshh Pak Jarwo uuhhh.. saya mau keluar nih pejantanku sayangg uuuhhh! Aku gak tahan banget uuhh kontholll besarrrhhh uuhh! Enaknya!!!”

“Enak kan sayangg? Uuhh kita keluar bareng bareng yukk!! Uuuhh enaknya menyetubuhi sama mahasiswi berjilbab kayak kamu uuhh!!”

“Iyaaa ayooo Pak Jarwooo uuhh keluarin ajaa uuhh.. saya juga mau keluar nih uuhh! Uuhh saya keluar aaaaaaaaaaahhhhhhhh aaaahhhh uuhhhhh!!”

“Iyaaa ini saya juga udah keluar aaaahhhh aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh uuuhhhhh terussshh goyangg pelacurrrrr!!”

Cerita Sex The Lion’s Revenge

Akhirnya mereka berdua melepaskan ejakulasinya masing-masing dan seketika itu juga semua suara terhenti, dan hanya terdengar suara shower yang masih mengucur.

Hanya desahan napas yang terdengar serta senyuman kecil di bibir mereka berdua, menandakan mereka telah mendapatkan kenikmatan yang benar-benar tidak pernah bisa mereka bayangkan sebelumnya.