
Cerita ini ditulis dimaksudkan sebagai hiburan bagi mereka yang sudah dewasa baik dari segi umur maupun pikiran dan berpandangan terbuka. Di dalamnya termuat kisah erotis yang menceritakan detail hubungan seksual yang bersifat normal dan paksaan. Khusus untuk yang telah berusia 18+. Jika anda termasuk dalam golongan yang masih berusia di bawah umur dan atau tersinggung serta tidak menyukai hal – hal yang berkenaan dengan hal tersebut di atas, tolong JANGAN DIBACA. Masih banyak cerita milik penulis lain yang mungkin memenuhi selera dan usia anda.
Cerita ini adalah karya fiksi. Semua karakter dan peristiwa yang termuat di dalamnya bukanlah tokoh dan peristiwa nyata dan lahir dari fantasi belaka. Kemiripan akan nama dan perilaku ataupun kejadian yang terdapat dalam cerita ini murni ketidaksengajaan dan hanya kebetulan saja. Penulis tidak menganjurkan dan/atau mendukung aktivitas seperti yang diceritakan. Kalau anda mengalami kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan silahkan hubungi dokter dan jangan membaca cerita ini lagi sebelum sembuh.
Cerita ini diadaptasi dari cerita Ranjang Yang Ternoda oleh Pujangga Binal dan Friends. Stella Wijaya berusia 30 tahun, Dina Kania berusia 28 tahun dan Indriani Suseno berusia 26 tahun adalah tiga kakak beradik yang telah yatim piatu dan telah berkeluarga. Ketiganya mengalami berbagai cobaan dari tiga pria tua keji yang ingin menikmati tubuh indah mereka dan memisahkan mereka dari suaminya masing-masing, Stella berhadapan dengan Pak Kuncoro tetangganya, Dina berhadapan dengan Michael atasan suaminya, Indri berhadapan dengan Adam mertuanya.
Bagaimana nasib ketiganya setelah jatuh ke pelukan ke tiga pria tua keji itu? yuk simak ceritanya!
Cerita Sex The Wedding Red Stain Cerita Sex The Wedding Red Stain – Indriani Suseno menginap semalam dirumah sang kakak Stella Wijaya, Indriani meski sudah menikah sering menginap jika sang suami tugas ke luar kota, sejak pertama bertemu dengan Pak Kuncoro Indriani emang tidak terlalu suka dengan Pak Kuncoro yang menurutnya sangat mesum, pertama kali berjumpa dan berkenalan dengan Indriani sudah mencoba mengelus tangan Indriani Suseno ketika bersalaman untuk pertama kali.
“Pria tua bejat gak tau diri!” marah Indriani ketika Pak Kuncoro telah meninggalkan gerbang rumah Stella milik sang kakak.
“Hei.. jangan ngawur, ngatain orang kok semaunya.. keras-keras lagi, gimana kalau orangnya dengar?” bentak Stella Wijaya kepada adiknya Indriani Suseno sambil melotot.
“Habis dia gak tau diri sih kak, waktu kak Stella membungkuk untuk mengambil mainan Kylie yang jatuh, matanya terbelalak dan jelalatan mengintip belahan buah dada kak Stella..” ucap Indriani terdiam sesaat, “jangan-jangan dia mau tidur dengan kak Stella..” lanjutnya.
Ngocoks Kemudian kedua kakak beradik itu tertawa bersama, Stella tidak ingin membela Pak Kuncoro tetangganya, tetapi berjanji untuk lebih hati-hati jika pria tua tetangganya itu datang berkunjung, begitu pun dengan Indriani tidak menyalahkan sang kakak, karena menurutnya sudah sangat wajar jika banyak pria yang memiliki impian untuk tidur dengan Stella seperti Pak Kuncoro tetangga kakaknya itu.
Semua pria normal pasti memiliki keinginan untuk tidur dengan Stella, kakaknya itu cantik seperti bidadari dengan tinggi 165cm, tubuh seksi, buah dada ranum, padat dan berisi yang pasti menggiurkan bagi pria yang memandang, berperilaku ramah dan lembut dengan rambut hitam lebat sebahu maka sempurnalah seorang wanita yang bernama Stella Wijaya tersebut di mata para pria.
Tubuh yang molek dan indah ditambah dengan kulit putih, bersih dan mulus yang ditunjang dengan kedua buah dada yang besar, kenyal dan padat menjadikan Stella kakaknya itu layak menyandang predikat bidadari turun ke bumi.
Seperti sang kakak, Indriani Suseno tidak kalah cantik, dia juga berpostur tubuh 162cm, tubuh yang tidak kalah seksi, bahkan kedua buah dada Indriani berukuran 36 dibandingkan dengan kedua kakaknya yang berukuran 34C, dulu ketika mereka belum menikah dan masih tinggal bersama tidak sedikit pria dekat rumah mereka berkumpul depan rumah mereka.
Pak Kuncoro dan istri adalah tetangga kakaknya Stella Wijaya yang baik hati, sangat ramah dan sering membantu tetangga walaupun mereka hidup hanya pas-pasan.
Pak dan Bu Kuncoro adalah tetangga dekat keluarga Stella Wijaya, sejak pertama kali tinggal di lingkungan itu Pak dan Bu Kuncoro banyak membantu keluarga Stella, bahkan ketika Stella dan suami sedang sibuk maka Pak dan Bu Kuncoro yang membantu menjaga Kylie putri kecil Stella dan suami yang masih berusia 4 tahun.
**Dina Kania**
Dina Kania adik dari Stella Wijaya dan juga kakak dari Indriani Suseno telah menikah dengan Hasan Julianto seorang keturunan Chinese dan telah memiliki seorang putra berusia 2,5 tahun. Dina tampak sedang resah menghitung tagihan bulanan yang bertebaran di atas mejanya, tangannya menggaruk kepalanya walaupun sebenarnya tidak terasa gatal.
Wanita cantik yang masih terlihat seperti remaja berusia belasan tahun itu bolak-balik memperhatikan tagihan listrik, air dan telepon, ditambah dengan cicilan motor, mobil, rumah dan juga cicilan kredit biaya pengobatan mertuanya, angka yang cukup besar untuk Dina membuat stress wanita cantik itu.
Menghela nafas panjang dan mengendurkan otot tubuh yang tegang sejak beberapa saat lalu, Dina bersyukur uang yang terkumpul cukup untuk membayar semua biaya yang harus dikeluarkan tersebut, kalau mengesampingkan keadaan finansial keluarganya maka hidup Dina sangat sempurna, memiliki seorang suami yang amat dicintai dan mencintai dirinya.
Hasan Julianto memiliki gaji yang cukup besar untuk menghidupi Dina dan putranya yang masih kecil, Dina mampu membeli segala yang diinginkan sayangnya mereka tidak memiliki tabungan di bank seandainya memerlukan pengeluaran yang mendadak.
Wanita cantik yang berusia 28 tahun itu segera membuka amplop uang bulanan yang diberikan oleh suaminya, dia segera menghitung jumlahnya, Dina tampak kaget setelah mengetahui jumlah yang diberikan oleh Hasan jumlahnya sengat kecil.
Tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan keluarganya, dia pun tidak minta uang bulanan belasan juta asal cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan keluarganya saja sudah bersyukur.
Dina segera mengambil HP untuk menghubungi Hasan suaminya akan tetapi no HP suaminya tidak aktif, lalu mencoba menghubungi no kantor dan menurut Linda sekretaris suaminya, Hasan telah meninggalkan kantor. Tanpa sepengetahuan Dina, Hasan memiliki penghasilan lain yang tidak halal, sudah bertahun-tahun Hasan membohongi Dina.
Hasan memiliki kebiasaan judi bahkan saat ini Hasan sedang berada di arena perjudian dan saat ini Hasan harus menelan pil pahit karena kalah dalam jumlah yang tidak kecil. Saat Hasan pulang dan membaringkan tubuhnya di ranjang Dina segera bertanya perihal jumlah uang bulanan yang sangat kecil untuk bulan ini, tetapi Hasan hanya tersenyum dan Dina terbuai oleh senyuman suaminya.
“Ssttt.. anak kita belum tidur, jangan berisik..” ujar Dina pada saat Hasan tiba-tiba menggerayangi tubuhnya.
“Masa aku tidak boleh menyetubuhi dengan istriku sendiri..” ucap Hasan.
“Hasan Julianto..!! Kok bahasanya jorok dan vulgar gitu..” ucap Dina.
“Hhmmm.. kalau tahu aku dulu akan menikahi perempuan lugu, aku pasti protes pada almarhum Bapak dan Ibumu..” canda Hasan.
“Apa maksudmu..” balasku ketus.
“Mereka membesarkan seorang anak perempuan yang cantik jelita namun sangat naif” ujarnya kemudian.
“Tidak lucu.. aku bukan perempuan lugu.” ucap Dina.
Hasan mengamati istrinya – rambutnya yang panjang hitam hingga punggung, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, pipinya halus mulus tanpa bercak ataupun jerawat, kulitnya putih mulus, buah dadanya masih membusung kencang dan tidak melorot, pinggang langsing, pinggul sempurna di atas pantat yang bulat merangsang dan kaki jenjang yang sangat menawan.
Hasan mengagumi keindahan istrinya yang hampir sempurna. Tangan-tangannya mulai menjelajahi perut Dina. Masih seperti perut seorang gadis remaja, walaupun kenyataannya Dina sudah melahirkan seorang anak.
“Baiklah, kalau begitu wanita konservatif.” Ucap Hasan.
“Maksudnya?” Dina mulai gusar.
Hasan menyesal memulai percakapan ini. Dina sangat lugu dan naif dalam hal bercinta dan berpenampilan. Pakaian yang dikenakan istrinya selalu sopan dan tidak pernah menonjolkan kemolekan tubuhnya. Dina juga bukan seorang petualang di ranjang. Dia pemain seks yang konservatif dan monoton.
Berciuman, saling menggesek dan bercinta dengan posisi missionary. Selalu begitu. Sekali dua kali, Hasan bisa melakukan doggie style, tapi istri Hasan itu tidak pernah mengijinkan sang suami menyentuh anusnya dalam kondisi apapun. Walaupun Dina pernah mengatakan kalau doggie style itu juga merendahkan diri sama seperti binatang, namun dalam kondisi ‘panas’ Dina biasanya menyerah pada keinginan suaminya.
Di awal pernikahan mereka, Hasan pernah mencoba melakukan oral seks pada organ serambi lempit Dina, tapi istrinya itu langsung menjerit dan melonjak-lonjak marah. Dia langsung menghardik Hasan dan mengatakan kalau kemaluan mereka kotor. Dina tidak pernah mengerti kenapa Hasan ingin menjilati bibir serambi lempitnya yang merupakan sumber penyakit.
Sebaliknya pun begitu. Suatu ketika sesaat setelah Hasan meminta Dina mengulum rudalnya, istrinya itu langsung mengunci diri di dalam kamar mandi dan tidak mau keluar selama dua jam. Sejak itu Hasan tidak pernah meminta posisi yang aneh-aneh lagi.
“Jadi? Ayo katakan saja! Kenapa aku ini wanita konservatif? Apa karena aku ini bukan wanita murahan? Bukan pelacur?” Ujar Dina tampak gusar.
“Sudahlah. Lupakan saja.” Ucap Hasan.
“Tidak mau. Kamu yang memulai percakapan ini, jadi aku ingin mendengar lanjutannya.” Balas Dina.
“Yah, kamu kan memang tidak ingin mencoba hal-hal baru saat bercinta denganku?” Ucap Hasan sekenanya.
“Selama ini aku melakukan apa yang menjadi tugasku. Aku seorang istri yang baik, setia, penurut dan telah memberimu seorang anak!” kata Dina penuh emosi.
“Maafkan aku, sayang. Kamu benar.” Hasan mengalah.
Dia berusaha mengembalikan mood sang istri yang nampaknya mulai naik pitam, tangan Hasan meremas buah dada istrinya.
“Aku sedang tidak ingin melakukannya.” kata Dina sambil melepaskan tangan Hasan yang meremas buah dadanya.
Dina mematikan lampu dan menarik selimut. Hasan memahami nada suara istrinya yang tinggi dan memiringkan badan untuk mengecup bibir Dina. Setelah menerima ciuman bibir Hasan, Dina membalikkan badan dan memunggunginya. Si cantik itu segera terlelap.
Hasan bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Entah kenapa, setelah hampir 4 tahun menikah dan hapal dengan sifat-sifat Dina, dia dengan tololnya memutuskan untuk membicarakan hal yang menyinggung perasaan istrinya. ‘_Dasar sial_’ batin Hasan. Suami Dina itu terpaksa coli di kamar mandi untuk melepas hasrat birahinya malam itu.
**Stella Wijaya**
Pak Kuncoro yang pensiunan PNS bertubuh gemuk, dengan kulit hitam kecoklatan terbakar matahari dan berusia enam puluh dua tahun. Wajahnya sudah dipenuhi keriput, berkumis tebal, matanya kemerahan dan rambutnya yang ikal mulai membotak. Wajahnya bukan wajah seorang pria tua yang simpatik, bahkan cenderung buruk rupa.
Walaupun bukan orang berada dan hidup serba kekurangan, Pak Kuncoro dikenal lumayan akrab dengan penghuni sekitar sehingga sering dimintai bantuan dan punya banyak kawan di kampungnya. Tapi di balik penampilannya pada Stella sekeluarga, Pak Kuncoro sebetulnya adalah seorang preman yang sering judi, jajan PSK, mabuk-mabukan dengan anak-anak muda dan berkelahi dengan orang yang tidak disukainya.
Satu lagi kejelekan Pak Kuncoro, orang ini sangat mesum. Pak Kuncoro dan istrinya hampir tiap hari berkunjung ke rumah keluarga Rendra dan Stella. Biasanya Bu Kuncoro akan merawat Kylie yang masih berusia 4 tahun setiap kali Rendra dan Stella pergi bekerja. Pak Kuncoro dan istrinya memang suka dengan anak kecil apalagi yang selucu dan secantik Kylie, tapi Pak Kuncoro lebih suka dengan ibunya yang luar biasa manis dan seksi.
Stella yang masih muda dan jelita adalah wanita impian Pak Kuncoro. Sejak pindah ke komplek ini, Pak Kuncoro tak pernah melewatkan kesempatan mengamati ibu muda yang segar itu. Wajahnya yang cantik, tubuhnya yang seksi, baunya yang harum, kakinya yang jenjang, kulitnya yang putih mulus, rambutnya hitamnya yang panjang, buah dadanya yang padat dan membusung, pantatnya yang bulat, semuanya Pak Kuncoro suka.
Sejak Bu Kuncoro dipercaya dan sering dipanggil sebagai ‘babysitter’ keluarga Rendra, Pak Kuncoro bisa memuaskan dahaga nafsunya dengan mencuri-curi pandang ke arah semua titik lekuk keindahan tubuh Stella.
‘_Si Stella memang benar-benar bikin ngiler.. coba lihat aja bibirnya.. pokoke maknyuuuss. Kalo dipake buat nyepong, baru nempel aja paling aku udah keluar_.’ Kata Pak Bejo dalam hati.
Hari ini dia lebih beruntung lagi, karena tadi pagi sempat mencuri celana dalam Stella yang belum dicuci. Dia sempat mencium bau harum belahan selangkangan Stella dari celana dalam bekas pakainya itu.
Setelah istrinya tidur, malam ini Pak Kuncoro beringsut ke kamar mandi dengan sembunyi-sembunyi sambil membawa celana dalam hasil curian milik sicantik Stella. Buat apa lagi kalau bukan buat coli.
Ia segera bermasturbasi dengan membayangkan wajah Stella dan mimpi bercinta dengan istri Rendra itu dari segala macam posisi. Pak Kuncoro merem melek dan mendengus-dengus penuh nafsu.
‘_Wah, kalau cuma begini terus, bisa rusak rudal ini aku betot. Gimana yah caranya bisa menyetubuhiin si Stella yang aduhai itu? Aku musti cari cara buat bisa masukin rudal ini ke serambi lempitnya!_’ pikir Pak Kuncoro.
Setelah orgasme dan melepaskan cairan spermanya ke lantai kamar mandi, Pak Kuncoro kembali ke teras dan kongkow-kongkow. Dia masih mengatur strategi untuk melaksanakan pikiran kotornya. Tiba-tiba teringatlah Pak Kuncoro pada adik Stella yang juga sangat cantik dan seksi yang bernama Indriani.
‘_Si molek itu kayaknya curiga sama aku. Suatu saat nanti aku harus memberi dia pelajaran di tempat tidur!_’ kata Pak Kuncoro dalam hati. ‘_Yang mana dulu yah enaknya? Stella atau Indriani yang sebaiknya aku entotin duluan? Wah wah, satu keluarga kok semlohay semua. Belum lagi adiknya yang paling satu lagi, siapa itu namanya.. Dina Kania? Wah.. teteknya oke banget.. acchhh Stella, Dina atau Indriani?_’ ucap Pak Kuncoro dalam hati dan membayangkan kemolekan tubuh ketiga kakak beradik tersebut.
Pak Kuncoro lantas membuka folder-folder gambar di dalam HPnya. Di dalamnya terdapat tiga foto yang sangat dia sukai. Semuanya seronok dan diambil tanpa sepengetahuan sang target. Gambar belahan dada Stella idaman Pak Kuncoro itu saat membungkuk, gambar Dina saat mengenakan kaos ketat yang memperlihatkan kemolekan buah dadanya, dan gambar paha mulus Indriani.
Dina sudah menikah dan tinggal tidak jauh dari rumah Stella, berbeda komplek tapi masih dalam satu wilayah. Bersama suaminya, Hasan, Dina memiliki seorang anak yang sekarang masih balita. Sedangkan Indriani adalah penganten baru yang tinggal di sebuah rumah agak jauh di pinggiran kota.
Karena sering tugas keluar kota, maka Indra suami Indriani sering menitipkan istrinya ke rumah Stella. Kedua orang tua kakak beradik Stella, Dina, dan Indriani sudah meninggal dunia karena kecelakaan beberapa tahun sebelum Stella menikah. Sambil menikmati gambar ketiga kakak beradik yang seksi itu, Pak Kuncoro terus melamun hingga larut malam sambil menggaruk-garuk selangkangannya yang makin gatal.
Stella sudah bekerja keras sepanjang hari Minggu ini dan dia kelelahan. Ibu rumah tangga muda yang cantik itu sudah mencuci baju, memasak, membersihkan rumah, memandikan Kylie dan menidurkannya. Apalagi hari ini Stella harus melayani kunjungan ibu mertuanya yang baru pulang sore hari sementara Bu Kuncoro sedang mengunjungi relasi sehingga tidak bisa datang. Akhirnya Stella bisa beristirahat dengan tenang malam itu.
Setelah mandi dengan shower, keramas dan mengenakan piyama, Stella merebahkan diri di tempat tidur. Sayangnya, Rendra punya pikiran lain dan mulai bergerak mendekati istrinya yang tidur membelakanginya. Rendra memeluk Stella dari belakang, menepikan rambut dan menciumi lehernya yang putih.
“Jangan sekarang ah, Mas.. aku capek banget..” kata Stella manja.
Rendra tidak menjawab. Suami Stella itu terus menciumi lehernya dan meletakkan tangannya di buah dada kiri Stella. Rendra meremas buah dada kiri Stella perlahan dan menjilati daun telinganya, sementara tubuhnya kian mendekat dan akhirnya Rendra menempelkan alat vitalnya di belahan pantat Stella yang montok.
“Mas..” Stella menggeliat dan mencoba mendorong suaminya menjauh.
Tidak enak juga rasanya menolak melayani suami seperti ini, karena biar bagaimanapun Stella sangat mencintai Rendra dan ingin melayaninya sampai puas. Sayangnya, Rendra sering memilih waktu yang tidak tepat saat meminta jatah.
“Ayolah, sayang.. aku pengen nih..” kata Rendra sambil mencopoti kancing baju piyama yag dikenakan Stella.
Tapi karena Hendra terus merangsang buah dadanya, maka birahinya mulai menjalari tubuhnya.
“Aku capek.. Mas. Aku mau melayani tapi hanya satu ronde.. gimana?” Jawab Stella mulai terbakar birahi akhirnya mengalah.
Akan lebih baik kalau dia menyerah dan pasrah pada kemauan sang suami, Stella berhenti menolak dan mulai rileks saat Rendra selesai melepaskan semua kancing baju piyama yang dikenakannya. Melihat Stella telanjang dari pinggang ke atas, Rendra segera menyerang kedua buah dada Stella yang ranum dan indah.
Rendra memijat buah dada Stella dengan kedua belah telapak tangannya. Suami Stella itu lalu mengelus-elus buah dada Stella dan menciumi sisi-sisinya. Rendra hanya sekilas mencium puting Stella (tidak cukup lama untuk membuatnya mengeras), lalu bangkit dan berlutut.
Ia meraih bagian atas celana piyama yang dipakai Stella dan mencoba menariknya. Stella dengan desahan panjang mengangkat pantatnya ke atas supaya celananya mudah ditarik kebawah. Rendra melucuti celana panjang piyama Stella dan melakukan hal serupa dengan celana dalam istrinya. Kini Stella sudah telanjang bulat di depan suaminya.
“Seksi banget, sayang. Sudah lebih dari lima tahun kita menikah, tapi bentuk tubuhmu masih jauh lebih indah dari gadis manapun. Masih seksi, masih mulus dan hhmmm.. tidak, aku salah. Tubuhmu jauh lebih seksi, lebih mulus dan lebih aduhai dari siapapun.” Kata Rendra memuji keindahan tubuh istrinya.
Stella tersenyum, paling tidak dia masih mendapatkan pujian dari suaminya.
“Ini semua milikmu dan hanya untuk kamu, Mas.” Kata Stella mesra.
Rendra ambruk di atas tubuh Stella dan istrinya itu otomatis merenggangkan kakinya yang jenjang. Stella mengaitkan kakinya diantara pinggang Rendra dan menjepitnya lembut. Beberapa saat kemudian, Stella merasakan ujung rudal Rendra mulai menyentuh bibir serambi lempit Stella. Wanita cantik itu menarik nafas panjang.
Rendra mungkin bukan orang paling romantis di dunia, tapi rudalnya lumayan besar, dan itu biasanya mampu mengagetkan dan memuaskan Stella. Wanita cantik itu menahan nafas sementara Rendra melesakkan rudalnya ke dalam serambi lempit istrinya dengan sangat perlahan. Setelah seluruh batang rudal Rendra masuk ke dalam mulut rahimnya, Stella melepas nafas.
Rendra mulai menyetubuhi Stella dengan gerakan pelan dan lembut. Gerakan Rendra yang ajeg dibarengi dengan erangan dan lenguhan kenikmatan. Stella merintih pelan dan manja, untuk memberikan kesan dia menikmati permainan cinta yang diberikan suaminya. Padahal dalam hati Stella sama sekali tidak puas.
Sebenarnya permainan Rendra tidaklah terlampau buruk, tidak pula singkat, kadang Stella juga terpuaskan perlahan-lahan, tapi permainan Rendra tidak mampu melejitkan Stella ke puncak kepuasan yang optimal. Stella mencoba mengimbangi gerakan memilin suaminya dengan gerakan pinggulnya, mencoba menyamakan ritme dengan gerakan mendorong yang dilakukan Rendra, tapi lagi-lagi Stella harus berpura-pura karena tak berapa lama kemudian Rendra sudah orgasme.
Stella tersenyum dan mencium suaminya lembut. Rendra menyentakkan rudalnya dalam serambi lempit Stella untuk kali terakhir sementara air maninya membanjiri liang kemaluan sang istri. Setelah semuanya usai, Rendra bergulir dari atas tubuh Stella dan memejamkan matanya penuh kepuasan. Stella bangkit dari ranjang, membersihkan diri sebentar dan kembali ke tempat tidur sambil memeluk suaminya yang sudah tertidur lelap penuh rasa cinta.
Sementara itu, di luar sepengetahuan Stella dan Rendra, sesosok tubuh gemuk berhenti merekam adegan persetubuhan mereka. Sosok itu sedari tadi bersembunyi di luar jendela kamar Stella. Entah bagaimana, sosok itu bisa menemukan celah di antara tirai, mengintip ke dalam kamar lalu merekam adegan seks mereka dengan kamera HP.
Sosok itu melangkah puas sambil terkekeh-kekeh pulang ke rumah.
Bersambung… AKSI PARA PRIA TUA
**Dina Kania**
Dina duduk di kamar santai dan menyalakan televisi. Tapi ibu muda yang cantik itu tidak menonton tayangan sinetron di televisi. Dina terus memijat-mijat tangannya dengan gelisah di pangkuan dan bertanya-tanya apa yang diinginkan oleh Pak Michael, bos kerja Hasan.
Pak Michael telepon tadi pagi dan bertanya apakah dia boleh datang berkunjung. Pak Michael mengatakan ada sesuatu yang penting yang harus dibicarakan. Anehnya, saat ini Hasan justru tengah dinas keluar kota. Apa yang ingin disampaikan Pak Michael padanya?
Dina selalu merasa rikuh saat berhadapan dengan Pak Michael. Walaupun sudah tua, tapi pria yang rambutnya sudah beruban semua itu sangat besar dan masih terlihat gagah. Kulitnya yang hitam dan kumisnya yang lebat menambah sangar penampilan Pak Michael. Dia lebih mirip seorang perwira militer ketimbang bos perusahaan IT.
Dina bertanya-tanya dalam hati apa yang ingin dibicarakan oleh Pak Michael saat kemudian bel pintu berbunyi. Dina buru-buru membukakan pintu dan mempersilahkan seorang pria masuk. Dia mengantarkan sang tamu ke ruang duduk di mana mereka berdua akhirnya berhadapan. Dina merasa sedikit grogi berbincang-bincang dengan pimpinan suaminya. Sangat jarang pimpinan Hasan berkunjung kemari, bahkan bisa dibilang ini baru pertama kalinya mereka berdua berhadapan langsung.
“Bagaimana kabar anda?” tanya Pak Michael memulai percakapan.
Dina cukup terkejut dengan pertanyaan sopan ini. Pak Michael bukan orang yang suka berbasa-basi dan wajahnya cenderung menyeramkan. Satu-satunya pertemuan empat mata antara Dina dan Pak Michael berlangsung di sebuah pesta perusahaan.
Saat itu Pak Michael bahkan tidak tersenyum pada siapapun. Sebaliknya Bu Michael adalah seorang istri yang sangat ramah. Dina memutuskan untuk tidak memasang wajah kaku dan berlaku santai. Dia duduk dengan tenang.
“Baik, terima kasih. Bagaimana kabar anda sendiri, dan Bu Michael, sehat-sehat saja kan?” Dina menjawab ramah.
“Baik. Baik. Ibu juga baik baik saja. Semua sehat.”
Dina melihat wajah Pak Michael mengeras, sehingga perasaan tegang kembali menyelimutinya.
“Pasti Bu Hasan bertanya-tanya kenapa saya ingin menemui ibu?” tanya Pak Michael.
“Betul Pak, saya cukup terkejut dengan telpon dari anda.. apalagi saat ini Mas Hasan sedang keluar kota dan..” ucap Dina terputus.
“Akan lebih baik kalau dia tidak ada di sini. Saya ingin berbincang-bincang soal serius pada Bu Hasan perihal bapak.” potong Pak Michael.
“Tentang suami saya? Apa ada masalah di tempat kerja?” tanya Dina.
“Pertama, apakah ibu tahu soal kebiasaan Pak Hasan berjudi?” ucap Pak Michael.
Dina terkejut dan hampir pingsan, tapi setelah beberapa saat berdiam, dia mencoba menguasai dirinya sendiri.
“Mas Anton tidak pernah berjudi, tidak tepat kalau disebut ‘kebiasaan’, Pak Michael.” jawab Dina.
Pak Michael membuka tas kerjanya dan mengambil secarik amplop manila. Dia membukanya dan mengeluarkan beberapa carik kertas dari dalamnya. Memisahkan sebagian dan mengambil beberapa lagi. Dia lalu menunjukkannya kepada Dina. Kertas-kertas itu adalah foto. Dina duduk terdiam.
Dia hampir pingsan.
“Ini buktinya.” kata Pak Michael tenang.
Dalam foto-foto itu tergambar kegiatan Hasan saat dia sedang di meja judi. Entah itu saat bermain kartu atau berbagai jenis kegiatan judi lain. Ada foto-foto saat Hasan sedang memasang nomor taruhan, ada foto saat Hasan merobek nomernya yang kalah dengan kesal dan ada foto Hasan saat dia sedang minum bir bersama beberapa bandar.
“Darimana anda mendapatkan foto-foto ini?” tanya Dina kebingungan.
“Itu tidak penting. Jadi patut diketahui oleh ibu, kalau kami selalu melakukan penyelidikan mendetail pada seluruh karyawan, termasuk Pak Hasan. Dalam kasus ini, kami memang mencurigai beliau.” ujar Pak Michael.
“Mencurigai! Kenapa?” tanya Dina kebingungan.
“Saya baru hendak menyampaikan alasannya. Auditor kami menemukan catatan sejumlah besar dana yang telah diselewengkan oleh seorang karyawan. Hal itu membuat kami harus memulai langkah penyelidikan. Setelah langkah-langkah diambil, semua bukti yang ada mengarah pada Pak Hasan, suami ibu. Kami menghubungi pihak yang berwajib dan mereka mengirim beberapa intel untuk, mm, mematai-matainya.” jelas Pak Michael.
“Ini pasti kesalahan besar. Hasan tidak mungkin mencuri. Dia tidak pernah berjudi!” Dina mulai gusar, matanya mulai basah.
“Tentunya, seperti yang terbukti dari foto-foto ini, suami ibu jelas-jelas berjudi.” Pak Michael mengeluarkan beberapa foto lagi dari amplop manilanya. “Bahkan kami punya bukti kalau Pak Anton juga telah melakukan korupsi dan menggelapkan uang perusahaan untuk kegemarannya itu.” lanjut Pak Michael.
Dina yang shock duduk dengan mulut terbuka lebar karena terheran-heran. Ruang tamunya seakan berputar dan perlahan menjadi gelap. Dina pingsan.
**Stella Wijaya**
“Stella.” panggil Rendra.
“Iya Mas?” jawab Stella.
“Dasiku yang biru kamu simpan dimana? Aku kok tidak bisa menemukannya dimana-mana?” ucap Rendra.
“Ada kok, di dalam lemari.” jawab Stella.
Rendra selalu berharap Stella akan menyiapkan segala kebutuhannya sebelum berangkat ke kantor. Ketika mereka menikah beberapa tahun yang lalu, Stella sanggup melayani Rendra. Tapi kini, sebagai seorang wanita yang juga bekerja dengan seorang anak yang masih kecil, kesibukan pagi Stella sangatlah padat.
Bangun pagi, menyiapkan makan, membangunkan Kylie, menghidangkan sarapan.. terus berlanjut sampai Rendra berangkat kerja, Kylie diasuh Bu Kuncoro dan Stella sendiri berangkat bekerja. Saat Bu Kuncoro tidak datang, kehidupan Stella jauh lebih hiruk pikuk. Untungnya suami istri Pak dan Bu Kuncoro gemar menolong dan mereka selalu datang untuk membantu.
Bu Kuncoro tidak pernah menolak membantu dalam hal apapun juga, hubungan kedua tetangga inipun terjalin erat. Rendra dan Stella sering memberi uang lebih pada Pak Kuncoro dan istrinya sebagai balas jasa. Sayangnya Stella kemudian mengetahui kehidupan gelap Pak Kuncoro. Pak Kuncoro adalah seorang suami yang pemabuk dan sering memukuli Bu Kuncoro dengan kasar.
Tanpa alasan yang jelas (kemungkinan besar karena kalah judi), Pak Kuncoro bisa menghajar Bu Kuncoro sampai bengkak dan biru. Biasanya kalau sudah begitu, hanya Pak Kuncoro yang datang ke rumah Rendra selama beberapa hari. Stella mengasihani Bu Kuncoro, kenapa dia masih tetap bertahan sebagai istri Pak Kuncoro? Mungkin kondisi ekonomi membuat kehidupan Pak Kuncoro menjadi keras, tapi itu bukan alasan untuk menganiaya istrinya sendiri.
Seandainya Rendra yang berlaku demikian, maka Stella akan minta cerai dan pergi sejauh mungkin dari rumah ini. Bukanlah penganiayaan fisik yang membuat Stella marah, tapi penghinaan berlebih terhadap kaum wanita yang membuatnya tersinggung. Stella hanya tertawa saat membayangkan Rendra menjadi seorang penganiaya istri, tidak mungkin terjadi. Mereka sudah pacaran sejak SMU dan Rendra adalah orang terbaik yang pernah ia kenal.
Suatu ketika Stella pernah menanyakan perihal alasan Bu Kuncoro bertahan, Bu RT itu hanya tertawa penuh kesabaran.
“Kamu belum tahu apa-apa. Mbak Stella belum mengerti apa-apa.” ujar Bu Kuncoro.
Tapi, Bu Kuncoro berjanji, setiap kali Pak Kuncoro berlaku kasar, dia akan lari minta perlindungan pada Stella sekeluarga dan berusaha menyadarkan suaminya dari tindakan yang semena-mena itu. Hari ini Bu Kuncoro belum menampakkan batang hidungnya, dan Stella pun bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
“Kylie, ayo habiskan makannya.” Kata Stella memperingatkan putrinya.
Putri kecil Stella punya kebiasaan buruk menghambur-hamburkan sarapan. Toh walaupun sudah masuk kelas 0 kecil, Kylie masih seorang anak kecil. Stella melirik ke arah jam di dinding. Jam tujuh tiga puluh.
“Sayang, aku pergi dulu. Mungkin pulang agak telat hari ini. Ada meeting nanti sore dengan pemegang saham.” Kata Rendra sambil mencium pipi sang istri.
Melangkah keluar dari dapur, Stella dan Rendra mengangkat Kylie dari meja makan. Kalau Bu Kuncoro tidak datang, Rendra yang mengantarnya ke TK. Kalau sudah begitu, biasanya Kylie dititipkan pada neneknya yang kebetulan tinggal di dekat TK dan juga bersedia menampung Kylie. Rendra atau Stella akan menjemput Kylie nanti sore sepulang kerja.
Stella merasa pusing hari ini, sehingga dia memutuskan untuk absen kerja. Setelah menelpon kantor untuk minta ijin, Stella juga menelpon mertuanya untuk menitipkan Kylie. Saat melintas di depan kaca, tidak sengaja Stella memperhatikan tubuhnya sendiri. Sangat susah mempertahankan badan agar tetap langsing bagi sebagian orang.
Tapi bagi Stella, dia bagai dikaruniai sebuah tubuh indah yang sangat sempurna. Stella merapikan rambut sebahunya yang agak kusut.
“Kamu memang seksi banget, sayang. Kalau jalan-jalan di mall, pasti banyak cowok pengen menggodamu.” Kata Rendra.
Dia selalu memuji istrinya. Memang bukan hal aneh kalau Stella sering digoda cowok dimanapun dia berada karena sangat cantik dan seksi. Tapi Stella adalah seorang istri yang setia dan punya martabat yang ia junjung tinggi.
“Mama, Kyl pegi duyu.” Kata si kecil sambil mencium pipi sang bunda.
“Iya. Ati-ati ya sayang.” Stella mengecup dahi Kylie.
“Aku pergi dulu, say.” Rendra pamit sambil menggandeng Kylie.
Stella melambaikan tangan pada mereka berdua. Ibu muda cantik itu ambruk ke atas ranjang setelah Rendra dan Kylie pergi. Pengaruh obat yang dia minum setelah sarapan tadi membuatnya sangat mengantuk. Ibu rumah tangga yang jelita itu tertidur selama hampir dua jam sebelum terbangun dan memutuskan untuk bersantai-santai sambil membaca tabloid. Stella bertanya-tanya kemanakah Bu Kuncoro hari ini.
**Dina Kania**
Saat kemudian terbangun, Dina sedang berbaring di sofa dan Pak Michael duduk di sampingnya.
“Anda ingin saya ambilkan segelas air?” tanya Pak Michael.
“Apa yang terjadi? Ya Tuhan, saya ingat. Tidak mungkin. Hasan tidak akan melakukan itu semua. Apa yang akan anda lakukan?” ucap Dina.
“Itulah sebabnya hari ini saya memutuskan kemari dan menemui Mbak Dina. Saya punya penawaran.” kata Pak Michael.
“Penawaran? Untuk saya? Apa yang bisa saya lakukan?” tanya Dina bingung.
Pak Michael tersenyum nakal.
“Begini, Bu Hasan, atau boleh saya panggil Mbak Dina saja supaya akrab? Anda terlalu muda dan cantik untuk dipanggil ibu.” jawab Pak Michael.
Dina mengangguk.
“Baiklah, Mbak Dina. Anda bisa membantu suami, dalam hal ini Mas Hasan, dan juga seluruh keluarga Mbak Dina. Saya punya bukti-bukti kuat yang akan menggiring Pak Hasan ke penjara untuk jangka waktu yang sangat lama. Saat melakukan penyelidikan, kami juga menerima berkas-berkas laporan keuangan dan bon tagihan bulanan keluarga anda.” ucap Pak Michael menerangkan.
Dina sudah siap memprotes, tapi kemudian terdiam dan membiarkan Pak Michael meneruskan keterangannya.
“Memang apa yang saya lakukan bersama tim terdengar ilegal, tapi saya bersumpah apa yang kami lakukan sah sesuai hukum. Saya memberitahu anda saat ini karena ingin anda mengerti posisi kami. Dari apa yang kami dapatkan, kami menemukan bukti bahwa keluarga anda telah berfoya-foya dengan membeli berbagai peralatan elektronik dan…” ucap Pak Michael terputus.
“Berfoya-foya? Kami tidak minta apa-apa! Itu semua Mas Hasan yang membelikan!” teriak Dina panik.
“Kami minta maaf, tapi saya tetap pada pernyataan saya. Suami anda menghabiskan uang dalam jumlah yang tidak sedikit dan seiring dengan kegiatan judi yang dia lakukan dan banyaknya hutang yang dia tanggung dari kegiatannya itu, saya rasa anda tidak sanggup mengeluarkan lebih banyak lagi dana dari anggaran belanja anda. Pak Hasan harus kehilangan pekerjaan dan mendekam di penjara.” lanjut Pak Michael.
“Ya Tuhan, lalu apa yang akan terjadi kalau anda melakukan itu?! Kami akan kehilangan rumah! Anakku! Apa yang terjadi padanya? Sekolah dan lain-lain!” ujar Dina.
“Benar sekali. Itu sebabnya saya disini. Saya bukan pendendam. Saya memang sangat marah saat tahu Pak Hasan telah mencuri uang perusahaan, tapi saya lalu teringat pada Mbak Dina dan.. ahh, saya punya penawaran menarik.” ucap Pak Michael.
“Apa yang anda maksud… penawaran menarik?” tanya Dina.
“Apakah anda berniat membantu Pak Hasan mempertahankan pekerjaannya dan menjauhkan suami anda dari jeruji penjara?” Pak Michael balik bertanya kepada Dina.
“Tentu saja.” jawab Si Cantik Dina.
“Apa yang anda akan lakukan untuk itu?” tanya Pak Michael lagi.
“Apa saja.” balas Dina.
Tentunya Dina bermaksud membayar kembali hutang Hasan pada perusahaan, bahkan jika dia harus menjadi pembantu rumah tangga atau buruh cuci untuk melakukannya. Dina akan sangat terkejut saat Pak Michael melanjutkan niatnya.
“Saya sangat lega anda berpendapat demikian, Mbak Dina. Tahu tidak, anda sungguh sangat cantik jelita. Sangat mempesona.” ujar Pak Michael.
“Terima kasih. Tapi sebaiknya kita tetap pada pokok permasalahan.” jawab Dina.
“Itulah yang sedang saya lakukan. Saya ingin menolong keluarga anda keluar dari kesulitan ini. Dengar baik-baik apa yang hendak saya sampaikan: saya orang yang sangat kaya, jadi saya bisa melupakan uang yang dicuri suami anda dari perusahaan hanya jika.. jika anda berlaku ‘baik’ terhadap saya.” lanjut Pak Michael.
“Pak Michael, apa saya tidak pernah berbuat baik pada anda? Apa pernah saya berlaku tidak sopan pada anda?” ujar Dina.
“Mbak Dina. Anda selalu sopan terhadap saya. Tapi itu bukan ‘kebaikan’ yang saya maksudkan. Apa anda tahu maksud saya?” pak Michael berucap.
“Mohon maaf, tapi saya tidak tahu. Pikiran saya sedang kalut dan saya tidak bisa berpikir jernih. Apa yang anda maksud?” tanya Dina.
“Baiklah. Saya akan terus terang saja. Kalau kamu ingin aku melupakan kelakuan suamimu dan kerugian yang diderita perusahaan, aku ingin kamu melayaniku. Tidur denganku. Aku ingin menggauli tubuhmu yang indah dan molek.” ujar Pak Michael terus terang.
Mulut Dina menganga tak percaya. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya pucat pasi dan dia duduk di kursi dengan menggigil ketakutan. Akhirnya, setelah mengumpulkan semua kekuatan karena shock.
“Keluar dari rumahku! Pergi! Orang tua tidak tahu diri!” Dina berteriak kencang.
Pak Michael perlahan memindahkan foto-foto yang berada di amplop manila dan meletakkannya di dalam tas kerja. Sengaja dia meletakkan tas itu dengan keras di atas meja sehingga membuat Dina terperanjat. Pak Michael berdiri, membalikkan badan dan perlahan berjalan ke arah pintu.
Setelah lima langkah, Pak Michael berhenti dan melirik ke belakang.
“Penawaran ini tidak akan aku ulangi, saat aku melangkah keluar dari rumah ini tanpa kau turuti kemauanku, pihak yang berwajib – kepolisian, akan segera aku hubungi. Segera.” kata Pak Michael dingin.
Dina meloncat dari kursinya dan berusaha menahan kepergian Pak Michael.
“Tunggu! Saya mohon, Pak! Berhenti dulu!” Dina sangat kebingungan.
Apa yang harus dilakukannya? Apa yang sebaiknya ia perbuat? Seluruh tubuhnya bergetar karena takut dan dia tidak dapat berpikir jernih. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tanpa banyak berpikir, Dina mengganguk lemah.
“Baiklah. Anda menang.” ucap Dina lirih.
“Apa itu artinya kamu mau melakukan semua yang aku minta?” tanya Pak Michael.
Dina ragu-ragu sesaat, matanya menatap ke lantai dengan hampa dan akhirnya dengan suara lemah dia menjawab.
“Iya. Saya tidak punya pilihan lain.”
“Bagus. Kalau begitu ayo kita buktikan saja.” Pak Michael duduk di sofa dan menunggu dengan santai. Saat Dina berdiri terdiam, Pak Michael pun tersenyum puas.
“Lepaskan semua pakaianmu sambil bergoyang.” Perintah Pak Michael.
Bersambung… **Stella Wijaya** Hari mulai siang dan Stella masih terus membolak-balik halaman tabloid Ibu & Anak. Dia masih menunda pekerjaan rumah seperti mencuci piring atau memasak. Setelah merasa sedikit sembuh dari pusing, barulah Stella bangkit dari bermalas-malasan dan melangkah menuju dapur.
Saat itulah terdengar pintu pagar dibuka.
Siapa yah? Apa mungkin tukang pos yang mengantarkan surat atau paket? Pikir Stella dalam hati. Saat membuka pintu, Stella menemui Pak Kuncoro sedang membawa tas kresek hitam besar.
“Oh, saya kira siapa. Gimana Pak Kuncoro?” tanya Stella.
“Mbak Stella kok di rumah? Tidak kerja hari ini?” balas Pak Kuncoro.
“Oh, nggak, Pak. Soalnya hari ini badan agak kurang sehat, kepala juga pusing.” jawab Stella.
“Oh begitu. Ini saya mau ngambil sampah. Biasanya Bu Kuncoro yang ngambil sampah di keranjang belakang. Tapi tadi tiba-tiba saja Bu Kuncoro juga tidak enak badan.” ujar Pak Kuncoro.
Meskipun sedang malas berbasa-basi, Stella tidak mau tidak sopan terhadap tetangganya ini.
“Oh begitu. Sampahnya ditaruh depan rumah saja, Pak. Nanti diambil sama tukang sampah yang keliling kan?” ucap Stella.
“Iya, Mbak, kalau diletakkan di keranjang depan, pasti diambil tukang sampah komplek.” jawab Pak Kuncoro.
Stella mengangguk dan mempersilahkan Pak Kuncoro masuk.
“Em, maaf Mbak. Tapi boleh saya minta segelas air putih? Saya haus sekali.” tanya Pak Kuncoro.
“Tentu saja boleh, Pak. Kan sudah biasa? Anggap saja rumah sendiri. Sini, biar saya saja yang mengambilkan. Bapak duduk dulu.” Kata Stella sopan.
Ketika kembali dengan segelas air putih, Pak Kuncoro sudah duduk di ruang tengah. Dengan cepat Pak Kuncoro meneguk air putih dan mengembalikan gelasnya pada Stella. Ibu muda yang cantik itu mencoba mengambil gelas, tapi sebelum sempat menarik gelas, tangan Stella sudah ditarik oleh Pak Kuncoro.
Tubuh Stella tertarik ke depan ke arah pelukan Pak Kuncoro. Dengan sigap Stella memutar tubuh sehingga Pak Kuncoro kini berada di belakangnya dan mencoba lari, tapi Pak Kuncoro terus memegang tangan Stella dan memeluk tubuhnya. Saat mereka bergumul gelas yang dipegang Stella terlempar hingga pecah berkeping-keping.
Tangan Pak Kuncoro mulai nakal meraba-raba dada Stella yang kenyal dan padat lalu meremasnya dengan sangat keras hingga terasa sakit. Stella membungkukkan badan ke depan mencoba melepaskan diri dari pelukan erat Pak Kuncoro. Semua usaha Stella sia-sia. Untuk bisa mempertahankan keseimbangan diri, Stella harus mundur ke belakang.
Tanpa dikomando, Pak Kuncoro segera beraksi. Pria tua itu menyelipkan selangkangannya yang sudah membusung besar ke lipatan pantat Stella. Tangannya juga meremas buah dada Stella dengan sangat kasar. Stella mengernyit kesakitan.
“He-Hentikan, Pak!! A-Atau saya akan teriak minta tolong!” kata Stella terbata-bata. Dia sangat ketakutan.
“Aku tahu Mbak Stella tidak akan melakukan itu. Apa yang dibutuhkan Mbak Stella adalah tidur dengan laki-laki sejati dan bisa memberikan kenikmatan dan kepuasan tak terhingga. Setelah kita bersetubuh nanti, Mbak Stella akan menjadi seorang wanita yang mendambakan rudal besar setiap hari.” kata Pak Kuncoro sambil terengah-engah penuh nafsu.
Setelah berusaha mengatasi kepanikan, Stella mencoba melawan. Tangan Stella meraih rambut Pak Kuncoro, memaksa pria tua itu menunduk dan dengan sekuat tenaga Stella menyepak rudal Pak Kuncoro.
“Aduh! Lonte!! Pelacur!!!” pekik Pak Kuncoro kesakitan.
Pria tua yang mesum itu pantas menerimanya. Dengan nekat Stella mencoba kabur ke pintu depan sambil melewati Pak Kuncoro yang sedang kesakitan. Salah besar. Tangan Pak Kuncoro menarik rambut Stella dan membanting tubuh si cantik itu ke lantai. Stella yang jauh lebih ringan terbanting dengan keras. Pak Kuncoro melepaskan rambut Stella.
Stella mencoba berdiri dengan sempoyongan, ia berusaha mempertahankan kesadarannya. Dengan satu tamparan keras di pipi, tubuh Stella terlempar lagi ke lantai. Air mata mulai menetes di pipi mulus Stella. Tamparan kedua menyusul tak lama kemudian, membanting tubuh Stella ke arah yang berlawanan. Akhirnya pukulan dan tendangan Pak Kuncoro seakan tak berhenti menghajar tubuh Stella.
Pak Kuncoro mengunci tubuh Stella, sehingga walaupun wanita cantik itu berusaha melawan, semua tidak ada gunanya. Tak perlu waktu lama sebelum akhirnya perlawanan Stella mengendur dan tubuhnya mulai lemas. Tamparan demi tamparan Pak Kuncoro menjadi hajaran yang tak tertahankan.
“Pak!! Saya mohon!! Hentikan! Hentikan!!” ratap Stella sambil menangis.
Akhirnya Pak Kuncoro berhenti menghajar Stella. Istri cantik Rendra mulai meraung-raung dan menangis sejadi-jadinya. Darah menetes dari hidungnya yang sembab.
“Nggak apa-apa. Sebentar lagi juga sembuh.” Pak Kuncoro menyeringai.
Tangan Pak Kuncoro mulai bekerja dengan cepat melucuti pakaian yang dikenakan Stella. Pak Kuncoro melepas rok dan rok dalam yang dipakai Stella. Akhirnya istri Rendra bisa merasakan tangan kuat pria tua itu merobek celana dalamnya.
“Jangan coba untuk melawan lagi keinginanku untuk mencicipi tubuhmu. Saya akan memberikan kenikmatan dan kepuasan tak terhingga untuk Mbak Stella. Setelah saya menyetubuhiin kamu akan mendapatkan kenikmatan dariku.” Pak Kuncoro menyeringai.
Stella tidak percaya ini semua terjadi padanya.
Pak Kuncoro juga tidak percaya melihat kemolekan tubuh Stella. Kaki yang jenjang, paha yang mulus dan rambut tipis tercukur rapi menutup gundukan serambi lempit yang bersih. Keindahan yang tidak ada duanya. Keindahan tubuh Stella persis seperti apa yang selalu diidam-idamkan oleh Pak Kuncoro ketika masturbasi sendirian di kamar mandi.
Tubuh yang molek dan indah itu kini tergolek pasrah di atas lantai. Pak Kuncoro tak perlu waktu lama untuk menyerang tubuh Stella. Dia membenamkan kepala di antara paha Stella dan mulai menghirup aroma wangi liang kewanitaannya. Pak Kuncoro mulai menjilati bibir serambi lempit Stella.
“_Occhhh! Nikmat sekali._” ucap Stella dalam hati.
Stella menggigil tak berdaya sambil mencengkeram kepala Pak Bejo dengan kedua tangannya dan mencoba mendorongnya menjauh. Bahkan Rendra tak berani melakukan itu padanya. Lidah Pak Kuncoro makin lama makin meningkat intensitas iramanya dan Stella mulai kehilangan kendali pada tubuhnya. Dengan malu Stella mulai menyadari kalau tubuhnya perlahan menikmati apa yang dilakukan oleh Pak Kuncoro sementara batinnya mencoba mengingkari.
“Aaaaccccchhhhhh” Stella mendesah panjang dan keras sambil terus mencoba mendorong kepala Pak Kuncoro.
Desahan Stella makin lama makin keras dan tubuhnya menggigil penuh nafsu birahi di bawah rangsangan luar biasa dari Pak Kuncoro. Stella sudah tidak ingat lagi akan semua hal yang ia junjung tinggi, pekerjaan, pendidikan, latar belakang, keluarga, suami, anak.. semua hilang ditelan nafsu. Tidak ada jalan keluar.
Dia akan ditiduri oleh laki-laki ini, seorang pria tua yang ternyata memiliki hati busuk. Dengan kecepatan tinggi, Pak Kuncoro mulai meloloskan baju dan celana yang ia kenakan sambil tetap mengunci tubuh Stella. Saking nafsunya, ia bahkan merobek kaos oblongnya. Berbaring di lantai, Stella sekilas melihat batang rudal Pak Kuncoro sebelum dia akhirnya memeluk Stella.
“_rudal Pak Kuncoro sangat besar, bahkan lebih besar dari milik Rendra._” batin Stella dalam hati.
Kaki Stella yang jenjang diangkat ke atas oleh pria tua yang sudah nafsu itu, keduanya ditautkan di pundak Pak Kuncoro dan dengan secepat kilat, Pak Kuncoro sudah sampai di selangkangan Stella. Tanpa tunggu waktu terlalu lama, langsung dilesakkan rudalnya ke dalam serambi lempit Stella.
“Ooccchhhh.. Ya.. Hhmmm!” desah Stella ketika rudal Pak Kuncoro masuk ke dalam liang serambi lempitnya.
Si cantik itu bahkan harus menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak kesakitan saat rudal Pak Kuncoro dipompa dalam rahimnya berulang-ulang kali. Tapi Pak Kuncoro tetaplah seorang pria tua. Tidak sampai lima menit, Pak Kuncoro sudah melepaskan cairan pejuhnya di dalam rahim Stella. Si cantik itu menatap wajah Pak Kuncoro dengan perasaan campur aduk.
“Sudah kubilang kalau kau akan menikmati semua ini, Mbak Stella. Desahanmu terdengar sangat keras dan merangsang.” kata Pak Kuncoro sambil meringis penuh kemenangan.
Stella yang malu memalingkan wajah. Saat wanita cantik yang baru disetubuhi berusaha bangun, Pak Kuncoro menarik tubuh Stella dan memeluknya.
“Mau kemana, sayang? Kita kan belum selesai. Kamu nggak pengen dientot lagi?” ucap Pak Kuncoro.
“Mau ke kamar mandi.” Kata Stella berusaha melepaskan diri dari pelukan Pak Kuncoro.
“Tapi kamu kan nggak bisa pergi seperti ini.”
Pak Kuncoro berdiri dan membantu Stella untuk berdiri. Satu persatu dilucuti semua pakaian yang melilit tubuh indah Stella. Mulai dari baju, bra sampai rok dalam yang masih tersangkut di kaki Stella. Setelah selesai, dibaliknya tubuh Stella.
“Sekarang baru boleh pergi, nanti kesini lagi.” kata Pak Kuncoro terkekeh sambil meremas pelan pantat Stella yang bulat dan mulus.
Sambil menahan air mata, Stella pun pergi ke kamar kecil, didalam kamar kecil Stella mengingat kembali kejadian pemerkosaan yang baru dialami, meski belum sempat orgasme tapi Stella mengakui kenikmatannya.
Saat kembali ke ruang tengah, Pak Kuncoro sedang menonton acara TV.
“Duduk di pangkuanku! dan goyangkan pantatmu.” Perintah Pak Kuncoro sambil menepuk kakinya.
Stella sempat ragu-ragu untuk sesaat, dia sangat sadar bahwa dirinya saat ini sedang telanjang tanpa sehelai benangpun di depan seorang pria yang bukan suaminya sendiri. Orang itu kini menghendaki tubuh indahnya duduk di pangkuannya. Stella hanya bisa mendesah penuh kepasrahan. Air matanya kembali menetes.
Tak berapa lama setelah duduk di pangkuan Pak Kuncoro sambil menggoyangkan pantatnya, tangan jahil pria tua itu mulai meraba-raba tubuh indahnya terutama buah dadanya diremas-remas. Lama kelamaan, api yang tadinya padam mulai menyala lagi, Stella mulai terangsang. Kali ini Pak Kuncoro ingin mengeluarkan pejuh di mulut Stella.
Istri Rendra itu memang sangat jarang melakukan oral seks atau fellatio pada suaminya sendiri karena terlalu alim. Sekali dua kali dilakukannya dengan terpaksa. Stella selalu menganggap hal itu kotor dan menjijikkan. Hanya pemain film porno yang pernah melakukannya.
“Aku tidak mau melakukannya.” kata Stella bersikukuh.
Tanpa banyak bicara Pak Kuncoro meraih kepala Stella dan akhirnya istri Rendra itu hanya bisa pasrah. Stella mulai mengoral rudal Pak Kuncoro. Remasan tangan Pak Kuncoro di kepala Stella mengeras. Si cantik itu bisa merasakan denyutan di rudal yang diemutnya kalau Pak Kuncoro hampir mencapai orgasme. rudalnya sangat besar dan keras di dalam mulut Stella sehingga dia mulai batuk-batuk dan kehabisan nafas tapi Pak Kuncoro tidak peduli.
Stella berusaha mundur untuk menarik nafas, tapi tangan Pak Kuncoro meraih rambut belakang Stella dan mendorongnya maju sampai tertelan seluruh batang rudal sang pria tua. Karena kuatnya dorongan Pak Kuncoro, tubuh Stella menggelepar karena tercekik kehabisan nafas. Stella berontak dan berusaha melepaskan diri, tapi Pak Kuncoro terlalu kuat untuknya.
Lalu perlahan pria tua itu berhenti sesaat, memberikan kesempatan bagi Stella untuk bernafas sejenak. Sayang hanya sebentar, karena kemudian tiba-tiba saja kepala Stella didorong maju dan dipaksa menelan seluruh batang rudalnya. Tepat ketika ujung kepala rudal Pak Kuncoro menyentuh tenggorokan Stella, air mani pun meledak di dalam mulutnya.
Tidak ada jalan lain kecuali menelan seluruh pejuh yang dikeluarkan oleh Pak Kuncoro untuk menahan diri agar tidak tercekik.
Saat dilepas oleh Pak Kuncoro, Stella rubuh ke belakang dan menarik nafas lega. Seluruh pipi dan dagunya belepotan air mani Pak Kuncoro yang keluar dari bibirnya yang merah. Sadar apa yang baru saja diminumnya, langsung saja Stella merasa mual. Istri Rendra itu segera lari ke kamar mandi dan muntah-muntah di sana. Setelah muntah, Stella merasa lebih baik dan tidak lagi merasa mual.
**Indriani Suseno**
Pak Adam adalah mertua Indriani Suseno dan ayah kandung Indra. Usianya sudah 58 tahun, bertubuh gemuk, botak dan sudah menduda sejak 12 tahun terakhir. Setelah kehilangan rumahnya yang berada di desa karena tidak bisa membayar hutang yang menumpuk, Pak Adam sedianya akan ditampung sementara oleh Indra dan menantunya Indriani yang sama-sama baru berusia 26 tahun sebelum nantinya mendapat rumah kontrakan yang baru.
Pak Adam mengetuk pintu depan dan menantunya yang ayu segera menyambutnya. Si seksi itu hanya mengenakan daster tipis yang menerawang yang pas ditubuhnya, khas baju ibu-ibu rumah tangga. Tapi entah kenapa, saat Indriani yang mengenakan baju itu, terlihat sangat menggairahkan. Indriani terlihat sangat cantik dan segar.
“Lho? Bapak? Aku kira bapak baru akan datang besok lusa? Ayo masuk dulu..” kata Indriani sambil memutar badan.
Walau tertutup daster, tapi Pak Adam bisa melihat jelas lekuk pantat sempurna milik Indriani yang menerawang di balik daster. Indriani, seperti juga kakak-kakaknya memiliki kecantikan natural yang sempurna. Walaupun menantu Pak Adam itu memiliki perangai yang manis, ceria dan suka bercanda, tapi sosok ayu dan seksinyalah yang membuat setiap lelaki ingin menidurinya.
“Mas Indra belum pulang, tapi sebentar lagi pasti datang..” ucap Indriani.
“Tadi aku naik bis yang sore..” kata Pak Adam sambil mencari sofa untuk duduk.
“Oh begitu. Istirahat dulu, Pak. Anggap saja rumah sendiri.” Jawab Indriani sambil membungkuk untuk mengambil cangkir yang ada di meja di depan Pak Adam.
Karena daster yang dipakai Indriani sangat longgar pada bagian dada gerakan ini membuat Pak Adam bisa mengintip celah buah dada putih ranum yang menggiurkan di balik bra Indriani. Melihat keseksian menantunya, rudal Pak Adam langsung mengeras. Mertua Indriani itu segera menyembunyikan tonjolan di selangkangannya karena malu.
Setelah menata meja, Indriani duduk di depan Pak Adam dan menyilangkan kakinya, seakan memamerkan kakinya yang putih, mulus dan jenjang dengan bulu-bulu halus yang menggairahkan. Pak Adam harus konsentrasi penuh untuk mendengarkan pertanyaan Indriani.
“Jadi bagaimana perjalanannya? Capek yah, Pak?” tanya Indriani.
“Lumayan melelahkan. Lima jam perjalanan.” jawab mertuanya.
Mata Pak Adam bergerak menelusuri seluruh lekuk tubuh Indriani, dari atas sampai bawah, dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Hampir 5 tahun sudah Pak Adam tidak melakukan kegiatan seksual. Setelah kematian istrinya, Pak Adam sering memanggil pelacur saat masih tinggal di desa.
Tapi kemudian berhenti karena hutang-hutangnya kian bertumpuk dan dia tidak bisa membayar seorangpun pelacur. Indriani mulai sedikit rikuh dengan tatapan mata Pak Adam yang seakan menelanjanginya.
“Aku naik dulu ke kamar ya, Pak. Mau mandi sebentar lalu aku siapkan makan malam. Bapak pasti sudah lapar kan? Anggap aja rumah sendiri..” kata Indriani sambil menaiki tangga.
Mata Pak Adam tidak lepas dari goyangan pantat menantunya yang aduhai sampai ke atas tangga. Walaupun sudah uzur, tapi Pak Adam tetap laki-laki normal, dia butuh melepaskan hasrat birahinya. Dia ingin masturbasi untuk melepaskan gejolak nafsunya.
Suara HP Indriani berbunyi. Indriani mengangkatnya setelah melihat yang menelepon adalah suaminya.
“Halo? Sayang..” ucap Indriani.
“Halo, Sayang?” balas suara di ujung telepon.
“Sayang, aku minta maaf aku nggak bisa pulang hari ini, soalnya aku harus lembur di luar kota dan baru akan pulang sekitar hari Minggu sore. Mendadak banget dan tidak bisa ditunda..” lanjut Indra.
“Ya.. sudah kamu hati-hati ya.. ohya.. Bapak baru sampai sekarang lagi istirahat..” ucap Indriani memberitahu kedatangan mertuanya.
“Tolong pamitin ke Bapak ya. Pesawatnya hampir berangkat, aku tidak bisa lama-lama. Maaf tidak bisa menemani Bapak. Aku telpon kalau sudah sampai di sana nanti.” ucap Indra.
“Baik, sayang. Nanti aku sampaikan ke Bapak..” jawab Indriani.
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Indriani menutup telepon.
Pak Adam berniat untuk membawa tas-tasnya yang berisi baju ke kamar atas. Perlahan dia menaiki tangga, melewati kamar utama — tempat tidur Indriani dan Indra. Terdengar deru suara air mengalir dari kamar mandi yang terletak di dalam kamar utama. Pak Adam meletakkan tasnya di depan pintu kamar.
Setelah berpikir keras, dia memutuskan untuk memasuki kamar tidur utama pasangan Indriani dan Indra. Di atas ranjang terdapat rok dan atasan kaos putih. Saat mengambil kaos itu Pak Adam mendapati BH dan celana dalam tipis yang juga berwarna putih. Pak Adam benar-benar tidak kuat lagi menahan birahinya. Diambilnya celana dalam Indriani, dibukanya celananya sendiri, dan mulailah ayah mertua Indriani itu coli dengan menggesekkan celdam Indriani di rudalnya yang mulai keriput.
Detak jantung Pak Adam makin cepat karena ia tahu menantunya sedang mandi sementara dia coli menggunakan celdam yang akan dipakai Indriani. Gerakan Pak Adam makin meningkat cepat karena saat coli Pak Adam membayangkan enaknya menikmati tubuh Indriani di ranjang dan bagaimana rasanya memeluk menantunya yang cantik itu. Pak Adam membayangkan asyiknya melihat tubuh molek Indriani terhentak-hentak didera nikmat akibat sodokan rudalnya.
Pak Adam mengintip sedikit ke kamar mandi. Indriani rupanya lalai dan membiarkan pintu kamar mandi sedikit terbuka, memudahkan akses bagi mertuanya mengintip. Pak Adam mendapati Indriani sedang menyabuni buah dadanya yang besar, padat dan kenyal.
‘_Wow. Tubuh si Indri benar-benar indah. Sangat seksi. Seandainya mungkin, aku ingin masuk ke dalam sana dan memenyetubuhi menantuku yang semlohay itu._’ batin Pak Adam.
Pak Adam meneruskan colinya di celdam Indriani saat menantunya itu membungkuk untuk menyabuni kakinya yang jenjang dan pahanya yang mulus. Tak lama kemudian, Indriani bersandar pada dinding sementara air shower membilas tubuhnya yang putih mulus. Tangan kiri Indriani menangkup buah dadanya yang indah. Jari jemarinya mulai mengelus dan menowel-nowel putingnya.
Pak Adam terpana melihat menantunya itu memainkan buah dadanya. Tangan kanan Indriani menuruni perutnya yang langsing dan masuk ke selangkangannya.
“Acchhh..” Indriani mendesah kecil.
Tangan kiri Indriani yang penuh gelembung sabun itu kini memilin dan meremas-remas puting buah dadanya hingga mengeras, lalu meremas buah dadanya bergantian. Tangan kanan Indriani masih berada di selangkangannya. Semakin mencondongkan tubuhnya ke belakang, Indriani membentangkan kakinya sedikit.
Pak Adam bisa melihat jari jemari lentik tangan menantunya keluar masuk serambi lempitnya sendiri. Pak Adam terpesona melihat si cantik Indriani menggunakan jempolnya untuk menggosok dan menggerakkan daging menonjol yang ada di ujung atas bibir serambi lempitnya.
“Acchhh.. occhhh.. aaccchhhh” kaki Indriani melengkung saat si jelita itu melenguh perlahan.
Akhirnya tangan kirinya turun lemas ke samping badannya, sementara jari-jarinya tangan kanannya berhenti bergerak, namun tetap berada di dalam liang serambi lempitnya. Pak Adam merasakan air maninya membanjir. Tangannya belepotan sperma dan ia membersihkannya menggunakan celdam Indriani. Terdengar suara shower dimatikan dan Indriani mulai keluar dari shower.
Secepat kilat Pak Adam meletakkan celdam Indriani seperti sediakala dan meninggalkan kamar itu. Pak Adam menutup pintu kamar, namun masih membuka sedikit celah. Saat sudah beranjak meninggalkan tempat itu, terlihat Indriani keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang terlilit di tubuhnya yang indah.
Pak Adam sebenarnya bisa langsung orgasme hanya dengan melihat Indriani setengah telanjang dan hanya mengenakan handuk, ternyata mertua mesum itu jauh lebih beruntung daripada yang dia kira. Indriani menjatuhkan handuknya ke lantai. Tanpa sepengetahuan wanita ayu itu, sang ayah mertua yang nafsu birahinya sedang memuncak ada di luar kamar sedang mengawasi tiap gerak-geriknya yang molek. Karena memunggungi pintu, Pak Adam bisa menyaksikan pantat putih mulus Indriani yang sempurna.
Perlahan-lahan Indriani berbalik dan Pak Adam hampir tak kuat menahan nafsu. Baru kali inilah dia menyaksikan keindahan tubuh Indriani secara langsung tanpa sehelai benangpun. Rambut di atas serambi lempit Indriani terlihat terawat karena dipotong rapi dan sangat lebat, sementara buah dada Indriani yang montok sangat ranum dan besar.
Si molek itu membungkuk sesaat mengambil handuk lalu mengeringkan rambutnya yang dikeramas. Karena bergerak cepat, buah dada Indriani bergoyang ke kanan dan ke kiri dengan erotis. Pak Adam meletakkan satu tas kresek yang dibawanya dan mulai mengocok rudalnya lagi.
Saat Indriani usai mengeringkan rambut, istri Hasan itu mengambil celana dalamnya dengan sedikit membungkuk. Tentu saja Pak Adam makin puas karena bisa melihat lebih jelas ke arah lubang anus sang menantu. Untung saja Pak Adam kuat menahan diri, bisa saja ia masuk ke dalam dan menyetubuhi Indriani dari belakang dengan paksa. Warna merah muda anus mungil milik menantunya itu sangat mengundang selera sang pria tua.
Pak Adam berandai-andai apakah anaknya si Indra pernah menyodomi istrinya. Indriani mulai mengenakan roknya dan kembali buah dada si cantik itu bergoyang-goyang. Pemandangan erotis ini makin lama makin memuaskan Pak Adam. Tak perlu waktu lama, sperma pria tua itu akhirnya meledak di dalam celana.
Pak Adam mengambil semua tasnya dan berjalan kembali ke kamar untuk berganti pakaian. ‘_Situasinya menarik sekali!_’, batin laki-laki tua itu sambil membersihkan tangan dengan tissue. ‘_Aku sendirian di rumah selama beberapa hari dengan menantuku yang cantik jelita dan sangat seksi itu! Aku harus mendapatkan tubuh Indriani! Aku harus menanamkan rudalku di serambi lempitnya yang wangi secepatnya!_’
Entah apa yang akan dilakukan Andi seandainya dia mengetahui rencana ayah kandung pada istri yang dicintainya.
Bersambung… **Dina Kania**
Tangan Dina bergetar hebat saat dia melepaskan kancing bajunya sambil meliuk-liuk tubuhnya. Pandangan mata Pak Michael tidak lepas dari kedua buah dada Dina yang masih tertutup kemeja, menunggu dengan penuh harap untuk menyaksikan pemandangan indah berupa bukit kembar Dina dalam kondisi tidak tertutup sehelai benang pun. Dina ingin berhenti, tapi tangannya justru terus membuka kancing dan melepas bajunya. Bra dan isinya yang putih mulus dan montok menjadi perhatian utama Pak Michael.
Dina meraih pengait bra di belakang dan melepaskannya. Saat bra itu menggantung di atas buah dadanya, Dina mulai ragu-ragu dan berusaha menggunakannya menutup buah dadanya. Dina melepaskan celananya sambil masih memegang bra.
Pak Michael jelas menikmati pertunjukan striptease ala Dina Kania ini. Sudah jelas bagi pria tua itu bagaimana malunya perasaan Dina, yang tentu malah menambah nikmat rangsangannya. Saat buah dada Dina keluar dari bra, Pak Michael bisa melihat puting buah dada Dina sudah membesar, tentu karena udara dingin. Saat melepas celana panjang sambil sesekali bergoyang, Pak Michael memperhatikan celana dalam yang dipakai Dina.
Celdam putih biasa saja. Hal ini justru menambah minat Pak Michael. Lebih jelas lagi kalau Dina adalah seorang ibu rumah tangga yang sederhana dan mungkin orang yang pernah melihat Dina dalam kondisi setengah telanjang hanyalah Hasan dan dirinya sendiri.
Dina menggigil ketakutan. Wanita cantik itu berdiri setengah telanjang di hadapan pria asing yang juga bos dari suaminya. Satu tangan mengapit bra yang sudah hampir copot agar tetap menutupi buah dada dan tangan yang satu lagi menangkup selangkangannya sambil terus meliuk-liuk tubuhnya dan kemudian menggigit bibir bawahnya. Pemandangan erotis yang sungguh menyenangkan bagi Pak Michael.
Dengan satu gerakan tak terduga ketika meliuk-liukkan dan memutar tubuhnya membelakangi Pak Michael dilemparkannya bra ke samping dan ketika Dina kembali memutar tubuhnya menghadap bos dari suaminya itu sehingga Pak Michael bisa menyaksikan tubuh istri pegawainya yang nyaris telanjang karena kini hanya ditutupi oleh celdam warna putih.
Pak Michael menatap si cantik Dina dan menikmati ketidaknyamanan wanita itu. Tapi dia kemudian menjadi tidak sabar. Pak Michael membuka tasnya dan melambaikan amplop manila ke arah Dina. Istri Hasan itu tahu apa yang dimaksud Pak Michael dan mengambil nafas sekaligus keberanian ganda. Dina menarik celana dalamnya ke bawah secepat mungkin dan langsung menutup selangkangannya kembali dengan tangannya.
Dina kini sudah berdiri tanpa sehelai benangpun di hadapan Pak Michael, dan berusaha keras menutupi buah dada dan serambi lempitnya.
“Teruskan bergoyang seperti tadi.. angkat kedua tanganmu keatas kepala kemudian berputar dengan kedua tangan terbuka di samping tubuhmu..” kata Pak Michael dingin.
Dina tahu inilah saatnya. Saat-saat penentuan. Apakah dia akan menunjukkan tubuh telanjangnya pada laki-laki di hadapannya ini? Setelah mempertimbangkan resiko tidak melakukannya, Dina menarik nafas panjang dan menyerah.
Berdiri tegap dan bergetar hebat, Dina melakukan apa yang diinginkan oleh Pak Michael dan akhirnya Dina mempersembahkan keindahan tubuh telanjangnya yang luar biasa mempesona pada pria tua didepannya selain suaminya. Dina membenci pandangan asusila Pak Michael pada dirinya, dia membenci pandangan laki-laki tua yang sedang memuaskan diri dengan menjelajahi sekujur tubuhnya.
“Berbaliklah sambil menggoyangkan pinggul.. perlahan.. aku ingin menikmati kemolekan tubuhmu dari sisi belakang.” kata Pak Michael.
Dina menurut, sambil menggoyangkan pinggulnya Dina berbalik tubuhnya. Ruangan itu menjadi sunyi dan bagi Dina semuanya menjadi lebih parah karena tidak bisa melihat ke arah Pak Michael. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan laki-laki tua itu. Bagi ibu muda yang cantik dan sederhana itu, kesunyian ini seakan berlangsung amat lama.
“Renggangkan kakimu..” suruh Pak Michael.
“Bagus. Sekarang membungkuklah dan lihat kemari melalui sela-sela kakimu..” lanjut Pak Michael.
Pantatnya yang mulus terangkat merangsang dan serambi lempitnya tanpa penutup terlihat jelas di hadapan Pak Michael. Dina menahan nafas saat dia melihat ke arah Pak Michael di antara sela-sela kakinya. Pria tua itu telah melepas semua pakaiannya hingga telanjang seperti dirinya dan dilihat oleh Dina rudalnya yang mengeras mengacung bagaikan menantang langit.
Tidak hanya keras, sepertinya rudal Pak Michael juga lebih besar – lebih besar dan panjang – daripada milik Hasan. Dina juga sadar kalau serambi lempitnya bisa dilihat jelas oleh Pak Michael. Angin semilir membelai bibir serambi lempitnya yang terbuka menantang. Sebelum ini belum ada satu orangpun yang pernah menyaksikan liang serambi lempitnya dengan posisi seperti ini, bahkan suaminya sendiripun belum pernah.
“Berjalan mundur kebelakang dengan posisi seperti sekarang..” ucap Pak Michael.
Dina pun melakukan itu semua sesuai keinginan Pak Michael. Dina melompat kesamping ketika jari jemari Pak Michael mengelus bagian dalam paha mulusnya. Dina berdiri tegak dan menarik nafas. Tapi ketika dia berdiri di samping bos Hasan itu dengan bertelanjang bulat, wajah cantik Dina langsung memerah karena malu.
“Kembali ke sini dan buka kakimu lebar-lebar!” perintah Pak Michael.
Dina berjalan gontai ke arah kursi tempat Pak Michael duduk dan memejamkan mata saat jari jemari Pak Michael masuk ke serambi lempitnya. Kali ini walaupun tubuhnya menggigil, Dina tidak beranjak seinci pun.
“serambi lempitmu kering. Aku pengen serambi lempitmu basah, masturbasi dulu!” kata Pak Michael.
Dina tidak tahu seberapa jauh lagi dia bisa menahan malu. Bos suaminya tengah memasukkan sebuah jari ke dalam serambi lempitnya dan menyuruhnya bermasturbasi. Dina pertama kali bermasturbasi saat dia masih remaja. Dina tahu perbuatan ini tidak baik untuk pertumbuhan mental sehingga dia berhenti melakukannya. Tapi kini seorang pria asing memerintahkannya bermasturbasi langsung dihadapannya.
Dina mencari lubang serambi lempitnya dengan jari tengah dan menggosoknya dengan gerakan pelan. Wanita cantik yang dipermalukan itu kemudian merasakan desakan jari jemari Pak Michael di dalam serambi lempitnya pada saat dia bermasturbasi. Dina tidak tahu mana yang lebih memalukan – saat mata Pak Michael menatap jari tengahnya atau wajahnya. Kini jari jemari Pak Michael makin bebas keluar masuk liang serambi lempit Dina karena cairan pelumas dinding serambi lempitnya mulai mengalir.
“Duduk di pangkuanku” ucap Pak Michael dan mencabut jemarinya dari serambi lempit istri pegawainya.
Dina lega saat Pak Michael menarik jemarinya sehingga Dina bisa berhenti bermasturbasi. Dina kembali berhadapan dengan bos suaminya mencoba duduk di pangkuan Pak Michael dengan sesopan mungkin, dia berusaha menutup kedua kakinya dengan rapat. Tapi Pak Michael menggeleng dan kaki Dina segera dibuka lebar-lebar. Wanita cantik itu mencoba berdiri ketika melihat rudal Pak Michael berdiri tegak menantang.
Pak Michael tersenyum saat melihat Dina memalingkan wajah.
“Masukkan ini ke dalam serambi lempitmu..” kata Pak Michael sambil menggenggam batang rudalnya.
“Kumohon, Pak Michael! Aku tidak bisa melakukan ini! Aku sudah menikah! Ini- ini akan menjadi skandal! Ini zinah!” Dina merengek.
“Masukkan ini ke dalam serambi lempitmu, atau…..” ancam Pak Michael.
Dina tahu dia tidak punya pilihan lain. Duduk di pangkuan Pak Michael, Dina mencoba melesakkan rudal laki-laki mesum itu ke dalam serambi lempitnya tanpa menyentuh batang rudal bos Hasan itu. Tapi usaha Dina gagal. Ibu rumahtangga yang cantik itu mendesah kecewa dan dengan tertunduk malu meraih batang rudal Pak Michael dan menaikkannya ke atas.
Dina memposisikan serambi lempitnya di atas rudal yang sudah menghadap ke atas lalu perlahan melesakkannya sambil duduk di pangkuan Pak Michael. Dina bisa merasakan rudal yang besar dan gemuk itu penuh di liang rahimnya. Dina dan Pak Michael saling bertatapan, saat rudal Pak Michael melesak seluruhnya ke dalam serambi lempit Dina.
Tangan Pak Michael meraih buah dada Dina. Dielus dan diremasnya buah dada putih mulus, molek dan montok itu. Jemarinya menjepit puting susu Dina dan memutar-mutarnya dengan kasar. Dina merasa sangat malu saat puting itu mulai membesar. Dina berusaha keras menahan dirinya agar tidak terangsang dengan remasan dan perlakuan Pak Michael pada buah dadanya, tapi gagal. Buah dada Dina menegang dan putingnya membesar.
Tangan Pak Michael melepaskan buah dada Dina, tapi kini giliran mulutnya yang nyosor ke buah dada putih mulus si Dina. Saat Pak Michael mengulum satu putingnya, Dina bisa merasakan jari jemari Pak Michael menangkup bulat pantatnya. Diangkat, lalu diturunkan, lalu diangkat lagi, berulang-ulang. Pak Michael bergeser ke putingnya yang lain, lalu menikmatinya untuk beberapa saat.
Setelah bosan, Pak Michael menyandarkan kepala ke belakang dengan menggunakan lengan sebagai bantalannya. Dengan posisi relaks, Pak Pramono tersenyum sinis.
“Sekarang, pompa rudalku!” perintah Pak Michael.
Mulut Dina menganga tak percaya, dia telah dilecehkan, dihina dan diperdaya. Tapi wanita jelita itu melakukan apa yang diminta oleh Pak Michael. Karena membutuhkan sandaran, Dina meraih pundak Pak Michael dan perlahan mengangkat tubuhnya. Saat seluruh rudal Pak Michael hampir keluar dari serambi lempitnya, Dina menghentakkan tubuh ke bawah dan kembali ke pangkuan Pak Michael. Lalu Dina naik lagi, lalu turun, lalu naik, turun, naik turun, naik turun berulang-ulang.
Dina memenyetubuhii Pak Michael, bosnya Hasan. Dinalah yang bergerak naik turun, meskipun Pak Michael sekali-kali menggoyang pinggulnya untuk menumbuk gerakan turun tubuh Dina, tapi ibu muda itulah yang bekerja keras. Dinalah yang saat ini sedang menyetubuhi Pak Michael! Meskipun hal itu saja sudah memalukan, tapi Dina kian tak punya muka saat merasakan kehangatan yang nikmat menjalar liang serambi lempitnya. rudal Pak Michael yang jauh lebih besar dari rudal suaminya menjejal liangnya yang sempit dan memenuhinya dengan nikmat. Gerakan naik turunnya menjadi lebih cepat.
“Aaccchhhh.. occhhh.. acchhh..” Dina tak kuasa menahan desahannya.
Pak Michael mulai melihat perubahan pada wajah Dina. Pada awalnya, Dina bersetubuh dengan perasaan malu dan sakit hati, tapi kemudian perasaan itu berubah menjadi birahi. Pak Michael tahu Dina mulai menikmati menyetubuhi dengan dirinya. Bukan maksud hati Dina untuk bersetubuh dengan Pak Michael, tapi tubuh Dina mengkhianatinya karena lama kelamaan ibu muda yang cantik itu mulai merasa kenikmatan yang sulit untuk dilukiskan walaupun awalnya dia dipaksa untuk melayani pria tua ini.
“Occhhh.. hhmmm.. acchhh.. ssttt.. aaccchhhh..” erang Dina.
“Nikmatilah.. Mbak Dina.. jangan ditahan.. semakin keras desahanmu.. aku semakin menikmatinya.. teruslah mendesah nikmat menyetubuhi denganku..” kata Pak Michael.
Wajah Dina memerah karena malu lalu menunduk, Pak Michael mulai menelusuri tubuh istri Hasan dengan satu tangan dan akhirnya mencapai ujung kelentit serambi lempit Dina. Saat Pak Michael menggosok klitoris Dina, mata istri Hasan itu terbelalak dan menatap Pak Michael tak percaya. Tapi Dina tetap meneruskan gerakannya, naik turun dan membiarkan rudal Pak Michael menusuk tiap jengkal ruas liang serambi lempitnya. Pak Michael tidak berhenti menggosok klitoris Dina. Tak lama kemudian, Pak Michael merasakan kuku jari Dina menancap makin dalam di pundaknya.
“Occhhh.. aaccchhhh.. uuhhh.. aaccchhhh..” erang Dina dengan keras.
Gerakan Dina makin lama makin cepat hingga Pak Michael tidak sanggup lagi merangsang klitoris Dina.
“Ooocccchhhhh..” Dina melepaskan lenguhan keras dan tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya berhenti.
Dina sudah mencapai klimaks dengan menutup kedua matanya. Pak Michael menunggu Dina sampai si cantik itu membuka matanya. Wajah Dina yang dilanda kepuasan memerah karena malu. Pak Michael menganggukkan kepalanya sebagai tanda agar Dina meneruskan pekerjaannya. Maka wanita cantik itu kembali menggunakan serambi lempitnya untuk memeras rudal Pak Michael. Dina kembali menyetubuhi pria tua yang telah membuatnya orgasme.
Tadi Pak Michael memang ingin memuaskan Dina agar ibu muda yang cantik itu malu, tapi kini Pak Michael hanya menginginkan kepuasannya saja. Pak Michael menarik bokong Dina dan membimbing tubuhnya naik turun memompa batang rudalnya dengan lebih cepat. Dia mendorong tubuh Dina turun ke pangkuannya dengan kasar sementara pinggulnya bergerak sembari menggoyang si manis itu. Makin lama makin cepat. Pak Michael makin tersengal-sengal karena keenakan. Tak lama kemudian Pak Michael orgasme.
Dina duduk di pangkuan Pak Michael saat pejuh pria tua itu membanjiri liang senggamanya. Dina merasa malu, dia merasa dirinya sangat rapuh karena menyerah pada Pak Michael. Dina merasa diperkosa, tapi lebih malu lagi, karena dirinyapun telah mencapai titik klimaks yang belum pernah dirasakannya selama ini. Walaupun awalnya terpaksa, Dina kini juga merasa bersalah pada Hasan. Dia merasa dirinya telah menodai pernikahannya dan bersalah karena mencapai orgasme bahkan Dina yakin dirinyalah yang sebenarnya menyetubuhi bos Hasan itu.
Dina duduk terdiam penuh rasa malu pada diri sendiri saat Pak Michael mulai kembali sadar dari kenikmatan orgasmenya. Perempuan molek itu bisa merasakan rudal Pak Michael mulai mengecil dan keluar perlahan dari serambi lempitnya sementara dia duduk di paha sang pria tua dengan posisi kaki terbentang, Dina bisa merasakan pula cairan mani Pak Michael meleleh keluar dari lubang serambi lempitnya. Dina tidak bergerak sama sekali karena takut pada pria tua yang bengis itu.
Pak Michael membuka matanya dan tersenyum puas. Dia mendorong tubuh Dina ke samping dan mengambil nafas dalam-dalam.
“Aku berterimakasih atas kerja samanya. Selama kamu terus menerus memberikan kepuasan padaku, maka aku jamin Pak Hasan tidak akan pernah disentuh oleh pihak yang berwajib..” Pak Michael berkata.
Dina tidak menjawab dan hanya mengangguk. Pak Michael mengenakan pakaiannya kemudian duduk di sofa, Dina hanya memandang diam ke arah pimpinan Hasan itu tanpa berkeinginan untuk menutupi ketelanjangannya. Untuk apa? Dia sudah bersenggama dengan pria tua ini dan Pak Michael sudah melepaskan pejuh di dalam rahimnya sehingga mungkin saja dia akan hamil oleh atasan suaminya itu. Apa akan ada perbedaan berarti kalau sekarang Pak Michael melihatnya bugil?
“Duduklah.. Mbak Dina.. disampingku..” kata Pak Michael.
Dina pun melakukan hal yang diminta oleh Pak Michael.
“Dimana anakmu?” tanya Pak Michael karena sejak tadi tidak melihat keberadaan anak Dina dan Hasan.
“Tadi pagi saya titipkan pada orang tua Mas Hasan karena Bapak mengatakan mau kesini untuk membicarakan hal penting, takutnya anak kami rewel sehingga mengganggu.” jawab Dina.
“Terima kasih Mbak Dina untuk semua yang tadi dilakukan.. jujur saya tidak akan melakukan hal ini jika saja Pak Hasan tidak menggelapkan uang perusahaan, saya melakukan hal ini karena saya marah dan ingin memberikan pelajaran kepada Pak Hasan.” ujar Pak Michael.
Dina hanya mengangguk kepala dan dirinya setuju dengan ucapan Pak Michael hal ini tidak akan ia alami jika suaminya itu tidak menggelapan uang perusahaan.
“Apakah Mbak Dina ada kegiatan beberapa hari kedepan?” tanya Pak Michael.
“Tidak ada Pak.. boleh tahu ada apakah?” jawab Dina.
“Begini.. Mbak Dina. Saya akan kembali lagi nanti malam.. saya akan ke kantor setelah ini, saya ingin meminta Pak Hasan untuk melakukan pekerjaan keluar kota selama beberapa hari kedepan, mungkin 4-7 hari. Selama Pak Hasan diluar kota saya ingin bersama Mbak Dina. Malam ini saya ingin menginap disini berdua bersama Mbak Dina. Untuk itu malam ini usahakan anak Mbak Dina dan Pak Hasan menginap bersama mertua Mbak Dina saja, besok baru dijemput. Bagaimana Mbak Dina bersediakah saya menginap disini malam ini dan selalu bersama dengan saya selama Pak Hasan keluar kota.. kali ini saya tidak akan memaksa karena saya ingin Mbak Dina melakukan tanpa merasa terpaksa. Pertimbangkanlah” ucap Pak Michael.
Dina diam beberapa saat mempertimbangkan semua itu dalam hati.
‘_Nanti malam Pak Michael ingin menginap itu artinya aku akan kembali bersetubuh dengan Pak Michael atasan suamiku bahkan mungkin hingga beberapa hari kedepan, untungnya untuk kali ini aku tidak diharuskan dalam arti diriku dapat menolak tapi apakah jika menolak dapat berakibat pada Mas Hasan, tadi pun aku telah menodai pernikahanku karena bersetubuh dengan Pak Michael bahkan boleh dikatakan akulah yang sebenarnya menyetubuhi bos suamiku itu, tapi semua itu tidak akan terjadi jika Mas Hasan tidak menggelapkan uang perusahaan sehingga aku harus menanggung semua ini._’
“Mbak Dina.. bagaimana? Apakah sudah ada keputusan?” tanya Pak Michael.
Dina mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan kemudian memandang lekat pada Pak Michael kemudian tersenyum manis.
“Lakukanlah apapun yang Bapak mau, aku tidak akan menolak. Aku akan menghubungi orang tua Mas Hasan setelah ini untuk menitipkan anakku malam ini. Setelah semua yang tadi terjadi akupun tidak akan melakukan lagi dengan perasaan terpaksa, aku akan melakukan yang Bapak inginkan. Aku akan tunggu kedatangan Bapak nanti malam.” ucap Dina.
“Baiklah kalau begitu.. Mbak Dina.. aku pergi dulu.. sampai jumpa nanti malam..” ucap Pak Michael kemudian bangkit berdiri.
Dina pun ikut berdiri dan tiba-tiba memeluk tubuh pria tua didepannya lalu mencium bibir Pak Michael dengan mesra dan penuh perasaan, Pak Michael membalas ciuman bibir Dina, untuk beberapa menit mereka saling melumat bibir kemudian melepaskan ciuman bibir mereka.
“Sampai jumpa nanti malam ya.. apakah aku harus menyambut kedatangan Bapak nanti malam seperti ini..” goda Dina setelah melepas ciuman bibir Pak Michael masih memeluk tubuh pria tua didepannya.
“Kamu sangat seksi dan menggairahkan dalam keadaan apapun.. Mbak Dina.. tunggu aku ya.. nanti malam.” balas Pak Michael sambil meraba selangkangan Dina.
Ibu muda yang cantik itu pun tersenyum manis dan melambaikan tangan kemudian berdiri dibelakang pintu menyembunyikan tubuh telanjangnya.
**Stella Wijaya**
Sesaat setelah muntah, barulah Stella sadar kalau Pak Kuncoro sudah berdiri di sampingnya. Stella tidak melakukan perlawanan apapun saat pria yang lebih pantas menjadi ayahnya itu memeluk tubuh indahnya yang telanjang dan mengelus rambutnya yang indah untuk menenangkan si cantik itu.
“Apa Mbak Stella sudah enakan sekarang?” bisik Pak Kuncoro.
Mau tak mau Stella mengangguk pasrah. Pak Kuncoro membantu Stella bersih-bersih sebelum membawa ibu rumahtangga yang cantik itu kembali ke ruang keluarga. Pak Kuncoro menyuruh Stella duduk di salah satu sofa sementara dia sendiri duduk tepat di hadapan Stella.
“Santai saja. Jangan dianggap masalah berat. Aku sebenarnya sudah lama sekali ingin menikmati tubuh indahmu dan baru sekarang punya kesempatan menyetubuhi dengan kamu.” kata Pak Kuncoro sambil mengeluarkan sebungkus rokok dan mulai menghisapnya.
Terdiam tanpa tahu harus berbuat apa, bayangan dirinya diperkosa terlintas di benak Stella, sekali lagi ibu muda itu mengakui kenikmatan yang sempat dirasakan. Merasa sudah gagal menjaga kesucian rumah tangganya dengan Rendra, semua sudah terjadi tidak ada yang harus disesali benaknya.
“Pak.. katakan sejujurnya, apakah ini sudah Bapak rencanakan? Aku ingin tahu seberapa besar keinginan Bapak untuk tidur denganku?” kata Stella.
“Sudah sejak lama bahkan mungkin sejak pertama kali melihatmu aku ingin mencicipi dan menikmati kemolekan tubuh Mbak Stella. Aku selalu mencari kesempatan untuk menikmati tubuh Mbak Stella dan memenyetubuhii serambi lempit Mbak. Tadi aku melihat inilah kesempatanku untuk menikmati kemolekan tubuh Mbak Stella. kenapa?” balas Pak Kuncoro.
“Baiklah. Tadi Bapak sudah menikmati tubuhku, bahkan aku melakukannya dengan mulutku dan hal ini sangat jarang kulakukan pada Mas Rendra.” ucap Stella kemudian berdiri dan berjalan menuju Pak Kuncoro lalu duduk di pangkuan pria tua itu.
“Pak.. semua ini sudah terjadi diantara kita. Maukah Bapak melakukannya lagi denganku? Aku ingin menikmatinya.” kata Stella lanjut.
“Tentu saja aku mau Mbak Stella, aku akan memberikan kenikmatan padamu.” jawab Pak Kuncoro.
Setelah menunggu Pak Kuncoro menghabiskan rokok, Stella kembali berdiri lalu meraih tangan Pak Kuncoro dan menarik tubuh Pria tua itu hingga berdiri lalu berjalan menuju kamar tidurnya. Didalam kamar tidurnya Stella duduk disisi ranjang disusul Pak Kuncoro disampingnya.
“Lakukanlah apapun yang Bapak mau lakukan padaku.. aku ingin menikmatinya.” ujar Stella.
Pak Kuncoro mendekap tubuh telanjang Stella kemudian mencium bibirnya sesaat lalu mencium dan menjilat leher dan telinganya. Stella memasrahkan tubuhnya. Pak Kuncoro menurunkan kepalanya ke dada Stella kemudian menjilati buah dada Stella.
“Acchhh.. Ooccchhhh.. Pak.. Aaccchhhh..” desah Stella ketika tangan Pak Kuncoro meraba klitorisnya.
Pak Kuncoro tersenyum puas mendengar suara desahan Stella.
“Suaramu sangat merangsang mbak Stella.. ayo.. nikmati aja.. mendesahlah sesukamu..” kata Pak Kuncoro.
Lidah Pak Kuncoro sudah berada di selangkangan Stella, lidahnya menjilat dan menghisap serambi lempit dan klitoris ibu muda cantik idamannya.
“Occhhh.. hhmmm.. enak banget.. aaccchhhh.. pak.. oooooooohhhhhhh..” erang Stella ketika Pak Kuncoro membenamkan wajahnya di selangkangan wanita cantik itu.
Stella Wijaya ibu muda yang semlohay memegang kepala pria tua yang sedang bergumul di selangkangannya, Stella merasa dorongan kuat didalam liang serambi lempitnya. Tubuhnya bergetar dan membusungkan dadanya.
“Aaaaccccchhhhhh.. oooooooohhhhhhh..” Stella orgasme cairan wanitanya menyembur keluar dari liang serambi lempitnya dan membasahi wajah Pak Kuncoro.
Pria tua itu menyedot seluruh cairan kenikmatan ibu muda itu kemudian terkekeh-kekeh. Setelah mengatur nafas Stella dengan wajah puas mengambil posisi di selangkangan Pak Kuncoro, memandang sesaat ke wajah Pak Kuncoro yang sedang berbaring diatas kasurnya. Menghela nafas panjang Stella menggenggam batang rudal Pak Kuncoro lalu mengocoknya perlahan sesaat kemudian wanita cantik itu menurunkan kepalanya dan menjulurkan lidah menjilat ujung rudal Pak Kuncoro. Setelah beberapa lama menjilat rudal Pak Kuncoro, Stella membuka mulut dan memasukkan rudal Pak Kuncoro kedalam mulutnya.
Menggerakkan kepalanya naik-turun mengulum rudal pria tua itu, setelah beberapa lama rudal Pak Kuncoro berdiri kokoh dan mengeras sempurna. Tanpa membuang waktu Stella merangkak naik sambil menciumi dan menjilat tubuh Pak Kuncoro, jilatan lidah ibu muda itu berhenti di puting Pak Kuncoro. Menjilat dan menghisap puting pria tua itu beberapa saat, Stella kemudian mencium dan menjilat leher Pak Kuncoro.
“Acchhh.. mbak Stella.. ternyata pintar menyenangkan pria..” kata Pak Kuncoro.
Wajah Stella memerah karena malu.
“Aku masukin sekarang ya.. nanti Kylie keburu pulang.” ucap Stella.
Tangan kanan Stella meraih batang rudal Pak Kuncoro kemudian mengarahkan kepala rudal pria tua itu ke bibir serambi lempitnya, setelah bibir serambi lempitnya menjepit kepala rudal Pak Kuncoro. Stella mencium bibir pria tua dibawah tubuhnya lalu perlahan menurunkan pinggul maka seluruh batang rudal Pak Kuncoro memasuki liang serambi lempitnya.
“Acchhh..” desah Stella ketika rudal Pak Kuncoro terbenam didalam liang serambi lempitnya.
Stella mulai menaik-turunkan pinggulnya memompa rudal didalam serambi lempitnya, disambut oleh Pak Kuncoro yang menghentakkan pinggulnya menusuk kedalam liang serambi lempit Stella dengan rudalnya. Pak Kuncoro terus menerus menghentakkan pinggulnya naik-turun menyodok serambi lempit wanita cantik diatas tubuhnya.
“Occhhh.. ya.. hhmmm.. aaccchhhh.. Pak.. ooccchhhh..” erang Stella ketika serambi lempitnya terus menerus ditusuk oleh Pak Kuncoro dengan rudal.
“Mbak Stella serambi lempitmu sungguh nikmat.. rapet.. bagaimana mbak Stella.. rasanya menyetubuhi dengan saya..” kata Pak Kuncoro.
“Occhhh.. iya.. aaccchhhh.. nikmat sekali.. ooccchhhh.. Pak..” desah Stella.
Sekitar 10 menit kemudian Stella merasakan rudal Pak Kuncoro membesar dan berdenyut, Stella mempercepat genjotannya memompa rudal Pak Kuncoro kemudian dia merasakan semburan hangat air mani Pak Kuncoro didalam liang serambi lempitnya, setelah semburan berhenti Stella memiringkan tubuhnya ke samping Pak Kuncoro sehingga lepas sudah rudal pria tua itu dari dalam serambi lempitnya. Stella merasakan cairan mani Pak Kuncoro keluar dari serambi lempitnya hingga ke paha dan pantatnya, Stella segera bangkit dan berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari air mani Pak Kuncoro.
Beberapa saat kemudian Stella keluar dari kamar mandi dan Pak Kuncoro sudah mengenakan pakaiannya, lalu Stella menghampiri pria tua itu dan tersenyum.
“Mbak Stella memang benar-benar wanita yang cantik dan seksi.. serambi lempit Mbak Stella nikmat banget.. besok aku akan kembali lagi.. siapkan tubuh Mbak Stella.. aku ingin memenyetubuhii serambi lempit Mbak Stella dan mengambil keperawanan lubang yang lain.” ujar Pak Kuncoro kemudian memeluk tubuh Stella dan mencium bibirnya dan menghisap putingnya.
Stella membalas pelukan Pak Kuncoro dan juga ciuman bibir pria tua itu. Pak Kuncoro melirik jam dinding.
“Masih ada waktu 45 menit sebelum Kylie pulang, benarkan?” ujar Pak Kuncoro.
“Iya.. Pak.. memangnya ada apa?” balas Stella.
Pak Kuncoro mengajak Stella duduk disisi ranjang, kemudian lidah Pak Kuncoro menjilat buah dada kiri Stella dan setelah beberapa lama Pak Kuncoro meninggalkan bekas kemerahan di buah dada kiri Stella.
“Jangan bercinta dengan suamimu sebelum bekas cupang ku hilang jika Mbak Stella tidak ingin ketahuan telah bercinta dengan pria lain.” ujar Pak Kuncoro.
Terkejut melihat bekas cupang Pak Kuncoro di buah dada kirinya. Stella hanya mengangguk tanpa suara. Kemudian Pak Kuncoro keluar dari kamar tidur Stella dan pulang kerumahnya. Stella menghela nafas memikirkan bagaimana cara menolak ajakan suaminya jika suaminya itu ingin meminta jatah. Akhirnya Stella mengambil pakaian dan memakainya.
Bersambung… DALAM GENGGAMAN PRIA TUA
**Indriani Suseno**
Setelah mandi dan membersihkan diri, Pak Adam kembali turun ke ruang keluarga. Dia duduk di sofa dan menonton berita di televisi, berharap bisa sejenak melepaskan hasrat birahinya yang liar kepada menantunya sendiri. Tidak lama kemudian, Pak Adam mendengar suara orang menuruni anak tangga.
“Pak, tadi Mas Indra telepon dari bandara. Katanya dia harus langsung lembur dan berangkat ke luar kota malam ini juga. Baru pulang hari Minggu sore. Untuk keperluan bisnis atau yang lain dan Mas Indra minta maaf tidak bisa menemani Bapak.” ucap Indriani ketika melihat Pak Adam sedang duduk di sofa.
“Oh, ya sudah tidak apa-apa.” ucap Pak Adam menjawab sekenanya karena pikirannya dan matanya sedang menikmati tubuh menantunya itu.
Pak Adam hanya bisa menatap takjub penampilan menantunya yang indah itu. Indriani memakai kaos putih tanpa lengan yang membuat buah dadanya yang besar terlihat menonjol menantang dan rok mini yang hanya menutupi selangkangan menantunya itu sehingga memperlihatkan keindahan pahanya yang putih dan mulus ditunjang kedua kaki yang jenjang. Dari belakang, Pak Adam bisa mencuri pandang pantat Indriani yang montok.
Pak Adam mulai terangsang lagi saat membayangkan menantunya itu menggunakan celdam yang tadi digunakan oleh Pak Adam untuk coli. Rambut indah panjang Indriani diikat kucir kuda dan membuat si cantik itu tampak lebih muda. Pak Adam menahan diri dan kembali menatap layar televisi. Indriani mulai menyiapkan makan malam sementara Pak Adam menyusulnya ke dapur untuk melihat apakah dia bisa membantu Indriani.
Sekitar dua puluh menit memasak dan bercakap-cakap, makanan pun siap. Tak disadari oleh Indriani kalau sedari tadi Pak Adam memanjakan matanya dengan mengamati setiap lekuk tubuh Indriani dari atas sampai bawah sementara Indriani memasak. Pantatnya yang bulat dan montok itu makin terlihat sempurna karena rok yang dipakai Indriani sedikit ketat saat dikenakan.
Saat membungkuk untuk mengambil sendok yang tidak sengaja terjatuh oleh Indriani, rok mini yang dipakai Indriani sedikit terangkat sehingga terlihat oleh Pak Adam celdam putih yang dipakai Indriani adalah yang digunakan oleh Pak Adam untuk coli tadi. Lelaki tua itu puas melihat menantunya memakai celdam yang sama yang dia gunakan untuk coli.
Pak Adam langsung membayangkan nikmatnya menubruk tubuh Indriani, membungkukkan tubuh si cantik itu ke depan, dan melesakkan rudalnya ke dalam serambi lempit Indriani sementara tangannya meremas-remas buah dadanya. Lamunan itu sirna begitu Indriani berbalik dan menghidangkan makan malam, akhirnya setelah beberapa lama Indriani dan mertuanya Pak Adam pun selesai makan malam.
“Bapak.. aku keatas duluan ya.. udah ngantuk mau istirahat..” ucap Indriani.
“Baik.. ” jawab Pak Adam.
Setelah beberapa saat Indriani naik keatas, Pak Adam menyusulnya dengan mengendap-endap, kemudian Pak Adam mengintip menantunya itu melalui sela pintu kamar. Pak Adam terkejut melihat Indriani melepas semua pakaiannya hingga telanjang kemudian naik ke kasur dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Pak Adam langsung membayangkan bagaimana nikmatnya bercinta dengan Indriani seketika itu juga rudalnya mengeras dan Pak Adam pun melepas celana beserta celana dalamnya kemudian berniat untuk coli, dan karena sudah tidak mampu menahan nafsu birahinya maka timbul keinginan untuk memperkosa menantunya itu, tanpa pikir panjang Pak Adam segera melepas kaosnya hingga telanjang kemudian perlahan membuka pintu kamar tidur Indriani, masuk ke dalam kamar tidur menantunya dengan mengendap-endap.
Mengangkat selimut untuk meringsek ke balik selimut. Indriani sudah hampir terlelap ketika dirasakannya angin semilir masuk melalui selimutnya yang tebal. Baru disadarinya ternyata selimut itu diangkat oleh seseorang. Indriani yang masih terpejam tersenyum gembira, mengira Indra tidak jadi berangkat ke luar kota. Saat membalikkan badan, barulah disadari bahwa bukan Indra melainkan Pak Adam yang berada di samping tubuhnya! Karena sangat mengantuk, Indriani lambat bereaksi, dan dengan cekatan Pak Adam langsung memeluk tubuh menantunya.
Gesekan tubuh telanjang mereka menyadarkan Indriani akan gawatnya situasi yang sedang dihadapi. Indriani pun segera mendorong tubuh Pak Adam dan berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Pak Adam hanya tersenyum sinis dan menelikung tangan Indriani hingga dia tidak bisa berkutik. Tubuh keriput Pak Adam menindih tubuh mulus Indriani sehingga istri Indra itu terengah-engah. Semakin Indriani memberontak dan mencoba melepaskan diri sergapannya, semakin Pak Adam terangsang.
“Bapak! Lepaskan aku! Apa yang bapak lakukan di sini?” tanya Indriani.
“Itu pertanyaan bodoh, menantuku sayang. Kurasa kau tahu pasti apa yang sedang aku lakukan. Birahiku sedang tinggi dan aku bosan onani. Aku butuh serambi lempit yang enak, jadi aku masuk ke sini.” kata Pak Adam.
“Aku ini menantumu!! Ini tidak mungkin! Bapak tidak bisa..” protes Indriani.
“Memangnya siapa yang akan menghentikan aku?” tanya Pak Adam.
“Tidak ada orang lain di sini. Kamu boleh berteriak kalau mau tapi aku yakin tidak akan ada orang yang akan masuk dan menjebol tembok untuk menyelamatkanmu. Dan kau lihat sendiri, aku juga jauh lebih kuat daripada kamu.” lanjut Pak Adam
“Jika bapak memperkosaku, aku akan lapor pada polisi!” ancam Indriani.
“Bisa saja kau lakukan itu. Tapi menurutmu, bagaimana perasaan Indra?”
“Apa maksud bapak?” ucap Indriani.
“Seandainya kamu berani pergi ke polisi dan mengaku diperkosa oleh ayah mertuamu sendiri, Indra akan hancur perasaannya. Istrinya yang cantik dan mempesona diperkosa oleh ayahnya sendiri. Apalagi aku akan mengarang sebuah cerita kepadanya kalau istrinya, Indriani yang jelita merayu ayah mertuanya. Bahkan jika dia mencoba untuk tidak mempercayai ceritaku, dia tidak akan pernah percaya lagi padamu. Aku, tentu saja akan menceritakan bagaimana enaknya menyetubuhimu dan membuatmu orgasme. Semua detail akan aku ceritakan. Semua kenikmatan yang tidak pernah ia bisa berikan kepadamu. Oh ya, sayang. Jika kau cerita pada Indra atau polisi tentang perkosaan ini, kau akan menghancurkan hidupnya.” kata Pak Adam.
Indriani terdiam dan tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya menganga lebar karena tiap perkataan Pak Adam ada benarnya.
“Bapak tidak peduli pada Indra? Apa yang akan dirasakannya?” tanya Indriani dengan lirih.
“Bapak benar-benar ingin menyakiti putra bapak sendiri?” lanjut Indriani.
“Bukan aku yang akan menyakitinya. Kamu yang akan menyakiti perasaannya. Aku sih cuma pengen menyetubuhiin kamu. Kalau kamu tidak cerita apa-apa sama dia, semua beres. Semua senang.” ujar Pak Adam.
“Kecuali aku.” ucap Indriani.
“Kalau sampai kamu tidak puas bercinta denganku, namaku bukan Adam.” kata lelaki tua itu dengan bangga.
Akhirnya Indriani tidak menjawab lagi, dia tidak mau membayangkan kenikmatan yang akan dirasakan bila bercinta dengan mertuanya. Dengan berani Pak Adam mencium bibir Indriani. Ciuman yang disosorkan oleh Pak Adam bukanlah ciuman mesra seperti yang biasa diberikan oleh Indra pada Indriani. Ciuman Pak Adam sangat kasar dan penuh nafsu, dengan buas Pak Adam memaksa lidahnya masuk ke mulut Indriani, lalu mengeluarmasukkan lidahnya dengan cepat.
Gerakan lidah Pak Adam seirama dengan gerakan pinggulnya yang mendorong ke depan. Sekali lagi Indriani berusaha mendorong tubuh Pak Adam. Kali ini usahanya hampir berhasil. Pak Adam yang tidak siap terdorong mundur. Namun saat Indriani berusaha lari dari ranjang, Pak Adam menarik kaki sang menantu dan merentangkannya lebar-lebar. Pria tua yang sudah kehilangan akhlak itu menarik lutut Indriani dan menjepitkan pinggangnya di antara dua paha Indriani.
Si cantik itu bisa merasakan jembut kasar Pak Adam menyentuh bibir kemaluannya. serambi lempit Indriani yang lama kelamaan basah bisa dirasakan oleh kulit Pak Adam yang langsung menyentuh selangkangan Indriani. Istri Indra itu berusaha mendorong mundur mertuanya. Tak henti-hentinya Indriani memukul dan menampar Pak Adam, tapi apa daya seorang wanita lemah?
Pak Adam tidak mempedulikan perlakuan Indriani dan meremas payudara sang menantu. Pria tua itu tidak lagi berlaku lembut pada buah dada Indriani. Dengan kasar diremas-remas dan dipelintirnya puting susu Indriani. Indriani merasa malu saat kemudian puting susunya malah makin mengeras. Pak Adam tidak melewatkan hal ini dan memelintir puting Indriani dengan jari-jari tangannya, Indriani tidak berkutik.
“Aaccchhhh..” sambil merem melek dia melenguh keras.
Pak Adam mencium dan menghisap puting Indriani dan menjilatinya dengan penuh nafsu. Hangatnya mulut Pak Adam terasa begitu nikmat sehingga Indriani lupa melawan. Dengan sadis Pak Adam memangsa buah dada Indriani dengan lidahnya, sesuatu yang sudah dia idam-idamkan sejak tadi.
Pak Adam menjilati puting Indriani lalu menciumi buah dadanya. Kenikmatan yang dirasakan oleh Indriani begitu tinggi sehingga istri Indra itu melenguh keras dan menjambak rambut Pak Adam. Dengan wajah senang dan puas, Pak Adam tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.
“Susumu bagus sekali, aku selalu memperhatikan buah dadamu dan bertanya-tanya bagaimana rasanya kalau dijilati. Tidak begitu besar dan tidak terlalu kecil. Cukupan. Sempurna. Putingnya juga mempesona, lumayan besar.” kata Pak Adam.
Indriani yang tersinggung oleh ejekan itu mulai melawan Pak Adam lagi, kali ini si cantik itu bahkan berteriak-teriak meminta tolong. Sia-sia saja, tidak ada yang mendengar teriakan Indriani. Pak Adam tertawa-tawa dan terus meremas buah dada Indriani.
Dijilati dan digigitinya buah dada putih Indriani, pria tua yang sangat nafsu itu berusaha menelan seluruh buah dada Indriani ke dalam mulutnya. Dia bahkan meremas buah dada Indriani dan berusaha menelan keduanya bersama-sama. Walaupun tindakannya kasar, tapi Indriani mulai merasakan sensasi kenikmatan yang aneh dan kesulitan menolak Pak Adam.
Pak Adam mengagetkan Indriani saat mertuanya itu berbalik dan berlutut di atas tubuhnya. Kepala Pak Adam menghilang di antara paha Indriani dan rudal Pak Adam bergelantung di atas wajah cantiknya. rudal Pak Hasan sangat berbeda dengan milik Indra.
Milik Pak Adam jauh lebih pendek dan tebal, warnanya juga lebih hitam kemerahan. Indriani bergidik saat membayangkan rudal Pak Adam memasuki serambi lempitnya. Rasa ngeri dan ketakutan membuat Indriani mengeluarkan cairan pelumas yang membanjir di selangkangannya.
Indriani menggigit bibirnya saat tiba-tiba saja mulut Pak Adam menjelajahi selangkangannya yang basah. Pak Adam mulai mencium, menjilat dan menghisap serambi lempit sang menantu. Tangan Pak Adam merenggangkan kaki jenjang Indriani supaya mendapatkan akses bebas ke serambi lempitnya.
Direntangkannya lebar-lebar sehingga Indriani tidak bisa menolak perlakuan ini. Pak Adam dengan mahir menggunakan lidahnya menjilati klitoris Indriani, lalu pada bibir serambi lempit dan akhirnya lidah Pak Adam menjelajah ke dalam liang cinta Indriani.
Ia menjilat dengan gerakan memutar dan menusuk, membuat Indriani menggelinjang keenakan. Pak Adam bahkan menggunakan giginya untuk menggigit-gigit kecil klitoris Indriani. Istri Indra itu masih terus berteriak dan melawan, bergerak mengelilingi tempat tidur dengan sekuat tenaga. Tapi Indriani sudah tidak tahu lagi, apakah teriakannya itu teriakan takut atau teriakan penuh nikmat.
Tiba-tiba saja Indriani mengalami orgasme. Kenikmatan menguasai tubuh indahnya, Indriani bergetar hebat saat mencapai puncak. Sebuah kenikmatan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan dalam situasi seperti ini. Tubuh Indriani tergolek lemas. Tapi bahkan saat orgasme itu sudah menghilang, Pak Adam belum selesai menikmati serambi lempit wangi Indriani.
Pak Hasan membalikkan badan dan sambil menarik pinggul Indriani, dilesakkannya rudalnya yang besar ke dalam serambi lempit sang menantu. Indriani merem melek karena tidak bisa menahan kenikmatan yang diberikan oleh mertuanya. Seluruh serambi lempitnya seakan terulur sampai batas dan terisi penuh oleh rudalnya. Indriani bisa merasakan denyutan demi denyutan rudal sang mertua di dalam liang cintanya. serambi lempitnya terus memeras rudal sang mertua yang keluar masuk dengan cepat. Tiap kali digerakkan, seakan tusukan Pak Adam makin ke dalam, membuat Indriani mendesah-desah karena tak tahan.
“Acchhh.. Pak.. ooccchhhh.. su.. dah.. aaccchhhh.. hentikan.. hhmmm.. occhhh.. aaccchhhh..” desah Indriani.
Desahan si cantik itu membuat Pak Adam makin cepat memompa serambi lempit Indriani. Akhirnya Indriani mencapai puncaknya lagi, tubuhnya yang sempurna melejit karena mengeluarkan cairan cinta. Indriani bisa merasakan air mani Pak Adam juga tumpah di dalam rahimnya.
Pak Adam jatuh menimpa Indriani, tubuh mereka menggigil dan bermandikan keringat. Akhirnya Pak Adam berdiri dan keluar dengan santai dari kamar Indriani, meninggalkan istri Indra itu terlentang telanjang di kasur.
Saat Pak Adam akhirnya tertidur, Indriani memutuskan untuk mandi keramas dan mengganti seprei yang baru saja dipakainya untuk melayani nafsu ayah mertuanya. Dia mencoba melupakan apa yang terjadi tapi getaran yang terasa di tubuhnya tak kunjung menghilang.
Indriani tahu dia tidak mungkin mengatakan sejujurnya apa yang terjadi pada Indra ataupun pada pihak yang berwajib. Indriani tak punya bukti apapun dan dia takut kalau Indra bertanya padanya apakah Indriani menikmati bersetubuh dengan ayah mertuanya.
Indra selalu tahu saat Indriani berbohong jadi dia pasti tahu kalau Indriani mendapatkan sensasi kenikmatan lain saat bersetubuh dengan Pak Adam. Indriani tidak akan menceritakan apapun pada suaminya.
Saat membersihkan kamar keesokan paginya, Indriani menemukan sepucuk kertas di atas meja riasnya. Surat dari Pak Adam.
‘**Aku berharap bisa tidur denganmu lagi, Indriani sayang. Kalau aku sudah tidak kecapekan tentunya. Membayangkannya saja sudah membuatku nafsu. Aku berjanji akan lebih perkasa.**’
Walaupun Indriani berharap Pak Adam hanya mengancam, tapi dia tahu mertuanya itu bersungguh-sungguh. Istri Indra itu gemetar ketakutan. Dia membayangkan ayah mertuanya akan menyetubuhinya lagi setiap ada kesempatan dan tidak ada satupun yang bisa dilakukan si cantik itu untuk menghentikannya.
+
**Stella Wijaya**
Malam itu, rasa bersalah yang amat besar membuat Stella tidak bisa tidur. Dia tidak pernah bisa memaafkan dirinya karena memiliki nafsu birahi liar yang tersembunyi di balik kesetiaannya. Dia tidak pernah memaafkan dirinya sendiri yang rela menjadi hamba nafsu dan terlena oleh perkosaan yang dilakukan Pak Kuncoro. Awalnya dia mengira itu semua terjadi karena rasa takut, tapi perasaan nikmat itu tidak bisa ia bohongi. Seluruh kejadian bersama Pak Kuncoro terulang bagaikan film di benak Stella. Apakah dia seorang korban yang pasrah? Saat itu dia teringat kalimat yang pernah diucapkan oleh Bu Kuncoro.
“Mbak Stella belum mengerti apa-apa.”
Saat ini Stella baru sadar kenapa Bu Kuncoro bertahan walaupun didera semua penyiksaan fisik yang dilakukan oleh Pak Kuncoro. Pria tua itu memberikan kenikmatan seksual yang tidak ada bandingannya. Itu sebabnya Bu Kuncoro pasrah oleh perlakuan kasar sang suami.
‘_Bahkan terhadapku pun dia kasar._’ Pikir Stella.
Dan seperti Bu Kuncoro pula, Stella harus melalui siksaan fisik luar biasa sebelum akhirnya menikmati puncak nafsu liarnya yang terpendam.
Dinginnya malam tak tertahankan. Stella melangkah keluar dari kamar dan duduk termenung sendirian di ruang depan. Berusaha menenangkan pikirannya yang kalut. Tiba-tiba Stella teringat ucapan Pak Kuncoro yang mengatakan ingin memperawani lubangnya yang lain, Stella mencoba mencerna dan memikirkan maksud dari lubang yang lain.
‘_jangan-jangan maksud Pak Kuncoro adalah lubang pantatku, pasti sakit rasanya. Tidak aku harus menghentikannya, aku tidak bisa menerimanya jika yang dimaksud adalah lubang pantatku._’ gumam Stella.
Bagaimana mungkin Stella mengkhianati Rendra demi nafsu birahi sesaat. Ibu rumah tangga yang cantik itu tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Hendra. Mereka saling mencintai satu sama lain. Rendra sangat mencintai Stella. Tapi apa yang bisa diharapkan Rendra dari istrinya?
Stella telah ditiduri oleh tetangga mereka yang bejat dan berhati busuk bahkan Stella dengan senang hati melayani nafsu bejat pria tua itu dan Stella pun menikmatinya hingga orgasme. Dia pasti akan sangat shock jika tahu apa yang telah terjadi. Stella berusaha keras agar tidak menangis.
Dia tidak akan mengijinkan Pak Kuncoro melakukan apapun pada tubuhnya lagi. Stella adalah milik Rendra. Istri sah Rendra. Stella tidak mau dirinya berakhir sebagai istri simpanan atau bahkan budak seks laki-laki busuk seperti Pak Kuncoro.
‘_Maafkan aku, Mas Rendra. Aku berharap Mas mau memaafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengkhianati kepercayaan Mas Rendra lagi._’ Gumam Stella pada dirinya sendiri.
Dia berharap bisa menyelesaikan urusan dengan Pak Kuncoro besok. Dia akan menutup pintu rumahnya kuat-kuat supaya lelaki busuk itu tidak akan bisa masuk dan menodainya lagi. Dia ingin Pak Kuncoro tahu apa yang telah mereka lakukan tidak ada artinya bagi Stella. Istri Rendra itu merasakan beban yang ia pikul perlahan-lahan terangkat.
Bersambung… **Dina Kania**
Setelah selesai menonton 1 film porno yang didapat dari mesin pencari internet Dina melihat jam dinding menunjukkan pukul 18.00.
‘_1 jam lagi Pak Michael akan datang, aku akan memberikan kenikmatan tubuhku pada Pak Michael seperti di film porno yang aku nonton._’ gumam Dina.
Ini pertama kali dalam hidup Dina menonton film porno, dia ingin melayani sebaik mungkin atasan suaminya itu. Berharap ini bisa membuat Pak Adam untuk tidak melaporkan kepada pihak berwajib tentang perbuatan suaminya, tapi dalam hati ibu muda itu ada perasaan kecewa kepada suaminya yang telah menjerumuskan dirinya menjadi seperti sekarang.
Dina memutuskan untuk menonton film porno lain, setelah beberapa adegan film porno berjalan Dina merasa mulai birahi, serambi lempitnya menjadi basah dan tanpa disadari tangannya mulai meraba selangkangannya, jemarinya yang lembut menggosok dan memainkan klitorisnya dan juga jemarinya menggosok dan masuk kedalam liang serambi lempitnya.
“Occhhh.. hhmmm.. aaccchhhh..” desah Dina sambil memejamkan mata menikmati tangan yang terus menggosok dan memainkan klitoris dan liang serambi lempitnya. Beberapa saat kemudian Dina merasakan ada satu dorongan yang kuat ingin keluar dari liang kenikmatannya.
“Oooooooohhhhhhh..” desah Dina ketika mendapat orgasme lewat permainan jemarinya.
‘_Semua ini terjadi akibat kebodohan Mas Hasan, aku harus membalasnya. Nanti aku akan menyetubuhi Pak Michael seperti tadi siang, aku pun ingin menikmati rudal Pak Michael dalam serambi lempitku. Mas Hasan tidak memikirkan diriku akibat dari perbuatannya, kenapa aku harus memikirkannya. Akan kunikmati persetubuhanku dan Pak Michael._’ gumam Dina.
Istri Hasan kemudian segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah beberapa saat Dina memoles wajahnya dengan riasan yang minim. Dina sengaja ingin menyambut kedatangan Pak Michael dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya, dia bertekad untuk menyajikan kemolekan tubuhnya kepada Pak Michael. Dina kembali melirik jam dinding menunjukkan pukul 18.50 maka ibu muda cantik itu berjalan keluar kamar tidur dalam keadaan telanjang menuju ruang tamu dan duduk di sofa tempat dimana ia menyetubuhi Pak Michael tadi siang.
Beberapa menit menunggu akhirnya Dina mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumahnya segera Dina berdiri lalu berjalan menuju pintu kemudian melihat dari jendela. Dina melihat Pak Michael turun dari mobil, Dina membuka pintu rumah ketika sosok yang ditunggunya sudah berdiri depan pintu rumahnya. Pak Michael sedikit terkejut melihat Dina membuka pintu rumah dalam keadaan telanjang, Pak Michael segera masuk ke dalam rumah wanita cantik itu dan Dina pun mengunci pintu rumahnya.
“Wow.. aku tidak menyangka kamu akan menyambut kedatanganku seperti ini.. kamu sungguh cantik dan seksi Mbak Dina..” kata Pak Michael.
“Kan tadi aku sudah bilang ke Bapak.. bolehkah aku peluk tubuh Bapak?” jawab Dina.
Pak Michael tersenyum kemudian tanpa rasa sungkan Dina memeluk tubuh Pak Michael dan mencium bibir pria tua itu.
“Mari ikut aku Pak, kita langsung ke kamarku. Aku bawakan tasnya boleh?” ucap Dina.
Pak Michael pun menyerahkan tas ditangannya ke ibu muda itu. Dina lalu menaruh tas jinjing Pak Michael di dalam lemari pakaian dalam kamar tidurnya. Memperhatikan ruangan kamar.
“Kamu lagi apa.. Mbak Dina sayang?” tanya Pak Michael.
“Menurut Bapak aku lagi apa sambil menunggu kedatangan Bapak..” ucap Dina tersenyum.
“Merapikan kamar, karena kamarmu tampak rapi..” ujar Pak Michael kemudian duduk di sofa samping meja rias Dina.
“Iya.. tadi setelah Bapak pergi aku menelepon orang tua Mas Hasan untuk menitip anakku malam ini, setelah itu aku merapikan kamar lalu mandi dan makan lalu aku nonton.. ohya Bapak sudah makan belum?” ujar Dina.
“Sudah.. aku sudah makan. Kamu nonton acara apa Mbak Dina sayang?” balas Pak Michael.
Dengan tersenyum malu, Dina menyalakan laptop diatas meja kecil samping ranjangnya dan dengan malu-malu Dina menunjukkan yang tadi ditonton. Mata Pak Michael terbelalak tidak percaya.
“Mbak Dina nonton begituan?” ucap Pak Michael.
“Iya.. aku pertama kali nonton film porno untuk belajar bagaimana memuaskan Bapak dengan tubuhku. Aku tidak mau mengecewakan Bapak karena itu aku belajar lewat film porno. Harapanku Bapak bisa puas dan melepaskan Mas Hasan..” jawab Dina tersipu malu.
“Mbak Dina seharusnya tidak perlu seperti itu, aku akan menikmati tubuh Mbak Dina apa adanya..” jawab Pak Michael.
“Harus Mbak Dina sayang ketahui tubuhmu sungguh mempesona dan indah, melihat tubuh Mbak Dina berpakaian tertutup saja aku sudah ingin mencicipi, apalagi Mbak Dina telanjang..” kata Pak Michael.
“Tidak apa-apa Pak, aku ingin memberikan yang terbaik untuk Bapak dengan tubuhku..” jawab Dina.
Dina melirik ke arah jari jemarinya. Cincin emas putih yang melingkar di jari manis sebagai lambang pernikahannya dengan Hasan membuatnya bergetar ketakutan. Tetapi sekali lagi Dina menyakinkan dirinya dan bertekad untuk memberi pelajaran kepada suaminya. Tangannya memeluk pinggang seakan hendak menghangatkan badan yang kedinginan.
“Apa yang Bapak inginkan?” ucap Dina manja.
“Mbak Dina tahu apa yang aku inginkan.” jawab Pak Michael atasan suaminya.
“Sesungguhnya aku benci melakukan ini semua! Tapi sekarang sudah terjadi, aku tidak punya pilihan..” Desis Dina.
“Gapapa.. kalau pun kamu membenciku, bencilah aku sesukamu, sayang. Aku malah lebih suka kamu benci daripada kamu cintai.” dengan jarinya yang hitam Pak Michael mengelus pipi dan rahang Dina yang halus mulus. “Sangat sempurna. Cantik sekali.” puji Pak Michael.
“Aku mungkin juga sangat ingin benci dengan Bapak, tapi aku sadar semua ini terjadi akibat perbuatan Mas Hasan, karena itu aku memutuskan untuk mengikuti semua permintaan Bapak termasuk menyerahkan tubuhku..” balas Dina sambil menggenggam tangan Pak Michael yang mengelus pipi dan rahangnya.
“Aku sudah menginginkanmu sejak pertama kali kita bertemu, Mbak Dina. Begitu tenang, sopan, penuh percaya diri. Ini yang membuat aku ingin menikmati tubuhmu..” ujar Pak Michael menatap Dina dengan dalam.
Dina membalas tatapan Pak Michael kemudian Bosnya Hasan memajukan wajahnya hingga bibir keduanya bertaut, Dina menyambut dengan menutup mata dan keduanya pun berciuman saling mengulum.
“Apa anda akan membuka rahasia ini pada Mas Hasan?” tanya Dina.
“Tergantung. Menurutmu apa yang akan terjadi jika dia mengetahui istrinya sudah melayani bosnya bermain cinta?” balas Pak Michael.
“Dia pasti minta cerai.” ucap Dina.
“Apa Mbak Dina mencintai Pak Hasan?” tanya Pak Michael.
“Sangat.” balas Dina.
“Aku kan sudah bilang. Mbak Dina harus menuruti semua perintahku kalau ingin semua ini berakhir dengan baik bagi semua pihak. Hasan tidak akan dipecat dan tidak akan masuk penjara. Aku dapat hiburan gratis dari seorang wanita yang cantik jelita dan molek, sedangkan Mbak Dina sendiri siapa tahu akan mendapatkan seorang keturunan yang berasal dari spermaku.” ucap Pak Michael.
Dina menundukkan kepala. Tidak menjawab air matanya turun dari pelupuk matanya, Dina merasa hatinya sakit dan hancur karena kebodohan suaminya, hidupnya dihancurkan.
“Semudah itu. Aku menginginkan tubuh Mbak Dina. Tiap kali aku butuh, aku telpon atau kirim pesan, Mbak Dina melakukan apa yang aku minta, dan Hasan tidak perlu tahu apa yang kita lakukan.” kata Pak Michael.
“Apakah ini artinya aku menjadi budak seks Bapak?” ujar Dina lirih.
“Aku ingin kau melayaniku, sayang. Aku ingin kau menerima apa saja yang ingin aku lakukan pada tubuhmu yang lezat itu selama aku belum bosan. Dan siapa tahu kamu bisa mendapat keturunan dari spermaku.” ujar Pak Michael.
“Sebenarnya aku tidak ingin melakukannya.” ucap Dina.
“Tentu saja kamu harus mau melakukan..” balas Pak Michael.
“Aku belum pernah mengkhianati suamiku.” ujar Dina.
“Belum pernah? Lalu apa yang kita lakukan tadi siang? Lalu bagaimana kamu menyambutku tadi, bahkan kamu belajar untuk memuaskan aku lewat tontonan film porno. Wah-wah, anda benar-benar seorang istri yang sempurna. Cantik, setia dan baik hati pula.” Pak Pramono tersenyum sinis dan mengingatkan Dina.
Air mata semakin menggenang di pipi Dina.
“Kemarilah, sayangku..” ujar Pak Michael.
Perlahan Dina bergerak mendekati Pak Michael. Airmata mulai deras menuruni pipi ibu muda yang cantik itu. Dengan mata berkaca-kaca Dina menatap Pak Michael.
“Cium aku.” ucap Pak Michael.
Dina menengadah kepalanya dan mencium bibir Pak Michael.
“Dingin sekali. Aku ingin kamu cium mesra seperti tadi..” kata Pak Michael saat Dina berhenti menciumnya sesaat.
Sambil meletakkan tangan di pundak Pak Michael, Dina menengadah kepalanya sekali lagi dan menangkup bibir hitam Pak Michael dengan bibirnya yang merah mungil. Dina bisa merasakan bibir Pak Michael terbuka dan lidahnya menjelajah ke dalam mulut Dina. Tangan Pak Michael memeluk pinggang langsingnya dan menarik tubuh Dina agar lebih mendekat. Lidah mereka beradu dan Dina memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian ciuman itu berakhir.
“Boleh juga..” kata Pak Michael sambil duduk di ranjang.
“Sekarang menarilah. Aku ingin melihatmu menari bugil..” lanjut Pak Michael.
Dina mulai menggerakkan tubuhnya bergoyang perlahan.
“Tubuhmu memang benar-benar seksi dan sempurna.. anugerah terindah bisa menjadi horny melihat tubuh telanjangmu dan menyetubuhi denganmu..” kata Pak Michael, matanya nanar ingin segera melahap tubuh Dina.
“Aku sudah sering meniduri banyak wanita, tapi tubuhmu adalah yang paling indah yang pernah aku entoti..” ujar Pak Michael.
Dina diam tidak menjawab melanjutkan gerakan bergoyang.
“Berlutut di depanku, Mbak Dina.. sayangku..” ujar Pak Michael.
Dina berjalan perlahan ke arah Pak Michael dan duduk berlutut di hadapannya. Dina tidak pernah menikmati oral seks. Hasan sering menyuruhnya tapi Dina selalu menolak dengan berbagai alasan. Dina tidak pernah mau menelan sperma suaminya.
“Keluarkan rudalku, Mbak Dina.. sayang. Aku kok ingin lihat rudalku diciumi oleh bibir semerah bibir anda..” kata Pak Michael.
Dina membuka celana Pak Michael dan menarik semua ke bawah berikut celdamnya. rudal Pak Michael langsung terbebas dan berdiri tegak di depan wajah Dina. Walaupun sudah pernah melihat dan menikmatinya, Dina selalu terkejut melihat rudal Pak Michael. Ibu muda cantik itu baru menyadari rudal ini memang begitu panjang, besar dan bertonjolan urat halus.
“Bapak..” ujar Dina lirih terlihat ragu.
“Mbak Dina sayang.. sudah pernah melakukan oral seks, kan?” tanya Pak Michael.
“Sudah. Hanya untuk Mas Hasan. Tapi aku tidak suka melakukannya..” ujar Dina.
“Sayangku.. Sesudah melakukannya denganku, Mbak Dina tidak akan ragu lagi untuk melakukan oral seks lagi.. percayalah..” kata Pak Michael.
Dina terus memperhatikan rudal Pak Michael yang besar. Dia hanya pernah memasukkan satu rudal ke dalam mulutnya dan itu adalah milik suaminya sendiri. Tapi hari ini, sambil berlutut di hadapan rudal Pak Michael, istri yang tadinya setia itu harus melayani nafsu hewan sang pria tua. Dina mengeluarkan lidah dan menjilat ujung gundul rudal Pak Michael, merasakan lendir yang keluar dari lubang kencing dengan lidahnya. Perlahan-lahan, ditelannya seluruh rudal Pak Michael.
“Acchhh, enaknya..” desis Pak Michael.
Tangannya meraih rambut Dina dan menguntainya lembut. Dia mendorong rudalnya lebih jauh ke dalam mulut Dina. Istri Hasan itu menutup mata dan mencoba menahan diri agar tidak tersedak oleh desakan rudal Pak Michael yang terus didorong masuk ke tenggorokan. Dina berusaha keras agar bisa bernafas saat Pak Michael mulai mendorong pinggulnya.
Kini rudal Pak Michael terbenam dalam di mulut Dina. Tangan Pak Michael memegang kepala Dina dan membimbingnya agar bisa mengocok rudal Pak Michael dengan mulut. Tiap kali menarik kepala Dina, hidung si cantik itu terbenam sampai ke dalam keriting jembut Pak Michael.
“Terus sayang. Enak banget disepong istri orang!” kata Pak Michael sambil terus menggerakkan kepala Dina pada rudalnya.
Dina meletakkan tangannya di paha Pak Michael agar bisa meraih keseimbangan. Jari jemari Dina bisa merasakan sentuhan bulu-bulu kaki Pak Michael yang keriting.
“Pakai lidah..” perintah Pak Michael sambil memompa lebih kencang.
Dina menggunakan lidahnya untuk memijat seluruh batang rudal Pak Michael. Suara berkecap mulut Dina memenuhi ruangan yang sepi. Dina memejamkan mata, dia tidak ingin melihat dirinya sendiri menelan rudal Pak Michael.
“Ampun, Mbak Dina sayangku! Enak banget! Aku mau keluar nih!” ucap Pak Michael.
Dina berusaha menarik mulutnya, tapi Pak Michael menjambak rambut Dina dan memaksanya terus menelan rudalnya yang besar. Dina menggelengkan kepala dan berusaha melepaskan diri dari tangan Pak Michael. Dina tidak mau Pak Michael orgasme di dalam mulutnya. Dina bisa mendengar suara tawa pria tua itu ketika akhirnya pejuh Pak Michael meledak di dalam mulutnya. Pak Michael membanjiri tenggorokan istri Hasan dengan spermanya.
“Telan..” kata Pak Michael dengan geram, rudalnya dilesakkan sampai ke ujung.
Dina tidak bisa menahan lagi dan dengan satu tegukan, dia menelan semua muntahan sperma Pak Michael.
“Anak baik..” kata Pak Michael sambil mengendurkan pegangannya dan membiarkan Dina jatuh ke lantai dengan lemas.
Dina menundukkan kepala, dia tidak bisa menghentikan air mata yang terus jatuh menuruni pipinya yang putih mulus. Bibirnya memar dan mulutnya terasa sakit usai mengoral rudal Pak Michael. Tenggorokan Dina juga terasa lecet karena dipaksa menelan rudal besar sampai ke ujung. Jari jemari Pak Michael mengelus dagu sembari mengangkat wajah Dina.
“Mbak Dina sayang kok masih menangis? Tidak menyukai oral seks?” ujar Pak Michael
“Tidak..” kata Dina pelan.
“Mbak Dina pintar sekali melakukan oral seks. Seharusnya bangga bukannya malah menangis. Belum pernah aku orgasme secepat itu. Bukankah tadi Mbak Dina bilang mau memuaskan aku makanya Mbak Dina sayang belajar lewat film porno..” ujar Pak Michael.
“Iya.. aku memberikan kenikmatan tubuhku untuk Bapak hingga Bapak puas, tapi aku tidak suka dengan oral seks, lebih baik aku melayani Bapak dengan serambi lempitku bukan mulutku..” kata Dina.
“Kamu lebih suka menyetubuhi? Apakah kamu suka menyetubuhi denganku Mbak Dina sayang?” ucap Pak Michael.
“Aku lebih ingin menikmati bercinta pakai serambi lempitku daripada mulutku. Aku sudah menyakinkan diri untuk bercinta dengan Bapak pakai serambi lempitku. Aku akan melakukan permintaan Bapak untuk bercinta selama pakai serambi lempitku, dan aku akan melakukan dengan senang hati dan akan sebaik mungkin untuk memuaskan Bapak..” ujar Dina.
“Mbak Dina sayang.. mulutmu juga bisa membuat aku puas, bahkan hampir semua pria ingin merasakan kenikmatan oral seks dan hal ini bukanlah sesuatu yang tabu untuk dilakukan, bukan sesuatu yang bisa membuat Mbak Dina jadi rendah diri jika melakukan oral seks dengan pasangan. Mbak Dina sayang harusnya bisa menikmati oral seks dan senang jika pasangan Mbak Dina terpuaskan dengan oral seks.. cobalah untuk menikmatinya..” ujar Pak Michael.
Dina menganggukkan kepalanya dan ia teringat salah satu adegan film porno yang tadi dia nonton, dimana satu wanita cantik duduk bersimpuh dikelilingi oleh belasan pria yang berdiri lalu si wanita secara bergantian mengulum rudal pria disekelilingnya bahkan diakhir adegan yang si wanita membuka mulut menanti semburan sperma para pria dan wanita itu sangat menikmatinya lalu menelan semua sperma didalam mulutnya.
“Sudah Mbak Dina sayang.. hapus air matamu.. naiklah ke ranjang.. kita istirahat sejenak nanti aku akan memenyetubuhi serambi lempit Mbak Dina..” ujar Pak Michael.
**Indriani Suseno**
Indriani tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri yang gegabah karena selalu tidur tanpa mengenakan pakaian, kebiasaan buruknya itu membuat mertuanya yang bejat bisa memanfaatkan situasi dengan mudah. Selain selalu tidur tanpa sehelai benang pun, satu lagi kebiasaan buruk Indriani adalah dia sering meremehkan situasi. Indriani dengan santainya tidur telanjang tanpa mengunci pintu kamar, padahal dia hanya berdua saja dengan mertuanya. Sungguh sebuah kesalahan yang sangat fatal.
Ingatan Indriani tak bisa lepas dari kejadian di malam terkutuk saat Pak Adam, mertuanya sendiri dengan leluasa memperkosa Indriani. Istri cantik Hasan terjaga sepanjang malam, dia tidak bisa tidur karena masih teringat apa yang telah dilakukan Pak Adam kepadanya. Dia berusaha melupakan semua kejadian, tapi amatlah sulit melupakan perkosaan yang terjadi pada diri sendiri. Jangankan melupakan, denyutan rudal mertuanya yang melesak di dalam liang kenikmatannya seakan tidak pernah hilang dari serambi lempit Indriani.
Pak Adam mengancam akan melakukannya lagi, dan dengan kepergian Indra selama beberapa hari ini, tentunya amat mudah bagi Pak Adam memperoleh kesempatan untuk menidurinya lagi. Indriani berusaha mencari cara untuk melarikan diri dari terkaman nafsu sang ayah mertua. Untungnya ayah mertuanya yang bejat itu seharian pergi entah kemana.
Sudah sepanjang pekan Indriani kesulitan menghubungi Mbak Stella, sejak kunjungannya yang terakhir kali, mereka tidak pernah bertemu lagi, kalaupun berhubungan hanya melalui sms singkat menanyakan kabar. Mungkin Mbak Stella dan Mas Rendra sedang sibuk sehingga jarang berada di rumah.
Satu-satunya harapan Indriani kini ada pada Dina. Tadi pagi Indriani sudah berusaha menghubungi Mbak Dina. Tapi ada sesuatu yang aneh dari nada suaranya. Kakaknya itu biasanya senang kalau ditelpon Indriani atau Stella, tapi hari ini sangat lain, sepertinya ada beban berat yang tengah dipikul Mbak Dina.
“Mbak, aku boleh tidur di sana seminggu ini? Paling tidak sampai Mas Indra pulang. A-aku takut di rumah sendirian, Mbak..” tanya Indriani saat menelpon Dina.
“Eh.. ehm.. gimana ya.. ehm.. a-aku..” Dina terbata-bata menjawab.
Indriani mengernyitkan dahi. Aneh sekali, ada apa dengan kakaknya itu? Tidak biasanya Mbak Dina terbata-bata saat menerima telepon darinya. Pasti kakaknya itu tengah menghadapi satu masalah yang sangat berat.
“Mbak Dina? Mbak kenapa?” tanya Indriani.
“Eh.. ehm, aku nggak apa-apa kok. Hanya saja untuk beberapa hari ini aku tidak bisa menerima tamu, dik. Karena.. ehm.. karena.. karena.. aku dan Mas Hasan sangat-sangat sibuk, iya, kami sangat sibuk. Bahkan untuk mengurus anak-anak saja tidak sempat dan.. dan.. lalu.. ehm..” ujar Dina terbata-bata.
“Oh ya sudah kalau begitu. Mbak Dina masih sibuk ya? Nggak apa-apa kok, Mbak. Aku juga nggak pengen nggangguin kalau Mbak Dina lagi sibuk..” ucap Indriani jadi tidak enak hati.
Tapi sebagai seorang adik yang hapal dengan sikap dan sifat kakaknya, Indriani tahu ada sesuatu yang tidak beres di rumah Dina. Itu sebabnya kakaknya itu menolak kedatangannya. Belum pernah seumur hidupnya Dina menolak kehadiran Indriani, Stella ataupun keluarga yang lain. Indriani paham benar ada masalah berat yang tengah dihadapi kakaknya. Dengan berat hati karena kecewa gagal melarikan diri dari rumah, Indriani pun pamit.
“Kalau begitu, nanti aku telepon lagi yah, Mbak..” ucap Indriani.
“I-iya, dik. Sori banget yah. Aku baru..” jawab Dina terputus.
“Iya Mbak, nggak apa-apa. Dah Mbak Dina..” mencoba memahami situasi yang dihadapi oleh Dina.
“Dah Indri..” balas Dina.
Kekhawatiran mulai merasuk ke diri Indriani.
Bersambung… **Dina Kania**
Dina menghapus air matanya kemudian naik ke atas ranjang lalu mendekap tubuh Pak Michael, dan membaringkan kepalanya di dada atasan suaminya itu. Beberapa menit kemudian Dina mengelus selangkangan Pak Michael dan menggenggam batang rudal Pak Michael, Pak Michael membalas dengan senyuman dan belaian lembut kepala Dina lalu mencium pucuk kepala ibu muda cantik yang itu.
Dina bangkit dan duduk di samping tubuh Pak Michael lalu tangannya melepas kancing baju Pak Michael satu persatu, setelah semua kancing terlepas Dina meloloskan baju itu dari tubuh Pak Michael. Kemudian wanita cantik itu menatap pada rudal besar Pak Michael yang mulai ereksi kembali, hati Dina tertantang untuk mencoba mengulumnya. Wanita cantik itu menurunkan kepalanya dan membuka mulut untuk mengulum rudal Pak Michael. Tapi baru beberapa kali kepala Dina naik-turun Pak Michael meminta Dina berhenti.
“Sudah cukup.. ayo.. kita mandi bersama..” ajak Pak Michael.
Dina tahu bahwa dirinya tidak bisa menolak permintaan Pak Michael maka dengan terpaksa Dina bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi diikuti oleh Pak Michael, setelah didalam kamar mandi Dina pun menyalakan shower dan air dari shower pun membasahi tubuh mereka berdua.
“Ambilkan sabun mbak Dina!” kata Pak Michael.
Dina pun mematikan air shower lalu meraih botol sabun cair dan menekan tutup botol sabun ke telapak tangan Pak Michael kemudian meletakkan botol sabun tersebut dipinggir bak mandi. Dina kaget ketika Pak Michael menyabuni tubuhnya, mulai dari punggung Dina kemudian leher lalu dadanya, Pak Michael pun sempat meraba dan meremas buah dada Dina untuk beberapa saat, mata wanita cantik itu tertutup ketika Pak Michael meremas buah dadanya dengan sabun.
Kemudian tangan Pak Michael turun menyabuni perutnya, pinggul dan kemudian beralih ke pantatnya yang bulat dan mulus dan Pak Michael beberapa kali meremas pantat mulus milik istri Hasan, sesaat kemudian Dina merasakan satu telapak tangan Pak Michael sudah meraba selangkangannya dan menggosok serambi lempitnya. Mata Dina kembali terpejam menikmatinya, Pak Michael melihat dan mengetahui bahwa Dina sedang menikmati rangsangan pada tubuhnya maka jemarinya pun menekan klitoris wanita cantik didepannya.
“Aaccchhhh.. Pak..” akhirnya istri Hasan melepas desahannya tak kuasa menahan nikmat.
Dina membuka kedua matanya dan meyakinkan diri bahwa semua sudah terjadi, dirinya tadi sudah menikmati rudal Pak Michael dengan serambi lempitnya bahkan mulutnya pun telah mengulum rudal bos dari suaminya itu maka tanpa merasa bersalah yang telah mengkhianati suaminya kemudian Dina pun tersenyum manis sambil menatap pada Pak Michael.
Tangannya menekan tutup botol sabun sehingga cairan sabun jatuh pada salah satu telapak tangannya kemudian Dina pun menyabuni tubuh Pak Michael seperti yang dilakukan oleh Pak Michael pada tubuhnya hingga kemudian tangan Dina menyentuh rudal Pak Michael, tersenyum pada atasan suaminya. Tangan Dina perlahan mengocok rudal dalam genggamannya untuk beberapa saat lalu masih sambil menggenggam rudal Pak Michael Dina berjalan ke bawah shower dan menyalakan kembali maka air shower tersebut membilas tubuh mereka.
Tangan Dina tidak lepas dari rudal Pak Michael, setelah tubuh mereka bersih dari busa sabun maka Dina menurunkan tubuhnya dan berjongkok di depan Pak Michael, Dina melihat rudal Pak Michael kembali mulai ereksi. Mendongak menatap pada Pak Michael dengan senyuman manis kemudian Dina pun menjulurkan lidahnya menyentuh lubang di ujung rudal Pak Michael lalu menjilat kepala rudal Pak Michael dan juga batangnya.
Sesaat kemudian Dina membuka mulut dan memajukan kepalanya sehingga rudal Pak Michael masuk kedalam mulutnya. Dina bergerak maju-mundur untuk mengulum rudal Pak Michael hingga beberapa saat kemudian rudal bos Hasan itu mengeras dan membesar dalam mulutnya.
Pak Michael memegang kepala Dina dan mendorong perlahan mengikuti gerakan Dina, Pak Michael mempercepat gerakan kepala Dina maju-mundur menyepong rudalnya, rudal Pak Michael dirasa Dina semakin keras dan berdenyut, wanita cantik itu tahu Pak Michael akan orgasme lagi maka dia bermaksud untuk melepaskan rudal Pak Michael dari mulutnya tetapi Pak Michael menahan kepala Dina lalu menusukkan rudalnya kedalam mulut wanita cantik itu menyemprotkan air maninya didalam mulut Dina.
Ketika semprotan air maninya berhenti Pak Michael menarik rudalnya keluar dari mulut Dina, beberapa tetes air mani Pak Michael keluar dari sela bibir Dina.
“Telan spermaku mbak Dina.. telan semuanya..” ucap Pak Michael.
Dina yang sudah bertekad untuk mengikuti semua permintaan Pak Michael pun menelan semua air mani Pak Michael didalam mulutnya dan menjulurkan lidah menjilat air mani Pak Michael yang keluar dari sela bibirnya. Setelah menelan semua sperma Pak Michael tanpa diminta Dina menggenggam batang rudal Pak Michael lalu memasukkan lagi kedalam mulutnya dan dengan lidahnya memutari rudal atasan suaminya tersebut didalam mulut untuk beberapa saat.
Setelah melepas rudal Pak Michael Dina pun berdiri dan berjalan mengambil handuknya kemudian kembali dihadapan bosnya Hasan lalu mengeringkan tubuh pria tua didepannya setelah tubuh Pak Michael kering maka Dina mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang sama. Keluar dari kamar mandi mereka berjalan beriringan sambil menggenggam tangan layaknya sepasang kekasih menuju ranjang.
Dina merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan kedua kakinya terbuka memperlihatkan serambi lempitnya yang menggoda semua pria normal yang melihatnya ditambah rambut disekitar serambi lempitnya yang masih sedikit basah sehingga sungguh mempesona Pak Michael yang menatapnya.
“Naik sini.. Bapak sayang.. Dina udah pengen..” ucap Dina senyum menggoda dan kedua tangannya meraba buah dadanya.
Pak Michael pun tersenyum dan mengangguk lalu menyusul Dina keatas ranjang lalu pria tua itu mendekap tubuh telanjang Dina dan melumat bibir ibu muda cantik dibawah tubuhnya. Dina menyambut lumatan bibir Pak Michael dengan membuka mulut dan membiarkan lidah atasan suaminya itu menjelajah rongga mulutnya dan tangan kanan Dina meraba selangkangan pria tua diatas tubuhnya, tangan kirinya merangkul pundak Pak Michael. Mereka saling bercumbu dengan penuh nafsu untuk waktu yang cukup lama, Dina merasa rudal Pak Michael sudah ereksi dan mengeras.
“Pak Michael sayang.. masukin sekarang ya.. Dina pengen disetubuhi oleh Bapakku sayang.. pengen serambi lempit Dina ditusuk rudal..” ucap Dina.
Pak Michael memposisikan tubuhnya diantara kedua kaki Dina yang terbuka, Dina pun menuntun rudal besar Pak Michael ke bibir serambi lempitnya dan memasukkan kepala rudal besar pria tua itu di belahan bibir serambi lempitnya sehingga kepala rudal Pak Michael dijepit oleh bibir serambi lempitnya. Pak Michael menurunkan pinggulnya perlahan maka rudal besar milik atasan Hasan amblas ditelan liang serambi lempit Dina.
Pak Michael menggerakkan pinggulnya naik-turun menggenjot serambi lempit Dina, ibu muda cantik itu memeluk tubuh pria tua atasan suaminya dan mencium bibirnya.
“Aaccchhhh.. Bapak.. ssttt.. sayang.. occhhh.. enak banget.. hhmmm.. ya.. ooccchhhh..” desah Dina nikmat yang dirasakan oleh tubuhnya ketika Pak Michael terus menghujam keras kedalam liang serambi lempitnya.
Beberapa menit kemudian Pak Michael mencabut rudalnya dari liang serambi lempit Dina, pria tua itu membalikkan tubuh istri Hasan itu, Dina mengerti apa yang diinginkan oleh Pak Michael pun menungging bertumpu pada lutut dan sikutnya. Pak Michael kemudian menghunus rudal besarnya kedalam liang serambi lempit Dina lalu memaju-mundurkan pinggulnya menggenjot tubuh Dina.
“Occhhh.. sayang.. teeruussss.. lebih cepat dan keras.. aaccchhhh..” erang Dina.
“Mbak Dina sayang.. tubuhmu sungguh mempesona dan serambi lempitmu sungguh nikmat sekali.. nikmati menyetubuhi denganku Mbak Dina sayang..” kata Pak Michael.
“Ooccchhhh.. i.. iya.. nikmat banget.. aku mau keluar.. acchhh..” desah Dina.
Dina merasa sesuatu dorongan yang kuat ingin keluar dari liang serambi lempitnya berkumpul pada satu titik.
“Ooccchhhh.. teeruussss.. aaccchhhh.. lebih cepat dan keras sayang.. aaaaccccchhhhhh..” erang Dina mendapat orgasme.
Sesaat kemudian tubuh Dina menjadi lemas sehingga tubuhnya roboh diatas kasur empuknya, Pak Michael menghentikan genjotannya memberi jeda untuk Dina menikmati orgasmenya. Pak Michael mencabut rudalnya dan berbaring diatas kasur empuk sang wanita cantik, Dina yang sudah bisa menguasai tubuhnya dari kenikmatan orgasme yang baru saja ia peroleh kemudian merangkak keatas tubuh Pak Michael dan memposisikan selangkangannya diatas rudal besar milik atasan suaminya.
Dina mengarahkan kepala rudal Pak Michael ke bibir serambi lempitnya dan perlahan Dina menurunkan pinggulnya sehingga rudal besar pria tua itu kembali menerobos kedalam liang serambi lempitnya. Ibu muda cantik itu pun menggerakkan pinggulnya naik-turun memompa rudal Pak Michael.
Pria tua itu meremas kedua buah dada Dina yang padat dan kenyal dengan keras sementara Dina terus bergerak memompa rudal Pak Michael dengan serambi lempitnya naik-turun.
Beberapa menit kemudian Dina merasakan rudal besar milik atasan suaminya semakin keras dan berdenyut didalam liang serambi lempitnya, Dina mempercepat gerakan pinggulnya menggenjot rudal Pak Michael.
“Uuhhh.. Mbak Dina.. terimalah pejuhku.. sayang.. aaaaccccchhhhhh..” teriak Pak Michael kemudian menyemburkan pejuhnya didalam liang serambi lempit Dina.
Beberapa saat setelah semburan pejuh hangat berhenti, Dina merasa rudal besar milik atasan suaminya mulai mengecil sehingga terlepas dari serambi lempitnya dan pejuh Pak Michael meleleh keluar dari liang serambi lempitnya. Dina merebahkan tubuhnya disamping Pak Michael.
“Mbak Dina sayang.. terima kasih.. aku sangat puas menyetubuhi dengan kamu.. Mbak Dina luar biasa nikmat yang kamu berikan.. Mbak Dina sungguh hebat dan luar biasa..” puji Pak Michael lalu memeluk tubuh Dina dan mencium kening dan bibir istri Hasan.
“Sama-sama sayang.. aku pun merasa sangat senang dan nyaman tubuhku bisa memuaskan Bapakku sayang..” balas Dina yang juga mencium bibir Pak Michael atasan suaminya dengan mesra.
Sambil berpelukan dalam ketelanjangan Dina menarik selimutnya lalu mereka pun tertidur.
**Stella Wijaya**
Stella menguap usai menonton film malam di televisi, karena sudah merasa mengantuk maka dimatikannya pesawat tv. Film yang diputar mulai jam 23.00 itu baru usai jam 01.00 dinihari. Rendra sudah terlelap setelah kelelahan seharian bekerja, Kylie juga sudah nyenyak di kamar.
Hanya tinggal Stella sendiri yang belum tidur. Akhir-akhir ini Stella mengalami kesulitan tidur, mungkin karena trauma akibat insiden yang dialaminya. Stella telah diperkosa oleh Pak Kuncoro, salah seorang tetangga di komplek.
Saat hendak melangkah dan mematikan lampu, tiba-tiba saja HP-nya berdering. Dengan langkah yang sedikit malas karena sudah sangat mengantuk, Stella meraih HP-nya di meja. Siapa yang menelpon jam segini? Stella terkejut melihat nama yang muncul bertuliskan ‘Pak Kuncoro’.
‘_Mau apa Pak Kuncoro menelepon malam-malam._’ gumam Stella mulai khawatir.
“Halo?” ucap Stella setelah menekan tombol hijau dari layar HP.
“Suaramu merdu sekali, manis..” ucap Pak Kuncoro terdengar suara dengung lembut khas telepon genggam di telinga Stella.
Sudah beberapa hari ini baik Pak maupun Bu Kuncoro tidak terlihat datang ke rumah Stella dan Rendra. Sejak hari naas bagi Stella itu, hanya sekali Bu Kuncoro datang ke rumah. Stella merasa lega karena berharap Pak Kuncoro lupa akan niatnya yang jahat. Sayangnya harapan Stella tidak terwujud.
Suara Pak Kuncoro yang berat membuat jantung Stella langsung berdebar-debar. Seketika itu juga rasa kantuknya menghilang. Stella mengintip ke arah kamar tidur dan berharap mudah-mudahan Rendra tidak terbangun.
“Akhir-akhir ini aku sangat sibuk bekerja sampai-sampai tidak sempat mengunjungi Mbak Stella lagi. Jangan takut, aku akan selalu ingat saat-saat indah kita bermain cinta, sayang..” ucap Pak Kuncoro.
“Pak Kuncoro sudah gila? Menelponku jam segini?” Stella mendesis marah.
Suaranya bergetar karena ketakutan.
“Aku rindu kehangatan tubuhmu sayang.. pengen menyetubuhi denganmu lagi malam ini. Bagaimana kalau Mbak Stella datang ke pos kamling yang sepi di ujung gang? Aku pengen memeluk tubuhmu yang seksi itu untuk menghangatkan diri di malam dingin ini..” ujar Pak Kuncoro.
“Sekarang?! Pak Kuncoro benar-benar sudah gila ya?” Bisik Stella sepelan mungkin.
“Stella? Sayang? Ada telpon ya? Dari siapa malam-malam begini?” tanya Rendra dari dalam kamar. Untunglah Rendra tidak terbangun. Dia hanya bertanya dari tempatnya berbaring.
“Bu-bukan siapa-siapa, sayang. Salah sambung. Tidur saja lagi.” jawab Stella.
“Aku belum gila, sayang. Cuma lagi pengen menyetubuhiin kamu saja. Sudah dua hari ini aku tidak melihatmu, padahal aku selalu membayangkan tubuh indahmu yang telanjang dan bermandikan keringat. Aku selalu teringat suaramu merintih nikmat saat rudalku menembus serambi lempitmu yang wangi itu. Aku juga yakin kamu merindukan rudalku menusuk kedalam serambi lempitmu..” ucap Pak Kuncoro terkekeh-kekeh.
“Ya sudah. Aku tidur lagi ya..” kata Rendra.
Rendra menutup kembali tubuhnya dengan selimut. Dia sudah terlampau capek sehingga tidak bisa bangun.
“Dengar, Pak Kuncoro. Aku tidak mau melakukannya lagi. Tidak mungkin. Apalagi sekarang ?! Bapak tahu ini jam berapa? Aku juga tidak pernah menginginkan rudalmu..” bisik Stella supaya Rendra tidak curiga.
Dia takut suaminya itu belum benar-benar tertidur sehingga bisa mendengarkan percakapan ini.
“Sayang sekali. Aku yakin.. sekarang kamu pasti bisa mengingat saat-saat rudalku menembus serambi lempitmu. Bagaimana kamu mendesah nikmat ketika orgasme akibat tusukan rudalku. Jangan pura-pura tidak mau dan munafik. Apa perlu aku yang ke rumahmu sekarang? Apa perlu kamu aku hajar sekali lagi? Atau mungkin perlu besok aku membawa Kylie jalan-jalan dan meninggalkannya di tengah kota? ucap Pak Kuncoro mengancam.
Stella mulai berkaca-kaca menahan tangis. Dalam hati ia mengakui kenikmatan itu. Tidak ada jalan lain melepaskan diri dari ancaman maut Pak Kuncoro. Stella ketakutan, dia tidak mungkin menceritakan semua perkosaan yang dilakukan Pak Kuncoro pada Rendra karena takut pria tua yang sangat kasar itu akan menyakiti tidak saja dirinya tapi juga suami dan anaknya yang masih kecil, belum lagi iapun menikmatinya.
Stella hanya bisa pasrah. Ancaman Pak Kuncoro sangat nyata. Tubuhnya bersandar di dinding dengan lemas.
“Tidak.. jangan malam ini.. Pak Kuncoro.. aku mohon..” ucap Stella berharap Pak Kuncoro membatalkan niatnya.
“Sayang.. malam ini aku sedang merindukan tubuhmu.. serambi lempitmu.. aku ingin memenyetubuhimu malam ini. Baiklah kalau begitu aku akan mendatangi rumahmu..” kata Pak Kuncoro.
“Tidak perlu kemari. Aku yang akan segera ke sana.” desah Stella pasrah.
“Mbak Stella sayang..” ucap Pak Kuncoro.
“Ya?” jawab Stella.
“Datanglah menggunakan pakaian rumah paling seksi dan paling tipis yang kamu miliki dan juga jangan memakai BH dan celana dalam. Aku akan menunggumu..” ucap Pak Kuncoro.
“Aku tidak punya pakaian yang seksi dan tipis..” bisik Stella sambil mengintip ke arah kamar.
Rendra benar-benar sudah terlelap sekarang.
“Jangan bohong.. datanglah secepatnya.. aku sudah tidak sabar menunggu kamu menyajikan kemolekan tubuhmu yang indah untuk kunikmati..” ujar Pak Kuncoro.
“Aku tidak punya! Mas Rendra bukan orang yang pikirannya kotor seperti Pak Kuncoro! Dia menikahi aku karena mencintaiku, bukan hanya menginginkan tubuhku seperti Bapak!” balas Stella.
Stella takut pria tua itu marah karena nada suaranya meninggi. Tapi terdengar suara kekehan pelan yang menyeramkan.
“Hmm.. kalau begitu aku menyerahkan keputusan itu padamu, sayang. Pokoknya aku pengen kamu segera ke pos kamling pakai baju seksi, daster yang tipis juga boleh. Hahaha..” ucap Pak Kuncoro.
“Aku sudah bilang aku tidak pun..” ucap Stella menggerutu kesal.
“Aku tunggu di pos kamling paling lama 10 menit.. jika tidak aku akan mendatangi rumahmu.. Klek..” ucap Pak Kuncoro dan menutup telpon.
Tetesan air mata Stella mulai deras. Dengan sesunggukan istri Rendra itu berusaha bangkit, tapi tubuhnya tak mau beranjak dari dinding tempatnya bersandar. Kepalanya terasa berat dan jantungnya terus didera detakan bertubi.
Tiba-tiba telpon berbunyi kembali. Stella bergegas mengangkat telpon. Terdengar suara kekehan Pak Kuncoro.
“Ada apa lagi?! Apa bapak mau orang satu kampung ini bangun? Bapak pengen Mas Rendra tahu?” desis Stella marah.
“Aku cuma mau mengingatkan, kalau-kalau suamimu nanti terbangun dan kebingungan mencari-cari istrinya yang tidak ada di rumah. Rendra pasti kalut. Kamu harus mencari alasan yang tepat untuk mengelabui Rendra karena aku pengen pakai serambi lempitmu agak lama malam ini.” ujar Pak Kuncoro.
“Apa yang harus aku katakan pada Mas Rendra?” tanya Stella.
Terdengar suara dari kamar. Hendra bergerak lagi.
“Stella? Sayang? Ada telpon lagi?” tanya Rendra dari kamar.
Sambil berharap Rendra tidak bisa menangkap getar rasa takut dari suaranya, Stella menengok ke arah kamar.
“Ti-Tidak apa-apa kok, sayang. Bener. Tidur aja lagi.” ucap Stella kepada Rendra.
“Bilang saja Bu Kuncoro lagi sakit atau apa. Pikirkan sesuatu. Kamu kan pintar.” Klek. Sekali lagi Pak Kuncoro menutup telepon.
Stella kembali ke kamar dengan perasaan kacau. Dia berpikir dengan keras. Apa yang harus dikatakannya pada Rendra? Dia harus punya alasan secepat mungkin. Perlahan Stella berjalan ke ranjang dan duduk di samping Rendra memeluk selimutnya erat.
“Siapa yang telepon?” tanya Rendra.
Matanya masih tertutup. Stella mengelus rambut suaminya dengan penuh sayang. Rendra memeluk tubuh sintal istrinya.
“Itu tadi Pak Kuncoro..” jawab Stella mencoba mencari alasan, paling tidak memang benar Pak Kuncoro yang menelponnya.
“Dia baru bepergian jauh dan dia telpon dari rumah, katanya Bu Kuncoro sakit. Aku disuruh menengok dan menemani Bu Kuncoro malam ini. Paling tidak sampai Pak Kuncoro datang. Boleh?” kata Stella minta ijin suaminya.
“Boleh saja. Bu Kuncoro kan sudah banyak menolong kita. Perlu aku antar?” ucap Rendra.
“Tidak usah. Mas Rendra kan capek dan besok pagi harus berangkat ke kantor. Kalau aku besok bisa berangkat agak siang..” balas Stella.
Stella membungkuk dan mencium bibir Rendra. Pria itu tersenyum saat merasakan sapuan bibir mungil Stella yang basah.
“Aku sayang Mas Rendra..” ucap Stella setelah mencium bibir suaminya.
Untung saja Rendra terlelap dan tidak membuka mata sehingga tidak bisa melihat Stella yang hampir menangis.
“Aku juga sayang kamu..” balas Rendra lalu menguap.
“Mudah-mudahan Bu Kuncoro tidak apa-apa. Kalaupun tidak bisa ditinggal, kamu tidur di sana saja malam ini. Kasihan Bu Kuncoro sendirian. Pak Kuncoro kemana sih, kok istri sakit ditinggal sendiri?” lanjut Rendra.
“Mau mencari obat katanya. Katanya tadi sih begitu..” ucap Stella berbohong.
Dia merasa sangat bersalah pada Rendra. Suaminya itu tidak tahu, kalau lelaki tua yang disebutkan namanya itu sebentar lagi akan melesakkan rudalnya dalam-dalam di serambi lempit Stella.
“Baiklah, hati-hati di jalan ya. Sorry.. aku mengantuk sekali.” Rendra berbalik dan perlahan tenggelam lagi dalam tidurnya.
Setelah Rendra terlelap, Stella mulai membuka lemari pakaian dan mencari-cari baju. Pak Kuncoro tidak menginginkan Stella mengenakan BH ataupun celana dalam, tapi Stella tidak mau ambil resiko. Diambilnya satu celana dalam G-String transparan yang sudah tidak pernah dipakainya sejak sangat lama. Rendra membelikannya saat bulan madu.
Untung saja, Stella bukanlah tipe wanita yang melar tubuhnya saat melahirkan ataupun berubah ukuran celananya dengan drastis. Walaupun agak kesempitan, tapi celana dalam itu pasti masih cukup dikenakannya.
Stella mengambil daster terusan yang ada di dalam lemari. Dengan 2 tali dipundak. Selain itu dengan daster yang sedikit longgar di bagian leher dan bahu, belahan dada Stella akan terlihat sangat menantang, belum lagi bagian bawah daster sangat pendek hingga hanya bisa pas menutup sampai selangkangan Stella.
Kalau dia membungkuk sedikit pasti celana dalamnya kelihatan. Itulah yang menurutnya paling seksi yang ia miliki. Daster itu tipis sekali, sehingga dengan cahaya seredup apapun, kemolekan lekuk tubuh Stella akan terlihat menerawang. Saat melangkah ke pintu depan, terdengar suara panggilan kecil dari kamar Kylie.
“Mama?” suara Kylie memanggil.
Stella berbalik dan menemui Kylie yang terbangun.
“Shhh. Tidur lagi yah sayang..” bisik Stella sambil memeluk dan mencium putri tersayangnya. Kylie langsung terlelap dengan cepat. Si kecil itu tidak merasakan lelehan air mata yang menetes di pipi sang ibu.
Bersambung… KENIKMATAN DARI PARA PRIA TUA
**Indriani Suseno**
Jam dinding sudah menunjukkan angka melebihi tengah malam saat Indriani mendengar pintu depan terbuka. Indriani yang kelelahan tertidur di sofa di depan pesawat televisi setelah menonton acara hiburan malam. Karena masih mengantuk, Indriani sedikit lambat bangun dari sofa dan lupa menghindari pertemuan dengan ayah mertuanya.
Pria gemuk dan botak itu langsung mencari menantunya yang molek. Pak Adam berhasil meraih lengan Indriani dan membungkukkan badan Indriani di dekat anak tangga menuju ke lantai atas sebelum si cantik itu berhasil lari ke kamar atas.
“Bapak! Apa yang bapak lakukan!? Aku tidak mau melakukannya lagi! Ini nista! Zina!” Indriani menjerit dan meronta mencoba melepaskan diri dari pelukan mertuanya.
“Percuma kamu menjerit. Di rumah ini cuma ada kamu dan aku, toh?” ucap Pak Adam.
Indriani mencoba meronta lebih keras lagi namun gagal, semua usahanya sia-sia. Dengan sekali sentak, Pak Adam menarik tubuh Indriani dan melemparnya ke atas sandaran empuk sofa yang berada di dekat mereka. Tubuh Indriani melayang dan mendarat hanya bertumpukan perut yang sekarang berada di atas bagian sandaran empuk sofa. Wanita cantik itu tersentak dan hampir muntah.
Setelah mengunci tubuh Indriani dengan kedua kakinya, dengan cekatan Pak Adam melucuti blouse yang dikenakan menantunya. Mertua yang sudah gelap mata itu menarik bra yang menutup kedua buah dada Indriani hingga putus dan menggunakannya untuk mengikat tangannya. Kecepatan tangan Pak Adam menarik bra dan melucuti blouse membuat Indriani kagum sesaat, seakan-akan pria tua itu sudah sering melakukan hal ini sebelumnya.
Pak Adam menarik rok pendek yang dikenakan Indriani ke pinggang dan dengan kasar melucuti celana dalamnya. Indriani berusaha keras menendang ayah mertuanya, tapi karena posisinya yang kurang pas, Pak Adam bisa menghindar. Setelah seluruh kemolekan tubuh Indriani terekspos, Pak Adam dengan leluasa bergerak bebas. Ia segera menampar pantat Indriani yang montok, bulat dan padat dengan sekeras mungkin.
“Aduh.. awww..” Indriani menjerit kesakitan.
Sayang, hal itu malah menambah semangat Pak Adam yang kemudian tertawa terbahak-bahak dan mengulangi tamparannya beberapa kali lagi. Saat ia puas melakukannya, pantat Indriani memerah karena sakit dan istri Indra yang seksi itu hanya bisa sesunggukan menahan air mata. Pak Adam menarik rambut Indriani dan membalik kepalanya sehingga mereka bisa saling berhadapan.
“Itu hukuman buat menantu nakal yang menghindari ayah mertuanya yang sudah kangen pengen menyetubuhi. Jangan pernah lari dariku lagi! Mengerti? Sekarang coba tebak apa yang bapak bakal lakukan sama kamu? Hahaha..” Pak Adam tertawa terbahak-bahak melihat wajah Indriani yang memelas dan bersimbah air mata.
“Bapak bakal entotin kamu sampai kamu tidak bisa berdiri tegak lagi! Paham! Kamu harus mau Bapak entot kapanpun Bapak mau dan jangan pernah melawan atau menghindar lagi. Mengerti!” ujar Pak Adam lanjut.
Setelah mengatakan itu, Pak Adam melepaskan jambakannya pada rambut Indriani dan merenggangkan kedua kakinya melebar. Dia kini memiliki akses penuh ke serambi lempit Indriani yang sudah terekspos menantang. Pria tua menggunakan jempol tangannya untuk membuka lebar-lebar bibir serambi lempit Indriani. Pak Adam segera membuka celananya dan seketika rudalnya ternyata sudah mengeras keluar dari sarang. Tanpa basa-basi lagi, Pak Adam melesakkan rudalnya ke dalam serambi lempit Indriani dengan satu sentakan yang sangat menyakitkan Indriani.
Wanita cantik itu menjerit kesakitan dan berusaha keras melepaskan diri dari mertuanya, tapi usahanya kembali gagal. Pak Adam menarik rudalnya dan kembali dia tusukan ke dalam serambi lempit Indriani keras-keras.
“Awww.. sakit..” Indriani menjerit kesakitan karena liang rahimnya belum terlumas secara menyeluruh, sehingga penetrasi yang dilakukan Pak Adam membuatnya sangat kesakitan.
“Hahaha.. makanya lain kali kalau Bapak pengen menyetubuhi jangan coba-coba melawan..” Pak Adam kembali tertawa terbahak-bahak melihat menantunya menjerit-jerit tanpa daya.
Tangan Pak Adam mencoba meraih buah dada Indriani yang bergelantungan. Setelah mendapatkan yang dicari, tangan gemuk Pak Adam mulai meremas-remas serta memilin buah dada Indriani seiring gerakan rudalnya yang keluar masuk di liang cinta sang menantu. Indriani menangis dan terus memohon pada Pak Adam agar menghentikan perbuatannya, tapi yang dilakukan mertuanya yang gila itu malah terus menjejalkan rudalnya ke dalam serambi lempit Indriani. Sempitnya liang serambi lempit sang menantu membuat Pak Adam serasa terbang ke langit nirwana.
“Acchhh.. ssttt.. occhhh..” desah Indriani sesaat.
Kemudian saat-saat yang ditakutkan Indriani akhirnya datang juga. Wanita cantik bertubuh indah mulai merasakan kenikmatan merambat naik ke seluruh penjuru badan. Mulai dari rangsangan Pak Adam yang meremas-remas buah dadanya sampai kecepatan rudal sang mertua yang masih terus keluar masuk lubang serambi lempitnya. Entah kenapa Indriani mulai menikmati perlakuan seperti ini. Rasa takut dan bersalah yang ada di benak Indriani bertarung dengan rasa nikmat yang melanda seluruh tubuhnya.
Ada kenikmatan unik yang bercampur antara rasa sakit dan kenikmatan luar biasa yang diberikan oleh sang ayah mertua. Istri Indra itu makin kebingungan saat Pak Adam akhirnya menyemprotkan maninya ke dalam liang rahim Indriani. Dia bingung karena entah harus merasa lega atau malah kecewa karena belum orgasme tetapi mertuanya yang keji sudah lebih dulu klimaks. Tubuh Pak Adam menegang dan sesaat kemudian rudalnya mengecil.
Dengan diiringi suara meletup yang nyaring, mertua Indriani itu menarik rudalnya dari serambi lempit sang menantu. Istri Indra berbaring di atas sofa dengan perasaan campur aduk. Dia merasa lelah dan malu. Indriani merasakan sentakan kecil dalam tubuhnya, hampir saja si cantik itu mencapai puncak kenikmatan andai mertuanya menghunus rudalnya beberapa kali lagi.
Pak Adam berjalan mengitari sofa menuju ke arah Indriani. Sekali lagi mertua cabul itu menjambak rambut Indriani dan menarik kepalanya. Dengan terpaksa Indriani duduk di sofa sementara Pak Adam berdiri. Kepala Indriani tepat berada di depan selangkangan Pak Adam.
“Bersihkan rudalku..” perintah sang mertua.
“Apa?!” seru Indriani heran.
Dia tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Walaupun sudah mulai mengecil, tapi rudal Pak Adam itu masih cukup keras dan belepotan air mani. Tangan Indriani masih terikat oleh bra-nya sendiri sehingga dia tidak bisa banyak bergerak.
“Jilati rudalku sampai bersih. Cuma gitu aja kok repot? Lebih baik cepat kau lakukan apa yang aku suruh sebelum sebagian pejuhku menetes di sofamu yang mahal itu dan menimbulkan noda! Kalau tidak mau, akan kuhajar kau malam ini juga!” ujar Pak Adam.
Karena rasa takut yang amat sangat, tidak ada jalan lain bagi Indriani kecuali menyerah. Sebagai pengantin baru, Indriani amat sering mengoral rudal suaminya, tapi hal itu bukanlah hal yang menyenangkan. Dengan perasaan segan, istri yang tadinya setia itu mulai menjilat ujung rudal ayah mertuanya yang masih belepotan air mani. Indriani membersihkan rudal Pak Adam dengan bibir dan lidahnya.
Pria tua itu merem melek karena akhirnya sang menantu tunduk di hadapannya. Perasaan nikmat karena disepong menyatu dengan pikiran erotis bahwa rudalnya sedang dijilati oleh menantunya sendiri yang luar biasa cantik dan seksi. rudal itupun perlahan kembali mengeras. Pak Adam menarik kepala Indriani dan menggerakkannya maju mundur.
Menantunya yang cantik itu hampir kehabisan nafas dan tersedak karena rudal Pak Adam terus didesak masuk makin dalam. Indriani merintih dan mencoba menarik kepalanya, tapi Pak Adam jauh lebih kuat darinya. Entah kenapa rintihan Indriani membuat Pak Adam berhenti mengeluarmasukkan rudalnya ke dalam mulut Indriani.
“Wah, sepertinya aku terlalu berlebihan ya? Untung kamu hentikan, soalnya kita belum selesai menyetubuhinya, toh?” kata Pak Adam.
Sebelum Indriani mampu berpikir jernih tentang apa yang dikatakan mertuanya, pria gemuk dan botak itu menarik tubuh sang menantu dan menyandarkannya ke tembok. Di samping pesawat televisi. Perasaan sesak yang diderita Indriani menyebabkan tubuhnya lunglai dan lemas sehingga tidak mampu berdiri tegak. Hal ini dimanfaatkan Pak Adam untuk melucuti seluruh pakaian menantunya hingga telanjang bulat. Pak Adam sendiri juga melepas seluruh pakaian yang dikenakannya dengan cepat dan mendorong tubuh Indriani mepet kembali ke tembok.
Tiba-tiba Pak Adam menampar Indriani. Lagi dan lagi. Dengan kasar Pak Adam menampar Indriani berulang-ulang kali. Indriani menjerit-jerit kesakitan dan mohon ampun. Airmatanya mengalir deras. Akhirnya Pak Adam menghentikan siksaannya.
“Jadi begini situasinya.” Bisik Pak Adam galak.
Wajahnya sangat dekat dengan Indriani sehingga wanita jelita itu bisa merasakan hembusan nafas penuh nafsu Pak Adam di pipinya.
“Aku masih terangsang dan pengen menyetubuhi denganmu lagi malam ini. Hanya saja karena aku baru saja orgasme, tentunya kali ini akan membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke klimaks kedua. Aku ingin mencapai orgasme keduaku malam ini, bahkan kalau untuk mencapai kesana aku harus entotin kamu sampai pagi. Aku harap kamu mau bekerja sama, karena kalau sampai aku tidak mencapai apa yang aku inginkan, aku akan menghajarmu sampai mati!” lanjut Pak Adam mengancam.
Indriani panik. Si cantik itu tidak tahu mertuanya itu serius atau tidak, tapi yang jelas tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri kecuali menurut pada permintaan Pak Adam.
“Jangan, Pak. Aku mohon.. aku mohon jangan sakiti aku lagi..” bisik Indriani lemah.
“Mengemis tidak akan mengubah pendirianku. Bahkan rengekanmu malah membuat rudalku jadi lemas lagi. Tentunya kamu tidak ingin itu terjadi setelah bekerja keras mengeraskannya dengan mulutmu. Ayo. menyetubuhi lagi.” ucap Pak Adam.
Dengan terpaksa Indriani menurut saat Pak Adam mengangkat tubuh telanjang sang menantu dan menyandarkannya ke tembok. Pak Adam melesakkan rudalnya masuk ke dalam serambi lempit Indriani dengan lebih lembut kali ini. Wanita cantik itu mengangkat kakinya dan mengaitkannya di pinggang Pak Adam sementara tangannya menggantung di leher ayah mertuanya, tangan Pak Adam sendiri menahan beban tubuh Indriani dengan mengangkat pantatnya. Rasanya luar biasa nikmat bagi keduanya berada dalam posisi seperti ini.
serambi lempit Indriani masih licin oleh air mani yang tadi disemprotkan Pak Adam ke dalam liang rahimnya sehingga dia bisa melesakkan rudalnya dengan mudah. Kali ini jejalan rudal sang mertua di dalam liang cinta sempitnya membuat Indriani merasa nyaman dan bergairah, seluruh tubuhnya bergetar merasakan liang rahimnya yang sempit kini meremas-remas rudal besar Pak Adam yang meraja di serambi lempitnya.
“Occhhh.. hhmmm.. aaccchhhh..” Indriani mendesah tak kuasa menahan nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dengan punggung Indriani bersandar pada tembok, kedua manusia berlainan jenis itu mulai bergerak bersamaan. Indriani mulai merasa nikmat karena Pak Adam kali ini memperlakukannya lebih lembut. Rasa sakit yang diderita kedua pipinya karena tamparan Pak Adam menghilang berganti rasa nikmat yang meraja di selangkangannya. Indriani berusaha keras menyembunyikan perasaan nikmatnya agar tidak terlihat terlalu jelas di depan sang mertua yang cabul.
“Occhhh.. ssttt.. hhmmm..” Indriani berusaha melawan rasa nikmat yang dirasakan dan berusaha menahan desahannya.
“Jangan dilawan.. nikmati aja menyetubuhi dengan Bapak.. ayoo.. Bapak yakin masih bisa memberikan kenikmatan padamu..” ucap Pak Adam pada menantunya.
Klitoris Indriani menempel di tubuh Pak Adam dan setiap gerakan keluar-masuk rudal Pak Adam membuat klitoris Indriani tergesek seirama, tambahan bulu-bulu halus yang menyentuh ujung klitoris Indriani membuatnya melejit ke awan-awan. Indriani memejamkan mata dan berusaha keras tidak mendesah keenakan.
“Mana susumu?” perintah Pak Adam lagi tiba-tiba.
Dengan wajah memerah karena terhina, Indriani menyorongkan buah dadanya dengan satu tangan ke arah mulut Pak Adam. Pria tua itu meringis penuh kemenangan dan menikmati wajah malu sang menantu. Dengan penuh nafsu, Pak Adam segera menyerang puting buah dada Indriani. Dia tidak lembut lagi kali ini, tapi sangat lihai memainkannya. Dia menarik dan menghisap puting itu dengan mulutnya, lalu menjilati pinggiran puting buah dada Indriani, setelah itu dia menggeluti puting itu dan menggigitinya dengan penuh nafsu.
“Occhhh.. aaccchhhh.. ooccchhhh..” desah Indriani.
Rangsangan yang dirasakan Indriani terlalu hebat sehingga menggiring wanita jelita itu ke puncak kenikmatan. Tanpa sadar dia menggerakkan pinggangnya lebih cepat dan kuku-kuku jarinya menancap di punggung Pak Adam sampai akhirnya Indriani orgasme.
“Ooccchhhh.. aaccchhhh.. oooooooohhhhhhh..” erang Indriani ketika orgasme dirasakan.
Indriani bisa merasakan serambi lempitnya meremas batang rudal Pak Adam dengan sebuah remasan hebat dan dia mulai merintih serta menjerit lirih penuh nikmat.
“Aaccchhhh.. ba.. bapak.. occhhh.. acchhh.. ooccchhhh..” Indriani teriak orgasme bertubi-tubi.
Akhirnya setelah selesai mengejang dan serambi lempitnya banjir cairan cinta, Indriani membuka matanya.
“Gimana.. nikmat bukan menyetubuhi dengan Bapak? Apakah Hasan pernah memberimu kenikmatan seperti ini?” ucap Pak Adam meringis penuh kemenangan.
Wajah Indriani semakin memerah karena malu, dalam hati mengakui bahwa kenikmatan yang tidak pernah ia dapatkan dari suaminya. Indriani mulai lupa bahwa yang sedang menikmati tubuhnya adalah mertuanya yang biadab, orgasme bertubi-tubi dan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya membuat Indriani memperat pegangan tangannya, pinggulnya bergerak menyambut rudal Pak Adam yang keluar-masuk di liang serambi lempitnya. Indriani merasa rudal mertuanya tetap keras dan masih terus menghunus serambi lempitnya.
“Occhhh.. hhmmm.. aaccchhhh..” desah Indriani selama rudal Pak Adam menghujam keras kedalam liang serambi lempitnya.
Tak lama setelah Indriani mencapai klimaks, Pak Adam dengan sengaja menarik rudalnya keluar Indriani terkejut. Pria tua itu lalu duduk di anak tangga. Dia memberi isyarat supaya Indriani menghampiri dan duduk mengangkanginya. Dengan patuh, menantu yang baru saja digauli sampai orgasme oleh mertuanya itu duduk berhadapan di pangkuan Pak Adam.
Indriani menurunkan badannya perlahan dan membiarkan rudal Pak Adam yang masih keras menusuk serambi lempitnya dari bawah.
Seluruh tubuhnya melejit begitu rudal besar itu menguasai bagian dalam lubang rahimnya. Rangsangan yang memberikan nafsu birahi dan kenikmatan pada Indriani kembali terpusat pada selangkangannya. Kali ini Pak Adam tidak perlu meminta karena Indriani tahu apa yang diinginkan mertuanya. Si cantik yang seksi itu pun bergerak naik turun dan mulai menyetubuhi mertuanya. Buah dada Indriani yang memantul-mantul terlihat sangat erotis di hadapan Pak Adam. Pria tua itu segera memainkan kedua buah dada Indriani dan menghisap putingnya dalam-dalam.
“Ooccchhhh.. bapak.. hhmmm.. aaaaccccchhhhhh..” Indriani melenguh manja dan merintih keenakan.
Dia tidak peduli lagi sedang dientot oleh mertuanya, seluruh pikirannya, seluruh kesetiaan dan perasaan bersalahnya seakan menghilang ditelan gelombang nafsu birahi yang diberikan ayah mertuanya. Semakin kasar perlakuan Pak Adam, semakin memuncak nafsu Indriani. Setelah beberapa lama tubuh Indriani meremas-remas rudal Pak Adam, akhirnya pria tua itu sampai juga pada ujung klimaksnya. Pak Adam meremas pinggul Indriani dan menyemprotkan air mani ke dalam lubang rahimnya.
Untuk beberapa saat lamanya Indriani dan Pak Adam berpelukan telanjang di anak tangga. Tubuh mereka basah bermandikan keringat dan nafas mereka mendengus karena kecapekan. Perlahan kesadaran akan kejadian yang telah berlaku menyentakkan Indriani. Dia kembali sadar akan nistanya perbuatan ini. Bagaimana mungkin dia malah melayani nafsu binatang sang ayah mertua? Kemana istri Indra yang telah bersumpah setia itu?
Indriani menangis sejadi-jadinya. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena terlena oleh nafsu birahi. Indriani meronta dari pelukan Pak Adam, mengumpulkan pakaiannya yang tercecer dan lari ke kamar, langsung menuju kamar mandi. Saat Pak Adam masuk ke kamar dan menyusul Indriani, istri Indra yang cantik itu tengah menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun. Wajahnya penuh dengan kemarahan dan perasaan geram.
“Enak juga punya menantu seksi kayak kamu. Tiap kali butuh menyetubuhi tinggal ambil. Beberapa hari lagi Indra baru pulang. Kalau tidak mau semua terbongkar, sebaiknya mulai sekarang kamu turuti kemauanku! Besok pagi kalau aku masuk ke sini, aku tidak ingin melihatmu mengenakan sehelai pakaianpun, mengerti? Aku ingin melihat tubuh indahmu telanjang dan jangan lupa untuk merentangkan kakimu lebar-lebar!” kata Pak Adam.
Mertuanya melangkah keluar kamar meninggalkan Indriani yang terhina, putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan diri dari situasi ini. Air mata menetes deras di pelupuk mata Indriani. Kisahnya masih jauh dari usai.
**Stella Wijaya**
Lokasi pos siskamling yang dimaksud oleh Pak Kuncoro ada di pojok jalan. Pos itu berbentuk bangunan kecil yang hanya memiliki dua jendela, satu di sisi kanan dan satu di kiri serta satu pintu di sisi luar sementara sisi lain menempel di tembok sebuah pagar beton tinggi milik rumah warga. Tidak ada apa-apa di dalam pos itu kecuali tikar, asbak dan kartu remi.
Stella sangat berharap, tidak ada orang lain yang berada di luar rumah malam itu kecuali dirinya dan Pak Kuncoro. Harapan Stella terkabul karena malam itu suasana sangat sepi. Hanya suara angin menggesek daun dan beberapa ekor kucing hilir mudik sambil mengeong mencari makan yang menemani suara jangkrik dan serangga malam lain.
Stella merasa aneh berjalan sendirian malam hari ini seperti ini dengan pakaian yang sangat tipis dan menerawang. Dia berjalan mepet di sisi tembok agar bisa bersembunyi di balik bayangan pagar yang tinggi. Walaupun suasana sepi, tapi Stella tidak mau mengambil resiko. Untung saja jarak antara rumah dan pos kamling tidak terlalu jauh.
Walaupun hanya mengenakan daster dan tidak mengenakan make-up apa pun, wajah Stella tetap mempesona. Hanya dengan memandangi keelokan paras dan keseksian tubuhnya saja, rudal tua Pak Kuncoro pasti sudah menegang. Bandot tua itu geleng-geleng.
Dia masih belum bisa mempercayai keberuntungannya. Pria tua buruk rupa seperti dirinya akhirnya bisa juga meniduri wanita cantik dan alim seperti Stella.
Terdengar suara ketukan pelan di pintu pos kamling. Pak Kuncoro segera membukanya. Stella terlihat sangat cantik dalam balutan daster tipis menerawang. Tubuhnya yang luar biasa indah terlihat semakin seksi dan kulitnya yang putih seakan menyala di kegelapan malam.
Dia terlihat bagaikan seorang bidadari yang baru saja turun dari khayangan. Pak Kuncoro terkekeh-kekeh melihat penampilan mempesona wanita yang akan segera disetubuhinya.
“Hehehe.. luar biasa, Mbak Stella. Benar-benar cantik dan seksi. Tidak sabar aku ingin menikmati tubuh indah Mbak Stella..” ujar Pak Kuncoro.
Stella terdiam dan memalingkan wajahnya yang memerah karena malu. “A-aku sudah datang kemari. Aku harap Pak Kuncoro…..” kata Stella belum selesai.
“Sstt, jangan membangunkan tetangga yang sudah tidur. Ayo masuk ke dalam.” potong Pak Kuncoro meminta Stella masuk kedalam pos.
Stella menurut saja dan masuk ke dalam pos kamling. Hanya berdua dengan bandot tua yang bejat itu membuat tubuh Stella menggigil ketakutan. Dia hampir tak percaya apa yang sedang dilakukannya. Stella dengan rela menyerahkan diri untuk digauli tetangganya yang buruk rupa sementara suaminya yang tampan sedang tidur di rumah.
Pak Kuncoro menutup pintu pos kamling dan menguncinya. Tak lupa dia juga menutup gorden agar tidak ada orang yang bisa mengintip adegan yang akan segera terjadi di dalam pos kamling ini.
Stella berdiri di tengah pos kamling sambil memeluk dirinya sendiri yang kedinginan terkena udara malam. Tubuh Stella masih terus bergetar, bukan dikarenakan oleh dinginnya semilir angin tapi karena perasaannya yang campur aduk.
“Hhhhmmmmm..” desah Stella lirih saat tubuh hangat Pak Kuncoro memeluknya dari belakang.
Pria tambun itu tidak perlu berbasa-basi dan ingin langsung menyantap hidangan utama yang lezat yang disuguhkan oleh ibu rumah tangga yang masih muda dan sangat cantik ini.
Tangan Pak Kuncoro bergerak menyusur seluruh tubuh Stella sementara dia menempelkan tubuhnya sendiri di belakang sang ibu muda yang molek itu. Stella memejamkan mata, setengah tak rela tubuhnya disentuh lelaki selain suaminya, setengahnya lagi menikmati rabaan Pak Kuncoro di setiap jengkal tubuhnya.
Stella makin merinding ketika pria tua itu mulai menciumi bagian belakang leher dan telinganya. Suara kecupan Pak Kuncoro menjadi satu-satunya suara yang mengisi sepinya malam itu.
“Aaaaccccchhhhhh..” Stella melenguh lagi saat Pak Kuncoro menempelkan rudalnya yang mulai mengeras di sela-sela pantat sang ibu muda.
Pria tua yang makin bernafsu itu menggerak-gerakkan rudalnya di belahan pantat Stella dengan gerakan yang lembut sementara bibirnya terus menciumi bagian belakang kepala Stella. Tangan Pak Kuncoro mulai bergerak bebas, meraba dan meremas buah dada Stella yang ranum meski masih tertutup oleh daster tipis.
Untuk beberapa saat lamanya Stella hanya berdiri di tengah pos kamling sementara Pak Kuncoro terus meraba-raba seluruh tubuhnya. Baru kali ini pria tua menjijikkan itu memperlakukannya dengan lembut.
Tak perlu waktu lama bagi Pak Kuncoro untuk segera melucuti pakaian yang dikenakan oleh Stella. Dia segera mendorong tubuh ibu muda jelita itu ke atas tikar yang kotor di lantai pos kamling. Satu persatu baju Stella dilucuti. Setelah pertahanan terakhir Stella yang berupa celana dalam mungil dilucuti oleh Pak Kuncoro, pria tua itu segera beraksi.
Pak Kuncoro menciumi ujung jari kaki Stella dan perlahan turun terus hingga ke daerah betis, lutut, paha dan akhirnya selangkangan Stella. Ketika sampai di daerah rambut halus bibir serambi lempit Stella, ibu muda itu menangis sesunggukan dan meremas ujung tikar dengan perasaan campur aduk, antara menikmati dan menolak.
Saat Pak Kuncoro menjilati serambi lempitnya yang harum, Stella menggerakkan pinggulnya tanpa sadar dan tubuh seksi wanita cantik itu melonjak-lonjak karena rangsangan luar biasa yang diakibatkan oleh jilatan lidah Pak Kuncoro.
Ketika masih meresapi nikmatnya cairan cinta yang meleleh di pinggir bibir serambi lempit Stella, Pak Kuncoro merasakan jemari Stella menjambak rambutnya. Pak Kuncoro gembira karena Stella rupanya telah tenggelam dalam nafsu birahi.
“Acchhh.. ja.. jangaaaan.. occhhh.. aku tidak mauuuuu!!! Oooooooohhhhhhh..” Stella megap sambil menggeleng kepala menolak kenikmatan badani yang tiba-tiba saja mencapai puncak dan menguasai tubuh indahnya.
Wanita cantik itu telah mencapai orgasme awal karena tidak bisa menahan gejolak nafsu birahinya sendiri sejak awal. Tubuh Stella melejit dan lepas dari pelukan Pak Kuncoro. Pria tua itu melepaskan Stella dan membiarkannya terbaring di tikar.
Mata Stella terbelalak dan tubuhnya menggigil karena ketakutan saat melihat Pak Kuncoro melucuti pakaiannya sendiri hingga telanjang dan kedua matanya tertuju menatap pada selangkangan Pak Kuncoro, rudal besar Pak Kuncoro yang beberapa hari lalu melesat kedalam liang serambi lempitnya sudah mulai ereksi, Pak Kuncoro bersimpuh di samping kepala Stella kemudian menyodorkan rudalnya ke mulut Stella.
“Isepin.. Mbak Stella.. bikin keras supaya nanti Mbak Stella bisa menikmatinya..” ujar Pak Kuncoro.
Stella tidak berani menolak kemudian membuka mulut dan membiarkan rudal besar Pak Kuncoro memasuki rongga mulutnya, Stella memaju-mundurkan kepalanya menyepong rudal Pak Kuncoro beberapa saat hingga rudal itu mengeras dan siap untuk melesat kedalam liang serambi lempitnya.
Pria tua yang bertubuh gemuk dan berkulit gelap itu menuju selangkangan Stella lalu berlutut dan menempelkan ujung gundul rudalnya yang basah di bibir serambi lempit Stella. Saat dilesakkan rudalnya ke dalam serambi lempit Stella, ternyata liang cinta ibu muda itu belum sepenuhnya terlumasi. Hanya sebagian saja dari keseluruhan batang kemaluan Pak Kuncoro yang bisa masuk.
“Acchhh.. jangaaaaan diteruskaaan.. saya mohon Pak! Sakiiiit!! Jangaaan.. pelaaan! Pelaaan sajaaa!! Jangaaaan!! Hentikaaan!! Hentikann!!” Stella menjerit lirih karena takut membangunkan penghuni komplek di sekitar pos kamling, tapi rasa sakit yang dirasakannya terlalu menyiksa sehingga air mata menetes di wajahnya.
Stella berusaha mendorong tubuh Pak Kuncoro menjauh darinya walaupun sia-sia. Stella hanya bisa menangis sesunggukan dan berusaha tabah saat Pak Kuncoro malah menyodokkan sisa rudalnya ke dalam serambi lempit Stella.
“Siap-siap digenjot ya, Bu Rendra?” ejek Pak Kuncoro yang sengaja memanggil Stella dengan nama suaminya. Wajah Stella memerah karena dipermalukan seperti itu.
Pak Kuncoro menarik kaki Stella yang jenjang dan menempelkannya di kedua sisi wajahnya. Ibu rumah tangga yang cantik itu harus merelakan tubuhnya dibolak-balik oleh Pak Kuncoro yang memang berniat menikmati seutuhnya kemolekan tubuh Stella.
Dengan kaki terangkat ke bahu Pak Kuncoro, Stella memejamkan mata karena tahu apa yang akan segera dilakukan pria tua itu. Pak Kuncoro menarik pinggul Stella dan menjebloskan rudalnya ke dalam serambi lempit Stella.
“Aaaaccccchhhhhh!!! Jangaaaaaaaann!! Sakiiiiiiiiiit!! Aduuuhhhhh.. jangaaaan… pelaaan sajaaa! Pelaaaan!!” pinta memelas Stella belum digubris oleh Pak Kuncoro.
“Teriakanmu semakin keras semakin membuat aku terangsang Bu Rendra..” ucap Pak Kuncoro kembali menyebut nama Stella dengan nama suaminya.
Teriakan dan desis perih Stella ibarat musik yang merdu di telinga Pak Kuncoro yang bejat. Mendengarkan suara wanita idamannya menjerit kesakitan dan menggeram karena merasakan desakan rudalnya di dalam serambi lempit Stella membuat Pak Kuncoro sangat terangsang.
Pak Kuncoro menarik sedikit batang rudalnya. Hal ini membuat Stella bisa bernafas sedikit lega, sayang tak berlangsung lama. Saat Stella masih terengah-engah dan menarik nafas, tiba- tiba Pak Kuncoro mendorong batang rudalnya masuk ke rahim Stella sampai ujung terdalam! Stella menjerit kesakitan saat rudal itu menguasai liang cintanya yang sempit.
“Hiiyyyaaaahhhhh!! Pelan Pak..” teriak Stella di tengah sepinya malam.
Dia sudah tidak peduli lagi kalau-kalau ada orang yang melewati pos kamling itu. Stella merasa kesakitan setiap kali Pak Kuncoro menusuk serambi lempitnya dengan keras.
“Pak.. aku mohon.. pelan-pelan aja.. aku akan menuruti kemauan Bapak.. aku dan Bapak.. kita akan bercinta sampai Bapak puas..” ucap Stella lirih dan memohon.
“Nikmati rudalku Bu Rendra.. aku akan memberimu kenikmatan..” ucap Pak Kuncoro.
“Bapak mau aku nikmati rudal Bapak panggil aku Stella.. bukan dengan nama suamiku..” balas Stella kemudian bangkit dan memeluk tubuh pria tua itu.
Stella menghujani wajah Pak Kuncoro dengan ciuman penuh nafsu dan merebahkan tubuhnya di atas tikar sambil menarik tubuh pria tua itu keatas tubuh telanjangnya dan kembali melumat bibir dan wajah Pak Kuncoro, kedua kakinya mengapit pinggul pria tua diatas tubuhnya, dan
rudal Pak Kuncoro masuk sepenuhnya ke lubang serambi lempit Stella. Sekali lagi wanita cantik itu merasakan pahitnya bersetubuh lelaki menjijikkan seperti Pak Kuncoro.
Bersambung… **Dina Kania**
Dina terbangun jam 9.00 ketika ia melirik jam dinding, Pak Michael terlebih dahulu bangun dan sedang mandi. Beberapa saat kemudian Pak Michael keluar dari kamar mandi.
“Mbak Dina sayang.. sudah bangun?” tanya pria tua itu melihat Dina duduk merenung diatas ranjang.
“Sudah.. Bapakku sayang.. aku mandi dulu ya..” balas Dina kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan hendak menuju kamar mandi.
Ketika hendak melewati tubuh sosok atasan suaminya itu, Pak Michael menahan tubuh Dina untuk masuk ke kamar mandi. Lalu pria tua itu menarik tubuh Dina kedalam pelukannya dan mencium bibir istri bawahannya.
Baru kemudian Pak Michael melepas tubuh Dina membiarkan ibu muda itu memasuki kamar mandi. Didalam kamar mandi ibu muda itu duduk didalam bathtub. Seandainya saja Dina mampu menolak setiap keinginan Pak Michael, dia akan melakukannya.
Tapi tiap kali pria tua berwajah garang dan berperawakan gagah itu menyentuh dirinya, Dina seperti takluk pada semua perintahnya. Dina juga sangat khawatir dengan aksi Pak Michael yang tidak menggunakan alat pengaman apapun saat menyetubuhinya.
Apa yang akan terjadi nanti seandainya Pak Michael menghamilinya? Bagaimana mungkin istri yang tadinya setia dan sangat alim itu terjatuh ke dalam jurang kenistaan dan berubah menjadi pekerja seks privat untuk Pak Michael?
Tanpa sadar, Dina menyelipkan jari jemarinya ke selangkangan saat membayangkan apa yang telah dilakukannya dengan Pak Michael. Jari jemari lentik ibu cantik itu menggosok lembut daerah bibir kemaluannya. Lama kelamaan jari itu masuk ke dalam liang cinta Dina.
Wanita jelita itu tenggelam dalam masturbasi sambil membayangkan sosok pria yang lebih pantas menjadi ayahnya yaitu Pak Michael sedang menyetubuhinya dengan penuh nafsu. Beberapa saat kemudian tubuh Dina bergetar dan membusungkan dadanya dan mendapat orgasme, Dina segera membersihkan tubuhnya dan keluar dari kamar mandi.
Duduk di depan meja rias, Dina menyisir rambutnya dengan rapi. Ibu muda yang jelita itu masih telanjang menatap muram refleksi dirinya di dalam cermin. Dina tidak mempercayai nasib buruk yang telah dialaminya selama beberapa hari terakhir.
Dina masih tetap cantik, masih tetap seksi, masih tetap molek dan masih tetap menggairahkan mata setiap orang yang menatapnya. Akan tetapi predikat istri setia dan ibu yang baik sudah jauh meninggalkan dirinya. Dina yang sekarang bukan lagi Dina yang lugu dan suci.
Dina yang sebelumnya tidak pernah disentuh pria lain itu bermain api dengan Pak Michael, atasan suaminya sendiri. Walaupun dua sekali disetubuhi, tetap saja Dina merasa sangat kotor, apalagi saat dengan kesadaran sendiri meminta Pak Michael untuk menyetubuhinya untuk menuntaskan hasrat nafsu birahi.
Pernikahannya dengan Hasan seakan lenyap terbakar hawa nafsu birahi yang menyala. Dina malu mengakui nikmat yang dirasakan saat disetubuhi laki-laki selain suaminya sendiri. Walaupun awalnya terpaksa melayani Pak Michael agar keluarganya selamat dari malapetaka, namun kenikmatan luar biasa yang dirasakan Dina saat melakukan affair dengan Pak Michael tetaplah tidak bisa disembunyikan begitu saja.
Berawal dari sebuah ancaman akan memenjarakan Hasan dan menyita seluruh harta mereka, Pak Michael kini menguasai seutuhnya jalan hidup ibu rumah tangga beranak satu itu. Dina takluk pada semua perintahnya termasuk menjadi budak seks pribadi Pak Michael.
Apa yang akan terjadi seandainya Hasan mengetahui semua kejadian ini? Tentunya dia akan langsung menceraikan Dina begitu tahu istrinya telah ditiduri Pak Michael atasannya. Dina bahkan sangat malu berhadapan dengan kakak dan adiknya seperti Stella dan Indriani. Sebisa mungkin mereka tidak terlibat dalam masalah ini.
Inikah sosok istri yang tadinya setia itu?
**Stella Wijaya**
Pak Kuncoro mulai memompa rudalnya dalam-dalam di serambi lempit Stella. Kenikmatan bersetubuh dengan Pak Kuncoro yang pernah dirasakan oleh Stella saat diperkosa pria tua ini kembali terulang. Pandangan mata wanita muda itu mengabur karena kenikmatan luar biasa yang ia rasakan.
Tubuhnya menjadi lemas, mulut Stella menganga keenakan dan rahangnya mengeras saat si cantik itu akhirnya menyerah pada kenikmatan yang diberikan Pak Kuncoro.
“Acchhh.. ooccchhhh.. aaccchhhh..” lenguh Stella pasrah saat pria tua itu menyetubuhinya.
Pak Kuncoro meremas buah dada Stella yang montok dan menjilatinya dengan lidah. Dia melakukannya dengan sedikit kasar karena gemas oleh keindahan buah dada Stella. Ibu rumah tangga yang cantik itu menarik nafas dalam-dalam karena bibir Pak Kuncoro yang besar seakan memoles seluruh buah dadanya dengan air liur. Jilatan Pak Kuncoro mengitari puting Stella yang mengeras dan sekali dua kali dia menggigit ujungnya dengan lembut.
“Aaaaccccchhhhhh..” Stella menjerit karena sensasi yang ia rasakan.
Sakit yang ia rasakan berasal dari selangkangannya berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa. serambi lempit Stella yang ditembusi rudal Pak Kuncoro berulang-ulang akhirnya mengeluarkan cairan cinta yang langsung membanjir. Rasa malu dan puas bercampur menjadi satu sehingga wajah Stella memerah.
Pak Kuncoro melepas buah dada Stella dan menangkup pipi pantatnya yang bulat mulus. Stella melenguh saat Pak Kuncoro meremas dan memilin bokongnya yang halus dengan tangannya yang kuat. rudal Pak Kuncoro masih keluar masuk dalam serambi lempit Stella yang hangat dan becek.
Pinggang Pak Kuncoro berulang kali bertamparan dengan paha mulus Stella. Karena dilepas oleh Pak Kuncoro, buah dada Stella yang besar bergoyang-goyang erotis seiring gerakan maju mundur pria tua itu.
“Occhhh.. Pak.. Acchhh.. hhmmm.. ooccchhhh..” Stella terengah-engah tiap kali rudal Pak Kuncoro menerobos ke dalam liang serambi lempitnya yang hangat dan basah.
Pria tua itu menyetubuhi Stella dengan kecepatan yang makin lama makin meningkat. Seiring makin cepatnya Pak Kuncoro memenyetubuhii Stella, makin bertambah pula kepuasan mereka hingga hampir sampai ke puncak. Keringat mulai membasahi sekujur tubuh telanjang Stella yang putih mulus. Pak Kuncoro meringis menahan kekuatan dan giginya terkatup kuat-kuat.
“Acchhh.. ssttt.. ooccchhhh.. aaccchhhh..” Stella melenguh berulang, tubuhnya bergerak seiring desakan rudal Pak Michael dalam rahimnya.
“Ayo.. huucccgggg!! Kita.. buatkan.. Kylie.. adik baru!! huucccgggg! Mbak Stella!!” kata Pak Kuncoro.
Wajahnya yang berkeriput penuh keringat dan nampak cerah karena bisa menyetubuhi wanita idamannya. Pak Kuncoro meraih ke belakang kepala Stella dan menarik rambut panjangnya. Ia mendekatkan wajah Stella ke wajahnya sendiri dan mulai menangkup bibir Stella dengan bibirnya.
Bibirnya yang tebal mengelus-elus bibir Stella hingga basah kuyup oleh air ludah. Lidahnya yang panjang juga bergerak menyusur seluruh bagian dalam mulut Stella. Mata indah Stella terbelalak karena hampir tersedak.
“Hhmmm.. occhhh..” Stella melenguh parau.
Pak Kuncoro melepaskan ciumannya.
“Bersiaplah menerima.. uhh! spermaku.. manis!!” Pak Kuncoro meraung dan mengatupkan mata saat dia hampir mencapai titik puncak kepuasan.
Tangannya mencengkeram bulat pantat Stella, melebarkan bibir serambi lempit istri Rendra itu agar bisa menerima rudalnya yang besar.
“Acchhh.. occhhh.. Pak.. acchhh.. ya.. occhhh..” Stella mengeluarkan lenguhan berirama tiap kali Pak Kuncoro melesakkan rudalnya ke dalam serambi lempit Stella.
Ibu rumah tangga yang sintal itu tidak bisa mengumpulkan pikirannya dan berkonsentrasi, dia hanya mengikuti gerakan Pak Kuncoro. Stella telah dibuai kenikmatan sehingga tidak bisa berpikir apalagi mengucapkan kata-kata. Tubuhnya berguncang dalam pelukan Pak Kuncoro.
Stella melemparkan kepalanya ke belakang dan menyerah pada rasa nikmat yang ia rasakan di daerah selangkangan. Entah kenapa dia ingin sekali merasakan kehangatan sperma Pak Kuncoro di dalam liang cintanya. Dia ingin laki-laki tua itu segera menuntaskan permainannya.
“Occhhh.. nikmat sekali serambi lempit Mbak Stella..” Pak Kuncoro melenguh penuh nikmat.
Ia menarik pinggangnya ke belakang untuk menyiapkan satu tusukan akhir ke serambi lempit Stella.
“Oooooooohhhhhhh.. nikmat..” raung pria tua saat akhirnya ia melesakkan rudalnya dalam-dalam.
“Acchhh.. serambi lempit Mbak Stella sungguh nikmat.. aku sangat beruntung menikmatinya” Pak Kuncoro menggeram keenakan saat pinggangnya menampar paha Stella dan memuncratkan banjir air mani dalam liang serambi lempit ibu muda yang seksi itu.
Stella bisa merasakan semprotan air mani yang hangat dan lengket di dalam rahimnya. Sensasi yang ia rasakan membuatnya sampai ke ujung kenikmatan.
“Aaaaccccchhhhhh..” Stella pun orgasme.
Kepalanya dilempar ke belakang dan Stella berteriak penuh kepuasan. Seluruh sudut tubuhnya mengeras untuk sesaat dan kemudian orgasme pun meledak dalam tubuhnya. Tak pernah sebelumnya saat bermain cinta dengan Rendra Stella memperoleh kepuasan seksual seperti sekarang. Walaupun dalam hati Stella lebih baik mati daripada mengakui kenikmatan ini.
“Fuhh.. fuhh.. fuh..” Stella terengah-engah usai mengalami orgasme dan melayani nafsu iblis Pak Kuncoro.
Pria tua itu segera menarik rudalnya dari dalam serambi lempit Stella. Tubuh telanjang istri Rendra tergolek tak berdaya dan air mani meleleh keluar dari dalam serambi lempitnya. Pak Kuncoro masih belum selesai. Pria tua itu meringis bengis dan bersiap lagi. Dia menginginkan lubang Stella yang lain.
**Indriani Suseno**
Indriani menguap. Wanita cantik itu membolak-balik halaman tabloid wanita yang sedang dipegangnya dengan bosan. Walaupun sudah berusaha membaca dan konsentrasi, tapi susah sekali memahami apa yang ditulis di tabloid itu karena dia tidak bisa fokus.
Benaknya masih dibebani perkosaan yang dilakukan Pak Adam. Dia sangat trauma dan ketakutan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak bisa menceritakan petaka yang menimpanya baik pada suaminya sendiri ataupun pada pihak yang berwajib, dia takut kalau dia membeberkan semuanya, situasinya akan lebih buruk lagi.
Semalam suntuk Indriani berusaha tidur tapi tak kunjung bisa memejamkan mata, dia takut sewaktu-waktu Pak Adam akan datang ke kamar dan menyetubuhinya lagi. Selangkangannya masih terasa sakit setelah mendapatkan perlakuan kasar kemarin. Dasar panjang umur, pria tua busuk itu tiba-tiba saja muncul dan berdiri di samping Indriani.
“Aku pengen jalan-jalan ke mall” ucap Pak Adam.
Indriani meneguk ludah, dia diam saja dan pura-pura tidak mendengar. Biasanya Pak Adam akan pergi selama berjam-jam dan Indriani terbebas darinya. Pria tua itu biasanya pergi begitu saja tanpa pamit, entah kenapa hari ini dia pamit pada Indriani. Karena perasaannya masih kacau balau, Indriani diam membisu.
Tidak mendapat tanggapan dari Indriani membuat marah Pak Adam. Dengan geram Pak Hasan mendekati menantunya yang sedang membaca. Tabloid wanita yang sedang dipegang Indriani disambar Pak Adam dengan kasar sampai jatuh berserakan di lantai.
“Kamu dengar tidak? Aku mau mengajak kamu jalan-jalan ke mall!” ajakan Pak Adam pada Indriani itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong.
‘_Ke mall? Apa lagi yang diinginkan kali ini?_’ gumam Indriani sesaat dalam hati.
“Ke mall? Ngapain kita jalan-jalan ke mall? Kebutuhan dapur dan yang lain masih ada. Besok lusa Mas Indra juga sudah pulang.. kita tidak perlu..” tanya Indriani sambil merapikan rambutnya yang jatuh ke kening.
Wajah Pak Adam memerah menandakan kemarahannya makin lama makin memuncak. Pak Adam menarik tubuh Indriani dan memeluknya dengan kasar.
“Justru karena besok lusa Indra sudah pulang, aku mau menikmati saat-saat terakhir bersamamu, Aku tidak ingin menyakitimu lagi, jadi sebaiknya kau turuti semua permintaanku tanpa mengeluh, atau aku akan berubah pikiran! Hari ini kita mulai dengan jalan-jalan ke mall karena aku pengen memamerkan menantuku yang cantik jelita pada orang-orang sekota..” ucap Pak Adam menggertak.
Pak Adam mencium bibir Indriani dengan kasar bahkan menggigitnya sampai menantunya itu kesakitan. Akhirnya setelah Indriani meronta, Pak Adam melepaskannya.
“Aku juga tidak suka kamu bertanya padaku dengan sinis! Lain kali pikir dulu sebelum mengajukan pertanyaan!” lanjut Pak Adam.
Indriani yang sudah lepas dari pelukan Pak Adam meringkuk di sofa dan menundukkan kepala, dia sangat ketakutan sampai-sampai tubuhnya bergetar.
“Aku minta ma-……” ucap Indriani ketakutan.
“Maaf? Sudah seharusnya!” dengan sombong Pak Adam memalingkan muka dan duduk di sofa.
“Ganti pakaianmu dengan yang seksi, dandan yang cantik! Aku menunggu di sini, jangan lupa bawa uang yang banyak dan kartu kredit. Siapa tahu aku ingin belanja-belanja.” lanjut Pak Adam.
Indriani melangkah lemas ke kamar atas, entah apa lagi maksud Pak Adam.
**Stella Wijaya**
Pak Kuncoro mengelus seluruh tubuh Stella tanpa ada perlawanan berarti. Seluruh perasaan dan keinginan Stella untuk melawan hilang ditelan oleh kenikmatan orgasme yang baru saja dirasakannya. Pak Kuncoro mengecup pantat Stella yang bulat, mulus dan kencang. Beberapa kecupan meninggalkan bekas cupang memerah di pantat Stella.
Pak Kuncoro merenggangkan kedua sisi pantat itu dan mulai menjilat lubang kecil yang berada di tengah, tepat di atas bibir serambi lempit Stella yang masih meneteskan air mani. Lubang anus Stella dibuka sedikit melebar.
Tanpa aba-aba, Pak Kuncoro mencelupkan jari ke dalam serambi lempit Stella, menciduk cairan cinta yang leleh di dalam lubang kemaluan wanita jelita itu dan mengoleskannya di seluruh anus Stella yang menantang.
Pak Kuncoro melumasi dubur Stella dengan cairan cintanya sendiri, dia berniat menusukkan jari jemarinya ke dalam lubang kecil yang sangat sempit itu.
“Renggangkan kakimu!” bentak Pak Kuncoro.
Stella hanya bisa menurutinya dengan isak tangis yang tertahan, ibu muda yang cantik itu pasrah dan merenggangkan kakinya melebar. Jari jemari Pak Kuncoro terus melumasi dubur Stella dan masuk ke dalam tanpa mengindahkan rasa sakit yang menyiksa wanita cantik itu.
Stella mengernyit kesakitan. Siksaan Pak Kuncoro sangat tak tertahankan olehnya. Stella melompat ke depan dan berusaha menggeliat melepaskan diri dari tusukan jari jemari Pak Kuncoro di anusnya.
Tapi Pak Kuncoro ikut bergerak maju dan menindih tubuh Stella.
Pak Kuncoro terus memasukkan jari demi jari ke dalam dubur Stella sementara ibu muda itu meronta-ronta kesakitan. Rongga di dalam anus Stella perlahan melebar karena jari yang masuk ke dalam makin lama makin banyak. Stella menjerit-jerit tapi Pak Kuncoro tetap melaksanakan niatnya.
Setelah dirasa cukup melumasi, Pak Kuncoro menarik jarinya keluar dari lubang anus Stella.
“Membungkuk! Ayo cepetan! Lelet amat sih? Naikkan pantatmu tinggi-tinggi! Aku ingin memerawani lubang anusmu!” maki Pak Kuncoro.
Walaupun hatinya menolak, tapi Stella sangat ketakutan. Apa yang harus dilakukannya? Apakah dia harus menyerahkan lubang anusnya pada pria tua yang sangat bejat ini? Tidak ada jalan lain.
Stella menurut dan membungkuk. Dia mengangkat pantatnya yang bulat dan mulus tepat di hadapan Pak Kuncoro. Stella bisa merasakan rudal Pak Kuncoro dieluskan di tengah-tengah pantatnya.
Wanita cantik itu melelehkan air mata saat ujung rudal Pak Kuncoro ditempelkan di bibir anusnya. Pak Kuncoro memejamkan mata dan menikmati saat-saat terindah hidupnya ini. Sudah saatnya. Dia memeluk tubuh Stella.
“Masukkan ke dalam!” desis Pak Kuncoro.
Dengan tangan bergetar Stella meraih rudal besar pria tua bejat yang sedang memeluknya. Wanita cantik itu memejamkan mata dan menahan nafas saat Pak Kuncoro meraih pinggangnya dan menarik tubuhnya ke belakang.
Stella menggunakan perasaannya dan membimbing rudal besar Pak Kuncoro di bibir duburnya yang sempit dan kecil. Istri Rendra bisa merasakan rudal yang besar dan tegang seperti sebatang kayu itu melesak ke dalam, ujung gundulnya mendesak masuk ke liang terlarang Stella dan memerawani anusnya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Stella mengijinkan seorang lelaki melesakkan rudal ke dalam lubang duburnya. Saat rasa sakit mulai menguasai Stella, wanita cantik itu sadar rudal Pak Kuncoro tidak akan muat masuk ke dalam anusnya.
Tidak akan cukup! Pak Kuncoro menggeram dan menusuk lubang anus Stella dengan tenaga ekstra. Wanita cantik itu menjerit. Seandainya ada warga sekitar yang masih terbangun saat itu pasti mereka mendengar jerit kengerian Stella.
Ibu muda yang cantik itu menggeliat dengan panik dan berusaha menarik diri dari desakan rudal Pak Kuncoro. Tapi pria tua yang sudah bernafsu itu tidak membiarkannya pergi dan memegang tubuh wanita muda cantik itu erat-erat. Stella tidak bisa melepaskan diri dari pelukan Pak Kuncoro.
“Ampuuuun!! Sakiiiit!! Sakit sekaliiiii!! Terlalu besaaar!! Jangaaan!! Hentikaaan!! Bisa robeeek!!” teriak Stella yang tersiksa.
Dia sudah tidak peduli lagi seandainya ada orang yang bisa mendengarkan teriakannya. Ia tak tahan lagi pada rasa sakit yang dideritanya.
“Hentikaaaan!! Ampuuuuuuuun!!” teriak Stella.
Tapi Pak Kuncoro tidak mengindahkan teriakan Stella. Dia terus saja mendorong rudalnya maju tanpa belas kasihan sambil menarik pinggul indah ibu muda yang molek itu. Pak Kuncoro melesakkan rudalnya makin dalam ke lubang mungil yang berada di tengah pantat Stella.
Anus Stella belum pernah dilesaki rudal sepanjang hidupnya, inilah pertama kali dia merelakan lubang pengeluarannya dijadikan alat pemuas nafsu.
“Dorong ke belakang! Dorong ke belakang!!” suara Pak Kuncoro terdengar parau.
“Goyang bokongmu! Dorong ke belakang! Pasti bisa masuk!” lanjut Pria tua itu.
Stella sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Dia hanya bisa merasakan rasa sakit yang tak tertahankan yang menembus sampai ke tulang sumsum. Rasa nyeri yang ia rasakan membenamkan seluruh kesadaran Stella hingga dia tidak ingat apa-apa lagi. Seakan-akan ada sebatang kayu besar yang ditusukkan ke dalam anusnya.
“Ayo! Dorong ke belakang! Terus! Dorong bokongmu ke belakang!’ bentak Pak Kuncoro dengan penuh emosi, keringat sebesar jagung memenuhi alisnya yang tebal.
Stella mendorong, menggeliatkan badan dan mundur ke belakang. Dengan hati-hati dia mencoba membuka lubang anusnya agar rudal Pak Kuncoro bisa masuk dan memerawani lubang pembuangannya. Stella menjerit-jerit kesakitan tapi Pak Kuncoro menutup mulutnya dengan tangan, sehingga ibu muda yang cantik itu hanya bisa memendam rasa sakit yang dirasakannya.
Stella menggelengkan kepala kesana-kemari dengan panik saat perlahan-lahan batang rudal Pak Kuncoro masuk ke dalam lubang yang sempit itu. Stella terus saja memberontak, tapi eratnya kuncian Pak Kuncoro membuat istri Rendra itu tidak bisa berbuat banyak. Stella bisa merasakan lubang anusnya yang sempit sobek ketika rudal Pak Kuncoro masuk.
‘Hyarrrrgghhh!!” lenguh Stella kesakitan saat pinggul Pak Kuncoro menghantam pantatnya yang bulat.
Bukan hantaman itu yang menyakitkan, melainkan desakan rudal pria tua bejat yang kini tengah menyumpal lubang anusnya dengan rudal besar dan keras. Stella bisa mendengar suara lengkingan Pak Kuncoro yang sangat bernafsu mengeluarmasukkan rudal ke dalam duburnya.
Akhirnya, detik demi detik berlalu dan rasa sakit yang tadinya merajai anus Stella perlahan menghilang. Kini, anus Stella malah terangsang oleh rudal Pak Kuncoro yang masih memenuhi liang pembuangannya. Stella mengatupkan gigi dengan erat sementara kepalanya terombang ambing dari kanan ke kiri. Rambutnya yang panjang acak-acakan dan menutupi hampir seluruh wajahnya.
“Aaaaccccchhhhhh..” Stella melenguh keras saat Pak Kuncoro terus melesakkan rudalnya ke dalam anus Stella berulang-ulang, lagi dan lagi dan lagi dan lagi… Stella telah berhasil disodomi Pak Kuncoro.
Perlahan-lahan kesadaran mulai menyeruak di benak sang ibu muda yang cantik itu. Dia mulai sadar apa yang telah dilakukan Pak Kuncoro pada dirinya. Stella telah direndahkan derajatnya hingga titik yang paling nista. Wanita yang tadinya alim dan setia itu kini telah terjerembab ke jurang yang paling dasar.
Tidak seharusnya wanita semulia Stella mendapatkan perlakuan yang busuk dan cabul seperti yang telah dilakukan Pak Kuncoro. Pria bejat itu telah memanfaatkan ketidakberdayaan wanita seperti Stella dan rasa malu yang amat sangat membuat istri Rendra itu hanya bisa menangis tersedu-sedu.
Rasa bersalah, jijik dan malu silih berganti menaungi kesadaran Stella, namun rasa nikmat yang dirasakan di lubang duburnya membuat ibu muda itu mulai menyukai perlakuan Pak Kuncoro ini.
“Occhhh.. hhmmm.. aaccchhhh..” desah Stella menikmatinya.
Tanpa kekuatan untuk menguasai diri sendiri dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, membuat Stella pasrah dan menyerah pada gairah seksual yang semakin menguasai tubuh dan perasaannya. Stella mulai bergerak menumbuk ke belakang dan menerima rudal Pak Kuncoro di dalam anusnya.
Gerakan mereka berdua mulai seirama, sodokan demi sodokan yang dilancarkan Pak Kuncoro dibalas oleh gerakan mundur Stella yang menghentak. rudal Pak Kuncoro makin lama makin melesak ke dalam. Permainan cinta mereka telah melewati ambang batas yang baru.
Keringat yang menetes deras membuat dahi Pak Kuncoro basah kuyup, namun pria tua itu memaksakan diri mencapai kenikmatan yang didapatkan terutama karena sempitnya lubang dubur Stella yang terus menerus digenjotnya. Pak Kuncoro kagum dengan bibir anus Stella yang mungil dan ketat yang meremas-remas rudalnya yang keluar masuk dengan cepat.
Senyumnya makin melebar saat merasakan kantong rudalnya menumbuk bibir serambi lempit Stella tiap kali dia menyodokkan rudalnya ke dalam anus wanita jelita itu. Pak Kuncoro menatap bangga rudalnya yang keriput dan gemuk saat batang rudalnya itu masuk ke dalam celah di antara pantat putih mulus Stella dan lenyap masuk ke dalam lubang anusnya.
Sempitnya lubang anus Stella memang tidak bisa mengalahkan nikmatnya menyetubuhi serambi lempit ibu muda yang cantik itu, tapi tiap kali melesakkan rudalnya, seakan Pak Kuncoro memasukkan rudal ke dalam mesin penggiling daging. Perlahan-lahan pria tua itu bisa merasakan makin meningkatnya simpanan sperma yang menggunung dan siap meluncur kapan saja. Stella melenguh, menggila, meronta dan kebingungan.
“Ooccchhhh.. aaccchhhh.. hhmmm.. ooccchhhh..” erang Stella.
Wajahnya yang cantik memerah dan bola matanya bergerak naik turun seperti sedang kesurupan semetara keringat deras membanjir di seluruh tubuhnya. Stella sedang mengalami pengalaman luar biasa.
Stella mengembik seperti seekor kambing muda di bawah pelukan Pak Kuncoro.
Teriakannya tercekat dan seluruh tubuhnya dipasrahkan kepada lelaki tua yang lebih pantas menjadi ayahnya itu. Stella hanya bisa mengembik dan melenguh penuh nafsu.
“Acchhh.. eeuuuhhh, Pak Kuncoro! Pak Kuncoroooo!! Eeuuuhhh!! Occhhh! Acchhh! Ooccchhhh! Aaccchhhh!” lenguh Stella.
Seluruh desahan yang keluar dari bibir merah Stella membuat Pak Kuncoro makin bersemangat. Tiap sodokan membawa Pak Kuncoro selangkah menuju kepuasan seksual yang prima. Pak Kuncoro menarik rudalnya sampai ke ujung dan menikmati pemandangan di bawah pantat Stella.
Anus Stella yang elastis dan sempit itu mengerut di ujung gundul kepala rudalnya, Pak Kuncoro sengaja membiarkan ujung gundul itu tertinggal di dalam liang. Dengan satu sodokan yang mantap, Pak Kuncoro melesakkan lagi seluruh batang pelirnya.
“Occhhh.. aaccchhhh.. ooccchhhh.. aaaaccccchhhhhh..” Stella mendesah manja karena kenikmatan yang dirasakannya.
Pak Kuncoro menumbuk lagi lubang anusnya dan menarik tubuh indah ibu muda yang cantik itu ke belakang. Berulang-ulang Pak Kuncoro menyodomi Stella. Sempitnya anus mungil Stella membuat Pak Kuncoro seakan sedang memerawani serambi lempit seorang gadis berusia belasan tahun. Nikmatnya luar biasa.
Pak Kuncoro membelalakkan mata. Spermanya sudah mulai terkumpul di ujung gundul kepala rudalnya dan setiap saat bisa meledak. Tubuh pak tua yang mesum itu tersentak-sentak merasakan kenikmatan luar biasa yang disediakan oleh lubang di pantat Stella.
Pria tua itu mendorong rudalnya ke dalam sekali lagi, dia juga menarik pantat Stella agar rudalnya bisa masuk lebih dalam lagi. Rapatnya anus Stella membuat Pak Kuncoro merem melek keenakan. Tinggal sekali sentakan lagi, Pak Kuncoro akan mencapai orgasme.
“Argh! Aku mau keluar! Dorong ke belakang! Dorong pantatmu ke belakang! Lagi! Lagi! Lagi! Argh!!” Pak Kuncoro berteriak-teriak dan memejamkan mata penuh kenikmatan.
Stella yang berada dalam pelukan Pak Kuncoro untuk pertama kali sepanjang hidup akhirnya merasakan semprotan cairan sperma yang berwarna putih, hangat dan lengket memenuhi lubang anusnya. Semprotan mani Pak Kuncoro menyiram bagian dalam saluran pembuangan Stella bagaikan banjir besar yang mengantarkan kedua orang yang sedang bercinta itu ke titik klimaks persetubuhan mereka.
Klimaks Stella kali ini membuatnya menjerit lega, ia melepaskan gairahnya ke awang-awang. Stella bisa merasakan air mani Pak Kuncoro yang membanjiri lubang anusnya menetes ke bawah ke bibir serambi lempitnya.
Pak Kuncoro menggeram dan jatuh sambil memeluk tubuh telanjang Stella, mengunci tubuh indah itu di atas tikar dengan berat badannya sendiri. Pak Kuncoro melenguh puas.
“Hebat! Itu tadi luar biasa! serambi lempitmu memang masih sempit dan enak sekali dientot, tapi lubang anusmu yang masih perawan itu luar biasa nikmatnya! Lezat! Hahaha! Aku puas sekali menjadi orang yang pertama kali memerawani bokong wanita secantik Mbak Stella! Ha ha ha!” ucap Pak Kuncoro.
Di bawah tubuh Pak Kuncoro, sosok indah Stella bergetar karena perasaannya sangat kacau. Nikmat sekaligus menyakitkan. Ibu muda itu bingung dengan perasaannya sendiri. Ya Tuhan, apa yang telah dilakukannya dengan pria hidung belang ini? Dia telah menyerahkan lubang anus yang bahkan belum pernah disentuh oleh suaminya sendiri pada Pak Kuncoro.
Kini tidak ada lagi lubang yang tersisa dari tubuhnya yang belum pernah dilesaki rudal pria tua itu. Isak tangisnya tertahan karena takut pada Pak Kuncoro. Perasaan malu dan kotor menyergap Stella. Wajahnya memerah karena dia tidak bisa melawan nafsu bejat tetangganya yang menjijikkan ini. Tubuh Stella bergerak mencoba melepaskan diri, tapi pelukan Pak Kuncoro terlalu erat.
“Ijinkan aku istirahat, Pak Kuncoro.. aku harus bekerja besok pagi..” ucap Stella.
Pak Kuncoro bersungut-sungut. Tapi pria tua itu melepaskan pelukannya dari tubuh indah Stella. rudalnya mulai mengecil dan ditariknya keluar dari anus Stella. Terdengar bunyi letupan kecil saat rudal Pak Kuncoro ditarik keluar dari dalam dubur Stella yang sempit. Tubuh telanjang kedua sosok manusia berbeda jenis dan bertautan usia hampir 30 tahun itu berpelukan di tengah dinginnya udara malam.
Keduanya lemas setelah bersetubuh di pagi ini. Pak Kuncoro merasa di puncak kebahagiaan karena ia mendapatkan kesempatan meniduri istri Rendra yang muda dan segar ini. Sedangkan bagi Stella, sekali lagi dia merasa malu dan bersalah baik kepada dirinya sendiri maupun pada keluarganya. Inilah dia, seorang istri yang tadinya setia dan alim dalam pelukan seorang laki-laki tua yang hanya menginginkan tubuhnya.
“Ya sudah.. sana pulang. Aku puas sekali malam ini. Sayang sekali besok pagi kamu harus masuk ke kantor.” bisik Pak Kuncoro sambil mengemut daun telinga Stella.
“Iya, aku harus bekerja besok pagi.” Stella mendongak dan menatap mata Pak Kuncoro dalam-dalam.
Inilah saatnya menyampaikan isi hatinya.
“Pak Kuncoro, ini tidak bisa diteruskan. Aku istri sah Rendra. Apa yang kita lakukan adalah perbuatan yang salah dan sangat terkutuk. Ijinkan aku pulang dan melupakan semua ini pernah terjadi. Biarlah yang sudah berlalu kita lupakan. Aku tidak akan melaporkan kepada siapapun tentang perkosaan yang dilakukan Pak Kuncoro kepadaku, tapi kumohon dengan sangat, Pak. Inilah terakhir kali Pak Kuncoro menyentuhku.” ucap Stella.
“Enak saja! Kapan saja aku pengen, kamu akan aku entot! Awas, kalau sampai kamu lapor pada orang lain! Kuhajar kamu! Kubunuh anakmu! Tidak usah banyak tingkah! Pulang dan tidur! Besok kita menyetubuhi lagi!” Pak Kuncoro dengan kasar melempar tubuh Stella yang sudah dinikmatinya ke samping.
Bandot tua itu segera mengambil celana dan bajunya lalu memakainya tanpa mempedulikan Stella yang masih telanjang bulat. Tak lama kemudian, Pak Kuncoro yang sudah berpakaian kembali meninggalkan ibu muda yang cantik itu sendirian di dalam pos kamling. Air mata menetes deras di pelupuk mata Stella. Kisahnya masih jauh dari usai. Beberapa saat sesudah Pak Kuncoro menumpahkan air mani didalam lubang anus Stella, sesosok tubuh langsung meninggalkan pos siskamling.
Bersambung… **Sutrisno – Stella Wijaya**
Sutrisno atau lebih dikenal dengan Pak Isno bukanlah orang yang beruntung. Di usianya yang sudah mencapai angka 55, pria tua ini masih hidup berkekurangan.
Masa mudanya yang suram membuatnya sering keluar masuk penjara, dia bahkan sangat terkenal sebagai preman pasar dengan sebutan Pak Isno Tatto, tentunya karena tatto gambar pria dan wanita bugil sedang bercinta yang menghias sebagian besar punggungnya.
Karena kehidupannya yang keras, Pak Isno diceraikan oleh istrinya dan bekerja sebagai penjaga pintu sarang PSK. Hanya sebentar bekerja di sana, Pak Isno terlibat perkelahian dengan seorang pelanggan. Hal ini menyebabkan Pak Isno kembali masuk penjara.
Saat terakhir di penjara, Pak Isno berkenalan dengan seorang mantan dosen yang berasal dari keluarga baik-baik dan dipenjara entah karena masalah apa. Pria itu memberikan ilmu pengetahuan dan mengajarkan banyak hal pada Pak Isno.
Berkat orang ini pulalah Pak Isno berani menghapus semua tatto di tubuhnya kecuali tatto yang dipunggung walaupun akhirnya meninggalkan bekas luka permanen di kulit. Beberapa bagian tubuh Pak Isno carut marut akibat bekas tatto yang dihapus. Kemahiran Pak Isno berlipat ganda berkat pengetahuan yang diberikan oleh pria itu.
Setelah keluar bui untuk yang terakhir kalinya di usia 45, Pak Isno ternyata tak kunjung bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Entah karena sejarahnya yang buruk atau karena pengaruh krisis ekonomi. Di jaman seperti sekarang ini, sangat susah mencari pekerjaan yang halal dengan mudah.
Apalagi Pak Isno tidak memiliki modal besar dan wajahpun tidak menunjang, codet besar bekas luka menghias wajahnya sehingga banyak perusahaan menolak memperkerjakannya.
Akhirnya, Pak Isno mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan. Pak Isno memperoleh modal kecil dari temannya dan berjualan bakso keliling. Pak Isno Tatto kini berubah menjadi Pak Isno tukang bakso.
Tubuh Pak Isno yang dulu gagah dan tegap kini kurus kering dan hitam legam terbakar matahari. Wajahnya yang dulu bersih kini menjadi kurus dan kasar, kulitnya tipis dan tulangnya terlihat menonjol di seluruh badan.
Pak Isno sadar masa-masa keemasannya sebagai preman sudah sirna dan kini dia berniat melakukan yang terbaik yang dia bisa untuk membalas kebaikan sahabat yang telah memberinya pengetahuan dan modal berjualan bakso.
Demi mencari nasi untuk sekedar mengisi perut, Pak Isno menjalankan pekerjaannya tanpa mengeluh. Tapi, sesungguhnya tidak semudah itu Pak Isno berubah menjadi orang baik, dia masih seorang pria oportunis yang menghalalkan segala cara, dalam hatinya dia masih seorang penjahat. Hidup Pak Isno akan segera berubah.
Beberapa malam yang lalu, Pak Isno baru saja pulang dari nongkrong di warung kopi yang buka 24 jam. Pak Isno sengaja lewat jalan komplek yang sepi karena ada jalan tikus yang bisa lebih cepat sampai ke pasar di seberang komplek.
Pak Isno memang biasa begadang, jam dua minum kopi, lalu pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk bakso, dan paginya keliling lagi. Pasar di seberang komplek memang sudah buka sejak jam empat pagi dan biasanya pembeli yang datang jam segitu akan mendapatkan potongan harga yang lumayan langsung dari distributor, apalagi barangnya masih segar dan fresh.
Malam itu, entah kenapa Pak Isno memilih untuk beristirahat sebentar di pojok pengkolan jalan di dekat pos kamling. Kebetulan tempat Pak Isno beristirahat agak pojok dan terlindung oleh bayangan. Jadi siapapun yang melintas jalan akan terlihat oleh Pak Isno, namun sebaliknya, orang itu tidak akan melihat si tukang bakso.
Pak Isno tidak akan pernah melupakan pemandangan indah yang lewat di depannya. Malam itu, Pak Isno melihat seorang bidadari berjalan terburu-buru menuju ke pos kamling. Bidadari dalam balutan daster tembus pandang.
Rambutnya panjang, kulitnya putih mulus, hidungnya mancung, dadanya membusung dan pantatnya bulat menggemaskan. Entah kenapa bidadari itu seperti ketakutan dan kebingungan.
Malam itu tanpa sepengetahuan Stella dan Pak Kuncoro, Pak Isno memergoki Stella sedang menemui Pak Kuncoro dan bercinta dengan Pria tua bejat itu. Pak Isno tidak bisa mengintip kegiatan yang dilakukan oleh Stella dan Pak Kuncoro tetapi dia bisa mendengar suara desahan kedua orang itu.
**Indriani Suseno**
Mall yang dituju taksi yang ditumpangi oleh Indriani dan Pak Adam berada di tengah kota. Sejak berangkat dari rumah sampai ke lokasi, Pak Adam lebih banyak diam.
Untunglah Pak Adam tidak turut campur mendikte pakaian yang akan dipakai Indriani sehingga dia bisa pergi menggunakan baju yang lumayan sopan. Indriani mengenakan rok mini selutut dan baju yang tidak terlalu ketat.
Walaupun berpenampilan seadanya, Indriani masih tetap terlihat cantik mempesona. Walaupun mulutnya terdiam, tapi tangan Pak Adam masih tetap beraksi. Duduk berdampingan dengan Indriani di kursi belakang, Pak Adam dengan nakal mengelus-elus kaki menantunya itu dengan santai. Berulang kali Indriani merasa tidak enak karena melihat mata sang sopir melirik ke belakang menggunakan kaca.
Bahkan Pak Adam kadang nekat membelai paha Indriani yang mulus atau sesekali meremas buah dadanya. Wanita cantik itu sudah memperingatkan mertuanya agar tidak nekat karena sang sopir bisa melihat mereka. Tapi Pak Adam hanya tersenyum. Beberapa kali suara sang sopir meneguk ludah bisa terdengar dari belakang.
Akhirnya setelah menempuh jarak cukup jauh, Pak Adam dan Indriani sampai di pusat pertokoan yang dituju. Ketika Indriani hendak membuka dompet untuk membayar taksi, Pak Adam menggeleng. Dia melirik ke arah argo dan memberikan uang dari kantong celananya.
Sang sopir melongo melihat uang pemberian Pak Adam.
“Wah, gak salah nih, Pak? Duitnya kurang dong! Argonya aja segitu, masa bayarnya cuma segini? Yang bener aja!” Wajah sang sopir memerah karena merasa dipermainkan.
“Ini, ada kok..” Indriani kembali hendak membuka dompet.
Tapi tangannya diremas Pak Adam yang langsung menggeleng dan melotot galak.
Indriani mengurungkan niatnya. Kenapa lagi Pak Adam ini? Mau cari perkara dengan sopir taksi? Keringat mulai menetes di dahi istri Indra itu.
“Menurut mas sopir, menantu saya ini cantik tidak?” tanya Pak Adam tiba-tiba.
Indriani langsung mengernyitkan dahi, perasaannya tidak enak. Sang sopir meneguk ludah. Pandangannya beralih ke arah Indriani. Bagaikan seekor macan yang siap menerkam mangsa, dia memperhatikan Indriani dari atas ke bawah.
“Gila, kirain tadi ini istrinya, soalnya mesra banget, ternyata menantunya ya?” ucap sang sopir taksi.
“Menantu saya ini orangnya sangat pengertian dan baik. Dia senang kalau bisa menghibur orang lain yang kesusahan, contohnya saya ini, saya sudah lama jadi duda. Jadi bagaimana menurut mas, menantu saya cantik tidak?” Pak Adam mengulang pertanyaannya.
Indriani merasa jengah mendengar percakapan dua orang ini, apalagi sang sopir kemudian memandang ke arahnya dengan remeh dan tersenyum menjijikkan.
“Wah, Pak! Bukan cantik lagi namanya kalau yang seperti ini! Tapi.. cuantikkk!! Kayak bintang sinetron!” jawab sang sopir taksi.
“Bagaimana pendapat mas tentang tubuhnya, bagus tidak?” tanya Pak Adam lagi.
Indriani sudah bersiap keluar dari taksi tapi ditahan oleh Pak Adam.
“Seksi, Pak!” jawab sang sopir taksi.
“Baiklah, bagaimana kalau untuk membayar kekurangan saya tadi, saya tawarkan bibir menantu saya ini? Masnya boleh mencium dia selama dua menit plus meremas susunya selama itu pula. Bagaimana?” tanya Pak Adam.
Sopir itu melongo.
Tubuh Indriani langsung lemas. Dia tidak menyangka Pak Adam akan menggunakan dirinya sebagai alat pembayaran. Geram sekali rasanya Indriani karena diperlakukan seperti pelacur hina oleh mertuanya sendiri. Tapi cengkraman tangan Pak Adam yang tidak bisa dilepaskannya menyadarkannya akan satu hal, dia harus melakukan apapun perintah sang mertua, separah apapun perintahnya itu.
Sang sopir taksi yang bertubuh kurus dan berkulit gelap terbakar matahari kembali meneguk ludah. Gila, kalau begini caranya orang ini membayar, bisa kurang nanti duit setoran ke bos, tapi kapan lagi dia bisa mencium orang secantik bidadari?
Walaupun cuma dua menit, tapi bibir Indriani yang ranum itu membuatnya sangat nafsu, belum dekat dengannya saja si otong yang di bawah sudah ngaceng, apalagi kalau boleh mencium, wah, asoy sekali. Bininya di rumah jelas kalah jauh. Hatinya bimbang, tapi nafsu akhirnya mengalahkan akal sehat sang sopir.
Indriani makin merasa tertampar saat melihat sopir berwajah ketus itu mengangguk sambil cengengesan.
“Bolehlah, Pak. Sekali ini saja. Kapan lagi saya bisa ngerasain bibir yang begini?” ucap sang sopir taksi.
“Silahkan mas sopir pindah ke kursi belakang, saya yang akan menghitung waktunya.” ucap Pak Adam tersenyum.
Buru-buru sopir itu pindah ke belakang dan duduk di samping Indriani.
“Pak, aku..” Indriani mencoba memprotes.
Pak Adam kembali mencengkeram lengan Indriani. Tidak ada gunanya melawan pria tua yang busuk ini, Indriani hanya menunduk pasrah.
Sang sopir tidak membuang waktu, begitu Pak Adam mengangguk memberi ijin sambil memegang erat tubuh Indriani yang sudah siap meronta, dia langsung mencium bibir Indriani.
Indriani memejamkan mata karena tidak tahan melihat wajah sopir taksi yang sudah mupeng abis, mulutnya yang terkatup perlahan-lahan dibuka karena ia takut Pak Adam akan menyakitinya seandainya ia menolak membalas ciuman sang sopir.
Awalnya mereka berciuman dengan lembut, bibir sang sopir yang sudah basah dan bau rokok membelai bibir Indriani yang ranum dan membasahinya pelan-pelan. Lalu pria itu menghisap lembut bibir bawah Indriani sebelum akhirnya benar-benar menangkupkan seluruh bibirnya ke bibir Indriani.
Menantu Pak Adam itu melenguh kesakitan saat kemudian sang sopir meremas buah dadanya dengan kasar dan penuh nafsu. Karena ukuran buah dada Indriani lebih besar dari milik istrinya, sang sopir makin bernafsu, remasan tangan sang sopir makin lama makin cepat.
“Acchhh.. hhmmm.. ooccchhhh..” lenguh Indriani.
Lenguhan Indriani membuat mulutnya terbuka, sang sopir menyorongkan lidahnya masuk ke mulut menantu Pak Adam yang cantik itu. Lidah sang sopir bertemu dengan lidah Indriani dan keduanya bertautan. Perasaan takut mengkhianati suami dan rasa bersalah yang menebal malah membuat Indriani makin pasrah.
Dia sudah tidak tahu lagi mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang tidak. Bibirnya selalu menjadi milik Indra sang suami, tapi kini, mertuanya dan bahkan seorang sopir taksi tak dikenal telah mencicipi keranuman bibir Indriani.
“Occhhh.. acchhh.. ssttt.. aaccchhhh..” Indriani melenguh panjang.
Pak Adam tersenyum kegirangan melihat menantunya kembali melenguh, jelas sekali kalau Indriani lama kelamaan terangsang juga walaupun pada awalnya menolak mati-matian. Dengan sengaja Pak Adam memberikan kesempatan pada sang sopir untuk menikmati bibir Indriani lebih dari dua menit yang dijanjikan.
Dari tonjolan besar di selangkangan, terlihat jelas sopir itu pasti sudah ngaceng sedari tadi, Pak Adam terkekeh melihatnya. Ciuman Indriani dan sang sopir taksi berakhir saat Pak Adam menepuk pundak sang sopir.
“Oke, mas. Sudah dua menit lebih dua puluh detik.. yang dua puluh detik aku hitung bonus.” Kata Pak Adam sambil menunjuk jam digital di dashboard taksi.
Sopir taksi itu mengangguk puas.
“Wah, bapak beruntung sekali punya menantu seperti ini, dicium dua menit aja udah bikin blingsatan! Apalagi kalau dipake!” ucap sang sopir taksi.
Sambil mengucapkan terima kasih, Pak Adam dan Indriani keluar dari taksi dan masuk ke dalam mall. Sopir taksi itu tidak bisa melepaskan pandangan dari Indriani, sayangnya, beberapa saat kemudian ada seorang penumpang masuk sehingga dia harus segera pergi. Entah kapan lagi dia bisa berjumpa dengan si cantik itu, mungkin inilah yang dinamakan pengalaman sekali seumur hidup. Sopir itu menggelengkan kepala mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi dan membawa penumpangnya meninggalkan mall.
**Anissa Wibisono – Stella Wijaya**
Anissa Wibisono merasakan kegembiraan yang meluap-luap seakan meledak di dalam dadanya. Tunangannya, Dodit Darmawan masih berada di belakang setir mobil saat Toyota Avanza hitam yang mereka naiki mulai memasuki jalan menuju komplek perumahan yang cukup terkenal di daerah pinggiran kota.
Pepohonan yang rindang dan sejuk menyambut mobil yang menggelinding dengan lembut di jalan yang sepi. Anissa melirik ke arah Dodit dan mencubit paha tunangannya dengan genit. Dodit melirik ke arah Anissa dan tersenyum penuh rasa sayang.
Dodit sebenarnya agak ragu berkunjung ke rumah kakak Anissa, mereka belum terlalu akrab sehingga dia khawatir kunjungannya akan mengganggu kegiatan keluarga Mas Rendra.
Tapi karena Mas Rendra ditunjuk sebagai calon wali dari Anissa kelak di pernikahan mereka, Dodit mau tidak mau harus mengakrabkan diri dengan Mas Rendra dan Mbak Stella, dalam hatinya yang paling dalam Dodit berpikir mungkin akan jauh lebih mudah mendekati putri kecil mereka, Kylie.
Baru beberapa bulan bertunangan setelah hampir dua tahun pacaran membuat pasangan Anissa dan Dodit kembali hot. Dodit yang juga senior Anissa di kampus sudah lulus tahun lalu dan sekarang magang di sebuah perusahaan swasta. Tahun ini Anissa juga dipastikan akan lulus dan pernikahan yang sudah mereka nanti-nantikan akan segera menjadi kenyataan.
Anissa sangat mengagumi Dodit dan bisa berkunjung ke rumah Mas Rendra dan Mbak Stella bersama tunangannya tercinta sudah menjadi keinginannya sejak lama. Karena kesibukannya, Mas Rendra sempat menengok rumah lama. Atas perintah ibunya, Anissa dan Dodit diminta berkunjung dan menginap selama akhir pekan di rumah Rendra agar mereka bisa lebih akrab.
Dodit sedikit grogi, walaupun sudah bertunangan dengan Anissa, dia masih grogi kalau disuruh bertemu dengan keluarganya, apalagi weekend ini mereka berdua diminta menginap di rumah Mas Rendra. Berulang kali Dodit melirik ke arah spion untuk memperhatikan penampilannya.
“Kamu ganteng kok, sayang. Tampan, seperti biasa.” Kata Anissa sambil membenahi make-upnya sendiri.
Wajah Dodit memang cukup lumayan, dia pantas bersanding dengan Anissa yang cantik dan menggairahkan. Walaupun masih muda dan tidak memiliki perawatan khusus, tapi tubuh Anissa benar-benar indah dan menggiurkan. Didukung wajah cantik melankolis, kulit putih mulus, buah dada menggunung dan rambut panjang sepunggung, penampilan gadis ini sangat sempurna.
“Ah, kamu ini. Aku kan grogi, say. Ini pertama kali aku menginap di tempat Mas Rendra. Aku harus tampil serapi mungkin. Takut tidak direstui nantinya..” Dodit tertawa mendengar sindiran Anissa.
“Jangan khawatir, sayang. Mas Rendra dan Mbak Stella pasti akan menyukaimu. Mudah-mudahan kamu juga bisa menyukai mereka.” Anissa tersenyum manis dan dengan rasa sayang membelai rambut Dodit.
“Ah, sudah jelas aku menyukai mereka. Kakakmu orangnya baik hati walaupun sedikit pendiam. Mbak Stella apalagi, sangat ramah dan baik hati, cantik pula, tapi menurutku yang paling enak diajak ngobrol sebenarnya si Kylie. Aku sudah kangen ingin menemuinya.” Dodit merapikan kemejanya yang berkerut.
“Kylie memang lucu, menggemaskan sekali. Aku juga sudah kangen.” Anissa tertawa.
Mobil mereka melaju melewati sebuah komplek pemakaman.
“Tapi dengar-dengar, lokasi komplek perumahan ini cukup seram lho. Aku dengar dari beberapa orang teman, katanya di tempat ini banyak setannya. Kalau tidak tahan, boleh tidur seranjang denganku nanti malam.” Kata Dodit dengan sengaja menakut-nakuti tunangannya yang jelita, tentunya dia hanya bohong belaka.
“Hahaha! Dasar otak mesum! Aku tidak mudah kau takut-takuti seperti itu!” Anissa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Dodit, dengan manja gadis itu menggelayut di samping Dodit.
“Biarpun ada suster ngesot dan hantu jeruk purut, aku punya pahlawan perkasa di sampingku!” lanjut Annisa.
Dodit tersenyum sipu, wajahnya memerah tapi dia meneruskan godaannya, “Kalau tidak salah dengar pula, informasi ini berasal dari sumber yang bisa dipercaya lho, kabarnya ada hantu cabul yang hobi memangsa anak perawan orang!” Goda Dodit.
Dengan manja Anissa memukuli pundak tunangannya.
“Udah ah! Bercandanya nggak asyik! Mas Dodit jahat! Aku nanti nggak bisa tidur!” Ucap Annisa manja.
“Kamu kan masih perawan, say. Kalau aku jadi kamu… hmmm… aku akan lebih berhati-hati nanti malam… lebih baik aku tidur minta ditemani Mbak Stella atau… atau minta ditemani sama Mas Dodit tersayang! Hahaha..” Dodit tersenyum sok ngeri.
Anissa mencibir dan menjulurkan lidah, wajahnya yang malu memerah, makin manis saja gadis ini.
“Huh, itu kan maunya Mas Dodit! Dasar otak mesum!” Balas Annisa.
Entah kenapa, ada angin dingin yang bersemilir di udara dan menghembuskan udara dingin di tengkuk Anissa dan Dodit. Perasaan mereka menjadi tidak enak, seakan suatu hal yang buruk akan segera terjadi.
“Kau tahu tidak, say. Kau terlihat sangat mempesona.” Ucap Dodit tiba-tiba saja Dodit menghentikan mobilnya. Dia mengedip ke arah Anissa.
Bersambung… AKSI BEJAT PARA PRIA TUA
**Indriani Suseno**
Lokasi pusat perbelanjaan yang didatangi oleh Pak Adam dan Indriani berada di tengah kota dan sangat ramai pengunjung. Hilir mudik orang berjalan keluar masuk toko.
Pandangan Indriani masih kabur, entah karena pusing melihat banyaknya pengunjung mall atau perasaan jengahnya yang tidak juga mau hilang setelah mencium seorang sopir taksi yang tak dikenal.
Dia merasa seperti seorang pelacur hina dan ini semua karena ulah ayah mertuanya yang bejat. Pak Adam menarik tangan Indriani dengan kasar memasuki sebuah toko baju yang cukup terkenal.
“Ayo! Kita cari baju yang lebih cocok untuk pelacur seperti kamu.” Pria tua itu berkata.
Indriani menggeram kesal mendengar ucapan mertuanya tapi tak bisa berbuat banyak, mertuanya memang benar-benar tidak tahu malu, berani-beraninya dia mengatainya pelacur, padahal ini semua ulahnya.
Indriani hanya diam saja di pojok saat Pak Adam berkeliling dan menarik beberapa lembar baju wanita, dia bahkan tidak malu saat mengambil beberapa helai pakaian dalam untuk Indriani.
Beberapa orang SPG menatap heran pada pasangan aneh ini. Akhirnya, Pak Adam menarik lengan Indriani untuk ikut berkeliling bersamanya.
“Aku akan memilihkan baju yang terbaik dan bisa membuatmu tampil seksi. Jangan khawatir, kau pasti akan terlihat sangat mempesona. Baju yang sekarang kamu pakai itu kesannya kuno, aku carikan yang baru.” Kata Pak Adam.
Indriani melotot galak dan disambut cengiran cabul sang mertua. Setelah mengikuti Pak Adam berkeliling dan mengambil beberapa baju, akhirnya Indriani digiring ke kamar ganti. Sekilas lihat Indriani langsung tahu jenis baju yang dipilih Pak Adam, baju-baju yang hanya pantas dikenakan seorang pelacur.
Bahkan menurut Indriani, pelacur yang paling menjijikkan sekalipun hanya berani mengenakan pakaian seperti itu saat sedang ‘menawarkan dagangannya’, sementara Indriani akan mengenakannya di dalam mall yang ramai pengunjung.
Indriani dan Pak Adam masuk ke kamar ganti bersamaan. Indriani melirik ke arah Pak Adam, dia berbalik ke arah mertuanya dan memandangnya heran, dalam hati Indriani bertanya-tanya kapan mertuanya itu akan keluar dari kamar ganti. Pak Adam menggelengkan kepala.
“Aku tetap di sini. Aku sudah pernah lihat kamu telanjang, apa salahnya melihatmu berganti pakaian? Tidak perlu pura-pura sok suci. Ayo cepat ganti!” Ucap Pak Adam.
Dengan perlahan Indriani melucuti pakaiannya, walaupun air matanya sudah di ujung pelupuk karena merasakan pahitnya nasib yang ia alami, tapi wanita cantik itu berusaha menahan diri agar tidak menangis.
Dia tidak mau Pak Adam lebih marah lagi. Satu persatu pakaian yang dikenakan dilepasnya, sampai kemudian Indriani hanya mengenakan bra dan celana dalam.
“Kamu memang benar-benar seksi. Bapak bangga punya menantu seperti kamu. Dilihat saja enak apalagi kalau dientot. Nikmat sekali.” Celoteh Pak Adam.
Pak Adam menatap tubuh Indriani untuk beberapa saat. Saat menantunya itu hendak mengambil pakaian, Pak Adam menggeleng dan melarang. Pria tua itu mengambil sesuatu dari dalam tumpukan baju dan memberikannya pada Indriani, rupanya sebuah celana dalam yang sangat mungil, celana dalam thong yang sangat seksi karena hanya berupa tali pengikat yang melilit pinggang dan sedikit kain segitiga transparan untuk menutup serambi lempit wanita cantik itu.
Indriani menatap tak percaya celana dalam yang diberikan Pak Adam padanya. Dia juga terheran akan dua hal. Satu adalah bagaimana mertuanya itu bisa tahu ukuran celana dalamnya dan yang kedua adalah ukuran celana dalam thong yang sekarang berada di tangannya. Bagaimana mungkin barang sekecil dan semungil itu bisa dipakai? Terlalu kecil untuk bisa menyembunyikan apa-apa. Celana itu bagaikan secuil kain tipis yang hanya melingkar di selangkangannya.
“Cepat dipakai.” Desis Pak Adam galak.
Dia mencubit pantat Indriani sampai memerah. Menantunya meringis kesakitan dan mengangguk. Dengan malas Indriani melepaskan celana dalam yang dipakainya dan menggantinya dengan celdam thong yang diberikan oleh mertuanya.
Ternyata celana kecil itu pas sekali, bisa dirasakannya temali celana thong melingkar di pinggangnya dan sedikit kain segitiga transparan itu menutup hanya kemaluannya. Hanya dengan mengenakan celdam ini saja sudah bisa membuat Indriani sangat terangsang. Wajah Indriani memerah karena malu saat melihat Pak Adam tersenyum cabul menatapnya di cermin.
“Masih ada yang kurang…” Pak Adam memperhatikan tubuh menantunya yang hanya mengenakan bra dan celana dalam.
“Lepaskan bramu.. dadamu itu bagus. Dada seperti itu seharusnya dibanggakan dan dipamerkan, bukannya malah disembunyikan di balik bra yang sesak.” perintahnya kemudian.
Belum sempat Indriani memprotes, Pak Adam sudah melangkah ke belakang Indriani, pria tua itu dengan cekatan membuka pengait di bagian belakang bra.
Wajah Indriani memerah ketika branya jatuh ke lantai ruang ganti. Tanpa perlindungan bra, buah dada Indriani yang ranum, padat dan kenyal bergelantungan dengan erotis di dada wanita cantik itu.
Pak Adam meraih ke tumpukan baju yang dibawanya dan mengambil sebuah rok mini berwarna hitam, dia memberikannya pada Indriani untuk segera dipakai. Indriani segera mengenakannya.
Rok yang diberikan Pak Adam itu adalah rok mini yang paling pendek yang pernah dipakai Indriani sepanjang hidupnya. Rok itu sama sekali tidak cocok dikenakan seorang wanita dengan kaki jenjang seperti Indriani, karena jika dia membungkuk sedikit saja maka orang-orang di belakangnya akan bisa mengintip isi roknya dengan jelas dan gratis padahal dia hanya mengenakan thong tipis.
Sementara bagian atas rok yang rendah akan membuat orang lain bisa menikmati bagian atas celana dalam yang dipakai Indriani dan celah pantatnya yang menggaris. Dia tidak akan bisa berdiri dengan nyaman.
Indriani mendesah.
Dia hanya bisa pasrah, dalam situasi normal, dia hanya mau mengenakan pakaian seksi seperti ini di hadapan suaminya seorang. Tapi saat ini Indriani tidak sedang berada dalam situasi yang normal. Mertuanya yang bejat membuatnya tak bisa berbuat apa-apa kecuali menurut padanya.
Indriani menarik baju dari tumpukan pakaian pilihan Pak Adam. Sebuah blouse berwarna putih yang tipis. Tubuh Indriani bergetar ketakutan melihat pakaian yang dipilih Pak Adam itu. Jika dia tidak diperbolehkan mengenakan bra, maka buah dadanya yang kencang dan besar akan terbentuk jelas di balik blouse, bagian lehernya juga rendah sehingga akan mempertontonkan belahan dada Indriani, belum lagi puting susunya pasti akan menjulang maju ke depan.
Kemeja itu membuat kemontokan dada Indriani bisa dinikmati oleh banyak orang. Dia akan semakin terlihat seperti seorang pelacur murahan. Dengan panik Indriani memilih baju lain dari tumpukan pakaian, ternyata semua sejenis, malah beberapa pakaian ada yang lebih parah lagi.
“Aku tidak bisa mengenakan baju ini. Tidak mungkin aku bisa mengenakan pakaian seperti ini di luar sana. Pak, kumohon… kasihani aku… tolong, Pak! Carikan baju yang lebih pantas! Aku ini masih menantumu, Pak! Kumohon…” Protes Indriani dengan keringat mengalir deras di dahinya.
“Itu baju bagus. Kenapa tidak mau? Kamu akan terlihat sangat mempesona.” Jawab Pak Adam sambil menggeleng kepala menolak protes Indriani.
“Kamu harus memakainya. Kalau tidak mau, aku akan membiarkanmu keliling mall tanpa menggunakan celana dalam. Pilih mana?” Lanjut Pak Adam.
Indriani tidak percaya ini semua terjadi, ini sudah keterlaluan! Mertuanya benar-benar sudah kehilangan akal sehat! Tidak saja dia sudah memperkosa Indriani, memukulinya, menggunakan bibir dan dadanya untuk membayar taksi, masih ditambah sekarang hendak mempermalukannya di depan orang banyak!
Emosi wanita cantik itu memuncak dan wajahnya memerah, dia marah pada diri sendiri karena lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak sanggup menjalani ini semua. Bagaimana nanti seandainya ada orang yang dia kenal melihatnya berjalan-jalan dengan pakaian seperti ini? Atau bagaimana nanti seandainya Mbak Stella atau Mbak Dina melihatnya? Atau… atau…
“Aku tidak bisa melakukannya…” Indriani berbisik lirih.
Sayang Pak Adam tak bergeming dan menatapnya galak. Tangannya mencengkeram lengan Indriani hingga terasa sakit sampai ke tulang. Tubuh Indriani bergetar ketakutan. Tidak mungkin ayah mertuanya itu begitu tega, tapi Pak Adam tidak main-main.
Istri Indra itu akhirnya pasrah dan hanya bisa menganggukkan kepala pertanda setuju. Ia mencoba mengenakan pakaian yang dipilih oleh sang ayah mertua.
Dalam sekejap, pakaian Indriani sudah berganti. Pak Adam memasukkan pakaian yang tadinya dikenakan oleh Indriani ke dalam tas plastik. Saat sudah menggunakan pakaian ala pelacur ini, barulah Indriani sadar susahnya berjalan tanpa mempertontonkan bagian tubuhnya yang mulus.
Dia harus berhati-hati agar tidak mengangkat kaki terlalu tinggi atau membungkuk terlalu dalam karena bagian pantatnya yang hanya mengenakan celana dalam thong akan terlihat jelas oleh orang di belakangnya.
Blouse yang dikenakan Indriani juga lebih mengerikan, blouse itu seharusnya dikenakan dengan syal, sweater atau hoodie melihat bagian lehernya yang rendah, tapi Pak Adam tidak mengijinkan Indriani mengenakannya, seakan-akan belum parah, Pak Adam juga menarik turun blouse depan Indriani sehingga belahan dadanya makin terlihat jelas, sangat menggoda birahi laki-laki yang menatap.
Buah dadanya yang montok dan kencang menyeruak ke depan sementara putingnya makin lama makin menegang karena ac mall yang dingin. Tiap kali berjalan, Indriani khawatir buah dadanya suatu saat akan terpantul dan mental keluar tepat di depan pengunjung mall. Jelas hal itu tidak diinginkan olehnya.
Akhirnya, setelah Pak Adam puas, mereka berdua pergi membayar ke kasir. Entah sial bagi Indriani entah kebetulan, seorang pemuda tanggung sedang bertugas di meja kasir, kemana para pegawai wanita yang biasa berjaga di kasir? Pak Adam dan Indriani berdiri di depan pemuda itu.
“Saya beli baju yang sudah saya pakai ini… Juga celana dalam yang saya pakai sekarang…” desah Indriani lirih.
Saat melihat ke arah Indriani, rahang si pemuda seakan mau copot. Gila, wanita cantik ini berani sekali berpenampilan seksi! Si otong di selangkangan pemuda penjaga mesin kasir langsung ngaceng melihat penampilan Indriani.
Dengan hati-hati pemuda itu melepaskan tag harga dan penjepit anti-maling dari baju dan rok yang dikenakan Indriani, dia melakukannya sambil hati-hati sekali karena takut dianggap tidak sopan, wangi tubuh Indriani membuatnya terbang ke awang-awang.
Untung saja Pak Adam sudah melepaskan tag harga dari celana dalam yang dikenakan Indriani sehingga dia tidak perlu mempertontonkannya pada sang pemuda yang masih terlihat sangat lugu ini.
Beberapa orang customer laki-laki yang kebetulan menemani pasangan mereka belanja juga tidak bisa melepaskan pandangan dari Indriani sambil meneteskan air liur. Penampilan seksi Indriani benar-benar membuat mereka nafsu.
Indriani merasa malu dan memperhatikan puting susunya sendiri perlahan mengeras dan menyodok kemeja yang dikenakannya. Dengan buru-buru Indriani mengeluarkan dompet dan mengambil kartu kredit.
Pemuda yang menjadi kasir menggesek kartu kredit Indriani dengan tangan gemetar. Beberapa kali dia salah memencet tombol karena terganggu oleh pemandangan indah di hadapannya.
rudalnya juga makin ngaceng dan menghunjuk ke luar, pemuda itu dengan malu mengempit otongnya sendiri. Keadaan ini makin membuat Indriani khawatir, sayangnya makin khawatir wanita cantik ini, makin besar puting buah dadanya mengembang dan situasi seperti ini membuat Indriani sedikit terangsang.
Pemuda kasir itu memberikan kesempatan bagi Indriani untuk menandatangani berkas yang keluar dari mesin kartu kredit. Saat tanda tangan, Indriani terpaksa membungkuk karena posisi kasir yang pendek. Saat itulah satu buah dada Indriani tiba-tiba saja melompat keluar dari dalam blouse.
“Ya Tuhan!!” desah si pemuda yang langsung terperanjat.
Dengan cekatan Indriani merapikan blousenya dan memasukkan buah dadanya kembali ke dalam sebelum ada orang yang melihat. Walaupun hanya beberapa detik saja, tapi pemuda kasir itu jelas sangat beruntung.
Wajah Indriani memerah karenanya dan secepat mungkin meninggalkan meja kasir setelah urusan pembayaran usai. Pak Adam terkekeh bahagia saat mereka akhirnya sampai di luar toko.
“Kamu lihat tidak tadi wajah bocah itu?” Pak Adam tertawa cekakakan sambil menggandeng Indriani yang pucat pasi menuju tempat lain.
Seandainya mungkin, Indriani ingin pingsan saat ini juga. Berjalan-jalan di sebuah mall besar yang ramai oleh pengunjung dengan mengenakan busana minim jelas bukan ide yang baik menurut Indriani. Berkali-kali wanita muda yang cantik itu membenahi rok dan blouse yang dikenakannya agar tidak terlalu mencolok.
Tapi seperti apapun usaha Indriani untuk membenahi, kemolekannya mengundang birahi. Kepalanya terus menunduk karena Indriani tidak mau dikenali oleh teman atau siapapun yang kebetulan berjumpa dengannya. Seandainya tidak kenal pun, Indriani tetap merasa malu dengan penampilannya yang seronok.
Entah mana yang lebih parah, berjalan di tengah mall dengan pakaian seperti pelacur atau sekalian saja telanjang. Yang jelas saat ini Indriani merasa dirinya sangat telanjang.
Seorang satpam garuk-garuk kepala karena indahnya pemandangan yang disajikan oleh Indriani. Walaupun sudah sering melihat seorang wanita cantik berpakaian seksi, baru kali inilah satpam itu melihat cewek yang sepertinya perempuan baik-baik mengenakan pakaian super minim.
“Pak, sudah saja ya, Pak. Kita pulang saja. Saya akan melayani Bapak dirumah.” Wajah Indriani memelas memohon ampun pada ayah mertuanya.
Indriani merasa lebih baik memuaskan nafsu bejat mertuanya dirumah karena dia sudah pernah melakukannya, daripada harus berkeliling mall dengan pakaian seperti ini. Wanita cantik itu terus meratap manja.
“Aku malu sekali. Kita pulang saja. Tidakkah Bapak mau tidur denganku?” ujar Indriani pasrah.
Pak Adam menggelengkan kepala sambil tersenyum sadis.
“Baru masuk kok sudah mau pulang? Kalo mau menyetubuhi nanti malam aja..” ujar Pak Adam.
“Aku malu sekali…” ucap Indriani lirih.
“Sini, mendekat kesini..” balas Pak Adam.
Satu-satunya cara bagi Indriani untuk menutupi kejengahan dan rasa malunya yang membuncah adalah dengan merapatkan tubuhnya dengan sang ayah mertua. Pak Adam tertawa saat sang menantu yang seksi itu menempel erat.
Pak Adam merangkul pundak Indriani sehingga mereka berdua nampak seperti sepasang kekasih. Beberapa orang yang berpapasan atau nongkrong di pinggir koridor menatap heran ke arah sepasang manusia ini. Bagaimana mungkin bidadari secantik dan seseksi Indriani mau bergaul dengan pria gemuk buruk rupa seperti Pak Adam?
Saat mereka berjalan berdua, Pak Adam memperhatikan banyak laki-laki tua muda yang sedang berjalan-jalan melirik penuh minat ke arah Indriani. Buah dadanya yang terpantul naik turun bisa dilihat dengan jelas, sementara kaki Indriani yang jenjang terlihat seksi dan sangat mulus dengan rok super mini yang dikenakannya.
Beberapa orang meneteskan air liur melihat kemolekan menantu Pak Adam itu. Makin bangga mertua bejat itu pada menantunya.
+
**Anissa Wibisono – Stella Wijaya**
Dodit menghentikan mobil tidak begitu jauh dari gerbang utama komplek perumahan kakak kandung Anissa. Tunangannya yang lugu itu terheran-heran.
“Lho? Kok berhenti, Mas? Apa ada yang salah?” tanya Anissa.
“Tidak ada yang salah. Kamu manis sekali, say. Manis dan seksi.” balas Dodit tersenyum.
Dodit menggeser posisinya duduk agar bisa sedikit mendekati Anissa. Gadis itu langsung bisa melihat perubahan ukuran gundukan di selangkangan Dodit. Tangan Dodit membawa jari-jemari Anissa ke arah gundukan itu.
Sembari dibimbing oleh Dodit, tangan Anissa mengelus rudal tunangannya yang makin lama makin membesar di balik celana. Tangan Dodit sendiri tidak diam begitu saja. Dia mengelus seluruh tubuh Anissa dari atas sampai ke bawah. Dengan berani Dodit menciumi wajah dan leher sang kekasih.
“Mas Dodit! Jangan Mas! Apa yang Mas lakukan?” tanya Anissa sambil merem melek, walaupun sepertinya menolak, tapi gadis cantik itu cukup menikmati serangan tangan dan banjir ciuman dari Dodit.
Dengan penuh semangat Dodit meremas-remas buah dada Anissa yang montok dan menggemaskan. Anissa berusaha mendorong Dodit menjauh tapi tunangannya itu jelas lebih kuat.
Anissa melenguh keenakan saat Dodit mengecup dan melesakkan tangannya ke balik baju yang dikenakan Anissa. Tangan Dodit kian merajalela di balik baju yang dikenakan gadis cantik itu.
Dengan nekat tanpa takut ketahuan orang yang kebetulan lewat, Dodit menyelipkan tangan ke balik bra Anissa yang masih dikenakannya dan memainkan pentilnya dengan memilin dan meremas gumpalan dagingnya yang indah. Berulang kali Anissa melenguh.
Baju Anissa terbuka dan branya terangkat naik. Dodit makin leluasa menikmati bagian dada dari Anissa yang memang besar dan indah itu. Makin lama makin tidak kuatlah Dodit menahan gejolak nafsu birahinya, dia menggumuli Anissa dan mencoba melepaskan kancing celana jeans tunangannya.
“A-aku ingin bercinta denganmu, say…” bisik Dodit lirih di telinga Anissa.
Laki-laki muda yang sudah horny itu memeluk tubuh indah Anissa dan mengulum bibirnya dengan nafsu, kedua tangannya bergerak bebas meremas-remas gundukan indah buah dada Anissa.
Adik kandung Rendra menggelengkan kepala, walaupun merasa panas dan siap bercinta, tapi Anissa tidak mau menyerah pada nafsu birahinya. Dengan sedikit memaksa, Anissa mendorong Dodit menjauh.
“Jangan, Mas. Aku mohon… sudah cukup, jangan melakukan sesuatu yang akan kita sesali nantinya… aku tidak bisa… aku mohon, kalau Mas Dodit benar-benar mencintaiku… Mas harus menghargai keputusanku untuk mempertahankan milikku yang berharga sampai pernikahan kita nanti…” ujar Anissa.
Dodit mundur sambil ngos-ngosan. Nafasnya tersengal dan tidak teratur. Dodit memandang ke arah Anissa dengan kesal.
Bersambung… **Indriani Suseno**
Pak Adam meninggalkan Indriani sendirian duduk seorang diri di sebuah bangku panjang di depan toko yang menyediakan peralatan elektronik. Pria tua itu cekikikan melihat kegelisahan sang menantu dari jarak jauh. Pria busuk ini memang sengaja membiarkan Indriani sendirian, dia ingin melihat menantunya yang cantik itu digoda laki-laki lain.
Dengan pakaian yang super seksi seperti itu, pasti mudah bagi Indriani memperoleh perhatian seorang lelaki, apalagi yang hidung belang. Tanpa mengenakan pakaian seksipun Indriani sudah mampu membuat mata seorang pria terpukau, apalagi sekarang dia mengenakan baju super seksi? Keringat dingin mulai membasahi tubuh Lidya.
Duduk di depan sebuah toko elektronik yang ramai dikunjungi oleh laki-laki berbagai usia dengan pakaian seperti seorang pelacur murahan membuatnya ingin lari. Tapi Indriani takut dengan ancaman Pak Adam yang tidak saja bisa menghajar tubuhnya secara fisik tapi juga menghancurkan masa depannya bersama Indra . Dia hanya bisa pasrah dan berharap mertuanya itu segera keluar dan menjemputnya. Saat ini Indriani hanya ingin segera pulang ke rumah.
Untungnya Indriani membawa handphone. Walaupun simcard yang tadinya berada di dalam hp sudah dicabut dan disita oleh Pak Adam sebelum mereka berangkat ke mall, tapi dia masih bisa menggunakannya untuk kamuflase. Tidak peduli berapa jumlah lelaki yang menggoda ataupun nanar menatapnya seperti akan menelan tubuh indah Indriani bulat-bulat, wanita cantik itu berkonsentrasi menatap layar di HP-nya dan berpura-pura sibuk dengan HP-nya.
Sialnya, bukannya cuek, malah makin banyak pria-pria nakal yang memperhatikan Indriani. Seorang pria yang berusia sekitar 40 tahun keluar dari toko yang dimasuki Pak Adam dan langsung berdiri di depan Indriani. Pria itu membawa tas jinjing plastik yang berisi mainan anak-anak.
Indriani yang melirik diam-diam langsung tahu kalau pria ini pasti sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak yang masih kecil, tapi sepertinya dia pergi sendirian. Indriani makin gelisah, dia berusaha menyilangkan kakinya sesopan mungkin untuk menutup bagian selangkangannya yang terbuka lebar. Tapi dengan cara itu, kini pahanya yang mulus bisa dinikmati oleh sang lelaki hidung belang yang sedang memanjakan mata.
Indriani kian jengah, dia terus menanti-nanti Pak Adam yang tidak kunjung keluar dari toko elektronik. Paha mulus Indriani sudah melambai-lambai seakan minta dielus, walaupun sudah berusaha sebisa mungkin untuk menutupinya, penampilannya tetap terlihat seronok. Mata wanita cantik itu memerah karena menahan air mata.
Indriani melirik lagi ke arah sang pria hidung belang, ia berharap pria itu sudah pergi. Ternyata dugaan Indriani salah, orang itu malah makin mendekat. Terlihat jelas dari posisi Indriani, sebuah gundukan kian membesar di bagian selangkangan pria itu. Indriani memalingkan wajahnya yang memerah karena malu.
Pria hidung belang itu memutari etalase toko seperti seorang anak kecil yang tersesat, berputar tanpa arah yang jelas, tapi satu hal yang pasti, pandangan matanya selalu kembali ke arah paha Indriani yang putih mulus tanpa cacat. Entah harus khawatir atau malah bangga, Indriani sedikit menyunggingkan senyum karena sikap orang itu malu-malu. Tapi Indriani tidak mau bermain api, dia segera membenahi posisi duduknya dan berpura-pura tidak memperhatikan.
Orang itu ternyata malah mendekati Indriani dengan berani. Dia mengira senyuman Indriani tadi ditujukan untuknya! Wanita cantik itu mengejapkan mata tak percaya dan menahan nafas saat pria itu datang mendekatinya.
“Sedang menunggu teman?” tanyanya pria itu.
“Saya juga. Boleh saya duduk di sebelah anda? Rasanya capek sekali berdiri di sini.” Lanjut orang itu.
Indriani mengangkat bahu dengan cuek, jantungnya mulai berdetak dengan kencang, matanya bergerak mencoba mencari Pak Indra. Kemana lagi pria tua brengsek itu? Indriani makin gelisah dan ingin segera pergi dari sini. Pria yang genit itu duduk di samping Indriani. Dia sengaja duduk sedikit merapat ke arah si cantik. Indriani bisa merasakan senggolan-senggolan kecil di daerah pinggul dan pantatnya.
“Wah, hp seri **** ya?” tanya pria genit itu lagi sambil menunjuk telpon genggam yang dipegang Indriani.
“Saya selalu ingin memiliki hp seperti itu. Sayang di tempat ini sangat susah mendapatkan hp seperti yang anda miliki, hp seri baru stoknya terbatas. Padahal saya tidak peduli dengan harganya yang mahal. Berapapun harganya, pasti saya beli. Saya selalu mengatakan pada diri saya sendiri, kalau saya menginginkan hp, harus yang memiliki fitur lengkap. Kebetulan hp itu memiliki fitur-fitur seperti yang saya butuhkan.” ujar orang asing itu.
Indriani mengangguk dan mengangkat bahu, dia masih cuek dan tidak peduli apa yang dikatakan laki-laki di sebelahnya. Pria itu mendekat dan makin nekat, kini lengan mereka bersinggungan dan saling menempel sisinya. Indriani berusaha menyembunyikan hpnya karena toh telpon genggam itu menyala tanpa simcard. Dia tidak ingin ketahuan oleh si hidung belang ini sedang berpura-pura. Untungnya pria hidung belang itu lebih tertarik memperhatikan paha dan belahan buah dada Indriani yang putih mulus dan menggoda daripada hp yang sedang ia sembunyikan.
Sekali lagi, pria hidung belang itu masih terus mencoba mendekati Indriani.
“Hpnya bagus, cocok dengan pemiliknya yang cantik. Jadi bisa foto selfie dan hasilnya pasti bagus.” puji si hidung belang dengan rayuannya.
“Anda sangat cantik.” tambahnya memuji Indriani.
“Terima kasih.” Jawab Indriani mencoba ramah.
“Sebelumnya belum pernah saya memuji seorang wanita yang baru saya temui seperti saat ini. Tapi anda benar-benar mempesona.” Kata si hidung belang lagi.
“Terima kasih. Saya beruntung menjadi yang pertama yang pernah anda puji.” Jawab Indriani.
Dia menarik nafas lega karena sepertinya orang ini cukup sopan untuk tidak berbuat yang aneh-aneh di tengah keramaian.
“Saya tidak tahu apa yang merasuki diri saya, mudah-mudahan anda tidak tersinggung.” Kata pria itu lagi.
“Ah tidak. Saya tidak tersinggung.” Jawab Indriani pendek.
Indriani berusaha membenahi caranya duduk agar pria di sebelahnya tidak bisa menikmati pahanya yang putih mulus dengan bebas. Matanya masih terus mencari Pak Adam. Kalau hanya digoda oleh laki-laki sudah jadi langganan bagi Indriani, yang membedakan kali ini adalah caranya berpakaian. Dengan busana yang ia kenakan, Indriani seakan seperti seorang pelacur yang sedang menunggu pelanggan. Memalukan sekali!
“Saya juga sangat menyukai pakaian yang anda kenakan, sangat modern dan seksi. Jujur saja saya sangat kagum dengan kecantikan anda. Apakah anda seorang model iklan atau bintang sinetron?” pria itu mulai berani melancarkan serangan.
“Bukan. Saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa.” balas Indriani.
Kata-kata ‘ibu rumah tangga’ membuat lelaki itu sedikit terkejut. Jarak mereka merenggang. Indriani akhirnya bisa menarik nafas lega. Tapi pria itu masih juga belum mau menyerah.
“Apa anda sedang menunggu suami anda?” tanya laki-laki itu.
“Tidak. Suami saya sedang berada di luar kota. Saya sedang menunggu ayah mertua saya.” Kali ini Indriani menjawab jujur.
Di saat genting, Indriani malah keceplosan mengatakan hal-hal jujur pada laki-laki ini, tapi memang Indriani mulai kebingungan mencari kata-kata karena ditelan oleh perasaan gelisah yang makin lama makin membuncah, dan pada akhirnya, dia mengatakan hal jujur di saat dia harus berbohong. Keringat si cantik mengalir deras. Laki-laki itu merasa kembali mendapatkan angin, dia merapat lagi, kali ini bahkan agak mendesak tubuh Indriani.
“Wah, kalau begitu suami anda adalah seorang pria yang sangat beruntung karena memiliki seorang istri yang cantik dan seksi yang juga sangat sayang pada mertua.” Kata orang asing itu.
“Saya selalu berharap istri saya berani mengenakan pakaian yang lebih membuat saya bergairah tapi dia selalu menolaknya.” lanjut orang asing itu.
“Saya yakin istri anda punya alasan sendiri.” Jawab Indriani sambil menjauh.
Indriani tidak berani menatap mata laki-laki di sebelahnya, pria itu menatapnya nanar seperti ingin menjilat seluruh tubuh Indriani. Wanita cantik istri Indra ingin pergi, dia ingin cepat-cepat meninggalkan pria ini, dia takut sekali, tapi Indriani jauh lebih takut pada Pak Adam sehingga dia tidak beranjak meninggalkan bangku.
“Tentunya kaki istri saya yang gemuk tidak bisa dibandingkan dengan keindahan kaki anda yang langsing. Suami anda benar-benar seorang laki-laki yang beruntung. Sayang dia tidak mempedulikan anda dan pergi ke luar kota sendirian…’ Kata pria itu.
“Dia sedang dinas keluar kota .” balas Indriani.
“…mungkin saja. Tapi hari ini, di mall ini, pasti banyak orang yang mau meninggalkan istri mereka dan mengajak anda pulang ke rumah.” ujar orang asing itu.
“Anda sungguh berani mengatakan hal itu. Apa maksud kata-kata Anda..” ucap Indriani dengan nada sedikit tinggi.
Pria itu tersenyum penuh percaya diri, tangannya perlahan mengelus lengan Indriani yang putih mulus, dia benar-benar yakin Indriani akan jatuh ke tangannya. Si cantik itu mulai jengah, kata-kata orang ini terdengar sopan dan terpelajar, sayang kelakuannya menjijikkan.
“Apakah anda termasuk pria tidak mempedulikan istri anda?” tanya Indriani menantang.
Dia menepis tangan pria hidung belang tak dikenal yang mulai keterlaluan itu.
“Bagaimana pendapat anda? Apa anda mau saya ajak pulang?” tanya pria itu sambil cekikikan, wajahnya terlihat sangat nafsu dan menjijikkan. Dalam benaknya pasti sudah terbayang beribu macam cara menunggangi Indriani. Dia pasti sudah gatal ingin melesakkan batang rudalnya dalam-dalam di liang rahim si cantik ini.
“Maaf sobat. Tapi nampaknya menantu saya tidak tertarik pada anda.” Sebuah suara menyelamatkan Indriani secara tiba-tiba.
Pak Adam sudah datang. Beberapa hari ini Indriani merasa jijik dan marah pada mertuanya, baru kali ini dia merasa sangat lega Pak Adam datang dan menyelamatkannya dari godaan seorang lelaki hidung belang. Indriani segera bangkit dan berlindung di balik tubuh Pak Adam. Laki-laki itu tahu diri dan mundur teratur sambil memasang muka masam. Tapi dia masih sempat melirik ke arah Indriani dan menjilat bibirnya penuh nafsu. Dasar hidung belang!
Pak Adam memeluk pinggang menantunya dan mereka berjalan lagi menyusuri lorong-lorong mall. Karena sudah diselamatkan dari lelaki iseng dan terlindungi, Indriani diam saja saat tangan mertuanya itu nakal meraba dan meremas-remas pantatnya saat mereka berjalan bersama. Indriani seakan sudah tidak peduli seandainya ada orang yang saat itu menatap mereka.
Satu perasaan bangga memenuhi batin Pak Adam. Seumur hidupnya, dia belum pernah memiliki suatu hal yang bisa dibanggakan. Kini, saat berjalan bersanding dengan seorang wanita yang masih muda, cantik dan seksi yang bisa ditunggangi setiap saat, banyak lelaki menatapnya iri. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Pak Adam bisa memamerkan sesuatu yang membuat orang lain ingin menjadi dirinya. Pak Adam benar-benar puas.
“Bagaimana rasanya?” bisik Pak Adam di telinga Indriani.
Sekujur tubuh wanita jelita itu merinding karena bisikan Pak Adam disertai pula dengan ciuman dan jilatan kecil di telinganya.
“Ra-rasanya apa, Pak?” Indriani menggelinjang geli.
“Bagaimana rasanya digoda laki-laki?” ujar Pak Adam.
“Bu-bukan yang pertama kali. Aku tidak suka…” Indriani tidak meneruskan kalimatnya karena sekali lagi Pak Adam mengendus telinganya yang wangi.
Indriani tidak bohong, walaupun terkesan sombong tapi memang dia sudah sering sekali digoda laki-laki hidung belang. Sebenarnya Indriani benci sekali pria semacam itu, karena meskipun Indriani sudah mengenakan pakaian yang sopan, tidak seksi dan tidak menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah, masih banyak yang mendekatinya dengan tidak sopan.
Kali ini situasinya sedikit berbeda, karena Indriani jelas-jelas menggunakan pakaian seksi yang mengundang birahi, dia bagaikan seorang pelacur yang sedang menawarkan dagangan dengan mempertontonkan keindahan lekuk tubuhnya. Indriani meneruskan kalimatnya dengan lirih sambil memejamkan mata sesaat ketika lidah Pak Adam nekat menjelajah daun telinganya di tengah keramaian mall.
“…tidak suka…” ujar Indriani terputus.
“Kamu tidak suka digoda?” tanya Pak Adam.
“Ti-tidak…” balas Indriani lirih
Pak Adam menyeringai jahat.
Bersambung… **Anissa Wibisono – Stella Wijaya**
“Kamu kecewa, Mas?” tanya Anissa.
Dodit yang sedang merapikan bajunya terdiam membisu. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan Anissa itu? Jujur saja dia kecewa karena tidak bisa melampiaskan nafsu birahinya yang sedang memuncak, tapi di sisi lain, dia juga sangat bangga pada kekasihnya karena masih menjunjung tinggi nilai dan budaya timur yang kini sudah mulai luntur. Sangat jarang menemui gadis seperti Anissa.
“Kamu pasti kecewa ya, Mas?” Anissa mengulangi pertanyaannya.
Dodit tersenyum dan mengelus rambut tunangannya yang panjang dan indah dengan mesra.
“Kenapa harus kecewa? Aku bangga sama kamu, say. Di jaman sekarang ini, susah sekali menemukan gadis yang masih memandang penting keperawanan seperti kamu. Aku bangga dan merasa terhormat. Pernikahan kita sudah hampir tiba, jadi kenapa harus kecewa? Aku hanya perlu sabar dan menunggu sebentar lagi.” balas Dodit tersenyum.
Anissa tersenyum mendengar perkataan Dodit. Dia tidak tahu apakah Dodit berbohong untuk sekedar menenangkan dirinya atau benar-benar jujur, tapi Anissa yakin Dodit pria yang baik, dia bersedia menunggu sampai datang hari pernikahan mereka untuk bisa bersatu dengannya.
Anissa tahu saat ini Dodit sudah sangat horny, tapi kemampuannya mengendalikan diri memang pantas diacungi jempol. Dia dengan bangga akan menyerahkan segalanya untuk Dodit di hari pernikahan mereka. Dia akan memberikan miliknya yang paling berharga, kegadisannya yang sudah dia jaga sejak kecil.
“Terima kasih, sayang. Kau tahu seandainya tadi kau teruskan, aku tidak akan bisa menolakmu karena aku sangat mencintaimu, tapi aku ingin malam pertama kita benar-benar menjadi malam pertama yang sangat berharga.” kata Anissa sambil lembut mengecup pipi Dodit.
Dodit tersenyum dan balas mengecup pipi Anissa, dia kembali terdiam dan membisu. Dodit memutar kunci dan menghidupkan mesin mobil.
**Stella Wijaya**
“Bang! Baksonya tiga ya, Bang!” ucap seorang Ibu.
“Iya Bu!” jawab Pak Isno.
Akhir-akhir ini Pak Isno sering lewat di komplek rumah di sekitar pos kamling, lokasi dimana dia memergoki wanita cantik yang jadi idamannya.
Pagi siang malam Pak Isno berkeliling untuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok bidadari yang kemarin lusa dia lihat mendatangi pos kamling dan melakukan hubungan seks dengan seseorang. Wanita itu sangat cantik dan terlihat seperti wanita baik-baik tapi melakukan hubungan seks malam-malam di pos siskamling.
Pak Isno tidak habis pikir bagaimana wanita seperti itu melakukan hubungan seks malam-malam di pos kamling. Bisa dipastikan wanita cantik itu adalah warga komplek ini, itu sebabnya Pak Isno bersemangat mencarinya. Walaupun nanti kalau sudah bertemu, Pak Isno tidak tahu apa yang akan dia lakukan.
Hari ini, Pak Isno kembali berusaha mendapatkan jawabannya. Kebetulan sekali ada tiga orang ibu-ibu komplek yang sedang ngerumpi dan membeli bakso dagangannya. Dengan hati-hati Pak Isno mendekati mereka dan berpura-pura memotong-motong sayuran, Pak Isno menguping pembicaraan ibu-ibu yang sedang asyik ngobrol, siapa tahu ada informasi yang bisa dia dapat mengenai wanita itu.
“Eh, Bu Syamsul, katanya Pak Kuncoro punya cewek simpanan baru lho.”
“Cewek simpanan? Pak Kuncoro yang gemuk itu? Pak Kuncoro? Masa sih, Bu? Siapa yang mau sama Pak Kuncoro? Istrinya aja nolak-nolak!”
Ibu-ibu itu tertawa.
“Bener kok, Bu. Ini gosip dari Bu Kuncoro sendiri. Katanya akhir-akhir ini Pak Kuncoro jadi lebih sering dandan dan lebih wangi. Dia jadi lebih memperhatikan diri. Kalau dulu boro-boro dia mau pakai minyak wangi, sikat gigi aja jarang!”
“Ah, Bu Tatang ini…”
“Kalau berita itu bener, saya jadi heran sendiri. Siapa sih wanita bodoh yang mau sama Pak Kuncoro? Meskipun di depan orang kelakuannya baik, tapi sebenarnya itu kedok karena di belakang dia punya perangai dan watak yang jelek! Busuknya kan sudah terkenal sampai kemana-mana! Kasihan istrinya.”
“Iya tuh, saya juga sering ngeri kalau melihat Pak Rendra dan Bu Rendra mempercayakan rumah dan anak pada Pak Kuncoro . Mungkin mereka satu-satunya warga yang tidak tahu seperti apa Pak Kuncoro sebenarnya.”
“Yah, kalau soal itu sih, awalnya juga tidak ada yang tahu, Bu Syamsul. Soalnya Bu Kuncoro kan orangnya baik banget! Suka menolong dan ramah. Bu Rendra juga baik, tidak pernah mencurigai orang dan sifatnya lemah lembut, jadi saya yakin keluarga Pak Rendra pasti mempercayai keluarga Pak Kuncoro .”
“Eh, jangan-jangan cewek simpenan Pak Kuncoro itu Bu Rendra yah?”
Ibu-ibu itu kembali tertawa.
“Ah, Bu Tatang ini ngaco terus! Mana mau Bu Rendra sama Pak Kuncoro ! Suaminya saja cakep banget, belum lagi Pak Kuncoro itu gemuk, botak dan jelek! Buat apa Bu Rendra yang cantik dan seksi itu selingkuh sama Pak Kuncoro? Kalau beneran mau selingkuh kan dia bisa cari laki-laki lain yang lebih cakep? Ah ada-ada saja.”
“Bener, Bu Syamsul. Bu Rendra itu bener-bener tipe ibu rumah tangga idaman di komplek kita. Masih muda, cantik, seksi, setia, baik, ramah, sopan, udah gitu lemah lembut pula. Gak ada kurang-kurangnya. Suami saya aja sering diam-diam melirik nakal kalau sedang berpapasan di jalan dengan Bu Rendra.”
“Wah, suami saya juga, Bu Sani. Kalau sudah ketemu Bu Rendra, itu mata kayaknya nggak mau lepas-lepas! Dilalapnya sampai habis penampilan Bu Rendra dari atas ke bawah! Kakinya yang jenjang, kulitnya yang putih mulus, bodinya yang aduhai, buah dadanya yang indah, wajahnya yang cantik, semua ditelan mentah-mentah. Dasar laki-laki, kalau sudah lihat yang bening lupa sama istri sendiri!”
Ibu-ibu itu tertawa lagi.
Pak Isno mengangguk-angguk sambil memainkan mangkok baksonya. Pria itu sepertinya mulai menemui titik terang. Pak Isno mencatat informasi yang didapatkannya dari percakapan ibu-ibu itu dalam benaknya. Sepertinya ada seorang wanita yang sangat cantik dan seksi yang tinggal di komplek ini dan menjadi idola tidak saja bagi kaum pria tapi juga kaum wanita. Perempuan itu adalah istri dari seorang warga komplek yang bernama Rendra, apakah mungkin dia wanita yang dia lihat malam itu?
Pak Isno jelas berniat mencari tahu.
**Indriani Suseno**
“Pak, kenapa kita harus mencarinya? Dia menjijikkan! Dia menggodaku… dia… dia…” kata-kata Indriani patah-patah karena bingung mencari kata yang cocok.
Dia kesulitan berjalan cepat sambil tetap mempertahankan pakaiannya agar tidak terbuka dengan vulgar, meskipun saat ini dia sudah seperti seorang pelacur hina.
“Itu sebabnya kita harus menemuinya! Bapak akan memberinya pelajaran berharga!” ujar Pak Adam.
Pak Adam mencari-cari pria hidung belang yang tadi menggoda Indriani. Setelah berkeliling dari lantai ke lantai, mereka menemukannya sedang duduk di sebuah restoran siap saji, dia segera menarik tangan Indriani dan menghampirinya. Indriani yang sudah berharap tidak akan bertemu lagi dengan orang itu menjadi sangat kecewa, bagaimana mungkin di mall sebesar dan seramai ini, Pak Adam bisa menemukan orang itu lagi?
“Selamat siang, mas.” Kata Pak Adam.
Orang itu memang lebih muda dari Pak Adam, dengan pandangan curiga dan ragu pria hidung belang yang tadi menggoda Indriani menatap ke arah Pak Adam dan menantunya.
“Ya?” pria genit itu mengernyitkan dahi.
“Kenalkan, nama saya Adam dan ini menantu saya, Indriani.” Kata Pak Adam sambil mengajak pria mupeng itu bersalaman.
“Saya Jaya.” Pria itu masih menjawab dengan pendek.
Tapi dia tidak melewatkan kesempatan untuk menjabat tangan Indriani dan mengelusnya sedikit. Pria itu terkekeh pelan menikmati halusnya tangan Indriani. Si cantik itu sendiri ingin mati rasanya.
“Saya lihat tadi Mas Jaya tertarik dengan menantu saya, apa benar?” Tanya Pak Adam.
“Kalau iya kenapa?” Jaya menjilat lidahnya ke arah Indriani dengan sengaja, membuat Indriani makin jengah.
Dia menarik-narik ujung baju Pak Adam dan mengajaknya pergi, tapi rupanya mertuanya itu punya rencana lain.
“Yah, menantu saya ini rupanya juga sangat tertarik pada anda. Bahkan dia tadi mengatakan kalau seandainya diberikan kesempatan sebentar saja dia ingin merasakan kehangatan yang mungkin bisa anda berikan padanya. Berulang kali dia meminta untuk kembali dipertemukan dengan anda.” Kata Pak Adam sambil melirik Indriani puas.
Indriani benar-benar ingin mati, dua pria ini pantas dibunuh. Seandainya bisa, dia ingin mengambil sebilah pisau dan menancapkannya di dada Pak Adam dan Jaya. Pria yang bernama asli Sanjaya itu bagaikan baru saja menjadi pemenang undian berhadiah, dia hampir-hampir melompat dari kursinya dan hendak memeluk Indriani. Tapi Pak Adam menghentikannya.
“Tapi tentu saja, saya tidak bisa mengijinkan Mas Jaya memakai menantu saya ini, karena biar bagaimanapun juga, dia masih menantu saya dan istri sah dari anak saya. Saya tidak akan mengijinkan siapapun juga menidurinya, kecuali anak saya.” Kata Pak Adam sambil menatap Jaya galak.
Jaya yang ternyata cukup pengecut kembali duduk ke kursinya. Pria genit itu menatap Pak Adam heran.
“Kalau tidak boleh dipakai, buat apa ditawarin?” Ucap Jaya dengan nada kesal.
“Berhubung anak saya sedang keluar kota, menantu saya ini sangat kesepian. Bagaimana kalau Mas Jaya bermain-main sebentar dengan buah dadanya? Seperti yang mas Jaya lihat, Indriani tidak mengenakan bra dan ingin dibelai-belai sebentar di kamar kecil.” Kata Pak Adam.
Perlahan Indriani meneteskan air mata. Dia sudah tidak mampu lagi berucap ataupun mengeluarkan protes. Penghinaan Pak Adam sudah hampir membuatnya pingsan, dia sama sekali tidak mengira mertuanya itu akan menyerahkannya pada pria menjijikkan ini. Jaya melonjak lagi.
“Berapa perlu saya bayar untuk melakukan itu?” Tanya Jaya merasa dapat angin.
“Mas Jaya hanya perlu membelikan makan siang untuk kami berdua.” Jawab Pak Adam.
“Setuju. Terserah kalian mau makan di mana.” Jaya langsung mengangguk. Dia meraih dompet dan mengeluarkan lembaran ratusan ribu pada Pak Adam.
Dengan buru-buru Jaya menggandeng lengan Indriani dan menariknya ke kamar kecil di ujung gang yang untungnya sedang sepi. Dia tidak peduli lagi dengan makan siangnya yang belum habis di restoran siap saji tadi. Dia lebih bernafsu menikmati buah dada Indriani. Pak Adam tertawa sambil mengikuti mereka berdua dari belakang.
Jaya tidak menunggu terlalu lama, saat berada di gang menuju kamar kecil yang sepi, dia segera menubruk Indriani. Dengan kasar dia mengangkat blouse Indriani dan tidak mempedulikan airmata yang menetes di pipi wanita cantik itu. Indriani benar-benar sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali pasrah.
“Kamu pikir kamu bisa lolos dariku, yah?” kata Jaya sambil terkekeh pada Indriani.
“Untung sekali kamu punya mertua yang pengertian. Dasar sombong, rasakan sekarang pembalasanku!” Ucap Jaya.
Dengan sekali tarik, blouse Indriani terangkat keatas. Perempuan cantik itu menjerit lirih tak berdaya, tangisannya makin menjadi. Buah dada Indriani meloncat keluar tepat di hadapan Jaya dan putingnya yang menunjuk ke depan mempesona pria genit itu.
Indriani kembali menjerit dan terisak saat Jaya dengan kasar meremas buah dadanya dengan gemas dan memainkannya dengan nakal. Indriani bisa merasakan jari jemari Jaya melingkari putingnya dan perlahan memencetnya. Karena tubuh Indriani dan Jaya berdempetan, Indriani bisa merasakan gumpalan rudal di selangkangan Jaya makin lama makin membesar.
Cukup lama Jaya meremas-remas buah dada Indriani dan mereguk kenikmatan darinya, sebelum ada orang yang melewati gang itu, akhirnya Pak Adam menghentikan ulah cabul Jaya pada menantunya. Jaya mengangguk tanda mengerti dan menghentikan serangannya pada dada Indriani. Wanita cantik itu jatuh luruh ke lantai sambil terus menangis terisak-isak.
“Maaf, Mas. Waktunya habis.” Kata Pak Adam.
“Wah… nanggung sekali, Pak. Saya belum menjilatinya, saya belum menikmati buah dada itu seutuhnya.” Jaya ngos-ngosan menahan birahi yang sudah hampir memuncak.
“Saya ingin lebih, saya ingin menidurinya dan menyetubuhi dengannya.” ucap Jaya.
Pria itu meraih dompet dan bersiap mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu lagi. Pak Adam tersenyum dan menggeleng.
“Maaf sekali, tapi perjanjian adalah perjanjian. Dia masih menantu saya, Mas. Saya masih harus menghormati dia.” Ucap Pak Adam.
Jaya menunduk kesal, dengan setengah membentak, dia mendorong Pak Adam.
“Berapapun saya bayar, Pak! Berapapun!! Saya punya ATM, kartu kredit, semua buat Bapak! Saya hanya ingin serambi lempitnya! Saya ingin serambi lempit menantu bapak ini! Sekali saja!!” Ucap Jaya membentak keras.
Pak Adam menyeringai marah dan balas mendorong Jaya, di luar dugaan, ternyata Pak Adam jauh lebih kuat dari pria yang sedang birahi ini.
“Saya sudah katakan berulang-ulang, perjanjiannya hanya soal buah dada Indriani, bukan serambi lempitnya! Dia bukan pelacur!! serambi lempitnya hanya milik anakku!!” Balas Pak Adam tidak kalah keras.
Jaya menunduk lagi. Akhirnya emosinya perlahan menyurut. Dengan langkah lemas dia meninggalkan Pak Adam dan Indriani. Di luar dugaan, Pak Adam mendatangi Indriani dan memeluknya mesra. Indriani memeluk mertuanya itu erat dan menangis sejadi-jadinya.
Pak Adam mengelus-elus rambut Indriani dan memberinya penghiburan. Walaupun merasa aneh, Indriani sedikit merasa terlindung ulah sikap Pak Adam yang tiba-tiba baik ini.
Jaya ternyata masih belum menyerah. Dia mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya dan menaruhnya di lantai.
“Seandainya bapak butuh uang dan berniat melakukan perjanjian lagi, silahkan hubungi saya. Saya bukan orang yang kaya raya, tapi berapapun saya bayar untuk bisa menikmati serambi lempitnya.” Ucap Jaya.
Pak Adam menatap Jaya sambil meringis sadis. Dia mengambil kartu nama itu dengan terkekeh.
“Yah, kita toh tidak tahu kapan butuh uang. Siapa tahu Indriani suatu saat nanti kangen pada Mas Jaya.” Ucap Pak Adam.
Indriani kaget dengan ucapan mertuanya dan mendorongnya menjauh. Pak Adam dan Jaya.
“Kurang ajar! Kalian anggap apa saya ini? Barang dagangan? Pelacur murahan?” Indriani menjerit marah.
“Pak, saya ini menantumu! Istri dari anakmu! Teganya kamu melakukan ini semua?” Kesabarannya sudah habis.
Plakk!! Tamparan Pak Adam mendarat di pipi Indriani. Bekas merah merona tertinggal di pipi mulus wanita cantik itu. Indriani kembali menangis tak tertahankan.
“Jangan pernah bicara kurang ajar di depan kenalan baru!” bentak Pak Adam.
“Maafkan menantu saya, Mas Jaya. Seandainya dia nanti merindukan remasan-remasan anda, pasti saya hubungi anda lagi.” Ucap Pak Adam.
Cerita Sex Persekongkolan
“Baik, saya tunggu telpon anda.” Kata Jaya sambil menyeringai puas. Sebelum pergi, pria genit itu mengerlingkan mata pada Indriani yang masih menangis. Indriani menatap mertuanya ketakutan.
“Bersihkan wajahmu di kamar kecil. Benahi make-upmu! Kuberi waktu sepuluh menit. Kalau selesai dalam sepuluh menit, kita pulang. Kalau tidak, akan aku cari orang lain lagi untuk meremas-remas buah dadamu!” Perintah Pak Adam. Indriani segera lari ke kamar kecil dengan terburu-buru.