Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Beautiful Temptation

Beautiful Temptation

Warning: Novel 21+ Bijaklah dalam memilih bacaan yang sesuai dengan usia anda!.

Ceysa tidak lagi percaya cinta sejak pernah sangat terluka. Baginya, kebutuhannya pada seorang pria hanya untuk menghangatkan malamnya. Tidak ada komitmen, hanya untuk bersenang-senang.

Suatu ketika dia terjebak dengan seorang pria yang jauh lebih muda, yang dibayarnya untuk satu malam lewat sebuah aplikasi dating online. Ceysa pikir, dia tidak beruntung malam itu. Namun siapa sangka, itu menjadi malam yang paling berkesan untuknya.

Akankah Ceysa membutuhkan pria itu lebih dari satu malam?

Novel Beautiful Temptation Ngocoks Di usia kepala tiga, karir Ceysa makin bersinar. Usaha Wedding organizer yang dibangunnya dari nol, kini telah memiliki cabang di mana-mana. Tapi, di balik kesuksesan itu ada kegagalan yang selalu dipertanyakan, yaitu soal percintaannya. Dalam hal ini, Ceysa sangat tidak beruntung.

Ceysa adalah tipe wanita yang sangat sulit untuk jatuh cinta. Sekalinya dia menyukai seorang pria, malah harus berakhir dengan terluka. Sejak saat itu Ceysa tidak mau percaya lagi pada yang namanya cinta.

Ting!. Ceysa melirik ponselnya yang ada di sebelah mouse pad, membuatnya sejenak beristirahat dari kesibukan yang menyita waktu sejak pagi. Ada sebuah notifikasi dari aplikasi dating online, yang memang sedang ditunggu.

Jangan bayangkan Ceysa sudah putus asa sehingga memilih mencari pacar lewat aplikasi kencan, ini bukan yang seperti itu. Aplikasi dating online ini ibarat perantara dalam menemukan teman tidur, hanya sebatas itu. Ya, dia memang gila untuk urusan yang satu ini, tapi membutuhkannya sebagai wanita normal berusia tiga puluh tahun.

Bukannya tidak bisa mencari sendiri, tapi kebanyakan pria di luar sana ingin lebih. Sementara dia hanya membutuhkan hubungan satu malam tanpa harus repot-repot berkomitmen atau basa-basi.

“Vale,” ucap Ceysa menyebut nama pria yang baru saja mengirimkan ketertarikan pada tawarannya di aplikasi itu.

Tidak bisa dipastikan itu nama yang asli atau hanya samaran, dan Ceysa tidak begitu peduli. Toh, dia juga tidak memakai identitas asli. Tidak ada foto atau hal pribadi apapun yang akan muncul, sehingga semuanya aman.

Ceysa membuka profil pria bernama Vale itu. Akunnya terverifikasi, yang artinya bukan seorang penipu. Tidak ada foto, karena memang aplikasi ini sangat menjaga privasi seseorang. Namun di sana tertera detail ciri-ciri fisiknya, meski berpotensi tidak jujur.

Di situ, pria itu hanya menulis kalau dia memiliki kulit yang bersih dan aroma tubuh yang wangi. Tidak ada yang dilebih-lebihkan, tapi justru itu dua hal penting yang Ceysa inginkan.

Dari awal, Ceysa sudah cukup tertarik dengan namanya. Vale, nama yang unik. Lalu profilnya yang sederhana, patut dicoba. Dia pun menekan accept sebagai tanda kalau hubungan mereka bisa dilanjutkan. Selanjutnya tinggal mengirim undangan mengenai waktu dan tempatnya.

Begitu saja.

Ceysa sudah kembali sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk. Tidak ada waktu untuk berangan-angan membayangkan seperti apa pria yang akan ditemuinya nanti. Toh, hanya untuk satu malam. Sejauh ini belum ada yang benar-benar membuatnya puas, hingga ingin mengulang malam bersama beberapa pria sebelumnya. Semua hanya untuk satu malam, malah ada yang berakhir sebelum dimulai lantaran prianya menjijikkan.

Tok. Tok. Tok.

“Bu, Pak Fredy dan Ibu Fidya sudah datang,” beritahu asisten Ceysa.

Ceysa pun berdiri, langsung ke luar menyambut dua orang tamu penting yang sudah ditunggu-tunggu. Untuk saat ini, hanya pekerjaan yang bisa membuatnya lebih bahagia. Kala mendapat job besar dari calon pengantin, itu merupakan pencapaian yang luar biasa.

***

Setelah mengirimkan chat pada Blaire kalau dia tidak akan pulang malam ini, Ceysa pun memacu mobilnya. Dia ingin me time di tempat perawatan tubuh lebih dulu, melakukan body spa secara menyeluruh. Secara fisik, harus diakui Ceysa sangat terawat.

Ponselnya berbunyi, Blaire yang menelepon. Ceysa pun memasang ear phone ke telinganya, lalu menerima panggilan itu.

“Halo, Bi?” sapanya.

“Cey, emangnya Lo mau ke mana kok nggak pulang?” tanya Blaire.

“Ada kerjaan nih di luar kota,” bohong Ceysa. Dia tidak mungkin jujur pada sahabatnya itu, bisa-bisa heboh satu kelurahan kalau mereka semua tahu kebiasaan apa yang dimilikinya selama ini.

“Yah … padahal gue sama Allura mau ngajakin Lo shopping malam ini. Lagi ada sale tau, Cey.”

“Kenapa nggak besok malam aja?”

“Cuma malem ini doang sale-nya.”

“Ya udah kalian pergi aja tanpa gue.” Ceysa memutar setir ke kiri, memasuki halaman parkir tempat spa langganannya.

“Ya udah deh, mau diapain lagi kalau Lo sibuk. Ini weekend loh Cey, jangan terlalu keras gitu kerjanya. Sesekali kasih badan Lo istirahat,” omel Blaire.

“Iyaaa. Bawel banget sih.”

“Ya udah, hati-hati ya. Kabarin kalau ada apa-apa.”

“Sip.” Ceysa mematikan mesin mobil. Dia turun dari mobil setelah selesai teleponan.

“Selamat sore Mbak Ceysa,” sapa seorang pegawai tempat spa itu.

Ceysa membalas dengan senyuman. Dia sudah sering ke sana, merupakan pelanggan tetap juga sehingga setiap datang pasti disambut dengan baik.

“Di ruangan VIP kosong tiga ya, Mbak. Silakan,” ucap seseorang.

Ceysa pun mengikuti seorang terapis langganannya. Dia dibawa ke sebuah kamar yang sangat nyaman.

“Hari ini ambil paket komplit ya, Mbak?” tanya terapis bernama Ayu itu.

“Iya, sekalian waxing ya.”

“Oke, Mbak.”

***

Ceysa sudah mengatur tempat untuk malam ini di sebuah hotel berbintang yang terletak cukup jauh. Dia juga telah mengirimkan lokasinya, nomor kamar, serta jam berapa Vale harus datang. Tidak ada basa-basi, pria itu cukup menjalankan perannya sesuai bayaran, lalu pergi.

Selagi Vale belum datang, Ceysa lebih dulu mandi merilekskan pikirannya. Dia hanya mengenakan bathrobe, membiarkan rambutnya tetap basah. Tidak perlu berdandan atau memakai lingerie berlebihan, karena hubungan yang terjadi malam ini hanya sebatas kepuasan.

Ting tong!

Ceysa cukup terkesan Vale datang di waktu yang benar-benar pas, tidak terlalu cepat ataupun terlambat. Dia pun membuka pintu cukup lebar, tapi kemudian terpaku menatap pria yang berdiri di depan pintu.

Dia … Vale?

“Vale,” ucap pria itu sembari memberi setangkai bunga mawar merah dan tersenyum memikat.

Sungguh, Ceysa tidak memungkiri pria berkemeja kotak-kotak ini sangat tampan. Namun yang jadi persoalan, bukankah dia terlihat terlalu muda?

“Hei …” Vale melambaikan tangan di depan wajah Ceysa.

Ceysa tersentak, lalu dengan cepat mengambil bunga itu dan mundur. Pria itu masuk ke dalam, tingginya pas dengan postur tubuh yang ideal. Saat lewat, aromanya benar-benar jenis kesukaan Ceysa, maskulin dan segar.

“Silakan duduk,” suruh Ceysa.

Vale tersenyum dan duduk di sofa itu, sembari matanya melihat-lihat seisi kamar berfasilitas mewah itu. “Kamu harusnya nggak perlu sewa kamar semahal ini,” ucapnya.

Ceysa duduk berhadapan dengan Vale dan menaruh bunga itu ke meja. “Ini demi kenyamanan,” ucapnya tenang.

Vale, si pemilik mata elang itu lantas menatap Ceysa begitu dalam. “Kamu sudah makan?” tanyanya.

“Berapa usia kamu?” tanya Ceysa to the point.

Vale sedikit mengerutkan kening, tapi kemudian terkekeh. “Emangnya kamu nggak lihat di profil aku?” tanyanya.

Ceysa rasanya melihat kalau usia pria itu di profilnya tiga puluh lima tahun. Tapi dia yakin usia Vale lebih muda dari itu. “Bisa tolong dijawab aja?” mintanya datar.

“Aku dua tiga,” jawab Vale. “Sorry, aku sengaja palsuin umur di profil biar nggak diincar sama Tante-tante.”

Shit!

Ceysa memijat keningnya. Dia tidak pernah membayangkan akan tidur dengan pria yang tujuh tahun lebih muda darinya. Jadinya, dia seperti Tante-tante yang mencari kepuasan pada seorang brondong.

“Ada masalah?” tanya Vale bingung.

“Saya udah bayar kamu sesuai kesepakatan. Tapi, bisa kita akhiri sampai di sini?” tegas Ceysa tanpa basa-basi.

Vale mengerutkan kening. “Kenapa?” tanyanya.

“Kamu nggak perlu tau alasannya.” Ceysa kemudian berdiri, “silakan ke luar.”

“Karena usia aku?” Alih-alih menuruti keinginan Ceysa, Vale tetap duduk di sana.

“Saya mohon, kamu pergi sekarang,” ulang Ceysa penuh penekanan.

Vale tersenyum geli. “Aku nggak suka dibayar tanpa bekerja. Kamu udah keluarkan banyak uang untuk semua ini, kenapa harus diakhiri?” tanyanya keras kepala.

“Maaf, saya tidak terbiasa bermain dengan anak kecil,” ucap Ceysa agak kasar.

Vale terkekeh. “Kamu harus mencoba lebih dulu anak kecil ini, baru nanti putuskan apakah permainannya akan menyenangkan atau tidak,” ucapnya menantang.

Saat Vale berdiri, Ceysa merasa gugup dan jantungnya berdebar keras. Dia bisa mencium kembali aroma pria itu. “Sa-saya minta kamu pergi sekarang. Saya tidak …” Ucapan Ceysa terhenti ketika tubuhnya didesak ke tembok, dan dikunci dengan kedua tangan Vale yang kekar.

“Try me,” bisik Vale.

Jantung Ceysa berdebar makin keras ketika bibirnya dilumat oleh Vale. Dia tidak pernah mengizinkan pria mana pun menyentuh wajahnya, tapi kali ini ciuman Vale melemahkannya. Dia tak berdaya dalam permainan bibir dan lidah Vale.

Vale menarik Ceysa menuju ranjang, lalu membaringkannya. Dia melepas kemejanya, memamerkan otot-otot di perut. Lalu dia membungkuk di atas wanita itu dan mencium bibirnya kembali.

Kali ini, Ceysa membalasnya.

“Kamu nggak mau pulang?”

Vale mengancingkan celananya. Lalu memicingkan mata, “ngusir banget nih?” kekehnya.

“Nggak berniat nginep, kan?” sindir Ceysa. Dia tidak pernah membiarkan pria manapun ikut menginap, karena kebutuhannya telah terpenuhi.

“Kalau diizinin sih …” Melihat tatapan tajam Ceysa, Vale tertawa. “Galak banget sih. Ngobrol dulu gimana? Tenang, gratis kok.”

Ceysa mencebik.

Sebotol red wine dan dua gelas telah disediakan di atas meja. Ceysa tidak pernah berpikir akan menjamu pria satu malamnya seperti ini, namun itulah yang terjadi. Mereka duduk di balkon kamar menikmati udara yang menyejukkan.

“Kamu udah lama kerja kayak gini?” tanya Ceysa.

“Nggak juga. Aku baru jadi member di aplikasi itu tiga bulanan,” jawab Vale.

“Oh.” Baru tiga bulan tapi keahlian bercintanya sudah expert, haruskah Ceysa percaya?

“Kamu sendiri?”

“Baru enam bulan,” jawab Ceysa.

“Bukan itu pertanyaannya,” ledek Vale. Dia terkekeh, tapi Ceysa tetap dengan ekspresi tenangnya. “Kenapa pakai jasa aplikasi dating? Aku yakin kamu bisa dapetin pria manapun dengan mudah.”

“Pria manapun yang kamu maksud nggak akan setuju dengan hubungan satu malam. Mereka pasti menuntut hal lainnya,” jawab Ceysa.

Vale menatap Ceysa begitu dalam. Entah apa yang dia pikirkan. “Emang nggak bisa lebih dari satu malam?” tanyanya.

Ceysa balas menatap Vale. “Ini akan jadi pertemuan pertama dan terakhir kita,” tegasnya.

“Kejam banget,” ledek Vale.

Ceysa hanya mencebik. Dia menyesap wine sedikit demi sedikit. Matanya memandang ke langit, begitu banyak bintang di sana. Malam ini cerah.

“By the way, nama kamu siapa?” tanya Vale. “Kita belum kenalan secara resmi.” Dia menyodorkan tangan.

“Kamu nggak perlu tau apapun tentang saya. Apapun yang terjadi di antara kita, jangan dianggap serius,” ucap Ceysa.

Vale menghela napas dan menarik tangannya. “Kamu membutuhkan lebih dari sekedar teman tidur,” ucapnya sok tahu.

“Kayaknya kita udah melewati batas. Aku harap kamu bisa pergi sekarang,” usir Ceysa sembari berdiri.

Saat Ceysa akan masuk ke dalam, Vale menarik tangannya hingga wanita itu duduk di pangkuannya. Protes Ceysa dibungkam oleh ciuman Vale.

Awalnya Ceysa berniat menolak, tapi pria itu membuatnya kembali tak berdaya. Dia pun mengalungkan tangan ke lehernya, membalas ciuman itu sama bersemangatnya. Belum satu jam mereka beristirahat dari lelah, nafsu sudah kembali datang.

Vale menciumi leher Ceysa dengan rakus. Dia suka aroma tubuh wanita itu, manis dan menyegarkan. “Kamu jangan pakai parfum ini saat bersama pria lain,” bisiknya sembari mencium daun telinganya.

Ceysa tidak begitu menggubrisnya, karena yang ada di kepalanya hanya nafsu yang membara. Hasratnya bagai tidak pernah padam, anehnya itu hanya terjadi saat bersama Vale. Laki-laki sebelumnya, lebih banyak membuat Ceysa ilfeel.

***

Ceysa terbangun setelah mentari pagi menampakkan cahayanya lewat tirai jendela yang terbuka. Dia tidak bisa bergerak karena tangan Vale sedang memeluknya. Semalaman mereka tidur di ranjang yang sama dengan posisi seperti ini. Dia sendiri lupa apa yang membuatnya mengizinkan Vale menginap, mungkin karena kelelahan jadi tidak bisa berpikir jernih.

Pelan-pelan Ceysa memindahkan tangan Vale dari tubuhnya. Dia duduk sembari memijat kepala. Masih terasa mengantuk, tapi tidak bisa tetap di sini. Selain alasan pekerjaan yang telah menunggu, dia juga tidak ingin sampai terjebak dengan seorang brondong.

Dengan sangat hati-hati, Ceysa turun dari ranjang. Dia tidak menciptakan suara apapun hingga selesai bersiap. Sebelum pergi, lebih dulu ditulisnya sesuatu di sebuah kertas. Sejenak dia memandang wajah pulas Vale.

“Kamu cukup mengagumkan, tapi sorry kita harus akhiri sampai di sini.” Ceysa bergumam dalam hati.

Setelah itu Ceysa meninggalkan hotel. Dia telah berpesan pada resepsionis untuk membangunkan Vale bila hingga waktunya check out pria itu belum juga pergi.

Selama perjalanan, ingatan tentang percintaannya dengan Vale terus gentayangan di kepala. Sosok itu telah membuatnya terpuaskan semalaman. Bila harus dibandingkan dengan pria lain yang pernah tidur dengannya, Vale yang terbaik.

Andai usia Vale sama dengannya atau jauh di atasnya, mungkin dia akan mempertimbangkan untuk bertemu lagi dengan pria itu. Sayangnya, Ceysa tidak tertarik berhubungan dengan seseorang yang lebih pantas menjadi adiknya. Tujuh tahun perbedaan yang sangat tidak masuk akal untuk bisa dimaklumi.

“Wake up Ceysa, Lo nggak seharusnya mikirin anak kecil itu.”

Bersambung… Vale menggerakkan tangan mencari sesuatu, tapi tak menemukannya. Dia pun membuka mata dan melihat ke sekeliling kamar, terasa sepi. Dengan wajah yang masih mengantuk, Vale turun dari ranjang, menuju ke kamar mandi hanya untuk memeriksa sesuatu.

“Ke mana dia?” gumamnya sembari berjalan menuju ke balkon. Mulutnya menguap lebar, masih mengantuk.

Saat matanya melihat sebuah kertas di atas nakas, niatnya ke balkon pun diurungkan. Dia mengambil kertas itu dan duduk di tepi ranjang. Selain itu juga terdapat amplop putih cukup tebal yang sepertinya berisi uang.

Ini uang tambahan sebagai bonus, thanks for a memorable night.

“Shit!” Vale bergerak cepat memakai pakaiannya.

Dia bergegas ke luar dari kamar dan langsung turun ke lobi, berharap masih bisa menemukan wanita yang telah bermalam dengannya itu. Tapi sialnya, sudah tidak ada. Dia pun ke meja resepsionis.

“Ada yang bisa dibantu, Pak?” tanya seorang resepsionis cantik di meja itu.

“Mbak, saya bisa minta kontak atau mungkin alamat dari penyewa kamar lima belas nol lima?” minta Vale.

“Maaf sekali Bapak, kita tidak bisa memberikan data pribadi pelanggan,” ucap resepsionis itu dengan ramah.

Vale pasrah, jelas itu kebijakan yang paling sulit ditawar untuk semua Hotel, terlebih ini Hotel berkelas. Dia pun memberikan kunci kamar itu, “saya mau check out,” ucapnya.

“Baik, ditunggu sebentar.”

Setelah menunggu lebih kurang lima menit, Vale pun ke luar dari lobi hotel dan menuju ke parkiran motornya. Dia merasa sangat menyesal karena bangun terlambat, sehingga tidak bisa bertemu lagi dengan wanita itu.

“Bego, Lo bahkan nggak tau namanya siapa,” umpatnya pada diri sendiri.

Valegano Ratama, berusia 23 tahun dan merupakan seorang yatim piatu. Dia tidak melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA, lantaran himpitan ekonomi dan memang malas belajar. Hingga tujuh belas tahun Vale tinggal di rumah tantenya, tapi kemudian memilih untuk mandiri.

Dia bekerja serabutan selama ini, melakukan apa saja demi menghasilkan uang untuk bayar kos dan makan. Namun karena ingin mendapat uang lebih, Vale pun mengikuti saran temannya untuk mendaftar di sebuah aplikasi dating online.

Kata orang, pekerjaannya itu sangat menyenangkan. Bisa menuntaskan hasrat seksual, sekaligus dapat uang. Tapi bagi Vale, tidak seperti itu. Dia malah lebih banyak terpaksa dalam melayani wanita, karena kebanyakan tidak menarik baginya.

Namun, kali ini berbeda. Wanita yang bersamanya semalam benar-benar tidak bisa dilupakan. Pada pandangan pertama saja, Vale dibuat terpana pada kecantikannya. Ditambah lagi sikap dinginnya yang buat penasaran, dia makin tergila-gila. Dan yang paling menakjubkan, wanita itu bisa membuat Vale on berkali-kali dalam waktu berdekatan. Tubuh wanita itu seperti candu yang ingin terus dia nikmati.

Sayangnya, dia kehilangan harapan setelah wanita itu pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak.

“Fuck!” Vale memukul tangki motor dengan keras. Dia merasa kesal saat ingat kalau wanita itu sudah tidak tahu di mana rimbanya.

Ada rasa banyak pertanyaan yang sangat ingin dia ketahui jawabannya. Kenapa wanita itu memakai jasa pria pemuas? Sudah berapa kali? Karena dia sadar … Dia bukan yang pertama.

***

“Astaga, Cey!”

Allura serambi lempitik nyaring ketika Ceysa secara tidak sadar memasukkan saos ke minuman.

“Oh my God!” Ceysa terkejut melihat kebodohannya saat ini.

“Lo lagi mikirin apa sih sampe nggak bisa bedain spaghetti sama orange juice?” cibir Blaire.

“Duh, nggak fokus banget gue.” Ceysa mendorong orange juice bersambal itu menjauh.

“Bukan cuma hari ini aja loh Cey, Lo kayak gini. Lagi ada masalah emang?” tanya Allura.

“Nggak ada.” Ceysa tidak mengaku. Dia mana mungkin cerita kalau selama tujuh hari ini otaknya sedang kacau balau memikirkan satu nama.

Vale.

Nama itu terus mengganggu dan merusak konsentrasi Ceysa. Meski dia sudah coba untuk melupakannya, tapi tetap saja selalu muncul dengan sendirinya.

“Kalau ada masalah tuh cerita Non, jangan dipendam sendiri,” ucap Blaire.

“Nggak ada kok. Cuma lagi hectic aja di kerjaan,” bohong Ceysa.

“Makanya cari pacar, biar hidup Lo nggak melulu soal kerjaan,” sindir Allura.

Ceysa mengabaikan Allura, memilih memanggil pelayan cafe untuk pesan minuman lagi. Seorang pria dengan seragam khas cafe datang mendekati Ceysa.

“Ada yang bisa dibantu, Mbak?” tanya pria itu dengan ramah.

“Mas, saya pesan …” Saat mengangkat pandangan ke sang waiters, matanya seketika melotot.

Sama halnya seperti Ceysa, pria itu pun terkejut melihatnya. Tapi lantas tersenyum, seperti sangat bersyukur atas pertemuan tidak terduga itu. “Hai,” sapanya.

Blaire dan Allura langsung menoleh si waiters dengan tatapan curiga, lalu bergantian menatap Ceysa, menuntut penjelasan.

Ceysa berdeham. “Tolong kasih saya satu orange juice,” mintanya dengan nada datar. Dia bersikap seakan tidak mengenal pria itu.

“Hanya itu?” tanya Vale.

“Hmm.” Ceysa mengangguk tanpa menoleh lagi pada Vale. Jantungnya berdebar sangat keras, takdir kalau sudah becanda memang tidak lucu.

Padahal tadi segalanya baik-baik saja. Pelayan pertama yang melayani mereka seorang wanita. Sama sekali tidak terlihat ada Vale di sana, tapi kenapa tiba-tiba pria itu muncul?

“Oke, ditunggu ya.” Vale tersenyum dan pergi dari sana.

“Siapa Cey?” tanya Allura langsung.

“Nggak tau,” jawab Ceysa asal.

“Kayaknya dia kenal deh sama Lo.” Allura bingung.

Ceysa tidak mau mengakuinya.

Tak lama Vale sudah datang kembali. Dia membawa segelas orange juice, menaruhnya di meja. “Ini orange juice pesanan kamu,” ucapnya.

Ceysa mengambil orange juice itu dan langsung meminumnya. Tenggorokan terasa hangat, membuatnya bingung. Sejak kapan ada orange juice hangat? “Kok hangat?” tanyanya menoleh pada Vale yang masih berdiri di sana.

“Soalnya kamu udah dingin,” jawab Vale.

Mata Ceysa melotot.

Allura dan Blaire berdeham, mereka sangat penasaran ada hubungan apa Ceysa dengan pelayan cafe setampan Song Kang itu.

“Halo,” sapa Vale pada kedua sahabat Ceysa. “Kenalin, nama gue Vale.”

“Hai, Blaire.” Blaire lebih dulu menyambut tangan Vale.

“Allura,” disusul Allura dengan wajah humble. “Lo … Siapa ya? Maksud gue kenal sama Ceysa?” tanyanya kepo.

Vale lantas menoleh pada wanita yang ternyata bernama Ceysa itu. Ini benar-benar hari keberuntungannya, siapa sangka pergantian shift yang tiba-tiba malah membawa berkah.

“Cuma kenal sepintas aja kok.” Ceysa yang menjawab. “Kamu nggak kerja?” tanyanya terdengar mengusir.

Vale mengeluarkan ponselnya dan menaruh itu ke atas meja. Dia lalu membungkuk. “Minta nomor kamu atau aku bakalan kasih tau mereka tentang kita,” bisiknya.

Ceysa menatap Vale garang.

“Duh, bisik-bisik apa nih?” sindir Allura.

Ceysa dengan cepat mengambil ponsel Vale dan mengetikkan nomornya di sana, lalu memberikan kembali pada pemiliknya.

Vale mengulum senyum. Lantaran tidak bisa percaya begitu saja dan keberuntungan jarang terulang, dia lebih dulu menelepon nomor yang Ceysa berikan sebagai pembuktian. Tak lama terdengar suara dering dan Ceysa terlihat mengambil ponselnya. Ternyata wanita itu tidak berbohong. “Kamu simpen nomor aku,” ujarnya sembari mengedipkan mata.

Ceysa mengabaikannya.

“Ya udah, kalian nikmati makanannya dan kalau butuh sesuatu panggil aja,” pamit Vale dengan senyum ramah.

“Okeee,” sahut Blaire dan Allura tak kalah ramah.

Ceysa memijat keningnya.

“Dia siapa sih, Cey? Gila ya, Lo nggak cerita kalau lagi deket sama cowok,” protes Allura setelah Vale pergi.

“Dibilang cuma kenal sepintas aja,” decak Ceysa.

“Masa sih?” Blaire memicingkan mata tak percaya. “Kok kayaknya dia punya kesan yang beda gitu.”

“Apaan sih,” elak Ceysa.

“Dia ganteng tau, Cey. Kayaknya suka sama Lo,” goda Allura.

“Gue sih yes,” timpal Blaire.

“Apaan sih Lo berdua. Nggak mungkin lah gue sama anak kecil kayak gitu,” tepis Ceysa kesal.

“Loh, emang umurnya berapa?”

“Dua tiga.” Ceysa menjawab ketus.

“Cuma tujuh tahun ini. Banyak kok yang langgeng aja meski beda usia puluhan tahun.” Allura mengompori.

“No way!” tegas Ceysa.

“Heh, nggak boleh gitu. Nanti malah bucin Lo sama dia,” ledek Allura.

Ceysa memutar bola matanya.

Sementara itu Blaire dan Allura terus memuji-muji Vale. Diam-diam Ceysa melirik Vale yang sedang sibuk ke sana kemari melayani pengunjung cafe lain. Saat pria itu menoleh, dia akan berpura-pura tidak melihat.

From: +62811223xxx

Kamu udah sampe rumah?

Lagi ngapain?

Kalau gak sibuk, aku boleh telepon?

Ceysa mengerutkan kening membaca pesan dari nomor tidak dikenal itu. Siapa yang iseng malam-malam kirim pesan yang seakan-akan teman dekat, memang tidak ada kerjaan. Dia pun mengabaikannya, kembali fokus pada layar laptop menyelesaikan pekerjaan untuk dipresentasikan ke klien besok.

From: +62811223xxx

Aku kepikiran kamu terus

Setelah diingat-ingat lagi, Ceysa jadi ingat tadi sore Vale meminta nomor ponselnya. Dia langsung mengecek riwayat panggilan, ada misscall dari nomor yang sama. Ternyata benar anak itu yang kurang kerjaan.

Mungkin karena terus diabaikan, nomor itu akhirnya menelepon. Ceysa membiarkannya saja, malah dengan sengaja mematikan nada deringnya agar tidak berisik.

From: +62811223xxx

Lagi sibuk ya?

Atau udah tidur?

Benar-benar anak muda yang tidak mudah menyerah. Harus Ceysa akui jantungnya berdetak, padahal Vale tidak masuk dalam hitungan kriteria pria yang disukainya dalam kategori usia.

Setelah pesan terakhir tadi, Vale tidak lagi berusaha menelepon atau kirim pesan berulang. Ceysa jadi galau tidak karuan, sebentar-sebentar mengecek ponsel. Dia tanpa sadar membaca lagi pesan-pesan Vale sebelumnya. Lalu mencoba mengetikkan balasan, tapi malah dihapus terus menerus.

“Gue ngapain sih?” geramnya, yang langsung melempar ponsel itu ke atas kasur.

“Ahh.” Ceysa meremas perutnya yang terasa kram. Dia menarik kedua kaki ke atas hingga lutut menyentuh perut.

Ini hari pertama periode menstruasi Ceysa, rasanya luar biasa. Dia lupa membeli peralatan tempur semacam obat pereda nyeri datang bulan, atau minuman sejenis jamu. Tanpa itu, dia bisa menderita semalaman.

“Bi,” ucapnya sembari meraih ponsel dan mencari kontak Blaire.

Tiga kali Ceysa menelepon, tapi tidak juga diangkat. Sejak menikah, Blaire mulai jarang memegang ponsel.

“Allura,” ucapnya lagi, beralih ke kontak Allura. Sialnya, malah tidak bisa dihubungi. Si pemalas itu pasti tidak men-charger ponselnya.

“Ahh.” Perutnya makin terasa sakit.

Di saat genting seperti ini, Vale malah menelepon. Ceysa tidak punya pilihan selain menerimanya, siapa tahu pria itu bisa membantunya.

“Finally, akhirnya diangkat juga. Aku pikir kamu block,” cerocos Vale tanpa menyapa lagi.

Ceysa merintih kesakitan sembari meremas perutnya.

“Kamu kenapa, Cey?” Nada suara Vale terdengar panik.

“Bisa bantuin aku nggak? Beliin obat pereda nyeri atau jamu datang bulan. Tapi kalau kamu nggak …”

“Share lokasi sekarang.” Vale langsung mematikan telepon.

Ceysa sempat tertegun beberapa saat karena reaksi Vale yang begitu cepat. Biasanya, pria akan banyak alasan bila diminta melakukan hal-hal yang akan membuatnya malu.

Setelah mengirimkan lokasinya pada Vale, beserta pin pintu apartemennya, Ceysa kembali meringkuk. Andai dia pulang ke rumah kontrakan malam ini, pasti tidak akan menderita seperti ini, Allura akan selalu siap membantu bila tengah malam sakitnya kambuh.

***

Vale membawa motornya ngebut di jalan raya yang cukup ramai. Dia tidak memedulikan hujan deras dan petir yang sedang melanda, karena yang ada di pikirannya adalah cepat sampai ke kediaman Ceysa.

Saat melihat apotek, Vale berhenti lebih dulu. “Mbak, beli obat pereda nyeri datang bulan,” mintanya.

Penjaga toko itu mengambilkan obat yang Vale minta. “Buat pacarnya ya, Mas?” tanyanya sembari menaruh obat itu ke atas etalase kaca.

“Iya.” Vale cengengesan.

“Sweet banget,” ucap si wanita.

“Emang beli ginian sweet ya, Mbak?” tanya Vale.

“Iyalah Mas. Jarang-jarang cowok tuh mau direpotin beli obat datang bulan. Pasti alasannya malu. Ini si masnya sama sekali nggak kelihatan malu, malah nekat lagi hujan-hujanan. Apa coba namanya kalau bukan sweet?”

Vale merasa sedikit bangga jadinya, bisa jadi nilai plus di mata Ceysa kalau begitu. “Tapi emang biasanya cewek kalau datang bulan harus banget minum obat ya, Mbak?” tanyanya penasaran.

“Nggak juga sih, Mas. Malah nggak bagus kalau ketergantungan sama obat. Ada cara lain yang sebenarnya lebih aman, nggak perlu obat-obatan.”

“Apa tuh, Mbak?”

“Perutnya dikompres sama air hangat aja, sama dikasih pijatan lembut. Di sini ada jual kantong kompres biar lebih praktis.”

“Mau deh mbak kalau gitu.”

“Saya ambilkan dulu ya.”

“Agak cepat ya Mbak,” minta Vale sembari melirik arlojinya. Dia sudah berhenti di sini sepuluh menit, pasti Ceysa sudah menunggu.

Setelah selesai dari apotek, Vale kembali ngebut menuju apartemen Ceysa. Untung saja jaraknya tidak terlalu jauh, dalam sepuluh menit dia sudah sampai di parkiran.

Ternyata, Ceysa sudah memberitahu pihak keamanan apartemen kalau Vale adalah temannya. Pria itu cukup meninggalkan KTP, kemudian diberi akses untuk masuk sebagai tamu.

Unit Ceysa berada di lantai lima belas, nomor 1505. Vale dengan mudah menemukannya. Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, dia menekan pin untuk membuka seperti yang wanita itu berikan.

Terdengar suara beep, Vale mendorong pintu itu ke dalam. Dia lebih dulu melepas sepatunya yang basah, kemudian masuk ke dalam. Apartemen Ceysa ini ukurannya tidak terlalu besar sehingga bisa langsung menemukan pintu kamar tidur yang berhadapan dengan ruang tamu.

Saat Vale masuk ke kamar, dilihatnya Ceysa sedang bergulung di atas kasur. Dia dengan cepat mendekati. “Hei,” panggilnya sembari mengusap rambut wanita itu.

Ceysa mengangkat kepalanya. “Kamu udah dateng?” tanyanya dengan suara lemah. Wajahnya terlihat pucat, jelas dia sedang kesakitan.

Vale membantu Ceysa untuk duduk.

“Kok baju kamu basah?” tanya Ceysa seraya menyentuh lengan jaket Vale yang benar-benar basah. Dia baru sadar kalau di luar sedang hujan. “Kenapa nggak nunggu bukannya berhenti dulu sih?”

“Aku khawatir sama kamu. Lagian cuma nerobos hujan air. Kalau hujan api, baru ngeri.” Vale terkekeh.

Ceysa mencebik. Dalam hati dia salut pada pengorbanan Vale, sampai rela hujan-hujanan hanya untuk membeli obatnya. Eh, iya obat! “Obatnya mana?” mintanya.

“Gimana kalau nggak usah minum obat dulu?” tanya Vale.

“Nggak bisa, ini sakit banget. Kalau nggak minum obat, aku nggak akan bisa tidur.”

“Ada cara lain selain minum obat, mau coba nggak?”

“Apa?”

“Sebentar.” Vale mengeluarkan isi di dalam plastik, lalu ke luar dari kamar Ceysa.

Ceysa berbaring, meringkuk kembali untuk meredakan rasa sakit. Tak lama Vale kembali membaca sesuatu yang entah apa namanya, beserta mangkuk kecil berisi minyak kelapa.

“Katanya, kompres air hangat sama efektifnya dengan obat anti nyeri,” ujar Vale sembari duduk di tepi ranjang.

Ceysa tersentak saat Vale menaruh kantong hangat itu ke atas perutnya. Entah karena terlalu gugup atau cara ini memang efektif, Ceysa tidak merasakan apapun lagi kecuali detak jantungnya yang berpacu.

“Punya essential oil?” tanya Vale.

Ceysa cuma bisa menunjuk laci di samping tempat tidur. Vale menarik laci itu, mencari sebentar lalu mengambil sebotol minyak esensial aroma lavender. “Buat apa?” tanyanya.

Vale menaruh kantong hangat itu ke bagian atas perut Ceysa. “Maaf ya,” ucapnya sembari menarik ujung kaus Ceysa ke atas. Perut rata wanita itu terlihat.

Ceysa terkesiap, tapi tetap diam saja.

Vale meneteskan essential oil ke dalam wadah minyak kelapa yang dibawanya tadi. Lalu diaduknya kedua minyak itu dengan telapak tangan. Setelah itu, dipijatnya perut Ceysa dengan gerakan melingkar.

Ceysa sudah tahu cara-cara ini, tapi tidak pernah dia lakukan karena malas. Baginya, lebih praktis minum obat. “Kamu tau dari mana yang kayak gini?” tanyanya penasaran.

“Sebagian diajarin sama Mbak-mbak di apotek, sebagian lagi aku searching di internet.”

Ceysa benar-benar speechless.

“Gimana rasanya, udah enakan?”

Ceysa mengangguk jujur.

Vale tersenyum. “Makasih ya Cey,” ucapnya kemudian.

“Kok kamu yang makasih, sih? Kan, harusnya aku.” Ceysa jadi malu.

“Makasih, karena mau dibantu sama aku. This means a lot to me,” ucap Vale lembut.

Ceysa terdiam selama beberapa saat. Sampai akhirnya dia bicara, “usia aku udah tiga puluh tahun. Perbedaan usia kita tujuh tahun. Mungkin saat kamu sedang matang, aku udah nggak produktif,” ucapnya agar Vale mempertimbangkan lagi niat untuk mendekatinya.

Vale mendekatkan wajahnya di atas wajah Ceysa. “I don’t care. Sekalipun nanti perbedaan kita nggak cuma sebatas usia, I will keep fighting for you.”

Ceysa tidak bisa berkutik lagi saat Vale mengatakan itu.

“So … kita pacaran?” tanya Vale penuh keyakinan.

“Terserah,” jawab Ceysa tidak ada pilihan.

“Kok terserah? Kesannya kayak aku maksa banget,” protes Vale.

“Iya.”

“Ha? Nggak kedengaran.” Vale mulai berulah.

“Iya.” Ceysa sedikit meninggikan suaranya.

“Apa?” Vale mendekatkan telinga.

“Jangan sampai aku berubah pikiran dan …” Belum selesai Ceysa bicara, Vale sudah membungkam mulutnya dengan ciuman.

Kenapa rasanya … bahagia?

Bersambung… Ceysa berbaring dalam pelukan Vale, rasanya hangat dan nyaman. Sungguh dia tidak menyangka hatinya akan semudah itu berlabuh pada seorang pria yang usianya jauh lebih muda. Padahal, brondong berada di urutan pertama list pria yang tidak akan dia kencani.

“Lagi mikirin apa?” tanya Vale. Sejak tadi, tangannya mengusap lembut punggung wanita itu.

“Kok bisa ya …” ucap Ceysa.

“Bisa apa?” Vale memainkan rambut Ceysa.

“Aku luluh sama kamu.”

Vale terkekeh. “Sejak dulu pesona aku emang nggak pernah bisa ditepis, Cey. Kamu harus mengakuinya,” ujarnya sombong.

“Pulang gih, nanti kemaleman,” suruh Ceysa sembari mencebik.

Vale mengulum senyum. Bibir Ceysa memintanya pulang, tapi pelukannya malah makin erat. “Jadi ngusir nih?”

“Iya,” jawab Ceysa.

“Ya udah aku pulang.” Vale berniat bangun, tapi Ceysa malah memeluk kian erat. “Kok nggak dilepasin?”

Ceysa mengulum senyum.

Saat Vale tiba-tiba membungkuk di atasnya, Ceysa dengan cepat menaruh telapak tangan di bawah dada pria itu. “Mau ngapain?” tanyanya gugup.

Vale tersenyum miring, mendekatkan wajah dan menekan tubuh Ceysa. Dia bisa merasakan dorongan lembut dari tangan wanita itu, tapi kalah dengan tenaganya.

“Vale, aku lagi dateng bulan!” ucap Ceysa cepat.

Vale mengerutkan kening, “Emang kamu pikir aku mau ngapain?” Lalu tersenyum geli. “Aku cuma mau ambil ini,” ucapnya sembari mengambil ponselnya yang berada di nakas, tepat di samping Ceysa.

Wajah Ceysa sontak memerah.

Vale kembali berbaring di samping Ceysa dengan senyum dikulum. “Aku mau hapus akun aku di aplikasi dating,” beritahunya.

Ceysa yang berbaring di lengan Vale, di dalam lingkaran tangan pria itu. Dia senang melihat Vale menghapus akunnya pada aplikasi itu. “Permanen ya?” tanyanya.

“Iya.” Setelah berhasil menghapus akunnya, Vale meng-uninstall aplikasi itu dari ponselnya. “Sekarang, hanya ada kamu di hidup aku.”

Ceysa tersenyum.

“Giliran kamu dong,” suruh Vale.

Ceysa mengambil ponselnya. “Kamu aja yang hapus,” suruhnya.

Dengan senang hati Vale menghapus akun VIP milik Ceysa, sebab dia pun tak ingin wanita itu ada main dengan laki-laki lain lagi. “Hanya ada aku di hidup kamu sekarang,” bisiknya.

Ceysa mencebik.

Vale menaruh ponsel mereka ke atas nakas kembali. “Besok siang kamu sibuk nggak?” tanyanya.

“Besok sampe sore aku ada kerjaan di luar kota,” beritahu Ceysa.

“Yah …” Vale tampak kecewa.

“Ketemu malem aja, aku jam enam pasti udah pulang kok.”

“Besok aku dapet shift malem.”

“Oh.” Giliran Ceysa yang kecewa.

“Kalau lusa?”

“Sama. Aku harus ke luar kota sampai acaranya selesai. Kira-kira seminggu. Kamu?”

“Aku juga shift malam terus seminggu ini.”

Keduanya sama-sama mendesah.

“Kamu liburnya kapan sih? Weekend bisa?” tanya Ceysa.

“Weekend dilarang ambil off, soalnya rame. Malah biasanya ada lembur. Senin baru bisa free,” beritahu Vale.

“Senin justru aku sibuk banget.”

“Terus kita ketemunya kapan dong kalau waktunya nggak pas gini?”

Ceysa juga bingung.

***

Ceysa dan Vale turun bersama-sama menuju basement apartemen. Mereka tak sungkan bergandengan tangan di bawah tatapan orang-orang. Sesekali, Vale akan merangkul leher Ceysa dan mencium pipinya. Katanya, karena akan berpisah satu Minggu jadi harus dipuas-puasin dulu.

“Motor kamu parkir di mana?” tanya Ceysa begitu sampai di mobilnya.

“Di situ.” Vale menunjuk ke seberang, motornya parkir bersamaan dengan motor lainnya.

“Ya udah, hati-hati ya,” ucap Ceysa.

Vale memeluk Ceysa, bagai mereka akan berpisah lama. “Bales chat aku, dan angkat telepon aku,” mintanya.

“Hmm.” Ceysa mengangguk.

Walau rasanya ingin mencium bibir Ceysa, tapi Vale cukup tahu diri kalau sekarang mereka sedang berada di tempat umum. Dia tidak mau wanita itu dicap buruk oleh orang-orang. Dia pun hanya mengusap pipinya, lalu tersenyum lembut. “Ya udah sana masuk mobil,” suruhnya.

“Kamu juga sana,” suruh Ceysa balik.

“Iya.” Vale pun setengah berlari ke parkiran motornya, sembari sesekali berbalik dan melambaikan tangan.

Ceysa sudah masuk ke mobilnya, dan menunggu hingga Vale pergi duluan.

Namun sepertinya ada masalah, dari tadi motor Vale tidak menyala. Pria itu sampai turun naik dari motornya untuk mengecek.

Ceysa pun membawa mobilnya ke sana, berhenti persis di samping motor Vale. “Motor kamu kenapa?” tanyanya.

“Nggak tau nih, mogok lagi kayaknya. kamu duluan aja nggak papa, nanti telat ke Bandara,” suruh Vale.

Ceysa mana mungkin tega meninggalkan Vale dengan kondisi seperti ini. Sebuah ide melintas untuk menyelesaikan masalah yang sedang terjadi. “Gimana kalau aku anter aja kamu pulang? Motornya biar di sini dulu, nanti aku telepon orang bengkel buat ambil,” ujarnya.

Vale terlihat ragu, juga malu karena merepotkan Ceysa. Tapi di sisi lain, dia pun butuh pertolongan. Berbagai pertimbangan bergejolak di hatinya.

“Kok malah bengong sih, ayo naik,” paksa Ceysa.

“Beneran nggak papa kayak gitu?” tanya Vale memastikan lagi.

Ceysa memasang ekspresi yang seakan berkata, buruan deh!

Vale cengengesan. Dia pun naik ke mobil Ceysa, meninggalkan motornya di sana. “Aku jadi nggak enak kalau gini,” ucapnya.

“Nggak enak kenapa?” tanya Ceysa tanpa menoleh, dia fokus menyetir.

“Ngerepotin kamu.”

“Apaan sih cuma gini doang.”

“Kamu tau kos-kosan aku?”

Ceysa menggeleng.

“Nanti di depan belok kiri,” beritahu Vale.

“Oke.”

Vale pikir, Ceysa akan menodongnya dengan banyak pertanyaan mengenai kenapa dia tinggal di kos-kosan, atau di mana orang tuanya. Tapi ternyata wanita itu bersikap biasa saja, seakan bisa menerima apapun dirinya.

Harus Vale akui Ceysa wanita yang mengagumkan. Wanita itu sangat … cool. Tipe wanita yang tidak banyak bicara, sangat membuat penasaran.

“Habis ini ke mana?” tanya Ceysa menunjuk persimpangan di depan.

“Ke kiri lagi,” jawab Vale.

Ceysa mengambil kacamata di dalam laci dashboard, lalu memakainya. Dia tidak bermaksud gaya, namun cahaya matahari pagi sangat menyilaukan. Di mata Vale, kecantikan wanita itu makin terlihat.

“Cantik banget sih,” ucap Vale tak bisa menahan diri. Dia usap pipi Ceysa dengan lembut, “jangan tinggalin aku ya, Cey.”

Ceysa menoleh, diam sejenak, lalu tersenyum geli. “Kamu kenapa sih?” tanyanya heran.

“Takut aja kamu berubah pikiran,” ucap Vale serius.

“Harus ada alasan yang melatari aku sampai berubah pikiran,” balas Ceysa.

“Misalnya?”

“Aku nggak suka diduain, apalagi jadi yang kedua,” tegas Ceysa.

“Kalau itu, kamu nggak usah khawatir karena hati aku udah beneran stuck ke kamu aja.” Vale meyakinkan. “Tapi ada yang lebih aku takutkan.”

Ceysa menoleh sebentar, “Apa?” Lalu kembali fokus ke jalan.

“Status sosial kita.”

Ceysa kembali menoleh Vale, tapi tidak mengatakan apa-apa.

“Aku terlalu percaya diri nggak sih Cey jatuh cinta sama kamu yang status sosialnya jauh di atas aku?”

Ceysa menepikan mobil di depan toko yang masih tutup. Jalanan saat ini masih sepi. Saat Vale pikir wanita itu melakukannya agar mereka ngobrol lebih nyaman, nyatanya Ceysa malah menarik kerah kemeja Vale dan mencium bibirnya.

Itu cukup sebagai jawaban.

Vale tersenyum saat Ceysa melepas ciuman. Sekarang, giliran dia menarik tengkuk wanita itu dan menciumnya lebih dalam lagi.

Saat tiba-tiba terdengar sebuah keras dari samping mobil Ceysa, keduanya pun melepaskan ciuman. Seorang anak kecil baru saja melintas dengan sepeda dan menabrak kaca spion mobil.

“Kosan kamu di mana?” tanya Ceysa, kembali melanjutkan perjalanan.

“Di situ,” tunjuk Vale yang ternyata tidak jauh dari tempat berhenti tadi.

Mobil Ceysa berhenti di depan sebuah kos-kosan bertingkat dua yang cukup sederhana. “Ini kos-kosan khusus laki-laki?” tanyanya.

“Nggak, campur.”

“Oh.” Ceysa mengangguk.

“Jangan bilang kamu berpikir aku kos di sini pernah masukin perempuan ke kamar aku?” tebak Vale.

“Emangnya nggak pernah?” ejek Ceysa.

“Nggak pernah. Tapi kayaknya nanti iya. Itu juga kalau Nona Ceysa yang cantik berkenan mampir ke kosan sederhana ini,” kekeh Vale.

Ceysa mencebik. “Udah sana turun,” usirnya.

“Nggak mau mampir dulu? Kosan aku bersih kok.”

Ceysa melirik arlojinya. “Lain kali aja, aku udah lumayan telat,” ucapnya sambil ikut memperlihatkan jam ke Vale.

“Ya udah, jangan ngebut. Kabarin aku terus.” Vale mengusap puncak kepala Ceysa.

“Nanti motor kamu aku minta orang bengkel anter ke sini. Kamu kerja shift malem juga, kan?”

“Iya.”

“Ya udah.”

Vale mendekatkan wajahnya mencium kening Ceysa. Lama dan penuh perasaan. “I love you,” ucapnya setelah itu.

Ceysa mengangguk.

“Kok cuma ngangguk?”

“I love you too,” balas Ceysa dengan tawa geli. Haruskah dia bilang kalau di usianya ini, mengatakan itu terasa sedikit menggelikan?

Vale tersenyum dan melambaikan tangan. Dia turun dari mobil. Berdiri di tepi jalan untuk melihat kepergian Ceysa. Senyum di bibirnya terus mengembang, rasanya bahagia sekali hari ini.

Vale: Kamu sudah makan?

Vale: Lagi apa?

Vale: Kamu sibuk ya?

Vale: Jangan lupa istirahat

Vale: Udah sore masih nggak ada kabar. Sibuk banget ya?

Vale: I miss you

Ceysa tersenyum membaca deretan chat Vale dari pagi hingga sore. Hari ini dia memang sangat sibuk, sampai makan siang saja terlewat. Jam enam dia kembali ke kamar Hotel, dan setelah mandi baru sempat mengecek ponsel.

Alih-alih membalas chat, Ceysa lebih suka menelepon langsung. Dia tipe orang yang malas mengetik panjang lebar, selain itu terkadang makna yang terkandung dalam pesan kurang sama dengan yang ditangkap oleh pikiran ketika membacanya.

“Hai!” sapa Vale antusias.

“Hai,” sapa Ceysa balik. “Maaf ya aku baru ngasih kabar sekarang, tadi tuh hectic banget.”

“Iya nggak papa. Sekarang udah nggak sibuk?”

“Lagi nunggu makanan dateng.”

“Makan malam?” Vale bertanya pasti karena ini baru jam enam sore.

“Makan siang,” kekeh Ceysa.

“Astaga, Cey. Ini udah jam berapa?”

“Hehehe.” Ceysa berbaring, rasanya nyaman sekali setelah beraktivitas di luar seharian.

“Cey, sesibuk apapun kamu jangan sampai telat makan lah. Apalagi telat kebangetan ini namanya.”

“Tadi meeting sampai jam dua, terus langsung diajak cek gedung. Habis itu meeting lagi, kelarnya baru sekarang. Makanya nggak sempet makan.”

“Kalau sakit gimana?”

“Kalau soal itu kamu tenang aja, aku udah punya dokter pribadi yang luar biasa pinter.”

“Siapa?”

“Yang kemaren bantuin aku pas lagi sakit perut karena menstruasi.” Ceysa mengulum senyum.

Vale tertawa. “Tapi sekarang, kan, kita lagi jauhan. Gimana cara aku obati kamu kalau lagi sakit coba?” tanyanya sedikit memelas.

“Pake telepati?”

“Kiss virtual?”

Giliran Ceysa yang tertawa.

“Video call dong, kangen banget.”

Ceysa pun mengubah saluran telepon menjadi video call. Vale begitu cepat menerimanya. Sejenak, keduanya saling menatap dengan senyum yang menghiasi wajah.

“Cantik banget,” puji Vale.

“Aku belum mandi loh padahal.”

“Aku udah pernah beberapa kali lihat kamu bangun tidur pagi hari. Tetep aja cantik.”

Wajah Ceysa tersipu. “Eh, kamu lagi di tempat kerja?” tanyanya begitu melihat seragam yang Vale kenalan.

“Iya, tapi lagi istirahat sekarang. Nanti jam tujuh aku nggak pegang hape, sampai jam dua belas malem.”

“Oh.” Ceysa ingin mengeluh, tapi dia tidak mau egois. Vale saja tidak marah saat dirinya sibuk seharian.

“Kamu pulangnya kapan?”

“Jumat sore atau malem.”

“Yah, aku kerja.” Wajah Vale tampak sedih. “Baru nggak ketemu sehari aja aku udah kangen, gimana nungguin satu minggu ya.”

Ceysa hanya tersenyum.

Terdengar suara bel.

“Bentar, kayaknya makanan aku udah dateng,” beritahunya.

“Tunggu, pake baju dulu dong. Masa gitu doang?”

Ceysa memang hanya mengenakan gaun tidur bertali tipis di pundak, ternyata Vale memperhatikannya. Dia pun mengambil lapisan luar gaun itu, berbentuk kimono tangan panjang.

“Sekarang udah boleh buka pintu?” tanyanya sembari memperlihatkan apa yang dikenakannya.

Vale memberikan jempolnya.

Ceysa pun membukakan pintu. Seorang petugas room service menyapa dengan senyum hangat. Dia meminta makanannya ditaruh di dalam, lalu memberikan tip.

“Kamu makan apa?” tanya Vale.

Ceysa mengarahkan kamera ke salad dan jus alpukat yang dipesannya. Vale terlihat berdecak dan bertanya, “kenapa makannya itu doang? Emang kenyang?”

“Ini udah jam setengah tujuh, nggak boleh makan yang berlemak lagi.”

Vale mendesah. “Lihat aja nanti kalau lagi sama aku. Aku paksa makan yang enak, jangan kayak kambing,” omelnya.

Ceysa cemberut. “Kamu ngatain aku kambing?” protesnya.

“Kambing, kan, cuma makan sayuran. Sama kayak kamu.”

“Tapi, kan, sehat.”

“Kamu tau nggak di luar sana banyak orang yang pengen makan enak, tapi nggak punya uang buat beli. Kamu yang mampu, malah cuma makan gitu doang.”

Ceysa terkekeh geli sembari menikmati sayurannya. “Tapi kamu tau nggak di luar sana juga banyak wanita yang berharap bisa langsing kayak aku,” balasnya.

Vale pun harus mengakui bentuk tubuh Ceysa memang impian setiap wanita. “Tapi nggak sampe harus nyiksa diri juga dong, Cey. Kalau laper ya harus makan yang bikin kenyang.”

“Aku kalau siang tetep makan biasa kok, cuma kalau malem aja yang harus dikontrol.” Ceysa sudah selesai menyantap saladnya, itu pun tidak habis. “Jus alpukat less sugar udah bikin kenyang,” tambahnya terkekeh.

Sampai Vale kembali bekerja, mereka terus mengobrol. Pembahasannya ringan, namun menghangatkan hati. Vale sangat manis, setiap ucapannya pasti membuat Ceysa tersenyum dan tersipu.

***

Begitu selesai bekerja, Vale langsung mengeluarkan ponselnya dari loker. Dia begitu merindukan Ceysa, sampai di kepalanya hanya ada nama wanita itu. Terdapat satu chat yang membuat bibir Vale berkembang, mendadak semua lelahnya menghilang.

Ceysa: Semangat kerjanya :*

Hanya itu, tapi hati Vale sudah sejuk.

Vale tidak berharap banyak Ceysa akan mengiriminya chat setiap menit seperti wanita lain bila sedang jatuh cinta, karena sejak awal dia sudah paham karakter wanita itu.

Ceysa itu … dingin.

Saat Vale memutuskan ingin bersama Ceysa, itu artinya dia sudah siap dengan segala konsekuensinya, tidak boleh mengeluh apalagi protes.

“Siapa tuh?” Zidan, teman kerja Vale dengan sengaja mengintip layar ponsel Vale dan melihat riwayat chat yang tertera.

“Kepo.” Vale menutup lokernya.

“Main rahasia-rahasiaan nih?” sindir Zidan.

“Nanti gue kenalin.” Vale memukul pundak Zidan dengan tas kecilnya. “Gue duluan ya, mau kencan dulu di telepon.”

“Iya deh yang udah punya pacar.”

Vale terkekeh dan pergi.

Sesampainya di tempat kos, Vale tidak bisa menghubungi Ceysa. Ponsel wanita itu tidak aktif, padahal dia sudah ngebut pulang agar bisa menelepon. Dia pun mengirimkan chat, siapa tahu kalau sudah aktif Ceysa akan menelepon balik.

Vale: Aku udah sampe rumah

Vale: Kamu udah tidur?

Setelah mengirimkan itu, Vale segera mandi untuk menghilangkan penat semalaman bekerja. Dia bersiul dengan gembira sembari mengusap tubuhnya dengan sabun.

Tok. Tok. Tok.

“Jangan bersiul tengah malem, nanti setan dateng,” ucap suara di luar.

Vale mengenali suara itu, teman satu kamar kosnya yang juga baru pulang bekerja. “Iya, elo setannya,” sahutnya.

“Bahagia banget, dapet bonus gede ya Lo?” tanya Juan.

Vale ke luar dari kamar mandi, hanya memakai handuk di pinggangnya. Dia melempar handuk kecil bekas mengeringkan rambut ke wajah pria itu.

“Sialan, kotor bego! Muka gue sampe jerawatan tanggung jawab Lo.” Juan mengumpat sembari mengelap wajahnya dengan handuk miliknya.

“Ngaca, itu handuk Lo udah kayak apaan joroknya,” ejek Vale.

Juan melihat handuknya. “Bener juga. Kapan terakhir dicuci ya,” cicitnya sembari masuk ke kamar mandi.

Vale mengecek ponselnya, nomor Ceysa tetap tidak aktif. Terlihat dari chat-nya yang belum terkirim. Dia pun mengirimkan chat kembali.

Vale: Good night

Vale: Mimpiin aku ya

Setelah itu Vale berpakaian, naik ke ranjang dan berbaring. Tubuhnya baru terasa pegal sekarang efek dari hujan-hujanan kemarin malam. Dia tersenyum membayangkan hubungan asmaranya dengan Ceysa.

Sebuah handuk basah melayang di wajah Vale. “Bangsat,” makinya sembari menyingkirkan handuk Juan itu.

“Satu sama,” ledek Juan.

“Untung muka gue udah ganteng dari lahir,” ucap Vale angkuh. Dengan arti lain, wajahnya tercipta dengan sangat sempurna, tidak pernah disinggahi jerawat sejak lahir.

“Serius deh, Lo tuh kelihatanya lagi bahagia banget. Dapet bonus gede?” Juan yang penasaran duduk di dekat Vale berbaring.

“Lebih dari sekedar bonus,” jawab Vale.

“Naik jabatan? Jadi manajer cafe?” Mata Juan langsung berbinar.

Vale menggeleng.

“Lah terus?”

“Gue habis jadian sama bidadari,” beritahu Vale.

“Val, Lo kalau mau mimpi tuh tidur dulu. Mana ada orang mimpi mata masih melek gitu,” ledek Juan.

“Tunggu sampe gue bawa dia ke hadapan Lo,” ucap Vale begitu yakin Juan akan terpesona pada Ceysa.

“Oke. Awas aja kalau bohong.”

Vale menendang bokong Juan agar pergi dari kasurnya. Sahabatnya itu menggerutu sembari pindah ke kasur sendiri. Kamar kos itu berukuran kecil, terdapat dua spring bed ukuran single. Ada satu kamar mandi yang meski dihuni dua laki-laki, tapi sangat bersih. Hanya ada satu lemari di mana keduanya berbagi tempat untuk menaruh pakaian.

Vale kembali mengecek ponselnya dan nomor Ceysa masih tidak aktif. Dia pun menyerah untuk menunggu, matanya sudah mengantuk ditambah tubuhnya terasa pegal semua.

Bersambung… Ceysa baru saja pulang ke apartemen dan langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. Rasanya sangat melelahkan hari ini, sampai untuk makan siang saja tidak sempat. Dia mengambil tas dan mengeluarkan ponselnya, baru sempat dinyalakan sekarang.

“Tumben nggak ada kabar,” ujarnya sembari mengecek apakah ada chat Vale yang terlewat. Bener tidak ada, chat terakhir pria itu tadi malam saat mengucapkan selamat tidur.

Ceysa mencoba menghubungi Vale, namun malah ponsel pria itu tidak aktif. Ini pertama kalinya Vale susah dihubungi, padahal biasanya paling cepat merespons.

Ponsel Ceysa berbunyi, dia tersenyum karena mengira itu dari Vale. Tapi senyum itu pudar begitu melihat yang menelepon justru Blaire. Bukan tidak senang, hanya sedang mengharapkan yang lain.

“Halo Bi,” sapanya sembari berbaring kembali.

“Cey, Lo di mana?”

“Baru aja nyampe apartemen.”

“Bagus kalau gitu, berarti ntar malem Lo bisa dateng ke restoran biasa, ya? Jam tujuh, on time.”

“Tumben. Emang ada perayaan apa? Jevan mau kawin lagi?” Restoran yang Blaire maksud terbilang mewah dan harganya mahal, biasanya mereka baru akan ke sana bila sedang merayakan sesuatu.

“Ih, amit-amit!”

Ceysa tertawa geli. “Ya terus apa dong?”

“Dateng aja deh, nanti gue kasih tau di sana.”

Ceysa melirik jam di dinding, ini baru jam lima sore. Vale mungkin sedang bekerja, karena pria itu masuk shift kedua dan baru pulang tengah malam nanti.

“Cey?”

“Iya nanti gue dateng,” sahutnya.

“Oke, inget ya on time.”

“Hmm.”

“Bye!”

“Bye.”

Ceysa menaruh ponselnya. Kemudian memejamkan mata sejenak. Tak lama terdengar suara bel, sangatlah mengganggu karena orang di luar sana menekannya terus menerus.

“Iya tunggu!” geram Ceysa sembari mendekati pintu. “Nggak sabaran banget sih.”

Saat pintu dibuka, Ceysa mematung melihat siapa yang berdiri di sana.

“Surprise,” ucap Vale dengan senyum lebar.

Tak ada kata-kata yang bisa mewakili betapa bahagianya Ceysa. Refleksnya adalah menarik Vale ke dalam, lalu mereka berciuman penuh semangat. Ini pelampiasan dari rasa rindu yang tertahan selama beberapa hari.

Vale menutup pintu dengan kakinya, lalu menarik Ceysa mendekat dan membawanya ke dalam. Menit terus bergerak, Bibir mereka belum sanggup memberi jarak, tetap saling melumat begitu dalamnya.

Tubuh keduanya terhempas ke atas kasur, Vale di atas dan tetap melumat bibir Ceysa.

Ceysa mengabaikan dering ponselnya yang berbunyi, tidak rela melepas kesenangan ini walau sesaat. Posisi tubuh mereka berpindah, kini Ceysa yang berada di atas.

Hingga oksigen sudah sangat menipis, keduanya melepas ciuman dengan napas tersengal.

“Kamu kok di sini?” tanya Ceysa.

“Aku tukeran shift sama temen hari ini, biar bisa ketemu kamu.” Vale menyelipkan rambut Ceysa ke belakang telinga, karena menutupi wajah cantiknya.

Ceysa tersenyum senang. Pantas saja Vale masih memakai seragam kerja, dan sedikit beraroma daging asap.

“Tapi besok aku harus lembur,” ucap Vale lagi. “So …” Dia menarik tengkuk Ceysa dan menjalin ciuman singkat.

Ceysa sudah akan terhanyut saat Vale tiba-tiba melepaskan ciuman. Bahkan bibirnya masih berusaha menggapai bibir pria itu.

“Aku boleh numpang mandi?” kekeh Vale. “Kamu nggak cium bau keringat emangnya?”

“Sedikit, tapi enak bau daging,” sahut Ceysa tertawa geli.

“Seharian ini aku di dapur jadi asisten koki, soalnya kekurangan orang dan cuma aku yang bisa masak,” beritahu Vale.

“Kamu bisa masak?” Ceysa terkejut.

“Lumayan. Nanti aku masakin, terus kamu nilai sendiri.” Vale membalik tubuh mereka, kini Ceysa di bawahnya. Diciumnya kembali bibir wanita itu.

“Aku mandi dulu biar nggak bau lagi.” Setelah itu Vale turun dari ranjang.

“Aku juga belum mandi,” ucap Ceysa.

Vale sontak membalikkan badan dan menatap Ceysa begitu dalam. Wanita itu tersenyum penuh arti.

***

“Katanya mau aku masakin.”

“Nggak malem ini. Kamu temenin aku ketemu sama temen-temen aku dulu,” sahut Ceysa.

“Bi sama Allura?” Vale memastikan, sebab bila selain kedua wanita itu dia tidak kenal teman Ceysa lainnya.

“Iya.” Ceysa duduk di depan cermin, merias wajahnya dengan sentuhan make up tipis.

“Tapi aku nggak bawa baju. Habis dari cafe, aku langsung ke sini. Masa pake seragam kerja ke sana?”

Ceysa tersenyum. “Kalau masalah itu kamu jangan khawatir, kebetulan aku punya banyak sample jas dari klien yang bisa kamu pake,” ucapnya dengan bangga.

Vale tidak banyak komentar, hanya menunggu Ceysa sedang mengambil pakaian yang dimaksud dari lemari.

Ceysa mengeluarkan jas warna navy, lalu mencocokkan tubuh Vale dan jas itu dengan matanya. “Kayaknya pas, dan ini nggak terlalu formal jadi bisa pake jeans,” ucapnya.

“Beneran nggak papa dipake?” tanya Vale ragu. Meski dia tidak paham soal merk, tapi jas itu sudah terlihat mahal dari luarnya.

“Nggak papa, ini dikasih ke aku. Jadi, mau aku apain ya terserah,” jawab Ceysa.

“Bukan punya laki-laki lain?”

Ceysa menatap Vale sangar.

“Hehehe, becanda.” Vale mengambil jas itu. Dia kenakan ke tubuhnya dan Ceysa seratus persen benar kalau ukurannya pas.

“Cakep,” puji Ceysa.

Vale berdiri di depan cermin lemari, tersenyum melihat penampilannya yang sedikit berubah. Dari pegawai cafe biasa, lalu tampak seperti pria yang lebih berkelas. Ternyata benar yang orang-orang bilang, segala hal akan terlihat dari apa yang dipakai.

Ceysa telah selesai berdandan, kini mengambil gaunnya. Dia memilih warna yang silver, lalu memakainya tanpa ragu di depan pria itu.

“Kamu pake itu?” tanya Vale.

Ceysa mengangguk sembari berusaha mengikat tali di tengkuknya. Bagian belakang gaun itu terbuka, punggung mulusnya terlihat jelas.

“Seksi banget Cey, nggak ada yang lain?” Vale tidak suka melihat Ceysa memakai gaun terlalu terbuka seperti itu.

“Ini biasa aja.”

“Biasa aja karena kamu yang pake. Tapi yang lihat penilaiannya bisa beda. Itu terlalu terbuka, bisa ganti aja nggak?” minta Vale dengan lembut.

Ceysa menurut.

Vale mendekati Ceysa lalu membantu mencarikan gaun yang tepat. Dia pilih warna yang sama dengan jasnya, “ini aja. Nggak terlalu seksi,” ucapnya.

Ceysa memakainya. Gaun itu tampak ketat di tubuh langsingnya, tapi tidak ada bagian yang terbuka berlebihan kecuali di pundak.

“Gimana sekarang?” tanya Ceysa sembari menghadap Vale.

“Cantik,” puji Vale.

Ceysa tersenyum. “Ya udah yuk kita berangkat sekarang, mereka pasti ngomel karena udah telat,” ajaknya.

“Aku ambil kunci motor dulu,” ucap Vale hendak mengambilnya di dalam saku seragam kerjanya.

“Kita pake mobil aja,” ucap Ceysa.

“Kenapa?”

“Di sana nggak ada parkiran motor.”

Vale tertegun, membayangkan seperti apa restoran itu sampai motor saja tidak diizinkan untuk parkir di sana.

“Lagian aku, kan, pake rok. Susah kalau naik motor,” ujar Ceysa lagi, agar Vale tidak merasa tersinggung.

“Oh iya, aku lupa.” Vale mengangguk. Meski benar tidak mungkin mengajak Ceysa naik motor dengan gaun itu, tapi tetap ada yang mengganggu pikirannya.

Ceysa menggandeng tangan Vale dan mengajaknya ke luar. Dia tahu apa yang ada di pikiran pria itu, tapi tidak ingin membahasnya.

Vale terpaku menatap deretan harga di setiap menu makanan di restoran itu. Hanya sekadar salad yang Ceysa pesan saja, isi dompetnya sudah tidak mampu. Seketika dia merasa sangat kecil berada di antara mereka yang bahkan tidak membaca menu ketika memesan.

“Mau pesan apa?” tanya Ceysa.

“Aku nggak tau, kamu aja yang pilih,” minta Vale dengan senyum kaku. Dia mengembalikan menu pada Ceysa.

Ceysa melihat-lihat sebentar. “Steak di sini enak,” ujarnya, menunjuk menu steak di buku itu.

“Ya udah itu boleh,” sahut Vale setelah melirik sedikit pada menu itu.

Ceysa menyebutkan pesanan Vale ke pelayan restoran yang menunggu. Dia juga menambahkan orange juice.

“Gemes banget sih Val, makan aja harus Ceysa yang pilihkan,” goda Blaire.

Vale hanya terkekeh.

Makan malam berlangsung santai. Dua kabar gembira yang diberikan oleh teman-teman Ceysa mendominasi obrolan. Vale hanya mendengarkan atau bereaksi sewajarnya saja, karena yang mereka obrolkan tidak begitu dia pahami.

“Kamu mau nyobain nggak?” tanya Vale menawarkan sepotong kecil steak miliknya.

“Dikit aja,” minta Ceysa.

Vale memotongnya lagi menjadi dua dan menyuapi Ceysa. Hal ini tak luput dari penglihatan empat orang teman Ceysa yang langsung menggoda mereka terang-terangan.

“Mau juga dong Beb, disuapin,” sindir Allura, diiringi tawa geli Blaire.

“Jangan rese deh. Gue biasa aja kalau lihat kalian suap-suapan,” erang Ceysa.

Vale lagi-lagi hanya terkekeh.

Ceysa mengelap mulutnya. “Mau ke toilet bentar,” pamitnya.

Semua mengangguk.

“Mumpung Ceysa ke toilet, kita bahas sekarang aja rencana kasih surprise buat ulang tahunnya Minggu depan,” ujar Allura setengah berbisik.

“Ceysa ulang tahun mingu depan?” tanya Vale sedikit terkejut.

“Ya ampun Val, Lo nggak tau Ceysa ulang tahun Minggu depan?” tanya Allura kaget.

Vale menggeleng polos. Dia belum sampai ke tahap memeriksa tanggal lahir Ceysa, karena mereka baru saja dekat.

“Tanggal empat belas bulan sembilan Ceysa ulang tahun,” beritahu Blaire. “Gue nggak perlu sebut tahun, kan?” kekehnya.

Vale terkekeh.

“Jadi, kita-kita punya rencana ngasih Ceysa kejutan. Kemaren udah sempet dibahas sih, cuma belum mencapai kesepakatan aja,” beritahu Blaire.

“Emang rencananya mau ngapain?” tanya Vale.

“Kalau usul si Jevan kemaren sih kita sewa private yacht gitu, terus rayain ultah Ceysa sambil liburan,” beritahu Allura.

“Gue sih yes,” ucap Blaire antusias.

“Menurut Lo gimana, Val?” Jevan tak ingin memutuskan sendiri, pendapat Vale tentu lebih utama karena pria itu berstatus kekasih Ceysa sekarang.

“Sewa private yacht?” ulang Vale.

Semua mengangguk.

Vale spontan menghitung harga sewa untuk sebuah kapal pesiar pribadi, itu pasti mahal sekali. “Gue …”

“Ceysa udah ke sini,” beritahu Onyx.

Vale urung mengutarakan pendapatnya. Dia menyesap sisa jus jeruknya, berusaha tetap nyaman. Sungguh, dia sadar perasaannya ini hanya bagian dari rasa rendah diri yang berlebihan. Temen-temen Ceysa sendiri sangat menyenangkan, tidak ada yang terlihat merendahkannya.

Semua mengalihkan topik ke rencana pernikahan Allura dan Onyx.

“Guys, kayaknya gue sama Vale harus pulang duluan deh,” ucap Ceysa tanpa duduk lagi.

“Loh, kok gitu?” protes Allura.

“Tau nih Cey, cepet banget. Baru juga jam delapan,” sambung Blaire.

“Gue sama Vale ada acara lain,” kekeh Ceysa.

Vale spontan mendongak menatap kekasihnya itu. Seingatnya mereka tidak punya rencana apapun.

“Iya deh iyaa yang mau berduaan aja, ngerti kok kita,” sindir Onyx.

“Oh gitu ternyata …” Blaire dan Allura mengangguk, ikut menggoda.

Ceysa hanya mencebik. Dia menoleh Vale, “yuk!” ajaknya.

Vale lantas berdiri. “Kita duluan ya,” pamitnya sedikit tidak enak. Pulang begitu saja tanpa ada basa-basi untuk membayar semua makanan yang sudah mereka makan, rasanya dia hanya bisa menebalkan muka.

“Val, nanti gue invite di grup kita ya!” seru Allura.

Vale baru akan menjawab, Ceysa sudah lebih dulu memotong, “Nggak usah diterima,” larang wanita itu.

“Dih, kok gitu?” protes Blaire.

“Gue tau banget kalian mau ngapain invite dia ke grup,” cibir Ceysa. Memangnya apalagi yang mau dilakukan kedua sahabatnya ini selain menggoda Vale?

Allura dan Blaire terbahak.

***

Ceysa melirik Vale yang sedang fokus menyetir. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan sehingga hanya tubuhnya yang terlihat ada di sini. Di restoran tadi pun, Vale sangat pendiam. Itu sebabnya dia mengajaknya pergi, tak ingin kekasihnya itu makin tertekan.

“Ehm, kayaknya aku laper deh.” Ceysa sedang mencari cara mengalihkan pikiran Vale.

Vale menoleh. “Jelas laper lah, kamu makannya cuma salad,” desahnya.

Ceysa tercengir. “Gimana kalau kita makan lagi? Anggap aja, kali ini sesi dinner berdua,” ajaknya.

Vale diam beberapa detik, sepertinya sedang berpikir. Lalu bertanya, “Mau makan apa?” Dia berusaha mengingat berapa isi dompetnya, cukupkah bila Ceysa membawanya ke restoran?

“Makan situ aja!” Ceysa menunjuk warung tenda penjual nasi goreng di pinggir jalan.

Vale menepikan mobil lebih dulu, lalu menoleh ke tempat yang Ceysa tunjuk itu. “Makan di situ?” tunjuknya ingin memastikan lagi.

Ceysa mengangguk mantap.

“Tapi itu, kan, warung pinggir jalan, Cey. Kamu yakin mau makan di situ?”

“Emang kenapa? Makan di mana aja, kan, sama.” Ceysa membuka pintu mobil setelahnya, lalu turun sendiri.

Vale masih ragu. Dia memerhatikan Ceysa yang berlari kecil mendekati Bapak-bapak yang sedang memasak nasi goreng. Entah apa yang sedang wanita itu katakan sehingga si Bapak berkumis itu tertawa. Tak lama, Ceysa melambaikan tangan memintanya turun.

Vale pun turun, lalu mendekati Ceysa dan pemilik warung tenda itu.

“Val, aku mau nasi goreng spesial, tapi kamu yang masak,” minta Ceysa.

“Ha?” Vale terbengong.

“Kamu punya janji mau masakin aku, sekarang waktunya,” tagih Ceysa.

“Udah Mas, turutin aja. Kasihan, kan, istrinya lagi ngidam,” ujar si Bapak sembari menyelesaikan masakannya untuk pelanggan yang menunggu.

Vale sontak menoleh Ceysa. Wanita itu tersenyum penuh arti, sembari menaikkan sebelah alisnya.

“Demi istri Mas yang lagi hamil, saya serahkan sepenuhnya peralatan memasak ini,” ujar si Bapak sembari menarik langkah mundur.

“Ini serius?” tanya Vale masih belum percaya Ceysa melakukan hal segila ini.

“Buruan deh aku laper,” desak Ceysa. Dia duduk di kursi yang berhadapan dengan peralatan memasak itu untuk menonton Vale masak.

Vale benar-benar takjub pada Ceysa, tidak menyangka wanita itu punya sisi lain yang menggemaskan seperti ini. Dia pun lebih dulu melepas jas, lalu menyelimuti tubuh Ceysa yang menjadi tontonan para pria di sana.

Ceysa terpana melihat Vale menarik lengan kemeja ke siku, terlihat cool sekali. Bila tadi saat di restoran Vale tampak sangat tertekan, di sini pria itu jauh lebih lepas.

“Mas, pesan nasi gorengnya lima ya,” minta seorang wanita yang ingin makan di sana dengan teman-teman sebayanya.

“Ha? Tapi Mbak, saya …” Vale ingin menjelaskan, namun …

“Saya pesan dua dibungkus ya, Mas!” seru pembeli lainnya.

“Saya makan di sini aja deh Mas, satu ya jangan pedas,” tambah wanita lain lagi.

Vale melongo.

Ceysa mengulum senyum, pasti Vale dikira penjual nasi goreng. Dia melirik Bapak yang memberikan jempolnya, membuatnya cekikikan.

“Ganteng banget yang jual,” ucap salah seorang wanita.

“Besok-besok kita makan di sini lagi aja,” sahut yang lainnya.

Vale mendekati Ceysa, lalu memegang pipi wanita itu. “Kamu ngerjain aku ya?” tanyanya gemas.

“Itung-itung kamu bantuin bapaknya jualan, kasihan tadi sepi. Berkat kamu sekarang jadi rame,” kekeh Ceysa.

“Iseng banget sih.” Vale mencubit pipi Ceysa. Lalu sebelum mengerjakan “tugas”, diusapnya puncak kepala wanita itu.

Para wanita yang rata-rata masih muda sontak baper dengan tingkah manis Vale pada Ceysa. Mereka mulai berbisik satu sama lain.

Ceysa tersenyum melihat Vale menjadi dirinya sendiri di tempat ini. Sekarang dia paham, Vale bukannya berlebihan soal status sosial mereka yang jauh berbeda, hanya saja pria itu merasa tidak nyaman.

Setelah berhasil membuat tujuh porsi nasi goreng untuk para pelanggan si Bapak, Vale akhirnya bisa menyajikan yang spesial untuk “istrinya yang sedang ngidam” itu. Peluhnya sampai membasahi dahi, karena jujur saja berada di dekat wajan sebesar itu bukan main panasnya.

“Capek ya?” tanya Ceysa cekikikan.

“Menurut kamu?”

“Tapi kamu cocok loh jadi pedagang nasi goreng,” ledek Ceysa.

“Kasihan nanti para penjual nasi goreng pada nggak laku karena kalah saing sama aku,” balas Vale.

Ceysa tertawa, sembari meraup wajah Vale. “Terlalu pede ya Mas,” ejeknya.

Vale terkekeh.

“Cobain dong,” suruh Vale.

Ceysa mencoba satu suapan. Dia tahu rasanya pasti enak, karena beberapa wanita yang sudah lebih dulu makan tadi terdengar memuji hasil masakan Vale. Namun dia tidak menyangka kalau ternyata rasanya seenak ini.

“Gimana?” tanya Vale menatap Ceysa dengan serius.

“Emm, enak banget,” puji Ceysa.

Vale tersenyum, “Sekarang kamu percaya, kan, kalau aku bisa masak?” kekehnya.

Ceysa memberikan dua jempolnya.

Vale tersenyum dan mencubit pelan pipi Ceysa yang menggemaskan. “Tapi kamu beneran makan ini? Bukannya nggak makan yang berat kalau malem ya?” tanyanya.

Selera makan Ceysa sontak hilang saat Vale mengingatkan hal-hal yang tidak perlu seperti itu.

Vale tertawa melihat ekspresi Ceysa. “Ayo, makan yang banyak. Aku tetap cinta kalaupun kamu gendut,” ucapnya sembari menyodorkan satu suapan.

Ceysa memakannya dengan wajah yang masih cemberut. “Ingetin aku buat buang kalori sebelum tidur,” ucapnya dengan mulut penuh.

Vale lantas berbisik, “Nanti kita buang kalorinya sama-sama.”

Ceysa sontak tersedak.

Bersambung… Saat jam istirahat makan malam, selagi ada kesempatan Vale membuka situs pencari kerja. Dia ingin mencari uang tambahan, karena gaji yang sekarang sangat tidak cukup. Tidak mudah bagi Vale menyesuaikan diri dengan Ceysa yang punya punya segalanya. Meski wanita itu tidak pernah menuntut apa-apa, namun sebagai laki-laki dia tetap ingin memberikan sesuatu yang tidak hanya sekadar cinta.

Ingat, makan cinta itu tidak kenyang!

“Lagi ngapain Lo?” Zidan mengintip layar ponsel Vale. “Loker?”

Vale mengangguk.

“Lo mau berhenti kerja di sini?” tanya Zidan kaget.

“Nggak. Gue nyari tambahan,” jawab Vale sembari menggulir layar. Dari semua loker yang ada, tidak satupun sesuai dengan kualifikasinya.

“Lo masih muda tapi beban Lo kayak udah banyak banget, Bro. Buat apaan sih nyari duit banyak-banyak?”

“Mumpung masih muda harus kerja keras. Biar nanti pas tua tinggal santai nikmati hasilnya,” sahut Vale dengan tepukan ringan di pundak Zidan.

“Gue Aminin deh yang keras!” seru Zidan sembari mengangkat kedua tangan layaknya muslim berdoa.

Vale tersenyum tipis.

“Emang Lo mau nyari kerjaan yang kayak gimana?” tanya Zidan kembali serius.

“Gue sih apa aja, asal nggak ganggu kerjaan yang sekarang. Lo punya info nggak?”

Zidan tampak berpikir sejenak. Lalu menepuk pundak Vale, “gue baru inget kemaren ada temen gue bilang kalau di cafe tempat dia kerja lagi nyari singer buat live music. Lo, kan, jago nyanyi, coba aja.”

“Jam kerjanya gimana?” tanya Vale menunjukkan ketertarikan.

“Gue tanyain dulu.” Zidan menggulir layar ponselnya, mencari nomor temannya.

Vale diam menunggu.

“Halo Sob, lagi sibuk nggak Lo?” Zidan menyalakan loud speaker agar Vale bisa mendengar.

“Nggak kok, lagi free. Ada apa, Sob?”

“Gini, kemaren Lo pernah bilang ke gue kalau di cafe tempat Lo kerja lagi nyari singer. Masih nggak?”

“Masih, butuh satu orang lagi. Punya kandidat Lo?”

“Ada nih, temen gue. Suaranya bagus, gue jamin.”

“Boleh tuh, coba ketemu sama Mas Bimbim aja besok. Emang lagi urgent banget, kalau oke pasti bisa langsung masuk.”

“Tapi Sob, kira-kira jadwal kerjanya gimana? Soalnya jujur aja temen gue ini juga masih kerja.”

“Kalau itu tenang, kerjanya fleksibel kok. Kan, ada dua orang tuh, nanti bisa atur jadwal aja berdua.”

Vale begitu senang mendengarnya. Dia memberikan kode anggukan kepala pada Zidan pertanda bersedia datang besok.

“Oke deh sob, besok gue suruh dia ke cafe Lo. Ketemu Mas siapa tadi?”

“Mas Bimbim, nanti langsung aja. Die orangnya baik kok.”

“Sip. Thanks ya sob.”

“Sama-sama, sob.”

“Tuh Val, Lo udah denger sendiri. Jadi Lo beneran tertarik?”

“Bakal gue coba,” sahut Vale. “Thanks ya!”

“Nanti gaji pertama manggung, beliin gue makan yang enak,” canda Zidan.

“Tenang aja.” Vale menjentikkan jari. Makan enak versi Zidan sangatlah pas di kantong, cukup bawa ke rumah makan Padang yang ada di dekat cafe saja.

“Dah, gue mau makan dulu. Lo nggak makan?”

“Nanti gue nyusul. Mau nelepon doi dulu,” kekeh Vale.

“Sumpah ya, gue penasaran siapa sih doi lo. Kapan dong dikenalin?”

“Udah sana makan.” Vale menendang bokong Zidan.

Setelah Zidan pergi, Vale menelepon Ceysa. Rasa rindunya memuncak saat mendengar suara kekasihnya itu.

“Lagi ngapain?” tanyanya.

“Ini lagi siapin bahan buat meeting.” Ceysa menjawab apa adanya, namun Vale sudah terbiasa.

“Jam segini masih meeting?” Vale pikir Ceysa sudah di apartemen atau di rumah kontrakan, sebab ini sudah jam setengah delapan malam.

“Iya, klien bisanya jam segini. Jadi ya mau nggak mau.”

“Udah makan?”

“Udah barusan.” Jeda sebentar. Vale sengaja diam, menunggu apakah Ceysa bisa lebih perhatian padanya atau tidak. “Kamu lagi ngapain? Udah makan?”

Vale tersenyum, hanya ditanya seperti itu saja senangnya bukan main. “Aku lagi istirahat. Nanti habis telepon kamu, baru makan,” jawabnya.

“Emang waktunya keburu?”

“Aku makan cepet, sat set beres.”

Ceysa tertawa merdu.

“Kangen banget. Sayangnya malam ini aku harus lembur. Kalau aja nggak pasti aku udah ke sana.”

Tidak ada sahutan dari Ceysa, entah wanita itu mendengar atau tidak yang dia katakan barusan. Setelahnya, terdengar suara bising yang cukup mengganggu.

“Kamu lagi di mana?”

“Val, ini aku lagi on the way mau ke lokasi meeting. Nanti telepon lagi, oke?”

Nanti itu … kapan?

Vale saja baru pulang jam dua belas malam, sementara biasanya Ceysa sudah tidur di jam itu.

“Val?”

“Iya. Sukses ya meeting-nya,” ucap Vale kemudian.

“Iya. Bye.”

“Bye.”

***

Malam ini, cafe sangat ramai sehingga Vale terlihat sibuk dari satu meja ke meja lain melayani para pengunjung. Pria itu belum menyadari kehadiran Ceysa yang sudah lima menit duduk di meja nomor lima belas.

“Ceysa?” tegur seorang pria dengan ekspresi yang sedikit kaget.

Ceysa mendongak, mencoba menggali ingatan tentang pria berkemeja putih bersih itu. “Adam?” tebaknya sembari berdiri.

Adam lantas tertawa. “Kamu pemilik C.A Wedding Organizer?” tebaknya.

Ceysa tersenyum dan mengangguk. Kebetulan sekali dia akan meeting dengan pemilik cafe ini, dan baru tahu kalau ternyata klien-nya Adam, teman kuliahnya dulu.

“Ayo, duduk Cey.” Adam menarik kursi di hadapan Ceysa.

Ceysa kembali duduk.

“Belum pesan makan?” tanya Adam.

Ceysa menggeleng.

Adam pun menoleh ke sekitar untuk mencari karyawan cafenya yang free. “Vale!” panggilnya.

Ceysa ikut menoleh ke arah yang sama, sembari mengulum senyum. Dia yakin Vale pasti terkejut melihat kehadirannya di sini.

Dan benar saja, Vale terkejut melihat Ceysa di sana, sekaligus penasaran kenapa pemilik cafe ini duduk di sana juga. Dia mendekati mereka berdua layaknya seorang pelayan profesional.

Ceysa tersenyum, menaikkan sebelah alisnya saat Vale menoleh ke arahnya. Wanita itu pasti berniat iseng, karena sudah jelas Vale tidak bisa bersikap tidak profesional saat sedang bekerja, terlebih di depan Adam. Dia memberi buku menu ke atas meja.

“Cey, kamu boleh pesan apa aja. Menu spesial di sini ada …” Adam melihat menu, lalu menunjuk spaghetti yang ditandai merah sebagai menu spesial. “Kamu cobain, ini enak banget.”

“Next time kali ya aku nyobain itu. Ini udah jam terlarang untuk makan yang tinggi kalori,” kekehnya.

“Ada cara khusus untuk menurunkan kalori tanpa olahraga berat Mbak,” ucap Vale dengan sengaja menyindir Ceysa, sebab tadi malam mereka telah mencobanya.

Diam-diam Ceysa melotot pada Vale.

Vale mengulum senyum.

Adam yang tidak mengerti apa yang keduanya lakukan, lantas berdeham.

“Saya pesan salad dan orange juice,” ucap Ceysa pada Vale. “Oh iya, tanpa gula.”

“Udah ketebak,” cicit Vale dengan suara pelan, untungnya tidak didengar oleh Adam yang sedang menerima telepon.

Ceysa kembali memelototi Vale, tapi dengan cara yang menggemaskan.

Vale mengulum senyum kembali. “Mas Adam, mau pesan sesuatu?” tanyanya beralih ke Boss cafe itu.

“Orange juice aja,” jawab Adam.

Vale mengangguk. Dia pergi dari sana untuk memberikan pesanan mereka berdua ke bagian dapur.

“Beneran dunia itu sempit ya, Cey. Kita udah seminggu teleponan, tapi nggak ngeh satu sama lain,” kekeh Adam.

Ceysa tertawa dan mengangguk.

“Kamu makin cantik, Cey.”

“Jangan sampai didengar calon istri kamu,” canda Ceysa, membuat Adam tertawa. “By the way, mana calon istri kamu?” tanyanya.

“Dia nggak bisa dateng. Masih sibuk dengan kerjaannya,” jawab Adam.

Ceysa bisa melihat kekecewaan dari ekspresi Adam. “Kalau pertemuannya mau ditunda sampai calon istri kamu punya waktu, nggak papa kok. Nanti kita atur lagi aja,” ujarnya pengertian.

“Oh, nggak Cey. Kita lanjutin aja. Dia udah percayakan semua sama aku,” sahut Adam.

“Oke.” Ceysa mengangguk.

Ceysa mengeluarkan tabletnya, lalu menunjukkan beberapa konsep yang sudah dia persiapkan untuk rencana pernikahan Adam. “Kamu lihat-lihat dulu aja konsep yang udah jadi sebagai gambaran. Nanti, bisa kita sesuaikan dengan keinginan kalian,” ucapnya.

“Oke.”

Ting!

Ceysa mengeluarkan ponselnya selagi Adam masih melihat-lihat konsep pernikahan di tabletnya.

Vale: Kok ke sini nggak ngabarin sih?

Vale: Bikin shock

Vale: Awas aja aku hukum kamu nanti

Ceysa tersenyum membacanya.

Ceysa: Aku ke sini buat kerja, bukan buat kamu :p

Vale: Ngeselin ya

Ceysa: Hahaha

Vale: Jangan genit sama Mas Adam

Vale: Bisa jangan terlalu cantik nggak?

Ceysa melirik ke sekitar, mencari keberadaan Vale, tapi pria itu tidak ada di sana. Pasti sekarang Vale sedang sembunyi-sembunyi bermain ponsel, karena kalau ketahuan bisa kena SP.

“Cey, kayaknya aku suka konsep yang ini deh. Kesannya lebih santai, terus juga nuansa alamnya dapet banget.”

Ceysa menaruh ponselnya ke meja, tidak sempat membalas chat terakhir Vale tadi. Dia melihat ke layar tablet yang Adam tunjukkan. “Kayaknya kamu masih pecinta alam ya, Dam?” sindirnya.

Adam tertawa. “Kamu masih inget?”

“Nggak mungkin lupa lah, kamu pernah maksa aku ikut naik gunung. Aku hampir mati karena hipotermia,” cebik Ceysa. Itu pengalaman paling mengerikan seumur hidupnya dan dia kapok berurusan dengan pendakian.

Adam tertawa. “Tapi ,kan, aku juga yang bantuin kamu,” ujarnya sambil menatap penuh arti.

Ceysa hanya tersenyum.

“Ehm, pesanannya Mbak.” Vale sudah datang membawakan makanan dan minuman untuk Ceysa, juga Adam.

“Loh kok?” Ceysa menunjuk makanan yang Vale taruh ke meja, “saya nggak pesan ini loh, Mas.”

Adam ikut menoleh Vale. “Kayaknya kamu salah catat. Tadi dia pesan Salad, bukan spaghetti,” ujarnya agak kesal.

“Nggak kok Mas, saya emang sengaja kasih iga bakar karena salad nggak bikin kenyang,” sahut Vale tanpa rasa bersalah.

“Tapi kalorinya …”

Vale tiba-tiba mendekati wajah Ceysa dan berkata, “Aku nggak mau kamu sakit, jadi makan yang lebih waras.” Lalu, diambilnya tisu untuk mengelap lipstik merah di bibir Ceysa, “nggak usah terlalu cantik, bisa?”

Saking dekatnya, Ceysa bisa merasakan embusan napas Vale di wajahnya. Begini saja jantungnya sudah berdebar.

Adam melongo melihat aksi Vale yang begitu berani pada Ceysa. Tapi dia cukup pintar menilai kalau di antara keduanya ada sesuatu yang nanti akan dia tanya kejelasannya.

Selesai meeting dengan Adam, Ceysa memilih tetap di sana menunggu jam kerja Vale selesai. Meski rasanya lelah dari seharian bekerja, tapi melihat Vale begitu senang ditemani, dia pun tidak keberatan.

“Your coffee, miss.” Vale membungkuk hormat, menaruh segelas espresso ke atas meja.

“Thank you,” balas Ceysa tersenyum.

“Kamu yakin mau nungguin aku? Ini baru jam sepuluh loh, masih dua jam lagi.” Vale tidak tega membiarkan Ceysa menunggu selama itu.

“Selama ada kopi, aku kuat.” Ceysa mengangkat gelas ketiga kopi hitam itu, lalu menyesapnya sedikit.

Segerombolan anak muda datang dan duduk di meja sebelah Ceysa. Begitu melihat Vale, salah satunya langsung memanggil dengan cara yang kurang sopan. “Pelayan, sini dong!” Sembari melambaikan tangan.

Ceysa menatap tajam pemuda itu.

“Aku kerja dulu ya,” ucap Vale.

Ceysa menoleh ke meja itu, menatap tidak suka pada para pemuda yang tidak tahu sopan santun itu.

Vale mendatangi meja itu, dengan sopan memberikan menu. “Silakan,” ucapnya ramah.

“Lo … Vale, kan?” tanya salah seorang berbadan paling kurus.

Semua jadi ikut memandang serius ke arah Vale. “Ya ampun, Val, nasib Lo dari dulu masih nggak berubah?” ejek pemuda lainnya.

“Hahaha.”

Vale diam saja, karena tidak mungkin untuknya melawan pelanggan cafe. Kalau Vale tidak salah ingat, mereka semua teman satu sekolahnya di SMA namun tidak dekat dengannya.

“Kalian jangan ngerendahin dia gitu dong. Inget nggak dulu waktu SMA dia paling digilai sama cewek-cewek. Sampe si Rina aja tega putusin Lo,” ucap pemuda cungkring itu.

“Halah … Rina aja yang seleranya emang kampungan. Beruntung gue diputusin sama dia,” elak si pemuda penuh gengsi itu.

“Hahaha.”

“Eh, tapi itu, kan, dulu. Cewek-cewek ngeliat tampangnya aja. Coba kalau sekarang, gue yakin mana ada yang mau sama pelayan cafe. Makan cinta nggak kenyang, Man.” Tawa kembali terdengar.

Ceysa bisa melihat usaha keras Vale dalam menahan diri. Tangan pria itu terkepal di samping tubuh, pertanda emosinya sudah bergumpal di sana. Bukan status sosial yang mengukur nilai seorang manusia, tetapi caranya bicara. Ceysa yakin, kelima pemuda itu tidak pernah diajarkan tentang arti sebuah kesopanan.

“Maaf, bisa disebutkan pesanannya?” minta Vale pada mereka semua. Dia sudah berdiri cukup lama di sini, dan harus profesional.

Kelima pemuda itu masih mengejek, malah menertawakan Vale dengan meniru gaya bicaranya. Sayangnya, mereka tidak akan berhasil bila ingin memancing emosi pria itu, hingga bosan sendiri.

“Kita mau pesan makanan yang paling enak dan mahal di sini,” ucap pemuda sombong itu.

“Lo pasti belum pernah nyobain yang enak dan mahal meski kerja di sini, kan?” ledek mereka lagi.

Vale merespons dengan senyum. “Ditunggu untuk pesanannya,” ucapnya sebagai penutup.

“Jangan lama ya Pelayan,” ucap pria tadi lagi, empat lainnya menertawakan.

Vale memilih tetap diam dan pergi dari sana. Dia sempat menoleh Ceysa saat melintasinya, memberi seulas senyum untuk memberitahu wanita itu kalau dia baik-baik saja.

Setelah Vale pergi, salah satu dari pria itu tak sengaja melihat Ceysa. Dari reaksinya, terlihat jelas kalau dia terpana pada kecantikan wanita itu. Dia langsung memberi kode pada empat temannya, yang begitu melihat juga bereaksi sama. Mereka saling sikut.

Salah seorang berdiri dengan penuh percaya diri, seakan paling tampan di situ.

Ceysa memasang wajah jutek saat pria kasar yang paling banyak menghina Vale tadi mendekatinya.

“Hai, sendirian aja?” tanya pria itu.

Ceysa diam saja, jenis tatapannya begitu dingin.

“Gue Aldo.” Pria bernama Aldo itu mengulurkan tangan mengajak Ceysa berkenalan. Karena tak mendapat balasan, dia pun menarik tangannya. “Boleh minta nomor hape kamu?” Dia mengeluarkan ponselnya, belum menyerah.

Ceysa tetap tak merespons.

Teman-teman Aldo terdengar berbisik dan menertawakan Aldo yang tidak digubris oleh Ceysa.

Merasa sangat malu diabaikan oleh Ceysa, Aldo pun kembali ke mejanya. Wajahnya terlihat kesal, mungkin ini pertama kalinya dia ditolak oleh wanita.

“Kayaknya aura Lo udah kadaluarsa, Do. Coba isi ulang dulu biar mempan sama tuh cewek,” ledek temannya.

“Baru kali ini gue lihat Aldo ditolak sama cewek.”

“Hahaha.”

Ceysa cuek saja saat Aldo menatapnya dengan begitu sangar. Pria seperti itu bukanlah tipenya.

***

Vale mengantarkan makanan untuk kelima temannya. Dia taruh dengan sopan ke atas meja. Berbagai ledekan kembali diterima, namun sikapnya tetap tenang. Meladeni mereka tidak ada untungnya, malah dia bisa dipecat karena bertengkar dengan pelanggan.

“Pesanannya sudah semua. Apa masih ada yang bisa dibantu?” tanya Vale.

“Val, Lo mau nggak kerja sama gue? Kebetulan perusahaan gue lagi nyari office boy. Kalau Lo mau gue bakalan kasih privilege khusus biar Lo bisa langsung kerja.” Aldo merendahkan Vale kembali.

“Parah Lo Do, masa disuruh jadi OB. Kasih jabatan yang lebih tinggi dong,” sahut yang duduk di sebelah Aldo.

“Ck, itu jabatan yang paling pas untuk tamatan SMA. Dia, kan, nggak pernah ngerasain bangku kuliah. Iya, kan, Val?”

Tawa bergema.

“Sayang!” panggil Ceysa.

Kelima pemuda itu refleks menoleh pada Ceysa, lalu mengikuti arah tatapan Ceysa, yaitu Vale. Antara percaya dan tidak saat tadi mereka mendengar wanita cantik itu memanggil Vale sayang.

“Kalau sudah tidak ada yang dibutuhkan, saya permisi dulu,” ucap Vale pada mereka semua.

Vale mendekati Ceysa. “Tadi kamu panggil aku apa?” godanya, namun sangat senang.

Ceysa melambaikan tangan meminta Vale mendekatinya. Pria itu sedikit membungkuk, lalu dengan gerakan cepat Ceysa menarik kerah kausnya dan mencium bibirnya.

Vale tersentak.

Kelima pria di sana membelalakkan mata. Mulut mereka yang bagaikan sampah tadi, mendadak hanya bisa menganga.

“Semangat ya kerjanya,” ucap Ceysa sembari mengelap bibir Vale dengan ibu jarinya.

Vale tersenyum penuh arti, mengerti kenapa Ceysa melakukan ini di depan umum. Dia pun mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu, “makasih ya.” Lalu setelah itu mengusap puncak kepalanya.

Ceysa tersenyum.

Tak hanya kelima pria itu yang terkejut, tapi teman-teman kerja Vale yang kebetulan melihat pun sampai melongo. Berita pun dengan cepat menyebar, membuat semua pegawai cafe di bagian dapur bergantian ke luar ingin melihat siapa pacar Vale.

Vale tersenyum begitu senang.

***

Ceysa menghabiskan sisa kopinya di gelas kelima. Satu jam lagi Vale akan selesai bekerja, dia berniat memesan kopi lagi tapi perutnya mulai tidak enak. Tak sengaja dia mendengar dan melihat kelima pria itu sedang patungan untuk membayar makanan yang mereka pesan.

“Eh Do, uang Lo kurang nih.”

“Ya elah, kurang dua puluh ribu doang. Tambahin napa,” sahut Aldo.

“Kebiasaan Lo, Do.”

Ceysa tersenyum sinis. Dia memanggil salah seorang pelayan cafe yang tidak sedang melayani pelanggan.

“Butuh sesuatu, Mbak?” tanya wanita berseragam serba hitam yang sama persis dengan Vale.

“Saya mau bayar, boleh minta bill?” Ceysa mengeluarkan kartu hitamnya dari dompet.

“Semua pesanan Mbak udah dibayar sama Vale,” beritahu wanita itu.

“Ha?” Ceysa terkejut. Vale tidak ada di sana, membuatnya harus menahan omelan. “Kalau gitu saya mau bayar semua pesanan di meja sebelah,” ucapnya pelan.

“Meja lima belas, Mbak?”

Ceysa mengangguk. “Kalau mereka nanya, bilang aja Vale yang traktir,” ucapnya.

Meski merasa bingung, wanita itu tetap menuruti perintah Ceysa. Dia ke kasir membawa kartu milik Ceysa. Transaksi selesai dalam waktu tidak lebih dari dua menit.

Vale yang telah berganti pakaian, langsung menemui Ceysa.

“Kok kamu pulang duluan?” tanya Ceysa.

“Tadi Mas Adam yang nyuruh aku pulang duluan, katanya kasihan kamu nunggu terlalu lama,” kekeh Vale.

Ceysa begitu senang mendengarnya. “Aku bakal bilang makasih ke Adam nanti,” ucapnya.

“Tenang aja, udah aku bilangin lebih dulu,” sahut Vale.

Di meja sebelah, terdengar Aldo memanggil pelayan wanita meminta bill. Gayanya terlihat sangat sombong seakan dia yang membayar semua pesanan di sana. Padahal Ceysa sudah tau seperti apa wataknya.

“Iya, Mas?” Wanita yang tadi Ceysa perintahkan mendatangi meja itu.

“Minta bill, saya mau bayar cash,” ucap Aldo. Pundaknya tegal, kepala terangkat begitu angkuh.

“Maaf Mas, tapi semua pesanan di meja ini sudah dibayar oleh Mas Vale,” beritahu wanita itu.

“Ha?” Kelima pria itu terkejut, lalu menoleh pada Vale.

Vale sendiri juga sangat terkejut karena tidak merasa membayarnya. Mana punya dia uang sebanyak itu untuk lima porsi makanan paling mahal di cafe ini. Setelah berpikir keras, akhirnya dia menyadari siapa pelakunya. Dia langsung menoleh pada Ceysa.

Ceysa tersenyum dengan sebelah alis terangkat. Dirangkulnya lengan Vale, “pulang yuk.”

Kelima pria itu benar-benar tidak bisa mengeluarkan kalimat sampahnya lagi. Mereka bungkam ketika Vale lewat bersama Ceysa yang bergelayut mesra di lengannya. Fakta kalau Vale membayar semua pesanan mereka telah membunuh segala keangkuhan tadi.

Bersambung… Sisa hujan masih membekas di aspal, genangan air ada di mana-mana. Jam sudah bergeser dua puluh menit dari angka dua belas, tapi berbagai jenis kendaraan masih memadati jalanan. Saat mobil berhenti di lampu merah, Ceysa melihat Vale senyam-senyum tidak jelas.

“Kamu kenapa?” tanya Ceysa dengan alis bertaut. Ekspresi Vale ini sangat menggemaskan, mengundang rasa penasaran.

“Aku lagi seneng banget,” sahut Vale.

“Karena?” Ceysa masih menatap Vale lekat. Dari samping, kenapa pria itu makin tampan? Hidungnya mancung, bulu matanya panjang, bibirnya … sangat cipokable.

“Malam ini pacar aku keren banget.” Vale mencium punggung tangan Ceysa berkali-kali sebagai ungkapan rasa gemasnya. “Aku puas banget lihat ekspresi mereka tadi. Dua kali ditampar oleh kenyataan, pasti rasanya sakit banget.”

“Dua kali?”

“Pertama, pas mereka tau kamu pacar aku. Padahal Aldo udah pede banget ngajak kamu kenalan.” Vale tertawa.

“Sok ganteng tuh orang,” cibir Ceysa. “Eh, emang kamu tau tadi dia deketin aku?”

“Tau lah. Aku lihat semuanya dari CCTV. Aku hampir aja nyamperin dia dan nonjok mukanya andai kamu merespons. Tapi pacar aku yang cantik ini udah permaluin si songong itu tanpa harus capek-capek buang tenaga.” Vale riang gembira.

“Pede banget mau ngedeketin aku, muka udah pas-pasan, kelakuan minus.” Ceysa berdecak sembari menggeleng.

Vale terbahak. “Kalau yang kayak Aldo kamu bilang pas-pasan, berarti aku ganteng banget ya?” tanyanya begitu percaya diri.

Ceysa mencebik, namun akhirnya tertawa. Dia tidak perlu menjawab, Vale pasti tahu standarnya untuk tipe seorang laki-laki. Saat prinsipnya soal usia saja telah dilanggar, itu artinya Vale lebih dari sekadar ganteng.

“Terus yang kedua?” tanya Ceysa lagi.

“Pas kamu bayarin pesanan mereka atas nama aku, itu pecah banget. Aku berasa lihat kesombongan mereka tuh runtuh,” ucap Vale antusias. “Aku aja sampai kaget tau nggak pas denger, apalagi mereka coba?”

Ceysa tersenyum tipis dan mengangguk.

“Tapi Cey, kamu ngapain sih bayarin mereka segala? Habisin uang aja, kan mahal,” protes Vale. Dia rasanya tidak rela Ceysa mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk mengenyangkan kelima orang tadi.

“Kita butuh uang untuk menampar mulut sampah seseorang. Dengan begitu mereka nggak akan mandang rendah kamu lagi. Sumpah, aku nggak suka mereka bersikap gitu ke kamu tadi.” Bila ingat, Ceysa ingin menampar kelima pemuda itu satu persatu rasanya.

Vale menciumi tangan Ceysa kembali. “Makasih ya, berkat kamu harga diri aku terselamatkan,” kekehnya.

“Iya, sama-sama.” Ceysa tersenyum. Gantian dia yang mencium punggung tangan Vale. “Emm, bau …”

“Masa?” Vale menarik tangannya dan menciumnya. Melihat Ceysa tertawa, dia pun tahu sudah dibohongi. “Sini, aku kasih yang bau beneran.”

Ceysa menjerit disertai tawa saat Vale mengapit kepalanya ke bawah ketiak pria itu. Tidak bau sama sekali, malah aroma maskulinnya sangat enak. Dia mendongak, Vale mencium bibirnya.

Saat sedang becanda seperti itu, perut Ceysa tiba-tiba diserang nyeri yang begitu hebat. Dia refleks menekannya sembari setengah membungkuk.

“Kenapa?” tanya Vale cemas. Dia harus membagi fokusnya antara jalan dan Ceysa.

“Perut aku sakit banget,” rintih Ceysa.

Saat menemukan celah, Vale langsung menepikan mobil. Dia ikut memegang perut wanita itu, “mau dapet?”

Ceysa menggeleng.

Vale makin cemas saat melihat wajah Ceysa begitu pucat. “Kita ke rumah sakit,” ucapnya yang langsung menjalankan mobil kembali.

Ceysa sebenarnya anti dengan rumah sakit, tapi kali ini sakitnya tidak bisa dia tahan lagi. Tak hanya perut, tapi ulu hati hingga dadanya pun terasa panas dan nyeri.

“Tahan ya, kita hampir sampe,” ujar Vale sembari menambah kecepatan.

Sesampainya di depan pintu IGD, Vale bergegas turun. Dia membuka pintu di sebelah Ceysa, membantu wanita itu turun. Melihat Ceysa makin lemah dia pun menggendongnya ke dalam.

“Dokter! Suster!” panggil Vale dengan wajah panik.

Seorang perawat langsung mendekati dan memberikan arahan pada Vale untuk membaringkan Ceysa ke salah satu ranjang kosong. Tirai pun ditutup mengelilingi ranjang itu, dan seorang dokter datang untuk memeriksa.

“Keluhannya apa, Mbak?” tanya dokter itu.

“Perut saya rasanya melilit, dok. Terus dada juga nyeri sampai panas ke tenggorokan,” beritahu Ceysa dengan suara yang mulai serak.

“Saya periksa dulu ya.”

Vale menunggu dengan cemas, sambil mengusap kening Ceysa yang banjir oleh keringat. Melihat kekasihnya itu kesakitan, hatinya bagai diremas.

“Mbak punya riwayat mag kronis?” Dokter menekan ulu hati Ceysa dan melihat wanita itu meringis.

“Iya, dok.” Ceysa mengakuinya.

“Sekarang lagi sesak napas?”

“Sedikit, dok.” Dada Ceysa turun naik akibat rasa sesak yang dideritanya.

“Sepertinya ini gejala gerd,” beritahu dokter itu setelah memeriksa secara menyeluruh.

“Gerd, dok?” ulang Vale.

Dokter mengangguk. “Asam lambung yang naik ke kerongkongan, memang biasanya akan terasa panas seperti terbakar di dada. Bila terus menerus terjadi, maka akan berdampak buruk bagi kesehatan,” jelasnya.

“Biasanya dikarenakan apa ya, dok?” tanya Vale.

“Makan tidak teratur dan minum kopi secara berlebihan bisa jadi faktor dari naiknya asam lambung.”

Vale sontak menatap Ceysa, terkesan menyalahkannya. “Dia emang sering telat makan siang, ditambah minum kopi berlebihan dok,” beritahunya.

Dokter menyuruh perawat memberi beberapa obat pada Ceysa untuk meredakan nyeri. “Kita pasang infus ya, nginap dulu beberapa hari,” ujarnya.

“Opname, dok?” Ceysa tersentak. Dia hendak menolak, tapi Vale dengan tegas berkata, “baik, dok.”

“Aku nggak mau di-opname,” minta Ceysa pada Vale.

“Kamu harus ikuti anjuran dokter,” paksa Vale, tidak bisa negosiasi lagi.

“Baik kalau begitu saya permisi dulu.”

“Makasih, dok.”

“Mas, bisa dibantu untuk administrasi rawat inapnya dulu?” ajak seorang perawat.

“Kamu tunggu ya,” ucap Vale dengan lembut. Lalu dia mengikuti perawat itu.

Ceysa benar-benar pasrah kali ini.

***

Ceysa tidak bisa tidur, suasana rumah sakit masih tidak nyaman untuknya. Meski Vale menjaganya di sana, tetap saja ada rasa takut yang mengganggu. Ingatan tentang bagaimana Mamanya dulu meninggal, menghantui pikiran. Dia pun memilih untuk duduk.

“Kamu kenapa belum tidur?” tanya Vale. Dia mengusap puncak kepala Ceysa dengan lembut.

“Aku nggak pernah bisa tidur kalau di rumah sakit gini,” jujur Ceysa.

“Ada yang ganggu pikiran kamu?”

“Cuma … ada sedikit trauma di masa lalu aja,” jawabnya.

“Aku boleh tau detailnya?” tanya Vale, namun tidak terkesan memaksa.

“Dulu, waktu aku masih empat belas tahun, Mami didiagnosis terkena usus buntu dan harus di-operasi. Menurut dokter itu operasi sederhana, nggak berbahaya sama sekali. Aku sendirian nungguin di depan ruang operasinya, karena Papi nggak bisa dihubungi. Aku nunggu sampe dua jam, padahal dokter bilang cuma tiga puluh menit.” Ceysa memberi jeda agar kenangan buruk itu tidak membuatnya sesak.

Vale mengusap lengan Ceysa, dengan sabar menunggu kelanjutannya.

“Setelah tiga jam nunggu, operasi pun selesai. Aku seneng banget. tapi pas dokter ke luar, terus bilang Mami udah meninggal, dunia aku rasanya bener-bener hancur. Aku langsung lari ke dalem, terus lihat Mami udah ditutupin kain putih. Mukanya pucet banget, nggak bergerak …”

“Udah … Udah nggak usah dilanjutin.” Vale mengusap air mata Ceysa yang jatuh. Hatinya ikut tersayat.

“Dokter bilang itu cuma operasi yang sederhana, nggak perlu anestesi total karena diameternya kecil. Tapi yang aku heran kenapa Mami bisa meninggal?” Ceysa sedikit emosi. Dia bagai berada di hari itu kembali dan menyaksikan maminya terbujur. “Lantaran dianggap masih kecil, jadi dokter nggak ngejelasin apapun mengenai kondisi Mami. Aku marah, tapi nggak punya kekuatan apa-apa.”

Vale langsung memeluk Ceysa.

“Mami masih baik-baik aja sebelum ke rumah sakit, Val. Mami bahkan nggak ngeluh sakit berlebihan. Mami masih ngajak aku becanda di mobil, terus bilang kalau udah sembuh kita bakalan makan ice cream sepuasnya. Tapi kenapa Mami nggak bangun lagi setelah itu …” Ceysa menangis dengan keras. Tubuhnya bergetar hebat.

Vale tidak mengatakan sepatah kata pun, karena dia tahu seseorang dalam kondisi seperti ini tidak membutuhkan kata-kata manis yang hanya bertujuan untuk menghibur. Ceysa lebih membutuhkan pelukan, sebagai ungkapan kalau Vale sangat mengerti apa yang dirasakannya.

Setelah puas menangis dan lebih tenang, Ceysa akhirnya tertidur juga. Vale menatap wanita itu tanpa sedetik pun berpaling. Ceysa yang selama ini selalu kuat, dingin dan seperti tidak punya hati, tapi ternyata menyimpan banyak luka di hatinya.

“Aku nggak akan ninggalin kamu. Aku bakal selalu di samping kamu dalam keadaan apapun,” janjinya sembari mengusap kepala Ceysa.

Vale membungkuk, lalu mencium kening Ceysa. “I love you, Cey. Until my breath stops,” bisiknya.

“Selamat pagi.”

Vale terbangun saat seorang perawat datang dan menyapa dengan lembut. Dia meregangkan tubuhnya, terasa pegal semua akibat terlalu lama tidur dengan posisi duduk. Matanya masih mengantuk, namun tidak mungkin untuk tidur lagi. Melihat Ceysa masih tidur, dia pun pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.

Ceysa juga terbangun saat perawat itu menyentuh tangannya. Ditolehnya ke samping, Vale tidak ada. “Sus, tadi ada temen saya di sini?” tanyanya.

“Ada Mbak, lagi ke kamar mandi,” jawab perawat itu sembari mengganti infus yang hampir habis dengan yang baru.

“Oh.” Ceysa mengangguk.

“Temen apa pacar, Mbak? Saya tebak pasti pacar, soalnya perhatian banget. Sampai tidurnya duduk loh padahal ada sofa di situ,” goda perawat itu.

“Suster bisa aja.” Ceysa terkekeh. Meski sedang mengobrol, Perawat itu tetap cekatan bekerja memeriksanya.

“Pacarnya ganteng banget Mbak, jadi idola suster-suster di sini,” beritahu perawat itu sembari cekikikan.

“Ah, masa sih Sus?” Ceysa tentu saja bangga, tapi tidak menunjukkannya.

“Beneran, Mbak. Ini aja mereka pada rebutan pengen dapet jaga di kamar ini.”

Ceysa tertawa mendengarnya.

Vale sudah ke luar dari kamar mandi, langsung mendekati Ceysa. “Good morning,” ucapnya yang kemudian mencium kening wanita itu. Tetesan di rambutnya membasahi pipi Ceysa, lantas diusapnya dengan lembut.

Ceysa melihat bagaimana perawat itu terpesona pada pacarnya. Vale, saat rambutnya sedang setengah basah seperti ini, damage-nya memang luar biasa.

“Saya mau ambil sample darah untuk dicek di lab ya Mbak.” izin perawat itu meminta izin lebih dulu.

Ceysa mengangguk dan menjawab semua pertanyaan dasar yang perawan itu tanyakan.

Perawat itu melakukan inspeksi pada fossa antecubiti, lengan bawah, dan tangan. Lalu mencari letak vena yang jelas, setelah itu memasang torniket. “Saya ambil darahnya ya Mbak,” ujar perawat itu dengan ramah.

Cerita Dewasa Ngentot - Beautiful Temptation
“Iya, Sus.” Ceysa sebenarnya takut jarum, sehingga dia menghadapkan wajahnya ke dada Vale. Rasa dingin menyentuh kulitnya saat perawat itu melakukan asepsis dengan alcohol swab.

Ceysa meringis ketika jarum mulai menusuk kulitnya. Vale memeluknya dengan erat sembari berbisik, “nggak usah dirasain.”

“Gimana keadaan pacar saya, Sus?” tanya Vale.

“Untuk pemeriksaan dasar, semuanya normal. Untuk pemeriksaan secara menyeluruh nanti langsung sama dokternya, Mas. Sekalian dokternya juga yang akan menjelaskan hasil tes lab-nya.” jelasnya.

Vale mengangguk.

“Udah selesai ya Mbak,” ucap perawat itu sembari melepas torniket, menekan kapas pada area yang disuntik dan mencabut jarum. Ketiga tahap ini dilakukan sangat cepat, bahkan sudah selesai sebelum Ceysa menoleh.

Perawat itu memasang plester pada bekas suntikan. “Perutnya masih terasa sakit nggak, Mbak?” tanyanya.

“Udah nggak Sus,” jawab Ceysa.

“Baik kalau begitu, saya permisi dulu. Nanti jangan lupa sarapan, lalu obatnya diminum.”

“Iya Sus.”

“Makasih Sus,” ucap Vale.

Perawat itu tersipu, lalu mengangguk.

Tak lama setelah itu, petugas lainnya datang membawakan obat pagi Ceysa. “Obat yang ini diminum tiga puluh menit hingga satu jam sebelum sarapan. Sisanya diminum setelah sarapan. ”

“Terima kasih Sus,” ucap Vale.

“Permisi ya.”

Ceysa dan Vale mengangguk.

“Ayo makan obatnya dulu.” Vale lalu mengambilkan minum untuk Ceysa.

“Banyak banget,” keluh Ceysa begitu melihat berapa butir obat yang harus dia telan setelah makan nanti.

“Harus diminum semua kalau pengen sembuh,” tegas Vale. “Ayo diminum.”

Ceysa merapatkan mulutnya sambil menggeleng. “Aku nggak suka obat mag, bikin mual.” Dia bicara sambil menutupi mulut dengan tangan.

“Ini, kan, ada rasa mint. Sama kayak kita makan permen mint,” bujuk Vale. “Yuk, kalau nggak bisa dikunyah langsung telan aja.”

“Nggak suka tetep aja.” Ceysa tetap menggeleng. “Lagian perut aku udah nggak sakit, nggak perlu minum obat lagi.”

Vale mendesah, Ceysa bukan tipe yang bisa dipaksa. Dia pun menaruh gelas ke atas lemari. “Manja banget sih,” ucapnya sembari memindahkan anak rambut yang bertengger nakal di kening wanita itu.

Melihat Vale tidak memaksa, Ceysa pun menurunkan tangannya dari mulut. Dia tersenyum senang karena Vale begitu pengertian.

“Aku belum dapet morning kiss hari ini,” ucap Vale sembari mengusap bibir Ceysa.

Ceysa mulai berdebar.

Vale mendekati bibir Ceysa, mengecup dengan lembut. Wanita itu mulai memejamkan mata dan membalas. Hal ini dia manfaatkan untuk memasukkan obat yang tadi diam-diam disimpan di mulutnya ke mulut Ceysa.

Ceysa membuka matanya lebar-lebar. Vale berhasil membuatnya minum obat yang paling dibencinya itu. Dia mendorong pria itu. “Licik,” desisnya.

Vale terkekeh. Diberinya Ceysa minum agar segera menelan obat itu.

Ceysa dengan cepat meminum setengah gelas air untuk menghilangkan rasa mint dari obat itu. Sungguh, dia tidak suka rasanya. Orang-orang bilang rasanya sama seperti permen mint, tapi baginya sangat jauh berbeda.

“Sini, aku aku bikin kamu lupa sama rasa obatnya.” Vale mencium kembali bibir Ceysa, dan kali ini melumatnya dalam-dalam.

***

“Ehm!”

Vale dan Ceysa refleks memisahkan diri. Keduanya tengah bermesraan di ranjang rumah sakit yang kecil itu, saat Allura dan tiga lainnya datang.

“Ini kalian nggak lagi shooting bokep, kan?” tanya Onyx terang-terangan.

“Heh!” Ceysa melotot.

Semuanya tertawa.

“Habisnya enak banget bermesraan di rumah sakit,” sindir Onyx.

Vale turun dari ranjang, menggaruk kepalanya yang tidak gatal akibat malu. Padahal dia dan Ceysa tadi hanya berciuman, tapi memang tidak pantas karena ini rumah sakit.

Jevan dan Blaire yang pernah berada di posisi itu, memilih bungkam saja daripada kena juga. Dulu, mereka juga pernah berciuman saat Ceysa dirawat di rumah sakit.

“Cey, gue mau marah sama Lo!” tukas Allura setelahnya.

“Loh, kenapa?” tanya Ceysa bingung.

“Lo masuk rumah sakit tadi malem, tapi kenapa baru ngabarin sekarang? Jahat ya Lo jadi temen,” protes Allura.

“Bener.” Blaire ikutan.

“Bukannya nggak mau ngabarin, tapi gue masuknya udah tengah malem.” Ceysa membela diri. “Gue nggak mau bikin kalian panik terus buru-buru dateng.”

“Cey, mau jam berapapun kita nggak peduli, pokoknya lain kali kita harus dikabarin lebih dulu,” tegas Blaire.

“Iya-iya, maaf.”

“Lo juga Val, kenapa nggak nelepon kita-kita coba?” cecar Allura.

“Ceysa yang larang.” Vale menunjuk Ceysa, lebih baik cuci tangan daripada diomeli Allura.

Allura mendengkus, “Bilang aja kalian mau berduaan, jadi sengaja nggak ngabarin biar nggak keganggu, kan?”

Blaire dan dua lainnya tertawa geli.

“Enak aja,” tepis Ceysa.

Vale menggaruk kepalanya, bingung mau ngomong apa kalau Allura terus mengoceh.

“Val, kamu pulang dulu aja. Istirahat di rumah. Ada mereka yang jagain aku,” suruh Ceysa.

Vale benar-benar ragu meninggalkan Ceysa yang sedang sakit. Dia tidak peduli soal istirahat, tapi masalahnya ada pada pekerjaan yang tidak bisa libur begitu saja. Peraturan di cafe sangat ketat, libur tanpa alasan yang darurat bisa membuatnya kehilangan poin mempertahankan pekerjaannya.

“Iya Val, Lo pulang aja nggak papa. Kita bakal gantian jagain Ceysa, kok.” Allura ikut bicara, yang lain hanya mengangguk.

Vale pun mengangguk. Lebih dulu dia mendekati Ceysa. “Aku pulang bukan untuk istirahat, tapi kerja. Nanti aku ke sini lagi setelah selesai,” ucapnya.

“Kamu nggak libur aja? Tadi malem kurang tidur loh, nanti sakit kalau maksa kerja,” ucap Ceysa cemas.

“Nggak papa, aku masih kuat kok.” Vale tersenyum.

Ceysa tidak tega, tapi keputusan Vale tentu ada alasan. Sebagai bawahan, Vale punya tanggung jawab terhadap pekerjaannya. “Ya udah kalau gitu, tapi jangan terlalu diforsir. Kalau udah capek banget, kamu minta izin pulang aja. Kalau butuh bantuan aku buat ngomong sama Adam, kasih tau aja,” ucapnya.

“Iya.” Vale mengangguk. Dia mencium kening Ceysa dengan lembut. “Jangan nakal,” bisiknya.

“Ehm! Jangan bikin gue baper dong,” sindir Allura.

Vale terkekeh. “Guys, bantu gue jagain Ceysa dulu, ya? Tolong pastiin dia makan tepat waktu dan minum obatnya,” minta Vale sepenuh hati.

“Gampang,” sahut Onyx.

Vale menatap Ceysa cukup lama, ada keraguan yang menahannya untuk pergi. Namun akhirnya dia melangkah meninggalkan kamar itu.

“Lo kenapa bisa masuk rumah sakit sih Cey?” tanya Blaire sembari duduk di kursi samping ranjang.

“Gerd,” jawab Ceysa.

“Apa gue bilang, Lo itu terlalu gila kerja, Cey. Udah tau punya mag, malah selalu telat makan, sok diet, terus pasti kopinya gila-gilaan, kan?” omel Blaire.

“Sorry, gue lagi cuti sakit. Jadi, nggak nerima omelan,” cengir Ceysa.

Blaire dan Allura mendengkus.

“Gimana keadaan Lo sekarang?” tanya Jevan.

“Udah lebih enak,” jawab Blaire.

Onyx melihat arlojinya. “Berhubung cuma gue yang kuli di sini, sorry gue harus ke kantor sekarang,” pamitnya.

“Nanti sempetin ke sini ya, Sayang,” sahut Allura.

Onyx mengangguk. “Cey, cepet sembuh ya,” ucapnya buru-buru.

Ceysa mengangguk.

Bersambung… Vale tidak ada lembur malam ini, jadi bisa menemani Ceysa dari sore. Tidak lupa dia mampir ke toko boneka yang berada tak jauh dari rumah sakit, lalu membeli boneka kelinci kecil. Di sana, ada begitu banyak jenis boneka berukuran besar, namun sayangnya uang Vale tidak cukup. Kondisi keuangannya benar-benar sedang terjepit dan gajiannya masih lama.

“Semoga kamu suka,” ucapnya penuh harap. Dia masukkan boneka itu ke dalam ransel, lalu kembali melaju.

Sesampainya di depan pintu kamar VIP tempat Ceysa dirawat, Vale mengeluarkan boneka yang dibelinya tadi. Dia tersenyum membayangkan Ceysa akan begitu senang menerima boneka lucu ini.

Saat membuka pintu, terdengar suara tawa seorang laki-laki. Vale kira Ceysa masih ditemani oleh para sahabatnya, namun saat melihat siapa sosok di balik tawa renyah itu, hatinya sontak diliputi rasa cemburu. Adam lah yang duduk di samping ranjang Ceysa.

Selain Adam, ada boneka teddy bear berukuran besar, sebuket bunga mawar merah yang sangat cantik, beserta keranjang buah. Semuanya pasti dari Adam.

“Val?” Ceysa melihat Vale berdiri di dekat pintu.

Vale dengan cepat memasukkan boneka yang dibelinya tadi ke dalam ransel, merasa malu memberikannya pada Ceysa. Boneka kecil itu terlihat seperti selembar uang lima puluh ribu di atas tumpukan dollar. Dia berpura-pura tersenyum, sambil mendekati keduanya.

“Hei Val,” sapa Adam.

“Mas Adam,” sapa Vale balik.

Adam melihat arlojinya, lalu berdiri. “Cey, aku pulang dulu, ya? Get well soon,” pamitnya.

“Makasih ya,” ucap Ceysa.

Adam mengangguk. “Val, duluan ya.” Dia menepuk pundak Vale.

Vale hanya mengangguk.

Adam pun pergi dari sana.

Vale menaruh ranselnya ke lantai, sejenak melirik buket bunga mawar merah yang ada di atas lemari. Terdapat kartu ucapan bertuliskan, get well soon beautiful. Selain itu, boneka teddy bear super besar yang duduk di samping Ceysa, terlihat sedang memeluk bantal berbentuk love. Terdapat ukiran nama Ceysa di tengah-tengah bantal itu.

“Kamu udah makan?” tanya Vale.

Ceysa menggeleng.

“Kenapa?”

“Kan, belum jam makan malem. Baru jam setengah enam,” beritahu Ceysa.

“Oh, iya.” Vale memang tidak fokus. “Aku bersih-bersih ke kamar mandi dulu, sekalian ganti baju,” pamitnya.

Ceysa mengangguk.

Lima belas menit setelah mandi kilat, berganti pakaian bersih, Vale kembali mendekati Ceysa. Wanita itu dengan senyum cantiknya merentangkan tangan minta dipeluk, dia pun tidak menolaknya.

“Kangen …” rengek Ceysa menambah erat pelukannya.

“Aku juga,” balas Vale. “Kamu nggak nakal, kan, selama aku nggak ada?”

“Nakal sih … tapi dikit,” kekeh Ceysa.

Vale melepaskan pelukan. “Apa yang kamu lakuin hari ini?” interogasinya.

“Setelah Bi sama Allura pulang, suster di sini yang nemenin aku. Kita sedikit ngegosipin kamu tadi.” Ceysa cekikikan.

“Ngegosipin aku?”

“Kata suster yang nemenin aku tadi, para suster jaga di paviliun ini sering caper sama kamu. Mereka tuh pengen kenalan, tapi katanya muka kamu tuh nggak pernah ramah, jadi ya mereka nggak berani.”

“Masa sih? Aku ngerasa biasa aja.”

“Beneran. Coba deh ini muka jangan jutek gini.” Ceysa mencubit pipi Vale.

“Yang penting kalau lagi sama kamu, nggak, kan?” Vale memang seperti itu, tidak suka tebar pesona.

“Iya sih … tengil malah.” Ceysa tertawa renyah.

Vale terkekeh.

“Tadi kamu bawa apa?” tanya Ceysa.

“Nggak bawa apa-apa,” bohong Vale.

“Bohong banget. Jelas-jelas tadi kamu masukin ke dalam tas, aku lihat tau. Sini, kasih ke aku,” minta Ceysa sambil menadahkan tangan.

“Bukan apa-apa,” tolak Vale. Rasanya, dia tidak sanggup memberikan boneka mungil itu, sementara ada boneka besar ini di samping Ceysa.

Ceysa bisa merasakan perubahan Vale sejak kedatangannya tadi. Dia pun tahu apa penyebabnya, karena tidak sengaja melihat kekasihnya itu memasukkan sesuatu ke dalam tas.

“Nggak mau tau, mana sini aku mau lihat,” paksa Ceysa. Sesaat dia seperti anak kecil yang manja.

Vale mendesah. Dia pun mengambil ranselnya, namun sedikit ragu-ragu saat ingin mengeluarkan boneka itu. “Ini cuma …”

“Lucu banget!” jerit Ceysa, yang langsung merampas boneka itu dengan wajah riang. Dia mengajak boneka itu bicara, sembari mencubit hidungnya yang menggemaskan.

Vale terpana. Sungguh tidak menyangka Ceysa akan sesenang itu menerima boneka kecil, padahal ada boneka besar pembelian Adam yang jauh lebih nyaman dipeluk.

Ceysa melambaikan tangan agar Vale mendekatkan telinganya. Pria itu membungkuk. Dia pun berbisik, “makasih ya.” Lalu mencium pipinya.

Vale lebih terpana lagi.

“Aku kasih kamu nama siapa, ya?” tanya Ceysa pada boneka itu. Dia berpikir dengan serius, lalu wajahnya semringah. “Cici! Nama kamu, Cici!” serunya.

“Kok Cici?” Vale jadi penasaran.

“Dulu waktu kecil aku pernah punya kelinci namanya Cici, tapi tiba-tiba meninggal padahal aku baru aja kasih dia makan sebelum pergi ke sekolah. Aku sedih banget, sama Mami dibeliin boneka kelinci sebagai gantinya. Kata Mami, kalau boneka hidupnya abadi, jadi aku nggak akan sedih lagi.” Ceysa mengambil jeda bernapas sebentar. “Tapi pas Mami meninggal, aku nggak ngurusin bonekanya lagi, terus hilang nggak tau ke mana.”

Vale tersentuh mendengarnya, tapi sekaligus tersenyum geli.

“Kamu kok malah senyum gitu sih?” protes Ceysa.

“Kamu sadar nggak, selama beberapa bulan kita kenal, ini pertama kalinya kamu ngomong panjang banget ke aku?” kekeh Vale. “Terus ngomongnya juga ngalir banget, bikin gemes.”

“Masa?” Ceysa sebagai pelaku tentu tidak menyadarinya. Dia kembali mengajak boneka cicinya berbicara, mengabaikan Vale sesaat.

“Makasih ya …” ucap Vale dengan sepenuh hati.

“Kok malah kamu sih yang bilang makasih? Aku yang dikasih boneka, juga.” Ceysa mengerutkan kening.

“Makasih karena kamu selalu menghargai usaha aku, sekalipun itu sangat kecil,” perjelas Vale.

“Usaha yang disertai dengan niat yang tulus, nggak akan sia-sia, Val. Kalau kamu pikir aku akan lebih senang dengan boneka dari Adam ini, kamu salah.” Ceysa mendorong boneka itu hingga terguling ke lantai. “Itu nggak ada artinya buat aku, karena dia bukan siapa-siapa.”

Vale benar-benar speechless.

Ceysa pulang hari ini, tapi Vale tidak bisa mengantar karena harus bekerja. Pria itu tadinya mau mengganti hari off, tapi ternyata tidak bisa karena cafe kekurangan orang. Dengan berat hati dia menitipkan Ceysa pada Jevan dan Blaire yang kebetulan free.

“Aku kerja dulu, ya? Nanti kalau udah sampai apartemen, kabarin. Aku pasti baca pas jam istirahat,” ucap Vale.

Ceysa mengangguk. “Jangan khawatir, kerja aja yang fokus,” balasnya.

Vale mencium kening Ceysa.

Jevan dan Blaire saling pandang, lalu mengulum senyum. Isi kepala mereka pasti sama, Vale dan Ceysa sangat sweet.

“Lagi-lagi gue harus ngerepotin kalian buat nganterin Ceysa, makasih banget udah bantuin,” ucap Vale pada Jevan dan Blaire.

“Jangan sungkan, Val. Ceysa sahabat kita, tanpa Lo minta pun bakal tetep kita jagain,” balas Blaire.

Jevan mengangguk.

“Gue permisi dulu kalau gitu.” Vale menoleh pada Ceysa dan tersenyum. Dengan berat hati pria itu melangkah pergi.

“Allura mana?” tanya Ceysa.

“Dia diminta Mamanya pulang, mau ngomongin soal pernikahan dia sama Onyx kayaknya,” beritahu Blaire.

“Oh.” Ceysa mengangguk.

Jevan dengan inisiatifnya sendiri, mengemban tugas membawa semua barang Ceysa untuk ditaruh di mobil. Dia sudah seperti tukang angkut di pasar, memikul dua kantong besar yang cukup berat. “Lo bawa apaan sih sampe sebanyak ini,” gerutunya.

“Salahin aja mereka yang besuk gue, ngasih barang-barang sebanyak itu.” Ceysa sendiri tidak mungkin menolak pemberian para klien yang kebetulan datang membesuknya.

“Berasa ulang tahun ya, Cey?” Blaire tertawa geli.

“Iya.” Ceysa berdecak.

“Gimana kalau nanti Lo sama Vale nikah, bisa-bisa gedung resepsi Lo dipenuhi kado,” goda Blaire.

“Jauh banget sih Lo mikirnya. Masih lama.” Ceysa menggeleng.

“Kodein kali,” sindir Blaire.

Ceysa hanya mencebik.

“Ladies, let’s go!” panggil Jevan setelah kembali dari mengantar dua kantong besar tadi.

“Kursi rodanya mana?” tanya Blaire.

“Ih, nggak usah. Gue udah sehat, bisa jalan sendiri.” Ceysa melangkah bebas ke luar dari kamar itu.

Jevan merangkul Blaire. “Bukan obat yang bikin Ceysa sembuh,” bisiknya.

“Tapi Vale,” sahut Blaire cekikikan.

“Nggak usah ngomongin gue,” omel Ceysa.

“Tapi emang beneran Cey, sejak sama Vale aura loh tuh beda. Nggak kayak gunung es lagi, tapi sehangat sunset.”

“Gue setuju sama Bi,” sahut Jevan.

Ceysa diam saja, namun Jevan dan Blaire tidak melihat dia tersenyum mengakui. Vale memang membawa banyak perubahan dalam hidupnya.

“Cey, berhubung Allura nggak pulang malam ini, Lo nginep di apartemen kita aja, ya?” ajak Blaire. “Biar gue juga lebih tenang bisa pantau kondisi Lo terus.”

“Gue nggak mau jadi obat nyamuk ya. Biar gue di apartemen gue sendiri aja, nggak usah berlebihan khawatirnya. Gue udah gede.” Ceysa menolak.

“Iya deh yang maunya ditemenin Vale doang,” sindir Blaire.

“Emang Vale sering nginep?” tanya Jevan polos.

“Coba tanya orangnya langsung.”

Ceysa mempercepat langkah, malas mendengar sepasang suami istri itu yang terus menggodanya.

***

Ceysa terbangun saat sebuah kecupan mendarat di keningnya. Melihat Vale, bibirnya pun tersenyum. Dia meraih satu tangan pria itu, lalu memeluknya dengan erat. Efek obat membuatnya sangat mengantuk, padahal biasanya dia sangat anti tidur sore.

“Kamu tidur lagi aja,” suruh Vale.

“Temenin,” rengek Ceysa.

“Aku bersih-bersih dulu. Tadi bantuin di dapur, jadi pasti bau.” Vale malah masih memakai seragam kerjanya.

“Hem-em, bau asep.” Lantaran sudah terbiasa menciumnya, Ceysa tidak lagi terganggu dengan aroma asap di tubuh Vale.

Vale mencium bibir Ceysa sekilas, lalu melangkah ke kamar mandi. Dia tidak ingin membuat kekasihnya itu terlalu lama menunggu, sehingga mandi ala bebek saja yang penting aroma asap tadi hilang.

Ceysa tadinya mengantuk, tapi saat melihat Vale menanggalkan pakaian, matanya langsung terasa segar. Dia sangat suka bentuk tubuh Vale yang berotot. Suka dada bidangnya. Suka bulu-bulu halus yang merambat dari bawah pusar. Semuanya terasa pas di tubuh atletis pria itu.

Vale yang menyadari Ceysa sedang menatapnya, lantas menaikkan alis sebagai ganti, “ada apa?”

“Kamu sering nge-gym ya?” tanya Ceysa.

Vale naik ke kasur, lalu berbaring di samping Ceysa dan membawanya ke pelukan. “Nggak ada waktu,” jawabnya.

Ceysa menyelipkan tangannya ke dalam kaus yang Vale kenalan, mengusap perut berotot itu mengikuti lekuknya. “Kok bisa kayak roti sobek gini?” tanyanya.

“Setiap pagi kalau nggak capek, aku selalu nyempetin olahraga di kos,” jawab Vale.

“Di kos kamu ada alat-alat olahraga?”

“Nggak pake alat, tapi yang ada aja. Misalnya, angkat air pake ember dari sumur terus dipindahin ke kamar mandi. Itu bisa membentuk otot lengan dan perut,” beritahu Vale.

“Emang di kos kamu nggak ada air ledeng gitu?”

“Ada, tapi kadang nggak ngalir. Jadi ya ambil di sumur kalau mau mandi,” jawab Vale.

“Oh.” Ceysa paham, dia pernah merasakan hal serupa saat air ledeng di rumah kontrakan tidak menyala. Untungnya ada Jevan dan Onyx yang mengambilkan air dari sumur milik ibu kontrakan yang posisinya sebelahan.

“Terus, selain itu apalagi?” tanya Ceysa sambil usapannya merayap ke dada Vale. Dia berhenti saat sampai di puncak dada pria itu, mengusapnya perlahan.

“Push up. Bebannya ditambahin Juan. Dia duduk di belakang aku,” kekeh Vale.

“Emang nggak berat?”

“Berat lah, tapi manfaatnya banyak. Jadi ya … lama-lama terbiasa.”

“Gantian nggak?”

“Mana kuat dia.”

Ceysa tertawa. “Pengen deh ketemu sama temen kamu itu, kayaknya dia lucu,” ujarnya.

“Main ke kosan kalau gitu. Dia juga penasaran sama kamu.”

“Emang kamu udah cerita apa aja ke dia tentang aku?”

“Aku cuma bilang kalau aku punya pacar yang cantik, menyerupai bidadari. Makanya dia penasaran.” Vale tertawa lagi.

“Ihh, berlebihan.”

“Siapa bilang berlebihan? Aku bilang yang sebenarnya sama dia. Kamu itu cantik banget. Andai bidadari emang beneran ada, pasti kamu jadi salah satunya,” puji Vale.

Ceysa mencebik.

“Kamu gantian dong bikin aku seneng dengan sedikit memuji, jangan pelit.” Vale menuntut.

“Boleh dengan tindakan aja nggak?” tanya Ceysa dengan sebelah alis yang terangkat.

Vale mengangkat kedua alisnya, dan tahu maksud wanita itu. Sejurus kemudian, Ceysa sudah merangkak naik ke atasnya. Kausnya ditarik ke atas, lalu Ceysa membungkuk menciumi perutnya.

Ceysa berbaring nyaman di dada Vale, sampai malas untuk bergerak. Namun saat ponselnya terus berbunyi, dia terpaksa harus mengambilnya. Benda pipih itu menunjukkan begitu banyak notifikasi dari grup empat sehat lima sempurna.

Allura: ATTENTION PLEASE!

Allura: Diharapkan untuk semua yang menghuni grup ini agar segera muncul.

Jevan: Berisik!

Onyx: Hadir!

Blaire: Nyimak

Allura: Berhubung gue sama Onyx mau married, kita berencana bikin bridal shower yang beda dari yang lain.

Allura: Kita mau sewa private yacht buat kita semua.

Blaire: Wow!

Blaire: Ini serius?

Jevan: Sekalian honeymoon kita, Bi.

Jevan: Hehe

Allura: Ceysa mana nih? Muncul dong Bebs!

“Kenapa?” tanya Vale saat Ceysa terlalu fokus menatap layar ponsel.

“Ini, Allura sama Onyx mau ngadain bridal shower,” beritahu Ceysa. “Mau nyewa private yacht segala.”

Valen sudah tahu rencana teman-teman Ceysa yang ingin memberikan kejutan di hari ulang tahunnya. Dia yakin bridal shower hanya alasan agar Ceysa tidak curiga. Ternyata beneran jadi! gumamnya dalam hati.

Ceysa menulis sesuatu di grup itu.

Ceysa: Emang kapan?

Allura: Sabtu

Allura: Boleh ajak pasangan, biar Lo nggak merasa jadi nyamuk

Onyx: Hahaha

Blaire: Ajak si brondong manis, Cey.

Jevan: Bi -__-

Blaire: Becanda, Je -__-

Allura: Ceysa kenapa ngilang mulu dah

Onyx: Lagi dikekepin Vale, kali

Jevan: 2

Ceysa mendongak menatap Vale. “Ini katanya kamu boleh ikut. Mau nggak? Sekalian liburan,” ajaknya.

“Kayaknya aku nggak bisa deh,” ucap Vale dengan wajah memelas.

“Kenapa? Karena nggak bisa libur di hari weekend?” tanya Ceysa.

“Kurang lebih,” jawab Vale.

“Gimana kalau aku bantu ngomong ke Adam? Aku yakin dia pasti izinin kamu ambil cuti dua hari,” usul Ceysa.

“Aku belum bilang ya ke kamu?”

Alis Ceysa terangkat.

“Sebenernya mulai besok aku kerja di dua tempat,” beritahu Vale.

“Hah? Gimana-gimana?” Ceysa tidak begitu paham maksud Vale barusan.

“Jadi, aku ngelamar kerja di cafe lain sebagai singer buat sesi live musik di sana. Boss cafenya minta aku mulai kerja besok malem, setelah selesai dari cafe Mas Adam.”

Ceysa diam cukup lama, menatap Vale begitu lekat.

“Kerjanya fleksibel, aku bisa sesuaikan dengan jam kerja di cafe Mas Adam. Jadi, kalau pas lagi dapet shif pagi, aku bisa kerja di sana pas malem. Begitu juga sebaliknya.”

“Emang nggak capek?” tanya Ceysa, hanya itu yang dia pikirkan. Selain … mungkin Vale butuh uang lebih.

“Kerjanya nyantai kok, cuma duduk modal suara doang. Kayaknya nggak bakalan capek,” kekeh Vale.

Ceysa kembali diam.

“Seperti kata kamu, aku harus serius kalau mau sukses.” Vale meyakinkan dia akan baik-baik saja menjalani dua pekerjaan sekaligus.

“Kamu butuh uang, ya?” tebak Ceysa dengan nada yang berhati-hati, tidak ingin Vale tersinggung.

Vale mengangguk. “Kerja di cafe gajinya emang lumayan kalau untuk biaya hidup sehari-hari. Tapi nggak ada lebihnya. Aku pengen bisa kasih sesuatu ke kamu,” jujurnya.

“Val, aku nggak …”

“Aku yang mau, Cey.” Vale memotong. “Aku tau kamu bisa nerima aku apa adanya. Kamu nggak pernah nuntut macem-macem. Tapi sebagai laki-laki, masa aku nggak berusaha?”

Ceysa tidak bisa berkata-kata lagi.

Vale membawa Ceysa ke pelukannya lagi. “Kamu udah masuk ke dunia aku tanpa mengeluh sedikit pun. Giliran aku yang harus berusaha masuk ke dunia kamu,” ucapnya.

“Aku nggak tau harus ngomong apa,” lirih Ceysa.

“Aku cuma butuh dukungan, jangan kasihani aku,” minta Vale.

Setelah lama diam, Ceysa pun akhirnya mengangguk. Dia tidak bisa mengubah keputusan Vale karena alasan pria itu membuatnya tak berdaya. “Tapi Val, kamu harus tau kalau aku beneran nggak nuntut apa-apa,” ucapnya.

“Aku tau. Makasih,” sahut Vale.

Keduanya mulai larut dalam pikiran masing-masing. Detik jam berlomba dengan nada notifikasi ponsel Ceysa, mengganggu heningnya malam.

***

Paginya, Ceysa mengantar Vale ke kos karena lagi-lagi motor pria itu mogok. Obrolan tadi malam tidak lagi mereka bahas agar suasana hati tetap nyaman dan tenang.

“Kamu kenapa nggak istirahat dulu aja sih? Baru juga keluar dari rumah sakit, udah kerja aja,” protes Vale.

“Aku baik-baik aja. Kalau cuma diem di rumah malah bakal tambah sakit. Mending kerja,” sahut Ceysa.

“Tapi awas ya telat makan, apalagi sampe minum kopi lagi. Aku beneran marah kalau kamu sakit lagi,” ancam Vale.

“Kok pacarnya sakit dimarahin sih?” Ceysa berpura-pura sedih.

“Habisnya kamu bandel.” Vale lantas merangkul Ceysa. “Aku nggak mau lihat kamu sakit lagi.”

Tibalah mereka di depan kos-kosan Vale. Suasana pagi selalu ramai oleh para penghuni kos yang akan pergi bekerja. Entah itu suara knalpot motor atau teriakan memanggil teman yang tak kunjung ke luar.

“Mau mampir nggak?” tanya Vale.

Ceysa melirik arlojinya. “Boleh!” sahutnya tersenyum.

“Beneran?” Vale agak ragu, dia hanya basa-basi tadi. Tidak mengira Ceysa akan menyambutnya.

“Gimana sih, kamu yang nawarin tapi malah kamu juga terkesan nggak mau aku mampir.” Ceysa mengesah.

“Kosan aku …”

“Lama deh.” Ceysa turun lebih dulu.

Vale mematikan mesin mobil dan menyusul Ceysa ke luar. Mata semua penghuni kos yang sedang di luar pagar pun mulai terarah pada mereka. Pasti merasa penasaran siapa yang Vale bawa.

“Vale bawa cewek, oi!” teriak teman kos Vale, si cungkring.

Vale menggandeng Ceysa sebagai tanda hak miliknya.

“Cieee, Vale udah gede ternyata,” goda teman wanitanya.

Vale terkekeh.

Kedatangan Ceysa menghebohkan seisi kos, sampai yang sedang mandi pun nekat ke luar untuk ikut melihat. Kos-kosan yang cukup bebas itu, terlihat makin ramai setelah masuk ke area dalam.

Vale langsung membawa Ceysa ke kamar kosnya, tidak meladeni setiap godaan para penghuni kos di sana. Dia tidak begitu akrab dengan mereka semua, hanya bersosialisasi alakadarnya.

Lantaran kamar itu berukuran kecil, hanya dengan satu pandangan Ceysa bisa melihat semua yang ada di dalam sana. Terdapat dua dipan berseberangan yang terbuat dari kayu dan lemari pakaian kecil sebagai pembatas antara dua dipan itu. Khas kamar kos laki-laki. Meski sederhana, ventilasi udara di sana cukup baik sehingga tidak terasa pengap.

“Emm, duduk Cey. Di mana aja boleh,” tunjuk Vale sembari menggaruk kepalanya.

“Tempat tidur kamu yang mana?” tanya Ceysa.

“Itu,” tunjuk Vale di sebelah kiri.

Ceysa pun memilih duduk di situ.

“Maaf ya, berantakan.” Vale meringis saat melihat Ceysa hampir duduk di atas celana dalam. “Ini punya Juan,” beritahunya sebelum Ceysa berpikir dirinya ceroboh.

Ceysa hanya mengulum senyum.

“Val, Lo udah pulang? Dari mana aja sih Lo …” Juan yang tidak tahu Vale membawa seorang wanita, kini sangat terkejut melihat Ceysa di sana. Dia yang ke luar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk, langsung masuk kembali sembari mengumpat. “Sialan ya Lo Val, kasih kode kek!”

Ceysa kembali mengulum senyum.

“Baru gue tinggal beberapa hari, Lo apain sih nih kamar?” gerutu Vale sembari memunguti pakaian kotor Juan yang bertebaran tidak karuan di sekitar sana.

Juan sudah ke luar dari kamar mandi dengan kaus dan celana pendek. Dia tersenyum malu-malu saat melihat Ceysa, sembari tangannya secepat kilat menarik jemuran celana dalam di hanger bulat yang tergantung depan pintu kamar mandi.

“Ngomong dong kalau mau bawa cewek ke sini, kan, gue bisa beberes dulu biar nggak jelek gini kesan pertamanya,” bisik Juan pada Vale.

“Biar dia tau Lo itu jorok,” cibir Vale.

Juan mengelap tangannya, lalu mengulurkannya pada Ceysa. “Juan,” ajaknya berkenalan.

“Ceysa,” dengan ramah Ceysa menyambutnya.

“Sorry ya Cey, kamarnya nggak enak dilihat. Kalau aja Vale bilang mau ajak ceweknya ke sini, pasti gue bakalan beresin dengan segenap hati,” ujar Juan panjang lebar.

Ceysa tertawa, “Its okay.”

Juan lantas mendekati Vale yang masih sibuk beberes. “Bener yang Lo bilang, cantik banget cewek Lo. Dapet di mana, sih?” bisiknya.

Ceysa mengedarkan pandangan lagi sementara Juan dan Vale sedang mengobrol tidak jelas. Sebagian dari cat dinding sudah terkelupas. Warna tirai jendela hitam, pasti agar tidak terlihat kalau kotor.

“Kamu mau minum nggak?” tanya Vale yang tiba-tiba saja sudah duduk di depan Ceysa, berlutut.

“Air putih aja,” minta Ceysa.

“Emang adanya cuma itu,” kekeh Vale. “Bentar ya aku ambilkan,” ucapnya sembari mengusap puncak kepala kekasihnya itu.

Saat Vale ke luar, Juan salah tingkah karena masih malu pada Ceysa. Dia berusaha keras mencari topik untuk mencairkan suasana.

“Kalian udah lama tinggal di sini?” tanya Ceysa.

“Udah lama juga sih, lumayan …” jawab Juan sembari menggaruk kepala.

Ceysa mengangguk.

“Dari kemaren Vale tuh ribut banget muji-muji ceweknya yang katanya kayak Bidadari. Gue sempet nggak percaya, tapi …”

“Tapi?” Ceysa menunggu kelanjutan cerita Juan.

“Tapi ternyata dia nggak bohong, Lo emang secantik bidadari,” kekeh Juan. Dia menggaruk kepala kembali.

Ceysa tertawa.

Setelah melihat Ceysa cukup santai, Juan mulai menemukan topik yang menarik untuk dibicarakan. Entah itu membuka aib Vale, atau justru aibnya sendiri. Keduanya dalam sekejap menjadi sangat akrab.

Vale kembali membawa segelas air mineral, lalu memberikannya pada Ceysa. “Itu gelasnya udah aku cuci berkali-kali, terus aku rendam air panas,” beritahunya.

“Segitunya.” Ceysa mengejek. Dia meminum air di gelas itu tanpa rasa jijik sekalipun tidak tahu asalnya dari mana.

Vale mengambil gelasnya setelah Ceysa selesai minum, menaruhnya ke sudut lantai.

“Aku berangkat sekarang ya,” pamit Ceysa sembari melirik arlojinya.

“Buru-buru banget Cey,” ujar Juan.

“Iya nih, kerajaan menanti,” canda Ceysa.

“Nanti kapan-kapan ketemu lagi ya,” ucap Juan.

Ceysa mengangguk.

“Aku anter ke depan,” kata Vale sembari mengambil gelas untuk sekalian dibawa ke luar.

Ceysa mengangguk.

Vale mengantar Ceysa sampai mobil. Wanita itu duduk di balik kemudi, memasang kacamata hitam karena silau matahari di depan. Lalu setelah itu, Ceysa melambaikan tangan memintanya mendekat.

Cup.

Sebuah kecupan mendarat di pipi Vale. “Aku pergi ya,” pamitnya dengan senyum manis.

Vale ikut tersenyum, lalu mengangguk. “Hati-hati,” ucapnya.

Vale tetap berdiri di sana sampai mobil Ceysa tidak terlihat lagi. Saat masuk ke kamar, Juan menginterogasinya habis-habisan.

Bersambung… Sudah tiga hari tidak bertemu dengan Vale, Ceysa merasa rindu. Keduanya sedang sama-sama sibuk, apalagi Vale kini melakukan dua pekerjaan yang membuat waktu mereka makin sulit disatukan. Ceysa selalu rutin bekerja dari pagi hingga sore hari, sementara Vale dari pagi hingga tengah malam.

“Sayang banget Vale nggak bisa ikut,” ujar Blaire sedikit kecewa. “Padahal kita-kita udah niat banget ngadain ini karena formasi kita udah lengkap.”

“Dia sibuk banget ya, Cey?” Allura ikut bertanya.

“Dia kerja di dua tempat sekarang, jadi udah susah waktunya,” beritahu Ceysa.

“Ya ampun, Vale pekerja keras banget. Emang nggak capek dia?” Allura jadi terharu.

Blaire mengangguk, merasa kasihan.

Ceysa mengangkat bahu. Dia sendiri masih tidak tega Vale harus bekerja sekeras itu. Bayangkan saja dari jam delapan pagi hingga dua belas malam pria itu harus terus menguras tenaga. Bila dihitung, enam belas jam. Walau menurut Vale pekerjaan keduanya tidak sulit, tetap saja waktu istirahatnya jadi berkurang.

Saat ini, Ceysa dan teman-temannya itu sedang berada di Bandara. Mereka akan terbang ke Bali, setelah itu akan berlayar menuju Labuan Bajo dengan private yacht yang sudah disewa.

Melihat pesan terakhirnya sudah dibaca oleh Vale, Ceysa pun langsung menelepon. Sejak tadi yang membuatnya tidak tenang adalah karena belum bicara dengan pria itu sejak pagi, sementara dia harus pergi.

“Hai, nungguin ya?”

“Aku pikir nggak bakalan ketemu lagi waktunya. Untung penerbangannya delay, jadi bisa nungguin kamu.”

Vale terdengar batuk-batuk. “Maaf ya, aku baru selesai,” ucapnya dengan suara serak.

“Kamu sakit?” Ceysa jadi cemas.

“Nggak, cuma tenggorokan agak gatel. Minum juga hilang,” jawab Vale. “Aku minum bentar.”

Ceysa menunggu dengan perasaan yang teramat gelisah.

“Delay sampai berapa lama emang?” Suara Vale kembali terdengar, tidak serak lagi.

“Tiga puluh menit. Paling bentar lagi udah masuk,” beritahu Ceysa sambil melirik arlojinya.

“Take care, ya. Have fun di sana dan inget pesen aku, jangan telat makan. Obat kamu dibawa, kan?”

Ceysa tertawa, “Kamu lagi-lagi kayak Mami aku, cerewet banget.”

“Biarin cerewet, habisnya punya pacar bandel. Harus diomelin dulu …” Vale batuk kembali. “Baru didengerin.”

“Itu kayaknya kamu lagi sakit deh,” ujar Ceysa curiga.

“Nggak.” Vale meyakinkan.

“Beneran?”

“Iya, beneran.”

“Kalau kamu emang lagi nggak enak badan, nggak usah kerja dulu malam ini. Istirahat, biar fit besoknya.”

“Iya. Kok jadi kamu yang bawel sekarang?”

Ceysa tersenyum geli.

“Guys, yuk!” Onyx memanggil.

Blaire langsung mendekati Jevan, dan keduanya saling rangkul berjalan ke gate keberangkatan.

Ceysa rasanya masih ingin bicara dengan Vale, tapi sepertinya dia sudah harus terbang. “Val, aku harus pergi sekarang,” ucapnya.

“Ya udah, nanti begitu sampai kabarin aku ya. Kalau kamu belum tidur, aku telepon setelah selesai kerja.”

“Aku nggak akan tidur sebelum kamu nelepon,” janji Ceysa.

“Jangan dipaksain, kalau ngantuk ya tidur.”

“Cey, ayok!” panggil Allura.

Ceysa menarik kopernya menyusul ke-empat sahabatnya itu. “Bye,” pamitnya.

“Bye,” jawab Vale.

Jeda beberapa saat. Baik Ceysa atau Vale tidak ada yang menutup telepon duluan. Sampai akhirnya karena sudah harus masuk ke pesawat, Ceysa menekan tanda merah di layar ponsel dan memutus percakapan itu.

Ceysa duduk sendirian, sudah tentu teman-temannya duduk berpasangan. Dia mengecek ponselnya terlebih dulu sebelum mengaktifkan airplane mode. Entah apa yang mendorongnya untuk mengecek story Instagram, dibanding mengirim chat untuk Vale. Di urutan pertama, terdapat story Juan. Iseng-iseng dia melihatnya.

Story pertama, Juan merekam keadaan di tempat bekerjanya yang dipadati oleh pengunjung.

Story kedua, sama.

Story ketiga, tentang keluh kesah Juan tentang kemacetan.

Lalu, story terakhir …

Deg!

Jantung Ceysa berdebar keras karena di story itu Juan memperlihatkan Vale yang sedang terbaring lemah di kos, dengan caption … GWS Bro. Story itu baru di-posting lima menit yang lalu.

Ceysa dengan cepat menelepon Juan. Tangannya sampai gemetar. Sebentar lagi pesawat akan lepas landas, peringatan untuk mematikan telepon pun sudah terdengar.

“Halo Nona,” canda Juan.

“Gue lihat story IG Lo barusan. Vale sakit?” todong Ceysa langsung.

“I-iya …” Juan terdengar bingung.

“Bukannya dia lagi kerja?”

“Tadinya sih iya nekat mau kerja. Tapi gue larang, habis badannya panas banget kayak bara api. Sekarang lagi tidur tuh anak. Mau gue bangunin?”

“Nggak usah.” Ceysa mematikan telepon. Dia langsung melepas sabuk pengaman, berdiri dengan cepat.

“Eh eh, mau ke mana? Ini kita udah mau berangkat!” tegur Allura yang duduk di belakangnya.

“Gue nggak jadi ikut, sorry.” Ceysa langsung menerobos para pramugari yang sedang mengecek penumpang, berlari ke luar sebelum pintu pesawat ditutup.

Keempat sahabat Blaire bengong, bahkan tidak sempat bertanya ada apa. Tak lama setelah Ceysa ke luar, pintu pesawat sudah ditutup dan akan segera lepas landas.

***

Ceysa berlari di sepanjang area dalam bandara, lalu berhenti untuk antre di Walk Through Metal Detector. Dia sangat gelisah, sampai kakinya terus bergerak. Setelah melewati tahapan ini, dia kembali berlari menerobos orang-orang yang sedang berjalan pelan menuju eskalator

“Maaf,” ucapnya saat menabrak bahu seorang pria yang menatapnya sengit.

Tanpa rasa lelah, Ceysa terus berlari. Banyak yang memperhatikannya dengan wajah heran, juga ada yang tidak suka, lantaran dia menerobos sembarangan.

Ceysa beruntung langsung mendapat taksi. Dia makin gelisah saja, sampai terus menerus meminta sopir agar lebih cepat padahal jalanan sedang macet.

Tangan Ceysa gemetar, terlihat dari caranya memegang ponsel. Dia tidak terpikir menelepon siapapun, karena jantungnya berdebar hebat hingga membuat otaknya sulit berpikir. Ada rasa marah yang bercampur dengan khawatir, tapi bingung mana yang sebenarnya lebih kuat.

Taksi akhirnya sampai di depan kos Vale, bahkan belum berhenti dengan mulus saja Ceysa sudah membuka pintu. Dia turun terburu-buru dan masuk ke pagar kosan yang sepi. Hari sudah menjelang malam, mungkin itu sebabnya tempat ini tidak seramai di pagi hari.

Di depan pintu kamar Vale, Ceysa lebih dulu mengatur napas. Dia bagai habis lari sejauh satu kilometer tanpa henti. Ngos-ngosan. Baru saja akan mengetuk, pintu sudah dibuka lebih dulu oleh orang di dalam.

“Eh, Ceysa?” Juan terkejut melihat Ceysa berdiri di depan pintu.

Ceysa tersenyum, napasnya masih tersengal hingga sulit bicara.

“Lo nggak jalan kaki, kan, ke sini?” canda Juan tertawa geli.

Ceysa ikut tertawa dan menggeleng.

“Ayo masuk, masih tidur dia. Efek obat kayaknya,” beritahu Juan.

“Emang sejak kapan sih dia sakit?”

“Loh, dia nggak ngabarin Lo?” Juan membiarkan pintu tetap terbuka, tapi tidak terlalu besar.

Ceysa menggeleng.

“Parah tuh anak.” Juan berdecak. “Dia udah kayak gitu dari pagi, makanya pas mau kerja gue larang. Jalan aja sempoyongan.”

“Dari pagi?” rasanya ingin marah karena dibohongi, tapi melihat Vale tidur dengan wajah pucat seperti itu dia merasa kasihan.

Juan mengangguk. “Bangunin aja Cey, nggak papa. Sekalian suruh makan,” suruhnya.

Ceysa mengangguk.

Ceysa mendekati Vale. Dia duduk pelan-pelan di tepi kasur, lalu menempelkan telapak tangannya ke kening pria itu. “Panas banget,” gumamnya.

Tak ingin membangunkan Vale, Ceysa menghampiri Juan yang sedang merokok di luar. “Juan, kalau kalian masak di mana?” tanyanya.

“Di dapur lah.”

“Iya maksud gue dapurnya di mana.” Ceysa mendesah malas.

“Lurus aja dari sini, terus belok kanan mentok.” Juan terkekeh. “Tapi nggak tau ya ada yang bisa dimasak atau nggak, soalnya anak-anak di sini lebih suka beli.”

“Tapi kalau cuma beras sama telur ada, kan?”

“Oh kalau itu nggak pernah habis, apalagi pas bulan tua.” Juan terkekeh lagi.

Ceysa tersenyum. Dia pun pergi ke dapur yang Juan tunjuk. Meski tempat kos di sini memiliki banyak penghuni, tapi lingkungannya sangat bersih. Tidak ada sampah bertebaran di lantai, atau jemuran bergantungan sembarangan.

Di dapur yang sederhana itu pun keadaanya cukup bersih. Tidak ada tumpukan piring kotor, semua tapi pada tempatnya. Saat membuka kulkas, memang hanya ada telur dan air mineral.

Ceysa mengambil satu gelas takar beras, dimasukkan ke dalam panci, mencucinya sampai bersih. Lalu dia nyalakan kompor dan memasaknya. Bila dipikir-pikir, kenapa dia sampai repot-repot melakukan ini? Rasanya seperti bukan Ceysa.

Setelah selesai membuat bubur yang diberi campuran telur, Ceysa kembali ke kamar Vale. Pria itu masih tidur, dan batuk-batuk.

“Cey, gue ke luar bentar ya,” pamit Juan.

Ceysa mengangguk.

Dia duduk di tepi kasur, menyentuh pipi Vale dengan lembut. “Val,” panggilnya.

Vale membuka matanya sedikit demi sedikit, sempat bingung saat melihat Ceysa. Mengira mungkin sedang bermimpi.

“Aku masakin bubur,” beritahu Ceysa.

“Cey?” Vale langsung duduk menyadari Ceysa nyata ada di sana. Dia terbatuk-batuk, memalingkan wajah sebentar.

Ceysa mengusap punggung Vale.

“Kamu kok di sini? Bukannya udah di pesawat?” tanya Vale masih dengan ekspresi kagetnya.

“Aku nggak jadi pergi,” beritahu Ceysa.

“Loh, kenapa?”

“Menurut kamu?”

Vale menyadari kemarahan Ceysa di balik sikap penuh perhatiannya itu. Wanita itu menyuapinya bubur, lalu mengelap bibirnya yang belepotan. Namun tatapannya terasa dingin, juga tak mau bicara sepatah kata pun. Dari tadi dia sudah mencoba menarik perhatiannya, namun sia-sia.

“Obat kamu di mana?” tanya Ceysa setelah bubur yang Vale makan habis.

Saat Ceysa ingin berdiri menaruh mangkuk bubur itu, Vale menahan tangannya. Dia ambil alih mangkuk itu dan menaruhnya ke samping bantal. Digenggamnya tangan Ceysa yang terasa dingin, efek dari kulitnya yang sedang panas.

“Maaf …” ucap Vale. “Aku cuma nggak mau ganggu liburan kamu sama temen-temen kamu.”

Ceysa menatap Vale tajam. “Menurut kamu, aku bakal lebih milih liburan di sana terus ngebiarin kamu sakit di sini? Cuma segitu penilainan kamu tentang aku?” cecarnya.

“Nggak gitu.” Vale menarik kembali tangan Ceysa yang berusaha lepas.

“Coba sekarang kita tukar posisi, Val. Andai kamu yang berencana liburan, terus aku nggak ngasih tau kalau aku sakit dan kamu malah tau dari orang lain. Kamu bakal tetep pergi?” cecar Ceysa kembali.

“Nggak. Mana mungkin.” Vale dengan erat menggenggam tangan Ceysa yang masih berusaha melepaskan. “Maaf, aku salah.”

“Kamu mikir nggak sih gimana perasaan aku andai aku telat dikit aja tadi? Pesawat udah hampir take off, Val!” Emosi Ceysa yang tertahan lantas menyembur ke luar.

“Maaf maaf maaf.” Vale langsung memeluk Ceysa. “Aku janji nggak akan ulangin ini lagi.”

Ceysa berontak, tapi Vale lebih kuat.

Vale melepaskan pelukan, tapi malah mencium paksa bibir Ceysa. Sekuat apapun wanita itu ingin melepaskan diri, jauh lebih kuat lumatan bibirnya yang panas.

Ceysa menyerah, tidak lagi berontak. Dibalasnya ciuman Vale dengan sisa emosi yang ada. Panas dan dingin melebur jadi satu. Bila biasanya bibir Vale begitu lembut, kali ini terasa sedikit kasar efek dari panas tinggi yang membuat bibirnya kering.

Vale melepaskan ciuman, mengecup ringan beberapa kali. “Jangan marah, aku lagi sakit …” lirih Vale, memohon.

“Mana obat kamu?” tanya Ceysa lebih lembut.

“Kamu,” jawab Vale.

“Aku serius.”

“Aku juga serius. Nggak ada obat yang lebih ampuh selain kamu. Aku merasa lebih sehat sekarang,” ujar Vale tak main-main.

Ceysa mendesah.

Vale turun dari dipan itu, berjalan ke pintu dan menutupnya. Menarik slot agar terkunci.

“Kenapa dikunci?” Suara jantung Ceysa bagai sedang berlomba dengan detak jarum jam.

Vale menarik Ceysa berdiri, kemudian dibawanya lagi ke pangkuan. Posisi merek berhadapan, saling menatap begitu dalam. Direngkuhnya pipi wanita itu, dan menciumnya kembali.

“Kamu lagi sakit,” bisik Ceysa di sela ciuman panas itu.

“Sampai pagi pun aku kuat,” balas Vale terkekeh. Dia sedang begitu bernafsu sekarang, tak menerima penolakan.

Ceysa bisa merasakan sesuatu mulai membesar menyentuh pangkal pahanya. Dia membalas ciuman Vale dengan seimbang, meliukkan tubuh lebih menempel pada pria itu. Rasa panas di tubuh Vale, menghantam kulitnya.

Vale menarik kaus Ceysa ke atas dan melepas pengait bra hitamnya. Dia remas dada ranum itu, sembari bibirnya menjelajahi lekuk leher yang basah oleh keringat itu.

Keduanya tak mengubah posisi. Ceysa memimpin, bergerak di atas Vale mengatur iramanya. Desahan mereka berlomba, saling mengejar. Bibir tak henti-hentinya mencari jalan untuk saling bertaut. Suara basah dan napas yang terengah telah merampas hening malam.

Ceysa meremas punggung Vale, giginya menancap di pundak pria itu. Tubuhnya bergetar, kenikmatan itu meluruh hangat di dalamnya.

Vale baringkan tubuh Ceysa setelah itu, lalu menyatukan kembali tubuh mereka dalam kecepatan penuh. Dia mengerang, menuntut haknya yang sebentar lagi akan sampai. Sebelum matanya terpejam, sempat dia lihat bercak merah yang ditinggalkannya di sepanjang kulit Ceysa.

Vale membawa Ceysa ke pelukannya, keringat menjadi pengingat betapa tadi itu sangat … nikmat.

“Temen-temen kamu pasti kecewa,” ucap Vale memberanikan diri untuk membahasnya kembali.

“Mereka bakalan ngerti,” sahut Ceysa, tak lagi marah.

“Padahal liburan ini mereka siapkan untuk ngasih kamu kejutan.” Vale harus membongkarnya, karena sudah tidak ada yang perlu ditutupi lagi.

“Ha?” Ceysa mendongak menatap Vale. “Kejutan?”

“Besok hari ulang tahun kamu, kan?”

Ceysa terdiam. Dia benar-benar tidak mengingat hari ulang tahunnya jatuh pada tanggal besok. Kesibukan telah menyita ingatannya. “Astaga … kenapa aku bisa lupa, sampai nggak curiga sama sekali,” keluhnya. “Tapi kamu tau dari mana?”

Vale menceritakannya, rencana ini dia ketahui saat perayaan makan malam itu. Itu sebabnya dia tidak memberitahu kalau sedang sakit, karena menghargai usaha yang teman-teman Ceysa lakukan.

Seketika Ceysa merasa sedikit bersalah pada teman-temannya itu. “Aku bakal minta maaf ke mereka,” ucapnya.

Vale mendesah. “Kalau aku tau kamu bakalan batalin liburan itu dan ke sini, aku pasti udah siapin sesuatu buat kamu,” keluhnya. “Aku bahkan belum beli kado buat kamu.”

“Berhubung kamu belum beli, aku boleh request?” minta Ceysa dengan mata berbinar.

Vale sedikit takut Ceysa meminta yang tidak sanggup dibelinya. “Apa?” tanyanya sedikit ragu.

“Aku minta kamu bikinin aku makanan yang super enak.”

Vale menatap Ceysa lekat, benarkah sesederhana itu? Bukan barang atau liburan mewah? “Kamu beneran cuma minta itu?” tanyanya lagi.

“Iya. Kemaren kamu pernah masakin nasi goreng, enak sih tapi terlalu sederhana. Sekarang aku minta yang istimewa. Western … maybe.”

“Oke. Kita ke apartemen kamu sekarang. Di sini nggak ada apa-apa.” Vale beranjak duduk. Dia terlihat sangat bersemangat.

“Ehhh, kamu, kan, lagi sakit. Nggak harus sekarang juga,” larang Ceysa.

“Aku udah keringetan gini,” ucap Vale menunjukkan keringat yang banjir di otot-otot perutnya.

Ceysa mengapit selimut ke bawah ketiaknya, lalu menarik tangan Vale. Dia lebih dulu ingin memeriksa. Dan benar saja, suhu pria itu menurun drastis. Memang masih hangat, tapi lebih baik dibanding tadi.

“Udah sehat, kan?” Vale tersenyum.

“Kok bisa?”

“Dibilang kamu itu obat yang paling manjur. Nggak percaya sih.”

Vale memunguti pakaian Ceysa yang teronggok di lantai, memberikannya pada wanita itu.

***

“Have fun ya kalian di sana!”

Ceysa akhirnya bisa mengembuskan napas lega setelah menelepon Blaire dan menjelaskan semuanya. Tadinya, sahabatnya itu marah karena rencana yang telah dipersiapkan sedemikian rupa, telah gagal begitu saja. Namun setelah dijelaskan alasannya, mereka pun akhirnya mengerti.

Melihat Vale memasak, Ceysa dengan langkah tanpa suara mendekati. Lalu dia peluk pria itu dari belakang. Rasa bahagia tengah membuncah di dada, semua beban bagai telah terangkat.

“Mereka bilang apa?” tanya Vale.

“Awalnya sih marah, tapi setelah tau alasannya, mereka ngerti. Bahkan Bi aja bilang, kalau ada di posisi aku, dia pun akan melakukan hal yang sama.”

“Tapi tetep aja aku ngerasa nggak enak. Mereka udah siapin segalanya, malah berantakan gara-gara aku. Pasti mereka kecewa banget.”

“Siapa bilang mereka kecewa? Malah yang ada, mereka udah lupa niat awalnya apa. Sibuk sama pasangan masing-masing,” beritahu Ceysa. “Kalau aja tadi aku beneran ikut, aku bakal mati bosan di sana. Sekaligus muak lihat mereka pamer kemesraan. Habisnya, pacar aku nggak bisa ikut.”

Vale terkekeh.

“Alasan kamu nggak mau ikut, bukan semata-mata karena kerjaan, kan?” tebak Ceysa. “Karena kalau cuma karena kerjaan, aku pasti udah maksa kamu buat ikut.”

Vale terdiam beberapa saat. Lalu bertanya, “kamu nggak malu punya pacar yang nggak sepadan? Laki-laki yang nggak akan sanggup sewa yacht di hari ulang tahun pacarnya.”

“Kalau aku malu, aku nggak bakalan ada di sini sekarang. Aku bakal tetep pergi sama mereka, berlayar dengan yacht mewah sambil pamer di sosial media seakan-akan nggak punya pacar.”

Vale membalikkan badan, menatap Ceysa penuh cinta. “Makasih ya, Cey. Aku nggak pernah ketemu cewek setulus kamu,” jujurnya.

Ceysa memberikan jari kelingkingnya. “Mulai sekarang, jangan ada jarak di antara kita. Oke?” mintanya.

Vale menautkan jarinya, lalu tersenyum jahil. “Emangnya kita pernah berjarak?” godanya.

Melihat gelagat Vale itu, Ceysa tahu akan dibawa ke mana adegan selanjutnya. Dia menjerit ketika tubuhnya di angkat ke kitchen island dan diserang dengan bertubi-tubi ciuman.

“Kamu, kan, lagi masak,” ucap Ceysa dengan suara teredam oleh ciuman membara Vale.

“Hmppt … Valeee … Ah …”

Bersambung… Sejak pagi, ada begitu banyak kiriman kado dari orang-orang terdekat Ceysa, dan juga para kliennya. Ruang tamu dipenuhi tumpukan paper bag, bunga dan juga berbagai jenis cake. Namun di antara semua itu, salah satunya ada yang menarik perhatian Vale, yaitu kiriman bunga dari Adam. Tak hanya bunga tentu saja, tapi terselip sebuah box kecil persegi empat beserta kartu ucapannya.

“Mas Adam tau tanggal ulang tahun kamu?” tanya Vale.

“Hmm?” Ceysa tidak begitu mengerti arah pertanyaan Vale itu, karena dia sedang fokus membaca email.

Vale mengambil hadiah dari Adam itu dan duduk di samping Ceysa. “Ini dari Mas Adam,” beritahunya.

“Oh ya?” Lantaran semua hadiah itu Vale yang mengambilnya dari kurir yang mengantar tadi, Ceysa belum sempat melihat satu persatu siapa saja pengirimnya.

Ceysa membuka lipatan kartu ucapan yang tertempel di bunga pemberian Adam.

Dear Ceysa …

Happy happy birthday

You are a very special person to me

I hope you never forget what we’ve been through together

With lots of prayers, I hope you are happy

From: Adam

Setelah membacanya, Ceysa beralih membuka box kecil berwarna pastel itu. Terdapat sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati.

“Hadiah yang spesial banget ya,” sindir Vale.

“Tapi ada yang lebih spesial dari ini,” ucap Ceysa sembari menaruh hadiah dari Adam itu ke atas meja.

Vale diam saja, tidak berminat tahu.

“Tadi malem, ada yang ngasih hadiah pasta gosong dari orang pertama yang ngucapin happy birthday.” Ceysa mengulum senyum.

Vale tak bisa menahan senyumnya, sebab bila mengingat itu benar-benar menggelikan. “Apa spesialnya? Kamu nyindir, ya?”

“Spesial, karena itu pertama kalinya aku dapet hadiah pasta gosong,” cibir Ceysa penuh tawa.

Vale menunduk sembari tertawa geli. Lalu menatap Ceysa kembali, mencubit gemas pipi wanita itu. “Aku nggak fokus juga, kan, karena kamu,” ujarnya menyalahkan.

“Kok nyalahin aku? Siapa yang ngajak duluan?” Ceysa pindah ke pangkuan Vale.

Vale terkekeh lagi. “Tapi beneran deh, aku malu banget sama kamu. Nggak bisa kasih kado mahal, malah kado yang modalnya cuma jadi koki aja gagal,” sesalnya.

“Kamu tau nggak, kalau sebenernya minta dimasakin itu cuma alasan aku aja?”

“Maksudnya?”

“Aku jadiin masak sebagai alasan biar bisa bareng kamu terus di hari ulang tahun aku.”

“Karena kamu tau di kos nggak ada apa-apa untuk dimasak dan besar kemungkinan Juan bakal jadi orang ketiga, makanya sengaja minta aku masakin yang aneh-aneh biar bisa ke apartemen kamu?” tebak Vale.

Ceysa tersenyum geli dan mengangguk.

Vale benar-benar masih harus kaget dengan karakter Ceysa ini. “Kenapa nggak tinggal bilang aja sih? Tau gitu, kan, aku nggak akan bikin pastanya sampe gosong,” protesnya gemas.

Ceysa tertawa.

Vale menatapnya lama, menunggu hingga tawa yang memesona itu berhenti. “Kamu beneran nggak mau kado yang istimewa dari aku? Kalau ada yang kamu mau, bilang aja. Aku bakal usahain,” ucapnya.

“Kamu udah kado yang paling istimewa buat aku, jadi itu cukup.” Ceysa menekan ujung hidung Vale dengan jarinya.

Vale menghela napas dengan keras.

“Kok hela napas gitu sih?” protes Ceysa. Menghela napas itu ciri orang yang sedang tidak puas pada sesuatu atau sedang mengeluh, kan?

“Jadi pacar kamu tuh berat ya,” ucap Vale disertai helaan napas yang lebih ringan.

“Berat gimana?”

“Berat mikirin gimana caranya biar kamu tetap stay sama aku, karena aku yakin yang berusaha merebut kamu dari aku tuh banyak banget.” Vale mengusap bibir Ceysa. “Tapi aku bisa pastiin, mereka nggak akan berhasil. Aku, Valegano Ratama nggak akan pernah melepaskan Ceysa Aleiza untuk seumur.”

Ceysa tersenyum mendengarnya, lalu dalam hitungan detik mereka sudah saling bercumbu begitu mesra.

***

“Dibatalin?”

Ceysa benar-benar terkejut saat Adam bilang rencana pernikahannya telah dibatalkan secara sepihak oleh calon istrinya. Dia pikir, pria itu mengajak bertemu siang ini di cafe karena ingin melanjutkan persiapan yang sudah berjalan hingga lima puluh persen itu.

Adam mengangguk lesu. “Sejak awal, aku emang udah ngerasa dia nggak antusias dengan rencana pernikahan kami. Bahkan, dia tetep ambil job saat seharusnya lebih fokus ke persiapan pernikahan,” keluhnya.

“Tapi persiapannya udah jalan lima puluh persen loh, Dam. Gedung udah siap, dekorasi hampir rampung. Terus undangan pun udah selesai,” beritahu Ceysa.

“Kalau soal itu, aku akan tetep bayar sesuai kesepakatan Cey. Terlepas dari jadi atau nggaknya,” ucap Adam meyakinkan.

“No.” Ceysa menggeleng. “Ini bukan soal bayaran, tapi maksud aku emang nggak bisa coba dibicarakan lagi gitu? Mungkin saat dia bilang itu, mood-nya lagi nggak bagus. You can try to fix it.”

“Dia selingkuh, Cey.”

Ceysa speechless.

“Selama ini aku selalu bilang ke kamu alasan dia nggak pernah bisa datang setiap kali kita meeting, karena dia ada kerjaan di luar kota. Ternyata dia ada di Jakarta selama ini, nggak ke mana-mana.” Adam tampak sangat terpukul. “Tadi malem, aku mergokin dia masuk ke Hotel dengan pria itu. Bukannya merasa bersalah, dia malah batalin rencana pernikahan kami dan bilang …”

Ceysa mengusap lengan Adam.

“Dia bilang kalau pria itu udah janji bakal bikin karirnya lebih cemerlang. Dia nggak bisa lepasin kesempatan itu dan minta aku buat cari wanita lain.”

Kalau ceritanya sudah begini, Ceysa tentu mengerti kenapa Adam tidak ingin mempertahankannya lagi. Siapa yang mau memaafkan pasangan yang terang-terangan berselingkuh?

“Aku jelas kalah jauh sama selingkuhan dia, Cey. Jauh banget …” lirih Adam.

“Kalau tolak ukurnya cuma sebatas kekuasaan, kamu justru beruntung dia nggak milih kamu, Dam. Kalau dia sayang sama kamu, dia pasti lebih milih berjuang sama kamu, dibanding terima yang instan kayak gitu.”

“Memangnya masih ada wanita yang kayak gitu, Cey?” Adam tersenyum miris.

“Pasti ada.” Ceysa meyakinkan.

Di tempatnya berdiri, Vale menahan ledakan rasa cemburu melihat Ceysa begitu dekat dengan Adam. Meski dia tahu Boss cafe itu sedang ada masalah dan berita pernikahannya dibatalkan juga sudah menyebar tadi pagi, tetap saja tidak rela Ceysa menghiburnya.

“Cieeee ada yang terbakar nih,” goda Zidan sembari lewat.

“Harus siap-siap fire extinguisher nih, Dan. ngeri cafe hangus.” Widya ikut menggoda dari arah kasih.

Vale masuk ke dalam, kebetulan siang ini cafe tidak terlalu ramai. Dia nekat membuka loker dan mengambil ponselnya. Meski ada CCTV di sana, dan berpotensi kena SP kalau ketahuan, dia tetap melakukannya.

Sementara itu, Ceysa mengedarkan pandangan mencari keberadaan Vale yang kini sedang meneleponnya. Dia tahu aturan cafe tidak boleh bermain ponsel di jam kerja, jadi kenapa pria itu menelepon?

“Bentar ya,” ucap Ceysa pada Adam. Dia menerima telepon dengan tenang, meski rasanya deg-degan juga kalau Adam tahu Vale yang menelepon.

Adam mengangguk.

“Kamu ngapain sih peluk dia? Kamu nggak menghargai aku di sini?” cecar Vale langsung.

Ceysa melirik Adam, pria itu sedang menatap kosong ke luar cafe lewat jendela. Dia memelankan suara, “Aku punya alasan,” tegasnya.

“Menghibur dia karena nggak jadi nikah?” Vale mendengkus. “Nggak harus peluk juga, Cey. Kamu pegang tangan dia aja udah cukup, itu pun aku cemburu.”

Ceysa menggaruk alisnya. “Bisa kita obrolin nanti setelah pulang nggak?” mintanya.

“Nggak bisa.”

Ceysa berdiri. “Dam, bentar ya? Mau ke toilet dulu,” pamitnya.

Adam mengangguk pengertian.

Ceysa pergi ke toilet, lebih leluasa menelepon bila tidak di depan Adam. Dia hanya takut tak sadar menyebut nama Vale, sehingga Adam tahu kalau Vale sedang menelepon.

“Val, kamu bisa sedikit berempati dengan kondisinya Adam nggak sih?” Ceysa mendesah.

“Nggak bisa.” Suara Vale terdengar di luar telepon, karena sekarang pria itu sudah berdiri di belakang Ceysa.

“Ini toilet cewek,” desis Ceysa panik. Dia hendak memasukkan ponselnya ke saku celana, saat tiba-tiba Vale mendorongnya ke salah satu bilik di dalam sana.

Vale yang tengah dikuasai cemburu dan emosi, mencium bibir Ceysa cepat dan kasar. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan di mana Ceysa sedang memeluk Adam tadi.

Ceysa yang tidak suka perlakuan kasar Vale langsung mendorongnya. “Apaan sih, Val?” desisnya kesal.

“Kamu pulang sekarang, tunggu aku di apartemen. Urusan kamu sama Mas Adam udah selesai,” suruh Vale.

Setelah mengatakan itu, Vale pergi meninggalkan Ceysa. Emosinya masih belum bisa dikendalikan sehingga dia tidak mau berbuat lebih buruk pada wanita itu.

Ceysa mengurut keningnya.

Ceysa sedang galau.

Biasanya, Vale akan menelepon setiap kali selesai bekerja di cafe Adam, lalu minta ditemani mengobrol sepanjang perjalanan menuju tempat kerjanya yang lain. Tapi kali ini, Vale tidak ada kabarnya hingga malam. Malah chat terakhir Ceysa yang mengabari kalau dia sudah sampai di apartemen saja hanya dibaca.

“Gini nih pacaran sama anak kecil. Lo juga sih mau, udah tau bedanya tujuh tahun.”

“Lagian kenapa juga gue galau nggak jelas gini? Biarin aja dia ngambek.”

“Lihat aja, palingan nanti dia sendiri yang ngemis-ngemis ngajak baikan.”

Ceysa sudah seperti orang gila, bicara pada diri sendiri di depan cermin. Dia ingin mengabaikan Vale, namun tidak bisa bertahan lama. Setiap kali suara notifikasi ponsel berbunyi, tangannya begitu cepat memeriksa. Namun saat melihat bukan dari Vale, efek galau jadi kian menumpuk.

“Arrgghh!” Ceysa menggaruk kepala dengan kasar, alhasil rambut yang sudah disisir rapi tapi berantakan lagi.

Pada akhirnya, Ceysa menyerah.

Dia berganti pakaian, mengambil tas beserta kunci mobil, lalu ke luar dari apartemen. Sikap dewasanya muncul di detik-detik terakhir, masalah tidak akan selesai bila hanya berdiam diri.

Di tengah kemacetan dan hujan yang mengguyur, semangat Ceysa untuk sampai ke cafe tempat Vale manggung tetap berkobar.

CIITTTT!

Tiba-tiba saja sebuah motor terjatuh di depan mobil Ceysa, membuatnya refleks mengerem. Keningnya dengan keras membentur roda setir, rasanya sakit sekali. Suara klakson terdengar riuh dari depan dan belakang, sampai kaca jendela mobil pun digedor keras. Entah apa yang mereka katakan, dia tidak begitu jelas mendengarnya.

Sesaat sebelum pandangannya gelap, Ceysa membuka kunci pintu mobil.

***

Selesai manggung, Vale mengambil barang-barangnya di loker, termasuk ponselnya. Dia melihat begitu banyak panggilan tidak terjawab dari nomor asing. Lantaran penasaran, dia pun menelepon salah satu nomor berkode area +621 itu.

“Rumah Sakit Kesehatan Jakarta, ada yang bisa dibantu?” sapa seseorang di sana.

Rumah sakit? Kening Vale berkerut. “Mbak, tadi saya mendapat beberapa kali panggilan dari nomor ini. Kira-kira ada apa ya menghubungi saya?” tanyanya.

“Maaf, dengan Bapak siapa?”

“Vale.”

“Tunggu sebentar ya.”

Vale menunggu, ekspresinya masih bingung.

“Pak Vale, ini kita mau konfirmasi apakah Bapak mengenal pasien kami yang bernama Ceysa Aleiza?”

“Kenapa dengan Ceysa?!” Vale langsung berlari ke luar, melupakan niat awalnya berpamitan dengan Boss cafe sebelum pulang.

“Mbak Ceysa mengalami kecelakaan, dan saat itu sedang …”

Vale tidak menunggu kelanjutannya, karena langsung naik ke motor dan melaju kencang. Pikirannya terfokus hanya pada Ceysa, khawatir bukan main hingga tubuhnya gemetar.

Rumah sakit yang dimaksud berjarak sangat dekat dengan cafe, Vale hanya butuh sekitar lima menit kalau saja tidak macet. Merasa tidak tahan lagi, dia pun memarkirkan motornya di depan mini market dua puluh empat jam, lalu berlari menerobos manusia yang sedang melakukan aksi tawuran tidak berfaedah itu.

Begitu sampai di rumah sakit, Vale melihat ada begitu banyak pasien di instalasi gawat darurat itu. Dengan napas tersengal dia bertanya pada seorang perawat yang sedang lewat. “Sus, di sini ada pasien yang bernama Ceysa Aleiza? Dia baik-baik aja, kan?” todongnya cepat.

“Bisa ditanyakan ke bagian …”

Tidak perlu, Vale sudah melihat Ceysa saat ini. Wanita itu sedang duduk di salah satu ranjang pasien, meminum secangkir teh. Keningnya terpasang perban kecil, selain itu tak terlihat luka-luka parah lainnya. Napas Vale yang tadinya tercekat di tenggorokan, kini bisa dihela dengan lega.

Vale berjalan cepat pada Ceysa, lalu dengan cepat memeluknya. Gelas yang Ceysa pegang bergoyang hingga air teh di dalamnya tumpah, terasa panas mengenai punggung Vale. “Apa yang kamu lakuin di luar jam segini, sih?” omelnya.

“Aku mau ke cafe kamu,” beritahu Ceysa.

Vale melepaskan pelukan. “Kenapa selalu aja bikin aku khawatir sih, Cey? Emangnya kamu nggak bisa nunggu aja di apartemen sampai aku dateng?” desahnya.

“Aku mana tenang nungguin kalau kamu aja nggak jelas bakalan dateng atau nggak.”

“Aku pasti dateng.”

Ceysa diam saja.

Vale rasanya masih ingin marah, tapi kalah dengan rasa khawatir. Dia amati tubuh Ceysa dari atas hingga ke bawah. “Kamu baik-baik aja, kan? Ini kenapa?” tanyanya menunjuk perban kecil itu.

“Ada motor jatuh di depan mobil, jadi aku ngerem. Kebentur setir,” beritahu Ceysa.

“Nggak ada luka lain, kan?” tanyanya sembari memeriksa kembali. “Dokter bilang apa?”

Ceysa menggeleng. “Cuma luka ringan nggak berbahaya. Tadi udah CT Scan juga, nggak ada apa-apa,” beritahunya dengan jelas.

“Terus pengendara motor yang jatuh gimana keadaannya?”

“Baik-baik aja, nggak sampe ketabrak mobil aku. Itu karena jalannya licin, jadi kegelincir.” Ceysa terlihat masih gemetar, “aku nggak bisa bayangin kalau tadi dia ketabrak.”

Vale memeluk Ceysa kembali. “Tuhan masih sayang sama kamu, nggak usah dipikirin lagi,” bujuknya.

“Kamu kenapa datengnya lama sih? Aku takut banget tadi,” lirih Ceysa, mulai terisak. Dia sempat pingsan di lokasi kejadian tadi, dan saat bangun sudah di rumah sakit bersama orang-orang yang tidak dikenal, dia pun menjadi panik.

“Maaf. Hapenya, kan, nggak dibawa pas kerja.” Vale mengeratkan pelukan. Dia merasa sangat menyesal karena sudah mengabaikan wanita itu, sehingga terjadilah hal seperti ini.

“Mbak Ceysa, gimana keadaannya sekarang?” tanya seorang perawat yang ingin memeriksa kembali.

Vale melepaskan pelukannya.

“Udah lebih baik Sus,” jawab Ceysa.

“Udah lebih tenang ya, sekarang?”

Ceysa mengangguk.

“Sus, apa sudah boleh diajak pulang?” tanya Vale.

“Iya, bisa Mas. Tadi kita nggak izinkan pulang dulu karena kondisinya masih agak shock. Sebenarnya nggak ada masalah, hanya benturan ringan yang menghasilkan sedikit memar.”

“Makasih Sus,” ucap Vale dan Ceysa bersamaan.

“Saya permisi, ya.” Perawat itu pun pergi.

Saat Ceysa akan turun dari ranjang itu, Vale malah menggendongnya. Ini dilakukan di depan banyak mata yang melihat. “Val, kamu ngapain sih gendong aku segala?” bisiknya.

“Kamu masih pasien selama belum ke luar dari sini,” sahut Vale. “Jangan banyak gerak, nanti jatuh.” Layaknya seorang pria sejati, Vale membawa Ceysa ke luar dari tempat itu.

“Kita dilihatin orang,” bisik Ceysa lagi, terpaksa menyembunyikan wajahnya di balik pundak pria itu karena malu.

Vale tidak peduli, langkahnya tetap gagah. “Mobil kamu di mana?” tanyanya begitu sampai di luar.

“Tadi kata yang nganter aku ke sini, mobilnya ada di parkiran,” beritahu Ceysa.

Vale menoleh Ceysa curiga, “Bukan cowok, kan?”

“Kalau cowok, kamu mau ngajak aku berantem lagi?” keluh Ceysa. “Emang aku yang lagi pingsan bisa milih mau dianter cewek atau cowok gitu?”

Vale meringis.

“Turunin, bawa mobilnya ke sini.” Ceysa pegang kendali, Vale tidak akan bisa memarahinya lagi. Alasan sakit ternyata memang mujarab.

Vale menitipkan tas ranselnya pada Ceysa, setelah itu dia berlari menuju parkiran mobil.

***

Vale menepikan mobilnya di pinggir warung tenda penjual nasi goreng. Dia mengeluarkan dompetnya, lalu hendak membuka pintu mobil saat Ceysa menahan tangannya yang satu lagi.

“Mau ke mana?” tanya Ceysa.

“Beli makan buat kamu.”

“Aku udah makan, nggak usah.”

“Kapan?” Vale sangsi pada kejujuran Ceysa, efek dari sering dibohongi.

“Tadi jam tujuh.”

“Pasti laper lagi, kan? Biasanya orang yang habis shock, bakalan kelaperan karena energinya terkuras.”

Ceysa bersikeras ingin menolak tapi Vale tetap turun. Pria itu nekat lari ke warung tenda itu hujan-hujanan, tak bisa dia halangi lagi. Padahal yang Ceysa inginkan saat ini hanyalah berbaring di ranjang empuknya, dan dipeluk oleh Vale.

Tak lama, Vale kembali membawakan segelas teh hangat. “Ini diminum, biar anget badannya,” suruhnya.

Ceysa menurut, diambilnya teh itu dan menyesapnya sedikit, lalu refleks menjulurkan lidah lantaran terasa panas, bukan hangat. “Ini airnya baru dimasak banget, ya?” protesnya.

“Nggak tau,” jawab Vale polos.

“Kamu cari apa sih?” tanya Ceysa saat Vale begitu sibuk membongkar isi ranselnya, hingga semua yang ada di dalam dikeluarkan.

“Hape aku lihat nggak?” tanya Vale.

“Dasar pikun. Kan, dikasih ke aku tadi pas di rumah sakit.”

“Astaga iya.” Vale tercengir. Bagi orang biasa seperti Vale, kehilangan ponsel tentu bukan hal yang biasa saja. Dia harus bersusah payah dulu melunasi cicilan hape itu, jadi jangan sampai hilang.

“Ini tehnya panas banget,” beritahu Ceysa lagi.

“Sini aku tiupin.” Saat tangan Vale bergerak tanpa melihat, Ceysa sedang minum. Akibat senggolan ringan itu, air teh sedikit tumpah mengenai separuh wajah wanita itu.

“Val, ih!”

“Ya ampun maaf. Ada tisu nggak?” Vale mengambil gelas itu dan menaruhnya ke atas dashboard. Dia mencari tisu di tempat biasa Ceysa menaruhnya, tapi hanya ada wadah kosong. “Yah, habis.”

“Panas tau,” keluh Ceysa. Untungnya tidak sepanas tadi saat pertama kali minum, kalau tidak wajahnya pasti sudah melepuh.

Saat Ceysa hendak mengelap air yang basah di wajahnya, Vale langsung menahan tangannya. “Aku bantu lap,” ujarnya sembari menurunkan tangan wanita itu.

Ceysa pikir, Vale ingin menggunakan jaketnya, tapi ternyata … dengan mulutnya. Jantungnya berdebar tidak karuan saat pria itu menghapus air di bibir dan bagian basah lainnya dengan kecupan lembutnya.

“Val …” desis Ceysa menahan napas. Kedua tangannya terangkat di atas kepala pria itu, tak mampu bergerak akibat terlalu shock dengan apa yang trjadi.

Vale tidak berhenti, malah sekarang kecupannya mengikuti semua area basah hingga ke leher. Mengisapnya dengan lembut. “Manis,” gumamnya.

Entah teh, atau aroma tubuh Ceysa yang manis.

Bersambung… Selesai mandi, Ceysa duduk di depan televisi memutar channel favorite-nya yang menayangkan acara pernikahan dari berbagai Negara. Banyak konsep unik yang biasanya bisa dia jadikan referensi untuk bisnis WO-nya supaya lebih bervariasi.

“Itu rambutnya dikeringin dulu biar nggak masuk angin,” gerutu Vale. Dia begitu telaten mengambil hair dryer, lalu mengerjakannya untuk Ceysa.

“Kalau aku masuk angin, kamu yang aku salahin karena ngajakin mandi tengah malem.” Ceysa mengulum senyum.

“Ini aku tanggung jawab.” Vale tidak pernah belajar cara mengeringkan rambut, tapi ternyata sangat mudah. Dia mengambil sebagian rambut lalu mengeringkannya, seperti itu sampai semua merata.

“Manis banget sih, adik gemes.” Ceysa memuji, tapi juga mengejek.

“Bilang apa tadi?” Vale mematikan pengering itu dan menaruh dagunya ke atas bahu Ceysa. Pipinya terasa sejuk akibat menempel pada rambut wanita itu.

“Apa?” Ceysa berpura-pura lupa.

“Tadi, kamu panggil aku apa?” ulang Vale.

“Adik gemes?”

“Geli.” Vale berpura-pura merinding jijik pada panggilan itu.

Ceysa terbahak.

“Aku itu lebih tinggi dari kamu, mana bisa dibilang adik gemes. Ukur coba tinggi kamu aja cuma sedagu aku.”

“Hei kisanak, usia nggak bisa bohong. Jangan ngeles kayak kang bajai,” ejek Ceysa.

“Hei nenek lampir, walau usia aku lebih muda, tapi pemikiran aku jauh lebih dewasa. Tanamkan itu di kepala kamu, ya!” balas Vale.

“Ihhh, kok nenek lampir, sih?” Ceysa memelototi Vale. “Emang aku setua itu buat kamu?”

Vale tertawa, “iya nggak. Cantik gini mana mungkin kayak nenek lampir.”

“Terus kayak apa?” Ceysa berharap dipuji, terlihat dari ekspresi ngarep yang dia tunjukkan itu.

“Penyihir?”

Wajah Ceysa kembali cemberut. “Kok nggak perinya aja?” protesnya.

Vale menggeleng. “Aku ngebayangin kalau kamu jadi penyihir pasti cantik banget. Soalnya, penyihir mukanya jutek, sama kayak kamu,” kekehnya kemudian.

“Mana ada muka aku jutek.”

“Kamu nggak ngerasa di awal-awal kita ketemu, sejutek apa kamu sama aku?” Vale mencebik.

“Habisnya dideketin sama brondong yang kelewat ngegas, gimana nggak kesel coba?”

Vale terkekeh. “Tapi akhirnya kamu menyerah juga, kan? Vale gitu loh …” ucapnya dengan bangga.

Ceysa tidak ingin mengakuinya, tapi senyum di wajahnya itu sudah cukup sebagai pengakuan. Vale benar, dia menyerah pada akhirnya.

Setelah selesai mengeringkan rambut Ceysa, Vale ke dapur mengambil nasi goreng yang dibelinya tadi. Perutnya sudah terasa lapar, sampai berbunyi terus menerus. Dia duduk di samping kekasihnya itu, benar-benar dekat.

“Suapan pertama buat pacar aku yang cantik,” ujarnya sembari menyodorkan sendok ke mulut Ceysa.

“Nggak mau, aku kenyang.” Ceysa menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Makan,” paksa Vale.

Ceysa menggeleng.

“Kalau nggak makan, aku marah.”

“Val, ini udah jam berapa coba? Kamu mau aku gendut makan masih goreng tengah malem?” Ceysa menunjuk jam digital di atas buffet.

“Nggak papa gendut, aku tetep cinta.” Vale tetap memaksa.

“Kamu tau nggak sih timbangan aku udah naik drastis sejak pacaran sama kamu?” keluh Ceysa, terpaksa membuka mulutnya.

“Bagus dong kalau gitu, artinya kamu bahagia sama aku. Nggak makan hati kayak yang suka diomongin tetangga julid.”

Ceysa tertawa mendengarnya. “Kamu pasti sering dengerin ibu-ibu lagi ngerumpi ya?” cibirnya. Tanpa sadar dia membuka mulut lagi saat Vale terus menyuapi.

“Bukannya sengaja dengerin, tapi tiap pagi ibu-ibu di kompleks sana tuh beli sayur depan kos, setiap harus kalau nggak Ibu Susan, ya Ibu Hana yang mereka omongin.”

“Siapa tuh Ibu Susan, Ibu Hana?”

Vale mengangkat bahu. “Katanya ya, lihat deh Bu Hana badannya makin kurus, pasti karena makan hati punya suami pengangguran. Besoknya, eh kalian udah denger kabar belum suami Bu Hana ketahuan selingkuh? Itu pasti karena nggak betah punya istri badannya kayak baskom.”

Ceysa tertawa lepas mendengar cara Vale bicara yang benar-benar mirip ibu-ibu sedang bergosip. Ekspresinya juga begitu total, dengan gerakan bibir nyinyir khas tukang gosip.

“Makanya, nggak usah dengerin omongan orang. Mau kita kurus atau gemuk, kalau orang udah nggak suka ya bakalan tetep nggak suka. Mereka nggak akan memuji sekalipun kita ngelakuin hal baik, tapi nomor satu menghujat kalau sekecil apapun kesalahan yang kita lakuin.”

Ceysa mengangguk setuju kalau itu. “Tapi serius deh, kamu udah cocok kalau mau masuk geng ibu-ibu tadi,” ejeknya tertawa kembali.

“Sialan.” Vale memiting kepala Ceysa, lalu menyuapinya lagi.

Tidak terasa satu piring malah Ceysa yang menghabiskan semuanya. Vale hanya kebagian dua suapan, padahal dia yang sangat kelaparan.

Setelah menaruh piring ke dapur dan mencucinya, Vale kembali duduk di samping Ceysa dan menaruh kepala wanita itu ke dadanya. “Kamu mau tidur sekarang?” tanyanya.

Ceysa menggeleng.

“Kepalanya masih sakit nggak?” tanya Vale sembari memperhatikan memar di kening Ceysa itu. Perbannya sudah dibuka karena mandi tadi, terdapat sedikit lecet kebiruan.

“Udah nggak.” Ceysa merapatkan tubuhnya, cuaca sangatlah dingin. “Tadi selesai dari cafe Mas Adam, kamu kenapa nggak nelepon aku?”

Vale diam.

“Kenapa sih kalau marah gitu banget, sampai nggak mau nelepon. Nggak bales chat juga. Ngeselin, tau?” Ceysa masih kesal soal ini.

“Maaf, tadi aku lagi ada urusan.”

“Urusan apa?”

“Bentar.” Vale lantas berdiri, mencari keberadaan tasnya. Setelah ketemu, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam situ dan membawanya pada Ceysa.

Dari bentuknya, Ceysa sepertinya tahu apa isinya. “Kado buat aku?” tanyanya.

Vale mengangguk.

Ceysa dengan antusias mengambil kotak kecil berbentuk hati itu, lalu membukanya. Tadi dia tebak isinya cincin, dan memang benar. Hanya saja ada dua cincin di dalamnya, satu berukuran agak besar dan satunya lagi kecil. Dia terpaku menatapnya, kehilangan kata-kata.

“Gara-gara terbawa emosi lihat kamu deket-deket Mas Adam tadi, aku beli cincin itu maksudnya buat melamar kamu. Biar kamu nggak berpaling ke laki-laki lain. Biar kamu nggak bisa ke mana-mana lagi, cuma sama aku.” Vale berkata sejujurnya. Lalu, “tapi setelah emosi aku cukup reda, aku rasa itu pemikiran yang konyol. Aku nggak sadar kalau aku belum punya apa-apa untuk …”

“Aku mau,” potong Ceysa.

Vale menatap Ceysa lekat.

“Aku terima lamaran kamu,” perjelas Ceysa dengan serius.

“Tapi Cey, itu … aku nggak …” Vale jadi bingung sendiri sekarang. Benarkah Ceysa mau?

Ceysa menunggu kelanjutannya, alis kanannya menukik ke atas.

“Kamu nggak lagi salah paham, kan?” tanya Vale.

“Apa sih?”

“Maksud aku, ini aku ngelamar kamu loh. Aku … mau nikahin kamu.”

“I know, kamu udah bilang tadi.”

Vale terhenyak beberapa saat.

“Kenapa malah kamu yang jadi ragu sekarang? Ini kamu serius nggak sih, atau cuma aku yang berharap terlalu berlebihan?” Ceysa mendesah.

“Aku serius. Aku serius.” Vale lantas memegang tangan Ceysa. “Tapi kamu yakin, mau nerima lamaran aku dengan segala kekurangan yang aku punya?”

Ceysa mengangguk.

“Aku nggak punya apa-apa, Cey. Gaji aku nggak akan cukup untuk penuhi kebutuhan hidup kamu. Aku cuma …”

Ceysa menutup mulut Vale dengan satu ciuman. “Kita bisa berjuang dari nol sama-sama, aku bakal setia sama kamu,” ucapnya meyakinkan.

“Cey …” Vale ingin menangis rasanya.

“Lamar aku sekali lagi, dengan cara yang lebih serius,” minta Ceysa sambil menaruh kotak cincin itu ke tangan Vale.

Vale gemetar. Dia lantas berlutut di hadapan Ceysa, sungguh kehilangan kata-kata yang biasanya sangat mudah terlempar dari mulutnya. Dia mencoba menenangkan diri, menarik napas dan membuangnya perlahan.

Ceysa menunggu dengan debar jantung yang begitu cepat. Beginikah rasanya dilamar? Dia yang sudah sering mengurus pernikahan pasangan lain, namun tidak pernah tahu seperti apa rasanya.

“Ceysa Aleiza, pertemuan kita sangat singkat, tapi aku benar-benar yakin kalau aku ingin menghabiskan waktu bersama kamu. Kamu wanita terakhir yang sangat aku inginkan menjadi ibu dari anak-anakku nanti. Aku nggak bisa janjikan sesuatu yang belum aku miliki, tapi aku bisa pastikan apapun yang aku dapatkan nanti akan aku berikan semuanya sama kamu.” Vale tidak lagi merasa gugup, malah sangat yakin. “Will you marry me?”

Ceysa menggigit bibir bawanya, lalu tanpa ragu mengangguk. Dia tidak bisa menahan air matanya jatuh saat cincin itu dipasangkan ke jari manis sebelah kirinya. Semua kenangan di awal pertemuan mereka bagai sedang diputar kembali, sangat singkat tapi berkesan.

Vale memeluk Ceysa dengan erat, dan berkata, “Aku janji nggak akan bikin kamu sedih, apalagi kecewa. Makasih udah percaya sama aku.”

Ceysa mengangguk.

“NIKAH?!”

Blaire dan Allura sontak saja terkejut begitu mendengar kabar yang Ceysa sampaikan. Tidak ada embusan angin soal rencana pernikahan sebelumnya, tapi tiba-tiba wanita itu bilang akan menikah Minggu depan. Bahkan, Allura dan Onyx yang sudah memberi statement akan menikah satu bulan yang lalu saja belum pasti kapan momen bahagia itu akan terwujud.

Allura merendahkan suaranya, “Cey, Lo nggak lagi itu, kan?” tanyanya.

“Itu apa?” Ceysa tidak mengerti arah pembicaraan Allura.

Allura berdeham, lalu lebih mendekat agar suaranya tidak didengar selain oleh mereka bertiga di cafe itu. “Lo … nggak lagi hamil, kan?” bisiknya lagi.

Blaire pun refleks memandang perut Ceysa, lantas mulai curiga lantaran wanita itu memakai kaus berukuran besar. “Ya ampun Cey, kenapa nggak main aman sih? Iya kita tau Lo sama Vale udah dewasa, tapi …”

“Heh, mikir apa sih kalian?” potong Ceysa. Dia ikut merendahkan suara, karena terlalu hening di sana. “Gue nggak hamil, jangan aneh-aneh deh.”

“Terus kenapa tiba-tiba mau nikah?” tanya Blaire dan Allura bersamaan.

“Emang salah ya gue memutuskan menikah di usia ini? Bukannya kalian sendiri yang nyuruh gue cepet-cepet melepas status lajang?” Ceysa merasa kedua sahabatnya ini tidak konsisten. Dulu, saat dia belum tertarik memiliki hubungan serius dengan laki-laki, mereka mendesak untuk segera cari pasangan yang serius.

“Ya nggak salah sih.” Blaire akhirnya merasa reaksinya sudah berlebihan.

“Kita tuh cuma shock aja Cey. Tapi ya emang Lo banget sih ini, kalau bikin keputusan selalu yang tiba-tiba tanpa bertele-tele dulu.” Allura mengesah.

Blaire tertawa geli.

Ceysa menyesap air jeruknya dengan ekspresi tenang. “Kita berdua pengen pernikahan ini nantinya dirahasiakan dan yang tau cuma sahabat terdekat aja,” beritahunya.

“Nggak dirayain?” tanya Allura makin tak habis pikir.

Ceysa menggeleng.

Blaire dan Allura saling pandang.

“Kalian tau, kan, kondisi Vale seperti apa? Gue pikir, kalau pernikahan ini diketahui banyak orang, mereka akan mulai nyari tau siapa suami gue, terus apa latar belakangnya. Kalian ngerti maksud gue, kan?”

Blaire dan Allura mengangguk.

“Makanya untuk sementara gue mau ini dirahasiakan dulu. Gue mau kasih kesempatan buat Vale berkembang, tanpa harus terbeban dengan apa yang orang lain pikirkan.” Ceysa tidak main-main, ini bentuk keseriusan cintanya. “Gue cuma mau melindungi harga diri Vale, karena pasti nggak mudah buat dia berdiri di samping gue.”

Blaire dan Allura terharu mendengar itu. Mereka memegang tangan Ceysa dengan dukungan penuh.

“Sumpah ya, baru kali ini gue bangga banget bisa jadi temen Lo.” Allura tak kuasa menahan air matanya.

“Lo keren Cey,” puji Blaire.

“Kalian apaan sih, jangan bikin kabar baik ini kesannya jadi menyedihkan deh,” tepis Ceysa, tak mau ikutan melow seperti kedua sahabatnya itu.

“Kita tuh kelewat bahagia tau, Cey!” pekik Allura lebih lepas. Dia langsung berdiri dan memeluk Ceysa dari samping.

Blaire juga melakukan hal yang sama, memeluk Ceysa dari arah berbeda. “Selamat ya Cey, ini berita yang nggak sederhana, dan berkesan banget buat gue,” ucapnya.

Allura mengangguk. “Gue dukung Lo sama Vale. You both should be happy, okay?”

“Nyebelin, kenapa malah bikin gue jadi pengen nangis sih?” lirih Ceysa.

Ketiganya berpelukan penuh haru, tak lagi memedulikan padangan para pengunjung cafe di sana. Bahkan Vale yang sedang mondar-mandir bekerja, ikut bingung menyaksikan luapan perasaan ketiganya saat ini.

“Kenapa?” tanya Vale dengan gerakan bibir, dari posisinya berdiri di dekat meja kasir.

Ceysa tersenyum dan menjawab, “I love you,” juga lewat gerakan bibir.

Vale menunduk dan tersenyum.

***

Hari ini, Vale dan Ceysa akan pergi ke kota kelahiran wanita itu. Vale ingin meminta restu secara langsung pada Papi Ceysa, meski berulangkali Ceysa katakan tidak perlu. Wanita itu bilang cukup ditelepon saja, tapi Vale merasa itu terlalu tidak sopan. Meski dia tahu hubungan Ceysa dan Papinya sedang bermasalah, sebagai laki-laki Vale ingin menunjukkan itikad baik.

“Kita ke makam Mami dulu aja,” ajak Ceysa begitu turun dari pesawat.

“Boleh,” sahut Vale setuju.

“Kita masih ngejar pesawat sore ini, jadi nanti di rumah Papi kamu nggak perlu basa-basi. To the point aja, terus kita pulang,” ucap Ceysa memberikan arahan.

“Kok gitu sih?” Vale merangkul Ceysa. “Ini kita mau minta restu loh, bukan nagih hutang. Jangan terlalu keras, walau gimanapun itu Papi kandung kamu.”

Ceysa diam saja.

“Cey, gimana kalau nanti Papi kamu nggak setuju sama aku?” tanya Vale di taksi menuju ke pemakaman Mami Ceysa.

“Dia nggak punya hak untuk nggak setuju, karena ini hidup aku,” jawab Ceysa tanpa ekspresi.

“Hei … jangan bersikap kayak gini.” Vale menggenggam tangan Ceysa.

“Kenyataannya emang udah lama sejak aku ninggalin rumah, perannya sebagai orang tua udah nggak ada.”

“Itu karena kamu yang menjaga jarak dari Papi kamu.” Vale pernah melihat beberapa kali panggilan masuk dari nomor Papi Ceysa, tapi tidak pernah wanita itu terima.

Ceysa melengos.

Vale memutar otak mencari cara agar suasana hati Ceysa lebih tenang. Dia tahu wanita itu sedang bergelut dengan banyak pikiran, ketakutan dan kecemasan pada sesuatu yang sudah lama dia hindari.

“Tapi aku yakin Papi kamu bakalan nerima aku sebagai menantunya. Aku ganteng gini, mana bisa ditolak,” ucap Vale menyombongkan diri.

“Pede banget,” ejek Ceysa.

“Loh, aku ini idola para orang tua loh, Cey. Apalagi ibu-ibu tuh ya kalau lihat aku pasti gemes.”

“Mainnya sama ibu-ibu sih, wajar ya diidolain,” sindir Ceysa.

Vale tertawa, jadi ingat kembali Ceysa mengejeknya suka berkumpul dengan ibu-ibu sekitar kos yang suka bergosip saat membeli sayur.

Begitu sampai di lokasi pemakaman, Ceysa yang sudah lama tidak datang ke sini pun cukup terkejut melihat makam ibunya sangat terawat. Malah sepertinya baru saja dikunjungi oleh pelayat, karena ada hamparan bunga yang belum terlalu layu di atasnya.

“Hai Mi, udah lama aku nggak ke sini. Kangen banget …” ucap Ceysa sambil mengusap ukiran nama sang Mami di batu nisan itu.

“Aku dateng nggak sendirian, Mi. Tapi sama calon menantu Mami, kenalin namanya Vale.” Ceysa berusaha tegar.

“Halo Tante,” sapa Vale.

“Dia tipe Mami, kan?” tanya Ceysa diiringi tawa yang sarat kesedihan. Dia menahan air matanya, tak ingin menangis.

“Dulu Mami pernah bilang kalau nanti punya menantu harus yang ganteng, biar bisa dipamerin ke temen-temen arisan Mami. Sekarang aku bawain menantu idaman Mami, nggak mengecewakan, kan?” Ceysa tetap berusaha tertawa.

“Kalau tipe menantu ideal yang Tante mau harus ganteng, saya udah pilihan yang paling tepat, Tan.” Vale sedikit menyambar.

Ceysa tertawa lagi.

“Tante, saya datang ke sini mau minta restu menikahi Ceysa. Saya berjanji akan membahagiakan Ceysa sebaik mungkin. Tante bisa tenang di sana, karena ada saya yang selanjutnya akan menjaga Ceysa.”

Ceysa terharu, air matanya pun jatuh. Dalam hati dia berkata, Mami pasti bahagia, kan, dengan pilihan Ceysa? Dia pria terbaik yang Ceysa temukan.

***

Saat Ceysa pikir kedatangannya tidak akan disambut dengan baik oleh sang Papi, dia salah besar. Malah, Sadam terlihat begitu bahagia sampai tanpa rasa sungkan memeluk putrinya itu di depan pintu, menangis terharu.

“Kamu akhirnya datang, Nak. Papi rindu sekali sama kamu,” lirih Sadam memeluk Ceysa makin erat.

Ceysa hanya bisa membeku, otaknya terasa tidak berfungsi. Dia mengenali dengan baik kehangatan dari pelukan ini, di mana saat kecil sering sekali mendapatkannya.

“Mas, kenapa cuma berdiri di luar? Ajak Ceysa sama temennya masuk dulu,” tegur seorang wanita dengan nada yang sangat lembut.

“Oh iya. Papi terlalu bahagia sampai lupa kalau ini masih di luar.” Sadam melepaskan pelukan, menghapus air matanya yang membasahi pipi. Dia lalu menoleh pada Vale, “ayo masuk.”

“Makasih om,” sahut Vale dengan senyum ramah.

Ceysa tetap diam saja, bagian kakinya melangkah pun karena ditarik oleh Vale. Dia masih merasa berat masuk ke kehidupan baru papinya yang sudah bersama wanita lain.

“Ayo duduk, Tante siapkan minum untuk kalian,” ujar wanita itu.

“Nggak usah repot-repot, Tante.” Vale sedikit berbasa-basi.

“Nggak repot, tenang aja.” Ibu tiri Ceysa itu langsung ke dapur, terlihat sekali dari raut wajahnya dia juga bahagia.

Ceysa lebih memilih duduk di samping Vale, ketimbang di samping Papinya. Dia bagian tak mau melihat wajah Papinya itu, berusaha terus menghindar.

“Gimana perjalanan ke sini?” tanya Sadam pada Vale.

“Lancar Om. Tadi kita mampir dulu ke pemakaman, makanya nyampe sini udah siangan,” beritahu Vale.

“Kamu tadi ke makam mendiangnya Mami Ceysa?”

“Iya Om.”

“Om juga baru aja dari sana tiga hari yang lalu,” beritahu Sadam.

Barulah mata Ceysa terangkat untuk menatap Papinya itu. Dia bisa melihat kerutan halus di wajah sang Papi, menandakan pertambahan usianya yang tak muda lagi. Rasanya terakhir bertemu, kerutan itu belum ada.

“Ini diminum dulu.” Wanita bernama Jenaka itu menaruh dua gelas orange juice ke atas meja, lalu duduk di sebelah suaminya.

“Wah, pas banget lagi haus Tante.” Vale mengambil gelas pertama, tapi diberikan pada Ceysa. Dengan mimik wajahnya dia memaksa wanita itu minum.

Ceysa hanya menurut.

“Ceysa, kamu nginep ya di sini? Nanti Tante masakin yang enak-enak.” Jenaka berusaha mendekati Ceysa. Ini yang pertama dia bertemu dengan anak tirinya itu, tapi sejak awal sudah tahu kalau kehadirannya tidaklah diterima.

“Kita mau langsung pulang sebentar lagi,” jawab Ceysa tanpa basa-basi.

Vale langsung membenarkan dengan kalimat yang sopan, “Sebenarnya kita ke sini tanpa perencanaan juga, Om, Tante. Jadi mungkin lain kali kita bisa menginap.”

“Oh gitu, iya nggak papa. Kita sangat menunggu dan berharap kalian bisa tinggal satu malam di sini ya, Mas?”

Sadam mengangguk. “Jadi, apa yang membuat kalian tiba-tiba datang ke sini?” tanyanya.

“Saya ingin melamar Ceysa, Om.”

Sadam dan istrinya saling pandang dengan ekspresi kaget, tapi sekaligus tidak bisa menutupi rasa bahagia.

Vale dengan sikap santunnya meminta restu, juga menjelaskan rencana pernikahan yang akan mereka gelar. Dia mengatakan dengan jelas segalanya, termasuk seperti apa latar belakangnya.

Selama itu, Ceysa benar-benar hanya diam. Dia sudah membulatkan tekad, dengan atau tanpa restu Papinya dia akan tetap menikah dengan Vale.

Bersambung… “Pak, berhenti di sini aja!”

“Loh, kok berhenti di sini?” tanya Ceysa sembari memastikan lagi kalau mereka benar-benar belum sampai di apartemennya.

“Kita turun sini aja, jalan kaki sampai apartemen kamu,” ajak Vale.

Sopir taksi itu menuruti perintah Vale yang ingin berhenti di persimpangan jalan. Hujan baru saja turun, jejaknya masih tertinggal di jalanan. Vale dan Ceysa melangkah ringan, menikmati sejuknya udara sembari bergandeng tangan.

“Kenapa tiba-tiba ngajakin jalan kaki? Kita bukan lagi di drama Korea loh,” ledek Ceysa. Tiba-tiba saja ingat pada drama-drama Korea yang pernah dia tonton bersama Allura dan Blaire, di mana para tokoh utamanya jalan kaki sepulang dari berkencan.

Vale terkekeh, “Anggap aja sama.” Dia pun pernah melihat adegan seperti ini. “Aku … pengen gandengan kayak gini lebih lama.”

Ceysa tersenyum.

“Cey, aku merasa ini terlalu mudah.”

“Apanya?”

“Kita.”

“Maksudnya?” Ceysa menatap Vale lekat.

“Aku jadi mikir, kok kayaknya jalan aku buat nikahin kamu tuh dipermudah banget, ya. Aku nggak harus berjuang mati-matian, tapi semuanya berjalan lancar.” Vale berpikir sebentar. “Kemaren, kamu tanpa pikir panjang langsung nerima lamaran aku. Terus sekarang, Papi kamu ngerestuin gitu aja tanpa ngasih syarat apapun ke aku.”

“Bukannya itu bagus, ya?”

“Terlalu bagus malah, jadi bikin aku agak takut.” Vale mengesah. “Aku takut Tuhan cuma lagi becanda sama aku.”

“Nggak boleh berprasangka buruk sama Tuhan, kamu sendiri yang bilang.”

“Iya sih …” Vale mengesah kembali. “Tapi Cey, kamu beneran nggak mau mikir-mikir lagi? Ini mumpung kita belum siapin semuanya.”

“Kamu mau mencampakkan aku?” Ceysa memicingkan mata.

“Bukan. Bukan itu,” tepis Vale cepat. “Aku cuma nggak mau kamu nyesel ambil keputusan secepat ini. Aku juga yakin banyak laki-laki yang lebih baik di dunia ini yang suka sama kamu, tapi kenapa pilihan kamu malah aku yang banyak kekurangan ini?”

“Kamu bener, yang lebih baik emang banyak. Tapi masalahnya aku nggak cinta sama mereka.” Ceysa berhenti berjalan, lalu menghadap Vale. “Aku juga tau kamu banyak kekurangan, tapi bukan berarti kamu nggak punya kelebihan. Dan yang paling penting, aku cinta sama kamu. That’s enough.”

“Makan cinta doang nggak kenyang, Cey.” Vale terkekeh.

“Ya, kamu bener. Untuk mereka yang berpikir soal nominal, makan cinta itu emang bulshit. Tapi … untuk mereka yang berpikir pakai hati …” Ceysa menunjuk dada Vale, “cinta itu nggak akan bisa diukur dengan berapapun nominalnya. Hewan buas kelaparan sekalipun, mereka nggak akan makan pasangannya sendiri.”

Vale terpana mendengarnya.

“So … Valegano Ratama, berhenti overthinking. Aku nggak akan berubah pikiran, karena keputusan yang aku ambil udah bener-bener final. Kamu pilihan hati aku, sekarang dan selamanya. No debat.”

Vale tertegun cukup lama, sampai akhirnya menghela napas keras. Dia menangkup pipi Ceysa yang terasa dingin. “Inget ya, kamu sendiri yang udah nekat masuk ke kehidupan aku. Jangan pernah berpikir bisa kabur, karena aku akan kunci kamu selamanya di sini.” Ditaruhnya telapak tangan Ceysa ke dadanya.

Ceysa mengangguk.

Saat Vale mendekatkan wajah, Ceysa mendorongnya. “Terlena boleh, tapi jangan lupa juga dong kita lagi di jalan raya,” cibirnya.

Vale meringis, baru sadar kalau ini bukan tempat yang pas untuk berciuman. Dia menggaruk kepalanya, lalu menggandeng Ceysa kembali.

Keduanya melangkah dengan senyum menghiasi bibir. Sama-sama menatap ujung sepatu yang memercikkan air. Hal sederhana seperti ini tidak akan bisa dibeli.

***

Hari ini Ceysa akan mengganti status lajangnya menjadi bersuami. Namun anehnya, wanita itu tampak biasa saja dan malah sibuk mengurus pekerjaan di detik-detik prosesi sakralnya. Lebih menggelikan lagi, malah Blaire dan Allura yang berkeringat dingin dan gugup setengah mati. Mereka sedang menunggu prosesi sakral pengesahan status Ceysa dan Vale sebagai suami istri di depan penghulu.

“Ini sebenernya yang mau nikah kita atau Ceysa sih, Bi?” tanya Allura tak habis pikir.

“Bisa-bisanya dia setenang itu, di saat tangan gue udah kayak es gini.” Blaire menggeleng heran.

Ceysa menutup telepon begitu selesai menjelaskan berbagai hal pada salah seorang pegawai perusahaannya. Dia sedang menjadi pengantin wanita, namun masih harus mengurus acara pernikahan wanita lain. “Udah selesai belum?” tanyanya bagai yang sedang terjadi di luar sana hanya sekadar akad jual beli tanah.

“Daebak!” Mulut Allura menganga.

Ceysa mengerutkan kening.

“Cey, gue tau Lo emang nggak punya ekspresi dalam menjalani hidup ini. Mau seneng atau sedih kadang muka Lo gitu-gitu aja. Tapi bisa nggak kali ini Lo bersikap normal sedikit aja?” cerocos Allura.

Blaire mengulum senyum, mencoba untuk tidak tertawa karena dia tahu Allura sedang serius.

“Apaan sih?” Ceysa memandang lekat kedua sahabatnya itu bergantian.

“Ini Lo mau nikah Ceysa Aleiza! Why Lo nggak tegang atau gemeter? Gue aja mau mati berdiri loh ini rasanya!” pekik Allura histeris.

Meledakkan tawa Blaire.

“Emang kenapa gue harus tegang? Gue emang mau nikah, bukan mau ujian jadi ngapain gemeter?” tanya Ceysa polos.

“Capek gue.” Allura duduk sembari memegang kepalanya, frustasi.

Tawa Blaire semakin kencang. Kalau saja tidak ingat sedang hamil, dia pasti sudah bereaksi berlebihan hingga perutnya kram.

Tok. Tok. Tok.

“Ladies, udah waktunya ke luar.” Itu suara Onyx.

Allura dengan cepat membuka pintu dan bertanya, “Udah sah?” Matanya berbinar.

Onyx mengangguk.

“Yeayyy!” Blaire dan Allura langsung bersukacita. Keduanya berpelukan, bahagia luar biasa.

“Buruan ya ke luar,” ucap Onyx sebelum pergi.

Blaire dan Allura langsung mendekati Ceysa dan memeluknya, memberi ucapan selamat bertubi-tubi. Mereka sangat terharu, meski sang pengantin biasa saja ekspresinya.

“Coba sini gue periksa lagi ada yang kurang nggak?” Blaire memandang wajah Ceysa dengan teliti.

Allura bertugas mengamati pakaian Ceysa, jangan sampai ada yang tidak enak dilihat.

Setelah Ceysa disiapkan sepenuhnya, Blaire dan Allura mengantarnya ke tempat berlangsungnya akad nikah tadi. Di sana, Vale sedang duduk berhadapan dengan penghulu dan Papi Ceysa. Tidak banyak orang yang hadir, hanya keluarga inti dari pihak Ceysa, dan sahabat terdekat mereka saja. Tentu saja, Pak RT dan pemilik rumah kontrakan juga hadir sebagai saksi.

Vale tampak terpana melihat Ceysa memakai kebaya putih yang melekat pas di tubuh wanita itu. Rambutnya disanggul sederhana, dipaduk make up yang sangat memesona. Rasanya semua rasa gugup yang melanda saat melangsungkan ijab kabul tadi telah terbayarkan dengan hadirnya wanita itu di sampingnya.

“Kamu cantik banget,” bisik Vale tak bisa menahan diri.

Ceysa menoleh dan tersenyum.

Pernikahan ini benar-benar sangat sederhana, hanya makan-makan dan foto bersama alakadarnya. Meski begitu, semua yang hadir ikut bahagia untuk Vale dan Ceysa. Tidak terlihat sedikit pun perbedaan status sosial di sini, semua menyatu dalam rangkaian kehangatan penuh sukacita.

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, Ceysa mau memeluk Papinya. Dia sebenarnya sudah berdamai dengan masa lalu sejak Papinya itu merestui hubungannya dengan Vale. Hanya saja hari ini, perdamaian antara Ayah dan anak itu baru terlihat secara nyata. Air mata bahagia mengiringi momen ini, sampai Ceysa juga mau memanggil Ibu tirinya dengan panggilan Mami.

“Doa Papi hanya satu, Papi ingin lihat kamu selalu bahagia,” isak Sadam.

Ceysa mengangguk sembari menyeka air matanya, “Makasih, Pi.”

Tak ingin berlama-lama bersedih, teman-teman Ceysa pun satu persatu memeluk keduanya.

Ting! Ting! Ting!

“Attention, please!” seru Allura sambil membunyikan suara dari sendok ke gelas.

Semua yang tadinya sibuk mengobrol kini terfokus pada wanita berlesung pipi itu.

“Gue mewakili semua teman-teman yang ada di sini, ingin mengucapkan sekali lagi selamat atas pernikahan Ceysa dan Vale,” ucap Allura.

Semua bertepuk tangan.

Vale dan Ceysa tersenyum, sembari membungkuk sebagai balasan terima kasih.

“Ceysa, Vale, kita tau kalian bahagia banget sekarang dan nggak butuh hal lainnya lagi. Tapi sebagai sahabat kita tetep ingin ngasih sesuatu ke kalian, dan tolong jangan ditolak.”

Ceysa dan Vale memandang mereka semua yang tiba-tiba kompak dengan wajah penasaran. Bahkan Dandi dan Zidan, terlihat sudah sangat akrab dengan para sahabat Ceysa.

Blaire kemudian memberikan sebuah amplop berukuran panjang kepada Ceysa dan Vale. “Ini persembahan dari kita semua buat kalian,” ucapnya.

“Apa nih?” Ceysa yang penasaran dan tanpa rasa malu langsung membuka tutup amplop itu. Matanya seketika terbelalak melihat dua tiket pesawat tujuan Bali, beserta voucher tiga hari tiga malam menginap di resort dan akomodasinya lengkap.

Vale pun speechless melihat itu.

“Sebenernya tiga hari tuh kurang buat honeymoon, tapi berhubung kalian nggak bisa ninggalin kerjaan terlalu lama, jadi ya …” goda Allura.

“Tiga hari dipuas-puasin ya, Bro!” pekik Dandi penuh maksud, disambut tawa semua sahabat.

Ceysa tidak tahu lagi harus bilang apa pada mereka semua, rasanya sangat terharu. Dipeluknya Blaire dan Allura dengan penuh sayang. “Makasih,” bisiknya.

Vale jadi ikut memeluk kedua sahabat dekatnya, Dandi dan Zidan.

“Guys, berhubung Ceysa dan Vale harus ngejar pesawat, gimana kalau kita lepasin mereka dulu,” seru Jevan sembari menepuk tangan.

Ceysa dan Vale tidak diberikan waktu untuk bersantai, bahkan Ceysa tidak sempat melepas kebaya mendiang Maminya itu.

Ceysa tidak bisa berhenti tersenyum sejak tadi. Momen lari-lari di Bandara karena nyaris ketinggalan pesawat, benar-benar menggelikan baginya. Di tengah tatapan heran orang-orang, dia berusaha menjaga keseimbangan langkahnya agar tidak jatuh karena kain sialan yang dikenakannya ini. Demi apapun, itu akan menjadi momen yang tidak terlupakan seumur hidupnya.

“Kamu kenapa sih senyum-senyum?” tanya Vale.

“Val, kamu ngerasa nggak sih kita tuh kayak lagi kawin lari?” bisik Ceysa.

“Ha?”

“Lihat penampilan aku. Masih pake kebaya, kain ribet gini, sanggulan. Kamu nggak merasa kayak lagi bawa kabur calon pengantin wanita?” Tawa Ceysa pun pecah, tapi masih dengan volume yang pelan.

Vale pun ikut tertawa begitu paham maksud istrinya itu. “Iya juga ya. Pantesan dari pas masuk Bandara orang-orang ngeliatinnya kayak aneh gitu.” Saking terburu-burunya tadi, mereka sampai tidak menyadarinya.

“Mana pake acara nyangkut pula ini kain di eskalator,” decak Ceysa, yang bila ingat seheboh apa orang-orang membantunya tadi, sungguh sangat memalukan.

Vale benar-benar tidak bisa berhenti tertawa sekarang, membayangkan itu kembali membuat perutnya terasa sakit.

“Semoga nggak ada yang video-in, itu tadi malu-maluin banget.” Ceysa menutup wajahnya dengan telapak tangan.

Di tengah kekehannya, Vale meraih tangan Ceysa dan menggenggamnya. “Ini baru disebut kawin lari dalam artian yang sebenarnya nggak sih? Capek, ngos-ngosan,” kekehnya.

Ceysa tertawa kembali.

“Tapi Cey, ini bakalan jadi kenangan paling berkesan buat aku.” Vale lantas mencium punggung tangan istrinya itu. “Aku bersyukur banget jodoh aku itu kamu.”

Ceysa tersenyum. “Aku juga. Ini akan aku kenang dan syukuri selamanya. Mungkin kalau bukan sama kamu, aku nggak akan ngelewatin momen unik kayak gini pas menikah.” Lalu tertawa geli kembali.

Vale menarik wajah Ceysa dan tanpa memikirkan sekitar, dia mencium bibir istrinya itu.

“Permisi Bapak, Ibu, tolong kenakan sabuk pengamannya kembali,” ujar seorang pramugari yang tiba-tiba muncul.

Vale dan Ceysa refleks melepaskan ciuman, dan mengikuti arahan dari pramugari cantik itu. Keduanya tidak bisa berhenti tersenyum, lagi-lagi ada saja hal memalukan yang mereka lakukan.

“I love you,” bisik Vale dengan tatapan lurus ke depan.

“I love you too,” balas Ceysa.

Begitu sampai di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, keduanya dijemput sopir yang telah disiapkan oleh resort. Hari sudah malam saat mereka tiba di penginapan, namun sambutannya sungguh mengesankan. Mereka sampai tercengang melihat dekorasi kamar yang dibuat sangat romantis.

“Selamat beristirahat Bapak dan Ibu,” ucap seorang petugas resort yang tadi mengantar keduanya.

“Ini total banget mereka bikinnya,” ujar Vale saat melihat seisi ruangan yang dipenuhi bunga dan lilin.

Ceysa sendiri sudah biasa melihat hal yang seperti ini, karena terkadang dia juga menyiapkannya untuk klien saat ada yang request minta dibuatkan suasana romantis di kamar pengantin. Namun tidak menyangka akan merasakannya juga.

Di atas kasur berukuran besar itu, ada hiasan berbentuk hati dari kelopak mawar merah. Terdapat dua angsa di atasnya, terlihat sangat mesra.

Selain itu, ada sebuah bathub yang berhadapan dengan ranjang. Di atas genangan airnya, terhampar kelopak mawar merah dengan bentuk hati di bagian tengahnya dengan warna yang berbeda. Lilin-lilin kecil mengelilingi bathub itu, aromanya terasa sangat menenangkan.

***

“Nanti saya kirim ke email …”

Vale mendekati Ceysa yang sejak tadi sangat sibuk menerima telepon dari karyawannya. Tak peduli wanita itu masih bicara, dia ambil ponsel itu dan mematikannya.

“Val, aku belum selesai …”

“Bisa nggak tiga hari ini jangan urusin kerjaan dulu?” minta Vale sembari memeluk Ceysa dari belakang. “Kamu nggak aku izinin kerja, fokus ke aku aja.”

Jantung Ceysa berdebar keras, napas Vale menyentuh lehernya. “Aku nggak kerja, tadi cuma bentar aja mau kirim hasil meeting sama klien ke asisten aku,” ucapnya membela diri.

“Tapi ini malam pertama kita, emang nggak bisa besok aja kirim email-nya? Aku nggak mau ada yang ganggu.” Vale mengecup leher Ceysa, membuat wanita itu merinding.

Tubuh Ceysa dibalik dengan cepat, lalu bibirnya diserang dengan ciuman cepat dan penuh hasrat. Vale melepas jas hitamnya dan melemparnya ke sembarang arah. Nafsunya sudah tidak dibendung lagi, Ceysa membuatnya menunggu terlalu lama.

Ceysa mengingatkan dirinya ini bukan yang pertama, namun tetap saja jantungnya berdebar keras. Dia menggigil ketika lidahnya diisap, lalu bibirnya dilumat kembali. Tubuhnya mulai terasa dingin saat satu persatu penutupnya terlepas.

“Aku mau ngelakuin sesuatu yang mungkin bakalan bikin kamu kaget, tapi percaya sama aku ini aku lakuin buat nyenengin kamu,” bisik Vale sembari menggigit daun telinga Ceysa.

“Ha?” Ceysa tidak paham maksudnya.

Vale melepas dasinya. Dia berdiri di belakang Ceysa, lalu menutup mata wanita itu dengan dasi tadi.

Ceysa gugup bukan main saat semua menjadi gelap. Telinganya berusaha mencaritahu apa yang akan Vale lakukan selanjutnya, karena pria itu cukup lama membiarkannya dalam kondisi membingungkan seperti ini.

“Ahh!” Ceysa serambi lempitik ringan ketika tiba-tiba tubuhnya terdorong ke atas ranjang. Tangannya dibawa ke atas, lalu sepertinya diikat. “Kamu ngapain ngiket aku gini?” tanyanya takut.

“Trust me,” bisik Vale yang kemudian mengecup singkat bibir Ceysa.

Vale mengamati tubuh Ceysa yang telentang tanpa busana, membuat bagian bawahnya meronta ingin segera menikmatinya. Namun tujuan utamanya melakukan ini bukan untuk menyenangkan diri sendiri, tapi memberikan kenangan yang tidak akan istrinya itu lupakan dari malam pertama mereka.

Ceysa menajamkan pendengarannya saat mendengarkan suara getaran halus yang mendekatinya. Bibirnya dilumat kembali, dibalasnya dengan reaksi ragu dan bingung. Saat mulai terlena dengan ciuman Vale, pria itu malah berhenti hingga membuat bibirnya mencari-cari kenikmatan tadi.

Vale menekuk kedua kaki Ceysa, lalu mengarahkan benda berbentuk kecil seperti lipstik itu ke bagian intimnya.

“Ahh.” Ceysa mendongak, getaran halus yang tadi menyentuh di sana membuatnya menggila. Dia tidak bisa membuka ikatan matanya, bahkan tangannya terkunci di atas kepala.

“Nikmati,” bisik Vale.

Entahlah Ceysa harus merasa malu atau justru berterima kasih pada Vale. Rasanya hasrat sudah membuatnya lupa diri, sampai desahan suaranya tak mampu lagi ditahan. Dia bergerak gelisah karena kenikmatan yang tak memberi jeda.

Vale menggigit bibir bawahnya saat Ceysa terlihat sangat menikmati apa yang dia lakukan. Bibir wanita itu terbuka menantang ketika mendesah. Dadanya membusung, membuatnya tak tahan mengisapnya.

“Ahh.” Bagian bawah Ceysa bergetar ketika sampai pada klimaksnya. Dia tidak pernah merasa senikmat ini, Vale telah memberinya sensasi klimaks yang menakjubkan.

Novel Neglected Paradise

Vale membuka penutup mata Ceysa, lalu tersenyum. “Kamu seksi banget tadi,” pujinya, kemudian mencium bibir istrinya itu dengan rakus.

Ceysa kembali merasakan hasratnya membara, yang kali ini diberikan langsung oleh Vale. Jari-jari tangan dan lidah pria itu bermain pada tempat yang tepat, menghasilkan gelombang kenikmatan di sekujur tubuhnya. Selama mereka pernah bercinta, kali ini benar-benar berbeda.

Sepanjang malam, Vale masih penuh stamina memberikan kepuasan pada Ceysa. Pria itu memakai segala cara unik yang tidak pernah mereka coba sebelumnya, dan entah sudah berapa kali Ceysa meraih puncak nikmatnya.

Vale terus memompa. Mendesak dalam dan penuh.