Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Air Susu Ibu (Youra)

Air Susu Ibu (Youra)

Cerita Sex Air Susu Ibu (Youra) – Namanya Youra. Seorang ibu muda yang baru berusia 27 tahun. Wajahnya yang cantik dengan tubuh bersih terawat membuat semua pelanggannya enggan berpaling darinya. Pelanggan?? Benar! pelanggan! Karena Youra berkerja sebagai seorang lonte.

Terlebih lagi, dia sudah memiliki 7 orang anak! Dan dia tidak memiliki suami sama sekali. Keenam anaknya itu semuanya tidak jelas bapaknya siapa dan yang mana, karena saking banyaknya laki-laki yang dibiarkan membuahi benihnya. Dia doyan dihamili oleh laki-laki yang berbeda tanpa nikah!

Hanya Tedi, anak pertamanya saja yang dia ketahui siapa bapaknya. Si sulung Tedi lahir saat Youra baru berumur 13 tahun, kelas 1 SMP. Waktu itu dia tergoda dengan rayuan sopir tetangganya, hingga akhirnya merekapun berhubungan badan.

Namun saat Youra diketahui hamil, sopir itu malah kabur. Setelah itu hampir dua tahun sekali atau bahkan tidak lama sehabis melahirkan, Youra sudah positif hamil lagi. Sampai saat usianya yang baru 27 tahun seperti sekarang ini, dia sudah mempunyai tujuh anak tanpa suami.

Cerita Sex Air Susu Ibu (Youra) Ngocoks Youra menghidupi anak-anaknya dengan cara melacurkan diri, hal itu sudah dianggap biasa di keluarga mereka. Dia mengelola websitenya sendiri dan menerima tamu langsung di rumahnya, bahkan tidak jarang ia melayani tamunya dihadapan anak-anaknya.

“Kalian jangan nakal yah… Mama mau kerja dulu. Ntar kalau kalian diam, pasti papa bakal kasih kalian uang jajan juga, hihihi” ujar Youra dengan entengnya berkata begitu pada anak-anaknya, bahkan menyebut si pria hidung belang ini ‘papa’ di depan mereka.

“Iya Ma…” jawab anak-anaknya polos.

Maka setelah itu digenjotlah Youra di depan anak-anaknya. Dia tunjukkan adegan-adegan yang tidak pantas ditunjukkan seorang ibu. Dia bersetubuh dengan pria hidung belang saat anak-anaknya sedang bikin pe-er, atau saat anaknya sedang makan.

Entah apa jadinya anak-anaknya ini besok kelak melihat kelakuan binal ibu mereka ini. Anak bungsunya yang sedang dalam tahap menyusui, sering harus berbagi air susu sang ibu dengan para pria hidung belang. Kadang anaknya sendiri tidak kebagian jatah karena tidak ada kesempatan menyusui karena Youra asik melonte.

Eh, si pria hidung belang ini malah keenakan memenyetubuhii Youra, dia pikir kapan lagi ada seorang ibu yang bisa dia entotin seenak hatinya di depan anak-anaknya.

Di lingkungan sekitar, jelas dia menjadi bahan cibiran dan cemoohan tetangga terutama ibu-ibu, tapi dia cuek saja. Pak RT dan pejabat setempat juga membiarkan dia di situ, secara dia tidak melanggar hukum dan lebih-lebih lagi Pak RT dan pejabat-pejabat itu juga langganan setianya, tentu dengan diskon spesial hampir 100%

Teman-teman anaknya, terutama teman-teman si sulung yang masih SMP bertiga orang itu, Riko, Romi dan Jaka sering bermain ke rumahnya, bahkan mereka sering main ke sana saat Tedi tidak ada di rumah. Mereka main memang cuma pengen menggoda ibu temannya yang seksi itu.

Awalnya tentu saja mereka terkejut saat Tedi memperkenalkan ibunya. Tedi dengan entengnya menyebut ibunya lonte, dan ternyata memang benar. Hampir beberapa hari sekali mereka pasti ke sana, seperti hari ini.

“Siang tante…” sapa mereka.

“Eh, kalian… yuk masuk” sahut Youra sambil tersenyum manis.

Mereka terpana saat menyaksikan Youra membukakan pintu hanya mengenakan handuk. Rambutnya terlihat basah, butiran air terlihat meluncur di kulitnya yang mulus.

Membuat darah muda mereka bergejolak karenanya. Terang saja rudal mereka langsung menegang. Dalam kondisi Youra yang hanya dililit handuk begitu, merekapun berebut untuk mencium tangannya.

“Maaf yah lama, tante sedang mandi” kata Youra menerima ciuman tangan mereka dengan ramah meski dia tahu mata mereka kelayapan kurang ajar melihat dirinya. Youra tidak mempermasalahkan tingkah mereka yang sering curi-curi pandang ke arahnya. Dia sangat terbuka sekali di rumahnya. Tidak ada privasi sama sekali!

Youra cuek saja, cuma pake handuk kek, telanjang basah-basahan habis mandi kek, sedang menyusui kek. Dia tidak peduli cuma nutupi tubuh dengan selimut habis ngelayani tamu dan mengantarnya keluar sambil kecup-kecup di depan teman-teman anaknya ini.

Tidak salah kalau sejak mereka mengenal Youra, ibu muda lonte inilah yang selalu menjadi objek onani mereka tiap coli.

“Ngmm… tapi kalian jangan berisik yah, tante lagi ada tamu” kata Youra kemudian sambil menempelkan telunjuk di bibirnya, lalu tersenyum dengan manisnya.

“I-iya tante” tentu saja mereka paham kalau yang dimaksud tamu oleh Youra ini adalah pelanggannya, si pria hidung belang. Ya, Youra saat itu sedang melayani tamunya saat teman-teman anaknya itu datang.

“Mumpung kalian ada di sini, tolong jagain anak-anak tante dulu yah… tante mau menyetubuhi dulu. Kalau kalian lapar makan saja… Tuh ada nasi dan ayam goreng di meja makan” ujar Youra ramah pada mereka.

Youra lalu masuk ke kamar meninggalkan mereka yang sedang mupeng berat terhadap dirinya. Ingin sekali sebenarnya anak-anak itu mengintip apa yang terjadi di dalam kamar, tapi mereka masih belum berani.

Merekapun hanya menjaga anak-anaknya Youra yang masih kecil selama Youra ‘berkerja’. Berkali-kali mereka mendengar suara desahan dan erangan kenikmatan si ibu itu.

Setelah menjaga anak-anak Youra, mereka akan mendapatkan hadiah pemandangan Youra yang telanjang dengan bebasnya di rumah. Dengan kondisi Youra yang acak-acakan dan penuh keringat setelah bersetubuh, tentunya membuat nafsu mereka mentok di ubun-ubun. Youra tentunya mengetahui hal itu.

“Hayooo… kalian ngaceng ya lihat tante telanjang? Horni ya? Sana lepasin nafsu kalian di kamar mandi… buang dulu peju kalian sana, gak baik dipendam-pendam terus, hihihi” suruh Youra sambil tertawa melihat mereka gelisah.

Mereka tentu semakin malu, meski akhirnya mereka turuti juga anjuran ibu temannya ini untuk mengocok di kamar mandi untuk membuang peju mereka. Youra memang sangat baik.

Saat teman-teman anaknya itu ingin tahu lebih tentang pekerjaannya sebagai lonte, tarifnya dia, pelayanannya, bapak-bapaknya si anak, Youra akan menjawabnya dengan enteng. Anak-anak itu bertanya banyak hal dan Yourapun bercerita banyak. Jika sudah begitu, mereka pasti ngobrol dengan asiknya.

“Terus, sedia main lewat pantat juga gak tante?” tanya mereka penasaran. Saat itu mereka asik mengobrol dimana Youra masih telanjang bulat dan sedang menyusui bayinya! Youra sendiri tahu kalau dia terus diperhatikan mata nakal anak-anak ini dari tadi. Tapi dia tidak ambil pusing dan terus saja menyusui bayinya dalam keadaan begitu.

“Anal maksudnya? hayo… Romi, kamu suka yang main-main belakang gitu yah?”

“Suka sih tante kalau liat di bokep, hehe” kata Romi mengakui.

“Iya tuh tante, si Romi kalau minta bokep sama aku nanyanya yang anal-anal mulu, hahaha” timpal Riko.

“Kalau digangbang pernah nggak tante?” kini Jaka bertanya.

“Pernah, tuh sehari sebelum Tedi kenalin kalian ke tante, tantenya digangbang di sini sama 5 cowok. Rumah tante jadi rame banget hari itu”

“Yah.. bro… si Tedi telat nih ngajak kita” ucap Jaka pada teman-temannya.

“Dasar kalian, pengen lihat tante digangbang yah? Kapan-kapan yah… hihihi” kata Youra cekikikan. Dia menanggapi omongan mereka dengan riangnya.

“Pengen banget tante, hehe” jawab mereka, Youra lagi-lagi tertawa geli.

“Terus anak-anak tante gimana tuh? Mereka ngelihat dong kemarin mama mereka dipake rame-rame?”

“Iya, anak tante yang kecil sampai nangis-nangis liat mamanya digituin rame-rame…” jawab Youra tanpa merasa bersalah sama sekali.

“Wah… Enak yah si Tedi, punya mama kaya tante” ujar Riko.

“Hmm? Kenapa emang? Tedinya belum pernah macam-macam kok sama tante, paling cuma liatin mamanya ini menyetubuhi doang…”

“Udah bisa liat adegan menyetubuhi langsung aja udah enak benar tuh tante, benar gak bro?”

“Iya tante… kita juga pengen”

“Huuu… Dasar kalian ini” Youra kemudian meletakkan bayinya yang sudah tertidur itu ke sebelahnya. Dia gunakan bantal kursi untuk menutupi buah dadanya.

Tentu saja hanya seadanya saja yang tertutupi, malah hampir tidak ada gunanya sama sekali karena buah dada dan putingnya yang masih menetes-neteskan air susu itu dapat terlihat dengan jelasnya.

Yang ada hanya makin membuat anak-anak remaja itu makin mupeng melihat pemandangan itu. rudal mereka yang tadi baru saja menumpahkan pejunya kini ngaceng kembali dibuatnya.

“Ayo, mau tanya-tanya apa lagi nih? tanya aja” kata Youra yang memang tertarik ngobrol hal seperti ini dengan mereka.

“Itu… emangnya Tedi gak ada rasa pengen gituan yah tante?” tanya Jaka.

“Maksud kalian… menyetubuhiin tante?”

“Iya tante, itu maksudnya, menyetubuhiin mamanya sendiri, hehe”

“Hahaha, ada-ada aja sih pertanyaan kalian ini. Kalau itu kalian tanya langsung sama Tedi dong. Hmmm… tapi tante udah janji kok sama dia, kalau dia bisa masuk SMA favorit, tante bakal kasih dia hadiah boleh menyetubuhiin tante” terang Youra.

“Hah??” tentu saja mereka terkejut bukan main mendengarnya.

“Soalnya tante merasa gak enak juga sama Tedi, tuh anak tante yang nomor dua aja udah pernah berkali-kali” sambung Youra lagi yang membuat mereka semakin terkejut.

“Maksudnya si Norman udah pernah menyetubuhi sama tante? Yang masih kelas 5 SD itu?” tanya Romi tercengang.

“Iyaa… si Norman itu seharusnya udah kelas 2 SMP, tapi dia itu goblok dan sering gak naik kelas. Kalian lihat aja tuh kan kemarin gayanya, preman dan urakan banget. Susah tante ngatur anak tante yang satu itu. Pulang ke rumah cuma untuk minta duit, makan dan tidur doang”

“Kok bisa sih tante?” tanya Romi lagi, dia masih tidak menyangka kalau ternyata wanita ini juga pernah ngeseks dengan anak kandungnya sendiri.

“Iya, waktu itu dia pulang mabuk. Itu anak kebangetan banget, kecil-kecil udah ngerokok dan minum”

“Te..terus tante?”

“Ya itu, tante gak bisa ngelawan waktu dia mabuk dan memaksa minta menyetubuhi, akhirnya tante kasih juga sekali. Gak tahunya sekali dikasih akhirnya dia minta terus. Ya tante pasrah saja digituin terus sama anak tante sendiri. Bandel banget kan dia?”

“Kok bisa nakal gitu yah tante si Norman?”

“Duh, gak tahu juga tuh… keturunan bapaknya mungkin. Waktu itu tante hamil dia kan karena habis dikeroyok preman-preman pasar, mungkin nurunin sifat bapaknya tuh, hihihi” Sungguh binal, dengan santainya Youra menceritakan hal segila itu sambil tertawa-tawa.

“Tapi kalau ntar tante hamil sama anak tante sendiri gimana tuh?” tanya Riko.

“Ya mau gimana lagi, terima aja… Berarti ntar mereka jadi ayah sekaligus kakak tuh…” ujarnya sambil tertawa, santai sekali Youra mengatakannya. Dia seperti tidak menganggap hal itu masalah besar bila sampai dihamili oleh anak-anak kandungnya sendiri!

“Eh, kalian mau nginap di sini tidak? Besok hari minggu kan? Tedi lagi di rumah pamannya, jadi gak ada yang jagain tante” tanya Youra, tentu saja mereka langsung menyetujuinya. Mana tahu bisa dapat durian runtuh nanti malam, soalnya mereka selama ini cuma bisa onani sendirian saja.

Tiba-tiba pintu depan terbuka. Norman, anak kedua Youra yang bengal si calon preman itu pulang.

Bersambung… Norman ini betul-betul acak-acakan penampilannya. Rambut kusut yang sebagian diberi warna pirang makin membuat dirinya tampak seperti preman pasar. Berkali-kali dia ditegur di sekolahnya karena rambutnya yang panjang dan berwarna itu, tapi berkali-kali juga dia membandel.

Youra sendiri sudah capek mengingatkan anaknya ini, hingga akhirnya dia pasrah saja melihat tingkah Norman. Meski begitu dia masih tetap sayang padanya. Buktinya dia memang tidak menolak segala permintaan Norman, baik yang meminta uang jajan sampai permintaan menyetubuhi dengannya.

Dibesarkan tanpa seorang ayah, pemandangan ibunya yang melonte sehari-hari, serta pergaulan yang kacau membuat Norman menjadi seperti ini. Tedi yang abangnya saja bahkan banyak mengalah pada Norman.

“Udah pulang sayang? ” tanya Youra pada Norman.

“Iya… Ma, minta uang jajan dong… mau beli rokok sama main warnet” pintanya seenaknya. Pulang-pulang langsung minta duit.

“Kamu ini… udah makan belum? Makan dulu gih…”

“Cerewet nih lonte… Gue udah makan di luar tadi. Kasih gue duit buruan!” hardiknya. Sungguh kurang ajar! Berbicara seperti itu pada ibu kandungnya sendiri. Memanggil hina ibunya sendiri dengan sebutan lonte. Meski itu benar adanya tapi tentunya sangat tidak pantas memanggil ibu sendiri seperti itu, tapi begitulah Norman.

Teman-teman Tedi bahkan geleng-geleng melihatnya. Ingin sekali mereka menonjok mulut Norman karena geram. Uang yang diminta Norman jumlahnya gak tanggung-tanggung pula, 500 ribu! Entah apa yang akan digunakan Norman dengan uang sebanyak itu.

Katanya cuma mau beli rokok dan main warnet, tapi kok sampai 500 ribu? Pasti bakal dipakai judi, pikir Youra.

“Kamu ini kok kecil-kecil sudah butuh duit segitu banyak, kalau emang udah sebutuh itu mending kamu cari kerja. Toh sekolah juga udah gak mau…” ujar Youra menolak. Bukan karena dia tidak punya duit, uang hasil melontenya jauh lebih dari cukup, tapi karena merasa itu tidak baik. Uang sebanyak itu bisa dipakai untuk kebutuhan adik-adiknya yang lain.

Norman nyengir, “Gue udah dapat kerjaan, banyak orderan. Malam ini saja ada yang mau datang 2 orang ambil barangnya, hehe” jawabnya.

“Emang kamu jualan apa?” tanya Youra penasaran sekaligus senang karena ternyata anaknya punya kegiatan di luar.

“Jualan Mama… Nanti bagi Norman 50% ya Ma…” jawab Norman sambil nyengir, tentu saja Youra kaget.

Awalnya Youra terlihat tersinggung Norman menjual dirinya. Dia tampak kesal dan merasa terlecehkan, meminta jatah 50% untuknya pula. Tapi ternyata yang terjadi adalah Youra dan Norman saling tawar menawar.

Pembahasan antara ibu dan anak yang sangat ganjil. Mana adegan itu dilihat dan didengar langsung oleh teman-teman Tedi dan anak-anak Youra yang masih kecil.

“Emang kamu jual mama berapa sayang?” tanya Youra.

“Karena Norman masih baru, jadi Norman gak berani jual mahal. Promo-promo dulu lah… 100 ribu sekali menyetubuhi. Karena mereka berdua, cukup bayar 150 ribu” terang Norman. Youra benar-benar merasa direndahkan dengan harga semurah itu, tapi Norman sudah terlanjur menjualnya dengan harga segitu dan sudah deal dengan calon pelanggannya. Akhirnya Youra mengalah, diapun setuju.

“Kamu ini… Konsultasi dulu dong sama mama kalau pengen bantu ngejual mama. Jadi soal harga kita bisa bicarakan. Jangan sampai menjatuhkan harga gitu. Bisa-bisa mama dimusuhin sama lonte-lonte yang lain” Katanya sambil mengusap-ngusap lembut rambut Norman.

“Dasar lonte! Gue udah capek-cepek cariin orang, hargain kek!” kata Norman kasar.

“Gak kamu bantu cariin juga pelanggan mama sudah banyak, mama sampai kewalahan” balas Youra.

“Banyak pelanggan apaan?? Banyak yang mama kasih gratis gitu, dasar lonte murahan! Dientotin orang cuma-cuma saja mau!” makinya. Ya ampun anak ini…..

“Mereka itu kan bukan cuma pelanggan, tapi juga ada teman-teman mama. Lagian sekali-kali kasih gratis kan gak apa biar pelanggan mama tidak lari” kata Youra membela diri.

“Ya sudah deh ma, nanti yang mau make mama itu teman-temannya Norman. Kita taruhan deh… Kalau temen Norman gak berhasil bikin mama ngecrot sampe 3 kali, duitnya buat mama.

Tapi kalo berhasil, duitnya buat Norman semua, 100%” kata Norman. Sungguh gila! Bukan hanya menjual ibunya, tapi uang hasil ngelacur ibunya juga ingin diambil. Namun Youra malah tertawa mendengarnya.

“Beneran ya? 2 orang kan? Oke deh, deal… Mama sanggup kok…” kata Youra setuju. Siap memberikan tubuhnya pada dua orang hanya dengan seharga 150 ribu nanti malam.

Youra lalu juga memberikan uang 500 ribu yang Norman minta tadi, yang entah akan digunakan untuk apa oleh anaknya itu, dia pasrah saja. Sungguh Ibu yang baik.

Namun perangai buruk anaknya belum berhenti sampai di sana. Dia lalu minta menyetubuhi dengan Youra, memintanya di depan teman-teman Tedi pula. Dia juga menarik tangan ibunya dengan kasar. Sungguh anak yang biadab! Siapa sih bapaknya? Pikir teman-teman Tedi yang semakin geram.

“Nanti saja ya sayang… mama ada tamu…” kata Youra berusaha menolak.

“Dasar Ibu doyan rudal! Gue pengen menyetubuhi sama lu itu sekarang! Bukan nanti! Gak dengar apa gue ngomong?!” balas Norman sambil mengata-ngatai ibunya sendiri. Alhasil Youra pun hanya bisa pasrah.

“Ya sudah, mama turuti permintaanmu… dasar anak nakal” kata Youra mencubit hidung anaknya. Setelah diperlakukan kasar dan hina begitu Youra masih saja berlaku baik pada Norman.

“Bentar yah… tante mau dientotin dulu” ujar Youra pamit pada teman-teman Tedi. Mereka bertiga hanya mengangguk, tertegun melihat semua perlakuan bejat Norman pada ibunya. Youra lalu diseret anaknya itu ke kamar.

Setelah beberapa saat, teman-teman Tedi mulai mendengar erangan dan rintihan si ibu. Mereka yang penasaran akhirnya mencoba mengintip apa yang ibu dan anak itu lakukan di dalam melalui celah pintu yang tidak tertutup sempurna.

Youra dan anaknya sedang berdoggy-ria! Jelas terlihat kalau Norman mengenjoti ibunya dengan kasar. Bagaimana dia menghujamkan rudalnya bertubi-tubi ke liang serambi lempit tempat dia dilahirkan dulu. Tentunya pemandangan yang sangat langka dan ganjil bagi teman-teman Tedi.

Melihat orang bersetubuh secara langsung saja ini baru pertama kali, apalagi ini adalah pemandangan seorang ibu muda cantik, wanita dewasa dengan kulit bersih yang sedang digenjot kewanitaannya oleh seorang remaja tanggung lusuh yang tidak lain adalah anak kandungnya sendiri.

Khayalan teman-teman Tedi yang menonton persetubuhan tabu ini sampai melayang-layang dibuatnya. Di antara mereka bahkan ada yang berandai-andai jika ibunya juga seorang lonte yang doyan rudal seperti tante Youra. Sambil menonton, mereka tentu saja beronani mengocok rudalnya masing-masing. Kapan lagi coba bisa melihat yang lebih hot dari film bokep kayak gini? Pikir mereka.

“Sshhh… sayang… pelan-pelan… sakit… argghhh” rintih Youra karena Norman menggenjotnya dengan kasar.

“Biarin, padahal mama suka kan Norman giniin? Dasar lonte!” balas Norman.

“Dasar kamu ini bandel banget… aahhh… anak mama ini nakalnya gak ketolongan… sshhh”

Lebih dari setengah jam Youra dan anaknya bersenggama. Meski dikasari, Youra tetap melayani nafsu binatang anaknya itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Dia betul-betul menjadi ibu, kekasih sekaligus budak seks anaknya yang susah diatur itu.

Bahkan membolehkan anaknya muncrat di dalam, mempersilahkan menyiram rahimnya dengan peju anak kandungnya. Entah apa jadinya bila dia benar hamil dari anaknya sendiri.

“Dasar kamu… ibu sendiri dipejuin, liar banget sih?” ujar Youra gemas mencubit hidung anaknya. Norman hanya cengengesan. Setelah puas menggenjot ibunya, dia lalu seenaknya ingin pergi keluar rumah. Dan seperti biasanya, dia baru akan pulang kalau sudah tengah malam.

“Sayang…” panggil Youra kencang memanggil Norman yang sudah ada di teras. Youra menyusul anaknya ke depan.

“Nih, duit kamu kelupaan” kata Youra sambil menyerahkan duit 500 ribu tadi. Youra menyerahkannya di teras rumah, yang mana dia masih telanjang bulat dan bermandikan peluh.

“Hati-hati, jangan nakal, juga jangan berantam-berantam lagi…” ucap Youra tulus. Norman lalu memagut bibir ibu kandungnya, yang dibalas Youra dengan penuh sayang. Mereka berciuman selama beberapa saat.

Mempertontonkan kemesraan mereka di depan teman-teman Tedi, bahkan karena melakukannya di teras rumah bisa saja perbuatan mereka itu juga terlihat oleh orang-orang.

Beginikah keseharian mereka di rumah? Pikir Riko, Romi dan Jaka menyaksikan adegan demi adegan yang sangat ganjil dari tadi. Tapi semua hal ini malah semakin membuat nafsu mereka menaik. Jantung mereka berdegup dengan kencangnya.

“Itu si Noman kok kurang ajar banget sih tante? Masa perlakukan tante sebagai ibu kandung kaya gitu?” tanya Riko setelah Youra kembali ke tengah-tengah mereka. Youra sudah mandi dan mengenakan daster sekarang. Dia sedang menyuapi makan anak kelima dan keenamnya saat ini sambil ngobrol dengan teman-teman Tedi. Anak ketiga dan keempatnya juga duduk di dekat mereka dan juga sedang makan, namun makan sendiri.

“Kalian ngintip ya?” tanya Youra.

“Iya tante… hehehe”

“Hmm… Ya mau gimana lagi… Norman ya kaya gitu. Kalau ngentoin tante pasti kasar, gak cuma mulutnya tapi sifatnya juga. Apalagi kalau gak tante turutin maunya, panjang deh urusannya. Meski gitu tante tetap sayang sama dia. Norman kan tetap anak tante.

Kalau dia pengen minta duit tante kasih, kalau pengen menyetubuhiin mamanya sendiri juga tante kasih. Tante cuma berharap anak-anak tante yang lain gak seperti dia. Terutama tedi, Tedi itu rajin dan baik, beda banget sama Norman”

Youra mengatakannya sambil menyuapi anaknya. Mungkinkah hal itu benar-benar terjadi? Bisakah anak-anaknya yang lain tidak meniru perilaku Norman bila mereka semua tetap dibesarkan dengan cara begini? Bahkan besar kemungkinan anak-anak gadisnya jika sudah gede akan mengikuti jejak sang ibu sebagai lonte.

Mereka melihat bagaimana Youra menyuapai anak-anaknya dengan kasih sayang. Tapi siapa sangka kalau setiap suapan nasi itu berasal dari hasil ngelacur si ibu.

“Kenapa kalian lihat-lihat? Pengen juga?” tanya Youra tersenyum pada mereka. Senyum yang sangat manis. Sungguh sosok ibu yang sempurna. Muda, cantik, dan berkepribadian menarik. Siapa yang gak bakal gregetan bila dekat-dekat dengan Youra.

“Iya tante… kita kepengen nih… hehe” jawab mereka.

“Sini-sini tante suapin… Aaaa…” kata Youra bergurau. Youra tentu saja tahu kalau yang mereka maksud sebenarnya adalah pengen ngerasin bersenggama dengan dirinya, bukan pengen ikutan makan.

“Bu..bukan tante. Pengen yang itu… gitu-gituan, hehe” kata Riko.

“Huuu… Pengen, pengen. Dasar kalian sama aja mesumnya. Emang kalian sanggup bayar tante apa? hihihi” balas Youra menggoda mereka.

“Be…berapaan tante? Kita patungan deh…” kata Jaka antusias mulai mengeluarkan recehan dari uang sakunya, teman-temannya yang lain juga ikutan. Mereka letakkan semua recehan lecek itu ke atas meja. Hanya 13 ribu jumlah uang mereka bertiga. Jauh tentunya dari harga yang seharusnya dibayar untuk dapat menikmati tubuh seindah dan secantik Youra, bahkan untuk shorttime sekalipun.

“Hahahaha… Aduh… kalian ini. Segitu pengennya sih sampai patungan segala” Youra ketawa lepas melihatnya. Bukan karena jumlah uang yang jauh kurangnya, tapi tingkah mereka yang ngebet banget pengen ngerasain menyetubuhiin dirinya.

“Kurang yah tante?” tanya Jaka.

“Banget malah… hihihi. Sana, ambil lagi uang kalian. Ntar kalian gak ada ongkos pulang lagi, atau mending kalian tabung saja”

“Yaaaah….” Rungut mereka kecewa.

“Huuu… Kalian itu belum cukup umur. Gak boleh ngeseks sebelum 18 tahun… ngerti?” lanjut Youra.

“Kok gitu sih tante… Tante aja tadi barusan menyetubuhi sama Norman” kata Romi.

“Beda dong… kan sudah tante bilang tadi kenapa alasan Norman menyetubuhiin tante”

“Iya… tapi kita kan mau juga”

“Dasar… Mending kalian coli lagi deh sana”

“Yah… masa coli lagi sih tante?” kata mereka malas.

“Terus? Mau tante coliin nih?” goda Youra.

“Mau banget tante…”

“Huuu… mau kalian banget itu mah…. Dasar anak sekarang cepat gedenya” ujar Youra tertawa-tawa sambil bangkit dari duduknya. Dia sudah selesai menyuapi anak-anaknya. Youra letakkan piring itu ke dapur, lalu kembali duduk di antara mereka tidak lama kemudian.

“Emang kalian gak ada pacar?” tanya Youra.

“Belum sih tante… gak ada yang cocok, hehe” jawab Riko.

“Gak ada yang cocok atau gak ada yang mau sama kalian nih?” goda Youra yang membuat mereka malu, karena memang itulah kenyataannya.

“Terus pelampiasan kalian cuma coli dong?”

“Mau gimana lagi tante. Tante sih… kami mau coba gak boleh… hehe”

“Kalian ini, Tedi saja juga masih rajin coli… masa kalian sih yang tante kasih duluan”

“Tante sendiri gak punya pacar? Gak pengen nikah?” tanya Romi. Youra tersenyum kecil sebentar.

“Gak usah deh… tante bisa hidupin semua anak-anak tante sendiri. Lagian pilih mana, anak-anak tante cuma punya satu ayah atau punya banyak ayah? Hihihi… Iya kan sayang…” kata Youra sambil ketawa memangku anak ke tiganya, seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang masih kelas 5 SD, setingkat kelasnya dengan Norman yang bandel. Dia mirip mamanya, cantik dan berkulit bersih.

“Yang ini bapaknya siapa tante? Kok cakep sih?” tanya Jaka.

“Cindy? Tante gak ingat siapa bapaknya. Tapi yang jelas bukan bapaknya yang cakep, tapi cakep karena keturunan mamanya dong… hihihi“ kata Youra tertawa memuji diri sendiri, tidak salah memang.

“Kakak-kakak ini mau nginap di rumah kita ya Ma?” tanya Cindy ke mamanya.

“Iya sayang”

“Mereka mau ngehimpit mama juga? Telanjang-telanjang sama mama kayak papa-papa yang lain?” tanya Cindy polos. Tentunya yang dimaksud Cindy ‘ngehimpit’ itu adalah menyetubuhiin ibunya.

“Hahaha… bukan Cindy sayang. Mereka bukannya pengen ngehimpit mama kayak papa-papa kamu, cuma nemenin mama saja kok…” balas Youra. Yah… bukan, teman-teman Tedi tentunya berharap bisa benar-benar menyetubuhiin Youra.

“Cindy, kamu kalau udah gede mau jadi apa?” tanya Riko mencoba akrab.

“Mau jadi kaya mama…” jawab anak perempuannya polos. Mereka tentu terkejut mendengarnya. Entah anak perempuannya itu tahu atau tidak apa yang sebenarnya mamanya ini kerjakan. Gilanya, Youra bahkan cekikikan mendengar jawaban polos anak perempuannya ini. Entah apa jadinya bila benar-benar terjadi.

“Hihihihi… kamu mau jadi kaya mama ya sayang?” tanya Youra.

“Iya…”

“Gak pengen jadi dokter atau guru?” tanya Youra lagi.

“Enggak. Bu guru jahat suka kasih banyak pe-er. Pak dokter juga sering nyuntik orang” jawabnya polos, Youra kembali tertawa, teman-teman Tedi juga tertawa.

“Sudah sana kalian juga mandi dulu, kalian jadi pengen nginap di sini kan?” suruh Youra kemudian pada Riko, Romi dan Jaka.

“Ja..jadi tante”

“Ya sudah, berarti sampai besok tante bakal jadi mama kalian. Berarti ditambah dengan kalian jadinya tante punya 10 anak dong ya…” kata Youra tersenyum manis sambil membuka jari-jarinya seperti menghitung.

Alangkah senangnya mereka waktu mendengar Youra berkata seperti itu, wanita cantik ini akan menjadi ibu mereka sampai besok. Angan merekapun kembali terbang kemana-mana membayangkannya. Andai saja ibu mereka secantik dan semuda tante Youra. Andai saja Youra memang ibu mereka, pikir bocah-bocah itu.

“Sana mandi, nanti tante ambilkan bajunya Tedi untuk kalian pakai” ujar Youra. Anak-anak itu nurut-nurut saja. Merekapun mandi sambil coli bareng, menghayal sedang menyetubuhi dengan tante Youra ibu teman mereka itu.

“Oughh… tante Youra…” erang mereka sahut menyahut. Hal itu tentu saja terdengar oleh Youra dari luar kamar mandi, Youra hanya tersenyum sendiri. Hingga akhirnya sperma merekapun muncrat-muncrat dengan hebatnya meski hanya bisa berimajinasi bersetubuh dengan Youra, menghantam tembok kamar mandi si punya rumah dengan peju-peju muda mereka.

Meski sudah coli pun bagaimana bisa nafsu akan turun bila terus berada di sini, pasti tidak lama bakal horni lagi. Saat Youra mengantarkan handuk dan baju ke kamar mandi, rudal-rudal mereka kembali bangun hanya karena ada Youra di dekat mereka.

Mana Youra menggoda mereka lagi, “Wah… udah coli kan? tapi kok masih gede aja… hihihi” kata Youra sambil tersenyum manis. Makin gregetan lah para remaja itu. Rasanya mereka tidak ingin berhenti coli bila terus berada di sana. Seandainya mereka bisa dapat lebih dari sekedar coli sendiri, seandainya dicoliin tante Youra, pikir mereka.

Sepanjang sore hingga malam itu, mereka asik ngobrol bersama. Mereka sangat akrab seperti benar-benar ibu dan anak. Youra juga melakukan aktifitas di rumah seperti biasa. Menyapu, ngepel lantai, mencuci baju, membantu anak-anaknya bikin pe-er dan sebagainya.

Untuk hal-hal yang seharusnya perlu dijaga privasinya pun Youra tetap cuek, sehingga bebaslah para remaja itu melihat bagaimana dirinya ganti baju, menyusui bayinya, sampai melihat tante Youra pipis.

Kadang mereka hanya ngobrol hal-hal biasa, tapi lebih sering menyerepet ke hal-hal berbau porno. Lebih banyak membahas tentang pengalaman-pengalaman melontenya tante Youra. Seperti sehari berapa kali menyetubuhi dan berapa pemasukannya. Tentu saja dijawab semua oleh Youra dengan ceria dan ramah.

“Tante kalau dientotin pelanggan sukanya gaya apa?” tanya mereka.

“Hmm… apa ya… Yang penting apapun yang pelanggaan suka tante juga harus suka. Mau tante telentang kek, diatas kek, didoggy kek” jawabnya santai.

“Ohh…”

“Emang kalian udah tahu gaya menyetubuhi apa-apa aja? Sering nonton bokep ya kaliannya? Dasar” kata Youra mencubit pelan salah satu dari mereka.

“Iya tante… sering. Tuh si Jaka yang paling banyak koleksinya”

“Hihihi… kalian ini. Oh iya… Tante kemarin ini dapat tawaran shooting film bokep, diterima atau nggak ya enaknya?” tanya Youra berkonsultasi dengan teman-teman Tedi.

“Terima tante! Terima aja!” ujar mereka cepat.

“Huuu… Dasar kalian itu maunya aja. Di negara kita hal begitu masih ilegal. Gimana kalau ketahuan terus tante dipenjara?”

“Iya ya… tapi kan keren tante… pasti bakal laku, hehe”

“Jadi tante terima saja nih?”

“Iya tante…”

“Ya sudah, kalau begitu nanti kalian masing-masing dapat vcd film tante deh…” ujar Youra. Mereka tentunya semakin mupeng tidak sabaran, pasti bakal jadi film bokep terbaik yang pernah mereka tonton nantinya. Si Jaka yang sangat bersemangat bahkan berkata pengen jadi bintang film bokep tersebut, tapi tentu saja tidak mungkin. Youra sampai cekikikan mendengar omongannya itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Semakin malam suasana semakin memanas. Pembahasan porno terus mengalir tanpa henti. Bahas onani lah, rasanya menyetubuhi lah. Mereka juga kembali berkali-kali ‘menawar’ Youra untuk dapat mereka setubuhi, tapi Youra tetap tegas dengan prinsipnya, tidak boleh ngeseks sebelum 18 tahun!

Semua obrolan dan pemandangan indah di depan mereka tentu saja membuat nafsu mereka terus meninggi, dan semakin meninggi. Rasanya rudal mereka ingin menumpahkan pejunya lagi.

Bersambung… Meski mulai mengantuk, tapi Riko, Romi dan Jaka masih pengen terus ngecengin ibu temannya ini. Youra tentu tahu kalau nafsu anak-anak remaja ini semakin menjadi-jadi padanya. Namun begitu, dia tetap meladeni obrolan dan candaan mereka yang selalu condong ke arah cabul itu dengan ramah.

“Dasar abg, penasaran banget dengan yang namanya cewek. Bukannya pergi tidur…” gumam Youra dalam hati. Sedang asik-asiknya bercengkrama, tiba-tiba ada yang menggedor pintu. Youra teringat kalau dia punya janji dengan para pelanggan.

Tidak lain adalah teman-temannya Norman yang katanya akan memakainya malam ini. Yourapun segera bangkit. Dia sedikit merapikan daster dan rambutnya terlebih dahulu agar tampak cantik di hadapan calon pelanggannya, barulah kemudian membukakan pintu.

Norman berdiri di sana, di belakangnya ada 3 orang pria yang terlihat lebih tua usianya dari Norman. Bukannya janjinya cuma 2 orang? Kok yang datang ada 3 orang sih? Youra tentu saja protes.

“Sayang, kamu bawa 3 orang?” tanya Youra.

“Iya Ma”

“Kamu ini gimana sih? Janjinya kan hanya 2 orang, kok bawa 3 orang gini sih?”

“Mau gimana lagi ma, tadi pas ngumpul-ngumpul ada satu teman gabung, padahal kita udah mau ke sini. Masa dia ditinggalin? Ya udah kita ajak saja” jawab Norman santai, sungguh seenaknya saja.

“Tapi kan…”

“Tapi apa sih ma?” potong Norman, “toh gak ada bedanya mau dua atau tiga atau sepuluh orang sekalian. Perek kok sok suci banget sih?” ucap Norman menghina. Youra menghela nafas. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi kalau sudah berhadapan dengan anaknya yang satu ini.

“Ya sudah sayang… mama layanin mereka. Tapi soal tarif gimana?”

“Mata duitan banget sih ma !? Udah dibilang kan kalau tadi mendadak banget. Dia tiba-tiba gabung waktu kita udah mau kesini. Ya udah langsung aja kita ajak, gak ada nego-negoan. Udah deh mama kasih gratis dulu, itung-itung buat promosi.

Dia dekat sama kepala geng kita lho… Kalo mama bisa muasin dia, pasti dia bakal rekomendasiin ke banyak temen-temennya. Seneng kan serambi lempit mama bakal dipake terus? anggota geng kita banyak lho… hehe”

Youra lagi-lagi hanya bisa menghela nafas, dia cuma bisa pasrah. Padahal tanpa direkomendasikanpun sudah banyak pria hidung belang yang mencari-cari dia. Mulai dari mahasiswa sampai pejabat daerah. Ini malah anggota geng yang tidak jelas.

“Udah ah sana, mama siap-siap deh dientot” suruh Norman.

“Iya sayang, mama udah siap dari tadi kok… Udah mandi, udah wangi, sini deh temen-temenmu mama puasin…” kata Youra sambil tersenyum manis.

“Ingat ya ma, taruhannya tetep. Kalo mama dibuat ngecrot sampe lebih dari 3 kali, uangnya buat norman 100%!” kata Norman terkekeh.

“Iih… Kamu curang deh, kalo lawan 3 orang ya jelas mama bakal K.O, udah deh anggap aja mama udah kalah, ambil deh sana uangnya untukmu semua” kata Youra mendengus manja. Norman makin terkekeh. Uang jualan ibu kandungnya betul-betul untuk dirinya semua malam ini!

“Gitu dong mamaku sayang, itu baru lonte yang baik…” ujarnya sambil menowel susu Youra. Lalu mengecup bibir ibunya sendiri. Youra pura-pura menolak dan merajuk manja.

“Udah sini suruh temenmu masuk” kata Youra kemudian. Norman dan teman-temannyapun masuk. Teman-teman Tedi yang tadi mengantuk kini jadi melek kembali, mereka penasaran dengan apa yang akan terjadi di sini.

Youra berkenalan dengan ketiga pelanggannya ini, Toyo, Baron dan Suib. Tampang mereka tentunya jauh dari kata tampan. Mereka tidak memiliki pekerjaan tetap, lebih sering hanya menagih uang setoran dari para pedagang pasar. Mereka adalah senior-senior di gengnya Norman. Norman sebenarnya ngasih ibunya supaya bisa diterima dengan posisi yang lebih baik di geng itu.

Orang-orang yang sudah membuat rusak anaknya kini malah akan dilayani Youra setulus hati menggunakan tubuhnya. Youra yang memang sangat ramah bahkan menyuguhkan minuman kepada para berandal itu layaknya tamu istimewa.

Sebelum masuk ke kamar, Youra berpamitan pada teman-teman Tedi.

“Kalian tidur gih, udah malam… Tante mau dientotin mereka dulu”

“Be..belum ngantuk tante” jawab Riko, yang lain ikut mengangguk.

“Lho, kalian tadi kayaknya sudah ngantuk berat, tapi denger tante mau dientot kok kayaknya jadi melek begini…?” ujar Youra tertawa.

“Tante mau digangbang ya?” tanya Jaka.

“Hihihi… Gak tau deh mereka mau menggilir tante atau mau langsung ngeroyok. Tante sih nurut-nurut aja mau diapain. Kenapa? pingin liat ya?”

“I..iya tante… kan tadi janji kapan-kapan boleh liat tante digangbang, hehe… Boleh ya tante? Please…” ujar mereka memohon. Tentunya akan menjadi pengelaman luar biasa bagi mereka bila bisa melihat ibu muda secantik Youra dientotin rame-rame, di rumahnya sendiri pula.

“Duh… jangan dulu deh, kapan-kapan aja yah… Kalian kan tadi udah ngantuk berat, tidur aja gih. Jangan macem-macem lho…! nanti malah gak bisa tidur repot. Lagian ini kan pelanggan baru tante, tante gak tau gimana orangnya.

Kalo tante sih dilihat mau aja, tapi kan belum tentu mereka mau? Pelanggan tu biasanya mintanya privasi… Udah deh kalian ini segitunya amat sih? besok tante ceritain deh…”

“Yaahh tante…” sungut mereka kecewa. Youra tersenyum saja sambil meninggalkan mereka, lalu masuk ke dalam kamarnya bersama ketiga pelanggannya. Malam itu Youra tegas melarang teman-teman Tedi menonton dirinya.

Teman-teman Tedipun pasrah, mereka akhirnya juga masuk ke dalam kamar mereka untuk tidur, tapi tetap saja mereka tidak bisa tidur karena membayangkan apa yang terjadi di kamar Youra. Suara erangan serta rintihan nikmat Youra menggema sampai ke kamar mereka.

Jam 2 pagi anak bungsu Youra yang masih bayi terbangun dan menangis keras. Teman-teman Tedi itu berebut mengintip keluar kamar ingin melihat apa yang akan terjadi. Mereka melihat si bungsu digendong oleh kakaknya, Bram, anak kelima Youra yang masih berumur 5 tahun. Bram sambil terkantuk-kantuk mengetuk pintu kamar Youra memanggil mamanya.

“Ma… mama…?”

Norman yang juga ikut terbangun karena terganggu suara tangisan Bobi dengan kesal mencegahnya, “Gangguin aja kamu dek, mama lagi kerja tau gak? Tuh suruh diem dulu, diminumin susu pake dot kek!”

“Susu di dotnya habis kak…”

Karena berisik dan tidak enak sama tamunya, Youra pun keluar kamar dalam kondisi telanjang bulat. Melihat hal itu teman-teman Tedi langsung konak lagi. Youra terlihat agak berantakan dengan rambut kusut dan badan berkeringat, namun hal itu malah semakin membuat Youra terlihat menggairahkan.

“Bobi nangis ya?” tanya Youra.

“Iya… Mama belum selesai dientotnya?” tanya Bram. Ternyata anak Youra yang satu ini sudah hafal kata ‘entot’, tidak seperti Cindy yang menyebut mamanya sedang himpit-himpitan.

“Belum, masih nanggung nih sayang… Tuh teman-teman kakakmu nakal banget, Mama dikeroyok…”

“Masih lama ma?”

“Iya… kamu bisa gak kamu jagain adekmu dulu? Kayaknya dia bukannya mau nenen deh, paling kebangun aja. Coba deh kamu tidurin lagi…”

“Tapi ma…” Bram hendak memprotes, tapi salah satu teman Norman keluar dan menarik Youra.

“Lama amat lu lonte… ngapain aja sih? ayo lanjut!” hardiknya sambil mengocok rudal besarnya. Pria itu tidak mau peduli kalau anaknya Youra sangat membutuhkan ibunya saat ini.

“Bisa kan ya sayang? Kamu gendong-gendong dulu ya… Ini papa-papamu belum puas menyetubuhiin mama… Tolong ya… nanti mama kasih kamu tambahan uang jajan deh…” ujar Youra cepat karna dia ngomong begitu sambil tangannya ditarik masuk kamar dengan kasar.

Pintu kamar Youra pun dibanting oleh pria itu, tepat di depan kedua anak Youra. Si bungsu semakin keras saja tangisnya karena terkejut kerasnya suara bantingan pintu. Mau tak mau Bram harus mendiamkan adiknya bersama kakak-kakaknya yang lain yang juga ikut terbangun.

Kecuali Norman yang kembali tidur ke kamarnya, semua anak-anak Youra kini sedang sibuk mengurusi si kecil Bobi, sedangkan si ibu kewalahan melayani nafsu binatang para pria hidung belang.

Teman-teman Tedi kembali menghempaskan diri ke kasur. Pikiran mereka makin melayang-layang. Meski miris, namun kejadian itu juga membuat rudal mereka bertiga ereksi maksimal. Mereka konak berat dan ingin beronani namun rasanya tidak ada tenaga. Meski merasa susah tidur karna terus terbayang-bayang, toh akhirnya tanpa sadar mereka tertidur juga.

Pagi-pagi mereka terbangun mendapati Youra sedang menyusui bayinya. Youra terlihat segar, tampaknya dia baru saja selesai mandi. Youra menyapa mereka ramah,

“Udah bangun kaliannya? Mandi dulu gih sana, nih sarapannya udah tante siapin”

“I..iya tante” Mereka terkagum-kagum, Youra benar-benar ibu yang hebat, pikir mereka. Setelah mandi mereka semua siap di meja makan. Youra tampak baru hendak selesai menyusui bayinya.

“Duh, enaknya pagi-pagi sarapan susu segar” ujar Jaka nyeletuk. Romi dan Riko juga berkata hal yang sama.

Youra tersenyum mendengarnya, “tuh kalian juga udah tante siapin susu,” katanya menunjuk beberapa gelas susu di atas meja.

“Yaah, kan beda susunya tante…”

“Hihihi… Kalau susu yang ini sih buat anak-anak tante aja… dasar kalian!” balas Youra tertawa.

Tak disangka-sangka setelah si bungsu selesai menyusu, anak Youra yang lain, Kiki, berlari dari dalam kamar dan menubruk Youra lalu memeluknya, “Ma…” panggilnya. Mulutnya mencaplok susu Youra dan mengenyotnya. Youra tertawa dan melayaninya, membiarkan Kiki juga menetek padanya.

“Duh… anak mama yang satu ini sudah besar” ucap Youra. Teman-teman Tedi terbelalak. Mereka terkejut bukan main. Anak itu mungkin kelas 1 atau 2 SD, seharusnya sih sudah tidak menyusu lagi pada ibunya, pikir mereka. Sungguh pemandangan yang ganjil, yang tentunya membuat mereka sangat konak!

Mereka semakin terheran lagi ketika anak-anak Youra yang lain, Dion, Bram, bahkan Cindy juga datang dan minta nenen juga.

“Sabar ya sayang… susu mama kan cuma dua…” ucap Youra sambil tertawa. Dia kemudian dengan sabar menyusui anak-anaknya secara bergantian, 2 anak sekaligus dalam sekali waktu. Selesai 2 orang, segera diganti dengan 2 anak Youra yang berikutnya.

Mata teman-teman Tedi sangat dimanjakan dengan pemandangan ini. Sangat ganjil tapi begitu erotis. Apa Tedi si sulung juga masih menyusu ke ibunya? tanya mereka dalam hati. Sepertinya sih iya. Mereka sungguh iri pada anak-anak Youra. Ingin sekali mereka ikutan, merasakan nikmatnya air susu segar dari sumbernya langsung.

“Ngapain kalian malah nontonin anak-anak tante sarapan? sarapan kalian tuh dianggurin, ayo dimakan! Nanti dingin… tante udah capek-capek masakin…” kata Youra pura-pura merajuk.

“I..iyaa tante” jawab mereka tergagap. Mereka hampir lupa kalau sedang lapar. Karena saat ini yang mereka rasakan memang cuma satu, horni. Namun begitu mereka tetap menghabiskan sarapan mereka meski ada perasaan tidak nyaman dari balik celana.

Selesai sarapan, teman-teman Tedi membantu membereskan meja makan dan mencuci piring. Memang sepatutnya mereka sedikit membantu karena telah banyak diberikan banyak ‘kesenangan’ oleh Youra.

“Duh, rajinnya… makasih ya…” ucap Youra tulus sambil masih menyusui anaknya. Tinggal Bram yang masih asik menetek. Setelah selesai membereskan meja, teman-teman Tedi kembali ke meja makan dan asyik nontonin Youra yang memanjakan anaknya dengan susu. Setelah beberapa lama, Bram pun melepaskan kulumannya dari buah dada sang ibu.

“Sudah sayang? sana sekarang mandi ya…” ucap Youra pada anaknya itu. Bram masih saja bermanja-manja pada Youra dan enggan beranjak dari pelukannya. Bibir dan pipi anaknya itu sesekali masih mengelus-ngelus ke puting buah dada Youra. Teman-teman Tedi yang melihatnya masih juga berhayal, mereka ingin merekalah giliran selanjutnya.

“Sudah ya sayang… mandi dulu gih…” bujuk Youra sekali lagi pada anaknya ketika salah seorang dari teman Norman, Baron, keluar kamar telanjang dada. Baron hanya memakai celana kolor. Rambutnya masih acak-acakan baru bangun tidur. Karena memang setelah menggangbang Youra tadi malam, mereka kecapekan lalu tidur di kamar Youra.

Youra tersenyum pada Baron, “Sudah bangun? mau sarapan?” tanyanya ramah. Melihat kondisi Youra yang payudaranya masih terekspos, Baron lalu menghampiri Youra. Mengelus payudaranya dan memagut bibir Youra. Youra melayaninya tanpa segan. Bibir mereka saling berpagutan, sementara anak Youra masih berada di pelukan Youra!

Baron berusaha menyingkirkan Bram dari pelukannya. Anak Youra ini meski enggan menyingkir, tapi tenaganya tentunya kalah kuat. Youra sendiri tidak mencegah anaknya dienyahkan dari pelukannya oleh Baron. Bram akhirnya terpaksa mengalah, hanya bisa melihat mamanya dicumbui Baron setelah dia disingkirkan seenaknya oleh pria hidung belang ini. Bram pun pergi mandi tidak lama kemudian.

Setelah memagut beberapa saat, Baron mengeluarkan rudal besarnya dan menyodorkan pada Youra. Youra tersenyum dan melirik teman-teman Tedi yang melongo.

“Giliran tante yang sarapan nih…” ucapnya binal mengedipkan mata pada teman-teman Tedi. Adegan blowjob pun terjadi tanpa tedeng aling-aling. Di depan teman-teman Tedi dan di depan anak-anak Youra. Hanya saja, anak-anak Youra sudah biasa dan tidak memperhatikannya.

Mereka telah asik dengan kegiatannya masing-masing. Ada yg mandi, nonton TV, main, dan sebagainya. Ada juga yang berebut mainan dan hampir berkelahi. Youra berhenti sejenak dari blowjobnya dan meneriaki anak yang mau berkelahi itu.

“Hayooo jangan nakal ya… kakak ngalah sama adik… Pagi-pagi kok sudah ribut sih?” tukasnya kesal, kemudian melanjutkan nyepong sampai si Baron ngecrot di mulutnya. Youra menelan peju kental itu, beberapa muncratan ada yang mengenai wajahnya dan ada yang meleleh keluar dari mulutnya.

Dengan jari tangannya Youra mengusap lelehan sperma itu, memasuk-masukannya ke mulutnya dan menelannya. Pemandangan yang sangat menggetarkan dada. Teman-teman Tedi cuma bisa menelan ludah dan menahan konak dibuatnya.

“Kalian lihat apaan? Kalau sarapan tante harus mengandung protein tinggi kayak gini nih, biar tante gak gendut.. biar tetep seksi, hihihi…” ucap Youra pada teman-teman Tedi.

“Enak ya Ma?” tak disangka Cindy memperhatikan juga dari tadi. Youra agak terkejut, lalu tersenyum menjawab pertanyaan anaknya sambil sedikit tertawa. “Enak dong sayang, tapi ini hanya untuk orang dewasa ya… Cindy belum boleh…” ucap Youra. Cindy manggut-manggut polos.

Baron sesudah puas menuntaskan birahinya ngeloyor begitu saja setelah mengecup Youra. Dia pergi merokok di teras depan, yang mana tetangga-tetangga Youra tentu bisa melihatnya dan tahu kalo dia adalah salah satu pria hidung belang yang baru saja ‘mempermak’ Youra semalam. Tapi Youra cuek saja tidak mencegahnya, si berandal hidung belang ini juga cuek.

“Tante, cerita dong ngapain aja semalam…” pinta salah satu teman Tedi. Youra tersenyum kecil.

“Iih, pagi-pagi sudah nagih cerita mesum aja… Ntar ya… Tante masih mau beres-beres rumah. Kalian bantu gih…” tolak Youra halus yang membuat remaja ini semakin penasaran.

Pagi itu teman-teman Tedi sekali lagi melihat ketangguhan Youra sebagai ibu rumah tangga dan single mother. Dia membereskan rumah, beberapa anaknya yang sudah cukup besar dikomando membantunya. Youra bisa tegas memerintah mereka sehingga mereka menuruti segala yang diminta Youra.

Menyapu, membereskan kamar, dan sebagainya. Sementara anak-anaknya yg masih kecil sedang asik bermain dan menonton TV, kadang rewel. Di sela-sela kesibukannya Youra meladeni kerewelan mereka dengan sabar dan sayang.

Sementara Norman si calon preman dengan nikmatnya ngorok di kamarnya. Youra membiarkannya saja. Yah… untuk Norman, Youra memang tidak berdaya mengurusnya.

Teman-teman Tedi pun ikut membantu, tentu sambil cuci mata. Karena pemandangan ibu muda secantik Youra yang sedang beres-beres rumah seperti ini sangat sayang untuk mereka lewatkan. Kadang Youra harus basah-basahan mencuci, ngepel, dan sebagainya.

Semua itu Youra lakukan hanya mengenakan daster tipis minim dan tanpa dalaman sama sekali. Sehingga di beberapa bagian membuat lekuk tubuhnya tercetak, memperlihatkan apa yang ada di balik daster tipis itu, terutama buah dadanya.

Di tengah-tengah kesibukan beberes rumah, teman-teman Norman kini semua sudah bangun lalu memakan sarapan yang sudah dipersiapkan Youra untuk mereka. Selesai sarapan, mereka lalu bersama-sama ngeloyor pulang setelah sebelumnya menjamahi Youra dengan nakal.

Youra membiarkan saja perlakuan mereka, bahkan Youra berinisiatif memagut bibir mereka sebagai salam perpisahan. Youra biasa melakukannya pada semua hidung belang saat mereka hendak pamit.

“Makasih ya, kalian puas kan? Datang lagi ya…. Kapanpun kangen ngegenjotin serambi lempit aku” ucap Youra sambil kecup-kecup mesra di teras depan rumah, dan lagi-lagi hal itu dapat dilihat oleh tetangga-tetangganya.

Semua pekerjaan rumah kini sudah beres. Youra menghela napas panjang agak capek.

“Huuuh… capeknya” katanya sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya. Keringatnya bercucuran. Dia beranjak ke ruang tamu, membuka pintu lebar-lebar membiarkan angin masuk. Youra melepaskan dasternya begitu saja hingga tubuhnya pun polos tanpa sehelai benang pun.

Kemudian Youra menghempaskan dirinya ke sofa di ruang tamu. Mengistirahatkan dirinya di situ sambil mengeringkan keringat dengan membiarkan angin dari luar membelai-belai tubuh bugilnya. Teman-teman Tedi menahan napas melihatnya.

rudal mereka menegang sejadi-jadinya. Siapa yang tidak tahan melihat wanita secantik Youra telanjang bulat? Apalagi bermandikan keringat begitu yang membuat tubuh Youra menjadi mengkilap. Dengan malu-malu mereka menghampiri Youra, ragu hendak ikut duduk di ruang tamu.

“Hayo… udah mupeng lagi? Tante gerah tahu, pengen bugil… Sini duduk sini temenin tante telanjang…” ajaknya ramah sambil tersenyum manis pada mereka. Tanpa perlu disuruh dua kali mereka pun berebut duduk di kursi tamu, tapi tidak berani menjejeri Youra karna salah satu anak Youra, Dion, sudah mendahului menghampiri mamanya dan ngelendot manja di sampingnya, menyandarkan kepalanya di atas payudara Youra yang terbuka. Youra merangkul dan membelai-belai anaknya itu dengan penuh kasih sayang.

Teman-teman Tedi menghela napas. Hari masih pagi. Hari minggu ini masih panjang. Apa yang akan terjadi hari ini.

Bersambung… Suasana ini sungguh membuat tegang mereka bertiga. Dengan pintu terbuka lebar begitu, tentunya ketelanjangan Youra bisa saja terlihat oleh orang lain. Jika orang itu menoleh ke dalam, pastinya akan terlihat seorang ibu muda cantik lagi berbugil ria. Namun teman-teman Tedi melihat tante Youra ini sepertinya cuek saja, bahkan seakan menikmati ketelanjangannya.

“Duh… Panasnya. Sayang… tolong arahkan kipas anginnya ke mama dong…” pinta Youra pada anak-anaknya yang sedang asik nonton tv di sebelah sana yang langsung dituruti oleh mereka. Aahh.. kibasan rambut tante Youra yang tertiup angin semakin membuatnya mempesona, pikir teman-teman Tedi.

Mata mereka rasanya tidak ingin beranjak dari sosok indah di depan mereka. Wajah memerah tante Youra yang kepanasan, tubuh telanjang berkeringatnya, pokoknya semuanya. Apalagi terpaan sinar matahari pagi membuat tubuh berkeringat ibu muda itu tampak mengkilap yang semakin menambah erotis suasana.

Perlahan keringat-keringat itu mulai mengering, namun masih menyisakan beberapa bulir yang masih mengalir di kulitnya yang mulus. Pemandangan yang membuat mereka tidak tahan. Ingin sekali rasanya mereka coli saat itu juga sambil menatapi ibu temannya ini.

Mereka melihat bagaimana tante Youra asik bercengkerama dengan Dion. Aura kecantikannya semakin tampak dengan sifat keibuan yang dimiliki Youra. Memang sejak hamil pertama kali saat mengandung Tedi, aura keibuannya sudah muncul meski waktu itu Youra masih remaja. Dia tetap menyayangi anaknya sepenuh hati meski sang ayah kabur tak bertanggung jawab.

Mereka melihat sorot mata Youra yang penuh kasih sayang mendalam pada anaknya. Senyum manisnya, tertawa renyahnya. Sungguh wanita yang sempurna, baik sebagai seorang ibu, maupun sebagai tempat pelampiasan nafsu. Mereka semakin terobsesi saja pada wanita ini.

“Lho? kok pada diam saja? mikirin apa sih?” goda Youra membuyarkan lamunan bocah-bocah itu.

“Eh, ng..nggak kok tante” jawab mereka tersipu. Lagi-lagi mereka kedapatan sedang memperhatikan dirinya. Youra tertawa, dia tentu tahu apa ang sebenarnya bocah-bocah itu pikirkan. “Dasar abg, masa sama ibu teman sendiri nafsu? Tapi wajar sih… Hihihi…” katanya dalam hati.

Bagi Youra sendiri, ditatapi penuh nafsu begitu juga membuat jiwa binal Youra semakin bergejolak. Mana si Dion dari tadi terus mainin puting susunya lagi, dipegang-pegang, dicubit-cubit, namun tidak menyusu. Youra sih tidak keberatan, tapi putingnya lama-lama jadi mengeras dibuatnya.

Jelas saja Youra terangsang. Teman-teman Tedi yang melihat puting Youra mengeras juga dibikin tambah mupeng karenanya.

“Eeeh, kok dimainin sih sayang? Itu kan tempat minum kamu…” ucap Youra pada Dion.

“Kok jadi kelas Ma?” tanya anaknya itu polos.

“Hihihi… itu tandanya mama teransang sayang…”

“Telancang?”

“Iya… teransang itu artinya mama pengen ditunggangi,” jawab Youra santai. Teman-teman Tedi langsung tegang full mendengarnya.

“Ditunggangi?”

“Iya…. ditunggangi kaya kuda, hihihi. Duh… siapa ya yang mau tunggangi mama? Papa-papa kalian lagi ga ada, kak Norman juga sedang tidur,” gumam Youra pura-pura bingung. Youra lalu melirik teman-teman Tedi sambil senyum-senyum. Terang saja mereka jadi blingsatan, jantung mereka berdetak cepat tidak karuan. Mereka berharap tante Youra akan mengajak mereka gitu-gituan. Tapi tentu saja Youra sebenarnya cuma sekedar menggoda mereka.

Melihat mereka jadi salah tingkah Youra sampai tertawa terbahak-bahak. “Hahaha… mikirin apaan sih kalian? Jangan ngarep ya… sana coli,” ujar Youra merasa puas mengerjai mereka, meskipun sebenarnya Youra juga sedag terangsang saat ini.

“Tante… jangan php-in kita dong…” protes mereka bersungut-sungut. Padahal mereka sudah beranggapan bakal beneran dikasih menyetubuhi oleh ibu teman mereka ini. Sial.

“Sorry deh… Kalian sih, ngelihatin mulu dari tadi,” kata Youra sambil berusaha menahan tawa.

Beberapa saat kemudian Norman keluar dari kamarnya, dia baru bangun. Sesudah semua orang capek-capek ngebersihin rumah baru dia bangun!! geram teman-teman Tedi kesal. Dengan wajah masih kusut, dia seenaknya langsung menyantap sarapan.

Selesai sarapan, Normanpun ikut bergelayutan manja ke Youra. Dia duduk di samping Youra dan merebahkan diri di pelukan ibunya. Di luar dugaan teman-teman Tedi, kali ini Norman menampakkan sifatnya yang sangat kekanak-kanakan, sangat berbeda dengan sisi lainnya yang bandel dan susah diatur.

Sebenarnya justru ini sisi yang normal sebagaimana harusnya seorang anak pada ibunya. Apalagi meski terlihat bongsor, Norman sendiri baru barusia 13 tahun. Sulit dipercaya di usia yang semuda itu dia sudah bisa berkali-kali menikmati indahnya seks, dengan wanita yang sangat sempurna pula!! Yang tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri.

Betul-betul iri teman-teman Tedi dibuatnya. Bagaimanapun Norman memang anaknya Youra juga, sangat wajar bila ingin bermanja-manjaan dengan ibunya sendiri. Youra juga mengelus-ngelus rambut anaknya itu dengan sayang.

“Abang bau iih… belon mandi…” protes Dion yang saat itu juga masih di pelukan Youra di sisi yang lain.

“Biarin!! Weee…!!!” cibir Norman sambil menjulurkan lidahnya. “Udah sana pergi!! Main kek, nonton tivi atau ngapain..!!” Norman malah mengusirnya. Dion mau tak mau menuruti omongan Norman, dengan bersungut-sungut Dionpun beranjak dari sisi Youra.

“Mama cantik” panggil Norman sambil mencium pipi Youra dengan bibirnya yang masih berminyak.

“Iya… sayang… Duh, kamu ini gosok gigi dulu gih sana…”

“Ntar deh ma. Ma… mama kok cantik banget sih..?” gumam norman manja yang kemudian menciumi pipi ibunya lagi berkali-kali dengan gemas. Makin berminyaklah pipi dan bagian wajah Youra lainnya gara-gara ulah Norman ini.

“Duh… anak mama ini. Kamu juga ganteng kok, cuma kamu ini bandelnya gak ketolongan… nakal ke ibunya juga…” balas Youra mencium kening anaknya. Mereka pamer kemesraan di depan teman-teman Tedi. Namun sulit dibedakan antara mesra sebagai ibu dan anak dengan kemesraan sepasang kekasih.

Sekali lagi mereka bertiga merasa iri, mereka sungguh ingin mempunyai ibu seperti Youra. Norman nyengir-nyengir saja diomelin oleh Youra, tampak jelas kalau Youra tidak sungguh-sungguh memarahinya.

“Biarin, siapa suruh mama cantik begini…” ucap Norman gemas sambil meremas-remas buah dada ibunya.

“Uuuuh…” Youra melenguh pelan, terdengar sangat indah di telinga semua remaja yang ada di sana. Dengan manja disingkirkannya tangan Norman dari dadanya. Tangan Norman yang disingkirkan turun kini malah mengelus-ngelus sambil menjambak-jambak kecil rambut kemaluan Youra.

Sesekali tangannya juga membelai bibir serambi lempitnya. Tampak sekali kalau Norman sangat gemas dengan kesempurnaan tubuh ibu kandungnya itu. Hampir-hampir teman-teman Tedi lupa bernafas melihat pemandangan ini. Yourapun tidak kelihatan keberatan sama sekali. Sambil melakukan itu, kini Norman mengecup gemas bibir Youra. Tidak sampai mengulumnya, hanya mengecupi saja.

“Mamaaah….” ucap Norman lagi dengan gemas.

“Apa sayang?”

“Mama kok cantiknya gak ketulungan sih?”

“Iiih… apaan sih kamu ngengombalin mama terus?” Youra tersipu.

“Aawwhh…” tiba-tiba Youra serambi lempitik pelan. Ternyata tangan Norman tengah memijit-mijit klirotisnya yang juga mengeras. Semua tampak jelas di depan mata teman-teman Tedi yang mulai kering kerontang tenggorokannya.

Setelah puas menciumi wajah ibunya, tiba-tiba Norman bangkit hendak ngeloyor pergi begitu saja. Youra spontan menahan tangannya.

“Lho, kamu mau kemana sayang?”

“Ada apa sih Ma?” tanya Norman pura-pura bego.

“Eh… ng..nggak.. ng..menyetubuhi yuk sayang…” pinta Youra ragu dan malu-malu. Wow… Teman-teman Tedi jelas terperangah, kali ini Youra yang meminta duluan untuk dientotin anaknya!!

“Hahaha… pagi-pagi udah nafsu ya ma? Dasar mama nakal… tapi Norman buru-buru nih… ada urusan,” tolak norman tak diduga, Norman lalu mencium bibir Youra gemas. “Ga puas apa ma dikerjain teman-teman Norman semalam? Apa perlu Norman panggil lagi mereka ke sini? hehehe” lanjut Norman menggoda Youra.

“Mmmhh..!!” Youra mendengus kesal, Norman terkekeh lagi. “Kan kamu tuh yang bikin mama horni!!” protes Youra sambil cemberut. Wajahnya yang merona makin membuat dirinya semakin cantik, tentunya juga semakin menggairahkan.

“Tuh, teman-teman bang Tedi kayaknya mau deh menyetubuhiin mama…” ledek Norman lagi sambil melirik teman-teman Tedi yang langsung berbinar matanya.

“Wuahahahaha…!” Norman tertawa terbahak-bahak. “Muke-muke lu ngarep banget pengen menyetubuhiin mama gue, kalau pengen nyicipin mama, lu pada harus bayar harga normal!! Hahahaha” cibirnya pada mereka bertiga.

“Hussshhh… nakal kamu ah! Udah sana kalau mau pergi…” ujar Youra merengut manja. “Perlu uang jajan lagi gak kamunya?” tanya Youra kemudian.

“Perlu dong Ma… hehehe”

“Dasar kamu ini… Kemarin kan uang ngejual mama kamu ambil semua, masa sekarang masih perlu lagi? Nih, segini aja yah untuk hari ini…” kata Youra sambil menyerahkan uang dua puluh ribu pada Norman.

“Mama emang yang paling baik deh… iya gak?” tanyanya sambil melirik ke teman-teman Tedi, lalu ngeloyor pergi.

Youra mengehela nafas. Dia benar-benar horni karena ulah Norman tadi, dia butuh pelampiasan. Tapi tidak mungkin dengan teman-teman Tedi.

“Tante beneran lagi horni ya?” tanya Riko yang masih berharap.

“Huuu… pengen tahu aja!!” jawab Youra cuek. Youra lalu bangkit dan mengenakan dasternya kembali, bertepatan dengan itu terdengar suara parau tukang sayur langganan Youra.

“Tuh, ada tukang sayur. Minta menyetubuhi aja sana sama dia, hehehe” ledek Jaka yang ikut menggoda Youra. Ucapan yang sebenarnya terdengar sangat kurang ajar itu malah ditanggapi ramah oleh Youra.

“Iiih… ogah. Masak tante dientotin tukang sayur… Emang dia mau bayar tante pake apa? Masa dibayar pake sayur-sayuran? Enak aja…”

“Emang tante gak pengen belanja? Gak pengen beli sayur? hehe”

“Hmm? Kenapa? Kalian nantangin tante?” ujar Youra balik nanya, dia tahu apa yang mereka inginkan. Mereka ingin melihat dirinya menggoda tukang sayur. Namun tiba-tiba Youra terpikir ide nakal untuk menuntaskan birahinya. Dia ingin bermasturbasi dengan sayur-sayuran.

“Ya udah, tante belanja deh… Tante perlu membeli sayur untuk masak makan siang,” setujunya akhirnya.

“Baaang… beli bang!” Teriak Youra lalu melangkah keluar.

“T…tante… cuma pakai pakaian itu aja?” seru teman-teman Tedi heran. Mengingat daster yang dipakai Youra sangat-sangat minim, mengekspos paha dan juga belahan dadanya. Belum lagi daster itu sangat tipis, kecantol duri saja kayaknya bakal sobek.

Youra menjawab cuek, “duh, kalian ini… tante kan lonte… emang tante harus make apa? jilbab?” sahutnya geli lalu menghampiri tukang sayur.

Teman-teman Tedi makin panas dingin. Mereka mengintip saja dari kejauhan apa yang akan terjadi. Tentunya tidak hanya mereka yang sedang berdegub kencang jantungnya saat ini, namun juga si tukang sayur. Si tukang sayur ini memang sudah sering juga menjual dagangannya pada Youra. Setiap Youra belanja padanya dia pasti ngaceng bukan main. Dia penasaran pengen merasakan tubuh Youra. Hanya saja tempat tinggalnya tidak jauh dari sini. Bisa kena hajar bininya kalau dia sampai ketahuan.

“Masih seger kan bang sayur-sayurnya?” tanya Youra.

“Ma..masih dong non… Non Youra mau beli apa?”

“Tolong terong, timun dan parenya dong bang… eh, sama jagungnya sekalian. Pilihin yang gede dan panjang ya bang…” kata Youra. Namun bukannya langsung mengambilkan pesanan, si tukang sayur itu malah terpaku melihat pemandangan di depannya ini. Puting Youra tercetak dengan jelas, membuat si otong semakin keras. Oh… seandainya bininya gak mengawasi, mungkin dia udah make Youra dari dulu.

“Bang… kok bengong sih?”

“Eh, I..iya Non…” katanya tersadar lalu segera mengambilkan sayuran tersebut.

“Mau masak apa non? Kok sayurnya panjang-panjang semua? hehe”

“Ya gitu deh bang…”

“Gitu gimana non maksudnya?”

“Pokoknya mau dibikin enak…”

“Oh… benar non… sayur itu emang enak, bikin sehat, apalagi kalau gede dan panjang. Tambah enak deh…” ujar tukang sayur itu menggoda. Otaknya mulai ngeres berpikir yang tidak-tidak.

Beberapa saat kemudian ada ibu-ibu tetangga yang ikut berbelanja. Ibu itu membawa anak laki-lakinya yang masih SD. Melihat Youra berpakaian minim, ibu itu langsung menutup mata anaknya sembari memaki-maki.

“Dasar lonte! Cewek murahan! Gak bermoral! Kenapa sih perempuan ini dibolehkan tinggal di sini? Mengganggu saja!”

Tukang sayur itu mencoba menenangkan si ibu itu. Youra sendiri tidak terlalu menanggapinya. Setelah Youra membayar sayuran, dia lalu kembali ke dalam.

Youra masuk rumah sambil nyengir-nyengir. Teman-teman Tedi heran.

“Tante gak marah dihina begitu?”

“Lah, kan emang benar tante lonte? Kenapa musti marah?” jawab Youra sambil meletakkan belanjaannya di atas meja ruang tamu.

“Tapi kan tante direndah-rendahkan begitu? Gak kesal tante? Balas dong…!” hasut Jaka.

“Iih… kalian ini, emang mau dibalas gimana coba? Jangan cari perkara deh…”

“Yaa… godain tukang sayur itu lebih hot lagi, biar ibu itu makin sewot, hehe”

“Dasar, kalian ini maunya ya…” ujar Youra geleng-geleng kepala saja mendengar ide mereka.

“Sebenarnya tante kasihan sama ibu itu. Suaminya itu anggota DPR yang suka foya-foya, main perempuan, istrinya ada tiga. Sebagai istri pertama, ibu itu sering ditinggal pergi dan disia-siakan” terang Youra.

“Suaminya suka main perempuan? Berarti suka mainin tante juga yah? hehe…” Teman-teman Tedi bertanya dengan nakal.

“Menurut loooh…..?” jawab Youra sambil menjulurkan lidah. Mereka kemudian tertawa bebarengan. Tapi ternyata Youra merasa tertantang juga. Di sini lain dia juga selalu merasa horny ketika harus menuruti fantasi teman-teman Tedi.

“Hmm…. Jadi kalian pengen nih lihat tante bikin kesal ibu-ibu itu lagi?”

“iya!! iya tante..!!” jawab mereka bersemangat.

“Dasar. Ya udah… Nih, tante wujudkan fantasi mesum kalian…” ujar Youra sambil mengedipkan mata kirinya dengan nakal. Teman-teman Tedi menelan ludah dibuatnya.

Youra lalu keluar lagi menemui penjual sayur. Dia cari-cari alasan ada yang lupa dibeli. Terang saja ibu-ibu tadi sewot dan mendelik.

“Ngapain lagi lu lonte? Dasar gak tahu malu…” makinya, Youra cuek saja. Teman-teman Tedi yang mengintip dari balik pagar melihat Youra diam-diam mengaitkan daster tipisnya pada sebuah paku yang menancap di gerobak sayur. Jantung mereka berdegup keras melihatnya. Mereka penasaran apa yang akan dilakukan ibu temannya ini. Youra malah mengedipkan mata segala ke arah teman-teman Tedi, seakan memberitahu mereka untuk menyaksikan baik-baik apa yang akan terjadi.

Setelah selesai belanja, Youra kemudian tampak berjalan pulang pura-pura lugu, dan “Breeett……!!” sobeklah daster tipisnya. Membuat daster itu terlepas dari tubuhnya yang tidak memakai apapun lagi di baliknya. Youra bugil total di tengah jalan!! Tubuh indah dengan kulit putih mulusnya tidak tertutupi apapun di hadapan mereka. Tukang sayur itu melotot, sedangkan ibu-ibu itu merah padam mukanya, berusaha keras menutup mata anak laki-lakinya sementara si anak malah terlihat meronta berusaha melihat.

Youra pura-pura terkejut dan menutupi tubuhnya sebisanya dengan tangan dan kain sobekan dasternya. Tentu saja itu tidak cukup, serambi lempit dan buah dadanya terpampang dengan jelas.

“aduuuh, maaf bang… Iih… paku nakal!!” kata Youra.

Youra kemudian berlari bugil masuk ke dalam rumah sambil menenteng belanjaan dan daster sobeknya. Di dalam rumah, Youra dan teman-teman Tedi tertawa lepas. Puas sekali rasanya. Terlebih bagi Youra, baru kali ini dia berbuat seperti itu. Apalagi dia berbuat demikian demi memuaskan fantasi teman-teman anaknya. Ada sensasi luar biasa yang dia rasakan.

“Tante gila ih!! Gimana kalau ada orang lain yang melihat??” seru teman-teman Tedi.

“Huuu… kalian ini. Tadinya nantangin tante, kok sekarang malah protes sih?”

“Gak protes kok tante… kita suka malah, bikin tambah ngaceng. Cuma gak nyangka aja, hehe”

“Dasar kalian mesum!! Iya… kan biar makin sewot tuh ibu-ibu, hihihi… Gimana? Puas?”

“Puas tante… tapi si otong kayaknya belum puas nih, hehe” kata Jaka mengelus celana depannya sambil menatap tubuh Youra yang masih bertelanjang bulat.

“Porno!! Coli lagi gih sana…” jawab Youra senyum-senyum manja sambil melempar dasternya tadi ke arah Jaka. Jaka langsung memperhatikan daster itu, sobekannya sangat parah. Dia yakin ini bukan daster murahan dilihat dari bahannya yang halus dan lembut. Tapi ibu temannya ini mau saja merelakannya demi memuaskan fantasi mereka.

“Yaah… coli mulu… pelit”

“Biarin..!!”

“Tapi kasihan juga tuh tukang sayurnya, dia pasti makin horni sekarang pengen menyetubuhiin tante. Kasih aja tante… siapa tahu nanti tante bakal hamil lagi, hamil anaknya tukang sayur, hehehe” ujar Jaka kurang ajar.

“Huuuu… dasar kalian ini pikirannya nakal, masa tante cantik-cantik gini dihamili tukang sayur sih?” balas Youra cekikikan geli.

“Udah ah, tante mau mandi lagi nih… habis itu masak makan siang. Kalian di sini sampai sore kan nungguin Tedi pulang?”

“I..iya tante..”

“Kalau gitu tolong jagain anak-anak tante dulu ya… pokoknya nanti tante buatin makan siang yang enak deh buat kalian. Mau tante buatin pecel ayam? Mumpung sayurannya banyak nih buat lalapan…”

“Bo..boleh tante… makasih” jawab mereka serempak, Youra hanya tersenyum manis. Dia lalu pergi ke kamar mandi. Baru beberapa langkah dia kembali berbalik badan mengambil isi bungkusan belanjaannya.

“Ups, kelupaan,” katanya dengan gaya nakal mengambil terong, timun, pare dan jagung masing-masing satu buah di depan teman-teman Tedi.

Tentu saja mereka langsung berpikir yang tidak-tidak. Untuk apa membawa sayur-sayur itu ke dalam kamar mandi? Tapi mereka tidak menanyakannya secara langsung. Karena sepertinya mereka tahu apa yang akan ibu temannya itu lakukan dengan sayur-sayuran itu.

Youra sendiri hanya senyum-senyum saja melihat mereka, seakan membenarkan apa yang sedang ada di dalam pikiran mereka saat ini. Seakan ingin memberitahu mereka kalau dirinya memang ingin bersenang-senang di dalam kamar mandi dengan sayuran itu. Youra memang sudah sangat terangsang saat ini, apalagi setelah aksinya barusan.

Yourapun segera masuk ke kamar mandi, tidak sabaran ingin menuntaskan nafsunya yang tanggung tadi.

“Sekarang kalian tolong bantu puasin aku ya… papa anak-anak lagi gak ada, si Norman juga gak mau bantuin mamanya, jahat banget kan mereka biarin aku sendiri? makanya kalian temani aku ya…” kata Youra mengajak bicara sayuran yang sudah dia susun berurutan dengan rapi di atas bak mandi.

Mulai dari yang paling halus teksturnya yaitu terong, lalu timun, pare hingga jagung yang memiliki tekstur paling unik. Tentunya sayur-sayuran pilihan Youra ini sudah dia pilah dulu. Tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil, yang dia kira-kira bakal pas di dalam serambi lempitnya.

“Mulai dari kamu ya sayang… mau kan masuk ke sana? mau dong yah… hihihi” ucapnya sambil mengecup manja batang terong. Lalu mengarahkannya ke serambi lempitnya.

Maka dimulailah aktifitas masturbasi Youra di dalam kamar mandi. Dia gunakan sayur-sayur itu bergantian untuk mengganjal serambi lempitnya yang sedari tadi sudah gatal untuk dimasuki. Rintihan kenikmatannya tidak sanggup dia tahan hingga sampai terdengar oleh anak-anaknya dan juga teman-teman Tedi yang ada di luar.

Terang saja teman-teman Tedi makin mupeng. Tidak diragukan lagi kalau tante Youra sedang bermasturbasi-ria sekarang. Bahkan terhadap sayuran seperti terong dan teman-temannya saja mereka iri. Mereka kalah beruntung dengan sayuran itu karena sayuran saja sudah bisa menikmati serambi lempit ibu temannya yang cantik dan seksi ini.

“Ssssshhh… aaahhhhh…. Pelan-pelan dong nyodoknya…” racaunya. Dia sampai menungging-nungging dan kejang-kejang kenikmatan di atas lantai kamar mandi. Berkali-kali Youra mendapatkan orgasme karena ulah sayur-sayur yang disodok-sodok ke rahimnya oleh tangannya sendiri.

“Nghh… Udah dapat bagian masing-masing kan kaliannya?” katanya ngos-ngosan sambil meletakkan kembali si jagung berjejer dengan teman-temannya yang lain.

“Apa? masih kurang? Masih mau lagi? belum puas yah? Gak usah yah…”

“Ih… kok kalian maksa sih? beraninya keroyokan… huuuu”

“Ya udah… sekali lagi ya… dasar kalian nakal-nakal, hihihi”

Youra bicara dan tertawa sendiri, seakan sayuran itu punya pikiran dan bisa ngomong. Tentunya bukan karena Youra gila, dia merasa lucu saja dengan perbuatannya itu, mengecup-ngecup dan mengajak bercanda sayuran bagaikan mereka adalah makhluk yang menggemaskan.

Diapun melakukannya sekali lagi. Youra bener-benar terpuaskan, tubuhnya sangat lemas karena berkali-kali orgasme.

“Fiuh… makasih yah sayang-sayang… untung ada kalian,” ucap Youra sambil mengecup kembali sayur-sayuran itu. Bedanya, baik terong, timun, pare hingga jagung kini sudah berlumuran cairan serambi lempitnya. Barulah setelah itu Youra benar-benar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Letih yang dia rasakan lebih disebabkan oleh aksi masturbasinya barusan, bukan karena beres-beres rumah tadi.

Teman-teman Tedi yang dibikin horni akhirnya juga memutuskan untuk coli di kamar mandi, tentunya setelah Youra selesai mandi. Ahh… seandainya tadi bisa coli barengan dengan tante Youra, gumam mereka.

***

“Makan yang banyak ya… kalau kalian pengen nambah boleh kok…”

“Kayaknya enak banget, duh… pengen deh tinggal di sini terus, hehe” ujar Jaka.

“Ngmmhh… iya bro… masakan tante Youra emang enak banget…” sahut Riko dan Romi setuju sambil mulai menyantap makan siang yang sudah disediakan Youra. Youra sendiri juga sedang sibuk menyuapi anak-anaknya.

“Kalian ini bisa aja mujinya… Tante gitu lho… Ya iyalah enak… kan sayurnya udah bercampur cairan tante… ups..!!

Bersambung… “Kalian ini bisa aja mujinya… Tante gitu lho… hihihi, kan sayurnya udah bercampur cairan tante… ups..!”

“Hah….????”

Mereka yang terkejut dengan apa yang dikatakan Youra tetap saja melanjutkan makan mereka. Justru tambah semangat bersantap siang, meski mereka sendiri tidak tahu benar apa tidak yang dikatakan Youra, kalau sayur-sayuran itu sudah bercampur cairan serambi lempitnya. Youra juga hanya senyum-senyum sendiri membiarkan mereka berandai-andai.

Tidak ada kejadian mesum lainnya setelah makan siang itu. Mereka terus ada di sana sampai Tedi pulang. Setelah beberapa saat ngobrol dan bermain. Barulah ketiga remaja itu pamit. Tentunya dengan niat akan segera kembali lagi. Mereka tidak akan pernah bosan untuk sering-sering main ke sana.

Benar saja, hanya dua hari kemudian, Riko, Romi dan Jaka kembali datang main ke rumah Youra. Katanya sih mau bikin PR bareng Tedi, tapi Youra yakin kalau tujuan utama mereka datang ke sini untuk ngacengin dia saja. Bikin PR sih nomor dua.

Tentu saja, siapa sih yang tidak mau menghabiskan waktu berlama-lama di rumahnya Youra? Udah mama temannya itu sangat ramah, baik, cantik dan seksi pula. Tiap main ke sana perut mereka pasti selalu kekenyangan disuguhi makanan oleh Youra. Mata mereka juga selalu dimanjakan oleh penampilan Youra yang selalu berpakaian minim, bahkan kadang bertelanjang bulat.

“Udah selesai belum bikin Pe-Er nya? Udah malam lho… masak dari sore sampai malam gini belum selesai-selesai juga sih?” tanya Youra sambil menyusui si bungsu.

“Eh, i..iya… bentar lagi selesai kok tante… iya kan Ted?”

“Iya Ma… ini bentar lagi selesai” jawab Tedi.

Cerita Dewasa Ngentot - Air Susu Ibu (Youra)
“Oohh… ya sudah. Bikin yang bener… jangan asik bergurau terus”

“I..iya tante…” jawab mereka serempak. Mereka memang sengaja berlama-lama, rugi kalau cepat-cepat selesai dan pulang dari sini.

“Tok tok tok” tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu depan. Awalnya Youra mengira kalau itu Norman, tapi setelah pintu dibuka ternyata tidak. Ada pak RT dan empat orang lainnya di depan pintu. Salah satunya dia kenali sebagai pak Rahmat, anggota dewan suami dari ibu-ibu tetangga yang dibikin kesal oleh Youra beberapa hari yang lalu.

Youra tidak tahu kalau aksi bugi di jalannya berbuntut panjang. Ibu tetangga itu tidak terima dan memprovokasi suaminya untuk bertindak. Tentu dengan ancaman akan membeberkan ulah suaminya ke media supaya suaminya itu menurut.

“Malam non Youra…” sapa pak RT.

“Malam pak, ada apa ya?” balas Youra. Dia menemui mereka dengan pakaian yang minim seperti biasa. Membuat mereka mupeng dan tidak jadi to the point menyampaikan maksud kedatangan mereka ke mari.

“Eh… anu.. itu…” gagap pak RT tidak tahu bagaimana mengatakannya. Si anggota dewan malah langsung nyosor menciumi Youra. Yang lain jadi saling berpandang-pandangan. Mencoba mengingatkan pak Rahmat sambil mencolek-colek.

“Pak… Gimana dengan tujuan kita?” bisik mereka.

“Haduh… habis ini saja, kita garap dulu ni lonte… mubazir amat, daging segar di depan mata,” bisik pak Rahmat.

“Tapi pak…”

“Daaaah… nurut aja lo semua, muna banget lo? Ga ngaceng apa? kalau kita to the point bisa jadi gak ada kesempatan lagi make ni lonte!” Akhirnya mereka nurut saja. Memang di antara mereka pak Rahmat lah yang paling berkuasa. Sehingga mereka segan bila tidak mematuhi keinginannya.

“Ada apa sih Pak bisik-bisik? Ada yang salah ya?” tanya Youra heran.

“Hehe, gak ada kok sayang… boleh kita masuk?” pinta pak Rahmat.

“Boleh… silahkan bapak-bapak…” ujar Youra. Baru saja mereka masuk, mereka langsung nyosor beramai-ramai menciumi Youra di depan teman-teman Tedi dan anak-anaknya. Mereka lalu bergegas menyeret Youra ke dalam kamarnya lalu menutup pintu.

Youra tidak dapat berbuat banyak karena langsung dikeroyok para pejabat bejat ini. Dientotin tiba-tiba seenaknya tanpa ngomong terlebih dahulu, padahal tadi si kecil Bobi belum selesai menyusu, terpaksa anaknya itu ditinggalkan begitu saja di atas sofa.

Meskipun begitu, Youra tetap melayani mereka sepenuh hati. Youra digilir oleh mereka berlima. Namun tidak sampai satu jam kelima pejabat itu sudah K.O. semua. Satu orang paling lama hanya bertahan 10 menit. Pak Rahmat malah cuma 3 menit, udah badannya paling gede, paling bernafsu, tapi burungnya paling kecil dan yang paling cepat ngecrot pula, gumam Youra dalam hati ingin tertawa.

Merekapun kembali ke ruang tamu setelah selesai mengosongkan isi kantong zakar mereka. Saat disuguhi air putih dingin oleh Youra, barulah dengan kurang ajarnya mereka mengutarakan maksud, bahwa para ibu-ibu komplek tidak nyaman dengan adanya Youra. Mereka meminta Youra pindah dari situ.

“Lho? Kok gitu sh pak…!??” Youra jelas tidak terima, dia membela diri. Dia yakin tidak melanggar hukum. Itu rumah miliknya secara sah. Youra juga warga sah di daerah itu.

“Bukannya pak RT yang membuatkan saya semua surat-surat penduduk yang diperlukan, serta menjamin keberadaan saya aman di sini?” kata Youra mengingatkan pak RT.

Pak RT diam saja tidak berani memandang wajah Youra, begitupun yang lainnya. Semua kena damprat Youra karena semua yang ada di sana pernah Youra layani dengan cuma-cuma.

“Benar kan pak? Jadi salahnya dimana?”

“Ya.. ya… itu non… Ibu-ibu banyak yang protes,” ungkap pak RT.

“Memangnya ibu-ibu mana sih pak yang melapor?” tanya Youra lagi. Youra yakin ibu-ibu yang dimaksud tidak mewakili semua. Karena komplek ini memang komplek yang cukup mewah yang hampir semua penduduknya hedonis dan tidak peduli satu sama lain. Tedi dan teman-temannya yang dari tadi diam-diam menguping ikut merasa tegang dengan suasana pelik ini.

Youra bersikukuh bahwa dia tidak melanggar apapun. Dia tidak mau tahu. Semua orang itu akhirnya tidak bisa membantah Youra dan bingung harus berbuat apa. Karena mereka dulu berjanji akan melindungi Youra setelah dibayar dengan tubuhnya. Akhirnya merekapun hanya bisa mengalah dan pasrah, mereka berjanji akan tetap menjamin keberadaan Youra untuk seterusnya di sini.

“Ya sudah non… maaf mengganggu. Kami yang salah…” ujar mereka hanya bisa meminta maaf pada akhirnya. Mereka lalu berpamitan.

“Bentar pak… biaya servisnya??” tahan Youra menagih biaya servisnya saat mereka hendak pulang. Youra memang beberapa kali menggratiskan servisnya untuk mereka, tapi tidak untuk selamanya. Youra juga punya gengsi, apalagi setelah kejadian barusan.

Makin malulah mereka yang ternyata kebingungan karena tidak menyiapkan uang. Mereka saling menyalahkan karena memang tidak berencana memakai Youra. Itupun setelahnya mereka beranggapan bakal dapat gratisan lagi karena mengira Youra butuh pertolongan mereka untuk tetap bisa tinggal di komplek itu. Namun asumsi mereka keliru, dan betapa malunya ketika uang yang mereka bawa tidak cukup.

“A..anu… bo..boleh ngutang kan Youra, hehe…” mohon pak Rahmat dan yang lainnya.

“Huh, ya sudah, boleh deh… Pejabat kok ngutang sih? Giliran setor peju tunai…” ujar Youra dengan nada mengejek, yang membuat mereka semakin malu dan garuk-garuk kepala. Akhirnya merekapun pulang dengan malu.

Youra memang merasa lega karena merasa menang, tapi tetap saja itu mengganggu pikirannya. Setelah Youra menutup pintu dan terduduk di sofa, Tedi sebagai anak laki-laki tertua menghampiri Youra. Tedi mencoba mendiskusikan apa yang baru saja terjadi dan beberapa kemungkinan buruk lainnya. Teman-teman Tedi ikutan nimbrung, tapi cuma jadi pendengar setia.

“Gak apa kok sayang… udah… kamu gak usah khawatir…” ujar Youra menenangkan Tedi. Meyakinkan putra sulungnya itu bahwa semua akan baik-baik saja.

“Mama malam ini jangan terima tamu dulu deh…” Saran Tedi. Youra mengangguk.

“Iya… ini mama cancel 2 tamu yang rencananya mau datang malam ini… Udah gih sana lanjutin bikin PR kalian”

***

Hari semakin malam, anak-anak Youra selain Tedi sudah mulai tidur. Norman sendiri tampaknya tidak akan pulang malam ini.

Gara-gara kejadian tadi, teman-teman Tedi mulai menanyakan beberapa hal lagi pada Youra. Terutama mereka penasaran bagaimana awalnya Youra bisa tinggal di komplek ini dan memperoleh surat-surat penduduk yang sah.

“Aduh… kalian ini minta didongengin lagi ya? Udah selesai belom PR-nya?” tanya Youra.

“Udah kok tante…”

“Terus apa gak mau pulang? Ntar kemalaman lho… atau mau nginap lagi di sini?” tanya Youra lagi.

“Gak boleh ya tante?”

“Tante sih gak papa, tapi gimana orangtua kalian?”

“Gak apa kok tante, udah biasa kalau aku” jawab Jaka.

“Kalau aku tadi udah bilang mau nginap di rumah teman tante” kata Riko.

“Aku juga…” ikut Romi.

“Hahaha… iya deh iya… Dasar, kalian emang udah niat pengen nginap di sini lagi ternyata” kata Youra sambil tertawa renyah. “Sana, ganti dulu bajunya, masa dari tadi pake seragam sekolah terus, ntar kotor… Besok kalian sekolah kan? Ted, pinjamin mereka baju kamu ya sayang” suruh Youra pada anak sulungnya.

“Iya ma…”

“Terus habis itu kalian tidur ya… kalau kemalaman ntar malah ngantuk besok pagi,” suruh Youra kemudian.

“Yaahhh… ceritain dulu dong tante yang tadi…” pinta Romi.

“Cerita apaan sih?”

“Itu… gimana awalnya tante bisa tinggal di sini, ngurusin surat-surat, awal ngelonte di sini, hehehe” terang Romi mengingatkan.

“Ampun deh kalian ini, kalian ini mau tahu aja? atau mau tahu banget sih?”

“Ya penasaran aja tante… Pokoknya kami gak mau tidur sebelum tante cerita,” pinta mereka ngotot.

“Hah? Dasar… kok ngotot gitu sih? Ya sudah tante cerita, tapi habis itu kalian harus segera tidur ya? Besok kalian sekolah” kata Youra akhirnya setuju.

“Ceritanya di kamar kami aja tante… sambil pengantar tidur” pinta Jaka.

“Nah lho… kok di kamar sih? Hayo mau ngapain? Pasti pengen cari-cari kesempatan, ya kan?” tebak Youra sambil senyum-senyum manis menggoda para remaja itu.

“Ng..nggak ngapa-ngapain kok tante, cuma pengen dengar cerita tante aja kok…” jawab mereka tergagap. Mereka jadi salah tingkah. Memang benar tebakan Youra, selain penasaran dengan cerita ibu teman mereka ini, mereka juga ingin coba-coba cari kesempatan, siapa tahu dapat.

“Iya deh iya… Yuk deh, tapi ganti baju dulu sana, baru tante bakal kasih dongeng sebelum tidur buat kalian,” ucap Youra sambil tersenyum. Senyum yang amat sangat manis. Senyum yang juga membuat rudal mereka tegang bukan main di balik celana.

Mereka yang tidak sabaran langsung masuk ke kamar Tedi, berganti baju lalu menunggu Youra. Namun Tedi sendiri tidak tidur di sana, dia memilih tidur di kamar lain bersama adek-adeknya. Tidak nyaman juga rasanya mendengar ibunya bercerita.

Saat Youra masuk, mama temannya ini langsung merangkak ke tengah tempat tidur, lalu duduk bersandar. Dia senyum-senyum manis lagi pada mereka bertiga, tentu saja membuat mereka jadi tambah mupeng. Ooh… inikah sensasi saat ada wanita cantik menunggu di ranjang? gumam mereka dalam hati.

“Sini… katanya mau bobok…??” panggil Youra sambil menepuk-nepuk ranjang sebagai isyarat agar mereka bertiga segera ikutan naik. Tentu saja mereka langsung nurut. Ibu muda cantik itu kini dikelilingi oleh ketiga teman anaknya. Youra sendiri cuma memakai sehelai piyama tanpa ada apa-apa lagi di baliknya.

Teman-teman Tedi begitu senang, jantung mereka berdetak cepat, rudal mereka ngaceng pol. Kapan lagi kan bisa tiduran seranjang dengan Youra, ibu teman mereka yang super cantik dan hot ini. Tapi tentunya mereka tidak berpikir untuk berbuat macam-macam dulu saat ini, bisa-bisa mereka malah kena usir.

“Jadi gimana ceritanya tante?” tanya Jaka mulai mengambil posisi tidur, begitupun dua temannya. Youra lalu mulai bercerita layaknya cerita pengantar tidur.

Waktu itu dia membeli rumah di situ karena memang berharap penduduk sekitar yang hedonis dan cuek tidak akan mempermasalahkan keberadaannya. Saat dia mulai menempati rumah itu, ia tidak langsung mengurus surat-surat, tapi sudah mulai melonte.

“Sama siapa tante pertama? Pak RT?” tanya Jaka menyela.

“Bukaaan… tante gak ingat siapa orangnya, tante cuma ingat kalau waktu itu dia muncratnya di dalam, hehe…” jawab Youra nakal sambil memeletkan lidah. Duh, baru mendengar itu saja mereka sudah mupeng.

“Tante baru ngurus KTP sama pak RT setelah 3 minggu di sini…” sambungnya lagi.

“Ooh… dia langsung menyetubuhiin tante di depan anak-anak tante nggak?” kata Jaka lagi-lagi menyela.

“Ya nggak langsung gitu juga kali…. Ih, kamu ini. Kan tante yang datang ke tempatnya pak RT, bukan dia yang datang ke rumah tante”

“Ohhh… gitu”

Yourapun melanjutkan ceritanya lagi. Waktu itu dia ditanyai pak RT tentang keluarganya, pekerjaan, jumlah anak, dan yang lainnya.

“Mmm maaf… non Youra pekerjaannya apa ya…?” Tanya pak RT ketika itu ragu-ragu.

“Wiraswasta pak…”

“Ooh… mmm wiraswastanya apa ya…?”

“Kenapa memangnya pak?”

“Ng… nggak… soalnya bapak lihat… mm… Oh ya, suami non yang mana ya?”

“Yang mana?” Youra mulai kegelian dengan tingkah pak RT yang malu-malu. Dia bisa menebak arah pertanyaan pak RT.

“Ya, yang mana? Soalnya saya lihat banyak laki-laki yang…”

“Mmm, iya, semua bukan suami saya pak, saya ga punya suami”

“Oooh… mm.. jadi…”

“Saya lonte pak…” jawab Youra santai. Pak RT langsung memerah mukanya mendengar jawaban Youra yang terus terang. Youra tertawa kecil melihatnya. Pak RT makin memerah, dia menengok kanan kiri memastikan ruangannya benar-benar sepi.

“Ja..jadi… untuk pekerjaannyaa…?” tanya pak RT setelah menengok kanan kiri memastikan ruangan benar-benar sepi.

“Ya, tulis saja di situ ‘lonte’ kalau memang bisa…?” Jawab Youra geli menekankan kata lonte. Yang dimaksud adalah kolom pekerjaan di KTP.

“Aduuh… jangan bu, eh, non… mm saya tulis wiraswasta aja yah…?”

“Lha iya kan dari tadi saya sudah bilang itu pak…” Jawab Youra cekikikan geli. Pak RT hanya nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia benar-benar terlihat bingung dan salah tingkah bagaimana harus bereaksi. Akhirnya dia memilih untuk menganggapnya biasa saja. Setelah semua urusan selesai, Yourapun berpamitan ingin pulang.

“A..anu non… tadi serius?” tanyanya malu-malu.

“Apanya pak?”

“I..itu… soal lonte…”

“Ya serius dong pak, masa saya bercanda soal begituan…”

“Oh… ya..ya sudah… mmm…. Baik”

“Mari pak…”

“Ma..mari… eeh, anu non… sebentar”

“Ada apa lagi pak?”

“Mmm… a..anu.. be..berapa yah non?” tanya pak RT. Youra tertawa lepas yang membuat pak RT makin merah padam mukanya.

“Kalau bapak mau silahkan datang aja malam ini… Bisa? Soal tarif nanti saja lah, masa diobrolin di sini, hihihi… Jangan khawatir pak… saya lagi promo kok… nanti diskon super spesial deh buat bapak…” jawab Youra.

“Nah… akhirnya malamnya tante dientotin pak RT deh,” ujar Youra pada teman-teman Tedi.

“Di depan anak-anak tante?” tanya Jaka lagi.

“Iya… seperti yang kamu bilang, tante dientotin di depan anak-anak tante, hihihi.. puas? Kok kayaknya kamu suka banget sih kalau dengar tante dientotin di depan anak-anak tante? Ngebayangin ya? Dasar!” tanya Youra geli ke Jaka.

“Eh, ng..nggak kok tante… terus tante?”

“Ya… malam itu tante melayani pak RT dengan gratis, tentu dengan deal-deal tertentu. Terutama soal jaminan keamanan dan keberadaan tante di sini. Tapi karena tante masih butuh ngurus surat-surat lainnya, jadi tidak hanya dengan pak RT saja”

“Orang-orang yang tadi ya tante?” tanya Romi.

“Benar… Orang kelurahan, anggota dewan, dan orang-orang terkait lainnya. Semuanya harus tante layani sampai posisi tante di komplek ini benar-benar terjamin. Iya Jaka…. Mereka juga menyetubuhiin tante di depan anak-anak tante kok… rame-rame pula, tuh silahkan kamu bayangin…” ujar Youra cekikikan berkata lebih dulu sebelum Jaka bertanya. Membuat Jaka jadi cengengesan garuk-garuk kepala dibuatnya.

“Makanya tadi tante tidak terima waktu mereka tiba-tiba datang nyuruh tante pergi dari sini. Kalian setuju kan sama tante?” lanjut Youra bertanya pada teman-teman Tedi.

“Iya tante… udah dikasih gratis padahal” ucap Riko mengiyakan.

“Duh… tapi enak banget yah bisa menyetubuhiin tante gratis, hehe…” kata Jaka.

“Hayo… horni ya?” tanya Youra menggoda. Selama bercerita tadi tangan mereka memang sudah masuk ke dalam balik celana. Mungkin bukan hanya karena cerita Youra saja, tapi juga karena keberadaan Youra yang bersama-sama dengan mereka di atas tempat tidur.

Sebelumnya mana pernah mereka dekat-dekat dengan wanita cantik, di atas tempat tidur pula. Suara Youra, ekspresi dan gaya berceritanya, serta aroma tubuhnya yang wangi, semuanya itu membuat mereka sangat konak. Peju mereka sudah terkumpul dan butuh segera untuk dikeluarkan.

“I..iya tante… horni, hehe…”

“Horni horni…. Kalian kan yang nagih cerita porno? Mulai mesum lagi tuh kan kaliannya? Tante ini mama teman kalian juga tau, masak horni sih? gak sopan namanya…” ujar Youra cekikikan, mereka juga cengengesan.

“Tante, kenapa sih tante jadi lonte?” tanya Romi dengan lugu, membuat Youra tertawa lagi mendengar pertanyaan itu.

“Kamu ini… ya karna tante suka banget dientot dong…” jawab Youra binal. “Udah ah… tidur sana… Tante banyak pikiran nih…”

“Yaah tante, jam 11 malam kok baru…”

“Jam 11 malam kok baru, kalian besok sekolah tau! Awas lho kalo kalian jadi pengaruh buruk buat Tedi anak tante… Ga bakal tante bolehin main ke sini lagi!” ancam Youra serius tapi tetap dengan senyum manisnya.

“Hooaammm…” Youra menguap. “Tuh, kan… malah tante yang ngantuk… kalian sih…” kata Youra yang sudah kewalahan menyuruh mereka tidur.

“Hehehe, tante tidur sini aja sama kita-kita… kita kelonin deh…” ajak Riko untung-untungan.

“Huuh… dasar kalian nakal banget sih? Enak aja… ayo tidur ah sana, udahan ya…”

“Yaah janjinya kan cerita sampai kita tidur tante…” kata Jaka menahan.

“Iyaa, tapi kaliannya ngelunjak gak tidur-tidur…” cubit Youra gemas pada Jaka.

“Kalau gitu cerita lagi dong tante, hehe”

“Cerita apa lagi sih?”

“Itu… Kenapa tante jadi lonte…?”

“Udah ya sayang… tante udah ngantuk… bersambung besok aja ceritanya…. Dasar kalian bandel, jelek!” sungut Youra mulai kesal yang akhirnya membuat mereka diam. Namun Youra tidak langsung beranjak dari situ. Dia memutuskan untuk tidur-tiduran sebentar. Sifat binalnyapun kembali datang. Dia menginginkan aksi nakal. Dia penasaran juga bagaimana rasanya tidur dikelilingi para remaja tanggung ini. Apa dirinya akan dicabuli beramai-ramai yah? pikirnya nakal.

Akhirnya Youra pura-pura ketiduran di situ. Dia coba memejamkan matanya yang memang juga sudah ngantuk. Walau demikian, dia tidak ingin benar-benar tidur.

Mengira Youra sudah ketiduran, mereka bertiga jadi berbisik-bisik.

“Wah bro, tante Youra ketiduran, gimana nih?” tanya Jaka.

“Ya gimana emang? Emang lo berani macam-macam?” jawab Romi.

“Bener tuh… ntar kalau dia kebangun, marah, terus kita diusir dan gak boleh main ke sini lagi gimana coba? Gue gak mau,” sambung Riko.

Mereka betul-betul galau. Penasaran dengan tubuh wanita didekatnya tapi juga tidak berani untuk berbuat macam-macam meskipun sedari tadi batang mereka sudah sangat tersiksa butuh pelampiasan. Sedangkan Youra yang masih terjaga berusaha menahan tawa mendengar bisik-bisik mereka. Dia menanti dengan deg-degan dengan apa yang akan dilakukan teman-teman Tedi padanya.

“Ahh… gak tahan gue..!” kata Jaka sambil menurunkan celana berserta celana kolornya.

“Gila lu! Mau ngapain lu?” seru kedua temannya kaget.

“Cuma pengen ngocok doang…”

“Gila, tetap aja kan? Lu mau kena usir? Tapi gue juga udah gak taha sih…”

Begitulah, mereka terus saling berdebat apa yang mesti dilakukan. Mereka takut, tapi siksaan birahi pada rudal mereka sangat kuat. Hingga akhirnya setan mesumlah yang menang. Mereka semua akhirnya nekat menurunkan celana berserta kolornya, lalu ngocok bareng-bareng di sana, di dekat ibu teman mereka yang mereka pikir tengah tidur.

Meskipun perbuatan mereka sangat kurang ajar, Youra sendiri tidak marah. Dia paham kenapa mereka sampai berbuat begitu. Lagian salahnya juga sampai mereka berbuat cabul seperti itu padanya. “Duh… kalian ini, horninya sampai segitunya amat,” gumam Youra dalam hati.

“Apa ku bantu ngocokin mereka saja ya?” Pikirnya semakin nakal. Tapi dia putuskan untuk terus menunggu apa yang akan mereka perbuat selanjutnya.

“Aaahh… tante…” Mereka semakin bernafsu mengocok rudal mereka masing-masing sambil sesekali menyebut-nyebut tante Youra. Mata mereka menatapi tubuh Youra yang terbaring di depan mereka. Wajahnya, tonjolan payudaranya, pinggulnya, juga kaki Youra mereka telanjangi dengan mata-mata nakal mereka.

Setiap inci bagian tubuh Youra sungguh membuat mereka bernafsu walaupun masih mengenakan piyama. Sampai saat ini mereka masih tidak berbuat lebih jauh dari itu, namun malah itulah yang membuat Youra sedikit kecewa.

Dia ingin mereka sedikit menaikkan level perbuatan cabul mereka terhadapnya, tapi tak kunjung jua dia dapatkan. Tampaknya mereka masih terlalu sopan untuk tidak menggerepe-gerepe badan ibu teman mereka sendiri secara diam-diam, bahkan berkata-kata kotorpun tidak.

“Apa aku harus pura-pura bangun saja? Lalu membantu mereka onani?” pikir Youra. Sekarang malah Youralah yang galau karena menginginkan aksi mesum.

Youra lalu menggeliat sambil menguap pura-pura terbangun. Terang saja teman-teman Tedi kaget bukan main. Mereka tertangkap basah, mereka tidak sempat menaikkan celana mereka. Yang sempat menaikkan celanapun sudah keduluan kelihatan oleh Youra apa yang dia tadi lakukan.

“Kalian ngapain??” tanya Youra pura-pura terkejut.

“A…anu tante, ki..kita…” mereka tergagap tidak tahu harus berkata apa. rudal mereka jadi layu. Mereka takut Youra memarahi dan mengusir mereka. Tapi tentu saja Youra tidak akan melakukannya, dia malah menahan tawa karena melihat wajah pucat dan ekspresi mereka yang salah tingkah.

“Kalian coli ya? Ya ampun… segitunya banget sih? Makanya… siapa suruh dengar dongeng sebelum tidur, hihihi” kata Youra kemudian mencairkan suasana.

“Ta..tante nggak marah?”

“Yaah… kesal juga sih, masa kalian tega cabuli ibu teman sendiri, kalau ketahuan sama Tedi gimana coba?” jawab Youra, padahal dia memang berharap sebuah aksi cabul dari mereka.

“Ma..maaf tante…”

“Iya tante… kita minta maaf”

“Ya udah… gak apa, tante paham kok… Kalian pasti sudah menahan horni dari tadi, jadi kali ini tante bolehin deh kalau kalian emang masih pengen lanjut”

Bagai disambar geledek, mereka tidak menyangka tante Youra akan berkata demikian. Mereka mengira tadinya akan dimarahi habis-habisan oleh tante Youra. Namun apa yang mereka dengar barusan sungguh membuat rudal mereka ngaceng kembali dengan maksimal.

“Kok bengong? Udah gak nafsu lagi? Ya udah tante balik ke kamar tante…” kata Youra pura-pura akan pergi.

“Jangan…!” larang mereka serempak.

“Hihihi… Ya udah buruan, tante beneran udah ngantuk tau”

“I..iya tante…”

Ahhh… mimpi apa mereka semalam, akhirnya dibolehin beronani-ria di depan mama teman mereka yang super cantik dan seksi ini. Segera mereka bertiga ngelanjutin lagi acara mengocok yang sempat terhenti, tentunya dengan lebih bernafsu. Sensasinya sungguh berbeda dari yang tadi sewaktu tante Youra tertidur.

Kali ini Youra sadar dan menatap mereka langsung! Pandangan mata tante Youra menemani setiap ayunan tangan mereka pada rudal mereka sendiri. Sungguh nikmat luar biasa!

Youra sendiri juga merasakan sensasi yang luar biasa. Menyediakan dirinya sebagai objek onani teman-teman anaknya sendiri, melihat bagaimana para remaja ini berusaha meraih kenikmatan dengan mengocok rudal mereka sambil menatap lekat-lekat dirinya.

“Ntar kalau udah mau keluar, buruan lari ke kamar mandi ya…” suruh Youra ditengah-tengah keasikan mereka.

“I..iya tante… Gak boleh muncrat di sini ya? Ntar belepotan ya?” tanya mereka balik.

“Iya, masa muncrat di sini sih? Belepotan dong kasur Tedi kena sperma-sperma kalian. Tante ntar yang susah ngebersihinnya…”

“Kalau gitu muncrat ke badan tante aja…” kata Jaka kurang ajar, namun Youra bukannya marah, malah tertawa geli menanggapinya.

“Hihihi, apaan sih porno banget… Kebanyakan nonton bokep nih kamunya… dasar! Udah cepetan…” suruh Youra lagi. Mereka bertiga tertawa, memang mereka berharap bisa melakukan persis yang ada di film-film bokep pada ibu temannya ini.

“Hehe… Anu, tante… kalau boleh itu…”

“Itu apa sih?”

“I…tu… boleh pegang-pegang gak tante?”

“Tuh kan, kalian malah ngelunjak… nggak boleh ya…” tolak Youra halus. Youra sebenarnya tidak keberatan dengan permintaan mereka, tapi dia rasa cukup seperti ini dulu untuk saat ini. Biarlah mereka tetap penasaran, mungkin nanti ada waktu yang lebih pas untuk mewujudkan permintaan mereka itu.

“Ka..kalau gitu, boleh nggak kita lihat tante telanjang lagi?” pinta Romi.

“Hah? Lihat tante telanjang? Mau ngapain? jangan aneh-aneh deh… tante udah ngantuk”

“Nah, karena itu tante… kalau tante telanjang kan kita makin nafsu, jadi bisa lebih cepat keluarnya… habis itu tidur deh,” jawab Romi.

“Kamu ini, pandai banget cari-cari alasan. Tapi ya udah deh… kali ini aja tante turutin…” setuju Youra akhirnya yang membuat mereka girang bukan main.

Youra mulai melepaskan kancing piyamanya satu persatu. Semua itu bagaikan slow motion bagi mereka. Sungguh membuat mereka tergoda dan semakin horni. Apalagi Youra melakukannya sambil sesekali berhenti lalu senyum-senyum manis menatap mereka.

“Buka lagi?” tanyanya setiap akan membuka satu kancing. Siapa yang gak greget coba? Enak banget Tedi punya mama seperti ini, bisa dijadikan objek onani tiap coli, pikir mereka.

Kini seluruh kancing sudah terlepas, namun baju piyama itu masih menggantung di bahunya, hanya mengekspos kedua buah dada Youra yang putih mulus, urat-urat hijau sampai terlihat karena saking beningnya buah dada itu. Youra sengaja tidak langsung melepaskan bajunya untuk menggoda mereka.

“Lepasin yang benar dong tante…” pinta mereka akhirnya.

“Iya iya… dasar kalian ini banyak maunya” kata Youra akhirnya melepaskan baju itu dari bahunya. Akhirnya dia kini sudah benar-benar topless di hadapan mereka.

“Udah kan? Puas? Tapi cuma bajunya saja ya… cukup kan untuk bahan coli kalian?” ujarnya geli. Seluruh bagian atas tubuh Youra kini terpampang dengan bebas. Semata-mata hanya untuk memanjakan mata-mata nakal para remaja ini. Aaah… pemandangan yang sangat indah, batin teman-teman Tedi.

“Buruan…” seru Youra menyadarkan mereka yang terbengong, “padahal udah berkali-kali ngelihat juga” lanjutnya.

“Eh, i..iya tante…” walaupun sudah berkali-kali, tapi tetap saja ini pemandangan yang tidak akan pernah bikin bosan.

Merekapun lanjut mengocok lagi. Kali ini dengan nafsu yang semakin menggebu-gebu. Jaka yang merasa kurang nyaman dengan posisinya sebelumnya, kini berdiri tepat di depan Youra yang sedang bersimpuh. Hanya berjarak sekitar tiga puluh senti dari dirinya.

Posisinya seperti akan melakukan bukkake saja, sungguh mesum. Gilanya, Riko dan Romi malah mengikuti Jaka. Namun Youra tidak mempermasalahkannya. Jadilah dia kini bersimpuh dikelilingi para remaja tanggung yang sedang mengocok bareng-bareng.

“Ingat ya… kalau mau keluar, cepetan ke kamar mandi. Tante gak mau kalian muncrat sembarangan” kata Youra mengingatkan. Mereka hanya mengangguk. Tidak ingin berkata-kata banyak karena nafsu mereka yang sudah diubun-ubun.

Hingga akhirnya Riko turun dari ranjang dan berlari keluar kamar menuju kamar mandi.

“Ah… aku juga gak kuat” kata Romi ikutan beranjak. Sekarang hanya tinggal Jaka, si nafsunya paling gede dan yang paling ngotot.

“Kamu belum Jaka?” tanya Youra pada Jaka.

“Be..bentar lagi kok tante…” jawab Jaka sambil terus mengocok. Youra hanya balas tersenyum. Jaka memang menunjukkan tanda-tanda akan ejakulasi, namun dia tidak kunjung juga ke kamar mandi, malah tubuhnya semakin dia dekatkan ke arah Youra, rudalnya kini hanya berjarak sekitar lima belas senti dari wajah Youra. Ini anak mau ngapain sih? batin Youra makin deg-degan. Namun dia berusaha tetap tersenyum pada Jaka.

“Ahhh… tante…” erang Jaka makin mempercepat kocokannya. Dada Youra makin berdebar kencang, dia yakin kalau Jaka berniat menumpahkan spermanya ke tubuhnya, tepatnya ke wajahnya.

“Jaka, ingat, kalau mau keluar, keluarin di…”

“Crooooottt….” terlambat, belum selesai Youra bicara, rudal Jaka sudah menembakkan spermanya. Isi buah zakarnya muncrat bertubi-tubi menyemprot wajah cantik ibu temannya ini.

“Jaka… kamu… ngghhh… jangan di muka…” erang Youra berusaha mundur, tapi kini malah badannya yang terkena muncratan sperma Jaka, tepatnya buah dadanya, di tempat anak-anak Youra biasa minum. Youra tidak bisa berbuat banyak, dia pasrah saja tubuhnya akhirnya yang jadi sasaran tembak peju.

Baru kali ini dia merasakan kulitnya diceceri peju muda selain milik Norman anaknya. Tedi saja belum pernah berbuat seperti ini padanya. Kalau Tedi tahu mungkin dia bakalan ngambek.

“Duh.. Jaka, kamu ini… udah tante bilang kan kalau mau keluar cepat ke kamar mandi” kata Youra kemudian saat seluruh sperma Jaka yang tadi ada di kantong zakarnya, kini berpindah tanpa sisa ke tubuh ibu temannya. Wajah cantik Youra, buah dadanya yang sekal, dan beberapa bagian tubuh lainnya berceceran sperma Jaka. bahkan ada yang mengalir turun menuju serambi lempitnya.

“Maaf tante, khilaf…” ujar Jaka lemas. Jaka juga baru kali ini berejakulasi senikmat ini.

“Udah sana… buruan ke kamar mandi. Nanti teman-temanmu malah cemburu kalau mereka tahu kamu ngepejuin tante. Ntar kalau mereka juga minta ngecrot di wajah tante kan repot juga, hihihi” suruh Youra sambil mengelap wajah dan tubuhnya dengan tisu, lalu membasuh sebisanya dengan air yang ada di gelas di atas meja.

“I..iya tante…” Jakapun akhirnya turun dan menyusul teman-temannya ke kamar mandi, tapi dia ke sana hanya untuk mencuci barangnya saja. Untung saja teman-temannya tidak tahu karena ketika Jaka ke kamar mandi Riko dan Romi sudah selesai.

…….

“Makasih tante… tante udah cantik, seksi, baik banget lagi… hehehe” goda mereka saat kembali ngumpul di dalam kamar. Youra sudah mengenakan piyamanya kembali.

“Gombal! Iya… anggap aja itu tanda terima kasih tante karena udah banyak bantu-bantu di sini” jawab Youra dengan senyum manisnya.

“Wah, kalau gitu kita mau dong bantu-bantu terus di sini, iya nggak bro?” ujar Jaka. Youra melolot pada bocah itu. Padahal dia baru saja mendapat lebih dibandingkan teman-temannya, dasar.

“Huuu… maunya! Udah sana tidur. Tante juga mau tidur” kata Youra.

“Tidur di sini aja deh tante…” pinta Jaka. Youra menatap mereka, apa lagi sih yang mereka mau? belum puas apa? Baru coli juga. Tapi Youra pikir tidak ada salahnya kalau cuma tidur bareng, setidaknya menemani mereka sampai tertidur saja. Kan nanti tengah malam dia bisa bangun dan pindah ke kamarnya sendiri, pikir Youra.

“Hmm… iya deh iya… yuk tidur” ajak Youra dengan senyum manis meluluhkan.

“Yeeee….” Sorak mereka kesenangan.

“Hush…! Jangan berisik, ntar anak-anak tante kebangun!”

“I..iya, maaf tante…” jawab teman-teman Tedi senyum-senyum penuh harap.

“Aaaahhh… ini baru akan dimulai” batin mereka bertiga.

“Dasar abg, gak ada puasnya…” batin Youra.

Riko, Romi dan Jaka niatnya ingin mengulangi lagi berbuat mesum pada Youra, tapi ternyata mereka sudah terlalu ngantuk karena kelelahan akibat onani barusan. Akhirnya merekapun tertidur.

“Huh, pas tidur aja tampang mereka polos-polos semua. Kalau sudah bangun mulai lagi pornonya, hihihi” gumam Youra tersenyum melihat mereka. Dia lalu bangkit dari sana untuk pindah tidur di kamarnya.

“Selamat tidur…”

“Klik…” suara kontak lampu dimatikan.

….

“Jadi kenapa tante jadi lonte?” tanya teman-teman Tedi di suatu hari kemudian ketika main lagi ke rumah Youra. Lagi-lagi saat mereka berkunjung, Tedi sedang tidak ada di rumah. Saat itu cuma ada anak-anaknya Youra yang masih kecil-kecil.

“Hihihi, kalian ini… masih ngingat-ngingat aja ya pertanyaannya. Kan sudah tante jawab, karena tante suka menyetubuhi…” jawab Youra.

“Masa gitu aja tante?”

“Hehehe, iya dong… duh kalian belum ngerasain sih ya enaknya menyetubuhi. Duuuhh dijamin bakal ketagihan deh, seperti anak tante tuh si Norman…”

“Tante sih gak mau kasih…” kata Jaka.

“Yeee… maunya”

“Ta..tapi kan kalau suka aja kenapa harus jual diri?” tanya Romi penasaran.

“Maksud lo? Jadi tante harus ngasih gratisan ke semua laki-laki getoh??” ujar Youra balik nanya dengan gaya anak abg.

“Ya nggak sih tante, maksudnya kan bisa pacaran aja gitu…”

“Hmm… Kalian gak pernah nonton film Batman ya? Tuh ada kata-katanya si Joker: ‘if you’re good at something, never do it for free.’ Jadi gak bisa kasih gratisan dong… tante kan ahli begituan, hihihi”

“Hah? Masak gituan aja pake keahlian?” tanya mereka polos, bingung dengan ucapan Youra.

“Hahaha… kelihatan banget tuh kalian lugunya… awam sih kalian tentang seks. Hati-hati lho kalau kalau lugu begini bisa-bisa istri kalian besok kabur sama laki-laki lain lho… hihihi…” tawa Youra menakuti mereka. “Ya jelas lah seks itu butuh keahlian, butuh teknik, skill, dan tante pinter banget di situ.

Tante gak pinter yang lain-lainnya sepinter tante menyetubuhi. Dulu di sekolah nilai tante jeblok terus. Hampir nggak ada pelajaran yang tante kuasai, yang tante pikirin cuma gituan aja sama pacar tante dulu…” terang Youra kemudian.

“Waah, jadi tante dulu sempat sekolah dan pacaran juga?”

“Ya iya lah… cantik cantik gini tante juga sekolah dong…”

“Bukannya tante dulu waktu SMP udah drop out gara-gara hamil?”

“Iya sih…”

“Terus?” Mereka sungguh penasaran.

“Hmm… Kalian pengen tante berdongeng lagi nih ceritanya?” tanya Youra.

“Iya tante… sambil bobok siang aja tante, hehe” pinta mereka mesum berharap dapat mengulangi kejadian waktu itu, bahkan berharap mendapatkan lebih.

“Huh! Maunya, nggak ah, enak aja.. Di sini saja deh… Duduk manis kaliannya kalau pengen dengar,” kata Youra.

Mereka yang memang penasaran dengan cerita-cerita ibu teman mereka ini akhirnya duduk berjejer rapi. Siap mendengarkan kisah hidup tante Youra.

“Hmmm… mulai dari mana ya ceritanya… Oke, dari awal saja” Youra mulai bercerita. Bagaimana semuanya bermula. Bagaimana hidupnya bisa menjadi seperti sekarang ini. Youra mengambil nafas panjang.

“Jadi gini…..”

Bersambung… Namanya Youra Cahya Putri. Nama yang sangat indah. Tapi mungkin jalan hidupnya tak seindah namanya. Kebanyakan orang hanya mengenal Youra sekarang sebagai wanita murahan, lonte doyan menyetubuhi yang demen bikin banyak anak. Mereka tidak tahu apapun yang sudah dialaminya. Bagaimana dia menjalani hidupnya dulu. Bagaimana titik balik kehidupannya sehingga menjadi seperti sekarang ini.

Youra muda hanyalah seorang gadis desa. Gadis belia periang yang ramah dan baik pada semua orang. Dia lahir dan dibesarkan di desa tradisional yang masih mempertahankan aturan-aturan adat, di kaki gunung di wilayah Bogor. Di sanalah Youra dibesarkan dan tumbuh menjadi seorang gadis cantik.

Dengan wajah cantik yang dimilikinya, dia memang selalu membuat pria manapun melirik ke arahnya. Tidak hanya teman-teman sebayanya saja, namun para bujangan dan para pria beristripun banyak yang menggoda, atau sekedar menarik perhatiannya. Namanya juga wanita, Youra tentu senang bila dirayu dan dipuji-puji lelaki. Dia yang waktu itu telah beranjak remaja juga sudah mempunyai ketertarikan pada lawan jenis.

Dari saking banyak pria yang menggodanya, ternyata Surya, si sopir kepala desalah yang akhirnya mendapatkan Youra. Dia bisa mendapatkan Youra setelah gadis ini banyak diiming-imingi dan dirayu mati-matian. Youra yang dibuat jatuh cinta pada pria itu akhirnya memberikan segalanya, termasuk keperawanannya. Sebuah awal yang ternyata sangat mempengaruhi jalan hidupnya.

Ya… Youra jadi ketagihan dengan yang namanya bersenggama. Merekapun berkali-kali berhubungan badan hingga akhirnya Youra diketahui hamil, padahal usianya waktu itu masih 13 tahun! Malangnya Youra, saat pria itu tahu Youra hamil, dia malah kabur tak bertanggung jawab.

Youra kebingungan, dia tidak menyangka akan jadi seperti ini. Bagaimanapun dia sudah hamil, dan dia tidak berniat menggugurkan kandungannya, sama sekali tidak. Hingga akhirnya perutnya semakin membuncit, hal itupun diketahui orang tuanya dan menyebar ke seluruh desa.

*****

“Tante masih 13 tahun waktu itu? Seumuran kita-kita dong…?” Tanya Riko. Romi dan Jaka mengangguk-angguk.

“Lha iya kan, itung aja sendiri, Tedi tuh anak pertama Tante, umurnya sudah hampir 14 tahun… Menurut kalian umur Tante sekarang berapa?” Tanya Youra sambil memasang wajah imut.

“Ng… 18 tahun Tante!” Celetuk Romi.

Youra tertawa geli mendengarnya. “Gombal ih!” ujarnya.

“Iya bener Tante masih kayak belasan lho… masih keliatan muda, kulitnya masih kencang, putih mulus…” timpal Romi.

“Ih, gombal pasti ada maunya… dasar.” Cibir Youra sambil menjawil hidung Romi yang langsung blingsatan dibuatnya. “Tante ini sudah 27 tahun tahu…!” Akhirnya Youra menjawab sendiri pertanyaannya.

“Dua puluh tujuh tahun juga ga ada yang nyangka lho Tante… Kalo pun tahu ga bakal ada yang nyangka Tante sudah punya anak lho… Jaman sekarang di kota banyak perawan tua. Cewek-cewek pada maunya sekolah tinggi-tinggi, udah gitu ngejar karir…” Jaka ikut nimbrung.

“Yee, perawan tua kan pikiran kamu… mungkin perempuan jaman sekarang banyak yang belum nikah umur segini, tapi apa itu berarti belum ngeseks juga? Masih perawan juga? He he he… Belum tentu… Ih jadi anak lugu amat sih…” Youra menanggapi sambil terkekeh.

“Yaaa… Tapi kan ga sampai punya anak Tante, ga kayak Tante…” Jaka membela diri. “Anaknya udah 7 lagi… iih Tante nakal amat sih…!” Riko dan Romi menimpali.

“Cereweet ah kalian… Jaman sekarang aborsi tu marak tahu! Tante nggak mau… Lagian coba kalo Tedi Tante aborsi, pasti kalian juga ga bakal kenal Tante. Ga bakal bisa mesum-mesumin Tante…!”

“He he he… Iyaa Tante… Say no to aborsi ya pokoknya!”

“Iyesss… hidup hamil!”

Mereka tertawa.

“Tapi, omong-omong orang tua Tante gimana tuh pas tahu Tante hamil?”

Youra menghela napas. Sejenak berhenti mengatur napasnya dan meneguk minuman di meja. “Jadi mau kembali ke laptop lagi nih ceritanya…?” Tanyanya. Teman-teman Tedi cuma mengangguk cepat tanpa menjawab. Youra menghembuskan napas lagi dan melanjutkan…

*****

“Dasar lonte! Bikin malu keluarga!” hardik ayahnya. Youra dimarahi dan dicerca habis-habisan oleh orang tuanya, bahkan sampai diusir-usir. Namun dia bisa terus bertahan sampai melahirkan anak pertamanya.

Setelah melahirkan Tedi, karena tak kuat menahan malu dari cibiran tetangga dan kemarahan orangtuanya sendiri yang tidak kunjung mereda, Yourapun memilih kabur ke Jakarta membawa bayinya. Dia pergi tanpa bekal apapun dan tidak jelas pula arah tujuannya.

Hingga akhirnya di sebuah pasar dia bertemu dengan seorang pria yang mulanya baik dan bersimpati ingin membantu Youra. Pria tersebut tentu saja heran melihat seorang gadis semuda Youra sedang menggendong-gendong bayi di tengah pasar.

Tapi sungguh tak disangka, pria itu ternyata malah membawanya ke kios kosong yang ada di bagian pasar yang sepi. Dan di sana sudah menunggu lima pria lainnya yang tidak lain merupakan preman-preman pasar.

“Kok ke sini sih Pak? Kios bapak di sini?” tanya Youra muda dengan lugunya.

“Hehehe… makanya jadi cewek tu jangan goblok! Kena entot deh lu… hahahaha” ujar pria itu disambut tertawaan mesum pria-pria lainnya.

Youra ditarik paksa masuk ke dalam. Youra ditelanjangi, diciumi, dan diraba-raba oleh mereka bersama-sama. Youra sangat takut, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Mereka mengancam akan melukai bayinya bila Youra berteriak dan melawan. Youra terpaksa harus menurut, dia tidak ingin anak yang dicintainya terluka.

*****

“Tante kenapa gak teriak aja??” Ujar Riko tiba-tiba.

Youra terhenyak sebentar. Ditatapnya wajah Riko yang tampak tegang. Youra bisa melihat dari raut mukanya, Riko tampak geregetan dan tidak terima. Seakan-akan kalau kejadian itu terjadi di depan matanya, ia pasti akan menolongnya tanpa ragu.

“Itu kan di pasar, pasti banyak orang yang dengar kalau misalnya Tante teriak…”

Youra tersenyum mendengarnya. Dielusnya rambut Riko. “Waktu itu Tante takut sekali. Mereka juga mengancam akan melukai Tedi…”

“Tapi kaan…”

“Coba deh kalian di posisi Tante… Gini ya, Tante waktu itu masih kalut banget. Stress berat. Tante dihakimi, Tante merasa perbuatan Tante benar-benar salah… hina… Pokoknya Tante waktu itu bener-bener pingin low profile, ga mau ketemu orang, malu…

Kalau Tante teriak misalnya… Katakanlah mereka gak bener-bener melukai Tedi. Tapi pasti Tante bakal dirubung orang, jadi sorotan, jadi perhatian, jadi perbincangan. Semua orang bakal bertanya-tanya, dan Tante harus menjelaskan…Terlalu banyak tekanan untuk itu. Tante gak mau…” Jelas Youra panjang lebar.

“Jadi Tante lebih milih diperkosa??”

“Nggak…!”

“Lalu…?”

“Tante memilih… menikmati…”

Suasana hening sejenak. Pikiran Riko, Romi dan Jaka berkelana. “Mmmemangnya bisa semudah itu Tante…?” Jaka penasaran. Youra tersenyum. “Ya nggak dong… Tapi paling nggak Tante gak ingin disakiti. Tante realistis aja waktu itu. Tante sadar bakal diperkosa, Tante gak mungkin lari apalagi melawan. Kalau melawan Tante pasti disakiti, entah diapain. Jadi, Tante mencoba kooperatif aja… Nurut gitu deh…”

“Nurut gimana tuh…?”

*****

Youra benar-benar dilecehkan di sana. Bahkan mereka dengan bejatnya menyuruh Youra agar memohon untuk disetubuhi supaya dia hamil lagi. Youra juga dipaksa harus selalu tersenyum kesenangan selama dientotin seakan-akan menikmati perkosaan itu.

“Ayo memohon… yang benar ngomongnya” suruh mereka.

“i..iya… A..abang-abang sekalian… tolong entotin aku dong… aku pengen hamil lagi…” ujar Youra dengan desahan menggoda, walaupun sebenarnya dia mengatakannya karena terpaksa.

“Hahaha… gitu dong baru mantap, huahaha”

Mana tahan pria-pria itu mendengar gadis cantik seperti Youra berkata demikian. Yourapun langsung digilir oleh mereka, tubuh mungilnya dientotin seenaknya bergantian oleh para preman pasar. Sungguh pemandangan yang ganjil, 1 gadis belia cantik melawan 6 preman pasar kasar!

Awalnya Youra memang hanya berakting pura-pura kenikmatan sesuai suruhan mereka, namun akhirnya dia justru betul-betul menikmati. Ini sudah terjadi, tidak ada gunanya berteriak dan menangis, pikirnya waktu itu.

Setelah puas menikmati Youra, preman-preman itupun ingin meninggalkannya begitu saja di sana, termasuk pria yang membawanya tadi. Youra yang bingung harus kemana, akhirnya menahan pria itu dan minta ikut dengannya.

*****

“Tante bingung waktu itu mau ditinggalin gitu aja di pasar.” Youra menerawang. Riko, Romi dan Jaka manggut-manggut mencoba membayangkan dan memahami bagaimana posisi Youra saat itu.

“Tapi kenapa harus ikut sama mereka Tante?”

“Bukan mereka, tapi dia… Bapak-bapak yang ketemu Tante pertama itu… Tante tadinya pingin ikut dia aja. Ga sama yang lain…”

“Tapi kan jelas-jelas dia jahat Tante…”

“Aah nggak juga kok, hi hi hi… Bapak itu menyetubuhinya enak kok… hi hi hi…” Youra tertawa nakal. Teman-teman Tedi langsung mupeng dibuatnya. “Kalo yang lain emang lumayan kasar sih menyetubuhiin Tante… Tapi enak juga kok… Karna Tantenya gak ngelawan ya mereka ga sampe nyakitin Tante…”

Haaa… gemes sekali teman-teman Tedi dengan kenakalan Youra. Tapi benarkah Youra benar-benar menikmatinya, atau cuma berpura-pura supaya tidak dikasihani? Entahlah.

*****

“Pak…. Saya ikut yah sama bapak…” pinta Youra mengiba.

Sungguh gila, padahal jelas-jelas pria itu bersama teman-temannya baru saja memperkosanya. Tapi Youra tidak punya pilihan lain, dia tidak tahu harus kemana, dia kelaparan. Youra hanya bisa memohon untuk minta ikut walau dia tahu resikonya dia akan jadi tempat pelampiasan nafsu.

Namun pria itu ternyata menolak karena sudah berkeluarga, gilanya dia malah menawarkan Youra pada teman-temannya.

“Ayo, siapa yang mau nampung gadis ini? Lumayan lah bisa kita pake-pake lagi. Gimana lu Man? Lu kan masih bujangan…?” tanyanya kepada salah satu temannya si Risman.

“Aduh, ngawur aja lo, gue masih tinggal sama nyokap gue tau gak lo!”

“Alah… nyokap lo udah nenek-nenek gitu, mau ngapain dia emangnya!? Lo gimana Jo?” tanyanya pada yang lain.

“Ada istri gue, begok!”

“Atau gini… kita cariin dia kos-kosan aja. Ntar kalau kita pengen menyetubuhiin dia kan gampang” usul yang lain.

“Ha? Lu punya duit apa!?”

*****

“Ya gitu deh… Tante malah dilempar sana-sini. Tante cuman diam aja ndengerin mereka diskusi tentang Tante mau ditaruh di mana, dan supaya bisa mereka entotin bareng terus kapan pun mereka mau. Tante sebenarnya gak terima juga, tadinya kan maunya cuma sama bapak yang pertama itu aja…

Tapi ya gimana lagi, Tante waktu itu cuma bisa pasrah aja sih gimana nasib Tante ke depannya …” Youra menghela napas dan menerawang, lalu beralih memandangi wajah teman-teman Tedi yang mengelilinginya.

“Hi hi hi… serius amat siih kalian…? Tegang di atas atau tegang di bawah nih…? He he he…” Godanya. Wajah anak-anak itu memerah.

“Atas bawah nih Tante…” Jawab Jaka balik menggoda.

“Ya udah kalo gitu tamat dulu yaah ceritanya… Tuh wajah kalian udah kayak kepiting rebus aja…”

“Yaah kok gitu Tante, belum maksimal nih tegangnya…” Romi ikut memberanikan diri ikut menggoda. Youra tergelak mendengarnya. “Aduuh aduuh kalian ni nakal banget sih, anak-anak Tante aja ga pernah lho Tante ceritain kayak gini…” Ujarnya.

“Emangnya mau lebih tegang lagi…?”

“Mau Tante…”

“Ya udah Tante lanjutin ya, tapi bentar aja…”

“Ya… kan masih panjang Tante ceritanya…”

“Iih kamu ini emangnya Tante ga punya kerjaan apa? Udah gitu gerah tahu kalian kelilingin gini… mepet-mepet banget lagi, geser dikit ngapa?” Tukas Youra bangkit dari sandaran sofa. Bergaya seperti orang kegerahan. Youra menarik dan mengibas-ngibaskan bagian atas dasternya yang belahannya rendah. Walhasil payudara putihnya makin terekspos.

“Biar makin tegang buka dong dasternya Tante…!” Ujar Jaka melotot.

“Hahaha… Terus Tante cerita sambil telanjang gitu?”

Riko, Romi dan Jaka mengangguk cepat. Antusias.

“Hmmm… Gimana kalo Tante buka dasternya, trus kita pindah ke kamar…? Kita lanjutin sambil tidur-tiduran…?” Lanjut Youra dengan senyum nakalnya.

“Iyaa.. iyaa tante… Ayo…!”

“Maunya…!” Cibir Youra sambil mencubiti mereka. Tentu bukan cubitan yang benar-benar berniat menyakiti. Sambil mengaduh-aduh, teman-teman Tedi malah tertawa-tawa menikmati keintiman mereka. Tapi dongkol juga rasanya karna ternyata Youra cuma menggoda mereka.

“Tante nakal iih…”

“Lho kok Tante yang nakal? Gak kebalik tuh? Kalian ini yang kecil-kecil udah mesum. Mesumin ibu temen sendiri lagi?”

“Salah sendiri Tante cantik, binal lagi…” Gumam bersungut-sungut.

“Ih malah nggombal, mau lanjut gak nih ceritanya?”

“Iya Tante, terus jadinya Tante tinggal di mana tuh?” Tanya Jaka penasaran.

Youra tersenyum dan kembali menyandarkan badannya. Ia menarik napas bersiap melanjutkan. “Ada satu bapak yang paling preman banget, paling kasar… Paling gede badannya…” Cerita Youra mulai mengalir lagi dari mulutnya.

“Tante sebenarnya paling takut sama bapak ini, walaupun di antara lainnya dia juga yang paling kuat menyetubuhinya sih. He he he…” Bukan Youra namanya kalau tidak menyelip-nyelipkan kenakalan dalam ceritanya. Teman-teman Tedi diam mendengarkan, diam-diam tangannya mulai mengelus-ngelus lagi ‘daging tumbuh’ di balik celana mereka masing-masing.

Mereka tidak tahu apakah Youra bercerita sejujurnya atau sedikit mendramatisir. Mereka tidak peduli yang penting mereka bisa menikmati selama mungkin cerita dan kebersamaan dengan Youra.

*****

Akhirnya salah seorang pria bersedia juga menampung Youra. Pria yang sebenarnya paling tidak ingin Youra tinggal bersama denganya, soalnya pria itu tadi yang paling kasar waktu menyetubuhinya dan yang paling kasar mulutnya, tapi Youra tidak punya pilihan lain. Yourapun ikut bersama pria itu ke rumahnya.

“Oke, sekarang lo tinggal di sini. Lo harus bersih-bersih rumah, memasak, dan tentu saja ngelayani gue di ranjang. Lo bersedia kan manis? Hehe…” Youra hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.

“Ya udah sana mulai kerja, gak lihat lo dapur gue berantakan!? Dasar lonte cilik!” hinanya. Yourapun segera menuruti. Setelah meletakkan bayinya diapun mulai bersih-bersih rumah. Belum sempat dia beristirahat, dia sudah harus melayani nafsu pria itu.

Sering pria itu memaki Youra karena suara tangisan bayi Youra yang menggangunya. Kalau sudah begitu biasanya dia akan memenyetubuhii Youra dengan kasar tanpa peduli bayinya sedang butuh mamanya. Memang awalnya dia merasa tidak nyaman karena selalu mendengar hinaan pria ini, namun lama-lama akhirnya dia mulai terbiasa.

Setiap beberapa hari sekali, satu atau beberapa atau semua preman-preman itu akan ngumpul di sana, main judi, mabuk-mabukan, membagi jatah uang keamanan, dan…

*****

“Dan Tante digangbang lagi deeh…” Celetuk Romi tiba-tiba. Tangannya sudah menyelip di dalam celananya sendiri. Youra tertawa geli melihatnya.

“Iih kamu ini kok seneng banget kelihatannya Tante digangbang… Tante itu diperkosa tahu…?”

“Kan katanya bisa menikmati…” ucap Romi lugu.

“Yaa, menyetubuhi tu emang enak, Tante suka banget. Dan Tante gak nyesal juga ditampung di rumah bapak yang paling kasar itu. Karena tiap malam Tante digenjot dan bapak itu staminanya kuat banget. Jujur Tante suka. Tante mulai terbiasa, gak ketakutan lagi… Gak khawatir lagi. Tante udah kayak istrinya aja waktu itu… Kapan pun dia minta Tante harus siap deh digenjot.”

“Tuh kan Tantenya juga keenakan kan?”

“Yee.. Tapi Tante ini bukan mesin seks tau…?! Kalau mereka sudah ngumpul, trus Tante digangbang bisa sampai pagi ya Tante kewalahan juga . Bahkan sakit, capek…” Jelas Youra sambil membelai rambut Romi.

“Oh ya, jadi bapak-bapak itu berenam, salah satunya bapak Norman ya…?” Tanya Riko teringat sekilas cerita Youra sebelumnya.

“Kalo gitu gak sulit dong Tante tahu yang mana yang bapaknya Norman? Kan bisa diamati persamaannya… Pasti ada lah dikit-dikit…” Romi langsung nyambung.

“Eh, emangnya kamu kira cuma 6 preman yang waktu itu menggilir Tante?”

“Lho kan katanya…”

“Iya, awalnya mereka cuma berenam. Tapi tahu sendiri kan, preman itu pasti ada geng-gengnya. Mereka saling bersaing, berebut kekuasaan di pasar. Jadi gak mungkin geng mereka cuma berenam. Kalo pada ngumpul terus ngeliat Tante di situ, tahu sendiri dong…? Kalo cuma berenam sih Tante juga kuat kali…”

“Ja… Jadi Tante menyetubuhi sama semua anggota geng itu?” Jaka antusias.

“Hi hi hi… Gak tahu ya kalau itu sudah semua anggota geng. Tapi yang jelas semua yang pernah ngumpul di rumah itu, semua Tante layani. Tanpa kecuali.”

“Semua…? Berapa orang tuh Tante…?”

“Hi hi hi, semangat banget deh kamu… Emangnya Tante ngitung?”

“Yaah… 10 orang ada Tante?”

“10? Dikit amat?” Jawab Youra senyum-senyum nakal. Woow, makin gemas dan ngaceng mereka dibuatnya.

“15?”

“Hampirr… hi hi hi…”

“Iih katanya Tante gak ngitung?” Ucap Romi gemas.

“He he he, gak ngitung sih, tapi kira-kira ya… Hmmm… waktu itu si Bokir bawa 2 temen, terus besoknya si Joni berdua juga… Terus 4, mmm… yang malam itu 3… pas rame-rame yang baru lagi ada mmm 4 atau 5 ya… udah gitu malam tahun baru berapa yaa rame banget………” Youra bergumam-gumam pelan mengingat-ingat sambil menerawang.

Sangat menggemaskan…

*****

Ya, bukan hanya semalam 2 malam tempat itu dibuat nongkrong para preman.

“Wuih Jok, sapa tuh bening-bening seger…?”

“Wah, kok ada daun muda di sini lo gak bilang-bilang? Sapa tuh?”

“Anjrit, seksi Jok, ngaceng gue!”

Begitu kira-kira reaksi tiap preman yang datang ke situ. Youra sendiri diam saja, kadang penasaran, kadang bangga, bahkan kadang malah horni, tapi tidak jarang juga dia takut dan cemas kalau pas yang datang terlihat sangat kasar dan sangar, apalagi kalau mabuk. Buruk rupa? hampir pasti!

“Ooh itu lonte gue, dah lama gue pelihara, lu mau? Entotin deh sono, bebas aja… Gratiss!” Jawab Joko si tuan rumah yang menampung Youra. Benar-benar jawaban yang sangat melecehkan dan merendahkan Youra. Tapi Youra sudah seakan kebal dengan tiap kata-kata kotor yang ditujukan padanya.

Gak ada ceritanya Youra bisa menolak jika hendak disetubuhi. Jika satu atau dua pria tidak ada masalah bagi Youra untuk menikmati juga persetubuhan itu. Tapi kalau sudah banyak preman dan menggangbang Youra beramai-ramai.

Youra mau tak mau harus melayani mereka semua meski tidak bisa menikmatinya cukup lama. Kalau sudah dini hari Youra sudah lelah bukan main, tapi preman-preman itu tidak jarang terus menggilirnya sampai fajar. Tidak jarang Youra sampai pingsan dibuatnya. Kalau ditotal ada 17 preman yang rutin menggagahi Youra selama dia tinggal di sana.

“Oke manis, waktunya lo kita gangbang, lo siap? Hahahaha” tanya salah satu mereka.

“Eh, i..iya…” jawab Youra lemas membayangkan dirinya akan disetubuhi banyak pria sekaligus. Tapi apa daya, inilah yang bisa dia lakukan sebagai rasa terima kasih karena telah bersedia menampung dia dan bayinya. Dia harus merelakan dirinya dijadikan mainan seks para berandalan itu.

“Jawab yang benar!”

“I..iya… silahkan entotin aku sampai kalian puas, aku udah siap dari tadi kok mau kalian apakan saja….” jawabnya sekali lagi dengan nada manja.

“Haha, bagus… Tapi tunggu, minta izin juga dong sama anak lo, hehe” suruh pria yang lain. Mereka betul-betul mempermainkan Youra! Tapi bagaimanapun Youra tidak punya pilihan lain selain menuruti.

“Te..tedi sayang… mama mau menyetubuhi dulu ya sama papa-papa. Papa-papamu udah gak sabaran tuh pengen menyetubuhiin serambi lempit mama. Kamu jangan berisik ya, jangan ganggu kita menyetubuhi… ntar nggak mama kasih susu lho…” ujar Youra sambil tertawa kecil. Dia mengatakan hal seperti itu semata-mata hanya ingin memuaskan mereka, bukan karena ingin. Tapi siapa sangka kalau akhirnya Youra terbiasa berucap seperti itu pada anak-anaknya ketika akan melonte di kemudian hari.

Akhirnya untuk kesekian kalinya, Youra dientotin seenaknya di depan bayinya. Tedi yang masih bayi tentu saja tidak mengerti apa-apa. Dia hanya bisa menyaksikan, bahkan tertawa-tawa melihat mamanya yang kewalahan disetubuhi beramai-ramai oleh para preman pasar.

Tubuh Youra dinikmati oleh mereka sepuasnya. Menggenjot tubuh mungil Youra dengan rudal-rudal mereka tanpa ampun. Mereka juga sangat rajin menumpahkan benih mereka ke rahim Youra.

Setelah beberapa bulan tinggal di sana, akhirnya Youra hamil untuk kedua kalinya akibat perbuatan preman-preman itu. Benar, salah satu dari ke tujuh belas orang itu adalah bapaknya Norman!

Youra kemudian diusir. Perut Youra yang semakin membuncit membuatnya tidak bisa lagi dientotin karena hamil tua. Selain itu juga akan makin merepotkan bila nanti ada dua bayi di sana.

“Sorry ya kita gak bisa nampung lo lagi, tapi kita bakal terus ingat gimana rasa tubuh lo itu kok…” ujar mereka merendahkan. Youra hanya bisa pasrah. Habis manis sepah dibuang. Begitulah nasib Youra.

Youra yang diusir dalam kondisi hamil tua dan menggendong Tedi yang masih bayi semakin bingung harus kemana. Satu-satunya harapan, mau tidak mau adalah kembali ke keluarga. Tapi apakah keluarganya mau menerima? Apalagi dia lagi-lagi hamil tanpa seorang ayah!

Akhirnya Youra memutuskan untuk mengunjungi salah satu keluarga yang ada di Jakarta, yaitu Pakdenya, orangtua pamannya Tedi, paman Tedi itu adalah sepupunya Youra. Sempat khawatir mendapat penolakan, namun ternyata Youra diterima dengan baik oleh mereka.

Walau keluarga itu kesal juga dengan ulah Youra tapi mereka tetap merasa kasihan. Lagipula tinggal di kota besar seperti Jakarta membuat keluarga itu bisa memaklumi sesuatu yang bagi banyak orang desa masih sangat tabu, seperti hamil diluar nikah yang terjadi pada Youra.

Youra boleh tinggal di situ dengan satu syarat, dia harus sekolah. Harus masuk SMA. Youra sih mau-mau saja, tapi dia tidak punya ijazah SMP karena waktu itu didrop out akibat hamil. Akhirnya Youra dibantu dengan berbagai cara dan juga dengan pengaruh Pakdenya supaya bisa masuk SMA.

*****

“Baik ya pakdenya Tante…” Gumam Riko.

“Jangan-jangan… ada maunya juga… Tante dientot juga sama pakd…… Adududuhh Tante…!” Jaka yang belum selesai menimpali sudah dijewer telinganya oleh Youra. Kali ini Youra kelihatan serius. “Kamu jangan nggak sopan ya? Pakde Tante itu orang baik-baik, dia gak macem-macem sama Tante!” Omel Youra.

“Ma…maaf Tante…” Jaka bersungut-sungut. Riko dan Romi menahan tawa melihatnya.

“Tante ngelahirin Norman di rumah pakde, semua yang bantu pakde. Biaya dan segala macemnya. Pakde ga pernah memarahi Tante… Pakde cuma minta 1 hal, Tante harus sekolah. Pakde juga yang ngurusin semuanya. Tapi sayang Tante gak bisa sekolah di sekolah yang ideal sesuai keingingan pakde…”

Youra mengambil napas sejenak lalu melanjutkan ceritanya mengenai kondisi SMA yang dia masuki.

*****

Apa daya, satu-satunya SMA yang kemudian bisa dimasuki Youra adalah SMA yang ada di daerah pesisir pantai di tepi Jakarta, hampir di luar Jakarta, dekat perbatasan. SMA yang jauh dari kata bermutu. Murid-muridnya adalah anak-anak penduduk pesisir pantai yang kulitnya hitam legam dan rambutnya merah terbakar matahari. Kebanyakan murid di sana laki-laki dan bandel-bandel.

“Hai cewek… cakep bener, putih mulus… mandinya pake susu ya? Bagi dong susunya… hehe” goda salah satu murid cowok di sana.

“Duh mulutnya manis tuh kalau dicipok, apalagi kalau dicipok pake rudal abang…” ujar murid yang lain kurang ajar.

Youra yang cantik, seksi, dan putih mulus tentunya menjadi pemandangan indah tersendiri di sekolah itu. Sejak hari pertama sudah banyak sekali cowok-cowok yang menggodanya. Dari yang sekedar kata-kata gombal dan kotor, sampai ke yang berani mencolek-colek tubuhnya.

Meski suka dirayu dan digoda cowok-cowok di sana, tapi Youra risih juga. Youra pikir dia harus cari aman, dia mesti memacari salah satu cowok yang dia pandang paling berpengaruh di sekolah secepatnya. Kalau bisa hari itu juga.

Dia mulai memberi lampu hijau pada salah seorang yang dinilainya cocok. Agung namanya. Cowok yang penampilannya urakan, dekil, dan sering bikin repot guru inilah yang akhirnya dia pilih, salah satu cowok yang tadi ikut menggodanya dengan kata-kata vulgar. Gayung bersambut. Hari itu juga sepulang sekolah Agung menawarkan diri untuk mengantar Youra pulang.

“Masuk yuk Gung…” ajak Youra menawari cowok itu untuk mampir setibanya di rumah.

“Emangnya gak ada orang? rumahnya gede gini…”

“Lagi sepi kok… Yuk masuk. Minum dulu, pasti haus kan? Jauh lho pulangnya, ntar dehidrasi lho kamunya, hihihi…” jawab Youra manja. Rumah Pakdenya memang sedang sepi jam segini. Hanya ada seorang baby sitter tua yang menjaga anak-anak Youra selama Youra sekolah, sedangkan penghuni lainnya belum pulang kerja.

Akhirnya merekapun masuk, Youra langsung mengajak cowok itu ke dalam kamarnya biar lebih enak ngobrolnya. Mereka saling bercerita, Agung ingin tahu banyak tentang Youra dan Yourapun menceritakan semuanya dengan terbuka. Bagaimana dia sudah punya dua anak, bagaimana dia pernah diperkosa, pernah tinggal beberapa bulan bersama para preman sebagai budak seks mereka, dan cerita-cerita lainnya.

Dasar Youra binal, diapun akhirnya menyetubuhi dengan cowok itu. Youra tentu awalnya sekedar ingin pedekate saja. Namun dia tidak menyangka ‘kencan’ pertama itu akan terlalu jauh. Semuanya mengalir begitu saja dan jadilah mereka bercinta.

Youra disetubuhi oleh cowok yang bahkan belum sehari dia kenal! Di rumah Pakdenya pula yang sudah bersedia menampungnya. Salahnya juga sebenarnya, mana ada pria yang bisa tahan setelah diajak masuk kamar oleh gadis secantik Youra, apalagi setelah mendengar kalau ternyata Youra doyan ngeseks.

Sepasang remaja itupun bersenggama dengan nikmatnya di dalam kamar Youra. Malangnya, setelah berhubungan beberapa hari ternyata Agung tidak juga menembak Youra. Kayaknya dia tidak berminat pacaran sama Youra. Toh tanpa pacaran, tubuh Youra sudah bisa dia jamah sesukanya.

Apalagi dia malah cerita ke banyak teman-teman lain di sekolah itu. Soal Youra yang sudah ditidurinya lah, sudah punya anak tanpa suami lah, gampangan lah, dan sebagainya. Walhasil Youra terkenal dengan reputasi ‘bitch’ di kalangan anak-anak bandel di sekolah itu.

Selama beberapa minggu Youra jalan dengan Agung tanpa status. Selama itu pula Youra dengan mudahnya bisa dipake oleh cowok itu. Youra sebenarnya kewalahan dengan reputasinya. Selalu digoda, selalu dijadikan bahan obrolan dan cibiran, dicolek-colek, sampai ada yang terang-terangan minta menyetubuhi dan itu sangat banyak!

Yourapun berinisiatif untuk menembak Agung duluan. Meski awalnya menolak, namun akhirnya cowok itu mau juga. Setelah jelas-jelas pacaran, hampir tiap hari Youra bersetubuh dengan Agung. Bahkan cowok itu sering ngajak Youra nginap di rumahnya.

Hal ini membuat Youra sering menelantarkan Tedi dan Norman yang masih bayi di rumah dan membuat Pakdenya kewalahan dengan ulah Youra yang semakin binal dan susah diatur.

Meski Pakdenya memaklumi seks bebas yang sudah lazim dilakukan para remaja masa kini, termasuk dengan apa yang sudah dilakukan Youra, tapi bukan berarti Pakdenya akan nyaman-nyaman saja terus dengan ulah Youra yang bukannya tobat tapi malah semakin membenamkan diri dalam lembah seks bebas itu.

Rumah Agung ada di sebuah perkampungan nelayan. Dekat pantura. Daerah yang keras dan kasar. Agung mengajak Youra ke rumahnya karena ternyata keluarganya, termasuk hampir semua keluarga di perkampungan itu tidak menganggap tabu seks bebas. Bahkan banyak dari anak-anak gadis di situ, atau bahkan ibu-ibu mereka yang mencari sampingan dengan menjajakan diri. Maklumlah di situ memang jalur yang sering dilewati supir truk.

“Kenalin nih pacar aku, cantik kan?” ujar Agung dengan santainya memperkenalkan Youra pada orangtua dan adik-adiknya.

“Duh, cantiknya pacarmu, hebat kamu bisa macarin cewek secantik dia,” puji orangtuanya. Setelah itu merekapun bisa menyetubuhi dengan bebasnya di rumah tanpa perlu takut diganggu.

Tidak hanya pada keluarganya saja, Agung juga memperkenalkan Youra pada teman-teman di lingkungan rumahnya. Ternyata inilah alasan Agung mempertimbangkan untuk mau macarin Youra, biar Youra bisa dipamerin di lingkungan rumahnya juga, bukan hanya di sekolah. Jelaslah banyak cowok-cowok di perkampungan itu yang jadi iri pada Agung.

Agung sangat sering mengajaknya menginap serta mengajaknya jalan-jalan di sekitar situ. Youra merasa bahwa pacarnya ini sangat-sangat memamerkan dirinya. Di sinilah Youra juga mulai ‘belajar’ eksib. Bakat eksibnya mulai tumbuh.

Cerita Sex Pegawai Honorer Pemerintah

“Daah aah…! Tiba-tiba Youra bangkit.

“Yaah tantee… baru mau mulai tegang lagi nih…!” Jaka protes.

“Iyya nih Tante…” Lainnya nyambung.

“Yee… kalian nih maunya. Pokoknya cukup. Tuuh, Tante mau nyusuin anak Tante…” Jawab Youra tegas. Kebetulan suara tangis bayinya yang baru bangun terdengar kemudian, jadilah alasan kuat Youra untuk menghentikan sesi ceritanya.

“Wah mau menyusui Tante…?” Mata Romi berbinar-binar.

“Iya, habis itu mau mandi siap-siap dientot sama tamu. Puass?” Jawab Youra ngasal sambil tertawa dan mencibirkan lidahnya meninggalkan mereka.