Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Murid Yatim Piatu 17 Tahun Rela Jadi Istri Simpanan Pak Guru Olahraga

Murid Yatim Piatu 17 Tahun Rela Jadi Istri Simpanan Pak Guru Olahraga

Khusus Dewasa!!! Rama Purnomo Pria berbadan tinggi, kulit putih dan hidung Bangir, Berusia 30 tahun yang berprofesi sebagai guru olahraga di sebuah sekolah menengah atas dan sudah mempunyai seorang istri atas perjodohan dari orang tuanya, istrinya bernama Sonya yang bekerja di sekolah yang sama dengan suaminya.

Beberapa bulan belakangan ini Rama selalu memperhatikan seorang murid perempuan yang selalu membuatnya sakit di bagian bawah nya. ia selalu menginginkan gadis itu menjadi miliknya dengan cara apapun.

Aulia Atmoko Gadis yatim piatu berparas cantik, di usia yang baru 17 tahun ia harus bekerja paruh waktu di toko buku untuk memenuhi kebutuhan nya sendiri.

Aulia juga diam diam sangat menyukai guru olahraganya yang bernama Rama Purnomo. Apapun akan Aulia lakukan untuk menggapai cita citanya dan mendapatkan keinginannya termasuk menjadi istri simpanan seseorang.

Novel Istri Simpanan Novel Istri Simpanan – Senin !! Hari yang sangat Aulia benci, ia sangat malas dengan upacara bendera. Dengan malas ia bangun dan menuju kamar mandi yang berada di area dapur rumahnya, ia kemudian masuk ke kamar mandi dan mulai menyirami badannya dengan air yang terasa sangat sejuk pagi itu.

Tak sampai 10 menit Aulia pun selesai dan segera memakai seragam putih abu nya kemudian langsung berangkat ke sekolah tanpa sarapan.

Di perjalan menuju halte tiba tiba ia teringat jika ponselnya tertinggal dan ia harus kembali lagi ke rumah untuk mengambilnya, Alhasil dia ketinggalan angkot dan berujung terkena hukuman karna terlambat.

“Kenapa terlambat”? Suara dingin menginterupsi telinga Aulia.

Aulia hanya diam dan menundukkan kepalanya, tapi sekali lagi suara dingin itu menyapa telinganya dengan sedikit bentakan.

“Gak punya telinga kamu”?

“Saya di depan kamu, bukan di bawah kaki kamu”.

Perlahan Aulia mengangkat kepala nya dan langsung menatap mata guru yang membentaknya tadi. Mata mereka saling beradu tatap, dan jangan katakan bagaimana jantung guru nya itu.

“Ma-maaf pak rama, saya telat karna nungguin angkot”. Jawab Aulia yang sudah berlinangan air mata.

Ingin sekali rasanya Rama mendekap tubuh gadis yang sudah ia cap sendiri sebagai gadisnya ini, mengusap air mata yang sebentar lagi akan jatuh. Tapi ia harus menahannya dulu, nanti baru ia akan beraksi.

Rama memutuskan tatapannya pada Aulia dan menyuruh muridnya untuk membersihkan halaman yang berada di belakang gudang, Aulia yang tak terima pun memberanikan dirinya untuk protes.

“Yang lain bersihin halaman yang di depan sekolah, kok saya bersihin yang di belakang gudang pak”?

“Kenapa? Kok kamu yang ngatur”? Rama ngegas dong.

“Saya takut pak, di sana sepi, gak ada orang yang pernah kesana”, cicit Aulia.

Memang ini tujuan Rama, ingin berduaan dengan gadisnya.

“Saya yang awasi kamu, sekarang ambil peralatannya dan langsung ke halaman belakang gudang, jangan banyak alasan”, titah Rama.

Aulia segera pergi dari hadapan Rama dengan menghentak hentak kan kakinya dan mulut yang komat Kamit. Rama semakin gemas melihat tingkah Aulia yang sangat lucu dimatanya.

“Akhirnya, bisa berduaan juga sama kamu”, Rama membatin kegirangan dan memegang area selangkangannya yang entah kenapa selalu berdenyut jika melihat atau berada di dekat Aulia.

Ngocoks Sudah 15 menit Aulia asik menyapu dedaunan kering dengan perasaan takut, karna gudangnya terletak jauh di belakang area sekolah, mulutnya sibuk memaki Rama yang tak kunjung datang. Karna terlalu asik memaki sang guru sambil menyapu sampah ia sampai tak sadar jika di depannya terdapat lubang dan akhirnya kakinya pun termasuk ke dalam lubang itu.

“Awwhhh .. Sssshhh .. Aduuh sakit banget” , Aulia mengaduh kesakitan sambil mengangkat keluar kakinya dari lubang dengan suara isakan yang keluar dari mulutnya.

Rama yang baru datang dengan membawa minuman dingin pun terkejut melihat Aulia yang terduduk dengan kaki lecet dan bengkak sambil menangis.

“Hey, kamu kenapa”? Tanya Rama khawatir.

“Bapak ke mana aja sih, katanya mau nemenin saya, saya dari tadi nungguin karna takut sampe sampe kaki saya masuk ke lubang”. Jawab Aulia sesegukan.

Rama yang tak tahan pun langsung mendekap tubuh Aulia yang bergetar karna menangis, ia mengusap usap punggung gadisnya dan mengecup pucuk kepala Aulia.

“Maaf ya, saya tadi di panggil sama kepala sekolah sebentar, terus beliin kamu minuman”.

Aulia masih menangis dalam pelukan Rama, Rama pun semakin mengeratkan pelukannya pada Aulia. “Udah yaa, saya minta maaf”.

Aulia langsung melepaskan dirinya dari pelukan Rama.

“Ma-maaf pak”.

“Maaf kenapa? Hm”? Tanya Rama sambil menyelipkan rambut di belakang telinga Aulia.

“Udah pak, nanti ada yang liat”.

“Kalo gak ada yang liat”?

“Hah”?

CUP..

“Manis”, Rama menjilat bibirnya sendiri.

Aulia yang terkejut mendapati perlakuan Rama itu pun langsung ingin berdiri dan pergi dari sana, tapi ia melupakan kakinya yang sedang sakit.

“Awkkhhh”..

“Kamu ngapain tiba tiba berdiri? Udah tau kaki nya sakit”. Ujar Rama.

“Awas, gak usah pegang pegang”. Marah Aulia.

Rama tak mendengarkan Aulia, ia tetap memegang pergelangan Aulia.

“Kamu kenapa”?

“Bapak yang kenapa”?

“Loh, kok saya? Saya kenapa”?

“KENAPA BAPAK CIUM SAYA”? Teriak Aulia.

Aulia semakin memberontak saat Rama memegang tangannya dan ingin memeluknya lagi.

“Hey, tenang Lia”,Rama mencoba menenangkan Aulia sambil memeluk tubuhnya.

“Bapak jahat”. Ucap Aulia dengan tangan memukul dada Rama.

“Iya saya jahat, Maaf lagi yaa”.

“Gak mau maafin, saya mau ke kelas”.

Rama melepaskan pelukannya pada Aulia dan menangkup wajah Aulia.

“Masih mau ke kelas dengan muka berantakan gini? Mata sembab, hidung merah, kaki juga luka sama bengkak, hm”? Tanya Rama.

“Ini semua kan gara gara bapak, bapak bentak saya tadi pagi, terus biarin saya sendirian bersihin halaman gudang, kaki saya masuk ke lubang juga gara gara bapak, terus tadi bapak malah cium cium saya” omel Aulia.

Rama tersenyum melihat Aulia mengomel, tangannya terangkat untuk mencubit pipi chubby Aulia.

“Kenapa gemes gini kalo ngomel”?

“Bapak ih, gak usah pegang pegang saya teruss”.

“Yaudah”.

Rama pergi meninggalkan Aulia sendirian lagi disana, baru beberapa langkah ia mendengar isakan tangis yang keluar dari mulut gadisnya. Rama berbalik lagi menuju ke arah Aulia.

“Hiks..Hiks..”

Aulia menangis dengan wajah tertutup telapak tangan, tanpa aba aba Rama langsung mengendong Aulia ala bridal style.

“Aaaa bapak, kenapa saya di gendong? Turunin ih, nanti di liatin orang paaak”.

“Diem Lia, atau saya cium lagi bibir kamu yang manis itu”.

Aulia langsung terdiam dan kembali menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya, ia takut menjadi bahan omongan semua murid dan guru guru karna sekarang dia berada dalam gendongan guru hot di sekolah ini, tapi ia tidak mendengar apa pun , kenapa sunyi sekali batinnya.

Ternyata semua orang sedang melakukan proses belajar mengajar, tidak ada satu pun yang berada di luar kelas. Hanya beberapa menit saja tiba tiba tubuhnya seperti melayang dan merasakan seperti berbaring di atas kasur. Aulia membuka matanya dan benar saja, ia memang berbaring di atas kasur yang berada di UKS.

“Gak usah ngomong, gak usah banyak nanya, saya obatin dulu kaki kamu”.

Aulia hanya menurut, ia memperhatikan berapa telatennya Rama mengobati lukanya.

“Shh.. pelan pak, sakit kalo di pencet gitu”.

“Iyaa Lia”.

“Pak”?

“Pak”?

“Bapak”? Panggil Aulia lagi sedikit keras.

“Apa liaaaa”?

“Bapak kenapa manggil nama saya Lia”? Tanya Aulia.

“Kan mulut saya, suka suka saya lah, kenapa emangnya? Gak suka di panggil Lia? Atau mau di panggil sayang”?.

“Ihhhh, apaan sih bapak, gak ada yang manggil saya Lia kecuali bapak”.

PLUK..

Rama menyentil jidat Aulia.

“Aduuh, sakit tau paaak, bapak kenapa siiihh”? Tanya Aulia.

Rama mendekatkan mulutnya ke telinga Aulia dan membisikkan sesuatu.

“Saya suka sama kamu, Lia”.

“Saya gak bercanda”, sambung Rama.

Aulia mendorong tubuh Rama dan menatap lekat wajah guru nya itu.

“Bapak gila ya”?

“Tergila gila sama kamu”. Jawab Rama dengan entengnya.

“Bapak udah punya istri kalo bapak lupa”.

“Saya gak lupa, Lia”.

Aulia memiringkan badan nya ke arah tembok dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

“Keluar pak, saya mau istirahat. Makasih udah nolongin saya” ucap Aulia.

Rama mengusap rambut Aulia dan mengecup pucuk kepalanya.

“I love you”, ucap Rama dan langsung pergi meninggalkan Aulia.

***

Hari sudah menunjukkan pukul 3 sore, bel pulang sekolah sudah sejak tadi berbunyi. Ternyata Aulia ketiduran cukup lama di UKS, ia segera bangun dan ingin mengambil tas nya yang berada di dalam kelas. Baru ingin bangun dan menuju ke kelas tiba tiba Rama masuk dengan tas miliknya yang sudah berada di tangan guru nya itu.

“Saya capek, gak mau debat”, ucap Rama yang langsung menggendong Aulia.

“Saya antar pulang”.

Aulia langsung membelitkan tangannya di leher Rama, ia pun tak ingin berdebat lagi dengan rama. Rama merasakan nafas Aulia yang berada di leher nya, ia mati Matian menahan nafsunya. Setelah sampai di mobil, Rama membuka pintu dan meletakkan Aulia di kursi depan, setelahnya Rama pun masuk dan memakai kan Aulia seat belt.

Rama mencium aroma tubuh Aulia yang membuat adik nya mengeras di bawah sana, tanpa aba aba lagi ia mencium bibir tipis Aulia, menarik narik bibir gadisnya dan menyedot lidah manis milik Aulia. Karna sudah terbawa suasana, Aulia pun membalas ciuman dan sedotan lidah dari Rama.

“Ngghhh”

“Ssshhh.. Akhh”, desah Aulia.

Ciuman Rama turun ke leher jenjang Aulia, ia menghirup dalam dalam aroma leher Aulia, di kecupinya, di jilati dan di gigit gigit kecilnya leher putih itu.

“Mmhh, jangan di cupang paakh”.

Rama hanya mengangguk dan melanjutkan kegiatan menjilati leher Aulia, Aulia memeluk kepala Rama agar tetap berada di lehernya.

“Nggghhh.. udah paak, saya mau pulang, saya harus kerja”.

Rama mengangkat kepala nya leher Aulia, mengusap leher gadisnya menggunakan jempolnya dan terakhir menjilat bibir Aulia.

“Gak usah kerja yaa”. Ucap Rama.

“Saya harus kerja pak, kemarin saya udah di tagih sama wali kelas saya karna nunggak bayar uang bulanan”.

“Nanti saya yang bayarin semua uang sekolah kamu sampe selesai, termasuk kebutuhan pribadi kamu”, ujar Rama.

“Gak, saya bukan tanggung jawab bapak”.

“Kita nikah, biar kamu jadi tanggung jawab saya”, jawab Rama serius.

“Saya masih sekolah pak, masih punya cita cita yang harus saya gapai” ucap Aulia.

“Oke, Jawab pertanyaan saya dengan jujur”.

“Iyaa”.

“Kamu suka gak sama saya”? Tanya Rama.

Aulia mengangguk, siapa sih yang gak suka sama guru ganteng di sekolahnya, teman teman bahkan kakak kelas nya pun rata rata menyukai guru olahraganya ini.

“Kenapa suka sama saya”?

“Bapak ganteng, tapi sayang udah punya istri”, jawab Aulia.

“Saya bisa ceraikan istri saya demi kamu”.

“Gak usah ngaco deh pak, ayo jalan. Nanti saya telat”. Ucap Aulia.

“Gak usah kerja Lia, kamu gak denger apa yang saya bilang tadi”?

“Bapak juga gak denger apa yang saya bilang? Saya masih sekolah dan punya cita cita yang harus di gapai bapaaak”.

“Kalau gitu kita pacaran aja dulu, gimana”? Paksa Rama.

Aulia tertawa renyah melihat kelakuan Rama.

“Bapak kenapa sih? Bapak udah punya istri looh, buk Sonya juga cantik banget” tanya Aulia heran.

“Gak usah bawa bawa orang lain, jawab pertanyaan saya tadi, kalo kamu gak mau nikah sekarang, kita pacaran dulu, ya”?.

“Mmm saya pikir pikir dulu ya pak”?

“Saya mau kamu jawab besok”, lagi lagi Rama memaksa.

“Iyaa bapak, yaudah ayo jalan”.

Rama mengemudikan mobilnya menuju rumah Aulia, Aulia heran kenapa Rama bisa tau jalan ke rumahnya, padahal ia belum memberi tahukan pada Rama dimana alamat rumahnya.

“Bapak kok tau rumah saya”?

“Saya tau semuanya tentang kamu, Lia”, jawab Rama.

“Bapak penguntit ya”? Tanya Aulia tak santai.

“Apa salah nya menguntit orang yang kita sayang”?

Aulia hanya diam mendengar kata yang keluar dari mulut Rama, ia hanya menganggap itu semua hanya bualan saja. Setelah beberapa saat, mereka pun sampai di rumah kecil Aulia.

Baru turun dari mobil, Aulia di kejutkan dengan barang barang nya yang sudah berada di luar rumah dan tiba tiba seorang wanita paruh baya keluar dari rumah nya dengan marah marah.

“Sekarang kamu keluar dari kontrakkan saya Aulia, kamu janji janji terus tapi gak pernah di tepati, sudah 3 bulan kamu nunggak uang kontrakkan”, marah wanita parubaya tersebut.

Dengan kaki yang terseok Seok Aulia berjalan ke arah wanita parubaya itu dan bersimpuh memegang tangannya.

“Buk, saya mohon buk, kasih saya waktu, saya belum punya uang, kalau udah ada uang nya saya bayar semua buk”. Jawab Aulia sambil menangis.

Rama yang melihat itu pun langsung menghampiri Aulia dan menarik tangannya.

“Bangun”!!

Rama mengeluarkan banyak sekaliuang merah dan memberikan nya kepada wanita parubaya itu dan langsung menggendong Aulia masuk ke dalam mobil.

“Kaki kamu masih sakit, gak usah keluar mohon mohon lagi, diem “! Rama langsung menutup pintu mobil dengan kencang.

Rama mengambil semua barang barang Aulia dan memasukkan nya ke dalam bagasi lalu ia dengan cepat mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah yang pernah Aulia tempati.

“Pak, kita mau kemana”? Tanya Aulia yang masih menangis sesegukan.

“Apartemen”.

“Bapak “!!!!

“Saya bayar kontrakkan aja susah, ini bapak mau nyari apartement untuk saya tinggal? Saya udah susah jangan di ditambah susah lagi pak, Bapak gila ya”? Teriak senja yang semakin menangis.

Rama menepikan mobilnya di pinggir jalan, ia menarik Aulia ke dalam pelukannya. Mengusap usap sayang punggung gadis kecil yang berada dalam pelukannya, sesekali ia kecup dahi Aulia.

“Gak capek apa nangis terus? Hm?, Tanya Rama dengan lembut.

“Bapak yang bikin nangis terus”.

“Saya mau bawa kamu ke apartement saya, kalo kamu tinggal di sana, itu jadi apartement kita”, ujar Rama.

Rama melepaskan pelukannya dan mengusap air mata mata Aulia, Ia kembali menjalankan mobilnya menuju apartement.

Fokus dengan menyetirnya Rama menoleh kekiri untuk melihat Aulia yang hanya diam, tak terdengar lagi suara tangisan dan isakan, ternyata gadisnya tertidur.

Sesampainya di parkiran apartement, Rama menggendong tubuh Aulia dan pergi ke arah lift untuk menuju kamarnya.

Setelah sampai di kamarnya Rama membaringkan tubuh Aulia di kasur, membuka seragam Aulia dan hanya menyisa kan tantop dan celana dalam saja. Rama memegang burungnya yang sudah sesak ingin keluar.

“Ssshhh.. Ngghhh..” Rama meremas rudalnya dari luar celana.

Rama membuka baju dan celana nya, sama seperti Aulia, ia hanya menyisakan celana dalam nya saja. Rama merangkak naik ke atas tubuh Aulia dan menggesek gesekkan rudalnya ke serambi lempit Aulia.

“Aakhh.. di gesek gini aja enakh.. Ngghhh”..

Aulia yang merasa terusik pun bangun dan terkejut ketika melihat Rama Sudah berada di atas tubuhnya dengan bertelanjang dada, ia lebih terkejut ketika melihat Rama yang sedang menggesekkan rudal ke serambi lempitnya.

Aulia mendorong tubuh Rama, ia terkejut lagi ketika melihat kalau ia hanya mengenakan tantop dan celana dalam saja.

“Bapak ngapain saya”? Tanya Aulia sambil menutupi payudara nya.

“Gak ngapa ngapain, Lia”.

“Boong”.

“Beneran, orang saya cuma gesek gesekin rudal saya ke serambi lempit kamu”, jawab Rama jujur.

“Bapak ihh, jorok banget ngomong nya, terus kenapa bapak gesek gesikin itu bapak ke ini saya”?

“Yang kotor lebih enak, saya sange liat kamu”, ucap Rama yang memegang batangnya”.

“Nggghhh”.

“Bapak kenapa”?

“Sange, mau kayak tadi”, jawab Rama dengan mata sayu.

“Mau ya, gesek aja kok, hm”.

Aulia hanya mengangguk, Rama dengan cepat mendekati Aulia dan menyuruhnya berbaring kembali. Ia mulai menggesek kan rudalnya ke serambi lempit Aulia.

“Aakhh.. enak banget sayang.. ngghh”.

“Pegang tete boleh ya”?

Aulia yang sudah mulai sange pun mengiyakan permintaan Rama. Rama mulai meremas payudara Aulia yang cukup besar, karna kurang puas meremas dari luar, ia memasukkan tangannya ke dalam tantop Aulia.

“Mmmhhh.. Bapak “..

“Kenapa Lia? Enak?

“Akhh.. iyaaah”.

“Buka baju nya yaa”?

Lagi, Aulia hanya mengangguk. Rama melepaskan tantop serta bra yang di pakai Aulia. Menangkup payudara yang besar itu serta meremas remas nya dengan gemas, menarik dan memilin puting yang sudah mencuat.

“Aakhh.. jangan di tarik tarik paak”.

“Terus di apain”?

“Mmhh, di isap”.

Dengan cepat Rama menundukkan kepalanya ke arah payudara Aulia, ia langsung memasukkan puting yang sudah keras ke dalam mulutnya, di hisap hisap nya puting pink milik Aulia lalu di tarik nya menggunakan gigi. rudal yang di bawah semakin cepat menggesek serambi lempit Aulia.

“Aakhh..aakhh..aakhh .. jangan di tarik paak.. aakkhh”.

“Ngghhh.. saya gak tahan Lia, boleh saya masukin serambi lempit kamuh”?

“Enggak, gak mau pak.. gini ajah”.

“Buka celana dalam nya yaa, saya janji gak masukin, gesek sampe muncrat aja”.

“Iyaah”.

Rama pun membuka celana dalamnya dan celana dalam Aulia, Aulia menelan air ludahnya melihat betapa besar dan panjangnya milik Rama.

Rama mulai menyodok nyodok kan kepala rudalnya di serambi lempit senja.

“Akhhh.. bapak udah janji cuma gesek aja, jangan di masukin”.

“Enggak sayang, cuma gesek aja”.

“Ngghhh.. Lia, enak banget Lia.. Aakhh..aakhh..aakhh..”

“Aakhh.. bapak, jangan cepet cepet pak, saya mau pipis”.

“Aakhh..aakhh..aakhh.. pipis aja sayang”.

“Akhh..akhh..akhh saya pipis paak, Aakkhhhhhh”.

Rama mempercepat gesekannya karna ia ingin keluar.

“Aakhh..aakhh..aakhh saya mau keluar Lia, ngghhh… Aaaaaaaakkkhh”.

CROT..CROT..CROT..

Rama menyemburkan sperma nya di atas serambi lempit Aulia, dan menggesekkan kepala rudalnya di puting Aulia yang masih tegang.

“Anget pak”.

Rama langsung menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Aulia. Ia memeluk erat tubuh gadisnya dengan melingkarkan kakinya di paha Aulia.

“Capek”? Tanya Rama

“Capek pak”.

“Gak mau makan dulu”?

“Enggak bapak, saya capek”, jawab Aulia.

“Saya mau kamu jawab sekarang Lia”.

“Jawab apa pak”? Tanya Aulia

“Perasaan saya tadi siang”.

“Hmm, iya”.

“Iya apa”? Tanya Rama tak sabaran.

“Mau”.

“Mau apa liaaaa? Ya jelas”, Rama gregetan.

“Saya mau jadi pacar bapak”, ucap Lia.

Rama langsung duduk dari berbaring ya.

“Kamu serius”?

“Iya bapak, saya serius”, ucap Aulia.

Rama memeluk Aulia dan mengecup seluruh wajah murid nya yang baru saja menjadi kekasihnya.

“Tapi pak, gimana kalo buk Sonya tau”?

“Ya biarin aja”? Jawab Rama asal.

“Bapak kok gitu”?

“Gitu gimana? Udah lah, saya kan udah bilang jangan bahas orang lain kalo kita lagi berdua”.

“Iya iyaaaa, maaf bapak”.

“Jangan panggil saya bapak Aulia .. saya bukan bapak kamu”, ucap Rama tak ingin di panggil bapak.

“Huh, jadi saya harus panggil apa”?.

“Panggil saya mas kalo di luar sekolah, dan jangan saya saya lagi, aku kamu”.

Aulia yang malas berdebat pun mengiyakan semua permintaan Rama.

“Iyaaa Maas, aku gak manggil bapak lagi”.

Rama mengecup ujung hidung Aulia dan membawanya kedalam dekapan hangatnya lalu menuju alam mimpi.

Bersambung… “Mmmhh”

Aulia meregangkan otot ototnya karna merasakan badannya yang sangat lelah, ia melihat ke arah samping nya dan melihat guru olahraganya yang baru saja menjadi kekasihnya.

Ia memainkan hidung Bangir pacarnya menggunakan jari telunjuk, jarinya turun ke dagu kemudian turun lagi ke jakun Rama. Memainkan jakun itu turun naik.

“Jangan di mainin sayang”, ucap Rama dengan mata masih terpejam.

Tak mendengar kan kata kata Rama, Aulia malah menindih tubuh Rama dan menyusupkan kepala nya ke leher Rama, mencium dan mengigit leher kekasihnya. Lidah nakal nya mulai menjilati dan mengulum daun telinga Rama.

“Ngghhh, sayaang.. jangan nakal”.

“Aku cupang ya mas lehernya” ucap Aulia

Aulia mulai kembali menjilat dan menghisap leher Rama, meninggal kan warna ungu kemerahan disana.

“Mmmhh.. rudal mas tegang lagi sayangh.. Ngghhh”.

Aulia pun merasakan sesuatu yang keras menyentuh bibir serambi lempitnya. Cepat cepat ia turun dari tubuh Rama, dan ingin melarikan diri. Tapi tangan Rama dengan cepat menarik pergelangan tangannya hingga ia terjatuh lagi kepelukan Rama.

“Mau kemana, hm? Udah bikin mas sange mau kabur”?

“Eng- enggak kok, aku mau ke kamar mandi”. Ucap Aulia terbata.

Rama membawa tangan Aulia ke rudal nya yang sudah berdiri tegak, Aulia merasakan hangat nya batang itu.

“Elusin sayang”.

Aulia mengelus elus rudal panjang itu, meremas pelan dan kemudian ia urut turun naik dengan perlahan. Jempol nya mulai memainkan kepala rudal yang sudah licin, sesekali ia remas kuat rudal Rama karna gemas. Rama memainkan payudara Aulia, menarik puting yang belum tegak sempurna, meremas daging payudara yang sudah banyak bercak merah karna hisapannya tadi siang.

“Aakhh.. enak banget tangan kamu yangh.. Ngghh”.

“Di jepit sama ini lebih enak pasti”, ujar Rama dengan tangan meremas serambi lempit Aulia.

“Mas ihh, main remes remes aja”.

“Gemes dek liat serambi lempit tembem kamu, boleh ya mas masukin rudal ke situ”? Tanya Rama penuh harap.

“Enggak mas”.

“Tapi mas gak tahan sayang”.

“Aku kocokin sampe keluar ya”, ujar Aulia.

“Emutin yang, masukin ke mulut kamu.. Nghhh”.

“Tapi aku gak pernah mas, gak tau caranya, mas punya juga panjang sama besar banget”.

“Jilat dulu sayang ujung nya, mainin pake lidah kamu, terus jilatin naik turun batang rudal mas, habis itu baru di masukin semuanya dalam mulut kamu”, Rama mengajari Aulia.

Aulia pun mulai mengikuti intrupsi intrupsi dari Rama, Rama yang merasa Aulia cepat belajar pun merasakan kenikmatannya. Ia mendongakkan kepala nya ke atas dan memejamkan matanya.

“Aakhh.. Shhh.. anget banget Lia mulut kamu.. terush sayaang”.

Rama menghentakkan pinggulnya ke atas agar rudal nya masuk sempurna ke dalam mulut Aulia.

“Glok..Glok..Glok..”

“Ukhhh.. mulut aja enak.. apa lagi serambi lempit kamu sayangh.. Nghhh”.

“Cepetin sayaanghh.. mas mau keluarhh.. Aakhh..aakhh..aakhh”.

“Glok..Glok..Glok..”

“Mas keluar yang, mas keluarhh.. Aaaakkkhhh”.

CROT..CROT..CROT..

Sperma Rama sampai meluber di area mulut Aulia.

“Telan sayang”, titah Rama.

“Hueek, gak enak massss”.

Rama mengambil tisu dan membersihkan mulut kekasihnya.

“Lepehin kalo gak enak”.

“Mas marah”? Tanya Aulia.

“Hm? Marah kenapa sayang?

“Aku gak telan itu mas”

“Haha kenapa harus marah? Mas gak marah kok”, jawab Rama dan mengecup pipi Aulia.

“Kamu mau gantian di enakin”? Tanya Rama.

“Di enakin gimana mas”?

“Kayak mas tadi”, jawab Rama.

“Emang di apain mas”?.

Tangan Rama langsung menyentuh serambi lempit Aulia, jari nya mengelus naik turun bibir serambi lempit Aulia, menekan nekan itil kekasihnya. Jari jail nya menarik narik rambut yang belum terlalu lebat.

“Mmmhhh.. maaassshh.. itu aku di apainhh.. jangan di tarik tarik bulu nya mash.. Nghhh”.

“Nama nya serambi lempit sayang, coba bilang”.

Aulia menggelengkan kepalanya tanda ia tak mau menyebut kan nama itu karna malu, Rama yang melihat penolakan dari Aulia pun langsung memasukkan satu jari nya kedalam serambi lempit Aulia dan langsung menggerakkan nya dengan cepat.

“Awhhh.. aakhh..aakhh..akkhh”

“Bilang sayang, apa namanya”.

“Aakhhh iya maassh.. iyaaah.. nama nya serambi lempit.. awwwhhh”.

Rama memperlambat kocokannya jarinya di dalam serambi lempit Aulia, ia mengeluarkan jarinya kemudian mengelus elus dan menarik pelan itil pacarnya.

“Nghhh.. Ssshh.. di apain lagi mas klitoris aku.. Aakhh”.

“Cuma di bikin enak aja sayang”.

“Ukhhh.. udah mas.. aku mau pipis.. Mmmh”.

Rama memasukkan kembali jarinya dan mengocok serambi lempit Aulia dengan sangat cepat.

“Aaaaakkkhhh… Ampun Maas, udah.. udaaaah maaass.. aku mau pipis.. Aakhh..aakhh..aaaaaaaaakkhhhhh”.

CROT..CROT..CROT..

Badan Aulia menggelinjang hebat karna pelepasannya, Rama langsung memeluk tubuh kekasihnya yang masih bergetar.

Setelah puas dengan pelepasannya, Aulia mengajak Rama untuk mandi karna badannya sudah sangat lengket. Rama menggendong Aulia menuju kamar mandi dan menduduk kan nya di closet dan menyuruh Aulia menunggu sembari ia mengisi air di dalam bath up.

Setelah air hangat terisi penuh Rama memasukkan Aulia ke dalam bath up dan ia pun ikut bernama bersama Aulia. Menggosok punggung kekasihnya dengan lembut, sesekali meremas si kembar dengan geram.

“Jangan kenceng kenceng mas, sakit tauk”.

“Hehe iya iyaa, maaf ya”, ucap Rama sambil mengecup bahu telanjang Aulia.

“Mas”.

“Iya sayang”.

“Aku takut ketauan sama buk Sonya”.

Rama mendekap kekasihnya dari belakang, menumpukan dagu nya di bahu Aulia.

“Gak usah takut, ada mas”.

“Kalo ketahuan gimana mas”? Tanya Aulia lagi.

“Ya gak apa apa “.

“Aku tanya lagi boleh”?

Rama hanya mengangguk.

“Mas beneran suka sama aku”?

“Hmm, bukan cuma suka, tapi cinta”.

“Kok bisa”? Tanya Aulia.

“Entah, kamu inget gak waktu kamu jatuh di parkiran beberapa bulan yang lalu? Terus kamu di tolongin sama Sonya” ujar Rama.

Aulia mencoba mengingat kembali kejadian beberapa bulan yang lalu, dan.

“Ohhh iya iyaa, aku inget, Buk Sonya nolongin aku dan mau ngasih aku tumpangan”.

“Iyaa, tapi kamu nolak”. Ucap Rama.

“Sejak saat itu mas suka merhatiin kamu dari jauh, cari tau semua tentang kamu, dan sekarang mas beneran dapetin kamu”, ujar Rama dengan mengeratkan pelukannya pada Aulia.

“Hmm, tapi aku ngerasa gak tau diri mas sekarang, buk Sonya itu baik banget, aku malah ada main sama suaminya”.

“Sssssttt, udah gak usah ngomong apa apa lagi, gak usah tanya apa apa lagi”.

“Aju masih pengen nanya maaaas”, rengek Aulia.

“Huuhhh, yaudah mau nanya apa lagi sayaaaang”?

“Mas kenapa sesantai ini? Maksud aku kenapa gak takut ketahuan sama buk Sonya”? Tanya Aulia.

“Mas gak cinta sama dia, jadi ngapain mas takut”?

“Gak cinta kok nikah”, sungut Aulia.

“Kita dijodohin sayaang”.

“Terus mas pernah ngelakuin hubungan suami istri sama buk Sonya”?

“Hmm, pernah gak ya”? Rama berpura pura berpikir.

“Mas ihh, udah ah”, Rajuk Aulia.

“Gak pernah sayaaaang, kita tidur aja kasur nya ada dua dikamar”, jawab Rama.

“Kalo pegang pegang atau kayak kita tadi pernah gak”?

“Gak pernah, tapi Sonya sering ngegoda mas dengan pakai pakaian sexy, kadang dia sering nyosor duluan mau nyium mas”, jujur Rama.

“Mas sambut gitu ciumannya”?

“Enggaaaak cintaaaku, mas ngehindar kok, cemburu yaaa”?

“Ih enggak yaa, ngapain cemburu”, ucap Aulia dengan wajah yang cemberut.

“Yaudah kalo gak cemburu, besok besok kalo Sonya nyosor mas sambut bibir nya, mas cium sampe dia lemes”.

Aulia bangun dari berendamnya, entah kenapa ia tak senang mendengar penuturan Rama. Apa ia cemburu? Secepat itu?

“Hahaha, mas bercanda sayang”, ucap Rama yang kembali menangkap Aulia yang sudah berdiri.

“Mangkanya, cemburu bilang cemburu.. gitu aja gengsi.. heran deh sama perempuan perempuan sekarang”.

“Bodo”, Jawab Aulia dengan jutek.

“Mas masukin nih rudal mas ke serambi lempit kamu, mau”?

“Engaaak”..

***

Setelah selesai dengan acara mandi dan sedikit grape grape, Rama turun ke parkiran apartement nya. Ia mengambil semua barang barang Aulia untuk di angkut ke kamarnya. Setelah kembali ke atas ia lalu memesan makanan untuk dirinya dan Aulia.

“Gimana kaki nya, masih sakit”?

“Udah mendingan kok mas”, jawab Aulia.

“Sini”, Rama menepuk nepuk pahanya agar Aulia duduk disana. Baru ingin duduk, bel apartement nya berbunyi. Rama menyuruh Aulia duduk dan ia segera membuka pintu apartement. Disana berdiri sang istri dengan membawa kotak bekal.

“Boleh aku masuk mas”? Tanya Sonya.

“Gak”.

“Kenapa”?

“Saya lagi tidak menerima tamu”, jawab Rama dengan wajah tanpa ekpresi.

Aulia yang penasaran kenapa kekasihnya itu lama sekali, ia pun berjalan ke arah pintu untuk melihat. Ketika hendak sampai di sana, Aulia langsung menyembunyikan dirinya di balik dinding yang tersekat antara ruang tamu dan pintu.

Dada nya berdegup kencang karna yang di depan ternyata istri dari kekasihnya. Ia tak berani beranjak dari sana dan mendengar semua percakapan suami istri itu.

“Aku ini istri kamu mas, bukan tamu kamu”, ucap Sonya.

“Saya tidak perduli, sekarang kamu pergi, saya ingin istirahat Sonya”.

Ketika hendak membalik kan badannya, Sonya menarik lengan Rama dan langsung menyerbu bibir suaminya. Tangan nya dengan lancang meremas rudal Rama yang masih tertidur.

“Aaakkhhh..” suara desahan lolos dari mulut Rama.

Aulia menyaksikan adegan itu dengan dengan hati yang bergemuruh. Ia pergi dari sana dan langsung masuk ke dalam kamar. Sedang di depan pintu, Rama langsung mendorong dan menepis tangan Sonya.

“Kamu pergi atau saya seret keluar Sonya”.

Bukan nya takut, Sonya malah memeluk tubuh Rama, menggesek gesekan serambi lempitnya yang masih berbalut celana ke rudal suaminya.

Rama mencoba menjaga kewarasannya agar tidak lepas kontrol menggauli istrinya. Tapi Sonya terus menerus menggodanya dengan gesekan gesekan hebat, ia terus menekan nekan serambi lempitnya ke rudal Rama.

Mulutnya dengan berani mengulum dan mencolok dengan lidah telinga Hendra.

“Berhenti Sonya”, titah Rama menahan godaan dari istrinya.

“Ayo sayang, aku pengen ngerasain rudal kamu masuk ke serambi lempit aku mas” bisik Sonya ke telinga Rama sambil mengulum daun telinga suaminya.

“Nnggghh..”

Rama tak tahan lagi, ia menggendong Sonya dan membawanya ke sofa tempat ia dan Aulia duduk tadi, dengan nafsu yang memuncak ia melupakan keberadaan Aulia.

Rama mencium Sonya dengan kasar, melepaskan baju yang di kenakan Sonya dengan terburu buru lalu melepaskan bra istrinya. Ia meremas payudara istri nya dengan kencang.

“Aakhhhh maass.. yang kenceng lagi mas remesnyaa”, teriak Sonya.

“Kayak gini”? Tanya Rama dengan sangat kencang meremas payudara Sonya.

“Aaaakkkhhhh iya sayaangghh.. iyaa”.

Sonya menarik kepala Rama agar berciuman dengannya, Rama menyambut ciuman dari istrinya. Mereka saling menghisap bibir satu sama lain, menyedot lidah dan bertukar Saliva. Rama menarik puting Sonya yang sudah menegang.

“Besar banget puting kamu Sonya”.

“Awhh.. isep mas”.

Rama langsung memasukkan puting besar istrinya ke dalam mulutnya yang hangat, ia menarik puting itu dengan gigi nya dan meninggalkan beberapa tanda di sekitaran payudara Sonya.

“Anget banget mas mulut kamuhh.. Ngghhh.. aku pengen rudal kamu masshh..

“Pengen di apain”?

“Pengen di masukin ke serambi lempit mashh, kamu belum pernah nyentuh aku semenjak kita nikah”.

“Sekarang udah di sentuh, pengen di apain, hm”?

“Di entot masshh.. ngghhh”.

“Ssshh.. kamu bikin aku sange sonyaa.. diri kamu”, titah Rama.

Sonya pun menuruti perkataan suaminya, ia berdiri didepan Rama dengan menggunakan celana dalam saja.

“Bukain”, Rama melirik celananya.

Sonya langsung membuka celana serta celana dalam Rama, ia terkejut melihat betapa besar dan panjangnya rudal suaminya, tanpa aba aba Sonya langsung memasukkan rudal itu ke dal mulutnya.

“Glok..Glok..Glok..”

“Aaakkhhh bangsat, enak banget mulut kamu sonyaaah”.

Sonya yang senang mendengar pujian dari suaminya itu semakin semangat memaju mundur kan kepalanya agar rudal suaminya semakin dalam masuk ke dalam mulut nya.

“Aaaakkkkhhhh..”

“Aakhh..aakkhh..akkhh”

“Nggghhh.. udah Sonya.. masukin rudalnya ke serambi lempit kamu”.

JLEB..

rudal Rama tenggelam di telan serambi lempit istrinya.

“Ngghhh..”

“Awhhhh.. rudal kamu panjang banget mas, gedehhh.. ngghh”.

“Suka”? Tanya Rama.

“Mmmhhh.. suka banget maashh.. pengen di entot tiap hari”.

“Aakhh..aakhh..aakhh iya sayang, nanti kita menyetubuhi tiap hari”.

“Nngghhh.. jangan cuekin aku lagi ya Mash.. jangan dingin lagi sama akuh..”

“Iyaah.. Akkkhh.. akkhh.. aakhhhh”.

“Janji”?

“Janji sayang”.

Rama seakan akan melupakan tentangnya dan Aulia. Aulia yang melihatnya di balik pintu pun merasa di bodohi dan di bohongi oleh Rama, ia kembali masuk dan mengunci kamar itu. Aulia terduduk dan menangisi kebodohan nya.

Sedangkan di luar sana Rama dan istrinya semakin liar dan brutal. Rama meremas dan menampar bokong Sonya, menaik turun kan pinggul sang istri agar tidak berhenti. Sonya menyodorkan payudara nya untuk di hisap oleh Rama.

“Mmmhh.. puting nya gede.. aku suka”.

“Iyaa sayanghh.. ini punya kamu kok.. nngghhh.. terus isep masshhh.. Akkhhh”

“Akhh..akhh..akhh”.

PLAK..PLAK..PLAK..

“Ukhhhh.. mau keluar masshh..”

“Keluarin sayang, basahin rudal aku.. Mmmhhh”.

“Akkhh.. aku keluar mashh.. keluaaarrhh.. aaaakkkhhhhhh”.

CROT..CROT..CROT..

Belum selesai dengan pelepasannya, Sonya di gendong oleh Rama menuju dapur, ia meletakkan Sonya di atas meja. Dengan cepat Rama langsung menyodokkan kembali rudalnya ke dalam serambi lempit Sonya.

“Aaakkkhhh”.

“Aakhh..aakhh..akkhh.. enak banget serambi lempit kamu sayaang.. kenapa gak dari dulu aja aku entotin kamuhh”.

“Ngghhh.. jangan cepet cepet mas.. serambi lempit aku masih ngiluuh”.

“Sssstt.. tadi minta di rudalin kan.. sekarang nikmatin aja yaa”.

“Aakhhh.. mau cium mas”.

Rama menundukkan kepala nya dan menyambut ciuman panas dari Sonya, pinggul menyodok , mulut berperang lidah dan tangan memainkan itil istri. Sonya kelojotan mendapati serangan kenikmatan dari suaminya.

“Nngghhh.. aku mau keluar Sonyahh.. Aaakkhh..akkhh..aakkhh”.

“Ngaaahhh.. itil aku di apain massh.. stop.. aakhh”.

“Aakkhh..akkkhh..aakkhh serambi lempit kamu kenceng banget kedut nyaa.. aku mau keluaarrr.. Aaaakkkhhhh”.

“Aku juga keluar mashh.. Aaaaakkkhh”.

CROT..CROT..CROT..

Rama menembakkan sperma nya ke dalam rahim Sonya, Sonya mengatur nafasnya dan mengelus elus perutnya.

“Cepat tumbuh di rahim bunda ya, nak”.

Rama menarik dan memeluk tubuh istrinya ke dalam dekapannya.

“Puas”? Tanya Rama.

Sonya hanya mengangguk.

“Inget janji kamu ya mas, jangan cuekin aku lagi dan jangan dingin lagi sama aku”.

Rama hanya diam dan mengecup pucuk kepala Sonya. Tiba tiba ia teringat Aulia, dimana pacar nya itu, apa aulia melihat dan mendengar apa yang ia lakukan dengan Sonya barusan.

Rama buru buru mencabut penyatuannya dan mengambil baju serta celana nya, ia segera memakai pakaiannya dan berlari menuju kamar nya.

Sial, kamar nya terkunci dari dalam, Aulianya pasti melihat apa yang di lakukan nya dengan Sonya. Ia kembali ke tempat Sonya berada, memungut pakaian Sonya dan menyuruhnya memakai bajunya.

“Pakai baju kamu, saya antar pulang”.

“Mas”.

“Hm?

“Kok kamu berubah lagi”?

Rama langsung menetralkan wajahnya dan kembali memanggil panggilan baru nya pada Sonya.

“Aku antar pulang”, ucap Rama sembari memberi senyum palsunya.

“Aku mau disini aja ya”, pinta Sonya.

“Nooo, aku antar pulang ke rumah, nanti aku pulang”.

“Bener”? Tanya Sonya dengan wajah sumringah.

“Iyaaa”.

Sonya pun memakai kembali baju nya dan segera Rama mengantar kan nya pulang ke rumah mereka. Didalam perjalanan Rama sibuk memikirkan aulia, bagaimana cara ia menjelaskan kepada kekasihnya itu, bagaimana kalau Aulia tidak mau mendengarkannya.

Bersambung… Setelah mengantar Sonya pulang ke rumah mereka, Rama langsung pergi menjalankan mobilnya kembali ke apartemen.

Setelah beberapa saat mengemudi, Rama pun sampai dan langsung masuk ke dalam apartement nya, mencari cari keberadaan kekasihnya.

Ia mulai mencari dari kamarnya, dapur, dan segala sudut ruangan yang ada di apartemennya, tapi nihil. Aulianya tidak ada.

Ia merutuki kebodohannya yang sudah tergoda dengan Sonya dan mengakibatkan kekasihnya pergi. Sibuk dengan memaki maki dirinya, Rama disadarkan dengan suara pesan yang masuk dari ponselnya, ternyata itu dari Aulia.

Gadisku ❤️

“Bapak jangan ganggu saya lagi, ternyata saya bodoh udah masuk ke dalam perangkap bapak, sayaudah kuat semuanya,saya di tipu habis habisan sama bapak. Yang katanya gak cinta sama istrinya, gak pernah berhubungan badan hehe.. maaf juga kalo saya ngerepotin bapak, nanti uang bapak yang buat bayarin kontrak kan saya, saya ganti.. selamat malam”.

Rama langsung menelpon nomer Aulia, tapi dengan sekejap nomer itu sudah tidak aktif lagi, apakah ia di blokir oleh Aulia?

“Brengseeeeeeek”, teriak Rama.

“Ini semua gara gara Kamu Sonya”.

Rama kembali menekan nomer seseorang disana, dengan sekali deringan panggilan langsung di angkat.

“Hallo mas”? Sahut seorang di seberang sana.

“Kamu lagi ngapain”? Tanya Rama.

“Hmm baru selesai mandi”. Jawab Sonya.

Yaa, yang di telfon Rama adalah istrinya.

“Jangan pake baju, bentar lagi mas pulang”.

“Hah? Kenapa jangan pake baju mas”?, Tanya Sonya lagi.

“Mas mau ngontolin kamu lagi”.

“Hah”?

“Mas mau menyetubuhiin kamu sampe besok pagi Sonya, kalo gak mau yaudah”.

“Ehh.. enggak kok.. aku mau mas.. Aku tunggu di rumah ya”, ucap Sonya.

“Inget, jangan pake baju”, ujar Rama langsung mematikan sambungan teleponnya.

Tanpa ba-bi-bu lagi, Rama langsung menancapkan mobilnya ke rumah yang di tempati Sonya. Rama yang merasa ini semua salah Sonya pun langsung ingin menghukum Sonya dengan cara tak biasa. Setelah beberapa belas menit, rama sampai di rumahnya kemudian ia langsung memasuki kamarnya dan Sonya berada.

Ceklek.

Rama membuka pintu, lalu masuk dan langsung membuka pakaian nya sendiri, ia melihat Sonya telah berbaring telentang di atas kasur tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuhnya. Tanpa pemanasan lagi, Rama langsung memasukkan rudalnya ke dalam serambi lempit Sonya.

“Aakhhhh.. masssh”.

Rama tidak memperdulikan jeritan kesakitan Sonya, ia terus menyodok batang rudalnya dengan tangan menampar payudara Sonya.

“Awwhhh.. sakit maass.. berhenti dulu”.

“Noo sayang, rudal aku gak mau lepas dari serambi lempit kamuhh”.

“Ngghh..ngghh..Nghhh”.

Rama menghentakkan dalam dalam rudalnya ke serambi lempit Sonya, mengangkat satu kaki Sonya dan di letakkan di atas bahu nya.

“Aakhh..aakhh..aakhh.. enak banget serambi lempit kamu sayaangh.. Mmmhhh”.

“Ssshhh.. aakhh.. berhenti Maas.. serambi lempit aku perih”.

“Enggak sayaaangh, gak mauuh.. aakhh”.

“Perih banget mas, basahin duluuh”, ucap Sonya yang mengeluarkan air matanya.

Rama tidak mendengarkan Sonya, ia jilat air mata Sonya yang mengalir di pipinya. Mulutnya Mengulum telinga istrinya, menghisap leher Sonya dan menggigit daging payudara Sonya.

“Mmhh.. kamu kenapa sih mas”?

Rama menenggelamkan wajahnya di leher Sonya, pinggulnya perlahan berhenti menyodok kuat serambi lempit istrinya. Jarinya mulai memelintir puting besar Sonya.

“Aku suka banget sama puting kamu, gedee”, ucap Rama sambil menarik narik dan mencubit puting besar istrinya.

“Aakhh.. itu punya mas.. boleh mas apain aja kok”.

Rama mulai memutar kan goyangan pinggulnya, ia angkat sedikit bokong nya lalu menghentak kan kembali keserambi lempit senja.

“PLOK..PLOK..PLOK..”

“Aakhh..aakhh..aakhh”

“Uukhh.. maaass enak banget massh”.

“Hnghhh.. enak? Iya? Akhh..akhh..akhh”.

“Iya mas, sekarang udah enak.. udah berasa rudal kamu.. mmhh”.

Rama terus menerus menyodok serambi lempit istrinya dengan kasar dan Memainkan itil Sonya dengan jarinya.

“Aaakkhhh.. Ampuuunh maashh.. aku gak kuat kalo di gituin.. nghhhh”.

“serambi lempitnya di sodok.. itilnya dimainin gini.. enakkh”?

“Mmmhh.. enak masshh.. enaakkhh sayangghh”.

“Uukkhh .. muka kamu sexy banget kalo lagi sange gini sonyaa.. rudal aku makin kerashh”.

“Aakhh..aakhh..aakhh.. rudalin aku terus mas.. aku mau di entot terus sama kamu.. nngghh”.

“Mmmhh.. ini lagi aku rudalin.. liat serambi lempit kamu gak mau lepasin rudal aku”.

“Aakkhh.. aku mau keluar mas.. ngghhh gak tahan lagi.. akkh..aakh..aaaaaakkkkkhhh”.

CROT..CROT..CROT..

PLAK..

Rama menampar serambi lempit istrinya.

“serambi lempit nakal, siapa suruh keluar duluan ha”?

“Aakhh.. jangan di tampar mas, di entot aja”, ucap Sonya.

Rama memiringkan badannya menghadap Sonya, memasukkan lagi rudal nya ke dalam serambi lempit berbulu istrinya.

“Mmmhhh”.

“Ngghhh.. mau menyetubuhi sambil nenen”, ucap Rama.

“Iya maassh”.

Sonya menyumpalkan payudaranya ke dalam mulut suaminya dan menekan dalam dalam kepala Rama. Sedang pinggul Rama dengan perlahan bergerak menyodok serambi lempit istri nya itu, tangannya dengan gemas meremas remas pantat Sonya.

“Aakhhh.. rudal kamu masshh.. aku suka banget sama rudal kamuuh”.

“Aku juga suka banget sama serambi lempit kamu sonyaaah, gak mau berhenti kalo udah masuk ke sanahh”.

“Nggghh.. entotin aku tiap hari mas.. penuhin rahim aku sama peju kamu.. hamilin aku.. aku mau hamil anak kamu”.

Rama semakin sange mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Sonya. Rama menghentakkan sodokannya dalam dalam ke dalam serambi lempit Sonya.

“Aakhh..aakhh..aakhh.. Aku hamilin kamu sonyaa, rasain rudal aku.. akhh..aakhh..akkhh”.

“Aaaaakkhhhh..cepetin mas, aku mau keluar”.

“Keluar sama sama Sonya.. aakhh..aakhh..aakhh.. serambi lempit bangsat.. keluar.. aaaaaakkkkkhhhhhhh”.

“Aaakkkhhh”.

CROT..CROT..CROT..

“Hangat nyaah”.

Sonya mengamit tangan Rama agar mengelus elus perutnya.

“Semoga lekas jadi ya mas”.

Rama hanya mengangguk dan membawa Sonya kedalam pelukannya. Tangan nya sangat suka memelintir puting besar Sonya.

“Ini gak bisa keluar susu ya”? Tanya Rama dengan tangan memainkan puting Sonya.

“Bisa mas kalo kita Konsul ke dokter”.

“Hmm, besok ke dokter ya, aku pengen ini ada susu nya.. pengen nyusu terus sama kamu”.

“Temenin tapi ya”.

“Iyaa”.

Lama saling diam, akhirnya Sonya mulai membuka pembicaraan.

“Mas”.

“Hm”?

“Kenapa tiba tiba kamu nelpon aku terus tadi kayak orang kesetanan”?

“Kan aku udah bilang, rudal aku kangen sama ini”, jawab Rama sambil mengelus serambi lempit istrinya.

“Hmm.. aku kira setelah kejadian di apartement kamu, kamu makin cuekin aku, makin dingin lagi sama aku”.

“Gak akan cuek dan akan dingin lagi, karna ternyata menyetubuhi sama kamu enak”.

“Oh, jadi cuma karna itu aja”? Sonya melepaskan pelukan nya dan langsung memunggungi Rama.

Rama bingung dengan perasaannya sekarang, padahal tadi niatnya ke sini hanya akan bermain kasar lalu pergi meninggalkan Sonya, tapi sekarang kenapa malah jadi seperti ini. Dia juga sangat mengkhawatirkan kekasihnya Aulia, dimana dia sekarang. Rama sangat bingung..

“Hey”, Rama memeluk Sonya dari belakang dan mengecup bahu telanjang istrinya.

“Ngambek? Gak gitu loh maksud aku”.

Tangan Rama mengelus elus lengan Sonya, meraba pantat istrinya yang montok, kemudian naik lagi ke perut Sonya dan berakhir menangkup payudara istrinya.

“Sonya”.

“Sonyaa”.

Sonya tetap diam pada posisinya.

“Sayaaang, mau nenen”, rengek Rama

Sonya membalikkan badannya menghadap Rama.

“Apa”? Tanya Sonya.

“Mau nen”.

“Bukaan, kamu panggil aku apa tadi”?

“Sayang”.

Sonya menutup wajahnya dengan telapak tangannya.

“Hey, kenapa”? Tanya Rama.

“Maluuuu”.

“Ngomong jorok gak malu, di panggil sayang malah malu”, ujar Rama.

Sonya langsung menarik kepala Rama dan menyodorkan payudaranya ke mulut suaminya agar diam dan berhenti membuat nya malu dan salah tingkah.

“Aku ngantuk mas, udah jam 1 pagi, besok kita ngajar”.

“Hmm”, Rama hanya berdehem karna mulutnya tersumbat payudara Sonya.

Bersambung… Setelah seminggu menghilang dan tak masuk sekolah, hari ini Aulia kembali ke sekolah seperti biasa. Ia menganggap kejadian seminggu yang lalu hanya sebuah mimpi saja.

Aulia berjalan dengan wajah riang menuju kelas nya, sedang berjalan ia tak sengaja berpapasan dengan Rama dan istrinya. Aulia berhenti sebentar dan menyapa kedua gurunya itu.

“Pagi pak, pagi buk”.

“Pagi”, jawab Sonya dengan senyum.

Sedangkan Rama hanya mampu diam dan ingin sekali rasanya memeluk Aulia karna sudah sangat rindu. Aulia kembali berjalan menuju kelasnya dengan santai.

“Kamu duluan aja ya, aku kebelet”, ucap Rama pada Sonya.

“Iya mas”.

Rama langsung pergi melenggang menuju kelas Aulia, beruntung nya pagi ini masih sangat sepi. Sampai nya di kelas, Rama langsung menarik Aulia untuk pergi ke area parkiran.

“Bapak apa apain sih, lepas”, Aulia memberontak saat Rama menarik paksa tangannya.

“Diam atau mas cium”?

Aulia langsung terdiam dan berjalan mengikuti Rama yang entah mau kemana membawanya, sampai di parkiran Rama membukakan pintu mobil dan menyuruh Aulia untuk masuk.

“Gak mau pak”.

“Mau mas cium disini”?

Aulia pun terpaksa masuk ke dalam mobil dengan bermacam makian yang keluar dari mulutnya, Rama masuk ke dalam mobil dan langsung menancapkan gas untuk pergi dari sana.

Setelah beberapa puluh menit dalam perjalanan, tiba lah mereka di sebuah rumah dekat danau yang jauh dari permukiman warga.

Rama mengajak Aulia turun dan menuju rumah kayu yang terletak di pinggir danau buatan itu.

“Gak usah pegang pegang pak, saya bukan anak kecil”.

Rama membuang kasar nafasnya karna Aulianya sudah mulai berubah, tidak penurut dan selembut kemarin. Sampai di teras rumah tiba tiba hujan turun dengan sangat deras dan Rama cepat cepat membuka rumah itu dengan kunci yang memang ia letakkan di celah celah jendela.

“Masuk Lia”.

“Ini rumah bapak”?

“Iyaa, ayo cepetan masuk”.

Setelah masuk dan mengunci pintu, Rama langsung memeluk Aulia dari belakang, mencium aroma tubuh kekasihnya yang sangat ia rindui.

“Lepas pak”.

Rama menggelengkan kepalanya dan malah menumpukan dagunya di punggung Aulia.

“Berhenti manggil mas bapak sayang, mas pacar kamu.. mas kangen sama kamu”.

“Sadar pak, bapak udah punya istri”.

“Mas cinta sama kamu, Lia”.

Rama menggendong Aulia menuju kamar yang ada di rumah kayu itu, menidurkan Aulia di atas kasur dan ia ikut berbaring di samping Aulia.

“Bapak mau ngapain? Jangan macam macam pak”.

“Mas kangen yang”.

Rama memeluk dan menenggelam kan wajahnya di payudara Aulia, Aulia yang tak tau harus apa lagi membiarkan Rama melakukan itu.

“Pengen nenen yang”, rengek Rama.

“Gak yaa.. nenen aja sama istri bapak”.

“Sayaaang.. please jangan kayak gini”.

“Kayak gini gimana”?

Aulia mendorong kepala Rama dan langsung bangun untuk duduk.

“Bapak jangan egois”, sarkas Aulia.

Rama diam menatap dalam dalam mata kekasihnya, ia melihat pancaran kesedihan di mata Aulia. Ia pun langsung bangun dan memeluk Aulia yang memberontak tak ingin di peluk. Rama menumpukan dagu nya ke kepala Aulia, sesekali ia kecup pucuk kepala itu.

“Maaf.. maafin mas sayang.. mas sayang banget sama kamu, mas cinta sama kamu”.

Aulia pun menangis dan memukul mukul dada rama.

“Bapak jahat.. kenapa bapak ngelakuin ini ke saya.. saya udah gak punya siapa siapa lagi pak.. kenapa bapak jahat banget sama saya”.

“Kamu punya mas sayang.. maaf lagi yaa.. mas janji gak akan ninggalin kamu”.

“Bapak udah punya istri..stop buat saya berharap”.

“Ssssttt.. percaya sama mas.. mas gak akan ninggalin kamu apa pun yang terjadi, hm”.

“Gak”.

“Sayaaang”.

“Saya mau pulang”.

Rama yang geram melihat Aulia yang sering melawannya pun langsung merobek seragam yang di kenakan Aulia, melepas paksa tantop dan bra Aulia.

Srek

“Bapaaaak”.

Rama membungkam bibir Aulia dengan kasar, menggigit bibir dan lidah kekasihnya lalu turun ke payudara Aulia dan langsung memasukkan nya ke dalam mulut hangat nya.

“Mmmhhh”

“Aaakkhh.. jangan di gigit pak.. sakiithh”.

Tangan Rama turun menyusuri paha dan kemudian masuk ke dalam rok sekolah Aulia, mengelus serambi lempit kekasih nya dari luar celana dalam lalu menekan nekan itil Aulia.

“Nghhhh”.

“Stophh pakhh”.

“Enak sayang”?

Aulia menggelengkan kepalanya dengan mata terpejam menahan desahan. Rama memasukkan jari tengahnya ke dalam serambi lempit Aulia dan mengocoknya dengan cepat.

“Aaaakkkhhh”.

“Udah pak.. jangaanhh.. ngghh”.

“Aaaakkhh..aakkhh..aakkhh”.

“Kamu bikin mas sange Lia.. boleh ya mas perawanin kamu”?

“Engakh.. jangaannnhh.. aakkhh saya mau pipis pak.. aakhh..aakkhh..aaakkkkkhhhh”.

CROT..CROT..CROT..

Rama melepaskan pakaian nya serta celana dalam yang ia pakai, menyampingkan celana dalam Aulia dan menggesek gesekkan rudalnya ke serambi lempit Aulia.

“Jangan pak”.

Rama tak mendengar lirihan Aulia dan langsung memasukkan rudal besarnya ke dalam serambi lempit Aulia.

Jleb

“Aaaakkhhhh”, jerit Aulia.

Terlihat darah yang meleleh di area bibir serambi lempit Aulia ketika Rama menarik pelan rudalnya.

“Mmhhhh.. sakit paak.. keluarin”.

Rama memasukkan kembali rudalnya dalam dalam ke serambi lempit Aulia, ia membungkuk kan badan nya lalu mengecup dahi kekasihnya.

“Maafin mas.. cuma ini satu satu nya jalan supaya kamu gak pergi dari mas”.

“Sakithh pakk”.

“Sakit nya sebentar aja.. nanti di ganti sama rasa nikmat.. mas gerakin ya”?

“Pelan pelan”.

Rama mengangguk dan dengan pelan ia menarik keluar rudalnya lalu memasukkan kembali sampai Aulia merem ke enakkan.

“Aaakkhhh”.

“Masih sakit”? Tanya Rama.

“Mmhh.. sedikit”.

“Mas cepetin ya”?

Rama langsung menggenjot cepat serambi lempit Aulia dan memasukkan payudara besar Aulia ke dalam mulutnya.

“Aaakkhh.. aakkhh.. Aakkkhh”.

“Jangan terlalu cepat paak.. aakkhh..akkhh..aakkhh”.

“Panggil mas sayannghhh”.

“Aakkhh.. gak mauuhh.. buk Sonya juga manggil bapak mashh.. akhhh”.

“Jadi mau manggil apah, hm? Jangan bapak, berasa lagi menyetubuhiin anak sendiri yanghh”.

“Aakkhh.. mmmhh.. gak tauh.. pokonya gak mau manggil bapak mashh.. ngghh”.

“Sshhh.. panggil Daddy aja ya baby”.

“Mmmhh.. iyaah”.

“Aakkhh..aakkhh..Akkhhh kenapa makin cepethh.. aakkhhh itu saya ngilu paaakhh”.

“Call me Daddy, baby”.

“Aakkhh Iyah daddy.. jangan terlalu cepet.

“Kenapa? Makin cepet makin enak”.

“Itu baby ngilu dadhh”.

“Itu apa? Kalo lagi Daddy entotin kata gini baby harus ngomong kotorhh”.

“Hmm.. me-mek baby dad.. aakkhhh”.

“Nikmati aja sayanghh.. aakhh..akkhh..aakkhh”.

“Pengen pipish dad..aakkhh..aakkhh..Akkkhhh”.

“Aaaakkkhhhhhh”.

CROT..CROT..CROT..

Rama merasakan betapa kuatnya serambi lempit Aulia berkedut dan memeras rudalnya di dalam sana, tanpa menunggu Aulia selesai dengan pelepasannya Rama menggenjot lagi serambi lempit Aulia.

“Aaakkhhh.. Daddy..”

“Aakkhh..Aaakkhhh..aakkhh Daddy mau keluar sayanghh”

“Nngghh serambi lempit perawan emang enaakhh.. Aaakkhh”.

“Daddy keluarhh.. Daddy keluar baby.. Aaaaaaaaakkkkhhhh”.

Rama menyemprotkan Peju nya ke dalam serambi lempit Aulia, menghentakkan pinggulnya agar semua Peju nya masuk.

“Akhh”.

“Kenapa di dalam? Kalo aku hamil gimana”?

“Emang Daddy mau buat kamu hamil sayang”.

“Aku masih sekolah, masih punya cita cita”.

“Iya Daddy tau, biar Daddy yang atur semuanya nanti”.

Rama memeluk tubuh Aulia dan mengecup kepala kekasihnya. Tiba tiba terdengar suara deringan ponsel yang ternyata milik Rama

“Tolong ambilin yang”.

Aulia mengambil ponsel Rama dan melihat ada nama Sonya di sana, dengan raut wajah masam ia memberikan ponsel itu pada Rama, Rama menerima ponsel yang di berikan Aulia dan mengecup tangan kekasihnya.

“Angkat tuh”.

“Kenapa cemberut gitu muka nya, hm?”.

“Gpp, angkat sana”.

Rama menjawab telepon dari istrinya dengan tetap memandang wajah kekasihnya yang sangat masam.

“Hallo mas? Kamu dimana? Kok gak ada di sekolah”? Tanya Sonya beruntun.

“Aku pulang, gak enak badan”.

“Kamu di rumah? Aku pulang sekarang ya”?

“Enggak.. aku di apartemen.. gak usah aku cuma gak enak badan aja.. bentar lagi juga sembuh”.

Rama berbicara di telepon dengan tangannya yang meraba raba paha sang kekasih, ingin mencium bibir Aulia tapi ia selalu menghindar. Rama hanya tersenyum paham karna kekasihnya itu sedang cemburu.

Rama menggamit tangan Aulia untuk di bawanya menuju ke rudalnya yang sudah tidur, ia merasakan dinginnya tangan Aulia yang memegang rudalnya. Tanpa suara dan hanya menggerakkan mulut saja, Rama menyuruh Aulia mengelus rudalnya.

“Elus”.

Aulia mengelus perlahan rudal kekasihnya, memainkan ujung rudal itu dengan jempolnya. Rama yang merasakan ngilu pun tak sengaja mengeluarkan suara desahannya.

“Aakhh”.

“Kenapa mas? Tanya Sonya yang masih berada di panggilan suaminya.

“Hm? Gpp kok, yaudah aku istirahat dulu ya”, Rama langsung mematikan panggilan teleponnya dengan Sonya.

“Sssshhhh.. nakal kamu yaa.. Aaaaaakkkhhh”.

Tiba tiba Rama berteriak karna aulia meremas rudalnya dengan kencang.

“Babyyy..”

“Kenapa kenceng banget remes nya.. ssshhh”.

“Kesel”, jawab Aulia.

“Kesel kenapa sayang? Tanya Rama dengan tangan memainkan puting Aulia.

“Lama banget telponan nya”.

“Iya iyaa maaf.. Sekarang mau apa, hm”?

Aulia menggelengkan kepalanya dan masih dengan tangan yang mengurut rudal rama.

“Mau apa baby”?

“Ini”, Aulia menjawab dengan tangan menunjuk rudal Rama.

“Mau di apain rudal Daddy”?

“Masukin ke serambi lempit baby”, jawab Aulia malu malu.

“Daddy basahin dulu serambi lempit nya supaya gak sakit nanti kalo rudal Daddy masuk.. sini diri depan Daddy”.

Aulia berdiri di wajah Rama dan langsung menggesekkan serambi lempitnya di hidung Bangir sang kekasih, Rama memegang pantat berisi kekasihnya dan langsung melahap serambi lempit Aulia dengan rakus. Di jilatnya serambi lempit tanpa bulu itu, lidahnya mengobrak Abrik isi serambi lempit Aulia.

“Aakkhhh..aakkhh..akkkhh”.

“Oukkhhh.. enak dadhhh.. gelliih”.

“Aaakkhh serambi lempit baby di apain daadhhh.. nghhhh”.

“Baby mau pipis dadh.. Aaakkhh..Aaakkhh..aaakkkkkkhhhh”.

CROT

CROT

CROT

“Akkkhhhhhh”

Aulia menjerit ketika rama menggigit serambi lempitnya.

“Sakit dad”, rengek Aulia.

“Gemes baby”.

“Mau masukin sekarang”? Tanya Rama.

Aulia mengangguk dan duduk di paha Rama, ia memegang rudal Rama yang sudah keras dan perlahan memasukkan ke dalam serambi lempitnya.

Jleb

“Aaakkhhhh”.

“Sssshhh.. ngilu banget dadhh..”

“Pelan pelan dulu baby gerak nya”, ucap Rama.

Dengan gerakkan perlahan, Aulia menaik turunkan pinggulnya. Kedua tangannya memegang bahu Rama.

“Ngghhh.. mau cium dadh”.

Rama langsung menyambar bibir kekasihnya, mereka saling melumat satu sama lain, menarik dan menyedot bibir serta lidah. Gerakan yang perlahan tadi kini berubah menjadi cepat.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh”

“Aakkhh enak banget genjotan kamu babyyh.. Daddy suukaaa..”

“Mmhhh.. rudal Daddy kenapa panjang banget..”.

“Supaya baby puas sayanghh.. akkhh”

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh”

Aulia yang mendengar suara ponsel Rama berbunyi pun menjadi tak terkendali, ia mengira yang menelpon Rama adalah Sonya. Ia mencium Rama dengan bringas, mulutnya beralih ke leher kekasihnya, mengecup, menjilat dan menghisap leher itu hingga meninggalkan bekas bewarna merah keunguan.

“Aaakkhhh.. babyhhhh.. terussshh sayangghh”.

Aulia semakin menjadi, ia memutar pantatnya dan memakan habis rudal kekasihnya. Ia menyodorkan payudara nya ke mulut Rama dan langsung di sambut oleh Rama.

“Aakkhhh.. isep yang kenceng dadhh.. habisin puting baby..”

Aulia semakin dalam menekan kepala Rama ke payudaranya, seakan tak boleh memberi Rama untuk melepaskan hisapannya.

“Nghhh.. iyaa dadhh.. kayak gitu.. gigit lagi puting nya..”

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh”.

Aulia mengangkat kepala Rama dan kembali menyerbu bibir tebal itu, lalu ia menyodorkan lehernya untuk di cupang oleh Rama.

“Cupangin dadhh, merahin semuanya..”

Rama menuruti permintaan kekasih kecil nya ini, mencium dan memberi tanda pada leher putih Aulia dengan tangan meremas dan memelintir puting Aulia yang sudah membengkak.

“Aaakkhh.. jangan berhenti dadh..”

Rama yang merasakan serambi lempit Aulia berkedut dengan kencang, ia langsung menyodokkan pinggulnya ke atas dengan kuat.

“Aaakkhh..aaakkkhh..akhhh.”

“Baby mau keluar dad..”

“Daddy juga mau keluar sayaanghh”.

“Keluar di dalam dad..”

“Aakkhh..aakkhh Daddy keluar..Daddy keluar sayaanghh..Aaakkhh”.

“Aaaakkkhhhh”

CROT… CROT… CROT…

Aulia terbaring lemas di atas tubuh Rama dengan tubuh yang masih mengelinjang, Rama mendekap tubuh Aulia erat erat dan mengecup bahu telanjang Aulia.

“Mmhhh.. perut baby anget dad”

“Gak lama lagi di situ akan ada anak kita sayang”, ucap Rama.

“I love you dad”

“Apa”? Rama langsung menegakkan tubuh Aulia.

“I love you”.

“I love you too” jawab Rama sambil memeluk kembali tubuh Aulia.

Bersambung… Setelah acara temu kangen nya semalam dengan Aulia, Rama mengantarkan Aulia pulang ke kontrakkan barunya dan memaksa Aulia untuk tinggal di apartemen nya. Tapi Aulia menolak mentah mentah keinginan Rama karna ia teringat dengan adegan panas yang dilakukan Rama dan istrinya.

Pagi ini, Rama menjemput Aulia untuk pergi berangkat bersama ke sekolah. Ia semalam tak pulang ke rumah yang Sonya tempati dan tak menjawab satu pun panggilan dari istrinya.

Tiba di rumah Aulia, Rama pun disambut dengan pelukan hangat kekasih kecilnya ini.

“Lama banget sih jemputnya?

“Dari apartemen ke sini jauh baby”.

Aulia memajukan bibirnya ke depan.

CUP

Rama mengecup bibir tipis Aulia.

“Ayo, nanti telat”, ajak Rama.

Di dalam mobil Rama tak melepaskan genggaman tangannya dengan tangan Aulia, Aulia merasa jengah sendiri dengan kelakuan pacar nya ini.

Tiba tiba ponsel Rama berdering lagi dan terpampang nama Sonya disana, mau tak mau Rama mengangkatnya dan melepaskan genggaman tangannya pada Aulia.

“Hallo”, sambut Rama.

“Kamu kemana aja sih Maas, kenapa telepon aku gak kamu angkat angkat? Kamu gak apa apa kan”? Tanya Sonya.

“Aku gak apa apa.. semalam aku ketiduran habis minum obat”, bohong Rama.

Aulia yang disamping nya hanya memutar bola matanya malas, pintar sekali kekasihnya ini berbohong. Baru ingin bertanya lagi, Rama memotong perkataan Sonya dan langsung memutuskan panggilan teleponnya.

“Yaudah aku tutup dulu ya, aku lagi nyetir mau ke sekolah”.

Rama menoleh Kan kepalanya ke kiri dan melihat kekasihnya yang sudah berwajah masam. Rama mengamit tangan Aulia dan membawanya ke bibirnya.

Muach..muach..muach..

“Jelek banget muka nya kalo cemburu”, Rama menggoda Aulia.

“Ngapain cemburu? Dia kan istri situ”. Jawab Aulia jutek.

“Oohh.. Gak cemburu yaa.. berarti gak sayang dong? Gitu ternyata”. Rama langsung meletakkan kembali tangan Aulia.

Aulia memiringkan duduknya ke arah jendela dan tiba tiba terdengar suara isakan kecil.

“Hiks..hiks..”

Rama pun kelimpungan mendengar Aulia menangis, ia memberhentikan mobilnya saat rambu lalu lintas bewarna merah. Rama berusaha membalikkan badan Aulia untuk menghadapnya.

“Babyy .. kenapa nangis sayang? Liat Daddy sini”.

Aulia membalikkan tubuhnya menghadap Rama dan langsung memukul pria itu habis habisan.

“Aww.. akh.. sakit sayang.. kenapa Daddy di pukul.. aww.. babyy”.

Rama menangkap tangan Aulia dan membawa tubuh Aulia ke dalam pelukannya, tangan Aulia masih saja memukul dada bidang kekasihnya.

“Jahat tau gak”.

“Iya Daddy jahat.. Daddy minta maaf yaa sayang.. Daddy cuma bercanda”.

“Aku tuh cemburu dad, bukan nya di bujuk malah di gituin”, teriak Aulia tak terima.

“Iya sayang iyaa.. Daddy minta maaf lagi ya”.

Aulia menganggukkan kepala nya dan Rama mulai menjalankan kembali mobilnya karna rambu lalu lintas sudah berganti warna hijau.

Setelah beberapa menit mereka pun sampai ke sekolah, tak di sangka Sonya menunggu Rama di parkiran dan langsung menuju ke arah mobil Rama. Sonya yang menunggu di luar pintu ingin memeluk suaminya tapi di kejutkan dengan Aulia yang keluar dari mobil suaminya

“Loh, Aulia “? Tanya Sonya

“Tadi dia nungguin angkot.. hari juga udah siang.. jadi aku tumpangin.. satu tujuan juga”, bohong Rama lagi.

Sonya hanya mengangguk angguk kan kepala nya dan langsung menggandeng mesra suaminya, Aulia hanya bisa cemburu dan sakit melihat Sonya menggandeng kekasihnya.

“Kalau begitu saya permisi buk, makasih atas tumpangan nya pak”, ucap Sonya lalu berlalu dengan amarah di dadanya.

***

Bel istirahat berbunyi, semua murid berlari menuju kantin untuk mengisi perut mereka kecuali Aulia. Padahal ia juga sudah sangat lapar, Aulia di suruh mengembalikan buku ke perpustakaan yang tempatnya berlawanan dengan kantin.

Ia berjalan menuju perpustakaan melewati ruangan guru dan ruang khusus untuk guru olahraga. Tanpa ia sadari Rama sudah berdiri di depan pintu ruangan nya, ketika ia melewati ruangan itu ia di kejutkan dengan suara deheman gurunya itu.

“Ekheem”.

Aulia menoleh dan menjelingkan mata nya pada Rama, seolah olah Rama adalah musuhnya. Rama mengulum senyumnya dan melihat sekeliling, di rasa tidak ada orang Rama mengikuti Aulia dari belakang. Sampainya di perpustakaan Rama menarik Aulia ke area paling belakang di perpustakaan itu.

“Ihh ngagetin tau gak, ngapain sih tarik tarik”, kesal Aulia.

Rama menyelipkan rambut Aulia ke belakang telinganya.

“Kenapa sih marah marah? Hm? , Tanya Rama dengan lembut.

“Gak ada yang marah, udah awas aku mau keluar”.

Rama mendorong tubuh Aulia ke rak buku, ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Aulia lalu mengelus lembut pipi halus tanpa noda itu.

“Kenapa baby? Tanya Rama dengan tatapan tajamnya.

“Aku cemburu dad”, jawab Aulia yang tak mau menatap mata Rama.

“Terus Daddy harus ngapain”?

Aulia tak menjawab, ia memeluk erat tubuh Rama, menggoyangkan pinggulnya agar serambi lempitnya dan rudal Rama saling bergesek.

“Babyyy”, Rama mengeram.

“Baby mau ini dadh”, ucap Aulia dengan tangan meremas rudal Rama.

“Ngghhh”.

“Di ruangan Daddy aja ya sayanghh”

“Noo dad.. baby mau menyetubuhi disini.. mumpung sepi..”

Rama menurunkan celananya dan menarik ke atas rok Aulia, menyamping kan celana dalam kekasihnya dan

jleb

“Aakkhh dadhh”

“Jangan kenceng kenceng baby.. kita main cepet”.

Rama menyodok kan rudal nya ke serambi lempit Aulia dengan cepat.

“Aaakkhh..aakkhh..aakkhh”

Rama membungkam mulut Aulia dengan ciuman kasar nya.

“Mmhh..mhhh”.

“Nngghhhh”.

“Baby mau keluar Daddy.. akhh..akhh..aaaaaaakkhhhh”.

Rama semakin menyodok serambi lempit Aulia dengan cepat.

“Daddy keluar baby.. aaaaaaakkkhhh”

CROT.. CROT.. CROT..

Rama menekan dalam dalam rudal nya agar Peju nya masuk semua kedalam serambi lempit Aulia. Setelah di rasa puas Rama memakai kembali celana nya dan merapikan rok Aulia.

“Kenapa sih sayang kalo lagi cemburu jadi sangean”?

“Gak tau.. pengen nunjukin aja kalo aku lebih hebat dari buk Sonya”.

“Hahaha dasar bocil”, ejek Rama.

“Ihh gak bocil ya”, Rajuk Aulia.

“Iya iya gak bocil.. mau keluar duluan atau keluar bareng bareng”? Tanya Rama.

“Keluar duluan lah, ngapain keluar bareng.. jadi gosip ntar”.

“Biar aja sih.. kamu belum makan kan”?

“Belum.. laper”, rengek Aulia.

“Ke ruangan Daddy dulu.. nanti Daddy nyusul bawain makan”.

“Bentar lagi masuk dad”.

“Udah gak papa.. nanti Daddy minta izin sama guru yang ngajar”, ucap Rama sambil mengusap rambut kekasihnya.

Ayu mengangguk dan langsung menuju ruangan kekasihnya, sesampainya di ruangan Rama, Aulia melihat sekeliling ruangan itu dan menemukan kotak bekal yang sudah tidak ada isinya.

Tak lama Rama pun datang dengan membawa nampan berisi nasi goreng dan jus jeruk.

“Itu punya siapa”? Tunjuk senja pada kotak bekal yang ada dimeja Rama.

“Sonya”.

“Hisshh”, senja menghentak hentakkan kakinya menuju meja yang berada di dekat pintu.

“Bukan Daddy yang makan, tadi dia kesini sarapan”.

“Gak nanya”, Aulia menjawab dengan mulut penuh dengan nasi goreng.

“Kenapa gemesin banget sih baby?

Aulia tak menjawab, ia sibuk dengan makanan yang ada di depannya.

“Baby.. Daddy udah beliin kamu rumah di dekat apartemen”.

“Kan aku udah bilang dad.. aku gak mau”, ucap Aulia kesal.

“Sekaliii aja gak usah ngebantah daddy.. pulang sekolah kita langsung pindah”, ucap Rama tak mau dibantah.

“Iya iyaa”, jawab Aulia dengan mata yang menjeling ke arah tempat bekal Sonya.

“Awasin ih tempat bekal nya”, sambung Aulia.

“Hahaha tempat bekalnya gak gangguin kamu padahal, mau di cemburuin juga?

“Bodo”.

“Daddy entotin lagi nanti”.

“Entotin lah”, tantang Aulia dengan membuka lebar lebar pahanya.

Rama berdiri dari duduknya dan langsung mengacak acak rambut Aulia.

“Binal banget sih by.. gak disini sayang.. dirumah aja nanti ya”.

“Tapi mau cudlle sambil ciuman dad”, Pinta Aulia.

Rama menuruti permintaan Aulia yang sangat menguntungkannya, ia memeluk tubuh kecil Aulia dan mencium bibir manis kekasihnya. Setelah di rasa bibir nya membengkak, Aulia mendorong dada Rama.

“Daddy ih, nyedotnya kuat banget.. bengkak kan jadinya bibir aku”.

“Baby juga tadi narik lidah Daddy kuat kok”, ujar Rama tak mau kalah.

Asik berdebat perkara menyedot dan menarik, bel pulang sekolah berbunyi dan memberhentikan masalah yang tidak penting. Tiba tiba pintu ruangan itu terbuka dan muncul lah Sonya yang langsung masuk.

“Eh, Aulia.. kenapa disini”?

“Kemarin dia seminggu gak masuk.. ada tugas aku yang belum dikerjain”, jawab Rama.

“Ohh.. kita pulang bareng ya mas”, pinta Sonya.

“Kamu kan bawa mobil.. aku lagi banyak kerjaan.. nanti aku pulang ke rumah”.

“Janji ya”?

“Hmm”

Sonya mengambil tangan Rama untuk ia Salim.

“Aku pulang dulu kalo gitu”.

Apa kah mereka tidak menganggap Aulia yang teronggok di sofa sana?

Sonya melemparkan senyuman nya kepada Aulia dan langsung keluar dari ruangan suaminya. Rama langsung menghampiri Aulia dan memeluk tubuh kekasihnya, wajah Aulia sudah seperti singa yang ingin memakan mangsanya.

“Langsung pulang ya by.. langsung beres beres terus pindah”.

Aulia bangun dari duduk nya lalu langsung membuka pintu dan menutupnya dengan keras.

BRAKK..

“Astaghfirullah.. serem banget ya Allah”, Rama berucap.

Rama buru buru membereskan ruangannya dan menyusul Aulia yang sudah menunggu diparkiran.

“Lama banget sih dad?

“Ya maaf sayang.. yaudah ayo masuk”.

Setelah mereka masuk, Rama langsung menancap kan gas menuju kontrakkan Aulia dan beres beres untuk pindah ke rumah yang sudah di belikan Rama.

Sampai di kontrakan mereka langsung membereskan semua barang Aulia untuk di masukkan kemobil. Setelah selesai mereka pun langsung menuju di kediaman baru Aulia.

30 menit sampai lah mereka dan Rama langsung menurunkan semua barang milik kekasihnya ke dalam rumah.

“Huhh.. capeknyaa”.

“Capek?

“Iya dad”.

“Hmm.. gak jadi dong ngen..

Belum selesai Rama berbicara, Aulia langsung menubruk tubuh Rama yang sedang duduk di karpet berbulu hingga Rama terlentang dan mencium bibir Rama. Aulia naik ke tubuh kekasihnya dan menggesek gesek kan serambi lempit nya ke rudal Rama. Rama memasukkan dua tangannya ke dalam rok sekolah Aulia dan meremas pantat yang semok dan sekal itu.

“Nggghhh”.

“serambi lempitnya udah gak sabar ya mau di rudalin?

“Mmmhh.. iya dadhh.. serambi lempit ketagihan rudal gede Daddy”.

“Telanjang sekarang baby”.

Aulia tergesa gesa membuka seragamnya lalu membuka pakaian Rama.

“Tiduran sini.. ngangkang”, perintah Rama

Aulia pun berbaring dan mengangkang kan lebar lebar kakinya dan menampak kan serambi lempitnya yang merah merekah. Rama menyerbu serambi lempit kekasihnya dengan bringas.. ia cium dan ia sedot serambi lempit Aulia, di tariknya itil Aulia dengan mulutnya.

“Aaaakkhhh.. serambi lempit baby di apain dadhhhh.. nngghhh.

“SLURP..SLURP..SLURP”

“Nggghhhh Daddyh..

“Udah dadhh.. baby mau pipishh”

“Aakhh..akkhh..aakkhhhhhhh”.

CROT.

CROT.

CROT.

Rama menggesek kan rudalnya ke serambi lempit Aulia, menekan nekan kepala rudal yang sudah mengkilap itu ke belahan serambi lempit kekasihnya.

“Mmhhh.. masukin daddhh

“Apanya baby?

“Ngghh.. rudal Daddy.. baby pengen rudal Daddy masuk ke serambi lempit babyy.

Jleb

“Aaaakkkhh Daddy..

Rama menggenjot dengan ritme pelan dan menyumpalkan mulut nya dengan payudara Aulia..

“Mmhh.. isep terus dad.. gigit puting baby.. aakhhhh.

“rudalin yang kenceng dadhhhh..

Rama tak tahan mendengar racauan dari kekasihnya ini. Ia langsung menggenjot kasar serambi lempit Aulia. Menggigit puting itu dengan kuat.

“Aaaakkkhhhh… Daddy.. ampunhh daddhh..

“Ngghhh… Akhh..aakhh..akhh..

“Enak? Enak baby rudal Daddy? Daddy hamilin mau?

“Aakkh..aakkh..aakkhh.. enak dadhh.. enakhh… Hamilin baby dadh..aakkhhh..

“Rasain rudal Daddy sayanghh.. Aaakkhh..aakhh..akkkhh

“Baby mau pipishh dadhhh..

“Daddy mau keluar.. keluarhh..

“Aaakkhh..akkhh..akkhh keluar baby keluaaarhh.. aaaakkkhhhhh”

“Aaaakkkhhhhh”

CROT.

CROT.

CROT.

Rama menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Aulia dan mengatur kembali nafasnya.

“Capek banget dad.. pengen tidur”

“Iya sayang.. tidur aja.. nanti Daddy pindahin”.

Rama mencabut rudalnya dan membersihkan sisa sisa Peju yang berada di luar bibir serambi lempit Aulia. Setelah di rasa bersih, ia memakai kembali pakaiannya dan mengangkat Aulia untuk pindah ke kamar nya.

Rama menyelimuti tubuh telanjang Aulia dengan selimut lalu membereskan barang barang Aulia untuk di rapikannya. Usai semuanya beres ia langsung mandi untuk membersihkan dirinya dan bergabung tidur bersama Aulia.

Bersambung… Matahari siang menyapa dua insan yang masih tertidur lelap dengan memeluk tubuh satu sama lain, tidur Aulia terbangun karna suara dering ponsel Rama yang terus berbunyi. Aulia mengelus wajah berjambang Rama untuk membangun kan kekasihnya itu.

“Dad, hp kamu bunyi terus dari tadi”.

“Mmmhhh”

Rama mengeliatkan badannya dan kembali memeluk tubuh Aulia.

“Bangun dad, hp kamu bunyi lagi itu”.

“Huh, iya iyaa”.

Dengan rasa malas Rama bangun dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas tempat tidur, Rama melihat nama yang ada di ponselnya dan mengusap kasar wajahnya, takut takut jika kekasihnya akan mengamuk lagi. Aulia yang melihat tingkah Rama seperti itu pun bertanya.

“Siapa dad”?

Rama menunjukkan ponselnya di depan wajah Aulia.

“Oh, angkat aja”.

Rama pun mengangkat panggilan dari Sonya, istrinya.

“Hallo”, sambut Rama.

“Hallo mas, kok kamu gak pulang lagi? Aku ke apartemen juga kamu gak ada, kamu tidur dimana”?

“Kenapa Sonya”?

“Hm.. kepala aku pusing banget dari semalam mas.. terus aku muntah muntah terus, temenin aku ke rumah sakit ya”?

“Gak bisa minta anterin supir aja”? Tanya Rama.

“Aku mau sama kamu mas, please”.

“Huh, yaudah bentar lagi aku pulang, aku tutup dulu”.

TUT..

Rama menoleh Aulia yang menutupkan matanya, ia tau kalau Aulia sedang meredam amarah dan rasa cemburunya. Rama memeluk tubuh telanjang itu lagi dan berbaring di payudara istrinya.

“Mandi yu, Daddy mandiin”, Rama mencoba untuk merayu Aulia agar nanti ia bisa pergi dengan selamat.

“Daddy aja yang mandi terus siap siap ketemu sama istri Daddy”, Aulia menjawab dengan mata yang masih terpejam.

“Baby..

“Gak apa apa dad, aku mau lanjut tidur lagi.. masih ngantuk sama capek”.

Rama yang tidak ingin membuat masalah pun bangun dan mencium seluruh wajah Aulia lalu langsung menuju kamar mandi untuk mandi dan setelah itu bersiap untuk pulang. Setelah selesai dengan mandi dan bersiap, ia pamit kepada Aulia.

“Daddy pulang sebentar ya sayang, nanti Daddy ke sini lagi”.

“Hmm”.

Rama mengecup sekilas bibir Aulia dan langsung pergi.

“Huh”. Aulia menarik dan membuang nafas nya kasar.

***

Setelah mengendarai mobil nya selama 25 menit, Rama pun sampai di rumahnya dan Sonya. Ia langsung masuk untuk menemui Sonya.

“Mas, kamu udah pulang?, Sambut Sonya dengan memeluk suaminya.

“Hmm, mau pergi sekarang?

“Sebentar lagi ya, aku mau kangen kangenan dulu sama kamu.

“Aku masih ada kerjaan Sonya.

“Bentar lagi mas, duduk dulu.

Sonya menarik lengan suaminya dan mengajak Rama untuk duduk di sofa. Sonya mengeratkan pelukannya dan mengendus endus aroma tubuh suaminya.

“Kok aneh ya mas?

“Aneh kenapa?

“Aku dari semalam mual mual sampe tadi, sekarang nyium bau kamu mual aku hilang”.

Rama tidak menjawab lagi, ia membiarkan Sonya mengendus baunya.

“Mas”.

“Hmm.

“Aku pengen.

“Pengen apa? Tanya Rama bingung.

“Inih”, Jawab Sonya dengan tangan meremas rudal suaminya.

“Aakhh.. Noo.. kita ke rumah sakit sekarang.

Rama langsung berdiri dan berjalan menuju ke tempat mobilnya berada. Sonya mendesah kecewa atas penolakan Rama.

***

Sampai di rumah sakit mereka langsung masuk ke ruangan dokter yang sudah telpon dari rumah tadi.

“Ada keluhan apa bapak, ibuk”? Tanya dokter wanita tersebut.

“Saya sudah dari semalam pusing dan mual mual dok”, jawab Sonya.

“Mari saya periksa”.

Dokter wanita itu dan Sonya berjalan menuju bankar.

“Silahkan berbaring buk”.

Sonya pun berbaring dan langsung di periksa oleh dokter wanita tersebut. Setelah selesai di periksa Sonya kembali ke tempat duduknya tadi.

“Selamat ya buk, ibuk positif hamil.. dan usia kandungan ibuk menginjak usia dua Minggu”.

Sonya menutup mulutnya tak percaya, ia sangat senang mendengar berita kehamilan nya. Ia pun langsung memeluk tubuh suaminya dan menangis bahagia disana, sedang Rama tak tau harus bereaksi seperti apa, dia tak menyangka benihnya akan secepat ini tumbuh di rahim istrinya. Rama mengucapkan terima kasih kepada dokter di depan nya kemudian keluar dari ruangan tersebut.

“Aku seneng banget mas”.

Entah, Rama sedari tadi hanya diam tanpa mengucapkan satu kata pun. Sesampainya di rumah, Rama langsung ingin pergi menemui Aulia, tapi ia menjadi tak tega ketika melihat Sonya memohon untuk ia tetap tinggal.

“Jangan pergi lagi mas”, ucap Sonya dengan mata yang sudah berembun.

“Iyaa”.

“Mas.

“Hmm.

“Aku mau nanya boleh?

“Iya

“Kamu sayang dan cinta gak sama aku?

“Mau jawaban yang jujur atau bohong”? Tanya Sonya.

“Hmm jujur.

“Aku sayang sama kamu, tapi untuk cinta, kayaknya enggak.

Hati Sonya sakit sekali mendengar penuturan yang keluar dari mulut suaminya, tapi ia akan berusaha membuat Rama mencintainya dan membangun rumah tangga yang sempurna.

“Aku akan buat kamu cinta sama aku mas.

“Hm, berusaha lah kalau kamu bisa.

“Jadi panggilan sayang kamu ketika kita berhubungan itu apa? Hanya sekedar panggilan saat kamu horny dan ke enakkan”?

“Udah Sonya cukup, ngapain kamu bahas sampe kesana?

“Ya aku pengen tau mas, kamu nganggap aku sebagai istri atau sebagai jalang kamu?

“SONYA”, Teriak Rama.

Sonya terkejut karna rama meneriakinya, selama pernikahan mereka, Rama sama sekali tak pernah membentak atau memarahinya walaupun ia sangat dingin dan cuek kepadanya.

“Aku bilang cukup, cukup!!

“AKU JUGA BERHAK TAU MAS”, Sonya membalas meneriaki suaminya.

Rama menetralkan emosinya dan menutup matanya.

“Aku pengen tau mas”.

“Apa yang mau kamu tau?

“Semuanya”.

“Oke.. dari dulu sampai kemarin aku gak pernah ada perasaan apa apa sama kamu, sampai ketika pertama kali berhubungan aku udah mulai sayang sama kamu, entah itu perasaan sayang sebagai istri atau sebagai pemuas nafsu aku juga gak tau” Rama menjawab jujur pertanyaan istrinya.

PLAK

Sonya menampar wajah suaminya dengan air mata yang sudah bercucuran di wajah anggunnya. Ia memukul mukul tubuh suaminya.

“Jahat, jahat kamu mas.. kamu cuma nganggap aku sebagai pemuas nafsu kamu aja.. jahat.. bajingan kamu mas”.

Rama merengkuh tubuh istrinya dan mencoba untuk menenangkan Sonya.

“Maaf Sonya, maafin saya”.

“Gak, kamu jahat.. aku benci sama kamu mas”.

“Iya aku jahat, aku bajingan.. kamu boleh benci sama aku”.

Sonya membalas pelukan suaminya, ia memeluk erat erat tubuh Rama sambil menangis sesegukan.

“Jangan tinggalin aku mas.. gimana sama anak kita nanti kalo kamu pergi”.

“Buang pikiran negatif kamu Sonya.

Sonya mengamit tangan suaminya dan membawanya ke perutnya.

“Disini.. disini ada calon anak kita mas.. kamu harus ingat dia kalau kamu mau ninggalin kami”.

“Sonyaa”.

“Janji mas, janji kalau kamu kan akan pergi dan ninggalin kam..

Rama langsung mencium kasar bibir Sonya yang semakin berbicara melantur, ia gigit bibir istrinya yang sudah berani meneriaki nya tadi, lidah Sonya tak luput dari sedotan maut Rama. Ia membawa Sonya ke sofa dengan mulut yang masih saling menyesap dan membelit. Tangan Sonya yang nakal meremas sangat kuat rudal suaminya.

“Nghhhhhh.

Sonya membuka resleting celana suaminya dan memasukkan tangan nya ke dalam CD Rama. Sonya merasakan hangatnya rudal Rama yang masih tertidur itu. Perlahan ia mulai meremas pelan, memainkan kepala rudalnya dengan jempol dan baru ia menarik turun kan tangannya.

“Aakkhhh.. sonyaaah

“Kenapa mas? Tanya Sonya dengan menjilat telinga suaminya.

“Uukkhh.. mas sange sayaanghh.

Sonya membenarkan ucapan Rama tadi, jika rama hanya memanggil dirinya mas dan memanggilnya sayang ketika sedang horny dan tengah berhubungan badan saja, tapi Sonya tak menyerah, ia akan membuat suaminya mencintai dirinya. Ia melanjutkan kegiatan mengocok rudal suaminya dan menjilat serta menyesap leher Rama.

“Aakkhh.. jangan di cupanghh sayanghh.

“Kenapa mas?

“Noo, mas gak suka di cupang.

Rama masih menjaga kewarasannya , bisa mati dia kalau Aulia melihat ada cupangan di leher nya.

“Mas.

“Iyaah.

“Aku suka rudal mas, aku mau di entot tiap hari sama mas.

“Iya sayanghh, rudal mas buat kamu.. nanti kita menyetubuhi tiap hari.

“Aakhh..akkhh..akkhh tangan kamu enak sayaanghh.. ngghh

“Bukain baju sama bra aku mas.

Rama membuka kan baju serta bra yang di pakai Sonya, ia langsung menarik puting besar milik istrinya.

“Aakkhh.. si kembar kangen sama ayahnya mas.. mmhh

“Iya sayaangh, sekarang si kembar ketemu ayah.. ukkhhh yang cepet sayang kocoknya.

“Gigit mas puting aku, gigit yang kenceng

Rama langsung memasukkan puting sonya ke dalam mulutnya, menjilat, menarik dan menggigit dengan kuat.

“Nggghhhh.. puting enak mas.. keenakan di emut sama mulut hangat ayahnya.. mmmhh

“Terus maashh.. terus sayanghh.. Akkhhh

Tangan Rama menuju ke serambi lempit mulus tanpa bulu istrinya, mengusap nya dari luar celana dalam Sonya, serambi lempit basah Sonya membuat Rama semakin sange.

“Mmmhh.. serambi lempit nya udah becek banget sayaangh..udah pengen di entot? Iya?

“Ssshhh.. iya massh.. serambi lempit pengen di entot rudal gede.

Rama membuka baju serta celana nya, ia mendorong Sonya agar menyandar di sofa dan melebarkan kaki istrinya.

Jleb

“Nnghhhhh.

“Aaakkhhh.

“Jangan kenceng kenceng mas genjot nya.. inget ada anak kita.

Rama mengangguk dan menyodok nya dengan ritme sedang, tangannya ia gunakan untuk menarik dan mencubit puting besar payudara istrinya.

“Masshhh..

“Iyaah..

“Aku pengenh kita ngubah panggilan kitahh, supaya nanti terbiasa kalau anak kita lahir.. mmhh.

“Iyaah.. terserah kamuhh

“Panggil aku bunda mashh, aku panggil kamu ayah.. aaakhhh

“Iyahh bundaahh..sssh

“Aaakkkhhh.. agak kenceng yah..

“Gaaakh sayaangh, kamu lagi hamil anak ayahh.. Nghhh.

“Sini yah sambil nenen

“Aakhh..aakkhh..akhh enak yah.. enak banget ngghh.. jangan berhentiih

Rama menambah kan sedikit genjotannya dan menghisap kuat payudara istrinya.

“Aakkh..aakhh..akhh mau keluar yah.. bunda keluar yah.. Aakkkhh.

“Ngghh.. akkhh..aakhh..akhh ayah keluar..ayah keluar..aaaaakkhhh.

CROT

CROT

CROT

Rama kembali menyemprotkan pejunya ke dalam rahim Sonya.

“Makasih ayah, adek seneng di jengukin”, ucap Sonya menirukan suara anak kecil.

Rama mencabut rudalnya dari serambi lempit Sonya dan langsung merebahkan tubuhnya ke sofa yang berbantalkan paha istrinya.

“Sama sama adek”, jawab Rama dengan mengecup perut istrinya.

“Yah.

“Hmm.

“Pengen lagi.

“Enggak, sekali aja.. inget kamu lagi hamil.. jangan egois mentingin diri sendiri

“Huh, yaudah.

“Mau nenen Bun

Sonya menyodorkan payudara nya kemulut Rama dan tanpa sengaja mereka tertidur dengan Sonya yang duduk menyandar di sofa dan Rama yang berbaring di paha nya dengan mulut tersumbat payudara istrinya. Mereka tidur dengan tubuh telanjang.

Bersambung… Sudah seminggu ini sejak kepergian Rama menemui Sonya, ia tak pernah lagi berkunjung ke rumah yang Aulia tempati dan Rama pun tak menghubungi Aulia sama sekali, di sekolah pun pasangan suami istri itu tak pernah tampak hadir kesekolah.

Aulia merasa dirinya sekali lagi di permainkan oleh Rama, kali ini ia benar benar akan pergi dan menjauh dari kehidupan Rama. Persetan dengan sekolahnya, ia merasa hidupnya pun sudah hancur.

Aulia segera mengemasi semua barang barang nya, ia sudah memesan tiket untuk pulang ke kampung halaman almarhum ayahnya di Bali. Bunyi knop pintu kamar mengalihkan atensi Aulia, ia menoleh dan mendapati Rama yang sedang berjalan menuju ke arahnya.

“Kamu mau kemana baby”? Tanya Rama tanpa merasa bersalah.

Aulia hanya diam dengan wajah dingin tanpa ekspresi dan tetap melanjutkan mengemasi barang barangnya untuk di masuki ke dalam koper. Rama menghentikan gerakan tangan Aulia yang sibuk ke sana sini memasukan barang barangnya.

“Kamu mau kemana”? Tanya Rama sekali lagi.

“Lepas”.

“Baby”.

Aulia menyentakkan tangannya dari pegangan Rama, ia sudah sangat muak dengan Rama dan benar benar ingin memaki pria yang ada dihadapannya sekarang tanpa perduli yang di katakannya ini kurang ajar atau tidak sopan.

“Jangan pernah nunjukin batang hidung Lo lagi di hadapan gue”, Aulia berkata seraya menunjuk nunjuk jari telunjuknya nya di depan wajah Rama.

Rama yang tak senang Aulia berkata seperti itu mencoba meredam amarahnya dengan menggertakkan giginya. Aulia melanjutkan kegiatan mengemasnya, Rama menarik kembali lengan Aulia dan mencoba untuk mencium bibir kekasihnya.

“Lepas brengsek”.

“KAMU KENAPA”? Teriak Rama.

“Lo tanya kenapa? Lo brengsek tau gak.. seminggu yang lalu setelah Lo make tubuh gue.. Lo pergi dan gak pernah ngunjungin gue bahkan ngabarin gue lagi.. dan sekarang Lo dateng dengan santainya dan mau make gue lagi? Iya? Selacur itu gue di mata Lo, anjing”?

Rama menarik nafas nya dalam dalam dan membuangnya perlahan, ia sangat tak suka jika Aulia berkata kasar seperti itu kecuali sedang ehem ehem dengan nya. Ia ingin menjelaskan apa yang terjadi. Ia mencoba mengambil tangan Aulia lagi tapi segera di tepis oleh Aulianya.

“Dengerin Daddy dulu sayang”,

“Gak, gue gak mau dengerin apa apa lagi dari cowok brengsek kayak Lo”.

“AULIA PURNOMO”, Rama meneriaki nama Aulia dengan nama belakangnya sendiri, Rama Purnomo.

Sekali lagi Aulia kaget dengan teriakan yang sudah 2 kali Rama lakukan terhadap nya hari ini.

“Huhhh, dengerin Daddy dulu ya sayang”, ujar Rama kembali dengan nada lembutnya seperti biasa.

“Sonya hamil”.

Degh..

Dada Aulia berdegup kencang, sekarang ia percaya kalau ia memang harus benar benar pergi dari hidup Rama.

“Selamat”, ucap Aulia dan membalikkan badan nya dan ingin meraih koper nya.

Rama cepat cepat memeluk tubuh Aulia dari belakang, tak ingin membiarkan kekasihnya pergi lagi.

“Jangan pergi lagi baby”.

“Teruuus? gue harus tetap jadi lacur Lo gitu”?.

“Baby.. Daddy gak suka kamu ngomong kasar kayak gitu.. gak baik perempuan ngomong kasar”.

“Gue gak perduli, sekarang Lo lepasin gue”.

“Gak , sebelum kamu dengerin penjelasan Daddy”.

“Gue gak mau dengerin apa apa lagi dari mulut Lo, Rama”.

“Nakal banget mulutnya manggil manggil Rama”, Rama menyentil mulut Aulia dengan jarinya.

“Awwhhh.. sakit tau”.

Rama menarik Aulia dan membawanya ke kasur lalu mendudukkan Aulia di atas pahanya dan ia memeluk tubuh Aulia dari belakang. Rama menumpukan dagunya ke bahu Aulia.

“Seminggu yang lalu Sonya nelpon kalo dia pusing sama mual, setelah di periksa ke rumah sakit ternyata dia positif hamil, habis pulang nganterin dia Daddy langsung mau pulang kesini tapi malah di tahan gak di bolehin kemana mana”, jelas Rama.

“Terus besok pagi nya pas Daddy mau kesini, Daddy dapat kabar kalau ibunya Sonya meninggal di Jogja, jadi Daddy sama Sonya langsung pergi kesana sayang, Daddy gak sempat ngabarin kamu dan memang gak ada megang hp”, lanjut Rama menjelaskan panjang lebar perihal dia tak pulang ke sini dan mengabari Aulia.

Aulia mendengar seksama penjelasan dari Rama, ia tak tahu kalau itu jujur atau bohong. Tapi hati nya sedikit merasa lega dan kebanyakan merasa takut akan di tinggal Rama sebab istrinya sedang mengandung anak Rama. Padahal tadi ia sudah sangat mantap untuk meninggalkan Rama.

“Babyy, kenapa jadi diem gini? Hm?.

Aulia ingin bangkit dari paha Rama tapi ditahan oleh Rama dengan pelukan kencangnya.

“Biarin aku pergi”, ucap Aulia yang sudah merubah panggilannya.

“Kenapa? Mau pergi kemana?.

“Buk Sonya hamil, kamu pasti mau buang aku”.

“Nooo, siapa yang bilang kayak gitu? Daddy gak pernah berfikir untuk buang kamu sayang, jauh banget pikiran kamu”.

“Terus aku harus gimana? Aku harus tetap jadi pacar dan partner sex kamu”?

“Daddy gak suka ya kalo kamu ngomong kayak gitu, kalo kamu mau hari ini juga Daddy nikahin kamu”.

Aulia membalikkan badan nya dan memeluk leher Rama.

“Jangan tinggalin aku”, ucap Aulia dengan suara paraunya.

“Enggak sayang, Daddy gak akan ninggalin baby apapun yang terjadi.. gak akan pernah”.

“Janji”?

“Janji”, ucap Rama.

“Emang mau pergi kemana ha”? Tanya Rama.

“Bali”.

“Berani kamu ya mau ninggalin Daddy lagi”, ucap Rama dengan menampar pantat Aulia.

“Udah sakit hati kok, ya berani lah.. di Bali juga banyak bule bule, bisa lah di jadiin pacar”, Jawab Aulia.

Tiba tiba Aulia berteriak karna Rama meremas kencang payudaranya.

“AAKHH.. DAD !!

“Apa”?

“Sakit ih”.

“Siapa suruh ngomongin laki laki lain terus mau di jadiin pacar”.

“Tau ah, awass”.

“Daddy kangen sayang”, ucap Rama sambil menduselkan hidungnya ke leher Aulia.

“Geli ih dad, kumis sama jambang kamu udah panjang banget”.

“Nanti cukurin ya sayang”, pinta Rama.

“Hmm”.

“Sama rambut yang di bawah juga”, ucap Rama lagi.

“Iya Daddy”.

“Baby..

“Apa”?

“Mau nenen”.

“Buka sendiri”, ucap Aulia.

Rama membuka kancing baju kemeja yang dikenakan Aulia dan membuang baju itu ke lantai lalu membuka kaitan bra merah yang Aulia pakai.

Rama meremas payudara kekasihnya dengan pelan, menarik narik puting itu supaya mengeras, setelah puting Aulia keras Rama memelintir dan mencubit cubit aulinya lalu memasuk kan kedalam mulut nya.

“Mmmhh”.

“Anget banget mulut Daddyh”.

“Nngghhh.. enak dadhh.. terussshh”.

Tangan kiri Rama meremas payudara kanan Aulia dengan sangat kencang dan mencubit cubit puting nya agar semakin mengeras.

“Tete yang kiri pengen di isep juga daadhh.. Aaakkkhhh”.

Rama langsung memindahkan hisapan mulutnya ke payudara kiri Aulia, menjilat serta menarik dengan giginya.

“Uukkhhh.. kangen banget sama mulut daddyhh.. nggghhh”.

Jilatan Rama naik ke leher Aulia, mengecup dan menyesap leher itu hingga menciptakan bercak bewarna merah.

“Aakhh.. jangan berhenti dadh.. habisin baby hari ini.. entot baby dadhh.. baby pengen di entothh”.

“Kamu selalu bikin Daddy sange sayang”.

“Entotin baby sekarang dadh.. baby kangen rudal Daddy”.

Rama mendirikan Aulia lalu membuka kancing dan resleting celana jeans yang dipakai Aulia, Aulia pun dengan tergesa gesa membuka kemeja dan celana kain yang di pakai Rama, setelah telanjang bulat dengan posisi masih berdiri dengan Rama memeluk Aulia dari belakang.

Rama mengelus serambi lempit dan memainkan itil kekasihnya menggunakan jarinya, tangan satunya lagi ia gunakan untuk memelintir puting Aulia. Sedangkan tangan kanan Aulia membelit leher Rama dan mulut nya menciumi leher Rama.

“Mmhh.. elushh terus dadh serambi lempit baby.. putingnya juga di tarikkhh.. ngghhh”.

“Ssshhh.. iya babyyhh.. aakkhh leher Daddy di apain sayaangghh”.

“Baby cupanghh leher Daddyh..

“Nggghhhh”.

“Dadhh.. serambi lempit Baby gatelhh”.

“Ini udah Daddy garuk sayaang”.

“Garukin pake rudal gede Daddyh.. aakhhh gatel banget daddhhh”.

Perlahan Rama memasukan rudalnya ke serambi lempit Aulia dari belakang.

Jleb

“Uukkhhh”.

“Aaakkhhh”.

“Langsung genjot Daddyh”.

Rama langsung menggenjot sesuai permintaan kekasihnya, tangan ia letak di punggung Aulia supaya tubuh Aulia sedikit membungkuk.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh”.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh.. baru seminggu gak di entot serambi lempit kamu tambah seret babyhh”.

“Ngghh.. rudal Daddy tambah gedee.. serambi lempit sukaaakhh”.

Rama membawa Aulia berjalan kearah arah dinding depan nya dan merapatkan tubuh Aulia ke dinding.

“Nngghhh.. ngiluuuhh daaddhh.. aakkhhh”.

“Ssshhh berasa banget jepitan serambi lempit kamuh babyhhh.. Daddy gak tahan”.

“Cium daddhhh”, Aulia memiringkan kepala nya dan mencium bibir kekasihnya.

Suara decapan mulut dan kulit bertemu kulit pun tak terhindar dari kamar kedap suara itu, Rama semakin menyodok kencang rudalnya ketika Aulia ingin keluar.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh baby keluar daaaddhh.. daddyyyyhh.. aaaaakkkkhhh”.

CROT .. CROT .. CROT ..

Setelah Rama membiarkan Aulia puas dengan pelepasannya, kini ia membawa Aulia menuju ke arah balkon dengan rudal yang masih menancap di dalam serambi lempit kekasihnya, sampai di balkon Rama menyuruh Aulia untuk memegang pembatas balkon itu dan mulai menggenjot Aulia kembali, tangan nya menangkup payudara Aulia yang tergantung bebas.

“Aakkhhh..aakhhh..aakkhh.. daddhh nanti ada yang liaathhh.. ini masih sianghh”.

“Gak ada sayaanghhhh.. udah nikmatin aja babyhh..nngghhh”.

“Aaakkhh..aakkh..aakkhh daddyhh”.

“Iyaa sayanghhh”.

“Baby pengen hamil kayak buk Sonyahh.. hamilin baby dadhhh”.

“Iya sayanghh.. iyaahhh.. nanti kamu pasti hamil kayak Sonyahh”.

“Nngghhh.. terushh daddh.. rudalin babyhh terusshh.. bikin baby hamiilhh”.

“Aaakhhh .aakkhh..aakkhh rasain rudal gede Daddy sayanggh.. rasainnh iniihhh.. aakkhhh”.

“Aakhh..iyaa dadhh terusshh..terushhh daddyyhh.. baby mau keluar lagii..Aaaaakhhhhh”.

CROT.. CROT.. CROT..

Aulia sudah 2 kali pelepasan karna rudal besar dan panjang kekasihnya, kini Rama mencabut rudalnya dan menggendong Aulia masuk kembali ke dalam kamar, ia menidurkan Aulia di atas kasur dan melebarkan paha kekasihnya.

Rama membuka lipatan serambi lempit Aulia dengan jari jempol dan telunjuknya lalu menjilat dan menyesap serambi lempit kekasihnya dengan kasar. Ia gigit serambi lempit itu dan di tusuk tusuk nya dengan lidahnya, Aulia kelojotan dengan apa yang dilakukan Rama terhadap serambi lempitnya. Ia gesek gesekkan lagi mulutnya ke serambi lempit Aulia yang sudah sangat becek.

“Nggghhh.. daddyhhh.. udah daddhh”.

“SLURP..SLURP..SLURP”

“Daddy kangen sama serambi lempit tembem kamu sayang”.

“Aakkhh udahhh.. udah dadhh.. masukin rudal daddyhhh”.

Rama pun menyudahi acara menjilat serambi lempitnya dan membawa rudalnya ke serambi lempit Aulia, ia hanya menggesek gesekkan rudal itu dan ingin bermain main sedikit dengan kekasihnya yang sudah nakal hari ini.

“Ngghhh.. daddyhhh.. masukin daddhh”.

“Ssshh.. belum waktunya babyhh”.

“Mmmhh.. jangan mainin babyh dadh.. masukin sekaranghh”.

“Apanya yang di masukin sayanghh”.

“rudalh gede nya dadhh.. cepethh”.

“Masukin ke mana”?

“Ke serambi lempit becek baby Daddyh..

Dan jleb..

“Aaaakkhhhh”.

“Ssshhh.. baru masuk rudal Daddyh udah di isep sama serambi lempit nakal kamu babyhhh.. ngghhh”.

“Ukhhhh.. pengen hamil daddhh”.

“Akkhhh.. iyaa sayangkuuh.. Daddy hamilin kamuh.. Akkkhhh..akkhh..aakkhh”.

“Aaakhh..aakkhh..Akkhhh yang kenceng Daddyh… Habisin serambi lempit babyh.. rudalin terusssh serambi lempit nakalnyaahh.. aaakhh”.

Rama tak tahan mendengar kata kata kotor yang enak di dengar oleh telinganya, ia semakin sange dan semakin brutal menggenjot serambi lempit kekasihnya.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh babyhh.. kamu makin bikin Daddy sange sayanghhh..

“Sini dadhh.. baby mau ciummhh”.

Rama menundukkan tubuhnya dan mencium bibir Aulia, menyesap atas bawah bibir manis kekasihnya, menjilat dan saling berperang lidah, ciumannya turun ke payudara yang puting nya sudah sangat keras, ia tarik puting itu dengan mulutnya, mencubit dan memelintir dengan jarinya.

“Aaakhhh.. nngghhh.. gigit dadhh”.

“Uukkhhh… Akkhh..aakkhh..akkhh enak banget Daddyh”.

“Aaakkkh..aakhh..aakkhh”.

“Aakkhh..aakkhh..aakhhh genjot terush dadhh”.

“Babyhhhh”.

“Iya daddyhh”.

“Jadi istri kecil Daddy ya sayaanghh.. mauu ya cantikkhh.. ngghh”.

“Baby masih sekolah dadhh”.

“Terus kenapa minta di hamilin sayanghh, hmm”?.

“Aakkhh.. biar daddyhh gak ninggalin babyhh..

“Ssshhh.. Daddy gak akan ninggalin kamuuh.. Daddy sayangh sama kamu.. cinta sama kamu babyyhh”.

“Aakhh..aakhh..aakhh.. kalo babyh hamil baru Daddyh nikahin babyhh”.

“Nghhhhh.. janji ya gak akan coba pergi ninggalin Daddyh lagi”?

“Ukkhh.. Iyah daddhh.. baby janjii.. babyhh mau keluar daddyhh.. ngghhh”.

“Bareng sayanghhh.. akkhh..akkhh..aakhh”.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh”.

“Daddy keluarhh.. Daddy keluar sayangghhh.. aaakkhhhh”.

“Aaaaakkhhhhhh”

CROT.

CROT.

CROT.

Rama menghentakkan rudal nya dalam dalam agar Peju nya masuk dan tak ada yang terbuang ke serambi lempit senja, ia memeluk erat tubuh kekasihnya yang masih menikmati pelepasannya, Rama menciumi seluruh wajah Aulia dengan sayang. I sangat berharap kekasihnya ini cepat mengandung benihnya dan ia dapat dengan segera menjadikan Aulia sebagai istri kecilnya.

“Capek baby”?

“He’em”.

“Tete nya makin cantik kalo banyak bekas cupangan Daddy kayak gini”, ucap Rama sambil mengelus bekas cupangan nya dipayudara Aulia.

“Ini juga banyak bekas cupangan baby”, Aulia menyentuh leher Rama.

“Jadi tato”.

“Lepasin dad rudalnya, ngeganjal”.

“Tadi aja ngerengek minta di masukin.. masukin dad baby udah gak tahan”, ucap Rama mengikuti perkataan kekasihnya tadi.

“Ihhhh Daddyyyy”.

“Hahaha merah gitu mukanya, iyaa ini Daddy cabut rudalnya”.

Plop.

“Sshhh”.

“Kenapa? Pengen di masukin lagi”?

“Enggak yaaaa”.

“Inggik yii”, Rama meniru lagi perkataan Aulia.

“Daddy nyebelin ih”

CUP

Rama mengecup bibir kekasihnya dan bangun untuk mengambil ponselnya yang berada di saku untuk memesan makanan, Aulia yang melihat Rama memungut celana nya pun langsung bangun dan bertanya dengan wajah yang sudah ingin menangis.

“Daddy mau ninggalin aku kayak kemarin lagi ya”?

Rama menoleh ke arah Aulia dan melihat mata kekasihnya sudah merah. Rama segera naik kembali ke atas kasur dan memeluk tubuh Aulia.

“Daddy gak pergi baby”.

“Hiks..hiks”.

“Kenapa sayang? Daddy gak pergi loh ini, Daddy masih disini”.

“Kenapa Daddy langsung mungutin baju sama celana Daddy? Daddy mau pergi kan”? Daddy mau nemuin istri Daddy lagi dan ninggalin aku sendiri lagi”.

“Hahaha Daddy mau ambil hp sayang”.

“Mau nelpon buk Sonya? Iya? Yaudah pergi aja sana sekalian, gak usah balik balik ke sini lagi”.

“Tuh tuh, kamu yang nanya kamu juga yang misuh misuh sendiri, Daddy belum ngomong apa apa padahal”.

“Jadi ngapain Daddy mau ambil hp? Biasanya langsung tidur di samping aku”.

“Mau mesen makanan sayaaaaang.. gak laper apa habis ngewe”?

“Oh”, hanya kata itu yang keluar dari mulut Aulia.

“Hihh, untuuung sayang, untuuung cinta”, ucap Rama.

“Kalo gak sayang dan cinta? Mau di apain”? Tanya Aulia.

“Mutilasi”, jawab Rama sembarangan.

“Daddyyyyhh, jahat banget ih”.

“Mangkanya pikiran kamu itu gak usah kejauhaaan mikirnya, kamu nanya, kamu juga yang jawab, terus nanti sakit hati sendiri, ngomel sendiri, ujung ujungnya Daddy yang kena”, omel Rama.

“Ihhh iya iyaaa.. ngomel Mulu dari tadi.. gendong”.

“Hah”?

“Gendong daaaad”, geram Aulia.

“Ngapain? Mau ngewe lagi emang? Mau Dimana”? Tanya Rama beruntun.

“Mau mandi Daddyyyy”.

“Ooooohhhh mau mandi, kirain”.

Rama langsung menggendong tubuh Aulia dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi, menduduk kan tubuh mungil itu di atas closet dan mulai mengisi bath up dengan air hangat.

Setelah bath up terisi air, Rama kembali menggendong tubuh Aulia untuk berendam di dalam sana, ia ikut bergabung untuk berendam dan saling membersihkan badan.

“Mandi aja loh dad, gak ada main main lagi”.

“Iya babyy”, jawab Rama dengan lesu

Bersambung… Setelah semalam melewati siang yang penuh gairah, hari ini Rama dan Aulia kembali ke sekolah. Mereka berangkat bersama tanpa takut ketahuan Sonya, karna ia masih berada di Jogja.

Sampai di parkiran Rama berpesan pada Aulia untuk tidak macam macam dan dekat dengan pria lain di kelas nya, Aulia banyak mengangguk anggukkan kepala nya karna sudah berapa kali hanya kalimat itu itu saja yang di lontarkan Rama padanya.

Ketika Rama ingin membuka pintu mobil, tiba tiba Aulia menyodorkan tangannya kepada Rama.

“Apa”? Tanya Rama.

Aulia hanya menggerak gerakkan tangannya, Rama yang melihat itu pun langsung mengeluarkan dompetnya dan memberi Aulia 3 lembar uang bewarna merah.

“Daddy ih”.

“Kurang”? Rama ingin mengeluarkan lagi uang yang ada di dalam dompetnya.

“Saliim daaaad, bukan minta uang”, geram Aulia.

“Ohh, ngomong dong sayang, kirain Daddy minta uang”.

Rama menyodorkan tangannya agar di cium oleh Aulia, setelah Aulia mencium tangannya, Rama menarik kepala Aulia untuk di kecupnya.

“Manis banget siiih pagi ini”, ucap Rama.

“Belajar jadi murid yang baik dad”.

“Yang bener itu belajar jadi istri yang baik baby”, ujar Rama yang memasukkan uang 3 lembar tadi di saku baju Aulia.

“Aku masih ada uang dad”.

“Udah turun sana, keburu parkiran rame”, ucap Rama.

“Makasih ya dad”, Aulia memajukan tubuhnya untuk mengecup bibir Rama dan langsung keluar dari mobil.

Rama menjadi salah tingkah dan menggigit bibir bawahnya menahan agar ia tak berteriak, ia menepuk nepuk pipinya sendiri.

“Sadar Rama, sadar.. padahal cuma di gituin aja gue jadi kayak gini”.

***

Bel berbunyi tanda kegiatan belajar mengajar pun akan dimulai, hari ini kelas Aulia mendapat pelajaran olah raga di jam pertama hingga istirahat nanti. Semua murid sudah berkumpul di lapangan untuk memulai kegiatan mereka, terdengar suara bisik bisik dari murid perempuan termasuk dari teman dekat aulia ketika Rama datang dengan pakaian olahraganya.

“Ya ampun pak Rama ganteng banget sumpah, gpp deh gue kalo jadi simpanan nya juga.. pasti dia hot banget kalo di ranjang”, bisik teman dekat Aulia yang bernama letta.

“Berisik deh ta, mau lu di hina sama mulut lemes tuh guru”? Tanya Aulia.

“Gpp auuuuul, yang penting rahim gue anget”, jawab letta.

“Anget pala lu petak”.

“Disini bukan tempat bergosip, jika mau bergosip silahkan keluar dari kelas saya”, Rama menatap tajam Aulia dan letta yang berada di barisan paling depan.

“Maaf pak”, jawab letta dan Aulia serentak.

Jangan tanya didalam hati Aulia bagaimana, ia simpan sumpah serapahnya untuk Rama nanti, enak saja dia memarahi dirinya di depan anak anak lain.

Pelajaran dimulai dengan pemanasan agar otot otot tidak tegang dan kram tiba tiba nanti, kemudian dilanjut dengan pengambilan nilai bermain bola voli. Aulia dan anak lainya yang sudah selesai dengan pengambilan nilainya pun duduk di tangga lapangan, tiba tiba ada seorang murid laki laki menghampiri Aulia dan menempelkan minuman dingin dipipi Aulia dan memberikan nya untuk Aulia, Lalu ia ikut duduk disampingnya.

“Untuk aku”? Tanya Aulia.

“Hmm”, jawab anak laki laki yang bernama Ricco itu, ia adalah murid kelas 3 yang terkenal dengan ketampanan dan kepintarannya.

“Makasih ya kak”, ucap Aulia dengan kikuk.

“Sama sama Aulia, Aku duluan ya”, ucap Ricco sembari bangun dari duduk nya dan mengacak rambut Aulia yang basah karna keringat.

Tidak kah aulia sadar jika kekasih nya sudah mengepalkan tangannya siap untuk memberi Bogeman mentah terhadap bocah laki laki itu.

Rama meniupkan Pluit nya dengan kencang dan mengumpulkan semua muridnya karna ingin membubarkan kelas yang sebentar lagi akan selesai.

“Kamu”, tunjuk Rama pada Aulia.

“Iya pak”.

“Sudah tadi bergosip, sekarang masih di jam pelajaran saya kamu malah pacaran.. niat sekolah tidak”? Tanya Rama.

“Maaf pak”, jawab Aulia yang menundukkan kepalanya.

“Sekarang bubar”, setelah mengatakan itu Rama langsung melenggang pergi meninggalkan lapangan.

“Itu yang lu mau ta? Cowok modelan kayak begitu”? Tanya Aulia pada letta.

“Gue tetep saranghae kok Aul sama pak Rama “.

“Jijik goblok”.

Mereka langsung menuju ke kelas nya untuk berganti pakaian dan segera menuju ke kantin karna sebentar lagi jam istirahat. Aulia memeriksa ponsel nya dan terdapat satu notif pesan di sana.

Daddy ❤️

“Ke ruangan Daddy sekarang”.

Aulia hanya membaca dan menutup kembali aplikasi hijau nya.

“Ta, lu duluan aja ke kantinnya, gue kebelet pipis”, ucap Aulia.

“Gue temenin gak”?

“Gak usah gue sendiri aja”.

“Yaudah gue duluan, nanti lu nyusul”.

“Iyaa”.

Setelah melihat letta pergi, Aulia langsung menuju ruangan kekasihnya, sampai disana ia mengetuk dan langsung masuk. Aulia duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Rama.

“Kenapa dad”? Tanya Aulia.

Rama hanya diam dan sibuk mengetik sesuatu di laptopnya dengan wajah sangat datar.

“Dad”.

“Daddy”.

“Daddyyyy”.

Rama tetap memilih diam dengan laptopnya.

“Nyuruh aku kesini cuma untuk di diemin? Kalo gak mau ngomong apa apa aku mau ke kantin dulu”.

“Mau ketemu pacar kamu yang ngasih kamu air di lapangan tadi? Iya”?

“Ihhh apaan sih dad, gak jelas banget”.

“Sejak kapan kalian kenal? Sejak kapan pula kalian Deket sampe sampe dia berani nyentuh rambut kamu?.

“Aku gak kenal dan gak Deket sama dia dad, aku juga gak tau kenapa tadi dia tiba tiba ngasih aku minum”, jawab Aulia jujur.

“Seminggu Daddy gak masuk kamu udah Deket sama laki laki lain, iya”?

“Kok Daddy nuduh aku gitu sih”? Ucap Aulia tak terima karna di tuduh seperti itu.

“Ya kan gak mungkin kalo gak kenal tiba tiba dia ngasih kamu minum”.

“Daddy tanya aja sana sama dia kalo daddy gak percaya, udah tadi marahin aku di depan anak anak, sekarang malah nuduh aku yang enggak enggak”, omel Aulia.

“Daddy cemburu baby”.

Aulia bangkit dari duduk nya dan berjalan ke arah Rama, ia duduk menyamping di paha kekasihnya. Rama memeluk pinggang Aulia dan menenggelamkan wajahnya di leher Aulia. Aulia mengelus elus rambut hitam Rama.

“Kan Daddy udah bilang tadi pagi, baby gak boleh Deket Deket sama cowok lain”.

“Kan baby emang gak ada Deket sama cowok lain dad”.

“Daddy gak suka pokoknya, Daddy bakal hajar cowok yang udah berani nyentuh kamu tadi”.

“Heh, gak boleh”.

“Tuh kaaan, baby belain dia”.

“Enggak Daddy, Daddy gak boleh main hajar hajar anak orang.. baby gak suka”.

Rama mengusel uselkan wajah nya di payudara Aulia.

“Mau nen baby”.

“Sebentar aja ya”.

Rama mengangguk dan membuka kancing seragam Aulia, mengeluarkan payudara besar Aulia dari dalam bra dan langsung menyusu.

“Mmhh.. pelan pelan Dadhh”

“Enyak baby”.

“Enghhhh”.

Tangan Rama membuka paha Aulia dan menyelusup masuk ke dalam rokkm kekasihnya, ia elus serambi lempit itu dari luar celana dalam Aulia.

“Udah becek baby”.

“Iya dadhh”.

“Mau pake rudal atau jari Daddy”?

“Jari aja dadhh”.

Rama memasukkan tangannya ke dalam CD Aulia, dimasukkan kan nya 2 jarinya ke dalam serambi lempit tembam kekasihnya lalu mengocok serambi lempit itu dengan cepat.

“Aakkhh..aakhh..aakkhh”.

“Jari Daddy jangan di sedot baby”.

“Enghhhh.. nyedot sendiri dadh.. akhh”.

Aulia mengulum daun telinga Rama dan memainkan nya dengan lidah.

“Mmhh.. anget banget mulut babyh”.

“Terus kocok dadh serambi lempit babyhh.. baby mau keluarhhh”.

“Aakhh..Aaakkhh..aaakhh”.

“Babyh keluar dadh.. keluarh.. aaakkhhhh”.

CROT.

CROT.

CROT.

Cairan yang di keluarkan Aulia membasahi tangan Rama.

“Banyak banget baby keluarnya”.

“Engghh.. gak tau dadhh.. capek”.

Rama mengambil tisu di atas mejanya dan mengelap sisa sisa cairan di permukaan serambi lempit Aulia. Ia pasang kembali kancing kemeja dan merapikan pakaian Aulia.

“Daddy gak mau di emut rudalnya”?

“Di rumah aja nanti baby, sebentar lagi bel masuk bunyi”.

“Laper dad”, rengek Aulia.

“Mau Daddy pesenin”?

“Gak usah dad, jam istirahat kedua aja aku makannya.. kalo gitu aku ke kelas dulu ya dad”.

Pamit senja dengan mengecup bibir Rama dan langsung keluar ruangan, sedang Rama sedari tadi mengelus rudalnya yang sudah berdenyut ingin di puaskan, ia berdiri dan menuju pintu ruangannya lalu mengunci rapat rapat pintu itu. Ia membuka celananya sampai ke lutut dan mulai mengelus rudalnya sambil membayangkan wajah sexy Aulia.

“Aakhh.. Ssshh.. Babyyyhh”.

“Enngghh.. terus sayanghhh.. terus kocok rudal Daddyh”.

Rama meracau dengan mengurut dan mengocok rudalnya sendiri.

“Aakhh..aakkhh..aakhh.. Daddy sange banget sayaanghh”.

“Ukkhh.. Daddy pengen menyetubuhii kamu babyhhh.. pengen serambi lempit seret nyedot rudal Daddyh”.

Rama terus mengocok rudalnya hingga terasa ingin meledak.

“Aaakhh..aakkhh..aakkhh Daddy mau keluar sayanghh.. keluarh.. aakhh..aakhh..aaaaaakkhhhhh”.

CROT. CROT. CROT.

Rama menyemprotkan spermanya ke atas lantai yang berada di ruangannya.

“Aaakhhh.. Sssshhh.. sayang banget kamu kebuang sia sia”, ucap Rama menatap spermanya.

Rama membersihkan rudalnya dengan tisu dan langsung memakai celana nya kembali.

“Huuhhh.. kapaan Lia hamil ya”?

Bersambung… Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari setengah jam yang lalu dan Rama sedari tadi sudah menunggu Aulia di dalam mobil, tetapi kekasihnya itu tak muncul muncul juga, ponselnya juga tidak aktif.

Baru ingin keluar mobil dan menyusul Aulia ke kelasnya, Rama melihat kekasihnya berjalan menuju ke parkiran dengan wajah penatnya. Setelah sampai di mobil, Aulia langsung masuk dan memeluk Rama.

“Kemana aja sih baby”?

“Piket dad, capek banget”, keluh Aulia.

Rama mengelus dengan sayang kepala Aulia, sesekali ia elus punggung kekasihnya itu.

“Dad”..

“Iya baby? Kenapa”, tanya Rama.

“Kok tiba tiba baby pengen ya”?

“Hmm? Pengen apa”?, Tanya Rama lagi.

“Pengen ini dad”, jawab Aulia dengan meremas rudal Rama.

“Akhh.. babyyyyy”.

“Baby pengen daaad”, rengek Aulia.

“Tumben”?.

“Kok tumben sih”?, Tanya Aulia dengan ngegas.

“Ya tumben sayang, biasanya Daddy dulu yang mancing mancing baru kamu mau”.

“Ya gak tau dad, tiba tiba nafsu baby langsung naik liat muka Daddy”.

“Yaudah di rumah aja ya”.

“Ndak mau daaad, mau nya sekarang.. Daddy nyetir sambil menyetubuhiin baby”, rengek Aulia dengan manja.

“Baby, kok jadi manja gini sih sayaang.. Daddy makin gemesshh.

Aulia tak menjawab lagi perkataan kekasihnya, ia melepaskan celana dan celana dalam yang di kenakan Rama. Aulia remas rudal yang masih tidur itu, ia urut dan ia mainkan kemudian ia masukkan ke dalam mulutnya.

“Aaakkhh babyyhh”.

“SLURP..SLURP..SLURP..”

“Ukhh.. anget sayaangghh”.

“Akhh..Aaakkhh..aakkhh”.

Dengan cepat rudal Rama sudah menegang dan sangat keras.

“Glok..Glok..Glok..”

“Akkhh terus baby girl.. mulut kamu enak sayangghh”.

“Engghhh”.

Aulia mengeluarkan rudal Rama dari mulutnya dan langsung naik ke paha Rama lalu memasukkan rudal panjang itu ke dalam serambi lempit nya yang sudah sangat becek.

Jleb

“Akkhhhh babyyyhhh”..

“Ngghhhh”.

“Enak banget dadhh rasanya di dalam sinih”, ucap Aulia sambil menggoyangkan pantatnya.

“Mmmhhh.. serambi lempit kamu kedut banget babyhh”.

“Baby sange dadhh liat muka daddyhh.. ngghhhh”.

“Daddy lebih sange kalo baby kayak gini sayanghhh.. akkhh”.

“Aaakkkhh.. jalanin mobilnya dadhh.. kita pulang ke rumah sambil menyetubuhi”.

“Ngghh..iya sayanghh”.

Aulia menggerakan pinggulnya turun naik dengan pelan sembari memutarkan pantatnya, ia menyembunyikan kepalanya di leher kekasihnya dan menghirup dalam dalam aroma Rama.

“Daddyhhh..

“Iya sayangghhh”.

“Baby sayangh sama Daddyh.. mmhhh”.

“Daddy juga sayanghh sama babyhh”.

“Mmhhh.. rudal Daddy enakhhhh.. nancep banget dadhhh”.

“Jangan kenceng kenceng sayanghh goyangnyaahh”.

“Enak dadhh, nggghhh.. akhh..”

Rama memberhentikan mobilnya karna rambu lalu lintas bewarna merah, ia memanfaatkan keadaan untuk membuka kancing seragam yang di pakai Aulia, ia keluarkan payudara besar kekasihnya dari dalam bra dan langsung menyedotnya dengan rakus.

“Awhhh daddhhh.. nghhhh”.

“Ngaahhhhhh.. daddyhh.. ampunh dadhh.. enaak banget sayanghh”.

“Akhh..akkhh..akkhh”.

Bunyi klakson memberhentikan aksi Rama menyedot payudara besar kekasihnya, ia melakukan mobil nya agar cepat sampai kerumah dengan Aulia yang semakin brutal dengan goyangannya.

“Aakhh..aakhhh..aakkhh babyyhh.. Daddy gak tahan babyhhh..”

“Aakkhh..aakkhh..akkhh”.

“Babyh mau keluar dadhh.. aakhh..akhh..aaaaakkhhhhh”.

CROT..CROT..CROT..

“Ngghhhh”.

“rudal Daddy enak, rudal Daddy nikmat”, racau Aulia.

Setelah 20 menit menempuh perjalanan, mereka telah sampai di rumah. Rama menggendong Aulia masuk ke dalam rumah tanpa melepaskan tautan mereka yang di bawah. Rama mendudukkan Aulia di sofa dan langsung melebarkan paha Aulia lebar lebar lalu menggenjotnya habis habisan.

“Aakkhh..Aaakkhh..aakkhh..

“Aakkhh..akkhh..akkhh daddyyhh..

“Sshhh.. enak banget serambi lempit kamu babyhh.. ini kan yang kamu mauhh… Nghhh..

“Aakhh iya daddyhh.. ini yang babyh mauh..

“Rasain rudal Daddyh sayaangghh.. akhh..akh..akhhh..

“Aakhh..aakhh..aakkhh..

“Remes tete nya babyh”, ucap Rama.

Aulia meremas payudara nya sesuai perintah Rama, sedangkan Rama semakin brutal menggenjot serambi lempit seret Aulia.

“Aakhh daddyhhh.. jangan berhenti dadhhh..

“Gak akan sayaanghh.. serambi lempit babyh terlalu enak untuk Daddy berhentihh..Nghhh..

“Isep tete babyh dadhh”.

Rama langsung menunduk kan badannya dan menghisap payudara Aulia, ia jilat jilat puting yang sudah sangat tegang itu, ia tarik puting itu dengan giginya lalu menyedotnya kembali.

“Aakkhhh enakhh banget dadhh..

“Mulut sama rudal sama sama enakhh.. aaakkhhhh..

“Baby mau keluar dadhh..

“Bareng sayanghhh..aakkh..akkhh..aakkhh..

“Aakkhh..aakkhh..akkhh Daddy keluar babyhhh… Aaaakkkhhhhhhh”.

“Aakh baby jugaa dadhh.. aakhhhhh..

CROT.

CROT.

CROT.

“Nghhhhhh”.

Setelah puas dengan pelepasannya, Rama langsung mencabut rudalnya dari serambi lempit Aulia.

“Jangan di pake celana nya dad, baju Daddy di buka juga”, pinta Aulia.

“Kenapa sayang”?

“Baby pengen liat Daddy bugil”.

“Baby kenapa ih, kok aneh gini sayang”?

“Gpp daaad, baby pengen aja”.

“Yaudah iya, Daddy bugil ni”, ucap Rama sambil melepas baju dan celana yang ingin ia pakai tadi.

“Bukain baju baby juga dad”.

Rama melepaskan seluruh pakaian Aulia dan duduk disamping kekasihnya itu.

“Terus mau ngapain udah bugil gini”? Tanya Rama.

“menyetubuhi lagi dad”, jawab Aulia dengan memainkan jari telunjuknya di dada Rama.

“Mmhhh.. nakal banget sih babyhh.. tapi Daddy sukaa..

“Dad..

“Iya babyyy..

“Pengen 69 dad..

“Sekarang? Tanya Rama.

“Iya Daddy..

Rama langsung menidurkan Aulia di sofa dan langsung memutarkan badannya menghadap serambi lempit merah kekasihnya, ia Raup serambi lempit Aulia dengan rakus dan menggigit serambi lempit itu dengan gemas.

Aulia tak kalah brutal dengan kekasihnya, ia jilat dan ia sedot dengan kuat rudal nya panjang itu, ia mainkan bola kembar Rama lalu meremasnya dengan pelan, ia masukkan rudal besar itu ke dalam mulutnya.

“Glok..Glok..Glok.”

“SLURP..SLURP..SLURP.”

“Akkhh..

“Ngghhh..

“Dadyyhhh..

“Iya babyyh.. kenapa sayanghh..

“serambi lempit pengen rudal gede ini.. serambi lempit pengen di entot dadhh..

“Sini sayanghh.. sini baby Daddy entotin serambi lempitnyaa..

Aulia bangun dan hanya berdiri di depan Rama.

“Kenapa sayang? Katanya serambi lempit pengen di entotin? Sini.

“Pengen menyetubuhi di sana dad”, Aulia menunjuk meja makan.

“Di atas meja makan”? Tanya Rama.

“Iya Daddy..

Rama langsung menggendong Aulia menuju meja makan dan merebahkan tubuh kekasihnya di atas sana, ia melebarkan paha Aulia dan memainkan sebentar serambi lempit Aulia dengan jari jarinya.

“Ini ya serambi lempit yang minta di entotin terus? Tanya Rama dengan jari mengelus bibir serambi lempit Aulia.

“Mhhh..iya dadhhh..

“Kenapa nakal banget hari ini serambi lempit nya? Hm?.

“Gak tauhh.. pengen rudal terus hari ini kayanya dadhhh.. Nghhh..

“Sekarang pake jari aja ya? rudalnya capek..

“Aaaa gak mau daadd.. mau pake kont..

Belum sempat mengucapkan kata katanya, Rama langsung memasukkan rudal besar nya ke dalam serambi lempit Aulia

Jleb

“Aaakkhh daddyhhhh.

“Ngghhh.. ini rudal Daddyh sayanghhh.. enak?

“Aakhhh.. enak daddhhh..

“Aakhh..akkhh..aakkhhh..

“Ngghh rudal Daddyh enaakkhh..

“Akhh iya sayangghh.. rudal Daddyh untuk babyyhhh..ngghh.

“Jangan menyetubuhi sama buk Sonya lagi ya dadhh.. menyetubuhiin babyh ajaa.

“Ngghhh.. iya sayangkuuhh.. Daddy menyetubuhiin babyh ajaaa.. akkhh.

“Akkhh..aakkhh..aakkhh..

“Keluarin lidahnya baby..

Aulia menjulurkan lidah nya dan langsung di hisap kuat oleh Rama, tangan nya meremas kuat payudara yang bergoyang sedari tadi. Ia pelintir dan ia tarik puting yang sangat keras itu. Ciumannya turun ke payudara besar Aulia dan langsung menggigit daging payudara itu. Ia hisap dan lagi lagi ia gigit puting pink Aulia.

“Akhh..aakhh..aakkhh..

“Habisin dadhh.. habisin babyhhh..

“Baby pengenhh keluarhh..

“Akkhh..akhh.aaaaakkkhhhhhh”.

CROT.

CROT.

CROT.

Rama mengangkat Aulia dan menurunkan nya dari atas meja, ia membawa Aulia ke dinding yang berada di samping kulkas dan merapatkan tubuh kekasihnya menghadap dinding itu. Ia memasukkan kembali rudalnya yang panjang ke serambi lempit Aulia.

Jleb

“Ngghhhhh..

“Akkhh..aakhh..aakkhh..

“Aakhhh fuck… Enak banget babyh serambi lempit kamuuhhh.. Daddyh gak tahan sayaanghhh.

“Enakh serambi lempit babyh atau serambi lempith sonyah dadhh..

“serambi lempit kamu sayanghhh.. serambi lempit tembem..serambi lempit serethhh.. akhhh..

“Akhhh..aakkhh..aakhhh.

“Mau keluar dadhhh..

“Bentar sayanghhh.. akhh..akkhh..aakhh..

“Gak tahanhhh dadhhh..

“Barengan babyhhh.. aakhh..aakkhh..aakkhh..

“Aaaaaaakkhh keluarh babyh.. keluarhhh..

“Aaaaakkkhhhhh..

CROT.

CROT.

CROT.

“Akkkhhh..

“Nghhhh”.

Rama memeluk tubuh Aulia dari belakang dan menahannya agar tidak limbung karna kelelahan, ia mencabut pelan rudalnya yang sudah sedikit tertidur.

“Awhhhh..

“Kenapa sayang”?

“Perut baby sakit dad.

Rama menggendong kekasihnya ke sofa dan membaringkan Aulia disana, ia segera memakai pakaiannya dan berapa terkejutnya Rama melihat ada darah di serambi lempit Aulia.

“Baby, kamu kenapa sayang?

“Sakit dad.. hiks..hiks

Rama segera mengambil daster yang sering Aulia kenakan lalu memakai kan daster itu ke tubuh Aulia, ia dengan panik langsung membawa kekasihnya menuju rumah sakit. Selang beberapa puluh menit mereka tiba di rumah sakit dan Rama langsung membawa Aulia ke UGD. Setelah melalui beberapa pemeriksaan dokter ingin berbicara kepada Rama.

“Maaf sebelumnya pak, karna usia kandungan istri bapak tergolong sangat muda, sebaiknya jangan terlalu melakukan hubungan suami istri dulu”, ucap dokter yang memeriksa Aulia.

“Ap-apa dok? Istri saya hamil? Tanya Rama terbata bata.

“Iya Bapak, usia kandungannya baru seminggu.

Rama tak bisa berkata apa apa lagi, ia sangat bahagia dan bersyukur atas kehamilan Aulia, ia mengucapkan banyak banyak terima kasih kepada dokter dan langsung berlalu untuk menemui Aulia. Sampainya di kamar rawat Aulia, Rama langsung memeluk Aulia dan menangis.

“Hiks..hikss..

“Dad, kenapa nangis, aku sakit apa”?

“Hiks..hikss.. kamu gak sakit apa apa baby.. kamu.. hikss.. kamu hamil anak Daddy sayang..”, ucap Rama sambil mengelus perut Aulia yang masih rata.

“Apa dad? A-aku hamil?

“Iya sayang kamu hamil.

Aulia memeluk erat erat tubuh Rama dan mereka saling menangis karna kehamilan Aulia.

Bersambung… Setelah 2 hari di rawat di rumah sakit, Aulia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang menangani nya.

Sekarang mereka sedang berada di depan tv dengan Rama yang berbaring di atas paha kekasihnya, rama tak henti hentinya tersenyum bak orang yang sudah tidak waras lagi

“Kenapa sih dad, senyum senyum terus”? Tanya Aulia.

“Daddy seneng sayang, akhirnya benih Daddy tumbuh juga disini”, jawab Rama sambil mengelus elus perut Aulia.

“Aku juga seneng dad, tapi gimana sama sekolah aku”?

“Kamu masih bisa sekolah baby sampe perut kamu udah gak bisa di tutup lagi sama seragam sekolahnya”, ucap Rama.

“Beneran dad”?

“Iya baby, tapi inget.. baby gak boleh grasak grusuk di sekolah”, peringat Rama.

“Siap bos”.

Rama tersenyum melihat tingkah kekasih kecil nya ini.

“Pantes aja 2 hari yang lalu kepengen banget di entot sama Daddy, ternyata dedek pengen ketemu Daddy ya”? Tanya Rama.

“Ihhh Daddy, jangan di ingetin.. aku maluuu”.

“Kenapa malu mommy”?, Tanya Rama lagi.

“Daddy ih”.

Aulia menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya, ia sudah salah tingkah di tambah lagi dengan rama memanggilnya mommy.

“Baby..” panggil Rama.

“Hmm”.

“Besok kita nikah ya”.

“Harus ya dad kita nikah”? Tanya Aulia.

“Maksud pertanyaan baby apa”?

“Ya kalau gak nikah gpp kan”?

Rama yang tak senang mendengar perkataan Aulia pun langsung bangkit dari tidurnya.

“Maksud perkataan kamu apa? Tanya Rama.

“Aku cuma nanya aja dad”.

“Kamu sayang gak sih sebenarnya sama aku”? Tanya Rama.

“Kok jadi aku kamu sih dad ngomongnya”?.

“Kita lagi gak ngebahas tentang nama panggilan ya, aku tanya sekali lagi sama kamu, apa maksud kamu ngomong kayak gitu dan sebenarnya kamu sayang gak sama kamu”? Tanya Rama lagi.

“Cuma iseng aja dad nanya kayak gitu tadi, terus kalau sayang, aku juga sayang sama Daddy”, jawab Aulia.

“Kalau beneran sayang, kamu gak perlu bertanya harus apa gak kita nikah.. sedangkan kamu lagi hamil anak aku”.

“Daddy ihh, jangan aku kamu ngomong nya.. gak sukaaa”, ucap Aulia sambil memainkan jari jari Rama.

“Terus kamu pikir aku suka kamu ngomong kayak tadi”? Tanya Rama.

“Maaf dad”.

“Kamu mau apa gak nikah sama aku”? Tanya Rama serius.

“Aku takut dad”, jawab Aulia.

“Mau apa gak”?

“Aku takut kalau sampai ketahuan orang orang dad, aku takut gak bisa jadi istri yang baik buat Daddy”, jawab Aulia.

“Mau apa gak Aulia”?

“IYA MAU”, teriak Aulia kesal.

Rama langsung memeluk Aulia erat erat, ia kecup pucuk kepala kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi istri nya.

“Makasih ya sayang, Daddy seneng banget”.

“Sama sama dad, tapi gimana sama yang aku bilang tadi”?

“Baby gak perlu khawatir soal apapun itu, baby cuma harus selalu berada di samping Daddy”.

“Makasih ya dad, terus besok kita beneran nikah”? Tanya Aulia.

“Iya sayang, besok kita nikah”, jawab Rama sambil mengelus pipi Aulia.

“Siri ya dad”?

“Iya sayang, kalau baby udah selesai sekolahnya.. kita langsung nikah resmi terus ngadain pesta sesuai keinginan baby”.

“Berarti aku jadi istri simpanan Daddy”?

“Baby, Daddy gak suka ya kalo baby ngomong yang enggak enggak”, ucap Rama.

“Tapi Daddy janji ya akan nikahin aku secara resmi”.

“Daddy janji sayang”.

***

Setelah acara nikah siri selesai, Rama langsung membawa istri muda nya itu untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Aulia mengajak suaminya menonton.

“Dad..

“Iya baby..

“Pengen nonton”.

“Nonton apa sayang? Hm?.

“Pengen nonton bokep”, pinta Aulia.

“Heh, ngapain nonton begituan ha”? Kaget Rama.

“Ihhh, di hp Daddy juga banyak video kita yang lagi gituan”, jawab Aulia.

“Kita sama orang lain beda baby, nanti baby malah liat rudal orang lain, Daddy gak suka sayang, yang lain aja ya”.

“Yaudah, pengen menyetubuhi aja”, ucap Aulia.

“Noo baby, kata dokternya gak boleh dulu sayang”.

“Semuanyaaa gak boleh, bilang aja Daddy pengen ngumpulin tenaga biar kuat menyetubuhiin buk Sonya, iya kan? Soalnya buk Sonya besok pulang”, tuduh Aulia.

“Kok bawa bawa Sonya baby, gak ada hubungan nya.. beneran dokter bilang gitu sama Daddy kemarin”.

“Hallaaahh”.

“Beneran sayang, kalo boleh udah dari tadi Daddy gas”.

“Nyenyenye.

“Hahaha gak boleh gitu sama suami, dosa”, ucap Rama.

Aulia tiba tiba terdiam.

“Kenapa diem”? Tanya Rama.

“Hmm gak nyangka ya dad, aku udah jadi istri orang”.

“Daddy lebih gak nyangka bisa jadiin kamu istri Daddy, istri kecil yang nakal”, ujar Rama.

“Gak nakal yaa, Daddy yang ngajarin aku nakal”.

“Mommy nakal”, ucap Rama lagi.

Aulia yang geram pun langsung meremas kuat rudal suaminya.

“Aaakkkhhh sayang.. kok di remes sihhh”.

“Gemes”, jawab Aulia.

“Sakit looh mommy”.

“Apanya yang sakit”? Pancing Aulia.

“rudal, mommy jangan mancing mancing ya.. Daddy masih kuat dan masih inget perkataan dokter”.

“Daddyyy..

“Nooo sayaang, Daddy gak mau anak kita kenapa kenapa”.

“Tapi udah sange dad”.

“Loh, sange kenapa sayang”? Tanya Rama.

“Daddy tuh panggil panggil aku mommy, kan jadi sange”, ucap Aulia.

“Hahaha yaudah Daddy gak panggil mommy lagi”.

“Udah terlanjur sange dad, baby pengen”, rengek Aulia.

“Pake jari Daddy aja ya”.

“Ndak mauu, mau pake rudal”.

“Gesek gesek aja tapi”, ukar Rama.

“Iya gesek gesek aja”.

Mau tidak mau Rama mengabulkan permintaan istrinya yang sangat menguntungkan baginya, Rama membuka kan semua pakaian yang di kenakan Isti kecilnya, kemudian ia buka lebar lebar paha sang istri dan mulai memainkan bibir serambi lempit Aulia dengan jarinya.

Rama mengelus turun naik jarinya ke serambi lempit Aulia, ia melihat wajah ke enakkan sang istri yang membuatnya menjadi sama sange nya dengan Aulia.

Rama menggigit bibir bawahnya untuk menahan gejolak nafsunya yang sudah naik.

“Mmhhh.. sssshhh..

Rama mengulurkan tangannya ke bibir Aulia, ia usap usap bibir tipis itu dengan jempolnya lalu memasukkan jari itu ke dalam mulut Aulia, Aulia dengan sigap menjilat dan menghisap jempol itu dengan kuat.

“Ngghhh.. Daddy jadi sange sayanghh..

“Ayo menyetubuhi dad kalo sange..

“Daddy menyetubuhiin mulut kamu aja ya babyhh..

“Iya dadd..

Rama mengelus sebentar rudalnya yang sudah berdenyut dan langsung membuka celana nya, ia merangkak naik ke wajah istrinya, Rama menampar namparkan rudal panjangnya ke bibir Aulia.

“PLAK..PLAK..PLAK”

“Jilat sayang”, titah Rama.

Aulia pun langsung menjilat rudal suaminya, menghisap dua bola Rama yang tergantung bebas, di sedot sedotnya bola itu sampai Rama kelojotan. Rama yang tak tahan dengan perlakuan Aulia pun langsung menghujam mulut istri nya dengan rudal panjangnya.

“Glok..Glok..Glok”

“Aakh..akkhh..aakkhh.

“Terus sayanghhh.. mulut kamu enaakhhhh”.

Aulia menampar pantat suaminya karna sodokan Rama terlalu dalam.

“Uhuk..uhuk..

“Kamu mau bunuh baby ya dad”?

“Maaf sayanghh, enak banget soalnya mulut baby..

“Masukin ke serambi lempit aja ya dad, serambi lempit udah gatelhhh..

“Gak, Daddy gesek aja..

Rama turun ke paha istrinya dan menagarah kan rudalnya pada serambi lempit Aulia untuk di gesek geseknya.

“Kaya gini sayannghh”?

“Aakkhhh.. iya dadhh.. kayak gituuhhh.. iyahh..

“Sabar ya dedek, tunggu mommy udh di bolehin menyetubuhi baru Daddy jengukin dedek.. Nghhh”, ucap Rama.

“Cepetin dadhh geseknya.. baby mau keluarhhh..

Rama mempercepat laju gesekan rudalnya pada serambi lempit Aulia.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh..

“Mmhhh..akkhh..aakkhh baby keluarhh daddhh..keluaarrr aaakkkhhhhhh..

CROT

CROT

CROT

Setelah melihat istrinya puas dengan pelepasannya, Rama berdiri dan memakai celananya kembali.

“Puas”? Tanya Rama.

“Enggak sebelum rudal yang masuk”.

“Sabar ya sayang, kalo udah di bolehin nanti Daddy entot sampe lemes”.

Aulia hanya mengangguk dan mencoba untuk memejamkan matanya untuk tidur dengan tubuh yang masih telanjang. Rama yang melihat Aulia kelelahan pun membiarkan istri kecilnya tidur lalu ia menyelimuti tubuh Aulia dengan selimut.

Karna tidak biasa tidur jam 7 malam, Rama pergi keluar menuju balkon yang ada dikamar nya, ia menghidupkan api untuk merokok.

Sedang asik menyesap rokok, tiba tiba ponselnya berdering dan tertera nama Sonya disana, dengan malas ia mengangkat telpon dari istri pertamanya itu.

“Hmm”.

“Halo yah, kamu dimana”? Tanya Sonya.

“Kenapa”?

“Adek kangen ayah katanya”.

“Aku lagi banyak kerjaan Sonya”, ucap Rama.

“Ihh kok aku kamu sih, ayah bunda looh”.

Ingin sekali Rama menghempaskan ponselnya ke lantai.

“Iyaa, ayah lagi banyak kerjaan”.

“Tapi adek kangen yah”, rengek Sonya.

“Jadi ayah harus gimana”?

“VCS yah”, pinta Sonya.

“Gak bisa bunda, ayah lagi bikin soal ujian”.

“Pap rudal ayah aja kalo gitu”.

“Iya nanti ayah pap rudal, yaudah ayah matiin dulu ya”.

“Iyaa, besok jangan lupa jemput bunda di bandara”.

“Hmm”.

Rama langsung mematikan sambungan telpon nya dengan Sonya lalu memotret rudal nya yang sedang tidur.

Bersambung… Aulia dan anak anak lainnya sedang mengerjakan ujian untuk hari ini dan beberapa hari kedepan, kebetulan hari ini Rama lah yang menjadi pengawas untuk kelas nya.

Rama memperhatikan dengan seksama wajah istri kecil nya dari tempat duduknya, ia tak henti hentinya berkata dalam hati bahwa betapa beruntung nya ia bisa menikahi Aulia yang notabenya adalah muridnya sendiri. Anak yang dulu nya sangat polos dan tak tau apa apa, sekarang menjadi binal dan nakal.

Setelah 60 menit berlalu, bel istirahat pun berbunyi. Teman teman Aulia langsung berlari menuju kantin untuk makan kecuali Aulia. Ia sudah di janji dengan suaminya untuk makan berdua di ruangan sang suami.

“Baby duluan sayang ke ruangan Daddy, nanti Daddy nyusul”.

“Oke dad”.

Aulia berjalan menuju ruangan suaminya, sampai disana ia langsung masuk dan duduk di sofa ruangan itu. Selang beberapa menit Rama pun sampai diruangannya dan langsung memeluk tubuh istri kecilnya yang sudah menjadi candu baginya.

“Gimana tadi ujiannya sayang? Susah”? Tanya Rama.

“Gak sudah kok dad, kan aku pinter”.

“Iya iya, istri Daddy memang pinter”, ucap Rama sambil mengecup bibir istrinya.

“Hehe, dad nanti pulang sekolah kita mampir beli rujak ya”, pinta Aulia.

“Hm? Istri Daddy ngidam rujak ya”?

“Iya dad, dedek pengen makan yang asem asem”, jawab Aulia.

“Iya sayang, nanti pulang sekolah kita beli rujak.. sekarang makan dulu yu”.

Rama berjalan menuju meja nya dan mengambil kotak bekal yang mereka bawa dari rumah lalu ia menyiapkan makanan di atas meja dekat sofa yang Aulia duduki.

“Suap dad”, pinta Aulia lagi.

“Utu tutu, manjanya istri Daddy”.

“Aaa buka mulutnya”, sambung Rama.

Aulia membuka mulutnya dan menyambut suapan dari suaminya, hal itu berulang hingga nasi dan lauk di kotak bekal itu habis.

“Kenyang banget dad”, ucap Aulia sambil mengelus perutnya.

Hendra mengelus perut Aulia dan mencium perut yang buncit karna baru selesai makan.

“Sehat sehat di sana ya dek, jangan buat mommy sakit atau susah”, ucap Rama.

“Iya Daddy”, jawab Aulia yang menirukan suara bayi.

Sedang asik bercanda, suara deringan ponsel Rama mengalihkan atensi keduanya. Rama merogoh ponselnya di dalam kantong celananya dan melihat nama si penelpon.

“Siapa”? Tanya Aulia.

“Sonya, boleh Daddy angkat”?

“Hm, tapi disini aja, jangan jauh jauh terus di loudspeaker”, ucap Aulia.

Rama mengangguk dan mengangkat panggilan telpon dari istri pertamanya.

“Hallo”?

“Hallo yah, ayah dimana? Masih disekolah? Bunda udah sampe di bandara yah, jemput ya”, pinta Sonya.

“Ayah masih ada jadwal ngawas ujian , naik taxi aja”, jawab rama.

“Gpp yah, bunda tungguin sambil makan sama ngemil disini”.

“Nanti lama”, ucap Rama lagi.

“Gpp sayang, bunda tungguin ya sampe ayah jemput, Babay yah”, Sonya buru buru mematikan sambungan teleponnya karna takut kalau suaminya itu banyak alasan. Aulia menatap Rama dengan wajah masam, sangat masam.

“Ayah bunda”? Tanya Aulia.

“Sonya yang mau panggilan itu, supaya terbiasa kalo anak kita lahir katanya”, jawab Rama.

“Oh”.

“Salah ya? Sonya juga istri Daddy sayang”, Rama berucap lembut.

“Gak salah, terus yang bilang buk Sonya pacar Daddy siapa? Gak perlu di jelasin juga kali”, ujar Aulia sambil berdiri dan bersiap untuk pergi namun di tahan oleh Rama.

“Iya sayang, iyaa. Maafin Daddy ya”.

“Buk Sonya udah di bandara nungguin kamu, aku mau ke kel..

Belum sempat menyelesaikan kata katanya, bibir Aulia di gigit oleh Rama.

“Awwhhh.. sakit tauu”. Teriak Aulia.

“Kamu kamu, sopan kayak gitu sama suaminya”? Tanya Rama sambil mengelus bibir bawah Aulia yang ia gigit.

“Siapa suruh bikin kesel”, jawab Aulia.

“Kan Daddy udah minta maaf sayang”.

“Yang tadi aja belum di maafin, sekarang bibir baby malah di gigit, sakit tau gak, gak mau maafin pokoknya”, Rajuk Aulia.

Rama sangat suka jika Aulia memanggil dirinya dengan sebutan baby, tapi Aulia menggunakan nama panggilan itu ketika mereka sedang berhubungan badan saja dan ketika aulia sedang dalam mode manja atau merajuk. Rama memeluk istrinya erat erat dan mengelus punggung Aulia.

“Daddy minta maaf lagi ya sayang”.

“Iya daddy, yaudah aku ke kelas duluan ya dad”, Aulia melepaskan pelukannya dari Rama dan berlalu meninggalkan Rama.

***

Waktunya pulang untuk seluruh murid yang hari ini baru saja melaksanakan ujian pertama mereka, ketika ingin keluar kelas ponsel nya bergetar, tanda ada pesan yang masuk. Ia langsung membuka dan membaca pesan tersebut.

DADDY ❤️

Sayang.. Daddy jemput Sonya ya, Daddy udah pesan taxi atas nama baby tadi, sampai di rumah langsung makan terus istirahat ya istri Daddy..

I love you

Aulia tersenyum kecut membaca pesan dari suaminya, begini lah jika jadi istri kedua dan lagi lagi hanya sebatas istri simpanan.

Aulia langsung berdiri dan keluar dari kelasnya menuju luar sekolah untuk menunggu taxi yang sudah di pesan oleh Rama.

Sesampainya di rumah ia pun langsung makan dan tidur, ia melupakan rasa asamnya buah rujak yang sangat ingin ia makan.

***

Sonya langsung berlari melihat kedatangan suaminya yang menjemput dirinya di bandara, ia langsung memeluk erat erat tubuh Rama yang sudah sangat ia rindukan.

“Ngapain lari lari, kamu gak inget kalo lagi hamil ha?, Ucap Rama sedikit marah.

“Maaf yah, bunda kangen”.

“Kangen boleh kangen, tapi inget kondisi kamu”, ujar Rama lagi.

Sonya sangat senang dengan perhatian yang Rama tunjukan kepadanya, walaupun hanya perhatian kecil tapi ia sangat bersyukur.

“Iya ayah sayang, jangan ngomel mulu ih”, ucap Sonya.

“Yaudah, ayo pulang”, balas Rama sambil menyeret koper milik Sonya.

Sesampainya di dalam mobil, Sonya terus menerus memperhatikan wajah brewok suaminya.

“Kenapa sih ngeliatin aku terus”?, Tanya Rama risih.

“Ayah looh”, cemberut Sonya.

“Iya iya, kenapa ngeliatin ayah terus dari tadi”?tanya Rama lagi.

“Hmm bunda suka kalo ayah brewok gitu, jangan di cukur ya yah”, pinta Sonya.

Rama berfikir keras untuk menjawab pertanyaan Sonya, Aulia sangat geli dan mau Rama membersihkan brewok di wajahnya ini, sedangkan Sonya sangat suka jika ia brewok seperti ini.

“Kenapa diem yah? Dedek loh yang suka liat ayah brewok gini”, ucap Sonya.

“Iya bunda, gak ayah cukur kok ini”, akhirnya Rama menjawab karna ini keinginan anaknya.

Sonya tersenyum manis dan mengamit tangan kiri suaminya yang tidak memegang setir, ia bawa tangan itu ke bibirnya untuk ia kecup lalu ia letakkan tangan suaminya ke perutnya yang masih rata.

“Dedek kangen sama ayah”, ucap Sonya.

Rama meneguk air ludahnya dan mencoba untuk fokus menyetir pun akhirnya goyah, Sonya menyingkap gamisnya ke atas dan meletakkan tangan suaminya di atas paha mulusnya, ia gerakkan telapak tangan Rama naik turun di pahanya.

“Ayah lagi nyetir Bun”, ucap Rama.

Sonya tak memperdulikan perkataan suaminya dan terus membawa tangan itu untuk menyentuh serambi lempitnya.

“Ini lebih kangen sama ayah”, ujar Sonya.

“Bundaaa”, geram Rama.

“Rasain yah, dia udah kedut kedut cuma di sentuh sama jari ayah, apa lagi kalo di sentuh sama rudal ayah”, Sonya semakin berani menggoda suaminya yang sedang menyetir.

Sonya menggesek gesekkan jari Rama ke serambi lempit nya yang sudah becek, ia terus menerus mengeluarkan kata kata frontal untuk memancing nafsu suaminya. Rama yang tak tahan akhirnya meremas serambi lempit istrinya dengan gemas.

“Aakkhhh.. Ayaahhh”, desah Sonya dengan sangat manja.

“Enak serambi lempitnya di remes gini”?, Tanya Rama.

Sonya hanya mengeliat dan mendesah keenakkan.

“Nghhh.. aakkhh”.

“Jawab Bun, enak serambi lempit nya ayah remes gini? Hm”?.

“Ngaaahh.. enakhh yaahh.. enak sayanghhh”.

Rama menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi dan langsung mencolokkan jari tengahnya ke dalam serambi lempit Sonya lalu mengocoknya dengan cepat.

“Becek banget serambi lempit nya sayang”.

“Akkhh..akhh..aakkhh iya yaah, serambi lempit bunda becek kalo lagi sama ayah..ngghhh”.

“Jangan di sedot jari ayah Bun”.

“Akkh.. rudal yah”.

“Kenapa rudal Bun”? Tanya Rama masih dengan mengocok serambi lempit istrinya.

“rudal.. pengen rudal ayah.. aakhh”.

“Sama jari dulu sekarang ya sayang, tunggu di rumah.. ayah rudalin bunda sampe lemes”, jawab Rama.

“Ngghhh.. akhh..akhh..akhh pengen keluar yah.. cepetin”.

Rama mempercepat tempo kocokannya dan merasakan serambi lempit Sonya yang sangat berkedut.

“Aakhh..aakkhh..aakkhh keluarh yah.. keluarh.. Aaaaaaakkkhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Sonya masih menikmati pelepasannya dengan menahan tangan Rama agar tidak mencabut jarinya dari serambi lempit sonya.

“Huh..huh”.

“Capek”? Tanya Rama.

“Enggak yah”.

“Yaudah, lepasin dulu tangan ayah Bun”, pinta Rama.

Rama mencabut jarinya dari serambi lempit Sonya dan mengelap nya menggunakan tisu, Sonya tidak kecewa atau pun sakit hati melihat Rama yang enggan membersihkan cairan di jari Rama menggunakan mulutnya. Setelah membersihkan jarinya, Rama menjalankan kembali mobilnya ke arah rumah mereka berdua.

“Ayah”, panggil Sonya.

“Kenapa Bun”?

“Ayah belum ada perasaan apa apa sama bunda selain bunda jadi pemuas nafsu ayah”? Tanya Sonya.

Hati Rama teriris mendengar penuturan istri sah dan istri pertamanya ini, tapi mau bagaimana lagi, ia memang tak mencintai Sonya sedikitpun.

“Jangan bahas ini Bun, bunda udah tau jawaban ayah”, jawab Rama.

“Maaf yah”, balas sonya dengan menundukkan kepalanya.

Rama mengamit tangan Sonya dan menggenggamnya dengan erat.

Setelah beberapa puluh menit dalam perjalanan dan berhenti di pinggir jalan tadi, kini keduanya telah sampai di kediaman mereka. Saat ingin membuka pintu mobil, tangan kiri Rama di tahan oleh Sonya.

“Kenapa Bun”? Tanya Rama.

“Pengen main disin yah”.

“Ngewe maksud bunda”?

“Iya yah”.

“Yaudah buka lah bajunya, bukain juga celana ayah”, ujar Rama.

Sonya dengan cepat membuka pakaiannya sehingga ia sekarang sudah telanjang bulat, lalu sekarang ia membuka celana yang digunakan oleh suaminya. Terlihat burung kesayangan nya masih tidur, sonya dengan segera memegang rudal panjang Rama dan mengelus nya dengan pelan, kadang ia remas dan ia mainkan ujung rudal suaminya.

“Ssshhh.. Nghhhh”.

“Enak yah”? Tanya Sonya.

“Akhh iya Bun.. mainin terus ujungnya sayangh”.

Rama menjawab dengan tangannya yang memilin puting besar milik Sonya, ia tarik puting itu lalu ia cubit cubit sampai menegang sempurna.

“Mmhhh.. puting nya tambah gede sayanghh”, ucap Rama.

“Sshhh iya yah, ayah suka sama puting bunda”?

“Suka banget Bun.. pengen ayah gigit gigit puting nyah”.

“Ayaahh.. rudal ayah udah tegang, bunda masukin ya”, ucap Sonya.

“Iya Bun”.

Sonya bergerak menuju ke arah Rama, ia duduki paha suaminya itu dan mencoba memasukkan rudal Rama ke serambi lempitnya.

Jleb

“Aakhhh masuk yah, rudal ayah masuk ke serambi lempit bundahh”.

“Nghhh iya sayanghh.. anget banget rudal ayah Bun”.

Sonya mendiamkan sebentar rudal besar dan panjang suaminya yang berada di dalam serambi lempitnya, ia mencium bibir Rama dengan rakus dan di balas tak kalah rakus oleh suaminya, mereka saling menghisap bibir dan menyedot lidah satu sama lain. Tangan Rama meremas payudara Sonya dengan nafsunya, dan langsung di genjot brutal oleh Sonya.

“Aakhh..aakkhh..aakkhh pinter banget sih Bun bikin ayah sange sayanghh”.

“Aakhh..aakkhh ayah sange? Iya yah”?, Tanya Sonya.

“Iya sayanghh.. ayah sange Bun, bunda gak ngerasain kerasnya rudal ayah? Hm”?

“Mmhhh iya yah, kerasa banget yah rudal ayah nyodok sampe rahim bunda”.

“Aakkhh terush Bun.. terus goyang sayanghh”.

“Aakhh..aakkhh..aakhh enakk yah, enak banget rudal ayah.. aakkhh”.

Rama ikut menyodokkan rudal nya dari bawah, ia dapat merasakan rudalnya sangat di jepit oleh serambi lempit Sonya.

“serambi lempit nya kuat banget kedut nya sayanghhh.. rudal ayah kayak di jepithh”.

“Bunda mau keluar yah.. akkhh..akkhh gak tahan yah.. keluar.. keluarhhh yaahh.. Aaaaaaakkkhhh”.

CROT

CROT

CROT

Rama membuka pintu mobil dan keluar dengan menggendong Sonya ala koala untuk memasuki rumahnya, ia buka pintu itu dan langsung menuju ke arah sofa, ia duduki Sonya di sofa dan langsung menggenjot dengan penuh nafsu.

“Ayaah.. aakhh..aakkhh pelan yahh.. inget ada dedek yah”.

Rama langsung melambatkan laju genjotannya pada serambi lempit Sonya. Ia menundukkan tubuhnya agar bisa meraup payudara besar Sonya, ia jilati puting besar itu lalu menggigit dan menarik puting Sonya dengan pinggul menyodok pelan serambi lempit istrinya.

“Aakhh terus yah.. habisin puting besar bunda.. genjot terus serambi lempit bunda yah.. enaknya yaah”.

“Mmhh bundaa.. serambi lempit tembem bunda enakhh sayanghh”.

“Kalo enakhh entotin bunda tiap hari ayahhh.. Nghhh”.

“Iya sayanghh.. ayah entotin bunda tiap hari yaa.. ayah rudalin serambi lempit bunda sampe longgar”.

“Ukhhh.. rudal ayah kok makin gede yah”.

“Akkhh..aakkhh..aakkhh ayah pengen keluar Bun.. aakkhh..aakkk..aaakkhhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Setelah merasa kan kepuasan, Rama mencabut rudal nya dari serambi lempit Sonya lalu ia berbaring di paha Sonya sambil memainkan puting susu istrinya.

“Kapan ini ada airnya Bun”? Tanya Rama dengan tangan menarik narik puting Sonya.

“Nanti yah kalo kandungan bunda udah 8 atau 9 bulan”.

“Nanti ayah nen tiap hari ya kalo udah ada airnya”, ucap Rama.

“Iya sayang, sepuas ayah nanti”, jawab Sonya.

“serambi lempit juga ayah entotin sepuas ayah ya Bun”, ucap Rama.

“Iya ayah, sepuas ayah”.

“Yaudah ayah mandi dulu ya Bun, bunda mau sekalian”? Tanya Rama.

“Gak deh yah, bunda capek pengen tidur dulu”.

Rama menganggukkan kepala nya dan langsung menuju ke kamar mereka yang berada di lantai atas, sampainya dikamar Rama tidak langsung mandi melainkan menelpon istri kecilnya, namun telpon nya tak ada satu pun yang di jawab Aulia. Lelah karna tidak di jawab, Rama langsung mandi dan setelah mandi ia berniat untuk kembali ke rumahnya dengan Aulia.

Setelah selesai dengan mandinya, Rama bergegas ke bawah dan ingin pamit kepada istri pertamanya kalau ia ingin keluar sebentar, betapa terkejutnya Rama melihat Sonya yang sudah terkapar dengan banyak darah yang menetes dari sela sela pahanya.

Bersambung… Rama bergegas membawa istri pertama nya ke rumah sakit karna melihat banyak nya darah yang mengalir di sela sela pahanya dan kondisinya juga tidak sadarkan diri. Sesampainya di rumah sakit ia langsung menggendong Sonya masuk ke UGD.

“Tolong istri saya dok”, ucap Rama.

Perawat dan dokter yang melihat itu langsung berlari ke arah Rama dan menyuruhnya meletakkan Sonya di atas brankar tempat tidur rumah sakit.

“Tunggu di luar ya bapak, kami akan memeriksa istri bapak terlebih dahulu”, ucap dokter pria tersebut.

Rama mengangguk lalu keluar dari ruangan tersebut. Sedang menunggu dengan rasa cemas dan khawatir, ponsel nya bergetar dan ia melihat ternyata istri kecilnya menelfon.

“Hallo sayang”, jawab Rama.

“Daddy sibuk”? Tanya Aulia.

“Kenapa baby”?

“Kok gak pulang kesini? Aku takut, disini listriknya padam”, ucap Aulia.

“Hmm, Daddy lagi di rumah sakit, Sonya tadi pendarahan sayang.. sendiri dulu gpp kan”?

“Oh yaudah”, jawab Aulia langsung mematikan sambungan telpon nya.

Rama mengusap kasar wajahnya, ia ingin sekali menemui Aulia sejak sore tadi, tapi keadaan malah menjadi seperti ini.

“Bapak Rama”? Panggil dokter pria yang bernama Dio tersebut.

“Iya dok”.

“Bisa kita bicara sebentar”? Tanya dokter Dio.

“Bisa dok”.

Dokter Dio mengarahkan Rama untuk berjalan ke ruangannya, sampai di ruangannya dokter Dio menyuruh Rama duduk dan memberitahu apa yang ingin ia sampaikan.

“Begini pak, istri bapak mengalami pendarahan hebat yang mengakibatkan keguguran”, jelas dokter Dio.

Rama sedikit sock dan mematung atas penuturan yang di katakan dokter Dio.

“Ini karna kalian berhubungan terlalu kasar dan tidak ada jeda”, sambung dokter Dio.

“Jadi bagaimana kondisi istri saya dok”? Tanya Rama.

“Istri bapak harus di lakukan tindakan kuret”.

“Lakukan yang terbaik buat istri saya dok”, pinta Rama.

“Pasti pak”, jawab dokter dio.

“Kalau begitu saya permisi”, ucap Rama.

***

Setelah dilakukan tindakan kuret, keesokan harinya Sonya sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Rama senantiasa menjaga Sonya di rumah sakit selama 2 hari, selama itu pun dia absen dari pekerjaannya tapi tidak absen untuk mengabari istri kecilnya.

“Yah”, panggil Sonya.

“Iya”.

“Jangan tinggalin bunda ya, bunda udah kehilangan adek.. bunda gak mau kehilangan ayah juga”, ucap Sonya.

“Ngomong apa sih Bun, istirahat ya”, balas Rama.

“Janji dulu yah, kalau ayah gak akan ninggalin bunda”.

“Ayah gak bisa janji Bun”, jawab Rama.

“Kenapa? Ayah ada perempuan lain”?, Tanya Sonya.

“Udah lah ngapain sih malah bahas hal yang gak penting, sekarang istirahat, ayah mau keluar sebentar”, jawab Rama.

Rama langsung keluar dari kamar dan pergi untuk menemui Aulia, Sonya hanya memandang kepergian suaminya dengan perasaan sedih. Kenapa sesulit itu untuk mendapatkan cinta dari suaminya sendiri.

***

Disisi lain, Aulia sedang duduk termenung di taman belakang rumahnya, tiba tiba sebuah kecupan mendarat di pipi mulusnya.

“CUP”

“Mikirin apa sih baby”?

Aulia menolehkan kepala nya sejenak ke arah suara tersebut lalu memandang ke arah depan lagi.

“Kok Daddy di cuekin”? Tanya Rama.

Ya, seseorang itu adalah Rama suaminya. Ia kesal karna Rama baru datang kepadanya hari ini walaupun Rama sering mengirim pesan dan menelponnya.

“Gak usah ke sini lagi, temenin aja istri kamu”, ucap Aulia.

Rama mendekat dan memeluk tubuh istri kecilnya yang sangat ia rindukan.

“Ini Daddy lagi nemenin istri Daddy kok”, jawab Rama.

“Buk Sonya, temenin dia sana”.

“Sayang, sekarang kan Daddy udah sama baby.. jadi jangan bahas orang lain ya”.

“Aku kesel dad, aku juga istri Daddy, tapi Daddy lebih banyak luangin waktu Daddy buat buk Sonya. Apa apa buk Sonya, aku juga mau di prioritasin dad”, ujar Aulia menggebu gebu.

“Jadi baby mau Daddy gimana? Hm?

“Cerain buk Sonya”, ucap Aulia.

“Baby”.

“Kenapa? Gak mau? Udah cinta”? Tanya Aulia.

“Enggak sayang, tapi kami baru kehilangan anak kami baby”, jawab Rama.

“Ohh, jadi yang dikandungan aku ini bukan anak Daddy? Iya”?.

“Bukan gitu sayang, dengerin Daddy dulu”, ucap Rama.

“Pergi dad, aku gak mau liat Daddy dulu”.

“Oke, Daddy akan ceraikan Sonya”, ucap Rama mantap.

“Beneran”?

“Kapan Daddy pernah bohong sama baby”?

Aulia langsung memeluk suaminya dan menghujani wajah suaminya dengan kecupan.

“Makasih ya dad”.

“Tapi ini gak gratis baby”.

“Maksudnya dad”? Tanya Aulia.

Rama mendekatkan mulut nya pada telinga Aulia dan berbisik.

“Puasin rudal Daddy”.

“Ih daddyyy”.

“Yaudah kalau gak mau, Daddy minta puasin sama Sonya aja kalau gitu”, ucap Rama.

“YAUDAH PERGI SANA, GAK USAH BALIK LAGI KESINI”, Teriak Aulia.

“Hey , sayang.. gak boleh teriak teriak, kasian adek di dalam sayang”.

Aulia yang kesal pun langsung meremas kuat rudal suaminya.

“Aaakhhh”.

“Sssshhh baby, kok di remes sih sayang, sakit”, ucap Rama sambil mengelus rudalnya dari luar celana.

“Daddy ngeselin”, Rajuk Aulia.

“Iya iya sayang, Daddy ngeselin.. Daddy minta maaf ya”.

“Hm, dad aku mau nanya dong”, tanya Aulia.

“Tanya apa baby”?

“Kenapa buk Sonya bisa keguguran”?

“Jawab jujur apa bohong”? Tanya Rama.

“Jujur lah”.

“Jangan marah tapi kalau Daddy udah jujur nanti”, ucap Rama.

“Iya iya”.

“Janji ya”?

“Janji daaaaaaad”.

“Daddy menyetubuhiin dia terlalu kasar”, jawab Rama.

“Jadi selama ini Daddy masih sering berhubungan badan sama buk Sonya”?

“Baby udah janji gak akan marah tadi”.

“Aku nanya kok, gak marah”, ucap Aulia.

“Tapi mukanya keliatan marah sayang”, balas Rama.

“Jadi aku gak boleh marah? Gak boleh cemburu kalau suami aku berhubungan badan sama perempuan lain”? Tanya Aulia.

“Aaa baby, bilang apa tadi? Suami?

“Aku lagi marah ya dad”.

“CUP”.

Rama mengecup bibir istri kecilnya, ia sangat senang Aulia memanggilnya dengan sebutan suami tadi.

“Baby”.

“Apa”?

“Jangan galak galak sayang, Daddy pengen nenen”.

“Nenen aja ya”, ucap Aulia.

“Nen sambil elusin rudal Daddy”, pinta Rama.

“Yaudah di kamar aja”.

Aulia meminta Rama agar menggendong nya ala koala, ia menjilat jilat bibir suaminya, mengulum daun telinga sang suami hingga suaminya mendesah.

“Aaakhhhh”

Sesampainya di kamar, Rama menidurkan Aulia dikasur lalu membuka baju yang dikenakan Aulia hingga istri kecilnya telanjang bulat, ia juga melepaskan semua bajunya dan bergabung bersama istrinya.

“Ingat ya dad, cuma nen sambil baby elusin rudalnya, gak ada ngewe ngewean, baby gak mau kejadian buk Sonya terjadi sama baby”, ucap Aulia panjang lebar.

“Iya baby, Daddy inget kok”.

“Yaudah sini nen”.

Tanpa di suruh dua kali lagi, Rama langsung menyerbu payudara besar Aulia, Mulut menyedot dan tangan meremas, sedangkan tangan Aulia asik dengan mengelus elus rudal suaminya yang sudah mulai tegang.

Sedang asik mengelus rudal suaminya, ponsel Rama bergetar. Aulia melirik dan melihat nama Sonya lah yang menelpon suaminya, ia dengan sengaja mengangkat tanpa sepengetahuan Rama.

“Akhhh”, desah Aulia dengan sengaja.

“Terush Rama, Mmmhhh enak banget sayanghhh”.

Rama mendongak melihat istrinya dan mencium Bibir nakal Aulia.

“Nakal kamu ya baby”.

“Lanjutin dad, yang kenceng sayang”, ucap Aulia.

Rama kembali meremas dan menghisap payudara Aulia, rudalnya ia gesek gesek kan di belahan serambi lempit istrinya. Aulia semakin bernafsu dan menekan kepala Rama agar menghisap payudaranya lebih dalam.

“Aakhhh enak banget ramaaa.. mmmhh”.

“Ssshhh terushh daddyhh.. Nghhh”

“Jilatin serambi lempit baby dadhhh”.

Rama turun ke selangkangan Aulia, ia buka lebar lebar kaki istri nya dan menenggelamkan wajahnya di sana, ia hirup kuat kuat aroma serambi lempit istrinya lalu ia kecup dan kemudian ia jilat serambi lempit Aulia dengan gerakan turun naik, ia buka serambi lempit Aulia dengan jarinya dan mencoba untuk memasukkan lidahnya ke dalam serambi lempit Aulia.

“Aakhhh”.

“Daddyhhhh.. enak dadhh.. terussh sayanghhh.. ngghhhh”.

Rama menekan nekan itil Aulia dengan dengan kepala rudalnya, sesekali ia masukkan kepala rudalnya itu kedalam serambi lempit istrinya.

“Nghhhh.. itil baby di apain dadhhhh.. aakkhhh ampunh daddyhhh”.

“Enak babyh”? Tanya Rama

“Mmhhh enakh dadhhh”.

“Daddy gak tahan babyhh, pengen menyetubuhiin kamu sayanghh”.

“Noo dadhh, inget anak kita Daddyh”.

“Tapi Daddy gak tahan sayanghh”, ucap Rama masih dengan menggesekkan rudalnya di serambi lempit Aulia.

Aulia melingkarkan kakinya di pinggang Rama dan menarik tengkuk suaminya agar mereka berciuman.

“Gesek sampe muncrat dulu ya dad, nanti kalo udah 3 bulan baru Daddy boleh entotin babyh”. Ucap Aulia.

“Nghhh.. iya sayanghh”.

“Sshhh aakkhhh.. enak banget babyhhh.. Akkhhh”.

“Terushh dadhhh”.

“serambi lempit baby becek bangethh, kalo gak hamil muda udah langsung Daddy rudalin serambi lempitnya.. Mmmhhh”.

“rudal Daddy makin kerashhh dadhh”.

“Kocokin babyh, Daddy mau keluarhh”.

Rama merubah posisinya menjadi duduk mengangkang, ia cium kasar bibir Aulia dengan tangan yang meremas remas payudara Aulia yang putingnya sudah sangat keras. Sedangkan Aulia mengocok rudal suaminya dengan sangat cepat.

“Mmmhhh cupang leher babyh dadhh.. merahin semuanya.. ngghhh”.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhhh cepetin sayanghhh.. Daddyh mau keluarhh..

“Aaakkhh..aakkhh..aakkhh keluarh.. keluarh babyhh..aaaaakkkhhhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Aulia langsung menundukkan kepalanya dan menghisap rudal Rama, ia jilat bersih rudal Rama yang penuh dengan pejunya.

“Aaakhhh.. pelan babyh.. masih ngiluu”

Setelah bersih Aulia langsung memeluk Rama dan menggigit kecil leher suaminya, ia melihat sambungan telepon yang masih tersambung kemudian ia mematikannya.

“Kenapa nakal banget, hm?

“Gak nakal kok”, jawab Aulia.

Rama menggigit ujung hidung istri kecilnya dan mengajak Aulia untuk berbaring.

“Baby”.

“Iya dad”.

“Baby mau punya anak berapa”? Tanya Rama.

“Satu ini aja belum keluar dad, malah mikirin mau anak berapa”.

“Gak ada salahnya kan sayang”, ucap Rama.

“Pikirin dulu tentang perceraian Daddy sama buk Sonya, baby gak mau jadi istri simpanan Daddy terus”, balas Aulia.

“Iya sayang”.

“Maaf kalau baby egois dan jahat, baby sayang sama Daddy, cinta sama Daddy, baby gak mau kalau Daddy sama buk Sonya terus Daddy bisa bisa cinta beneran sama buk Sonya”.

“Daddy lebih cinta sama baby, lebih sayang sama baby.. baby jangan khawatirnya, Daddy akan segera urus perceraian Daddy”, Jawab Rama.

“Makasih ya dad”, ucap Aulia sambil memeluk suaminya.

Rama membalas ucapan dan pelukan istrinya, ia elus lembut kepala Aulia dengan sayang.

Bersambung… Sore harinya Rama pamit kepada Aulia untuk pulang ke rumah yang di tempatinya dengan Sonya, Aulia mau tak mau mengijinkan suaminya untuk pulang dan menyuruh Rama segera menyelesaikan urusannya dengan Sonya.

“Inget ya dad, gak boleh kepancing lagi sama buk Sonya”, peringat Aulia.

“Iya sayang, gak akan kepancing lagi”, jawab Rama sambil mengelus pipi mulus Aulia.

“Yaudah Daddy pulang dulu ya sayang”, sambung Rama.

“Iya dad, hati hati ya, kalau udah sampai kabari”.

“Iya sayang”.

Rama berjalan menuju ke arah mobilnya lalu masuk ke dalam mobil dan langsung menjalankan mobilnya menuju rumahnya bersama Sonya.

Selang beberapa puluh menit, Rama sampai ke rumahnya dengan kondisi rumah yang gelap gulita. Rama masuk dan menghidupkan lampu lalu naik ke lantai atas untuk menemui Sonya. Ia buka pintu kamarnya dan dengan kondisi yang sama seperti di bawah, gelap gulita.

“Sonya”? Panggil Rama sambil menghidupkan kontak lampu.

Rama tak melihat keberadaan istri pertamanya itu tapi ia mendengar suara air dari dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar mereka, beberapa detik kemudian terbuka lah pintu kamar mandi itu di barengi dengan Sonya yang keluar dengan telanjang tanpa menggunakan handuk.

Rama langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, namun Sonya mendekat dan memalingkan wajah Rama untuk menghadapnya.

“Apa apaan kamu sonya, pakai baju kamu sekarang”, ucap Rama.

“Kenapa”? Tanya Sonya.

Rama menepis tangan Sonya yang berada di wajahnya, ia ingin keluar dari dalam kamar itu namun lagi lagi Sonya memeluk nya dari belakang.

“Siapa selingkuhan kamu mas”? Tanya Sonya yang sudah mengubah panggilannya.

“Apa maksud kamu”?

“Tadi siang aku nelfon kamu, ada yang angkat dan aku denger suara perempuan desahin nama kamu”.

“Siapa dia mas? Selingkuhan kamu atau jalang kamu”? Sambung Sonya.

“Jaga mulut kamu Sonya”, bentak rama.

Sonya semakin mengeratkan pelukannya pada Rama, ia menenggelamkan wajahnya di punggung lebar suaminya.

“Siapa dia mas”?

“Dia istri aku Sonya dan dia juga lagi mengandung anak aku”, jawab Rama.

Pelukan erat di tubuh suaminya menjadi semakin erat, tangis Sonya pun pecah di punggung Rama. Rama membiarkan istri pertama nya itu menangis dan memeluk tubuhnya dengan erat. Setelah dirasa istrinya puas menangis, Rama pun membuka suara.

“Aku pengen ngomong Sonya”.

“Ngomong aja”, balas Sonya yang masih memeluk tubuh Rama dari belakang.

“Tapi lepas dulu, kamu juga pakai dulu baju kamu”, ucap Rama.

“Gak”.

“Sonya”, panggil Rama lembut.

“Gak, mas”.

“Aku mau ngobrol sama kamu, masa harus kayak gini”.

“Yaudah, kalau gitu kita ngobrolnya di atas kasur aja, aku juga gak mau pake baju”, ucap Sonya.

“Huh, yaudah ayo”.

Sonya melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Rama untuk berjalan ke kasur mereka. Sampai di kasur Sonya mendorong Rama dan langsung menindih suaminya itu.

“Sonya, kamu apa apaan sih”?

“Kata kamu mau ngobrol, yaudah apa yang mau kamu obrolin”? Tanya Sonya dengan menidurkan kepalanya di dada Rama.

Rama menarik nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan.

“Aku mau cerai”, ucap Rama.

Sonya tak bereaksi sedikitpun, ia asik dengan menduselkan wajahnya di dada bidang suaminya.

“Sonya”.

“Hm”.

“Kamu denger aku kan”?, Tanya Rama.

“Iya”.

“Terus apa jawaban kamu”?

“Aku gak mau”, ucap Sonya.

“Kenapa? Kamu udah tau kalau aku selingkuh, bahkan menikah diam diam di belakang kamu dan sekarang istri aku lagi hamil sonya.. kamu juga tau kalau aku gak pernah cinta sama kamu, aku gak mau terus terusan nyakitin kamu, kamu juga berhak bahagia, aku bakal lepasin kamu”, ujar Rama panjang lebar.

“Bahagia aku sama kamu mas”.

“Tapi aku gak bahagia sama kamu Sonya”, ucap Rama.

“Aku gak perduli, aku gak mau pisah sama kamu”.

“Sonya”.

“Kamu bisa jadiin aku pemuas nafsu kamu mas, tapi aku mohon jangan cerai kan aku”, ujar Sonya.

“Ak..

Belum sempat mengucapkan satu kata, bibir Rama di bungkam oleh ciuman kasar Sonya. Ia menggigit bibir suaminya dengan gemas, menarik dan menyedot lidah Rama dengan penuh nafsu. Setelah ciuman mereka terlepas, Rama mendorong tubuh Sonya dari atas tubuhnya ke kasur.

“Gila kamu”, ucap Rama.

Rama ingin bangun dari berbaringnya, namun rudalnya di remas kencang oleh Sonya dan mulutnya kembali di bungkam oleh mulut Sonya, semakin lama remasan kencang pada rudalnya menjadi remasan lembut, Sonya pun perlahan memasukkan tangannya ke dalam celana Rama, ia genggam rudal hangat suaminya yang mulai keras.

“Shhh.. stop Sonyahh”.

“Sssttt, nikmati aja mas”, ucap Sonya dengan tangan yang semakin lihai mengurut rudal suaminya.

“Aakhh.. berhentihh”.

Sonya menyumpalkan payudaranya ke dalam mulut Rama agar tidak berisik, ia tekan kepala suaminya itu agar lebih dalam menyedot payudaranya yang besar itu.

“Mmhhh.. lebih kenceng mashhh”.

“rudal kamu udah ngaceng banget sayanghh, Nghhh”.

“Akkhh sonyaahh.. udahh aku gak mau lagi menyetubuhiin kamuhh”.

“Kenapa sayang? Karna kamu udah ada istri yang lain? Iya? Tanya Sonya.

“Nghhh iyahhh”.

“Sebagus apa sih service nya sampai sampai kamu gak mau menyetubuhiin aku lagi mas”? Tanya Sonya tak senang.

“Lebih bagus dari kamu pokoknya.. akhhh”.

Tiba tiba Sonya memasukkan rudal Rama ke dalam serambi lempitnya, ia menggenjot rudal suaminya dari atas.

“Aakhh..aakhh..aakhh gila kamu sonyah, stopphhh kamu baru selesai kuret, gak boleh berhubunganhhh”.

“Ngghhh aku gak perduli mashh, akhh..akkhh..akkhh”.

“Aakkhh sonyaahhh”.

“Iya mashh, kenapa sayanghh? Enakhh genjotan aku”?

“Ssshhh ngghhh jangan salahin aku Sonya, kamu yang mancing aku”, ucap Rama.

Rama bak kemasukan setan, ia membuka bajunya lalu mengangkat Sonya dan menelungkupkan Sonya di atas kasur, ia memasukkan kembali rudalnya ke serambi lempit Sonya dari belakang, menghentakkan kuat kuat agar rudalnya tenggelam di dalam serambi lempit istri pertamanya itu. Ia cupang tengkuk Sonya hingga ke leher putih Sonya. Pantat Sonya iya tampar sehingga menimbulkan bercak kemerahan bekas tangannya.

“Aakhh..Aaakkhh..aaakhh mashh, terush mashhh, enakh sayanghh”.

“Ngghhh serambi lempit nya kedut keduth..Mmmhhh”.

“Aakkhhh rudalin aku terush mashhh, jangan berhentih”.

“Akhh..akhh..akhhh Sonyahh, binal banget kamu”.

“Mau keluarh mashh, cepetin sayanghh.. akhh..akkhh keluarh mashh.. keluarhh.. Aaaaakkkhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Rama memiringkan tubuh Sonya dan langsung menggenjotnya kembali, ia remas kencang kencang payudara Sonya, ia pelintir puting keras Sonya dan ia cubit cubit puting itu hingga Sonya berteriak ke enakkan.

“Aakkhh masshh, isep sayanghhh”.

“SLURP..SLURP..SLURP”.

“Nghhhhh enakh banget mashh, gigit puting besar aku mashhh”.

“Aaaakkhhh iya Mash, yang kenceng mashhh.. akhh..akkhh..akhh”.

Tangan Rama turun menuju itil Sonya, ia mainkan itil itu sambil menggenjot serambi lempit sonya dengan kencang.

“Ngahhhh.. jangan mashhh.. ampunhhhh.. akhhhhh”.

“Enak itilnya di mainin gini? Hm”?

“Mmmhhh.. akhhh..akkhh..Akkhhh”.

PLAK, Rama menampar serambi lempit Sonya dan menarik narik jembut serambi lempit Sonya.

“Jawab sayang, bukan malah mendesah”, ucap Rama.

“Aakhh iya mashh, enakhhh, enakh banget mashh.. ngghhh”.

“Sshhh serambi lempit kamu enak sonyah, Aaakkhhh”.

“Mau keluarh lagi mashh.. aakkhh..aakkhh keluarhh..aaaakkkhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

“serambi lempit nakal kenapa cepet banget keluar, hm?

“rudal mas enak, jadi cepet keluarnya”, balas Sonya.

“Nungging”, titah Rama.

Sonya langsung menungging dan Rama langsung menusukkan rudalnya lagi ke dalam serambi lempit Sonya.

“Aaakkhhh maassshhh”.

“Ngghhhh”.

Rama mulai menggenjot dengan perlahan, ia membungkuk kan sedikit badannya dan mengecup bahu Sonya, tangannya mulai menggerayangi payudara Sonya dan mulai meremas dengan gemas, memelintir puting yang selalu tegang.

“Keluarin lidah kamu”, suruh Rama.

Sonya menjulurkan lidah nya dan langsung di sedot oleh mulut Rama, lama kelamaan genjotan Rama semakin cepat dan membuat mrk Sonya semakin berkedut dengan kencang.

“Aakhhh jangan di kedutin serambi lempit nya sayanghh”, ucap Rama dengan meremas kencang payudara Sonya.

“Nggghhhh enggak di kedutin, kedut sendiri mashhhh..aaakkkhhh”.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh aku mau keluarhhh sonyah..nngghh”.

“Di dalam mashh.. mmhhh”.

“Nooo..aakhh..akkhh..akkhh..keluarh.. akhh..aaakkkhhhhhh”.

Rama mencabut rudalnya dan menyemprotkan pejunya di pantat montok Sonya.

CROT

CROT

CROT

“Akkkkkhhhhhhh”.

“Huh..huh..huh..”

Rama menjatuhkan badannya disisi Sonya dan langsung memejamkan matanya karna kelelahan. Sonya yang melihat Rama tak ingin membuang spermanya di dalam rahimnya hanya mampu terdiam, tapi ia tak ingin menyerah dan tak ingin berpisah dengan Rama, Rama adalah suaminya, ia mencintai Rama. Sonya memeluk Rama dan merebahkan kepalanya didada Rama, ia menurunkan tangannya di rudal Rama yang sudah tidur, ia mainkan ujung rudal itu dengan jempolnya, ia jilat pentil susu Rama dengan lidahnya, ia cupang leher Rama dengan kencang.

“Nghhh, udah sonyahh.. kamu belum puas juga”? Tanya Rama.

Sonya naik ke badan suaminya dan menggesek gesekkan serambi lempit ya ke rudal Rama, ia meremas payudaranya sendiri dengan menggigit bibir bawahnya dengan erotis.

“Dulu, puting ini yang kamu bilang enak mas, apa sekarang masih enak”? Tanya Sonya.

“Hm”.

“Isep dia mashh”

Sonya menundukkan badannya agar Rama bisa menghisap putingnya.

“Aakkhhh.. iya masshh.. tarikkhh terushh sayangghh”.

Gesekkan Sonya semakin cepat dan rudal Rama pun sudah kembali keras.

“Nngghh rudal kamu bangun lagi mashh”.

“Sshhh sonyahhh”.

“Iya mashhh”.

“Aku sange sayanghh.. ssshh”.

“Terus mau ngapain kalau sange mas”?

“menyetubuhiin kamu lagi, ngontolin serambi lempit nakal kamu sayanghh”, ucap Rama.

“Entotin aku sepuas kamu mashh”, balas Sonya yang semakin menggesekkan serambi lempitnya ke rudal Rama.

Rama mengajak Sonya turun dari tempat tidurnya, ia berdiri berhadapan dengan Sonya sambil berciuman dan merapatkan Sonya ada dinding, ia angkat satu kaki Sonya dan langsung memasukkan rudalnya ke dalam serambi lempit Sonya.

“Akhhh enaknyaaa sayanghh.. serambi lempit kamu tembem banget sonyaah, jepit bangethhhh”.

“Aakkhh rudal kamu gede mashh, panjang banget.. aku suka mashh”.

Rama menghentak hentakkan pinggulnya dengan mulut membisikkan kata kata kotor pada telinga istrinya, membuat Sonya semakin bernafsu.

“Aaakhh serambi lempit nakal gak puas puas udah di entotin malah pengen lagi”.

“Ngghh serambi lempit kangen sama rudal kamu sayanghh, gak bisa puashh”.

“Akkhh..aakkhh..aakkhh sonyaahhh.. serambi lempit kamu seret banget sayanghhh”.

“Aakkhh iya mashh.. sodok yang kenceng mashhhh.. nngghhh”.

“Akkhh..aakhh..aakkhhh”.

“Aakhh mau keluarh masshhh..mau keluarh sayanghhh..cepetin mashh..akhh..akkh..aakkkhh..keluarh mashhhhhh”.

“Aaakkkhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Rama memeluk tubuh Sonya dan membiarkan Sonya puas dengan pelepasannya, setelah puas ia menggendong Sonya ala koala dengan rudal yang masih menancap, ia naik turunkan pinggul Sonya agar rudal nya menancap lebih dalam lagi.

“Akhh..aakhh..aakkhhh masshh dalem banget kalo kayak ginihhh..nngghh”.

“Enak sayanghhhh.. rudal aku nancep bangethhh”.

“Nngghhh masssh”.

“Kenapaa”?

“Pengen cium”.

Rama langsung mencium bibir Sonya dengan kasar, Sonya pun tak kalah kasar dengan tangan yang melingkar di leher suaminya, ia tarik bibir bawah Rama lalu mengulum dan menyedotnya hingga bengkak, ia jilat wajah dan bibir rama kemudian mengulum daun telinga Rama.

“Aakkhh sonyaahh.. udah sayanghh.. bisa bisa mas tambah sange dan gak mau berhenti menyetubuhiin kamuh”.

“Kalau begitu jangan berhenti sayanghh, entotin aku sampe pagi mashh.. nghhhhh”.

“Aakhh..aakkhh..aakkhh Mash gak tahan sayanghh.. pengen keluarhhh”.

“Aakkhh..aakkhh..aakkh”.

“Aakkhh..aakkhh keluarh.. Mash keluarh sayanghh”.

Rama buru buru menurunkan Sonya ke bawah dan menyuruh Sonya membuka mulutnya, lalu ia mengocok rudalnya dan menyemprotkan pejunya ke dalam mulut Sonya.

“Aaaaakkkhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Sonya mengulum, menjilat dan menghisap sisa peju yang ada di rudal suaminya.

“Aku belum keluar mas”, ucap Sonya.

“Kamu gak capek? Ini udah tengah malam”.

“Gak mas, ayo lagii”, rengek Sonya.

Sonya berdiri di hadapan Rama dan mengamit tangan Rama lalu membawa tangan Rama untuk memegang serambi lempitnya, ia gesek gesekkan tangan Rama lalu mencium bibir Rama.

“Mmhhh masukin mashhh”.

“Apanya”? Tanya Rama dengan tangan yang masih mengelus serambi lempit Sonya.

“Ngghhh jari kamu sayanghhh”.

“Masukin kemana? Mau berapa jari? Hm?

“Ke serambi lempit aku mashh, 2 jari”.

Jleb

Rama memasukkan 2 jarinya ke serambi lempit Sonya dan tangan satunya lagi menarik narik puting besar Sonya, Rama melihat betapa sange nya Sonya di depan matanya sekarang ini. Ia memelankan kocokan jarinya pada serambi lempit Sonya.

“Mmhhh masshhh, cepetinhhh”.

Rama membalikkan badan Sonya menjadi Sonya di depannya dengan Rama di belakang Sonya, Rama melajukan kembali kocokan jarinya pada serambi lempit Sonya dan meremas payudara Sonya dengan kencang, ia kecup dan ia jilat leher Sonya yang terdapat banyak bekas cupangan nya, ia tambah lagi dengan mencupangi leher Sonya.

“Aakkhh..aakkhhh..aakkhh”.

“Mashhh”.

“Iya”.

“Aku mau jadi pemuas nafsu kamu mashh, jadi jalang kamu, jadi jangan ceraikan aku ya mashhhh”.

“Gak Sonya, aku harus milih antara kalian”.

“Pilih aku mashh”, Pinta Sonya.

“Aku udah milih dia Sonya, aku gak bisa ninggalin dia, dan aku akan segera urus surat cerai kita”.

“Nggghhh.. kamu jahat mashhh”.

Rama semakin mempercepat kocokan jarinya ketika merasakan kedutan yang semakin kencang di serambi lempit Sonya.

“Aakkhh.. aku mau keluar mashh..akhh..aakkhh..akkhh keluar mashh..keluarhhh..aaakkhhhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

“Udah ya, sekarang istirahat”, ucap Rama.

Sonya membalikkan badannya dan langsung memeluk Rama, ia raba paha Rama lalu memegang rudal Rama yang keras sejak tadi dan memasukkan ke dalam serambi lempit nya.

“Nngghh sonyyaa”.

“Mmmhh maaasshhhh”.

“Udah sonyaahh”, ucap Rama.

“Muntahin Peju kamu ke dalam rahim aku, baru aku mau udahan mashh”.

“Ssshhh gak akan sonyahhh”.

Sonya memaju mundurkan pinggulnya dan memeluk Rama erat erat.

“Akkhhhh.. rudal kamu selalu bikin nafsu mashhhh”.

“Ngghhh stopph sonyaah”.

“Gak mau sayanghhhh.. aku mau Peju kamu di rahim Akuhh”.

PLAK, Rama menampar pantat sonya, ia remas pantat Sonya dan menghentakkan pinggulnya dengan kencang.

“Aakkhh maassshhhhh”.

“Aakhh..aakkhh..aakhhh.. ini kan yang kamu mauhh.. mmhhhhh”.

“Akhhh sayanghhhhh.. ampunhh masshh.. rudal kamu nusuk banget sayanghh.. Akkhhh”.

“Aakhh..aakkhh..akkhh serambi lempit nakal”.

Sonya yang tak tahan karna hentakan kencang Rama pun melepaskan pelukannya di tubuh Rama, Rama pun langsung menggendong Sonya tanpa melepaskan tautan mereka ke atas kasur, ia lebarkan paha Sonya dan langsung menggenjot serambi lempit Sonya dengan brutal.

“Aakkhh maaassshhh, pelan mashhhhh”.

“Gak sayanghhh.. kamu harus ngerasain rudal gede Mash..nngghh”.

“Aakkhh..aakhh udah mashh.. ampunhhh”.

“Aakhh..aakhh..aakhh mas mau keluarh sayangghhh”.

“Akkhh..aakkhh..aakkhh”.

“Akkhh keluarhh..keluarhhh..akkkhhhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Rama mencabut rudalnya dan menyemprotkan dipayudara Sonya, ia mainkan sisa pejunya di puting Sonya dengan kepala rudalnya.

“Udah ya Sonya, aku bener bener capek, aku mau mandi terus mau istirahat”.

Rama memungut pakaiannya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah mandi ia berjalan keluar kamar mandi menuju lemari untuk berpakaian, ia melihat Sonya yang sudah tidur dengan berselimut sampai ke dada.

Rama mengambil kopernya dan memasukkan baju bajunya ke dalam koper, ia menghampiri Sonya dan mengelus rambut Sonya yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya.

“Maafin aku Sonya”, ucap Rama.

“Aku gak bisa hidup sama kamu, aku gak cinta sama kamu, semoga kamu bisa nemuin laki laki yang jauh lebih baik dari aku”. Sambung Rama.

“Aku pamit”, Rama mencium dahi Sonya dan berlalu meninggalkan Sonya yang hanya berpura pura tidur.

Bersambung… Sejak kejadian 6 bulan yang lalu, Sonya benar benar tak lagi menghubungi Rama, ia juga telah bercerai dengan Rama dan bertekad untuk melupakan Rama. Sonya juga telah berhenti mengajar dan sekarang ia membuka toko bunga.

Aulia pun sekarang sudah kelas 3 dan sebentar lagi akan lulus, usia kandungannya pun sudah menginjak 6 bulan, sayangnya ia harus home schooling karna perintah sang suami.

Hari ini Rama pergi mengajar seperti biasa, sedangkan Aulia hanya di rumah dengan ponsel dan drama Korea nya, sedang asik mengscroll ponselnya tiba tiba ada yang memencet Bella rumahnya, dengan perut yang sudah membuncit, Aulia berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang sore sore begini ke rumahnya. Ia membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang datang ke rumahnya.

“Bu- buk Sonya”? Gagap Aulia.

“Aulia”, Sonya sama terkejutnya dengan Aulia.

“I-ibu ngapain disini”? Tanya Aulia.

“Kamu”? Sonya melihat ke arah perut Aulia yang membesar.

Aulia nampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan Sonya, Sonya yang melihat raut tak enak dari wajah Aulia pun langsung menyodorkan makanan yang ia bawa.

“Aulia, ini ibu bawa makanan, ibuk baru pindah di sebelah rumah kamu”, ucap Sonya.

Aulia menerima makanan yang di berikan Sonya padanya, setelah memberi makanan tersebut Sonya berniat untuk kembali ke rumahnya, tapi sebuah mobil yang sangat ia kenali memasuki pekarangan rumah Aulia.

Pemilik mobil tersebut keluar dan matanya beradu pandang dengan mata Sonya. Mereka sama sama terkejut dan Sonya segera memutuskan pandangan mereka.

Pemilik mobil itu berjalan menuju ke arah Aulia dan menyapa Sonya dengan senyuman. Aulia menyambut pemilik mobil itu yang ternyata adalah Rama, suaminya dengan mencium tangan Rama.

“Ngapain di luar”? Tanya Rama.

Aulia tak tau harus bagaimana menghadapi situasi ini. Sonya yang bingung dan penasaran pun langsung bertanya kepada Rama.

“Jadi dia istri kamu mas”? Tanya Sonya.

“Iya”.

“Oh, selamat ya Aulia”, Sonya mengulurkan tangannya memberi selamat kepada Aulia.

“Mmm makasih ya buk”, balas Aulia.

“Yasudah, kalau gitu ibuk permisi dulu ya, kapan kapan main ke rumah ibuk ya Aulia”. Pamit Sonya pada Aulia.

“Aku pamit ya mas”, sambung Sonya ada Rama.

Setelah melihat kepergian Sonya, Rama mengajak istrinya untuk masuk ke dalam rumah.

“Dia tetangga baru kita”, tanya Rama.

“Kenapa? Suka dia jadi tetangga kita”?

“Astagfirullah sayang, nuduh Mulu ih”.

“Ngapain nanya nanya, kan udah tau”, ucap Aulia.

“Daddy gak tau sayang, mangkanya Daddy nanya”.

“Tau ah”.

“Bumil kok ngambek teruss”, ucap Rama sambil mengusap usap perut buncit Aulia.

“Mandi sana dad, habis dari luar itu langsung mandi”, omel Aulia.

“Iya iya sayang, Daddy mandi dulu ya”.

“Hmm”.

Sembari menunggu suaminya selesai mandi, Aulia menyiapkan makan malam untuknya berdua dengan suaminya. Ia memasak makanan kesukaan Rama yaitu SOP ayam dan perkedel kentang. Tampak Rama turun dengan mengenakan boxer dan baju kaos hitam serta rambut yang masih basah dan handuk kecil di tangannya. Rama memberikan handuk kecil itu kepada Aulia untuk mengeringkan rambutnya.

“Kebiasaan banget deh dad, keringin dulu kenapa”.

“Kan ini lagi di keringin sayang”, ujar Rama.

“Tiap hariiiii begini”, omel Aulia.

“Tiap hariiiii ngomel”, balas Rama.

“Ngomel aja gak pernah di dengerin, apa lagi di diemin”.

“CUP”

Rama mencium bibir istrinya sekilas dan mengambil handuk kecil yang di pegang Aulia.

“Yaudah makan yu, Daddy laper”.

Aulia menyendokkan nasi serta lauk ke dalam piring suaminya dan menyiapkan minum suaminya lalu ia menyendokkan nasinya sendiri ke dalam piring kemudian mereka makan dalam keadaan hening, karna Rama tidak suka makan sambil mengobrol. Setelah selesai makan, mereka duduk di depan tv dengan alas karpet berbulu tebal.

Rama menyandarkan badannya ke sofa dengan kaki mengangkang lebar sedangkan Aulia duduk di depan suaminya sambil menyandarkan badannya didada bidang Rama. Rama memeluk Aulia dari belakang dan mengelus elus perut istrinya.

“Daddy gak sabar pengen ketemu kamu dek”, ucap Rama.

“Adek juga gak sabar mau ketemu Daddy”, balas Aulia dengan menirukan suara anak kecil.

“Cepat keluar ya sayang, Daddy capek di omelin mommy kamu terus”.

“Emang mommy ngomelin apa dad”? Tanya Aulia.

“Semuaaaa di omelin, sampe pusing Daddy”.

“Gak mau pusing gak usah punya istri dad”, balas Aulia.

“Hahaha bercanda sayang”.

“Mommy”, panggil Rama.

“Hm”.

“Kok tambah gede ya”, ucap Rama sambil meremas payudara Aulia dari luar baju Aulia.

“Namanya juga lagi hamil, ya makin gede lah”.

Rama memasukkan tangannya ke dalam baju daster yang di pakai Aulia, ia meraba perut buncit istrinya dan naik ke atas menangkup si kembar yang semakin membesar. Ia meletakkan dagu nya di bahu Aulia, sesekali ia kecup dan ia jilat leher putih Aulia lalu ia kulum daun telinga istrinya.

“Sssshhh”, desis Aulia.

“Kenapa mom”?

“Nghhhh”.

Rama semakin gencar menjilat dan menghisap leher istrinya, sudah terdapat banyak bekas cupangan di leher putih Aulia.

“Aakkhhhh dadhhh”.

“Iya sayang”.

“Mommy sange dadhhh.. ngghh”

“Boleh Daddy jengukin adek sayang”? Tanya Rama.

“Boleh dadhh, tapi jangan kenceng kenceng ya”.

“Iya sayang”.

Rama menurunkan tangannya menuju ke arah paha Aulia, ia raba raba paha mulus Aulia lalu tangannya beralih ke serambi lempit Aulia yang sudah basah, ia usap serambi lempit istrinya dari luar celana dalam kemudian ia gesek gesek bibir serambi lempit istrinya dengan gerakan turun naik, Aulia melenting kan badannya ke depan karna ulah jari suaminya.

“Aakhhhh daddyyhhhhh”.

“Pegang rudal Daddy sayang”.

Aulia memegang rudal Rama dan meremas nya pelan, sedangkan jari Rama kini telah masuk ke dalam serambi lempit istrinya, ia kocok serambi lempit Aulia dengan kecepatan sedang, tangan kirinya meremas payudara dan menarik puting keras Aulia.

“Aakkhh..aakkhh..akkhh dadhh.. nngghhh enakh banget dadhhhh kocokan daddyhhh..nngghhh”.

“Remasan tangan mommy juga enakhhh, bikin Daddyh sangeee”.

“Mmhhhh adek kangen sama daddyhhh”, ucap Aulia.

“Iya sayanghhh, Daddy lebih kangen mau jengukin adekkhhh”.

“Mau keluar dadh..aakkhh..aakkhh..aakkhhh”.

“Keluarin sayanghh, basahin jari daddyhh”.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh keluar dadhh, mommy keluarh sayanghh.. aaaaaakkkkhhhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Rama menarik keluar jarinya kalau menjilat sisa cairan yang berada di jarinya, ia membuka baju kaos serta boxer dan celana dalam yang ia pakai lalu membuka daster dan celana dalam yang Aulia pakai.

“Mommy mau di atas dad”, ucap Aulia.

“Iya sayang, sini”.

Aulia naik ke atas pangkuan suaminya, ia gesek gesek terlebih dahulu serambi lempitnya ke rudal Rama kemudian ia masuk kan rudal yang keras itu ke dalam serambi lempit nya.

Jleb

“Aakkkhhhhhh.. sssshhh daddyhhh”.

“Nnggghhh.. jepit banget sayanghhh serambi lempitnyaaah”.

“Mmhhh rudal Daddy panjang banget dadhhh”.

“Adeeek.. Daddy jengukin adek lagi inii.. nghhhh”.

Aulia menggerakkan perlahan pinggulnya naik turun, tangannya bertumpu pada bahu suaminya. Sedangkan Rama memegang pinggang istrinya dan membantu Aulia agar bisa bergerak, sedangkan mulutnya ia sumpal dengan payudara istrinya.

“Aakhh..aakhh..aakhh enakh banget dadhhh.. udah lama kita gak menyetubuhihh”.

“Aakkhh iya sayanghhh.. enak bangethh mommy.. serambi lempit mommy makin sempithhh”.

“Nghhhh dalem banget rudal Daddyhh.. Aaakhhhh”.

“Aakhh..aakhh..aakhh terussh momh, terushh sayanghhh.. rudal Daddyh enakh”.

Aulia memutarkan pantatnya, membuat rudal Rama seperti terjepit.

“Aaaakkhhh sayanghhhh, enakh banget di gituin momhhh.. ngghhh”.

“Mommy mau keluar dadhh.. akhh..akhh..akhh keluar Daddyh keluarhh.. aaaakkkhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

“Capek sayang”, tanya Rama.

“Enggak”.

Rama menidurkan istrinya di atas karpet tebal dan melebarkan kaki istrinya lebar lebar, ia mainkan serambi lempit Aulia dengan menggesek gesekkan batang rudalnya.

“Mmmhhhh.. jangan main main dadhh”.

“Kenapa sayanghhh.. ssshhhh aakkhh”.

“serambi lempit mommy gatelhh di gituinhh”.

“Terush mommy mau di apainhh? Hm?

“Entot mommy dadhh, entotin mommy sekarangh sayanghhh, serambi lempit mommy gatelhh”.

Jleb

“Aakkkhhh daddyhhhh.. penuh bangeth dadhhhh.. ngghhhh”.

“Ssshhh sayanghhh.. sempithh.. rudal Daddy sesak momhh”.

“Gerakin dadhh”.

Rama menggenjot pelan rudalnya sambil mengelus perut buncit istrinya.

“Aakhh..aakhh..aakhh”.

“Aakhh..aakhh..aakhh diem ya dekhh.. Daddy lagi entotin mommy kamuh.. mommy udah lama katanya gak ngerasain rudal Daddyhh”.

“Nngghhh.. enakh daddyhhh.. rudal Daddy enakhh bangethh.. sodok terush dadhh.. sodok lagi sayanghh”.

“Iya mommy sayanghh.. ini rudal Daddy lagi nyodokin serambi lempit tembem mommyh”.

“Aakhh..aakkhh..aakkhh”.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh”.

“Daddyhh.. mommy mau keluarhhh”.

“Daddy juga sayanghh.. barengan sayanghhh”.

“Akhh..aakhh..aaakkkkkkhhhhhhh”.

“Aaaaakkkkhhhh”

CROT

CROT

CROT

“Huh..huh..huh”

“Dadd”.

“Iya sayang”.

“Capek”, rengek Aulia.

“Iya, ke kamar ya kita bersihin badan”.

“Gendong”, pinta Aulia.

“Iya sayang”.

“HAP” Rama menggendong Aulia dengan mereka yang bertelanjang bulat dan menuju ke lantai atas ke kamar mereka.

Sampai di kamar, Rama meletakkan Aulia di kasur, ia menuju ke kamar mandi untuk mengisi bath up dengan air hangat, setelah bath up terisi air hangat Rama menggendong Aulia kembali dan membawanya nya ke kamar mandi untuk berendam di dalam bath up.

“Sini dad”

“Daddy ikut berendam ni”? Tanya Rama.

“Hm”.

“Tumben, biasanya kalo Daddy pengen ikut berendam mommy marah”.

“Ihhhh, buruan sini”.

“Iya sayangkuu”, Rama ikut berendam di dalam bath up bersama Aulia.

“Pengen pegang rudal Daddy”, ucap Aulia.

“Yaudah sini pegang”, Rama mengamit tangan istrinya lalu mengarahkannya ke rudalnya.

Aulia menggenggam dan mengurut rudal suaminya dengan gemas, ia melihat mata Rama yang kembali sayu, ia mainkan pentil susu suami nya dan mencium bibir Rama.

“Nghhhh”.

“Ssssshhh sayanghhh”.

Mata Rama semakin sayu dan rudalnya semakin mengeras. Rama mencubit cubit puting kembar yang sudah tegang dan sangat besar.

“Daddy sange lagi sayanghh.. ssshhh”.

“Pengen serambi lempithh mommyhh.. Daddy sange momhhh.. nngghh”.

“Ayoo mommhh.. kita menyetubuhi lagihh.. rudal Daddyh udah sakith sayanghhh.. nungging mommyhh”

Aulia menungging dan memegang sisu bath up, Rama yang sudah kepalang sange langsung menancapkan rudalnya ke serambi lempit Aulia.

“Nngghhhh hangat nyaa di dalem serambi lempithhh”.

“Aakkhhh penuh nya dadhhh”.

“Mmmhhh.. mana tete nya sayanghh.. Daddy pengen remeshhh”

Rama meraba dan meremas kasar payudara istrinya.

“Aakhh..aakhh..aakkhh”.

“Aakhh..akkhh..akhh enak banget menyetubuhi sambil ngeremes tete momhh.. Nghhh”

“Iya dadhhh remes terushhh.. Mmmhhh”.

“Iya sayanghhh.. akhh..akkhh..aakkhh”.

“Mau keluar dadhh”.

“Aakkhh..aakkhh daddy juga mau keluarh sayanghh”.

“Akhh..akhh..akhh keluarhh aaaakhhhhhhh”.

“Aaaakkhhhhh”

CROT

CROT

CROT

Rama memeluk tubuh Aulia dari belakang dan merasakan pelepasan bersama sama, setelah puas mereka pun langsung membersihkan tubuh mereka dan langsung tidur karna sangat kelelahan.

***

Minggu pagi, biasanya banyak anak anak dan ibu mereka berjalan santai di sekitaran komplek, tak terkecuali Rama dan Aulia, seperti Minggu Minggu sebelumnya, pagi ini Rama berjalan bergandengan dengan sang istri kecilnya tanpa mengenakan alas kaki.

“Capek gak”? Tanya Rama.

“Baru juga keluar rumah dad”, geram Aulia.

“Daddy nanya loh sayang”.

“Udah ah, Daddy di rumah aja, biar mommy jalan sendirian”, ucap Aulia.

“Enak aja”, nanti dikira orang Daddy gak perduli sama istri”, balas Rama.

“Mangkanya diem”.

“Iya iya, ya Allah”.

Tanpa sengaja seseorang menabrak Aulia dan hampir membuat Aulia terduduk jika Rama tak memegangnya.

“Aduh maaf, saya gak sengaja”, ucap seseorang yang tak sengaja menabrak Aulia tadi.

“Sonya”.

“Kamu sengaja ya nabrak istri saya supaya dia jatuh”? Tuduh Rama.

Ya, yang tak sengaja menabrak Aulia adalah Sonya.

“Aku beneran gak sengaja mas, aku lari karna lupa matiin kompor di rumahku”, jawab Sonya.

“Dad, udah ih”, ucap Aulia.

“Aulia maaf, ibuk beneran gak sengaja”, ucap Sonya lagi.

“Iya buk gpp kok”.

Sonya langsung berlari masuk ke dalam rumahnya, karna ia benar benar lupa mematikan kompor gas di dalam rumahnya.

“Gak boleh marah marah di depan orang ramai dad”.

“Habis lari larian gak liat orang, orang lagi hamil pula yang di tabrak”, omel Rama.

“Mommy gpp sayang, udah ah.. ayo jalan lagi”.

Mereka pun berjalan seperti biasa dan mampir ke tempat bubur langganan mereka setiap pagi.

“Makan di rumah aja ya dad”.

“Gak mau makan disini”? Tanya Rama.

“Di rumah aja, pengen cepet cepet rebahan dad, capek banget rasanya”, keluh Aulia.

“Mommy gpp? Perutnya sakit?

“Enggak dad, cuma capek aja”.

Setelah memesan dan membungkus pesanan mereka, mereka pun langsung berjalan pulang ke rumah dan lagi lagi berpapasan dengan Sonya di depan rumah mereka.

“Aulia, sekali lagi ibuk minta maaf ya”, ucap Sonya.

“Iya ibuk, gpp kok, aku juga gpp ini”, balas Aulia.

“Yaudah ayo masuk, udah panas ini”, ujar Rama.

“Ibuk mau mampir”? Tanya Aulia.

“Hmm, boleh”? Sonya balik bertanya.

“Boleh kok”, jawab Aulia.

“Sayang”, geram Rama.

“Yaudah, ayo buk”.

Aulia, Sonya dan Rama pun masuk ke rumah dan Aulia mempersilakan Sonya untuk duduk. Sonya melihat sekeliling rumah Rama dan Aulia, di sana ada foto pernikahan mereka dengan Aulia yang memakai gaun dan Rama memakai setelan jas dengan senyumnya yang terlihat sangat bahagia.

“Sebentar ya buk, aku ke belakang dulu”, ucap Aulia.

“Mau ngapain”? Tanya Rama.

“Nyiapin bubur sama buatin minum”.

“Udah, duduk sini aja, biar Daddy yang siapin”, balas Rama.

Sonya hanya melihat pembicaraan ringan antara suami istri di depannya ini, berapa beruntung nya Aulia yang mendapatkan cinta dan sayang dari Rama, Rama pun sangat perhatian kepada Aulia, sangat berbeda saat bersamanya dulu.

Bersambung… Tak terasa kini usia kandungan Aulia sudah 9 bulan, sebentar lagi ia akan melahirkan anak pertama mereka.

“Sayang”, panggil Rama.

“Hm”.

“Semalam Daddy baca artikel di internet”.

“Artikel apa”? Tanya Aulia.

“Kalau mau persalinan lancar, kita harus itu”.

“Itu apa”? Tanya Aulia lagi.

Rama mendekatkan mulut nya pada Aulia dan berbisik.

“Ngewe”.

“Hisssh, enggak ya, perut udah besar gini masih juga di ajak ngewe”.

“Itu kan artikel yang Daddy baca sayang, bukan kata Daddy looh”, ucap Rama.

“Sehariii aja dad gak usah mesum, gak kasian apa sama istrinya”, omel Aulia.

“Iya iya, ya ampun”.

Tengah asik bercengkerama di ruang tamu, bel rumah mereka berbunyi. Dengan malas dan mulut yang mengomel, Rama bangkit dari duduk nya dan membuka pintu.

Ceklek

Rama menaikan satu alis nya ketika melihat siapa yang bertamu.

“Siapa dad”?, Teriak Aulia.

Rama menggeser kan tubuhnya agar Aulia bisa melihat siapa yang datang. Aulia mengerutkan keningnya, kenapa sekarang Sonya sering sekali bertamu ke rumahnya.

“Mm maaf Aulia, apa ibuk boleh minta tolong sama mas Rama untuk memasangkan gas di rumah ibuk”?, Tanya Sonya.

“Tanya sama orangnya langsung aja buk”, balas Aulia.

Sonya memandang Rama penuh harap.

“Maaf Sonya, saya gak bisa, itu banyak orang yang bisa nolong kamu”,tunjuk Rama pada bapak bapak yang sedang berkumpul di taman komplek.

“Maaf sekali lagi, saya tutup dulu pintunya”, sambung Rama.

Rama menutup pintu lalu berjalan ke sofa tempat dimana istrinya duduk.

“Ipi ibik bisi minti tiling simi mis rimi”, Aulia menirukan kata kata Sonya tadi.

“Mas Rama, mas Rama, biasanya juga manggil mas doang, aturan kalo udah pisah mah manggil nama aja kenapa”, omel Aulia lagi.

Rama tersenyum melihat kecemburuan istrinya, ia cubit pipi Aulia yang sangat chubby dan mengecup seluruh permukaan wajahnya.

“Gemes banget, istrinya siapa sih”? Tanya Rama sambil mencubit kedua pipi istrinya.

“Istri Rama Purnomo”, jawab Aulia.

“Utututu, udah mau jadi mommy gak boleh cemberut gitu mukanya”.

“Dad”, panggil Aulia.

“Iya sayang”.

“Mommy takut”.

“Hm? Takut kenapa”?, Tanya Aulia.

“Buk Sonya sekarang sering kesini, apa jangan jangan dia masih ada perasaan sama Daddy”?

“Gak usah mikir yang macam macam sayang, Daddy juga gak akan macam macam”, ucap Rama menenangkan.

“Tapi kalau Daddy ketauan macam macam, mommy bakal pergi jauh bawa adek”, ancam Aulia.

“Daddy gak akan biarin kalian pergi”.

“Janji ya dad gak akan macam macam”?

“Janji sayangku, cintaku”.

***

Malam hari nya Aulia mengajak Rama untuk duduk di balkon kamar mereka, ia ingin melihat anak anak muda seumurannya bermain basket di lapangan depan yang ada di kompleknya.

“Ngapain sih sayang ngeliat begituan, masuk yuk dingin”, ucap Rama.

“Jangan berisik daddy, mommy tuh pengen liat cowok cowok ganteng main basket”.

“Daddy gak ganteng? Gak pinter main basket”? Tanya Rama.

“Ganteng kok, kaya lagi, mangkanya mommy suka”, balas Aulia.

“Terus ngapain lagi mau liat liat anak ingusan yang gak pinter main basket ituuuu”? Tanya Rama gemas.

“Ihhhh, Daddy berisik deh, ini adek loh yang pengen liat cowok ganteng, bukan mommy”, jawab Aulia.

“Halah, adek Mulu yang di bawa bawa, padahal dia yang pengen”, omel Rama sambil berlalu meninggalkan Aulia sendirian di balkon.

Aulia tersenyum puas karna berhasil menjahili suaminya, tak sampai 5 menit Rama kembali lagi menghampiri istrinya yang berada di balkon.

“Kenapa balik lagi”?, Tanya Aulia.

Rama membuka paha Aulia dan langsung langsung memeluk lalu mencium perut buncit istrinya.

“Kangen adek”, Jawab Rama.

Tanpa mereka sadari, sejak mereka duduk di sana dan sampai sekarang, Sonya melihat interaksi mereka berdua, entah kenapa perasaan Sonya yang sudah ia hapus untuk Rama sekarang timbul lagi, ia cemburu melihat Aulia yang berhasil mendapatkan cinta, sayang serta perhatian Rama. Ia ingin mendapatkan Rama kembali, merebut Rama dari Aulia dan ingin merasakan sentuhan Rama lagi.

“Mom”.

“Iya sayang”.

“Ayo lakuin yang di artikel yang Daddy baca semalam”, ajak Rama.

“Gak perlu ngelakuin itu pun bentar lagi anak kamu keluar dad”, balas Aulia.

“Tapi Daddy mau mom, kita main disini aja”, Rama menarik turunkan kedua alisnya dengan senyum mesum terbit di wajahnya.

“Hahaha jangan gitu ih dad, geli tau, kayak om om mesum”, ucap Aulia.

“Ayo ngewe sama om dek”, ucap Rama semakin gencar menjahili istrinya.

“Amit amit ya Allah, jangan sampai kamu mesum kayak Daddy ya dek”, balas aulia sambil mengelus elus perutnya.

“Hahahaha mommy nya aja suka kalau Daddy mesum”, ucap Rama.

“Ih, enggak ya”.

“Yang bener”?

“Diem deh dad”.

“Haha iya iya sayang, yaudah ayo”, ajak Rama lagi.

“Pengen banget”? Tanya Aulia.

“Banget banget bangettt sayang”.

“Sekali aja ya”, ucap Aulia.

“Iya mom, sekali aja”.

Rama memulai permainannya dengan mencium bibir Aulia, meraba payudara yang memang sudah tak memakai bra lagi karna payudaranya semakin membesar, memilin dan menarik narik puting yang sudah mengeluarkan asi.

“Sshhh jangan kenceng kenceng dad, asi nya udah keluar”.

Rama melepaskan baju yang di pakai Aulia dan langsung meraup payudara istrinya yang sudah mengeluarkan asi.

“Nngghhh daddyhh”.

Rama menurunkan tangannya menuju serambi lempit Aulia yang baru saja semalam ia cukur, ia elus elus serambi lempit itu dari luar celana dalam dan menekan nekan itil Aulia.

“Uukghhh enaknya sayanghhh”.

Jleb

“Aaakkhhhh”, desah Aulia ketika Rama memasukkan dua jari nya dan langsung mengocok dengan cepat.

“Aakhh..aakhhh..aakkhh”.

“Daddyhh.. enakh dadhhhh.. cepetin lagi sayanghhhh”.

“Aaakkhhh mau keluarhh..mau keluarh dadhhhh…aaakkkkhhhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

“Udah siap ketemu Daddy dek”?, Tanya Rama pada perut buncit istrinya.

Aulia melepaskan celana yang dipakai Rama lalu meremas remas rudal yang sudah keras sejak tadi.

“Aakhhh.. ssshhhh.. ngghhhh”.

“Tangannya aja enakhh, apa lagi serambi lempit nya momhhh..Mmmhhh”.

“Udah sayanghh, Daddy mau ngontolin serambi lempit nyaa”.

Rama menidurkan istrinya di sofa yang ada di balkon kamar mereka, ia buka lebar lebar paha Aulia dan memasukkan dengan pelan rudalnya ke dalam serambi lempit Aulia.

Jleb

“Ukkkhhhhhh dadhhhh”.

“Nngghhh sayanghhh.. serambi lempitnya kenapa makin sempithhh”.

Rama memaju mundurkan pinggulnya dengan pelan, ia melihat wajah Aulia yang semakin hari semakin cantik di matanya.

“Aakkhh kok pelan banget dadhh, gak berasaa sayanggh”.

“Gini”? Tanya Rama yang sedikit menambah tempo genjotannya.

“Ngghh iya dadhh.. sshh kayak gini sayanghhh.. terusin.. terusinhh daddyhh..aakkhh”

“Aakhh..aakkhh..aakkhh maaf ya Dekh.. Daddy ganggu tidurnya.. Daddy gak tahanhh kalo gak menyetubuhiinhh mommy kamuuhh.. nngghhh”.

“Ukhh.. rudal daddyhhh”.

“Aaakkhh kenapa sayanghh.. kenapa rudalh dadyyhh momm”.

“Enakh dadhhh.. genjot terushh.. jangan brhenti.. mommy mau keluarhhh”.

“Aakh..aakhh..aakkhh bareng momh, Daddy juga mau keluarhh”.

“Aakhh..aakkhh..aakkhh keluarh.. keluarh sayanghh.. kuarhh.. aaakkkhhhhh”.

“Aaaakkkhhhhhh”.

CROT.

CROT

CROT

“Huh..huh..huh”.

Setelah puas dengan pelepasannya, Rama langsung mencabut rudalnya dan membersihkan serambi lempit Aulia dengan tisu, ia pakaikan kembali pakaian Aulia dan pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar untuk tidur.

Disisi lain, Sonya yang melihat adegan panas Rama dan Aulia pun ikut merasakan panas dan sange. Ia berjanji akan mendapat kan Rama kembali dan menghangatkan rahimnya lagi.

***

Rama sudah mengambil cuti beberapa hari yang lalu untuk mendampingi istrinya melahirkan, setelah pergulatan panas mereka beberapa hari kemarin, pagi ini Aulia merasakan mulas yang teramat sangat dengan perutnya dengan wajah yang sudah pucat.

Rama yang panik pun langsung membawanya ke rumah sakit dan sesampainya disana Aulia langsung di tindak oleh dokter. ternyata istrinya sudah buka 10 dan sebentar lagi akan melahirkan, Rama menemani istrinya di dalam ruang bersalin, ia terus menggenggam tangan Aulia dan sesekali menyeka keringat yang bercucuran di wajahnya.

“Ayo buk, terus mengedan, kepalanya sudah kelihatan”, intruksi dokter wanita yang menangani Aulia.

“Ngghhhh”, Aulia mengedan dengan sisa sisa tenaganya yang sudah lemah.

“Iya buk, sedikit lagi buk”.

“Nggghhhhh”.

“Oeekk..oeekkk”.

“Alhamdulillah, dedeknya sudah keluar”, ucap dokter wanita tersebut.

Dokter itu menyerahkan bayi Rama dan Aulia kepada suster untuk di bersihkan.

“Alhamdulillah, makasih sayang, makasih banyak karna udah kuat dan melahirkan adek”, ucap Rama mencium tangan istrinya sambil menangis.

Aulia yang masih lemah pun hanya tersenyum dan menghapus air mata suaminya.

Sesudah Aulia dan bayinya di bersihkan, Aulia pun di pindahkan ke ruangan VIP beserta anaknya, Rama meng azankan putra nya dan memberi nama kepada anak mereka, yaitu “DAVE SYAM PURNOMO”.

“Dad”, panggil Aulia.

“Iya sayang”?.

“Kok adek mirip Daddy semua sih, gak ada mirip mommy sedikitpun”, cemberut Aulia.

“Ya namanya juga anak Daddy sayang”.

“Tapi kan yang bawa kemana mana sampe 9 bulan mommy”.

“Gpp, yang penting sifat penyayang dan baik hati nya mirip mommy”, balas Rama.

Tok..Tok..Tok

Ceklek

“Maaf ibuk mengganggu, dedek bayinya coba di beri asi ya”, ucap suster yang baru saja masuk.

“Iya suster”, jawab Aulia.

“Kalau begitu saya permisi”.

Setelah suster itu keluar, Aulia menyuruh Rama mengambil anaknya dari dalam box bayi untuk di susuinya.

“Sssshhh.. pelan pelan dek, gak ada yang minta looh”, ucap Aulia pada anaknya.

Rama menelan air ludahnya melihat payudara besar istrinya yang tengah di sedot kuat oleh anaknya sendiri.

“Mom”,

“Hm”, Jawab Aulia tanpa menoleh.

“Pengen juga”.

“Pengen apa”?, Tanya Aulia.

“Nenen”.

Aulia mendongakkan wajahnya dan memandang tak habis pikir ke arah suaminya.

“Kenapa ngeliat Daddy kayak gitu”? Tanya Rama.

“Gak habis pikir mommy sama Daddy”.

“Kenapa ih, orang cuma minta nen aja kok”, ucap Rama.

Aulia tak menggubris perkataan suaminya, ia sibuk dengan putra kecilnya yang sangat tampan, setelah puas menyusu Aulia menyuruh suaminya meletakkan kembali anaknya ke dalam box bayi.

“Jangan di tutup”, ucap Rama ketika Aulia ingin mengancing kemejanya.

Rama mendekat dan langsung menyusu pada istrinya.

“Ssshhh daddhh.. kenceng banget Daddy ngisepnya.. ngilu sayanghh”.

Ceklek

Tiba tiba pintu terbuka dan terpampang Sonya di sana dengan membawa buah tangan.

“Oh, maaf”, ucap Sonya yang melihat rama tengah menyusu pada istrinya.

“I-iya gpp buk, masuk buk”, balas Aulia tergagap karna malu.

Rama yang tadinya tengah asik menyusu pun mau tak mau melepaskan hisapan mulutnya pada payudara Aulia dan berlalu keluar dengan wajah masamnya sambil berkata.

“Ganggu aja”.

Aulia tersenyum tak enak karna mulut suaminya yang sangat lemes.

“Sini buk”.

Sonya berjalan ke arah Aulia dan meletakkan buah tangan yang ia bawa di atas meja yang ada di dalam ruangan itu.

“Mirip banget sama mas Rama”, ucap Sonya yang melihat anak Aulia sedang tertidur.

“Kok gak ada mirip kamu sedikitpun ya aulia”,sambung Sonya.

“Hehe iya buk, dia ngambil wajah bapak nya semua”, balas Aulia.

Brak

Bunyi pintu yang di dorong keras oleh seseorang dari luar, Aulia terjengkit kaget karna keras nya bunyi pintu tersebut.

“Eh maaf maaf, sangking senengnya mau liat ponakan jadi lupa mau ketuk pintu yang baik dan benar”, ucap seseorang yang mendobrak pintu tadi.

“Ranti”? Ucap Sonya.

Sang empu nama pun menoleh ke arah Sonya yang memanggil nama nya, tapi ia mengabaikan itu dan langsung memeluk Aulia untuk memberikan selamat.

“Selamat ya kakak ipar udah melahirkan dengan selamat, makasih udah ngasih aku keponakan yang ganteng”, ucap Ranti.

Aulia bingung, siapa Ranti Ranti ini, kenapa ia memanggilnya kakak ipar dan memanggil putra nya keponakan.

Rama masuk ke dalam ruangan istrinya karna mendengar kebisingan, ia terkejut melihat adiknya yang sudah berada disini.

“Heh, lepas, ngapain meluk meluk istri gue”, ucap Rama.

“His, cuma meluk aja heboh”, balas Ranti.

“Lo ngapain disini? Siapa yang ngasih tau Lo? Mama sama papa mama”? Tanya Rama.

“Santai aja kalee, mama ngasih tau aku kalo istri Abang udah ngelahirin, mama nyuruh aku nemenin kakak ipar kalo abang lagi kerja”, jawab Ranti.

“Ngapain siih mama ngasih tau Lo, gue cuti sebulan jadi Lo gak perlu nemenin bini gue”, ujar Rama.

“Dad”, panggil Aulia dengan menarik ujung baju Rama.

“Iya sayang”.

“Hidihh, lembut banget sama kakak ipar, giliran sama adek sendiri ngegas Mulu”, ucap Ranti.

Rama tak menggubris perkataan adiknya, ia melihat istrinya dan bertanya.

“Kenapa”?

“Dia siapa”? Tanya Aulia berbisik.

“Adik Daddy”, jawab Rama.

“Kok Daddy gak cerita”?

“Duluu, waktu pertama kali kita pacaran, Daddy langsung kasih tau mama kalo Daddy punya pacar, sampai sekarang pun Daddy masih ngasih tau mama semua tentang Kita”, jelas Rama.

“Jadi orang tua Daddy tau”?

“Tau sayang”.

“Apa mereka setuju”? Tanya Aulia.

Rama tersenyum dan mengangguk lalu memeluk Aulia dengan mesra.

“Tolong, masih ada orang di mari”,celetuk Ranti.

“Lo pulang deh dek”, ucap Rama.

“Gak, aku harus nemenin kakak ipar”.

“Ada gue ini”, ujar rama.

“Udah ih, kenapa jadi berantem, biarin aja Ranti disini”, lerai Aulia.

Ranti menjulurkan lidahnya ketika Rama melihatnya dengan wajah masam.

“Ehem, Aulia, ibuk pamit pulang dulu ya, sekali lagi selamat atas kelahiran nya”, ucap Sonya.

“Iya buk, makasih ya”, balas Aulia.

“Mari mas, Ranti”, sambung Sonya.

Setelah Sonya keluar, Ranti bertanya kepada Rama kenapa ia dan Sonya masih berhubungan.

“Dih, enggak ya, gue gak pernah ngundang dia ke sini, gue juga gak pernah berhubungan lagi sama dia”, ucap Rama.

“Hati hati, jangan sampai kejadian dulu keulang lagi”, ucap Ranti.

“Emangnya apa kejadian dulu”? Tanya Aulia penasaran.

“Biarin aku jelasin, abang diem aja”, ujar Ranti ketika melihat Rama ingin merayu istrinya supaya tidak mendengar kejadia yang lalu.

“Huh, terserah, gue keluar dulu”.

Setelah Rama keluar, Ranti menceritakan bagaimana Rama dan Sonya bisa di jodohkan. Berawal dari perusahaan ayah Rama yang hampir bangkrut, di situ lah sonya menjalankan niat busuk nya untuk mendapatkan Rama,

Ia menjebak Rama dengan memberi obat tidur pada minuman Rama dan menelanjangi tubuhnya dan tubuh Rama lalu membuat nya seolah olah Rama sudah memperkosanya, tapi Rama bersikeras tidak melakukan hal itu,

Seberusaha apa pun Rama menjelaskan, ayah Sonya tak percaya dan ingin Rama bertanggung jawab dan akan membantu perusahaan sang ayah, karna ayah Rama dan ayah Sonya adalah teman.

Kalau Rama tak memikirkan betapa susahnya sang ayah mendirikan perusahaannya, Rama rela di laporkan ke polisi dari pada menikahi Sonya. Dengan terpaksa Rama bertanggung jawab menikahi Sonya dan menjadikan Sonya pemuas nafsunya..

Aulia merasa kasihan kepada suaminya, ternyata di balik wajahnya yang dingin terdapat banyak luka yang seharusnya bukan menjadi luka baginya.

Ceklek

Pintu terbuka dan menampilkan sosok suami yang awalnya ia pikir hanya seorang pria mesum, pria bermulut jahat dan pria yang hanya tau tentang sex. Tapi kini ia merubah semua pikiran nya tentang suaminya ini. Aulia merentangkan tangannya untuk memeluk suaminya, Rama berjalan ke arahnya dan memeluk tubuh kecil istrinya.

“I love you dad”.

“Hm?

“I love Rama Purnomo”.

“Kamu kenapa sayang”? Tanya Rama yang binggung karna tiba tiba Aulia mengatakan cinta padanya.

“I love you”.

“I love you too mommy sayang”, balas Rama.

Bersambung… Setelah 2 hari berada di rumah sakit, hari ini Aulia beserta anaknya sudah pulang ke rumah mereka. Rama memindahkan kamar mereka sementara di bawah, ia tak mau jika ada tamu yang datang Aulia harus turun naik tangga, Aulia pun lebih suka dan nyaman jika ia berbaring di depan tv dengan anaknya.

“Kak”, panggil Ranti

“Iya ran”, jawab Aulia.

“Mana Abang”?, Tanya Ranti.

“Katanya tadi mau pergi beli ketoprak di depan”, Jawab Aulia.

“Ohh, mama tadi nelfon katanya sebentar lagi nyampe”, jelas Ranti.

“Ha”?, Teriak Aulia.

“Kakak ih, ngagetin”, kaget Ranti.

“Telfon Abang kamu buruan suruh balik”, panik Aulia.

“Kenapa sih kak panik gitu”?

“Nanti kalo mama kamu datang, kakak harus ngapain kalo Abang kamu gak ada? Si Rama juga ini ah, beli ketoprak kok lama banget gak pulang pulang”,omel Aulia.

Ceklek

Pintu terbuka dengan Rama yang menenteng beberapa bungkus ketoprak yang ia beli.

“Eits, gak boleh minta”, ujar Rama ketika istrinya bersiap untuk membuka suara.

“Siapa juga yang minta sih, kamu beli ketoprak dimana? Kenapa lama banget? Tanya Aulia.

“Baru juga satu jam, udah kangen aja”, ucap Rama.

“Hueeeekk”

Rama menoleh ke arah Ranti yang bersuara seperti orang muntah.

“Eh, lupa kalo masih ada tamu gak di undang disini”, ujar Rama.

“Kaaak, Abang tuh”, rengek Ranti.

Aulia memejamkan mata dan memijit kepalanya, namun sedetik kemudian matanya terbuka lagi karna mendengar salam dari luar.

“Assalamualaikum”.

“Waalaikumsalam”, jawab mereka bertiga serempak.

“Siapa dad”?

“Kayak suara mama”, jawab Rama.

Karna pintu depan mereka tidak tertutup, orang yang memberi salam pun langsung masuk dan langsung bertatapan dengan Aulia, ia berjalan menuju Aulia dan langsung memeluk tubuh Aulia.

“Mantu mama, gimana nak? Ada yang sakit badannya”? Tanya mama Ratna.

“Mm eng-enggak ada kok Tante”, jawab Aulia.

“Kok Tante, mama dong cantik”, ucap mama Ratna.

“I-iya ma, gak ada yang sakit kok ma”, ujar Aulia.

Ratna mengelus pipi Aulia dan mengucapkan banyak terima kasih kepada menantunya.

“Makasih ya sayang udah kuat dan ngelahirin cucu mama, makasih juga udah jagain dan menjadi istri anak mama”, ucap mama Ratna dengan tulus.

Aulia membalas dengan senyuman tak kalah tulus kepada mertuanya.

“Sama sama ma, Aulia juga terima kasih banyak karna mama udah Nerima Aulia sebagai menantu mama”, balas Aulia sambil memeluk mama Ratna.

“Kembali kasih sayang”, ucap mama Ratna.

Ratna beralih ke cucu nya yang sangat mirip dengan Rama waktu kecil, ia menggendong Dave dengan hati.

“Cucu Oma, kok ganteng banget sih sayang”.

“Mama gak kangen sama Abang”, celetuk Rama.

Ratna mendongak dan melihat ke arah Rama.

“Tiap hari kamu nelfonin mama bang, gak kangen mama, bosen yang ada”, ucap mama Ratna.

Rama merangkak ke arah mamanya dan langsung memeluk wanita yang sangat ia sayangi di dunia ini selain istrinya.

“Kangen banget sama mama”, ucap Rama.

“Mama juga kangen bang”, balas mama Ratna.

“Jadi kalian gak mau bikin pesta untuk nikahan kalian”? Tanya mama Ratna.

“Istri abang gak mau ma, nikah secara sah dalam agama dan negara aja udah cukup katanya, gak perlu pesta pesta”, jawab Rama.

“Itu baru mantu mama, tapi kalo mau bikin pesta ya juga gak apa apa kok sayang”, ucap mama Ratna yang melihat Aulia hanya tersenyum.

“Gak apa apa kok ma, gini aja Aulia udah seneng banget”, balas Aulia.

“Yasudah kalau kamu mau nya begitu, mama selalu doakan semoga rumah tangga kalian baik baik aja dan kekal sampai akhir hayat”, doa mama Ratna

“Aamiin”, balas Aulia dan Rama.

***

Sejak kepulangan mama dan adiknya, rumah nya kini hanya di penuhi dengan suara tangis Dave karna ia ingin menyusu.

“Sabar sayang”, ucap Aulia yang mengangkat Dave ke pangkuannya dan langsung memberikan anaknya itu asi.

“Jangan kenceng kenceng dek, mommy kesakitan itu, kalo Daddy gak apa apa”, ujar Rama.

“Jangan dengerin Daddy dek”, balas Aulia.

“Habis adek gantian ya sayang”, pinta Rama.

“Gaaak”.

“Bentar aja sayang, asem banget mulut Daddy gak nenen sama mommy”, melas Rama.

“Satu menit”, ucap Aulia.

“Ya ampuun mom, bentar banget”.

“Yaudah kalo gak mau”.

“Iya iya satu menit, buruan dek”, balas Rama.

Setelah Dave selesai dengan menyusunya, kini giliran sang Daddy yang menyusu. Rama berbaring di paha Aulia dan langsung menyedot susu istrinya dengan kencang.

“Sssshh daddh, jangan kenceng banget, ngilu tete mommy”.

“Newnen nya ewnak mom”, balas Rama dengan mulut yang penuh air susu.

“Aakkhh udah sayang, udah lebih dari semenit ini”.

Rama melepaskan tautan mulutnya pada puting Aulia, ia bangun dan mencium pipi istrinya.

“Makasih mom”.

“Kembali kasih dad”.

“Yaudah mommy mandi, biar Daddy yang jagain adek”, ucap Rama.

“Jangan di cubit lagi pipi anaknya”, peringat Aulia.

“Hehe iya sayang”.

Aulia bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya lalu melakukan ritual membasahi badan di kamar mandi.

Sedangkan di ruang tamu, Rama asik ber-selfie bersama anak nya yang sedang tidur.

“Assalamualaikum”.

Rama menoleh ke arah pintu rumahnya dan mendapati Sonya berdiri disana.

“Waalaikumsalam”, jawab Rama.

“Aku boleh masuk mas”? Tanya Sonya.

“Silahkan”.

Sonya masuk dan duduk di samping Dave yang tengah tertidur.

“Aulia mana mas”? Tanya Sonya.

“Mandi”.

Sonya mengangguk angguk kan kepalanya dan menoleh ke arah pintu kamar yang berbunyi, di sana keluar Aulia yang sudah mandi dan terlihat rapi. Ia berjalan ke arah anak dan suaminya.

“Eh ibuk, udah lama buk”? Tanya Aulia.

“Baru kok, oh ya aulia, ibuk boleh minta tolong sama mas Rama gak buat gantiin lampu yang udah mati di rumah ibuk”? Tanya Sonya.

Rama langsung menoleh ketika nama nya di sebut, ia langsung berdiri dan menatap Sonya.

“Ayo”, ajak Rama.

Sonya sudah senang bukan main, ia pun langsung berdiri dan berjalan keluar tanpa berpamitan dengan Aulia, sampainya di luar rumah Rama memanggil Arkan, anak yang sering bermain basket di lapangan kompleknya.

“Arkan”, panggil Rama.

Arkan yang sedang mengobrol dengan temannya pun menoleh ketika ada yang memanggil namanya, ia berlari menuju Rama dan Sonya.

“Kenapa pak”? Tanya Arkan.

“Kan, dia mau minta tolong gantiin lampu yang mati di rumahnya, saya gak bisa.. istri saya gak mau di tinggal”, tunjuk Rama pada Sonya.

“Ohh, bisa bisa pak.. ayok buk saya gantiin”, ucap Arkan.

“Makasih ya kan, kalau gitu saya masuk dulu”, pamit Rama.

“Iya mari pak”.

Rama langsung masuk ke rumahnya dan menutup pintu serta menguncinya lalu berjalan mendekati istri dan anaknya.

“Gak usah Deket Deket”, ketus Aulia.

“Kenapa sih mommy nya Dave”, tanya Rama sambil mencolek dagu istrinya.

“Ishhh, gak usah colek colek ya”.

“Kalau colok colok boleh gak”? Tanya Rama.

“Colok sana mantan istri kamu, kan habis dari sana tadi, pasti ada lah colok colok nya dikit”, ujar Aulia dengan wajah masam nya.

“Gak ah, enak kan punya mommy dari pada punya dia”, ucap Rama yang semakin gencar menggoda istrinya.

“Ihhh jahat tau gak, kenapa Daddy main ayo ayo aja tadi waktu buk Sonya mau minta gantiin lampunya”, kesal Aulia.

“Ayo Daddy panggilin Arkan tadi maksudnya sayang”.

“Ha”?

“Ha ho ha ho, tadi di depan Daddy liat ada anak anak ngumpul , Daddy liat ada Arkan jadi Daddy panggil buat bantuin dia gantiin lampunya, terus Daddy langsung masuk lagi”, jelas Rama.

“Jadi Daddy gak masuk ke rumah dia”? Tanya Aulia.

“Enggak istrikuu”, jawab Rama.

“Jangan ya dad, inget udah punya anak”, peringat Aulia.

“Iya sayang”.

***

Di sisi lain, Sonya tengah meradang karna rencana nya gagal untuk mengajak Rama datang ke rumahnya, malah si Arkan bocah SMA yang berada di depannya sekarang yang tengah menggantikan lampunya.

Padahal ia sudah menyiapkan obat perangsang ke dalam minuman yang nantinya akan di berikan kepada rama, dengan kesal ia terlupa bahwa air yang diminum nya itu berisi obat perangsang yang ia campur tadi.

Beberapa menit kemudian obat itu mulai beraksi dan tubuhnya mulai panas.

“Ini lampunya udah saya benerin Buk, kalau gitu saya permisi dulu ya”, ucap Arkan.

Saat Arkan ingin berjalan keluar, Sonya menarik lengan nya dan langsung memeluk tubuh Arkan.

“Ehh, bu-buk, ibuk kenapa”? Tanya Arkan.

Sonya semakin memeluk Arkan dengan erat, ia menggesekkan serambi lempit nya ke rudal Arkan. Arkan terus menjaga kewarasannya agar tak lepas kendali, tapi Sonya semakin menjadi dan langsung menyerbu bibir Arkan.

Sonya menggigit bibir bawah Arkan dan mengulum nya serta menarik bibir tebal Arkan, lidah mereka saling menjilat dan menyedot satu sama lain.

“Stop buk, ibuk kenapa”? Tanya Arkan.

Sonya tak menggubris pertanyaan Arkan, ia semakin brutal mencumbu bibir anak SMA itu dengan kasar. Arkan mendorong tubuh Sonya hingga terbentur ke dinding.

“Stop buk, ibuk gak liat saya masih pake seragam sekolah, saya masih anak SMA buk”. Ucap Arkan.

“Terus kenapa kalau kamu masih SMA? Anak anak sekolah sekarang udah bisa buat anak”, balas Sonya.

“Saya masih bisa nahan buk, ibuk nanti nyesal kalau saya udah gak tahan”, ujar Arkan.

Arkan berjalan menuju pintu dan ingin keluar dari rumah Sonya, tapi lagi lagi Sonya menahannya dan langsung mengunci pintu rumahnya. Ia kembali memeluk tubuh Arkan dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arkan.

“Panashh arkaanhh, bantuin saya”, pinta Sonya.

“Ibuk mau saya ngapain”?

“Entotin saya”, ucap Sonya frontal.

Arkan yang sudah menahan sejak tadi pun menjadi goyah dan terangsang karena perkataan Sonya yang sangat frontal.

Arkan pun mulai membalas pelukan Sonya dan mengusap usap punggungnya, ia tangkup wajah cantik Sonya dan mulai mengecap kembali rasa bibir wanita di depannya ini hingga membengkak. ia remas pantat Sonya dan sesekali menamparnya dengan gemas.

Sonya menurunkan tangannya menyentuh rudal Arkan yang mulai mengeras, ia usap dan ia remas rudal Arkan dari luar celana sekolahnya.

“Aakkhhh.. nakal banget tangannya bukhh”.

Sonya semakin meremas rudal itu dengan kencang dan membisik kan sesuatu di telinga Arkan lalu menjilat telinga itu dengan lidah hangatnya.

“Call me mami baby boy”, bisik Sonya.

“Nghhh mamihh”.

Sonya membuka celana Arkan dan terkejut melihat ukuran rudal anak SMA di depannya ini, rudalnya tak kalah besar dan panjang seperti rudal rama. Sonya jongkok dan langsung melahap rudal panjang Arkan.

“GLOK..GLOK..GLOK”.

“Aakhh mamiihh.. enak bangettthh”.

Sonya memaju mundur kan kepala nya menghisap rudal Arkan, Arkan pun membantu dengan mendorong kepala Sonya untuk lebih dalam lagi mengulum rudalnya.

“Ngghh terus mii, mulut kamu enaakhhh.. aakhh..aakhh..aakhh”.

“Ssshhh udah sayanghh.. nanti keluarhh.. Mmmhhh”

Sonya menghentikan kulumannya pada rudal Arkan, ia kembali berdiri dan kembali berciuman dengan kasar, ia menuntun tangan Arkan agar menyentuh serambi lempitnya yang sudah becek.

Arkan mengelus elus serambi lempit Sonya dari luar celana dalamnya kemudian meremas dengan lembut serambi lempit Sonya.

“Uhh, udah basah banget serambi lempit kamu sayang”, ucap Arkan.

Sonya menggigit bibir bawahnya dengan erotis dan mata nya terlihat sangat sayu.

“Kenapa liatin aku kayak gitu? Hm”? Tanya Arkan.

“Pengen”.

“Pengen apa”? Tanya Arkan lagi.

“Pengen di masukin, udah gatel”, jawab Sonya.

“Apanya yang di masukin? Terus apanya yang gatel”? Tanya Arkan yang terus menggoda Sonya.

“Masukin jarinya ke serambi lempit, serambi lempit udah gatel”, rengek Sonya.

Arkan menjauhkan tangannya dari serambi lempit Sonya.

“Gak mau”, ucap Arkan.

“Please Arkan”.

Arkan mendekatkan mulutnya ke telinga Sonya, seperti yang Sonya lakukan tadi kepadanya.

“Call me papi baby girl”, bisik Arkan dan menjilat serta mengulum daun telinga Sonya.

“Mmmhhh papiih”.

Arkan langsung memasukan tangannya ke dalam CD Sonya dan memasukkan dua jarinya lalu mengocok serambi lempit basah itu dengan kencang.

“Aakhh..aakhh..aakhh papii.. enak piihh.. kocok terus pih.. ukkhhhh”.

“Jari papi jangan di sedot sedot mi”.

“Engghhhh enak piih.. jari papi panjang bangethh.. rudal papih jugaa”.

“Aakhh..aakhh..aakhh mau keluar pih, cepetin”.

Arkan menambah kecepatan kocokannya di serambi lempit Sonya, dan.

CROT

CROT

CROT

“Aaaaakkkhhhh”.

Sonya menyemprotkan cairan nya di jari Arkan, Arkan mencabut jarinya dan menyuruh Sonya untuk menjilat dan membersihkannya.

Arkan membuka semua baju Sonya lalu menarik pelan tangan Sonya menuju ke sofa, ia menyuruh Sonya duduk dengan melebarkan kaki Sonya lebar lebar.

Arkan melihat serambi lempit Sonya yang merah merekah, ia mainkan bibir serambi lempit itu dengan hidung mancung nya lalu menjilat dan menghisap itil Sonya.

“SLURP..SLURP..SLURP”

“Mhhh.. Sssshh.. aakhhh”.

Arkan memainkan lidah nya disana, sesekali ia gigit serambi lempit sonya yang bersih tanpa bulu.

“Awhhh.. enak banget pihh.. Nghhh”

Arkan membuka lipatan serambi lempit Sonya dengan jari jempol dan jari telunjuknya, lalu mengigit kembali serambi lempit Sonya yang membuat Sonya semakin kelojotan.

“Ngaaahhh.. udah pihh.. mami mau rudal sayanghh”.

Arkan berdiri lalu menumpukan lututnya di sofa, ia gesek gesek kan kepala rudalnya di bibir serambi lempit sonya, tangan nya menuju ke susu dan puting besar sonya. Ia meremas gemas susu yang sejak tadi ingin ia jamah.

“Kenapa putingnya gede banget mi”?

“Nngghh.. gak tau Pi, sshh papi suka”?

“Suka mi, pasti puas banget kalo nenen sama mami”,ucap Arkan.

“Akkhh jangan di plintir aja pih, isep sayangghh”.

Arkan langsung mengigit daging susu Sonya dan menghisap puting besar itu, ia beri tanda pada susu itu dan kembali meremas nya dengan kasar.

“Aakkkhh.. enak piihh.. mami gak tahan.. masukin rudal papi”.

Arkan mengocok sebentar rudal nya kemudian langsung memasukkan rudal kerasnya ke dalam serambi lempit Sonya.

Jleb

“Aaakkkhhh”.

“Nnngghhhh”.

“Sshhh anget banget di dalam sini, rudal papi kayak di jepithh”.

“Aakkhh rudal papi gede banget”.

“Mami suka”? Tanya Arkan

“Suka Pi, gerakin sekaranghh”.

Arkan mulai menggerakkan pinggulnya dan memasukan jari jempolnya ke dalam mulut Sonya, Sonya menjilat dan menghisap jempol Arkan dengan penuh nafsu.

“Akkhh..akkhh..aakhh kamu nafsuin banget sayanghh, papi tambah sange.. ngghhh”.

“Aakkhh genjot terus Pi, habisin serambi lempit mamih.. uukkhh enakhhh”.

“Aakkhh..akkhh..aakkhh”.

Sonya membuka kancing seragam Arkan, dan langsung mencium dada Arkan lalu naik ke leher dan mencium serta memberi banyak tanda di sana.

“Aakkhhh jangan banyak banyak cupang nya sayanghh.. papi besok sekolah”.

“Biarin, biar teman teman papi tau kalo papi udah ada yang punya”.

“Ssshhh nakal banget sih mi, nngghh”.

“Aakhh rudal papi makin kerashh pih, serambi lempit mami sukaa.. aakkhh”.

“Nngghh serambi lempit mami kenapa kenceng banget kedut nyaahhh”.

“Mami mau keluar Pi, uukkhh gak tahan papihh”.

“Papi juga mau keluar miihh.. aakkhh mamiiihhh”.

“Keluarin di dalem Pi, kencengin papii..aaakkhhhh”.

“Aakhh..aakkhh..aakkhhh keluarh miih.. sayanghh.. terima Peju papi mih.. aaaaakkhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

“Aaaakkkhhh”

Arkan menghentakkan rudal nya dalam dalam agar semua Peju nya masuk ke dalam serambi lempit Sonya. Setelah itu ia mencabut rudalnya yang sudah lemas lalu mengajak Sonya berbaring di sofa yang sama dengan posisi saling berhadapan, lengan berotot Arkan menjadi bantalan kepala Sonya.

“Ibuk kenapa tiba tiba kayak tadi”? Tanya Arkan sambil menyingkirkan rambut yang menutupi mata Sonya.

Sonya mengerucutkan bibir nya ke depan.

“Kenapa bibirnya di gituin”?

“Kok ibuk sih? Aku bukan ibuk kamu ya”, ambek Sonya.

“Loh, terus? Harus manggil kayak tadi lagi? Hm”? Tanya Arkan.

“Gak tau”.

“Buk, eh mami”, panggil Arkan.

Sonya mendongak melihat wajah Arkan dan mengangkat kedua alisnya.

“Kita kenalan dulu yuk, nama aku Arkan”, ujar Arkan sambil mengulurkan tangannya.

Sonya menyambut tangan Arkan dan memperkenalkan dirinya juga.

“Aku Sonya, aku seorang janda”, balas sonya.

“Berhubung kita udah ehem ehem, aku mau kamu jadi pacar aku”, ucap Arkan.

“Tidak ada penolakan”, sambung Arkan lagi.

“Aku janda”.

“Gak per du li”, ucap Arkan.

“Sekarang kamu pacar aku”, ucap Arkan lagi lalu membawa Sonya dalam pelukannya.

Bersambung… Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun pun berlalu. Rumah tangga Rama dan Aulia juga semakin harmonis, kini Dave sudah berusia 6 tahun dan sudah duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar.

Sonya?

Entah, 6 tahun yang lalu tiba tiba ia pindah dari komplek yang di tempati nya tanpa ada yang tahu dia pindah kemana dan di susul oleh Rama yang pindah dari komplek nya karna ia membeli sebuah rumah mewah untuk keluarga kecilnya.

Rama sekarang sudah tidak menjadi guru olahraga lagi, ia di percaya oleh ayahnya untuk menjadi pengganti sang ayah di perusahaanya, sedangkan Aulia ia sudah tak ingin melanjutkan kuliah atau cita cita nya. Ia lebih ingin fokus kepada keluarganya saja.

Seperti sekarang, Aulia di buat pusing oleh kedua manusia kesayangannya yang berbeda generasi ini. Mereka selalu saja berkelahi memperebutkan dirinya.

“Tidur sana gih Dave, udah malem ini”, usir Rama pada anaknya.

“Ihh Daddy jangan peluk peluk mommy, mommy gak suka itu di peluk sama Daddy”, ucap Dave yang tak suka Rama memeluk ibunya.

“Lah istri Daddy kok, suka suka Daddy lah”, balas Rama.

“Mom, masa kemarin waktu Daddy jemput Dave pulang sekolah, Daddy marah marah sama Bu guru”, ujar Dave.

“Terus Bu guru Dave itu nangis sambil mukul mukulin dada daddy”, sambung Dave.

“Siapa nama guru nya sayang”? Tanya Aulia dengan tenang.

“Buk Freya mom”, jawab Dave.

Rama hanya memejamkan matanya saat Dave bercerita tentang dirinya waktu di sekolah kemarin, dia kira Dave akan lupa kejadian itu.

“Daddy kenal ya sama buk fey”? Tanya Dave.

Aulia menunggu jawaban dari suaminya, sedangkan suaminya hanya terdiam tak mampu menjawab. Kenapa juga dia harus bertemu perempuan itu di sekolah anaknya, dan sialnya lagi perempuan itu adalah guru anaknya sendiri.

Tak mendapat jawaban apa apa dari suaminya, Aulia beranjak dari duduk nya dan mengajak Dave untuk tidur.

“Sayang, tidur yuk udah malam, besok Dave harus sekolah”, ajak Aulia.

“Oke mom”.

Ibu dan anak itu berjalan menuju ke lantai atas meninggalkan Rama sendirian di ruang tamu.

Setelah sekitar satu jam di ruang tamu sendirian, Rama pergi ke kamar nya untuk bicara dengan Aulia dan ingin menjelaskan apa yang di bicarakan anaknya tadi.

Sampainya di kamar, Rama tak menemukan istri nya disana, pasti Aulia masih di kamar Dave. Ia berjalan ke arah balkon untuk menunggu istrinya.

Sembari menunggu Aulia kembali ke kamar mereka, Rama menghidupkan sebatang rokok dan menghisap nya lalu menghembus kan asap nya ke atas.

Ceklek

Bunyi suara pintu kamar terbuka, masuk lah Aulia ke dalam kamar dan melihat pintu ke arah balkon terbuka. Ia pergi ke sana untuk menutup pintu, tapi urung karna ternyata ada suami nya di sana dan kapan pula suaminya itu merokok.

Rama yang melihat Aulia ada di pintu balkon langsung berdiri dan membuang rokoknya lalu menarik tangan istrinya untuk duduk bersama nya di sofa yang ada di balkon.

“Mas mau jelasin apa yang dave bicarakan tadi”, ucap Rama.

Sejak Dave berusia 2 tahun, Rama menyuruh Aulia untuk memanggilnya mas, mereka akan memanggil diri mereka dengan sebutan mommy dan Daddy jika di depan Dave saja.

“Sejak kapan kamu ngerokok”? Tanya Aulia.

“Gak sering kok sayang, kalau lagi pusing aja”, jawab Rama.

“Oh, sekarang lagi pusing”? Tanya Aulia lagi.

“Hmm enggak juga”, balas Rama.

“Mau jelasin apa, cepet aku ngantuk”.

“Mas kenal sama freya”, ucap Rama.

“Gak usah bertele tele, langsung ke intinya aja.

“Dia mantan mas sebelum mas menikah dengan sonya”, jawab Rama.

“Oh”, balas Aulia dan langsung berdiri ingin meninggalkan Rama, tapi langsung di tahan oleh suaminya.

“Jangan salah paham dulu sayang, dengerin dulu semuanya”, ucap Rama.

“Aku gak salah paham dan aku gak perduli, tapi satu hal yang aku minta sama kamu mas, kalau kalian ingin pacaran, balikan atau apa lah.. jangan di depan anak aku”, ujar Aulia.

“Astagfirullah sayang, kamu ini ngomong apa sih”?

“Gak usah sok sok nyebut, kalau kamu emang gak mau aku salah paham, harusnya pulang dari jemput Dave kemarin kamu langsung cerita ke aku.. kalau Dave gak ngomong tadi apa kamu mau cerita ke aku”?, Ucap Aulia.

Rama terdiam, dia tak ingin bercerita karna tak mau membuat Aulia berfikiran macam macam, tapi kenapa malah jadi seperti ini.

“Kenapa diem? Ternyata memang seperti ini sifat kamu, suka selingkuh. Tapi aku gak keberatan, Aku anggap ini karma buat aku”, ucap Aulia langsung meninggalkan Rama sendiri lagi.

Aulia pergi ke kamar tamu dan merebahkan dirinya disana, dia harus menerima resiko dan karma atas perbuatannya, itu yang selalu terngiang di kepala nya saat anaknya bercerita tentang suaminya beberapa jam yang lalu. Sibuk memikirkan hal yang belum tentu terjadi akhirnya Aulia pun tertidur.

Rama masuk ke dalam kamar dan tak menemukan istrinya lagi, ia pergi ke kamar anaknya untuk melihat apakah Aulia ada disana atau tidak.

Sayangnya Aulia pun tak berada disana, Rama bergegas menuruni anak tangga dan mencari Aulia di dapur, ruang tamu dan segala penjuru rumah itu, namun ia tak menemukan juga istrinya itu.

Saat ingin ke atas mengambil kunci mobil untuk mencari aulia, ia melihat dari bawah pintu jika lampu di kamar tamu hidup lalu ia berjalan ke arah kamar tamu dan membuka pintu tersebut, ternyata istrinya ada disana dan sudah tertidur. Rama menghembuskan nafas leganya dan berjalan menuju ranjang untuk bergabung bersama istrinya.

***

Pagi nya Aulia terbangun dan terkejut karna ada tangan yang melingkar di perutnya, ia melihat ke samping nya dan langsung menepis tangan itu ketika tau kalau tangan suaminya lah yang berada di perutnya. Aulia bangun dan langsung pergi meninggalkan kamar tamu tersebut, setelah Aulia keluar, Rama membuka matanya dan mengusap kasar wajahnya. Semarah itu kah Aulia kepadanya?

Berhubung ini weekend, Aulia sengaja tak membangunkan anak nya pagi pagi, biar lah dia menikmati hari libur nya sesuka hati. Tapi namanya anak Rama, dia tak bisa bangun siang, selalu bangun jam 6 pagi, mau itu sekolah atau atau pun libur.

Seperti sekarang ini, ketika Aulia sedang membuat sarapan, ia datang menghampiri ibunya untuk membantu, padahal sekarang baru jam 8 pagi.

“Ada yang bisa Dave bantu mom”? Tanya Dave yang tiba tiba muncul di belakang ibunya.

“Astaga sayang, kaget mommy nak”, ucap Aulia.

“Hehe maaf mommy”.

“Duduk aja di meja makan, bentar lagi mommy selesai kok goreng nasinya. Kamu gak perlu bantuin mommy”, ucap Aulia lagi.

“Okay mom”.

Setelah masakannya selesai, aulia langsung membawanya ke meja makan dan langsung menyendokkan ke dalam piring anaknya.

“Makasih mommy”, ucap Dave..

“Kembali kasih sayang”. Jawab Aulia.

Sedang asik memakan sarapan tanpa bersuara, Rama datang dan menghampiri meja makan untuk ikut bergabung menikmati sarapan bersama anak dan istrinya.

“Loh, kok Daddy keluar dari kamar itu”? Tunjuk Dave ke arah kamar tamu.

“Daddy tadi lagi bersihin kamarnya”, jawab Rama berbohong.

“Kenapa di bersihin dad”? Tanya Dave lagi.

“Makan Dave, Daddy kan udah bilang kalau lagi makan gak boleh ngobrol”,balas Rama.

“Iya dad”.

Aulia bangun dari duduk nya dan menyendokkan nasi goreng ke piring suaminya lalu kembali duduk di tempat nya lagi.

“Dave udah selesai mom, Dave main ke rumah bastian ya”.

“Iya, inget jangan pergi ke sungai lagi ya Dave”, peringat Aulia.

“Iya mommy, Dave pergi dulu ya”.

“Iya”.

Sedari tadi Rama tak memakan sarapannya, ia asik memperhatikan istrinya.

“Kalo makanan nya gak enak gak usah di makan”, sarkas Aulia.

“Kamu kenapa sih sayang”? Tanya Rama.

“Gak apa apa”, jawab Aulia cepat.

“Mas kan udah jujur, kenapa masih marah”? Tanya Rama lagi.

“Aku gak marah, jadi berhenti berfikir kalo aku marah”, ucap Aulia dan berlalu ke dapur membawa piring kotor.

Rama menyusul istrinya di dapur yang sedang mencuci piring dan memeluknya dari belakang, Aulia tak melawan dan terus melanjutkan mencuci piringnya.

“Assalamualaikum”

Terdengar suara wanita mengucapkan salam dari luar rumah.

“Siapa sih pagi pagi bertamu”, tanya Rama tak senang.

“Lepas, aku mau liat ke depan”, ucap Aulia.

Dengan enggan Rama melepaskan pelukannya dan mengikuti Aulia dari belakang.

“Assalamualaikum”, suara wanita yang tadi memberi salam kembali terdengar.

“Waalaikumsalam”, ucap Aulia sambil membukakan pintu.

Ceklek

“Rama”, panggil wanita itu yang melihat Rama di belakang Aulia.

“Maaf, siapa ya”? Tanya Aulia.

Wanita tersebut tak menghiraukan Aulia, ia menyerobot masuk ke dalam rumah dan langsung memeluk Rama.

“Kamu kenapa bohong? Katanya mau temuin aku sore kemarin”? Tanya wanita itu.

“Lepas Freya”, ucap Rama.

“Gak”.

Rama melepas paksa pelukan dari wanita bernama Freya yang ternyata adalah mantannya yang ia ceritakan semalam pada Aulia.

“Kamu tau dari mana alamat rumah aku”? Tanya Rama.

“Aku nanya sama Dave semalam”, jawab Fey.

Aulia yang melihat itu pun semakin percaya jika Rama memang tak bisa berubah, ia tetaplah lelaki yang suka berselingkuh. Aulia dengan santai berjalan melalui dua insan yang saling merindu itu dan berjalan menuju lantai atas untuk ke kamar mereka.

“Apa maksud kamu nyamperin aku ke sini ha”? Geram Rama.

“Ya karna kamu udah bohong sama aku dan gak nemuin aku kemarin”, jawab Fey.

“Sekarang kamu pergi dari sini, aku gak mau istri aku salah paham lagi sama aku”, ucap Rama.

“Aku tau kalau kamu udah cerai sama Sonya Rama, kamu gak bisa bohongin aku. kamu juga udah janji sama aku kalau kamu udah cerai dari Sonya kamu bakal nikahin aku, sekarang tepatin janji kamu”.

“Astaga, itu udah dulu banget Freya dan aku janji waktu aku masih cinta sama kamu, setelah setahun aku nikah sama Sonya rasa cinta aku ke kamu itu udah gak ada, kamu juga menghilang dulu kan”, jelas Rama.

“Aku gak perduli mau itu janji lama atau pun barusan, dan kamu pasti bohong kalau udah gak cinta sama aku”.

“Kamu pergi dari sini atau aku us..

Belum sempat Rama menyelesaikan kata kata nya, Freya mencium dan menahan tengkuk Rama agar ciuman mereka semakin dalam.

“Daddy”, teriak Dave yang melihat ayah dan guru nya berciuman.

Rama yang terkejut pun langsung mendorong Freya dan mengelap kasar bibirnya.

“Ibuk Fey”, ucap Dave.

Aulia yang mendengar suara anak nya pun langsung keluar dari kamarnya lalu menuruni anak tangga untuk menghampiri Dave.

“Dave”, panggil Aulia.

“Mom, tadi Daddy sama buk fey kiss”, adu Dave pada ibunya.

Aulia dengan lembut langsung menyuruh anak nya untuk masuk ke kamar.

“Sayang, tungguin mommy di kamar ya”, ucap aulia.

Dave pun mengangguk dan langsung pergi ke kamarnya.

“Aku udah bilang sama kamu, kalau kamu mau ngapa ngapain sama perempuan ini, jangan sampai anak aku liat”, ucap Aulia sambil menunjuk ke arah Freya.

“Heh, kamu siapa? Gak usah nunjuk nunjuk saya kayak gitu”, balas Freya.

Aulia yang punya sabar setipis tisu pun langsung mengegas.

“Heh, mata Lo buta? Lo gak liat foto yang terpampang jelas di depan mata Lo? Foto nikahan gue sama dia”, tunjuk Aulia pada Rama.

“Dan telinga Lo tuli? Budek? Gak denger Lo Dave manggil gue apa? Gue kasi tau sama Lo ya, Dave itu anak gue sama dia. kalau Lo mau enak enak sama dia, mau kawin atau nikah sama dia, tunggu gue cerai dulu, setelah itu terserah Lo berdua”, ujar Aulia langsung meninggalkan dua manusia di depan nya itu.

“Sayang”, panggil Rama dan ingin mengejar Aulia, tapi tangan nya di tahan oleh Freya.

“Lepasin tangan gue dan pergi dari sini atau gue bunuh Lo bangsat”, ucap Rama dan menghempaskan tangan Freya.

Freya yang tak punya rasa takut pun langsung memeluk tubuh Rama dari belakang.

“Perempuan itu gak mungkin istri kamu kan Rama”? Tanya Freya.

Rama membalikkan tubuhnya dengan paksa lalu mencekik leher Freya.

“Dia istri gue, sebelum cerai dari Sonya, dia udah jadi istri gue”, jawab Rama dengan tangan yang semakin kuat mencekik Freya.

Freya memukul mukul tangan Rama agar melepaskan cekikan pada lehernya.

Aulia yang tadi naik ke atas untuk mengemasi pakaiannya dan pakaian anaknya ke dalam koper kini menuruni anak tangga dan melihat jika Rama sedang mencekik Freya yang sudah seperti ingin habis nyawa, ia pun segera berlari menghampiri Rama untuk melepaskan tangannya dari leher Freya.

“Mas”, pekik Aulia.

“Kamu gila ya, lepasin”, ucap Aulia.

“Gak, gara gara dia kamu jadi salah paham”, balas Rama.

“Lepasin atau aku sama Dave pergi dari sini”, ancam Aulia.

Rama memandang wajah Aulia dan langsung melepaskan Freya yang sudah lemah tak berdaya.

Rama yang melihat sudah ada dua koper di anak tangga pun langsung berlutut memeluk kaki istrinya.

“Jangan pergi, jangan tinggalin mas sayang, sumpah demi apapun mas gak ada hubungan apa apa sama dia”, ucap Rama dengan air mata yang sudah membasahi pipi nya.

Untung saja Aulia masih menyuruh Dave menunggu di kamarnya, kalau tidak hancur sudah image bapak yang keren di mata Dave.

“Bangun mas, kamu apa apaan sih kayak gini”.

Rama menggeleng ribut, ia semakin erat memeluk paha istrinya.

“Bangun, cepet anterin pacar kamu ke rumah sakit”, ujar Aulia.

“Enggak, dia bukan pacar mas sayang”, balas Rama dengan tersedu sedu.

“Yaudah kalau bukan, awas”.

“Jangan pergi, kalau kamu tetap pergi mas bunuh diri”, ancam Rama.

Dengan rasa kesal, Aulia mencubit dengan keras lengan suaminya.

“Aaawhhh, sakit sayang”.

Sontak Rama melepaskan pelukan nya dari paha Aulia, ia mengusap usap lengannya yang terasa panas.

“Telfon temen kamu suruh bawa dia ke rumah sakit”, perintah Aulia.

“Iya sayang iyaaa”.

Rama segera berjalan ke kamarnya untuk menelfon teman nya dan langsung menggeret ke atas dua koper yang ada di anak tangga tadi, setelah menelfon dan tak perlu menunggu lama mereka telah tiba dengan mobil dan langsung membawa Freya ke rumah sakit.

Setelah Freya di lengserkan ke rumah sakit, Aulia menutup pintu dan berjalan ke lantai atas untuk ke kamarnya, masuk ke kamar Aulia melihat kalau suaminya tengah menyusun kembali bajunya yang ada di dalam koper tadi ke dalam lemari.

“Udah, gak usah di beresin”, ucap Aulia.

“Kamu tega banget mau ninggalin mas”, ujar Rama dengan tangan yang tetap membereskan pakaian istrinya.

“Lebih tega an mana sama yang diem diem mau ketemuan sama mantan”? Tanya Aulia.

“Tapi kan gak ketemu, mas kemarin cuma bohongin dia supaya dia berhenti nangis dan mukulin dada mas”, jawab Rama.

“Dia juga ngiranya mas ini belum nikah lagi setelah cerai sama Sonya, terus dikiranya Dave itu anak mas sama Sonya mungkin”. Sambung Rama.

“Suka kamu di cium sama dia tadi”? Tanya Aulia.

Rama yang sudah selesai membereskan pakaian istrinya pun berjalan menuju ke arah Aulia yang sedang duduk pinggir ranjang, Rama duduk di samping Aulia dan mengangkat aulia duduk mengangkang di pangkuannya. Rama menyelipkan rambut aulia di belakang telinga dan mengecup bibir istrinya.

“Labih suka di cium sama kamu sayang”, jawab Rama.

“Jangan tinggalin mas, mas gak akan sanggup hidup tanpa kalian, kalian berdua nyawa mas”, ucap Rama dengan mata yang sudah berembun.

“CUP..CUP”, Aulia mencium mata kiri dan kanan suaminya.

“Maafin aku ya mas”, ucap Aulia.

“Gak sayang, kamu gak pernah salah, kamu cuma salah paham”, jawab Rama.

Lihat lah, betapa beruntung nya Aulia mendapatkan suami seperti Rama. Ia tak pernah salah di mata suaminya, selalu di manja dan selalu menjadi ratu di hidup dan di hati Rama.

“Aku sayang banget sama kamu mas”, ucap Aulia.

“Mas lebih sayang sama kamu”, balas Rama.

Bersambung… Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, Rama meliburkan diri nya dari semua pekerjaan kantor dan melimpahkannya pada orang kepercayaannya.

“Dad, kata mommy dulu kita pernah tinggal di komplek ya, terus di komplek itu ada lapangan basket nya”, tanya Dave.

“Iya, kenapa memangnya”?

“Kenapa kita pindah dari sana dad? Tanya Dave lagi.

“Disana banyak hantunya”, jawab Rama asal.

“Jangan dengerin Daddy kamu, nak”, jawab Aulia yang tiba tiba datang menghampiri kedua manusia kesayangannya.

Dave bangun dari duduk nya dan menghampiri Aulia.

“Kita nanti ke sana ya mom”, ajak Dave.

“Mau ngapain bro”? Tanya Rama.

“Pengen aja dad, ya mom ya, nanti kita ke sana”, mohon Dave.

“Tanya Daddy kamu sayang”, jawab Aulia.

Dave memandang ayahnya dengan tatapan memohon.

“Pengen banget memangnya”? Tanya Rama.

“Iya dad”, jawab Dave dengan semangat.

“Oke, tapi ada syaratnya”, ucap Rama.

“Apa syaratnya”? Tanya Dave.

“Hari ini kamu tidur di rumah Oma, besok pagi Daddy jemput kita langsung ke rumah lama kita, gimana”? Tanya Rama.

“Hmm.. boleh gak mom”? Tanya Dave pada ibunya.

“Kok nanya mommy, Ini kan syarat dari Daddy”, ucap Rama.

“Yaudah iya, tapi Daddy jangan macam macam ya sama mommy”, peringat Dave.

“Ya kenapa memang nya, istri Daddy kok”, ucap Rama.

“Kok malah jadi debat”? Tanya Aulia ada dua orang laki laki di depannya.

“Dave tuh mom, Daddy tuh mom”. Jawab Rama dan Dave serempak.

Aulia menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan Rama dan Dave ke dapur.

“Beresin baju kamu, nanti Daddy telfon Tante Ranti buat jemput kamu”, ucap Rama pada anaknya.

“Oke bos”.

Setelah melihat anaknya naik lantai atas, Rama lngsung menelpon adiknya untuk menjemput Dave dan menyusul istrinya ke dapur. Kebiasaan Aulia jika mereka sedang mengumpul, dia pasti akan membuatkan cemilan.

“Lagi ngapain”? Tanya Rama sambil memeluk Aulia dari belakang.

“Mau bikin cookies”.

“Gak usah, bikin adek buat Dave aja yuk”, ajak Rama.

“Hissh, awas ih”.

“Gak usah sayang, mas udah nelfon Ranti. Bentar lagi dia mau jemput Dave.. sayang nanti cookies nya gak ada yang makan”.

“Harus banget syarat nya Dave harus nginep di rumah mama”? Tanya aulia.

“Harus sayang, mas mau entotin kamu tanpa ada yang ganggu” jawab Rama.

“Peluk pelukan terosss, masih siang kali”, celetuk Ranti.

Rama dan Aulia terkejut dan menoleh ke arah Ranti dengan Rama yang masih memeluk istrinya.

“Ranti ngagetin ih”, ucap Aulia.

“Masuk ke rumah orang itu salam, jangan nyelonong”, ujar Rama.

“Aku udah salam ya, Abang sama kakak aja yang gak denger”, dengus Ranti.

“Auntyyyyyy”, teriak Dave dan berlari menuruni anak tangga.

HAP, Dave memeluk tubuh Ranti dan berkali kali mengucapkan kata rindu.

“Dave kangeeeen banget sama aunty”. ucap Dave.

“Aunty juga kangen banget sama Dave”. Balas Ranti

“Yaudah angkut sana”.

Aulia sontak mencubit perut suaminya.

“Aduh, sakit sayang”.

Aulia tak menggubris suaminya lalu ia berjalan mendekati Ranti dan anaknya. Ranti menyalami Aulia dan menanyakan kabar nya.

“Kakak apa kabar”? Tanya Ranti.

“Baik kok, mama sama papa gimana”?

“Mereka baik kok kak”, jawab Ranti.

“Pergi sekarang yuk aunty”, ajak Dave.

“Buru buru banget mau ninggalin mommy nya”, Rajuk Aulia pada anak nya.

“Tadi di bisikin sama aunty mau di beliin mainan baru mom”.

Aulia melirik Ranti dan di balas cengiran tak berdosa oleh adik iparnya itu.

“Inget ya ran, jangan terlalu di manjain”, peringat Aulia.

“Kalau mau beliin tuh yang mahal mahal ya dek”, ucap Rama yang berjalan ke arah Aulia.

Ranti memutar bola matanya malas dan segera menyalami tangan abangnya.

“Aku langsung pergi ya kak, males sama Abang.. yuk Dave”.

Dave langsung menyalami dan memeluk ayah dan ibunya.

“Jangan nakal ya sayang”, ucap Aulia.

“Iya mommy”, balas Dave.

“Besok Daddy jemput ya”, ucap Rama.

“Oke dad”.

Setelah berpamitan, Ranti dan Dave langsung pergi ke rumah Omanya. Belum sempat Aulia menutup pintu rumah mereka, Rama langsung menggendong nya dan membawanya ke sofa.

“Mas”, pekik Aulia.

“Sssstt”.

“Turunin ih, pintunya belum di tutup”.

“Diem sayang”, ucap Rama.

Sampainya di sofa rama mendudukan dirinya disofa dengan Aulia dipangkuan nya, ia usap pipi istrinya dengan lembut.

“Kenapa makin cantik sih sayang”.

“Gombal”, ucap Aulia.

Rama hanya tersenyum manis mendengar ucapan istrinya, ia dekat kan bibir tebalnya ke bibir Aulia. Ia hisap dengan lembut bibir itu, lama kelamaan hisapan lembut itu menjadi kasar dan brutal. Rama memasukkan lidahnya agar membelit lidah Aulia, ia hisap dengan gemas lidah istrinya.

Tangannya mulai meraba paha Aulia, ia buka paha itu agar sedikit melebar, tangannya merayap lagi menuju serambi lempit istrinya yang sudah berapa hari ini tak ia jamah. Ia usap lalu ia garuk garuk serambi lempit istrinya dari luar celana dalamnya.

“Mas kangen sama ini sayang”, ucap Rama sambil meremas serambi lempit istrinya.

“Akhhh”.

Rama memasukan tangannya ke dalam celana dalam Aulia dan mengelus serambi lempit Aulia dengan jarinya.

“Sssshh.. Mmhhhh”.

“Cepet banget basahnya sayang”.

“Nngghhh”.

Aulia membuka baju dasternya sendiri, sekarang hanya tinggal bra dan celana dalamnya saja.

“Wow, sexy banget istri mas ini”.

Kini Aulia membuka bra nya, ia masukkan susu nya ke dalam mulut suaminya dan langsung di lahap oleh Rama.

Tangan kanan memeluk pinggang istrinya, tangan kiri mengelus serambi lempit dan mulut di sumbat oleh susu besar istrinya.

Ia mainkan lidah nya untuk memainkan puting susu Aulia yang kini sudah mulai mengeras, Jarinya di bawah sana sudah mulai ia masukkan ke dalam serambi lempit istrinya dan mengocoknya dengan tempo cepat.

“Akhh..akhh..akhh”.

“Mmmhh pelanhh massshhh”, ucap Aulia sambil meremas rambut suaminya dan menekan kepala Rama agar semakin dalam menghisap susunya.

Rama menghisap dan menyedot dengan kencang puting istrinya, ia gigit dengan gemas dan ia tarik tarik puting itu.

“Nngghh sayanghh, akhh..akhh..akhh”.

“serambi lempit nya nelen jari mas sayang”.

“Mmhh mau keluar mashh.. cepetinhh sayangghhhh”

Rama semakin mempercepat laju jarinya dan menggigit leher Aulia.

“Aakhh..aakhh..akkhh maasshh.. keluarh mashh..keluar sayanghh..aaakhhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

“Enak”? Tanya Rama.

Aulia menganggukkan kepalanya dan bersandar di dada suaminya lalu menyembunyikan wajah nya di ceruk leher Rama.

“Leher aku jangan di cupangin mas”.

“Kenapa”? Tanya Rama.

“Anak kamu bawel, nanya nanya kenapa sama leher aku”.

“Yaudah, nanti mas cupang disini aja”, balas Rama dengan meremas susu istrinya.

“Awhh”.

Lama lama remasan Rama pada susu istrinya menjadi semakin kasar, ia menarik dan mencubit puting susu aulinya sehingga Aulia menggigit lehernya.

“Aakkhh, jangan kenceng kenceng sayang gigit leher mas, cupangin aja”.

Aulia dengan sengaja menggerakkan pantatnya dan menjilati serta menghisap leher suaminya.

“Mmhh, pantat nya nakal”.

“Udah keras mas yang di bawah”, ucap Aulia.

“Puasin dia sayang”.

Aulia turun dari pangkuan suaminya, ia berjongkok di depan Rama yang bersandar di sofa dengan tubuh yang sudah tidak memakai baju.

Aulia elus rudal Rama dari luar celana dalamnya dan mulai meremas dengan pelan, lalu ia cium dan ia gigit dengan pelan rudal Rama yang sudah sangat keras.

“Aakhhh.. Ssshhh sayanghhh”.

“Kenapa mas”?

“Ngghhh, mas sange babyhh”.

Aulia melepaskan celana dalam Rama lalu langsung menjilat ujung rudal suaminya dengan lidah hangatnya.

“Mmmhhh”.

“GLOK..GLOK..GLOK”

Aulia memasukan batang keras itu ke dalam mulutnya lalu dengan cepat ia memaju mundurkan kepalanya melahap rudal Rama.

“Akhh..akhh..akhh enak sayanghh.. mulut kamu enakhhh.. Mmmhhh”.

“Aakhhh babyhhhh”.

Aulia mengeluarkan rudal suaminya lalu menjepit rudal itu di belahan susunya dan menaik turunkan susunya menggunakan tangannya.

“Aakkhhh..mulut, susu sama serambi lempit serambi lempit kamu enakhh sayanghhh.. semuanya ngejepit rudal mashh”.

“Mas gak tahan sayanghh, mas pengen serambi lempithh.

Dengan inisiatifnya sendiri, Aulia menungging kan badannya dan menyuruh suaminya menusuk dari belakang. Rama berdiri dari duduknya dan mengocok sebentar rudalnya lalu memasukkan rudal nya ke dalam serambi lempit Aulia.

Jleb

“Aaakkhh”.

“Nnghhhh, sempith banget sayanghh.. rudal mas belum semuanya masukhh.. Mmmhhh”.

“Ukhhh, hentakkin langsung mashhh, ngeganjel banget”.

Dengan sekali hentakan, rudal Rama langsung masuk ke dalam serambi lempit istrinya.

“Aakkhhhh”.

“Aakkhh, kenapa makin sempit sih sayanghhh”.

“Gerakin mashhh”.

“Akhh..aakkhh..Akkhhh serambi lempit kamu sayanghh.. serambi lempit kamu enak bangethh cintaa.. ngghh mashh gak kuat di jepit giniih”.

“Ngghhh rudal kamu tambah gede mashh.. robek serambi lempit Akuhh.. oohhh mashhh.. ampunhh”

PLAK.. Rama menampar pantat Aulia dan meremas nya dengan kasar. Ia membungkuk kan tubuhnya dan memeluk tubuh Aulia dengan genjotan yang semakin cepat.

“Aakhh..aakkhh masshhh”.

“Iya sayangghh”.

“Remes tete aku masshhh.. nngghh”.

Rama meremas susu istrinya dan mencubit puting keras itu.

“Nnngghhh.. enakhh bangethh mashh.. enak banget di cubit gituu sayanghhhh”.

“Mmhh.. kamu suka babyhh? Hm”?.

“Aakhhh.. suka mashh, suka banget di entot sambil tete aku di mainin ginihh”.

“Bangun sayanghh, mas mau entotin kamu berdiri”.

Aulia bangun dengan rudal suaminya yang masih menusuk dari belakang, Rama memeluk istrinya dengan menghentak hentakan pantatnya agar rudal besarnya masuk dengan dalam ke dalam serambi lempit istrinya. Tangan ya tak lepas dari susu besar Aulia yang menjadi favoritnya.

PLOK..PLOK..PLOK..

bunyi penyatuan mereka yang terdengar sangat keras di ruang tamu rumah itu tak membuat mereka memelankan suara desahan mereka.

“Aakhh..aakhh..aakhh mau cium mashh.. mau lidah kamu sayanghhh”.

Rama menjulurkan lidahnya dan langsung di tangkap oleh mulut Aulia dan langsung di sedot oleh lidahnya.

Tangan kiri Rama turun ke bawah untuk memainkan itil istrinya.

“Nngghh sayangghhh.. jangan di gituin mashh itil nyaah.. nngghh”.

“Kenapa babyhh”.

“Aku gak kuathh mashhh.. aakkhh ampunhh mashhh”

Mulut Rama berpindah ke leher putih Aulia dan langsung menghisapnya, menghiraukan larangan Aulia agar tidak mencupang lehernya.

“Mashh.. aku mau keluarhh mashh.. gak kuathh.. akhh..akkhh..akkhh keluarh mashh.. keluarhh.. ngghhh.. Aaaaakkhhhhhhh”

CROT..CROT..CROT..

Rama melepaskan tautannya dan menggendong Aulia menuju ke tamar tamu, sesampainya di kamar ia menurunkan Aulia di kasur dan membuka paha Aulia lebar lebar, ia mainkan sebentar serambi lempit istrinya yang sangat becek dan licin menggunakan kepala rudalnya.

“Nngghh.. jangan di mainin gitu mashh.. Mmmhhh”.

“Kenapa jangan sayang”?

“Gatel kalo di gituin mashh”.

Tanpa aba aba lagi, Rama langsung memasukkan dan langsung menggenjot serambi lempit istrinya.

“Akhh..akkhh..aakhhh enak banget serambi lempit kamu babyhhh.. dari jaman sekolah sampe sekarang serambi lempit kamu gak pernah bikin mas kecewa.. nngghhh”.

“Akhhh..aakkhh..aakkhh massshhh.. terushh masshh.. Mmmhhh”.

Aulia membelitkan kakinya di tubuh Rama dan menarik leher suaminya agar bisa ia cium. Puas berciuman dengan suaminya, Aulia beralih mengulum daun telinga suaminya dan membisikkan sesuatu di telinga suaminya.

“Entotin aku terushh mashh.. jangan biarin serambi lempit aku nganggur.. mmhhh aku suka di entot kayak gini sayanghh”.

“Babyhhh.. kamu bikin Mash tambah sangeee sayanghhh.. mas rudalin kamu sampe malam”.

Rama menghentak hentak kan rudalnya dan meremas kasar susu Aulia, menampar susu itu dan mencubit puting susu istrinya sampai Istrinya menjerit minta ampun.

“Aaaakkhhh.. ampunnhh mashh.. mmhh rudal kamu enakh bangeth sayanghh.. mentokinhhh”.

“Aakhh..aakkhh..akkhh enak ya babyhh serambi lempit nya di rudalinh kayak ginihh.. mmmhh”.

“Uukkhh iya mashh enak banget”.

“Aaakhh..aakkhh..aakkhh mash mau keluarhh sayannghh.. mas gak tahanhh babyhh”.

“Mmhhh aku juga mau keluar masshh.. cepetinhhh”.

Rama mempercepat laju genjotannya dan menghisap kencang susu Aulia.

PLOK..PLOK..PLOK..

“Aakkkkhhhh keluarh mashhh”.

“Aaaaaaaakkkkhhhhh”

CROT

CROT

CROT

Rama masih menghentak kan rudalnya dan tetap menghisap susu Aulia.

“Aakhhh sayangghh.. Mash keluar yaanghh.. keluarhh babyhh.. aaaaaaakkhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Rama menyemprotkan sperma nya ke dalam rahim Aulia dan menjatuhkan dirinya di pelukan sang istri.

“Huh..huh..huh”.

Aulia mengusap kepala suaminya hingga punggung Rama yang berkeringat.

PLAK, ia menampar pantat Rama yang masih berada di atasnya. Rama menegakkan tubuhnya dan mengecup kening istrinya dengan mesra.

“Mas sayang banget sama kamu”.

Aulia tersenyum mendengar perkataan suaminya, ia mengelus lembut pipi Rama hingga jambang yang ada di wajah itu.

“Aku juga sayang banget sama mas, gak mau kehilangan mas”, balas Aulia.

“Jangan percaya apapun yang orang bilang tentang mas, kecuali kamu liat sendiri dan mas yang ngomong sendiri sama kamu”, ucap Rama.

“Iya mas, aku selalu percaya sama kamu”.

Rama mencium kening istrinya lagi, kini ia sambil menggerakkan pinggulnya dengan perlahan.

“Mmhh, belum puas”? Tanya Aulia.

Rama menggelengkan kepalanya dan memasukkan jari jempolnya ke dalam mulut Aulia agar istrinya menghisap jarinya seperti menghisap rudal.

Rama kembali bernafsu melihat wajah Aulia yang sexy tengan menghisap jarinya dengan mata terpejam.

“Ssshhh.. mas sange lagi liat kamu kayak gini yanghhh.. istri mashh nakal bangethh.. nngghhh”.

“Mashhh”

“Iya sayanghh.. mau apa”?

“Mau menyetubuhi sambil di gendonghh”, pinta Aulia.

Rama memindah kan Aulia menjadi di atasnya lalu bangun dan menggendong Aulia, Rama berjalan menuju jendela dan membuka jendela tersebut.

“Istri mas mau kayak gini”?

“Nngghh iya mashh.. rudal mas kerasa banget kalo kayak ginihh”.

Rama mulai menghentak kan pinggulnya dengan keras dan berciuman dengan Aulia.

“Mmhh.. mmhhh”.

“Aakkhh sayanghh.. enak bangethhh yanghh serambi lempithh kamu”.

“Nngghh yang cepet mashh.. serambi lempit aku ke enakan di entot sama kamuhh.. akkhh enakhh akhhhh”.

“Akkhh..aakkhh..aakhh serambi lempithh nakalhh.. minta di cepetin terushhh”.

“Aakkhh mau keluar mashh”.

“Keluarin sayanghh.. basahin rudal mashh”.

“Aakhh..aakh..aakkhh keluar mashhh.. keluarhh.. aaaaaaakkhhhh”

CROT

CROT

CROT

Aulia memeluk erat leher Rama, sedangkan Rama berjalan membawa istrinya keluar dari kamar dan berjalan menuju ke arah taman belakang, Rama mendudukan istrinya di kursi yang ada di sana dan membuka paha istrinya lalu langsung menggenjot Aulia.

“Aakhh..aakhh mashhh nanti ada yang liathh”

“Gak ada sayanghh.. udah kamu desah aja babyhh”.

“Mmmhh iya mashhh.. sshh remes si kembar mashh”

Rama meremas susu istrinya seperti permintaan sang istri.

“Aakhh..aakhh..aakhh istri Mash tambah cantikhh kalo lagi di entot kayak ginihhh”.

“Nngghh terush mashhh.. ukkhh serambi lempit sukaa banget di entothh sama rudal kamuuhh”.

“Aakhh..aakkhh mas hamilin kamu sayanghh..mas bikin kamu buncit lagiihh”.

“Aakhhh..aakhh..aakkhh iya mashh..hamilin aku sayanghh.. entot teruss supaya aku hamil.. mmhhhh”.

“Aaakkkhh mau keluar masshhhh”

“Bareng sayanghhh”

“Aakhh..aakkhh..aakkhhh aku gak tahan masshhh”.

“Mash keluarh babyhh..keluar sayanghh..Aaaaakkkhhhh”

“Aaaaakkkhhhhh”

CROT

CROT

CROT

“Cepat tumbuh anak Daddy”, ucap Rama sambil mengelus perut istrinya.

“Mas, masuk yuk. Aku takut ada yang liat”.

“Iya sayang”.

Rama mencabut rudalnya dan menggendong istrinya menuju ke dalam rumah, mereka masuk kembali ke kamar tamu.

“Aku mandi dulu ya mas, tolong ambilin baju aku”.

“Iya Aulia”, jawab Rama.

“Aulia Aulia”.

“Loh, memang nama kamu auliakan sayang”, balas Rama.

“Ini hari terakhir kamu dapat jatah dari aku”, ucap Aulia lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

Rama tersenyum melihat kelakuan istrinya yang tak pernah berubah, masih seperti anak SMA yang ia kenal dulu.

Bersambung… Hari ini Rama dan istrinya menjemput anaknya di rumah sang mama, dalam perjalanan menuju rumah mamanya Aulia banyak diam dan melamun. Rama menyentuh dan menggenggam tangan istrinya lalu membawanya ke bibir nya untuk ia kecup.

“CUP”

“Kenapa dari tadi diem aja, hm”? Tanya Rama.

“Gak apa apa kok mas”, jawab Aulia sambil tersenyum.

“Kamu jadi istri mas bukan baru sehari sayang, mas tau ada yang kamu pikirin, mikirin apa”? Tanya Rama lagi.

“Gak mikirin apa apa mas, cuma capek aja”, balas Aulia.

“Jangan bohong”, ucap Rama dengan tegas.

Aulia melihat wajah suaminya yang tampak sedikit marah karna tau bahwa ia sedang berbohong, Aulia pun melakukan hal yang sama terhadap Rama, ia mengecup punggung tangan suaminya dan membawanya ke pipi nya yang halus.

“Gak mempan sayang, jawab pertanyaan mas”, ucap Rama.

“Huh, aku tadi tiba tiba kepikiran sama buk Sonya mas”, jawab Aulia.

“Hm? Kenapa jadi mikirin Sonya”? Tanya Rama.

“Ya mana aku tau mas, orang tiba tiba kepikiran kok gara gara kita mau ke komplek”, ucap Aulia dengan nada mengegas.

“Santai sayang, santai. Sama suami kok ngegas gitu ngomong nya”, balas Rama dengan bercanda.

“Ya mas itu loh”.

“Kok mas sih”? Tanya Rama.

“Tau ah”, ucap Aulia dengan memiringkan tubuhnya menghadap jendela mobil.

“Jangan jangan dulu, jangan lah merajuk”, ucap Rama bernada.

“Jangan lah di ganggu”, balas Aulia masih dengan wajah menghadap jendela.

“Hahaha iya iya jangan di ganggu”, jawab Rama.

Setelah puluhan menit, sampai lah Rama di rumah mama nya, ia turun bersama Aulia dari mobil dan berjalan menuju ke pintu rumah besar sang mama.

“Assalamualaikum”, ucap keduanya.

“Waalaikumsalam”, jawab sang mama dari dalam rumah.

Ceklek.

Suatu pintu terbuka dan Aulia langsung di sambut pelukan oleh mama mertuanya.

“Ayo sayang masuk”, ajak mama Ratna pada menantunya.

“Ma”, panggil Rama.

“Apa”?

“Abang ini loh, gak di peluk sama di suruh masuk”? Tanya Rama.

“Heleeh, masuk ya masuk aja bang, gak mau mama meluk kamu, udah ah”, balas mama Ratna.

Ratna mengajak menantunya masuk dan meninggalkan anaknya di depan pintu.

“Mommy”, teriak Dave dari arah kolam dan berlari menuju ke arahnya.

“HAP”.

Dave memeluk tubuh ibunya dan mencium tangan sang ibu.

“Daddy mana mom”? Tanya Dave.

“Tuh”, tunjuk Aulia ke arah pintu masuk rumah Oma nya.

Dave melihat ke arah dimana sang ibu menunjuk.

“Kenapa Daddy gak masuk? Malah berdiri disitu”?

“Astagfirullah bang, udah tua loh mau ngambek ngambek an sama mama”, jawab mama Ratna.

“Hih, Heran deh”, sambung mama Ratna dan menghampiri Rama yang masih di pintu lalu memeluknya.

Dengan wajah penuh senyum rama menggandeng mamanya masuk ke dalam rumah dan langsung memeluk jagoannya yang baru semalam berpisah dengan nya.

“Daddy kangen”, ucap Rama.

“Dave juga kangeeen sama Daddy”, balas Dave kemudian menciumi tangan ayahnya.

Aulia memutar bola matanya malas, di rumah aja berantem terus, giliran jauh kangen kangen an.

“Udah, duduk di sana kalian, mama buatin minum sama camilan dulu”, ucap mama Ratna.

“Lia bantu ma”, ucap Aulia.

“Gak gak gak, orang mama cuma buatin minum aja, camilannya udah ada tinggal mama angkut ke sini nanti”, balas mama Ratna yang melarang menantunya membantu dirinya.

“Mama”.

“Sssstt, udah kamu duduk aja di sana sama anak kamu”, ucap mama Ratna lagi yang langsung pergi ke dapur.

Aulia duduk bergabung dengan suami dan anaknya, jika ia memaksa membantu bisa bisa mama mertuanya itu mengomelinya panjang lebar.

“Semalam kemana aja nak”? Tanya Aulia pada anaknya.

“Ke time zone mom, seruuu”, jawab Dave.

“Berdua aja sama aunty”? Tanya Aulia lagi.

“Gak pergi sama aunty kok mom, sama uncle Rafa”, jawab Dave.

“Rafa ada disini mas”? Tanya Aulia ada suaminya.

Rama yang sedang asik bermain ponsel hanya mengendik kan bahunya untuk menjawab pertanyaan dari istrinya.

“Ledakkan hp suamiku ya Allah”, ucap Aulia.

“Iya iyaaa, ini mas simpen hp nya nyonya Purnomo”, ucap Rama yang menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.

“Buciiin bucin”, celetuk Ranti dengan membawa nampan berisi air.

“Loh, mama mana”? Tanya Aulia pada Ranti.

“Kenapa Lia? Mau protes lagi kamu”? Tanya mama Ratna yang membawa nampan berisi camilan.

“Mama ih, tadi Lia mau bantuin gak boleh, ini tiba tiba Ranti yang bawa minumnya”, ujar Aulia.

“Sejak kapan pula Ranti ada di dapur”, sambung Aulia.

“Nanti kalau kamu yang bantu, mama malah gak kamu bolehin megang apa apa, di suruh duduk tok.. mama gak bisa cuma liatin orang kerja”, jawab mama Ratna.

“Aku sama mama habis bikin pizza di belakang”, jawab Ranti.

“Tuh kan mama, orang Lia mau bantu tadi”, Rajuk Aulia.

“Buset, buk ibuk stop deh ya, lebih baik disiniin makan dan minumnya.. perkara beginian selaluuu ribut, heran”, ucap Rama.

“Aku gak ikutan ya, mama sama kakak tuh”, balas Ranti sambil meletakkan minuman di atas meja.

Aulia yang hendak mengucapkan kata langsung kaget ketika melihat seseorang muncul di depan pintu dengan mengucap salam.

“Assalamualaikum”.

“Letta”, pekik Aulia.

Sang empu nama langsung melihat ke arah seseorang yang memanggil nama nya dan sontak kaget melihat sahabatnya yang tiba tiba menghilang ada di depan matanya.

“Aulia”, pekik wanita yang bernama letta itu.

Aulia langsung berlari menghampiri sahabatnya dan langsung memeluk letta dengan erat sambil menangis.

“Lo kemana aja Aul”? Tanya letta sembari menangis.

Aulia melepaskan peluk kan nya pada letta dan menghapus air matanya.

“Gue gak kemana mana letta”, jawab Aulia.

“Lo ngilang ya jenglot pas kita kelas 3, gak kemana mana mata Lo”, ucap letta yang kesal mendengar jawaban dari sahabatnya

“Gue nyariin Lo kemana mana, gue nangisin Lo karna gue pikir Lo udah ninggal” sambung letta.

“Amit amit mulut Lo letta, gu.

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, seseorang berdehem dengan keras agar menyadarkan dua perempuan yang di depan itu sadar jika mereka sedang berada dimana.

Aulia menoleh kan wajahnya ke arah Rama dan tersenyum dengan manis.

“Ayok masuk let”, ajak Aulia.

“Rumah Lo ini? Main hayuk masuk aja”, ucap letta.

Aulia tak menjawab pertanyaan letta lagi, bisa bisa dia kena semprot sama Rama. Aulia mengajak letta bergabung dengan keluarganya.

“Kamu udah datang”? Tanya seorang lelaki yang baru turun dari lantai atas ada letta.

Rafa berjalan menuju ke arah Aulia dan menyalami tangan Aulia kemudian ia menyalami tangan Abang nya lalu duduk di samping sang pacar, letta.

“Pak Rama”? Tanya letta yang baru ngeh jika di depan nya ini adalah guru olahraganya dulu.

Rama hanya menaikan satu alisnya pertanda ia bertanya, kenapa?

“Kok bapak ada disini”? Tanya letta.

“Harusnya saya yang nanya, ngapain kamu di rumah orang tua saya”? Rama balik bertanya.

“Mas”, tegur Aulia.

Letta langsung menolehkan kepalanya ke arah Aulia.

“Mas”? Tanya letta.

Letta sangat sangat di Landa kebingungan.

“Nanti gue ceritain”, jawab Aulia dengan berbisik di telinga letta.

Setelah acara minum dan makan camilan, kini letta menagih cerita sahabatnya.

“Buruan Lo cerita”, tagih letta.

Mengalir lah dengan jujur semua cerita dari awal sampai sekarang ini.

“Buset, jadi pelakor Lo”? Tanya letta tanpa menyaring kata katanya.

“Gue pengen marah tapi kenyataan nya begitu”.

“Becanda elah, baperan banget semenjak jadi bini orang.. Eh tapi ngomong ngomong pak Rama makin hot ye”, ucap letta.

“Mau retak ginjal Lo”? Tanya Aulia.

“Hahaha Aul gue gak berubah, gue kangen banget sama Lo sialan”, ucap letta yang tiba tiba menangis.

“Gue juga kangen sama Lo ta, udah jangan nangis.. semoga nanti kita gak jadi ipar ya”, balas Aulia.

“Jahat Lo”, ucap letta yang masih menangis.

“Becandaa letta”.

“Mom, Daddy ngajakin pergi sekarang”, ucap Dave yang menghampiri ibunya.

“Iya sayang, bentar lagi mommy nyusul ya”. Jawab Aulia.

“Okay mom, bye aunty letta”, ucap Dave.

“Jadi Lo semalem sama Rafa yang ngajakin anak gue ke time zone”, tanya Aulia.

“Iya, tapi gue gak tau kalau dia anak nya pak Rama sama Lo”.

“Sayaaaang”, teriak Rama dari ruang tamu.

“Laki gue dah manggil, nanti gue telfon ya ta.. gue pergi dulu”, ucap Aulia.

“Oke, hati hati Lo”.

“Oke , bye”.

Sebelum menuju ke arah ruang tamu Dimana suaminya berada, Aulia ke kamar mertua nya dulu untuk berpamitan lalu langsung berjalan ke tempat suaminya untuk berpamitan kepada yang lain.

“Lama banget sih ngobrol nya”, omel Rama.

“Gak usah ngomel, mau pergi gak”? Tanya Aulia.

Rama langsung berdiri dan merengkuh pinggang istrinya lalu pergi setelah berpamitan.

***

Didalam perjalanan menuju ke rumah komplek mereka dulu, Dave yang tadinya sangat antusias sekarang sudah tertidur di pangkuan sang ibu.

“Pantes sepi, udah tidur ternyata”, ucap Rama yang melihat anaknya sudah tertidur.

“Mirip banget sama kamu mas kalo lagi tidur gini”.

“Tapi kalo udah marah sama ngambek, miriiiip banget sama kamu sayang”, balas Rama.

“Iya iyaa, aku cuma kebagian jeleknya aja mas”, jawab Aulia.

“Hahaha”.

Setelah 30 menit di perjalanan, kini keluarga kecil itu sudah tiba di kediaman lama mereka yang sekarang masih terawat rapi dan bersih, karna Aulia tidak mengizinkan Rama untuk menjual rumah mereka.

“Sayang, anak ganteng mommy, kita udah sampe nak”, Aulia membangunkan anaknya.

Dave membuka matanya dan melihat sekeliling nya.

“Ayo turun”, ajak Rama.

Rama dan Aulia membuka pintu mobil lalu turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah.

“Waah, enak banget disini mom, banyak pohonnya”, ucap Dave.

“Dave suka”?tanya Aulia.

“Suka mom”.

Dave berjalan masuk ke dalam rumah dan mengeksplor semua bagian rumah.

“Mommy, Dave mau keluar ya, mau lihat om om yang di luar itu main basket”.

“Jangan kelayapan ke mana mana, liat orang main basket aja”, peringat Aulia.

“Okay mom”.

Dave keluar dan berjalan menuju lapangan basket yang berada di depan komplek mereka, saat tengah berjalan ada seorang anak perempuan berusia 5 tahun yang menabrak dirinya lalu terjatuh dan menangis.

Dave hanya memandang anak perempuan itu tanpa ada niat untuk membantu.

“Hwaaa, cakit”.

Tampak seorang lelaki berlari ke arah anak perempuan tersebut lalu membangunkannya dan membersihkan bokong anak tersebut dari pasir.

“Cakit Pi”, adu anak itu.

Aulia dan Rama yang mendengar suara tangisan anak perempuan segera keluar dari rumah mereka dan melihat apa yang terjadi.

“Dave, kenapa”? Tanya Aulia.

Dave melihat ibu dan ayahnya berjalan ke arahnya lalu ia hanya mengangkat bahunya saja.

“Adi ania atuh Pi, Aban Ndak au olong”, adu anak perempuan itu lagi.

Aulia yang mengerti apa yang dikatakan anak perempuan itu pun langsung menegur anaknya.

“Kok ada temennya yang jatuh gak di tolongin Dave”? Tanya Aulia.

“Bukan Dave yang bikin dia jatuh”, jawab Dave.

“Walaupun bukan Dave tapi kita harus tolong menolong sayang, apa lagi dia perempuan”.

“Perempuan yang harus Dave tolong cuma mommy”, balas anaknya.

Aulia memejamkan matanya sejenak dan langsung tersenyum kepada suaminya lalu berkata.

“Urus anak kamu”, ucap Aulia.

Belum Rama berkata apa apa, ayah dari anak perempuan itu menyebut namanya.

“Pak Rama”?

Rama menoleh dan mengerutkan keningnya.

“Bapak, pak Rama kan? Saya Arkan pak”.

“Arkan”? Tanya Rama.

“Iya, saya sama temen temen saya dulu yang sering main basket sama bapak sore sore”, ucap Arkan.

“Ohh kamu kan, ya ampun”.

Arkan langsung menyalim tangan Arkan dan Sonya.

“Bapak sama ibuk apa kabar”? Tanya Arkan pada Rama.

“Baik, kamu gimana kabarnya, ini anak kamu”? Ucap Rama.

“Saya baik kok pak, iya ini anak saya”, jawab Arkan.

“Ke rumah saya yuk pak, buk. Kangen saya sama bapak hehe”, ajak Arkan.

“Boleh, yuk sayang”, ucap arka.

Arkan, Rama dan Aulia berjalan menuju ke rumah Arkan, sedangkan Dave telah pergi ke lapangan tanpa pamit dan di ikuti anak perempuan Arkan tadi yang bernama Tania.

“Ini rumah kamu”? Tanya Rama setelah mereka sampai di depan rumah Arkan.

“Iya pak, ayok masuk”, ajak Arkan.

Setelah masuk kedalam rumah, Arkan mempersilakan Rama dan Aulia untuk duduk.

“Bentar ya pak, saya panggil istri saya dulu”.

Rama mengangguk dan memandang wajah istrinya.

“Kenapa sayang”? Tanya Rama.

“Gak apa apa mas”.

Arkan kembali dengan istrinya yang membawa nampan berisi air.

“Mas Rama”?

“Aulia”?

Rama dan Aulia melebarkan mata mereka ketika melihat istri arkan.

“Buk Sonya”, ucap Aulia.

“Dia istri kamu kan”? Tanya Rama pada Arkan.

“Hehe iya pak, tetangga bapak sama ibuk dulu”, jawab Arkan.

“Kok bisa”? Tanya Arkan lagi.

“Bisa dong pak hehe”.

“Udah lama kalian nikah”?

“Udah 5 tahun lebih pak”, jawab Arkan.

Rama mengangguk angguk kan kepala nya dan meminum teh yang di suguhkan oleh Arkan.

Sonya terus menerus memandang wajah mantan suaminya yang semakin lama semakin tampan, padahal ia sudah memiliki Arkan yang jauh lebih muda dari Rama.

Aulia yang melihat Sonya terus memandang suaminya pun langsung memegang tangan sang suami dan membawanya ke atas paha nya.

“Ibuk dulu kemana langsung pindah”? Tanya Aulia pada Sonya.

“Saya gak pindah, saya pulang ke Jogja untuk beberapa hal yang harus saya urus.. setelah saya kembali saya dengar kalian pindah”, jawab Sonya.

“Ohh, iya kita pindah”, balas Aulia.

“Hwaaaaaaaaa”

Terdengar lagi suara tangisan anak perempuan dari luar, tangisan itu semakin kencang tatkala suara dingin Dave mengatakan lepas.

“Lepas”.

“Hwaaaaa Ndak au”.

Orang tua kedua anak itu langsung keluar dari rumah dan melihat Tania sedang menarik narik ujung baju Dave.

“Kenapa lagi sih Dave”? Tanya Aulia.

“Dave gak ngapa ngapain mom, dia nih yang ngikutin Dave dari tadi”.

“Yaudah ajakin lah”, ucap Aulia.

“Gak mau mom, Dave gak kenal, dave juga gak suka”, jawab Dave.

“Itu Dave anak kalian”? Tanya Sonya.

“Iya buk”, jawab Aulia.

Lagi lagi Sonya memandang dengan lekat wajah dave, wajahnya semakin besar semakin mirip dengan Rama. Banyak kata seandainya yang tertanam di dalam benak Sonya.

“Itut, ania au itut aban”, tangis Tania.

“Lepas”.

Aulia mendekati dua anak yang saling bertolak belakang itu.

“Sayang, Tania mau ikut Abang”? Tanya Aulia pada Tania.

“Au, ania au itut aban”.

“Ayo ikut mommy”, ucap Aulia.

“Mom”, teriak Dave tak terima dan langsung menarik lengan ibunya untuk masuk ke dalam rumah.

Sesampainya di dalam rumah Dave menangis dan mengamuk.

Rama yang mendengar Dave menangis pun langsung berpamitan kepada Arkan dan Sonya untuk pulang.

“Kenapa”? Tanya Rama pada istrinya.

“Biasa, gak boleh aku ngobrol sama anak lain”, jawab Aulia.

“Dave”, panggil Rama.

Dave tak mendengar panggilan ayah nya dan tetap menangis.

“Stop Dave”, teriak Rama.

“Mas, apa apaan sih kamu”. Ucap Aulia.

Aulia mengangkat anak nya yang sedang menangis dan mengamuk di bawah lantai.

“Udah ya sayang, mommy minta maaf “, ucap Aulia.

Dave yang masih tergugu pun mengangguk lalu bangun dan mengikuti langkah ibunya pergi ke kamar, sesampainya dikamar Aulia membuka baju yang digunakan Dave dan langsung menidurkan anaknya. Tak butuh waktu berapa lama Dave pun tertidur dan Aulia langsung keluar dari kamar nya.

“Sayang”, panggil Rama.

Aulia diam dan menuju ke dapur untuk melihat bahan di kulkas, karna ia ingin memasak.

Rumah komplek yang mereka tinggalkan selalu di bersihkan dan dijaga oleh ART mereka dulu, berhubung mereka ke sini ART yang menjaga rumah tidak kemari untuk beberapa hari.

“Sayang”.

“Apa sih” jutek Aulia.

“Maaf”.

“Ngapain minta maaf ke aku? Tanya Aulia.

“Minta maaf ke anak kamu, udah tau anak kamu emang kayak gitu, di teriakin lagi”, sambung Aulia.

“Ya maaf, habis nya mas kesel”.

“Kesel kenapa kamu? Kesel kalau mantan istri kamu udah nikah lagi”? Tanya Aulia.

“Ya ampun sayang, kenapa jadi kesana”?

“Ya apa lagi yang buat kamu kesel? Tadinya kamu gak apa apa, setelah ketemu Arkan sama istrinya kamu jadi kesel”, ucap Aulia.

“Stop berfikir yang gak gak sayang, gak ada sedikit pun mas mikirin ke situ”, jawab Rama.

“Halah”.

“Assalamualaikum”, ucap Sonya dari luar rumah.

“Tuh, mantan istri kamu Dateng nemuin kamu”, ucap Aulia langsung meninggalkan Rama di dapur dan berjalan menuju kamarnya.

Bersambung… “Assalamualaikum”, ucap Sonya dari luar rumah.

“Tuh, mantan istri kamu Dateng nemuin kamu”, ucap Aulia langsung meninggalkan Rama di dapur dan berjalan menuju kamarnya.

Rama mengusap kasar wajahnya dan berjalan ke depan untuk membuka pintu.

“Waalaikumsalam”, jawab Rama.

“Tadi aku banyak buat bakwan mas, masih panas kok”, ucap Sonya sambil menyodorkan bakwan yang ia bawa.

Rama menerima dan mengucapkan terima kasih pada Sonya.

“Makasih”. Ucap Rama.

Melihat Sonya yang masih berdiri dan tak menjawab apapun, hanya menatap wajahnya saja Rama pun bertanya.

“Kenapa”?

“Hmm, gak apa apa kok, mas makin tampan”, Jawab Sonya.

“Saya masuk dulu”, balas Rama kemudian menutup pintu tanpa sopan.

Rama meletakkan bakwan dari Sonya di meja makan lalu menuju istri dan anaknya dikamar.

Ceklek

Rama membuka dan menutup kembali pintu kamar mereka, ia melihat anak nya yang tertidur dengan memeluk istrinya yang sedang bermain ponsel.

Rama ikut bergabung dan memeluk istrinya dari samping kanan Aulia, sedangkan Dave berada di samping kiri Aulia.

“Jangan diemin mas sayang, nanti mas minta maaf sama Dave”, ucap Rama yang suara nya teredam karna ia menelungkupkan wajahnya di payudara Aulia.

Aulia diam dan tetap memainkan ponsel nya.

“Sayang”, rengek Rama.

“Brisik mas, Dave tidur”, jawab Aulia.

“Jangan diemin mas”.

“Jangan teriak teriak lagi sama anak kamu”, balas Aulia.

Rama mengangguk angguk kan kepalanya dan menggigit susu istrinya dari luar bra.

“Awhh, mas”. Pekik Aulia.

“Jangan teriak sayang, Dave bobok”, ucap Rama.

“Kamu ih”.

“Mas Mulu yang kena”, ucap Rama.

“Lah, jadi siapa yang barusan gigit susu aku? Arkan”?, Tanya Aulia.

“Heh, ngapain jadi ke Arkan sih? Mas matiin tuh anak”.

“Gemes banget sama mulut kamu ini mas, Dave ini mirip banget sama kamu sampe ke mulut mulutnya, lemes”, ucap Aulia.

“Ya kamu loh, kenapa bawa bawa Arkan”, Rajuk Rama.

“Udah jadi suami, udah jadi ayah, kenapa masih bayi kayak gini”? Tanya Aulia.

Rama menyusupkan wajahnya di ceruk leher Aulia dan memeluk leher istrinya dengan tangannya.

“Bayi gini bisa bikin bayi loh sayang”, ucap Rama.

“Mesum”.

Rama menghirup dalam dalam aroma istrinya dan sesekali mengecup dan menjilat leher Aulia, tangan yang tadinya memeluk leher Aulia kini menyusup dari atas baju menuju payudara Aulia.

“Mas, ada anak kamu disini”.

“Dave tidur kok sayang”.

Rama meremas susu istrinya dengan lembut dan mulut yang masih menghisap leher Aulia.

“Mmhh, masshh”.

“Sssstt”

Rama mengangkat baju Aulia dan mengeluarkan susu besar istrinya dari dalam bra lalu ia langsung menghisap susu istrinya dengan rakus.

“Ssshh.. Mmmhhh”.

Aulia meremas rambut suaminya dan mengigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara desahannya.

“Mommy”, panggil Dave dengan mata masih terpejam.

Rama yang mendengar anaknya memanggil mommy langsung melepaskan hisapannya pada susu Aulia. Aulia dengan cepat memasukkan susu nya ke dalam bra dan merapikan bajunya.

“Kirain bangun”, ucap Rama.

“Loh, kok di tutup sih sayang”, sambung Rama yang melihat pakaian istrinya sudah rapi.

“Udah sore mas, aku belum masak”.

“Masih pengen nen sayang”, rengek Rama.

“Nanti aja ya, puting aku perih mas”.

“Yaudah”, Rajuk Rama yang langsung keluar kamar.

Aulia hanya menggelengkan kepalanya tanpa mau susah susah mengejar dan membujuk suaminya.

Aulia berjalan kekamar mandi untuk mandi, setelah selesai mandi ia langsung menuju dapur untuk masak. Ia melihat suaminya yang tertidur di sofa dengan bantal sofa yang menutupi wajahnya.

“Mommy”, panggil Dave

“Anak mommy udah bangun”.

Dave berjalan ke arah ibunya dan langsung memeluk sang ibu.

“Maafin Dave ya mom”. Ucap Dave.

“Iya sayang, tapi Dave gak boleh gitu lagi ya, mommy takut kalo liat Dave ngamuk lagi”, ucap Aulia.

“Iya mommy, Dave janji gak ngamuk lagi”. Janji Dave.

“Pinter, sekarang mandi ya, mommy masakin SOP ayam”.

“Iya mommy”.

Dave berjalan menuju kamar untuk membersihkan dirinya.

Setelah 30 menit, Aulia telah selesai dengan memasaknya dan menyiapkan semuanya di atas meja makan lalu berjalan ke arah Rama untuk membangunkan suaminya.

“Mas, bangun yuk”.

“Mmhhh, ngantuk sayang”, ucap Rama.

“Udah sore banget ini, mandi dulu lah biar seger baru makan”.

Rama pun langsung bangun dan menoleh ke arah meja makan.

“Masak SOP ya”? Tanya Rama.

“Hm”.

“Pantes enak banget bau nya, mas makan dulu deh baru mandi”, ucap Rama.

Rama dan Aulia berjalan ke meja makan, sampai di meja makan Aulia menyendok kan nasi suaminya dan mengambilkan lauk pauk yang ada di atas meja.

“Dave udah selesai mom”, ucap Dave.

“Sini, makan dulu”. Balas Aulia.

Dave duduk di samping ibunya dan enggan menatap sang ayah.

“Dave mau pake apa nak”? Tanya Aulia.

“Sop ayam sama perkedel kentang mom”, jawab Dave.

Setelah nya mereka makan dengan tenang tanpa suara.

Sesudah makan Rama langsung masuk ke kamar nya untuk mandi, Dave yang melihat ayah nya yang hanya diam pun semakin takut.

“Mommy, Daddy marah ya sama Dave? Tanya Dave.

“Enggak sayang, makan dulu ya nanti Daddy beneran marah kalo Dave lagi makan tapi sambil ngobrol.

Dave menganggukkan kepalanya dan melahap habis makanan yang ada di piringnya.

Setelah mereka makan, kini mereka berada di depan tv dan duduk dengan ber alaskan karpet berbulu tebal.

“Dave”, panggil Rama.

Dave dengan takut takut mendongakkan kepala dan melihat wajah sang ayah.

“Iya dad”.

“Daddy minta maaf udah teriak sama Dave tadi”, ucap Rama.

“Noo, Dave yang minta maaf karena masih ngamuk dan nangis”.

“Janji sama Daddy gak boleh ngamuk lagi, Dave udah gede nak”, ucap Rama lagi.

“Dave janji Daddy”. Janji Dave.

“Sini peluk Daddy”, ucap Rama sambil merentangkan tangannya.

Setelah berpelukan, Dave bertanya tentang bakwan yang ada di atas meja makan tadi.

“Mommy, kok bakwan yang mommy bikin beda rasanya”? Tanya Dave.

“Bukan mommy yang bikin sayang”, jawab Aulia.

“Jadi siapa”? Tanya Dave lagi.

“Tanya sama Daddy”.

“Siapa dad”? Tanya Dave pada ayahnya.

“Maminya Tania”, jawab Rama.

“Ceileh, tau aja nama panggilan Tania ke ibunya, ngobrol banyak ya tadi”? Tanya Aulia pada Rama.

“Ngomong salah, ngejawab pun salah. Astagfirullah”, ucap Rama.

“Kenapa gak ayah bunda aja ya kayak waktu kal..

“Sayaaang”, geram Rama yang memotong ucapan istrinya.

“Kenapa sih”? Tanya Aulia.

“Kamu bahas bahas ini nanti kamu sendiri yang ngambek sama mas”, ujar Rama.

Dave yang tak tau apa permasalahan orang tuanya apa, ia berjalan menuju pintu dan membuka nya. Ia melihat ada beberapa orang disana yang bermain basket lalu meminta izin kepada ibunya untuk melihat kesana.

“Mommy, Dave liat orang main basket ya”.

“Iya, jangan kemana mana, disana aja”, jawab Aulia.

Dave langsung berlari ke arah lapangan dan duduk dengan diam melihat orang orang bermain basket.

Rama yang melihat anak nya pergi, ia langsung mendekati istrinya dan ingin menerkam Aulia di tempatnya.

“Eitsss, no no no. Liat anak kamu sana”, ucap Aulia dan meninggalkan Rama di depan tv.

“Sayaaaaaaaaanggg”.

“Liat anak kamu sayang”, ujar Aulia dari lantai atas.

Rama menarik nafas nya dalam dalam lalu membuang nya dengan kasar, ia bangun dan berjalan menuju lapangan basket untuk menemui anaknya.

Sampai disana dan sudah bertemu dengan anaknya, Rama ingin duduk dan tanpa sengaja bola basket mengenai tubuhnya.

“Aduhhh”.

Rama mengambil bola basket itu dan langsung melemparkan nya masuk ke dalam ring.

“Waaaaaah, Daddy hebat”, ucap Dave sambil bertepuk tangan.

Anak anak yang sedang bermain basket tadi langsung mengajak Rama bermain, Rama yang memang pintar dalam segala jenis olahraga pun langsung bergabung untuk bermain.

“Ayo Daddy, kalahin om om itu”, ucap Dave.

“Come on dad”.

“Daddy hebat”.

“Huu Daddy terbaik”.

Hanya suara anak nya saja yang berteriak di lapangan basket itu.

Setelah satu jam bermain, mereka pun berhenti dan beristirahat. Rama yang penuh dengan keringat membuka bajunya dengan tanpa berdosa dan terpampang lah perut six pack nya yang keras.

Aulia yang melihat dari balkon kamar nya langsung berteriak.

“Heh bapak Rama, pulang”! Teriak Aulia.

“Ayo pulang, nanti mommy kamu ngomel”. Ajak Rama pada Dave.

“Daddy sih buka buka baju, udah tau mommy marah kalau Daddy buka baju di luar rumah”, ucap Dave.

Rama berpamitan pada anak anak yang mengajaknya bermain tadi dan berlalu meninggalkan lapangan dengan bertelanjang dada.

Tetangga mereka yang merupakan mantan istrinya pun tak kalah tergiur dengan badan mantan suaminya. Ia membayangkan tubuhnya berada di atas tubuh Rama.

Setelah Rama masuk Sonya pun masuk ke dalam rumahnya dengan wajah mesem mesem karna habis melihat otot otot perut Rama.

“Kenapa senyum senyum”? Tanya Arkan.

“Ha? Hm gak apa apa kok Pi”, jawab Sonya.

“Masih suka kamu sama pak Rama”? Tanya Arkan.

“Ngomong apa sih Pi”.

“Aku selalu berusaha untuk jadi suami yang baik dan selalu berusaha supaya kamu lepas dari bayang bayangnya pak Rama, tapi kelihatannya usaha aku sia sia”, ucap Arkan.

“Pi, kamu kenapa sih”? Tanya Sonya.

“Aku yang harusnya nanya sama kamu, kamu kenapa? Aku liat gimana cara kamu Mandang wajah nya pak Rama, aku juga liat gimana tadi kamu nganterin makanan ke rumah pak Rama dengan wajah senyum kamu, apa gak cukup cuma punya aku di hidup kamu? Atau selama ini aku sama Tania cuma pelarian kamu aja? Aku juga punya sabar yang terbatas Sonya”, ujar Arkan.

Sonya terdiam dengan semua kata kata yang keluar dari mulut suaminya, kentara sekali kah sikap nya setelah bertemu kembali dengan Rama? Ia akui ia masih mencintai Rama, tapi ia juga sangat mencintai Arkan, suaminya.

“Kamu salah paham Pi”, ucap Sonya.

“Salah paham aku dimana”?

Sonya terdiam tak dapat menjawab pertanyaan suaminya.

“Cukup buk Aulia yang ngerebut pak Rama dari kamu dulu, jangan kamu yang ngerebut pak Rama balik dari dia. Dan lagi sekarang kamu udah bersuami”.

“Pi”.

“Apa? Kamu mau bilang ini salah buk Aulia? Iya Buk Aulia emang salah, tapi biar tuhan dan karma yang bales semuanya, bukan kamu.. lagian mereka udah bahagia sama kehidupan mereka”.

“Aku nyesel ceritain semuanya sama kamu, kamu sekarang malah ngebelain Aulia, kamu gak tau gimana sakit nya aku”, ucap Sonya.

“Aku gak ngebelain siapa siapa karna aku gak pernah di posisi kalian, tapi kalau kamu bilang sakit, gimana sama sakitnya aku? Dulu setiap kali kita berhubungan, nama siapa yang selalu kamu sebut? Pak Rama Sonya.. kamu mikirin perasaan aku gak”? Tanya Arkan.

“Sekarang kalau emang kamu nyesel nikah sama aku, aku bakal lepasin kamu”, sambung Arkan lagi lalu meninggalkan Sonya yang berada di ruang tamu.

Seakan tersadar apa yang di ucapkan oleh Arkan, Sonya menyusul suaminya dan melihat Arkan sudah mengemasi baju bajunya ke dalam koper.

“Pi, kamu apa apaan sih”? Tanya Sonya lalu mengambil baju baju Arkan yang sudah di letakkan di dalam koper.

“Kamu mau apa lagi Sonya? Aku diem selama ini karna aku mikirin Tania, aku juga capek”, ucap Arkan.

Sonya memeluk tubuh suaminya dan mengucapkan kata maaf berulang kali.

“Maaf Pi, maafin mami”.

Arkan melepaskan pelukan Sonya dari tubuhnya.

“Kenapa minta maaf”? Tanya Arkan.

“Maaf udah nyakitin kamu, gak mikirin perasaan kamu juga, jangan tinggalin mami pi”, jawab Sonya.

“Kamu cuma minta maaf tapi kamu gak nyesel, tanpa aku sama Tania juga nanti kamu masih bisa tetep hidup kok”. Jawab Arkan.

Sonya kembali memeluk tubuh suaminya dengan menangis.

“Enggak Pi, papi gak boleh pergi”.

“Stop Sonya, kamu juga selama ini gak pernah mau tau sama Tania, padahal Tania anak kandung kamu sendiri”, ucap Arkan.

“Mami mohon Pi, kasi mami satu kali kesempatan supaya mami bisa ngerawat kalian dengan baik.. mami janji Pi”.

Arkan yang tak tega melihat istrinya memohon dan menangis pun memberi kesempatan untuk Sonya berubah.

“Satu kali kesempatan, kalau kamu masih kayak sebelum sebelumnya, aku sama Tania akan pergi jauh dari kehidupan kamu”, ucap arkan.

“Iya Pi, mami janji”.

Arkan menarik tubuh Sonya dan membawanya ke dalam pelukannya.

“Maaf udah ngomong dengan nada tinggi”, ucap Arkan dengan mengelus Surai istrinya.

“Engak Pi, mami yang minta maaf karna selama ini gak pernah mikirin perasaan papi, selalu mikirin diri mami sendiri”, balas Sonya.

“Ssst, udah yaa, gak usah di bahas lagi.. sekarang tepati janji mami untuk berubah, Tania juga butuh perhatian dari mami”, ucap Arkan.

Sonya mengangguk kan kepala nya dan menduselkan wajahnya di dada Arkan.

“Tidur yu, udah malem”, ajak Arkan.

“Papi gak mau”? Tanya Sonya.

“Mau apa”?

“Ini”, ucap Sonya dan membawa tangan Arkan ke serambi lempit nya.

Arkan menatap wajah istrinya.

“Enggak, kalau mami masih mikirin pak Rama”, jawab Arkan.

“Pii, mami mau berubah, jangan bawa nama orang lain, harusnya papi bantu mami”, balas Sonya.

Sonya merajuk dan berjalan menuju ke kasur meninggalkan Arkan yang masih berdiri di depan lemari. Arkan tak menghiraukan rajukan sang istri dan malah membereskan bajunya yang tak jadi ia masukkan ke dalam koper.

Setelah semuanya beres, Arkan pergi untuk mandi dan mencukur janggutnya, hanya menyisakan kumis tipis yang membuatnya semakin tampan, setelah selesai ia pun keluar dari kamar mandi dan hanya memakai boxer saja.

Arkan menuju ke arah kasur untuk bergabung dengan istrinya yang merajuk tadi. Arkan memeluk Sonya dari belakang dan mengecup pipi istrinya.

“Mas Rama, jangan cium cium ih”, ucap Sonya.

“Brengsek”, ucap Arkan.

Arkan langsung bangun dari kasur dan memakai celana serta bajunya lalu berjalan menuju kamar anaknya.

“Pi, mami cuma bercanda”. Ucap Sonya yang mengejar suaminya.

“Kamu mau berubah dan kamu mau minta bantuan dari aku, tapi bercanda kamu gak harus kayak gini, udah cukup Sonya, cukup”.

“Pi, mami beneran bercanda”, ujar Sonya.

Arkan menyeka air matanya dengan kasar.

“Aku gak tau, aku kamu anggap apa selama ini, tapi asal kamu tau, aku bener bener sayang sama kamu dan aku rasa aku harus berhenti sekarang juga”, ucap Arkan dan meninggalkan Sonya di lorong kamar.

Bersambung… Sonya tertidur di depan kamar anaknya karna Arkan mengunci kamar itu dalam. Arkan terbangun karna mendengar azan subuh, ia bangun dan ingin mengambil baju Koko serta peci nya di kamarnya.

Ketika membuka pintu ia terkejut melihat istrinya yang tertidur dengan meringkuk di depan pintu kamar anak mereka, dengan pelan Arkan mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mereka.

Sesampainya dikamar Arkan meletakan tubuh Sonya di atas kasur lalu ingin pergi mengambil bajunya, namun belum sempat ia melangkah lengannya sudah di tarik oleh Sonya.

“Jangan pergi Pi, jangan tinggalin mami”, ucap Sonya.

Arkan melepaskan dengan lembut tangan Sonya yang memegang lengannya lalu duduk di samping istrinya.

“Kamu tidur dulu, nanti siang kita bicarakan ini lagi”, jawab Arkan.

“Gak Pi, mami gak mau, kalau mami tidur pasti papi sama Tania pergi ninggalin mami”, ucap Sonya.

“Enggak, aku gak akan pergi sebelum urusan kita benar benar selesai”, balas Arka dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.

“Maaf Pi, jangan nangis”.

“Aku bener bener udah capek kali ini, hampir 6 tahun kita nikah, tapi kamu gak pernah sedikit pun mikirin perasaan aku.. aku lebih muda dari kamu bukan berarti aku harus ngalah terus”, ucap Arkan yang kini sudah menangis.

“Jadi aku mohon, kalau kamu gak bisa lupain laki laki yang pernah ada di hidup kamu, tolong kamu lepasin aku”, sambung Arkan.

“Enggak Pi, mami gak akan lepasin papi, papi suami mami.. mami minta maaf Pi, mami bener bener nyesal.. papi boleh tampar mami, boleh pukul mami Pi”, ucap Sonya yang membawa tangan suaminya ke pipinya.

Bukan nya menampar atau memukul, Arkan malah mengusap air mata istrinya dengan lembut.

“Jangan nangis”, ucap Arkan.

“Jangan tinggalin mami Pi, mami janji akan lupain semua masa lalu mami dan mulai lagi dari awal sama papi”.

“Kalau ingkar”? Tanya Arkan.

“Papi boleh tinggalin mami”, jawab Sonya.

“Oke, pegang janji kamu dan ini kesempatan pertama dan terakhir kamu”, ucap Arkan.

“Iya, makasih banyak pi”, ucap Sonya

Arkan memeluk tubuh istrinya dan mengelus Surai Sonya dengan lembut.

“Badannya sakit gak tidur di lantai”? Tanya Arkan.

“Enggak kok Pi”, jawab Sonya.

“Sekarang tidur lagi ya, mumpung masih subuh”.

“Gak mau, takut papi tinggalin”, balas Sonya.

“Yaudah aku ikut tidur kalau kamu takut aku tinggalin”, ucap Arkan.

“Awhhhh, kok digigit sih”?

Sonya tiba tiba menggigit bahu suaminya dengan kuat.

“Ngomong nya jangan aku kamu, kedengeran dingin banget di telinga mami”.

“Ssshhh sakit sayang”, balas Arkan.

“Ihhh papi”.

Wajah Sonya bersemu merah ketika Arkan sangat tau cara merayu dirinya.

“Tidur ya, papi temenin”.

“Gak mau Pi”, ucap Sonya.

“Terus mami mau apa”?, Tanya Arkan.

“Mau manja manja sama papi”, Jawab Sonya.

“Manja manja gimana”?

“Yaudah lah lupain aja”, ucap Sonya.

Sonya melepaskan pelukan nya dan langsung berbaring lalu memejamkan matanya.

“Jangan ngambek, nanti cepet tua”.

Sonya membalikkan tubuhnya menghadap Arkan.

“Memang mami udah tua, kenapa? Mau cari yang baru? Yang lebih muda”?, Tanya Sonya.

“Ya ampun, kenapa jadi kemana mana sayang”?

“Papi bilang mami tua”.

“Kapan papi bilang mami tua”?, Tanya Arkan.

“Tadi”.

Arkan langsung menindih tubuh istrinya dan menaikan tangan istrinya ke atas kepalanya.

“Kapan papi bilang mami tua sayang”? Tanya Arkan lagi.

Sonya menelan air ludah nya melihat suaminya seperti ini.

“Jawab mi”.

Baru ingin menjawab pertanyaan suaminya, bibir Sonya sudah di serbu oleh Arkan. Arkan menarik dan mengulum bibir bawah Sonya hingga terlihat membengkak.

Puas dengan bibir ciuman Arkan turun ke leher Sonya, ia mengecup, menjilat lalu menghisap dengan kuat leher istrinya hingga meninggalkan bekas disana.

“Aakhhh”, desah sonya

Mulut yang tadinya bermain di leher, kini turun lagi menuju susu istrinya. Arkan remas sebentar susu istrinya lalu menaikan bajunya ke atas dan mengeluarkan susu itu dari dalam cup nya.

“SLURP..SLURP..SLURP”

Bunyi jilatan dan kecapan terdengar sangat jelas di subuh hari ini, Sonya membuka bajunya sendiri agar tak menjadi penghalang bagi suaminya. Ia meremas rambut suaminya dan menekan kepala Arkan agar lebih dalam lagi menghisap susunya.

“Ssshhh.. Nghhh papihh”.

Arkan tak mendengar apapun, ia asik dengan dunia nya dan semakin menghisap puting Sonya yang semakin mengeras. Dengan gemas Arkan menggigit puting istrinya dan menarik nya hingga Sonya menjerit.

“Aaakkhh.. papiiihh”.

Arkan melepaskan gigitannya dan langsung menjilat puting yang bekas ia gigit tadi.

“Maaf sayang, papi gak sengaja”, ucap Arkan.

“Ssshh perih tau, gak sengaja tapi puting mami papi gigitin terus”.

“Ya mau gimana lagi mi, udah lama papi gak ngisepin kembar”, ucap Arkan.

“Elusin Pi, masih perih”, ucap Sonya dengan nada yang manja.

“Iya sayang, ini papi elusin pake lidah”, balas Arkan sambil menjilat jilat puting Sonya.

“Mmmhh, geli pih”.

Arkan mulai menggesek gesekkan rudalnya ke serambi lempit Sonya, tangan kirinya meremas dan mencubit cubit puting susu Sonya yang besar dan keras sedangkan puting kanan Sonya masih ia jilat dengan tenang.

“Ngghhh, udah papih”.

Arkan menyudahi menjilat puting susu istrinya namun gesek kan tetap bergerak dan semakin cepat.

“Sssshhh kerasa gak mi rudal papi udah keras”? Tanya Arkan.

“Mmhh kerasa pihh, keras banget”.

“Mami mau”?

“Mau pih”.

“Mau apa”? Tanya Arkan.

“Di entot sama papi”.

Arkan membuka baju dan celana tidurnya lalu membuka celana istrinya hingga mereka sekarang sudah telanjang bulat.

“Mana serambi lempit yang mau di entot”? Tanya Arkan.

“Ini”, jawab Sonya sambil memegang serambi lempitnya.

“Elusin sayang”, ucap Arkan.

Sonya mengelus serambi lempit nya dengan gerakan turun naik dan mata yang sudah sayu menatap suaminya. Sedangkan Arkan mengelus dan mengurut rudalnya dengan melihat Sonya mengelus serambi lempitnya.

“Enak sayang”? Tanya Arkan.

“Ssshh enak pihh”.

“Istri papi udah sange”?

Sonya menganggukkan kepalanya dan meminta agar Arkan memasukan rudalnya ke dalam serambi lempitnya.

“Masukin Pi”.

“Mau langsung? Gak mau papi jilatin dulu serambi lempitnya”? Tanya Arkan.

“Langsung pihh, mami gak tahanhh”.

Arkan langsung mendekatkan rudalnya ke serambi lempit Sonya, ia kocok lagi rudalnya sebentar lalu memasukkan dengan perlahan.

Jleb

“Mmmhhhh”.

“Nnnggghhh gak di masukin seminggu udah sempit aja mihhh”.

“Aakkhhh rudal papiih”.

“Kenapa sayanghh, kenapa rudal papihh”, tanya Arkan.

“rudal papi enakhh, makin panjanghh.. ukkhhh nusuk bangetthh piihh”.

“Mau di kasarin sayang”? Tanya Arkan lagi.

“Mau piihh”.

Arkan langsung menggenjot dengan kasar serambi lempit istrinya, ia tampar susu yang bergerak ke sana ke mari akibat gunjangan yang ia berikan.

“PLOK..PLOK..PLOK”.

Suara sentuhan kulit dan sodokan kelamin berbunyi kuat di dalam kamar mereka, Sonya menarik tubuh suaminya bisa ia peluk dan ia kaitkan kaki nya di belakang tubuh Arkan.

“Aakhh..aakhh..aakhh papiihh, enakhh piih.. mentokin lagi sayanghhh.. nngghhh”.

“Iyah sayanghhh..rasain rudal papih miihhh, rasain sayanghh..aakhh..aakhh..aakkhh”.

“Aakhhh udah piihh mami mau keluarhhh.. nngghh papiihh”.

“Keluarinh sayanghh..keluarin yang banyak miihh”.

“Aakhh mami keluarh piih.. keluarhh.. aaaakkkkhhh”.

CROT

CROT

CROT

Setelah membiarkam istrinya dengan pelepasan, kini Arkan menggenjot kembali istrinya dengan kasar.

“Akkhh..aakkhh..aakkhh”.

“Nngghh mamiih rudal papih jangan di sedothh gitu sayanghh..aakkhh”.

“Uukhh ngilu banget piiih.. aakkhh serambi lempit mami kayak mau robekhhh”.

“Ssshhh sayanghhh papi gak kuathh.. papi mau keluarhhh.. aakhh”.

Arkan menggenjot serambi lempit istrinya dan meremas remas dengan kasar susu Sonya.

“Aakkhh..aakkhh papi keluarhh miih.. keluarh sayanghh..aaakkkhhhh”.

“Aaakkkhhhh”.

CROT

CROT

CROT

“Akhhh anget piih”.

“Cepet tumbuh ya anak papi”, ucap Arkan sambil mengelus perut istrinya.

“Papiii”, panggil Tania yang berjalan masuk ke kamar.

“Tarik selimutnya Pi”, ucap Sonya yang panik ketika anak nya masuk.

Arkan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.

“Papi”, panggil Tania lagi sambil mengucek matanya.

“Iya sayang, kenapa”?, Jawab Arkan.

“Papi tenapa”?

“Hm? Gak apa apa kok sayang, Tania mau apa nak”?, Tanya Arkan.

“Lapel Pi”, jawab Tania.

“Yaudah Tania tunggu di meja makan ya, bentar lagi papi buatin sarapan”, balas Arkan.

Tania mengangguk dan keluar dari kamar ayah dan ibunya lalu menuju dan menunggu di meja makan seperti perintah sang ayah.

Setelah anaknya keluar, Arkan mencabut rudalnya dari serambi lempit Sonya dan ingin langsung mandi tapi Sonya meminta agar ia mandi terlebih dahulu.

“Pi, biar mami yang mandi dulu”, pinta Sonya.

“Papi dulu ya mi, kasian Tania udah nungguin di bawah mau makan”.

“Biar mami yang siapin kalian sarapan, jadi mami yang mandi dulu ya”.

“Yaudah iya”, jawab Arkan.

Sonya berjalan menuju ke kamar mandi dan langsung membersihkan diri sedangkan Arkan menunggu di sofa yang berada di dalam kamar mereka.

Hanya 15 menit Sonya mandi dan kini bergantian dengan suaminya, Sonya memakai pakaiannya dan langsung turun ke bawah untuk membuatkan sarapan.

“Selamat pagi anak cantik mami”, sapa Sonya pada anaknya.

“Pagi mami”.

“Tania mau sarapan apa sayang?

“Naci goleng mi”.

Sonya langsung menyiapkan bahan bahan untuk membuat nasi goreng dan memulai menggoreng nasinya.

“Pagi cantik nya papi”.

“Camat pagi papii”.

“Habis sarapan kita mandi ya”, ajak Arkan.

“Iya Pi, abis andi ania mau umah Aban Pi”.

“Rumah bang Dave”?

“Ban dep”.

“Iya sayang”.

Melihat istrinya sedang rakus memasak, Arkan berjalan menuju istrinya dan memeluknya dari belakang.

“Ihh papi, kaget tau”.

Bukannya merasa bersalah, Arkan semakin erat memeluk istrinya dan dengan nakalnya tangannya meremas si kembar.

“Akkhh, papii”, geram Sonya.

“Mami gak pake bra”?, Tanya Arkan.

“Tadi buru buru Pi, kasian Tania nungguin”.

“Kirain sengaja mau godain papi”.

“Ih, enggak ya. Udah sana ah, mami mau masak”, usir Sonya.

“Iya iyaa”, Jawab Arkan sambil meremas dengan gemas susu istrinya.

“Astagfirullah”, ucap Sonya.

Setelah nasi gorengnya selesai, Sonya menyiapkan di atas meja dan menyendokkan nya ke piring Arkan dan Tania.

“Cuap Pi”.

“Sini mami aja yang siapin ya, biar papi makan dulu”.

“Iya mi”.

“Buka mulutnya mi”, suruh Arkan.

Sonya membuka mulutnya dan menerima suapan dari sang suami. Setelah beberapa menit menyuapi Tanis hingga piring yang berisi nasi goreng habis, kini anaknya itu sudah kabur ke rumah tetangga nya tanpa mandi.

“Tania, mandi dulu sayang”, teriak Sonya.

“Biar aja mi, nanti papi jemput, mami mau nambah lagi”?, Tanya Arkan.

“Gak Pi, udah kenyang”.

“Mi”, panggil Arkan.

“Kenapa”? Tanya Sonya.

“Sini”, Arkan menepuk nepuk pahanya.

“Ngapain”?

“Mau mimik bentar”.

“Nanti Tania pulang Pi”.

“Sini sayang”, suruh Arkan.

Sonya bangun dari kursi nya dan berjalan ke arah suaminya lalu langsung duduk di paha Arkan.

“PLAK”, Arkan menampar pantat istrinya yang montok itu.

“Papi ih”.

“Nakal banget gak pake bra”, ucap Rama sambil meremas susu Sonya.

“Kan mami udah bilang, buru buru tadi”.

“Nyeplak tau gak puting kamu ini sayaaang”, arkan mencubit dan menarik puting susu istrinya.

“Sakit papii”, rengek Sonya.

“Angkat daster nya mi”.

Sonya mengangkat dasternya hingga ke atas hingga menyembul lah susunya keluar.

Arkan langsung menyedot susu istrinya dengan rakus seperti ada air.

“Ssssh pelan pelan piih, puting mami masih perih sayanghh”.

Karna merasa perih, Sonya menggerak gerakkan badannya hingga pantatnya menggesek rudal suaminya.

“Jangan gerak gerak mi”.

“Perih pii puting mamiih”.

“rudal papi bangun mi, bangun bentar sayang”.

Sonya bangun dan Arkan langsung menurunkan boxer nya hingga lutut.

“Kok udah tegang gitu Pi”.

“Ya mami yang gesek gesek, tegang lah dia.. sini duduk lagi”.

Sonya pun duduk kembali di pangkuan suaminya, ia menggesek kan lagi serambi lempitnya yang masih terbungkus celana dalam ke rudal Arkan yang sudah keras.

“Nngghh sayanghh.. di gesek gini aja rudal papi ke enakkan mihh.. sshh serambi lempit nakalhh”.

“Ke kamar yuk pihh.. nanti Tania pulang”.

“Gak.. papi mau entotin mamih disini mihh.. nghhh masukin sayanghh.. masukin rudal papiih”.

Sonya menyampingkan celana dalamnya dan memasukkan batang yang sudah keras itu ke dalam lubang serambi lempitnya yang sudah basah.

Jleb

“Aaakkhhh papiiihh”.

“Nngghh sayangghhh.. jangan di sedot dulu rudal papi miihh.. ukkhh”.

Sonya mulai menggerakkan pinggul nya dengan tangan bertumpu pada bahu suaminya.

“Aakhh..aakhh..aakkhh pinter bangeth istri papii kalo di atas.. liatin muka sange nya sayanghh”

Sonya menunjukkan wajah sange nya pada Arkan dan memutarkan pantat nya seperti mengulek.

“Nggghhhh mamiihhh.. rudal papi di apain sayanghhh.. enak bangethh cintaaaah”.

“Mmmhhh serambi lempit mamih enakhh bangethh piihh.. rudalin terush serambi lempit nakal mamiih.. habisin mami sayanghh”.

Arkan semakin sange mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut istrinya. Ia hentakkan pinggul nya ke atas dengan memegang pinggang Sonya.

“PLOK..PLOK..PLOK”

“Akhh..aakhh..aakkhh”

“Aakkhhh ampunhh pii, enak banget sodokan papiih.. mami gak tahan sayangghh.. mau keluar pii.. rudalin yang kencenghhh”.

“Keluarin miih, keluarin sayanghh.. aakhh..akkhh..akhhh”.

“Aakkhh keluarhh pii.. keluarhh.. aaaaaakkkhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Sembari menunggu istrinya menikmati pelepasannya, Arkan menyusu dengan lembut tidak seperti tadi. Merasa istrinya sudah tenang Arkan langsung menggendong dan membaringkan Sonya di atas meja makan yang sudah di bersihkan Sonya tadi.

Arkan melebarkan paha istri nya lebar lebar dan mencolek serambi lempit Sonya.

“Aakkhhh.. jangan main main piih”.

“Merah banget mi serambi lempitnya, papi makin sange sayang”.

“Perkosa mami Pi”, pinta Sonya.

“Ssshh sayanghhh.. nakal banget mulutnya.. rudal papi makin keras miihh”, ucap Arkan yang mengocok rudal kerasnya.

“Fuck me Daddy arkanhh”

Jleb

Tanpa aba aba lagi Arkan menusukkan rudalnya ke dalam serambi lempit Sonya.

“Aaakkhhh papiiihh.. pelanhh sayanghhh…serambi lempit mami gak kemana mana.. aakkhh..aakkhh..Aaakkhh”.

“Aaakhh..aakkhh..aakkhh serambi lempit sama mulut sama sama nakalhh.. papi perkosa serambi lempit mamiihh.. Aaakkhh..aakkhh..aakkhh”.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh enakkhh piihh.. terushh sayanghh, rudalin serambi lempit istrimu piih.. hamilin mami lagi sayanghhh.. aakkhhh”.

“Nngghhh sayanghhh.. mulai sekarang papi bakal entotin mamiih tiap harii.. papi gak perduli mau mami capekhh apa gakhh”.

“Iyahh sayanghh entotin mamih tiap harii.. mami siap ngangkang buat papihhh”.

“Aaakkhhh mamiihh”

“Mami mau keluar piihhh”.

Arkan menyodokkan rudal nya sambil memainkan itil istrinya yang membuat Sonya semakin kelojotan.

“Aaaakkhh papiihh stoph piihh.. jangan siksa mami piihh.. nngghh sayangghhh berhentiihh”.

Arkan yang merasakan rudalnya semakin di jepit, kini ia menambah kenikmatan Sonya dengan menghisap susu istrinya.

“Aakkhh ampuunhh piih, cukup sayanghhhh.. mami gak tahan lagiih mau keluarhhh.. akkhh..aakhh..aakhh keluarh pihhh.. keluarhh.

“Aaaakkkkhhhhhh”

CROT

CROT

CROT

“Papi jahat”, ucap Sonya.

“Jahat kenapa sayang”? Tanya Arkan yang masih menggenjot serambi lempit istrinya dengan ritme pelan.

“serambi lempitnya papi sodok, itilnya papi mainin terus susunya papi isep, dimana jahatnya”? Sambung Arkan.

“Ngghh itu bikin mami keenakan piih”.

“Masih mau papi jahatin mih”?

“Mau piihh”.

“Tuh, serambi lempit mami nyedot rudal papi terushh.. enak ya sayang rudal papi”?

“Ssshh enakh piihh.. serambi lempit mamiih sukaak”.

“Sini sayang, nungging”.

Arkan menarik pelan istrinya untuk bangun dan menyuruh nya menungging dengan memegang pinggiran meja.

“PLAK” lagi lagi Arkan menampar pantat montok istrinya dan meremas gemas pantat itu.

“Pantat sama susu kamu montok banget miih”.

“Sering di remes sama papi”, jawab Sonya yang sudah menungging.

Arkan mengocok sebentar rudalnya dan menggesek gesekkan nya di belahan pantat Sonya lalu memasukkan ke lubang serambi lempit istri nya dari belakang.

Jleb

“Ngghhhhh.. ssshhhh sempit banget kalo dari belakang ginihh”.

“Aaakkhh.. piiihhh”.

PLOK

PLOK

PLOK

Arkan menghentakkan rudal nya dalam dalam ke serambi lempit Sonya.

“Aakkhh”.

“Aakkhh”.

“Aakkhh.. mentok bangethh piiihhh”.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhhh biar kerasa rudal papii di rahim mamiih.. enak kan mii rudal papiih”.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh enak piihh..Ssshhh rudalin mami terusshh pii”.

Arkan mengelus punggung Sonya dan menggigit bahu telanjang istrinya lalu mencari susu untuk ia remas.

“Aakhh..aakhh..aakkhh remes tete mami piih.. cubit puting gede nyaahhhh”.

Arkan menuruti permintaan istrinya dan meminta Sonya untuk menoleh ke belakang agar mereka bisa berciuman.

“Pengen nyedot lidah kamu pihh”

Arkan menjulurkan lidahnya dan langsung di sedot habis habisnya oleh Sonya.

“Piiihh, mami mau keluar lagiih”.

“Barenghh miihh, papiih udah di ujung bangethh iniih”.

“Aaakkhhh…aakkhh..Aakkkhhh keluarh piihhh..aaakkkhhhh”

“Papi keluarh miihh..aaaaaaakkhhhh”

CROT

CROT

CROT

Arkan menghentakkan pinggulnya agar semua sperma nya masuk ke dalam rahim sonya.

“Huh..huh..huh”.

“Capekh piihh”.

Arkan mencabut rudalnya dan menggendong istrinya menuju ke arah kamar mandi yang berada di area dapur, sampainya di dalam kamar mandi Arkan mendudukkan istrinya di atas closet yang tertutup.

“Mandi ya sayang, papi mandiin”, ucap Arkan.

“Papi”.

“Iya sayang”.

“Mau cium”, pinta Sonya.

Arkan mendekatkan bibirnya ke bibir Sonya dan langsung mencium bibir yang sudah membengkak itu, ia hisap bibir istrinya dan saling bermain lidah di sana.

Sonya mengamit tangan suaminya dan mengarahkan ke susunya, Arkan yang paham pun langsung meremas susu istrinya dan memainkan puting Sonya.

“Isep piih”.

Arkan lagi lagi menuruti permintaan Sonya untuk menghisap susunya.

“Mmmhh.. Sshhh mulut papiih enakhh.. nngghh”.

“Isep terushh piihh”.

Arkan menghisap daging susu istrinya dan meninggalkan banyak tanda di sana hingga ke perut Sonya.

“Mami mau menyetubuhi lagi”? Tanya Arkan.

“Mau”, jawab Sonya dengan manja.

“Diri sayang”.

Sonya berdiri sesuai perintah suaminya, Arkan memasukkan dua jarinya ke dalam serambi lempit istrinya dan langsung mengocok nya dengan cepat.

“CLOK..CLOK..CLOK”.

“Akkkhhhhh papiiihhh.. aakkhh..aakkhh..aakkhh mami mau kontoollhh piiihhh”.

“Sabar sayang, jari papi dulu”, Jawab Arkan sambil menciumi leher Sonya.

“Nngghhh rudallhh.. mami mau rudall panjang papiihh”.

Arkan mencabut jarinya dan menggantinya dengan rudal panjang nya.

“Aaaakkhhh iyaah.. iya piihhh.. mamih mau iniihh..aakkhh enakkh banget sayanghhh”.

“Aakkhh..aakkhh..aakkhh kalo gak ada taniahh.. mami gak akan bisa istirahat hari iniih.. papi gak akan biarin mamii istirahat”.

“Aakhh entot mami selagi Tania gak ada piihh.. puasin rudalh papiihh genjot serambi lempit nakal mamiihh”.

“Ookhh sayanghhhh.. peluk papi miih.. papi mau keluarhh sayanghh”.

“Aakkhh..Aaakkhh..aakkhh mami keluarh piihh.. gak tahanhhhh..Aaaaakkkhhhh”

CROT

Arkan merapatkan tubuh Sonya ke dinding dan menaikan satu kaki nya lalu menggenjot lagi dengan kasar.

“Akkhh..aakhh..aakhh mamiih enakh banget miih.. rudal papi gak mau berhenti genjot serambi lempit kamu sayanghh”.

“Iya pihh..genjot terusshh sayangghh.. Mmmhhh mamii suka rudal papiihh.. aakkhh terusshh pii”.

“Papi mau keluarh miihh.. aakkhh..aakkhh..akkhh keluarhh sayanghhh.. keluarh miihhh.. aaaaakhhhhhhh”.

CROT

Cerita Dewasa Ngentot - Murid Yatim Piatu 17 Tahun Rela Jadi Istri Simpanan Pak Guru Olahraga
CROT

CROT

Arkan memeluk tubuh Sonya dengan erat dan menghentakkan pinggulnya.

“Papiiiiii”, teriak anaknya dari luar.

“Papi timana”?

Arkan buru buru mencabut rudalnya dan membersihkan diri.

“Papi mandi duluan ya sayang”.

Sonya hanya mengangguk dan kembali duduk di closet melihat suaminya mandi, setelah selesai Arkan langsung memakai handuk dan keluar dari kamar mandi.

“Sayang”, Arkan memanggil Tania.

“Iya Pi”.

“Loh, udah mandi? Ini pake baju siapa”? Tanya Arkan pada anaknya.

“Dah Pi, adi mommy na aban yang andiin, ni akai baju aban dep”.

“Tunggu di sini ya, papi pake baju dulu”.

Tania menganggukkan kepalanya dan duduk di sofa menunggu ayahnya. Tak sampai 5 menit Arkan telah selesai dan turun menemui putrinya dan mengajak ke rumah Rama untuk mengambil baju kotor Tania.

“Ke rumah Abang yuk, ambil baju kotor nya”. Ajak Arkan.

“Ye ye ye”, girang Tania ketika Arkan mengajaknya pergi ke rumah Dave lagi, padahal ia baru pulang dari sana.

Arkan dan Tania berjalan menuju ke rumah Dave yang hanya beberapa langkah saja.

“Assalamualaikum”, ucap Arkan.

“Ikum”, Tania ikut mengucap salam.

Aulia keluar dan membuka pintu.

“Waalaikumsalam”, jawab Aulia.

“Mommy cariin loh tadi, kenapa pulang gak kasih tau mommy”? Tanya Aulia pada Tania.

“Aban curuh pulang mom”, jawab Tania.

“Anak ituu”, geram Aulia.

“Masuk kan, Rama ada di gazebo kolam”, ucap Aulia.

“Iya buk”.

Arkan dan Tania masuk dan berjalan ke arah gazebo yang berada di kolam renang.

“Pak”, panggil Arkan.

Rama menoleh ke arah Arkan dan Tania.

“Tania, Tania ke mommy dulu ya, Daddy mau ngobrol sama papi”, ucap Rama.

“Iya Dy”.

Setelah Tania pergi Rama langsung menonjok lengan Arkan dengan keras.

BUGH

“Aduhh, sakit paak, kenapa saya di tonjok”? Tanya Arkan.

“Gila kamu ya, ngewe gak liat tempat”, ucap Rama.

“Ha?

“Ha ho ha ho, tadi pagi anak kamu ke sini, tapi di suruh pulang sama Dave, mandi dulu katanya baru ke sini lagi, anak kamu pulang lah, gak sampe 3 menit balik lagi ke sini”, ujar Rama.

“Terus pak”?

“Ya anak saya nanya lah ngapain balik lagi, Tania bilang kamu lagi makan mulut istri kamu”.

Arkan menepuk jidatnya dan mengucapkan maaf kepada Rama.

“Ya maaf atuh pak, saya gak tahan”.

Bersambung… Setelah puas memarahi Arkan, Rama menyuruhnya dan Tania untuk makan siang di rumah mereka, karna hari ini mereka akan pulang.

“Buk Sonya mana kan”? Tanya Aulia pada Arkan.

“Paling tepar habis di gempur Arkan”, jawab Rama.

“Gempur itu bukannya kalau ada perang ya dad? Emangnya mami Tania habis berperang”? Tanya Dave.

“Mas”, tegur Aulia.

“Tau ni bapak, di depan anak anak juga ngomongnya sembarangan”, timpal Arkan.

“Heh, saya masih mending ya, kamu itu yang parah, ngew..

“Mas, astaghfirullah”, ucap Aulia.

“Ngew itu apa dad”? Tanya Dave lagi.

“Udah Dave ke meja makan dulu ya nak ajak Tania sekalian”, ucap Aulia.

Dave hanya menuruti perkataan ibunya dan mengajak Tania untuk ke meja makan duluan.

Seperginya Dave dan Tania, Aulia langsung mencubit puting susu suaminya.

“Awwwhhhh, sakit sayang ya ampun”, ucap Rama sambil mengusap usap puting nya yang sakit.

“Omongan di jaga kenapa sih, ada anak anak mas”, omel aulia.

“Dia looh yang mulai”, tunjuk Rama pada Arkan.

“Loh, kok jadi saya pak”, ucap Arkan tak terima.

“Kalian berdua sama, yang satu ngewe gak tau tempat, yang satu nya lagi ngomong kotor gak liat anak anak”, ucap Aulia frontal.

“Sayaaaang, ngomong frontalnya jangan di depan anak mesum ini”, ucap Rama.

“Ya ampun, saya lagi yang kena”, ujar Arkan.

“Kalian ke meja makan gih sana, aku mau ke rumah buk Sonya”, ucap Aulia.

Saat ingin melangkah kan kakinya, Sonya tiba di rumah mereka duluan.

“Assalamualaikum”, ucap Sonya.

“Waalaikumsalam”, jawab mereka bertiga serempak.

“Masuk buk”, ajak Aulia.

“Iya Aulia, makasih”.

Sonya masuk dan langsung duduk di samping suaminya.

“Hmm mas Rama”, panggil Sonya.

Rama yang di panggil pun melihat Sonya.

“Iya”.

“Aku.. aku mau minta maaf sama kamu mas”, ucap Sonya.

“Minta maaf kenapa”?

“Dulu, aku dapetin kamu dengan cara yang salah, cara yang licik, aku menjebak kamu supaya kamu nikahin aku dan itu berhasil.. tapi sayangnya itu gak bertahan lama, aku nyesel dan minta maaf banget sama kamu mas”, ujar Sonya dengan wajah yang menunduk.

“Saya udah maafin kamu Sonya, saya juga minta maaf atas perlakuan saya terhadap kamu sewaktu saya masih menjadi suami kamu, maaf kalau saya hanya memanfaatkan kamu”, balas Rama.

“Aku juga udah maafin mas sejak dulu, aku harap kita bisa temenan dan menjalin silaturahmi sampai kita tua”, ucap Sonya.

Rama berdiri dan mengulurkan tangannya pada Sonya, Sonya melihat itu pun langsung menerima uluran tangan Rama dan mereka saling berjabat untuk meminta maaf.

Sekarang giliran Aulia yang sudah berlutut di hadapan Sonya dan memegang tangan Sonya.

“Ibuk, Aulia minta maaf.. Aulia punya banyak salah sama ibuk, Aulia jahat sama ibuk.. tapi Aulia sayang sama mas Rama buk, Aulia dulu gak bisa ninggalin mas Rama.. maafin Aulia buk udah jadi perusak di rumah tangga ibuk”, ujar Aulia.

“Ssst, udah Aulia.. ibuk juga udah maafin kamu kok.. ibuk harap kamu dan mas Rama hidup bahagia”, ucap Sonya dan memeluk Aulia.

“Udah kayak lebaran”, celetuk Arkan.

“Kamu pulang gih Arkan, ngerusak suasana istri saya aja”, ucap Rama.

“Elah pak, Bercanda ini”.

Sonya dan Aulia yang tadinya ingin menangis sekarang tidak jadi karna suami suami mereka kini malah adu mulut.

“Gak paham saya sama kamu”.

“Apa lagi saya pak, lebih gak paham sama bapak”, balas Arkan.

“Kok kalian ribut sih”? Tanya Aulia yang berjalan menghampiri suaminya.

“Suami ibuk tuh, saya salah Mulu perasaan”.

Baru ingin membuka mulut untuk membalas perkataan Arkan, Aulia sudah lebih dulu membekap mulut suaminya.

“Udah jangan di balas”, ucap Aulia.

“Oh iya buk, ngomong ngomong umur Arkan berapa ya? Hehe cengir Aulia.

“Di bawah kamu 2 tahun, kamu kelas 3 dia kelas 1 SMA”, jawab Sonya.

“Buset, kayak Ranti dong”, ucap Rama.

Sonya tersenyum malu dan menundukkan wajahnya.

“Kayaknya kita cocok deh Arkan”, ucap Aulia tiba tiba.

Sontak Sonya, Arkan dan Rama menoleh ke arah Aulia.

“Heh, suami kamu disini kalau kamu lupa”, ucap Rama pada istrinya.

Arkan yang tau aulia hanya bercanda pun, ikut menjahili Rama.

“Iya, bisa kali kita pacaran diem diem di belakang pak rama”, balas Arkan.

“Mau mati kamu ya”, ucap Rama sambil berdiri dan ingin menghabisi Arkan.

Aulia langsung menggapai tangan suaminya dan menariknya hingga Rama terduduk kembali.

“Uluh uluh, bercanda sayang.. kamu no satu di hati aku”, ucap Aulia tanpa malu ada yang melihat.

Rama pun langsung memeluk tubuh Aulia dan menjelingkan mata nya ke arah Arkan.

“Ya ampun mas Rama, bucin banget”, ucap Sonya.

“Tau”, timpal Arkan.

“Sayaaang, Arkan tuh”, adu Rama.

“Udah, gak usah di ladenin”.

“Aulia”, panggil Sonya.

“Iya buk”.

“Jangan panggil ibuk lagi ih, saya bukan guru kamu lagi, panggil mbak aja”, ucap Sonya.

“Terus panggil aku oppa Arkan ya Aulia”, timpal Arkan lagi.

Sonya mencubit paha suaminya yang dari tadi asik menjahili raja bucin.

“Udah ah, ayo makan mbak, sampe lupa kalau anak anak dari tadi udah di meja makan”, ajak Aulia.

“Ayok Aulia”, ucap Arkan.

Sonya dan Aulia menggelengkan kepalanya melihat Arkan yang suka menjahili Rama.

Sesampainya di meja makan Dave langsung protes karna mereka lama sekali mengobrolnya.

“Lama banget sih mom, Dave kelaparan ini”, Rajuk Dave.

“Maaf ya sayang, sini mommy ambilin untuk Dave dulu”.

Setelah mengambil makan untuk Dave, kini aulia mengambilkan untuk Tania lalu untuk suaminya.

“Mmm nak anget ayam goleng nya mom”, ucap Tania.

“Enak? Nanti kalau habis ambil lagi ya sayang”, jawab Aulia.

“Key mom”.

Kini mereka makan dalam keheningan, karna Sonya dan Aulia tau jika Rama tidak suka ada yang berbicara ketika sedang makan.

*** Kini mereka semua sedang berada di ruang tamu setelah tadi makan siang beramai ramai.

“Mas mbak, kalian pulang jam berapa”? Tanya Arkan pada Rama dan Aulia yang telah mengubah nama panggilannya.

“Bentar lagi lah kan, jam 2”, jawab Aulia.

“Mom”, panggil Dave.

“Iya sayang”.

“Hwaaaa”

Dave tiba tiba menangis membuat semua orang terkejut dan heran.

“Kenapa”? Tanya Rama.

“Gak mau”, jawab Dave.

“Gak mau apa”?

“Gak mau pulang, gak mau ninggalin Tania”, balas Dave.

Dave berjalan ke arah Daddy nya dan meminta ponsel sang Daddy.

“Mi-minta ponsel dad-daddy”, pinta Dave dengan menangis.

Tanpa menjawab apa apa Rama pun langsung memberikan ponsel nya pada sang anak.

Dave kembali berjalan ke arah Arkan dan memberikan ponsel itu ke ayahnya Tania.

“Simpan no-nomor papi disini”.

Arkan mengambilnya dan memasukkan nomornya ke dalam ponsel Rama.

“Ma-makasih Pi, nanti kalau Dave telfon angkat ya.. jangan pernah ganti nomor juga”, ucap Dave.

“Iya Dave, nanti kalau Dave telfon papi angkat dan kalau papi ganti nomor papi kasih tau Dave”, balas Arkan dengan mengusap kepala anak Rama.

Dave berlalu dan memberikan kembali ponselnya pada sang ayah.

Setelah banyak mengobrol, tak terasa jam sudah menunjukan pukul 2. Kini saat nya Rama dan keluarga kecil nya pulang ke rumah nya yang satu lagi. Jarak komplek dan rumah mereka yang mereka tempati sekarang hanya 1 jam saja.

“Aban au temana”? Tanya Tania.

“Abang pulang dulu ya Tania, nanti sampai di rumah Abang telfon Tania”, jawab Dave.

“Ania itut”.

“Noo, nanti kalau liburan Abang ke sini lagi”.

“Itut ban”, ucap Tania yang menarik ujung baju Dave.

Dave melepaskan tangan Tania yang menarik ujung bajunya dan langsung memeluk anak perempuan yang membuatnya mengamuk kemarin.

“Jangan nakal ya, gak boleh keluyuran kemana mana tanpa bilang sama mami dan papi”.

Setelah mengucapkan kata kata itu kepada Tania, kini Dave menyalami arkan dan Sonya.

“Dave pamit ya mi, Pi”, pamit Dave ada Arkan dan Sonya.

“Kalau Dave telfon langsung angkat Pi”, sambung Dave.

Arkan tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam mobil dengan menahan tangis.

“Abaaan ituutt ban”, ucap Tania yang sudah menangis.

“Sayang, Abang pulang dulu ya nak, nanti kita ke rumah Abang”, ucap Arkan dengan menggendong Tania.

“Umah Aban Pi”?

“Iya nanti kita ke rumah Abang”.

“Yaudah kalau gitu kita pamit ya mbak, Arkan”, ucap Sonya.

“Kita duluan”, timpal Rama.

“Iya hati hati mas, mbak”.

Rama dan Aulia menyusul anak nya yang sudah duluan masuk ke dalam mobil, Rama menghidupkan mobil nya dan menekan klakson tanda mereka pamit lalu menjalankan mobilnya.

Di dalam perjalanan Dave tak henti hentinya menangis.

“Kemarin aja gak suka Tania Deket Deket, sampe ngamuk waktu mommy megang sama ngobrol sama Tania”, ucap Rama.

“Hwaaaa mommy”, tangis Dave yang kini semakin kencang.

“Mas suka banget deh ngusilin anaknya”, balas Aulia yang badannya sudah lelah.

“Sini sayang pindah ke depan sama mommy”, ucap Aulia pada Dave.

Dave yang tadinya berbaring di kursi belakang kini bangun dan pindah di pangkuan ibunya.

“Gak boleh nangis, nanti kan ketemu lagi sama Tania, sampe rumah nanti Aban dep nya Tania kan bisa telfon papi Arkan”.

Rama yang tak suka mendengar aulia memanggil Arkan dengan sebutan papi Arkan pun langsung menyentil bibir istri nya dengan pelan.

“Aduh, iihhhh apaan sih mas”.

“Enak aja manggil papi Arkan – papi Arkan”, jawab Rama tak terima.

“Mas pernah ngerasain di tombak gak”?

“Hmm, enggak tuh, kamu yang tiap malam Jumat mas tombak di kamar”, ucap Rama ambigu.

“Mesum”.

“Hahaha lagian, kalau mas pernah di tombak ya mas langsung mati lah sayang”.

“Udah diem”.

Ramae mencolek dagu istrinya dan melihat ke arah Dave, ternyata anak nya itu sudah tertidur di pangkuan sang istri.

“Mas”.

“Iya sayang”.

“Pengen rujak”.

“Kamu hamil”? Tanya Rama.

“Ihhhh orang pengen rujak gak semuanya hamil maass”, greget Aulia.

“Ya kan siapa tau sayang, mau rujak dimana”?

“Yang di daerah lampu merah sana”.

Rama melajukan mobilnya dan tiba di tempat rujak yang ingin Aulia makan, Rama turun dan langsung membelikan istrinya rujak.

Setelah 5 menit menunggu, Rama membayar lalu berjalan masuk ke dalam mobil.

“Ini”, Rama memberi satu bungkus ruja pada istrinya.

“Makasih ya mas, enak banget kayaknya”.

“Kembali kasih sayang, sabar makan dirumah aja”, ucap Rama.

“Iya mas”.

Sesampainya di rumah Rama memarkirkan mobilnya dan membuka pintu untuk istrinya lalu menggendong Dave masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar anaknya.

Sedangkan Aulia dengan tak sabar langsung membuka bungkusan rujak yang di belikan suaminya tadi.

“Mmm enak nyaa”, ucap Aulia yang memasukkan nanas ke dalam mulutnya.

“Jangan banyak banyak”, ucap Rama yang menghampiri istrinya.

“Enak mas, mau coba”?

“Enggak, kamu aja yang makan tapi jangan di habisin semua. Itu banyak banget”.

“Iya sayangku”, Jawab Aulia.

“Mas mandi dulu ya, lengket banget rasanya”.

Aulia mengangguk kan kepalanya dan melanjutkan memakan rujak.

Setelah di rasa puas, Aulia menyimpan sisa rujak yang masih banyak ke dalam kulkas dan menyusul suaminya ke dalam kamar mereka.

Ceklek.

Aulia membuka pintu dan menutupnya kembali.

“Udah selesai makan nya”? Tanya Rama.

“Udah, dari tadi mandi ini baru selesai”? Tanya Aulia yang melihat suaminya baru ke luar dari dalam kamar mandi.

“Ngocoks.com dulu”, Jawab Rama.

Aulia tak bertanya lagi, ia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya juga.

Setelah memakai boxer dan tanpa baju, Rama mengambil ponselnya lalu berbaring di atas kasur untuk bermain game.

“Mas”, teriak Aulia dari dalam kamar mandi.

“Apaa”, jawab Rama sambil berteriak juga.

“Shampo habis, tolong ambilin di bawah”.

“Pake shampo mas aja”.

“Ini malam Jumat, aku gak kasih jatah ya”, ucap Aulia.

“Iya iyaa, mas ambilin ini”.

Rama bergegas bangun dari kasur dan berlari menuju ke bawah di mana tempat penyimpanan barang barang untuk mandi dan lainnya.

Setelah menemukan shampo istrinya Rama berlari kembali ke kamar nya yang berada di lantai atas dan langsung masuk ke dalam kamar lalu berjalan ke kamar mandi untuk memberikan shampo istrinya.

“Sekarang aja gimana sayang”? Tanya Rama.

“Apanya”?

“Jatah mas”.

“Gak ya, kalo sekarang nanti pasti sampe malam mas gempurnya”.

“Ya terus kenapa”?

“Anak kamu belum mandi, belum makan, belum semuanya, ya kali kita enak enak an.. udah siniin shamponya”, ucap Aulia.

Dengan wajah cemberut Rama memberikan shamponya kepada Aulia dan keluar dari kamar mandi dengan langkah lesu.

“Mana baru jam 5”, ucap Rama.

Ia pun keluar kamar dan berjalan menuju belakang rumahnya yang terdapat 4 pohon jambu kristal dan 2 pohon mangga apel yang di tengah tengahnya rama letakkan ayunan.

Rama melihat lihat pohon jambu nya yang sudah banyak berubah sambil menghisap rokoknya.

“Daddy”, panggil Dave dan berjalan ke arah ayahnya.

Rama langsung membuang rokok yang baru di bakarnya.

“Iya sayang, kenapa”?

“Mau telfon Tania”, ucap Dave.

“Hp Daddy dikamar, ambil aja di kamar ada mommy”.

“Oke dad”.

Dave berlari menuju kamar orang tuanya dan mengetuk pintu sebelum masuk.

TOK..TOK..TOK..

“Mom, ini Dave”.

“Iya sayang, masuk aja nak”.

Ceklek

Dave membuka pintu dan masuk ke dalam, ia berjalan ke arah ibunya yang sedang menutup tirai.

“Kenapa sayang”? Tanya Aulia.

“Hp Daddy di mana mom, Dave mau telfon Tania”.

“Itu di kasur, Daddy kamu mana”?

“Di belakang mom liatin jambu”, jawab Dave.

Dave mengambil ponsel ayahnya dan mencari nama Arkan disana, setelah berhasil menemukan nama Arkan Dave langsung memanggil nomor tersebut.

Tut..tut..tuuuut.

“Hallo”? Jawab orang di seberang sana.

“Hallo papi, ini Dave, Tania mana”?

“Ohh kamu Dave, Tania lagi di ajak jalan sama maminya beli gulali, Dave udah sampe rumah”? Tanya Arkan.

“Ohh, kapan Tania nya pulang Pi? Dave kangen sama tania, Dave udah sampe di rumah kok Pi”.

“Bentar lagi palingan pulang kok, nanti kalau Tania udah pulang, papi telfon Dave ya”.

“Yaudah deh kalau gitu, Dave tutup dulu ya Pi”.

“Iya sayang”.

“Assalamualaikum Pi”.

“Waalaikumsalam”.

Dave mematikan sambungan telfon nya dan menarik nafas lalu membuangnya dengan kasar.

“Huft”.

“Kenapa anak gantengnya mommy”?

“Tania gak ada mom, dia pergi sama maminya beli gulali”.

“Yaudah, nanti di telfon lagi, sekarang mandi ya sayang biar badannya seger”, ucap Aulia.

“Mommy mau masak, Dave mau mommy masakin apa”? Sambung Aulia.

“Hmm Dave pengen makan telur dadar sama sayur bayam aja mom”.

“Ha”?

“Kenapa mom”?

“Kan kamu gak suka sayur sayang, kok tumben, nanti kalau mommy masak terus gak Dave makan kan sayang nak”.

“Dave janji akan makan sayur nya mom, kata Tania dia setiap hari makan sayur bayam. Dave mau makan sayur bayam biar berasa lagi makan bareng Tania”, ucap Dave.

Aulia ingin sekali tertawa mendengar ucapan anaknya ini, Dave seperti orang dewasa kalau sudah berbicara.

“Yaudah nanti mommy masakin ya, sekarang Dave mandi”.

“Hmm, mom”.

“Iyaa”.

“Dave mau di panggil Abang”, ucap Dave dengan menunduk sambil memainkan ujung bajunya.

Aduh aduhhh, Tania sangat membawa pengaruh besar terhadap anaknya ini. Terbesit dikepalanya untuk menjodohkan sang anak dengan Tania, Aulia tersenyum senyum sendiri dengan ide gilanya ini.

Tak mendapat jawaban dari ibunya, Dave mendongak dan melihat ibunya tengah tersenyum sendiri.

“Mom”

“Iya sayang, mulai sekarang mommy panggil Dave dengan sebutan Abang”, ucap Aulia.

“Dave sayang mommy”, ucap Dave sambil memeluk ibunya.

“Yaudah sekarang Abang mandi ya”, balas Aulia.

“Oke mom, Abang mandi dulu”.

Dave pun keluar dari kamar orang tuanya dan menuju ke kamar nya untuk mandi sesuai perintah ibunya.

Aulia pun turun ke lantai bawah dan langsung berjalan ke arah dapur untuk memasak, tapi sebelum itu dia berbelok dulu untuk menemui suaminya yang tengah duduk merokok di ayunan.

“Mas”.

“Iya cinta”.

“Aku mau masak, mas mau makan apa”?

“Apa aja yang kamu masak mas makan kok sayang”.

“Yaudah aku masak apa yang dave mau makan aja ya”.

“Dave mau makan apa”? Tanya Rama.

“Telur dadar sama sayur bayam”.

“Ha? Bukannya anak kamu gak makan sayur.

Aulia pun menceritakan obrolannya dengan Dave di dalam kamar tadi, termasuk anaknya itu ingin di panggil abang.

Bersambung… Setelah beberapa bulan yang lalu Dave meminta ibunya memanggil nya dengan sebutan Abang, kini ia akan benar benar menjadi seorang Abang.

Rama dan Aulia senang bukan main ketika mendengar jika ia tengah hamil, berbeda dengan Dave ia tampak murung dan kentara sekali bahwa ia tak ingin mempunyai seorang adik.

Sekarang mereka tengah berada di kediaman orang tua Rama, karna ketika di rumah sakit tadi Rama langsung memberi tahu kabar gembira ini kepada ibunya.

Rama beserta mama dan adik adiknya kini tengah asik bercengkerama di depan ruang untuk menonton tv, Ratna yang melihat cucunya hanya diam dan cemberut pun mulai bertanya.

“Dave, cucu Oma yang ganteng, kenapa muka nya cemberut gitu sayang”? Tanya mama Ratna.

“Abang gak mau punya adik Oma”, jawab Dave langsung tanpa ragu.

“Loh, kenapa sayang”? Tanya mama Ratna lagi.

“Nanti mommy sama Daddy gak sayang sama Abang lagi”.

“Coba Dave tanya sama Daddy, gimana dulu waktu Daddy mau punya adik”, ucap mama Ratna.

Dave menoleh ke arah ayah nya dan bertanya.

“Gimana dad? Pasti Daddy gak suka juga kan”? Tanya Dave pada ayahnya.

“Enggak, Daddy suka kok waktu Daddy pengen punya adik dulu”, jawab Rama.

“Daddy juga tetap di sayang sama Oma sama opa, terus setelah adik Daddy lahir Daddy punya temen di rumah, kalau adik Daddy udah gede bisa di ajak main”, sambung Rama.

Kini Dave beralih menatap wajah sang ibu dengan wajah menahan tangis”.

“Mommy tetep sayang kan sama Abang”? Tanya Dave pada ibunya.

Aulia yang melihat anaknya sedang menahan tangisan pun langsung memeluk dan mengusap kepala anaknya dengan sayang.

“Abang, mommy tetep sayang sama Abang, Abang anaknya mommy, nyawanya mommy nak”, ucap Aulia.

Dave yang mendengar itu pun langsung menangis dan meminta maaf kepada ibunya.

“Hiks..Hikss.. maafin abang mom, Abang takut kalau mommy sama Daddy gak sayang sama Abang lagi”, ucap Dave.

“No sayang, sampai kapanpun mommy sama Daddy tetap sayang sama Abang”, jawab Aulia.

Dave melepaskan pelukannya dan mengusap perut ibunya yang masih rata.

“Adik baik baik ya di dalam perut mommy, maafin abang karna tadi gak mau punya adik”, ucap Dave lalu mencium perut ibunya.

“Yeee, tadi aja gak mau punya adik”, ejek Rafa.

“Gak enak punya adik, ribet”, sabung Rafa.

BUGH

Sebuah bantal sofa mendarat mulus di wajah ganteng Rafa.

“Aduuh, sakit bang”, ucap Rafa.

“Mulut lo bang Rafa”, timpal Ranti.

“Iya iya, orang gue bercanda”, balas Rafa.

“Jangan dengerin uncle Rafa ya, gak bener itu”, ucap mama Ratna.

“Iya Oma”, jawab Dave.

“Oh iya Lia, ngomong ngomong udah berapa minggu? Tadi baru mama mau nanya udah di matiin sama Rama”, ucap mama Ratna.

“12 Minggu ma”, jawab Aulia.

“Sekitar 3 bulanan ya? Kok belum keliatan ya nak, waktu hamil Dave dulu 3 bulan udah buncit perut kamu”, ucap mama Ratna.

“Gak tau ni ma, pengen mommy nya keliatan langsing terus mungkin”, jawab Aulia.

“Supaya apa kamu biar keliatan langsing terus”? Tanya Rama.

“Supaya biar di lirik cowok cowok tampan dan muda lah”, celetuk mama Ratna.

“Cowok yang ngelirik Lia abang butain matanya”, balas Rama.

Pecah semua tawa orang yang berada disana karna melihat betapa bucin nya seorang Rama yang dingin dan cuek jika tidak bersama keluarganya.

“Daddy”, panggil Dave tiba tiba.

“Kenapa sayang”?

“Pinjem hp nya, Abang mau nelfon Tania”.

Rama mengeluarkan ponselnya lalu memberikan kepada istrinya untuk di beri lagi kepada Dave, setelah ponsel itu sampai di tangan Dave, Dave langsung pergi ke arah kolam untuk menelfon Tania.

“Tania siapa”? Tanya mama Ratna.

“Anak nya mbak Sonya ma”, jawab Aulia.

“Sonya? Sonya mantan kamu bang”? Tanya mama Ratna pada Rama.

“Iya”.

“Loh, kok bisa”? Tanya mama Ratna lagi.

Rama menceritakan semua kejadian saat mereka pertama kali mengunjungi rumah mereka yang di komplek sampai waktu kepulangan mereka ke rumah yang satu lagi.

“Yongalah, sudah menikah lagi ternyata si Sonya”, ucap mama Ratna.

“Iya ma”, jawab Rama.

“Jadi selama 3 bulan ini Dave sering telfonan sama anak nya Sonya”?

“Sering ma, lama lama mereka bisa pacaran”, canda Aulia.

“Heh, enggak ya, gak boleh”, ucap Rama.

“Kenapa gak boleh”? Tanya Aulia.

“Ya gak boleh aja, mas gak mau”, ujar Rama.

“Loh, kenapa jadi mas yang gak mau”?

“Ya gak mau”, jawab Rama.

“Ya kenapa sayang, semua semua itu ada alasannya, jadi kenapa alasan mas gak boleh dan gak mau Abang sama Tania”? Tanya Aulia.

“Mereka masih kecil”, balas Rama.

“Kan maksud aku tadi kalo udah besar mas”, ucap Aulia.

“Sekali enggak, tetep enggak, udah jangan ngebantah”, final Rama.

“Loh loh loh, kok jadi begini? Biarlah Dave yang meneruskan hidupnya bagaimana esok”, ucap Rafa untuk mencairkan suasana.

Mama Ratna yang melihat mantu kesayangan nya itu murung, ia langsung mengajak Aulia untuk memasak sesuatu.

“Aduuh, kok tiba tiba mama pengen makan soto ya”, ucap mama Ratna.

“Lia, bantuin mama yuk buat soto”, ajak mama Ratna.

Raut wajah yang tadinya murung, seketika berubah menjadi Aulia seperti biasanya yang ceria dan tersenyum.

“Ayo ma, Lia bantuin”, ucap Aulia.

“Yuk ran”, ajak mama Ranti pada anaknya.

Sepeninggalan ibu, istri dan adiknya, kini tinggal Rama dan Rafa adik laki lakinya yang seumuran dengan istrinya.

“Bang”, panggil Rafa.

“Hm”.

“Kenapa sih”? Tanya Rafa.

“Apanya”?

“Ya mungkin tadi kak Lia cuma bercanda ngomong kayak gitu”,ucap Rafa.

“Setiap omongan yang keluar dari mulutnya tentang Dave, itu gak pernah bercanda fa, gue gak suka”, Jawab Rama.

“Kenapa Abang gak suka”?

“Gue dan Sonya itu mantan pasangan suami istri fa, gue gak mau besok besok kalau mereka pacaran ada temennya yang tau soal status gue sama ibunya Tania dulu, gue gak mau kalau Dave atau pun Tania yang kena imbasnya”, ujar Rama.

“Besok besok pun kalau mereka pacaran, mereka udah gede bang, mereka pasti bisa ngatasin urusan mereka”, ucap Rafa.

“Gue gak masalah sama Dave fa, karna gue tau Dave anaknya gimana, tapi gue gak mau Tania yang kena, dia anak perempuan, anak perempuan mentalnya gak sama kayak anak laki laki”, jawab Rama.

“Kalau gitu kenapa sekarang abang biarin mereka saling komunikasi kalau besok gedenya mereka udah Deket tapi gak boleh bareng”? Tanya Rafa.

“Mereka gak akan bareng sampe gede”, ucap Rama.

“Maksud Abang”?

“Mulai SMP Dave gue sekolahin di luar negri”.

“Abang gila ya? Kak Lia sama mama gak bakalan kasih izin” ucap Rafa.

“Dave anak gue, gue ayahnya, jadi gue yang berhak nentuin hidup Dave”, balas Rama.

“Abang jangan egois”.

“Gue harus egois untuk ngejaga perasaan anak gue dari perbuatan gue dulu”, ucap Rama.

“Bang, orang gak tau kelakuan Abang yang dukunya, dan besok anak anak seumuran Dave gak akan perduli sama itu semua”.

“Malah anak anak sekarang dan seumuran Dave besok semakin menjadi kalau udah tau masalah pribadi seseorang”.

“Terserah Abang”, ucap Rafa langsung meninggalkan Abang nya sendiri.

Rama mengusap kasar wajahnya dan pergi dari sana untuk menenangkan pikirannya.

Tanpa mereka sadari, ternyata Aulia sedari tadi mendengar percakapan mereka tentang anaknya dan Tania.

Kini Aulia kembali ke dapur untuk membantu mertua dan ipar nya untuk memasak.

30 menit mereka memasak, kini masakan mereka telah selesai dan siap untuk di santap.

“Udah Lia, biar mama sama Ranti yang bawa sotonya ke meja, kamu tunggu aja disana”, ucap mama Ratna.

Aulia menurut dan langsung me uju ke arah meja makan, Aulia melirik ke ruang tv, ternyata suami nya telah kembali dan tengah memainkan ponselnya.

“Mom”, panggil Dave dengan wajah lesu.

“Kenapa bang”?

“Hiks..hiks..”

“Loh, kenapa nak”? Tanya Aulia.

“Daddy”.

“Daddy? Kenapa Daddy”? Tanya Aulia lagi.

“Daddy gak bolehin Abang nelfon Tania lagi”, Jawab Dave.

“Nanti mommy bilangin sama Daddy ya, sekarang Abang makan dulu, tuh Oma udah buatin soto”, ucap Aulia.

Dave mengelap air matanya lalu duduk di meja makan dengan wajah seperti semula, seperti tidak ada kejadian apa apa.

“Eh cucu ganteng Oma udah disini, bentar ya, Oma ambilin ayam suir nya dulu”, ucap mama ratna dan berjalan lagi ke arah dapur.

Kini Aulia, Ranti dan Dave sudah duduk di meja makan dan di susul oleh mama Ratna.

“Rafaa, turun.. soto nya udah masak”, teriak mama Ratna pada Rafa.

“Iya maaa”, sahut Rafa.

“Abaaang, sini makan, sotonya udah masak”, teriak mama Ratna lagi pada Rama.

“Nggeh ma”, sahut Rama.

Rama dan Rafa datang bebarengan ke arah meja makan.

“Di suruh makan kok lama banget”, ucap mama Ratna ada kedua anak laki lakinya.

Setelah nya mereka makan dengan tenang dan sedikit ada candaan dari Rafa.

Kini setelah semua selesai makan, Aulia ingin membersihkan meja dan mencuci piring dan gelas yang kotor, namun di marahi oleh Ranti dan di suruh beristirahat saja dengan Abangnya.

Aulia yang sebenarnya juga sudah sedikit capek ia pun menurut dan berbaring disofa yang berada di dekat kepala suaminya yang sedang duduk di lantai.

“Capek”? Tanya Rama.

“Sedikit”.

Karna kepala nya terus terusan di usap oleh Rama, Aulia pun tertidur dengan nyenyak.

“Bang, pindah ke kamar aja”, ucap Ranti yang melihat Aulia tertidur di sofa.

“Gak usah, kak Lia bangun kita langsung pulang nanti”, jawab Rama.

“Yaudah deh, kalau gitu aku mandi dulu”.

“Hm”.

Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul 5 sore, tapi Aulia belum bangun juga dari tidur nya. Mau tak mau Rama membangunkan istrinya, dengan pelan Rama mengusap pipi halus Aulia.

“Sayang, bangun yuk, udah sore”.

Aulia mengeliat dari tidurnya tapi enggan membuka kedua matanya.

“Mommy, udah sore sayang, mau pulang gak”, tanya Rama.

Aulia mulai membuka mata dan mengucek matanya.

“Abang mana”? Tanya Aulia.

“Ikut mama jemput opanya di bandara”, jawab Rama.

“Tunggu Abang pulang”?

“Enggak, Abang mau nginep disini katanya”, balas Rama.

Aulia pasti mengerti alasan kenapa anak nya ingin menginap disini, Aulia pun bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

Setelahnya Aulia kembali ke tempat suaminya, Rafa sudah pergi keluar sedangkan Ranti tidur di kamarnya. Jadi Aulia dan suaminya langsung pulang ke rumah mereka.

Di dalam perjalan, Aulia hanya diam dan memandang air hujan di luar jendela.

“Sayang”, panggil Rama.

Aulia menoleh ketika Rama memanggil nya.

“Iya”.

“Kenapa? Kok diem dari tadi, mas punya salah ya”? Tanya Rama.

“Gak kenapa kenapa kok mas, cuma capek aja”, jawab Aulia.

“Kenapa sayang? Jangan bohong sama mas”.

Aulia tak menjawab, ia hanya mampu diam dan kembali melihat hujan diluar jendela.

Rama pun tak ingin memaksa istrinya dan terus menjalankan mobilnya dengan santai.

25 menit kemudian, mereka sampai di kediaman mereka. Rama keluar dulu dan mengambil payung di teras rumah lalu menjemput aulia yang masih berada di mobil.

Setelah masuk ke dalam rumah, Aulia dan Rama langsung menuju kamar mereka.

“Aku mandi dulu ya mas, baru masak makan malam”, ucap Aulia.

“Gak usah masak, nanti mas pesenin aja”, jawab Rama.

Aulia mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi, Aulia berendam di bathup sangat lama sehingga membuat Rama khawatir dan langsung masuk ke dalam.

“Sayang, kok lama banget sih”, tanya Rama.

Melihat istrinya memejamkan mata dan tak menjawab pertanyaan nya, Rama pun menyentuh bahu istrinya dan langsung merasakan kulit istrinya yang sangat dingin. Dengan panik Rama langsung mengangkat tubuh istrinya keluar dari bath up lalu berjalan menuju tempat tidur mereka, Rama menelpon dokter pribadinya dan langsung memakaikan Aulia baju.

15 menit menunggu akhirnya dokter yang Sudah bekerja di keluarga nya sejak Rama kuliah pun datang.

“Masuk dok, istri saya ada dikamar”.

“Iya nak Rama”.

Rama dan dokter itu berjalan ke lantai atas menuju kamar Rama dan aulia, sesampainya dikamar dengan tak sabar Rama langsung menyuruh dokter itu memeriksa istrinya. Dokter pun langsung memeriksa keadaan Aulia.

“Gimana istri saya dok”? Tanya Rama.

“Istri nak Rama mungkin tertidur di dalam bath up karna kelelahan”, ucap dokter wanita itu.

“Hmm apa istri nak Rama sedang mengandung”? Tanya sang dokter.

“Iya dok”,jawab Rama.

“Jangan buat istri nak Rama banyak pikiran, selain tadi karna kelelahan dia juga sedang banyak pikiran”.

“Iya dok, saya pastikan akan menjaga istri saya dengan baik”, ucap Rama.

“Saya tuliskan resep vitamin dan nak Rama bisa menebusnya di apotik nanti”.

“Baik dok”.

Setelah menuliskan resep, dokter itu memberikannya pada Rama lalu berpamitan untuk pulang, Rama pun mengantar dokter itu sampai ke pintu depan rumahnya kemudian Rama kembali ke kamar mereka untuk melihat istrinya.

Rama mengelus dengan sayang kepala istrinya dan mengecup kening sang istri lalu ia pergi untuk menebus vitamin di apotik.

Hanya perlu waktu 15 menit, Rama kini sudah kembali ke rumahnya dan telah berada di dalam kamar, ketika ingin menutup pintu kamar Rama mendengar suara istrinya yang tengah menangis dengan tubuh yang miring menghadap lemari. Rama mendekat dan bertanya kenapa istrinya menangis.

“Hikss..hikss..”

“Sayang, kenapa nangis, hm?

“Hikss..hikss”.

“Hey, kenapa sayang”?

“Mas jahat”.

“Iya, mas jahat kenapa”? Tanya Rama dengan lembut.

“Mas jahat mau pisahin aku sama Abang”.

Rama terdiam, sejak kapan istrinya ini tau, apa jangan jangan Rafa yang memberitahunya.

“Kamu tau dari mana”? Tanya Rama.

“Aku denger semuanya mas, aku denger apa yang kamu bicarain sama Rafa dari awal sampai akhir”.

Aulia bangun dari berbaringnya dan langsung memberi pukulan di dada suaminya dimana pukulan itu tak terasa apa apa bagi Rama.

Rama hanya diam tanpa berniat menghentikan aksi istrinya yang memukul dirinya, setelah puas memukul kini Aulia menjatuhkan dirinya didada bidang suaminya dan langsung di sambut rambut Rama dengan pelukan dan usapan lembut di punggungnya.

“Kenapa kamu tega mas”? Tanya Aulia dengan menangis.

“Sayang, jangan nangis, kasian adek yang di dalam perut”, ucap Rama.

“Kamu jahat sama aku, jahat sama Abang, aku gak mau pisah sama Abang mas, dia masih kecil kalau kamu kirim dia keluar negri”.

“Mas gak mau dia kena imbas nantinya kalau dia disini sayang, biarin dia hidup di luar Indonesia”, ucap Rama.

“Terus gimana sama aku? Aku ibunya, aku juga punya hak atas anak aku mas, abang juga punya hak untuk hidupnya sendiri, kalau kamu takut dia kena imbas atas perbuatan kita, kamu bisa tutup mulut mereka yang ngatain anak kita dengan uang kamu”, ucap Aulia.

“Kamu berduit , kamu juga orang berpengaruh disini, apa yang kamu takutin”? Sambung Aulia.

“Maaf sayang, maafin mas”.

“Kalau mas masih kekeh sama pendirian mas, aku bakal pergi jauh jauh dari hidup mas”, ucap Aulia.

“Berhenti bicara kalau kamu akan pergi dari hidup mas sayang, oke mas gak akan ngirim Abang sekolah diluar negri, mas gak akan ngelarang Abang sama siapa pun besok kalau dia udah besar”, final Rama.

“Jadi berhenti bicara kalau kamu akan pergi dari hidup mas, mas sakit dengernya, Lia”, sambung Rama dengan mata yang sudah mengeluarkan air mata.

Tangan Aulia terangkat untuk menghapus air mata suaminya, ia menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya.

“Maafin aku sering buat mas nangis, aku gak mau pisah dari Abang mas, aku gak sanggup”, ucap Aulia.

“Mas cuma mau ngelindungin Abang sayang”.

“Banyak cara untuk ngelindungin dia mas, dia juga sedih kamu ngelarang dia buat gak nelfon Tania lagi, dia masih kecil, kita juga gak tau besoknya dia masih mau komunikasi sama Tania lagi apa gak, jadi biar semuanya mengalir sendiri”, ujar Aulia.

“Iya, sekali lagi maafin mas, mas sayang sama kalian”.

Rama memeluk istrinya dan menangis di bahu kecil Aulia.

“Udah mas, jangan nangis lagi”.

Rama menganggukkan kepalanya dan melepaskan pelukan nya dengan Aulia, Rama mengambil vitamin yang ia tebus di apotik tadi lalu menyuruh Aulia untuk meminumnya.

“Kata dokter kamu gak boleh kecapekan sama banyak pikiran, jadi tolong sekali ini kamu dengerin mas”.

“Dengerin apa”? Tanya Aulia.

“Kita cari ART untuk ngurusin rumah sama supir buat antar jemput abang”.

“Mas”.

“Noo, mas gak mau denger alasan apapun yang keluar dari mulut manis kamu sayang”.

“Jadi aku ngapain di rumah mas”?

“Ya ngapain aja, tidur kek, nonton Korea, ngapain aja lah”, jawab Rama.

“Bosen dong mas kalau tiap hari gitu aja kerjaan aku”, ucap Aulia.

“Shopping, jalan jalan, tapi perginya harus sama mama atau sama Ranti”.

“Aku udah punya semuanya mas, gak mauu”.

“Terserah, kamu gak bisa ganggu gugat keputusan mas lagi”, final Rama.

“Yaudah iyaaaa, tapi ART nya aku gak mau yang muda ya, yang kayak mama boleh lah”.

“Maksud kamu yang kayak mama apa? Yang udah tuir gitu? Mas bilangin mama ya”? Ucap Rama.

“Hahaha enggak ya, aku gak bilang tua, mas tuh yang bilang kayak gitu”.

“Iya iya sayang, ingat ya gak boleh banyak pikiran, apapun yang mengganjal dihati kamu, langsung cerita ke mas”.

“Iya suaminya Aulia”.

Rama mencium bibir istrinya dan sedikit mengulum kemudian ia mengajak istrinya untuk beristirahat.

***

Paginya Dave di antar pulang oleh Rafa dan pacarnya. Sekarang mereka sedang berdiri di depan pintu rumah karna Aulia dan Rama sejak tadi tidak membuka kan pintunya.

“Mommy kemana sih”? Gerutu Dave.

“Sabar, mungkin Daddy kamu lupa cabut”, ucap Rafa.

“Ha? Lupa cabut apaan uncle”? Tanya Dave.

“Heh, ngajarin anak kecil yang gak bener”, omel letta pada Rafa.

“Enggak kok ganteng, kita tunggu bentar ya”, ucap letta.

“Iya aunty”.

Sudah satu jam mereka menunggu Aulia dan Rama membuka kan pintu, tapi pintu tak kunjung di buka.

“Buset, mereka pada ngapain di dalem, satu jam nunguin gak di buka buka”, omel Rafa.

Tin..tin..

Suara klakson mobil mengalihkan perhatian mereka bertiga, ternyata orang yang mereka tunggu baru keluar dari mobil itu.

“Mommy kemana? Abang tungguin dari tadi”, Rajuk Dave.

“Mommy ke pasar sayang sama Daddy, ya ampun udah lama ya”

“Yi impin idih limi yi, udah kering kita disini kak Lia”, ucap Rafa.

“Apanya Yang kering uncle”? Tanya Dave.

“Tenggorokan nih yang kering”, Jawab Rafa.

“Bukain dulu pintunya mas”, ucap Aulia.

Rama berjalan melewati Rafa yang sedang duduk di kursi terasnya lalu membuka kunci pintu rumah.

Ceklek

Pintu terbuka dan Dave langsung masuk mengajak uncle dan aunty nya.

Rama dan Aulia sibuk mengambil bahan dapur yang mereka beli untuk di bawa masuk ke dalam rumah, biasanya Dave membantu orang tuanya, tapi karna dia marah dengan ayah nya karna tak boleh menghubungi Tania lagi, jadi dia tak mau membantu ayahnya itu.

“Udah, biar mas aja yang bawa masuk, kamu mandi sana”, ucap Rama.

“Ini masih banyak loh mas”.

“Udah gak apa apa sayang”, ucap Rama.

“Yaudah aku mandi dulu ya, habis ini mas langsung mandi juga”.

“Siap nyonya”.

Aulia pun masuk ke dalam rumahnya untuk mandi, setelah selesai dengan acara mandinya, ia pun langsung turun untuk menemui ipar dan sahabatnya.

“Sorry ya coy lama nungguin tadi, gue juga gak bawa hp hehe”, ucap Aulia.

“Sorry pala Lo, kalo Dave bukan anak Lo sama pak Rama udah gue tinggalin”, omel letta.

“Calon ponakan Lo itu anak gue, ponakan kesayangan Rafa pula, berani Lo”?

“Dih, ya enggak lah”, balas letta.

“Hahaha dasar Lo ya, ngomong ngomong mana Rafa sama Dave”? Tanya Aulia.

“Anak Lo tadi ngajakin Rafa liat ikan hias peliharaannya”.

“Ohh, yaudah gue buatin minum dulu bentar”.

“Ehhh gak usah, gue bentar lagi mau pergi sama Rafa, mau liat liat cincin”, ucap letta malu malu.

“Gak cocok Lo malu malu begitu”, ujar Aulia.

“Gue mau ngomong gak sopan takut kedengeran laki Lo”, balas letta.

“Peace”, ucap Aulia.

Rafa datang dengan menggendong Dave di punggungnya.

“Udah sampe”.

“Oke, thank you uncle”.

“Your welcome bro”.

“Uncle pulang dulu ya”, ucap Rafa.

“Iya uncle, hati hati bawa motornya, jangan ngebut kayak tadi”.

PLAK, satu geplakan di belakang kepala Rafa.

“Berani Lo bonceng anak gue ngebut ngebut”, ucap rama.

“Marquez ini, apa salahnya”, jawab Rafa.

“Udah udah, sampe besok ini debatnya kalau kalian udah ketemu”, ucap Aulia.

“Yaudah kita pamit dulu ya pak, Aul”, ucap letta.

“Iya, makasih udah anterin Dave”, jawab Rama.

“Makasih ya aunty, uncle”, ucap Dave pada letta dan rafa

“Ok, see you bro”, balas Rafa dan melambaikan tangannya.

Setelah uncle dan aunty nya pergi, Dave pun berlalu begitu saja di depan ayah nya, Aulia yang melihat raut sedih suaminya karna di cueki anak nya sendiri, Aulia pun mendekat dan menyuruh suaminya untuk berbicara pada anaknya.

“Ngomong baik baik sama Abang, minta maaf juga jangan lupa”.

“Iya sayang”.

Rama berjalan menyusul anak nya ke kamar untuk meminta maaf, sampai di kamar ia melihat Dave sedang berdiri melihat ke arah luar dari jendela.

“Abang”, panggil Rama.

Dave hanya melihat sekilas lalu kembali memandang arah luar dari jendelanya.

Rama berjalan ke arah Dave lalu berjongkok dan memegang tangan anaknya.

“Abang, Daddy minta maaf ya, maaf karna Daddy kemarin udah ngelarang abang buat gak nelfon Tania lagi, Daddy janji gak akan ngelarang Abang lagi”, ucap Rama.

Dave yang tadinya murung, kini berubah menjadi ceria karna perkataan ayahnya.

“Beneran dad”?

“Bener sayang”.

“Abang udah boleh nelfon Tania lagi”? Tanya Dave.

“Boleh”.

“Makasih ya dad, Abang saaayang banget sama Daddy”, ucap Dave sambil memeluk ayahnya.

Bersambung… 4 Bulan berlalu, kini usia kandungan Aulia sudah menginjak 7 bulan dan kemarin mereka baru saja mengadakan acara 7 bulanan.

“Mas, yang kerja di sini nanti anak nya bik Sumi”? Tanya Aulia.

“Iya sayang”.

Bik Sumi adalah ART di rumah mamanya, yang ingin bekerja di rumah Rama adalah anak bik Sumi yang bernama Intan, ia berusia 27 tahun, 2 tahun lebih tua dari Aulia.

“Dia umur berapa”? Tanya Aulia lagi.

“Ya mana mas tau sayang, emangnya mas orang sensus”.

“Kan bik Sumi udah lama kerja di rumah mama, masa mas gak tau umur anaknya”.

“Kenapa mas harus tau sayangku? Aneh aneh aja”.

“Kalo masih muda aku gak mau”, ucap Aulia.

“Kenapa? Takut kerjaan nya gak beres”? Tanya Rama.

“Takut kamu kepincut”, jawab Rama.

“Hahaha, ya enggak lah sayang, udah ah jangan aneh aneh pikirannya, gak baik buat adek”, balas Rama.

Tiba tiba terdengar suara mobil yang memasuki pekarangan rumah mereka lalu ada yang mengucapkan salam.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”, sahut Rama dan Aulia.

Rama berjalan menuju pintu lalu membukanya.

Ceklek

“Eh pak Maman, masuk pak”, ajak Rama.

“Gak usah den, saya kesini mau nganterin anaknya nya bik Sumi yang mau kerja disini”, jawab pak Maman.

Rama memperhatikan perempuan di depan nya ini dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, lalu ia mempersilakan perempuan itu untuk masuk.

“Silakan masuk, pak Maman juga masuk dulu lah, ngopi dulu kita”, ucap Rama.

“Gak usah den, saya juga mau nganterin ibuk arisan, kalau gitu saya permisi dulu ya den”, jawab pak Maman.

“Yaudah hati hati ya pak”.

“Baik den”.

Setelah pak Maman pergi, Rama mengajak anak bik Sumi untuk masuk dan memperkenalkan dirinya kepada sang istri.

“Sayang, ini anak nya bik Sumi yang mau kerja disini”, ucap Rama.

“Selamat siang non, nama saya indah”, ucap indah yang memperkenalkan dirinya pada Aulia.

“Iya, saya Aulia.. Hmm umur kamu berapa”? Tanya Aulia.

“Saya 27 tahun non”, jawab indah.

“Ohh, oke”.

“Yaudah mas tunjukin kamarnya dulu ya”, ucap Rama.

“Hum”.

Rama berjalan membawa indah menuju kamarnya.

“Ini kamar kamu”, ucap Rama ketika sudah sampai di depan kamar ART nya.

“Iya, makasih bang”, jawab indah.

“Hm? Bang”? Tanya Rama.

“Abang gak ingat sama aku? Waktu kecil aku sering ke rumah ibuk Ratna sama ibuk”, ucap indah.

“Entah, saya lupa”, jawab Rama.

“Oh iya, tolong jangan panggil saya Abang di depan istri saya, saya harap kamu juga tau disini kamu sedang bekerja”, sambung Rama lalu pergi meninggalkan indah.

Rama berjalan kembali menuju ke ruang tv dimana istrinya berada, ia berjalan mengendap dan langsung memeluk istrinya dari belakang.

“Ihh, ngagetin tau”, ucap Aulia sambil memukul pelan tangan suaminya yang melingkar di lehernya.

“Kok lama”? Tanya Aulia.

“Lama apanya”?

“Nganterin nyaa, orang kamar nya Deket kok”, ucap Aulia.

Rama tak menjawab, tangan nakalnya mulai meraba dan masuk ke dalam daster istrinya dari atas, Rama meremas kecil susu Aulia yang sudah beberapa hari ini tak ia jamah.

Aulia memiringkan kepalanya menghadap wajah Rama bertumpu pada bahunya, ia melihat suaminya sedang memejamkan mata dengan tangan memelintir puting susunya.

“Mm.. Maaf pak”, ucap indah yang tiba tiba ada di belakang Rama.

Rama dengan keadaan kaget langsung melepaskan tangannya dari susu Aulia lalu menghadap ke belakang melihat indah.

“Ada apa”? Tanya Rama.

“Mm.. di kulkas gak ada apa apa”, jawab indah.

“Terus”?

“Saya udah baca apa aja yang harus saya kerjain di kertas yang ada di kamar tadi, jam 11 sudah harus ada makanan untuk den Dave, tapi saya gak tau harus masak apa karna di kulkas kosong pak, gak ada apa apa”, jawab indah.

“Bentar lagi pak Muklis pulang, kamu nanti langsung belanja sama Muklis”.

“Baik pak, kalau begitu saya permisi”.

Rama berbalik lagi menghadap istrinya dan langsung berbaring di paha Aulia.

“Mck, ganggu aja”, gerutu Rama.

“Mas”.

“Iya sayang”.

“Bik Sumi aja deh yang disini, biar anaknya yang di rumah mama”, ucap Aulia.

“Loh, kenapa cinta”?

“Mas gak liat pakaiannya”.

“Pake daster tadi mas liat”, jawab Rama.

“Iya daster, tapi tete nya itu looh, nyembul banget”. Ucap Aulia.

“Yaudah nanti kamu tegur aja dia, kasih tau kalau pake baju itu yang bener”, balas Rama.

“Pokoknya aku mau bik Sumi aja mas, kalau gak, gantiin pak Muklis sama supir yang lebih muda dari aku”, ujar Aulia.

“Hahaha mana bisa gitu sayang”.

“Bisa lah”.

“Assalamualaikum mommy”, ucap Dave.

“Waalaikumsalam”, sahut Rama dan Aulia.

“Loh Daddy gak kerja”? Tanya Dave.

“Enggak sayang, libur”, jawab Rama.

“Pak mu mana”?

“Ada di pos dad sama om Roy”, Jawab Dave.

“Tolong panggilin dong nak”.

“Oke dad”.

Tak sampai 2 menit pak muklis masuk ke dalam rumah.

“Ada apa pak”? Tanya pak Muklis.

“Tolong anterin indah belanja bahan dapur ya pak”, ucap Rama.

“Maaf pak, indah siapa ya”? Tanya pak Muklis.

“ART baru disini”.

“Oh iya pak, kalau begitu saya tunggu di mobil ya pak”.

“Hm”.

Setelah pak Muklis keluar, kini giliran Aulia yang menyuruh anaknya memanggil ART nya yang berada di dapur.

“Bang, tolong panggilin mbak indah nya sayang, bilang mommy panggil”.

“Oke mom”.

Dave berjalan lagi ke arah dapur untuk memanggil ART baru di rumahnya.

“Mm.. mbak indah”? Tanya Dave.

“Den Dave”?

“Iya mbak, itu.. mbak di panggil sama mommy”, ucap Dave.

“Ohh, iya den”.

Dave berjalan beriringan dengan Dave menuju ruang tv.

“Maaf non, ada apa”? Tanya indah.

“Pak Muklis udah pulang, kamu bisa belanja sekarang, bahan bahan yang harus di beli ada di buku yang di atas kulkas”, ucap Aulia dan memberikan uangnya.

“Iya non, kalau begitu saya permisi”.

“Iya”.

Setelah indah pergi, Dave langsung tiduran di paha ibunya.

“Heh, ganti dulu baju kamu, enak aja langsung tiduran di paha istri orang”, ucap Rama.

“Biarin dad, Abang capek”, Jawab Dave.

“Capek ngapain emang nya? Orang cuma belajar aja”, tanya Rama.

“Berantem”, ucap Dave yang keceplosan.

“Ha? Berantem sama siapa”? Tanya Aulia.

“Enggak mom, bercanda”, jawab Dave.

“Bangun”, suruh Aulia.

Dave bangun dari berbaringnya dan memandang wajah sang ibu.

“Abang berantem sama siapa”?

“Devano, anak nya om Hendra sama Tante senja”, Jawab Dave.

“Astagfirullah abaaaaaang, berapa kali sih nak mommy bilang, jangan berantem, masih kecil kamu ini”, ucap Aulia.

“Dia duluan loh yang mulai”.

“Mommy gak perduli siapa dulu yang mulai, kalau mommy denger besok Abang berantem lagi, mommy gak mau ngomong sama Abang lagi”, ancam Aulia.

“Iya iya Abang janji gak akan berantem lagi”, janji Dave.

“Yaudah sekarang ganti bajunya terus mandi, bau asem”, ucap aulia.

“Iya mommy”.

“Huu, anak mommy”, ejek Rama.

“Mooom, Daddy tuh”, adu Dave.

“Tuh kan, anak mommy, dikit dikit ngadu, Cemen banget” balas Rama.

“Udah deh ah, sekarang cepet pergi ke kamar Abang terus mandi”, lerai Aulia.

Rama menjulurkan lidahnya ketika Dave sudah di tangga dan menoleh ke bawah.

“Daddy jelek”.

“Hahaha”.

“Udah”, Aulia mencubit paha suaminya.

“Iya sayang iya, udah ini”.

***

Setelah makan malam, kini Rama dan istrinya langsung menuju ke lantai atas ke kamar mereka.

Sesampainya di kamar Aulia langsung tertidur karna sangat mengantuk, melihat istrinya yang sudah tidur Rama pun ke bawah untuk membuat kopi karna ia harus mengerjakan beberapa pekerjaannya untuk besok.

Rama mengambil gelas dan mengisi gelas itu dengan kopi dan gula, lalu menuangkan air panas ke dalam gelas, ketika tengah menuangkan air tiba tiba gelas tersebut retak dan pecah. Rama pun segera membereskan pecahan gelas itu.

“Ada apa pak”? Tanya indah yang muncul dengan baju tidur yang sexy.

Rama mendongak dan melihat ART nya yang sangat sexy, ia menelan kasar air ludahnya.

“Ahh, gpp kok, cuma pecah karna air panas”, jawab Rama.

“Saya bantu pak”, ucap indah.

Rama melihat dengan jelas bongkahan payudara indah ketika ia menunduk dan membantu Rama memungut pecahan gelas tersebut.

“Awhh”.

“Kenapa pak”? Tanya indah.

“Enggak, cuma luka sedikit kena kacanya”.

Indah langsung menarik tangan Rama dan menghisap jari Rama yang berdarah karna terkena pecahan kaca.

Darah Rama berdesih ketika ART nya itu menghisap jarinya.

“Udah indah, saya gpp”, ucap Rama yang ingin menarik jarinya keluar dari mulut indah, tapi langsung di tahan oleh indah.

Indah memainkan lidahnya di jari Rama yang berada di dalam mulutnya.

Setelah puas bermain dengan jari majikannya, indah melepas jari itu dan bertanya kepada Rama.

“Abang mau pegang”? Tanya indah.

“Ha”?

“Dari tadi Abang liatin susu aku terus”.

“Gak”.

Rama langsung bangun dan ingin pergi dari sana, namun indah tiba tiba memeluk nya dari belakang dan menggesek gesekkan susunya di punggung Rama.

“Abang gak inget waktu kecil kita sering main bareng sama Rafa juga, kita juga sering pegangan tangan”, ucap indah.

“Abang bilang aku cantik”, sambung indah.

“Abang tau, aku selalu bayangin abang sebelum aku tidur”.

Tangan indah meraba dan membelai tubuh atletis Rama, semakin lama tangannya semakin ke bawah dan berhenti tepat di area sensitif Rama.

“Berhenti indah”, ucap Rama.

“Gak mau, aku mau ini”, balas indah yang kini sudah mengelus rudal Rama dari luar celana boxer nya.

“Nggghhhh”.

Indah semakin menjadi, yang tadinya hanya mengelus, kini meremas dengan sensual batang yang sudah keras itu.

“Udah keras bang”, ucap indah di telinga Rama lalu menjilat telinga itu dan mengulumnya sebentar.

“Akhhh”, desah Rama.

“Aku bisa puasin Abang selagi istri Abang mengandung”.

“Mmhh stophh indahh”.

“Mulut Abang bilang stop tapi tubuh Abang mau”,ucap indah.

“Ngghh”.

“Aku mau kok jadi yang ke dua bang, jadi istri simpanan abang juga aku mau”,ucap indah.

Ketika ingin memasukkan tangannya ke dalam celana boxer Rama, Aulia dari tangga melempar kepala suaminya dengan boneka yang lumayan berat.

Brugh

Rama yang tadinya sudah sangat bernafsu, kini terkejut dengan perbuatannya dan kaget dengan kedatangan istrinya yang turun dari tangga dan sedang memegang perut buncitnya.

Aulia berjalan ke arah suaminya dan indah yang tengah menunduk.

Srek

“Awhhhh”.

Aulia menjambak rambut panjang indah dan mengapit kedua pipi itu dengan tangannya.

“Udah gue perhatiin dari siang tadi ya Lo, udah tau suami orang masih juga Lo godain”, ucap Aulia.

“Sa- sayang, udah ya lepasin, kasian anak orang”, ujar Rama.

“Kamu diem”.

Aulia menghempaskan kepala indah dan melepaskan tangannya dari pipi indah.

“Belum sehari kerja Lo udah bertingkah ya”.

“Sekarang beresin barang barang Lo dan pergi dari sini”, usir Aulia pada indah.

“Jangan usir saya non, bang tolongin saya”, ucap indah.

“Bang? Oh, hebat banget Lo berdua ya udah Abang abangan aja”, ujar Aulia.

“Kamu suruh dia pergi, atau aku yang pergi”, ucap Aulia pada Rama.

“Sayang”.

“Kenapa? Kamu gak rela dia pergi? Oke, aku yang pergi”.

“Oke”, balas Rama.

“Indah, sekarang kamu pergi dari rumah saya, saya akan tetap bayar kamu”, ucap Rama pada indah.

“Bayar karna udah naikin nafsu kamu”? Tanya Aulia.

“Sayang, udah ya cantik”.

“Kenapa masih di sini? Belum puas ngeremas batang laki gue”? Tanya aulia pada indah.

Indah terdiam seribu bahasa, ia kira istri tuannya ini adalah perempuan yang menye menye dan sedikit sedikit langsung menangis, ternyata dia salah.

Aulia berjalan ke depan rumah nya untuk memanggil Roy, satpam rumah mereka.

Rama mengejar Aulia, ia pikir istrinya akan pergi meninggalkannya.

“Sayang, jangan pergi ih, mau kemana kamu udah malam begini”? Tanya Rama uang sudah memegang tangan istrinya.

Aulia tak menghiraukan perkataan suaminya dan langsung berteriak.

“Rooooy”,teriak Aulia.

Roy yang tengah bermain catur dengan temannya pun terkejut karna mendengar istri majikannya berteriak memanggil namanya.

“Iya non, ada apa”? Tanya Roy.

“Kamu ambil mobil terus anterin perempuan itu ke rumah mama”, tunjuk aulia pada indah.

“Baik non”.

“Sayang, kok di anter ke rumah mama”? Tanya Rama.

“Terus mau di anter kemana? Ke hotel? Habis itu nanti kamu nyusul, gitu”?

“Enggak sayang, nanti gimana sama bik Sumi kalau tau indah kayak gitu”? Tanya Rama lagi.

“Ya tinggal jawab kalau anaknya sama anak mama Ratna sama sama gatel”, jawab Aulia.

Rama langsung terdiam dan tak ingin bertanya apa apa lagi, bisa bisa tambah panjang urusannya.

Kini indah sudah siap dengan barang barang nya, ia pergi tanpa berpamitan lagi kepada Rama dan Aulia karna malu. Setelah kepergian indah, Aulia langsung masuk kedalam rumah dan berjalan dengan menyumpah nyerapahi wanita yang belum sehari bekerja di rumahnya dengan di susul Rama dari belakang.

“Sayang, udah ya ngomelnya, adek mau istirahat di dalam sana”, ucap Rama.

Rama langsung membuka kan pintu kamar mereka setelah mereka sampai di lantai atas, ia menyusul istrinya yang sudah duduk di sofa kamar mereka.

“Kamu bener bener keterlaluan ya mas, kalau aku gak ngikutin kamu tadi apa jadinya ha? Kamu pasti udah tidur sama perempuan itu”, ujar Aulia.

“Mas cuma mau bikin kopi tadi sayang, beneran”.

“Terus kenapa diem aja waktu dia ngisepin jari kamu? Ke enakan kamu di isep gitu? Iya”?.

Rama memeluk istrinya yang terhalang oleh perut buncit dan meminta maaf.

“Maaf, mas khilaf”, ucap Rama.

“Gak ada khilaf khilaf, yang ada kamu nafsu”, jawab Aulia.

“Enggak sayang, mas gak nafsu”, rengek Rama.

“Dada kamu di elus, batang kamu di remes, apa iya kamu gak nafsu”?

Rama terdiam dan melepaskan pelukannya dari Aulia, ia menggenggam tangan istrinya dan mengecup punggung tangan kecil itu.

“Maaf sayang”.

“Aku gak ngerti lagi sama kamu mas”.

“Sayaaang, jangan gitu ih, mas minta maaf, maafin mas”, rengek Rama.

“Lebarin paha mas”.

“Ha”?

“Lebarin paha mas aku bilang”, ucap Aulia.

Rama melebarkan pahanya, tapi tidak terlalu lebar, Aulia langsung mengelus dengan lembut rudal suaminya, lama kelamaan elusan itu berubah menjadi remasan kasar.

“Awhhh, sayaaang, jangan gituu, sakit rudal mass”.

“Ini punya aku, siapa yang ngizinin orang lain mainin ha”? Tanya Aulia.

“Aakkhh, pelan sayang, sakit mommy”.

“Jawab”.

“Mmmhh, gak ada yang ngizinin, dia yang tiba tiba megang rudal mas.

Aulia semakin meremas rudal itu dengan kasar.

“Ukhhh.. Ampun sayang.. ampun mommy”.

“Sekali lagi kamu ketahuan sama aku kayak gini lagi sama perempuan lain, aku gak akan segan segan buat motong batang kamu”.

“Iya sayang iya, mas janji.. udah yaa sayang”.

Aulia melepaskan tangan nya dari batang rudal Rama, Rama pun langsung membuka boxer nya dan melihat ternyata rudalnya sangat merah karna remasan kasar istrinya.

“Hikss..hikss”.

Aulia menoleh ke arah suaminya yang menangis sambil mengelus rudalnya.

“Kenapa”? Tanya Aulia dengan lembut.

Kan Rama jadi merinding , padahal tadi istrinya itu sangat murka dan sekarang berubah 180° menjadi sangat lembut.

“Sakit, perih”, jawab Rama sambil mengelus rudalnya.

“Mau lagi”?

Rama menggeleng ribut dan menutup rudalnya dengan kedua telapak tangannya.

“Ke kasur sekarang” ucap Aulia dan berjalan menuju kasur.

Rama pun bangun dan menyusul istrinya, ia melihat istrinya membuka daster nya lalu berbaring di kasur.

“Sini”, Aulia menyuruh suaminya berbaring di depannya yang sedang berbaring miring.

“Buka mulutnya”.

Rama menuruti semua perkataan istrinya dan membuka mulutnya lalu langsung di sumpal Aulia dengan susunya.

“Tidur”, ucap Aulia sambil mengelus rambut hitam suaminya.

“Pewrih mom”, ucap Rama yang seperti anak bayi.

Aulia menyingkirkan tangan Rama yang berada di area rudalnya dan menggantikan dengan tangannya, di elus nya rudal itu dengan lembut dan sedikit memainkan ujungnya dengan jari jempolnya.

“Lain kali ulangi lagi ya”.

“Ndak mom, Ndak mau”, ucap Rama.

Aulia merasakan rudal suaminya yang bangun dan semakin keras, ia urut lagi sehingga rudal itu melesak ingin masuk ke dalam serambi lempit nya.

“Sayang”, panggil Rama.

“Hum”.

“Mau menyetubuhi”.

“Pelan ya”.

“Iyah”.

Rama Bagun dan langsung membuka baju serta celananya, ia juga melepaskan celana dalam istrinya. Rama melebarkan kaki istrinya dan menggesek gesekkan kepala rudalnya di bibir serambi lempit Aulia.

“Mmhhh, adeek, bentar lagi Daddy jenguk yaa”.

“Masukin mas, jangan di gesek terus”.

“Mommy udah gak sabar”?

“Masukin mashh”.

Jleb

Dengan sekali sodokan rudal Rama lolos ke dalam serambi lempit Aulia. Rama menggenjot dengan pelan dan mengelus perut Aulia.

“Aakhh..aakkhh..aakhh.. kita ketemu lagi dekhh.. ssshh adek lagi ngapainhh”.

“Mmmhh agak kenceng mashh”.

“Liat mommy kamu dekhh.. gak mau pelan, maunya yang kencenghh.. anteng anteng ya di sana sayanghh.. Daddy entotin mommy duluh”.

Rama menambah sedikit kecepatan genjotannya di serambi lempit Aulia dan menyuruh istrinya meremas susunya sendiri.

“Aakhh..aakkhh..akakhh kayak gini sayanghhh.. iya mom.. mmhh remas tete nya sayanghh..aaakhh..aakkhh..aakhh”.

“Aakhh iya mashh..kayak gitu mashh.. ukkhh terusin mashh..tumbuk terushh serambi lempit aku sayanghhh”.

“Aakhh..aaakhh iya sayanghh..Mash rudalin kamu..Mash sodok serambi lempit berbulu kamuh sayanghh..aakkhh nikmat nyaa”.

“Mmmhhh mashh jangan berhenti sayanghh.. adek seneng rudal Daddy ada didalam sini..Oukhhh daddyhhh”.

“Nngghh sayanghh..jangan di jepit rudal mashh cintaa.. aakkhh serambi lempith nakalhh..serambi lempit serett”.

“Mau keluarh mashhh..akhh..akhh..mau keluarhh..gak tahanhh..aaaaaaakkhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Rama beralih posisi menjadi ia di belakang Aulia dan menusuk serambi lempit istrinya dari belakang.

“Mmmhhh, mas suka banget sama posisi ini sayanghhh, tangan mas bisa ngeremes tete gede kamuhh, nyium kamu, ngisep leher kamu..aakkhh”.

“Ngghhh aku juga suka mashh..serambi lempit aku lebih suka..ukhhhh”.

Rama menggenjot dengan kecepatan sedang, tangannya meremas dan memelintir puting istrinya dan mulutnya mengulum daun telinga istrinya.

“Ngaaahhh.. enakhh mashhhh.. enakh bangeth sayanghh”.

“Aakhh..aakhh..aakhh.. jembut kamu buat rudal Mash geli sayanghhh.. tapi enakhh Mash suka auliahhh”.

“Mashhh.. Mash sayanghh..aakkhh..aakkhh..aakkhh iya Mash di situ mashh..teruss tumbuk di situh sayangghh..aakkhh”.

Rama menghentak hentakkan pinggulnya semakin kuat.

“Aakhh..aakh..aakkhh disini sayanghh..iya sayanghh..iya mommy..aakkhh..aakkhh rasain rudal mashh sayanghh..mas entot kamu sampe pingsan”.

“Aakkhh..iya mashh..akhh..akkhh..aakkhh ampunhh mashh..ampun sayanghh..aku mau keluarh lagihh..ngghhh”.

“Mas juga mau keluarhhh..akkhh..aakkhh..aakkhh”.

“Aakkhh..aakkhh gak tahanhh mashh..gak tahan..aaakkhhhhh”.

“Mash keluarh sayanghh..keluarhh..aaakkkhhh”.

Rama mencabut rudalnya dan menyemprotkan sperma nya di pantat istrinya.

CROT

CROT

CROT

“Akkhh”.

“Aakkhh”.

“Aaakkhh”.

“Ngghhh enak banget sayanghhh”, ucap Rama yang kini telah berbaring di samping istrinya.

Bersambung… Mama Ratna langsung datang ke rumah Rama setelah mendengar semua pengakuan dari mulut indah, ia langsung memulangkan indah ke kampung halamannya tanpa rasa segan kepada bik Sumi.

Bik Sumi pun sungguh malu dengan perbuatan anak perempuan nya itu, bisa bisanya dia menggoda majikannya sendiri, apa lagi ia bekerja belum sampai satu hari.

Kini mama Ratna menyuruh bik Sumi yang bekerja di rumah Rama, ia akan mencari ART yang lain saja.

“Assalamualaikum”, ucap mama Ratna.

“Waalaikumsalam”, sahut Aulia.

“Eh mama, masuk ma”, ucap Aulia dengan mencium punggung tangan mertuanya.

“Kamu baik baik aja nak”? Tanya mama Ratna.

“Lia baik kok ma”, jawab Aulia.

“Nanti malam bik Sumi yang akan kerja disini bantu bantu kamu”, ucap mama Ratna.

“Padahal mah gak usah ma, Lia masih bisa sendiri kok beres beres rumah”, jawab Aulia.

“Kandungan kamu sudah besar Lia, mama gak mau kamu kecapekan ngurusin rumah sebesar ini”, ujar mama Ratna.

“Iya ma, Lia terserah mama sama mas Rama aja”, balas Aulia.

“Rama belum pulang”? Tanya mama Ratna.

“Belum ma, bentar lagi pulang kok”, Jawab Aulia.

“Cucu ganteng mama”?

“Main bola ma di kampung sebelah”.

Mama Ratna menganggukkan kepalanya Dan belum mau membahas tentang kejadian semalam.

Jam sudah menunjukkan pukul 4:30 sore, kini Rama sudah berada di rumahnya. Baru masuk ke dalam rumah nya, ia langsung di pukul oleh mamanya menggunakan tasnya.

BUGH

BUGH

BUGH

“Dasar anak kurang ajar”.

“Aduh.. apa apaan sih ma, sakit badan Abang”, ucap Rama.

Mama Ratna menyeret anaknya ke arah dapur.

“Kenapa sih maaa”? Tanya Rama.

“Sakit kamu bilang? Terus kamu nanya kenapa”?

“Iya sakit lah, terus kenapa mama pukul Abang”? Tanya Rama lagi.

“Ngotak sedikit bang kalau mau ngelakuin sesuatu, pikir dulu nak”, ucap mama Ratna.

“Abang gak ngerti apa yang mama bicarain”, balas Rama.

“Intan”.

Hanya satu nama yang di sebut oleh mamanya, Rama langsung tau kenapa dirinya di pukul dan di marahi sang mama.

“Udah inget? Udah tau kesalahan kamu”? Tanya mama Ratna.

“Abang khilaf ma”, jawab Rama.

“Inget bang, mama ini perempuan, adik kamu juga ada yang perempuan, gimana besok kalau adik kamu di perlakukan seperti Aulia”? Tanya mama Ratna.

“Maaf ma, Abang bener bener khilaf”, ucap Rama.

“Coba kamu lihat baik baik istri kamu, pernah dia nuntut apa apa dari Kamu? Pernah dia minta barang barang branded kayak perempuan lain? Tanya mama Ratna lagi.

“Cukup nak, cukup sekali Abang selingkuh walaupun dulu Abang gak cinta sama istri Abang, sekarang Aulia udah jadi istri yang Abang cintai, jadi jangan pernah berbuat hal yang sama lagi bang, mama mohooon banget sama kamu bang”, sambung mama Ratna.

“Iya ma, Abang janji gak akan ngulangin hal yang sama, Abang gak ada niat buat duain istri Abang”, balas Rama.

“Dia gak punya siapa siapa lagi selain kamu bang, selain mama dan adik adik kamu, kalau kamu kayak dulu dia mau kemana lagi? Mau ngadu ke siapa”?

“Udah ma, Abang bener bener nyesal, Abang gak akan nyakitin Lia lagi”, ucap Rama sambil menangis.

“Sekarang kamu bener bener minta maaf sama Lia, dia itu cuma pura pura tegar dan menganggap semuanya bisa dia atasi sendiri, aslinya dia rapuh bang”, ucap mama Ratna.

Rama mengangguk dan terduduk di lantai dapur, ia menangis dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Setelah menceramahi anaknya, mama Ratna berjalan ke arah mantunya untuk berpamitan pulang.

“Mama pulang dulu ya sayang”, ucap mama Ratna sambil mengelus kepala mantunya.

“Loh, kok pulang ma”? Tanya Aulia.

“Nanti kalau princess Oma udah lahir, Oma nya baru nginep disini”, ucap mama Ratna.

“Janji ya ma nginep disini”, ujar Aulia.

“Janji sayang, yaudah kalau gitu mama pulang dulu ya”, pamit mama Ratna.

“Iya ma, hati hati”.

Mama Ratna berjalan menuju pintu lalu keluar dan masuk ke dalam mobil.

Setelah mama nya pulang, Rama bangun dari duduknya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang sembab akibat menangis.

Dirasa sudah agak tenang dan wajahnya terasa segar walaupun terlihat habis menangis, kini Rama berjalan menuju sofa di mana istrinya sedang duduk dan memainkan ponsel.

“Sayang”, panggil Rama.

Aulia mendongak melihat wajah suaminya, ia terkejut melihat mata Rama yang bengkak dengan hidung yang memerah, ia reflek berdiri dan menyentuh wajah suaminya.

“Mas kenapa”? Tanya Aulia.

“Hm? Gpp kok”, jawab Rama yang menahan tangis.

Aulia melihat mata suaminya yang sudah berair dan rahang yang mengeras untuk menahan tangis.

“Kenapa”? Tanya Aulia lagi dengan lembut.

Kini, pecah sudah tangis Rama. Ia memeluk tubuh istrinya dan menangis sejadi jadinya di bahu aulia. Aulia mencoba menenangkan suaminya dengan mengusap usap punggung Kokoh itu.

Puas menangis, Rama melepaskan pelukannya dan bersujud di kaki istrinya untuk meminta maaf. Ia berjanji jika perbuatan nya yang kemarin itu adalah kesalahan terakhirnya, ia tak akan mengulangi perbuatan yang akan membuat Aulia sakit lagi.

“Mas, bangun ih”.

“Maafin mas sayang, mas bener bener minta maaf”, ucap Rama.

“Aku udah maafin mas, udah ya bangun sekarang mas”, balas Aulia.

Rama bangun dan memeluk istrinya lagi.

“Assalamualaikum”, ucap Dave yang baru pulang bermain bola.

“Waalaikumsalam”, sahut Aulia.

“Daddy, ngapain peluk peluk mommy”? Tanya Dave yang masih berada di depan pintu rumah mereka.

Rama yang malu jika anak nya melihat ia menangis, ia pun langsung berlari ke lantai atas untuk masuk ke dalam kamar nya dan Aulia.

“Loh, Daddy”, panggil Dave.

“Udah, sekarang mandi, Abang gak liat udah jam berapa? Bentar lagi mau magrib, main inget waktu dong bang”, omel Aulia.

“Iya mommy, maaf.. ini Abang mau mandi”, balas Dave yang sudah berjalan menuju ke lantai atas.

“Tapi mom”.

“Apa”?

“Boleh gak Abang cium perut mommy dulu? Habis itu baru Abang mandi”, tanya Dave.

“Big no, Abang bau asem terus kotor, banyak kuman, masa mau kasih adek nya kuman”, jawab Aulia.

“Yaudah deh Abang mandi dulu”, Dave melanjutkan tujuan nya ke lantai atas.

Aulia menggelengkan kepala nya melihat tingkah laku suami dan anaknya itu.

*** Setelah selesai dengan makan malam, mereka bertiga sekarang berada di dalam kamar Dave.

“Abang”, panggil Aulia.

“Iya mom”.

“Kalau mommy gak ada, Abang sedih gak”? Tanya Aulia.

“Kamu apa apaan sih nanya kayak gitu”, marah Rama.

“Cuma nanya aja mas”, ucap Aulia.

“Gak penting banget pertanyaan kayak gitu”, ujar Rama yang langsung bangun dari berbaring dan pergi meninggalkan istri dan anaknya dengan membanting pintu.

“Mommy mau pergi nya”, tanya Dave.

“Enggak sayang, mommy nanya aja kok”, jawab Aulia.

“Abang sedih kalo mommy gak ada, Abang gak mau makan, gak mau sekolah dan gak mau ngapa ngapain”, jawab Dave dengan polos.

“Iya sayang, mommy gak akan ke mana mana, mommy akan selalu sama Daddy, sama Abang terus sama adek”, balas Aulia.

“Janji ya mom, mommy sama Daddy gak boleh ninggalin Abang dan adek”, ucap Dave.

“Janji sayang”, janji Aulia sambil memeluk anaknya.

“Yaudah, sekarang Abang bobok ya, besok mau sekolah”, ucap Aulia.

“Oke mommy, good night mom”.

“Good night too Abang”, balas Aulia dan mengecup kening anaknya.

Setelah melihat anak nya tertidur, Aulia mematikan lampu kamar dave dan menghidupkan lampu tidur lalu keluar dari kamar anaknya untuk mencari suaminya.

Aulia masuk ke dalam kamar nya, tapi suaminya tak berada disana, ia pergi ke arah balkon, membuka pintu balkon tapi suaminya juga tak berada disana.

Ia keluar dari kamar dan berjalan dengan pelan menuju ke lantai bawah, Aulia pergi ke depan untuk bertanya kepada Roy apakah suaminya ada keluar atau tidak. Roy pun menjawab jika majikannya itu tidak ada keluar.

Aulia kembali masuk kedalam rumahnya dan mencari Rama di halaman belakang, benar saja, suaminya berada di sana tengah duduk di kursi rotan dengan pandangan memandang langit yang penuh bintang.

Aulia berjalan ke arah suaminya dan langsung duduk di samping suaminya ketika ia telah sampai disana.

“Aku cariin kemana mana, ternyata disini”, ucap Aulia dengan mengelus perutnya dan mengatur nafasnya.

“Ngapain nyariin”?

Aulia menoleh ke arah suaminya ketika suaminya bertanya seperti itu.

“Kamu kenapa mas”? Tanya Aulia.

“Mas yang harusnya nanya, kenapa kamu nanya kayak gitu sama Abang”?

“Ya aku cuma nanya, gak ada maksud apa apa”.

“Kamu mau ninggalin mas sama Abang? Iya”? Tanya Rama.

“Ya ampun maaas mas, jauh banget pikiran kamu”, balas Aulia.

“Gimana gak jauh, kamu tiba tiba nanya pertanyaan yang gak berfaedah sama anak kamu”, ucap Rama.

“Mas tau mas salah, tapi jangan kayak gini”.

Lagi lagi Rama menangis, ia tak mampu dan tak sanggup untuk menahan air matanya.

“Mas memang brengsek, mas bajingan, tapi mas bener bener sayang sama kamu, mas cinta sama kamu, jangan pernah tinggalin mas sayang, mas gak sanggup”, ucap Rama dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.

Aulia mengusap air mata suaminya dan meraih tangan suaminya.

“Mas, dengerin aku sini”, ucap Aulia.

“Siapa yang mau pergi ninggalin mas? Aku gak akan kemana mana mas, mas rumah aku”, sambung Aulia.

“Hiks..hikss”.

“Mas, mas gak sanggup hidup tanpa kamu sayang, jangan pernah berfikir untuk ninggalin mas ya, mas akan ngelakuin apa pun untuk kamu tetap berada di hidup mas”, ucap Rama.

“Iya sayang, aku gak akan kemana mana, udah ya.. Nanti hilang gantengnya”, ujar Aulia.

Rama langsung memeluk istrinya yang terhalang perut buncitnya.

Tiba tiba Aulia mengaduh kesakitan pada perutnya.

“Aduhh”.

“Kenapa sayang”?

“Perut aku sakit banget mas”.

Rama menggendong istrinya ke luar rumah dan langsung menyuruh pak Muklis untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit.

Di dalam perjalanan Aulia tak henti henti nya meringis kesakitan.

“Aduuhh, sakit banget mas, aku gak tahan”.

“Sabar ya sayang, bentar lagi kita sampe”.

“Gak tahan mas, sakit”.

Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di rumah sakit, Rama langsung membawa Aulia masuk ke dalam ruang UGD dan membaringkannya disana.

Rama meminta agar dokter langsung memeriksa istrinya, dokter pun dengan cekatan langsung memeriksa Aulia.

Setelah memeriksa Aulia, dokter langsung menyarankan agar Aulia segera dilakukan tindakan operasi malam ini juga, karna air ketubannya sudah mengering.

“Lakukan apa saja untuk menyelamatkan istri dan anak saya dok”, ucap Rama.

Saat itu juga Aulia langsung di bawa ke dalam ruang operasi dan rama hanya bisa menunggu dengan cemas di depan ruang operasi sehingga lupa untuk menghubungi orang tua nya.

25 menit kemudian dokter keluar dengan senyum yang terbit di bibirnya.

“Selamat ya pak, istri bapak baik baik saja dan anak bapak lahir dengan selamat tanpa kurang satu apapun, tapi anak bapak harus berada di dalam inkubator selama sebulan karna ia lahir prematur”, ucap dokter wanita yang menangani Aulia.

“Alhamdulillah, lakukan apa saja dok untuk anak saya”, ujar Rama.

“Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien kamu dan sebentar lagi istri bapak akan di pindahkan ke ruang VIP sesuai permintaan bapak.

“Baik dok”.

“Kalau begitu saya permisi”.

“Iya dok”.

Tak..Tak..Tak..

Suara bermacam sendal lewat di telinga Rama, ia menoleh ke arah Suara yang semakin mendekat itu, ternyata itu adalah mama serta adik adiknya.

BUGH

Rama lagi lagi terkena pukulan tas mahal sang mama.

“Aduuh, sakit maaa, doyan banget mukul anaknya”, ucap Rama.

“Kamu ini kebangetan ya bang”.

“Apa lagi mama? Abang salah apa lagi”? Tanya Rama.

“Buang hp mahal kamu itu, gak perlu kamu pake pake hp”, omel mama Ratna.

“Kenapa ih”.

Mama Ratna dengan gemas menoyor kepala anak sulung nya ini.

“Kenapa kamu gak nelfon mama kalau Lia ngelahirin”? Tanya mama Ratna.

“Astagfirullah, iya ma, Abang lupa.. mama kesini siapa yang ngasih tau”?

Mama Ratna memejamkan matanya sejenak dan menghirup dalam dalam oksigen lalu membuangnya secara perlahan.

“Kamu ini bener bener ya”.

Mama Ratna tak mau menanyakan apa apa lagi pada anaknya ini, takut takut kesabarannya habis.

Rafa dan Ranti saling beradu pandang.

“Bukan abang gue”, ucap Rafa pada Ranti.

“Haha apa lagi aku, aku gak punya abang kayak kalian”, balas Ranti.

“Diem”, ucap mama Ratna.

Setelah menunggu 20 menit, kini Aulia dipindahkan dari ruangan operasi dan menuju keruangan VIP.

Sampai di ruangan VIP , mama Ratna dan adik adiknya bertanya keberadaan bayinya.

“Loh bang, cucu mama mama”? Tanya mama Ratna.

“Iya bang, ponakan gue mana”? Tanya Rafa.

“Di ruang NICU ma, anak Abang belum cukup bulan dan harus berada di dalam inkubator selama satu bulan”, Jawab Rama.

“Abang liat anak abang dulu, Abang mau adzanin”, sambung Rama.

Rama berjalan ke ruang NICU untuk mengazankan putri nya, sedangkan di ruangan Aulia mama Ratna sibuk mengomel.

“Ini kalau lahir 7 bulan biasanya ibunya itu mengalami stres berat, banyak pikiran, si Rama ini loh ya ampuun, gak tau lagi mama mau ngomong apa sama anak itu”, omel mama Ratna.

“Ma, orangnya gak ada, capek capekin mulut aja ngomelin dia”, ucap Rafa.

“Tau ni mama, mending mama duduk”, timpal Ranti.

Pasca operasi, kini Aulia baru sadar dari biusnya.

“Mmhh”.

“Lia, sayang, mantu mama, ada yang sakit nak”? Tanya mama Ratna.

“Haus ma”, ucap Aulia.

Mama Ratna membasahi bibir menantunya dengan air putih.

“Tunggu satu jam lagi ya sayang, baru boleh minum”.

“Hum”.

“Anak Lia mana ma”? Tanya Aulia.

“Anak kamu di NICU sayang, di dalam inkubator, tapi gak apa apa kok, sehat cucu mama”, ucap mama Ratna menenangkan Aulia.

Ceklek.

Rama Sudah kembali dan menghampiri istrinya.

“Gimana? Ada yang sakit”? Tanya Rama.

Aulia menggelengkan kepala nya.

“Habis dari mana”? Tanya Aulia.

“Azanin adek”.

“Pengen liat adek mas”, ucap Aulia seperti ingin menangis.

“Nanti ya sayang”, Jawab Rama.

“Iya”.

“Eh, ngomong ngomong siapa nih nama ponakan aku”? Tanya Rafa.

“Daelyn Leah Purnomo”

“Buseeet, keseleo gak tuh ma nyebutin nama anaknya”, ucap Rafa pada mamanya.

“Hahaha bang Rafa ih, bagus kok itu, paling nanti mama manggilnya Ndok”, ucap Ranti.

Aulia tersenyum melihat candaan dari adik iparnya itu.

“Ngomong ngomong juga, Dave sama siapa dirumah”? Tanya Rafa lagi.

Rama menepuk jidatnya dan menjauh dari mamanya, bisa bisa dia di pukul lagi.

“Lo pulang ke rumah gue gih, Dave sendirian”, ucap Rama pada Rafa.

“Astagfirullah abaaang, kok kamu teledor banget sih jadi orang tua”, ujar mama Ratna.

“Udah udah, biar Rafa ke rumah Abang sekarang ma”, ucap Rafa.

“Yaudah, hati hati jangan ngebut”, balas mama Ratna.

2 jam telah berlalu pasca operasi Caesar, kini Aulia sudah boleh makan dan minum.

“Sayang mau buah”? Tanya mama Ratna.

“Enggak deh ma, mama gak pulang aja? Kasian kalau mama tidur di rumah sakit”.

“Gpp sayang, mama mah tidur dimana aja hayuk”, Jawab mama Ratna.

“Kalau pulang juga mau pake apa udah malem begini, pak Muklis udah mas suruh pulang”, ucap Rama.

“Udah ah gak usah mikirin mama, sekarang kamu istirahat ya”, ujar mama Ratna.

“Iya ma, mama juga istirahat”.

Mama Ratna menganggukkan kepala nya dan berjalan menuju sofa yang berada di dalam ruangan itu, ia merebahkan badannya dan memejamkan matanya mencoba untuk tidur.

“Mas juga istirahat”, ucap Aulia pada suaminya.

“Iya sayang, nanti kalau udah ngantuk mas tidur kok”.

“Mau tidur di samping aku”? Tanya Aulia.

“No, mas gampang sayang, disini juga nanti mas bisa tidur”.

“Yaudah, aku tidur ya, mas juga langsung tidur kalo udah ngantuk”.

“Iya istriku”.

Aulia memejamkan matanya dan tertidur menuju alam mimpi, Rama yang melihat istrinya sudah terlelap pun akhirnya lama kelamaan ia juga ikut tertidur.

***

2 hari kemudian, Aulia Sudah di izinkan untuk pulang ke rumah tapi tidak dengan baby Elyn, Ia harus sebulan penuh di dalam inkubator.

Aulia harus bolak balik dari rumah ke rumah sakit untuk memberikan anaknya ASI, agar anaknya mendapat nutrisi yang seimbang.

Sekarang sudah hari ke 15 adiknya Dave berada di NICU, Aulia berharap anak nya semakin sehat dan segera bisa pulang ke rumah dan berkumpul bersama ayah ibu serta Abang nya.

“Mom, kasian adek di dalam tempat itu”, ucap Dave yang melihat adiknya di dalam inkubator.

“Adek di sana, biar adek cepat sehat sayang”, jawab Aulia.

“Semoga adek cepat sehat ya mom, Abang gak sabar pengen bawa adek pulang”.

“Aamiin, kita doain aja ya bang semoga adek sehat terus”.

“Iya mom”.

Setelah melihat putri kecilnya Aulia dan Dave pun mampir ke kantor ayahnya.

Sampai di kantor suaminya, Aulia yang memang tak pernah ke sana ia pun binggung mau ke arah mana. Akhirnya ia menelfon suaminya untuk menemuinya di bawah.

Hanya menunggu beberapa menit, suaminya pun datang menemui nya dan Dave di lantai bawah.

“Daddy”, Dave berlari menghampiri ayahnya.

“Jagoan Daddy”.

“Rama berjalan ke arah istrinya dengan menggendong Dave.

“Kok gak nanya ke resepsionis sayang”? Tanya Rama pada istrinya.

“Males ah mas, nanti kayak di tv tv, istri yang gak pernah ke kantor suaminya nanti malah di usir sama resepsionis yang belagu karna gak kenal sama istri atasannya”, jawab Aulia.

“Hahaha ada ada aja kamu ini, yaudah ayok ke ruangan mas”.

Mereka berjalan menuju ke ruangan Rama yang berada di lantai 15 dengan menggunakan lift.

Ting

Lift berhenti di lantai 15, dan mereka pun keluar lalu berjalan ke ruangan rama melewati meja sekretaris Rama.

Sampainya di dalam ruangan, Dave di turunkan ayahnya dan langsung menuju ke arah kulkas.

“Daddy, Abang boleh ambil minuman? Abang haus”, tanya Dave.

“Boleh sayang”, jawab Rama.

Rama menyusul istri nya yang sudah duduk di sofa.

“Daddy”, panggil Dave.

“Iya bang”.

“Kalo udah gede, Abang boleh gak kerja disini”? Tanya Dave yang sudah duduk di kursi kerajaan ayahnya.

“Kata Abang mau jadi polisi”, timpal Aulia.

“Mm, gak jadi deh mom”.

“Boleh gak dad Abang kerja disini”?tanya Dave lagi.

“Boleh, nanti kursi yang Abang duduk itu, jadi kursi milik abang”, jawab Rama.

“Waaah, beneran dad”?

“Bener sayang”.

“Makasih ya dad, Abang seeeneng banget”.

Rama hanya menganggukkan kepala nya dan kini beralih menatap wajah istrinya.

“Kenapa”? Tanya Aulia.

“Gpp, kalian habis jengukin adek”?

“Iya, gak sabar rasanya pengen bawa adek pulang”.

“Sabar sayang, biar adek disana bener bener sehat”.

“Iya mas”, balas Aulia sambil memeluk suaminya.

Bersambung… Setelah menunggu 1 bulan lama nya, kini baby Elyn sudah bisa pulang kerumah dan berkumpul bersama Ayah ibu serta abangnya. Kini Rama dan Aulia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah bersama putri mereka.

“Jemput Abang sekalian mas”?

“Gak usah deh, biar pak Muklis aja”.

“Nanti Abang ngambek, dia minta jemput semalam kalau kita pulang jemput adek”.

“Biar sama pak Muklis aja, kasian adek di bawa ke sana sini”.

“Yaudah”.

Kini terdengar suara tangisan yang sangat nyaring di dalam mobil.

“Oke..Oek”.

“Kenapa sayang? Adek mau nen? Iya?, Aulia bertanya kepada anaknya yang belum paham apa apa.

Aulia membuka kancing kemejanya lalu mengeluarkan payudaranya dari dalam bra dan memasukan puting nya ke dalam mulut anaknya.

“Sssshh, pelan sayang, haus banget ya”.

Rama memperhatikan mulut anaknya yang menghisap payudara sang istri.

“Kayak abangnya kalau lagi nen, kuat banget”, ucap Rama.

“Kayak Mas”, jawab Aulia.

“Hahaha, iya iya kayak mas”.

Setelah dirasa puas, Elyn sang anak berhenti menghisap susu ibunya dan tertidur kembali seperti tadi.

Kini mereka sudah tiba di pekarangan rumah dan langsung turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah.

“Welcome home “Daelyn Leah Purnomo” putri cantik Daddy”, ucap Rama.

“Terima kasih Daddy”, balas Aulia.

Mereka berjalan beriringan menuju ke lantai atas, tibanya disana mereka langsung masuk ke dalam kamar dan menidurkan putrinya di atas kasur.

Sekarang sudah jam 10:30 siang, waktunya Dave pulang sekolah. Terdengar suara ribut ribut di bawah yang ternyata Dave sedang menangis.

“Mas, Abang nangis itu, coba liat”.

“Hm”.

Rama berjalan turun ke bawah melihat kenapa anak sulungnya itu menangis.

“Kenapa”? Tanya Rama pada Dave.

“Mommy bohong, semalam kata mommy kalau jemput adek, pulang nya mau sekalian jemput Abang”.

“Tadi mommy memang mau jemput, tapi Daddy yang bilang gak usah, kasihan adek bayi nya kelamaan di jalan”.

“Daddy sama mommy jahat”, teriak Dave.

Dave berlari ke lantai atas menuju kamarnya dengan menangis, Aulia yang keluar dari kamarnya langsung menahan lengan anaknya yang kebetulan mereka berpapasan.

“Sayang, kenapa nak”? Tanya Aulia.

Dave menepis kasar tangan ibunya.

“Mommy pembohong, ingkar janji, Abang benci sama mommy”.

“Dave”, teriak Rama yang sudah berada di lantai atas juga.

“Berani kamu teriak teriak sama orang tua kamu, ha”.

“Sekarang minta maaf sama mommy kamu”, suruh Rama.

“Gak, Abang gak mau minta maaf sama orang pembohong”.

PLAK, tangan Rama menampar mulut anaknya, tidak kuat, tapi cukup membuat Dave terkejut.

“Mas”, pekik Aulia.

Aulia yang melihat anak nya yang sudah ingin menangis, ia berniat menghampirinya, namun suara suaminya menghentikan langkahnya.

“Diam di tempat kamu atau Dave mas kurung di gudang”, ucap Rama pada istrinya.

“Sekarang kamu minta maaf sama mommy kamu”, suruh Rama pada Dave.

“Daddy jahat”.

“Minta maaf atau sekarang juga Daddy kurung kamu di gudang”?

Dave tak bergerak ditempatnya, ia masih diam berdiri dengan tangan mengepal. Rama yang melihat itu langsung menghampiri anaknya dan menyodorkan pipi nya kepada Dave.

“Tonjok kalau mau nonjok Daddy”, ucap Rama menepuk nepuk pipinya.

“Mas, udah dong”, ujar Aulia yang sudah menangis.

“Tonjok”, teriak Rama.

“Siapa yang ngajarin kamu kayak gini ha? Ngomong gak sopan sama orang tua, teriak teriak di depan orang tua, udah hebat kamu? Gak semua permintaan kamu harus di turutin”, ucap Rama.

“Ta-tapi mommy semalam udah bilang sama Abang, ka-kalau pulang jemput adek, mommy terus jemput a-abang”, Jawab Dave yang sudah menangis tersedu sedu.

“Daddy yang bilang gak usah, terus kenapa kamu jadi gak sopan sama mommy? Ngomong ngomong benci sama mommy, kamu mau mommy pergi? Iya”?

Dave terdiam dan menundukkan kepala nya, ia mengelap air mata dan ingusnya.

“Minta maaf sekarang”.

Akhirnya Dave berjalan ke arah ibunya, dan langsung menangis di pelukan ibunya lalu mengucapkan kata maaf.

“Maafin Abang mommy, jangan marah sama Abang, jangan jadiin Abang batu kayak malin Kundang, jangan ya mom”.

Rama yang awalnya sangat marah kepada putra sulungnya itu, kini tersenyum dan menahan tawanya. Ia berlalu masuk ke dalam kamarnya untuk melepaskan tawanya.

Sedang Aulia hanya tersenyum mendengar semua perkataan anaknya dan mengelus dengan sayang kepala Dave.

“Mommy minta maaf juga ya sayang, maaf karna mommy udah ingkar janji sama Abang, maafin mommy udah bikin abang sedih”.

“Noo mom, mommy gak boleh minta maaf sama Abang, Abang aja yang minta maaf sama mommy, tapi jangan jadiin Abang batu mom”. Ucap Dave lagi.

“Iya sayang, mommy gak akan jadiin Abang batu”.

“Mulutnya sakit di tampar Daddy tadi”? Tanya Aulia.

“Enggak kok mom, Abang kan kuat”.

“Maafin Daddy ya sayang”.

Dave menganggukkan kepalanya dan tersenyum.

“Sekarang Abang mandi terus turun ke bawah makan, habis makan baru ke kamar mommy liat adek”.

“Oke mommy”.

Dave berlalu meninggalkan ibunya, dan Aulia berbalik masuk ke kamarnya. Ia melihat suaminya yang berbaring di samping putri mereka dengan memainkan jari sang putri.

Rama sudah mempersiapkan diri dan telinganya untuk menerima serangan dan Omelan dari istrinya.

Aulia mengamit tangan Rama dan mengigit tangan itu.

“Awhhh, kok digigit sayang”.

“Biar tangannya gak kebiasaan nampar anak aku”.

“Mas gak kuat kok nampar nya”.

“Mau kuat apa gak, jangan ringan tangannya mas. Dari Abang kecil sampe sekarang aku gak pernah sedikit pun main tangan”.

“Tapi Abang udah keterlaluan, gak sopan”.

“Aku tau, kita bisa ngomong baik baik sama Abang mas, dia masih kecil”.

“Justru masih kecil harus di ajarin”.

“Mas”.

“Iya iya sayang, ya ampun, salah terus”.

“Ke bawah sana, temenin Abang makan”.

“Iya istrikuuu”.

Rama bangun dari berbaringnya dan sedikit mengecup pipi putrinya lalu beralih mengecup bibir ibu dari anak anaknya.

Sampainya di bawah, ia tak menemukan anaknya disana. Ia dudum di meja makan dengan memainkan ponselnya sambil menunggu anaknya turun.

Rama menolehkan kepalanya ketika mendengar suara langkah turun dari tangga, Dave berjalan menuju meja makan yang sudah ada ayah nya disana.

Dave menarik kursi dan duduk dengan tenang tanpa berniat mengeluarkan suaranya, bik Sumi datang untuk menyiapkan makanan untuk kedua majikannya ini lalu setelah selesai bik Sumi kembali ke dapur.

Rama yang tadinya hanya ingin menemani Dave makan, kini ia juga ikut makan karna perutnya juga lapar.

Setelah selesai makan, Rama ingin beranjak dari duduknya namun tertahan oleh panggilan Dave pada nya.

“Daddy”, panggil Dave.

Rama hanya memasang wajah dingin dan menatap anaknya, jangan sampai Aulia melihatnya seperti ini terdapat Dave.

“Abang, Abang mau minta maaf sama Daddy”.

“Karna”? Tanya Rama.

“Karna Abang udah gak sopan sama Daddy dan mommy, Abang udah teriak teriak sama mommy, Abang minta maaf Daddy”.

“Sini”, Rama merentangkan kedua tangannya tanda ia menyuruh Dave memeluknya.

Dave berjalan ke arah ayah nya dan memeluk tubuh kekar sang ayah.

“Maafin Daddy juga ya bang, maaf Daddy tadi udah nampar Abang, sakit gak”?

“Gak apa apa dad, gak sakit kok”.

“Jagoan Daddy”, ucap Rama.

“Yaudah, sekarang ke kamar yuk, Abang belum ada liat adek dari tadi”, ajak Rama.

“Gendong dad”.

Rama berjongkok dan Dave mulai naik di punggung ayah nya, mereka berjalan ke arah kamar untuk bertemu Elyn.

Ceklek

Pintu terbuka dan terpampang sang ibu yang tengah menggantikan popok adiknya, Dave turun dari gendongan ayah dan menaiki kasur dengan senang.

“Adek Leah kenapa mom”? Tanya Dave.

“Hm? Leah?

“Iya, Abang lebih suka manggil adek dengan nama Leah dari pada Elyn”, jawab Dave.

“Terserah kamu aja lah bang”, ucap Rama.

“Adek pup, kebanyakan nen”, jawab Aulia.

Dave menutup hidungnya dan membuang wajahnya ke arah sang ayah, setelah ibunya selesai membersihkan adiknya Dave berbalik lagi dan langsung mencium pipi Elyn.

“Adek, kalau udah gede kita main sama Tania ya”, ucap Dave.

“Nanti kalau Abang udah kerja di kantor Daddy, Abang beliin kalian baaanyak banget mainan”, sambung Dave.

Bukannya menjawab, Elyn malah menangis karna Dave terus menerus memainkan pipinya.

“Loh, Kok nangis dek”? Tanya Dave.

“Abang bau katanya”, jawab Aulia.

“Hm? Enggak kok”, Dave mencium badannya.

“Tadi kan sebelum makan Abang udah mandi dek”, sambung Dave.

“Haha, adek mau nen Abang”, ucap Aulia.

“Tadi kata mommy adek pup karna kebanyakan nen, kok sekarang mau nen lagi”?

“Anak bayi memang seperti itu sayang”, jawab Aulia dan mengangkat putrinya untuk disusui nya.

Dave menggaruk pipinya yang tak gatal dengan wajah polos dan melihat ibunya menyusukan adik kecilnya.

“Abang”, panggil Aulia.

“Iya mom”.

“Tidur siang gih sama Daddy”, ucap Aulia dan menunjuk ke arah suaminya yang sudah tertidur.

“Tapi nanti jam 4 bangunin ya mom, Abang mau main bola”.

“Iya, nanti mommy bangunin”.

Dave merangkak ke arah ayahnya dan memeluk sang ayah lalu menyusul ayahnya ke alam mimpi.

***

Pukul 4 sore Aulia sudah memandikan Elyn, kini giliran ia membangunkan anak laki lakinya.

“Bang”, panggil Aulia dengan mengusap lengan anaknya.

Dengan sekali sentuhan Dave langsung bangun dari tidurnya, ia mengucek matanya lalu duduk dan termenung sejenak, itu lah kebiasaan anak Rama yang satu ini.

“Hey, udah ah bengong nya, katanya mau main bola”, ucap Aulia.

“Iya mommy”.

Dave turun dari kasurnya dan mengucapkan terima kasih kepada sang ibu lalu langsung berpamitan untuk pergi bermain bola. Sebelum ia pergi, ia terlebih dahulu mencuci wajah tampannya.

Kini Aulia beralih membangunkan suaminya, kalau yang ini agak berbeda dengan Dave. Paling susah untuk di bangunkan.

“Mas”, panggil Aulia dengan mengusap wajah suaminya yang mulai di tumbuhi bulu bulu halus di wajahnya.

“Sayang”, panggil Aulia lagi.

Aulia menghujani kecupan di seluruh wajah suaminya, terakhir ia mengecup bibir suaminya. Ketika ingin menjauhkan wajahnya dari wajah suaminya, tengkuk nya di tarik dan di tahan oleh Rama agar mereka kembali berciuman.

Rama mencium bibir istrinya dengan mata yang tertutup, ia kecapi bibir Aulia yang sudah sebulan penuh ini tak ia rasai. Rama mulai memainkan lidah nya untuk membelit lidah Aulia, ia sedot lidah itu dan ia kulum bibir tipis Aulia.

Setelah beberapa menit berciuman, Rama melepaskan tautan bibir nya pada bibir istrinya lalu mengusap dengan lembut bibir Aulia yang terlihat membengkak.

“Udah bersih”? Tanya Rama.

“Belum mas, masih 10 hari lagi”.

Rama menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.

“Kenapa”? Tanya Aulia.

“Pengen”.

“Ya sabar, tinggal 10 hari lagi”, ucap Aulia yang mengelus paha suaminya.

“Kamu ngomongnya sabar, tapi tangannya mancing mancing”, ujar Rama.

“Mancing apa sih mas”? Tanya Aulia yang tangannya semakin nakal.

Rama langsung menarik tangan istrinya dan meletakkan tangan itu di atas rudalnya.

“Di situ sayang kalau mau ngelus”, ucap Rama.

“Mau”? Tanya Aulia.

“Mau banget mommy”, jawab Rama.

“Mau apa”?

“Apa aja”, balas Rama

Aulia mulia mengelus elus rudal suaminya dari luar celana, ia melihat mata suaminya yang tertutup karena menikmati perlakuan dari dirinya.

“Nghh”.

“Enak Daddy”?

“Mmhh, iyaah, enak sayang”.

Kini Aulia mulai meremas rudal yang sudah bangun itu, ia buka celana suaminya serta celana dalam lalu meletakkan celana itu di lantai, kini Rama hanya memakai baju tanpa celana.

Aulia menggoyang goyangkan rudal yang panjang dan besar itu, kemudian ia mainkan ujung rudal suaminya dengan jari jempolnya lalu mulai mengurutnya lagi.

“Mmhh, sayanghhh”.

“Kenapa mas”? Tanya Aulia.

“Sshhh pengen”.

“Pengen apa sayang”? Tanya Aulia dengan tangan yang semakin cepat mengurut batang suaminya.

“menyetubuhi”

“Belum boleh”.

“Tapi rudal mas udah kangen serambi lempit tembam kamu sayang”.

“Iya sayang, nanti kita menyetubuhi kalau mommy udah bersih ya”.

“Aakhh..aakhh..aakhh”, suara desahan Rama ketika Aulia mengocok rudal nya.

“Enak mas rudal nya di kocok gini”?

“Nngghh, enak sayanghh, enakh bangethh, mas perkosa aja kamu yah”.

“No mas, sabar, ini kan lagi aku enakin juga”.

“Tapi pengen serambi lempithh yang jepithh, Aakhh”.

“Nanti kalau aku udah bersih, mas puas puasin lah entotin aku”.

“Aakhh sayanghh, Mash gak sabar pengen menyetubuhiin kamu, ngontolin serambi lempit tembem kamu, mashh mau menyetubuhiin kamu semalaman”.

“Iya sayang, iyaaa, nanti entotin aku sampe mas puas”, ucap Aulia yang semakin cepat mengocok rudal suaminya.

“Nngghh, mau keluarhh mommy, Daddy mau keluarhh, Aakhh..aakhh..aakhh.. Aaaaakkhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Aulia mengambil tisu untuk membersihkan sperma suaminya yang muncrat di baju dan tangannya, lalu Aulia membersihkan rudal suaminya yang terkena sperma nya sendiri.

Rama tertidur lagi setelah istrinya memuaskan rudalnya dengan tangan.

“Mas, jangan tidur, mandi lagi ya udah sore”, ucap Aulia dengan lembut.

Rama membuka matanya dan mengangguk, ia bangun dan berjalan dengan santai ke arah kamar mandi tanpa menggunakan celana.

Setelah 10 menit di kamar mandi, kini Rama keluar dengan wajah yang segar. Ia berjalan menuju lemari dan memilih pakaian tidur untuk ia gunakan.

“Kamu udah mandi”? Tanya Rama ada istrinya.

“Belum, tadi mandiin adek dulu”.

“Yaudah mandi lah, biar mas liatin adek”.

“Hm”.

Sekarang giliran Aulia yang masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya, berbeda dengan suaminya yang hanya memerlukan waktu 19 menit saja untuk mandi, kini sudah 30 menit istrinya itu belum kunjung keluar dari dalam sana.

“Sayang”, Rama mengetuk pintu kamar mandi.

“Iya”.

“Kok lama banget”?

Ceklek

Suara pintu kamar mandi terbuka dan istrinya keluar dari sana.

“Kenapa”? Tanya Aulia.

“Kenapa lama banget? Ngapain aja di dalam”?

“Ya mandi lah mas, ngapain lagi”, jawab Aulia yang berjalan ke arah lemari.

Belum sempat Aulia membuka pintu lemari, Elyn menangis dengan kencang karna haus. Dengan cepat Aulia membuka lemari pakaiannya dan memakai baju suaminya yang terlihat sangat longgar di tubuhnya.

Aulia langsung mengangkat Elyn dari kasur dan menggendongnya.

“Iya sayang, aduh mommy malah pake baju kaos pula”.

Dengan terpaksa Aulia mengangkat baju itu ke atas dan langsung memasukkan puting susu nya ke dalam mulut Elyn.

Ia duduk di pinggir ranjang dengan baju yang terangkat karna menyusui anaknya dan belum menggunakan celana dalam, suaminya dari tadi hanya memandang dengan minta serambi lempit istrinya yang terpampang di depan matanya.

“Matanya”, ucap Aulia.

“Kenapa? Mata mas ini”.

“Udah ih, ambilin celana dalam aku terus pake in”.

“Iya ibu ratu”.

Rama bangun dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil celana dalam istrinya.

“Lebarin kakinya”, suruh Rama.

Aulia melebarkan kakinya, baru sampai lutut celana dalam itu, Rama berhenti.

“Kenapa”?

“Pegang dikit ya”.

“Astaga mas, mesum banget sih, udah buruan”.

Rama memegang sebentar serambi lempit istrinya lalu memakai kan kembali celana dalamnya.

“Dah”.

“Mesum”, ucap Aulia.

“Habis ini gantian ya dek”, ucap Rama ada anaknya.

“Gak”.

“Dikit aja loh sayang, sekali sedot aja”, ucap Rama.

“Sekali sedot mas itu sama dengan satu jam”.

“Enggak loh, boleh ya”, bujuk Rama.

“His mas nih, yaudah nanti malam aja”.

“Okay mommy, thank you”, ucap Rama sambil mencium pipi istrinya.

“Abang mana”? Tanya Rama.

“Main bola”.

Rama melihat jam yang sudah pukul 5 sore.

“Jam segini kok belum pulang”.

“Yaudah jemput lah”, ucap Aulia.

“Gak ah, nanti dia malu kalo lagi main malah di jemput jemput segala”.

“Yaudah gak usah ngomel mangkanya”.

***

Pukul 7 malam, Dave sedang berada di kamar orang tua nya serta adiknya.

“Mom, kok adek tidur terus sih”?

“Anak bayi memang tidur sama nen aja sayang”, jawab Aulia.

“Ohh, berarti Abang kecilnya kayak adek dong”.

“Iya bang”.

“Tania juga”? Tanya Dave lagi.

“Iya Tania juga sayang”.

“Ohh gitu”.

“Dad”, panggil Dave pada ayahnya.

“Kenapa bang”?

“Pinjem hp, Abang mau nelfon Tania”, ucap Dave.

Rama memberikan ponselnya dan langsung di terima oleh Dave, Dave keluar dari kamar orang tuanya dan masuk ke dalam kamar nya untuk menelfon Tania.

“Pindahin adek ke box baby nya sayang”.

“Kenapa? Orang aku masih mau sama adek kok”.

“Cepet sayang”.

“Ya kenapa mas”?

“Pengen nen, gak boleh nolak, kamu udah bilang tadi sore”.

“Huft, yaudah sini, biarin aja adek disini, orang dia gak ganggu”.

“Ntar ke tindih sama mas sayang”.

“Cerewet ih, yaudah aku pindahin dulu”.

Aulia menggendong anaknya dan meletakkan Elyn ke dalam box baby.

“Selamat tidur dan selamat malam princess mommy”, ucap Aulia dan mengecup pipi anaknya.

Aulia kembali ke atas kasur dan bersiap untuk menyusui bayi besarnya.

Aulia membuka kancing daster nya, semenjak menyusui, Aulia tak pernah memakai bra dan sekarang ia mulai memasukkan puting susu nya ke dalam mulut rama dan langsung di hisap dengan rakus oleh suaminya.

Aulia mengelus elus rambut suaminya dan sesekali meringis karna merasa ngilu dengan hisapan suaminya.

“Sshhh pelan mashh”.

Tangan Rama sedari tadi mengusap usap pantat istrinya dan meremas dengan lembut.

“Mmhh mashh, udah ya, jangan di habisin”.

Rama melepaskan hisapannya dan mendongak melihat wajah istrinya dengan mata yang sayu.

Aulia mengelap bibir suaminya yang berantakan dengan ASI milik nya kemudian mengelus pipi suaminya.

“Kenapa”? Tanya Aulia yang melihat mata sayu suaminya.

“Sange”.

Bersambung… “Pada hari Minggu ku turut ayah ke kota, naik delman istimewa ku duduk di muka”, Dave bernyanyi di depan adiknya sambil berjoged.

Sang adik yang notabenya masih bayi, ia tak menanggapi abangnya, ia tidur dengan pulas seperti tidak ada kejadian apa apa di depan matanya.

Dave kembali duduk di samping adiknya dan memainkan jari mungil Elyn.

“Huft, capek Abang dek, kok adek gak bangun bangun sih”.

Saking gemasnya melihat pipi adiknya, Dave menggigit pipi berisi itu sehingga sang adik menangis dengan kencang.

“Oek..Oek..”

Rama yang tengah mengerjakan pekerjaan kantornya pun langsung bangun dan berjalan ke arah anaknya, ia melihat ada bekas gigitan di pipi Elyn.

“Abang”, bentak Rama.

Mendengar suara tangisan Elyn dan bentakan suaminya, Aulia yang tengah berada di balkon pun segera masuk ke dalam kamar.

“Kenapa”?

“Liat kelakuan anak kamu”, tunjuk Rama pada pipi Elyn yang tengah ia gendong.

Aulia mengambil alih Elyn yang di gendong suaminya.

“Ya ampun sayang”.

Aulia menenang kan Elyn dengan mengayun ayunkan Elyn, setelah anak nya berhenti menangis Aulia langsung memberikannya ASI lalu menidurkan nya di box baby Elyn.

“Ikut Daddy”, ucap Rama pada Dave kemudian keluar dari kamar.

Dave pun berjalan menyusul ayahnya keluar kamar. Tiba di luar kamar, Rama mengajak Dave untuk keruangan kerjanya.

“Duduk” suruh Rama ketika mereka sudah sampai di dalam ruangan kerjanya.

Dave duduk dengan kepala tertunduk dan tangan meremat ujung kaos nya.

“Kenapa Abang gigit pipi adek”?

“Abang gemes dad”.

“Kalau pipi Abang Daddy gigit sakit gak”?

“Sakit”.

“Gitu juga adek, adek masih kecil bang”.

“Abang minta maaf Daddy”.

Rama mengangguk dan menyuruh Dave untuk meminta maaf pad adiknya walaupun sang adik tidak akan tau apa apa.

Dave kembali masuk ke kamar orang tuanya dengan berniat untuk meminta maaf kepada adiknya, namun tak di sangka sangka sang ibu yang tak pernah memarahinya dan selalu berkata lembut kepadanya kini memarahinya habis habisan.

“Mau ngapain lagi”? Tanya Aulia ketika deve menghampirinya.

“Mommy”.

“Pipi adek sampe berdarah gara gara Abang, sekarang mau Abang apain lagi adek ha”? Bentak Aulia.

“Mommy”.

“Keluar, Abang gak usah main main sama adek lagi”.

“A- abang mau minta maaf sama adek mom”.

“Gak perlu, besok kalau udah gede masuk asrama aja kamu”.

“Mommy”.

“Keluar”, usir Aulia dengan nada tinggi.

Mau tak mau Dave keluar dengan tangisan yang tak mengeluarkan suara, Rama tak percaya dengan apa yang ia dengar. Kenapa istrinya yang lembut kepada anak anaknya kini menjadi marah dan berbicara seperti itu.

Dave yang melihat ayah nya berada di depan pintu langsung mengusap air matanya, ia berfikir kalau ayahnya pun akan memarahinya kembali.

“Ma- maaf dad”.

Rama berjongkok untuk menyamakan tubuh nya dengan Dave, ia usap sisa sisa air mata anaknya dan memeluk anak sulung nya itu.

Dave membalas pelukan dari ayahnya dan menangis di bahu Kokoh sang ayah dengan tersedu sedu. Rama menggendong Dave dan membawanya masuk ke dalam kamar lalu menduduk kan anaknya di atas kasur.

“Mo-mommy udah gak sayang sama Abang lagi dad”.

“Siapa bilang”?

“Tadi mommy marah Abang, mommy gak bolehin Abang main sama adek Leah lagi”.

“Enggak, mommy cuma bercanda kok, Abang masih boleh main sama adek, kan adek Leah adeknya Abang”.

Dave menggelengkan kepalanya sambil menangis.

“Mommy tadi serem dad, Abang takut, Abang mau ke rumah Oma aja”.

“Tapi Oma gak ada sayang, Oma lagi di Surabaya”.

“Ada uncle Rafa sama aunty Ranti, Abang gak mau disini”.

“Iya iya, nanti Daddy telfon uncle ya”.

Dave mengangguk dan turun dari kasurnya untuk mengambil tas, ia berjalan menuju lemari pakaiannya dan memasukkan beberapa baju dan celana, kegiatan Dave itu tak luput dari penglihatan ayahnya. Setakut itukah anaknya sekarang?

“Sayang, kok bawa baju? Kan di rumah Oma udah ada baju Abang”.

“Abang mau lama di rumah Oma dad”.

“Jangan lama lama dong, sehari aja ya, Abang gak kasihan sama mommy sama adek kalau Daddy pergi kerja”?

Dengan cepat dan tanpa berfikir seperti biasa, Dave menggelengkan kepalanya.

“Abang mau di rumah Oma dan gak mau pulang ke sini lagi”.

“Ab__

“Abang udah selesai dad”, ucap Dave memotong ucapan ayahnya.

“Yaudah Daddy telfon uncle dulu”.

“Abang tunggu di pos sama om Roy”, ucap Dave dan menyalami tangan ayahnya lalu langsung pergi ke bawah dengan berlari, takut takut ia berpapasan dengan ibunya.

Setelah menelfon Rafa, Rama kembali masuk ke dalam kamarnya dan langsung berjalan ke arah balkon untuk melihat anaknya pergi.

20 menit Dave menunggu, kini uncle nya telah sampai, mereka langsung pergi sesuai permintaan Dave. Rama yang melihat anaknya sudah pergi, ia kembali masuk ke dalam kamarnya dengan raut wajah dingin.

“Kenapa lama lama di balkon”? Tanya Aulia.

Rama diam tak menjawab pertanyaan istrinya dan membereskan laptop serta berkas berkas yang tadi ia kerjakan di atas meja kamarnya.

“Mas”.

Aulia yang bingung dengan sikap suaminya ini langsung berdiri dan menghampiri Rama.

“Kamu kenapa”?

“Gpp”.

“Kok cuek gitu? Aku ada salah”?

“Gak”.

“Mas”, panggil Aulia lagi.

“Apa sih”.

“Kamu kenapa”? Tanya Aulia lagi.

“Kamu yang kenapa”?

“Aku”? Tunjuk Aulia pada dirinya sendiri.

“Iya, kamu. Bisa bisa nya kamu marah sama Abang kayak gitu”.

Aulia terdiam dan mengingat kembali perkataannya kepada Dave, apa kata katanya keterlaluan?

“Aku cuma kesel mas”, gumam Aulia.

“Kesel kamu buat anak kamu takut sama ibunya sendiri, sampai sampai dia pergi dari rumah dan gak mau balik ke sini lagi”.

“Pergi”?

“Iya, dia pergi ke rumah Oma nya saking takutnya sama kamu”, ucap Rama dan melenggang keluar dari kamarnya.

“Abang”, lirih Aulia.

***

Sudah 2 Minggu ini rumah besar Rama dan Aulia sepi, Tidak seperti biasa jika ada Dave dirumah, kini hanya ada suara tangisan dari Elyn saja. Rama pun masih tetap mendiami istrinya karna ia masih marah dan melakukan semua nya sendiri.

Pagi ini Aulia sudah menyiapkan setelan untuk di pakai suaminya bekerja, tapi Rama lebih memilih memakai baju pilihannya sendiri dan mengabaikan istrinya.

“Mas”.

Rama hanya menoleh sekilas dan berjalan ke arah Elyn lalu mencium pipi anaknya.

“Daddy berangkat kerja dulu ya sayang”.

Setelah berucap kepada anaknya, Rama keluar kamar dan langsung pergi ke kantor tanpa sarapan apa pun.

Aulia menangis karna selama hidup dengan Rama, Rama tak pernah marah seperti ini dan mendiaminya. Ia juga sangat merindukan putranya, setiap ia menelfon Rafa atau Ranti untuk berbicara pada Dave, Dave menolak mentah mentah untuk berbicara padanya.

10:30 siang

Rama menjemput Dave pulang dari sekolah nya, ia ingin membujuk anak nya supaya pulang ke rumah karna ia sudah sangat rindu dengan anak sulungnya ini.

Dave berlari ketika melihat ayahnya berdiri di depan mobil dengan setelan kantor dan kaca mata hitam yang bertengger di hidung bangirnya.

“Daddy”, Dave berlari dan memeluk ayahnya.

“Uhh, Daddy kangen sama Abang”.

“Abang juga kangen sama Daddy”.

“Abang gak kangen adek”? Tanya Rama.

“Mm, kangen dad”, lirih Dave.

“Sama mommy”?

“Kangen juga, tapi__

“Abang masih takut”? Tanya Rama lagi.

Dave mengangguk menjawab pertanyaan ayah nya.

“Mau pulang”? Tanya Rama hati hati.

“Kalau pulang mommy nanti marah lagi dad”.

“Enggak, nanti Daddy marahin mommy kalau mommy marah sama Abang”.

“Jangan dad, Daddy gak boleh marahin mommy”.

Rama tersenyum mendengar perkataan anaknya, setakut apapun Dave terhadap istrinya, ia masih sangat melindungi ibunya itu.

“Iya, Daddy gak marah.. jadi, Abang mau pulang gak”?

“Mau dad”.

“Oke” Rama membuka kan pintu mobil agar anaknya masuk ke dalam mobil.

“Makasih Daddy”.

Kemudian Rama juga masuk ke dalam mobilnya dan mulai menjalankan mobil itu membelah jalanan kota jakarta.

“Daddy”.

“Iya sayang”.

“Boleh gak mampir ke toko kue”? Tanya Dave.

“Boleh”.

“Makasih ya dad”.

Rama mengusap kepala anak nya dan mengacak acak rambut Dave menggunakan tangan kirinya.

Toko kue

“Abang mau beli kue apa”?

“Hmm, Abang mau kue itu dad”, tunjuk Dave pada kue brownies.

“Hm? Abang kan gak suka coklat nak”.

“Itu untuk mommy dad”.

Aaaa, kenapa anak nya semanis ini, seperti ia saat muda dulu, hahaha.

“Ohh, yaudah”.

“Mbak, saya mau brownies nya 2”, ucap Rama pada karyawan itu.

“Baik pak”.

Setelah membayar, Rama dan Dave kembali ke mobil dan menuju pulang ke rumah mereka.

Di dalam mobil, Dave mengeluarkan alat tulisnya dan menulis sesuatu disana.

“Nulis apaan”?

“Ada deh, rahasia”, jawab Dave.

Dave menyelipkan kertas yang ia tulis di kotak kue brownies itu dan menyimpan kembali alat tulisnya ke dalam tas.

15 menit kemudian mereka telah sampai di rumah, Rama dan turun dan masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan.

Setelah sampai di depan kamar orang tuanya, Dave bersembunyi di belakang tubuh ayahnya karna sebenarnya ia masih mengingat tatapan ibunya yang dingin dan itu masih membuatnya takut.

“Sini dong samping Daddy, masa ngumpet di belakang”.

“Daddy duluan yang masuk”.

“Barengan lah, ayo”, ajak Rama.

“Ihh Daddy aja dulu”.

“Kok gitu”.

“Buruan dad, masuk duluan”.

Aulia yang mendengar ada suara di depan pintu kamarnya, ia langsung bangun dan berjalan menuju pintu lalu membukanya.

Ceklek

“Mas”.

“Eh”, kaget Rama.

Aulia melirik seseorang di belakang suami dan melihat putra sulung nya yang ia rindukan sudah pulang.

“Abang” lirih Aulia.

Dave yang masih takut pun menimbulkan kepalanya dengan tubuh yang masih bersembunyi di belakang tubuh ayahnya dan memegang erat erat pinggang sang ayah.

“Abang” panggil Aulia.

“Sini nak, Abang gak kangen mommy”?

“Ka-kangen mom”.

“Sini peluk mommy”.

Dave keluar dari persembunyian nya dan langsung memeluk ibunya.

“Abang”, Aulia memeluk anaknya sambil menangis.

“Mommy”.

“Hiks..hiks.. maafin mommy bang, maafin mommy”.

“Enggak mom, Abang yang minta maaf, Abang udah nakal sama adek”.

Aulia melepaskan pelukannya dan mengamit tangan Dave lalu mencium nya berulang kali.

“Jangan benci sama mommy ya nak, jangan takut juga sama mommy, mommy minta maaf udah marah sama abang”, ucap Aulia.

“Abang juga minta maaf mommy, Abang janji gak akan nakal lagi”.

“Ekhem”, Rama berdehem dengan menenteng brownies yang ia beli dengan Dave tadi.

Aulia menoleh ke arah suaminya sekilas dan menarik tangan anaknya agar masuk ke dalam kamar.

“Abang gak kangen adek”? Tanya Aulia.

“Kangen mom”.

“Gak mau liat sama cium adek”?

Dave menggeleng.

“Kenapa? Mommy gak marah kok sayang”.

“Abang dari luar mom, banyak kumannya”, jawab Dave.

“Anak mommy tambah pinter, kalau gitu Abang mandi dulu terus habis mandi langsung ke sini ya”.

“Oke mom, oh iya__

Dave mengambil kue dari tangan ayahnya dan memberikan nya kepada ibunya.

“Buat mommy”, Dave menyodorkan kue itu pada ibunya dan di terima oleh Aulia.

“Abang mandi dulu ya mommy”, ucap Dave langsung keluar dari kamar.

Aulia membuka plastik itu dan ternyata isi nya kue dan ada surat terselip di pita kotak kue tersebut. Aulia membuka dan membacanya.

“Mommy, maafin Abang ya, maaf kalau Abang udah buat adek nangis, maaf juga karna Abang buat mommy marah, Abang janji enggak akan nakal lagi, Abang mau kok kalau mommy masukin Abang ke asrama 🙂 Abang sayang mommy”.

Aulia menangis membaca surat tulisan tangan anaknya, ia tak menyangka jika Dave mengingat semua perkataan menyakitkan yang keluar dari mulutnya kemarin.

“Kenapa”? Tanya Rama dan ingin menghapus air mata istrinya.

“Gak”, ucap Aulia yang menepis tangan suaminya.

“Mau balas dendam niyeee”, ucap Rama.

“Keluar sana kamu”.

“Gak”, balas Rama yang memeluk paksa istrinya.

“Lepas ih, ngapain sih meluk meluk”.

“Kangeeen”, ucap Rama.

“Kamu kan lagi marah sama aku”.

“Enggak lagi”.

“Yaudah kalau enggak, lepas”.

“Gak mau sayang”.

“Lepas, aku mau makan kue nya”.

Rama melepas pelukannya dan berucap.

“Kamu lebih mentingin kue dari pada mas”?

“Bodo, kamu juga semingguan ini nyuekin aku, diemin aku, kamu pikir aku gak sedih di gituin sama kamu”, Jujur Aulia.

“Mas kecewa sama kamu sayang”.

“Mas bisa marah sama aku, bisa omelin aku, tapi jangan diemin aku, aku ngomong mas cuekin, aku udah minta maaf berkali kali gak mas perduliin”, ujar Aulia yang memakan kuenya sambil menangis.

“Uluh uluh, maaf ya sayang”, balas Rama sambil mengusap air mata istrinya.

“Ngomel kok sambil makan kue terus nangis”, sambung Rama.

“Biarin, mas tuh jahat sama aku”.

“Iya iya, mas jahat, mas minta maaf lagi ya” ucap Rama.

Aulia mengangguk kan kepalanya dan memeluk leher suaminya.

“Kangen”, ucap Aulia.

“Mas lebih kangen sama kamu sayang, kangen cium kamu, remes remes kamu sama kangen mau nyodokin kamu”.

Aulia langsung melepaskan pelukannya dan langsung memukul suaminya.

“Aduh, aduuh.. sakit sayang”.

“Mesum, keluar sana ihh”.

“Hahaha, kan mas jujur sayang, mas kangen nyodok mem__

“Oeek..Oeekk”.

Ucapan Rama terpotong oleh tangisan Elyn yang kencang, Aulia langsung bangun dan mengambil Elyn dari box baby lalu menggendongnya.

“Kenapa sayang, mau nen ya”.

Aulia duduk disisi kasur dan membuka bajunya lalu mengeluarkan susunya dari dalam bra, Elyn langsung menyedot puting yang dimasukan kemulutnya.

“Haus banget ya sayang, kenceng banget ngisepnya”.

“Gak usah liat liat, balik ke kantor sana”, ucap Aulia ketika suaminya mencuri pandang pada payudaranya.

“Galak banget”.

Rama berdiri di depan istrinya lalu sedikit membungkukkan badannya dan membisikkan sesuatu di telinga Aulia.

“Udah bersih kan? Siap siap nanti malam ya”, ucap Rama sambil menjilat daun telinga istrinya.

Bersambung… Setelah menjemput anak sulungnya yang 2 Minggu berada di rumah mama nya, kini Rama kembali ke kantornya.

Sesampainya di kantor, ia tak sabar ingin pulang ke rumahnya lagi, padahal baru 5 menit yang lalu ia sampai di tempat kerjanya.

“Huft, padahal tadi gak usah ke kantor aja ya”, gumam Rama.

Rama melihat jam di tangannya, ternyata baru jam 13.00 wib.

“Kangen banget sama istri gue”.

Tring

Satu pesan masuk di ponsel Rama, ia membuka pesan dari aplikasi hijau itu.

Wife ❤️

•Send a piture •Cepat pulang ya Daddy.

Aulia mengirim foto dirinya tengah berendam di bath up dengan tubuh telanjang, Rama menggeram melihat istrinya telanjang dengan payudara yang sengaja ia majukan di dalam foto itu.

Kemudian Rama langsung menelfon istrinya itu, tapi dengan sengaja Aulia menolak panggilan dari suaminya.

•Angkat baby, Daddy mau liat kamu mandi

Rama kembali menelfon istrinya, tapi kali ini langsung di angkat oleh Aulia.

“Kenapa di tolak terus, hm”?

“Lagi mandi Daddy”.

“Mas vc ya, mau liat kamu”.

“Hum”.

Rama mengalihkan panggilan telepon ke video call dan langsung di jawab Aulia.

“Kenapa”? Tanya Aulia.

“Nakal”.

“Tapi Daddy suka kan”? Tanya Aulia lagi.

Rama mengangguk dan menggigit bibir bawahnya.

“Mas pulang ya sayang”.

“Noo, mas baru aja sampai kantor, masa mau pulang”.

“Tunjukin serambi lempit nya”, ucap Rama.

Aulia menurun kan ponselnya dan menunjukkan serambi lempit nya pada Rama, Rama langsung memegang rudalnya setelah melihat serambi lempit istrinya.

“Sshhh, kapan kamu cukur jembutnya sayang”?

“Mm, dua hari yang lalu”

“Pengen mas makan serambi lempit kamu sayang”.

“Makan aja mas”, balas Aulia sambil mengangkang kan kakinya.

“Shit”, umpat Rama.

Aulia tersenyum mendengar umpatan suaminya, ia semakin ingin menggoda suaminya, ia turunkan tangannya ke atas serambi lempitnya lalu membuka lipatan serambi lempit bersih itu dan menggesek gesekkan dengan jari tengahnya.

“Daddy suka”? Tanya Aulia dengan suara sexy nya.

“Suka baby, elus terus sayang serambi lempitnya”.

“Mmhhh, iya dadhh, buka celana Daddy”.

Aulia sengaja memanggil suaminya Daddy supaya libido suaminya naik dan semakin sange.

Rama menyandarkan ponselnya di buku yang tersusun rapi di atas meja dan membuka celana nya hingga lutut lalu mengambil ponselnya kembali dan menunjukkan rudalnya pada Aulia.

“Mas, kok udah keras aja”?

“Call me Daddy, baby”.

“Yes, dad”.

“Terus elus serambi lempit kamu sayang, bayangin itu jari Daddy yang ngelusin serambi lempitnya”.

Aulia kembali mengelus serambi lempit merahnya dengan jari jari telunjuknya, menekan nekan itilnya dan mendesah dengan suara yang semakin membuat Rama bernafsu. Di seberang sana, Rama sedang mengelus dan mengurut rudal panjang nya yang sudah mengeras.

“Babyhh”.

“Iya dadhh”.

“Duduk di closet sayangh, Daddy mau liat kamu colmek sambil duduk di closet”.

Aulia bangun dari bath up nya dan berjalan menuju closet lalu duduk di sana.

“Ngangkang sayang”.

Aulia mengangkang dan mengelus kembali serambi lempitnya lalu memasukkan dua jari nya lagi.

“Aakhh, daddyhh”

“Iya sayangh, kocok serambi lempit tembemnya”.

“CLOK..CLOK..CLOK”

Suara kocokan jari pada serambi lempit nya terdengar sangat jelas di telinga Rama.

“Aakhh..aakhh..aakhh mau rudalhh, mau rudal gede Daddyh”.

“Liat rudal Daddy sayanghh, anggap rudal ini yang lagi keluar masuk dalam serambi lempit kamu”.

“Nghh gede banget rudalnya dadhh, panjang, baby sukaaa, Mmmhhh”.

“Iya babyh, ini rudal kamu sayanghh, cepetin kocok nya”.

“Aakhh..aakhh..aakhh iya dadhh, mmhh enak bangethh, baby mau keluar dadhh, Aaakkhh”.

“Cepetin sayangh, Daddy mau liat kamu cum babyh”.

“Aakhh..aakhh..aakhh keluar dadhh, nngghh keluarh.. keluarh dadyyhh.. Aaaaakkkhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Aulia mengelinjang di tengah tengah pelepasannya lalu menarik keluar jarinya yang banyak terkena cairannya.

“Baby”, panggil Rama.

“Iya dad”.

“Daddy belum keluar sayang, jilatin rudal Daddy”.

Aulia menjulurkan lidahnya dan membuat gerakan seperti sedang menjilat es krim.

“Oh God, babyhh, terushh sayanghh, terush jilath rudal Daddy babyhh”, ucap Rama sambil mengocok rudalnya.

“Aakhh..aakhh..aakhh enak banget sayanghh, enakhh, aakkhh”.

“Liatin serambi lempit nya lagi babyh, Daddy mau keluarhh”.

Aulia memperlihatkan kembali serambi lempitnya pada suaminya.

“Ngghh mau keluar babyhh, Aakhh..aakhh..aakhh keluar sayanghh, keluarhhh, Aaaaakkkhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Habis sudah lantai ruangan Rama yang terkena sperma tuan nya ini.

“Huh..Huh..Huh, sayang banget keluar di situ”, ucap Rama.

“Kalau keluar di dalam serambi lempit pasti bakal jadi adek nya Elyn lagi”, sambung Rama.

“Mas”, panggil Aulia.

“Iya darling”.

“Isshh, aku mandi dulu ya, takut adek bangun”.

“Haha iya sayang, nanti malam pake baju dinas yang sexy ya, mas mau perkosa kamu sampe pagi”.

“MESUM”.

PIP, Aulia langsung mematikan sambungan telpon nya lalu membersihkan badannya.

Sedang Rama hanya tertawa dan membersihkan sisa sperma yang terkena di batang rudalnya, kemudian ia memakai kembali celananya.

Rama merogoh ponselnya dan menelpon seseorang.

“Hallo, assalamualaikum”, sahut seseorang di seberang sana.

“Waalaikumsalam, ma”, panggil Rama.

“Apa”?

“Sibuk gak”? Tanya Rama.

“Enggak”.

“Kebetulan”.

“Apa sih kamu ni, ngomong jangan setengah setengah, cepetan mau ngomong apa? Bentar lagi sinetron ku menangis mama mulai nih”.

“Abang mau nitip Dave sama Elyn”.

“Kalian mau kemana”? Tanya mama Ratna.

“Ada urusan ma, bisa gak”?

“Oh yaudah, habis sinetron ini mama langsung ke sana sama Ranti”.

“Makasih ya mama”.

“Hm, yaudah mama tutup, udah mulai ini”.

PIP.

“Ck, gak sabar banget pengen pulang”.

Rama berdecak dan kemudian melanjutkan pekerjaannya.

16:30 WIB

“Waktunya pulang”, riang Rama.

Rama berjalan menyusuri lorong kantor nya dengan wajah berseri seri, ia bersiul di sepanjang jalan hingga sampai ke mobilnya.

Rama masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil menuju ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, Rama di sambut dengan istri nya yang sudah berkacak pinggang di depan rumahnya.

“Uuu, gak sabar ya nungguin mas pulang sampe sampe nunggu di depan rumah gini”, Rama mencolek dagu istrinya.

“Masuk”, perintah Aulia.

“Oke sayang”.

Rama masuk ke dalam rumah dan di ikuti oleh istrinya dari belakang.

“Mau sekarang”? Tanya Rama.

Bukannya menjawab, Aulia malah mencubit dan memukuli lengan suaminya.

“Aduh, aduuh, kenapa sih sayang”?

“Kamu bener bener ya mas”.

“Apa”? Tanya Rama.

“Ngapain nelfon mama suruh jemput anak anak? Bilang ada urusan segala”.

“Ya kan memang kita ada urusan baby”, jawab Rama.

“Mama tuh tau mas “Urusan” apa yang kamu maksud, bikin malu tau gak”.

“Ya bagus lah kalau mama tau”, balas Rama.

“Kam__

Belum sempat Aulia menyelesaikan ucapannya, Rama menggendong istrinya menuju ke lantai atas.

“Aaaaa, mas turunin ih”.

“Sssstt, udah diem”.

Sampai di lantai atas, Rama merebahkan istrinya di sofa lalu menindih tubuh kecil itu. Rama mengelus pipi Aulia lalu menatap bibir tipis Aulia dan mengusap bibir itu.

“M-mas, mandi dulu gih”.

Rama tak menggubris ucapan istrinya, ia menjilat bibirnya lalu mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya, Rama menggesekkan hidungnya pada hidung Aulia lalu menjilat bibir merah istrinya.

“Manis”, ucap Rama.

“Mandi dulu”, cicit Aulia.

“Nanti keringat lagi kalau mandi sayang”.

“Tapi ini masih sore mas”.

“Terus kenapa baby, mas udah pengen”.

“Mal__

Mmh, mmh, mcak.. suara bibir dan lidah yang saling beradu , Rama membungkam mulut istri nya sebelum mulut itu berbicara.

Rama melepaskan jas dan dasinya sambil berciuman, lalu menyuruh istrinya membuka satu persatu kancing kemejanya kemudian di susul dengan membuka ikat pinggang dan celananya.

“Mas selalu kayak gitu”, Rajuk Aulia.

“Kayak gitu gimana”?

“Suka banget nyedotin bibir aku, bengkak tau gak”.

“Makin bengkak, makin sexy sayang”.

“Hish, yaudah pindah ke kamar yuk”, ajak Aulia.

“Mas pengen disini dulu sayang”.

“Nanti bik Sumi naik mas, ini baru jam 5 lewat”.

“Gak akan”, ucap Rama lalu langsung mencium kembali bibir istrinya.

Ciuman itu turun ke dagu Aulia, kemudian turun lagi ke leher putih istrinya. Rama mencium leher Aulia dan mulai menjilati leher putih itu.

“Nghh”.

Rama membuka daster dan bra yang dikenakan Aulia, kini mereka sama sama hanya menggunakan celana dalam saja.

“Sssshhh, Ngghh”, desis Rama ketika ia menggesekkan rudalnya di serambi lempit Aulia.

Rama meremas susu istrinya yang semakin membesar dan tetap tegang walaupun ia menyusui, ia plintir puting yang sudah mulai tegang dan mencubitnya sehingga Aulia melenting kan badannya ke depan.

“Aakhh, jangan di plintir terus mashh”.

“Terus mau di apain sayang”?

“Nghh, di isephh Mash”.

Rama menundukkan badannya dan memainkan lidah nya memutar di sisi puting Aulia.

“Isep mashh, jangan nyiksa akuu”.

Rama bergerak naik dan membisikkan sesuatu di telinga istrinya lalu kembali lagi ke susu istrinya.

“Mmhh, daddyhh, isep puting babyh dadhh, ngghh”.

Rama langsung menghisap dengan kencang dan menarik puting istrinya dengan giginya, tak lupa dengan rudal yang masih menggesek di bawah sana.

“Aakhh daddyhh, ukhhh enakhh dadhh.. terush dadhh, isep yang kencengh.. Aaaakkhh”.

Rama menyelusupkan tangannya masuk kedalam CD istrinya dan mengelus serambi lempit Aulia yang sudah basah.

“Baby udah basah ya, becek banget serambi lempit nya sayang”.

“Ngghh dadhh”.

“Kenapa babyh? Mau apa? Hm”?

“Masukin jari dadhhhh”.

“Sabar dong, Daddy elus dulu”.

“Mmmhh gak mau dadhh, mau jari Daddy sekarang, serambi lempit baby gatelhh dadhh, garukin pake jari daddyhhh”.

Rama memasukkan satu jarinya ke dalam serambi lempit Aulia dan mengocoknya seperti kemauan istrinya itu.

“Aakhh, gak kerasa dadhh, tambahin jarinyaahh”.

Rama menambah kan satu jarinya lagi ke dalam serambi lempit istrinya.

“Gini sayang? Iya? Mau di giniin serambi lempit gatel nya”?, Tanya Rama yang sudah menambahkan satu jarinya dan mempercepat kocokannya pada serambi lempit Aulia.

“Aakhh..aakhh..aakhh Iyah dadhh, iyaa sayanghh kayak gitu dadhhh, mmmhh enakh banget serambi lempit di gituinhh, uukkhhh”.

“Aakhhh daddyhh, jangan terlalu cepet, babyh mau keluarhh daddhh.. aakhh..aakhh..aakhh gak tahan dadhh, akh..Aaaaaaaaakkkkhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Rama mencabut jarinya lalu melepaskan CD istrinya dan langsung menjilat serambi lempit Aulia yang banjir.

“SLURP..SLURP..SLURP”.

Lidah Rama mengobrak Abrik serambi lempit yang baru saja cum, ia melesakkan lidahnya masuk ke dalam lubang serambi lempit istrinya dan tangannya memainkan itil Aulia, sesekali ia gigit serambi lempit tembam Aulia dan ingin memasukkan serambi lempit itu kedalam mulutnya.

“Mmhh, udah dadhh, nanti keluar lagihh”, ucap Aulia sambil meremas rambut suaminya.

“SLURP..SLURP..SLURP”.

Aulia melingkarkan kaki nya di leher Rama, dan semakin meremas rambut suaminya.

“Aakhh..aakhh..aakhh”.

“Ukkhh daddyhh, lidah Daddyh enakh bangetthh dadhh, serambi lempit babyhh kedut kedut di perkosa sama lidah daddyhh.. Nngghhh udah dong daddhh, baby mau keluar lagi”.

Rama semakin menyedot lubang serambi lempit istrinya ketika merasa serambi lempit itu semakin berkedut dengan kencang

“Keluarh daddhh, babyh keluarhh, aakhh..aakhh..aakhh, Aaaaaakkkhhh”.

CROT

Cairan Aulia membasahi mulut suaminya dan langsung dilahap dan di bersihkan oleh Rama.

“Huh..Huh..Huh”.

“Capek”? Tanya Rama.

“Biarin baby istirahat sebentar dad”.

“Iya sayang”.

Sembari menunggu istrinya beristirahat, Rama melepaskan CD nya dan merangkak naik ke tubuh Aulia, ia memainkan kan kepala rudalnya di puting keras istrinya.

“Aakhh, kena puting aja rudal Daddy ke enakan banget sayanghh”.

Aulia memegang rudal itu dan mengocoknya lalu menyuruh suaminya untuk memasukkan ke dalam mulutnya.

“Ssshh, hangat banget mulut kamu babyh”.

Rama memaju mundur kan pinggulnya agar rudalnya masuk dalam sampai tenggorokan Aulia

“GLOK..GLOK..GLOK”.

“fuck, enak bangethh babyhh, uuhhh Daddyh rudalin mulut kamuhh sayanghh.. Aakhh..aakhh..aakhh”.

Rama menghentakkan rudalnya terlalu dalam sehingga istrinya terbatuk dan ingin muntah, melihat itu Rama mengeluarkan rudalnya dan menjepit rudal itu di belahan susu besar Aulia.

“Aakhh, gak mulut, gak susu, semuanya enakhh, apa lagi serambi lempithh”, ucap Rama yang memaju mundurkan pinggulnya.

“Jepit terus babyhh, aaakhhh, bentar lagi kita menyetubuhi ya sayanghh, Daddy perkosa kamu babyhh”.

Aulia menggigit bibir bawahnya dan menampilkan wajah sayu ketika mendengar kata kata frontal suaminya.

“Jangan di gigit bibirnya, udah berapa kali Daddy bilang sayanghh”.

“Baby sange dadhh”.

“Mau apa kalo sangee”?

“Mau rudalh gede Daddy, mau di entot sama dadyyh”, rengek Aulia.

“Iya sayanggh, nanti Daddy entot babyh, Daddy penuhin serambi lempit babyh sama Peju daddyhh, mau”?

“Mau dadhhh, entotin babyh sekaranghh, rudalin baby dadhh”.

Rama melepaskan rudalnya dari susu Aulia, ia turun ke bawah tubuh istrinya dan berhenti ketika bertemu dengan serambi lempit merah merekah itu, ia kocok sebentar rudalnya lalu memasukkan rudal panjang itu ke dalam serambi lempit istrinya.

Jleb

“Aakhhh”.

“Nngghhh, licin banget serambi lempit kamu babyhhh.. Aaakhh jangan di sedot dulu sayanghh”.

“Mmhhh genjot dadhhh, serambi lempit gak sabar pengen di genjothhh rudal gede”.

“serambi lempit binal, Daddy genjoth kamu babyh, Aakhh..aakhh..aakhh, nngghh jangan di jepit rudal Daddyh, aakhhh enakhh, enakh bangeth sayanghh”.

“Aakhhh mentokin Daddy, habisin serambi lempit babyhh, rudalin serambi lempit babyh sampe longgar”.

“Babyhh, kenapa makin binal sayanghhh, Daddy gak tahanhh, uukhh serambi lempit serethhh, serambi lempit enakhh, aakkhhh”.

“Terushh dadhhh, genjot terus sayanghh, aakkhh enak bangethh, rudal Daddyh enakhhh, ssshh terus dadhhh, aakhh”.

“Daddy gak tahan babyhh, Daddy mau keluarhh, aakhh..aakhh..aakhhh keluarh babyhh, keluarhh, aaaaakkkhhh”.

CROT

CROT

CROT

Rama menembakkan sperma nya di dalam serambi lempit Aulia dan menjatuhkan tubuhnya di tubuh Aulia.

“Mmhh, serambi lempit seret enakh babyhh”.

“rudal gede juga enak dad”.

Rama kembali menggerakkan pinggulnya dengan posisi masih menindih tubuh istrinya, ia menghentakkan dengan kuat pinggulnya sehingga Aulia menjerit ke enakkan.

“PLOK..PLOK..PLOK”.

“Akhh”.

“Akhh”.

“Akhh, Daddyh.. rudal nya dalem bangethh, aakhh ampunhh daddh, ampun sayanghh, ini enak bangethh”.

Aulia melingkarkan kakinya di tubuh Rama dan memeluk tubuh itu dengan erat, ia mengulum daun telinga Rama dan sesekali menghisap telinga itu.

“Sshh daddhhh, enakhhh, jangan berhentiihh.. serambi lempit suka di mentokinhh..aakkhh terusshh daddyhh, terushh sayanghh, entotin babyh terushhh”.

“Keluarin lidah kamu babyh”.

Aulia menjulurkan lidahnya dan Rama langsung menumpahkan air liur nya di atas lidah Aulia kemudian ia Raup lidah itu dan lidah mereka saling menyedot.

Rama bangun dan menggendong istrinya kemudian menghentakkan pinggulnya supaya rudalnya tertusuk jauh ke dalam serambi lempit istrinya.

“Aakh..aakhh..aakhh suka baby? Suka di giniin”?

“Nngghhh, suka daddyhh, suka bangethhh, rudal nyaa terasa sampe ke rahim babyhh”.

“Aakhh..aakh..aakkhh istri Daddy nakal banget sekaranghh, sshh aakkhh Daddy mau keluar lagi sayanghh”.

“Mmmhh baby juga mau keluar Daddy, keluarin di dalam lagihh.. serambi lempit suka sama Peju daddyh”.

“Aakhh..akkh..aakkhh Daddy keluarin di dalam sayanghh..Daddy banjirin serambi lempit kamu pake Peju daddyhh, aakh..aakh..akkh Daddy keluarhh sayanghh, keluarh cintaah, aaakkhhhhh”.

“Baby juga keluarh dadhhh, aaaakkhhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Rama memeluk pinggang istrinya erat erat agar sperma nya tidak ada yang keluar sedikitpun.

“Huh..Huh..Huh”.

Aulia menjatuhkan kepalanya di bahu sang suami, dan mengucapkan kata lelah dan ingin beristirahat dulu.

Rama berjalan menuju kamarnya dan merebahkan istrinya di atas kasur dan membiarkannya untuk beristirahat sejenak , Rama mengambil handuk untuk menutupi bawahnya dan berjalan menuju ke balkon untuk merokok.

19:25 WIB.

Setelah membiarkan istri nya beristirahat sebentar, Rama masuk kembali ke dalam kamarnya dan berjalan ke arah kasur sambil melepaskan handuknya, ia merangkak ke arah istrinya dan mengecup pipi serta bibir Aulia.

Aulia yang tengah tidur terlentang pun membuat Rama semakin mudah untuk menggerayangi tubuh istrinya itu, ia berbaring di atas dada Aulia lalu memainkan puting Aulia yang masih belum tegang, puting satunya lagi ia mainkan dengan lidahnya.

“Ngghhh”.

Aulia terbangun dan melihat suaminya sedang memainkan puting susunya, ia mengusap lembut kepala Rama mengecup pucuk kepala suaminya.

Tangan Rama kini turun ke serambi lempit Aulia dan mulai mengelus serambi lempit itu

“Aakhhh”.

“Udah basah lagi baby”.

“Iya dadhhh”.

“Pengen di sodok lagi”?

“Pengen daddyhh, sodokh dadhhh, sodokh yang kencenghhh”.

“Ssshhh kamu bikin Daddy sange sayanghh, serambi lempit kamu gak Daddy biarin istirahat malam ini”, ucap Rama sambil mengocok serambi lempit istrinya.

“Aakkhhh daddyhh, dadhhhh.. serambi lempit mau rudalhhh, mau rudal dadhhh”.

Rama yang tak tahan pun langsung melepaskan jarinya dan menggantikannya dengan rudal jumbonya.

Jleb.

“Aaaakkhhhh rudalhhhh”.

“Ini kan yang kamu mauhh, sekarang rasain rudal Daddyh sayanghhh, jepit rudalh gede Daddyhh”, ucap rama sambil menghentakkan rudalnya.

“Aakhhh iya daddhhh, lagi dadhhh, mentokin lebih dalamhhh, aaaakkhhh”.

“Aakkhh..aakkhh..akhhh Daddy hamilin kamu babyhh, Daddyh buat perut kamu buncith lagiihh.. ngghhh”.

“Aakhh..aakhhh Elyn masih kecil dadhh, Aaakhhhh daddyhhh”.

“Biarinhhh, kita bisa bayar baby sitter sayanghhhh, aakhh rudalh Daddyh enakhhh bangethh di sedot serambi lempit kamu babyhhh”.

“Aakhh daddyhh, gak mau ada siapa siapa di rumah ini, nanti kejadian indah keulang lagihh..Mmmhhhh”.

“Iya babyhh, iyaaahh.. aakkhh serambi lempit sayanghh, jangan kuat kuat nyedot rudal daddyhhh”.

“Baby keluar dadhhhh, keluarhh.. aakhh..aakhh..aakhhhhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

“Akkhhh daddyyhhhh”.

“Enak sayang”?

“Enak dad”.

“Nungging”, suruh Rama .

Aulia bangun dan langsung menungging.

Jleb

“Mmmhhhh”

“Aaakkhhh, ssshh enakhh nyaa babyhh”.

Aulia menoleh kan kepalanya kebelakang tanda ia ingin berciuman, Rama menyambut ciuman itu dengan senang hati, tangannya meremas susu Aulia dengan lembut, dan pinggul nya menggenjot dengan santai.

“Aaakkhhh, gak suka pelan dadhhh, kencenginhh”.

Rama menggenjot dengan cepat sesuai keinginan istrinya.

“POK..PLOK..PLOK”.

“akhhh.aakkhh iya dadhh, kayak gituhh daddyhh, aaakhh iya sayanghh, ukkhh enakh bangethhh serambi lempit babyhh”.

“Aakhh..aakkhh..aakhh desah yang kenceng sayanghh, Daddy suka desahan kamu..nngghhh”.

“Aakhh daddyhhh rudalnya nusukk rahim babyhhh.. ampunhhh dadddhhh..aakkhh..aaakhh..aakkhhh enakhhh”.

“Nngghh sayanghhh, serambi lempit kamu udah keduthhh..ngejepit rudal daddyhhhh”.

“Mau keluarhh daddhhh, keluarh daddyhhh. Aaaaaakkkhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

22:00 WIB.

Rama tetap menggenjot serambi lempit istrinya walaupun Aulia belum selesai dengan pelepasannya.

“Aaakhhh Daddyh berhenti dulu dadhh, nngghh serambi lempit baby ngiluh”.

“Aakhh..aakhh..aakkhh no sayanghh, daddyh mau keluarhhh.. aaakhh”.

“Aakkhh ngilu dadhhhh, mmhhh”.

“Aakkhh..aakhh Daddyh keluarh babyhhh..keluarhh sayangghhh.. aaakkkhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

“Akkkkhhh”.

Bersambung… 10:00 WIB.

Badan Aulia rasanya remuk redam karna kelakuan suaminya, ia bangun dengan tubuh penuh warna merah keunguan di leher, payudara dan perut nya.

Ia berjalan tergopoh gopoh menuju kamar mandi dan langsung berendam dengan air hangat.

“Si Rama bener bener keterlaluan”, dumel Aulia.

“Kenapa sih sayang”, ucap Rama yang tiba tiba sudah berada di kamar mandi dan ikut bergabung ke dalam bath up.

“Kinipi sih siying”.

“Mas gak liat semua badan aku merah merah, mana di leher banyak lagi”, omel Aulia.

Rama tak menjawab, ia memeluk tubuh istrinya dan menumpukan dagunya di bahu Aulia.

“Habis ini kita jemput anak anak”, ucap Aulia.

“Loh loh loh, biarin aja lah anak anak di rumah mama”, balas Rama.

“Gak ya, pokoknya habis ini kita jemput anak anak”.

“Yaudah iyaa”.

Setelah berendam dan mandi, kini mereka sudah berpakaian dan ingin pergi ke rumah mama Ratna untuk menjemput anak anaknya.

Di perjalan Aulia mengajak suaminya mampir ke toko kue untuk membelikan kue.

Setelah 30 menit, kini mereka telah sampai di rumah mama Ratna. Rama dan Aulia langsung turun dari mobil dan mengucapkan salam.

“Assalamualaikum”, ucap Rama dan Aulia.

“Waalaikumsalam”, sahut semua orang yang berada di dalam rumah.

“Mommy”, teriak Dave dan langsung berlari memeluk ibunya.

“Jangan lari lari Abang”, tegur Aulia.

“Hehe, kangen sama mommy”.

Rama dan istrinya berjalan ke segerombolan manusia yang tengah berkumpul, di sana ternyata ada om Bayu dan anaknya yang bernama Reno, om Bayu adalah adik dari mama nya.

“Bang, Salim dulu om Bayu nya”, tegur mama Ratna ketika melihat Rama yang acuh kepada adiknya.

Rama menyalami tangan om nya itu dan Reno, sepupunya.

“Masih dingin aja”, ucap Reno pada Rama.

Rama tak menggubris perkataan sepupu nya dan langsung duduk di sebelah mama nya.

“Om”, Salim Aulia pada om Bayu.

“Kamu istrinya Rama”? Tanya om Bayu.

“Iya om, saya Aulia”, om Bayu mengangguk kan kepalanya.

Aulia bergantian menyalami Reno, sepupu suaminya.

“Aulia”.

“Reno”, balas Reno.

“Cantik”, ujar Reno.

Rama langsung memandang Reno dengan tatapan membunuh.

“Cantik cantik kok mau sih sama Rama? Cowok dingin dan kaku kayak gitu”, ucap Reno yang semakin menjahili Rama.

“Mau mati Lo”? Ucap Rama.

“Abang” tegur mama Ratna.

“Depan anaknya loh, jaga omongan nya”, sambung mama Ratna.

“Ponakan mama tuh”, jawab Rama.

“Lah kenapa gue? Kan yang gue omongin bener, iya kan cantik”, balas Reno sambil memandang Aulia dan mengedipkan matanya.

“Lo bener bener mau mati ya”, ucap Rama lagi yang sudah bangun dari duduknya.

“Mas”.

Rama menarik tangan Aulia dan menyuruh nya untuk duduk disampingnya.

“Hahaha, Aulia, ku tunggu jandamu”, canda Reno pada Aulia.

Rama yang Sudah tak tahan langsung bangun dan menarik kerah baju reno.

“Abang, mas “, pekik mama Ratna dan Aulia.

“Udah udah”, ucap mama Ratna.

“Reno”, tegur mama Ratna lagi.

“Iya iya Tante, maaf”.

“Uncle Reno”, pekik Dave.

“Iya calon anak”, jawab Reno.

Rama benar benar tak tahan dengan sepupu Bangsat nya ini, ia bangun lalu langsung menonjok wajah tampan reno. Reno tersungkur dengan luka di bibirnya.

Semua orang di sana menjerit histeris melihat pertengkaran di depan mata mereka.

Aulia menarik tangan suaminya dan pergi dari sana tanpa permisi, ia membawa suaminya ke halaman belakang rumah mama Ratna.

“Mas apa apaan sih”?

“Dia godain kamu terus, di depan mas pula”, jawab rama.

“Dia cuma bercanda mas”.

“Mau bercanda atau berjanda, terserah ! Pokoknya mas gak suka”, ucap Rama.

“Mas cemburu”?

“Sehat kamu nanya begitu? Ya jelas lah mas cemburu”, jawab Rama mengegas.

“Hahaha ya santai atuh bapak, gak usah ngegas gitu, kan saya nanya”.

“Kin siyi ninyi”, ucap Rama.

“Mom, dad”, panggil Dave sambil berjalan ke arah ayah dan ibunya.

“Daddy sedih ya”? Tanya Dave.

“Gak”, jawab Rama.

“Hm? Kata uncle Rafa Daddy sedih, mangkanya mommy bawa Daddy ke sini”, ucap Dave.

“Daddy jangan sedih lagi ya, Abang tadi udah marahin uncle reno”, sambung Dave.

“Mommy, mommy juga jangan terdoga ya sama uncle Reno”, ucap Dave.

“Ha? Terdoga apa sayang”? Tanya Aulia.

“Hmm__ Dave menggaruk pipinya yang tak gatal sambil berfikir.

“Apa ya tadi”. Tanya Dave pada dirinya sendiri.

“Nanti Abang tanya sama uncle Rafa lagi, terdoga itu apa”, ucap Rafa.

“Memang si Rafa ini”, balas aulia.

“Tergoda maksud Abang”? Tanya Rama.

“Haa, iya dad, terdoga”.

“Tergoda sayang”, ucap Aulia.

“Iya itu mom, kata uncle Rafa mommy jangan sampai terrr_go_da”, balas Dave.

“Emang kamu tergoda”? Tanya Rama.

“Mas diem aja udah paling bener”, ucap aulia.

“Mas nanya ini”.

“Aku ini udah punya buntut 2, ngapain lagi harus tergoda sama laki lain maaas”, Jawab Aulia dengan gregetan.

“Perempuan sekarang kan banyak kayak gitu, pantang liat cowok bening dikit, langsung di Pepet.. padahal udah punya suami sama anak”, ucap Rama.

“Kamu kalo cemburu entah kemana mana pembahasannya”.

“Jadi mas gak boleh cemburu”? Tanya Rama.

“Tuh kan”.

Dave hanya planga plongo melihat orang tua nya yang beradu mulut tentang hal yang tak penting.

“Masuk ke dalam yuk bang”, ajak Aulia pada anaknya.

“Mau lihat reno kamu? Seneng di godain dia terus”? Tanya Rama.

“Bodo mas, bodo”.

Aulia masuk ke dalam dengan menggandeng tangan anaknya dan menghiraukan panggilan suaminya.

“Sayang”.

“Oke, kamu emang suka ternyata di godain, kamu jangan ngomong sama mas lagi”.

Aulia dan dave duduk di samping mama Ratna yang sedang menggendong Elyn.

“Mana suami kamu”? Tanya mama Ratna.

“Di belakang ma”, jawab Aulia.

“Aulia, maafin anak om ya, dia memang suka jahilin Rama dari dulu”, ucap om Bayu.

“Gak apa apa kok om”, balas Aulia.

Om Bayu mengangguk dan tersenyum, Aulia kini beralih pada Reno.

“Hmm, Reno, kamu gak apa apa? Maafin mas Rama ya”, ucap Aulia

“Gak apa apa kok, santai aja”, balas Reno.

Rama kembali masuk dengan wajah masamnya dan berjalan menuju Dimana keluarga nya berada.

“Wihh, Dateng lagi”, ucap Reno.

“Lo bisa diem ga anj__

“Aduhh”, Rama mengaduh karna istrinya mencabut bulu kakinya.

“Duduk”, ucap Aulia tanpa bersuara dengan mata melotot.

Rama menurut dan langsung duduk di samping istrinya.

“Hahaha STI ya Lo”, ucap reno pada Rama.

“STI apaan dah”? Tanya Rafa

“Suami Takut Istri”.

Semua yang berada di sana tertawa dengan ucapan Reno kecuali Rama. Dave yang tak tau apa apa pun ikut tertawa.

“Hahaha uncle Reno lucu”, ucap Dave.

“Katanya kalau mau jadi suami kedua mommy kamu, laki nya harus lucu”, jawab Reno.

“Brengsek” umpat Rama.

Aulia mengelus tangan suaminya saat mendengar suaminya mengumpat.

“Oeek..Oeekk”.

Mendengar tangisan anaknya, Aulia langsung pamit pada semua orang yang berada di sana untuk masuk ke dalam kamar karna ingin menyusui Elyn dan di ikuti Rama dari belakang.

“Udah dong ren, suka banget jahilin Rama, udah tau Rama kayak gitu”, ucap mama Ratna.

“Hehe, suka aja Tante liat muka Rama kalau dia marah”.

“Saking suka nya sampe di tonjok tuh muka”, balas mama Ratna.

“Hehe gak apa apa Tante, gak sakit kok”.

Om Bayu berdiri dan membersihkan celana nya yang tak kotor, ia ingin pamit pulang ke rumahnya.

“Mbak, kita pulang dulu ya”, ucap om Bayu.

“Loh, makan siang dulu lah, sore baru pulang”, balas mama Ratna.

“Kita makan di rumah aja, yuk ren”, jawab om bayu.

Reno berdiri dan menyalim mama Ratna dan sepupu sepupu nya lalu pulang ke rumah bersama papanya.

Sedang di kamar, Aulia tengah menyusui Elyn dan di perhatikan oleh suaminya dengan intens.

“Kenapa sih mas dari tadi liatin aku kayak gitu”? Tanya Aulia.

“Ada yang salah sama wajah aku”? Sambung Aulia.

“Gak boleh merhatiin istri sendiri? Yang boleh merhatiin cuma Kunyuk yang di luar sana”?

“Astagfirullah mas, ngalahin Abang kamu tuh”, ucap Aulia.

“Bodo”, Rajuk Rama lalu membaringkan tubuhnya dan membuang muka menghadap dinding.

Tok..Tok..Tok..

“Mommy, boleh Abang masuk”? Tanya Dave.

“Boleh nak”, Jawab Aulia.

Ceklek

Dave membuka lalu menutup pintu kamar kembali, ia berjalan ke arah ibunya yang tengah menyusukan Elyn.

“Uncle Reno udah pulang mom”, ucap Dave.

Rama yang mendengar Dave melapor tentang Reno kepada istrinya pun langsung bangun dan menatap tak bersahabat wajah istrinya.

“Kenapa lagi sih mas”? Tanya Aulia.

“Kalian berdua bener bener ya”.

Aulia meletakkan Elyn di atus kasur setelah selesai menyusuinya, ia menyuruh Dave untuk menjaga adiknya yang sedang tidur. Dave ikut berbaring di samping adiknya dan memainkan pipi gembul sang adik.

Aulia duduk di sisi ranjang dengan memegang tangan suaminya lalu ia kecup kecup punggung tangan itu.

“Kenapa sih marah marah terus”?

“Abang tuh”, jawab Rama.

“Kenapa Abang”? Tanya Aulia.

“Ngapain lapor lapor ke kamu kalo Reno udah pulang”, jawab Rama dengan wajah masam.

“Huft, namanya juga anak kecil sayang”, ucap Aulia.

“Gak suka, pokoknya gak suka”.

“Jadi aku harus gimana”? Tanya Aulia lagi.

“Gak boleh suka sama Reno”, jawab Rama sambil memainkan jari istrinya.

Aulia tak habis pikir dengan suaminya ini, benar benar seperti anak kecil.

“Iya mas, suka nya sama mas aja”, jawab Aulia.

“Peluk”, pinta Rama dengan manja.

Aulia memeluk suaminya dan mengelus punggung kokoh sang suami.

“Mulaaaai”, ucap Dave.

“Lepas lepas”, sambung Dave yang memisahkan ayah dan ibunya.

“Sayang”, rengek Rama.

“Abang, Daddy lagi sedih, gak boleh gitu ya”, ucap Aulia.

“Gara gara uncle Reno tadi”?

“Iya, Daddy sediiih banget”, jawab Aulia.

“Berarti nanti kalau Abang lagi sedih, obatnya peluk mommy juga ya kayak Daddy”?

“Gak, iya”, jawab rama dan Aulia serempak.

“Iya”, ucap Dave sambil menjulurkan lidahnya ke Rama.

“Sayaaang”, rengek Rama lagi.

“Kayak adek Leah, ngerengek Mulu”, ucap Dave.

“Abang keluar dulu ya nak”, suruh Aulia.

“Oke mommy, Daddy jangan kayak anak kecil ya”, ucap Dave lalu berlari ketika melihat mulut ayah nya akan mengeluarkan ayat ayat cinta.

“Udah, Abang masih kecil”, Aulia mengusap lengan suaminya.

Mood suaminya benar benar hancur hari ini, mana anaknya ikut ikutan lagi menjahili bapaknya.

“Mau nen”? Tanya Aulia.

Rama mengangguk lalu Aulia membuka kancing bajunya kembali dan mengeluarkan payudaranya dari dalam bra.

Aulia merebahkan tubuhnya memiring dan menyuruh Rama untuk berbaring.

“Sini”.

Rama pun berbaring dan membuka mulutnya saat Aulia menyodorkan susunya ke mulut Rama. Rama langsung menghisap dan memeluk pinggang istrinya.

Aulia mengusap usap rambut hitam Rama sampai sang empu mulai mengantuk, ketika ingin terlelap suara pintu membangunkannya kembali.

Kreeek

“Astagfirullah, mbok ya di tutup loh pintunya”, ucap mama Ratna.

“Ck, tinggal di tutup aja loh mas, gak usah ganggu”, balas Rama.

“Yaudah, lanjut sana”, ucap mama Ratna dan menutup pintu kamar nya.

Aulia? Jangan tanyakan, dia sangat malu karna kepergok oleh mertua nya sedang menyusui suaminya. Sedangkan Rama melanjutkan menyusu nya hingga ia tertidur.

Setelah suaminya tertidur, Aulia pelan pelan menarik keluar susunya di mulut Rama dan merapikan bajunya lalu keluar kamar dengan membawa Elyn.

“Masak apa ma”? Tanya Aulia ketika sampai di dapur.

“Tadi mama udah masak rendang, ini masak SOP ayam sama perkedel kentang buat Rama sama Dave”, jawab mama Ratna.

“Udah tidur bayi gede kamu”? Tanya mama Ratna.

“Mama ih, jangan bahas itu, aku malu”, ucap Aulia.

“Hahaha mangkanya tutup dulu pintunya”, balas mama Ratna.

“Iya mama, udah ih”.

“Iya iya sayang, yaudah ke depan sana bawa Elyn”.

Aulia berjalan ke ruang santai dan melihat Dave tengah tertidur dengan mainan robot di pelukannya dan Rafa sedang bertelepon dengan tunangannya.

12:15 WIB.

“Siniin Elyn Lia, kamu bangunin suami kamu ajak makan”, ucap mama Ratna.

“Iya ma”, Aulia memberikan Elyn pada mertuanya.

Aulia berjalan ke kamar untuk membangunkan suaminya.

“Mas, bangun yuk, makan dulu”.

“Mmhh”.

“Ayoo bangun, mama udah masakin SOP ayam sama perkedel kentang”.

“Mas ngantuk sayang”.

“Nanti tidur lagi, makan dulu yuk”.

“Siapin ya”.

“Iya, ntar aku suapin”.

Rama bangun dan mengucek matanya lalu memeluk istrinya dan menidurkan kepalanya di bahu kecil Aulia.

“Manjanya, bangun dulu yuk sayang”

“Iya”.

Mereka berdua berjalan menuju meja makan yang sudah tersedia makanan dengan lengkap.

“Duduk bentar ya, aku bangunin Abang dulu”, ucap Aulia.

“Gak, urusin mas dulu baru Abang, kalo gak mas gak mau makan”, jawab Rama.

“Buset bang, ada Rafa ni disini, gak liat tempat banget mau uwu uwuan”, celetuk Rafa.

“Rafaaa”, geram Aulia ketika melihat suaminya yang kembali bad mood.

Rafa langsung terdiam dan melanjutkan makannya dengan cepat.

“Yaudah aku urusin mas dulu”.

Aulia mengambilkan makan dan menyuapi suaminya dengan telaten, setelah selesai Rama langsung menuju halaman belakang rumah mamanya untuk merokok dan Aulia mengurus anak laki lakinya.

16:30 WIB.

Rama dan Aulia tengah bersiap siap untuk pulang, tapi dengan mata memohon mama Ratna meminta agar cucu cucu nya tinggal di sini dulu bersamanya untuk beberapa hari.

“Abang sih boleh boleh aja ma”, ucap Rama.

Aulia mendelik tak suka mendengar ucapan suaminya, gampang sekali dirinya membiarkan anak anaknya berpisah dengannya.

“Nanti ngerepotin mama”, ucap Aulia.

“Enggak kok Lia, boleh ya, biar mama ada temennya”, balas mama Ratna.

“Lah, jadi Rafa sama Ranti ini apa di rumah ma”? Ucap Rafa tak terima mendengar mamanya berbicara seperti itu.

“Udah diem kamu, gak usah ikut ikutan”.

“Boleh ya sayang, semingguuu aja, Minggu depan mama pulangin”, sambung mama Ratna.

“Huft, yaudah deh, tapi kalau Abang nakal sama Elyn nangis, mama langsung telfon Lia ya”, ucap Lia.

“Iya sayang”, balas mama Ratna yang langsung mengambil Elyn dari gendongan ibunya.

“Abang, nginep di sini sama Oma lagi mau”? Tanya Aulia.

“Baju sekolah Abang gimana”?

“Nanti di antar pak Muklis”, jawab Rama.

“Seneng banget muka nya”, ucap Rafa yang melihat wajah abangnya.

“Brisik lu”, jawab Rama.

“Yaudah kalau gitu kita pamit ya ma”, ucap Rama buru buru.

Rama dan Aulia kini keluar berjalan menuju mobilnya, mereka masuk ke dalam mobil dan Rama langsung menancap kan gas nya melaju menuju rumah.

“Nginep hotel yuk yang”, ucap Rama.

“Ngapain”?

“Ngewe lah, mumpung anak anak di jagain mama”.

“Badan sama leher aku masih penuh sama cupangan kamu mas, masih seger banget warnanya, udah ngajakin ngewe lagi”, omel Aulia.

“Halah, kalau di telanjangin juga pasti mau”.

Aulia tak menanggapi lagi ucapan suaminya, ia memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur.

Bersambung… Pagi ini aulia tengah membuat sarapan dan di bantu oleh anak sulungnya, mereka berdua membuat nasi goreng ayam kunyit, sarapan favorite Dave. Dave hanya ingin makan nasi goreng buatan tangan mommy nya.

“Abang duduk aja disana, atau gak mandi gih”.

“Abang mau lihat mommy masak, mandi nya bentar lagi, kan Abang masuk sekolah nya jam 7:15 mom”.

“Supaya gede nya kalo mommy udah gak ada, Abang pinter masak gitu”?

“Abang gak suka kalau mommy ngomong kayak gitu”, Rajuk Dave.

“Mommy bercanda sayang, yaudah sini liatin mommy masak”.

“Siap mommy”.

Aulia memasak dengan sangat telaten dan langsung di serap ke otak oleh Dave.

“Gampang mom, semuanya udah Abang simpen disini”, ucap Dave menunjukan kepala nya.

“Anak mommy memang pintar”.

Setelah nasi gorengnya selesai, Dave membantu ibunya membawa ke atas meja setelah nya ia pergi ke kamar nya untuk mandi.

Kini Aulia berjalan menuju kamar nya untuk membangunkan suaminya dan melihat putri kecilnya.

Aulia mengangkat anaknya yang sudah berusia 6 bulan lalu menidurkannya di perut suaminya.

“Daddy, bangun Daddy, kerja”, ucap Aulia yang menirukan suara anak kecil.

Rama mengeliat dalam tidur nya dan perlahan membuka matanya.

“Princess Daddy kok udah bangun”? Tanya Rama.

“Adek mau ikut Daddy ke kantor”.

“Boleh”, balas Rama.

“Tapi mommy nya gak ikut, mommy mau jalan sama cowok baru”.

“Boleh juga kok, tapi pulang pulang cowok itu tinggal nama aja”, ucap Rama.

“Mas ih, udah kayak psikopat”.

“Mangkanya gak usah macem macem, suami udah ganteng kayak gini masih mau cari yang lain”, balas Rama.

“Ganteng, mapan, kaya ray__

“Udah udah, bangun terus mandi”, potong Aulia.

“Siap nyonya Purnomo”.

Rama bangun dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

07:05 WIB.

Keluarga kecil Rama sekarang tengah berada di meja makan dengan Elyn di gendongan Aulia setelah Aulia menyiapkan sarapan di piring masing masing.

“Abang, hari ini berangkat sekolah sama Daddy”, ucap Rama.

“Kenapa dad? Pak mu mana”? Tanya Dave.

“Udah nurut aja, sekarang cepat sarapan”, balas Rama.

Mereka sarapan dengan tenang sampai makanan habis dan bersiap siap untuk berangkat kerja dan sekolah.

Dave menyalimi tangan ibunya dan mencium wajah adiknya, begitu juga Rama, Aulia menyalimi tangannya dan mencium pipi ibu dan anak itu.

“Papay dek, sampai ketemu lagi siang nanti, tungguin Abang pulang ya”, ucap Dave.

“Abang berangkat sekolah dulu mom, assalamualaikum”.

“Mas pergi ya, Babay dek, assalamualaikum”.

“Waalaikumsalam, Babay Abang, Babay Daddy”.

Didalam mobil, ayah dan anak itu tidak saling berbicara. Si anak sibuk membaca buku dan si ayah sedang memikirkan sesuatu sampai akhirnya__

“Bang”, panggil Rama.

“Iya dad”.

“Hari ini mommy ulang tahun”

“Beneran dad? Kenapa Daddy baru kasih tau Abang hari ini? Abang belum siapin hadiah buat mommy”.

“Nanti pulang sekolah Daddy jemput, kita cari hadiah buat mommy”.

“Kita pulang dulu tapi dad”.

“Loh, kenapa”?

“Abang mau ambil uang dulu di celengan Abang, Abang gak punya uang banyak kalau pulang sekolah langsung pergi”.

Rama ingin sekali memakan bocah di samping nya ini, kenapa musuh nya yang satu ini harus semanis ini siiih? Ah, mungkin ini sifat Aulia yang menurun pada Dave.

“Kalau kita pulang dulu nanti mommy curiga dong, gak surprise namanya”.

“Tapi Abang gak punya uang dad”.

“Pakai uang Daddy sayang”.

“Yaudah, nanti sampai di rumah abang ganti ya dad”.

“No, simpen aja uang Abang”.

“Hehe makasih ya Daddy”.

“Iya sayang”.

Setelah membahas tentang hadiah untuk ibu dan istrinya, sekarang Dave telah sampai di sekolahnya, ia menyalami ayahnya dan langsung turun dari mobil.

Rama kembali menjalan kan mobil nya dan menuju kantornya, selang beberapa menit saja Rama sudah sampai di kantornya dan langsung naik ke lantai dimana ruangannya berada.

“Ton, ini kamu handle semua pekerjaan saya ya”, ucap Rama pada sekretarisnya.

“Baik pak”.

Rama pun langsung masuk ke dalam ruangannya dan merebahkan tubuhnya di sofa, ia memejamkan matanya sejenak dan menyetel alarm sebelum menjemput anaknya nanti.

10:00 WIB.

Kring

Kring

Kring

Bunyi alarm di ponsel Rama telah berdering ketika jam menunjukkan pukul 10:00 , Rama pun bangun dan bersiap siap untuk menjemput anaknya.

Rama keluar dari ruangannya dan berjalan dengan wajah dingin, ia menaiki lift dan menuju lantai dasar. Sampai nya di bawah ia langsung menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya ke sekolahan anaknya.

Seperti beberapa Minggu yang lalu saat ia menjemput Dave, Rama keluar dari mobilnya dan menunggu Dave di depan mobil dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung bangir nya.

Hitung hitung tebar pesona !! Eh, tau taunya ada yang nyamperin karna kemakan sama pesona nya Rama.

Wanita yang memakai baju dinas dan seperti seorang guru yang mengajar di sekolah Dave datang menghampiri Rama.

“Rama”.

“Hufftt, ngapain lagi sih”? Ucap Rama sambil melepaskan kaca matanya.

“Aku harus bicara sama kamu”.

“Kamu gak kapok udah saya cekik dulu? Itu untung ada istri saya yang nyuruh lepasin kamu, kalau gak? Kamu udah mati”, ujar Rama.

“Aku gak perduli, aku mau bicara sama kamu”.

“Lah, kok maksa”? Tanya Rama.

Wanita itu mencoba memegang tangan Rama, tapi dengan cepat Rama menghindar.

“Jangan coba coba nyentuh saya, kalau istri saya tau, kamu bisa di libas sama dia”, ucap Rama.

“Rama, aku masih sayang banget sama kamu, aku cint__

“Daddy”, panggil Dave sambil berlari ke arah ayahnya.

Rama berjongkok supaya anaknya bisa memeluknya.

“Jagoan Daddy udah pulang, mau pergi sekarang”? Tanya Rama.

Dave melirik ke arah guru nya tersebut.

“Ngapain Bu Fey disini”? Tanya Dave pada wanita yang ternyata adalah Freya.

“Ib__ , lagi lagi ucapan Freya terpotong, kalo ini Rama yang memotong ucapannya.

“Pergi sekarang yuk, bang”, ucap Rama.

“Ok dad, let’s goo”.

Dua orang laki laki itu meninggal kan Freya di sana sendirian dengan tangan yang terkepal.

“Daddy kenapa sama Bu Fey lagi? Mau kiss kayak dulu lagi ya”? Tanya Dave.

“Enggak looh, Daddy juga gak tau kenapa tiba tiba dia ada di sana”.

“Beneran”? Tanya Dave dengan mata memicing.

“Beneran bang, jangan kasih tau mommy ya, bisa habis Daddy”.

“Kalau Daddy enggak ngapa ngapain kenapa Daddy takut”? Tanya Dave lagi.

“Pokoknya jangan bilang mommy, kalo gak kita gak jadi beliin mommy hadiah”.

“Iya iya, Abang gak bilang sama mommy”.

“Good boy”.

Setelah beberapa belas menit, kini mereka telah tiba di sebuah mall terbesar di kota nya, mereka masuk dengan Rama yang menggandeng tangan Dave.

“Abang mau beliin mommy hadiah apa”? Tanya Rama.

“Hmm, apa ya dad”, bingung Dave.

“Kalau Daddy mau beliin apa”? Tanya Dave.

“Daddy udah beliin, tinggal di ambil dan di bungkus”, jawab Rama.

“Apa hadiahnya dad”?

“Rahasia”.

“Ck, terus Abang mau beliin mommy apa”?

Dave terus berfikir dan melihat sekeliling mall, dan__

“Dad”, panggil Dave lalu membisikkan sesuatu di telinga ayahnya.

“Oke”, jawab Rama.

Rama mengajak anaknya untuk mengambil hadiah yang akan ia berikan kepada istrinya nanti, ia sudah memesan hadiah itu jauh jauh hari.

Sekarang ia mengajak putra nya untuk makan siang setelah itu mengajak nya pergi ke suatu tempat lagi. Setelah semua urusannya selesai, ia mengajak anak nya untuk pulang.

“Daddy”.

“Hm”.

“Apa nanti mommy gak marah Daddy pake itu”.

“Tenang aja, paling cuma marah sebentar”.

Dave menganggukkan kepalanya dengan tetap melihat tubuh ayahnya.

“Oh ya dad, hadiah Abang untuk mommy sore ini juga kan”?

“Iya sayang”.

“Okay kalau begitu dad”.

14:00 WIB.

Rama dan Dave baru sampai ke rumah sejak Dave pulang sekolah tadi.

“Kalian kemana aja siih, mommy telponin juga gak di angkat angkat”? Omel Aulia.

“Makan siang di luar mom, Abang mandi dulu ya mom terus mau tidur, Abang capek”, ucap Dave.

“Yaudah mandi yang bersih, jangan lama lama”.

“Iya mom”.

Aulia mengikuti suaminya dari belakang yang berjalan menuju ke kamar mereka.

Sesampainya dikamar Rama langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, kalau tidak langsung mandi dan langsung berbaring di kasur atau memegang Elyn, bisa bisa ada tanduk yang keluar dari kepala istrinya.

10 menit Rama membersihkan tubuhnya, ia keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya, Aulia menoleh ke arah suaminya dan terkejut bukan main dengan apa yang di lihatnya.

“Mas”, pekik Aulia dengan mata yang membulat dan menutup mulutnya.

Aulia berjalan ke arah suaminya yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi, ia mengusap lengan kanan suaminya yang kini penuh dengan tatto.

Plak

Plak

Plak

Aulia membabi buta memukul lengan suaminya, sesekali ia cubit dan ia tonjok lengan kekar yang sudah penuh dengan tatto itu.

“Kamu apa apaan sih mas”? Tanya Aulia dengan wajah yang memerah.

“Apa”? Rama bertanya dengan santainya.

“Kamu hapus sekarang mas, aku gak mau tau”, ucap Aulia.

“Loh, kenapa? Ini mas baru buat loh sama Abang tadi”.

“Apa? Kamu ngajakin anak kamu ke tempat pembuatan tatto”? Tanya Aulia tak percaya.

“Iya”.

Aulia mengambil bantal di atas kasur dan kembali membabi buta memukul suaminya.

Bugh

Bugh

Bugh

“Awh, aduh, aduuh”.

“Udah sayang, stop.. aduh sakit yang”.

Aulia berhenti memukul suaminya dan kembali mengatur nafasnya yang ngos ngos an.

“Kamu pergi ke tempat itu, dan hapus sekarang tatto kamu”, suruh Aulia.

“Ya gak bisa lah yang, mas baru buat loh”.

“Bodo ! Aku gak mau tau, kamu hapus sekarang”.

“Keren loh ini, mas udah kayak Jungkook kan”? Ucap Rama dengan menaik turunkan kedua alisnya.

“Jungkook BTS”? Tanya Aulia.

“Iya sayang, Jungkook bities”, jawab Rama.

“Jungkook itu mau diapain juga ganteng mas, cakep.. mas ini udah punya istri, anak juga udah 2”, ucap Aulia frustasi.

“Lah, mas gak kalah ganteng sama Jungkook yang, malah lebih gantengan mas”.

“Mas”.

“Iya sayang”.

“Mas pergi sekarang buat hapus tato nya, atau aku telfon mama”? Ancam Aulia.

“Jangan lah, mana bisa yang di hapus sekarang juga”.

Aulia terduduk lemas dan menangis akibat kelakuan suaminya ini, kenapa suaminya ini tidak berfikir dulu sebelum melakukan sesuatu.

“Hikss..Hikss”.

“Loh yang, kenapa nangis”? Tanya Rama.

“Kamu nanya kenapa aku nangis”?

Rama mengangguk dengan polosnya

“Gara gara Kamu”, pekik Aulia dengan melupakan keberadaan Elyn yang sedang tidur disana.

“Eh sayang, jangan teriak teriak ih, Elyn lagi tidur loh”, ucap Rama yang masih santai.

“Kamu bener bener ya mas, sekarang kamu pake baju kamu terus keluar dari sini”.

“Okay babe”, ucap Rama.

Rama berjalan dengan santai ke arah lemari nya dan memilih kaos dengan tangan oblong dan boxer, setelah ia memakai pakaiannya ia berjalan ke arah pintu untuk keluar, sebelum keluar suara istrinya kembali terdengar memanggil namanya.

“Rama”, panggil Aulia.

Rama menoleh dan menaikkan sebelah alis nya tanda ia bertanya.

“Handuk kamu”, ucap Aulia dengan nada rendahnya.

Rama dengan cepat berlari dan mengambil handuknya lalu menjemurnya kembali di tempat handuk, kemudian ia pergi ke bawah agar tak mendapat amukan dari macam betina nya.

Sesampainya di bawah, Rama mengambil kue nya yang masih berada di dalam mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah lalu menyimpannya di dalam kulkas.

Rama kembali lagi ke mobilnya untuk mengambil Vape nya, ketika ingin masuk ke dalam rumah Rama melihat karyawan toko yang ia kunjungi dengan Dave datang membawa pesanan mereka, hadiah ulang tahun dari Dave untuk ibunya.

Rama menyuruh karyawan itu meletakkan pesanannya di samping mobilnya saja, setelah semua selesai Rama masuk kembali ke dalam rumah.

19:00 WIB.

Rama masuk ke dalam kamarnya dan melihat istrinya sedang menyusui putrinya, ia berjalan ke arah istrinya dan berdiri tepat di depan sang istri, Rama mengelus elus pipi Elyn yang sedang menyedot ASI.

“Ck, gak usah di ganggu”, ucap Aulia.

“Mommy jangan marah marah, nanti mommy lekas tua “, balas Rama.

“Keluar deh mas, aku gak mau liat kamu dulu”.

“Gak boleh ngomong gitu sayang”.

“Kenapa gak boleh? Kamu aja boleh sesuka hati kamu ngelakuin apa apa tanpa diskusi sama aku”.

“Iya, nanti ini mas hapus yang, sekarang ke bawah dulu yuk”, ajak Rama setelah melihat Elyn sudah selesai dengan menyusu nya.

“Males, aku mau tidur”.

Rama tak mendengar ucapan istrinya, ia mengambil alih Elyn dari tangan istrinya dan memaksa menggenggam tangan istrinya lalu mengajak nya turun ke bawah.

Sampainya di tangga, Aulia mengerutkan kening nya, kenapa lantai bawah lampunya mati.

Ketika menginjak tangga terakhir dan kaki nya menyentuh lantai, lampu pun hidup dan disana sudah ada bik Sumi, pak Muklis dan Roy serta anaknya yang sedang memegang cake ulang tahun.

“Surprise “.

“Happy birthday mommy”, ucap Dave.

“Selamat ulang tahun non”, ucap bik Sumi, pak Muklis dan Roy.

“Selamat ulang tahun mommy”, ucap Rama sambil mencium pelipis istrinya.

“Mas”, Aulia menatap suami.

Rama tersenyum dan menyuruh istrinya menghampiri anak serta bik Sumi, pak Muklis dan Roy.

“Tiup lilin nya mom” ucap Dave.

Aulia memejamkan matanya sejenak untuk berdoa kemudian meniup lilinnya, ia mencium pipi anaknya dan mengucapkan terima kasih pada art, supir dan satpam yang sudah ia anggap sebagai keluarganya.

Setelah acara tiup lilin dan makan kecil kecilan, kini tinggallah mereka berempat disana dengan Elyn yang sudah tidur.

“Sekali lagi selamat ulang tahun ya mom, Abang harap mommy selalu sehat dan selalu berada disamping Abang, adek sama Daddy”, ucap Dave.

“Dan sekali lagi terima kasih ya nak, mommy akan selalu berada di samping kalian”, balas Aulia sambil memeluk anaknya.

Dave memberikan kotak kecil kepada ibunya sebagai hadiah ulang tahun.

“Apa ini sayang”?

“Buka aja mom”.

Aulia membuka kotak kecil itu dan melihat sebuah kunci disana.

“Kunci mobil”? Tanya Aulia.

“Iya mom, mobilnya ada di depan”, ucap Dave sambil menarik tangan ibunya untuk melihat mobil yang ia pilih untuk ibunya tadi.

“Taraaa, ini hadiah untuk mommy”, ucap Dave.

“Abang”, ucap Aulia dengan mata yang sudah berembun.

“Eitss, mommy gak boleh nangis”.

Aulia mengangguk dan memeluk tubuh kecil anaknya.

“Terima kasih anak mommy”.

“Sama sama mommy”, balas Dave dan mengecup pipi ibunya.

Dave kembali menarik tangan ibunya untuk masuk ke dalam rumah dan ia ingin melihat hadiah apa yang akan di berikan oleh ayahnya untuk sang ibu.

“Mana hadiah Daddy, Abang pengen liat”.

Rama mengeluarkan tas yang memang sudah ia letakkan di bawah meja, ia mengeluarkan tas itu dan memberikannya kepada Aulia.

“Mas”.

Aulia melongo melihat satu set perhiasan yang sering ia lihat di IG di berikan suaminya untuk dirinya sebagai hadiah ulang tahun.

“Suka”?

“Suka banget mas, makasih”, ucap Aulia dan memeluk suaminya.

“Hoam”.

Dave menguap dengan keras setelah melihat hadiah dari ayahnya, ia pikir ayah nya akan memberikan apa! Dia tidak tau saja berapa uang yang di habiskan ayahnya untuk hadiah ibunya.

“Abang ngantuk”? Tanya Aulia.

“Iya mom”.

“Yaudah Abang duluan aja ya, bentar lagi mommy sama Daddy naik ke atas”.

“Okay mom, good night mom, good night dad” ,ucap Dave dan berlalu dari sana.

Aulia melihat suaminya mengambil kain basah dan menghapus tato yang ada di lengannya, perlahan tato itu memudar dan hilang.

“Mas”.

“Iya sayang”.

“Itu”.

“Hm, cuma tempelan”.

“Ihh, kamu”.

“Sengaja mau bikin kamu marah di hari ulang tahun kamu”.

“CUP, Aulia mengecup bibir suaminya.

“Nakal”, ucap Rama.

Setelah menghapus sebagian tato nya, kini Rama memegang tangan istrinya.

“Selamat hari lahir ya sayang, semoga kamu panjang umur, sehat selalu dan selalu menjadi istri dan ibu yang baik untuk mas dan anak anak kita, mas selalu berdoa supaya kamu selalu di samping kami dan minta sama Allah supaya pernikahan kita selalu dalam lindungannya, i love you.”, ucap Rama dan mengecup pucuk kepala istrinya.

“Aamiin, terima kasih banyak mas, semoga Allah mendengar setiap doa mas, iloveyou too mas”. Balas Aulia.

Bersambung… Sedari tadi ponsel Aulia terus menerus berdering, tapi tak juga di angkat oleh sang empu. Sedangkan orang di seberang sana yang menelpon nya sudah mengomel karna Aulia tak mengangkat nya, dengan kesal ia pun langsung mendatangi rumah Aulia.

Setelah 25 menit menyetir, ia pun sampai di rumah Aulia dan langsung mengucapkan salam.

“Assalamualaikum”.

“Waalaikumsalam”, sahut Aulia.

Aulia melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukanya.

Ceklek

“Heh! Lo budek ya? Gue telfonin dari tadi tapi gak Lo angkat”.

“Apa sih ta, handphone gue di kamar, gue lagi ngurusin anak gue, kenapa”?

Ternyata yang menelpon Aulia itu adalah sahabatnya, letta.

“Lain kali di bawa Napa handphone Lo”.

“Ribet deh Lo, ada apa sih”? Tanya Aulia.

“Masuk dulu sini, anak gue sendirian tuh”, sambung Aulia.

Mereka pun masuk dan berjalan ke arah Elyn yang sedang tertidur.

“Kenapa”? Tanya Aulia lagi.

“Besok malam sekolah kita ngadain reuni, pergi yuk”.

“Lo kesini cuma mau bilang itu”?

“Hum, pergi yaa, ayok lah, kita udah lama gak ketemu sama temen temen SMA kita”.

“Emang acara nya dimana”?

“Di hotel xxx”, jawab letta.

“Ohh, gue tanya suami gue dulu ya boleh apa gak”.

“Rafa ikut kok, jadi pasti suami Lo ngizinin”.

“Oke, nanti kalo suami Lo ngizinin langsung telfon gue ya”, ucap letta.

“Iya letta”.

“Yaudah gue balik kantor dulu ya”.

“Lah, gak main dulu? Tanya Aulia.

“Gue lagi kerja, papay”, ucap letta langsung pergi meninggalkan Aulia.

“Kok bobroknya gak ilang ilang ya”, ucap Aulia.

19:30 WIB.

“Mas”, panggil Aulia.

Rama yang sedang bermain dengan Elyn pun menoleh ketika istrinya memanggil.

“Kenapa sayang”?

“Mmm, tadi letta datang, dia ngajakin aku pergi ke acara reuni sekolah, boleh gak”? Tanya Aulia.

“Rafa pergi juga kok”, sambung Aulia.

“Kalau gitu mas ikut”, ucap Rama.

“Loh, kok ikut sih? Anak anak siapa yang jagain”?

“Nitip ke mama”, jawab Rama.

“Mama kan pergi ke Surabaya lagi mas sama Ranti”.

“Yaudah kita bawa aja anak anak ke sana”, ujar Rama.

“Ck, yaudah lah, gak usah pergi aja aku”, Rajuk Aulia.

“Di sana banyak laki laki sayang, nanti kamu kegoda gimana”? Tanya Rama.

“Boleh apa gak”?

“Say__

“Boleh apa enggak”? Ucapan Rama terpotong dengan pertanyaan Aulia.

“Acara nya dimana? Terus nanti pulang jam berapa”?

“Acara nya di sekolah, ya gak tau pulang jam berapa, pergi aja belum”, ucap Aulia.

“Huft, yaudah deh, tapi jangan macam macam ya, inget! Kamu udah punya mas”, peringat Rama.

“Iya mas, aku inget kok”.

“Yaudah, karna mas udah ngizinin kamu, nenenin mas dulu sini” ucap Rama.

“Ihh, kok gitu sih? Berarti mas gak ikhlas ngizinin aku”.

“Ikhlas sayang, hidup kan harus ada timbal balik nya”, ucap Rama.

“Hishh, nanti aja tunggu adek tidur”.

“Oke baby, nanti kalo adek udah tidur panggil mas ya, mas ke balkon dulu mau ngerokok”.

“Kok sekarang jadi sering ngerokok sih mas? Aku gak mau kasih nen ya kalo kamu bau rokok”, balas Aulia.

“Yaudaaaaaah, mas gak jadi ngerokok kalo gitu, mas nonton aja sekalian nungguin adek tidur”, Jawab Rama.

“Hum”.

Rama membuka ponsel nya untuk menonton YouTube, bukannya Elyn yang tidur kini malah dirinya yang tertidur. Aulia mendesah lega karna suaminya ini sudah tidur, dia tak perlu repot repot lagi memberikan nenen kepada suaminya.

Setelah puas bermain, sekarang giliran Elyn menyusu. merasa puas dan kenyang akhirnya ia menyusul sang ayah yang sudah terlelap. Aulia memindahkan anaknya ke dalam tempat tidur Elyn dan menyusul suaminya ke kasur.

Baru saja dirinya merebahkan badan di atas kasur, Rama langsung menyibakkan bajunya ke atas dan memasukkan susu istrinya ke dalam mulutnya. Rama menghisap susu itu dengan kencang dengan mata tertutup.

“Tidur ayam ternyata”, batin Aulia.

“Ssshhh jangan kenceng kenceng mas, gak ada yang minta, anak kamu udah tidur kok”, ucap Aulia sambil mengelus rambut suaminya.

“Haus mom”, jawab Rama.

“Iya, pelan pelan aja sayang”.

Rama memelankan hisapannya dan memeluk istrinya, lama kelamaan Aulia tak merasakan lagi ada yang menghisap, ia melihat suaminya sudah tertidur dengan nyenyak karna kekenyangan. Aulia dengan perlahan melepaskan putingnya dari dalam mulut suaminya, ia turunkan bajunya lalu menarik selimut dan menyusul suaminya untuk tidur.

***

“Morning mommy”, ucap Dave dengan wajah penuh senyum menuruni anak tangga.

“Morning too ganteng nya mommy”.

“Morning adek”, ucap Dave dan mengecup pipi adiknya.

“Kenapa pagi pagi udah bangun hm? Mau bantuin mommy masak ya”? Tanya Dave pada Elyn.

“Mam mam ma”.

“Mommy adek, bukan mama”, koreksi Dave.

“Mam mamma”.

“Serah adek aja lah”, ucap Dave.

Aulia tersenyum melihat putra nya yang terus menerus mengeluh karna adik nya yang memanggil dirinya mama bukan mommy.

“Adek masih kecil sayang, kalo udah gede juga nanti manggil nya mommy, abang juga dulu gitu kok”, ujar Aulia.

“Tapi adek ini gak denger omongan mom, kan udah Abang ajarin”, ucap Dave.

“Heh ! Enak aja bilang anak Daddy gak denger omongan”, timpal Rama yang sedang berjalan ke arah anak dan istrinya.

“Jadi Abang bukan anak Daddy”? Tanya Dave.

“Ya anak Daddy juga, tapi yang ini anak kesayangan Daddy”, jawab Rama sambil mencubit pipi Elyn.

“Hissh”, Rajuk Dave.

“Abang juga anak kesayangan Daddy, jagoan Daddy, yang gantiin Daddy nanti kalau Daddy udah gak ada di dunia ini lagi”, ucap Rama.

“I ihhhh, Abang paling gak suka kalau mommy sama Daddy ngomong kayak gitu”, balas Dave.

“Daddy cuma ngasih tau aja sayang, udah ah, masa jagoan Daddy ngambek gitu”.

“Abang gak suka kalian ngomong kayak gitu, Abang gak akan siap kalau mommy sama Daddy gak ada di samping Abang”, ucap Dave yang sudah berlinang air mata.

Aulia menghampiri anak sulungnya dan langsung memeluknya.

“Uluh uluh, bujangnya mommy, udah ya sayang yaa, Daddy gak bener bener kok ngomong kayak gitu, Daddy ngomong nya cuma asal”, jawab Aulia.

Dave menggelengkan kepalanya dalam pelukan sang ibu.

“Tolong jangan ngomong kayak gitu lagi”, ucap Dave yang masih menangis.

“Iyaa, nanti mommy marahin Daddy supaya gak ngomong sembarangan lagi”, balas Aulia sambil mengusap air mata anaknya.

“Masa udah ganteng gini mau ke sekolah malah nangis sih, kalau Tania liat Abang begini pasti nanti di ejekin sama Tania”, sambung Aulia.

Dave langsung menghapus air matanya dan langsung tersenyum.

“Abang gak nangis lagi kok, Tania gak boleh liat Abang nangis”, ucap Dave.

Rama yang melihat itu pun langsung tercengang, kenapa anaknya berubah begitu cepat jika sudah menyinggung nama anaknya si kunyuk Arkan. Waah, benar benar luar biasa anaknya ini.

“Preeet, tadi aja nangis, denger nama Tania langsung senyum”, ucap Rama.

“Mas”.

“Apa sayang? Bener kan yang mas bilang”? Tanya Rama.

“Daddy, jangan sampai Abang kasih tau mommy ya”, ucap Dave.

“Kasih tau apa”? Tanya Rama.

“Yang waktu Daddy jemput Abang di sekolah kemarin”.

“Apa”? Tanya Rama lagi yang masih binggung.

“Ada yang nyamper___

“Aaaaaaaaaaaaaa”, tiba tiba Rama berteriak untuk menghentikan ucapan anaknya.

“Mas, kenapa ih”? Tanya Aulia.

“Mas lupa kalau ada rapat pagi ini, mas pergi dulu ya”, ucap Rama yang langsung mencium pipi istri dan putrinya.

Rama berjalan ke arah Dave dan membisikkan sesuatu di telinga anaknya.

“Jangan kasih tau mommy, nanti Daddy beliin handphone untuk nelfon Tania”, ucap Rama.

“Mommy, Daddy nyo__

“Oke sayang, Daddy berangkat dulu ya”, ucap Rama sambil mengusap kepala Dave dan memelototkan matanya.

Setelah melihat suaminya pergi, Aulia melihat Dave yang tengah berpura pura makan.

“Abang”, panggil Aulia dengan lembut

Dave mendongak dengan senyum yang menampilkan lesung pipinya.

“Ngomong sayang, mommy mau denger”.

“Ngomong apa mommy”? Tanya Dave.

“Yang mau Abang aduin ke mommy soal Daddy tadi”.

“Tapi Abang sudah janji sama Daddy gak akan ngomong ini ke mommy”, ucap Dave.

“Gitu ya”, jawab Aulia dengan wajah murungnya.

Melihat wajah ibunya yang murung, mau tak mau Dave memberi tahu tentang Freya yang mencoba untuk memegang tangan ayahnya kemarin.

“Apa? Terus Daddy kamu diem aja”? Tanya Aulia.

“Enggak kok mom, pas ibu fey mau pegang tangan Daddy, Daddy menghindar kok”, jawab Dave.

“Mommy jangan marah sama Daddy ya, nanti Abang di bilang ingkar janji sama Daddy”, sambung Dave.

“Iya sayang, mommy gak akan marah sama Daddy, sekarang Abang erangkat sekolah ya, udah mau telat itu”, ucap Aulia.

Dave bangun dari duduk nya dan menyalim tangan ibunya lalu mencium pipi adiknya.

“Abang berangkat sekolah ya dek, jangan nakal, jangan nangis, jangan nyusahin mommy, Abang pergi ya mom, assalamualaikum”, ucap dave.

“Waalaikumsalam abang”.

18:30 WIB.

Kini Aulia tengah sibuk memilih baju untuk ia pakai nanti, sudah berapa dress yang ia coba dan ia lempar juga karna merasa tak cocok. Rama yang hanya rebahan pun menjadi ikut capek melihat istrinya itu.

“Pake piyama aja udah”, ucap Rama.

“Mas mau aku keliatan kayak gembel gitu”?

“Habisnya semua dress gak cocok kamu bilang, padahal cantik semua”, balas Rama.

“Pake ini aja deh”, ucap Aulia sambil mengangkat lingerie hitam kesukaan suaminya.

“Heh! Jangan Ngada Ngada kamu”, sergah Rama.

“Hahaha iya iya enggak, bercanda bapak”.

Aulia masih memilih dan memilah baju yang akan ia pakai, akhirnya pilihannya jatuh pada long dress bewarna biru pekat dengan tali spaghetti, aulia langsung memakai gaun itu dan berjalan menuju meja riasnya untuk memoles wajahnya.

“Yang, kamu pake baju itu”? Tanya Rama.

“Hum”, jawab Aulia sambil mengoleskan blush on dipipinya.

“Gak gak, ganti, apa apaan baju kayak gitu, keliatan bahu sama punggung kamu, terus belahan tete kamu juga keliatan”, ucap Rama yang tak terima.

“Apa sih mas, mana ada belahan tete aku keliatan”.

“Ganti yang”, suruh Rama.

“Aku udah selesai loh ini, mau ganti apa lagi”.

“Ganti atau gak usah pergi”.

“YAUDAH, AKU GAK USAH PERGI, JAGAIN ANAK AJA DI RUMAH”, Ucap Aulia yang sudah ingin menghapus make up nya.

Rama berjalan menuju ke arah istrinya dan menahan tangan istrinya agar tak menghapus riasannya.

“Iya iya, kamu boleh pergi”, pasrah Rama.

“Maaf kalau selama ini kamu cuma jagain anak anak aja di rumah, maaf ya sayang”, sambung Rama.

“Kalau ada apa apa langsung telfon mas ya”.

Aulia melihat iris mata suaminya dan mengangguk dengan memajukan bibirnya.

“Jangan gitu bibirnya, mas gak jadi izinin nanti nih” ucap Rama.

“Iya iya, makasih ya mas”, balas Aulia.

“Kembali kasih sayang”.

Tok

Tok

Tok

“Maaf non, di bawah ada mbak letta sama den Rafa”, ucap bik Sumi dari luar.

“Iya bik, bentar lagi aku turun”, sahut Aulia.

“Baik non”.

“Aku pergi ya mas, susu adek udah aku siapin”, ucap Aulia.

“Iya sayang, inget ya jangan macem macem”, peringat Rama berulang kali.

“Iya Daddy, yaudah aku jalan dulu”, ucap Aulia sambil mengecup bibir suaminya.

***

Di dalam perjalanan, Aulia merasa seperti obat nyamuk, letta dan Rafa asik bermesraan di depan sana seperti tidak menganggap Aulia ada.

“Heh! Lo berdua gak nganggap gue ya”?

Letta menoleh ke belakang dan berpura pura lupa bahwa sahabat nya itu ada di belakang.

“Maaf Aul, gue lupa kalo Lo disini juga”.

“Tai Lo”.

“Kalo bang Rama tau kak lia ngomong begini gimana ya kak”? Tanya rafa.

“Ya jangan lah”, jawab Aulia.

Letta dan Rafa tertawa, sementara Aulia hanya memasamkan wajahnya di kursi belakang.

Setelah hampir 30 menit di perjalanan, kini mereka telah sampai di sekolah tempat mereka menimba ilmu dulu. Sekolah nya sekarang terlihat sangat megah dan luas, mereka berjalan menuju aula tempat dimana acara reuni berlangsung.

Sampai di aula yang sangat besar itu letta berpisah dengan Rafa, sekarang ia berjalan dengan Aulia dan membaur bersama teman teman sekolahnya dulu.

Mereka saling mengungkapkan rindu dan bertukar nomor ponsel, setelah berbincang dan tertawa dengan lepas kini Aulia merasa haus.

Ia menuju meja yang terdapat makanan dan minuman, ia mengambil sebuah gelas yang berisikan air jus lalu ingin duduk di sebuah kursi yang telah di sediakan di sana, saat ingin membalikkan badannya, tak sengaja seseorang menumpahkan jus ke gaunnya, jus itu tumpah mengenai bagian dadanya.

“Aduh, maaf maaf, saya gak sengaja”, ucap pria yang tak sengaja menumpahkan jus di gaun Aulia.

“Iya gpp kok”, balas Aulia sambil membersihkan gaunnya.

“Aulia”.

Aulia mendongak kan wajahnya ketika pria itu memanggil namanya.

“Kamu.. aulia kan”?

“Iya”.

“Kamu gak ingat aku”?

Aulia melihat wajah itu dan coba mengingat nya, tapi nihil ia tak mengingat siapa pria di depannya ini.

“Aku Ricco, ketua OSIS”.

“Ricco”?

“Iya, aku pernah ngasih kamu air dingin waktu pelajaran olahraga pak Rama”.

Aulia langsung mengingat kejadian itu, dan karna kejadian itu lah Rama menjadi marah dan menuduhnya mempunyai hubungan dengan Ricco.

“Iya iya, aku inget sekarang”, jawab Aulia.

“Hehe, kamu apa kabar”? Tanya Ricco sambil menyodorkan tangannya.

“Aku baik kok, kamu”? Balas Aulia dengan saling bersalaman.

“Baik juga, maaf ya gara gara aku baju kamu basah”, ucap Ricco yang reflek ingin membersihkan baju Aulia yang di bagian dadanya.

Dengan cepat aulia sedikit memundurkan badannya.

“Gpp kok, nanti aku bersihin”, ucap Aulia.

“Ah maaf”.

Tanpa sepengetahuan Aulia, ada yang memotret dirinya dengan Ricco saat mereka bersalaman dan saat Ricco ingin menyentuh bagian dada Aulia karna bermaksud ingin membersihkan gaunnya.

Orang yang memotret itu pun tersenyum senang dan mengirim foto itu kepada Rama.

22:30 WIB.

Rama sedang bermain game sembari menunggu istrinya pulang, Elyn sudah tidur sejak tadi dan sudah meminum susunya.

Tengah asik bermain game, tiba tiba ada pesan yang masuk di aplikasi berwarna hijaunya. Dengan malas Rama membuka pesan itu dan____ Ia mengumpat dengan amarah yang sudah di ujung tanduk. Ia mencoba menelfon istrinya, tapi tak diangkat oleh sang istri. Dengan penuh rasa kesal dan amarah, Rama berjalan keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah kamar bik Sumi untuk menjaga Elyn sebentar, karna ia ingin menjemput Aulia.

Baru saja ia ingin menyalakan mobilnya, Aulia menelpon dan langsung di sambut oleh suara dinginnya.

“Hal__

“Pulang sekarang!

PIP, Rama langsung mematikan panggilannya dan kembali masuk ke dalam rumah.

Setelah menunggu selama dua jam di ruang tamu, kini istrinya telah pulang dengan sebuah jas yang terlampir di bahu mulusnya.

“Kamu gak liat jam”?

“Kamu gak inget pesan mas”?

“Jas siapa yang kamu pake”?

“Jawab”? Bentak Rama karna tak mendapat satu jawaban pun dari istrinya.

Rama melangkahkan kaki nya menuju ke arah Aulia yang hanya berdiri tegak dan menunduk.

Seketika, amarah Rama semakin memuncak ketika mencium bau alkohol di tubuh istrinya.

Plak..

Bersambung… Plak..

Rama menampar pantat istrinya dan meremasnya dengan kuat, ia mendekat kan tubuh istrinya dan kini tubuh mereka saling menempel.

“Kamu minum alkohol”? Tanya Rama dengan wajah yang sangat tidak bersahabat dan dengan nada dinginnya.

Aulia menggelengkan kepalanya karna tak berani mengeluarkan suara. Rama melepaskan remasan nya dan memundurkan sedikit tubuhnya, ia mengambil jas yang melampir di tubuh istrinya lalu membuangnya ke lantai.

“Kamu mau main main sama aku ya”?

“Ha”? Bentak Rama lagi.

Rama mendorong tubuh istrinya hingga memepet ke dinding.

“Sekali lagi aku tanya Aulia, itu jas siapa? Dan kenapa kamu minum alkohol”? Tanya Rama.

Masih sama seperti tadi, Aulia hanya diam dan ketakutan melihat suaminya seperti ini.

Rama yang tak mendapat jawaban langsung menonjok dinding tepat di sebelah istrinya, ia menonjok dinding dengan sangat brutal tanpa menghiraukan rasa sakit dan darah yang sudah berceceran di tangannya.

“Mas”, pekik Aulia.

Ia mencoba menghentikan suaminya dengan menahan tangan besar itu agar berhenti menonjok dinding, namun kekuatan Aulia kalah dengan suaminya. Tak kehabisan akal, Aulia langsung memeluk tubuh suaminya dari belakang dan menangis meminta maaf.

“Udah mas, udah, aku minta maaf”, ucap Aulia.

Rama seketika menghentikan kegiatannya dan langsung membalikkan badannya untuk melepaskan pelukan Aulia dari tubuhnya.

“Siapa laki laki yang salaman sama kamu dan yang coba coba mau nyentuh susu kamu ini”? Tanya Rama dengan meremas dengan kasar payudara istrinya.

“Awwhhh, sakit mas”.

“Itu jas dia juga kan”? Tanya Rama lagi.

“I-iya”.

“Dia siapa”?

“Dia gak sengaja nump__

“Aku tanya dia siapa? Aku yang cari tau atau kamu yang kasih tau aku”, ujar Rama.

“Mas”.

“Kalau aku cari tau, dia mati di tangan aku”.

“Mas”.

“Kamu belain dia? Mau nyembunyiin dia”?

Rama langsung menggeret istrinya masuk ke dalam kamar tamu, ia membuka pintu itu lalu menutupnya kemudian mengunci pintu kamar tamu itu. Ia mendorong tubuh kecil Aulia ke atas kasur lalu merobek gaun itu.

Srak

“Mas”, pekik Aulia.

“Kamu sengaja pake gaun itu supaya laki laki lain liat tubuh kamu kan? Iya kan”?

“Enggak mas”, jawab Aulia.

“Dimana laki laki itu Nyentuh kamu ha? Disini? Tanya Rama yang sudah meremas susu istrinya lagi dengan sangat keras.

“Awhhh, sakit mass”.

Plak

Plak

Plak

Rama menampar berulang kali susu Aulia yang sudah sangat merah.

“Sakit mas, ampun”, ucap Aulia sambil menangis.

“Aku udah bilang sama kamu, jangan pake gaun itu, tapi apa? Kamu nakal dan ternyata kamu udah janjian sama laki laki itu”, ucap Rama dengan senyum miringnya.

“Foto itu gak sama kayak apa yang ada di pikiran kamu mas”, balas Aulia.

“Siapa yang ngirim foto itu”?

“Kamu gak perlu tau siapa yang ngirim, yang perlu kamu tau, kamu harus jadi istri yang penurut”, jawab Rama sambil menampar serambi lempit istrinya.

Plak

“Aakhhh, udah mas”.

“Kamu udah mulai nakal sekarang, kamu harus aku hukum”, ucap Rama.

“Aakhhhh, sakit mas”, ucap Aulia ketika Rama menggesek jarinya dengan kasar serambi lempitnya di luar celana dalamnya.

“Hikss..hikss udah mas, sakiit”.

Rama dengan tergesa gesa bangun dan membuka baju serta celananya, ia membuka dengan kasar celana dalam istrinya lalu mengocok sebentar rudalnya dan memasuki serambi lempit Aulia dengan kondisi yang masih kering.

Jleb

“Aaakkhh sakit mas, mmmhh keluarin mas”.

“Aaakhhh”.

Rama mendengar rintihan istrinya lalu menggenjot serambi lempit itu dengan kasar, tangannya meremas dan menampar susu Aulia yang bergoyang mengikuti ritme genjotannya.

“Ampuun Maas, sakithh”.

“Sssttt, diem!

Rama menundukkan tubuhnya untuk mencium bibir Aulia, ia gigit bibir bawah istrinya hingga berdarah dan menyedotnya kembali, lalu ia melesakkan lidahnya kedalam mulut istrinya dan mengajak lidah lawannya untuk saling menyedot.

Ciumannya kini turun ke dagu lalu ke leher Aulia, ia jilat kemudian ia sesap leher putih itu dan menggigit kecil hingga meninggalkan banyak bekas gigitan dan warna merah di sana.

Pinggulnya masih menghentak dengan kuat di bawah sana, mulutnya sekarang sudah berada di susu montok nan sekal Aulia, ia menggigit daging susu itu dan menghisap nya hingga merah lalu memasukan puting yang sudah tegang ke dalam mulut hangatnya, ia gigit dan ia tarik puting itu hingga istrinya menjerit kesakitan.

“Aaakhhh sakit mas, udah mas, ampuun, aku minta maaf”, ucap Aulia sambil memukul punggung suaminya yang masih menggigit putingnya.

“Hiks..hikss sakit mas, lepasin”.

“Aakhh..aakhh..aakhh enak banget serambi lempit kamu yanghh, kedutin lagi sayanghhh”.

“Aakhh sakit, udah mas, udahh”.

“Udah apa? Hm? Kita bakal menyetubuhi sampe mas puas”.

“serambi lempit aku sakit mas, perihh”.

“Nikmatin aja sayang, siapa suruh kamu nakal hm”.

“AKU GAK NAKAL, LEPASIN”, Pekik Aulia.

“Aaaakhhhh”, desah Aulia ketika Rama dengan kencang nya menumbuk serambi lempitnya dengan rudal.

“Aakhhh, ngelawan kamu yaa, hm, sini mas sodok lagi”.

“PLOK..PLOK..PLOK”.

“Aakhhh..aakkhh..aakkhh enak nya serambi lempit istri mas inii, Ssshhh liat sayang, serambi lempit kamu nyedot rudal mashh babyhh”.

“Nggghhh udah mas, aku mau keluarhh.. mmmhh”.

“Keluarin sayangh, kuarin yang banyak, basahin rudal Mash.. ngghh”.

“Aaakh..aakhh..aakkhh keluar, keluarh Mash..aaakkkhhh”.

CROT

CROT

CROT

Rama mengusap dan memainkan itil istrinya dengan cepat, padahal Aulia sedang menikmati pelepasannya.

“Aaakhhh maaasss, jangan, jangan di gituinhh”.

“Aakhh sayanghh, serambi lempit kamu kedut lagiihh yanghh, mmhhh”.

“Stoph mashhh”.

Rama kembali menghentakkan rudalnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Aulia.

“Aakhh..aakhh..aakhh peluk Mash sayanghhh, aakkhh rudal mas enak banget di dalam sana”.

Aulia memeluk leher suaminya dan melingkarkan kaki nya di tubuh Rama.

“Aakhh pelanh masshhh, serambi lempit aku perihh”.

“Gak sayanghh, rudal Mash suka ngasarin serambi lempit kamu babyhh.. aakhh enakh nyaaa, enak bangethh sayanghhh”.

“Ukkhh mau keluar lagi Mash, akkhh”.

“Bareng babyhh.. mas juga mau keluarhh.. akkh..akkhh..aakkhh”.

“Keluar mashh..aaaakkhhhh”.

“Auliaaaaaahhhhhh”.

“Aaaaakkkkhhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

“Akhhhhh enak sayanghhh”.

“Mmmhh, keluarin mas, serambi lempit aku bener bener perih”.

Rama bangun dari menindih tubuh kecil istrinya, ia menatap dalam dalam mata istrinya yang sudah hampir 7 tahun bersamanya, selama ini Aulia tidak pernah macam macam dengannya, jadi ia takut jika istrinya meninggalkan nya.

“Mas mau kamu jujur sama mas”, ucap Rama.

“Jujur apa mas”?

“Siapa laki laki yang ada di foto? Apa hubungan kamu sama dia”? Tanya Rama.

“Aku gak ada hubungan apa apa sama dia, dia Ricco”.

“Ricco? Ricco yang ngusap kepala kamu waktu sekolah dulu”? Tanya Rama lagi.

Aulia menganggukkan kepalanya dan tiba tiba serambi lempitik dengan keras.

“Aaaakkkh”.

Rama dengan rasa marah dan cemburu menghentakkan batangnya dengan keras menusuk serambi lempit Aulia.

“Sakit”.

“Jadi ini alasan kamu tetap mau pergi walaupun mas larang? Iya”?

“Apa sih mas, aku juga baru tadi disana ketemu sama dia”, jawab Aulia.

“Terus alkohol? Siapa yang suruh kamu minum alkohol”?

“Tanya sama adek kamu sana”, ucap Rama.

“Rafa”?

“Iya lah, dia yang ngasih aku air bening itu, katanya air putih, pas aku minum dia langsung nutup mulut aku supaya gak di muntahin”, Jawab Aulia.

“Brengsek”.

Plak, Aulia menampar mulut Rama.

“Aduh, kenapa di tampar”? Tanya Rama.

“Kelakuan kamu sekarang itu yang Breng___

“Aaaakkhhh”.

Sebelum Aulia menyelesaikan ucapannya, Rama lebih dulu menghentakkan pinggulnya dengan keras.

“Sakit tau, lepasin gak”.

“Gak, kita menyetubuhi sampe pagi, sampe mas puas, sampe kamu gak bisa jalan”, ucap Rama.

“Kamu jahat tau gak, kamu lebih percaya sama apa yang kamu pikirin tanpa mikirin aku, bukan fisik aku aja yang sakit sekarang, tapi hati aku juga sakit”, ucap Aulia.

“Siapa yang gak mikir macam macam kalo udah liat dia mau megang ini”, ucap Rama sambil memegang dengan lembut susu istrinya.

“Tapi gak langsung main kasar kayak tadi, sakit mas”.

Rama langsung mencabut rudalnya dengan pelan dan langsung mencium serambi lempit istrinya dengan lembut.

“Maafin Daddy ya sayang, mmwaah”.

“Maafin mas ya”, ucap Rama.

“Mas dapat foto itu dari Rafa”, sambung Rama dan menunjukkan isi chat nya dengan Rafa.

Rafa

✉️

“Aku terbakar cemburu cemburu buta, tak bisa ku padamkan amarah di hatiku. Sakit, menahan sakit hati”. Slebewww, gas keun kak Aulia !!

“Gara gara chat kayak gini mas tega ngasarin aku”?

“Bukan gara gara isi chat nya, foto nya loh”, jawab Rama.

“Mas gila”.

“Iya, mas tergila gila sama kamu sayang”, ucap Rama.

Kini Rama ikut berbaring di samping istrinya, ia memainkan jari jari Aulia dan mengulum jari itu serta menghisapnya.

“Masshh”.

“Hum”.

“Aku obatin tangan mas dulu”.

Rama menggeleng kan kepalanya, ia melepaskan kulumannya dan langsung bersembunyi di belahan dada Aulia.

“Hikss..hikss”.

“Loh mas, kenapa nangis”? Tanya Aulia yang berusaha mengangkat wajah suaminya.

“Maaf, hikss”.

Aulia membiarkan suaminya yang tadi seperti reog ini menangis, ia usap kepala suaminya agar tenang dan nyaman di pelukannya.

“Hikss, kenapa diem aja sayang? Kamu gak maafin mas ya”?

“Aku yang salah, aku keluar gak inget waktu, aku gak dengerin mas supaya gak pake gaun itu, yang paling salah itu Rafa, besok aku tonjok dia”, ucap Aulia menenangkan suaminya.

“Mas udah kasar sama kamu sayang, maafin mas, jangan benci sama mas, jangan cari yang lain”.

Aulia tertawa renyah mendengar perkataan suaminya, ia tak marah sama sekali dengan perbuatan suaminya yang tadi, ia memaklumi suaminya karna terbakar rasa cemburu.

“Aku udah maafin mas, gak benci sama mas dan gak akan cari yang lain selain jeon jungkook “, ucap Aulia.

“Sayaaaaaang”, rengek Rama.

“Haha iya sayang, gak akan cari ya g lain kok, udah cukup dan bersyukur banget udah punya mas dan anak anak di hidup aku”.

“Hikss..hikss, mas sayang sama kamu yang”, ucap Rama dan memeluk istrinya.

“Udah jangan nangis lagi, aku juga sayang banget sama mas”, balas Aulia.

“Kita jadi kan menyetubuhi lagi”, ucap Rama.

“Sempet sempet nya masih mikir begituan”, batin Aulia.

“Yang, jangan diem ih”.

“Iya sayang, jadi.

Rama langsung bangun dari dada istrinya dan mencium bibir yang tadi ia kasari, sekarang ia cium bibir itu dengan lembut dan penuh kasih sayang, ia jilati bibir atas bawah Aulia dan mereka saling menarik dan menyedot lidah.

02:00 WIB.

“Gak tahan yang, main sekarang ya”.

“Pelan mas masukin nya, masih perih”.

“Iya baby”

Jleb

“Nnghhhh”

“Call me Daddy babyhh, aakhhh”.

“Aakhhh, daddyhhh”.

“Ssshh iya babyyhh, kenapa sayanggh? rudal Daddy enak? Iya”?

“Mmhh iya Daddyh, rudal Daddy enakhh, serambi lempit baby suka dadhh”.

“Kalo gitu Daddy genjot sampe baby lemesh ya sayanghh, sampe serambi lempit nya minta ampunhh”.

“Iya dadhh, entot babyh dadhh, rudalin serambi lempit tembem babyh, habisin babyh daddyhhh, aaakkhhhh”.

“Aakhh..aakhh..aakhh babyhh enakh banget babyhh.. ssshh aakkhh..Daddyh rudalin serambi lempit kamu sayanghh..aakkhh enakhh aakkhh”.

“Aaakkhh terus daddhh, genjot yang dalam rudal Daddyh, hamilin baby dadhhh”.

“Fuck babyyhh, aakkhh serambi lempit kamu nikmat banget sayangh, Daddy hamilin kamu sayanghh, Daddy buat perut kamu buncit lagihh.. aakkhh sayanghhh”.

“Aaakkhh mau keluar dadhh, akhh gak tahanh sayanghh, rudal Daddy enakhhh”.

“Keluarin sayanghh, keluarinhhh”.

“Aaakh..aakkhh keluarhh dadhhh aaaaaakkkhhhh”.

CROT

CROT

CROT

“Aaaakkhh daddyy, enakk dadhhh”.

Rama mengangkat Aulia dan menggendongnya lalu mendudukkan nya di atas meja rias, ia membuka lebar lebar paha istrinya dan kembali menggenjot dengan penuh nafsu sambil memainkan itil nya.

“Aakkh..aakhh..aakkhh liat baby, liat rudal Daddy masuk ke dalam serambi lempit kamuh, liat sayanghhh, uuhhmmm”.

“Aaakhhh jangan berhenti Daddy, terush sayanghh, akkhh enak banget genjotan Daddyh”.

“Nngghh serambi lempit kamu kedut bangeth sayanghh, rudal Daddy kayak di pereshhh.. oghhhhh babyhhh”.

“Baby mau keluar lagi dadhhh, cepetinhhh..akhh..akkkhh..aakkhh Daddy keluarh dadhh.. keluar sayanghhh..aaaakkkhhhhhh”

Aulia sudah keluar dua kali, tapi suaminya masih tahan belum keluar sama sekali.

Rama kembali menggendong Aulia membawanya ke kasur, ia menyuruh istrinya menungging dan mereka lanjut melakukan kegiatan panas mereka.

04:00 WIB.

“Aaaakhh daddyhh, uuhhmmm enakh daddhh, terussshh daddyhh, babyhh suka rudal Daddyhh..nngghh aakkhh”.

“Iya sayanghh iyaa, Aaakkhh enaknya menyetubuhiin kamu sayanghh, ngghhh serambi lempit nakal yang suka jepit rudal daddyhh.. mmmhh”.

“Aakkhh ramaahh, enakh banget sayanghhh, perkosa terushh istri kamu sayanghhh”.

Plak,Rama menampar serta meremas pantat istrinya. Tangannya meremas dengan kasar dua susu Aulia.

“Aaakkhh enaknya menyetubuhi sambil remes tete kayak ginii, putingnya kerashh banget babyyhh”

“PLOK..PLOK..PLOK”

“Aaaakkhhh lagihh, pengen keluar lagi dadhhhh, akkhh rudal, rudal Daddy enakk.. baby mau crot dadhh”

“Bareng sayanghh, akhhh sial serambi lempit enakh bangethh.. Daddy keluar sayanghhh.. aaaaaakkhhhh”

“Aaaaaakkhh daddyhh”

CROT

CROT

CROT

“Aakkhh sayanghhh”, desah Rama dan memeluk istrinya yang masih menungging.

“Huh..Huh..Huh”

Rama melepaskan rudalnya dan menjilat lubang Aulia dengan rakus sampai bersih. Setelah bersih ia menyuruh Aulia berbaring dengan benar lalu ia menyusul berbaring di samping istrinya.

“Capek”? Tanya Rama.

“Hum”, balas Aulia dengan menganggukkan kepalanya.

“Yaudah tidur lah”.

“Iya mas”, ucap Aulia dan memeluk suaminya dengan erat.

06:00 WIB.

Rama terbangun dari tidurnya karna ingin buang air kecil, ia menyingkap selimutnya lalu turun dari kasur dan melangkah menuju kamar mandi.

Setelah selesai dengan pipisnya, ia kembali ke atas kasur dan melihat tubuh putih istrinya yang telanjang bulat dan di penuhi bekas gigitan dan cupangan.

Ia merangkak mendekati istrinya lalu melebarkan paha sang istri dan langsung mencium serambi lempit itu, ia buka membuka lipatan serambi lempit istrinya yang merah dengan jarinya langsung menjilat serta mengobrak Abrik serambi lempit itu dengan lidahnya.

Aulia menggeliat dari tidur nya dan merasakan sensasi geli di serambi lempitnya, ia membuka mata lalu melihat suaminya sudah sibuk dengan serambi lempitnya di bawah sana.

“Nngghh, masih pagi masshh”.

Rama mendongak melihat wajah istrinya.

“Morning sex baby”.

Rama melanjutkan kembali kegiatannya memakan sarapan serambi lempit Aulia, tangannya sekarang sudah berada di susu kembar Aulia, ia remas dengan lembut dengan mulut yang masih menjilat serambi lempit Aulia.

“Aakhh, Ssshh kok gak puas puas sih dadhhh”.

Aulia melengkungkan badannya ke atas ketika serambi lempitnya ingin mengeluarkan sesuatu.

“Keluarh mass, aaaakkhhhhhhh”.

SLURP..SLURP..SLURP

“Akkhhh, udah masss, ssshh ngilu sayanghh”.

Rama bangun dan mengocok rudalnya sebentar lalu menusuk lucang serambi lempit yang sudah banjir itu.

Jleb

“Akkhhhh babyyhhh, kok langsung di sedot sih sayang rudal Daddy, kan baru masukk”.

“Nggghhh, enak dadhh, serambi lempit gak bisa nunggu lama lama buat gak nyedot rudal Daddyhh”.

“Kamu makin hari makin pinter buat Daddy sange babyhh”.

“Daddy sekarang sange liat baby”?

“Banget sayanghh, rasanya gak mau berhenti menyetubuhiin kamu, Daddy suka menyetubuhiin kamu babyhh, Daddy mau punya banyak anak sama kamu sayanghh, mau ya Daddy entot tiap hari sayanghh, Daddy tumpahin Peju Daddy tiap hari dalam serambi lempit tembam kamuhh, Mmmhhh”.

“Aakkhh Daddyhhh, baby mau dadhh, hamilin terus istri kamu ini dadhh, baby siap nampung Peju daddyh tiap harii, ayoo dadhhh genjot babyh sekarang, habisin serambi lempit nakal babyhh daddyhh, Aaakkhhh sayanghhh”.

“Aaakkhh..aakkhh..aakkhh mulut sama serambi lempit sama sama nakal, rasain nih rudal Daddyhh, aakhh..aakkhh”.

“Aakhh..aakhh..aakkhh rudal gede, rudal panjanghh, terush entotin serambi lempit babyyh ya rudalhh..aakkhh hamilin babyhh..baby pengen menyetubuhi dengan perut buncit..aakkhhh iya sayanghh awhhh enakh bangethhh”.

Rama menggenjot dengan cepat dan mengigit daging susu Aulia, tangan kirinya meremas dan memelintir puting susu yang sudah tegang, sedangkan susunya yang kanan di gigit oleh suaminya dan putingnya di sedot lalu di tarik tarik.

“Aakkhh daddyyhhh, ampuunhh daddhh, enakh banget sayanghh, uukkhhh baby gak tahan daddhh, mau keluarhhh”.

“Aakkhh..aakkhh..Aaakkhh siap siap terima Peju Daddy sayanghhh.

“Aakkhh..aakkhh mau keluarhh akkhhhhhh”.

“Aaaakkk Daddy keluar sayanghh aaakkhhhh”.

CROT

CROT

CROT

“Aaaaakkkkhhh”.

“Mmmhhh, hangat banget daddhh perut babyhh”.

Rama mengusap usap perut rata istrinya.

“Love you baby”.

“Love you too Daddy”.

Bersambung… Hujan mengguyur kota jakarta hari ini, Rama dan Aulia masih nyenyak di peraduan mereka padahal hari sudah menunjukan pukul 09:00 pagi.

Tok

Tok

Tok

“Mom, dad”.

“Mommy, Elyn masuk ya”.

Karna tak mendapat jawaban dari orang tuanya, Elyn pun langsung masuk ke dalam kamar.

Ceklek

Elyn masuk lalu menutup kembali pintu kamar orang tuanya, ia melihat ayah dan ibunya masih tidur dengan saling berpelukan.

Elyn menaiki kasur lalu berbaring di tengah tengah ayah dan ibunya.

“Enghh”, Rama mengeliat dan perlahan membuka matanya.

Rama terkejut melihat ada seorang anak perempuan yang berumur 8 tahun tengah berbaring di tengah tengah ia dan istrinya.

“Aaaaak” teriak Rama.

Aulia terkejut dan langsung bangun karna teriakan suaminya.

“Kenapa sih mas”?

“Ini”, tunjuk Rama ada Elyn.

Aulia melihat ke arah yang di tunjuk suaminya.

“Kenapa”? Tanya Aulia.

“Siapa”?

Plak, Aulia menampar lengan suaminya.

“Amnesia kamu? Anak kamu ini”, Jawab Aulia.

Rama bangun dan mengucek ngucek matanya, lalu melihat dengan seksama.

“Elyn”?

“Iya mas, astagaa, kamu kenapa sih? Bangun terus cuci muka sana”.

“Kok udah gede aja”?

“Bangun terus cuci muka mas atau aku cuci otak mas”.

“Hish, iya iya sayang”.

Rama bangun dan berjalan menuju kamar mandi, ia mencuci wajahnya dan memandang cermin.

“Hehe, bener ! Yang tadi Elyn anak gue, berarti tadi gue cuma mimpi dong kalo gue baru nikah sama Aulia”, ucap Rama berbicara pada dirinya sendiri di kaca.

“Maaas, kok lama cuma cuci muka aja”, teriak Aulia.

“Iya sayaaang, ini udah selesai”.

Rama keluar dari kamar mandi dan langsung memeluk tubuh anak perempuannya.

“Anak Daddy udah gede ternyata”, ucap Rama.

“Mas kenapa sih? Kok aneh banget? Udah mau di panggil ya”? Tanya Aulia.

“Heh! Mulut kamu ya, emang kamu mau jadi janda”?

“Janda muda, boleh lah”, jawab Aulia.

“Mas gentayangin kamu”.

“Hahaha biasa aja dong muka nya, tadi kenapa sayang”? Tanya Aulia.

“Mas mimpi kalau mas baru nikah sama kamu, terus kaget aja tiba tiba bangun udah ada ini anak, perasaan baru semalam deh kita ehem ehem yang”.

“Mangkanya baca doa mas sebelum tidur, jangan mesum Mulu pikirannya”, ucap Aulia.

“Mesum itu apa mommy”? Tanya Elyn.

“Tuh, jawaaab”, ucap Rama pada istrinya dan beranjak pergi keluar kamar.

“Bukan apa apa kok sayang, Abang mana”? Aulia mengalihkan pembicaraan.

“Tadi main PS mom, Elyn Ndak boleh ganggu katanya”, Jawab Elyn.

“Yaudah, adek susulin Daddy kebawah ya, mommy mandi dulu”.

“Okay mommy”.

Elyn keluar dari kamar orang tua nya lalu menyusul ayah nya yang entah dimana, setelah mencari kemana mana ternyata ayah nya sedang bergabung dengan sang Abang.

“Daddy, Elyn cariin kemana mana”, ucap Elyn lalu duduk di pangkuan ayahnya.

“Kenapa nyariin Daddy”? Tanya Rama.

“Mommy yang suruh, katanya susulin Daddy karna mommy mandi”, jawab Elyn.

Elyn duduk dengan tenang di pangkuan ayah nya sambil melirik ke arah Abang nya yang sangat fokus dengan PS nya.

Setelah 20 menit mandi, kini Aulia telah selesai dan turun ke bawah untuk memasak. Sebelum ke dapur Aulia berbelok dulu ke ruang khusus untuk Dave bermain PS.

“Mau di masakan apa hari ini”? Tanya Aulia pada suami dan anak anaknya.

“Sop ayam sama perkedel kentang”, Jawab Rama dan Dave.

Sedangkan Elyn hanya memanyunkan bibirnya, lagi lagi itu yang menjadi lauk ketika hujan.

“Kok cemberut gitu mukanya dek? Kenapa”? Tanya Aulia pada Elyn.

“Bosen mom, masa SOP ayam terus sama perkedel”, Jawab Elyn.

“Gak mau gak usah makan”, ucap Dave.

“Abang”, tegur Aulia.

“Tambahin sambel kecap mom”, ucap Dave yang tak menggubris teguran ibunya.

Sambal kecap yang di maksud Dave itu adalah cabe rawit dan bawang putih di tumbuk sampai halus kemudian di tuang dengan kecap manis.

“Iya, nanti mommy buat sambel kecap nya”.

“Elyn makan apa mom”? Tanya Elyn.

“Gak usah makan”, timpal Dave lagi.

“Abang”, kini Rama yang menegur anaknya.

“Iya iya”, jawab Dave dengan tangan yang aktif di stick nya dan mata fokus di monitor.

“Yaudah mommy masak dulu, adek mau ikut ke belakang”?

“Mau, disini ada orang jahat”, jawab Elyn.

Dave tersenyum di balik wajah dinginnya mendengar perkataan adik kesayangannya.

30 menit berlalu, masakan sudah selesai dan siap untuk dimakan, Aulia menyuruh anak perempuannya memanggil ayah dan abangnya untuk makan.

“Daddy, mommy suruh makan”, ucap Elyn pada ayahnya.

Setelah memanggil dan menyuruh ayahnya makan, Elyn ingin beranjak kembali ke meja makan, namun dengan cepat Dave bangun dan menarik bajunya.

“Aduh”.

“Kenapa gak ngajakin abang”? Tanya Dave.

“Abang jahat sama Elyn, Elyn gak suka sama Abang”, jawab Elyn.

“Emang Abang jahat apa”?

“Abang gak suka kalau Elyn Deket Deket Abang, gak suka Elyn gangguin kalau Abang lagi main PS, Elyn juga gak suka sama Abang, Elyn mau Abang pergi jauh jauh”, ucap Elyn.

“Adek”, tegur Aulia.

“Gpp mom”, ucap Dave.

Dave menggendong adiknya dan membawanya ke meja makan lalu mendudukkan nya di kursi.

“Adek mau makan apa”? Tanya Dave.

Elyn masih diam dan tak menjawab pertanyaan abangnya, Dave melirik makanan di atas meja dan melihat ada ayam goreng kesukaan adiknya, ia mengambil nasi lalu ayam goreng serta sayur bayam bening di piring adiknya.

“Makan yang banyak ya”, ucap Dave sambil mengusap kepala adiknya.

“Makasih”, jawab Elyn jutek lalu memakan makanannya.

“Kembali kasih adek Abang”.

Mereka semua makan diam dan tenang sampai makanan mereka habis, setelah selesai makan Dave mengangkat piring kotor ke belakang.

“Udah bang, biar mommy aja”, ucap Aulia.

“Gpp mom, cuma angkat piring ini”.

“Udah ih, biar mommy aja”.

Dave tak menggubris ucapan ibunya, ia mengangkat piring kotor lalu mencucinya. Aulia yang melihat itu hanya pasrah karna dari dulu Dave memang tak suka melihatnya yang selalu berada di dapur.

“Mommy istirahat aja, duduk sama Daddy sana”.

“Iya iya Abang”, ucap Aulia langsung melangkah ke tempat suaminya.

“Abang mana”? Tanya Rama ketika istrinya duduk di sampingnya.

“Biasa, nyuci piring”, jawab Aulia.

“Yaudah biar aja, dia gak suka liat mommy nya kecapean”, ucap Rama.

Aulia mengangguk dan memeluk suaminya.

“Mereka udah gede aja ya mas, gak kerasa banget”, ucap Aulia.

“Iya sayang, mas juga semakin tua”, balas Rama.

“45 tahun belum tua mas, kalaupun tua kamu tetap di hati aku”, ucap Aulia.

“Heleh, belajar gombal dari mana hm? Tanya Rama.

“Gak gombal, emang itu kenyataan nya mas”.

“Ehem”, suara deheman melepaskan pelukan Aulia dari suaminya, mereka menoleh ke belakang yang ternyata sudah ada Dave di belakangnya.

“Ganggu aja sih bang”, ucap Rama.

Dave berjalan mengitari sofa dan mengangkat adik nya yang sedang menonton Coco melon untuk duduk di pangkuannya.

“Ih abang, turunin, Elyn mau nonton di bawah”, ucap Elyn.

“Maafin abang dulu”.

“Gak mau, Elyn gak mau maafin Abang”, balas Elyn.

Elyn memberontak dan akhirnya terlepas dari manusia yang menurutnya jahat itu.

“Suka banget sih bang jahilin adeknya”, ucap Aulia.

“Gemes aja mom kalo liat Leah ngambek”.

“Oh iya bang, Daddy lupa terus mau nanya ini.. Abang mau masuk ke SMA mana”? Tanya Rama.

“Mmm__, boleh gak Abang SMA nya di tempat aunty Ranti dad”? Tanya Dave.

“Canada”?

“Iya dad”, jawab Rama.

Ranti adiknya Rama sudah menikah dan suaminya berasal dari Canada, jadi Ranti pindah ke Canada mengikuti suaminya.

“Kamu mau ninggalin mommy bang”? Tanya Aulia.

“Enggak mom, Abang kan mau sekolah Disana, bukan pindah”, jawab Dave.

“Kuliah nya mau di jepang, oke mommy gak masalah.. tapi ini masih SMA, apa abang bener bener mau ninggalin mommy? Iya”? Tanya Aulia.

“Sayang”.

“Diem mas, jangan coba coba kamu nurutin terus semua kemauan Abang ya”, ucap Aulia.

“Mom”, panggil Dave.

“Abang pilih di luar negri atau pilih mommy”? Tanya Aulia.

“Mom, jangan kayak gini”, ucap Dave.

“Jawab”.

“Pilih mommy”, ucap Dave.

Setelah mendengar pilihan anaknya, Aulia langsung berdiri dari duduk nya dan pergi meninggalkan suami dan anak anaknya.

“Maafin mommy ya bang kalau mommy egois”, ucap Rama.

“Gpp dad”, jawab Dave sambil tersenyum.

“Yaudah, Daddy nyusul mommy dulu ya”.

“Iya dad”.

Rama berjalan menuju kamar untuk menyusul istrinya, sedangkan Dave menemani adiknya yang masih menonton Coco Mellon.

Dengan jahilnya, Dave menusuk nusuk pipi gembul Elyn.

“Ih abang, jangan gangguin Elyn”.

“Dek”, panggil Dave.

“Apa”, sahut Elyn tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.

“Kalau Abang pergi adek sedih gak”? Tanya Dave.

“Enggak, Elyn happy kalau Abang pergi”, Jawan Elyn.

“Yaudah__ Dave berdiri dari duduk nya dan mengebas kan celana nya yang tak kotor.

“Abang pergi dulu ya”, ucap Dave.

“Kemana”? Tanya Elyn.

“Jauuuh banget, katanya adek happy kalau Abang pergi, yaudah abang pergi dulu kalau gitu”, ucap Dave.

Dave melangkah kan kaki nya menuju pintu depan, sebelum ia membuka pintu sebuah tangan sudah memeluk erat satu kakinya dan terdengar suara tangisan yang serambi lempitak kan telinga.

“Hwaaaaaaa, jangan pergi Abang”.

“Tadi katanya mau abang pergi”, ucap Dave.

“Ndak, Ndak mau, jangan pergi”.

“Awas ih, Abang mau pergi”, ucap Dave lagi.

“Mommy”, pekik Elyn sambil menangis.

“E eh ehh, yaudah yaudah ayo bangun, Abang gak jadi pergi kok”, ucap Dave.

Bisa bisa ibunya tambah marah padanya.

“Abang Ndak jadi pergi”? Tanya Elyn.

“Enggak”.

“Tadi Abang mau kemana”? Tanya Elyn lagi masih dengan tangisannya.

“Mau pergi beli es krim”.

“Es krim”?

“Hm”.

“Ayo kita pergi beli es krim bang”, ajak Aulia.

“Bilang mommy dulu sana”, suruh Dave.

Elyn langsung berlari menuju ke kamar orang tua nya dan langsung masuk ke dalam karna tak sabar ingin pergi membeli es krim. Setelah berpamitan pada mommy nya, ia langsung berlari kembali menuju lantai bawah tempat Abang nya berada.

“Jangan lari dek, nanti jatuh”, peringat Dave.

“Sampai”.

“Dasar, yaudah ayo”, ajak Dave.

Dave dan Elyn pun pergi membeli es krim, sedangkan Rama di kamar sedang menenangkan istrinya yang menangis.

“Sayang, udah dong, kan Abang gak jadi sekolah Disana”, ucap Rama.

“Kamu kok ya gampang banget ngizinin anak yang baru lulus SMP buat sekolah di luar negri”.

“Kan mas belum jawab apa apa tadi sayang”, balas Rama.

“Kalau aku gak ngomong apa apa tadi pasti kamu langsung iya iya aja mas”.

“Enggak looh, tapi kasian ab__

“Tuh, kamu selalu gitu”, ucap Aulia yang memotong ucapan suaminya.

“Iya iya, sekarang jangan nangis lagi, mas gak suka liat kamu nangis, mas lebih suka liat kamu mendesah di atas mas”, ucap Rama.

Plak, Aulia menampar lengan suaminya lagi.

“Kurang kurangin mesumnya mas”, ucap Aulia.

“Sama istri ini, ya gpp lah”.

“Terserah mas, aku mau ke anak anak dulu”, balas aulia.

“Tuh tuh, padahal anaknya tadi kesini pamit mau beli es krim”.

Aulia tersenyum malu dan memeluk suaminya.

“Lupa”, ucap Aulia.

“Mangkanya jangan marah marah terus sama anak, masih muda udah lupaan”, ujar Rama.

“Marah karna sayang mas, belum siap juga di tinggal pergi jauh bertahun tahun, dia juga masih kecil”, Jawab Aulia.

“Iya sayang, mas paham, tapi lain kali jangan gitu ngomong sama abang, sampai sampai abang harus milih, nanti dia tertekan sayang”, ucap Rama.

“Iya, nanti aku minta maaf sama abang”.

Rama menganggukkan kepalanya dan membelai kepala istrinya dengan sayang.

“Sayang”.

“Hm”.

“Bikin adek buat Elyn yuk”.

“Tanya sama abang, mau gak punya adek lagi.

Bersambung… Masuk sekolah dan penerimaan siswa baru masih seminggu lagi, jadi masih ada waktu seminggu untuk Dave bermalas malasan di rumah. Seperti hari ini, ia masih tidur padahal hari sudah menunjukkan pukul 11 siang.

Rama, Aulia dan Elyn sedang memakan rujak dan es buah karna cuaca sedang panas panasnya. Tengah asik memakan rujaknya, terdengar suara bel yang berbunyi. Tanpa di suruh lagi, Elyn bangun dan berlari menuju pintu lalu membuka pintu tersebut.

Ceklek

Elyn membuka pintu dan melihat ada seorang anak perempuan yang seumuran dengan abangnya berdiri disana dengan senyum cantik yang terpatri di wajahnya.

“Mm, kakak siapa”? Tanya Elyn.

Sambil mengulurkan tangan, anak perempuan itu menjawab.

“Nama kakak Tania”.

Merasa anak nya terlalu lama di depan, Aulia menyusul anaknya dan terkejut melihat siapa yang ada di depan rumah mereka.

“Tania”, ucap Aulia.

“Mommy”, balas Tania sambil memeluk Aulia.

“Ya ampun sayang, mommy kangen banget nak”, ucap Aulia.

“Tania juga kangen banget sama mommy”, balas Tania.

Setelah saling melepaskan rindu dengan berpelukan, Aulia mengajak Tania dan Elyn masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ke arah suaminya yang masih asik dengan rujaknya.

“Mas” panggil Aulia.

Rama mendongak dan mengerutkan keningnya.

“Tania”, ucap Aulia.

“Anak Arkan”? Tanya Rama.

“Iya mas”.

Tania berjalan ke arah Rama dan menyalami punggung tangan Rama.

“Daddy sehat? Udah gak kenal sama Tania lagi ya”? Tanya Tania.

Semenjak Dave kelas 3 SD, dia sudah tidak meminjam ponsel Rama lagi untuk menelfon tania, ia juga tak pernah sekali pun menyebut atau membahas tentang Tania.

Sejak saat itu juga Rama tak pernah bertanya tanya juga kepada Dave atau pun istrinya, yang Rama tau Arkan beserta istri dan anak nya waktu itu pindah ke Batam.

“Sehat, daddy kenal tapi lupa wajah kamu”, jawab Rama.

“Hehe berubah ya dad”? Tanya Tania.

“Iya, makin cantik”, jawab Rama.

“Daddy”, pekik Elyn.

“Yang cantik itu cuma Elyn sama mommy”, ucap Elyn.

Rama dan Aulia hanya tersenyum melihat kelakuan putri nya itu, Aulia pun langsung menegur putrinya.

“Adek, gak boleh teriak gitu ya, kalau Abang denger nanti Abang marah loh”, tegur Aulia.

Mendengar kata Abang, Jantung Tania langsung berdebar. Apa kabar dengan Abang Dep nya itu?

“Maaf Daddy”, ucap Elyn.

“Iya gak apa apa sayang”, jawab Rama.

Aulia menyuruh Tania duduk dan dia ingin ke belakang membuatkan minuman untuk tamu nya itu. Setelah selesai membuat minum, Aulia kembali lagi ke tempat mereka bersantai dan mempersilakan tania untuk minum.

“Mm, mom”? Panggil Tania.

“Iya sayang”.

“Abang mana”? Tanya Tania.

“Ya ampun, sampai lupa mommy, kamu pasti ke sini mau ketemu Abang kan ya”? Ucap Aulia sambil menepuk jidatnya.

“Ha? Mm, e-enggak kok mom, Tania ke sini mau ketemu mommy sama Daddy”, balas Tania.

“Halaah, gak usah malu malu gitu, Abang belum bangun tidur, bangunin gih! Kamar Abang pintunya yang ada stiker Frozen”, ucap Aulia.

“Bo-boleh Tania masuk mom”? Tanya Tania.

“Boleh, yaudah bangunin sana Abang nya”.

Tania pun berdiri dan perlahan melangkah ke lantai atas lalu mencari pintu dengan stiker Frozen.

Melihat Tania sudah pergi ke lantai atas, Rama langsung menodong istrinya pertanyaan.

“Kamu masih berhubungan sama Sonya”? Tanya Rama.

“Masih mas, kenapa”?

“Terus Abang kenapa sejak naik kelas 3 gak ada minjem minjem handphone mas lagi buat nelfon Tania”?

“Ya mana aku tau mas”.

“Abang gak ada minjem handphone kamu buat nelfon Tania”? Tanya Rama lagi.

“Gak ada, tiap kali Tania nelfon ke aku mau ngomong sama Abang, Abang gak pernah mau, aku gak tau kenapa”, Jawab Aulia.

“Apa karna anak kamu marah waktu Tania pindah ke Batam”? Tanya rama

“Mungkin ! Sifat jelek Abang kan turunan dari mas”, balas Aulia.

“Maaas Mulu yang kena”, ucap Rama.

“Udah, habisin itu rujaknya, tadi mas sibuk ngerengek minta rujak”.

Tanpa membalas ucapan istrinya, Rama langsung melahap dan menghabiskan rujaknya serta es buah yang ada di meja.

“Mommy”, panggil Elyn.

“Iya dek”.

“Kakak tadi itu siapa”? Tanya Elyn.

“Temen kecil Abang dek”, jawab Aulia.

“Kenapa mommy suruh masuk kamar abang? Nanti kalau Abang marah kakaknya gimana”? Tanya Elyn lagi.

“Gak akan, itu temen kesayangan Abang”, Aulia menjawab dengan PD nya.

Sementara di lantai atas.

Tok

Tok

Tok

Tania mengetuk pintu tanpa mengeluarkan suaranya, setelah mengetuk ia pun langsung masuk. Di dalam kamar yang besar dan terlihat agak gelap akibat gorden yang belum di buka, Tania bisa melihat sedikit siluet manusia yang masih tertidur dengan nyenyak di atas kasur.

Dengan langkah perlahan ia berjalan menuju kasur dan duduk di pinggirannya, baru ingin menyentuh lengan Dave karna ingin membangunkan, Dave lebih dulu menariknya dan memeluknya. Tania yang terkejut tak dapat mengeluarkan suaranya sedikitpun.

“Kenapa masuk kamar Abang terus, hm”? Tanya Dave.

Tak mendapat jawaban, tangan Dave kini memeluk bokong Tania.

Plak

“Nakal kamu ya, kan udah Abang bilang gak boleh masuk kamar Abang sebelum Abang bilang iya Leah”, ucap Dave.

“…”

“Kok diem aja, biasanya sebelum Abang ngomel kamu udah ngomelin abang dulu”, ucap Dave lagi.

“…”

Dengan geram, kini Dave membalikkan tubuh Tania ke bawah dan langsung menggelitiknya.

“Hahaha geli” ,ucap tania sambil tertawa.

Merasa ada yang salah dan berbeda, buru buru Dave turun dan menyalakan lampu kamar nya. Setelah lampu menyala, Dave terkejut melihat perempuan yang ternyata bukan adiknya.

“Siapa kamu? Kenapa bisa masuk kamar saya”? Tanya Dave dengan nada dingin dan bahasa formalnya.

Tania bangun dari kasur itu dan langsung berdiri menunduk di hadapan Dave.

“Ma-maaf, tadi mom__

“Saya tanya siapa kamu”? Tanya Dave yang memotong ucapan Tania.

“A-aku Tania Abang”, jawab Tania yang masih menundukkan kepalanya dan meremat ujung dress nya.

Dave terkejut lagi, apa kah perempuan di depannya ini Tania kecilnya? Karna Dave memang tak pernah lagi melihat wajah Tania sejak ia mengatakan akan pindah ke Batam dan tak akan kembali ke Jakarta lagi.

“Ngapain kamu dikamar saya”? Tanya Dave.

“Ta-tadi mommy yang suruh Nia ke kamar a-abang”, Jawab Tania.

“Keluar”, usir Dave.

“Abang”, lirih Tania dengan mata yang sudah berembun.

“Saya bilang keluar, keluar !! Teriak Dave.

Dengan takut takut, Tania keluar dari kamar Dave dengan menangis, ia turun ke bawah dan langsung memeluk tubuh Aulia.

“Eh eh, kenapa sayang”? Tanya Aulia.

“Hiks..Hiks..Hiks, Abang jahat, abang bentak Tania, Abang berubah”, jawab Tania.

“Sst, sst, udah ya, nanti mommy marahin Abang”, ucap Aulia.

“Marahin sekarang aja mommy”, celetuk Elyn.

“Heh! Malah nimbrung”, timpal Rama.

Aulia tak menanggapi ucapan anak dan suaminya, ia masih menenangkan Tania yang menangis karna bentakan putranya. Puas menangis, kini tania di ajak Elyn untuk melihat tanaman di halaman belakang rumahnya.

Sedang di dalam rumah, melihat anak nya turun dari tangga, Aulia ingin memanggil Dave dan memarahinya, namun di cegah oleh suaminya.

“Biar Abang makan dulu”, ucap Rama.

“Belum juga di panggil mas”.

“Mood anak kamu itu beda sama anak lain sayang, kalau dia tiba tiba bad mood nanti, dia pergi lagi dari rumah sampai berhari hari, terus kamu juga yang nangis berhari hari, jadi biar Abang ngisi perutnya dulu sebelum kamu omelin”, ujar Rama.

“Ck, iya iya”.

Setelah 20 menit menunggu anaknya makan, tanpa di panggil Dave menghampiri orang tuanya, ia langsung berbaring di paha sang ayah yang tengah memainkan ponselnya.

“Abang”, panggil Aulia.

“Iya mom, adek mana”?

“Sama Tania”, jawab Aulia.

“Kenapa Abang bentak Tania”?

“Abang gak suka ada yang masuk ke kamar Abang sebelum Abang izinin”, jawab Dave sambil membaca komik milik Elyn.

“Kalau mommy lagi ngomong, tolong dihargai”, ucap Aulia.

Dave langsung duduk dan meletakkan komik di atas meja lalu menghadap ibunya.

“Abang kan udah bilang mom, abang gak suka orang lain masuk ke kamar abang”.

“Apa Tania orang lain”? Tanya Aulia.

“Ya emang dia orang lain mom, adek Leah yang adek Abang aja gak Abang bolehin dia masuk kalau belum Abang izinin”, jawab Dave.

“Abang kenapa sih”? Tanya Aulia lagi.

“Kenapa apa nya”? Dave balik bertanya.

“Kenapa abang berubah? Ada yang salah sama Tania”?

“Abang gak berubah dan gak ada yang salah sama dia”, jawab Dave.

“Terus kenapa Abang jadi gini? Dulu aja sampai nangis nangis kalau gak ada kabar dari Tania”, ucap Aulia.

“Itu dulu mom, Abang masih kecil”, balas Dave.

“Iy___

“Udah lah mom, kenapa jadi bahas dia sih”? Kesal Dave.

“Abang”, tegur Rama yang melihat anaknya yang mulia terpancing emosi.

“Maaf mom”, ucap Dave.

Aulia tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.

“Abang jeleeek”, panggil Elyn sambil berlari dan memeluk Dave.

Melihat Tania yang hanya berdiri di pintu belakang, Rama menyuruh Dave mengajaknya kembali ke belakang halaman dan meminta maaf.

“Minta maaf kenapa dad? Abang gak ngapain ngapain dia”, ucap Dave.

“Daddy gak pernah ngajarin abang ngebentak perempuan ! Ingat mommy sama adek bang, mereka perempuan”, ujar Rama.

“Mck, yaudah iya”, final Dave.

“Yang ikhlas nak”, ucap Aulia.

“Yes, mom”! Balas Dave dan langsung berjalan ke arah Tania dan mengajak nya ke halaman belakang. Sesampainya di halaman belakang, Dave mengajaknya duduk di kursi rotan yang berada di bawah pohon mangga yang sangat besar.

“Duduk”, suruh Dave.

Tania menurut, ia duduk di ujung kursi , menjauh dari Dave seakan Dave adalah kuman !

“Ngapain jauh jauh”? Tanya Dave.

“Sini lagi”, suruh Dave yang melihat masih banyak jarak di tengah mereka.

Dave langsung memegang tangan Tania setelah Tania duduk tepat disampingnya dengan kulit tangan yang bersentuhan.

“Maaf”, ucap Dave sambil memainkan jari jari Tania.

“Hm?

“Abang minta maaf”, ucap Dave lagi.

“Mi-minta maaf kenapa bang”? Tanya Tania.

Dave memandang wajah Tania dengan intens dan dengan tangan yang masih memainkan jari tangan Tania.

“Abang minta maaf udah bentak Nia tadi”.

“Gak apa apa bang, Nia udah maafin”, jawab tania.

“Kenapa liat Nia kayak gitu dari tadi”? Sambung Tania.

“Kamu cantik”, Jawab Dave.

Blush, wajah Tania langsung memerah karna pujian yang terlontar dari mulut Dave.

“Ih, merah”, ucap Dave sambil mencubit pipi Tania.

“Aaa Abang, jangan di cubit”.

“Biarin, kayak tomat pipinya”, balas Dave.

“Abang udah ih”.

“Iya iya udah”, ucap Dave dan kembali memegang tangan Tania.

“Abang”.

“Hm”.

“Nia mau tanya boleh”?

“Boleh”.

“Kenapa Abang gak telfon Nia lagi? Gak mau ngomong sama Nia kalau Nia telfon mommy”?

“Abang marah sama kamu”, jawab Dave.

“Marah kenapa”?

“Kamu bilang kamu mau pindah ke Batam dan gak akan balik ke sini lagi terus gak bisa ketemu sama Abang lagi” jawab Dave lagi.

“Itu kan Nia masih kecil Abang, asal ngomong”, kesal Tania.

“Bodo “!

“Ih, jahat, cuma gara gara itu abang bentak sama usir Nia tadi? Sekarang biar Nia pergi beneran”, ucap Tania yang sudah berdiri.

“Jangan pergi lagi”, ucap Dave yang menarik telunjuk Tania dan menatap mata Tania.

Tania melihat tangan Dave yang menarik jarinya lalu membalas menatap matanya, Dave berdiri dan langsung memeluk Tania.

“Jangan pergi lagi Nia, Abang kangen sama kamu, gak mau kamu pergi lagi” ucap Dave.

“Nia gak pergi lagi Abang, Nia disini terus sama Abang”, balas Tania.

“Janji”?

“Nia janji”.

Dave melepaskan pelukannya lalu mengecup sekilas pipi chubby Tania.

“Ihh Abang”.

“Kenapa”? Tanya Dave.

“Gak boleh cium cium”.

“Kenapa”?

“Ya gak boleh”.

“Kamu udah punya pacar”? Tanya Dave dengan wajah yang kembali menjadi datar.

“Belum”.

“Kamu gak boleh pacaran”, ucap Dave.

“Kenapa”?

“Kamu punya Abang”, ucap Dave.

Bersambung… Sejak abangnya mengajak Tania ke belakang tadi, Elyn menjadi pendiam dan tak ingin di ganggu hingga malam ini.

Rama yang tak melihat putri kecilnya pun bertanya kepada istrinya.

“Adek mana mom”? Tanya Rama.

“Dikamar mungkin, dari tadi gak turun turun”, jawab Aulia.

Mendengar jawaban istrinya, Rama langsung berjalan ke lantai atas menuju kamar putrinya.

Tok

Tok

Tok

“Adek, Daddy masuk ya”, ucap Rama.

Tak ada sahutan dari dalam, Rama membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar Elyn dan melihat anaknya sedang membaca komik.

“Sayang, kok Daddy ngomong gak di sahutin tadi”? Tanya Rama yang menghampiri anaknya.

“Elyn lagi sibuk”, Jawab Elyn.

“Sibuk baca komik”?

“Elyn mau sendirian dad, maaf”, ucap Elyn.

Rama mengambil komik yang di baca putrinya dan menutupnya lalu meletakkan komik itu di tempatnya, Rama mengangkat Elyn untuk duduk di pangkuannya.

“Adek kenapa, hm”?

“Gak apa apa dad”, jawab Elyn dengan menahan air matanya.

“Hikss..Hikss”, Isak Elyn.

“Tuh, kata nya gak apa apa, tapi nangis ! Kenapa sayang? Bilang sama Daddy”.

“Abang, hikss..hikss”, ucap Elyn.

“Kenapa Abang”?

“Abang dari tadi siang gak ada cariin Elyn, gak ada nanya Elyn, Abang udah gak sayang Elyn lagi setelah kak Tania datang kesini, suruh kak Tania pulang dad, Elyn gak suka dia disini, dia udah ngerebut Abang dari elyn”, jawab Elyn.

Ternyata anak nya ini cemburu.

“Udah jangan nangis lagi, kan masih ada mommy sama Daddy”, ucap Rama.

“Hiks.. tapi Elyn mau sama a-abang dad”.

“Iya nanti sama Abang kalau Abang gak sibuk ya”, balas Rama.

“Tuh kan, pasti Abang sibuk sama kak Tania, E-elyn gak suka, hwaaa”.

“Uluh uluh uluh, anak Daddy”, ucap Rama sambil menggendong Elyn keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke bawah.

Sesampainya di bawah, Elyn semakin mengeratkan pelukannya pada sang ayah.

“Loh, kenapa ini anak mommy di gendong”? Tanya Aulia.

“Nangis”, jawab Rama tanpa suara.

Rama mendudukkan dirinya dan Elyn yang masih di pelukannya.

“Bang”, panggil Rama pada Dave yang sedang duduk berdua dengan Tania di sofa depan tv.

“Iya dad”, jawab Dave dan menolehkan kepalanya ke belakang.

“Adek ngambek ini sama kamu”, ucap Rama.

“Iih Daddy, Elyn gak ngambek ya”, ucap Elyn tak terima.

Dave berdiri dari duduk nya dan menghampiri adiknya, ia mengambil alih Elyn pada ayah nya.

HAP! Dave menggendong Elyn dan membawanya ke dapur untuk mengambil es krim, setelah sampai di dapur Dave mendudukkan adiknya di kursi dan mengambil es krim di kulkas.

“Mau rasa apa dek”? Tanya Dave.

Elyn menggelengkan kepalanya lalu turun dari kursi dan ingin pergi dari sana, sebelum pergi Dave menarik bajunya hingga ia termundur beberapa langkah.

“Mau kemana sih? Tadi katanya mau sama Abang”.

“Elyn gak ngomong kalau Elyn mau sama abang, lepasin! Elyn mau ke kamar”, ucap Elyn.

“Adek kenapa? Abang ada buat salah ya”?

“Ndak ada, Abang seneng seneng aja sama dia, lupain aja Elyn”, jawab Elyn.

“Adek, gak boleh ngomong dia dia sama yang lebih tua ya, Namanya kak Tania”.

“Elyn benci sama Abang, Abang dari tadi sama dia terus, Abang pergi aja sekolah di luar negri”, ucap Elyn yang tak suka abangnya menyebut nama Tania.

Elyn berlari ke kamar nya dengan menangis, Dave ingin mengejar adiknya tapi di tahan oleh ayahnya.

“Biarin aja bang”, ucap Rama.

“Biasanya kalau Abang samperin dia ngomel ngomel, giliran gak di samperin malah nangis”.

“Adek masih kecil, gak usah di pikirin”, balas Rama.

“Iya dad”.

“Yaudah temenin Tania lagi sana”.

Dave mengangguk dan kembali berjalan ke tempat Tania. Sedang Rama mengajak istrinya untuk melihat putrinya, setelah sampai di kamar Elyn, ternyata anak nya sudah tertidur karna ia memang terbiasa tidur pukul 8 malam. Aulia menyelimuti anak nya dan mematikan lampu lalu keluar dari sana.

“Duduk di balkon yuk mas”, ajak aulia ketika ia dan suaminya sudah berad di dalam kamar.

“Ngapain? Dingin sayang”.

“Pengen aja, ayok ih”, paksa Aulia.

“Yaudah ayok, kalo dingin mas peluk ya”.

“Halah maaas mas, modus”, ucap Aulia.

Sampai di balkon, Rama duduk di sofa dan langsung menarik istrinya untuk duduk di pangkuan nya dengan posisi Aulia duduk memiring. Aulia langsung memeluk leher suaminya dan Rama memeluk pinggang Aulia.

“Sayang”.

“Hum”.

“Kan anak anak udah gede, gimana kalo kita bikin satu lagi, kalau Abang nanti kuliah di luar negri kita gak kesepian”, ucap Rama.

“Enaaak banget kamu kalo ngomong mas, aku ini loh yang hamil”, balas Aulia.

“Kan ada mas yang, kamu gak sendirian”, jawab Rama.

“Gak ih, Abang udah gede, yang ada dia malu nanti”, ucap Aulia.

Dengan kurang ajarnya, Rama menggigit susu istrinya dengan keras dari luar baju.

“Aaakkhhh, masss”, pekik aulia.

“Sakit tau”.

“Gemes sayang, udah lama kita ngen__

“Gak, aku capek”, ucap Aulia langsung berdiri dari pangkuan suaminya.

Sayang seribu sayang, Rama menarik kembali tangan istrinya sehingga Aulia terduduk di pangkuan suaminya lagi dengan membelakangi Rama. Rama memeluk erat erat pinggang istrinya agar tak bisa lari.

“Lepas ih mas, aku mau masuk”.

“Masa mau masuk aja, kan belum licin, nanti sakit sayang”, ucap Rama ambigu.

“Dasar mesum”.

Rama mulai mengendus leher Aulia dan menjilat telinga Aulia, ia kulum telinga istrinya lalu mengemutnya sebentar. Tangannya memegang susu yang sudah lama tak ia jamah, meremas dengan lembut dan mulai menjilat leher Aulia.

“Mmmhh”.

“Kenapa sayang”? Tanya Rama.

“Udah mashhh”.

“Udah tapi kok mendesah enak gitu yang”?

“Aakhh, jangan di gigit mashhh”.

Rama tak menggubris perkataan Aulia, ia menghisap leher putih itu hingga meninggalkan bercak kemerahan. Tangan nya masuk ke dalam baju Aulia dan mengeluarkan susu besar itu dari dalam bra, Rama meremas dan memainkan puting Aulia agar puting itu berdiri tegak.

“Aakhh, jangan kenceng kenceng mashh”.

“Sssst, udah sayang, nikmatin aja”.

“Mmmhhh”, Aulia bergerak gelisah di pangkuan suaminya.

“Ssshhh sayangh, jangan gerak gerak terush babyhh, rudal mas bangun nanti”.

Dengan nakal, Aulia semakin menggoyangkan pantat nya dan menolehkan kepalanya menghadap Rama, ia sambar bibir tebal suaminya dan langsung menghisap bibir itu.

“Muach, mmhh, mmmcckkk”.

“rudal kamu udah keras banget mas”.

“Mau mas entotin sekarang”? Tanya Rama.

“Sekali aja ya”.

“Masa cuma sekali sih sayang”, ucap Rama.

“Sekali atau gak sama sekali”?

“Yaudah iya, sekali”.

Rama menggendong istrinya masuk ke dalam kamar, sampai di dalam kamar Rama langsung melepaskan pakaiannya dan pakaian istrinya.

Rama mengocok rudalnya dan menggesek kan kepala rudalnya di serambi lempit Aulia, kemudian ia masukkan rudal panjang nya ke dalam serambi lempit.

Jleb

“Ngghhhh”.

“Aakkhh, Sssshh kok masih sempith sih yaanghh, akkhhh jepit banget rudal mashh”.

“Ukkhhh, ngeganjel banget mashh, sshh gerakin sayanghh”.

Rama mulai menggerakkan dengan perlahan dan meremas susu istrinya.

“Mmhh”.

“Enak sayang? Udah lama kita gak menyetubuhi babyh, nngghh enak banget serambi lempit kamuh”.

“Akhhh, enak mashh, enak banget rudal kamu, serambi lempit kangeen”.

“Sekarang udah mas entot serambi lempit nya, udah hilangkan kangen nyaa, rasain rudal mas sayanghh”.

Rama menggenjot dengan cepat serambi lempit istrinya, tangannya memainkan itil Aulia dengan jarinya, sementara Aulia meremas susu nya sendiri. Rama yang melihat istrinya seperti itu, nafsunya semakin meninggi.

“Akhh..akhh enak masshhh, enak banget di gituin.. Mmmhhh jangan berhenti sayanghh”.

“Akhh..akhh iya sayanghh, terus remes tetenya, mas sangeee babyhh liat kamu kayak gituu.. akkhh enakhh banget serambi lempit tembam kamu yangghhh”.

“Mmmhh mau keluar mashh, serambi lempit gak tahanhh..akhh..akhh..akhh keluar mas..keluarhhhhh aakhhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Rama tetap menggenjot istrinya, ia turunkan sedikit tubuhnya untuk menyedot susu Aulia, ia gigit daging susu itu dan menghisapnya kuat kuat, puting susu yang sudah tegang itu di tariknya dengan giginya lalu di hisapnya dengan kuat.

“Akhhh masshhh, enakh.. mmhhh terus mashh, aku kangen di entot kayak gini sama kamu.. Aakkkhh”.

“SLURP..SLURP..SLURP”.

“Tete kamu enak banget baby, mmhh mass hamilin lagi ya sayang, mas pejuin serambi lempit kamu ya, mau ya cintaa”.

Aulia hanya mengangguk kan kepalanya dengan mata yang sangat sayu.

PLOK

PLOK

PLOK

Bunyi suara kulit yang menyatu, Rama menghentakkan kuat kuat pinggulnya agar rudalnya melesak jauh masuk ke dalam serambi lempit istrinya. Susu istrinya terombang ambing kara hentakan keras dari Rama.

“Akhh”.

“Akhh”.

“Akhh, dalem banget mashh, mmhh kena rahim akuhh.. ngghhh”.

“Aakhh enak sayangh, rudal Mash enak kan”.

“Iya mashh enakhh, aku mau keluar lagihh”.

“Akhh..akhh..akhh bareng sayangh, mas juga mau keluarhhh”.

“Aakkhh..aakkhh keluar mashh..aaakhh”.

“Aaakkhhh mas keluarh babyhh.. aaakkhhhhhhh”.

CROT

CROT

CROT

Rama mengeluarkan semua sperma nya di dalam serambi lempit Aulia, ia menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh kecil istrinya.

“Huh..Huh..Huh”.

“Enak banget sayang, besok lagi ya”, pinta Rama.

“Iya mas, yaudah cabutin dulu rudalnya”.

“Biarin aja, dia kangen serambi lempit tembam kamu”.

Aulia membiarkan suaminya dan memejamkan matanya karna kelelahan.

21:00 WIB.

Di lantai bawah, tepatnya di sofa. Tania belum pulang karna Dave tak mengizinkan nya pulang. Dave berbaring dengan paha Tania sebagai bantalnya.

“Abang”, rengek Tania.

“Hm”.

“Mau pulang, udah malam”, ucap Tania.

“Nginep disini, nanti Abang telfon papi”.

“Ihh, gak mau”.

“Kenapa gak mau”? Tanya Dave menatap mata Tania dengan tajam.

“Liat nya gak usah kayak gitu, takut”, cicit Tania.

“Huffft”, Dave bangun dari berbaringnya lalu duduk dan memeluk Tania dari samping.

“Udah malam sayang, besok pagi Abang antar pulang ya”, ucap Dave.

“Iya”.

Dave melepaskan pelukannya dan menangkup wajah cantik Tania, ia menatap lekat lekat wajah itu lalu tatapannya turun ke bibir Cherry Tania, tangan Dave reflek menyentuh bibir Tania dan mengusap bibir itu dengan lembut menggunakan jarinya.

Dave memasukkan jari jempolnya ke dalam mulut Tania dan menyuruh Tania untuk menghisapnya, dengan pelan Tania menghisap jari Dave dan mengulumnya.

“Mainin pake lidah sayang”, suruh Dave.

Tania menurut dan memainkan jari itu dengan lidahnya.

“Ssshhh”, Dave berdesih dan menggigit bibir bawahnya.

Jari yang di dimainin, malah burung yang bangun !!

“Udah sayang”, Dave menarik jarinya keluar dari mulut Tania.

“Kamu pernah kayak gitu sama cowok”? Tanya Dave.

“Enggak”.

“Terus kenapa pinter gitu”?

“Kan barusan Abang yang ngajarin, terus Abang juga yang nyuruh Nia”, Jawab Tania.

Dave menganggukkan kepalanya dan mengajak Tania ke kamarnya.

“Kenapa ke kamar Abang”? Tanya Tania ketika mereka sudah sampai di kamar Dave.

“Tidur”.

“Tidur di kamar Abang? Berdua”?

“Iya, udah ayo naik sini”, ucap Dave memukul kasur di sebelahnya.

Tania naik dan merangkak ke arah Dave.

“Sini”.

“Iya Abang”.

Tania merebahkan tubuhnya di samping Dave, tapi Dave malah memeluknya dan merebahkan kepalanya di belahan payudara Tania.

“A-abang, jangan kayak gini, berat”, ucap Tania.

“Nia”, panggil Dave.

“I-iya Abang”.

“Susu kamu empuk”, ucap Dave.

“Iihh Abang, jangan ngomong gitu”.

“Kenapa”?

“Malu”, cicit Tania.

“Kenapa malu? Cuma ada Abang sama Nia aja di sini”.

“Iya, tapi malu kalau Abang ngomong kayak gitu”.

“Kalau abang ngomong tete”?, Ucap Dave semakin menjadi.

Tania menutup wajahnya karna malu, tapi Dave tetap menjahilinya.

“Ngapain malu sih sayang? Sama Abang juga”, ucap Dave yang mencium tangan Tania yang masih menutupi wajahnya.

Dave memindahkan tangan Tania lalu langsung mengecup bibir tania.

“CUP”.

Tania hanya diam mendapati perlakuan dari Dave dan Dave semakin berani menjamah bibir itu, Dave menarik narik bibir Tania dengan mulutnya lalu mengulum bibir itu hingga membengkak.

“Nia”, panggil Dave dengan suara seraknya.

“Hum”?

Dave menuju ke telinga Tania dan membisikkan sesuatu disana.

“Boleh Abang nenen”?

“Ha?

“Boleh Abang nenen sayang? Abang mau bobo sambil nenen”.

“Abang”.

“Boleh ya sayang, Abang udah ngantuk”.

Tanpa menunggu jawaban dari Tania, Dave langsung menaikan kaos yang digunakan Tania ke atas, ia terkejut melihat payudara Tania yang sangat besar, ia keluarkan susu itu dari dalam bra dan langsung meremasnya dengan lembut.

“Mmhhh, abanghh”.

“Kenapa sayang”?

“Jangan”.

“Jangan berhenti”?

“Mmhhh”.

Tak puas karna terhalang dengan bra, Dave melepaskan baju Tania dan melepaskan pengait bra Tania. Setelah semuanya terbuka, Dave langsung melahap susu Tania dengan rakus.

“Aakhh, abanghh, jangan banghh, ssshh mmmhh”.

“Awhh sakit bang, jangan di gigit”.

Dave tak menulikan telinganya dan tetap menghisap dan meremas susu Tania.

“Enak banget tete kamu sayang”.

“Udah Abang, Nia takut”.

“Takut kenapa”? Tanya Dave.

“Nia takut Abang perkosa Nia”, jawab Tania.

“Hahaha ya enggak lah sayang, Abang cuma mau nenen aja”.

“Beneran”?

“Bener, yaudah kamu tidur, Abang juga mau tidur”, ucap Dave dengan memasukkan kembali susu Tania ke dalam mulutnya.

Tania mengangguk dan memejamkan matanya sambil memeluk Dave.

“Enggak sekarang Abang perkosa kamu”, batin Dave.

Bersambung… 06:00 WIB.

Aulia tengah memasak sarapan untuk suami dan anak anaknya, seperti saat masih kecil, Jika terbangun Dave langsung menuju ke dapur untuk membantu ibunya. Sampai di dapur Dave melihat Aulia yang sedang memasak.

“Masak apa mom”? Tanya Dave.

Aulia tak menjawab, ia hanya fokus pada masakannya.

“Mom”, panggil Dave.

“…”

“Mommy”, panggil Dave dan memegang tangan ibunya__ namun di tepis kasar oleh Aulia.

Dave terkejut melihat reaksi ibunya, ia mundur beberapa langkah dan bertanya tanya ada apa dengan ibunya.

Dave masih berdiri tegak di belakang sang ibu dengan memperhatikan setiap gerak gerik ibunya.

Setelah selesai dengan masakannya, Aulia menyiapkan makanan nya diatas meja makan dan berlalu meninggalkan Dave yang masih berdiri binggung di dapur, tak ingin membuat sebuah pikiran, Dave berjalan ke arah ibunya yang sedang menyiapkan makanan di meja makan, ia ingin bertanya kenapa ibunya seperti itu.

“Mom, Abang ada salah ya”? Tanya Dave.

“…”

Aulia masih diam dan sibuk menyiapkan makanan, setelah makanan selesai, Aulia pergi ke atas untuk membangunkan suami dan putrinya.

Dave semakin binggung dengan ibunya pagi ini, ia kembali ke kemarnya untuk mandi dan membangunkan Tania.

07:30 WIB.

Rama beserta istri, anak anaknya dan juga Tania sedang sarapan, seperti biasa sarapan mereka di isi dengan suara dentingan sendok saja.

Setelah selesai sarapan, Dave mencoba kembali memanggil ibunya.

“Mom”, panggil Dave kesekian kalinya.

“Tania, kamu boleh pulang sekarang”, ucap Aulia pada Tania.

Rama dan Dave terkejut mendengar nada dingin yang keluar dari mulut istri dan ibunya, Rama mengerutkan keningnya melihat sang istri yang terlihat seperti marah.

“Mommy ngusir Tania”? Tanya Dave.

Tania menahan tangan Dave ketika anak laki laki itu berdiri dari duduknya.

“Iya mommy, Tania pulang sekarang”, ucap Tania.

“Abang antar ya”, ucap Dave.

“Gak usah, Nia pesan taxi aja bang”, balas Tania.

Tania berdiri dari duduknya lalu menyalami Rama dan istrinya untuk pamit pulang, kemudian ia berpamitan juga dengan Dave dan Elyn. Setelah Tania pulang, Dave mencoba berbicara lagi pada ibunya.

“Mommy kenapa sih? Abang ada salah? Kalau ada bilang, biar Abang perbaiki”, ucap Dave.

Aulia masih saja dengan diamnya dan membersihkan piring kotor bekas mereka sarapan lalu membawanya ke belakang dan mencucinya tanpa di bantu oleh Dave hari ini.

Setelah selesai mencuci piring, Aulia hendak membersihkan halaman depan namun urung ketika sang suami dan anak anaknya yang tengah duduk di ruang keluarga memanggilnya.

“Sayang”, panggil Rama.

Aulia berhenti dan menoleh ke arah suaminya, Rama berdiri dan berjalan ke tempat istrinya lalu membawa Aulia untuk duduk bersamanya dan juga anak anak.

“Kenapa”? Tanya Rama pada istrinya.

“Adek, adek ke kamar dulu ya sayang, mommy pengen ngomong penting dulu sama Daddy”, ucap Aulia dan menyuruh Elyn untuk ke kamarnya.

“Iya mommy”, jawab Elyn lalu beranjak dari sana.

Setelah Elyn tidak ada di sana, Aulia memandang putra sulung nya dengan wajah yang datar.

“Siapa yang ngajarin kamu kayak gitu”? Tanya Aulia pada Dave.

“Ngajarin apa mom”? Dave bertanya balik pada ibunya.

“Mommy kira kamu udah nganterin Tania pulang tadi malam, ternyata kalian tidur sekamar”, ucap Aulia.

Rama terkejut mendengar perkataan istrinya, ia memandang tak percaya kepada anaknya.

“Abang cuma tidur aja mom, gak ngapa ngapain”, Jawab Dave.

“Kamu pikir mata mommy kamu ini udah buta Dave”? Ucap Aulia yang sudah mulai meninggikan suaranya.

“Siapa yang ngajarin kamu kayak gitu ha? Biar mommy sama Daddy aja yang brengsek Dave, kamu jangan”, sambung Aulia.

“Sayang”, tegur Rama.

“Biarin aja mas, aku gak pernah ngajarin dia buat kayak gitu sama perempuan”.

“Kamu pikir mommy gak tau? Mommy gak liat dan gak denger? Jangan kurang ajar kamu sama perempuan”, ucap Aulia lagi dengan menunjuk nunjuk ke arah anaknya.

Dave berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke tempat ibunya, ia langsung bersujud dan memeluk kaki ibunya meminta maaf.

Rama yang memang tidak tau apa apa hanya duduk diam di tempatnya melihat pertengkaran istri dan anaknya yang masih di dalam tahap wajar menurutnya, jangan saja Dave kurang ajar dengan istrinya, dia libas nanti si Dave ini.

“Maafin Abang mom, Abang khilaf”, ucap Dave.

“Mommy gak masalah kalau kamu nakal Dave, tapi jangan kayak gini, mommy malu”, balas Aulia yang kini mulai menangis.

Mendengar ibunya menangis, Dave langsung bangun dan mengamit tangan ibunya untuk ia cium.

“Mommy, jangan nangis, Abang minta maaf mommy, Abang tau Abang salah, jangan nangis mom”, ucap Dave.

Aulia kembali menepis tangan anaknya, ia bangun dari duduk nya dan berjalan menuju kamar, sampai di tangga ia berhenti dan menghadap Dave.

“Kamu boleh sekolah di Canada, tapi kamu tinggal di asrama”, ucap Aulia lalu kembali melangkahkan kakinya ke kamar.

Dave tak mengejar ibunya, ia hanya tertunduk diam dan menangis. Semarah itu kah ibunya? Atau ibunya sangat kecewa dengan dirinya?

“Bang”, panggil Rama.

“Mau cerita”?

Dave menengadahkan kepalanya dan melihat ayahnya yang sedang tersenyum.

“Gak mau dad, Abang malu”, Jawab Dave.

“Sini”, Rama menepuk nepuk sofa disisinya.

Dave bangun dan duduk di sebelah sang ayah lalu memeluk ayahnya sambil menangis.

“Gak apa apa, nangis aja”, ucap Dave sambil menepuk pelan punggung anaknya.

“Hikss..Hikss, mommy kecewa banget sama Abang dad”.

“Daddy juga kecewa sama Abang karna Abang di umur masih segini udah tidur sama anak perempuan orang, Daddy juga gak tau apa masalahnya sampai sampai mommy kamu kayak gitu”, balas Rama.

Dave melepaskan pelukannya dari ayahnya dan mengelap air matanya.

“Daddy jangan marah ya kalau Abang cerita”, ucap Dave.

Rama yang mendengar anaknya berkata seperti itu langsung deg deg an, apakah anaknya ini sudah membobol anak Arkan?

“Hm, Daddy gak akan marah”, balas Rama dengan memasang wajah normalnya.

“Mm, Abang__ Abang tadi malam buka baju Tania dad, teruus Abang minta nyusu sama Tania sampe tadi pagi”, ucap Dave.

“Apa”?

Rama terkejut dan tercengang mendengar perkataan anak laki lakinya ini, kenapa anak seusia Dave Sudah pintar begituan? Untung masih di bagian atas. Dan kenapa pula sifat nya ini menurun kepada Dave, astaga!

“Ma-maaf dad, Abang khilaf”, ucap Dave.

“Huuft, yaudah ! Mau gimana lagi bang, nasi udah jadi bubur”, jawab Rama.

“Daddy gak marah”?

“Enggak, cuma jangan di ulangi, mommy kamu udah kecewa banget sama kamu bang, kamu itu masih kecil”, ucap Rama.

“Enggak di ulangi lagi dad, abang harus gimana supaya mommy gak marah dan kecewa lagi sama Abang”?

“Terus minta maaf sama mommy”, jawab Rama.

Dave mengangguk dengan wajah frustasi, ia berdiri dan pamit pada ayahnya untuk masuk ke dalam kamarnya.

“Ya ampun, anak gue mirip banget lagi sama gue” batin Rama yang melihat Dave menaiki anak tangga.

16:25 WIB.

Srek..Srek..Srek..

Bunyi suara sapu lidi yang menyentuh pasir dan daun daun kering yang jatuh, Aulia sedang membersihkan halaman belakang rumahnya yang banyak daun dari pohon mangga dan jambu kristalnya.

“Mommy”, panggil Elyn yang berjalan ke arahnya.

“Iya sayang”.

“Elyn bantuin ya”, ucap Elyn.

“Adek bantu siramin pohon jambu kristal itu aja ya”.

“Oke mommy”, jawab Elyn dan mengambil selang air untuk me tiram tanaman jambu yang masih kecil.

Sesaat setelah Elyn menghampiri ibunya, kini Dave datang untuk menawari bantuan kepada ibunya.

“Ada yang bisa Abang bantu mom”? Tanya Dave.

“Gak”.

“Yaudah siniin sapunya, biar abang yang gantiin mommy” ucap Dave yang ingin mengambil alih sapu dari tangan ibunya.

“Gak usah”.

“Mom”, panggil Dave.

“…”

“Abang minta maaf”.

“…”

“Abang bakal lakuin apa aja supaya mommy maafin abang”.

“Besok pergi ke Canada”, ucap Aulia dengan tangan dan mata yang fokus ada kegiatan menyapunya.

“Iya mom, tapi maafin Abang dulu”.

“Beresin baju baju kamu sekarang, mommy udah telfon aunty kamu dan udah pesen tiket untuk besok, urusan lainnya biar Daddy kamu yang ngurus”, balas Aulia lalu pergi dari sana.

Dave menatap punggung ibunya yang kini sudah masuk ke dalam rumah, ia mengambil sapu yang tadi di pegang ibunya lalu melanjutkan kembali pekerjaan yang di tinggalkan Aulia.

“Loh, kok malah Abang yang nyapu, mommy mana”? Tanya Elyn.

“Mommy capek dek, jadi Abang yang gantiin”.

“Ohh gitu”, ucap Elyn.

“Hm”.

“Abang”, panggil Elyn.

“Iya sayang”.

“Ambilin Elyn jambu itu”, tunjuk Elyn pada jambu kristal yang sudah matang.

Dave meletakkan sapunya lalu memanjat pohon jambu yang tak tinggi lalu mengambil kan jambu untuk adiknya, setelah mendapat kan jambu itu Dave langsung turun dan memberikannya kepada Elyn.

“Nih, cuci dulu jambunya”.

“Oke Abang, makasih ya”, ucap Elyn lalu berlari masuk ke dalam rumah.

Setelah mencuci jambunya, Elyn kembali lagi ke halaman belakang dengan membawa jambu yang sudah ia cuci dan ia belah menjadi beberapa bagian, ia berjalan ke arah abangnya yang sedang duduk di kursi rotan.

“Abang capek”? Tanya Elyn.

“Enggak kok dek, ini siapa yang belahin jambunya”?

“Elyn sendiri yang belahin pake pisau tadi”, jawab Elyn.

“Lain kali minta tolong sama abang atau mommy, gak boleh mainan pisau”.

“Iya Abang, minta maaf ya”, ucap Elyn.

Dave mengangguk dan mengusap kepala adiknya dengan sayang, besok ia harus berangkat ke Canada meninggalkan adik kecilnya ini.

“Adek”, panggil Dave.

“Iya bang”.

“Kalau Abang gak ada di sini, adek gak boleh nakal ya ! Gak boleh mainan pisau kayak tadi, kalau butuh apa apa minta tolong”, ucap Dave.

“Abang mau pergi kemana?

“Gak kemana mana Leah, denger gak yang Abang bilang tadi”?

“Ndak boleh bohong abang”.

“Haha, abang gak bohong, Abang gak kemana mana kok! Yang abang bilang tadi itu adek dengerin gak”?

“Janji ya gak kemana mana? Elyn denger abang”.

Dave tak mengucapkan janji, ia langsung memeluk adiknya dan mencium pucuk kepala Elyn.

20:00 WIB.

Dave tengah mengemasi barang barangnya ke dalam koper, ia hanya membawa yang penting penting saja menurutnya.

Setelah selesai mengemas, Dave langsung tidur dan menuju ke alam mimpinya.

Sedang kan dikamar orang tua nya, sang ibu sudah menangis sejak tadi.

“Udah dong sayang, mata nya udah bengkak itu”, ucap Rama.

“Hikss..Hikss”.

“Kan kamu yang nyuruh, ngapain kamu juga yang nangis kejer kayak gini”.

“Hikss, diem deh kamu mas! Sifat jelek kamu itu yang buat abang jadi kayak gitu. Hikss..Hikss”, ucap Aulia.

“Ngomong salah, diem salah”, batin rama.

“Kenapa diem”? Tanya Aulia.

“Tuh kan”, batin Rama lagi.

Rama yang malas berdebat dengan kaum yang tak pernah mau disalahkan ini, ia langsung memeluk tubuh istrinya dan mengusap usap dengan sayang punggung sang istri.

“Udah ya sayang, sekarang istirahat”.

“Tapi Abang mas”, ucap Aulia.

“Iya, Abang mau kok, kan biar dapat maaf dari mommy nya”.

“Hikss, Abang”, tangis aulia.

“Sst, sst, sst, udah ya istri mas yang comel, sekarang kita istirahat ya sayang”, ucap Rama dengan menidurkan paksa istrinya yang masih menangis.

Rama mengelap air mata istrinya dan mengecup kedua mata Aulia yang sangat bengkak.

“CUP, CUP”.

“Tidur ya sayang”, ucap Rama sambil mengelus rambut istrinya.

Hanya 10 menit saja ia mengelus rambut istrinya, kini istrinya sudah terlelap walaupun masih ada sesegukan nya sedikit. Rama menyelimuti tubuh istrinya lalu menyusul sang istri ke alam mimpi.

09:00 WIB.

Rama, Aulia dan Dave kini sudah berada di bandara untuk mengantarkan kepergian Dave ke Canada, Elyn? Elyn di titipkan ke rumah Oma nya agar ia tak menangis dan mengamuk jika Abang nya pergi.

Pesawat tujuan Canada sebentar lagi akan berangkat, Dave bersiap untuk masuk kedalam, sebelum masuk ia menyalami tangan ayah dan ibunya.

“Dad, Abang pergi dulu ya, titip mommy sama adek, Daddy juga jaga diri dan kesehatan. Jangan buat mommy nangis ya dad”, ucap Dave.

“Pasti bang, abang juga jaga diri dan kesehatan disana”, balas Rama sambil memeluk tubuh anaknya.

Kini Dave beralih ke ibunya.

“Mom, jaga diri dan kesehatan ya, Abang janji akan jadi anak yang baik buat mommy sama daddy, sekali lagi Abang minta maaf udah buat mommy kecewa”, ucap Dave pada ibunya.

Aulia tak dapat berkata apa apa, ia langsung memeluk tubuh anaknya dan menangis di bahu Kokoh Dave.

“Abang sayang mommy, jangan nangis lagi mom”.

“Mommy lebih sayang sama Abang, maaf kalau mommy egois, jangan benci sama mommy”, balas Aulia yang sudah memegang wajah anaknya.

“No mom, Abang gak pernah benci sama mommy, jangan ngomong kayak gitu”, ucap Dave.

Aulia menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk Dave lalu menciumi pipi dan dahi Dave.

“Jaga kesehatan, jaga diri, jangan nakal ya sayang disana, kalau mau nakal ingat mommy Daddy sama adek disini”, peringat Aulia.

“Abang janji gak akan nakal mom__ yaudah abang pergi dulu ya, nanti abang telfon kalau udah sampai”, ucap Dave.

Dave menggeret kopernya masuk ke dalam dan melambaikan tangannya ke kedua orang tuanya.

Aulia memeluk tubuh suaminya dan menangis sejadi jadinya disana. Setelah anaknya sudah tak keliatan lagi, Rama mengajak istrinya pulang ke rumah.

“Udah, anak nya cuma sekolah Disana, bukan mau ikut perang”, ucap rama.

Plak, Aulia menabok lengan kekar suaminya.

“Kamu gak ada sedih sedihnya ya anak pergi jauh”.

“Sedih sayang, cuma mas ngeliatin kesedihan mas”, ucap Rama.

“Halah”, balas Aulia yang langsung meninggalkan suaminya sendirian.

Rama tersenyum melihat istrinya yang sudah mulai bertingkah, ia bersyukur jika istrinya itu sudah mulai cerewet kembali dan tidak menangis terus.

Bersambung… Sebulan sudah sejak kepergian Dave ke Canada, Elyn pun kini sudah mulai terbiasa melewati hari hari tanpa keusilan dari abangnya.

Keluarga mereka menjalani hari hari seperti biasa, Rama pergi bekerja dan Aulia hanya duduk anteng dirumah, sedangkan Elyn sekolah.

Hari ini, anaknya itu meminta ibunya agar menjemput ia ke sekolah. Aulia melirik jam dinding dikamar nya, sebentar lagi Elyn akan pulang. Aulia bergegas merapikan dirinya dan turun ke bawah untuk mengeluarkan mobil dan melaju ke sekolah anaknya.

Setelah 15 menit mengendarai mobil, kini aulia telah tiba di sekolah Elyn. Ia turun dari mobil dan menunggu anaknya di kursi yang telah di sediakan oleh pihak sekolah yang berada di bawah pohon akasia.

“Mommy”, panggil Elyn sambil berlari menuju ke arah mommy nya.

“Jangan lari sayang”.

“Hehe, ayok pulang mom, Elyn udah laper”, ucap Elyn.

“Kita mampir ke kantor Daddy ya, Daddy ngajakin makan bareng”.

“Oke mommy”, jawab Elyn.

“Oke adek__ yaudah berangkat yuk”, ucap Aulia dengan menggandeng anaknya menuju tempat dimana mobilnya berada.

Di dalam perjalanan, Elyn hanya mengoceh tentang teman laki lakinya yang sangat nakal dan teman perempuannya yang sangat cengeng.

“Gak boleh ngomong gitu sayang, kalau Abang tau abang bakal marah”, ucap Aulia.

“Mereka emang bandel mom, nakal”.

“Iya, cukup mereka aja yang bandel sama nakal, adek gak boleh”, balas Aulia.

“Iya mommy__ Elyn kangen Abang mom”.

Aulia menoleh sebentar ke arah anaknya yang tadinya ceria dan mengomel, sekarang malah terlihat lemas dan sedih.

“Mommy juga kangen Abang, Abang pun kangen sama kita, tapi kan Abang disana sekolah nak”, ucap Aulia.

“Kenapa sih Abang harus jauh jauh sekolah nya, kan Elyn kesepian mom”.

Aulia tak menjawab perkataan anaknya, ia fokus menyetir dan sesekali mengacak rambut Elyn.

“Sampai”, ucap Aulia ketika mereka telah sampai di tempat tujuan.

Aulia memarkirkan mobil nya lalu turun dengan menggandeng Elyn untuk masuk ke dalam perusahaan suaminya. Melewati meja resepsionis dengan senyum ramahnya, Aulia menuju lift dan menekan tombol 15 untuk sampai ke ruangan suaminya.

Ting

Pintu lift terbuka dan sampailah dua malaikat Rama di depan ruangannya, tanpa mengetuk pintu lagi, Elyn membuka kasar pintu itu dan tidak melihat ayahnya berada disana.

“Daddy gak ada mom”, ucap Elyn pada ibunya yang baru masuk ke dalam ruangan ayah nya.

Krek, pintu kembali terbuka dan muncul seorang wanita dengan pakaian minimnya.

“Kalian siapa? Siapa yang ngizinin kalian masuk ke dalam ruangan Rama”? Tanya wanita itu dengan wajah tengilnya.

“Ra__ma”? Tanya Aulia.

“Iya Rama, siapa kalian? Kamu lagi kenapa bawa bawa anak kecil ke sini, mau ngapain? Mau bilang ke pacar saya kalau itu anaknya”?

“Pacar”? Tanya Aulia lagi.

“Iya pacar saya, kenapa? Kaget kamu kalau Rama udah punya pacar?

“Enggak”, jawab Aulia dengan santainya.

“Keluar sana ajak anak kamu”, usir wanita itu.

Byurrr, Dengan wajah polos dan sikap yang tidak polos, Elyn menyiram wanita itu dengan air kopi yang sudah dingin yang berada di atas meja ayah nya.

Aulia hanya diam dan tak terkejut melihat kelakuan anaknya itu, memang ia sendiri yang mengajarkan kalau ada yang genit kepada ayahnya, langsung libas saja.

Setelah menyiram air kopi itu, Elyn langsung berlari keluar dan menabrak seseorang.

Bruk

“Aduh”, Elyn terpental dan terduduk karna menabrak seseorang dengan tubuh yang besar.

“Adek”.

Elyn mendongak dan melihat ke atas, yang ia tabrak adalah ayahnya sendiri. Ia bangun dan mengusap usap bokongnya karna sangat sakit.

“Gak usah pegang pegang”, ucap Elyn ketika ayahnya ingin memegangnya.

“Kenap__

“Diem, Daddy itu jahat sama mommy, di dalam sana ada mommy sama pacar Daddy yang sexy”, ucap Elyn sambil menunjuk ke arah ruangannya.

Rama bergegas masuk dan meninggalkan anaknya sendiri di luar, setelah masuk Rama terkejut melihat penampilan anak dari rekan bisnis nya itu.

Melihat Rama datang, wanita yang bernama Siska itu langsung menghampiri Rama dan langsung memeluk Rama sembari merengek.

“Kamu liat tuh, ada perempuan gila sama anaknya yang udah nyiram aku pake air kopi”, adu Siska.

Rama melepas paksa pelukan Siska dari tubuhnya.

“Ngapain kamu disini”? Tanya Rama pada Siska.

“Iihh , marahin dulu perempuan itu”, rengek Siska.

“Ngapain kamu disini”? Tanya Rama lagi dengan nada rendah.

“Papa suruh gantiin dia buat selesaikan kerja sama kita”.

Aulia yang sedari tadi hanya diam dan melihat, kini sudah mulai bosan dan ingin pergi dari sana.

“Sa-sayang, mau kemana”? Tanya Rama sambil memegang tangan istrinya.

“Selesaikan dulu urusan kamu sama perempuan centil itu”, jawab Aulia.

“Apa kamu bilang”? Tanya Siska.

“Pe_rem_pu_an, centil !” Jawab Aulia.

“Kurang aj__

“Diem__kamu”, tunjuk Rama pada Siska, bilang sama papa kamu, kerja sama kita batal, dan wanita yang berada di depan saya ini, dia istri saya.

“A-apa? Istri kamu?

“Iya, istri saya, sekarang kamu boleh keluar dan pergi dari sini”, ucap Rama.

“Tapi ram___

“Ke lu ar “!! Usir Rama dengan bentakan.

Tanpa basa basi lagi, Siska keluar dengan pakaian yang sudah kotor dengan air kopi.

Sedang elyn, anak itu kini sedang berada di kantin perusahaan ayahnya dan tengah memakan nasi sambil di temani om om ganteng.

“Jangan salah paham, mas jelasin dulu”, ucap Rama takut takut.

“Sok, jelasin”.

“Yang tadi itu anak rekan bisnis mas, semalam dia Dateng juga karna papa nya berhalangan, mas gak tau kenapa hari ini dia datang lagi”, jelas Rama.

“Terus, kenapa dia bilang kalau kamu pacar nya? Kalian baru jadian juga semalam”?

“Astaga yang, mana mau mas sama dia, mas gak tau kenapa dia ngomong kayak gitu, mas bahas kerja sama juga sama Toni sekretaris mas, gak cuma berdua”, jujur Rama.

“Kamu jangan macam macam ya mas, inget anak kamu udah gede semua”.

“Enggak loh sayang, gak pernah macam macam”, Jawab Rama.

“Kamu cari anak kamu, udah nyiramin Kopi sama pacar kamu tadi dia lari”.

“Sayaaang”, rengek Rama.

“Kenapa”?

“Dia bukan pacar mas”, ucap Rama.

“Iya iya__ cari anak kamu sana mas”.

Rama merogoh kantong celana untuk mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.

“Ohh, oke”, ucap Rama pada seseorang di balik telfon kemudian mematikan sambungannya telfon nya.

“Nelfon siapa”? Tanya Aulia.

“Toni, dia lagi sama adek makan di kantin”.

“Sekretaris kamu yang ganteng itu”?

Rama menoleh tak suka pada istrinya, ia langsung memasamkan wajahnya dan berdiri lalu melangkah kan kakinya ke meja kerjanya.

“Aku ke kantin dulu ya kalau gitu, mau nyusul adek sama Toni” ucap Aulia yang menjahili suaminya.

“Toni mas pecat kalau kamu ke sana”.

“Ya gpp, lebih gampang ketemuan tanpa ketahuan sama suami”, balas Aulia.

Rama yang memang mudah terbakar cemburu pun menghampiri istrinya dengan wajah yang sangat dingin, ia menarik pelan pergelangan tangan Aulia dan mengajak nya untuk masuk ke dalam kamarnya yang berada di dalam ruangannya.

Ceklek

Rama membuka pintu kamar dan langsung menggendong Aulia menuju kasur, sesampainya di kasur, Rama meletakkan istrinya disana.

“Mau ngapain”? Tanya Aulia dengan santai.

“Mau makan kamu”.

“Aku lagi gak pengen”, ucap Aulia.

“Mas gak butuh persetujuan kamu sayang”.

Rama langsung membungkam mulut istrinya yang baru saja ingin membalas perkataan nya.

“Muach, mmhh, mmckk”.

Suara mulut yang beradu dengan nikmat di dalam kamar itu.

“Awwhh”, pekik Aulia saat Rama menggigit bibirnya.

“Sakit mas”.

“Itu hukuman buat kamu yang udah ngomongin laki laki di depan mas”, ucap Rama.

“Gila”.

“Mau liat mas lebih gila”? Tanya Rama.

“Enggak”.

Masa bodo, Rama tak mendengar ucapan istrinya, ia menaiki tubuh Aulia dan langsung meremas susu montok istrinya dari luar baju yang di kenakan istrinya.

“Makin gede”, ucap Rama sambil meremas dengan kasar susu Aulia.

“Aakhh, jangan kenceng kenceng ih”.

Rama menggesek gesekkan batangnya di atas milik istrinya.

“Kerasa gak sayang”? Tanya Rama.

“Mmhh, udah mas, awass”.

Brak, pintu kamar terbuka dan terpampang wajah anaknya disana. Cepat cepat Aulia mendorong suaminya ke samping dan langsung duduk dari tidurnya.

“Daddy ngapain”? Tanya Elyn sambil berjalan ke arah orang tuanya.

Rama tergeletak tak berdaya di samping istrinya, ia sedang tegang tegang nya tapi anak nya ini menganggu kesenangannya.

“Daddy ngapain tadi”? Tanya Elyn lagi.

“Daddy gak ngapa ngapain sayang”, jawab Aulia.

“Tapi tadi Daddy kenapa duduk di atas paha mommy? Daddy mau cekik mommy ya”?

“Enggak adek__yaudah keluar yuk, Daddy kayak nya kecapean”, ucap Aulia.

“Capek kenapa?

Aduuuh, kenapa anaknya ini banyak sekali bertanya, Aulia berdiri dan langsung membawa anaknya keluar dari kamar.

“Mom, Tante yang sexy tadi mana”? Tanya Elyn ketika mereka sudah duduk di sofa.

“Udah pulang sayang”.

“Dia gak nyariin Elyn mom”?

“Enggak kok, tadi dia udah di marahin sama Daddy terus langsung pulang”.

“Ohh”, Elyn mengangguk kan kepalanya dan berbaring di sofa.

Setelah 15 menit duduk di sofa dan Elyn sudah tertidur, kini Rama keluar dari dalam kamar itu, ia berjalan ke arah Aulia dan langsung duduk disamping istrinya sambil memeluk sang istri.

“Kenapa”? Tanya Aulia.

“Sakit, gak bisa di keluarin kalau gak sama kamu”.

“Sabar ya, di rumah aja nanti”, kata Aulia sambil mengelus rambut suaminya.

“Janji ya”.

“Iya sayang__ pesen makan dong mas, aku laper”, ucap Aulia.

Dengan malas Rama bangun dan berjalan mengambil ponselnya, ia memesan makanan untuknya dan juga istrinya.

“Kok mual ya mas nyium bau ayam goreng”.

“Mual”? Tanya Rama.

“Hum, kayak pengen muntah”.

Aulia langsung berdiri ketika merasakan ingin muntah, ia berlari ke ke kamar mandi yang berada di dalam kamar suaminya.

“Huek”

“Huek__ Aulia hanya memuntahkan cairan bening di dalam closet.

Rama menyusul istrinya dan memijat tengkuk Aulia sembari menunggu istrinya selesai dengan muntahnya.

“Udah”? Tanya Rama.

Aulia menganggukkan kepalanya dan memegang perutnya yang terasa kram karna ia muntah tadi.

“Ke rumah sakit ya”, ucap Rama.

“Enggak mas, ngapain! Aku pasti cuma masuk angin karna telat makan”.

“Masuk angin gak keringet jagung kayak gini sayang, ke rumah sakit aja ya”, pujuk Rama.

“Yaudah terserah mas aja, tapi adek masih tidur”.

“Biar adek mas titip sama Toni”, ucap Rama.

Rama keluar dari ruangannya untuk memberi tahu Toni untuk menjaga anaknya, lalu ia dan Aulia langsung pergi menuju ke rumah sakit.

Didalam perjalanan, Aulia melihat ada penjual es cendol, ia ingin membeli es cendol itu namun suaminya terlalu cepat mengendarai mobilnya.

Tak sampai 30 menit, Rama dan istrinya telah sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke ruang UGD.

“Ada yang bisa kami bantu pak”? Tanya perawat yang berjaga di sana.

“Istri saya muntah muntah dan badannya lemas”.

“Silahkan ibuk berbaring di sana dan bapak silahkan melakukan pendaftaran dahulu”.

“Baik”

Setelah melakukan pendaftaran, dokter langsung memeriksa Aulia dengan telaten. Dokter tersebut tersenyum melihat Aulia lalu bergantian tersenyum ke arah Rama.

“Saya sarankan bapak memeriksakan istri bapak ke dokter kandungan agar lebih meyakinkan”, ucap dokter wanita tersebut.

“Memangnya kenapa dok”? Tanya Rama dengan polos.

“Saya mendengar ada suara detak jantung di dalam sini”, jawab dokter wanita sambil mengelus perut Aulia.

“Maksud dokter? Istri saya hamil?

“Mangkanya saya menyarankan agar bapak membawa istri bapak ke dokter kandungan”.

“Iya dok, kalau begitu saya dan istri bisa langsung pergi sekarang”?

Dokter wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Terima kasih ya dok” ucap Aulia.

Rama langsung membawa istrinya ke dokter kandungan saat itu juga, dengan kekuatan uang, ia bisa menerobos nomor antrian. Baru saja duduk, nama istrinya telah di panggil dan mereka langsung masuk.

“Hallo pak Rama, buk Aulia”, sapa dokter Dika yang memang sudah mengenal kedua orang ini.

“Hallo dok”, sahut Aulia__sedangkan Rama hanya menganggukkan kepalanya sekilas.

“Ada apa ini buk? Mau memeriksa kandungan”? Tanya dokter Dika sambil tersenyum.

“Mm, saya mual mual dok, terus badan saya lemes”.

“Sudah berapa hari mual dan lemas nya”?

“Baru hari ini, mungkin saya masuk angin, tapi suami saya kekeh mau ngajakin ke rumah sakit, tapi tadi pas di UGD saya di saranin untuk kesini”.

“Yasudah, Mari ke sana dan berbaring, saya akan periksa keadaan ibuk”.

Aulia berbaring dengan Rama yang setia di sampingnya, dokter Dika memeriksa Aulia dan mendengar kan ada detakan jantung juga disana.

Setelah selesai memeriksa, dokter Dika menyuruh Aulia duduk kembali di tempat tadi.

“Gimana dok”, tanya Aulia.

“Begini buk, ibuk sedang mengandung, tapi___”.

“Tapi apa dok”?

“Ibuk tidak mengandung satu bayi, melainkan dua bayi”, ucap dokter Dika.

“Apa dok? Jadi saya tengah mengandung anak kembar”? Tanya Aulia sambil menutup mulutnya tak percaya.

“Iya buk, saya mendengar ada dua detak jantung di dalam perut ibu”.

“Mas”, panggil Aulia yang langsung memeluk suaminya.

“Aku seneng banget mas”.

“Iya sayang, mas juga seneng banget”.

“Oh iya dok, kira kira usia kandungan saya berapa Minggu ya”? Tanya Aulia.

“Baru jalan 3 Minggu buk”, jawab dokter Dika.

“Saya kasih vitamin ya ibuk, di habiskan dan jangan bekerja terlalu berat”, sambung dokter Dika.

“Iya dok”.

Setelah memberi resep vitamin, Rama dan Aulia berterima kasih lalu langsung pergi dari sana untuk menebus vitaminnya.

“Aaa mas, aku seneng banget”, ucap Aulia yang tak dapat menutupi kesenangannya.

“Mas juga seneeeng banget, berarti tembakan mas yang sekali itu langsung jadi”.

“Hisshhh”.

“Hahaha, i love you sayang”, ucap Rama.

“Love you too mas”, balas Aulia.

“Nanti pulang beli es cendol ya mas”.

Bersambung… Setelah pulang memeriksa keadaannya yang ternyata hamil, Rama dan Aulia langsung menjemput Elyn untuk pulang kerumah mereka. Cendol yang di inginkan Aulia sudah habis ia minum saat di dalam mobil tadi.

Sekarang mereka sudah tiba di rumah dan Rama langsung menyuruhnya untuk mandi, Elyn sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamarnya.

Setelah selesai mandi, kini gantian Aulia yang menyuruh suaminya untuk mandi, ia berjalan ke arah lemari bajunya untuk mengambil daster lalu ia pakaikan di badannya.

Aulia mengambil ponselnya lalu memotret perutnya yang masih rata kemudian ia mengirim nya ke kontak Dave.

Bujangku ❤️

Abang, Abang mau jadi Abang lagi dari si kembar.

Ia tersenyum melihat isi chat nya bersama Dave, ia merindukan putra sulungnya itu sampai sampai tak terasa air matanya tiba tiba menetes, dengan cepat ia menghapus air matanya agar sang suami tak mengomel.

Rama keluar dari kamar mandi dan langsung berjalan ke arah lemari pakaian untuk memakai baju, tumben sekali suaminya itu tidak tebar tebar pesona dan memperlihatkan perut bisep nya.

“Mas”.

“Hm”

“Mau makan apa”?

“Gak usah masak, ngomong aja mau makan apa”.

“Cek ileeeh, orang kaya mah beda”.

Rama menolehkan kepalanya menatap Aulia dengan wajah julid.

“Baru tau kamu suami kamu kaya”?

“Sabodo teuing lah mas”, ucap Aulia lalu keluar dari kamarnya dan menuju kamar anak perempuannya.

Tok

Tok

Tok

“Adeek, lagi ngapain? Mommy masuk ya”.

“Bentar mom, Elyn pake baju”, sahut Elyn dari dalam.

“Oke”.

Ceklek, Elyn membuka pintu dan mempersilakan ibunya untuk masuk, Aulia pun masuk dan duduk di pinggiran kasur anaknya.

“Sini”, tepuk Aulia pada sisi kasur yang kosong di sampingnya.

“Kenapa mom”? Tanya Elyn yang sudah duduk di sampingnya.

“Adek seneng gak kalau di sini ada dedek bayinya”? Tanya Aulia sambil mengelus perutnya.

“Seneng kok mom, nanti Elyn gak kesepian lagi kayak sekarang”, jawab Elyn.

“Jadi adek seneng kalau punya dedek bayi”?

“Seneng mom, tapi kenapa mommy tanya itu”?

“Disini udah ada dedek bayinya, ada dua”, jawab Aulia.

“Waaah, beneran mom”? Pekik Elyn.

“Ye, yee, Yee__ Elyn punya dedek dua, dedeknya kembar”, ucap Elyn sambil berlonjak di atas kasur.

“Elyn seneng banget”.

Aulia tersenyum melihat antusias anak perempuan nya yang sangat senang dengan kehadiran calon adiknya nanti, tapi ia belum tau bagaimana dengan Dave, apakah anak laki lakinya itu menerima atau tidak.

Rama yang mendengar suara ribut ribut dari dalam kamar anaknya langsung masuk kedalam sana.

“Kenapa”? Tanya Rama yang melihat Aulia tengah duduk di pinggiran kasur.

Elyn melompat dari kasur nya dan berlari ke arah ayahnya.

“Daddyyy”, Elyn memeluk ayahnya.

“Kenapa sayang”?

“Elyn seneng banget Daddy”, ucap Elyn.

“Seneng kenapa? Cerita sama Daddy”.

Elyn melepaskan pelukannya lalu menarik tangan ayahnya untuk duduk di kasurnya.

“Elyn seneng, karna di sini ada dedek bayinya, dedek nya ada dua dad”, ucap Elyn dengan mengusap perut ibunya.

Ternyata istrinya sudah memberi tahu kepada Elyn jika ia sedang mengandung.

“Kok Daddy diem? Daddy gak suka ya”? Tanya Elyn.

“Daddy suka kok sayang, Daddy juga seneeeng banget”, jawab Rama.

“Abang seneng gak mom”, tanya Elyn pada Aulia.

Aulia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja.

“Mau makan di luar atau pesen aja”? Tanya Rama.

“Pesen aja mas, capek mau keluar”, jawab Aulia.

“Adek mau makan apa”?

“Daddy, kan Elyn mau punya dedek, Daddy sama mommy jangan panggil elyn adek lagi, panggil kakak Elyn”, ucap Elyn.

“Siap kakak Elyn”, balas Rama dan mengangkat tangannya membentuk tanda hormat.

“Hahahaha”, terdengar suara tertawa yang sangat gembira di dalam kamar anak perempuan mereka.

19:00 WIB.

Tring..

Tring..

Tring..

“Mom, handphone nya bunyi”, ucap Elyn.

“Siapa nak”? Tanya Aulia yang sedang berada di dapur.

“Bujangku”, Jawab Elyn.

“Angkat aja, itu Abang”.

“Oke”.

“Hallo”, jawab Elyn.

“Hallo, who are you”? Tanya Dave.

“Preeet, gak usah sok sok an bahasa barat Abang”.

Dave di seberang sana tersenyum mendengar nada jengkel adik nya.

“Hahaha, mana mommy? Kok adek yang angkat”?

“Mommy lagi ngipasin buah jambu, jambunya udah baaanyak banget dipohon”, jawab Elyn.

“Oh”.

“Iih Abang, jangan singkat singkat gitu ngomongnya, Elyn matiin nih”.

“Iya iya maaf, adek gak kangen Abang”? Tanya Dave.

“Kangen, abang kapan pulang”?

“Abang lebih kangeeen banget sama adek, nanti Abang pulang kalau sekolahnya ada libur”, Jawab Dave.

“Jangan lama lama, Elyn dah kangen banget”.

“Iya sayang, adek nakal gak selama Abang gak ada”? Tanya Dave lagi.

“Enggak, Elyn gak pernah nakal__

“Bohong bang, adek nakal banget semenjak Abang gak ada”, celetuk Rama.

Dave langsung mengalihkan panggilan teleponnya menjadi panggilan video.

Dengan rasa kesal kepada Daddy nya dan rasa takut kepada abangnya, mau tak mau Elyn mengangkat panggilan video itu.

“Hallo”, Elyn mengangkat dan melambaikan tangannya.

“Kenapa nakal? Kan Abang bilang jangan pernah nakal kalau abang gak ada”.

“Elyn gak nakal kok, Daddy tuh bohong”, ucap Elyn.

“Daddy atau adek yang bohong”?

“Daddy”, Jawab Elyn yang menunduk dan sudah ingin menangis.

“Liat Abang!”

Elyn menggelengkan kepalanya dan sudah menangis.

“Liat Abang Leah”.

Mau tak mau Elyn menegakkan kepalanya dan mengusap air matanya.

“Kenapa nangis”?

“Daddy yang bohong, Elyn gak nakal, tanya aja sama mommy”, ucap Elyn.

Aulia datang dari dapur dengan membawa jambu yang telah ia potong kecil kecil.

“Daddy nakal mom”, adu Elyn sambil memeluk anaknya.

“Daddy kamu suka banget jahilin anaknya, heran deh”, omel Aulia.

“Hai mom”, ucap Dave di seberang sana setelah melihat wajah ibunya.

“Hai, Abang sehat nak? Tanya Aulia.

“Sehat mom, mommy sehat”?

“Sehat kok, Abang udah liat chat mommy”?

“Udah kok”, jawab Dave.

“Terus”? Tanya Aulia.

“Apa nya yang terus”? Dave balik bertanya.

“Gimana tanggapan Abang”?

“Ya gak gimana gimana mom, Abang seneng kalau mommy seneng__pasti itu ulah Daddy”, ucap Dave.

“Lah, kok Daddy”? Tanya Rama.

“Terus siapa lagi kalau bukan Daddy? Jeon jungkook”? Tanya Dave.

“Heh! Ya Daddy lah, enak aja”, aku Rama.

“Itu ngaku”, Jawab Dave.

“Udah udah, kok malah ribut”, ucap Aulia.

“Anak kamu itu looh”, balas Rama.

“Abang”, panggil Aulia.

“Iya mom”.

“Abang sibuk gak”?

“Enggak, kenapa mom”?

“Mommy mau liat pohon maple yang dekat asrama abang dong”.

“Oke, sebentar ya mom, Abang turun dulu ke bawah”.

“Iya bang”.

“Ngidam”? Tanya Rama pada istrinya.

“Kenapa emang nya”? Sewot Aulia.

“Ya nanya aja sayang”.

“Hm”.

Dave telah sampai di bawah pohon maple yang ingin ibunya lihat.

“Ini mom”, ucap Dave.

“Abang selfie di situ ya, terus nanti kirim ke mommy”.

“Iya mommy”.

“Makasih ya Abang”, ucap Aulia.

“Kembali kasih mommy__yaudah kalau gitu abang masuk ke asrama lagi ya mom”.

“Iya sayang, jaga kesehatan ya disana, jangan nakal”, ucap Aulia.

“Iya mom, mommy Daddy sama adek jaga kesehatan juga, Abang sayang kalian”.

“Kami juga sayang sama Abang”.

“Bye mom__ilove you”.

PIP, Dave langsung mematikan sambungan telfonnya.

Aulia masih menatap ponselnya, ia sebenarnya masih rindu dengan putra sulungnya itu.

“Udah, nanti telfon lagi kalau Abang gak sibuk”, ucap Rama yang seakan mengerti perasaan istrinya.

“Iya mas”.

***

16:00 WIB.

Ting tong..

Bunyi suara bel mengalihkan atensi Aulia yang sedang menyirami bunga mawar ya, ia segera berjalan ke depan untuk membuka pintu.

Ceklek, Aulia membuka pintu dan melihat siapa yang bertamu di rumahnya sore sore begini.

“Assalamualaikum, mom”.

“Waalaikumsalam”, sahut Aulia.

“Mm, ini mom salad buahnya, kata Abang mommy kepengen salad buah”.

Aulia masih diam di tempat nya, ia memperhatikan anak perempuan di depannya ini.

“Tania”, panggil Aulia.

Ya, anak perempuan di depannya ini adalah Tania, ia membawakan Aulia salad buah seperti apa kata Dave.

“Iya mom”.

“Kamu sering telfonan sama Dave”? Tanya Aulia.

“Gak sering mom”.

“Masuk dulu”, ajak Aulia.

Mereka berdua masuk dan menuju halaman belakang, setelah sampai disana Aulia mengajak Tania untuk duduk di kursi rotan.

Tania meletakkan salad buah yang ia bawa di samping nya, ia tak berani lagi membuka suara sebelum Aulia bertanya.

“Jangan keseringan telfonan sama Dave ya”.

“Kenapa mom”? Tanya Tania.

“Mommy gak suka kamu Deket sama Dave lagi”.

Tania menatap wajah Aulia yang dulu nya sangat lembut jika mentapnya, tapi kini wajah itu berubah menjadi sangat dingin. Tania menganggukkan kepalanya dan menyerahkan salad yang ia bawa tadi kemudian pamit pulang kepada Aulia.

Aulia melihat Tania pulang dengan wajah yang sedih, ia tak ingin berkata seperti itu sebenarnya, tapi ia harus melakukan itu agar Dave dan Tania fokus pada sekolah mereka dulu, ia takut Dave akan kebablasan seperti kemarin jika mereka semakin dekat.

Ia menatap salad buah yang di bawakan oleh Tania untuknya, ia membuka bungkusan itu lalu memakannya dengan air mata yang menetesi pipinya.

Bersambung… 2 TAHUN KEMUDIAN..

Aulia telah melahirkan anak kembar mereka yang berjenis kelamin laki laki dan di beri nama__ “Dean Gusti Purnomo dan Daniel Syaf Purnomo”. Kini si kembar telah berusia 2 tahun dan kakak Elyn nya berusia 11 tahun.

Aulia yang sudah tak tahan lagi menahan rindu dengan putra sulungnya itu, menyuruh Rama untuk mengurus semua kepindahan Dave kembali ke Indonesia, padahal anaknya baru 2 tahun disana.

Rama yang memang dasarnya suami cinta istri, ia langsung terbang ke Canada hari dimana sang istri menyuruhnya mengurus semuanya.

“Mom, abang hari ini ya sampe ke rumah”? Tanya Elyn.

“Iya kakak, hari ini Abang pulang ke sini”, jawab Aulia.

“Yes, kakak udah kangen banget sama Abang”.

Dave sangat susah di hubungi dan tak ingin pulang ke indonesia sejak Tania mengantarkan salad buah untuknya, entah anak itu mengadu kepadanya atau apa dia pun tak tau.

“Nanti Abang sekolah disini mom”? Tanya Elyn.

“Iya sayang, nanti Abang SMA nya disini”.

“Semoga Abang gak makin galak ya mom”, kata Elyn sambil menggaruk pipinya yang tak gatal.

“Hahaha kenapa memangnya sayang”?

“Nanti Elyn gak bisa main jauh jauh lagi kalau Abang pulang”, jawab Elyn.

“Mangkanya jangan main jauh jauh, main sama twin aja di rumah”.

“Adek twin nakal mommy, rambut kakak di tarik tarik terus”.

Twin yang memang sedang berada disana pun seketika menoleh ke arah kakak nya, mereka berjalan tertatih menuju Elyn dan langsung memukul paha kakaknya.

“Aduh, aduhh__ tuh kan mom, mereka nakal”.

“Adek, jangan pukulin kakak kayak gitu”, ucap Aulia sambil mengambil kedua anaknya lalu mendudukkan mereka kembali di depan tv.

16:45 WIB.

“Assalamualaikum”, ucap Rama setelah membuka pintu dan menggeret koper.

“Waalaikumsalam” sahut Aulia dan Elyn.

“Loh, Abang mana dad”? Tanya Elyn.

“Assalamualaikum”, ucap Dave.

Aulia yang melihat anak nya yang sudah di depan matanya pun langsung memeluk Dave dengan erat.

“Mommy kangen bang”, ucap Aulia.

“Abang juga kangen sama mommy”.

“Jangan hindarin mommy lagi, mommy sedih nak”.

Dave melepaskan pelukannya dan menghapus air mata ibunya.

“Kenapa mommy berfikir kayak gitu? Abang gak pernah hindarin mommy, mom”, jawab Dave.

“Abang susah di hubungi semenjak__

“Udah udah, biarin Abang mandi dulu terus istirahat”, ucap Rama.

Aulia mengangguk kan kepalanya lalu memeluk anaknya lagi, Dave mengusap usap punggung ibunya yang sudah 2 tahun tak ia peluk.

Dave melirik ke arah Elyn yang hanya berdiri di samping ayahnya.

“Ngapain disitu aja? Gak kangen sama Abang”? Tanya Dave pada Elyn.

Elyn langsung berjalan ke arah abangnya dan langsung memeluk tubuh abangnya dengan saaangat erat.

“Kangen, Abang jangan pergi jauh jauh lagi ya”, ucap Elyn.

“Kalau adek nyebelin, Abang pergi”.

“Iih Abang, Ndak mau lagi jauh sama Abang”, balas Elyn.

“Iya iya adek, Abang gak akan pergi jauh lagi__abang disini aja sama adik adik Abang”.

Elyn melepaskan pelukannya dan mengangkat jari kelingkingnya untuk di kaitkan dengan jari sang Abang.

“Janji”?

“Janji sayang”, jawab Dave dan mengaitkan jarinya.

“Mana twin mom”? Tanya Dave pada ibunya.

“Baru aja tidur bang, yaudah Abang mandi lah terus istirahat.

Dave mengangguk dan mencium pipi Elyn kemudian melangkah ke arah tangga untuk ke kamar nya.

Sampainya di kamar, Dave langsung berbaring disana dan melihat langit langit kamarnya.

Ia mengingat kejadian 2 tahun yang lalu saat Tania mengirimi nya pesan agar jangan lagi menghubunginya karna ia sudah mempunyai pacar, Dave langsung menghubunginya karna ingin tau apa maksud dari Tania itu yang tiba tiba sudah mempunyai pacar, namun__ nomornya telah di blokir oleh Tania.

Karna tubuh yang sangat lelah dan pikiran entah kemana mana, akhirnya Dave tertidur dengan kaki yang menjuntai ke bawah.

19:00 WIB.

Rama, istri dan anak anaknya kini tengah berkumpul di ruangan keluarga, Dave sedang menggendong twin di kiri dan kanan tangannya.

“Mom, gak repot tiap hari kayak gini”? Tanya Dave pada ibunya.

“Enggak kok bang, kakak kan udah pinter sendiri”, jawab Aulia.

“Udah ya mom, segini aja”, balas Dave sambil melirik ayahnya.

“Ngapain liatin Daddy kayak gitu”? Tanya Rama pada Dave.

“Daddy gak kasian sama mommy? Ngurus anak terus”, jawab Dave.

“Abang”, tegur Aulia__ kalian semua rejeki dari Allah untuk mommy sama Daddy”.

“Tuh, dengerin mommy kamu”, ucap Rama.

“Ya Daddy inisiatif lah buat mempekerjakan baby sitter”.

“Udah berbusa mulut Daddy ngomong sama mommy kamu, mommy kamu yang gak mau”.

Kini Dave menoleh ke arah ibunya lagi.

“Kenapa gak mau mom”?

“Selagi mommy bisa ngurusin adik adik kamu, kenapa harus orang lain yang ngurus”? Tanya Aulia.

“Ya gak gitu maksudnya mom, cuma kasian liat mommy”.

“Mommy gak apa apa Abang”.

“Kalau apa apa langsung bilang sama Daddy ya mom, biar Daddy tanggung jawab”, ucap Dave.

“Iya sayang”.

Rama lagi lagi menarik nafasnya dalam dalam lalu menghembusnya dengan kasar dan Dave hanya tersenyum melihat ayahnya seperti itu.

Dave meletakkan twin di bawah karpet berbulu yang sudah ada mainan mereka disana, ia melangkah ke arah ayahnya dan mengajak sang ayah untuk duduk di halaman belakang.

“Mommy gak di ajak”? Tanya Aulia.

“Mau ngobrolin tentang cewek mom”.

“Heh! Gak boleh”, jawab Aulia.

“Haha enggak mommy, Abang pengen ngobrol berdua aja sama Daddy”.

“Jangan malam malam masuk ke dalam ya”.

“Siap bos”.

Sampai di halaman belakang, mereka duduk di bawah pohon jambu kristal yang tak terlalu tinggi, di bawahnya terdapat tempat duduk dari kayu.

“Tumben ngajakin Daddy ngobrol berdua? Ada apa”? Tanya Rama.

“Ya Gpp dad, pengen ngobrol sesama lelaki aja”.

“Berat banget masalah kamu”, ucap Rama dengan nada bercanda.

“Gak ada masalah kok dad, oh iya dad__ besok Abang ikut Daddy ke sekolah baru atau gak”?

“Gak usah, biar Daddy aja”, jawab Rama.

“Di SMA mana dad”?

“Di sekolah punya uncle kamu”.

“Oke dad__ dad”.

Rama menolehkan wajahnya melihat Dave yang sudah tertunduk.

“Kenapa bang”? Tanya Rama.

“Tania”.

“Tania? Kenapa Tania”?

“Abang__ Abang kangen Tania dad”, ucap Dave yang mulai terisak.

Ternyata ini sebenarnya yang ingin di ceritakan anaknya.

“Abang udah gak komunikasi lagi sama Tania”?

Dave menggelengkan kepalanya dan mendongak melihat sang ayah dengan air mata yang sudah membasahi wajah tampannya.

“Kenapa bisa lost kontak”?

“2 tahun yang lalu, dia bilang dia udah punya pacar, terus di blokir nomor Abang dad”.

“Sakit dad”, ucap Dave.

Rama yang tak pernah melihat anaknya ini menangis setelah beranjak dewasa, kini ia memeluk tubuh lemah itu dan menepuk nepuk punggung lebar anaknya, ia terus mengucapkan kata kata semangat untuk Dave. Setelah merasa lega dan puas telah mengeluarkan semua yang ia pendam selama ini, Dave melepaskan pelukannya pada Rama dan ingin agar ayahnya itu tak menceritakan apapun pada ibunya.

“Daddy”.

“Iya”.

“Boleh Abang minta alamat Tania? Tapi jangan bilang sama mommy”.

“Sini handphone Abang, Daddy tulis disana aja alamatnya”.

Dave memberikan ponselnya lalu dengan cepat Rama menuliskan alamat Tania.

Sekarang mereka berdua telah kembali ke mode normal, tertawa dan bercanda hingga larut malam.

***

Kebiasaan nya yang dari kecil memang susah ia buang, sekarang masih pukul 6 pagi, tapi Dave sudah bangun dan turun untuk membantu ibunya memasak.

“Morning mom”, sapa Dave pada ibunya lalu mengecup pipi sang ibu.

“Morning too Abang”.

“Nasi goreng ayam kunyit ya mom”?

“Iya sayang, khusus buat anak mommy yang ganteng ini”, jawab Aulia.

“Hehe makasih mommy, Abang bantuin apa ini mom”?

“Gak usah, Abang bangunin Elyn aja, katanya hari ini dia piket kelas”, ucap Aulia.

“Oke mom”.

Dave masuk kedalam kamar Elyn yang bernuansa Frozen itu, ia melihat adiknya masih nyenyak dengan tidurnya.

“Adek, bangun”, ucap Dave dengan lembut.

“…”

“Adek, katanya hari ini mau piket kelas”.

Dengan grasak grusuk, Elyn pun bangun dari tidurnya.

“Emang ini jam berapa bang”? Tanya Elyn.

“Masih jam 6:30”.

“Ha? Yaudah Elyn mandi dulu kalau gitu, Abang keluar”, ucap Elyn.

“Iya iya”.

Dave keluar dan menutup kembali pintu kamar adiknya, lalu ia berjalan ke kamar orang tuanya untuk melihat twin. Twin pun masih sangat nyenyak dengan tidurnya, sama hal juga dengan Daddy nya.

Setelah membangunkan Elyn dan melihat twin sebentar, kini Dave kembali ke bawah dengan makanan yang sudah selesai dan disiapkan oleh ibunya.

“Waaah, enak banget pasti ini”, ucap Dave yang melihat banyak sarapan di atas meja.

“Duduk, mommy ambilin”.

Dave menarik kursi lalu duduk, dengan tidak sabarnya ia meminta ibunya untuk cepat mengambilkan nasi goreng dan perkedel kentangnya.

Dave menyuapkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya, dan__

“Mmm, enak banget mom, masakan mommy emang gak ada duanya”, ucap Dave dengan mulut yang penuh.

“Udah, makan dulu, kalo Daddy liat bisa dimarahin makan sambil ngomong”.

Dave hanya mengacungkan jari jempolnya kepada sang ibu lalu melanjutkan sarapannya.

Brugh, suara seseorang jatuh dengan kerasnya. Dave menoleh kan kepala dan melihat kalau adiknya Elyn telah tersungkur di anak tangga terakhir, ia segera berdiri dan membantu adiknya untuk bangun.

“Kenapa lari lari sih”, ucap Dave.

“Aduh__kaki Elyn sakit Abang”.

Dave menggendong adiknya lalu membawanya ke sofa.

“Sakit, hikss..hikss”.

“Mangkanya jangan lari lari”.

“Udah, jangan marah marah, Elyn takut”.

“Abang gak marah, cuma kasih tau”.

Aulia yang baru dari lantai atas berjalan ke arah anaknya dan melihat Elyn tengah menangis.

“Kenapa bang”? Tanya Aulia.

“Jatuh di tangga”.

“Ya ampun, sini mommy liat, mana yang sakit”?

“Ini mom”, tunjuk Elyn pada lututnya.

Aulia hanya meniup niupkan lutut Elyn menggunakan mulutnya, ia sangat tau kalau Elyn ini sangat manja, sakit sedikit bisa jadi banyak menurut Elyn.

“Sekarang udah baikan”? Tanya Aulia.

“Udah mom__ makasih mommy”.

“Kembali kasih kakak Elyn, sekarang sarapan terus berangkat sekolah”, ucap Aulia.

“Elyn langsung berangkat aja mom”.

“Sarapan dulu”, ucap Dave dengan wajah datarnya.

“Iya iya Abang”.

Dengan langkah pasrah, Elyn berjalan ke meja makan dan langsung melahap sarapannya.

“Abang”, panggil Elyn pada Dave yang sedang mengobrol dengan om Roy.

“Kenapa dek”?

“Anterin sekolah pake itu”, tunjuk Elyn pada motor KLX Dave.

“Sama pak mu aja pake mobil”.

“Elyn udah telat Abang, nanti pasti macet”, Jawab Elyn.

Dave berjalan masuk ke dalam rumah untuk mengambil helmnya dan helm Frozen Elyn.

“Pake helm dulu”, ucap Dave sambil memakaikan Elyn helm.

“Waaah, Elyn makin cantik Abang kalau pake helm Frozen ini”.

“Iya, adek Abang memang cantik”, balas Dave.

“Pegagan dek”, ucap Dave ketika Elyn sudah naik dan duduk di belakangnya.

Elyn dengan sigap memeluk abangnya erat erat, dan___

“Let’s go abaaang”, ucap Elyn.

Brummm

Setelah menyalip kendaraan sana sini, akhirnya Dave telah sampai di sekolah adiknya, Elyn turun dari motor dan memberikan helm nya kepada Dave lalu menyalami tangan abangnya.

“Sekolah yang pinter, jangan nakal”, ucap Dave sambil mengusap kepala adiknya.

“Iya Abang, Elyn masuk dulu ya__ papay Abang”.

Melihat adiknya yang sudah masuk ke area sekolah, Dave memutar motornya menuju rumahnya, sampai di rambu lalu lintas, ia teringat dengan Tania lagi lalu dengan cepat ia pergi ke alamat yang ayahnya berikan tadi malam.

Setelah beberapa menit, Dave sampai di depan rumah Tania. Rumah sederhana yang ada pohon mangga di depan rumahnya, membuat rumah itu sangat teduh dan asri.

Asik memandang rumah itu, Tania keluar dengan seragam SMA dan mulai berjalan ke arah halte, Dave mengikutinya dari belakang hingga Tania naik ke dalam bus.

***

20:00 WIB.

Malam ini Dave akan tidur dengan Elyn dan twin, ia ingin memberi kesempatan pada ibunya untuk beristirahat dengan tenang, tapi eh tapi__apakah Dave tau jika ini adalah kesempatan untuk Daddy nya?

Mereka berempat sudah berada di dalam kamar Dave yang sangat besar, Dave telah selesai dengan menidurkan twin, kini gilirannya menyuruh adik perempuan satu satunya ini untuk tidur.

“Abang”.

“Iya dek”.

“Abang sayang gak sama Elyn sama twin”?

“Sayang, Abang sayaaang banget sama adek adek Abang”.

“Kalau sayang banget jangan pergi jauh lagi, Elyn sama twin gak mau Abang pergi jauh lagi”.

“Iya adek, tapi adek gak boleh nakal, tolong mommy jagain twin”.

“Elyn gak akan nakal dan akan selalu bantuin mommy, Abang”.

“Pinter__sekarang bobo ya”.

Elyn menganggukkan kepalanya lalu memejamkan matanya, setelah melihat adiknya tertidur, Dave pun memejamkan matanya dan menyusul adik adiknya ke alam mimpi.

Sedangkan dikamar yang berbeda, rama tengah memeluk mesra tubuh istrinya.

“Sayang”, panggil Rama.

“Iya mas”.

Cerita Sex Desainer Busana

“Makasih untuk waktu dan hidup kamu buat mas selama ini, makasih udah tetap setia sama mas__maafin mas kalau mas banyak kurang nya menjadi suami yang buruk, tapi satu yang harus kamu tau, mas sayang dan cinta banget sama kamu”, ucap Rama.

“Kembali kasih mas, aku juga makasih banget karna mas selalu ada buat aku dan selalu mentingin aku dari pada yang lain__maafin aku juga sering buat mas kesel.. aku juga sayang dan cinta banget sama mas”, balas Aulia dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rama.

“Iloveyou istriku”.

“Iloveyou too suamiku”

TAMAT