
The Naughty Professor
Cerita Sex The Click – Aku baru saja tidur di ranjangku ketika tiba-tiba pintu kamarku digedor dengan keras dan suara teriakan adikku menyeretku kembali ke alam sadar. Aku mengumpat dalam hati karena jadi tak bisa istirahat setelah kuliah dari pagi sampai sore, tapi akhirnya aku pun berjalan ke pintu dan membukanya.
Ketukan di pintu dan suara teriakan adikku pun terhenti ketika pintu kamarku kubuka. Sesosok wajah manis tersenyum nakal menatapku. Pemilik wajah manis itu adalah adik perempuanku, Dini. Dia baru berusia 16 tahun, baru duduk di kelas 1 SMU.
Amarahku pun pudar saat melihat Dini tersenyum. Gimana seseorang bisa marah bila menghadapi wajah Dini yang cantik manis dengan senyum polos dan sweet? Aku jadi teringat komentar temen-temenku yang sering bilang kalo aku ini beruntung banget bisa tinggal di sarang bidadari.
Cerita Sex The Click Ngocoks Bidadari yang mereka maksud adalah Dini adikku, mamaku, serta kakak perempuanku yang dua tahun lebih tua dari aku, namanya Sarah. Dalam hati aku tak bisa menyalahkan komentar teman-temanku itu. Kak Sarah memang cantik dengan tubuh tinggi semampai, rambut ikal kemerahan serta bibir sexy yang menjadi nilai plus kecantikannya.
Kecantikan yang sangat mendukung karirnya sebagai model. Dan mamaku aahh…. Mamaku tak kalah cantik dari kedua putrinya. Walau sudah berusia hampir kepala empat tapi orang-orang banyak yang mengira mamaku berusia tak jauh dari kak Sarah yang berusia 22 tahun.
Banyak yang menyangka mereka bukan mama dan anak tapi kakak adik. Badan mama masih sangat bagus karena dia termasuk maniak fitness. Payudaranya besar mengingatkan aku akan bintang porno yang sering kutonton di vcd BF koleksiku.
“Ehh kak Joe kok malah ngelamun sih? Belum sadar 100 persen ya hi.. hi… hi….” “Dasar anak bengal. Ngapain sih kamu gangguin kakak. Kakak cape banget nih.” “Gak usah sewot gitu dong kak. Tadi ada telpon dari Oom Parman, katanya kakak disuruh cepet-cepet kerumahnya. PENTING.”
“Oom Parman siapa?” “Itu si Prof yang rumahnya di ujung jalan. Masa gak inget sih? Dulu kan kakak doyan banget maen kerumahnya.” “Profesor Suparman?? Dia udah balik?”
“Iya, Profesor Suparman yang itu. Eh, kak. Kenapa sih kakak kok bisa temenan sama orang aneh kayak gitu, usia kakak kan beda jauh sama dia? Lagian kata orang-orang si Profesor itu agak gini ni.”, kata Dini sambil menyilangkan telunjuknya di depan dahinya.
“Hush, jangan omong sembarangan. Prof itu sebenernya orang baik kok, cuma agak nyentrik. Ya udah deh, sekarang kakak mo mandi, trus ke rumah si Prof.”
“Oh ya kak. Dini kan udah capek-capek nyampein pesen buat kakak Trus sebagai ongkosnya, tadi coklat punya kakak yang ada di lemari es udah Dini makan he… he… he…”, kata Dini sambil berlari meninggalkan aku. “DDIIIIINNIIIIII…….., itu kan coklat mahal oleh-oleh temen kakak dari Amrik!!!!!!”
Dengan hati jengkel karena dikerjain si Dini, aku pun mandi. Selama mandi pikiranku melayang memikirkan Profesor. Kapan dia balik? Ada perlu apa dia? Memang nggak salah kalo banyak yang mengira dia orang yang aneh. Tiga tahun lalu tiba-tiba dia menghilang tanpa jejak, lalu sekarang tiba-tiba muncul.
Profesor Suparman sebenarnya bukan orang gila seperti anggapan orang-orang. Malah dia adalah seorang yang sangat jenius. Mungkin karena kejeniusannya itulah maka dia menjadi kurang bisa bersosialisasi dengan orang lain. Satu-satunya temannya di komplek ini adalah aku.
Aku pertama kali kenal dengan si Prof waktu berumur 15 tahun. Suatu hal yang sangat lucu, karena si Prof usianya sudah hampir kepala empat waktu itu. Tapi perbedaan usia tidak menghalangi persahabatan kami. Bagiku si Prof orang yang cukup asyik buat temenan asal kita sudah terbiasa dengan sifatnya yang aneh dan nyentrik.
Aku bisa bebas curhat sama dia dan si Prof mendengarkan segala macam curhatku tanpa men-judge perbuatanku seperti orang-orang tua lainnya. Dan satu hal yang paling aku sukai dari persahabatanku dengan Prof adalah aku bisa memanfaatkan rumahnya untuk menyetel kaset dan vcd porno yang aku pinjem dari temen-temenku he he he.
Yaa… Blue Film merupakan satu hal yang membuat kita kompak. Si Prof ternyata getol banget nonton BF dan tentu saja dia tidak akan lapor ke orangtuaku bila aku nyetel BF di rumahnya. Malah jika dia punya film porno yang baru, dia juga menelpon aku dan mengajak aku nonton bareng di rumahnya. Dasar orang nyentrik.
Pertemanan kami berjalan sampai dua tahun, dan ketika aku berumur 17 tahun, tiba-tiba Prof. Suparman menghilang tanpa kabar. Dia pun tak pernah menghubungi aku sampai saat ini. Aku pun segera menyelesaikan mandiku dan bersiap pergi ke rumah Profesor.
* * * * * * * * *
Aku memasuki pelataran rumah besar yang tampak tak terawat di ujung jalan komplek. Seorang wanita yang ada di rumah seberang tempat Profesor mengamatiku dengan pandangan aneh. Aku tersenyum sekedar basa-basi lalu segera menuju pintu depan rumah Profesor dan memencet bel pintu.
Ding Dong… Ding Dong….
Tak lama pintu itu pun terbuka. Wajah bulat culun dengan rambut yang mulai memutih tersenyum lebar melihatku. Pemilik wajah itu bertubuh gemuk pendek, terlihat lucu dengan pakaiannya yang sama sekali nggak matching, baju model hawai warna hijau dengan kembangan kuning, serta celana gombrong warna merah terang (kaya lampu lalu lintas merah, kuning , ijo he.. he.. he.. ). Orang nyentrik ini adalah Profesor Sudarman.
“Ha..ha..ha… selamat datang sobat lama. Masuk…. masuk….. aku punya kejutan buat kamu ha.. ha.. ha..”, suara berat sang Profesor yang dulu akrab di telingaku membuatku nyaman. Aku teringat masa kami dulu sering bersama. Tak kusangka orang seaneh si Prof, ternyata bisa membuatku kangen.
Aku mengikuti Profesor masuk ke dalam rumahnya. Ruang tamu yang berantakan menjadi pemandangan yang kulihat saat memasuki rumah Profesor. Kertas dan tumpukan dokumen berserakan di atas meja dan sofa. Aku tersenyum melihat semua itu. Memang si Prof suka sembarangan kalo mengerjakan experimennya.
“He, Joe. Kamu udah pernah ML nggak?”, tanya Profesor tiba-tiba. “Ha??! A..apa Prof?”, jawabku gelagapan. “ML…. Making Love. Seks. Udah pernah belom?”, tanya Profesor lagi. “Apaan sih, Prof?!! Lama nggak ketemu, tau-tau nanya kayak gitu.”
Aku teringat kalo si Prof memang kadang-kadang suka ngomong yang sama sekali nggak nyambung. Tapi kali ini aku bener-bener kaget dia nanya kayak gitu.
“Sudah. Kamu jawab saja pertanyaanku. Kamu sudah pernah ML atau belum?”, tanya Profesor lagi, cuek dengan kebingunganku.
“Nng… pernah sih. Sekali, sama bekas pacar gue dulu. Udah ah, jangan nanya yang aneh-aneh. Sekarang mending Prof jelasin kemana aja selama ini? Tiba-tiba ngilang nggak ada kabarnya.”
“Tiga tahun ini aku mengerjakan experimenku yang paling baru dan paling spektakuler. Dan akhirnya aku berhasil. Aku memang jenius ha.. ha.. ha… Dan untuk semua itu, aku berterima kasih sama kamu Sobat muda ku. Kamu yang sudah memberiku ide untuk penemuanku ini.”
“Aku???? Memangnya aku pernah ngasih ide apa? Apa sih yang sudah Prof ciptain?”, tanyaku bingung. “Kamu inget film yang terakhir kali kita tonton bareng disini sebelum aku pergi?”
“Film?? Yang mana Prof?”, tanyaku masih bingung. “Itu film BF semi yang judulnya The Click yang kamu pinjem dari temen SMA mu dulu.”
Pikiranku melayang ke masa lalu. Aku mencoba mengingat tentang film yang dimaksud Profesor Suparman. Sejenak kemudian aku pun teringat. Tiga tahun yang lalu, aku pernah mengajak Prof nonton BF yang kupinjem dari temenku. Judulnya The Click.
Kisahnya tentang sebuah alat milik makhluk luar angkasa yang disimpan dalam sebuah piramid kuno. Alat itu disebut The Click, sebuah alat yang bisa membangkitkan gairah seksual manusia. Jika dinyalakan maka orang-orang disekitarnya akan menjadi horny lalu ML sama siapa saja disitu.
Filmnya lumayan bagus. Seks dan komedi bergantian mengisi alur ceritanya. Aku ingat saat aku dan Profesor selesai menonton film, tiba-tiba si Prof berteriak, “Brillian, benar-benar brilian”.
Setelah itu Prof menyuruhku pulang. Lalu keesokan harinya tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar. Sebersit pikiran melintas di kepalaku. Pikiran yang membuatku hampir tak percaya.
“Tunggu, tunggu. Ja.. jadi maksud Prof, Profesor nyiptaiin alat itu? The Click?”, tanyaku memastikan pertanyaan yang tadi melintas dikepalaku.
“Ha… ha… ha…. kamu benar. Aku sudah berhasil menciptakan The Click. Aku memang jenius ha.. ha..” Aku bengong menatap pria setengah baya itu. Aku tak percaya mendengar pengakuan Profesor.
Bisa-bisanya dia menganggap serius hal konyol seperti The Click. Dan yang lebih mencengangkan aku adalah Profesor meng-klaim bahwa dia sudah berhasil menciptakan alat itu. Benar-benar orang yang aneh.
“Joe, kamu nggak percaya kalo aku bisa menciptakan The Click? Tunggu…. Nah, ini dia, The Click”, kata Profesor Suparman sambil menyerahkan benda kecil yang dia ambil dari sakunya. Aku menerima benda itu dari profesor. Aku mengamati benda itu dengan rasa tak percaya. Benda itu adalah sebuah kotak hitam kecil dengan tombol berbentuk hati berwarna merah muda. Benarkah benda aneh ciptaan Profesor ini adalah The Click?
“Kamu masih nggak percaya Joe? Bagaimana kalo kita buktikan sekarang?”, tantang si Prof. “Gimana ngebuktiinnya Prof?” “Tadi aku lihat rumah yang ada di depan itu kayaknya sekarang ditempati pasangan yang masih muda. Dan aku lihat yang perempuan cantik dan cukup sexy, ngingetin aku sama mama kamu. Siapa sih dia?”, tanya Profesor.
Aku teringat sosok cantik yang tadi melihatku saat aku memasuki rumah si Prof. Wanita itu adalah bu Rita, isteri dari pak Dimas. Pasangan muda itu memang termasuk pendatang baru di komplek ini. Mereka baru pindah kesini setahun yang lalu, jadi pantas saja kalo si Prof nggak kenal sama mereka.
Mbak Rita (aku biasa memanggilnya mbak, karena dia masih berumur 28 tahun) memang cantik. Dia dan ibuku adalah istri idaman semua suami yang ada di komplek ini. Mbak Rita adalah seorang pengacara, sedangkan suaminya, mas Dimas, bekerja menjadi pilot. Aku menjelaskan semua ini kepada si Prof tanpa mengerti apa maksud Profesor sebenernya.
“Hhhmm… Rita Rita. Nama yang cantik, secantik orangnya. Jadi dia seorang pengacara yaa. Nngg.. kalo begitu bagaimana kalo kamu mengundang dia kesini. Bilang aja kalo aku akan sewa dia sebagai konsultan hukum. Kamu bilang ke Rita, kalo aku mau konsultasi tentang segala masalah hukum mengenai hak paten penemuanku yang paling baru.”, kata Profesor.
“Trus??”, tanyaku masih bingung dengan jalan pikiran si Prof. “Ya, udah. Kamu sekarang kesana, lalu ngomong seperti yang aku suruh tadi. Pokoknya kamu harus bujuk dia supaya mau kesini.
“Nngg… tapi Prof..” “Sudah, kamu jangan banyak omong. Cepat ajak dia kesini, ntar kamu pasti nggak akan menyesal deh. Aku jamin.”
Aku pun akhirnya meninggalkan rumah Profesor Suparman masih dalam keadaan bingung.
* * * * * * * * * * * * * * *
“Selamat sore, mbak Rita.”, sapaku pada sosok cantik yang sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya. “Sore. Oh, kamu Joe. Ada apa? Tumben maen kesini. Disuruh mama yaa?”, jawab mbak Rita dengan ramah.
Hari ini mbak Rita memakai daster terusan dengan kancing di bagian depan. Pakaiannya yang sederhana itu tak bisa menutupi fakta kalo dia memiliki tubuh dengan lekak-lekuk yang menggairahkan.
“Oh, nggak kok mbak. Aku nggak disuruh mama. Aku dimintain tolong sama Profesor Suparman yang tinggal di depan situ.”
“Profesor Suparman?? Yang katanya agak nggak waras itu yaa. Apa benar kalo dia itu agak gila?” “Itu sama sekali nggak bener mbak. Profesor orangnya 100% waras dan sebenernya dia baik kok.
Cuma dia memang orang yang jenius. Mbak tahu kan, orang jenius kan suka nyentrik dan aneh kelakuannya. Dia juga kurang bisa bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang. Makanya deh banyak gosip yang mengatakan si Prof agak gila. Tapi itu semua nggak bener kok. Masa aku mau bertemen sama orang gila?”, jelasku pada mbak Rita.
“Ooh, begitu toh. Trus dia minta tolong apa sampe kamu kesini?”, tanya ibu muda yang cantik itu. “Begini, mbak. Profesor Suparman menemukan beberapa alat baru tapi dia bingung tentang persoalan mengenai hak paten jika dia mau mematenkan penemuannya itu.
Nah, waktu saya cerita kalo mbak Rita seorang pengacara, Profesor Suparman minta aku untuk mengundang mbak Rita kerumahnya agar dia bisa konsultasi masalah paten sama mbak Rita. Profesor nggak keberatan kalo mbak Rita mau mengenakan tarif konsultasi untuk pertolongan mbak. Gimana mbak?”
“Nngg… bagaimana yaa? Kenapa nggak ke pengacara yang lain saja.”, tanya wanita itu terlihat ragu. “Kan tadi saya sudah cerita kalau si Prof agak kurang bisa bergaul sama orang lain. Makanya dia sering minder kalo harus bicara ke orang yang sama sekali asing.
Walaupun Profesor Suparman belum kenal dengan mbak Rita, tapi karena mbak Rita adalah tetangga, dan juga aku cerita kalo mbak Rita itu selain cantik juga baik sekali, si Prof akhirnya minta tolong ke aku untuk mengundang mbak Rita kerumahnya.”, rayuku pada ibu muda itu.
“Kamu memang bisa aja Joe. Masak orang kayak aku dibilang cantik, baik. Gombal.”, jawab mbak Rita sambil tersenyum malu. Memang wanita itu paling seneng kalau dipuji. “Kalo aku bilang mbak Rita nggak cantik, aku bener-bener orang yang berdosa dan tukang bohong.”, jawabku yang membuat wanita cantik makin tersipu malu.
“Sudah, joe. Jangan nge-gombal terus. Mmm.. kenapa nggak kamu ajak Profesor Suparman kesini saja.” “Penemuan si Prof serta dokumen-dokumennya kan ada di rumah dia. Jadi mendingan mbak saja yang kesana. Biar si Prof bisa menjelaskan penelitiannya dengan lebih detail.”
“Wah… bagaimana ya? Mas Dimas lagi terbang keluar kota. Si kecil Andi lagi bobok, kalo nanti dia terbangun gimana?”
Andi adalah anak dari pasangan muda itu. Umurnya baru satu tahun.
“Khan ada mbok Darmi. Mbok Darmi kan bisa ngejagain Andi selama mbak nggak ada. Lagian mbak kan cuma pergi kedepan rumah doang. Kalo ada apa-apa mbok Darmi bisa manggil mbak Rita.”, rayuku pada mbak Rita yang masih terlihat ragu.
“Nngg… baik deh. Tapi kamu harus temenin mbak kesana. Mbak kan belum kenal dekat sama pak Parman.”, jawab mbak Rita setelah berpikir sejenak.
Aku dan mbak Rita segera menuju ke rumah Profesor setelah dia menyuruh mbok Darmi untuk menjaga Andi.
* * * * * * * * * * * * * * *
“Suparman. Profesor Suparman.” “Rita”
Profesor Suparman dan mbak Rita berkenalan setelah kami semua masuk ke ruang tamu rumah Profesor. Profesor terlihat sangat kagum dengan kecantikan ibu muda itu. Sedangkan mbak Rita terlihat sedikit canggung. Mungkin masih kepikiran tenteng gosip kalo Prof itu orangnya agak gila.
“Hoi, Prof. Tamunya disuruh duduk dulu dong. Masak wanita secantik mbak Rita disuruh berdiri terus.”, kataku mencoba mencairkan suasana.
“Wah, saya benar-benar nggak sopan. Maaf ya bu. Silahkan duduk. Maaf kalau ruangannya agak berantakan. Maklum rumah ini nggak pernah mendapat sentuhan seorang wanita.”, kata Profesor. “Nggak apa-apa kok pak.”, jawab mbak Rita.
Profesor Suparman duduk di sofa yang kecil dekat pintu masuk. Aku duduk di sofa kecil di seberang profesor. Di tengah kami ada meja panjang. Lalu mbak Rita duduk di sofa besar di samping meja panjang itu.
“Apa yang bisa saya bantu, pak?”, tanya mbak Rita. “Mmm.. begini Bu. Saya baru menciptakan beberapa penemuan yang rencananya mau saya patenkan. Tapi saya kurang tahu mengenai masalah-masalah hukum yang harus dilakukan dalam proses perolehan hak paten. Makanya saya mau konsultasi dengan ibu Rita mengenai masalah itu.”, kata Profesor.
Aku melihat diam-diam si Prof menekan tombol berbentuk hati pada The Click yang ada di genggamannya. Mbak Rita kelihatannya tak memperhatikan perbuatan Profesor itu.
“Memangnya apa alat yang akan bapak patenkan itu apa?” tanya mbak Rita.
Aku merasa ada yang aneh. Tanpa sebab, tiba-tiba aku merasa gairah birahi melandaku. Celanaku mulai terasa tak nyaman, karena joe jr yang ada didalamnya mulai memberontak. Pandanganku seakan tertarik ke arah mbak Rita.
Wajah mbak Rita yang cantik terlihat semakin cantik dalam pandanganku. Hidungnya yang mancung. Bibirnya yang ranum seakan membuatku ingin menciumnya. Dadanya hhmm… Ingin rasanya aku meremas dada yang montok itu. Aku ingin menggigitnya gemas, ingin menjilat dan menghisap putingnya. Aahh… pasti nikmat rasanya.
Aku menggoyang-goyangkan kepalaku, mencoba menghilangkan segala macam pikiran kotor yang tiba-tiba merasuki otakku. Tapi tak berhasil, gairah itu masih menghinggapiku. Bahkan bertambah lama, bertambah kuat. Percakapan Profesor dan mbak Rita tak lagi aku pedulikan. Mataku menatap lekat ke wajah mbak Rita.
Pandanganku bergerak liar menelusuri tubuhnya yang sexy. Mbak Rita terlihat gelisah. Duduknya mulai tak tenang seakan dia menahan sesuatu. Ucapannya mulai terpotong-potong, nafasnya terlihat agak berat. Aku menoleh kearah Profesor. Dia tersenyum lebar memperhatikan kegelisahan mbak Rita. Lalu Profesor berdiri, dan menutup serta mengunci pintu depan.
“Nngg… kok pin..pintunya ditutup pak?”, tanya mbak Rita. Profesor tak memperdulikan pertanyaan mbak Rita. Dia berjalan mendekati kursi tempat mbak Rita duduk, lalu dia duduk di sebelah wanita cantik itu.
“Kamu cantik sekali Rit.”, kata Profesor Suparman sambil tangannya dengan berani mengelus paha mbak Rita.
“Pak Parman. Jangan kurang ajar pak.”, kata mbak Rita marah. Tapi anehnya dia membiarkan tangan si Prof tetap mengelus-elus pahanya. Nafas mbak Rita terlihat makin berat. Matanya menatap sayu.
“Gila!”, pikirku dalam hati. Aku mengucek mataku seakan tak percaya. Aku seperti melihat bahwa mbak Rita malah menikmati permainan nakal tangan Profesor di pahanya. Mulut mbak Rita terus berkata memperingatkan agar si Prof menghentikan tingkah kurang ajarnya, tapi di sisi lain dia membiarkan tangan si Prof bergerak bebas dengan liar.
“Ah.. to..tolong hentikan semua ini pak. Saya aah.. saya sudah bersua hhmm.. hhmmm..”, kata mbak Rita sambil diiringi desahan lirih. Sebelum kata-kata itu selesai, bibir profesor segera menghentikannya dengan ciuman. Yang lebih aneh lagi, mbak Rita ternyata membalas ciuman Profesor Suparman dengan tak kalah panasnya.
“Hhmmmpp….ah…hhmmp…”
Desahan kedua orang yang berciuman itu membuatku tak lagi bisa tinggal diam. Aku segera duduk di sebelah mbak Rita sehingga wanita cantik itu kini duduk diapit aku dan Profesor. Leher jenjang mbak Rita menjadi sasaran mulutku.
Tanganku pun seakan tak mau ketinggalan segera beraksi meraba dan meremas lembut payudara montoknya dari balik daster yang dipakainya. Bagian bawah daster mbak Rita tersingkap ke atas karena tangan nakal si Prof yang bergerilya di dalamnya sudah merayap sampai ke pangkal pahanya.
Kami bertiga larut dalam gejolak birahi yang seakan tak bisa kami tolak. Bahkan mbak Rita seakan sudah tak ingat lagi kalau dia sudah bersuami dan sekarang dia bercumbu dengan dua orang laki-laki yang bukan suaminya.
Aku menarik wajah mbak Rita agar menoleh kearahku. Bibirku ingin mencicipi bibir sexy wanita cantik itu. Mbak Rita menyambutnya dengan penuh nafsu. Lidahnya dan lidahku saling bermain di dalam bibir lami yang bertautan erat. Ciuman ibu muda ini sangat luar biasa.
Bekas-bekas pacarku tak ada yang bisa berciuman se-”panas” ini. Saat kami berhenti saling melumat karena hampir kehabisan nafas, baru kusadari kalau Profesor Suparman sudah melepas kancing depan daster mbak Rita lalu menarik daster itu ke bawah.
Tali BH mbak Rita pun sudah dia tarik kesamping dan diturunkan kebawah juga. Sekarang tubuh atas wanita cantik itu sudah telanjang. Payudaranya yang montok karena baru melahirkan terlihat menantang dengan putingnya yang berwarna coklat muda mengacung kencang karena gairah.
Memang benar kata orang kalo payudara wanita yang mempunyai anak balita akan terlihat lebih montok. Cairan ASI yang ada didalamnya membuat payudara ibu muda ini terlihat lebih menonjol.
“Aaah…sstt…aahhh…”, desahan mbak Rita makin kencang ketika si Prof mulai beraksi di dadanya. Lidah Profesor menjilat putingnya yang semakin mengeras. Sesekali putting itu dihisap gemas oleh si Prof yang membuah desah mbak Rita makin keras dan dia makin membusungkan dadanya. Aku pun segera mengikuti aksi Profesor.
Payudara mbak Rita yang satunya segera menjadi sasaran mulut dan lidahku. Tanganku mengelus-elus serambi lempit mbak Rita dari balik celana dalamnya yang mulai basah karena cairan kenikmatan mulai keluar dari lubang surgawi itu. Jariku mulai menyelusup lewat samping celana dalam itu.
Kurasakan serambi lempit yang penuh bulu, lalu jariku yang nakal meneruskan aksi gerilyanya. Dengan dua jari aku mengocok serambi lempitnya. Denyutan liang serambi lempit yang hangat dapat kurasakan lewat dua jariku yang keluar masuk di liang mbak Rita.
“Uugh…Joe…. terus. Lebih cepet aahh…..”, desah mbak Rita tanpa malu lagi. “Kamu memang cantik Rita mmpphh…..”, suara Prof ikut nimbrung dan desahan mereka berdua mulai berpadu dalam symphoni birahi yang panas.
Aku mempercepat kocokan jariku di liang serambi lempit mbak Rita, sedangkan bibirku masih asyik menghisap payudaranya.
“Ookhh…. cepet Joe. Lebih cepet. A..aku mau AAGGHH……..”
Mbak Rita berteriak kencang saat orgasme pertamanya menerpa. Badannya menggeliat tegang. Otot-otot serambi lempitnya menjepit kedua jariku dengan kencang. Aku bisa merasakan semprotan cairan kenikmatan yang dikeluarkan mbak Rita.
Tapi yang membuat aku makin horny adalah cairan susu yang keluar lewat putingnya yang kuhisap kuat saat ibu muda itu orgasme. Aku memperlambat tempo kocokan jariku agar mbak Rita bisa menikmati sisa-sisa orgasmenya.
Aku menatap wajah mbak Rita yang tampak sayu tersenyum memancarkan kepuasan. Tapi aku tak membiarkannya beristirahat, bibir sexynya segera kulumat kembali. Dan walaupun ibu muda itu sudah memperoleh orgasmenya, dia masih dengan panas menyambut seranganku. Seakan-akan birahinya bukannya padam, malah menyala makin hebat.
Tiba-tiba tubuh mbak Rita tertarik dari dekapanku. Kulihat Profesor Suparman sudah telanjang bulat. Walapun tubuhnya tampak lucu dengan perut buncit dan kulit yang mulai mengeriput, tapi kemaluannya tampak garang mengacung tegak.
Ternyata si Prof yang menarik tubuh mbak Rita dari pelukanku. Rambut mbak Rita dia jambak, lalu dia membawa wajah mbak Rita kearah selangkangannya. rudalnya dia posisikan ke mulut wanita cantik itu. Dan seakan sudah tahu maksud laki-laki setengah baya itu, mbak Rita mulai menjilat dan menghisap rudalnya dengan mulutnya penuh nafsu.
“Aaahh… seponganmu bener-bener top, Rit. Aaahhhh….”, desis profesor keenakan. “Slrrupp…..mmhh….sssluurpp….mmhh…”, desah mbak Rita dari sela-sela bibirnya yang tersumbat rudal Profesor.
Gairahku makin meledak. Aku segera melucuti semua pakaianku. rudalku sudah mengeras dengan panjang dan ketegan maksimal, membuatnya tampak garang.
Baru sebentar mbak Rita mengoral rudal Profesor Suparman, tiba-tiba si Prof menghentikannya. Dia lalu menarik mbak Rita ke pangkuannya. Seakan sudah paham maksud Profesor, mbak Rita lalu duduk diatas tubuh Profesor.
serambi lempitnya dia posisikan agar pas dan sejajar dengan rudal Profesor yang mengacung tegak. Setelah pas, mbak Rita menurunkan tubuhnya pelan-pelan sehingga rudal itu memasuki liang senggamanya.
“Aaakkhh….. serambi lempit kamu enak Rit. Sempit. Aaahhh…. Nggak akan ada orang yang akan percaya kalau kamu bilang habis melahirkan aahhh….” “Mmmm…. rudal kamu juga enak kok mas. Aaahhh..”
Tanpa malu mbak Rita segera bergoyang liar di pangkuan profesor Suparman. Pinggulnya bergerak naik turun, berputar ke kiri, kadang kekanan, yang membuat Profesor merem melek keenakan. Aku mengocok rudalku melihat semua adegan itu.
“AAKKH…. aku mau keluar Rit. Cepet turun aku pengen keluar di mulut kamu aahhh….”, kata Profesor ketika dia merasa mau orgasme. Mbak Rita turun dari atas tubuh Profesor. Lalu dia segera merangkak di depan selangkangan si Prof. Bibirnya dengan liar mulai melumat rudal Profesor dengan liar.
Sslluurpp… slluurrp….
“AAAAGHHH….. Aku nyampe Rit. Telen semua maniku sstt….Aaaahh….”, desis Profesor saat dia menyemprotkan maninya ke dalam mulut mbak Rita. Seperti vacum cleaner, mulut mbak Rita menghisap dan menelan semua mani di mulutnya.
Bahkan setelah Prof selesai orgasme, wanita cantik yang dilanda nafsu itu masih menjilati sisa-sisa sperma yang masih ada di kemaluan Profesor Suparman yang sudah lemas setelah berjuang keras.
Aku tak tahan lagi. Kutarik tubuh mbak Rita yang sintal itu. Kurebahkan di atas sofa dengan posisi pantatnya ada di tepian sofa. Aku angkat kaki ibu muda itu sampai lututnya menempel di payudaranya.
Dengan posisi ini serambi lempit mbak Rita jadi kelihatan semakin menantang untuk di-entot, jadi aku langsung arahkan rudalku yang sudah dalam ketegangan maksimal untuk melakukan penetrasi ke liang kenikmatan mbak Rita.
“Auuggh…. pe..pelan-pelan Joe. rudal kamu gemuk banget sih.” “Maaf mbak. Aakh…. serambi lempit mbak enak buanget.”, kataku sambil menusukkan rudalku makin dalam ke serambi lempit mbak Rita. serambi lempit mbak Rita masih terasa rapat dan enak, tak kalah sama serambi lempit perawan. Kalau aku tidak mengenalnya, mungkin aku tidak akan percaya bahwa dia baru melahirkan.
Desah kenikmatan dari mulut mbak Rita membuatku makin bersemangat. Aku mulai menggenjot pantatku, rudalku pun jadi keluar masuk ke serambi lempit hangat mbak Rita. Dapat kurasakan kalau mbak Rita bisa membuat otot dinding serambi lempitnya berkedut seakan memompa dam meremas lembut batang rudalku.
Aku pun jadi keenakan dan mendesah nikmat. Kulihat mbak Rita tersenyum manis melihat usahanya membuat aku keenakan dengan kedutan serambi lempitnya berhasil. Seakan tak mau kalah, aku lalu membuat variasi pada tempo permainanku.
Kadang kupercepat dengan penetrasi pendek, kadang lambat tapi kumasukkan sampai mentok. Kadang kuvariasikan antara beberapa kocokan dengan penetrasi ringan dan pendek, yang kuselingi dengan tekanan kuat dengan seluruh tenaga sampai kurasakan ujung rudalku menyentuh mulut rahimnya.
Usahaku berhasil, desahan mbak Rita sudah menjadi jerit kenikmatan. Pantatnya makin liar bergoyang menyambut tiap tusukan rudalku ke serambi lempitnya.
“Ah..Aakkh.. Joe… Kamu pintar Joe….” “Mmmh… goyangan mbak Rita juga enak”
Hampir lima belas menitan kami berpacu dalam birahi, saat kurasakan tubuh mbak Rita menggeliat liar. Punggungku terasa sakit ketika kuku mbak Rita menancap di punggungku tanpa dia sadari saat dia orgasme.
“Ooohh…. Joe. Aku nyampe…..AAAGGGHH……”
Aku masih mengocok rudalku dengan cepat agar mbak Rita lebih nikmat dalam orgasmenya. Tapi hal itu menuntutku agar lebih kosentrasi untuk menahan agar aku tidak mengeluarkan maniku, karena saat mbak Rita orgasme dapat kurasakan serambi lempitnya menyedot dan meremas rudalku dengan kuat.
Setelah orgasmenya lewat barulah aku menghentikan kocokanku. Kucium bibir wanita cantik yang sedang menikmati sisa orgasmenya itu. Ciuman kali ini terasa lebih lembut dan mesra. Tapi karena aku belum mencapai puncakku, aku segera berganti posisi.
Kali ini aku yang duduk diatas sofa, kutarik mbak Rita agar menunggangiku. Ibu muda itu menurut saja, dia juga mengambil inisiatif memegang rudalku dan mengarahkannya ke serambi lempitnya yang sudah basah oleh cairan kenikmatan.
Penetrasi kali ini tidak seseulit seperti pertama kali. Mungkin serambi lempitnya yang rapet ini sudah mampu beradaptasi dengan diameter rudalku yang cukup besar walaupun hanya dengan panjang rata-rata.
“Mmmm…aaaahh….”, desah mbak Rita menikmati penetrasi Joe Jr. ke dalam liang senggamanya.
Sekarang mbak Rita yang mengontrol permainan. Tubuhnya dengan liar bergoyang menunggangi diriku seperti joki kuda pacuan. Bibir ibu muda yang cantik itu tak kalah liar dalam memberiku kenikmatan, kadang menciumku dengan ganas, kadang menyapu leherku, bahkan sampai ke putting payudaraku.
Aku baru tahu kalau lelaki juga merasa nikmat kalau putingnya dijilati. Aku merasa tak akan bisa bertahan lebih lama lagi dengan servis panas mbak Rita.
“Mbak… Aaakhh..aaku aaakhh….”, aku mendengus merasakan kenikmatan yang luar biasa. rudalku berkedut menyemprotkan banyak sekali sperma ke serambi lempit mbak Rita sampai sebagian meluber keluar membasahi pelirku. Goyangan mbak Rita makin liar saat aku orgasme. Semprotan kencang maniku yang hangat dalam serambi lempit dan rahimnya membuat ibu muda itu orgasme kembali.
“Aaaakkhhh….Joe…..aahhhmmpphh…”, jeritan mbak Rita segera kutahan dengan melumat bibirnya. Lidah kami bertaut menari dengan lincah. Tubuh wanita cantik itu kupeluk erat sehingga dadanya yang montok tergencet dadaku yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
Walaupun sudah mencapai puncak kenikmatanku, tapi dapat kurasakan bahwa gairahku tak menjadi padam, bahkan aku merasa birahiku semakin naik. Segera aku merengkuh tubuh mbak Rita dan mengajaknya bertarung di ronde selanjutnya. Mbak Rita yang seakan sudah lupa akan suami dan anaknya, menyambutku tak kalah bergairah.
Kami bercumbu lagi dengan panasnya. Berbagai macam posisi kupraktekan, doggy style, sambil berdiri, dan lainnya. Hampir dua jam kami bergelut dalam kenikmatan. Tubuh kami sudah dipenuhi dengan keringat oleh panasnya permainan ini. Aku dan mbak Rita mendapat orgasme beberapa kali dalam pertarungan panas kami.
Tapi anehnya, gairah kami tak kunjung padam. rudalku sampai sedikit terasa ngilu setelah diperas spermanya entah beberapa banyak oleh serambi lempit mbak Rita. Wajah mbak Rita terlihat capai, tapi semangat bertarungnya seakan tak pernah habis.
Aku hampir tak kuat lagi, tubuhku sudah terasa lelah, dan rudalku sudah hampir mati rasa saat kurasakan gairah yang berkobar dalam diriku mulai padam. Aku melihat sekeliling dan kulihat Profesor Suparman sudah memakai pakaiannya kembali. Dia mengacungkan The Click ciptaannya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Mbak Rita yang masih dalam pelukanku seakan baru tersadar kembali ke alam nyata. Ibu muda itu segera melepaskan diri dari pelukanku. Dengan tergesa-gesa dia mengenakan pakaiannya. Aku melihat kebingungan dan malu tersirat di wajahnya yang terlihat begitu lelah setelah pertarungan panjang kami berdua.
Tanpa berkata apa-apa, mbak Rita segera membuka pintu depan dan pergi meninggalkan rumah Profesor. Kulihat dia setengah berlari menuju rumahnya dalam naungan langit yang ternyata sudah menjadi gelap. Dalam kelelahanku, aku masih sedikit bingung dan seakan tak percaya atas semua yang baru saja kualami.
“He..he..he… bagaimana Joe? Kamu sudah percaya? Aku berhasil menciptakan The Click ha… ha….ha… Aku memang Jenius.”, kata Profesor Suparman yang diringi tawa mengagetkan aku. “Nnng.. ja..jadi i..ini semua karena The Click?? Aku… Mbak Rita…Kami….aaahh…” “Tepat sekali Joe. Itu semua karena The Click. Dan aku yang menciptakannya ha..ha…”
Suara tawa si Prof tak kuhiraukan dan menuju kamar mandi untuk membersihkan badanku. Aku masih sangat shock dengan semua yang baru saja kualami. Berbagai macam perasaan bercampur aduk dalam diriku. Rasa bingung seakan tak percaya kalau si Prof berhasil menciptakan alat yang kukira hanya ada di film-film.
Rasa bersalah pada mbak Rita karena aku telah membuatnya menjadi kelinci percobaan untuk membuktikan penemuan Profesor. Air shower kurasakan mendinginkan kepalaku yang penuh dengan berbagai pikiran. Kelelahan tubuhku berangsur-angsur pulih karena segarnya guyuran air di tubuhku.
Ketika aku memejamkan mata menikmati rasa air di sekujur tubuhku, berbagai kenangan kan kejadian barusan kembali melintas di pikiranku. Tanpa sadar aku sedikit tersenyum puas mengingat betapa nikmatnya bercumbu dengan mbak Rita, ibu muda yang cantik dan sexy, idola para suami di komplek ini. Aku segera menyudahi mandiku dan berusaha mengusir ingatan-ingatan itu dari pikiranku.
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian, aku pun menemui Profesor Suparman. Aku melihat si Prof sudah menungguku di ruang tamu. Dua koper besar tergeletak di sebelahnya. Nampaknya Profesor Suparman akan bepergian lagi.
“Joe, tolong antarkan aku ke bandara sekarang. Aku harus mengejar pesawat ke Afrika malam ini.”, kata Profesor membuat aku bengong.
“Afrika??!! Ngapain Prof?”, tanyaku kebingungan. “Tentu saja melanjutkan percobaanku.”, kata Prof dengan ringan. “Percobaan apa lagi? The Click yang Profesor ciptakan sudah sangat spektakuler. Tapi jangan sampai jatuh ke tangan yang salah, bahaya.”, kataku.
“Aku tahu kalo The Click memang sangat fenomenal dan tentu saja aku tidak akan membiarkannya jatuh ke tangan yang salah. The Click hanya kubuat satu-satunya di dunia ini. Dan benda ini akan kuberikan buat kamu.”, kata Profesor yang lagi-lagi membuatku terkejut. “A..aku Prof?! A..apa Prof yakin kalau The Click akan diserahkan ke aku, kenapa nggak Prof saja yang bawa?”, sahutku agak gelagapan.
“Bahaya sekali kalau The Click aku bawa selama aku melakukan eksperimenku. Orang-orang jahat akan berusaha merebutnya kalau mereka tahu akan alat ini. Tapi mereka sama sekali tidak akan menyangka kalau alat ini kutitipkan ke kamu, seorang pemuda biasa yang hidup di negara kecil seperti Indonesia ini.”, kata Profesor serius sambil menyerahkan The Click kepadaku. Aku menerima benda luar biasa dengan sedikit ragu.
“Nngg.. memangnya Prof mau eksperimen apa lagi sih? Kan lebih baik Profesor di rumah saja dan menyimpan The Click ini sendiri.”, kataku mencoba membujuk Profesor agar tidak menitipkan benda ini padaku. “Eksperimenku ini sangat penting. Tanpa eksperimen ini tentu saja The Click akan sama sekali tak berguna buatku.”
“Ha..? Eksperimen apa Prof?”, tanyaku kembali bingung. “Tentu saja eksperimen untuk menemukan obat yang mampu membuat orang bisa menjadi sangat kuat staminanya dalam berhubungan badan. Kamu inget kan, aku belum puas menikmati tubuh mbak Rita tapi tubuhku sudah tak mampu lagi bertarung.”, kata Profesor yang segera membuatku terbengong melihatnya. “Dasar Profesor gila”, pikirku dalam hati.
“Sudah. Ayo berangkat. Nanti aku ketinggalan pesawat.”, kata Profesor sambil menarikku yang masih terbengong-bengong memikirkan tingkah lakunya.
* * * * * * * * * * * * * * *
Keesokan harinya…..
“Uuugh… capek deh.”, keluhku. Sepagian ini aku sibuk membersihkan rumah Profesor karena selama Profesor bepergian, dia menitipkan rumahnya padaku. Aku memutuskan akan tinggal disini, bebas dan tenang. Aku tak perlu kuatir soal makan atau cuci pakaian, karena untuk itu aku tinggal pulang ke rumah saja he.. he.. he.. Saat aku duduk melepas lelah, aku meraba saku celanaku.
Dapat kurasakan benda kecil disana. Itu adalah The Click yang dititipkan Profesor Suparman padaku. The Click. Benda yang luar biasa, tapi disamping itu juga berbahaya. Benarkah tindakan Profesor menitipkan benda ini padaku? Apa aku orang yang tepat? Mampukah aku menahan godaan untuk tidak menyalahgunakannya? Berbagai macam pikiran memenuhi kepalaku. Tiba-tiba aku merasakan perutku sangat lapar.
“Saatnya pulang kerumah. Waktunya makan siang.”, pikirku. Aku lalu beranjak pergi dari rumah Profesor Suparman. Pintu rumah baru saja selesai kukunci saat aku melihat mbak Rita berjalan menuju pagar rumahnya.
“Mbak Rita…. mbak… tunggu aku mau ngomong. Tunggu mbak Rita.”, teriakku sambil buru-buru berlari ke arah ibu muda itu sebelum dia memasuki rumahnya. Saat aku berlari, aku melihat wajah mbak Rita kaget melihat siapa yang memanggilnya. Wanita cantik itu menungguku di depan pintu pagar rumahnya. Wajahnya tertunduk saat aku sudah ada dihadapannya. Aku jadi tak bisa melihat ekspresi wajahnya.
“Nng…Mbak aku mau ngomong.”, kataku setelah sampai dihadapannya. “Ngomong apa?”, kata mbak Rita agak judes. Pandangannya dia arahkan ke arah lain tak mau melihatku. “Nngg… begini mbak. A…Aku cuma mau minta maaf a..atas kejadian kemarin. Aku bener-bener minta maaf mbak.”, kataku pelan.
“Jadi kamu menyesal sudah melakukan itu semua dengan mbak?”, tanya mbak Rita menatap tajam ke arahku. Aku tak mampu membalas pandangan matanya dan menunduk. Ngocoks.com “I.iya mbak. Aku bener-bener menyesal. Aku berharap kejadian kemarin nggak pernah terjadi.”
“Jadi.. kamu.. menyesal sudah berhubungan badan dengan aku…. wanita yang sudah tua…jelek… sudah punya anak… dan… kamu berharap kalau kamu nggak akan pernah berhubungan dengan wanita yang tidak seperti pacar-pacar kamu yang masih muda.. cantik.. IYA?”, kata mbak Rita dengan marah.
“Bu.. bukan itu mbak. Mbak Rita itu can.. cantik banget, tubuh mbak Rita juga sexy, dan me..serambi lempit mbak Rita nggak kalah rapet sama gadis perawan. Aduhh… a.. aku kok jadi ngawur. Ma..maaf mbak. A..aku nggak bermaksud kurang ajar, hanya aahh……”, kataku gelagapan.
Senyum mbak Rita merekah mendengarkanku yang gelagapan sampai bicara tak karuan. Aku jadi bingung sendiri, tak berani menatap wajah mbak Rita, takut dia marah atas perkataanku yang kurang ajar.
Mbak Rita tetap diam, lalu dia membuka pintu pagar rumahnya dan melangkah masuk. Aku kecewa, mbak Rita ternyata tak mau memaafkan aku. Dengan tubuh lemas aku mulai melangkahkan kaki menuju rumahku sendiri, sampai..
“Joe… kesini sebentar.”, suara mbak Rita terdengar memanggilku. Dia masih berdiri di halaman rumahnya. Aku kembali mendengar panggilan mbak Rita. Aku berhenti di depan pintu pagarnya.
“Kamu mau kemana Joe?”, tanya mbak Rita. “Mau pulang mbak. Ada apa mbak?”, jawabku masih tak berani memandang wajahnya. “Mmm… nggak ada apa-apa. Mbak cuma mau ngasih tahu kalau mas Dimas terbang ke luar kota dan baru kembali dua hari lagi.
Mbok Darmi juga lagi pulang kampung. Dan Andi di rumah neneknya.”, kata mbak Rita. Aku menjadi bingung dengan omongan mbak Rita. Aku menegakkan kepalaku menatap wajahnya dengan ekspresi bingung terpancar jelas di mukaku. Mbak Rita tersenyum manis menatapku yang tetap diam dan kebingungan.
“Jadi nanti malam mbak bakalan sendirian di rumah yang sepi ini. Mbak paling nggak bisa tidur kalau sendirian. Coba kalau ada yang mau menemani mbak.. mmm…”, kata mbak Rita dengan santai.
Senyum menggoda tersungging di bibirnya yang sexy itu. Mbak Rita mengedipkan sebelah matanya dengan nakal lalu masuk ke rumahnya. Aku masih bingung dengan semua ucapan mbak Rita.
Dalam kebingungan itu aku pun mulai berjalan menuju rumahku. Beberapa kali aku menoleh ke arah rumah mbak Rita mencoba meraba apa maksud segala perkataannya. Sebersit pikiran, tiba-tiba menyelinap ke otakku dan membuatku tersadar.
“Ja..jadi mbak Rita mau…..”
Bersambung…
The Neighbor’s Desires
Siang ini aku tidak punya kerjaan. Tugas kuliah sih ada, tapi gampang masih ada si Nina pikirku. Nina adalah teman kuliah sekelasku sejak dari semester awal bahkan ospek dulu. Entah kenapa sering kali kami mengambil mata kuliah yang sama dan mendapatkan kelas yang sama pula.
Anaknya selain ramah juga berotak encer alias cerdas. IP-nya selalu diatas rata-rata. Minimal nilai tiap mata kuliah pasti B. Sayangnya pembawaannya agak kalem. Hanya punya beberapa teman dekat saja. Termasuk aku sendiri. Sahabatnya mungkin hanya aku yang cowok. Entah mengapa aku bisa dekat padahal teman-teman yang lain tidak.
Mungkin salah satunya karena dia ternyata sebenarnya enak diajak diskusi mengenai banyak hal. Karena mungkin pula sering menempuh mata kuliah yang sama jadi sering ketemu? Ah entahlah, yang jelas dia banyak membantuku dalam urusan belajar. So, aku selalu bisa lulus ujian mata kuliah yang kutempuh.
Terbayang wajahnya yang halus tanpa jerawat, sedikit tirus berkaca mata minus, tapi sebenarnya cukup cantik membuatku senyum-senyum sendiri mengingat nampaknya dia ada hati padaku. Sering kali cara dia menatap dan berbicara seolah-olah kemalu-maluan, padahal diriku bersikap santai padanya.
“Apa perlu kupacari dia?” sering aku berpikir demikian. Tapi rasanya aneh saja. Terus terang aku lebih suka gadis yang lebih aktif dan menggoda ketimbang yang aleman. Rasanya membuatku lebih hidup dan bersemangat. Dan di kampusku sendiri banyak incaran yang perlu diperhatikan. Rata-rata cantik, tajir dan berani mengenakan pakaian yang terbuka nan seksi. Dijamin gak bakalan konsentrasi kuliah, pasti bawaannya ngaceng melulu.
Lho..lho..salah! Aku harusnya mikir rencana nanti malam. Bukan berkhayal yang tidak-tidak. Memikirkan mbak Rita dan pengalamanku kemarin, membuat badanku sedikit gerah membayangkan pengalaman bercinta kami yang teramat panas itu.
Gara-gara benda ini..kutimang-timang The Click ditanganku. Entah dimana Professor Suparman sekarang. Tak kuduga bisa mewarisi alat perangsang seksual ini. Tapi ternyata enak juga, gara-gara alat ini aku bisa bercinta dengan mbak Rita si Ibu muda nan menggairahkan itu. Dan nanti malam tampaknya akan terjadi pertempuran sengit lagi antara aku dan mbak Rita.
“Hmm aku harus minum penambah energi nih biar gak KO hehe..” pikirku ngeres. Aku segera bergegas membawa perbekalan beberapa pakaian ganti. Rencanaku aku mau pamitan menginap ke rumah Professor Suparman. Sehingga memudahkan menyelinap ke rumah mbak Rita untuk bercinta.
Aku kemudian ke ruangan makan tempat mama dan adikku si Dini sedang makan siang. Kakakku mbak Sarah sepertinya keluar bersama teman-temannya entah kemana.
Aku mengatakan pada mama kalo Profesor Suparman minta tolong padaku untuk menjaga rumahnya selama dia pergi. Dan aku juga mengatakan kalo aku ingin mandiri dan juga menjaga kepercayaan yang diberikan Profesor. Mama adalah orang tuaku tunggal sejak kecelakaan papa waktu aku masih SD dulu.
Dia orang yang kuhormati karena mampu membesarkan ketiga anaknya dengan berkecukupan. Selain melanjutkan perusahaan pribadi milik papa, ia juga aktif menekuni usaha jual beli perhiasan sebagai sampingan. Karena itu dia senang akan niatku untuk mandiri dan bla..bla…bla… “Nice excuses Joe.”, pikirku dalam hati.
“Boleh aja, Joe. Niat kamu kan baik. Tapi kamu juga jangan tidur sana terus, mama bisa kangen sama anak mama. Dan kalo waktunya makan, kamu pulang aja. Mama tahu kamu nggak bisa masak, jadi kamu makan disini aja.”, kata mama memberikan persetujuannya. Aku bersorak dalam hati.
“Oke, ma.”, jawabku.
“Mandiri apan tuh? Perginya cuma ke ujung gang, trus makannya masih numpang disini.”, si Dini menyeletuk sambil menyedot jus apel kesukaannya.
“Hei brengsek, udah ngambil coklat kakak, pake nyela lagi ya?!”
“Idiiih gitu aja sewot! Iya deh, kakakku yang baek, nanti Dini ganti ama coklat laen napa sih?”
“Enak aja, itu coklat mahal dari Amrik tau! Amrik!! Mana bisa ada gantinya?”
“Udah..udah jangan ribut melulu kalian ini” sergah mamaku.
“Joe kamu boleh nginap tapi jangan macam-macam disana ya?!” kata mama kemudian.
“Beres Mam!”
Aku buru-buru pamitan dan tidak lupa menghadiahi adikku sebuah jitakan ringan di jidatnya
“Kak Joe jelekkk!!!!” serunya. Tapi aku sudah kabur duluan sebelum dibalas si bengal itu.
Tak terasa sore menjelang saat aku selesai bolak-balik dari rumahku ke rumah Professor Suparman, lalu membenahi semua barang bawaanku itu di kamar tidur milik Profesor.
Lalu aku pun mandi. Usai mandi aku berdandan sebentar agak tampak lebih macho. Kukenakan baju kaos oblong dan jeans favoritku. Setelah itu sebotol minuman berenergi kuhabiskan buat cadangan stamina nanti.
Menunggu hari agak gelap, dan sepi aku segera masuk ke pekarangan rumah mbak Rita.
“Ting!! Tong!!”
Tak lama pintu terbuka. Aku terkesiap memandang mahluk dihadapanku.
Mbak Rita, ia nampak cantik sekali malam ini. Hanya mengenakan daster tipis berwarna gelap yang tampak kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Ia tersenyum melihatku.
“Akhirnya kamu datang juga ya jagoan” godanya padaku.
“Gimana enggak mbak, ada bidadari yang secantik mbak siapapun jadi gak tahan” balasku nakal.
“Iih sekarang kamu udah pintar ngerayu ya?” sahut mbak Rita sambil menarikku masuk ke dalam.
“Mau minum apa Joe?” tanyanya lembut.
“Apa aja deh mbak, maunya sih susunya mbak Rita..heheeh” ujarku menahan rasa malu juga.
“Iiih maunya” tersipu mbak Rita sambil menjewer telingaku.
“Aku ambilkan coke dingin aja yah, lainnya abis..” sambungnya lagi.
“Makasih mbak!”
Selanjutnya setelah ngobrol ngalur ngidul, perlahan mbak Rita mengeser duduknya hingga merapat denganku. Segera aku menyambar aroma wangi dari tubuhnya hingga membuat jantungku berdetak tidak seperti biasanya.
Bahkan kemudian ia melanjutkan membuat detak jantungku semakin kencang dengan mendekatkan bibirnya ke bibirku. Sesaat kemudian kusadari bibirnya dengan lembut telah melumat bibirku.
Kedua tangannya dilingkarkan ke leherku dan semakin dalam pula aroma wangi tubuhnya terhirup napasku, yang bersama tindakannya melumat bibirku, kemudian mengalir dalam urat darahku sebagai sebuah sensasi yang indah.
Ia terus melumat bibirku. Lalu tangannya pelan-pelan membuka baju kaosku. Setelah lepas, ia menarik resleting jeansku. Begitu pula yang kulakukan dengannya, kutarik dan membuka dasternya. Kemudian ia melepaskan bibirnya dari bibirku dan membuka matanya.
Saat itu aku terbelalak melihat keindahan yang ada di depan mata. Payudaranya montok penuh, begitu indah dan terlihat kencang dibungkus bra hitam bepotongan pendek berenda yang membuat barang indah itu tampak semakin indah. Payudaranya seolah mengundangku untuk menaklukkannya dengan hasrat yang paling liar.
Dan menengok ke bawah, aku semakin dibuat terkesan serta jantungku juga semakin berdetak kencang. Di balik celana dalam dengan potongan yang pendek yang juga berwarna hitam berenda yang indah, tersembul bukit venus yang menggairahkan. Di tepi renda celana itu, tampak rambut yang menyembul indah melengkapi keindahan yang sudah ada.
Kulihat mbak Rita juga tersenyum menatap lonjoran tegang di balik celana dalamku. Tangannya yang lembut mengelus pelan lonjoran itu. Sensasi yang menjelajahi aliran darahku kemudian menggerakkan tanganku mengelus bukit venusnya.
Ia tampak memejam sesaat dengan erangan yang pelan ketika tanganku menyentuh daging kecil di tengah bukit venus itu. Ia kemudian melanjutkan tindakannya melumat bibirku dengan lembut. Bibirnya yang lembut serta napasnya yang wangi kembali membuatku dialiri sensasi yang memabukkan.
Ia rupanya memang sabar dan tidak terburu-buru untuk segera menuju ke puncak kenikmatan. Berbeda sewaktu ia bercinta karena pengaruh The Click sewaktu di rumah Professor Suparman yang begitu buas.
Bibirnya kemudian ia lepaskan dari bibirku dan ia menyelusuri leherku dengan bibirnya. Napasnya membelai kulit leherku sehingga terasa geli namun nikmat. Kadang-kadang ia mengginggit leherku namun rupanya ia tidak ingin meninggalkan bekas. Benar-benar wanita yang berpengalaman dan hati-hati.
Ia kemudian turun ke dadaku dan mempermainkan puting susuku dengan mulutnya, yang membuat aliran darahku dialiri perasaan geli tapi nikmat. Semakin ke bawah ia diam sesaat menatap batang yang tersembunyi di balik celana dalamku, yang waktu itu juga berwarna hitam.
Sesaat ia mempermainkannya dari luar. Ia kemudian dengan lembut menarik celana dalamku. Ia tersenyum ketika menyaksikan rudalku yang tegak dan kencang, seperti mercu suar yang siap memandu pelayaran gairah libido kewanitaannya.
Dengan lembut ia kemudian mengulum rudalku. Maka aliran hangat yang bermula dari permukaan syaraf rudalku pelan-pelan menyusuri aliran darah menuju ke otakku. Aku serasa diterbangkan ke awan pada ketinggian tak terukur.
Mbak Rita terus mempermainkan lonjoran daging kenyal rudalku itu dengan kelembutan yang menerbangkanku ke awang-awang. Caranya mempermainkan barang kejantananku itu sangat lembut seolah tak ingin melewatkan seluruh bagian syaraf yang ada di situ.
Ketika perjalananku ke awang-awang kurasakan cukup, kutarik rudalku dari dekapan mulut lembutnya. Giliran aku yang ingin membuat dia terbang ke awang awang. Maka kubuka bra yang menutupi payudara indahnya. Semakin terperangahlah aku dengan keindahan yang ada di depan mataku.
Di depanku bediri dengan tegak bukit kembar putih besar yang indah sekaligus menggairahkan. Mungkin karena masih menyusui si Andi anaknya yang baru berusia setahun. Di sekitar puncak bukit itu, di sekitar putingnya yang merah kecoklatan, tumbuh bulu-bulu halus.
Menambah keindahan buah dadanya. Tapi aku tidak memulainya dari situ. Aku hanya mengelus putingnya sebentar. Itupun aku sudah menangkap desah halus yang keluar dari bibir indahnya.
Kumulai dari lehernya. Kulit lehernya yang halus licin seperti porselen dan wangi kususuri dengan bibirku yang hangat. Ia mendesah terpatah-patah. Apalagi ketika tanganku tak kubiarkan menganggur.
Jari-jariku memijit lembut bukit kenyal di dadanya dan kadang-kadang kupelintir pelan puting merah kecoklat-coklatan yang tumbuh matang di ujung buah dadanya itu.
Kurasakan semakin lama puting itu pun semakin keras dan kencang. Setelah puas menyusuri lehernya, aku turun ke dadanya. Dan segera kulahap puting yang menonjol merah coklat itu. Ia menjerit pelan. Tapi tak kubiarkan jeritannya berhenti.
Kusedot puting itu dengan lembut. Ya, dengan lembut karena aku yakin gaya seperti itulah yang diinginkan orang seperti mbak Rita. Mulutku seperti lebah yang menghisap kemudian terbang berpindah ke buah dada satunya.
Tapi tak kubiarkan buah dada yang tidak kunikmati dengan mulutku, tak tergarap. Maka tangankulah yang melakukannya. Kulakukan itu berganti-ganti dari buah dada satu ke buah dadanya yang lain.
Setelah puas aku turun bukit dan kususuri setiap jengkal kulit wanginya. Dan saat aku semakin turun kucium aroma yang khas dari barang pribadi seorang perempuan. Aroma dari serambi lempitnya. Semakin besarlah gairah yang mengalir ke otakku. Tapi aku tidak ingin langsung menuju ke sasaran.
Cara mbak Rita membuatku melayang rupanya mempengaruhiku untuk tenang, sabar dan pelan-pelan juga membawanya naik ke awang-awang. Maka dari luar celana dalamnya, kunikmati lekuk bukit dan danau yang ada di situ dengan lidah, bibir dan kadang-kadang jari-jemariku. Kusedot dengan nikmat bau khas yang keluar dari sumur yang ada di situ.
Setelah cukup puas, baru kutarik celana dalamnya pelan-pelan. Aku tersentak menyaksikan apa yang kulihat. Bukit venus yang indah itu ditumbuhi rambut yang lebat. Tapi terkesan bahwa yang ada di situ terawat. Meski lebat, rambut yang tumbuh di situ tidak acak-acakan tapi merunduk indah mengikuti kontur bukit venus itu.
Walaupun aku sudah pernah menikmati apa yang tumbuh di situ, tapi aku tidak mengira seindah itu karena sekarang aku bercinta dengan penuh kesadaran, tanpa pengaruh The Click.
Segera berkelebat pikiran dalam otakku, betapa menyenangkannya tersesat di hutan teduh dan indah itu. Maka aku segera menenggelamkan diri di tempat itu, di hutan itu. Lidahku segera menyusuri taman indah itu dan kemudian melanjutkannya pada sumur di bawahnya.
Mbak Rita menjerit kecil ketika lidahku menancap di lubang sumur itu. Di lubang serambi lempitnya. Bau khas serambi lempit yang keluar dari lubang itu semakin melambungkan gairahku. Dan jeritan kecil itu kemudian di susul jeritan dan erangan patah-patah yang terus menerus serta gerakan-gerakan serupa cacing kepanasan. Dan kurasa ia memang kepanasan oleh gairah yang membakarnya.
Aku menikmati jeritan itu sebagai sensasi lain yang membuatku semakin bergairah pula menguras kenikmatan di lubang sumur serambi lempitnya. Lendir hangat khas yang keluar dari dinding serambi lempitnya terasa hangat pula di lidahku.
Kadang-kadang kutancapkan pula lidahku di tonjolan kecil di atas lubang serambi lempitnya. Di klitorisnya. Maka semakin santerlah erangan-erangan mbak Rita yang mengikuti gerakan-gerakan menggelinjang. Demikian kulakukan hal itu sekian lama.
Kemudian mbak Rita membebaskan diri dari seranganku, ia segera merubah posisinya. Ah rupanya dia ingin dipangku. Segera ia membimbing daging kenyal yang melonjor tegang dan keras itu masuk ke dalam serambi lempitnya dan ia duduk di atas pangkuanku.
Maka begitu rudalku amblas ke dalam serambi lempitnya, terdengar jeritan kecil yang menandai kenikmatan yang ia dapatkan. Aku juga merasakan kehangatan mengalir mulai ujung rudalku dan mengalir ke setiap aliran darah.
Ia memegangi pundakku dan menggerakkan pinggulnya yang indah dengan gerakan serupa spiral. Naik turun dan memutar dengan pelan tapi bertenaga. Sofa tempat kami bercinta berderak-derak elastis sesuai pergerakan tubuh kami.
Suara gesekan pemukaan rudalku dengan selaput lendir serambi lempitnya menimbulkan suara kerenyit-kerenyit yang indah sehingga menimbukan sensasi tambahan ke otakku. Demikian juga dengan gesekan rambut kemaluannya yang lebat dengan rambut kemaluanku.
Suara-suara erangan dan desahan napasnya yang terpatah-patah, suara gesekan rudal dan selaput lendir serambi lempitnya serta suara gesekan rambut kemaluan kami berbaur dengan lembut.
Lampu di ruangan itu remang-remang setelah mbak Rita tadi mematikan lampu yang terang. Dengan suasana seperti itu, rasanya aku tidak ingin membiarkan setiap hal yang menimbulkan kenikmatan menjadi sia-sia.
Maka aku tidak membiarkan payudaranya yang ikut bergerak sesuai dengan gerakan tubuhnya menggodaku begitu saja. Kulahap buah dadanya itu. Semakin lengkaplah jeritannya. Sekian lama kemudian ia menjerit panjang sambil meracau..
“Ah.. Aku.. Akuuu orgasme, Joe!” Ngocoks.com
Sesaat ia terdiam sambil menengadahkan wajahnya ke atas, tapi matanya masih terpejam. Kemudian ia melanjutkan gerakannya. Barangkali ia ingin mengulanginya dan aku tidak keberatan karena aku sama sekali belum merasakan akan sampai ke puncak kenikmatan itu.
Sebisa mungkin aku juga menggoyangkan pinggulku agar dia merasakan kenikmatan yang maksimal. Jika tanganku tidak aktif di buah dadanya, kususupkan di selangkangannya dan mencari daging kecil di atas lubang serambi lempitnya, yang dipenuhi oleh rudalku.
Meskipun mbak Rita sudah menikah dan sudah punya seorang anak, aku merasa lubang serambi lempitnya tetap rapat dan singset. Otot serambi lempitnya seakan mencengkeram dengan kuat otot rudalku. Mungkin setelah setahun melahirkan liang kemaluannya dengan cepat rapat kembali.
Benar-benar anugrah bagi suaminya mas Dimas yang punya istri demikian. Gerakan pinggulnya untuk menaik turunkan bukit venus serambi lempitnya menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. Dan untunglah sejauh ini aku tidak merasakan tanda-tanda lahar panasku akan meledak.
Tapi mbak Rita memang luar biasa, ia seperti tahu menjaga tempo permainannya agar aku bisa mengikuti caranya bermain. Ia seperti tahu menjaga tempo agar aku tidak cepat-cepat meledak. Memang sama sekali tidak ada gerakan liar.
Yang dilakukannya adalah gerakan-gerakan lembut, tapi justru menimbulkan kenikmatan yang luar biasa, terutama karena aku tidak pernah bercinta dengan perempuan lembut seperti itu. Sekian lama kemudian aku mendengar lagi ia meracau..
“Ah.. Ah.. Ini yang kedua.. Joe, aku orgasme.. Uhh!” Di susul jeritan panjang melepas kenikmatan itu.
Tapi kemudian ia memintaku mengangkatnya ke ranjang dikamarnya, tanpa melepaskan rudalku yang masih menancap di lubang serambi lempitnya. Ia memintaku menidurkannya di ranjang tapi tak ingin melepaskan serambi lempitnya dari rudalku, yang sejauh ini seperti mendekap sangat erat.
Kulakukan pemintaannya itu, meski gentar memasuki kamar yang seharusnya sangat pribadi milik mas Dimas dan mbak Rita. Tapi dasar kucing garong aku yang sudah terlalu merasa kenikmatan jadi tebal muka pada hati nurani. Maka begitu ia telentang di ranjang, aku masih ada di atasnya. rudalku pun masih masuk penuh di dalam serambi lempitnya.
Kami melanjutkan permainan cinta yang lembut tapi panas itu. Kini aku berada di atas, maka aku lebih bebas bermanuver. Karena aku juga ingin segera mencapai puncak, aku menyodoknya dengan cepat dan bertenaga. Tapi sesaat kemudian ia merintih dan berbisik dengan mata yang masih terpejam..
“Pelan-pelan saja, Joe…Ak.k.. Aku masih ingin orgasme…… “
Aku tersadar apa yang telah kulakukan. Maka kini gerakanku pelan dan lembut seperti permintaan mbak Rita. Kini erangan dan desahan patah-patahnya kembali terdengar. Ia menarik punggungku agar aku lebih dekat ke badannya. Aku maklum.
Tentu ia ingin mendapatkan kenikmatan yang maksimal dari gesekan-gesekan bagian tubuh kami yang lain. Dan mbak Rita memang benar, begitu dadaku bergesekan dengan buah dadanya, semakin besarlah sensasi kenikmatan yang kudapat.
Kurasa demikian juga dengannya, karena jeritannya berubah semakin keras. Apalagi saat aku juga melumat bibir merahnya yang menganga, seperti bibir serambi lempitnya sebelum aku menusukkan rudalku di situ.
Meskipun jeritannya agak bekurang karena kini mulutnya sibuk saling melumat bersama mulutku, tapi aku semakin sering mendengar ia mengerang dan terengah-engah kenikmatan. Hingga beberapa saat kemudian aku mendengar ia meracau seperti sebelumnya..
“Aku.. Ah.. Aku.. Uh.. Yang ketiga.. Aku orgasme, Joe.. Ahh…..”
Setelah jeritan panjang itu, matanya terbuka. Tampak sorot matanya puas dan gembira. Kemudian ia berbisik terengah-engah..
“Aku.. Aku.. Sudah cukup, Joe. Saatnya untuk kamu”.
Aku tahu yang dia maksudkan, maka kemudian pelan-pelan semakin kugenjot gerakanku dan semakin bertenaga pula. Ia kini membiarkanku melakukan itu. Kurasa mbak Rita memang sudah puas mendapatkan orgasme sampai tiga kali.
Sekian lama kemudian kurasakan lahar panasku ingin meledak. rudalku berdenyut-denyut enak, menandai bahwa sebentar lagi akan ada ledakan dahsyat yang akan melambungkanku ke awang-awang. Maka aku berusaha menarik rudalku dari lubang serambi lempitnya yang nikmat itu. Tapi mbak Rita menahan rudalku dengan tangan lembutnya.
“Biar.. keluarkan.. di dalam saja Joe.. Aku ingin merasakan sensasi cairan hangat itu.. Di dalam rahimku.. Uhh.. Uhh”.
Mendapat angin, aku melupakan pikiran aku bisa menghamilinya jika kukeluarkan di dalam. Maka ketika lahar panas dari rudalku benar-benar meledak, kubiarkan ia mengendap di sumur serambi lempit milik mbak Rita, dengan diiringi teriakan nikmatku.
Setelah itu, mbak Rita memintaku untuk tetap berada di atas tubuhnya barang sesaat. Dengan lembut ia menciumi bibirku dan tangannya mengusap-usap puting susuku. Aku juga melakukan hal yang sama dengan mengusap-usap buah dadanya yang saat itu basah karena keringat. Dan memang sensasi yang kurasakan luar biasa.
Pendinginan yang diinginkan mbak Rita itu membuatku merasa seakan-akan aku sudah sangat dekat dengan mbak Rita. Aku merasa ia seperti kekasihku yang sudah sering dan sangat lama bermain cinta bersama. Aku merasa sangat dekat.
Maka begitu aku merasa sudah cukup, aku menarik rudalku yang sebenarnya masih sedikit tegang dari lubang serambi lempitnya. Tampak air muka mbak Rita sedikit kacau. Wajahnya berkeringat dan anak rambutnya satu dua menempel di dahinya. Kami kemudian pergi ke kamar mandi pribadinya di kamar itu. Kamar mandinya juga wangi. Sambil bergurau, aku menggodanya..
“Mbak Rita…mbak justru kelihatan lebih cantik setelah bercinta”. Ia hanya tertawa mendengar gurauanku. “Memang setelah bercinta denganmu tadi, seluruh pori-poriku seperti terbuka. Aku sedikit capai tapi merasa segar”, jawabnya dengan berbinar-binar.
Ia tampaknya memang puas dengan permainan cinta kami. Di bawah shower, kami membersihkan diri dengan mandi bersama-sama. Kadang-kadang kami saling membersihkan satu sama lain. Ia membersihkan rudalku dengan sabun dan aku membersihkan sekitar serambi lempitnya juga. Ia tertawa geli saat aku dengan halus mengusap-usap serambi lempitnya dan rambut kemaluannya yang lebat itu.
Setelah itu, kami duduk-duduk saja di sofa di depan TV. Kami menonton TV, sambil mengobrol dan menikmati kopi panas yang ia buat.
“Kamu tadi luar biasa, Joe” katanya memujiku. “Meskipun masih muda, kamu bisa bercinta dengan sabar. Aku sampai mendapat orgasme tiga kali”. Ia tersenyum. Matanya berbinar-binar. “Ah, itu juga karena mbak Rita juga yang sabar dan lembut membuat saya juga terpengaruh.”
Ia kemudian berkata, “Menginap di sini saja, Joe. Ini sudah malam. Besok pagi-pagi sekali kamu bisa pulang atau menyebrang ke rumah Professor temanmu itu.”
“Waduh kayaknya biar aman saya langsung nyebrang aja mbak, maklumlah pamitnya tadi ke rumah teman. Ntar kalo teman saya di telepon mama biar gak ada masalah”
“Yah sayang sekali” sahutnya agak kecewa.
“Tenang aja mbak, kapan saja kan kita bisa ulangi lagi kalo ada kesempatan, hehe”
“Ah kamu ini!” katanya tersipu. Tampak makin cantik saja dia di mataku. Ia kemudian menatapku lama, sambil bertanya, “Kamu tidak capek, Joe?”. “Tidak”, jawabku. “Kamu pasti suka ngeseks juga ama pacar-pacarmu ya? Abis kamu jago gitu” kata mbak Rita.
“Sejujurnya baru dua kali kok mbak”
“Bohong ah”
“Beneran kok! Selain mbak yah ama mantan saya dulu”
Sekali lagi ia menatapku lama lalu tangannya merangkul leherku dan sesaat kemudian ia telah melumat bibirku kembali dengan lembut.
“Joe, makasih ya sayang” ujar mbak Rita lembut.
Aku hanya bisa menggangguk. Kurapikan pakaianku dan pamitan untuk kembali ke rumah Professor Suparman dengan mengendap-endap.
Wah hari ini benar-benar melelahkan pikirku. Besok untungnya aku kuliah siang. Jadi masih bisa istirahat lebih…
Bersambung…
Monkey Love and Heart Break
Kring….Kringg…….
Suara jam bekerku yang berdering keras membangunkanku dari tidurku. Tanganku meraih jam beker untuk mematikannya. Saat aku melihat ternyata sudah jam 8 pagi.
“Mmm…aku laper. Waktunya sarapan nih.”, kataku. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Selesai mandi dan berganti pakaian, aku segera meninggalkan rumah Profesor Suparman dan pulang kerumahku sendiri.
Saat aku melangkah keluar, kulihat rumah mbak Rita masih sepi. Aku teringat kejadian tadi malam. Mbak Rita benar-benar perempuan yang hot. Beruntung aku bisa menyetubuhi sama ibu muda yang jadi impian setiap laki-laki di komplek perumahan ini. Aku tersenyum, lalu segera menuju rumahku.
Sampai di rumah, ternyata rumahku sepi. Mama mungkin sudah pergi kerja, dan Dini juga sedang sekolah. Kak Sarah mungkin masih tidur, karena kulihat Honda Jazz merahnya masih terparkir di garasi. Aku segera menuju keruang makan, dan langsung mengambil makanan yang sudah disiapkan mama sebelum berangkat kerja.
“Hei, Joe. Darimana kamu? Trus printer kamu lagi kamu kemanain?”, terdengar cerocos suara mbak Sarah. Aku menoleh ke asal suara itu, dan aku pun tersedak. Bagaimana tidak? kak Sarah datang cuma mengenakan kimononya.
Tampaknya dia baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah. Tubuh indahnya tercetak jelas dari kimono mini yang dipakainya. Payudaranya yang montok, dengan putingnya yang terbayang dari balik kimononya.
Kimono mininya hanya menutupi sampai sedikit di bawah pangkal pahanya, hingga aku bisa melihat paha mulus dan kaki jenjangnya. Bener-bener nggak salah kalo kak Sarah memilih bekerja sebagai model. She’s got the body and she’s got the look.
Aku meminum segelas air untuk menenangkan diri sebelum menjawab.
“Aku tidur di rumah Profesor Suparman. Dia pergi untuk meneruskan eksperimennya, lalu rumahnya dititipin ke aku. Laptop sama printerku ada disana, aku perlu buat kerjain tugas. Emang napa sih?”, terangku.
“Oh gitu. Tapi aku sama Karin butuh nge-print tugas kelompok nih.”, jawab kak Sarah santai. Tampaknya dia sama sekali tak sadar kalo adiknya ini laki-laki normal. Aku jadi tak kosentrasi, naluri laki-lakiku membuat mataku ingin selalu melihat ke arah tubuh sexynya, tapi tentu saja aku berusaha untuk tak terlalu sering menatapnya. Dia kan kakakku sendiri.
“Karin? Emangnya dia disini?”, aku berharap kak Sarah menjawab iya. Dan hatiku pun langsung bersorak saat kak Sarah mengangguk.
“Ada tuh, lagi di ruang atas.”, jawab kak Sarah. Aku segera menyelesaikan makanku buru-buru. Setelah itu, aku segera menuju ke atas.
Karina. Itulah namanya. Sahabat karib kak Sarah sejak kecil. Karina adalah cewek yang jadi cinta monyetku, cinta pertamaku, sejak aku masih ingusan. Aku jatuh cinta padanya sejak masih SMP.
Tentu saja aku nggak pernah berani buat ngomong sama Karina, karena dia temen kakakku. Dan juga Karina tampaknya selalu menganggapku sebagai adik kecilnya, tak pernah serius menanggapi perhatian dan tingkah konyolku untuk menarik perhatiannya.
Saat aku tiba di ruang atas, aku melihat seorang gadis cantik sedang asyik membaca majalah sambil duduk di sofa. Wajahnya yang cantik jelas sekali menampakkan darah orientalnya. Tapi matanya tidak sipit yang membuatnya tampak makin cantik.
Aku tak ingat mulai kapan aku mengagumi wajah cantik itu. Mungkin sejak pertama kali kak Sarah membawanya main kerumah bertahun-tahun yang lalu. Tubuhnya tinggi langsing, karena dia juga menjadi model sama kayak kak Sarah.
Kaos ketat dan blue jeans yang dikenakannya menampakan lekuk tubuhnya yang indah. Memang kalau dibandingkan dengan kak Sarah, Karina masih kalah pada bagian dada. Tapi wajahnya yang cantik dan berkesan innocent menurutku lebih menarik. Kulitnya juga putih mulus khas gadis oriental.
“Hi.”, sapaku agak kaku. Entah kenapa aku selalu gugup kalau ngomong sama Karina. Mungkin karena dia cinta pertamaku yang tak pernah kudapatkan. Gadis itu menoleh, lalu tersenyum manis kala melihatku.
“Hi, Little Joe. Kamu makin hari, makin ganteng aja nih. Darimana aja kamu?”, sapa Karin yang membuat wajahku merah. Karina memang selalu bisa membuatku GR.
“Nggg… dari rumah Profesor Suparman di ujung gang. Aku disuruh jagain rumah dia.”, jawabku sambil duduk di sebelahnya.
“Profesor Suparman?? Yang katanya gila itu??”
“Nggak kok. Dia orangnya baik. Eksentrik dan aneh memang, tapi nggak gila.”, jelasku.
“Oh, gitu.”, jawab Karina lalu dia sibuk lagi membaca majalah. Aku ikut-ikut meraih satu majalah dan pura-pura membaca, padahal aku sering mencuri pandang untuk menikmati kecantikannya.
“Karin, gue pergi sama Rony dulu ya. Kamu tolong selesaiin tugas kita. Minta si Joe tuh buat nge-printnya.”, kata kak Sarah yang sudah berganti pakaian dan bersiap untuk pergi.
“Dasar loe. Ini kan tugas kelompok. Mestinya kita ngerjainnya sama-sama.”, jawab Karina sambil merajuk.
“Please. Gue kan sudah lama nggak kencan sama Rony. Kemarin kemarin gue kan selalu jalan sama Agus.”, rayu kak Sarah sambil memeluk tubuh Karina dari belakans sofa tempat kami duduk. Sekilas aku melihat, wajah Karina memerah.
“Iya..iya… Makanya kalau punya cowok, satu aja. Loe sendiri kan yang repot ngatur waktunya.”
“Thats my girl. Thanks ya. Gue pergi dulu, ntar kita ketemuan di kampus.”, jawab kak Sarah sambil memberikan kecupan di pipi Karina. Wajah Karina makin memerah, tapi aku melihat senyum tipis mulai menghiasi wajahnya yang tadi cemberut.
“Joe. Tolongin si Karin ya. Kakak pergi dulu. Bye.”, kata kak Sarah sambil mengucek-ucek rambutku.
“Iya..iya…bawel!”, jawabku agak kesal sambil merapikan rambutku lagi. Tapi kak Sarah sudah ngeloyor pergi. Lalu ruangan itu kembali sepi karena Karina kembali asyik membaca majalah. Aku memperhatikan gadis cantik itu, dan pikiranku pun berimajinasi liar. Tiba-tiba terbersit ide cemerlang di kepalaku.
“Shit! Aku bego banget sih. Sekarang khan aku punya The Click. Kenapa aku cuma membayangkannya kalo aku bisa membuatnya jadi kenyataan.”, pikirku dalam hati.
“Eh, Karin. Katanya kamu mau nge-print tugas kamu?”, tanyaku.
“Oh, iya. Tapi kata Sarah, printer kamu nggak ada.”
“Ada di rumah Profesor. Mending kita kesana aja. Kamu bisa nge-print tugas kamu disana.”, kataku. Aku berpikir untuk melakukan rencanaku di rumah profesor, karena disana lebih aman.
“OK deh. Kita kesana sekarang?”, kata Karina sambil berdiri. Aku mengangguk dan mengajak gadis cantik itu menuju rumah Profesor.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Wah… bagus juga nih rumah. Cuman agak berantakan he..he..he..”, kata Karina saat memasuki rumah Profesor.
“Habis yang tinggal cuma laki-laki doang. This house need a woman touch.”, jawabku.
“Yap.”
Aku segera mengajak Karina ke kamar utama karena laptop dan printerku ada disana. Karina segera menghidupkan laptopku untuk mulai mengerjakan tugasnya. Senyum penjahat segera menghiasi wajahku saat aku menekan tombol The Click, lalu menaruhnya di atas meja dekat tempat tidur. (Emang ada yang tahu senyum penjahat kayak gimana he…he…he…)
Beberapa saat kemudian, aku mulai merasakan efek The Click. Birahiku meningkat drastis. Karina juga tampaknya sudah mulai jatuh dalam pengaruh dashyat The Click. Duduknya mulai tak tenang. Aku mendekati sosok cantik itu dari belakang, dan memeluknya.
“Karin.”, bisikku di telinga Karina.
“Ka..kamu kenapa Joe? Pake meluk segala.”, kata Karina dengan nafasnya yang mulai tak beraturan. Tapi gadis itu sama sekali tak mencoba untuk melepaskan diri dari pelukanku.
“Aku sayang kamu.”, kataku sambil mencium leher jenjangnya yang putih. Kulit Karina terasa lembut dibibirku.
“Hhmmm… Joe…”, desis Karina.
Aku menariknya bangkit, lalu membalikkan badannya hingga kami kini berhadapan. Wajah Karina yang sedang dikuasai nafsu birahi tampak makin cantik. Matanya menatap sayu dan semu merah tampak menghiasi wajahnya.
Bibirnya yang manis sedikit terbuka, membuatku segera melumatnya dengan bibirku. Aku menciumnya dengan penuh nafsu. Awalnya Karina mencoba menolak, tapi pengaruh The Click segera membuatnya membalas ciumanku dengan tak kalah panasnya.
“Hhhmmm…..mmmpphhhh…..”, desah kami berdua hanya terdengar seperti gumaman. Aku melepaskan ciumanku. Tanganku meraih ke bagian bawah kaos ketat yang dikenakan Karina, lalu menariknya ke atas, mencoba melepaskannya. Karina membiarkanku menelanjangi tubuh bagian atasnya. Sport Bra putih yang dikenakannya pun aku lepas sekalian.
Aku diam dan terkagum memandangi keindahan tubuh Karina. Payudaranya yang mungil tapi berbentuk indah dengan putting yang mencuat karena birahi sedikit begerak naik turun karena nafas Karina yang berat.
“Joe..ini nggak bol…aaahhh…”, protes Karina terhenti karena aku sudah melumat putingnya dengan mulutku. Tanganku pun tak ketinggalan meremas lembut payudaranya. Ngocoks.com
“Hhmmm…ahh…..mmmhhh…..”, desis Karina menikmati permainanku didadanya. Aku masih terus melumat payudaranya dengan mulutk saat tanganku bergerak melepas kancing celana blue jeannya.
Ciumanku menyusur turun ke perutnya yang rata saat tanganku menarik turun jeans Karina. Karina menggerakkan kakinya, membantu usahaku dalam melucuti celananya.
“Aaaahh…Joe….”, rintih Karina saat aku mencium serambi lempitnya dari balik celana dalam putihnya. Aku bisa merasakan celana dalam itu sedikit basah. Tampak Karina benar-benar sudah larut dalam birahi.
Aku berdiri, lalu membaringkan tubuh Karina yang hanya bercelana dalam saja ke atas ranjang.
Kemudian aku buru-buru melepaskan pakaianku sendiri. rudalku sudah berdiri tegak dengan gagahnya. Aku melihat ke arah Karina yang berbaring di ranjang. Wajah cantiknya menatap kearah Joe Jr. yang berdiri menantang.
rudalku memang panjangnya biasa aja, rata-rata lha. Tapi diameternya cukup gemuk. Dan wanita yang sudah pernah mencobanya sangat puas dengan gemuknya rudalku itu. Lebih terasa, kata mereka.
Aku segera menyusul Karina ke atas ranjang. Aku berbaring si sebelahnya, tapi tubuhku kuhadapkan kearahnya. Kucium lagi bibirnya yang menggemaskan itu, sementara tanganku menyusuri lekuk indah tubuh Karina. Payudaranya sekali lagi menjadi sasaran mulutku, sementara tanganku menyusur ke selangkangannya.
“Aaahhh…sstttt…Joe….aahhh…..”, desis Karina makin keras saat tanganku mulai nakal menyusup kebalik celana dalamnya dan mengusap serambi lempitnya.
“Shit. No hair. Just the way I like it.”, sorakku dalam hati saat tanganku merasakan tak ada bulu sama sekali di serambi lempitnya.
Aku bergerak ke bawah. Kaki jenjang Karina kuangkat dan kuciumi. Jari-jari kakinya kuhisap dengan mulutku, membuat Karina mendesah nikmat. Perlahan aku menciumi kakinya sambil bergerak menyusur ke atas sampai ke pahanya. Aku melihat celana dalam Karina makin basah. Aku mencoba melepas celana dalam itu. Karina membantuku dengan mengangkat sedikit pinggulnya.
Aku terpesona saat melihat serambi lempitnya untuk pertama kali. serambi lempit Karina sangat indah. Tak ada bulu yang tampak di serambi lempit itu, dan garis belahannya tampak sangat rapat. “Jangan-jangan Karina masih perawan.“, pikirku.
“Kamu masih virgin?”, tanyaku. Karina hanya menggelengkan kepalanya. Tentu saja. Aku tahu kalo Karina pernah punya pacar. Dan aku yakin tak ada laki-laki yang tidak akan mencoba menikmati tubuh indahnya, begitu juga pacarnya. Kudekatkan wajahku ke arah serambi lempit indah itu. Lalu kujilati belahannya.
“Aaaah…..aahh….”, desis Karina makin keras saat aku mencumbui serambi lempitnya dengan bibirku. Apalagi saat aku menemukan klitorisnya. Karina tampaknya adalah type cewek yang vokal kalo sedang ML. Aku suka dengan cewek model begini. Setiap desahannya malah makin membangkitkan gairahku, dan membuat aku makin bersemangat untuk membuatnya berdesah lebih kencang lagi.
Aku terus menciumi dan menjilati serambi lempit Karina, dan jariku mulai ikut ambil bagian. Aku mengocok serambi lempit Karina dengan jariku dengan irama pelan sambil terus menciumi dan menjilati bagian serambi lempitnya yang lain. Aku dapat merasakan jepitan dinding serambi lempit Karina di jariku, dan aku membayangkan pasti jepitannya terasa luar biasa di rudalku.
“Uuughh…Joe…aku..aku.. mau…aahhhh…..”, jerit Karina saat gadis itu orgasme. Pahanya menjepit kuat kepalaku. Pantatnya terangkat seakan membuat aku amkin tertekan di serambi lempitnya. Aku bisa merasakan cairan kenikmatan Karina membanjir keluar. Dengan bersemangat aku menjilati dan berusaha mereguk setiap tetes cairan itu.
Karina melepaskan jepitan pahanya saat orgasmenya mulai mereda. Aku beruntung tak kehabisan nafas karena jepitan pahanya. Aku menyudahi cumbuanku di serambi lempitnya.
Tubuhku bergerak menidih tubuh Karina lalu mencium bibirnya. Karina membalas ciumanku dengan mesra. Wajahnya menyiratkan kepuasan karena permainan oral seksku. Aku menggesekkan batangan rudalku di belahan serambi lempit Karina.
“Karin. Boleh aku…?”, tanyaku. Karina tersenyum manis, lalu menganggukkan kepalanya. Aku menuntun Joe Jr. dengan tanganku agar posisinya pas untuk melakukan penetrasi ke serambi lempit Karina. Perlahan Joe Jr. pun mulai melakukan aksinya, bergerak menerobos ke liang senggama Karina yang sempit.
Aku terus menatap wajah cantik Karina selama proses penetrasi itu. Aku paling suka melihat perubahan mimik cewek saat Jo Jr. mulai mendesak masuk menerobos ke serambi lempitnya.
“Aaakhh….pelan…ahhhh…..”, jerit Karina. Aku tak ingin menyakiti cewek cinta pertamaku itu, aku pun menghentikan gerakan saat Joe jr. baru masuk setengahnya.
“Kamu nggak apa-apa Karin?”, tanyaku.
“Nggak apa-apa. Terus masukin. Tapi pelan-pelan, punya kamu gemuk banget.”, jawab Karina. Aku meneruskan penetrasiku. Karina mendesah seperti kesakitan tapi tangannya menarik pantatku, membimbingku untuk menusuk lebih dalam.
Karina memang sudah bukan perawan, tapi serambi lempitnya benar-benra sempit banget. Dan juga desisnya dan wajahnya yang seperti agak kesakitan, membuatku merasa kalo aku sedang merenggut keperawanan si cantik itu.
“Aakkhh…aakkhh….aakkkhh…”, desis Karina. Wajahnya yang cantik agak sedikit menyeringai kesakitan, saat aku mulai bergerak memompa serambi lempitnya. Padahal aku sudah bergerak dengan irama lembut dan pelan.
“Kamu nggak apa-apa? Kamu ingin aku terusin?”. Tanyaku.
“Nggak apa-apa. Terusin. Jangan kuatir sama aku aaahh…”
Akupun meneruskan pompaan rudalku di serambi lempitnya dengan lembut dan tempo pelan.
“Aahh….Joe….harder…aahh..ahhhh…”, teriak Karin sambil masih sedikit menyeringai kesakitan. Aku pun menurutinya dan menaikkan tempo penetrasiku. Karina makin menjerit, antar nikmat dan sakit. Aku merasa sedikit heran.
Wajah Karina seperti agak kesakitan tapi dia malah menyuruhku untuk memompanya lebih cepat. Tiba-tiba aku teringat dengan film-film bokep asia yang pernah kutonton. Kebanyakan dari mereka selalu berteriak kesakitan, seakan-akan serambi lempitnya dihajar oleh rudal raksasa.
Tapi tingkah laku mereka tetap sama walaupun rudal yang mengobok-obok serambi lempit mereka sebenarnya berukuran kecil. Mungkin Karina termasuk tipikal cewek seperti itu, yang selalu vokal dalam bercinta, bertingkah agak submisive dan selalu berlagak seperti cewek yang baru saja diperawani.
Pikiran ini membuatku makin bergairah menyetubuhi Karina. Cewek dengan tipe seperti Karina selalu membuat lawan mainnya merasa menjadi laki-laki perkasa, walaupun sebenarnya tidak.
“Oohh… Karin. serambi lempitmu enak banget aaghh….”, dengusku sambil terus mengocok rudalku ke serambi lempit Karina yang sempit. Jepitan serambi lempit Karina memang terasa luar biasa.
“Aaaahh….Joe…punya kamu gede banget..ahhh….”, jerit Karina. Kami terus berpacu dalam birahi, sampai kurasakan gerakan Karina makin liar, tampaknya dia akan orgasme untuk kedua kalinya. Aku pun merasa tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi melawan jepitan serambi lempit Karina yang makin liar itu.
“Aahh…ahhhh….lebih cepet joe aku mau..ahh..”
“Aku juga aaahh…. Kamu mau di dalem apa aahhh… di luar?”, tanyaku.
“Di dalem ajaaaghhh…. i’m on the pill.. aaaakhhhh……”, jawab Karina di tengah orgasme yang kembali melandanya. Kakinya melingkar di pahaku seakan menyuruku menancapkan rudalku lebih dalam. Tubuhnya mengeliat dalam pelukanku.
serambi lempitnya berkontraksi dengan liar seakan menyedot rudalku bagaikan vacumm cleaner. Aku tak bisa bertahan lagi. Joe jr. menyemprotkan banyak sekali cairan sperma ke dalam serambi lempit yang menggila itu. Aku memeluk Karina makin erat. Kucium bibrnya dengan penuh nafsu dan Karina pun membalasku.
Saat orgasme kami berdua mereda, aku masih menindih Karina. Aku menyanggah tubuhku dengan bantuan siku tanganku agar gadis cantik itu tak terlalu merasakan beban tubuhku diatasnya. rudalku yang setengah lemas setelah pertarungan liar barusan, kubiarkan tetap berada di serambi lempit Karina menikmati pijatan lembut serambi lempitnya yang hangat.
Kami berciuman mesra. Aku menciumi daun telinganya, lehernya yang jenjang. Tanganku meraba ke lekuk indah tubuhnya, merasakan lembutnya kulit Karina. Karina menyambutku dengan hangat. Kurasakan perlahan gairahku datang lagi, dan rudalku kembali mengeras dalam serambi lempit Karina.
“Wow, Joe…Kamu mau lagi?”, tanya Karina saat dia merasakan bangkitnya Joe Jr. dalam serambi lempitnya.
“Aku nggak akan pernah bosan menyetubuhiin kamu, Karin.”, jawabku sambil mulai mengocok serambi lempitnya dengan rudalku. Aku memeluk tubuh Karina dan berguling ke samping, hingga kini Karina berada di atas tubuhku. rudalku tetap bersarang di serambi lempitnya.
Karina segera duduk diatasku dengan serambi lempitnya tetap menjepit rudalku. Tangannya bertumpu didadaku. Wajahnya menatapku dengan senyum manis penuh gairah. Karina mulai menggerakkan tubuhnya naik turun diatas rudalku.
Aku merasa bagaikan sedang berada di surga. Cewek yang selalu menjadi impianku, yang menjadi cinta pertamaku, menatapku dengan mesra saat kami bercinta. Karina tampak makin cantik. Wajahnya yang dilanda birahi terus menatapku saat pantatnya bergoyang menunggangi rudalku. Peluh sedikit membasahi keningnya.
“Aaahh…Joe…. ahhhh….”, Karina kembali mendesah dengan ekspresi ciri khasnya. Membuatku merasa bagaikan laki-laki yang perkasa. Payudaranya yang indah bergoyang karena gerakannya.
“Oooh…..Karin…ssttt…..”, aku hanya bisa mendesah nikmat. Kami terus berpacu dalam birahi. Jeritan Karina memenuhi ruangan. Untung saja rumah Profesor cukup besar dan kamar ini berada di bagian belakang, kalau tidak suara Karina akan terdengar sampai keluar. serambi lempit Karina yang di sodok rudalku mengeluarkan suara merdu yang berpadu dengan suara benturan pantat Karina dengan pinggul dan pahaku.
Walaupun wajahnya berekspresi seperti sedikit kesakitan, tapi Karina makin liar menunggangi rudalku. Pantatnya tak hanya bergerak naik turun tapi kadang bergoyang ke depan belakang, kadang memutar, membuatku harus bertahan sebisa mungkin supaya tak orgasme lebih dulu.
Setelah beberapa lama terus berpacu dalam birahi, kurasakan serambi lempit Karina berdenyut makin liar. Teriakannya makin keras. Tampaknya Karina akan segera orgasme.
Aku segera meraih pantat Karina dan menahannya dengan kedua tanganku. Pantatku aku gerakkan naik turun menyambut gerakan serambi lempitnya. Tempo pun aku percepat karena aku juga merasa orgasmeku juga sebentar lagi akan tiba.
“Aaahhh….ahhhhh….”, jerit Karina.
“Mmmpphhh…. Karin….Uuughhhh…..”, dengusku. Dan kami pun orgasme secara bersamaan. Aku kembali menyemprotkan maniku ke liang senggamanya. Kalo saja Karina tidak memakai pil kontrasepsi, tentu dia bisa hamil dengan banyaknya maniku yang bersarang di liang senggamanya itu.
Tubuh Karina menegang diatasku kemudia seperti kehabisan energi, Karina jatuh dan bersandar didadaku. Aku meraih The Click lalu mematikannya. Aku merasa pertempuran hari in cukup sampai disini dulu, karena aku pun sudah lelah. Aku memeluk Karina, lalu kami pun tertidur dengan tetap berpelukan.
* * * * * * * * * * * ** * * * * *
Hari sudah siang, saat aku terbangun. Pukul 1 siang, saat aku melihat kearah jam bekerku. Karina tidak lagi ada diatas tubuhku. Gadis oriental yang cantik itu duduk di sampingku, dengan kaki jenjangnya ditekuk hingga pahanya menempel di payudaranya. Tampaknya dia sedang melamun.
“Apa dia menyesal?”, pikirku. Rasa bersalah menyelinap di dadaku. Aku sudah memanfaatkan Karina dengan bantuan The Click. Aku bangun lalu bergerak mendekati Karin, dan memeluknya.
“Maafkan aku Karin. Kamu menyesal?”, tanyaku. Karina menoleh kearahku. Aku melihat raut kesedihan di wajahnya, walaupun dia kini tersenyum kepadaku sambil menggelengkan kepalanya.
Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan Karin. Mungkin dia berbohong saat dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban kalau dia tidak menyesal. Aku menatap wajahnya yang cantik. Rasa sayangku padanya makin menguat. Cinta pertamaku kembali menguasai hatiku.
“Karin….Aku..aku…cinta kamu.”, kataku. Karin menatapku. Wajahnya tampak sedikit kaget. Kemudian terjadi hal yang sama sekali tak kusangka. Karin tiba-tiba menangis, tangannya menutupi wajahnya. Aku bingung tak tahu apa yang harus kulakukan. Jadi aku hanya diam saja melihat Karina menangis. Hatiku rasanya tak karuan. Aku patah hati karena cinta pertamaku yang tak kesampaian.
Setelah diam beberapa saat aku sudah bisa menenangkan hatiku.
“Maafkan aku Karin. Kalo…kalo aku tahu kamu mencintai cowok lain… atau..atau kalo aku tahu kamu sedang berpacaranan dengan cowok lain, aku..aku…tidak akan melakukan..yang tadi pagi…..”, kataku gugup.
“Shh…bukan itu Joe. Aku sayang sama kamu. Tapi aku nggak akan pernah bisa mencintai kamu atau… mencintai…cowok manapun.”, jawab Karin pelan. Aku menoleh kearahnya. Karina menundukkan wajahnya. Aku tak mengerti kata-katanya.
“Apa maksud kamu?”, tanyaku bingung. Karina menoleh menatapku. Wajahnya tampak ragu dan sedih. Setelah beberapa saat, akhirnya dia berbicara dengan suara lirih.
“Aku suka sama cewek, Joe.”
!!!!!!!!!!!!!!!!!!
* * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Beberapa saat kemudian tangis Karina mereda. Dia menoleh kearahku. Menatap wajahku dengan mata berkaca-kaca.
“Maafkan aku, Joe. Aku..aku…nggak bisa mencintai kamu.”, kata Karin. Aku hanya bisa diam. Hatiku merasa sakit. Lebih sakit daripada saat aku putus dengan mantanku dulu.
Kata-kata Karina bagaikan petir yang menyambar ditelingaku. Aku menatap wajah cantik oriental itu dengan pandangan tak percaya dan mulut menganga.
“Ja….jjjadi ka…kamu lesbo…nngg…. maksudku kamu suka sa..sama perempuan???”, tanyaku dengan gugup karena masih syok dengan kata-kata Karina.
Airmata kembali mengalir dari mata Karina yang indah. Karina mengangguk pelan, lalu menundukkan kepalanya dan menangis pelan. Kulitnya yang putih mulus khas wanita oriental bersemu merah karena malu.
Aku hanya bisa diam mematung dan melihat Karina, cewek yang pernah menjadi cinta pertamaku itu duduk menangis di sebelahku, karena aku sendiri masih berusaha menenangkan diriku sendiri setelah mendengar berita mengejutkan itu.
Akhirnya aku bisa menenangkan perasaanku beberapa menit kemudian. Setiap manusia berhak untuk mendapatkan cinta dan mencintai siapapun. Mungkin masyarakat kebanyakan tak bisa menerima kondisi wanita seperti Karin.
Tapi persetan dengan masyarakat. Aku tak berhak untuk menghakimi dan memberi penilaian pada Karina. Bahkan kini timbul rasa kasihanku padanya, dan aku juga merasa bersalah telah memanfaatkan gadis itu dengan bantuan The Click, hanya demi kenikmatan seks yang selalu kuimpikan dengan cinta pertamaku itu.
“Ssshh… maafkan aku, Karin. Jangan menangis lagi.”, kataku lembut sambil mengelus rambutnya yang halus. Wajahnya yang cantik itu menatap ke arahku.
“Kamu pasti menganggap aku wanita rendah Joe hiks… Wanita abnormal.”, kata Karina pelan sambil menangis.
“Jangan ngomong seperti itu. Setiap manusia berhak untuk mencintai siapapun juga. Itu hak kamu.”
“Ta..tapi ini Indonesia. Menyukai sesama jenis adalah hal yang di-tabukan disini. Kalo ada orang yang tahu aku lesbi maka aku akan direndahkan. Mungkin sekarang kamu juga akan menganggap aku seperti itu.”
“Sssshhh…..Aku tak akan dan tak pernah merendahkan kamu, Karin. Kebaikan hati manusia adalah satu-satunya yang patut menjadi penilai bagi manusia itu sendiri. Dan kamu adalah cewek paling baik, paling cantik yang pernah aku kenal.
Dan kamu adalah cewek yang pernah menjadi cinta pertamaku. Dulu, sekarang, dan selamanya.”, kataku sambil merengkuh tubuh Karina dalam pelukanku. Karina menyandarkan kepalanya didadaku sambil menangis.
Beberapa saat kemudian kurasakan Karina mulai tenang, tangisannya pun terhenti. Dia melepaskan diri dari pelukanku. Dan aku benar-benar senang melihat senyuman manis yang kini menghiasi bibirnya. Matanya yang masih sembab karena tangis.
Payudaranya yang mungil tapi berbentuk indah sedikit bergoyang karena nafasnya yang masih berat karena habis menangis. Tanpa dapat kucegah, Joe jr pun perlahan mulai bangkit. Untung saja selimut yang menutupi bagian bawah tubuhku membuat Karina tak menyadarinya.
“Thanks Joe. Walaupun kamu lebih muda dari aku tapi ternyata kamu jauh lebih dewasa. Little Joe is a man now.”, kata Karina sambil tersenyum. Ngocoks.com
“Yeah, but i’m a bad man. A..aku minta maaf atas kejadian tadi pagi. Aku benar-benar cowok brengsek.”, kataku menyesal.
“Itu bukan salah kamu Joe. Kamu cowok yang baik. Yang tadi itu nngg…. aku sendiri nggak tahu kenapa, tapi aku horny banget. Dan kita melakukannya karena sama-sama mau, jadi bukan salah kamu.”, kata Karina mencoba menghiburku.
“Kalo saja kamu tahu…… Itu semua karena The Click aah….”, pikirku dalam hati tapi aku tak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya pada Karina. Aku masih menunduk dengan perasaan malu dan menyesal atas perbuatanku, saat kurasakan tangan halus Karina menempel di pipiku lalu membuat wajahku menatap ke arahnya.
“Kamu tahu nggak Joe? Kamu memang bukan cowok pertama yang pernah makin love sama aku, tapi kamu adalah cowok pertama yang membuatku merasakan kenikmatan bercinta dengan cowok. Mungkin karena aku lebih suka cewek, maka aku tak pernah merasakan nikmatnya bercinta dengan cowok.
Aku dulu melakukannya karena bujukan dan paksaan mantan cowokku yang kupacari karena aku tak ingin dianggap cewek aneh. Dan aku sama sekali tak menikmatinya, hingga aku semakin memilih menyukai cewek daripada cowok. Tapi tadi pagi itu aahhh……I enjoy it. Boys are not bad affter all.
Walaupun aku akan selalu lebih memilih mencintai cewek, tapi kamu benar-benar sudah mengubah pandanganku terhadap cowok.”, kata Karina sambil tersenyum manis. Aku menjadi lega dan sedikit besar kepala karena pujian Karina. Aku tersenyum, dan memeluk Karina dengan hangat, dan si cantik itu membiarkannya.
Hangat dan lembutnya tubuh Karina di pelukanku membuatku kembali bergairah. Dan setelah mengetahui keadaan Karina sebenarnya, otak kotorku mulai membayangkan imajinasi liar tentang Karina yang bercinta dengan seorang cewek. “Oh, God. I wish I can see that.“.
“Karin… kamu pernah pacaran dengan cewek.”
“Belum.”
“Nnngg… apa kamu pernah naksir seorang cewek?”
“Ihh… kamu kayak wartawan infotainment aja. Ngapain pake nanya kayak gitu?”, kata Karin sambil melepaskan diri dari pelukanku. Aku melihat wajahnya lebih menyiratkan rasa malu daripada marah, hingga aku putuskan untuk mengorek lebih jauh.
“Ah nggak ada maksud apa-apa. Cuma karena kamu sudah percaya sama aku dengan bercerita tentang keadaan kamu, mungkin sekarang kamu bisa curhat masalah cinta kamu ke aku, dan aku senang kalo aku bisa bantu kamu.”, kataku mencoba meyakinkan Karina.
“Kamu benar-benar cowok yang baik Joe. Aku senang kalo ada teman yang bisa kuajak curhat. Ma kasih Joe.”
“So….?”
“What?”
“Apa ada cewek yang kamu taksir sekarang?”
“Nnng….. ada.”, jawab Karina malu-malu.
“Siapa?”, cecarku.
“Nnngg….. kamu pasti marah kalo tahu.”, jawab Karina. Aku makin penasaran, dan bertekad terus mencari tahu.
“Aku nggak akan pernah bisa marah sama kamu, Karin. Cerita sama aku. Mungkin aku bisa bantu kamu.”, desakku. Karina terdiam sejenak, terlihat ragu-ragu.
“Aku nng… aku suka sama Sarah.”, jawab Karina agak ragu. Aku sedikit kaget mendengar jawaban Karina, tapi aku masih ragu apa dugaanku benar.
“Sarah…. Sarah yang mana?”, jawabku sambil tak sabar mendengar jawaban Karina.
“Sarah mmm…. Sarah, sahabat kariku sendiri. Sarah, kakak kamu.”, jawab Karina. Aku kaget karena dugaanku benar. Karina ternyata naksir sama sahabat karibnya sendiri. Sarah, kakak perempuanku. Tapi ternyata kekagetanku cuma berlangsung sebentar.
Yang ada malah aku jadi Horny karena bayang karina bercinta dengan kak Sarah dengan tubuhnya yang tinggi dan sexy, dengan payudara yang montok yang hanya bisa kubayangkan saat melihat kak Sarah memakai kaos ketat yang mencetak montoknya payudara itu.
“Kamu marah sama aku ya Joe?”, kata-kata Karina menyadarkan aku dari lamunan kotorku.
“Ngg…nggak, aku nggak marah. Kaget mungkin tapi nggak marah. Tapi aku bisa ngerti kalo kamu naksir kak Sarah. Kak Sarah memang..wow…, aduh!”, kata-kataku terhenti karena cubitan Karina di perutku.
“Ihh… jangan-jangan tadi kamu ngelamun jorok tentang kakak kamu ya? Dasar maniak.”, kata Karina sambil mencubitku gemas.
“Eits… ampun ampun. Kamu nggak bisa nyalahin aku kalo ngelamun jorok tentang kak Sarah. Kak Sarah kan cantik, sexy, mmm…. dan kamu juga pasti naksir kak Sarah karena itu kan.”, godaku.
“Part of it. Tapi aku benar-benar cinta sama kakak kamu. Sudah lama. Sejak kita masih satu SMA dulu. Aku sadar aku nggak boleh berharap kalo Sarah akan membalas cintaku. Tapi aku cukup senang kalo bisa menjadi sahabatnya dan bisa melihat wajahnya yang cantik itu setiap hari.”, jelas Karina. Aku kasihan melihat Karina yang cintanya tak terbalas. Lalu aku kembali memeluknya sambil mengelus rambutnya.
Tiba-tiba sebuah ide cemerlang melintas di pikiranku. Aku pikir ini salah satu caraku untuk membantu Karina, dan setidaknya itu akan menebus rasa bersalahku atas perbuatanku tadi pagi.
“Mmm… Karin. Kayaknya aku bisa bantu kamu.”, bisikku.
“Apa maksud kamu?”, kata Karina bingung.
“Aku mungkin nggak bisa membuat kak Sarah untuk membalas cinta kamu, tapi paling nggak aku bisa membuat hubungan kalian sedikit lebih dekat.”
“Joe! Ja..jangan-jangan kamu mau cerita sama kakak kamu tentang aah…. Jangan Joe, aku mohon.”, kata Karina kuatir.
“Tenang aja. Aku nggak akan pernah cerita tentang keadaan kamu sama siapapun. Apalagi sama kak Sarah. Rencanaku ini biar saja jadi kejutan buat kamu. Yang aku minta cuma kamu percaya sama aku.
Aku nggak akan melakukan hal yang membuat kamu atau kak Sarah sedih. Kamu mau percaya sama aku kan?”, kataku mencoba meyakinkan Karina. Gadis keturunan cina itu masih agak tak percaya pada awalnya, tapi akhirnya dia menganggukkan kepalanya.
“Aku percaya sama kamu Joe. Tapi kenapa sih pake rahasia-rahasiaan?”
“Sudah, kamu nggak usah mikirin hal itu. Yang aku minta, kamu bilang ke kak Sarah kalo kamu akan menginap di rumahku akhir pekan depan. Dan kamu ajak kak Sarah untuk menginap disini agar lebih bebas.
Nanti juga aku akan minta sama kak Sarah untuk menjaga rumah Profesor saat aku pergi akhir pekan itu. Gimana, kamu setuju?”, jelasku. Karina menatap aku bingung. Tapi akhirnya dia setuju dengan rencanaku.
Setelah itu Karina mandi untuk membersihkan badannya dari sisa noda pertempuran kami. Aku disuruhnya untuk menyelesaikan mem-print tugasnya, karena dia akan mengumpulkannya sore ini.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Karina pun berpamitan pergi sambil membawa tugasnya yang sudah selesai aku print. Sebelum pergi, Karina memberiku ciuman mesra di bibirku sambil mengucapkan terima kasih.
Selepas Karina pergi, aku pun teringat tentang kuliahku sore ini. Aku bergegas mandi, lalu bersiap untuk pergi kuliah.
“Shit!”, umpatku saat aku memakai celana jeansku. Joe Jr. ternyata belum tidur juga setelah tadi terbangun karena khayalan kotorku tentang Karina dan kak Sarah. Aku segera menyambar The Click yang tergeletak di meja kamar. Buat jaga jaga he…he…he………
Bersambung…
Sweet Girl of Mine
Keesokkan harinya aku balik ke rumah setelah sedikit beres-beres di rumah Profesor Suparman. Kulihat pagi ini mang Dudung suami mbok Inah pembantu keluargaku sedang sibuk mengutak-atik mobil kijang mamaku. Tampaknya mobil mama sedang bermasalah.
“Pagi mang!” sapaku.
“Eh mas Joe, darimana mas?” sahutnya hangat.
“Biasa mang, nginep di rumah Professor Suparman, jagain selama dia pergi”
“Oh si om yang nyentrik itu ya mas?”
“Yup, mobilnya kenapa lagi mang?” “Ini mas, ngadat, susah distarter. Kayaknya sih kotor dan perlu diservice tambahan. Nyonya nyuruh saya benerin biar hidup dulu sebelum dibawa ke bengkel.”
“Mang trus motor saya gimana? Udah selesai di brush?”
“Ooh udah beres mas Joe. Ntar sore mang anterin ke sini deh”
“Hehe makasih mang”
Motor sport kesayanganku lagi kupermak ganti warna hitam dari aslinya biru. Sekalian ganti oli di bengkel mang Dudung. Aku langsung masuk dan disapa oleh mbok Inah.
“Mas Joe nginep lagi ya? Ya mbok jangan sering-sering to, kasian kan rumahnya ditinggal-tinggal.”
“Yah kan gak sering-sering mbok Nah” sahutku nyengir.
Aku memang akrab dengan pembantuku ini. Dia sedari muda dulu sudah ikut keluargaku hingga sekarang di usianya yang hampir mendekati kepala lima. Sangat setia pada mamaku. Kemudian menikah dengan mang Dudung yang justru berumur lebih muda darinya beberapa tahun, tapi tidak juga dikaruniai anak.
Untungnya mereka saling mengasihi hingga awet seperti sekarang. Dulu mbok Inah tinggal bersama kami. Tetapi setelah bersuami, ia ikut suaminya mang Dudung tinggal di sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari komplek rumah kami.
Jadi tiap pagi-pagi sekali ia datang untuk mengurus keperluan rumah tangga kami dan malamnya baru pulang. Terkadang menginap di bekas kamarnya, sebuah ruang pembantu ukuran sedang di belakang rumah kami. Sedangkan mang Dudung membuka bengkel motor kecil-kecilan di dekat rumahnya.
Selain itu sering dipanggil untuk ngurus taman, jadi sopir bila mama atau mbak Sarah kakakku lagi malas nyetir mobil sendiri, dan banyak pekerjaan-pekerjaan serabutan lainnya. Dulu sebelum buka bengkel dia pernah jadi kenek angkot dan supir truck.
“Yang lain kemana mbok?” tanyaku.
“Ibu sama mbak Dini berangkat kerja dan ke sekolah pake taksi, trus mbak Sarah tadi berangkat ama mbak Karina.”
“Mas Joe gak kuliah to?” sambungnya lagi.
“Ntar siangan mbok” sahutku santai.
“Oh gitu. Mau sarapan apa mas Joe?” tanya mbok Inah.
“Nasi goreng aja mbok, sekalian susu ya. Ntar anter ke kamar saya”
“Ya mas”.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Siang menjelang sore itu cukup terik. Keringatku mengucur deras. “Sial!” pikirku. Jadi malas kuliah mata pelajaran berikutnya nih. Saat itu aku sedang menikmati semangkok bakso dan segelas es teh dingin di kantin pojok kampus menunggu jam mata kuliah kedua.
Sobat-sobat dekatku gak ada yang nongol satupun. “Brengsek, pada gak masuk kuliah semua kali ya?!” rungutku.
“Hei Joe!!”
Sebuah sapaan dari belakang mengagetkanku. Ah si Nina. Akhirnya ada juga sohibku yang muncul. Eh namanya mirip mirip Karina, kakak temanku yang jadi idolaku itu. Terbayang persetubuhanku dengan Karina baru-baru ini, terus rencana yang…..
“Hei!!” tepuknya membuyarkan lamunanku.
“Melamun aja sih? Gak masuk kelas?” lanjutnya.
“Ntar. Pak Bastian kan biasanya telat. Kamu gimana ?”
“Hari ini udah kelar. Mau ke perpus dulu balikin buku, trus pulang deh” sahutnya ringan.
“Nin..Nin..kamu ini emang kutu banget sih.”
Nina hanya tersenyum saja. Ia kemudian duduk di sebelahku, memesan sebotol teh botol.
Kuperhatikan dia tampak lebih ayu hari ini. Entahlah sejak kejadian bersama mbak Rita dan Karina, gejolak kelelakianku serasa terus bergejolak. Apakah ini pengaruh sampingan The Click? Aku tak tahu. Mmm tapi entah kenapa tiba-tiba ada pikiran kotorku muncul. Aku ingin bercinta dengannya.
Setelah kupikir-pikir dia sebenarnya sangat manis dan…cantik. Kulitnya putih bersih, berambut sebahu. Buah dadanya sedang-sedang saja, tidak terlalu besar juga tidak bisa dibilang kecil. Tinggi tubuhnya sekitar 163 cm dengan berat 46 kg. Langsing dan sangat proposional sebenarnya.
“Nin, ntar malem ada sibuk gak?”
“Emangnya kenapa” Nina balas bertanya.
“Besok kan libur. Aku mau ngajak kamu jalan-jalan”
“Jalan-jalan kemana?” ia jadi kikuk.
“Yah nonton atau dinner di café Bjorn, itung-itung refreshing. Masak belajar terus sih? Ntar jadi botak lho”
“Ntar ada yang marah lagi” ia makin kikuk.
“Siapa? Gak bakalan ada kok! Tapi gak tau kalo kamunya”
“Eh ak.aku juga enggak kok” sahutnya cepat.
“Kalo gitu gak ada masalah kan? Kujemput jam setengah tujuh malam, OK?”
Nina tersipu sebelum menggangguk.
* * * * * * * * * ** * * * * * ** * *
Malam itu dengan motor sportku yang berwarna gres full black aku pergi ke rumah Nina. Nampak cantik ia dengan kaos yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya. Berbeda dengan dandanannya yang senantiasa formil di kampus.
Setelah sedikit berbasa-basi dan dipesan untuk jangan pulang terlalu malam oleh orang tua Nina, kami pun meluncur ke pusat kota. Aku memang sering main ke rumah Nina pinjam catatan atau PR kuliah. Selain itu antara mamaku dan mama Nina sudah saling kenal. Tak jarang pernah berbisnis bersama. Jadi mereka sudah percaya padaku.
“Mau makan dulu atau nonton dulu?” tanyaku sembari mengendarai motorku dengan tenang.
“Terserah kamu Joe”
“Kalo gitu kita makan dulu aja yah, aku dah lapar nih. Ntar jalannya jadi enak deh”
“Ehm..” Nina setuju.
Aku langsung membawa motorku ke arah café Bjorn. Disana tempat favoritku nongkrong. Selain makanannya enak dan murah juga sering ada live show musik band-band lokal. Setelah itu kuajak dia jalan-jalan di taman kota yang tak jauh letaknya dari café tersebut.
Usai menikmati makan malam dan jalan-jalan sebentar di taman kota, aku membawa Nina ke rumah Profesor Suparman. Mumpung baru jam 8 kurang dan sepi pikirku.
“Rumah siapa nih Joe?” tanya Nina padaku setelah kumasukkan motorku di garasi. Helm kami kuletakkan di atas motor.
“Kenalanku, aku diminta menjaganya sementara dia ke luar negeri. Entah berapa lama”
Kulihat di seberang lampu rumah mbak Rita padam. Hanya lampu di pekarangan saja yang hidup. Tampaknya mbak Rita sedang pergi ke rumah ortunya menengok Andi anaknya.
“Masuk yuk!” ajakku.
Di ruangan tengah kami kemudian ngobrol sambil menonton TV. Teringat pertempuran threesome aku, mbak Rita dan Profesor Suparman di sofa ini membuat birahiku naik. Ditambah lagi pengalaman bercinta dengan Karina. Tapi walau suasana mendukung, aku belum berani untuk bertindak lebih jauh.
Nina adalah gadis yang masih berpikiran konservatif, tentu tidak mau diajak berbuat yang tidak-tidak. Nah disinilah guna The Click pikirku. Aku lalu merapat ke Nina. Tanpa sepengetahuan Nina kutekan tombol bentuk hati The Click. Sambil menunggu reaksi alat itu, aku tanpa malu-malu lagi merayunya.
“Nin, kamu cantik sekali”
“Ah kamu gombal”
“Eh beneran lho, masa aku bohong sih?”
Nina terdiam. Dari raut wajahnya tampak dia antara jengah dan senang sekali. Tanpa ragu kurengkuh dia dalam pelukanku, sementara kuletakkan The Click di meja samping sofa. Nafsuku kurasa makin tinggi. Perlahan kuangkat dagunya dan melepas kaca matanya, namun ia melengos kesamping.
“Ehmm..Joe jangann…ah” tolaknya.
“Nina sayang ..” rayuku semakin nekat. Lalu kukecup lembut keningnya. Kaca matanya sekarang berhasil kulepas dan kuletakkan di meja dekat The Click.
“Joe..aaah.” Nina sekarang sama sekali tak memberontak saat kulumat bibirnya yang merah hangat dan lembut, kusedot sedikit demi sedikit.
Mmm nikmat …, kulepaskan kecupan bibirku dari bibir Nina. Aku ingin melihat reaksinya, ternyata saat kucium tadi ia memejamkan kedua belah matanya, dengan mata redup ia memandangku sedikit aneh namun wajah manisnya begitu mempesonaku, bibir mungilnya yang kukecup tadi masih setengah terbuka dan basah merekah.
Tangan kiriku bergerak semakin berani, yg tadinya hanya meremas jemari tangan kini mulai meraba keatas menelusuri dari pergelangan tangan terus ke lengan sampai ke bahu lalu turun ke arah gundukan payudaranya dan kuremas lembut.
Kupandangi gundukan bulat menantang bak buah apel dari balik baju kaosnya yang ketat. BH putihnya yang kecil menerawang kelihatan penuh terisi oleh daging lunak yang sangat merangsang.
Kini jemari tangan kananku mulai semakin nekat menggerayangi pinggulnya yang sedang mekar itu, ketika jemariku merayap kebelakang kuusap belahan pantatnya yang bundar lalu kuremas gemas. Aaah…. begitu lunak, hangat dan padat.
“Aaaaahhh … Joe ..”, Nina merintih pelan.
Jemari tangan kananku bergerak semakin menggila, kini aku bergerak menelusup ke pangkal pahanya yang padat berisi, dan mulai mengelus gundukan bukit kecil .. bukit kemaluannya.
Kuusap perlahan dari balik celananya yang amat ketat, kemudian kupaksa masuk jemari tanganku diselangkangannya itu dan kini bukit kecil kemaluannya itu telah berada dalam genggaman tanganku. Nina menggelinjang kecil, saat jemari tanganku mulai meremas perlahan… terasa empuk hangat dan lembut.
Kudekatkan mulutku kembali ke bibir mungilnya yang tetap basah merekah. Secepat kilat bibir mungilnya yang hangat merekah kembali kukecup dan kukulum nikmat. Kuhayati dan kurasakan sepenuh perasaan kehangatan dan kelembutan bibirnya itu, kugigit lembut, kusedot mesra.
Hidung kami bersentuhan lembut dan mesra. Dengus nafasnya terdengar memburu saat kukecup dan kukulum bibirnya cukup lama, bau harum nafasnya begitu sejuk didadaku.
Kupermainkan lidahku didalam mulutnya, persis seperti yg dilakukan para bintang film porno yang sering kutonton dan dengan mesra Nina mulai berani membalas cumbuanku dengan menggigit lembut dan mengulum lidahku dengan bibirnya. Aaah … terasa nikmat dan manis saat kedua lidah kami bersentuhan, hangat dan basah.
Lalu kukecup dan kukulum bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Terdengar suara kecapan-kecapan kecil saat bibirku dan bibirnya saling beradu mengecup mesra. Tak sangka Nina dapat membalas semua kecupanku dengan bergairah pula.
Jemari tangan kananku yg masih berada diselangkangannya mulai bergerak menekan ke gundukan bukit kemaluannya lalu kuusap-usap ke atas dan ke bawah dengan gemas.
Nina serambi lempitik kecil dan mengeluh lirih, kedua pelupuk matanya dipejamkan rapat-rapat, sementara mulutnya yang mungil meringis lucu. Wajahnya yang manis nampak sedikit berkeringat.
Kucium rambutnya yang harum dan semakin mempergencar seranganku di bukit kemaluannya. Kedua pahanya yang tadi menjepit pergelangan tangan kananku direnggangkan. Kuangkat wajah dan dagu Nina kearahku, matanya masih terpejam rapat, namun mulutnya sedikit terbuka sehingga giginya yg putih kentara jelas.
Aku merengkuh tubuhnya agar lebih merapat ke badanku lalu kembali kukecup dan kucumbu bibirnya dengan bernafsu. Tangan kirinya meraih pinggangku dan memegangi bajuku kuat-kuat.
Puas mengusap-usap bukit kemaluannya, kini jemari tangan kananku bergerak merayap keatas, mulai dari pangkal pahanya terus keatas menelusuri pinggangnya yg kecil ramping tapi padat, sambil terus mengusap kurasakan ujung jemariku mulai berada di kaki pegunungan apelnya yg sebelah kiri.
Dari balik baju kaosnya aku dapat merasakan betapa padat gunung apelnya itu. Aku mengelus perlahan disitu lalu mulai mendaki perlahan dan jemari tanganku seketika meremas kuat buah dadanya yg seperti apel itu saking gemasnya. Empuk dan kenyal tapi terasa padat.
“Aaaaduh… Joee jan..jangaan keras-kerass..”, rintihnya.
Bibirnya tampak sangat basah sedikit berliur. Maklum waktu kucumbu tadi air liurku sengaja kubasahkan ke bibirnya. Kini secara bergantian jemari tanganku meremas kedua buah dadanya dengan lebih lembut.
Nina membiarkan tanganku menjamah dan meremas-remas kedua buah dadanya sampai puas. Hanya sesekali ia merintih dan mendesah lembut bila aku meremas susunya sedikit keras. Beberapa saat kemudian aku tak tahan lagi dan mulai melucuti pakaian yang dikenakannya.
Dengan tidak sabaran kubuka pula seluruh pakaianku dan kemudian kulemparkan sekenanya kesamping. Kini aku dan Nina sudah benar-benar polos dan telanjang bulat. Kulihat tubuh nan mulus milik Nina, menggoda siapapun untuk menerkamnya. Payudaranya nan indahnya berbentuk bulat dihiasi puting susu berwarna coklat muda. Perutnya rata dengan pinggang yang ramping.
Sebuah gundukan bukit kecil tampak mulai dari bawah pusarnya sampai kebawah diantara kedua belah pangkal pahanya yang seksi, sementara dibagian tengah gundukan bukit kemaluannya terbelah membentuk sebuah bibir tebal yang mengarah kebawah dan masih tertutup rapat menutupi celah liang serambi lempitnya. Dan disekitar situ aku tak melihat sehelai rambut kemaluan pun. Begitu bersih dan putih daerah terlarang milik Nina itu.
Aku hanya bisa melongo menyaksikan keindahan bukit kemaluannya dan tanpa terasa kedua tanganku sampai gemetar menyaksikan pemandangan itu.
Bau yang keluar dari alat kelamin miliknya membuat hidungku jadi kembang kempis menikmati aroma aneh namun terasa menyenangkan buatku. Dengan penuh nafsu aku segera meraih tubuhnya dan kugendong ke dalam kamar tidur Profesor Suparman.
Kurebahkan tubuh Nina yang telanjang bulat itu diatas kasur busa didalam kamar. Tempat tidur itu tak terlalu besar, tapi cukup untuk 2 orang tanpa berdesakan. Kamar ini sudah menjadi saksi bisu persetubuhanku dengan Karina, dan sekarang akan menelan korban keduanya, Nina. Aku merayap keatas tubuhnya yang bugil dan menindihnya, aku tak sabar ingin segera memasuki tubuhnya.
Ia hanya melenguh pasrah saat aku setengah menindih tubuhnya dan batang rudalku yang tegang besar itu mulai menusuk celah bukit kemaluannya, mencari liang serambi lempitnya. Ngocoks.com
Kurasakan bukit kemaluannya terasa lunak dan hangat…. aaahh… tanganku tergetar saat kubimbing alat vitalku mengelus bukit kemaluannya yg empuk lalu menelusup diantara kedua bibir kemaluannya.
Nina mulai merintih dan serambi lempitik-mekik kecil ketika kepala rudalku yang besar mulai berhasil menerobos liang kemaluannya yg sangat sempit sekali.
“Tahan sayang … aku masukkan dulu … hhhgggggghhh ….ahhhh sempit sekali sayang aahhhh …”, erangku mulai merasakan kenikmatan.
Sssrrrtt!!
Kurasakan kepala rudalku berhasil masuk dan terjepit ketat sekali dalam liang serambi lempitnya.
“Aaaww …. Joee sakiit …”, rintih Nina memelas, tubuhnya menggeliat kesakitan. Aku berusaha menentramkannya sambil kukecup mesra bibir mungil yg basah merekah dan kulumat dengan perlahan.
Aku mulai menekan dan Nina pun meringis … aku tekan lagi… akhirnya perlahan-lahan mili demi mili liang serambi lempitnya itu membesar dan mulai menerima kehadiran kepala batang kemaluanku.
“Agghhh ..” suara Nina terhalang lumatan bibirku, aku tak peduli, mili demi mili batang rudalku secara pasti terus melesak ke dalam liang serambi lempitnya dan tiba-tiba setelah masuk seperti ada selaput lunak yg menghalangi kepala rudalku untuk terus masuk.
Krrgghh!!
Tapi aku terus menekan, merobek selaput itu dan menghentak keras ke bawah hingga seluruh batang kemaluanku kini terbenam dengan sempurna di liang serambi lempit Nina.
“Oohh!! ………..”, aku mengerang saking nikmatnya, mataku mendelik menahan jepitan ketat serambi lempit Nina yg luar biasa, sementara Nina meringis menahan perih dan nikmat.
Tubuh kami telah menyatu, dalam suatu persetubuhan indah. Kurasakan serambi lempit Nina menjepit dan meremas kuat batang meriamku yg sudah amblas semuanya.
Ku mulai menarik batang kemaluanku perlahan dan mendorongnya kembali dengan lembut setelah beberapa saat kudiamkan untuk membiasakan liang kemaluan Nina menerima benda asing di dalamnya. Kemudian Nina memeluk punggungku dengan kuat, ujung jemari tangannya menekan punggungku dengan keras.
Kukunya terasa menembus kulitku. Tapi aku tak peduli, aku sedang menyetubuhi dan menikmati tubuhnya. Batang rudalku seakan dibetot dan disedot oleh liang serambi lempitnya yg benar-benar sangat sempit itu. Nina merintih dan serambi lempitik kesakitan dalam cumbuanku.
Beberapa kali malah ia sempat menggigit bibirku, namun itupun aku tak peduli. Aku hanya merasakan betapa liang serambi lempitnya yg hangat dan lembut itu menjepit sangat ketat senjataku, ketika kutarik keluar terasa daging serambi lempitnya seolah mencengkeram kuat alat vitalku, sehingga betapa aku memaksa untuk keluar daging serambi lempitnya terasa ikut keluar.
Ajaran bercinta dengan lembut dari mbak Rita kupraktekkan dengan sempurna. Aku mulai menggerakkan pinggul turun naik dengan lebih lambat dan teratur. Ngocoks.com
Kutarik pelan rudalku keluar dari jepitan liang serambi lempitnya yg sempit, kuresapi kenikmatan dari setiap mili gesekan yg terjadi antara batang rudalku dengan daging serambi lempitnya yg hangat dan ketat. Hanya beberapa menit kemudian tubuh Nina sudah terasa mengejang….
“Aaaahhh..Joee..akuu…ingin..pipiiss..ahh” racaunya.
Seerr!!
Kurasakan cairan dari liang serambi lempit Nina membasahi batang kemaluanku yang masih tertancap disana. Tapi tiada kusangka! Aku juga merasa hampir sampai! Ternyata serapat-rapatnya liang mbak Rita atau Karina, masih kalah rapat dari liang perawan Nina.
Ini membuatku tidak bisa mengontrol lebih lama orgasmeku. Beberapa detik kemudian sambil mempercepat sodokanku, aku lepaskan rasa nikmat itu dengan menyemprotkan spermaku beberapa kali ke liang rahim Nina, lalu kucabut sambil memperhatikan batang kemaluanku yang belepotan oleh lendir yang lengket.
Tampak pula diselimuti bercak-bercak darah segar keperawanan Nina di batang kemaluanku itu. Sprei berwarna putih keabuan itu di bawah pantat Nina juga terdapat bercak-bercak darah segar. Pemandangan yang sama saat aku memerawani mantanku, pacar pertamaku dulu di awal kuliah.
“Aah aku berhasil memerawaninya” pikirku.
“Shit! Aku gak bisa kontrol keluarnya di dalam” pikirku. “Tapi tak apalah, masih banyak jalan kalo nanti kenapa-kenapa” demikian pikiran kotorku bekerja. Aku lalu membaringkan tubuhku ke samping tubuhnya.
Jiwaku melayang terbang bersama kenikmatan yang tiada tara. Sayup-sayup diantara kenikmatanku kudengar Nina merintih pelan entah kesakitan atau nikmat … aku tidak tahu karena aku sedang berada dalam kenikmatan sorga dunia.
Saat kesadaranku belum sepenuhnya pulih dari lelah yang mendera, sekelebat aku teringat The Click. Jika sampai tidak kumatikan tombolnya, aku bisa terangsang terus dan bercumbu dengan Nina tanpa henti. Tanpa banyak pikir lagi aku segera beringsut ke ruang tengah dan mematikan alat itu.
Setelah itu aku kembali lagi ke ruang tidur. Tampak Nina terbaring lunglai kelelahan. Entah tidur atau masih sadar, aku tak tahu. Gadis ini yang baru pertama kali merasakan nikmatnya bercinta belum bisa mengontrol tubuhnya untuk segera pulih.
Tak terasa juniorku mulai kembali tegang menatap tubuh putih mulus tergeletak tanpa daya di hadapanku. Nafsu birahi timbul kembali. Segera kudekati tubuh mulus itu, mengambil posisi diantara kedua pahanya yang ku angkat diatas pundakku. Nina terbangun dan merintih.
“Aapa yang kamu lakukan Joee?”
“Membawamu ke sorga sayang..” sahutku lembut.
“Akk..aku..lelaah Joee..” rintihnya lagi.
“Sebentar saja sayang” sahutku sambil mulai membenamkan kembali batang rudalku kedalam liang kewanitaan miliknya yang kembali menyambut mesra dengan kehangatan dan jepitan ketatnya yang luar biasa nikmat.
Nina yang sudah tak berdaya hanya bisa pasrah menerima seranganku. Begitu licin dan lembut saat kepala rudalku yang besar perlahan menelusup masuk dan kembali kurasakan betapa celah hangatnya itu kembali mengelus lembut kulit batang rudalku yang keras, jepitan liang serambi lempitnya kembali menahan laju gerakan masuk alat kemaluanku
“Aaggghhh …” kembali aku mengerang menahan rasa nikmat yang tiada tara saat secara hampir sempurna seluruh batang rudalku telah kembali terbenam didalam liang serambi lempitnya.
Nina serambi lempitik kecil lalu merintih pelan diantara rasa sakit dan nikmat. Aku mengecup lembut bibirnya lagi sambil kutekan pantatku lebih kebawah hingga seluruh batang rudalku tidak ada lagi yang tersisa diluar celah serambi lempitnya, kutekan dan kutekan sampai kurasakan diantara jepitan ketat bibir dan liang serambi lempitnya kepala rudalku menyentuh bagian depan mulut rahimnya.
Aku merasa begitu perkasa diatas tubuh Nina, tubuh yang mungil yang kini sedang berada dalam kekuasaan nafsu kelelakianku, ia berulangkali serambi lempitik dan merintih kecil saat secara bergantian dengan ritme yang lembut dan perlahan pinggulku bergerak terus naik turun mengeluar masukkan seluruh batang rudalku kedalam liang serambi lempitnya.
Entah sudah berapa puluh kali batang rudalku menembus keluar masuk disitu dan entah sudah berapa kali pula liang serambi lempitnya yang licin hangat dan sempit itu mengenyot, memilin dan meremas-remas hebat batang kelelakianku tanpa kenal kompromi.
Sekarang cukup lama sekali aku bisa menggoyang menyetubuhinya. Rupanya setelah liang keperawanannya kurobek, jalan keluar masuk batang kemaluanku tidak terlalu sulit walaupun masih terasa seret sekali. Staminaku terasah oleh pengalaman yang tak banyak dan berbagai informasi yang kudapatkan dari teman atau bacaan bahkan tontonan kaset porno.
“Aaaahhhhhh..Joeeeeee..akk.akku..keluaarrr!!”
Tak terasa sudah dua kali Nina mencapai orgasmenya, sedangkan akupun mulai merasakan air maniku telah mulai mengalir menuju ke pangkal rudalku dan mendesak-desak hendak tumpah keluar namun seketika itu pula kucoba memecah konsentrasiku ke hal-hal indah yang lain, agar ejakulasiku tidak terlalu cepat terjadi, namun tetap tak banyak membantu.
Kucoba menahan sekuat tenaga agar jangan sampai muncrat, namun hanya beberapa detik kemudian akhirnya aku menyerah kalah. Di saat Nina sedang terbang menikmati orgasmenya yang panjang akupun akhirnya ikut melepaskan rasa nikmat tertahan dan mencapai puncak tanpa peduli dimana kulampiaskan.
Croott ……croott …..crot!!
Air maniku menyembur-nyembur tumpah keluar di dalam liang rahimnya.
“Oogghh!!” Aku menggeram keras kelojotan tak mampu menggenjot pantatku naik turun lagi, sebab batang rudalku sudah tak bisa digerakkan lagi saking kuatnya kontraksi liang serambi lempitnya.
Aku memeluk erat tubuh Nina dengan penuh kemesraan, lalu kukulum bibirnya dengan lembut beberapa saat, lalu aku bergulir kesamping, batang rudalku melungsur menggesek keluar dari dalam liang serambi lempit sempitnya yang sudah sangat licin. Ia merintih pelan.
Aku terjerembab disamping tubuh bugilnya yang putih mulus penuh keringat. Beberapa saat keadaan sunyi senyap. Hanya terdengar nafas kami yang masih sedikit ngos-ngosan, lalu setelah itu kulihat Nina beranjak duduk bersandar di kasur sambil menutup tubuhnya dengan kedua tangannya. Ia tersedu pelan. Rasa bersalah menghantuiku, langsung berusaha kupeluk dia.
“Kamu jahat Joe..” katanya.
“Maafin aku Nin, aku gak bisa nahan nafsuku. Abis kamu begitu menggoda sih”
“Kalo aku hamil gimana?” ucapnya tersedu.
Aku langsung terkesiap. Benar juga. Tadi gara-gara saking nikmatnya aku lepas kontrol, menganggap remeh hal itu. Kalau sampai kejadian itu, aku tak tahu lagi mesti berbuat bagaimana. Tapi berusaha ku hibur dia.
“Tenang aja, ntar kalo terjadi sesuatu sama kamu aku yang bertanggung jawab”
“Sungguh Joe? Kamu gak bohong kan?” tangisnya mulai mereda.
“Enggak dong sayang. Aku janji aku akan jaga kamu. Kamu jangan sedih yah?”
Nina menatap wajahku, kemudian senyumnya merekah. Dan ia langsung membenamkan wajahnya di dadaku. Dari responnya kutahu ia tak sedih lagi. Kurengkuh tubuhnya sambil mengecup bibirnya ringan.
Kulihat jam di dinding kamar menunjukkan pukul 10 lewat lima belas menit. Masih cukup bagi kami untuk istirahat sejenak memulihkan tenaga sebelum aku mengantarnya pulang.
“Ayo berkemas, nanti kemalaman” ajakku.
Setelah kami membersihkan diri di kamar mandi dan segera berpakaian, kami meninggalkan rumah Profesor Suparman dengan perasaan yang senang. Tampak Nina agak terseok-seok berjalan menahan perih di liang kemaluannya.
Hampir jam sebelas malam kami sudah tiba di rumah Nina. Aku langsung memacu motorku pulang setelah berjanji akan menelponnya besok. Ah selesai sudah aksiku malam ini bersama The Click.
Besok aku tak tahu apa yang akan terjadi lagi………hmm kecuali akhir pekan ini bersama Karina dan Sarah kakakku, akan ada yang seru!
Bersambung…
It’s Show Times
Joe baru saja selesai mandi, lalu dia segera menuju ke ruang makan untuk sarapan. Sesampainya di sana, hanya tampak Sarah, kakak perempuan Joe, yang sedang asyik membaca majalah sambil menikmati susu coklat panas kesukaannya. Dini, adik perempuan Joe, pasti sudah berangkat ke sekolah, sedangkan mama pasti sudah berangkat kerja.
“Pagi. Gak sarapan kak?”, sapa Joe sambil mengambil makanan yang tersedia di meja makan lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan Sarah.
“Udah, barusan.”, jawab Sarah sambil membaca majalahnya. Sarah tampaknya baru saja selesai mandi. Cewek cantik itu cuma memakai jubah mandi putih kesukaannya.
“Mmm…. nih anak memang gak pernah berubah. Selalu make pakaian seenaknya. Tapi …lumayan juga sih. Pemandangan indah di pagi hari.”, pikir Joe dalam hati. Matanya selalu mencuri pandang ke arah Sarah yang tampak sangat sexy dengan jubah mandinya itu.
Lelaki normal manapun pasti akan selalu mencuri kesempatan untuk melihat ke arah Sarah. Wajah cantik, tubuh tinggi langsing, payudara yang montok dan pantat bulat menggoda. Bahkan Joe, adik kandungnya sendiri, tak melewatkan kesempatan untuk menikmati kecantikan dan keseksiannya. Pantas saja karir model Sarah jadi makin naik.
Lama-kelamaan Sarah sadar juga kalo Joe sering mencuri pandang ke arahnya. Sarah sangat sadar kalau dirinya cantik dan sexy, dan dia bangga akan hal itu.
“Hi..hi..hi…. godain Joe dulu ah!”, pikir Sarah. Sarah berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan menuju ke lemari es. Langkahnya sengaja dia buat sesensual mungkin. Walaupun tanpa melihat, Sarah tahu kalo pandangan Joe, adik laki-lakinya itu, sekarang pasti tertuju pada bongkahan pantatnya yang sexy dan kakinya yang jenjang.
Sarah membuka lemari es, lalu mengambil buah yang ada di bagian bawah. Sarah sengaja agak lama, berpura-pura memilih buah.
“Ugh..uhuk..ugghh….”, Joe tersedak. Bagaimana tidak? Saat Sarah mengambil buah, jubah mandinya yang memang hanya berukuran pendek jadi semakin terangkat. Paha mulus Sarah pun terpampang bebas di pandangan Joe, bahkan Joe bisa melihat sebagian pantat Sarah dan celana dalamnya. Kontan saja Joe pun tersedak makanan yang sedang dilahapnya.
Sarah tertawa dalam hati, mendengar joe tersedak. Dia kembali ke meja makan sambil membawa buah apel dan segelas air. Sarah tak kembali ke tempatnya semula, tapi dia menuju kursi yang ada di sebelah kanan Joe walaupun tidak dalam satu sisi meja yang sama.
“Nih minum Joe. Makanya kalau makan jangan buru-buru.”, kata Sarah seakan tak berdosa. Joe menerima segelas air dari Sarah lalu meminumnya. Sementara itu Sarah sempat melihat ke arah gundukan di celana Joe yang makin membesar.
Dalam hati Sarah tertawa puas. Ternyata kecantikan dan keseksiannya sanggup menggoda iman laki-laki manapun, bahkan adik kandungnya sendiri. Dan Sarah pun memutuskan untuk menggoda Joe, adik laki-lakinya itu lagi.
Sarah kembali berpura-pura membaca majalah, tapi kaki kirinya kini dibuka lebar. Otomatis jubah mandi mininya tak mampu lagi enutupi pahanya yang putih mulus dan kakinya yang jenjang.
Tak perlu waktu lama, mata Joe pun kontan terpaku ke paha mulus kakaknya itu. Joe juga merasa joe jr. memberontak makin liar di balik celananya. Sarah sedikit melirik ke arah adiknya itu. Dia tampak senang usahanya berhasil.
Sarah kembali berdiri di tempatnya. Kini dia mengulurkan tangannya untuk mengambil pisau yang tempatnya di sebelah kiri tempat duduk Joe. Tentu saja Sarah juga harus menjulurkan tangan dan tubuhnya agar dapat meraih pisau itu.
Jubah mandinya yang hanya diikat tali di bagian pinggang, membuat bagian atas jubah mandi itu agak terbuka. Posisi tubuh Sarah membuat dadanya berada persis di hadapan Joe. Sarah sengaja mengambil pisau itu dengan tangan kanan sehingga posisi tubuhnya agak miring menghadap Joe.
“Klontang!!!”, suara dari sendok Joe saat terlepas dari tangannya dan jatuh ke atas piring. Joe begitu terpesona dengan pemandangan indah yang kini terpampang di depan matanya, sampai-sampai sendoknya terjatuh. Posisi Sarah membuat Joe bisa melihat payudara montok kakak perempuannya itu. Apalagi Sarah ternyata tak memakai bra, hingga Joe pun bisa melihat putingnya yang mengacung indah.
“Hei!!! Lihat apaan sih loe??”, hardik Sarah sambil kembali didik dan merapikan pakaiannya. Joe pun gelagapan. Wajahnya memerah karena malu.
“Nggak! Nnngg…….nggak lihat apa-apa.”, sahut Joe gugup sambil kembali meneruskan makannya. Sarah tertawa dalam hati karena bisa membuat Joe malu dan gelagapan.
“Jangan bohong. Loe dari tadi lihatin dada aku. Dasar pervert.”, goda Sarah. Wajah Joe semakin memerah.
“Loe tuh. Kalo pake pakaian yang sopan dong. Jangan sembarangan.”, balas Joe.
“Yee… suka-suka gue dong. Ini kan di rumah. Lagian lo tuh yang adik cabul. Kakak kandung sendiri diintipin. Makanya loe cepetan cari pacar Joe.”
“Siapa bilang gue jomblo? Gue sudah punya pacar kok.”
“Siapa?”
“Nina.”, jawab Joe spontan. Joe sendiri heran kenapa nama Nina sampai keluar dari mulutnya. Apa dia bener-bener jatuh hati sama sahabatnya itu? Apa dia serius mau nge-jalin hubungan dengan Nina? Joe sendiri masih bingung.
Tapi yang pasti dia tak bisa melupakan waktu pertama kali ML sama Nina. Dia senang menjadi orang yang pertama kali membuat Nina menjadi wanita dewasa seutuhnya. Pikirannya melayang ke peristiwa waktu itu.
“Mmm…Nina…. Nina temen kuliah loe itu?”, tanya Sarah. “Kalian jadian?”
“Belom sih baru PDKT.”
“Oh, gitu. Wah, si Karina bakal kehilangan penggemar nih.”, kata Sarah. Dia tahu kalo adiknya itu dulu selalu naksir dengan Karina. Joe selalu kelihatan salting kalo ada Karina. Selalu cari perhatian.
“Maksud loe?”, kata Joe salting.
“Sudah jangan pura-pura. Aku tahu kamu dari dulu naksir sama Karina.”
“Mmm… mungkin dulu. Tapi kayaknya aku pikir mendingan kita jadi best friend aja deh.”, kata Joe. “best friend in bed he..he…he…”
Sarah kembali dengan bacaannya, dia sudah kehilangan minat menggoda adiknya. Joe Melanjutkan makannya. Percakapan yang menyinggung nama Karina membuat Joe teringat kalo sekarang adalah hari sabtu saat dia berjanji akan memberikan kejutan buat Karina.
Joe sedikit menyesal karena tidak bisa apel ke rumah Nina, tapi rasa itu langsung hilang bila mengingat rencana kejutannya malam ini.
“Oh, ya kak. Nanti malam tolongin aku ya.”, kata Joe pada Sarah.
“Tolongin apaan?”
“Aku nanti malam kan ada acara sama Nina. Kak Sarah tolong jagain rumah Profesor ya?”
“enak aja. Entar gue juga punya acara tahu! Lagian ngapain sih pake dijagain segala?”
“Aduh…please kali ini aja. Profesor udah nitipin rumah ke aku jadi aku mesti nepatin janji. Lagian nanti malam aku kayaknya bakalan nggak pulang. Jadi aku nanti pamit buat nginep di rumah Profesor ke mama.
Kalo nanti malem mama tiba-tiba telpon ke rumah profesor gimana? Aku butuh kakak buat jadi alasan aku kalo ada telpon dari mama. Please.”, rayu Joe.
“Wah, adikku yang satu ini mulai badung ya. Mau ngapain loe sampe nggak pulang segala?”, goda Sarah.
“Ngg…itu…itu…. yaa kakak tahulah. Ayo dong kak. Tolongin aku. Lagian dulu aku kan pernah juga dijadiin alasan sama kakak waktu kakak kencan sama siap tuh….ngg….Robby ya.. Robby. Kakak pura-pura keluar sama aku biar mama ngijinin. Padahal aku cuman nganter kakak kerumah Robby, lalu disuruh pergi sendirian, ninggalin kakak sama Robby berdua doang di rumah Robby yang kosong.”
“Iya..iya…gue hutang satu sama kamu. Tapi aku kan takut di sana sendirian.”
“Aku bisa telpon Karina buat nemenin kakak, nginep di rumah profesor Suparman.”, kata Joe. Sarah berpikir sebentar.
“Ya udah. Aku bakalan jadi back up kamu nanti malam.”, kata Sarah. Joe berteriak girang dalam hati.
“Thanks ya kak. Entar biar aku yang telpon Karina.”, kataku sambil membereskan piringku.
“Iya. Eh, ntar bilangin si Karin kalo nanti malem biar aku yang jemput dia di rumahnya.”, kata kak Sarah.
* * * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * *
Joe sedang berada dirumah profesor Suparman, saat handphonenya berbunyi. Rupanya Nina yang menelponnya.
“Hi, Nin. Baru aja aku mau telpon kamu.”, kataku di telpon.
“Masa? Ada apa emangnya?”
“Nggak. Cuman kangen aja.”
“Gombal. Mmm…. Joe… soal waktu itu….”
“Aku nggak akan pernah lupa saat itu. Aku nggak akan pernah lupa bagaimana lembutnya bibir kamu. Tubuh kamu yang indah. serambi lempit ka..”
“Udah…udah… jangan diterusin… dasar nggak punya malu.”, potong Nina. Tapi Joe tak menangkap kemarahan dari suara Nina.
“Beneran Nin. Aku bener-ben…”
“Sudah dong Joe. Jangan godain aku terus.”, potong Nina lagi. Joe tertawa.
“Joe…nngg… apa kamu bener-bener serius sama aku Joe?”, tanya Nina.
“Aku serius Nin. Aku bener-bener sayang sama kamu.”
“Mmm…aku juga sayang sama kamu.”
“Jadi kita udah jadian nih ceritanya?”, godaku.
“Emmhh… kayaknya sih.”
“Yes!! Eh, Nin. Aku nyesel banget nggak bisa ngapelin kamu di malam minggu pertama kita jadian, soalnya malam ini aku harus nganterin kak Sarah.”
“Ya, udah Joe. Lagian aku juga bukan tipe cewek yang minta pacarnya harus selalu ngapelin aku tiap malam minggu. Yang aku pingin pacar aku itu bener-bener cinta sama aku dan setia.”
“Thanks. Aku cinta kamu, sayang. Tapi meskipun kamu nggak keberatan kalo malam ini aku nggak kesana, aku tetep nyesel banget. Soalnya aku jadi kehilangan kesempatan buat cium bibir kamu, meluk tubuh kamu, menikmati cantik dan sexynya pacar aku kayak yang waktu itu.”
“Aduh….. aku sial banget sih. Punya pacar pertama kali, dapetnya yang porno kayak gini.”
“Tapi suka kan…”
“Dasar. Udah dulu ya. Besok kamu kerumah kan?”
“Iya. Sekarang siapa yang kangen?”
“Hi..hi..hi… love you.”
“Love u too.”
Joe menutup telponnya. Dia kembali melakukan persiapan untuk rencana nanti malam. Tadi dia juga telpon ke Karina dan memintanya untuk menemani Sarah malam ini. Joe juga berkata kalo dia sudah menyiapkan kejutan buat Karina. Karina jadi penasaran. Tapi Joe tetap bungkam, dan hanya meminta Karina agar percaya padanya.
Baru setelah matahari hampir tenggelam, Joe akhirnya berhasil mempersiapkan semuanya. Joe tersenyum puas lalu pulang kerumah untuk mandi. Ia tak sabar menantikan malam ini.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Sarah dan Karina memasuki ruang tidur utama rumah profesor Suparman.
“Hhhmmmm…. enak juga si Joe bisa tinggal disini. Kamarnya gede, ada kamar mandi di dalem lagi.”, komentar Sarah. Sarah kemudian menaruh tasnya di atas ranjang lalu membukanya. Karina juga menaruh tasnya diranjang, lalu gadis cantik berwajah oriental itu duduk di ranjang. Dilihatnya Sarah sedang mengambil handuk, sikat gigi, dan pembersih muka.
“Kamu mau mandi, Sar? Malem-malem gini?”, tanya Karina.
“Nggak. Cuci muka doang sama gosok gigi. Gue duluan ya make kamar mandinya, habis itu baru kamu.”, jawab Sarah sambil melangkah masuk ke kamar mandi. Karina menunggu Sarah sambil duduk melamun di ranjang.
“Joe mau ngasih surprise apaan sih? Bikin orang penasaran aja. Apalgi pake ngelibatin Sarah segala. Hmmm…. apapun itu, aku harap nggak akan membuat persahabatan aku dan Sarah jadi renggang. Aku sayang sama Sarah.
Walaupun mungkin kita nggak akan pernah bisa bersama, aku puas bisa selalu dekat dengan dia. Melihat wajahnya yang cantik, tubuhnya yang sempurna hhmmm….”, lamun Karina dalam pikirannya. Ngocoks.com
Beberapa saat kemudian Sarah keluar dari kamar mandi. Karina memandang sahabatnya itu dengan terpesona. Sarah keluar dengan hanya mengenakan bra hitam dan celana dalam hitam yang sexy. Wajahnya yang cantik semakin kelihatan segar setelah Sarah mencuci muka.
Tubuhnya yang tinggi ramping penuh dengan lekuk yang indah. Bra hitam yang dikenakannya makin menonjolkan keindahan dan kemontokan payudara Sarah. Karina menelusuri tubuh indah Sarah dengan matanya.
Perut Sarah rata dan ramping, sangat indah berpadu dengan pinggang dan pantatnya yang membulat penuh. Paha sekal mulus dan kaki jenjang semakin menyempurnakan keindahan tubuhnya.
“Karin. Sekarang giliran kamu tuh make kamar mandinya.”, kata Sarah yang segera membuyarkan lamunan Karina. Karina tersipu malu, berharap Sarah, sahabatnya tak menyadari kalo dia baru saja terpesona dengan keindahan tubuh sahabatnya sendiri. Karina pun segera mengambil handuk dan perlengkapan lainnya. Setelah itu dia menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
* * * * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * * * *
Pandangan Joe terfokus ke arah layar laptopnya. Di layar laptop itu tampak pemandangan indah tubuh kakak kandungnya sendiri, Sarah, yang nyaris telanjang. Sarah kini rebahan diatas ranjang, sedangkan Karina tadi ia lihat masuk kamar mandi. Joe sekarang berada di sebuah kamar yang berada di lantai dua rumah profesor Suparman.
Headphone di telinganya membuat ia dapat mendengarkan percakapan Karina dan Sarah yang ada di kamar utama. Empat kamera mini milik profesor yang dipasangnya ditempat-tempat strategis di kamar utama membuat Joe bisa menikmati pemandangan di kamar utama dengan bebas. Kamera mini ciptaan profesor memiliki resolusi visual cukup tinggi hingga ia bisa dengan nyaman menikmati pemandangan di kamar utama itu.
“Hhmmm…. tubuh kak Sarah oke banget. Pantas aja karir modelingnya kian meroket.”, kata Joe. Joe memandangi layar monitor itu lekat-lekat. Dia tak membuang-buang kesempatan untuk dapat melihat keindahan tubuh kakaknya dengan bebas, tanpa harus melirik dan mencuri-curi seperti biasanya.
Beberapa saat kemudian Karina keluar dari kamar mandi. Wajah cantiknya tampak makin segar setelah dia mencuci muka. Karina keluar dengan memakai kaos oblong yang agak kebesaran dan tampaknya dia hanya memakai celana dalam saja dibalik kaus itu.
Memang payudara dan pantat Karina tak sebesar dan sesexy Sarah, tapi lekuk tubuhnya juga masih sanggup membuat lelaki manapun akan menelan ludah jika melihatnya. Apalagi ditambah dengan kecantikan wajahnya yang ayu. Kecantikan alamiah gadis oriental. Wajah Karina sedikit mengingatkan aku akan bintang film Hongkong Cecilia Cheung, kalo nggak salah.
Joe bisa melihat kalo Karina kelihatan agak gugup dan selalu mencuri pandang ke arah tubuh Sarah yang nyaris telanjang. Joe tertawa dalam hati karena dia tahu pasti apa yang dirasakan Karina saat ini.
Karina memandang ke arah Sarah seperti Joe saat memandang keindahan tubuh Sarah, Nina, maupun mbak Rita. Karina memang sedikit berbeda orientasi seksnya dengan kebanyakan wanita lain.
Dia lebih suka pada wanita daripada pria alias lesbi. Fakta ini hanya pernah dia ceritakan pada Joe, setelah Joe menggunakan The Click untuk menikmati tubuh indah Karina.
“Kayaknya sekarang waktunya The Click untuk beraksi.”, kata Joe sambil mengambil sebuah remote control. Remote itu berfungsi untuk menggunakan tangan mekanik yang sudah Joe letakkan di dalam lemari di Kamar Utama.
Tangan mekanik itu salah satu ciptaan Profesor. Mungkin lebih tepat disebut capit karena tangan mekanik itu hanya mempunyai jari seperti capit yang bisa membuka dan menutup. Profesor dulu menciptakannya untuk keperluan industri.
Kini Joe sudah meletakkan The Click diantara capit tangan mekanik itu. Jadi bila dia menggerakkan tangan mekanik itu untuk mencapit maka tombol The Click akan otomatis tertekan. Joe memang sengaja menyiapkan ini semua, karena dia ingin memberikan kejutan kepada Karina.
Joe juga tak ingin dia berada dalam pengaruh The Click, hingga ia repot-repot menyiapkan semua ini. Lalu Joe pun mengaktifkan tangan mekanik itu hingga The Click pun ikut aktif.
“Its show times”, kata Joe tak sabar menantikan apa yang akan terjadi.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Karina merasa sangat gelisah. Dia sama sekali tak bisa melepaskan pandangannya dari Sarah. Entah kenapa, tiba-tiba dia merasa sangat bergairah. Ingin rasanya dia memeluk tubuh indah Sarah dan mencium bibirnya tapi dia masih ragu dan takut. Karina merasakan selangkangannya mulai lembab, putingnya mengeras, nafasnya sedikit tak beraturan.
Sarah yang membaca majalah juga sedang gelisah. Tiba-tiba dia merasa horny banget. Kalau saja yang tidur disebelahnya adalah salah satu pacarnya, mungkin dia sudah menerkamnya.
Tapi sekarang Sarah hanya bisa merapatkan kakinya agar bibir serambi lempitnya bisa saling gesek. Tapi itu sama sekali tak membantunya. Kalo saja tak ada Karina disampingnya, mungkin dia sudah menggosok serambi lempitnya sendiri dan masturbasi disini, saat ini juga.
Tiba-tiba Sarah merasa jemari lembut mengusap lengannya. Sarah menoleh dan melihat Karina yang sekarang miring menghadap kearahnya. Sarah menatap wajah Karina yang merona merah. Dia melihata Karina menatapnya dengan pandangan yang membuat dadanya berdesir.
Sarah tahu tatapan itu. Pandangan mata Karina terlihat sendu dan ada gairah yang terpancar darinya. Sarah sadar kalo sahabatnya itu ternyata juga horny seperti dirinya saat ini.
“Kamu cantik, Sar.”, kata Karina dengan suara bergetar. Karina tak sanggup lagi menahan gairah yang terasa menjalar di sekujur tubuhnya. Perlahan dia menggerakkan jemarinya mengusap pipi Sarah, menyusuri hidungnya yang mancung serta bibirnya yang penuh dan sexy. Karina semakin mendekatkan wajahnya ke arah Sarah.
“Karin. Apa yang kam…mmpphh….”, kata-kata Sarah terpotong saat tiba-tiba Karina menciumnya dengan mesra. Sarah agak kaget pada awalnya. Tapi tak lama kemudian dia membalas ciuman Karina dengan tak kalah mesranya.
Dua gadis cantik yang dilanda nafsu birahi itu kini berciuman dengan penuh gairah. Sarah belum pernah berciuman dengan seorang gadis. Awal nya dia kaget atas perbuatan Karina tapi lambat laun dia pun larut dalam ciuman sahabat dekatnya itu. Ciuman Karina berbeda dengan ciuman yang dilakukan cowok-cowoknya. Ciuman itu terasa begitu lembut tapi tak kalah panasnya.
Mereka saling memainkan lidah mereka. Entah kenapa, Sarah merasa kalau Karina seakan tahu apa yang diinginkannya. Bibir dan lidah Karina menciumnya persis seperti apa yang dia inginkan. Mungkin karena Karina juga seorang cewek hingga ia tahu pasti apa yang diinginkan oleh cewek.
“Hhhmmpp… Karin…sstt…hhmmpp…”, desis Sarah. Karina terus mencium bibirnya dengan hangat. Jari-jari Karina yang lentik bermain menyusuri kulit Sarah.
Sentuhan Karina terasa lembut, menyusuri tubuhnya dengan rabaan yang agak mengambang. Tapi hal itu malah membuat Sarah merasa bulu tengkuknya berdiri dan gairahnya naik dengan cepat.
Karina larut dalam gairahnya. Sarah adalah orang yang palaing dicintainya. Sudah terlalu lama Karina selalu memimpikan saat seperti ini. Saat dia bisa merasakan lembutnya kulit Sarah, menyentuh seluruh lekuk tubuhnya yang sexy.
Saat dimana ia bisa mencium bibir Sarah yang sensual, begitu penuh, begitu menggairahkan. Dan Sarah ternyata tak menolak apa yang ia lakukan terhadap dirinya. Desahannya terdengar begitu merdu di telinga Karina.
“Sarah mmmhhh…..”, desis Karina. Karina menciumi setiap bagian wajah Sarah, bergerak ke belakang telinganya, membuat Sarah, sahabatnya, mendesis makin keras. Leher jenjang Sarah menjadi sasaran Karina berikutnya.
“Aaahh….Karin……”, desis Sarah. Gadis itu kini terlarut dalam gairah yang membara dari dalam dirinya. Awalnya dia merasa sedikit aneh dengan perbuatan Karina. Sarah tak pernah bercumbu dengan wanita, membayangkannya pun belum pernah. Tapi kenikmatan yang dirasakannya sekarang, membuat Sarah tak bisa menolak cumbuan Karina.
Karina terus menyusur ke bawah. Kini dihadapannya sudah terpampang payudara Sarah yang terbungkus bra. Montoknya payudara Sarah membuat branya tampak seperti kekecilan.
Tapi semua itu malah membuat payudara Sarah membentuk belahan payudara yang indah dan membuat gairah Karina semakin terbakar. Karina menciumi pundak Sarah.
Saat bibirnya bertemu dengan tali bra yang dikenakan Sarah, Karina menggunakan giginya untuk menarik dan menggeser tali bra itu ke samping lengan Sarah. Karina bergerak ke sisi lain pundak Sarah dan melakukan hal yang sama.
Dengan lidah dan bibirnya Karina bergerak menyusuri belahan dada Sarah. Dia menggigit cup bra Sarah lalu menariknya turun. Karina juga melakukan hal yang sama dengan cup bra Sarah yang satunya. Dan usahanya itu berhasil.
Kini Karina dapat dengan bebas melihat payudara Sarah yang selalu diimpikannya. Payudara itu begitu montok dan besar. Bergerak naik turun karena nafas Sarah yang makin tak beraturan. Putting Sarah terlihat mengeras dan berdiri menantang.
Sarah sendiri begitu terbuai dengan permainan sahabatnya. Basahnya lidah Karina dan lembut bibir Karina yang menyusuri tubuhnya menimbulkan kenikmatan. Sentuhan Karina begitu lembut, begitu halus namun terasa hangat dan membangkitkan gairahnya. Bahkan hembusan nafas Karina yang menerpa kulitnya juga membuat tubuh Sarah merinding.
“Ssttt…Karin. Kita nggak bol aaaahh……”, kata-kata Sarah terhenti saat dia merasakan lidah Karina menjilat putingnya. Sarah yang awalnya berusaha menghentikan tindakan Karina, akhirnya hanya bisa mendesah keenakan.
Apalagi saat bibir Karina mulai menghisap putting payudaranya dan membuat putingnya mengeras karena gairah. Sarah juga bisa merasakan remasan jemari Karina yang bagaikan memijat payudaranya yang montok dan membuat ia melupakan rasa canggungnya dan larut dalam birahi.
“Mmmpphh…sluurpp…tetek kamu montok banget Sar. Aku pengen bisa punya tetek kayak kamu hhmmmppp…..”, kata Karina di sela-sela keasyikannya mengerjai payudara Sarah.
“Uughh… hisap terus Karin ssttt……remas yang kuat aaghhh……”, desis Sarah. Tangannya mengelus rambut Karina dan menariknya agar Karina makin tenggelam dalam montoknya bukit payudara Sarah.
Karina mungkin tak akan pernah bosan mencumbu payudara montok Sarah. Tapi sekarang dia ingin menikmati seluruh tubuh Sarah. Perlahan ciuman Karina makin turun, menyusuri perut Sarah yang rata. Dia menjilati pusar Sara yang membuat gadis sexy mendesah makin keras.
Karina mengerakkan tubuhnya ke bawah agar dia bisa lebih leluasa meneruskan eksplorasinya. Ciumannya terus menyusur ke bawah. Karina sengaja melewatkan bagian selangkangan Sarah. Dia berencana menikmati bagian yang terbaik untuk saat terakhir.
Ciumannya menyusuri paha Sarah dan kaki jenjangnya. Karina mengambil posisi duduk di bagian bawah Sarah yang masih terlentang menikmati kenikmatan yang diberikan sahabatnya itu. Karina memegang telapak kaki Sarah, lalu didekatkan kemulutnya. Karina mencium, menjilat bahkan menghisap jari-jari kaki Sarah.
“Ssstt….Karin aahh….”, desis Sarah. Sarah belum pernah merasakan yang seperti ini. Karina bahkan tak merasa jijik menjilati jari-jari kakinya. Bahkan pacar-pacarnya belum pernah melakukan hal ini padanya. Dan ternyata dia sangat menikmatinya.
Karina meneruskan eksplorasinya kembali naik keatas. Bibir dan lidahnya bergerak menyapu kaki Sarah dengan hangat dari telapak kaki, betis, sampai ke paha gempal Sarah. Perlahan tangan Karina bergerak menuju celana dalam yang dikenakan Sarah.
Jemarinya mengait di tepian celana dalam itu, lalu menariknya perlahan, sampai akhirnya celana dalam Sarah terlepas dari sepasang kaki jenjangnya. Kini posisi Karina tengkurap di ranjang bagian bawah. Kepalanya berada di antara kaki Sarah yang mengangkang lebar.
Dia begitu terpesona melihat serambi lempit Sarah. Sarah ternyata mencukur bulu yang ada dikemaluannya kecuali sedikit di bagian atasnya yang dipotong rapi berbentuk segitiga kecil. Terlihat begitu sexy dan erotis. Karina mengangkangkan kaki Sarah lebih lebar hingga kini serambi lempit Sarah mulai membuka dan Karina bisa melihatnya dengan lebih leluasa.
serambi lempit Sarah begitu indah di mata Karina. Belahan serambi lempitnya masih tampak rapat dan bibir serambi lempitnya masih tampak rapi dan tak menggelambir. Padahal Karina tahu persis kalo Sarah sudah tak perawan lagi.
Bahkan dia sering ML dengan pacar-pacarnya. Tapi serambi lempit Sarah masih berbentuk begitu indah. Karina kagum karena Sarah ternyata wanita yang bisa merawat bagian dari dirinya yang paling berharga dengan baik.
“serambi lempit kamu bagus banget Sar. Kamu bener-bener pinter ngerawatnya.” puji Karina pada Sarah, sahabatnya dan juga wanita yang paling dicintainya. Wajah Sarah agak bersemu merah. Pujian Karina membuatnya begitu bangga. Pujian itu lebih berarti karena keluar dari seorang wanita seperti Karina.
Pujian dari laki-laki dianggapnya biasa karena laki-laki sudah ditakdirkan untuk mengagumi kecantikan seorang wanita. Tapi wanita jarang mengakui kecantikan wanita lain. Hal ini membuat pujian Karina membuat perasaan Sarah melambung.
“Karin… mmmm….aahhhh……”, desis Sarah saat Karina mulai memainkan lidah dan bibirnya lagi. Permainan Karina benar-benar memberikan kenikmatan yang lain buat Sarah. Karina begitu sabar membangkitkan gairahnya.
Dia tak terburu-buru menikmati serambi lempit Sarah yang sudah basah oleh cairan kenikmatannya. Awalnya Karina hanya menciumi bagian dalam pahanya dan daerah sekitar memk Sarah yang membuat Sarah makin belingsatan. Kemudian perlahan mulai bergerak menyusuri belahan serambi lempitnya.
Sarah dapat merasakan hangatnya lidah karina yang menyapu belahan serambi lempitnya secara penuh dari atas ke bawah, bahkan sampai ke lubang pantatnya. Tangan Karina juga meremas pantat Sarah yang membulat penuh dengan hangat dan mesra.
Sarah sudah benar-benar larut dalam gairah birahinya. Memang pacar-pacarnya juga sering mengoral Sarah dengan menjilati serambi lempitnya. Tapi permainan Karina kali ini benar-benar memberinya kenikmatan yang lain.
Karina seakan-akan tahu bagian serambi lempit Sarah yang perlu dimainkan dan kapan memainkannya. Mungkin karena Karina juga seorang cewek hingga ia tahu persis apa yang diinginkan cewek sexy yang sedang dilanda birahi seperti Sarah sekarang ini.
Karina sendiri juga begitu menikmati keadaan ini. Gadis berwajah cantik khas oriental itu seakan tak akan pernah bosan mempermainkan serambi lempit Sarah. Setiap desahan kenikmatan yang keluar dari mulut Sarah bagaikan stimulan yang makin membangkitkan gairah birahinya sendiri. serambi lempit Karina pun mulai basah hanya dengan mencumbu serambi lempit sahabatnya, Sarah.
“Sllurrpp…..mmm…..”, Karina masih terus asyik bermain di serambi lempit Sarah.
“Uugghhh….Karin aahh…..”, desah Sarah makin keras. Apalagi saat Karina mulai memainkan klitorisnya, menjilat bahkan menghisapnya kuat-kuat. Bahkan Karina juga mulai memasukkan jari-jarinya ke serambi lempit Sarah dan mengocoknya.
Sekitar sepuluh menit-an Karina terus mempermainkan serambi lempit Sarah, sampai akhirnya tubuh Sarah mulai menggeliat tak beraturan. Sarah merasakan gelombang kenikmatan itu menyapunya. Rasa nikmat itu menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Aaaagghh…. Karin… aku uggh…dapet…..aahhhhh……”, jerit Sarah saat orgasme itu datang. Tangannya menekan kepala Karina agar tak lepas dari serambi lempitnya. Pahanya menjepit Karina.
“Hhmmpp…hhmmmppp…..”, gumam Karina. Karina dapat merasakan kalau Sarah mulai merasakan puncak kenikmatannya. Entah bagaimana, hal itu bahkan memicu gelombang kenikmatan Karina sendiri.
Fakta bahwa Sarah, wanita yang dicintainya itu mendapat orgasme karena cumbuannya bisa membawa Karina mendapatkan kepuasannya birahi. serambi lempit Karina juga ikut berdenyut keras seperti serambi lempit Sarah yang dicumbunya.
Karina terus menghisap klitoris Sarah selama dia orgasme. Dia juga tak mau melepaskan setetes pun cairan kenikmatan yang dikeluarkan Sarah. Cairan itu dihisap dan dijilatnya sampai habis.
Setelah orgasme itu reda, Sarah pun memejamkan matanya dan mengatur nafasnya yang tak beraturan. Sarah baru membuka matanya saat dirasakannya bibirnya mendapatkan ciuman yang hangat dan penuh gairah. Saat Sarah membuka matanya, dia dapat melihat wajah Karina yang cantik sedang tersenyum padanya.
Sarah dapat merasakan tatapan mesra dan penuh kasih sayang dari mata Karina. Memori dan ingatan samar-samar mulai berkelebatan di pikiran Sarah. Dia teringat kalo seringkali dia mendapati sahabatnya itu mencuri pandang kepadanya dan menatapnya dengan pandangan mesra seperti sekarang.
Dulu Sarah hanya mengira Karina kagum dengan kecantikannya, tapi sekarang setelah dia ingat ingat lagi pandangan Karina tidak hanya memancarkan rasa kagum tapi juga penuh gairah seperti tatapan pacar-pacar Sarah. Kelebatan memori itu segera memicu suatu kesimpulan di pikiran Sarah.
“Nnngg…Karin, kamu mm…. kamu…”. Kata Sarah yang masih ragu untuk mengeluarkan opini yang baru saja terangkum di kepalanya.
“Iya, Sar. Aku cinta sama kamu. Aku sayang banget sama kamu.”, kata Karina sambil tersenyum mesra.
“Tapi kita kan….”
“Iya, Sar. Aku sendiri nggak tahu kenapa aku bisa seperti ini. Aku memang lebih suka pada cewek daripada cowok. Dan sudah dari dulu aku sayang sama kamu. Aku tahu kalau aku nggak mungkin mengharapkan cinta dari kamu. Yang aku minta cuma satu Sar.
Kamu jangan memutuskan persahabatan kita. Aku sudah cukup senang bisa berteman dengan kamu, bisa terus bersama kamu.”, kata Karina mengungkapkan perasaannya yang selama ini ia pendam. Sarah dapat melihat kasih sayang yang tulus dari mata Karina yang mulai berkaca-kaca. Hati Sarah terharu. Bukan salah Karina kalau dia menjadi seperti ini. Sarah bahkan merasa simpati pada Karina.
“Tentu saja aku akan selalu jadi sahabat kamu Karin. Dan maafin aku yang nggak akan bisa membalas cinta kamu yang tulus.”, kata Sarah sambil menjulurkan tangannya mengelus pipi Karina yang halus dan mengusap airmata yang mulai mengalir di sana.
Karina tersenyum. Dia tahu dia tak mungkin mengharapkan Sarah membalas cintanya. Hatinya sudah merasa lega karena Sarah bahkan tidak marah dan tetap mau menjadi sahabatnya, bahkan setelah kejadian barusan. Karina pun memeluk tubuh Sarah erat sebagai rasa terima kasihnya. Sarah pun membalasnya.
Saat mereka berpelukan, Sarah dapat merasakan payudara mungil Karina menempel di payudaranya yang montok. Walaupun dia baru saja orgasme, entah kenapa Sarah merasa gairahnya masih terus menyala.
Gesekan payudara mereka memberikan sensasi tersendiri buat Sarah. Dan dia tahu kalau Karina juga merasakan hal yang sama karena Sarah dapat merasakan serambi lempit Karina yang basah menempel di pahanya. Sarah juga bisa merasakan kalo Karina mulai mengesek-gesekkan serambi lempitnya di paha Sarah.
“Hmmm….kayaknya aku harus membalas perbuatan Karina kepadaku. Masak cuma aku doang yang enak? Gak adil buat Karin.”, pikir Sarah. Sarah lalu membalikkan badan Karina yang ada diatasnya hingga Karina sekarang berbaring terlentang di sebelahnya.
“Tahu nggak. Aku tadi puas banget karena permainan kamu. Bahkan nggak ada seorang pun dari pacar-pacarku yang bisa menjilati serambi lempit aku sehebat kamu.”, puji Sarah. Karina tersenyum bangga dengan pujian Karina.
” Terima kasih, Karin.”, kata Sarah lalu dia pun mencium bibir Karina dengan penuh gairah. Karina pun membalas ciuman Sarah dengan penuh gairah.
Saat Sarah melepaskan ciumannya, dia mengamati wajah sahabatnya itu dengan seksama. Sarah kagum dengan kecantikan wajah Karina. Darah oriental yang mengalir dalam diri Karina membuat gadis itu memilik kecantikan yang khas.
Sarah juga sadar kalau banyak orang yang menganggap wajahnya cantik. Tapi Sarah merasa Karina memiliki kecantikan yang lain yang tak kalah dari dirinya, bahkan mungkin lebih. Wajah Karina yang berdarah campuran itu selain eksotis juga ayu.
“Kamu cantik Karin.”, puji Sarah. Pujian Sarah membuat hati Karina melambung.
Sarah meneruskan pengamatannya turun ke bawah. Kulit Karina begitu putih, halus, dan lembut. Payudara Karina tampak mungil tapi berbentuk indah. Putingnya mencuat, membuat Sarah gemas.
“Tetek kamu juga bagus.”, puji Sarah sambil meremas payudara Karina dengan tangannya.
Karina sangat menikmati perbuatan Sarah. Tangan Sarah terasa hangat di dadanya, membuat putingnya makin mengeras dan gairahnya makin naik. Ngocoks.com
“Tapi punya aku kecil, nggak montok seperti kamu.”, kata Karina.
“Ssshhh…. kamu jangan pernah minder karena hal itu. Kamu tahu nggak, banyak cowok yang pasti pengen banget bisa melihat dan menikmati tetek kamu ini. Bahkan aku pun pengen.”, kata Sarah yang langsung mendekatkan mulutnya dan menjilati putting Karina.
“Ssttt….Sar…..aahhhh…..”, desis Karina menikmati cumbuan Sarah di dadanya. Lidah Sarah terasa hangat di putingnya dan membuatnya makin mengeras dan mencuat. Apalagi saat Sarah menghisap putingnya itu dan kadang menggigitnya lembut dengan giginya sambil menariknya sedikit.
Tangan Sarah juga tak berhenti meremas dan memijat payudara mungilnya. Karina bagaikan terbang dibuai berjuta kenikmatan. Tak pernah disangkanya kalo Sarah mau melakukan hal seperti ini terhadapnya.
Disisi lain, Sarah tak pernah mengira kalau dia ternyata menikmati mencumbu sesama wanita seperti ini. Desah kenikmatan Karina bagaikan melodi merdu di telinganya dan membangkitkan gairahnya sendiri. Perlahan tangannya menyusuri tubuh indah Karina, merasakan kelembutan kulit putih itu.
“Sarah…nngggkkk……aahh…..”, desah Karina makin keras. Karina merasakan bibir Sarah perlahan turun dari dadanya, terus menyusuri perut rampingnya dan makin ke bawah. Karina melihat Sarah kini sedang mengamati bagian tubuhnya yang paling rahasia.
“Jangan dilihatin gitu, Sar. Aku kan jadi malu.”, kata Karina.
“Buat apa malu Karin. serambi lempit kamu bagus sekali. Bahkan lebih bagus dari punyaku. serambi lempit kamu kelihatan masih sempit banget. Beruntung banget cowok yang bisa merasakan jepitan serambi lempit kamu ini.”, puji Sarah.
“Uugghhh….Saraaaahhh…..aahhh……”, Karina bahkan menjerit saat pertama kali dia merasakan jilatan lidah Sarah melibas belahan serambi lempitnya. Lidah dan bibir Sarah bergerak lincah di selangkangan Karina. Karina merasakan sensasi yang lebih dashyat daripada saat Joe melakukannya. Mungkin karena Sarah adalah orang yang dicintainya.
“Sllluurppp….mmmmm…….”, gumam Sarah sambil terus mencumbu serambi lempit Karina dengan lidah dan mulutnya. Sarah tak menyangka kalau dia akan suka melakukan hal ini.
Awalnya, Sarah hanya melakukannya karena merasa berhutang pada Karina yang melakukan hal yang sama terhadapnya duluan. Tapi lambat laun Sarah mulai menyukainya. Bahkan dia juga menyukai rasa cairan kenikmatan yang mulai merembes keluar dari serambi lempit Karina.
Sarah benar-benar kagum dengan serambi lempit Karina. Saat dia mencoba membuka serambi lempit itu lebih lebar, dia menyadari kalau serambi lempit Sarah masih sangat sempit. Dan saat Sarah mencoba memasukkan satu jarinya disana, dia dapat merasakan jepitan serambi lempit karina di jari-jarinya
“Aagggghh…Sar…auughhh…..”, jerit Karina dengan ekspresi khasnya saat Sarah menambah satu jari lagi di serambi lempit Karina.
“Kamu nggak apa-apa Karin?”, tanya Sarah kuatir.
“Ssssttt….nggak. Aku nggak apa-apa. Please terusin Sar aahh…….”, kata Karina. Sarah pun mengocok serambi lempit Karina dengan jarinya lagi. Sarah pun mulai mempermainkan klitoris Karina dengan lidahnya, sambil terus menggerakkan jarinya.
“Aaaghhh….Sar……uuufff….ssttt…..”, jerit Karina makin keras. Ekspresi khasnya yang seperti agak kesakitan tapi juga menikmati nampak menghiasi wajah orientalnya itu. Sarah yang melihatnya pun menjadi agak tak tega maka diapun memperlambat temponya dan mengocok serambi lempit Karina dengan pelan.
“Uuughhh….lebih kenceng Sar aaahhhh……aahhh…..”, pinta Karina.
Sarah akhirnya mengerti type cewek seperti apa sahabatnya itu. Sarah teringat film-film porno Jepang yang pernah dilihatnya. Cewek-cewek Jepang seringkali berlagak seperti kesakitan saat mereka bercinta. Dan rupanya Karina juga sama dengan mereka. Sarah berpikir apa mungkin itu ciri khas ras kulit kuning.
Akhirnya Sarah pun tanpa ragu lagi mulai meningkatkan tempo permainannya. Bahkan kini dia menaikkan posisi tubuhnya hingga ia berhadapan dengan Karina. Dengan begini Sarah bisa melihat wajah cantik Karina yang seperti agak kesakitan tapi juga kelihatan begitu menikmatinya. Jari-jari Sarah masih terus beroperasi di serambi lempit Karina, bahkan ia menambah satu jari lagi, hingga kini tiga jarinya mengocok serambi lempit Karina dengan liar.
“Mmmm….kamu suka diginiiin ya?”, kata Sarah.
“Aahhh…ahhh…sstt…aahhh……”, Karina tak bisa menjawab, hanya sedikit mengangguk sambil terus mendesah nikmat. Sarah pun melumat bibir Karina dengan bibirnya. Dua cewek cantik itu kembali berciuman dengan panas dan penuh gairah.
Akhirnya Karina pun tak tahan lagi setelah dicumbui Sarah, wanita yang dicintainya itu, selama hampir 15 menit. Tubuhnya menggeliat kuat sampai pantatnya agak terangkat sedikit. serambi lempitnya berkontraksi dan menjepit kuat jari-jari Sarah yang bersarang disana. Cairan kenikmatannya menyemprot deras membasahi jari-jari Sarah dan merembes keluar.
“AAAGGHHH………SARRAAAHHHH………”, jerit Karina saat orgasme itu menerpanya.
Sarah sangat senang bisa membawa Karina ke puncak kenikmatan. Dia pun lalu mencium Karina dengan mesra. Sarah mengeluarkan jarinya dari serambi lempit Karina lalu memasukkannya ke mulutnya sendiri.
“Hhhhhmmmmmm…. punya kamu enak Karin.”, puji Sarah Karina tersenyum bahagia melihat tingkah Sarah, dia makin mencintai Sarah.
“Terima kasih, Sar. Terima kasih atas semuanya.”, bisik Karina lirih. Matanya menatap mesra pada Sarah.
Sarah mencium dahi Karina dengan lembut.
“Hhhmmmm….. kayaknya sekarang aku nggak bakalan keberatan ML dengan cewek. Apalagi yang cantik seperti kamu.”, kata Sarah. Karina tersenyum bahagia.
“Nnnggg…. tapi aku juga butuh rudal cowok buat mengaduk serambi lempit ini. Dan maafin aku kalo aku nggak bisa membalas cinta kamu dengan cinta yang sama, Karin. Tapi aku nggak keberatan kalo kamu butuh orang untuk bikin kamu jerit-jerit nggak karuan kayak tadi he…he…he…”, goda Sarah.
“Iya, Sar. Aku ngerti kok. Lagian aku juga bukannya nggak pernah ML sama cowok. Walaupun aku akan lebih memilih ML sama kamu daripada cowok manapun.”, kata Karina.
“Eeehhh…jadi kamu diem-diem sudah punya gebetan baru nih. Siapa?”
“Mmmm….rahasia.”, kata Karina sambil tersenyum.
“Kok pake rahasia-rahasiaan sih? Siapa pacar kamu itu?”, kata Sarah penasaran.
“Dia bukan pacar aku kok. Tapi dia satu-satunya cowok yang bisa buat aku menikmati seks walaupun nggak dengan cewek.”, kata Karina.
“Jadi siapa cowok misterius itu?”. Sarah makin penasaran.
“Hhhmmm… dia…. rahasia dong he…he…he…..”, kata Karina sambil tertawa.
“Awas kamu ya.”, kata Sarah sambil menggelitiki perut Karina.
“Aaahhh…ha..ha…ha….aagghh…stop Sar ha..ha..”, jerit Karina yang geli karena gelitikan Sarah.
Kedua gadis itu bercanda di tempat tidur sampai hampir kehabisan nafas.
Sesaat keduanya terdiam dan mencoba mengatur nafas mereka kembali. Tapi kemudian Karina mencium bibir Sarah lagi.
“Hhmmm…. pengen lagi ya?”, goda Sarah. Karina mengangguk malu. Sarah pun melumat bibir Karina, dan mereka kembali bercumbu dengan penuh gairah.
* * * * * * * * * ** * * * * * * * * ** * * * * * * * *
Joe melihat monitornya dengan penuh nafsu. Tangannya mengocok rudalnya yang sudah tegang walaupun tadi baru saja keluar saat melihat Karina dibikin orgasme oleh Sarah, kakak kandungnya.
“Gila. Ini bakal jadi malam yang sangat panjang.”, kata Joe. Dia tak habis pikir kalo Karina dan Sarah bisa bercinta dengan panas. Bahkan tampaknya mereka kembali akan bercinta lagi, padahal Joe sudah mematikan The Click saat dia selesai ejakulasi tadi.
Tampaknya usahanya berhasil. Joe puas dapat membantu Karina agar lebih dekat dengan Sarah. Walaupun hubungan mereka bukanlah hubungan romantis seperti yang Karina inginkan, tapi tampaknya Karina tak keberatan hanya mendapatkan hubungan fisik dan nafsu semata dengan Sarah.
“Brengsek. Kalo aku terus onani kayak gini, kencanku dengan Nina besok bisa berantakan. Lebih baik aku tidur saja. Simpan tenaga buat Nina.”, kata Joe. Dia pun mematikan layar monitornya, lalu pergi berbaring di ranjang dan berusaha untuk tidur.
Good night Joe. The Show is over. Atleast, for now.
Bersambung…
Out of Control
“Uaaaghh…..akhirnya kelar juga deh.”, kata Joe sambil meregangkan kedua tangannya ke atas untuk melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku. Joe melirik ke arah jam dinding yang tergantung di dinding kamar profesor Suparman yang sekarang di tempatinya.
“Jam dua siang. Wah… ternyata butuh waktu lebih dari tiga jam untuk mengedit rekaman ini.”, kata Joe. Joe baru saja selesai mengedit rekaman adegan hot antara Karina dan Sarah, kakak perempuannya di kamar ini dua hari yang lalu (baca The Click 5).
Tapi Joe tersenyum puas dengan hasil editingnya. Berkat kamera-kamera mini milik profesor yang memilki resolusi ketajaman tinggi, Joe berhasil mendapatkan rekaman audio visual yang hot dari berbagai sudut. Kualitas suara yang dihasilkan oleh microphone mini milik profesor juga sangat bagus.
Joe menekan tombol eject pada DVD-RW laptopnya, setelah itu dia mengambil kepingan dvd hasil rekaman itu. Joe bangkit dari kursinya lalu membawa kepingan DVD itu ke lemari dan menyimpannya di sebuah kotak yang ada di lemari itu. Setelah itu Joe melompat ke atas ranjang dan berbaring disana.
Baru sekarang Joe bisa meluangkan waktunya untuk mengedit rekaman itu karena kemarin dia ada kencan dengan Nina. Kencan pertama mereka sejak mereka jadian. Joe tersenyum bila mengingat gadis itu.
Nina yang pendiam dan pemalu ternyata menyimpan bara api yang besar dalam dirinya. Joe teringat waktu dia mengambil keperawanan Nina dengan bantuan The Click. Gadis itu begitu lugu dan polos.
“Tapi kemarin aahh……”, kata Joe lirih sambil mengenang kencannya dengan Nina kemaren. Candle night dinner yang romantis, Nina yang cantik dan begitu mencintainya, membuat Joe semakin merasa yakin kalo dia tak mengambil keputusan yang salah saat menjadikan gadis itu pacarnya.
Cinta Nina yang tulus membuat hati Joe luluh dan jatuh hati pada gadis itu. Usai dinner, Joe pun mengantarkan Nina pulang ke rumahnya. Kedua orang tua Nina sedang pergi keluar kota hingga Nina pun sendirian di rumah hanya ditemani oleh pembantu wanitanya yang sudah tua dan agak budeg yang sudah tidur waktu itu.
Joe teringat saat Nina membuka pintu rumahnya dan Joe hendak berpamitan pulang, Nina menggenggam tangannya dan menariknya masuk ke dalam. Nina meutup pintu rumahnya setelah Joe masuk kedalam. Dan sebelum Joe sempat berkata apa-apa, Nina menarik kepala Joe kemudian mencium bibirnya dengan panas.
Joe masih teringat jelas bagaimana Nina dengan penuh gairah mengajaknya bercinta malam itu. Joe benar-benar tak menyangka kalo Nina yang biasanya pendiam dan pemalu itu ternyata bisa sepanas dan seliar itu. Saat Joe menyinggung hal itu, Nina hanya berkata, “you’re the ones who made me like this.”.
Mereka bercinta malam itu, dengan penuh gairah yang menyala. Bahkan Joe sama sekali tak memerlukan bantuan the Click. Mereka bercinta di sofa ruang tamu, di kamar tidur Nina, bahkan di tangga yang menuju kamar Nina di atas. Joe menginap di rumah Nina malam itu.
“Mmmm…Nina. Gue bener-bener nggak nyangka kalo loe ternyata bisa se-liar itu.”, kata Joe dalam hati sambil membayangkan peristiwa kemarin malam. Joe jr dalam celana boxer yang dikenakan Joe mulai mengeras saat kelebatan ingatan indah itu mulai berseliweran di benak Joe.
Joe masih ingat dengan jelas betapa nikmatnya jepitan serambi lempit Nina pada rudalnya, betapa erotisnya desahan Nina saat Joe mengulek serambi lempitnya itu dengan rudalnya dan menyemprotkan maninya ke dalam liang yang seperti hidup itu.
Joe masih ingat kalo dia seakan tak pernah bosan mencium bibir Nina yang manis, mencumbu tiap inchi kulit Nina yang putih dan lembut yang membungkus tubuh indahnya. Entah berapa kali mereka bercinta sampai akhirnya merka berdua tertidur sambil berpelukan di kamar Nina malam itu.
Joe tersenyum saat mengingat bagaimana Nina membangunkannya dari tidur keesokan paginya. Joe hanya merasa rudalnya di selimuti oleh benda hangat dan basah. Saat dia membuka matanya tadi pagi, Joe melihat Nina sedang mengulum Joe jr. dalam mulutnya. What a wonderful way to wake up in the morning. Mereka bercinta sekali lagi di kamar mandi sebelum Joe akhirnya pulang kerumah.
“Kak Joe! Kakak dimana?”, suara teriakan itu membuyarkan lamunan jorok Joe.
“Gue di kamar. Masuk aja.”, sahut Joe karena dia hafal betul suara itu. Dugaan Joe tak salah saat beberapa saat kemudian pintu kamarnya terbuka dan Joe melihat seorang gadis yang manis dan imut nongol di pintu kamarnya.
Gadis itu adalah Dini, adik perempuan Joe yang masih duduk dibangku SMU. Tampaknya dia baru saja pulang dari sekolah karena Joe melihat dini masih mengenakan seragam putih abu-abunya.
“Met siang kakakku yang baik. Udah siang begini kok masih tiduran sih? Nggak ada kuliah ya kak?”, oceh Dini dengan suaranya yang riang dan manja. Senyuman manis menghiasi bibirnya yang juga manis itu.
“Mmmm…nih anak pasti lagi ada maunya.”, gerutu Joe sambil pura-pura merengut. Dini hanya tertawa melihat kakak laki-lakinya yang merajuk.
“Idih..kak Joe. Kok curigaan gitu sih. Emang nggak boleh kalo seorang adik nanyain kabar kakaknya sendiri?”, kata Dini.
“Udah. Gue udah apal banget sama tingkah loe. Lebih baik loe ngomong aja sekarang.”, gerutu Joe.
“He..he..he..kak Joe bisa aja. Ini nih kak. Tolongin Dini ngetik makalah ini dong kak. Dini sudah bikin pake tulisan tangan, jadi kakak tinggal ngetik aja. Please????”, kata Dini sambil menyunggingkan senyum manisnya. Joe tahu kalo dia tak akan sanggup menolak permintaan Dini kalo adik perempuannya itu sudah tersenyum manis seperti itu.
“Iya.. iya… sini.”, kata Joe sambil bangkit dari tempat tidur lalu duduk lagi di kursi yang terletak di depan meja tempat laptopnya berada. Dini tersenyum girang lalu memberikan setumpuk kertas yang penuh dengan tulisan tangannya yang cukup awut-awutan.
“Tahu ngga Din? Gue yakin loe nantinya pasti bisa berhasil jadi dokter seperti cita-cita loe.”, kata Joe.
“Iya dong. Dini kan pinter.”, jawab Dini bangga. Hidungnya kembang kempis karena bangga.
“Nggak. Bukan karena itu. Tapi karena tulisan tangan kamu sudah mirip kayak dokter yang lagi nulis resep. Kayak cakar ayam, melungker-melungker nggak karuan.”, jawab Joe enteng.
“Yee…yang penting itu isinya bukan tulisannya.”, jawab Dini.
Joe tak menghiraukan Dini lagi karena dia sekarang harus berkosentrasi penuh untuk bisa membaca tulisan Dini yang berantakan itu agar dia bisa mengetiknya. Sementara itu Dini menyalakan cd player milik Joe yang dipasang di kamar itu, mengambil majalah di atas meja, melompat ke atas ranjang, lalu membaca majalah itu sambil tiduran.
Baru sekitar sepuluh menitan Joe mengetik makalah Dini saat pemuda itu mulai merasa nggak bisa fokus dan kosentrasi. Alunan nada hingar bingar yang ceria dari My Chemical Romance dalam Teenager memang terdengar keras memenuhi kamar ini, tapi itu sama sekali bukanlah hal yang bisa mengganggu kosentrasi Joe.
Joe sudah biasa belajar atau mengerjakan sesuatu diiringi dentuman musik yang memenuhi telinganya dan itu sama sekali tak pernah mengganggunya. Joe kehilangan kosentrasinya karena di kepalanya sekarang dipenuhi ingatan tentang panasnya percintaannya dengan Nina semalam. Joe ngerasa gairahnya bangkit.
“Dasar otak ngeres. Kenapa aku mikirin hal ginian terus? Hhhmmmm…kayaknya aku bener-bener jatuh cinta sama Nina. Sampai-sampai aku nggak bisa ngilangin dia dari pikiranku.”, pikir Joe dalam hati. Joe berusaha mengusir semua ingatan indahnya bersama Nina dan mencoba berkosentrasi untuk mengetik makalah Dini.
Tapi Joe tak berhasil, gairah itu tetap ada malah kian menjadi. Kini tidak hanya ingatan bersama Nina yang menghinggapi otak kotornya, Joe teringat pertarungan panasnya dengan mbak Rita dan Profesor Suparman, juga waktu dia akhirnya menikmati tubuh sexy mbak Rita, ibu muda favorit perumahan ini, sendirian kala suaminya tak ada.
Saat dia mengusir ingatan tentang mbak Rita, malah muncul kilasan permainan cintanya dengan cewek yang jadi cinta pertamanya, Karina. Kemudian berganti dengan kelebatan beyangan Karina yang sebenarnya seorang lesbian sedang bercinta dengan Sarah, kakak kandung Joe yang model cantik itu. Joe jr. dalam celananya bagaikan mengamuk, menggeliat tak nyaman.
“Aaaghhh….kenapa aku ini? Kenapa aku jadi gampang horny ini sejak aku memiliki The Click? The Click???! Jangan-jangan……….”, pikir Joe dalam hati saat kemudian sebuah dugaan melintas di kepalanya. Joe teringat akan The Click yang tadi dia letakkan begitu saja di atas ranjang.
Joe segera membalikkan tubuhnya dengan memutar kursinya. Kursi yang sedang digunakan Joe memang bisa berputar dengan bebas hingga ia tak perlu bangkit berdiri untuk membalikkan badannya.
Ketika Joe berbalik, dia begitu kaget dengan apa yang dilihatnya. Joe melihat Dini, adik perempuannya itu, sedang tiduran diranjang. Matanya terpejam, bibir manisnya sedikit terbuka. Tangan kiri Dini diletakkan di dadanya sendiri.
Baju seragam sekolahnya terlihat agak kusut karena tangan Dini menekan ke arah payudaranya dan menggesek-geseknya walaupun Dini melakukan dengan gerakan tak kentara. Rok abu-abunya agak tersingkap keatas hingga Joe bisa menikmati mulusnya paha adik perempuannya sendiri.
Tangan kanan Dini terlihat dia selipkan diantara kedua kakinya. Walaupun Joe tak bisa melihat dengan jelas, tapi dari gerak tangan Dini yang hampira tak kelihatan, Joe dapat menduga kalo Dini sedang bermasturbasi dengan mempermainkan serambi lempitnya dari balik celana dalamnya. Sejenak Joe hanya diam terpana melihat pemandangan yang erotis itu.
“Hey, Din. Ngapain kamu?”, hardik Joe. Walaupun dia terangsang melihat Dini seperti itu tapi hatinya agak merasa risih karena yang dilihatnya itu adalah adik perempuannya sendiri. Dini begitu kaget dengan suara Joe. Dengan cepat Dini mengganti aksinya 180 derajat.
Tangannya yang tadinya meremas payudaranyanya sendiri, kini bergerak menepuk dadanya sesuai dengan hentakan irama lagu. Demikian juga dengan tangannya yang tadi bermain di selangkangannya, dengan cepat segera berganti dengan gerakan menepuk pahanya sesuai irama lagu. Tapi perubahan gerak yang tiba-tiba itu jadi tampak kaku dan Dini kelihatan agak salah tingkah.
“Ah nggak. Di..dini nggak lagi ngapa-ngapain kok. Cuman dengerin musik doang.”, jawab Dini agak gugup. Tapi sekarang Joe tak memperdulikan tingkah adiknya itu. Ada hal yang lebih penting mengganjal di pikirannya saat dia tak melihat The Click di ujung tempat tidur tempat tadi dia meletakkannya.
“Din, kamu lihat kotak kecil hitam nggak?”, tanya Joe buru-buru.
“Kotak apaan?”, jawab Dini menatp kakaknya dengan heran. Gadis yang masih duduk di bangku SMU itu bingung kenapa Joe tiba-tiba bertanya seperti itu.
“Itu….mmm…kotak kecil yang warnanya hitam, terus ada tombol hati disalah satu sisinya berwarna merah muda. Kamu lihat nggak?”, desak Joe.
“Oooh….yang itu. Emangnya itu kotak apaan sih? Tadi Dini nemuin di atas ranjang, trus Dini pencet-pencet tombolnya tapi nggak bisa terbuka atau apalah.”, jawab Dini. Ngocoks.com
“Kamu pencet??! Shit!!! Trus dimana kotak itu sekarang?”, tanya Joe kuatir karena sekarang dia tahu kalo The Click sudah diaktifkan Dini tanpa sengaja. Itulah sebabnya Joe jadi ngerasa horny kayak gini.
“Hhmm dimana ya?? Tau ah. Dini sendiri lupa Dini naruhnya dimana. Emangnya penting banget ya kak? Kenapa sih?”, kata Dini tak sadar akan tindakannya mengaktifkan The Click tanpa sengaja itu resikonya bisa gawat.
“Udah nggak usah banyak tanya. Sekarang lebih baik loe bantuin kakak nemuin kotak itu. Kalo ketemu lekas kasih ke aku.”, kata Joe sambil bangkit dari duduknya. Joe pun mendekati ranjang dan mulai memeriksa ranjang itu untuk mencari The Click karena terakhir kali dia meninggalkannya disana.
“Iya…iya…Dini bantu cariin.”, jawab Dini. Kakak beradik itu pun sibuk mencari kotak hitam itu di atas ranjang.
“Uuff…untung aja kak Joe nggak tahu kalo tadi aku….mmm…apa dia tahu ya? Aduh, aku alu banget.”, pikir Dini dalam hati. Dini sendiri nggak tahu kenapa dia tadi tiba-tiba merasa gelisah dan gadis remaja itu tiba-tiba saja teringat cerita temen-temen ceweknya tentang pengalaman mereka pacaran.
Waktu mereka ciuman, atau pacarnya meraba tubuh mereka. Tita, salah satu sahabat Dini, pernah cerita kalau dia sampai merinding waktu pacarnya meremas payudaranya dan menggesek serambi lempitnya. Dini sendiri belum pernah pacaran, apalagi ciuman atau melakukan hal yang lebih jau dengan cowok.
Entah kenapa tadi tiba-tiba Dini ingin mencoba hal yang pernah dilakukan teman-temannya. Awalnya Dini meraba dan meremas lembut payudaranya sendiri. Awalnya Dini merasa biasa aja, tapi lama-lama Dini merasa ada perasaan lain yang membutanya tak menghentikan perbuatannya.
Dini memejamkan matanya, pikirannya membayangkan cowok-cowok keren di sekolahnya. Gadis remaja itu membayangkan kalo cowok itu yang meremas payudaranya. Dini merasakan nikmat. Kemudian Dini mulai meraba celana dalamnya dan menggesek-gesek serambi lempitnya lewat kain celana dalamnya yang tipis.
“Hhmmm….Tita bener juga. Aku juga merasa merinding. Sstt…tapi enak.”, pikir Dini kala itu. Gadis yang masih duduk di bangku SMU itu pun asyik dengan permainan barunya sampai tiba-tiba kakaknya mengagetkannya.
“Aduh…apaan sih kak?”, kata Dini kesal ketika Joe yang mencari kotak itu sambil kebingungan tanpa sengaja menabrak dirinya hingga kini tubuhnya setengah ditindih kakak lelakinya itu. Joe benar-benar tak sengaja melakukannya. Dia begitu kebingungan hingga hal itu pun terjadi.
Entah kenapa mereka berdua tetap diam dalam posisi itu. Joe tiba-tiba merasa mencari The Click itu di ranjang bersama Dini merupakan ide yang sangat buruk. Kini dia begitu dekat dengan adik perempuannya itu.
Wangi tubuh Dini terasa menggoda hidungnya. Tanpa sadar Joe pun menyorongkan wajahnya dan menempelkan hidungnya dekat sekali dengan leher Dini, adik perempuannya itu.
“Mmm…kamu wangi banget Din. Kamu pake parfum?”, kata Joe lirih. Hidungnya mengendus wangi tubuh Dini pada leher gadis remaja itu. Wangi tubuh Dini membuat Joe merasa nyaman hingga ia tetap mendekatkan wajahnya di leher Dini yang mulus itu.
“Ngg…nnggak kok. Dini cuman pake deodorant body spay doang.”, jawab Dini dengan suara agak bergetar. Dini merasa bulu tengkuknya meremang karena tindakan yang dilakukan Joe. Nafas kakak lelakinya itu terasa hangat di lehernya memberikan gadis remaja itu sensasi baru yang sebelumnya tak pernah ia alami.
Dini merasa nyaman hingga ia membiarkan saja kakaknya mengendus lehernya. Dini tak sadar kalo sekarang gairah birahinya meningkat.
“Dini sudah tumbuh jadi gadis yang cantik. Pasti sebentar lagi mama akan kerepotan ngadepin cowok-cowok yang bakal ngantri untuk ngapelin Dini.”, komentar Joe dalam hati dan mengagumi kecantikan adik perempuannya yang beranjak dewasa itu. Dia tak lagi mengendus leher Dini.
Joe hanya menatap wajah Dini yang manis dan imut itu dari dekat. Dini juga balik menatapnya dengan pandangan sayu dan agak aneh. Nafasnya terdengar agak berat.
Entah siapa yang mulai, tiba-tiba saja bibir mereka berdua sudah melekat dan kakak beradik itu pun segera terlibat dalam ciuman yang panas dan penuh gairah.
“Mmmpp……mmmpppp….”, gumam mereka berdua dalam ciuman itu. Bibir Joe melumat bibir Dini yang manis mengemaskan itu. Bibir Dini mengingatkan Joe pada artis remaja yang sedang naik daun, Chelsea Olivia.
Bibir itu begitu manis dengan bagian atas yang agak sedikit meruncing, hingga bibir itu selalu kelihatan menggoda. Bukan meruncing monyong, hanya sedikit saja mempunyai garis lekuk yang jelas dan membuat laki-laki manapun selalu ingin melumatnya.
Dini sendiri begitu menikmati ciuman yang boleh dibilang ciuman pertamanya itu. Dii bisa merasakan bibir kakaknya yang mengecup lalu melumat bibirnya. Dini begitu menikmati ciuman pertamanya itu dan gadis remaja itu pun membalas ciuman Joe dengan insting alaminya sebagai seorang gadis.
Dini merasa lidah Joe berusaha menyeruak masuk ke dalam mulutnya. Kemudian lidah itu mengait-ngait seakan mengajak lidah Dini untuk bercanda. Dini pun menanggapinya dan mulai menggunakan lidahnya dalam ciuman yang panas itu. Dini merasa Joe menciumnya dengan hangat dan sabar, seakan memberi petunjuk pada Dini bagaimana caranya berciuman. Dini pun mengikuti gerakan bibir dan lidah Joe.
“Mmmmppp….inikah rasanya ciuman itu? Pantes aja banyak temen Dini yang suka ngelakuinnya sama pacar mereka. Ini asyik banget mmmppp….”, pikir Dini dalam hati sambil terus meladeni ciuman kakak lelakinya itu.
Gadis remaja yang baru duduk di bangku SMU itu pun larut dalam gairah yang baru dialaminya itu. Dini seakan tak memperdulikan kalo yang diciumnya itu kakak kandungnya sendiri. Pikiran gadis remaja itu kini hanya dipenuhi keinginan untuk merasakan pengalaman baru yang sebelumnya hanya pernah ia dengar dari temen-temennya itu.
Joe kini sudah larut dalam gairah birahinya yang menyala karena pengaruh The Click. Joe seakan tak ingat lagi kalo yang sedang dicumbunya itu adik kandungnya sendiri. Kalaupun hal itu sempat melintas di pikirannya, pengaruh The Click tampaknya sudah benar-benar merasuki Joe hingga ia malah menganggap hubungan tabu ini malah semakin menyalakan api gairahnya.
Bibirnya terus melumat bibir Dini, adik perempuannya itu. Bahkan kini tangan Joe mulai ikut beraksi. Jari-jarinya dengan lincah mulai melucuti kancing seragam SMU yang dikenakan Dini.
“Aaaahhh…kak Joe mmmm……”, desis Dini saat Joe mulai mendaratkan cumbuan biirnya ke leher gadis itu. Gairah yang baru kali ini Dini rasakan itu semakin membutakan mata gadis remaja itu.
Bahkan Dini sedikit mengangkat tubuhnya saat Joe mulai mencoba melucuti seragam sekolahnya hingga kakak lelakinya itu dengan mudah segera bisa melepas seragam sekolah Dini lalu melemparnya entah kemana.
Dini juga seakan memberi akses pada Joe untuk melepaskan bra yang dikenakannya juga. Tentu saja pemuda yang sudah gelap mata itu pun tak menyia-nyiakan kesempatan hingga tanpa waktu lama bra Dini pun ikut melayang mengikuti seragam putihnya.
Sejeanak Joe menghentikan cumbuannya untuk menikmati indahnya tubuh bagian atas Dini, Adik perempuannya itu yang sudah telanjang. Payudara Dini yang ranum dan belum mekar sepenuhnya itu memiliki keindahannya sendiri buat Joe.
Tentu saja Joe tak bisa membandingkan payudara Dini dengan wanita-wanita lain yang pernah tidur dengannya karena perbedaan usia mereka. Bukit payudara itu masih tampak seperti gundukan kecil saja tapi bentuknya indah dan kencang.
Putingnya terlihat imut dan kelihatan sedikit malu-malu karena masih tersembunyi dalam gundukan bukit mungil itu. Tapi payudara itu sudah memperlihatkan kekencangan dan kelembutan kulitnya walaupun Joe belum memegangnya.
“Toket kamu oke juga Din cup…cup…mmmhhh…..”, puji Joe lalu pemuda itu mulai mencumbui bukit mungil itu. Joe menciumi payudara Dini mulai dari belahan tengan kedua bukit itu, lalu bergerak mengitari bukit mungil itu. Joe seakan ingin menelusuri tiap mili dari payudara Dini.
“Mmmpp….kak.”, desah Dini menikmati cumbuan Joe. Baru pertama kali ini payudara Dini disentuh oleh lelaki lain. Joe begitu sabar dan semakin pintar mencumbu wanita. Joe sengaja mencumbu seluruh bagian payudara Dini selain putingnya. Hal ini dilakukannya untuk membangkitkan gairah Dini.
Dini merasa payudaranya mengencang dan putingnya perlahan mulai mengeras dan mulai mencuat muncul dari tempat persembunyiannya. Gairah Dini makin meningkat dan Dini merasa penasaran, putingnya seperti iri hati dengan bagian payudara yang lain dan meminta untuk dicumbu juga.
“Sstt…kak Joe…”, desisi Dini sambil tangannya memegangi kepala Joe. Joe bisa merasakan kalo tangan Dini berusaha mengarahkan cumbuan Joe ke arah putingnya. Joe masih menggoda Dini, adik perempuannya itu dan tetap tak mencumbu putingnya. Tapi tak lama kemudian di saat yang tak disangka-sangka Dini, Joe tiba-tiba saja melumat dan menghisap putting Dini dengan bibirnya.
“Aaaaghhh…..kak Joe…….”, jerit Dini sambil melengkungkan tubuhnya agak keatas. Dini bagaikan tersengat listrik. Getar-getar kenikmatan yang mengalir dari putingnya itu seakan menjalar keseluruh tubuh belianya. Dini tersentak dengan perasaan ini, tapi gadis remaja itu juga menikmatinya.
Desahannya semakin keras saat Joe mulai mencumbu total seluruh bagian payudaranya. Kedua payudaranya yang ranum dan begitu sensitif itu tak henti-hentinya menerima rangsangan dari Joe, kakak lelakinya itu. Bila mulut Joe mencumbu payudaranya yang kanan, maka yang sebelah kiri akan dipermainkan jemari kakaknya yang nakal, diremas bukit payudaranya serta dipermainkan putingnya.
Tangan Joe mulai bergerak ke bawah dan berusaha melucuti rok seragam abu-abu yang dikenakan Dini, adik perempuannya itu sambil terus mencumbu payudaranya dengan mulutnya. Dini seakan tak keberatan dengan aksi Joe, karena gadis belia itu bahkan sedikit mengangkat pantatnya agar kakaknya bisa melucuti seragamnya dengan mudah. Rok abu-abu itu pun segera menyusul teman-temannya yang lain, melayang entah kemana.
“Ssstt…kak Joe…..”, desah Dini terdengart begitu erotis di telinga Joe. Joe menurunkan cumbuannya kebawah. Melalui perut Dini yang langsing rata dan terus kebawah. Joe menatap celana dalam Dini dan melihat ada bagian yang mulai basah disana. Tak sabar lagi Joe pun segera melepas celana dalam putih bergambar hello kitty yang dikenakan Dini itu.
“Wah..serambi lempit kamu bagus banget Din.”, kata Joe sambil memandangi serambi lempit Dini, adik perempuannya itu yang kini terbuka bebas. serambi lempit Dini terlihat indah dengan dihiasi bulu lembut yang jarang disana-sini. Belahannya masih tampak sangat rapat dan berbentuk seperti garis lurus. Dini tersenyum manis mendengar pujian kakak kandungnya itu.
Perlahan Joe mulai membuka belahan serambi lempit Dini dengan jemarinya. Terlihatlah dinding serambi lempit yang berwarna merah muda dan begitu segar, berkilauan karena air kegairahan Dini. Di tempat yang agak tersembunyi di bagian atas bibir serambi lempitnya, menyembul sebuah klitoris imut milik Dini.
Ssluurrpp…..mmmmm….
“Aaaaghhh…kkkakkkk….aahhh…..”, desah Dini terdengar makin keras saat gadis belia itu merasakan lidah kakaknya yang basah dan kasar menjilati belahan serambi lempitnya. Permainan lidah Joe seakan mengirimkan kenikmatan yang baru kali ini Dini rasakan. Dini hanya bisa menggeliatkan tubuhnya karena kenikmatan yang diberikan kakak kandungnya itu.
“Wah..serambi lempit kamu sempit banget Din. Jepitannya terasa kuat di jari kakak.”, komentar Joe ketika dia mulai memasukkan satu jarinya ke dalam serambi lempit adik perempuannya itu. Joe mulai mengeluar masukkan jarinya itu dalam serambi lempit Dini, tapi dia menjaga agar jarinya tak menusuk terlalu jauh sampai ke selaput dara Dini.
“Uuggh….sstt…aahhh…..”, Dini hanya bisa mendesah menikmati sensasi kehadiran benda asing di serambi lempitnya untuk pertama kalinya. Dini bisa merasakan serambi lempitnya menjepit erat jari kakaknya itu dan dinding-dinding serambi lempitnya mulai mengalirkan sensasi rasa baru ke arah otaknya. Dini ternyata begitu menikmati sensasi itu, apalagi Joe juga mulai menjilati klitoris mungil Dini dengan lidahnya sambil terus memainkan jarinya.
Joe terus mengerjai serambi lempit adik perempuannya itu selama lima menit lebih saat dia merasakan tubuh adiknya mulai menggeliat liar dan desahannya makin keras. Sebentar lagi Dini akan menikmati orgasme pertama dalam hidupnya dan orgasme itu dia dapatkan dari permainan lidah dari kakak lelaki kandungnya sendiri pada serambi lempitnya yang banjir oleh cairan kenikmatan gadis belia itu.
“Aaaaaghhhhh…kkkaakkk……Dddiin…Dini aaaghhh…..”, jerit Dini saat gelombang kenikmatan itu menyapunya. Tubuhnya bergetar hebat, pantatnya sampai terangkat keatas, tapi ditahan oleh Joe yang terus menjilati serambi lempitnya berusaha menghisap tiap tetes cairan kenikmatan adik perempuannya yang menyemprot dari serambi lempitnya yang perawan.
Hampir satu menitan Dini mengalami sensasi orgasme yang begitu luar biasa itu. Dini pun hanya bisa berbaring lemas dan memejamkan matanya sambil telentang di ranjang itu. Joe bangkit dan menyeka mulutnya yang belepotan cairan kenikmatan Dini.
rudalnya sudah mengacung keras sekali dan nafsu Joe sudah naik sampai kepalanya. Perlahan Joe mengambil posisi misionari diantara selangkangan Dini. Kaki Dini diangkatnya sampai lutut gadis itu ada di sebelah payudaranya.
Joe menuntun tangan Dini untuk memegangi kedua kakinya. Dini menurut dan mulai membuka matanya. Gadis belia itu paham akan apa yang sebentar lagi dilakukan Joe terhadapnya. Tapi saat ini Dini tak memperdulikan masalah moral dan sebagainya. Yang ada dalam pikirannya adalah dia ingin merasakan kenikmatan itu lagi. Tubuhnya terasa panas oleh gairah yang masih terus menyala dalam dirinya.
Joe menempelkan ujung rudalnya ke belahan serambi lempit Dini dan dia pun menatap Dini seakan meminta persetujuannya. Dini tersenyum manis pada Joe, matanya menatap sayu penuh dengan gairah yang sama.
Perlahan Joe pun mulai menekan ujung rudalnya untuk memasuki belahan serambi lempit Dini. Awalnya Joe agak kesulitan untuk melakukannya, tapi dengan kegigihannya akhirnya Joe berhasil juga. Perlahan kepala rudalnya mulai masuk ke dalam serambi lempit Dini yang sempit itu.
“Aauughh…ppeellaan..kak.”, desis Dini agak merasa kesakitan.
“Iya Din. Uughh…punya kamu sempit banget Din.”, kata Joe merasakan jepitan serambi lempit Dini pada kepala rudalnya. Joe pun mencium bibir Dini dengan penuh gairah, tangannya mulai bermain lagi pada payudara mungil Dini untuk memberikan Dini kenikmatan agar gadis belia itu bisa melupakan rasa sakitnya.
“Ssstt…aaahh….”, desis Dini yang mulai merasakan nikmat di samping rasa perih yang mendera selangkangannya karena Joe mulai menggerakkan kepala rudalnya keluar masuk secara perlahan. Joe tetap menjaga kedalaman penetrasinya hingga tak sampai menjebol selaput dara Dini dulu. Dia menunggu saat yang tepat.
Beberapa menit, Joe terus melakukan hal itu sampai dia merasakan cairan kenikmatan Dini mulai membasahi rudalnya. Tampaknya serambi lempit Dini sudah mulai bisa beradaptasi dengan benda asing yang ada di dalamnya. Joe terus mencumbu Dini di bagian tubuhnya yang lain.
Bibirnya yang manis, leher dan bahunya, payudara mungil dan putingnya yang mengeras itu terus mendapat rangsangan dan cumbuan Joe hingga Dini hanya bisa mengeluarkan desahan erotis. Selain itu Joe sengaja lebih menggesekkan kepala rudalnya ke bagian atas dari belahan serambi lempit Dini hingga kepala rudalnya itu terus menggesek klitoris Dini dengan konstan.
“Mmm…ahhh…ssttt….kak….Dini….aahhh”, akhirnya Din mulai merasakan gelombang itu akan datang lagi menerpanya. Joe pun mengetahui hal itu dari kontraksi serambi lempit Dini yang begitu liar menjepit kepala rudalnya dan sebagian kecil batangnya.
Joe tahu inilah saatnya. Berbarengan dengan orgasme yang menerpa Dini, Joe langsung melesakkan rudalnya sedalam-dalamnya ke dalam serambi lempit adik perempuannya itu, menembus selaput daranya dan mentok sampai ke dasar liang serambi lempitnya.
“Aaaaaghhh…….mmpphh…mmpp..”, Dini berteriak tapi bibir Joe segera menyekap bibirnya dengan ciuman yang penuh nafsu. Joe membiarkan rudalnya tak bergerak didalam sana. Joe harus bertahan agar dia tak keluar dulu karena kontraksi serambi lempit Dini yang begitu luar biasa saat gadis remaja itu orgasme.
Hal ini juga dilakukkannya untuk memberi kesempatan pada Dini untuk membiasakan diri setelah kehilangan keperawanannya. Mereka berdua hanya berciuman sambil berpelukan selama beberapa menit.
“Mmmpp….kamu cantik Din.”, puji Joe saat melepaskan ciumannya.
“Makasih kak Joe. Mmm…Dini seneng banget, kakak jadi lelaki pertama yang bikin Dini jadi wanita dewasa.”, kata Dini yang menatap Joe dengan wajah polos imutnya itu. Joe menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada adik perempuannya itu.
“Nnngg…kata temen-temen Dini, kalo ML pertama kali rasanya pasti sakit banget. Tapi tadi nggak sakit-sakit amat kok, malah Dini nggak ngerasain sakit waktu selaput dara Dini ditembus sama titit kakak.”, kata Dini.
“Memang seharusnya rasanya sakit tapi kalo kita tahu bagaimana melakukannya, rasa sakit itu bisa dikurangi.”, jelas Joe.
“Ohh gitu ya.”
“He eh. Eh Din, punya kakak ini bukan titit namanya tapi rudal.”
“Ah, kak Joe jorok.”, jawab Dini sambil memukul pelan dada Joe.
“Eits, siapa yang jorok? Titit itu cuma buat anak kecil. Dini kan udah gede sekarang, jadi harus nyebutin rudal. Dan rudal kakak sekarang seneng banget bisa ada dalam serambi lempit Dini.”, goda Joe. Dini tak bisa menjawab hanya tersenyum malu dan jengah mendengar kata-kata jorok kakaknya itu. Tapi entah kenapa kata-kata jorok itu membuat gairah Dini makin naik. Perlahan dia mulai memutar pantatnya.
“Mmm..kamu sudah nggak sabar ya Din he..he..”, goda Joe saat merasakan gerakan pantat Dini. Joe pun segera memulai aksinya. rudalnya dia pompa perlahan dalam serambi lempit Dini. Dini pun meresponnya dengan mendesah nikmat. Kedua bersaudara itu kini larut dalam permainan tabu itu. Mereka bercinta dengan penuh gairah.
“Aahh….aahhh….sstt…..aahhh…..”, Dini hanya bisa mendesah tak karuan menikmati persetubuhan pertamanya itu. serambi lempitnya terasa penuh akan hadirnya rudal Joe yang bergerak lincah di liangnya. Dinding serambi lempitnya yang tergesek oleh gerakan rudal kakak lelakinya itu seolah mengirimkan sinyal-sinyal kenikmatan ke otaknya dan seluruh tubuhnya.
Apalagi klitorisnya juga ikut terjepit dan tergesek oleh gerakan rudal Joe yang memompanya hingga membuat gadis remaja itu merasakan sensasi kenikmatan yang terlena. Tak hanya itu, Dini juga suka sekali saat Joe menciumnya bibirnya dengan panas, menciumi leher dan bahunya hingga belakan telinganya pun tak luput dari seangan Joe.
Payudaranya yang tertekan dan bergesekan dengan dada bidang kakak lelakinya itu juga makin mengeras, apalagi saat Joe kadang menciumi dan meremasnya gemas.
“Oh my God. Inikah nikmatnya seks itu? Uughh….enak banget. Kenapa aku tak melakukannya dari dulu?”, pikir Dini dalam hati.
“Uuughh….Din. serambi lempit kamu enak. Jepitannya terasa banget aaaahhh….”, desis Joe yang merasakan nikmatnya serambi lempit Dini, adik perempuannya sendiri itu, yang ternyata begitu sempit dan nikmat rasanya. Bahkan Joe merasa kalo serambi lempit Dini adalah serambi lempit paling sempit yang pernah dia rasakan. Dia harus bertahan sekuat mungkin agar tak keluar lebih dulu daripada Dini.
Moral dan etika sama sekali tak terpikirkan oleh dua bersaudara yang sedang dimabuk kenikmatan tabu itu. Mereka terus berpacu dengan gairahnya mencoba menggapai puncak kenikmatan mereka berdua. Joe terus menggenjot tubuh belia Dini dengan penuh nafsu.
Kini dua kaki Dini dikaitkannya di bahunya hingga Joe bisa lebih leluasa menggenjot serambi lempit adik perempuannya itu. Joe juga meningkatkan tempo permainannya hingga suara desahan mereka berdua berpadu dengan suara tumbukan pantat dan pinggul mereka serta kecipak serambi lempit Dini yang dibombardir pusaka Joe.
Lebih dari sepuluh menitan mereka berpacu saat Dini merasakan gelombang itu datang lagi padanya. Bahkan kali ini lebih dashyat dari sebelumnya. Gadis SMU itu memeluk erat kakak kandungnya yang terus menggenjot serambi lempitnya dan mendesah makin keras.
“Kkkaaakk….Dini mau …sstt…laaggii aaagghhhh….”, jerit Dini saat puncak kenikmatan itu menerpanya. Tubuh belianya menggeliat tak karuan dalam pelukan Joe. serambi lempitnya berkontraksi dengan kuat dan menyemprotkan cairan kenikmatan yang membasahi rudal Joe yang bersarang di dalamnya.
“Ooohhh…DDdiinii aaaaghhh…..”, dengus Joe yang tak bisa bertahan lagi. Jepitan serambi lempit adiknya saat orgasme begitu luar biasa dan seakan memaksa dan meremas rudalnya kuat-kuat untuk memeras segala isi batang rudalnya itu.
Joe pun menyemprotkan spermanya ke dalam serambi lempit Dini yang menggila itu. Tak terpikirkan kalo dia bisa saj membuat adik kandungnya sendiri hamil. Dini merasakan semprotan mani hangat dari rudal Joe yang menghantam dinding serambi lempitnya dan rahimnya, mengantarkan gadis itu mencapai orgasme susulan.
Joe dan Dini berpelukan sambil menikmati orgasme mereka berdua. rudal Joe masih bersarang di liang kenikmatan adik kandungnya itu.
“Mmmpp…. kamu cantik sekali Din.”, rayu Joe sambil mencium bibir manis Dini Dini membalas ciuman kakak lelaki nya itu dengan gairah yang tak kalah panasnya.
“Mmm…terima kasih kak. Dini seneng karena kak Joe sudah membuat Dini jadi wanita dewasa.”, kata Dini.
Joe pun mencium bibir Dini lagi. Kemudian Joe menggulingkan tubuhnya dan Dini tanpa melepaskan kelaminnya dari serambi lempit Dini, hingga kini Dini yang ganti berada di atas. Perlahan Joe mulai menggerakkan pinggulnya lagi dan menggenjot Dini dari bawah. Joe dan Dini masih tetap berpelukan dan berciuman mesra. Desisan mereka berdua kembali terdengar.
Mereka tetap dalam posisi ini selama beberapa saat. Kemudian Joe mendorong tubuh Dini hingga kini Dini duduk diatas tubuh Joe dengan bertumpu pada kedua lututnya yang ada di samping kanan dan kiri Joe, serambi lempit Dini masih bersatu dengan rudal Joe.
“Nah, Din. Sekarang ganti kamu yang ambil kendali. Kamu gerakin pantat kamu naik turun.”, perintah Joe pada adik perempuannya itu. Dini pun menuruti kata-kata Joe dan mulai menunggangi Joe.
“Sstt…kak…..aahhh….’, desah Dini sambil menggerakkan pantatnya naik turun, tangannya bertumpu di dada Joe.
“Yeah…gitu Din mmpp… terussss……sambil digoyangin pantatnya sayang….biar lebih enak…Yak kayak gitu aagghhh….”, Joe menikmati permainan adik kandungnya itu sambil terus memberi petunjuk pada Dini. Dini pun menuruti petunjuk Joe, dan dibantu dengan insting alaminya, tak lama kemudian Dini terlihat sudah cukup mahir menunggangi rudal kakak lelakinya itu.
Kakak beradik itu terus berpacu dalam gairah birahi mereka. Mereka tak ingat lagi kalo perbuatan mereka itu adalah hal yang tabu. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah kenikmatan yang mereka rasakan sekarang. Suara desahan mereka bersahutan diirangi kecipak pertemuan dua kelamin berlawanan jenis itu.
Dini asyik memacu tubuhnya diatas tubuh Joe. Pantatnya bergerak lincah dengan kedua tangannya bertumpu di dada Joe. Joe pun tak mau ketinggalan. Payudara Dini yang mungil dan bergoyang indah di depan matanya segera diremasnya dengan kedua tangannya. Putingnya dijepitnya dengan jari dan dipilin-pilin, membuat Dini makin mendesah tak karuan dan gerakan pantatnya makin liar.
Beberapa menit kemudian, Joe merasa gerakan Dini makin tak beraturan. Goyangan pantatnya dipercepat dan bergerak liar.
“Aaaagghh…kak Jooeee….”, teriak Dini sambil tubuhnya menggeliat liar di atas tubuh Joe. serambi lempit gadis belia itu berdenyut kencang menjepit rudal Joe. Joe merasakan cairan kenikmatan Dini yang menyembur dan membasahi rudalnya. Joe merasakan kenikmatan yang luar biasa selama Dini orgasme.
Untung saja Joe tadi sudah keluar hingga dia masih bisa bertahan dari kontraksi serambi lempit Dini yang ugal-ugalan itu. Hampir dua menitan Dini orgasme sampai akhirnya tubuh gadis remaja itu pun lemas dan Dini pun jatuh ke depan dan bersandar di dada Joe.
Joe yang belum mencapai puncaknya sendiri segera melepaskan diri dari pelukan Dini. Kemudian Joe menyuruh Dini agar duduk di ranjang, sedangkan dia sendiri segera berdiri di atas ranjang. Dini yang masih lemas menurut saja. Joe kemudian mengarahkan rudalnya ke bibir Dini.
“Mulutnya dibuka dong Din. Kakak pengen ngerasain sepongan kamu.”, kata Joe. Dini menurut dan membuka bibirnya. Gadis belia itu sebetulnya belum pernah melakukan blow job, dia hanya pernah mendengar cerita temennya.
Sebenarnya Dini agak jijik saat disuruh menjilati rudal Joe yang berlumuran cairan kenikmatannya sendiri. Tapi Dini ingat kalo tadi kakaknya juga menjilati serambi lempitnya dan tak merasa jijik, dan Dini pun merasa harus membalas perbuatan Joe tadi. Perlahan Dini mengulurkan lidahnya dan menjilati rudal Joe.
“Mmm….yeah…terus Din.”, desis Joe yang merasakan kenikamatan saat lidah Dini bergerak menyapu batang rudalnya.
“Mmm… rasanya lumayan. Not bad.”, pikir Dini sambil terus melanjutkan perbuatannya. Bahkan kini Dini mulai memasukkan rudal Joe ke dalam mulutnya dan menghisapnya seperti menghisap permen lolipop. Dini mencoba mengingat apa yang pernah diceritakan teman-temannya tentang blow job, lalu mempraktekannya pada Joe.
“Aaahhh….terus Din. Kamu pinter banget sstt…. enakkk….”, desah Joe menikmati sepongan Dini. Hati Dini senang mendengar desahan kenikmatan kakak lelakinya itu. Entah kenapa, setiap desahan Joe membuat Dini bangga karena bisa memberikan kenikmatan pada kakaknya dan Dini merasa makin bergairah seiring desah Joe yang keenakan.
Sementara itu Joe hanya bisa mendesah keenakan saat merasakan bibir adik perempuannya yang hangat dan basah. Joe tahu kalo Dini baru pertama kali in melakukan blow job, tapi tampaknya adiknya cukup berbakat dalam hal ini. Yang Dini perlukan cuma sedikit latihan.
Kedua tangan Joe memegang kepala Dini, mengelus rambutnya. Pinggulnya bergerak maju mundur hingga rudalnya seakan memenyetubuhi mulut Dini. Joe sedikit menengadahkan kepala Dini hingga dia bisa melihat wajah Dini.
Wajah Dini yang cantik, imut dan terlihat polos, dan bibirnya yang manis itu asyik menjepit rudalnya yang keluar masuk, merupakan permandangan erotis yang membakar gairah Joe.
“Uughh…terus Din. Dikit lagi aaagghhh…….”, teriak Joe saat rudalnya menyemprotkan banyak sekali mani ke dalam mulut Dini. Dini merasakan semprotan cairan Joe dalam mulutnya, dan gadis itu pun menelannya.
“Mmm…rasanya boleh juga ssluurppp…”, pikir Dini sambil asyik menjilati sperma yang tersis di rudal Joe yang mulai melemas.
Joe berusaha mengatur nafasnya. Sebenarnya Joe sudah merasa lelah, tapi gairah itu masih menyala dalam dirinya. Apalagi Dini masih asyik melumat rudalnya walaupun rudal Joe sudah melemas. Perbuatan Dini perlahan membuat Joe jr. bangkit lagi.
“Shit. Aku harus cepat menemukan alat itu. Kalo tidak aku bisa bercinta seharian denganDini.”, pikir Joe dalam hati. Tapi nafsu Joe terlanjur bangkit. rudalnya sudah berdiri lagi dengan gagahnya dan sekarang menuntut penyelesaian.
Joe pun segera turun dari ranjang dan berdiri di tepi ranjang. Lalu Joe menyuruh Dini untuk menungging dengan posisi seperti bayi merangkak, hingga pantatnya tepat didepan pinggul Joe. Dini merangkak bertumpu pada dua tangannya dan lututnya. Tanpa buang waktu, Joe segera melesakkan rudalnya ke dalam serambi lempit Dini dari belakang.
“Ugggh…kak Joe.. sstttt….aaaahhh…”, desis Dini yang tenggelam dalam birahi lagi.
Plokkk…plokkk….
Suara benturan pinggul Joe dan pantat Dini mengiringi desahan kenikmatan dua bersaudara itu. Kembali mereka memacu gairah birahi yang terlarang itu. Pantat Dini diremas Joe dengan gemas dan dijadikan pegangan untuk memacu tubuh gadis belia itu lebih kencang dan lebih keras.
Sedang asyik-asyiknya Joe memacu tubuh adik kandungnya sendiri itu, tiba-tiba matanya tertumbuk pada suatu benda yang tergeletak di dekat kaki ranjang.
“Brengsek. Ternyata benda itu ada disitu.”, pikir Joe dalam hati saat dia tanpa sengaja melihat The Click yang tergeletak di kaki ranjang. Tampaknya Dini tadi tanpa sengaja menjatuhkan The Click disitu. Pantas saja saat dia mencari di atas ranjang nggak ketemu.
Joe sadar kalo dia harus segera mematikan The Click. Tapi gairah birahinya sudah terlanjur terbangun dan menuntut penyelesaian. Maka dari itu Joe pun meneruskan permainan cintanya dengan Dini. serambi lempit Dini terus digenjotnya dengan penuh nafsu, membuat adik perempuannya itu melenguh dan mendesis tak karuan.
Sekitar sepuluh menit berlalu, saat Joe makin mempercepat irama kocokannya karena dia merasa hanya akan bisa bertahan sebentar lagi sebelum orgasme itu menerpanya.
“Kak Joe, Dini dapet lagi aaahhh……”, desis Dini sambil menggeliat tak karuan. Rupanya gadis belia itu yang tak kuat duluan. Cairan kenikmatannya membanjir membasahi rudal Joe. serambi lempitnya meremas rudal Joe, berusaha memeras keluar mani dari sana. Joe pun tak sanggup lagi bertahan.
“Din ssttt…aaahhh….”, dengus Joe yang lupa untuk menarik rudalnya hingga maninya pun muncrat membanjiri rahim adik kandungnya itu. Semprotan mani Joe dalam rahimnya membuat Dini mengalami orgasme lagi. Kakak beradik itu pun mendesis nikmat bersama-sama dalam puncak kenikmatan mereka berdua.
Tubuh Dini pun jatuh telungkup setelah orgasme itu usai. Tubuhnya terasa lemas. Joe pun demikian, tapi pemuda itu segera bergerak mengambil The Click yang tergeletak di dekat kaki ranjang, lalu mematikan alat itu. Setelah itu baru Joe berbaring lemas di sebelah adiknya. Joe menoleh ke arah Dini adik tirinya. Rasa bersalah menghinggapi hatinya. Tapi Joe melihat Dini yang tersenyum manis padanya. Tampaknya Dini tak menyesali kejadian barusan.
“Maafin kakak, Din.”, kata Joe pelan.
“Nggak apa-apa kak. Dini sayang kakak.”, sahut Dini sambil tersenyum manis. Joe merasa lega karena Dini tak menyesali kejadian barusan. Rasa bersalahnya agak berkurang. Dia melihat Dini memejamkan matanya. Tampaknya gadis itu kelelahan setelah bercinta dengannya. Tangan Joe mengusap lembut rambut adik perempuannya itu.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Uuggh…panas banget siang ini. Huh…kenapa sih Joe pake acara tinggal di rumah Profesor Suparman segala. Jadi gue deh yang kena getahnya. Mama juga. Pake nyuruh gue nganterin makan siang si Joe. Si gebleg itu kan bisa pulang sendiri.
Kalo gini kan gue yang repot.”, keluh Sarah sambil berjalan di jalanan komplek perumahan ini di tengah teriknya sinar matahari. Gadis itu melangkah santai sambil membawa rantang makanan. Walaupun Sarah saat ini hanya mengenakan kaos oblong dan celana aerobik dan dia juga sedang tak berada di atas catwalk, langkah gadis itu tetap terlihat menggoda dan sensual.
Mungkin karena kebiasaan dalam pekerjaannya sebagai model atau juga karena pada dasarnya tubuhnya memang sexy hingga berjalan biasa saja, tiap orang yang berpapasan dengannya pasti memandang Sarah dengan kagum.
Tak sampai lima menit perjalanan, Sarah sudah sampai di bangunan tua yang letaknya di pojokan komplek perumahan itu. Rumah yang cukup besar itu milik seorang professor paruh baya yang aneh yang kebetulan bersahabat dengan Joe, adik laki-laki Sarah.
Sampai sekarang Sarah masih juga tak mengerti bagaimana bisa Joe, adiknya itu bisa bersahabat dengan professor aneh itu, padahal perbedaan usia mereka cukup jauh. Bahkan Suparman, Profesor aneh itu begitu percaya pada adiknya hingga Joe disuruh menempati rumahnya selama Suparman pergi.
Sarah melangkah memasuki halaman rumah Profesor, dan menuju ke pintu depan rumah itu. Sarah langsung saja mencoba membuka pintu itu karena dia tahu Joe sedang ada disana. Gadis cantik itu bisa melihat mobil Joe yang sedang diparkir di depan rumah Profesor Suparman. Sarah langsung saja masuk kedalam rumah setelah dia membuka pintu depan yang tidak dikunci itu.
“Uuff….panas banget.”, kata Sarah sambil duduk si sofa ruang tamu setelah meletakkan rantang makanan yang dibawanya di atas meja. Sarah mengusap peluh didahinya sambil beristirahat di sofa.
Gadis cantik itu tak melihat Joe, adik laki-lakinya itu. Tapi Sarah yakin Joe sedang berada dikamar Profesor karena gadis itu bisa mendengar suara musik yang samara-samar terdengar dari celah pintu kamar yang tertutup itu.
“Gila banget tuh anak. Dinding kamar tidur si prof kan ada lapisan karpetnya gitu. Jadi boleh dibilang kamar itu ada peredam suaranya. Tapi gue masih bisa denger suara musik dari sini walaupun samar. Sekenceng apa tuh si gebleg nyetelnya???”, komentar Sarah dalam hati.
“Mas Joe!! Mas. Mas Joe!!”, terdengar teriakan seorang laki-laki dari luar rumah lewat pintu depan yang masih dibiarkan Sarah terbuka. Sarah pun terpaksa bangkit dari duduknya dengan malas. Perlahan gadis itu berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
Sarah mengintip melalui celah pintu yang terbuka. Dia melihat Mang Dudung, suami pembantunya yang sering juga bantu-bantu di rumah. Mang Dudung datang bersama seorang lelaki lain yang berbadan gemuk dan berwajah berantakan. Matanya juling, hidungnya pesek dan mulutnya agak monyong ke depan kayak Tukul.
“Ada apa Mang?”, Tanya Sarah masih dari balik pintu.
“Eh..neng Sarah. Joenya ada Neng? Tadi Joe telpon Mamang katanya minta dipanggilin tukang servis mobil buat ngebenerin mobilnya. Nah, nih die orangnya neng. Namanya Jalal. Jelek-jelek gini, dia jago masalah mobil he..he…he..”, kata Dudung.
“Sialan, loe Dung. Pake ngatain gue jelek segala.”, kata Jalal.
“Ya, udah. Biar saya panggilin si Joe , Mamang tunggu aja dulu disini.”, kata Sarah lalu gadis itu pun masuk kembali ke dalam.
Awalnya Sarah mau memanggil si Joe tapi niatnya itu ia urungkan saat gadis cantik itu ngeliat kunci mobil Joe yang tergeletak di meja. Sarah lagi males teriak buat manggil adiknya dan gadis itu mengambil inisiatif untuk menyerahkan kunci mobil itu ke mang Dudung, Dan dua orang itu pun bisa langsung memperbaiki mobi Joe. Berpikir demikian, Sarah pun segera mengambil kunci itu.
Saat Sarah hendak keluar, tiba-tiba muncul ide gila di benak gadis itu. Sarah masih ingat bagaimana dua orang lelaki yang ada di depan itu menatap tubuhnya bagaikan ingin menelanjangi dia.
“Hmmm…kalo gue godain mereka dulu kayaknya asyik nih.”¸ kata Sarah dalam hati. Sarah sangat sadar kalo dirinya cantik dan mempunyai tubuh yang indah dan sexy. Dan gadis itu memang memiliki sedikit sisi ekhibisionis dalam dirinya. Sarah sangat menikmati kalo ada lelaki yang menatap dirinya dengan kagum.
Wajahnya yang cantik dengan bibir penuh yang sensual itu pun tersenyum. Sarah menarik tepi bawah kaos oblong putih yang dikenakannya, kemudian diikatnya bagian bawah kaos itu ala pakaian pantai. Kini perut Sarah yang rata dan pusarnya pun bisa jelas terlihat.
Perbuatannya itu juga membuat kaosnya menjadi lebih ketat menempel di tubuhnya hingga mencetak jelas bukit payudaranya yang montok. Bahkan samar-samar putting payudara Sarah pun juga tercetak di kaos itu karena Sarah sedang tak memakai bra siang itu berhubung udara sangat panas dan bikin gerah.
Celana Aerobiknya yang berukuran pendek dan ketat itu mencetak bentuk pinggul yang sexy dan bongkahan pantat yang begitu menggairahkan. Paha dan kaki jenjangnya yang putih mulus pun terbuka dan terpampang jelas. Dengan langkah sensual dan senyum menggoda, Sarah pun keluar rumah.
“Ini kunci mobilnya mang Dudung. Mang Dudung sama mang Jalal langsung aja betulin mobilnya si Joe.”, kata Sarah sambil mendekati dua orang itu. Dudung dan Jalal begitu terpesona melihat Sarah yang menghampiri mereka. Gadis itu cantik sekali.
Wajahnya yang cantik dengan hidung mancung dan bibir sexy yang memerah segar tersenyum seperti menggoda. Payudaranya yang montok terlihat bergoyang dari balik kaos ketatnya. Dudung dan Jalal bahkan sampai menelan ludah melihat putting payudara yang tercetak samara dari kaos putih bertuliskan Delicious Meat itu.
Andaikan Dudung dan Jalal mengerti bahasa Inggris, tentu mereka setuju dengan tulisan itu. Didalam kaos itu memang tersimpan bongkahan daging yang sangat lezat.
“Mang! Mang Dudung! Kok malah bengong sih Mang. Ini kuncinya.”, kata Sarah sambil menyerahkan kunci mobil pada Mang Dudung yang terlihat salah tingkah karena sempat bengong tadi.
“Eh..ii.iya neng.”, jawab Dudung dengan agak gugup. Sarah tersenyum melihat dua lelaki yang dibuatnya salah tingkah. Gadis itu kemudian membalikkan tubuhnya dan masuk kembali kedalam rumah.
Sarah duduk lagi di sofa ruang depan sambil membaca komik yang berserakan di meja depan. Joe, adik laki-lakinya itu memang senang membaca komik dan seperti biasanya dia juga selalu menaruh komik-komiknya sembarangan.
Baru beberapa menit Sarah membaca komik, gadis cantik itu menaruh komik itu kembali ke atas meja. Entah kenapa pikirannya sekarang dipenuhi dengan hal-hal yang lain. Tiba-tiba saja Sarah merasakan gairah seksualnya bangkit.
Gadis itu teringat dengan percintaannya dengan pacar-pacarnya atau mantannya. Sarah memang berpendirian cukup bebas mengenai hal yang satu ini. Gadis cantik itu sudah kehilangan keperawanannya saat dia masih duduk di bangku SMU dulu.
Dan sejak mengenal kenikmatan seks, Sarah pun tak bisa melepaskannya lagi. Dia selalu melakukan hubungan seksual dengan pacar-pacarnya, bahkan terkadang dia juga melakukannya dengan orang lain asalkan cocok.
“Hhmmpp…kenapa aku jadi horny gini?”, kata Sarah lirih. Tangannya meremas payudaranya sendiri lewat kaos oblongnya. Pikiran Sarah melayang ke pengalaman seksnya yang paling akhir dengan Karina. Baru pertama kali itu Sarah bercinta dengan sesama wanita, dan ternyata dia cukup menikmatinya.
Sarah tak pernah menyangka kalo Karina, sahabat karibnya itu ternyata seorang lesbian. Tapi kemarin lusa saat Karina mengajaknya bercinta, Sarah sama sekali tak menolak. Bahkan gadis itu begitu menikmatinya.
“Ssstt….sialan Karina. Dia yang bikin aku jadi seorang biseks. Tapi mm…..cumbuan Karina memang nikmat dan begitu lain dari pada saat aku bercinta dengan cowok-cowokku. Aahhh….jilatan lidah Karina sampai bikin aku merinding mmm….”, pikir Sarah sambil terus merangsang dirinya sendiri.
Tangannya yang satu lagi sudah menyusup ke balik celana aerobiknya dan juga celana dalamnya. Jemarinya dengan lincah mengelus belahan serambi lempitnya sendiri yang mulai lembab karena gairah birahinya yang tiba-tiba meningkat tanpa sebab.
Sarah begitu asyik melampiaskan gairah nafsunya sambil memejamkan matanya dan mendesis lirih sampai-sampai dia tak menyadari kehadiran dua pasang mata yang mengamati tingkahnya dari tadi. Dudung dan Jalal sampai menelan ludah dan meneteskan liur melihat pemandangan erotis di depan mereka.
Tadinya mereka berdua hanya ingin minta air putih untuk minum saat memergoki Sarah sedang bermasturbasi di atas sofa ruang depan. Gairah birahi mereka pun naik dan dengan perlahan mereka berjalan mendekati Sarah yang masih asyik dengan aksinya itu.
Dudung sebenarnya agak merasa takut dan agak nggak enak karena Sarah merupakan anak majikan istrinya. Tapi saat dia mengikuti langkah Jalal yang mendekati Sarah, pikiran itu segera tersapu habis oleh nafsunya yang meledak-ledak.
Entah kenapa semakin dia masuk kedalam ruang tamu itu, Dudung merasa gairah birahinya semakin menguat dengan cepat. Dudung pikir itu mungkin karena sekarang dia bisa melihat sosok Sarah yang cantik dan sexy itu dengan lebih jelas. Perlahan Dudung menempati tempat di sebelah kanan Sarah, sedangkan Jalal segera mengambil tempat di sebelah kiri Sarah. Sarah yang masih asyik menikmati permainannya sendiri tak sadar akan kehadiran dua laki-laki itu.
“Mamang bantuin ya non.”, celetuk Dudung sambil tangannya ikut meremas payudara Sarah yang montok dari kausnya. Sarah begitu kaget dengan remasan tangan di payudaranya dan suara lelaki yang tiba-tiba saja berada di dekatnya. Sarah menghentikan aksinya dan membuka mata.Gadis cantik itu begitu kaget mendapati dirinya yang sudah diapit Dudung dan Jalal.
“Shit! Ke..kenapa kalian disini? Auhh…jangan kurang ajar ya. Cepat keluar!”, bentak Sarah yang begitu kaget dengan kehadiran dua lelaki itu. Sarah juga berusaha menghentikan tangan Dudung yang meremas payudaranya dengan kasar.
“Sssh…tenang non Sarah. Kami cuman mau bantu non Sarah aja kok. Kami berdua akan bikin non Sarah merasa lebih puas daripada main sendiri he..he…he…”, kata Jalal sambil tertawa. Tangannya yang besar nyelonong ke selangkangan Sarah dan mulai mempermainkan serambi lempit Sarah yang masih tertutup celana aerobiknya.
“Kurang ajar. Lepaskan! Lepaskan aku!”, Sarah berteriak dan berusaha melepaskan diri tapi kedua tangannya masing-masing dipegang erat oleh Dudung dan Jalal. Rasa marah yang tadi memenuhi benak Sarah kini mulai bercampur dengan rasa takut karena Sarah paham betul apa yang diinginkan dua orang itu yang memandangnya dengan tatapan penuh nafsu.
“Tolooonngg. Joe tol..mmphh…mmmphh…..”, teriakan Sarah segera terbungkam saat bibir Jalal yang tebal dan monyong itu melumat bibirnya. Bibir Jalal bagaikan sebuah vacuum cleaner yang dengan liar menyedot bibirnya. Lidahnya menyeruak masuk kedalam mulut Sarah.
Sarah sebenarnya merasa jijik dengan ciuman dari Jalal yang bertampang jelek, monyong lagi. Gadis cantik yang berprofesi sebagai model itu tentu saja tak mau berciuman dengan Jalal. Tapi entah kenapa seiring berjalannya waktu, tanpa sadar Sarah malah membalas ciuman Jalal. Tentu saja Jalal jadi makin senang ketika menyadarinya.
“He..he…he..gimana ciuman akang neng? Mantep kan?”, celetuk Jalal.
“Nggak!”, Sarah berusaha membantah.
“Nggak usah pura-pura deh neng Sarah. Buktinya neng Sarah juga ngebales ciuman akang. Ciuman non Sarah top abis. Kata orang kalo cewek yang jago ciuman itu pasti nyepongnya juga jago ha..ha…ha…”, celetuk Jalal.
“Ngg…nnggak…”, jawab Sarah gugup. Gadis itu berusaha membantah tapi dia juga tak bisa membantah kalo barusan tadi dia juga balas mencium Jalal. Sarah memaki dirinya sendiri dalam hati dan tak mengerti kenapa dia sampai melakukan hal itu.
Jalal kembali melumat bibir Sarah dan gadis cantik itu pun tak bisa mengelak dari serangan bibir Jalal. Apalagi tangan Jalal yang menggosok-gosok selangkangannya cukup mengganggu kosentrasinya. Entah kenapa Sarah merasa tubuhnya jadi lebih sensitive. Setiap sentuhan yang dirasakannya seakan memberikan getaran kenikmatan lebih saat ini.
Sementara itu Dudung mulai mengangkat kaos oblong yang dikenakan Sarah ke atas karena ia tak sabar untuk melihat bagian tubuh Sarah yang sering menjadi mimpinya. Mimpi Dudung pun kesampaian. Kini ia bisa melihat payudara Sarah yang montok dan indah dihiasi putting yang mencuat menantang. Kulit yang membungkus bukit indah itu sangat putih mulus hingga tanpa sadar liur Dudung sedikit menetes di sela-sela bibirnya.
“Wah…toket non montok banget mmpphh…..”, puji Dudung sambil langsung melumat toket Sarah dengan bibirnya. Bukit payudara Sarah diciuminya dengan liar bahkan kadang sedikit digigitnya hingga Sarah pun menjerit tak jelas di tengah ciumannya dengan Jalal. Putingnya yang mencuat jadi bulan-bulanan sapuan lidah Dudung yang kasar dan basah, kadang juga dihisapnya kuat-kuat.
Sarah merasa tak karuan. Hati dan logikanya mengingatkan bahwa ia tak ingin hal ini terjadi padanya. Gadis itu berkutat agar tak tunduk oleh cumbuan dua lelaki bejat itu. Tapi tubuhnya berkata lain. Seluruh tubuhnya yang sensitive terus menerima cumbuan dua orang itu dan mengirimkan sinyal-sinyal kenikmatan pada otaknya. Gairah birahinya pun meningkat kuat tanpa dapat ia cegah.
“He..he..he…ternyata non Sarah suka juga dengan permainan kita Dung. Lihat serambi lempitnya udah basah kayak gini.”, ledek Jalal yang telah berhasil menyusupkan tangannya ke dalam celana aerobic yang dikenakan Sarah, bahkan ke dalam celana dalam gadis cantik itu. Jalal senang sekali saat merasakan serambi lempit Sarah yang basah oleh cairan kenikmatannya yang mulai merembes keluar.
“Uugghh…ssttt…hentikaann..aahh…..”, desis Sarah yang mati-matian menahan agar tak larut dalam gairahnya yang menggelegak. Akal sehatnya perlahan tapi pasti mulai memudar terdesak oleh gairahnya yang menyala.
Akhirnya Sarah pun jadi lupa diri. Saat Jalal kembali melumat bibirnya, Sarah membalas ciumannya dengan tak kalah panasnya. Lidah mereka saling mengait dalam ciuman itu. Sarah pun makin membusungkan dadanya agar Dudung lebih leluasa menetek di dada yang montok itu.
Pantatnya bergerak seperti gelisah. Sedikit memutar seakan menjawab kenakalan jari-jari Jalal yang mulai bergerak mengocok serambi lempitnya. Jalal dan Dudung pun menangkap reaksi balasan Sarah itu hingga kini mereka berdua melepaskan cekalan tangan mereka pada tangan Sarah.
Dugaan Jalal dan Dudung ternyata benar. Sarah kini benar-benar sudah melupakan akal dan logikanya. Gadis cantik dan sexy itu kini sudah tenggelam dalam panasnya birahi yang semakin menyala dalam ruang tamu ini. Bahkan Sarah mandah saja saat Dudung menarik lepas kaos oblong yang dikenakannya.
“Hhmmm…..mang Dudung…mmm…..”, desah Sarah saat Dudung kembali melumat payudaranya yang montok itu dengan mulutnya. Remasan dan cumbuan Dudung di payudaranya cenderung kasar, tapi hal itu malah memberikan sensasi lain buat Sarah.
Sarah sudah benar-benar lupa kalo tadinya dia tak ingin melakukan hal ini. Bahkan naluri dan refleknya membuat tangannya terjulur ke arah selangkangan Dudung. Jemarinya yang lentik segera meraba benda keras yang berada dalam celana panjang yang dikenakan Dudung.
“Wow…kelihatannya senjata mang Dudung gede juga. Panjang dan keras mmm……” , pikir Sarah dalam hati saat tangannya meremas-remas rudal Dudung dengan lembut dari balik kain celananya.
“Mmm…enak non ughh…. Non Sarah tenang aja. Mang Dudung jamin non Sarah pasti bakalan ketagihan sama rudal mamang yang gede ini.”, kata Dudung yang merasakan remasan jemari lentik Sarah di batang rudalnya itu.
Tiba-tiba Sarah merasa celana yang dikenakannya ditarik oleh seseorang. Ternyata si Jalal mulai tak sabar dan berusaha melucuti celana Sarah. Sarah sendiri malah membantu usaha Jalal dengan mengangkat pantatnya sedikit hingga Jalal pun dengan mudah melucuti celana aerobiknya.
“Wah..wah…yang bikin celana dalem non Sarah pasti orangnya pelit. Masa celana dalam kainnya segini doang.”, komentar Jalal saat melihat Sarah hanya mengenakan celana dalam model thong berwarna hitam. Thong itu hanya berbentuk segitiga kecil yang tampak pas-pasan untuk menutupi belahan serambi lempit Sarah saja. Segitiga itu disanggah oleh tali kain kecil yang melingkari pinggul dan pantat Sarah yang montok.
“Aauughh….jangan ditarik-tarik gitu bang aahhh……”, Sarah menjerit kecil saat Jalal mencoba menarik narik thongnya ke atas hingga tali thong itu sepeti membelah belahan serambi lempit Sarah. Jalal begitu terpesona melihat belahan serambi lempit Sarah yang tanpa bulu itu. Saat dia menarik-narik celana dalam itu ke atas, talinya yang membelah pintu liang kenikmatn Sarah itu membuat bibir serambi lempit Sarah jadi tambah terlihat tembem.
“Untung aja non Sarah nyukur semua jembut non. Kalo nggak, abang yakin pasti bulu jembut non Sarah bakal nongol kesana kemari keluar dari celana dalam mini ini he..he..he..”, seloroh Jalal setengan bercanda.
“Udah, lepasin aja bang. Jangan ditarik-tarik gitu. Ntar celana dalam aku jadi molor. Itu harganya mahal.”, kata Sarah yang takut thongnya bisa rusak karena tingkah Jalal. Jalal pun menyambut perintah Sarah dengan senang hati dan segera melucuti celana dalam Sarah.
“Waduh…serambi lempit non Sarah oke banget. Gue jadi pengen ssluurpp..mmm…”, kata Jalal yang disusul oleh lidahnya yang mulai mengeksplorasi belahan serambi lempit Sarah dengan penuh nafsu.
“Aahh…ahhh….sstt….mmmmpp…aahhh….”, Sarah hanya bisa mendesis nikmat menikmati cumbuan Jalal dan Dudung. Jalal ternyata pandai memainkan lidahnya. Dengan lincah lidah itu menjilat seluruh bagian serambi lempit Sarah membuat Sarah menggeliat resah karena birahi. Dudung pun tak mau kalah.
Payudara Sarah pun terus menjadi bulan-bulanannya hingga payudara Sarah yang montok tampak makin montok dan mengeras, putingnya juga mencuat makin besar. Sarah mulai terbuai dalam permainan dua lelaki mesum itu.
“Wah…..gue udah gak tahan nih.”, kata mang Dudung sambil mulai berdiri dan melepaskan pakaiannya sementara si Jalal sepertinya masih betah menenggalamkan wajahnya di selangkangan Sarah.
“Wow…mang i..ini….”, ucap Sarah dalam kekagetannya saat tiba-tiba saja mang Dudung sudah berdiri diatas sofa dan menyodorkan rudalnya di depan wajah Sarah. Model cantik itu menatap rudal Dudung dengan wajah sedikit kaget dan terpesona. Tadi Sarah sudah mengira kalau rudal mang Dudung cukup besar ukurannya saat gadis itu meraba celana dalamnya.
Tapi Sarah benar-benar tak mengira kalo bakal segede ini. rudal Dudung mengacung tegang di hadapan Sarah dengan gagahnya. Panjangnya sekitar 25 cm dan diameternya juga cukup besar. Sarah tak pernah mengira kalo dia bisa melihat rudal seperti ini selain di film-film porno profesional. Itupun hanya beberapa bintang porno saja yang memilik rudal segede ini.
“He…he…he…gimana senjata mamang non? Mamang yakin kalo non pasti keenakan kalo rudal mamang sudah meng-ulek serambi lempit non Sarah. Tapi sekarang mamang mau ngerasain jepitan bibir non Sarah yang sexy ini dulu he..he…he…”, kata Dudung dengan lagak jumawa dan menyodorkan kepala rudalnya menempel di bibir Sarah. Seakan terhipnotis, Sarah membuka bibirnya dan lidahnya terjulur menjilat kepala rudal yang besar itu.
“Uugghh….yah gitu non terus mmmm……”, desis Dudung keenakan. Sarah sebenarnya agak terganggu karena rudal Dudung agak berbau pesing, tapi entah kenapa Sarah tetap ingin mencicipi rasa rudal itu di mulutnya.
“Sluurpp…..mmmmmm…….”, desis Sarah sambil menjilati batang rudal Dudung dari pangkal sampai ke ujungnya. Memang bau rudal si Dudung agak pesing dan apek tapi entah kenapa bau itu malah bagaikan aphrosidiac yang makin membangkitkan gairah Sarah. Gadis itu bahkan tak segan untuk membuka mulutnya dan memasukkan rudal Dudung ke dalam mulutnya.
“Yeagh….isep non. Sepongin rudal mamang, terusss aahh……”, dengus Dudung yang merem melek karena permainan oral Sarah. Kini lelaki kurus itu berdiri di sofa dengan mengangkangi Sarah yang duduk hingga rudalnya tepat berhadapan dengan wajah Sarah. Tangan Dudung memegang kepala Sarah dan dia pun menggerakkan pinggulnya seakan memenyetubuhi mulut Sarah yang sexy itu.
“Mmmggghh….mmmmgghh….”, Sarah hanya bisa mengguman tak jelas. Gadis cantik itu kewalahan menghadapi serangan Dudung dan Jalal. serambi lempitnya makin basah karena permainan lidah Jalal yang liar, bahkan montir setengah baya itu mulai memasukkan jarinya mengocok serambi lempit Sarah dengan kasar sampai terdengar bunyi kecipak yang erotis.
rudal Dudung yang besar itu memenuhi mulutnya hingga kadang Sarah agak tersedak dan rahangnya agak pegal karena mulutnya harus membuka selebar mungkin untuk bisa menampung rudal Dudung.
Sekitar sepuluh menitan berlalu, saat Dudung merasa tak tahan lagi. rudalnya mengedut keras dan menyemprotkan banyak sekali cairannya ke dalam mulut Sarah.
“Aaaggghh….non Sarah….telen mani Dudung non aaaghhh….”, dengus Dudung sambil menekan rudalnya masuk ke dalam mulut Sarah sedalam mungkin. Sarah agak tersedak dan kaget dengan banyaknya sperma Dudung yang tumpah ruah di mulutnya. Sarah pun terpaksa menelannya dan itu pun masih menyisakan mani yang meluber dari sela-sela bibir sexynya.
Apalagi disaat bersamaan, Sarah juga mendapatkan orgasme karena permainan Jalal di selangkangannya. Tubuhnya bergetar dan menggeliat liar. serambi lempitnya berdenyut kencang dan menumpahkan cairan kenikmatan yang tak dilewatkan oleh lidah Jalal yang terus menjilat dan menghisapnya.
Sarah ingin menjerit nikmat tapi tak bisa karena bibirnya tersumpal oleh rudal Dudung dan gadis cantik itu hanya bisa menggumam keras dan menggeliat tak karuan. Orgasme itu begitu dashyat padahal mereka berdua belum juga ML, baru pemanasan. Setelah orgasme itu mereda Sarah pun agak lemas dan hampir kehabisan nafas. Untung saja Dudung segera menarik rudalnya keluar dari mulut Sarah.
“Huufff…gila. Sepongan non Sarah top banget. Hei, Lal. Loe harus nyobain sepongannya non Sarah. Lonte-lonte langganan kita lewat dah. Manteb banget.”, kata Dudung. Di situasi biasa, mungkin Sarah akan marah mendengar dia yang seorang model beken itu disamakan dengan pelacur-pelacur murahan. Tapi entah kenapa saat ini Sarah merasa gairahnya kembali naik mendengar kata-kata kotor Dudung itu.
“Wah kalo gitu, gue mau nyoba nih.”, kata Jalal sambil berdiri dan melucuti pakaiannya. Jalal yang telanjang malah terlihat lebih parah. Wajahnya yang jelek, dengan mata juling memandang pada Sarah yang telanjang dengan penuh nafsu. Mulutnya yang monyong tersenyum pahit (gak ada manis-manisnya he…he…he..).
Tubuhnya yang tambun itu tak kalah ancurnya. Lemak di sana-sini, membuat dadanya menggantung dan perutnya yang tambun sedikit berguncang. Tapi walaupun begitu, Sarah melihat rudal si Jalal tak kalah panjang dengan si Dudung, hanya sedikit lebih kurus dan membengkok ke atas.
Jalal segera bangkit dan duduk di sebelah Sarah sambil bersandar di sofa agak rebahan. Dengan terkekeh, si gendut itu menarik tubuh Sarah agar berlutut di bawahnya hingga rudalnya pun berhadapan dengan wajah Sarah yang cantik itu.
“Ayo dong non. Bang Jalal kan juga pengen diservis ama mulutnya non Sarah he..he..he..”, kata Jalal.
Tanpa ragu Sarah mulai menjilati dan mengulum rudal Jalal dengan penuh nafsu. Gadis cantik yang mempunyai karir modeling yang sedang menanjak itu telah tenggelam dalam birahinya hingga tanpa malu dia mengoral rudal Jalal yang level tampang maupun kedudukannya jauh darinya maupun pacar-pacarnya. Tapi kenyataan itu malah membakar api gairah Sarah.
“Mmmm…betul kata loe Dung. Servis mulut non Sarah emang yahud sstt….. aahh…”, dengus Jalal yang merem melek keenakan merasakan teknik sepongan Sarah.
Sarah merasa Dudung menarik sedikit tubuhnya hingga Sarah kini setengah merangkak dengan tubuhnya bertumpu diatas kedua lututnya dan tangannya masih berpegangan pada paha Jalal. Saat Sarah merasakan ada benda hangat dan keras menempel di belahan serambi lempitnya, dia pun menghentikan aksinya sejenak dan menoleh ke belakang. Ternyata Dudung sudah bersiap untuk melakukan penetrasi dengan rudalnya yang gede itu.
“Mang…pelan-pelan. rudal mang Dudung kan gede banget.”, kata Sarah. Sarah merasa agak takut, apakah serambi lempitnya sanggup menampung rudal segede itu. Tapi disisi lain, gadis cantik itu juga penasaran ingin merasakan kenikmatan yang ditawarkan oleh rudal yang berukuran besar itu.
“Tenang aja non. Mang Dudung jamin non Sarah nanti bakal ketagihan sama rudal mamang he…he…he….”, kata Dudung sambil menggesekkan rudalnya kebelahan serambi lempit Sarah mencari celah yang tepat untuk masuk. Perlahan Dudung mulai menekan rudalnya memasuki liang kenikmatan Sarah. Dudung tampak sedikit kesulitan karena sempitnya liang itu, tapi lelaki itu pantang menyerah.
“Aaauuuggh…peellaann mang.”, pinta Sarah sedikit menahan sakit saat serambi lempitnya dipaksa meregang agar bisa menerima ukuran rudal Dudung.
“Ssstt…sempit banget non. Enaaakk….”, dengus Dudung menikmati jepitan serambi lempit Sarah yang terasa luar biasa.
Sarah sedikit merintih saat Dudung melakukan penetrasi itu. Baru kali ini Sarah merasa serambi lempitnya sepenuh ini. Otot-otot serambi lempitnya seperti dipaksa meregang dengan maksimal hingga gadis itu merasa sedikit ngilu. Bagian dalam serambi lempitnya yang selama ini belum pernah tereksplorasi oleh laki-laki lain yang pernah ML dengannya kini bisa dijangkau oleh rudal Dudung.
“Gila. serambi lempitku rasanya penuh banget. Padahal ini masih belum semuanya.”, kata Sarah dalam hati. Walaupun sedikit sakit tapi perasaan penuh itu memberikan sensasi lain buat Sarah.
“Aaagghh…mang sstt….aaaah…..”, desis Sarah saat Dudung mulai menggenjot tubuhnya dari belakang dengan tempo perlahan. Memang kemaluan Sarah terasa perih tapi rudal Dudung begitu terasa menggesek setiap bagian dinding serambi lempit Sarah dan memberikan sensasi yang lebih bagi Sarah.
“Aahh….serambi lempit non enak bangeeettt mmm….Non Sarah bener-bener pinter ngerawat serambi lempit. Padahal saya tahu kalo non Sarah doyan menyetubuhi sama pacar-pacar non, tapi serambi lempit non rasanya masih kayak perawan aja.”, kata Dudung sambil terus menggenjot tubuh Sarah. Sarah tak menghiraukan ocehan Dudung. Gadis itu mulai terbuai oleh kenikmatan yang ditawarkan rudal besar yang bersarang di serambi lempitnya itu.
“Jangan lupain punya saya dong non.”, kata Jalal sambil menarik kepala Sarah dan memasukkan rudalnya lagi kedalam mulut Sarah. Naluri binal Sarah membuatnya segera menyambut rudal Jalal dengan sepongan penuh gairah.
Kini Sarah diserang dari dua arah dan gadis cantik itu mulai menikmatinya. Desis kenikmatan Sarah semakin gencar keluar dari sela-sela gumamam bibirnya yang menjepit rudal Jalal. Apalagi kini Dudung mulai mengenjotnya dengan cepat dan liar.
rudal Dudung semakin menusuk lebih dalam, menekan mulut rahim Sarah. Suara benturan pantat Sarah dan pinggul Dudung terdengar berpadu dengan erangan dan desisan mereka bertiga. Dudung menggenjot Sarah dengan penuh tenaga sambil meremas kuat pantatnya yang membulat montok itu. Payudara Sarah tampak bergoyang dengan indahnya karena hentakan badannya.
“Aaghh…mmpphh…mmmpphh….stttt……aagghhh…..”, Sarah merintih nikmat di sela gumamam bibirnya yang masih terus mengulum rudal Jalal, sementara rudal Dudung yang besar itu mengobok-obok serambi lempitnya dengan liar.
Baru kali ini Sarah merasakan kenikmatan ML yang begitu liar dan kasar. Model cantik itu melenguh nikmat tiap kali ujung rudal Dudung menghantam mulut rahimnya. Selain itu rudal Dudung juga memaksa otot-otot serambi lempitnya meregang lebih dari biasanya dan membuatnya lebih bisa merasakan tiap gesekan dan tekstur rudal Dudung itu.
Apalagi Dudung mulai menggenjotnya dengan sekuat tenaga sampai batang rudal gede itu ambles seluruhnya tenggelam dalam jepitan serambi lempitnya yang kian membanjir karena gairah. Bulu kemaluan Dudung terasa geli dan memberi sensasi tersendiri saat menempel di belahan pantatnya dan kadang menggelitik liang pantat gadis itu.
“Ugghh…uugghh…….hhmmm….eenakkk…aahh….serambi lempit non Sarah emang beda rasanya dari istri gue atau lonte-lonte yang pernah kita cobain. Lebih manteb dan lebih mak nyuss he…he…he..”, celoteh Dudung yang merasakan nikmatnya menyetubuhi seorang model cantik seperti Sarah.
“Gimana neng? Enak kan rudal mamang??!”, kata Dudung dengan pedenya.
“Uugh..sssttt…aagh…enak mang… terus mang aaaghh…”, jerit Sarah.
Tiga orang itu terus berpacu dalam gairah mereka berusaha mendapatkan puncak kenikmatan yang mereka dambakan. Hampir setengah jam mereka bergelut dengan birahi saat Sarah mulai merasakan gelombang kenikmatan itu akan menggulungnya. Gadis cantik yang berprofesi sebagai model itu merasakan gelombang yang datang itu begitu besar.
“Aaaghhh…mang…. Sarah dapet aagghhh…..”, jerit Sarah saat orgasme itu menelannya. Tubuhnya bergetar dan menggeliat liar. Kenikmatan itu seakan menjalar ke seluruh tubuh indahnya.
“Waaagghh….ugghh..ugghh…Mamang juga Neng……aaagghh….”, dengus Dudung yang akhirnya tak sanggup lagi bertahan. Kontraksi serambi lempit Sarah saat gadis cantik itu orgasme terasa begitu nikmat bagi Dudung. serambi lempit Sarah bagaikan bisa mengempot-empot dan menghisap kuat rudal Dudung. Dudung pun menancapkan rudalnya dalam-dalam sambil menyemprotkan maninya ke dalam rahim Sarah. Dia dapat merasakan cairan kenikmatan Sarah yang terasa hangat membasahi rudalnya.
“Aaahhhh Maanngg…..”, desis Sarah yang masih tenggelam dalam orgasmenya. Semprotan mani Dudung yang begitu banyak dan keras terasa sampai di dinding rahimnya, rudal Dudung yang melesak begitu dalam keliang serambi lempitnya, bahkan sedikit memasuki pintu rahimnya, membuat Sarah mengalami orgasme yang begitu panjang dan nikmat.
Begitu banyaknya mani yang disemprotkan Dudung hingga sebagian meleleh keluar dari sela-sela serambi lempit Sarah. Untung saja, Sarah selalu minum pil anti hamil. Kalo tidak, dia bisa hamil oleh Dudung.
Sarah masih bersandar lemas di paha Jalal yang masih duduk di sofa. Gadis cantik yang bekerja sebagai model itu masih menikmati sisa-sisa orgasmenya yang cukup lama dan intens itu.
Dudung yang masih di belakangnya dalam posisi Doggie menundukkan tubuhnya dan bibirnya mengecup lembut kulit punggung Sarah sambil menikmati orgasmenya sendiri. Dudung membiarkan rudalnya masih tertanam dalam serambi lempit Sarah menikmati pijatan lembut serambi lempit gadis cantik itu.
Sementara itu Jalal tak dapat lagi menahan nafsunya yang sedari tadi sudah sampai ke ubun-ubun. Si gendut yang berwajah ancur itu segera menarik tubuh Sarah dari pelukan Dudung. Si Dudung pun memberi kesempatan pada temannya itu.
Jalal menarik Sarah agar duduk di sofa, dengan pantat gadis itu tepat di ujung dudukan Sofa. Posisi Sarah sekarang jadi setengah tiduran di sofa dengan kepalanya masih bersandar di sandaran sofa. Jalal pun segera mengambil posisi diantara kaki Sarah yang dia buka lebar-lebar. rudalnya yang sudah tegang dari tadi segera diarahkannya ke mulut serambi lempit gadis cantik yang sexy itu.
“Nah, sekarang giliran akang, Neng he..he…he…”, kata Jalal sambil melesakkan rudalnya langsung sampai mentok kedalam serambi lempit Sarah. Kondisi serambi lempit Sarah yang basah oleh peju Dudung dan maninya sendiri membuat Jalal dengan mudah melaksanakan niatnya. Sarah tersentak oleh perbuatan Jalal. rudal Jalal memang tak segemuk rudal Dudung, tapi tampaknya lebih panjang sedikit dari rudal Dudung. Sarah sampai bisa merasakan sebagian kepala rudal Jalal terjepit di mulut rahimnya. Tapi Jalal segera menarik keluar rudalnya dari serambi lempit Sarah.
“Ah, brengsek loe Dung. Gara-gara loe sih, serambi lempit neng Sarah jadi banjir gini. Gue kan nggak suka yang terlalu becek kayak gini.”, gerutu Jalal. Dudung hanya nyengir mendengar gerutuan temannya itu. Sementara itu Jalal memasukkan dua jari tangannya ke dalam serambi lempit Sarah. Dengan kasar lelaki gendut setengah baya itu berusaha mengorek keluar campuran sperma Dudung dan mani Sarah yang membanjiri bagian dalam serambi lempit Sarah.
“Iih…pelan-pelan dong Kang.”, kata Sarah saat Jalal dengan kasar mengobok-obok serambi lempitnya dengan jari tangannya. Perbuatan Jaal yang kasar memang membuat Sarah merasa agak sedikit sakit, tapi gadis itu membiarkan saja tingkah Jalal karena di sisi lain Sarah ternyata juga menikmati perbuatan Jalal. Ngocoks.com
Walaupun kasar, tapi jari-jari Jalal yang mengorek-orek serambi lempitnya juga menyentuh titik-titik sensitif Sarah yang otomatis mengirim sinyal kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Bahkan tingkah Jalal yang begitu melecehkannya dan cenderung kasar, malah memberikan sensasi lain buat Sarah. Gairah birahi Sarah yang memang belum padam, kini terbakar kembali.
“Ssttt….aaahhhh…..”, desis Sarah sensual. Pantatnya ikut bergoyang seakan menyambut gerakan jemari Jalal. Beberapa saat kemudian Jalal merasa sudah berhasil mengeluarkan sebagian besar mani Dudung yang ada dalam serambi lempit Sarah. Jalal pun kembali lagi dalam posisinya. rudalnya tanpa basa-basi segera masuk ke dalam liang kenikmatan Sarah.
“Uggghh…..”, desis Sarah tersentak dengan panjangnya rudal Jalal yang menusuk sampai terasa ke perutnya.
“Nah, kalo begini baru asyik nih. Ssstt…. serambi lempit non Sarah emang top banget.”, celoteh Jalal sambil mulai menggenjot serambi lempit Sarah dengan penuh nafsu. Kaki jenjang Sarah dikaitkan Jalal di kedua bahunya hingga kini ia bisa lebih leluasa melampiaskan nafsunya dengan model cantik itu.
Jalal langsung memainkan tempo yang cepat dan liar sampai tubuh Sarah ikut berguncang karena sodokannya. Suara benturan pantat Sarah dan pinggul Jalal terdengar keras. Tiap kali Jalal menyodokkan rudalnya sampai mentok, Sarah tersentak dan menjerit tertahan.
Ujung kepala rudal Jalal terasa memasuki mulut rahimnya dan membuat gadis itu merasakan sensasi yang luar biasa. Jalal pun semakin keenakan. rudalnya seakan menerima dua macam jepitan, jepitan dari serambi lempit Sarah dan juga dari mulut rahimnya.
“Aaghh…aaaghhh…..kang Jalal…..”, desis Sarah yang terlena oleh permainan Jalal.
“Uugghhh….non Sarah….ssttt….enaaakkk…..”, dengus Jalal merasakan nikmatnya serambi lempit model cantik dan sexy seperti Sarah. Mereka berdua begitu larut dalam birahinya. Permainan Jalal yang kasar membuat Sarah semakin bergairah. Jalal meremas payudara Sarah dengan gemas dan kasar sambil terus memborbardir serambi lempit Sarah dengan rudalnya. Perpaduan rasa sakit karena perlakuan kasar Jalal dan kenikmatan yang menjalar di seluruh tubuhnya membuat Sarah merasakan sensasi lain.
Lebih dari sepuluh menitan berlalu saat Jalal merasa tak dapat bertahan lagi. Jepitan serambi lempit Sarah yang begitu nikmat membuat rudalnya bergetar. Lelaki gendut itu bisa merasakan tetes-tetes mani yang dipompa dari buah pelirnya mulai menjalar ke batang rudalnya dan berkumpul di sana.
“Uuuaaghhh…..sstt….aaahh…..”, dengus Jalal sambil menyemprotkan banyak sekali mani dari ujung rudalnya langsung ke rahim Sarah. Sarah dapat merasakan semprotan mani Jalal yang begitu keras di dinding rahimnya dan membuatnya tersapu juga oleh gelombang orgasme untuk yang kesekian kalinya.
Sarah masih berbaring di sofa sementara itu Jalal sudah duduk di sofa di dekat Dudung. Gadis cantik itu berusaha mengatur nafasnya. Tubuhnya terasa lemas. Pertarungan dengan kedua lelaki setengah baya yang berstamina prima itu membuatnya kelelahan.
Tapi entah kenapa gairah birahinya tak padam juga. Gadis itu melihat ke arah Dudung dan Jalal. Dilihatnya Dudung sedang mengocok rudalnya sendiri. rudal itu sudah mengeras lagi dan terlihat begitu besar dan menggoda di mata Sarah. Perlahan gadis itu bangkit dan menghampiri Dudung dan Jalal dengan langkah gemulai dan menggoda.
Tanpa sungkan lagi, Sarah segera mengangkangi Dudung yang duduk di sofa. Tubuhnya berhadapan dengan Dudung dengan bertumpu pada kedua lututnya yang sudah naik ke atas sofa disamping kanan dan kiri Dudung. serambi lempitnya sekarang tepat ada di atas rudal Dudung yang sudah berdiri tegang dengan gagahnya.
Jemari lentik Sarah meraih rudal Dudung dan mengarahkannya ke pintu liang kenikmatannya yang basah karena gairah. Setelah dirasanya pas, Sarah pun menurunkan pantatnya perlahan hingga rudal Dudung pun kembali terjepit dalam serambi lempitnya yang nikmat itu.
“Uuuffhh….punya Mamang gede banget. Penuh rasanya serambi lempitku.”, celetuk Sarah sambil mendesis menikmati saat rudal Dudung yang berukuran besar itu memaksa otot-otot serambi lempitnya meregang dan memenuhi rongga serambi lempitnya dan membuat gadis cantik itu merasakan nikmatnya saat rudal itu seakan mampu menjangkau setiap titik kenikmatan dalam serambi lempitnya yang sudah gatal itu.
“Ssstt….. ennaaakkk….. Non Sarah emang hebat. Sudah cantik, bahenol, jepitan serambi lempitnya juga enak banget. Aaahh….terus non. Sama digoyangin pantatnya yeah…..aaaagghh….”, cerocos Dudung sambil merem melek keenakan.
Gerakan Sarah di pangkuannya membuat payudaranya yang montok bergoyang dengan indahnya. Dengan gemas Dudung meraih payudara itu dengan tangannya, meremas bukit montok itu, bibirnya pun tak mau ketinggalan, menjepit dan menghisap putingnya yang mengacung menggoda.
Dua orang manusia yang dikuasai nafsu birahi itu pun mengayuh kenikmatan dan lupa segalanya. Bahkan Sarah tak peduli dengan fisik dan wajah Dudung yang berantakan. Seorang gadis cantik dan sexy seperti Sarah, seorang model terkenal dan mahasiswi yang berpendidikan, bercinta dengan penuh gairah dengan seorang lelaki kasar dan bertampang jelek seperti Dudung.
Pemandangan itu bisa dibilang aneh, tapi disisi lain begitu eksotis. Kekontrasan mereka seakan menambah panas gairah nafsu yang merebak di ruang tamu itu. Sarah dengan penuh gairah, menggoyang pantatnya naik turun sambil kadang diputar, merasakan nikmatnya batang rudal yang besar dan keras itu seakan mengobok-obok serambi lempitnya, memberinya kenikmatan yang membuatnya lupa diri.
Jalal pun bangkit lagi gairahnya setelah melihat adegan hot yang ada di depan matanya. Lelaki gendut itu berdiri lalu mengambil tempat di belakang Sarah. Jalal merangkul tubuh Sarah dari belakang. Kepala Sarah ditariknya hingga menoleh kebelakang, lalu Jalal pun segera mencium bibir Sarah yang sexy itu dengan penuh nafsu. Sarah membalasnya dengan gairah yang sama.
Tindakan Jalal membuat goyangan Sarah terhenti. Dudung yang masih ingin merasakan nikmatnya serambi lempit Sarah, segera menjulurkan tangannya mendekap pantat Sarah. Ganti Dudung kini yang menggerakkan pantatnya sendiri naik turun, hingga rudalnya terus merojok serambi lempit Sarah dengan gencar, membuat gadis itu melenguh nikmat diantara dekapan bibir Jalal.
“Uugghh…bang Jalal, apa-apaan sih aaahh…..”, desis Sarah tertahan. Gadis cantik itu merasa kaget saat merasakan benda kecil memaksa masuk ke dalam lubang pantatnya. Ternyata si Jalal yang bikin ulah. Laki-laki gendut itu dengan usil mencoba memasukkan satu jarinya ke dalam lubang belakang Sarah.
Walaupun sebelumnya Jalal sudah membasahi jarinya dengan lidah, tapi karena perawakannya yang gemuk, tentu saja jari Jalal juga agak gemuk. Hingga dia agak kesulitan memaksakan satu jarinya masuk ke dalam liang anus Sarah yang belum pernah dimasuki benda asing sebelumnya.
Sarah merasa agak kesakitan tapi gadis cantik itu tak bisa berbuat apa-apa dalam dekapan dua lelaki itu. Apalagi Dudung masih terus saja menggerakkan rudalnya terus memompa serambi lempit Sarah dari bawah.
“Auughh…ssttt…..”, desah Sarah. Untung saja gerakan rudal Dudung dalam serambi lempitnya memberi gadis itu kenikmatan yang sanggup mengalihkan dari rasa perih waktu untuk pertama kalinya anusnya dimasuki benda asing. Apalagi tangan Jalal yang lain menyusup dan melingkari tubuhnya dan jemarinya mengesek dan mempermainkan klitoris Sarah yang membuat gadis itu makin mendesah tak karuan. Jalal pun mulai memainkan jarinya keluar masuk dalam liang anus Sarah.
Awalnya Sarah merasa tak nyaman dengan jari Jalal dalam liang pantatnya. Tapi lama kelamaan otot-otot pantatnya mulai terbiasa dan mulai meregang, hingga rasa sakit itu makin berkurang dan jari Jalal makin lancar bergerak keluar masuk. Perpaduan dari jari Jalal yang memenuhi lubang belakangnya dan rudal Dudung yang terus mengocok serambi lempitnya membuat Sarah merasakan sensasi lain.
“Uuughhh…bang Jalal, jangan aahh….”, desis Sarah saat Jalal mencoba memasukkan satu jarinya lagi ke dalam liang anus Sarah. Tapi Jalal tak memperdulikannya, dan terus melaksanakan niatnya. Jalal terus mempermainkan jarinya sampai otot liang anus Sarah menjadi terbiasa. Setelah terbiasa, Sarah kini makin merasa nikmat, desahannya terdengar makin keras. Model cantik itu semakin terbuai dalam kenikmatan birahinya yang liar.
“Mmm…non Sarah cantik banget mmmpphhh…..”, puji Dudung sambil menarik kepala Sarah hingga ia dapat melumat bibirnya yang penuh menggairahkan itu. Hal ini membuat Sarah terlepas dari pelukan Jalal, tubuhnya pun rebah di atas tubuh Dudung yang setengah rebahan di sofa.
Dudung dapat merasakan kenyalnya payudara montok Sarah yang kini menempel didadanya. Tangannya yang lain meraih pantat dan pinggul Sarah, lalu menariknya ke bawah hingga rudalnya melesak makin dalam pada serambi lempit Sarah.
Sarah bisa merasakan rudal Dudung yang memenuhi tiap bagian serambi lempitnya dan mentok sampai ke mulut rahimnya. Tangan Dudung yang menahan pantatnya membuat Sarah tak bisa menggerakkan pantatnya naik turun. Tapi Sarah yang masih ingin mengayuh kenikmatan dan memuaskan birahinya, segera memutar pantatnya dengan gerakan seperti mengulek.
Dudung mengeluarkan dengusan tertahan karena perbuatan Sarah yang membuat rudalnya seakan dihisap dan dipermainkan serambi lempit Sarah dengan liar.Gerakan memutar yang dilakukan Sarah membuat Dudung merasakan dinding serambi lempit Sarah berkontraksi luar biasa dan menjepit rudalnya dengan jepitan yang bervariasi dan berbeda, membuatnya merasakan nikmat. Dua orang itu terus berpacu dalam birahi mereka, membuat Jalal merasa iri karena sekarang dia hanya bisa onani mengocok rudalnya sendiri.
Saat asyik bercinta dengan Dudung, tiba-tiba Sarah merasakan ada benda hangat menempel di liang pantatnya. Sarah menolehkan kepalanya menengok dan melihat Jalal berusaha memasukkan rudalnya ke dalam liang pantat Sarah.
“Jangan Bang. Sarah belum pernah auughh…”, Sarah berusaha mencegah Jalal, tapi gadis itu tak bisa memberontak karena tubuhnya masih didekap Dudung. Jalal tak memperdulikan kata-kata Sarah dan terus memasukkan rudalnya dalam liang anus Sarah. Sarah pun menjerit karena pantatnya terasa perih dan panas.
“Ssshh…. Non Sarah rileks aja. Ntar sakitnya bakal ilang. Percaya deh.”, bujuk Jalal. Kini kepala rudal Jalal sudah berhasil masuk ke lubang sempit dan hangat itu. Perlahan tapi pasti, Jalal terus menusukkan rudalnya memasuki liang anus Sarah.
“Uuughh…. Gila Dung. Pantat non Sarah bahkan lebih sempit dan nikmat aaakkhhh….”, erang Jalal keenakan. Sarah hanya bisa menggigit bibirnya menahan sakit. Dua lubangnya terasa penuh sesak oleh dua rudal yang berukuran besar bersarang di serambi lempit dan anusnya. Untung saja, mereka masih mendiamkan rudal mereka tanpa melakukan gerakan, memberi kesempatan Sarah untuk mengambil nafas dan berusaha beradaptasi.
Tampaknya Dudung dan Jalal tak mampu lagi menahan nafsu mereka. Perlahan mereka mulai menggerakakan rudal mereka bergantian.
“Aaahh…jangan dulu uughh…”, desis Sarah. Tapi Dudung dan Jalal tak menghiraukan gadis itu. Sarah pun hanya bisa menahan rasa perih yang masih terasa dari anusnya. Gadis itu hanya terdiam dalam himpitan dua lelaki setengah baya yang bertampang tak karuan itu.
Dudung masih memeluk tubuhnya sambil menggerakkan pantatnya naik turun hingga rudalnya keluar masuk dalam jepitan serambi lempit Sarah yang terasa kian nikmat dan sempit karena rudal Jalal yang bersarang di anusnya. Jalal merem melek keenakan merasakan jepitan anus Sarah pada rudalnya. Pantat montok Sarah diremasnya dengan gemas sambil pinggulnya bergerak maju mundur perlahan karena rudalnya dijepit kuat lubang anus Sarah.
Dua lelaki beruntung itu mendengus dan mendesah nikmat karena bisa menikmati tubuh gadis cantik seperti Sarah yang selama ini hanya ada dalam mimpi mereka. Mereka terus memacu tubuh gadis itu, sampai lama-lama Sarah merasakan rasa perih yang dideritanya makin lama makin berkurang.
Bahkan lama-lama Sarah merasakan sensasi kenikmatan yang baru kali ini dia rasakan. Perasaan penuh pada dua lobang kenikmatannya membawa sensasi dan kenikmatan yang lain. Akhirnya gadis itu pun mendesah nikmat dalam pelukan dua lelaki setengah baya itu. Saat Dudung meraih wajahnya dan melumat bibir Sarah dengan bibir tebalnya, Sarah membalas dengan ciuman yang penuh gairah.
Tangan Dudung juga meremas kedua bukit payudaranya dengan gemas hingga payudaranya makin mengeras dan putingnya makin mencuat. Jalal pun tak ketinggalan. Lelaki itu menciumi tengkuk dan leher Sarah dari belakang, kedua tangannya meremas gemas pantat Sarah, kadang menampar bukit pantat yang montok itu dan membuat Sarah mengeluarkan lenguhan tertahan.
Jalal dan Dudung lama-lama makin menaikkan tempo permainan mereka, membuat Sarah menggeliat-geliat dalam himpitan tubuh mereka berdua. Mereka senang karena sekarang Sarah terlihat begitu menikmati permainan mereka berdua dan membalas cumbuan mereka dengan gairah yang tak kalah panasnya.
“Ooohhhh….oh my God aaaaaghhh…..”, teriak Sarah histeris karena gelombang orgasme yang menimpanya kini terasa begitu dashyat dan susul menyusul. Silih berganti gelombang kenikmatan itu menyapu tubuh Sarah hingga Sarah menggeliat tak karuan dalam himpitan dua lelaki itu. Baru kali ini Sarah merasakan multi orgasme yang susul menyusul begitu dashyatnya. Bahklan saat Dudung dan Jalal secara hampir berbarengan menyemprotkan mani mereka ke dalam rahim dan anus Sarah, gadis itu sampai hampir kehilangan kesadaran karena rasa nikmat yang terus menerus itu.
Dudung dan Jalal mendengus nikmat saat orgasme itu tak lagi dapat mereka tahan. rudal mereka seakan disedot dan diremas kuat oleh serambi lempit dan anus Sarah. Bahkan sampai setelah mereka selesai menyemprotkan mani mereka ke dalam serambi lempit dan anus Sarah, mereka masih bisa merasakan kontraksi dari lubang kenikmatan gadis itu yang meremas nikmat rudal mereka yang perlahan makin lemas. Lalu mereka bertiga terdiam dan masih berpelukan dengan tubuh lemas.
Pandangan Sarah terasa kabur, tubuhnya lemas sekali. Kenikmatan bercinta kali ini benar-benar memeras seluruh tenaganya. Bahkan gadis itu hampir tak sadar kalo Dudung dan Jalal sudah melepaskan tubuhnya, lalu meninggalkan tubuhnya menggeletak lemas di atas sofa.
Beberapa menit kemudian, Sarah pun mulai sadar. Perlahan akal sehatnya kembali karena gairah birahi yang tadi selalu menyala walaupun selesai bercinta, sekarang tampaknya sudah terpuaskan. Setelah pikirannya tak lagi dibutakan oleh gairah birahi, Sarah pun shock dengan peristiwa yang baru saja terjadi antara dia dan dua lelaki setengah baya itu.
“Ahh tidak. Bagaimana ini? Ada apa dengan aku? Kenapa aku melakukan semua ini dengan mereka? Kenapa?”, teriak Sarah dalam hati. Gadis cantik itu tak percaya kalo dia baru saja bercinta dengan dua orang lelaki setengah baya yang bertampang tak karuan itu.
“Wah, yang tadi bener-bener nikmat non. Non Sarah cewek yang paling cantik yang pernah saya entot, dan serambi lempit non Sarah rasanya nggak ada duanya deh.”, komentar Dudung sambil mengenakan pakaiannya.
“Iya, bener. Apalagi pantat non Sarah. Sempit banget he..he…he…”, sambung Jalal sambil tertawa. Si gendut itu juga sudah memaki pakaiannya kembali.
Suara dua laki-laki itu membuat Sarah berjingkat dan segera mengambil kaosnya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Wajah yang cantik itu merengut, tampak marah. Tapi Sarah tak berani memandang pada dua lelaki itu karena gadis itu merasa malu dengan apa yang baru saja diperbuatnya.
“He..he..he…kenapa pake ditutupin non? Kan tadi kita udah lihat semuanya, luar dalem he..he..he…”, celetuk Jalal.
“Diam!!!! Pergi kalian.”, bentak Sarah marah.
“Wuiitss…. jangan marah dong Non. Inget non. Tadi kan non sendiri yang mau. Kita nggak maksa kok.”, kata Jalal sambil cengar-cengir. Sementara Dudung agak kaget dengan perubahan sikap Sarah. Tapi hanya sebentar, karena Dudung teringat kalo peristiwa barusan terjadi tanpa pemaksaan. Sarah tadi membalas cumbuan mereka dengan suka rela dan penuh nafsu.
“Sudah, jangan banyak omong. Sekarang kalian pergi dari rumah ini.”, kata Sarah sewot. Sarah merasa marah tapi tak berdaya untuk berbuat apa-apa, karena dia sadar kalo apa yang dikatakan Jalal adalah benar. Jalal dan Dudung pun akhirnya pergi dari situ sambil cengar-cengir.
“Ya Tuhan. Apa yang baru saja kulakukan? Kenapa ini bisa terjadi? Apa aku sudah menjadi gadis murahan yang tak bisa menahan nafsuku sampai mau saja bercinta dengan orang-orang seperti itu?iiihh…”, pikir Sarah yang menyesali perbuatannya barusan.
Matanya berkaca-kaca dan ingin menangis, tapi Sarah berusaha menahannya. Gadis itu buru-buru bangkit dan mengambil pakaiannya yang berserakan. Sarah merasa tubuhnya kotor. Gadis itu ingin cepat-cepat mandi dan membersihkan tubuhnya dari bekas-bekas peristiwa memalukan itu.
Saat Sarah akan menuju kamar mandi, tiba-tiba saja pintu kamar Joe terbuka, lalu keluarlah Joe dengan hanya memakai celana pendek saja. Dua bersaudara itu sama-sama kaget dengan pertemuan mereka.
“Eh kak. Mmm…ka..kak Sarah kok ada disini?”, tanya Joe agak gelagapan. Pemuda itu kuatir kalo perbuatannya dengan Dini barusan sampai ketahuan oleh Sarah. Tapi Joe juga kaget melihat keadaan Sarah, kakak perempuannya itu.
“Nngg…itu..tadi gue nganterin makanan dari rumah.”, jawab Sarah yang tak kalah gugupnya. Gadis itu berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan pakaiannya.
“Ohh… Kak Sarah kenapa? Kok mm..kok nggak pake baju?”, tanya Joe yang penasaran dengan keadaan Sarah yang telanjang.
“Gerah. Udah jangan banyak tanya. Minggir gue mau mandi.”, jawab Sarah singkat. Wajahnya memerah karena malu. Sarah melangkahkan kakinya akan menuju ke kamar Joe/kamar Porfesor. Rupanya gadis itu mau mandi di kamar mandi yang ada dalam kamar itu. Joe menjadi gugup saat Sarah menuju ke kamarnya. Dini kan masih tidur di dalam sana.
“Eh tung..tunggu kak. Ja..janga pake kamar mandi kamar.”, cegah Joe.
“Kenapa emangnya?”, tanya Sarah.
“Itu..mmm..airnya habis. Tadi aku lupa ngisi. Kakak pake kamar mandi belakang aja.”, jawab Joe. Sarah pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi belakang.
“Aaahh…untung aja kak Sarah percaya. Bisa gawat kalo dia sampe masuk kamar. Eh, tapi kenapa dia telanjang gitu? Jangan-jangan kak Sarah baru aja bawa cowoknya kesini lalu mereka ML deh. Tapi mana cowoknya ya????“, pikir Joe dalam hati. Tiba-tiba saja seberkas ingatan melintas di pikiran Joe.
“Gawat. Gue harus cepet ngebangunin si Dini. Bisa berabe kalo sampe ketahuan kak Sarah.”, kata Joe sambil berlari masuk kekamarnya.
Bersambung…
The Secret Revealed
“Hhhmm… ngapain lagi nih?”, keluhku sambil menghempaskan tubuhku ke atas sofa ruang tamu di rumahku. Aku merasa bosan sekali karena gak ada yang bisa kulakukan hari ini, padahal kuliah sedang libur. Mama masih di kantor dan baru pulang nanti malam.
Kak Sarah lagi ada pemotretan di luar kota. Sedangkan Dini tentu saja masih di sekolah karena sekarang baru jam 12 siang. Lagipula adikku itu barusan sms hp-ku, ngabarin kalo dia ada latihan modern dance di rumah temennya, jadi baru pulang nanti sore.
Pengen ngapel, tapi Nina, pacarku, lagi home study ke negaranya paman Sam selama liburan semester kali ini. Aku sebenernya juga sudah punya rencana buat liburan. Besok lusa, aku rencananya akan pergi ke puncak sama Miko, temen kuliahku. Tapi sekarang……bete. Ting Tong…….Ting Tong…….
Tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu rumahku. Aku bangkit perlahan dengan malas-malasan dan melangkahkan kakiku menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang. Aku pun tersenyum lebar saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu rumahku.
Sosok itu milik seorang gadis cantik dengan tubuh tinggi langsing. Wajahnya cantik dengan raut wajah khas wanita oriental, walaupun sepasang matanya tidak sipit. Hidung mungil yang mancung itu tampak serasi dengan bibir tipis manis.
Rambut hitam sehat dengan panjang sebahu tampak serasi makin menambah kecantikannya. Leher jenjang yang putih mulus tampak menggoda. Gadis itu mengenakan kaos ketat berwarna putih dan rok mini yang berukuran pendek sekali hingga aku hanya bisa menelan ludah menikmati paha putih mulus dan sepasang kaki jenjangnya.
”Hei Joe. Bengong aja.”, sapa gadis cantik itu.
“Karin. Masuk…masuk…”, kataku sambil menawarkan Karina untuk masuk ke dalam rumah. Memang gadis itu adalah Karina. Gadis cantik sahabat Sarah, kakak perempuanku. Gadis yang pernah menjadi cinta pertamaku walaupun aku harus bertepuk sebelah tangan karena gadis itu tak bisa membalas cintaku ataupun cinta dari laki-laki manapun karena Karina lebih suka pada wanita daripada seorang pria. Ya, Karina memang seorang lesbian, dan yang mengetahui rahasianya mungkin cuma aku dan kak Sarah. Aku pun mempersilahkan Karina untuk duduk di sofa.
“Aduh…kak Sarahnya lagi pergi ke luar kota tuh. Ada pemotretan katanya. Kamu gak di kasih tahu ya?”, kataku yang mengira kalo Karina pasti mencari kak Sarah.
“Gue tahu kok. Aku kesini bukannya mau ketemu Sarah kok.”, jawab Karina.
“Trus??”
“Aku mau ketemu kamu.”, jelas Karina santai. Aku jadi ngerasa GR. Aku pun teringat akan pengalamanku yang berhasil menikmati tubuh cewek cantik itu dengan bantuan The Click. Karina bahkan tak menjadi marah padanya setelah peristiwa itu. Rasa GR itu pun menjadi rasa pede. Aku pun mendekati Karina dan duduk di sebelahnya. Dengan yakin, tanganku melingkari pundaknya.
“Hhmm…loe pasti kangen ama gue ya????”, kataku sambil tersenyum. Wajah cantik itu segera kuraih dengan tanganku. Bibirku segera bergerak mencari sasarannya dan melumat bibir Karina yang kelihatannya pasrah-pasrah saja.
Rupanya perbuatanku yang dulu itu (baca Click 3) telah merubah selera seks Karina dari lesbian menjadi biseksual. Buktinya gadis cantik itu membalas ciumanku dengan gairah yang sama, bahkan ini tanpa bantuan The Click. Walaupun mungkin yang berubah dari Karina cuma selera seksnya aja, tapi selera hatinya tetap lebih berat ke perempuan, buktinya sampai sekarang dia tetap naksir berat sama kakak perempuanku, Sarah.
“Hhhmm….you’re so beautiful hhhhmm…..”, pujiku di sela-sela ciuman kami yang panas. Sementara itu tanganku tak tinggal diam dan mulai merayap di paha Karina yang mulus. Kulit Karina yang putih itu terasa sangat lembut di tanganku. Memang dari semua perempuan yang pernah kutiduri, harus kuakui bahwa Karina mempunyai kulit yang paling lembut.
Jemariku yang nakal sudah mulai menyusup jauh ke dalam rok mininya hingga rok mini Karina terangkat ke atas dan celana dalamnya terlihat, saat tiba-tiba Karina melepaskan ciumannya dan mendorong dadaku.
“Tunggu sebentar Joe. Aku mau ngomong sama kamu.”, kata Karina sambil mendorongku agar menjauh. Walaupun birahiku sudah naik, tapi aku menuruti permintaannya. Hari masih panjang.
“Oke. Kamu mau ngomong apa sih? Kayaknya penting banget.”, tanyaku.
“Joe, please jangan bohong ya. Mmm…sebenernya apa yang sudah kamu lakuin waktu itu hingga akhirnya Sarah dan aku bisa mmm….you know….mmm….make love?”, tanya Karina. Aku jadi kaget mendengar pertanyaannya yang tiba-tiba itu.
“Nnnggg..ka..kalo itu sih mmmm…. Loe dan Sarahnya aja yang horny.”, jawabku mencoba mengelak. Tapi tak urung pertanyaan yang tiba-tiba itu membuatku sedikit gugup.
Karina tampaknya tak percaya dengan alasanku. Dahinya sedikit berkerut, menyiratkan kecurigaannya. Tapi emang kalo dasarnya emang udah cantik, biar manyun sekalipun, Karina tetep cantik dalam pandanganku.
“Jangan bohong, Joe. Kamu sudah tahu kalo kejadian antara Sarah dan aku akan terjadi sebelumnya. Bahkan kamu menjanjikan hal itu sebagai surprise buatku. Awalnya aku gak ngerti tentang surprise yang kamu janjikan, dan aku juga nggak ngerti kenapa kamu nyuruh aku untuk nemenin Sarah malam itu.
Tapi sekarang aku yakin kalo kejadian itulah surprise kamu buat aku, dan kamu sudah ngerencanain sebelumnya. Yang aku tak tahu, bagaimana kamu amelakukannya?”, kata Karina. Matanya yang indah bening itu menatap tajam kepadaku. Entah kenapa, aku tak bisa menolak permintaan Karina melihat tatapan matanya itu. Aku pun memutuskan untuk jujur pada gadis yang pernah jadi cinta pertamaku itu.
“Mmm…oke. Memang aku yang melakukannya. Aku yang mengatur semuanya dan membuat kamu dan Sarah jadi bercinta malam itu.”, kataku.
“Tapi gimana caranya? Nngg…jangan-jangan kamu pake pelet ya? Kamu pergi ke dukun?”, tanya Karina yang penasaran.
“Eits…, sorry aja ya. Gue gak percaya sama hal kayak gituan. Jaman udah maju kayak gini, masak masih percaya sama yang namanya dukun. Kamu tunggu dulu disini. Nanti aku jelasin semuanya.”, kataku sambil bangkit berdiri, lalu menuju kamarku. Aku mengambil The Click pemberian Profesor Suparman, lalu kembali di ruang tamu tempat Karina menunggu. Wajah orientalnya yang cantik itu tampak bingung dan penasaran.
“Nih! Aku mengatur semuanya malam itu dengan bantuan alat ini.”, kataku sambil menyerahkan The Click pada Karina. Karina memandang heran pada kotak kecil hitam dengan tombol berbentuk hati berwarna merah muda itu.
“Ini apaan sih?”, tanya Karina.
“Itu adalah The Click. Kamu tahu Profesor Suparman kan? Ilmuwan aneh yang rumahnya kujagain itu lho.”, jelasku. Karina hanya mengangguk.
“Nah, Profesor Suparman berhasil menemukan sesuatu yang hebat. Dia berhasil menciptakan kotak kecil yang kamu pegang itu yang diberi nama The Click. Bila alat itu diaktifkan, maka bisa meningkatkan nafsu birahi semua makhluk hidup yang ada di sekitar alat itu.
Aku sendiri nggak begitu tahu cara kerjanya, tapi yang pasti semua orang yang ada di sekitar alat itu saat The Click diaktifkan akn menjadi horny bukan main dan ingin melakukan seks untuk memuaskan nafsu birahinya yang dipicu secara luar biasa oleh The Click.”, jelasku lagi.
Karina memandang heran, bingung dan seakan tak percaya dengan penjelasanku. Wajahnya yang cantik jadi tampak lucu. Beberapa saat kemudian bibirnya mengembangkan senyum ragu.
“Kamu bercanda kan?”, tanya Karina. Aku menggeleng dengan wajah serius. Wajah Karina kembali memancarkan kebingungan. Tampaknya gadis itu masih sulit menerima adanya alat ajaib itu.
“Jadi waktu itu mmm…waktu kita ML dulu itu, kamu pakai alat ini supaya aku mau ML sama kamu, begitu?”, tanya Karina.
“Sorry. Kamu menyesal?”, jawabku singkat merasa bersalah. Ekspresi wajah Karina tampak aneh hingga aku makin merasa nggak enak. Tapi beberapa saat kemudian, gadis itu tersenyum.
“Nggak Joe. Aku nggak akan menyesali kejadian itu. Dari dulu aku sudah merasa kalo kamu punya arti yang spesial buat aku. Kalo saja aku nggak mmm….you know.”, jawab Karina sambil tersenyum manis padaku. Aku pun jadi lega.
“Tapi aku masih nggak percaya kalo alat ini bisa sehebat itu.”, kata Karina.
“Kamu mau bukti? Gimana kalo kita aktifin alat itu sekarang. Aku yakin kamu nggak akan menolak kalo aku ajak ML saat ini juga.”, kataku.
“Yee…sama juga bohong. Walaupun tanpa alat itu pun, gue sekarang udah horny dan gak bakalan nolak kamu apa-apain.”, jawab Karina spontan. Tapi saat dia menyadari apa yang baru saja diucapkannya, wajahnya tampak merah karena malu.
“Oh..jadi gitu ya? Ternyata dari tadi kamu sudah horni banget ya? Kasihan….”, godaku sambil mendekatkan wajahku lalu melumat bibir Karina dengan hangat. Gadis itu tak menolak, bahkan membalas ciumanku dengan gairah yang sama.
Jemari tanganku merayap masuk ke dalam rok mini Karina, membelai pahanya yang putih mulus itu. Saat jemariku merayap makin naik, aku bisa merasakan thong yang dikenakan Karina sudah agak melembap. Berarti gadis itu tak berkata bohong saat dia mengatakan kalo dirinya lagi horny.
“Hmm…Joe.”, desah Karina saat bibirku mulai merembet turun menciumi leher jenjangnya dan jemariku mulai menyusup masuk ke dalam liang serambi lempitnya setelah thongnya kutarik kesamping sedikit. Kurasakan serambi lempit Karina menjepit jemariku dengan kuat.
Ting Tong….Ting Tong…..
“Brengsek.”, makiku dalam hati saat mendengar bunyi bel pintu rumahku. Aku sempat berniat tak memperdulikannya dan meneruskan aksiku mencumbu Karina. Tapi Karina mendorong tubuhku, dan memintaku melihat siapa yang datang. Dengan setengah hati aku pun melangkah menuju pintu depan, sedangkan Karina tampak sibuk merapikan pakaiannya yang sempat sedikit kusut karena cumbuanku.
“Siang, Kak. Dini-nya ada?”, sambut suara merdu seorang gadis remaja yang berdiri di depan pintu rumahku.
Aku tak langsung menjawab pertanyaan itu, melainkan memandang kagum menikmati kecantikan alami gadis remaja yang sedang berdiri di hadapanku. Wajah gadis belia itu tampak cantik dan manis sekali. Bulu mata lentik menghiasi matanya yang indah dan bening memancarkan kepolosan.
Hidungnya mancung dan berbentuk indah. Mungkin ada darah Arab mengalir dalam gadis itu, pikirku saat melihat bentuk hidungnya. Bibirnya menyunggingkan senyum manis yang menimbulkan lesung pipit di kedua pipinya.
Deretan gigi yang putih bersih dan tampak rapi terlihat saat dia tersenyum. Rambutnya bergelombang dan panjang terurai indah sampai hampir mencapai pinggang. Kulit wajahnya yang kuning langsat tampak lembut dan mulus tanpa sebutir jerawat pun. Dan ada sedikit belahan di dagunya yang tampak serasi dengan bentuk wajahnya dan membuat wajahnya makin terlihat manis.
Gadis itu masih duduk di bangku SMU, terlihat dari seragam putih abu-abu yang masih dikenakannya. Tapi kelihatannya gadis itu bukanlah teman satu sekolah Dini, karena badge yang tertempel di seragamnya beda dengan seragam adikku.
Baju seragamnya berlengan panjang, sedangkan rok abu-abunya juga panjangnya sampai sedikit di atas mata kaki. Aku menduga gadis ini bersekolah di SMU Islam, karena aku melihat ada sehelai ujung kain abu-abu yang sedikit muncul dari tas yang menggantung di pundaknya dan aku berpikir kalo itu adalah jilbabnya yang dia simpan dalam tas.
“Mmm….kak. Ini benar rumah Dini kan? Yang dulu sekolah di SMP *****?”, tanya gadis itu yang segera menyadarkan aku dari keasyikanku memandangnya.
“Oh nngg… iya, iya. Ini bener rumah Dini kok. Kamu temennya Dini? Temen SMP?”, kataku.
“Iya, kak. Aku temen Dini satu SMP dulu. Dininya ada kak?”, tanya gadis itu.
“Wah, Dininya belum dateng tuh. Emang kalian udah janjian buat ketemuan disini?”
“Nngg…enggak sih. Aku cuma mampir aja. Udah lama gak ketemu sama Dini. Emang Dini biasanya pulang jam berapa?”
“Mmm…biasanya sih sebentar lagi juga pulang. Gimana kalo kamu masuk aja dulu, terus nungguin Dini?”, tawarku.
Otak kotor dalam kepalaku mulai bekerja. Karina pengen ngebuktiin kemampuan The Click. Aku dan Karina sama-sama belum mengenal gadis remaja ini dan dia juga cantik. Jadi kupikir gadis ini cocok sekali sebagai kandidat untuk menguji keampuhan The Click buat Karina.
Apalagi walaupun gadis itu memakai pakaian dengan model tertutup dan longgar, tapi mataku yang semakin awas sejak memilik the Click dan mengalami petualangan dengan banyak wanita, bisa melihat kalo di balik seragam SMU itu tersembunyi keindahan tubuh ranum seorang gadis remaja.
Gadis itu terlihat agak ragu, tapi aku terus membujuknya.
“Sudah. Dini sebentar lagi juga bakalan pulang kok. Kamu tunggu aja di dalem. Di dalem ada temen kakak juga kok. Cewek. Ayo.”, bujukku.
“Apa aku gak ngerepotin kakak?”, tanya gadis itu. Keraguannya mulai berkurang saat kukatakan kalo di dalem juga ada seorang cewek. Jadinya dia gak Cuma berdua dengan aku.
“Nggak. Udah ayo masuk aja.”, ajakku sambil melangkah ke dalam. Gadis SMU yang cantik itu pun mengikutiku masuk ke dalam.
“Oh..ya. Gue Joe. Nama kamu siapa?”, tanyaku sambil menutup pintu depan setelah gadis belia itu sudah melangkah masuk ke dalam rumah. Gadis itu menatap Karina yang duduk di sofa. Karina balas tersenyum.
“Aku Farida, kak. Kak Joe bisa manggil aku Ida aja.”, jawab gadis itu sambil membalas uluran tanganku. Telapak tangannya terasa lembut dalam genggamanku.
“Eh Ida. Kenalin temen kakak. Namanya Karina.”, kataku sambil menggapai pada Karina. Karina berdiri lalu menyambut Farida dengan ramah.
“Karin.”
“Ida.”
Kedua gadis itu pun berkenalan dengan ramah. Lalu Karina mengajak Ida untuk duduk di sofa bersamanya.
“Kakak ambilin minum dulu ya.”, kataku.
“Gak usah repot-repot kak.”
“Ah nggak ngerepotin kok.”, kataku sambil melangkah keruang belakang.
Sesampai di ruang belakang, aku berteriak memanggil Karina.
“Karin! Sini dulu dong. Bentar aja.”, teriakku. Beberapa saat kemudian, tampak Karina yang menyusulku ke ruang makan.
“Ada apa Joe?”, tanya Karin.
“Sekarang loe bisa ngebuktiin keampuhan The Click.”, kataku. Karina tampak bingung beberapa saat. Tapi kemudian wajahnya sedikit terperanjat saat menyadari maksudku.
“Maksud loe……Ida????”, tanya Karina memastikan dugaannya.
“Yap. Dia benar-benar orang asing buat kita berdua. Jadi gak mungkin direkayasa. Dan juga dia lumayan cantik kan?”, jelasku.
“Gila loe Joe. Kalo entar, Ida-nya gak terima, gimana coba?”
“Gue jamin, dia bakal melakukan itu atas kemauannya sendiri. Jadi nggak ada alasan buat gak terima. Tenang aja. Dan kamu aku kasih kesempatan buat cicipin dia lebih dulu, gimana?”, bujukku. Tampaknya tawaranku untuk memberi kesempatan lebih dulu buat Karina, berhasil meluluhkan keraguan Karina. Wajah orientalnya yang cantik tersenyum nakal, lalu Karina pun mengangguk.
Farida masih duduk menunggu di sofa ruang tamu saat aku dan Karina kembali sambil membawa 3 gelas sirup dingin.
“Aduh…, nggak usah repot-repot kak.”, kata Ida basa-basi.
“Emangnya siapa yang mau repot buat kamu?!! Yg satu ini buat Karina, dan aku kalo minum emang banyak, 2 gelas sekaligus.”, godaku pada Farida. Gadis remaja yang masih duduk di bangku SMU itu pun tersenyum masam.
“He..he..he…aku bercanda kok. Nih, buat kamu. Bikinin minum buat gadis secantik kamu, gak bakal ngerepotin kok.”, kataku gombal sambil menyodorkan segelas sirup buat Ida. Senyum masam di wajah cantik itu berubah menjadi tersipu malu.
Aku duduk di sebelah kiri Farida, sedangkan Karina duduk di sebelah kanannya. Kami pun mulai ngobrol sana sini sambil menikmati sirup dingin. Awalnya Ida masih agak malu-malu. Tapi sikapku yang ramah dan hadirnya Karina yang juga cewek, membuat kecanggungan Ida pun menguap.
Kenapa kehadiran Karina yang cewek, aku anggap berperan dalam menghilangkan kecanggungan Farida? Karena kini gadis itu tak perlu kuatir dengan pepatah yang mengatakan kalo 1 cowok dan 1 cewek hanya berdua di tempat yg sepi, maka akan mengundang hadirnya pihak ketiga, yaitu setan. Tapi sayang Farida tak sadar, walaupun sekarang di ruang tamu ini ada 1 cowok dan 2 cewek, tapi kalo cowoknya itu aku dan satu dari cewek itu adalah Karina, maka yang datang bukan lagi setan tapi Iblis he..he..he….
Beberapa menit kemudian, aku mulai merasakan pengaruh The click yang sudah kuaktifkan saat aku dan Karina kembali ke ruang tamu. Nafsu birahiku mulai naik, perlahan tapi pasti. Aku melihat Karina tampaknya juga sudah menyadari hal itu. Saat Farida tak melihat, Karina membuka mulutnya berusaha mengatakan sesuatu tanpa mengeluarkan suara. Kalo aku tidak salah, mulut Karina mengatakan “aku jadi horny”.
Farida terlihat mulai tak tenang duduknya, Gadis remaja itu kelihatan gelisah, dan wajahnya bersemu merah.
“Eh, Ida. Kamu sudah punya pacar belum?”, tanyaku tiba-tiba. Ida kelihatan kaget dengan pertanyaanku yang tiba-tiba itu.
“Ih, kak Joe apaan sih!”, jawab Ida dengan wajah terlihat jengah.
“Lho emangnya kenapa? Kamu kan udah SMU, udah gede. Wajar dong kalo aku nanya gitu, ya nggak Karin?!”, desakku sambil minta dukungan Karina.
“He eh. Kanu jawab dong. Aku juga pengen tahu kok siapa pacar kamu.”, dukung Karina. Ida jadi semakin jengah. Kemudian gadis remaja itu menggeleng perlahan.
“Apaan tuh maksugnya? Jangan bilang kamu belum punya pacar.”, tanyaku sambil memasang tampang heran dan tak percaya.
“Memangnya siapa yang mau jadi pacar aku?’, jawab Ida lirih sambil malu-malu. Jawaban khas seorang cewek. Kelihatan seperti merendah, tapi aku tahu kalo sebenarnya Ida juga sadar kalo dirinya itu cantik. Cuma sekarang dia lagi mancing pujian dari orang lain.
“Cowok cowok di sekolah kamu buta semua ya??? Kamu itu cantik banget kali. Cowok manapun pasti pengen punya pacar kayak kamu.”, kataku semakin menggombal. Ngocoks.com
“Kak Joe bisa aja deh. Masa aku cantik sih?”, jawab Ida sambil berlagak malu-malu kucing.
“Joe nggak bohong kok. Kamu emang cantik. Coba kalo si Joe belum punya pacar, psati sekarang dia udah nembak kamu.”, kata Karina sambil merapat dan merangkulkan tangannya ke bahu Ida. Kayaknya si Karin udah mulai ngebet nih.
“Kak Karin pacarnya kak Joe ya??”, tanya Ida. Karina tersenyum mendengar pertanyaan Ida.
“Aku bukan pacar Joe kok. Kenapa kamu bisa ngira kalo aku pacaran sama Joe?”, jawab Karina.
“Habis Kak Karina dan kak Joe kelihatan mesra banget sih.”, kata Ida.
Karina tersenyum sedikit aneh mendengar komentar Ida.
“Memang walaupun kita nggak pacaran tapi aku sama Joe….”, kata Karina sambil matanya melirik padaku dan jemarinya menggapai sebagai tanda agar aku mendekat. Aku pun mendekat hingga dudukku pun kini merapat ke Farida yang kini jadi seperti terjepit diantara aku dan Karina.
“…sering banget seperti ini….”, kata Karina sambil bibirnya yang indah dan lembut itu mengecup mesra bibirku. Kecupan itu cuma berlangsung sebentar, tapi membuat wajah Farida memerah jengah karena Karina mengecup bibirku tepat di depan wajahnya.
“….atau yang seperti ini.”, sambung Karina. Kali ini tangannya menarik kepalaku mendekat lalu melumat bibirku dengan penuh gairah. Aku pun tak menolak dan membalas ciuman Karina tak kalah panasnya. Ciuman kami begitu panas, lidah kami berdua ikut bermain, membelit bercanda dalam bersatunya bibirku dan Karin.
Aku melirik ke arah Farida. Wajahnya terlihat begitu shock setelah melihat pertunjukkan panas yang kini berlangsung didepan matanya. Gadis yang baru berusia 16 tahun dan masih duduk di bangku kelas 1 SMU itu terlihat begitu jengah dan gelisah, tapi pandangannya tak pernah lepas dari adegan ciumanku dan Karina yang tepat di hadapannya itu. Beberapa saat kemudian, tampaknya Farida sadar kalo aku melirik padanya. Gadis remaja yang cantik itu pun jadi semakin salah tingkah.
“Ehhm…..”, Farida sepertinya ingin bicara tapi bingung dan jengah ihngga akhirnya hanya bisa mengeluarkan gumaman tak jelas. Tapi rupanya suaranya sampai juga ke telinga Karina, dan gadis oriental yang cantik itu pun melepaskan pagutannya di bibirku. Aku menarik wajahku kembali, dan kulihat Karina memandang pada Farida sambil tersenyum menggoda.
Tiba-tiba Farida bangkit berdiri, tapi Karin segera ikut berdiri dan memegangi tangannya.
“Eeeh…, kamu mau kemana?”, tanya Karina.
“Nngg…anu kak mm…aku mau pulang dulu.”, jawab Farida dengan salah tingkah.
“Lho kenapa? Kamu disini aja dulu. Temenin kakak.”, bujuk Karina.
“Mmm… ta.tapi entar aku gangguin waktu kakak sama kak Joe.”
“Kamu nggak ganggu siapa-siapa kok. Kenapa sih emangnya? Ooohh…. masalah ciuman tadi. Itu kan biasa. walaupun aku dan Joe bukan pacar tapi kita emang cukup deket kok.”, kata Karina.
“Tapi kak…”
“Sudah. Duduk lagi sini.”, kata Karina sambil menarik Farida hingga gadis SMU itu pun kembali duduk di sofa ruang tamu itu. Aku duduk agak menjauh agar Farida lebih merasa nyaman.
“Ida…kamu kan udah SMU, udah gede…, kenapa jadi ribut cuma gara-gara ngelihat orang ciuman doang. Kamu sendiri pasti juga pernah ciuman kan.”, suara merdu Karina mencoba membujuk Farida. Gadis itu duduknya kian merapat dengan Farida. Tangan kirinya melingkar di belakang bahu Farida, sedangkan jemari lentik tangan kanannya meremas jemari Farida. Farida hanya bisa diam, dan wajahnya makin memerah.
“Jangan-jangan…..kamu belum pernah ciuman ya???”, kata Karina saat melihat reaksi Farida ysng makin merah wajahnya. Farida sedikit menundukkan mukanya. Kemudian gadis remaja itu perlahan menggelengkan kepalanya.
Wajah Karina semakin berbinar dan senyumnya makin melebar mendengar kepolosan Farida. Jemari tangan kanannya meraih dagu Farida dan sedikit menariknya, membuat wajah Farida yang cantik dan kelihatan malu-malu itu sedikit mendongak dan kedua gadis cantik itu saling bertatapan dalam jarak yang begitu dekat.
“Mmm….kalo begitu…..gimana kalo aku ajarin??”, kata Karina. Suaranya terdengar agak seperti mendesah, mungkin nafsu cewek lesbo itu sudah sampai ke ubun-ubun.
“Ah….nggak kak…aku…mmpphh….”, Farida tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena bibir Karina melumat bibir gadis remaja itu dengan tiba-tiba.
Farida mencoba memberontak, tapi tampaknya pengaruh The CLick juga sudah merasuki gadis remaja itu. Buktinya perlawanan Farida terkesan setengah-setengah, dorongannya pun tak begitu kuat. Dan setelah beberapa saat, Farida tampak pasrah dan diam saja. Bahkan perlahan, dengan bimbingan Karina yang mengajarinya lewat praktik langsung, Farida pun mulai bisa membalas ciuman Karina dengan gairah yang tak kalah panasnya.
Aku pun jadi tak tahan dan pengen ikutan. Dudukku kugeser hingga merapat di sebelah Farida. Kini gadis itu terjepit antara aku dan Karina. Tubuh atas Karina setengah menindihnya, menekan Farida pada senderan sofa. Tanganku segera meraih wajah Farida dan menariknya agar menoleh padaku. Tentu saja Karina pun terpaksa melepaskan ciumannya.
Wajah Farida benar-benar cantik. Hidungnya yang mancung dan bentuk bibirnya jelas menampakkan darah timur tengah yang mengalir di darahnya. Matanya yang bening dan polos kini sedikit sayu dan membiaskan gairah birahi yang mulai meracuni gadis remaja yang innocent itu. Nafasnya agak tak beraturan karena Karina melumat bibirnya cukup lama tadi. Aku pun segera mendekatkan wajahku untuk melumat bibirnya yang setengah terbuka begitu menggoda.
“Ida. Kamu cantik banget mmmppp…….”, rayuku sambil langsung melumat bibir Farida yang ngegemesin itu. Farida ternyat tak sungkan lagi sekarang, dan gadis remaja itu pun membalas ciumanku dengan gairah yang sama. Tampaknya gadis Smu ini termasuk gadis yang sepat belajar. Baru sekali diajarin sama Karina tapi Farida sekarang bisa membalas dengan cukup lumayan. Tampaknya teori Learning by doing memang terbukti lebih cepet hasilnya.
Walaupun bibirku sibuk melumat bibir Farida, tapi tanganku pun tak hanya tinggal diam. Jemariku mulai merayap di dada Farida. Waktu pertama kali aku melihat Farida, aku bisa melihat kalo payudara Farida berukuran lumayan besar dibandingkan tubuhnya yang mungil dan tak seberapa tinggi itu.
Pandanganku ternyata cukup awas walaupun Farida mengenakan seragam SMU dengan model agak kedodoran seperti seragam SMU Islam pada umumnya. Buktinya jemari tanganku sekarang bisa meremas gundukan payudara yang empuk dan lumayan juga ukurannya walaupun dari balik seragam dan bra yang dikenakan Farida. Untuk bagian dada, ternyata Farida lebih cepat berkembang daripada Dini, adikku, walaupun Dini sedikit lebih tinggi dari Farida.
“Enough Joe. This time. i’ll go first.”, terdengar suara Karina dan kurasakan tangan Karina menarik tubuhku hingga ciumanku dan Farida pun terlepas.
Saat aku menoleh ke arah Karina, ternyata gadis oriental yang cantik itu sudah telanjang dan kini hanya mengenakan thong berwarna putih yang tampak serasi dengan kulitnya yang putih mulus. Aku tak pernah bosan melihat tubuh telanjang Karina. Posturnya yang tinggi ramping dipenuhi lekuk indah yang proporsional. Payudaranya yang berukuran sedang dan serasi dengan tinggi badannya tampak bergoyang lembut saat gadis itu menghampiri Farida yang juga menatap kagum melihat kecantikan dan keindahan tubuh Karina.
“Ihh… kenapa kamu ngelihatin aku kayak gitu sih? Ada yang aneh sama kakak ya?”, tanya Karina pada Ida. Karina jadi malu karena kepergok kalo dia memperhatikan tubuh telanjang Karina.
“Ah…eh..ngg..nggak kok. Nggak ada yang aneh. Eengg…kak Karina cantik banget. Ida pengen deh bisa cantik dan punya tubuh seindah kak Karina.”, puji Farida.
“Hhmm…kamu itu polos banget sih. Kamu sendiri juga udah cantik.”, kata Karina pada Farida. Dengan perlahan, jari telunjuk Karina yang lentik menyusuri hidung Farida yang mancung indah, khas timur tengah.
“Aku pingin banget punya hidung seperti kamu.”, kata Karina sambil telunjuknya terus menelusuri hidung Farida dari atas sampai ke bawah, lalu turun ke bibir Farida yang penuh.
“Dan bibir kamu mmmpppp……….”, Karina segera menggantikan jarinya dengan bibirnya yang mencium bibir Farida dengan penuh gairah. Farida kini tak sungkan membalas ciuman Karina.
Jemari lentik Karina bergerak perlahan diantara seragam Farida. Perlahan namun lincah, jemari itu pun bergerak melepaskan kancing baju seragam putih yang dikenakan Farida, membuat gadis itu bahkan seperti tak sadar kalo perlahan bajunya dilucuti.
Gairah yang bergejolak di seluruh tubuhku membuatku tak sabar, dan aku pun segera melepaskan pakaian yang aku kenakan hingga kini telanjang bulat dan Joe jr. terlihat berdiri dengan gagahnya seakan menantang.
Karina ternyata sangat cekatan. Buktinya saat aku selesai melepaskan pakaianku dan melihat kembali ke arah sofa, seragam putih Farida ternyata sudah terlepas dari tubuh gadis remaja itu. Farida hanya mendesah perlahan sambil memejamkan matanya saat bibir Karina menyusuri leher dan bahunya. Gadis itu mandah saja saat Karina sedikit menarik tubuhnya agar bisa melepas kaitan bra putih yang dikenakannya.
“Wow…..toked kamu bagus banget, Da. Montok, kencang, dan lebih besar dari punya aku. Aku jadi ngiri deh sama kamu.”, puji Karina yang pandangannya tertuju pada bagian dada Farida yang kini terpampang bebas di hadapannya.
Payudara Farida memang indah. Membulat kencang dan dihiasi puting kecoklatan yang mengacung tegak karena gairah. Sebenarnya ukurannya tak terlalu jauh berbeda dengan payudara Karina dan Nina, mungkin hanya sedikit lebih besar. Tapi karena Farida memiliki tubuh yang mungil dan lebih pendek dari Karina maka membuat payudaranya makin nampak montok dan besar.
Ucapan Karina membuat Farida sedikit tersadar, gadis remaja itu pun membuka matanya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sendiri, mencoba menutupi dua bukit indah itu. Karina bertindak cepat. Tangannya segera menarik tangan Farida ke samping. Perlawanan Farida yang separuh hati membuat usaha Karina berjalan mulus hingga kini aku bisa menikmati pemandangan indah dua bukit ranum itu.
“Hhmm…….kak…..”, Farida mendesah perlahan saat bibir Karina mulai menyusuri tubuhnya dari leher lalu turun ke belahan dadanya. Karina pun lalu melampiaskan nafsunya pada buah dada Farida yang tampak montok itu. Farida pun hanya bisa mendesah sambil memejamkan matanya menikmati cumbuan Karina. Jemari Karina meremas lembut bukit indah gadis SMU itu. Bibirnya pun menyusuri bongkahan indah itu, kadang memberinya gigitan lembut yang membuat Farida serambi lempitik kecil. Tapi Karina sengaja membiarkan puting payudara Farida. Gadis itu menggoda Farida dengan lidahnya yang menjilat memutari puting Farida, tapi membiarkan pucak itu tak terjamah. Permainan Karina membuat nafsu birahi Farida makin meningkat dan terkumpul.
“Auggh…kak Karin……sssttttt……”, pekik Farida sambil meliukkan tubuhnya, memajukan dadanya ke depan, saat Karina tiba-tiba saja menghisap kuat putingnya yang sebelah kiri dan jemarinya menarik dan mempermainkan puting Farida yang sebelah kanan. Setelah itu lidah dan bibir Karina terus menyerang kedua puting Farida, sementara kedua tangannya mulai meremas payudara montok gadis yang baru beranjak dewasa itu dengan sedikit agak kasar. Pekik dan desahan Farida bertambah keras dan semakin sering terdengar karena payudaranya yang tenyata begitu senditif terus menjadi bulan-bulanan serangan Karina. Aku melihat adegan panas itu sambil mengocok Joe jr dengan tanganku sendiri.
Aku akhirnya tak tahan untuk ikut mengambil bagian dan segera kembali duduk mengapit tubuh Farida yang masih mendesah sambil memajmkan matanya menikmati saat-saat pertama gadis SMU itu merasakan nikmatnya cumbuan pada tubuh indahnya itu.
“EH, Karin. Gantian dong.”, kataku sambil langsung menyerang payudara Farida yang montok itu dengan lidah, bibir dan jemariku. Karina pun terpaksa mengalah.
Farida meman gmemiliki payudara yang indah dan montok untuk ukuran anak SMU. Tubuhnya yang mungil membuat payudaranya makin nampak montok dan menantang. Jemari tanganku meresapi kekenyalan dan kekencangan payudara gadis remaja yang baru beranjak dewasa itu. Lidah dan bibirku pun tak ketinggalan. Puting Farida yang makin mencuat dan mengeras karena birahi segera kujilat rakus, kadang kuhisap kuat. bahkan sesekali bukit payudara yang montok itu sedikit kugigit perlahan dengan gemas, membuat gadis itu serambi lempitik, tapi tak menghentikanku dan terlihat menikmatinya.
Sementara itu Karina tampaknya tak marah saat aku memaksanya meninggalkan cumbuannya pada payudara Farida. Karina malah meneruskan serangannya makin ke bawah. Jemarinya dengan lincah segera melucuti rok abu-abu yang dikenakan Farida. Tanpa waktu lama, aku pun bisa melihat celana dalam putih yang dikenakan Farida sambil terus mempermainkan payudaranya. Aku melihat bulu kemaluan Farida ada sedikit yang tampak keluar dari celana dalam putih yang terlihat mulai lembab itu.
“Hmmm…bulu kemaluan gadis ini pasti lebat.”, pikirku saat melihat hal itu, apalagi aku tadi memperhatikan tangan dan kaki Farida yang berkulit kuning langsat itu juga ditumbuhi bulu-bulu halus yang menggairahkan. Benar saja dugaanku.
Saat Karina melepaskan celana dalam Farida segeralah tampak kemaluan gadis remaja itu yang tampak dipenuhi bulu kemaluan yang lumayan lebat untuk ukuran gadis berusia 16 tahun. Tampaknya Farida belum berpengalaman menata rambut kemaluannya agar rapi dan lebih sexy.
Aku harus menyuruh Karina mengajari gadis itu kapan-kapan. Walaupun begitu kemaluan Farida masih nampak indah. Garis kemaluannya tampak rapat dan bibir kemaluannya ternyata berbentuk gemuk dan terlihat seperti gundukan kecil. Aku jadi tak sabar ingin merasakan nikmatnya jepitan bibir serambi lempit yang agak tembem itu pada batang rudalku. Pasti rasanya nikmat sekali.
Aku melirik ke arah Karina. Gadis cantik yang pernah menjadi cinta pertamaku itu terlihat memandang ke arah serambi lempit Farida dengan pandangan berbinar. Tampaknya sisi lesbi Karina bukan hanya karena lingkungan dan traumanya dahulu saja, tapi mungkin gadis itu sudah punya bakat lebi dalam dirinya. Sinar matanya yang dipenuhi nafsu birahi saat mengagumi serambi lempit Farida kelihatan lebih bergairah daripada saat Karina melihat Joe jr.
“Wuah…. Ida, serambi lempit kamu chubby banget.”, komentar Karina sambil jemarinya mencoba menguak belahan rapat di selangkangan Farida itu. Walaupun bulu kemaluan Farida cukup lebat untuk ukuran gadis berusia 16 tahun, tapi tidak selebat bulu kemaluan wanita dewasa yang tak pernah dicukur. Aku pun masih bisa melihat bagian dalam vagnan Farida yang berwarna merah muda segar saat bibir serambi lempitnya yang agak chubby itu dikuakkan oleh jemari Karina.
Aku melepaskan cumbuanku pada payudara Farida agar gadis SMU itu bisa melihat apa yang dilakukan oleh Karina. Tanganku meraih kaki Farida dan membantu Karina membuka lebar kaki dan paha Farida agar Karina bisa lebih bebas melaksanakan maksudnya. Farida yang merasakan cumbuan pada dadany terhenti dan merasa kedua kakinya dipentangkan, membuka matanya yang terpejam dan melihat ke arah Karina yang berlutut di bawah sofa tepat diantara kedua kakinya.
“Ihh..ap..apa yang kak Karin lakukan? itu kan buat pip..aaaughhh…..”, kata-kata Farida terhenti saat lidah Karina mulai menjilati belahan serambi lempit gadis remaja itu.
“Hhmmm…sshh…aahh…kak…kak Karin….jangan kak aahhhhh…….”, desah Farida yang mulai merasakan lihainya permainan lidah Karina dalam urusan jimek (jilat serambi lempit). Aku yakin gadis remaja itu pasti akan segera tenggelam dalam lautan birahi karena cumbuan Karina di serambi lempitnya.
“Sshh… tenang aja, Da. Rileks dan nikmatin aja. Perhatikan apa yang dilakukan Karina. Ini pelajaran buat kamu.”, kataku sambil merangkul bahu Farida agar gadis itu tak memberontak. Tapi tampaknya usahaku terlalu berlebihan karena ternyata Farida sama sekali tak mencoba melawan. Gadis itu mendesah menikmati kenikmatan yang diberikan Karina padanya sambil memperhatikan tindakan Karina dengan pandangan mata agak sayu karena gairah birahi yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Aku menarik tangan Farida dan membuat jemarinya yang lentik menggenggam kemaluanku yang tegang dan keras. Awalnya Farida tampak kaget melihat Joe jr, yang mungkin adalah kemaluan pria yang pertama yang pernah dilihatnya.
Tapi itu hanya sebentar saja karena kemudia Farida tersenyum manis padaku sambil jemarinya yang hangat menggenggam rudalku tanpa ragu. Farida pun kembali memperhatikan perbuatan Karina yang memberikannya kenikmatan hingga gadis itu hanya bisa mendesah nikmat penuh gairah.
“Uughh…yeah…kamu pinter, Da.”, pujiku saat merasakan jemari Farida yang lembut dan hangat mulai bergerak naik turun mengocok rudalku perlahan. Walaupun gadis itu belum berpengalaman tapi insting dan naluri kewanitaannya tampaknya membimbingnya.
Tanganku yang merangkul bahu Farida pun turun kebawah, menyelinap diantara ketiaknya, dan meremas payudara Farida dengan lembut, hingga menambah kenikmatan yang dirasakan gadis SMU itu. Sesekali putingnya kupermainkan dengan jepitan jemariku.
“Aaaahh…..ssstt…..kak….”, desah Farida makin kencang dan tubuhnys sedikit menggeliat tak tenang, tapi tak bisa bangkit karena aku dan Karina memegangi kedua kakinya yang mengangkang. Ternyata Karina sudah menemukan klitoris Farida dan menyerangnya habis-habisnya.
Lidah Karina seperti bergetar dengan cepat mempermainkan dan menyentil klitoris Farida. Kadang diselingi dengan bibirnya yang menghisap kuat klitoris mungil Farida itu. Hal ini tentu saja membuat Farida yang minim pengalaman segera menjadi kelabakan terbuai kenikmatan yang terus mendera titik-titik sensitif tubuhnya.
Tampaknya Farida benar-benar dibuai kenikmatan yang membuat gadis remaja itu lupa diri. Apalagi Karina sekarang mulai menusukkan satu jarinya keluar masuk dalam liang serambi lempit Farida yang sudah becek oleh cairan kenikmatannya. Karina melakukan hal itu sambil terus menyerang klitoris Farida dengan lidah dan bibirnya. Aku jadi kuatir melihat gaya serangan Karina, hingga aku segera menowel pundak Karina dan mendekatkan bibirku ke telinga Karina.
“Jangan dalem-dalem. Sayang kalo diambil pake jari doang.”, bisikku di telinga Karin. Karin tersenyum padaku sambil mengedipkan matanya tanda mengerti maksudku. Karina pun menjaga agar jemarinya tak menusuk terlalu dalam hingga tak sampai menembus selaput dara Farida.
Sebagai gantinya, gadis Chinese itu pun menambah jumlah jarinya. Pertama ditambahnya menjadi dua jari, tapi tak lama kemudian Karina mulai memasukkan 3 jarinya dalam liang serambi lempit Farida walaupun tak menusuk terlalu dalam. Farida tampak sedikit mengernyit saat bibir serambi lempitnya dipaksa merekah lebih dari biasanya. Aku sih malah beranggapan hal itu akan jadi persiapan yang bagus buat Farida agar gadis itu tak kaget saat Joe jr nanti mulai menerobos liang sempit itu.
Dalam permainan Karina yang jauh lebih berpengalaman, Farida pun tak perlu lama menanti datangnya gelombang dashyat yang menerpa tubuhnya. Tangannya yang tak memegang rudalku meraih kepala Karina dan menariknya makin menempel erat ke serambi lempitnya yang berdenyut kencang dan mengirim sinyal-sinyal kenikmatan ke seluruh tubuhnya.
“Aahh…aaghh…..kak….ssttt…AAAAGHHHHH………”, erangan Farida pun ditutup dengan jeritan gadis SMU itu saat tubuh belianya dihempaskan gelombang orgasme yang menerpanya. Tubuh mungilnya bergetar nikmat. serambi lempitnya menyemburkan cairan kenikmatan yang membanjiri bibir Karina yang masih menempel erat di selangkangannya.
“Hhhhmmpp…..hhmmppp…….”, Karina pun memnggumam tak jelas karena bibirnya tersumpal vagiana Farida yang mengempit kepala Karina dengan kedua pahanya. Tampaknya Karina pun mengalami orgasme dengan bantuan jemarinya sendiri yang sedari tadi sudah mengobok-obok liang serambi lempitnya sendiri. Orgasme Farida yang terbuai permainannya, rupanya menjadi pemacu yang manjur dan membuat gadis cantik berwajah oriental itu ikut orgasme menyusul Farida.
“AAUUGH…..Aduh..duh…duhh….Farida…..ja….jangan ditarik gitu..aduhh……”, aku pun ikutan menjerit bersama kedua gadis cantik yang sedang dalam puncak kenikmatan itu. Bukan karena aku juga ikutan orgasme, tapi karena saat orgasme itu melanda Farida, tanpa sadar tangan gadis SMU itu yang masih menggenggam Joe Jr., tiba-tiba mencengkeram kuat rudalku dan menariknya. Tentu saja aku pun ikutan menjerit. Bukan jerit kenikmatan seperti mereka, melainkan jerit kesakitan. rudalku terasa ngilu karena cengkeraman tangan Farida yang begitu kuat sambil menarik rudalku.
Aku akhirnya bisa bernafas lega beberapa saat kemudian saat cengkeraman jemari Farida mengendur. Aku pun melepaskan Joe jr dari genggaman jemari Farida dan duduk di sofa sambil mengelus Joe jr yang masih terasa sedikit ngilu. Karina pun juga menarik kepalanya yang tadi terjepit paha Farida.
Payudaranya yang indah bergerak naik turun karena nafasnya yang ngos-ngosan. Maklumlah, gadis cantik dengan wajah oriental itu baru saja mengalami orgasme pada saat kekurangan pasokan oksigen karena terjepit di selangkangan Farida. Walaupun begitu, aku bisa melihat Karina yang melirik padaku dengan wajah tersenyum puas sekali.
Sementara itu Farida tergolek lemas di sofa sambil memejamkan matanya. Payudaranya yang montok itu juga bergerak naik turun dan nafasnya terdengar agak berat. Gadis SMU yang mungkin baru saja mengalami kenikmatan orgasme pertama dalam hidupnya itu terlihat lemas, tapi wajahnya yang cantik tampak menyiratkan kepuasan.
Karina menatap wajah Farida yang terpejam. Gadis itu pun bangkit dan duduk di samping Farida disisi yang berlawanan denganku. Jemarinya mengelus dahi Farida yang sedikit berkeringat. Kemudian Karina mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Farida dengan lembut. Farida pun membuka matanya dan tersenyum menatap Karina.
“Wow kak Karin. Ngg…itu tadi mm…..itu tadi….”, kata Farida.
“Ssshh….sudah aku tahu kok. Itu tadi namanya orgasme. Tapi kamu suka kan?”, potong Karina. Wajah Farida bersemu merah dan terlihat malu. Tapi kemudian gadis itu pun menganggukkan kepalanya perlahan sambil tersenyum malu. Karina pun balas tersenyum lalu mencium bibir Farida dengan penuh gairah. Farida membalasnya. Gadis SMU itu terlihat sudah tak sungkan lagi berciuman dengan Karina. Tampaknya pengaruh The Click membuat gairah birahi kedua gadis itu belum padam walaupun telah sama-sama orgasme barusan.
“Ehem…ehem…..”, aku berdehem agak keras berusaha menarik perhatian kedua gadis cantik itu. Mereka pun melepaskan ciuman mereka dan melihat padaku.
“Kenapa Joe? Wajah loe kok kayak meringis kesakitan gitu?”, tanya Karina.
“Gara-gara kamu yang bikin Farida sampai begitu intens dapetnya, gue deh yang jadi korban.”, jawabku. Karina terlihat bingung, tak mengerti. Tapi Farida seperti teringat sesuatu.
“Aduh kak Joe. Maafin Ida ya kak. Ida bener bener gak sengaja.”, kata Farida.
“Emangnya si Joe kamu apain?”, tanya Karina.
“Mmm…ta..tadi waktu aku mm…waktu aku orgasme, aku gak sengaja ngeremes itunya kak Joe kuat-kuat.”, jawab Farida. Karina pun tertawa saat menyadari apa yang terjadi denganku. Kemudian gadis cantik itu pun bangkit berdiri dan berjalan kearahku. Karina lalu berlutut diantara kedua kakiku. Aku masih duduk di sofa sambil mengelus Joe jr yang sedikit lemas karena shock yang baru saja dialaminya dengan tanganku dan menatap Karina yang tersenyum menggoda.
“Aduh…kacian……Kayaknya ini perlu terapi khusus deh.”, kata Karina sambil tersenyum nakal. Jemari lentiknya mengambil alih Joe jr. dari tanganku. Perlahan wajah Karina mendekat ke arah Joe jr. Bibirnya mengecup lembut Joe jr. membuatku merasa agak nyaman.
“Uffh…..Karin…”, desisku saat lidah Karina dengan lincah menjilati batang rudalku. Bahkan tanpa ragu, Karina menjepit rudalku diantara bibirnya yang hangat dan lembut. Dengan penuh gairah, Karina pun mengeluarkan segala kemampuannya dalam melakukan oral seks. Tak perlu waktu lama, Joe jr. pun mulai bersemangat lagi dan pulih dari traumanya.
Beberapa saat kemudian , tanpa sengaja aku menoleh ke arah Farida. Ternyata gadis SMU itu asyik memperhatikan perbuatan Karina dengan pandangan bergairah. Aku meraih tangan Farida dan menariknya agar memegang pangkal batang rudalku yang masih asyik diservice lidah dan mulut Karina. Farida terlihat jengah dan malu tapi tak menolak dan membiarkan saja tangannya di tarik tanganku, dan jemarinya pun melingkari pangkal batang rudalku. Karina pun sejenak menghentikan kegiatannya dan tersenyum menatap Karina.
“Ida, kamu kesini deh. Bantuin kakak.”, kata Karina sambil tangannya menarik tangan Farida agar gadis itu bangkit dari sofa dan ikut berlutut di antara kedua kakiku yang duduk mengangkang.
“Ta..tapi a..aku gak bisa kak.”, kata Farida yang terliaht malu tapi gadis itu mandah saja saat ditarik dan ikut berlutut dibawahku.
“Makanya biar kak Karin yang ajarin kamu. Lagian ini semua kan gara-gara kamu, sampai barang kebanggaannya Joe jadi kayak gini. Kamu harus tanggung jawab dong.”, rayu Karina. Farida akhirnya mengganggukkan kepalanya perlahan, terlihat masih malu.
“Sekarang coba kamu beri Joe jr. kecupan lembut di kepalanya.”, perintah Karina. Awalnya Farida masih agak ragu, tapi kemudian perlahan bibirnya pun mengecup lembut kepala rudalku.
“Sekarang coba julurkan lidah kamu dan jilat bagian kepala rudal Joe, terutama lubang kecil yang ada disitu.”, ujar Karina memberi petunjuk.
“Ouughh……sstt….yeah…”, desisku keenakan saat Farida melakukan semua perintah Karina.
Kemudian Karina pun terus memberi petunjuk pada Farida bagaimana caranya memuaskan pria tanpa seks. Farida pun dengan patuh menuruti semua ajaran Karina. Lidahnya bergerak lincah menjilati batang rudalku, bahkan buah pelirku.
Farida pun tanpa ragu menurut saat disuruh membuka mulutnya dan memasukkan Joe jr dalam jepitan bibirnya yang lembut dan hangat itu. Kepalanya bergerak naik turun berusaha memasukkan Joe jr dalam mulutnya dan jemari lentik gadis SMU itu kadang meremas lembut buah pelirku dan juga mengocok batang rudalku yang sekarang sudah kembali pada ketegangan maksimalnya.
Aku hanya bisa melenguh dan menikmati semua yang dilakukan padaku. Farida sendiri tampaknya mulai menikmati kegiatan barunya itu. Gadis SMU itu tak lagi merasa malu, melainkan penuh gairah melumat rudalku dengan mulutnya.
“Uughhh….stop…stop dulu, Da. Permainan masih panjang. Aku gak mau keluar dulu.”, kataku sambil buru-buru menghentikan aksi Farida yang sepertinya mulai ketagihan mengoral rudalku. Alu tak tahu apakah ini semua karena pengaruh The Click, atau aku dan Karina sudah membangunkan macan betina yang tertidur.
Aku lalu menarik Farida bangkit dari posisinya berlutut hingga gadis remaja itu terjatuh dan menimpa tubuhku yang masih duduk di sofa. Segera saja kulumat bibirnya dengan penuh gairah. Farida ternyata membalas ciumanku dengan gairah yang tak kalah panasnya. Aku bisa merasakan kenyalnya payudara Farida yang menempel erat didadaku. Kemudian aku pun mengangkat tubuh Farida sedikit lebih tinggi hingga gadis SMU itu kini duduk mengangkangi perutku dan payudaranya yang montok dan indah tepat dihadapan wajahku.
“Kak Joe aaaahh…..sstt……….”, desah Farida bertambah keras saat payudaranya yang montok itu kulahap dengan rakus. Gadis remaja itu makin membusungkan dadanya hingga makin memudahkanku mengeksplorasi payudaranya yang nampak makin bulat membusung.
Kedua tanganku pun tak tinggal diam dan meremas dengan gemas buah pantat Farida yang bulat dan sexy. Tiba-tiba aku merasakan ada dua tangan memegang tanganku yang masih meremas pantat Farida dan membimbing tanganku agar menarik buah pantat bulat itu agar membuka. Sepertinya ini ulah Karina.
“Aughh…..sstt…apa….kak Karin?? Kak, itu kan aaahhhh…..”, Farida yang tadi seperti tersentak kaget lalu menoleh ke belakang, tak sanggup menyelesaikan kalimatnya, malah mendesah dengan penuh gairah. Kenikmatan tampak terpancar dari wajahnya yang cantik.
Saat aku melongok ke balik punggung Farida, ternyata Karina sedang asyik menjilati liang anus Karina. Makanya tanganku disuruh membuka buah pantat Farida. Tak hanya itu, Karina juga kadang berganti memasukkan rudalku dalam mulutnya.
Aku pun tak tahan lagi, Tubuh Farida kubalikkan kesamping hingga gadis remaja itu kini terbaring terlentang di sofa. Kutekuk kedua kaki Farida ke atas hingga kedua lututnya ada di kanan kiri tubuhnya. Aku menyuruh Farida memegangi kedua kaki yang mengangkang ke atas itu, hingga aku bisa lebih leluasa menikmati hidangan utama hari ini.
Tubuhku ada ditengah kedua kaki Farida yang mengangkang itu. Lalu tanganku meraih Joe jr. lalu mulai mengarahkannya pada pintu liang serambi lempit Farida. Kugesekkan perlahan kepal rudalku di belahan serambi lempit yang tampak gemuk dan merekah indah itu, sambil berusaha mencari jalan masuk yang nyaman.
“Kak Joe. Farida be…belum pernah nnngg begituan.”, kata Farida yang menjadi agak ragu saat menyadari tujuanku.
“Shhh…tenang aja sayang. Kamu akan merasakan nikmat yang lebih dari yang tadi kamu rasakan. Bener kan Karin?”, bujukku pada Farida sambil meminta bantuan pada Karina agar ikut merayu Faarida.
“Iya, Da. Kamu tenang aja. Percaya deh sama kakak. Kamu nanti pasti bakalan suka.”, Karina ikut membujuk.
Aku tak memberi kesempatan pada Farida untuk membantah dan segera menekan Joe Jr. menerobos masuk liang sempit itu dengan perlahan.
“Aduuhhh….sakit kak.”, Farida merintih kesakitan saat bibir serambi lempitnya yang masih perawan itu dipaksa merekah lebih dari biasanya.
“Tenang, sayang. Sakitnya cuma sebentar kok. Nanti pasti enakan. Kamu rileks aja.”, ujar Karina coba menenangkan Farida. Aku sendiri terus melanjutkan usahaku.
Akhirnya dengan agak susah, aku berhasil memasukkan kepala rudalku dan sedikit bagian batangnya ke dalam liang serambi lempit Farida yang terasa luar biasa sempitnya itu. Ujung kepala rudalku terasa menyentuh lapisan tipis selaput keperawanan gadis SMU yang cantik itu.
Aku berdiam sejenak, dan membiarkan agar liang serambi lempit Farida terbiasa dengan hadirnya benda asing didalamnya. Gadis cantik itu menggigit bibirnya sendiri dan terlihat sedikit kesakitan.
Kemudian aku perlahan menarik rudalku sampai hampir keluar, kemudia memasukkannya lagi dengan kedalaman sama seperti tadi. Aku melakukannya dengan perlahan dan menjaga agar jangan sampai merusak keperawanan gadis itu dulu. Begitu terus berulang.
“Sstt….kak….”, desis Karina saat batang rudalku mulai lancar keluar masuk. Tampaknya serambi lempitnya sudah mulai terbiasa dengan rudalku yang terus mengaduk dengan perlahan. Liang serambi lempit Farida yang bertambah basah membantu usahaku. Apalagi Karina juga ikut membantu membangkitkan gairah gadis SMU yang cantik itu dengan mengajaknya berciuman atau mempermainkan payudaranya yang membusung.
“Aaaghhhh….saakkiitt….”, jerit Farida saat aku tiba-tiba saja menghentakkan rudalku sedalam mungkin ke dalam serambi lempitnya dan merobek selaput dara gadis SMU itu. Aku diam tak melakukan gerakan setelah Joe jr. sukses bersarang seluruhnya dalam liang serambi lempit gadis remaja itu. Aku menunduk dan mendekap tubuh Farida setelah Karina minggir, tapi masih tetap duduk di bawah sofa disamping aku dan Farida.
“Sshh….tenang sayang. Tahan sebentar, entar sakitnya ilang sendiri kok.”, bisikku mencoba menenangkan Farida. Jemariku mengusap lembut dahi Farida yang sedikit berkeringat. Aku pun lalu mengecup lembut bibirnya.
Kami berdua tetap dalam posisi ini selama beberapa waktu. Aku benar-benar menikmati saat-saat ini. Berciuman penuh gairah dengan Farida yang cantik, sambil menikmati jepitan serambi lempitnya yang sempit dan terasa begitu nikmat memijat batang rudalku.
Setelah Farida agak tenang dan kerut kesakitan di wajahnya sudah berkurang, aku pun mulai menggerakkan pinggulku, hingga Joe jr. pun mulai bergerak keluar masuk dengan perlahan di liang serambi lempit sempit itu. Tanganku bertumpu di samping kanan dan kiri tubuh Farida dengan kedua kaki Farida terkait di lenganku, membuat posisi serambi lempit Farida lebih leluasa menerima hunjaman rudalku.
Aku terus menggenjot serambi lempit Farida yang baru saja kurenggut keperawanannya itu. Aku menikmati posisi ini karena aku bisa melihat wajahnya yang cantik menggemaskan itu. Walaupun bibir Farida seperti sedikit mengernyit kesakitan, tapi tatapan matanya sendu dan begitu penuh gairah.
Gadis remaja itu hanya bisa mendesah perlahan menerima hunjaman rudalku di liang serambi lempitnya. Aku sendiri merasakan kenikmatan yang berbeda dari serambi lempit Farida dibandingakan dengan cewek-cewek lain yang pernah kuentot.
Bibir serambi lempitnya yang chubby itu terasa menjepit sampai kepangkal paling ujung dari Joe. Jr. Bila dengan cewek lain yang tidak mempunyai bentuk bibir serambi lempit yang chubby seperti Farida ini, terkadang ada sedikit bagian pangkal rudal yang luput dari cengkraman serambi lempit meskipun aku sudah menusuk sedalam mungkin. Tapi serambi lempit Farida seakan bisa meraih bagian yang biasanya tak terjangkau itu. Aku pun terus memacu tubuh gadis belia itu dengan penuh nafsu.
Semakin lama, aku semakin menambah tempo permainanku secara bertahap. Farida pun tampaknya sudah terbiasa dan begitu menikmati hunjaman rudalku di liang senggamanya. Kernyit kesakitan di wajahnya hilang sudah, yang ada hanya wajah cantik yang sudah dikuasai bias nafsu birahi dan desah kenikmatan dari bibirnya.
“Ahh…ahhh…aaahh…kak…aahh……”, desah Farida yang terdengar begitu erotis dan merdu di telingaku. Desah kenikmatan seorang wanita saat berhubungan badan memang selalu menjadi penambah semangat dan memperbesar gairah pasangan prianya.
“Ugghh….serambi lempit kamu enak banget Da.”, dengusku sambil terus menggenjot serambi lempit gadis belia itu dengan penuh gairah.
Karena ini pengalaman pertama bagi Farida, aku pun tak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menundukkan gadis SMU itu. Pantat gadis remaja itu bergerak makin liar menyambut setiap hunjaman rudalku di serambi lempitnya.
“KKaaaakkk…..Ida mau aaaaggghhhhhhh…..”, desis Farida dengan tubuh yang bergetar dan meregang tak karuan saat gelombang orgasme itu menyapu dirinya. Dinding serambi lempitnya berkontraksi begitu luar biasa seakan mengempot dan berusaha menyedot kuat rudalku yang merasa makin nikmat.
Liang serambi lempitnya terasa makin becek karena cairan kenikmatan yang membanjir keluar. Wajahnya yang cantik tampak semakin cantik dan menggairahkan saat gadis remaja itu mencapai puncak kenikmatannya. Aku pun segera mendekatkan wajahku dan melumat bibirnya dengan penuh gairah. Farida membalasnya dengan bersemangat. Berbeapa saat kami terdiam sambil berpelukan dan berciuman mesra.
“Terima kasih, kak. Tadi itu bener-bener mmm….wow.”, kata Farida saat dia melepaskan ciumannya di bibirku dan menatapku mesra.
“Aku yang harusnya terima kasih sama kamu. Kamu sudah memberikan harta kamu yang paling berharga buat kakak. Kamu nggak nyesel?”, tanyaku. Farida tersenyum manis, sambil menggelengkan kepalanya.
“Meskipun kakak sudah punya cewek, dan nggak bisa jadi pacar kamu?”, tanyaku lagi.
“Nggak apa-apa kok. Lagian aku pikir kak Joe itu bukan type cowok yang pengen aku jadiin pacar kok. Habis kak Joe mata keranjang sih hi..hi..hi…..”, sahut Farida sambil cekikikan. Aku pun mencium bibirnya lagi.
“Hhmmm….sstt….hmmmm….”
Aku mendengar desahan dari sofa sebelah. Ternyata Karina sedang asyik mengocok serambi lempitnya dengan tangannya sendiri, dan tangannya yang satu lagi sibuk meremas payudaranya sendiri. Kasihan, gadis cantik berwajah oriental itu harus memuaskan nafsunya seniri. Biasanya aku pasti akan segera turun tangan dan segera membantu Karina dengan menjejalkan Joe jr. ke dalam serambi lempitnya yang sudah gatal itu. Tapi sekarang aku masih belum puas merasakan jepitan serambi lempit Farida. Maklumlah barang baru. Lalu sebuah ide cemerlang pun melintas di kepalaku.
Aku bangkit dari atas tubuh Farida, lalu menarik Farida agar ikut bangkit bersamaku. Aku mengajak gadis remaja itu menghampiri Karina.
“Kamu berlutut disini, Da. Kayak bayi merangkak. Nah gitu.”, aku menyuruh Farida agar menungging seperti merangkak dibawah sofa tepat hadapan Karina yang duduk di sofa dengan posisi terbaring dengan pantatnya di pinggiran sofa. Karina masih asyik mempermainkan serambi lempitnya sendiri, tapi tampaknya gadis itu mengerti rencanaku dan segera menggeser pantatnya hingga serambi lempitnya sekarang tepat dihadapan wajah Farida.
“Ida. Sekarang saatnya kamu membalas kenikmatan yang tadi diberikan Karina sama kamu.”, kataku pada Farida sambil menunjuk pada serambi lempit Karina yang sudah kembang kempis karena gairah.
“Tapi kak, a..aku gak pernah….gak bisa.”, kata Farida.
“Kamu pasti bisa. Lakuin aja semua yang pernah Karina lakuin sama kamu tadi. Ayo, dong. Tadi aja Karina dengan senang hati membawa kamu ke alam kenikmatan, masa kamu gak mau ngelakuin hal yang sama sih?”, bujukku.
Awalnya Farida masih terlihat ragu. Tapi kemudian secara perlahan wajahnya makin mendekat ke selangkangan Karina. Gadis SMU itu kemudian menjulurkan lidahnya dan walu masih ragu, Farida mencoba menjilat belahan serambi lempit Karina. serambi lempit Karina sudah cukup basah setelah dia tadi bermasturbasi sendiri, sehingga Farida bisa langsung merasakan rasa cairan kewanitaan yang pertama kalinya dalam jilatan pertama tadi. Gadis SMU itu mengecapkan bibirnya.
“Gimana rasanya?”, tanyaku pada Farida. Farida menoleh kearahku sambil tersenyum.
“hhmm…lumayan.”, jawab Farida singkat lalu gadis remaja itu pun kembali menjilati serambi lempit Karina. Kali ini Farida melakukannya tanpa ragu.
“Ouughh….yesss…terus Da. Cari benjolan kecil di bagian atas. Jilatin disana aaaaghh…..ya begitu. Jilatin juga dalamnya ahhh….”, desis Karina yang merasakan nikmat sambil memberi petunjuk pada Farida agar gadis itu mampu memberikan kenikmatan maksimal baginya.
Sejenak aku hanya diam berdiri menyaksikan pemandangan menggairahkan percumbuan dua gadis cantik seperti tadi. Tapi bedanya sekarang Farida yang memberikan kenikmatan buat Karina. Walaupun begitu, aku bisa melihat dari wajah Farida yang dipenuhi nafsu birahi dan begitu bersemangat menjilati serambi lempit Karina, tampaknya gadis SMU itu menyukai kegiatan barunya.
Aku pun tak tahan lagi dan ingin ikut ambil bagian. Tapi sebuah ingatan segera melintas di pikiranku. Aku pun melangkah mendekati meja dan mengambil The Click yang tadi kuletakkan diatasnya. Aku tahu aku harus mematikan alat ini selagi ingat atau kami semua akan terus-terusan horny dan bercinta sampai kehabisan tenaga. Tapi ada keraguan melintas di pikiranku. Aku belum puas menikmati tubuh Farida, bagaimana kalo setelah The Click kumatikan, Farida jadi sadar dan menghentikan semua ini?
Akhirnya jemariku pun menekan tombol berbentuk hati itu untuk mematikan The Click. Tak ada perubahan yang terjadi. Aku tetep horny, tapi mungkin tanpa The Click pun aku tetep bakalan horny bila ada dua gadis cantik seperti Karina dan Farida.
Tapi Farida ternyata tak menghentikan aksinya mencumbu serambi lempit Karina yang masih terus mendesah penuh gairah. Tampaknya gairah birahi dua gadis itu sudah terlanjur bangkit hingga mereka berdua takkan berhenti sebelum terpuaskan dan api birahi itu padam dengan normal.
Perlahan aku mengambil posisi di belakang Farida yang masih menungging asyik menjilati serambi lempit Karina. Joe jr. sudah siap dalam posisinya untuk melakukan penetrasi dari belakang. Sejenak aku ragu apakah Farida masih mau kuentot, tapi birahiku yang sudah naik ke ubun-ubun menepis keraguan itu.
Satu tanganku membimbing rudalku agar mengarah tepat ke liang serambi lempit Farida, sedangkan tangan yang lain memegang pantat Farida. Setelah yakin dengan target yang kuincar, aku pun segera menghentakkan pinggulku ke depan dan Joe jr pun dengan sekali gerakan berhasil menerobos masuk ke dalam liang serambi lempit Farida yang sempit dan nikmat itu.
“Ugghh….mmmpphh…..”, Farida melenguh saat memknya mendapat hunjaman rudalku tiba-tiba. Tapi gadis remaja itu tak menghentikan kegiatannya dan terus menjilati serambi lempit Karina dengan penuh gairah.
Aku pun tak ragu lagi. Segera saja pinggulku bergerak maju mundur memompa rudalku dalam liang serambi lempit yang sempit, hangat dan nikmat itu. Farida pun mulai mendesah nikmat, tapi karena mulutnya tersumpal serambi lempit Karina maka gadis itu hanya bisa mengeluarkan gumaman tak jelas.
Karina tampaknya juga jadi lebih bergairah melihat Farida dikerjai dari dua arah begini. Apalagi Farida tampaknya cepat belajar dan makin lihai dalam urusan jilat-menjilat. Bahkan kini gadis itu mulai berani menggunakan jemarinya mengocok serambi lempit Karina. Desah kenikmatan kami bertiga bercampur dan menjadi suara yang begitu erotis dan makin membakar gairah kami.
Aku bener-benar terbuai dengan kenikmatan serambi lempit Farida. Apalagi dengan posisi ini aku bisa melihat pantat Farida yang bulat dan sexy. Walaupun Farida masih remaja dan tubuhnya belum berkembang sepenuhnya, tapi lekuknya sudah mulai nampak indah.
Pinggul dan buah pantatnya pun lebih terbentuk dan lebih menonjol daripada Dini, adik perempuanku. Bahkan lebih menonjol daripada Karina. Tapi memang Karina mempunyai tubuh indah yang lebih semampai dan cenderung ramping. Mungkin bila Farida sudah dewasa akan mempunyai tubuh sexy yang tipenya seperti tubuh mama atau kak Sarah.
“Uughh….aahhh….sstt…ahhh….”, aku mendesah nikmat sambil terus memacu tubuh Farida.
“Aahhh….yessss….Fuck her hard, Joe. Slap that juicy ass.”, desis Karina yang sudah tenggelam dalam birahi dan membuatnya semakin binal.
Plaakkkk…..Plakkkkk…………
Aku menuruti permintaan Karina dan menampar buah pantat Farida yang membulat indah itu.
“Hmmmpp…..hhmmmppp…..”, Farida menjerit kaget, tapi yang terdengar hanya gumamannya yang makin keras.
Aku menampar pantat Farida hanya sesekali saja, sekedar untuk menambah minyak dalam api gairah kami. Aku bukan seorang sado masocist. Kadang aku juga membungkuk ke depan dan tanganku meraih payudara Farida yang terlihat bergoyang indah dan meremasnya dengan gemas. Kami bertiga pun terus bercinta dengan penuh gairah.
“Hhhmppp….aahhh….kak Joe, Ida dap….mmmppphhh…….”, desis Farida saat merasakan gelombang kenikmatan itu mulai menyambar dirinya.. Tapi Karina segera menarik kepala gadis remaja itu dan menekannya pada serambi lempitnya karena gadis chinese itu juga mencapai puncaknya sendiri.
“Aku juga mau nyampe aaaghhhh…”, jerit Karina sambil menggeliat makin liar dan makin menekan kepala Farida ke serambi lempitnya saat dia orgasme.
Farida pun orgasme menyusul Karina. Aku bisa merasakan dari jepitan serambi lempitnya yang makin menggila seakan berusaha memeras semua mani dari rudalku. Aku pun jadi tak tahan lagi. Tapi aku masih ingat untuk menarik rudalku keluar karena aku tak yakin Farida aman dari bahaya kehamilan. Aku segera berdiri, dan berjalan sampai ke pinggiran sofa.
Tangan kiriku menarik rambut Farida hingga wajah gadis itu terlepas dari himpitan Karina dan mendongakkannya ke atas. Farida tampak sedikit lemas karena baru saja orgasme, tapi wajahnya terlihat dihiasi bias kepuasan. Tanganku yang kanan mengocok rudalku sendiri dan mengarahkannya tepat ke wajah Farida.
“Oohhhh….yeah…..take this ouughhhh……”, dengusku saat rudalku menyemprotkan semua maninya ke wajah Farida yang cantik. Untung saja Farida memejamkan matanya karena semprotan maniku membuat wajahnya berlepotan sperma di mana-mana. Bisa berabe kalo aku harus membawa Farida ke dokter mata, lalu saat dokternya bertanya kenapa, aku hanya bisa menjawab kelilipan sperma he…he…he…
“Aduh…Joe. Kasihan Farida tahu. Lihat wajahnya sampai berlepotan gitu. Tenang aja Da. Sini kak Karin bantu bersihin.”, kata Karina sambil menarik wajah Farida lalu mulai membersihkan spermaku yang berlepotan di wajah Farida dengan lidahnya. Farida membiarkan Karina membersihkan wajahnya dengan jilatan lidahnya yang sensual. Malah tangan gadis itu dengan usil meraih payudara Karina dan meremasnya.
Aku pun duduk di sofa dengan lemas. Joe jr. pun juga sudah mulai tertidur. Tapi baru beberapa saat aku memejamkan matanya, kurasakan jemari lembut dan hangat memegang rudalku dan mengocoknya lembut. Aku membuka mataku dan melihat Karina sedang mempermainkan Joe jr dengan jarinya, berusaha membangkitkan lagi dari tidurnya.
“Jangan tidur dulu dong Joe. serambi lempit aku kan belum ngerasain rudal kamu. Lagian Farida tampaknya masih laper dan pengen nambah. Iya gak Da?”, kata Karina. Aku menatap ke arah Farida. Wajahnya yang cantik kini tak tampak malu-malu lagi dan dipenuhi gairah birahi. Farida pun ikut berlutut dengan Karina di bawah sofa tempat aku duduk. Jemarinya meraih buah pelirku dan mempermainkannya dengan lembut. Joe Jr perlahan mulai bangkit.
Aku sedikit mengeluh dalam hati. Kalo begini, walaupun The Click sudah kumatikan, tetap saja aku bakalan kehabisan tenaga melayani dua gadis cantik yang berubah jadi binal itu. Aku tak tahu, aku ini sedang beruntung atau lagi sial hhhmmmpp…..??????
* * * * * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * ** * * * *
“Kamu nggak jadi nungguin Dini?”, tanyaku pada Farida yang sudah bersiap dan sudah memakai sepatunya. Aku, Karina dan Farida sedang berada di teras rumahku.
“Nggak usah kak. Udah sore. Kapan-kapan aja aku kesini lagi.”, jawab Farida sambil tersenyum manis. Gadis remaja itu tetep kelihatan cantik walaupun hanya memakai seragam SMU Islam yang berpotongan tertutup dengan lengan panjang dan rok abu-abu panjang.
Bahkan dengan ingatanku yang kuat dan pikiran kotorku aku seakan masih bisa melihat keindahan tubuh belianya dari balik seragamnya itu. Rambut panjangnya sedikit awut-awutan setelah “pelajaran tambahan” yang diajarkan olehku dan Karina pada Farida barusan.
“Wah, itu bisa jadi alasan bagus buat kamu agar bisa nemuin Joe lagi hi…hi…hi…. Rupanya kamu jadi ketagihan ya?”, goda Karina. Wajah Farida pun bersemu merah karena malu.
“Iihhh…kak Karin. Ini juga gara-gara kakak. Kak Karin tuh yang ngajarin aku.”, jawab Farida sambil tangannya meraih dan berusaha mencubit perut Karina. Karina pun lekas menghindar lalu bersembunyi di belakangku sambil tertawa. Aku yang dijadikan tameng oleh Karina seneng-seneng aja sih. Habis ada dua gadis cantik yang sekarang terlihat seperti mengerubuti dan menghimpit tubuhku.
“Eiittss…..udah…udah…jangan bercanda terus. Ida….Ida manis….., kamu bener-bener nggak mau aku anterin pulang?”, kataku mencoba mengalihkan perhatian. Akalku berhasil Farida berhenti mengejar Karina yang masih bersembunyi di balik punggungku.
“Nggak usah deh, kak. ma kasih. Farida bisa pulang sendiri kok.”, jawab Ida.
“Ya udah deh kalo gitu. Kamu hat…….”, jawabanku pun terpotong karena tiba-tiba saja kedua tangan Farida meraih kepalaku agar menunduk dan bibir gadis remaja yang cantik itu segera menutup mulutku dengan ciuman yang mesara. Dengan senang hati aku pun melayaninya tak kalah mesranya.
“Mmm… gitu yaa…. sekarang aku jadi dilupain deh.”, cerocos Karina yang segera membuat aku dan Farida pun jadi melepaskan ciuman kami. Farida tampak malu karena godaan Karina.
“Masa cuma Joe doang sih yang dapet ciuman perpisahan, aku kan juga mau.”, Kata Karina lagi. Tapi Karina tak perlu kecewa karena Farida segera mendekatinya dan kini gadis remaja itu tanpa sungkan segera mencium bibir Karina. Karina tentu saja membalasnya dengan penuh gairah.
Mereka berdua berciuman selama beberapa saat sampai akhirnya Farida melepaskan ciumannya dan berpamit pulang. Aku dan Karina mengikuti kepergian Farida dengan pandangan mata kami yang masih berdiri di teras rumah.
“Mmm…gimana? Sekarang kamu percaya kan sama ceritaku tentang The Click?”, tanyaku pada Karina setelah Farida menghilang dari pandangan kami
”Oke..oke…aku percaya. Profesor Suparman benar-benar seorang jenius yang nyentrik. Bisa-bisanya dia menciptakan benda seperti ini.”, kata Karina sambil menimang-nimang The CLick di atas telapak tangannya.
“Tapi Joe, benda ini sangat berbahaya sekali. Jangan sampai benda ini jatuh ke tangan yang salah. Siapa saja yang menguasai The Click ini akan bisa seenaknya ML dengan siapapun yang dia mau. Aku harap kamu bisa lebih bertanggung jawab dan jangan menggunakan The Click seenaknya saja.”, kata Karina menasihatiku.
“Mungkin mulai sekarang aku tak akan butuh The Click ini lagi. Aku sudah punya pacar, Nina. Dan juga aku bisa menikmati kamu yang cantik ini walau tanpa bantuan The Click sekalipun”, kataku sambil merangkul tubuh ramping Karina dan mencium bibirnya. Karina pun membalas ciumanku.
Tiba-tiba Karina melepaskan cuman dan mendorong tubuhku menjauh. Gadis cantik itu menoleh kesana kemari seperti mencari sesuatu.
“Ada apa?”, tanyaku yang bingung dengan tingkah Karina.
“Nngg…. aku seperti merasa ada seseorang yang memperhatikan kita.”, kata Karina. Aku pun segera ikut memperhatikan sekeliling halaman depan rumahku, tapi tak ada orang lain selain kita berdua.
“Hhhmmm…… mungkin cuma bayanganmu saja.”, ujarku.
“Mungkin…..Tapi kita masuk aja yuk. Aku ngerasa lebih nyaman di dalam.”, ajak Karina. Akupun tersenyum dan mengangguk, lalu segera melangkahkan kakiku mengikuti Karina yang berjalan masuk ke dalam rumah lagi.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * ** * * * * Dua hari kemudian………………………
“Joe. Mobilnya sudah siap tuh. Kemarin sudah diservis biar sip kalo dipakai ke luar kota. Sekarang lagi Mamang panasin mesinnya di luar.”, kata Mang Dudung, suami mbok Inah, pembantu rumahku. Mang Dudung memang bekerja di bengkel, jadi aku sering minta tolng dia untuk merawat mobil dan motorku. Apalagi hari ini memang aku mau pergi ke puncak bersama Miko.
“Terima kasih Mang. Habis berapa Mang?”, tanyaku pada Mang Dudung.
“Seperti biasanya lah Joe.”, kata Mang Dudung. Aku pun segera mengambil beberapa lembar uang dari dompetku dan menyerahkannya pada Mang Dudung.
“Ma kasih ya Joe.”, jawab Mang Dudung sambil menerima uang dariku.
“Mang…tunggu! Titip bawain tasku ke mobil dong.”, kataku sambil menyerahkan tas ranselku pada Mang Dudung saat lelaki yang berusia setengah abad itu akan melangkah keluar. Mang Dudung pun mengambil tasku, lalu melangkah keluar. Aku segera mengambil handphoneku dan memencet beberapa nomor.
Tut…tut….tut…..
“Hallo, sayang. Aku seneng banget deh kamu telpon aku. Aku kangen banget sama kamu.”, terdengar suara manja di seberang sana.
“Aku juga kangen banget sama kamu. Bagaimana liburan kamu disana?”, kataku pada Nina lewat telpon. Pacarku itu sekarang sedang berada di Amerika untuk home stay sekalian liburan disana.
“Seru juga sih. Aku bisa sekalian belajar dan ngelatih bahasa inggris aku disini. Tapi jujur deh, aku sebenarnya lebih suka sama kamu liburan kali ini.”, kata Nina.
“Mmm… gue jadi GR deh. Tapi ini kan buat kebaikan kamu juga. Waktu buat kita bersama kan masih panjang.”, kataku sok bijaksana.
“Iya sih aku ngerti. Tapi aku sudah kangen banget sama kamu.”, kata Nina merajuk.
“Kangen sama aku apa sama Joe jr.???”, godaku.
“Ihhh…kamu tuh, jorok terus pikirannya.”, sahut Nina. Aku hanya tertawa.
“Tapi iya juga sih. Aku kangen sama dua-duanya kok.”, kata Nina. Memang sejak kukenalkan pada nikmatnya hubungan seks, Nina yang dulunya gadis pendiam dan pemalu, ternyata jadi agresif dan bernafsu tinggi kalo menyangkut urusan begituan.
“Kamu tenang aja, say. Kalo kamu pulang nanti, aku akan entot kamu dua hari dua malam, sampai kamu puas he.he..he..”
“Yeee…itu sih mau loe.”
“Oh, ya. Aku mau berangkat ke puncak sama Miko hari ini.”, pamitku pada Nina.
“Mmmm…oke. Tapi kamu jangan ngelirik cewek lain ya.”
“Nggak kok. Kecuali kepepet he..he..he…”
“Huuu…. dasar. Hati-hati ya babe.”
“Iya. Love You mmmmuahhh….”
“Love You too mmmuuahhhh….”
Aku menutup telpon. Kemudian aku mengingat kembali persiapanku buat perjalanan ke puncak. Pakaian ganti, jaket, sudah kumasukkan kedalam tas ransel. The Click juga kubawa dan kusimpan dalam tas, siapa tahu butuh he..he..he… Uang, dompet, udah. Yap, sekarang siap buat berangkat. Aku pun melangkah keluar.
Aku menutup pintu depan dan menguncinya, karena sekarang sedang tidak ada orang lain di rumah. Dini dan kak Sarah lagi shoping. Mama juga ada urusan. Untung aja aku sudah pamit kemarin.
Setelah mengunci pintu, aku pun melangkah kemobil. Kunci rumah sudah kuselipkan di penyimpanan rahasia yang sudah diketahui mama, adik, dan kakak perempuanku. Ngocoks.com
“Lho mang Dudung masih disini?”, kataku saat melihat mang Dudung masih ada di depan mobilku yang menyala.
“Iyalah Joe. Mobil kamu nyala gini, kalo mamang tinggal, bisa digondol maling.”, jawab Mang Dudung.
“Ohh… kalo begitu makasih ya mang. Joe pergi dulu Mang.”, pamitku sambil masuk kedalam mobil.
“Ati-ati, Joe.”, kata mang Dudung. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum lalu meluncurkan mobilku menuju rumah Miko.
* * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * Daerah menuju puncak beberapa jam kemudian
“Hoy! Bangun, Dodol. Tidur aja.”, suara cempreng Miko mengusik ketenanganku yang sempat terlelap saat perjalanan.
“Ada apa lagi sih Mik? Gue capek nih.”, kataku dengan malas.
“Dasar. Jadi loe ngajal gue cuman buat jadi sopir loe doang???”
“He..he..he…rencana gue ketahuan deh.”
“Sialan loe.”
“Tenang, Bro. Sampai di puncak nanti, gue akan kasih kejutan sama loe.”
“Kejutan apaan?”
“Ada deh. Kamu tunggu aja nanti. Aku yakin kamu nggak bakalan kecewa.”, jawabku misterius. Dalam otakku segera terbayang akan kejutan yang bisa kuberikan pada Miko. Miko adalah salah satu sahabatku yang paling cupu, takut dan suka gugup kalo dekat cewek, hingga dia masih jejaka ting-ting walaupun umurnya sebaya denganku. Dengan bantuan The Click, aku berencana akan membuat liburan kali ini menjadi liburan yang tak terlupakan buat Miko.
“Huh…sok rahasia-rahasiaan segala. Eh…loe jangan tidur lagi. Di jalan menuju puncak sekarang banyak operasi dari kepolisian.”, kata Miko.
“Tenang aja. STNK dan surat-surat lain ada di dompetku yang ada di atas dashboard tuh. Eh… Mik, jangan ugal-ugalan dong nyetirnya. Pelanin dikit kenapa?!”, kataku saat merasakan mobil yang melaju makin kencang saat ada di turunan.
Aku merasakan ada sesuatu yang tak beres saat melihat kepanikan yang terpancar dari wajah Miko.
“Gawat Joe! Remnya…..remnya blong!”, kata-kata Miko bagaikan halilintar menyambar di telingaku.
“Jangan bercanda loe. Eits…awas Mik….belokin….di depan jur……..aaaggghhhh…….”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Marni duduk di sofa ruang tengah rumahnya sendirian saja sore itu. Wanita cantik yang sudah berumur 40 tahunan itu terlihat lebih muda sepuluh tahun dari usianya sebenarnya. Tubuhnya penuh dengan lekuk wanita yang sudah matang dan masih terlihat kencang karena latihan aerobik rutin yang dilakukannya.
Indah tubuhnya dan kecantikan wajahnya tak kalah dengan gadis mahasiswa seperti anak sulungnya. Apalagi payudaranya yang besar dan montok yang menjadi kebanggaannya.
Setiap lelaki yang melihatnya, tak peduli sudah tua atau anak muda yang masih bau kencur pasti terbelalak mengagumi payudaranya yang besar dan masih terlihat kencang dan montok itu. Para wanita akan merasa iri melihat dadanya yang indah itu, bahkan ada yang menyebarkan gosip kalo Marni mendapatkan payudara itu dengan operasi.
Padahal mereka salah, Marni tak pernah operasi payudara. Payudaranya memang dari dulu sudah montok dan indah. Dan Marni juga pandai merawatnya hingga ia bisa mempertahankan kekencangannya sampai umurnya segini dan sudah mempunyai 3 anak yang semuanya sudah beranjak dewasa.
Dengan wajah bosan, Marni pun menyalakan televisinya. Dua anak gadisnya belum pulang dari shoping, sedangkan anak lelakinya pergi belibur ke villa keluarga yang ada di puncak. Suaminya sudah meninggal sejak lama.
Cerita Sex Budak Seks
“Perampokan itu terjadi di siang hari, tapi para perampok berhasil lolos karena warga sekitar tak berani bertindak saat perampok mengeluarkan senjata api dan menembakkannya ke udara sambil………..”, terdengara suara dari berita kriminal di televisi. Marni menekan remotenya untuk mengganti channel.
“…… meluncur jatuh ke jurang di kawasan jalan menuju puncak. Mobil itu terjatuh dan meledak hingga satu penumpangnya tewas terbak……”
“Nasib Marcella dan Ananda Mikola bagaikan di ujung tanduk…..”
Kringgg……kriiinngggg………
Marni pun bangkit dari sofa dan menuju ke arah meja telepon, lalu mengangkat telepon rumahnya yang berdering.
“Halo”
“Selamat malam. Apa benar di sini rumah saudara xxxxxxxxx?”, kata suara di seberang sana.
“Iya, benar. Itu Joe, anak lelaki saya. Ini darimana ya?”, tanya Marni.
“Saya Letnan Amri dari kepolisian. Apakah ibu adalah orang tua dari saudara xxxxxx?”
“Benar. Saya ibunya. Memangnya ada apa pak? Apa anak saya terlibat masalah?”, tanya Marni dengan hati kuatir.
“Mmm…begini bu. Anak ibu tadi pagi mengalami kecelakaan mobil. Mobilnya yang dikendarainya jatuh ke jurang. Ngg…. Dan nyawa anak ibu tak bisa diselamatkan karena mobilnya meledak dan terbakar dengan anak iobu masih di dalamnya. Ibu diharapkan kedatangannya di rumah sakit xxxx untuk keperluan identifikasi. Ngg…Halo…halo…. Bu…halloo……”
“Joe!!! Tidaakk…. JOOEEE….!!!!!!!!!!”