Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Membantu Ibu Tunanetra Melepas Hasrat

Membantu Ibu Tunanetra Melepas Hasrat

Cerita Sex Keluarga Tunanetra – Namaku Wawan (disamarkan). Ketika kisah nyata ini mulai terjadi, umurku 20 tahun, tapi aku sudah menyelesaikan pendidikan program D3, sehingga aku bisa bekerja di sebuah perusahaan swasta dengan gaji yang lumayan.

Sejak kecil aku menjadi tulang punggung keluarga. Karena ayahku sudah meninggal, sementara ibuku seorang tunanetra. Kakak perempuanku juga tunanetra. Tapi sejak lama dia menghilang entah ke mana. Aku sudah berusaha mencarinya ke mana – mana, tapi selalu gagal menemukannya.

Dengan sendirinya yang tinggal di rumah warisan dari almarhum ayahku ini hanya aku dan ibuku berdua. Di satu pihak aku harus bersyukur, karena penglihatanku normal. Tidak seperti ibu dan kakakku. Namun di pihak lain sejak kecil aku harus jadi tulang punggung Ibu dalam segalanya. Harus menyiapkan makanan sekaligus mencari uang sendiri untuk membeli sembako dan kebutuhan lainnya.

Maka sejak masih di SMP aku berusaha nyari duit dengan segala cara yang halal. Waktu masih di SMP, aku jadi tukang nyemir sepatu. Setelah di SMA aku berusaha nyatut sana nyatut sini. Dan untungnya aku sering berhasil mendapatkan hasil dari usaha nyatut itu.

Cerita Sex Keluarga Tunanetra Ngocoks Setelah jadi mahasiswa pun aku sering bisnis kecil – kecilan. Cuma jadi calo, yang menghubungkan pihak penjual dengan pembeli. Berkat keuletanku, hasil bisnis kecil – kecilan itu aku bisa kuliah dengan membiayai sendiri.

Dalam kesibukan kuliahku sambil harus mencari uang sendiri untuk biaya kuliahnya, aku tak punya waktu untuk memikirkan cewek. Mungkin di antara teman – teman kuliahku, hanya aku sendiri yang tidak punya cewek.

Karena di samping sibuk mencari uang dan kuliah, aku pun sering merasa minder. Takut ceweknya mundur sendiri setelah mengetahui keadaan ibuku yang tunanetra itu. Begitulah latar belakang kehidupanku yang berat memikulnya ini.

Mengenai ibuku, sebenarnya Ibu belum tua. Ketika aku berusia 20 tahun, usia Ibu baru 38 tahun. Karena Ibu menikah di usia 16 tahun. Di usia 17 tahun Ibu melahirkan Kak Wati, satu satunya kakakku. Dan di usia 18 tahun melahirkan aku.

Ibu juga punya bentuk tubuh yang tinggi montok dan punya wajah yang cantik. Kalau Ibu mengenakan kaca mata hitam, beliau tampak lebih cantik lagi. Sayangnya Ibu tidak bisa melihat, sehingga tidak bisa punya suami lagi, karena setiap hari beliau cuma tinggal di rumah, tak pernah ke mana – mana. Pernah juga aku bertanya apakah Ibu punya niat untuk kawin lagi?

Memang aku sangat prihatin melihat keadaan ibuku itu. Ketika aku sedang nonton televisi, Ibu suka duduk di sampingku. Dan itu berarti bahwa aku harus menerangkan apa yang sedang kutonton itu.

Terkadang Ibu suka menghidupkan televisi sendiri. Lalu beliau hanya mendengarkan suaranya sambil rebahan di sofa. Biasanya Ibu suka mencari sendiri channel yang sedang menyiarkan FTV atau sinetron. Ibu malah sudah hafal jalannya cerita setiap sinetron yang “ditontonnya”, meski hanya bisa mendengarkan suaranya saja.

Pada suatu malam…

Aku baru pulang kerja jam tiga pagi. Karena habis kerja lembur.

Seperti biasa, untguk membuka pintu depan kugunakan kunci cadangan yang selalu kubekal setiap bepergian. Supaya aku tak merepotkan Ibu untuk membukakan pintu depan yang terkunci.

Setelah masuk ke dalam rumah, kukuncikan kembali pintu depan, lalu masuk ke dalam kamarku dengan badan terasa letih sekali. Tadinya aku ingin langsung tidur. Tapi sayup – sayup kudengar suara rintihan ibuku. “Aaaaah… aaaaaah… aaaaaaaaa… aaaaaah… aaaaa… aaaaaaah…”

Kenapa Ibu merintih – rintih begitu? Apakah Ibu sedang sakit?

Maka setelah melepaskan sepatu, aku melangkah ke luar dari kamarku dan melangkah ke arah pintu kamar Ibu yang biasanya tidak dikunci. Tapi pada saat itu ternyata pintu kamar ibuku terkunci. Sementara rintihan – rintihan ibuku masih terdengar, bahkan semakin jelas. “Aaaaa… aaaaaaah… aaaaa …

Aku semakin penasaran. Kenapa Ibu merintih – rintih begitu? Apakah Ibu sedang merasa kesakitan atau… nah, aku baru ingat pintu itu ada kacanya di bagian atas. Sehingga dengan sedikit berjingkat aku bisa melihat ke dalam kamar Ibu. Bahkan pada saat itu sengaja aku memindahkan kursi makan ke dekat pintu kamar Ibu.

Dan… apa yang kulihat?

Ternyata Ibu sedang telanjang bulat. Tangan kanannya sedang meremas – remas payudaranya, sementara tangan kirinya sedang mengelus – elus serambi lempitnya yang berjembut lebat itu.

Sebenarnya aku sudah sering melihat Ibu telanjang. Tapi biasanya aku suka memalingkan muka, karena merasa jengah dan malu sendiri. Tapi kali ini aku memandangnya dengan mata nyaris tak berkedip.

Rupanya Ibu sedang bermasturbasi. Jari tangannya dimasuk – masukkan ke celah kewanitaannya, sementara mulutnya ternganga sambil berdesah – desah histeris seiring dengan gerakan jari di dalam celah kewanitaannya.

“Aaaaaaa… aaaaahhhh… aaaaa… aaaaahhhhh… aaaaa… aaaaaahhhh… aaaaa… aaaaaah… aaaaaa… aaaaaahhhhhh…”

Dan… diam – diam tongkat kejantananku jadi tegang… tegang sekali…!

Dan aku tak kuat lagi menyaksikan kejadian selanjutnya. Lalu aku turun dari kursi dan memindahkannya ke tempat semula.

Kemudian aku merebahkan diri di atas ranjang, sambil membayangkan lagi apa yang barusan kusaksikan itu.

Kenapa rudalku jadi ngaceng begini? Apakah nafsuku bangkit setelah menyaksikan Ibu yang telanjang sambil bermasturbasi itu?

Entahlah.

Yang jelas dalam tidurku di hari yang sudah pagi itu, aku bermimpi tentang sesuatu yang tidak pernah kualami sebelumnya. Aku bermimpi menyetubuhi Ibu.

Mimpi gila memang. Tapi ketika aku terbangun, celanaku basah…!

Gara – gara mimpi gila itu spermaku meletus di balik celana dalamku…!

Tapi kenapa aku harus mengalami mimpi segila itu? Kenapa pula di dalam mimpi itu aku merasakan liang serambi lempit Ibu sedemikian enaknya sehingga aku sampai ngecrot dan celana dalamku basah?

Apakah di dalam kenyataan memang seperti itu? Bahwa serambi lempit ibuku itu enak sekali sehingga membuat rudalku ngecrot seperti di dalam mimpi gilaku?

Entahlah. Yang jelas setelah bangun, aku langsung mandi sebersih mungkin. Rambut pun kukeramasi dengan shampoo.

Hari itu aku memang libur. Biasa, kalau sudah kerja lembur, aku dikasih libur keesokan harinya.

Setelah menyisir rambut, aku pergi ke warung nasi yang tidak jauh dari rumahku. Kubeli dua nasi bungkus. Untukku dan untuk Ibu.

Lalu kuajak Ibu makan bersama.

Pada waktu makan itulah aku mulai mengorek pengakuan Ibu.

“Bu… aku mau bertanya, tapi kuharap Ibu menjawabnya secara jujur ya.” “Mau nanya apa Wan?” “Ibu masih membutuhkan sentuhan lelaki kan?”

Ibu terdiam sesaat. Lalu menjawab pertanyaanku, “Ibu kan belum tua – tua amat Wan. Tentu saja ibu masih membutuhkan sentuhan lelaki. Tapi ibu nggak mau kawin lagi, karena takut tidak sayang sama kamu dan Wati.”

Aku yang sudah selesai makan, lalu berdiri dan melangkah ke belakang kursi yang sedang diduduki oleh ibuku. Lalu kuselinapkan tanganku ke daster Ibu bagian dadanya. Aku tahu Ibu tidak mengenakan beha, sehingga aku bisa langsung menggenggam kedua payudara montoknya dengan sepasang tanganku yang sudah berada di balik dasternya.

Ibu tersentak, “Haaa?! Kamu kan anak ibu Wan…!”

“Iya… tapi daripada Ibu terus – terusan bermasturbasi, mendingan pakai rudal yang asli Bu… lagian di rumah ini kan hanya ada kita berdua,” sahutku sambil mengelus kedua puting payudara ibuku dengan kedua tanganku yang sudah berada di balik dasternya.

Ibu terdiam sejenak. Lalu memegang kedua pergelangan tanganku sambil bertanya, “Memangnya kamu bisa nafsu sama ibu?”

“Bisa Bu. Tadi jam tiga pagi aku melihat Ibu sedang bermasturbasi. Aku tak kuat menahan nafsu. Tapi nggak mau ganggu Ibu yang kelihatannya sedang asyik gitu. Makanya aku langsung tidur aja. Eee… aku malah bermimpi menyetubuhi Ibu. Sampai basah celanaku Bu.”

“Masa?! Berarti kamu nafsu melihat ibu sedang telanjang sambil masturbasi tadi?”

“Iya Bu. Nafsu sekali melihatnya. Padahal biasanya sih gak gitu. Tiap melihat Ibu telanjang, aku suka memalingkan muka. Karena merasa jengah dan malu sendiri. Tapi tadi menjelang subuh… malah sampai terbawa – bawa mimpi Bu.”

“Terus maumu sekarang bagaimana?”

“Pokoknya aku siap untuk menyetubuhi Ibu, supaya Ibu jangan masturbasi lagi. Keseringan masturbasi, lama – lama bisa gila lho Bu,” sahutku dengan “dalil” mengada – ada. Padahal aku belum pernah mendengar atau pun membaca kalau keseringan masturbasi itu bisa gila.

Tapi kelihatannya Ibu terpengaruh oleh ucapanku. “Kalau ibu nanti hamil gimana?”

“Gak apa – apa. Hamil ya hamil aja. Aku mampu kok ngurus anaknya kalau sudah lahir kelak.”

“Tapi apa kata tetangga nanti? Ibu kan gak punyha suami, lalu hamil dan melahirkan… lalu anaknya menangis… suaranya terdengar ke mana – mana… jangan Wan ah… jangan sampai ibu hamil. Beli kondom aja dulu gih… atau beli pil anti hamil. Mungkin di apotek atau toko obat juga ada.”

“Iya Bu. Sekarang juga aku mau nyari sampai dapet,” sahutku sambil bergegas menuju gudang di sebelah. Di situlah kuletakkan motorku yang jarang dipakai. Karena untuk bekerja disediakan bus antar jemput karyawan.

Beberapa saat kemudian motor bebekku meluncur di jalan aspal, menuju toko obat langgananku yang letaknya agak jauh dari rumahku.

Kebetulan pil anti hamil itu tidak sulit mencarinya. Toko obat langgananku menyediakannya dengan harga yang lumayan murah. Kubeli pil itu 3 strip, untuk persediaan ibuku. Kemudian aku pulang lagi ke rumah.

Begitu tiba di rumah, aku langsung mencari ibuku di dalam kamarnya. Tapi Ibu tidak ada di situ. O, ternyata sedang di kamar mandi, karena aku mendengar bunyi air dituangkan ke lantai.

Maka kubuka pintu kamar mandi yang tidak pernah dikunci oleh ibuku itu (karena takut kalau jatuh di dalam kamar mandi).

Ternyata Ibu sedang telanjang bulat di dalam kamar mandi.

“Habis makan kok mandi Bu? Bagusnya kalau mau mandi sebelum makan tadi,” kataku sambil masuk ke dalam kamar mandi.

“Siapa yang mandi?” tanya Ibu sambil memutarf badannya jadi menghadap padaku, “ibu abis nyukur jembut ibu Wan… tuh lihat… serambi lempit ibu jadi bersih sekarang kan?”

“Hihihihiii… iyaaa… tadi subuh masih gondrong. Sekarang udah dibotakin. Pake apa nyukurnya Bu?”

“Pake silet pemberianmu tempo hari itu, waktu ibu minta silet untuk nyukur bulu ketek.”

“Duuuh… kalau bersih gini pasti enak jilatinnya Bu,” kataku sambil mengusap – usap kemaluan ibuku yang putih bersih dan lumayan tembem itu.

“Memangnya kamu mau jilatin serambi lempit ibu?” tanyanya.

“Mau kalau sudah bersih gitu sih,” sahutku sambil membeberkan handuk dan membalutkannya di tubuh Ibu.

Setelah tubuh Ibu terbalut handuk, aku langsung membopongnya keluar dari kamar mandi.

“Daster ibu ketinggalan di kamar mandi Wan,” kata Ibu waktu baru keluar dari pintu kamar mandi.

“Biar aja Bu. Kan sekarang Ibu harus telanjang bersamaku yang akan telanjang juga.”

“Iya ya. Mmm… tadi dapet apa? Kondom apa pil anti hamil? “tanya Ibu.

“Pil anti hamil Bu. Kalau pake kondom sih takut kurang enak.”

“Memang kurang enak pake kondom sih. Yang enak kan kulit ketemu kulit… hihihihi… Wawan… Wawan… gak nyangka kamu bakal punya niat begituan sama ibu ya?” ucap Ibu setelah kurebahkan di atas ranjangnya.

Pada saat itu pula aku melepaskan segala yang melekat di tubuhku. Dan setelah telanjang, aku naik ke atas ranjang sambil melepaskan belitan handuk dari tubuh ibuku.

Ibu malah meraba – raba dadaku, lalu perutku.

“Nyari apa Bu?” tanyaku.

Tiba – tiba Ibu menangkap rudalku yang sudah ngaceng berat ini. “Ini yang ibu cari. Udah segede apa rudalmu ini Wan? Adududuuuuh… gede banget rudalmu Wan… jauh lebih gede daripada rudal ayahmu… !”

“Masa sih Bu?”

“Iya. rudal bapakmu biasa – biasa aja. Gak sepanjang dan segede rudalmu ini. Nurun dari siapa ya?”

“Hihihiii… gak tgaulah Bu. Harusnya Ibu lebih tau nurun dari siapa ayooo…?”

“Mmm… mungkin nurun dari kakek ibu. Almarhum kakek ibu kan orang Arab,” sahut Ibu sambil menelentang dan merenggangkan kedua belah pahanya, “Ayo Wan… masukin aja langsung rudalmu. Ibu pengen ngerasain enaknya dimasukin rudal gede begitu. Jangan pake jilat – jilatan dulu segala. Nanti malah terasa longgar karena beceknya.

Memang aku sendiri pun ingin secepatnya memasukkan rudal ngacengku ke dalam kemaluan Ibu. Karena takut kalau Ibu keburu berubah pikiran. Maka setelah mendengar permintaan dari Ibu, aku pun cepat meletakkan kepala rudalku di mulut serambi lempit Ibu yang tampak sudah menganga dan kemerahan itu.

Ibu pun membantuku. Memegangi leher rudalku, lalu mencolek – colekkan moncongnya ke mulut serambi lempitnya. Sampai akhirnya Ibu berkata, “Iya… sekarang doronglah Wan…”

Aku pun mendesakkan rudalku sekuat tenaga.

“Iyaaaa… sudah masuk sedikit Wan… ayo dorong lagi yang lebih kuat…”

Kudorong lagi batang kemaluanku sesuai dengan permintaan Ibu. Dan… tongkat kejantananku melesak masuk sedikit demi sedikit… membuat mulut Ibu ternganga.

“Ma… maasuuuk Waaaaan… duuuuh… rudalmu memang gede banget Waaaan… terasa sekali… sangat terasa enaknya Waaaaan… “rintih Ibu sambil menarik leherku ke dalam pelukannya. Dan merapatkan pipi hangatnya ke pipiku.

Bayangan wajah Bu Laila pun terlintas di dalam benakku. Namun ketika aku mulai mengayun batang kemaluanku, bayangan wajah wanita cantik itu pun menjauh dan akhirnya hilang dari terawanganku. Kini aku hanya merasakan betapa legitnya liang tempik Ibu ini, meski lama kelamaan terasa mulai seperti mendorong rudalku ke luar, lalu menyedotnya kembali …

“Ibu… serambi lempit Ibu enak sekali Bu… uuuughhh… uuuuughhhhh…” bisikku terengah ketika rudalku mulai memompa liang keewanitaan ibuku.

“rudalmu juga… luar biasa enaknya Waaan… ooo… ooooooohhhhh… enak sekali Waaaan…” sahut Ibu perlahan dan nyaris tak terdengar… dengan pinggul mulai bergoyang – goyang seperti layang – layang tertiup angin kencang. Membuatku semakin bergairah memenyetubuhinya.

Entah setan atau jin mana yang membantuku waktu batang kemaluanku makin gencar memenyetubuhi liang serambi lempit Ibu yang sudah bertahun – tahun tak merasakan genjotan zakar lelaki ini. Yang jelas aku semakin mengagumi keindahan bentuk tubuh putih mulus ibuku, mengagumi kecantikan wajahnya yang sepintas lalu tak kelihatan bahwa ibuku ini seorang tunanetra.

Ya, ibuku nyaris sempurna sebagai wanita yang awet muda. Seolah hanya 1 – 2 tahun lebih tua dariku. Hanya sepasang matanya yang tidak sempurna, yang lainnya benar – benar penuh dengan daya pesona. Tubuh yang tinggi montok, dengan bokong gede dan payudara yang montok, dengan pinggang yang ramping dan kulit yang putih mulus.

Maka semakin lupalah aku kalau yang tengah kusetubuhi ini ibu kandungku sendiri. Aku hanya merasakan setiap lekuk tubuh Ibu yang tersentuh olehku ini penuh dengan keindahan dan kenikmatan. Bahkan ketika aku menicum bibirnya dengan penuh gairah birahi, Ibu pun menyambutnya dengan lumatan hangat, dengan nafas yang terengah – engah…

Terkadang leher jenjangnya kujilati disertai dengan sedotan – sedotan kuat, sehingga mulut Ibu ternganga – nganga, dengan dekapannya di pinggangku yang semakin erat. Seolah takut kalau kutinggalkan dari surga dunia yang sedang kami nikmati bersama ini.

Maka perasaan nikmat yang sedang kurasakan ini berbaur dengan perasaan haru. Dan membuatku smekin yakin bahwa Ibu masih berhak menikmati semuanya ini. Bahkan pada suatu saat aku membisiki telinganya, “Aku makin sayang kepada Ibu…”

Spontan Ibu menyahut, “Iii… ibu juga… makin sayang kepadamu Wan… ta… tapi… ibu su… sudah mau lepas Wan… ayo percepat entotannya… entooooot yang cepeeeet… iyaaaaaa… iyaaaaa… Waaaaaan… Waaaaan… Wawaaaaaaan…”

Ibu berkelojotan. Gedebak gedebuk sambil memeluk leherku erat – erat, membuatku sulit bernafas. Namun kuikuti permintaannya. Entotanku dipercepat… makin lama makin cepat… sampai akhirnya terdengar suara erangan ibuku tercinta, “Aaaaaaa… aaaahhhh… ibu lepas Waaaannn…”

Lalu Ibu terkulai lunglai. Dengan keringat yang membasahi wajah dan lehernya, bercampur baur dengan keringatku.

Lalu Ibu membelai rambutku dengan lembut sambil berkata perlahan, “Terima kasih Wan… sejak ditinggal oleh ayahmu, baru sekali inilah ibu merasakan nikmatnya disetubuhi… ibu sayang sekali padamu Wan… kamu memang anak yang sangat mengerti pada kebutuhan batin ibu…”

Aku terdiam sambil menikmati indahnya kedutan – kedutan liang serambi lempit Ibu yang baru saja mencapai orgasmenya.

Namun aku belum ejakulasi. Aku berusaha mengatur pernafasanku agar bisa berlama – lama memenyetubuhi liang serambi lempit Ibu.

Maka setelah Ibu tampak pulih lagi dari kelunglaiannya, aku pun melanjutkannya kembali. Mengayun rudalku lagi, yang bergerak – gerak maju mundur di dalam liang serambi lempit ibuku yang sudah becek ini.

Aku merasa kenikmatanku tidak terganggu oleh kebecekan liang kewanitaan ibuku. Bahkan aku semakin pede, bahwa aku sudah berhasil membuat Ibu puas. Lalu aku ingin mengejar kepuasan untuk diriku sendiri. Dengan mempergencar entotanku.

Ranjang Ibu pun berderit – derit lagi secara berirama. Sesuai dengan gerakan rudalku yang sedang memompa liang serambi lempit ibuku.

Ibu pun mulai menanggapi aksiku dengan goyangan pinggulnya yang mulai memutar – mutar, meliuk – liuk dan menukik lalu menghempas di atas kasur. Dengan sendirinya kelentit Ibu pun njadi sering bergesekan dengan batang kemaluanku. Maka erangan – erangan Ibu pun terdengar lagi perlahan tapi jelas di telingaku.

“Waaaan… ooooo… oooooh… Waaaan… ini udah enak lagi Waaaan… entot terus Waaaan… entoooottttttt… entoooootttttt Waaaaaaan… enak sekali Waaaaan… entot teruuuussss… entoooottttttttt… entooooootttttt… ooooo… ooooooh… enaaaaak Waaaan… enaaaaaakkkhh… entoooooootttttttt …

Cukup lama aku memenyetubuhi ibuku. Sehingga keringatku sudah semakin bercucuran. Sampai pada suatu saatg Ibu berkata terengah, “Ibu udah mau lepas lagi Waaan… ayo barengin biar nikmat Waaaan…”

Memang aku pun sudah berada di detik – detik krusial. Maka setelah mendengar permintaan Ibu itu, aku tak mau menahan – nahan lagi. Kupercepat entotanku… maju mundur maju mundur dan maju mundur dengan cepatnya.

Lalu… ketika sekujur tubuh Ibu sedang terkejang – kejang, ketika liang serambi lempitnya terasa sedang menggeliat dan berkejut – kejut, batang kemaluanku pun sedang mengejut – ngejut sambil memuntahkan auir mani… croooooottttt… crooooooottttt… crotttt… croooottttt… crooootttttttt… croooottttt…

Kami sama – sama menggelepar, lalu sama – sama terkulai dan terdampar di pantai kepuasan. Dengan tubuh bermandikan keringat.

O, betapa indah dan nikmatnya semua yang telah kualami ini.

BDan sekarang Ibu sudah memberikan sesuatu yang paling berharga di badannya, untuk kumiliki dan kunikmati.

Karena itu aku harus memperlakukannya lebih dari biasanya. Ketika Ibu mau bersih – bersih di kamar mandi, aku membopong tubuh telanjangnya ke kamar mandi. Lalu kami mandi bersama. Untuk membuang keringat dari tubuh kami.

Lalu aku menyabuni sekujur tubuh ibu, dari leher sampai ke telapak kakinya.

Namun ketika aku sedang menyabuni kemaluannya yang sudah dua kali orgasme itu, diam – diam rudalku ngaceng lagi. Maka kuangkat tubuh Ibu ke bibir bak kamar mandi. Dan kududukkan Ibu di pinggir bak yang bibirnya cukup lebar, yang biasanya digunakan untuk menaruh peralatan mandi. “Mau ngapain mendudukkan ibu di sini Wan?

“Iya Bu. Aku nafsu lagi nih. Gak apa – apa ya,” sahutku sambil berdiri menghadap ke arah ibuku, dengan moncong rudal diletakkan di mulut serambi lempit Ibu yang masih berlepotan air dan busa sabun.

“Iya gak apa – apa Sayang,” sahut Ibu sambil memegang sepasang bahuku.

Dan dengan mudahnya aku bisa memasukkan rudalku yang sudah ngaceng lagi ini ke dalam liang serambi lempit Ibu… blessssssssskkkkkkk…

Dan sambil berdiri, mulailah rudalku “memompa” liang kemaluan ibuku.

“Oooooohhhhh… rudalmu memang enak sekali Wan… nanti istrimu pasti bakal ingin dientot terus sama rudal gede dan panjangmu ini… ooooohhhhh… enak sekali Waaaan… “erang Ibu sambil memeluk leherku agar tidak terjatuh ke lantai, sekaligus ingin menciumi pipi dan bibirku.

“Me… serambi lempit ibu enak nggak Wan?” tanya Ibu ketika ayunan rudalku masih berjalan lambat.

“Enak sekali Bu…” sahutku sambil mendekap pinggang ibu, sementara rudalku mulai kugenjot secara berirama.

“Sayangnya kita gak boleh kawin ya Wan. Kalau boleh sih, ibu mau juga dihamili olehmu.”

“Kalau hidupku sudah mapan, tiada salahnya ibu mengandung anakku.”

“Kenapa harus sudah mapan?”

“Kalau sudah mapan, aku bisa menyembunyikan Ibu di suatu tempat yang jauh dari mulut usil.”

“Iya… makanya cepatlah sukses ya Sayang. Biar ibu bisa hamil, bisa mengandung benihmu. Oooo… ooooohhhh… ini… makin lama makin enak Waaaan… tapi jangan terlalu lama kayak tadi yaaaa… kalau ibu sudah mau lepas, kamu juga harus ngecrot… biar bareng lagi lepasinnya seperti tadi… nikmat sekali…

“Iya Bu… lagian menyetubuhi di dalam kamar mandi gini gak boleh lama – lama ya. Takut diganggu hantu air…”

“Ah… kata ayahmu sih kata hantu itu hanya plesetan dari kata Tuhan… jadinya Tuhantuhantuhantuuuu… bener kan?”

“Iyaaaa… dududuuuuuhhhh… serambi lempit Ibu makin lama makin enak Buuuu…”

“rudalmu juga makin lama makin enaaaaaak… ayo cepetin entotannya Waaaan… biar cepat selesai…”

“Iya Bu,” sahutku sambil mempercepat entotanku seperti yang Ibu inginkan.

Bokong Ibu makin lama makin maju. Tapi aku tidak takut beliau jatuh, karena selalu berpegangan ke bahuku atau memeluk leherku erat – erat.

Dan akhirnya Ibu berkata terengah, “Ayo Wan… barfengin lagi… ibu udah mau lepas nih Waaaaan… entooooot teruuuusssss… lepasin bareng lagiiiii…”

Aku memang sudah ingin ngecrot secepatnya di kamar mandi ini. Maka setelah mendengar permintaan Ibu, kupergencar entotanku, tanpa mempedulikan apa – apa lagi.

Dan… oooo… aku berhasil…!

Ketika liang serambi lempit Ibu mengedut – ngedut kencang, aku pun tengah “menanamkan” rudalku di dalam liang surgawi yang sedang berkejuit – kejut erotis itu… disusul dengan kejutan – kejutan di rudalku sendiri… rudal yang moncongnya tengah memuntahkan lahar lendir ini. Crooootttttt… crotcrottttt…

Ibu masih memeluk leherku, tapi kedua lengannya sudah terasa lemas. Maka setelah mencabut batang kemaluanku dari liang serambi lempit Ibu, kuturunkan ibuku dengan hati – hati.

“Duuuuhhhh… ini untuk pertama kalinya ibu disetubuhi di dalam kamar mandi Wan,” kata Ibu sambil meraba – raba bibir bak, sampai menemukan gayung plastik. Lalu diambilnya air dengan gayung plastik itu untuk menyirami serambi lempitnya.

Aku pun mengambil gayung plastik itu dari tangan ibuku. Lalu kusiram air dari atas kepala Ibu, agar beliau mandi sekalian berkeramas.

Setelah Ibu selesai berkeramas dan kubilas dengan air dari gayung plastik, barulah aku sendiri mandi sebersih mungkin, sekalian mandi junub. Setelah mandi, kami kenakan pakaian masing – masing. Dan bersama – sama rebahan di atas ranjang Ibu.

Ibu mendekapku dengan kehangatan seorang ibu, sekaligus sebagai seorang wanita yang baru berbagi kenikmatan denganku.

Sementara terawanganku mulai melayang – layang lagi. Menerawang segala yang pernah kualami dan kemungkinan – kemungkinan yang akan kualami.

Bersambung… Walau pun aku tak pernah pacaran dengan cewek sebayaku, sebenarnya Ibu bukanlah wanita pertama yang kugauli. Ya… aku akan tetap ingat peristiwa demi peristiwa, khususnya tentang masalah seksual.

Baru seminggu aku bekerja di kantor perusahaan swasta itu, seorang karyawati menghampiriku ketika aku sedang nongkrong di kantin pada jam makan siang. Karyawati itu seorang wanita setengah baya yang menjabat tanganku sambil menyebutkan namanya, “Ninies.”

Aku pun menyebutkan namaku. Kemudian karyawati yang bernama Ninies itu duduk di depanku, dibatasi oleh meja kantin.

“Gimana? Seneng kerja di sini?” tanyanya setelah memesan jus guava ke ibu kantin. “Lumayan… seneng Mbak.” “Kamu karyawan termuda di sini.” “Kok Mbak tau?” “Aku kan staf personalia.” “O gitu…” “Kamu punya WA?” “Punya. Mau tukaran nomor Mbak?” “Iya.”

Lalu aku tukaran nomor hape yang ada WAnya dengan Mbak Ninies, yang usianya kira – kira tigapuluh tahun lebih.

“Nanti malam kita chat ya,” ucapnya. “Boleh Mbak.” “Pacarnya gak marah kalau kamu chat denganku?” “Aku gak punya pacar Mbak.” “Ohya? Cowok seganteng kamu gak punya pacar? Masa sih?!” “Belum punya Mbak. Cariin dong sama Mbak. Heheheee…”

Tiba – tiba dia memegang tanganku yang berada di atas meja sambil berkata perlahan, “Aku aja jadiin pacar ya. Hihihiiii…”

“Memangnya Mbak gak punya suami?” “Punya, tapi boleh aja aku suka kamu kan?”

Aku terhenyak. Masa perempuan yang jauh lebih tua dariku mau jadi pacarku? Tapi aku lantas teringat sesuatu… tentang wanita bersuami yang seneng melahap brondong. Apa salahnya kalau aku dijadiin brondongnya? Bukankah aku ingin tau bagaimana rasanya bersetubuh itu?

(Saat itu aku belum pernah menggauli siapa pun).

Aku menengok ke kanan kiriku. Saat itu kantin memang sedang sepi. Hanya aku dan Mbak Nies yang sedang nongkrong di kantin. Maka lalu aku menjawab, “Boleh Mbak. Boleh banget.”

Mbak Nies yang berperawakan tinggi montok berkulit putih mulus itu menghabiskan jus guavanya. Lalu berdiri sambil berkata, “Nanti malam kita chatting ya.”

“Oke,” sahutku sambil tersenyum.

Dugaanku tidak meleset. Malamnya Mbak Ninies mengirim WA, berawal dengan basa – basi, udah tidur belum… sekarang lagi ngapain dan sebagainya. Sampai akhirnya melangkah ke chat yang lebih serius :

Aku: Suami Mbak kerja di mana?

Ninies: Jauh. Di Hongkong

Aku: Jadi TKI? Ninies: Iya. Aku: Mbak sering kesepian dong. Ninies: Iya. Makanya pengen jadi pacar gelap kamu. Aku: Kebetulan dong. Aku lagi butuh guru. Ninies: Guru apa? Aku: Guru begituan Mbak. Ninies: Sex maksudnya? Aku: Iya Ninies: Memangnya kamu belum pernah? Aku: Belum Mbak. Ninies: Bohong ah.

Tanpa pikir panjang lebar lagi kufoto penuisku yang kebetulan sedang ngaceng ini, lalu kukirimkan. Dan :

Ninies: Wow! Punyamu panjang gede gini yah? Aku jadi horny neh.

Aku: Mana punya Mbak?

**

Ninies: Sebentar ya. Kamarku gelap, mau nyalain lampu dulu.

**

Tak lama kemudian aku menerima kiriman foto kemaluan Mbak Ninies. Maka giliranku untuk berkomentar :

Aku: Waduh Mbak… serambi lempitnya bersih gini. Jadi pengen jilatin deh.

Ninies: Kok udah tau jilat serambi lempit segala? Berarti udah pengalaman dong.

Aku: Pengalaman masih nol besar. Tapi nonton bokep sih sering. Ninies: Iya ya. Cowok zaman sekarang kan sering nonton bokep. Aku: Terus kapan aku mau sekolahnya Mbak? Ninies: Terserah kamu. Sekarang juga bisa. Asal mau aja kamu yang ke sini. Aku: Ke rumah Mbak? Ninies: Iya. Kalau mau, aku akan kirim alamatnya.

Beberapa saat kemudian aku sudah berada di atas motorku yang kularikan menuju alamat rumah Mbak Ninies.

Kepada Ibu aku bilang mau kerja lembur. Terpaksa aku berbohong supaya tidak ada pertanyaan yang susah jawabnya.

Rumah Mbak Ninies lumayan jauh dari rumahku. Mbak Ninies di ujung timur, sementara aku di ujung utara. Namun tak sampai sejam aku pun tiba di depan rumah Mbak Ninies ketika jam tanganku baru menunjukkan pukul setengah sembilan malam.

Mbak Ninies membuka pintu depan dengan mengenakan daster putih bersih, dengan rambut yang diurai lepas pula.

“Motornya masukin aja ke dalam, biar aman, “katanya sambil membuka pintunya lebar – lebar.

Aku ikuti saja petunjuk teman sekantorku yang berperawakan tinggi montok dan berkulit putih mulus itu. Kumasukkan motorku ke dalam rumahnya yang lebih kecil dari rumahku, tapi penataannya rapi dan serba masa kini.

Setelah menutup dan menguncikan pintu depan, Mbak Ninies langsung mengajakku masuk ke dalam kamarnya yang rapi dan harum penyegar ruangan.

Setelah aku berada di dalam kamarnya, Mbak Ninies menutup dan menguncikan pintu kamarnya yang serba bersih dan mengikuti trend bedroom masa kini itu. Sebagai pemula dalam masalah perempuan, aku mulai degdegan. Dan tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Tapi Mbak Nies tahu apa yang harus dilakukannya.

Lalu ia berkata setengah berbisik, “Sekarang nginap di sini aja ya. Besok kan kita libur.”

“Iya Mbak…” sahutku sambil mengamati Mbak Ninies yang sedang menanggalkan daster putihnya. Sehingga tinggal beha dan celana dalam serba pink yang masih melekat di tubuhnya.

Dalam keadaan nyaris telanjang kitulah Mbak Ninies meraihku ke dalam pelukannya. “Kita gak usah munafik,” bisiknya, “Saat ini kita saling membutuhkan Wan. Aku kesepian, kamu juga ingin merasakan enaknya serambi lempit kan?”

“Iya Mbak…” sahutku yang lalu terputus, karena bibirku dipagutnya. Lalu dicium dan dilumatnya, sementara aku semakin jauh tenggelam di dalam arus nafsu.

“Tanggalkan dulu dong pakaianmu, biar lebih leluasa,” ucap Mbak Ninies setelah ciumannya dilepaskan. Aku pun melepaskan baju kaus dan celana jeansku. Tinggal celana pendek yang masih melekat di tubuhku.

“Coba liat rudalmu… tadi baru liat fotonya. Sekarang ingin liat aslinya,” kata Mbak Ninies sambil melepaskan kancing celana pendekku. Lalu menyelinapkan tangannya ke balik celana pendekku. Dan menyembulkan batang kemaluanku yang sudah ngaceng ini.

“Wow… rudalmu ini istimewa Wan. Bukan cuma gede tapi juga panjang sekali… hihihihiiii… seneng aku liatnya,” ucap Mbak Ninies sambil menciumi puncak rudalku.

Pada saat itulah aku pun tak sabar lagi. Ingin menjamah kemaluan Mbak Ninies yang masih tertutup celana dalam berwarna pink itu.

“Kamu ingin jilatin serambi lempitku kan?”

“Iya Mbak.”

“Ya udah, jilatin deh, “kayta Mbak Ninies sambil merenggangkan kedua belah pahanya. Aku agak kebingungan awalnya, karena Mbak Ninies masih mengenakan celana dalam. Tapi lalu aku membungkuk dan menelungkup di antara sepasang paha putih mulusnya.

Lalu kutarik celana dalamnya ke arah kiri, sehingge kemaluannya terbuka. Yang berwarna pinknya pun kelihatan sudah menganga, seolah menantangku untuk segera menjilatinya. “Aku belum punya pengalaman. Kalau salah, tolong betulin ya Mbak,” kataku yang diiyakan oleh Mbak Ninies sambil tersenyum – senyum.

Aku pun menjilati kemaluan Mbak Ninies yang jembutnya hanya di bagian atas, juga pendek – pendek, kayak kumis Hitler.

Lalu Mbak Ninies memberi pengarahan tentang kemaluan bagian mana saja yang harus dijilati itu. Bagian dalamnya yang berwarna pink, bibir kecil (labia minora) dan terutama clitorisnya.

Setelah diberi petunjuk, aku pun mulai mengerti. Dalam tempo singkat aku sudah bisa menjilati serambi lempit Mbak Ninies, tanpa harus dibimbing lagi. Namun nafsuku sudah bergejolak, ingin segera melakukan persetubuhan yang sebenarnya.

Ya… aku masih ingat benar semuanya itu. Bahwa untuk pertama kalinya aku merasakan nikmatnya menyetubuhi perempuan, adalah dengan Mbak Ninies itu.

Bahkan Mbak Ninies pula yang mengajariku tentang posisi – posisi sex yang bermacam – macam itu. Sehingga malam itu aku sampai tiga kali ngecrot di dalam liang serambi lempit Mbak Ninies.

Sebelum berpisah, kami janjian untuk ketemuan lagi tiga malam berikutnya.

Tapi apa yang terjadi?

Keesokan harinya Mbak Ninies mengirim WA ketika aku sedang sibuk di ruang kerjaku.

Isinya :Wan… aku dimutasikan ke Medan dan harus berangkat sekarang juga. Selamat tinggal ya Wan. Semoga kita bisa berjumpa lagi di lain waktu. Peluk cium untukmu seorang.

Aku ingin sekali turun ke bawah, ke ruang kerja Mbak Ninies yang berada di lantai satu (sementara tempatku bekerja di lantai tiga). Tapi aku teringat ucapan Mbak Ninies tempo hari, agar hubunganku dengannya dirahasiakan. Jangan sampai ada orang kantor yang tahu.

Karena itu aku hanya bisa membalas lewat WA lagi. Yang isinya panjang lebar. Mengungkapkan perasaan kagetku, karena harus berpisah dengan wanita yang sudah membuatku dewasa itu.

Tentu saja aku merasa kehilangan juga setelah Mbak Ninies dimutasikan ke Medan. Tapi mau diapain lagi? Aku tak punya hak dan wewenang untuk menahannya agar tetap bertugas di kantor ini.

Padahal baru saja aku merasakan nikmatnya hubungan sex dengan wanita yang lebih tua dariku itu. Tadinya aku bertekad untuk sering – sering “menengok” ke rumah Mbak Ninies itu. Tapi apa daya… takdir berkata lain.

Ya… semuanya itu akan tetap kuingat sebagai pengalaman awalku tentang nikmatnya menyetubuhi lawan jenisku.

Tentu saja aku merasa kecewa dan sedih karena harus berpisah dengan Mbak Ninies yang tadinya kuanggap bisa dijadikan penyaluran nafsu birahiku.

Begitulah… aku masih ingat semuanya itu. Semua yang telah terjadi dengan Mbak Ninies beberapa bulan yang lalu itu. Peristiwa indah di rumah Mbak Ninies itu, akhirnya hanya bisa kukenang, karena aku tak mungkin jauh – jauh ke Medan hanya untuk menjumpai wanita yang telah mengambil keperjakaanku itu.

Beberapa bulan aku dibuat kehilangan, sampai akhirnya aku menemukan sosok yang bisa dijadikan tempat untuk penyaluran nafsu birahiku. Sosok itu adalah ibu kandungku sendiri.

Dan ternyata bersetubuh dengan Ibu tak kalah nikmatnya dengan menyetubuhi Mbak Ninies. Bahkan dalam beberapa hal aku merasa bahwa liang kewanitaan Ibu lebih enak daripada liang kewanitaan Mbak Ninies.

Padahal ibuku sudah dua kali melahirkan. Sementara Mbak Ninies belum pernah melahirkan. Logikanya, kemaluan Mbak Ninies harus lebih enak daripada kemaluan Ibu. Tapi ternyata sebaliknya, liang kewanitaan Ibu jauh lebih enak daripada liang kewanitaan Mbak Ninies.

Dan yang sangat menyenangkan, ibuku siap meladeniku kapan saja aku mau.

Bahkan dua malam setelah peristiwa pertama itu, Ibu mendatangi kamarku. Ibu memang sudah hafal liku – liku rumah ini. Sehingga tanpa tongkat pun beliau bisa mencapai tempat yang ingin dicapainya.

Pada saat itu aku sedang duduk di atas sofa tua dalam kamarku. Maka kujemput Ibu dan kutuntun ke arah sofa, lalu kududukkan di atas pangkuanku.

“Kamu gak kepengen lagi Wan?” tanya Ibu sambil merapatkan pipinya ke pipiku.

“Tentu aja kepengen Bu,” sahutku, “kemaren kan gak begituan sama Ibu. Tapi aku mau mandi dulu, lalu makan malam dulu. Setelah isi perut kita turun, barulah aku mau tidur di kamar Ibu… setelah puas meniduri Ibu. Heheheee…”

“Iya… ibu juga lagi horny Wan.”

“Cailaaa… Ibu tau horny segala ya…”

“Kan ibu suka baca di buku – buku berhurup braille Wan.”

“Iya, aku lupa itu. Mmm… nanti kucarikan deh buku – buku pengetahuan berhurup braille, biar Ibu tidak ketinggalan zaman. Aku mau mandi dulu ya Bu,” kataku sambil mendudukkan Ibu di atas sofa.

“Iya,” sahut Ibu, “ibu sih waktu kamu baru pulang tadi pas lagi mandi.” “Setelah mandi, nanti aku beli nasi bungkus. Ibu mau nasi campur apa?” “Nasinya baru matang di magicom Wan. Beli lauk pauknya aja.” “Oke,” sahutku sambil melangkah ke luar, meninggalkan ibu di dalam kamarku.

Namun malam itu Ibu terasa sangat bergairah untuk dientot olehku. Berbagai macam posisi dia minta. Aku hanya manut saja. Mau posisi doggy boleh. Posisi WOT juga boleh. Namun pada posisi WOT itulah Ibu orgasme lagi, setelah kami sama – sama keringatan.

Sampai akhirnya kembali lagi ke posisi soft missionary. Dan aku mulai merasakan sesuatu. Bahwa menyetubuhi Ibu malah lebih enak daripada menyetubuhi Mbak Ninies. Padahal Ibu sudah dua kali “turun mesin”, sementara Mbak Ninies belum pernah melahirkan. Harusnya Mbak Ninies lebih enak. Tapi kenyataan malah sebaliknya.

Apakah hal ini karena Ibu memberikan serambi lempitnya secara tulus ikhlas, sementara Mbak Ninies hanya ingin mengambil keperjakaanku semata? Entahlah.

Yang jelas, makin lama aku makin menyadari bahwa menyetubuhi Ibu ini terasa lebih nikmat daripada menyetubuhi Mbak Ninies. Karena Ibu seperti ingin memuaskanku dalam setiap gerakan fisik kami berdua. Meski sudah tiga kali orgasme, Ibu masih bisa menggoyangkan pinggulnya sedemikian rupa, sehingga batang kemaluanku serasa dibesot – besot oleh liang sanggamanya.

Rintihan demi rintihannya cuma perlahan saja. Berarti beliau tetap mengontrol diri pada saat aku sewdang gewncar – gencarnya mewngayun rudalku. Namun meski cuma rintihan yang nyaris tak terdengart, aku masih bisa mendengarnya, karena mulutnya berada di dekat telingaku.

“Waaaan… ooooo… oooooohhhhh Waaaaaan… kamu memang perkasa Waaaan… gak nyangka… gak nyangka kalau kepuasan ibu akan dialami dari anak ibu sendiri… ayolah Waaan… entot terussssss… ini udah mulai enak lagi Waaaan… ayooooo… entot ibu segarang mungkin…”

Kali ini aku pun merasa sudah mulai berada di detik – detik krusial. Maka ketika Ibu mulai menggelepar – gelepar lagi, aku pun menggencarkan entotanku. Sampai akhirnya kubenamkan rudalku sedalam mungkin, tepat pada saat Ibu sedang terkejang – kejang. Mungkin Ibu juga akan mencapai orgasme yang kesekian kalinya.

Benar saja… ketika kubenamkan rudalku sedalam mungkin dan tidak kugerakkan lagi ini, liang kewanitaan Ibu terasa menggeliat dan mengejut – ngejut indah. Pada saat ini pula rudalku pun mengejut – ngejut sambil memuntahkan air mani di dalam liang surgawi ibuku.

Crooooottt… crottt… crooootttttt… crooot… crot… crooootttt…!

Aku menggelepar di atas perut Ibu, kemudian terkulai lunglai di dalam pelukannya.

“Dibarengin lagi ya,” bisik Ibu sambil menciumi pipiku. “Iya Bu… luar biasa enaknya.” “Barusan ibu sampai lima kali lepas… kamu memang hebat Wan…”

Peristiwa indah ini terjadi dan terjadi terus pada hari – hari berikutnya. Kapan pun aku menginginkannya, Ibu selalui siap untuk meladeniku.

Namun aku tak sekadar ingin menjadikan Ibu sebagai pelampiasan nafsu birahiku. Aku pun ingin membahagiakannya dengan apa pun yang bisa kulakukan.

Bahkan aku sering melamun, seandainya aku sudah sukses, aku ingin merombak rumah tua itu menjadi rumah yang modern. Sedikitnya tiap kamar harus ada kamar mandinya masing – masing, lengkap dengan shower dan water heaternya. Tidak seperti saat itu, kamar mandinya cuma satu. Harus selalu mandi air dingin, dengan hanya memakai gayung plastik pula.

Padahal dalam kondisi Ibu yang tidak bisa melihat itu, sebaiknya ada kamar mandi yang bersatu dengan kamar Ibu. Supaya kalau Ibu mau mandi, tak usah keluar dulu dari kamarnya. Begitu pula kalau mau buang air, tak usah jauh – jauh pergi ke kamar mandi yang di luar kamarnya.

Beberapa hari kemudian, ketika aku sedang bekerja, aku dipanggil oleh Bu Laila Qodrati, anak tunggal owner perusahaan tempatku bekerja. Tentu saja aku kaget sekali, karena mendadak dipanggil oleh orang nomor dua di perusahaan ini.

Lalu bergegas aku naik lift menuju lantai lima.

Setelah berada di lantai lima, aku mengetuk pintu kaca blur yang bertuliskan nama orang kedua di perusahaan ini.

Terdengar suara wanita dari dalam, “Masuk… !”

Dengan lutut agak gemetaran aku membuka pintu kaca itu, lalu membungkuk di depan meja kerja Bu Laila sambil berkata, “Selamat pagi, Bu Boss.”

“Pagi, “Bu Laila mengangguk sambil tersenyum, “Duduklah.”

Lalu aku duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Bu Laila.

Beliau memandang ke arah layar laptopnya sesaat, lalu menatapku sambil berkata, “Nama lengkapmu Wawan Darmawan ya?”

“Siap, betul Bu Boss.” “Kamu sudah setahun bekerja di sini ya?” “Siap, betul Bu Boss.”

“Dari catatan yang masuk ke meja kerjaku ini, prestasi kerjamu bagus, Wan.”

“Siap Bu Boss.” “Kamu bisa nyetir mobil?” “Siap, bisa Bu Boss.” “Punya SIM?” “Siap, punya Bu Boss.” “Memangnya kamu punya mobil?”

“Tidak Bu Boss. Tapi sebelum saya bekerja di sini, saya pernah jadi sopir angkot, lalu jadi sopir taksi juga Bu Boss.”

“Sanggup nyetir ke luar kota?”

“Siap, sanggup Bu Boss.”

“Umurmu sekarang duapuluhsatu, berarti waktu jadi sopir angkot dan taksi itu masih di bawah duapuluh taun ya?”

“Siap, betul Bu Boss.” “Di usia semuda itu kamu sudah jadi sopir taksi segala.” “Siap, betul Bu Boss.” “Sekarang masih suka jadi sopir di luar jam kerja?” “Siap, tidak lagi Bu Boss. Saya ingin konsentrasi bekerja di sini.” “Jadi sopir taksi kan lumayan banyak hasilnya.” “Siap, tidak selalu begitu Bu Boss. Lagipula hidup saya jadi tidak teratur seperti sekarang.” “Begitu ya. Mmm… kamu sanggup nyetir mobilku?” “Siap, sanggup Bu Boss.”

“Aku takkan menjadikanmu sopirku. Tapi untuk menjadi pendampingku, karena banyak masalah perusahaan yang harus dirahasiakan. Sedangkan sopir pribadiku sudah terlalu tua. Kalau nyetir ke luar kota, pulangnya suka sakit, lalu lama tidak masuk kerja.”

“Siap Bu Boss.”

Kemudian Bu Laila mengeluarkan secarik kartu nama.

“Ini kartu namaku. Alamat rumahku tercantum di sini,” ujarnya sambil menyerahkan kartu nama itu padaku, “Hitung – hitung test, besok kamu harus nyetirin mobilku ke Jakarta aja. Kalau cara nyetirmu bagus, nanti kamu harus nyetirin aku ke kota yang lebih jauh dari Jakarta.”

“Siap Bu Boss,” sahutku sambil membaca kartu nama puteri tunggal owner perusahaan itu. Kemudian memasukkannya ke dalam dompetku.

“Tapi ingat… kamu jangan ngomong apa – apa ke karyawan lain nanti ya.” “Siap Bu Boss.” “Kalau ada yang nanyain, bilang aja cuma dikasih nasehat olehku.” “Siap.”

“Jadi, besok sebelum jam tujuh kamu harus sudah tiba di rumahku. Dari rumahku, kita langsung berangkat ke Jakarta. Oke?”

“Siap Bu Boss.”

“Ingat… sama karyawan lain jangan bilang – bilang kamu akan nyetirin mobilku ya. Pokoknya bilang aja bahwa kamu hanya dikasih pengarahan olehku gitu.”

“Siap Bu Boss.” “Ohya. besok pakaianmu casual aja. Jangan pakai seragam kantor.” “Siap Bu Boss.”

Aku kembali ke ruang kerjaku dengan semangat yang mulai menggebu – gebu di dalam batinku. Karena seandainya aku nyetirin mobil Bu Laila, mungkin aku bisa dekat dengan seorang decision maker (pengambil keputusan) di dalam perusahaan. Maka dengan sendirinya aku hgarus bersikap sebaik mungkin padanya.

Keesokannya, jam enam pagi aku sudah mandi dan berdandan. Lalu aku pamitan kepada Ibu, bilang bahwa aku ditugaskan untuk ke Jakarta. Jadi mungkin saja aku mau nginap di Jakarta nanti. Tak lupa aku pun memberikan uang untuk makan selama aku tidak di rumah.

“Gak usah masak Bu. Beli saja nasi bungkus di warung nasi itu, supaya Ibu tidak repot,” kataku setelah mencium pipi kanan dan pipi kirinya.

Ibu hanya mengiyakan dan berkata, “Hati – hati di jalan Sayang.”

“Iya. Ibu juga jangan ngeluyur ya. Ibu hanya boleh ke warung nasi saja. Jangan ke mana – mana.” “Iya, ibu mau selonjoran aja seharian di depan tivi,” sahut Ibu sambil menepuk – nepuk bahuku.

Setelah membuka pintu belakang kiri sedan mewah yang mesinnya sudah kupanaskan itu, Bu Laila pun masuk sambil berkata, “Terima kasih. “

Pintu belakang kiri kututupkan. Kemudian bergegas aku masuk ke belakang setir sedan itu. Harum parfum mahal pun tersiar ke penciumanku. Tentu saja bukan sembarang parfum yang dikenakan oleh wanita yang kutaksir sudah berumur kepala tiga itu.

Setelah sedan yang kukemudikan memasuki jalan tol, terdengar sauara Bu Laila dari belakangku, “Usiamu baru duapuluhsatu, tapi cara nyetirmu jauh lebih bagus daripada sopir lamaku. Berarti jam terbangmu sudah lumayan tinggi ya. “

“Siap Bu Boss. Lumayan lama saya nyetir, malah sejak saya baru limabelas tahun suka narik angkot. Tapi hanya berani nyetir malam. Kalau siang takut ditilang, karena belum punya SIM. “

“Ogitu ya. terus uangnya dipakai apa aja? Minum – minum?” “Untuk biaya kuliah saya Bu Boss. Saya tidak pernah menyentuh minuman keras. “ “Merokok juga tidak pernah?” “Kalau merokok sekali – sekali suka juga Bu Boss. “ “Kalau di perjalanan gini, gak usah nyebut – nyebut Boss padaku Wan. Panggil Bu atau Mbak aja, gak apa – apa. “

“Siap Bu Boss… eh Bu. “ “Nanti di rest area pertama kita makan pagi dulu ya. “ “Siap Bu. “

Dan memang sebelum belokan menuju rest area pertama, kukurangi kecepatan sedan Bu Laila ini, lalu dibelokkan ke kiri.

Setelah mobil diparkir, aku keluar dari mobil untuk membukakan pintu belakang kanan, kemudian Bu Laila turun. Sementara aku mau masuk ke dalam mobil lagi sambil berkata, “Saya mau nunggu di mobil aja Bu. “

“Jangan begitu,” sahut Bu Laila sambil memegang pergelangan tanganku. Ayo temani aku makan. Kalau makan sendirian suka gak enak. “

Akhirnya aku mengikuti langkah Bu Laila yang pagi itu mengenakan kemeja tangan panjang putih dengan rok berwarna merah (tapi tidak seperti seragam SD, karena bahannya beda). Bu Laila memilih foodcourt yang menjual bubur ayam. Aku pun ikut duduk di situ, meski aku sudah merasakan di situ bubur ayamnya kurang enak.

Kebetulan pada saat itu rest area masih sepi. Sehingga Bu Laila bebas berbicara denganku.

“Sebenarnya urusan bisnisku di Jakarta hari Senin pagi, “katanya.

“Iya Bu, “aku cuma menunduk sambil menyantap bubur ayamku. Padahal aku heran. Saat itu hari Sabtu pagi. Urusan Bu Laila hari Senin pagi. Lalu kenapa harus berangkat secepat ini?

“Kita nyantai aja dulu di Jakarta selama dua hari ya,” ucap Bu Laila sambil menepuk punggung tanganku yang terletak di atas meja.

“Siap Bu,” sahutku sambil mengangguk.

Selesai sarapan pagi, Bu Laila masuk ke minimart sambil bertanya, “Rokokmu apa?”

O, rupanya beliau mau membelikanku rokok. “Saya sih rokok apa juga jalan. Asal ngebul aja Bu. “

“Aku juga suka merokok Wan. Nanti matiin aja AC mobilnya, kalau kamu mau merokok. “

“Siap Bu. “

Setelah keluar dari minimart itu, Bu Laila menjinjing kantong plastik besar, yang kuambil alih untuk menjinjingnya dan meletakkan di jok belakang sebelah kiri. Tadinya kupikir Bu Laila akan duduk di belakang sebelah kanan lagi. Tapi ternyata tidak. Bu Laila memilih untuk duduk di depan, di sebelah kiriku.

Bu Laila berdiri sambil menghadap ke belakang. Ternyata beliau mau mengeluarkan sesuatu dari kantung plastik besar tadi. Satu sloft rokok yang menurutku rokok mahal. “Nih cukupkan untuk sepuluh hari ya, “katanya sambil menyerahkan sesloft rokok mahal itu.

“Wah… terima kasih Bu. Saya hanya merokok sekali – sekali. Sebungkus bisa dua – tiga hari baru habis. Jadi sesloft ini cukup untuk sebulan Bu,” kataku sambil meletakkan sloft rokok itu di saku jaket kulitku.

“Itu lebih bagus. Merokok boleh – boleh saja, tapi jangan terlalu nyandu. “

“Siap Bu. “ “Wan… “ “Ya Bu?” “Di CVmu tertulis kamu belum kawin. Itu betul?” “Siap, betul Bu. “ “Tapi kalau pacar aja sih sudah punya kan?” “Saya belum pernah pacaran secara serius Bu. “ “Kenapa? Kamu ganteng kok. Masa belum pernah pacaran?” “Masa kecil dan masa remaja saya… sangat berat Bu. “ “Berat gimana?”

“Sejak masih di SD dan SMP, saya sampai harus jadi tukang semir sepatu untuk menghidupi saya sendiri, termasuk membiayai sekolah saya. Setelah di SMA, tiap malam saya jadi sopir angkot. Setelah jadi mahasiswa jadi sopir taksi. Untuk membiayai kuliah dan kehidupan sehari – hari saya. Jadi saya tidak berani pacaran seperti teman – teman seangkatan saya.

“Terharu juga aku mendengarnya Wan,” sahut Bu Laila sambil mengusap – usap rambutku.

Nah… ini membuat batinku bergetar. Karena aku punya lamunan agar Bu Laila dekat denganku. Supaya kehidupanku berubah sedikit demi sedikit.

“Tapi merasakan tubuh perempuan sih pernah kan?”

“Belum Bu,” sahutku berdusta. Karena aku langsung teringat pada Mbak Ninies yang begitu bernafsu mendapatkan keperjakaanku. Siapa tahu Bu Laila juga seperti itu.

Tapi apakah Bu Laila yang putri tunggal owner perusahaan dan berparas jelita itu bisa punya niat yang sama dengan Mbak Ninies?

Saat itu aku belum tahu status Bu Laila. Apakah beliau itu gadis madya atau punya suami atau janda, entahlah. Aku tidak berani menanyakannya. Yang aku tahu Bu Laila itu berwajah cantik, berperawakan tinggi langsing dan berkulit putih mulus. Tentu saja sekujur tubuhnya selalu mendapatkan perawatan lengkap, maklum orang tajir melilit.

Lalu terdengar suaranya, “Wan… “

“Ya Bu… “ “Nanti belokkan saja ke arah tol Jagorawi. “ “Siap Bu. “

Tiba – tiba Bu Laila memegang tangan kiriku yang nganggur, karena sedannya matic. Dan sambil meremas tanganku, Bu Laila bertanya dengan suara yang berbeda dari biasanya, “Kamu mau dijadikan pacar rahasiaku?”

Maaaaak… dugaanku tidak meleset. Maka spontan aku menjawab, “Siap Bu… !”

“Memangnya kamu suka padaku?” tanyanya sambil merapatkan pipi kanannya ke pipi kiriku. Harum parfumnya pun semakin tersiar ke penciumanku, menimbulkan suasana baru yang membuat batinku tergetar.

“Sa… sangat suka Bu. Tapi saya tidak berani mengucapkannya… karena saya tau siapa saya dan siapa Ibu. “

“Terus terang, aku ini punya suami Wan. Tapi suamiku pernah mengalami kecelakaan lalu lintas. Suamiku masih hidup setelah dirawat berbulan – bulan dirawat di rumah sakit. Tapi ininya tidak berfungsi lagi,” ucap Bu Laila sambil memijat celana jeansku tepat di bagian yang menutupi rudalku.

“Tidak berfungsi… maksudnya impoten Bu?”

“Betul. Ada jaringan syaraf menuju rudalnya yang rusak dan takkan bisa diperbaiki lagi dengan cara apa pun. “

“Iya Bu… saya ikut prihatin mendengarnya. “

“Sudah lebih dari lima tahun aku seolah jadi linglung, tidak tau lagi apa yang harus kulakukan. Karena aku ini masih muda. Masih membutuhkan kepuasan birahi. Tapi suamiku sudah tidak mampu lagi melakukannya. Suamiku juga tau itu. Dia bahkan mengijinkanku untuk mencari lelaki lain untuk dijadikan kekasihku, tapi jangan sampai bercerai dengannya, karena dia sangat mencintaiku.

“Iya Bu. “

“Coba berhenti dulu di bahu jalan Wan. Sambil nyalakan lampu hazard. “

“Iya Bu,” sahutku sambil mengurangi kecepatan sedan atasanku. Lalu kuhentikan di bahu jalan sambil menyalakan lampu hazard.

“Kalau ngobrol sesuatu yang penting begini, jangan sambil nyetir di jalan tol. “ “Iya Bu. “ “Coba buka ritsleting celanamu Wan. Aku ingin melihat seperti apa punyamu. “

Tanpa ragu – ragu kuturunkan ritsleting celana jeansku. Lalu kusembulkan batang kemaluanku dari balik celana dalamku.

“Wooooowwww…! Ternyata punyamu sepanjang dan segede ini Wan?!” seru Bu Laila sambil menggenggam rudalku yang masih lemas… dan mulai menegang setelah dipegang oleh bossku yang jelita itu…!

Aku diam saja. Membiarkan Bu Laila menggenggam rudalku yang sudah mulai ngaceng ini.

“Supaya jangan seperti menjual kucing di dalam karung, sekarang peganglah punyaku, supaya kamu tau bahwa aku ingin punyamu dimainkan di dalam punyaku ini,” ucap Bu Laila sambil menarik roknya ke atas, sambil menarik tanganku ke balik celana dalamnya yang sudah dipelorotkan.

Tangan kiriku menyentuh kemaluan yang bersih dari jembut, yang hangat dan aaaaah… nafsuku spontan bergejolak…!

“Bu… ooooh… “hanya itu yang terlontar dari mulutku. “Kamu mau punyamu dimasukkan dan dimainkan di dalam punyaku kan?” “Sa… sangat mau Bu. “

“Ayolah… sekarang jalankan lagi mobilnya. Aku punya villa di Puncak. Nanti kita lakukan semuanya di villaku ya. “

“Siap Bu,” sahutku sambil mengeluarkan tangan kiriku dari balik celana dalam Bu Laila, “Tapi saya belum punya pengalaman. Jadi nanti tolong ajarin sama Ibu,” ucapku sesuai dengan skenarioku.

Bu Laila merapatkan pipinya lagi ke pipi kiriku. “Iya, nanti spermamu akan kutelan habis. Biar awet muda. Hmmm… kebayang… “

Kebetulan jalan tol saat itu agak lancar. Sehingga tak sampai dua jam aku sudah berhasil keluar dari pintu tol Jagorawi.

“Tapi ingat Wan… kamu harus merahasiakan apa pun yang terjadi di antara kita berdua nanti,” kata Bu Laila ketika mobilnya sudah mulai menginjak jalan menuju Puncak.

“Siap Bu. “

“Kalau sedang berduaan begini sih jangan pakai istilah siap – siap terus ah. Biar jangan kaku kedengarannya. “

“Iii… iya Bu. “

“Nanti kamu akan kuangkat menjadi asisten pribadiku. Dengan gaji dan fasilitas jauh lebih banyak kalau dibandingkan dengan jabatan sekarang. “

“Wah… terima kasih Bu. Baru mendengarnya aja saya sudah bahagia sekali. “ “Gajimu bahkan akan lebih tinggi daripada manager – manager. “ “Iya Bu… iyaaa… “

Tiba – tiba Bu Laila mengecup pipiku disusul dengan ucapan, “Sebenarnya sejak pertama kali melihatmu, aku langsung suka padamu. Tapi aku ingin tau dulu cara kerjamu seperti apa. Setahun aku mempertimbangkannya. Dan sekarang… aku ingin kamu menjadi milikmu… emwuaaaaah …” Bu Laila mengecup pipiku lagi.

“Iya Bu… “hanya itu yang terlontar dari mulutku, dalam perasaan yang bercampur aduk.

“Tapi aku ingin kamu benar – benar berprestasi di perusahaanku nanti. “

“Iya Bu… “

“Kalau perlu, kamu kuliah lagi sampai menggondol es – satu. “ “Itu cita – cita lama saya Bu. Tapi bagaimana mungkin saya kuliah sambil bekerja?”

“Setelah kamu kuangkat sebagai aspri, jam kerjamu bebas. Yang penting asal nongol aja di kantor tiap hari. Tugasmu bisa dikerjakan di kantor, bisa juga di rumah. Nanti deh tugasmu akan kujelaskan secara terperinci. Yang penting kamu punya tekad kuat untuk mengembangkan perusahaan. Lalu bekerjalah secara jujur dan ulet.

“Iya Bu. Terima kasih. “ “Kurangi kecepatannya Wan. Sebentar lagi harus belok ke kiri. “ “Iya Bu,” sahutku sambil mengurangi kecepatan mobil yang sedang kukemudikan ini.

“Nah sekarang belok ke kiri di depan itu,” kata Bu Laila sambil menunjuk ke mulut jalan yang agak kecil.

Sedan yang kukemudikan sudah memasuki jalan yang agak kecil, menuju villa Bu Laila yang letaknya agak tersembunyi, tapi dijaga oleh seorang lelaki berseragam security.

Villa Bu Laila itu kelihatan biasa – biasa saja kalau dilihat dari luar. Tapi setelah masuk ke dalamnya, wah, betapa megahnya villa bossku ini.

Namun aku tak sempat berlama – lama menyaksikan kemegahan villa itu, karena Bu Laila langsung menarik pergelangan tanganku. Lalu merengkuh leherku ke dalam pelukannya, disusul dengan ciumannya yang bertubi – tubi, yang akhirnya kusambut dengan lumatan bergairah sambil mendekap pinggangnya.

Ciuman sambil berdiri berhadapan ini jelas menaikkan tensi birahiku. Karena aku masih berdarah muda.

Dan tampaknya Bu Laila pun menikmatinya. Ia menanggalkan melepaskan behanya dari balik kemeja tangan panjangnya, lalu duduk di sofa dalam keadaan kemeja yang sudah terbuka kancingnya, sehingga sepasang toketnya tampak jelas di mataku.

“Buka juga dong pakaianmu,” kata Bu Laila ketika aku masih berdiri canggung di depan sofa yang diduduki oleh bossku itu.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Sambil melepaskan segala yang melekat ditubuhku, kecuali celana dalam yang kubiarkan tetap berada di tempatnya. Lalu aku menghampiri Bu Laila dan duduk di sampingnya.

“Coba kamu tebak berapa usiaku sekarang?” tanyanya.

Aku tahu bahwa wanita paling senang kalau dianggap lebih muda dari usia sebenarnya. Karena itu aku menjawab, “Masih di bawah duapuluhlima tahun, Bu. “

“Memangnya aku kelihatan semuda itu? Usiaku sudah tigapuluhdua tahun Wan. “

“Masa sih Bu? Kelihatannya seperti belum duapuluhlima. “

Sepasang mata Bu Laila menatapku dengan senum manis di bibirnya, sambil menyangga sepasang payudaranya yang masih tampak kencang dan… hmmm… ingin aku menjamahnya, tapi belum berani.

“Kalau melihat toketku ini memang gak kalah sama cewek duapuluhlima tahunan. Karena aku belum pernah melahirkan,” ucapnya sambil menyodorkan sepasang toketnya ke depanku, “Mau pegang? Peganglah… jangan canggung dan takut – takut gitu. Mulai sekarang kita kan saling memiliki. Kamu menjadi punyaku dan aku menjadi punyamu…

Tentu saja aku senang sekali diminta untuk menjamah toket bossku yang berukuran medium tapi tampak masih kencang. Bahkan dengan penuh semangat kuciumi pentil toket kirinya sambil memegang toket kanannya dan meremasnya perlahan – lahan.

Pada saat yang sama Bu Laila pun menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku. Lalu memegang batang kemaluanku yang sudah mulai tegang ini.

Lalu aku lupa segalanya. Tahu – tahu Bu Laila sudah telanjang bulat, sementara celana dalamku pun sudah dilepaskan oleh bossku yang cantik dan bertubuh sangat mulus ini.

Dan seperti tidak kuat lagi menahan kepenasaranannya pada rudalku, Bu Laila langsung membenamkan wajahnya diantara sepasang pahaku, lalu mengulum rudalku yang sudah tegang ini, sementara tanganku ditariknya agar memainkan kemaluannya. Tentu saja aku dengan senang hati melakukan keinginannya. Bahwa ketika ia sedang mengulum dan menyeloimoti rudalku, tanganku pun mulai merambah kemaluannya.

Namun karena Bu Laila itu bossku, aku menunggu instruksinya dulu. Biarlah dia menyelomoti rudalku sambil mengurut – urutnya dengan begitu binalnya. Meski aku harus menahan – nahan nafasku karena permainan oralnya memang enak sekali.

Cukup lama Bu Laila menyelomoti sambil mengurut – urut rudalku, sampai akhirnya dia mengajakku pindah ke atas bed bertilamkan kain seprai putih bersih itu.

Aku menurut saja. Mengikuti langkah Bu Laila menuju bednya. Di situlah ia menelentang sambil mengusap – usap permukaan kemaluannya yang licin, tiada jembutnya sehelai pun.

Aku pun merangkak ke antara sepasang paha putih mulus yang sudah mengangkang itu.

“Mau jilatin serambi lempitku?” tanyanya. “Iya Bu. “ “Kamu sering nonton bokep kali ya?”

“Nonton bokep sih sering. Tapi menyentuh kemaluan wanita baru sekali ini Bu, “dustaku untuk kesekian kalinya terlontar dari mulutku.

Namun sepertinya Bu Laila tidak memperhatikan hal kecil itu. Ketika aku mulai menjilati bagian pink yang ternganga itu, dia mengelus – elus rambutku sambil berkata, “Jilatinlah sepuasmu. “

Lalu aku mulai menjilati serambi lempit Bu Laila dengan lahapnya.

Bu Laila pun menggeliat – geliat sambil meremas – remas rambutku. BVahkan pada suatu saat jarinya menyentuh kelentitnya sambil berkata, “Ini itilnya… jilatin juga Wan. “

Aku memang sedang pura – pura bodoh. Maka setelah mendengar instruksi, barulah kujilati kelentit Bu Laila dengan lahap sekali. Bahkan terkadang kusertai dengan isapan – isapan, sehingga Bu Laila terkejang – kejang dibuatnya.

Bahkan pada sjuatu saat terdengar suara Bu Laila agak serak, “Sudah Wan… masukkan aja rudalmu. Aku udah pengen ngerasain enaknya dientot sama rudal sepanjang dan segede itu. “

Aku pun menjauhkan mulutku dari kemaluan Bu Laila. Lalu merayap ke atas perutnya sambil memegang rudalku yang sudah ngaceng berat ini.

Bu Laila pun memegangi leher rudalku sambil mencolek – colekkan moncongnya ke mulut serambi lempitnya. Mungkin ia sedang mengarahkan agar arahnya ngepas.

Sampai akhirnya ia berkata, “Ayo… doronglah… “

Lalu kudorong rudalku dengan sekuat tenaga. Blessssss… batang kemaluanku membenam separohnya ke dalam liang serambi lempit Bu Laila. Disambut dengan rengkuhan Bu Laila di leherku, sehingga dadaku terhempas ke atas sepasang toket yhang masih terfasa kencang itu.

“Kamju nyangka bakal bisa beginian denganku?” tanyanya setengah berbisik.

“Bermimpi pun tidak kalau Ibu yang begini cantik dan mulusnya bakal bisa dibeginiin Bu. Mungkin malaikat sengaja mengirim Ibu sebagai bidadari saya di kemudian hari. “

Bu Laila mencium sepasang pipiku sambil berbisik, “Aku juga gak nyangka bakal mendapatkan dewa asmara bernama Wawan Darmawan ini… hmmm… aku memang sudah lama jatuh hati padamu… ayo entotin, jangan direndem terus… nanti keburu jadi ager. Hihihihiii… “

Sesuai dengan instruksi Bu Boss, aku mulai mengayun rudalku di dalam liang serambi lempit Bu Laila. Dan wanita 32 tahunan itu menanggapinya dengan bermacam – macam cara. terkadang kedua kakinya melingkari pinggangku, terkada mengangkang lebar, terkadang kedua kakiinya berada di atas sepasang bahuku, sehingga aku harus memenyetubuhinya sambil menahan kedua tubuhku yang terangkat.

Namun yang jelas aku merasakan sesuatu yang berbeda pada waktu menyetubuhi Bu Laila ini. Bahwa menyetubuhi wanita cantik dan tajir melilit ini membuatku sangat bergairah. Membuatku terlupa segalanya. Aku pun berusaha memuasinya, agar dia sangat terkesan olehku.

Bersambung… Ketika aku mulai gencar memenyetubuhi Bu Laila, diam – diam kucari di mana lekuk yang sangat sensitif di tubuhnya. Ternyata daun telinganya sensitif sekali. Ketika aku menjilatrinya, terasa pelukannya jadi makin erat. Maka semakin lama juga kujilati telinganya, yang membuat Bu Laila semakin klepek – klepek dalam entotanku.

Namun ternyata bukan cuma daun telinganya yang sensitif itu. Lehernya pun sensitif sekali. Terutama di bagian bawah telinganya itu. Maka kujilati pula lehernya, disertai dengan gigitan – gigitan kecil seperti yang sering kubaca dari sebuah media internasional tentang titik – titik peka di tubuh wanita.

“Waaaaan… duuuuuuuh Waaaan… kamu pandai sekali membuatku enak Waaaan… ooooooh Waaaan… rudalmu luar biasa enaknya Waaaan… belum pernah aku merasakan rudal seenak ini Waaaan… “rintih Bu Laila sambil memejamkan matanya, sementara lehernya mulai basah oleh keringat bercampur dengan air liurku.

Aku pun ingin melengkapinya dengan meremas – remas toketnya secara lembut. Membuat pinggul Bu Laila mulai menghempas – hempas ke kasur, sementara tangannya meremas – remas rambutku. Terkadang dia menjambak rambutku, bukan sekadar meremasnya. Namun aku bahkan semakin bergairah untuk menggencarkan entotanku.

Entah kenapa, aku ingin sekali jadi lelaki yang sangat memuaskan di hati wanita yang 11 tahun lebih tua dariku itu. Maka bukan hanya leher dan telinga Bu Laila yang kujadikan sasaran jilatanku. Ketika tangan wanita muda itu sedang meremas – remas rambutku, ketiaknya terbuka. Dan dengan sigap kujilati juga ketiak Bu Laila yang tercium harum parfum mahal itu.

Bu Laila pun menggelepar sambil melontarkan suara, “Hihihiiiii… geli Wan… tapi… ooooohh… geli – geli enak Waaan… iyaaaaaa… jilatin terus ketiakku Waaan… ooooh… aaaaaa… aku mau lepas Waaaan… entot terus Waaaan… entooot teruuuusssss… entoooootttthhhhh…”

Suaranya terputus sampai di situ. Tubuhnya pun mengejang tegang… tegang sekali. Sementara mulutnya ternganga dan matanya terpejam erat – erat. Nafasnya tertahan beberapa detik… lalu terdengar desahan, “Aaaaaaaaahhhhh… nikmat sekali Waaaaan…”

Aku pun menghentikan entotanku, karena ingin menghayati indahnya detik – detik orgasmenya wanita yang sedang kusetubuhi ini.

Memang benar kata para lelaki yang sudah berpengalaman, bahwa aura kecantikan seorang wanita akan terbit setelah mencapai orgasmenya. Bu Laila pun jadi tampak seperti bersinar… kecantikannya jadi semakin cemerlang… sehingga aku tak bisa menahan diri lagi. Kucium bibir sensual dan hangatnya, lalu berkata setengah berbisik, “Bu Laila semakin cantik di mata saya.

Bu Boss membuka kelopak matanya. Bibir sensualnya pun menyunggingkan senyum manis. Manis sekali. Lalu ia berkata perlahan, “Terima kasih Wan. Aku merasakan getaran baru di dalam batinku sekarang. Getaran cintaku padamu, Sayang…”

Kubiarkan Bu Laila mengelus rambutku dengan lembut.

Lalu aku mengecup sepasang pipinya yang kemerahan, disusul dengan bisikan, “Saya pun merasakan hal yang sama Bu…”

Bu Laila mengepit sepasang pipiku dengan kedua telapak tangan hangatnya. Lalu mencium bibirku, yang kjusambut dengan lumatan, dibalas lagi dengan lumatannya. Bahkan ketika lidahku dijulurkan sedikit, ia menyedot lidahku dan menggelutkan lidahnya dengan lidahku. Aku pun melakukan hal yang sama. Ketika lidahnya terjulur, kusedot ke dalam mulutku.

Dalam keadaan seperti itulah aku mulai menggerakkan rudalku kembali, bermaju mundur kembali di dalam liang kewanitaan Bu Laila. Awalnya ayunan rudalku perlahan – lahan dulu. Makin lama makin kupercepat, sampai pada kecepatan normal.

Bu Laila pun tampak bergairah kembali, untuk meladeni entotanku yang mulai gencar lagi ini. Ia mulai menggeol – geolkan pantatnya, memutar – mutar… meliuk – liuk dan menghempas – hempas. Dengan sendirinya liang serambi lempit Bu Laila terasa membesot – besot batang kemaluanku, yang membuat nafasku mendengus – dengus kembali.

Tapi Bu Laila justru tampak senang menjilati keringat yang membasahi leherku ini. Tanpa mempedulikan lagi statusnya sebagai bossku dan aku sebagai anak buahnya. Hal ini membuatku yakin bahwa Bu Laila sudah benar – benar mencintaiku. Dan kalau harus bicara sejujurnya, aku pun mulai mencintainya.

Kata para tokoh terkenal, hubungan seks yang dilakukan berdasarkan cinta, akan jauh lebih nikmat rasanya.

Itu kuakui sekarang, ketika aku sedang mengayun rudalku di dalam liang kemaluan Bu Laila ini. Sekujur tubuhku laksana dialiri arus dari ujung kaki sampai ke ubun – ubunku. Arus birahi yang indah tiada tara.

Lalu bagaimana dengan perasaanku terhadap Ibu? Itu lain jalannya. Sampai kapan pun aku akan tetap menyayangi Ibu. Karena beliau yang mengandungku selama sekian bulan, beliau pula yang melahirkanku ke dunia ini. Dan yang pasti, kalau tidak ada Ibu takkan ada aku sampai kapan pun. Itulah bedanya perasaan sayangku kepada Ibu dan perasaan cintaku kepada Bu Laila ini.

Aku tidak tahu persis seperti apa perasaan Bu Laila padaku saat rudalku mulai gencar memenyetubuhi liang serambi lempitnya yang agak becek karena habis orgasme ini. Namun yang jelas rintihan demi rintihan berlontaran terus dari mulutnya.

“Waaaaan… aaaaaah Waaaaan… ini luar biasa enaknya Waaaan… entot terus Waaaan… iyaaaa… iyaaaaaaa… iyaaaaaaaaa… entot teruuuussss… entoooootttttt… entoooooootttt… gila… rudalmu luar biasa enaknya Waaaaan… aku benar – benar merasa telah menjadi milikmu Waaaan…

Rintihan itu baru berhenti kalau aku sudah menyumpal mulutnya dengan ciuman dan lumatan hangatku. Dan Bu Laila semakin bergairah untuk menyambutnya dengan lumatan yang begitu hangatnya.

Bahkan pada suatu saat, ia berkata terengah, “Waaaan… aku mau lepas lagi… ayo entot terus yang kencang Waaan… usahakan agar kita lepasin bareng – bareng… biar nikmaaaat…”

Sebenarnya aku masih bisa mengulur detik – detik klimaks (ejakulasi). Tapi aku berusaha untuk mengikuti keinginan Bu Laila. Karena itu aku konsen ke arah kenikmatan yang sedang kurasakan, sehingga akhirnya aku bisa menancapkan batang kemaluanku tepat pada saat Bu Laila sedang terkejang – kejang di puncak orgasmenya.

Lalu kami seperti sepasang manusia yang sedang kerasukan. Saling cengkram dan saling lumat. Sementara rudalku seolah tengah dililit oleh seekor ular kecil, oleh dinding liang serambi lempit Bu Laila yang bergerak seperti spiral… disusul dengan kedutan – kedutan kencangnya… dibalas oleh kejutan – kejutan rudalku yang tengan memuntahkan lendir kenikmatanku…

“Ooooh… aku lupa… harusnya spermamu dilepaskan di dalam mulutku Wan… karena aku ingin menelan sperma bujangmu sampai habis… “keluh Bu Laila sambil menepuk – nepuk pantatku yang sedang dicengkramnya.

“Maaf… Ibu gak ngingetin tadi…” sahutku sambil menciumi pipi Bu Laila yang sudah basah oleh keringat.

“Gak apa – apa deh. Kita kan bakal dua hari dua malam berada di villa ini. Nanti kalau aku lupa lagi tolong ingetin ya Wan…”

“Iya Bu Laila Sayaaaang…” “Emang beneran kamu sayang sama aku?” tanya Bu Laila sambil mengelus rambutku. “Sangat… sangat sayang Bu.” “Tapi kalau kita sudah punya anak nanti, aku juga harus manggil Ayah padamu Wan…” “Sekarang juga dipanggil Ayah gak apa – apa.” “Hihihi… ayah masih muda banget… harusnya sekarang sih aku manggil Dong aja padamu.”

“Kenapa harus manggil Dong?” “Karena kamu jauh lebih muda dariku. Jadi kamu laksana brondong bagiku.”

“O.. Dong itu dari brondong?! Hehehehe… terserah Bu Laila aja deh.”

“Nggak. Aku akan manggil kamu Honey. Dan kamu harus manggil Cinta padaku ya. Jangan pakai ibu – ibuan lagi. Kamu pun jangan saya – sayaan lagi. Karena kitasejajar sekarang. Kamu sudah menjadi milikku dan aku pun sudah menjadi milikmu Honey.”

“Iya Cinta…” sahutku sambil menarik batang kemaluanku yang sudah lemas ini dari liang serambi lempit Cinta alias Bu Laila. Terdengar bunyi unik waktu rudalku dicabut dari liang serambi lempit Cinta… plokkkh… membuat Bu Laila tersenyum dan berkata, “Kayak tutup botol gabus yang dicabut dari botolnya ya… hihihiiii…

Badan kita penuh keringat gini, mendingan mandi dulu yuk, “ajak wanita cantik yang sudah minta dipanggil Cinta itu.

Tapi aku menarik pergelangan tangannya. “Nanti saja. Setelah selesai main ronde kedua,” kataku sambil menunjuk ke arah batang kemaluanku yang sudah ngaceng lagi ini.

“Hihihiii… rudalmu sudah ngaceng lagi Honey?” cetusnya sambil memegang batang kemaluanku. “Iya Amore…” “Amore?” Bu Laila tercengang. “Cinta di dalam bahasa Italia kan Amore.” “Oooohhh… iya… kekasihku kan amore mio…” “Iya… amore della mia vita…” sahutku sambil merengkuh leher Bu Delia ke dalam pelukanku.

“Anggap aja kita sedang berbulan madu ya. Kan pasangan yang sedang berbulan madu bisa tiga sampai empat kali bersetubuh. Bahkan ada yang sampai delapan kali bersetubuh di malam pertama mereka,” ucapnya disusul dengan ciuman mesranya di bibirku.

“Cinta ingin seperti itu?” tanyaku setelah ciumannya terlepas dari bibirku.

“Nggak usah seperti itu benar ah. Kita kan masih banyak waktgu untuk mengulanginya nanti. Bahkan setelah kita pulang pun bisa melakukannya di kantor atau di rumahku.”

“Di rumah? Nanti ketahuan sama suami Cinta kan gak enak.”

“Rumahku banyak Honey. Kita bisa melakukannya di salah satu rumahku nanti.”

Aku terhenyak. Putri tunggal owner perusahaan besar itu pasti punya rumah lebih dari satu.

Namun pikiran itu langsung hilang ketika Bu Laila sudah mendorong dadaku sampai celentang, lalu menangkap batang kemaluanku yang sudah ngaceng lagi ini. Dan memasukkan alat kejantananku ke dalam mulutnya.

Padahal rudalku sudah ngaceng berat. Tapi Bu Laila mulai menyelomotinya sambil mengurut – urut bagian rudalku yang tidak terkulum olehnya?

Namun hanya beberapa detik ia menyelomoti rudalku yang lalu jadi berlepotan air liurnya. Lalu dengan sigap ia berlutut, dengan kedua lutut berada di kanan kiri pinggulku. Ia memegang rudalku yang lalu mengarahkan moncongnya ke arah mulut serambi lempitnya.

Kemudian bokong indahnya itu diturunkan, sehingga rudalku melesak masuk ke dalam liang tempiknya. Aaaah… rasanya indah sekali diperlakukan seperti ini oleh Bu Laila yang cantik itu. Terlebih setelah ia mengayun pinggulnya naik turun dan naik turun. Sehingga rudalku keluar masuk di dalam liang kewanitaan Bu Laila yanbg membuatku terpejam – pejam saking nikmatnya ini.

Namun di tengah aksinya itu Bu Laila masih sempat berkata, “Kalau udah mau lepas kasihtau ya… aku ingin menelan spermamu…”

“Iya Cinta…” sahutku sambil terus – terusan memperhatikan kiemaluannya yang seolah menelan rudalku lalu memuntahkannya lagi… menelannya lagi… memuntahkannya lagi…!

Pada suatu Saat Bu Laila bahkan menghempaskan dadanya ke atas dadaku sambil melenguh. Ternyata dia sudah orgasme. Dan meminta agar aku yang di atas lagi. Memang menurut orang – orang yang sudah berpengalaman, bersetubuh dalam posisi WOT itu membuat pihak wanita akan lebih cepat orgasme.

Maka kembalilah aku berftindak selaku “nakhoda” dalam persetubuhan ini. Setelah berhasil menggulingkan badan tanpa mencabut batang kemaluanku dari liang serambi lempitnya, aku berada di atas perut Bu Laila lagi.

Lalu kuayun rudalku sambil mencium dan melumat bibir Bu Laila. Dan mulailah rudalku bergerak seperti pompa manual. Maju mundur dan maju mundur terus, sementara Bu Laila mendekap pinggangku erat – erat. Dengan sepasang mata indahnya yang terkadang menatap langit – langit kamar villa, kadang – kadang terpejam erat – erat.

Desahan dan erangan erotisnya pun mulai berkumandang lagi di dalam kamar villa ini.

“Oooo… oooooh… dirimu sudah menjadi sosok yang lengkap bagiku Honey… ya ganteng ya masih sangat muda… memuaskan pula dalam hasrat birahiku Sayang… aku tak mau berjauhan lagi denganmu Honey… oooo… ooooohhhhhh… oooooohhhhh… oooo… ooooohhhhhh… oooooo… ooooohhhhh…

Sebenarnya aku masih bisa mengulur durasi entotanku. Tapi karena mendengar keinginan bossku yang cantik itu, aku pun memusatkan pikiranku pada nikmat dan nikmat terus… nikmatnya liang kewanitaan Bu Laila yang tengah kuentot habis – habisan ini.

Akibatnya… tak lama kemudian aku merasakan detik – detik krusialku datang. Detik – detik menjelang ejakulasi.

Maka dengan sigap kucabut batang kemaluanku dari liang serambi lempit Bu Laila. Dan cepaty kuangsurkan rudalku ke dekat mulut bossku yang jelita itu.

Bu Laila menangkap rudalku dan langsung mengulumnya disertai dengan sedotan kuat… kuat sekali.

Pada saat itulah nafasku tertahan, karena rudalku akan memuntahkan lendir kenikmatanku.

Lalu… croootttt… crooooooootttttt… crotttcroooootttt… crooooooottttttttt… croooottttt… crooootttt…!

Air maniku berlompatan di dalam mulut Bu Laila. Dan wanita cantik itu menelannya tanpa ragu… glllleeeeekkkkk…!

Tak disisakan setetes pun…!

Aku terharu diperlakukan sejauh ini oleh Bu Laila.

Tapi aku tak mau mengekspose terlalu jauh mengenai beliau. Karena takut salah kata dan bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.

Yang jelas, setelah mandi bareng, kami mengenakan pakaian lengkap lagi. Karena beliau mengajakku mencari makan di salah satu restoran yang paling terkenal di Puncak.

Di restoran itulah Bu Laila sempat bertanya padaku, “Kamu tentu punya kebutuhan yang mendesak yang mungkin tidak terjangkau oleh kemampuanmu. Apa yang paling mendesak sekarang ini?”

“Tidak mengucapkannya. Karena dana yang dibutuhkan besar sekali,” sahutku sambil menunduk.

“Sebutkan aja. Kalau masuk di akal, aku akan membantumu. Yang penting prestasimu di perusahaan harus ditingkatkan nanti,” kata Bu Laila sambil memegang tanganku.

“Aku ingin merenovasi rumah. Tidak muluk – muluk sih, hanya ingin agar dua kamar yang ada di rumahku dibuat kamar mandi masing – masing. Itu saja,” sahutku.

“Sekarang kamar mandinya di luar kamar tidur?” “Iya, “aku mengangguk sambil menunduk.

“Kalau kukasih rumah baru yang tinggal huni aja gimana?”

“Bukannya mau menolak. Tapi rumahku itu peninggalan almarhum ayahku. Jadi aku akan berusaha mati – matian untuk tidak meninggalkan rumah itu.”

Bu Laila hanya mengangguk – angguk sambil tersenyum.

Setelah makan siang selesai, Bu Laila bertanya lagi, “Memangnya kamu gak mau punya mobil, supaya kamu lebih bergengsi di kantor nanti? Kan kamu sudah kuangkat sebagai aspri, Honey.”

Aku cuma menjawabnya dengan senyum datar di belakang setir mobil bossku yang cantik itu.

Tapi setelah berada di dalam villa kembali, Bu Laila menyerahkan tiga helai cek padaku sambil berkata, “Ini untuk membeli pakaianmu, supaya kamu kelihatan lebih ganteng nanti. Ini untuk merenovasi rumahmu. Dan ini untuk membeli kendaraan roda empat, agar kamu lebih disegani di kantor nanti Honey.”

Aku terbelalak setelah melihat nominal yang tertera di ketiga helai cek itu. Kalau dijumlahkan semua… woooow… besar sekali… bahkan mungkin terlalu besar bagiku…!

“Cinta… ini besar sekali jumlahnya. Apa Cinta tidak salah tulis?”

“Tentu saja tidak salah tulis. Sebelum berangkat dari rumahku pun cek itu sudah kutulis dan sudah kupertimbangkan sebelumnya. Karena kamu sangat berharga bagiku, jauh lebih berharga daripada nominal yang tertulis di ketiga helai cek itu.”

Dengan tangan gemetaran kubolak – balik ketiga helai cek itu. Dan tganpa terasa, air mataku pun merembes dari kelopak mataku dan mengalir ke pipiku.

“Lho kok malah menangis?” tegur Bu Laila sambiul menyeka air mata yang mengalir ke pipiku.

“Aku terharu Cinta. Dirimu seolah bidadari yang diturunkan dari langit, hanya untuk membahagiakan hatiku. Terima kasih Cinta. Hadiah ini adalah kado yang terindah buat harfi ulang tahunku yang jatuh pada hari ini.”

“Ohya?! Jadi kamu pas duapuluhsatu tahun pada hari ini?” Bu Laila memelukku sambilmerapatkan pipinya ke pipiku.

“Iya Cinta. Silakan aja lihat di biodataku kalau sudah di kantor nanti.”

Begitulah. Ketika hari mulai malam, kami makan malam di restoran yang berbeda. Karena Bu Laila ingin makan chinese food yang halal, katanya. Kebetulan restoran yang diinginkannya ada, meski agak jauh untuk mencapainya.

Sepulangnya dari restoran itu, aku menyetubuhinya lagi untguk ketiga kalinya.

Tapi keesokan harinya kami habiskan waktu untuk jalan – jalan di kebun teh yang tak jauh dari villa itu.

Hari itu pun kami tidak melakukan hubungan sex. Keesokan harinya lagi, hari Senin, aku mengantarkan Bu Laila ke Jakarta. Untuk mengurus bisnisnya.

Dan kami pulang dari Jakarta ketika hari mulai sore. Langsung menuju kotaku.

“Cek itu bertanggal besok semua. Jadi besok gak usah masuk kerja dulu. Cairkan saja cek – cek itu dulu. Mau diambil cash atau mau ditmasukkan ke buku tabunganmu?” tanya Bu Laila ketika sedannya sudah meninggalkan daerah Puncak.

“Supaya aman, mungkin akan kumasukkan ke rekening tabunganku aja,” sahutku.

“Itu lebih baik,” kata Bu Laila.

Dan sedan mewah yang kukemudikan meluncur terus di jalan aspal. Dengan keceriaan menyelimuti batinku…

Aku pulang dengan batin penuh semangat. Karena aku telah memetik kemenangan pertama dalam perjuanganku untuk membahagiakan Ibu.

Seperti biasa, ketika aku pulang di hari yang sudah malam begini, aku selalu membuka pintu depan dengan kunci cadangan yang selalu kusimpan di dalam dompetku. Lalu aku masuk ke dalam rumah dan langsung menuju pintu kamar ibuku. Tapi malam itu pintu kamar Ibu dikunci. Mungkin karena aku tidak ada, sengaja ia mengunci kamarnya supaya aman.

Tapi apa yang kulihat? Ibu sedang celentang dengan daster yang disingkapkan sampai perutnya. Sementara tangannya tampak sedang bermasturbasi…!

Ah… Ibu… Ibu…! Baru ditinggal dua malam saja sudah tak kuasa menahan nafsu, lalu bermasturbasi lagi seperti tempo hari sebelum aku menyetubuhinya.

Tapi aku tersenyum sendiri, karena teringat benda yang berada di kantong oleh – olehku ini. Bahwa salah satu oleh – olehku buat ibu adalah sebuah dildo…!

Ya, aku sengaja membelikan dildo buat Ibu. Karena aku sudah membayangkan bakal sibuk dalam mengemban tugas sebagai aspri Bu Laila kelak. Terlebih lagi kalau aku ditugaskan untuk melanjutkan kuliahku sampai S1 kelak. Dan juga aku harus menggauli Bu Laila secara rutin seperti yang diharapkan oleh bossku yang cantik dan murah hati itu.

Bukan cuma itu. Aku pun membeli parfum mahal yang biasa dipakai oleh Bu Laila, supaya kalau parfum Bu Laila “terbawa pulang” olehku, Ibu takkan merasa aneh lagi kelak.

Seperti malam itu juga. Pasti pakaianku beraroma harum parfumnya Bu Laila. Dengan adanya parfum yang sama dengan parfum Bu Laila, ibuku takkan menanyakan harum parfum siapa nanti.

Lalu kuketuk pintu kamar Ibu.

Terdengar suara Ibu dari dalam kamarnya, “Siapa??”

“Wawan Bu!” sahutku. “Owh… tunggu sebentar… !”

Tak lama kemudian pintu dibuka oleh Ibu, yang kelihatan seperti salah tingkah. Mungkin karena merasa sedang melakukan “kesalahan” pada waktu pintu kamarnya masih terkunci tadi.

Aku pun langsung memeluk ibuku dan menciumi bibirnya berkali – kali. Sampai terdengar pertanyaannya, “Kamu kok harum sekali. Pakai minyak wangi siapa sih?”

Spontan akumenyahut, “Ini aku beliin parfum impor buat Ibu. Tadi dicobain dulu di jalan.”

“Owh.. mana parfumnya?” tanya Ibu sambil meraba – raba tanganku.

Kukeluarkan botol parfum itu dari kantong plastik, sekalian kukeluarkan juga dildo yang akan kuhadiahkan kepada Ibu itu.

“Ini parfumnya dan ini juga buat Ibu.”

“Yang ini apaan?” tanyanya sambil menunjuk ke kotak dildo yang belum dibukanya.

“Ayo sini deh,” kataku sambil menuntun Ibu agar duduk di atas bednya. Lalu kukeluarkan dildo itu dari kotaknya.

“Nih… pegang deh sama Ibu… apaan coba?” kataku sambil menyerahkan dildo itu ke tangan ibuku.

Ibu meraba – raba dildo itu seperti sedang menyelidik benda apa yang sedang dipegangnya itu. “Iiih… kok kayak rudal Wan?!”

“Iya… kalau mau dimasukin ke dalam serambi lempit Ibu, harus dikasih lotion dulu, supaya licin dan tidak ada kumannya. Sebentar pinjam dulu,” kataku.

Ibu menyerahkan dildo itu padaku. Kemudian kulumuri dildo itu dengan lotion yang kubeli toko penjualnya.

Ibu menurut saja ketika kuminta celentang sambil menyingkapkan dasternya.

Lalu kucolokkan dildo itu ke dalam liang serambi lempit Ibu. “Aaaaaaaah… dimasukkan ke serambi lempit ibu Wan?”

“Iya Bu. Sekarang nyalakan vibratornya,” sahutku sambil memijat on untuk vibratornya. Drrrr… dildo itu bergetar. Dan Ibu malah serambi lempitik tertahan, “Waaaaan… ooooohhhh… kok rasanya seperti dibor gini Waaaan…?!”

“Tapi enak kan Bu?! Tahan gelinya ya… vibrator ini justru akan membuat Ibu keenakan…” sahutku sambil menggerak – gerakkan dildo yang sedang bergetar itu, dengan gerakan rudal sedang memenyetubuhi. Maju mundur di dalam liang serambi lempit Ibu.

“Adududuuuuuh… Waaaan… memang enak… tapi… adududuuuuuh… bergetar – getar gini… oooo… ooo… ooooh… Waaaan… Wawaaaan… memang enak Waaan… enak sekali… Waaaaan… aaaa… aaaaaaaah… tapi… ooooooh… ibu jadi cepat lepas Waaaaaan…”

Ibu mengejang tegang, lalu terkulai lunglai.

“Malah bagus kan? Biar cepat selesai., Hihihihi…”

Tiba – tiba terdengar bunyi pintu diketuk berkali – kali.

“Haaa?! Siapa itu?” gumamku sambil meninggalkan Ibu dan bergegas menuju pintu depan.

Setelah pintu kubuka, aku terkejut karena yang mengetuk pintu itu ternyata dua orang polisi…!

“Silakan masuk Pak. Ada apa nih malam begini bapak- bapak polisi datang ke sini?” tanyaku.

“Nanti kami masuk kalau sudah jelas. Apakah benar di sini rumah Ibu Hayati?” tanya salah seorang polisi yang belum mau masuk ke dalam rumah.

“Betul. Bu BHayati itu ibu saya.” “Ooo… jadi Anda yang bernama Wawan Darmawan ya?” “Betul Pak. Ada apa ya?” “Anda punya saudara yang tunanetra bernama Wati?” “Betul Pak. Dia itu kakak kandung saya. Ada apa dengan dia Pak?”

“Nggak ada apa – apa. Kami hanya melanjutkan tugas dari kepolisian Kalimantan Timur, untuk mengantarkannya pulang,” sahut salah seorang polisi itu yang lalu menoleh ke arah temannya sambil berkata, “Kalau begitu turunkan saja dia dari mobil. Alamatnya sudah kita temukan.”

“Siap komandan,” sahut polisi yang berpangkat lebih rendah, yang lalu bergegas menuju mobil polisi yang terparkir di seberang jalan.

“Jadi… kakak saya ada di dalam mobil itu Pak?”

“Iya. Dia baru saja datang ke kantor kami, diantarkan oleh rekan polri dari Kaltim. Untuk jelasnya nanti saja tanyakan langsung kepada kakak Anda.”

Dengan gugup aku bergegas menuju kamar Ibu. “Bu…! Kak Wati pulang… !” seruku.

“Masa?! “Ibu tampak kaget, lalu kutuntun ke ruang tamu sambil dibisiki, “Jangan tanya apa – apa ya Bu. Dia diantarkan oleh polisi yang merasa kasihan, takut nyasar di jalan mungkin.”

“Iya… iyaaa…”

Sementara di depan tampak kedua anggota polri itu membimbing Kak Wati yang tampak jadi lebih montok, memasuki ruang tamu. Aku pun langsung memeluk Kak Wati, “Kak Wati… ke mana aja selama ini Kak?” tanyaku sambil menciumi pipi kakakku.

“Ini… Wawan ya?” “Iya Kak…” “Panjang ceritanya Wan. Mana Ibu?” “Ini Ibu,” sahutku sambil menarik Ibu agar bersentuhan dengan anak sulungnya.

Mereka lalu berpelukan sambil menangis.

Sementara aku mempersilakan kedua anggota polri itu untuk duduk di ruang tamu.

Ibu dan Kak Wati masih berpelukan sambil berdiri di ruang tamu. Lalu kubimbing mereka agar duduk bersamaku di atas sofa tua ruang tamu.

Setelah mengucapkan terima kasih pada kedua anggota polri itu, aku menyerahkan amplop berisi uang sebagai tanda terima kasih. Tapi dengan simpatik mereka menolak dan berkata, “Kami hanya terdorong oleh rasa kemanusiaan saja. Makanya kami langsung antarkan Mbak Wati itu ke sini, karena kalau disuruh nginep dulu di kantor polisi kan kasihan.

Kemudian kedua anggota polri yang baik hati itu berpamitan pulang. Sementara amplop berisi uang itu kumasukkan lagi ke dalam saku celanaku.

“Aku mau mandi dulu Wan. Sejak dari Kalimantan sampai detik ini aku belum mandi,” kata Kak Wati sambil berdiri, “Letak kamar mandinya masih tetap seperti dahulu?”

“Masih Kak,” sahutku, “Perlu kuantar?”

“Gak usah,” sahut Kak Wati, “Aku masih hafal letak kamar mandi itu kalau belum dirubah sih… mudah – mudahan aja masih ingat. Ohya, tolong handuk, sabun, sikat gigi dan odolnya keluarin dari tasku Wan. Minta tolong nih, bukan nyuruh.”

“Iya Kak,” sahutku sambil berdiri dan me;langkah ke arah tas pakaian Kak Wati yang masih tergeletak di lantai ruang tamu.

“Hihihi… tumben kamu mangil aku Kak segala. Dulu kita kan saling panggil nama aja Wan,” kata kakakku yang mulai melangkah ke kamar mandi sambil meraba – raba ke depannya.

“Kamu kan memang juga kakakku,” sahutku.

“Tapi beda umur kita cuma setahun Wan. Panggil namaku aja, gak usah pakai kak kik kuk kek kok. Hihihiii…”

Memang benar, sejak kecil aku dan kakakku itu saling panggil nama saja. Tanpa istilah Kak, meski pun dia kakakku.

Aku sengaja melambatkan diri mencari peralatan mandi kakakku dari tasnya, karena ketika Wati sudah dekat kamar mandi, aku berbisik ke telinga Ibu, “Barang – barang yang tadi itu umpetin dulu Bu. Jangan sampai ketahuan sama Wati.”

“Iya. Nanti suruh dia tidur di kamarmu aja Wan. Ibu mau kunci pintu kamar ibu. Takut ada rahasia kita yang terbongkar sama dia.”

“Iya. Dia memang harus tidur di kamarku, karena aku mau mengorek pengakuannya, ke mana saja selama lima tahun menghilang itu.”

Lalu Ibu masuk ke dalam kamarnya. Dan langsung menutup serta menguncikan pintu kamarnya.

Sementara aku pun bergegas menuju pintu kamar mandi, untuk menyerahkan peralatan mandi kakakku yang sudah duluan masuk ke dalam kamar mandi.

Begitu masuk ke dalam kamar mandi, aku terlongong melihat kakakku sudah telanjang bulat… yang anehnya menggetarkan batinku tidak seperti biasanya.

Ya… sejak kecil aku dan Wati sering mandi bareng. Sambil mengawalnya di kamar mandi, karena takut salah injak atau terpeleset dan sebagainya.

Tapi saat – saat seperti itu tak pernah membuatku ada yang istimewa. Karena waktu masih kecil Wati itu kurus.

Aku bahkan sjudah hafal seperti apa bentuk kemaluan kakakku itu. Dia pun sudah hapal bentuk rudalku saat itu, meski hanya lewat sentuhan belaka.

Setelah kemaluan kami sama – sama berjembut, kami tidak pernah mandi bareng lagi.

Tapi setelah lima tahun tidak berjumpa, ternyata banyak perubahan yang terjadi pada diri kakakku itu. Kini tubuhnya tidak kurus lagi, bahkan sebaliknya… jadi montok dan seksi…!

Dan terus terang saja, desir birahi mulai timbul di dalam batinku setelah memperhatikan bentuk sekujur tubuh Wati (yang tidak mau disebut Kak itu) dalam keadaan telanjang bulat begitu.

Maka setelah memutar otak, aku pun berkata, “Aku juga mau mandi ah. Hitung – hitung bernostalgia pada masa kecil kita dahulu.”

“Iya,” sahutnya, “Sekalian sabunin punggungku ya Wan.”

“Iya,” sahutku yang sedang melepaskan seluruh busana yang melekat di tubuhku. Kemudian kusirami tubuh Wati dari bahu ke bawah, membuatnya menggigil kedinginan karena hari memang sudah malam. Maka secepatnya kusabuni punggungnya sambil berkata setengah berbisik, “Dulu waktu aku berumur limabelas, Wati pernah ngajak bersetubuh kan sama aku…

“Iya. Tapi kamu gak mau. Malah bilang takut aku hamil dan sebagainya.”

“Waktu itu aku kan masih belum mikirin yang gitu – gituan. Cuma mikir nyari duit buat sekolah dan buat makan kita sehari – hari. Kalau sekarang sih aku mau… soalnya kamu jadi seksi begini Wat.”

“Tapi… sekarang aku gak perawan lagi Wan.”

“Gak masalah. Memangnya siapa yang ngambil keperawananmu.”

“Yang menculik aku ke Kalimantan itu.”

“Emangnya kamu diculik Wat?”

“Iya… tapi menculiknya secara halus. Ngajak aku makan – makan di restoran. Lalu dibawa masuk ke mobilnya. Aku gak tau dibawa ke mana saat itu. Eee… makan – makannya sudah jauh di luar kota. Ternyata saat itu aku mau dibawa ke Jakarta dengan janji akan dikasih pekerjaan di Kalimantan.”

“Terus?”

“Bujukannya memang halus sekali. Sedangkan aku ingin merasakan seperti apa naik pesawat terbang itu. Ah… panjang ceritanya. Nanti aja kuceritain setelah mandi. Ini aku kedinginan Wan. Cepetan mandinya ya.”

Setelah selesai menyabuni punggung Wati, aku pun buru – buru menyelesaikan mandiku. Memang terasa dingin sekali airnya. Tapi dalam tempo singkat aku sudah siap untuk membuat tiga kamar yang lengkap dengan mandi masing – masing. Kamar mandi yang dilengkapi dengan shower dan water heater, tanpa menggunakan gayung plastik lagi.

Ketika Wati sudah membalut badannya dengan handuk, aku pun sudah selesai mandi. Dan membelitkan handuk juga di badanku.

Kemudian kutuntun kakakku menuju kamarku.

“Ibu sudah tidur ya?” tanyanya waktu sedang melewati pintu kamar Ibu.

“Iya. Wati mau tidur di kamarku kan?”

“Iya. Biar bisa ngobrol dulu sebelum tidur. Lagian tidur sama Ibu suka ngorok, suka bikin aku terbangun karena berisik oleh suara ngoroknya.”

Setibanya di dalam kamar aku berbisik ke telinga kakakku. “Aku mau menyetubuhi serambi lempitmu ya.”

“Hihihi… kayak yang iya aja.”

“Serius, aku pengen nyobain serambi lempitmu Wat,” kataku sambil menutup dan menguncikan pintu kamarku. Lalu mengajak kakakku duduk di sofa hitam yang tak jauh dari ranjangku.

“Beneran kamu mau menyetubuhiku?” tanya Wati sambil memegang tanganku. “Iya… ingin merasakan enaknya serambi lempitmu.”

“Harusnya dari dulu – dulu kamu menerima ajakanku,” kata Wati sambil memegang pahaku, lalu menyelinapkannya ke balik handuk yang belum kulepaskan dari tubuhku, “Segede apa sih rudalmu?”

“Pegang aja sendiri,” sahutku sambil melakukan hal yang sama. Menyelinapkan tanganku ke balik handuk yang masih membeliti tubuh kakakku.

“Anjriiiittt… rudalmu panjang gede gini Wan…! Sudah ngaceng pula… !” seru Wati tertahan.

“Sttt… jangan keras – keras ngomongnya. Nanti kedengaran sama Ibu,” kataku sambil menempelkan telapak tanganku di mulut kakakku.

Tapi aku tidak takut kedengaran oleh Ibu. Karena di antara kamarku dengan kamar Ibu, ada ruangan kecil yang kami pakai untuk ruang makan. Lagian bunyi radio di kamar Ibu terdengar agak nyaring. Biasa dia suka nyetelin radio kalau sudah mau tidur. Tapi… mungkin juga Ibu sedang menggunakan dildo yang kukasih tadi dengan leluasa.

Tanpa kusuruh, Wati melepaskan belitan handuknya, sehingga menjadi telanjang bulat di depan mataku. Maka aku pun melepaskan belitan handukku, sehingga jadi sama – sama telanjang seperti kakakku.

Yang menggiurkan pada diri kakakku itu adalah toketnya itu, pentilnya gede – gede. Wajahnya pun keindia – indiaan. Hmmm… seandainya dia bisa melihat seperti aku, pasti sudah banyak cowok yang naksir sama kakakku satu – satunya itu.

Dan kini, dalam keadaan telanjang, kakakku merebahkan diri di sofa, dengan kaki dikangkangkan.

Aku menyambutnya dengan pelukan seorang lelaki kepada seorang perempuan. Bukan pelukan adik kepada kakaknya.

Tentu saja pusat perhatianku ke arah kemaluannya, yang lalu kusentuh dengan tanganku. Kuperhatikan dari dekat… dekat sekali. Memang kelihatan kalau kemaluan kakakku sepoerti sering “dipakai” oleh lelaki, Tapi aku tak peduli hal itu. Aku bahkan sudah sangat terangsang ketika bagian dalam kemaluannya yang kemerahan itu sudah ternganga di depan mataku.

Wati mulai menggeliat – geliat sambil mendesah – desah. Terlebih setelah aku menemukan kelentitnya, lalu kujilati bagian yang sebesar kacang kedelai itu dengan lahap.

Namun Wati pun tak mau kalah. Beberapa saat berikutnya, justru dia yang menangkap rudalku yang sudah ngaceng ini. Lalu mengoralnya dengan trampil sekali.

Begitu trampilnya Wati menyhelomoti dan mengurut – urut rudalku, sehingga akhirnya aku takut kalau keburu ngecrot di mulut kakakku, karena permainan oralnya luar biasa enaknya. “Sudah Wat… nanti keburu buceng di dalam mulutmu…”

Wati pun melepaskan selomotannya, lalu menelentang di sofa, sambil mengusap – usap serambi lempitnya yang bibir luarnya berwarna coklat gelap dan bagian dalamnya merah membara.

Tanpa ragu lagi kubenamkan rudalku ke dalam liang serambi lempit kakakku. Blessssss… dengan mudahnya aku bisa membenamkan rudalku sampai ambles semuanya…!

Disambut dengan lontaran suara kakakku, “Oooohhh… gilaaaa… rudalmu gede dan panjang sekali Wan…! Pasti nikmat dientot sama rudal segede dan sepanjang ini sih… ayo entotin Wan…!”

Aku pun mulai mengayun batang kemaluanku, seolah gerakan pompa manual, maju mundur di dalam liang serambi lempit kakakku.

Maka rintihan demi rintihan Wati pun mulai terdengar. Tapi suaranya perlahan sekali, karena aku sudah memperingatkan agar jangan sampai terdengar oleh Ibu.

“Waaaan… rudalmu enak skeali Waaaan… kenapa gak dari dulu – dulu kamu entot aku Waaaan… kalau tau begini, aku takkan jauh – jauh meninggalkan rumah… karena rudalmu ini justru jauh lebih enak daripada rudal XXX…”

“Siapa XXX?” tanyaku sambil mengurangi kecepatan entotanku.(XXX = nama yang sengaja sangat disamarkan).

“Yang membawaku ke Kalimantan dan membuatku jadi tukang pijit di sana…”

Bersambung… Ketika aku membenamkan batang kemaluanku tadi, terasa begitu mudahnya menembus liang serambi lempit kakakku ini. Sebagai pertanda liang serambi lempit Wati tidak sempit lagi. Tapi setelah lebih dari setengah jam aku memenyetubuhinya, terasa benar betapa enaknya liang serambi lempit kakakku ini. Kenyal – kenyal legit begitu.

Dan yang menyenangkan adalah pentil toketnya itu. Gede – gede. Membuatku senang menyedot – nyedotnya seperti bayi yang sedang menetek pada emaknya.

Kakakku justru suka diperlakukan seperti itu. Dia malah mengsap – usap rambutku sambil berkata, “Iya… sedotin terus pentil toketku Wan… enak… iyaaaaa… iyaaaa… iyaaaa… sedotin terus… kuat – kuat juga gak apa – apa.”

Yang paling menyenangkan, kakakku sangat kreatif dengan posisi – posisi sex. Terkadang ia main di atas, di saat lain dia menungging dan kuentot liang serambi lempitnya dari belakang. Terkadang juga ia miring dan aku diminta menyetubuhi dari belakangnya.

Kakakku juga memujiku. Ia berkata bahwa disetubuhi olehku laksana disetubuhi oleh beberapa orang lelaki. Karena posisi demi posisi sudah dilakukan, tapi aku belum ejakulasi juga. Padahal menurut pengakuannya, dia sudah tiga kali orgasme. Sementara aku masih bertahan terus.

Padahal keringat kami sudah bercucuran. Sampai akhirnya aku membisikinya dengan terengah – engah, “Aku udah mau ngecrot. Lepasin di mana?”

“Di dalam saja. Aman kok, aku udah disuntik kabe… cukup buat lima bulan lagi. Emangnya kamu udah mau ngecrot?”

“Iiii… iyaaaaa…” sahutku sambil mempercepat entotanku.

“Ayo lepasin aja di dalam serambi lempitku… aku juga kayaknya mau lepas lagi niiiih…”

Lalu kami seperti sepoasang manusia yang sedang kerasukan. Saling cengkram… saling cium dan akhirnya meriam pusakaku melepaskan pelurunya bertubi – tubi… blam… blaaaaaaam… dhuaaaaar… dhuaaaar… crooootttt… craaaaaaaat…!

Esok paginya, aku agak buru – buru meninggalkan rumah. Karena sebelum ke kantor, aku mau membeli mobil dulu, seperti yang dianjurkan oleh Bu Laila. Sengaja aku mencari mobil di showroom mobil second tapi masih bagus – bagus. Padahal Bu Laila menyuruhku membeli mobil di dealer yangf menyediakan mobil – mobil 100% baru.

Kebetulan di showroom yang cukup terkenal itu ada mobil yang masih sangat baru, dalam kondisi di atas 95%. Harganya tentu sudah jatuh. Jauh dengan harga 100% baru.

SUV berwarna hitam itu tidak tergolong mobil mahal, tapi juga bukan mobil murahan. Dengan harga yang sangat miring, mobil itu sudah bisa langsung dibawa pulang. Tidak seperti mobil brand new, yang harus pakai nomor sementara dulu lah, STNK dan BPKBnya pun harus menunggu sekian hari lah. Sementara mobil yang sudah kupilih itu bisa langsung dipakai ke mana saja, dengan surat – surat yang sudah lengkap.

Setelah test driver sebentar, aku langsung menyatakan setuju kepada mobil SUV hitam metalik itu. Setelah melaksanakan transaksi di showroom, aku langsung membawa mobil itu ke kantor, untuk memulai bekerja sebagai aspri Bu Laila yang selalu ingin dipanggil Cinta itu (kalau sedang berduaan saja).

Ketika aku memberesi barang – barangku di ruang kerja lamaku, di lantai tiga, teman – teman pada heran. “Mau ke mana Wan?” tanya salah seorang di antara mereka.

“Dipindahin ke lantai lima,” sahutku.

“Haaa?! Lantai lima kan kantor para dirut dan para manager?!”

“Iya.”

“Terus dijadiin apa kamu di sana nanti?”

“Belum tau,” sahutku pura – pura belum tahu apa jabatan baruku nanti, “Pokoknya aku ikut perintah aja. Suruh pindah, ya pindah. Oke gaes… doakan aku bisa melaksanakan tugas baruku di lantai lima.”

Lalu aku naik lift menuju lantai lima. Langsung mengetuk pintu ruang kerja Bu Laila.

Bu Laila tampak semringah sekali melihat kedatanganku. Dia mengecup pipi kanan dan pipi kiriku dengan hangatnya.

“Maaf aku terlambat, karena tadi beli mobil dulu,” kataku.

“Ohya?! Sudah beli mobil?” Bu Laila tampak senang sekali.

“Sudah. Tapi tadi beli di showroom mobil – mobil second. Kebetulan ada mobil yang baru dipakai tiga bulan. Keadaannya masih sembilanpuluhlima persen baru. Harganya lumayan murah. Sudah langsung bisa dipakai ke luar kota pula.”

“Mobil apa? “tanyanya.

Kusebutkan merek mobil itu*(maaf takkan kusebutkan mereknya, takut disangka ada sponsor gelap)*.

“Hihihihiii… pintar juga kamu pilih mobil Honey.”

“Nggak mau lihat mobilnya?”

“Jangan. Nanti karyawan malah curiga. Masa mobil aja dilihat langsung olehku. Kalau ada yang nanya nanti, bilang aja mobil itu dibeli dengan uangmu sendiri Honey. Jangan sampai ada yang tau kalau aku yang ngasih duitnya. Nanti mereka pada ngiri sama kamu,” kata Bu Laila yang disusul dengan kecupan hangatnya di bibirku.

Kemudian Bu Laila menunjukkan ruang kerjaku yang letaknya berdampingan dengan ruang kerjanya. Bahkan boleh dibilang ruang kerjaku ini satu ruangan dengan ruang kerja Bu Laila, karena hanya dibatasi oleh partisi yang terbuat dari kaca buram (blur).

“Apakah ini bukannya ruang kerja sekretaris?” tanyaku sambil meletakkan barang – barangku di atas meja kerjaku.

“Hush… tadinya ruang kerja ini tempat kerjaku. Sedangkan ruang kerjaku yang kutempati sekarang, tadinya ruang kerja ayahku. Sekarang ruang kerja ayahku diserahkan padaku. Tapi secara resminya dua bulan lagi perusahaan ini jadi milikku. Siap – siap aja untuk kuangkat sebagai dirut nanti.”

“Wow… mudah – mudahan aku mampu melaksanakan tugas yang berat itu. Terus Cinta sendiri jadi apa nanti?”

“Aku jadi komisaris utama lah. Mmm… mulai sekarang harus rajin baca buku tentang managemen, marketing dan leadership ya. Setelah kuanggap pasti mampu, aku akan segera mengangkatmu sebagai direktur utama. Keren kan?”

“Sangat – sangat keren. Tapi Cinta harus tetap membimbingku, sjupaya aku tidak salah dalam mengeluarkan kebijaksanaan.”

“Gampang itu sih. Sebenarnya yang benar – benar bekerja itu para manager dan stafnya masking – masing. Direktur utama hanya perlu menetapkan garis – garis besar beleid perusahaan saja.”

“Beleid itu kebijakan ya.”

“Iya, kata itu diambil dari bahasa Belanda yang sudah biasa digunakan di perusahaan ini.”

“Iya… berarti mulai sekarang harus banyak baca buku.”

“Ada lagi yang lebih penting,” kata Bu Leila sambil mendekatkan mulutnya ke telingaku. Lalu berbisik, “Kamu harus bisa menghamiliku Honey.”

“Iya, “aku mengangguk sambil tersenyum, “Mudah – mudahan aku bisa mewujudkan keinginan itu, Cinta.”

“Tapi sekarang aku baru saja dapet…” ucapnya tersipu.

“Dapet apa?” tanyaku penasaran.

“Dapet datang bulan,” sahutnya.

“Ogitu… hihihiii… kirain dapet apa.”

“Sabar ya Honey. Nanti setelah bersih, aku akan memasuki masa subur. Pada masa itulah kita harus melakukannya secara intensif, supaya aku bisa hamil.”

“Iya Amore… apa pun akan kulakukan untuk mewujudkan keinginan itu.”

Bu Laila mencium bibirku disusul dengan ucapan mesra, “Aku suka dipanggil Amore oleh kekasih tercintaku.”

Hari itu aku lumayan sibuk untuk beradaptasi dengan suasana baru ini. Sebagai aspri Bu Laila ini. Bukan sekadar jadi karyawan biasa di bagian administrasi itu.

Namun pada jam makan siang, Bu Laila membolehkanku pulang duluan. Untuk mengurus renovasi rumahku itu.

Maka siang itu aku langsung menjumpai Mas Bowo, ahli bangunan yang biasa dipakai oleh boss lamaku (pemilik beberapa taksi yang dahulu jadi tempatku bekerja itu). Setelah ngomong sedikit tentang rencanaku untuk membuat garasi dan tiga kamar baru yang lengkap dengan kamar mandinya masing – masing itu, Mas Bowo pun kuajak ke rumahku.

Rumahku menghadap ke utara. Bukan rumah besar, tapi tanah di sekitarnya lumayan luas. Karena itu aku berencana untuk membangun dua kamar baru di sebelah timur dan satu garasi berikut sebyuah kamar di belakang garasi itu di sebelah barat rumahku. Dengan demikian, aku bisa membangun semuanya tanpa mengganggu Ibu dan kakakku.

Setelah berunding dengan Mas Bowo, tercepai kesepakatan bahwa pembangunan itu bisa selesai dalam tempo dua bulan. Dengan catatan bahwa bagian atapnya akan dicor, supaya nanti bisa dikembangkan ke atas pada suatu saat kelak. Begitu juga dengan harga borongannya sudah kusepakati.

Jadi nanti Mas Bowo akan jadi pemborong kecil, yang akan menyediakan segala bahan dan buruhnya, sementara aku akan membayarnya sebagai pemborong full, tanpa harus memberi makan pada anak buah Mas Bowo. Karena di rumah hanya ada Ibu dan Wati yang sama – sama tunanetra. Yang tak mungkin bisa menyediakan makanan untuk buruh bangunan nanti.

Setelah Mas Bowo berlalu, aku mengajak Ibu dan kakakku duduk di ruang tamu. Memang rumah ini belum punya ruang keluarga. Terpaksa aku mengajak mereka ngobrol di ruang tamu saja. Nanti, kalau ketiga kamar dan garasi itu sudah selesai, mungkin rumah lama ini akan dirobohkan, kemudian dibangun yang baru, yang sesuai dengan kriteria rumah layak huni.

Aku duduk di kursi panjang, diapit oleh Ibu di sebelah kananku dan Wati di sebelah kiriku.

Kemudian kuceritakan semuanya. Bahwa aku sudah punya mobil. Bahwa rumah akan segera direnovasi, tapi takkan mengganggu ibnu dan kakakku karena pembangunan itu takkan mengganggu rumah lama. Kuceritakan juga bahwa yang akan dibangun adalah tiga kamar baru yang memiliki kamar mandi masing – masing. Kamar mandi yang dibuat sedemikian rupa agar lebih nyaman dipakai mandi oleh ibu dan kakakku.

Aku pun menceritakan rencanaku, bahwa setelah ketiga kamar dan garasi itu selesai, rumah lama ini akan dirobohkan dan dibangun ruang keluarga, ruang makan, kitchen yang up to date dan sebagainya. Juga kujelaskan bahwa semuanya itu akan kubiayai dari uangku sendiri, takkan meminjam uang serupiah pun pada bank.

Ibu dan Wati tampak gembira sekali mendengar penuturanku. Mereka menciumi pipiku dari sebelah kanan dan kiriku saking gembiranya.

Selanjutnya aku berkata, “Nanti kita bersetubuh rame – rame ya Bu. Aku akan menyetubuhi Ibu dan Wati di atas ranjang Ibu.“

“Haaa?!” Ibu kaget. Wati pun terperanjat.

“Gak ada yang perlu dirahasiakan lagi ya. Wati sudah tidak perawan lagi sejak berada di Kalimantan. Ibu juga sudah sering kusetubuhi. Jadi… mendingan kita bikin acara happy – happy nanti malam ya Bu, ya Wat…” kataku sambil menyelinapkan tangan kananku ke balik celana dalam Ibu dan menyelinapkan tangan kiriku ke balik celana dalam Wati.

“Ibu tak usah mempersoalkan masalah Wati. Aku sudah memutuskan, darip[ada Wati ngeluyur ke tempat jauh lagi untuk mencari rudal, biarlah rudalku saja yang akan memuasinya. Dan Wati juga tak usah mendakwa Ibu, karena Ibu masih muda dan masih membutuhkan sentuhan lelaki. Maka sebelum Ibu punya suami lagi, biarlah aku saja yang akan memuasinya.

“Iya Wan… aku setuju… setuju sekali…” kata Wati sambil merenggangkan kedua kakinya, karena tanganku sudah menggerayangi kemaluannya.

“Ibu juga sama dengan Wati… semuanya terserah Wawan saja. Silakan atur aja bagaimana baiknya… aaaaaah…” ucap Ibu yang disusul dengan desahan, karena jari tengah kananku sudah menyelinap ke dalam liang serambi lempitnya.

“Ngomong – ngomong sudah pada makan siang nih?”

“Sudah Wan. Tadi beli makanan dari warung nasi itu,” sahut Ibu.

“Kalau begitu, aku mau mandi dulu ya. Biar badannya seger. Setelah mandi kita langsung bikin acara bertiga nanti.”

“Aku juga mau ikut mandi sama kamu Wan,” kata Wati.

“Ibu juga mau mandi, biar badannya segar dan wangi,” kata Ibu.

“Ayo deh… kita mandi rame – rame kalau gitu,” ucapku sambil berdiri, sambil memegang tangan Ibu dan tangan Wati. Lalu kutuntun mereka ke dalam kamar mandi.

Di dalam kamar mandi aku membayangkan kehidupan manusia di zaman purbakala. Mungkin seperti ini pula yang terjadi. Bahwa ibu dan kakakku sedang menelanjangi dirinya di dalam kamar mandi, tanpa keraguan sedikit pun kelihatannya.

Menyenangkan sekali rasanya, mandi bersama dua orang wanita yang sudah pada telanjang ini. Meski mereka adalah ibu dan kakak kandungku …

Memang di rumah ini akulah satu – satunya orang yang bisa melihat secara normal. Karena itu baik Ibu mau pun Wati mungkin merasa bahwa mereka harus menurut pada setiap kehendakku. Tapi aku pun tak mau sewenang – wenang, karena Ibu adalah wanita yang melahirkanku ke dunia ini, sementara Wati adalah kakak kandungku.

Aku bahkan ingin berjuang untuk membahagiakan mereka. Mungkin pada satu saat kalau aku akan membawa mereka ke dokter spesialis mata. Karena aku pernah membaca bahwa tidak semua kebutaan tidak bisa disembuhkan. Siapa tahu ibu dan kakakku bisa disembuhkan kebutaannya.

Setelah selesai mandi dan mengeringkan badan dengan handuk masing – masing, kutuntun Ibu dan Wati ke dalam kamarku. Bukan ke dalam kamar Ibu. Karena di dalam kamarku bednya lebih besar daripada bed Ibu.

Di atas bed itulah Ibu dan Wati menelentang berdampingan.

Aku memilih Ibu dulu. Kujilati serambi lempitnya sampai benar – benar basah, kemudian kubenamkan rudalku ke dalam liang serambi lempitnya yang sudah basah kuyup ini.

Bleeeessssss… batang kemaluanku membenam ke dalam liang serambi lempit Ibu. Membuat Ibu ternganga dan menahan nafasnya.

Lalu aku mulai mengantotnya sambil meraba – raba pangkal paha Wati, sampai menyentuh serambi lempitnya.

Asyik sekali rasanya, bisa memenyetubuhi Ibu sambil mainin serambi lempit Wati yang lama kelamaan jadi basah juga, karena jariku dicolok – colokkan ke dalam liang serambi lempitnya. Tanganku yang satu lagi kupakai untuk meremas – remas toket Ibu.

Lalu Ibu pun mulai merintih – rintih, Waaaan… oooohhh… Waaan… rudalmu enak sekali Waaan… entot teruuuuuusssss… entot terus Waaaan… jangan mandeg – mandeg Waaan… entoooottttt… iyaaaaa… entooootttt… entooooottttt…”

Tampaknya Wati sangat terangsang mendengar rintihan – rintihan Ibu seperti itu. Maka meski pun jariku sedang disodok – sodokkan ke liang serambi lempitnya, Wati pun mengelus – elus kelentitnya sendiri. Dengan mulut ternganga – nganga.

Maka setelah lebih dari seperempat jam aku memenyetubuhi Ibu, aku berbisik ke telinga ibuku, “Aku mau menyetubuhi Wati dulu ya Bu. Kasian dia udah kepengen diewe.”

“Iya,” sahut Ibu yang mungkin sudah orgasme, karena liang serambi lempitnya sudah becek sekali.

Aku pun pindah ke atas perut Wati yang sudah menunggu entotanku. Tampaknya dia girang setelah aku menyelinapkan moncong rudalku di mulut serambi lempitnya.

Dengan Wati memang tidak perlu berlama – lama foreplay. Langsung saja kubenamkan batang kemaluanku ke dalam liang serambi lempitnya yang sudah basah ini (karena waktu menyetubuhi Ibu serambi lempit Wati kugerayangi terus).

”Aaaaaaah… masuuuuk… “Wati spontan mendekap pinggangku ketika batang kemaluanku sudah terbenam separohnya.

Wajahku yang sudah berada tepat di atas wajah Wati, diam – diam memperhatikan wajah kakakku itu dengan seksama. Secara objektif kunilai, wajah kakakku ini cantik. Matanya pun sepintas lalu seperti mata normal. Hmmm… seandainya kakakku ini bisa melihat seperti aku, mungkin lain lagi ceritanya.

Maka ketika aku mulai mengayun batang kemaluanku, diam – diam aku melamun. Ingin agar Wati bisa melihat seperti cewek normal. Pasti dia bahagia sekali. Sebagai adiknya, aku pun akan turut merasa bahagia. Dan bukankah di zaman sekarang teknologiknya sudah sangat maju, sehingga banyak orang buta jadi bisa melihat secara normal?

Mudah – mudahan saja rejekiku makin lama makin banyak. Supaya aku bisa menyembuhkan kebutaan ibu dan kakakku.

Pada saat batang kemaluanku mulai gencar memenyetubuhi liang serambi lempit Wati yang luar biasa legitnya ini, aku pun masih sempat meraba – raba serambi lempit Ibu yang masih celentang di samping Wati. Bukan hanya meraba – raba. Dua jari tanganku sudah masuk ke dalam liang serambi lempit Ibu yang masih basah ini. Sehingga aku mulai mendengar desahan dari dua arah.

Tangan kananku memenyetubuhi liang serambi lempit Ibu, batang kemaluanku memenyetubuhi liang serambi lempit Wati, tangan kiriku meremas – remas tgoket kanan Wati, sementara lidahku menjilati leher kakakku yang terasa hangat ini. Disertai dengan gigitan – gigitan kecil, yang membuat Wati ternganga dan mendesah – desah, “Aaaa…

Pada waktu sedang enak – enaknya memenyetubuhi kakakku, terawanganku pun tetap menggelayuti benak dan batinku. Seandainya ibu dan kakakku sama – sama bisa melihat, mungkin lebih seru lagi suasananya. Atau… mungkin juga ibu tak mau lagi dientot oleh anaknya sendiri dan Wati pun tak mau lagi dientot olehku.

Tapi soal apa reaksi mereka setelah bisa melihat nanti, aku tak peduli. Yang jelas aku sayang kepada mereka. Karena itu aku tak peduli bagaimana reaksi mereka kelak, asalkan mereka bisa melihat seperti aku. Itu saja.

Dan kini Wati tidak bisa melihat tanganku yang sedang “ngerjain” serambi lempit Ibu, sampai Ibu menggeliat – geliat begitu. Wati hanya tahu bahwa entotanku makin lama makin gencar dan berkali – kali menyundul dasar liang serambi lempit kakakku.

Keringat pun mulai membasahi leher dan ketiak Wati. Tapi aku malah semakin bergairah untuk menjilati dan menggigit – gigit leher dan ketiaknya. Yang membuat Watiu meremas – remas rambutku sambil merintih dan merintih terus, “Waaawaaannn… ooo… ooooh Waaaan… ini luar biasa enaknya Waaan… entot terussss…

Cukup lama aku menyetubuhi kakakku. Dan aku tahu bahwa ia sudah lebih dari dua kali orgasme. Tapi dia tidak mau mengatakannya. Padahal liang serambi lempit kakakku sudah sangat becek. Dan aku sendiri suidah berada di detik – detik krusial. Sudah dekat – dekat ejakulasi.

Tapi dengan cepat aku melawan diriku sendiri. Cepat kucabut batang kemaluanku dari liang serambi lempit kakakku. Lalu menarik nafas panjang tiga kali. Dan kubenamkan batanbg kemaluanku ke dalam serambi lempit… Ibu…!

Ibu tampak senang dan memelukku erat – erat, sementara aku langsung mengayun rudalku di dalam liang serambi lempit Ibu yang tidak sebecek tadi lagi.

Tapi perlawananku malah melemah. Aku tak bisa bertahan terlalu lama di atas perut Ibu. Akhirnya kubenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin, sambil menembak – nembakkan lendir maniku di dalam liang serambi lempit Ibu.

Croootttt… crot… crooootttttt… crooooottttttt… croooottttt… crottt… crooootttt…!

Aku pun menggelepar di atas perut Ibu. Dengan keringat membanjiri sekujur tubuhku…

Tiga bulan kemudian…

Rumahku sudah mulai berubah. Di samping kanan sudah ada kamar untuk Ibu dan untuk Wati. Jauh beda dengan kamar lama. Karena kamar baru ini sudah ada kamar mandinya masing – masing, yang dilengkapi p;eh shower dan water heater. Jadi baik Ibu mau pun Wati, tidak perlu memakai gayung plastik lagi. Tidak akan kedinginan lagi kalau mau mandi subuh atau malam.

Kamar tidurnya pun sudah dilengkapi oleh AC dan furniture serba baru yang biasa dipakai oleh orang – orang kaya. Selain lemari – lemari pakaian, tiap kamar dilengkapi dengan satu set sofa model masa kini, pesawat televisi LED kecil (karena percuma juga dibelikan televisi layar lebar, toh mereka hanya bisa mendenarkan suaranya saja).

Di sebelah kiri rumah lama, sudah ada garasi yang berdampingan dengan kamarku. Jadi kalau mobilku sudah masuk ke dalam garasi, aku bisa langsung membuka pintu kamarku.

Sementara itu rumah lama pun sudah dirombak. Ruang tamu dan kamar – kamar lama dijadikan ruang tamu baru, ruang keluarga, kitchen dan kamar pembantu. Dinding luarnya tidak diganggu. Hanya sekat – sekat dan pintu – pintunya yang dirobah, sesuai dengan yang kuinginkan.

Kebetulan aku sudah mendapatkan seorang pembantu yang ingin bekerja di rumahku. Sudah lama aku menginginkan ada pembantu, tapi dahulu aku hidup pas – pasan. Jangankan menggaji pembantu, untuk kebutuhan sehari – hari pun sering ngutang ke warunbg yang dekat dengan rumahku.

Namun sekarang aku merasa sudah mampu menggaji pembantu. Tugasnya adalah masak, membersihkan rumah, cuci pakaian dan cuci piring. Selain daripada itu, Bi Euis (nama pembantu itu) kutugaskan untuk menjaga dan mengawasi Ibu serta Wati. Karena mereka tunanetra, jangan sampai mengalami hal – hal tidak diinginkan, seperti terjatuh, ngeluyur ke luar lalu sesat pulangnya dan sebagainya.

Untuk itu aku berani menggaji Bi Euis dalam jumlah yang lebih besar daripada pembantu pada umumnya di daerahku.

Dengan demikian, aku merasa nyaman karena telah bisa menempatkan Ibu dan kakakku di rumah yang nyaman ditinggali, ada yang melayani mereka pula kalau aku sedang tidak di rumah.

Baru beberapa bulan setelah Bu Laila mengangkatku sebagai direktur utama, perusahaan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Mujngkin karena tenaga dan pikiranku dipusatkan pada perkembangan perusahaan. Atau mungkin juga karena faktor keberuntungan berpihak padaku.

Namun aku berpegang kepada prinsip managemen modern. Bahwa mandeg itu berarti mundur.

Jadi buatku perusahaan tidak boleh hari ini tetap sama seperti kemaren. Bagiku, hari ini harus lebih baik daripada kemarin. Dan hari esok harus lebih baik daripada hari ini.

Pokoknya aku benar – benar all out di perusahaan yang sudah menjadi milik Bu Laila ini.

Namun meski pun aku sibuk dengan urusan perusahaan, aku tak lupa pada tekad semulaku. Yakni untuk membawa Ibu dan Wati ke dokter spesialis mata. Sekaligus ingin tahu berapa biayanya jika mata Ibu dan Wati bisa disembuhkan.

Hal itu kuungkapkan kepada Ibu pada suatu malam, ketika aku baru pulang kerja, selesai mandi malam dan mengenakan kimono yang terbuat dari bahan handuk putih bersih.

Saat itu kulihat Wati sudah tidur, tapi Ibu masih duduk di sofa depan televisi. Aku terharu melihat ibuku yang senang sekali mendengarkan suara televisi, tanpa melihat gambarnya.

Saat itu Ibu mengenakan kimono hitam, sehingga kontras sekali dengan kulitnya yang putih bersih.

Sejak ditempatkan di kamar barunya, Ibu jadi kelihatan lebih cantik. Wajahnya pun seperti memancarkan sinar saking cantiknya. Mungkin karena Ibu jadi lebih rajin mandi dengan air hangat. Sehingga sekujur tubuhnya jadi bersih sekali. Wajahnya pun tampak lebih cemerlang, meski tanpa polesan make up. Semuanya natural.

Seandainya Ibu bisa melihat, mungkin akan lebih cantik lagi. Karena bisa memoles wajahnya di depan cermin rias.

Meski pun tidak bisa melihat, Ibu menyadari kehadiranku di dalam kamarnya. “Baru pulang Wan?” tanyanya.

“Iya Bu. Di kantor sibuk sekali,” sahutku disusul dengan kecupan di pipinya. Lalu duduk di sampingnya.

Begitu aku duduk di sampingnya, Ibu langsung meraba – raba kimonoku. Lalu menyelinap ke baliknya dan langsung memegang batang kemaluanku, karena aku tidak mengenakan celana dalam.

“Ibu udah kangen sama rudalmu Wan. Udah empat hari kamu gak ngentrot ibu kan?”

“Ibu mau dientot? Ayo di tempat tidur aja, biar leluasa,” ucapku sambil memegang pergelangan tangan Ibu dan menuntunnya ke tempat tidur.

Di atas tempat tidur aku dan ibuku sama – sama melepaskan kimono. Lalu sama – sama telanjang bulat.

Lalu Ibu celkentang sambil merenggangkan kedua paha poutih mulusnya. Aku pun tengkurap di antara sepasang paha Ibu, sambil menepuk – nepuk serambi lempitnya yang sudah 4 hari tidak “ditengok” olehku.

“serambi lempit Ibu memang cantik sekali bentuknya. Seperti belum pernah melahirkan.”

“Padahal ibu sudah tiga kali melahirkan Wan.”

“Tiga kali? Bukankah Ibu hanya punya dua orang anak, Wati dan aku?”

“Sebenarnya setahun setelah melahirkan kamu, ibu melahirkan anak lagi. Tapi dia diadopsi oleh orang kaya bernama Hasyim. Ibu kasihkan saja, karena ibu ini buta, tidak bisa mengurus anak banyak – banyak.”

“Jadi aku ini punya adik?!”

“Iya Wan. Adikmu perempuan. Matanya normal seperti kamu.”

“Siapa namanya?”

“Belum dikasih nama. Gak tau Pak Hasyim ngasih nama apa sama adikmu itu.”

“Sekarang Pak Hasyim itu tinggal di mana?”

“Nggak tau. Ibu hanya dengar adikmu itu dibawa ke luar Jawa. Entah ke Sumatra atau Kalimantan atau Sulawesi… entahlah. Bahkan mungkin juga dibawa ke luar negeri, karena kabarnya Pak Hasyim itu punya perusahaan di luar negeri segala.”

“Ya biarlah, kalau dia diadopsi oleh orang tajir, kehidupannya pun tentu bergelimang harta. Tak usah kita pikirkan benar,” kataku sambil mendekatkan mulutku ke serambi lempit Ibu. Lalu mulai menjilatinya.

Ibu pun tidak bicara lagi. Karena mungkin mulai menikmati enaknya jilatanku ini.

Terlebih lagi setelah aku mencelucupi kelentitnya, Ibu mulai menggeliat – geliat dan mendesah – desah.

Sampai pada suatu saat, “Aaaaa… aaaaah… Waaaaan… aaaaaaah… aaaaa… aaaaaahh… Wawaaaaan… aaaa… aaaaaaaahhhh… Waaaaan… aaaaaa… aaaaah… sudah Waaaan… masukin aja rudalmu Waaaan…”

Aku memang sudah tau benar bahwa Ibu tak mau terlalu lama dijilatin serambi lempitnya. Karena takut liang serambi lempitnya jadi becek sebelum dientot katanya.

Tak lama kemudian batang kemaluanku sudah dibenamkan ke dalam liang serambi lempit Ibu.

“Ooooh… rudalmu memang luar biasa Wan. Nanti kalau sudah punya istri, pasti bakal ketagihan sama enaknya rudalmu ini…” ucap Ibu sambil mendekap pinggangku.

Sebagai jawaban, kuayun rudalku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit ibuku. Padahal di dalam hati, aku berkata, “Kalau Ibu bisa melihat dan punya suami lagi, pasti suami Ibu bakal ketagihan pada legitnya serambi lempit Ibu ini.”

Lalu kugencarkan entotanku dengan gairah menggebu – gebu. Ibu pun merintih – rintih histeris sambil meremas – remas rambutku, “Aaaaah… Waaaan… rudalmu memang enak sekali Waaan… entooot teruuussss… jangan berenti – berenti… iyaaaa… iyaaaa… iyaaaa… aaaaaaah… entoooootttt …

Aku pun menyahut dalam bisikan terengah di dekat telinga Ibu, “serambi lempit Ibu juga enak sekali… uuuugh… ughhhh… legit sekali Buuuu… uuuugggghhhh… ughhhhh…”

Sementara itu entotanku semakin kugencarkan dalam kecepatan standar, sambil menjilati leher Ibu diiringi dengan gigitan – gigitan kecil.

Hal ini berlangsung lama. Lebih dari duapuluh menit aku “berpush-up” di atas perut ibuku, sementara mulutku tetap asyik menjilati dan menggigit – gigit leher Ibu. Tanganku pun ikut asyik meremas – remas toketnya yang tidak sekencang toket Wati namun masih enak untuk diremnas dan diemut pentilnya.

Ibu pun merintih – rintih terus sambil meremas – remas bahuku. Terkadang juga rintihannya disertai dengan meremas – remas rambutku.

“Waaaan… oooo… ooooh… Waaaaaan… oooo… ooooh… entot terus Waaaan… oooo… oooooohhhhh… rudalmu enak sekali Waaaan… entooooottt teruuuussss… Waaan… entooooooootttttttt… entooooooootttttt… oooo… ooooooh Waaaaan…”

Namun sesaat kemudian Ibu mulai berkelojotan sambil serambi lempitik – mekik perlahan, “Waaan… ayoooo cepetin entotannya… ibu udah mau lepas Waaaan… Waaaaan… entttooooooottttttttt… entoooot teruuuuusssss… entooootttt… !”

Sampai akhirnya ibuku terkejang – kejang sambil memejamkan matanya, sambil mencengkram sepasang bahuku erat – erat.

Kutancapkan batang kemaluanku di dalam liang serambi lempit Ibu yang sedang mengejut – ngejut erotis. Sambil menunggu gairahnya pulih kembali.

Tak lama kemudian mata ibuku terbuka kembali, dengan sorot sayu. Lalu terdengar suaranya, “Cabut rudalmu Wan… ibu udah kepayahan nih…”

“Tapi aku belkum ngecrot Bu,” sahutku bernada complain.

“Lepasin di serambi lempit Wati aja gih. Ibu sudah kekenyangan Wan…” ucap Ibu sambil mendorong dadaku, agar tidak menghimpit toketnya lagi.

Meski agak jengkel, kucabut juga rudalku dari dalam liang serambi lempit Ibu. Lalu mengambil kimonoku dan melangkah ke luar. Dan membuka pintu kamar Wati.

Aku tersenyum sendiri merlihat kakakku tidurnya celentang dengan kedua kaki mengangkang begitu. Sehingga serambi lempitnya yang tidak bercelana dalam itu pun tampak ternganga. Seperti trenggiling yang sedang menunggu semut masuk ke dalam mulutnya.

Kuletakkan kimonoku di samping kanan Wati. Kemudian kusingkapkan daster katun putihnya perlahan – lahan. Dan kudekatkan mulutku ke serambi lempitnya.

Aku tahu bahwa Wati kalau sudah tidur susah sekali dibangunkannya. Karena itu aku yakin kalau sekadar dijilatin serambi lempitnya takkan membuat dia bangun, kecuali kalau kelentitnya kusedot – sedot. Tapi kali ini aku bukan ingin menjilati serambi lempitnya. Aku hanya ingin mengalirkan air liurku ke dalam celah serambi lempitnya.

Aku berhasil melakukannya, mengalirkan air liurku ke dalam celah serambi lempit Wati tanpa menyentuh serambi lempitnya. Karena serambi lempitnya memang agak menengadah ke atas.

Setelah cukup basah, dengan hati – hati kuselipkan moncong rudalku ke dalam mulut serambi lempit kakakku. Kemudian kudorong sekuat tenaga. Blessssss… masuk lebih dari separohnya…!

Pada saat yang sama, Wati serambi lempitik tapi cepat kututup mulutnya dengan telapak tanganku sambil berkata, “Ini aku Wat…”

“Wawan?! Aaaah… kamu bikin aku kaget aja. Kirain ada orang jahat. Ternyata kamu… adikku tersayang,” sahut Wati sambil meraih leherku ke dalam pelukannya. Lalu tampak enjoy… menikmati entotanku yang mulai diayunkan.

Saat itu daster masih melekat di tubuh Wati. Hanya bawahnya saja disingkapkan sampai ke perut. Wati pun menyadari hal ini. Lalu dengan susah payah daster itu dilepaskan lewat kepoalanya. Kemudian berkata, “Kalau gak telanjang, terasa kurang sempurna.”

Lalu Wati mulai menggoyang pinggulnya. Membuatku semakin bersemangat menyetubuhinya.

Tapi pada suatu saat Wati menghentikan goyangannya. “Bosen posisi begini terus. Posisi doggy aja yok.”

“Boleh,” sahutku sambil menarik rudalku sampai terlepas dari serambi lempit kakakku.

Kemudian Wati merangkak dan menungging di atas bed. Aku pun berlutut di dekat pantatnya. Dan kujebloskan batang kemaluanku ke dalam liang serambi lempitnya kembali. Dalam posisi doggy kami lanjutkan persetubuhan ini. Aku berlutut memenyetubuhi kakakku yang sedang menungging sambil memeluk bantalnya.

Wati juga kunilai seperti Ibu. Seandainya dika bisa melihat secara normal, aku yakin banyak cowok yang bakal naksir dia. Karena kakakku itu bukan hanya cantik, tapi juga punya kulit yang putih mulus, punya bentuk tubuh yang seksi habis.

Ya, Wati punya tubuh tinggi langsing, dengan pinggang yang ramping, tapi baik toket mau pun bokongnya gede banget. Sehingga bentuk tubuhnya mirip biola.

Wajahnya pun cantik. Bahkan sepasang matanya tampak seperti mata normal. Tidak seperti mata tunanetra pada umumnya. Maka kalau dilihat sepintas lalu, orang takkan mengira bahwa Wati itu seorang gadis tunanetra.

Dan kini tubuh seksi abis itu sedang kusetubuhi dalam posisi doggy seperti yang diinginkannya.

Sambil memenyetubuhi liang serambi lempitnya, aku mulai menepuk – nepuk pantat kakakku yang gede semok ini.

Tampaknya kakakku senang dengan tepukan itu. “Iya Wan… tabokin bokongku lebih keras lagi. Enak tuh.”

Kuikuti keinginan Wati itu dengan menabok – nabok pantat gedenya.

“Iyaaaa… iyaaaa… begitu Wan… kemplangin terus pantatku sekuatmu…”

Berbeda dengan Ibu yang senang dientot dalam irama “nyiur melambai”, kakakku ini seneng dientot dengan gaya banteng ngamuk. Bayangin aja kalau banteng ngamuk, apa pun yang ada di depannya pasti diseruduk.

Aku pun melakukannya dengan gaya banteng ngamuk itu. Tapi bukan mau menghancurkan, melainkan ingin agar entotanku “terasa” oleh kakakku.

Dengan batang kemaluan diayun scepat bdan sekeras mungkin, kutampar – tampar pantat kakakku sekuatnya seperti yang diinginkannya. Maka suara unik pun terdengar dari dua arah. Suara rudalku yang sedang maju mundur di dalam liang serambi lempit Wati, dan suara tamparan – tamparanku di pantatnya. Crrek srtttt…

Bunyi tamparan – tamparanku di pantat Wati baru berhenti kalau aku sudah mrapatkan dadaku ke punggung kakakku, sambil meremas – remas toket gedenya sepuasku. Wati memang tidak protes kalau aku meremas toket gedenya kuat – kuat. Bahkan kelihatannya dia lebih suka kalau tokletnya diremas kuat – kuat. Berbeda dengan ibuku yang ingin agar payudaranya diremas pelan – pelan, secara lembut.

Kalau diibaratkan musik, mungkin Ibu lebih suka musik yang slow dan mendayu – dayu. Sementara Wati lebih suka musik metal atau deephouse…!

Dalam masalah sex, aku memang tidak mau egois. Aku selalu ingin mengikuti keinginan pasangan seksualku. Karena kalau pasanganku merasa puas, aku pun ikut puas.

Setiap kali kusetubuhi, Wati tak pernah berdiam diri seperti patung. Pantatnya selalu saja bergoyang – goyang diiringi rintihan – rintihan histerisnya.

“Aaaaaah… Waaaan… enak sekali Waaaan… entot terussss… enak Waaaan… aaaaa… aaaaah… aaaaa… aaaaahhhhh… ahhhhhh… Waaaaan… Waaaan… aaaaahhhh… aaaaaa… aaaahhhh… entooooottttttt… entooooooootttttttt… aaaaaaa… aaaaaaaahhhh… aaaaaa… enaaaaaak …

Tapi pada suatu saat goyangan pantat Wati terasa ngawur. Dan akhirnya dia ambruk diiringi pekikan lirihnya, “Aaaaa… aaaaaaaaahhhhh…”

Karena Wati ambruk, dengan sendirinya rudalku pun terlepas dari liang serambi lempitnya. Namun aku langsung menyadarinya, bahwa dia sudah orgasme.

Ya… Wati lalu menelentang dengan sepasang tangan direntangkan seperti lambang palang merah. Kedua kakinya pun direnggangkan.

Wati seolah mempersilakanku melanjutkan entotanku, tapi dalam posisi missionary saja. Maka tanpa buang – buang waktu aku pun merangkak ke atas perutnya sambil memegangi rudalku yang masih ngaceng berat ini.

Dan dengan sekali dorong, rudalku langsung masuk seluruhnya ke dalam liang serambi lempit Wati yang sudah becek ini… blesssskkkkkkk …

Wati masih tampak tepar. Tapi aku langsung mengayun batang kemaluanku. Bermaju mundur lagi di dalam liang serambi lempit yang sudah becek ini. Sambil meremas – remas toket gedenya, aku pun mulai menjilati leher kakakku, disertai dengan gigitan – gigitan kecil yang tidak menyakitkan.

Wati pun tampak mulai bergairah kembali. Dengan menggeol – geolkan pinggulnya. Bergoyang menyerupai angka 8. Sehingga meski liang serambi lempitnya sudah becek, tapi masih mampu membesot – besot dan meremas – remas rudal ngacengku.

“Waaan… ooooh… rudalmu memang gede dan panjang sekali… ini luar biasa enaknya Wan… ooooh… ooooo… ooooooohhhhhhh… entot yang kencang aja Wan… biar lebih tyerasa kepala rudalmu menyodok – nyodok dasar liang serambi lempitku. Iyaaaa… iyaaaa… entot terus Waaaan… enak sekaliiii…

Cukup lama batang kemaluanku “memompa” liang serambi lempit kakakku. Sehingga keringat mulai membanjiri tubuhku, bercampur aduk dengan keringat kakakku.

“serambi lempitmu juga enak sekali Wat… tadi becek sebentar, tapi sekarang udah legit lagi… geol terus pinggulmu… enak sekali…” ucapku tersendat – sendat karena sedang mewnggencarkan entotanku sambil meremas – remas toket gede dan menjilati lehernya yang sudah keringatan.

Wati tidak menyahut. Tapi pantatnya semakin gila – gilaan bergoyang memutar – mutar dan meliuk – liuk.

Sampai pada suatu saat terdfengar suaranya terengah – engah, “Aaaa… aku udah… mau… mau lepas lagi… barengin yuuuk… aaaaaa… aaaaaaaah…”

Kebetulan aku pun sudah tiba di detik – detik krusial. Tanda – tanda mau ejakulasi sudah kurasakan. Maka entotanku semakin kupercepat.

Maju mundur dan maju mundur dengan cepatnya. Sementara Wati pun mulai berkelojotan sambil meremas – remas rambutku.

Kami berhasil mencapai puncak kenikmatan secara berbarengan. Bahwa ketika Wati terkejang – kejang dengan liang serambi lempit berkedut – kedut kencang, moncong rudalku pun sedang mengejut – ngejut sambil menembak – nembakkan lendir kenikmatanku.

Croooootttttt… crotttt… crooootttttt… crooottt… crottt… crooooootttttttt… crooootttt…!

Lalu kami terkulai lemas. Dalam kepuasan sedalam lautan.

Sepuluh hari kemudian, Ibu dan Wati dirawat di rumah sakit mata, atas rujukan dokter spesialis mata yang sudah memeriksanya secara teliti di tempat prakteknya. Nanti di rumah sakit itu Ibu dan Wati akan diteliti secara intensif, kemudian dicarikan solusinya agar bisa melihat secara normal.

Setelah mengantarkan Ibu dan Wati ke rumah sakit, aku pun pulang dengan badan terasa pegal – pegal. Karena dari pagi sibuk di kantor, dari siang sampai sore mengurus Ibu dan Wati.

Setibanya di rumah, aku langsung mandi. Dengan harapan pegal – pegalku hilang dengan sendirinya. Tapi ternyata pegal – pegalku belum hilang juga. Maka akhirnya kupanggil Bi Euis.

“Ada apa Den?” tanya Bi Euis di ambang pintu kamarku.

“Bisa mijit Bi? Badanku pegel – pegel sekali,” sahutku.

“Bisa sih sedikit – sedikit. Tapi sebentar ya Den. Mau nyisir dulu, baru selesai mandi.”

“Iya, jangan lama – lama ya.”

“Iya Den.”

Setelah Bi Euis berlalu, kulepaskan baju dan celana piyamaku. Lalu dalam keadaan cuma tinggal bercelana dalam, aku menelungkup di atas bedku.

Tak lama kemudian terdengar suara Bi Euis, “Mau pakai balsem atau minyak apa Den?”

Sambil tetap menelungkup kusahut, “Gak usah pakai minyak apa – apa Bi. Pakai tangan Bibi aja.”

Lalu terasa bed bergoyang. Bi Euis sudah naik ke atas bedku. Lalu mulai memegangi telapak kakiku. Dan mulai memijatnya.

“Yang lama mijitnya ya Bi. Nanti kukasih bonus.”

“Iya Den.”

Lalu terasa kedua tangan Bi Euis mulai memijat dan mengurut – urut betisku, sambil bertanya, “Ibu dan Neng Wati jadi dirawat di rumah sakit Den?”

“Iya. Cuma usaha aja Bi. Mudah – mudahan mereka bisa melihat sepertti kita.”

“Den… Ibu itu ibu kandung Den Wawan?”

“Iya. Emang kenapa?”

“Heheheh… gak kenapa – kenapa Den. Anu… mmm… anu… Den Wawan tidak tunanetra seperti Ibu dan Neng Wati ya.”

Aku heran. Pertanyaan itu berdasarkan apa?

Aaah… jangan – jangan suara rintihan Ibu waktu kusetubuhi terdengar oleh Bi Euis. Mangkanya Bi Euis seperti kurang percaya kalau Ibu itu ibu kandungku.

Jangan – jangan Bi Euis curiga pada apa yang sering terjadi di rumah ini…!

Aku harus mencegahnya. Siapa tahu dia sudah menyadari apa saja yang terjadi di antara aku dengan Ibu dan Wati. Lalu bisa saja dia menyebar gossip ke tetangga nanti.

Untuk membungkam mulut Bi Euis aku punya caraku sendiri.

Tadinya aku tak pernah punya perhatian berlebih kepada Bi Euis. Tapi setelah mencium gelagat mencurigakan, aku merasa harus melawannya dengan caraku sendiri.

Kalau mau main libas sembarangan, di kantor juga banyak cewek yang kelihatan memancxing – mancing padaku. Tapi aku tak pernah menggoda seorang karyawati pun di kantor. Terlebih kalau mengingat Bu Laila yang begitu dalam mencintaiku. Kalau ketahuan macem – macem di kantor, bisa dipecat aku nanti.

Tapi Bi Euis ini, harus mendapatkan perlakuan khusus dariku. Agar seandainya dia tahu rahasiaku dengan Ibu dan kakakku, dia akan tutup mulut.

Lalu aku menelentang sambil berkata, “Bagian depannya juga Bi.”

“Iya…” sahutnya sambil mengurut – urut tulang keringku sambil menunduk, memandang ke arah yang sedang dipijitnya. Pada saat itulah kjuperhatikan bentuk Bi Euis yang lumayan cantik. Bahkan kulitnya lebih putih daripada kulit ibu dan kakakku.

“Umur Bibi sekarang berapa tahun?” tanyaku.

“Duapuluhenam Den.”

“Wah… cuma beda dua tahun denganku. Terus… sejak kapan hidup menjanda?”

“Sudah setahun Den.”

“Punya anak berapa orang?”

“Belum punya anak seorang pun. Justru mantan suami menceraikan saya juga karena sudah lima tahun berumah tangga, tidak punya anak seorang pun.”

“Memangnya Bibi menikah pada usia berapa?”

“Duapuluh tahun Den.”

“Umur duapuluh kawin, umur duapuluhlima jadi janda ya.”

“Hehehee… iya Den. Sudah takdirnya harus begini,” ucapnya dengan suara lirih.

Pada saat itulah diam – diam kusembulkan batang kemaluanku yang sudah ngaceng ini dari celah celana dalamku. “Gak kangen sama yang begini?” tanyaku sambil menarik tangannya sampai menempel di batang kemaluanku.

“Waaauuu Deeen…! “serunya dengan mata terbeliak dan tangan gemetaran, “Iiii… ininya ha… harus dipijit juga? Iiiih… gede dan panjang sekali… hihihiiii…”

“Iya… pijitnya pake serambi lempit aja Bi. Supaya nikmat,” kataku sambil menarik kedua tangannya, sehingga dadanya terhempas ke atas dadaku.

Dengan sigap aku pun mendekap pinggangnya erat – erat. Kurapatkan pipiku ke pipinya sambil berbisik, “Sebenarnya kalau didandani, Bi Euis ini cantik lho…”

“Siapa yang mau dandani saya…” sahutnya nyaris tak terdengar.

“Nanti aku yang dandani. Asalkan bisa nyimpen rahasia aja,” ucapku sambil meremas – remas bokong gedenya. Ya… salah satu daya tarik Bi Euis adalah bokongnya itu. Gede dan menggiurkan.

“Te… terus saya harus gimana Den?” tanyanya yang masih nemplok di atas dadaku.

“Mumpung Bi Euis belum kawin lagi, kita main aja yok. Biar aku jadi sayang sama Bibi.”

“Ma… main apa Den?”

Aku menyahutnya dengan bisikan, “Bersetubuh…”

“Mmm… siapa sih yang gak mau digauli sama cowok seganteng Den Wawan. Tapi saya takut… takut hamil Den.”

“Soal itu sih jangan takut. Aku punya pil anti hamil.”

“Kalau gitu… terserah Aden aja deh…”

“Wanita kalau sudah bilang terserah, berarti mau kan?” cetusku sambil bangkit. Bi Euis pun duduk dengan sikap canggung dan malu – malu.

Dalam keadaan cuma bercelana dalam ini, aku mendekap pinggang Bi Euis dari belakang. Saat itu Bi Euis mengenakan daster batik yang sudah agak lusuh. Tapi aku tak peduli dengan daster lusuhnya. Yang penting tubuh di balik daster lusuh itu.

Dan tanganku mulai menyelinap ke dalam dasternya. Mulai mengusap – usap perutnya yang masih terasa kencang dan ramping.

“Sebenarnya sudah lama aku menunggu kesempatan ini,” bisikku sambil menyelinapkan tangan ke balik celana dalamnya. Tentu saja ini suatu kebohonganku. Karena tadinya aku tak punya perhatian sedikit p;un kepada Bi Euis.

“Mumpung Ibu dan Neng Wati gak ada ya Den. Kalau mereka sudah pulang, gak bisa bebas lagi mungkin,” ucapnya tanpa menepiskan tanganku yang sudah berkeliaran di dalam celana dalamnya. Dan membuatku tahu bahwa serambi lempit Bi Euis tidak ada jembutnya, dicukur habis. Ternyata seorang pembokat juga sudah mengikuti zaman, dengan mencukur habis jembutnya.

“Siapa bilang? Coba aja kalau mereka sudah pulang nanti, aku akan tetap bebas ngajak Bibi tidur di kamarku ini.”

“Iya sih. Den Wawan kan yang berkuasa di sini. Aduuuduuuh… Deeen… kalau serambi lempit saya sudah dimainin gini, saya suka gak bisa nahan nafsu.”

“Lepasin dong dasternya. Aku seneng serambi lempit Bibi dicukur habis gini. Pasti enak jilatinnya.”

“Iiih… merinding saya dengernya juga…” sahut Bi Euis sambil melepaskan daster batik lusuhnya.

Dalam keadaan tinggal mengenakan beha dan celana dalam yang serba hitam, aku dibuat terlongong menyaksikan betapa iundahnya tubuh Bi Euis itu. Sehingga aku lupa bahwa aku hanya ingin menutup mulutnya agar tidak menyebar gosip dengan caraku sendirti. Dengan memenyetubuhinya dan membuatnya ketagihan…!

Tapi setelah melihat betapa cemerlangnya kulit putih mulus yang dimilikinya itu, aku lupa pada tujuan awalku. Aku ingin menelanjangi dan menyetubuhinya, hanya untuk menyalurkan nafsu syahwatku semata.

Maka dengan sedikit gugup kubuka kancing beha hitam yang terletak di punggungnya itu. Lalu dia sendirti yang melepaskan behanya itu.

Sehingga sepasang payudara yang berukuran sedang terbuka jelas di depabn mataku. Dan setelah kupegang, terasa masih kencang dan padat. “Masih kencang gini toketnya Bi, “komentarku.

“Saya kan belum pernah menyusui Den,” sahutnya sambvil melepaskan celana dalam hitamnya. Sehingga bentuk serambi lempit gundulnya tampak jelas di mataku. serambi lempit yang sangat tembem. Sehingga bagian dalamnya disembunyikan oleh ketembeman “sepasang pipinya”.

Maka kutepuk – tepuk serambi lempit tembem itu sambil berkata, “Ini yang sangat kusukai. Tembem dan dicukur bersih jembutnya. Pasti enak menjilatinya.”

Wanita yang hanya 2 tahun lebih tua dariku itu mendadak manja. Ia merapatkan pipinya ke pipiku, sementara tangannya menyelinap ke balik celana dalamku. Memegang batang kemaluanku sambil berkata perlahan, “Saya juga ingin ngemut titit Den Wawan…”

“Titit itu sebutan buat anak kecil. Kalau buat orang dewasa sih sebut aja rudal… !”

“Hihihiii… takut dianggap kasar,” sahut Bi Euis sambil mendekatkan wajahnya ke celana dalamku. Lalu kuturunkan celana dalamku, sehingga jadi telanjang bulat seperti Bi Euis juga.

Wanita yang usianya lebih tua dua tahun dariku itu tampak senang bisa memegang batang kemaluanku. Lalu menciumi dan menjilatinya. Bahkan lalu memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya.

Lalu ia menggelutkan lidah dan bibirnya ke rudalku. Samnbil mengalirkan air liurnya ke badan rudalku, untuk melicinkan tangannya yang lalu mengurut – urut badan rudalku yang tidak terkulum olehnya.

Sebenarnya aku kurang suka dioral oleh pasangan seksualku. Karena kalau kelamaan dioral, bisa – bisa cepat ngecrot pada waktu menyetubuhi beneran nanti.

Namun kali ini ada keasyikan tersendiri bagiku. Bahwa ketika sedang menyelomoti rudalku, serambi lempit Bi Euis ada di dekat tanganku. Sehingga aku bisa mencolek – colek mulut serambi lempitnya. Bahkan kuselusupkan jari tengahku ke dalam lubang serambi lempitnya yang terasa hangat dan licin.

Hmmm… dioral oleh Bi Euis sambil menggerak – gerakkan jari tengahku di dalam liang serambi lempitnya, membuat nafsuku semakin bergejolak. Mungkin Bi Euis pun seperti aku. Mulai horny berat. Karena dalam tempo singkat saja liang serambi lempitnya jadi basah.

Bahkan pada suatu saat Bi Euis melepaskan selomotannya, lalu berkata, “Saya sudah horny sekali Den. Langsung masukin aja ya. Gak usah dijilatin dulu. serambi lempit saya udah basah sekali nih.”

Aku mengangguk sambil merangkak ke atas perutnya. Lalu meletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit tembem Bi Euis.

Bi Euis pun membantuku. Memegang leher rudalku, lalu mendesakkan moncongnya ke mulut serambi lempitnya. Setelah terasa ngepas, ia memberi isyarat dengan kedipan matanya.

Aku pun spontan mendorong batang kemaluanku sekuat tenaga. Dan… blessss… rudalku melesak ke dalam liang serambi lempit Bi Euis.

Gila… baru didorong saja sudah terasa enaknya liang serambi lempit janda muda ini.

“Ooooooohhhhh… masuk Deeen… gak nyangka punya Den Wawan segede dan sepanjang ini…” ucap Bi Euis sambil merengkuh leherku ke dalam pelukan hangatnya. Lalu merapatkan pipinya ke pipiku, “gak nyangka saya akan merasakan semua ini Den…”

Aku pun mulai memenyetubuhinya perlahan – lahan, sambil menjauhkan pipiku dari pipinya. Karena aku ingin melihat ekspresi wajahnya pada waktu sedang kuentot.

Dan… aku seolah disadarkan pada suatu kenyataan. Bahwa wajah yang sedang kulihat dari jarak dekat ini cantik sekaligus manis.

“Bibi terlalu cantik buat seorang pembantu,” kataku sambil mencolek bibir sensualnya, tanpa menghentikan entotan pelanku.

“Den Wawan juga tampan sekali. Bahkan sampai mirip cewek saking tampannya,” sahut Bi Euis sambil mendekap punggungku.

Aku tersenyum, karena sejak masih kuliah banyak temanku yang berkata seperti itu.

Kemudian kuayun rudalku dengan gerakan agak cepat sampai batas normalnya lelaki yang sedang memenyetubuhi pasangan seksualnya.

Bi Euis pun mulai merintih – rintih erotis, namun suaranya perlahan sekali, “Den… ooo… oooooh… Deeen… iiii… iini enak sekali Deeeen… ayo Den… entot terus… ini luar biasa enaknya… oooooh… gak nyhangka saya akan mendapatkan kenikmatan yang luar biasa ini…”

Aku pun semakin bergairah untuk mengayun batang kemaluanku di dalam liang serambi lempit Bi Euis yang luar biasa nikmatnya ini…

Tarian birahiku di atas perut Bi Euis benar – benar bermutu, menurutku. Karena gesekan demi gesekan membuatku serasa dialiri arus listrik dari ujung kaki sampai ubun – ubun di kepalaku.

Apakah aku merasa hina? Seorang dirut menyetubuhi pembantunya sendiri?

Tidak. Pembantu juga manusia. Sama saja seperti aku. Bahkan kuanggap Bi Euis laksana mutiara di dalam lumpur.

Bi Euis punya kulit putih mulus. Punya wajah cantik sekaligus manis. Punya bentuk tubuh yang sangat menggiurkan, terutama bokong gedenya itu. Punya sepasang payudara yang masih padat kencang.

Hanya nasibnya saja yang kurang beruntung. Sehingga harus bekerja di rumahku sebagai seorang pembantu.

Dan aku bertekad untuk menyenangkannya kelak. Aku ingin mendandaninya, ingin mencukupi kebutuhan hidupnya, ingin juga menempatkannya di rumah yang layak huni.

Aku bahkan bisa membayangkan seandainya Bi Euis sudah didandani, membawanya ke tengah kelompok kaum elite pun takkan memalukan. Karena hanya dengan dandanan sederhana saja sudah kelihatan cemerlangnya wajah Bi Euis, yang usianya kira – kira sebaya dengan Wati itu. Apalagi kalau sudah benar – benar didandani dan dipoles make up.

Dan liang serambi lempitnya yang tengah kuentot ini bermacam – macam nikmat yang kurasakan, yang sulit menjelaskannya. Yang pasti aku merasakan sesuatu yang lain dari biasanya. Aku menilai Bi Euis ini punya rasa yang lain dari perempuan – perempuan yang pernah kusetubuhi. Dan ini membuatku jadi sangat bergairah menyetubuhinya.

Untuk itu aku pun ingin menciptakan kesan, bahwa aku pun lelaki yang lain dari yang lain. Karena itu ketika batang kemaluanku sedang gencar – gencarnya memenyetubuhi, mulut dan tanganku pun mulai beraksi. Aku mulai memagut bibirnya yang tipis mungil, lalu melumatnya habis – habisan. Bukan sekadar menciumnya.

Terasa tubuh Bi Euis bergetar – getar. Mungkin saking menikmatinya. Mungkin juga karena baru sekali ini dia merasakan bibirnya dilumat pada saat liang serambi lempitnya sedang “dipompa” oleh rudal.

Ketika mulutku pindah sasaran, untuk menjilati lehernya, disertai gigitan – gigitan kecil, tangan kiriku tetap asyik meremas toketnya yang berukuran ideal dan masih kencang itu, rintihan – rintihan histerisnya terdengar lagi.

“Deeen… oooo… oooooh… be… belum pernah… sa… saya merasakan… di… disetubuhi yang seenak ini Deeen… ini akan menjadi kenangan tak terlupakan di seumur hidup saya Feeen… ini… ini luar biasa enaknya… aaaaah… aaaaaaah… aaaaah… Deeen… aaaaaah… hhhhhh …

Mendengar pengakuan itu aku baru ngeh bahwa Bi Euis sudah dua kali orgasme. Pantasan keringat sudah membanjiri leher dan ketiaknya. Dan kini dia mau orgasme lagi untuk ketiga kalinya. Sementara tubuhku pun sudah bermandikan keringat.

Maka kupacu batang kemaluanku untuik memenyetubuhi liang serambi lempit Bi Euis habis – habisan. Dengan target ingin mencapai puncak kenikmatan secara berbarengan.

Berhasil. Ketika sekujur tubuh Bi Euis terkejang – kejang, dengan perut sedikit terangkat, sementara liang serambi lempitnya terasa mengejut – ngejut erotis, batang kemaluyanku pun sedang kutancapkan sedalam mungkin, tanpa menggerakkannya lagi.

Lalu rudalku mengejut – ngejut di dalam liang heunceut Bi Euis, sambil menembak – nembakkan lendir pejuhku.

Creeeettttt… cretttcretttttt… crooootttttt… cret… crooootttttttt… crettttt… crooootttt…!

“Uuuughhhhhhh… ughhhhh… uuuuuuuggggghhhh… “nafasku berdengus – dengus, lalu terkapar di atas perut Bi Euis.

Namun aku masih bisa memperhatikan wajah Bi Euis yang seakan memancarkan aura kecantikannya, sebagai wanita muda yang baru mengalami orgasme.

Ia pun menatapku dengan senyum manis di bibirnya. Lalu terdengar suaranya lirih, “Sekarang saya sudah menjadi milik Den Wawan.”

“Bagaimana perasaan Bibi setelah menjadi milikku?”

“Bahagia sekali,” sahutnya, “tapi bercampur perasaan kuatir.”

“Kuatir kenapa?”

“Takut kalau Aden sudah bosan lalu memecat saya dari sini.”

“Aku bukan manusia sekejam itu Bi,” sahutku sambil mencabut rudalku yang sudah lemas dari dalam liang serambi lempit Bi Euis, “Ohya… umur Bibi kan cuma beda dua tahun denganku. Panggilan Bibi kan cocoknya buat orang yang belasan tahun lebih tua dariku. Bagaimana kalau kupanggil Ceu Euis aja?”

“Panggil nama langsung, saya malah lebih suka.”

“Ya udah, aku buang aja sebutan Bibinya. Karena usia Euis kan sebaya dengan usia Wati. Kepada Wati pun aku manggil nama langsung. Padahal dia kakakku. Tapi dia sendiri yang ingin dipanggil namanya saja, gak usah pakai Ceu atau Kak dan sebagainya,” ucapku sambil meraih pergelangan tangan Euis, “Kita mandi bareng yuk.

“Malem – malem gini mau mandi Den?” tanyanya seperti ragu. Tapi dia turun juga dari bed dan mengikuti langkahku menuju kamar mandi, dalam keadaan sama – sama telanjang bulat.

“Kita kan mau mandi pakai air hangat, bukan air dingin. Jadi mandi malam juga gak apa – apa,” kataku setelah berada di dalam kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, lagi – lagi kuperhatikan sekujur tubuh Euis dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Penilaianku semakin teguh. Tiada cela yang ada di tubuh sempurna (menurut ukuran manusia biasa) itu. Bahkan nilai plusnya adalkah… penmuh dengan daya pesona.

Memang tadinya aku tak pernah memperhatikan Euis sedikit pun. Bahkan tadi pun aku takkan memperhatikannya andai tiada alasan, yakni perasaan takutku kalau rahasia pribadiku dengan ibu dan kakakku bocor ke luar.

Tapi aku tak mau memperlihatkan rasa kagumku secara berlebihan. Lalu aku memutar keran shower utama. Maka air hangat pun memancar dari atas kepala kami.

Lalu kuambil sabun shower. Kukucurkan sedikit ke telapak tanganku sambil berkata, “Kita gantian menyabuni ya. Sekarang aku mau menyabuni Euis dulu.”

“Aaah… masa saya disabuni sama Den Wawan?”

“Nggak apa – apa. Aku hanya ingin memperlihatkan perasaan sayangku padamu Is.”

Euis menatapku dengan bola mata bergoyang perlahan. Lalu dibiarkannya aku menyabuni punggungnya, bokong gede dan betis indah dan telapak kakinya.

Pada waktu aku menyabuni bagian depannya, Euis tampak tersipu – sipu terus. Mungkin karena tak mengira akan disabuni olehku dengan telaten. Terlebih ketika aku menyhabuni kemaluannya, ia semakin tersipu – sipu. Padahal aku melakukan semua ini dengan senang hati. Terutama waktu menyabuni serambi lempitnya yang sudah memberikan kenikmatan luar biasa bagiku.

Tapi aku sekadar menyabuninya saja. Tidak memanfaatkan kesempatan untuk “macem – macem” di kamar mandi. Kalau masih bernafsu, toh kamarku masih leluasa untuk melakukannya.

Ketika tiba giliran Euis yang harus menyabuniku, terasa benar dia lebih telaten daripada aku. Setiap bagian yang tidak terjangkau oleh tanganku, disabuninya dengan cermat. Dan ketika sedang menyabuni batang kemaluan berikut kantung pelernya, Euis tampak tersenyum – senyum. Lalu menciumi moncong rudalku yang sudah berlepotan air sabun.

Kusahut: “Iya, tapi nanti aja kalau sudah selesai mandinya. Kalau diselomoti di sini, nanti rudalku bakal nagih, bakal ngaceng dan pengen menyetubuhi di sini juga. Kalau bisa di atas kasur empuk, ngapain ngewe sambil berdiri di dalam kamar mandi.”

Euis mengangguk – angguk sambil tersenyum.

Lalu keran shower air hangat kuputar lagi. Untuk membilkas tubuh kami sampai bersih.

“Saya pasti bakal ketagihan,” ucap Euis pada waktu sedang menghanduki badannya sendiri yang sudah bersih dan harum sabun.

“Aku juga pasti ketagihan,” sahutku.

“Terus kalau Ibu dan Neng Wati sudah pulang bagaimana?”

“Kita tetap bisa melakukannya di dalam kamarku.”

“Kalau ketahuan sama Ibu atau Neng Wati nanti gimana?”

“Alaaa… aku jamin mereka takkan berani memarahi kita. Aku kan tulang punggung di rumah ini,” sahutku disusul dengan kecupan hangatku di pipi Euis.

Tiba – tiba Euis mendekapku dari belakang sambil berkata, “Kalau Den Wawan takkan memutuskan hubungan ini, saya hamil pun gak apa – apa.”

“Jadi simpananku mau?”

“Siap Den.”

“Tapi sekarang sih jangan hamil dulu. Nanti gak ada yang bantuin Ibu dan Wati di sini. Tapi bukankah Euis sudah bertahun – tahun punya suami gak hamil juga? Sebenarnya siapa yang mandul?”

“Gak tau. Belum pernah diperiksa ke dokter. Tapi kayaknya sih mantan suami saya yang mandul. Setelah kawin lagi juga, istrinya belum hamil – hamil sampai sekarang. Jadi mungkin saja dia yang mandul.”

“Bekas suamimu itu kerja apa?”

“Cuma buruh bangunan Den.”

“Kalau Euis sedang dapoat libur, pulang ke mana?”

“Ke rumah ibu saya, satu – satunya orang tua yang masih saya miliki.”

“Ayahmu sudah meninggal?”

“Iya. Meninggal karena kecelakaan lalu lintas.”

“Ogitu… jadi kalau sedang libur, Euis pulang ke rumah ibu?”

“Iya Den.”

“Rumah punya ibumu?”

“Bukan. Rumah kontrakan Den.”

“Yang bayar uang kontrakan rumahnya siapa?”

“Tadinya ibu saya sendiri. Karena dia suka usaha kecil – kecilan. Tapi setelah saya bekerja di sini, saya yang membayar uang kontrakannya.”

“Ibumu masih kuat usaha segala?”

“Masih Den. Ibu saya kan belum tua – tua benar. Baru empatpuluhtiga tahun. Dia menikah di usia enambelas. Lalu di usia tujuhbelas melahirkan saya.”

“Berarti ibumu sebaya dengan ibuku ya?”

“Iya… usia Ema kira – kira seumuran sama Ibu.”

“Kamu manggil Ema sama ibumu?”

“Iya, sejak kecil saya manggil Ema sama ibu dan manggil Bapa sama ayah. Nggak mau ikut – ikutan manggil papa dan mama seperti anak – anak lain. Tau diri aja, orang miskin masa manggil mama atau mamie kepada ibu. Bisa diketawain orang nanti.”

Obrolan itu kami lanjutkan di atas sofa kamar tidurku.

“Euis kan punya jatah libur sehari dalam seminggu. Tapi hari liburnya selalu berubah – ubah. Siapa yang menentukan hari libur itu Is?” tanyaku ketika Euis sudah mengenakan daster batik lusuhnya lagi.

“Yang menentukan hari libur itu Ibu Den. Jadi libur saya kadang Senin, kadang Selasa dan seterusnya. Saya malah belum pernah dikasih hari libur hari Sabtu dan Minggu. Mungkin karena Den Wawan ada di rumah. Jadi ada yang masakin buat Aden,” sahut Euis, “Tapi selama Ibu dan Neng Wati ada di rumah sakit, saya tidak boleh ngambil libur dulu.

“Besok kan Sabtu. Berarti aku libur. Kita jalan – jalan ya.”

“Iya Den. Saya kan sudah menjadi milik Aden. Jadi, dibawa ke mana pun saya siap.”

“Sekarang ewean lagi siap?”

“Hihihihiii… siap Den. Saya juga malah kepengen lagi. Soalnya waktu Aden nyabunin serambi lempit saya tadi, saya langsung kepengen…” Maka kami pun bertelanjang bulat kembali. Dan bersetubuh lagi sepuasnya.

Bersambung… Entah kenapa aku ingin sekali membahagiakan hati Euis dengan apa pun yang bisa kulakukan. Karena itu keesokan harinya, setelah menyantap sarapan pagi yang dibuatkan oleh Euis, aku mengajaknya ke toko pakaian yang di kotaku suka disebut FO (factory outlet). Kupilih FO yang harganya tidak murah, tapi mahal pun tidak.

Sengaja kuajak Euis ke FO pilihanku itu, agar dia bisa cepat adaptasi dengan pakaian kelas sedang – sedang saja. Euis menurut saja ketika kupilihkan selusin gaun dan tiga helai daster untuk pakaian sehari – harinya. Bahkan salah satu gaun kuminta dipakai langsung di FO itu.

Kemudian kubawa dia ke toko sepatu. Kupersilakan dia memilih sendirik sepatu yang cocok dengan seleranya, sekalian sandal wanitanya juga untuk keseharian pada waktu sedang bekerja di rumahku. Kemudian kubawa dia ke sebuah perumahan, tanpa memberitahu dahulu mau dibawa ke mana.

Sebenarnya aku akan membawanya ke sebuah rumah, yang kuterima sebagai bonus (di luar fee) setelah sukses menjual tanah seluas 275 hektar milik sebuah PT, yang lalu dibekli oleh pihak lain (tentu PT juga buyernya, karena kalau perseorangan takkan diijinkan membeli tanah seluas itu). Selain mendapatkan fee yangv sangat banyak menurutku, janji owner lama dipenuhi.

Rumah itu murni hasil jerih payah pribadiku, sama sekali tiada hbubungannya dengan p[erusahaan Bu Laila. Tadinya rumah itu akan kupakai sendiri. Karena aku pun sering punya pikiran ingin menyendiri untuk memusatkan pikiran bisnisku di perusahaan punya Bu Laila itu.

Tapi kini aku punya pikiran lain. Ada yang lebih membutuhkan rumah berikut segala isinya itu, yakni Euis. Dia belum punya rumah dan masih tinggal di rumah kontrakan. Entah kenapa setiap kali mendengar kata rumah kontrakan, aku selalu merasa prihatin. Kalau aku jadi konglomerat, ingin kuhadiahkan ribuan rumah untuk orang – orang yang belum punya rumah dan masih tinggal di rumah kontrakan.

Terlebih lagi kata rumah kontrakan itu terlontar dari mulut wanita muda yang sudah memberiku 1001 nikmat di kamarku tadi malam. Karena itu aku ingin menghadiahkan rumah itu untuk Euis yang sudah dan akan tetap memberiku 1001 nikmat dalam permainan birahi kami.

Setibanya di depan rumah type 54 yang sudah diupgrade dan isinya sudah lengkap itu, Euis tampak heran. “Ini rumah siapa Den?”

Aku menjawabnya sambil melingkarkan lenganku di pinggang rampingnya, “Tadinya rumah ini punyaku. Tapi mulai sekarang, rumah ini menjadi hak milikmu, Sayang.”

“Den… apakah saya gak salah dengar? Rumah secantik dan sekokoh ini akan menjadi milik saya?”

“Sudah menjadiu milikmu. Bukan cuma akan. Nanti sertifikat hak miliknya akan atas namamu, Sayang,” sahutku sambil membuka kunci pintu depan. Kemudian kubawa Euis memasuki rumah yang sudah kuhadiahkan ini padanya.

“Wah… di dalamnya sudah lengkap semua… !” seru Euis sambil memeluk pinggangku dari belakang.

“Tadi malam aku kan menawarkan Euis untuk menjadi simpananku. Nah… di rumah inilah Euis akan kusimpan.”

“Siap Den. Tapi ibu saya boleh dibawa ke sini, agar tidak tinggal di rumah kontrakan lagi?” “Tentu saja boleh. Asalkan ibumu tidak mengganggu hubungan kita nanti.”

“Nggak akan mengganggu Den. Pada waktu saya masih gadis saja, Ema sih tidak pernah mencampuri urusan pribadi saya. Apalagi sekarang, saya kan sudah janda.”

“Kalau begitu, sekarang aja kita ke rumahmu. Untuk mengajak ibumu ke rumahmu ini. Gimana?” “Iya Den… iyaaa… hihihihiii… Ema pasti seneng banget.”

(Mohon dibedakan antara Ema untuk ibu dalam bahasa Sunda E nya dibaca seperti E di kata “perang”. Sedangkan Ema untuk nama orang E nya dibaca seperti E dalam kata “sore”. Panggilan Ema untuk ibu, tidak pakai hurup K di ujungnya. Jadi kata Emak, pasti bukan berasal dari tatar Pasundan).

Beberapa saat kemudian Euis sudahg berada di dalam mobilku kembali, untuk menjemput ibunya. Euis sudah menelepon ibunya dulu, agar siap – siap akan dijemput olehnya dengan majikannya. Tapi Euis tak mengatakan bahwa ia akan memperlihatkan rumah yang sudah menjadi miliknya itu. Mungkin Euis ingin membuat surprise pada ibunya.

Ternyata rumah kontrakan Euis dan ibunya kecil sekali. Ada di dalam gang kecil pula. Tapi ibunya Euis itu… gede sekali! Ia tampak sudah berdandan, mengenakan celana legging hitam yang sangat ketat (mungkin ukuran XXXL), dengan baju kaus tebal berwarna hitam pula. Sehingga pakaian ibunya Euis itu seolah sudah memamerkan bentuk tubuh yang sebenarnya.

Ia menyambut kedatanganku dengan sangat ramah. Dan ketika berjabatan tangan denganku, terdengar suaranya menyebut nama, “Mimin…”

“Wawan,” kataku memperkenalkan namaku juga. “Sudah siap Ma?” tanya Euis kepada ibunya. “Sudah,” sahut ibunya Euis yang chubby habis itu, “Tapi masa Den Wawan gak disuguhi minum – minum acan? Kan pertama kalinya Den Wawan bertamu ke rumah ini.”

“Tak usah bikin minum Bu,” sahutku, “mending langsung berangkat mumpung masih siang.”

Setelah berada di dalam mobilku, ibunya Euis yang bernama Mimin itu bertanya, “Ini mau ke mana Is? Mau ngajak piknik ke luar kota?”

“Nggak Ma. Masih di dalam kota kok,” sahut Euis yang duduk di belakang juga, di samping ibunya. “Ohhh…”

Lalu Bu Mimin terdiam. Tidak bertanya apa – apa lagi. Mungkin Euis sudah memberi isyarat agar jangan bertanya lagi.

Setibanya di depan rumah yang sudah kuberikan kepada Euis itu, kami bertiga turun dari mobil. Pada saat itulah Euis berkata kepada ibunya, “Ma… Den Wawan itu saeorang majikan yang baik hati. Beliau mengerti keadaan kita yang setiap tahun harus menyediakan uang untuk kontrakan rumah. Karena itu Den Wawan menghadiahkan rumah ini untuk Euis.

“Hadiah untuk Euis? Ema gak salah denger Is?”

Aku yang menjawab. Kutempelkan telapak tanganku di punggung Bu Mimin, “Benar Bu. Rumah ini hadiah untuk Euis. Tinggal surat – suratnya aja yang belum dikasihkan. Rumah ini sudah dibayar lunas. Jadi tidak ada bayar cicilan dan macem – macem lagi. Hanya rekening listrik dan ledeng saja yang harus dibayar tiap bulan.

Bu Mimin merangkul anaknya sambil berkata, “Kamu sangat berunbtung punya majikan yang sedemikian baiknya. Baru bekerja beberapa bulanb sudah dikasih rumah segala Is.”

“Bukan cuma rumah Ma. Perabotannya pun sudah lengkap semua. Yuk kita lihat ke dalam,” ucap Euis sambil mengeluarkan seikat kunci – kunci rumah itu dari dalam tas kecilnya. Kunci – kunci yang tadi sudah kuserahkan padanya, sebagai tanda bahwa rumah itu sudah menjadi miliknya.

Rumah itu memiliki dua kamar tidur yang masing – masing ada kamar mandinya. Di belakang ada kamar yang lebih kecil, berdampingan dengan dapur dan kamar mandi yang bisa dipakai oleh pembantu. Tapi kamar mandinya bisa juga dipakai oleh tamu yang ingin buang air dan sebagainya. Ruang makannya pun lumayan besar, karena bersatu dengan ruanbg keluarga.

Di situ sudah ada televisi LED layar lebar. Di dapour pun sudah ada kulkas dua pintu. Di belakang sudah ada mesin cuci juga. Semua barang – barang elektroinik itu masih 100% baru. Begitu juga semua furniture-nbya masih 100% baru semua, terdiri dari lemari pakaian di kamar masing – masing, lemari makanan di dapur.

Bu Mimin tampak ceria sekali menyaksikan semuanya itu. Bahkan aku dapat menangkap karakter ibunya Euis itu. Dia sangat ceria, sementara Euis agak pendiam, tidak seperti ibunya yang tiap sebentar ketawa ketiwi.

Mereka merencanakan untuk menempati rumah itu mulai besok.

Maka kataku kepada Euis, “Kalau begitu hari ini dan besok libur aja Is. Kan mungkin banyak barang yang harus diangkut ke sini juga.”

“Iya, terima kasih Den,” sahut Euis.

Kemudian mereka kuajak makan di sebuah rumah makan yang tak jauh letaknya dari perumahan itu. Kemudian kuberikan uang secukupnya kepada Euis, untguk biaya angkutan barang – barang yang akan dipindahkan dari rumah kontrakan ke rumah baru itu.

Zaman sekarang memang zaman serba mungkin. Karena segala kemungkinan bisa terjadi, baik hal – hal yang positif mau pun yang negatif. Orang miskin bisa mendadak kaya, orang kaya pun bisa mendadak jatuh miskin.

Dengan beredarnya handphone sampai ke pelosok – pelosok, membuat tatanan moral berubah dengan cepatnya. Baik di kota – kota besar mau pun di pedesaan. Karena dengan adanya televisi, orang kampung pun mulai “melek mode”.

Di sisi negatifnya, dengan hadirnya handphone sampai ke pelosok – pelosok, seorang istri yang setia bisa berubah, ingin coba – coba berselingkuh, yang lalu menjadi ketagihan. Manakala Sang Suami berangkat ke kantor, Sang Istri pun berangkat ke “pasar”, laporannya pada orang di rumah. Padahal istri itu ketemuan dengan seorang PIL (pria idaman lain) di tempat yang sudah dijanjikan, lalu ena – ena di tempat yang dirahasiakan.

Perselingkuhan antara ibu tiri dengan anak tiri, seolah sudah menjadi trend yang dirahasiakan. Begitu pula ayah tiri dengan anak tirinya. Bahkan skandal mertua dengan menantu pun bisa terjadi di zaman ini. Meski semuanya itu off the record.

Banyak lagi jenis perselingkuhan yang terjadi di zaman ini. Termasuk ibu dengan anak kandung atau ayah dengan anak kandung. Begitu pula adik dengan kakak kandung bukan tidak pernah terjadi di negeriku tercintga ini.

Kuakui bahwa aku salah seorang di antara mereka.

Godaan demi godaan berdatangan ke dalam kehidupanku. Dan godaan itu justru kuanggap sebagai tantangan. Dan sebagai seorang lelaki yang belum p;unya istri, aku pantang menghindari tantangan.

Begitulah… beberapa hari kemudian aku mendatangi rumah yang sudah diberikan kepada Euis itu. Tadinya aku sekadar ingin tahu apa saja yang masih kurang. Dan aku harus menanyakannya kepada ibunya Euis yang bernama Bu Mimin itu.

Saat itu baru jam sepuluh pagi. Tentu saja Euis sedang bekerja di rumahku. Tidak berada di rumah yang sudah menjadi miliknya itu.

Ketika melihat aku datang, Bu Mimin yang cuma mengenakan daster katun berwarna coklat muda, tampak kaget dan memegang kedua pipoinya. “Aduuuuh… Den Wawan datang… kenapa Euis gak ngasih tau kalau Aden mau datang yaaaa…”

“Euis tidak tau aku mau ke sini Bu,” sahutku sambil mencium tangannya, karena aku punya hubungan dengan Euis, jadi aku harus memperlakukannya seperti dengan calon mertua (walau pun aku belum punya niat menikahi Euis).

Lalu aku dipersilakan duduk.

“Maaf saya baru selesai mandi, jadi dasteran gini. Gak apa – apa?” tanyanya yang sudah duduk di sofa berhadapan dengan sofa yang kududuki.

“Nggak apa – apa Bu,” sahutku, “Nggak usah resmi – resmian lah. Aku datang ke sini cuma ingin tau apakah di rumah ini masih ada kekurangan yang Bu Mimin rasakan?”

“Wah… sudah lengkap semua Den. Cuma ada satu hal yang kurang…” sahut Bu Mimin sambil tersenyum – senyum centil.

“Apa yang kurang Bu?”

“Hihihi… malu ah nyebutinnya, “sikap Bu Mimin mendadak centil.

“Lho… sama aku terbuka aja Bu. Katakan aja apa yang masih kurang itu. Gak usah disimpan di dalam hati.”

“Anu yang belum ada teh… calon suami… hihihihiiii…”

Aku tersentak sambilk menahan tawaku. “Bu Mimin masih pengen kawin lagi?” tanyaku sambil memperhatikan sosok wanita STW di depan mataku. Memang kecantikannya kalah oleh kecantikan Euis. Tapi bodynya… maaaak… chubby sekali…!

“Ya masih Den… saya kan belum tua – tua benar. Tapi ingin punya calon yang setampan Den Wawan…”

Mendengar ucapan itu, spontan batinku merasakan sesuatu yang lain dari biasanya. Ada desir nakal di dalam batinku. Bahkan pikiranku langsung ngeres. Bertanya – tanya seperti apa tubuh wanita setengah baya yang chubby itu kalau sudah telanjang ya? Aku bangkit dari sofa. Melangkah dan duduk di samping Bu Mimin.

“Den Wawan kan punya Euis,” sahutnya sambil mengerlingkan matanya yang masih tampak bening itu.

“Euis kan kerja di rumahku Bu. Hanya seminggu sekali dia bisa pulang ke sini kan? Jadi yang enam hari dalam seminggu, aku bisa sering nemenin Bu Mimin di sini.”

Wanita itu menatapku dengan senyum malu – malu tapi lumayan centil sikapnya itu.

“Den Wawan jangan PHP ah. Memangnya saya yang ndut ini menarik bagi Aden?” tanyanya, tau bahasa gaul segala ini ibunya Euis.

“Aku gak PHP. Bu Mimin sangat seksi di mataku. Cuma soal rasanya sih perlu dibuktikan dulu. Setelah dirasakan, nanti ketahuan enak nggaknya. Hihihihiii…” kataku sambil memperhatikan daster yang dikenakannya. Daster yang membuatku semakin yakin bahwa toket Bu Mimin jauh lebih gede daripada toket Euis.

“Jadi Ibu suka pada cowok seperti aku ini?” tanyaku setengah berbisik di dekat telinga Bu Mimin.

“Peremnpouan mana pun pasti suka sama Den Wawan yang begini tampannya. Saya sampai gemes melihatnya juga. Pengen cium bibirnya. Hihihihiiii… maklum saya sudah duapuluhlima tahun tidak merasakan sentuhan lelaki Den.”

“Duapuluhlima tahun tidak disentuh lelaki?”

“Iya. Kan suami saya meninggal pada saat Euis baru berumur setahun. Sejak saat itu saya tidak mau didekati lelaki secara serius. Tapi sekarang ini, begitu melihat Den Wawan secara seksama tadi, semangat saya jadi bangkit Den.”

“Jadi gemes dan pengen mencium bibirku?” tanyaklu sambil melingkarkan lengan di lehernya, lalu mendekatkan bibirku ke bibirnya.

“Iya… tapi saya tidak berani mencium bibir Aden…”

Aku tersenyum. Lalu merapatkan bibirku ke pipinya. Dan perlahan – lahan bergerak ke arah bibirnya. Dan… ia memagut bibirku duluan. Lalu terasa lumatannya yang sangat agresif. Membuatku terlupa bahwa wanita yang tengah melumat bibirku ini ibunya Euis.

Pada saat Bu Mimin sedang enjoy – enjoynya melumat bibirklu, tanganku pun tak mau berdiam pasif. Mulai memegang lututnya yang terbvuka di bawah dasternya, kemudian langsung nyelonong ke balik daster katun berwarna coklat muda itu. Merayapi paha gempalnya dan menyelinap ke balik celana dalamnya.

Kusentuh serambi lempit yang lebih tembem daripada serambi lempit Euis. serambi lempit berjembut tapi terasa tipis sekali jembutnya.

Begitu jemariku menyentuh serambi lempitnya, Bu Mimin spontan memelukku erat – erat. Lumatannya pun semakin lahap. Sementara tubuhnya terasa mulai menghangat.

Tentu saja jemariku tak sekadar meraba – raba permukaan serambi lempit Bu Mimin. Melainkan juga menyelinap ke dalam celah serambi lempit tembem itu.

Tiba – tiba Bu Mimin melepaskan lumatannya dan berkata, “Oooooh… saya gak kuat lagi nahan nafsu Den. Kalau serambi lempit saya sudah digerayangi gini, gak nahan.”

“Ya ayo kita lanjutkan terus sampai tuntas,” sahutku dengan nafsu birahi yang sudah bergolak dan membutuhkan pelampiasan ini.

“Di dalam kamar saya aja yuk,” ucap Bu Mimin sambil bangkit dari sofa, sambil memegang pergelangan tanganku.

Aku pun mengikuti langkah Bu Mimin masuk ke dalam kamarnya.

Di dalam kamarnya itulah BU Mimin melepaskan dasternya, sehingga tinggal beha dan celana dalam serba hitam yang masih melekat di tubuhnya.

Gila… baru melihat tubuh yang masih berbeha dan bercelana dalam saja itu rudalku langsung ngaceng.

Terlebih setelah Bu Mimin melepaskan beha dan celana dalamnya.

Aduhai… dia benar – benar menggiurkan di mataku. Sepasang toket gede dan bokong yang super gede pula. Aku belum pernah mendapatkan pasangan seksual semontok dan semenggiurkan itu. Maka aku ingin merasakannya, tak peduli apa pun akibatnya kelak.

Tubuh Bu Mimin ini sangat menggoda dan menggiurkan. Sepasang toket gede dan bokong yang extra large. Pinggang yang ramping dan kulit yang putih mulus. Membuatku gemas dan spontan memeluknya dari belakang sambil berkata setengah berbisik, “Tubuh montok seperti Bu Mimin ini sejak lama kuinginkan. Dan kini, pucuk dicinta ulam tiba.

Bu Mimin menyahut, “Saya justru sampai lupa daratan melihat ketampanan Aden. Sampai lupa bahwa Den Wawan ini punya Euis… punya anak kandung saya sendiri.”

“Tapi aku gak pernah berjanji untuk menikahi Euis. Jadi kita bebas – bebas aja saling bagi rasa,” ucapku sambil mempererat dekapanku di pinggang Bu Mimin.

“Iya, Euis juga pernah bilang begitu. Gak apa – apalah. Yang penting Aden bisa memenuhi kebutuhan Euis sehari – hari. Den Wawan sudah sering menggauli Euis kan?”

“Euis cerita begitu?”

“Dia sih gak pernah cerita apa – apa. Tapi saya sudah punya dugaan kuat aja.”

“Iya… Euis sudah sering kugauli… dan aku menjamin masa depannya takkan terlantar.”

“Nanti bandingin ya… enak mana serambi lempit Euis dengan serambi lempit saya.”

“Hahahaaa… mau bersaing dengan anak sendiri?”

“Bukan bersaing. Saya hanya ingin tau keadaan saya sendiri, masih enak apa nggak. Maklum sudah duapuluhlima tahun serambi lempit saya nggak pernah dipakai,” sahut Bu Mimin sambil memutar badannya. Untuk melepaskan baju kausku, kemudian menarik ritsleting celana denimku.

Dan ketika ia berjongkok di depanku sambil memelorotkan celana dalamku, ia berseru tertahan, “Waaaaw…! Panjang gede gini punya Adeeen… !”

“Kenapa? Gak suka rudal panjang gede?” tanyaku sambil memegangi kepala Bi Mimin yang masih berjongkok di depan kakiku.

“Iiiih… justru terangsang, kebayang enaknya dirodok sama zakar sepanjang dan segede ini. Mwuaaaah… mwuaaaaaah…” ucap Bu Mimin yang diakhiri dengan ciuman – ciuman hangatnya di moncong zakarku. Lalu ia bangkit sambil meraih pergelangan tanganku, “Ayo Den ah… jangan buang – buang waktu…

Aku pun naik ke atas bed sambil tersenyum – senyum. Lalu menerkam tubuh tinggi montok itu dengan gairah menggebu – gebu. Dia pun menyambut terkamanku dengan gumulan agresif.

Memang mengasyikkan bergumul dengan wanita STW bertubuh tinggi gempal ini. Hatiku pun berkata, “menyetubuhi perempuan semontok ini sih pasti kenyang… !”

Tanpa harus kebanyakan foreplay, beberapa menit kemudian aku sudah meletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit Bu Mimin yang sudah ternganga basah. Dan dengan sekali dorong… blessssssss… batang zakarku melesak separohnya ke dalam liang serambi lempit Bu Mimin, meski aku harus mengerahkan segenap kekuatanku untuk membenamkannya.

Wanita itu pun menyambut dengan pelukan hangat di leherku disertai ringisan histerisnya, “Masuuuk… aaaaa… aaaaaaahhhh… akhirnya saya bisa merasakan lagi enaknya titit Deeen…”

“Titit sih buat anak kecil. Kalau orang dewasa sih bilang aja kontoool…” sahutku sambil mulai mengayun batang kemaluanku di dalam liang serambi lempit Bu Mimin yang ternyata enak sekali rasanya.

Bu Mimin terpejam – pejam sambil mendekap pinggangku erat – erat, diiringi rengekan manjanya yang terdengar erotis di telingaku, “Dudududuuuuuuhhhh… Deeen… rudal Den Wawan ini… enak sekali Deeeeen… aaaaaaaah Deeen… aaaaaaaah… luar biasa enaknya Deeeen… aaaaaaaah… uuuuuuuh…

“serambi lempit Bu Mimin juga enak sekali… licin tapi legit… sekali – sekali Euis harus diajak bareng sama kita… biar sambil belajar sama kita…”

“Masa mau ngajak Euis segala. Malu dong… dilihat sama anak sendiri selagi beginian…”

“Tapi serambi lempit Bu Mimin bakal bikin aku ketagihan nih. Bisa tiap pagi nanti aku ke sini. Khusus buat menyetubuhi Bu Mimin.”

“Iiii… iiiyaaaa… kapan pun Aden mau, saya siap buat ngeladeni Den Wawan… oooooh Deeeen… rudal Den Wawan ini terlalu enak buat saya… ini… ini… saya udah mau lepas Deeen…”

“Ayo lepasin aja, biar becek serambi lempitnya. Aku suka kok sama serambi lempit yang becek setelah orgasme.”

“Adududuuuh… Deeeeen… ini… sa… saya… mau… mau lepas Deeeen… “Bu Mimin gedebak gedebuk. Lalu mengejang tegang sambil menahan nafasnya. Lalu terjadilah sesuatu yang sangat indah itu. Liang serambi lempit Bu Mimin berkedut – kedut kencang, disusul dengan membasahnya liang sanggama legit itu.

Bu Mimin langsung terkulai sambil menghela nafas. Lalu ia menatapku dengan sorot wanita yang baru mencapai puncak kenikmatannya.

Kubiarkan ia memulihkan gairahnya kembali.

Dan setelah wajahnya tak pucat lagi, aku pun melanjutkan aksiku, mengayun rudalku bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Bu Mimin yang legit ini. Memang terasa basah liang serambi lempit ibunya Euis ini. Tapi tidak becek. Padahal dia sudah orgasme. Dan biasanya kalau sudah orgasme, liang serambi lempitnya jadi becek.

Mungkin hal itulah yang membuatnya ingin membandingkan “rasa” serambi lempitnya dengan serambi lempit anaknya.

Dan aku harus mengakui, bahwa liang serambi lempit Bu Mimin… lebih enak…!

Karena itu, dengan sepenuh gairah aku memenyetubuhinya lagi. Dalam kecepatan standard. Bahkan sempat juga aku membisiki telinganya sambil berkata, “serambi lempit Bu Mimin memang lebih enak daripada serambi lempit Euis. Kenapa bisa begini ya?”

“Betul begitu Den? Syukurlah kalau Den Wawan merasa lebih enak. Jadi biar nanti ketagihan. Saya siap kok untuk meladeni Den Wawan tiap hari sekali pun,” sahutnya sambil mendekap pinggangku lagi.

Makin l;ama makin asyik juga rasanya memenyetubuhi wanita setengah baya ini. Maka sambil mempergencar entotanku, tanpa merasakan jijik sedikit pun lidahku mulai menjilati leher Bu Mimin yang sudah keringatan. Dengan lahap sekali.

Sehingga Bu Mimin mulai merintih – rintih histeris lagi, “Deeen… aaaaahhhh… Deeeen… aaaaaaah… aaaaaaah… Deeeeen… ini luar biasa enaknya Deeeeen… aaaaaaah… entot terus Deeen… enak sekaliiii… aaaaaaah… Deeeen… enak Deeeeeen… entot terus Deeeen… entooooooottttt…

Entooooottttt… entooooooootttt… aaaaaaahhh… Deeen… enak Deeen… enaaaaak… entooootttttt… iyaaaaa… iyaaaaaa… entotttt teruuussss Deeeen… enak sekali Deeeen… oooooohhhhh… luar biasa enaknyaaaa… Deeeen… aaaaaah… rudal Den Wawan enak sekaliiiii… enaaaaak…

“Ka… kalau aku ma.. mau buceng.. le… lepasin di mana Bu?” tanyaku terengah.

“Di dalem aja Den. Biar nikmat. Me… memangnya Den Wawan udah mau ngecrot?”

“Iii… iyaa…”

“Ayo Den… saya juga mau lepas lagi… ooooohhhhh… barengin aja Den… biar nikmaaaat…”

Lalu aku dan wanita setengah baya itu seperti sepasang manusia yang sedang kesurupan. Aku memenyetubuhinya habis – habisan. Sementara dia pun menggoyang – goyangkan pinggulnya gila – gilaan. Sambil saling cengkram dan saling remas.

Dan akhirnya kami sama – sama berkelojotan di puncak kenikmatan ini.

Liang serambi lempit Bu Mimin terasa kedut – kedutan lagi, tepat pada saat rudalku mengejut – ngejut juga sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.

Jrooooooottttt… jrotttt… jrottt… jrooooottttttttt… jrottt… jrooooottttttttt… jroooooooottt!

Lalu kami sama sama terkapar di pantai kepuasan birahi kami.

Sebenarnya Bu Mimin bukan satu – satunya perempuan setengah baya yang kujadikan sasaran pelampiasan nafsu birahiku. Meski tidak memperlihatkan diri, aku ini memang penggila wanita setengah baya.

Aku masih ingat benar bahwa karyawan di kantorku boleh dibilang 80% cewek muda. Tapi aku malah mengincar Mbak Erma, manager keuangan di perusahaan punya Ibu Laila itu.

Mbak Erma memang chubby. Tapi entah kenapa aku jadi penasaran terus, ingin tau seperti apa rasanya wanita setengah baya yang tinggi montok itu.

Aku sering menggodanya di ruang kerjanya. Tentu saja hal itu hanya kulakukan jika tidak ada orang lain di ruang kerjanya kecuali aku dengan Mbak Erma.

Aku tahu dia senang kalau kugodain seperti itu. Tapi ketika aku semakin intensif menggodanya, ia menyahut, “Sayangnya saya sudah punya suami Boss.”

Sampai pada suatu hari, Mbak Erma kuajak ke Bogor, untuk mengaudit cabang perusahaan yang ada di kota hujan itu.

Sengaja aku tidak memakai sopir kantor, karena aku ingin sebebasnya menggoda Mbak Erma.

Dalam perjalanan menuju Bogor, aku mulai membuka percakapan, “Auditnya banyak sekali. Mungkin Mbak takkan bisa menyelesaikan hari ini.”

“Iya Boss. Saya sudah minta ijin sama suami, kalau – kalau harus nginep di Bogor nanti,” sahut mbak Erma.

“Baguslah. Kita check in di hotel yang bagus, lalu… nanti malam aku bisa mewujudkan apa yang kukhayalkan selama ini,” ucapku.

“Hihihiii… apa yang Boss khayalkan selama ini?”

“Pengen ikut memiliki Mbak. Hmmm… pasti indah sekali nanti malam… bisa melukin Mbak sebelum tidur.”

“Saya kan punya suami Boss. Biar pun suami saya sudah tua, saya gak pernah nyeleweng.”

“Jadi Mbak menolak ajakan bagusku nih? Ya gak apa – apa kalau gak mau sih, aku juga gak bakalan maksa.”

“Saya kan sudah tua Boss. Tahun depan usia saya pas empatpuluh tahun. SUdah tuda kan?”

“Itu usia yang paling menggiurkan bagiku Mbak. Karena pada dasarnya aku ini penggila wanita setengah baya.”

“Masa sih?!”

“Iya. Mbak kan bisa buktikan sendiri. Di kantor banyak cewek muda. Tapi aku tetap mengincar Mbak. Ingin berbagi rasa dengan Mbak.”

Mbak Ermi terdiam. Mungkin membenarkan ucapanku. Bahwa aku tak pernah menggoda cewek – cewek muda di kantorku. Hanya Mbak Erma ini yang sering kugoda.

“Nanti kita check ini di hotel yang terdekat aja sama kantor cabang itu. Silakan Mbak audit, sementara aku mau istirahat aja di hotel. Sambil nungguin Mbak datang.”

“Seharusnya kita berangkatnya besok pagi – pagi sekali. Sekarang sudah mulai sore Boss. Mungkin kita tiba di Bogor, kantor cabangnya pun sudah tutup.”

“Gak apa – apa. Kita langsung check in aja di hotel yang terdekat dengan kantor cabang. Auditnya dilaksanakan besok pagi juga gak apa – apa.”

“Terus kita mau ngapain aja Boss?”

“Kita… ena – ena aja.”

“Hihihi… saya… saya takut Boss.”

“Takut apa?”

“Takut ketagihan. Memangnya Boss mau ena – ena lagi kalau saya lagi kepengen?”

“Ya mau lah. Masa gak mau. Jadi kita sepakat nih… kita check in aja di hotel yang terdekat dengan kantor cabang kita. Lalu auditnya besok pagi aja. Oke?”

“Terus… kita mau ngapain aja di hotel itu Boss?”

“Pengen ngerasain apa yang belum pernah kurasakan dari Mbak.”

“Ngerasain apa?”

“Pengen jilatin bibir yang di bawah perut Mbak…” sahutku perlahan tapi tajam.

“Duh Boss… saya jadi merinding nih…”

“Kenapa merinding? Takut apa horny?”

“Boss tentu tau apa yang sedang terjadi pada saya saat ini.”

“Mbak bisa kuat lama begituan dengan suami?”

“Wah, suami saya udah letoy Boss. Usianya kan limabelas tahun lebih tua dari saya. Tapi dia sangat sayang pada saya. Itulah yang membuat hati saya berat. Kalau dia nggak sayang sih sama saya, udah lama saya pisah sama dia.”

“Kalau begitu, silakan pertahankan rumah tangga Mbak sama dia. Tapi kalau untuk kepuasan birahi… minta padaku aja yaaa…”

“Hihihihiii… Boss bisa aja. Saya sampai merinding – rinding nih dengarnya. Karena sudah membayangkan apa yang bakal terjadi di hotel nanti.”

Sambil tetap nyetir mobilku, diam – diam kuturunkan ritsleting celana panjangku, lalu kusembulkan rudalku yang sudah tegang ini dari balik celana dalamku. Lalu kupegang tangan kanan Mbak Erma dengan tangan kiriku, “Aku udah ngaceng berat nih Mbak… coba pegang…” ucapku sambil menarik tangan kanan Mbak Erma sampai menempel di rudalku…

“Waaaw…! Ini rudal apa belalai gajah Boss?!” seru Mbak Erma tertahan. Namun ia memegang rudalku dengan tangan gemetaran.

“Nanti kan Mbak bisa rasain sendiri apa yang sedang Mbak genggam ini.”

“Hihihiiii… berarti Boss serius nih mau nyobain punya saya?”

“Tentu aja serius Mbak. Masa main – main?!”

“Meski pun saya ndut begini, punya saya kecil Boss. Saya kan belum pernah melahirkan.”

“Ohya?! Mbak belum punya anak?! Asyik dong. Pasti serambi lempit Mbak enak banget.”

“Gak tau. Nanti kan Boss sendiri yang ngerasainnya. Wah… udah masuk Bogor Boss,” ucapnya sambil melepaskan kembali rudal ngacengku dari genggamannya.

Aku mengangguk sambil memasukkan kembali rudalku ke balik celana dalam, kemudian membetulkan lagi ritsleting celana denimku.

Lalu aku fokus nyetir lagi.

Belasan menit kemudian, kubelokkan mobilku ke pekarangan sebuah hotel bintang empat, yang letaknya tak begitu jauh dari kantor cabang perusahaan.

Kebetulan hari itu bukan hari – hari weekend. Sehingga dengan mudah kudapatkan kamar di lantai 5.

Di dalam mlift menuju lantai 5, tidak ada orang lain kecuali aku dengan Mbak Ermi. Sehingga aku sempat memeluk dan mencium bibirnya yang tebal tapi sensual itu.

“Sudah siap untuk ena – ena?” tanyaku.

Mbak Ermi mengangguk sambil tersenyum. Lalu kami keluar dari pintu lift, menuju pintu kamar bernomor five O five alias 505.

Setelah berada di dalam kamar, Mbak Ermi bergegas masuk ke dalam kamar mandi sambil membekal sehelai kimono putih yang dikeluarkan dari tasnya. Mau pipis dulu, katanya.

Mungkin dia mau bersih – bersih dulu, bukan kebelet pengen kencing.

Aku pun melepaskan busanaku dan menggantinya dengan celana pendek putih dan baju kaus hitam. Tanpa mengenakan celana dalam. Biar gampang nanti… hahahaa…!

Tak lama kemudian Mbak Ermi muncul dari ambang pintu kamar mandi. Dalam keadaan sudah mengenakan kimono putih. Tapi aku yakin di balik kimono putih itu tidak ada beha mau pun celana dalam. Karena tonjolan pentil toketnya

Dengan nafsu bergejolak dahsyat, kusambut Mbak Erma dengan pelukan di lehernya. Lalu kucium bibir sensualnya sepuasku.

Setelah ciumanku terlepas, Mbak Erma berjongkok di depan kakiku, sambil memelorotkan celana pendekku yang memang elastis di bagian pinggangku ini.

Ternyata Mbak Erma pun sudah sangat bernafsu. Setelah menanggalkan celana pendekku, ia memegang batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini. Dan happpp… ia mengulum dan menyelomoti rudalku dengan lahapnya.

Kubiarkan ia beraksi beberapa menit. Sampai akhirnya ia melepaskan rudalku dari mulutnya, kemudian menariknyha ke atas bed…

Tanpa harus disuruh lagi, ia melepaskan ikatan tali kimononya, kemudian menanggalkan kimono putih itu.

Dan sekujur tubuhnya sudah telanjang bulat di depan mataku kini…!

Aku jadi teringat ibuku dan Wati yang masih dirawat di rumah sakit. Lalu terbayang olehku, seandainya mereka sudah bisa melihat kelak, mereka tidak kalah seksinya dengan Mbak Erma ini. Terutama Wati yang belakangan ini tubuhnya semakin montok saja.

Tapi aku harus melupakan mereka dahulu. Biarkan mereka tetap tenang menjalani pemeriksaan dalam rangka persiapan untuk dilakukan operasi pada mata mereka.

Dan kini wajahku sudah berhadapan dengan kemaluan Mbak Erma, ingin membuktikan benar tidaknya pengakuan dia tadi. Bahwa meski pun tubuhnya montok gempal, tapi liang serambi lempitnya kecil.

Seperti tahu apa yang akan kulakukan, Mbak Erma merenggangkan sepasang paha gempalnya selebar mungkin.

Ternyata benar. Setelah bibir luar serambi lempitnya (labia mayora) kungangakan, tampak jelas bagian dalamnya yang berwarna pink itu. Memang kelihatannya liang serambi lempit Mbak Erma kecil. Itu terbukti setelah jari tengahku diselusupkan ke dalamnya… betul pengakuannya itu. Bahwa liang serambi lempitnya sempit.

Maka dengan lahap kujilati bagian yang berwarna pink itu, membuat Mbak Erma menggeliat sambil meremas – remas kain seprai. Terlebih lagi setelah aku memfokuskan jilatanku ke clitorisnya, terasa Mbak Erma mengejang – ngejang dibuatnya.

Cukup lama aku menjilati labia minora (bibir dalam) dan clitoris Mbak Erma.

Sampai akhirnya aku merasa sudah saatnya untuk melakukan penetrasi.

Mbak Erma cuma terpejam ketika aku mulai meletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempitnya yang empuk hangat dan basah.

Lalu kudorong rudal ngacengku tanpa tenaga, asalkan kepalanya masuk saja dulu. Duuuh… terasa “pulen”nya serambi lempit Mbak Erma ini ketika kepala rudalku sudah membenam ke dalam liang serambi lempitnya yang memang sempit tapi sudah basah dengan air liurku.

Lalu kukerahkan tenagaku untuk membenamkan rudalku semakin dalam. Uuuuugh… memang sempit sekali liang serambi lempit Mbak Erma ini. Tapi sedikit demi sedikit akhirnya rudalku membenam juga, sampai lebih dari separohnya.

“Ooooooh… rudal Boss luar biasa gedenya… sampai seret gini masuknya… ooooooh… kok ada ya rudal segede punya Boss ini… ooooh… dorong terus Boss… ooooh …“rintih Mbak Erma sambil mendekap pinggangku.

Empuk, hangat, licin tapi sempit liang kewanitaan Mbak Erma ini. Hal itu kurasakan setelah mengayun rudalku perlahan – lahan dulu. Makin lama makin cepat, sampai pada kecepatan normal.

Mbak Erma pun merintih dan merengek manja, yang malah terdengar erotis di telingaku. “Dudududuuuuhhhh… Bosss… ini… ini luar biasa enaknya Boss… oooooh… Boooosssss… rudal Boss ini… terasa sekali gesekannya… lu… luar biasa enaknya Boss… oooooohhhhh… entot terus Boss…

Aku pun menanggapi rintihannya tanpa menghentikan entotanku, “Liang serambi lempit Mbak juga luar biasa legitnya… aku suka sekali… aku pasti ketagihan nanti…”

“Sama Boss… saya juga pasti ketagihan… dudududuuuuuh… sampai merinding – rinding gini saking enaknya Boss… ooooohhhhh… ooooooh… entot lebih keras lagi Boss… iyaaaa… iyaaaaa… entot terus Boss… entot teruuuuussss… oooooohhhh… nikmat sekali Boss… oooooh… ooooohhhhhhh…

Aku tak cuma memenyetubuhi liang serambi lempitnya. Mulutku pun mulai beraksi, untuk menjilati leher Mbak Erma yang mulai lembab oleh keringat. Sementara tanganku pun tak kubiarkan nganggur. Karena masih bisa meremas toket gedenya, sambil sesekali mengelus – eluskan ujung jariku ke pentil toketnya.

Karuan saja Mbak Erma semakin meraung – raung hsiteris. “Bossss… ooooohhhhh ini semakin nikmat Boss… kayaknya saya takkan lama lagi juga orgasme Boss… entot terus yang kencang Boss… saya mau lepas… mau lepassss…”

Tubuh sintal itu pun berkelojotan. Lalu mengejang tegang, dengan perut terangkat sedikit. Dan… liang serambi lempit legit itu pun mengedut – ngeduit kencang, disusul dengan gerakan seperti ular melilit rudalku.

“Aaaaaaaaaahhhhh… “Mbak Erma melepaskan nafasnya yang barusan tertahan selama beberapa detik.

Kubiarkan rudalku terendam beberapa saat di dalam liang serambi lempit yang luar biasa enaknya itu.

Setelah wajah Mbak Erma kemerahan lagi, barulah aku mengayun kembali rudalku sambil mencium dan melumat bibir tebal yang sensual itu.

Maka rintihan dan rengekan Mbak Erma pun berkumandang lagi di dalam kamar hotel ini.

Bahkan pada suatu saat Mbak Erma menatapku sambil bertanya, “Boss mau nyobain posisi lain?”

Kuhentikan entotanku sambil menyahut, “Boleh. Posisi doggy yok.”

“Iya,” sahut Mbak Erma sambil menarik rudalku sampai terlepas dari liang serambi lempit legitnya. Kemudian ia merangkak dan menunggingkan bokong gedenya, sehingga serambi lempitnya mudah dicapai oleh moncong rudalku.

Sambil berlutut kudorong batang kemaluanku dan langsung terbenam ke dalam liang surgawi Mbak Erma… blesssssss…

Lalu dalam posisi berlutut ini aku mulai memenyetubuhinya lagi sambil berpegangan ke buah pantat Mbak Erma yang gede tapi masih sangat kencang ini.

Sambil mengayhun rudalku, kucoba menepuk kedua buah pantat Mbak Erma. Plaaaak… plooook…!

“Iya Boss… tamparin bokong saya sepuas Boss. Malah enak rasanya.”

Kuikuti permintaan Mbak Erma itu. Memenyetubuhi liang serambi lempit legitnya sambil menampar – nampar sepasang buah pantat gedenya.

Plaaaak… plaaaaakkkk… plaaaaakkkkk… plaaaaaakkkk… plaaaaaakkkkk… plaaaaaakkkkk… plaaaaaakkkkkkkk… plaaaakkkkk… plaaaaaaakkkk… plaaaaaaakkkkk…

Hampir setengah jam aku melakukan semuanya ini. Sehingga keringatku semakin membanjir. Begitu juga dengan keringat Mbak Erma.

Sampai pada suatu saat, terdengar suara Mbak Erma yang sedang menungging itu, “Bosss… dudududuuuuuh… bossss… sa… saya mau orgasme lagi Boooossssss…”

Lalu wanita setengah baya itu ambruk. rudalku pun terlepas dari liang serambi lempitnya.

Padahal aku sedang menikmati detik – detik di ambang pintu ejakulasiku. Karena itu, setelah Mbak Erma celentang lagi, aku langsung membenamkan kembali rudalku yang masih ngaceng berat ini ke dalam liang serambi lempit legit itu.

Sesaat kemudian aku sudah mulai memenyetubuhi Mbak Erma lagi, dalam posisi missionary kembali.

Dengan gencar kugenjot rudalku untuk “memompa” liang serambi lempit legit itu.

Mbak Erma cuma mendesah dan merintih dan membiarkanku meremas sepasang toket gedenya, mencium dan melumat bibir sensualnya, menjilati lehernya yang sudah basah oleh keringat dan bahkan menjilati ketiaknya yang basah oleh keringat dan harum dedodorant.

“Mbak… lepasin di mana nih?” tanyaku pada suatu saat, karena detik – detik puncak kenikmatanku sudah di ambang pintu.

“Mau di dalam serambi lempit boleh. Mau di dalam mulut saya juga boleh. Nanti saya telan air mani Boss, takkan disisakan setetes pun,” sahut Mbak Erma.

Maka dengan penuh gairah kugenjot rudalku segencar mujngkin. Lalu kucabut dan bergerak cepat menuju dada Mbak Erma. Kuletakkan rudalku di antara sepasang buah dada Mbak Erma. Dan langsung ditanggapi oleh Mbak Erma… ia menjepit rudalku dengan sepasang toketnya. Aku pun melanjutkannya, mengayun rudalku yang berada di dalam jepitan sepasang toket gede itu.

Dan ketika terasa sudah hampir ejakulasi, kutarik rudalku dari jepitan toket gede itu. Lalu cepat-cepat kumasukkan rudalku ke dalam mulut Mbak Erma.

Hanya sebentar Mbak Erfma menyedot – nyedot rudalku. Lalu lendir kenikmatanku pun berlompatan di dalam mulut Mbak Erma.

Crooottttt… croooooottttt… crotcrotttt… croooooootttttttt… croooottttttttt…!

Mbak Erma membuktikan kata – katanya. Air maniku ditelannya semua sampai tak tersisa setetes pun… glek.. glekkkk…!

Aku pun terkapar lunglai di samping Mbak Erma.

Beberapa saat kemudian…

“Mbak Erma masih punya orang tua?” tanyaku yang masih rebah di samping Mbak Erma.

“Tinggal ibu yang masih ada Boss. Sudah tua. Sudah enampuluh tahunan,” sahutnya.

“Ayah Mbak sudah meninggal?”

“Iya. Tapi ayah saya meninggalnya di rumah istri barunya. Bukan di rumah ibu saya. Karena ibu saya diceraikan, gara – gara tergoda oleh gadis tunanetra.”

Mendengar kata “tunanetra” itu aku agak kaget. Lalu bertanya, “Boleh aku tau siapa nama ayah Mbak itu?”

“Zaelani Boss.”

Kembali aku tersentak. Lalu bertanya lagi, “Mbak tau siapa nama wanita tunanetra yang dinikahi oleh ayah Mbak itu?”

Mbak Erma tampak seperti mengingat – ingat sesuatu. Lalu menyahut, “Mmmm… kalau tidak salah, nama wanita tunanetra itu Hayati. Kalau masih hidup, mungkin wanita itu sebaya dengan saya.”

Aku kaget lagi. Karena Hayati itu nama ibuku.

Lalu kuambil handphone dan kutampilkan foto almarhum ayah di layar handphoneku. “Mbak kenal dengan lelaki tua ini?” tanyaku sambil memperlihatkan layar hanphoneku padanya.

“Iii… ini foto ayah Boss,” sahut Mbak Erma sambil memegang handphoneku, “Kenapa foto almarhum ayah saya bisa ada sama Boss?”

“Karena beliau itu ayahku,” sahutku dengan batin melemah, “Dan wanita tunanetra itu adalah ibuku.”

“O my God! Jadi kalau begitu Boss ini adik saya…”

“Iya. Adik seayah berbeda ibu. Mmm… jangan dendam kepada ibuku ya Mbak.”

Mbak Erma malah memelukku. Menciumi pipiku sambil berkata dengan suara sendu, “Tidak Boss. Karena seorang gadis tunanetra takkan mungkin menggoda ayah. Pasti semua itu atas keinginan almarhum ayah sendiri. Aku malah merasa bahagia, karena ternyata saya punya adik… yang sekarang menjadi atasan saya pula di kantor.

“Masih ada dua orang lagi adik Mbak. Yang satu tunanetra juga seperti Ibu. Yang satulagi belum kutemukan, karena sejak kecil diadopsi oleh seorang pengusaha. Ohya, almarhum Ayah pernah curhat padaku. Bahwa beliau menikahi Ibu atas dasar perasaan kasihan kepada Ibu yang tidak bisa melihat.”

“Te… terus sekarang ibunya masih ada?”

“Masih. Sekarang Ibu sedang dirawat di rumah sakit mata. Masih menunggu saat yang tepat untuk menjalani operasi matanya. Kakakku juga sama, tidak bisa melihat seperti Ibu. Dia juga sama – sama sedang dirawat di rumnah sakit mata. Jadi anak – anak Ibu yang bisa melihat hanya aku dan adikku yang belum kutemukan itu.

“Terus… bagaimana dengan kita Boss?”

“Panggil namaku aja. Sekarang kan udah jelas bahwa aku ini adikmu Mbak.”

“Tapi biar bagaimana kan Boss ini atasanku. Karena di dalam kedudukan eksekutif, Boss ini orang nomor satu di perusahaan.”

“Kalau di kantor, boleh manggil boss. Seolah – olah kita ini bukan saudara. Lagian peraturan di kantor kita kanb sudah jelas. Tidak boleh ada dua orang yang punyha hubungan darah bekerja sebagai karyawan. Salah seorang harus resign. Jadi sebaiknya jangan ada yang tau kalau kita ini kakak beradik seayah berlainan ibu.

“Iya… tapi kita sudah melakukannya… padahal kita ini saudara,” kata Mbak Erma.

“Biar aja. Aku bahkan semakin bernafsu setelah tau masalah ini,” sahutku sambil meletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit Mbak Erma.

Lalu kudorong sekuatnya. Dan melesak masuk lagi ke dalam liang serambi lempit legit itu… blessss…

Lalu rintihan rintihan Mbak Erma pun terdengar lagi. Bahkan kali ini kami merasa lebih bebas melakukannya…

“Ya udah Mbak ke hotel aja langsung. Jalan kaki juga bisa kan?”

“Iya Boss. Ini juga sambil jalan kaki menuju hotel. Memang deket banget kok.”

Tak lama kemudian Mbak Erma sudah muncul di ambang pintu kamar bernomor 505 ini.

“Sekarang mau pulang Boss?” tanyanya.

“Ziaaaah… boss lagi boss lagi.”

“Mmm… manggil Dek Wawan boleh gitu?”

“Iya. Manggil nama langsung juga boleh.”

“Jangan ah. Dek Wawan kan manggil Mbak sama aku. Jadi aku manggil Dek, sebagai tanda saling menghormati, meski pun kita kakak beradik.”

“Iya, iya. Terus kita mau ngapain sekarang?” tanyaku sambil melingkarkan lenganku di leher Mbak Erma.

“Nggak tau ya. Terserah Dek Wawan aja.”

“Kalau aku sih inginnya nginep semalam lagi aja. Rasanya aku belum kenyang menggauli Mbak.”

“Iya, aku juga punya perasaan masih ingin berdekatan dengan Dek Wawan. Rasanya seperti baru menemukan sesuatu yang hilang dari diriku selama ini.”

“Mbak… jujur aja ya… serambi lempit Mbak luar biasa enaknya. Makanya aku ingin habis – habisan dulu di sini sebelum pulang.”

Mbak Erma pun mendekap pinggangku. Mencium dan melumat bibirku. Lalu berkata perlahan, “Sama Dek. Perasaanku juga seperti itu. Pokoknya selama aku berumahtangga, aku tak pernah merasakan senikmat disetubuhi seperti dengan Dek Wawan. Bahkan setelah tau bahwa Dek Wawan ini adekku, birahiku malah tambah bergejolak.

“Iya… sama aku juga begitu. Setelah tau Mbak ini kakakku, aku malah merasa Mbak semakin bernilai bagi kebutuhan perasaan dan birahiku. Ohya, Mbak udah makan siang?”

“Udah. Tadi di kantor cabang disuguhi makan sama direktur cabang.”

“Aku juga udah makan siang di resto hotel tadi. Sekarang kita ena-ena lagi aja ya, ya, ya?”

“Tadi malem udah dua kali ngecrot. Sekarang masih bisa maen lagi?”

Kugeluti bibir sensual dan lidahnya yang terjulur ke luar dengan mulutku.“Bisa lah. ini udah ngaceng lagi Mbak.”

“Ayo deh… nafsuku memang gede Dek. Makanya di rumah sih gak pernah bisa puas. Tapi dengan Dek Wawan… puas sekali,” ucap Mbak Erma sambil melepaskan segala yang melekat di tuibuhnya, sampai telanjang bulat lagi seperti tadi malam.

Entah kenapa, begitu menyaksikan tubuh sintal yang sudah telanjang itu, nafsu birahiku langsung meronta dan menggejolak.

Maka kugumuli tubuh sintal tapi padat itu dengan segenap gairahku. Kucium dan kulumat bibir sensualnya dengan penuh nafsu.

Sementara tanganku mulai bermain di permukaan serambi lempit tembemnya. Bahkan sesekali jemariku menyelusup ke dalam celah serambi lempitnya yang terasa sudah basah, sehingga aku tak perlu main jilat lagi rasanya.

Maka dengan cekatan kuletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit tembem Mbak Erma. Rasanya aku suidah mulai hafal bentuk serambi lempit kakak seayah berbeda ibu itu. Maka dengan sekali dorong rudalku mulai melesak ke dalam liang serambi lempit Mbak Erma. Lalu kudorong sedikit demi sedikit sampai masuk separohnya.

“Ooooooh… sudah masuk Dek… memang rudal Dek Wawan ini lain rasanya… terasa sekali gede dan panjangnya… “sambut Mbak Erma sambil melingkarkan lengannya di leherku. Lalu mencium dan melumat bibirku dengan lahapnya, sementara aku sudah mulai mengayun batang kemaluanku di dalam jepitan liang serambi lempit Mbak Erma yang sempit tapi licin dan legit ini.

Mbak Erma pun mulai merintih – rintih histeris lagi, “Deeeek… duuuuuh… rudal Dek Wawan ini… oooooh… memang terasa sekali… luar biasa enaknya Deeeek… oooooohhhhh… ooooohhhhh… ooooohhhhhhh entot terus Deeeek… entot teruuuusssss… aku sudah tergila – gila padamu Deeeek…

Biarlah dosanya kita tanggung berdua ya Deeek… soalnya aku sudah telanjur merasakan enaknya dientot sama Dek Wawan… iyaaaaa… iyaaaaa… entot teruuuuss… entoooot… entoooottttttttt… enaaaak Deeek… enak sekaliiiii… entot terus… jangan mandeg – mandeg Deeeek… entot terussssss…

Aku memang sudah mulai melakukan hardcore. Memenyetubuhi serambi lempit Mbak Erma dengan sangat massive, sementara mulutku menancap di lehernya yang sudah mulai keringatan. Terkadang mulutku terbenam di ketiaknya yang juga sudah keringatanb. Di situlah lidahku menjilat – jilat disertai dengan sedotan sedotan kuat.

Tak cukup dengan itu. Pada suatu saat Mbak Erfma ingin main di atas. Kukabulkan saja. Lalu kami bertukar posisi. Mbak Erma seperti penunggang kuda jadinya. Bokongnya naik turun dengan cepatnya. Sehingga selangkangannya terus – terusan bertabrakan dengan selangkanganku. Menimbulkan bunyi unik… plokkk…

Sambil celentang begini, aku jadi bisa melihat jelas rudalku terkadang “lenyap ditelan” serambi lempit Mbak Erma. Terkadang “dimuntahkan” lagi. Lalu ditelan lagi dan dimuntahkan lagi.

Sepasang toket gedenya yang bergelantungan dsi atas dadaku pun tak kubiarkan nganggur. Kedua tanganku meremasnya dengan lembut, tapi terkadang meremasnya dengan kuat juga.

Dalam posisi WOT inilah Mbak Erma mencapai orgasme pertamanya.

Lalu kami kembali ke posisi missionary. Memang posisi klasik ini paling sempurna di antara posisi – posisi seksual yang ada. Karena dalam posisi missionary ini aku bisa mencium bibir Mbak Erma sepuasnya. Biusa mengemut pentil toketnya, bisa menjilati lehernya, bisa menjilati telinganya dan bahkan bisa juga menjilati ketiaknya.

Memang aku senantiasa berprinsip bahwa aku harus “take and give” dengan pasangan seksualku. Aku ingin agar jangan aku sendiri yang merasa puas, tapi pasangan seksualku pun harus merasa puas.

Dalam posisi missionary ini aku bisa menyentuh titik – titik sensitif di tubuh Mbak Erma. Sehingga rintihan dan rengakjan manjanya terdengar terus di kamar hotel ini.

Dan… ketika terasa aku mau ejakulasi, ternyata Mbak Erma pun mau orgasme untuk kedua kalinya.

Aku berhasil menciptakan sesuatu yang paling indah di dalam hubungan seks. Bahwa ketika liang serambi lempit Mbak Erma mengejut – ngejut di puncak orgasmenya, rudalku pun mengejut – ngejut sambil memuncratkan lendir kenikmatanku.

Crotttt… croooottttt… crolttt… crooootttt… crooootttttttt… croooottt… crooootttt…!

Lalu kami sama – sama terkapar di pantai kepuasan kami.

Kami habis – habisan melampiaskan nafsu birahi kami yang seolah tiada kenyangnya di hotel itu. Malamnya kami ulangi lagi persetubuhan kami. Bahkan menje;lang fajar menyingsing pun kami ulangi lagi saling melampiaskan nafsu birahi kami.

Bahkan setelah kami pulang ke kota kami dan sama – sama bekerja kembali di kantor kami, keindahan itu kureguk kembali.

Mbak Erma kupanggil ke ruang kerjaku. Lalu kusetubuhi dia di ruang rehat yang biasanya dipakai untuk istirahat olehku.

Mbak Erma selalu mengiyakan setiap kali kuajak bersetubuh. Karena pada dasarnya dia seorang wanita yang haus sex. Laksana kafilah dahaga di tengah padang pasir. Lalu diriku seolah oase baginya. Lalu direguklah kenikmatan dariku dengan lahapnya.

Aku laksana berada di surga… maksudku surga dunia. Karena kebutuhan material tercukupi, kebutuhan batin pun terpuasi.

Terlebih ketika pada suatu hari aku diajak ketemuan oleh Bu Laila di sebuah restoran paling bergengsi di kotaku.

Pada saat itulah Bu Laila berkata setengah berbisik padaku, “Aku mulai hamil Sayang. Sudah empat minggu hamilnya.”

“Ohya?! “aku terkejut bercampur girang, “Mengandung benihku kan?”

“Tentu saja. Memangnya siapa lagi kalau bukan dirimu Cinta.”

“Bahagia sekali mendengarnya langsung dari mulut bidadariku. Lantas apa yang bisa kulakukan untuk menyambut berita gembira ini?”

“Aku ingin merawat kandujnganku sebaik mungkin. Jadi… kamu harus puasa dulu sampai aku hamil tua. Setelah kandunganku berumur tujuh bulan sih, kamu bisa gauli aku lagi sepuasnya. Sekarang puasa dulu, bisa kan?”

“Iya Cinta. Demi kesehatan anak kita, aku akan berpuasa sampai bisa melakukannya lagi.”

“Syukurlah kalau pangeranku bisa mengerti,” ucap Bu Laila sambil meremas tanganku yang terletak di atas meja restgoran.

“Suami Cinta gimana reaksinya setelah tahu Cinta sudah hamil?”

“Nggak kenapa – kenapa. Dia malah kelihatan senang. Tapi pada waktu dia bertanya siapa yang menghamiliku, aku tidak menjawabnya. Pokoknya adalah seseorang, jawabku saat itu.”

“Jadi sampai sekarang dia tidak tau kalau aku yang menghamili Cinta?”

“Sampai kapan pun dia tak boleh tau. Karena aku ingin agar hubungan kita terjalin terus sampai kapan pun.”

“Iya… “aku mengangguk – angguk.

“Ohya… ini ada hadiah dariku, sebagai ungkapan rasa bahagiaku saat ini,” ucap Bu Laila sambil mengeluarkan amplop dari dalam tas kecilnya.

“Apa ini?” tanyaku heran sambil membuka amlop itu.

“Baca aja sendiri,” sahut Bu Laila sambil tersenyum.

Ternyata isi amplop itu tanda pembelian sebuah mobil mahal built up Jerman (bukan bulit up Thailand yang tekniknya tidak lebih baik dari negaraku). Dan aku tahu harfga mobil itu mahal sekali.

“Besok mobil itu sudah bisa kamu ambil Honey. Ini remote controlnya, karena sedan itu sudah berteknologi keyless,” ucap Bu Laila sambil menyerahkan dua buah remote control. Berarti salah satunya untuk cadangan.

“Aku jadi speechless Cinta. Sedikit pun aku tak pernah membayangkan bakal memiliki mobil semahal itu.”

“Sudah saatnya dirimu memakai sedan yang keren, karena jabatanmu sekarang sudah menjadi direktur utama kan?”

“Iya Cinta. Terima kasih yaaa,” ucapku disusul dengan kecupan di pipinya. Tanpa peduli kalau ada yang melihat di dalam restoran ini.

Bu Laila menyahutku dengan bisikan, “Kembali kasih. Tapi nanti setelah kandunganku berumur tujuh bulan, kamu harus sering menggauliku ya Honey.”

“Siap Cinta. Mau tiap hari juga siap !”

“Tiap hari sih jangan. Kasihan babynya.”

Begitulah. Akhirnya malam itu kami berpisah, tanpa hubungan sex. Karena Bu Laila ingin agar kandungannya jangan tergoncang – goncang dulu. Maklum masih hamil muda.

Esok paginya aku memakai taksi untuk mendatangi dealer sedan mahal itu. Sengaja aku pakai taksi, karena akan membawa mobil yang sudah dibayar lunas berikut asuransinya oleh Bu Laila. Surat – suratnya atas namaku. Seolah – olah aku yang membeli mobil mahal itu.

Sebuah sedan hitam yang sangat keren di mataku.

Setelah pihak dealer menerangkan beberapa hal tentang cara penggunaan sedan mahal itu, aku pun mengemudikan sedan hitam itu. Meninggalkan kantor dan showroom dealer dengan hati berbunga – bunga.

Aku seolah sudah menggenggam salah satu kemenangan di dalam mengarungi kehidupan ini. Dan aku sjudah membayangkan betapa tambah kerennya diriku pada waktu mengemudikan mobil mewah ini.

Namun kehidupan di dunia ini selalu ada pasangannya. Ada siang ada malam. Ada pria ada wanita. Ada keuntungan ada kerugian. Ada kemanisan ada kepahitan. Ada kemenangan ada kekalahan.

Aku sudah memperoileh salah satu kemenangan di dalam mengarungi kehidupan ini. Dengan mendengar berita menggembirakan bahwa Bu Laila mulai hamil, lalu menerima hadiah yang sangat mahal ini darinya.

Tapi kemenangan itu disusul dengan suatu kekalahan. Bahwa dokter hanya mampu membuat Wati bisa melihat, tapi tidak mampu membuat Ibu bisa melihat seperti manusia bermata normal.

Banyak alasan yang dokter kemukakan. Sehingga sampai pada suatu kesimpulan, bahwa ibuku takkan mungkin bisa melihat, karena jaringan syaraf yang menunjang untuknya agar bisa melihat, sudah tidak berfungsi semua.

Wati tampak bahagia sekali karena ia tidak buta lagi. Tapi bagaimana dengan ibuku?

Sedih hatiku mnenerima kenyataan pahit ini. Tapi sepulangnya dari rumah sakit, Ibu berkata, “Biar sajalah, ibu sih jangan terlalu dipikirkan Wan. Karena kalau dipikir – pikir, ibu ini sudah tua. Bisa melihat pun untuk apa? Toh ibu sudah terbiasa dalam keadaan tunanetra begini. Yang penting Wati itu.

“Iya Bu. Ternyata tidak semua orang buta bisa ditolong dokter agar bisa melihat. Aku sudah berusaha untuk menormalkan mata Ibu. Tapi apa daya… para dokter pun tidak berdaya menghadapi kenyataan pahit ini.”

“Iya sudah. Jangan bahas lagi masalah itu. Sekarang pusatkan saja pikiranmu untuk membahagiakan Wati. Bahkan kalau bisa, carilah jodoh untuknya. Supaya dia juga merasakan berumahtangga seperti perempuan lain.”

Kemudian aku keluar dari kamar Ibu dan membuka pintu kamar Wati, lalu masuk ke dalamnya. Kamar ini sudah dibangun dengan cara semodern mungkin. Pasti Wati senang sekali melihat bentuk kamarnya yang tidak kalah dengan kamar – kamar mandi orang kaya di sekitar rumah peninggalan almarhum ayahku ini.

Ternyata Wati sedang mandi. Aku pun langsung membuka pintu kamar mandi.

Tampak kakakku itu sedang berendam di dalam bathtub. Memang pada saat Ibu dan Wati sedang berada di rumah sakit, kutambahkan bathtub ke kamar mandi mereka.

“Enak kan pakai bathtub gitu?” tanyaku.

Wati agak kaget karena baru sadar ada orang lain di dalam kamar mandi ini.

“Enak Wan. Makasih yaaa… akhirnya aku bisa merasakan juga enaknya berendam di dalam bathtub.”

Mata jalangku memperhatikan bentuk kakakku dalam keadaan telanjang bulat itu. Kelihatannya toket Wati jadi ngegedin sedikit. Bokongnya juga ngegedein. Maka bisalah aku menilai kakakku itu manis dan seksi.

“Kamu masih butuh rudalku gak?” tanyaku sambil menjawil toket gedenya.

“Ya maulah. Selama dirawat di rumah sakit, tak sekali pun aku bisa melihat yang namanya rudal. Apalagi menyentuhnya. Hihihiiii… !”

“Jadi sekarang mau kuentot gak?”

“Mauuuu… tapi sebentar kuselesaikan dulu mandinya ya Wan.”

“Kirain setelah bisa melihat, kamu gak butuh rudalku lagi. Ayo cepetan dong mandinya.”

Aku keluar dari kamar mandi. Lalu kututup dan kukuncikan pintu kamar Wati ini, agar aku leluasa main dengannya tanpa gangguan siapa pun.

Tak lama kemudian Wati pun muncul dari kamar mandi, dengan membelitkan handuk di badannya.

Handuk itu pun kutarik sampai terlepas dari tubuh Wati. Dan ternyata benar dugaanku. Di balik handuk itu tiada apa – apa selain tubuh Wati yang seksi abis itu.

Wati tidak marah. Malah mendekap pinggangku sambil menatapku dengan bola mata bergoyang perlahan. “Kamu kangen kan sama aku?”

“Kamu sendiri gimana?”

“Iiih… orang nanya malah balik nanya.”

“Iya kangen Wat. Apalagi sekarang, kamu jadi tampak benar – benar hidup.”

“Emangnya pada waktu aku masih buta kayak mayat gitu?”

“Nggak kayak mayat sih. Tapi sekarang kamu memang jadi lebih seksi. Kulitmu juga jadi lebih bersih sekarang.”

“Di rumah sakit kan cuma makan – tidur makan – tidur selama lebih dari sebulan. Makanya jadi lebih montok dan bersih.”

“Jadi lebih seksi pula,” ucapku sambil mengusap – usap toket gedenya.

“Kalau memang jadi seksi, cariin cowok buat calon suamiku Wan.”

“Terus aku mau dilupakan begitu aja?”

“Ya nggak lah. Tapi biar gimana kita kan gak bisa menikah Wan. Makanya cariin aku calon suami. Yang udah tua juga gak apa – apa, asalkan tajir. Soal hubungan kita sih bisa aja dilanjutkan secara rahasia.”

“Ya nanti kalau sudah bosan sama kamu, kucariin cowok tua tapi tajir,” sahutku sambil menelanjangi diriku sendiri.

Wati terlongong. Mengamati batang kemaluanku. Lalu memegangnya sambil berkata, “Inilah pertama kalinya aku bisa melihat bentuk rudal. Lucu ya… kepalanya seperti helm… seperti jamur kancing juga… hihihiii…”

Tak cuma memegangnya, Wati pun lalu menjilati leher dan moncong rudalku. Bahkan kemudian mengulum dan menyelomotinya dengan lahap.

Cukup lama kubiarkan Wati mengoral rudalku. Setelah rudalku benar – benar ngaceng, cepat Wati menelentang sambil berkata, “Jangan jilati serambi lempitku. Langsung aja masukin rudalmu. Aku ingin merasakan nikmatnya gesekan rudalmu dalam keadaan belum becek.”

Aku menurut saja. Lalu meletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit kakakku.

Wati pun ikut memegang leher klontolku, sambil mengarahkan moncongnya agar berada di posisi yang pas menuju mulut liang serambi lempitnya.

Lalu kudorong rudal ngacengku sekuat tenaga. Dan melesak masuk sedikit demi sedikit.

“Oooooohhhhhh… kalau gak dibecekin dulu kan enak sekali Wan… terasa sekali rudalmu bergerak masuk begini… ooooohhhhh… rudalmu memang enak sekali Wan. Sayangnya kita bersaudara ya… kalau kamu bukan adikku, pasti aku ingin dijadikan istrimu… ayo entotin Wan… !”

Dengan penuh nafsu aku pun mulai mengayun rudalku perlahan – lahan. Setelah liang serambi lempit Wati terasa licin, barulah aku bisa mempercepat entotanku, sampai pada kecepatan standard.

Dengan trampilnya Wati pun menggeol – geolkan pinggulnya, sehingga rudalku terasa dibesot – besot oleh liang serambi lempitnya yang bergerinjal – gerinjal empuk hangat dan licin itu.

Wati pun mulai merintih – rintih erotis.

“Waaaaan… aaaaaah… Waaaaan… aku udah lebih dari sebulan gak dientot sama kamu… sekarang terasa sekali enaknya rudalmu ini Waaan… iyaaaaa… iyaaaaa… entot terus Waaan… iyaaa… iyaaaaa… entot terus Waaaan… iyaaaa… iyaaaa… entottt… entooooottttt… entooot teruuuuuuusssss…

Sementara itu aku mulai menjilati leher Wati yang mulai lembab oleh keringat, disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Aksiku ini membuat Wati semakin merem melek. Semakin berlontaran pula rintihan – rintihan histeris dari mulutnya.

Tapi Wati tetap menggoyangkan pinggul dengan lincahnya. Mungkin pada waktu di Kalimantan dia sudah dilatih oleh lelaki yang pernah memboyongnya ke sana. Dilatih untuk menggoyangkan pinggulnya selincah mungkin.

Cukup lama aku menggenjot liang serambi lempit Wati yang terasa licin tapi lumayan sempit ini. Sampai pada suatu saat, ketika Wati berkelojotan aku pun menggencarkan entotanku. Dan ketika ia mengejang tegang, aku pun sudah tiba di puncak kenikmatanku.

Lalu terasa liang serambi lempit Wati berkedut – kedut di puncak orgasmenya. Pada saat yang sama kutancapkan rudalku sedalam mungkin, tanpa kugerakkan lagi.

Lalu… rudalku pun mengejut – ngejut sambil memuntahkan air maniku.

Crooooottt… crooootttt… crottt… croooooooootttt… coooottttttttt… crooootttt…!

Aku pun terkapar di atas perut kakakku. Dengan tubuh bersimbah keringat.

“Barusan dibarengin ya?”

“Iya,” sahutku sambil mencabut rudalku dari liang serambi lempit kakakku, “Lebih enak dibarengin kan?”

“Iya. Tapi kalau aku tidak ikutan kabe sih bisa hamil.”

“Ogitu ya,” ucapku sambil meraih pakaianku yang berserakan di lantai, “Aku mau bobo sama Ibu ah. Kangen… pengen tidur dalam pelukannya.”

Kemudian, aku melangkah menuju kamar Ibu, dalam keadaan telanjang bulat sambil menggenggam pakaian yang belum kukenakan kembali.

Setelah berada di dalam kamar Ibu, kututupkan kembali pintunya, lalu kukunci sekalian.

Ibu agak kaget mendengar langkah menuju bednya. “Wan !” panggilnya.

“Iya Bu,” sahutku.

“Owh… kirain siapa.”

Lalu aku naik ke atas bed Ibu sambil berkata, “Aku kangen, pengen bobo di dalam pelukan Ibu.”

Ibu meraba – raba kakiku, perutku dan juga rudalku yang masih lemas ini.

“Kok tamu telanjang? Mau nidurin ibu ya? Sekarang mah gak bisa ibunya Wan.”

“Kenapa?”

“Ibu lagi datang bulan.”

“Owh… ya udah… aku mau sabar aja menunggu sampai Ibu bersih.”

“Mungkin lima hari lagi bersihnya Sayang.”

“Kalau Ibu lagi mens sih gak jadi ah tidur sama Ibunya.”

“Hihihiii… kasian anak ibu.”

Akhirnya kutinggalkan kamar Ibu, dengan perasaan kecewa. Lalu masuk ke dalam kamarku. Dan langsung masuk ke kamar mandi pribadiku. Keringat bekas bersetubuh dengan Wati tadi membuat badanku lengket – lengket. Karena itu aku mandi dengan air hangat yang memancar dari shower utama di atas kepalaku. Lalu menyabuni tubuhku sebersih mungkin.

Setelah mandi, badanku terasa segar kembali. Tapi perasaan kecewa masih tersimpan di dalam hatiku. Karena tadinya aku ingin menyetubuhi ibuku. Tapi ternyata ibuku sedang “palang merah”.

Meski pun sudah ngecrot di dalam liang serambi lempit Wati tadi, aku yakin masih bisa bersetubuh sekali atau dua kali lagi. Karena dalam beberapa hari belakangan ini aku tidak menggauli siapa pun. Sementara Bu Laila ingin “berpuasa” dulu katanya, agar janin di dalam perutnya tenang.

Lalu siapa yang harus kusetubuhi?

Entahlah. Yang jelas, jangan dengan Wati lagi. Sebaiknya ada sosok lain yang akan kujadikan target.

Kalau ada Euis, pasti aku akan menyetubuhi dia habis – habisan. Tapi Euis sudah pulang tadi sore.

Lalu kenapa aku tidak ke rumahnya saja? Kalau perlu kusikat dengan ibunya sekalian.

Ya, biar bagaimana pun Bu Mimin sudah pernah memberiku kenangan dan kepuasan. Tapi seandainya Euis tahu bahwa aku sudah pernah menggauli ibunya segala, apakah Euis takkan merajuk?

Entahlah. Biar bagaimana nanti saja. Aku akan melihat situasinya saja dulu. Siapa tahu ada salah seorang yang sedang datang bulan pula di antara Euis dan ibunya.

Ketika jam tanganku baru menunjukkan pukul delapan malam, aku mengeluarkan mobil lamaku keluar dari garasi. Sedan hadiah dari Bu Laila hanya akan kupakai untuk ke kantor atau kalau ada meeting dengan para pengusaha relasiku saja.

Tak lama kemudian aku sudah menjalankan mobil lamaku menuju rumah Euis.

Hanya dibutuhkan waktu sejam untuk mencapai rumah yang sudah kuhadiahkan kepada Euis itu. Lalu aku pun turun dari mobilku.

Belum lagi kuketuk pintu depan rumah Euis, pintu itu terbuka dan Bu Mimin berdiri di ambang pintu depan.

“Firasat saya tajam juga ya. Saya barusan sedang mikirin Den Wawan. Eeee, gak taunya Aden datang, “sambut Bu Mimin sambil mempersilakanku masuk.

“Euis mana?” tanyaku.

“Sudah tidur Den,” sahut Bu Mimin yang malam itu mengenakan daster katun berwarna light brown polos alias tanpa corak, “Sejak jam tujuh tadi dia sudah tidur nyenyak. Aden ada perlu sama dia?”

“Nggak,” sahutku sambil menarik pergelangan tangan Bu Mimin dan mengajaknya duduk di sofa ruang keluarga.

Dia menurut saja. Duduk di sampingku sambil merapatkan pipinya ke pipiku. “Aden kangen sama saya atau sama Euis?”

Tanganku langsung merayap ke balik daster coklat mudanya. “Dua – duanya,” sahutku sambil menyelinapkan tanganku ke balik celana dalamnya. Lalu mengusap – usap permukaan serambi lempitnya. Dan menyelundupkan jari tengahku ke dalam celah serambi lempitnya yang agak basah… dan semakin basah setelah jemariku mmenggesek – gesek dinding liang serambi lempitnya.

“Den… kalau serambi lempit saya udah dibeginiin… saya langsung kepengen…” ucap Bu Mimin setengah berbisik.

“Ya udah… kita main di sini aja Bu. Lepasin dulu dasternya dong.”

“Jangan di sini Den. Perasaan saya jadi gak tenang kalau di sini sih. Di kamar saya aja yok.”

Akhirnya kuikuti ajakan Bu Mimin, melangkah di sampingnya menuju pintu kamarnya.

Setelah berada di dalam kamarnya, Bu Mimin langsung melepaskan daster, beha dan celana dalamnya. Sehingga tubuh tinggi montoknya telanjang bulat di depan mataku.

Aku pun cep[at menelanjangi diriku sendiri, kemudian menyergap pinggang Bu Mimin dan meraihnya ke atas bed.

“Duuuh… senengnya hati saya Den… pas lagi kangen, Aden datang,” ucap Bu Mimin setelah celentang di atas bed akibat dadanya kudorong.

Tanpa basa – basi lagi kuserudukkan mulutku ke serambi lempit Bu Mimin yang tembem dan sangat merangsang itu.

Buj Mimin tersentak kaget. Mungkin karena tidak mengira kalau aku akan langsung menjilati serambi lempit tembemnya. Namun lalu ia mulai mewndesah – desah sambil meremas – remas kain seprai. Karena aku sudah gencar menjilati serambi lempitnya, sementara telunjuk dan jari tengahku mulai menyodok – nyodok liang serambi lempitnya.

Dalam trempo singkat saja liang serambi lempit Bu Mimin sudah basah dibuatnya.

Lalu… dengan sekali dorong saja rudalku mulai melesak masuk ke dalam liang sanggama wanita setengah baya itu.

“Oooooohhhh… sudah masuk Deeeen… “rintih Bu Mimin sambil mendekap kedua pangkal lenganku erat – erat, seperti orang yang takut jatuh dari ketinggian.

Aku pun mulai mengayun batang kemaluanku, bergerak maju mundur seperti sedang memompa liang serambi lempit wanita setengah baya yang cantik itu.

Bu Mimin pun mulai mendesah dan merintih, “Aaaaaah… Deeen… aaaaah… Deeeen… aaaaaah… Deeeeen… aaaaah… aaaa… aaaaah… Deeeen… ini… ini… ini luar biasa enaknya Deeen… aaaaah… Den Wawaaaaan… aaaaaah… enak sekali

Deeen… entot terus Deeeen… entooot teruuusssss… entooootttt… entooooottt… !“

Bu Mimin meraung – raung histeris terus. Dan mungkin rintihan histeris Bu Mimin itu terlalu keras dan sulit dikendalikan. Sehingga rintihannya itu terdengar oleh anaknya. Entahlah apa yang menyebabkan Euis terbangun dan membuka pintu kamar ibunya. Entahlah. Yang jelas tiba – tiba aku mendengar suara Euis dari samping kiriku, “Ema…

Tentu saja aku terkejut. Lalu menoleh ke arah Euis yang sudah berdiri di ambang pintu. Dengan sikap malu – malu. Mungkin dia malu sendiri melihat ibunya sedang kusetubuhi begini.

Aku pun menghentikan entotanku dan berkata kepada Euis, “Sini… kita bikin keseruan di dalam kamar ini. Lepaskan seluruh pakaianmu dan naik ke atas bed sini.”

Sambil tersenyum – senyum Euis menghampiri bed yang tengah kami pakai bersetubuh ini.

“Ayo jangan malu – malu. Lepasin semua pakaianmu, “perintahku.

Euis mengangguk dan mengikuti apa yang kuperintahkan.

Wanita setengah baya itu memegang tangan anaknya sambil berkata, “Maafkan ema ya Euis. Ema sudah mencuri kepunyaanmu. Karena ema juga masih sangat butuh, untuk penyemangat hidup ema.”

Euis seperti terharu, lalu mencium pipi ibunya yang sedang berada di bawah himpitanku itu, “Gak apa – apa Ma. Den Wawan kan bukan suamiku. Lagian Ema masih berhak untuk menikmatinya… menikmati hukum alam bahwa seorang wanita membutuhkan pria.”

Kutepuk bokong Euis yang berada di dekat tanganku, lalu berkata, “Pokoknya kita bertiga kompak aja ya Is. Aku memiliki kalian berdua dan kalian berdua memilikiku. Bahkan mulai saat ini setiap kali kita melakukannya pasti lebih sewru daripada biasanya.”

“Iya Den. Saya malah senang kalau Aden berkenan menggauli ema saya. Kasihan Ema… sudah bertahun – tahun tidak merasakan sentuhan lelaki.”

“Berarti kamu bijaksana Is,” ucapku sambil menarik lehernya ke dekatku. Lalu kucium bibirnya. Kemudian kulanjutkan aksiku “memompa” liang serambi lempit tembem Bu Mimin di depan mata anak semata wayangnya.

Bu Mimin pun mulai lupa daratan lagi. Ia tak peduli lagi dengan kehadiran anaknya. Lalu merintih – rintih histeris lagi, “Dudududuuuuh… Deeeen… eeeenaaaak sekaliiii… duuuuh… punya Den Wawan memang luar biasa enaknyaaaa… entot terus Den… entot terussss… sampai saya lepas… nanti giliran Euis setelah saya lepas…

Sambil meremas sepasang toket Bu Mimin, kugenjot liang serambi lempitnya segencar mungkin. Agar dia cepat orgasme.

“Aaaaah… Deeeeen… aaaaaaah… Deeeeen… ini luar biasa enaknya Deeeen… entot terus Deeeeeen… enaaaaaak… sangat enaaaaaak… aaaahhhhh… enaaaak Deeeen… iyaaaaa… iyaaaaa… iyaaaaa… iyaaaa… ooooooohhhhh… punya Den Wawan luar biasa enaknyaaaaaa… “rintih Bu Mimin sambil menggoyang pinggulnya dengan gerakan menukik – nukik.

Akibatnya… beberapa saat kemudian Bu Mimin berkelojotan. Kemudian mengejang tegang sambil menahan nafasnya, sementara perutnya sedikit terangkat ke atas.

Aku mengerti apa yang sedang terjadi dengan Bu Mimin. Lalu kutancapkan rudalku sedalam mungkin, sampai menyundul dasar liang serambi lempit Bu Mimin.

Pada saat itulah liang serambi lempit Bu Mimin terasa berkedut – kedut kencang, disusul dengan gerakan seperti spiral yang membelit batang kemaluanku. seolah ingin memuntahkan rudalku dari dalam liang serambi lempitnya.

Ini adalah detik – detikm yang sangat indah. Bahwa aku ikut menikmati denyhut – denyut orgasme serambi lempit Bu Mimin, sambil memasukkan jari tengahku ke liang serambi lempit Euis yang sudah basah (karena dari tadi aku memenyetubuhi Bu Mimin sambil memainkan serambi lempit Euis).

Setelah Bu Mimin terkulai lemas, cepat kucabut rudalku dari liang serambi lempitnya. Kemudian pindah ke atas perut Euis yang sejak tadi kelihatan terangsang menyaksikan persetubuhanku dengan ibunya.

Karena liang serambi lempit Euis sudah cukup basah, aku tak sulit untuk membenamkan rudalku ke dalamnya… blesssss… melesak amblas sampai menyundul dasar liang serambi lempit Euis…!

Sebenarnya ini merupakan persetubuhanku yang ketiga. Karena tadi jam 19.00 aku menyetubuhi Wati. Memang aku belum ngecrot dalam persetubuhanku dengan Bu Mimin barusan. Tapi aku menganggap persetubuhan dengan ibu dan anaknya ini merupakan “ronde kedua”, karena ronde pertamanya bersama Wati.

Dengan sendirinya durasi entotanku pasti akan lama nanti.

Dan kini aku sudah mulai mengayun rudalku di dalam liang serambi lempit Euis yang cantik ini.

Tentu saja liang serambi lempit Euis lebih sempit dibandingkan dengan liang serambi lempit ibunya. Karena Euis belum pernah melahirkan. Tapi kalau aku harus menilainya secara jujur, serambi lempit Bu Mimin sedikit lebih enak daripada serambi lempit Euis.

Tapi serambi lempit Euis tetap enak. Hanya saja serambi lempit ibunya lebih merangsang birahiku. Terlebih kalau mengingat ketrampilan Bu Mimin dalam menggoyang pinggulnya, yang seolah ingin memuaskan nafsu birahiku, sekaligus mereguk kepuasan untuk dirinya sendiri.

Maka untuk mencari kepuasan bagiku sekaligus buat Euis juga, aku menarik sepasang kaki Euis dan kuletakkan di bahuku. Sementara aku memenyetubuhinya sambil berlutut dan membungkuk. Sehingga dadaku tidak bisa bertempelan dengan dada Euis, karena terhalang oleh sepasang pahanya yang terangkat dan sepasang lututnya berada di kanan kiri sepasang toketnya.

Kelebihannya dalah, rudalku bisa jauh sekali jangkauannya. Sehingga tiap kali kudorong, moncongnya terasa menyundul dan mendesak dasar liang serambi lempit Euis.

Begitulah… kini aku memenyetubuhi Euis dalam posisi missionary hardcore.

Kelebihan lain, aku bisa memenyetubuhi Euis sambil menggesek – gesekkan ujung jariku ke kelentitnya. serambi lempit Euis pun jadi menengadah ke atas dalam posisi ini.

Tentu saja Euis merem melek dibuatnya. Karena Gspot di kelentit dan Gspot di mulut rahimnya yang terletak di dasar liang serambi lempitnya tersentuh dan tergesek terus menerus.

Desahan dan rintihannya pun mulai terlontar dari mulutnya, “Aaaaaaaah… aaaaaah… Deeeen… dududuuuuh Deeeeen… dibeginiin sih saya bisa cepat lepas Deeen… ini… ini terlalu enak Deeen… luar biasa enaknyaaaa… enak sekali Deeeen… aaaaah… Deeen… aaaaaah… Deeeen… terlalu enaaaaaak Deeen …

Aku tidak mempedulikan rintihan Euis itu. Malah melirik ke arah Bu Mimin yang menyaksikan semuanya ini sambil mengusap – usap serambi lempit tembemnya. Mungkin dia jadi horny lagi menyaksikannya.

Dugaan Euis benar. Beberapa saat kemudian Euis klepek – klepek dan… orgasme!

Setelah Euis terkulai lemas, aku pun pindah ke atas perut Bu Mimin lagi.

Dengan mudah rudalku bisa amblas ke dalam liang serambi lempit Bu Mimin… blessssss…!

Bu Mimin menyambutku dengan dekapan di kedua pangkal lenganku. “Den Wawan kok kuat sekali ya. Saya dan Euis sudah sama – sama lepas. Tapi Den Wawan belum apa – apa,” ucap Bu Mimin sambil menciumi pipi dan bibirku.

Aku tidak menanggapinya. Karena aku tahu alasan sebenarnya. Bahwa tadi aku menyetubuhi Wati dulu sebagai “pemanasan”. Dan kini menyetubuhi yang sebenarnya.

Tapi Bu Mimin pun tampak sudah siap dan sigap lagi untuk meladeni kejantananku.

Maka terjadilah pertarungan dahsyat di antara rudalku dengan liang serambi lempit wanita setengah baya itu.

Kami melakukannya dengan berganti – ganti posisi. Sekalian mengajari Euis agar semakin trampil pada saat sedang meladeni kejantananku. Cukup lama kami melakukan semuanya ini.

Setelah posisi missionary, kami lanjutkan dalam posisi WOT. Dalam posisi itulah Bu Mimin orgasme lagi untuk kedua kalinya. Tapi fisiknya masih tangguh. Lalu kami lanjutkan dalam posisi doggy. Ternyata Bu Mimin sangat pandai melakukannya. Dia tak cuma menungging pada waktu kuentot sambil berlutut, tapi juga mampu mengoyang – goyangkan bokong gedenya.

Dalam posisi ini Bu Mimin orgasme lagi. Padahal aku juga sudah kritis. Sudah hampir ngecrot. Maka setelah mencabut rudalku dari liang serambi lempit Bu Mimin, kuangsurkan rudalku ke dekat mulut Euis.

Euis mengerti keinginanku. Dan mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia menyelomoti rudalku sambil menyedot – nyedot dan mengurut – urut dengan tangannya.

Maka tak kuasa lagi aku menahan ejakulasiku.

Lendir kenikmatanku pun melompat – lompat dari moncong rudalku ke dalam mulut Euis.

Croooottttt… crooootttt… crottt… croooottttt… croootttttt… crotttttttt… crooootttt…!

Dan… tanpa ragu Euis menelan spermaku semuanya, tak disisakan setetes pun.

Glek… glekkkkkk… glek …!

Lalu kami bertiga turun dari bed dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar Bu Mimin.

Kami bertiga mandi dengan air hangat dari shower. Saling menyabuni sambil bercanda.

Pada saat itu pula kami menyatakan untuk tetap kompak menjalin hubungan rahasia ini.

Setelah mandi badanku terasa segar kembali.

Bu Mimin dan Euis mau membuatkan pisang goreng untukku. Aku dipersilakan duduk di ruang keluarga.

Ketika mereka berada di dapur, sementara aku duduk sendirian di sofa ruang keluarga, pandanganku tertumbuk ke sebuah album foto yang berada di bawah daun meja kaca di depan sofa yang tengah kududuki.

Iseng kuambil buku album foto itu. Mungkin ada foto – foto Bu Mimin semasa mudanya atau foto – foto Euis di masa kecilnya.

Maka kubuka dan kuteliti isi album foto itu. Banyak juga foto Bu Mimin di masa mudanya. Memang cantik ibunya Euis itu di masa mudanya. Foto – foto Euis di masa kecil dan masa remajanya juga ada.

Tapi pandanganku lalu terpusat pada beberapa foto yang memperlihatkan Bu Mimin sedang melaksanakan akad nikah dengan seorang lelaki ganteng. Yang membuatku kaget adalah lelaki ganteng di foto itu. Jelas dia itu… ayahku…!

Ciri khas ayahku adalah tahi lalat di dahinya itu. Dan aku tak mungkin salah lihat, dia memang ayahku di masa mudanya.

Ketika aku sedang mengamati foto – foto itu, Bu Mimin dan Euis muncul di ruang keluarga, sambil membawa baki sebagai wadah sepiring pisang goreng yang masih mengepul panas dan secangkir kopi hitam. “Nih pisang gorengnya sudah siap Den. Ayo disantap mumpung masih panas,” kata Bu Mimin sambil meletakkan pisang goreng dan kopi panas itu di meja kecil depanku.

Aku malah langsung bertanya sambil memperlihatkan foto – foto akad nikah itu kepada Bu Mimin, sambil bertanya, “Bu Mimin… ini foto Ibu waktu nikah ya?”

“Iya Den. Tapi cuma nikah siri. Karena almarhum sudah punya istri saat itu,” sahut Bu Mimin.

“Boleh aku tau nama suami ibu ini?” tanyaku sambil menunjuk ke arah lelaki yang sedang akad nikah dengan Bu Mimin itu.

“Namanya Zaelani Den. Tapi dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.”

“Nama lengkapnya Zaelani Purnama kan?” tanyaku.

“Kok Aden bisa tau nama lengkapnya? Apakah Den Wawan mengenal almarhum?”

“Dia ayahku Bu. Yang ibu sebut istri almarhum itu ibuku. Apakah Bu Mimin pernah mendengar nama ibuku?”

“Tidak pernah mendengar namanya Den. Waktru itu almarhum hanya bilang sudah punya istri. Jadi pernikahan dengan saya cuma bisa dilaksanakan secara siri. Dari pernikahan dengan almarhum itulah saya punya anak yang duduk di sebelah kiri Den Wawan itu.”

Batinku benar – benar limbung saat itu. Lalu kukeluarkan handphoneku. Dan kuperlihatkan foto – foto ayahku semasa masih hidup dahulu. “Supaya Bu Mimin lebih yakin, ini foto – foto ayahku semasa masih ada dahulu. Tahi lalat di dahi sebelah kanan itu sebagai tanda yang paling meyakinkan Bu.”

Bu Mimin memperhatikan foto – foto di hapeku itu. Lalu berseru dengan suara sendu, “Duuuh Deeeen… ini memang foto – foto suami saya almarhum…! Ja… jadi berarti Den Wawan ini anak tiri saya?”

“Masalah Bu Mimin tidak kupikirkan. Toh sejak zaman dahulu sering terjadi hubungan antara seorang wanita dengan anak tirinya. Tapi Euis ini… kalau dia memang anak dari ayahku, berarti Euis ini kakakku… kakak seayah berlainan ibu. Jadi kalau aku Wawan Darmawan Bin Zaelani, maka Euis pun binti Zaelani…

Aku lalu teringat pada Mbak Erma, yang kisahnya mirip dengan kisahku dengan Euis ini.

O my God! Apakah aku ini ditakdirkan menjadi seorang incest sejati? Kenapa semua ini harus terjadi?

Aku termenung cukup lama. Memikirkan semuanya ini.

Sampai terdengar suara Euis dari samping kiriku, “Jadi Den Wawan ini adik saya?”

Aku mengangguk lesu. Tapi lalu kukuatkan batinku, kemudian berkata, “Semuanya sudah terjadi. Kita tak mungkin bisa menghapusnya.”

“Lalu kita harus bagaimana setelah mengetahui semua ini Den?” tanya Bu Mimin dengan sikap tetap sopan.

Setelah menenangkan diri sejenak, aku berkata, “Kita sudah telanjur jauh melangkah. Aku sendiri sudah telanjur suka kepada Euis dan Bu Mimin. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk menghentikan semuanya. Tapi Euis sebaiknya jangan bekerja di rumahku lagi. Biarlah nanti kucarikan pemecahannya. Yang jelas Euis itu kakakku.

Bu Mimin dan Euis terdiam. Seperti tidak mendengar kata – kataku yang sebenarnya cukup penting itu.

Maka aku pun berkata lagi, “Atau begini… Euis bekerja aja di kantorku. Tapi di kantorku ada peraturan tidak boleh ada dua orang karyawan yang ada hubungan darah. Jadi nanti di kantor Euis harus merahasiakan hubungan darah kita.”

“Itu lebih baik Den,” kata Bu Mimin.

“Bu Mimin dan Euis jangan manggil Den lagi padaku. Panggil namaku aja,” sahutku.

Lalu Euis berkata, “Boleh saya usulkan sesuatu?”

Aku menoleh ke arah Euis. Tampak sikapnya jadi rikuh sekali. Dan anehnya setelah mengetahui asal – usul mereka, aku bahkan semakin sayang kepada mereka.

Tanpa ragu kucium bibir Euis di depan ibunya, lalu bertanya, “Mau usul apa?”

Euis berkata canggung, “Begini mmm… Dek Wawan… ijazah saya kan cuma SMP. Bekerja di kantor Adek juga pasti sulit menyesuaikan diri. Bagaimana kalau saya usaha sendiri aja kecil – kecilan?”

“Mau usaha apa?” tanyaku.

“Usaha apa aja. Misalnya jualan kebutuhan sehari – hari.”

“Mau buka warung? Zaman sekarang usaha seperti itu tergerus oleh minimart yang sudah menjamur di mana – mana. Bagaimana kalau buka warung nasi aja di sini? Euis kan pinter masak. Bakat itu bisa dikembangkan. Siapa tau kelak bisa punya rumah makan besar.“

“Iya… itu jauh lebih baik Den… eh… Nak,” kata Bu Mimin.

Aku mengangguk – angguk kecil. Laluj memegang tangan Euis sambil berkata, “Untuk mencari resep masakan di zaman sekarang tidak sulit. Tinggal cari aja di internet, pakai handphone. mnanti kubelikan handphone yang bagus, supaya bisa browsing ya.”

“Iya Dek.”

“Sekarang aku mau tidur di sini ya. Tapi aku mau tidur sama Ceu Euis, ya Bu.”

“Iya silakan Den,” sahut Bu Mimin, “Itu pisang gorengnya kok gak disentuh sama sekali.”

“Kubawa aja ke kamar Euis ya,” sahutku sambil mengangkat piring pisang goreng dan kopinya yang sudah dingin.”

“Mau diganti kopinya sama yang panas Dek?” tanya Euis.

“Boleh.”

Euis bangkit dari sofa lalu melangkah ke dapur.

“Jadi ternyata Bu Mimin ini ibu tiriku ya?” ucapku sambil mengusap – usap lutut Bu Mimin.

“Iya. Bagusnya jangan manggil Bu Mimin lagi sama saya. Panggil ema aja Den. Biar sama seperti Euis,” sahut Bu Mimin.

Aku tersenyum. Lalu berbisik di dekat telinga wanita setengah baya itu, “serambi lempit Ema sangat enak. Aku gak rela kalau hubungan kita diputuskan begitu aja.”

“Iya Nak… ema juga udah telanjur ketagihan sama punya Nak Wawan.”

“Tapi malam ini udah kenyang kan?”

“Udah Nak. Mungkin Euis yang belum kenyang sih. Kasihan dia… jatahnya diganggu sama ema.”

“Tapi malam ini sih gak mungkin. Aku cuma ingin nyobain aja tidur bersama Euis.”

Tak lama kemudian Euis muncul di ruang keluarga, dengan secangkir kopi panas. “Mau langsung dibawa ke kamar saya?” tanyanya.

“Iya Ceu Euis,” sahutku.

“Hihiiihiii… awalnya manggil Bibi, kemudian manggil nama… sekarang ditambah dengan Ceu…” ucap Euis sambil melangkah menuju kamarnya.

Aku pun bangkit dari sofa. Mencium bibir Ema disusul bisikanku, “Aku mau istirahat dulu ya Ema Sayang.”

“Iya silakan,” sahut Ema sambil tersenyum.

Kemudian aku melangkah ke arah kamar Euis.

Cerita Dewasa Ngentot - Membantu Ibu Tunanetra Melepas Hasrat
Ketika aku masuk ke kamar Euis, kulihat dia sedang mengenakan daster weetlook kuning mudanya.

Sambil menutupkan kembali pintu kamar Euis sekaligus menguncinya, aku berkata, “Ngapain pakai daster? Kalau kita mau tidur bareng, mendingan sama – sama telanjang.”

“Kalau Dek Wawan perlu kan tinggal singkapin aja daster ini,” sahutnya sambil menyingkapkan dasternya. Ternyata ia tidak mengenakan celana dalam, sehingga serambi lempitnya langsung “nyengir” di depan mataku.

Aku ketawa kecil. Lalu duduk di atas satu – satunya sofa yang ada di dalam kamar Euis.

“Udah ngantuk?” tanyaku.

“Belum lagi. Tadi kan waktu Dek Wawan datang, saya lagi tidur. Lalu terbangun karena mendengar rintihan Ema. Kirain Ema lagi sakit. Gak taunya… hihihihiii…”

Kutarik pergelangan tangan Euis sampai terduduk di atas sepasang pahaku.

“Meski pun ternyata kita ini saudara seayah, aku tak rela kehilangan Ceu Euis dan Ema.”

“Sama… saya juga begitu.”

“Pakai aku aja deh, jangan pakai istilah saya lagi,” ucapku sambil merayapkan tangan ke balik daster Euis.

“Kok megang – megang serambi lempit lagi? Emangnya belum kenyang tadi?”

“Sama Ema udah kenyang. Sama Ceu Euis belum.”

“Di sana aja yuk,” ucap Euis sambil menunjuk ke bednya.

Aku melepaskan segala yang melekat di tubuhku, sampai telanjang bulat.

Lalu aku naik ke atas bed. Menerkam Ceu Euis yang baru saja melepaskan dasternya, sehingga kami jadi sama – sama telanjang bulat.

“Dek Chepi kuat banget. Tadi kan udah habis – habisan sama Ema dan aku. Tapi sekarang udah tegang lagi nih rudalnya,” kata Ceu Euis sambil memegang rudalku yang memang sudah ngaceng lagi ini.

“Aku kan masih muda. Duapuluhlima juga belum. Makanya masih kuat maen semalam dua atau tiga kali aja sih. Nanti kalau umurku sudah di atas empatpuluh, pasti staminaku akan menurun,” sahutku sambil meletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit Ceu Euis.

Sesaat kemudian rudalku sudah membenam sepenuhnya di dalam liang serambi lempit Ceu Euis.

Lalu permainan surgawi ini pun dimulai.

rudalku mulai maju mundur di dalam cengkraman liang serambi lempit Ceu Euis. Maju mundur maju mundur… blesssss… sssssretttttttt… blessss… ssssretttttt… blessssss… sretttt… blesssss… sretttt… blesssssssss… srettttttttt… blessss… sretttt…

Entah kenapa. Kali ini aku ingin habis – habisan menyetubuhi Ceu Euis, karena aku tidak rela kalau sampai kehilangan dia. Meski pun aku sudah tahu bahwa sebenarnya Ceu Euis itu kakak seayah berlainan ibu, aku akan tetap melanjutkan hubunganku dengannya. Begitu juga Ema Mimin yang serambi lempitnya gurih dan legit itu, harus tetap menjadi milikku…

Ceu Euis p[un mulai mendesah – desah disertai rintihannya yang seakan curhat padaku. “Aaaaaah… Deeeek… aaaaaaah… aaaaah… walau pun Dek Wawan ini adekku, aku tak mau kehilangan Dek Wawan… aaaah… aaaaah… aku… aku bahkan ingin mengandung anak Dek Wawan… hamili aku ya Deeek…

Mendengar ocehan Ceu Euis itu, aku jadi ragu. Kuatir juga kalau ia benar – benar hamil nanti.

Karena itu aku diam – diam mengintai… kalau Euis sudah orgasme, aku akan pura – pura ejakulasi, kemudian persetubuhan ini akan kuhentikan.

Cukup lama gejala akan orgasme itu terjadi. Lebih dari duapuluh menit aku memenyetubuhi Ceu Euis. Tapi dia malah asyik menggoyang pinggulnya mengikuti goyangan ibunya tadi.

Mungkin tadi Ceu Euis diam – diam menyimak cara – cara Ema meladeni entotanku. Dan kini Ceu Euis mempraktekkannya denganku. Pinggulnya meliuk – liuk dan memutar – mutar dengan lincahnya. Tapi memang Ceu Euis belum setrampil ibunya dalam hal goyang pinggul waktu sedang bersetubuh.

Bahkan akhirnya Ceu Euis ngos – ngosan melontarkan suara, “Dek Wawaaaan… aku mau lepas… ayo barengin Deeek… biar jadi anak… ayo Deeek… barengiiiin… !”

Lalu Ceu Euis berkelojotan. Pada saat yang sama kugenjot rudalku seedan mungkin. Dan ketika Ceu Euis mengejang tegang, aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin. Lalu aku mengejut – ngejutkan rudalku seolah – olah sedang ejakulasi.

Liang serambi lempit Ceu Euis pun berkedut – kedut kencang. Lalu ia terkapar lunglai. Ketika kucabut rudalku dari l, iang serambi lempit yang sudah becek itu, Ceu Euis membuka matanya.

“Barusan dibarfengin ya?” tanyanya.

Aku menjawabnya dengan anggukan kepala doang. Lalu mengambil celana dalam dan celana pamnjangku. Dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi pribadi Ceu Euis.

Sebenarnya batang kemaluanku masih ngaceng berat, karena barusan aku hanya pura – pura ngecrot. Karena takut Ceu Euis benar – benar hamil nanti.

Di kamar mandi aku hanya membersihkan alat vitalku yang berlepotan lendir libido Ceu Euis. Kemudian kukenakan kembali celana dalam dan celana panjangku.

Agak lama aku berada di kamar mandi.

Dan ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat Ceu Euis sepertinya sudah tidur nyenyak. Tanpa mengenakan sehelai benang pun. Mungkin dia mengira aku ejakulasi di dalam serambi lempitnya tadi. Sehingga ia sengaja tidak bergerak – gerak, agar “sperma”ku terserap oleh rahimnya.

Aku malah mengambil baju kausku, kemudian keluar dari kamar Ceu Euis. Menuju pintu kamar Ema. Ternyata pintunya tidak dikunci. sehingga dengan mudah aku masuk ke dalam kamar ibunya Ceu Euis itu.

Apa lagi urusanku dengan Ema alias Bu Mimin itu?

Ini rudalku masih ngaceng, karena tadi cuma berpura – pura ejakulasi di dalam liang serambi lempit Ceu Euis. Inspirasi pun muncul di benakku.

Entot Ema lagi aja. Nanti spermaku akan kumuntahkan di dalam liang serambi lempit Ema…!

Kebetulan Ema sudah tertidur, dengan mengenakan kimono lagi.

Ketika kusingkapkan kimono itu, ternyata Ema tidak mengenakan beha mau pun celana dalam. Maka dengan hati – hati kuselundupkan jariku ke dalam liang serambi lempit Ema. Dan setelah tahu bahwa liang serambi lempitnya masih basah, aku pun menyelundupkan rudal ngacengku ke dalam liang serambi lempit Ema…!

Ema terkaget – kaget setelah sadar bahwa aku sudah membenamkan rudalku ke liang serambi lempitnya lagi.

“Deeen… aiiih… Nak Wawaaan… kok balik lagi ke sini?” tanyanya setengah berbisik. Namun sorot wajahnya kelihatan ceria, pertanda hatinya senang.

“Iya… setelah tau Ema ini ibu tiriku, nafsuku malah semakin menjadi – jadi. Pengen menyetubuhi Ema lagi, “kilahku.

“Begitu ya? Hihihihiii… ayo deh. Biar sampai pagi Nak Wawan akan ema ladeni.”

Maka begitulah… dengan gencar aku mulai memenyetubuhi Ema Mimin lagi.

Tapi ketika ia merintih – rintih lagi, cepat kusumpal mulutnya dengan ciuman dan lumatan. Karena takut suaranya bisa membangunkan Ceu Euis lagi…

Esok siangnya aku pulang ke rumahku. hari ini adalah hari Sabtu. Jadi aku tidak ngantor.

Setibanya di rumah, ketika aku mau memasukkan mobilku ke dalam garasi, kulihat ibuku sedang mengelus – elus sedan baruku, hadiah dari Bu Laila itu.

Aku pun menghampiri Ibu. Mencium tangan dan sepasang pipinya.

“Ini mobil barumu Wan?” tanya Ibu sambil mengusap – usap sedan hitamku.

“Iya Bu. Hadiah dari bossku,” sahutku.

“Kata Wati, ini mobil mahal sekali harganya. Kenapa bossmu ngasih hadiah mobil semahal ini?”

“Mungkin karena prestasi kerjaku bagus aja Bu.”

“Baik hati bossmu itu ya. Bossmu itu laki – laki apa perempuan?”

“Perempuan.”

“Owh… siapa namanya?”

“Laila Bu.”

“Laila? “Ibu mengerutkan dahinya, “Nama lengkapnya apa?”

“Kenapa nanya nama lengkapnya? Mau didoain sama Ibu agar dia makin baik padaku?”

“Nggak. Mau tau aja.”

“Nama lengkapnya Laila Qodrati Bu.”

“Haaa?! “Ibu tampak kaget, “Ayahmu juga punya adik seibu berlainan ayah, yang namanya Laila Qodrati. Tapi sudah lebih dari duapuluh tahun tak pernah datang ke sini lagi. Entah marah atau kenapa.”

“O, begitu? Ibu tau nama ayahnya Laila yang adik berlainan ayah dengan ayahku itu? Nanti akan kuperiksa dalam data di kantorku.”

“Nama ayahnya itu Yahya bin Syahroni. Kalau bapaknya ayah namanya Mahmud bin Syamsuddin.”

“Waduh… Ibu sampai hafal nama binnya segala ya.”

“Orang buta sih kalau udah inget sesuatu, akan inget selamanya.”

“Iya. Hari Senin lusa akan kucek di data yang ada di kantorku.”

“Iya Wan. Orang yang bernama Laila Qodrati mungkin banyak. Tapi siapa tau dia itu bibimu sendiri.”

“Iya Bu.”

“Seandainya pun bossmu itu memang adik ayah, diem – diem aja. Gak usah membukanya.”

“Kenapa?” tanyaku heran.

“Takut mengganggu kariermu. Soalnya Laila itu gak mkau lagi nginjek rumah ini, entah kenapa. Mungkin dia marah atau malu punya saudara nikah sama perempuan buta.”

“Nanti aku periksa dulu datanya di kantor. Siapa tau Bu Laila bossku bukan adik almarhum Ayah.”

Biar bagaimana pembicaraan dengan Ibu itu membuat batinku tersentak kaget. Karena seandainya Bu Laila itu adi almarhum Ayah… bagaimana dengan kandungan yang berada di dalam perutnya itu?

Mungkin Ibu ada benarnya. Andai pun Bu Laila itu adik almarhum Ayah berlainan ayah, sebaiknya aku tidak membuka apa – apa di depan Bu Laila. Minimal aku harus menunggu sampai anakku yang berada di dalam perut Bu Laila itu lahir.

Tapi aku jadi tak sabaran. Aku harus mengetahuinya hari ini juga. Dan setelah melihat data di komputer kantor, seandainya pun Bu Laila memang adik almarhum Ayah… aku mau diam – diam saja.

Aku hanya masuk ke dalam rumah sebentar. Lalu cuci muka di washtafel kamar mandiku. Dan mengeluarkan lagi mobil lamaku.

Beberapa saat kemudian mobilku sudah kularikan menuju kantorku.

Dua orang satpam membuka pintu gerbang yang tertutup, karena hari Sabtu Minggu kantorku tutup.

Setelah turun dari mobilku, aku bergegas menuju lantai 5 dengan lift.

Kemudian aku masuk ke dalam ruang kerjaku dan langsung mengaktiokan PC yang meyimpan data – data semua orang yang memimpin dan bekerja di perusahaan ini.

Tentu saja nama Bu Laila ada di urutan paling atas.

Aku hanya membutuhkan nama ayahnya.

Setelah mengamati layar monitor, ada tulisan yang baru sekali ini kuperhatikan baik – baik. Bahwa nama lengkap boss sekaligus kekasihku itu adalah Laila Qodrati Yahya.

Berarti yang ibu katakan itu memang benar.

Bahwa Bu Laila itu adik almarhum Ayah…!

Lalu apa yang akan terjadi seandainya Bu Laila tahu siapa aku ini sebenarnya? Apakah dia akan membenciku. Karena seperti kata Ibu tadi, Bu Laila tak pernah lagi menginjak rumahku lebih dari duapuluh tahun?

Bersambung… Dengan sekuat mungkin aku berusaha untuk tidak membuka asal – usulku kepada Bu Laila. Setiap kali berkomunikasi lewat ponsel, aku selalu bersikap untuk tetap seromantis mungkin.

Di balik itu semua, diam – diam aku menyisihkan dana dalam batas yang diijinkan oleh Bu Laila. Dana itu kusimpan dalam rekening baru atas nama pribadiku.

Hal ini kulakukan agar seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan (setelah Bu Laila tahu asal – usulku, aku jangan sampai jatuh miskin).

Batinku memang resah gelisah menyimpan rahasia yang belum dibuka ini. Berbulan – bulan aku menyekap rahasia ini, dengan perasaan kuatir dan resah.

Dalam keadaan galau inilah datang tamu, seorang gadis cantik bernama Anneke, yang ingin menanam saham di dalam perusahaan punya Bu Laila ini.

Gadis bernama Anneke itu berterus terang bahwa ayahnya meninggal setahun yang lalu, sementara hartanya diwariskan pada Anneke semua. Dengan catatan bahwa Anneke bertanggungjawab untuk membiayai segala kebutuhan ibunya seumur hidupnya.

Aku merasa punya jalan untuk berjaga – jaga seandainya hubunganku dengan Bu Laila mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.

Maka dalam kunjungan Anneke yang ketiga kalinya ke kantorku, aku sudah punya keputusan yang masih tersimpan di dalam hati. Untuk membujat sebuah PT baru, di mana aku menjadi dirutnya, sementara Anneke akan kuposisikan sebagai komisaris utamanya.

Jadi investasi Anneke jangan bercampur baur dengan saham Bu Laila yang 70% itu (saham kehormatanku 30%).

Gadis cantik yang gerak – geriknya selalu membuatku kagum itu pun langsung menyetujuinya.

“Deal Bang. Yang terpenting aku ingin agar Bang Wawan mengatur dana itu, karena aku sendiri sama sekali tak punya pengalaman dalam berbisnis,” kata Anneke dengan senyum manis di bibir tipis mungilnya.

Senang hatiku mendengar persetujuannya itu.

Aku memang punya konsep bagus (menurutku) yang tidak pernah dilaksanakan dalam perusahaan milik Bu Laila ini. Sehingga PT baru itu nantinya takkan menjadi kompetitor perusahaan punya Bu Laila ini.

Lalu aku melakukan gerakan kilat. Merombak gudang peninggalan almarhum ayah Anneke, menjadi sebuah kantor. Kemudian kami merekrut puluhan tenaga untuk menjadi karyawan PT yang diriku menjadi dirutnya itu.

Arah usaha PT baru itu, ada deh. Pokoknya legal dan halal.

Dalam tempo 3 bulan saja aku berhasil mengaktifkan PT baru itu sampai pada “kecepatan normal”. Bahkan bisa dibilang di atas rata – rata.

Tapi tentu saja aku takkan meninggalkan PT punya Bu Laila itu.

Bahkan pada suatu hari aku mendapatkan panggilan di ponselku. Panggilan dari Bu Laila…!

Lalu :

“Sayaaang… udah lupa ya?”

“Masalah apa Beib? Ulang tahunmu dua bulan lagi kan?”

“Bukan masalah ulang tahun. Kandunganku ini… sekarang sudah genap tujuh bulan. Lupa ya? Kan aku bilang kalau kehamilanku sudah tujuh bulan, pangeranku boleh menggaul;iku lagi. Bahkan harus sering… supaya bayinya kuat nanti.”

“Oh… iyaaaa… iyaaa… berarti aku sudah boleh buka puasa dong. Terus di mana kita mau ketemuan?”

Kemudian Bu Laila menyebutkan nama sebuah hotel bintang lima. Dengan nomor kamarnya sekalian, karena ia sudah membooking kamar itu.

“Oke… aku segera meluncur ke hotel itu Beib,” ucapku di dekat mic ponselku.

“Aku pasti duluan tiba, karena sekarang sudah on the way menuju hotel itu. Langsaung aja ke kamar yang nomornya kusebutkan tadi ya,” sahut Bu Laila di speaker hapeku.

“Oke… oke… !”

Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam sedan hitamku, menuju hotel yang sudah disebutkan oleh Bu Laila tadi. Lalu masuk ke dalam lift dan kupijat angka 5, karena kamar yang sudah dibooking itu berada di lantai lima.

Pintu kamar itu sudah terbuka sedikit, sehingga aku bisa langsung masuk ke dalamnya.

Dan… aku tercengang menyaksikan Bu Laila yang mengenakan gaun hamil putih bersih itu.

“Beib… dirimu sangat berubah… jadi tampak jauh lebih muda dan… cantik sekali… !” seruku sambil memeluk lehernya, lalu menciumi sepasang pipinya, bibirnyha dan lehernya.

“Memang banyak yang bilang aku jadi kayak cewek duapuluhtahunan,” ucapnya sambil menjilati telingaku.

“Memang betul. Dan yang paling jelas… jadi sangat sangat dan sangat cantik sekaliii… oooh… dirimu memang bidadari yang dikirimkan dari langit, untuk menaburkan segala jenis kebahagiaan ke dalam jiwaku.”

“Hmmm… aku jadi merasa tersanjung Honey… eee… eeee… eeeeh… anak kita bergerak – gerak nih… mungkin senang karena ayahnya datang… coba pegang perutku…”

Aku pun berlutut di depan Bu Laila sambil menyelinapkan tanganku ke balik baju hamilnya. Lalu memegang permukaan perutnya yang sudah buncit. Dan… aku merasakannya… merasakan seperti ada yhang menggeliat di balik perutr buncit itu…!

“Kata orang, kalau ibu yang hamil jadi semakin cantik, biasanya bayi di dalam perutnya itu perempuan.”

“Memang iya, kata dokter bayinya cewek Honey.”

“Wow…! Semoga anakku secantik ibunya… !”

“Malah aku ingin lebih cantik dariku Honey…”

“Amiiin…”

Bu Laila tersenyum. Lalu melepaskan gaun hamil putihnya, sehingga tinggal bra yang masih melekat di badannya. Karena sejak tadi pun aku tahu bahwa ia tak mengenakan celana dalam di balik baju hamil itu.

Kemudian ia duduk di sofa sambil melepaskan beha putihnya.

“Sambil berlutut di karpet ya menyetubuhinya,” ucap Bu Laila sambil meletakkan behanya ke atas meja kecil di samping sofa putih itu.

“Oke. Biar bayinya jangan tergencet ya,” sahutku sambil mlepaskan dasi dan jasku. Kemudian juga kemeja dan celana panjangku. Semuanya itu kugantungkan di kapstok. Begitu juga celana dalamku.

Kemudian aku duduk bersila di atas karpet, di antara kedua paha Bu Laila yang sudah direntangkan di atas sofa itu.

Lalu kungangakan labia mayora Bu Laila, sehingga bagian dalamnya yang berwarna pink itu pun terbuka dan langsung kujilati dengan lahapnya.

Sambil berlutut kubenamkan batang kemaluanku ke dalam liang serambi lempit Bu Laila yang sudah sangat basah oleh air liurku itu.

Disambut dengan desahan nafas wanita yang sudah sangat berjasa bagi kehidupanku itu, “Aaaaahhhhh… udah berbulan – bulan rudalmu gak menyetubuhi serambi lempitku ya… rasanya udah kangen sekali… aaaaaaah…”

Lalu sambil berpegangan ke ujung sandaran sofa, aku pun mulai mengayun rudalku. Perlahan – lahan dulu.

“Bagaimana rasanya serambi lempit bumil?” tanya Bu Laila.

“Lebih enak Beib… lebih lengkap rasanya…” sahutku sambil mempercepat entotanku.

Makin lama makin lancar rudalku memenyetubuhi liang serambi lempit Bu Laila yang memang lebih sedap daripada sebelum hamil. Tapi aku tidak berani terlalu cepat memenyetubuhinya, mengingat bayi yang ada di dalam perutnya, jangan sampai tergoncang berlebihan.

Walau pun begitu tampak sekali Bu Laila sangat enjoy dengan entotanku ini. Maklum selama berbulan – bulan aku tak pernah “menengok” serambi lempitnya.

Cukup lama aku menyetubuhi Bu Laila sambil berlutut di karpet ini. Sehingga keringatku pun mulai berjatuhan ke karpet dan ke selangkangan sang Bidadari. Namun aku malah semakin asyik memenyetubuhinya sambil mengelus – elus kelentitnya yang tampak menonjol dan mengkilap itu.

Desahan dan rintihan Bu Laila pun mulai berlontaran dari mulutnya. “Sayang… ooooh… oooohhhhh… ini nikmat sekali Yaaaang… ooooohhhh… aku memang sudah lama kangen sekali padamu Yaaaang… oooooohhhhhh… Sayaaaaaang… oooooohhhhh… kayaknya aku takkan bisa hidup tanpamu Sayaaaang…

Setelah cukup lama aku menggenjot liang serambi lempit bumil cantik itu, akhirnya ia mengejang tegang. Disusul dengan kedutan – kedutan erotis di liang kemaluannya.

“Aaaaaaaaahhhhh… luar biasa nikmatnya Sayaaang… aaaaaaaah…” desah Bu Laila sambil meremas – remas bahuku.

“Tapi Wawan belum ejakulasi ya? Lanjutin dalam posisi doggy aja yok. Tapi di sana aja biar leluasa,” ucap Bu Laila lagi sambil menunjuk ke arah bed.

“Oke, “aku mengangguk sambil mencabut rudalku dari liang serambi lempit Bu Laila. Lalu mengangkat tubuhnya dengan hati – hati. Dan membopongnya… lalu meletakkannya di atas bed dengan hati – hati.

“Terima kasih Sayang,” ucap Bu Laila, “Bersamamu aku merasa seperti di kahyangan.“

Kemudian Bu Laila merangkak dan menunggingkan bokongnya, sehingga serambi lempit tembemnya tampak full di mataku, meski pun dia sedang menungging.

Lagi – lagi aku harus berlutut sambil membenamkan rudal ngacengku ke dalam liang serambi lempit Bu Laila. Tak sulit memasukkan batang kemaluanku kali ini. Karena liang serambi lempit Bu Laila masih becek.

Meski dalam posisi doggy, aku tak berani menampar – nampar pantat Bu Laila. Takut berakibat buruk pada anakku yang berada di dalam perutnya. Aku hanya berani meremas – remas sepasang buah pantatnya yang lumayan gede. Tak lebih dari itu.

Namun diperlakukan seperti itu pun Bu Laila tampak enjoy. Enjoy seklali.

Desahan dan rintihan histerisnya berkumandang lagi di dalam kamar hotel bintang lima ini. “Aaaaah… Saayaaang… aaaaaaah… aaaaaah Sayaaaang… aaaaaaaah… aku smeakin cinta padamu Sayaaaaaang…”

Memang posisi doggy ini cukup aman bagi bayi di dalam perut Bu Laila. Karena ia menungging, sementara perutnya tidak menyentuh kasur.

Tapi tak lama kemudian ia mengerang, “Yaaaang… aku mau orga lagiiii…”

Mendengar erangannya itu aku pun mempercepat entotanku. Dengan tujuan agar ejakulasi secepat mungkin. Karena aku merasa kasihan kepada Bu Laila kalau terlalu lama menyetubuhinya.

Maka ketika Bu Laila mengejang tegang sambil menahan nafasnya, rudalku pun mengejut – ngejut sambil memancarkan lendir kenikmatanku.

Crooootttt… croottt… croooottttt… crooooooootttttt… croooooooottttt… crottttt… crooootttt…!

Bu Laila pun rebah miring, sehingga rudalku terlepas dari jepitan liang serambi lempitnya.

Aku pun rebah miring di belakang Bu Laila, sambil mendekap pinggangnya yang basah oleh keringat.

“Spermamu banyak sekali Honey… sampai meluap gini nih dari serambi lempitku,” kata Bu Laila sambil mengusap – usap serambi lempitnya yang berlepotan spermaku.

“Kan selama ini puasa,” sahutku, “jadi sekalinya buka puasa, dimuntahin deh semua.”

Bu Laila tersenyum. Lalu turun dari bed dan melangkah ke kamar mandi. Mungkin mau bersih – bersih.

Sementara aku cukup dengan menyeka alat vitalku dengan kertas tissue basah yang tersedia di meja kecil dekat bed.

Tak lama kamudia Bu Lidia pun muncul dari kamarf mandi dan meraih gaun hamil putih itu dari kapstok, lalu mengenakannya.

Lalu menghampiriku yang sedang duduk bersila di atas bed, dengan hanya mengenakan celana dalam.

“Ada sesuatu yang ingin kusampaikan,” ucapku, “Tadinya aku tetap akan merahasiakan hal ini. Tapi rasanya rahasia ini seolah mau meledak di dadaku.”

“Rahasia apa Sayang?” Bu Laila membelai rambutku. Lalu mengecup pipiku.

“Ternyata aku harus manggil Tante padamu Beib.”

“Lho kenapa? Karena aku sudah tua menurutmu?”

“Bukan. Masalahnya dirimu ini adik ayah kandungku. Seibu tapi berlainan bapak.”

“Haaa? Memangnya siapa nama ayahmu?”

“Nama ayahku Zaelani bin Mahmud. Sedangkan ayah beib bernama Yahya bin Syahroni kan?”

“Haaa?! Jadi Wawanku tersayang ini anak Kang Zaelani?”

“Iya. Semoga Beib tidak marah padaku, karena aku pun baru – baru ini aja mengetahuinya. Bahwa ibu kandung Beib adalah nenekku. Berarti aku harus memanggil Tante padamu Beib.”

“Kalau di depan umum sih boleh aja manggil tante padaku. Tapi kalau sedang berduaan begini… aku ini sudah sepenuhnya menjadi milikmu Sayangku… !”

“Jadi Cinta tidak marah padaku setelah tau bahwa aku ini anak almarhum Zaelani?”

“Kok marah?! Aku malah jadi bertambah sayang padamu.”

“Soalnya kata ibuku, Laila itu sudah lebih dari duapuluh tahun tak mau menginjak rumah peninggalan ayahmu ini. Mungkin Laila itu benci karena ayahmu menikahi perempuan buta.”

“Astagaaa… bukan begitu masalahnya. Pada waktu masih ada, ayahmu mau minjam duit padaku. Tapi aku tau duit itu untuk kawin lagi. Karena itu aku gak mau ngasih pinjaman serupiah pun. Karena itu ayahmu marah sekali. Bahkan menyumpahiku… melarangku menginjak rumahnya lagi. Meski sedih, kuturuti aja larangan itu.

“Benar begitu permasalahannya?”

“Iya. Disumpah apa juga aku mau. Aku tak pernah membenci siapa pun di dunia ini.”

“Tapi ibuku mengira Cinta membencinya, karena kebutaannya itu.”

“Ya Tuhaaan… aku tidak sejahat itu Sayang. Nanti kalau sudah melahirkan aku akan mengunjungi rumahmu. Akan menjelaskan semuanya kepada ibumu. Mmm… ibumu bernama Hayati kan?”

“Betul.”

“Kalau sekarang gak sedang hamil begini sih aku akan menjumpai ibumu hari ini juga. Tapi karena sedang buncit begini, aku takut banyak pertanyaan nanti. Ohya… ibumu sudah diupayakan berobat ke dokter mata?”

“Sudah. Bahkan sempat dirawat di rumah sakit bersama kakakku yang juga tunanetra. Tapi hanya kakakku yang bisa dinormalkan matanya. Ibu sih tidak bisa diapa – apain lagi, kata dokter.”

“Kasihan ya. Padahal ibumu itu cantik Honey. Kulitnya juga putih cemerlang.”

“Jadi setelah tau asal – usulku, hubungan kita bisa berlanjuut terus?”

“Ya iyalah. Lagian kalau kita orang Tapanuli misalnya, marga kita sudah berbeda Honey. Jadi kalau aku bermarga Yahya, dirimu bermarga Mahmud.”

Kulingkarkan lenganku di leher Tante Laila sambil berbisik, “Aku tak rela kehilangan dirimu Cinta.”

“Apalagi aku,” sahutnya, “dirimu segalanya bagiku. Kalau kehilanganmu, sama aja dengan kehilangan nyawaku.”

Rasanya aku bisa bernafas lega lagi. Karena pengakuan tentang asal – usulku tidak mengubah pendirian Bu Laila sebenarnya tanteku sendiri itu. Dan yang paling melegakan, Bu Laila tak pernah membenci Ibu. Ia tidak mau datang ke rumah peninggalan Ayah hanya karena pernah dimarahi oleh Ayah dan dilarang menginjak rumah kami lagi.

Maka dengan penjelasan Bu alias Tante Laila itu, dadaku terasa plong. Berarti tidak ada masalah dalam hubungan rahasiaku dengannya. Bahkan menurut pengakuannya, dia malah tambah sayang padaku setelah tahu bahwa aku ini anak abangnya.

Ia bahkan berjanji untuk menjumpai Ibu kalau sudah melahirkan kelak. Kalau dalam keadaan hamil tua begitu, takut banyak pertanyaan yang ia tidak bisa menjawabnya secara jelas. Maklum bayi dalam kandungannya itu bukan berasal dari benih suaminya.

Akhirnya aku pun berterus terang, bahwa aku menjalankan dana investasi dari gadis yang lebih muda dariku itu. Karena kalau dimasukkan sebagai saham di perusahaan Bu Laila, takut jadi kusut di belakang hari.

Lagi – lagi aku mendengar jawaban yang melegakan. Bu Laila menganggap semuanya itu sebagai kemajuan bagi diriku. Yang penting perusahaan punyanya jangan sampai ditinggalkan.

Katakanlah masalah dengan Tante Laila itu sudah selesai dengan kesimpulan yang positif.

Namun yang membuat batinku limbung adalah Anneke itu.

Aku selalu bersikap sopan padanya. Karena biar bagaimana pun dia itu bossku. Dana yang ditanam di perusahaannya pun malah lebih besar daripada dana Tante Laila…!

Tapi sikap dan perilakunya sering memancing – mancing. Bahkan aku menarik kesimpulan bahwa Anneke itu ingin “ditembak” olehku. Tapi aku berusaha untuk tetap bersikap dengan fokus ke arah bisnis. Bukan karena dia tidak cantik. Dia memang cantik sekali, tapi aku takut salah fokus dan salah sasaran.

Karena itu, seandainya dia naksir pun padaku, biarlah dia yang nembak duluan. Baru kemudian aku akan menanggapinya.

Sampai pada suatu hari, dia menghubungi ponselku. Dia meminta agar aku datang ke rumahnya, karena ada masalah penting yang harus disampaikan padaku, katanya.

“Siap Non,” jawabku lewat handphone.

Lalu setelah jam kerjaku selesai, aku pun mandi dulu di kantor. Kemudian mengganti pakaian resmiku dengan pakaian casual. Hanya mengenakan celana jeans dan baju kaus hitam.

Aku memang belum pernah menginjak rumah Non Anneke (demikian selalu kuucapkan jika sedang berhadapan dengannya). Jadi sore ini akan menjadi kunjungan pertamaku ke rumahnya.

Beberapa saat kemudian aku sudah menggerakkan sedan hitamku, menuju alamat rumah Non Anneke.

Tadinya kupikir bakal mendatangi sebuah rumah megah dan mewah, karena meski usia Non Anneke baru 20an, dia itu tajir melintir. Bahkan aku yakin kalau dia mau, beli pesawat jet pribadi pun mampu.

Tapi ternyata dugaanku meleset. Rumah Non Anneke ada di dalam kompleks perumahan biasa – biasa saja. Rumahnya pun bukan rumah besar. Mungkin rumah type 70an.

Seorang wanita tua yang menurut taksiranku seorang pembokat, menghampiriku ketika aku sudah memasuki pekarangan rumah berpotongan minimalis dan tampak tertata dengan rapi itu.

“Non Anneke ada Bu?” tanyaku.

“Oh… ada. Tunggu sebentar ya,” sahut wanita itu yang lalu bergegas masuk ke dalam rumah.

Tak lama kemudian Non Anneke muncul di ambang pintu depan sambil berkata, “Ayo masuk Bang.”

Aku mengangguk sambil melangkah masuk ke ruang tamu. Ternyata meski dilihat dari luar rumah ini kelihatan sederhana, tapi setelah berada di ruang tamu, kulihat segala barang yang tampak di mataku barang impor semua. Termasuk hiasan dindingnya, semua berasal dari luar negeri.

“Begini kan keadaan rumahku. Bukan rumah besar dan megah.”

“Mmm… mungkin Non Anneke menerapkan pola hidup sederhana.”

“Iya. Mobilku aja harganya lebih murah daripada mobil Bang Wawan. Aku ingat terus pesan almarhum Papie sih. Bahwa kita jangan senang pamer harta, pamer barang – barang mahal dan sebagainya. Karena pajak sedang mengintai kita. Kalau kita terlalu lugu, kita takkan kebagian apa – apa. Makanya aku selalu berusaha untuk hidup sederhana.

“Tapi… Non kan masih punya ibu?!”

“Masih. Mamie tinggal di Jakarta dijagain oleh dua orang suster. Karena Mamie harus menjalani therapi dua kali seminggu.”

“Oh… ibunya sakit apa?”

“Mamie lumpuh sejak Papie masih ada. Karena itu surat wasiat yang ditulis oleh Papie berbunyi begitu. Bahwa semua harta Papie diwariskan padaku. Tapi aku berkewajiban untuk mengurus Mamie seumur hidup. Tentu aja aku akan mengurus Mamie. Meski Papie tidak meninggalkan harta pun aku wajib mengurus ibuku sendiri.

“Non Anneke punya saudara?” tanyaku.

“Nggak, “dia menggeleng, “aku ini anak tunggal Bang. Makanya Papie mewariskan seluruh hartanya padaku. Sedangkan aku masih anak ingusan dalam soal bisnis sih. “Ohya, Bang Wawan mau minum apa?”

“Gak usah ngerepotin Non. Tapi kalau ada sih minta kopi pahit aja.”

“Gak pakai gula sama sekali?”

“Iya Non.”

Lalu Non Anneke menoleh ke dalam sambil berseru, “Biii… bikinin kopi pahit… jangan pakai gula yaaa… !”

“Iya Non,” sahut pembokat dari dalam.

Kemudian Non Anneke menatapku lagi dengan senyum yang lain dari biasanya. “Bang… tau kenapa kuundang ke sini?”

“Maaf… belum tau Non.”

“Aku ingin bicara masalah pribadi kita berdua. Antara Anneke dengan Wawan. Bukan antara komisaris utama dengan direktur utama.”

“Siap Non,” sahutku dengan benak penuh tanda tanya.

“Aku ingin Abang bicara sejujur mungkin. Perasaan Abang padaku gimana?”

“Non Anneke seorang boss muda belia yang selalu bersikap apa adanya. Membuatku kerasan punya boss seperti Non ini.”

“Maksudku, bagaimana perasaan Abang padaku secara pribadi. Tidak ada hubungannya dengan masalah bisnis kita.“

Aku jadi linglung. Tak tahu apa yang harus kukatakan. Karena kalau salah ucap, bisa fatal akibatnya nanti.

Pembokat pun datang menghidangkan secangkir kopi panas dan sepiring croissant besar.

Setelah pembokat itu masuk lagi ke dalam, Non Anneke pindah duduknya ke sofa yang sedang kududuki. Duduk merapat padaku di samping kiriku.

“Harusnya cewek gak boleh nembak duluan. Tapi aku sudah tak kuat memendamnya terus di dalam hati. Mmmm… sejak pertama kali jumpa dengan Abang… aku… aku jatuh hati sama Abang,” ucapnya sambil memegang tangan kiriku dan meremasnya perlahan.

Aku menoleh ke arah Non Anneke. Menatap matanya yang indah, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis merekah. Lalu kupegang tangan yang sedang meremas tangan kiriku ini, dengan kedua tanganku.

“Non… sebenarnya aku juga punya perasaan yang sama. Tapi aku tidak berani mengatakannya duluan. Karena biar bagaimana pun Non ini bossku.”

“Jadi Abang juga suka padaku?” tanyanya setengah berbisik.

“Iya Non…”

“Oooh Bang… aku bahagia sekali mendengarnya. Mulai saat ini jangan anggap aku boss Abang lagi. Aku ini… si Anneke ini… jatuh cinta kepada Abang… dan kalau Abang percaya, inilah cinta pertamaku Bang…”

Aku menatapnya terus… menatap bibirnya juga yang bergerak perlahan… mendekat ke arah bibirku. Maka spontan kutanggapi tanpa berbasa – basi lagi. Memagut bibirnya sambil melingkarkan lenganku di lehernya.

Ketika aku melumat bibir sensualnya, ia menyambutku dengan lumatan juga.

Lalu… lama kami saling lumat di atas sofa ini.

Sampai akhirnya terlepas. Disusul dengan ucapan Non Anneke perlahan.. “Terima kasih Bang. Aku bahagia sekali, karena ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi… Abang belum punya pacar?”

“Sudah,” sahutku, “Pacarku cantik sekali. Dan sekarang dia duduk di sebelah kiriku.”

“Hihihihiii… ternyata Bang Wawan suka bercanda juga ya. ‘

“Terus… keinginan Non selanjutnya bagaimana?”

“Kita jadian Bang. Aku tidak menuntut apa – apa dari Abang. Aku hanya ingin disayang dan dicintai oleh Abang.”

Aku cuma mengangguk perlahan.

Aku punya banyak perempuan yang bisa kuperlakukan seperti kepada istriku sendiri. Tapi semuanya lebih tua dariku. Sedangkan Anneke ini lebih muda 3 tahun dariku. Mungkin dialah yang paling tepat untuk kujadikan calon istriku. Sementara yang lain – lain tetap akan kujadikan kekasih gelapku.

“Bang… aku sudah berjanji bahwa aku akan menyerahkan semuanya kepada lelaki yang kucintai. Karena itu aku mohon, malam ini nginap di sini aja ya Bang. Si Bibi sebentar lagi juga pulang. Jadi hanya akan ada kita berdua di rumah ini.”

“Jadi kalau malam Non sendirian aja di rumah ini?”

“Iya Bang.”

“Waaah… Non ini bukan golongan menengah ke bawah. Apa gak takut tidur sendirian terus? Bagaimana kalau ketahuan sama orang jahat?”

“Perumahan ini sangat aman Bang. Tiap malam para petugas keamanan selalu patroli ke setiap pelosok perumahan ini. Lagian aku punya pistol legal dan ada izinnya kok Bang. Tapi mudah – mudahan pistol itu takkan pernah kugunakan. Asalkan aman terus seperti sekarang ini.”

“Nanti sebaiknya dipikirkan juga untuk menggaji security yang bisa menjaga rumah ini siang malam.”

“Kan sudah kubilang Bang. Aku tak mau kelihatan sebagai orang kaya di sini. Kalau menggaji security atau bodyguard segala, bisa jadi sorotan orang – orang nanti.”

“Nanti aku akan carikan rumah di kompleks yang ngepas dengan level Non ya.”

“Silakan aja. Tapi jangan yang terlalu megah. Yang seperti air tenang tapi menghanyutkan. Ohya… tadi Abang belum jawab… malam ini nginep di sini aja ya.”

“Tidur seranjang sama Non?” tanyaku yang niatnya cuma bercanda saja.

Tapi Anneke memegang tanganku sambil berbisik, “Iya. Aku ingin tau semuanya. Sudah waktunya juga kan? Usiaku sudah duapuluh tahun sekarang.”

“Maksudnya sampai hubungan sex segala?” tanyaku ingin kepastian darinya.

“Iya Abang Sayang. Aku sudah berjanji di dalam hati, bahwa keperawananku akan kuberikan kepada orang yang benar – benar kucintai.”

“Wah… ini benar – benar surprise buatku Non.”

“Tapi ingat ya Bang… aku ingin Abang jadi suamiku kelak.”

“Bisa. Tapi jangan buru – buru ya Non.”

“Iyalah. Aku juga gak ingin buru – buru. Nikah sih setahun dua tahun lagi juga gak apa – apa. Tapi aku sudah gak sabar… ingin merasakan hubungan seperti suami istri malam ini juga.”

“Non benar – benar masih perawan?”

“Cailaaaa… masa Abang gak percaya padaku? Nanti kan ABang bisa buktikan sendiri. Kalau aku tidak perawan lagi, ludahi deh mukaku nanti.”

Tak lama kemudian si bibi pembokat itu muncul sambil membawa rantang entah berisi apa. “Bibi mau pulang ya Non.”

“Iya Bi. Udah bawa nasi dan lauk pauknya?”

“Sudah Non… ini…” sahut si Bibi sambil membuka tutup rantangnya dan memperlihatkan isinya kepada Anneke.

“Iya, iya. Besok datengnya agak pagian ya Bi. Mau nyuruh ke pasar dulu.”

“Baik Non.”

Kemudian pembokat itu berlalu.

Anneke pun bangkit dari sofa. Melangkah ke pintu depan untuk menguncinya.

“Nah sekarang aman sudah. Kita mau melakukan apa pun bisa,” ucap Anneke sambil menghampiriku. Dan memegang pergelangan tanganku, “Di kamarku aja yok. Biar lebih nyaman.”

Aku mengikutinya saja. Sambil ingin tahu apa yang akan dilakukannya nanti.

Ternyata… setibanya di dalam kamar, Anneke melepaskan kancing – kancing gaun rumahnya yang berwarna biru muda itu. Ternyata di balik gaun yang kancingnya berderet di depan itu, ia tidak mengenakan beha mau pun celana dalam. Sehingga aku langsung bisa menyaksikan keindahan sepasang toketnya yang lumayan gede dan keindahan serambi lempitnya yang bersih dari jembut…

Tentu saja nafsu birahiku langsung bangkit dan bergejolak.

Terus terang saja, aku merasa seolah sedang bermimpi menghadapi kenyataan ini. Memang Anneke cantik, mulus dan sangat membangkitkan nafsu birahiku. Tapi tadinya aku tak pernah membayangkan hubunganku dengannya harus berubah. Bukan sekadar seorang dirut dengan bossnya. Karena biar bagaimana pun juga seorang direktur utama itu masih tergolong pegawai juga.

Dan kini Sang Boss yang cantik rupawan itu berkata dengan suaranya yang semakin membuatku serasa bermimpi :

“Sejak berjumpa dengan Bang Wawan, aku mengkhayalkannya. Lalu memikirkannya selama beberapa bulan. Akhirnya aku memutuskan, bahwa Bang Wawan harus jadi milikku. Dan aku harus menjadi milik Bang Wawan.”

Lalu tubuh putih mulus dan sesegar kuncup bunga yang baru mau mekar itu pun berada dalam pelukanku. Harum parfum mahal pun semakin tersiar ke penciumanku. Lalu… dalam keadaan yang sudah sama – sama telanjang, kubopong tubuh mulus dan hangat itu ke atas bed mahalnya. Di situlah aku mulai beraksi sebagai seorang lelaki sejati.

Tampaknya Non Anneke memang belum pernah disentuh oleh cowok. Itu bisa kubuktikan dengan senantiasa agak tersentak ketika aku menyentuh titik – titik pekanya. Dan ketika aku menghimpitnya sambil melumat bibir sensualnya, tubuhnya langsung menghangat. Terlebih ketika aku mencium bibir sensual itu sambil memainkan pentil toketnya, ia bereaksi dengan mendekap pinggangku erat – erat.

Pada saat berikutnya aku berbisik ke dekat telinganya, “Aku harus menjilati serambi lempit Non dulu, supaya pada waktunya penetrasi nanti seperti ada pelumasnya.”

Anneke menatapku dengan sorot pasrah. Lalu berkata perlahan, “Lakukanlah apa yang harus Abang lakukan…”

Setelah mendengar ucapannya itu aku langsung melorot turun. Sehingga wajahku berhadapan dengan kemaluan Anneke yang begini bersih dan rapatnya.

Sebagai langkah pertama, kudorong paha putih mulusnya agar merenggang selebar mungkin. Kemudian kuciumi serambi lempit yang masih rapat itu. Lalu kungangakan selebar mungkin, sehingga bagian dalamnya yang berwarna pink itu kelihatan jelas. Kelentitnya pun tampak imut – imut di bagian atasnya.

Ujung lidahku pun mulai beraksi. Menyapu – nyapu bagian yang agak basah dan berwarna pink itu.

Anneke mulai menggeliat – geliat dengan nafas yang tertahan – tahan. Bahkan lalu terdengar desahan dan rengekan manjanya, “Aaaa… aaaaa… aaaaaah… Baaaaang… ini geli – geli enak Baaang… rasanya sampai menggetarkan sekujur tubuhku… seperti mengalir dari ujung kaki sampai kepalaku… ooooohhhh…

Ternyata begini ya rasanya… ooooohhhh… Baaaang… aku makin cinta sama Abaaaaang… aku cinta Bang Wawaaaan… cintaaaa… ooooooohhhhh… baru sekali ini aku merasakan semuanya ini Baaaang… dudududuuuuhhh… makin lama makin enak Baaaang… iyaa Baaang… jilatin terus Baaang… enak sekali…

Aku tidak menanggapinya. Karena mulutku sedang “sibuk” menjilati bagian yang berwarna pink itu. Lalu lidahku menjilati kelentitnya dengan lahap sekali.

Kali ini Anneke buka cuma menggeliat tapi juga terkejang – kejang, dengan jari kakinya yang menukik – nukik. Seperti menahan sesuatu yang luar biasa. Tentu saja luar biasa nikmatnya. Karena clitoris alias kelentit ini bagian paling peka pada kemaluan wanita.

Sementara itu aku terus – terusan mengalirkan air liurku ke arah bagian yang berwarna pink itu.

Cukup lama aku melakukan semua ini.

Sampai terasa bagian dalam serambi lempit Anneke ini sudah cukup basah dan siap untuk diterobos rudalku.

Lalu kujauhkan mulutku dari serambi lempit Anneke. Dan kucolek – colekkan moncong rudalku di mulut serambi lempit Anneka yang sudah basah kuyup oleh air liurku. Setelah terasa ngepas, aku pun mendorong rudalku sekuat tenaga. Tapi… stttt… malah meleset ke bawah. Kuletakkan lagi moncong senjata kejantananku pada titik yang masih rapat itu.

Pada titik itulah moncong rudalku diletakkan. Kemudian aku mengumpulkan tenagaku untuk mendorong rudalku lebih kuat dari tadi.

Iyaaaa… sedikit demi sedikit rudalku mulai melesak masuk.

“Kalau sakit tahan dikit Non,” ucapku sambil mengumpulkan tenaga lagi untuk mendorong batang kemaluanku agar masuk lebih dalam lagi.

Hebatnya Anneke itu, masih bisa tersenyum manis. Tidak kelihatan sedikit pun kalau dia merasa sakit. Padahal rudalku sudah hampir separohnya masuk ke dalam liang serambi lempitnya.

Tapi aku tetap ingin membuat Anneke senyaman mungkin. Maka kutarik rudalku perlahan dan kudorong lagi agak kuat. Tarik lagi perlahan, dorong lagi lebih kuat. Memang sempit sekali liang serambi lempit bossku ini. Sehingga aku belum leluasa untuk benar – benar memenyetubuhinya.

Sementara itu Anneke cuma terdiam pasrah. Terkadang mata beningnya terpejam, terkadang menatapku dengan sorot pasrah. Sesekali ia menggeliat dan memeluk leherku. Terkadang juga ia mengejang dengan mata terpejam.

Namun lama kelamaan liang serambi lempit Anneke beradaptasi dengan ukuran batang kemaluanku. Sehingga aku mulai lancar memenyetubuhinya dalam kecepatan normal.

Saat itulah Anneke mulai mendesah dan merengek manja dan terdengar erotis di telingaku.

“Aaaaaa… aaaaa… aaaaaah… Baaang… ini… enak sekali Baaang… oooooh… ini Abang sudah menyetubuhiku kan?”

“Iya Non… hhh… tubuh kita sedang bersatu… hhh… makanya disebut bersetubuh,” sahutku terengah.

Dalam keadaan seperti ini, aku masih menyempatkan diri mengangkat badanku, lalu memperhatikan rudalku yang sedang maju mundur di dalam serambi lempit Anneke. Ternyata memang ada garis – garis darah di badan rudalku. Darah perawan Anneke.

Memang sejak melihat bentuknya dari dekat sebelum menjilati serambi lempitnya tadi, aku sudah yakin bahwa Anneke masih perawan. Namun saksi konvensional adalah darah perawan itu.

Maka sambil memenyetubuhinya, aku masih sempat membisiki telinga Anneke, “Non memang masih perawan… aku sangat menghormati hal itu.”

Anneke pun menyahut lirih, “Ya iyalah… tapi sekarang aku gak perawan lagi Bang.”

“Menyesal karena keperawanan Non sudah kuambil?” tanyaku sambil menghentikan entotanku sejenak.

“Nggak. Aku ikhlas. Kan aku sendiri yang menginginkannya. Yang penting Abang tetap sayang padaku di kemudian hari ya…”

“Sampai kapan pun aku akan tetap menyayangimu Non,” ucapku sambil melanjutkan lagi ayunan rudalku.

Anneke pun menciumi bibirku dengan lahapnya. Setelah ciumannya terhenti, giliran aku yang menjilati lehernya disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Sementara tangan kiriku beraksi juga, untuk meremas – remas toket kanannya dengan lembut.

Ya segalanya kulakukan dengan lembut, karena Anneke ini bukan sekadar sudah jadian denganku, tapi juga bossku. Boss yang punya kapital jauh lebih gede daripada Tante Laila.

Desahan dan rintihan histeris Anneke pun mberlontaran lagi dari mulutnya, “Aaaaah… aaaaaaaah… Bang… aku cinta kamu Baaaang… aaaaaah… ini… luar biasa enaknyaaa… sampai kayak melayang – layang gini… aaaaaaah… aaaaaaa… aaaaaahhhh… aaaaaaah…”

Tidak seperti biasanya, kali ini aku punya niat yang berbeda. Niat untuk menghamili Anneke. Karena itu aku tak usah terlalu berlama – lama menyetubuhinya. Bahkan aku ingin ejakulasiku berbarengan dengan orgasmenya.

Kenapa aku ingin menghamilinya?

Supaya dia minta secepatnya kunikahi. Lalu aku bakal hidup sejahtera kelak… setelah menjadi suaminya.

Karena itu diam – diam aku “mengintai” gejalanya. Gejala perempuan yang sudah mendekati orgasme.

Keringatku pun sudah bercucuran. Berbaur dengan keringat Anneke.

Beberapa saat kemudian, dia mulai berkelojotan. “Baaaaang… ooooohhh Baaaang… ini… ini… serambi lempitku seperti mau pipis… susah nahannya… aaaaah… “rintihnya.

“Bukan mau pipis… itu pertanda mau orgasme. Lepasin aja, gak usah ditahan – tahan Non…” sahutku sambil mempercepat entotanku.

rudalku maju mundur dengan cepatnya di dalam liang serambi lempit yang sudah licin tapi tetap terasa sangat sempit ini… sampai pada suatu saat, ketika Anneke mengejang tegang, kutancapkan rudal ngacengku sedalam mungkin.

Sedetik kemudian aku merasakan sesuatu yang sangat nikmat ini. Bahwa liang serambi lempit Anneke berkedut – kedut kencang… disusul oleh kejutan – kejutan rudalku sendiri… rudal yang sedang memuntahkan lendir kenikmatanku.

Crottttt… crooooooootttttt… crooottttt… croooottttt… crotttt… crooootttttttt…!

Aku terkapar di atas perut Anneke. Dengan keringat yang semakin membanjir.

“Abang Sayang… terima kasih ya. Luar biasa nikmatnya,” bisiknya. Disusul dengan pagutannya di bibirku.

“Terima kasih juga karena Non sudah mempercayakan semua ini padaku,” sahutku yang diikuti dengan tarikan rudalku sampai terlepas dari liang serambi lempit sempitnya. Spontan aku memandang ke bawah bokong Anneke. Memandang saksi keperawanan bossku yang masih sangat muda itu.

Darah perawan itu…!

Anneke turun dari bed dan bergegas membuka salah satu lemarinya.

Tadinya kupikir ia akan mengeluarkan kain seprai baru, untuk mengganti kain seprai yang sudah terciprati darah perawannya. Tapi ternyata bukan. Ia mengeluakan kotak obat – obatan. Lalu dikeluarkannya se-strip pil kontrasepsi…!

Diperlihatkannya pil – pil itu pdaku sambil berkata, “Aku harus menelan pil anti hamil ini biar jangan hamil dulu, ya Bang.”

“Iya. Itu lebih baik,” sahutku sambil tersenyum. Padahal aku merasa kecewa atas kesiagaannya itu.

“Jadi kita bebas bersetubuh sesering apa pun, tanpa takut hamil,” ucapnya sambil mengajakku mandi sore.

Di dalam kamar mandi yang peralatannya serba mutakhir itu, Anneke berkata, “Kalau Abang merasa di rumah ini kurang nyaman, silakan aja cari rumah yang dianggap aman dan nyaman. Nanti kalau sudah ada yang cocok, tinggal call aku aja sekalian kirim nomor rekening penjual rumah itu. Aku akan transfer dananya saat itu juga.

Tapi Non kan harus hadir pada saat transaksi, untuk menandatangani akte jual beli …”

“AJBnya atas nama Abang aja.”

“Iya Beib…”

“Abang… aku suka dipanggil beib… sekarang jangan formal – formalan lagi. Kita kan sudah jadian.”

Alamku jadi indah. Segalanya terasa indah. Membuatku semakin bersemangat untuk menjalani kehidupan ini. Bersemangat untuk melaksanakan tugas – tugasku, bersemangat pula untuk memainkan peranku sebagai seorang lelaki jantan. Baik untuk Ibu, untuk Wati, untuk Tante Laila, untuk Ema Mimin, untuk Euis dan terutama untuk Anneke Tercinta.

Hampir tiap hari aku “berjuang” untuk memuasi hasrat birahi Anneke. Karena dia sudah ketagihan untuk merasakan nikmatnya hubungan sex denganku.

Rumah pilihanku pun sudah dibayar lunas atas namaku sendiri, meski dananya ditransfer oleh Anneke langsung ke pihak developer. Karena rumah itu terletak di kompleks perumahan paling elit di kotaku.

Rumah itu pun sering dijadikan ajang pergumulan birahiku dengan Anneke.

Demikian seringnya aku menggauli Anneke, seolah seorang suami menunaikan kewajibannya untuk memberi nafkah batin kepada istrinya.

Anneke memang semakin mesra sikapnya. Bahkan terkadang seperti tidak rela berjauhan denganku.

Bahkan pada suatu hari Anneke mengajakku untuk menemui ibunya di Jakarta.

“Mau ngapain Beib? Mau pinton aku sebagai calon suami?” tanyaku.

“Jangan dulu. Untuk sementara aku hanya akan memperkenalkan Abang sebagai direktur utama perusahaanku. Lantas kalau aku pulang sendirian ke Jakarta lagi, aku akan nanya sama Mamie. Apakah Mamie setuju kalau Abang dijadikan calon suamiku? Kalau Mamie setuju kan aku tinggal mendengarkan petunjuknya saja.

“Kalau mamienya gak setuju gimana?”

“Aku akan berusaha merayunya tiap hari lewat telepon.”

“Lalu kalau maminya tetap gak setuju?”

Anneke memegang sepasang bahuku. Menatapku dengan senyum di bibir sensualnya. Lalu berkata, “Biar bumi terbelah dua, cintaku padamu takkan bisa padam Bang. Kalau Mamie tetap tidak setuju, kita kawin aja diam – diam. Oke? Jadi jangan gentar Bang. Lagian Mamie sangat sayang padaku. Aku yakin Mamie bakal setuju juga nanti.

“Oke. Terus mau berangkat sekarang juga?”

“Iya Abang Sayang. Sekarang kan malam Sabtu. Kita weekend di rumah Mamie aja yaaa…”

“Mau pakai mobil mana? Mobil Non apa mobilku?”

“Mobil Abang aja. Mobilku kan cuma mobil Jepang Bang. Harganya juga kurang dari separoh mobil Abang. Pasti mobil Abang lebih nyaman didudukinnya.”

“Kalau Non mau, beli pesawat jet pribadi juga bisa. Tapi Non kan gak mau pamer harta. Aku juga punya mobil itu bukan dapet beli. Ada yang ngasih Non.”

“Siapa yang ngasih?”

“Owner perusahaan lama Non.”

“Kok bisa ngasih hadiah semahal itu?”

“Kebetulan waktu itu perusahaan mendapatkan profit yang cukup besar. Dan itu hasil kerjaku. Makanya aku dikasih reward mobil itu.”

“Aku malah belum ngasih hadiah apa – apa sama Abang.”

“Sudah. Masa lupa Beib?”

“Apa?”

“Sesuatu yang jauh lebih mahal daripada mobilku itu.”

“Hihihiii… serambi lempitku maksud Abang?”

“Iya. Itu tak ternilai harganya Non. Dan aku bangga bisa memiliki dirimu Beib.”

“Aku juga bangga punya Abang, emwuaaaaah…” ucapnya diakhiri dengan kecupan mesra di pipiku.

“Ohya… rumah mau dikunci aja?”

“Nggak. Si Bibi sudah disuruh tidur di sini sampai kita pulang dari Jakarta nanti.”

“Owh… ya udah.”

“Udah titip juga sama security perumahan.”

Beberapa saat kemudian Anneke sudah duduk di dalam mobilku yang kukemudikan sendiri.

“Di rumah Mamie sih gak bisa ML Bang. Soalnya aku pasti bobo sama Mamie.” “Nggak apa. Puasa dua tiga hari aja sih gakpapa.”

Lalu sedan hitamku meluncur terus di jalan aspal.

Kebetulan jalan sedang sepi, karena aku sengaja memilih jalan tikus untuk mencapai pintu tol.

“Kuperkirakan kita tiba di Jakarta tengah malam. Gak apa – apa?” “Gak apa – apa. Mamie sih suka tidur setelah lewat jam duabelas malam. Sebelum ngantuk benar sih nancep aja di depan tivi.”

“Beliau pakai kursi roda?”

“Iya. Tapi kursi rodanya sudah pakai remote control. Jadi gak terlalu merepotkan kedua suster yang merawatnya. Cuma waktu mau naik atau turun dari kursi roda, harus dibantu oleh suster.”

“Usianya sudah tua?” “Belum tua – tua banget Bang. Mamie melahirkan aku waktu usianya baru delapanbelas.” “Jadi sekarang baru tigapuluhdelapan tahun usianya?”

“Ya, kira – kira segitulah. Abang kan sudah tau umurku. Jadi umur Mamie tinggal nambahin delapanbelas aja kan?”

“Ayahmu meninggal karena apa Beib?”

“Serangan jantung Bang. Papie meninggal ketika usianya sudah limapuluh lebih Bang. Perbedaan usia Papie dengan Mamie jauh sih. Maklum Papie sudah kaya raya sejak masih bujangan. Maka dengan mudah aja almarhum bisa mendapatkan Mamie yang saat itu baru berumur tujuhbelas.”

Aku cuma tersenyum.

Sedan hitamku meluncur terus di jalan tol yang kebetulan tidak padat menuju Jakarta sih. Tapi yang dari Jakarta menuju Padaleunyi kelihatan padat sekali. Maklum malam weekend.

Dua jam kemudian mobilku sudah memasuki pekarangan rumah besar dan antik, tapi tetap tidak menunjukkan rumah orang kaya raya. Mungkin karena almarhum ayah Anneke telah melaksanakan pola hidup sederhana. Padahal menurut penuturan Anneke sendiri, sewaktu ayahnya masih hidup, perusahaannya bukan hanya ada di Indonesia.

Seorang petugas security menghampiri mobilku. Pada saat yang sama Anneke turun dari depan kiri mobilku. Orang security itu kaget, “Ooooh… Selamat malam Non Boss. Kirain siapa.”

Anneke hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu mengajakku masuk ke dalam rumah bergaya Italia tempo doeloe itu.

Seorang wanita setengah baya tampak duduk di kursi roda yang menghadap ke arah pesawat televisi. Dua orang suster duduk di sofa yang berdampingan dengan kursi roda itu.

“Mamie… !” seru Anneke dengan gaya manja menghampiri wanita yang mamienya itu. Lalu ia memnbungkuk dan cipika – cipiki dengan mamienya.

“Kok tengah malam gini datangnya?” tanya wanita itu. “Kan sekalian mau weekend di sini, “Anneke berdiri di belakang kursi roda itu sambil memegang sepasang bahu mamienya. “Sama siapa itu?” tanya sang Mamie.

“Bang Darmawan. Direktur utama di perusahaan kita Mam,” sahut Anneke, “Kenalin dulu mamieku Bang.”

Aku mengangguk dan berlutut di depan kursi roda itu, untuk mencium tangan wanita setengah baya itu.

“Waduuuh… dirutnya kok masih sangat muda dan ganteng gini Anne. Apa dia bukannya pacar kamu?” tanya wanita itu sambil tengadah, menatap putrinya yang sedang berdiri di belakang kursi rodanya.

“Hush sembarangan Mamie ni,” sahut Anneke, “Bang Darmawan ini sebelum direkrut ke perusahaan kita pun sudah jadi dirut di perusahaan lain. Perusahaan punya tantenya. Jadi sekarang jabatannya rangkap dua. Jadi dirut di perusahaan tantenya sekaligus jadi dirut di perusahaan kita.”

Aku pun berdiri dan duduk di sofa yang berhadapan dengan kursi roda mamienya Anneke itu.

“Mam… aku mau ke toilet dulu ya…” ucap Anneke sambil menoleh padaku, “Mau ke toilet dulu ya Bang.”

Aku dan mamienya Anneke mengangguk. Lalu wanita setengah baya itu menoleh ke arah dua suster yang duduk di sofa samping kursi roda itu. “Kalian kalau udah ngantuk pada tidur aja gih. Biar aku diurus sama anakku aja.”

Kedua suster itu langsung berdiri, kemudian mengangguk sopan padaku dan melangkah ke belakang.

“Eh, siapa namanya tadi? Darmawan ya?” tanya wanita setengah baya itu sambil memandangku.

“Mmm… panggil Wawan aja Tante.”

“Sini sebentar,” ucapnya sambil menggapai – gapaikan tangannya, “Ada yang mau tante omongin.”

Aku pun segera mendekati mamienya Anneke itu. Dia pun berkata setengah berbisik, “Lima harian lagi ke sini ya. Jangan sama Anneke. Ada yang mau tante sampaikan.”

“Siap Tante.”

Lalu ia mengeluarkan handphone dari saku baju piyama putihnya, “Masukkin nomor handphone Wawan ke hape tante. Biar nanti bisa ngomong leluasa lewat hape.”

Aku menurut saja. Kupijat nomorku dari handphone punya mamienya Anneke. Hapeku yang disilent pun bergetar. Jadi aku bisa memasukkan nomor mamienya Anneke juga. Kemudian kusaving nama dan nomor hapeku di handphone mamienya Anneke.

Setelah memasukkan kembali hape ke dalam saku baju piyamanya, wanita itu menyimpan telunjuk di bibirnya sambil berkata setengah berbisik, “Jangan bilang apa – apa sama Anneke ya.”

“Siap Tante.”

Tak lama kemudian Anneke muncul lagi di ruang keluarga itu. Dan langsung menghampiriku, “Tasnya bawa ke sini Bang. Aku mau nunjukin kamar Abang nanti di mana.”

“Iya,” sahutku, “sebentar mau diambil dari mobil dulu. Sekalian sama tas Non juga ambil?”

“Oh iya Bang. Maaf ya…”

Setelah mengambil tas pakaianku dan tas pakaian Anneke, aku tidak langsung tidur. Aku ikut mendengarkan obrolan Anneke dan ibunya. Belakangan aku mendengar nama mamienya Anneke itu Martini (seperti merk minuman beralkohol ya?).

“Bagaimana hasil therapi yang Mamie ikuti selama ini? Ada perkembangannya?” tanya Anneke pada suatu saat.

“Ada Sayang,” sahut Tante Martini, “Kaki mamie jadi bisa digerakkan. Lutut pun kalau dipegang jadi ada rasanya. Tidak mati rasa seperti dahulu lagi. Bahkan berdiri pun mamie sudah bisa. Tapi masih lemes lututnya. Mamie tak mau memaksakannya. Kata therapis dari Amerika itu, mamie harus sabar. Katanya sih lama – kelamaan juga mamie bakal bisa jalan lagi.

”Iya, Mamie harus sabar. Penyembuhannya harus step by step,” ucap Anneke. Kemudian ia menoleh padaku, “Eh Bang… kalau mau istirahat, silakan aja istirahat duluan.”

Aku mengangguk lalu bangkit dan agak membungkuk ke arah Tante Martini, “Mohon izin mau istirahat dulu Tante.”

Lalu aku masuk ke dalam kamar yang sudah diberikan oleh Anneke. Dan tidur nyanyak tanpa mimpi.

Tiada hal penting selama dua malam menginap di rumah mamienya Anneke itu.

Minggu sore pun kami pulang ke kota kami.

Dalam perjalanan pulang dari Jakarta itu Anneke berkata, “Kayaknya Mamie bakal setuju kalau kita jadi pasangan suami – istri kelak.”

”Emangnya udah terus terang sama beliau bahwa kita sudah saling jatuh cinta?” tanyaku.

“Belum. Mamie sih jangan dibawa buru – buru Honey. Segalanya harus santai dan matang. Nanti aja kalau kita udah matang dan siap untuk menikah, barulah aku akan mengatakannya.”

“Iya terserah bidadariku aja. Aku pun tidak ingin terburu – buru.”

“Nah cowok seperti Abang ini yang kucita – citakan sejak dahulu. Cowok yang tak pernah memaksakan kehendak… emwuaaaaahhh… !” ucap Anneke yang diakhiri dengan kecupan mesranya di pipi kiriku.

Anneke tidak tahu bahwa handphoneku yang sedang disilent ini bergetar vibratornya. Cuma satu kali bergetar. Dan ketika kami membelok ke rest area, untuk istirahat dan mengisi perut, aku langsung ke toilet dulu untuk membuka isi WA yang ditandai dengan satu kali getaran itu tadi.

Di toilet kubuka WA itu yang ternyata dari Tante Laila. Isinya :-Sayangku… anak kita sudah lahir. Cantik sekali. Suamiku juga tampak senang, meski dia tau bahwa anak itu bukan anaknya. Untuk menyenangkan hatinya kuminta agar dia memberi nama. Maka anak itu pun diberinya nama Winiarti. Gak apa – apa kan?-

Aku merasa senang campur haru. Lalu membalasnya :-Aku bahagia sekali Sayang. Soal nama, itu sudah cukup bagus. Lalu kapan aku harus menengok anak kita itu?-

Tante Laila :-Santai dulu ya Sayang. Jangan terburu – buru. Percayakanlah aku akan merawat anakmu dengan penuh kasih sayang. Aku juga sangat bahagia dan merasa sudah menjadi wanita yang lengkap. Nanti kalau anak kita sudah bisa dibawa ke luar, aku akan ngajak ketemuan lagi di hotel yang sering kita pakai itu. –

Setelah memasukkan kembali hape ke saku celana jeansku, aku pun keluar dari toilet. menghampiri Anneke yang sudah duduk di resto dalam kompleks rest area jalan tol itu.

Seusai mengisi perut, kami lanjutkan lagi perjalanan pulang itu.

Setelah tiba di kota kami, kuantarkan dulu Anneke ke rumahnya, kemudian aku pun pulang.

Di rumah, di dalam kamarku, terawanganku melayang – layang tak menentu. Teringat pada Tante Laila yang sudah melahirkan anakku, teringat pula permintaan Tante Martini yang memintaku untuk datang lagi ke rumahnya. Waktu itu hari Jumat malam, Tante Martini meminta agar empat hari lagi aku datang ke rumahnya tanpa Anneke.

Masalahnya, apa tujuan Tante Martini yang memintaku datang lagi ke rumahnya tanta anaknya? Apakah ada rahasia tentang Anneke yang akan disampaikannya padaku, sehingga Anneke sendiri tidak boleh tahu?

Entahlah.

Yang jelas, di hari Selasa sore, sepulangnya dari kantor aku langsung berangkat ke Jakarta. Tanpa ngomong apa pun kepada Anneke.

Aku tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh mamienya Anneke itu nanti. Tapi kelihatannya penting sekali, sehingga aku harus mengabulkan permintaannya.

Ketika sedan hitamku sudah memasuki Jakarta, handphoneku berdering. Ternyata dari Tante Martini…!

Lalu :

Aku: “Hallo Tante…” Tante Martini: “Kapan mau ke rumah tante? Besok?” Aku: “Sekarang Tante. Ini sudah masuk Jakarta. Mungkin setengah jam lagi juga tiba di rumah Tante.” Tante Martini: “Owh… syukurlah. Tante tunggu ya.” Aku: “Siap Tante.”

Dan memang setengah jam kemucian aku sudah tiba di pekarangan rumah Tante Martini. Seorang petugas security bergegas membuka pintu garasi, lalu menghampiriku, “Selamat malam Boss. Tadi Bu Martini minta agar mobil Boss langsung dimasukkan ke garasi,” ucapnya.

“Owh… iya iyaaa…” sahutku sambil memasukkan mobilku ke dalam garasi.

Ketika aku masuk ke dalam rumah, salah seorang suster yang tempo hari sudah kukenal, menyambutku, “Silakan masuk aja ke kamar Ibu. Beliau sudah menunggu Boss.”

Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam kamar mamienya Anneke. Begitu masuk ke dalamnya, aku mengagumi kamar ini. Selain luas dan ada taman mininya segala, segala peralatan di dalam kamar ini serba mahal sekali. Mungkin harga perabotannya bisa lebih mahal daripada harga rumahnya…!

Tante Martini tampak sedang berada di pinggir kolam ikan koi. Dan tersenyum ceria setelah melihat kedatanganku.

“Wawan orang yang tepat janji ya. Tante suka itu,” ucapnya setelah aku berjongkok di depan kursi rodanya dan mencium tangannya yang terasa halus serta hangat.

“Tante kelihatan seger sekali sekarang,” ucapku.

“Kan baru selesai mandi sore Wan,” sahut Tante Martini sambil menggerakkan kursi rodanya menuju sofa – sofa putih yang berderet di sepanjang dinding dari taman menuju ruang peraduannya.

“Wan bisa minta tolong… kuncikan dulu pintunya. Soalnya tante mau membahas sesuatu yang sangat rahasia. Jangan sampai suster – suster itu ikut nguping,” kata Tante Martini sambil menunjuk ke arah pintu keluar yang sudah tertutup tapi belum dikunci.

Kuikuti permintaan Tante Martini itu, mengunci pintu yang ditunjuk itu, kemudian duduk di sofa yang berdampingan dengan kursi roda mamienya Anneke.

Lalu Tante Martini berkata perlahan, “Sebenarnya kedua kakiku ini sudah hampor normal. Mungkin tiga bulan lagi juga tente bisa berjalan lagi.”

“Tapi berdiri sudah bisa Tante?” “Sudah. Tapi belum bisa lama – lama. Karena lutut tante masih lemas.”

Aku menyimak dan memperhatikan bentuk Tante Martini yang saat itu mengenakan kimono putih. Dia seorang wanita yang berkulit lebih gelap daripada Anneke. Katakanlah dia seorang wanita yang hitam manis, meski kulitnya tidak hitam juga.

Dan aku semakin penasaran, apa sebenarnya yang mau disampaikan padaku sehingga memintaku datang tanpa Anneke?

Akhirnya Tante Martini berkata, “Sebenarnya tante ini sudah sembilanpuluh persen sembuh. Mungkin tiga bulan lagi juga tante udah bisa berjalan lagi secara normal. Sekarang tinggal menormalkan jaringan syaraf di seputar lutut aja.”

“Iya Tante. Lalu nanti Tante bisa menjalani kehidupan secara sehat seperti wanita – wanita normal, “tanggapku.

“Iya Wan. Tapi ada sesuatu yang menuntut terus dari dalam batin tante. Makanya tante mau minta tolong sama Wawan…”

“Minta tolong apa Tante? Sampaikan aja. Jangan ragu – ragu. Kalau aku bisa menolongnya, pasti kutolong Tante.”

Tante Martini termenung sejenak. Lalu bertanya, “Wawan punya teman di Jakarta?”

“Banyak Tante. Teman kuliahku kebanyakan kerjanya di Jakarta.” “Carikan seorang aja buat tante. Tapi yang seganteng Wawan.” “Haaa?! Buat apa Tante?” “Untuk memuasi hasrat batinku Wan. Sejak dua tahun yang lalu tante tidak merasakannya sama sekali.” “Ja.. jadi Tante membutuhkan teman bobo gitu?”

“Iya Wan. Tante mau bicara terbuka aja. Tante ingin mendapatkan cowok yang bisa memuasi hasrat seks tante yang selama ini dipendam terus. Pokoknya cari cowok yang bisa memegang rahasia. Yang bisa secara rutin menggauli tante. Tapi jangan bawa cowok yang jelek. Tante maunya seinilai sama kegantengan Wawan.

Sebenarnya aku sangat terkejut mendengar “permintaan tolong” mamienya Anneke itu. Tapi dengan cepat aku memutar otak. Dan akhirnya berkata, “Cari cowok sih gampang Tante. Tapi yang sulit, apakah dia bisa memegang rahasia nggak? Ini masalahnya.”

“Terus saran Wawan bagaimana?”

“Satu – satunya orang yang bisa memegang rahasia adalah diriku Tante. Dan aku sanggup untuk memuasi Tante kapan pun diinginkan. Bahkan sekarang pun aku siap untuk melakukannya.”

“Kamu mau Wan? Serius kamu mau sama perempuan yang sudah berumur seperti tante ini? Memangnya tante ini masih menarik bagimu?” tanya Tante Martini sambil menatapku dengan sorot ragu, seperti kurang percaya pada kesediaanku.

Sebagai jawaban, kupegang tangan Tante Martini yang hangat itu. Sambil berkata, “Tante cantik sekaligus manis. Sementara aku… penggila wanita setengah baya sejak lama. Jadi… aku siap memuasi Tante sekaligus berjanji untuk tetap merahasiakannya kepada siapa pun, termasuk kepada Non Anneke.”

Tante Martini meremas tanganku dengan lembut. Menatapku dengan senyum manis di bibir sensualnya, ya… betapa sensualnya bibir wanita setengah baya itu. “Tante setuju usulmu,” ucapnya setengah berbisik, “Tapi awas jangan sampai Anneke tau ya.”

“Tentu aja Tante. Aku juga pasti kena marah abis – abisan kalau Non Anne sampai tau,” sahutku sambil berdiri di depan kursi rodanya.

Lalu, tanpa ragu kuulurkan kedua tanganku untuk memeluk dan mengangkat tubuh Tante Martini dari atas kursi rodanya. Lalu membopongnya ke arah bed yang agak jauh dari kursi roda itu.

Pada saat aku membopongnya itu, Tante Martini melingkarkan lengannya di leherku. Sementara aku merasakan sensasi yang luar biasa indahnya. Karena aku merasakan kehangatan lengannya di leherku. Menyaksikan manisnya wajah wanita setengah baya itu.

Lalu kuletakkan tubuh berkimono sutera putih itu di atas bed.

Kulihat ada tongkat panjang di atas bed. “Ini tongkat apa Tante?” tanyaku sambil memegang tongkat yang mengingatkanku kepada ikbuku.

“Itu hanya untuk latihan turun dari bed ke kursi roda,” sahutnya.

“Kan ada tongkat yang pakai pegangan sekalian untuk latihan jalan kaki Tan.”

“Ada. Tante juga punya. Tapi tongkat begituan ribet. Kurang praktis. Sekarang tanpa tongkat pun sudah bisa berdiri, meski belum bisa lama – lama. Dengan tongkat itu lebih praktis,” sahut Tante Martini sambil duduk bersila di samping kiriku.

Aku pun tidak canggung – canggung lagi untuk mendekap pinggangnya, sambil menciumi pipi kanannya yang terasa hangat. Harum p[arfum mahal [pun mulai tersiar ke penciumanku.

Tante Martini tidak tinggal diam. Ia melingkarkan lengannya di leherku. Lalu memagut bibirku, yang kusambut dengan lumatan lembut. Ia balas dengan lumatan hangat pula.

Hawa nafsu birahi pun mulai bergejolak di dalam batinku. Terlebih setelah Tante Martini membisiki telingaku, “Lepasin dulu dong semua pakaianmu. Aku ingin melihat bentuk tubuhmu tanpa pakaian.”

Aku mengangguk sambil melepaskan pakaian casualku. Hanya celana dalam yang kubiarkan tetap melekat di tubuhku.

Lalu aku menelentang di samping Tante Marini yang sudah celentang juga.

“Badannya atletis begini. Bagus. Sering olahraga ya?” ucap Tante Martini sambil mengusap – usap dada dan perutku.

“Iya,” sahutku sambil balas mengusap – usap pahanya yang tersembul dari belahan kimononya. Terasa licin sekali paha mulus ini. Namun tentu saja aku tak sekadar mengelus pahanya. Tangan nakalku naik terus sampai ke pangkal pahanya. Dan… aku langsung menyentuh serambi lempit plontos dan agak tembem… berarti sejak tadi ia tidak mengenakan celana dalam…

Tante Martini pun menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku. Dan langsung memegang batang kemaluanku yang memang sudah tegang sekali ini…

“Wooow… rudalnya gagah begini Wan…! “serunya tertahan, “Luar biasa panjang gedenya… !”

Sementara aku sudah tak sabar lagi. Ingin menyaksikan seperti apa tubuh Tante Martini kalau sudah telanjang. Maka dengan nafsu yang semakin menggoda, kulepaskan ikatan tali komononya. Lalu kulepaskan kimono sutera putih itu.

Lalu tampaklah sekujur tubuh tinggi langsingnya Tante Martini itu… tubuh yang begitu mulus, tampak jauh lebih muda daripada usianya. Dengan sepasang toket berukuran sedang, yang tidak sekencang toket Anneke, tapi masih “on fire”. Tidak lembek.

Dan serambi lempitnya itu… tercukur bersih… menimbulkan hasratku untuk menjilatinya…!

Agar adil, aku pun melepaskan celana dalamku. Lalu merayap ke atas perut wanita setengah baya yang hangat dan harum itu.

“Tante masih penuh pesona,” bisikku setelah menghimpitnya, “semuanya masih perfect. Aku siap untuk memuasi hasrat Tante secara rutin. Kebetulan aku ada acara ke Jakarta seminggu dua kali. Tiap Senin dan Kamis. Berarti minimal aku bisa datang ke sini dua kali seminggu.”

“Iya Wan… terima kasih… sekarang lakukanlah apa yang Wawan anggap harus dilakukan. Hatiku sudah menjadi milikmu kini.”

Mendengar ucapan Tante Martini itu, spontan aku melorot turun. Karena sudah tak sabar lagi, ingin menjilati serambi lempitnya.

Tante Martini pun bersikap tanggap. Ketika wajahkuj sudah berhadapan dengan serambi lempitnya, sepasang pahanya pun merenggang loebar. Sehingga aku bisa memperhatikan serambi lempitnya yang bersih dari jembut itu.

Lalu kuciumi serambi lempit plontos itu, sementara kedua tanganku mengangakannya. Sehingga bagian dalamnya yang berwarna pink itu mulai tampak di mataku.

Ujung lidahku pun mulai menyapu – nyapu bagian dalam serambi lempitnya yang berwarna pink itu.

Tante Martini mulai menggeliat – geliat sambil meremas – remas bahuku. Terlebih setelah aku gencar menjilati kelentitnya, ia pun terkejang – kejang dibuatnya.

Bahkan pada suatu saat Tante Martini merengek histeris, “Aaaaah… aaaaaa… sudah Wan… sudah…! Masukan aja rudalmu Sayang…”

Ini pertama kalinya mamienya Anneke memanggilku Sayang.

Aku pun memang sudah sangat bernafsu, ingin segera memasukkan rudalku ke dalam serambi lempit Tante Martini.

Maka aku pun meletakkan moncopng rudalku tepat pada mulut serambi lempit Tante Martini yang sudah ternganga basah itu. Dan sekali kudorong kuat – kuat… blesssss… rudal ngacengku pun melesak ke dalam liang serambi lempit wanita setengah baya itu.

Tante Martini menyambutku dengan dekapan di pinggang, bersama desahannya, “Aaaaah… masuuuuk Waaan… punyamu gede banget… aaaaaaaah…”

Aku pun mulai mengayun rudalku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Tante Martini yang terasa masih sempit sekali, tapi sudah licin oleh air liurku yang mungkin bercampur dengan lendir libidonya.

Ya, aku mulai memenyetubuhinya sambil menciumi dan menjilati lehernya, disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Tante Martina pun berjuang untuk mengimbangiku dengan menggeol – geolkan pinggulnya.

“Haaa… aku bisa menggoyang pinggulku… berarti lututku sudah sembuh Wan… “ucaqpnya terengah.

Memang pada waktu menggoyang pinggulnya itu sangat mungkin ada hubungannya dengan kekuatan lutut. Karena kalau lututnya lemah, dia takkan bisa mengangkat bokongnya. Apalagi menggeolkannya.

“Iya Tante… semoga Tante bugar kembali seperti sediakala yaaa…” sahutku sambil mulai mempercepat genjotan rudalku.

“Iyaaaa… ooooohhhhh… Waaaaaan… sudah hampir tiga tahun tante tidak merasakan sentuhan lelaki… sekarang… merasakannya kembali… ooooohhhh… Wawaaaaan… tante merasakannya lagi… nikmatnya gesekan rudalmu yang gagah ini… ooooohhh Wawaaaan… gak nyangka tante bisa merasakannya lagiiii…

Maka gairahku pun semakin berkobar, untuk memenyetubuhi wanita setengah baya ini sampai dia benar – benar puas.

Aku tak cuma memenyetubuhi liang serambi lempitnya belaka. Aku sudah mempelajari beberapa buku pengetahuan tentang sex. Tentang cara untuk memuaskan wanita pada saat digauli. Bahwa ada titik – titik penting yang harus disentuh. Antara lain telinga dan sekitarnya, leher dan sekitarnya, pentil buah dada dan sekitarnya, bahkan ketiak pun dianjurkan untuk disentuh.

Itulah sebabnya aku tak cuma menjilati leher jenjangnya yang mulai keringatan, tapi juga pentil toketnya kuemut dan kujilati, sementara toket yang satunya lagi kuremas dengan lembut.

Tante Martini merintih dan merengek terus pada saat aku sudah gencar memenyetubuhinya. Aku pun ingin membesarkan hatinya. Sehingga entotanku dilambatkan sejenak, lalu berbisik ke telinganya, “serambi lempit Tante luar biasa enaknya…”

Tante Martini tampak senang. Lalu menyahut, “rudalmu juga luar biasa enaknya Wan. Pasti aku bakal ketagihan kelak.”

“Sama Tante. Aku juga bakal ketagihan sama Tante. Susah nyari wanita yang serambi lempitnya gurih danb legit seperti serambi lempit Tante ini,” ucapku yang lalu menggencarkan kembali entotanku.

Sementara Tante Martini seperti berusaha untuk menggoyang pinggulnya kembali. Tapi mungkin fisiknya belum pulih benar. Sehingga akhirnya ia hanya menikmati entotanku sambil menciumi bibir dan pipiku.

“Gak usah maksain goyang [pinggul Tante. Didiemin gini juga enak. Karena pada dasarnya serambi lempit Tante memang luar biasa enaknya,” ucapku setelah mengetahui usahanya untuk menggoyang pinggul kembali, tetapi gagal mengangkat pinggulnya. Dan tidak bisa menggeol – geolkannya lagi.

Lalu aku menemukan titik paling sensitif pada wanita setengah baya itu. Ternyata ketiaknya yang paling peka itu.

Ketika aku memenyetubuhinya sambil menjilati dan menyedot – nyedot ketiaknya yang harum deodorant, awalnya ia tersentak. Kusangka dia kaget. Tapi ternyata ketiaknya itu paling geli kalau disentuh orang lain. Hal itu kuketahui belakangan.

Maka ketika aku menjilati dan menggigit – gigit serta menyedot – nyedot ketiaknya, Tante Martini pun merengek – rengek erotis, “Aaaaaa… aaaaaah… geli Waaan… tapi enak sekali Waaaan… ooooohhhh… ini pertama kalinya aku merasakan ketek dijil;atin waktu sedang dientot begini… aaaaah…

“Gampang Tante… kalau udah kangen sama aku… uggghhh… tinggal call aja… aku pasti datang ke sini…”

Lalu aku semakin menggencarkan entotanku. Sementara Tante Martini mengaku sudah dua kali orgasme. Tapi kelihatannya dia tetap bergairah untuk menikmati entotanku, tak kelihatan lelah sedikit pun. Padahal kami sudah sama – sama bersimbah keringat.

Tapi pada suatu saat kudengar suaranya terengah, “Tante udah mau orga lagi Wan… ba… barengin yok… oooooohhhhh…”

“Iiii… iyaaaaa…” sahutku tergagap pula.

Tante Martini pun mulai klepek – klepek seperti waktu mau orgasme yang pertama dan kedua tadi. Maka dengan spontan aku pun memacu rudalku untuk menggenjot liang serambi lempitnya secepat mungkin.

Lalu tubuh indah itu pun mengejang tegang. Pada saat yang sama, kubenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin, sehingga moncongnya terasa menabrak dasar liang serambi lempit mamienya Anneke.

Dan terjadilah sesuatu yang indah itu. Kami saling cengkram dan saling remas. Sementara liang serambi lempit Tante Martini terasa berkedut – kedut, disusul oleh gerakan yang seolah sedang berusaha mendorong batang kemaluanku, tapi sang rudal justru sedang mengejut – ngejut sambil memancarkan lendir kenikmatan yang banyak sekali rasanya…

Aku pun menggelepar dan terkapar di atas perut Tante Martini.

Namun aku masih mendapatkan ciuman hangatnya wanita setengah baya itu, disusul dengan bisikannya, “Terimakasih Sayaaang… yang barusan kita lakukan adalah sesuatu yang terindah di sepanjang hidup tante…”

“Iya Tante. Semoga bisa jadi pendorong semangat Tante untuk cepat sembuh.” “Tapi tante jadi kepengen mandi. Soalnya badan tante penuh keringat begini.” “Ayo kubopong ke kamar mandi,” sahutku sambil mencabut rudalku dari liang serambi lempit tembem dan plontos itu.

Memang banyak sekali air mani yang termuntahkan dari moncong rudalku barusan. Kulihat lendir kenikmatanku sampai meluap dari mulut serambi lempit Tante Martini. Dan Tante Martini menadahkan telapak tangan di bawah serambi lempitnya, untuk menampung spermaku. Lalu sperma itu dialirkan ke mulutnya, yang lalu ditelannya sedikit demi sedikit.

“Bagaimana rasanya spermaku?” tanyaku setelah mcnium pipinya.

“Lezat… seolah bernafaskan semangat baru… yang membuat hidup tante berarti lagi. Terima kasih Wawan Sayang…”

Kemudian kuangkat tubuh wanita setengah baya itu dengan mendekap pinggangnya erat – erat. Tante Martini pun memeluk tengkukku erat – erat. Dan kubawa tubuh indah itu ke dalam kamar mandinya.

Tante Martini menunjuk ke arah bathtub mewah di kamar mandinya. Maka kuletakkan dia di dalam bathtub itu.

Sesaat kemudian air hangat memancar ke bathtub itu dengan kencangnya.

Aku pun memancarkan aiur hangat shower utama yang berada di atas kepalaku.

Maka ketika Tante Martini sedang menyabuni tubuh indahnya, aku pun menyabuni tubuhku sendiri di bawah pancaran air hangat shower.

“Banyak handuk bersih di lemari kaca itu. Silakan ambil untuk Wawan satu, untuk tante satu. Sekalian tolong ambilin kimono yang masih bersih di situ juga,” kata Tante Martini sambil menunjuk ke lemari kaca yang tidak jauh dari bathtub mewah itu.

Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di atas sofa bedroom kembali. Tante Martini sudah mengenakan kimono baru, aku pun sudah mengenakan pakaianku kembali.

“Wawan punya kartu nama?” tanya Tante Martini.

“Punya Tante,” sahutku sambil mengeluarkan dompet dari saku belakang celanaku. Lalu kuambil secarik kartu namaku dan kuserahkan kepada Tante Martini.

Tante Martini pun mengamati kartu namaku yang lengkap dengan alamat kantor dan alamat rumah.

“Hai… rumahmu bukannya dekat dengan kampus dan apotek?” tanya Tante Martini. “Betul. Kok Tante tau?” “Tau. Di situ ada rumah yang ibu rumah tangganya tunanetra. Kamu tau?”

Aku terkejut dibuatnya. Tapi aku tak mau mengingkari kenyataan ini. Bahwa ibuku seorang wanita tunanetra. Lalu kataku, “Wanita tunanetra itu ibuku Tante.”

“Haaa?! Berarti kamu abangnya Nova… uffff… kelepasan bicara, “Tante Martini menutup mulutnya dengan tangan kanannya.

“Nova? Siapa Nova Tante?”

“Mmm… jadi bingung nih. Barusan kelepasan bicara. Tapi biarlah tante mau bicara sejujurnya, asalkan Wawan berjanji untuk merahasiakannya kepada siapa pun ya.”

“Iya Tante. Aku berjanji takkan bicara kepada siapa pun.”

Tante Martini termenung sejenak. Kemudian berkata, “Suamiku punya sahabat. Hasyim namanya. Pak Hasyim itu seorang pengusaha besar juga. Tapi Pak Hasyim sudah tiga gali ganti istri, tidak menghasilkan anak juga. Karena ternyata Pak Hasyimnya sendiri yang mandul. Kebetulan Pak Hasyim punya teman karib yang bernama Zaelani…

“Betul Tante. Tapi ayahku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu,” sahutku.

“Soal itu sudah kudengar dari mulut istrinya Pak Hasyim. Nah… pada saat istri Pak Zaelani hamil yang keberapa ya… kalau gak salah yang ketiga… terjadi suatu perundingan pribadi dengan Pak Hasyim. Bahwa kehamilan istri Pak Zaelani itu akan dibiayai sepenuhnya oleh Pak Hasyim, asalkan kalau anaknya sudah lahir, diberikan kepada Pak Hasyim untuk diadopsi.

Sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan kepada Tante Martini. Tapi aku tak berani memotong penuturan penting itu.

“Nah… akhirnya lahirlah bayi perempuan dari istri Pak Zaelani itu. Yang lalu dibawa diadopsi oleh Pak Hasyim.”

“Tante kok bisa tau semuanya sampai mendetail begitu?”

“Kan tante ikut dijadikan saksi waktu perjanjian itu ditandatangani. Jadi tante tau benar isi perjanjiannya. Antara lain, bayi itu akan dirawat seperti anak Pak Hasyim sendiri. Dan Pak Zaelani tak boleh mengganggu atau menuntut apa pun kalau bayi itu sudah besar kelak. Perjanjian itu ditandatangani di depan notaris.

“Lalu bayi cewek itu dikasih nama Nova?” tanyaku. “Iya. Berarti Nova itu adik kandung Wawan kan?” “Betul Tante. Selama ini kami sekeluarga mencari tahu keberadaan adikku yang sudah dikasih nama Nova itu. Tapi baru sekaranglah aku mendengar beritanya.”

“Menurut tante sih, walau pun Wawan sudah tau, sebaiknya jangan ganggu Nova dalam bentuk apa pun. Lagian Nova itu sangat dimanja oleh Pak Hasyim dan istrinya. Bahkan berlebihan memanjakannya. Sehingga Nova itu jadi kolokan sekali. Apa pun yang diinginkannya harus dikabulkan. Selain kolokan, Nova itu selalu jutek pada orang – orang di sekitarnya.

“Iya,” sahutku, “aku juga takkan mengganggunya Tante. Hanya berusaha ingin tau aja keberadaannya. Mendengar dia sehat aja hatiku udah senang.”

“Iya, memang harus begitu. Masalahnya ayahmu sudah menandatangani perjanjian di depan notaris, dihadiri oleh saksi – saksi pula. Jadi secara hukum, Nova itu tidak bisa diganggu gugat lagi.”

“Iya Tante. Aku akan mencatat kata – kata Tante ini di dalam hati.” “Nah sekarang kita bicara masalah bisnis ya.” “Siap Tante.”

“Begini,” kata Tante Martini, “Sebenarnya tante punya beberapa perusahaan atas nama tente sendiri. Tapi Anneke tidak tahu. Lagian dia sudah mendapatkan warisan seluruh harta yang atas nama almarhum ayahnya. Tapi perusahaan – perusahaan atas nama tante tidak termasuk yang diberikan padanya. Salah satu perusahaan milik tante itu ada di kotamu Wan.

“Iya Tante.”

“Nah… perusahaan di kotamu itu akan tante hibahkan padamu. Mau diapakan pun terserah Wawan.”

“Perusahaannya dalam bentuk apa Tante?”

“Pabrik segala kebutuhan anak – anak. Perkembangannya bagus. Tapi mungkin kalau sudah diurus oleh Wawan bakal lebih sehat lagi.”

“Jadi pabrik itu mau Tante percayakan padaku untuk mengurusnya?”

“Memilikinya. Bukan sekadar mengurusnya. Tadi tante kan bilang, akan menghibahkan pabrik itu pada Wawan.”

“Oooh… Tante… apakah Tante tidak berlebihan dengan menghibahkan pabrik itu padaku?”

“Tidak Wan. Dalam tiga hari belakangan ini tante sudah mempertimbangkannya sematang mungkin. Perusahaan tante kan banyak. Penghibahan pabrik itu takkan membuat tante jatuh miskin. Jadi… semoga kehidupan Wawan bertambah sukses setelah memiliki pabrik itu ya,” ucap Tante Martini sambil memgang tanganku erat dan hangat.

“Aku jadi speechless Tante. Aku… aku cuma bisa bilang terimakasih,” ucapku yang kuakhiri dengan kecupan hangat di pipi Tante Martini.

“Tapi Wawan punya kewajiban untuk menengok tante sesering mungkin ke sini ya.”

“Siap Tante.” “Ohya… mengenai hibah pabrik itu, gak usah ngomong apa – apa pada Anneke. Karena dia tidak tau kalau tante punya pabrik di kotamu.” “Iya Tante.”

“Kalau kaki tante sudah normal, mungkin tante mau beli rumah di kotamu Wan. Supaya kita tidak terlalu berjauhan. Energi Wawan pun tidak terlalu dikuras untuk nyetir sendiri ke Jakarta. Kenapa Wawan tidak pakai sopir pribadi sih?”

“Belum saatnya pakai sopir pribadi Tante. Aku kan masih muda. Lagian aku memang senang driving,” ucapku dengan tangan yang sudah kuselinapkan ke balik kimono Tante Martini.

“Ogitu ya… “gumkam Tante Martini yang membiarkan tanganku menggerayangi serambi lempitnya yang baru mengalami orgasme tiga kali itu.

“Tante masih bergairah?” tanyaku.

“Emangnya Wawan udah horny lagi?”

“Iya Tante. Ini udah ngaceng lagi… hihihihiiii…”

“Ayolah. Tapi jangan terlalu lama ya. Usahakan lepas bareng lagi seperti tadi. Lalu kita tidur. Tante ingin tidur sambil melukin Wawan…”

“Siap Tante,” sahutku sambil bangkit dari sofa. Kemudian membopong Tante Martini ke arah bednya lagi.

That’s our story. Bahwa kami bersetubuh lagi. Dan aku berusaha untuk menuruti keinginan Tante Martini, agar bersetubuhnya jangan terlalu lama. Mempercepat ejakulasi jauh lebih mudah dari memperlambatnya.

Maka aku pun berhasil ejakulasi tepat pada saat Tante Martini berada di puncak orgasmenya.

Lalu kami tidur sambil saling berpelukan dan baru sadar keesokan paginya.

Aku meninggalkan Jakarta pagi itu dengan terawangan indah menggelayuti benakku. Aku masih ingat benar ucapan Tante Martini sebelum melepaskan kepergianku tadi: “Bu Vita, direktur pabrik itu akan tante panggil secepatnya. Untuk menyampaikan keputusan tante yang akan menghibahkan pabrik itu padamu Sayang.

Hibah pabrik itu bisa kuanggap sebagai pertanda, bahwa Tante Martini sangat membutuhkan diriku. Tapi aku tak mau besar kepala. Semuanya harus kuhadapi dengan kepala dingin.

Tiga hari kemudian, aku mendapatkan pesan lewat WA dari Tante Martini, yang namanya kusamarkan sebagai “Pak Tono”. Sekadar berjaga – jaga, jangan sampai Anneke tahu kalau aku sudah punya “jalur khusus” dengan ibunya. Tante Martini pun sudah menyamarkan namaku di handphonenya sebagai “Wien”. Juga agar aman dari kecurigaan Anneke.

Isi WA dari Tante Martini itu berbunyi :-Bu Vita sudah datang ke Jakarta kemaren. Dan sudah dikasih tahu masalah “penjualan” pabrik itu. Jadi, silakan datangi pabrik itu untuk mengenalkan diri sebagai owner baru. –

Aku hanya membalas singkat :-Siap Tante Sayangku-

Lalu pada hari itu juga aku mengunjungi pabrik itu, sesuai dengan alamat yang sudah diberikan oleh Tante Martini.

Setibanya di pabrik itu, seorang satpam menghampiri sedan hitamku, “Mau ketemu siapa Boss?”

“Mau ketemu dengan Bu Vita,” sahutku. “Sudah ada janji sama beliau?” tanya satpam itu lagi, membuatku agak jengkel. “Bilang aja ada owner baru pabrik ini bernama Darmawan… !”

Satpam itu kelihatan kaget dan mengubah sikapnya, “Oh! Siap Big Boss… !”

Kemudian satpam itu mengarahkanku ke tempat parkir yang bertuliskan VVIP. Mungkin pada saat Tante Martini masih normal, di situlah tempat mobilnya diparkir kalau beliau datang ke pabrik ini.

Setelah mobilku terparkir, kuikuti langkah satpam itu menuju ruang kerja dirut.

Di ruang kerja dirut, kulihat seorang wanita setengah baya sedang serius mengamati layar monitornya.

Satpam itu menghampirinya. “Maaf mengganggu Bu Boss. Ini Bapak Darmawan mau ketemu Bu Boss.”

Wanita tinggi montok itu tampak kaget. “Ooooh… selamat datang Big Boss,” ucapnya sambil berdiri dan menghampiriku. Lalu menjabat tanganku dengan sikap sopan sekali.

Kemudian aku dipersilakan duduk di ruang tamu dirut.

Semua manager pun dipanggilnya, untuk dikenalkan padaku sebagai owner baru pabrik besar ini.

Acaranya cuma ramah tamah saja dengan dirut dan manager – managernya itu.

Kemudian aku meninggalkan pabrik besar itu setelah berjanji akan datang kembali beberapa hari berikutnya, untuk menjelaskan konsep baruku.

Lalu aku mengarahkan sedan hitamku menuju kantor perusahaan Tante Laila.

Baru saja aku tiba di kantor perusahaan Tante Laila, tiba – tiba handphoneku berdering. Ternyata dari ibuku. Cepat kuterima, takut ada sesuatu yang penting.

“Hallo Bu…” “Kamu lagi di mana Wan?” “Di kantor. Emangnya kenapa Bu?”

“Ibu kan pernah cerita sama kamu, bahwa ibu punya adik kandung yang menikah dengan orang Belanda, lalu dibawa ke negaranya.”

“Oh iya. Tante Ros itu?” “Iya. Nama lengkapnya sih Rosida. Sekarang dia ada di rumah.” “Ohya?!”

“Iya. Ibu sudah jelaskan bahwa kamu sekarang menjadi direktur utama di dua perusahaan. Karena itu dia ingin dicarikan rumah sekaligus ingin berbisnis denganmu. Bisa sekarang pulang dulu ke rumah?”

“Iya, bisa… bisa… sekarang juga aku mau pulang Bu.” “Ditunggu ya Wan.” “Iya Bu.”

Bersambung… Setelah hubungan seluler ditutup, aku bergegas menyambar tas kerjaku dan melangkah ke tempat parkiran. Sesaat kemudian aku sudah berada di belakang setir sedan hitamku, yang kularikan menuju rumahku.

Setengah jam kemudian aku sudah tiba di rumahku.

Seorang wanita separoh baya berdiri di ambang pintu rumahku. Wanita yang tinggi langsing, mirip Tante Martini. Tapi yang ini lebih putih. Ia menyambut kedatanganku dengan senyum ceria di bibirnya.

“Ini Wawan?!” sapanya waktu aku sudah berada di teras depan. “Betul, “aku mengangguk sopan, “Ini Tante Ros?” “Iya. Kamu pasti sudah lupa, karena waktu aku meninggalkan Indonesia, kamu masih sangat kecil.”

“Iya Tante,” sahutku yang lalu berjabatan tangan dengannya, disusul dengan mencium tangan yang kujabat itu.

Tante Rosida pun memeluk dan mencium sepasang pipiku. “Wawan… Wawan… kamu setelah dewasa jadi ganteng gini sih?!”

“Heheehee… Tante juga cantik sekali,” sahutku sambil melangkah masuk ke dalam, mengikuti langkah adik Ibu itu.

Setelah duduk di ruang tamu yang sudah diupgrade jadi l;umayan mewah ini, aku bertanya, “Suami Tante mana?”

“Suamiku sudah meninggal enam bulan yang lalu. Makanya aku pulang ke tanah air. Dan takkan kembali ke Belanda lagi.”

“Wah, turut berduka cita, Tante. Suami Tante sakit apa yang menyebabkannya meninggal?”

“Menderita kanker otak Wan. Sudah dibawa ke Jerman segala, tapi sia – sia aja. Penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Karena telanjur sudah stadium akhir.”

Tak lama kemudian Ibu pun muncul di ruang tamu. Meraba – raba dan duduk di sampingku.

“Wati mana Bu?” tanyaku. “Lagi ke salon sama temannya. Dari tadi pagi belum pulang – pulang. Mungkin terus ke kota, lihat – lihat pakaian dan sebagainya,” sahut Ibu.

“Jelaskan aja apa yang kamu katakan tadi Ros,” kata Ibu kepada adiknya, “Siapa tau Wawan bisa membantumu.”

Tante Ros mengangguk. Lalu menoleh padaku, “Banyak sih yang butuh bantuanmu Wan. Pertama, aku minta dicarikan rumah yang bagus dan mau dijual. Kedua, minta diantar ke dealer mobil, karena akuj pasti kepayahan kalau gak punya mobil. Ketiga, aku minta dibikinkan SIM. Karena SIM Belandaku gak berlaku di sini.

“Tante gak punya SIM internasional?”

“Nggak. Tapi di Belanda sih SIMnya berlaku untuk di negara – negara tetangga. Tapi kayaknya gak berlaku di Indonesia sih. Mmm… bagaimana? Bisa bantu aku gak?”

“Bisa Tante. Kebetulan ada rumah bagus di kompleks perumahan elit yang maui dijual. Kalau Tante berkenan, sekarang juga rumahnya bisa dilihat,” ucapku.

“Ayo kalau begitu sih. Lebih cepat lebih baik. Nanti ngobrolnya lanjutin di jalan aja,” ucap Tante Ros sambil bangkit dari sofa.

Beberapa saat kemudian Tante Ros sudah duduk di dalam sedan hitamku.

“Kamu sudah jadi orang sukses ya Wan. Mobil ini di Eropa juga mahal sekali,” ucap Tante Ros ketika sedan hitamku mulai kujalankan.

Aku tidak menanggapinya. Bahkan bertanya, “Tante sudah punya anak berapa?”

“Belum punya Wan,” sahutnya, “Suamiku kan sudah tua. Waktu menikah denganku aja bedanya sampai tigapuluh tahun. Waktu aku nikah, usiaku baru tujuhbelas. Suamiku sudah empatpuluhtujuh tahun.”

“Wah waktu meninggal umurnya sudah mencapai enampuluhan kali ya?”

“Umurku sekarang sudah tigapuluhtujuh. Berarti waktu dia meninggal, umurnya sudah hampir enampuluhtujuh.”

“Pasti meninggalkan warisan yang sangat banyak ya Tante?”

“Banyak sekali sih nggak. Cuma ada laaah… untuk kebutuhanku setelah tinggal sendirian begini. Makanya aku ingin berbisnis di sini. Kira – kira bisnis apa ya Wan?”

“Dana yang mau dikeluarkan untuk bisnisnya berapa Tante?”

Tante Ros membisikkan nominal dana yang dimilikinya.

“Cukup nggak untuk berbisnis di Indonesia?”

“Cukup Tante. Tapi harus memproduksi sesuatu yang bagus prospeknya.”

“Terus yang megang perusahaannya siapa?”

“Tante sendiri pasti bisa. Aku bisa membimbing dari belakang layar.”

“Nggak mau ah. Aku gak ada pengalaman dalam berbisnis, apalagi di Indonesia yang sudah duapuluh tahun kutinggalkan. Kamu aja yang pegang. Mau kan?”

Aku berpikir keras. Jumlah dana yang akan dikeluarkan oleh Tante Ros bukan dana yang sedikit. Tapi bisakah aku menanganinya? Bukankah aku sudah memegang dua perusahaan besar?

“Mau ya Wan. Kamu aja yang mengendalikannya. Aku mau duduk manis aja. Mau dong… mau…! “desak Tante Ros.

“Mmm… aku sudah memegang dua perusahaan. Kalau memegang perusahaan Tante pula, berarti aku akan memegang tiga perusahaan. Bakalan kepegang nggak ya?”

“Kamu kan bukan harus mengerjakan dari A sampai Z. Kamu cukup duduk sambil memonitor perusahaan aja. Mungkin dari tempat lain pun bisa memonitornya Wan.”

“Teorinya sih memang begitu. Seorang leader harfus bisa main golf atau jalan – jalan ke luar negeri, tapi perusahaan berjalan terus secara positif. Tapi dalam prakteknya tetap aja harus sering turun ke lapangan Tante.”

“Terus gimana dong? Tolonglah tantemu ini Wan. Kalau dana itu tidak diputar, lama kelamaan bisa habis. Itu yang paling kutakutkan.”

“Iya deh. Demi tanteku yang cantik ini, kuterima keinginan Tante itu,” ucapku di belakang setir.

“Nah gitu dong. Baru namanya keponakan tersayangku. Emwuaaaah…” ucap Tante Ros yang diakhiri dengan kecupan hangat di pipi kiriku. Membuatku kaget juga, karena tak menyangka akan mendapat kecupan hangat itu.

“Ini sudah sore banget Tante. Ke dealer sih besok pagi aja ya,” kataku.

“Iya gak apa – apa. Tapi sepulangnya lihat rumah, antewrin aku ke hotel nanti ya.”

“Oke Tante. Memangnya Tante udah cek in?”

“Udah. Aku kan datang kemaren sore. Langsung cek in di hotel itu. Tadi pagi baru mencari rumahmu. Sambil takut udah pindah pula. Setelah nyasar – nyasar, akhirnya ketemu juga. Kota ini sudah banyak perubahannya ya.”

“Iya dong. Semua kota di negara kita sudah banyak perubahannya selama duapuluh tahun belakangan ini Tante. Masa mau tetap seperti dahulu aja.”

Tanpa terasa aku sudah berada di kompleks perumahan elit yang letaknya agak di luar kota. Memang ada rumah yang sudah kubayar lunas. Niatku memang untuk dijual lagi. Kebetulan sekarang ada calon buyernya, yang duduk di sebelah kiriku ini. Hahahaaa… mudah – mudahan aja aku dapat keuntungan. Meski tak perlu banyak – banyak, karena calon pembelinya tanteku sendiri.

Karena ngobrol dengan Tante Ros di dalam mobil, sehingga tak terasa sudah tiba di kompleks perumahan elit ini.

“Ini kompleks perumahan?” tanya Tante Ros setelah mobilku melewati gerbang paling depan.

“Betul Tante. Di sini aman dan nyaman suasananya,” sahutku sambil membelokkan mobilku ke kiri, menuju kelompok rumah yang salah satunya mau ditawarkan kepada Tante Ros itu.

“Bagus – bagus rumahnya ya.”

“Iya Tante. Nah… ini rumahnya,” kataku sambil menghentikan mobilku tepat di depan rumah yang akan kutawarkan kepada Tante Ros itu.

Aku pun mengeluarkan serangkai kunci – kunci rumah itu.

Tante Ros terbengong – bengong setelah menyaksikan keadaan di dalam rumah itu. Terlebih setelah melihat di bagian belakangnya ada kolam renang segala.

“Tante suka rumah ini. Mau dijual berapa?” tanyanya.

Aku menyebutkan harga rumah ini, setelah dilebihkan “sedikit” dari harga pembeliannya.

Tante Ros berpikir sejenak. Lalu bertanya, “Harga itu bisa ditawar nggak?”

“Nggak bisa Tante. Sudah harga mati,” sahutku.

“Memang tidak kemahalan juga sih harganya. Lalu kapan bisa diketemukan dengan pemiliknya?”

“Sekarang Tante sedang bersama pemiliknya,” sahutku.

“Haaa? Rumah ini punyamu?”

“Betul Tante. Tadinya rumah ini mau kupakai sendiri. Tapi karena Tante membutuhkannya, mau kujual aja sama Tante. Aku sih gampang, bisa nyari lagi yang lain.”

“Begitu ya? Ya udah. Tante bayar pakai cek ya. Tapi rumah ini masih kosong melompong. Besok setelah ke dealer lanjutkan antar aku ke toko furniture dan perabotan rumah yang bagus tapi jangan yang terlalu mahal harganya ya.”

“Siap Tante. Sekarang mau terus ke mana?”

“Cari rumah makan yang khas Indonesia aja. Aku udah rindu sama masakan Indonesia.”

“Mau rumah makan Padang, Sunda atau Jawa?”

“Sunda aja deh. Biar bisa makan lalapan dan sambel dadakan.”

“Oke, “aku mengangguk. Lalu kami tinggalkan rumah yang sudah dibeli oleh Tante Ros itu. Tinggal pembayarannya saja yang belum.

Meski agak jauh, sengaja kubawa Tante Ros ke rumah makan yang benar – benar khas Sunda, yang letaknya di luar kota. Di rumah makan itu konsumen dimanjakan dengan musik dan bangunan tradisional Sunda. Gubuk – gubuk kayunya pun berada di atas kolam ikan. Sehingga konsumen bisa melemparkan sisa makanan ke kolam, yang pasti disambut oleh ikan – ikan itu.

Di rumah makan itu kami memesan bakar gurame besar, beberapa potong goreng ayam kampung dan sayur lodeh. Dan yang sangat disukai oleh Tante Ros adalah sambel dadakan itu, berikut lalapannya yang bermacam – macam.

“Di Eropa kalau mau makan seperti ini harganya bisa mahal sekali,” ucap Tante Ros setelah selesai menyantap makanan yang dirindukannya.

Aku cuma mengangguk – angguk sambil tersenyum. Padahal aku tidak sedang membayangkan makanan. Yang kubayangkan adalah seksinya adik Ibu itu.

Ya putih mulus ya seksi pula.

Apakah jiwa incestku sudah hadir lagi?

Entahlah. Yang jelas ketika aku sudah mengemudikan mobilku menuju hotel yang terletak di pusat kota itu, terawanganku terus – terusan membayangkan betapa menggiurkannya tubuh Tante Ros itu kalau sudah telanjang…!

Lalu batinku bergulat… Gila lu Wan! Masa adik kandung ibu lu juga mau diembat? Jangankan adik ibu, sedangkan ibu kandung juga gue embat! Iya gila Lu Wan! Kakak kandung lu juga diembat! Belum lagi yang lainnya! Sebodo amat! Gue kan gak maksa siapa pun! Apa yang telah terjadi selalu berdasarkan suka sama suka!

Tiba – tiba aku teringat sesuatu yang bukan masalah seksual. Aku teringat pabrik hadiah dahsyat dari Tante Martini itu. Lalu kenapa aku susah – susah nyariin bisnis untuk Tante Ros? Kenapa tidak kutawarkan saja untuk menanamkan investasinya di pabrikku saja? Kalau nggak, aku bisa menjual saham pabrik itu padanya…

Nanti saja di hotel aku akan membahas masalah itu sebelum pulang.

Sementara itu hari mulai gelap. Sudah hampir jam tujuh malam.

“Wan… kan besok mau ke dealer, mau beli furniture, barang – barang elektronik dan perabotan rumah. Supaya gak ribet, udah aja nginep di hotel malam ini. Besok pagi kan mau ke dealer dan belanja peralatan rumah.”

Aku sok jual mahal. Seperti memikirkannya dulu. Padahal hatiku sudah bilang mau… sangat mau.

“Mau kan?”

Aku masih berlagak memikirkannya.

“Nanti aku kasih sesuatu yang enak sekali.” “Apaan tuh yang enak? Makanan Belanda?”

Tiba – tiba Tante Ros mendekatkan mulutnya ke telingaku. Lalu berbisik, “serambi lempitku… mau nggak?”

“Mauuuu… !” seruku serasa meledak dari mulutku. “Hihihihiii… serius?” “Serius Tante.” “Gak risih karena aku ini adik ibumu?”

“Nggak. Aku melihat Tante secara jelas kan baru hari ini. Makanya aku akan menganggap Tante orang luar aja.”

“Sama, aku juga mikir begitu sejak tadi. Kamu memang keponakanku. Tapi menyaksikanmu setelah dewasa baru hari ini,” ucap Tante Ros sambil merapatkan pipinya ke pipiku, “Sudah setahun lebih serambi lempitku gak pernah disentuh rudal Wan.”

“Iya. Nanti digasak abis – abisan sama rudalku deh.”

“Hihihiiii… untung aku punya keponakan yang ganteng dan mau nakal juga. Kalau kamu terlalu alim, mati kutu aku.”

“Justru dari tadi aku sedang membayangkan Tante terus…” “Membayangkan apa?”

“Membayangkan Tante telanjang…” sahutku sambil menurunkan zipper celana denimku, “Makanya diem – diem rudalku ngaceng terus Tante. Nih pegang kalau gak percaya sih…” kataku sambil menarik tangan kanan Tante Ros dan kutempelkan di rudalku yang sudah kusembulkan di kegelapan malam.

“Waaaaw! rudalmu segede dan sepanjang ini Wan?!” seru Tante Ros sambil menggenggam rudalku yang memang sudah ngaceng ini.

“Almarhum suami Tante kan orang bule. Tentu rudalnya lebih gede daripada rudalku ini.”

“Nggak Wan. Punya almarhum sih tergolong kecil. Lagian lelaki yang sudah tua, rudalnya suka mengecil, kata orang. rudalmu ini jauh lebih panjang dan jauh lebih gede Wan. Gak nyangka aku bakal ketemu keponakan yang rudalnya gagah perkasa gini. Jadi pengen ngemut…” ucap Tante Ros sambil mendekatkan mulutnya ke rudalku.

Tapi cepat kuhalangi mulut Tante Rossambil berkata, “Jangan Tante… aku kan laqgi nyetir nih. Bisa celaka kita nanti. Entar aja di hotel, mau diapain juga silakan.”

“Hihihiiii… gemes soalnya. Aku ini spermania Wan.” “Maksudnya?”

“Seneng nelan air mani. Makanya suamiku sangat sayang padaku, karena aku sering minum spermanya. Buat menghaluskan kulit muka.”

“Pantesan wajah Tante mulus gitu. Mmm… sebentar lagi juga kita nyampe Tante,” ucapku sambil memasukkan kembali rudalku ke balik celana dalam. Lalu menarik zippernya lagi.

Tak lama kemudian aku sudah menghentikan mobilku di pelataran parkir sebuah hotel bintang lima.

Kujinjing tas kerja dan tas pakaianku sambil berjalan di belakang Tante Ros.

Ternyata kamar yang dibooking Tante Ros berada di lantai tertinggi hotel itu, di lantai lima.

Setibanya di dalam kamar itu, aku duduk di sofa sambil berkata, “Kita bicara soal bisnis dulu ya Tante. Biar birahi kita semakin mateng.”

“Iya tapi sebentar, mau ganti pakaian dulu Wan,” sahut Tante Ros sambil mengeluarkan sehelai kimono berwarna orange dari tas pakaiannya yang diletakkan di atas meja makan. Lalu ia masuk ke dalam kamar mandi.

Tak lama kemudian Tante Ros muncul dari kamar mandi, sudah mengenakan kimono berbahan wetlook orange polos itu.

“Jadi mau bahas bisnis yhang gimana nih?” tanya Tante Ros sambil duduk merapat di samping kiriku.

“Tiga hari yang lalu aku baru membeli sebuah pabrik yang sudah berjalan bagus. Karena suaminya meninggal, pabrik itu dijual padaku.”

“Terus?”

“Bagaimana kalau Tante menginvestasikan dananya di pabrik itu? Atau bisa juga beli sahamku. Kalau perlu sahamku dibeli seratus persen juga gak apa – apa.”

Kemudian kujelaskan pabrik itu memproduksi apa saja. Dan pemasarannya tetap mengandalkan pasaran lokal.

“Kalau aku beli sajhamnya aja gimana?”

“Boleh,” sahutku sambil mengeluarkan berkas mengenai seluk beluk pabrik itu, berikut laporan kleuangannya secara tertib dan rutin. Dan ketika membaca bagian company capital, dia tertegun dan berkata, “Wooow… besar sekali company capitalnya Wan. Paling mampu juga aku hanya bisa beli saham di bawah limapuluh persen.

“Boleh Tante. Mau berapa juga Tante membeli sahamnya, terserah Tante. Bahkan mau beli satu persen juga boleh. Tapi hasilnya, tentu sedikit.”

“Satu persen sih sama juga bohong. Aku beli sahamnya empatpuluhlima persen deh. Tapi aku ingin lihat dulu pabriknya. Gimana?”

“Tentu aja boleh. Supaya jangan seperti jual kucing di dalam karung. Tapi kalau besok mungkin belum bisa. Kan Tante mau beli mobil dan perabotan rumah. Beli mobil sih gampang, Dalam setengah jam aja bisa selesai. Tapi perabotan rumah itu yang bertele – tele nanti. Jenisnya kan banyak. Belum tentu pula tersedia lengkap di satu toko.

“Perabotan rumah sih utamakan furniturenya aja dulu. Yang penting dahulukan beli tempat tidur, lemari – lemari dan sofa. Biar aku jangan nginep di hotel terus gini.”

“Siap Tante Cantik,” sahutku sambil merayapkan tanganku ke paha putih mulus yang tersembul lewat belahan kimononya.

Tante Ros cuma tersenyum. Bahkan ketika tanganku merayapi kehangatan pahanya sampai pangkalnya, dia masih tersenyum. Justru aku yang agak kaget, karena menyentuh jembut yang lebat di balik kimono orange itu.

“Banyak jembutnya ya…” ucap Tante Ros dilanjutkan dengan kecupan hangatnya di pipiku, “seneng serambi lempit berjembut apa seneng yang gundul?”

“Sama aja Tante,” sahutku, “Yang gondrong dan yang gundul, punya kelebihan masing – masing.”

“Almarhum suamiku tidak suka sama serambi lempit yang dicukur gundul. Dia ingin agar aku memelihara jembut, hanya perlu dirapikan saja. Karena menurut almarhum, serambi lempit berjembut itu seolah mengandung misteri. Seperti lukjisan wanita telanjang pelukis -pelukis terkenal di dunia, selalu menggambarkan wanita dengan kemaluan berjembut.

Kalau tanpa jembut, serambi lempit itu jadi jelek bentuknya dia bilang. Jadi kayak padang pasir gersang tanpa tumbuh – tumbuhan. Bahkan dia bilang kayak tofu kebanting dan pecah berantakan di lantai. Hihihiiii,” ucap Tante Ros sambil berdiri di lantai dan menanggalkan kimono orangenya. Dia memang tidak mengenakan bra mau pun celana dalam di balik kimono itu.

Sehingga ketika kimono itu dilepaskan, dia langsung menjadi telanjang bulat. Telanjang yang membuatku terlongong. Karena aku menyaksikan tubuh yang putih mulus tanpa cela setitik pun. Semua serba proporsional bagiku. Kurus tidak.. montok pun tidak. Mungkin bentuk tubuh seperti inilah yang dikehendaki untuk seorang wanita model.

“Kenapa bengong?” tanya Tante Ros sambil tersenyum manis.

“Tante laksana patung Dewi Venus yang bernyawa… dan seolah diciptakan untukku. Untuk kunikmati,” sahutku sambil menciumi pentil toketnya, pusar perutnya dan bahkan juga jembutnya yang tercukur rapi.

Tante Ros tersenyum. Lalu menanggalkan pakaianku sehel;ai demi sehelai, sampai telanjang seperti dia. Kemudian dia meraihku ke arah bed.

Dan ketika aku sudah celentang di atas bed berseprai putih bersih itu, Tante Ros melakukan apa yang diinginkannya di dalam mobil tadi. Mulutnya menyergap batang kemaluanku yang sudah ngaceng ini. Lalu ia mengoralnya dengan trampil sekali.

Mungkin semasa suaminya masih hidup, ia harus selalu melakukan hal ini. Karena suaminya sudah tua, sehingga harus selalu dibangkitkan gairahnya, agar rudalnya ereksi.

Dan tampaknya orang bule harus selalu main oral secara bergantian sebelum penetrasi. Konon lelaki bule tidak selalu sempurna ereksinya. Sehingga pada saat bersetubuh pun harus diselingi dengan permainan oral lagi, agar rudalnya yang melemas itu ngaceng lagi. Dan sekalinya ngaceng pun tidak keras seperti bangsa kita.

Dan lucunya, mereka begitu banyak melakukan foreplay. Tapi setelah eksekusi, hanya sebentar… lalu crooooottttt… seperti ayam. Hihihihiiii…!

Mulut dan tangan Tante Ros sudah sangat terlatih. Bibir dan lidahnya begitu trampil menggeluti puncak dan leher rudalku, sementara jemarinya pun sangat trampil untuk mengurut – urut badan rudalku yang sudah berlepotan air liurnya. Padahal aku tidak membutuhkan ini semua. rudalku sudah ereksi total sejak tadi.

Setelah Tante Ros melepaskan rudalku dari dalam mulutnya, maka giliranku kini untuk menggasak serambi lempit berjembutnya itu.

Kalau dipikir kata- kata Tante Ros itu memang benar. Dengan adanya jembut, kemaluan perempuan seperti menyimpan misteri yang membuat penasaran. Dan juga meninggalkan kesan subur, tidak gersang seperti padang pasir.

Sementara kalau serambi lempit dibuat plontos, langsung kelihatan bentuk aslinya. Tidak membangkitkan penasaran lagi.

Jadi buatku, baik serambi lempit gondrong atau botak, punya kelebihan masing – masing. Kelebihan yang bisa kunikmati kini. Bahwa ketika wajahku sudah berhadapan dengan serambi lempit berjembut tapi tergunting rapi itu, dengan penuh gairah kuciumi jembutnya yang ternyata memancarkan harum wewangian khas. Mungkin semacam wewangian aroma therapi.

“Harum seklai serambi lempitnya Tante,” ucapku sambil menyibakkan jembut Tante RTos ke kanan kirinya, sehingga belahannya mulai tampak di mataku. Lalu kungangakan belahan itu, sehingga tampak bagian dalamnya yang berwarna pink.

Bagian dalam yang berwarna pink itulah sasaran lidah dan bibirku. Tante Ros pun mulai menggelinjang sambil mengusap – usap rambutku.

Entah kenapa, bentuk dan gaya Tante Ros ini membuatku jadi sangat bergairah untuk melakukan semuanya ini. Menjilati bibir dalam dan setiap lekuk yang ada di bagian yang berwarna pink itu. Lalu menyasar kelentitnya yang nyempil sebesar kacang kedelai. Yang nyempil ini kujilati habis – habisan disertai dengan isapan isapan kuat.

Tante Ros tak cuma menggeliat dan mengejang. Dia juga mendesah dan merintih erotis, “Oooooh… Waaawaaaaaan… ooooohhhh… Waaaaan… ini… enaknya setengah matiiiiiiiii… jilatin teruuuuussss sampai orgasme Waaaaaaan… itilnya jilatin teruuuuusssss… itilnyaaaaa… oooooohhhhh …

Tapi aku tidak mengikuti keinginan Tante Ros sepenuhnya. Aku tdak mau menjilatinya sampai orgasme, karena nanti aku cuma bakal kebagian beceknya doang.

Maka setelah aku merasa cukup banyak mengalirkan air liurku ke dalam liang serambi lempit Tante Ros, langsung saja aku jauhkan mulutku dari liang serambi lempitnya. Cepat kuletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit wanita setengah baya itu.

Sebelum itu Tante Ros sudah mengangakan serambi lempitnya. Mungkin untuk mempermudahkanku melakukan penetrasi ke dalam serambi lempit berjembut itu. Sehingga jelas benar bagian dalam serambi lempit Tante Ros yang sudah basah kuyup oleh air liurku itu.

Dan dengan sewkali dorong… blesssssss… batang kemaluanku langsung membenam ke dalam liang serambi lempit adik kandung ibuku itu.

rudalku membenam lebih dari separuhnya. Disambut dengan pelukan hangat Tante Ros, “Ooooohhhh… semangat hidupku jadi bangkit lagi Wan… ayo setubuhi aku seperkasa mungkin…” ucapnya setengah berbisik.

Disusul dengan ayunan rudalku yang mulai bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Tante Ros. Memang serambi lempit berjembut ini menimbulkan sesasi tersendiri, yang tak kutemukan pada serambi lempit plontos tanpa jembut.

Sehingga dengan penuh semangat aku makin menggencarkan entotanku, sampai pada kecepatan standard.

Mengingat Tante Ros calon investor bagiku, seharusnyalah aku membuat kepuasan baginya. Terlebih lagi mengingat putih mulusnya sekujur tubuh tanteku yang satu ini. Sehingga mirip patung Dewi Venus yang terbuat dari batu pualam itu.

Desahan dan rintihan histerisnya pun mulai berkumandang di dalam kamar hotel bintang lima ini. “Waaaa… waaaaan… aaaaah… aaaaaahhhhh… ini… luar biasa enaknya Waaaaaaan… ooooh… ooooohhhhh… rudalmu pakai apa sih? Selain panjang gede kok rasanya enak sekali Waaaan…”

“rudalku cuma pakai perasaan Tante. Ini memang kejutan bagiku. Karena tak menyangka aku bisa menyetubuhi bibiku sendiri… dan ternyata… serambi lempit Tante luar biasa sedapnya… gurih dan legit Tanteee…” sahutku terengah.

“Syukurlah kalau enak Wan… entotlah aku sepuasmu… ewean sama kamu sih sehari sepuluh kali juga aku mauuuuu…”

“Hihihi… Tante masih ingat sama istilah ewean segala…”

“Kita memang lagi ewean kan?” ucap Tante Ros sambil memijat hidungku.

Entah kenapa. Aku ingin memperlihatkan keperkasaanku kali ini, karena sudah “ditantang” oleh Tante Ros tadi.

Karena itu aku mulai meremas toket kanannya dengan tangan kiriku, sambil mencelucupi puting toket kirinya. Sementara entotanku justru kugencarkan.

Gila… memang licin liang serambi lempit tanteku ini. Tapi gurih dan legitnya… minta ampun…! Kenyataan itu membuatku semakin bergairah untuk menggenjot rudalku yang bergerak seperti pompa manual, maju mundur dan maju mundur terus di dalam jepitan liang serambi lempit Tante Ros.

Tak cuma itu. Aku ingin tahu apakah titik terpeka di badan Tante Ros sama dengan titik terpeka di badan Tante Martini atau tidak. Maka ketika aku sedang gencar – gencarnya memenyetubuhi liang serambi lempit legit nitu, mulutku mulai nyungsep di ketiaknya yang bersih dari bulu. Lalu di situ aku tak cuma menjilatinya, tapi juga menggigit – gigit dan menyedot – nyedot.

Haaa… ternyata sama dengan Tante Martini…!

Tubuh Tante Ros terasa bergetar – getar dan mengejang – ngejang. Rintihannya pun berlontaran terus, “Oooo… ooooo… oooooh… Wawaaaaaan ini smekain enak Waaaan… gila… ini pertama kalinya ketekku dijil;atin… memang geli tapi enak Waaan… ooooh… entot terus Waaaaan… enak sekaliiii…

Tante Ros merintih dan merintih terus. Tapi karena dia sangat lama bermukim di Nederland, pinggulnya tak sedikit pun bergoyang seperti goyangan pinggul Tante Martini. Mungkin karena di negara bule, goyang pinggul tidak terlalu penting. Tidak ada goyang karawang di negaraku.

Dan aku tak peduli hal itu.

Yang jelas, sekitar duapuluh menit aku memenyetubuhinya, Tante Ros mulai gedebak – gedebuk. Lalu terdengar suara, “Aku mau datang… ini udah mau datang… aaaaa…”

Lalu ia mengejang dengan mulut ternganga.

Aku pun mempercepat entotanku. Sampai ketika ia tiba di titik klimaks, kubenamkan rudalku sedalam mungkin. Moncong rudalku pun mentok di dasar liang serambi lempitnya. Pada saat itu pula terjadi sesuatu yang teramat indah dan paling kusenangi.

Bahwa liang serambi lempit Tante Ros mengejut – ngejut, disusul dengan gerakan sekujur liang sanggamanya yang seperti spiral dan seolah mau mendorong rudalku ke luar. Tapi tentu saja takkan kubiarkan rudalkui “termuntahkan”. Karena aku belum apa – apa. Masih jauh dari tanda – tanda mau ejakulasi…!

Tante Ros klepek – klepek. Lalu terkulai di bawah himpitan dan pelukanku.

Kutunggu sampai Tante Ros pulih lagi fisiknya. Beberapa menit kemudian matanya terbuka dan menatapku dengan sorot puasnya seorang wanita yang baru mencapai orgasme.

Pada saat itrulah kuayun lagi rudalku di dalam liang serambi lempit Tante Ros yang sudah semakin licin, tapi tidak becek. Bahkan masih tetap legit. Membuatku semakin bergairah untuk memenyetubuhinya lebih massive dari sebelumnya.

Tante Ros tampak senang. Ia bahkan menawarkan untuk berganti posisi, jadi posisi doggy.

Aku setuju. Tante Ros pun segera merangkak dan menungging.

Sambil berlutut kubenamkan rudalku ke dalam liang serambi lempit Tante Ros yang berada di bawah mulut anusnya. Dengan mudah rudalku bisa langsung melesak amblas ke dalam liang serambi lempit yang masih basah oleh lendir libido Tante Ros. Blessssss …

Posisi doggy yang sedang kulakukan bersama adik kandung Ibu itu membuatku teringat kepada ibunya Euis yang sudah kubiasakan memanggilnya Ema itu.

Masalahnya, belum apa – apa Tante Ros berkata sambil menungging, “Spanking aja nanti ya.”

“Siap Tante… hihihiiii…”

Maka ketika sambil berlutut kuentot liang serambi lempit Tante Ros itu, aku tak sekadar berpegangan kepada bokongnya yang indah itu. Aku mulai melakukan spanking pada bokong indahnya. Kukemplangi dengan tamparan – tamparan keras sepasang buah pantat tanteku, sementara rudalku tewtap gencar memenyetubuhi liang serambi lempitnya…

Bunhyi tamparan – tamparan di sepasang buah pantat Tante Ros itu diiringi dengan bunyi unik yang ditimbulkan oleh gerakan rudalku di liang serambi lempitnya yang sudah basah tapi tidak becek itu. “Crekkkk… srttttt… creeeekkkk… stttttt… crokkk… srtttt… craaakkkkkkk… srttttt… creeeekkkkkkkk…

Terkadang aku merayapkan tanganku ke selangkangan Tante Ros. Lalu mencari – cari sesuatu. Mencari – cari itilnya…!

Dan setelah menyentuihnya, aku bisa memenyetubuhinya sambil menggesek – gesekkan ujung jariku di kelentit Tante Ros…!

Karuan saja Tante Ros merengek – rengek keenakan. “Wawaaaaan… ooooohhhh… kamu luar biasa jagonya Waaaan… iyaaaaa… entot terus sambil elusin itilku Waaaaan… ini luar biasa Waaaan… fantastis dan sensasionaaaaallll… iyaaaaaa… iyaaaaaa…”

Namun dalam posisi doggy ini pula Tante Ros ambruk di puncak orgasmernya. Dengan tubuh bermandikan keringat.

Kemudian ia duduk sambil menyeka keringatnya dengan beberapa lembar kertas tissue basah. Lalu ia celentang lagi sambil berkata, “Kamu luar biasa Wan. Aku ingin hubungan kita tetap berjalan sampai kita sama – sama tua ya.”

Tante Ros celentang sambil merentangkan sepasang paha putih mulusnya lebar – lebar. “Iya Tante… aku pun akan selalu membutuhkan Tante…” sahutku sambil membenamkan lagi rudalku ke dalam liang serambi lempit Tante Ros yang sudah siap untuk melanjutkan persetubuhan ini sampai selesai.

“Diapain sih rudalmu Wan? Kok bisa kuat sekali…” ucap Tante Ros ketika aku sudah berhasil membenamkan rudalku sampai menyentuh dasar liang serambi lempitnya.

“Gak diapa – apain Tante. Udah dari sononya begini.”

“Aku langsung puas waktu orgasme pertama tadi. Orgasme kedua lebih puas lagi. Berarti ada kemungkinan mau orgasme lagi nih… berarti pertama kalinya dalam hidupku bisa orgasme dua kali. Apalagi kalau tiga kali… pasti lebih edan lagiiii… aaaah… edaaaaan… rudalmu iniiiiiii…

Ini semua membuat gairahku bangkit sejadi – jadinya. Bahkan gesekan antara rudalku dengan dinding liang serambi lempitnya, berkali – kali membuatku terpejam saking nikmatnya.

Tapi aku berusaha mengulur durasi ejakulasiku dengan membayangkan yang buruk – buruk dan menjengkelkan.

Tapi baru belasan menit aku memenyetubuhi Tante Ros dalam posisi missionary ini, tiba – tiba dia berkelojotan lagi. Sehingga konsentrasiku terpaksa dipusatkan lagi, agar bisa ejakulasi berbarengan dengan orgasme Tante Ros.

Maka kupercepat entotanku dan moncong rudalku terus – terusan menyundul dasar liang serambi lempit Tante Ros.

Akibatnya… lagi – lagi terjadi sesuatu yang teramat indah ini. Bahwa kami saling cengkram dengan kuatnya, saling remas dengan habatnya… bahwa ketika liang serambi lempit Tante Ros mengejut – ngejut, rudalku pun meronta – ronta sambil memuntahkan lendir pejuhku… croooottttttt… crooootttttt…

Lalu kami sama – sama terkapar dengan tubuh bermandikan keringat.

Tapi masih sempat kudengar suara Tante Ros membisiki telingaku, “Terima kasih Wan… kamu telah berhasil membangkitkan kembali semangat hidupku… dan aku jadi sayang sekali padamu…”

Sebagai jawaban, kupagut bibir Tante Ros. Lalu kami saling lumat selama beberapa detik.

“Punya rudal seperti gitu sih harus punya istri banyak. Pasti semuanya terpuasi,” kata Tante sambil menyeka serambi lempitnya dengan kertas tissue basah.

“Nggak Tante. Aku sih punya istri cukup satu orang saja. Tapi kalau kekasih rahasia kan bisa aja banyak – banyak.”

“Terus aku mau dijadikan kekasih rahasia yang keberapa?” “Nomor satu Tante,” ucapku yang disusul dengan kecupan hangat di pipi Tante Ros, “Karena Tante kan adik kandung Ibu.”

“Terima kasih ya Sayang. Dijadikan kekasih rahasiamu saja aku sudah senang rasanya.”

Setelah mandi bersama di kamar mandi hotel yang menyediakan bathtub segala itu, kami berpakaian kembali dan mengobrol di sofa yang agak jauh dari bed.

Di situlah Tante Ros menyerahkan selembar cek sambil berkata, “Ini untuk membayar pembelian rumahmu.”

“Nanti aja dibayarnya di depan notaris. Jual beli rumah kan harus ada akte jual belinya Tante.”

“Pegang dan cairkan aja dulu ceknya. Soalo akte dan sebagainya bisa diurus belakangan. Kita kan saudara dekat, bukan orang luar.”

Akhirnya kuterima cek itu setelah membaca nominal yang tertera di cek bank internasional itu. Dan kaget membacanya. “Tante… nominalnya kok lebih banyak dari harga rumah itu? Gak salah nih? kelebihannya sekitar duapuluh persen.”

“Kelebihannya sebagai tanda sayangnya aku padamu Wan. Udah… jangan sok menolak rejeki. Meski pun kamu sudah kaya raya, apa salahnya aku ngasih tanda sayang padamu?”

Esoknya, pagi – pagi sekali aku dan Tante Ros sudah berangkat menuju dealer mobil. Dealer yang menjual mobil SUVku itu.

Tidak sampai sejam Tante Ros sudah bisa membawa pulang sebuah sedan Jepang tapi cukup tinggi powernya. Sedan yang cukup gede silindernya, 3000 cc.

Tapi karena Tante Ros belum punya SIM Indonesia, dia tidak berani membawa mobil itu. Maka kutelepon Ramto, sopir perusahaan Tante Laila, untuk membawa mobil itu ke rumah baru Tante Ros. Sambil kuberi kunci rumah, teruitama untuk membuka pintu garasinya. Tentu saja kuberikan juga alamat lengkap rumah baru yang sudah dibayar oleh Tante Ros itu.

Tidak sampai sejam kami berada di dealer itu. Lalu kami lanjutkan menuju toko yang paling terkenal sangat lengkap menyediakan segala perabotan rumah, dari furniture, peralatan dapur dan apa pun yang biasa dipakai di rumah, ada di situ.

Toko besar yang menjual segala keperluan rumah tangga itu ada cabangnya di seluruh dunia. Bahkan di Nederland pun ada, kata Tante Ros.

Kebutuhan untuk sebuah rumah baru yang masih kosong memang banyak unak – aniknya. Sehingga Tante Ros membutuhkan waktu lebih dari tiga jam di toko itu. Karena dari mesin cuci, kulkas, microwave, kompor gas dan peralatan dapur lainnya, smeua dibeli dari situ. Sampai ke piring, cangkir, gelas, penggorengan, panci – panci dan sebagainya dibeli dari situ juga.

Lalu kami meninggalkan toko luas dan serba lengkap itu menuju hotel. Hanya untuk check out, karena Tante Ros ingin segera menempati rumah barunya.

Dari hotel bintang lima itu barulah kami menuju rumah baru Tante Ros. Sementara barang – barang yang dibeli dari toiko hardware itu akan segera dikirimkan ke rumah barfu Tante Ros.

Tapi kami sempatkan makan siang dulu di sebuah restoran, karena hotel hanya menyediakan breakfast tadi pagi, yang tidak mengenyangkan.

Setelah perut kami kenyang, barulah kami menuju rumah baru Tante Ros.

Ternyata sebuah truk berisi segala perabotan rumah yang baru dibeli tadi, sudah menunggu di depan rumah baru Tante Ros.

Setelah kami datang, pesuruh dari toko perabotan rumah itu dengan cekatan memasangkan semua barang yang kami beli. Jadi aku sudah bisa duduk di sofa putih yang masih 100% baru itu di ruang tamu. Sedangkan Tante Ros sibuk mengatur barang yang harus ditempatkan di posisinya masing – masing.

Aku tidak mau ikut campur mengatur letak barang – barang itu semua. Biarlah Tante Ros sendiri yang mengaturnya, karena semuanya harus nyaman untuk dirinya.

Setelah semuanya terpasang secara benar menurut Tante Ros, truk yang sudah kosong itu pun meninggalkan depan rumah baru ini.

“Aduuuh… capek sekali yaaa…” ucap Tante Ros sambil merebahkan diri di sofa yang berada di depanku.

“Perlu dipijitin nggak?”

“Hihihiiii… dipijitin sama kamu sih ujung – ujungnya pasti ke sini,” sahut Tante Ros sambil menepuk – nepuk ke bawah perutnya.

“Hahahahaaaaa… kirain mau lagi,” ucapku.

“Besok lagi aja. Hari ini aku ingin istirahat dulu. Sambil mikirin bisnis kita itu.”

Tiga hari kemudian, aku berangkat ke pabrik. Karena ada yang ingin kudiskusikan dengan sang Dirut, mengenai rencana pembelian saham oleh Tante Ros itu. Aku ingin mengorek pendapat direktur utama bernama Vita itu.

Ini kunjungan kedua kalinya ke pabrik yang sudah menjadi milikku ini. Tapi aku belum mengamati seluk beluk ruang kerjaku.

Dalam kunjungan kali ini aku mulai memperhatikan ruang kerjaku. Ruang kerja komisaris utama ini tampak serba antik furniturenya. Bahkan lukisan dan patung – patung yang dipajang di dinding dan di atas meja – meja kecilnya pun barang – barang seni rupa yang antik semua.

Pasti ini semua diatur oleh Tante Martini, sesuai dengan bentuk rumah besarnya yang di Jakarta itu pun berbentuk antik dan kokoh. Tidak terbawa arus minimalis.

Setibanya di ruang kerja, kupanggil Bu Vita agar menghadap padaku, lewat interphone yang ada di meja kerjaku. Meja yang terbuat dari kayu jati zaman kolonial dahulu.

Tadinya aku tak punya perhatian sedikit pun kepada Bu Vita yang menjabat dirut di pabrik ini. Bahkan sepintas lalu kupikir dia itu wanita setengah baya yang biasa – biasa saja. Tapi pada waktu dia menghadap ke ruang kerjaku sebagai komisaris utama perusahaan hibah dari Tante Martini ini, aku mulai serius memperhatikan bentuk dirutku itu.

“Barangkali lebih enak kupanggil Bu Vita dengan panggilan Mbak aja ya. Karena panggilan Ibu terkesan tua, sedangkan Mbak kan masih muda,” kataku membuka pembicaraan.

“Saya memang sudah tua Boss. Setahun lagi juga usia saya empatpuluh tahun,” sahutnya sambil menunduk di sofa yang berhadapan dengan sofaku.

“Berarti usia Mbak sekarang baru tigapuluhsembilan kan?”

“Betul Boss.”

“Tigapuluh sembilan sih masih muda Mbak. Masih bisa hamil dan melahirkan.”

“Iii… iya Boss,” sahutnya sambil tersenyum. Hmmm… senyum itu… membangkitkan gairahku. Gairah nakal seorang lelaki muda yang ingin memanfaatkan masa mudanya dengan bertualang terus dari atas perut yang satu ke atas perut yang lain. Terutama dengan wanita setengah baya seperti dia itu…!

“Jadi gak apa kalau aku panggil Mbak kan? Biar hubungan kita lebih cair, jangan terlalu kaku.”

“Iya silakan mau panggil saya apa. Manggil nama langsung juga silakan.”

“Nggak. Aku merasa lebih nyaman dengan memanggil Mbak. Walau pun aku tau bahwa kita sama – sama bukan orang Jawa.”

“Hehehe… iya Boss.”

“Begini… sebenarnya ada dua hal penting yang mau kusampaikan kepada Mbak. Yang pertama, ada familiku yang akan bergabung dengan kita. Dia siap untuk melepas dananya yang jumlahnya hampir limapuluh persen dari nilai asset pabrik ini secara keseluruhan. Aku ingin minta pendapat Mbak, mana yang lebih baik…

Mbak Vita menatapku sekilas. Lalu tertunduk, sepertinya sedang berpikir. Lalu berkata, “Mungkin lebih positif dana itu dimasukkan saja sebagai penambahan modal, Boss.”

“Apa alasannya?” tanyaku.

“Kita masih kekurangan ruang produksi Boss. Kalau modalnya ditambahin, bisa bangun ruang produksi yang baru. Sehingga dengan sendirinya produksi kita semakin besar Boss. Tapi itu hanya usul saya aja. Boss tentu lebih tau mana yang terbaik untuk kemajuan perusahaan.”

“Seandainya usul itu kusetujui, mau bangun berapa ruang produksi baru nanti?” tanyaku.

“Di belakang kan ada tanah yang masih kosong seluas satu setengah hektar. Itu cukup untuk dibangun lima ruang produksi baru Boss. Sangat sesuai dengan kebutuhan pasar.”

Kemudian Mbak Vita menjelaskan beberapa jenis barang yang dibutuhkan oleh market, tapi belum bisa diproduksi di pabrik ini. Dengan ada tambahan 5 ruang produksi, kebutuhan market itu akan tersedia.

Setelah memikirkan semuanya itu sejenak, akhirnya aku menyetujui usul Mbak Vita itu. Maka aku pindah ke sofa yang sedang diduduki oleh Mbak Vita. Duduk di samping kanannya. Dan menjabat tangannya sebagai tanda sepakat. “Oke… kita laksanakan usul Mbak itu. Mudah – mudahan sesuai dengan harapan kita semua nantinya,” kataku.

Tapi tangan yang kujabat itu tidak cepat – cepat kulepaskan. “Ada satu point lagi yang belum kusampaikan Mbak.”

“Siap Boss, saya akan mendengarkannya dengan seksama.”

“Pointnya simple sekali kedengarannya. Bahwa aku ingin agar kita melakukan sesuatu, agar hubungan kita semakin akrab.”

“Melakukan apa Boss?” tanyanya seperti bingung, sementara tangan halus dan hangatnya belum juga kulepaskan.

“Aku ingin dekat dengan Mbak. Karena itu, bagaimana kalau kita refreshing nanti malam di villa yang tidak terlalu jauh dari kota ini?”

Mbak Vita membetulkan letak kacamata dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya masih kugenggam. “Saya punya suami Boss. Saya tidak bisa keluar malam – malam begitu saja. Harus ada alasan yang tepat.”

“Yah… aku hanya usul. Supaya hubungan kita semakin dekat dan kompak. Kalau Mbak keberatan, aku juga takkan maksa.”

“Mmm… Boss mau itu kan?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Itu apa?”

“Yang biasa dilakukan oleh suami – istri,” sahutnya.

“Jujur aja… iya. Tapi aku belum punya istri Mbak.”

Mbak Vita terdiam sesaat. Dan tetap membiarkan tangan kanannya berada dalam genggamanku. “Boss… saya akan permudah aja. Nggak usah jauh – jauh. Kalau Boss benar – benar mau sama saya yang sudah tua ini, lakukan di sini aja sekarang. Mumpung saya lagi gak banyak kerjaan.“

Aku terkejut girang mendengar ucapannya itu. Maka kulingkarkan lenganku di pinggangnya sambil membisikinya, “Aku ini penggila wanita setengah baya Mbak.”

Sambil tersenyum ia menyahut, “Saya tidak pernah menyeleweng dari suami Boss. Tapi kali ini saya akan pasrah kepada Boss.”

“Kenapa denganku bisa mau?”

“Pertama, karena Boss atasan saya. Kedua, karena Boss terlalu ganteng dan sangat muda belia… sehingga saya pun jadi penasaran juga… seperti apa rasanya jika saya berselingkuh dengan Boss…” sahutnya sambil membetulkan letak kacamatanya. Saat ini dia masuk ke dalam ruang kerjaku tidak mengenakan blazer merah lagi.

Hanya kemeja abu – abu pastel dan rok mini merah yang dikenakannya. Rok yang warna dan bahannya disamakan dengan blazernya. Last but not least, ia mengenakan stocking putih. “Tapi yang terutama, saya ingin agar hubungan saya dengan boss sebagai komisaris utama, ingin berjalan secara profesional tapi akrab…

Mbak Vita berbicara seperti itu pada saat tanganku sudah merayap ke balik rok mini merahnya. Untuk merayapi pahanya yang putih mulus dan licin sekali… sampai ke pangkalnya. Tapi setelah menyentuh celana dalamnya, aku berkata, “Mbak… semua ini membuatku kaget. Karena Mbak begitu cepat menanggapi hasratku.

“Action di ruang kerja Boss ini?” tanyanya sambil berdiri dan tersenyum.

“Iya. Beraksilah seperti seorang stripteaser yang sedang beraksi di atas panggung. Bebas aja… tak usah sungkan – sungkan.”

“Maaf pintunya akan saya kunci dulu Boss,” ucapnya sambil melangkah ke pintu keluar dari ruang kerjaku.

Ketika kembali lagi ke depan mataku, Mbak Vita menggantungkan sesuatu di telunjuknya. Menggantungkan… celana dalamnya! Ternyata barusan waktu menguncikan pintu, ia menyempatkan diri untuk melepaskan celana dalamnya.

Hal itu membuatku tercengang. Bukan cuma tercengang, si johni pun mulai bangun. Karena membayangkan sesuatu yang tadinya ditutupi celana dalam itu…!

Lalu tanpa ragu Mbak Vita meletakkan kakinya di atas meja tulis jati antik itu, sehingga aku bisa menyaksikan kemaluannya…! Tak cuma iktu. Ia pun duduk di pinggiran meja sambil mengangkat rok merahnya, sehingga bentuk serambi lempitnya semakin jelas di mataku. Sebentuk serambi lempit yang bersih dari jembut…!

Kuperhatikan aksi Mbak Vita sejenak. Lalu menghampirinya sambil bertanya, “Mau kita lakukan di atas meja ini?”

“Kan ada kamar yang biasa dipakai istirahat oleh Bu Martini dahulu Boss. Itu pintunya.”

“Ohooo… aku jadi tamu di rumahku sendiri,” ucapku sambil memegang pergelangan tangan Mbak Vita dan menuntunnya ke arah pintu yang barusan ditunjuknya.

Memang ada kamar yang lumayan besar dan lengkap segalanya seolah berada di rumah kecil, atau tepatnya seperti berada di apartemen. Ada dua bedroom berikjut kamar mandinya masing – masing, ada ruang tamu, ada meeting room dan ada kitchen segala. Mungkin dahulu Tante Martini kalau sedang berada di kota ini suka masak di kitchen relax roomnya.

Tapi semua itu tak penting bagiku. Yang penting bagiku saat ini adalah tubuh wanita setengah baya yang bernama Vita ini. Yang ternyata memancarkan pesona mengagumkan bagiku.

Namun ternyata Mbak Vita pun berkata bahwa sejak awal melihatku, dia langsung jatuh hati padaku. Tapi dia tahu diri, bahwa aku ini atasannya. Selain daripada itu, dia merasa bahwa aku terlalu muda baginya. Tapi kini semuanya sudah menjadi kenyataan. Bahwa aku suka padanya.

Maka ketika kami sudah berada di salah satu bedroom, dengan tekun dia melepaskan pakaianku sehelai demi sehelai, sampai telanjang bulat. Seperti dia.

Kemudian kami melompat ke atas bed. Di atas bed inilah Mbak Vita memperlihatkan jati diri yang sebenarnya. Tanpa ragu dia menggenggam rudalku yang sudah tegang ini, lalu mengulum dan menyelomotinya. Membuatku terpejam dalam nikmat.

Begitu trampilnya Mbak Vina mengoralku. Sehingga aku jadi kuatir, takut ngecrot di dalam mulutnya sebelum aku sempat menikmati serambi lempitnya. Karena itu kutarik rudalku dari dalam mulut Mbak Vita, lalu menerkam dan menggumulinya.

Tadinya aku ingin menjilati serambi lempitnya juga. Tapi ketika aku sedang menghimpitnya sambil menciumi dan menjilati lehernya, terasa rudalku dipegang olehnya. Terasa moncong rudalku dicolek – colekkan ke belahan serambi lempitnya yang sudah licin dan hangat. Bahkan ia menarik rudalku dan menusukkannya ke mulut serambi lempitnya.

Aku pun tak sabar lagi. Sekalian kudorong saja batang kemaluanku sampai melesak masuk hampir separohnya ke dalam liang serambi lempit Mbak Vita…!

Setelah keadaan telanjur seperti ini, aku pun mulai memenyetubuhinya perlahan – lahan dulu.

Mbak Vita pun tak segan – segan lagi mencium dan melumat bibirku sambil mendekap pinggangku erat – erat. Sehingga aku pun semakin menggencarkan entotanku sampai dalam kecepatan standard.

Mulailah terdengar desahan dan rintihan histeirsnya, “Bossss… ooooohhhhh… Bosssss… gak nyangka saya bakal mengalami semua ini Boss… oooooohhhhh… Bossssss… ooooooooohhhhhh… aaaaaaah… aaaaaah… punya Boss luar biasa gede dan panjangnya Boss… aaaaaah… Bosss… oooooohhhh…

Hebatnya, Mbak Vita mendesah dan merintih itu sambil menggoyangkan pinggulnya. Bergeol – geol menyerupai angka 8.

Sehingga liang serambi lempitnya membesot – besot dan memilin – milin tongkat aladinku.

Maka aku pun tak mau kalah. Kujilati lehernya diiringi gigitan – gigitan kecil, sementara tangan kiriku meremas – remas toket kanannya sambil sesekali memelintir pentilnya.

Makin riuh pula rintihan histerisnya yang terdengar erotis oleh telingaku. “Aaaaaah… Bosss… sungguh Boss… ini rudal yang paling enak dalam hidup saya… aaaah… silakan entot serambi lempit saya sepuas Boss… saya sudah runtuh di telapak kaki Boss… oooooh… belum pernah saya merasakan ML senikmat ini Bosssssssss…

Terlebih lagi setelah aku menjilati ketiaknya yang harum deodorant, semakin menjadi – jadi juga rengekan erotis wanita setengah baya itu, “Aaaaaa… geeee… geliiii… tapi eeee… enak sekali Bossss… aaaaahhhh… aaaaa… hihihiiiii… iiiiiiihhhhhh… aaaaaa… aaaaaahhhhh… Bossssss …

Aku pun tak mau mengenyampingkan sisi romantisnya. Maka pada suatu saat, ketika aku semakin gencar memenyetubuhi liang serambi lempitnya yang legit dan terasa seperti menyedot rudalku berulang – ulang, aku memagut bibirnya ke dalam lumatanku. Mbak Vita pun menyambut kehadiran bibir dan lidahku dengan menyedot lidahku sampai masuk ke dalam mulutnya.

Maka kubalas juga, ketika lidahnya agak terjulur, kusedot ke dalam mulutku, untuk digeluti oleh lidahku.

Dalam keadaan seromantis ini dia tidak bisa merintih, karena mulutnya tersumpal oleh mulutku. Tapi terasa kedua tangannya meremas – remas bahu dan punggungku.

Dalam keadaan sedang saling lumat bibir dan saling sedot lidah inilah, tiba – tiba terasa Mbak Vita mengelojot – ngelojot sambil menahan nafasnya dan memejamkan matanya. Aku sudah tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Maka kugenjot rudalku untuk memenyetubuhi liang serambi lempitnya segencar mungkin.

Lalu ketika tubuhnya terasa mengejang tegang… tegang sekali, aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin, sampai terasa moncongnya menabrak dasar liang serambi lempit wanita setengah baya itu.

Pada saat itulah kurasakan liang serambi lempitnya mengedut – ngedut kencang. Inilah detik – detik yang paling kugilai di setiap kali menyetubuhi perempuan.

Tapi kali ini aku merasakan yang lain dari yang lain. Liang serambi lempit Mbak Vita empot – empotan terus, meski lendir libidonya sudah membanjir. Mungkin inilah yang disebut serambi lempit yang bisa “empot ayam” (seperti dubur ayam kalau ditiup suka empot – empotan).

Dan gilanya… ini nikmat sekali. Membuatku terpejam – pejam. Bahkan aku merasa ejakulasiku tak bisa ditahan – tahan lagi.

Lalu aku mengelojot, sementara moncong rudalku memuntahkan lendir kenikmatanku.

Crooootttt… croottt… croooottttt… croootttt… crootttttt… crooooooootttt…!

“Ughhhh… serambi lempit Mbak bisa empot ayaaaam… !“ucapku yang sudah terkapar di atas perut Mbak Vita.

Mbak Vita cuma tersenyum. Lalu mencium bibirku sambil berkata, “Terima kasih Boss. Belum pernah saya rasakan ML senikmat ini…”

“Aku pun belum pernah merasakan serambi lempit yang bisa empot ayam seperti serambi lempit Mbak. Ini jelas akan membuatku ketagihan. Jadi… sesibuk apa p-un Mbak, kalau aku ingin menyetubuhi Mbak lagi, jangan sulit dipanggil ke ruang kerjaku ya.”

“Siap Boss. Saya juga pasti ketagihan. Kapan pun Boss membutuhkan saya, tinggal call aja nanti.”

Setelah bersih – bersih dan berpakaian lengkap kembali, aku berkata kepada Mbak Vita, “Mungkin besok juga investor itu akan kubawa ke sini Mbak. Sebenarnya dia tanteku sendiri. Adik kandung ibuku yang sudah memboyong dana sangat banyak dari Nederland ke sini.”

“Siap Boss.”

“Aku minta setiap ruangan yang akan disurvey harus rapi. Supaya investor tertarik untuk menanamkan investasi di pabrik kita ya Mbak.”

“Siap Boss. Hari ini juga akan saya perintahkan agar semua ruangan produksi dirapikan.”

“Dan… terima kasih atas semuanya Mbak. Aku takkan melupakan segala yang telah terjadi di antara kita berdua. Semoga Mbak semakin tekun melaksanakan tugas sebagai dirut pabrik ini.”

“Siap Boss. Saya juga menghaturkan terimakasih, atas kemurahan hati Boss mengucurkan keindahan ke dalam batin saya.”

KPikirannya pun berubah. Dia berani menanam saham hampir sama nominalnya jika dibandingkan dengan nilai asset pabrik ini secara keseluruhan. Sehingga kalau dihitung sedcara menyeluruh, nilai sahamnya hanya 1 % di bawah nilai asset pabrik secara keseluruhan. Jadi kalau dihitung secara keseluruhan, sahamku 51%, saham Tante Ros 49%.

Tampaknya Tante Ros bisa menanam investasi lebih banyak lagi. Tapi dia tidak mau melebihi sahamku. Mungkin agar aku tetap menjadi komisaris utama, sementara dia bisa dijadikan komisaris kehormatan saja. Karena dia ingin duduk manis saja di rumah barunya, tanpa melibatkan diri dalam kegiatan pabrik sehari – hari.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan berputar terus. Tiada yang bisa menghentikannya.

Tanpa terasa setahun telah berlalu. Suasana memang sudah banyak yang berubah.

Pabrikku, hibah dari Tante Martini itu berkembang dengan sangat pesatnya. Karena Mbak Vita memang bisa diandalkan. Dia bisa mencerna konsep – konsep baruku, kemudian dilaksanakannya dengan baik.

Sementara itu, Wati sudah menikah dengan seorang pengusaha yang lumayan mapan, meski usianya sudah 40 tahunan, 15 tahun lebih tua daripada Wati.

Aku ikut bahagia mendengar curhatan Wati. Bahwa lelaki itu mau menerima Wati apa adanya, termasuk tentang keperawanannya yang sudah tiada.

Dengan sendirinya Wati diboyong oleh suaminya, sehingga Ibu jadi sendirian di rumah. Tapi untungnya ada saudara sepupu Ibu yang hidup menjanda dan bersedia tinggal di rumahku. Untuk menemani dan meladeni kebutuhan Ibu sehari – hari. Tentu saja aku memberikan gaji tiap bulan pada Bi Elin, demikian aku memanggilnya karena ia kurang ngepas kalau dipanggil Tante (maklum dia orang kampung, meski statusnya adik sepupu Ibu).

Lalu apakah aku sendiri merasa birahiku sudah mantap dan fokus terhadap Anneke seorang?

Inilah masalahnya. Setiap kali dekat dengan perempuan setengah baya, selalu saja hasrat birahiku datang menggodaku.

Memang aku selalu berusaha untuk menindasnya dengan caraku sendiri.

Tapi pada suatu malam… ketika aku sedang berada di rumahku, tampak galon air mineral di dispenser kamarku sudah habis. Padahal aku haus sekali. Setahuku di dapur ada dispenser juga. Dalam keadaan cuma bercelana training tanpa baju, aku keluar untuk mengambil segelas air mineral untuk pelenyap dahagaku.

Sebelum tiba di dapur, aku melewati ruangan cucian yang sudah bersih dan meja setrikaan. Saat itulah aku melihat sesuatu yang luar biasa. Bahwa Bi Elin sedang menyetrika sambil berdiri menghadap mejatulis lamaku yang sudah dijadikan meja setrikaan, dengan mengenakan gaun rumah yang ke atasnya berwarna pink dengan polka dot putih, sementara ke bawahnya rok mini berwarna pink polos.

Gaun tank top itu menyatu bagian atas dengan rok mininya. Yang membuatku terbengong agak jauh di belakangnya, adalah betapa tipisnya pakaian yang ia kenakan itu, sehingga dari jauh pun kelihatan bentuk bokong indahnya dari balik rok mini transparant itu. Sehingga aku terlongong di belakangnya. Lalu aku mendekati adik sepupu Ibu yang berbadan putih mulus dan berusia 28 tahunan itu.

Bi Elin sedang menyetrika sambil mendengarkan musik lewat ponsel dan earphonenya.

Dan semakin jelas saja bokong indah Bi Elin yang terbayang dari luar rok mini pinknya itu. Tapi dia belum sadar juga bahwa aku sudah berada di belakangnya. Dan ingin meyakinkan, benarkah ia tidak bercelana dalam? Karena itu aku berjongkok sambil menengok ke dalam rok mini itu. Maaak… dia memang tidak mengenakan celana dalam.

Kalau memperturutkan kata hati, ingin langsung kupagut serambi lempit yang sedang berada di atas wajahku itu, karena aku jadi menelentang dengan wajah menghadap ke arah sepasang kaki dan yang berada di antara sepasang pangkal paha putih itu.

Tapi aku takut hal seperti itu akan membuatnya terlalu kaget. Karena itu aku berdiri lagi di belakang Bi Elin yang tetap asyik mendengarkan musik lewat handsfree ponselnya.

Setelah berdiri di belakangnya, langsung kusergap pinggangnya sambil menciumi tengkuknya. Hal itu pun membuatnya sangat terkejut. Dicabutnya earphone dari telinganya, lalu menoleh dengan mata terbelalak, “Aduuuh Wawan… kok bikin kaget aku aja sih?”

“Cuma mau nanya kenapa belum tidur Bi?”

“Ini nyelesaikan setrikaan udah numpuk dari kemaren.”

“Terus kenapa Bi Elin nggak pakai celana dalem?” tanyaku perlahan, dengan tangan langsung menyelinap ke balik rok mininya dan langsung memegang serambi lempitnya yang berjembut sedikit dan jarang sekali.

“Celana dalamku dicuci semua, gak ada yang bersih satu pun. Waaan… jangan megang – megang serambi lempit dong… Waaan…” ucapnya setengah berbisik. Mungkin takut kalau Ibu terbangun mendengar suaranya kalau terlalu keras.

“Bi… aku kan masih bujangan. Wajar kalau aku menganggap serambi lempit ini sebagai sesuatu yang sangat menggiurkan…” sahutku sambil menyelinapkan jariku ke celah serambi lempitnya.

“Tapi Wan… ooooh… kamu nakal Wan… kalau udah dipegang – pegang serambi lempit gini, aku jadi langsung kepengen… ooooh… Waaaaan… oooooh… “rintih Bi Elin dengan suara seperti berbisik terus.

“Ayo kita lakukan di kamarku ya Bi,” ajakku sambil menarik pergelangan tangannya.

“Iii… iyaaa… tapi aku mau pipis dulu ya,” ucapnya.

“Ayolah… di kamarku kan ada kamar mandinya. Di sana aja pipisnya,” ucapku sambil menarik pergelangan tangannya sambil melangkah ke kamarku.

Tak terdengar lagi suara Bi Elin, karena mau melewati pintu kamar Ibu. Kemudian kami membelik ke kanan, menuju pintu kamarku.

Setelah berada di dalam kamarku yang pintunya sudah ditutup dan dikuncikan, barulah Bi Elin berani berbicara, “Ini beneran mau ngemplud Wan?”

“Iya bibiku sayaang… aku udah gak tahan melihat Bibi yang manis dan menggiurkan ini,” sahutku sambil melingkarkan lenganku di pinggangnya. Lalu mengecup bibirnya tanpa keraguan lagi.

Bi Elin memejamkan matanya. Kemudian berkata sambil melepaskan dekapanku, “Mau pipis dulu ya. Takut ngompol di tengah jalan nanti…”

Aku mengangguk. “Cuci serambi lempitnya yang bersih pakai sabun ya.”

Bi Elin mengangguk sambil tersenyum manis.

Setelah Bi Elin masuk ke kamar mandi, barulah aku sadar bahwa tadi aku keluar dari kamar karena haus dan mau mengambil air minum dari dispencer dapur. Dan sekarang masih haus. Tapi malas keluar lagi. Karena itu kuambil saja sebotol softdrink dari kulkas. Dan menikmati softdrink itu sambil menunggu Bi Elin di kamar mandi.

Tak lama kemudian Bi Elin muncul kembali dari ambang pintu kamar mandi. Sambil tersenyum – senyum padaku.

“Rasa ngimpi keponakan yang ganteng ini kok mau sama aku,” ucapnya sambil melepaskan gaun tipis transparan itu. Dan jadi langsung telanjang, karena di balik gaun tipis itu tiada apa – apa lagi selain tubuh langsingnya yang putih mulus. Memang keluarga dari pihak Ibu hampir semuanya berkulit putih mulus.

Melihat Bi Elin sudah telanjang, aku pun melepaskan celana trainingku, sebagai satu – satunya benda yang melekat di tubuhku.

Bi Elin terlongong setelah menyaksikan bentuk alat vitalku. “Wan… rudalmu gede banget… panjang pula…” ucapnya sambil memegang batang kemaluanku dengan tangan terasa agak gemetaran.

“Emangnya rudal mantan suami Bi Elin segede apa?” tanyaku.

“Gak inget lagi. Aku cuma satu kali digauli sama dia. Terus kami cerai. Karena kami tidak saling mencintai.”

“Kok bisa?”

“Kami kawin gara – gara digerebek warga. Karena di kampung gak biasa ada cowok bertamu malam – malam. Padahal cowok itu bukan pacarku.”

“Terus?”

“Perkawinan kami hanya berjalan seminggu. Lalu bercerai.”

“Dan Bibi cuma merasakan digauli satu kali aja?”

“Iya. Lalu aku jadi TKW di Hongkong.”

“Di Hongkong sih pasti punya pacar kan?”

“Boro – boro punya pacar. Tugasku cuma ngurusin seorang nenek – nenek. Diem di rumah terus, berdua sama si nenek itu. Makanya cuma setahun aku kerja di Hongkong. Lalu pulang. Pokoknya aku tidak pernah nemu cowok yang cocok. Jadi… sekarang ini bakal jadi pengalaman keduaku Wan.”

Baru sekali ini aku mendengar latar belakang kehidupan Bi Elin. Tadinya aku hanya tahu bahwa dia seorang janda, yang masih lumayan muda. Cuma itu saja yang aku tahu. Ternyata seperti itu latar belakang kehidupannya.

“Sama aku sih santai aja Bi,” ucapku sambil meraihnya ke atas bed.

Bi Elin pun tersenyum – senyum sambil celentang di atas bedku.

Lalu kuhimpit tubuh telanjang yang mulus dan terasa hangat ini. Dengan gairah yang luar biasa bergejolaknya. Maklum sudah lebih dari seminggu aku tidak bersetubuh. Karena tenggelam dalam kesibukan di pabrik.

Dengan sepenuh gairah aku pun mulai dengan mencium bibir Bi Elin yang tipis merekah itu. Kemudian menurun ke toketnya yang tidak besar tapi kecil pun tidak. Kuemut pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas toket kanannya.

Tubuh Bi Elin pun mulai menghangat. Lalu aku melorot turun, sampai wajahku berhadapan dengan serambi lempitnya yang berbulu jarang sekali. Itu pun hanya tumbuh di atas kemaluannya.

“Jembutnya jarang ya,” ucap Bi Elin.

“Gak apa. Zaman sekarang malah banyak yang mencukur serambi lempitnya sampai gundul,” sahutku.

“Aku sih belum pernah nyukur jembut. Seperti ini aja adanya sejak dahulu. Oooh… mau diapain Wan?” tanyanya ketika aku mulai menciumi serambi lempitnya.

“Santai aja Bi. Aku mau jilatin serambi lempit Bibi. Makanya tadi kuminta dicuci pakai sabun, biar jangan bau.”

“Hihihi… serambi lempitku gak bau Wan. Aku sih keputihan aja gak pernah. DIjamin bersih serambi lempitku sih. Kan seumur hidup baru dipakai satu kali.”

“Iya,” sahutku memperhatikan serambi lempit Bi Eli yang tertutup rapat. Lalu kungangakanj, sampai bagian dalamnya yang berwarna merah jambu itu tampak jelas. Memang tiada bau yang kurang sedap. Bahkan tercium harum sabun mandiku. Pasti tadi dia benar – benar mencuci serambi lempitnya dengan sabun.

Aku pun mulai menjilati serambi lempitnya, terutama bagian dalamnya yang berwarna pink dan mengkilap itu. Langsung terdengar suara Bi Elin, “Waaan… ooooohhhh… ini pertama kalinya serambi lempitku dijilatin Waaan… ooooohhhh… ternyata geli – geli enak gini yaaa… oooooohhhh… Waaaaan…”

Mendengar rintihan Bi Elin itu, aku semakin bersemangat menjilati serambi lempitnya. Bahkan kemudian kufokuskan untuk menjilati kelentitnya yang muncul sebesar kacang kedelai, mengkilap dan tegang.

Jilatan dan isapanku di kelentitnya, membuat Bi Elin mulai gedebak – gedebuk dan terkejang – kejang. Rintihan – rintihannya pun semakin menjadi – jadi, tapi terasa ditahan agar suaranya jangan sampai terdengar oleh Ibu.

“Waaaaan… ooooohhhh… Waaaaan… jilatin itilku teruuussss… ini lebih enak lagi Waaaan… sampai merinding – rinding nih aku Waaaaan… jilatin terus itilku… iyaaaa… itilku Waaaan… itiiiillll…”

Dan ketika terasa bahwa bagian dalam serambi lempit Bi Elin sudah cukup basah, aku pun membenamkan kotolku ke dalam liang serambi lempitnya, sambil menghempaskan dadaku ke sepasang toketnya yang masih lumayan kencang.

Irama birahi pun mulai berkumandang di telinga batinku.

rudalku sudah mulai “mondar – mandir” di dalam jepitan liang serambi lempit Bi Elin yang ternyata luar biasa sempitnya. Sehingga liang sanggamanya itu terasa sekali bergerinjal – gerinjal seperti telur ayam yang masih berada di dalkam perut induknya. Ini sangat terasa nikmatnya.

Aku pun percaya bahwa dia baru kedua kalinya ini disetubuhi oleh lelaki. Karena dengan suaminya hanya satu kali digauli, kemudian bercerai seminggu kemudian. Berarti dia hanya memberikan keperawanannya saja kepada lelaki itu, kemudian bercerai.

Bi Elin makin lama makin mendesah dan merintih, tapi tetap suaranya tertahan – tahan. Pasti dia takut kalau suaranya terdengar oleh Ibu. “Ooooo… ooooo… oooooh… Waaaaan… ternyata dientot sama rudal ini enak sekali rasanya Waaaaan… ini luar biasa nikmatnya Waaaan… oooooh… ooooooohhhhhh…

“serambi lempit Bi Elin juga luar biasa enaknya. Seperti serambi lempit gadis belasan tahun, sempit sekali rasanya. Asalkan Bi Elin kerasan di sini, nanti dua atau tiga hari sekali kuentot deh…” sahutku sambil melambatkan entotanku.

“Aku… aku pas.. pasti kerasan di sini Waaan… rudal Wawan yang bikin aku kerasan di sini… oooohhh… enak Wan… enaaaaak… entot terus Waaan… ini luar biasa enaknya… ooooohhhhh… Waaaan…”

Bi Elin seperti sudah lupa segalanya. Apalagi setelah mulutku nyungsep di lehernya, untuk m, enjilati leherjenjangnya disertai dengan gigitan – gigitan kecil… semakin lupa daratan jugalah adik sepupu Ibu itu dibuatnya.

Bahkan seperti yang pernah kuperlakukan kepada wanita setengah baya lain, pada suatu saat kujilati dan kugigit – gigit ketiaknya yang bersih dari bulu ketek… aroma keringatnya tercium olehku… tapi aku malah semakin bernafsu untuk menjilati ketiaknya itu… sementara rudalku semakin gencar memenyetubuhi liang serambi lempit sempitnya.

Aku pun melengkapinya. Ketika entotanku makin gencar sementara mulutku sedang nyungsep di ketiaknya, tangan kiriku masih bisa beraksi untuk meremas – remas toket kanan bibiku.

Akibatnya… Bi Elin mulai berkelojotan. Aku pun tak mau terlalu lama menyetubuhinya. Maka kupercepat entotanku, seperti pelari yang sedang sprint di depan garis finish.

Lalu ia menggeliat dan mengejang, dengan perut sedikit terangkat ke atas.

Sesuatu yang terindah pun terjadi. Bahwa kami seperti sepasang manusia yang sedang kerasukan. Kami saling cengkram dan saling remas dengan kuatnya, seolah ingin saling meremukkan tulang. Kami sama – sama menahan nafas. Dan liang serambi lempit Bi Elin berkedut – kedut kencang, sementara rudalku pun mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir pejuhku.

Crooootttt… croooottttttt… crotttt… crotttt… croooottttt… croooot… crooootttt…!

Lalu kami terkapar dengan tubuh sama – sama bermandikan keringat. Sesaat kemudian aku menggulingkan badanku ke samping, sehingga jadi celentang di sisi kanan Bi Elin.

“Terimakasih Wan… aku baru nyadar, ternyata disetubuhi itu nikmat sekali ya. Dahulu sih cuman sakit aja yang ada. Makanya aku jadi trauma, takut sakit seperti dahulu lagi. Ohya… nanti kalau aku hamil gimana Wan?” tanyanya.

“Jangan takut,” sahutku sambil turun dari bed. Melangkah ke arah lemari obat. Dan mengeluarkan dua strip pil kontrasepsi. Lalu menyerahkannya kepada Bi Elin. “Ini obat antki hamil. Baca aja aturan pakainya.”

“Iya, terima kasih Wan.”

Maka sejak malam itu Bi Elin jadi sosok untuk dijadikan tempat penyaluran nafsu birahiku. Aku pun jadi sering memberinya uang, agar ia tidak kekurangan untuk menutupi segala kebutuhan pribadinya.

Petualanganku dengan Bi Elin hanya salah satu sudut dari sekian banyak petualangan seksualku.

Aku memang sudah bertekad, istri resmiku cukup seorang saja. Tapi aku ingin punya koleksi sebanyak mungkin.

Karena itu hubunganku dengan perempuan – perempuan yang telah menjadi koleksiku itu tetap terjalin dengan baik.

Tantre Laila, misalnya, tetap kusayangi dan kuhormati. Dia bukan sekadar pelabuhan kapal birahiku. Tapi juga sebagai wanita yang telah menaikkan derajatku. Dia seolah menjadi penyebabku From Zero to Hero. Lebih dari itu semua, dia sudah mengandung dan melahirkan anakku.

Tante Laila pun menepati janjinya. Tiga bulan setelah melahirkan, dia minta agar aku mengantarkannya ke rumah, untuk menjumpai ibuku.

Lalu detik -detik mengharukan itu pun terjadi. Bahwa Tante Laila minta maaf kepada Ibu, karena selama ini seolah menelantarkan Ibu. Lalu dia menceritakan alasan kenapa dia tidak berani menginjak rumahku sekian lamanya itu, karena di telinganya terngiang – ngiang terus ucapan Ayah almarhum, yang melarangnya menginjak lagi rumah Ayah.

Dijelaskan pula oleh Tante Laila, bahwa saat itu ayahku marah, karena meminjam duit pada Tante Laila tidak dikasih. Dijelaskan pula, bahwa saat itu Tante Laila tahu bahwa Ayah akan mengawini seorang gadis muda bernama Atikah. Padahal saat itu Ayah sudah punya istri tiga orang, kata Tante Laila.

Aku sudah mendengar masalah itu dari mulut Tante Laila. Bahwa istri almarhum Ayah ada 4 orang. Itu tidak termasuk Bu Mimin yang belakangan terbiasa kupanggil Ema saja. Yang disebut keempat istri Ayah selain Ibu, adalah wanita – wanita bernama Maryati, Siti Nafsiah dan Atikah.

Tante Laila pernah menganjurkanku untuk menemui istri – istri Ayah itu, karena dari mereka lahir saudara – saudara seayah denganku.

Tapi aku belum memikirkan hal itu. Kalau pun ingin mencari saudara, tentunya saudara seayah dan seibu saja yang harus kucari, yaitu Nova itu.

Sebelum pulang, Tante Laila memberi uang yang banyak sekali buat Ibu. Kemudian Tante Laila menciumi pipi Ibu dan pamitan pulang. Kulihat Ibu pun menangis. Mungkin karena merasa terharu dengan kunjungan Tante Laila yang tidak disangkanya sama sekali.

Sang Waktu pun berputar terus.

Lalu terjadi sesuatu yang sangat menggembirakanku. Bahwa Tante Martini sudah bisa berjalan seperti orang normal. Berkat ketekunannya menjalani therapi sekian lamanya, akhirnya ia bisa berjalan lagi tanpa harus ditopang oleh alat apa pun.

Tante Martini mengaku bahwa semuanya itu berkat semangat hidupnya yang menyala – nyala lagi setelah sering kugauli. Hal yang sama pernah kudengar dari mulut Tante Ros.

Jadi sebegitu pentingkah sosok lelaki bagi seorang wanita yang sudah menjanda?

Entahlah.

Yang jelas pada suatu hari, Tante Martini menghubungiku lewat ponsel. Beliau memintaku agar datang ke Jakarta, karena ada sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan, katanya.

Aku memang selalu patuh kepada calon mertuaku yang punya hubungan rahasia denganku itu. Terlebih kalau mengingat kebaikannya yang takkan mungkin kulupakan sampai kapan pun.

Setibanya di rumah Tante Martini, di Jakarta, aku langsung menjumpainya di ruang keluarga. Seperti biasa, kedatanganku senantiasa disambut dengan senyum manis dan ciuman hangat di bibirku.

Seperti biasa, setiap kali aku datang, Tante Martini mengajakku masuk ke dalam kamarnya. Di situlah ia menelanjangi dirinya dan seperti biasa dia memintaku untuk menyetubuhinya.

Tante Martini yang selalu menganggap rudalku sebagai therapi paling manjur bagi batinnya.

Setelah bersetubuh, Tante Martini mengenakan kembali gaun rumahnya yang putih bersih. Lalu mengajakku duduk di sofa yang dekat dengan kolam ikan koi itu.

“Sebenarnya tante mau menyampaikan berita duka sekaligus bisa dijadikan berita gembira bagimu,” kata Tante Martini sebagai awal penuturan yang da anggap sangat penting bagiku.

“Pertama… kabar tentang bangkrutnya usaha Pak Hasyim yang mengadopsi adikmu itu. Semua harta bendanya disita oleh bank tanpa ampun. Termasuk rumah dan semua kendaraan bermotornya, “lanjut Tante Martini.

“Lalu bagaimana dengan nasib Nova Tante?” tanyaku tak sabaran, ingin tahu nasib adikku yang belum pernah kulihat bentuknya itu.

“Sebentar… tante mau lanjutkan dulu beritanya. Pak Hasyim dalam stressnya mendapat serangan jantung dan meninggal dunia sebulan yang lalu. Istrinya sampai nangis – nangis dan minta pertolongan sama tante. Terutama mengenai Nova itu. Lalu tante ceritakan mengenai dirimu yang sudah sukses dan menjadi pengusaha besar.

“Jadi… adikku sudah tau kalau dia bukan anak kandung Pak Hasyim?” tanyaku.

“Sudah. Dia ada di sini sekarang.”

“Haaa? Mana dia sekarang Tante?”

“Sebentar dulu… kejadian yang menimpa Pak Hasyim itu harus dijadikan peringatan bagi kita. Jangan sampai kita mengalami hal seperti itu… ilmunya sih sederhana… dalam mengelola perusahaan, jangan lebih besar pasak daripada tiang. Itu aja.”

“Sampai saat ini semua perusahaan yang kuurus selalu sehat Tante. Aku hanya berurusan dengan bank, hanya untuk menyimpan dana. Bukan untuk berhutang. Karena kata para ahli, bank itu laksana meminjamkan payung di musim kemarau, tapi payung itu akan diambil di musim hujan.”

“Syukurlah kalau Wawan sudah punya prinsip seperti itu. Sepintas lalu bank itu menyenangkan. Padahal kalau kita lepas kontrol, bisa menjadi sumber bencana,” ucap Tante Martini, “Terus hubunganmu dengan Anneke bagaimana? Tetap berjalan mulus kan?”

Tante Martini memang sudah mengetahui bahwa aku punya hubungan cinta dengan Anneke. Kebetulan Tante Martini mendukung, tetapi memintaku dengan sangat, agar hubungan rahasiaku dengannya tetap berjalan sampai kapan pun. Dan aku sudah menyetujuinya, karena (sekali lagi) aku ini penggila wanita setengah baya.

Kemudian Tante Martini mengajakku ke pavilyun. Sebelum keluar dari kamarnya, Tante Martini sempat membisiki telingaku, “Awas… di depan Nova dan ibu adopsinya jangan memperlihatkan sikap yang aneh – aneh. Bersikaplah sebagaimana lazimnya seorang calon menantu kepada calon mertuanya ya.”

“Siap Tante. Jangan takut soal itu sih. Jangankan pada mereka, sedangkan kepada Anneke saja sampai detik ini masih kurahasiakan.”

Kemudian kami keluar dari kamar Tante Martini, menuju pavilyun yang letaknya bersebelahan dengan garasi.

Tante Martini pun berseru dari ambang pintu pavilyun yang sudah dibukanya, “Mbak Haya! Ini abangnya Nova sudah datang… !”

Lalu dari dalam pavilyun muncul wanita setengah baya yang kira – kira seumuran dengan Tante Martini. Dengan ramah ia menyapaku, “Ooooh… ini anaknya Pak Jaelani almarum?”

“Betul Tante,” sahutku sambil menjabat tangannya dengan sopan dan menyebutkan namaku.

Dia juga menyebutkan namanya, “Haya…”

Lalu Tante Haya berseru ke dalam, “Nova Sayang… ini abangmu sudah datang… !”

Lalu muncullah seorang cewek berperawakan tinggi sekali (buat ukuran cewek), berkulit putih bersih sampai mirip cewek bule. Namun wajahnya ada kemiripan dengan wajah Wati. Pasti itulah Nova, adik kandungku. Adik seayah dan seibuku.

“Nova?” tanyaku waktu dia sudah berdiri di depanku.

“Iya, “dia mengangguk dengan pandangan datar, “Ini Bang Wawan?”

“Betgul, kataku sambil membiarkan dia mencium tanganku. Lalu kupeluk pinggangnya sambil mencium sepasang pipinya, “Selamat berjumpa lagi, adikku Sayang…”

Nova menatapku sambil tersenyum dan berkata, “Terima kasih Bang. Senang bisa berjumpa dengan abang kandungku.”

Lalu kami duduk di sofa. Tante Martinio dan Tante Haya pun duduk berdamping di sofa lain.

Kami pun ngobrol ke barat ke timur, namun intinya sudah kutangkap. Bahwa Tante Haya mempersilakanku untuk membawa Nova dan berkumpul dengan keluarga kandungnya kembali. Karena keadaan Tante Haya sedang serba sulit, sehingga merasa kasihan kepada Nova kalau harus hidup tanpa kepastian ke depannya.

Lalu Tante Haya bertanya, “Setelah Nova berkumpul dengan keluarga kandungnya nanti, masih biolehkah tante menengok dia ke rumah Wawan?”

“Tentu saja boleh Tante,” sahutku, “Biar bagaimana Tante kan yang merawat Nova sejak bayi merah. Nova sendiri mungkin bakal sering merasa kangen kepada Tante nanti.”

Tante Haya mengangguk – angguk sambil tersenyum, namun matanya tampak berkaca – kaca.

Kemudian aku dan Tante Haya tukaran nomor ponsel.

Setelah Nova tampak siap dengan menjuinjing tas pakaiannya, aku pun berdiri dan pamitan kepada Tante Haya dan Tante Martini.

Pada saat Nova pamitan kepada Tante Haya, tampak ibu adopsi Nova itu bercucuran air mata. Sambil berkata sendu pula, “Pandai – pandai kamu menitipkan diri nanti ya Sayang. Jangan terlalu manja seperti sedang bersama mama.”

“Iya Mama,” sahut Nova, “Mama jaga kesehatan baik – baik ya. Nanti aku pun akan sering minta diantarkan sama Bang Wawan, untuk bertemu sama Mama.”

Beberapa saat kemudian Nova sudah duduk di sebelah kiriku, dalam mobil yang sedang kuluncurkan di atas jalan aspal.

“Sudah dengar dari mamamu kalau ibu kita itu seorang wanita tunanetra?” tanyaku pada suatu saat.

“Sudah Bang.”

“Di rumah ada adik sepupu Ibu yang ditugaskan untuk melayani Ibu. Nanti setelah ada kamu, bantu juga melayani Ibu ya.”

“Iya Bang. Aku sudah menyadari hal itu sih. Kan beliau yang mengandung dan melahirkanku ke dunia ini.”

“Syukurlah kalau kamu sudah insyaf sih.”

“Maksud Abang insyaf dari apa?”

“Dahulu aku pernah mendengar kamu sangat kolokan pada saat Pak Hasyim masih ada dan perusahaannya belum bangkrut. Bahkan ada yang bilang juga kalau kamu sangat jutek kepada siapa pun. Tapi aku tidak melihat kemanjaan dan kejutekanmu itu sekarang.”

Nova menyandarkan kepalanya ke bahu kiriku. Sambil berkata, “Aku juga tau diri Bang. Dahulu waktu almarhum Papa sedang jaya – jayanya, aku bisa berbuat seenaknya. Tapi sekarang… tidak jadi gelandangan pun sudah untung. Tentu saja aku tak berani bersikap dan berperilaku seperti anak orang tajir lagi.

Aku terharu juga mendengar ucapan adikku itu. Lalu kubelai rambutnya dengan tangan kiriku, sambil berkata lembut, “Yang penting kamu sendiri harus berusaha untuk mengambil hati orang – orang di sekitarmu nanti. Supaya mereka semua menyayangimu.”

“Iya Bang.”

“Kamu punya pacar di Jakarta?”

“Nggak Bang. Kapok pacaran waktu masih di SMA dahulu.”

“Kenapa kapok?”

“Ngejengkelin. Mau ngatur mulu. Ke sana gak boleh ke sini gak boleh. Putusin aja sekalian.”

“Pacarannya sejauh apa?”

“Maksud Abang?”

“Batasnya sampai di mana? Apakah cuma sampai ciuman atau lebih dari itu?”

“Nggak sejauh itu Bang. Dia hanya kuijinkan cium pipi doang.”

“Sejak saat itu gak pernah pacaran lagi?”

“Nggak pernah Bang.”

“Kalau pacaran cuma sampai cium pipi, berarti kamu masih perawan dong.”

“Aku udah gak perawan Bang. Tapi yang memecahkan selaput daraku bukan manusia.“

“Bukan manusia?! Terus apaan yang ngambil keperawananmu? Hantu atau anjing atau kuda…”

“Bukan… bukan Bang. Dildo yang ngambil keperawananku Bang.”

“Dildo?! Terus kamu diem – diem suka makai dildo terus?” tanyaku dengan perasaan kasihan juga pada adik kandungku itu. Karena dia begitu polos menjawab setiap pertanyaanku.

“Iya Bang. Daripada ngajak cowok yang nyebelin, mendingan pakai dildo kan Bang.”

“Sekarang dibawa dildonya?”

“Dibawa…” sahut Nova nyaris tak terdengar.

“Coba lihat…” kataku.

Nova melepaskan seatbeltnya, lalu melangkah kie seat belakang, di mana tas pakaiannya diletakkan. Lalu ia pindah ke depan lagi sambil menyerahkan dildo itu beserta kotak kartonnya.

Tampaknya Nova sudah pasrah pada apa pun yang kuperintahkan.

Ketika kukeluarkan dildo itu dari kotaknya, ternyata dildo itu hanya berbentuk lonjong seperti kapal selam. Tidak dibentuk seperti rudal. Lagian ukurannya kecil. Jauh lebih kecil daripada batang kemaluanku.

Kuberikan lagi dildo dan kotaknya itu pada Nova. Karena aku sedang nyetir.

“Nova Sayang… sebenarnya tidak baik maen dildo seperti itu. Bisa merusak jiwamu nanti,” ucapku.

“Iya Bang,” sahutnya lirih.

“Pada saatnya menggunakan dildo, pasti kamu mengkhayalkan seorang cowok. Lalu kamu melayang – layang dalam arus halusinasi. Aku takkan memaksamu, tapi kalau kamu sayang pada mentalmu sendiri, buanglah dildo itu sekarang juga.”

“Iya Bang,” sahut Nova sambil menurunkan kaca pintu di sebelahnya, kemudian dibuangnya kotak berisi dildo itu ke jalan.

“Aku sayang sama kamu Nov,” ucapku sambil membelai rambutnya, karena kepalanya tersandar ke bahu kiriku lagi.

“Iya Bang. Aku juga sayang sama Abang.”

Sedan hitam yang kukemudikan meluncur terus di jalan tol menuju kota tercintaku.

Malam pun semakin larut.

Ketika kami tiba di rumah, jam tanganku sudah menjukkan pukul satu pagi.

Aku selalu membekal kunci – kunci cadangan, sehingga dengan mudah bisa membuka pintu garasi. Setelah menyimpan mobil di garasi, kututup dan kukuncikan kembali pintunya. Kemudian mengajak Nova masuk ke dalam rumah.

Ibu sudah tidur nyenyak. Bi Elin juga sama. Sehingga Nova kuajak tidur di kamarku saja.

“Kalau mau bersih – bersih dulu, itu pintu kamar mandinya,” kataku ketika Nova sudah meletakkan tas pakaiannya di atas meja kecil dekat televisi.

“Iya Bang,” sahut Nova sambil mengeluarkan kimono putih dari tas pakaiannya. Kemudian masuk ke kamar mandi.

Seharusnya aku langsung membawa Nova ke kamar Ibu, untuk memberitahu bahwa aku sudah berhasil membawa adikku kembali ke rumah peninggalan Ayah almarhum ini. Tapi aku selalu tidak tega mengganggu Ibu kalau sudah tertidur nyenyak begitu. Tadi sampai terdengar suara ngoroknya ke luar, membuatku yakin bahwa Ibu sedang enak – enaknya tidur.

Setelah mengganti pakaianku dengan baju dan celana piyama, aku merebahkan diri di atas bed. Nova pun naik ke atas bedku dan merebahkan diri di sampingku.

“Sebenarnya ada kamar kosong yang tadinya dipakai oleh Kak Wati. Tapi setelah dia menikah, kamar itu kosong. Apakah kamu mau tidur di kamar yang kosong itu?” tanyaku.

“Nggak mau. Aku mau tidur sama Abang aja ya… please…” sahutnya dengan suara memohon.

“Kenapa? Kamu takut tidur sendirian?”

“Nggak. Tapi aku teriungat Papa almarhum. Semasa beliau masih ada, aku sering tidur di kamar Papa Mama. Dan aku selalu merasa nyaman kalau tidur dalam pelukan Papa,” ucap Nova sambil meletakkan lengannya di dadaku, “Setelah berjumpa dengan Abang, aku punya perasaan Abang ini laksana pengganti Papa yang sudah tiada.

Kutatap wajah adikku yang cantik dan bermata sayu itu. Perasaan iba pun timbul. Lalu kupeluk pinggangnya sambil berkata, “Ya udah… sekarang tidurlah Sayang.”

“Bang…”

“Hmm?”

“Apakah Abang benar – benar sayang padaku?”

“Tentu aja,” sahutku sambil membelai rambutnya, “Kalau gak sayang, ngapain kamu dibawa ke sini? Kita ini saudara kandung. Sedarah sedaging.”

“Iya Bang. Aku juga sayang sama Abang. Sayang sekali,” ucapnya sambil menumpangkan pahanya di atas pahaku, sehingga belahan kimononya terbuka lebar. Dan… aku melihat kemaluannya yang tak bercelana dalam. Membuatku tergetar dalam perasaan aneh. Bukan lagi sebagai perasaan kakak pada adiknya.

Batinku bergulat dahsyat. Antara nafsu dan kesadaran bahwa Nova ini adik kandungku yang harus kulindungi kehormatannya.

Sampai akhirnya kuusap – usap serambi lempit adikku yang cantik ini. Dan… Nova diam saja. Bahkan semakin mempererat dekapannya.

“Kenapa kamu gak pakai celana dalam?” tanyaku perlahan.

“Aku udah terbiasa kalau mau tidur gak pakai beha dan celana dalam. Supaya pernafasanku lebih lapang.”

“Dan gampang kjalau mau mainin dildo juga kan?”

“Iya Bang. Hehehee…”

“Kamu belum pernah merasakan rudal yang sebenarnya?”

“Belum pernah Bang.”

“Sekarang mau ngerasain?”

“rudal siapa? Gak mau ah kalau dikasih rudal sembarang cowok sih. Kalau… kalau rudal Abang aku mau…” sahutnya dengan nada lugu.

Mendengar jawaban itu, aku tidak cuma mengusap – usap serambi lempitnya lagi. Melainkan mulai menyelinapkan jari tengahku ke dalam liang serambi lempitnya yang sempit tapi sudah agak basah dan licin. Lalu kugerak – gerakkan jari tengahku ke dalam dan ke luar ke dalam lagi ke luar lagi…

Tapi aku tidak berani memasukkan jariku terlalu jauh. Hanya berani seruas jari saja.

“Baaaang… duuuuh Baaaang… ini… enak sekali Bang…”

“Beneran kamu mau nyobain rudalku?” tanyaku dengan jari yang masih tetap kuentotkan di liang serambi lempit Nova, tapi tetap hanya sebatas 1 ruas saja…

“Mau… tapi bagaimana kalau aku hamil nanti?”

“Soal itu sih gampang,” kataku sambil turun dari bed dan mengeluarkan tiga strip pil kontrasepsi. Lalu kuberikan ketiga strip pil kontrasepsi itu pada Nova sambil berkata, “Ini pil anti hamil. Baca aja petunjuknya nanti.”

Nova menyambut ketiga strip pil kontrasepsi itu. Lalu membaca petunjuk yang tertera di bagian belakang stripnya. “Ini pil kabe ya Bang.”

“Iya,” sahutku sambil naik lagi ke atas bed.

“Ayo kalau gitu sih. Abang mau kan melakukannya sekarang?”

Aku mengangguk sambil melepaskan baju piyamaku. “Tapi harus merahasiakannya ya. Ini rahasia untuk kita berdua aja ya.”

“Iya Bang. Aku janji,” ucap Nova sambil mengangkat dua jari tangan ke dekat telinganya.

Setelah melepaskan celana piyamaku, sehingga tinggal celana dalam yang masih melekat di badanku, kulepaskan ikatan tali kimono Nova, kemudian Nova sendiri yang melepaskan kimononya. Sehingga tubuh Nova terbuka sepenuhnya alias telanjang bulat. Karena sejak tadi ia tidak mengenakan beha mau pun celana dalam.

Aku terpukau menyaksikan betapa putih mulusnya tubuh adik kandungku itu. Tiada cela setitik pun di mataku.

Lalu kena;pa dia harus merusak keperawanannya sendiri dengan dildo yang sudah dibuang itu?

Entahlah, aku belum menanyakan masalah itu.

Lagian usia Nova sudah 20 tahun. Sudah dewasa. Wajar saja kalau dia sering dilanda kepenasaranan, ingin tahu seperti apa rasanya hubungan sex yang sering dijuluki Surga Dunia itu. Lalu dia mendapatkan kenikmatan dari alat bantu itu. Padahal kalau dia sudah merasakan alat kejantanan yang asli, mungkin dia akan merasakan sesuatu yang lain.

Nova pasrah saja ketika kuberitahu bahwa hubungan sex itu harus didahului dengan foreplay dulu. Supaya dia benar – benar siap untuk dipenetrasi.

Kemudian aku menelungkupi tubuhnya sambil mencium dan melumat bibirnya.

Jujur, perasaanku sat ini bukan seperti sedang mencumbu adik kandungku. Maklum aku melihatnya setelah dewasa begitu, sehingga aku merasa seperti berhubungan dengan orang luar yang bukan saudara kandungku.

Ternyata Nova juga merasakan hal yang sama. Belakangan dia mengaku bahwa setiap berdekatan denganku, seperti berdekatan dengan kekasihnya. Bukan seperti berdekatan dengan abang kandungnya. Jadi pada intinya, batin kami sama – sama dialiri arus birahi.

Terutama ketikia aku mulai mencium bibirnya sanmemainkan pentil toketnya yang mulai menegang. Lalu suhu badan Nova pun mulai menghangat.

Bahkan Nova menatapku sambil bertanya perlahan, “Bang… kalau nanti aku jatuh cinta sama Abang gimana?”

“Gak apa – apa Sayang. Aku juga bisa aja jatuh cinta padamu. Tapi kita harus pandai merahasiakannya. Jangan sampai ada orang tau. Karena kita ini kakak beradik kandung.”

“Tapi… sebenarnya sejak melihat Abang di Jakarta tadi… rasanya aku sudah jhatuh hati sama Abang.”

“Aku pun sama. Begitu melihatmu tadi, aku langsung merasa sayang padamu. Karena kamu ini sangat cantik Sayang,” ucapku yang kulanjutkan dengan kecupan mesra di bibir tipis sensualnya.

“Ooooh Bang… kalau begitu kita jadi sepasang kekasih gelap aja ya. Aku yakin akan bahagia kalau menjadi kekasih Abang.”

“Iya… nanti kita pikirkan matang – matang, jalan mana yang harus kita tempuh. Yang jelas aku sangat sayang padamu Nov.”

“Aku juga sayang sama Abang.”

“Baguslah kalau begitu. Sekarang aku akan menjilati serambi lempitmu ya. Biar pada waktunya rudalku dimasukkan, jangan membuatmu sakit.”

“Iya Bang… aku pasrah aja sama Abang. Karena aku yakin Abang pasti tau apa yang terbaik untukku.”

Lalu kungangakan serambi lempit Nova yang bersih dari jembut itu, sampai terlihat bagian dalamnya yang berwarna pink dan mengkilap karena agak basah.

Ketika aku mencermati bagian dalam serambi lempit adikku itu, ada keheranan di benakku. Karena smeuanya masih terkatup rapat. Terutama mulut liang sanggamanya. Tapi keheranan itu segera kulupakan. Lalu aku mulai menjilati bagian dalam serambi lempitnya yang berwarna pink itu.

Nova pun mulai menggelinjang sambil meremas – remas kain seprai.

Terlebih setelah aku fokus menjilati clitorisnya yang muncul dan mengkilap itu. Nova pun menggeliat – geliat terus sambil menahan – nahan nafasnya.

Terkadang kusedot clitorisnya yang terasa sudah mengeras ini (pertanda horny). Tentu saja semua ini kulakukan sambil mengalirkan air liurku ke dalam serambi lempitnya. Agar “pelumasnya” cukup banyak.

Setelah cukup lama menjilati serambi lempit dan clitorisnya, aku pun merasa sudah tiba waktunya untuk melakukan penetrasi.

Maka kurenggangkan jarak sepasang paha putih mulus Nova, sambil siap – siap meletakkan moncong rudalku tepat di ambang “pintu surgawi”nya.

Dengan sekuat tenaga kudorong rudalku yang sudah ngaceng berat ini.

Ciaaaaah… meleset ke bawah…!

Kubetulkan lagi letak moncong rudalku dan kudorong lagi dengan tenaga full.

Gila… meleset lagi. Kali ini melesetnya ke atas. Malah rudalku jadi melengkung karena tidak tepat sasaran.

Selanjutnya aku mencolek – colekkan dulu moncong rudalku di seputar mulut liang sanggama Nova. Bahkan setelah merasa tak salah lagi, kudesakkan rudalku sampai masuk kepalanya sedikit.

Aku mengumpulkan tenaga dan konsentrasiku, sambil memegang batang kemaluanku yang moncongnya sudah diselipkan ke mulut liang sanggama Nova. Lalu kudorong sekuat tenaga… melesak sedikit… dorong lagi lebih kuat… masuk lagi sampai lehernya.

Sementara Nova hanya memejamkan matanya dengan sikap pasrah.

Aku pun menghempaskan dadaku ke atas dada Nova sambil berkata, “serambi lempitmu seperti masih perawan Sayang. Apakah kamu yakin kalau kamu tidak perawan lagi?”

Nova menatapku sambil berkata lirih, “Gak taqu juga Bang… aku hanya mikir kalau sering mengalami orgasme, pastilah aku gak perawan lagi.”

“Cara menggunakan dildo bagaimana? Dimasukkan semuanya ke dalam liang serambi lempitmu?”

“Gak Bang. Hanya ditekankan ke clitorisku sambil diaktifkan vibratornya.”

“Sama sekali tidak pernah dimasukkan ke dalam liangnya?”

“Pernah. Tapi hanya sekitar satu sentimeter aja. Gak berani masukin dalam – dalam.”

“Ya udah… nanti juga akan terbukti masih perawan atau tidaknya sekarang ini,” ucapku sambil mendorong lagi rudalku sedikit demi sedikit, sampai masuk lebih dari setengahnya.

Setelah masuk lebih dari separohnya, aku pun mulai mengayun rudalku sambil memperhatikan wajah Nova yang sudah mulai membuka matanya.

Mata Nova itu sayu. Dan secara objektif harus kuakui, bahwa Nova sedikit lebih cantik daripada Anneke. Ini penilaian yang objektif, bukan lantaran dia itu adik kandungku.

“Bang…” ucapnya lirih.

“Hmmm?” aku masih perlahan mengayun rudalku.

“Aku yakin… aku sudah cinta pada Abang. Bukan sekadar sayang lagi…” ucapnya tersendat – sendat, karena aku mulai memenyetubuhinya, meski belum dipercepat entotannya.

“Tapi kita takkan bisa jadi suami istri Sayang. Kamu kan adik kandungku.”

“Biar aja Bang. Yang penting kita bisa saling mencintai… tanpa harus diketahui orang lain… oooooo… oooooooohhhhh… Baaang… ini mulai enak sekali Baaaang…”

Aku masih pelan – pelan memenyetubuhinya. Sehingga diam – diam aku mengangkat badanku sambil mengamati rudalku yang sedang memompa liang serambi lempit adikku. Ternyata kecurigaanku benar. rudalku seolah diselimuti oleh lapisan tipis kemerahan. diselimuti oleh darah perawan Nova…!

Maka sambil melanjutkan entotanku, bibir sensual Nova kupagut. Kuciumi dan kulumat bibirnya, disusul dengan bisikan, “Benarkah kamu mencintaiku Sayang?”

“Iya Bang. Kalau gak cinta, gak mungkin aku menyerahkan serambi lempitku pada Abang…”

Terharu aku mendengar ucapan Nova itu.

“Aku juga mulai mencintaimu Sayang…” ucapku sambil menciumi kelopak mata, ujung hidung dan bibirnya.

“Terima kasih Bang…” ucap Nova sambil mendekap pinggangku.

Aku mulai mempercepat entotanku.

Nova pun mulai mendesah – desah dan merintih – rintih perlahan, “Aaaaaah… Baaaang… aaaaah… ini luar biasa enaknya Bang… aaaaaaah… Baaaaang… aku cinta padamu Baaaaang… cinta sekali Baaaaang… aaaaaaah… aaaaaah…”

Karena melihat darah perawan tadi, aku jadi sadar bahwa aku sedang memenyetubuhi serambi lempit yang masih perawan. Karena itu, pasti ada luka di dalam serambi lempit Nova nanti.

Itulah sebabnya aku takkan terlalu lama menyetubuhi Nova, karena takut membuatnya tersiksa nanti.

Maka aku pun mengintip gejala – gejala Nova akan mencapai orgasmenya.

Dan itu tidak lama. Baru saja seperempat jam aku menyetubuhinya, Nova mulai berkelojotan. Pada saat itu pula kugencarkan entotanku, sambil berkonsentrasi agar secepatnya ejakulasi.

Lalu… pada waktu Nova sedang mengejang tegang, aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin… sampai terasa moncong rudalku mentok di dasar liang serambi lempit Nova.

Lalu terasa liang serambi lempit Nova berkedut – kedut perlahan, disusul dengan kejutan – kejutan rudalku yang sedang memuntahkan lendir kenikmatanku.

Croootttt… croootttt… croooottttt… crotttttt… croooottttttt… crottttt… crooootttt…!

Nova terkulai dalam pelukanku. Namun masih sempat ia berkata lirih, “Terima kasih Bang… yang barusan, luar biasa indahnya… karena diiringi perasaan cintaku pada Abang…”

“Kamu sudah ikhlas memberikan keperawananmu padaku?”

“Keperawanan? Aku kan memang gak perawan lagi Bang.”

“Siapa yang bilang kamu tidak perawan lagi? Sebelum rudalku dimasukkan ke dalam serambi lempitmu, kamu masih perawan Sayang,” ucapku sambil mencabut rudalku dari liang serambi lempit adikku.

“Tuh… lihatlah… darah perawanmu jadi saksi, bahwa sebelum kusetubuhi barusan, kamu masih perawan… !” kataku sambil menunjuk ke darah yang tergenang kira – kira sebanyak 1 sendok teh di bawah serambi lempit Nova.

Nova duduk sambil memandang ke arah genangan darah perawannya di kain seprai putihku.

“Jadi aku tadi masih perawan Bang? Pantasan tadi terasa ada yang perih – perih,” ucap Nova tampak bingung.

“Perih karena hymen-mu sobek tadi. Begitulah kenyataannya. Dildo itu tidak merusak keperawananmu, karena kamu tidak pernah memasukkannya ke dalam serambi lempitmu kan?”

“Iya Bang. Aku hanya suka menempelkan dildo itu di clitoris dan di labia mayoraku. Belum pernah dimasukkan sampai ke dalam liangnya. Tapi sekarang aku benar – benar gak perawan lagi kan?”

“Iya. Kamu ikhlas memberikannya padaku?”

“Ikhlas Bang. Malah aku senang karena telah memberikannya kepada cowok yang aku sayangi sekaligus kucintai. Tapi Abang jangan mencampakkan aku nanti ya Bang.”

“Aku bukan manusia sejahat itu, Nova Sayang. Tapi di depan orang lain, kamu jangan memperlihatkan sikap mesra padaku ya.”

“Iya Bang. Tapi kalau bersikap manja sebagai seorang adik kepada abangnya, boleh kan?”

“Boleh. Yang gak boleh itu mencium bibirku di depan orang lain, misalnya. Kalau cium pipi malah gak apa – apa.”

Nova menganguk – angguk sambil tersenyum. Lalu kuminta Nova turun dulu dari bed. Kemudian kutarik kain seprai itu, untuk diganti dengan kain seprai baru. Kuipilih kain seprai berdasar coklat muda dengan corak kotak – kotak berwarna coklat muda.

Ketika aku sedang memasangkan kain seprai yang masih bersih itu, Nova menggulung kain seprai yang sudah terciprati darah perawannya.

“Seprai yang ini mau dikemanain Bang?”

“Masukkan aja ke dalam mesin cuci di dalam kamar mandi itu. Besok pagi akan kucuci, agar bekas darahnya jangan kelihatan orang.”

“Iya Bang.”

Esok paginya kubawa Nova ke dalam kamar Ibu.

Kulihat Ibu sedang duduk di sofa kamarnya.

“Anak bungsu Ibu sudah bersama kita Bu.”

“Anak bungsu?” Ibu tampak kaget, “anak yang diadopsi oleh Pak Hasyim itu?”

“Iya Bu. Saat diadopsi oleh Pak Hasyim, adikku itu belum diberi nama kan? Nah… sama Bap hasyim dan istrinya diberi nama Nova.”

“Nova, “gumam Ibu sambil mengangguk – angguk.

“Ini si bungsu sudah bersama kita Bu,” ucapku sambil menoleh kepada Nova dan memberi isyarat agar mencium tangan dan memeluk Ibu.

“Mana anakku yang namanya Nova itu…?” Ibu merentangkan kedua tangannya.

Nova pun mencium kedua kaki ibu, kemudian mencium tangannya. Dan menghambur ke dalam pelukan Ibu.

Ibu menangis terisak – isak, sementara Nova pun tampak bercucuran air mata.

“Anakku… gak kusangka ibu bakal ketemu lagi denganmu Sayang… hiiiks… hiksssss… waktu kamu diberikan kepada Pak Hasyim, Ibu tidak tau sama sekali. Baru tau ketika mau menyusuimu, almarhum Ayah bilang bahwa kamu sudah diberikan kepada Pak Hasyim untuk diadopsi oleh beliau… hikkssss… hikkssss…

“Pak Hasyim sudah meninggal Bu. Setelah perusahaannya gulung tikar, seluruh harta bendanya disita oleh bank. Lalu Pak Hasyim kena stroke berat dan akhirnya meninggal.”

“Lalu Nova ini bagaimana nasibnya?”

“Istri Pak Hasyim sudah ikhlas mengembalikan Nova kepada kita.”

“Ya Allah… terima kasih Allah… terima kasih karena anak hambamu ini sudah boleh bersamaku lagi…” ucap Ibu sambil menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas.

Kelihatannya Nova senang juga bisa bersama ibu kandung kami.

Pada suatu saat Ibu berkata padaku, “Kamar Wati itu kan kosong Wan. Tempatkan aja adikmu ini di situ.”

“Nova gak mau Bu,” sahutku, “Nova ingin tidur di kamarku. Karena sejak Pak Hasyim meninggal, dia sangat kehilangan. Lalu setelah dekat denganku, dia merasa seperti menemukan pengganti Pak Hasyim. Kerena itu dia mau tidur di kamarku seterusnya Bu.”

“Oooh, ya udah. Di kamarmu kan ada dua bed ya Wan?” tanya Ibu.

“Iya Bu.”

“Wati sudah dikasihtau?” tanya Ibu lagi.

“Belum. Biar kuhubungi dia sekarang, “katyaku sambil mengeluarkan handphone dan memijit nomor Wati. Sengaja kukeluarkan suaranya lewat speaker ponselku. Supaya Ibu dan Nova bisa ikut mendengarkan.

Lalu :

“Hallo Wan…”

“Ada kabar gembira nih Wat.”

“Kabar apa?”

“Adik kita yang dahulu diadopsi oleh Pak Hasyim itu, sekarang sudah ada di rumah.”

“Wah… kok bisa? Baguslah, jadi kita bertiga terkumpul lagi.”

“Panjang ceritanya. Bisa datang ke rumah?”

“Wah… aku sedang di bandara Wan. Sejam lagi juga mau terbang ke Jepang.”

“Ohya?! Ada urusan apa di Jepang?”

“Urusan bisnis suami, sekalian ngajak aku jalan – jalan. Nanti deh sepulanbgnya dari Tokyo aku datang ke rumah. Pengen lihat adik bungsu kita itu.”

“Iya, iya. Semoga penerbangannya selamat dan lancar. Titip salam aja sama suamimu.”

“Oke Wan. Salam baktos aja buat Ibu. Dan salam buat adik bungsu kita… siapa namanya?”

“Nova.”

“Ya, bilangin sama Nova, kita semua sayang sama dia.”

“Oke,” sahutku sambil menutup hubunganku dengan Wati.

Ketika aku menoleh ke arah Nova, ia tersenyum – senyum. Mungkin senang mendengarkan percakapanku dengan Wati tadi.

Hatiku pun jadi senang, karena merasa telah berhasil mengumpulkan kembali anak – anak Ibu.

Tapi tiga hari kemudian… ketika aku pulang dari kantor, hari masih siang. Baru jam setengah satu.

Dan ketika aku masuk ke dalam kamar, kulihat Nova sedang duduk di sofa.

Yang membuatku tertegun, kulihat matanya basah, bahkan masih banyak air mata yang membasahi pipinya.

“Kamu menangis? Kenapa Sayang?” tanyaku sambil membelai rambutnya.

“Nggak kenapa – kenapa Bang… hiks…” sahutnya sambil menunduk.

“Apakah kamu menyesali pada perbuatan kita berdua?” tanyaku sambil duduk di sampingnya.

“Nggak Bang. Masalah itu sih justru membahagiakan diriku,” sahutnya sambil merebahkan kepalanya di atas kedua pahaku.

“Lantas kenapa kamu menangis? Ngomong dong terus terang. Kalau ada masalah, jangan disimpan sendiri.”

“Aku… hiks… aku kangen sama Mama Bang… hiks…” ucapnya sambil terisak – isak.

“Nah begitu dong ngomong. Kebetulan besok aku mau ke Jakarta. Jadi bisa sekalian mengajak mamamu ke sini ya.”

“Iya Bang… hiks… terima kasih…”

“Udah… jangan nangis lagi ya Sayang. Lain kali kalau ada apa – apa, ngomong aja sama aku. Jangan dipendam sendiri, apalagi pake nangis segala begitu.”

“Iya Bang…”

“Biar otakmu segar lagi, kita refreshing ke villa yok.”

Nova bangkit dengan sikap mendadak jadi ceria lagi, “Mau.. mau Bang, “sambutnya.

“Kalau mau, ganti baju dulu gih.”

“Sekalian mau mandi dulu ya Bang.”

“Iya. Aku juga mau mandi.”

“Ya udah… bareng aja mandinya, yuk Bang, “ajak Nova sambil tersenyum.

“Tar dulu… kamu duluan ke kamar mandi gih. Nanti aku nyusul. Aku kan masih pakaian lengkap gini,” kataku sambil melepaskan jas dan dasiku, kemudian juga sepatu dan celana panjangku. Setelah tinggal celana dalam yang masih melekat di badanku, barulah aku melangkah ke kamar mandi.

Ternyata Nova sudah telanjang di dalam kamar mandi. Membuatku tertegun lagi. Memang tubuh adik bungsuku itu indah sekali. Kulitnya pun sangat putih dan mulus sekali. Rasanya tak rela juga kalau pada suatu saat dia dipersunting lelaki lain. Tapi bijaksanakah kalau punya keinginan untuk memilikinya terus?

Entahlah. Yang jelas sejak persetubuhanku yang pertama dengannya itu, aku belum pernah menyetubuhinya lagi. Karena aku ingin agar luka akibat robeknya selaput dara (hymen) itu benar – benar sembuh dulu.

“Nanti di villa aku akan menggaulimu lagi untuk kedua kalinya. Sekarang pasti luka di dalam serambi lempitmu itu sudah sembuh,” kataku sambil memeluknya dari belakang, dalam keadaan sama – sama telanjang di bawah pancaran air hangat shower dari atas kepala kami.

Yang yang sangat Nova senangi adalah ketika aku menyabuni tubuhnya dari ujung kaki sampai ke lehernya. Dia merasa sangat dimanjakan dengan perlakuanku yang satu ini.

Hal lain yang membuatnya sangat nyaman adalah tidur dalam pelukanku. Bahkan menurut pengakuannya, tidur dalam pelukanku lebih nyaman daripada tidur dalam pelukan papa angkatnya.

Aku sendiri memang sangat sayang pada Nova. Karena dia sangat penurut. Apa pun yang kuperintahkan, dia lakukan tanpa membantah. Seperti waktu kusuruh membuang dildo dalam perjalanan pulang itu, misalnya, dia langsung membuangnya ke luar mobilku.

Beberapa saat kemudian, Nova sudah mengenakan blouse dan rok yang serba putih. Namun rok itu dilapisi rok yang terbuat dari kain jarang (puring) dan bercorak kembang – kembang berwarna hitam. Sehingga rok putihnya tampak, namun dicampur dengan kain puring hitam yang bercorak bunga – bungaan itu.

Sepatunya pun putih bersih. Sehingga adikku yang tubuhnya tinggi semampai itu tampak anggun. Bukan hanya cantik.

Bangga rasanya membawa adikku yang cantik dan anggun itu ke luar kota. Untuk beristirahat di villaku.

Memang aku berhasil membeli beberapa jenis properti dalam setahun belakangan ini. Profit yang kuterima dari perusahaan Tante Laila, perusahaan Anneke dan juga dari pabrikku yang telah berkembang dengan pesat itu, sengaja kujadikan investasi dalam bentuk properti. Beberapa rumah kubeli. Tanah dan sawah pun kubeli.

Aku yakin dalam waktu tidak terlalu lama, semua properti yang telah kumiliki akan mendapatkan keuntungan yang meyakinkan. Aku tidak mau jatuh miskin seperti Pak Hasyim almarhum. Karena itu aku harus selalu mewaspadai segala aktivitas bisnisku. Teoriku sederhana saja, agar jangan sampai jatuh pailit, jangan pernah besar pasak daripada tiang.

Ketika sedan hitamku sudah menginjak aspal, Nova berkata, “Bang… kalau bisa, kasih dong aku kegiatan. Biar jangan cengo mulu di rumah.”

“Ohya,” sahutku, “Kamu kan lulusan akademi sekretaris ya?”

“Iya Bang. Aku lulus SMA di umur enambelas. Lalu masuk akademi sekretaris. Tadinya sih ingin jadi sekretaris di perusahaan Papa. Eeeeh… perusahaannya malah bangkrut. Papa pun kena stroke sampai meninggal. Jadi nganggur deh aku setahun belakangan ini. Kuliah nggak, kerja juga nggak.”

“Nanti kamu akan kuangkat sebagai sekretaris direktur utama di perusahaan Tante Laila.”

“Tante Laila itu siapa Bang?”

“Adik ayah kita. Tapi adik seayah berlainan ibu.”

“Direktuir utamanya siapa?”

“Aku sendiri Sayang.”

“Asyiiiik… aku mau Bang jadi sekretaris Abang. Bisa ketemu terus tiap hari.”

“Tapi jangan sampai ketahuan sama Tante Laila kalau kita ada hubungan rahasia ya. Kamu harus bersikap sebagai sekretaris kepada atasan aja. Pokoknya kalau memang mau kerja, bekerjalah nanti secara profesional ya.”

“Siap Bang. Tapi kalau sedang berduaan begini, boleh kan aku bersikap mesra kepada Abang?” tanya Nova sambil menyandarkan kepalanya ke bahu kiriku.

“Tentu boleh. Bahkan harus… harus mesra kalau sedang berduaan begini sih.”

Tiba – tiba Nova mencium pipi kiriku, “Emwuaaaaah… aku cinta dan sayang sama Abang… !”

Aku tersenyum dan menghela nafas.

“Kamu bisa nyetir kan?” tanyaku.

“Bisa.”

“Di rumah kan ada mobil satu lagi,” kataku, “Nanti kalau sudah bekerja di kantorku, pakai aja mobil itu. Soalnya aku sering ada urusan di tempat – tempat lain. Karena aku memegang tiga perusahaan. Jadi kita gak bisa bareng – bareng terus.”

“Iya Bang. Mobil yang satu lagi kelihatannya keren kok Bang. Tapi mobil ini harganya selangit.”

“Gak tau, mobil ini hadiah kok. Gak tau harganya.”

“Hadiah dari mana?”

“Dari pabrik kacang asin.”

“Aaaah… masa sih hadiah dari kacang asin?!”

“Hahahaaa… bukan deng. Hadiah dari salah satu bossku, berkat prestasiku yang dianggap bagus. Makanya setelah bekerja nanti, kamu juga harus memperlihatkan prestasi yang bagus dan profesional.”

“Siap Bang Wawan Sayang…”

Sebelum mencapai villa, aku dan Nova turun dulu, untuk membeli makanan dan minuman uyang akan dibekal ke villa.

Kemudian kulanjutkan mengemudikan sedan hitamku menuju villa yang sudah dekat. Setibanya di depan villa itu, lewat hape kupanggil Mang Tarna, penjaga dan tukang bersih – bersih villaku.

Tak lama kemudian lelaki tua itu muncul. “Selamat sore Boss,” ucapnya sambil membungkuk sopan.

“Di dalam sudah dibersihkan Mang?” tanyaku.

“Sudah Boss. Baru tadi pagi dibersihkan semua,” sahutnya.

“Syukurlah. Ini buat beli rokok,” ucapku sambil memberikan beberapa lembar uang merah.

“Terimakasih Boss. Kalau ada yang harus dikerjakan, silakan panggil aja saya.”

Aku mengangguk sambil mengeluarkan kunci pintu depan villa. Lalu masuk ke dalamnya bersama Nova.

Setelah menguncikan kembali pintu depan, aku mengajak Nova duduk di sofa ruang tengah. Nova bahkan kududukkan di atas kedua pahaku.

Sambil mendekap pinggang Nova, aku membisikinya, “Kamu sudah kepengen merasakan entotan rudalku lagi kan?”

“Hihihiii… iya Bang. Kangen banget. Malahan sejak kemaren ada gatel – gatel di serambi lempitku. Mungkin karena lukanya sudah mau sembuh, jadi aja gatel.”

“Gatelnya pengen digesek kan?” bisikku yang kulanjutkan dengan menjilati daun telinga Nova.

“Baaang… aku sih kalau telingaku kena sentuh… apalagi dijilatin begini… langsung horny Bang,” ucapnya sambil meremas tanganku yang sedang dipegangnya.

“Ya udah… lepasin semua pakaianmu gih,” sahutku.

Nova pun melepaskan sepatu putihnya. Kemudian berdiri di dekat pintu kaca yang menuju ke arah samping villa. Di samping villa itu banyak tanaman hias yang terlindung oleh benteng tembok tinggi.

Di dekat pintu kaca rayban itu Nova melepaskan pakaiannya sehelai demi sehelai …

Nova yang sudah telanjang selalu membuatku terpukau. Tinggi langsing, putih bersih… berwajah cantik, bermata sayu, dengan bibir tipis sensualnya… dengan senyum manisnya… o my God… seandainya dia bukan adik kandungku, hari ini juga aku mau menikahinya…!

Tapi tanpa menikahinya pun aku dan Nova sudah saling mencintai. Tak usahl;ah aku mengkhayal sesuatu yang tak mungkin terjadi.

Dengan sikap dan sorot pasrah, Nova menelentang di atas bed kamar villaku ini.

Aku pun langsung menghimpitnya dengan nafsu yang sedang kutahan, agar jangan terburu – buru melakukannya. Maklum kali ini aku akan menggaulinya untuk kedua kalinya. Ya, baru mau kedua kalinya aku akan merasakan nikmatnya liang serambi lempit Nova yang luar biasa sempitnya.

Kutatap wajahnya yang berada di bawah wajahku. Dan bergumam, “Kamu adalah cewek tercantik di antara perempuan – perempuan yang pernah kukenal Sayang.”

Nova menatapku sambil menyahut, “Abang pun seorang cowok yang penuh pesona. Cowok yang mampu menentramkan hatiku. Mampu menyejukkan perasaan dan penuh kelembutan. Aku tak mungkin bisa mencintai orang lain Bang… karena hatiku sudah sepenuhnya Abang miliki.”

Lalu kupagut bibirnya ke dalam ciuman mesraku, sementara tanganku mulai mendarat di permukaan payudaranya yang berukuran sedang – sedang saja namun kencangnya bukan main.

Suhu badan Nova pun terasa menghangat. Terlebih setelah aku melorot turun… dengan wajah langsung berhadapan dengan serambi lempitnya yang bersih dari bulu, yang sudah kungangakan dan kuciumi… lalu ujung lidahku pun mulai menyapu – nyapu bagian dalam serambi lempitnya yang berwarna pink itu, sambil mengalirkan aior liurku sebanyak mungkin.

Last but not least, tentu saja aku harus menjilati, mencelucupi dan mengisap – isap kelentitnya. Pada waktu aksi mulutku sedang terpusat di kelentit inilah, Nova bukan sekadar menggeliat lagi, melainkan mendesah dan merengek manja, “Baaaang… aaaaaaaaa… aaaaaah Baaaang… ini membuatku seperti melayang – layang Baaang…

Dan setelah serambi lempit Nova terasa sudah basah sekali, aku pun menjauhkan mulutku dari bagian yang paling indah itu.

Lalu kuletakkan moncong rudal ngacengku di ambang mulut serambi lempitnya.

Kupusatkan dulu konsentrasiku sambil mengumpoulkan tenaga agar jangan meleset – meleset lagi seperti waktu baru pertama kalinya tempo hari. Kudorong dulu rudalku perlahan… hanya bertujuan untuk memasukkan kepalanya dulu.

Berhasil. kepala rudalku sudah masuk dan berada di dalam jepitan liang serambi lempit Nova yang begini sempitnya. Lalu dengan sekuat tenaga kudorong rudalku sampai masuk lebnih dari setengahnya.

Dan mulailah aku mengayun rudal ngacengku dalam “irama slow” dulu. Sambil menunggu liang serambi lempit sempit ini beradaptasi dengan ukuran rudalku yang kebetulan bisa dianggap di atas rata – rata rudal bangsaku (kalau dibandingkan dengan rudal negro sih pasti kalah).

Suara Nova pun mulai terdengar, “Dudududuuuuuh… Baaaang… ini enak sekali Baaaaaang… oooooh Baaaaang… aku makin dalam mencintaimu Baaaang… cinta sekali Bang… ooooohhhhh… aaaaaahhhh… Baaaaang…”

Terlebih setelah entotanku mulai kupercepat sampai kecepatan normal, Nova memelukku erat – erat, sambil sesekali menciumi bibirku. Namun rintihannya lebih dominan di telingaku, “Baaaang… ooooohhhhh… Baaaaang… ooooohhhh… Bang Wawan Sayaaaaang… aku semakin mencintaimu Baaaang… oooooh…

Baaaaang… enak sekali Baaaang… oooooh… rasanya seperti melayang – layang gini Baaaang… ooooohhhh… entot terus Baaaang… jangan brenti – brenti Baaaang… ooooh… aku makin cinta Abaaaang… cinta sekali Bang… ooooohhhh… entot terus Baaaang… oooohhhhh… luar biasa enaknya Baaaaang …

Kali ini aku ingin memperlihatkan keperkasaanku. Karena itu aku berusaha agar durasi menuju ejakulasiku harus selama mungkin.

Dan aku berhasil. Lebih dari sejam aku menyetubuhinya, sampai ia orgasme tiga kali, aku masih stabil dan mengayun rudalku tanpa ampun. Padahal tubuhku sudah bermandikan keringat, Nova pun sama. rudalku maju mundur terus di dalam liang serambi lempit Nova yang sudah licin dan semakin enak rasanya.

Nova tidak complain. Apalagi ketika aku memenyetubuhinya sambil melumat bibirnya, menjilati lehernya disertai gigitan – gigitan kecil, menyedot dan menjilati pentil toket kirinya sambil meremas toket kanannya, menjilati ketiaknya sambil meremas toketnya terus… ia bahkan berkata terengah, “Bang… ooooh…

Melihat wajah Nova sudah pucat pasi, aku pun iba. Kasihan kalau adikku kenapa – kenapa. Maka kupercepat entotanku sambil menjilati ketiaknya terussss…

Lalu ketika Nova mengejang tegang dengan liang serambi lempit terasa berkedut – kedut kencang, aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin, sampai terasa moncongnya mentok di dasar liang sanggamanya.

Lalu rudalku mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir surgawiku.

Croootcrotttt… crooootttt… crottt… croooottttt… crotcrooooooottttt… crooootttt…!

Lalu aku terlunglai – lunglai di atas perut Nova yang sudah terkulai lemas juga. Dengan tubuh sama – sama bermandikan keringat.

Kemudian kucabut rudalku dari liang serambi lempit Nova, sehingga air maniku membludak dan mengalir dari mulut serambi lempit adikku dan berjatuhan ke atas seprai.

“Aku harus mandi nih… badanku penuh keringat gini,” kataku sambil turun dari bed.

Nova pun bangkit sambil berkata, “Aku juga mau mandi Bang…”

Aku mengangguk sambil mengangkat tubuh adikku. Dan membopongnya ke kamar mandi. Dengan manja Nova melingkarkan lengannya di leherku. Ia tampak senang sekali kubopong seperti ini. “Cinta dan sayangku pada Abang semakin mendalam Bang,” ucapnya.

Setelah berada di dalam kamar mandi, kubelai rambut Nova sambil bertanya, “Masih kangen sama Mama?”

Nova menatapku sambil menggelengkan kepalanya.

“Jadi besok mamamu gak usah dijemput ke Jakarta?”

“Gak usah. Lain kali aja,” sahut Nova sambil mendekatkan bibirnya ke bibirku.

Kukecup bibir Nova sambil memutar keran shower yang showernya berada di atas kepala kami. Air hangat pun memancar… membasahi kepala dan tubuh kami. Lalu seperti biasa, setelah mematikan dulu pancaran air hangat shower, kusabuni sekujur tubuh adikku sampai benar – benar tersabuni semuanya. Termasuk celah serambi lempit dan pantatnya.

Lalu kuputar lagi keran, sambil menjauh dari pancaran air shower, karena aku mau menyabuni tubuhku dulu sampai penuh dengan air sabun.

“Kalau gak jadi jemput mamamu ke Jakarta, besok mendingan ke kantorku aja ya. Supaya tau letak kantorku, di mana kamu akan bekerja nanti.”

“Hihihiii… iya Bang, iyaaaa…”

“Besok kamu pakai mobil SUV itu, ikuti aja mobilku. Supaya kamu langsung hafal jalan dari rumah ke kantor.”

“Ohya… mobil itu buatmu aja. Makanya rawat dengan baik ya Nov.”

“Iya Bang, iyaaa… terima kasih.”

Esok paginya semua janji kupenuhi. Nova kutempatkan di kantor perusahaan Tante Laila, sebagai sekretaris pribadiku. Mobil SUV itu pun sudah menjadi milik Nova, agar semangat kerjanya tinggi.

Meski pun Nova bilang tidak terlalu kangen lagi sama mama angkatnya, apalagi setelah mendapat hadiah mobil dan direkrut sebagai sekretaris pribadiku, namun aku tetap ingin menyenangkan hatinya.

Maka beberapa hari kemudian aku menelepon Tante Haya.

Lalu :

“Hallo… ini Wawan ya?”

“Iya. Apa kabar Tante?”

“Ya gitu deh. Masih jalan di tempat. Bagaimana keadaan Nova? Sehat – sehat aja?”

“Sehat Tante. Tapi kalau sedang ingat Tante dia suka melamun sambil bercucuran air mata.”

“Oh gitu ya.”

“Iya Tante. Maksudku menelepon Tante ini untuk ngasih kejutan pada Nova. Tahu – tahu Tante muncul di depan matanya. Pasti dia bahagia sekali Tante.”

“Ya udah, hari ini juga saya akan ke sana.”

“Tante mau dijemput ke Jakarta?”

“Gak usah. Tante mau pakai kereta api aja, biar gak macet di jalan. Kalau Wawan mau sih jemput aja tante di stasiun.”

“Siap Tante. Nanti kabarin aja jam berapa Tante tiba, aku akan jemput ke stasiun.”

“Kalau gitu tante mau beli tiketnya dulu ya. Nanti tante kabarin jam berapa tibanya di sana.”

“Iya Tante.”

Hubungan seluler pun kututup. Tapi sejam kemudian Tante Haya meneleponku. Dan melaporkan bahwa dia akan tiba di kotaku sekitar jam tujuh malam. Aku pun mengiyakan dan berjanji akan menjemputnya pada jam tersebut.

Sebelum jam tujuh malam, aku sudah nongkrong di stasiun kereta api.

Baru beberapa menit aku nongkrong di stasiun, kereta api dari Jakarta sudah datang.

Cepat aku mendekati gerbang kedatangan, sambil memperhatikan para penumpang yang sedang keluar di pintu kedatangan.

Kulihat mama angkatnya Nova datang dengan mengenakan gaun terusan putih polos. Hmmm… menurut keterangan Tante Martini, usia Tante Haya itu lima tahun lebih muda daripada Tante Martini. Tapi kelihatannya Tante Haya jauh lebih muda daripada usianya yang sebenarnya. Dan mantan istri Pak Hasyim itu memang sangat cantik.

Setelah Tante Haya keluar dari pintu kedatangan, aku langsung menghampirinya sambil berkata, “Keretanya tepat waktu ya Tante.”

Ia menoleh dan menghentikan langkahnya di depanku. Aku pun mencium tangannya, mengingat bahwa dia itu ibu angkat Nova. Tapi dia tak cukup dengan cium tangan. Dia mencium sepasang pipiku di depan umum. Membuat batinku terhenyak. Terawanganku pun mewlayang – layang tak karuan. “Sudah lama menunggu?” tanyanya.

“Baru lima menitan Tante,” sahutku sambil menjinjing tas pakaiannya dan mengajaknya ke tempat parkir mobil.

Setelah meletakkan tas pakaian Tanter Haya di bagasi, bergegas aku menuju pintu depan kiri sampai Tante Haya masuk ke dalam mobilku. Setelah menutupkan kembali pintu depan kiri, barulah aku masuk ke belakang setir.

“Tante masih tinggal di pavilyun rumah Tante Martini?”

“Nggak lagi Wan. Sekarang tante tinggal di kamar kontrakan aja, berbaur dengan buruh pabrik.”

“Almarhum Pak Hasyim sama sekali tidak meninggalkan asset yang tidak terjangkau oleh penyelidikan bank?”

“Kalau ada yang tersisa sih, tak mungkin Nova tante kembalikan ke ibu kandungnya. Karena Tante sudah merasa Nova itu laksana anak kandung tante sendiri.”

“Nova juga begitu Tante. Pernah kelihatan menyendiri dan bercucuran air mata. Setelah ditanya, dia mengaku kangen berat sama Tante. Pada hari itu juga aku sudah berniat menjemput Tante ke Jakarta. Tapi setelah dikasih mobil dan kedudukan sebagai sekretaris di salah satu perusahaan yang kupimpin, dia jadi tampak terhibur dan ceria lagi.

“Iya. Nova pernah cerita masalah itu waktu menelepon tante. Dia bilang Wawan sangat baik padanya. Segala kebutuhannya diberikan oleh Wawan. ““

“Walau pun begitu, aku punya rencana lain untuk Tante,” ucapku sambil membelokkan mobilku ke gerbang kompleks perumahan.

“Rencana apa Wan?”

“Aku akan menempatkan Tante di sebuah rumah yang bisa Tante miliki, tanpa mengeluarkan biaya serupiah pun. Rumahnya berada di kompleks perumahan ini. Tapi di rumah itu baru ada meja makan berikut kursi – kursinya, mesin cuci dan alat – alat dapur. Yang lain – lainnya bisa mendadak dibeli setelah Tante bersedia ditempatkan di rumah itu.

“Yang penting ada tempat tidur aja Wan.”

“Bed belum dibeli. Sofa juga belum ada. Di kamar tidur hanya ada sebuah kasur tipis berikut kain seprainya Tante. Besok kubelikan deh tempat tidur, sofa, lemari – lemari dan segala prabotan yang dibutuhkan. Pokoknya kalau Tante bersedia tinggal di rumah itu, besok siang juga akan lengkap semua furniture dan perabotannya.

“Iya. Nanti biar gampang kalau kangen sama Nova, naik angkot juga bisa kan?”

“Bisa Tante. Kompleks perumahan itu tidak terlalu jauh dari rumahku,” ucapku sambil menghentikan mobilku di depan rumah itu. Rumah yang sudah direncanakan untuk dihadiahkan kepada Tante Haya. Supaya kalau Nova kangen, bisa dengan mudah Tante Haya mendatangi rumahku. Atau Nova sendiri yang datang ke rumah ini.

“Inilah rumah untuk Tante,” kataku setelah membuka pintu rumah itu.

“Maksud Wawan, Tante bisa menempati rumah ini secara gratis?” tanya Tante Haya.

“Aku hadiahkan kepada Tante sebagai tanda terima kasih karena telah merawat adikku dari bayi merah sampai dewasa. Selain daripada itu, aku juga ikut prihatin atas nasib Tante sekarang ini. Istri seorang pengusaha mapan harus tinggal di rumah kontrakan segala. Meski rumah ini tidak besar, tapi kumohon Tante menerimanya dengan hati terbuka.

“Rumah ini sudah cukup besar Wan. Kamarnya juga ada tiga kan? Tante jadi speechless, harus bagaimana mengatakannya. Pokoknya beribu – ribu terimakasih atas kebaikan Wawan ini… mmm… boleh tante cium Wawan sebagai tanda terima kasih?” Aku tersenyum sambil merentangkan kedua belah tanganku.

Tante Haya pun menghambur ke dalam pelukanku. Lalu mencium bibirku dengan hangatnya.

Ini adalah detik – detik yang sangat menggembirakan. Karena tadi waktu Tante Haya mencium sepasang pipiku di stasiun, pikiranku sudah melayang ke mana – mana. Sedangkan kini… dia mencium bibirku, yang kusambut dengan lumatan hangat penuh nafsu birahi. Maka ketika kami jadi saling lumat bibir, kedua tanganku menggerayang ke bawah, untuk meremas – remas bokongnya yang masih tertutup gaun putihnya.

Setelah ciuman dan lumatan kami terlepas, Tante Haya kubawa ke dalam kamar paling depan. “Nah untuk malam ini Tante harus bisa tidur di situ, ‘ kataku sambil menunjuk ke kasur tipis berseprai putih bersihyang tergelar di lantai.

“Mau tidur di situ tapi malam ini temani tante ya, ‘ sahut Tante Haya.

“Wah… mau sih mau… tapi takut terjadi sesuatu yang diinginkan eeeeh… sesuatu yang tidak diinginkan… heheheee…” ucapku sambil meremas tangan Tante Haya yang sedang berada di dalam peganganku.

“Kenapa diralat? Tante justru ingin sesuatu yang diinginkan itu…”

“Serius Tante?” tanyaku sambil memegang kedua tangannya. Sambil saling tatap yang masih misterius bagiku.

“Serius. Mau sekali,” sahutnya sambil melayangkan tatapan dan senyum menggoda.

“Tante… aku ingin yang jelas… beneran tante mau disetubuhi olehku?”

“Iya Wan. Tante ini sudah lama… lama sekali tidak merasakannya. Makanya Tante merasa ada suatu kesempatan sekarang ini. Wawan mau ya menyetubuhi tante?”

“Tentu mau Tante,” sahutku sambil duduk di atas kasur tipis yang digelar di lantai ini, sambil meraih tangan Tante Haya agar duduk di kasur tipis ini juga.

“Sebentar, tante mau pipis dulu ya. Itu kamar mandi kan?” tanyanya sambil menunjuk ke pintu kamar mandi.

“Betul Tante. Ketiga kamar di rumah ini ada kamar mandinya masing – masing,” sahutku.

Tante Lalu bergegas menuju kamar mandi setelah mengeluarkan beberapa helai pakaian dari tasnya.

Agak lama Tante Haya berada di kamar mandi. Sementara aku tercenung sendiri sambil bersandar ke dinding dan menyelonjorkan kakiku di atas kasur tipis ini.

Sungguh, sebelum berjumpa dengan Tante Haya tadi, sedikit pun aku tak menduga akan mengalami semua ini. Aku menjemputnya di stasiun hanya dengan spirit kemanusiaan. Untuk menyenangkan hati Nova, sekaligus ingin membantu mama angkatnya adikku itu dari kesulitannya. Tapi begitu Tante Haya mencium sepoasang pipiku (bukan sekadar merapatkan pipinya dengan pipiku), spiritnya spontan berubah menjadi hasrat birahi.

Tak lama kemudian Tante Haya muncul lagi. Dalam pakaian yang sudah diganti dengan kemeja putih tangan panjang dan rok mini berwarna pink. Dengan senyum manis di bibir tipis merekahnya.

Lalu wanita bertubuh tinggi langsing itu pun merebahkan kepalanya di atas kedua pahaku yang sedang kuselonjorkan. Sambil menatapku dengan sorot hangat dan senyum yang mengundang.

SIkapnya itu membuatku tidak sungkan – sungkan lagi untuk menyelinapkan tangan kiriku ke balik kemeja putih tangan panjangnya, karena tiga kancing di atasnya sudah terbuka sejak ia muncul dari kamar mandi. Lalu kuselinapkan tangan kiriku ke balik behanya yang belum ditanggalkan. Kutemukan toket berikuran sedang tapi masih terasa cukup kencang…

Entah kenapa belakangan ini kalau menyentuh dan melihat serambi lempit berjembut, nafsuku spontan bergejolak. Karena benar seperti yang dikatakan oleh Tante Ros, serambi lempit berjembut itu seolah mengandung misteri, tidak langsung menyentuh permukaan serambi lempitnya.

Dan memang aku tidak kesulitan untuk menyentuh celah serambi lempit di antara rimbunnya jembut. Sehingga jemariku mulai menggerayangi kehangatan daging hangat yang mulai licin oleh lendir libidonya.

Nafsuku pun semakin memanas. Namun semua itu tak berlangsung lama. Karena Tante Haya lalu bergerak untuk melepaskan pakaiannya sehelai demi sehelai. Sehingga keindahan payudara dan serambi lempit berjembutnya pun tampak jelas di mataku.

“serambi lempit tante gondrong ya… soalnya almarhum Pak Hasyim senang serambi lempit berjembut. Nanti kalau Wawan suka serambi lempit yang tercukur bersih, akan tante cukur,” kata Tante Haya sambil merebahkan diri di atas kasur tipis berseprai putih bersih itu.

Aku pun spontan melepaskan busanaku sehelai demi sehelai. Hanya celana dalam yang kubiarkan tetap melekat di badanku.

Lalu aku merayap ke atas tubuh Tante Haya yang sedang berkata, “Tante memang senang memakai stocking. Hanya sekadar ingin agar nyamuk tidak terlalu mudah menggigit kaki tante.”

“Tante luar biasa menggiurkan di mataku. Tampak masih sangat muda. Seperti gadis yang belum mencapai tigapuluh tahun,” ucapku sambil mempermainkan pentil toket kirinya.

“Padahal usia tante udah tigapuluhtujuh tahun lho. Menghitung usia tante gampang kok. Pada saat mengadopsi Nova, usia tante baru tujuhbelas tahun. Tapi saat itu usia almarhum Pak Hasyim sudah kepala empat. Tante dinikahi oleh Pak Hasyim pada waktu usia tante baru limabelas,” sahutnya.

“Berarti sekarang usia Tante tigapuluhtujuh?”

“Iya.”

“Tapi sungguh… Tante tampak seperti cewek yang baru berusia duapuluhlima tahun.”

“Terima kasih,” ucapnya yang disusul dengan pagutannya di bibirku, yang kubalas dengan lumatan sambil meremas toketnya dengan lembut.

Kemudian ia bertanya, “Wawan calon mantu Bu Martini ya?”

“Iya Tante.”

“Wah… nanti kalau sudah menikah dengan putri Bu Martini, pasti Wawan lupa sama tante.”

“Tante… aku ini sudah lama jadi penggila wanita setengah baya. Pacaran dengan Anneke hanya untuk simbol status aja. Tapi aku tetap sering tergiur oleh wanita setengah baya. Jadi… hubungan kita bisa dilanjutkan terus sampai kapan pun Tante.”

“Syukurlah. Berarti tante akan punya brondong ganteng secara rahasia nanti ya.”

“Hihihihiii… aku gak merasa jadi brondong kok.”

Lalu kami tidak berbicara lagi, karena aku mulai asyik mengemut pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas toket kanannya dengan lembut. Setelah tubuh Tante Haya mulai menghangat, aku langsung melorot turun, hingga wajahku berhadapan dengan serambi lempitnya yang berjembut lebat itu.

Sebenarnya jembut tidak menyulitkan untuk melakukan jilmek. Karena setelah jembut itu disibakkan, maka nongollah “wajah” serambi lempit Tante Haya yang sebenarnya. Spontan aku menciumi dan menjilati bagian dalam serambi lempit yang dingangakan oleh kedua tangan Tante Haya sendiri, sementara kedua pahanya sudah mengangkang lebar.

Dalam keasyikkanku menjilati serambi lempit berjembut itu, aku menyempatkan diri untuk berkomentar, “serambi lempit Tante ini luar biasa… seperti serambi lempit gadis…”

“Kan tante belum pernah melahirkan Wan…” sahutnya.

Lalu kulanjutkan untuk menjilati bagian dalam serambi lempitnya yang berwarna pink itu (pink lagi pink lagi?! Bahkan ketika aku sudah menemukan kelentitnya, maka bagian yang besarnya sedikit lebih gede dari biji kacang hijau itu pun kujilati habis – habisan. Pada saat itulah Tante Haya menarik kedua tanganku, lalu menempelkannya di sepasang toketnya.

Dan ketika hal itu kulakukan, menjilati kelentitnya sambil meremas sepasang toketnya, Tante Haya mulai mengggeliat dan mengejang tegang, sambil meremas – remas kain seprai.

Aku pun jadi asyik sendiri. Menjilat dan mengisap – isap kelentit Tante Haya sambil meremas- remas sepasang toketnya yang masih sangat sedap untuk kuremas – remas.

Tentu saja aku tak lupa untuk mengalirkan air liurku ke dalam liang serambi lempit Tante Haya. Dan setelah liang serambi lempitnya terasa sudah cukup basah, aku pun melepaskan celana dalamku, sehingga rudalku yang sudah ngaceng berat itu langsung mengacung ke depan.

“Woooow !” seru Tante Haya sambil menatap rudalku yang sudah siap dimasukkan ke dalam serambi lempitnya, “rudal Wawan… luar biasa panjang gedenya… untung barusan serambi lempit tante dijil;atin dulu. Kalau nggak… bisa kesakitan tante nanti… iiiihhhh… Wawan… bikin tante makin horny nih…”

Batang kemaluanku mulai membenam ke dalam liang serambi lempit Tante Haya… blesssssssskkkkk… maaasuuuuuukkkk …

Tadinya kupikir liang serambi lempit Tante Haya bakal longgar buat ukuran rudalku, karena aku sudah membasahinya pula dengan air liurku. Namun ternyata liang serambi lempit wanita setengah baya ini sempit sekali. Untung sudah dilicinkan oleh air liurku.

Memang wajar kalau liang serambi lempitnya masih sempit, karena dia memang belum pernah hamil dan melahirkan.

Tante Haya menyambutku dengan pelukan hangat dan ciuman di sepasang pipiku. “Kalau dari dulu tau Wawan punya rudal sepanjang dan segede ini sih, pasti tante ajak main. Soalnya sejak suami tante meninggal, baru sekali ini tante merasakannya kembali.”

“Kalau Tante sudah tinggal di rumah ini, aku pasti sering nengok ke sini,” ucapku sambil mengayun rudalku pelan – pelan dulu.

“Cuma mau nengok?”

“Nengok liang serambi lempit Tante ini… hihihiiii…”

Lalu kulanjutkan ayunan rudalku secara berirama. Maju mundur dan maju mundur terus di dalam jepitan liang serambi lempit Tante Haya. Ditanggapi oleh mama angkatnya Nova itu dengan geolan – geolan bokongnya, membuat rudalku terombang ambing dan terbesot – besot dengan ketatnya.

O, my God. Ini luar biasa nikmatnya. Mengingatkanku pada Mbak Vita yang senantiasa memuaskan nafsu birahiku, dengan goyangan pinggul yang menggila.

Dan ketika aku memperhatikan wajah Tante Haya dari jarak yang sangat dekat, aku tak berlebihan kalauj menilainya sebagai wanita setengah baya tercantik di antara perempuan – perempuan setengah baya yang pernah kukenal dan kunikmati serambi lempitnya.

Apakah kelak aku akan mendapatkan yang lebih cantik lagi, seperti pepatah Tiongkok yang mengatakan setinggi – tingginya gunung pasti ada lagi gunung yang lebih tinggi.

Entahlah. Yang jelas, pada saar ini Tante Haya yang tercantik di antara perempuan – perempuan setengah baya yang sudah kumiliki.

Awalnya Tante Haya meladeniku dengan geolan pinggulnya yang laksana pengocok telor manual. Disertai desahan – desahan perlahan. Cuma terdengar ah uh oh saja.

Tapi lama kelamaan rintihan – rintihan histerisnya mulai terdengar.

“Ooooh… Waaan… gak nyangka tante bakal mendapatkan semua ini… se… setelah sekian lamanya tante tak merasakannya Waaaan… ooooohhhhh… Waaan… rudal Wawan ini… oooohhhh… luar biasa enaknya Waaaaan… !”

Seperti biasa, setiap kali menyetubuhi pasangan seksual baru, aku selalu ingin menciptakan kesan yang akan membuat mereka ketagihan. Karena itu aku tak sekadar memenyetubuhi liang serambi lempit mama angkat Nova ini. Tangan dan mulut pun ikut beraksi.

Tanganku digunakan untuk menyentuh dan meremas bagian – bagian yang terjangkau. Terkadang kugunakan untuk meremas bokongnya, di saat lain untuk meremas toketnya. Sementara mulutku digunakan untuk menjilati lehernya, mengemut pentil toketnya dan menjilati ketiaknya.

Tampaknya wanita – wanitaku punya titik peka yang sama. Ketika aku mengemut pentil toketnya, Tante Haya seolah terlena. Matanya terpejam, goyangan pinggulnya makin binal, keringat pun mulai membasahi tubuhnya. Begitu juga ketika aku menjilati lehernya disertai dengan gigitan – gigitan kecil yang tidak menyakitkan, bahkan meninggalkan bekas pun tidak.

Aku pun berhasil memamerkan keperkasaanku. Lebih dari sejam aku menyetubuhi Tante Haya yang atraktif tapi cepat orgasme itu. Baru seperempat jam aku memenyetubuhinya, ia sudah klepek – klepek dan mengejang. Lalu ia mencapai orgasme pertamanya. Setengah jam berikutnya, ia orgasme lagi.

Aku sangat happy kalau bisa merasakan indahnya detik – detik orgasme pasangan seksualku seperti itu. Karena aku tahu bahwa orgasme itu merupakan puncak kenikmatan bagi seorang wanita.

Aku berusaha untuk mempertahankan durasi ejakulasiku. Namun ketika gejala – gejala Tante Haya mau orgasme lagi, aku tak bisa bertahan lagi.

Lalu aku menggenjot liang serambi lempit Tante Haya segencar mungkin. Sampai akhirnya kutancapkan rudalku sedalam mungkin, sampai terasa mentok di dasar liang sanggama wanita setengah baya yang jelita ini.

Lalu kami seperti sepasang manusia yang sedang kerasukan. Kami saling cengkram dan saling remas dengan kuatnya. Lalu ketika liang serambi lempit Tante Haya terasa bergerak – gerak erotis, moncong rudalku pun memuntahkan lendir kenikmatanku.

Crooottt… croooooootttttt… crotttttt… croooooooootttt… crooootttt… crot… croooottttt…! Lalu kami sama – sama terkulai lunglai, seolah terdampar di pantai kepuasan kami.

Aku merasa cukup letih dan ngantuk. Sehingga akhirnya aku tertidur dalam pelukan Tante Haya, dalam keadaan sama – sama telanjang bulat.

Esok paginya, aku mengajak Tante Haya ke toko langgananku, untuk memilih sendiri furniture yang dibutuhkan untuk melengkapi kekurangan di rumah baru itu. Yang jelas, aku ingin rumah itu menjadi lengkap selengkap – lengkapnya. Maka kami pilih tiga buah bed untuk mengisi ketiga kamar di rumah yang sudah kuserahkan kepada Tante Haya itu.

Sebelum jam satu siang isi rumah baru itu pun lengkap sudah. Alat – alat elektronik seperti televisi, kulkas, mesin cuci dan sebagainya sudah tersedia sebelumnya. Tinggal menatanya saja lagi.

Kemudian aku menelepon Nova, yang pasti masih berada di kantor. Kuminta Nova datang ke rumah itu, sambil mengirimkan alamat lengkapnya. Tanpa diberitahu bahwa Nova akan dipertemukan dengan mama adopsinya.

Tak sampai sejam kemudian, kulihat mobil Nova berhenti di depan rumah baru ini. Aku suruh Tante Haya bersembunyi dulu di kamar paling depan yang sudah dipilih sebagai kamarnya. Tante Haya pun cepat bersembunyi di kamar itu. Sementara aku melangkah ke depan untuk menjemput Nova.

“Ini rumah siapa Bang? Abang kok ngajak ketemuan di sini?” tanya Nova setelah berada di teras depan.

Kusahut dengan bisikan, “Jangan memperlihatkan sikap mesra padaku ya. Nanti juga kamu tau kenapa aku memintamu datang ke sini.”

Nova hanya mengangguk sambil tersenyum datar. Mungkin dia masih bingung, kenapa aku memintanya datang ke rumah ini.

Setelah Nova duduk di sofa ruang tamu, aku menutup mata Nova dengan kedua telapak tanganku. Lalu aku bersiul sebagai kode agar Tante Haya keluar dari kamarnya.

Setelah Tante Haya berdiri di depan Nova, barulah kubuka mata adik kandungku yang sangat kucintai itu. Sambil berkata, “Sekarang bukalah matamu.” Nova membuka mata sayunya. Lalu serambi lempitik girang, “Mamaaaaaaaaa… !”

Mereka berpelukan dengan eratnya. Pelukan seorang anak yang tetap menyayangi dan merindukan ibu angkatnya.

Aku pun terharu melihat mereka berpelukan sambil bercucuran air mata begitu. Namun tiba – tiba handphoneku berdering. Ketika kulihat layar hapeku, ternyata call dari Tante Martini. Maka bergegas aku keluar dari rumah itu, untuk menerima panggilan dari Tante Martini.

Ternyata Tante Martini memintaku datang ke Jakarta besok. Untuk membahas sesuatu yang sangat penting katanya. Ketika kudesak masalah apa yang akan dibahas itu, akhirnya Tante Martini berterus terang, bahwa ia ingin secepatnya menikahkan aku dengan Anneke. Jadi tujuan Tante Martini memintaku ke Jakarta, adalah untuk merundingkan persiapan pernikahanku dengan putrinya.

“Baik Tante. Besok aku akan ke Jakarta,” kataku di dekat hapeku. Kemudian hubungan seluler pun ditutup. Aku masuk lagi ke dalam rumah, sambil menyaksikan Nova dan Tante Haya yang tampak sedang melepaskan kerinduan mereka. “Bagaimana? Senang berjumpa mamamu sekarang?” tanyaku kepada Nova.

Cerita Sex Mimpi Buruk (Perampok)

“Senang sekali Bang. Di setiap mimpiku, selalu aja Mama hadir. Dan sekarang bisa berjumpa begini. Terima kasih Bang. Tapi kenapa Abang mempertemukanku dengan Mama di rumah ini?”

Tante Haya yang menjawab, “Karena rumah dan semua isinya ini adalah hadiah dari Wawan untuk mama. Supaya kamu bisa sering berkunjung ke sini. Karena rumah ini letaknya tidak jauh dari rumah ibumu Sayang.” Nova tercengang. Menatapku dengan sorot berterima kasih.

Sementara aku tenggelam dalam terawanganku sendiri. Tentang isi pembicaraan lewat hapeku tadi. Bahwa Tante Martini ingin agar aku cepat – cepat menikah dengan putrinya, tanpa memberitahu apa alasannya.