Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Jahanam Tapi Indah

Jahanam Tapi Indah

Selamat siang sobat Ngocoks. Perlu diingat untuk para pembaca Ngocokers yang setia bahwasanya tulisan ini hanyalah fiktif belaka murni hasil dari pengembangan fantasy semata tanpa ada keinginan untuk melecehkan dan atau merendahkan suku, ras, dan agama, diharapkan kebijakan dan kedewasaan pembaca, segala sesuatu yang terjadi kemudian diluar tanggung jawab penulis.

Saya harap para pembaca Ngocokers untuk bijak dalam cerita dewasa ini. Mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian ataupun cerita, maka itu semua hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan dari penulisnya.

Cerita Sex Jahanam Tapi Indah – Aku tidak menyangka kalau semuanya ini bakal terjadi. Aku memang sering mengkhayalkannya. Tapi tidak pernah merencanakannya. Dan begitulah, kehidupanku jadi banyak liku – likunya. Liku – liku yang indah mau pun yang jahanam. Tapi aku harus mengakuinya, bahwa semua itu jahanam tapi indah… indah sekali.

Perkenalkan dulu namaku Chepi (nama – nama pelaku dan TKP sudah disamarkan semua). Aku hanya mendengar ceritanya saja, bahwa Papa menikah dengan Mama pada saat Mama berusia 19 tahun dan Papa sudah berusia 41 tahun. Lalu Mama hamil dan melahirkanku ketika usia Mama sudah 20 tahun.

Cerita Sex Jahanam Tapi Indah Ngocoks Kemudian pada saat aku baru berumur 9 tahun, Papa bercerai dengan Mama. Pada saat itu aku masih kecil, baru kelas 3 SD. Sehingga aku tidak punya inisiatif untuk bertanya kenapa mereka harus bercerai. Aku hanya menurut saja. Bahwa aku harus ikut pada Papa, meski pun Mama berusaha untuk membawaku ke rumah orang tuanya.

Dan yang sangat menyedihkan (tapi aku tak berani melawan), aku dilarang mengunjungi rumah Mama di kampung yang lumayan jauh dari kotaku. Aku menurut saja, meski hatiku berontak, karena merasa masih membutuhkan pelukan kasih sayang Mama.

Setelah aku besar, barulah aku tahu bahwa Mama minta diceraikan, karena Papa menikah lagi dengan seorang gadis yang usianya hanya 10 tahun lebih tua dariku. Gadis yang dinikahi oleh Papa itu adalah anak buah Papa sendiri di kantor.

Hanya beberapa hari setelah Mama pulang ke rumah orang tua di kampungnya, seorang wanita yang masih sangat muda dibawa ke rumah Papa. Wanita yang baru berusia 19 tahun itu Papa perkenalkan padaku sebagai ibu tiriku. Dan sejak saat itu aku harus memanggilnya Mamie. Aku yang merasa sangat disayangi oleh Papa, tidak pernah complain dengan kenyataan ini.

Memang aku sering mendengar tentang kejamnya ibu tiri. Tapi ternyata aku mendapatkan ibu tiri yang sangat lembut dan baik sekali padaku. Karena itu aku tak punya alasan untuk tidak menghormati ibu tiri yang sudah dibiasakan kupanggil Mamie itu, sebagai pengganti Mama kandungku.

Aku pun lalu tahu bahwa aku ini anak bungsu Papa. Karena sebelum menikah dengan Mama, Papa sudah menikah dua kali. Dari perkawinan sebelumnya itu Papa mendapatkan dua orang anak perempuan. Tapi kedua – duanya sudah pada punya suami. Aku hanya pernah berjumpa dua kali dengan kedua kakak seayah berlainan ibu itu, pada saat aku baru duduk di TK dan ketika Papa sudah membawa Mamie ke dalam rumah ini.

Kakak seayahku yang pertama bernama Susie. Sedangkan kakak seayah yang kedua bernama Nindie. Karena aku orang Jabar, aku memanggil mereka Teh Susie dan Teh Nindie.

Aku masih ingat benar, pada kedatangan yang kedua itu, kakak – kakak seayahku menasehatiku agar jangan nakal, karena aku tidak tinggal bersama ibu kandung lagi. Mudah – mudahan aja Mamie menyayangimu, kata Teh Susie saat itu.

Dalam kenyataannya Mamie memang sangat baik padaku. Memarahiku pun tidak pernah. Bahkan aku merasa dimanjakan olehnya, baik dalam membelikan pakaian mau pun membelikan coklat atau permen buatku. Ketika Mamie tahu aku ini senang baca komik, dia pun membelikanku beberapa buah buku komik yang sangat kusukai.

“Iya Mam,” sahutku saat itu.

Tadinya kupikir kebaikan Mamie hanya bermuka – muka, agar Papa makin sayang padanya. Tapi ternyata tidak seperti itu. Setiap kali Papa bertugas ke luar kota dan terkadang menginap sampai 3 – 4 malam di luar kota, Mamie malah semakin baik padaku. Bahkan boleh dibilang Mamie itu sangat memanjakanku pada saat Papa di luar kota.

“Tetap baik Pap,” sahutku.

“Makanya kamu harus bisa menyesuaikan diri padanya ya Chep. Jangan nakal dan turuti apa pun yang Mamie minta dan suruh.”

“Iya Pap.”

Mamie memang sangat baik padaku. Jadi, tidak ada hal yang harus kulaporkan kepada Papa.

Yang paling menyenangkan, setiap aku berulang tahun, Mamie selalu memberikan kado ulang tahun yang bagus – bagus. Bahkan pada saat aku berulang tahun yang ketujuhbelas, Mamie menghadiahkan sebuah motor bebek baru. Dengan pesan cepat bikin SIM A dan C, jangan dipakai ngebut – ngebutan, karena Mamie tidak ingin melihatku mengalami kecelakaan.

“Iya Mam,” sahutku, “Aku kan gak suka kebut – kebutan. Ohya… SIM A untuk apa Mam?”

“Kalau kamu sedang nyantai bisa kan nyetirin mobil mamie?”

“Owh… siap Mam. Aku kan udah bisa nyetirin mobil Papa. Tapi belum punya SIM, karena belum tujuhbelas tahun.”

“Iya, makanya nanti sekalian bikin SIM A. untuk biayanya sih nanti mamie transfer ke rekening tabunganmu.”

“Siap Mam.”

Sebelum menikah dengan Papa, Mamie harus resign dari perusahaan. Karena di dalam perusahaan itu tidak boleh ada dua orang atau lebih yang ada pertalian darah. Tidak boleh pula ada suami – istri yang sama – sama bekerja di perusahaan itu.

Itulah sebabnya harus ada yang resign salah seorang, Papa atau Mamie. Maka Mamielah yang resign, karena kedudukannya lebih rendah daripada Papa. Gajinya juga jauh lebih kecil daripada gaji dan penghasilan sampingan Papa.

Tapi Mamie sangat rajin berbisnis. Setelah resign dari perusahaan dan menikah dengan Papa, Mamie mencari uang sendiri di rumah. Sehingga banyak ibu – ibu berdatangan ke rumah sebagai rekan bisnis Mamie. Aku tidak tahu persis apa saja yang diolah oleh Mamie untuk bisnisnya. Kelihatannya Mamie menjual kebutuhan wanita semua.

Dan tampaknya Mamie sukses dalam bisnisnya. Sehingga ruang tamu dijadikan kantornya. Ada dua orang cewek yang bekerja di ruang tamu yang sudah dijadikan kantor itu.

Sukses Mamie memang mengagumkan. Sehingga dalam tempo singkat Mamie bisa membeli sebuah sedan yang harganya lebih mahal daripada mobil SUV Papa.

Ya… aku kagum pada gesit dan lincahnya Mamie dalam berbisnis.

Tapi… ada kekaguman lain yang kurahasiakan di dalam hati. Kagum pada kecantikan Mamie yang luar biasa pengaruhnya ke dalam batinku ini.

Yang membuatku heran adalah, sudah sekian lamanya Mamie jadi istri Papa, tapi tidak hamil – hamil juga. Apakah Mamie wanita mandul atau bagaimana? Entahlah. Aku tak berani menanyakannya.

Yang jelas, setiap kali aku berdekatan dengan Mamie, sudut mataku selalu “rajin” mencuri – curi pandang pada keelokannya. Bahwa Mamie berperawakan tinggi langsing, namun sepertinya padat berisi dan tidak kurus.

Kulitnya putih kekuningan. Sepasang matanya bundar bening. Hidungnya mancung meruncing. Bibirnya tipis merekah. Dan yang paling kukagumi adalah giginya itu. Putih dan rapi sekali, seolah sudah diatur semuanya. Maka kalau Mamie sedang tertawa, aku suka terlongong memperhatikan dua baris gigi yang rapi dan “tertib” itu.

Namun kekagumanku tentang daya pesona Mamie itu tetap kurahasiakan di dalam hati. Karena aku pun sadar bahwa Mamie itu milik Papa yang paling berharga.

Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan berputar terus dengan cepatnya. Tanpa terasa nanti tengah malam jam nol-nol, umurku akan menjadi 18 tahun.

Aku malah teringat Papa yang sedang di luar kota. Kalau usiaku 18 tahun, usia Papa pun akan genap 60 tahun, karena Pazpa menikah dengan Mama waktu berusia 41 tahuyn dan katika aku lahir usianya sudah menjadi 42 tahun. Sedangkan Mama waktu melahikan aku usianya baru 20 tahun. Berarti sekarang usia Mama sudah 38 tahun.

Yang membuatku bersemangat di usia 18 tahun ini, karena Papa sudah berjanji bahwa kalau usiaku sudah 18 tahun, aku boleh menemui Mama di kampungnya yang masih kuingat jalannya. Bahkan bentuk rumahnya pun masih kuingat (kalau belum dirombak). Pokoknya rumah Mama itu hanya terhalang 1 rumah di samping Puskesmas.

Memang jam 00.00 nanti usiaku genap 18 tahun. Tapi kegiatanku di kampus tadi sangat meletihkan. Sehingga aku hanya kuat melek sampai jam 22.00, kemudian mengganti pakaianku dengan kaus oblong dan celana pendek serba putih, lalu terlelap tidur setelah mematikan lampu utama, tinggal lampu LED biru yang cuma 2 watt kubiarkan tetap menyala seperti biasanya.

Namun rasanya baru sebentar aku tidur (sebenarnya sudah 2 jam aku tidur), tiba – tiba aku merasa bahuku digoyang – goyang disertai suara wanita memanggil – manggil namaku, “Chep… Chepi… Chep… bangun dulu sebentar…”

Dengan malas – malasan aku membuka mataku. Dan alangkah kagetnya ketika di dalam keremangan cahaya lampu biru 2 watt, kulihat wajah… Mamie!

“Oooh… Ma… Mamie…!” ucapku tergagap, “Ada apa Mam?”

Aku spontan terduduk. Spontan juga Mamie mengecup sepasang pipiku disusul dengan ucapan, “Selamat ulang tahun yang ke delapan belas ya Chepi Sayang. Semoga panjang umur dan sukses di masa depan.”

Aku terperangah. Karena harum parfum yang Mamie kenakan, tersiar ke penciumanku. Membuat suasana jadi berbeda dengan biasanya. “Terima kasih Mam. Aku malah lupa kalau hari ini ulang tahunku,” ucapku berbohong. Padahal dari tadi sore aku sudah mengingat – ingat hari yang sangat penting bagiku ini. Lalu aku turun dari bed untuk menyalakan lampu utama.

Keadaan di dalam kamarku pun menjadi terang. Mamie pun berdiri dan mengusap – usap rambutku sambil bertanya, “Kamu mau hadiah apa di ulang tahunmu kali ini? Mau tukar motor bebekmu dengan moge?”

“Nggak Mam, “aku menggeleng, “Kalau punya moge, nanti malah jadi seneng main jauh – jauh. Motor yang ada sudah sangat menolong buat kuliah Mam.”

“Terus mau apa dong? Ngomong aja terus terang. Apakah kamu mau dibeliin jam tangan yang seharga dengan moge?”

“Nggak Mam. Di zaman sekarang anak muda sudah gak suka jam tangan lagi. Karena untuk melihat jam kan tinggal lihat di hape aja.”

“Terus… mau hape yang harganya sama dengan moge?” “Gak juga. Hape mahal – mahal sekalinya hilang pasti nyeselnya berbulan – bulan.” “Terus mau apa dong? Masa gak punya request sama sekali?” “Mmm… ada sih yang aku inginkan. Tapi bukan dalam bentuk barang.” “Mau apa? Mau tour ke Bali atau ke Singapura atau ke Australia atau…” “Aku pengen ngerasain tidur sama Mamie, “potongku. “Haaa? Kok pengen tidur sama mamie? Kenapa?”

Aku berpikir sesaat, untuk mencari alasan. Lalu berkata, “Waktu Mama belum pisah sama Papa, aku sering tidur dalam pelukannya. Terasa nyaman sekali. Tapi setelah Mama meninggalkan rumah ini, aku selalu tidur sendirian. Tidak pernah lagi me…”

Mamie memotong ucapanku, “Ya sudah sudah… mamie mau bobo sama kamu sekarang. Mumpung Papa masih lama di luar kota. Mau tidur di mana? Di kamar mamie atau di sini aja?”

“Di sini aja. Hehehe… beneran Mamie mau tidur di sini?“tanyaku sambil memegang kedua tangan Mamie.

“Iya. Tapi mamie mau ganti baju dulu ya. Ini kan gaun yang sengaja mamie pakai untuk mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Apa kamu gak mau makan di luar untuk merayakan ulang tahunmu?”

“Besok lagi aja Mam. Sekarang udah tengah malam gini, mendingan juga bobo.” “Oke,“ Mamie mengangguk sambil tersenyum. “Mamie mau pakai kimono dulu ya.” “Iya Mam.”

Kemudian Mamie meninggalkan kamarku. Aku pun mematikan lampu utama lagi dan menyalakan lampu tidur 2 watt itu. Lalu menunggu Mamie datang lagi dengan merebahkan diri di atas bed, dengan terawangan bermacam – macam dan berkacau balau di benakku.

Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku berterus terang bahwa aku sering digoda oleh mimpi – mimpi jahanam yang selalu membuat celanaku basah itu? Haruskah aku berterus terang bahwa sebenarnya aku sudah lama tergila – gila oleh Mamie?

Ah, entahlah. Aku harus menunggu sampai tiba saat yang tepat untuk membuka isi hatiku selama ini. Tapi apakah Mamie takkan marah lalu bereubah sikap menjadi jutek padaku kelak?

Sesaat kemudian Mamie sudah masuk lagi ke dalam kamarku, dengan mengenakan kimono putihnya. Entah kenapa, aku jadi degdegan dibuatnya. Karena ini untuk pertama kalinya Mamie akan tidur bersamaku.

“Kamu romantis juga ya. Lampu tidur juga berwarna biru,” kata Mamie sambil naik ke atas bedku. Lalu merebahkan diri di samping kiriku. “Ohya… selama ini mamie gak pernah lihat kamu pacaran Chep.”

“Aku memang belum pernah punya pacar Mam.”

“Kenapa? “tanya Mamie sambil menyelinapkan tangannya ke balik kaus oblongku. Dan mengusap – usap dadaku dengan lembut. “Tapi kamu normal kan?”

“Maksud Mamie normal apanya?” tanyaku semakin degdegan. Karena baru sekali ini Mamie mengusap – usap dadaku seperti ini.

“Normal dalam hal yang satu itu… mmm… kamu bukan penyuka sesama jenis kan?” “Iiih… amit – amit. Aku normal Mam.” “Lalu kenapa gak pernah pacaran? Belum nemu yang sesuai dengan kriteriamu?” “Iya Mam. Belum nemu cewek yang persis seperti Mamie dalam segalanya,” sahutku nekad.

“Haaa?” Mamie spontan bangkit. Duduk sambil menatapku dengan sorot heran, “Kamu nyari cewek yang seperti Mamie? Memangnya bagaimana perasaanmu selama ini sama Mamie?” Ngocoks.com

Aku tetap celentang dan menyahut sambil memejamkan mataku, “Sejak kecil sampai sekarang aku sayang sama Mamie. Aku juga kagum sama Mamie. Kagum sekali. Sampai sering terbawa – bawa ke dalam mimpi.”

“Ohya?! Kamu kagum sama mamie dalam hal apanya?”

“Dalam segalanya Mam… tapi Mamie jangan marah ya. Aku hanya ingin membuka isi hati yang sebenarnya.”

“Ya. Ngomong deh terus terang. Mamie paling suka orang yang jujur, yang selalu berterus terang dalam segala hal.”

“Sejak kecil aku mengagumi kecantikan Mamie dan gerak – gerik Mamie yang… aaaah… begitulah Mam.”

“Lalu kamu sering mimpiin mamie?” “Iya Mam.” “Mimpinya seperti apa?” “Jauh… jauh dari kenyataan Mam.” “Pernah mimpi dicium sama mamie?” “Sering. Lebih jauh lagi juga sering.” “Haaa… lebih jauh lagi itu seperti apa?” “Malu mengatakannya Mam.” “Jangan malu – malu dong. Jujur aja bilang, apa yang pernah kamu mimpikan tentang mamie?” “Pokoknya… mmm… pagi harinya celanaku jadi basah Mam…” “Hihihi… “Mamie mencubit pipiku, “Kamu mimpi begituan sama mamie?” “Iii… iya Mam.” “Kok bisa?!”

“Nggak tau kenapa Mam. Yang jelas mimpi – mimpi itu tidak diundang. Berdatangan sendiri dalam tidurku.”

“Kamu tentu sadar mamie ini punya papamu yang begitu menyayangimu kan?” “Sadar kalau Mamie ini punya Papa. Aku salah ya Mam? Maaf kalau aku salah.”

Mamie merebahkan diri lagi di sampingku. Harum parfum Mamie tersiar lagi ke penciumnanku. Lalu Mamie melingkarkan lengannya di atas perutku sambil berkata lembut, “Kamu tidak salah Sayang. Kan mimpi itu tidak bisa diminta. Suka datang sendiri tanpa diundang. Hanya saja… ah… entahlah. Kamu ini bikin mamie bingung Chep.

Aku terdiam. Suasana pun jadi hening. Hanya elahan nafas Mamie dan nafasku yang terdengar.

Lalu Mamie mendekap pinggangku sambil bertanya, “Terus mamie harus gimana supaya kamu senang?”

“Nggak tau Mam. Aku juga bingung,” sahutku dalam kebingungan. Tapi diam diam… ada yang menegang di balik celana pendek putihku…!

“Kamu pengen merasakan ciuman bibir sama mamie?” “Ma… mau Mam… ka… kalau Ma… Mamie gak keberatan“sahutku gagap.

Sebagai tanggapan ucapan gagapku, Mami bergerak ke atas dadaku. Menghimpitku sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Lalu… Mamie memagut bibirku ke dalam ciumannya yang harum penyegar mulut. Membuatku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, selain mendekap pinggangnya erat – erat.

Tapi aku tahu benar bahwa rudalku langsung ngaceng berat ketika sedang berpelukan dan berciuman ini. Dan… Mamie juga tahu hal ini, karena tangannya merayap ke balik celana pendekku. Lalu tersentak kaget, “Punyamu luar biasa gedenya… Punya Papa juga kalah… tidak sepanjang dan segede ini …” ucapnya setengah berbisik.

Aku terdiam sambil berharap semoga Mamie kasihan padaku dan memberikan sesuatu yang kudambakan selama ini. Ngocoks.com

Tapi Mamie malah menghela nafas. Lalu menelentang di sampingku sambil mengusap – usap dahinya, seolah tengah memikirkan sesuatu.

“Kamu tau apotek yang buka duapuluhempat jam kan?” tanyanya. “Tau Mam. Ada dua apotek yang buka duapuluhempat jam.” “Beliin pil anti hamil gih.” “Iya Mam,” sahutku sambil duduk, “Sekarang?” “Iya. Ambil aja duitnya di laci meja rias mamie. Beli satu strip aja,” ucap Mamie.

Seperti biasa, aku tak pernah bertanya dan membantah kalau Mamie sudah menyuruhku.

Kemudian aku turun dan mengambil jaket kulitku yang tergantung di kapstok. Dan melangkah ke luar sambil mengenakan jaket kulit ini.

Sebenarnya aku heran juga kenapa Mamie menyuruhku membeli obat anti hamil. Apakah dengan berciuman saja bisa menyebabkan kehamilan? Tapi bukankah Mamie itu mandul sehingga sampai sekian lamanya jadi istri Papa tidak bisa hamil- hamil juga?

Lalu buat apa pil anti hamil itu? Entahlah. Yang jelas aku harus mengikuti perintahnya.

Bersambung… Beberapa saat kemudian aku sudah melarikan motorku di saat jam di handphoneku sudah menunjukkan pukul satu pagi.

Jalanan yang sudah lengang membuatku bisa bergerak cepat. Sehingga tak lama kemudian aku sudah pulang sambil membawa pil yang Mamie suruh beli itu. Mamie tampak sedang duduk di ruang keluarga sambil menikmati segelas coffee late.

“Cepat sekali… ngebut barusan?” tanyanya sambil memperhatikan bagian belakang strip pil kontrasepsi itu. Mungkin sedang membaca aturan pakainya.

“Nggak Mam. Kebetulan aja jalannya sedang kosong,” sahutku sambil duduk di samping Mamie di atas sofa.

Lalu Mamie menatapku dengan senyum. “Chepi… kamu sudah pernah menggauli perempuan? Ngomong aja terus terang, jangan bohong ya.”

“Belum pernah Mam. Disumpah dengan kitab suci juga aku mau.” “Kalau ngocok aja sih suka kan?” “Nggak Mam. Tapi me… meletus sendiri di celana sih sering.” “Tiap kali mimpiin mamie kamu suka basah?” “Iya Mam.”

“Kasihan anak mamie…” ucap Mamie sambil memijat hidungku. Lalu mengecup bibirku. “Sering nonton video porno?”

“Jarang sekali Mam. Paling juga baru tiga kali. Soalnya kalau sudah nonton bokep, aku suka tersiksa sendiri.”

“Iya… memang jangan sering – sering nonton bokep. Karena kamu masih sangat muda. Bokep sih untuk perangsang manusia yang sudah tua.”

“Iya Mam.” “Kamu pernah melihat mamie telanjang?”

“Pernah, cuma satu kali. Itu juga pada waktu aku masih kecil, kalau gak salah waktu baru kelas satu SMP. Waktu itu aku mau minta uang untuk bayaran sekolah. Aku masuk ke kamar Mamie, tapi Mamie sedang mandi. Dinding kamar mandi Mamie kan terbuat dari kaca blur. Jadi kelihatan Mamie lagi mandi. Tapi samar – samar, karena kacanya blur.

“Belum pernah melihatnya secara jelas?” “Belum.” “Kamu ingin melihat mamie telanjang secara jelas?” “Ka… kalau Mamie gak keberatan… mau banget…” “Terus… kalau mamie udah telanjang mau diapain?”

“Ng… nggak tau… mungkin mamie bisa ngajarin aku, karena aku belum pernah merasakan begituan sama perempuan. Ciuman pun baru merasakan dengan Mamie tadi.”

“”Sebenarnya di usiamu sekarang ini, normal – normal aja kamu merasakan hubungan sex dengan perempuan. Yang gak normal adalah… mamie ini istri papamu Chep. Jadi kalau kita sampai melakukan hubungan badan, berarti kita menghianati Papa.”

“Iya Mam. Aku terima salah. Mohon Mamie maafkan aku yang gak tau diri ini.”

“Kamu tidak salah juga Chep. Mungkin mimpi – mimpimu itu yang bersalah. Padahal kamu tidak pernag mengundang mimpi – mimpi itu kan?”

“Iya Mam…”

Ucapanku terputus karena Mamie menyelinapkan tangannya ke celana pendek yang biasa kupakai tidur atau olah raga ini. Mamie langsung memegang rudalku yang memang tidak bercelana dalam ini. “rudalmu ini sudah ngaceng sekali. Coba buka celanamu Chep. Mamie ingin lihat secara jelas,” kata Mamie sambil mengeluarkan tangannya dari balik celana pendek putihku.

Kuturuti perintah ibu tiriku yang cantik itu. Kupelorotkan celana pendekku sampai terlepas di kedua kakiku. Sehingga aku tidak bisa menyembunyikan lagi rudalku yang sudah ngaceng sekali ini.

Mamie spontan menangkap rudalku sambil menatapnya dengan mata terbelalak, “Wooow… rudalmu ini luar biasa gede dan panjangnya Chep. Ereksinya pun sempurna, keras sekali. Tidak seperti punya papamu yang ereksinya setengah – setengah.”

Kubiarkan saja Mamie memegang rudal ngacengku, seperti anak kecil yang punya mainan baru. Bukan cuma dipegang. Mamie pun menciumi kepala rudalku. Bahkan juga menjilatinya, sehingga nafasku mulai tidak beraturan.

Sambil menciumi dan menjilati moncong rudalku, Mamie pun menarik tanganku ke balik kimononya. Lalu meletakkannya di antara kedua pangkal pahanya.

“Mam… iii… ini punya Mamie?” tanyaku gugup.

“Iya… tapi serambi lempit mamie harus dijilatin dulu sampai basah. Karena rudalmu terlelu gede. Pasti sakit dan susah masuknya kalau tidak dijilatin dulu.”

Aku yang pernah melihat bokep cowok menjilati serambi lempit cerweknya, spontan menyahut. “Iya Mam… aku siap untuk menjilati serambi lempit Mamie sampai basah.”

Mamie melepaskan rudalku dari genggamannya. “Ayo di kamarmu aja, biar lebih leluasa.”

Aku pun mengambil celana pendekku yang tergeletak di sofa, tapi tidak mengenakannya lagi karena tiada perintah dari Mamie. Setibanya di dalam kamar, Mamie menyambutku dengan pegangan di kedua tanganku. “Kamu mau melihat mamie telanjang kan?”

“Iiii… iya Mam,” sahutku tergagap dalam semangat yang berkobar.

“Chepi, mamie sangat sayang padamu. Karena itu mamie akan mengabulkan apa pun yang diinginkan pada ulang tahunmu yang kedelapanbelas ini,” ucap Mamie sambil melepaskan kimonoputihnya. Dan… sekujur tubuh Mamie langsung terbuka, karena tiada apa – apa lagi di balik kimono itu selain tubuh Mamie yang aduhai…

Inilah untuk pertama kalinya aku menyaksikan Mamie telanjang secara jelas. Tanpa terhalang kaca blur. Dan aku terkagum – kagum menyaksikan tubuh indah dan putih mulus itu, seolah menyaksikan keelokan bidadari yang baru turun dari langit.

“Kok malah bengong?” tanya Mamie sambil menarik pergelangan tanganku, sehingga aku terhempas ke atas dadanya yang dihiasi bukit kembar yang benar – benar seimbang dengan bentuk badannya. tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil.

Mamie melepaskan kaus oblongku sambil berkata, “Kamu juga harus telanjang. Supaya kulit bertemu kulit…”

Setelah kaus oblong meninggalkan badanku, Mamie berkata lagi, “Sekarang lakukanlah apa pun yang kamu inginkan pada diri mamie…”

“Aku belum punya pengalaman, jadi… aku tidak tau harus mulai dari mana… karena takut salah…” sahutku sambil meraba – raba toket Mamie dengan tangan gemetaran.

“Kamu mau menyetubuhi mamie kan? “tanya Mamie sambil mencolek bibirku dengan telunjuknya.

Aku amati wajah cantik Mamie yang tengah tersenyum yang sangat menggoda itu. Lalu menyahut, “Mau sekali… tapi kalau ada yang salah mohon dibetulkan ya Mam.”

“Iya… nanti mamie ajarin. Sekarang jilatin dulu serambi lempit mamie sampai benar – benar basah oleh air liurmu ya.”

“Siap Mam…” sahutku sambil melorot turun, sehingga wajahku berada di atas serambi lempit Mamie yang begitu bersihnya, tiada jembutnya selembar pun. Hanya ada yang baru mau tumbuh di bagian atasnya.

Aku pernah memperhatikan foto – foto wanita telanjang. Pernah juga beberapa kali nonton bokep. Tapi baru sekali inilah aku menyaksikan kemaluan wanita dalam kenyataan, dalam jarak yang sangat dekat pula dengan mataku.

Kemudian Mamie merentangkan sepasang paha mulusnya sambil menunjuk ke arah serambi lempitnya yang sudah dingangakan. “Nih bagian – bagian ini yang harus dijilati. Ini kan bibir dalam, ini liang kecil untuk masuknya rudalmu nanti. Terus ini namanya clitoris, dalam bahasa kita biasa disebut kelentit atau itil.

“Iiii… iya Mam…” sahutku tersendat, karena nafasku semakin sulit diatur. Karena membayangkan rudalku akan dimasukkan ke lubang sekecil itu.

Lalu Mamie memberi petunjuk – petunjuk lain, agar aku mulai tahu bagaimana cara memperlakukan kemaluan perempuan.

Lalu aku pun mulai menjilati kemaluan Mamie. Mulai dari bagian dalam yang berwarna pink itu, sambil berusaha mengalirkan air liurku sebanyak mungkin, seperti petunjuk dari Mamie barusan. Begitu pula clitorisnya kujilati segencar mungkin.

Sementara itu Mamie mulai menggeliat – geliat sambil meremas – remas rambutku yang berada di bawah perutnya. “Iya Chep… iyaaaaa… itilnya jilatin lagi Chep… itilnya… iyaaaaa… iyaaaaa… iyaaaaa… aaaaaaaah… aaaaah… enak sekali Chepiiii… iyaaaa… iyaaaaa… itilnya jilatin terus Cheeepiii…

Cukup lama aku melakukan semuanya ini, sementara nafsuku semakin menggebu – gebu.

Sampai akhirnya Mamie mengepit kepalaku dengan kedua tangannya, sambil berkata terengah, “Su… sudah cukup Sayang. Sekarang masukin rudalmu…”

Dengan perasaan masih bingung, aku menjauhkan mulutku dari serambi lempit Mamie. Kemudian mendekatkan rudalku ke serambi lempit Mamie.

Pada saat itulah Mamie memegang leher rudalku, kemudian mengarahkan kepalanya ke mulut serambi lempitnya. Mungkin sedang diarahkan ke mulut liang yang tadi Mamie tunjukkan dan tampak kecil itu.

Ketika amukan birahiku semakin menggila, terdengar suara Mamie, “Ayo dorong… !”

Aku pun mendorong rudalku yang lehernya masih dipegang oleh Mamie.

Perlahan – lahan zakarku melesak ke dalam liang serambi lempit Mamie yang rasanya aduhai… luar biasa enaknya…!

Mamie pun merengkuh leherku ke dalam pelukannya sambil berdesah… “Sudah masuk sayang… Sekarang mamie bukan hanya punya Papa, tapi juga punya Chepi…”

Entah kenapa, ucapan Mamie itu membuatku tersentuh… sangat tersentuh. Tapi aku tidak bisa menjawabnya, karena mulai melaksanakan petunjuk Mamie.

Ya, atas petunjuk Mamie, aku pun mulai mengayun rudalku dengan hati – hati di dalam jepitan liang serambi lempitnya yang begini uniknya buatku yang masih pemula. Terasa benar dinding liang serambi lempit Mamie ini bergerinjal – gerinjal lunak, seperti dilapisi bentuk seperti telur ayam yang masih berderet di dalam perutnya.

“Ayo… sekarang cepatin entotannya. Tapi jangan sampai lepas dari dalam serambi lempit Mamie ya …“bisik Mamie.

Aku menyahut terengah – engah, “Iiii… iyaaaa… duuuh… Mam… me… serambi lempit Mamie ini luar biasa enaknya.”

“rudalmu juga luar biasa enaknya Sayaaaang,” ucap Mamie yang dilanjutkan dengan kecupan hangat di bibirku.

Aku merasa bangga mendengar ucapan Mamie itu. Tapi mungkin aku terlalu menikmati semuanya ini. Maklum, inilah untuk pertama kalinya aku merasakan berhubungan sex.

Sehingga tak lama kemudian aku menggelepar di atas perut Mamie, sambil membenamkan rudalku sedalam mungkin, disusul dengan berlompatannya lendir kenikmatan dari moncong rudalku.

Croooottttt… crooooottttt… crooooootttt… croooottttttt… crotttt… crooootttt…!

Lalu aku terkulai di dalam dekapan Mamie.

Mamie tersenyum dan mengecup bibirku. Lalu bertanya perlahan, “Udah ejakulasi?”

“Iya Mam… ternyata aku gak kuat lama – lama,” sahutku bernada kecewa.

“Nggak apa – apa. Biasanya memang begitu kalau baru pertama kali sih. Sebentar lagi juga pasti rudalmu ngaceng lagi,” sahut Mamie sambil mempererat dekapannya.

Ternyata benar ucapan Mamie. Tak lama kemudian rudalku yang masih berada di dalam liang serambi lempit Mamie, mulai menegang lagi sedikit demi sedikit.

“Nah tuh… udah ngaceng lagi kan?” ucap Mamie sambil menggoyang – goyangkan pinggulnya sedemikian rupa, sehingga rudalku terasa seperti diremas – remas dan dibesot – besot. Karuan saja makin lama rudalku makin ngaceng.

“Udah keras nih,” ucap Mamie, “ayo entotin lagi.”

“Iya Mam…” sahutku sambil mengayun rudalku perlahan – lahan. “Mam… aku yakin… aku mulai cinta sama Mamie…”

“Apa?” tanya Mamie sambil tersenyum. “Aku cinta Mamie,” sahutku agak keras. “Apa?!” tanya Mamie dengan tatapan dan senyum yang menggoda. “Aku cinta Mamie !!!” teriakku cukup keras. “Sttttt! Jangan teriak juga kali. Nanti kedengaran si Bibi.” “Eh… iya yaa… maaf Mam…”

“Mamie hanya ingin mendengar pernyataan cintamu berulang – ulang… karena mamie bahagia mendengarnya.”

Kenapa Mamie merasa bahagia mendengar ucapan cintaku? Apakah karena Mamie juga mencintaiku? Entahlah.

Yang jelas aku melanjutkan aksiku sambil merapatkan pipiku ke pipi hangat Mamie, sambil bergumam terus setengah berbisik, “Aku cinta Mamie… aku cinta Mamie… aku cinta Mamie… aaaakuuuu cintaaa Maaamie…”

Tiba – tiba Mamie memagut bibirku ke dalam ciuman hangatnya. Disusul dengan bisikannya, “Kamu pikir mamie tidak mencintaimu? Kalau mamie tidak mencintaimu, tak mungkin mamie biarkan kamu menyetubuhi mamie Chep…”

“Ja… jadi Mamie juga mencintaiku?” tanyaku sambil menghentikan entotanku sejenak.

Mamie menatapku sambil tersenyum. Membelai rambutku dengan lembut. Lalu menyahut perlahan, “Iya… mami cinta dan sayang kamu Chepi…”

Entah kenapa, mendengar pengakuan Mamie itu aku jadi bahagia… bahagia sekali.

Malam ini memang malam jahanam. Tapi duniaku terasa indah sekali.

Lalu Mamie memberitahu titik – titik yang peka di wilayah dada dan kepalanya. Dan memberitahu trik supaya Mamie merasakan nikmatnya disetubuhi olehku.

Aku pun mulai mengerti trik dan titik – titik peka itu.

Maka mulailah aku mengayun kembali rudalku sambil menjilati leher jenjang Mamie.

Kelihatan sekali Mamie menikmatinya. Terlebih ketika aku mengemut pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas toket kanannya. Maka mulailah aku merasakan sesuatu yang baru. Bahwa pinggul Mami mulai bergeol – geol, meliuk – liuk dan menghempas – hempas. Liang serambi lempitnya pun terasa membesot – besot dan meremas – remas rudalku.

Cukup lama hal ini terjadi. Sementara rintihan – rintihan Mamie pun mulai terdengar.

“Aaaaaaah… aaaaa… aaaaah… Chepiiiii… mamie juga cinta kamu Sayaaaang… entot terus Cheeeep… entooootttttttt… iyaaaaa… iyaaaaa… entoooooooootttttttt… rudalmu luar biasa enaknya Cheeeep… aaaaaa… aaaaaaaah… Chepiiiiii… ini luar biasa enaknya Cheeeeeep …

Bahkan pada suatu saat Mamie berkelojotan sambil mendesah dan merintih, “Aaaaa… aaaaa Cheeepiiii… mamie mau lepas… mau lepasss… aaaaaaa… aaaaaaahhhh… aaaa…”

Mulutnya ternganga sementara tubuhnya mengejang, tegang sekali. Aku belum tahu harus berbuat apa, sehingga kubiarkan saja rudalku terbenam di dalam liang serambi lempitnya. Tanpa kugerakkan lagi.

Lalu sesuatu yang sangat erotis terjadi. Liang serambi lempit Mamie terasa berkedut – kedut kencang. Disusul dengan membasahnya liang serambi lempit yang tengah mencengkram rudalku ini.

Lalu tubuh Mamie terasa melemas. Disusul dengan kecupan hangatnya di bibirku. Dan Mamie pun berkata perlahan, “Terima kasih ya Sayang… belum pernah mamie merasakan disetubuhi yang senikmat ini.”

“Mamie sudah orgasme?” tanyaku sambil mengusap pipi Mamie yang mengkilap karena berkeringat.

“Iya Sayang,” sahut Mamie sambil melingkarkan lengannya di leherku, “Tapi kamu belum ejakulasi kan? Ayo entotin lagi… jangan direndem terus…”

Aku pun mengayun kembali rudalku di dalam liang serambi lempit Mamie yang terasa jadi lebih licin daripada tadi. Tapi bagiku malah lebih enak. Sehingga dengan sangat bergairah aku memenyetubuhi liang serambi lempit Mamie lebih cepat dari tadi.

“Mamie… serambi lempitnya jadi lebih enak… jadi licin sekali Mam…” ucapku di tengah gencarnya memenyetubuhi ibu tiriku yang cantik dan selalu baik padaku itu.

“Kon… rudalmu juga enak sekali Chep… bisa – bisa ketagihan mamie nanti…” sahut Mamie yang mata indahnya merem melek lagi.

“Kapan pun aku siap untuk melakukannya lagi nanti.”

“Iya Sayang… mamie memang sudah jatuh cinta padamu… aaaaaah… ini mulai enak lagi… entot terus Cheeepiii… sambil jilatin leher mamie kayak tadi… aaaaaa… aaaah… aaaa… aaaaah… aaaaa… aaaaaaahhhhhhh… hhhhhh… hhhhhh…”

Mulutku memang sudah beraksi lagi, menjilati bagian – bagian peka di tubuh Mamie yang terjangkau oleh lidahku. Ketika aku sedang menjilati leher dan telinga Mamie, tangan kiriku pun giat meremas toket kanannya. Sementara rudalku seolah sedang memompa liang serambi lempit Mamie yang luar biasa enaknya ini.

Tak cuma itu. Pada suatu saat aku pun mulai menjilati ketiak Mamie disertai dengan sedotan – sedotan kuat, sehingga Mamie semakin klepek – klepek dibuatnya. Meski mulai menggoyang pinggulnya, rintihan dan rengekan histeris Mamie pun mulai terdengar lagi.

“Chepiiii… oooohhhh… Chepiii… kamu sudah semakin pandai Sayang… ini semakin enaaak… ooooh… Cheeeep… rudalmu memang luar biasa enaknya… oooooooh… entot teruuuuss Cheeeeep… iyaaaaa… iyaaaa… iyaaaa… entooooooottttttt… ooooh… oooo… ooooooohhhhh… Cheeeepiiii…

Tubuhku mulai bersimbah keringat. Namun aku malah semakin bersemangat untuk memenyetubuhi liang serambi lempit Mamie yang luar biasa enaknya ini.

Goyangan pinggul Mamie pun semakin menggila. Memutar – mutar, meliuk – liuk dan menghempas – hempas ke kasur. Sehingga rudalku terasa dibesot – besot dan diremas – remas oleh liang serambi lempit yang sangat licin ini.

Sampai pada suatu saat, terdengar Mamie berkata terengah, “Chep… mamie mau lepas lagi. Ayo barengin Chep… biar nikmat…”

Sebenarnya aku pun sedang berada di detik – detik krusial.

Maka atas permintaan Mamie, naluriku bilang bahwa aku harus mempercepat entotanku. Ya… aku mempercepat ayunan rudalku, laksana pelari yang sedang sprint di depan garis finish.

Sampai pada suatu detik, aku dan Mamie seperti sepasang manusia yang sedang kerasukan. Saling cengkram dan saling remas sekuatnya, seolah ingin saling meremukkan tulang kami.

Pada saat itulah Mamie terkejang – kejang dengan mata terpejam, sementara aku membenamkan rudalku sedalam mungkin, tepat pada saat rudalku sedang mengejut – ngejut sambil menembak – nembakkan lendir kenikmatanku.

Crooootttttt… crotttt… croooottttttt… croootttttt… crooootttt… crooootttt…!

Lalu kami sama – sama terkulai lunglai. Dalam kepuasan sedalam lautan.

Malam itu adalah malam yang takkan kulupakan seumur hidupku. Bahwa aku sudah menyetubuhi Mamie untuk pertama kalinya.

Jahanam memang perbuatanku ini. Karena Mamie itu istri Papa. Milik Papa yang paling berharga, sementara aku telah mencurinya. Padahal Papa itu sangat menyayangiku. Lalu beginikah aku membalas kebaikan Papa?

Namun di sisi lain, aku menganggap betapa indahnya malam jahanam itu. Karena aku sudah merasakan sesuatu yang tadinya kuanggap hanya obsesi belaka.

Semakin indah lagi setelah Mamie mengajakku mandi bareng di kamar mandiku.

“Masih ingat waktu kamu sering mamie mandikan dahulu?” tanya Mamie sambil menyabuni tubuhku.

“Iya… di pancuran di kampung Mamie. Aku masih di SD kan saat itu Mam,” sahutku.

“Iya. Kamu masih kecil saat itu. rudalmu juga masih kecil. Tapi sekarang udah panjang gede gini. Sudah bisa nakalin serambi lempit mamie pula,” ucap Mamie pada waktu menyabuni rudalku yang sudah terkulai lemas ini.

Tapi tak cuma menyabuni rudalku, melainkan juga mengocoknya. Sehingga perlahan – lahan rudalku mulai menegang kembali.

“Hihihihihiii… rudalmu udah ngaceng lagi Chep. Emang masih kepengen menyetubuhi lagi ya?”

“Nggak tau… kalau udah ngaceng gini berarti masih bisa menyetubuhi lagi Mam?”

“Iya. Tapi sekarang sudah jam setengah tiga pagi. Mendingan tidur aja, biar kamu gak kesiangan kuliah nanti.”

“Sekarang kan tanggal merah Mam.”

“Oh iya ya. Berarti kamu libur hari ini. Ya udah… selesaikan aja mandinya dulu. Kalau masih kepengen menyetubuhi lagi, nanti mamie kasih.

Setelah selesai mandi, kami bersetubuh lagi di atas bedku. Durasinya lebih lama lagi, karena bagiku persetubuhan ini adalah persetubuhan yang ketiga kalinya. Tak urung Mamie orgasme dua kali lagi sebelum aku ngecrot crot crottt crotttt di dalam liang serambi lempitnya yang sangat fantastis bagiku.

Kemudian kami tertidur nyenyak. Inilah untuk pertama kalinya aku tidur dalam pelukan Mamie, dalam keadaan sama – sama telanjang pula.

Esok paginya kami sama – sama bangun terlambat. Bahkan ketika aku sudah duduk di atas bed, kulihat Mamie masih nyenyak tidur. Dan aku tak mau mengganggunya. Aku turun dari bed dengan hati – hati, kemudian melangkah ke kamar mandi.

Setelah selesai mandi, kukenakan baju dan celana piyama. Sementara Mamie masih tidur juga. Padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 pagi.

Dengan sabar kutunggu Mamie bangun sendiri.

Dan ketika Mamie sudah bangun, aku menyongsongnya dengan kecupan mesra di sepasang pipinya, sambil berkata setengah berbisik, “Terima kasih Mam. Khayalanku sudah menjadi kenyataan. Bahkan lebih daripada yang pernah kukhayalkan.”

Mamie tersenyum manis. Lalu bangun dan berkata, “Dengan mama kandungmu aja belum pernah dipelukin dalam keadaan sama – sama telanjang kan?”

“Iya Mam.” “Terus… sekarang hatimu bahagia?” tanya Mamie sambil mengenakan kimononya. “Sangat bahagia Mam.”

“Syukurlah. Mamie juga bahagia karena telah mendapatkan kebujanganmu. Tapi kalau Papa sudah datang, kita harus cari – cari kesempatan. Mungkin kalau Papa sedang di kantor dan kamu kuliah sore, baru bisa kita lakukan.”

“Iya Mam. Ohya kapan Papa pulang?” “Katanya sih besok malam. Dipercepat dua hari, karena ingat kamu sedang berulang tahun hari ini.”

Esok malamnya Papa benar – benar pulang.

Begitu masuk ke dalam rumah, Papa langsung memanggilku. Entah kenapa, karena aku merasa sudah melakukan kesalahan besar kepada Papa, jantungku berdegup kencang waktu menghampiri beliau.

Ternyata Papa memeluk dan mencium dahiku, lalu berkata, “Selamat ulang tahun yang kedelapanbelas, ya Chep. Semoga panjang umur dan sukses selalu. Maafkan papa karena tidak bisa pulang pada hari ulang tahunmu kemaren. Tapi papa sudah transfer dana ke rekening tabunganmu, sebagai hadiah ulang tahun. Terserah kamu mau diapakan duit itu nanti, karena kamu sekarang sudah mulai dewasa.

“Iya Pap… terima kasih. ”

“Kapan kamu libur panjang?” tanya Papa.

“Dua minggu lagi Pap. “

“Nah… sekarang kamu sudah besar. Sudah dewasa. Zaman dahulu malah patokan dewasa itu pada usia tujuhbelas. Jadi kamu sudah bisa menilai sendiri mana yang baik dan mana yang buruk bagimu. Karena itu sekarang papa izinkan kamu untuk berjumpa dengan mamamu. Biar bagaimana Mama itu adalah ibu kandungmu.

“Iya Pap. Terima kasih. “ “Kamu masih ingat rumah mamamu kan?” “Masih Pap. Rumahnya kan yang menghadap ke jalan raya, tapi di sampingnya ada jalan kecil. “ “Iya,” jawab Papa, “Di halaman depannya banyak pohon delima dan pohon mangga. ““ “Iya Pap. Aku masih ingat semuanya. “ “Lalu kamu mau pakai apa ke sana? Pakai bus?” “Pake motor aja Pap. Biar bebas setelah ada di rumah Mama nanti. “

Dua minggu kemudian, aku sudah melarikan motorku ke kampung Mama yang jaraknya 60 kilometer dari kotaku.

Jalan cukup padat dengan kendaraan roda empat mau pun roda dua. Untunglah aku memakai motor, sehingga bisa selap – selip ke kiri ke kanan.

Dalam tempo relatif cepat aku pun sudah tiba di kampung Mama yang hanya kota kecamatan. Tanpa kesulitan sedikit pun aku tiba di depan rumah Mama yang masih sangat kuingat. Bahkan pohon mangga yang berderet di depan rumah Mama masih tetap seperti dahulu. Seperti waktu aku suka bermain di bawah pepohonan di masa kecilku, waktu Mama belum bercerai dengan Papa.

Ketika aku celingukan di dekat pintu depan, terdengar suara wanita dari ambang pintu itu, “Mau nyari siapa Dek?”

Aku terkejut dan mengamati wanita itu yang masih sangat kuingat. Yaaa… dia Mama kandungku!

“Mama lupa sama aku? Ini Chepi Mam,” sahutku yang disusul dengan mencium tangan Mama.

“Chepiiiii?! Ya Tuhan… “Mama merangkul dan memelukku sambil menangis tersedu – sedu, “Chepiiii… hiks… anakkuuuu… ooooooohhh… mama memang yakin bahwa pada suatu saat kamu akan datang juga. Karena pertalian darah dan batin kita takkan pernah putus… huuuuu… hiksss… Chepiiiiii…

Lalu Mama berjalan terhuyung – huyung sambil kudekap pinggangnya erat – erat, karena takut beliau terjatuh.

Kemudian Mama kududukkan di sofa. Sementara aku berlutut di lantai sambil menciumi lututnya, sambil bercucuran air mata.

Dengan suara sendu aku berkata, “Baru hari ini aku diijinkan oleh Papa untuk menjumpai Mama. Bahkan Papa nyuruh untuk menghabiskan liburanku selama dua minggu di sini. “

Mama menciumi rambutku dan masih terisak – isak. “Kekuatan apa pun takkan bisa memisahkan anak dengan ibu kandungnya. Mama memang mengerti kenapa kamu tidak diijinkan ke sini pada waktu masih kecil… hiks… hiks… mama berjuang untuk menenangkan hati mama selama ini. Untung masih banyak saudara yang sering menghibur hati mama dan berusaha menabahkan mama.

“Sudah Mam. Jangan menangis terus. Sekarang aku kan sudah diijinkan untuk menjumpai Mama di hari – hari luburku nanti. “

Mama pun berusaha menahan isak tangisnya. “Sekarang usiamu sudah berapa tahun?”

“Delapanbelas. Berarti usia Mama sekarang tigapuluhdelapan ya?”

“Iya. Kok kamu bisa tau?”

“Dahulu Mama kan pernah bilang, usia Mama duapuluh tahun waktu melahirkan aku. “

“Iya, iyaaa… sekarang kamu sudah jadi mahasiswa kan?”

“Iya Mam. Baru semester dua. “

“Syukurlah. Semoga kamu sukses di dalam menempuh pendidikan sampai jadi sarjana ya Chep. “

“Amiiin… “

Mama masih tetap seperti dahulu, seperti waktu mau berpisah denganku. Usia Mama lebih tua sepuluh tahun daripada Mamie. Jadi usiaku dengan usia Mamie dan usia Mama seperti tangga. Usia Mamie sepuluh tahun lebih tua dariku, usia Mama sepuluh tahun lebih tua dari Mamie.

Aku tak mau membanding – bandingkan fisik Mama dengan Mamie. Karena Mama dan Mamie punya kelebihan masing – masing. Dari perawakannya saja sudah jauh berbeda. Mamie berperawakan tinggi langsing, sementara Mama bertubuh tinggi montok. Mata Mamie agak menyipit, dengan hidung mancung meruncing. Sedangkan Mama bermata bundar dengan hidung mancung benar, mirip orang Pakistan.

Mama kelihatan sangat senang dengan kehadiranku di rumahnya. Lalu Mama sibuk di dapur bersama seorang pembantu yang datang pagi pulang sore, kata Mama. Ngocoks.com

Ketika hari sudah mulai sore, Mama mengajakku makan bersama. Sengaja aku duduk di samping Mama, karena aku mendadak jadi manja, ingin disuapi segala oleh ibu kandungku.

Mama ikuti saja keinginanku. Ia menyuapiku sambil berkata, “Waktu masih kecil kamu seneng sekali makan abon sapi dan sambel oncom yang kering dan dihaluskan. Sekarang masih suka?”

“Masih Mam,” sahutku, “Tapi Mamie cuma sekali – sekali aja menyediakan makanan favoritku itu. “

“Ibu tirimu galak nggak?” tanya Mama.

“Nggak. Sejak tinggal bersama dia sampai sedewasa ini, aku gak pernah dimarahi olehnya. Apalagi kekerasan, tak pernah terjadi. Dijewer telinga aja gak pernah. “

“Syukurlah kalau begitu. Kapan – kapan ajak dia ke sini. Mama akan terima dengan baik kok. Mama sudah tidak punya perasaan dendam lagi padanya. Yang penting dia mau merawat anak mama sebaik mungkin. “

“Iya, Mama tenang aja. Mamie gak pernah memperlakukanku secara buruk. “

Lalu kami lanjutkan ngobrolnya di ruang keluarga, sambil nonton televisi yang sedikit pun tak masuk di pikiranku. Entah kenapa, aku malah teringat – ingat Mamie terus. Teringat Mamie dan segala yang pernah terjadi dengannya.

Setelah hari mulai malam, Mama menempatkanku di kamar depan, yang sudah diberesi serapi mungkin. Tapi aku merasa kamar itu bekas kamar kakek dan nenek yang sudah tiada. Jujur, aku takut tidur di kamar itu sendirian. Maka kataku, “Nggak mau tidur di kamar depan ah. “

“Abis mau di kamar mana lagi? Kamar yang layak ditempati hanya ada dua. Apa mau di kamar mama?” tanya Mama.

Dengan gaya manja aku memeluk Mama dari belakang sambil berkata, “Iya… mau tidur sama Mama aja. Sebelum kita berpisah, aku kan masih suka tidur sama Mama. Nyaman sekali tidur dalam pelukan Mama. “

“Ya udah. Bawa tas pakaianmu ke kamar mama gih,” kata Mama sambil tersenyum.

“Iya Mam… emwuaaah…” sahutku yang disusul dengan kecupan di pipi Mama.

Malam itu aku merasa nyaman sekali tidur di dalam dekapan Mama. Setelah sembilan tahun berpisah, aku bisa merasakan lagi nyamannya dekapan dan kehangatan ibu kandung.

Malam kedua pun begitu. Bahkan di malam kedua itu, sebelum tidur kami masih sempat ngobrol di atas tempat tidur Mama.

“Mama kan belum tua. Empatpuluh tahun juga belum. Kenapa Mama tidak menmikah lagi?” tanyaku sambil mendekap pinggang Mama.

“Ah… yang naksir mama sih banyak. Tapi mama takkan kawin lagi Chep. “ “Kenapa?” “Kawin lagi juga percuma, karena mama takkan bisa hamil dan melahirkan lagi. “ “Kok gitu? Kenapa gak bisa hamil lagi? “

“Ada masalah di rahim mama. Makanya waktu melahirkan kamu, dokter melarang mama hamil lagi. Kemudian mama disterilkan, agar tidak bisa hamil lagi. Kata dokter, kalau mama hamil lagi sangat berbahaya. “

“Ogitu Mam?! Kok baru sekarang aku dengar ceritanya. “

“Sebelum kita berpisah, kamu kan masih kecil. Baru umur sembilan tahun. Makanya mama merasa belum saatnya membicarakan masalah ini padamu.”

“Iya Mam. Lagian waktu itu aku belum punya handphone. Setelah punya pun bingung sendiri, karena aku belum tahu Mama pakai handphone nggak. Kalau punya pun, aku belum tau nomornya. “

“Iya. Mulai sekarang sih kita bisa ngobrol lewat hape ya?”

“Iya Mam. Kalau aku kangen Mama dan gak bisa ke sini, aku bakal nelepon aja nanti. “

“Iya… “

Lalu kami tertidur.

Di malam ketiga, aku malah duluan masuk ke kamar Mama, sementara Mama masih asyik nonton sinetron di televisi.

Pada malam ketiga inilah terjadi sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, apalagi merencanakannya. Saat itu aku sudah rebahan di bed Mama, dengan mata terpejam. Tapi sebenarnya aku belum tertidur. Hanya merem – merem ayam.

Lalu kulihat Mama masuk ke dalam kamarnya ini. Menengok ke arahku yang sedang merem – merem ayam ini. Lalu sambil membelakangiku, Mama melepaskan jilbabnya, disusul dengan baju jubah panjang hitamnya. Sehingga tinggal beha dan celana dalamnya yang masih melekat di tubuhnya. Kedua benda itu pun lalu dilepaskan.

Lalu entah setan mana yang merasuki jiwaku saat itu. Yang jelas, diam – diam rudalku mulai menegang di balik celana piyamaku…!

Dalamn keadaan telanjang bulat, Mama membuka lemari pakaiannya. Dan mengeluarkan sehelai kimono hitam yang lalu dikenakannya. Sehingga aku tahu benar bahwa di balik kimono itu Mama tidak mengenakan apa – apa lagi. Mungkin sudah menjadi kebiasaannya begitu kalau mau tidur.

Ketika Mama naik ke atas tempat tidur, aku langsung bereaksi. Mendekap Mama, tapi bukan pada pinggangnya, melainkan di toket gedenya yang masih tersembunyi di balik kimono hitamnya.

Mama agak kaget. Lalu terdengar suaranya, “Belum tidur?”

“Belum,” sahutku sambil memegang toket Mama yang sebelah kanan, “Pengen nenen dulu seperti masa kecil dahulu, boleh kan?”

“Hihihihiiii… kamu inget masa kecil?”

“Iya. Sampai kelas dua SD aku masih suka ngemut puting payudara Mama sebelum tidur,” kataku sambil bergerak menelungkup di samping Mama. Lalu kuemut pentil toket kanannya.

Sebenarnya ini salah satu trik yang kudapat dari Mamie. Bahwa kalau pentil toket diemut sambil dijilati, pasti perempuan itu akan terangsang dan jadi horny. Maka itulah yang kulakukan. Kuemut pentil toket Mama sambil menjilatinya.

Mama tidak menolak. Bahkan dengan lembut dibelainya rambutku. Dan berkata perlahan, “Kamu anak mama satu – satunya Chep. Apa pun yang kamu inginkan, akan mama kabulkan. “

Mendengar ucapan itu spontan tanganku terjulur ke bawah. Ke balik kimononya, tepat pada selangkangannya. Sambil berkata, “Kalau semua keinginanku akan Mama kabulkan, ajari aku tentang cara bersetubuh ya Mam. “

“Haaaa?! “Mama tampak kaget, “Yang begituan sih gak perlu diajarin. Nanti juga bisa sendiri. “

Pada saat itu pula aku telah berhasil menyelinapkan jari tanganku ke dalam celah serambi lempit Mama. “Aku ingin merasakan bersetubuh Mam. Kata orang – orang sih enak sekali. Makanya aku ingin nyoba. Dimasukkannya ke sini ya Mam?” tanyaku pura – pura belum punya pengalaman dalam soal seks.

“Iya Sayaaang… tapi mama ini kan ibumu Naaak… “

“Terus kalau ingin nyoba harus dengan pelacur?”

“Hush…! Jangan Sayang. Kalau dengan pelacur, nanti kamu bisa ketularan penyakit kotor. Hiii… serem…! Apalagi kalau ketularan HIV… takkan bisa disembuhkan. Ngeriiii… “

“Ya udah, kalau gitu sama Mama aja. Kan Mama sudah jadi janda. Gak ada yang punya. “

“Tapi mama ini ibumu… yang mengandung dan melahirkanmu… “suara Mama mulai mengambang. Karena jari tanganku mulai kugesek – gesekkan ke celah serambi lempitnya yang mulai basah. Anehnya, Mama tidak berusaha mengeluarkan jari tanganku dari liang serambi lempitnya. Bahkan lalu berkata lirih, “Sayang… jangan bikin mama bingung dong.

Lalu… diam – diam tangannya pun menyelundup ke balik celana piyamaku lewat lingkaran elastisnya di bagian perutku. Dan… ketika aku sedang asyik – asyiknya menggesek – gesekkan jari tengahku ke liang serambi lempit Mama yang makin basah ini, tiba – tiba tangan Mama memegang batang rudalku yang sudah ngaceng berat ini…

“Chepi… ini rudalmu diapain bisa gede dan panjang banget gini?” tanya Mama. “Gak diapa – apain Mam. “

“Lebih gede dan lebih panjang daripada punya papamu Chep,” ucap Mama mengingatkan ucapan serupa yang terlontar dari mulut Mamie.

“Mungkin karena almarhumah nenek orang Pakistan ya Mam. “

“Mungkin aja. Iiiih… kebayang istrimu kelak, pasti ketagihan sama rudal sepanjang dan segede gini sih. “

“Jadi Mama mau kan ngajarin aku bersetubuh? Jangan pake alesan ini itu lagi Mam. Kalau ya jawab ya, kalau tidak jawab tidak aja. “

“Kalau mama jawab tidak mau, pasti kamu merajuk ya. “

“Iyalah. Aku lagi kebelet gini, pengen ngerasain bersetubuh. Kalau Mama gak mau, aku pulang aja malam ini juga. Di kota kan gampang nyari pelacur jam berapa juga. “

“Ya udah… udah… tadi mama udah janji akan mengabulkan apa pun yang kamu inginkan. Demi sayangnya mama sama kamu. Lepasin dulu baju dan celanamu Chep. “

Buru – buru kulepaskan baju dan celana piyamaku, karena takut pikiran Mama berubah. Setelah telanjang bulat, Mama menyuruhku celentang di atas bed bertilamkan kain seprai bercorak kulit harimau.

Lalu Mama melepaskan kimononya, sehingga tubuh chubby-nya tak tertutup apa – apa lagi.

Dari dekat barulah aku sadat bahwa Mama mengenakan stoking berwarna yang mirip dengan kulitnya. Namun pandanganku terfokus ke sepasang toiketnya yang gede dan bergelantungan. Yang lebih fokus lagi adalah ke arah serambi lempitnya yang tembem dan bersih dari jembut.

Dalam keadaan telanjang Mama duduk di antara kedua kakiku. Lalu mendekatkan wajahnya ke rudalku yang sudah ngaceng berat ini. Dan… hap… sepasang bibir tebal tapi sensual itu menangkap leher rudalku, lalu jemari tangan Mama memasukkannya ke dalam mulutnya.

Bersambung… “Ini mungkin dunia pria, tetapi pria mudah dikendalikan oleh wanita.” ― Ashly Lorenzana

Tadinya kupikir Mama ingin main dalam posisi WOT, karena beliau berlutut dengan kedua lutut berada di kanan – kiri panggulku. Tentunya dengan serambi lempit berada di atas rudal ngacengku. Tapi ternyata tidak. Mama bergerak terus ke atas, sehingga serambi lempitnya persis berada di atas mulutku. Pada saat itulah Mama berkata, “Jilatin dulu serambi lempit Mama sampai basah ya.

“Siap Mam. serambi lempit Mama seperti enak ngejilatinnya,” sahutku sambil membiarkan serambi lempit Mama turun sampai “hinggap” di bibirku.

Kedua tanganku mengangakan serambi lempit tembem Mama yang bersih dari jembut ini. Sehingga tampaklah bagian dalamnya yang berwarna pink itu. Bahkan kelentitnya pun tampak menonjol. Kata Mamie, kalau kelentit sudah muncul dari “persembunyian”nya, berarti pemilik kelentit itu sudah horny berat. Dalam kalimat lain, Mama juga sudah horny, makanya bersedia mengabulkan keinginanku.

Mama mulai mendesah – desah ketika aku mulai gencar menjilati serambi lempitnya. Bahkan ketika aku fokus menjilati kelentitnya, Mama mulai merengek – rengek histeris, “Ooooh… Chepiiii… iyaaaaaa… jilatin terus itilnya Cheeeep… aduududuuuhhhh… kamu kok seperti sudah pengalaman… bisa jilatin itil segala …

Kuhentikan jilatanku sejenak untuk menjawab, “Aku kan sering nonton bokep Mam…”

Lalu kulanjutkan menjilati itil Mama secara lebih intensif. Sehingga dalam tempo singkat saja serambi lempit Mama terasa sudah sangat basah.

Tampaknya Mama pun menyadari hal ini. Karena ia cepat menelentang. “Ayolah masukin rudalmu sini… mumpung serambi lempit mama sudah basah,” kata Mama sambil menarik rudalku dan meletakkan moncongnya di ambang serambi lempit Mama yang sudah ternganga basah. Lalu mencolek – colekkannya sebentar, seperti mencari arah yang ngepas.

Lalu Mama merentangkan sepasang paha gempal tapi putih mulus itu sambil berkata, “Ayo dorong rudalmu Chep.”

Sebenarnya aku sudah berpengalaman dengan Mamie. Sehingga tanpa diberi instruksi pun aku sudah tahu apa yang harus kulakukan.

Maka kudorong batang kemaluanku sekuatnya. Dan langsung membenam lebih dari separohnya… blesssskkkk…!

“Oooo… oooooh… sudah ma… masuk Sayang, “Mama spontan merengkuh leherku ke dalam pelukannya, lalu merapatkan pipinya ke pipiku. “Kita kok jadi begini ya?”

“Mama kan pasti merasa kesepian setelah berpisah dengan Papa,” sahutku, “Jadi biarlah aku menggantikan Papa untuk mengisi kesepian Mama…”

Aku pun mulai mengayun rudalku di dalam liang serambi lempit Mama yang kunilai tidak kalah dengan lezatnya serambi lempit Mamie.

Mama pun mulai menggeliat – geliat sambil berdesis, “Mama berdosa besar ini Chep. Tapi ooooooh… rudalmu kok enak banget Cheeeeep…”

“Soal dosa sih di dunia ini gak ada manusia yang steril dari dosa Mam,” sahutku sambil menghentikan entotanku sejenak.

“Iya… kenapa berhenti?” “Aku mau menyampaikan sesuatu Mam.” “Mau nyampaikan apa?”

“serambi lempit Mama ini luar biasa enaknya. Hal itu akan mendorongku untuk sering – sering datang menjenguk Mama, sekaligus menikmati enaknya serambi lempit Mama.”

Mama tersenyum sambil memijat hidungku. “Ayo lanjutin lagi…” ucapnya sambil menepuk pahaku yang tengah menghimpit pahanya yang gempal tapi sangat mulus. Tidak bergerinjal – gerinjal seperti paha orang kegemukan.

Dan yang jelas kurasakan, liang serambi lempit Mama ini luar biasa enaknya. Empuk – empuk kenyal, namun setelah kuentot terasa sangat menjepit.

Selain daripada itu, mungkin aku merasakan daya sugestif, yang membuatku sangat nyaman memenyetubuhi ibu kandungku ini. Sehingga tiap gesekan antara rudalku dengan dinding liang kewanitaan Mama ini terasa nikmat dan sangat berarti bagiku.

Mama pun sepertinya mulai menikmati persetubuhan ini. Karena desahan dan rintihan histerisnya mulai terdengar. “Aaaaaaah… aaaaaah… Chepiiiii… sebenarnya kita tidak boleh melakukan ini… tapi… oooooh… kamu membuat mama jauh lebih nyaman daripada papamu Cheeep… rudalmu enak sekali sayaaaang …

Perjalanan seksualku dengan Mama ini ternyata sangat variatif, karena Mama benar – benar ingin mengajariku tentang hubungan seks. Mama memang sangat atraktif. Ini yang tidak kuduga sebelumnya, karena tubuh Mama yang semok begitu. Tadinya kusangka Mama susah bergerak saking semoknya. Tapi ternyata sebaliknya.

Mama mengajakku mengubah posisi, menjadi posisi WOT. Lalu dengan lincahnya pinggul Mama naik turun, sehingga rudalku terasa dibesot – besot dan dipilin – pilin oleh liang serambi lempitnya.

Setelah Mama bercucuran keringat, Mama merebahkan diri, dalam keadaan miring membelakangiku. Mama menyuruhku memasukkan rudal ke dalam liang serambi lempitnya, tapi dari arah belakang tubuhnya.

Aku menurut saja. Lalu memenyetubuhi Mama yang sedang membelakangiku.

Tak cuma itu. Mama pun mengajakku ganti posisi lagi, menjadi posisi doggy. Aku pun setuju saja, karena memang ingin tahu banyak tentang posisi – posisi seks.

Lalu Mama merangkak dan menungging sambil menyuruh memasukkan kembali rudalku ke serambi lempit Mama yang tampak nyempil di antara sepasang pangkal pahanya.

Lalu sambil berlutut aku memenyetubuhi lagi Mama dalam posisi doggy ini.

Ya… di malam jahanam ini aku menikmati lagi keindahan dan kenikmatan hubungan seks, meski dengan ibu kandungku sendiri.

Sementara aku yang sudah diajari oleh Mamie untuk mengatur pernafasan dan konsentrasiku, cukup lama menyetubuhi Mama ini. Aku tahu bahwa Mama sudah berkali – kali orgasme, sementara aku masih bertahan juga.

Akhirnya Mama mengajakku ganti posisi menjadi posisi missionary lagi. Aku mengiyakan saja. Dan Mama langsung celentang sambil merentangkan sepasang paha putih mulusnya selebar mungkin.

Lalu kubenamkan lagi rudalku ke dalam liang serambi lempit Mama yang sudah becek itu dengan mudahnya. Blesssssss… rudalku langsung masuk sepenuhnya. Disambut dengan pelukan Mama dan ucapan, “Mama udah berkali – kali orgasme. Tapi kamu kok belum ngecrot juga sih? Mungkin kamu udah berpengalaman ya?”

“Nggak Mam,” sahutku, “Aku hanya sering nonton bokep dan baca buku tentang masalah seks.”

“Ngocok juga sering ya?”

“Nah… kalau ngocok sih sering. Daripada main sama pelacur kan lebih aman ngocok.”

“Iya sih. Tapi mulai saat ini jangan suka ngocok lagi ya. Kalau lagi kepengen datang aja ke sini. Mama akan selalu siap untuk meladeni anak semata wayang mama ini.”

Percakapan itu terhenti ketika aku sudah mulai mengayun kembali batang kemaluanku di dalam liang surgawi Mama.

Meski pun chubby, Mama sangat atraktif. Ketika aku menggencarkan entotanku, Mama pun mengayun pinggulnya dengan binal sekali. Sehingga meski liang serambi lempitnya sudah becek, aku dibuat terpoejam – pejam saking nikmatnya. Ya, dengan goyangan pinggul Mama yang memutar – mutar dan meliuk – liuk, terkadang menghempas – hempas ke kasur, rudalku terasa dibesot – besot dan dipilin – pilin oleh liang serambi lempitnya.

Keringat kami pun semakin membanjir.

Sampai pada detik – detik krusialku, “Mam… lepasin di dalam boleh?”

“Boleh,” sahut Mama, “Mama sudah steril Sayang… ooooh… kamu udah mau ngecrot?”

“Iii… iya Mam…”

“”Ayo deh kita lepasin bareng – bareng. Mama juga udah mau lepas lagi sayaaang… aaaaa… aaaaah… mau… mau lepaaaaassssssss… “Mama gedebak – gedebuk berkelojotan. Sampai akhirnya sekujur tubuh Mama mengejang tegang.

Pada saat yang sama kubenamkan rudalku sedalam mungkin. Lalu terasa lubang serambi lempit Mama berkedut – kedut kencang. Pada detik – detik itu pula rudalku mengejut – ngejut, sambil meletuskan lendir kenikmatanku.

Crooootttt… croootttt… croooottttt… croooootttt… croooottttt… croootttt… crooootttt…!

Lalu aku terkapar di atas perut Mama.

Mama pun terkulai lemas. Tapi Mama masih menyempatkan diri untuk mencium bibirku, disusul dengan ucapan, “Terima kasih Sayang. Ternyata kamu malah jauh lebih memuaskan daripada papamu.”

Esok paginya aku duduk – duduk di pekarangan belakang yang luas dan hijau itu. Mama berasal dari keluarga yang terpandang. Karena ayahnya berdarah biru, sementara ibunya wanita Pakistan yang kaya.

Karena itu setelah kakek dan nenekku meninggal, peninggalannya pun cukup banyak. Antara lain rumah yang ditinggali oleh Mama ini, adalah rumah gedung antik, seperti gedung – gedung peninggalan zaman kolonial Belanda. Tapi rumah ini tampak kokoh sekali.

Rumah peninggalan kakek dan nenek cukup banyak. Tapi karena anaknya pun banyak, maka rumah itu pun dibagi – bagi. Rumah dan tanah yang Mama tempati ini, adalah jatah untuk Mama sendiri. Karena saudara – saudaranya yang 8 orang itu lebih memilih rumah di kota besar. Sementara Mama lebih suka tinggal di kota kecamatan ini, karena mengingat kakek dan nenekku di masa tua sampai meninggalnya tinggal di rumah antik ini.

Mama mencintai rumah antik ini. Karena tanah di belakangnya cukup luas. Hampir dua hektar. Tanahnya pun sangat subur, sehingga bisa ditanami beraneka pohon buah – buahan. Bisa ditanami sayur mayur pula. Mama pun bisa bebas memelihara ayam kampung sampai ratusan jumlahnya. Kalau ada sisa – sisa makanan, bisa ditaburkan ke ayam – ayamnya.

Bukan cuma itu. Di belakang reumah Mama ada kolam ikannya segala. Yang dipelihara adalah ikan yang bisa dikonsumsi. Bukan sekadar ikan hias.

Ketika aku sedang asyik menaburkan makanan ikan ke kolam itu, terdengar Mama memanggilku, “Chepiiii… !”

“Iya Mam,” sahutku sambil benaburkan sisa makanan ikan ke kolam. Lalu bergegas masuk ke dalam rumah antik dan kokoh itu. Ngocoks.com

“Ada apa Mam?” tanyaku.

“Sayang… mama punya nazar,” kata Mama sambil memegang bahuku, “Bahwa kalau kamu datang ke sini, mama akan membelikan sebuah mobil bagus. Sekarang lihatlah ke depan… itu mobil barumu sudah menunggu.”

Aku menengok ke depan rumah. Ternyata benar. Sebuah sedan hitam yang semerk dan setype dengan sedan Mamie, sudah menungguku di depan.

“Mama…! Ooooh… itu kan sedan mahal Mam…”

“Iya Sayang. Mama gak mau ngasih mobil Jepang. Karena itu mama beli mobil buatan Jerman, sahut Mama sambil membimbingku berjalan ke pekarangan depan.

Di samping mobil baru itu kucium sepasang pipi Mama sambil membisikinya, “Terima kasih Mama. Aku tak pernah membayangkan punya mobil sekeren ini.”

“Mama mengumpulkan duit hampir setahun untuk membeli mobil ini. Bahkan tiap bulan mama transfer ke dealer untuk membeli mobil ini. Bulan lalu sudah lunas. Tapi mama minta jangan dikirimkan dulu, karena kamunya belum datang.”

“Berarti Mama sudah punya feeling kalau aku mau datang ya?”

“Iya… feeling seorang ibu tentu tajam Sayang.”

“Mama sendiri gak punya mobil, kenapa mendahulukan aku?”

“Aaah, kalau mama punya mobil, harus gaji sopir dan sebagainya. Mama kan gak bisa nyetir, gak ngerti mesin dan sebagainya. Nanti malah ditipuin aja terus sama sopir. Makanya mama mengutamakan kamu, anak mama satyu – satunya. Supaya kamu tampil lebih bagus nanti. Kamu sudah punya SIM kan?”

“Ada Mam. SIM motor punya, SIM mobil juga punya. Kan kalau di rumah suka pakai mobil Papa. Ayo kita coba mobilnya sekarang Mam.”

“Iya, “Mama mengangguk sambil tersenyum ceria.

Tak lama kemudian aku sudah berada di belakang setir sedan hitam itu. Sementara Mama sudah duduk di sebelah kiriku.

“Bagaimana? Enak gak mobilnya?” tanya Mama setelah aku nyetir lebih dari setengah jam di jalan raya.

“Sangat – sangat enak sekali Mam. Tapi dibandingkan dengan serambi lempit Mama sih tetap aja enakan serambi lempit Mama. Hahahaaaaa…”

Mama menyahut perlahan, “Mama juga ketagihan sama rudalmu Sayang…”

Begitulah… aku bukan hanya mendapatkan sebuah sedan mahal, tapi juga mendapatkan jatah serambi lempit Mama selama liburan di rumahnya. Sehingga hari – liburanku menjadi hari – hari sibuk dengan hubungan seks…!

Mamie terheran – heran melihatku pulang dengan sedan hitam yang sama persis dengan sedan miliknya, hanya warnanya saja yang berbeda. Punya Mamie berwarna merah, sementara mobilku berwarna hitam.

Untungnya garasi kami cukup luas, sehingga meski ada mobil papa dan mobil Mamie, mobilku tetap bisa masuk dengan leluasa. Bahkan mungkin ditambah satu mobil lagi pun masih bisa muat di garasi kami.

“Ini mobil siapa Chep?” tanya Mamie sambil memegang pergelangan tanganku.

“Mobilku Mam. Hadiah dari Mama,” sahutku.

“Mmm… mau dikasih mobil sama mamie, kamu gak mau. Dikasih mobil sama mama kandung tercinta sih mau ya,” ucap Mamie sambil mencubit perutku.

“Ini mobil tau – tau udah ada di depan rumah. Mama gak pernah bilang – bilang sebelumnya, Mamie Sayang,” kataku sambil mendekap pinggang Mamie, “Ehhh… Papa ada ya?”

“Ada… lagi tidur,” sahut Mamie sambil menuntunku ke dalam kamarku, “Ada yang mau mamie bicarakan…”

Begitu berada di dalam kamarku, Mamie menutup dan menguncikan pintu kamarku, lalu mengajak duduk berdampingan di sofa.

“Ada apa Mam? Kok kelihatannya ceria sekali?” tanyaku.

“Tadinya kita takujt ketahuan Papa kan? Tapi sekarang justru Papa yang nyuruh mamie agar minta dihamili sama kamu Sayang.”

“Mamie serius?”

“Sangat serius.”

“Kok bisa begitu?”

“Begini… awalnya Papa yang nanya, apa cita – cita mamie yang belum kesampaian? Mamie jujur aja menjawab, bahwa mamie ingin punya anak.”

“Terus?”

“Awalnya Papa kelihatan bingung. Tapi akhirnya dia bilang, bahwa spermanya sudah lemah. Dokter bilang Papa sulit untuk mendapatkan anak lagi. Karena itu Papa nyuruh mamie merayu kamu supaya bersedia menghamili mamie.”

“Tanpa dirayu pun aku sudah sering menyetubuhi Mamie, “tanggapku.

“Iya. Tapi Papa kan belum tau kalau kita sudah mendahului sarannya itu.”

“Kira – kira saran Papa itu diucapkan dengan hati yang ikhlas gak ya?”

“Sangat bersemangat, bukan ikhlas lagi. Malah dia udah gak sabaran, nyuruh mamie telepon kamu supaya cepat pulang. Tapi mamie kan kasihan karena kamu sedang menjumpai ibu kandungmu yang sudah sembilan tahun tidak berjumpa. Makanya mamie minta Papa bersabar menunggu sampai kamu pulang tanpa diburu – buru.

Aku cuma mengangguk – angguk dengan perasaan masih bingung.

“Nah… kedengarannya Papa udah bangun tuh. Nanti kalau ditanya, bilang aja kita belum pernah ngapa – ngapain ya. Tapi setelah ada restu dari Papa, kita bisa main sesuka hati. Pada waktu Papa ada di rumah pun kita masih bisa main. Gimana? Kamu seneng?”

“Seneng sekali Mam. Baiklah… aku mau mandi dulu ya.”

“Iya. Cepetan mandinya. Karena papa nanti sore akan terbang ke Medan. Jadi kita bebas mau melakukan apa pun.”

“Iya Mam.”

“Nanti Papa pasti manggil kamu Chep.”

“Iya Mam,” sahutku sambil melangkah masuk ke dalam kamar mandi.

Sambil mandi terawanganku melayang – layang tak menentu. Tentang Mama yang begitu menyayangiku, sehingga apa pun yang kuinginkan selalu dikabulkannya, termasuk pemasrahan serambi lempitnya. Juga tentang berita yang barusan kudengar dari Mamie, tentang keinginan Papa yang terasa aneh bagiku.

Setelah mandi, aku keluar dari kamar mandi. Ternyata Papa sudah berada di dalam kamarku. Sedang duduk di sofa.

“Bagaimana keadaan mamamu Chep? Sehat?” tanya Papa.

“Sehat Pap. Malah jadi lebih gemuk daripada dahulu.”

“Syukurlah kalau sehat sih. Sini sebentar Chep. Papa mau ngomong sebentar.”

“Iya Pap, sebentar… ganti baju dulu,” sahutku sambil buru – buru mengenakan baju dan celana piyamaku. Kemudian menyisir sebentar. Dan melangkah ke arah sofa yang sedang diduduki oleh Papa.

Setelah mencium tangan Papa, aku pun duduk di sampingnya.

“Kamu dibeliin mobil mahal sama mamamu?” tanya Papa.

“Iya. Mobil itu tau – tau udah nongkrong aja di depan rumah Mama. Katanya sih Mama punya nazar untuk menghadiahkan mobil kalau aku datang menjumpainya.”

“Ya syukurlah. Kalau bisa membelikan mobil mahal begitu, berarti mamamu tidak kekurangan setelah hidup sendiri.”

Papa terdiam sejenak. Lalu berkata sambil memegang bahuku, “Ohya… papa mau minta tolong sama kamu Chep.”

“Minta tolong apa Pap?”

“Kamu kan sudah delapanbelas tahun. Papa mau bicara secara dewasa aja ya. Mamiemu itu pengen punya keturunan. Sedangkan papa sudah diperiksa ke dokter, hasilnya sangat mengecewakan. Kata dokter, sperma papa sudah lemah. Jadi takkan bisa membuahi lagi. Kalau dipaksakan pun nanti bayinya bisa bermasalah, bahkan bisa cacat dan sebagaInya.

Papa terdiam lagi sesaat. Lalu melanjutkan dengan suara setengah berbisik, “Papa takut kalau keinginan Mamie tidak tercapai, lama – lama bisa minta cerai nanti sama papa.”

“Iya Pap. Seorang wanita yang sudah bersuami, tentu saja punya keinginan menjadi seorang ibu, “tanggapku.

“Nah… kamu kan sudah jadi mahasiswa, tentu kamu bisa menganalisa keadaan ini. Jadi… setelah papa pikirkan matang – matang, papa hanya punya satu tumpuan harapan, yakni dirimu Chep.”

“Apa yang bisa kulakukan untuk membantu Papa?”

“Papa ingin agar kamu mewakili papa untuk menghamili Mamie.”

“Wow… itu kan berarti aku harus…”

“Harus menggauli Mamie serajin mungkin. Agar dia bisa hamil.”

Aku tertunduk sejenak. Lalu bertanya, “Memangnya Papa gak cemburu kalau aku melakukan tugas dari Papa itu?”

“Tidak, “Papa menggeleng sambil tersenyum, “Kamu kan anak papa. DNAmu pasti identik dengan DNA papa. Karena kamu adalah darah daging papa.”

Aku tidak langsung setuju, karena ada perasaan kurang nyaman juga di dalam hatiku.

“Bisa kan? “Papa menepuk bahuku, “Bisa kamu membantu papa dalam masalah yang satu itu?”

Aku menatap mata Papa. Lalu mengangguk perlahan, “Demi Papa aku mau mencoba untuk melakukannya. Tapi… Papa udah yakin kalau Mamienya mau begituan sama aku?“

“Sudah mau. Masa dikasih anak muda setampan kamu gak mau?! Hhhh… hhhh… hhhh… “Papa malah ketawa ditahan – tahan.

“Iya deh… hitung – hitung sekalian belajar aja sama Mamie ya Pap.”

“Naaaah… dada papa langsung plong Chep. Lakukanlah dengan tenang ya. Jangan punya perasaan ini – itu. Konsentrasi saja pada Mamie yang ingin hamil. Kamu pasti bisa. Tapi ingat… semua itu rahasia kita dengan Mamie saja. Kedua kakakmu juga jangan sampai tau.”

“Siap Pap.”

Papa tersenyum sambil menepuk – nepuk bahuku. “Ya udah papa mau terbang ke Medan nanti sore, sekarang mau siap – siap dulu.”

“Iya Pap. Pulangnya bawain sirop markisa ya.”

“Iya. Lakukanlah tugas rahasiamu dengan baik, bahagiakan hati Mamie sebisamu.”

“Siap Pap.”

Papa keluar dari kamarku. Aku pun keluar menuju dapur, minta dibikinin kopi pahit sama Bi Caca, pembantu yang sudah bertahun – tahun bekerja di rumah ini.

Jam 13.00 sebuah mobil perusahaan datang untuk menjemput dan akan mengantarkan Papa ke bandara.

Aku dan Mama mengantarkan kepergian Papa sampai pintu pagar besi.

Setelah mobil perusahaan yang akan mengantarkan Papa ke bandara menghilang dari pandangan, Mamie mengajakku ke dalam kamarnya.

Setelah berada di dalam kamar, Mamie memegang pergelangan tanganku sambil berkata, “Mamie ingin nyobain dibawa olehmu dengan mobil baru itu. Tapi nanti malam aja jalannya. Sekarang sih pengen kangen – kangenan dulu sama kamu.”

“Iya Mam. Aku juga udah kangen berat, dua minggu gak lihat Mamie rasanya rindu banget,” sahutku sambil memeluk dan mencium bibir ibu tiriku yang jelita itu.

Mamie pun mendekap pinggangku sambil menciumi sepasang pipiku. “Mamie apa lagi. Kangen sekali padamu.”

“Sekarang kita bisa melakukannya dengan tenang ya Mam. Tanpa rasa takut ketahuan Papa lagi.”

“Iya. Tapi jangan sampai ketahuan sama Caca juga. Nanti dia bisa bocorin rahasia ke luar.”

“Tentu aja Mam. Tadi Papa juga udah mewanti – wanti bahwa kita harus merahasiakan. Teh Susie dan Teh Nindie juga jangan sampai tau.”

Tapi diam – diam aku teringat sesuatu yang pernah terjadi, tanpa sepengetahuan Mamie. Sesuatu yang memalukan, mungkin. Tapi biar bagaimana hal itu sudah tergores di dalam history of my life. Sejarah kehidupanku. Takkan bisa dihapus lagi. Dan aku masih ingat semuanya.

Sebelum aku mendapat libur panjang, Papa dan Mamie sedang berada di kampung Mamie. Katanya sih mau menikahkan adik Mamie di kampungnya.

Pada saat itulah, sepulang kuliah aku memanggil Bi Caca. “Bi bisa mijitin gak?”

“Mijit? Sedikit – sedikit sih bisa Den,” sahut Bi Caca, “Memang Den Chepi mau dipijit?”

“Iya Bi… duuuh pegel – pegel kaki dan pinggangku Bi.”

“Iya. Entar saya pijitin. Mau cuci tangan dulu ya Den.”

“Iya, kutunggu di kamar ya Bi.”

“Iya Den…”

Kemudian aku masuk lagi ke dalam kamarku. Kutanggalkan baju dan celana yang kupakai kuliah tadi. Dan dalam keadaan cuma bercelana dalam, aku menelungkup di atas bedku.

Tak lama kemudian Bi Caca masuk ke dalam kamarku. “Mau pakai minyak gosok Den?” tanyanya.

“Jangan ah,” sahutku, “Nanti badanku berminyak – minyak dan panas. Pakai tangan aja,” kataku sambil tetap menelungkup.

“Mau diurut biasa Den?”

“Iya. Diurut biasa aja, sambil pijit – pijit. Biar pegel – pegelnya berkurang.”

Lalu Bi Caca mulai memijati telapak kaki dan jari -jarinya. Dilanjutkan dengan memijat dan mengurut – urut betisku.

“Nahhh… ini enak Bi… pinter juga Bibi mijit ya…”

“Kalau ada Ibu mah mungkin saya gak disuruh mijit ya Den. Hihihiii…” kata Bi Caca sambil menahan tawanya.

Aku kaget mendengar ucapan Bi Caca itu. Apa maksudnya? Apakah dia menyindirku atau asal nyeplos ngomong aja.

“Aku gak pernah dipijitin sama Mamie Bi.”

“Iii… iya Den. Tapi Ibu memang sangat baik ya sama Den Chepi. Gak seperti ibu tiri.”

“Sangat baik gimana?”

“Ngg… nggak pernah marahin… hihihihiii… “Bi Caca menahan tawanya lagi.

Wah… jangan – jangan dia sudah tahu kalau aku suka menggauli Mamie.

Lalu aku harus bilang apa? Aku malah tak berani menanggapinya, karena takut masalahnya jadi melebar ke mana – mana.

Tapi bagaimana kalau dia menyebar gossip ke pembantu tetangga yang suka pada ngerumpi di pinggir jalan?

Aku harus berusaha meredam nsegala kemungkinan buruk di kemudian hari…!

Lalu aku langsung memindahkan topik pembicaraan. “Bi Caca ini statusnya janda apa punya suami?” tanyaku.

“Punya suami Den. Tapi ketemunya juga cuma dua tahun sekali.”

“Lho kok bisa?!”

“Suami saya bekerja di Arab Den. Pulang setahun sekali aja gak bisa, karena gajinya sedikit. Tapi belakangan ini saya dengar kabar bahwa dia sudah nikah lagi, dengan TKW yang kerja di Arab juga. Gak taulah… saya pusing kalau mikirin suami. Makanya saya bekerja di sini juga, karena butuh duit untuk anak saya.

“Punya anak berapa?” tanyaku sambil membalikkan badan jadi celentang, “Bagian depannya juga pijitin Bi.”

“Iya Den.”

“Eeeh, tadi aku nanya punya anak berapa?”

“Cuma seorang Den baru usia empat tahun.”

“Terus sama siapa anak itu sekarang?” tanyaku samb il mengamati Bi Caca yang sedang mwembungkuk memijati betis dan pahaku, sementara aku melihat sesuatu yang luar biasa lewat belahan daster bagian dadanya. Tampak pertemuan sepasang bukit kembar itu dengan jelas. Dan aku yakin toket Bi Caca itu gede…

Dan… diam – diam batang kemaluanku mulai menegang di balik celana dalamku yang terbuat dari bahan kaus putih ini. Sambil membayangkan seperti apa bentuknya kalau Bi Caca telanjang di depan mataku? Dan seperti apa bentuk serambi lempitnya? Seperti apa pula rasanya kalau aku ewean sama dia?

Ini jelas. Bahwa nafsuku sudah mulai menggoda. Dan dengan pesatnya menjadi hasrat yang tak terkendalikan lagi. Sehingga akhirnya kusembulkan batang kemaluanku dari sela celana dalamku. Sambil memegang batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini, aku berkata, “Ini kalau sudah bangun begini harus diapain Bi?

Bi Caca menoleh ke arah rudal ngacengku yang seolah menunjuk ke langit – langit kamarku. “Waaaauuuu… Deeeen… itunya kok panjang gede gitu Deeen…”

“Iyaaa… terus sekarang ngaceng begini musti diapain biar lemas lagi? Harus diemut kali ya sama Bibi?!”

“Waaah… saya belum pandai emut – emutan. Punya suami saya juga belum pernah saya emut Den.”

“Terus harus diapain? Harus dientotin ke serambi lempit Bibi kali ya?”

Bi Caca mendadak tampak bersemangat. Dia memegang batang rudalku dengan tangan gemetaran. “Memangnya Den Chepi berkenan menyetubuhi saya gitu?”

“Mau Bi. Mau banget. Yang penting rudalku bisa lemas lagi. Kalau ngaceng begini suka pegel.”

“Sekarang Den?” tanyanya seperti belum yhakin pada ucapanku.

“Tahun depan!” sahutku, “Ya sekarang lah. Kan ngacengnya juga sekarang.”

“Berarti saya harus telanjang ya Den?”

“Ya iyalah. Biar jelas semuanya. Bi Caca seksi kok malam ini.”

Bi Caca memang pembersih dan pesolek. Pembantu zaman sekarang beda dengan babu di zaman dahulu. Pembokat zaman sekarang seperti Bi Caca itu, rambut pun dicat dengan warna kecoklatan. Bibirnya yang lebar tak pernah lolos dari lipstick.

Bi Caca memang tidak cantik, tapi manis. Sesuai dengan warna kulitnya yang hitam manis. Tubuhnya tinggi montok, terutama montok di toket dan bokongnya itu. Tapi jujur, baru sekali ini aku memperhatikan beberapa kelebihannya itu.

“Ayo telanjang. Aku juga udah telanjang nih,” kataku sambil melemparkan celana dalamku ke lantai, karena nanti akan diganti oleh celana dalam yang sudah dicuci dan disetrika.

Bi Caca tak kelihatan ragu menanggalkan dasternya. Sehingga tubuhnya tinggal mengenakan beha dan celana dalam yang sama – sama berwarna merah. Lalu kulihat ia sudah menanggalken behanya, sehingga sepasang toketnya yang memang gede itu tak tertutup apa – apa lagi.

Sambilk membungkuk, Bi Caca melepaskan celana dalam merahnya. Sehingga serambi lempitjnya yang berwarna coklat muda itu tak terhalang seutas benang pun lagi. Setelah melihat bentuk serambi lempitnya yang tercukur bersih itu, hatiku berkata, “Dia benar – benar mengikuti trend masa kini. serambi lempitnya pun dibersihkan dari jembut, sehingga seolah menantangku untuk menjilatinya.

Bi Caca cuma manis, tidak cantik. Tapi setelah telanjang bulat sambil celentang di atas bedku… aduhai… betapa menggiurkannya tubuh pembokat setia itu…!

Lalu apakah aku berniat untuk jaim dan mau langsung menjebloskan rudalku ke dalam liang serambi lempitnya?

Tidak. Aku sejak awal mengalami hubungan seks dengan Mamie, prinsipku tetap kokoh di dalam batinku. Bahwa perempuan mana pun yang kusetubuhi, harus meninggalkan kesan positif di dalam hati perempuan itu. Kalau secara lebay, aku ingin dianggap sebagai lelaki yang paling memuaskan di dunia ini.

Karena itu aku menyerudukkan mulutku ke serambi lempit Bi Caca yang berwarna gelap itu, lalu mengangakannya dengan kedua tanganku, lalu menjilati bagian dalamnya yang berwarna merah membara itu. “Deeeen… “seru Bi Caca tertahan. Mungkin dia kaget karena aku menjilati serambi lempitnya, sebagai tanda bahwa aku menganggapnya bukan sekadar pembokat di rumah ini.

Lebih dari itu, tampaknya Bi Caca baru sekali ini merasakan serambi lempitnya dijilati. Sehingga kertika lidahku mulai gencar menjilati serambi lempit dan kelentitnya juga, dsia mulai menggeliat – geliat dan mendesah – desah, “Aaaaaaah… aaaaaaa… aaaaaah Deeeen Cheeepiiiii… sa… saya baru sekali ini merasakan eeee…

Eeenaknya serambi lempit dijilatin begini… oooooh Deeeen… ini sangat – sangat enak sekali Deeen… adududuuuuuh… iya Deeeen… apalagi kalau itil saya dijilatin begini… enak Den.. enaaaaak… ooooh Deeen Chepiiii… saya merasa seolah bermimpi karena mengalami hal yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya ini…

Aku tak merasa derajatku direndahkan. Aku bahkan senang mendengar pengakuan Bi Caca itu. Bahwa ia baru sekali ini merasakan serambi lempitnya dijilati. Sehingga ia merasakan nikmatnya perlakuanku padanya. Maka semakin gencarlah aku menjilati kelentitnya yang cuma sebesar kacang kedelai itu. Bahkan sesekali aku menyedot kelentit yang sudah tegang itu, sehingga perut Bi Caca seriung terangkat – angkat dalam kejangnya.

Dan setelah serambi lempit Bi Caca terasa basah sekali oleh air liurku, dengan sigap aku mendorong sepasang pahanya agar terentang lebar, sementara moncong rudalku sudah kuletakkan di mulut heunceut Bi Caca yang berwarna gelap dan agak tembem itu.

Lalu kudorong rudal ngacengku sekuatnya. Blesssss… melesak masuk ke dalam liang serambi lempit Bi Caca yang disambut dengan pelukan perempuan yang kira – kira sebaya dengan Mamie itu (28 tahunan) disertai dengan rengekan erotisnya, “Adududuuuuuh… masuk Deeeeen… oooooooh Den Cheeepiiiii…”

Kemudian kuhempaskan dadaku ke atas sepasang toket gede itu, sambil merapatkan pipiku ke pipinya. “Gak nyangka… serambi lempit Bibi masih sempit gini ya…” ucapku sambil mengayun rudal ngacengku perlahan – lahan.

Sebagai jawaban, Bi Caca malah memagut bibirku ke dalam lumatan hangatnya, sambil melingkarkan lengannya di leherku. Sementara aku mulai mempercepat entotanku.

Bi Caca pun mulai menggoyang pinggulnya dengan gerakan yang sangat erotis. Memutar – mutar dan meliuk – liuk, sehingga rudalku terasa dibesot – besot dan diremas – remas oleh liang serambi lempitnya yang sangat legit ini.

Sementara Bi Caca semakin binal menggeolkan pinggulnya diiringi rintihan – rintihan histerisnya, “Deeen… oooo… oooooh… Deeeen… punya Aden ini… ooooooh… luar biasa rasanya… ooooh… belum pernah saya merasakan disetubuhi seenak ini Deeeeen… ooooh… kita ini… lagi ngapain Deeen?

“Lagi ewean… !”

“Hihihiiii… saya pasti ketagihan nanti Den… pengen diewe terus sama Aden… ““Santai aja Bi. Aku juga bakal ketagihan, pengen ngewe Bibi terus nanti. Heunceut Bibi juga luar biasa legitnya sih… nanti kalau aku mau ngecrot, lepasin di mana Bi?”

“Di dalem heunceut saya aja Den. Saya masih ikutan kabe kok. Ta… tapi… adududuuuuh Deeeen… saya udah mau lepas nih Deeen… “Bi Caca gedebak – gedebuk berkelojotan.

“Ayo lepasin aja Bi. Aku seneng kalau merasakan perempuan sedang orgasme,” sahutku sambil mempercepat entotanku. Pook… pok… pok… pokkkkkk… pokkk…

Akhirnya Bi Caca mengejang tegang. Sementara liang serambi lempitnya terasa seperti gerakan ular yang sedang membelit mangsanya. Disusul dengan kedutan – kedutan kencang yang luar biasa erotisnya.

Sesaat kemudian Bi Caca memeluk dan mencium bibirku sambil berkata lirih, “Terima kasih Den. Duh… belum pernah saya merasakan ditiduri yang snikmat barusan. Soalnya disetubuhi oleh cowok setampan Den Chepi, yang punya titit luar biasa pula.”

Aku cuma tersenyum. Lalu mulai mengayun kembali rudalku yang masih jauh dari ejakulasi ini.

“Mau nyobain anjing – anjingan Den?” tanya Bi Caca ketika entotanku masih perlahan.

“Boleh,” sahutku sambil menarik rudalku dari liang serambi lempit Bi Caca.

Spontan Bi Caca merangkak dan menunggingkan pantatnya ke atas, sehingga serambi lempit Bi Caca kelihatan semua dari belakangnya.

Aku pun berlutut sambil memegang bokong semok Bi Caca. Sambil berlutut pula kubenamkan kembali batang kemaluanku ke dalam liang serambi lempit Bi Caca yang legit licin itu. Blessss…

Tak sulit membenamkan batang rudalku kali ini. Karena liang serambi lempit Bi Caca sudah becek setelah orgasme tadi.

Sambil berlutut aku pun mulai memenyetubuhi lagi, sambil menepuk – nepuk sepasanjg buah pantat Bi Caca.

“Iiii… iya Den… tepok – tepok terus pantat saya Den… enak… lebih keras lagi juga gak apa – apa Den.”

Kuikuti saja keinginan Bi Caca itu. Kukemplangin pantatnya sekeras mungkin, yang disambut dengan rintihan eroitis pembokatku, “Oooohhhh… enak Den… tempelengin terus pantat saya Den… enak sekali… lebih kuat lagi Deeeen… iyaaaa… iyaaaa… ini semakin enak Den… oooohhhh… rudal Den Chepi memang luar biasa enaknya Deeen…

Sekitar setengah jam aku memmenyetubuhi Bi Caca dalam posisi doggy ini.

Sampai akhirnya Bi Caca ambruk dalam orgasme keduanya.

Kemudian kami lanjutkan dalam posisi missionary. Bi Caca di bawah lagi, sementara aku di atas lagi.

Dalam posisi missionary ini Bi Caca menggeolkan bokongnya lagi. Memutar – mutar dan meliuk – liuk lagi.

Dalam posisi inilah akhirnya akui menggelepar di atas perut Bi Caca, sambil membenamkan rudalku sedalam mungkin.

Dan moncong rudalku pun mengejut – ngejut sambil melepaskan lendir kenikmatanku.

Crooootttt… croootttttttt… crooootttt… crettt… crooooooootttt .;.. croooottt… crooootttt…!

Bi Caca memelukku erat – erat sambil berbisik di dekat telingaku, “Aduuuh nikmatnya merasakan liang serambi lempit saya disemprot – semprot oleh air mani Den Chepi… mmmm… indah sekali rasanya Den…”

Aku cuma mendengus, lalu terkulai lunglai di atas perut Bi Caca.

Tapi sejam kemudian aku menyetubuhi Bi Caca lagi. Dalam segala jenis posisi. Dan tengah malam pun aku memenyetubuhinya lagi untuk ketiga kalinya.

Tak cuma itu, keesokan paginya, sebelum turun dari bed masih sempat aku menyetubuhinya lagi.

Mungkin inilah petualanganku yang paling jahanam, tapi sangat indah buat kukenang pada hari – hari berikutnya.

Ayo lepasin dong pakaianmu. Kok malah melamun?”” tegur Mamie membuyarkan terawangan tentang segala yang telah terjadi antara Bi Caca dengan diriku itu. Bahwa beberapa hari sebelum aku berangkat ke rumah Mama, aku sempat melakukan petualangan dengan Bi Caca.

Dan kini di depan mataku, Mamie sudah melepaskan segala yang melekat di tubuhnya sambil berkata, “Sekarang mamie takkan minum pil kontrasepsi lagi. Karena sekarang tujuannya kan ingin agar mamie hamil.”

Aku pun menelanjangi diriku sendiri kemudian melompat ke atas bed. Menerkam Mamie dengan segenap gairahku.

Dan beberapa saat kemudian aku sudah bersetubuh dengan Mamie. Dengan segenap perasaanku tentunya. Karena kali ini ada tujuan penting. Agar aku bisa menghamili Mamie.

Sejak aku kuliah pakai sedan hitam ini, mahasiswi yang sekampus denganku jadi banyak yang suka melayangkan tatapan dan senyum yang menggoda. Tapi aku pakai sedan hitam ini bukan mau nyari cewek. Katro banget rasanya nyari cewek dengan modal mobil doang.

Aku malah suka enek kalau cewek yang tadinya jutek mendadak bermanis – manis setelah tahu aku punya sedan mahal ini. Entah seperti apa sikapnya kalau aku kuliah pakai motor bebek lagi.

Yama dan Gita memang kuajak pakai mobil ini. Tapi mereka sahabatku. Tak lebih dari itu.

Walau pun begitu, pada suatu saat aku mengalami kisah yang terduga.

Ya… sore itu aku sudah selesai kuliah dan sedang menggerakkan mobilku yang diparkir di pinggir jalan (karena mobil mahasiswa tidak boleh parkir di dalam areal kampus). Tiba – tiba pandanganku tertumbuk ke seorang wanita muda cantik, yang tak lain dari Bu Shanti, dosenku yang sudah lama menumbuhkan rasa simpatiku.

Mungkin dia sedang menunggu jemputan, atau mungkin juga sedang menunggu angkot.

Kuhentikan mobilku di depan Bu Shanti sambil membuka jendela kiri. “Mau pulang Bu?”

Bu Shanti membungkukkan kepalanya, “Chepi?! Iya mau pulang.”

“Ayo saya anterin aja Bu,” ajakku.

“Rumahku jauh di luar kota Chep.”

“Biarin aja,” sahutku sambil membuka pintu depan kiri, “Di luar propinsi juga saya anterin sampai rumah Ibu.”

“Beneran nih mau nganterin sampai rumah?” tanya dosen cantik itu setelah duduk di samping kiriku, sambil mengenakan seatbelt. Harum parfum pun tersiar ke penciumanku.

“Khusus untuk Ibu, saya siap mengantarkan kapan pun dan ke mana pun,” sahutku sambil memindahkan tongkat matic ke D.

“Ohya?! Enak dong, kapan – kapan bisa minta diantar sama mahasiswa yang baik hati begini.”

“Siap Bu. Asalkan gak ada yang marah aja. Hehehee…”

“Siapa yang marah? Suami belum punya, pacar pun gak punya.”

“Kirain Ibu sudah punya suami.”

“Belum laku – laku Chep.”

“Tapi pacar aja sih mungkin sudah punya.”

“Aku jomblo Chep. Dulu waktu masih SMA pernah punya pacar. Tapi begitulah, gak enak punya pacar yang selalu mengatur segalanya. Apalagi kalau sudah jadi suami.”

“Wah… bisa nyelip dong aku Bu.”

“Nyelip ke mana?”

“Ke hati Bu Shanti.”

“Hihihiiii… kamu bisa gombal juga yaaa, “Bu Shanti mencubit pangkal lenganku.

“Aku serius Bu. Soalnya di antara dosen – dosen, Bu Shanti yang paling kusukai. Makanya sekarang serasa ketiban rejeki nomplok, karena Ibu mau dianterin olehku.”

“Masa sih? Udah segitunya perasaanmu padaku?”

“Kalau iya, Ibu keberatan nggak?”

“Keberatan sih nggak. Tapi kamu kan masih sangat muda. Umurmu berapa?”

“Delapanbelas Bu.”

“Tuh… berarti delapan tahun lebih muda dariku.”

“Ibu baru duapuluhenam tahun? Sudah es-dua… hebat sekali.”

“Es-duaku dapet setahun yang lalu.”

“Waduh, berarti es-duanya diraih waktu usia Ibu baru duapuluhlima tahun?”

“Iya. Es-satunya diraih di usia duapuluhdua. Es-dua diraih di usia duapuluhlima. Gak muda – muda amat kan? Di Amerika ada anak umur tujuhbelas tahun sudah es-tiga.”

“Wah, itu sihg jenius banget Bu. Tapi program percepatan pendidikan hanya ada di Amerika kan?”

“Iya. Di Inggris belum ada.”

“Ibu jadi dosen belum ada setahun kan?”

“Iya, baru sembilan bulan.”

“Berarti aku harus dekat terus sama Ibu.”

“Kenapa.”

“Supaya lulus es-satu secepatnya. Tapi ada yang lebih penting lagi…”

“Apaan tuh?”

“Untuk mewujudkan khayalanku.”

“Khayalan apa? Nanti aku jadi serius lho.”

“Aku juga serius Bu. Serius mikirin Ibu sejak lama.”

“Masa sih? Kamu terlalu muda bagiku Chep.”

“Aku pengagum wanita yang lebih tua dariku Bu. Lagian Ibu kan masih muda. Baru duapuluhenam tahun. Tigapuluh juga belum.”

Bu Shanti memegang tangan kiriku yang nganggur, karena mobilku matic. Terasa hangat tangannya. Sehingga aku sengaja memegangnya dan mendekatkan ke mulutku. Lalu kuciumi tangan halus yang putih bersih itu.

Bu Shanti membiarkanku menciumi tangannya. Lalu ia melepaskan jaket putihnya. Sehingga blouse hitamnya tampak di mataku. Dan… ooo maaaak… blouse hitam itu ada bagian berbentuk hati atau icon love di bagian dadanya. Sehingga belahan buah dadanya tampak menonjol… terbuka jelas… putih dan mulus sekali.

Aku tidak berani berkomentar. Tapi diam – diam ada yang bangun di dalam celanaku!

Mobilku sudah menginjak batas kota. Kularikan terus ke luar kota.

“Jadi merasa tersanjung sama kamu,” ucap Bu Shanti sambil menyandarkan kepalanya di bahu kiriku, “Tapi tetap aja aku merasa malu, karena tersanjung oleh ucapan cowok yang masih belasan tahun…”

Kusahut dengan perasaan pede, “Mendingan juga cowok belasan tahun dibandingkan dengan empatpuluh tahunan sih Bu. Heeheehee…”

“Iya sih. Tentu aja kamu lebih fresh daripada bapak – bapak sesama dosen sih. Tapi kalau kelihatan orang lain, pasti aku diketawain. Dianggap seneng brondong.”

“Gak usah dilihat – lihatkan sama orang lain dong Bu.”

“Kamu bisa merahasiakannya?”

“Bisa.”

“Di kampus harus bersikap seperti biasa aja. Bisa?”

“Bisa. Di kampus aku tetap akan bersikap sebagai mahasiswa kepada dosennya seperti mahasiswa lain.”

Tiba – tiba Bu Shanti mengecup pipi kiriku. Membuatku kaget bercampur senang. Dan ketika pandanganku tertuju ke arah belahan buah dada yang terbuka lewat blouse hitamnya, o… ingin rasanya kuselundupkan tanganku ke balik blouse di bagian dadanya itu. Untuk memegang toket dosenku itu.

Mendadak Bu Shanti berkata, “Itu ada apotek! Berhenti dulu sebentar ya. Mau beli vitamin.”

“Iya Bu,” sahutku sambil mengurangi kecep[atan mobilku. Lalu menghentikannya tepat di depan apotek itu.

“Tunggu sebentar ya. Cuma mau beli vitamin,” kata Bu Shanti sambil membuka pintu mobilku di samping kirinya. Lalu kubiarkan ia turun dan melangkah ke dalam apotek itu.

Tak sampai sepuluh menit Bu Shanti sudah masuk lagi ke dalam mobilku. “Cepat sekali?! Udah dapet vitaminnya?” tanyaku.

“Sudah,” sahutnya sambil memasangkan kembali seatbelt, “Ohya… tadi ada yang belum kutanyain sama Chepi…”

“Soal apa?”

“Chepi belum punya pacar?”

“Udah dapet.”

“Orang mana?”

“Ini yang duduk di sampingku.”

Bu Shanti ketawa cekikikan. Tampak senang sekali kelihatannya.

“Tapi aku merasa berat Chep.”

“Berat apanya?”

“Berat menolakmu.”

“Hahahaaa… satu – satu ya. Tinggal satu lagi.”

“Apa?”

“Gak apa – apa Sayaaang…”

Bu Shinta ketawa cekikikan lagi. Lalu mengecup pipi kiriku lagi.

“Gak nyangka hatiku bakal sesenang ini.”

Lengan kiriku pun merengkuh bahu kirinya sambil berkata, “Gak nyangka hatiku bakal sebahagia ini Bu.”

Bu Shanti menanggapinya dengan menciumi tangan kiriku.

Lalu kuhidupkan musik chillout ambient, membuat suasana semakin romantis.

Setengah jam kemudian mobilku sudah kubelokkan ke sebuah rumah minimalis yang begitu artistik penataannya, termasuk pekarangannya yang berbentuk taman kecil dengan tanaman hiasnya yang ditata secara artistik pula.

“Ayo mampir dulu, sekalian melanjutkan obrolan di jalan tadi, “ajak Bu Shanti sebelum turun dari mobilku.

“Gak apa – apa nih aku mampir ke rumah Ibu?” tanyaku dengan nada ragu (padahal nggak ragu).

“Nggak apa – apa. Mau nginep juga boleh.”

“Ah, serius nih?”

“Sangat serius. Di rumah ini kan penghuninya cuma dua orang. Aku dan pembantuku.”

“Owh… kirain tinggal sama orang tua.”

“Orang tuaku jauh di seberang lautan sana. Kapan – kapan kita main ke sana ya.”

“Boleh, asalkan pas pada saat liburan panjang.”

Lalu kami masuk ke dalam rumah yang tertata rapi luar dalamnya ini.

Bersambung… Begitu berada di dalam rumahnya, Bu Shanti menurupkan pintu depan, lalu memelukku dari belakang sambil berkata, “Aku mulai jatuh hati padamu Chep.”

“Jatuh hati apa jatuh cinta?” tanyaku tanpa menoleh ke belakang. “Ya sama aja dong… jatuh hati berarti jatuh cinta.”

Dalam keadaan masih sama – sama berdiri, aku memutar badanku, jadi berhadapan dengan Bu Shanti. Dan tanpa keraguan lagi, kupagut bibir dosenku yang tipis merekah sensual itu.

Bu Shanti pun balas melumat bibirku sambil mendekap pinggangku.

Setelah lumatannya terlepas, ia berkata, “Silakan duduk dulu ya. Aku mau ganti baju dulu.”

“Iya Beib…” sahutku. “Apa…?” “Iya Beib…!” “Oooh bahagianya aku mendengar kamu memanggilku Beib.”

“Kan kita harus saling membahagiakan,” sahutku sambil tersenyum.

Tanpa canggung lagi Bi Shinta memeluk dan mencium bibirku sekali lagi, kemudian masuk ke dalam kamarnya, meninggalkanku di ruang tamu.

Aku pun duduk di sofa putih ruang tamu, sambil mengamati keadaan di sekitarku. Kelihatan sekali bahwa pemilik rumah ini seorang yang berpendidikan tinggi. Selera intelektualnya tampak dari penataan rumahnya, baik indoor mau pun outdoornya.

Agak lama aku menunggu di ruang tamu. Namun akhirnya Bu Shanti muncul juga, mengenakan daster yang aduhai… tipis sekali. Sehingga bentuk tubuh di balik daster itu membayang dengan jelas sekali.

“Mau minum apa?” tanyanya sambil tersenyum. “Gak usah ngerepotin Beib,” sahutku, “Tapi kalau ada sih minta black coffee aja, tanpa gula.” “Pahit dong kalau tanpa gula sih.” “Kata para ahli, kopi itu akan bermanfaat tapi jangan pakai gula.” “Ogitu. Sebentar… mau bikinin kopinya dulu ya.” “Iya Beib,” sahutku membuat Bu Shanti mengerling manja. Membuatku semakin gemes.

Bu Shanti masuk ke dalam.

Beberapa saat kemudian Bu Shanti sudah muncul lagi, bersama seorang pembantu yang membawakan secangkir kopi panas dan dua piring snack.

Bu Shanti pun duduk di sebelah kiriku sambil berkata, “Silakan diminum Yang.”

Mendengar kata “Yang” terlontar dari mulut dosen cantik itu, dadaku terasa berdenyut.

Lalu kuteguk kopi yang masih mengepul itu seteguk.

“Nginep aja di sini ya,” kata Bu Shanti sambil memegang tangan kiriku, “Kalau kamu mau nginep di sini, kita kan bisa semakin dekat nanti.”

“Kalau tidurnya sekamar dan seranjang dengan Bu Shanti sih aku mau.”

“Nah lho… sekarang manggil Ibu lagi. Aku kan belum punya suami, apalagi punya anak. Masa manggil Ibu terus?”

“Biar bagaimana Bu Shanti kan dosenku.”

“Di kampus aku memang dosenmu. Tapi di sini… aku ini gadis yang sudah jatuh cinta padamu, Sayang.”

Aku tersenyum. Lalu kuciumi tangan Bu Shanti yang sedang kupegang.

“Mau kan nginep di sini?” “Mau, asalkan tidur seranjang denganmu Beib.”

“Iya. Tadinya mau nyiapin kamar lain untukmu. Tapi kalau mau tidur bareng sama aku ya udah… sekarang aja kita ke kamar yuk.”

“Oke, “aku mengangguk sambil tersenyum.

Bu Shanti membawa cangkir kopi dan piring kecilnya sambil berkata, “Minuman dan snacknya bawa ke kamarku aja ya.”

“Iya,” sahutku sambil membawa dua piring berisi snack itu, lalu mengikuti langkah Bu Shanti ke dalam kamarnya.

Pada waktu berjalan dari belakang Bu Shanti, tubuh dosenku itu semakin jelas di balik gaun tidurnya yang menurutku terlalu tipis dan transparan.

Setibanya di dalam kamar, Kopi dan snack itu diletakkan di atas meja kecil yang membatasi dua buah sofa putih. Ketika Bu Shanti masih berdiri, aku mendekapnya dari belakang sambil membisikinya, “Gaun tidurnya seksi banget. Sehingga bentuk tubuh Ibu terlihat samar – samar dari luarnya.”

“Gaun ini baru sekarang kupakai. Tadinya malas makainya, ya karena terlalu tipis dan transparan. Tapi untuk kamu, aku sengaja memakainya.”

“Kalau aku terangsang gimana? Ini aja aku sudah mulai tergiur…” “Lampiaskan aja. Aku memang akan menyerahkan keperawananku padamu malam ini, kalau kamu mau.”

“Haaa?! Beneran nih?”

“Beneran. Aku memang sudah berjanji di dalam hati, akan menyerahkan kesucianku kepada lelaki yang kucintai dan mencintaiku.”

“Aku memang mencintaimu Beib. Tapi untuk menikah masih lama. Mungkin kalau usiaku sudah dekat – dekat tigapuluh, baru aku mau menikah.”

“Menikah masih lama, tapi kalau kawin sih malam ini juga bisa kan?” tanya Bu Shanti sambil mencubit perutku.

“Kawin sih sekarang juga mau. Tapi bagaimana kalau Ibu hamil nanti?”

Bu Shanti malah tersenyum. “Tadi aku beli dulu vitamin di apotek kan? Nah… sebenarnya tadi aku sekalian beli pil kontrasepsi.”

“Ohya?!” seruku girang. Lalu duduk di sofa sambil merangkul pinggang Bu Shanti agar duduk di pangkuanku.

Dan… Bu Shanti benar – benar duduk di atas sepasang pahaku, sambil melingkarkan lengannya di leherku.

“Memangnya masih perawan Beib?” “Masih. Tapi ada alasan kuat kenapa aku mau menyerahkan keperawananku padamu sekarang.” “Apa tuh alasannya?”

“Aku mau dijodohkan dengan lelaki yang membiayai kuliah es-duaku di Inggris. Di satu pihak aku merasa berhutang budi padanya, tapi untuk dijadikan istrinya… oi maaak… usianya dua kali usiaku Chep.”

“Limapuluhdua tahun?” “Ya kira – kira segitulah. Yang sangat menyebalkan, aku hanya akan dijadikan istri ketiga.”

“Wow… jangan mau dong Beib. Kalau merasa berhutang budi sih bayar aja dengan duit yang senilai dengan biaya kuliah di Inggris itu.”

“Tapi sejak aku masih di SMP pun dia sudah banyak memberi uang kepada orang tuaku secara rutin. Kalau semuanya dijumlahkan, pasti jatuh milyaran.”

Aku cuma terlongong mendengar curhatan Bu Shanti itu.

“Karena itu, aku berjanji di dalam hati, akan menyerahkan keperawananku kepada orang yang kucintai dan mencintaiku. Karena itu aku akan menyerahkannya padamu. Tapi kamu tidak usah memikirkan soal pernikahan segala. Aku sendiri pun belum ingin cepat – cepat bersuami.”

Banyak lagi yang Bu Shanti katakan. Tapi intinya sudah kutangkap semua. Bahwa seandainya pun dia harus menikah dengan lelaki tua itu kelak, dia harus berpuas – puas menikmati masa mudanya dulu denganku.

“Oke, apa pun alasannya, yang pasti… kita akan saling bagi rasa sekarang kan?” kataku sambil mempererat dekapanku di pinggang Bu Shanti yang sedang duduk di atas pangkuanku.

“Iya Sayang. Kalau kita memang berjodoh, bisa aja kelak kita menjadi suami istri. Tapi kalau jodohku harus dengan lelaki tua itu, berarti dia hanya akan kebagian sisa – sisamu Sayang.”

“Hmmm… boleh sekarang kulepaskan gaun tidurnya Beib?”

“Lepaskanlah. Kancing – kancingnya ada di bagian punggungku.”

Lalu dengan penuh semangat kubuka kancing gaun tidur itu satu persatu. “Udah gak sabar pengan megang sesuatu,” kataku setelah kancingnya terbuka semua.

“Pengen megang apa?” tanya Bu Shanti sambil melepaskan gaun tidurnya. “Pengen megang bukit kembarnya. Sejak berangkat dari kampus tadi rasanya nantangin terus.”

“Iya… semuanya buat Chepi tersayang sekarang. Aku akan pasrah, diapain juga silakan. Asal jangan disakiti aja.”

“Duuuh… cewek secantik ini masa tega aku menyakiti? Dosenku pula…” ucapku sambil menciumi tengkuknya yang sudah terbuka. Karena memang tinggal beha dan celana dalam yanhg masih melekat di badannya…”Kancing behanya juga ada di punggung… bukain deh kalau ingin megang bukit kembar sih.”

“Mmm… kalau aku manggil Mamie, mau gak?” tanyaku sambil membuka kancing kait behanya. “Boleh. Tapi aku juga mau manggil Papie sama kamu. Gimana?” “Iya… harusnya sih Mamie langsung hamil aja, biar lebih pantes dipanggil Mamie.” “Jangan dulu ah. Aku pengen ngejar es-tiga dulu.” “Wadooooh… Mamie haus ilmu ya?” “Kan biar bisa naik terus jabatanku di kampus, Papie tampan…”

“Iya Mamie Cantik… semoga cita – citanya cepat kesampaian. Tapi kuliah es-tiganya mau di Inggris lagi?”

“Harusnya sih begitu. Makanya sekarang sedang kumpulin duit dulu buat biayanya. Gak mau ngandalin si tua itu lagi.”

“Tapi jarak pendidikan kita semakin jauh nanti.” “Gak apa – apa. Papie kan bisa nyusul belakangan.”

“Aku sih es-satu mau langsung kerja. Pendidikan selanjutnya kapan – kapan aja,” kataku sambil memegang kedua toket Bu Shanti yang memang gede dan indah itu.

Lalu kami terdiam. Sampai pada suatu saat Bu Shanti berdiri. “Lanjutin di sana aja yuk, biar lebih romantis,” ucapnya sambil menunjuk ke bednya yang serba putih bersih.

Aku mengangguk. Lalu berdiri dan mengikuti Bu Shanti menuju bednya.

“Si dede langsung berdiri tegak nih Mam,” ucapku sambil menepuk – nepuk celana panjangku, tepat pada bagian yang menutupi rudalku.

“Coba lihatin rudalnya. Aku ingin tau seperti apa rudal itu.”

“Iya. Kan aku juga harus telanjang seperti Mamie,” sahutku sambil menanggalkan kemeja tangan pendekku. Disusul dengan pelepasan sepatu, kaus kaki dan celana panjangku. Sehingga tinggal celana dalam yang masih melekat di badanku.

Bu Shanti mengusap – usap dadaku sambil berkata, “Bodymu atletis banget. Rajin olah raga ya?”

Sebagai balasan, kupegang toket dosenku yang gede dan indah bentuknya itu, “Payudara Mamie luar biasa indahnya.”

“Iya. Mulai saat ini sekujur tubuhku menjadi milikmu,” sahut Bu Shanti.

“Terima kasih. Aku bangga telah memiliki Mamie yang begitu mulusnya dari ujung kaki sampai ke ujung rambut,” sahutku sambil melepaskan celana dalamku, sehingga zakarku yang sudah ngaceng berat ini tidak tertutup lagi.

Bu Shanti langsung memegang rudal ngacengku dengan tangan yang terasa hangat dan gemetaran.

“Ada yang mau kutanyain… Mamie kok kebule – bulean gitu. Apakah ada turunan bule?” “Ibuku asli Belanda. Kalau ayah sih asli Indonesia.” “Oooo… pantesan. Kirain bukan blasteran,” ucapku sambil mendorong dada Bu Shanti agar celentang.

Gairahku menggebu – gebu, dalam rasa percaya diri yang kuat.

Perasaanku pun seolah dihembus angin surga, karena menyaksikan sebentuk tubuh yang begitu mulus dan erotisnya. Tubuh putih mulus dan wajah cantik jelita yang siap untuk kunikmati.

Lebih dari itu semua, dia memang sudah lama kuidam – idamkan. Tapi awalnya aku hanya bisa memendam perasaanku di dalam hati. Dan kini dia seolah dikirim malaikat untuk hadir di dalam kehidupanku.

Maka dengan penuh gairah kujilati serambi lempitnya yang berjembut tapi seperti belum lama diguntingi dan dirapikan. Dan aku malah senang, karena hidupku seolah variatif. serambi lempit Mama dan Mamie bersih dari jembut. Bahkan Bi Caca saja rajin mencukur bersih kemaluannya. Sementara kemaluan Bu Shanti berjembut begini.

Ketika kurasakan sudah cukup banyak air liurku yang teralirkan ke dalam celah serambi lempit Bu Shanti, kurentangkan sepasang paha mulus dosenku. Lalu kuletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempitnya yang sudah ternganga pink itu.

Kemudian kudesakkan batang kejantananku sekuat tenaga… uuuuggghhhh… meleset. Kubetulkan lagi posisi moncong rudalku pada arah yang kuanggap tepat. Lalu kudorong lagi sekuatnya.

Meleset lagi…!

Lebih dari tiga kali meleset. Sehingga akhirnya aku bertanya, “Punya lotion gak?”

“Buat apa?” Bu Shanti balik bertanya.

“Untuk melicinkan… biar gak susah penetrasinya.”

Bu Shanti menunjuk ke meja riasnya sambil berkata, “Ada tuh… yang paling kanan.”

Aku pun turun dari bed. Untuk mengambil botol lotion di atas meja rias dosenku.

Kubuka tutup botol lotion itu dan kudekatkan ke hidungku. Hanya ingin menyelidik apakah harum atau tidak. Kalau harum, biasanya sudah mengandung pewangi. Dan itu bisa terasa panas oleh serambi lempit Bu Shanti nanti.

Setelah yakin bahwa lotion itu takkan membuat serambi lempit Bu Shanti panas, kubawa botol lotion itu ke atas bed. Kuoles – oleskan dulu isinya sedikit ke permukaan serambi lempit Bu Shanti. Dan kutunggu sesaat.

“Panas nggak?” tanyaku.

“Nggak, “Bu Shanti menggeleng, “kan nggak mengandung fragrance.”

“Baguslah. Terkadang ada lotion yang menimbulkan rasa panas kalau dioleskan ke serambi lempit,” ucapku sambil menuangkan isi botol itu ke bagian dalam serambi lempit Bu Shanti.

Cukup banyak kutuangkan lotion itu ke celah serambi lempit Bu Shanti, sehingga sampai meluap ke luar, membuat jembutnya ikutan mengkilap.

Kuratakan penyebaran lotion itu dengan jemariku. Terutama bagian dalamnya yang kurasa perlu banyak lotionnya, agar meresap ke lubang sanggamanya.

Kemudian kulumuri juga rudalku dengan lotion sampai mengkilap.

Setelah menutup lagi botol lotion dan meletakkannya di pinggiran bed, kucolek – colekkan moncong rudalku ke dalam celah mewmek Bu Shanti yang sudah dingangakan olehnya sendiri. Kemudian kuletakkan kembali moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit Bu Shanti. Dan kudorong sedikit sampai moncongnya agak nyungsep ke dalam celah serambi lempit Bu Shanti.

Setelah kepala rudalku terasa sudah “terbidik dan terkunci”, aku pun mendorongnya sekuat tenaga. Uggggh… masuk sedikit… dorong lagi uuuuggghhh… masuk lagi sampai lehernya. Lalu kudorong lagi sekuat tenaga… uuuuuggggghhhh… membenam separohnya…!

“Ooooohhh… udah masuk ya?” tanya Bu Shanti sambil mendekap pinggangku. “Iya. Sakit?” tanyaku. “Nggak. Tadi ada sedikit… gak sakit cuma kayak digigit semut.” “Sekarang akan mulai kuientot yaaaa…” “Iya…”

Permainan surgawi ini pun dimulai. Dengan maju mundurnya batang kemaluanku di dalam liang yang sangat sempit ini. Awalnya terasa seret sekali. Tapi lama kelamaan mulai lancar, sehingga aku pun bisa mempercepat entotanku sampai kecepatan normal.

Setelah gerakan rudalku lancar, aku mulai memainkan peran mulut dan tanganku, untuk mengiringi ayunan batang kemaluanku. Di satu saat mulutku mulai mengemut dan menjilati pentil toket kiri Bu Shanti, sementara tangan kiriku mulai meremas toket kanannya dengan selembut mungkin. Agar jangan sampai dia complain karena kesakitan.

Dan… ia mulai merintih – rintih perlahan, “Sayaang… oooohhhh… ternyata enak sekali ya em-el ini… oooooh… aku sampai merasa seperti melayang – layang gini Yang… ooooohhhhh… enaaaaak Sayaaaaang… luar biasa enaknyaaaaa… oooohhhh… aaaah… aaaaah… ooooohhhhh… aaaaah …

Meski sedang gencar memenyetubuhinya, aku menyempatkan diri untuk menjawabnya secara jujur, “Sebenarnya… hatiku sudah lama menjadi milikmu Mam…”

Sepasang mata indah itu menatapku dengan sorot cemerlang. Lalu ia merengkuh leherku ke dalam pelukannya. Dan melumat bibirku dengan lengketnya. Sementara aku tetap stabil memenyetubuhinya dengan gencar.

Bahkan ketika lumatannya terlepas, aku mulai menjilati leher jenjangnya yang sudah keringatan, disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Semakin menggeliat – geliat jugalah tubuh indah yang tengah kusetubuhi ini.

Terawanganku pun semakin jauh melayang – layang di langit biru. Dan seolah ada tanya di dalam batin, adakah detik – detik yang lebih indah daripada yang tengah kurasakan ini?

Gejala – gejala ia mau orgasme pun mulai terasa olehku. Maka kugencarkan entotanku lebih cepat lagi. Dan baru kuhentikan ketika sekujur tubuh indahnya mulai mengejang tegang. Batang kemaluanku memang berhenti karena terpaksa. Karena ketika likang serambi lempit Bu Shanti sedang mengedut – ngedut kencang di puncak orgasmenya, moncong rudalku pun sedang menembak – nembakkan lendir kenikmatanku.

Mungkin aku terlalu dikuasai perasaanku yang memang sudah lama mengidolakan dosen cantik berdarah campuran indo-belanda itu. Sehingga aku tidak bisa mengulur durasi persetubuhanku. Selain darfipada itu, aku ingin melihat “saksi mati” bahwa dia memang masih perawan.

Dan ketika aku sudah mencabut rudalku dari dalam liang serambi lempit dosen cantikku, memang ada genangan darah kira – kira sebanyak 1 sendok kecil di bawah pantatnya. Itulah saksi yang kumaksudkan. Yang membuatku merasa sangat menghormati Bu Shanti yang jelita ini.

Maka ketika aku terlentang di sampingnya, aku memegang tangannya sambil berkata, “Terima kasih Sayang. Aku telah membuktikan bahwa sebelum kusetubuhi tadi, dirimu masih benar – benar virgin. Memang sulit dipercaya bahwa seorang gadis yang sudah berusia duapuluhenam tahun masih bisa mempertahankan keperawanannya.

Dedngan suara lirih Bu Shanti menyahut, “Kalau gak bertemu denganmu tadi, sampai kapan pun aku akan tetap perawan. Karena aku sudah berjanji hanya akan menyerahkannya kepada cowok yang benar – benar kucintai dan mencintaiku.”

Aku sangat menghormati Bu Shanti di dalam hati, karena di usia 26 tahun dia masih mampu mempertahankan keperawanannya, sampai akhirnya diberikan padaku. Padahal dia itu indo-belanda. Dan pernah kuliah di Inggris segala, di mana nilai – nilai moral sudah ditinggalkan jauh – jauh.

Di negaraku sendiri sudah lama juga banyak yang kebablasan. Termasuk apa yang sudah kualami sebelum aku mendapatkan “hadiah” dari Bu Shanti, yakni keperawanannya itu.

Ya… saat itu aku dan dua orang sahabatku harus berangkat ke Jakarta, untuk mengurus acara kesenian dan kompetisi persahabatan di antara kampusku dengan sebuah universitas di Jakarta. Universitas itu beda namanya dengan universitasku, tapi yayasan yang memilikinya adalah yayasan pemilik kampusku juga.

Kebetulan yang terpilih menjadi ketua panitia adalah aku sendiri. Bendaharanya Yama, sekretarisnya Gita. Dua – duanya sahabatku.

Sejak aku mulai kuliah, kedua orang cewek itu adalah teman terdekatku. Sehingga ke mana – mana kami selalu bertiga. Maka setelah aku terpilih menjadi ketua panitia, aku punya hak untuk menunjuk bendahara dan sekretarisku. Maka kupilihlah Yama sebagai bendahara dan Gita sebagai sekretaris.

Tentu saja panitianya cukup banyak, untuk urusan logistik, akomodasi, konsumsi, humas dan sebagainya. Tapi panitia intinya adalah kami bertiga.

Itulah sebabnya kami bertiga yang akan mengadakan meeting pendahuluan dengan pihak universitas yang di Jakarta.

Gita itu gokil orangnya. Kalau ngomong, terkadang mengejutkanku. Karena tak menduga kalau cewek bisa ngomong tak kalah gokil dari cowok. Sementara Yama perilakunya anggun di mataku.

Tapi biar bagaimana mereka adalah teman – teman baikku, yang selalu kompak denganku dalam beberapa masalah.

Pagi itu aku mendahulukan menjemput Yama, karena rumahnya mudah dijangkau oleh mobilku. Sementara rumah Gita ada di dalam gang kecil yang tidak masuk mobil. Jadi aku bisa menyuruh Yama turun dari mobil dan berjalan kaki ke dalam gang sempit menuju rumah Gita itu.

Agak lama aku menunggu di dalam mobil yang kuparkir di dekat mulut gang kecil itu. Namun akhirnya mereka muncul juga.

Yama mendekati samping kanan mobilku. Lalu berkata, “Chepi… lu jadi boss aja deh, duduk di belakang. Biar gue yang nyetir.”

Aku tahu Yama punya mobil yang selalu dipakai kuliah. Bahkan sebelum aku punya sedan hadiah dari Mama ini, Yama sudah duluan punya mobil.

“Emang bisa lu nyetir ke luar kota?” tanyaku masih di belakang setir.

“Ziaaaah… ke Jakarta sih cetek brow… nyetir ke Surabaya aja sering. Malah sampai Madura segala.”

“Ya udah. Lu sendirian di depan ya. Si Gita di belakang sama gue. Biar bisa dengerin kicauannya.”

Yama mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku turun dari mobil dan pindah ke belakang. Sementara Yama masuk ke depan kanan sambil berkata, “Mobil ini sih pasti lebih enak bawanya dibanding mobil gue.”

“Gak usah ngebut Yam,” ucapku sambil menepuk bahu Yama dari belakang.

“Santai aja boss. Bersama gue, kalian aman.”

Aku cuma tersenyum. Sementara Gita yang duduk di sebelah kiriku, malah sedang menggoyang – goyang kepala yang dipasangi earphone hapenya.

“Udah dong jangan dengerin musik mulu,” kataku sambil menepuk lutut Gita.

“Eh iya, “Gita melepaskan earphonenya, “setelin musik Yam. Biar nyaman. Mobil sebagus gini sih pasti punya koleksi lagu yang keren – keren.”

Kemudian terdengar suara musik dari audio mobilku. Belakangan aku lebih suka mendownload lagu – lagu compilation. Sehingga satu judul bisa 2 atau 3 jam durasinya. Bahkan ada yang sampai 24 jam satu judul.

Gita pun langsung bergoyang – goyang centik, mengikuti irama musik yang tengah berkumandang.

Tapi sesaat kemudian Gita mendekatkan mulutnya ke telingaku, lalu berbisik, “Daripada jadi teman baik seperti sekarang, mendingan kita jadi TTM yuk.”

Aku agak kaget mendengar bisikan Gita itu. Lalu membisikinya juga, “Teman tapi ML?”

“Iya, “Gita mengangguk sambil tersenyum. Lalu membisiki telingaku lagi, “Harusnya TTN. Teman tapi ngewe.”

Aku tercengang sambil menahan tawaku. Lalu membikinya, “Lu serius?”

“Serius lah,” sahutnya perlahan, yang hampir tak terdewngar karena musik yang berkumandang agak keras.

“Lu udah gak perawan lagi kan?” bisikku. “Iya. Makanya mumpung sama – sama belum punya pasangan, kita nikmati aja dulu masa kebebasan ini. Biar pertemanan kita semakin solid,” bisik Gita lagi.

Sebenarnya aku agak shock mendengar ajakan dan pengakuan sahabatku itu. Lalu memperhatikan cara mengemudi Yama, yang ternyata halus sekali rasanya. Malah aku kalah halus kalau dibandingkan dengan cara Yama nyetir itu.

Lalu aku berbisik lagi ke telinga Gita, “Si Yama juga udah gak perawan lagi ya?”

Gita menjawab dengan bisikan juga, “Iya. Justru dia yang usulin acaranya juga.”

“Turunin celanamu, gue pengen tau serambi lempitmu kayak apa?” bisikku.

Gita menjawab dengan bisikan juga, “Celana lu juga. Justru gue yang pengen tau rudal lu kayak apa.”

Aku tersenyum sambil mengikuti keinginan Gita. Kuturunkan ritsleting, kemudian kupelorotkan celana jeans sekaligus dengan celana dalamnya.

“Anjriiiitttt…! rudal lu gede banget…” ucap Gita sambil memegangi rudalku yang sudah rada ngaceng. Dipegang – pegang oleh Gita, tambah ngacenglah rudalku.

“Yama…! “Gita menepuk bahu kiri Yama, “Liat nih rudal si Chepi?”

Yama mengurangi kecepatan mobil yang sudah berada di jalan tol, lalu membelokkannya ke bahu jalan dan menghentikannya. Lalu Yama menolah ke belakang, untuk melihat apa yang sedang Gita lakukan padaku.

“Liat tuh… sepanjang dan segede gini rudal si Chepi… !” seru Gita agak keras, untuk mengatasi bisingnya bunyi musik mobilku.

“Aaaaauuuu…! Itu rudal manusia apa rudal kuda?” seru Yama.

“Gue mau usul nih. Acara meeting di Jakarta kan besok pagi. Gak lama lagi kita kan masuk daerah Purwakarta. Gimana kalau kita nyari hotel di Purwakarta aja? Besok subuh kita lanjut ke Jakarta.”

“Jangan ah. Mumpung jalan gak macet, mendingan cek in di Jakarta aja,” sahut Yama sambil menghadap ke depan lagi. Lalu menjalankan mobilku kembali.

“Gue udah horny nih! “seru Gita, “Gak apa – apa kalau gue wikwik sama Chepi sekarang?” “Lakuin aja. Asal jangan keliatan dari luar. Eeeeh… ada tirainya ya.” “Ada tirai, kacanya pun kaca gelap. Lu konsen nyetir aja Yam. Nanti giliran lu nanti di Jakarta, sekenyangnya,” sahutku sambil menepuk bahu kanan Yama.

Sementara itu Gita sudah menanggalkan celana jeans dan celana dalamnya.

Kini aku dan Gita sudah sama – sama tinggal mengenakan t-shirt, karena Gita sudah menanggalkan behanya. Warna t-shirt kami pun sama – sama hitam. Bedanya, t-shirtku ada tulisan putih “Ireland” di bagian dada, sementara t-shirt Gita ada gambar bunga mawar pink di bagian antara sepasang bukit kembarnya.

Gita ternyata bukan hanya gokil waktu ngomong. Kini pun ia gokil dalam tindakan. Ketika mobilku yang dikemudikan oleh Yama dalam kecepatan sedang, Gita pun menduduki rudalku, sambil menghadap padaku. Lalu diarahkannya moncong rudalku ke serambi lempitnya. Dicolek – colekkan, kemudian ia menurunkan badannya.

Mungkin inilah pengalaman tergila di dalam hidupku. Bahwa ketika Yama mengemudikan mobilku dengan kecepatan nyaman, Gita duduk di atas pangkuanku, sambil menaik turunkan bokongnya dan merapatkan bibirnya ke bibirku. Dengan sendirinya rudalku dibesot – besot oleh liang mserambi lempitnya yang hangat dan licin ini.

Maka aku pun balas mendekapnya, sambil melumat bibirnya.

Yama yang jarang bicara itu pun berseru di belakang setir mobilku, “Asyiiik… mulai ena – ena nih?”

Inilah pengalaman paling gila dalam kehidupanku selama ini. Bahwa ketika sedan hitamku tengah dilarikan oleh Yama di jalan tol, serambi lempit Gita naik turun terus, sementara batang kemaluanku berada di dalam liang serambi lempit licin dan hangatnya.

Sebelum ini, aku tak pernah berciuman bibir dengan Gita. Paling banter juga hanya sampai cipika – cipiki. Sedangkan sekarang, bukan cuma saling lumat bibir, tapi bahkan sedang ewean di dalam sedan hitamku yang tirainya sudah ditutup ini (takut kelihatan dari luar, meski kaca mobilku kaca gelap semua).

Tapi hanya belasan menit Gita mampu memainkan perannya sebagai cewek dominan. Akhirnya dia ambruk di puncak orgasmenya.

“Gila… rudal lu terlalu gede Chep… makanya gue gak sanggup lama – lama… lepas deh,” ucap Gita sambil duduk di sampingku. Padahal aku belum apa – apa. Masih jauh dari ngecrot.

Tapi aku masih bisa iseng, memasukkan jari tengahku ke dalam liang serambi lempit Gita yang baru mengalami oprgasme. “Pengen tau seperti apa serambi lempit yang udah orgasme,” ucapku yang merasa liang serambi lempit Gita jadi becek sekali. Maka kutambah dengan telunjuk, sehingga jadi dua jari bisa masuk ke dalam liang serambi lempit Gita.

“Masukin aja kepalan tanganmu sekalian… !” seru Gita sambil mencubit perutku.

Aku cuma ketawa sambil mengurangi jumlah jari tanganku, cukup dua jari saja, telunjuk dan jari tengah, yang kumasukkan ke dalam liang serambi lempit Gita.

“Sudah berapa macem rudal yang pernah menyetubuhi serambi lempit lu ini Git?”

“Baru satu macem! Memangnya gue ayam kampus?!” “Jadi gue yang kedua ya?” “Iya. Yama juga sama, senasib sama gue. Baru diewe sama satu cowok waktu masih di SMA dulu.” “serambi lempit lu enak Git,” kataku sambil menggerak – gerakkan dua jariku di dalam liang serambi lempit Gita, “Sayang lu gak tahan lama.”

“rudal lu juga luar biasa enaknya. Makanya gue gak tahan lama – lama. Nanti aja di hotel kita lanjutkan rame – rame sama si Yama. Udah ah… nanti gue horny lagik kalau diginiin serambi lempit gue, “gita menjauhkan tanganku dari serambi lempitnya.

Lalu terdengar suara Yama dari belakang setir, “Kok cepat – cepat banget maennya?”

Gita yang menjawab, “rudal si Chepi luar biasa gedenya. Gesekannya jadi terasa banget. Makanya gue cepat orga.”

“serambi lempit si Gita enak gak Chep?” tanya Yama. “Enak,” sahutku sambil memegang bahu Yama dari belakang, “serambi lempit lu enak nggak?” “Gak tau. Kan entar juga lu bakal menyetubuhi gue. Rasain aja sendiri, enak apa nggak,” sahut Yama. “Hahahaaaaa… kita jadi TTM beneran ya. Gak nyangka…” ucapku sambil memijat – mijat bahu Yama yang sedang nyetir.

“Kan pertemanan kita biar lebih solid Chep,” sahut Yama.

Sementara Gita tampak sedang menyeka serambi lempitnya dengan kertas tissue basah. Lalu mengenakan celana dalam dan celana jeansnya kembali. Maka tirai mobil pun kubuka kembali.

Gita pun menjulurkan kakinya, lalu memejamkan matanya. Tak lama kemudian Gita tampak sudah tidur beneran.

Sedan hitamku yang sedang dikemudikan oleh Yama meluncur terus di jalan tol.

Sejam kemudian, kami sudah tiba di sebuah hotel apartment hotel dekat jembatan Semanggi, yang sudah Yama pesan dan Yama bayar lewat aplikasi online. Tentu saja uang untuk pembayaran hotel itu menggunakan uang kas panitia. Karena kami bertiga berada di Jakarta untuk urusan panitia.

Setibanya di hotel, kami langsung makan siang dulu di resto hotel. Selesai makan kami pun naik ke lantai 36 dengan lift yang terasa sudah agak tua.

“Pinter juga lu milih hotel Yam,” ucapku setelah masuk ke dalam kamar, yang terdiri dari 2 kamar tidur dengan kamar mandi masing – masing, dapur lengkap dengan peralatannya dan ruang tamu yang lumayan gede.

“Iya,” sahut Yama, “Kamar apartemen disewakan dengan harga lebih murah daripada hotel bintang lima.”

“Boleh nih kapan – kapan kita bertiga nginep di hotel ini lagi. Tapi gilanya… kita berada di lantai tigapuluhenam ya. Serem juga… terlalu tinggi,” kata Gita.

“Lu keliatan tomboy, tapi ternyata ada takutnya juga ya?” ucapku sambil menepuk bahu Gita.

“Udah lu entot dulu Yama gih. Gue mau tidur di kamar yang agak kecilan itu. Ngantuk berat, tadi malem gak bisa tidur sampai subuh,” kata Gita sambil nyelonong ke kamar yang dipilihnya.

Aku dan Yama menjinjing tas pakaian masing – masing, menuju kamar yang satunya lagi, yang memang lebih besar daripada kamar yang dipakai oleh Gita.

“Sebentar… gue mau pipis dulu ya,” ucap Yama sambil mengeluarkan sehelai kimono putih dari tasnya dan langsung masuk ke kamar mandi.

Aku tersenyum sendiri. Karena sejak tadi aku sudah membayangkan nnikmatnya menyetubuhi Yama yang cantik dan anggun itu.

Memang Yama punya beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan Gita. Karena Gita cuma manis dan gokil. Sementara Yama itu cantik, anggun dan jarang berkelakar. Ngomong pun jarang. Makanya aku tak menyangka kalau Yama itu tidak perawan lagi, seperti yang dibisikkan oleh Gita di dalam mobilku tadi.

Pokoknya Yama itu bening banget. Tapi tidak berarti bahwa Gita itu jelek. Gita memang manis dan ceria terus sikapnya, tapi kalah cantik kalau dibandingkan dengan Yama. Kulitnya pun Yama menang. Jauh lebih putih bersih daripada Gita.

Tapi kalau rasa serambi lempitnya, entahlah… karena aku baru mau merasakan serambi lempit Yama sebentar lagi

Sebenarnya aku memendam rasa khusus pada Yama. Tapi mengingat bahwa dia itu teman dekatku, ada perasaan takut mengatakannya. Takut kalau dia menjauh, jadi teman dekat pun tak mau.

Namun kini yang kudambakan itu datang sendiri. Muncul dari kamar mandi dalam kimono putihnya, yang membuat Yama semakin cantik dan anggun.

Sikapku jadi berbeda waktu memegang kedua pergelangan tangannya. Jujur, ada perasaan yang berbeda di dalam hatiku, tak sama dengan waktu menghadapi Gita di dalam mobilku tadi.

“Persahabatan kita jangan sampai rusak nanti ya,” ucapku. “Ya iyalah,” sahut Yama sambil tersenyum. Oooo… betapa manisnya senyum cewek yang satu ini…!

Maka dengan gairah menggelegak, kurangkul leher jenjang dan kupagut bibir sensualnya ke dalam ciuman hangatku.

Yama pun menyambut dengan lumatan hangat.

Aku sadar bahwa acara ini bukan acara pacaran. Karena itu, ketika aku masih saling lumat dengan Yama, kedua tanganku tidak memelujk ledhernya lagi, melainkan meremas bokongnya, sambil menaikkan kimononya sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya aku meremas langsung bokongnya tanpa halangan kimono lagi.

Ternyata Yama tidak mengenakan celana dalam di balik kimononya itu. Mungkin dia sudah mempersiapkan diri untuk disetubuhi olehku. Aku pun bisa memastikan bahwa beha pun tidak ada lagi di balik kimono putih itu, karena dua pentil toket membayang tonjolannya ke luar.

Maka dengan sigap kuangkat dan kubopong tubuh langsing Yama ke atas bed yang sudah siap untuk dijadikan arena persetubuhan kami berdua.

Tanpa canggung – canggung Yama melepaskan kimono putihnya, sehingga sekujur tubuhnya jadi tak tertutup seutas benang pun lagi.

Aduhai… Tubuh Yama memang mulus sekali. Sehingga aku pun ingin memamerkan serkujur tubuhku yang mulus juga. Gak ada bekas luka atau kudis setitik pun. Maka klucuti pakaianku sehelai demi sehelai sampai telanjang bulat. Lalu melompat ke atas bed dan menerkam tubuh mulus yang sudah menungguku itu.

“Sebenarnya udah lama gue ngebayangin beginian sama lu Chep, “sambut Yama sambil mendekap pinggangku, “tapi gue takut merusak persahabatan kita yang sudah solid benar. Makanya keinginan itu gue pendam aja di dalam hati. Ternyata sekarang terjadi juga.”

“Sama gue juga gitu. Suka bayangin paha lu yang putih mulus… malah suka bayangin serambi lempit lu segala. Ternyata serambi lempit lu ada jembutnya tapi tipis dan halus jembut lu ini ya,” sahutku sambil mengusap – usap serambi lempit Yama yang berjembut tipis dan halus itu, “Gue mau jilatin serambi lempit lu dulu ya.”

“Pake minta ijin dulu segala. Memang musti dijilatin dulu. rudal lu gede bingit sie…” “Harusnya sih bawa pil kontrasepsi. Biar bisa ngecrot di dalem.” “Gue bawa kok pil kontrasepsi. Dapet nyolong punya nyokap.” “Berarti nyokap lu masih aktif dong dalam soal seks.” “Aktif lah. Masih muda kok. Baru tigapuluhenam tahun umurnya.” “Hampir sama dengan nyokap gue dong. Nyokap gue tigapuluhdelapan.” “Tapi nyokap lu kayak masih muda banget Chep.” “Lu gak pernah jumpa sama nyokap gue ah. Yang di rumah itu kan nyokap tiri.” “Oooo… yang di rumah lu itu nyokap tiri? Masih muda dan cantik sekali. Jangan – jangan lu embat juga tu nyokap tiri lu.”

“Aaah… gila… masa ibu tiri diembat?!” ucapku sedang memboohongi diriku sendiri. “Nyokap gue sih janda Chep.” “Sama. Nyokap kandung gue juga janda. Kan bercerai sama bokap.”

“Kalau nyokap gue sih ditinggal mati sama bokap yang kena kanker otak. Meninggalnya juga di Singapura. Loh… katanya mau jilatin serambi lempit gue. Koq malah jadi ngobrol?!”

“Hihihihiii… santai Yam…” sahutku sambil menepuk – nepuk serambi lempit Yama yang sudah berhadapan dengan mulutku.

Lalu kujilati serambi lempit berjembut tipis jarang itu dengan lahap. Bukan cuma menjilatinya, tapi jari tengahku pun “menyelidik” ke dalam celah serambi lempit Yama. Ternyata liang serambi lempitnya masih sempit, tidak seperti liang serambi lempit Gita tadi.

Maka dengan penuh semangat kujilati juga kelentitnya sambil sesekali kusedot -sedot.

Ini membuat Yama terkejang – kejang sambil meremas – remas rambutku. Apa lagi setelah jari tengahku digerak – gerakkan di dalam liang serambi lempit Yama… cewek cantim dan anggun itu pun mulai menggeliat – geliat diiringi desahan – desahan nafasnya. “Aaaaa… aaaaaahhhh… aaaaaaa… aaaaaaaahhhhh …

Tentu saja aku sengaja mengalirkan air liurku ke dalam liang serambi lempit Yama, yang dibantu oleh gerakan jari tengahku.

Dan setelah terasa liang serambi lempit Yama sudah cukup basah, aku pun bergerak sambil memegangi rudalku.

Kuletakkan moncong rudalku tepat di ambang mulut serambi lempit sahabatku. Lalu kudesakkan sekuatnya… uuuuggghhhh… sempit sekali. Padahal sudah kubuat banjir air liur.

Tapi setelah “berjuang mati – matian”, akhirnya berhasil juga aku membenamkan rudalku ke dalam liang serambi lempit Yama. “Liang serambi lempitmu sempit sekali Yam…”

“Ya iyalah,” sahut Yama, “sejak putus dari pacar SMA gue, baru sekaranglah gue merasakannya lagi. Ini juga lantaran lu yang siap menyetubuhi gue. Kalau cowok lain gak bakalan gue mau.”

Lalu aku berbisik ke telinga Yama, “Liang serambi lempit si Gita koq udah gede?!”

“Dia juga sama seperti gue. Cuma salahnya, dia sering pakai dildo hitam yang gede banget. Sambil bayangin dientot sama negro kale. Gue udah ingetin, jangan pakai dildo yang gede gitu, nanti liang serambi lempitnya jadi gede juga. Tapi dia tetep aja pakai dildo hitam yang segede pergelangan tangan itu.”

Aku cuma tersenyum. Lalu mulai mengayun rudalku di dalam liang serambi lempit Yama yang sempit menjepit ini.

Terasa… sangat terasa bedanya serambi lempit Yama dengan serambi lempit Gita. Sehingga aku pun bisa menikmati semuanya dengan penuh gairah.

Bahkan ketika aku mulai gencar memenyetubuhinya, aku pun meremas toket kanan Yama sambil menjilati leher jenjangnya disertai gigitan – gigitan kecil.

Yama pun mulai merintih – rintih histeris, Cheeeepiii… oooohhhhh… Cheppppiii… oooo… ooooooooohhhhhhhh… rudalmu luar biasa enaknya Cheeeep… ooooohhhhh… udah dua tahun gue berpuasa dari rudal. Sekalinya merasakan lagi… dapet belalai gajaaaah…”

Ketika sedang bersama Bu Shanti di ruang fitnessnya, pikiranku masih melayang – layang. Aku memang mengagumi rumah dosenku ini yang serba lengkap. Ada fitness room di bagian belakangnya, ada pula kolam renangnya. Sehingga aku mulai punya cita – cita, kalau aku sudah punya rumah sendiri, aku ingin rumah itu lengkap seperti rumah dosenku ini.

Fitness room ini benar – benar private fitness room. Karena menurut pengakuan Bu Shanti sendiri, pintunya selalu dikunci kalau dia sedang latihan sambil telanjang, seperti sekarang ini. Bahkan kolam renangnya pun tertutup, tak bisa dilihat dari luar. Sehingga Bu Shanti bisa berenang dalam keadaan telanjang bulat, tanpa takut ada orang yang melihatnya.

Menurut pengakuan Bu Shanti sendiri, ia suka melatih kebugaran fisiknya karena ikut – ikutan pada ibunya. Dia bilang, “Mamaku kelihatan bugar terus, meski usianya sudah kepala empat. Tubuhnya tidak gemuk, tidak buncit dan sebagainya. Sehingga kelihatan seperti baru berumur tigapuluhan. Ya karena rajinnya latihan kebugaran seperti yang kulakukan sekarang ini.

Aku cuma mengangguk – angguk sambil tersenyum. Sementara pikiranku masih menerawang kejadian yang kualami di Jakarta itu.

Tentu saja aku masih ingat semuanya itu, karena peristiwanya baru terjadi beberapa hari yanjg lalu. Aku masih ingat betapa menggelepar – geleparnya Yama di dalam amukan rudalku yang seolah pompa manual, gencar bermaju mundur di dalam liang serambi lempitnya yang sempit menjepit itu.

Kebetulan fisikku sedang fits. Padahal waktu bersetubuh dengan Gita di dalam mobil tadi, aku belum ngecrot. Tapi pada waktu sedang menyetubuhi Yama ini, aku bisa mengontrol diriku sendiri, agar jangan cepat ejakulasi.

Akibatnya, ketika Yama sudah dua kali orgasme, aku masih saja tabah memenyetubuhinya. Ketika Yama kelihatan mau orgasme lagi untuk ketiga kalinya, barulah aku konsentrasi agar bisa ejakulasi pas Yama sedang orgasme lagi.

Dan aku berhasil. Ketika Yama sedang terkejang – kejang, sementara liang serambi lempitnya terasa berkedut – kedut kencang, rudalku pun sedang mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku. Croootttttt… crooottttt… crooootttt… crottttcrottt… crooootttt…

Lalu kami sama – sama terkapar dalam keadaan sama – sama telanjang bulat.

Aku ketiduran saking letihnya.

Dan terbangun ketika merasakan sesuatu yang bergerak – gerak, mengelus – elus rudalku. Ketika kubuka mataku, ternyata Gita sedang menyelomoti rudalku…!

Kubiarkan saja Gita mengoralku. Bahkan ada perasaan kasihan juga karena dia belum bisa menikmati persetubuhan yang perfect denganku.

Begitu trampilnya Gita mengoral rudalku. Mungkin karena dia sering menyelomoti dildo hitam segede pergelangan tangan seperti yang diceritakan oleh Yama tadi.

Setelah rudalku benar – benar ngaceng, Gita merebahkan diri, celentang di samping Yama yang masih terkapar, telungkup seperti tak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya.

“Ayo entot lagi. Yang di mobil tadi sih hitung – hitung foreplay aja,” kata Gita sambil mengusap – usap serambi lempitnya yang bersih dari jembut itu.

“Foreplay tapi orgasme ya,” sahutku sambil merayap ke atas perut Gita yang sudah telanjang bulat. Sambil memegang leher rudalku yang moncongnya sudah kuletakkan di mulut serambi lempit Gita.

Gita tidak menanggapi, karena aku mengakhiri ucapanku dengan mendorong rudalku sekuatnya. Dan… blessss… rudalku membenam lebih dari separohnya. Sehingga aku bisa mulai memenyetubuhinya.

Biar bagaimana Gita adalah sahabat dekatku. Karena itu aku ingin memberikan kepuasan padanya, seperti yang telah kuberikan kepada Yama tadi.

Maka ketika aku mulai memenyetubuhinya, kupagut bibirnya ke dalam lumatanku, yang Gita sambut dengan lumatan pula. Cukup lama kami salin g luimat, sementara rudalku sudah mulai gencar bermaju – mundur di dalam liang serambi lempit Gita.

Di saat lain mulutku mulai nyungsep di leher Gita, untuk menjilatinya disertai dengan gigitan – gigitan kecil, sementara tangan kananku mulai meremas – remas toket kirinya yang… jujur aja kalau soal toket sih punya Gita lebih kencang daripada toket Yama.

Gita pun mulai merintih – rintih histeris. “Aaaaaaah… Cheeepiiii… rudalmu memang luar biasa Cheeeep… terasa sekali menggesek – gesek liang serambi lempitku…”

“Enak mana sama dildo?” tanyaku sambil melambatkan gerakan rudalku sejenak.

“Lu tau gue suka pake dildo?”

“Tau.”

“Alaa… paling juga tau dari si Yama. Memang gue sudah dua tahun suka mainin dildo. Biar gak mikirin cowok mulu. Ayo cepetin lagi menyetubuhinya, jangan pelan gini.”

Aku pun mempercepat lagi ayunan rudalku, sambil menjilati leher Gita sekaligus meremas – remas toket kanannya.

“Aaaaakhhhh… aaaaaaa… aaaaah… iyaaaaa… entot terus yang cepet kayak gini Chep… iyaaaa… iyaaaaa… entot teruuuuusssss… entooot… entoooooooottttttttt… iyaaaa… iyaaaa… iyaaaa… enak Cheeeep… entot teruuuussss… entooooottttt… entoooottttt… ooooooh Cheppiiiii enaaaaak…

Suara Gitga cukup bising, sehingga pada suatu saat kulihat Yama terbangun. Memperhatikan kami yang sedang bersetubuh. Lalu Yama duduk sambil tersenyum – senyum. Bahkan mendekatkan serambi lempitnya ke pipiku dari samping kiri Gita yang sedang meraung – raung histeris.

Tanpa basa – basi kuciumi serambi lempit Yama. Bahkan lalu jari tangan kananku diselinapkan ke dalam liang serambi lempitnya. Lalu digerakkan seperti rudal sedang memenyetubuhi.

Tiba – tiba Gita berkelojotan sambil berdesis, “Ssssshhhhhh… gue mau orga Cheeeeep…!”

Aku pun mempercepat entotanku. Dan… manakala Gita sedang terkejang – kejang, kutancapkan rudalku sedalam mungkin, tanpa menggerakkannya lagi.

“Anjriiiiiitttttt… nikmat sekaliiiiiiiii… !” pekik Gita dengan mata terpejam. Lalu terasa liang serambi lempitnya berkedat – kedut kencang, pertanda sedang mengalami orgasme.

Setelah Gita terkulai lemas, cepat kucabut rudalku dari liang serambi lempitnya. Lalu pindah ke atas perut Yama yang tampak sudah bergairah lagi.

Dengan mudah aku menjebloskan rudalku ke dalam liang serambi lempit Yama, karena liang serambi lempitnya masih basah, bekas orgasme tadi, ditambah lagi dengan permainan jariku ketika sedang bersetubuh dengan Gita tadi.

Yama menyambutku dengan dekapan eratnya di pinggangku. Dengan mata kadang terpejam, kadang terbuka. Di mataku, wajah Yama itu makin cantik saja. Sayang masa lalunya tidak sebaik masa lalu Bu Shanti. Tapi biar bagaimana pun juga serambi lempit Yama ini enak sekali. Aku harus menikmatinya sepuas mungkin.

Terawanganku tentang segala yang pernah terjadi dengan kedua sahabatku itu langsung buyar ketika handphone Bu Shanti terdengar berdering – dering.

Dalam keadaan masih telanjang bulat Bu Shanti memburu handphonenya yang tergeletak di meja kecil sudut fitness room.

“Sttt… dari Mama… !” Bu Shanti menyimpan telunjuk di depan bibirnya. Kemudian membuka percakapan dengan mamanya yang aku tidak tahu. Hanya terdengar Bu Shanti berkata saja… iya Mama… iya Mama Sayang… iyaaaa… iyaaaaa… daag…!

Hanya sebentar Bu Shanti berbicara di dekat handphonenya. Dan setelah hubungan seluler dengan ibunya ditutup, Bu Shanti mengambil kimononya yang tergantung di kapstok, lalu mengenakannya sambil berkata, “Mamaku sedang dalam perjalanan dari Jakarta menuju ke sini.”

“Haaa?! Panjang umur beliau ya,” ucapku dalam kaget, “baru tadi diomongin, sekarang sudah mau ke sini. Terus aku harus gimana? Apakah aku harus standby di sini atau harus pulang aja?”

“Sayang,” sahut memegang sepasang pipiku, “maaf ya, aku bukan ngusir. Tapi sebaiknya kamu pulang dulu, biar jangan banyak pertanyaan dari mamaku nanti.”

“Oke, aku mengerti Mam.”

“Tapi besok sore, sebaiknya ke sini lagi. Biar bisa kenalan sama mamaku. Mudah – mudahan aja suasananya sudah menjadi nyaman. Aku memang mau berterus terang sudah punya calon suami, yaitu kamu Pap. Kamu gak keberatan kalau kusebutkan sebagai calon suami?”

“Iya, silakan aja. Pokoknya Mamie atur aja deh mana yang tebaik bagi Mami.”

“Nanti kita bicara by phone aja ya. Sekarang aku harusa siap – siap dulu menyambut kedatangan Mama yang sudah dekat. Katanya sih sejam lagi juga pasti tiba di sini.”

“Oke. Kalau gitu aku mau pulang aja sekarang ya,” ucapku yang disusul dengan kecupan hangat di bibir Bu Shanti.

“Take care honey,” ucap Bu Shanti sambil menepuk bahuku.

“You too,” sahutku sambil melangkah ke garasi, untuk mengeluarkan mobilku.

Diiringi kissbye dan lambaian tangan Bu Shanti, mobilku kujalankan ke luar pekarangan rumah dosenku. Setelah menginjak jalan aspal, kubunyikan klakson, sebagai tanda pamitan. Bu Shanti pun melambaikan tangannya lagi yang kubalas dengan lambaian tangan dsan kissbye ku.

Tak lama kemudian mobilku sudah berlari di jalan raya menuju pulang ke rumah.

Di sepanjang perjalanan menuju rumah, aku memikirkan apa yang akan terjadi dengan Bu Shanti kelak? Apakah ibunya datang untuk memaksa Bu Shanti agar mau dinikahkan dengan lelaki tua itu atau bagaimana?

Entahlah. Yang jelas aku siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi kelak. Bahkan seandainya aku disuruh menikah dengan Bu Shanti pun, akan kujalani saja. Meski usiaku baru 18 tahun, kalau memang terpaksa harusa menikah, ya menikah saja. Itu sebagai wujud tanggung jawabku, karena aku sudah merenggut keperawanan Bu Shanti (meski pun hal itu atas keinginan Bu Shanti sendiri sebagai protesnya atas rencana perkawinannya dengan lelaki tua itu).

Tapi kalau Bu Shanti tetap harus menikah juga dengan lelaki tua itu, aku tak bisa merintanginya juga. Yah, apa yang akan terjadi, terjadilah.

Setibanya di rumah, kumasukkan mobilku ke garasi. Tampak mobil Papa pun ada di garasi. Membuatku ingat bahwa hari itu adalah haru Sabtu. Papa tentu tidak masuk kantor di hari Sabtu dan Minggu.

Aku sendiri tadinya mau pulang besok, hari Minggu. Tapi karena mamanya Bu Shanti mendadak mau datang, terpaksa aku “mengungsi”. Supaya tidak banyak pertanyaan, kata Bu Shanti.

Mamie menyambutku di dalam garasi. Dengan ciuman mesranya di bibirku, disusul dengan pertanyaannya, “Tadi malem nginep di mana?”

“Di rumah dosen Mam. Tadinya malah harus dua malam nginepnya, karena banyak tugas. Tapi bisa dipersingkat, sehingga bisa pulang lebih cepat,” sahutku berbaur dengan kebohongan.

“Papa terbang ke Medan lagi tuh nanti malam. Barusan dijemput oleh mobil perusahaan yang akan membawanya ke bandara,” kata Mamie.

“Iya,” sahutku sambil tersenyum, “Pantesan Mamie udah senyum – senyum kayak gitu. Kangen ya sama aku?”

“Memang kangen. Tapi ada sesuatu yang lebih penting Sayang.” “Apa tuh yang lebih penting?” “Mamie udah dinyatakan hamil, tapi baru empat minggu.” “Ohya?! “seruku girang. Laluj memeluk dan mengangkat tubuh Mamie, disusul dengan ciuman bertubi – tubi di sepasang pipinya dan di bibirnya.

“Berarti sekitar sembilan bulan lagi kita akan punya anak Sayang.”

“Iya Mam. Aku bahagia sekali mendengarnya,” ucapku sambil menurunkan Mamie lagi. Dan mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah.

Mama langsung membawaku ke dalam kamarnya.

Mamie duduk sambil menyelonjorkan kakinya di atas bed.

“Biasanya orang yang baru hamil suka ngidam dan punya keinginan yang aneh – aneh. Mamie mau apa?” tanyaku sambil duduk di pinggiran bed, sambil mengelus paha Mamie yang terbuka lewat belahan kimononya.

“Belum kepengen apa – apa. Cuma kangen sama rudalmu aja…” sahut Mamie sambil tersenyum dan memegang pergelangan tanganku.

Lalu kami bergumul dengan mesranya.

Memang terasa sekali Mamie sudah kangen padaku, sehingga ketika rudalku dibenamkan ke dalam liang serambi lempitnya, Mamie langsung memeluk leherku. Menciumi bibirku dan berkata, “Mamie memang sudah cinta berat sama kamu sayang.”

Ayunan batang kemaluanku di dalam liang serambi lempit Mamie seolah sudah sama – sama hafal. Mamie sudah hafal tentang “rasa” rudalku, sementara aku pun sudah hafal pada rasa serambi lempit ibu tiriku cantik dan baik hati padaku itu.

Aku pun sudah hafal pada apa yang selalu Mamie inginkan pada waktu sedang kusetubuhi begini. Dia paling sukla kalau dijilati leher dan telinganya. Itu biasa kulakukan sambil meremas dan memainkan pentil toket kanannya.

Maka berkumandanglah desahan – desahan erotis Mamie yang berbaur dengan rintihan dan rengekan histerisnya.

“Oooo… ooooh Chepi… Chepiiii… rudalmu memang luar biasa Cheeeep… mamie sudah tergila – gila oleh entotanmu… enak sekali Cheeepiii…”

Semuanya terjadi dengan penuh nikmat. Karena biar bagaimana pun Mamie adalah sosok yang penuh surprise bagiku. Sosok yang kugilai sejak aku masih di SMP dan akhirnya kudapatkan setelah aku menjadi mahasiswa.

Diam – diam aku mulai menghitung sosok – sosok yang pernah kugauli selama ini. Sudah ada 6 orang. Mamie, Mama, Bi Caca, Bu Shanti, Gita dan Yama.

Cukup banyak. Tapi kalau dibandingkan dengan pengakuan teman karibku yang bernama Hendra itu, aku masih kalah jauh. Hendra hanya lebih tua 2 tahun dariku. Tapi pengalamannya sudah segudang. Dia mengaku sudah menggauli 23 orang perempuan. Tentu saja semuanya perempuan baik – baik, maksudnya bukan PSK, amatir dan sebangsanya, karena kami sama – sama tak mau menyentuh perempuan nakal.

Setelah aku dan Mamie sama – sama terkapar, aku masih sempat bertanya poadanya, “Bagaimana sikap Papa setelah tau Mamie mulai hamil?”

“Senang sekali,” sahut Mamie, “terutama karena mamie dihamili oleh anak kandungnya sendiri. Darah dagingnya sendiri.”

“Nggak keliatan cemburu sedikit pun?” tanyaku.

“Kalau orang luar yang menghamili mamie, tentu Papa bakal cemburu. Tapi karena yang menghamili mamie anak kesayangannya, Papa malah tampak bahagia.”

Tiba – tiba handphoneku berdenting. Itu adalah WA dari Bu Shanti, karena bunyi notificationnya kubedakan dengan notification dari yang lain. Tapi aku tak mau langsung membukanya, takut Mamie menanyakan WA dari siapa dan aku susah membohonginya.

Setelah bersih – bersih dan berada di dalam kamarku, barulah kubuka WA dari Bu Shanti itu. Isinya :

-Sayang, ternyata mamaku sudah setuju kalau dirimu dijadikan calon suamiku. Tapi dia ingin bertemu dulu denganmu. Besok kan hari Minggu. Bisa kan datang ke rumahku pagi – pagi? Tapi ingat, jangan ngomong kalau kita pernah berhubungan sex ya –

Kujawab singkat : -Siap Mam –

Setelah meletakkan handphoneku di atas meja tulis, aku merebahkan diri sambil menerawang jauh ke depan. Aku memang sudah menyiapkan mentalku, jika pada suatu saat aku harus menikah juga dengan Bu Shanti, aku akan menyetujuinya. Tapi setahuku, Bu Shanti akan mengambil program S3 dulu, baru mau menikah.

Yah… pokoknya aku akan mengikuti arus air saja, mengalir dari hulu ke muara. Gak rugi juga aku menikah dengan perempuan yang 8 tahun lebih tua dariku. Terlebih lagi kalau mengingat bahwa Bu Shanti takkan menyusahkanku, karena dia sudah punya pekerjaan terhormat, sebagai dosen di kampusku. Sudah punya rumah yang mentereng pula.

Esok paginya, setelah sarapan pagi aku pun mengeluarkan mobilku, menuju rumah Bu Shanti yang terletak di luar kota itu.

Ketika mobilku sudah memasuki pekarangan rumah Bu Shanti, dosenku yang cantik itu sudah berdiri di ambang pintu depan, dengan senyum manis menghiasi bibir sensualnya.

“Suasananya sudah benar – benar clear?” tanyaku setengah berbisik.

“Yang jelas Mama sudah menyerahkan kep;utusannya padaku sendiri. Gak maksa harus menikah dengan lelaki tua itu lagi,” sahut Bu Shanti, “Ayo masuk.”

Aku pun melangkah masuk ke dalam rumah dosenku, lalu duduk di sofa ruang tamu.

Bu Shanti masuk ke dalam. Tak lama kemudian dia muncul lagi, lalu duduk di sampingku sambil menyerahkan sepucuk surat dengan amplop berlogo kampusku.

“Apa ini?” tanyaku heran.

“Surat tugas dari rektor,” sahutnya, “Besok aku harus terbang ke Singapore, untuk mengikuti seminar. Coba baca aja sendiri, biar jelas.”

Lalu kukeluarkan surat dari dalam amplop berlogo kampus itu. Dan kubaca isinya.

“Cuma berdua dengan Bu Nia?”

“Iya. Seperti yang tertera di surfat itu, aku akan berada di Singapore selama seminggu. Mau ngawal aku ke sana?”

“Aku belum punya paspor. Lagian kalau kuliahku ditinggalkan gimana?”

“Ohya… begini aja. Supaya hati Mama benar – benar tenang dan nyhaman, selama aku di Singapore, Papie tidur di sini aja ya.”

“Tidur di sini?”

“Iya. Yang penting malam aja. Supaya ada cowok yang memberikan rasa aman kepada mamaku. Siang dan sorenya sih mau seharian di luar juga gak apa – apa. Jadik kuliahnya berangkat dari rumah ini. Bisa kan Sayang?”

“Bisa,” sahutku, “tapi aku harus ngomong dulu sama orang tua.”

“Tentu aja. Semingguan di sini tentu bikin cemas ortu kalau gak minta ijin dulu. Besok pagi saja datangnya ke sini. Aku mau berangkat siang kok. Terbangnya dari Jakarta jam enam sore.”

“Mau dianterin ke Jakarta?”

“Gak usah. Kan pakai mobil kampus. Yang penting jagain Mama dan bikin dia kerasan di sini. Kalau gak kerasan entar pergi begitu saja. Lalu laporan sama Papa yang nggak enak.”

Belum sempat aku menanggapi ucapan Bu Shanti, muncul seorang wanita bule berperawakan tinggi tegap. Hmm… itu pasti mamanya Bu Shanti. Benar p- benar bule ibunya itu. Dan seperti kata Bu Shanti kemaren, ibunya itu tampak seperti wanita tigapuluh tahunan, padahal usianya sudah kepala empat.

“Mama… ini kenalin sama pacarku yang kuceritakan itu,” kata Bu Shanti sambil berdiri. Aku pun ikut berdiri. Membungkuk dan menjabat tangan wanita yang tak kalah cantik dari anaknya itu, dengan sikap sopan: “Chepi…” ucapku mengenalkan namaku.

“Aleta, “mamanya Bu Shanti mengenalkan namanya juga dengan senyum di bibir, tapi dengan mata seperti sedang menyelidik, “Pacarmu masih sangat muda Shanti, “ia menoleh ke arah Bu Shanti.

“Yang penting jiwanya sudah dewasa Mam,” sahut Bu Shanti. “Tapi dia kan masih kuliah.” “Gak masalah Mam. Orang sudah punya cucu juga ada yang baru masuk kuliah.” “Terus rencana kalian mau menikah kapan?” “Kalau Chepi sih siap menikah kapan aja. Masalahnya justru ada di aku,” kata Bu Shanti, “aku mau mengambil es-tiga dulu. Setelah dapet es-tiga, aku siap kawin Mam.”

“Iya, iya, iyaaa… mama sih setuju saja. Mudah – mudahan papamu juga bisa menyetujuinya. Terus rencanamu besok mau berangkat jam berapa?” tanya mamanya Bu Shanti yang aku belum tau harus menyebut apa. Nyebut tante atau ibu atau apa?

“Dari sini berangkatnya siang. Terbangnya dari Jakarta jam setengah tujuh malam.”

“Lalu mama di sini sama siapa selama kamu di Singapore? Masa cuma sama bediende? “(bediende = pembokat/pelayan)

“Ohya… selama aku berada di Singapore, Chepi mau tidur di sini Mam.” “Betul begitu Chep?” mamanya Bu Shanti menoleh padaku. “Betul Tante,” sahutku.

“Panggil mama aja deh. Kamu kan calon menantuku,” kata mamanya Bu Shanti. Maka untuk selanjutnya aku akan memanggilnya Mama atau lengkapnya Mama Aleta (supaya tidak tertukar dengan mama kandungku).

Lalu kami ngobrol ke barat ke timur. Tapi pembicaraan diborong oleh Bu Shanti dan mamanya, sementara aku leb ih banyak jadi pendengar yang baik saja.

Esok paginya aku membekal pakaian agak banyak di dalam tasku. Dan pamitan pada Mamie. Bahwa aku disuruh nungguin rumah dosen yang mau seminar di Singapore. Aku juga bilang bahwa dosen yang satu itu sangat menentukan bagiku di kampus. Karena itu aku ingin berbaik – baik dengannya.

Mamie cuma mengangguk – angguk dan mengiyakan. Tanpa bertanya apakah dosen itu lelaki atau perempuan.

Lalu aku berangkat ke rumah Bu Shanti.

Setibanya di rumah Bu Shanti, aku ikut membantunya untuk packing barang – barang yang mau dibawa ke Singapore. Dan secara bisik – bisik Bu Shanti bilang harus begini harus begitu dalam menghadapi wanita bule yang ibu kandungnya itu.

“Kalau dia minta diantar ke mall, antarin aja ya, please,” kata Bu Shanti. “Iya, santai aja Mam. Kalau minta diantar ke daerah wisata gimana?” “Ya kalau Papie gak keberatan, silakan anterin aja. Yang penting hatinya merasa nyaman dan kerasan tinggal di sini. Tapi ini tidak berarti kalau aku mendikte dan main perintah sama kamu Sayang.”

“Ya nggaklah. Beliau kan calon mertuaku Beib.”

Bu Shanti tersenyum. Mengecup bibirku lalu berkata, “Sebenarnya aku ingin bercinta lagi denganmu. Tapi suasana belum mengijinkan. Nanti aja sepulang dari Singapore kita habis – habisan ya.”

“Siap Bu Dosen cantik rupawan…”

Bu Shanti tersenyum manis lagi.

Siangnya, sebuah minibus datang menjemput Bu Shanti. Aku hanya bisa mengantarkannya ke pintu pagar bersama Mama Aleta, sambil melambaikan tangan.

Kebetulan hari itu tidak ada kuliah. Sehingga aku bisa berkata kepada Mama Aleta, “Kalau Mama mau ke mall atau ke mana aja, aku siap mengantarkan Mama.”

Mama Aleta malah mengusap – usap rambutku di ruang tamu sambil berkata, “Kamu baik dan sopan. Tampan pula. Pantaslah Shanti jatuh cinta padamu. Ohya, kamuj kuliah jam berapa? Ini sudah jam satu siang Chep.”

“Kebetulan hari ini gak ada kuliah Mam. Besok juga kuliahnya sore,” sahutku.

“Mama sih udah kangen sama pemandian air panas mineral,” kata Mama Aleta sambil menyhebutkan nama pemandian air panas itu.

“Mama mau ke sana? Ayo kuantarkan sekarang. Mumpung aku gak ada kuliah.” “Beneran nih? Nggak ngerepotin?”

“Nggak Mam. Jangankan ke pemandian air panas. Mama minta diantarkan ke Jakarta juga akan kuantarkan. Asalkan besok sore aku masih bisa kuliah.”

“Ya udah… kita ke pemandian air panas aja sekarang. Tapi harus bawa handuk dan sabun ya?” “Iya, sebaiknya begitu Mam.”

Beberapa saat kemudian Mama Aleta sudah duduk di samping kiriku, dalam sedan hitam yang kukemudikan menuju ke luar kota.

“Enaknya sih ke pemandian air panas itu malam – malam,” kata Mama Aleta ketika mobilku sudah meluncur menuju ke daerah pemandian air panas itu.

“Iya Mam. Kan pemandian air panas itu buka duapuluhempat jam.”

“Betul. Lain kali kalau mau ke sana lagi, harusnya malem – malem. Ohya, Chep… hubunganmu sudah sejauh mana dengan Shanti?”

“Sangat dekat Mam.” “Siapa yang duluan jatuh cinta? Kamu apa Shanti?”

“Aku Mam. Sudah berbulan – bulan kupendam perasaan ini. Tapi akhirnya diucapkan juga. Kebetulan dia juga jatuh hati padaku. Jadi begitulah.”

“Kamu sudah pernah berhubungan seks sama dia?” “Belum Mam,” sahutku berbohong, seperti yang dianjurkan oleh Bu Shanti. “Masa?!” “Betul Mam.” “Perlu mama ajarin supaya bisa memuaskan Shanti kelak? Hihihiii…” “Haaa?! Diajarin gimana Mam?” “Ah masa kamu gak ngerti?! Mmm… di matamu, mama sama Shanti cantikan mana?”

Aku bingung menjawabnya. Kok ada ya seorang ibu ingin dibandingkan kecantikan dengan anaknya. Tapi aku berusaha menjawab sejujur mungkin, “Mama sama Shanti sama cantiknya. Cuma Mama punya nilai plus di mataku.”

“Apa itu nilai plusnya?” “Mama lebih itu… mmm… berat ngomonginnya.” “Ah cuma ditanya segitu aja pakai berat segala. Mama jadi penasaran nih. Apa nilai plus mama Chep?” “Mama… mmm… Mama lebih seksi.”

“Ohya?! Terima kasih ya,” ucap Mama Aleta yang dilanjutkan dengan kecupan hangatnya di pipi kiriku, membuatku terkejut. Lalu pikiranku jadi ngelantur ke mana – mana.

Lebih dari itu, Mama pun menggenggam tangan kiriku sambil berkata, “Nanti sepulangnya dari pemandian air panas, mama ajarin kamu ya…”

“Mau ngajarin aku dalam soal apa Mam?” tanyaku ingin mendapat kejelasan. “Dalam soal seks. Kamu mau kan diajarin masalah seks?” “Teorinya atau mmm… atau prakteknya Mam?” “Dua – duanya.” “Wah… mungkin Mama mau menjebakku. Ingin menguji kesetiaanku pada Shanti ya Mam?”

“Mama tidak selicik itu Chep. Bahkan kalau kamu diajarin prakteknya nanti, jangan sampai Shanti tau nanti.”

Pikiranku semakin tak menentu. Seandainya Mama Aleta punya niat yang sebenarnya padaku, tentu saja aku takkan menolaknya.

“Apa motivasi Mama sehingga mau mengajariku dalam masalah seks?” tanyaku.

“Supaya kamu trampil nantinya. Dan jujur saja… mama juga membutuhkan laki – laki yang masih segar seperti kamu.”

“Jadi nanti kita harus take and give ya mam.” “Ya… take and give di dalam bahasa Belandanya… genomen en gegeven.”

Tak lama kemudian mobilku sudah kuhentikan di areal parkir pemandian air panas mineral yang terkenal ini. Peralatan mandi Mama Aleta dan peralatan mandiku dikeluarkan dan kujinjing menuju loket penjualan tiket. Aku mendahului Mama Aleta membayar tiket masuk, karena jangan sampai beliau yang membayar.

Setelah berada di dekat kolam renang air panas, aku bertanya pada Mama Aleta, “Mau mandi di kolam itu atau mau di kamar mandi?”

Mama Aleta menjawabnya dengan bisikan, “Kalau di kolam kan harus poakai bajku renang. Mama gak bawa baju renang. Di kamar mandi aja.”

“Mau pakai dua kamar apa satu kamar Mam?” “Satu aja. Ngapain dua – dua?”

Lalu kupesan dan kubayar satu kamar mandi.

Beberapa saat kemudian aku dan Mama Aleta sudah berada di dalam kamar mandi yang tertutup dan terkunci. Ada bak mandinya yang hampir menghabiskan lantai kamar mandi ini saking besarnya.

Air panas mineralnya sedang dikucurkan dengan derasnya, sehingga uap pun mengepul dari permukaan air panas yang berasal dari gunung berapi itu.

Mama Aleta seperti tak sabar lagi. Beliau melepaskan blouse putih dan celana panjang corduroy biru tuanya. Disusul dengan pelepasan beha dan celana dalam serba putihnya. Lalu Mama Aleta turun ke bak mandi yan g lebih tepat disebut kolam kecil itu. Padahal airnya baru sebatas lutut.

Sementara aku cuma terlongong menyaksikan betapa indahnya tubuh wanita Belanda itu. Biasanya perempuan yang sudah berumur kepala empat, perutnya suka buncit. Tapi perut Mama Aleta kecil, tidak kelihatan buncit sedikit pun.

Maulidya Rina

Tak dapat kupungkiri bahwa sejak dalam perjalanan menuju pemandian air panas ini rudalku ngaceng terus. Terlebih lagi setelah menyaksikan Mama Aleta telanjang bulat dengan menyiarkan aura seksual yang begitu dahsyatnya. Semakin ngaceng jugalah batang kejantananku ini. Sehingga aku jadi malu melepaskan pakaianku.

Tapi Mama Aleta menegurku. “Ayo lepasin pakaianmu dan turun ke sini. Mau nonton mama telanjang doang?”

Akhirnya kulepaskan busanaku sehelai demi sehelai, sampai telanjang bulat seperti Mama Aleta. Lalu turun ke bak air panas yang airnya sudah setinggi paha Mama Aleta.

Mama Aleta menyambutku dengan memegang rudalku yang sudah ngaceng berat ini. “O my God…! rudalmu panjang gede gini Chep…! Sudah ngaceng pula. Udah kepengen dientotin ke sini ya?” ucap Mama sambil menepuk – nepuk serambi lempitnya yang bersih dari bulu.

“Hehehe… kalau dikasih sie aku takkan menolak Mam.”

“Nanti aja di rumah ya. Jangan di sini. Kan kita hanya boleh seperempat jam berada di dalam kamar mandi ini. Kalau kelamaan bisa pada pingsan nanti. Sekarang sabunin mama dong. Mau?”

“Siap Mam,” sahutku sambil menyambar botol sabun cair Mama Aleta dari bibir bak mandi.

Mama Aleta pun membelakangiku sambil berkata, “Punggungnya dulu Chep.”

Permintaannya. Dan mulai menyabuni punggungnya yang terasa padat kencang. Bokongnya pun terasa padat kencang sekali.

Aku pun teringat ucapan Bu Shanti, bahwa mamanya rajin melakukan kebugaran di tempat fitness. Dan Bu Shanti jadi ikut – ikutan menyukai latihan kebugaran.

Sekarang aku sudah membuktikannya. Betapa padat dan kencangnya tubuh mamanya Bu Shanti yang bule asli ini.

Ketika aku menyabuni bagian depannya, rudalku semakin ngaceng. Karena aku mulai dengan menyabuni sepasang payudaranya yang juga hanya sedikit turun tapi belum kendor.

Yang mengagumkan adalah bahwa serambi lempit Mama Aleta tidak berbulu setitik pun. Mungkin dia melakukan waxing atau mungkin juga mengikuti mode zaman sekarang, membersihkan jembut dan bulu halus dengan sinar laser. Padahal anaknya (Bu Shanti) ada jembutnya, meski digunting pendek – pendek.

Dan ketika tiba giliran serambi lempit Mama Aleta yang mulai kusabuni, tanganku malah kerasan di bagian yang paling indah itu. Bahkan sesekali kuselinapkan jemariku yang bersabun ini ke dalam celah serambi lempit Mama Aleta, sehingga Mama Aleta merengkuh leherku, kemudian menciumi bibirku tanpa berkata – kata sepatah kata pun.

Terlebih setelah Mama Aleta menangkap rudalku, lalu mencolek – colekkan ke celah serambi lempitnya yang sudah licin oleh sabun cair. Ngocoks.com

Tentu saja aku mulai edan eling dibuatnya. Maka tanpa dapat kontrol diri lagi, ketikka terasa kepala rudalku sudah agak masuk ke belahan serambi lempit Mama Aleta, kudesakka rudalku… blessssssss… melesak masuk ke dalam liang serambi lempit Mama Aleta.

“Kok dimasukin? Gak kuat nahan nafsu lagi ya?” ucap Mama Aleta sambil menyandar ke dinding dan mendekap pinggangku.

“Iya Mam… maafkan aku ya… semua ini terlalu erotis buatku…”

Lalu Mama Aleta menepuk – nepuk pantatku sambil berkata, “Ya udah entotin aja. Tapi jangan terlalu lama ya. Kalau kurang kenyang, nanti kita lanjutkan di rumah.”

“Iii… iya Mam… “kuayun rudal ngacengku sambil memeluk leher Mama Aleta disusul dengan pagutannya di bibirku, yang kusambut dengan lumatan penuh gairah.

Mama Aleta terasa sangat bergairah menyambut entotanku. Sementara aku sendiri merasakan sesuatu yang luar biasa. Bahwa liang serambi lempit Mama Aleta begini enaknya, empuk tapi legit. Seperti mengisap – isap moncong rudalku.

Meski sambil berdiri, ternyata menyetubuhi Mama Aleta sangat enak. Karena tinggi badannya nyaris sama dengan tinggi badanku. Padahal tinggi badanku di atas rata – rata bangsaku.

Karena itu aku tak perlu membungkuk waktu memenyetubuhi Mama Aleta ini. Bahkan aku bisa menciumi dan menjilati leher mamanya Bu Shanti ini.

Mama Aleta pun berbisik, “rudalmu luar biasa enaknya Chep… ooooohhhh… ini benar – benar fantastis… ooooh… bisa cepat ejakulasi nggak?”

“Masih lama Mam…”

“Kalau gitu cabut dulu deh rudalmu. Nanti kita lanjutkan di rumah aja yaaa…”

Aku sependapat dengan keinginan Mama Aleta. Karena aku juga merasa takut – takut melakukan semua ini, mengingat kami berada di dalam kamar mandi ini sudah lebih dari seperempat jam. Kalau terlalu lama bisa pingsan karena menghirup uap belerang. Karena itu kucabut rudalku dari liang serambi lempit Mama Aleta.

“Mau dibilas pakai air dingin juga bisa Mam. Ada tempatnya di sini,” kataku.

“Nanti aja deh di rumah. Abis berendam dengan air panas lalu dibilas dengan air dingin kan gak enak,” sahut Mama Aleta sambil menghanduki tubuhnya di luar bak mandi.

Setelah kami sama – sama berpakaian, Mama Aleta mengusap – usap rambutku yang masih basah, sambil berkata, “Sabar ya Chep. Nanti di rumah akan mama kasih sepuasnya. Mau sampai lima enam kali juga mama kasih nanti.”

“Iya Mam,” sahutku sambil tersenyum.

Beberapa saat kemudian aku sudah melarikan mobilku menuju daerah rumah Bu Shanti kembali.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Mama Aleta sambil memegang tangan kiriku dan meremasnya, “Kan walau pun cuma sebentar sudah merasakan serambi lempit mama.”

“Rasanya seperti bermimpi Mam. Karena tak menduga bakal merasakan fantastisnya serambi lempit Mama,” sahutku.

“Sama, mama juga seperti bermimpi, setelah belasan tahun puasa dari seks, tiba – tiba mendapatkan anak muda yang tampan dan menggemaskan ini,” kata Mama Aleta sambil menggerayangi celana jeansku dan berhasil menggenggam rudal di balik celana dalamku.

“Belasan tahun puasa dari seks?”

“Iya,” sahut Mama Aleta sambil mengelus – eslus moncong rudalku yang masih ngaceng karena belum ejakulasi ini, “Papanya Shanti kan sudah belasan tahun impoten.”

“Ohya?!”

“Memang begitulah keadaannya. Gara – gara terjatuh dari motor, bisa jadi begitu. Tulang ekornya retak dan ada tulang punggungnya yang patah. Lalu dirawat di rumah sakit, karena mendadak lumpuh. Setelah dirawat sebulan di rumah sakit, dia bisa jalan lagi. Tapi kejantanannya mengalami disfungsi. Sejak saat itulah dia impoten, sampai sekarang.

“Sudah berusaha ditolong oleh dokter, khusus untuk menyembuhkan impotensinya itu Mam?”

“Sudah ke Filipina segala untuk berusaha menyembuhkannya. Tapi para dokter di sana pun tidak bisa memulihkannya lagi.”

Bersambung… Setibanya di rumah Bu Shanti, Mama Aleta tidak lagi membahas masalah suaminya yang mengalami impotensi itu. Mama Aleta ingin mandi dulu untuk membersihkan badannya dari air mineral mengandung mineral tadi. Maka ia masuk ke dalam kamarnya yang berdampingan dengan kamar Bu Shanti. Sementara aku sendiri masuk ke dalam kamar Bu Shanti seperti yang sudah diuatur oleh pemilik kamar itu tadi siang.

Setelah mandi kukenakan baju kaus putih dan celana pendek abu – abu, tanpa mengenakan celana dalam. Karena aku yakin sebentar lagi aku sama sekali tidak membutuhkan celana dalam…!

Lalu aku duduk di ruang keluarga. Tapi baru sebentar aku duduk di sofa ruang keluarga, pintu kamar Mama Aleta terbuka. Mama Aleta langsung menggapaikan tangannya, “Ke sini aja,” ucapnya.

Aku pun masuk ke dalam kamar Mama Aleta.

Kamar yang ditempati oleh Mama Aleta itu fasilitasnya sama persis dengan kamar Bu Shanti (yang untuk sementara dijadikan kamarku). Ada sebuah bed luas, 1 set sofa putih, televisi layar lebar, kulkas, microwave dan banyak lagi. Kamar mandinya pun sama bagusnya dengan kamar mandi Bu Shanti sendiri.

Saat itu Mama Aleta sudah mengenakan kimono berwarna hitam, sehingga kontras sekali dengan kulitnya yang putih bersih.

Mama Aleta pun mengajakku duduk berdampingan di sofa. “Sekarang kamu nilai mama secara jujur ya. Mama ini seperti apa di dalam pandanganmu. Jawab aja sejujur mungkin. “”Luar biasa Mam. Tadinya kupikir Mama ini sudah tua. Tapi ternyata masih muda sekali.”

“Mama memang sudah empatpuluhlima tahun Chep. Waktu melahirkan Shanti, umur mama sembilanbelas tahun. Sekarang Shanti sudah duapuluhenam tahun kan?”

“Tapi Mama kelihatan masih muda. Bahkan bisa disejajarkan dengan wanita yang di bawah tigapuluhan.”

“Masa sih?!” Mama Aleta tampak senang mendengar ucapanku.

“Betul Mam. Sebagai contoh, ibu kandungku baru berumur tigapuluhdelapan tahun. Tapi Mama kelihatan lebih muda daripada ibuku. Kalau didampingkan, mungkin Mama seperti sebaya dengan ibu tiriku yang usianya baru duapuluhdelapan tahun.”

“Begitu ya? Mmm… jadi mama ini masih menarik bagimu?”

“Kalau aku boleh bicara jujur, Mama ini sangat menggiurkan bagiku.”

Mama Aleta tampak semakin tersanjung. Lalu ia menanggalkan kimono hitamnya, sehingga ia langsung telanjang bulat. Karena ia tidak mengenakan beha mau pun celana dalam di balik kimono hitam itu.

“Ayo lepaskan pakaianmu,” kata Mama Aleta, “Yang tadi belum tuntas kan?”

“Iya Mam,” sahutku sambil melepaskan celana pendek dan baju kausku. Sehingga aku jadi telanjang bulat seperti Mama Aleta.

Mama Aleta yang sudah telanjang bulat itu naik ke atas bed sambil berkata, “Di sini aja Chep. Biar lebih leluasa.”

Aku yang juga sudah telanjang bulat, lalu mengikuti Mama Aleta naik ke atas bed. Dan langsung merayap ke atas perutnya. Harum parfum pun semakin tersiar ke penciumanku, sehingga hasrat birahiku semakin menggila.

Mama Aleta pun menyambutku dengan pelukan hangat dan ciuman yang bertubi – tubi di bibirku.

Lalu terdengar suaranya, “Selama belasan tahun mama belum pernah tergoda oleh lelaki lain, meski suami mama sudah impoten begitu. Tapi hari ini mama sangat tergoda olehmu, Chep.”

Aku cuma tersenyum mendengar pengakuan Mama Aleta itu. Karena aku lebih tertarik untuk mengemut pentil toket kirinya sambil meremas toket kanannya… gila… toketnya masih padat, meski kalau sedang berdiri kelihatan menurun.

Lalu terdengar lagi suara Mama Aleta, “Lakukanlah apa yang mau kamu lakukan pada mama. Jangan sungkan – sungkan ya Chepi…”

Mendengar ucapan yang sangat welcome itu, aku pun melakukan apa yang ingin kulakukan. Bahwa ketika aku sedang mengemut pentil toket Mama Aleta, tanganku langsung melorot ke bawah perutnya… langsung mengusap – usap serambi lempitnya… lalu menyelinapkan jemariku ke dalam celah serambi lempitnya yang hangat dan licin ini.

Awalnya aku hanya menyelinapkan jari tengahku ke dalam liang serambi lempitnya. Lalu kumajumundurkan jari tanganku sampai terasa basah dan licin. Dan “kupindahkan” kebasahannya itu ke kelentitnya yang sebesar kacang kedelai itu. Setelah clitorisnya terasa licin, kugesek-gesek dengan jari tanganku.

Mama Aleta pun mulai menggeliat dengan mata terpejam – pejam.

Tapi tampaknya Mama Aleta sudah tidak sabaran lagi. Ia langsung menangkap rudalku, yang lalu moncongnya dicolek – colekkan ke mulut serambi lempitnya. Sampai pada suatu saat ia memberi isyarat agar aku mendorong rudalku.

Dan… blessssssss… rudalku melesak amblas ke dalam liang serambi lempit Mama Aleta.

“Oooooouuuhhhh… sudah masuk semua Chep… “Mama Aleta merangkul leherku ke dalam pelukannya.

Aku pun langsung mengayun rudalku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Mama Aleta yang “gurih” rasanya.

Mama Aleta pun mulai mendesah – desah sambil menciumi bibirku dengan mesranya, seolah menciumi bibir kekasihnya. “Aaaaaaahhhh… emwuaaaah… aaaaaaahh… emwuaaaah… aaaaaaah… emwuaaaaah… kamu memang tampan sekali Cheeepii… rudalmu juga luar biasa enaknyaaaa… come on… fuck me harder please…

Aku memang mempercepat entotanku. Bahkan kelihatannya Mama Aleta suka kalau aku mendorongnya dengan keras (pada saat rudalku didorong maju). Sehingga menimbulkan bunyi pada serambi lempitnya yang tertepuk dasar rudalku. Plak… srtttt… plak… srtttt… plak… srtttt… plakkk… sretttt …

Untungnya rudalku cukup panjang. Sehingga moncong rudalku terus – terusan menyundul dasar liang serambi lempit Mama Aleta. Padahal konon liang serambi lempit wanita bule itu dalam – dalam. Lebih panjang liangnya. Tapi rudalku bisa mencapai dasar liang serambi lempit Mama Aleta ini.

Aku pun tak mau membiarkan mulut dan tanganku nganggur. Ketika aku meremas toket kanannya, mulutku menjilati leher jenjangnya disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Maka semakin riuh jugalah rintihan – rintihan histeris wanita bule itu.

Bahkan sebelum aku berkeringat, Mama Aleta sudah duluan dibasahi keringatnya. Aroma keringatnya yang bercampur harum parfum malah membuatku semakin bernafsu untuk memenyetubuhinya habis – habisan.

Terkada kuemut dan kujilati pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku digunakan untuk meremas – remas toket kanannya. Bahkan terkadang aku menjilati ketiaknya yang harum deodorant, disertai dengan sedotan – sedotan kuat. Tanpa peduli keringatnya tertelan olehku.

Akhirnya Mama Aleta berkelojotan sambil merintih seperti minta dikasihani, “Oooooohhh… Cheeepiiii… mama sudah mau datang… mau orgasme… Chepppiiii… aaaaauuuuu… aaaa…”

Lalu ia terpejam sambil menahan nafasnya. Dengan tubuh mengejang tegang. Lalu terasa liang serambi lempitnya mengejut – ngejut, diikuti dengan aliran lendir libidonya.

Dan akhirnya terdengar suaranya kembali, “Aaaaaaah… luar biasa indahnya. Terima kasih Chepi… mama akan ikut menyayangimu kelak… ini luar biasa rasanya.”

Tapi aku belum apa – apa. Maka setelah wajah Mama Aleta kelihatan berdarah lagi, aku pun mengayun rudalku kembali. Dalam gerakan cepat, karena liang serambi lempitnya sudah becek sekali.

“Kamu memang gagah perkasa Chep,” ucap Mama Aleta sambil menepuk – nepuk pipiku perlahan, “Kalau begini sie, mama bisa multi orgasme nanti.”

“Silakan aja Mam. Aku senang ikut menikmati wanita orgasme.”

Lalu aku mengayun rudalku dalam gerakan hardcore. Cepat dan keras. Sehingga terdengar bunyi unik dari liang serambi lempit Mama Aleta, sesuai dengan gerakan rudalku.

Stttt… crekkk… stttt… crekkkk… stttt… crekkkk… srttttt… crekkkk…!

Dan begitu seterusnya.

Keringat pun mulai membanjiri tubuhku, bercampur aduk dengan keringat Mama Aleta. Namun aku tetap tabah dan bernafsu untuk memenyetubuhi Mama Aleta habis – habisan. Sehingga Mama Aleta orgasme lagi dan orgasme lagi. Sudah tiga kali dia orgasme.

Namun aku pun sudah tiba di detik – dedtik krusial menjelang puncak kenikmatanku sendiri.

“Nanti… aku ejakulasi di mana Mam?” tanyaku terengah, tanpa menghentikan entotanku.

“Di dalam aja please… aman kok…”

Pada saatr berikutnya, aku menggelepar di atas perut Mama Aleta, sambil menancapkan rudalku sedalam mungkin, rudal yang sedang mengejut – ngejut dan memuntahkan lendir kenikmatanku.

Crotttt… croooooottttt… crottttcrottt… crooootttttt… crooooooooottttttt… crottttt… crooootttt…!

Aku pun terkapar di atas perut Mama Aleta.

Lalu Mama Aleta menciumku disusul dengan bisikan, “Kamu sangat memuaskan Chepi. Jauh lebih memuaskan daripada papanya Shanti. Karena itu, mungkin mama akan tinggal lama di sini. Agar bisa dipuasi olehmu.”

“Asal jangan ketahuan oleh Shanti ya Mam,” sahutku sambil mencabut rudalku dari liang serambi lempit Mama Aleta.

“Tentu saja. Tapi mama kan bisa nyari alesan. Misalnya minta diantar belanja olehmu. Padahal kita akan check in ke hotel.”

“Iya bisa juga kalau begitu Mam. Sekarang kan banyak mall yang ada hotelnya. Jadi Mama bisa belanja beneran dulu, kemudian kita check in ke hotel.”

Esok paginya, Mama Aleta latihan kebugaran di fitness room yang terletak di bagian belakang rumah ini. Lagi – lagi aku tergiur olehnya. Karena Mama Aleta latihan kebugaran dalam keadaan… telanjang bulat…!

Waktu tubuhnya mulai bermandikan keringat, Mama Aleta malah semakin sexy di mataku.

Aku pun mendekati Mama Aleta yang sedang istirahat, dengan tubuh telanjang bermandikan keringat. Namun tiba – tiba handphoneku berdering. Cepat kukeluarkan hapeku dari saku celana trainingku. Ternyata dari Bu Shanti…!

“Sttt… dari Shanti… !” ucapku sambil menyimpan telunjuk di depan bibirku. Kemudian kuterima call dario dosen merangkap kekasihku itu.

Lalu :

Aku: “Hallo Sayang udah di Singapore kan?”

Bu Shanti: “Iya. Aku udah di Singapore. Tapi langsung sibuk mempersiapkan seminar. Jadi baru sekarang sempatnya call Papie.”

Aku: “Gak apa – apa. Yang penting dirimu sehat – sehat aja Beib.” Bu Shanti: “Sehaaat. Lagi di mana nih?” Aku: “Lagi di rumahmu. Kan tugasku harus standby selama dirimu di Singapore Beib.” Bu Shanti: “Gimana keadaan Mama sehat dan ceria gak?” Aku: “Iya. Sehat dan ceria, tak kurang suatu apa pun.”

Bu Shanti: “Sayaaang… Mama itu udah belasan tahun gak pernah disentuh lelaki, sejak papaku impoten.”

Aku (pura – pura belum tahu) : “Ohya?!”

Bu Shanti: “Iya. Kasian kan. Kalau bisa sih coba deketin dia. Sukur – sukur kalau bisa sampai terjadi hubungan sex. Aku ijinkan deh kalau sama Mama sih.”

Aku: “Beib… kamu ini ngomong apa sih? Kok bicara begitu?”

Bu Shanti: “Aku bicara secara fair dan open minded kok. Mama itu butuh sentuhan lelaki. Kalau dirimu tidak keberatan, coba rayu deh sampai dapat. Biar dia kerasan tinggal di rumah kita. Lagian supaya dia mendukungku untuk menikah dengan dirimu Sayang. Bilang aja kamu udah dapat ijin dariku gitu.”

Sebenarnya aku senang sekali mendengar saran dari Bu Shanti itu. Tapi aku masih bersikap seperti belum setuju pada sarannya itu. Padahal yang disarankannya itu sudah terjadi.

Maka kataku: “Nanti aku pikirkan dulu positif dan negatifnya, ya Beib. Ohya… sebentar… aku mau terima telepon dari mamaku dulu ya Beib. Nanti kutelepon balik kalau sudah selesai menerima telepon dari mamaku.”

“Iya… iya… titip salam aja buat mamamu, dari calon menantu gitu. Hihihiiii…”

“Siiip! See you…”

Hubungan seluler dengan Bu Shanti ditutup. Sebenarnya hanya akal – akalanku saja, bilang ada telepon dari mamaku. Padahal sebenarnya aku ingin memberitahu Mama Aleta tentang isi pembicaraanku dengan anaknya barusan. Karena tadi aku tidak mengeluarkan suara Bu Shanti lewat speaker. Jadi pasti Mama Aleta tidak tahu apa yang kubicarakan dengan anaknya tadi.

Lalu kuhampiri Mama Aleta yang tengah menghanduki tubuh telanjangnya.

“Ada berita gembira Mam,” ucapku sambil mencium leher Mama Aleta yang mengkilap karena keringat. Tapi aromanya justru merangsang nafsuku.

“Berita apa?” tanyanya dengan sorot penasaran.

Lalu kuceritakan isi pembicaraanku dengan anak Mama Aleta barusan.

“Masa dia ngomong begitu?” Mama Aleta seperti kurang percaya.

“Kalau Mama gak percaya, aku telepon dia sekarang ya. Suaranya akan dikeluarin ke speaker, biar Mama bisa ikut mendengarkan. Tapi Mama jangan bersuara ya. Aku mau ngomong sedang sendirian dan Mama sedang tiduran di kamarnya. Oke?”

“Oke, “Mama Aleta mengangguk.

Lalu aku memijat nomor hape Bu Shanti lewat sambungan internasional. Suaranya kukeluarkan lewat speaker supaya Mama Aleta bisa ikut mendengarkan.

Kemudian :

Bu Shanti: “Hallo Sayang…”

Aku: “Hallo juga. Pembicaraan tadi belum selesai Beib. Coba sekarang perjelas lagi. Supaya aku ngggak salah langkah.”

Bu Shanti: “Pokoknya aku ingin agar Chepi mendekati Mama yang sudah belasan tahun tidak merasakan sentuhan lelaki. Sedangkan Mama itu masih full of passion. Aku sering memikirkan hal itu. Dan sekarang kebetulan ada Chepi, bisa kujadikan tempat minta tolong.”

Aku: “Terus aku harus ngapain aja?”

Bu Shanti: “Ah… kayak bukan mahasiswa aja. Masa harus ngomong mendetail tentang soal ini? Kesimpulannya aja ya… kamu harus memuasi gairah Mama.”

Aku: “Berarti aku harus berhubungan sex dengan mamamu?”

Bu Shanti: “Ya begitulah. Tapi kalau Mama gak mau, jangan dipaksa.”

Aku: “Memangnya Mamie gak cemburu kalau sampai terjadi hal sejauh itu dengan mamamu?”

Bu Shanti: “Kalau sama orang lain, pasti aku cemburu. Tapi kalau dengan Mama, aku tiakkan cemburu. Karena Mama itu yang mengandung dan melahirkan ke dunia ini. Lalu merawatku dari bayi sampai sedewasa ini, dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan. Masa aku tak mau berkorban sedikit pun untuk kebahagiaan Mama?

“Setelah Mamie pulang dari Singapore juga, aku diijinkan untuk melakukannya dengan Mama?”

Bu Shanti: “Kuijinkan. Anggap aja aku dan Mama istri pertama dan kedua. Wanita yang dipolygami saja banyak yang rukun kan?”

Aku: “Enak dong aku… punya serambi lempitmu dan serambi lempit Mama… hihihihiii…”

Bu Shanti: “Iya. Tapi cukupkan Mama dan diriku aja ya. Jangan nyari cewek lain lagi.”

Setelah hubungan seluler dengan Bu Shanti ditutup, aku menoleh kepada Mama Aleta yang sudah membelit tubuhnya dengan handuk.

“Sudah jelas kan?” tanyaku, “Dia malah menganjurkanku untuk menggauli Mama. Dia minta agar aku menganggap punya istri dua. Mama dan dia.”

Mama Aleta memeluk dan menciumi sepasang pipiku. “Shanti memang anak yang sangat menyayangi mama…”

Tampak mata Mama Aleta berlinang – linang. Mungkin dia bahagia bercampur terharu setelah mendengar suara anaknya lewat hapeku tadi.

Melihat air mata yang menetes dari kelopak mata Mama Aleta, kuseka dengan kertas tissue yang kotaknya tersedia di dinding.

Tapi tahukah Mama Aleta bahwa aku mendadak teringat mama kandungku sendiri?

Apakah aku tidak kangen kepada Mama kandungku dan tak pernah lagi mendatangi rumahnya? Bukankah aku sudah berjanji bahwa setelah punya mobil aku bisa sering sering datang ke rumahnya?

O, tentu saja aku selalu menepati janjiku. Setiap kali hari libur atau kalau sedang tidak ada kuliah aku selalu mendatangi rumah Mama, untuk meredakan perasaan kangenku kepada beliau sebagai seorang anak kepada ibu kandungnya. Sekaligus sebagai seorang lelaki muda kepada wanita yang bisa dijadikan penyaluran nafsu birahiku.

Ya, biar bagaimana pun Mama adalah the best bagiku, dalam segalanya. Baik dalam kelembutan dan kasih sayangnya, dalam hal kecantikannya dan dalam kelezatan… serambi lempitnya…!

Bahkan pada suatu malam Sabtu, sepulangnya kuliah malam, aku langsung memacu mobilku menuju kampung Mama. Karena aku ingin menghabiskan weekend di rumah ibu kandung tercintaku.

Aku baru tiba di depan rumah Mama ketika jam tanganku sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tapi Mama sendiri yang membuka pintu depan, dalam kimono putihnya.

“Belum tidur Mam?” tanyaku setelah mencium tangan dan cipika – cipiki di ambang pintu depan.

“Belum. Lagi ingat kamu terus dari siang tadi,” sahut Mama sambil menutup dan menguncikan kembali pintu depan setelah kami berada di dalam.

“Aku juga makanya ke sini lagi ingat terus sama Mama. Makanya pulang kuliah malam langsung ke sini,” kataku sambil duduk di sofa ruang keluarga.

Mama pun duduk di samping kiriku. Yang kusambut dengan melingkarkan lengan kiriku ke pinggang Mama.

“Perasaan Mama jadi agak langsing sekarang,” ucapku sambil menyelinapkan tangan kananku ke balik kimono Mama. Dan mengusap – usap perutnya yang semakin kempes rasanya.

“Kan kamu yang menganjurkan agar mama mengurangi makan nasi, supaya jangan banyak makan yang mengandung karbohidrat. Mama juga sekarang jadi sering senam. Malu sama anak sekaqligus kekasih mama yang bernama Chepi ini,” sahut Mama sambil menggelitik pinggangku.

Pada saat itulah tanganku sudah meraba – raba serambi lempit Mama yang tidak bercelana dalam. Karena Mama terbiasa, kalau mau tidur tak pernah mengenakan beha mau pun celana dalam. Biar gak mengganggu pernafasan, katanya.

Aku pun langsung duduk di karpet, di antara kedua paha putih mulus Mama.

Mama pun mengerti apa yang akan kulakukan. Ia merenggangkan jarak kedua pahanya, sambil memajukan bokongnya jadi di pinggiran sofa. Sehingga serambi lempitnya yang senantiasa dicukur bersih berhadapan dengan mulutku yang siap untuk menjilatinya.

Dua – tiga detik kemudian mulutku sudah nyungsep di permukaan serambi lempit mama yang senantiasa mengobarkan gairah dalam jiwaku.

Mama mengelus – elus rambutku sambil merintih perlahan, “Ooo… ooooohhh… Chepiiii… mama makin sayang saja sama kamu Naaaak… ooooh… kamu adalah segalanya buat mama sekarang Cheeeep… ooooh… ooooh… Cheeepiiii…”

Setelah terasa serambi lempit Mama basah kuyup oleh air liurku bercampur dengan lendir libidonya, mungkin, aku pun spontan berlutut sambil memegang rudalku yang sudah ngaceng berat ini.

Tapi Mama spontan menarik pergelangan tanganku sambil berdiri dan melangkah bergegas ke dalam kamarnya sambil berkata, “Di kamar aja biar leluasa Sayang…”

Mama setengah melompat ke atas bed barunya yang mewah dan sangat mahal harganya. Kemudian ia menelentang sambil merenggangkan kedua belah pahanya dan mengusap – usap serambi lempitnya.

Aku pun merayap ke atas perut Mama sambil meletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit Mama yang sudah ternganga.

Dengan sekali dorong, rudalku langsung amblas ke dalam liang serambi lempit Mama yang sudah becek oleh air liurku… blessss… sssskkkkk…!

Mama ternganga sambil mendekap pinggangku. “Aaaaaaaah… baru sekali ini bisa langsung masuk semua ya Chep… rudalmu memang jauh lebih gagah daripada rudal papamu…! Ayo entotin…”

Aku memagut bibir Mama. Kemudian melumatnya sambil mengayun rudalku, bermaju – mundur di dalam liang serambi lempit Mama yang luar biasa enaknya.

Seperti biasa, Mama pun tak mau berdiam dikri. Bokongnya mulai bergeol – geol menyerupai angka 8. Memutar – mutar dan meliuk – liuk. Membuat rudalku serasa dibesot – besot oleh dinding liang serambi lempitnya yang bergerinjal – gerinjal seperti barisan telur ayam yang masih ada di dalam perutnya (belum dikeluarkan).

Inilah yang membuatku selalu merem melek dan berdengus – dengus setiap kali memenyetubuhi mama kandung tercintaku ini.

Mama sendiri memang selalu lupa daratan ketika sedang kusetubuhi. Sehingga dia sering merintih terlalu keras, sehingga aku harus menyumpal mulutnya dengan telapak tanganku.

Sementara batang kejantananku maju – mundur terus di dalam liang serambi lempit Mama. Tanpa peduli bahwa liang yang sedang kuentot itu adalah liang yang melahirkan aku ke dunia.

O, betapa jahanamnya aku ini. Tapi kenapa aku merasakan keindahan yang luar biasa di balik kejahanaman ini?

Aku tahu bahwa Mama terkadang seperti mengalami kontradiksi dalam jiwanya ketika selesai kusetubuhi. Terkadang juga kulihat ada genangan air mata di kelopak matanya yang kearab – araban. Ya… aku seolah berhasil memuasi hasrat seks beliau. Tapi kenapa ada tetesan air mata? Apakah setelah beliau merasa puas, muncul penyesalan yang mendalam karena baru saja digauli oleh anak kandungnya?

Namun Mama seperti menindas perasaan menyesal itu dengan mengajakku bersetubuh lagi untuk kedua dan ketiga kalinya. Dan Mama seperti berhasil menindas perasaan sesal itu dengan kenikmatan kedua, ketiga dan seterusnya.

Begitulah. Meski aku hanya menginap semalam di kampung Mama, sedikitnya aku menyetubuhi Mama tiga kali.

Namun saat itu ada yang lain dari biasanya. Sebelum tidur, Mama berkata, “Kamu masih ingat Tante Aini, adik bungsu Mama?”

“Wah… ingat – ingat lupa Mam. Setahuku Mama punya adik banyak kan?” tanyaku.

“Iya. Adik mama ada delapan orang. Enam perempuan dan dua laki – laki. Tante Aini itu adik bungsu mama,” jawab Mama.

“Sebentar… adik – adik mama itu siapa saja namanya?” tanyaku, “Aku malah sudah gak ingat lagi.” “Nama adik – adik mama itu yang perempuan bernama Dahma, Iqrah, Hibba, Rafna, Shaza dan yang bungsu Aini. Yang laki – laki bernama Bahrul dan Salam.”

“Namanya aneh – aneh ya Mam. Nama Mama sendiri Hafza kan?” “Iya, semuanya kepakistan-pakistanan. Karena nenekmu orang Pakistan.” “Oh… iya ya. Ibu Mama orang Pakistan ya.” “Iya.” “Terus ada apa dengan Tante Aini?”

“Dia itu jadi istri pengusaha minyak Arab yang kaya raya. Tapi dijadikan istri keempat. Walau pun begitu Tante Aini sangat dimanjakan oleh suaminya, karena dia itu istri termuda. Pokoknya di usia yang masih sangat muda, harta Tante Aini sudah berlimpah ruah. Dan dia sering nanyain kamu, ingin bertemu denganmu, karena ada sesuatu yang sangat penting, katanya.

“Yang penting apa ya?”

“Katanya sih ingin ngajak bisnis sama kamu. Mungkin ingin memutar uang yang berlimpah ruah itu. Mungkin dia ingin punya tangan kanan, orang yang bisa dipercaya.”

Mendengar kata “bisnis”, aku langsung tertarik. “Dia tinggal di mana Mam?” tanyaku.

“Dia sekota denganmu.” “Kalau memang penting, kenapa gak datang ke rumah aja? Apalagi sekota denganku gitu.”

“Mama juga udah nyuruh temui kamu di rumah papamu. Tapi gak enak katanya. Karena mama sudah bukan istri papamu lagi. Tapi besok juga dia akan ke sini. Jangan pulang dulu sebelum Tante Aini datang ya.”

“Memangnya dia sudah janji mau datang besok?”

“Tadi waktu mama lihat lampu mobilmu muncul, sebelum membuka pintu depan mama ngirim WA dulu padanya. Bilang bahwa kamu sudah datang. Lalu dia balas bahwa besok akan datang ke sini katanya.”

“Iya Mam.”

Mama mengecup pipiku, lalu berkata, “Ya udah, kita bobo yuk.”

“Iya Mam,” sahutku sambil meletakkan tanganku di perut Mama. Perut yang pernah mengandung diriku. Lalu merayap ke bawah. Tapi ditepiskan oleh Mama.

“Jangan megang serambi lempit mama lagi dong. Nanti ujung – ujungnya mama bisa horny lagi.” “Kalau horny lagi ya menyetubuhi lagi aja.”

Mama memegang rudalku dan berkata, “Iiiih… rudalmu udah ngaceng lagi Chep?!”

“Iya Mam. Kalau berdekatan dengan Mama, spontan birahiku membara…” sahutku yang masih telanjang bulat, seperti Mama.

“Jujur, mama juga seperti itu Sayang. Ayo masukin lagi aja rudalmu,” kata Mama sambil menyingkirkan selimut yang tadi menyelimuti ketelanjangan kami berdua. Tanpa basa – basi lagi kubenamkan rudalku ke dalam liang serambi lempit Mama. Lalu mulai memenyetubuhi Mama lagi.

Mama pun meladeniku dengan lincah. Meremas – remas rambut dan bahuku. Pantatnya pun mulai bergoyang karawang lagi. Sehingga rudalku terombang – ambing dan terbesot – besot dengan serunya.

Ini adalah persetubuhan ronde keempat bagiku. Dengan sendirinya durasiku sangat lama. sampai jham dinding beredentang lima kali (pertanda sudah jam lima pagi), rudalku masih bergerak seperti pompa. Maju mundur maju mundur dan maju mundur terus di dalam liang serambi lempit Mama yang luar biasa enaknya ini.

Tubuh kami pun sudah bermandikan keringat lagi. Namun kami tak peduli.

Akhirnya kubenamkan rudalku sedalam mungkin, tanpa kugerakkan lagi. Disusul dengan mengejut – ngejutnya rudalku yang tengah memuntahkan lendir kenikmatanku.

Croootttt… croooottttt… crooootttt… croooottttttttt… crotttttt… crooootttt…!

Lalu kami sama – sama terkapar. Dan tertidur dengan nyenyaknya. Tanpa peduli pada ketelanjangan kami lagi.

Jam duabelas siang aku masih tertidur, tapi dibangunkan Mama, “Sayang… bangun Sayaaang… Tante Aini sedang menuju ke sini… ayo mandi dulu… !”

Aku membuka mata. Menggeliat dan melihat ke jam dinding. Kaget juga setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 12.15 siang.

Aku pun turun dari bed dan langsung melangkah ke kamar mandi Mama, dalam keadaan masih telanjang bulat.

Setelah mandi, kukenakan celana pendek putih dengan baju kaus berwarna hitam. Kemudian aku melangkah ke ruang makan. Ada roti bakar isi daging dua tangkep yang masih hangat.

“Ini boleh kumakan Mam?” tanyaku pada Mama yang sudah mengenakan busana muslim berhijab serba hitam.

“Iya, itu kan sengaja mama bikin buatmu sebelum mama bangunkan tadi,” sahut Mama, “Minumnya apa? Kopi pahit seperti biasa?”

“Iya Mam. Yang kental ya Mam. Biar jangan ngantuk.” “Iya Sayang,” sahut Mama sambil melangkah ke dapur.

Tak lama kemudian Mama sudah muncul lagi dengan secangkir kopi di tangannya. Kopi iktu diletakkan di atas meja makan. Lalu Mama mengecup pipiku sambil berbisik, “Mama nggak disetubuhi sebulan juga gak apa – apa. Tadi malam kenyang sekali. Sampai semalam suntuk.”

“Kalau aku kangen, pengen menyetubuhi Mama gimana?” “Ya datang aja ke sini. Memang kapan mama pernah nolak? Kecuali kalau Mama sedang haid.” “Heheheee… santai aja Mam. Aku juga kenyang banget kok,” kataku.

Baru aja aku selesai makan kedua tangkep roti bakar isi daging itu, tiba – tiba terdengar bunyi mobil memasuki pekarangan rumah Mama yang sangat luas.

“Nah itu Tante Aini datang. Jemput ke depan gih,” kata Mama sambil masuk ke dalam kamarnya.

Sementara aku melangkah ke ruang depan dan membukakan piuntu depan. Sebuah sedan sport merah sudah terparkir di bawah pohon kersen.

Anjrit… aku punya sedan mahal pemberian Mama. Tapi sedan sport itu jauh lebih mahal. Aku pernah iseng menanyakan harga sedan sport yang sejenis di showroom yang menjual mobil – mobil second. Harganya 16 milyar! Itu harga second. Apalagi harga barunya…!

Seorang wanita muda berpakaian muslimah serba coklat tua dan coklat muda turun dari sedang sport yang membuatku ngiler itu.

Aku pun spontan menghampirinya dan memuji di dalam hatiku, bahwa wanita muda yang adik bungsu Mama itu sangat cantik…!

“Tante Aini?” tanyaku sopan.

Ia menatapku dengan sepasang mata beningnya. “Iya. Kamu Chepi?!” tanyanya.

“Iya Tante,” sahutku sambil mencium tangan kanannya.

Wanita muda berhijab yang kutaksir baru 22-23 tahunan mengepit sepasang pipiku dengan kedua telapak tangannya yang hyalus dan hangat. “Chepi… setelah gede kamu kok jadi tampan sekali sih?” cetusnya yang disusul dengan ciumannya di sepasang pipiku. Harum parfum mahal pun tersiar ke penciumanku.

“Tante juga cantik sekali, laksana putri raja Arab.”

“Masa?! Jangan bawa – bawa Arab ah. Kita ini punya campuran darah Pakistan. Bukan Arab. Mmm… aku sudah sering nanyain kamu sama mama. Baru sekarang bisa berjumpa ya?”

“Iya Tante. Mari masuk.”

Tante Aini yang jelita itu mengangguk, lalu melangkah di sampingku, masuk ke dalam rumah Mama.

Mama baru keluar dari kamarnya. Kelihatan sudah bermake up sedikit, rambutnya pun tidak acak – acakan seperti tadi.

Mama berpelukan dan cipika – cipiki dengan Tante Aini. Kemudian kami duduk di ruang tamu yang sudah direnovasi oleh Mama, agar tidak terlalu ketinggalan zaman.

Setelah ngobrol singkat tentang masalah keluarga, Tante Aini berkata, “Sekarang kita bicara masalah bisnis ya.”

“Siap Tante.”

Mama langsung berdiri dan berkata, “Silakan aja bahas masalah bisnisnya. Aku mau ke dapur dulu ya.”

“Iya Kak,” sahut Tante Aini sambil tersenyum.

Setelah Mama meninggalkan ruang tamu, Tante Aini berkata padaku. Bahwa pada dasarnya ia membutuhkan orang yang bisa dipercaya untuk mengurus usahanya. Kemudian dia berkata bahwa di kota kami ada rumah yang bisa dijadikan kantor sekalian tempat tinggalku. Tapi urusan yang mendesak adalah, dia ingin agar namaku dipakai untuk perusahaannya yang akan membeli tiga buah kapal tanker dalam keadaan rusak.

“Aku tidak ingin suamiku tau bahwa ketiga kapal tanker itu dibeli olehku. Karena penjualnya teman – teman suamiku sendiri. Sedangkan suamiku takkan mengira aku punya uang sebanyak itu,” kata Tante Aini di tengah penuturannya.

“Lalu kapal – kapal tanker yang sudah pada rusak itu mau dijual sebagai besi tua Tan?”

“Hush bukan! Kalau sekadar mau dijadikan besi tua sih gampang banget. Baik di Jakarta mau pun di Surabaya ada haji Madura yang sudah pada jadi trilyuner sebagai buyer besi tua. Tinggal tawarin ke mereka saja, bisa langsung dibeli.”

“Terus mau diapain nantinya?”

“Begini,” kata Tante Aini, “ketiga kapal tanker itu memang mau dijual murah sekali. Bahkan lebih murah daripada kalau dijadikan besi tua. Maklum orang – orang Arab kan gak mau pusing. Punya mobil rusak di jalan aja bisa mereka tinggalkan begitu saja di pinggir jalan, tanpa diperbaiki. Ketiga kapal tanker itu pun begitu.

“Lalu peranku sebagai apa nanti Tante?” “Kamu harus berperan sebagai pihak pembeli. Tentu saja duitnya dari aku nanti.” “Supaya tidak ketahuan oleh suami Tante bahwa sebenarnya ketiga kapal tanker itu dibeli oleh Tante?” “Betul Sayang. Aku mau percayakan semuanya padamu. Tapi tentu nanti akan kukasihtau ini itunya.” “Jadi aku hanya sebagai wayang ya Tante.”

“Sebagai tangan kananku. Bukan sebagai wayang. Kan pada waktu negosiasi nanti, aku takkan ikut campur. Kamu bisa jalan sendiri kan?”

“Pemilik kapal – kapal itu orang Arab?” “Iya. Kapalnya ada tiga, berarti tiga orang Arabnya.” “Aku gak bisa bahasa Arab Tante.”

“Kan dia selalu membawa orang Indonesia yang bisa berbahasa Arab. Jadi ucapan kita dalam bahasa Indonesia akan diterjemahkan oleh interpreter itu.”

Aku merasa sedang diperhatikan oleh Tante Aini, tapi aku pura – pura tidak menyadarinya saja. Mungkin dia sedang memperhatikan sikapku, apakah aku ini jujur dan cerdas atau tidak.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Siap Tante. Aku akan mencobanya semampuku. Tapi mungkin aku butuh teman, agar aku tidak terlalu sendirian.”

“Boleh. Karena nanti urusan kita bukan cuma kapal – kapal tanker itu. Masih banyak yang bisa kita kerjakan nanti. Yang penting Chepi harus jujur, ulet dan sabar.”

“Siap Tante.” “Sekarang kuliahnya sudah semester berapa?” “Baru semester tiga Tante.” “Ntar dulu… waktu kamu lahir, umurku baru lima tahunan. Berarti sekarang baru delapanbelas tahunan ya.”

“Betul Tante,” sahutku sambil berkata dalam hati – Berarti tepat dugaanku, usianya 23 tahun -.

“Delapanbelas tahun sudah semester tiga. Termasuk cepat juga.”

“Aku lulus SMA pada usia menjelang tujuhbelas tahun. Sekarang semester tiga pun baru dijalani sebulan.”

“Begitu ya. Sudah punya cewek?” “Belum Tante. Mau konsen kuliah dulu.”

“Itu bagus. Cowok setampan kamu, cewek sih gampang dapetinnya nanti, setelah jadi sarjana.”

“Hehehee iya Tante,” sahutku yang merasa malu sendiri. Karena sebenarnya aku sudah punya pengalaman banyak dalam masalah perempuan.

Tante Aini seperti mau ngomong lagi. Tapi keburu datang Mama yang berkata, “Ayo Aini… kita makan dulu seadanya.”

“Aduuuh… Kak Hafza suka repot terus kalau aku datang ke sini ya.” “Walaaah… repot apa cuma nyediain makan adik kesayanganku… ayo Chepi temenin tantemu makan tuh…”

Aku pun bangkit berdiri dan mengikuti langkah Tante Aini menuju ruang makan.

Aneh memang. Perempuan berhijab selalu mendatangkan pesona tersendiri bagiku. Pesona sekaligus rasa penasaran yang jahanam. Karena aku sering membayangkan seperti apa perempuan berhijab itu kalau sudah telanjang bulat di depan mataku?

Pada waktu kami bertiga makan bersama, Tante Aini curhat kepada Mama. Bahwa sebagai istri keempat ia sangat ketinggalan jika dibandingkan dengan ketiga istri lainnya. Ketinggalan dalam soal harta yang dimilikinya. Karena itu ia sedang mengumpulkan harta agar bisa mengejar ketertinggalannya. Dia sering minta uang dalam jumlah banyak kepada suaminya yang sudah berusia 65 tahun itu.

“Aku gak mau menunggu suamiku wafat Kak,” ucapnya waktu curhat kepada Mama sambil makan siang bersama itu. “Karena itu aku akan berusaha mnengejar ketinggalan itu dengan berusaha sendiri. Maka aku akan minta bantuan Chepi untuk mengurus usaha – usahaku. Dan semuanya itu akan diatur dari sebuah rumah yang sekarang masih kosong.

“Silakan aja manfaat tenaga dan pikiran Chepi, Dek. Sekalian aku titip Chepi ya. Tolong ikut pikirkan masa depannya nanti,” sahut Mama, “Karena dia satu – satunya anakku.”

“Iya, iyaaa… tentu saja Chepi harus banyak kemajuannya setelah aktif bersamaku nanti Kak.”

Setelah makan siang selesai, kami melanjutkan obrolan di ruang tamu lagi. Kemudian aku diajak oleh Tante Aini untuk melihat rumah yang katanya masih kosong itu.

Maka aku pun pamitan kepada Mama untuk langsung pulang.

Lalu aku dan Tante Aini menuju rumah yang terletak di kotaku juga itu, dalam mobil masing – masing.

Di belakang setir pikiranku belum fokus ke arah bisnis yang akan ditekuni olehku bersama Tante Aini. Aku malah membayangkan seperti apa tubuh Tante Aini itu kalau sudah ditelanjangi nanti. Dan… diam – diam rudalku ngaceng ketika aku masih mengikuti mobil Tante Aini menuju rumah yang belum pernah kulihat itu.

Tapi… aku harus menepiskan pikiran jahanam itu. Lebih baik aku memusatkan pikiranku kepada bisnis bersama Tante Aini nanti. Soal perempuan sih sudah cukup banyak yang bisa kujadikan pelampiasan nafsuku.

Tertegun aku setelah tiba di depan rumah besar dan megah itu. Begitu megahnya rumah yang kata Tante Aini akan dijadikan kantor sekaligus tempat tinggalku ini. Lalu aku dibawa masuk ke dalam.

Ternyata rumah yang katanya kosong itu sudah lengkap segalanya. Sepintas pun kulihat perlengkapan rumah ini serba mahal.

Di bagian belakangnya ada taman dan kolam renangnya segala. Kolam ikan hias pun ada, tapi masih kering. Kata Tante Aini, kalau aku sudah tinggal di rumah megah ini, silakan kolamnya diisi dengan ikan hias. Mungkin ikan koi cocok untuk dipelihara di kolam yang ditata secara artistik itu.

Ketika aku duduk di bangku kayu jati depan taman, Tante Aini duduk merapat di samping kiriku. “Rumah ini kubangun secara diam – diam tanpa sepengetahuan suamiku. Tadinya akan kupakai untuk istirahat kalau suamiku tidak sedang bersamaku.”

“Kata Tante, istrinya yang tinggal di Indonesia hanya Tante sendiri. Yang lainnya di timur tengah semua. Lalu bagaimana cara menggilirnya?” tanyaku.

“Aku kebagian seminggu dalam sebulan.” sahut Tante Aini. “Jauh sekali jarak antara negaranya dengan Indonesia ya.” “Iya. Tapi dia kan punya pesawat jet pribadi. Kapan pun bisa terbang ke mana saja.”

“Owh… iya ya. Sekarang artis Indonesia aja udah ada yang punya pesawat pribadi. Apalagi pengusaha minyak dari Arab.”

“Bagaimana? Kira – kira kamu nyaman tinggal di sini?” “Nyaman Tante. Sangat nyaman.” “Mmm… begini Chep… sebenarnya ada dua point yang membutuhkan dirimu. Pertama soal bisnis itu. Dan kedua… hihihi… malu mengatakannya…”

“Masalah apa Tante? Kok pakai malu segala?”

“Ketiga istri suamiku sudah punya anak semua. Tinggal aku yang belum. Jadi… ada tugas rahasia buatmu Chep. Kamu mau menghamiliku?” tanya Tante Aini sambil merapatkan pipinya ke pipiku.

“Serius Tante?” tanyaku ragu.

“Masa aku main – main dalam soal sepenting itu. Kamu mau kan menggauliku secara teratur pada saat suamiku sedang menggilir ketiga istrinya?”

“Sekarang Tante?” “Sekarang sih jangan.”

“Kenapa? Aku sudah bersemangat nih Tante,” ucapku pede, karena rudalku pasti bisa ngaceng keras jika harus menyetubuhi Tante Aini.

“Sekarang aku sedang haid. Minggu depan aja kita ketemuan di sini ya. Sekarang kan hari Sabtu, jadi kita ketemuan hari Sabtu yang akan datang. Gimana?”

Aku menunduk sambil berkata, “Iya Tante.”

“Kok kelihatannya kayak yang sedih?” tanya Tante Aini sambil mengusap – usap rambutku.

“Nggak Tante. Tadi aku telanjur bersemangat. Tapi kalau Tante sedang ada halangan gak apa – apa. Biar kupendam aja dulu hasrat dan gairah ini.”

“Karena aku sedang menstruasi, kamu boleh menyelusuri tubuhku dari perut ke atas. Tapi dari perut ke bawah, gak boleh disentuh ya,” kata Tante Aini sambil membuka kancing baju jubahnya yang berada di depan, satu persatu.

Aku cuma mengangguk sambil tersenyum.

Lalu, dengan baju jubah yang sudah terbelah dua di bagian depannya, Tante Aini melingkarkan lengannya di leherku, disertai ucapan setengah berbisik, “Kamu memang tampan sekali Chep. Makanya aku mau melupakan bahwa kamu ini keponakanku.”

Sebagai jawaban, aku pun menyelinapkan tanganku dalam belahan baju jubah berwarna coklat tua itu, lalu mendekap pinggangnya yang hangat, tanpa terhalang apa pun lagi. “Tante juga cantik sekali. Sejak turun dari mobil di depan rumah Mama tadi, aku terkagum – kagum menyaksikan tanteku yang cantik rupawan begini…

Ucapanku terputus karena Tante Aini memagut bibirku ke dalam ciuman hangatnya, yang kusambut dengan lumatan penuh nafsu.

Nafsuku laksana api yang tak terpadamkan ketika saling lumat bi8bir dengan tanteku yang muda dan cantik itu. Terlebih setelah tanganku diijinkan merayapi payudaranya, yang ternyata masih sangat kencang… oooh… jelas ini membuat rudalku semakin ngaceng dan sulit mengendalikannya lagi.

Bukan cuma itu, aku pun sampai tidak menyadari bahwa tangan Tante Aini tahu – tahu sudah menggenggam rudalku yang sudah sangat tegang ini.

“Wow… rudalmu international size Chepi…” bisik Tante Aini yang pentil toketnya sedang kumainkan.

“Pasti gedean rudal Arab lah,” sahutku tersipu, karena rahasiaku sudah terbongkar. Bahwa rudalku sudah ngaceng berat.

“Gak ah. Sama punya suamiku masih gedean dan panjangan punya kamu Chep.” “Masa sih? Kata orang rudal arab gede – gede Tante.”

“Mythos itu sih. Yang luar biasa gede sih rudal negro zaman sekarang mah. rudal arab sih sama aja sama bangsa kita.”

Aku tidak menyahut, karena sedang asyik mengemut pentil toket kirinya sambil meremas toket kanannya yang ternyata masih sangat kencang.

Perawakan Tante Aini berbeda dengan peraWAKAN Mama. Kalau tubuh Mama Tinggi montgok dengan bokong dan sepasang toket gede, tubuh Tante Aini ini proporsional. Tinggi langsing tapi tidak kurus. Kulitnya pun tidak seputih kulit Mama, agak gelap warnanya. Dan wajah Tante Aini itu bukan hanya cantik, tapi sama sekali tidak mirip wajah wanita Indonesia.

“Mau lihat aku telanjang?” tanya Tante Aini tiba – tiba. “Mau… tapi Tante kan lagi haid?” “Lihat aja boleh, asal jangan disentuh.”

Tante Aini melepaskan baju jubahnyha, sehingga tinggal beha dan celana dalam yang masih melekat di tubuhnya. Yang unik adalah bentuk beha dan celana dalamnya itu

(Lihat gambar). Celana dalam dan behanya terbuat dari bahan yang sama, berwarna biru dengan polka dot putih. Behanya berbentuk icon love, dengan ujung lancipnya berada di dekat pusar perutnya. Uniknya lagi, beha dan celana dalamnya itu seperti menyatu lewat tali dari bahan yang sama.

Kemudian Tante Aini menarik kursi yang lalu didudukinya, sambil melepaskan celana dalamnya. Kemudian dia duduk mengangkang sambil memamerkan serambi lempitnya yang plontos, tiada jembut sama sekali. Bahkan serambi lempitnya sampai mengkilap saking bersihnya. Mungkin dia menggunakan wax untuk membersihkan jembutnya.

“Kamu ingin memasukkan rudalmu ke sini kan?” tanya Tante Aini sambil menepuk – nepuk serambi lempitnya dengan senyum menggoda di bibirnya.

“Iya Tante,” Sahutku, “Tapi Tante kan lagi haid?”

“Hihihihiii… aku gak sedang haid. Bahkan sekarang ini sedang dalam masa subur. Aku hanya ingin menguji ketabahanmu aja.”

“Ohya?! Hahahaa… Tante pintar juga mempermainkanku,” ucapku sambil melangkah maju, mendekati kursi yang sedang dipakai duduk mengangkang oleh tanteku itu.

“Aku ingin mengujimu saja. Bukan mempermainkanmu.”

Aku cuma tersenyum, dengan pandangan terpusat ke arah serambi lempit Tante Aini. Lalu aku duduk di lantai, menghadap ke serambi lempit Tante Aini yang sedang duduk mengangkang itu.

“Kenapa kamu duduk di lantai begitu?” tanya Tante Aini. “Pengen jilatin serambi lempit Tante,” sahutku. “Owh… ya udah… jilatin deh sepuasmu…” ucap Tante Aini sambil mmengusap – usap pahanya sendiri.

Tanpa basa basi lagi kuciumi serambi lempit tanteku yang cantik dan baru berusia 23 tahun itu.

“serambi lempitku belum pernah dijilatin Chep…” “Memangnya suamik Tante gak pernah menjilatinya?” “Boro – boro jilatin. megang aja belum pernah.” “Lalu kalau bersetubuh gimana?”

“rudalnya harus kupegangi. Kuarahkan sendiri. Setelah arahnya tepat, kusuruh dia mendorong rudalnya. Begitu selalu kebiasaannya.”

Aku tak menyahut lagi, karena mulai asyik menjilati serambi lempit Tante Aini yang menyiarkan harum parfum mahal ini. Mungkin parfumnya cuma disemprotkan ke selangkangannya, lalu harumnya semerbak ke sana -p sini.

Tante Aini pun mengusap – usap rambutku sambil merintih dan mendesah, “Aaaaaah… aaaaaahhhhh… aaaaaaaah… ternyata enak dijilatin begini ya Chep… enak sekali…” ucap Tante Aini sambil mengusap – usap rambutku.

Terlebih lagi ketika aku mulai lahap menjilati kelentitnya, Tante Aini menggeliat – geliat sambil merintih – rintih… “Ooooh… Chepppiii… apa itu yang kamu jilatin? Itil ya? Ooooh… ini lebih enak lagik Cheeep… jilatin terus itilku Cheeepppiiii… ooooh… jilatin terusssss…”

Bahkan pada suatu saat Tante Ainik berdesis, “Ssssssshhhh… ssssshhhhh… masukin aja rudalmu Cheeep… serambi lempitku sudah basah sekali nih…”

Aku pun berdiri sambil melepaskan celana jeans dan celana dalamku. Bahkan baju kausku pun ditanggalkan. Kemudian dengan agak membungkuk kuletakkan molncong rudalku di ambang mulut serambi lempit Tante Aini.

Dan… bleeessssss… rudalku mulai melesak ke dalam liang serambi lempit tanteku.

“Dudududuuuuuh… terasa benar gedenya rudalmu Cheeep… gak nyangka keponakanku yang tampan ini rudalnya luar biasa…” ucap Tante Aini sambil menarik kedua lipatan lututnya sehingtga kedua lututnya berada di samping sepasang toketnya. Sehingga aku bisa mendorong lagi rudalku sampai mentok di dasar liang serambi lempit Tante Aini.

Sedetik kemudian aku pun sudah mulai memenyetubuhi liang serambi lempit tanteku yang jelita dan masih sangat muda itu. Ternyata liang serambi lempit Tante Aini luar biasa legitnya. rudalku serasa disedot – sedot oleh liang serambi lempitnya, saking legitnya.

Tante Aini pun mulai merintih – rintih histeris.

Namun pada suatu saat ia berkata terengah, “Pindah aja ke dalam kamar Chep. Biar lebih sempurna eweannya.”

Kuikuti saja keinginan Tante Aini itu. Tapi aku enggan melepaskan rudalku dari dalam liang serambi lempitnya. Karena itu kuangkat tubuhnya sedemikian rupa, sehingga rudalku tetap berada di dalam liang serambi lempit tanteku.

Tante Aini memeluk leherku, sementara sepasang toketnya menempel di dadaku. Dan aku menahannya dengan memegang bokong tanteku, sementara rudalku tetap berada di dalam liang serambi lempit Tante Aini.

Kubawa Tante Aini menuju kamar yang pintunya terbuka dan ditunjuk oleh Tante Aini.

Setelah berada di dalam kamar itu, aku masih bisa menggunakan kakiku untguk menutupkan pintu itu, kemudian membawa Tante Aini ke atas bed dengan hati – hati, agar rudalku jangan sampai tercabut dari liang serambi lempit super legitnya.

Sesaat kemudian aku telah mengayun kembali batang kemaluanku, sambil mencium dan melumat bibir Tante Aini.

DI saat lain aku pun bisa meremas toketnya sambil menjilati lehernya yang mulai keringatan, disertai denbgan gigitan – gigitan kecil.

Semakin merintih – rintih juga Tante Aini dibuatnya. “Entot terus Cheeeep… rudalmu luar biasa enaknya Cheeeep… entoooot teruuuuusssssssss… iyaaaaa… iyaaaaa… enak sekali Cheeep… enaaaaaaak…”

Aku pun menanggapinya dengan bisikan, “serambi lempit Tante juga luar biasa legitnya… uuuuughhhh… uuuughhhh…”

Tante Aini memang sangat berbeda dengan Mama. Tubuhnya proporsional segalanya. Toketnya berukuran sedang – sedang saja, gede tidak kecil pun tidak. Bokongnya pun tidak gede – gede amat, tapi indah sekali bentuknya.

Dan yang paling menonjol pada dirinya, adalah rasa liang serambi lempitnya itu. Legit sekali, lebih legit daripada dodol Garut.

Pada waktu rudalku menggedor – gedor liang serambi lempit legitnya, Tante Aini tiada hentinya merintih dan berdesah, dengan mata merem melek pula. “Cheeepiiii… aaaaaaah… Cheeeepiiii… ini luar biasa rasanya… baru sekali ini aku merasakan digauli yang senikmat ini Cheeeep… aku semakin sayang padamu Cheeeepppiii…

Tadi sebelum meninggalkan rumah Mama, aku yakin bahwa semuanya ini takkan terjadi. Mengingat tadi malam aku sudah habis – habisan menggauli Mama. Sampai empat ronde! Karena itu aku kurang pede pada awalnya. Tapi setelah berdekatan dengan Tante Aini, senjata pusakaku ngaceng terus, karena mnenemukan “pemandangan” baru.

Bahkan kini, ketika aku sedang asyik memenyetubuhi Tante Aini ini, aku laksana kebalikan plesetan lagu Jawa… suwe ora ngono, ngono ora suwe… lama tidak begituan, begituan tidak lama. Sementara aku baru saja tadi malam bertarung dengan Mama sampai empat ronde. Maka kini durasi menyetubuhiku jadi lama…

Tante Aini klepek – klepek terus. Orgasme dan orgasme lagi entah sudah berapa kali.

Steleh lebih dari sejam aku menyetubuhi tanteku, akhirnya aku pun tiba di detik – detik krusialku, dengan keringat yang sudah membanjir, bercampur aduk dengan keringat Tante Aini.

“Lepasin di dalam Tante?” “Iyalah. Aku kan pengen hamil olehmu,” sahut Tante Aini sambil mendekap pinggangku dengan eratnya.

Maka kupacu ayunan rudalku secepat mungkin, agar jangan mundur lagi ejakulasinya. Karena aku sudah merasa letih sekali…

Akhirnya kutancapokan batang kemaluanku sedalam mungkin, sampai menabrak dasar liang serambi lempit Tante Aini. Tidak kugerakkan lagi. Dan… rudalku mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.

Crooootttt… croottt… croooottttt… crooottt… croooooooottttttt… crotttt… crooootttttttt…!

Tante Aini menciumi bibirku disusul dengan bisikan, “Terimakasih ya Chepi sayaaang… gak nyangka kamu akan segagah ini menggauliku.”

“serambi lempit Tante luar biasa legitnya,” sahutku setelah mencabut rudalku dari serambi lempit Tante Aini, “Aku bakal ketagihan nanti.”

“Sama, aku juga bakal ketagihan. Tapi kamu kelihatannya udah banyak pengalaman dengan perempuan ya?”

Pengalaman sih ada, tapi hanya dengan satu orang wanita yang usianya jauh lebih tua daripada Tante,” jawabku berbohong. Kalau dia mendesakku, akan kusebut saja seorang pembantu sambil membayangkan Bi Caca.

“Seneng sama tante – tante ya, “Tante Aini mencubit perutku. “Hehehee… sekarang kan sedang bersama seorang tante.” “Itu kan sebutan menurut sirsilah keluarga kita. Padahal aku belum pantes disebut tante kan?” “Memang belum. Tante masih sangat muda, cantik dan… heheheee…” “Dan apa?”

“Enak sekali itunya,” sahutku sambil menunjuk serambi lempit Tante Aini yang sedang diseka dengan kertas tissue basah.

“Syukurlah kalau kamu merasa enak sih. Dan yang penting, aku ingin dihamili oleh ini,” ucap Tante Aini sambil menggenggam rudalku yang sudah lemah lunglai, “Kalau aku sampai hamil… aku akan sangat memanjakanku nanti.”

“Siap Tante.”

Kemudian Tante Aini bersih – bersih di dalam kamar mandi dan mengenakan pakaian lengkap kembali. Aku pun mencuci batang kemaluanku di kamar mandi dan mengenakan pakaian lengkap lagi.

Lalu kami keluar dari kamar. Dan duduk di pinggir taman lagi.

Di situlah Tante Aini membahas masalah bisnis secara keseluruhan. Antara lain juga membahas masalah pavilyun rumah itu yang akan dijadikan kantor dan memang sudah ditata secara layak untuk dijadikan kantor.

Sebelum berpisah, Tante Aini mengeluarkan sebuah amplop besar berwarna coklat. Diserahkannya amplop sebesar map itu padaku sambil berkata, “Ini uang untuk biaya operasionalmu setelah aktif nanti. Carilah sekretaris dan tangan kananmu. Pilihlah orang – orang yang kamu anggap tepat dan bisa dipercaya.

“Siap Tante,” ucapku sambil membuka amplop sebesar map itu.

Wow… ternyata isinya 10 ikat uang dollar pecahan US $100. Berarti jumlah uang itu US $ 100.000. Dan kalau dirupiahkan lebih dari 1 milyar…!

Tapi aku tak mau kelihatan kaget. Takut dianggap katro oleh Tante Aini.

“Cari juga pembokat untuk bersih – bersih rumah dan masak untukmu. Kalau bisa nyari pembantu harus nyari sendiri ke pedesaan. Kalau asal – asalan ngambil dari yayasan, sering mengecewakan, karena baru dua – tiga hariu ada yang minta pulang dan sebagainya. Rekrut juga empat atau lima orang satgpam untuk bergiliran menjaga rumah ini.

“Siap Tante.”

“Ohya, kalau ada kekurangan uang, WA aja ke nomor hapeku. Nanti langsung kutransfer ke rekening tabunganmu.”

“Iya Tante.”

Sebelum berpisah Tante Aini mencium bibirku dengan mesranya. Lalu mengusap – usap rambutku sambil berkata, “Aku sayang sekali padamu Chep.”

“Sama Tante. Aku juga begitu.”

“Ohya… sebelum ada pembantu, kalau mau ninggalkan rumah ini kunci – kunci dulu semua pintunya ya Sayang.”

“Siap Tante,” sahutku dengan sikap hormat. Karena Tante Aini bukan sekadar tanteku, melainkan juga sudah terasa sebagai bossku.

Sebelum masuk ke dalam sedan sportnya, Tante Aini sempat berkata, “Nanti kalau aku sudah hamil dan melahirkan anak kita, aku akan memberikan sesuatu untukmu.”

Terawanganku buyar ketika lututku ditepuk oleh Mama Aleta, “Hai… kok malah ngelamun? Ingat sama Shanti ya?”

“Nggak Mam. Aku cuma agak kaget setelah ingat bahwa siang ini aku ada janji dengan temanku.”

“Lho… janji itu harus ditepati. Kalau tidak bisa memenuhi janji itu, sedikitnya harus memberi kabar,” kata Mama Aleta.

“Mama gak apa – apa kan kalau kutinggalkan sekarang ini?” “Gak apa – apa. Asalkan pulangnya jangan terlalu malam,” sahut Mama Aleta.

Sebenarnya ada sesuatu yang memaksaku untuk meninggalkan rumah Bu Shanti siang ini. Tadi pagi ada telepon dari Papa, menyuruhku menyelidiki Mbak Nindie, kakak seayah beda ibu itu. Kata Papa, “Dia pulang sendiri ke rumah peninggalan ibunya, tanpa suaminya. Tadi dia nelepon papa, dengan suara seperti sedang menangis.

Itulah sebabnya aku meninggalkan rumah Bu Shanti, menuju rumah peninggalan ibunya Mbak Nindie.. Di antara ketiga anak Papa, hanya aku yang masih punya ibu kandung. Ibu kandung Mbak Susie dan Mbak Nindie sudah meninggal.

Ya, Mbak Susie dan Mbak Nindie itu lahir dari satu ibu. Hanya aku yang lahir dari ibu lain. Dengan kata lain, Mbak Susie dan Mbak Nindie itu dahulunya anak tiri Mama.

Berbeda dengan darah yang mengalir di tubuhku, ibunya Mbak Susie dan Mbak Nindie itu asli Jawa. Sehingga aku memanggil mereka dengan sebutan “mbak”. Sementara dari keluarga Mama sama sekali tidak ada yang menggunakan sebutan mbak.

Rumah peninggalan ibunya Mbak Nindie kecil, tapi tanahnya lumayan luas. Terletak di pinggir jalan besar pula. Sehingga aku bisa memasukkan mobilku ke pekarangan rumahnya. Ketika aku turun dari mobil, kulihat Mbak Nindie muncul dan menghampiriku. Kakakku yang berperawakan chubby itu tampak kelopak matanya bengkak.

“Chepi?! Kirain Papa…” ucap Mbak Nindie sambil memelukku. Lalu kami cipika – cipiki. “Papa kan lagi di Medan Mbak. Nanti kalau sudah pulang pasti ke sini.” “Kata Papa, Mamie lagi hamil ya?”

“Iya,” jawabku agak kaget. Karena menanyakan sesuatu yang merupakan buah dari perbuatanku dengan Mamie.

“Kita bakal punya adek dong ya,” ucap Mbak Nindie sambil menuntunku ke dalam rumahnya.

“Iya,” sahutku mengambang. Masalahnya, batinku berkata bahwa yang di dalam perut Mamie itu calon anakku. Bukan calon adikku.

Di dalam rumah peninggalan ibunya Mbak Nindie itu kelihatan serba sederhana. Di ruang tamu hanya ada sebuah dipan jati ditutup dengan sehelai tikar. Tidak ada sofa, tidak ada apa – apa. Di atas dipan bertilamkan tikar itulah kami duduk.

“Mas Purwo gak ikut pulang Mbak?” tanyaku menanyakan suami Mbak Nindie. “Aku sudah cerai dengan dia Chep,” sahut Mbak Nindie sambil memegang pergelangan tanganku. “Cerai? Kenapa? Apa dia main gila dengan perempuan di Ternate?”

“Selentingan yang kudengar sih memang begitu. Tapi yang bikin aku gak tahan, dia sering KDRT. Sedikit – sedikit nempeleng, nonjok dan sebagainya. Makanya aku minta cerai aja.”

“O, begitu ya. Terus anak Mbak dikemanain?” “Tinggalin aja sama dia. Biar dia urus. Aku kan gak punya penghasilan.” “Anak Mbak kan baru satu yang namanya Pipit itu kan?” “Iya. Aku gak mau nambah lagi. Soalnya Mas Purwo itu, aku sedang hamil aja bisa nempeleng dan nendang segala.”

“Wah, lelaki semacam itu sih memang harus ditinggalin Mbak.”

“Iya… hiks… cuma aku inget sama Pipit terus… hiks… “Mbak Nindie memelukku sambil menangis terisak – isak.

Dan… inilah watakku. Ketika Mbak Nindie memelukku ini, pikiranku malah melayang ke satu arah… arah jahanam.

Bahkan aku masih ingat benar, dahulu waktu aku m asih kecil, aku sering ngintip Mbak Nindie mandi…! Dan aku selalu saja merasa terangsang melihat toket gedenya… juga bokong gedenya…!

Tapi aku berusaha menahan diri. Dan bertanya, “Terus, untuk kebutuhan hidup sehari – hari Mbak dari mana?”

“Belum tau. Mungkin mau nyari kerja aja.” “Kerja jadi sekretarisku mau?” “Sekretarismu? Memangnya kedudukanmu sebagai apa sekarang ini?”

“Begini aja. Supaya Mbak jangan nganggap maen – maen, sekarang ganti baju deh. Ikut sama aku ke tempat Mbak akan kukerjakan dengan gaji pantas nanti.”

“Serius Chep?” “Seriuslah. Masa aku mempermainkan Mbak yang sedang dalam suasana murung gitu.” “Sekarang perginya?” “Tahun depan!” sahutku, “Ya sekaranglah. Mumpung aku gak lagi sibuk.”

Mbak Nindie ketawa cekikikan. Lalu masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkanku sendirian di atas dipan keras ini.

Dan… aku mengikuti langkah Mbak Nindie dengan mengendap – endap.

Kebetulan pintu kamar Mbak Nindie hanya ditarik sedikit, tidak sampai tertutup rapat.

Pasti aku akan menyaksikan kakakku yang akan ganti pakaian.

Di dekat pintu kamar Mbak Nindie, kucopot sepatuku, supaya bisa melangkah tanpa bunyi. Lalu aku melongok ke dalam kamar yang pintunya terbuka setengahnya. Maaak… Mbak Nindie sudah melepaskan dasternya dan tinggal mengenakan celana dalam, sementara toket gedenya (yang sejak dahulu mengalirkan air liurku) terbuka penuh.

Kebetulan Mbak Nindie sedang membelakangi pintu, sehingga aku bisa mnelangkah masuk tanpa menimbulkan bunyi.

Aku melangkah mengendap – endap ketika Mbak Nindie sedang memilih pakaian dari dalam lemarinya. Dan setelah aku berada tepat di belakangnya, langsung kujulurkan tanganku untuk menangkap sepasang toketrnya, “Ini dia yang kukhayalkan sejak kecil dahulu …” ucapku sambil mengcakup sepasang toket gewdenya dengan kedua tanganku.

“Chepi…! “seru Mbak Nindie, “Kamu bikin kaget aja iiih…”

Tapi Mbak Nindie tidak meronta sedikit pun. “Mas Purwo memang bodoh. Masa wanita seseksi Mbak ini disia – siakan…”

Mbak Nindie menyahut, “Kamu kan adikku. Jelas aja harus ngebelain kakak. Tapi Mas Purwo yang sedang gila cewek lain, malah semakin garang sikapnya padaku.”

Aku mulai memainkan kedua pentil toket Mbak Nindie meski masih berdiri di belakangnya. Sehingga Mbak Nindie menepiskan kedua tanganku, “Udah ah… nanti kebablasan… kalau aku jadi horny gimana?”

“Sejak kecil aku suka sama toket Mbak. Tapi baru sekarang aku bisa memegangnya,” kataku. “Tapi kalau kelamaan megangnya, lama – lama kamu bisa nafsu lho.” “Sekarang juga aku sudah nafsu Mbak.” “Nah tuh kan? Gak boleh begitu. Aku kan kakakmu.”

Aku malah mendekap pinggang kakakku dari belakang, “Mbak kan sedang kesepian. Apa salahnya kalau kita saling berbagi rasa, mumpung Mbak belum kawin lagi.”

“Tuh kan makin ngaco kamu. Udah tungguin di depan gih. Biar aku bisa dandan dengan tenang,” kata Mbak Nindie.

Kutepuk dulu pantat Mbak Nindie yang gede, lalu poergi ke depan. Duduk di atas dipan lagi sambil mengenakan kembali sepatuku.

Agak lama aku menunggu di atas dipan ruang depan itu.

Namun akhirnya Mbak Nindie muncul juga sambil bertanya, “Mau langsung berangkat sekarang?”

“Iya…” sahutku sambil memandang kakak berbeda ibu yang sudah mengenakan celana jeans dan jaket hitam itu. Entah apa yang dikenakannya di balik jaket itu. Namun yang jelas, dalam pakaian sesimple itu pun Mbak Nindie tetap kelihatan sexy di mataku. Terlebih lagi melihat bibirnya yang sudah dipolesi lipstick tipis itu…

“Kok malah bengong gitu?” tanya Mbak Nindie sambil menepuk bahuku.

“Mbak memang sangat menarik di mataku…” sahutku yang kususul dengan kecupan hangat di pipinya, “emwuaaaah… !”

Mbak Nindie menatapku sambil tersenyum manis dan berkata setengah berbisik, “Kita ini bersaudara Sayang…”

Sesaat kemudian Mbak Nindie sudah duduk di samping kiriku, dalam sedan hitam yang sudah kuluncurkan di atas jalan aspal.

“Mobil ini sebenarnya punya siapa Chep?” tanyanya. “Punyaku.” “Haaa?! Kirain punya Mamie… kan Mamie yang punya mobil seperti ini… tapi warnanya berbeda ya?”

“Kebetulan aja typenya sama cuma beda warna dan tahun dikeluarkannya. Mobil ini lebih muda setahun daripada mobil Mamie.”

“Owh… dikasih sama Papa?” “Hadiah dari Mama. Kan aku sudah diijinkan mengunjungi rumah Mama.” “Wah… kamu sih enak, punya mama kaya. Nggak seperti aku… serba kekurangan.” “Kalau rumahnya dijual kan bisa dibelikan mobil.” “Terus aku tidur di kolong jembatan?”

“Hahahaaa… kalau Mbak mengikuti semua jalan yang kuberikan, aku akan menggantikan peran Mas Purwo untuk membiayai kebutuhan Mbak… bahkan mungkin kehidupan Mbak akan jauh lebih baik daripada waktu menjadi istri Mas Purwo.”

“Asalkan jangan jalan sesat, pasti kuikuti.” “Jalan sesat gimana maksudnya?” “Jalan yang tidak melanggar hukum. Seperti perdagangan narkoba, misalnya.”

“Amit – amit. Aku sih gak pernah menyentuh narkoba Mbak. Merokok juga hanya sekali – sekali. Mana mungkin aku menempuh jalan itu. Semua yang kutempuh, jalan legal Mbak.”

“Syukurlah kalau gitu. Soalnya di zaman sekarang ini banyak yang kaya mendadak. Gak taunya jalan sesat yang ditempuh.”

“Aku lapar. Kita makan dulu ya,” kataku sambil membelokkan mobilku ke pekarangan sebuah rumah makan.

Setelah makan, barulah kulanjutkan lagi perjalanan menuju rumah yang Tante Aini hadiahkan padaku itu.

Tak lama kemudian mobilku sudah memasuki garasi rumah megah itu.

Setelah turun dari mobil, Mbak Nindie tercengang dan bertanya, “Ini rumah siapa Chep?”

“Rumahku. Pemberian adik Mama. Pavilyun itu akan dijadikan kantor yang baru akan dibuka tanggal satu bulan depan. Nanti Mbak bekerja di sana.”

“Pasti adik mamamu itu orang tajir ya. Rumah semegah ini diberikan begitu saja padamu.” “Dia punya suami pengusaha minyak dari salah satu negara Arab di timur tengah.” “Oooo… pantesan. Terus aku mau dijadikan apa di kantormu nanti?” “Mbak akan kujadikan sekretarisku.”

Kemudian kami masuk ke dalam rumah. Mbak Nindie memeluk pinggangku terus pada waktu melihat – lihat keadaan di dalam rumah yang kamarnya banyak ini.

Ketika berada di dalam kitchen yang ditata secara modern dan peralatannya serba mahal ini, Mbak Nindie mendadak berkata, “Aku tugaskan ngurus kitchen aja Chep. Jangan dijadikan sekretaris.”

“Maksud Mbak, ingin jadi juru masak gitu?” “Iya. Aku kan punya hobby masak. Waktu di Ternate juga pernah jadi asisten chef di sebuah restoran.”

“Kalau mau jadi juru masak, kamar Mbak di situ tuh,” kataku sambil menunjuk ke pintu kamar yang berdampingan dengan kitchen.

Lalu kubuka pintu itu. Keadaan di dalamnya memang sama saja dengan kamar – kamar lainnya. Ada kamar mandi tersendiri, yang fasilitasnya serba trend masa kini.

“Waaaah… kamarnya bagus sekali. Aku mau deh pindah ke sini…” ucap Mbak Nindie sambil melepaskan sepatunya, lalu melompat ke atas bed bertilamkan seprai biru muda itu.

“Boleh, sahutku sambil duduk di pinggiran bed. Tapi selama seminggu Mbak harus tinggal sendirian di sini. Karena aku masih banyak urusan yang belum selesai. Berani tinggal sendirian di sini?”

“Berani. Suasananya romantis begini. Pasti kerasan aku tinggal di sini, “Mbak Nindie duduk bersila sambil melepaskan jaket hitamnya.

Oi maaak…! Ternyata di balik jaket hitam itu tidak ada blouse. Tidak ada beha pula. Yang ada cuma penutup dada yang terbuat dari bahan seperti jaring. Sehingga toket Mbak Nindie tampak jelas di mataku.

“Mbak… ooooh… Mbak ini seksi sekali di mataku.” “Kamu seneng toketku kan?”

“Semuanya seneng. Tadi waktu Mbak sedang ganti pakaian, aku sampai sulit bernafas.”

Mbak Nindie tersenyum. Lalu penutup dada yang terbuat dari kain jaring itu ditanggalkan. Celana jeansnya pun ditanggalkan. Sehingga tubuh gempalnya tinggal dilekati celana dalam hitam.

“Ayo deh… sekarang apa yang kamu inginkan akan kuikuti, “Mbak Nindie turun dari bed, lalu berbaring miring di atas sofa kulit berwarna coklat tua. Di situlah ia melepaskan celana dalamnya. Sehingga tubuh chubby-nya tak tertutup sehelai benang pun lagi.

Tanpa banyak basa – basi lagi kutanggalkan seluruh benda yang melekat di tubuhku, sehingga tubuhku jadi telanjang bulat seperti kakakku.

Mbak Nindie terperanjat dan melotot ke arah rudalku yang memang sudah ngaceng sejak di rumahnya tadi. “Edaaaan…! Ternyata rudalmu jadi segede dan sepanjang ini Chep?!” cetusnya sambil menggenggam rudalku.

“Makanya kubilang tadi, mumpung Mbak gak punya suami, apa salahnya kalau kita saling berbagi rasa… saling berbagi keindahan… toh di rumah ini hanya ada kita berdua…”

Mbak Nindie berjongkok di depan kakiku. Sambil memegang dan menciumi rudalku. Dan berdesis, “Gak nyangka rudalmu segede dan sepanjang ini. Padahal waktu masih kecil aku sering mandiin kamu. Pada waktu itu rudalmu masih kecil. Gak taunya sekarang jadi rudal raksasa…”

“Kayak pernah lihat raksasa aja Mbak. Lagian masa dibandingin dengan waktu aku masih kecil. Saat itu tetek Mbak juga belum tumbuh kan?”

“Iya… waktu kamu lahir, umurku baru delapan tahun,” sahut Mbak Nindie.

Ucapannya itu mengingatkanku bahwa Mbak Nindie sekarang sudah berumur 26 tahun. Sedangkan Mbak Susie, setahku 2 tahun lebih tua daripada Mbak Nindie. Berarti Mbak Susie sekarang sudah 28 tahun. Sebaya dengan usia Mamie.

Dalam hal itu aku salut juga kepada Papa, karena berhasil menggaet Mamie yang usianya sebaya dengan Mbak Susie.

Ketika Mbak Nindie bangkit berdiri di depanku, tiada keraguan lagi bagiku untuk mencium bibirnya yang sensual itu. Mbak Nindie pun mendekap piunggangku erat – erat, sehingga terasa rudalku bertempelan ketat dengan serambi lempitnya.

“Kamu hanya ingin mainin toketku atau sekujur tubuhku?” tanya Mbak Nindie setelah ciuman kami terlepas.

“Semuanya dong Mbak. Terutama ini nih,” sahutku sambil mengusap dan mencolek – colek serambi lempit Mbak Nindie yang bersih dari jembut.

“Padahal kita kakak beradik ya,” ucap Mbak Nindie sambil menggelitik pinggangku.

“Tapi kita terlahir dari rahim yang berbeda Mbak.”

“Iya sih,” sahut Mbak Nindie sambil menuntunku ke arah bed, “tapi aku gak mau munafik. Sejak masih di rumahku tadi, aku sudah mulai horny Chep.”

Lalu aku membuka jalan untuk mencairkan suasana. Dengan mendorong Mbak Nindie sampai celentang di atas bed. Lalu aku merayap ke atas perutnya. Untuk mengemut pentil toket kirinya, sedangkan tangan kiriku digunakan untuk meremas toket kanannya.

Kedua lengan Mbak Nindie berada di bokongku, sambil meremas – remas sepasang buah pantatku.

Pada saat kemudian aku mulai melumat bibir Mbak Nindie, sementara tanganku merayap ke bawah perutnya… menjelajahi serambi lempitnya yang bersih dari jembut.

Jari tanganku mulai menyelusup ke dalam liang serambi lempit Mbak Nindie. Membuatnya semakin lahap melumat bibirku. Ngocoks.com

Bahkan pada suatu saat Mbak Nindie membisikiku, “Chep… aku sudah horny berat nih. Langsung masukin aja rudalmu.”

“Tadinya pengen jilatin serambi lempit Mbak dulu.” “Jangan. Nanti hornyku keburu ngedrop. Lain kali kan bisa jilatin serambi lempitku sepuasmu.”

Aku pun bergerak sambil memegang rudalku yang sudah ngaceng berat ini. Sementara Mbak Nindie sudah merentangkan sepasang paha gempalnya selebar mungkin.

Setelah merasa arahnya sudah pas, kudorong sang rudal sekuatnya… uuuugh… masuk sedikit demi sedikit, sampai hampir setengahnya.

Ternyata liang serambi lempit kakakku yang sudah punya anjak satu ini tidak bisa dianggap remeh. Masih sempit dan menjepit. Tak kalah dengan serambi lempit Tante Aini yang sama sekali belum pernah melahirkan.

Mbak Nindie pun langsung memeluk dan mencium bibirku, disusul oleh suaranya setengah berbisik, “Edane rudalmu iki Chep… guede ra ketulungan… !”

Dan ketika aku mulai mengayun batang kemaluanku, terasa benar mantapnya liang serambi lempit kakakku ini. Empuk dan licin tapi luar biasa legitnya.

Maka aku pun berbisik terengah, “Hhh… serambi lempit Mbak luar biasa legitnya… lebih legit daripada jenang…”

“Aku kan rajin minum jamu Chep… oooohhhh… rudalmu juga… enak sekali… lebih enak daripada rudal Mas Purwo… aku jadi takut… takut ketagihan…”

“Bulan depan kita kan bakal tinggal serumah di sini Mbak… kalau perlu bisa tiap malam kita ewean di sini.”

“Hihihihiii… ewean… hihiiihiii… ayo cepetin menyetubuhinya… iyaaaaa… iyaaaaa… entot terus Cheppphhh… entooootttt teruuuuussss… enaaaaak Chepiiii… rudalmu ini… luar biasa enaknyaaaaa… sampai merinding – rinding gini niiiih… entooot terusssss… iyaaaa… iyaaaaa…

Mbak Nindie merintih terus sambil menggoyangkan pinggulnya secara gila – gilaan. Memutar – mutar dan membentuk angka 8. Sehingga rudalku terombang – ambing seperti perahu oleng di tengah samudra. Namun semua ini luar biasa nikmatnya. Karena dinding liang serambi lempit Mbak Nindie yang empuk – empuk hangat itu membesot – besot rudalku dengan binalnya.

Bersambung… Ini membuatku semakin bergairah untuk memenyetubuhi kakak seayah berlainan ibu itu. Aku pun ingin melengkapi gesekan antara rudalku dengan liang serambi lempit Mbak Nindie ini. Dengan menjilati lehernya yang mulai keringatan, disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Sementara tangan kiriku meremas – remas toket kanan kakakku.

Tak cuma itu, terkadang kuemut pentil toket kirinya, sementara tangan kananku tetap meremas – remas toket kanannya. Semakin menggila jugalah geolan – geolan pantatnya yang memutar – mutar, meliuk – liuk dan menghempas – hempas. Dengan goyangan seperti itu, maka dengan sendirinya itil Mbak Nindie bergesdekan terus – menerus dengan rudalku.

Akibatnya… tak lama kemudian Mbak Nindie klepek – klepek, berkelojotan sambil mendekapku erat – erat, seolah takut ditinggalkan olehku.

Kemudian ia mengejang tegang, dengan perut agak terangkat ke atas. Disusul dengan rengekan erotisnya, “Chepiii… aku lepassss… !”

Pada saat itu pula kutancap rudalku sedalam mungkin, sampai menyundul dasar liang serambi lempit Mbak Nindie. Liang serambi lempit yang lalu berkedut – kedut kencang. Lendir libidonya pun terasa membanjiri liang surgawinya.

Nafas Mbak Nindie tertahan selama 2-3 detik. Lalu terdengar elahan nafasnya, “Aaaaaahhhhh… ini luar biasa nikmatnya Sayaaaang… “disusul dengan ciuman mesranya di bibirku.

Aku masih membiarkan rudalku direndam di dalam liang sanggama yang sudah basah sekali ini. “Dengan saudara malah lebih enak daripada dengan orang lain ya?” tanyaku sambil memainkan kedua puting payudara Mbak Nindie.

“Iya… awalnya sih memang risih. Tapi setelah jalan, dientot sama Chepi malah jauh lebih enak daripada sama mantan suamiku sendiri,” sahut Mbak Nindie sambil mendekap pinggangku, “Ayo lanjutin… kamu belum ngecrot kan?”

“Pengen nyobain doggy,” sahutku.

“Ayo… aku juga suka sekali posisi itu. Nanti sambil kemplangin pantatku sekuatnya ya. Aku suka digituin…”

“Iya…” sahutku sambil mencabut rudalku.

Mbak Nindie pun merangkak sambil menungging tinggi, sehingga serambi lempitnya tampak sepenuhnya meski aku berada di belakang bokong gedenya juga.

Sambil berlutut, dengan mudah aku bisa membenamkan rudalku ke dalam liang serambi lempit Mbak Nindie yang masih basah ini.

Mbak Nindie menungging sambil memeluk bantal guling. “Becek ya serambi lempitku?”

“Gak apa – apa. Justru aku seneng serambi lempit becek sehabis orgasme begini,” sahutku sambil mulai mengayun rudalku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Mbak Nindie yang ternyata luar biasa enaknya ini.

Untuk mengikuti keinginannya, kutampar – tampar bokong gede Mbak Nindie. Plak… plakk… plakkk… plakkkk… plakkkk…

“Iya begitu Chep… lebih kencang lagi kalau bisa,” ucap Mbak Nindie. “Nggak sakit?” “Justru sakitnya itu yang bikin nikmat. Ayo kemplangin sekuatmu Chep… !”

Kutanggapi permintaan kakakku dengan mengemplangi kedua buah pantatnya, dengan sekuat tenaga. Plakkk… plooook… plaaaak… plooook… plaaaak… plooook… plaaaak… plooook… Sementara rudalku semakin cepat bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Mbak Nindie yang memang jadi becek sekali ini.

Tapi aku tidak bisa melanjutkan ngemplangin pantat Mbak Nindie, karena telapak tanganku sudah panas rasanya. Maka kupegang saja pinggang kakakku sambil mempergencar entotanku …

**Ku dan Mbak Nindie habis – habisan di kamar yang sudah kuberikan padanya untuk ditempati itu.

Setelah posisi doggy, Mbak Nindie ingin melakukannya dalam posisi WOT. Maka untuk kesekian kalinya dia orgasme dan orgasme lagi. Sampai akhirnya ia minta untuk kembali ke posisi missionary lagi. Dia di bawah, aku di atas.

Dalam posisi missionary ini pun Mbak Nindie memperlihatkan identitasnya. Bahwa ia suka diperlakukan lebih keras daripada semestinya. Ketika aku meremas toketnya, ia berkata, “Remas aja kuat – kuat… jangan nanggung begitu.”

Aku memang ingin meremasnya lebih kuat, tapi tadinya aku tidak tega, takut menyakiti kakakku. Setelah mendapat “instruksi” seperti itu, aku jadi tega meremas toketnya kuat – kuat, sambil menjilati dan menggigit – gigit leher Mbak Nindie.

Mbak Nindie pun merintih dan merintih lagi, “Ooooh… Cheeepiiii… ini luar biasa enaknya Sayaaaaang… sekalian cupangin leherku sebanyak mungkin Chepi Sayaaang…”

“Nanti ada bekasnya gak apa – apa?” “Biarin. Aku kan bakal tinggal di sini… di rumah yang masih kosong ini.” “Mulai minggu depan bakal ada satpam yang menjaga rumah ini Mbak.” “Iya… gak ada satpam juga aku berani tinggal sendirian di sini. Kamu tau kan siapa aku sebelum nikah dahulu?”

“Heheheee… iyaaaa… aku ingat, dahulu Mbak kan pelatih bela diri… baru ingat sekarang… makanya kalau menghadapi tiga orang aja sih Mbak pasti unggul.”

“Ayo cupangin sayaaang… jangan ngobrol dulu…”

Kuikuti keinginan kakakku itu. Ketika rudalku sedang memenyetubuhi liang serambi lempitnya, tanganku sedang meremas – remas toket gedenya, mulutku pun mulai menyedot – nyedot leher Mbak Nindie sekuatnya. Sampai meninggalkan bekas merah kehitaman.

Lebih dari lima cupangan kutinggalkan di leher Mbak Nindie. Kemudian aku konsentrasi ke ayunan rudalku lagi.

Bahkan pada suatu saat aku bertanya terengah, “Aku udah deket – deket ngecrot ni Mbak. Lepasin di mana?”

Mbak Nindie menyahut, “Di dalam serambi lempit aja. Aman kok. Tapi tahan dulu sebentar… aku juga udah mau orga lagi Chep… ooooh… usahakan lepasin bareng – bareng yaaa… biar nikmaaaat…”

Lalu aku mengatur pernafasanku agar jangan dulu ngecrot sampai Mbak Nindie memperlihatkan gejala mau orgasme lagi untuk yang kesekian kalinya.

Sampai pada suatu saat, Mbak Nindie mulai berkelojotan sambil menjambak – jambak rambutku. Aku pun menggencarkan entotanku dalam gerakan yang sangat cepat.

Sampai pada suatu saat, kubenamkan rudalku sedalam mungkin sambil meremas sepasang toket Mbak Nindie kuat – kuat.

Lalu terjadilah sesuatu yang sangat indah itu. Bahwa ketika liang serambi lempit Mbak Nindie mengejut – ngejut, rudalku pun sedang mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.

Crooooottt… crooot… croooooootttttt… croootttt… crotcrot… crooootttttttt…!

Aku pun terkapar di atas perut Mbak Nindie. Dengan tubuh sama – sama bermandikan keringat.

“Kamu luar biasa Chep. Setelah aku berkali – kali orgasme, kamu baru ngecrot,” kata Mbak Nindie sambil memjat hidungku dengan sikap seperti gemas.

“serambi lempit Mbak terlalu enak sih. Sehingga aku sengaja mengulur waktu agar jangan cepat – cepat ejakulasi.”

“Kamu sengaja mengatur pernafasanmu agar durasinya lebih lama ya?”

“Hehehee… iya. Kalau ahli bela diri seperti Mbak, pasti tau apa yang kulakukan,” kataku sambil mencabut rudalku dari liang serambi lempit Mbak Nindie.

Kemudian kami masuk ke kamar mandi. Dan mandi bareng, sambil saling menyabuni dengan cermat serta penuh kasih sayang. Aku tahu Mbak Nindie sejak aku masih kecil sangat menyayangiku bahkan sering juga menghadiahiku mainan anak – anak.

Wajar kalau kami saling menyayangi karena kalau ditanya bin siapa, kami sama – sama bin Imron (nama Papa), meski berlainan ibu.

Pada waktu Mbak Nindie sedang menyabuni tubuhku, ia berkata, “Biar bagaimana pun kita tidak bisa menjadi suami – istri. Karena itu kita tidak boleh menyimpan perasaan cemburu. Karena pada suatu saat baik aku mau pun kamu bakal punya pasangan masing – masing. Aku punya suami lagi, kamu pun punya istri.

“Tapi kita tetap bisa melakukannya di belakang pasangan kita masing – masing kan Mbak.” “Bisa, tapi harus secara rahasia. Agar jangan bikin heboh nantinya.” “Tentu aja. Sekarang pun kita harus merahasiakannya.” “Sebenarnya saat ini ada yang sangat membutuhkanmu Chep.” “Membutuhkan apa?” “Membutuhkan ini,” sahut Mbak Nindie sambil memegang rudalku yang sudah lemas. “Maksud Mbak?” “Mbak Susie tuh yang membutuhkanmu… agar bisa menghamilinya.” “Dia sampai sekarang belum punya anak?” “Belum.” “Dia di Sulawesi kan?” “Sudah di Jakarta bersama suami keduanya.” “Suami kedua?”

“Iya Dengan suaminya yang dahulu sudah bercerai. Lalu kawin lagi dengan seorang pengusaha tajir, tapi sudah tua.”

Kemudian Mbak Nindie menceritakan keadaan Mbak Susie yang sudah lima tahun menikah dengan seorang pengusaha tua dan tidak juga dikaruniai keturunan.

Ucapan Mbak Nindie itu mengingatkanku kepada Tante Aini, yang mengalami nasib sama. Menikah dengan raja minyak, tapi belum punya anak juga. Padahal ketiga istri lainnya sudah pada punya keturunan semua.

“Tapi ingat… jangan ngomong – ngomong ke Papa. Karewna waktu kawin kedua kalinya itu Mbak Susie pakai wali hakim. Bukan Papa walinya. Jadi sampai saat ini Papa belum tau kalau Mbak Susie itu sudah kawin lagi.”

Lalu banyak lagi yang Mbak Nindie ceritakan mengenai Mbak Susie.

Kemudian Mbak Nindie bertanya, “Ohya, mengenai satpam yang mau menjaga rumah dan kantor ini nanti, sudah dapat satpamnya?”

“Belum nyari,” sahutku, “rencananya besok baru akan mendatangi biro jasa yang menyediakan tenaga untuk satpam.”

“Padahal aku bisa merekrut beberapa orang untuk satpam. Semuanya dijamin tangkas, tapi semuanya cewek,” ucap Mbak Nindie.

“Boleh. Mbak aja yang siapin satpamnya ya. Terutama untuk di kantor, tanggal satu bulan depan akan mulai sibuk.”

“Kira – kira butuh berapa orang?” tanya Mbak Nindie.

“Enam atau tujuh orang lah. Lalu dikasih shift, atur aja sama Mbak nanti. Bahkan Mbak sekalian kuangkat menjadi kepala security, bersedia?”

“Nggak apa jadi kepala security merangkap bagian kitchen?” “Boleh – boleh aja. Mbak kan kakakku. Kita bisa atur semuanya.”

“Tapi yang akan kurekrut untuk anggota satpam itu cewek semua. Mereka adalah mantan murid – muridku waktu aku masih aktif menjadi pelatih beladiri dahulu.”

“Yang penting mereka semua mampu mengamankan rumah dan kantor ini. Mau cowok atau cewek boleh aja.”

Sebenarnya aku masih mampu untuk mengajak Mbak Nindie bersetubuh lagi. Tapi aku teringat pada Mama Aleta yang pasti meminta “sesuatu” nanti setelah aku pulang ke rumah Bu Shanti. Karena itu aku meninggalkan Mbak Nindie di rumah hadiah dari Tante Aini itu. Tentu saja aku memberi uang ala kadarnya dulu kepada Mbak Nindie, untuk kebutuhan sehari – harinya di rumah megah itu.

Tentang Mbak Susie, Mbak Nindie bilang bahwa ia akan berunding dulu lewat handphone. Nanti kalau sudah ada persetujuan, pasti Mbak Susie akan meneleponku, yang nomornya akan diberikan oleh Mbak Nindie kepada kakak sulung kami itu.

Setibanya di rumah Bu Shanti, jam baru menunjukkan pukul delapan malam. Jadi aku masih bisa mengikuti permintaan Mama Aleta, agar jangan pulang terlalu malam.

Seperti yang telah kuprediksi sebelumnya, setelah aku mandi malam di kamar Bu Shanti, ternyata Mama Aleta sudah menungguku di ruang keluarga. Dengan senyum seorang wanita yang sedang naik birahi.

Untunglah aku tidak terlalu habis – habisan dengan Mbak Nindie tadi, sehingga aku masih menyisakan spirit dan energi untuk menyetubuhi Mama Aleta.

Bahkan di malam – malam selanjutnya, Mama Aleta selalu menggugahkan kejantananku untuk menggaulinya.

Sampai akhirnya Bu Shanti pulang dari Singapore, dengan oleh – oleh yang cukup banyak.

Tadinya kukira Bu Shanti akan membahas masalah hubunganku dengan Mama Aleta. Tapi ternyata tidak sama sekali. Bu Shanti malah memperlihatkanh surat keputusan universitasnya di UK, bahwa Bu Shanti mendapatkan beasiswa untuk meraih program doctornya di Inggris.

Secara kebetulan di Singapore Bu Shanti ketemu dengan rektornya yang dari Inggris itu. Dan langsung menyatakan persetujuannya untuk memberikan beasiswa kepada Bu Shanti, untuk mengejar program doctornya.

“Kalau diijinkan oleh universitas kita, minggu depan aku akan langsung terbang ke London,” kata Bu Shanti di ujung penuturannya.

Bu Shanti mencium sepasang pipiku, kemudian bertanya, “Kok dari tadi diem aja? Gak setuju kalau aku meraih es-tigaku di Inggris?”

“Aku tak boleh menentang kjemajuanmu Beib. Cuma kebayang aja nanti aku bakal kesepian kalau Mamie sudah terbang ke London. Kan nggak cukup setahun untuk kuliah lagi di sana?!”

“Papie kan banyak duit. Kalau kangen sama aku, terbang aja ke UK.”

“Nggak mungkin bisa Beib. Mulai tanggal satu bulan depan, aku akan sangat sibuk mengurus perujsahaan punya tanteku. Bahkan kuliah pun mungkin akan cuti dulu satu tahun, karena aku akan sangat sibuk di perusahaan nanti.”

“Kalau begitu, ketika kamu sedang kangen sama aku, ada Mama di sini. Mama akan kularang meninggalkan rumjah ini sampai aku menyelesaikan pendidikanku di Inggris nanti. Dia bisa menggantikan peranku kan?”

“Dan Mamie mau kangen – kangenan sama orang bule di Inggris?”

Bu Shanti tampak marah dengan ucapanku itu. “Kamu meragukan kesetiaanku padamu?” tanyanya dengan nada tinggi.

Aku menghela nafas, “Yaaaahhhh… whatever will be, will be.”

Dalam kenyataannya, Bu Shanti terbang juga ke London, karena akhirnya aku mengijinkannya dan bahkan mendukungnya agar cepat mengejar program S3 nya di Inggris.

Aku bahkan mengantarkan Bu Shanti ke bandara Soetta, sampai dia mau boarding.

Setelah Bu Shanti masuk ke dalam, aku pun melambaikan tangan sambil melakukan kiss bye (sun jauh). Kemudian meninggalkan gerbang keberangkatan itu.

Tiba – tiba aku mendengar suara perempuan memanggilku, “Cheepiii… !”

Dengan kaget aku menoleh ke arah datangnya suara itu. Seorang wanita muda bergaun orange dengan motip taburan bintik – bintik putih menghampiriku.

“Mbak Susie?!” sapaku setelah wanita muda itu berdiri di depanku. “Iya… masa lupa sama kakakmu sendiri?” sahutnya sambil merentangkan kedua lengannya.

Tanpa ragu aku pun menghambur ke dalam pelukannya.

Mbak Susie malah tak ragu untuk mencium sepasang piupiku, lalu mencium bibirku dengan hangatnya. “Kamu makin tampan aja Chep… !” ucapnya setelah melepaskan ciumannya.

“Mbak juga makin cantik aja. Dan… tetap muda,” sahutku, “Kalau berdampingan dengan Mbak Nindie, Mbak Susie kelihatan jauh lebih muda.”

“Hush… usiaku sebaya dengan Mamie lho.”

“Tapi kalau Mbak berdampingan dengan Mamie, pasti orang mengira Mbak jauh lebih muda daripada Mamie.”

“Begitu ya… mmm… lagi ngapain ada di sini?” “Abis nganterin dosenku yang mau terbang ke London. Mbak sendiri mau ngapain di sini?” “Abis nganterin suamiku yang mau terbang ke Tashkent. Nanti transit dulu di Dubai.” “Tashkent Uzbekistan?” “Iya. Ibunya kan orang Uzbekistan.” “Owh begitu ya.”

Sebenarnya dalam seminggu belakangan ini aku sering main WA dengan Mbak Susie, tapi gak nyangka b akal ketemu di bandara ini.

“Sekarang kamu mau lanjut ke mana?” “Mau pulang Mbak. Mau ikut?”

“Jangan hari ini. Ada urusan yang harus diselesaikan dulu di rumah. Besok aja kita ketemuan di villaku, di Puncak. Gimana?”

“Boleh. Puncaknya di mana?”

“Dekat Puncak Pass,” sahut Mbak Susie yang lalu menjelaskan letak villa dan ciri – cirinya secara lengkap.

“Besok kan hari Jumat. Jadi sorenya sudah masuk weekend. Kita weekend-an di villaku aja. Oke?” “Iya Mbak. Nanti kalau tersesat, aku call Mbak aja.” “Oke. Kamu nyetir sendiri?” “Iya Mbak.” “Hati – hati di jalan ya. Gak usah ngebut.” “Iya Mbak.”

Kemudian aku mencium tangan dan cipika – cipiki lagi dengan Mbak Susie. Pada saat cipika – cipiki itulah aku mendengar bisikan Mbak Susie, “Aku siap dihamili olehmu Chep.”

“Aku juga siap melakukan yang terbaik buat Mbak,” sahutku sambil tersenyum.

Dalam perjalanan pulang ke kotaku, wajah cantik Mbak Susie terus – terusan membayangi pikiranku. Memang benar usia Mbak Susie sebaya dengan usia Mamie. Tapi dia benar – benar awet muda, sehingga tampak jauh lebih muda daripada Mamie. Apakah karena Mbak Susie belum pernah “turun mesin” melahirkan? Ataukah karena dia selalu merawat tubuh tinggi langsingnya?

Aku tiba di rumah Papa ketika Mamie sudah tidur. Maka aku pun langsung masuk lewat pintu yang kuncinya selalu kubekal, memasukkan mobilku ke garasi dan langsung nyungsep di bedku.

Besok paginya, setelah mandi kuambil dua set pakaian untuk ganti dan kumasukkan ke dalam ranselku. Lalu menghampiri Mamie yang sedang menikmati bubur ayam di ruang makan.

“Jam berapa tadi malam pulang?” tanya Mamie sambil memperhatikanku yang sudah siap pergi lagi.

“Jam setengah dua belas Mam. Sekarang kandungan Mamie udah berapa bulan?”

Tiga bulan kurang seminggu.”

Kucium pipi Mamie lalu membisikinya, “Semoga Mamie dan anak kita tetap sehat sampai lahir dengan selamat dua – duanya.”

“Amiiin,” sahut Mamie, “Ohya… si Keyla suka nanyain tuh. Kayaknya dia naksir kamu Chep.” “Keyla? Siapa itu Keyla?” tanyaku bingung. “Lho… belum kenalan sama sekretaris baru mamie ya?” “Sekretaris baru? Sekretaris Mamie kan Bu Tuti.” “Bu Tuti sudah jadi bagian marketing. Makanya mamie merekrut sekretaris baru. Ya Keyla itu.” “Belakangan ini kamu jarang ada di rumah sih.”

“Iya. Lagian ruang tamu kan udah dijadikan kantor sama Mamie. Aku tiap kali keluar masuk rumah selalu lewat pintu samping. Jadi gak pernah merhatiin suasana di dalam kantor Mamie.”

“Cantik lho Keyla itu. Mamie setuju kalau dia dijadikan pacarmu.”

“Mamie kok ngomongnya gitu. Emangnya Mamie udah gak cinta lagi ya sama aku?”

“Cinta mamie padamu takkan luntur sampai kapan pun. Tapi kita kan hanya sebatas punya hubungan rahasia. Takkan bisa naik ke pelaminan. Makanya mamie akan mendukung kalau ada cewek yang bisa kamu cintai.”

“Sudah ada Mam. Tapi dia baru saja terbang ke Inggris untuk mengejar es-tiganya.” “Ngejar es-tiga? Sudah tua dong.” “Dua tahun lebih muda darik Mamie.” “Kamu lebih suka sama wanita yang usianya lebih tua ya?” “Iya.” “Sejak kapan kamu seperti itu?” “Sejak punya hubungan rahasia sama Mamie.” “Hihihiii kamu… hai… mau ke mana lagi Sayang?” “Mau ke Bogor Mam. Ada urusan perusahaan.” “Ogitu ya. Semoga sukses bisnisnya, ya Sayang.”

Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam sedan hitamku, menuju rumah megah dari Tante Aini itu.

Sebenarnya aku ingin menengok Mbak Nindie yang sudah merekrut 7 orang satpam yang semuanya wanita itu. Tapi sebelum tiba di rumahku, tiba – tiba aku ingat sahabat karibku yang sudah sangat lama tidak berjumpa.

Niko. Ya, Niko itu sahabatku sejak kecil. Tapi sejak aku duduk di bangku SMA sampai sekarang tak pernah berjumpa lagi.

Usia Niko 3 tahun lebih tua dariku. Tapi dia benar – benar sahabatku yang selalu kompak denganku dahulu.

Kalau dia belum punya pekerjaan tetap, apa salahnya kalau aku merekrutnya untuk dijadikan tangan kananku di perusahaan punya Tante Aini itu?

Niko bisa dipercaya dalam segala hal. Aku yakin itu.

Maka mobilku pun dibelokkan arahnya menuju rumah orang tua Niko, yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah hadiah dari Tante Aini itu.

Rumah orang tua Niko masih tetap seperti dahulu. Hanyha cat dindingnya saja yang berubah. Dahulu cat dindingnya berwarna biru langit, sekarang berwarna coklat tua, sesuai dengan pintu dan jendelanya yang terbuat dari kayu jati dan diplitur mengkilap.

Kumasukkan mobilku ke pekarangan rumahnya yang di kanan kirinya ada pohon sirsak, masih seperti dahulu.

Seorang wanita 40 tahunan muncul di ambang pintu depan. Memperhatikanku yang baru turun dari mobilku. Aku masih ingat benar, wanita itu adalah mamanya Niko yang biasa kupanggil Tante Lien.

Setelah menghampirinya di teras depan, Tante Lien seperti sedang mengingat – ingat aku yang sudah lama tidak mengunjungi rumahnya.

“Tante masih ingat saya?” tanyaku dengan sikap sopan. “Siapa ya? Rasa – rasa pernah lihat, tapi lupa lagi,” sahutnya. “Aku Chepi Tante.” “Ya Tuhaaan… kamu Chepi? Sobatnya Niko dahulu?” “Iya Tante,” sahutku sambil menjabat dan mencium tangannya. “O my God! Chepi sekarang sudah gede, jadi jauh berubah. Jadi jauh lebih tampan begini. Ayo masuk Chep.”

Aku mengangguk, lalu masuk ke ruang tamu rumah Tante Lien. Dan duduk di sofa ruang tamu setelah dipersilakan duduk oleh Tante Lien.

“Niko ada Tante?” tanyaku.

“Niko baru aja berangkat kerja,” sahut wanita keturunan Tionghoa itu sambil duduk di sofa yang berhadapan dengan sofaku.

“Owh… udah kerja? Kerja di mana?”

“Cuma jadi buruh pabrik Chep. Setelah ayahnya meninggal, dia nyari kerja dan tidak melanjutkan sekolahnya.”

“Owh, Oom sudah meninggal. Aku ikut prihatin mendengarnya. Kalau tidak salah, Niko melanjutkan sekolahnya ke SMK, ya Tante.”

“Iya. Setamatnya SMK dia langsung nyari kerja. Karena tidak punya uang untuk membiayai kuliah segala macam,” sahut Tante Lien ytang lalu menengok ke dalam sambil berseru, “Nike! Liat nih ada siapa?”

Terdengar suara cewek menyahut dari dalam, “Ya Mam.”

Lalu muncullah seorang cewek tinggi langsing bermata sipit dan cantik sekali. Ia memperhatikanku sebentar lalu berkata ragu, “Ini Chepi bukan?”

“Iya. Apa kabar Nik?” aku berdiri dan berjabatan tangan dengan cewek yang sebaya denganku itu. “I am fine. Duuuh Chepi kok jadi tampan gini sih?! “sambut Nike dengan sikap familiar. “Dari dulu juga tampan kali. Heheheheee… dan kamu… jadi cantik sekali… kayak artis Korea…” “Aku juga dari dulu cantik kok,” sahut Nike sambil duduk di samping ibunya. “Tapi dulu kamu cengeng sekali. Dikit – dikit nangis. Sekarang Nike masih cengeng Tante?” “Nggak dong. Sekarang kan udah gede,” sahut Tante Lien. “Sayang Niko lagi kerja ya. Kalau ada dia pasti rame nih, “sambung Nike.

“Iya. Kangen sekali sama Niko. Tadinya sih mau sekalian ngajak kerja di perusahaanku. Tapi Niko udah kerja ya?”

“Chepi udah punya perusahaan sendiri? Pantesan mobilnya juga mobil keren tuh,” ucap Nike.

“Kalau mau nawarin kerja, mendingan Nike tuh tempatin Chep,” kata Tante Lien, “Dia kan kuliah nggak, kerja juga nggak.”

“Kalau Nike mau, boleh aja,” sahutku. “Perusahaannya bergerak di bidang apa Chep? “tanya Nike.

“Kegiatan utamanya ekspor pakaian ke beberapa negara di Timur Tengah. Nggak ribet kok kerjanya. Cuma ngecek pakaian yang akan dikirim. Perusahaannya baru akan dibuka tanggal satu bulan depan.”

“Terus… kalau aku kerja di perusahaanmu, bakal dijadiin apa?” tanya Nike. “Bisa aktif di komputer gak?” “Bisa dong. Bikin program juga bisa.”

“Aku akan menempatkanmu sebagai sekretaris. Tapi sambil ikut pendidikan sekretaris. Gak usah muluk – muluk, ambil de-satu juga boleh. Biar setahun selesai.”

“Mau… mau! Aku mau jadi sekretaris. Kerjanya kan gak berlepotan kayak Koko Niko.”

“Ya udah. Sebelum tanggal satu bulan depan, datang aja ke alamat ini. Untuk mengikuti pengarahan awal dulu,” kataku sambil menyerahkan secarik kartu nama.

Nike menjemput kartu namaku sambil bertanya, “Boleh tau gak, gajiku berapa nanti?”

“Dua kali lebih besar dari UMR ditambah dengan uang makan.” “Asyiiik… !” wajah cantik Nike tampak ceria. “Tapi kantorku kecil Nik. Cuma satu ruangan. Karyawannya juga hanya sepuluh orang,” kataku. “Nggak apa,” sahut Nike, “Daripada jadi kambing di kandang macan, mending jadi macan di kandang kambing.”

“Hahahaaa… iya juga tuh. Bekerja di perusahaan besar, kalau cuma jadi OG mendingan jadi sekretaris di perusahaan kecil. Tapi kalau perusahaanku ada perkembangan yang positif, bisa saja nanti bangun kantor baru, sesuai dengan kebutuhannya.”

“Berarti mulai sekarang aku harus manggil Boss sama Chepi ya?” “Alaaa… biasa aja. Gak usah terlalu protokoler. Ohya… bahasa Inggrismu lancar?” “Kalau bahasa Inggris sih lancar. Kan sejak masih di SMP aku ikutan kursus bahasa Inggris.”

“Lengkaplah sudah kalau gitu. Soalnya surat – menyurat dengan pihak importir di Timur Tengah menggunakan bahasa Inggris semua.”

“Ohya?! Untung gak pakai bahasa Arab. Kalau pake bahasa Arab, mati aku… !” “Bahasa Mandarin bisa?”

“Cuma sepatah dua patah kata. Kami kan orang hoakiau. Biasanya kalau orang Kek, bisa berbahasa Mandarin,” sahut Nike.

“Ya udah, soal itu sih gak penting,” kataku, “Yang terpenting, ikuti program de-satu kesekretarisan ya. Biaya pendidikannya aku yang nanggung nanti.”

“Siap Boss,” sahut Nike dengan sikap formal.

Aku tersenyum menyaksikan sikap Nike itu. Lalu berkata, “Kalau gitu aku mauj pamit dulu ya.”

“Eee… kenapa buru – buru amat Chep? Disuguhin minum juga belum,” kata Tante Lien. “Biar aja gak usah repot – repot Tante,” sahutku. “Sekarang mau ke kantor?” tanya Nike. “Iya,” sahutku. “Boleh aku ikut? Kan biar tau suasana tempat kerjanya nanti.” “Ayo kalau mau ikut sih,” sahutku.

Beberapa saat kemudian Nike sudah duduk di samping kiriku, dalam mobil yang tengah kukemudikan. Tapi aku tidak langsung menuju rumah dan kantor pemberian Tante Aini itu. Aku membelokkannya di pelataran parkir sebuah rumah makan padang besar.

“Kita sarapan dulu ya. Suka masakan padang gak?” tanyaku. “Suka. Terutama rendang dan gulai kikilnya,” sahut Nike. “Hihihiii… seleramu sama dengan seleraku,” ucapku sambil mematikan mesin mobil. Kemudian kami turun dan masuk ke dalam rumah makan itu.

Kami duduk berhadapan, sehingga aku bisa sepuasnya memperhatikan betapa cantiknya adik Niko itu.

“Kamu udah punya pacar?” tanyaku ketika makanan belum dihidangkan di meja kami. “Nggak punya.” “Masa sih cewek secantik kamu gak punya pacar?!” “Serius,” sahut Nike, “Jadikan aku pacarmu aja Chep.”

Aku agak tersentak mendengar ucapan adik Niko itu. Lalu kataku, “Pacaran doang sih gak ada gunanya. Buang – buang waktu doang. Makanya aku gak nyari calon pacar, tapi calon istri.”

“Ya udah. Jadiin aku calon istrimu.” “Kalau jadi istriku, kamu harus jadi mualaf dulu.” “Siap jadi mualaf. Saudara Mama banyak kok yang jadi mualaf.”

“Serius nih?” tanyaku ragu, karena aku lihat Nike itu cantik sekali. Bahkan mungkin terlalu cantik bagiku. Orang Tionghoa pula. Namun dengan cepat aku membayangkan, kalau Nike jadi istriku… pasti keren…!

“Kita sudah saling kenal sejak bertahun – tahun yang lalu. Masa aku gak serius dalam hal yang sangat penting ini,” sahut Nike.

Maka kujulurkan tanganku di atas meja sambil bertanya, “Berarti kita jadian nih?”

Nike menjabat tanganku sambil, tersenyum manis. “Iya. Mulai saat ini aku siap dijadikan calon istrimu Chep.”

Tangan Nike yang masih memegang tanganku terasa halus dan hangat. Senyum manisnya pun terasa hangat. “Kita sudah lama gak berjumpa, sekalinya ketemu lagi langsung jadian ya?”

“Dan yang nembak duluan aku ya?” “Iya. Kalau kamu gak nembak, aku gak berani nembak duluan.” “Kenapa? “Nike tampak heran.

“Karena kamu cantik sekali… bahkan terlalu cantik bagiku. Jadi takut ditolak.”

Nike tersenyum manis dan berkata perlahan, “Kamu juga tampan sekali Chep… makanya aku nekad nembak duluan. Takut kamu keburu nembak cewek lain.”

“Tapi dari mana kamu yakin bahwa aku belum punya pacar?”

“Dari ucapanmu sendiri,” sahut Nike, “Tadi kamu nanya aku udah punya pacar belum? Pertanyaan seperti itu biasanya diucapkan oleh cowok yang naksir kepada si cewek. Dan berharap sama – sama jomblo.”

“Iya… “gumamku tepat pada saat pelayan menghidangkan makanan di meja kami. Seperti biasa, semua makanan yang ada di rumah makan padang suka dihidangkan. Nanti tinggal menghitung apa saja yang dimakan oleh konsumennya.

Pada waktu makan, seringkali aku memperhatikan wajah Nike. Kalau kebetulan Nike memandangku juga, kami jadi sama – sama tersenyum.

Semua ini memang di luar dugaanku. Bertamu untuk menjumpai Niko, malah mendapatkan adiknya sebagai calon istriku.

Lalu bagaimana dengan Bu Shanti?

Entahlah… setelah Bu Shanti terbang ke Inggris, gairahku jadi melemah. Karena aku punya teman yang ayahnya mengejar S3 di Jerman. Sampai 4 tahun belum pulang – pulang juga.

Lalu kalau Bu Shanti lebih dari 3 tahun berada di Inggris, adakah jaminan bahwa dia masih mencintaiku?

Lagian aku disebut sebagai “calon suami” kepada Mama Aleta hanya sekadar pura – pura belaka. Karena Bu Shanti ingin menghindari perjodohannya dengan lelaki tua itu. Sementara aku sendiri belum pernah menyiapkan mental untuk menjadi seorang suami di usia yang masih “mentah” ini.

Maka kini jadianku dengan Nike, bukanlah suatu pengkhianatan.

Begitu juga setelah makan dan masuk kembali ke dalam mobilku, kuciumi tangan Nike lalu berkembang menjadi ciuman di pipinya, aku tak merasa berkhianat kepada siapa pun.

Ketika kuperkenalkan Nike kepada Mbak Nindie, kelihatannya tiada ketegangan sedikit pun di wajah Mbak Nindie. Terlebih lagi setelah aku berkata kepada Nike, bahwa Mbak Nindie itu kakakku, wajah cantik Nike semakin cemerlang di mataku.

Setelah melihat – lihat ruang kerja Nike nanti, kelihatan sekali Nike bersemangat untuk bekerja di perusahaanku, sekaligus akan menjadi kekasih tercintaku. Ruang kerja Nike itu bersatu dengan ruang kerjaku. Kebetulan di samping pavilyun itu ada ruangan nganggur. Maka aku mnenyuruh tukang tembok untuk menjebol dindingnya dan dipasang pintu menuju pavilyun.

Yang jelas, Nike akan kujadikan “target” seriusku. Bukan sekadar tempat untuk melampiaskan nafsu birahiku.

Kemudian Nike kuantar ke rumahnya kembali. Aku tidak turun, karena harus segera berangkat ke Puncak. Di hari Sabtu begini, biasanya jalan menuju Puncak itu macet. Karena itu aku harus berangkat lebih cepat dari biasanya.

Menjelang jam lima sore, aku baru tiba di depan villa Mbak Susie. Di depan villa yang dikelilingi pagar hidup tinggi (bambu pring) itu, sudah ada mobil yang lebih mahal daripada mobilku. Sama – sama dari Eropa, tapi mobil Mbak Susie made in England, sedangkan mobilku built up Jerman.

Di ambang pintu depan villa tampak Mbak Susie sudah berdiri, dalam gaun dalam yang aduhai… gaun hitam yang sangat transparan. Sehingga aku bisa menyaksikan payudaranya yang takj berbeha, bisa menyaksikan celana dalamnya yang berwarna hitam juga.

Memang sekujur tubuh Mbak Susie jauh berbeda jika dibandingkan dengan Mbak Nindie. Mbak Susie ini berperawakan tinggi langsing. Toketnya pun sedang – sedang saja. Tidak segede toket Mbak Nindie. Namun jelas bahwa Mbak Susie ini awet muda. Sementara wajahnya pun lebih cantik daripada wajah Mbak Nindie.

“Nggak susah ya nyari villa ini walau pun masuk ke dalam jalan kecil?” sapa Mbak Susie dengan senyum manis di bibirnya.

Aku bahkan terlongong menyaksikan kecantikan dan keawet-mudaan kakak seayah berlainan ibu itu.

“Kenapa malah bengong?” tanya Mbak Susie sambil memegang kedua pergelangan tanganku.

“Sulit dipercaya bahwa Mbak seumuran dengan Mamie. Karena Mbak tampak seperti belum duapuluh tahun.”

“Syukurlah kalau aku tampak muda di matamu,” sahut Mbak Susie sambil mengecup bibirku. Lalu mengajakku masuk ke dalam villa.

“Sopirnya nunggu di mana?” tanyaku.

“Aku nyetir sendiri, gak bawa sopir. Soalnya ini kan sangat pfribadi… sangat rahasia. Sebaiknya sopir jangan sampai tau.”

“Iya iyaaa… “tanggapku sambil duduk di sofa ruang tamu villa.

“Rencananya kita mau nginap di sini sampai Senin pagi kan?” tanya Mbak Susie sambil duduk di pangkuanku, menghadap ke arahku. Spontan kurengkuh dan kudekap pinggangnya, untuk menjaga agar jangan sampai dia terjengkang ke belakang.

“Apa pun keputusan Mbak, aku ikut,” sahutku sambil menggores – goreskan bibirku ke bibir Mbak Susie yang sensual. Mbak Susie pun memagut bibirku, lalu melumatnya dengan hangat.

Awalnya aku merasa agak risih. Karena biar bagaimana pun juga Mbak Susie itu adalah kakak sulungku dari pihak Papa. Tapi berkat kelincahan Mbak Susie, suasana pun menjadi cair. Dan tanpa ragu lagi kubopong Mbak Susie menuju pintu kamar yang sudah terbuka, pintu yang Mbak Susie tunjuk.

Di kamar itulah Mbak Susie memperlihatkan toketnya yang tidak besar namun tidak terlalu kecil juga. Bahkan tanpa ragu Mbak Lies melepaskan celana dalam hitamnya, laluj memperlihatkan bentuk kemaluannya yang berjembut pendek – pendek di atas clitorisnya.

“Suamiku melarang menggunduli serambi lempitku. Dia berkeras harus ada jembut yang disisakan seperti ini,” kata Mbak Susie.

“Gak ada masalah Mbak. Gundul atau gondrong punya kelebihan masing – masing,” sahutku sebagai tanggapan. Lagian memang jembut Mbak Susie ada di bagian atas clitorisnya. Jadi kupikir takkan mengganggu kalau aku ingin menjilati serambi lempitnya.

Setelah telanjang bulat, Mbak Susie menelentang sambil merentangkan kedua lengannya dan berkata, “Ayo mau diapain aku ini sekarang?”

Aku tersenyum sambil melepaskan segala yang melekat di tubuhku. Tinggal celana dalam yang kubiarkan melekat di tubuhku.

Tanpa basa – basi lagi aku merayap ke atas perut dan dada Mbak Susie, lalu memagut bibirnya ke dalam lumatanku. Ketika tanganku ikut aktif untuk meremas toketnya, Mbak Susie pun membalas lumatanku dengan hangatnya. Suasana romantis pun mulai terasa. Semakin terlupalah aku bahwa Mbak Susie itu kakak seayahku.

“Toketku gak segede toket Nindie ya?” bisiknya.

Aku yang sudah tahu bahwa Mbak Nindie telah membuka rahasia kepada Mbak Susie, menyahut, “Tapi toket Mbak masih kencang, seperti toket gadis duapuluhan.”

Pada saat yang sama tangan Mbak Susie menyelinap ke balik celana dalamku. Dan tersentak setelah menggenggam rudalku yang sudah mulai ngaceng ini. “Haaa?! Nindie gak bilang kalau rudalmu sepanjang dan segede ini…”

Aku tidak menanggapinya. Tapi Mbak Susie langsung duduk sambil melepaskan celana dalamku. Kemudian mendorong dadaku agar celentang.

Kuikuti saja ke mana arah keinginan kakakku itu.

Ia mulai menjilati leher dan moncong rudalku. Lalu ia mengulum batang kemaluan ngacengku ini. Dan mulai mengoralnya dengan trampil.

Mungkin Mbak Susie sudah terbiasa mengoral suaminya yang sudah tua, sekadar untuk membangkitkan ereksinya. Tapi aku masih muda. Duapuluh tahun pun belum. Aku tidak butuh dioral, bahkan ingin mengoral serambi lempit Mbak Susie.

Maka kutunggu selama beberapa menit Mbak Susie menyelomoti rudalku. Kemudian giliranku untuk mendorong dada Mbak Susie agar celentang. Lalu mulutku nyungsep di permukaan serambi lempitnya yang berjembut pendek – pendek di atas kelentitnya.

Lidahku sudah cukup terlatih, sudah mengerti bagian mana yang harus kujilati secara intensif. Maka aku hanya sebentar menjilati bagian dalam serambi lempit Mbak Susie yang berwarna pink itu. Kemudian menjilati kelentitnya habis – habisan. Terkadang malah disertai sedotan – sedotan sehingga kelentit Mak Susie jadi agak “mancung”.

Tentu saja Mbak Susie menggeliat – geliat terus sambil merintih – rintih histeris.

Bahkan pada suatu saat Mbak Susie memegang kepalaku sambil berkata terengah – engah, “Aaaa… aaaaah… udah cukup Chepiii… udah basah banget nih… masukin aja rudalmu Cheeep… aaaaaaah… pakai rudal aja Cheeeep… aaaaaah…”

Tanpa buang – buang waktu lagi, kuletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit Mbak Susie.

Seperti gak yakin kalau aku bisa mengarahkan moncong rudalku, Mbak Susie ikut memegang leher rudalku, lalu mencolek – colekkan moncongnya sambil agak ditekan.

Kemudian ia memberi isyarat dengan kedipan matanya.

Aku pun mendorong rudal ngacengku sekuat tenaga. Dan melesak sedikit demi sedikit ke dalam liang serambi lempit Mbak Susie.

“serambi lempit Mbak luar biasa… kayak serambi lempit gadis aja…” ucapku setelah berhasil membenamkan rudalku lebih dari separohnya.

Mbak Susie menyahut, “Masalahnya rudalmu kegedean Chep. Nanti istrimu pasti selalu puas punya suami rudalnya segede rudal kuda gini sih. Hihihiiii… ayo entotin Cheeeep…”

Aku pun mulai mengayun rudalku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Mbak Susie yang terasa sangat sempit dan menjepit ini.

Sambil memenyetubuhi aku pun mulai menyelomoti pentil toket kiri Mbak Susie, sementara tangan kiriku mulai meremas – remas toket kanannya yang laksana toket gadis belasan tahun saking padatnya (meski tidak segede toket Mbak Nindie).

“Aaaaa… aaaaah… rudalmu luar biasa terasanya… terasa menggesek – gesek liang serambi lempitku Cheeepiii… ini enak sekali Cheeeeep… ooooh… semoga dari enak menjadi anak ya Cheeep…”

“Aaaa… amiiiin…” sahutku sambil menahan tawaku.

Makin lama entotanku semakin lancar, karena liang serambi lempit Mbak Susie sudah “beradaptasi” dengan ukuran batang kemaluanku.

Rintihan – rintihan histeris Mbak Susie pun semakin erotis terdengarnya di telingaku.

“Entot teruuuuussss Cheeepiiiii… entooot teruuuussss… aaaa… aaaaah… iyaaaa… iyaaaa… iyaaaaa… entooottttt… entooooottttttt… entooootttttttt… iyaaaaa… iyaaaa… luar biasa enaknya rudalmu ini Cheeeep… entooottttt… entooootttt…”

Tubuh Mbak Susie pun menggeliat – geliat dan mengejang – ngejang terus, seperti ular yang terinjak kepalanya.

Terlebih setelah aku mulai menjilati leher jenjangnya, disertai dengan gigitan – gigitan kecil yang tidak menyakitkan. Sementara tanganku semakin giat meremas – remas toketnya.

Bahkan ketika tangan Mbak Susie berada di samping kepalanya, kujilati ketiaknya yang licin dan harum deodorant ini. Disertai dengan sedotan – sedotan kuat, yang membuat Mbak Susie semakin menggelepar – gelepar.

Permainan surgawi ini berlangsung cukup lama. Sehingga keringat pun mulai membasahi tubuh kami.

Mbak Susie tampak begitu bergairah menikmati entotanku, sehingga berkali – kali bibirku dipagut dan dilumatnya, disusul dengan bisikan, “Aku makin sayang saama kamu Cheeep… sayang sekaliii Cheeep… oooohhhh… ini luar biasa enaknyaaa…”

Mbak Susie benar – benar penuh gairah waktu meladeni entotanku. Terkadang ia meremas – remas rambutku sampai acak – acakan dibuatnya. Terkadang ia juga meremas bahuku. Dan bahkan ia pun tak sungkan – sungkan untuk meremas pantatku dengan ekspresi seperti sedang gemas.

Bukan cuma itu. Ternyata Mbak Susie pun trampil menggoyang pinggulnyha, dengan gerakan memutar – mutar dan meliuk – liuk. Terkadang serambi lempitnya menengadah ke langit – langit kamar villa, terkadang juga menukik dan bokongnya menghempas ke atas kasur. Dalam gerakan yang satu ini, dengan sendirinya kelentit Mbak Susie bergesekan terus dengan batang kemaluanku.

Tapi kali ini aku ingin mengikuti “ajaran” orang – orang. Bahwa kalau untuk tujuan menghamili, aku harus mengusahakan agar ejakulasiku berbarengan dengan orgasme pasanganku.

Maka diam – diam aku memperhatikan perilaku Mbak Susie waktu menikmati entotanku ini. Dan ketika ia mulai berkelojotan, aku pun mempercepat entotanku. Dengan tujuan ingin secepatnya ejakulasi.

Aku sudah cukup berpengalaman untuk mengulur atau mempercepat ejakulasiku.

Maka ketika sekujur tubuh Mbak Susie mengejang tegang, dengan perut agak terangkat ke atas… dengan nafas yang tertahan beberapa detik… aku pun menancapkan kontrolku sedalam mungkin, sampai menyundul dasar liang serambi lempit Mbak Susie.

Lalu terjadilah sesuatu yang terlalu indah dan sulit dijelaskan dengan kata – kata belaka itu. Bahwa ketika liang serambi lempit Mbak Susie terasa berkedut – kedut kencang, rudalku pun mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.

Croooootttttt… crooooooootttttt… cretcretttttt… crooootttttt… crooootttt… crooootttt…!

“Aaaaahhhhhhh… “Mbak Susie mendesah, kemudian terkapar lunglai. Begitu pula aku, mendengus – dengus lalu terkapar di atas perut Mbak Susie.

“Terima kasih sayang… ternyata kamu luar biasa memuaskanku… mudah – mudahan aku bisa hamil olehmu yaaa… emwuaaaaah …“ucap Mbak Susie disusul dengan ciuman mesranya di bibirku.

“Tapi tiada jaminan langsung jadi Mbak. Mungkin setelah puluhan kali kita bersetubuh, barulah Mbak bisa hamil,” sahutku sambil menarik rudalku sampai terlepas dari liang serambi lempit Mbak Susie.

Cepat Mbak Susie menutup serambi lempitnya dengan telapak tangannya. Mungkin untuk menahan spermaku agar tetap berada di dalam liang sanggamanya dan jangan mengalir ke luar.

“Bukan sekadar ingin hamil… kamu sangat pandai menemukan titik – titik sensitifku. Ereksimu sempurna. rudal panjang gedemu luar biasa enaknya. Aku pasti ketagihan nanti Chep.”

“Kalau Mbak gak kepengen hamil sih, sebenarnya aku masih bisa bertahan jauh lebih lama dari yang barusan. Tapi karena Mbak ingin hamil, kupaksakan agar bisa mencapai puncaknya secara bareng – bareng.”

“Bersetubuh itu bukan harus lama. Yang paling penting, pihak wanita harus mencapai orgasme sebelum kamu ngecrot. Terlalu lama juga bisa lecet – lecet serambi lempitku nanti.”

“Iya Mbak.”

Beberapa saat kemudian, “Chepi… kita makan malam di luar yuk. Sekalian cari makanan untuk di sini… siapa tau tengah malam kita lapar lagi,” kata Mbak Susie.

“Oke Mbak,” sahutku.

“Pake mobilmu aja ya. Gak usah dua – dua mobil.”

“Iya Mbak. Kalau kebetulan lagi sulit parkir, malah jadi pusing nanti jika bawa mobil dua.”

Tak lama kemudian, Mbak Susie sudah duduk di samping kiriku, dalam mobil yang tengah kukemudikan di jalan raya.

“Pertemuan selanjutnya sih aku mau datang aja ke tempatmu. Di rumahmu hanya ada kamu dan Nindie kan?” Mbak Susie membuka pembicaraan.

“Ada satpam tujuh orang yang bergiliran tugasnya jadi tiga shift. Ada pembantu juga dua orang. Semuanya perempuan Mbak.”

“Satpamnya juga perempuan?”

“Iya Mbak. Semuanya direkrut oleh Mbak Nindie. Ketujuh satpam wqanita itu bekas murid Mbak Nindie semua.”

“Oh iya… Nindie waktu masih gadis kan pelatih beladiri.”

“Iya Mbak.”

(Maaf, jenis beladiri-nya tidak bisa disebutkan, semata – mata untuk menjaga kerahasiaan para pelaku dalam cerita ini)

“Pembantumya yang seorang perempuan normal. Tapi yang satu lagi cebol Mbak. Semampai… semeter gak sampai. heheheee…”

“Kenapa pilih pembantu yang cebol segala?”

“Aku yang terima Mbak. Soalnya kasihan, ingin dapet pekerjaan. Nyari ke sana – sini gak ada yang terima. Setelah bekerja di rumahku, ternyata dia rajin, gesit dan jujur Mbak.”

“Tapi kalau mau ngambil yang letaknya tinggi – tinggi takkan bisa kan? Lalu dikasih tugas apa saja perempuan cebol itu?”

“Ngepel, jalanin vacum cleaner, jalanin mesin cuci, membersihkan taman dari rumput liar dan lain – lain. Pokoknya yang terjangkau olehnya aja.”

“Bagus juga sih… kita memang harus punya perasaan kasihan kepada orang – orang yang punya kekurangan pada fisiknya.”

“Iya Mbak. Umurnya sudah tigapuluhan, tapi bentuknya masih kayak anak usia tujuh tahunan.” “Kasihan. Nanti aku mau nitip duit buat dia. Duit sedekah.” “Iya Mbak. Dia hidup sebatangkara di dunia ini. Tidak punya orang tua lagi. Saudara pun tak punya.” “Mmm… ternyata kamu seorang yang pemurah juga ya?”

Aku cuma tersenyum. Tidak berani menanggapi ucapan Mbak Susie itu. Karena hanya aku sendiri yang tahu siapa diriku.

Juga sikap dan perilakuku kepada wanita midget alias mini yang bernama Inay itu. Bahwa pada suatu sore, ketika aku merasa letih sekali, karena seharian ikut menata pavilyun yang akan dijadikan kantor itu.

Saat itu Mbak Nindie sedang pulang dulu ke rumahnya, untuk menata rumahnya yang sedang direnovasi sedikit – sedikit, tentu saja dengan membekal uang pemberian dariku di luar gaji tetapnya. Supaya rumahnya jangan terlalu sederhana dan serba kekurangan perlengkapannya.

Saat itulah kupanggil Inay mini ke kamarku. “Nay… berat badanmu berapa?” tanyaku.

“Tigapuluhdelapan Boss,” sahut wanita mini yang terkadang kelihatan lucu itu. “Kalau gitu injakin punggungku ya. Pada sakit – sakit,” kataku, “Kakimu bersih kan?” “Bersih Boss.” “Ya udah injekin bagian kaki dan punggungku ya,” ucapku. “Siap Boss.”

Lalu kulepaskan pakaianku sehelai demi sehelai, hanya celana dalam yang kubiarkan melekat di tubuhku. Lalu aku menelungkup di atas bed, “Injakin dari kaki sampai ke bahu ya Nay,” kataku.

“Iya Boss,” sahut Inay yang tinggi badannya tak sampai semeter itu.

Sengaja aku telungkup di samping dinding, supaya Inay bisa menjaga keseimbangan waktu menginjaki punggung dan kakiku dengan meletakkan telapak tangannya ke dinding.

Inay pun mulai berdiri di atas kakiku sambil berpegangan ke dinding. kemudian ia berjalan dari kaki sampai ke punggungku, turun lagi ke kaki, naik lagi ke artah punggung. Tidak terasa berat. Malah enak, seperti sedang diinjaki oleh anak kecil.

“Enak Nay… injekin terus begitu ya…” ucapku sambil berusaha menoleh ke arah wanita mini itu.

Saat itu Inay mengenakan daster yang terbuat dari bahan kaus. Sehingga aku bisa melihat celana dalam putihnya karena ia sedang berada di atas punggungku.

Lalu… pikiran jahanam mulai menggodaku. Seperti apa ya bentuk serambi lempit wanita mini ini? Dan seperti apa rasanya menyetubuhi Inay ini?

Mungkin seperti menyetubuhi boneka, saking kecilnya.

Pikiran itu membuatku jadi penasaran. Dan… diam – diam rudalku mulai ngaceng.

Maka aku mulai memancingnya, “Kamu bilang pernah punya suami Nay. Terus sejak kapan kamu jadi janda?”

“Sudah lebih dari lima tahun saya menjanda Boss.” “Kenapa bisa bercerai?” “Ah, tidak cocok aja sifatnya Boss. Tiap hari kerjanya marah – marah melulu.” “Mantan suamimu orang kecil juga seperti kamu Nay?” “Iya. Sesama cebol Den.” “Punya anak gak darinya?” “Nggak Boss. Saya belum pernah hamil.” “Wah… serambi lempitmu pasti enak dong, karena belum pernah turun mesin.” “Hihihihiii… gak tau Boss,” sahutnya, “Memangnya Boss mau nyobain serambi lempit saya?”

Aku agak kaget mendengar cetusan Inay yang frontal itu. Tapi menurut ku, orang yang punya kekurangan alias kurang normal, banyak yang suka over acting atau pun over confidence. Terbukti dengan rambutnya yang sengaja diwarnai, diblitch antara hitam, coklat tua dan blonde. Zaman now memang beda dengan tempo doeloe.

“Mau Nay… mau… !” sahutku spontan, “Coba kamu turun dulu.”

Inay pun turun dari punggungku. Tapi masih berdiri di atas bed ketika aku membalikkan badan jadi celentang. “Kapan terakhir kamu merasakan digauli lelaki?” tanyaku sambil memperhatikan bentuk wanita mini itu.

Aku tidak tahu berapa centimeter tinggi yang sebenarnya. Yang jelas kalau dia berdiri di dekat meja makan, tampak pangkal lehernya sejajar dengan meja makan. Sedangkan tinggi meja makan adalah 77 centimetrer. Jadi, mungkin tinggi Inay takan kurang dari 77 centimeter dan takkan lebih dari 110 centimeter.

“Sejak cerai sampai sekarang saya belum pernah merasakan digauli lelaki lagi Boss,” sahut Inay sambil duduk bersila di atas bed.

Aku pun duduk dan menyuruh Inay duduk di atas pahaku. Ia menurut saja, duduk membelakangiku di atas pahaku yang sedang bersila ini. Tanganku langsung menyelundup ke balik daster kausnya yang berwarna biru muda itu. Kuselinapkan tanganku ke balik celana dalamnya. Inay diam saja. Bahkan ketika jemariku menggerayangi kemaluannya yang “imut – imut” gundul plontos itu, ia malah tersenyum – senyum.

Pada saat itu pula kupelorotkan celana dalamku. Lalu menarik tangan kanan Inay, sampai menempel di rudalku yang sudah ngaceng berat ini.

“Aaaw… apa ini yang anget – anget keras?” Inay seperti kaget dan memutar badannya jadi berhadapan denganku. Lalu sadar bahwa ia sedang memegang rudal ngacengku.

“Adududuuuh…! Punya Boss segede dan sepanjang ini?! Bisa masuk nggak ya ke dalam serambi lempit saya?” cetusnya sambil menciumi kepala dan leher rudalku.

“Bisa lah. serambi lempitmu bukan terbuat dari kertas kan?” sahutku sambil melepaskan daster kaus lewat kepala Inay.

Inay tinggal mengenakan celana dalam putih, karena sejak tadi pun ia tidak mengenakan beha.

Aku tidak mau bicara mengenai tampang dan bentuk fisik wanita mini itu. Semua biasa – biasa saja. Toketnya p[un kecil, cukup untuk digenggam oleh tanganku. Pahanya agak gempal, karena untuk ukuran manusia mini, mungkin dia termasuk rada montok.

Yang luar biasa adalah fisik mininya itu. Karena aku belum pernah merasakan serambi lempit wanita mini alias midget.

Aku sudah merasakan tubuh chubby, tubuh langsing, wajah cantik dan bahkan yang masih perawan juga. Tapi tubuh mini seperti Inay ini belum pernah ngerasain…!

Lalu dengan mudahnya aku bisa mengangkat dan menggendong Inay ke arah meja tulisku. Di situlah Inay kucelentangkan dan kutarik celana dalam putihnya sampai terlepas dari kedua kaki pendeknya.

Kutarik kursi kerjaku ke dekat meja tulisku. Sementara Inay seperti sudah mengerti apa yang akan kulakukan. Ia celentang dengan kedua kaki mengangkang, dengan pantat berada di pinggir meja tulisku.

Kuperhatikan bentuk serambi lempit Inay yang imut – imut dengan jembut tipis halus itu, sambil berkata, “Ini jalan agar rudalku mudah masuk ke dalam liang serambi lempitmu Nay.”

Dan sambil duduk di kursi yang kudekatkan ke meja tulisku, serambi lempit imut itu pun mulai kujilati habis – habisan. Sementara kedua tanganku dengan mudah menjangkau dan meremas sepasang toket mungil (tapi waktu membungkuk tampak terjuntai panjang ke bawah) yang bisa tergenggam oleh tanganku.

Inay pun mulai bergeliang – geliut, seperti ular terinjak kepalanya. Bahkan sepasang betis pendeknya lalu bertopang pada kedua bahuku, sehingga mulutku semakin nyungsep ke permukaan serambi lempit Inay.

“Aaaa… aaaaaah… Bosssss… Bossss… aaaahhhhhhhh… aaaaaaahhhh… “desahan dan rintihan Inay mulai bergaung di dalam kamarku.

Terlebih lagi setelah aku gencar menjilati kelentitnya, semakin menggelinjang – gelinjang juga tubuh perempuan mini itu.

Bahkan pada suatu saat aku menganggap sudah waktunya untuk memasukkan rudalku ke dalam liang serambi lempit perempuan mini ini.

Lalu aku berdiri dan mengarahkan moncong rudalku ke mulut serambi lempit Inay.

Kemudian kudorong rudalku sekuatnya. Dan membenam ke dalam liang serambi lempit imut – imut itu tanpa kesulitan. Tapi tidak bisa masuk semuanya karena mentok di dasar liang serambi lempit imut plontos itu. Ternyata benar dugaanku bahwa Inay yang bertubuh mini itu, liang sanggamanya pun dangkal.

Aku pun tidak berusaha memasukkan semuanya. Setelah terasa mentok di dasar liang kemaluan Inay, langsung kuayun rudalku perlahan – lahan.

Gila, ternyata liang serambi lempit Inay nikmat sekali rasanya. Sehingga aku jadi sangat bergairah untuk memenyetubuhi serambi lempit mini ini.

Inay sendiri tampak keenakan. Mungkin karena rudalku terlalu panjang untuk kedalaman liang serambi lempitnya. Sehingga tiap kali kudorong, moncong rudalku selalu menabrak dasar liang serambi lempit Inay. Itu berarti bahwa Gspot di dasar liang serambi lempit Inay terus – terusan disundul oleh moncong rudalku.

Ternyata Inay sangat atraktif. Ia berkali – kali mengajakku berubah – ubah posisi. Kadang ia minta dientot dalam posisi tengkurap dan agak menungging, kadang ia ingin main di atas (WOT) dan sebagainya.

Inay seolah ingin membuktikan bahwa meski tubuhnya mini, ia bisa memberikan kepuasan bagiku. Akibatnya, berkali – kali ia mengalami orgasme. Tapi ia tidak kelihatan letih. Dia tetap lincah memberikan kenikmatan padaku yang tak menyangka bahwa persetubuhan dengannya ini mengesankan sekali.

Memang dengan mudah aku bisa melakukan hal – hal yang belum pernah kulakukan kepada wanita lain. Misalnya, pada suatu saat aku turun dari meja tulisku, lalu mengangkat tubuh Inay tinggi – tinggi. Kedua pahanya nemplok di atas bahuku, sementara serambi lempitnya ada di depan mulutku. Kalau wanita normal, pasti aku merasa berat dibebani oleh tubuhnya.

Lalu kurebahkan tubuh mini itu di atas bed. Dan… kuentot lagi dalam posisi missionary, karena aku memang belum ngecrot.

Kali ini aku melakukan posisi hard missionary. Karena aku memenyetubuhinya sambil mendorong sepasang pahanya, sehingga kedua lututnya berada di samping sepasang toket mininya.

Inilah pengalaman paling gokil bagiku. Tapi aku menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa. Daripada ngocok, jauh lebih enak menyetubuhi Inay mini.

Namun akhirnya aku tiba juga di detik – detik krusialku. Namun aku sadar bahwa aku tak mau menghamili Inay. Karena itu, begitu aku mau ejakulasi, cdewpat kucabut rudalku dari liang serambi lempit Inay, kemudian kuletakkan rudalku di dada Inay, sambil kuurut – urut dengan tanganku sendiri.

Tadinya aku hanya ingin memuntahkan air maniku di wilayah dada Inay. Tapi Inay menangkap rudalku lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Diikkuti dengan selomotan yang sangat trampil.

Maka tak tertahankan lagi, lendir kenikmatanku meletus di dalam mulut Inay.

Crooot… croootttt… cretttt… crooootttttt… cretttttt… crooootttttt…!

Inay menelan spermaku sampai habis, tak terbuang setetes pun.

“Segerrrrr…” ucapnya setelah melepaskan rudalku dari mulutnya.

Aku masih ingat semuanya itu. Bahwa perempuan mini itu telah membuatku puas sekali. Karena itu aku tak ragu untuk memberinya “bonus” yang lumayan banyak. Supaya kalau kelak aku membutuhkan lagi serambi lempitnya, ia takkan malas – malasan meladeniku.

“Kalau aku hamil, pasti suamiku akan bahagia sekali,” ucap Mbak Susie membuyarkan terawanganku tentang perempuan mini bernama Inay itu.

“Dari suami Mbak yang pertama dahulu, Mbak sama sekali gak punya anak?” tanyaku.

“Nggak, “Mbak Susie menggeleng, “waktu masih jadi istri dia, aku selalu dipasangi alat pencegah kehamilan.”

“Kenapa?”

“Atas kesepakatan dengan dia juga, aku tak boleh hamil selama kehidupan kami masih pas – pasan. Dan sampai bercerai, dia memang tidak pernah sukses mengadu untung di Sulawesi. Tapi setelah menikah dengan Abror, aku tidak pasang alat kabe lagi.”

“Abror nama suami Mbak?” “Iya. Ibunya kan orang Uzbekistan. Namanya terasa asing di telinga kita ya?” “Iya Mbak. Dia bisnis apa?” “Sejak masih remaja, Abror sudah terlatih untuk bisnis emas.” “Ohya… Uzbekistan kan negara yang punya tambang emas besar ya Mbak.”

“Iya. Awalnya sih dia hanya memasarkan emas dari negaranya sendiri. Tapi lama kelamaan sih dia membeli emas dari mana saja, untuk dipasarkan di Asia Tenggara.”

Tak lama kemudian mobilku sudah tiba di depan villa kembali.

Dan… kami bersetubuh kembali sampai lewat tengah malam.

Esoknya pun kami bersetubuh dan bersetubuh kembali. Dengan harapan agar Mbak Susie bisa hamil olehku.

Aku memang sudah bertekad untuk menjadikan Nike sebagai calon istriku, bukan sekadar pacar biasa, Tapi aku juga yak bisa mengabaikan Bu Shanti yang sudah menyerahkan keperawanannya padaku, sebagai protes kepada orang tuanya yang akan menjodohkannya dengan lelaki tua itu. Tapi meski keputusannya itu sebagai protes pada keinginan orang tuanya yang akan menjodohkan dengan seorang lelaki tua, kenapa justru aku yang dipilih untuk merenggut keperawanannya?

Tentu ada sebabnya. Dan Bu Shanti sudah berterus terang, bahwa ia sudah jatuh hati padaku. Karena itulah ia memutuskan untuk menyerahkan kesuciannya padaku, tanpa pamrih.

Bu Shanti membebaskanku untuk mencintai dia atau tidak. Yang penting di depan ibunya, aku harus berpura – pura akan menikahi Bu Shanti. Itu saja. Nanti dengan berjalannya waktu, bisa saja muncul cowok lain yang Bu Shanti cintai, bisa juga muncul cewek lain yang aku cintai dan akan kujadikan istri.

Terbukti bahwa dengan cepatnya aku berjumpa lagi dengan adik Niko yang bernama Nike, yang sudah sangat lama tidak berjumpa denganku.

Lalu terjadilah sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya. Bahwa aku dan Nike sudah saling suka. Dan bahkan sudah terlontar janji untuk melanjutkan hubungan kami ke pelaminan.

Aku sadar bahwa Nike bukan target pelampiasan nafsu birahi semata. Karena itu aku sangat berhati – hati dalam memperlakukannya.

Saking berhati – hatinya aku, mencium bibirnya pun belum pernah. Setiap kali berjumpa atau mau berpisah, aku hanya melakukan cipika – cipiki dengannya. Tidak lebih dari itu.

Niked kuanggap seolah simpanan masa depanku. Bukan target nafsu sesaat.

Ternyata hal itu diamati juga oleh abangnya (Niko). Bahkan pada suatu saat Niko berkata, “Sebenarnya Nike itu tak pernah pacaran Chep. Baru kali ini dia terang – terangan mencintaimu. Aku senang – senang saja, karena Nike tidak jatuh ketangan yang salah. Titip aja adikku ya Chep. Aku percaya kamu selalu memperlakukannya dengan baik.

Kutepuk bahu sahabat lama yang akan menjadi abang iparku itu sambil menyahut, “Santai aja Nik. Kami sedang menyiapkan masa depan kami ke arah yang lebih baik.”

Hal itu memang sudah kubuktikan.

Aku masih ingat benar, bahwa sebelum berpisah dengan Mbak Susie, aku menerima dua lembar cek. Yang nominalnya besar sekali untukku. Yang nominalnya jauh lebih kecil untuk Mbak Nindie.

Tapi bukannya aku nyombong. Aku tidak membutuhkan uang meski jumlahnya begitu besarnya. Karena Tante Aini selalu mentransfer duit dalam jumlah banyak ke rekening tabunganku. Apalagi setelah Tante Aini mulai hamil, transfernya selalu gede – gedean.

Tapi aku tak berani menolak pemberian cek dari Mbak Susie.

Cek itu kuterima sambil mengucapkan terima kasih dan ciuman mesra di bibir Mbak Susie. Lalu cek untuk Mbak Nindie kuberikan kepada yang bersangkutan. Sementara cek untukku, kuberikan kepada Nike.

Nike tampak kaget setelah melihat nominal yang tertulis di cek itu. “Untuk apa uang sebanyak ini?” tanyanya.

“Terserah kamu Beib,” sahutku, “Mungkin untuk mobil murah – murah aja sih cukup.” “Nyetir aja gak bisa. Buat apa beli mobil segala.” “Terus apa kebutuhanmu yang paling mendesak?” tanyaku sambil membelai rambut Nike.

Cerita Dewasa Ngentot - Jahanam Tapi Indah
Nike tercenung sesaat. Lalu berkata, “Mungkin lebih tepat kalau untuk biaya renovasi rumah. Terutama kamarku, sudah ketinggalan zaman banget.”

“Terserah. Pokoknya cek itu sudah menjadi milikmu. Untuk apa – apanya, kamu tedntu tau apa yang terbaik untukmu saat ini.”

“Untuk renovasi rumah aja. Biar Mama dan Niko ikuy senang. Kalau ada lebihnya, belikan motor bebek aja. Biar gak naik angkot tiap hari.”

“Iya. Aku setuju. Kalau masih kurang, bilang aja terus terang padaku nanti ya Beib.” “Iya. Terima kasih ya Sayang,” ucap Nike sambil mencium pipiku.

Ya… baik aku mau pun Nike hanya berani sebatas cium pipi. Belum berani lebih jauh dari cium pipi untuk memperlihatkan tanda cinta dan sayang kami.

Sudah lebih dari 3 bulan Bu Shanti tinggal di Inggris. Tapi belum pernah satu kali pun dia menghubungiku lewat hubungan seluler. Aku sendiri tidak pernah menghubunginya, karena takut mengganggu. Siapa tahu dia benar – benar sibuk dengan kuliahnya.

Tapi benakku mulai dihuni oleh tanda tanya besar. Ada apa dengan Bu Shanti? Apakah dia memang sibuk dengan kuliah S3 nya atau sudah menemukan calon suami yang sesuai dengan pendidikannya sendiri? Sementara aku, yang S1 pun belum, masih tetap menunggu dengan setia laksana si punguk merindukan bulan?

Kalau pikiranku sudah nyelonong ke sana, aku suka menggebrak diriku sendiri: Persetan dengan Bu Shanti! Biarkan dia mencari pasangan yang selaras dengannya, baik usia mau pun pendidikannya.

Aku bisa move on darinya kapan pun aku mau.

Hari demi hari pun berputar dengan cepatnya …

Sampai pada suatu sore …

Sore itu aku baru selesai kuliah dan menuju tempat mobilku diparkir di pinggir jalan, karena mahasiswa tidak boleh parkir mobil di area parkir kampus. Hanya dosen yang boleh parkir di sana. Maklum area parkirnya juga tidak terlalu luas.

Tukang parkir langgananku langsung menghampiri sambil bertanya, “Mau jalan Dek?”

“Iya, “aku mengangguk sambil memberikan uang parkir padanya. Lalu melangkah ke pintu depan sebelah kanan.

Belum lagi pintu samping setir itu kubuka, ada yang menepuk pangkal lenganku dan terdengar suara wanta di belakangku, “Chepi… numpang pulang dong.”

Ketika aku menoleh ke belakang, ternyata yang menepuk dan berkata itu dosenku yang senantiasa mengenakan jilbab. Bu Pratiwi namanya.

“Silakan Bu,” kataku sambil bergegas membuka pintu depan sebelah kiri. Bu Pratiwi (Biasa dipanggil Bu Tiwi saja) pun masuk ke dalam mlobilku.

“Rumah Ibu di daerah mana ya?”

Wanita empatpuluh tahunan itu menyebutkan nama daerahnya yang terletak di batas kota arah ke selatan. Padahal kampusku di ujung utara kotaku. Berarti cukup jauh juga aku harus mengantarkan Bu Tiwi itu.

Tapi biarlah, sekali – kali berbuat kebaikan pada dosenku sendiri kan positif nilainya.

“Wah… beruntung nih diriku. Bisa numpang mobil mewah begini,” kata Bu Tiwi setelah mobil kujalankan di jalan aspal.

“Yang biasa antar jemput pakai vespa ke mana Bu?” “Dia kan anak semata wayangku Chep. Sekarang dia sudah pindah ke Jogja, karena kuliahnya di sana.” “Owh… cewek yang suka anter jemput itu anak Ibu?” “Iya. Cantik nggak anakku itu?” “Masih cantikan Ibu. Hehehe…” “Masa perempuan tua begini dibilang cantik.”

“Tua apa? Ibu lagi sedeng – sedengnya menawan.” “Aaah… kamu bisa aja, “Bu Tiwi menepuk tangan kiriku yang nganggur. “Suami Ibu kerja di mana?” “Suami apa? Sudah lima tahun aku hidup menjanda Chep.” “Lho… kenapa? Divorce Bu?” “Dia meninggal dalam kecelakaan di tempat kerjanya.”

“Owh… maaf. Ikut prihatin mendengarnya.” “Terimakasih. Tapi sekarang aku sudah mulai bisa melupakannya.” “Sudah move on Bu?” “Move on benar sih belum. Baru bisa melupakan almarhum yang sudah tenang di alam kekal.” ”Sudah dapat penggantinya Bu?”

“Belum,” sahut Bu Tiwi. Dan tiba – tiba dia mendekatkan mulutnya ke telingaku, disusul dengan bisikan, “Memangnya kamu mau mengisi kesepianku Chep?”

“Sangat – sangat mauuu…” sahutku dalam kaget. “Serius?” tanyanya sambil menggenggam tangan kiriku yang nganggur. “Serius Bu. Kalau perlu kita buktikan sekarang juga.”

Tiba – tiba Bu Tiwi mencium pipi kiriku, “Emwuuuaaaah…”

“Terima kasih Bu. Pucuk dicinta ulam tiba.” “Memang udah lama ya kamu merhatiin aku?” “Iya Bu.” “Memangnya apa yang menarik pada diriku?”

“Banyak. Mata Ibu yang bundar bening, bibir yang sensual dan terutama pakaian yang Ibu kenakan tiap hari membuat penasaran… ingin tahu seperti apa bentuk Ibu di balik baju jubah panjang dan hijab ketat itu.”

“Nanti akan kamu lihat semuanya,” sahut Bu Tiwi sambil merapatkan pipi hangatnya ke pipiku. “Serius Bu?” “Tentu aja serius. Tapi kamu bisa menyimpan rahasia gak?” “Rahasia sangat terjamin Bu. Mulutku bukan ember bocor,” sahutku sambil memutarkan mobilku, kembali ke arah utara.

“Lho… kenapa balik lagi?” tanya Bu Tiwi.

“Aku ingin bersama Ibu duduk berdua di puncak bukit yang bisa memandang ke arah kota kita. Sebentar lagi hari mulai gelap kan Bu. Jadi kita bisa melihat kota kita laksana ribuan kunang – kunang di gelap malam.”

“Ogitu… iya deh… aku ikut sama keinginanmu aja… tapi kenapa kamu bisa tertarik sama wanita yang sudah berumur seperti aku ini Chep?”

“Terus terang aja, aku pengagum wanita setengah baya Bu.” “Pernah punya pengalaman dengan wanita seumuran denganku?” “Pernah Bu. Tapi sekarang sudah pindah ke luar Jawa,” sahutku cuma mengarang saja. “Kamu ini tampan sekali Chep. Nyari cewek yang seperti apa juga pasi bisa.” “Gak ketarik sama cewek – cewek seusia atau lebih muda dariku Bu. Lebih ketarik sama wanita yang seperti Ibu ini.”

“Ya udah, nanti nginep aja di rumahku. Mau?” “Siap Bu.” “Tapi kalau ada tetangga yang nanya, bilang aja kamu ini keponakanku, gitu.”

“Emangnya tetangga Ibu suka usil?”

“Nggak juga sih. Cuma jaga – jaga aja, kalau ada yang nanya kamu siapa… jawab aja keponakan Bu Tiwi, gitu.”

“Iya deh. Sip pake telor. Kurang sip buka kolor.” “Hihihihiiii…”

Di luar mobilku mulai gelap. Sehingga aku mulai menyalakan lampu HID-ku yang menyorot dengan terangnya ke arah jalan yang akan diinjak oleh ban mobilku.

Lampu mobil buatan Eropa pada umumnya kurang terang lampu sorotnya. Sehingga lampu – lampu depan kuganti. Lampu fog kuganti dengan lampu HID yang rendah kelvinnya, sehingga sinarnyha kekuning – kuningan untuk menembus kabut. Lampu dekat kuganti dengan lampu HID yang tinggi kelvinnya, sehingga sinarnya kebiru – biruan.

Beberapa saat kemudian mobilku sudah kuparkir di puncak bukit yang ada cafénya. Kupesan black coffee americano dan Bu Tiwi meminta coffee late, keduanya minta dikemas dalam cup plastik dan minta diantarkan ke mobilku yang sudah dihadapkan ke pinggir tebing, menghadap ke arah kotaku nun jauh di bawah sana…

Setelah minuman pesanan kami datang, kuletakkan kedua cup plastik itu di pembatas antara aku dan Bu Tiwi, karena minumannya masih panas sekali.

“Kota kita indah sekali dilihat dari ketinggian begini ya Bu,” kataku sambil memegang tangan kanan Bu Tiwi yang hangat dan halus.

“Iya… seindah hati kita ya?” “Iya Bu. Tapi mungkin duduknya enakan di belakang, biar gak ada pembatas di antara kita berdua.”

“Oke,” sahut Bu Tiwi sambil membuka pintu di sebelah kirinya. Aku pun pindah ke seat belakang sebelah kanan. Sementara Bu Tiwi duduk di sebelah kiriku.

Mesin mobil tetap kubiarkan hidup, karena ingin menikmati musik yang mengalun perlahan dari audio mobilku, memutar album Vasiliy Nikitin – Chillout Ambient, yang tenang sekali dan sudah dipublish sampai lebih dari seri ke 170. Juga agar AC tetap hidup, agar kami tidak sesak nafas. Hanya lampu – lampunya kumatikan semua.

Setelah duduk berdampingan tanpa pembatas begini, aku bisa melingkarkan lengan kiriku ke pinggang Bu Tiwi dengan ketat, sehingga harum parfum yang dikenakannya tersiar mewangi ke penciumanku.

Memang di puncak bukit ini banyak sekali pasangan yang sengaja melakukan “sesuatu” di dalam mobilnya masing – masing.

Maka aku pun tak ragu untuk memagut dan mencium bibir Bu Tiwi, yang disambut dengan lumatan hangat dosenku yang sexy habis di mataku ini.

Cukup lama kami saling lumat di kegelapan malam di atas seat belakang mobilku. Namun aku malah makin penasaran. Sehingga aku berusaha menyelinapkan tanganku ke balik jubah panjang yang dikenakan oleh dosenku.

Sangat menyenangkan, karena Bu Tiwi seperti mengerti apa yang kuinginkan. Ia menarik baju jubah panjangnya sampai ke pangkal pahanya, sehingga aku bisa langsung mengusap – usap paha dosenku sampai ke pangkalnya.

Tak cuma itu. Aku pun berhasil mewnyelinapkan tanganku ke balik celana dalamnya. Dan… wow… langsung menyentuh serambi lempitnyha yang plontos alias gundul abis itu…!

Semakin garang juga Bu Tiwi melumat bibirku, bahkan lalu kami bertukar sedot lidah. Ketika lidahku terjulur, Bu Tiwi menyedotnya ke dalam mulutnya, lalu menggelutkan lidahnya dengan lidahku. Begitu juga waktu lidah Bu Tiwi terjulur, kusedot ke dalam mulutku dan digeluti oleh lidahku. Sehingga air liur kami bercampur aduk dan berpindah – pindah tempat.

Lebih asyik lagi ketika jemari tangan kananku sudah menemukan celah di serambi lempit Bu Tiwi yang bersih dari jembut ini. Ngocoks.com

Lalu jemariku mulai menyelusup ke dalam yang agak basah dan licin serta hangat ini. Pelukan Bu Tiwi di leherku pun semakin erat saja rasanya. Sementara jari tengahku mulai maju – mundurkan di dalam celah serambi lempitnya.

Sekujur tubuh Bu Tiwi makin menghangat. Pertanda perempuan setengah baya ini sudah horny.

“Chepi… aku udah gak kuat menahan nafsu lagi,” bisik Bu Tiwi. “Mau dilakukan di sini aja?” tanyaku. “ML sih jangan… jangan di sini…” “Lalu mau check in ke hotel?” “Jangan juga Chep. Takut ketemu sama orang yang kenal.” “Lalu mau di mana?”

“Di rumahku aja… tapi mainkan terus kemaluanku Chep… ininya nih… itilnya…” ucap Bu Tiwi sambil menarik jariku ke arah kelentitnya.

“Mau dijilatin itilnya?” tanyaku. “Jangan ah… pakai jari aja mainkan terus itilku… sampai orgasme… kalau mau jilatin segala sih nanti aja di rumahku.”

Aku sudah banyak pengalaman untuk mengekspoitasi kelentit agar cepat orgasme. Baik dengan main jilatan lidah maupun dengan gesekan ujung jari tangan.

Karena itu setelah Bu Tiwi meletakkan ujung jari tengahku di kelentitnya, meski gelap gulita pun aku bisa menekankan ujung jariku ke kelentit sebesar kacang kedelai itu. Kemudian kugerak – gerakkan jari tengahku dengan gerakan menekan dan memutar – mutar. Terkadang kucelupkan jari tgengahku ke liang kecil di serambi lempit Bu Tiwi, hanya untuk membasahinya dengan lendir Bu Tiwi.

Bu Tiwi pun mulai mendesah – desah perlahan, “Aaaah… aaaaaaa… aaaaaah… aaaaa… aaaaahhhhh… aaaa… aaaa… aaaaaaaaahhhhhhh… aaaa… aaaa… aaaahhhhh…”

Hanya beberapa menit akju melakukan semuanya ini. Sampai akhirnya tubuh Bu Tiwi mengejang sambil mendekapku erat – erat, dengan nafas tertahan.

“Aaaaah… sudah… sudah lepas…” kata Bu Tiwi sambil mengeluarkan tanganku dari balik celana dalamnya. “Haaaah… lega sekarang. Ayo ke rumahku aja sekarang. Nanti di rumah akan kuberikan semuanya untukmu Chep.”

“Iya Bu… sahutku sambil melompat ke depan lewat celah dua seat depan. Bu Tiwi pun ikut – ikutan pindah lewat celah di antara kedua seat depan.

“Kopinya masih hangat Chep,” kata Bu Tiwi sambil membuka tutup cup coffee latenya. Lalu meneguk isinya tanpa sedotan. Aku pun melakukan hal yang sama. Meneguk kopiku yangb masih hangat sampai habis setengah cup. Kemudian kupindahkan gigi matik mobilku ke R. Untuk memundurkan mobilku.

Tak lama kemudian mobilku sudah menuruni bukit itu di atas jalan yang berkelok – kelok.

“Sebenarnya tadi masih seneng mainin punya Ibu,” kataku di belakang setir mobilku.

“Nanti di rumah mauj diapain juga terserah kamu Chep. Yang penting jaga rahasia kita ya. Kalau bocor keluar, aku bisa dipecat dari kampus.”

“Tenang Bu. Di kampus kita malah harus saling cuek- cuekan. Supaya kita tidak dicurigai. Kalau ada yang perlu kita bicarakan, bisa lewat handphone kan?”

“Owh iya… kalau mau ketemuan, kita pakai WA aja nanti ya. Tapi namamu akan kusaving sebagai nama cewek.”

“Dan nama Ibu akan kusaving sebagai nama cowok.”

“Iya. Di kampus kita gak usah komunikasi sama sekali. By phone aja komunikasinya kalau kita sudah jauh dari kampus,” kata Bu Tiwi sambil memegangi ritsleting celanaku.

“Mau ngapain Bu?” tanyaku. “Pengen kenalan sama punyamu,” sahutnya sambil merapatkan pipi kanannya ke pipi kiriku.

Tersenyum aku mendengar ucapan dosenku yang sereba sensual ini. Lalu kuturunkan ritsleting celanaku, sekalian kusembulkan batang kemaluanku yang sejak tadi masih tetap ngaceng ini.

“Wow… rudalmu ini… rudal giant size… !” seru Bu Tiwi sambil memegang rudal ngacengku.

Lalu ia membungkuk dan menciumi rudalku.

“Jangan dioral Bu. Aku kan lagi nyetir,” ucapku.

“Nggak dong. Kan sebentar lagi juga kita tiba di rumahku,” sahut Bu Tiwi sambil mengusap – usap kepala dan leher rudalku.

“Oh… iya… di dalam kompleks perumahan itu kan?” tanyaku sambilk menunjuk ke gerbang sebuah perumahan yang berbentuk gapura dan sudah dekat denganh mobilku.

“Iya,” sahut Bu Tiwi sambil memasukkan kembali rudal ngacengku ke balik celana dalam dan menutupkan kembali ritsleting celanaku.

Setelah memasuki gerbang berbentuk gapura itu, Bu Tiwi berkata, “Lurus aja terus. Nanti setelah mentok belok ke kanan.”

“Siap Bu.”

Ternyata rumah Bu Tiwi di kompleks perumahan sederhana itu bukan rumah besar. Mungkin type 40an. Kamarnya pun hanya satu. Sementara di ruang tengah hanya dihampari permadani besar. Tiada kursi mau pun meja.

Setelah mengunci pintu depan, Bu Tiwi mengajakku masuk ke dalam kamarnya.

“Sederhana sekali rumahku kan? Tapi sebenarnya rumah utamaku bukan di sini,” kata Bu Pratiwi sambil melepaskan baju jubahnya.

“Rumah utama Ibu di mana?” tanyaku.

Bu Tiwi menyebutkan nama sebuah kota yang jaraknya sekitar 60 kilometer dari kota ini.

Di dalam kamar Bu Tiwi pun lantainya ditilami sehelai permadani yang agak kecil kalau dibandingkan dengan permadani di ruang tengah. Di atas permadani itulah Bu Tiwi duduk sambil melepaskan beha dan celana dalamnya. Tapi gaun dalamnya yang berwarna ungu tidak dilepaskan. Kerudungnya pun masih membelit kepalanya.

Apalagi setelah duduk di atas permadani, ia sengaja memamerkan sepasang toketnya yang indah sekali di mataku.

Setelah melepaskan sepatu dan kaus kakiku, aku pun duduk di samping Bu Tiwi, di atas permadani tebal itu. Dan di atas permadani itu aku memegang toketnya, sambil mencelucupi pentilnya.

“Tempat tidurku sudah agak reyot,” kata Bu Tiwi sambil melepaskan kancing – kancing kemeja tangan pendekku, “Mainnya di sini aja ya,” ucapnya perlahan.

“Iya Bu,” sahutku, “bersama Bu Tiwi sih di atas rumput juga pasti menyenangkan.” “Kamu suka main outdoor?” tanyanya sambil melepaskan kemeja tangan pendekku. “Iya… tapi belum kesampaian.” “Nanti kalau di kampungku bisa outdoor. Tapi aku juga belum pernah mengalaminya.”

“Iya… kapan – kapan kita main ke kampung Ibu ya,” kataku sambil melepaskan celana panjang dan celana dalamku.

Bersambung… Setelah mengambil dua buah bantal dan meletakkannya di atas permadani, Bu Tiwi menelentang di atas permadani dengan kedua bantal itu sebagai penyangga kepalanya.

Meski Bu Tiwi tidak telanjang bulat, dengan gaun dalam ungu dikumpulkan di atas perutnya, namun baik serambi lempit mau pun toketnya dengan mudah bisa kusentuh.

Bu Tiwi memang sangat reaktif. Ketika aku mendekatkan wajahku ke serambi lempitnya, kedua kakinya langsung mengangkang. Sehingga dengan penuh gairah mulutku langsung nyungsep di permukaan serambi lempit tanpa jembut itu.

Aku mulai menjilati serambi lempit Bu Tiwi dengan lahapnya. Sepasang paha dosenku pun mulai terasa bergetar – getar, sementara kedua tangannya mulai memegang kepalaku. meremas rambutku dan terkadang meremas bahuku.

“Oooo… ooooohhhh… Chepiii… ooooohhhhh… kamu sudah pandai sekali jilatin serambi lempit Chep… ini pertama kalinya serambi lempitku disentuh lagi oleh cowok… ooooh… Chepiiii… kamu pandai sekaliiii…”

Terlebih lagi setelah aku fokus untuk menjilati kelentitnya yang mudah ditemukan, karena di dalam kamar Bu Tiwi ini lampunya cukup terang. Bu Tiwi pun mulai menggeliat – geliat dan mendesah – desah, “Chepppiiiii… aaaahhhh… Chepiiii… aaaaaahhhh… aaaaah… enak sekali Cheeeep… jilatin terus clitorisku Cheeeeep …

Tapi beberapa menit kemudian Bu Tiwi memegang kepalaku sambil berkata terengah, “Udah Chep… cukuppp… aaaah… jangan lanjut sampai orgasme. Nanti serambi lempitku jadi gak enak buat kamu. Masukin aja rudalmu Chep…”

Aku pun menjauhkan mulutku dari serambi lempit Bu Tiwi. Kemudian meletakkan moncong rudalku tepat di ambang mulut serambi lempit Bu Tiwi.

Dan berkat jam terbangku sudah cukup tinggi, tanpa kesulitan rudalku membenam dengan santainya ke dalam liang serambi lempit Bu Tiwi. Blesssskkkkkkk…

“Adududuuuuuhhh… langsung dimasukin semuanya… “rintih Bu Tiwi sambil melingkarkan lengannya di leherku. Lalu memagut bibirku ke dalam ciuman dan lumatannya.

Pada saat yang sama aku mulai mengayun rudal ngacengku di dalam liang serambi lempit dosenku yang kenyhal – kenyal legit ini.

Setelah ciuman dan lumatan Bu Tiwi terlepas, mulutku mulai beraksi untuk mengemut dan menjilati pentil toket kirinya, sementara tangan kananku meremas – remas toket kanannya. Sementara entotanku mulai agak dipercepat. Dan moncong rudalku terus – terusan menyundul dasar liang sanggama Bu Tiwi. Membuat sepasang mata indah Bu Tiwi kadang terpejam kadang melotot.

Ketika mulutku berpindah sasaran, untuk menjilati leher Bu Tiwi yang mulai keringatan, diiringi dengan gigitan gigitan kecil, sementara tangan kiriku tiada hentinya meremas – remas toket kanan Bu Tiwi yang belum kendor. Bu Tiwi pun semakin merintih dan merengek histeris :Cheeepiiii… aaaaah… semua yang kamu sentuh…

Selalu menggetarkan batinku Cheeeep… ayo entot terus Cheeeep… aku benar – benar seolah sedang melayang – layang saking nikmatnya Cheeepiiii… aaaaaahhhh… aaaaaaaaahhhh… hhhhhhhhh… uuuuuuu… uuuuuhhhh… aaaaaah… aaaaa… ooooooohhhhh… entooot teruuuuus Chepppiiii… entooot teruuuus…

Cukup lama aku memenyetubuhi dosenku, sehingga keringatku mulai menetes – netes ke dada dan leher Bu Tiwi, bercampur aduk dengan keringatnya sendiri.

Tapi aku tak peduli hal kecil itu. Kami hanya peduli pada satu hal, bahwa gesekan antara rudalku dengan dinding liang serambi lempit Bu Tiwi luar biasa nikmatnya. Nikmat yang sulit dilukiskan dengan kata – kata belaka.

Sampai pada suatu saat, Bu Tiwi merengek, seperti yang panik, “Chepiii… ooooohhhh… aku udah mau orgasme Cheeep…”

“Lepasin aja Bu. Aku paling suka ikut menikmati wanita yang sedang orgasme,” sahutku, disusul dengan percepatan entotanku.

rudalku maju mundur dan maju mundur terus dalam kecepatan tinggi. Sementara Bu Tiwi mulai berkelojotan. Sampai akhirnya dosenku yang seksi itu mengejang tegang dengan perut sedikit terangkat ke atas.

Pada saat itulah kutancapkan rudalku sedalam mungkin, sampai terasa mentok di dasar liang serambi lempit Bu Tiwi.

Lalu terjadilah sesuatu yang sangat indah buat batinku. Bahwa liang serambi lempit Bu Tiwi mengedut – ngedut kencang, disusul dengan gerakan spiral yang seolah sedang meremas rudalku… disusul lagi dengan membanjirnya lendir di dalam liang sanggama dosenku yang kelihatan alim tapi ternyata cukup atraktif itu.

Lalu terdengar suara Bu Tiwi, “Ooooohhhh… luar biasa nikmatnya Chep. Sejak menjadi janda sekian tahun yang lalu, baru kali inilah merasakan sentuhan laki – laki yang luar biasa pula. Terima kasih Chepi ya. Semoga kamu jangan bosan menggauliku nanti.”

“serambi lempit Ibu juga luar biasa legitnya,” sahutku.

“Tapi kamu belum ejakulasi kan?”

“Belum Bu.”

“Kalau gitu, ayo lanjutin mainnya. Atau Chepi mau ganti posisi?”

“Boleh. Mau posisi gimana?”

“Doggy mau?”

“Mau… mau… !” sahutku spontan. Sambil menarik rudalku sampai lepas dari liang sanggama Bu Tiwi.

Bu Tiwi pun merangkak, lalu menunggingkan pantatnya. Sehingga kemaluannya tampak penuh kalau dilihat dari belakangnya.

Aku pun berlutut sambil menghadap ke bokong yang ditunggingkan itu. Kemudian kubenamkan lagi rudalku ke dalam liang serambi lempit Bu Tiwi dengan mudahnya. Karena liang serambi lempit dosenku itu masih sangat becek.

Setelah rudalku masuk sepenuhnya, kutepuk – tepuk pantat Bu Tiwi yang lumayan gede itu, sambil mulai mengayun rudalku.

Sambil memeluk kedua bantal itu Bu Tiwi bersuara lagi, “Ooooh… begini juga enak Chep… oooohhhh… aaaaah… aaaa… aaaaaah… hhhhh… hhhhh…”

Dalam posisi berlutut memenyetubuhi Bu Tiwi ini, aku masih bisa menjulurkan kedua tanganku, untuk meremas sepasang toket yang bergelantungan itu. Terkadang juga aku bisa menepuk – nepuk sepasang buah pantat gede ini. Plaaaak… ploloook… plaaaak… ploooook… plaaaaakkkkk…

Bahkan pada suatu saat aku bisa mencari – cari kelentit Bu Tiwi dengan kedua tanganku. Sampai akhirnya kutemukan. Dan mulai kugesek – gesek dengan jemari tanganku, sambil mempergencar entotanku.

Semua ini cukup lama kulakukan.

Sehingga pada suatu saat Bu Tiwi ambruk tengkurap, sehingga rudalku terlepas dari liang serambi lempitnya.

Kubalikkan tubuh lunglai dosenku sampai celentang lagi. “Kenapa Bu? Orgasme lagi ya?” tanyaku.

“Iya Chep… rudalmu terlalu dahsyat. Membuatku orgasme lagi. Lanjutkan dalam posisi biasa aja ya.”

“Iya Bu…” sahutku sambil membenamkan lagi batang kejantananku ke dalam liang kewanitaan Bu Tiwi. Blesssss… melesak amblas dengan mudahnya ke dalam liang yang sudah becek itu.

Bu Tiwi kelihatannya sudah kepayahan. Karena itu aku pun tak mau menyuksanya lebih lama lagi. Maka aku pun mulai mengayun kmontolku dalam gerakan yang sangat cepat. Belasan menit kemudian aku pun bertanya terengah, “Le… lepasin di ma… mana Bu?”

“Sudah mau ejakulasi? Di dalam aja, gak apa – apa. Aman,” sahutnya sambil berusaha menggoyang pinggulnya, untuk menyambut datangnya ejakulasiku.

Sampai pada suatu detik, kutancapkan rudalku sedalam mungkin di dalam liang serambi lempit yang sudah becek itu. Lalu batang kemaluanku mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.

Croootttt… crooottt… crotcrottt… croooottttttttt… croooootttttttt…!

Aku pun terkapar di atas perut dosenku.

Dengan tulang – tulang serasa dilolosi.

Bu Tiwi pun mencium bibirku. Lalu berbisik, “Barusan aku orgasme lagi… bareng – bareng denganmu Chep…”

Dosenku yang nama lengkapnya Pratiwi itu, yang tiap hari mengenakan jubah dan hijab itu, ternyata seolah macan betina yang kelaparan. Sekalinya mendapatkan mangsa, diterkam dan dilahapnya habis – habisan.

Aku seolah dikuras olehnya, sampai tidak tersisa lagi tenaga, karena malam itu saja aku sampai tiga kali menyetubuhinya. Keesokan paginya aku diajak main ke kampungnya yang letaknya sekitar 60 kilometer dari kotaku. Kebetulan hari itu aku tidak ada kuliah. Bu Tiwi pun tidak ada jadwal mengajar. Sehingga kami bebas untuk “refreshing” ke kota kelahiran Bu Tiwi.

Di kota yang sangat bersih dan rumahnya bagus – bagus itu ternyata rumah Bu Tiwi besar dan punya lahan luas di sekitarnya. Ada sawah, kebun. kolam ikan dan sebagainya. Di kebun buah – buahan itulah Bu Tiwi mengajakku bersetubuh, untuk mewujudkan obsesinya… ingin merasaskan disetubuhi di alam terbuka (outdoor sex).

Ternyata Bu Tiwi tidak mengenakan celana dalam, sehingga begitu baju jubahnya disingkapkan ke perutnya, sambil merebahkan diri di bangku yang terbuat dari balok -balok kayu… aku pun leluasa untuk menyentuh dan menggerayangi serambi lempit gundulnya.

Setelah puas menjilati serambi lempit Bu Tiwi, aku pun menurunkan celana panjang dan celana dalamku sampai ke lutut. Kemudian membenamkan rudal ngacengku ke dalam liang serambi lempit Bu Tiwi.

Ya, kami tidak telanjang. Tapi kami bisa bersetubuh di kebun buah – buahan yang lengang dan sejuk itu. Ditemani oleh kicau burung liar di atas pepohonan dan semilir angin yang menggoyang – goyangkan dedaunan.

“Bu… serambi lempit Ibu memang luar biasa legitnya…” bisikku ketika rudalku sudah mulai memenyetubuhi liang serambi lempit dosenku.

“rudalmu juga luar biasa gede dan panjangnya. Makanya aku jadi ketagihan Chep,” sahut Bu Tiwi sambil merengkuh leherku ke dalam pelukannya. Lalu dipagutnya bibirku ke dalam ciuman dan lumatannya yang lahap sekali.

Lalu kuentot Bu Tiwi habis – habisan. Tentu saja durasi menyetubuhiku lama sekali. Karena tadi malam sudah habis – habisan memenyetubuhi dosenku yang ternyata laksana macan betina kelaparan ini. Karena itu, meski Bu Tiwi sudah orgasme tiga kali, aku masih kokoh, masih jauh dari ngecrot.

Maka Bu Tiwi mengajakku untuk melanjutkan persetubuhan ini di dalam rumahnya yang besar sekali itu.

Aku setuju – setuju saja untuk merehatkan dulu persetubuhan di kebun buah – buahan itu, kemudian melanjujtkannya di rumah Bu Tiwi, di dalam kamarnya yang perlengkapannya serba mentereng itu.

Sungguh sangat berbeda keadaan di rumah Bu Tiwi yang di kotaku kalau dibandingkan dengan rumah di kampung halaman Bu Tiwi ini. Di sini segalanya serba mahal dan antik. Sementara di daerah selatan kotaku, rumah Bu Tiwi hanya ditilami permadani di ruang tengahnya. Tidak ada meja mau pun kursi di situ.

Begitulah… setelah kenyang dan puas menyetubuhi Bu Tiwi, kami makan bersama. Dengan goreng ikan mas besar – besar, hasil menjaring dari kolam milik Bu Tiwi.

Kemudian aku pamitan, mau pulang ke kotaku.

Waktu mau meninggalkan rumah besar itu, Bu Tiwi memegang kedua pergelangan tanganku sambil berkata, “Jangan bosan sama aku ya Chep. Soalnya aku akan selalu membutuhkanmu. Kalau kamu tertarik, aku akan menjodohkanmu dengan Keyla. Supaya hubungan rahasia kita akan terjalin terus sampai aku tua renta kelak.

“Santai aja Bu. Kalau calon istri, aku sudah punya,” sahutku sambil mencolek bibir sensual Bu Tiwi, “Sedangkan hubungan rahasia kita semoga tetap terjalin dengan penuh kehangatan. Karena aku tak mau hypokrit. Aku pun sangat membutuhkan Ibu, baik di dalam mau pun di luar kampus.”

Bu Tiwi menyahut setengah berbisik, “Di kampus aku akan mendukungmu. Tapi di luar kampus, kamu yang harus mendukung hasrat birahiku, Chep.”

“Siap Bu,” ucapku sambil cipika – cipiki dengannya. Tentu saja aku senang mendengar ucapan Bu Tiwi itu. Karena dia sudah S3 dan punya jabatan di kampusku. Berbeda dengan Bu Shanti yang hanya dosen biaqsa, tiada jabatan apa – apa di rektorat.

Lalu dengan penuh semangat aku meninggalkan kota kecil yang telah menggoreskan kenangan indah itu.

Begitulah aku, dengan segala kelebihan dan kekuranganku.

Satu hal yang membuatku heran sendiri adalah, bahwa perempuan – perempuan yang hadir dalam kehidupanku, lebih banyak MILF daripada cewek sebayaku. Tapi aku tak mau mempersoalkan masalah itu. Yang penting aku happy, pasangan – pasangan seksualku pun happy.

Hari demi hari pun berputar dengan cepatnya.

Sampai pada suatu hari, datang lagi kisah baru di dalam kehidupanku…

Sebenarnya saat itu habis mengganti oli di bengkel mobil yang ditunjuk oleh dealer. Pulang dari bengkel besar itu tanpa disengaja aku melewati jalan ke rumah Nike. Dan aku menginjak rem ketika mau melewati rumah itu, kemudian menghentikan mobilku di bahu jalan, tepat di depan rumah Nike.

Saat itu tujuanku cuma satu. Ingin melihat seperti apa renovasi kamar Nike dengan dibiayai oleh cek yang sudah kuhadiahkan padanya itu. Maka aku turun dari mobil dan berharap ada orang di rumah Nike. Saat itu aku hanya mengenakan baju kaus dan celana pendek serba putih. Tanpa celana dalam di balik celana pendek putih yang elastis di bagian atasnya.

Ternyata Tante Esther (nama mamanya Nike) sendiri yang membuka pintu depan. “Yeee… ada Boss datang nih…” ucapnya ketika aku sudah masuk ke dalam rumahnya.

Dengan sopan kucium tangan kanannya, sebagaimana lazimnya bersikap terhadap calon mertua. Tapi setelah kucium tangannya, Tante Esther memeluk leherku dan mencium sepasang pipiku. Spontan aku pun memeluknya sambil mengusap – usap punggungnya.

Inilah gokilnya aku. Bahwa ketika memeluk mamanya Nike itu, aku merasa nyaman sekali bisa memeluk wanita setengah baya yang cantik dan bertubuh tinggi montok itu. Sehingga aku enggan untuk melepaskan kembali pelukanku.

Mata Tante Esther yang blasteran Jerman – Tionghoa itu menatapku dengan sorot lain dari biasanya. Bahkan bibirnya terbuka dan bergetar, seolah ingin dicium olehku. Ini membuatku degdegan. Aku ingin mencium bibir sensualnya, tapi tidak berani. Yang bisa kulakukan hanyalah mendekatkan bibirku ke bibirnya, dengan mata terpejam.

Pada saat itulah terjadi sedsuatu yang tak kuduga sebelumnya. Tante Esther memagut bibirku ke dalam ciumannya, yang lalu berkembang menjadi saling lumat. Aku pun mempererat pelukanku sambil meremas – remas punggung di daerah tulang belikatnya.

“Aku ingin melihat seperti apa kamar Nike yang katanya ingin direnovasi itu Tante,” kataku yang masih tetap berdiri di ruang tamu. Dengan pinggang dilingkari oleh lengan wanita tinggi montok berwajah kebule – bulean itu.

“Bukan hanya kamar Nike. Kamarku dan kamar Niko juga direnovasi semua tuh. Ayo kalau mau lihat…” sahut Tante Esther sambil mengajak ke bagian tengah rumah itu, dengan lkengan masih melingkari pinggangku. Tapi kubiarkan saja, sambil berpikir mungkin itu kebiasaan orang bule yang terikuti olehnya.

“Nah… ini kamar Nike…” kata Tante Esther sambil membuka pintu kamar pertama.

Aku pun melongok ke dalam kamar Nike. Memang sudah berubah drastis. Jadi cukup modern dan lengkap dengan kamar mandi yang bersatu dengan kamar itu.

Kemudian Tante Esther membuka pintu kamar kedua, “Nah ini kamar Niko, sudah selesai direnovasi juga kan?”

“Iya. Jadi sangat berubah,” sahutku, sambil mengenang masa laluku yang sering tiduran di kamar Niko ini. Tapi sekarang sudah berubah drastis.

“Tapi sayang, Niko dipindahkan ke Jakarta. Baru tadi subuh dia berangkat ke Jakarta.”

“Ohya?! Kok Nike gak bilang – bilang?”

“Mungkin Nike belum tahu. Karena perintahnya mendadak sekali. Kemaren sore diberitahu akan dimutasi ke Jakarta, tadi subuh sudah dijemput oleh bus perusahaan yang akan membawanya ke Jakarta. Ohya… kamarku juga sudah selesai direnovasi. Ayo lihat sana,” kata Tante Esther sambil mengajakku menuju pintu ketiga, yang berhadapan dengan ruang makan.

Di dalam kamar Tante Esther, mamanya Nike itu memelukku dari belakang, “Kami semua harus berterimakasih padamu Chep. Berkat kebaikanmu, kamarku dan kamare Niko juga ikut berubah drastis.”

Aku jadi salah tingkah. Sudah jelas perlakuan Tante Esther padaku sudah lebih dari semestinya. Lalu apakah aku akan mengalami hal yang sama seperti Bu Shanti dan Mama Aleta?

Entahlah. Yang jelas aku ini lelaki muda belia yang normal. Lengkap dengan darah mudaku. Sehingga diam – diam “si Jhoni” mulai bangun di balik celana pendek putihku.

Kamar Tante Esther memang sudah berubah drastis. Sudah ada kamar mandinya sendiri. Ada bed dan satu set sofa yang masih baru. Meja riasnya pun tampak masih baru.

Maka aku pun duduk di sofa baru berwarna coklat tua itu.

Tante Esther pun duduk merapat di samping kiriku. “Aku hanya bisa bilang terimakasih sama Chepi. Karena kami tak mungkin bisa membalas kebaikan Chepi.”

“Gak usah dipikirkan soal itu sih. Kan aku serius akan menjadikan Nike sebagai calon istriku Tante.”

“Mmm… selama ini Chepi dan Nike sudah jauh berhubungannya?”

“Maksud Tante jauh gimana?”

“Yah… aku juga maklum anak muda jaman sekarang kan banyak sekali yang pacaran tapi melakukan sesuatu yang seharusnya cuma boleh dilakukan setelah menjadi pasangan suami istri.”

“Ma.. maksud pertanyaan Tante tadi, apakah aku dan Nike pernah melakukan hubungan seks begitu?”

“Yaaa… begitulah kira – kira.”

“Tante… aku dengan Nike hanya sebatas cium pipi doang. Ciuman bibir pun belum pernah. Boleh Tante tanyakan sendiri kepada Nike nanti. Karena aku baru akan melakukan semuanya setelah Nike resmi menjadi istriku.”

“Nike juga pernah mengaku seperti itu. Tapi aku belum percaya sebelum mendengar pengakuan Chepi. Syukurlah… sebaiknya memang begitu. Jangan melakukan sesuatu yang bakal menjadi beban fisik dan mental di tengah perjalanan menuju hubungan yang paling sakral kelak.”

“Iya Tante.”

“Jadi kalian ciuman bibir pun belum pernah?”

“Belum Tante.”

“Malah barusan kiuta ciuman bibir ya.”

“Iya Tante. Maaf aku jadi lancang tadi.”

“Gak apa – apa. Tadi kan aku yang duluan mencium bibirmu. Ohya, kamu cowok normal kan?”

“Maksud Tante normal dalam hal apanya?”

“Waktu berdekatan dengan Nike, apakah kamu sama sekali tidak digoda oleh hasrat birahi?”

“Tentu aja nafsu sih ada Tante.”

“Lantas kalau sudah nafsu begitu, diapain?”

“Masuk aja ke kamar mandi. Lalu ngocok di situ. Heheheee…”

“Aduuuh kasian calon mantuku ini… “Tante Esther mengusap – usap tanganku yang sedang dipegang pergelangannya, “daripada dikocok mending dimainkan ke sini nih. “Tante Esther yang saat itu mengenakan daster putih, menarik tanganku ke balik dasternya. Dan diselinapkan ke balik celana dalamnya, sehingga aku merasa menyentuh serambi lempit berjembut tipis…

Spontan aku bereaksi, dengan menggerak – gerakkan jemariku di celah yang terasa agak basah, licin dan hangat.

Tante Esther malah mengecup bibirku dengan hangat, lalu menyhelkinapkan tangannya lewat lingkaran elastis di perut celana pendekku. Dan langsung memegang rudalku yang sudah mulai ngaceng ini…!

“Wow… kalau diibaratkan senjata, rudal Chepi ini bazoka, bukan cuma pistol…!” ucap Tante Esther sambil meremas rudalku dengan lembut.

Sementara aku pun semakin asyik menggerayangi serambi lempitnya yang sudah mulai basah. Tapi aku tetap ingat bahwa Tante Esther itu mamanya Nike. Sedangkan aku sudah telanjur mencintai Nike.

Maka cetusku, “Tante… ini gak apa – apa?”

“Nggak apa – apa. Ini kan wujud terimakasihku padamu Chep. Selain daripada itu, aku sudah terlalu lama tidak merasakan nikmatnya digauli lawan jenisku. Sehingga aku pun merindukan sentuhan lelaki yang sebenarnya.”

“Maksudku, apakah nanti takkan merusak hubunganku dengan Nike?“

“Nggak lah. Asalkan Nike jangan sampai tau. Sekarang kan Nike sedang di kantor. Niko juga sudah di Jakarta. Jadi hanya kita berdua yang berada di rumah ini.”

“Iya Tante. Aku juga sudah sangat terangsang nih…”

“Kamu mau lihat aku telanjang bulat?” tanya Tante Esther sambil berdiri dan bertolak pinggang di depanku.

“Ma… mau Tante…” sahutku dengan jiwa mulai dikuasai nafsu.

“Tunggu sebentar ya. Pintu depan harus dikunci dulu,” ucap Tante Esther sambil bergegas keluar dari kamarnya.

Tak lama kemudian dia muncul dan masuk lagi ke dalam kamar. Lalu menutup dan menguncikan pintu kamar.

Kemudian ia melepaskan daster putihnya. Ternyata di balik daster itu ia mengenakan baju kaus dan celana dalam yang sama – sama putih, dengan pinggiran merah.

Ia pun naik ke atas sofa yang berhadapan dengan sofaku. Di atas sofa itulah ia berlutut sambil menarik baju kausnya ke atas, sampai sepasang toket gedenya terbuka berikut sepasang pentil toketnya yang menggemaskan, ingin mengulum dan menjilatinya. Tak cuma itu, ia pun menurunkan celana dalamnya sampai kelihatan serambi lempitnya yang berjembut tipis dan menggiurkan itu.

Aku cuma terlongong menyaksikan semua itu. Terlebih lagi setelah Tante Esther melepaskan baju kaus dan celana dalamnya, sehingga tubuh tinggi montoknya jadi telanjang bulat.

Wow… tadinya kupikir Bu Tiwi itu sosok yang paling seksi dan menggiurkan. Ternyata Tante Esther lebih seksi dan lebih menggiurkan lagi…!

Aku pun seperti ditarik oleh daya magnetis, melangkah ke arah sofa yang sedang dibuat “pameran body” oleh Tante Esther itu.

“Bagaimana? Apakah aku masih menarik bagimu Chepi?”

“Tante sangat sangat dan sangat seksi. Sangat menggiurkan… !” sahutku sambil merangkul bokong Tante Esther yang masih berlutut di sofa itu. Lalu kuangkat tubuh tinggi montok berkulit putih mulus itu.

Tante Esther menunjuk ke arah bednya. Sebagai isyarat bahwa ia ingin dibawa ke sana. Dengan memeluk bokongnya, kuangkat tubuh tinggi montok berkulit putih mulus itu ke atas bednya.

Setelah merebahkan Tante Esther di atas bed, aku bertanya, “Tante… boleh aku menjilati serambi lempit Tante?”

“Jilatilah sepuasmu. Tapi kamu juga harus telanjang dulu Chep,” sahut Tante Esther.

Tanpa buang – buang waktu kulepaskan baju kaus dan celana pendekku. Setelah sama – sama telanjang aku pun bergerak ke antara sepasang paha putih mulus Tante Esther yang sudah direnggangkan lebar – lebar itu.

Kuamati serambi lempit mamanya Nike ini sejenak. Jembutnya tipis sekali sehingga takkan mempersulit aksiku untuk menjilatinya.

Lalu aku pun mendekatkan mulutku ke serambi lempit berjembut tipis itu. Dan mulai menjilati celah serambi lempitnya yang bagian dalamnya kelihatan berwarna pink itu.

Yang menyenangkan adalah daerah di sekitar serambi lempit Tante Esther ini tercium harum sekali. Sehingga aku sangat bersemangat untuk menjilatinya.

Tak sulit p;ula untuk mencari kelentitnya. Padahal ada juga perempuan yang kelentitnya bersembunyi terus sehingga mempersulit untuk mencarinya.

Tapi kelentit Tante Esther ini mudah sekali mencarinya. Sehingga aku tak hanya fokus menjilati bagian dalam serambi lempitnya yang berwarna pink itu, tapi juga mulai gencar menjilati kelentitnya.

Karuan saja Tante Esther mulai mendesah – desah sambil menggeliat – geliat. “Aaaaaah… Chepiii… aaaaaah… Cheeeeepiiii… kamu pandai sekali menjilati kemaluanku Cheeeep… aaaaah… iyaaaaa. clitorisnya itu jilatin terus Cheeep… enak sekali Chepiiii… aaaaa… aaaaaaah… aaaaa…

Aku tak cuma menjilati kelentitnya, melainkan juga menyedot – nyedot dengan agak kuat. Sehingga kelentit Tante Esther jadi “mancung”, menonjol ke depan.

Namun tak lama kemudian aku menghentikan jilatan dan isapanku. Lalu merayap ke atas perut Tante Esther sambil memegang rudalku yang sudah ngaceng berat ini.

Tante Esther pun ikut memegangi leher rudalku sambil mencolek – colekkan moncongnya sambil agak menekan, supaya moncongnya masuk ke dalam mulut serambi lempitnya.

Aku pun mengikuti isyaratnya. Dengan sekuat tenaga kudorong rudal ngacengku. Dan… melesak masuk sedikit demi sedikit sampai hampir separuhnya yang sudah terbenam.

Tante Esther pun merengkuh leherku ke dalam pelukannya sambil berkata setengah berbisik, “Belalai gajahmu gede banget. Sampai sulit masuknya gini.”

“Mungkin liang serambi lempit Tante yang sempit sekali. Padahal tadi sudah basah sekali rasanya,” sahutku sambil mulai mengayun rudalku perlahan – lahan, meeski baru masuk setengahnya.

Dengan cara seperti ini liang serambi lempit Tante Esther mulai beradaptasi dengan ukuran rudalku. Sehingga ketikja aku mendorong rudalku, makin lama makin dalam masuknya. Dan akhirnya terasa moncong rudalku mampu menabrak dasar liang serambi lempit Tante Esther.

“Uuuuughhhhh… sampai nyundul dasar liang serambi lempitku Chep… luar biasa panjangnya ular cobramu ini…” ucap Tante Esther sambil menciumi pipiku.

Aku tidak menyahut, karena mulai asyik memainkan sepasang toket Tante Esther yang sangat bagus bentuknya. Toket yang gede dan empuk, tapi belum kendor.

“Aku menyerahkan semuanya ini, saking sayangnya perasaanku padamu… sekaligus sebagai tanda terima kasih,” ucap Tante Esther ketika entotanku masih lamban ayunannya.

“Iya Tante. Tubuh Tante ini jauh lebih berharga bagiku. Walau pun aku sudah menikah dengan Nike, aku ingin agar kita tetap bisa melakukannya tanpa sepetahuan Nike.”

“Memangnya serambi lempitku masih enak Chep?”

“Sangat enak sekali Tante… gak nyangka kalau aku bisa merasakan kenikmatan di tubuh Tante ini…”

“Kalau sudah nikah dengan Nike, kita kan bisa ketemuan di tempat yang Chepi tentukan nanti. Kalau belum nikah, kan Chepi bisa datang ke sini di jam kerja. Pada saat Nike sedang bekerja di kantor.”

“Iya Tante. Aku akan sering datang tanpa sepengetahuan Nike nanti, khusus buat menyetubuhi serambi lempit Tante yang luar biasa enaknya ini.”

Obrolan itu lalu terputus karena aku mulai mempercepat entotanku dalam irama standard. Sementara Tante Esther pun mulai sibuk mendesah dan merintih, sambil menggoyangkan pinggulnya. Tapi goyangannya bukan memutar dan meliuk – liuk, melainkan menyerupai gerakan ombak yang sedang bergulung – gulung menuju pantai.

Aku pun semakin bergairah mengayun rudalku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Tante Esther yang luar biasa enaknya ini.

Rintihan – rintihan histeris Tante Esther pun terdengar sangat erotis di telingaku. “Aaaaahhhh… Chepiii… aaaaah… aaaaaaaah… ini luar biasa enaknya Cheeeepiiii… luaaaar biasaaaaa… terasa nsekali gesekan rudalmu ini… aaaaah… aaaah… aaaah… entot terus Cheeeepiiii… iyaaaaa…

“Aku juga uuuuuughhhh… aku juga akan menyayangi Tante… uuuugh… sebagai ibu mertua yang baik hati…” sahutku tersendat – sendat, karena entotanku tidak kulambatkan.

Mungkin akibat dari goyangan pinggul Tante Esther yang membuat kelentitnya terus – terusan bergesekan dengan rudal ngacengku, belasan menit kemudian ibunya Nike itu mulai berkelojotan, dengan nafas terengah – engah. Lalu ia mengejang tegang dengan nafas tertahan dan mata terpejam dan mulut menyeringai.

“Oooooo… ooooh… aku sudah orgasme Cheeeep…” ucap Tante Esther yang sudah melepaskan nafasnya kembali, dengan tubuh lemas lunglai.

“Aku paling suka ikut menikmati wanita sedang orgasme seperti barusan,” sahutku.

Tante Esther mencium bibirku, lalu berkata lirih, “Terima kasih Chepi… yang barusan terasa indah sekali. Tapi Chepi belum ejakulasi kan?”

“Belum Tante… santai aja,” sahutku, dengan rudal masih menancap di dalam liang serambi lempit Tante Esther dan belum kuayun lagi.

Setelah Tante Esther tampak fresh lagi, aku pun mulai mengayun kembali batang kemaluanku di dalam liang serambi lempit mamanya Nike yang sudah becek ini.

“Gantian aku yang di atas,” ucap Tante Esther ketika ayunan rudalku masih perlahan.

Aku menurut saja. Tadinya ingin sama – sama berguling dengan rudal tetap berada di dalam liang serambi lempit calon mertuaku. Tapi karena ingin cepat berubah posisi, kucabut saja rudalku, kemudian aku berguling dan celentang di samping Tante Esther.

Tante Esther menyeka serambi lempitnya dulu dengan kertas tissue basah. Kemudian berlutut dengan serambi lempit berada di atas rudalku yang masih sangat ngaceng ini. Dia sendiri yang memegang rudalku dan diarahkan ke serambi lempitnya yang berada di atas moncong rudalku. Lalu ia menurunkan bokongnya sehingga rudalku melesak masuk ke dalam liang serambi lempitnya yang sudah agak kering, karena baru diseka oleh tissue.

Tadinya kupikir Tante Esther akan “memenyetubuhiku” sambil tetap berlutut dan menghadap padaku. Tapi ternyata tidak. Ia menghempaskan dadanya ke atas dadaku, yang kusambut dengan dekapan di pinggangnya.

Sambil menelungkup di atas dadaku, serambi lempitnya mulai membesot – besot rudalku. Tapi aku pun tak mau berdiam diri. Kugerakkan rudalku seirama dengan ayunan serambi lempit Tante Esther. Ketika serambi lempitnya maju dan “menelan” rudalku, aku pun memajukan rudalku. Dan ketika serambi lempit Tante Esther mundur, aku pun menarik rudalku.

Yang menyenangkan, kalau Tante Esther mengangkat badannya dengan menahan tubuh dengan sepasang tangan di kanan – kiri badanku, sepasang toket gede itu pun bergoyang – goyang erotis di atas dadaku. Dan dengan leluasa sepasang tanganku bisa meremas – remas sepasang toket gede itu. Toket yang empuk – empuk kenyal itu.

Tapi menurut pengalamanku, kalau bersetubuh dalam posisi WOT begini, pasangan seksualku lebih cepat orgasme.

Ternyata Tante Esther juga begitu. Hanya belasan menit ia bermain di atas tubuhku. Lalu menggelepar diu atas perutku. Dan merintih lirih, “Aaaaaah… aku sudah lepas lagi Chep…”

Aku tersenyum dan berkata di dalam hati, ‘Sapa suruh main di atas?’

Tante Eshter menggulingkan badannya, jadi celentang di sampingku, dengan tubuh bermandikan keringat, seperti aku.

Aku pun mengambil kertas tissue basah dari meja kecil di samping bed. Untuk menyeka wajahku yang basah oleh keringat. Untuk mengurangi kemungkinan keringat masuk ke mata, suka perih di mataku.

Lalu merebahkan diri di samping Tante Esther yang masih celentang sambil menatap langit – langit kamarnya. Kujusap – usap perut dan toket gedenya yang basah oleh keringat sambil bertanya, “Lanjutkan?”

“Ya lanjutin dong. Kan Chepi belum ejakulasi.”

Aku pun bergerak ke antara sepasang paha Tante Esther yang sudah mengangkang lagi. Kutepuk – tepuk serambi lempitnya sambil berkata, “serambi lempit Tante luar biasa enaknya.”

Tante Esther tersenyum sambil menyahut, “Sukurlah kalau masih enak sih. Tapi rudalmu juga enak sekali Chep. Bukan cuma gede tapi juga panjang sekali. Makanya aku cepat orgasme, karena rudalmu menyundul – nyundul dasar liang serambi lempitku terus saking panjangnya.”

“Dari buku yang kubaca, di dasar liang serambi lempit ada Gspot juga ya.”

“Iya. Makanya kalau kena sentuh terasa nikmatg sekali. Ayo masukin lagi rudalmu Sayang…”

Itu pertama kalinya Tante Esther memanggil “sayang” padaku.

Lalu kubenamkan lagi rudalku ke dalam liang serambi lempit Tante Esther yang terasa masih becek ini. Masuuuk… membenam semuanya, bahkan moncongnya sampai mentok di dasar liang serambi lempit mamanya Nike.

Kubiarkan rudalku tetapo bertempelan dengan dasar liang serambi lempit Tante Esther, karena aku ingin mencium bibir sensualnya dulu.

Ciumanku disambut dengan lumatan hangat Tante Esther. Dan kubalas dengan lumatan lagi, sambil mulai mengayun kembali rudalku.

Nikmat sekali rasanya memenyetubuhi Tante Esther sambil saling lumat begini.

Tapi ketika melihat ke jam dinding, aku sadar bahwa sejam lagi adalah waktunya karyawan dan karyawatiku pada pulang. Sehingga aku memacu entotanku dengan jilatan dan gigitan – gigitan kecil di leher Tante Esther yang masih keringatan.

Kali ini bukan hanya leher yang jadi sasaran bibir dan lidahku. Ketika tangan Tante Esther berada di dekat kepalanya, mulutku pun langsung menyeruduk ke ketiaknya. Di situ lidah dan bibirku beraksi. Menjilat – jilat dan menyedot – nyedot. Sementara tangan kiriku asyik meremas – remas toket kanannya.

Tante Esther pun mulai merintih – rintih histeris lagi, “Chepiii… aaaaaa… aaaaaaah… ini enak sekali Sayaaaang… aaaaa… aaaaah… entot terus sambil jilatin ketekku Cheeeeep… enak sekali… entot terusssss… entooootttttt… entoooootttt… aaaahhhh… entoooottttttt …

Aku pun semakin bersemangat mengayun rudalku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit yang masih becek namun erotis ini.

Aku memang ingin secepatnya ejakulasi, karena takut kalau – kalau Nike memaksa pulang sebelum aku datang ke kantor. Atau mungkin saja ada sesuatu yang emergency, yang mengharuskan Nike pulang lebih cepat dari semestinya.

Maka sambil menjilati ketiak Tante Esther, sementara tanganku meremas – remas toketnya, gerakan entotanku pun semakin gencar. Seolah ingin menggedor – gedor dasar liang serambi lempit mamanya Nike itu.

“Nan… nanti lepasin di… di mana Tante?” tanyaku tersendat – sendat, karena sedanbg gencarf – gencarnya mengayun rudalku.

“Di dalam aja. Aman kok. Emangnya udah mau ejakulasi?”

“Iya Tante.”

“Tahan dikit ya… aku juga udah mau lepas lagi nih. Kalau bisa barfengin lepasinnya,” ucap Tante Esther yang lalu memperbinal goyangan pinggulnya, dengan gerakan ombak bergulung – gulung itu. Sehingga kelentitnya terus – terusan bergesekan dengan rudalku.

Dan akhirnya ia berkelojotan dengan mata merem melek.

Ketika sekujur tubuhnya mengejang tegang, aku pun sudah berada di titik puncak kenikmatanku. Maka kubenamkan rudalku sedalam mungkin, tidak kugerakkan lagi.

Lalu kami seperti sepasang manusia yang sedang kerasukan. Saling cengkram, saling remas sekuatnya.

Pada saat yang sama, kurasakan liang serambi lempit Tante Esther berkedut – kedut kencang, disusul dengan gerakan sekujur liang serambi lempitnya yang bergerak seperti spiral, seolah sedang meremas rudalku.

Pada saat yang sama, batang kemaluanku pun mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.

Croooottttt… croootttt… croooootttttt… crotttcrottttttt… crooootttttt…!

Peristiwa indah bersama Tante Esther itu terus – terusan menggelayuti terawanganku sejak aku meninggalkan rumahnya sampai tiba di kantor, di mana karyawan dan karyawatiku masih pada sibuk mengerjakan tugasnya masing – masing. Padahal beberapa menit lagi mereka sudah mau pulang.

Aku pun langsung menuju ruang kerjaqku yang berdampingan dengan ruang kerja kesepuluh karyawanku. Nike tampak masih bekerja di depan laptopnya.

“Jangan pulang Beib. Aku ingin ngobrol banyak denganmu. Tapi sekarang mau mandi dulu ya,” kataku.

Nike mengangguk sambil tersenyum manis.

Aku pun langsung menuju kamarku. Langsung masuk ke kamar mandiku.

Aku memang harus mandi sebersih mungkin, lalu mengganti pakaianku, takut ada harum parfum Tante Esther yang menempel di badanku dan tercium oleh Nike.

Pada saat aku mandi, jam kerja para karyawan pun habis. Maka setelah mandi kukenakan saja baju dan celana piyamaku.

Kemudian menghampiri Nike yang masih standby di ruang kerja kami berdua.

“Duh enaknya Boss Chepi, bisa langsung ganti baju piyama, karena kantornya menyatu dengan rumah,”

“Iya. Tapi kalau bangunan kantor baru itu sudah selesai, aku bakal sama aja dengan kamu Beib.”

“Tadi katanya mau ngajak ngobrol, soal apa Yang?”

“Ngobrolnya di kamarku aja yuk. Biar leluasa. Kalau di ruang kerja gini kan sikap kita jadi berbau – bau formal.”

Nike mengangguk sambil tersenyum. Lalu mengikuti langkahku, masuk ke dalam kamarku yang dengan ruang kerjaku hanya terbatas ruang keluarga.

Di dalam kamarku, Nike meletakkan tas kecilnya di atas meja kecil, lalu duduk di sofa putihku.

Seperti biasa saat itu Nike mengenakan baju seragam kantor perusahaan. Mengenakan blazer dan spanrok serba putih, dengan blouse berwarna kuning muda. Seragam itu harus dikenakan oleh seluruh karyawati di perusahaanku (Sebenarnya perusahaan punya Tante Aini. Tapi Tante Aini memakai namaku sebagai ownernya).

Aku duduk di samping Nike sambil berkata, “Perasaan dari hari ke hari, kamu semakin cantik aja Nik.”

“Deuh gombal gitu pasti ada maunya.”

“Memang ada mauku.”

“Mau apa Yang?” tanya Nike sambil merapatkan duduknya padaku.

“Kita kan bakal jadi suami – istri. Tapi mencium bibirmu pun tak pernah.”

“Aku kan ikut kemauan Bang Chepi aja. Kalau Abang cuma ingin cium pipi, ya aku kasihkan pipiku. Kalau mau cium bibir ya pasti akan kukasih juga, walau pun aku belum pernah merasakan dicium cowok.”

“Kalau aku mau cium bibir yang bawah dikasih gak?” tanyaku sambil merayapkan tanganku ke pahanya yang putih mulus.

“Bibir bawah? Iiih… emangnya bibir bawah suka dicium?” Nike bergidik.

“Suka. Malah setelah dicium lalu dijilati.”

“Iiih Baaang… dengernya aja aku merinding nih.”

“Tapi kamu benar – benar masih perawan kan?”

“Masih Bang. Kalau gak perawan lagi bunuh aja aku di malam pertama kita nanti.”

“Kalau kubuktikan keperawananmu sekarang, boleh nggak?” tanyaku dengan desir nafsu yang semakin menggodaku.

“Boleh aja,” sahut Nike tenang, “Asalan ada kepastian dulu kapan kita menikah.”

“Tentu saja kamu harus jadi mualaf dulu Beib.”

“Aku sudah jadi mualaf Bang.”

“Haaa?! Yang bener… !” cetusku kaget.

“Serius Bang. Surat resminya juga ada.”

“Di mana kamu resmi jadi mualaf Beib?”

“Di masjid dekat rumah.”

“Kapan itu terjadi?”

“Kira – kira dua minggu yang lalu.”

“Kok gak bilang – bilang sama aku?”

“Kan agama itu urusan pribadiku dengan Tuhan. Aku jadi mualaf atas kesadaranku sendiri. Bukan karena paksaan dari Bang Chepi. Makanya aku diam – diam aja.”

“Sebelum jadi mualaf, kamu tentunya belajar dulu kan?”

“Iya Bang. Aku diajari oleh saudara sepupuku yang sudah duluan jadi mualaf.”

“Mamamu marah nggak?”

“Nggak. Kan familiku banyak yang sudah jadi mualaf.”

Aku terharu mendengar pengakuan itu. Lalu kucium bibir Nike, sebagai ciuman bibibr yang pertama bagi kami. Kali ini bukan atas nama nafsu. Tapi atas dasar perasaan haru dan bahagia, karena Nike sudah jadi mualaf atas kesadarannya sendiri.

Aku bahkan membatalkan niatku untuk mengambil keperawanan Nike, karena kesadaranku datang sendiri dengan teguhnya. Bahwa aku tak mau mengotori hidup Nike yang kuanggap masih suci. Aku tak mau terlalu banyak bergelimang dosa. Terutama Nike yang sudah menjadi mualaf itu, harus kujunjung tinggi di atas ubun – ubunku.

Akhirnya aku dan Nike hanya ngobrol ke barat ke timur saja, tanpa point penting.

Lalu kuijinkan Nike pulang dengan motor barunya yang dibeli oleh sebagian isi cek hadiah dariku itu.

Setelah Nike pulang, aku pun tidur dengan nyenyaknya.

Jam sembilan malam aku terbangun, karena perutku terasa lapar.

Setelah termenung sesaat, kuganti pakaianku, lengkap dengan jaket kulitku.

Kemudian kukeluarkan mobilku dari garasi. Dan kularikan di jalan aspal, menuju sebuah resto yang buka 24 jam.

Aku cuma minta french fries dan ayam goreng crispy pedas.

Ketika aku baru mulai menikmati french fries-ku, terdengar suara perempuan di samping kananku, “Selamat malam Boss.”

Ketika menoleh ke arah datangnya suara, ternyata yang menyapaku itu seorang perempuan muda yang hitam manis, yang tak lain dari karyawatiku sendiri, bernama Kristina.

“Malam, “aku mengangguk sambil tersenyum, “Sama siapa Tin?”

“Sendirian aja Boss,” sahut Kristina yang biasa kupanggil Tina itu.

“Ayo kalau begitu pesan sana mau makan apa?”

“Saya sudah selesai makan Boss.”

“Kalau begitu temani aku makan deh. Ayo duduk di situ,” ucapku sambil menunjuk ke kursi yang berada di depanku, terbatas oleh meja resto yang di seluruh dunia ada cabangnya itu.

Kristina pun duduk di kursi yang kutunjuk.

Aku sudah tahu bahwa Kristina punya suami yang bekerja di kapal barang di luar negri. Dan hanya pulang sembilan bulan sekali. Karena suaminya sembilan bulan di laut, tiga bulan di darat.

Dan aku sudah sering menggodanya, karena aku suka sekali yang hitam manis seperti Kristina itu. Tadinya aku cuma iseng saja, suka mengirim WA padanya. Dan selalu saja sambutannya hangat. Tapi aku belum pernah melakukan apa – apa dengannya, karena aku pun ragu untuk, menggoda karyawatiku sendiri.

Tadi pada waktu aku melepaskan Nike begitu saja, sebenarnya ada yang kutindas di dalam batinku. Yang kutindas itu adalah nafsu birahi. Demi kenyamanan batin Nike, aku membatalkan niatku untuk “membuktikan” perawan tidaknya kekasihku yang jelita dan sangat patuh itu. Lalu aku mencoba melupakannya dengan istirahat total.

Tapi setelah bangun tidur di saat yang tidak tepat ini si Jhoni bangun lagi. Sedangkan Mbak Nindie tengah “cuti bulanan”.

Maka perjumpaan tak disengaja dengan Kristina ini merupakan celah yang menggembirakan bagiku. Karena belakangan ini aku punya “desir khusus” kepada karyawatiku yang usianya baru 21 tahun itu. Hanya 2-3 tahun lebih tua dariku.

Maka obrolan lewat WA yang terkadang sudah melewati batas itu, kini ingin kubuktikan dalam kenyataan. Bahkan aku masih menyimpan WA dengannya di luar jam kerja itu :

Aku – Kamu siap berbagi rasa denganku?-

Tina – Siap lah. Kapan dan di mana?-

Aku – Nanti ya… aku mau pilih waktu yang terbaik –

Tina – Jangan nunggu suami saya keburu pulang Boss –

Aku – Memangnya kapan suamimu pulang? –

Tina – Mungkin pertengahan bulan depan –

Dan kini perempuan hitam manis yang sudah janjian mau ena-ena di WA itu sudah muncul sendiri di depan mataku, dalam suasana batinku yang sedang membutuhkan penyaluran nafsu birahiku ini.

“Bagaimana kalau rencana wikwik kita sekarang aja dilaksanakannya?” tanyaku ketika Kristina sedang tersenyum – senyum manis itu.

Dia kelihatan agak kaget. Dan tidak langsung menjawab.

“Sekarang Boss?” tanyanya mengambang.

“Iya,” sahutku.

“Di mana?”

“Di rumahku aja.”

“Tapi rumah Boss kan dijagain satpam. Kalau mereka melihat saya, pasti gempar di kantor nanti.”

“Takkan ada yang melihat kamu Tin. Nanti kamu ngumpet aja di jok belakang mobilku. Kacanya kan gelap. Takkan ada yang bisa melihatmu dari luar. Mobil langsung kumasukkan ke dalam garasi. Setelah pintu garasinya ditutup, kamu turun dan ikut aku masuk ke dalam kamarku. Kan dari garasi ada pintu yang langsung menuju kamarku.

Kristina tercenung lagi.

“Bagaimana?” desakku.

“Dijamin aman Boss?”

“Aman lah.”

Wanita muda yang bekerja di bagian operasional perusahaanku itu tercenung lagi sesaat. Lalu berkata perlahan, “Iya deh. Tapi saya gak bawa pakaian ganti.”

“Banyak pakaian perempuan di kamarku. Punya tanteku.”

“Iya deh… saya juga udah penasaran… ingin melukin Boss semalam suntuk,” ucap Kristina sambil tersipu – sipu.

“Iya… nanti kita lakukan semuanya sampai hilang penasarannya. Oke?”

“Oke Boss.”

Beberapa saat kemudian Kristina sudah duduk di seat belakang mobilku yang sudah kukeluarkan dari parkiran restoran yang murah meriah itu.

Sesuai dengan yang sudah kuatur, pintu gerbang dibuka oleh dua orang satpam wanita, kemudian mobilku langsung masuk ke dalam garasi yang pintunya terbuka sendiri setelah aku memijat remote control yang selalu tersimpan di laci dashboard mobilku. Sementara Kristina tetap rebah menelungkup di seat belakang.

Setelah mobilku berada di dalam garasi, pintu garasi pun menutup sendiri secara automatis.

Kristina pun kusuruh turun dari mobilku. Lalu kubuka pintu yang menghubungkan garasi dengan kamarku.

Setelah berada di dalam kamarku, Kristina seperti terheran – heran, “Baru tau dari garasi ada jalan langsung menuju ke kamar Boss.”

Setelah menutupkan pintu yang menghubungkan kamarku dengan garasi, kupeluk Kristina dari belakang.

Dia diam saja. Bahkan berkata, “Saya merasa seperti bermimpi Boss. Tadinya saya pikir Boss cuma maui becanda aja di WA. Gak taunya beneran terjadi.”

“Sejak kamu kirim foto serambi lempitmu, aku jadi gak sabaran lagi. Pengen ngerasain legitnya serambi lempit cewek yang hitam manis seperti kamu Tin.”

“Hihihiiii… jadi pengen malu… ngirim foto serambi lempit segala sama Boss… saking inginnya disayang sama Boss…”

“Iya…” sahutku yang masih memeluk Tina dari belakang, “tapi kamu pakai celana jeans dan jaket tebal gini, nyusahin aku dong.”

“Sebentar Bos. Mau dibuka deh celananya,” kata Kristina sambil melepaskan diri dari pelukanku. Lalu di depan mataku ia melepaskan sepatu dan celana jeansnya. Jaket tebalnya pun dilepaskan. DIsusul dengan pelepasan behanya tanpa mencopot blousenya. Sehingga sepasang payudara indahnya tampak sebagian besar di mataku, termasuk sepasang pentil toketnya…

Tanpa ragu ia memamerkan toketnya padaku. Bahkan sesaat kemudian ia pun menanggalkan celana dalamnya, sehingga tampaklah sebentuk kemaluan yang berjembut di bagian atasnya, sementara bibir serambi lempitnya bersih dari jembut. Ini yang paling kusukai. Memelihara jembut boleh – boleh saja, tapi jangan berserabutan di antara bibir serambi lempitnya, karena kalau kujilati bisa tertelan jembutnya.

Setelah Kristina telanjang bulat, aku tidak sabaran lagi. Cepat ketanggalkan pakaianku, hanya celana dalam yang masih melekat di tubuhku (karena konon lelaki yang hanya bercelana dalam lebih seksi daripada yang telanjang bulat). Kemudian kuraih pergelangan tangan Tina ke atas bed. Perempuan muda yang berasal dari sebrang lautan itu tersenyum senang dan mengikuti raihanku.

“Besok kita refreshing ke luar kota ya. Besok kan Sabtu, kita weekend di luar kota aja,” ucapku sambil mengusap – usap serambi lempitnya yang tampak eksotis itu.

“Iya… saya siap untuk mengikuti apa pun ajakan Boss. Biar Boss makin sayang pada saya nanti.”

Aku tersenyum sambil berkata di dalam hati. Tak perlu jauh – jauh mencari perempuan. Di rumah dan di kantorku sendiri masih banyak perempuan yang belum kulibas. Satpam wanita yang tujuh orang itu belum pernah kujamah. Pembokat yang manis dan pernah kerja di Taiwan itu pun belum pernah kujamah. serambi lempit anak orang tajir melintir, belum tentu lebih enak daripada serambi lempit pembokat.

Karyawati perusahaanku juga baru seorang ini yang mau kugauli. Padahal masih ada empat orang lagi karyawatiku yang bisa kujadikan TO.

Yang penting perusahaanku berjalan terus sebagaimana mestinya. Bahkan belakangan ini perusahaanku (yang sebenarnya perusahaan Tante Aini ini) mengalami perkembangan yang pesat sekali. Kalau suatu saat Tante Aini mengaudit, pasti beliau akan terperanjat kalau melihat perkembangan perusahaan yang atas namaku ini.

Tante Aini juga tidak tahu bahwa aku sedang menggumuli tubuh telanjang wanita belia yang berasal dari luar Jawa ini. Tidak tahu bahwa aku mulai menggerayangi serambi lempitnya yang menggiurkan ini.

Tapi Kristina bukan cewek pasif. Ketika aku mulai asyik mencolek – colek dan mencolok – colok celah serambi lempitnya, Kristina pun menarik celana dalamku sampai terlepas dari kedua kakiku. Dan serambi lempitik tertahan setelah melihat rudalku yang sudah ngaceng ini. Padahal tadi siang aku sudah kenyang menyetubuhi Tante Esther.

Tapi seperti biasa, aku tidak terlalu suka dioral oleh pasangan seksualku, kecuali kalau rudalku sulit ereksi. Karena kalau sudah ngaceng berat begini lalu dioral oleh perempuan, pasti nantinya cepat ejakulasi.

Maka kudorong Kristina agar celentang, lalu aku menghempaskan dadaku ke atas sepasang toketnya yang ternyata masih sangat kencang dan indah sekali bentuknya.

Kristina menyambutku dengan rengkuhan di leherku, lalu dipagutnya bibirku ke dalam ciuman lahapnya, sambil menyedot lidahku ke dalam mulutnya. Lalu menggelutkan lidahnya dengan lidahku di dalam mulutnya yang harum penyegar mulut.

Setelah ciumannya dilepaskan, ia berkata setengah berbisik, “Sebenarnya sudah sejak lama saya gemes ingin mencium bibir Boss. Baru sekarang saya bisa merasakannya. Gak nyangka saya bisa merasakan indahnya mencium bibir Boss.”

“Jadi cuma ingin ciuman? Gak pengen ngerasain dientot oleh rudalku?” tanyaku setengah bercanda.

“Iiiih… pengen sekali Bossss… “lengan kiri Kristina melingkari pinggangku, sementara tangan kanannya memegang rudal ngacengku.

Bukan cuma itu. Kristina pun menggesek – gesekkan moncong rudalku ke celah serambi lempitnya. Agak lama ia melakukan hal ini. Setelah aku menghimpit perutnya pun, Kristina tetap asyik menggesek – gesekkan rudalku ke celah serambi lempitnya yang makin lama makin basah.

Aku mengerti bahwa aksi Kristina itu adalah usaha untuk membuat liang serambi lempitnya basah. Karena moncong rudalku digesek – gesekkan ke kelentitnya. Bukan cuma ke celah serambi lempitnya doang.

Sampai pada suatu saat, Kristina menarik dan menekankan rudalku ke celah serambi lempitnya, sehingga alat kejantananku ini membenam sampai lehernya.

Kemudian ia berkata perlahan, “Silakan dorong rudalnya Boss…”

Berarti tepat dugaanku tadi, bahwa aksi Kristina barusan adalah untuk memudahkan rudalku masuk ke dalam liang serambi lempitnya. Aku pun mendorong rudalku dengan kuat. Dan melesak masuk ke dalam liang serambi lempit Kristina… blessss…

Lalu permainan surgawi ini pun kumulai. Dengan mengayun rudalku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Kristina yang luar biasa legitnya ini. Gesekan antara batang kemaluanku dengan dinding liang serambi lempit Kristina memang fantastis. Membuat nafasku berdengus – dengus seperti kerbau sedang disembelih.

Kristina pun mulai berdesah – desah erotis. “Aaaaaah… aaaaaaahhhh… Bossssssss… aaaaaah… aaaaaaahhhhh… rudal Boss luar biasa… terasa sekali gesekannya… aaaaah… baru sekali ini saya merasakan nikmat yang luar biasa Bosss… aaaaaah… aaaaahhhhh… Bosss… aaaaah… gak nyangka saya bisa dapetin Boss…

Seperti biasa, kalau sedang menyetubuhi perempuan selalu saja mulut dan tanganku ikut beraksi. Tanganku asyik meremas – remas toketnya, sementara mulutku asyik menjilati lehernya disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Kristina pun semakin mendesah dan merintih. Sementara pinggulnya mulai beraksi, bergeol – geol dengan lincahnya.

Yang membuatku keenakan adalah liang serambi lempitnya seperti punya daya isap. Ketika aku sedang menarik rudalku, terasa ada tenaga seperti menyedot dari dalam liang serambi lempitnya. Inilah yang aku sukai. Bahwa serambi lempit Kristina jadi terasa legit sekali.

Namun caraku juga ternyata membuat Kristina klepek – klepek.

Rintihan dan desahan nafasnya semakin menjadi – jadi. Berbaur dengan dengus – dengus nafasku.

Ketika mulutku sedang mengemut dan menyedot – nyedot pentil toketnya, tanganku pun meremas – remas toket satunya lagi. Bahkan ketika aku menjilati ketiaknya, tanganku tetap asyik meremas – remas toketnya.

Cukup lama semua ini kulakukan. Sehingga keringat mulai membasahi tubuhku, bercampur aduk dengan keringat Kristina.

Yang membuatku heran, Kristina belum orgasme juga. Padahal sudah cukup lama aku memenyetubuhinya. Sampai akhirnya aku malah sudah tiba di detik – detik krusialku.

“Lepasin di… di mana nih?” tanyaku agak panik.

“Di dalem aja Boss,” sahutnya, “Emang udah mau ngecrot?”

“Iya.”

“Saya juga udah mau orga lagi Boss…”

Orga lagi? Berarti dia sudah orgasme tadi. Tapi kapan terjadinya? Kok aku tidak menyadarinya.

Entahlah. Yang jelas aku sedang mempercepat entotanku sambil meremas – remas toketnya, sambil mencium bibirnya sensualnya juga.

Lalu terjadilah sesuatu yang takkan kulupakan di dalam hidupku. Bahwa Kristina menghentikan goyangannya sambil menyedot lidahku ke dalam mulutnya, dengan sekujur tubuh mengejang tegang. Pada saat itulah kurasakan liang serambi lempit Kristina seperti ular yang sewdang membelit rudalku, disusul dengan kedutan – kedutan kencangnya.

Croooottttt… croootttt… croooottttttt… crotcrotttt… croooooooootttt…!

Sedetik kemudian terdengar elahan nafas Kristina yang barusan tertahan selama 2-3 detik. “Ooooohhhhhhhh… indah sekali Bosssss…”

Aku terkapar di atas perut Kristina beberapa menit. Lalu menggulingkan badan ke samping perempuan muda yang hitam manis itu.

Kristina berbaring miring sambil mengusap – usap dadaku, “Terima kasih Boss. Ini peristiwa paling indah di dalam hidup saya. Tadi… sampai tiga kali saya orga Boss. Baru sekali ini saya bisa mengalami seperti itu.”

Kusahut, “Biasanya aku sadar kalau pasangan seksualku mau orgasme. Tapi tadi aku gak menyadarinya. Apalagi sampai tiga kali gitu orgasmenya.”

“Saya sudah terbiasa menyembunyikannya kalau sedang orgasme Boss.”

“Kenapa disembunyikan? Aku justru paling suka ikut menikmati pasangan seksualku yang sedang orgasme.”

“Hehehee… saya malu kalau ketahuan sedang orgasme Boss.”

“Lain kali kalau mau orgasme, bilang terus terang bahwa kamu mau lepas gitu ya. Supaya aku bisa ikut merasakan indahnya perempuan pada saat menikmati orgasme.”

“Siap Boss.”

Sebenarnya aku ingin membawa Kristina ke villa punya Tante Aini besok pagi. Tapi tiba – tiba handphoneku berdering. Ketika kulihat, ternyata call dari Papa.

Cepat kubuka dan… :

“Hallo Pap.”

“Kamu lagi di mana Chep?”

“Di rumah.”

“Mamie mau melahirkan Chep. Sekarang sudah di rumah sakit bersalin. Kalau bisa kamu ke sini sekarang.”

“Rumah sakit mana Pap?”

Papa menyebutkan nama rumah sakit bersalin itu.

“Oke Pap. Aku mau mandi dulu sebentar. Lalu ke rumah sakit.”

“Iya.”

Setelah hubungan seluler ditutup, aku berkata kepada Kristina, “Tadinya aku mau mengajakmu ke villa besok pagi. Tapi barusan papaku nelpon. Ibu tiriku mau melahirkan. Jadi aku harus nemenin Papa di rumah sakit.”

“Iya, iya… bakal punya adik dong Boss.”

Aku terhenyak mendengar mkata “adik” itu. Karena sebenarnya Mamie mau melahirkan anak pertamaku. Lalu kelak Tante Aini akan melahirkan juga. Mbak Susie juga. Hahahahaaaa… anakku bakal ada di sana – sini…!

Aku memang mandi dulu bersama Kristina. Kemudian kuantarkan Kristina sampai ke mulut gang menuju rumahnya, karena hari sudah sangat malam, kasihan kalau dia harus pulang sendirian.

Setelah mengantarkan Kristina, aku langsung menuju rumah sakit ibu dan anak yang paling terkenal di kotaku.

Ketika aku tiba di depan Papa, ternyata Mamie sudah melahirkan bayi cewek. Tapi Mamie masih di ruang bersalin. Belum dimasukkan ke kamar perawatan.

Papa cuma berdiri di depan pintu ruang perawatan yang masih kosong. “Melahirkannya normal apa lewat cezar Pap?” tanyaku.

“Normal. Mamie kan gak mau dicezar,” sahut Papa.

Beberapa saat kemudian, brankar Mamie tampak didorong oleh dua orang perawat. Yang seorang hanya mendorong, yang seorang lagi sambil memegangi botol infus.

Mamie tampak sadar seperti biasa. Ketika melihatku berdiri di samping Papa, Mamie menyunggingkan senyum manis di bibirnya.

Kemudian Mamie dipindahkan ke atas bed di ruang perawatan. Infusnya pun dipasang pada tiangnya.

“Bayinya masih dibersihkan, sebentar lagi akan diantarkan ke sini,” kata salah seorang perawat kepada Papa.

Setelah kedua perawat itu berlalu, aku menghampiri bed Mamie. Mencium sepasang pipinya dengan mesra, tanpa peduli dengan kehadiran Papa di kamar perawatan itu. Lalu aku berbisik, “Selamat ya Mam. Aku bahagia sekali.”

Mamie menatapku dengan sorot cinta. Lalu bibir sensualnya tersenyum lagi.

“Mau dikasih nama apa anakmu?” tanya Papa sambil menepuk bahuku.

“Terserah Papa aja. Kan hitam di atas putihnya anak Papa. Aku hanya penumpang gelap… heheheee…”

Papa mengusap – usap rambutku sambil berkata, “Ya udah nanti papa pikirkan dulu namanya.”

Tak lama kemudian bayi yang baru lahir itu diantarkan oleh seorang suster dan meletakkannya di samping Mamie. Aku terkagum – kagum menyaksikan bayi itu… anakku itu… cantik sekali kelihatannya.

Suster itu memberitahu Mamie, kalau bayinya sudah boleh disusui. Setelah disusui, bayinya bisa diletakkan di baby box yang terletak di samping bed Mamie.

“Sudah diadzani Pap?” tanyaku kepada Papa.

“Sudah, “Papa mengangguk, “Begfitu lahir juga papa adzani tadi…”

Ucapan Papa terputus karena seorang cewek cantik yang kira – kira sebaya denganku, muncul di ambang pintu kamar perawatan Mamie ini. Cewek itu mencium tangan Papa, lalu menghampiri bed Mamie.

“Eee… Anna?! Tau dari siapa aku melahirkan?” tanya Mamie kepada cewek itu.

“Tau dari Mama. Makanya disuruh menjenguk Kak Mel ke sini,” sahut cewek yang dipanggfil Anna itu sambil mencium sepasang pipi Mamie.

Lalu Mamie menoleh padaku. Dan berkata, “Chepi… ini adik bungsu mamie… jadi kamu harus manggil tante sama dia.”

Mendengar bahwa cewek bernama Anna itu adik Mamie, aku pun mencium tangannya sebagaimana layaknya seorang keponakan kepada tantenya. “Kok baru sekarang ketemu Mam?” tanyaku.

“Dia kan di Singapore sekolahnya. Mmm… setingkat dengan SMA di sini,” sahut Mamie.

Lalu kami ngobrol ke barat ke timur. Sementara adik Mamie yang bernama Anna itu berkali – kali memandang ke arahku sambil tersenyum. Entah apa maksudnya.

Tiba – tiba handphoneku berdering. Ketika kulihat, ternyata dari Tante Aini…!

Aku pun bangkit dan bergegas keluar dari ruang perawatan Mamie itu, untuk menerima call dari bossku alias Tante Aini.

Aku: “Selamat siang Tante. Apa kabar?”

T. A. : “Sehat. Kandunganku juga sehat. Kamu gimana? Sehat juga kan Sayang?”

Aku: “Sehat juga Tante.”

T. A. : “Ada kabar gembira nih Chep. Ketiga kapal tanker yang dibeli atas namamu itu sudah selesai service dan renovasinya. Sekarang sudah seperti baru semua.”

Aku: “Wah… bagus kalau begitu Tante. Apakah ketiga kapal tanker itu mau dijual lagi dalam keadaan sudah seperti baru lagi begitu?”

T. A. : “Iya. Kamu bisa nyariin calon buyernya Yang?”

Aku: “Memangnya Tante belum punya calon buyernya?”

T. A. : “Belum. Aku kan sedang hamil. Nggak berani pergi – pergian. Takut kandunganku kenapa – kenapa.”

Aku: “Ya udah, nanti aku cariin calon buyernya. Mudah – mudahan aja dapat. By the way, kandungan Tante sekarang sudah berapa bulan ya?”

T. A. : “Sudah hampir tujuh bulan Sayang. hak sampai tiga bulan lagi diem – diem sudah jadi ayah kan?”

Aku: “Hehehee… iya Tante. Semoga kandungannya sehat dan Tante bisa melahirkan dengan selamat dua – duanya, baik bayinya mau pun Tantenya juga.”

T. A. “Amiiin. Ohya, nanti kalau dapat buyernya dan terjadi transaksi, dananya pegang aja sama kamu Sayang. Jadikan untuk investasi buat perusahaan kita. Ohya, kantor barunya sudah selesai?” Ngocoks.com

Aku: “Belum Tante. Mungkin dua bulan lagi baru selesai. Ohya… ketiga kapal tanker itu mau dijual berapa?”

Tante Aini lalu menyebutkan jumlah yang harus dibayar oleh buyer nanti. Nominalnya menggeledek buatku. Nolnya juga ada duabelas. Tanted Aini juga mengirimkan banyak foto kapal – kapal tanker setelah diservice dan direnovasi itu lewat WA. Memang ketiga kapal tankier itu jadi tampak ginclong semua.

Kemudian kami hentikan obrolan by phone itu, setelah Tante Aini tahu bahwa aku sedang berada di rumah sakit bersalin bersama Papa.

Kemudian aku masuk lagi ke ruang perawatan Mamie. Menghampiri Papa sambil berbisik, “Ada bisnis Pap. Bisa kita ngobrol di luar sebentar?”

Papa mengangguk, lalu mengikuti langkahku ke luar. Kebetulan di luar ada bangku yang bisa dijadikan tempat duduk oleh aku dan Papa.

Lalu kutawarkan ketiga kapal tanker itu kepada Papa. Kuperlihatkan juga foto – foto yang tadi kuterima dari Tante Aini itu.

“Kapal – kapal tanker itu punya siapa?” tanya Papa.

“Hitam di atas putihnya punyaku Pap. Tapi sebenarnya punya Tante Aini,” sahutku.

Papa mengangguk – angguk. Lalu berkata, “Yang bisnis beginian itu Irenka.”

“Irenka?! Siapa dia Pap?”

“Istri Oom Safiq.”

“Oom Safiq adik Papa itu?”

“Iya. Kamu hafal nggak nama adik – adik papa?”

“Nggak tuh. Heheheheee. Abisnya, mereka jarang datang ke sini. Lagian adik Papa kan banyak ya?”

“Adik papa yang laki – laki tiga orang. Yang perempuan empat orang.”

“Siapa aja nama mereka Pap? Aku mau simpan deh di hapeku.”

“Yang laki – laki namanya Safiq, Gunther dan Pram.”

“Iya… udah disimpan semua. Yang perempuan siapa aja?”

“Yang perempuan, Sella, Lien, Connie dan Bonita.”

“Iyaaa… iyaaaa… sudah disimpan semua Pap. Terus yang istri Oom Safiq tadi siapa? Rasa aneh namanya.”

“Namanya Irenka. Tentu aja namanya asing di telinga kita. Dia kan orang Czech.”

“Oooo… istri Om Safiq orang Czech?”

“Iya. Oommu itu kan pernah tugas di Czech selama tiga tahun. Pulangnya bawa istri orang sana. Di Indonesia dia suka bisnis perkapalan. Tadinya cuma bisnis onderdinya. Lama – lama bisnis kapal – kapal bekas juga.”

“Wah boleh tuh dihubungkan sama dia Pap.”

“Sekarang sudah terlalu malam. Besok aja papa telepon Oom Safiqnya. Kalau butuh, pasti Irenka akan datang ke rumahmu nanti. Papa kasih aja alamat rumahmu ya.”

“Iya Pap.”

Lalu aku dan Papa masuk lagi ke dalam ruang perawatan Mamie dan anakku.

Ketika aku pamitan mau pulang dari kamar perawatan Mamie dan bayi yang baru lahir itu, Mamie berkata kepada adiknya yang bernama Anna itu, “Kalau mau nginep, mendingan di rumah Chepi. Di rumahku kan gak ada orang, Mas Adrian juga kan mau tidur di sini, nungguin aku.”

“Chepi udah punya rumah sendiri?” Tante Anna menoleh padaku.

Papa yang menjawab, “Sudah An. Rumah Chepi jauh lebih megah dan besar daripada rumah kami.”

Akhirnya Tante Anna setuju, akan nginap di rumahku.

Beberapa saat kemudian, Tante Anna sudah berada di dalam mobilku, menuju rumah hadiah dari Tante Aini itu.

“Kamu masih ingat masa kecil kita dahulu?” tanya Tante Anna ketika mobilku sudah berlari di jalan asap, ketika hari sudah lewat tengah malam.

“Masih,” sahutku, “Tapi sekarang Tante sudah sangat berubah. Makanya tadi kupikir siapa cewek cantik yang datang itu.”

“Jangan manggil Tante lah. Sebut namaku aja. Kamu kan lebih tua setahun dari aku.”

“Iya. Tiga hari lagi usiaku genap sembilanbelas tahun.”

“Nah… aku sebulan yang lalu genap delapanbelas tahun. Jadi gak enak kan dipanggil tante sama yang usianya lebih tua dariku.”

“Tadi kan Mamie yang nyuruh manggil Tante.”

“Biarin aja, kalau gak ada dia, kamu panggil Anna aja.”

“Iya Sayang, eeeh, Anna…”

Sebenarnya aku hanya bercanda, pura – pura keceplosan nyebut “Sayang” padanya. Tapi dia menepuk bahuku sambil berkata, “Naaah dipanggil Sayang malah lebih enak.”

“Iya Beib… eeeh… Anna… “lagi – lagi aku bercanda dengan menyebut Beib. Tapi tanggapannya sungguh di luar dugaan.

“Hiihihihiii… kamu kok jadi grogi gitu sih. Udah kita putuskan kamu manggil Beib sama aku. Aku manggil kamu Ayang ya… “katanya sambil meremas – remas tangan kiriku dengan lembut tapi hangat.

“Loh… kapan kita jadian? Kok panggilannya berubah drastis?!” tanyaku pura – pura heran.

“Ya sejak sekarang aja,” sahutnya “Aku suka kok sama kamu. Padahal waktu masih kecil kamu nakal sekali. Sering jambak rambutku kan?”

“Hihihiii… iyaaa… aku ingat itu. Soalnya waktu itu rambutmu panjang. Jadi enak narik – nariknya.”

“Tapi banyak orang yang nakal waktu kecilnya, justru jadi baik setelah dewasa. Semoga kamu juga begitu ya.”

“Sebegitu jauhnya mikir tentang diriku?”

“Boleh kan aku punya keinginan yang positif tentang dirimu?”

“Boleh aja. Cuman… hahahaaa… serius nih bahwa kita secepat kilat jadian?”

“Kalau bisa cepat kenapa harus diperlambat? Tapi itu juga kalau kamu mau menerimaku. Kalau gak mau, aku gak maksa kok…”

“Aku senang sekali jadian sama cewek cantik sepertimu Beib. Cuma masalahnya… aku udah punya calon istri.”

“Biarin aja. Cowok kan boleh polygami.”

“Ohya?! Jadi kamu mau dijadikan yang kedua?”

“Nggak apa. Emangnya siapa calon istrimu?”

“Amoy mualaf.”

“Ohya?! Sudah serius mau kawin dengannya?”

“Iya, “aku mengangguk di belakang setirku, “kasian kalau diputusin. Sedangkan dia sudah jadi mualaf, karena sudah serius bakal jadi isriku.”

“Kita main backstreet kan bisa Yang.”

“Aku masih heran. Begitu cepat kamu nembak aku Beib.”

“Kita kan sudah saling mengenal sejak masa kecil dahulu. Kemudian aku melanjutkan sekolah di Singapore. Makanya kita seolah terputus komunikasi sama sekali.

Dan begitu melihatmu di ruang perawatan mamiemu tadi, aku juga heran… kamu punya daya pesona kuat, sehingga hatiku spontan runtuh pada pandangan pertama tadi Sayang,” ucap Anna sambil memegang pergelangan tangan kiriku yang nganggur karena mobilku matic.

“Memangnya belum pernah melihat cowok setampan aku Beib?”

“Yang tampan sih banyak. Tapi kamu… aku yakin kamu orang baik. Selain daripada itu, kamu punya daya pesona yang gimana gitu… gemesin… jadi pengen cium bibirmu…”

Mendengar ucapan adik Mamie seperti itu, spontan kecepatan mobilku dikurangi. Lalu kuhentikan di bahu jalan yang gelap gulita, karena di sekelilingku hanya ada pohon – pohon pinus, tidak ada rumah satu pun.

“Kok berhenti di tengah hutan begini?” tanya Anna.

“Katanya mau cium bibirku. Ciumlah sepuasmu Beib,” sahutku sambil mengangsurkan bibirku ke dekat bibir Anna.

Spontan cewek yang setahun lebih muda dariku itu memagut bibirku dan mel, umatnya dengan lahap. Sementara aku lebih tertarik untuk mengusap – usap betisnya yang sejak tadi kuperhatikan… betis yang indah dan putih mulus.

Bersambung… Ketika Anna masih melumat bibirku dengan lahapnya, tanganku sudah berada di balik gaunnya. sudah memijat – mijat pahanya yang terasa hangat. Namun tanganku hanya sampai pahanya, kemudian turun ke lututnya lagi.

Ciuman dan lumatan Anna pun terlepas.

Aku pun menjalankan lagi mobilku pada saat jam di dashboard menunjukkan pukul 03.00 pagi.

“Bakal ada kisah baru nih di antara kita Beib,” ucapku sambil mengemudikan mobilku.

“Iya. Hitung – hitung melanjutkan masa kecil kita aja.”

Aku memang mulai memikirkannya. Karena Anna memang sangat cantik. Padahal pada waktu kecil dia itu tampak tomboy dan gendut. Tapi setelah dewasa, dia kelihatan begitu cantik, tubuhnya pun tampak seksi sekali. Masa aku mau menghindar dari cewek cantik yang terang – terangan nembak aku duluan?

Tapi… apakah dia masih virgin atau sudah blong seperti Yama dan Gita?

Entahlah. Yang jelas dalam tempo secepat mungkin aku harus tahu “sikon”nya.

Setibanya di rumah, kubawa Anna ke lantai atas. Karena di situ ada kamar yang sangat indah viewnya. Namun Anna tampak ragu. “Aku mau ditinggal sendirian di sini Yang? Takut ah. Udah di kamarmu aja.”

“Mau tidur sama aku?” tanyaku.

“Iyalah. Ini rumah kok gede – gede amat. Kamu kok masih sangat muda sudah punya rumah sehebat ini. Apakah kamu sudah pandai nyari duit?”

“Rumah ini hadiah dari adik mama kandungku Beib. Sekaligus perusahaannya juga.”

“Ooo… pantesan. Tapi kamu masih kuliah kan?”

“Pendidikan sih gak boleh ditinggalin.”

“Kirain dilupakan saking asyiknya nyari duit.”

“Ya udah kalau mau tidur di kamarku, ayo. Aku udah ngantuk sekali nih.”

Anna pun mengikuti langkahku turun ke lantai bawah, sambil menjinjing tas pakaiannya dan masuk ke dalam kamarku.

“Kamarmu ini… kayak kamar pejabat tinggi aja Yang. Hmm… di sini suasananya terasa lebih hangat daripada yang di atas tadi,” kata Anna sambil mengeluarkan pakaian dari dalam tasnya.

Aku tidak mau menanggapinya, karena aku sedang mengganti pakaianku dengan baju dan celana piyama.

“Itu kamar mandi kan?” tanya Anna sambil menunjuk ke pintu kamar mandi pribadiku.

“Iya, “aku mengangguk sambil duduk di pinggiran bed, “Mau mandi?”

“Mau ganti baju Sayang.”

“Di sini aja mau ganti baju sih. Ngapain harus di kamar mandi?”

“Sekalian mau pipis,” sahut Anna sambil mengibaskan bajunya ke dekat mukaku.

“Pengen lihat kamu lagi pipis Beib,” ucapku sambil berdiri.

“Hihihiii… katanya ngantuk.”

“Iya. Nanti sehabis lihat kamu pipis, aku mau bobo,” kataku sambil mengikuti langkah Anna ke dalam kamar mandi.

“Ini buat pertama kalinya mau pipis disaksikan sama cowok,” kata Anna sambil menyingkapkan gaun terusannya yang berwarna hijau tosca, lalu menurunkan celana dalamnya sampai lutut dan duduk di atas kloset.

Terdengar bunyi kencingnya yang seperti pancaran air shower. Srrrr…!

“Pinter nyembunyiinnya. Sampai gak bisa lihat apa – apa,” kataku sambil memijat hidung Anna. Lalu aku keluar dari kamar mandi. Dan merebahkan diri di atas bed.

Tak lama kemudian Anna pun keluar dari kamar mandi. Sudah mengenakan kimono putihnya yang terbuat dari bahan goyang.

Setelah Anna berbariong di sampingku, aku memegang tangannya sambil bertanya, “Boleh aku tahu sesuatu yang sangat pribadi sifatnya?”

“Tanyalah… mau nanya apa?”

“Kamu masih virgin nggak Beib?”

“Masih lah.”

“Masa?! Aku kurang percaya.”

“Buktiin aja sendiri.”

“Haaa?! Emangnya aku boleh membuktikannya sendiri?”

“Boleh. Tapi kamu jangan menyia – nyiakan diriku kalau sudah membuktikannya.”

“Ya nggak lah. Kamu kan adik Mamie Beib. Mana mungkin aku tega nyakitin hatimu?”

“Kapan mau dibuktikannya? Sekarang?”

“Besok aja biar fisik kita sama – sama segar. Sekarang aku udah capek dan ngantuk.”

“Ya udah kalau gitu kita tidur aja ya.”

“Iya, tapi kitanya harus tidur telanjang ya Beib.”

“Haa?! Aku kedinginan dong nanti.”

“Kan kita tidur dengan satu selimut. Tapi sama – sama telanjang.”

“Sama amoy mualaf itu suka telanjang di balik selimut?”

“Iya,” sahutku berbohong. Padahal aku belum pernah melihat Nike telanjang.

Akhirnya Anna pun menanggalkan kimono dan celana dalamnya. Dan langsung telanjang, karena ia tidak mengenakan beha tadi.

Sekujur tubuh Anna yang tak tertutup apa – apa lagi itu… aduhai… indah sekali. Meski toketnya kecil, aku suka melihatnya.

Tapi setelah telanjang Anna langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Sementara aku pun sudah menelanjangi diri dan menutupi tubuhku dengan selimut yang sama. Hanya leher dan kepala kami yang tidak ditutupi selimut.

Namun di balik selimut Anna memeluk pinggangku, sambil merapatkan pipinya ke pipiku. “Yakin nih takkan membuktikan virginitasku sekarang?” tanyanya setengah berbisik.

“Kalau dipaksakan sekarang, pasti kurang nikmat. Besok aja ya Beib,” sahutku sambil menggenggam toketnya yang tergenggam dengan satu tangan.

“Aku sih mau ikut kemauan kamu aja.”

Aku pun menguap terus, sehingga akhirnya kupejamkan mataku sambil tetap menggenggam toket kecil Anna.

“Toketku kecil ya,” ucap Anna setengah berbisik.

“Kecil tapi masih sangat kencang.”

“Memang gak pernah disentuh tangan colwok Yang.”

Aku mulai asyik meremas – remas toket kecil itu, yang memang masih kencang sekali.

Tadinya aku ingin memuaskan diri dengan memegang tokewtnya saja. Tapi lama kelamaan ada juga rasa penasaran, ingin memegang kemaluannya. Sehingga pada suatu saat, kujamah kemaluannya yang berambut jarang dan tipis itu.

“Jembutnya gak pernah dicukur?” tanyaku.

“Nggak lah,” sahutnya, “aku kan gak pernah mengusik serambi lempit segala. Kubiarkan aja apa adanya.”

Aku memang sudah mulai nafsu. Tapi kupaksakan tidur sambil menggenggam toket Anna.

Akhirnya kami benar – benar tidur.

Lewat tengah siang aku baru terbangun. Sementara Anna tampak sudah mandi. Bahkan sudah mengenakan celana jeans dan baju kaus putih.

“Sudah lama bangun?” tanyaku setelah menggeliat dan turun dari bed.

“Sejam yang lalu,” sahutnya.

“Udah makan?”

“Makan di mana? Keluar kamar aja belum. Takut ada yang nanya aku siapa dan sebagainya.”

“Ohya… di sini ada Mbak Nindie, kakak seayahku. Udah kenal dia kan?”

“Owh… udah kenal sama Nindie sih. Dia di sini sekarang? Bukankah dia di luar Jawa?”

“Iya. Dia cerai sama suaminya. Makanya kutempatkan aja di sini buat ngurus dapur dan satpam – satpam itu.”

“Owh… iya. Dulu kan Nindie pelatih bela diri ya. Pantesan satpamnya perempuan. Mungkin mantan murid Nindie kali.”

“Iya. Kamu cerdas Beib. Nanti kita ke villa aja ya. Biar romantis suasananya. Tapi jangan ngomong sama Mbak Nindie. Bilang mau nengok Mamie aja.”

“Iya, iyaaa… mandi dulu sana gih.”

“Memang aku mau mandi Beib,” sahutku disusul dengan kecupan di pipinya. Kemudian melangkah ke dalam kamar mandi. Dan mandi sebersih mungkin.

Ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat Anna sedang duduk di sofa sambil mendengarkan lagu – lagu Dua Lipa dari handphonenya.

“Bagusnya jangan pakai celana jeans gitu, biar kelihatan bahwa kamu itu cewek Beib,” kataku sambil memegang bahunya.

“Emang pakai celana gini aku kelihatan kayak cowok?” tanyanya.

“Bukan gitu. Kita kan mau ke villa. Kalau pakai gaun atau rok kan gampang nyingkapinnya. Hihihihiii…”

“Ogitu ya. Aku bawa gaun tapi mini semua,” sahutnya sambil tersenyum.

“Malah bagus. Biar kemulusan pahamu kelihatan Beib,” kataku sambil mengeluarkan baju kaus dan celana pendek serba hitam dari dalam lemari pakaianku. Lalu kukenakan pakaian casual itu sementara Anna pun sudah mengenakan gaun span mini biru ultramarine yang memamerkan paha putih mulusnya.

“Kamu pakai apa aja kelihatan pantas Yang,” kata Anna sambil mengecup pipiku.

“Dan kamu sangat seksi memakai gaun mini begini,” sahutku sambil merayapi pahanya yang licin dan bisa bikin lalat terpeleset kalau hinggap di situ. Lebay ya.

“Kita mau langsung ke villa sekarang?” tanyanya.

“Iya. Nanti kita makan siang di dekat villa aja. Ada rumah makan langgananku di sana.”

Lalu kubuka pintu yang menghubungkan kamarku dengan garasi.

Setelah berada di dalam mobil, kupijat remote control pintu garasi yang selalu standby di dalam laci dashboard mobilku.

Dua orang satpam perempuan langsung mendekati pintu garasi yang sudah terbuka.

Hanya sebentar aku memanaskan mesin mobilku. Lalu menggerakkannya ke luar.

“Selamat siang Boss, “sapa kedua satpam perempuan itu sambil bersikap tegak.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu mengeluarkan mobilku melewati puntu gerbang depan.

Beberapa saat kemudian mobilku sudah kularikan ke luar kota.

“Jadi ceritanya kita mau berbulan madu di villa nih?” cetus Anna sambil memegang dan meremas tangan kiriku.

“Iya,” sahutku sambil tersenyum, “Anggap aja kita sedang bulan madu.”

“Terus kalau aku hamil gimana?”

“Jangan dulu hamil. Itu di laci dashboard ada pil kontrasepsi. Disetubuhi seratus kali juga kamu gak bakalan hamil Beib.”

“Ogitu ya. Jadi kamu selalu siap dengan pil anti hamil Yang?”

“Iya. Aku kan harus jaga – jaga, jangan sampai hamilin anak orang tanpa tujuan.”

“Ohya Chepi Sayang… kalau aku tinggal di kota ini, ada job buatku gak?”

“Mmm… ada sih. Jadi kepala gudang, mau nggak?”

“Kepala gudang?! Kok serem banget kedengarannya?”

“Lho, kamu tinggal ngawasin aja jumlah barang yang datang dan keluar. Yang bekerja pegawaiku lah.”

“Aku kan cuma lulusan high school, setingkat dengan SMA di sini. Bisa nggak ya ngerjainnya?”

“Pasti bisa lah. Tapi kamu memang takkan balik ke Singapore lagi?”

“Nggak ada yang membiayainya. Kan tanteku yang dulu membiayai sekolahku sudah meninggal.”

“Ya udah kalau gitu untuk sementara ambil aja job itu. Mumpung belum diisi orang.”

“Terus aku tinggal di mana?”

“Di dekat gudang itu ada rumah yang bisa kamu tempati.”

“Aman gak?”

“Sangat aman Beib. Kan baik gudangnya mau pun rumah untuk kepala gudang juga dijaga oleh beberapa orang satpam.”

“Satpamnya cewek apa cowok?”

“Di sana sih satpamnya cowok semua.”

“Mmm… barang – barang di dalam gudang itu apa saja jenisnya?”

“Hanya pakaian untuk diekspor ke timur tengah.”

“Busana muslim semua ya.”

“Iya.”

“Mau deh aku dijadiin kepala gudang.”

“Untuk sementara aja. Nanti kalau kantor baruku sudah selesai dibangun, bisa aja kamu kutempatkan di kantor Beib.”

“Iya. Tapi kalau ditempatkan di kantor, aku harus melanjutkan pendidikanku dulu Yang. Supaya gak bego – bego amat nantinya.”

“Idealnya memang begitu. Tapi kamu kan bisa nyari calon wakilmu nanti. Pada waktu kamu kuliah, wakilmu itu yang mengerjakan tugasmu.”

“Ada sih saudara sepupuku. Tapi aku takut mengajaknya.”

“Kenapa?”

“Karena dia cantik sekali. Seksi pula. Kalau diajak ke sini, bisa – bisa kamu samber dia Yang.”

“Hush… aku bukan tukang samber cewek Beib,” ucapku sambil membelokkan mobilku ke pekarangan rumah makan yang terletak di luar kota, tidak jauh dari villa kepunyaan Tante Aini itu. Lalu kami makan di situ.

Setelah makan, kami lanjutkan lagi perjalanan menuju villa yang tidak jauh dari rumah makan itu.

“Mentalmu sudah benar – benar siap untuk digauli olehku Beib?” tanyaku sambil memegang lutut kanan Anna yang tidak tertutup gaun mininya.

“Fisik dan mentalku udah siap Yang. Soalnya aku juga ingin merasakannya.”

“Merasakan apa?”

“Merasakan disetubuhi oleh cowok. Sesuatu yang belum pernah kualami.”

“Kalau kami benar – benar masih perawan, kamu akan mendapat tempat istimewa di hatiku Beib.”

“Iya, makanya aku ingin mendapat tempat istimewa di hatimu, makanya aku akan menyerahkan sekujur tubuhku padamu dengan ikhlas.”

“Kalau ternyata tidak perawan lagi bagaimana?”

“Kalau aku gak perawan, kamu gak usah kenal lagi sama aku. Anggap aja aku hanya sekadar sampah. Bagaimana mungkin aku tidak perawan lagi. Pacaran serius pun belum pernah. Di Singapore apalagi, dengan teman sekelas aja gak saling sapa. Semua cuek, mengurus dirinya sendiri semua. Jadi aku juga terbawa – bawa begitu.

Aku tidak menanggapi. Karena diam – diam aku sedang membangun rencana. Bahwa aku akan memperistrikan setiap perempuan yang masih perawan sebelum kusetubuhi. Dan aku baru punya satu sosok yang masih perawan sebelum kusetubuhi.

Yakni dosenku sendiri yang bernama Shanti itu. Tentang Nike, aku belum membuktikan masih perawan tidaknya.

Maka kalau Anna benar – benar masih perawan, dia akan menjadi calon istriku. Kalau serambi lempitnya sudah bolong alias bekas rudal orang lain, sorry, jadi teman atau saudara saja lah.

Villa punya Tante Aini ini dipakai setahun sekali juga tidak. Mungkin Tante Aini hanya membelinya sekadar menanam investasi. Padahal villanya cantik sekali. terletak di puncak bukit kecil yang dikelilingi oleh hutan pinus.

Menurut Tante Aini, hutan pinus itu pun miliknya. Kelak jika pohon – pohon pinus sudah waktunya ditebang, aku juga yang ditugaskan untuk menjual kayunya kepada pihak yang membutuhkannya sebagai bahan bangunan atau untuk pulp pabrik kertas.

Villanya sendiri memang terbuat dari bahan tembok biasa. Tapi dilapisi dengan parkit kayu pinus yang sudah dioven. Memang kayu pinus bukan bahan kuat seperti jati, suren, kayu besi dan sebagainya. Tapi kalau sudah dioven, lain lagi ceritanya. Jadi kokoh dan cantik urat – uratnya.

Sedangkan lantainya dilapisi parkit kayu rasamala yang juga sudah dioven, sehingga jauh lebih keren daripada sebelumnya.

(Parkit = kayu yang sudah dipotong 20 X 10 centimeter, dengan ketebalan sekiktar 1 centimeter).

Begitu tiba di depan villa itu, Anna tampak asyik memperhatikan keadaan di sekelilingnya. “Terasa seperti di tengah hutan benar, tapi nyaman sekali perasaanku Yang,” ucapnya pada waktu aku memeluknya dari belakang.

“Mungkin nyamannya karena ada aku ya,” ucapku setelah menciumi tengkuknya.

“Iya, “Anna memutar badannya jadi berhadapan denganku. Lalu memagut bibirku ke dalam ciuman lengketnya. Dan berkata, “Tanpa kamu, mungkin villa ini membuatku takut. Takut ada binatang buas atau ada orang jahat.”

“Di sini tidak ada binatang buas. Keamanannya juga terjamin, karena ada beberapa petugas security yang selalu bergantian menjaga di pintu masuk tadi,” ucapku sambil mengangkat tubuh langsing Anna dan membopongnya ke dalam villa.

Lalu kuajak dia duduk di sofa ruang belakang, agarf bisa memandang indahnya view di bagian belakang villa. Di sofa itu Anna merebahkan kepalanya di atas kedua pahaku sambil berkata, “Indah sekali pemandangannya Yang.”

“Lebih indah lagi kalau kamu rebahannya sambil telanjang Beib.”

“Kamu dong yang lepasin pakaianku biar terasa mesranya,” sahut Anna sambil memegangi pergelangan tanganku.

Kuamati sejenak gaun mini biru ultramarine yang dikenakan oleh Anna itu. Ternyata ritsletingnya ada di depan, memanjang dari paling atas sampai ke ujung terbawah. Sehingga aku takkan kesulitan menanggalkan gaun mini itu.

Sekali tarik ritsleting plastik yang sewarna dengan gaunnya, maka terbelahlah gaun mini itu. Tak ubahnya membuka kimono. Ketika tubuh langsing tapi tidak kurus itu tinggal mengenakan beha dan celana dalam, aku spontan mengangkat dan membopong lagi tubuh mulus itu ke atas bed. di situlah Anna melepaskan behanya, sehingga tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuhnya.

Pada waktu aku melepaskan celana dalamnya itulah, aku dibuat terlongong. Karena serambi lempit Anna tidak seperti tadi malam lagi. serambi lempitnya sudah bersih dari rambut…!

Sehingga aku langsung bergairah untuk menjilati serambi lempit yang sudah bersih plontos itu.

Tapi tentu saja aku tidak langsung menerjang serambi lempitnya. Kulepaskan dulu pakaianku sampai tinggal celana dalam yang masih melekat di badanku. Kemudian kuhempaskan dadaku ke atas dada Anna. Dan mulailah aku mengeksploitir adik Mamie yang jelita itu.

Awalnya, kucium dan kulumat bibir Anna, kemudian mulutku melorot ke arah pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas toket kanannya yang kecil tapi sangat kencang itu. Anna pun bereaksi dengan meremas – remas sepasang bahuku dengan tubuh mulai menghangat.

Setelah agak lama memainkan toketnya yang bisa tergenggam oleh satu tangan, mulutku menurun ke arah perutnya. Kujilati pusarnya sebentar, lalu menurun ke arah serambi lempitnya yang sudah bersih dari jembut itu.

“Tadi subuh masih berambut. Sekarang sudah bersih gini. Kapan dicukurnya Beib?” tanyaku sambil menepuk – nepuk permukaan serambi lempit Anna perlahan.

“Hihihiii… tadi aku kan duluan bangun. Di kamar mandi kulihat ada pisau cukurmu yang masih baru. Lalu dibersihin deh jembutnya. Ini pertama kalinya aku mencukur serambi lempitku Sayang.”

“Mwuaaah… mwuaaaah… kalau bersih gini enak jilatinnya… mwuaaaah…” ucapku sambil menciumi serambi lempit Anna yang tampak jadi sangat elok dan erotis di mataku.

Lalu kungangakan bibir serambi lempit Anna yang tembem erotis itu. Sehingga bagian dalamnya yang berwarna pink itu mulai terlihat jelas di mataku. Bagian yang berwarna pink itulah sasaran awal lidahku.

Anna pun mulai mendesah – desah perlahan, sambil meremas – remas rambutku yang berada di bawah perutnya. “Aaaaaaaaah… Saayaaaang… aaaaah… Yaaaang… aaaaaaaa… aaaaaahhhh…”

Makin lama lidahku makin lahap menjilati serambi lempit Anna. Bahkan sesekali kucelucupi kelentitnya yang nongol sebesar kacang kedelai. Setiap kali mencelucupoi kelentitnya, sengaja kusedot – sedot juga bagian terpeka di kemaluan perempuan itu. Sehingga tubuh langsing berisi itu menggelinjang – gelinjang erotis disertai rintihan yang semakin menjadi – jadi, “Sayaaaaang…

Aku pun mengikuti keinginan Anna. Dengan lahap kujilati dan kusedot – sedot kelentit adik Mamie itu, sambil mengeluarkan air liurku yang sengaja kualirkan ke arah liang serambi lempitnya (yang tampak masih rapat sekali).

Cukup lama aku melakukan ini semua. Sampai akhirnya aku merasa bahwa permainan oralku sudah cukup “matang”. Air liurku sudah tergenang di bagian dalam kemaluan Anna. Berarti sudah saatnya untuk melakukan penetrasi.

Anna menurut saja ketika kedua pahanya kudorong agarf merenggang selebar mungkin. Kemudian kulepaskan celana dalamku. Sehingga batang kemlauanku yang sudah ngaceng berat ini tak tertutup apa – apa lagi.

Ketika moncong rudalku sudah kuletakkan di ambang mulut serambi lempitnya, Anna cuma menatap langit – langit kamar villa berlapis kayu parkit ini.

Lalu dengan sekuat tenaga kudorong rudal ngacengku. Uuuughhhhh…!

Kepala rudalku berhasil masuk, meski terasa belum sepenuhnya masuk. Kudorong lagi sekuatnya… uuuugggghhhh… rudalku membenam sampai lehernya.

Aku pun menghempaskan dadaku ke dada Anna. Lalu kudesakkan lagi rudalku sekuat mungkin.

“Ooooooohhhhh… su.. sudah masuk?” bisik Anna sambil mendekap pinggangku.

“Sudah, tapi baru sedikit,” sahutku disusul dengan dorongan rudalku dengan sekuat tenaga, agar masuk lebih dalam lagi, “Kalau agak sakit tahan ya. Nanti lama – lama juga kerasa enaknya Beib.”

“Iya. Lakukanlah apa pun yang harus dilakukan Sayang…”

Dengan perjuangan yang cukup ulet, akhirnya batang kemaluanku bisa membenam separuhnya. Maka mulailah aku mengayun rudal ngacengku perlahan – lahan. Mata Anna pun terpejam – pejam dibuatnya. Entah apa yang dirasakannya saat aku mulai memenyetubuhinya. Dan merasakan betapa sempit menjepitnya liang kewanitaan adik ibu tiriku itu.

Namun jelas, lama kelamaan aku bisa memenyetubuhi liang sanggama yang masih sangat sempit itu, karena liang serambi lempit Anna sudah mulai menyesuaikan diri dengan ukuran rudalku.

“Sakit nggak?” tanyaku yang sedang mengayunm rudalku dalam gerakan masih perlahan.

“Tadi ada perih sedikit,” sahutnya, “tapi sekarang malah jadi enak Yang…”

Aku pun melanjutkan aksiku, mengayun rudalku laksana gerakan pompa manual, bermaju – mundur di dalam liang serambi lempit Anna yang luar biasa sempitnya ini.

Anna pun mulai merintih – rintih histeris, “Sayaaang… aaaaa… aaaaah Saaayaaaang… aaaaaah… ini… luar biasa indahnya Yaaaaang… luar biasa enaknyaaaa… oooooh… aku… aku semakin cinta padamu Sayaaaaang…”

Pada waktu aku menyetubuhi Bu Shanti untuk pertama kalinya, aku sangat berhati – hati. Takut menyakiti, takut menimbulkan trauma dan sebagainya. Sehingga aku pun tidak mau terlalu mengulur durasi ejakulasiku.

Tapi pada waktu menyetubuhi Anna ini, aku merasa ingin menikmatinya selama mungkin. Karena liang serambi lempit adik Mamie yang luar biasa sempitnya ini, luar biasa pula enaknya.

Aku tahu bahwa Anna sudah orgasme. Lalu ia terkulai lemas. Dan aku pura – pura tidak tahu. Kuentot terus liang serambi lempitnya yang sudah basah, tapi masih tetap sempit dan menjepit ini.

Beberapa detik kemudian, Anna pun tampak bergairah lagi. Untuk menikmati entotan rudalku yang baik ukuran mau pun ketangguhannya di atas rata – rata ini.

Rintihan – rintihan histerisnya pun mulai berlontaran lagi dari mulut Anna, “Chepi Sayaaang… ooooohhhh… ternyata bersetubuh ini enak sekali Cheeep… lu… luar biasa enaknya Cheeeep… ayo entot terus Sayaaaang… aku makin gemes dan makin sayang sama kamuuuuu… aaaaah… aaaaah… oooooohhhh…

Tubuh kami pun sudah basah oleh keringat yang bercampur aduk. Sampai pada suatu saat, aku mengajak Anna ganti posisi. Ia menurut saja ketika kusuruh merangkak dan menungging. Sementara aku menoleh ke arah darah di bekas tempat Anna celentang tadi. Darah perawan yang bisa dianggap saksi bisu tapi sangat akurat, bahwa sebelum ditembus oleh rudalku tadi, Anna memang masih perawan.

Keperawanan memang sudah menjadi sesuatu yang langka di zaman sekarang ini. Bahkan menurut survey di tahun 2002 saja, para mahasiswi di sebuah kota besar hanya 4% yang masih perawan. Berarti 96 di antara 100 orang sudah bolong semua, alias bekas dipakai sama rudal. Hanya 4 orang di antara 100 orang yang masih bisa menjaga kesuciannya.

Mungkin pada dasarnbya aku ini seorang cowok yang penyayang dan tidak tegaan. Setelah menyaksikan darah perawan di atas kain seprai putih itu, aku membatalkan niatku untuk menyetubuhi Anna habis – habisan.

Dalam posisi doggy ini Anna cepat ambruk. Berarti itu sudah orgasme yang kedua kalinya.

Kemudian kami kembali ke posisi missionary lagi. Dalam posisi inilah aku berkonsentrasi agar secepatnya ejakulasi. Dan aku berhasil mempercepat durasi ejakulasiku.

Memang untuk mempercepat ejakulasi, terasa mudah bagiku. Yang agak sulit itu memperlambatnya. Karena aku harus memikirkan yang buruk – buruk, agar ejakulasiku lambat datangnya.

Dalam posisi missionary inilah aku mempercepat entotanku. Lalu membenamkan rudalku sedalam mungkin, sehingga terasa moncongnya mentok di dasar liang serambi lempit adik Mamie ini.

Lalu rudalku mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.

Croootttt… croooottttt… crootcroottt… crooooooottttt… croooottttt…!

Aku pun terkapar di atas perut Anna. Tapi, kusempatkan mencium bibir adik Mamie ini, disusul dengan bisikan, “Terima kasih Beib. Aku telah membuktikan keperawananmu barusan. Semoga hubungan kita abadi sampai masa tua kelak.”

Anna menatapku dengan sorot cinta. Dan berkata lirih, “Sekujur tubuh dan jiwaku sudah menjadi milikmu Sayang.”

Aku tersenyum sambil mencabut rudalku dari dalam serambi lempit Anna.

“Waaah… seprainya kecucuran darahku Yang,” ucap Anna tampak panik melihat darah perawannya yang mengotori kain seprai putih bersih itu, “Di sini ada mesin cuci?”

“Tenang aja, gak usah panik gitu Beib. Tinggal angkat aja kain seprainya. Nanti biar dicuci sama penunggu villa ini.”

“Ada kain seprai lain?” tanyanya.

“Banyak tuh di lemari itu.”

Dengan cekatan Anna menarik dan menggulung kain seprai yang kecipratan darah perawannya itu. Kemudian mengambil kain seprai baru yang dikeluarkannya dari lemari.

Ketika Anna tengah memasangkan kain seprai baru itu, tiba – tiba handphoneku berdering. Ternyata dari Mbak Nindie. Biasanya kalau Mbak Nindie meneleponku, pasti ada sesuatu yang penting. Maka kuterima call dari kakakku itu :

“Iya Mbak…”

“Chep… ada tamu nih. Kelihatannya penting sekali.”

“Laki – laki atau perempuan tamunya?”

“Perempuan. Bule pula. Dia istri Oom Safiq.”

“Oh iya iyaaa… aku ada urusan bisnis dengannya Mbak. Sekarang masih ada tamunya?”

“Masih. Mau bicara dengannya?”

“Nggak Usahlah. Bilang aja dalam dua jam aku sudah tiba di rumah. Memang aku penting sekali berjumpa dengannya.”

“Sekarang Chepi lagi di mana?”

“Di luar kota. Tapi gak jauh. Hanya belasan kilometer dari rumah.”

“Sebentar… aku mau ngomong dulu sama istri Oom Safiq ya.”

“Iya. Oom Safiq paman Mbak Nindie juga kan? Nama istrinya itu Irenka.”

“Owh… kamu udah tau namanya segala.”

“Dari Papa. Kan Papa yang menghubungkan aku dengannya dalam masalah bisnis.”

“Ya udah aku mau ngomong dulu dengannya.”

Hubungan seluler dengan Mbak Nindie terputus. Mungkin dia mau ngomong sama Tante Irenka dulu.

Sementara aku termenung sambil menyaksikan Anna yang sudah merapikan kain seprai baru itu.

Yang kupikirkan adalah, Papa dan saudara – saudaranya terasa kurang kompak begitu. Dengan istri adik Papa saja aku belum kenal.

Berbeda dengan Mama dan saudcara – saudaranya. Terasa kompak sekali dalam lingkungan keluarganya.

“Telepon dari siapa barusan?” tanya Anna yang sudah mengenakan kimononya.

“Dari Mbak Nindie. Di rumah sedang ada tamu penting. Tamu bisnis,” sahutku sambil mengenakan celana pendek putih dan baju kaus putih pula.

“Terus?”

“Aku harus pulang dulu. Bahkan mungkin harus terbang ke Surabaya. Kalau ditinggal dulu di sini mau gak Beib?”

“Iiih… yang bener aja. Masa aku mau ditinggalkan sendirian di tengah hutan begini?”

“Terus maunya ditinggalkan di mana?”

“Di rumah papamu aja. Ada pembantu kan di rumahnya?”

“Ada. Jadi mau diantarkan ke rumah Papa aja sekarang?”

“Iya.”

“Ohya… jangan lupa minum pil kontrasepsinya Beib. Kecuali kalau kamu ingin mengandung anak kita.”

“Jangan dulu hamil lah.”

Handphoneku berdering lagi. Dari Mbak Nindie lagi.

“Dia mau menunggu Chepi katanya,” kata Mbak Nindie di speaker hapeku.

“Iya Mbak. Aku segera pulang. Tapi mau nganterin adik Mamie dulu. Ohya… Mbak udah dengar berita Mamie belum?”

“Soal Mamie sudah melahirkan?”

“Iya.”

“Tadi pagi aku terima beritanya dari Papa by phone. Mungkin besok pagi mau ke rumah sakit. Sekalian anterin Mamie yang sudah akan pulang besok siang.”

“Iya Mbak. Aku mau langsung berangkat nih. Ajak ngobrol dulu istri Oom Safiq itu ya Mbak. Biar gak kesal nunggu aku datang.”

“Iya.”

Beberapa saat kemudian aku sudah mengemudikan mobilku, meninggalkan pekarangan villa.

“Semoga bisnisnya sukses, ya Sayang,” ucap Anna sambil menyandarkan kepalanya di bahu kiriku.

“Amiiin…” sahutku, “Sejak aku bedlajar berbisnis, ini bisnis terbesar. Makanya penting sekali aku menjumpai tamu yang sedang menunggu di rumahku itu. Maaf ya… sebenarnya kita sedang merasakan keindahan dan kenikmatan… tapi terpaksa harus dihentikan dulu.”

“Gak apa – apa. Dahulukan dulu bisnismu, demi masa depanmu kelak.”

“Masa depan kita. Bukan hanya masa depanku. Kalau bisnis ini goal, aku berani menghamilimu Beib.”

“Tapi halalkan dulu Yang. Biar anak kita bukan anak haram.”

“Yah… kalau disetujui oleh Mamie, aku akan menghalalkannya.”

Setibanya di rumah Papa, aku berkata kepada Anna, “Besok juga Mamie pulang. Pasti kamu ada gunanya Beib. Minimal bisa bantuin Mamie mandiin baby.”

“Iya. Kira – kira berapa lama kamu ngurus bisnismu?”

“Sulit ditebak – tebak. Bisa sehari, bisa seminggu. Tapi moga – moga aja cepat selesai dan sukses. Doakan aku ya Beib.”

“Iya, kudoakan semoga bisnisnya sukses Yang,” sahut Anna sambil mengecup sepasang pipiku.

Lalu aku pulang ke rumahku ketika hari mulai malam.

Kulihat ada sebuah mobil yang lebih mahal daripada mobilku diparkir di depan pintu garasi. Sudah pasti mobil made in England itu punya Tante Irenka.

Ternyata benar. Begitu aku masuk ke ruang tamu, seorang wanita bule yang usianya kutaksir sekitar tigapuluh tahunan, langsung bangkit dari sofa dan berjabatan tangan denganku.

“Irenka…”

“Chepi…”

“Jadi kamu anaknya Bang Adrian?” tanyanya dengan tangan masih menggenggam tanganku.

“Betul Tante Irenka…”

“Buat lidah orang Indonesia, mungkin lebih mudah menyebut namaku Iren aja. Gak pakai Tante juga gak apa – apa. Karena di Eropa, terkadang kepada ibu pun memanggil namanya saja.”

“Iya… iyaaa… tapi karena aku orang Indonesia, aku akan tetap memanggil Tante… mm… Tante Iren.”

“Oke… kita bisa langsung berbicara masalah ketiga kapal tanker itu ya,” ucap Tante Irenka sambil menarik tanganku dan mengajak duduk berdampingan di sofa.

Harum parfum mahal pun tersiar ke penciumanku.

“Kapal – kapal tanker itu milik siapa?” tanyanya dengan sikap yang sangat familiar.

“Punya orang. Tapi surat – suratnya sudah atas namaku semua Tante,” sahutku.

“Owh… berarti kita tidak perlu moderator, arranger dan sebagainya. Karena pihak buyer pun sudah menyerahkan segalanya padaku. Ohya, foto – fotonya sudah kulihat dari papamu. Tapi di situ tidak tercantum ukuran tonasenya.”

“Ketiga kapal tanker itu terdiri dari satu kapal ULCC (Ultra Large Crude Carrier), berkapasitas 500.000 ton. Dan dua kapal VLCC (Very Large Crude Carrier/Malaccamax), berkapasitas 300.000 ton.”

“Kondisinya memang bagus kan?”

“Semuanya barang second Tante. Tapi kondisinya bisa disebut delapanpuluhlima persen lebih. Bahkan bisa disebut sembilanpuluh persen.”

“Oke. Yang jelas ketiga – tiganya masih layak melaut kan?”

“Masih Tante. Soal itu sih kujamin masih bagus, karena baru selesai diservice dan direnovasi semuanya.”

“Kapal – kapalnya ada di mana sekarang?”

“Di Surabaya Tante.”

“Wow. Berarti kita harus ke Surabaya ya.”

“Iya Tante. Pakai pesawat sejam setengah juga tiba di Surabaya.”

“Kalau ke Surabaya, aku justru ingin pakai mobil aja. Satu mobil aja, biar kita bisa gantian nyetir nanti,” sahut Tante Irenka.

Pada saat itu belum ada jalan tol trans Jawa. Jadi paling juga harus lewat pantura. Untuk mencapai Surabaya dibutuhkan waktu lebih dari 12 jam, kalau menggunakan mobil pribadi. Setelah ada tol memang bisa hemat waktu, tapi biayanya lebih besar (untuk bayar jalan tol).

“Mau pakai mobilku apa mau pakai mobil Tante aja?” tanyaku.

“Pakai mobilku aja,” sahutnya, “Tapi gantian nyetir nanti ya.”

“Oke. Lalu mau berangkat kapan?” tanyaku lagi.

“Sekarang aja. Untuk jalan jarak jauh mendingan juga malam.”

“Tante bawa pakaian untuk ganti?”

“Ada. Selalu siap pakaian ganti di dalam bagasi mobilku.”

Lalu kami merundingkan lagi masalah harga ketiga kapal tanker itu. Dengan sedikit di mark up dari harga yang diputuskan oleh Tante Aini. Uang kelebihan itu nantinya kusediakan untuk Anna. Minimal harus jadi rumah untuknya, jika bisnis ini sukses.

Memang kalau dibandingkan dengan harga barunya, harga ketiga kapal tanker itu jauh lebih murah. Tidak sampai 50% dari harga barunya. Tapi tetap saja harga ketiga kapal tanker itu setelkah dijumlahkan, jadi duabelas nolnya.

“Kalau keadaan ketiga kapal itu kondisinya bagus seperti yang Chepi jelaskan, harganya cukup murah tuh. Tapi kepastiannya nanti saja, setelah aku melihat kondisi ketiga kapal tanker itu. Oke?”

“Oke Tante.”

Beberapa saat kemudian, aku sudah duduk di dalam mobil Tanted Irenka, yang ia kemudikan sendiri.

“Waktu pertama kali melihatmu tadi, aku sangat terkejut Chep,” ucap Tante Irenka di belakang setir mobilnya yang terasa nyaman didudukinya ini.

“Kenapa terkejut Tante?” tanyaku heran.

“Wajah dan gerak – gerikmu mirip pacarku waktu masih kuliah di Jakarta dahulu.”

“Lho… kata Papa, Tante ini orang Czech, lalu ketemu dengan Oom Safiq di Prague…”

“Informasi yang salah. Ayah dan ibuku memang berdarah Czech. Tapi aku lahir dan dibesarkan di Jerman. Kemudian aku mendapat beasiswa untuk kuliah di Jakarta. Pada saat itulah aku pacaran sama orang Indonesia yang bentuknya sangat mirip kamu Chep. Tapi sekarang dia tentu sudah berumur. Tidak semuda kamu lagi.

“Terus, ketemu dengan Oom Safiq di mana?”

“Di Jerman. Itu setelah aku selesai kuliah. Tapi kemudian aku sering mengunjungi Prague, kota leluhurku. Maka makin seringlah aku ketemu dengan pamanmu di Prague, karena pamanmu saat itu bertugas di Czech Republic. Dalam pengakuannya, pamanmu seorang duda beranak cewek dua orang. Istrinya meninggal sebelum dia bertugas di Prague.

“Terus dengan pacar yang orang Indonesia itu putus?”

“Iya. Dia berkeras agar aku melebur ke dalam agamanya. Tapi aku tidak bisa. Sementara pamanmu tidak memintaku jadi mualaf. Maka aku pun menerima lamarannya, lalu kami menikah di Prague. Begitu ceritanya.”

“Sekarang usia pacar Tante yang orang Indonesia itu kira – kira berapa tahun?”

“Sudah tua lah. Dia itu lima tahun lebih tua dariku. Sekarang usiaku sudah tigapuluh tahun. Berarti dia sudah tigapuluhlima tahun. Hmm… setelah melihatmu, aku merasa seolah – olah ketemu dengan reinkarnasi pacarku itu Chep.”

“Kalau boleh tau, siapa nama pacar Tante itu?”

“Panji.”

“Ya udah… anggap aja aku ini reinkarnasi Panji. Hehehee…”

Tante Irenka mengurangi kecepatan mobilnya. “Serius?!”

“Tentu aja serius. Cowok mana yang tidak tertarik oleh wanita yang cantik seperti Tante.”

Tiba – tiba Tante Irenka meminggirkan mobilnya sampai menginjak bahu jalan. Lalu menghentikan mobilnya, sekaligus mematikan semua lampu, tapi mesinnya tetap dinyalakan. Tanpa canggung – canggung lagi Tante Irenka merangkul leherku dan… mencium bibirku…!

Ooooh… apakah aku akan mengalami kisah baru di dalam perjalanan hidupku?

Mau giliran nyetir?” tanya Tante Irenka setelah ciumannya terlepas.

“Boleh,” sahutku sambil membuka pintu di sebelah kiriku. Lalu turun dari mobil di kegelapan malam itu. Tante Irenka pun turun dari pintu sebelah kanannya, lalu kami bertukar tempat.

Ternyata sedan buatan UK itu tiptronic juga seperti mobilku. Bisa matic, bisa juga manual.

Setelah menyalakan sign ke kanan dan lampu sorot depan, kuluncurkan mobil Tante Irenka ini dengan dendang baru di dalam batinku. Sangat berbeda dengan dendang Mama Aleta, karena Tante Irenka masih muda. Baru 30 tahun. 11 tahun lebih tua dariku.

“Oom Safiq sudah mengijinkan Tante berlama – lama di Surabaya nanti?” tanyaku sambil menyetir sedan punya Tante Irenka yang ternyata lebih nyaman daripada mobilku.

“Sudah mengijinkan. Apalagi setelah mendengar bahwa aku akan bersama anak Bang Adrian. Aku minta ijin paling lama dua minggu di Surabaya,” sahut Tante Irenka sambil merapatkan pipi kanannya ke pipi kiriku.

“Hitung – hitung sambil bernostalgia, ya Tante,” kataku sambil menjulurkan tangan kiriku, untuk memegang bahu kiri Tante Irenka.

“Chepi… aku ada usul nih. Bagaimana kalau kita beristirahat aja di Cirebon?” tanyanya setengah berbisik, disusul dengan gigitan kecil di daun telingaku.

“Mau check in di hotel maksud Tante?”

“Iya. Cari aja hotel bintang lima atau empat di Cirebon.”

“Tante udah pengen tidur?” tanyaku.

Tante Irenka menyahut dengan bisikan, “Pengen ditiduri… sama Chepi. Bukan sekadar pengen tidur biasa.”

“Siap Tante. Heheheee…”

Tante Irenka menatapku sambil tersenyum, “Siap apa?”

“Siap nidurin Tante…” sahutku lugu.

Tante Irenka tersenyum. Lalu mencium pipi kiriku, “Emwuaaaaah… !”

Tidak sulit mencari hotel berbintang di kota udang ini. Tapi tadi Tante Irenka menyebut bintang 5 atau 4. Berarti minimal harus mendapatkan hotel four star.

Aku sendiri bisa beradaptasi tidur di hotel melati tiga sekali pun. Namun mungkin Tante Irenka tidak biasa menginap di hotel biasa – biasa saja.

Akhirnya kudapatkan kamar di sebuah hotel bintang empat. Karena aku tak menemukan hotel bintang lima di kota ini, entah kalau sekarang sih.

Hotelnya cukup megah dan resik. Sehingga Tante Irenka pun langsung setuju ketika aku mau check-in di hotel ini.

Tapi ketika aku mau membayar di front office, Tante Irenka langsung memberikan kartu kreditnya ke resepsionis. Kubiarkan saja. Mungkin karena dia yang mengajak istirahat di Cirebon, maka dia juga yang merasa harus membayarnya.

Hotel yang cuma tiga lantai ini menyediakan kamar buat kami di lantai tiga, lantai tertinggi di hotel ini. Sementara jam tanganku sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Tapi Tante Irenka tampak begitu bersemangat. Sejak masih di dalam liftg, lengannya melingkari pinggangku terus. Apalagi setelah berada di dalam kamar bernomor 333 itu.

Ia memberi tip kepada bellboy yang mengantarkan kami sekaligus menjinjing tas pakaian kami. Dan setelah bellboy itu berlalu, Tante Irenka meletakkan kedua lengannya di sepasang bahuku.

Lalu bergegas ia menuju ke kamar mandi, meninggalkanku sendirian sambil memandang ke luar lewat jendela kaca yang dipasang permanen (tidak bisa dibuka, karena kamar ini dipasangi AC).

Tak lama kemudian Tante Irenka muncul dari kamar mandi, dalam keadaan yang sudah berubah. Tubuh putih mulusnya hanya dibebat oleh sehelai handuk hotel. Dan aku yakin, di balik handuk hotel itu tiada apa – apa lagi selain tubuh bule Tante Irenka.

Lalu ia merentangkan kedua lengannya sambil berkata, “Pangeran…! Aku siap ditiduri olehmu… !”

Aku tersenyum sambil menghampiri wanita bule yang sedang berdiri di dekat bed itu. Tanpa canggung kulepaskan busanaku sehelai demi sehelai, sampai telanjang bulat.

Tante Irenka terbelalak ketika pandangannya tertuju ke arah tongkat kejantananku yang sudah agak tegang tapi belum ngaceng full ini. Lalu ia melepaskan handuk putih itu, sehingga dugaanku terbukti. Bahwa setelah handuk itu dilemparkan ke bed, aku bisa menyaksikan indahnya sekujur tubuh istri Oom Safiq yang sudah telanjang bulat itu.

Tiada kata – kata yang terlontar dari mulut kami. Karena kami mulai melakukan body language (bahasa tubuh). Saling peluk dan menghempaskan diri ke atas bed.

Hmm… tubuh Tante Irenka terasa hangat ketika kedua tanganku mulai memegang sepasang toketnya yang lumayan gede dan indah sekali bentuknya itu.

Pada saat yang sama, Tante Irenka memegang rudalku sambil berkata, “rudalmu jauh lebih gede daripada rudal pamanmu.”

“Dalam bahasa Czech rudal itu apa”

“Péro… kalau rudal gede disebut velký péro… hihihi… sudah kebayang… Chepi pasti akan membuatku puas malam ini.”

Sebagai jawaban kuemut pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas toket kanannya dengan lembut. Tubuh Tante Irenka pun semakin menghangat.

Tapi aksiku ini hanya awalnya saja. Karena kemudian aku melorot turun, sehingga wajahku berhadapan dengan kemaluan wanita bule 30 tahunan itu. Kemaluan yang sangat bersih, tiada jembutnya sehelai pun. Lalu kuusap – usap serambi lempit putih yang bersih ini. “serambi lempitnya diwaxing Tante?”

“Dua minggu yang lalu aku ke German. Waxing sudah tidak populer lagi di sana,” sahutnya.

“Lalu diapain sampai bisa bersih begini?”

“Pakai sinar laser.”

“Owh… hasilnya bersih sekali Tante,” ucapku disusul dengan menciumi serambi lempit Tante Irenka yang bersih dan harum ini (mungkin dia menggunakan pengharum di kamar mandi tadi).

Lalu kami tidak berbicara lagi, karena aku sudah mengangakan bibir luar serambi lempit Tante Irenka dan menjilati bagian dalamnya yang berwarna pink itu.

Tante Irenka pun terdiam sambil mengusap – usap rambutku yang berada di bawah perutnya. Mungkin dia sedang menikmati jilatan dan isapanku. Ya, karena aku tak cuma menjilati bagian dalamnya yang berwarna pink itu, melainkan juga menjilati clitorisnya disertai dengan isapan – isapan kuat. Sehingga kelentitnya mulai menonjol, sudah keluar dari selubungnya.

Hanya belasan menit aku melakukan semuanya ini. Dan ketika terasa air liurku sudah membasahi bagian dalam serambi lempit Tante Irenka, aku pun berlutut sambil meletakkan moncong rudalku yang sudah ngaceng berat ini di ambang mulut serambi lempit Tante Irenka.

Kedua kaki Tante Irenka pun spontan terangkat dan mengangkang.

Tanpa basa – basi lagi kudesakkan rudalku sekuatnya. Dan… blessssss… mulai membenam ke dalam liang serambi lempit wanita bule itu.

Tante Irenka menarik kedua tanganku, sehingga dadaku terhempas ke sepasang toket gedenya yang cantik bentuknya itu. Sementara kedua kakinya berada di atas bokongku.

Maka mulailah aku mengayun rudalku, bermaju – mundur di dalam liang serambi lempit wanita bule itu.

Ketika entotanku masih perlahan, terdengar bisikan Tante Irenka di dekat telingaku, “Kalau bisnis kita sukses, hubungan ini harus berjalan terus ya.”

“Oke,” sahutku. Lalu aku mulai mempercepat entotanku, sambil menciumi dan menjilati leher Tante Irenka.

Wanita bule itu pun mulai mendekap pinggangku sambil menggoyang pinggulnya secara sederhana tapi terasa hidup sekali. Karena yang terpenting ia bisa menggesek – gesekkan kelentitnya dengan batang kemaluanku.

Sehingga terasa sekali betapa bergairahnya Tante Irenka ini menikmati genjotan rudalku. Terlebih sekali ketika jilatanku di lehernya disertai dengan gigitan – gigitan kecil, desah – desah nafasnya yang berbaur rintihan – rintihan histerisnya pun mulai berkumandang di dalam kamar hotel ini.

“Oooooh… ooooo… ooooohhhh… Chepiiii… your dick is amazingly delicious… come on… fuck me harder Cheeep… fuck me… fuck… fuck… oooooh… fuck me harder please…”

Mendengar rintihan itu, aku jadi semakin bernafsu, untuk memenyetubuhinya sekeras mungkin seperti yang diinginkannya. Maka gerakan batang kemaluanku yang tadinya cenderung softcore pun berubah menjadi hardcore. Ngocoks.com

rudalku menggenjot liang serambi lempit Tante Irenka dengan cepat dan keras. Gedak – geduk maju mundur dengan massive -nya. Tante Irenka menyambut entotan kerasku dengan merengkuh leherku ke dalam pelukannya.

Lalu ia memagut dan melumat bibirku dengan lahapnya, dengan mata merem melek. Kadang menatap mataku, kadang terpejam. Sementara pinggulnya tetap bergoyang – goyang efektif. Bukan goyang karawang yang meliuk – liuk dan menghempas – hempas itu.

“Lubang serambi lempit Tante masih sangat sempit. Uuuugh… uuuugh… seperti belum pernah melahirkan,” ucapku pada suatu saat.

“Aaaaa… aaaaaah… aku memang belum pernah hamil Chepi…” sahutnya sambil merapatkan pipinya ke pipiku, “Oom Safiq kan pernah stroke berat… yang membuat rudalnya tidak normal lagi…”

“Impoten?”

“Masih bisa ereksi… tapi selalu ejakulasi prematur… ooooh… ma… makanya aku ingin agar kamu menjadi pangeranku mulai saat ini…”

“Siap Tante… aku tak mau hipokrit… serambi lempit Tante ini luar biasa enaknya… oooghhhh… benar – benar enak Tante… uuuughhhh…”

“Your dick juga luar biasa enaknya Cheeep… ooooh… ooooh…”

Tante Irenka mulai klepek – klepek. Mulai berkelojotan. Dan aku menyadari apa yang bakal terjadi. Karena itu kugenjot rudalku dengan gencarnya. Sampai pada suatu saat, ketika Tante Irenka mengejang tegang “I am coming… “rintihnya yang lalu terhenti karena mulai menahan nafas dalam kejangnya itu.

Lalu kunikmati sesuatu yang luar biasa indahnya. Bahwa ketika batang kemaluanku sedang ditancapkan tanpa digerakkan dulu, kurasakan liang serambi lempit wanita bule itu berkedut – kedut kencang, disusul dengan gerakan seperti ular membelit batang kemaluanku… diikuti dengan terbitnya lendir libido Tante Irenka, yang membuat liang serambi lempitnya jadi basah dan hangat sekali.

“Aku sangat suka merasakan wanita orgasme seperti ini. Indah sekali…”

Lalu kutawarkan untuk mengubah posisi. Karena setahuku wanita bule senang main dalam posisi doggy atau WOT.

Tapi di luar dugaanku, Tante Irenka menyahut, “Aku hanya menyenangi posisi missionary begini. Karena hanya posisi inilah yang paling nikmat bagiku. Tapi tunggu sebentar ya, jangan digerakkan dulu rudalmu. Aku ingin menghayati indahnya orgasme yang kualami barusan.”

Kuikuti saja keinginannya. Kumainkan toket gedenya sambil berkata, “Your breasts are so beautiful…”

“Terima kasih,” sahut Tante Irenka sambil mengusap – usap rambutku, “Ayo lanjutkan lagi… sekarang aku sudah siap…”

Aku tersenyum sambil mengayun rudalku kembali. Yang disambut dengan ciuman dan lumatan Tante Irenka. Bahkan lalu lidahku disedot ke dalam mulutnya, lalu digeluti oleh lidahnya. Di saat lain, ketika lidahnya dijulurkan, kusedot lidah itu ke dalam mulutku.

Sementara itu entotanku makin lama makin kencang dan keras. Karena Tante Irenka menghendakinya begitu.

Bersambung… Kekagumanku kepada Tante Irenka semakin mendalam setelah melihat dia begitu lincahnya memeriksa ketiga kapal tanker itu satu persatu. Bahkan ruangan demi ruangan diperiksanya dengan teliti.

Yang sangat membesarkan hatiku, Tante Irenka selalu mengacungkan jempolnya setiap kali habis memeriksa bagian demi bagian ketiga kapal tanker itu. Terlebih lagi setelah memeriksa kapal ULCC (Ultra Large Cruder Carrier) yang ukurannya terbesar di antara ketiga kapal tanker itu, ia langsung mengajakku berbicara di cabin.

Di situlah ia berkata, “Kapal ULCC ini bisa kujual dengan harga yang sangat mahal. Jadi… begini aja… aku setuju dengan harga yang telah Chepi ajukan. Tapi di dalam transaksinya nanti, harga ketiga kapal itu akan kunaikkan limapuluh persen dari harga yang sudah ditawarkan itu. So… Chepi harus menandatangani harga yang sudah dimark up limapuluh persen.

“Apakah realistis harga yang sudah dimark up itu?” tanyaku ragu.

“Lho… aku kan decision maker dari pihak buyer. Dalam transaksi nanti, hanya ada dua orang yang jadi decision maker, Chepi decision maker dari pihak owner dan aku decision maker dari pihak buyer. Yang lain – lain hanya sebagai pelengkap saja.”

“Iya Tante,” sahutku dengan hati berbunga – bunga. Karena aku sudah menaikkan harga ketiga kapal tanker itu, untuk membelikan rumah bagi Anna. Namun ternyata mark upku tidak ada apa – apanya jika dibandingkan dengan mark up Tante Irenka.

Akhirnya aku menyatakan hendak mengikuti “prosedur” Tante Irenka saja. Sambil membayangkan betapa banyaknya aku akan memiliki dana dari jatah yang 25% itu.

Memang banyak prosedur yang harus dilewati. Ada juga beberapa orang yang ditugaskan oleh Tante Aini untuk membantuku sampai selesai bertransaksi dengan Tantge Irenka.

Untuk itu aku dan Tante Irenka sampai 8 hari harus tinggal di Surabaya. Sampai pada suatu hari, tanpa sepengetahuan Tante Irenka aku menghubungi Tante Aini by phone :

“Transaksi sudah selesai Tante. Uangnya sudah mengendap di rekening perusahaan semua.”

“Syukurlah, berarti kamu punya faktor keberuntungan dalam banyak hal Chepi. Anggaplah hasil penjualan kapal – kapal tanker itu sebagai investasi untuk mengembangkan perusahaan yang Chepi pegang sekarang.”

“Banyak sekali investasinya Tante. Bisakah kita mengembangkan jenis usahanya?”

“Tentu saja bisa. Asalkan sesuai dengan aktivitas yang tercantum di dalam badan hukum kita. Ekspor – impor dan perdagangan umum kan?”

“Iya Tante. Perdagangan umum kan universal sifatnya Tante. Kalau perlu kita bikin lagi PT baru, yang sesuai dengan rancangan aktivitas kita Tante.”

“Lakukanlah apa pun yang menurutmu baik dan menyehatkan perusahaan kita. Aku kan sudah memasrahkan segalanya padamu. Silakan saja cari aktivitas baru, tapi yang sesuai dengan kemampuanmu. Jangan terlalu memaksakan diri, karena kamu masih kuliah juga kan?”

“Aku sudah mengajukan cuti kuliah selama setahun Tante.”

“Ohya?! Kasihan juga keponakanku tersayang sampai harus cuti kuliah segala.”

“Nggak apa Tante. Nanti aku akan kejar ketertinggalanku di tahun depan. Sekarang mau fokus ke bisnis dulu. Mumpung enerjiku sedang berkobar Tante.”

“Iya, iya… kamu pasti tau mana jalan terbaik bagi kita semua Chep. Aku merestui semua jalan yang kamu pandang positif nanti. Aku bangga punya keponakan sekaligus kekasihku.”

“By the way, kira – kira kapan Tante mau melahirkan?”

“Sekitar dua bulan lagi Sayang. Ohya… anak kita sudah ketahuan jenis kelaminnya. Ternyata anak kita ini laki – laki Sayang. Semoga anak kita setampan kamu.”

“Amiiin…”

“Ohya… coba kuasa buyer kapal tanker itu tawari kapal pesiar bekas, tapi umurnya baru sekitar tiga dan lima tahunan. Semuanya masih jalan dan terawat.”

“Ada berapa kapal pesiar yang mau dijual itu Tante?”

“Semuanya ada lima kapal. Pemiliknya orang Arab semua. Mereka ingin ganti dengan kapal pesiar yang lebih mewah lagi.”

“Iya Tante. Nanti kutanyakan sama orangnya.”

Lalu Tante Aini menceritakan bagaimana senangnya Sang Suami setelah mendengar bahwa bayi yang masih di dalam kandungannya itu laki – laki.

Lalu kami ngobrol ke barat ke timur ke utara ke selatan.

Setelah menghubungi Tante Aini, semangatku semakin berkobar.

Ternyata Tante Irenka pun tampak semakin bersemangat setelah transaksi ketiga kapal tanker itu selesai. Dia juga menceritakan bahwa sang Buyer yang sebenarnya minta agar Tante Irenka mencari lagi kapal tanker sebanyak mungkin.

Aku tidak tahu mau beroperasi di mana kapal – kapal tanker itu. Dan aku tidak menanyakannya kepada Tanter Irenka. Karena hal itu sudah bukan urusanku lagi. Yang penting, ketiga kapal tanker itu sudah terjual lunas. Dan aku mengendapkan dana yang sangat banyak di rekening pribadiku. Dana yang 25% dari Tante Irenka itu.

By the way, hubunganku dengan Tante Irenka dalam waktu 8 hari ini semakin lengket saja rasanya. Khususnya tentang masalah sex, Tante Irenka bukan seorang wanita yang hypersex. Tapi bukan pula wanita yang frigid. Maka selama bersamaku di Surabaya, dia “hanya” minta jatah dua hari sekali. Berarti selama 8 hari itu Tante Irenka kugauli sebanyak 4 kali.

Bahkan pada suatu saat, ketika aku sedang mencumbu Tante Irenka yang sudah telanjang bulat di kamar hotel, Tante Irenka berkata, “Yang penting hubungan sex itu bobotnya atau kualitasnya. Bukan keseringannya. Dan sejauh ini hubungan sex dengan Chepi terasa sangat berkualitas. Makanya dua malam sekali pun lebih dari cukup.

“Kalau ketahuan sama Oom Safiq bagaimana?” tanyaku.

“Gak apa – apa. Aku dan pamanmu sudah punya kesepakatan baru.”

“Kesepakatan mengenai apa?”

“Pamanmu sangat mencintaiku. Dia memohon agar aku jangan sampai meninggalkan dia setelah dia mengalami stroke dan selalu gagal memuaskan gairah biologisku. Dia bahkan sudah mengijinkanku untuk selingkuh dengan lelaki lain, asalkan aku tetap hidup bersama pamanmu.”

“Waktu mau berangkat ke Surabaya ini, Oom Safiq tau kalau Tante pergi bersamaku?”

“Tau. Dia bahkan menganjurkan untuk menjadikan Chepi sebagai kekasihku.”

“Ohya?! Kok Tante baru bilang sekarang?”

“Soalnya hal itu tidak penting Chep. Diijinkan atau tidak oleh pamanmu, aku tetap akan berjuang untuk mendapatkanmu. Dan sekarang aku sudah mendapatkanmu. Kebetulan pula kamu sangat mirip dengan mantan pacarku dahulu. Jadi… aku menyerahkan tubuhku padamu secara total. Karena hatiku pun sudah kamu miliki sekarang Sayang.

Pada saat itu aku sedang merapatkan pipiku ke pipi Tante Irenka, sementara jemariku sedang menggerayangi kemaluannya yang sangat bersih itu.

Ketika kurasakan liang serambi lempit istri Oom Safiq itu sudah basah, kuletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempitnya sambil berkata, “Sebenarnya aku sudah punya calon istri. Tapi Tante sudah mendapat tempat istimewa di dalam hatiku. Maka aku pun berharap agar hubungan kita tetap terjalin, baik dalam bisnis mau pun birahi kita.

Lalu kudesakkan batang kemaluanku sekuat tenaga. Dan… mulai membenam sediukit demi sedikit… blesssssskkkkkkkk…

“Ooooh… sudah masuk Sweetheart… “rintih Tante Irenka sambil melingkarkan lengannya di leherku. Lalu menciumi bibirku bertubi – tubi.

Aku tidak berdusta waktu mengatakan bahwa Tante Irenka ini punya tempat istimewa di dalam hatiku. Karena selain cantik dan bertubuh putih mulus, liang serambi lempitnya pun terasa legit dan menjepit. Lebih dari itu semua, kayaknya aku bakal punya hubungan bisnis terus dengannya kelak. Karena itu aku pun harus membuatnya benar – benar puas setiap kali aku menyetubuhinya.

Kebetulan Tante Irenka hanya menyukai posisi missionary. Padahal kalau nonton di bokep – bokep, orang bule itu di awalnya saja sudah langsung main doggy. Lalu posisi miring, WOT dan sebagainya. Tapi Tante Irenka hanya suka main dalam posisi missionary. Karena ia ingin benar – benar menikmati gesekan dan sentuhanku.

Mungkin Tante Irenka ini pada dasarnya senang diperlakukan secara romantis.

Karena itu aku pun berusaha untuk memberikan kepuasan padanya dengan apa yang bisa kulakukan.

Aku bahkan sudah bhafal di mana saja titik – titik sensitif pada tubuh Tante Irenka. Maka kumulai memenyetubuhinya sambil menjilati daun telinganya. Aksi ini mulai membuat Tante Irenka terpejam – pejam.

Terlebih lagi ketika aku memenyetubuhinya sambil menjilati ketiaknya, disertai dengan sedotan – sedotan kuat, maka Tante Irenka pun semakin menggelinjang – gelinjang sambil berdesah dan merintih histeris, “Chepiiii… aku bisa tergila – gila olehmu Chep. Apa pun yang kamu lakukan padaku… selalu saja membuatku serasa sedang melayang – layang di surga…

Ooooh… Chepppiiii… kamu jangan tinggalkan aku sampai kapan pun yaaaa… aku sudah menganggapmu sebagai pangeran yang diturunkan dari langit untuk mengucurkan keindahan dan kenikmatan padaku… ooo… ooooohhhh… Cheeeepiiii… entot terus Cheeeeep… rudalmu luar biasa enaknya Sweetheart…

Sementara itu aku menilai bahwa yang paling indah di tubuh Tante Irenka ini adalah sepasang payudaranya. Karena selain gede, bentuknya sangat lonjong yang indah sekali. Kali ini aku ingin meremas sekuatnya. Maka kucoba meremas toket indah itu lebih kuat dari biasanya. “Tidak sakit kuremas sekuat ini Tante?

“Tidak sayang. Pamanmu kularang meremas terlalu kuat. Karena aku ingin agar payudaraku tetap indah bentuknya. Tapi khusus untukmu… silakan remas sekuatnya. Karena dirimu mungkin akan jadi pelabuhan cintaku yang terakhir Chep…”

Maka tangan kiriku mulai meremas toket kanan Tante Irenka, sementara mulutku asyik mengemut pentil toket kirinya yang tegang dan kemerahan ini. Sedangkan rudalku makin masive memenyetubuhi liang serambi lempit Tante Irenka yang luar biasa legit dan sempit menjepit ini.

Terkadang aku memenyetubuhinya sambil sedikit mengangkat tubuhku, karena ingin memperhatikan maju mundurnya rudalku di dalam mulut serambi lempit wanita bule itu.

Lalu kuhempaskan lagi dadaku ke atas sepasang toket yang bentuknya sangat erotis itu. Disambut lagi dengan rengkuhan dan pelukan Tante Irenka.

Keringat pun mulai berjatuhan ke atas dada dan leher serta wajah Tante Irenka. Bercampur baur dengan keringatnya sendiri.

Dan manakala tangan Tante Irenka terangkat ke dekat kepalanya, kujilati lagi ketiaknya yang sudah basah oleh keringat, tanpa menimbulkan perasaan risih sedikit pun.

Namun pada suatu saat Tante Irenka berkelojotan sambil berucap terengah, “Aku sudah mau orgasme Chep… barengin lagi yok kayak kemaren…”

Aku pun berusaha mengikuti keinginan istri Oom Safiq itu, dengan mempercepat entotanku, seperti pelari yang sudah mendekati garis finish.

rudalku maju mundur dengan cepatnya di dalam jepitan liang sanggama Tante Irenka.

Dan ketika sekujur tubuh Tante Irenka mengejang tegang, dengan perut sedikit terangkat… aku pun membenamkan rudalku sedalam mungkin, sambil meremas sepasang toket wanita bule itu.

Lalu detik – detik yang sangat indah ini pun terjadi. Bahwa ketika liang serambi lempit Tante Irenka berkedut – kedut kencang, diikuti dengan gerakan sekujur liang sanggamanya yang seolah belitan ular meremas batang kemaluanku… rudalku pun mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.

Croooottttt… croootttt… crottt… croooottttttt… crooootttt… crooootttt…!

Aku meninggalkan Surabaya dengan gejolak batin seolah panglima yang baru menggondol kemenangan di medan perang.

Tante Irenka pun tampak sangat bersemangat. Bahkan pada suatu saat ia bertanya, “Chepi tau siapa buyerku yang telah membeli ketiga kapal tanker itu?”

“Siapa Tante?” aku balik bertanya. “Ayahku sendiri.” “Ayah Tante?!”

“Iya. Dan yang sangat menyenangkan ketiga kapal tanker itu sudah dibeli lagi oleh seorang pengusaha minyak dari Afrika Selatan. Sekarang ketiga kapal tanker itu sudah melaut menuju Afrika.”

“Begitu cepatnya proses itu terjadi?!”

“Tidak terlalu cepat juga. Kita kan menghabiskan waktu dua minggu selama ini. Kemaren buyer dari Afrika Selatan itu datang ke Surabaya, beserta nakhoda – nakhoda dan crew kapalnya.”

“Baguslah. Berarti kita sudah mencapai sukses yang gemilang, ya Tante.” “Iya… itu suatu pertanda bahwa hubungan kita harus berlanjut terus sampai tua.” “Siap Tante.” “Duit pembagian keuntungan itu mau dipakai untuk apa Chep?”

“Biar mengendap aja dulu di rekeningku Tante. Itu kan bukan duit sedikit. Harus dipikirkan sematang mungkin mau dipakai apa nanti.”

“Mau dijadikan tambahan modal usahamu?” “Sebaiknya begitu. Kalau tidak diputar, lama kelamaan bisa habis juga nanti.”

“Kamu masih sangat muda. Tapi pola pikirmu sudah sangat dewasa dan penuh tanggung jawab. Itu salah satu kelebihanmu Sayang,” ucap Tante Irenka sambil mengecup pipi kiriku.

“Terima kasih Irenka Sayang,” ucapku di belakang setir mobil Tante Irenka.

“Mmmm… aku suka sekali kamu panggil aku dengan sebutan Irenka Sayang itu… membuatku makin dalam mencintaimu Honey.”

Tante Irenka sudah berterus terang bahwa yang menjadi buyer ketiga kapal tanker itu adalah ayahnya sendiri. Tapi aku tetap merahasiakan siapa pemilik ketiga kapal tanker itu. Karena takut berbuntut panjang kalau beritanya menyebar ke mana – mana. Selain daripada itu, percuma juga aku menyebut nama Tante Aini.

Yang membuatku agak ragu – ragu, Tante Irenka memintaku mengantarkannya sampai di rumahnya. Berarti aku akan berjumpa dengan Oom Safiq. Dan itu membuatku takut juga sih.

Tapi Tante Irenka berkata, “Nanti kita harus bersikap seperti belum terjadi apa – apa di antara kita berdua. Santai aja Milenec.”

“Milenec?!” “Milenec itu kekasih di dalam bahasa Czech.” “Tante dibesarkan di Jerman. Tapi bahasa Czech tetap digunakan juga ya.”

“Iya. Di dalam keluargaku tetap menggunakan bahasa Czech. Tapi kalau di luar rumah kami menggunakan bahasa Jerman.”

Akhirnya aku berhasil menabahkan diri untuk mengantarkan Tante Irenka ke rumahnya. Berarti aku harus menjumpai Oom Safiq tanpa perasaan takut atau pun kuatir. Karena Tante Irenka sudah menjamin takkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Ternyata sore itu Oom Safiq sedang duduk di teras belakang, di atas kursi rodanya, menghadap ke arah taman yang berada di pekarangan belakang rumahnya.

Tante Irenka duluan menghampiri Oom Safiq. Lalu mencium sepasang pipi adik Papa itu.

“Bagaimana? Sukses?” tanya Om Safiq dengan suara yang agak pelo. Mungkin salah satu dampak kena stroke itu.

“Sukses Pap. Itu anaknya Bang Adrian ikut,” sahut Tante Irenka sambil menunjuk ke arahku.

“Mana?” Oom Safiq memutar arah kursi rodanya. Mungkin untuk menoleh pun tidak bisa.

Cepat aku berlutut di depan kursi roda adik kandung Papa itu. “Ini Chepi Oom,” ucapku sambil mencium tangan Oom Safiq.

“Waduh… Chepi sudah ja… jadi pemuda gini? Papamu sehat?” tanya Oom Safiq dengan suara yang kurang jelas, sambil mengusap – usap rambutku.

“Sehat Oom. Papa suka ke sini kan?” “Sering,” sahut Oom Safiq, “Sejak aku kena stroke, papamu suka nengok ke sini. seminggu sekali.” “Owh… terus adek – adek ke mana Oom?” “Elke dan Hania pada kuliah di Australia.” “Jadi di sini Oom cuma berdua dengan Tante Irenka saja?” “Bertiga dengan adik tantemu itu,” sahut Oom Safiq.

“Owh iya… tunggu sebentar ya Chep. Kamu harus kenal juga dengan adikku,” kata Tante Irenka sambil melangkah ke lorong menuju pintu – pintu yang berderet.

Pada saat itulah Oom Safiq berkata padaku, “Apakah tantemu sudah bilang mengenai sesuatu yang harus dirahasiakan itu?”

“Su… su… sudah Oom,” sahutku tergagap.

“Aku titip tantemu itu ya Chep. Aku sudah tidak berdaya dalam masalah sex. Tapi aku tak mau kehilangan dia.”

“Iya Oom.”

“Nah… daripada dia selingkuh dengan orang luar, mendingan kamu yang mewakili aku untuk memuaskan libidonya yang masih kenceng.”

“Iii… iya Oom.”

“Yang penting dia tetap mendampingiku sampai aku mati nanti. Tapi Chepi yang harus bisa memuasi hasrat birahinya. Aku ingin membahagiakannya dengan caraku sendiri. Tapi jangan ngomong apa – apa sama papamu ya. Jadikan hal ini rahasia kita bertiga, aku, tantemu dan kamu Chep.”

“Iya Oom…” “Emangnya selama di Surabaya kalian belum pernah melakukan apa – apa?”

“Be… belum Oom. Di Surabaya kami sibuk mengurus bisnis. Lagian aku ingin kejelasan dari Oom dulu,” sahutku berbohong, seperti yang disarankan oleh Tante Irenka dalam perjalanan dari Surabaya tadi.

“Sekarang sudah jelas kan? Tantemu tidak berbohong. Aku sendiri yang menganjurkannya seperti yang sudah diceritakan barusan. Bisa kan kamu membantuku dalam hal yang harus dirahasiakan itu?”

“Si… siap Oom.”

Tak lama kemudian Tante Irenka muncul, bersama seorang cewek bule cantik, mengenakan gaun panjang ditutup oleh jaket tebal. Cantik dan segar kelihatannya. Aku yakin usianya pun masih belasan tahun.

“Nih kenalin adikku,” kata Tante Irenka. “Namanya Anastazie. Kalau di negara lain sih namanya bisa jadi Anastasia atau Anastasya. Tapi bagi orang Czech namanya Anastazie. Chepi bisa menggil Zie aja sama dia, biar gak sulit ngucapinnya.”

Lalu aku berjabatan tangan dengan adik Tante Irenka yang bernama Anastazie itu.

Yang membuatku terlongong adalah… Anastazie itu… cantik sekali…!

Maka diam – diam aku melakukan sesuatu yang nakal. Bahwa ketika aku berjabatan tangan dengannya, ujung telunjukku mengorek – ngorek telapak tangan Anastazie. Dan cewek bule itu menatapku dengan senyum manis di bibirnya…!

Namun tak lama aku melakukan hal itu. Karena tampak Oom Safiq menggerakkan kursi rodanya yang lumayan canggih. Kursi roda yang dilengkapi dengan tenaga listrik, sehingga tangannya tak perlu mengayuh rodanya, cukup dengan memijat tombol saja. “Aku mau istirahat dulu ya Chepi,” kata Oom Safiq, “Kamu mau nginap di sini kan?

“Mmm… iya Oom,” sahutku terlontar begitu saja.

Tante Irenka pun mengikuti kursi roda electric itu, sementara aku dan Anastazie masih berada di teras belakang rumah Oom Safiq yang lumayan besar dan megah itu.

“Can you speak Indonesian?” tanyaku. “Bisa,” sahut Zie, “Aku kan sudah enam tahun tinggal di Indonesia.” “Wow, kirain belum lama di sini.” “Sejak kelas satu SMP aku tinggal di sini.”

Tak lama kemudian, Tante Irenka muncul lagi dan memberi isyarat padaku agar mengikutinya menuju pintu pertama yang berderet di lorong itu.

Aku pun mengikuti langkahnya, masuk ke dalam kamar pertama.

Setelah berada di dalam kamar, Tante Irenka berkata, “Oom Safiq mengijinkanku untuk bercinta denganmu sekarang. Tapi aku akan memberikan jatahku kepada Zie. Kasihan dia itu. Usianya sudah delapanbelas tahun tapi belum pernah merasakan hubungan sex. Kalau di Jerman sih cewek baru berusia empatbelas atau limabelas pun banyak yang sudah merasakannya.

“Iya, aku pernah dengar masalah itu di Eropa, bukan hanya di Jerman.”

“Zie memang cantik. Tapi ada sesuatu yang membuatnya minder, sehingga setelah tinggal di sini gak mau bergaul.”

“Memangnya kenapa dia Tante?”

“Toketnya gede banget. Jauh lebih gede daripada toketku,” sahut Tante Irenka, “Makanya dia selalu memakai jaket, untuk menyembunyikan kegedean toketnya itu. Chepi mau kan menolongnya?”

“Dengan cara apa aku bisa menolongnya?”

Setengah berbisik Tante Irenka menyahut, “Kasih dia pengalaman bersetubuh. Supaya sikapnya ceria lagi seperti di masa kecilnya.”

“Tante serius nih?”

“Sangat serius. Masa aku main – main dalam masalah yang seperti itu. Aku sangat menyayangi adikku itu. Sehingga aku ingin berusaha membahagiakannya, agar jangan murung terus begitu. Chepi mau kan membantuku untuk membahagiakan adik kesayanganku itu?”

“Memangnya Zie pasti mau melakukannya denganku?”

“Pasti mau lah. Masa dikasih cowok setampan kamu gak mau? Aku aja sampai jatuh cinta sama kamu. Bagaimana? Kamu mau kan Sayang?”

“Mmm… atur – atur ajalah. Tapi aku harus mandi dulu. Biar seger badannya.”

“Mandilah. Itu kan ada kamar mandi, “Tante Irenka menunjuk ke pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar ini.

“Oke, aku mau ngambil tas pakaianku dulu di mobil.”

Lalu aku keluar menuju garasi. Untuk mengambil tas pakaianku dari bagasi mobil Tante Irenka.

Hari pun mulai malam.

Aku mandi sebersih mungkin di bathroom yang berada di kamar itu.

Selesai mandi, kukenakan celana pendek dan baju kaus serba putih. Lalu keluar dari kamar mandi.

Ternyata Tante Irenka dan Anastazie sudah duduk di sofa yang tak jauh dari bed.

Setelah aku muncul di bedroom, Tante Irenka berkata dalam bahasa Czech kepada adiknya, yang aku belum mengerti artinya. Hanya di ujungnya kudengar Tante Irenka berkata, “Nebuď stydlivý …” yang kalau tidak salah artinya jangan malu – malu.

Lalu Tante Irenka bangkit dari sofa. Memegang bahuku sambil berkata, “Titip adikku ya. Senangkanlah hatinya.”

“Iya, “aku mengangguk, “Tante mau ke mana?”

“Mau istirahat dulu di kamar yang di ujung sana,” sahut Tante Irenka sambil melangkah ke luar. Meninggalkan Anastazie sendirian di sofa, dalam gaun dan jaket tebal yang sejak tadi dikenakannya.

Dan aku pura – pura tidak tahu apa alasan Anastazie mengenakan jaket tebal itu. “Lagi sakit?” tanyaku sambil duduk di sampingnya.

“Tidak. Aku sehat – sehat aja,” sahutnya. “Lalu kenapa pakai jaket?” tanyaku lagi sambil memegang tangannya dan mengusap – usap telapaknya. “Malu… takut kelihatan payudaraku besar sekali…” sahutnya tersipu.

“Lho… payudara besar itu suatu kelebihan, bukan kekurangan. Harusnya dijadikan kebanggaan. Bukan harus membuatmu malu Zie.”

“Chepi suka sama payudara besar?” tanyanya sambil menatapku.

“Sangat suka. Kalau payudara besar kan bisa dipakai buat jepit ini,” sahutku sambil meletakkan tangan Anastazie di celana pendekku, tepat di bagian rudalku.

“Owh… kamu benar – benar mau melakukannya denganku?” tanyanya sambil meremas – remas celana pendekku, sehingga batang kemaluanku yang bersembunyi di baliknya, mulai bangun.

“Iya. Aku akan melakukannya sesuai dengan perintah Tante Irenka.”

“Mau melakukannya cuma karena diperintah oleh Irenka?”

“Perintah itu merupakan kejutan untukku. Karena waktu kita berjabatan tangan tadi, kamu ingat apa yang kulakukan ya?”

“Iya. Kamu menggelitik telapak tanganku.”

“Nah itu terjadi sebelum ada perintah dari Tante Irenka,” kataku, “Berarti aku sudah suka sama kamu sejak berjabatan tangan tadi. Padahal aku belum dianjurkan untuk bersamamu oleh saudaramu. Makanya… lepaskanlah jaketmu. Aku ingin melihat seksinya sekujur tubuhmu.”

“Kamu aja yang lepasin,” sahut Anastazie sambil mengangsurkan dadanya ke dekatku.

“Oke,” ucapku sambil memegang ritsleting jaket tebal berwarna abu – abu itu. Lalu menurunkannya sampai terlepas di bagian bawah jaket itu.

Kemudian kulepaskan jaket itu. Kususul dengan melepaskan gaunnya yang berwarna pink. Ternyata di balik gaun berwarna pink itu pun ada dua macam benda yang berwarna pink juga. Beha dan celana dalamnya.

Dan setelah behanya pun kulepaskan, tampaklah dengan jelas bahwa sepasang toket Anastazie memang benar – benar gede. Jauh lebih gede daripada toket Tante Irenka…!

Sebenarnya aku terkejut menyaksikan payudara segede itu. Kalau Anastazie sudah berumur limapuluhan, mungkin aku takkan begitu kaget melihatnya. Tapi Anastazie baru berumur 18 tahun dan punya toket segede itu. Maka wajarlah dia selalu minder dalam kesehariannya.

Tapi aku tetap bertenggang rasa. Aku menyembunyikan kekagetanku dan bahkan berkata, “Sebenarnya cewek bertoket gede seperti inilah yang kucari dari dulu. Dan sekarang aku menemukannya. Jadi… kamu laksana bidadari yang diturunkan dari langit untuk mewujudkan khayalan lamaku…”

“Memangnya kamu suka sama aku?” tanyanya. “Sangat suka,” sahutku diikuti dengan kecupan mesra di bibir sensualnya.

Zie tersenyum. Manis sekali senyum itu.

“Kamu benar – benar belum pernah merasakan hubungan sex?” tanyaku sambil memainkan toket gede Zie.

“Belum pernah, “Zie menggeleng. “Dan sekarang sudah siap untuk merasakannya bersamaku?”

“Siap Chep… teman – temanku di Eropa sih sejak umur tigabelas tahun juga banyak yang sudah merasakannya. Sedangkan aku… sudah delapanbelas tahun.”

“Oke. Kita lakukan di sana aja yuk,” ajakku sambil menunjuk ke arah bed.

Aku ini laksana seekor kucing yang pantang menolak kalau ditawari ikan segar. Apalagi ikan segar itu cantik, bertubuh tinggi langsing dan bule pula. Mengenai toketnya yang over size itu, aku tak peduli. Bahkan aku ingin punya koleksi atau simpanan yang toketnya gede sekali seperti itu.

Aku juga tak peduli dengan jembut yang menghiasi kemaluannya. Karena sepengetahuanku, cewek Eropa pun tidak semuanya senang menggunduli kemaluannya. Banyak juga yang seperti sengaja memelihara jembutnya, tapi dengan digunting dan dirapikan supaya menjadi bentuk segitiga, icon love dan sebagainya.

Anastazie pun tampak senang karena aku sama sekali tidak mempermasalahkan toket super gedenya. Aku bahkan menciumi pentil toketnya yang kemerahan, sebagai tanda bahwa aku suka pada buah dadanya super gede itu.

Aku memang ingin membahagiakan dan membesarkan hatinya dengan apa pun yang bisa kulakukan.

Lalu aku mulai menyasar bibirnya yang sensual itu. Memagut dan melumatnya. Disambut dengan dekapannya di pinggangku.

Kami memang sudah sama – sama telanjang bulat. Tapi aku ingin foreplay dulu, sampai dia benar – benar horny dan serambi lempitnya siap untuk diterobos oleh batang kemaluanku.

Setelah puas melumat bibirnya, mulutku turun untuk mengemut pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku mulai meremas toket kanannya.

Tubuh cewek bule itu mulai menghangat.

Terlebih lagi setelah jemari tangan kiriku menyosor ke bawah, mulai menembus jembut dan meraba – raba permukaan kemaluannya tanpa berani menyelinapkan jari tanganku ke dalam celahnya, takut mengganggu hymen (selaput dara) nya, kalau ia memang masih perawan.

Tapi Anastazie sangat reaktif. Setelah kemaluannya terjamah, ia pun menggenggam batang kemaluanku sambil menciumi bibirku. Agak lama kami dibuai dengan aksi ini. Saling pegang kemaluan sambil berciuman.

Lalu aku melorot turun sampai wajahku berhadapan dengan kemaluan cewek bule itu. Kemaluan yang berjembut tapi tidak terlalu melebar, karena ada bekas dirapihkan dengan gunting.

Ketika kucoba mengangakan kemaluannya, ternyata mudah saja mataku menyaksikan bagian dalam kemaluannya yang berwarna pink itu. Kuamati sejenak… memang masih menutup, sehingga liang sanggamanya belum kelihatan jelas.

Dan tanpa basa basi lagi kujilati bagian yang berwarna pink itu, sehingga Anastazie tersentak. Tapi lalu terdiam, meski sesekali tubuhnya menggeliat.

Tak cuma bagian dalam yang berwarna pionk itu sasaran lidahku. Setelah menemukan clitorisnya, aku pun mulai menjilati clitoris alias itil itu. Bahkan sesekali kusedot dan kujilati clitorisnya yang sebesar kacang kedelai itru.

Zie pun mulai menggeliat – geliat dan mendesah – desah, “Aaaaa… aaaaaah… aaaa… aaaaaah… aaaaa… aaaaaahhhhh… aaaaaa… aaaaaah…”

Sementara aku diam – diam mengalirkan air lurku ke dalam celah serambi lempitnya. Terus – terusan kualirkan air liurku, sampai celah serambi lempit cewek bule itu benar – benar basah. Dan siap untuk dipenetrasi.

Aku pun mulai mendorong sepasang paha Zie sampai mengangkang sejauh mungkin. Kemudian kupegang batang kemaluanku dan kucolek – colekkan moncongnya ke celah serambi lempit Zie.

Setelah terasa tepat arahnya, aku mengumpulkan tenagaku. Kemudian kudorong rudal ngacengku sekuatnya. Stttttt… meleset…! Kubetulkan lagi letaknya, lalu kodorong lagi rudalku dan… stttt… meleset lagi.

Akhirnya Zie ikut membantuku. Memegangi rudalku sambil menariknya di mulut kemaluannya.

Lalu kudorong lagi rudalku sekuat tenaga… uuuuugggghhhh…

Dan… rudalku mulai melesak masuk ke dalam liang serambi lempit Zie. Baru masuk kepalanya saja. Maka kudorong lagi sekuatnya… masuk lagi makin dalam, sampai batas leher rudalku.

Saat itulah aku menghempaskan dadaku ke atas sepasang toket gede Anastazie. Sambil mendesakkan lagi rudalku agar membenam lebih dalam lagi.

Ia menyambutku dengan merengkuh leherku ke dalam pelukannya, sambil bertanya, “Already entered?”

(Sudah masuk?)

“Sudah… baru sedikit,” sahutku, “Sakit?”

“Tidak… lanjutkanlah…” sahutnya sambil menatapku dengan bola mata yang begitu bening dan indahnya. Memang setelah diuperhatikan dari jarak dekat begini, Anastazie ini cantik sekali. Cantik yang alamiah, tiada polesan make up sedikit pun, kecuali bibirnya saja yang dipoles lipstick.

Sedikit demi sedikit batang kemaluanku melesak ke dalam liang serambi lempit Zie yang begini sempitnya. Meski belum melihat darah perawannya, aku percaya Zie ini masih perawan.

Setelah batang kemaluanku masuk lebih dari separohnya, mulailah aku mengayunnya perlahan – lahan dan hati – hati agar jangan sampai lepas.

Terasa tubuh Anastazie sampai bergetar – getar ketika rudalku mulai maju – mundur di dalam liang sanggamanya yang sangat sempit tapi sudah licin ini. Terlebih ketika entotanku mulai digencarkan, ia mulai menggeliat – geliat sambil mendesah – desah… mulai merintih – rintih histeris. “Aaaaaaaah…

Aku tersenyum sambil membisikinya, “Entot… bukan endot…”

“Iii… iiiyaaaaa… entoooottt… oooooh… kondolmu enak sekali Cheeeeep…” “rudal, bukan kondol…” “rudal? Iiii… iyaaaaaa… rudalmu enak sekali Chepiiii…” “serambi lempitmu juga enak Zie.” “Mekmek?” “Meeemeeek… !” “Owh… serambi lempit, iya serambi lempit.”

Aku memaklumi kalau Zie salah sebut kata – kata jorok. Karena mungkin jarang sekali mendengar kata – kata vulgar.

Ketika entotanku masih agak pelan, aku sempat juga mengangkat badanku sambil memperhatikan batang kemaluanku yang sedang bermaju – mundur dalam serambi lempit berjembut brunette itu. Memang ada garis – garis darah di batang kemaluanku. Berarti benarlah pengakuan Zie, bahwa ia memang belum pernah merasakan hubungan sex sebelum rudalku menerobos virginitasnya ini.

Masuk di akal kalau Zie belum pernah merasakannya. Karena ia minder gara – gara toketnya yang kegedean untuk gadis yang baru berusia 18 tahun ini. Terlebih lagi Zie hidup di perantauan, bukan di negaranya sendiri. Sehingga ia menjadi seorang cewek yang kurang gaul di Nusantara.

Hal itu justru menjadi keberuntunganku. Karena tanpa diduga – duga Tante Irenka ngasih “bonus”, adiknya yang bertoket sangat gede dan masih perawan ini…!

Hanya beberapa menit aku mengayun batang kemaluanku dalam gerakan seret, karena sempitnya liang serambi lempit Zie ini. Namun setelah liang sanggama cewek bule ini beradaptasi dengan ukuran zakarku, aku pun bisa mempercepat genjotan rudalku sampai pada kecepatan normal.

Aku tak cuma mengayun rudalku, karena tangan dan mulutku pun mulai beraksi. Kukulum dan kusedot – sedot pentil toge kirinya, sementara tangan kiriku asyik meremas – remas toket super gede itu. Kalau dadaku menghimpit dada Zie secara lurus, kedua pentil toket Zie jadi berada di samping kanan dan kiri dadaku, saking lebarnya buah dada cewek bule itu.

Desahan dan rintihan Anastazie pun semakin menjadi – jadi. “Aaaaah… aaaaah… aaaahhhh… Cheeeeepiiiii… aaaaah… ooooooohhhhh… aaaaah… Chepiiii…”

Makin lama makin riuh juga rintihan – rintihan histeris cewek bule ini. Bahkan pada suatu saat ia berucap terengah, “Chepppiii… ooooh… rasanya serambi lempitku seperti mau ambrol… tapi… ini luar biasa enaknya… oooooohhhhh…”

“Itu pertanda mau orgasme Zie… ayo nikmati saja orgasmemu sepuasnya…” sahutku sambil menggencarkan entotanku.

Zie pun berkelojotan beberapa detik. Kemudian mengejang tegang sambil menahan nafasnya. Pada saat itulah kubenamkan rudalku sedalam mungkin, tanpa digerakkan lagi, karena ingin ikut merasakan indahnya perempuan yang sedang menikmati orgasme.

Lalu terasa liang sanggama Zie berkedut – kedut kencang, disusul dengan gerakan dinding liang serambi lempitnya yang seperti spiral membelit batang kemaluanku.

“Ooooooooh… “Zie melepaskan nafasnya, lalu terkulai lemas.

Pada saat yang sama, tiba – tiba terdengar suara Tante Irenka yang sudah melangkah ke dekat bed, “Wah… wah… waaaah… asyiknya sepasang anak muda yang tengah memadu birahi…”

Aku agak kaget dan langsung tersadar bahwa pintu sudah kututup tadi, tapi memang lupa menguncinya. Sehingga Tante Irenka bisa masuk ke dalam kamar ini. Tapi biarlah, aku malah senang melihat kehadiran Tante Irenka itu. Terlebih setelah ia melepaskan gaun tidur putihnya, sehingga tubuh indahnya langsung telanjang bulat, karena di balik gaun tidur putihnya itu tiada beha mau pun celana dalam.

Kemudian Tante Irenka naik ke atas bed. Mengusap – usap dahi Anastazie yang keringatan, “Kenapa kelihatan lemas gini?”

Aku yang menjawab, “Dia baru orgasme Tante.”

“Ohya?! Berarti giliranku dong sekarang,” ucap Tante Irenka sambil tersenyum menggoda.

Aku pun mencabut rudalku dari liang serambi lempit Zie. Dan kulihat di bawah bokong Zie ada genangan darah yang sudah mengering. Darah yang bisa dijadikan saksi, bahwa Zie masih perawan sebelum diterobos batang kemaluanku tadi.

Tante Irenka pun melihat darah yang sudah mengering di kain seprai itu. Lalu bergegas ia membuka lemari dan mengeluarkan seprai lain yang masih bersih. Ia mengajak Zie untuk bersama – sama memasang seprai baru itu.

Setelah merapikan seprai baru itu, Zie menggulung kain seprai yang sudah ternoda darah perawannya itu sambil menundukkan kepala.

“Nggak apa… itu hal biasa Zie,” kata Tante Irenka sambil memegang bahu adiknya, lalu mengecup pipinya.

Zie mengangguk sambil tersenyum.

“Nanti lihat dulu cara bersetubuh yang benar ya,” ucap Tante Irenka yang lalu naik ke atas bed dan menangkap batang kemaluanku. Lalu menjilatinya dengan lahap, sementara Zie pun naik ke atas bed sambil memperhatikan yang sedang dilakukan oleh kakaknya.

Aku memberi isyarat kepada Tante Irenka, sambil menunjuk ke arah Zie.

“Gak apa – apa. Zie sudah tau bahwa aku mendapat anjuran dari suamiku seperti Zie mendapat anjuran dariku.”

Lalu Tante Irenka mengoral rudalku dengan binalnya. Menyelomoti kepala dan leher rudalku, sementara tangannya mulai mengurut – urut badan rudalku. Terkadang rudalku dikulum sampai lebih dari setengahnya, disertai sedotan – sedotan dan gelutan lidah di dalam mulutnya.

Anastazie memperhatikan semua yang dilakukan oleh kakaknya dengan sorot serius sekali. Seolah murid yang sedang menyimak pelajaran dari gurunya.

Tante Irenka memang trampil sekali permainan oralnya. Mungkin Oom Safiq selalu harus dioral dulu agar ereksi. Maklum beliau sudah tua, hanya dua tahun lebih muda daripada Papa.

Tapi karena batang kemaluanku masih ngaceng berat, tak lama kemudian Tante Irenka mulai berusaha memasukkan rudalku ke dalam liang serambi lempitnya, sambil berjongkok, dengan kedua kaki berada di kanan – kiri pinggulku. Sambil memegang batang kemaluanku, Tante Irenka pun menurunkan serambi lempitnya yang sudah ternganga.

rudalku mulai “ditelan” oleh liang serambi lempit Tante Irenka sedikit demi sedikit.

“Katanya cuma suka posisi missionary,” ucapku ketika batang kemaluanku sudah sepenuhnya berada di dalam jepitan liang serambi lempit istri Oom Safiq itu.

“Ini kan sedang ngajarin Zie,” sahut Tante Irenka yang lalu mengayun bokongnya seperti wanita sedang menunggang kuda. Sehingga batang kemaluanku terasa dibesot – besot oleh liang serambi lempit wanita bule itu.

Aku pun tidak tinggal diam. Meski sedang celentang, aku bisa memenyetubuhikan rudalku di dalam cengkraman liang serambi lempit Tante Irenka. Sehingga rudalku bergerak secara berlawanan dengan serambi lempit Tante Irenka. Ketika liang serambi lempitnya turun, rudalku maju. Dan ketika dia menarik serambi lempitnya ke atas, aku pun menarik rudalku ke bawah.

Sementara Zie memperhatikan aksi kakaknya dengan sorot serius sekali. Sambil mengusap – usap serambi lempitnya sendiri.

Tapi hanya belasan menit Tante Irenka beraksi di atas tubuhku. Lalu ia mengelojot dan ambruk di atas dadaku sambil mengeluh, “Inilah yang aku tidak suka. Kalau main dalam posisi WOT, jadi cepat orgasme.”

“Aku kan gak minta Tante main di atas,” sahutku yang kuikuti dengan kecupan hangat di bibir sensualnya.

“Kan ngajarin Zie, biar dia tau banyak mengenai sex,” sahut Tante Irenka, “Lanjutin sama dia lagi gih. Dia udah horny lagi tuh.”

Aku memang sudah tahu, bahwa Zie sudah horny lagi. Karena itu setelah Tante Irenka mengangkat serambi lempitnya tinggi – tinggi, sehingga rudalku terlepas dari liang serambi lempitnya, aku pun spontan mendekati Zie yang masih mengusap – usap selangkangan dan serambi lempitnya.

Kudorong dada Zie sambil berkata, “Kita sih pakai posisi yang tadi aja ya. Kamu kan masih pemula. Biar hafal pelajaran pertama aja dulu.”

“Iya,” sahut Zie sambil tersenyum.

Terdengar suara Tante Irenka, “Kalau Chepi punya minat menikahi Zie, aku ijinkan. Asalkan hubunganku dengan Chepi tetap berjalan.”

Kusahut, “Tapi Zie harus jadi mualaf dulu. Karena di sini perkawinan antar dua agama tidak diijinkan. Harus ada salah seorang yang melebur.”

Tiba – tiba Zie berkata perlahan, “Aku sudah jadi mualaf sejak tiga tahun yang lalu.”

“Haaa?! Betul Zie sudah jadi mualaf Tante?” tanyaku sambil menoleh ke arah Tante Irenka.

“Betul, “Tante Irenka mengangguk, “Sejak kelas satu SMA dia sudah menjadi mualaf. Atas anjuran Oom Safiq. Karena Zie ingin punya suami orang Indonesia. Kalau aku dengan Oom Safiq kan nikahnya di catatan sipil Jerman. Makanya aku sampai sekarang belum jadi mualaf.”

Aku tidak menanggapi ucapan Tante Irenka itu, Karena sedang mengarahkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit Zie.

Kali ini membenamkan batang kemaluanku ke dalam liang serambi lempit Zie, tidaklah sesulit yang pertama tadi. Karena liang serambi lempitnya masih melar dan cepat beradaptasi dengan ukuran batang kelelakianku.

Maka tak lama kemudian rudalku sudah bisa “memompa” liang serambi lempit cewek bule itu. Aku pun bisa merasakan kembali nikmatnya memenyetubuhi liang serambi lempit yang masih sangat sempit ini. Sementara Zie pun mulai mendesah dan merintih histeris lagi.

“Chepiii… ooooohhhh… Chepiiii… oooooohhhhh… ini luar biasa enaknya Cheeeep… aaaaaaah… aaaaah… Cheeepiiii… aaaaa… aaaaah… aaaah… Chepiiii… aaaaah… aaahhhhh… aaaaahhhhh…”

Tante Irenka tampak sayang sekali kepada adiknya. Ia duduk di dekat kepala Zie dan membelai rambut adiknya. Terkadang diciuminya dahi Zie. Di saat lain ia mencium bibirku dengan mesranya.

Sedangkan Zie tetap merintih – rintih histeris dengan mata terpejam – pejam.

Kali ini cukup lama aku menyetubuhi Zie. Sehingga keringat pun mulai membanjiri tubuhku, bercampur aduk dengan keringat cewek bule itu.

Kali ini aku tak bisa mempertahankan diri lagi. Ketika Zie mulai berkelojotan, aku pun sudah tiba di detik – detik krusialku. Maka kugencarkan entotanku. Dan ketika Zie mengejang tegang, kupertahankan agar jangan ejakulasi dulu. Karena aku meletuskan lendir kenikmatanku dalam jepitan sepasang toket super gede itu.

Setelah terasa liang serambi lempit Zie berkedut – kedut kencang, cepat kucabut rudalku dari liang serambi lempit Zie. Lalu aku bergerak sedemikian rupa, sehingga batang kemaluanku berada di antara sepasang toket Zie.

Tante Irenka pun ikut campur, karena Zie belum tahu apa yang harus dia lakukan. Ditekannya sepasang toket gede Zie dari kanan – kirinya, sehingga terasa menjepit rudalku yang hampir muncrat ini.

Lalu… rudalku mengejut – ngejut di dalam jepitan sepasang toket Zie.

Croootttt… crooottt… crotttcrottt… croooottttttt… crooottttt… croootttt…!

Air maniku bermuncratan ke leher dan ke wajah Zie… Tante Irenka pun dengan lahapnya menjilati air maniku. Sementara Zie pun menggunakan tangannya untuk memasukkan air maniku ke dalam mulutnya. Kemudian menelannya, seperti juga Tante Irenka yang menjilati air maniku di setiap bagian yang menciprati wajah dan leher Zie.

Lalu aku terkapar lemas, diapit oleh Tante Irenka dan adiknya.

Kami pun tertidur dnegan nyenyaknya, dalam keadaan telanjang semua.

Ketika aku terbangun keesokan paginya, Tante Irenka dan Zie sudah tidak ada di atas bed. Mungkin mereka sudah masuk ke kamarnya masing – masing. Aku pun turun dari bed dan masuk ke kamar mandi. Lalu mandi sebersih mungkin dan mengenakan pakaian lengkap. Karena aku teringat banyak yang harus kuselesaikan hari ini.

Begitu aku selesai berpakaian, Zie muncul dalam daster putih bersihnya. Dengan senyum manis di bibir sensualnya dan ucapan, “Selamat pagi Chepi Tercinta…”

“Selamat pagi Zie Cantik,” sahutku sambil memeluknya, disusul dengan ciuman mesra di bibirnya. “Udah lama bangun?” tanyaku.

“Sejam yang lalu. Mmm… ada sesuatu yang berubah padaku pagi ini,” sahut Zie. “Apa tuh? Ohya… kamu jadi semakin cantik pagi ini Zie.” “Bukan masalah wajah. Ini nih yang berubah,” ucap Zie sambil menyingkapkan daster putihnya.

Ternyata Zie memamerkan serambi lempitnya yang tidak bercelana dalam. serambi lempit yang sudah dibersihkan jembutnya. Membuatku terlongong dan mendorong dada Zie agar celentang di atas bed.

Lalu kuamati serambi lempit Zie dari jarak dekat sekali. “Dicukur?”

“Pakai wax,” sahutrnya, “Irenka yang ngewaxing tadi. Dia bilang sekarang sudah gak zamannya lagi membiarkan jembut tumbuh.”

“Pantesan bersih sekali. Mmm… serambi lempitmu cantik sekali Zie,” ucapku disusul dengan ciuman – ciuman lahap di serambi lempitnya yang sudah berubah drastis itu.

“Terima kasih.” “Tapi sekarang aku banyak kerjaan yang harus diselesaikan Sayang. Sedangkan luka di dalam serambi lempitmu juga harus kering dulu. Nanti kalau sudah benar – benar sembuh lukanya, call aku ya.” “Iya. Tapi aku ingin menyampaikan sesuatu Chep.” “Apaan tuh?”

Zie menciumi pipiku, lalu berbisik di dekat telingaku, “Aku cinta kamu Chep.”

“Sama. Aku juga mencintaimu. Tapi bisakah kamu menerima Irenka yang sudah duluan punya hubungan denganku?”

“Nggak apa – apa. Aku dan Irenka saling menyayangi kok.”

“Sukurlah kalau begitu. Pokoknya kita bertiga nanti harus selalu kompak ya.”

Zie mengangguk sambil tersenyum manis.

Setelah tukaran nomor hape dengan Zie, aku pun menghampiri Tante Irenka dan Oom Safiq di kursi rodanya, dalam ruang keluarga. Untuk pamitan pulang.

“Lho… masa gak makan sarapan pagi dulu Chep?” tanya Tante Irenka.

“Gak usah Tante. Aku harus ke kantor dulu, banyak yang harus dikerjain hari ini.”

Ketika aku berjongkok di depan kursi roda Oom Safiq dan mencium tangan adik Papa itu, Oom Safiq mengusap – usap rambutku, “Terima kasih atas bantuanmu Chep. Aku minta agar Chepi datang ke sini secara rutin ya. Minimal seminggu dua kali.”

“Iya Oom. Kalau tidak sibuk, pasti aku akan datang ke sini.”

Tante Irenka mau mengantarkanku ke rumah. Tapi aku menolaknya, karena takut merepotkan. Maka pagi itu aku pulang ke rumah dengan memakai taksi.

Setibanya di rumah, aku langsung menjumpai Nike di ruang kerjaku.

Setelah mencium bibirnya, aku berkata, “Ayo ikut aku sekarang Beib.”

“Siap, “Nike langsung berdiri dan mengikuti langkahku menuju garasi.

Beberapa saat kemudian aku sudah berada di belakang setir mobil kesayanganku. Nike pun sudah duduk di samping kiriku.

Yang kutuju adalah restoran langgananku. Untuk menyantap sarapan pagi bersama kekasih utamaku.

“Seandainya pernikahan kita dipercepat, gimana Beib?” tanyaku pada waktu menyantap mie goreng seafood, sementara Nike menyantap lasagna.

“Kalau Abang menganggap hal itu jalan yang terbaik, aku setuju aja,” sahut Nike dengan senyum manisnya yang senantiasa membuat hatiku sejuk.

“Dua bulan lagi kantor baru kita selesai pembangunannya. Aku ingin agar pernikahan kita dilaksanakan sebelum pembukaan kantor baru itu. Karena kamu akan kuangkat sebagai dirut, sementara aku akan menjadi komisaris utamanya.”

“Wow… aku mau dijadikan dirut?” ucap Nike dengan sorot ceria.

“Iya. Kalau sudah jadi istriku, masa mau jadi sekretaris terus. Lagian belakangan ini kamu sudah sering mempelajari buku – buku managemen kan?”

“Sering. Malah isinya sudah ngelotok di dalam otakku.”

“Aku percaya dalam soal itu sih. Lagian tau bahwa mayoritas orang Tionghoa bisa bekerja secara profesional dalam bidangnya masing – masing.”

Selesai sarapan, kutujukan mobilku ke arah kompleks perumahan yang paling elit di kotaku. Tepatnya sekitar 25 kilometer di luar kotaku.

“Mau mengunjungi relasi bisnis?” tanya Nike setelah mobilku memasuki gerbang perumahan elit itu.

“Nggak,” sahutku “Aku mau membelikanmu rumah baru yang layak untuk ditempati oleh seorang dirut sekaligus istri tercintaku.”

“Wow! Rumah – rumah di sini milyaran harganya Honey.”

“Nggak apa – apa. Kebetulan bisnisku di Surabaya sukses. Karena itu kamu harus punya rumah sendiri. Bahkan sebagai seorang dirut, kamu juga harus punya mobil.”

“Apakah itu tidak berlebihan Honey?”

“Tidak berlebihan. Karena aku menyesuaikan dengan statusmu kelak, lagian kebetulan rejekinya ada.”

Kemudian kami mendatangi kantor managemen perumahan itu. Kebetulan banyak rumah baru yang siap huni. Kusuruh Nike memilih sendiri rumah mana yang disukainya.

Setelah memilih – milih, akhirnya pilihan Nike jatuh pada sebuah rumah yang punya dua kamar di lantai satu dan sebuah kamar di lantai dua.

Kemudian kami langsung diantar oleh pihak managemen untuk melihat – lihat rumah baru itu. Tentu saja rumahnya masih kosong, belum ada perlengkapannya. Tapi tampaknya Nike langsung jatuh cinta kepada rumah itu, karena di samping rumah itu ada sebuah taman untuk bermain anak – anak.

“Kalau sudah punya anak nanti, tak usah main jauh – jauh. Diasuh di taman itu aja,” kata Nike. “Iya, “aku mengangguk sambil tersenyum, “Besok furniture dan perabotan lainnya kita beli.” “Ohya… kantor baru itu kan gak jauh dari sini kan?”

“Iya. Dari gerbang perumahan ini hanya duaratus meteran jaraknya. Jadi letak rumah ini sangat strategis kan?”

“Iya. Tapi Mama pasti sedih ditinggal sendirian di rumah kelak.”

“Ajak aja mamamu pindah ke sini. Kan kamarnya ada tiga tuh. Kalau kurang, bangun lagi kamar baru di tanah yang masih kosong di belakang itu. Jadi mamamu bisa tinggal di sini. Niko juga kalau pas lagi datang, bisa nginap di sini.”

“Mama boleh diajak pindah ke sini?” tanya Nike.

“Tentu aja boleh. Kan kamu juga harus punya teman di sini. Karena aku takkan bisa setiap malam tidur di sini.”

“Iya iya… aku mengerti soal itu sih. Abang kan pasti sibuk sekali.”

Aku tidak menanggapinya. Karena aku teringat Tante Esther, mamanya Nike itu.

Sejauh ini aku dan Tante Esther masih bisa menutupi hubungan rahasiaku dengan Tante Esther. Padahal paling telat seminggu sekali aku suka mendatangi rumahnya, sementara Nike sedang berada di kantor. Bukan cuma menyetubuhi mamanya Nike itu, tapi juga diam – diam aku sering memberinya uang untuk kebutuhan sehari – harinya.

Setelah membayar DP rumah itu di kantor managemen dan berjanji untuk melunasinya besok di depan notaris yang biasa dipakai oleh managemen perumahan itu, aku mengantarkan Nike ke kantor lagi. Kemudian aku mengarahkan mobilku menuju rumah Papa.

Selama aku di Surabaya, aku teringat terus pada Mamie dan anakku yang sudah diberi nama oleh Papa itu. Adelanie namanya. Gabungan antara nama Papa dengan Mamie. Adrian dan Melanie.

Papa sempat nelepon aku, apakah aku setuju dengan nama yang akan diberikan kepada “adikku” yang sebenarnya anakku itu? Aku pun spontan menyetujuinya. Karena secara hitam di atas putih, bayi itu anak Papa dan Mamie. Tapi secara biologis, Adelanie itu anak pertamaku.

Setibanya di rumah Papa, kukeluarkan sebotol parfum impor dan setangkai bunga mawar merah dari laci dashboard mobilku. Kulihat tidak ada mobil Papa di garasi, karena saat itu jam kerja. Kemudian aku berjalan mengendap – endap menuju kamar Mamie.

Kebetulan pintunya sedikit terbuka, sehingga aku bisa masuk ke dalam kamar Mamie. Ternyata Mamie sedang meneteki anakku. Dan Mamie terbelalak melihatku sudah berdiri di dalam kamarnya, sambil menyembunyikan parfum dan bunga mawar merah di punggungku.

“Chepi Sayang… ke mana aja selama ini?” tanya Mamie sambil membiarkan Adelanie tetap “Kan di Surabaya Mam.” “Oh iya, Papa bilang kamu sedang ngurus penjualan kapal – kapal tanker itu ya?”

“Betul. Baru tadi malam pulang,” sahutku sambil menyerahkan parfum dan setangkai bunga mawar itu kepada Mamie, sambil berlutut di dekat kakinya.

“Mmmm… you are so sweet and romantic… “Mamie menerima pemberianku dengan sebelah tangan, karena tangan satunya lagi sedang menahan aisan Ade.

Ketika Mamie mencium bunga mawar itu, kulingkarkan lenganku di pinggangnya. Dan bertanya setengah berbisik, “Sekarang sudah boleh ditengok serambi lempitnya?”

“Belum Sayang. Secara tradisional harus empatpuluh hari setelah melahirkan baru boleh digituin. Sekarang sebulan juga masih kurang empat hari. Jadi… dua minggu lagi deh mamie kasih gumurihnya sama kamu.”

“Gumurih? Apa itu gumurih?”

“Kan setelah empatpuluh hari sehabis melahirkan, rasanya enak sekali katanya. Bahkan ada yang bilang lebih enak dari perawan. Itulah yang disebut gumurih.”

“Ohya? Kalau gitu biarin deh aku mau bersabar selama dua minggu. Aku juga ingin merasakan seperti apa enaknya serambi lempit yang sedang gumurih itu.”

“Iya. Nanti kamu akan mendapat prioritas pertama. Sebelum dikasihkan sama Papa, kamu dulu yang akan merasakannya.”

Sebenarnya aku merasa kecewa juga, karena tidak bisa menyetubuhi Mamie. Hal itu membuatku jadi gragasan. Maka ketika Mamie sedang menidurkan Ade, aku keluar dari kamarnya dan menghampiri adik Mamie yang bernama Anna itu. Lalu kubisikkan sesuatu di dekat telinganya. Tapi apa jawabannya? “Aku lagi datang bulan Sayang.

Akhirnya aku pulang lagi ke kantorku, karena saat itu baru jam duabelas siang. Masih jam kerja.

Tapi di kantor sedang sepi. Karena jam makan siang. Karyawan dan karyawatiku memang diijinkan untuk makan di luar selama sejam. Tadinya Mbak Nindie yang mengurus makanan mereka. Tapi belakangan Mbak Nindie lebih sering tinggal di rumahnya dan tidak mengurusi makan karyawanku lagi. Sehingga karyawanku diijinkan untuk makan di luar sambil istirahat selama sejam.

Tiba – tiba satpam memberitahuku bahwa di luar ada seorang wanita yang ingin menghadap padaku. Meski kantor sedang istirahat, kuijinkan tamu itu masuk ke ruang kerjaku.

Alangkah kagetnya aku ketika kulihat tamu itu, seorang wanita bule yang sudah sangat kukenal, karena beliau dosenku yang blasteran Indo-Spanyol bernama Claudia…!

“Chepi?!” ucapnya setelah berhadapan denganku.

“Bu Claudia?!” sahutku dengan perasaan resah. Takut mempertanyakan kenapa aku cuti kuliah selama setahun.

“Jadi yang pasang iklan itu Chepi?” “Iya Bu. Silakan duduk.” “Kantornya sepi begini Chep?” Bu Claudia duduk di sofa ruang tamu kantor.

“Sedang pada makan siang Bu.” “Owh. Jadi kesibukan dalam bisnismu yang membuat cuti kuliah dua semester Chep?” “Betul Bu. Terus Ibu mau menitipkan siapa?” “Aku datang untuk diriku sendiri Chep. Karena membaca iklanmu itu.”

“Ibu kan dosen. Masa mau nyari kerja pula.” “Why not? Kalau ada pekerjaan yang punya prospek lebih bagus, apa salahnya aku beralih profesi?” “Ibu pakai apa ke sini?”

“Pakai taksi.” “Kalau begitu bisa Ibu ikut aku ke kantor yang baru akan dibuka dua bulan lagi?” “Boleh.”

“Nanti kita ngobrolnya di sana saja ya Bu.” “Iya Boss.”

“Aaah, jangan manggil boss dulu lah. Ibu kan belum jadi karyawati saya.”

Aku memang memasang iklan di media cetak dan elektronik. Isinya, mencari tenaga profesional untuk beberapa posisi manager. Tapi gak nyangka kalau dosen yang terkenal jutek di kampus itu akan melamar kerja pula.

Tak lama kemudian Bu Claudia sudah berada di dalam mobilku, menuju kantor yang masih dibangun dan mendekati tahap finishing itu.

Kantor yang sedang dibangun itu terletak di luar kota, dekat perumahan di mana aku sudah membelikan rumah untuk Nike itu.

Dosen – dosen di kampusku memang banyak blasterannya. Bahkan yang asli bule juga ada. Tapi tentu saja mereka sudah bisa berbahasa Indonesia semua.

Menurut berita dari mulut ke mulut, Bu Claudia itu blasteran Indo Spanyol. Ayahnya orang Indonesia, ibunya orang Spanyol. Tapi melihat dari bentuknya yang tinggi langsing itu, Bu Claudia itu seperti bule asli. Tidak kelihatan darah Indonesianya sedikit pun.

Bu Claudia memang cantik. Tapi sayang, sikapnya di kampus selalu jutek. Sehingga aku kurang menyukainya. Tapi kalau dia menjadi anak buahku kelak, pasti lain lagi masalahnya.

“Ibu ingin mengisi posisi yang mana?” tanyaku ketika mobilku sudah meluncur di jalan raya.

“Maunya sih manager marketing. Biar sesuai dengan pendidikanku Chep.”

Meski Bu Claudia itu dosenku, tetap kupertimbangkan keinginannya secara profesional. Terutama setelah aku tahu sikap sehari – harinya yang jutek itu. Mungkin lebih tepat beliau kutempatkan sebagai manager produksi.

Maka tanyaku, “Kalau manager produksi bagaimana?”

“Yang diproduksi apa saja Chep?” Bu Claudia balik bertanya.

Lalu kujelaskan apa saja yang akan diproduksi setelah perusahaan baru itu aktif.

“Kalau jadi manager produksi, aku harus belajar dulu dong. Aku kan harus menguasai ilmu mengenal barang – barang yang diproduksi itu,” kata Bu Claudia.

“Jadi Ibu berkeras ingin mendapatkan jabatan manager marketing?” tanyaku.

“Bukan berkeras… aku cuma memohon padamu agar ditempatkan sebagai manager marketing,” sahut Bu Claudia dengan suara memohon.

“Maaf Bu… boleh aku bicara terus – terang?”

“Tentu aja. Sebaiknya kita sama – sama berterus terang Chep,” sahut Bu Claudia sambil memegang lutut kiriku. Nah… ini pertama kalinya dosen jutek itu menyentuh fisikku. Ngocoks.com

Tapi aku berusaha untuk tetap bersikap profesional. Maka kataku, “Di samping pendidikannya harus sesuai dengan jabatannya, manager marketing itu harus ramah dan murah senyum Bu.”

“Hihihi…! Kamu nyindir ya? Karena aku jarang tersenyum di kampus?” “Tidak pernah tersenyum. Bukan jarang lagi.” “Di kampus kan beda dengan di perusahaan Chep. Nih lihat… sekarang aku tersenyum buat Chepi…”

Aku menoleh. Gila… dia tersenyum padaku dalam jarak yang sangat dekat dengan wajahku.

“Nah… kalau tersenyum begitu… kelihatan jelas bahwa Ibu ini sangat cantik.”

“Masa sih?! Mmm… sebenarnya ada latar belakang yang membuatku sering kelihatan murung di kampus. Murung ya, bukan jutek.”

Aku tidak menanggapi.

Bu Claudia melanjutkan, “Suamiku menderita kanker hati. Hal itu sangat menyita waktuku. Membuatku murung juga. Dan akhirnya, enam bulan yang lalu suamiku meninggal.”

“Owh… maaf… aku ikut belasungkawa Bu.” “Terima kasih.”

“Tapi sekarang Ibu sudah bisa move on kan?” “Dari mana Chepi tau kalau aku sudah mulai move on?” “Sekarang Ibu kan sudah bisa tersenyum dan tertawa.”

“Iyalah. Suamiku sudah beristirahat untuk selama – lamanya. Sementara aku harus berjuang terus untuk menghidupi diriku sendiri.”

“Bu Claudia belum punya anak?” “Belum.”

“Kalau masalahnya seperti itu, mungkin aku bisa mempertimbangkan Ibu untuk menduduki jabatan manager marketing.”

“Naaah… aku bahagia sekali mendengarnya.”

Kemudian aku menjelaskan gaji dan profit yang akan dia terima setelah menjadi manager marketing nanti. Tentu saja Bu Claudia kaget, karena nominal gaji dan profitnya pasti jauh di atas gajinya sebagai dosen.

Tiba – tiba Bu Claudia mencium pipi kiriku, disusul dengan ucapan, “Jadikan aku manager marketing ya. Aku mohon Chep…”

Bersambung… Aku terkesiap, karena tak menduga bakal mendapat kecupan di pipi segala. Maka aku pun tidak bisa bersikap kaku lagi. Kubelokkan mobilku ke bahu jalan, lalu kuhentikan tapi mesinnya tetap aktif.

“Kenapa berhenti di sini Chep?” tanyanya. “Ciuman Ibu barusan membuat hatiku berdesir. Jadi harus kutenangkan dulu.”

“Hihihiii… kamu bisa aja. Kalau aku diterima sebagai manager marketing, nanti aku berikan semuanya untukmu Chep.”

“Terus profesi Ibu sebagai dosen gimana?”

“Ya ditinggalkan aja. Aku ingin move on dan seolah dilahirkan kembali, dengan profesi dan suasana baru.”

“Ibu lihat bangunan yang belum selesai di sebrang jalan itu?” “Owh… keren sekali… itu bangunan yang akan dijadikan kantor barumu Chep?” “Iya. Mau lihat – lihat ke sana?” “Gak usahlah. Kecuali kalau Chepi mau memeriksanya ke sana.”

“Aku tidak ada urusan dengan buruh yang sedang bekerja di situ. Aku hanya berurusan dengan kontraktornya. Kalau dua bulan lagi belum siap juga, aku pasti claim nanti.”

“Kalau Chepi gak keberatan, sekarang anterin aja aku pulang. Supaya Chepi tau di mana rumahku.” “Boleh. Tapi kita makan siang dulu ya.” “Terserah Boss,” sahutnya sambil tersenyum.

Gila… dalam keadaan tersenyum seperti itu, Bu Claudia memang cantik sekali. Terutama matanya yang sayu dan bibibrnya yang sensual itu… membuatku jadi rikuh. Ingin sekali mencium bibirnya. Tapi aku masih menghormatinya sebagai dosenku.

Tapi Bu Claudia seolah tahu apa yang kuinginkan. Dan… ia mendahuluiku. Mencium bibirku dengan mesranya. Membuatku gelagapan, tapi lalu kulingkarkan lenganku di lehernya. Dan melumat bibirnya dengan lahap.

Bermenit – menit kami saling lumat bibir di dalam mobilku yang kacanya gelap semua ini. Tanpa rasa takut kelihatan dari luar.

Setelah ciuman kami terlepas, Bu Claudia menyandarkan kepalanya di bahu kiriku. Lalu terdengar suaranya, “Kalau aku diangkat sebagai manager marketing, Chepi akan menjadi orang pertama move-on ku.”

Aku tidak cepat menyahut, meski hatiku sudah menerimanya. “Sekarang kita isi perut dulu ya. Kalau perut lapar, tidak bisa bicara secara normal.”

Tapi Bu Claudia bicara terus: “Kalau aku dijadikan manager marketing, dijadikan perempuan simpananmu pun aku siap Boss.”

“Is that your promise?” tanyaku. “Yes. That’s my promise,” sahutnya.

Di belakang setir mobil yang sudah kujalankan di jalan raya, aku membayangkan seandainya hal itu terjadi. Bahwa dosenku yang usianya 31 atau 32 tahunan, yang kulitnya bule, berperawakan tinggi langsing dan sangat cantik itu menjadi simpananku… pasti menyenangkan.

Lalu belokkan mobilku ke pelataran parkir sebuah restoran bertaraf internasional.

Suasana di dalam restoran itu kebetulan sedang lengang, karena jam makan siang sudah lewat. Sudah jam empat sore.

Sementara itu suasana perasaanku jadi berubah drastis kalau dibvandingkan dengan suasana di kampus. Karena Bu Claudia terus – terusan menatapku dengan mata sayunya, bibir sensualnya pun menyunggingkan senyum manis terus.

Aku memesan steak double combo, whiskey cola dan kopi esspresso tanpa gula. Sementara Bu Claudia memesan spaghetti bolognesse, hot wings dan juice guava.

“Jadi keputusannya gimana? Apakah aku diterima?” tanya Bu Claudia pada suatu saat. “Dua – duanya diterima,” sahutku. “Dua – duanya gimana?”

Akuj menengok ke sekitarku, karena takut ada yang ikut nguping pembicaraan kami. Setelah merasa aman, aku berkata perlahan, “Diterima sebagai manager marketing dan menjadi perempuan simpananku.”

“Hihihiii… point kedua sih bukan lamaran. Harus Chepi yang nembak duluan.”

“Ya udah, sekarang kutembak… dooorrr…” ucapku sambil menodongkan telunjukku ke dada Bu Claudia.

Bu Claudia memegang dadanya sambil memejamkan mata dan berkata, “Aku siap meladeni boss siang mau pun malam.”

Aku yang duduk di sampingnya pun mendekatkan mulutku ke telinganya, lalku berbisik, “Si dede langsung bangun Sweetheart…”

Bu Claudia menatapku dengan bola mata bergoyang. Dan berkata perlahan, “Nanti nginep aja di rumahku ya.”

“Boleh?” “Boleh lah. Aku kan sendirian di rumah. Ada juga pembantu, biasanya jam segini sudah pulang.” “Oke. Untuk pendekatan profesi dan pribadi, aku akan tidur di rumah Ibu.” “Aku kan calon anak buahmu. Jangan manggil Ibu lah. Panggil apa saja asal jangan manggil Ibu.” “Manggil Beib boleh?”

“Hihihiii… iya… enak juga dipanggil beib sama brondong.” “Umurku sudah sembilanbelas tahun Beib.” “Iya… sebelas tahun lebih muda dariku.” “Memangnya udah tigapuluh tahun? Kelihatannya kayak di bawah duapuluhlima.”

“Masa sih?! “Bu Claudia mengerling centil. Memang perempuan paling suka kalau dibilang cantik dan lebih muda daripada usianya. Padal tadi aku mengira usianya sudah di atas 30 tahun. Ternyata pas 30.

“Itu kopi esspresso tanpa gula?” “Iya.” “Bagus tuh minum kopi tanpa gula. Biar terasa manfaatnya. Apalagi espresso begitu.” “Iya Beib.”

Bu Claudia mengerling manja lagi mendengar sebutan Beib terlontar dari mulutku.

Setelah selesai makan, kami tinggalkan pelataran parkir restoran itu, menuju ke rumah Bu Claudia. Ternyata rumahnya terletak di kompleks perumahan kelas menengah. Tidak sederhana namun tidak terlalu mewah.

Tapi begitu masuk ke dalam rumah dosenku itu, kelihatan penataannya serba klasik. Mungkin almarhum suaminya punya selera serba klasik. Tapi untuk seorang dosen seperti Bu Claudia, penataan serba klasik begitu memang cocok. Sehingga segalanya tampak serba intelektual.

“Mau minum apa?” tanya Bu Claudia setelah aku duduk di ruang tamu. “Gak usah repot – repot. Duduk aja sini,” kataku sambil menepuk sofa klasik yang tengah kududuki. “Sebentar ya. Mau ganti baju dulu,” sahutnya sambil melangkah masuk ke dalam.

Aku ditinggalkan sendirian di ruanmg tamu itu. Dengan perasaan seperti sedang bermimpi. Bahwa Bu Claudia yang terkenal jutek di kampus itu, kini hampir berada di dalam genggamanku.

Tak lama kemudian Bu Claudia muncul lagi. Sudah mengenakan gaun tanpa lengan yang terbuat dari bahan kaus berwarna biru tua.

Tadinya kupikir dia akan langsung duduk di sampingku. Tapi ternyata tidak. Dia malah berdiri di depanku sambil menyingkapkan gaun kaus birunya tinggi – tinggi, sehingga paha putih mulusnya terlihat jelas.

“Bagaimana? Apakah aku punya nilai yang sesuai dengan kriteriamu untuk dijadikan kekasih rahasiamu?”

“O my God! Sa… sangat sesuai…!” sahutku dengan mata melotot.

Aku masih berdiri terpaku ketika Bu Claudia sedang menelanjangi dirinya tanpa keraguan sedikit pun. Begitu mulus tubuh tinggi semampainya. Mulai membayangkan betapa romantisnya kalau aku sudah menggaulinya nanti.

Lalu ia menarik pergelangan tanganku. Dan menuntunku masuk ke dalam kamarnya.

Di dalam kamarnya itulah ia melepaskan busanaku sehelai demi sehelai sampai tubuhku telanjang bulat seperti dirinya. Dan… ia spontan menggenggam rudalku yang sudah agak tegang ini sambil berdesis, “Yessssss… Chepi punya kejutan… bahwa di balik wajah tampan ini ternyata rudal Chepi ini XL size…

Lalu ia meraihku ke atas bednya yang berbentuk klasik, seperti tempat tidur para raja di Eropa pada zaman dahulu.

“Bentuk Chepi perfect sekali. Aku yakin bisa move on, lalu akan menjadikan Chepi satu – satunya kekasihku,” ucap Bu Claudia sambil menghimpit dadaku, laluj menciumi bibirku dengan lahapnya.

Sementara aku asyik meremas – remas bokongnya yang indah. Tidak terlalu gede, tapi juga tidak tepos.

Karena Bu Claudia mewnelungkupi dada dan perutku, dengan sendirinya rudalku bertempelan dengan serambi lempitnya. Dan ini membuat nafsuku semakin menjadi – jadi. rudalku pun mulai sangat ngaceng. Namun aku tidak langsung menerjang serambi lempitnya yhang bersih plontos itu. Aku masih suka beraksi dari perut ke atas.

Dan pada suatu saat aku mulai melorot turun. Wajahku pun mulai berhadapan dengan kemaluan Bu Claudia yang tercukur bersih. Dan tanpa ragu aku mulai menjilati kemaluannya yang tampak jelas lipatan – lipatan kulitnya itu, sambil mendorong sepasang pahanya agar merenggang selebar mungkin.

Terdengar suara Bu Claudia, “Ooooh… sejak suamiku meninggal, ini pertama kalinya serambi lempitku disentuh lelaki Chep…”

Aku tidak menjawabnya, karena mulutku sedang terbenam di permukaan serambi lempit Bu Claudia. serambi lempit yang membuatku tenggelam dalam keasyikan. Karena serambi lempit Bu Claudia ini sedagalanya serba jelas. Mana bagian luar dan bagian dalamnya, mana pula kelentitnya. Setelah lidahku puas menggasak bagian dalamnya, lalu mengarah ke kelentitnya yang tampak jelas itu, sementara jari tengahku pun mulai kubenamkan ke dalam liang serambi lempitnya.

Bu Claudia menggeliat – geliat sambil merintih – rintih manja, “Chepppiii oooo… ooooh Cheeeep… Cheeepiiiii… ooooh… Cheeeepiiii… su… sudah… jangan terlalu lama jilatinnya… nanti keburu becek Cheeep… !”

Mendengar rintihan Bu Claudia seperti itu, aku pun cepat menjauhkan mulutku dari serambi lempit gundulnya, lalu meletakkan moncong rudalku tepat di ambang “pintu” dosenku. Dan dengan sekuat tenaga kudorong rudal ngacengku… langsung melesak masuk ke dalam liang serambi lempit dosenku yang 75% bule itu… blessss…

Bu Claudia merangkul leherku ke dalam pelukannya. Disusul dengan ciuman yang bertubi – tubi di bibirku.

Setelah ciuman itu terlepas, aku bergumam, “Serasa bermimpi… dosenku yang selalu jutek di kampus, sekarang bisa jadi milikku…”

“Iya. Aku memang sudah jadi milikmu sekarang Boss…” sahutnya sambil tersenyum manis.

Aku pun mulai mengayun batang kemaluanku, bermaju – mundur di dalam liang serambi lempit yang terasa ngepas dengan keinginanku. Terlalu sempit tidak, longgar pun tidak. Pokoknya aku bisa menggerakkan rudalku secara leluasa. Dan gesekan antara rudalku dengan dinding liang serambi lempit Bu Claudia ini, terasa sekali.

Ternyata Bu Claudia pun merasakan hal yang sama. Ketika rudalku mulai memenyetubuhi liang sanggamanya sambil menjilati lehernya, ia berbisik terengah, “Chepi… ooooh… belum pernah aku merasakan ML yang seenak ini Chep… ooooh… aku jadi langsung jatuh hati padamu… langsung sayang padamu Chep…

“Sayangnya seorang dosen kepada mahasiswanya?” pancingku.

“Aku malu mengakuinya. Ini sudah bukan sayang biasa Chep… aku sudah jatuh cinta padamu… karena… karena kamu sangat memenuhi kriteriaku. Malu aku mengakui hal ini. Oooh… karena kamu jauh lebih muda dariku…”

“Cinta tidak mengenal usia Beib…” ucapku yang kususul dengan ciuman lahapku di bibir sensualnya. Sambil mempergencar entotanku. Bu Claudia pun semakin menggeliat – geliat dan merintih – rintih histeris. “Cheppiii… oooh… cheeeep… aaaaah… aaaaaa… aaaaah… Cheeeepiiiii… aaaaa…

Di saat lain, kuemut pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas toket mediumnya yang masih sangat kencang itu. Semakin merem melek juga lah mata sayu dosenku itu.

Bahkan ketika aku mulai gencar menjilati ketiaknya yang bersih dan harum itu, disertai dengan sedotan – sedotan kuat, tubuh tinggi putih mulus itu pun semakin menggeliat – geliat dan mengejang – ngejang.

Aku pun semakin gencar memenyetubuhinya, sambil menjilati leher jenjangnya atau ketiak bersih harumnya.

Cukup lama aku melakukan semuanya ini. Sehingga keringat pun mulai membasahi tubuhku, bercampur aduk dengan keringat Bu Claudia.

Sampai pada suatu saat, Bu Claudia mulai memperlihatkan gejala – gejala akan mencapai orgasmenya. Ia mengejang tegang… tegang sekali. Sementara nafasnya tertahan, matanya pun terpejam.

Lalu… kurasakan liang serambi lempitnya seperti spirel… seperti ular yang sedang membelit batang kemaluanku. Disusul dengan hembusan nafasnya yang tertahan beberapa detik, “Aaaaaaaah… indah sekali Chep…”

Lalu ia berkali – kali mendaratkan kecupan mesranya di bibirku.

“Udah orgasme?” tanyaku. “Udah.” “Tapi aku masih jauh.” “Lanjutin aja. Gak apa – apa. Siapa tau aku bisa orgasme lagi nanti.”

Aku pun melanjutkan aksiku, mengayun batang kemaluanku dalam kecepatan standar. Memang liang serambi lempit Bu Claudia jadi licin sekali, sehingga rudalku lancar memenyetubuhinya. Tapi anehnya liang serambi lempit wanita 75% bule itu tidak becek. Padahal biasanya wanita yang sudah orgasme, liang serambi lempitnya jadi becek. serambi lempit Tante Irenka juga becek serambi lempitnya setelah orgasme.

Ketika aku sedang asyik – asyiknya memenyetubuhi Bu Claudia, tiba – tiba dosenku berbisik, “Ganti posisi yuk. Aku di atas. Gimana?”

“Oke, “aku menghentikan entotanku. Lalu mencabut rudalku dari liang serambi lempit wanita bule itu.

Kemudian aku menelentang, sementara Bu Claudia berusaha memasukkan moncong rudalku ke dalam serambi lempitnya. Dan ketika serambi lempitnya itu menurun, bleessss… rudalku pun langsung membenam ke dalam liang serambi lempit Bu Claudia yang licin dan hangat itu.

Tadinya kupikir Bu Claudia akan melakukan posisi seperti penunggang kuda di atas tubuhku. Tapi ternyata tidak. Setelah rudalku membenam ke dalam liang serambi lempitnya, Bu Claudia menghempaskan dadanya ke atas dadaku. Sehingga aku berinisiatif untuk mengayun rudalku, meski posisiku berada di bawah. Sementara Bu Claudia pun mengayun serambi lempitnya untuk membesot – besot rudalku.

Namun beberapa saat kemudian Bu Claudia lebih asyik mencium dan melumat bibirku, sementara serambi lempitnya hanya bergerak sedikit – sedikit. Tentu saja aku harus berperan untuk beraksi. Dengan mengayun rudalku segencar mungkin, sambil meremas – remas bokong dosenku yang jelita itu.

Namun semuanya ini berpengaruh padaku. Rasanya detik – detik krusialku mulai datang. Tapi aku berusaha untuk mengatur nafasku, agar aku tidak terlalu cepat berejakulasi.

Sampai pada suatu saat, Bu Claudia mulai merintih – rintih histeris lagi, “Chepiiii… oooo… oooooooh… Cheeeeepiiii… oooooh… ooooh… ooooh… Cheeeepiiiii… oooh… ooooh… aku mau orgasme lagi Cheeep…”

Kini terasa Bu Claudia berkelojot – kelojot di atas perutku. Lalu sekuijur tubuhnya terasa kejang… kejang sekali. Pada saat itu pula aku menancapkjan rudalku sedalam mungkin di dalam liang serambi lempit Bu Claudia yang terasa sedang berkedut – kedut kencang ini.

Dan… akhirnya aku berhasil meraih detik – detik indah ini. Bahwa ketika lendir libido Bu Claudia terasa mengalir membasahi rudalku, pada saat itu pula moncong rudalku memuntahkan lendir kenikmatanku.

Crooootttt… cretttt… croooottttt… crettt… crooootttt… creettt… crooootttt…!

Bu Claudia terkapar di atas perutku, dengan tubuh bermandikan keringat. Aku pun terkulai lemas, sambil meresapi nikmatnya persetubuhan yang baru selesai ini.

Malam itu aku habis – habisan melampiaskan nafsu birahiku kepada Bu Claudia. Kebetulan Bu Claudia sendiri laksana seekor harimau betina yang haus belaian dan gesekan.

Malam itu sampai tiga ronde aku menyetubuhi dosenku yang cantik bermata sayu itu. Bu Claudia pun memperlihatkan betapa dahaganya akan belaian dan cumbuan lelaki. Setelah dua ronde aku menyetubuhinya, tanpa segan – segan lagi ia mengoral rudalku. Tentu saja ini bereaksi pada alat kejantananku. Ngaceng lagi.

Sampai lewat tengah malam barulah semuanya selesai. Lalu kami bersih – bersih di kamar mandi. Dan sama – sama merebahkan diri di atas bed.

Sebelum tidur, masih sempat Bu Claudia menuturkan kisah pribadinya.

Aku terharu mendengar curhat Bu Claudia tentang masa lalunya. Bahwa ia menikah dengan seorang pengusaha yang baru menceraikan istrinya, karena Bu Claudia tidak mau dijadikan istri kedua.

Lalu hidupnya bahagia di samping pengusaha itu, meski lelaki itu 20 tahun lebih tua dari Bu Claudia.

Pengusaha itu sangat memanjakan Bu Claudia. Maklum perbedaan usia mereka sangat jauh. Sehingga pengusaha itu memperlakukan Bu Claudia seperti perlakuan terhadap anak kandungnya sendiri.

Bu Claudia pun berusaha untuk mencintai lelaki itu, meski usianya jauh lebih tua dari harapan awalnya. Dan akhirnya ia merasakan bahagianya bersuamikan lelaki yang sudah tua. Karena lelaki itu seolah sudah membuang egonya, lalu hanya megutamakan kebahagiaan Bu Claudia.

Katakanlah Bu Claudia tidak merasa kekurangan apa pun dalam kehidupannya. Karena selalu dimanjakan oleh suaminya.

Namun ternyata kebahagiaan itu hanya berlangsung dua tahun. Karena pada tahun ketiga, lelaki tua itu mengidap kanker hati, yang mustahil bisa disembuhkan. Lalu lelaki itu dirawat di sebuah rumah sakit paling terkenal di Singapore.

Cukup lama dia dirawat di rumah sakit yang terkenal dan termahal di Singapore itu. Tentu saja ia harus menjalani berbagai macam cara pengobatan di rumah sakit itu, agar dia bisa sembuh. Tapi ia hanya hanya bisa bertahan selama 7 bulan dirawat di Singapore. Setelah berkali – kali menjalani kemoterapi dan sebagainya, lelaki iktu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan Bu Claudia.

Lalu bagaimana dengan harta peninggalan pengusaha itu? Boleh dibilang habis untuk membiayai perawatannya selama di Singapore. Hanya rumah yang ditinggali oleh Bu Claudia itu sisanya, berikut segala isinya.

Sedangkan Bu Claudia sudah terbiasa hidup bergelimang harta, tanpa kekurangan apa – apa. Tapi setelah suaminya meninggal, dosenku itu seolah harus mulai dari nol lagi.

Banyak sekali kekurangan yang harus ditutupi oleh Bu Claudia.

Belakangan ini Bu Claudia sering memikirkan semua itu. Bahkan setelah berhari – hari mempertimbangkannya, akhirnya dia memutuskan untuk resign sebagai dosen, lalu mencari pekerjaan baru di perusahaan swasta. Sampai akhirnya dia membaca iklan yang kumuat di media cetak dan elektronik.

“Begitulah ceritanya,” ucap Bu Claudia di akhir penuturannya, “Kalau aku mempertahankan statusku sebagai seorang dosen, aku akan selalu banyak kekurangan. Karena aku harus selalu membantu Mama dan adik – adikku.”

“Orangtua masih ada?” tanyaku.

“Tinggal Mama yang masih ada. Papaku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu,” sahutnya.

“Adiknya berapa orang?”

“Dua orang. Yang besar baru selesai es-satu. Sedang nyari kerja juga. Yang kecil baru tamat SMA dan sedang mendaftar untuk menjadi polwan.”

“Berarti adiknya yang kecil cewek ya.” “Dua – duanya cewek. Kami tiga bersaudara, cewek semua.”

Aku tidak menanggapinya.

Bu Claudia melanjutkan, “Tadinya aku jadi tulang punggung mama dan adik – adikku. Tapi sekarang aku tidak bisa membantu mereka lagi.”

“Yang cewek es-satu dari fakultas apa?”

“Psikologi.”

“Kalau begitu rekrut saja dia untuk menjadi manager personalia.”

“Haaa?! Serius Sayang?” Bu Claudia memegang kedua pergelangan tanganku.

“Serius. Tapi gajinya tentu tidak sebesar gaji manager marketing. Lagian gaji es-satu tentu tak bisa sama dengan gaji Bu Claudia yang sudah es-dua kan.”

“Tentu saja. Tapi tidak apa – apa. Dia pasti mau kok. Memangnya gaji manager personalia berapa?”

Lalu kusebutkan nominal gaji dan uang makan manager personalia.

Spontan Bu Claudia berkata, “Wah, segitu sih gede dong. Aurora pasti mau.”

“Aurora? Dewi Fajar?” tanyaku sengaja mau bercanda. “Nama adikku yang S1 psikologi itu.” “Baru Spsi, kenapa gak sekalian ambil program psikolog?” “Biayanya sayang. Nanti kalau sudah bekerja sih mudah – mudahan aja bisa ngambil S2 psikolog.” “Sekarang psikolog harus S2 ya?” “Iya. Notaris juga kan harus S2 dulu.”

Lalu kami terdiam. Dalam kantuk tak tertahankan.

Dan akhirnya sama – sama tertidur nyenyak, sambil saling berpelukan.

Besoknya, pagi – pagi sekali aku sudah bangun karena teringat rencanaku untuk menyelesaikan pembayaran rumah untuk Nike itu, sekaligus berniat membeli perabotan untuk mengisi rumah barunya.

Tapi setelah mandi dan mengganti pakaianku dengan pakaian casual, Bu Claudia sudah menyediakan dua gepok roti bakar isi smoke beef dan secangkir black coffee.

“Kopinya tidak pakai gula kan?” tanya Bu Claudia ketika aku sudah duduk di depan meja makan kecil dan bundar.

“Iya. Ibu sudah ngerti kebiasaanku ya.”

“Sayang, jangan manggil Ibu terus dong. Sebulan lagi aku sudah resign sebagai dosen. Jadi setelah cutimu habis, Chepi takkan menemukanku di kampus lagi.”

“Lalu aku harus manggil apa?”

“Panggil apa aja, asal jangan manggil Ibu lagi. Rasanya risih mendengar sebutan itu dari mulut lelaki yang sudah menggauliku.”

“Panggil Clody aja,” kata Bu Claudia, “Adikku juga namanya Aurora, tapi dalam keseharian dipanggil Rory aja. Adik bungsuku bernama Catalina, tapi dalam kesehairian dipanggil Cathy aja.”

“Rasanya kurang ajar manggil namamu langsung Beib,” ucapku.

“Kalau di Eropa, saling manggil nama dengan yang jauh lebih tua pun biasa saja. Bahkan ada juga anak yang memanggil nama saja kepada ibunya. Gak apa – apa.”

“Okelah. Aku mau memanggilmu Clod aja… Clody.” “Iya. Dua bulan lagi aku kan bakal jadi anak buahmu Boss.”

“Oke deh. Tapi sebulan lagi kita harus melakukan meeting dulu. Semua manager harus dikumpulkan. Nanti aku akan menjadi komisaris utama. Semengtara calon dirutnya… calon istriku sendiri Beib.”

“Iya.”

“Nggak enak ya dengar calon istriku bakal jadi dirut nanti?”

“Biasa – biasa aja. Aku kan tidak akan menuntut untuk menjadi istrimu Sayang. Yang penting hubungan rahasia kita sebaiknya berjalan terus secara rapi.”

“Itu pasti Beib. Aku sendiri kan membutuhkanmu. Tapi kalau kamu hamil nanti, gimana?” tanyaku sambil memegang tangan Claudia yang terletak di atas meja bundar itu.

“Biarin aja. Aku mau kok hamil olehmu. Asal jangan dalam waktu dekat – dekat ini. Karena aku harus bekerja dulu sebaik mungkin di perusahaanmu kan?”

Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam mobilku, sambil memijat nomor hape Nike. Lalu :

“Kamu sudah ada di kantor Beib?” “Iya. Bukankah kemaren udah janjian mau ke perumahan itu lagi?” “Oke. Tunggu aja, sebentar lagi juga aku tiba di kantor.”

Dari rumah klasik Bu Claudia, hanya dibutuhkan waktu setengah jam untuk mencapai rumahku.

Tapi aku tidak memasukkan mobil ke garasi rumahku. Kuminta Nike agar keluar dari kantor dan masuk ke dalam mobilku, agar bisa menghemat waktu. Karena aku ingin ke toko yang menjual segala perabotan rumah, dari segala jenis furniture sampai ke barang – barang elektronik tersedia lengkap di toko itu. Tak usah disebut namanya ya, nanti disangka iklan terselubung pula.

Menghabiskan waktu lebih dari sejam aku dan Nike di toko yang serba lengkap itu. Kemudian aku meminta agar semua yang telah kubeli itu diantarkan ke rumah di kompleks perumahan elit itu, sekaligus minta dipasangkan semua pada tempatnya masing – masing.

Kemudian kami menuju kompleks perumahan yang terletak agak di luar kota itu.

Pada waktu para tukang yang membawa perabotan rumah itu sedang memasangkan segala yang sudah kubeli di tempatnya masing – masing, aku dan Nike menuju kantor managemen perumahan itu. Untuk menyelesaikan pembayaran rumah yang telah dip;ilih oleh Nike. Tentu saja Nike yang harus menandatangani akte jual beli rumah itu di depan notaris yang sudah hadir di kantor managemen.

Keuntungan dari penjualan ketiga kapal tanker itu sangat banyak. Sehingga dana yang kupakai untuk membeli rumah itu terasa sedikit, meski nilainya milyaran.

Setelah transaksi di depan notaris itu selesai, aku dan Nike kembali ke rumah yang sudah kubayar lunas itu.

Ternyata semua perabotan baru itu sudah selesai dipasang di tempatnya masing – masing. Aku pun tak lupa memberikan uang tip kepada para tukang yang sudah memasang dan menata semua perabotan itu.

Setelah para tukang itu berlalu, Nike tampak ceria sekali. Karena kemaren rumah itu masih kosong melompong, tapi kini sudah lengkap semua. Bahkan peralatan kitchen pun sudah dilengkapi oleh perabotannya yang serba baru (tentunya serba mahal pula).

“Aku jadi speechless Bang. Karena aku tak menyangka akan mendapatkan hadiah yang selengkap dan semahal ini,” kata Nike sambil memeluk dan menciumi pipiku.

“Kan sebulan lagi kamu akan menjadi permaisuriku Beib.”

“Siap Sayang. Aku kan sudah menjadi milikmu. Jadi apa pun yang akan kamu lakukan, aku akan selalu mengikutinya.”

“Sebulan setelah menikah, kamu akan menjadi direktur utama pula. Jadi mulai saat ini kamu harus bisa menjaga wibawa, agar tidak ada yang berani melecehkanmu kelak. Soalnya para manager yang akan menjadi anak buahmu, semuanya sudah sarjana. Sedangkan kamu baru mulai kuliah semester pertama. Jadi… pandai – pandailah memimpin perusahaan nanti ya.

“Siap Bang. Aku akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk perusahaan. Aku sudah banyak membaca dan menghapalkan buku – buku tentang managemen, leadership dan sebagainya. Mudah – mudahan aja pengetahuanku tidak kalah oleh manager – manager yang semuanya sarjana itu.”

“Besok kan hari Sabtu. Jadi kita habiskan weekend kita di rumah ini ya.” “Iya Bang. Hitung – hitung refreshing aja ya.” “Iya, sekalian membuktikan keperawananmu. Siap?” “Siap Sayang. Kalau Abang mau, sekarang juga siap.” “Gak usah terburu – buru. Besok saja, hitung – hitung bulan madu pre wedding.”

Nike tersenyum. Lalu mencium bibirku dengan mesranya. Disusul dengan kata kata, “Terima kasih Bang Chepi Sayang… aku bahagia sekali mendapatkan semua ini.”

“Iya Sayang. Kamu kan calon permaisuriku. Jadi… segalanya harus serba perfect. Tinggal mobilnya yang belum ada.”

“Kantornya kan deket dari sini. Jalan kaki juga bisa. Hitung – hitung olah raga tiap hari.”

“Hushhh… jangan Sayang. Kita belum pada jadi sarjana. Sementara para manager sarjana semua. Kekurangan itu harus diimbangi dengan tampil seperfect mungkin. Mana ada direktur utama jalan kaki? Nanti diketawain oleh anak buah kita Nik.”

“Mmm… iya deh. Tapi kalau mau beliin mobil, pilih yang matic ya. SOalnya kalau manual, aku belum bisa nyetirnya.”

“Ya iyalah. Mobilku sendiri bisa manual bisa matic. Tapi aku selalu menggunakan matic tiap kali nyetir. Di zaman sekarang yang sering macet di jalan, mobil matic lebih tepat untuk digunakan. Makanya pabrik – pabrik mobil juga punya rencana bahwa kelak mobil itu harus matic semua. Menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Beberapa saat kemudian kami pulang ke kantor lagi, karena masih jam kerja. Aku dan Nike sudah janjian bahwa besok pagi dia harus sudah ada di rumah baru itu sebelum jam sembilan pagi. Dan aku berniat untuk “membuktikan keperawanannya” besok juga. Sementara pernikahanku dengan Nike sudah kujadwalkan pada bulan depan di tanggal muda.

Tante Irenka juga termasuk yang harus kukasih tau rencana pernikahanku dengan Nike.

“Nanti pernikahan kita sederhana saja ya. Jangan pesta gede – gedean. Yang penting keluargamu dan keluargaku hadir semua,” kataku ketika masih dalam perjalanan pulang.

“Iya. Aku juga tidak menginginkan pesta besar – besaran. Yang penting kita disahkan dulu sebagai suami istri Bang.”

“Memangnya kamu udah siap untuk menjadi ibu rumah tangga Beib?” “Siap Bang. Aku sudah ingin meladeni cowok yang sangat kucintai.” “Jika pada suatu saat kamu dimadu olehku, bagaimana?”

“Kalau memang harus begitu, silakan aja. Karena aku sudah banyak mempelajari, bahwa istri yang rela dimadu oleh suaminya, akan ditempatkan di surga.”

“Seandainya aku ini raja, kamu adalah permaisuriku. Yang lain hanya selir.” “Yang penting aku jangan disakiti aja nanti Yang.”

“Mana mungkin aku mau menyakitimu? Percayalah… kamu ini sosok yang paling kucintai di dunia ini.”

Nike mencium pipi kiriku, lalu berkata, “Abang juga cowok yang paling kucintai di dunia ini.”

Sebelum tiba di rumahku, kubelokkan mobilku ke pekarangan sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari rumahku. “Kita makan dulu ya. Aku sudah lapar sekali Beib.”

Nike cuma mengangguk dengan senyum manis, lalu turun dari mobilku. Dan bersama melangkah ke restoran itu.

Setelah makan barulah kami lanjutkan bergerak menuju rumahku yang letaknya sekitar 100 meter dari restoran itu.

Setibanya di rumahku, Nike langsung masuk ke ruang kerjanya yang bersatu dengan ruang kerjaku. Sementara aku langsung masuk ke dalam kamarku.

Di dalam kamar kantukku malah datang. Menguap terus, sampai akhirnya tertidur nyenyak sekali.

Ketika hari mulai malam barulah aku terbangun. Itu pun karena terbangunkan oleh bunyi denting handphoneku. WA dari Nike.

Nike : – Bang ada masalah nih. Mama maksa ingin lihat rumah baru itu. Karena aku baru ngasih tahu dikasih rumah oleh Abang. –

Aku : – Terus? – Nike : – Ini aku sudah berada di rumah baru itu Bang. – Aku : – Ya, gakpapa. Kan mamamu juga berhak tahu milik anaknya. Lalu masalahnya di mana? – Nike : – Mama ingin ngerasain tidur di rumah ini Bang – Aku : – Ya izinkan aja. Kan ada tiga kamar di situ. – Nike : – Masalahnya kita kan punya rencana besok pagi. Gimana? –

Aku : – Gampang soal itu sih. Rencananya kita lakukan di villa aja. Bilang sama mamamu, ada urusan bisnis di luar kota, gitu. –

Nike: – Iya. Tapi Abang gak marah nih? –

Aku: – Masa marah. Malah seneng kalau mamamu udah berada di rumahmu itu. Lagian besok jadi ada yang nungguin rumah pada waktu kita sedang berada di villa. –

Nike: – Iya Bang. Terima kasih atas kebijaksanaan Abangku Sayang ya. – Aku: -Tadi gimana reaksinya setelah mamamu tahu keadaan rumahmu itu? –

Nike :- Uuuh dia tampak girang sekali. Sampai menciumiku sambil meneteskan air mata. Dia pun menasehatiku, agar selalu setia padamu Yang. –

Aku: – Kamu bilang kalau kita bakal kawin sebulan lagi? – Nike: -Soal itu sih udah bilang seminggu yang lalu. Mama seneng kok dengar kita mau kawin. –

Aku: – Syukurlah. Oke… besok aku jemput ke rumah baru aja ya. Bilang sama mamamu ada urusan bisnis di luar kota giktu. Jangan bilang mau ke villa. –

Nike: – Iya sayang. Sampai jumpa besok pagi yaaa. – Aku :-Iya. –

Setelah chat lewat WA selesai, kuletakkan handphoneku di atas meja tulisku. Sambil tersenyum sendiri. Karena membayangkan seperti apa perasaan Tante Esther setelah menyaksikan rumah untuk anaknya itu. Sudah lengkap dengan perabotan serba mahal pula.

Tentu saja Tante Esther akan merasa senang. Karena kalau hubunganku dengan Nike berlanjut ke pelaminan, berarti hubungan rahasiaku dengannya akan berlanjut terus. Bukankah selama ini minimal seminggu sekali aku “menengok” serambi lempitnya di jam – jam kerja? Bukankah aku pun selalu mentransfer duit ke rekening tabungannya, sehingga dia takkan merasa kekurangan lagi.

Esok paginya, tepat seperti yang dijanjikan, jam sembilan pagi mobilku sudah diparkir di depan rumah baru yang sudah menjadi milik Nike itu.

Di depan Nike, aku bersikap seperti biasa kepada mamanya. Mencium tangannya dengan sikap sopan. Seolah belum pernah terjadi apa – apa di antara aku dengan mamanya yang semok dan seksi abis itu.

“Sebentar… aku mau pakai make up dulu ya,” ucap Nike, yang lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya setelah aku mengangguk.

Pada saat itulah Tante Esther berbisik di dekat telingaku, “Nanti kalau Nike tidur di rumah ini, sekali – sekali nginep di rumahku ya. Main siang terus… sekali – sekali ingin juga ngerasain main malam.”

Aku mengangguk sambil menahan tawaku.

O, betapa jahanamnya diriku ini. Calon mertua pun sering kuentot…!

Dan sekarang… aku sedang merencanakan untuk “membuktikan keperawanan” anaknya pula.

Tapi khusus mengenai Nike, cintaku padanya memang sudah mendalam sekali. Sehingga terkadang aku merasa takkan bisa hidup tanpa Nike. Karena segala sikap dan perilakunya selalu menyenangkan hatiku. Dan tentu saja karena dia cantik sekali di mataku.

Beberapa saat kemudian Nike sudah duduk di dalam mobilku yang sudah kugerakkan meninggalkan perumahan elit itu.

“Mentalmu sudah siap Beib?” tanyaku di belakang setir mobilku. “Siap Yang,” sahutnya. “Siap apa?” tanyaku lagi. “Siap untuk menyerahkan keperawananku padamu Sayang.”

Aku tersenyum mendengarnya.

Mobilku meluncur terus ke arah utara, menuju villa yang letaknya tidak jauh dari kotaku. Hanya belasan kilometer jaraknya.

Villa yang sebenarnya punya Tante Aini itu terletak di ketinggian, sehingga udaranya selalu sejuk. “Tersembunyi” pula di balik pepohonan tinggi. Dan kalau ingin menikmati keindahan alam di sekelilingnya, harus naik dulu ke lantai atas.

Tapi pagi itu aku tidak ingin menikmati indahnya alam di sekitar villa yang tampak sederhana dari luar tapi mewah di dalamnya itu. Aku hanya ingin menikmati bagaimana indahnya tubuh tinggi semampai Nike dalamn keadaan telanjang bulat.

Dan Nike patuh saja ketika kuminta agar melepaskan seluruh busananya. Sehingga tubuh putih mulus itu terbuka di depan mataku.

Tubuh yang nyaris sempurna itu sudah siap untuk kumiliki dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Tubuh yang tinggi langsing, tetapi tidak kurus, berkulit putih kekuningan sebagaimana lazimnya kulit keturunan Chinese. Bokong yang seksi tapi masih dalam ukuran wajar. Sepasang toket yang tidak gede, tapi kecil pun tidak.

Aku memang ingin punya istri – istri yang variatif bentuknya. Aku sudah punya rencana menikahi Nike, kemudian Anna (adik Mamie) dan Anastazie (adik Tante Irenka). Dengan memiliki mereka bertiga, mungkin aku merasa sudah lengkap.

Satu – satunya yang belum kumiliki adalah cewek yang kulitnya gelap. Seandainya kelak aku ingin melengkapi “jatahku” dengan memiliki 4 orang istri, mungkin aku akan mencari cewek yang kulitnya berwarna sawomatang atau kalau perlu yang hitam sekalian.

Tapi kalau bisa aku akan bertahan dengan tiga orang istri saja. Kecuali kalau memang sudah merasakan butuhnya istri keempat, barulah aku akan mencarinya.

Dan kini si cantik Nike sudah merebahkan dirinya di atas bed villa, dalam keadaan telanjang bulat. Inilah pertama kalinya aku menyaksikan Nike telanjang.

Sebelum ia telanjang, aku sudah menyiapkan mental, bahwa seandainya ada kekurangan di tubuhnya, aku akan melupakannya. Karena aku sudah sangat mencintainya.

Tapi ternyata tiada cela setitik pun di tubuh putih mulus itu. Sehingga aku pun mulai menelanjangi diriku sendiri, kemudian naik ke atas bed.

Sambil duduk di sisi Nike, kupegang pergelangan kaki kanannya. Kemudian kuciumi betisnya… naik ke atas… kuciumi lutut dan pahanya, sampai ke pangkalnya.

Bintik menghitam di atas serambi lempitnya. Bintik – bintik rambut yang baru akan tumbuh lagi.

Kemudian kurentangkan sepasang pahanya lebar – lebar, karena aku akan mulai membasahi kemaluannya dengan air liurku.

Nike menurut saja. Setelah pahanya mengangkang, aku pun menelungkup di antara kedua pahanya itu, sambil menciumi serambi lempit amoy cantik itu.

Nike diam saja. Bahkan ketika aku mengangakan bibir serambi lempitnya, sehingga tampak bagian dalamnya yang berwarna pink itu, Nike pun masih terdiam.

Namun ketika aku mulai menjilati bagian yang berwarna pink itu, Nike mengejut, kemudian menggeliat sambil memegangi sepasang bahuku.

Dan ketika aku semakin gencar menjilati bagian yang berwarna pink itu, Nike mulai menggeliat – geliat dan mendesah – desah, “Aaaaaaah… Baaaang… aaaaaaah… aaaaaahhhhh… aaaaaaaah… Baaaaaang… aaaaaaah… aaaaaahhhh…”

Bahkan ketika aku sudah menemukan kelentitnya dan mulai menjilatinya dengan gencar, Nike mulai mengejang – ngejang dengan rintihan histerisnya yang tiada henti berlontaran dari mulutnya.

“Baaaaang… oooooooh… Baaaaang… oooooohhhhhh… Baaaaaang… oooooh… ooooooohhhhh… Baaaaaang… oooooohhhhhh… aku… aku merasa seperti… melayang – layang gini Baaaaang… ooooh… Baaaaang… ooooohhhhh… Baaaaang… aku melayang ini Baaaaang… oooooohhhhhhh …

Aku tidak mempedulikan rintihan Nike. Karena targetku ingin secepatnya membuat bagian dalam serambi lempitnya basah oleh air liurku bercampur dengan lendir libido Nike sendiri.

Dan setelah terasa bagian dalam serambi lempitnya itu sudah sangat basah, aku pun menjauhkan mulutku dari serambi lempitnya. Lalu meletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit amoy cantik itu.

Kuarah – arahkan moncong rudalku sebentar. Dan setelah terasa sudah pas arahnya, kudorong batang kemaluanku sekuat tenaga. Uuuuggghhhhhhh… rudalku malah melengkung ke atas, seperti pacet (lintah darat) mau melompat.

Tidak meleset. Tapi arahnya masih kurang tepat. Maka setelah mengamatinya sejenak di mana letak mulut liang sanggamanya, kubetulkan letak moncong rudalku. Diikuti dengan dorongan sekuatnya. Mmmmm… mulai melesak masuk sedikit demi sedikit…!

Kepala rudalku sudah masuk. Setelah didorong berulang – ulang, membenam lagi sampai lehernya.

Gila. Sempit sekali liang serambi lempit Nike ini. Maka kukerahkan tenagaku agar masuk minimal setengahnya. Pada saat aku sedang mendorong rudalku inilah Nike memeluk leherku sambil berbisik terengah, “Su… sudah masuk ya?”

“Iya, baru sedikit,” sahutku, “Kalau sakit tahan sedikit ya.” “Iii… iya… kata orang sih yang pertama suka sakit sedikit… lanjutkan aja Honey…” sahut Nike lirih.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk membenamkan lagi sedikit demi sedikit. Berhasil; juga membenamkan rudalku separohnya.

Lalu mulailah aku menarik rudalku sedikit, lalu mendorongnya lagi. Menariknya lagi dan mendorongnya lagi.

Makin lama batang kemaluanku bisa masuk makin dalam ketika aku sedang mendorongnya. Sedikit demi sedikit liang serambi lempit Nike mulai beradaptasi dengan ukuran rudalku yang memang di atas rata – rata ini.

Meski gerakannya masih perlahan, rudalku sudah mulai memenyetubuhi liang serambi lempit Nike yang super sempit ini.

Makin lama makin lancar juga entotanku, karena mungkin lendir libido Nike “ikut campur” untuk melicinkan liang serambi lempitnya.

Nike pun mulai mendesah dan merintih – rintih, sambil mendekap pinggangku erat -erat.

“Sayaaaaang… aaaaaaah… ini luar biasa rasanya Sayaaaang… terasa mengalir dari ujung kaki ke ujung rambut… aaaaah… aku… aku merasa seperti sedang melayang – layang di atas langit Sayaaaaang… oooooh… aku… aku semakin mencintaimu Sayaaaang…”

Aku pun “melengkapi” aksiku. Dengan menciumi dan menjilati leher Nike, disertai gigitan – gigitan kecil. Semakin hangat juga tubuh kekasih tercintaku ini. Bahkan setelah belasan menit akuj memenyetubuhinya, keringat Nike mulai membasahi leher dan wajahnya. Lalu bercampur – aduk dengan keringatku.

Tanganku pun mulai beraksi. Ketika aku masih “sibuk” menjilati lehernya, tanganku ikut beraksi, untuk meremas toketnya yang masih sangat kencang ini. Terkadang kupelintir dan kuelus – elus pentilnya, sehingga Nike semakin klepek – klepek.

Karena ini untuk yang pertama kalinya aku menyetubuhi Nike, aku tak bermaksud menyiksanya terlalu lama. Pada waktu aku sedang gencar memenyetubuhinya, diiringi oleh desahan dan rintihan Nike, aku menunggu gejala – gejala akan orgasmenya Nike. Karena aku bermaksud untuk “melepas”nya berbarengan.

Setelah lewat setengah jam, Nike mulai berkelojotan. Nah… pasti dia mau orgasme. Aku pun mempercepat entotanku. Dan ketika Nike mengejang tegang, dengan perut sedikit terangkat ke atas, aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin. Sampai mentok di dasar liang serambi lempit Nike.

Pada saat itulah terjadi sesuatu yang sangat indah. Bahwa ketika liang serambi lempit Nike berkedut – kedut kencang, moncong rudalku pun tengah mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.

Crooootttt… cretcret… crooootttt… crott… croooottttt… croooootttt!

Lalu aku terkapar di atas perut Nike. Sementara Nike pun terkapar lemas.

Tapi tak lama kemudian aku mencabut rudalku dari liang serambi lempit Nike. Karena aku ingin melihat apakah ada darah perawannya atau tidak.

Ternyata memang ada. Berarti Nike memang masih perawan sebelum kuentot tadi.

Tapi aku tidak mengucapkan apa – apa. Aku hanya mencium bibirnya semesra mungkin. Sebagai tanda cintaku padanya semakin dalam.

Nike pun lalu bangkit dan memandang ke arah darah di bekas bokongnya tadi.

Kemudian dia menciumku diikuti dengan bisikan, “Aku semakin mencintaimu Bang.”

Aku tersenyum dan bertanya, “Enak gak barusan?”

“Luar biasa enaknya,” sahut Nike. “Dan kamu sudah merasakan permainan orang dewasa.” “Iya Bang.” “Mau pakai obat anti hamil dulu gak?” tanyaku. “Emang ada?”

“Ada tuh di tasku,” kataku sambil menunjuk ke tas kecil yang biasa kubawa kalau bepergian. Isinya memang obat – obatan dan uang cash.

“Kalau bisa, memang jangan hamil dulu Bang.”

“Setuju. Nanti setelah kamu bisa mengembangkan diri di perusahaan, barulah kita rencanakan untuk hamil.”

Setelah menelan pil kontrasepsi, Nike mengenakan pakaian kembali dan duduk di sampingku yang juga sudah berpakaian kembali di atas sofa.

Kubelai rambutnya sambil bertanya, “Apakah kamu sedih karena telah kehilangan keperawananmu?”

“”Nggak. Masa sedih. Aku kan sudah menyerahkan kepada cowok yang sangat kucintai. Lagian bulan depan juga kita menikah kan?”

“Iya. Persiapannya harus dikebut. Karena sebulan itu tidak lama.”

“Iya Sayang,” sahut Nike sambil menciumi pipiku bertubi-tubi.

Bersambung… Sebulan kemudian …

Seperti yang sudah direncanakan, pernikahanku dengan Nike dilaksanakan secara sederhana saja. Yang penting keluarga Nike dan keluargaku ada yang hadir.

Jujur, aku mampu melaksanakan pesta dengan biaya sebesar mungkin. Tapi aku tak mau pernikahanku jadi bahan gunjingan orang – orang. Karena itu teman kuliah pun tiada yang diundang. Yang penting, dari pihakku ada Papa dan Mamie yang hadir. Meski pihak laki – laki tidak membutuhkan wali, tapi kehadiran mereka sangat penting bagi jiwaku.

Aku pun mengajak Mama kandungku untuk menghadiri akad nikahku dengan Nike. Tapi Mama menolaknya secara halus. Beliau berkata, “Biarlah ibu tirimu saja yang hadir. Supaya dia tambah sayang padamu. Mama sih ikut mendoakan saja dari jauh, semoga pernikahanmu berjalan lancar. Nanti setelah akad nikah selesai, bawalah istrimu ke sini.

Bukan hanya Mama, aku pun mengundang Tante Aini yang merupakan sosok terpenting dalam dunia bisnisku. Tapi Tante Aini sudah tinggal menunggu harinya saja untuk melahirkan. Sehingga beliau takkan bisa hadir dalam pelaksanaan akad nikahku.

Dari pihakku, bukan hanya Papa dan Mamie yang hadir. Anna juga dibawa serta oleh Mamie.

Tante Irenka dan Anastazie juga datang, sesuai dengan undangan lisan dariku.

Yang sangat mengharukan adalah… Niko sudah jadi mualaf. Sehingga dia bisa dijadikan wali Nike.

Aku tidak tahu apakah Niko jadi mualaf karena ingin mengikuti jejak adiknya atau sengaja supaya bisa jadi wali Nike pada saat dilaksanakan akad nikahku dengan adiknya. Entahlah.

Yang jelas, famili Nike banyak yang sudah menjadi mualaf. Dan mereka hadir semua pada saat akad nikahku dengan Nike.

Namun di tengah kesibukan pada pelaksanaan akad nikahku ini, aku ingat terus kepada Mama. Karena beliau adalah sosok terpenting bagiku.

Mungkin Mama ingin menghindari Mamie. Mungkin Mama membayangkan bahwa pada waktu menyaksikan akad nikahku, Papa pasti berdampingan dengan Mamie. Mungkin hal itu yang ingin dihindari oleh Mama.

Maka setelah tamu – tamu pada pulang, aku mengajak Nike untuk mengunjungi rumah Mama, seperti yang Mama inginkan.

Pada saat itu Niko yang nyetir mobilku. Karena pengantin tidak boleh nyetir sendiri katanya.

Dalam perjalanan menuju rumah Mama yang letaknya agak jauh di kota itu, aku dan Nike duduk di belakang. Sementara Niko sendirian di belakang setir mobilku.

Aku dan Nike masih mengenakan pakaian pengantin. Agar Mama merasa senang melihatnya nanti.

Setibanya di rumah Mama, aku terkejut karena melihat di depan rumah Mama sudah berderet mobil diparkir. Di halaman samping pun dipasang tenda segala.

Ternyata adik – adik Mama sudah hadir semua, kecuali Tante Aini yang menurut kabar terakhir sudah masuk rumah sakit bersalin di Jakarta.

Adik – adik Mama yang tampak hadir, Tante Dahma, Tante Iqrah, Tante Hibba, Tante Rafna, Tante Shaza, Oom Bahrul dan Oom Salam. Semuanya datang bersama suami dan istrinya masing – masing. Bahkan banyak juga yang membawa anak – anak dan orang – orang yang belum kukenal.

Inilah kompaknya keluarga Mama. Kalau ada event penting, pasti mereka berkumpul semua. Jauh berbeda dengan keluarga Papa. Hanya Tante Irenka yang hadir. Sementara adik kandung Papa tidak ada yang hadir seorang pun. Mungkin juga karena Papa tidak memberitahu mereka, entahlah.

Aku pun bersujud di depan Mama yang duduk di sofa ruang tengah, memohon doa restunya. Mama bercucuran air mata sambil menciumiku. Begitu pula waktu Nike giliran bersujud di depan Mama. Mama membelai rambut Nike dan menciumi sepasang pipinya.

Lalu dengan suara sendu Mama menyatakan restunya. Kemudian Mama memasangkan seuntai kalung emas bertatahkan berlian di leher Nike, sambil berkata, “Kalung ini pemberian almarhumah ibu mama.

Adik – adik Mama dan pasangannya masing – masing menyalamiku dan Nike secara bergiliran. Mereka mendoakanku agar menjadi suami istri yang samawa dan cepat diberi momongan.

Dan suatu tradisi di keluarga Mama pun terjadi. Adik – adik Mama pada ngasih kalung emas kepada Nike. Mereka mengalungkan hadiahnya masing – masing di leher Nike. Sehingga ditambah dengan kalung berlian dari Mama, Nike jadi mengenakan 8 kalung mdi lehernya…!

Aku tersenyum – senyum saja menyaksikan semuanya itu. Dan sekali lagi aku menyaksikan kekompakan keluarga Mama. Kekompakan yang tidak kusaksikan di lingkungan keluarga Papa.

Dan yang paling mengejutkan, Mama menarik pergelangan tanganku, menuju ke sebuah sedan sport putih yang aku tahu harganya mahal sekali. “Sejam yang lalu sedan ini baru datang. Hadiah perkawinan dari Tante Aini untukmu. Dia sangat menyesal karena tidak bisa menghadiri akad nikahmu, karena sekarang sudah harus masuk ke rumah sakit bersalin.

Aku tercengang. Hadiah yang sangat gila – gilaan menurutku (kalau buat konglomerat mungkin biasa – biasa saja). Karena aku tahu harga sedan sport putih itu 5 kali lebih mahal daripada sedan kesayanganku.

Nike yang berdiri di sampingku bergumam di dekat telingaku, “Mobilnya keren habis Bang. Harganya mahal sekali kan?”

Kusahut dengan setengah berbisik, “Iya hadiah dari pemilik perusahaan kita yang sebenarnya.”

“Owh… dari beliau?” gumam Nike.

“Iya. Dia sedang di rumah sakit bersalin. Mau melahirkan. Makanya gak bisa datang di pernikahan kita. Kalau kamu mau, sedan sport ini bisa dipakai untuk ke kantor setelah resmi dinobatkan sebagai direktur utama nanti.”

“Nggak ah. Aku ngeri makainya juga. Kalau Abang mau ngasih mobil, cariin yang murah aja Bang. Supaya aku tidak grogi nyeitrnya.”

“Iya. Sedan sport ini mungkin akan disimpan saja. Tapi selama berbulan madu, tiada salahnya kalau kita pakai.”

Nike mengangguk sambil tersenyum manis.

Tapi aku tak bisa berlama – lama menyaksikan berkilaunya sedan sport putih itu, karena Oom Bahrul memanggilku. Untuk melaksanakan doa bersama di ruang tengah yang lantainya sudah ditilami permadani Turki sekujurnya.

Oom Bahrul sendiri yang memimpin acara doa syukuran itu.

Setelah acara doa syukuran selesai, kami makan bersama. Ternyata Mama sudah menyediakan makanan selengkap mungkin. Bahkan jauh lebih lengkap daripada di rumah Nike tadi. Tamu – tamu pun tampak lebih banyak di rumah Mama ini.

Setelah makan bersama selesai, saudara – saudara Mama pada minta berfoto dengan kami (dengan pengantin baru… hihihihiii). Lalu mereka pun pada minta tukaran nomor handphone. Siapa tahu kelak ada perlu atau berniat mengadakan reuni keluarga besar Mama.

Setelah malam semakin larut, tamu – tamu pun pada pulang. Begitu juga aku, harus meninggalkan rumah Mama. Meski hatiku berat meninggalkan mama kandung tercintaku itu.

Dalam perjalanan pulang, mobilku dibawa oleh Niko. Sementara aku dan Nike menggunakan sedan sport putih yang aduhai itu.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanyaku ketika Nike menyandarkan kepalanya di bahi kiriku.

“Bahagia,” sahutnya, “Sangat bahagiaaa…”

“Jadi istriku sudah. Sekarang persiapkan dirimu untuk mempimpin perusahaan. Walau pun usia kita masih sama – sama muda, yakinkan dirimu bahwa kamu akan mampu memimpin perusahaan mulai sebulan lagi.”

“Iya, tapi Ayang harus membimbingku juga nanti. Untuk sementara, mungkin aku tak bisa dilepas begitu saja.”

“Itu sih pasti. Yang penting pelajari terus buku – buku tentang managemen dan leadership. Karena anak buah kita rata – rata lebih tua dari kita. Sarjana semua pula.”

Sedan sport itu dimasukkan ke dalam garasi rumahku. Tapi malam itu aku akan menginap di rumah baru yang kuhadiahkan kepada Nike itu.

“Sekarang kita belum punya pembantu. Jadi segala sesuatunya harus dikerjakan sendiri. Nanti kucarikan pembantu yang cocok untuk meladeni kita di rumah ini,” kataku setelah berada di dalam rumah baru itu.

“Gak ada pembantu juga gakpapa. Biar aku bisa meladeni suami sendirian.” “Memangnya kamu bisa masak?” “Bisa lah. Tapi chinese food bisanya.”

“Aku suka kok chinese food. Tapi yang halal. Seperti restoran… “kusebutkan nama restoran chinese food yang serba halal itu.

“Iya dong. Aku juga kan sudah jadi mualaf. Makanan harus serba halal. Ohya… daripada nyari pembantu, mendingan kita rekrut aja kakak sepupuku. Dia jago masak Bang.”

“Dia sudah jadi mualaf?” “Sudah lama, sebelum aku lahir juga sudah jadi mualaf.” “Emangnya kakak sepupumu itu sudah tua?”

“Tigapuluhlima tahunan gitu. Pokoknya tiga atau empat tahun lebih muda dari Mama. Tapi dia tetap manggil tante sama Mama. Dia sih sigap kerjanya Yang.”

“Punya suami?”

“Justru setahun yang lalu suaminya meninggal karena tabrakan di Puncak. Dia jadi janda. Dan sejak menjanda, aku ikut priihatin melihat nasibnya. Maka kalau diajak ke sini, kita bisa bantu juga kesulitan – kesulitan dia.”

“Memang dulunya suami dia itu kerja apa?” “Cuma jadi sopir mobil box Yang.” “Owh gitu. Ya udah, kamu tentu tau yang terbaik buat kita di sini. Terutama untuk meladeni kebutuhanmu di rumah setelah jadi dirut nanti.”

Nike mengangguk – angguk sambil tersenyum manis.

Manis sekali senyum Nike itu. Memang tidak salah aku menjadikannya istriku.

45 hari kemudian …

Sebulan paska hari perkawinanku dengan Nike, kantor baru itu sudah selesai dibangun, di atas lahan 1 hektar (10.000 m2). Tapi penataannya butuh waktu dua minggu, karena kontraktor menyerahkan bangunan itu dalam keadaan kosong melompong semua.

Maka aku dan Nike dibuat sibuk untuk menata ruangan demi ruangan. Tentu saja setelah membeli segala perabotannya yang layak untuk kebutuhan kantor, seperti meja – meja kerja dan kursinya masing – masing. Di setiap meja pun ada monitor komputer, sementara PCnya disembunyikan di bawah meja masing – masing.

Bangunan kantor itu hanya satu lantai. Tapi atapnya dicor sekujurnya, untuk mempersiapkan diri, siapa tahu kelak harus dibangun dua atau tiga lantai.

Tapi pada dasarnya aku tidak ingin bangunan kantor yang mencolok. Karena kalau kantor baru itu terlalu megah, belum apa – apa bisa didatangin orang pajak. Maka biarlah kelihatannya sederhana dari luar, tapi kalau sudah masuk ke dalamnya akan kelihatan modernnya kantor perusahaanku ini.

Pemasangan meja, kursi, lemari dan sebagainya diatur sedemikian rupa supaya serba praktis. Tapi untuk menata semuanya itu butuh waktu dua minggu.

Yang sangat menyenangkaqn adalah semangat Nike itu, tidak kenal lelah. Seharian di kantor baru itu untuk menata ini – itu, dibantu oleh beberapa buruh harian.

Nike tidak perlu selalu bersamaku lagi. Karena dia sudah kubelikan mobil baru, sesuai dengan keinginannya. Mobil yang harganya di bawah 300 juta. Tapi Nike tampak senang sekali, karenaa sedan merah maroon metalic itu sudah lama diidam – idamkannya, meski menurutku kurang aduhai. Maklum sedan matic yang harganya tidak seberapa.

Sementara itu kakak sepupu Nike yang suka dipanggil Chichi Sui itu sudah tinggal di rumahku sejak seminggu paska hari pernikahanku dengan Nike. Waktu itu Nike bilang, bahwa nama kakak sepupunya itu Nyung Sui. Tapi Nike membiasakan memanggilnya Chi Sui saja. Setahuku Chichi itu berarti kakak perempuan, sementara kakak lelaki suka dipanggil Koko.

Karena itu aku pun memanggilnya Chichi saja, terkadang juga memangilnya Chi Sui. Ikut – ikutan pada Nike saja.

Memang Chi Sui itu rajin orangnya. Enak pula masakannya. Karena itu aku berjanji di dalam hati, untuk memberikan gift atau reward pada suatu saat kelak. Sebagai tanda besarnya hatiku menyaksikan keuletan, kerajinan dan ketrampilannya di rumah baru ini.

Sejak menikah dengan Nike, aku jadi selalu menginap di rumah baru yang sudah kuhadiahkan untuk Nike itu. Entah kenapa, rasanya hatiku nyaman sekali tinggal di rumah baru ini. Meski keadaannya tidak semewah di rumahku, namun hatiku nyaman, karena berada di dekat pendamping hidupku.

Sebenarnya aku sudah mengajak Nike untuk berbulan madu di luar negeri. Tapi Nike menolaknya secara halus dengan kata – kata, “Gak usahlah Sayang. Kita kan sedang siap – siap untuk membuka kantor baru itu. Kalau mau ngajak tour ke luar negeri, nanti aja setelah kita santai.”

Meski tawaranku ditolak oleh Nike, aku justru tambah kagum padanya. Karena semua yang dikatakannya itu benar. Bahwa saat ini kami sedang sibuk – sibuknya menata kantor baru itu. Kalau memperturutkan kata hatinya, tentu saja Nike akan menyetujuiku untuk berbulan madu di luar negeri. Tapi dia mengutamakan perusahaan dulu.

Mudah – mudahan saja Nike bisa memimpin perusahaanku (yang sebenarnya perusahaan Tante Aini, tapi secara hitam di atas putih akulah ownernya). Walau pun Nike masih sangat muda, tapi dia itu istriku. Maka wajarlah kalau aku mengangkatnya sebagai dirut. Karena sebagai “owner” aku tidak bisa duduk sebagai dsirut.

Tapi sebelum perusahaan itu berjalan secara sehat, tentu saja aku akan terus – terusan membimbing Nike, agar jangan mengeluarkan kebijakan yang tidak menguntungkan bagi perusahaan.

Ohya, ada yang terlupakan ditulis di sini. Bahwa dua hari setelah akad nikahku, Tante Aini mengirim berita via WA. Isinya hanya sekadar laporan, bahwa beliau telah melahirkan anak laki – laki, yang lalu diberi nama Abdullah oleh “ayahnya”. Beliau juga memberitakan tentang kegembiraan suaminya karena sudah mendapatkan “anak” cowok dari Tante Aini.

Bahkan ketika bangunan kantor baru itu baru diserahkan oleh kontraktornya, datang pula berita dari Mbak Susie. Bahwa ia tengah mengandung anakku juga.

Berarti tanpa nikah pun aku sudah punya anak dua, dari Mamie dan Tante Aini. Kemudian anakku bakal jadi tiga orang kalau Mbak Susie sudah melahirkan nanti.

Hahahaaaa… siapa suruh aku jadi pejantan? Mereka sendiri yang menginginkannya kan?

Namun tentu semua ini sudah tertulis dari sananya. Bahwa aku ditakdirkan untuk menjadi seorang pejantan…!

Untuk menyatakan kebahagiaannya, Mbak Susie mentransfer sejumlah dana ke rekening tabunganku. Bahkan kalau dihitung – hitung, yang membelikan mobil Nike itu bukan aku, melainkan Mbak Susie. Karena jumlahnya lebih besar daripada harga mobil baru untuk Nike itu…!

Sementara itu aku sudah menempatkan adik Mamie yang bernama Anna itu seperti yang sudah kujanjikan. Dijadikan kepala gudang dan menempati rumah kecil yang tak jauh dari gudang itu.

Anna tampak senang sekali mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup besar itu. Tapi ketika kutanyakan apakah ia masih berminat menjadi istri mudaku, Anna menjawab, “Gak usah resmi – resmian deh. Karena setelah dipikir – pikir, kasihan sama Nike itu. Tampaknya dia sangat tulus mencintaimu Chep. Biarlah tak usah menikah denganku secara resmi.

Adik Tante Irenka yang bernama Anastazie itu pun mengatakan hal yang serupa ketika kutawarkan untuk menjadi istri keduaku. Hanya bahasanya saja yang berbeda, namun kesimpulannya Zie menolak. Lagian menurutnya, di Eropa sudah biasa anak muda melakukan hubungan sex tanpa harus menikah.

Aku sih tidak mau memaksa orang yang ragu, apalagi yang menolaknya secara halus. Nikah atau tidak, nothing to loose buatku. Karena keperawanan yang dipecahkan bukan ada di dalam fisikku. Tadinya aku hanya ingin mempertanggungjawabkannya, makanya aku mau menikahi Anna dan Anastazie. Tapi kalau mereka menolak dengan berbagai macam alasan, terserah merekalah.

Karena itu biarlah aku konsen pada Nike saja sebagai satu – satunya istriku. Dan Nike memang istri yang patut kucintai dengan segenap perasaanku.

Tapi godaan itu datang dari dalam rumah yang sudah kuhadiahkan kepada Nike ini.

Padahal tadinyha aku tak pernah memperhatikannya. Tak pernah punya pikiran yang aneh -p aneh kepada sosok yang satu itu.

Lalu terjadilah sesuatu yang tak pernah kurencanakan di suatu pagi.

Aku bangun kesiangan, karena semalam habis bagadang di depan laptopku. Biasa, habis mengerjakan program kerja karyawan setelah kantor baru itu dibuka nanti.

Aku takkan ke kantor yang sudah hampir siap ditata itu. Ingin istirahat saja di rumah Nike ini atau di rumahku sendiri.

Setelah mandi kukenakan celana pendek dan baju kaus serba putih. Lalu keluar dari kamarku.

Kulihat Chi Sui sedang masak di dapur. Dan tidak menyadari kalau aku sudah berada di belakangnya.

Pada saat itulah aku baru menyadari bahwa tubuh Chi Sui yang gempal itu tampak sangat seksi kalau dilihat dari belakang. Karena bokongnya itu… gede sekali.

Saat itu ia mengenakan kimono wetlook berwarna abu – abu. Begitu ketatnya ikatan kimono itu, sehingga dari belakangnya ini aku bisa melihat bentuk bokongnya yang… aaaah… diem – diem si joni mulai bangun, karena otakku membayangkan bentuk Chi Sui dalam keadaan telanjang bulat. Seperti apa ya?

Lalu sambil berjalan mengendap – endap aku mendekati belakang tubuh Chi Sui. Dan… kupegang dan kuremas bokong wanita 36 tahunan itu.

Chi Sui terperanjat dan memutar badannya jadi berhadapan denganku. Dan mencubit perutku sambil menggerutu, “Bikin kaget aja iiih… !”

“Kalau mau nyubit jangan perut… coba cubitnya yang di bawah perutku,” sahutku sambil tersenyum – senyum.

“Yang mana? Yang ini?” tanyanya sambil menggenggam celana pendekku persis di bagian si joni yang sedang ngaceng. “Iiih… lagi tegang gini… !”

“Iya,” sahutku sambil memegang bahu Chi Sui, “gara – gara megang bokong Chichi barusan. Soalnya Chichi seksi banget sih.”

“Udah punya istri cantik begitu masih aja merhatiin perempuan lain. Kalau ketahuan sama Nike nanti gimana?”

“Gak apa – apa. Nike udah ngijinin aku polygami kok.” “Terus Nike mau dimadu gitu?”

“Nggak ah. Tadinya sih pengen punya istri dua atau tiga orang. Tapi setelah dipikir – pikir, kasian Nike.”

“Nah, makanya itu… kenapa barusan remas – remas pantatku?” “Karena Chiochi seksi abis.” “Nikke kurang cantik apa coba? Kok masih…”

Belum selesai Chi Sui bicara, kupotong, “Nike memang cantik. Tapi badannya tinggi semampai. Sedangkan aku dari dulu seneng perempuan setengah baya yang bodynya semok kayak Chichi gini.”

Ucapan itu kuikuti dengan pelukan erat di pinggang Chi Sui.

“Matiin aja dulu kompornya Chi. Terus ikut ke kamarku yok.” “Mau ngapain Boss?” “Pengen gumulin Chichi sampai sama – sama basah…”

Chichi Sui tertunduk, seperti memikirkan sesuatu.

“Itu juga kalau Chichi mau kusayangi. Kalau nggak sih, aku gak bakal maksa.”

Tiba – tiba Chi Sui yang mendekap pinggangku sambil berkata lirih, “Sangat mau… tapi takut ketahuan Nike… bisa – bisa aku diusir dari sini nanti.”

“Yang penting kita harus rapi Chi. Kalau ada Nike kita saling cuek aja.”

Chi Sui menatapku dengan sorot mata jinak. Lalu mematikan semua kompor. Dan menurut saja ketika kuajak menuju kamarku.

Tapi setelah berada di dalam kamarku, Chi Sui berkata, “Sebentar… pintu – pintunya mau dikunciin dulu semua. Supaya kalau Nike tiba – tiba pulang takkan bisa menangkap basah kita.”

“Iya, silakan Chi,” sahutku sambil mencolek bibir saudara sepupu Nike yang bodynya bohay habis itu.

Chi Sui pun keluar dari kamarku. Sementara aku tersenyum sendiri, karena merasa kemenangan sudah di ambang pintu.

Chichi Sui tidak cantik. Tapi jelek pun tidak. Tampangnya biasa – biasa saja. Tapi bodynya itu membuatku silap. Membuat penasaran yang amat sangat. Ingin tahu seperti apa rasanya tubuh janda setengah baya itu.

Tak lama kemudian dia kembali lagi ke dalam kamarku, dengan sikap yang semakin jinak. Dan berkata, “Sejak ditinggal mati suami, aku tak pernah disentuh lelaki Chep.”

Dengan penuh gairah kuraih tangannya ke atas bed. Sambil berkata, “Makanya aku ingin berbagi rasa denganmu Chi.”

Setelah berada di atas bed, Chi Sui berkata sambil melepaskan ikatan tali kimononya, “Aku sih gak mau munafik… aku masih membutuhkan sentuhan lelaki. Tapi tadinya gak pernah mikir akan mendapatkannya dari suami adik sepupuku.”

“Aku juga tak mau munafik, sudah lama aku ini penggila wanita setengah baya seperti Chichi. Makanya ngepas deh… kita saling membutuhkan ya?” ucapku seraya mengusap – usap perut Chi Sui yang sudah celentang dalam keadaan tinggal beha dan celana dalam saja yang masih melekat di tubuh sintalnya.

“Iya… “Chi Sui tersenyum sambil menatapku yang tengah melepaskan baju kaus dan celana pendekku, “Mau jam berapa Chepi berangkat ke kantor?”

“Hari ini aku ingin istirahat. Ingin menikmati waktuku bersama Chichi. Sekalian untuk menyiapkan fisik, karena lusa kantor baru itu akan dibuka.”

Ketika tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuhku, Chi Sui pun menanggalkan beha dan celana dalamnya. Sehingga tubuh tinggi montok itu tak tertutup apa – apa lagi.

Begitu menggiurkan tubuh Chi Sui di mataku. Bahkan menurutku, Chi Sui lebih seksi daripada Mama Esther

(Setelah aku menikah dengan Nike, aku memanggil Mama kepada ibunya Nike itu. Tidak pakai istilah Tante lagi).

Tentu saja. Karena Chi Sui lebih muda daripada Mama Esther.

Tubuh montok berbokong dan bertoket gede itu seolah menantangku untuk diterkam. Maka dengan nafsu yang semakin merajalela, kuterkam tubuh wanita setengah baya itu.

Aku mulai dengan mengemut pentil toge kirinya, sementara tangan kiriku meremas toket gede kanannya. Spontan suhu tubuh Chi Sui mulai menghangat. Terlebih setelah aku menciumi dan menjilati lehernya, sementara tangan kiriku tetap meremas – remas toket kanannya, sambil sesekali memelintir pentilnya.

Seperti biasa, setelah puas dengan wilayah dadanya, aku pun melorot turun. Sehingga wajahku berhadapan dengan serambi lempit Chi Sui yang bersih dari jembut. serambi lempit yang membangkitkan gairahku untuk menjilatinya.

serambi lempit tembem itu memang lebar belahannya, tapi sepintas pun kelihatan bahwa liangnya tidak lebar. Membuatku yakin rasanya pasti enak sekali.

Chi Sui tampak mengerti apa yang akan kulakukan. Ia merentangkan sepasang paha gempalnya selebar mungkin, sambil mengangakan mulut serambi lempitnya. Maka aku pun langsung menyapu – nyapukan ujung lidahku ke bagian yang berwarna kemerahan dan sudah dingangakan itu.

Begitu asyik aku menjilati serambi lempit Chi Sui yang terasa empuk dan lengkap ini. Sesekali kujilati kelentitnya yang tampak menonjol dan menegang itu.

Chi Sui pun mulai menggeliat – geliat sambil meremas – remas bahuku. Dan mulai mendesah – desah ketika aku sudah fokus untuk menjilati kelentitnya disertai dengan isapan – isapan kuat, sehingga kelentit yang sebesar kacang kedelai itu tampak “mancung” karena tegangnya.

Belasan menit aku mengoral serambi lempit kakak sepupu istriku itu.

Sampai akhirnya ia merintih lirih, “Sudah Chep… masukin aja rudalnya… serambi lempitku sudah basah sekali nih…”

Kuturuti saja permintaannya. Dengan sigap kulepaskan celana dalamku.

Dan Chi Sui terduduk dengan mata terbelalak sambil berseru tertahan, “Astagaaa… gak salah nih? rudal Chepi itu… gila… panjang dan gede sekali… !”

Kudorong dada Chi Sui agar celentang lagi sambil berkata, “Dibandingkan dengan rudal negro sih masih kalah Chi.”

“Tapi rudal almarhum suamiku sih tidak sepanjang dan segede ini,” sahut Chi Sui sambil ikut memegang rudalku yang sudah diletakkan di mulut serambi lempitnya.

Lalu kudorong rudal ngacengku sekuat tenaga. Dan… mulai melesak masuk ke dalam liang serambi lempit perempuan tinggi montok itu… blesssssssss… diiringi rintihan Chi Sui, “Ooooooh… rudal sepanjang dan segede gini sih bisa membuatku ketagihan nanti Chep… ooooh udah masuk semuaaaa… gila…

Aku tidak menanggapinya, karena aku sudah sering mendengar ucapan yang sama dari perempuan lain.

Dan kini aku mulai mengayun rudalku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Chi Sui.

Ternyata meski tubuhnya tinggi gempal begitu, Chi Sui sangat atraktif di atas ranjang.

Bokong gedenya mulai bergoyang memutarf – mutar dan meliuk – liuk. Membuatku semakin semangat untuk memenyetubuhinya.

Maju mundur dan maju mundur terus tongkat kejantananku di dalam cengkraman liang serambi lempit Chi Sui yang terasa empuk – empuk legit ini.

Aku pun melengkapinya dengan jilatan dan gigitan – gigitan kecil di leher Chio Sui yang mulai lkembab oleh keringat. Sementara serambi lempit Chi Sui terasa membesot – besot terus, karena bokong gedenya bergeol – geol erotis terus.

Maka ketika aku sedang memenyetubuhi serambi lempitnya sambil menjilati lehernya, tanganku pun mulai merambah sepasang toket gede itu. Kuremas – remas terus toket gede itu. Sementara rudalku semakin gencar memenyetubuhi liang sanggamanya. Chi Sui menanggapinya dengan mempergencar goyang pinggulnya, yang dengan sendirinya makin gencar pula liang serambi lempitnya membesot – besot rudalku.

Gila… tak kusangka serambi lempit Chi Sui seenak ini. Sehingga aku bertekad di dalam hati, bahwa hubungan rahasiaku dengannya harus dijalin terus sampai kapan pun.

Empuk tapi sangat legit. Itulah rasa liang serambi lempit Chi Sui.

Sementara Chi Sui pun melontarkan rintihan yang bernada serupa. Bahwa rudalku ini enak sekali rasanya. “Aaaaah… aaaaaaah… Cheeeepiiii… rudal Chepi ini… luar biasa enaknya Cheeeep… aaaaaah… Cheeeeep… iyaaaaaaa… iyaaaaa… entot terus Cheeeep… entoooot… entoooottttt…

Enaaaak sekaliiii… aaaaah… Chepiiiiii… gak nyangka rudal Chepi seenak iniiii… aaaaah… Cheeeepiiii… entot terussss Cheeeep… entooottttt… entoooottttttt… entooooootttttt… tetekku remas agak kuat Cheeeeep… ooooohhhhh… Chepiiii… aku bakal ketagihan sama rudal Chepiii nantiii…

Kelihatannya Chi Sui sangat membutuhkan sentuhan lelaki. Sementara aku sendiri seorang cowok yang menggilai serambi lempit wanita setengah baya. Sehingga kami jadi sepasang manusia yang saling membutuhkan, lalu seolah menjadi sepasang harimau yang sedang naik birahi. Saling gumul, saling terjang dan saling lumat.

Tapi aku berusaha untuk tetap tangguh, karena ingin menikmati sedapnya liang serambi lempit Chi Sui yang stabil dan legit ini.

Chi Sui sudah dua kali orgasme, tapi rudalku masih tabah untuk menggenjot liang serambi lempitnya yang empuk dan licin ini.

Hebatnya, Chi Sui masih mampu menggeol – geolkan bokong gedenya. Bahkan minta bertukar posisi menjadi WOT. Lalu ia seperti penunggang kuda yang sedang beraksi. Bokongnya naik turun, sementara liang serambi lempitnya membesot – besot rudalku yang masih mengacung ke atas ini.

Cukup lama ia beraksi di atas seperti itu. Sampai akhirnya ia serambi lempitik lirih, “Cheeepiiii… aaaaakuuu lepas laaaagiiiii… aaaaaaaaah…”

Lalu dia ambruk di atas perutku, dengan tubuh bermandikan keringat yang sudah bercampur baur dengan keringatku.

Kudiamkan dulu dia terkapar di atas perutku. Dan terdengar suaranya lirih, “Oooh… belum pernah aku merasakan dientot segila ini. Sampai lepas tiga kali, sementara Chepi masih belum ngecrot juga ya?”

“Iya Chi. Aku sengaja bertahan, karena ingin berlama – lama merasakan nikmatnya serambi lempit Chichi. Bagaimana kalau sekarang lanjutkan di posisi doggy?”

Chi Sui menatapku sambil tersenyum. Lalu mengangguk sambil mengangkat bokongnya, sehingga rudalku terlepas dari liang serambi lempitnya.

Sesaat kemudian Chi Sui sudah merengkak dan menungging. Sehingga dengan mudah aku bisa membenamkan rudalku sambil berlutut di depan pantat gede wanita 36 tahunan itu. Blesssssssss…

Sambil berpegangan pada sepasang buah pantat yang aduhai itu, aku pun mulai memenyetubuhinya lagi.

“Sambil kemplangin pantatku Chep… biar lebih enak…” ucap Chi Sui yang sedang menungging sambil memeluk bantal guling.

Aku memang pernah melakukan hal itu dengan… Mama kandungku.

Maka dengan trampil aku bisa melakukannya kepada Chi Sui sekarang. Memenyetubuhinya sambil berlutut, sambil mengemplangi pantat gede kakak sepupu Nike yang usianya sekitar 3 tahun lebih muda daripada Mama itu.

Plaaaaakkkk… plaaaaaakkkk… plaaaaaak… plaaaaaak…

Sedangkan rudalku sangat lancar memenyetubuhi liang serambi lempit Chi Sui yang sudah tiga kali orgasmne ini.

Terdengar suara Chi Sui yang wajahnya tidak kelihatan, “Oooooh… Chepiiii… aaaaah… aaaaahhh… kemplangin terus Cheeep… dudududuuuuuh… ini enak sekali Chepiiiiii… entot terus sambil kemplangin pantatku Cheeeep…”

Aku pun semakin bersemangat untuk memenyetubuhinya segencar mungkin, sambil mengemplangi bokong gede itu.

Cukup lama aku bertahan di posisi doggy ini.

Sampai akhirnya Chi Sui ambruk lagi… sehingga rudalku terlepas dari liang serambi lempitnya.

Lalu ia celentang lagi sambil berucap lirih, “Bener – bener edan… aku sudah empat kali lepas Chep… ooooh… Chepi memang luar biasa perkasanya…”

Padahal aku sudah tiba di detik – detik krusial tadi. Tapi gara – gara rudalku lepas dari liang serambi lempit Chi Sui, detik – detik krusial itu menjauh lagi.

Tapi kini aku ingin mencapai puincak kenikmatanku. Maka dengan tak sabaran, kubenamklan lagi rudalku sambil menghempaskan dadaku ke atas sepasang toket gede Chi Sui.

“Nanti lepasin di mana Chi?” tanyaku. “Di dalam aja. Aman kok,” sahutnya.

Tanpa banyak bicara aku mulai memenyetubuhi Chi Sui lagi dalam posisi missionary ini.

Keringatku pun semakin membanjir, bercampur aduk dengan keringat Chi Sui.

Chi Sui pun mulai menggeol – geolkan pinggulnya lagi. Luar biasa enerjiknya wanita bertubuh tinggi gempal ini. Padahal dia sudah 4 kali orgasme. Tapi dia bisa tetap aktif untuk menggoyangkan bokong gedenya.

Bahkan ia masih sempat berkata terengah, “Nan… nanti kalau mau lepas, kita barengin ya. Biar nikmat…”

“Iii… ikyaa Chi… ini udah deket – deket kok…”

“Oooooh… tahan dikit… biar bareng…” ucap Chi Sui sambil mengubah goyangan pinggulnya jadi menukik – nukik.

Aku tahu apa tujuannya dengan goyangan seperti itu. Agar kelentitnya bergesekan terus dengan rudalku. Dengan cara seperti itu, dia akan cepat meraih orgasmenya lagi.

Maka aku pun membalasnya dengan mempergencar entotanku, sambil menjilati lehernya yang sudah basah oleh keringat, disertai gigitan – gigitan kecil.

Dan akhirnya aku berhasil menciptakan detik – detik yang teramat sangat indah ini.

Bahwa ketika aku menancapkan batang kemaluanku sedalam mungkin, sampai mentok di dasar liang serambi lempit Chi Sui… liang serambi lempit wanita itu pun terasa berkedut – kedut kencang.

Kami saling remas, saling lumat bibibr… sementara rudalku mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.

Crotttt… croooottttt… crottttt… croooottttt… croot.. crottt… crooootttt…!

Aku terkapar di atas perut Chi Sui, sementara ia pun terlemas- lemas sambil mendekap pinggangku.

Lalu ia membuka matanya. Menatapku dengan sorot puasnya birahi seorang wanita. Dan terdengar suaranya lirih, “Ini pengalaman pertama bagiku… sampai lima kali lepas… luar biasa. Aku bisa ketagihan kalau begini sih nanti Chep…”

“Aku juga bakal ketagihan. Nanti setelah kantor dibuka, Nike kan harus bekerja tiap hari. Tapi kalau aku kan bebas. Bisa aja kita mengambil kesempatan seperti sekarang ini,” sahutku sambil mencabut rudalku dari liang serambi lempit Chi Sui.

Chi Sui pun bangkit. “Waaah… kain seprainya harus diganti. Takut Nike lihat bekas kita nanti,” ucapnya.

Kubiarkan saja Chi Sui menarik kain seprai dan menggantinya dengan yang baru. Kemudian ia mengenakan pakaian dalam dan kimononya. Dan menggulung kain seprai yang sudah kecipratan keringat kami dan air maniku itu.

“Aku mau lanjutkan masak ya Chep,” kata Chi Sui sebelum keluar dari kamar.

Aku cuma mengangguk sambil tersenyum. Lalu masuk ke kamar mandi. Dan… mandi lagi sebersih mungkin.

Selesai mandi, kukenakan pakaian casualku. Celana jeans dan baju kaus impor*(yang kualitasnya tidak lebih baik daripada produksi lokal)*.

Kemudian aku keluar dari kamar menuju dapur.

Tampak Chi Sui sedang melanjutkan masak sambil memasukkan handphonenya ke dalam saku daster biru tuanya. Dia sudah tidak mengenakan kimono lagi rupanya.

“Masak apa Chi?” tanyaku setelah berada di belakangnya.

“Bikin ayam kuluyuk, udang goreng tepung dan capcay tuh,” sahutnya.

Kudekap pinggang Chi Sui dari belakang sambil berbisik, “Masakan Chichi kusukai semua. serambi lempit Chichi juga aku suka sekali.”

“Tapi kalau ada Nike, kita harus saling cuek aja ya Chep.” “Iya. Aku ngerti. Permainan kita harus rapi.” “Ohya… memangnya Nike ngijinkan Chepi kawin lagi?” “Iya. Hal itu malah diucapkannya sebelum kami menikah.” “Lalu kapan Chepi mau nikah lagi?”

“Gak tau. Mungkin juga gak jadi. Yang tadinya minta dikawini itu adik ibu tiriku dan adik istri pamanku. Tapi setelah mereka hadir di aca akad nikahku, entah kenapa mereka jadi menolak secara halus.”

“Tapi kira – kira ijin Nike itu masih berlaku nggak?”

“Nike sih pasti setuju aja kalau aku mau kawin lagi. Asalkan dia tetap jadi istri pertamaku. Emangnya kenapa? Chi Sui mau nikah denganku?”

“Iiih… gaklah. Aku kan sudah tua. Aku sih ingin jodohkan Chepi sama anak tunggalku.” “Ohya?! Perasaan aku belum pernah lihat anak Chichi.”

“Nggak kalah cantiklah sama Nike juga. Usianya juga hanya beda bulan – bulanan sama Nike. Kalau gak salah usia anakku tiga bulan lebih muda daripada Nike,” sahut Chi Sui sambil menampilkan foto – foto di layar handphonenya. Lalu memperlihatkan foto anaknya yang tampil di layar hapenya, “Ini anakku.

Kujemput handphone itu dari tangan Chi Sui. Maaaak… memang cantik sekali anak Chi Sui yang bernama Narita itu…!

“Memang cantik di fotonya sih,” ucapku sambil mengembalikan handphone itu pada Chi Sui.

“Dalam kenyataannya lebih cantik lagi. Sebentar juga dia datang ke sini. Biar Chepi bisa menilainya sendiri.”

“Lho… seandainya Narita itu jadi istriku, hubungan kita gimana?” tanyaku sambil mengusap – usap pipi tembem Chi Sui.

“Bisa jalan terus, asalkan rapi seperti Chepi katakan tadi. Justru Nike itu yang harus Chepi pikirin. Mau gak dia menerima Narita sebagai istri kedua?”

“Nike sih dijamin takkan menghalangi. Bahkan mungkin dia lebih suka kalau istri keduaku masih ada hubungan darah dengannya.”

“Narita itu keponakan Nike. Tapi usia mereka hanya beda tiga bulan.” “Sekolahnya gimana?” “Sama juga seperti Nike. Hanya tamat SMA. Lalu sekarang nganggur.” “Cewek secantik Narita tentu sudah punya pacar Chi.”

“Justru dia belum pernah pacaran sama sekali. Apalagi setelah ayahnya tewas dalam kecelakaan itu, dia semakin menjauh kalau ada cowok mendekatinya. Dia takut salah pilih, katanya. Terus dia bilang, kalau ada yang serius berminat padanya sih datang aja ke rumah dan minta sama mama. Gak usah pake pacaran segala.

“Lalu kenapa Chichi ingin menjodohkannya denganku?”

“Pertama, waktu Chepi nikah dengan Nike itu, kan Narita juga datang. Pulangnya dia bilang, kalau sama cowok setampan suami Nike sih, aku mau jadi istrinya. Berarti dia sudah punya rasa simpati sama Chepi,” ucap Chi Sui.

“Alasan yang kedua sehingga mau menjodohkannya denganku apa?” tanyaku.

“Aku mikirin masa depannya Chep. Dan aku yakin, kalau jadi istri Chepi, pasti masa depan Narita terjamin. Aku… aku sangat menyayangi anakku satu – satunya itu.”

“Kalau aku nikah dengan Narita, berarti aku harus manggil Mama dong sama Chichi. Hahahaaaa…”

“Nggak apa. Pokoknya di depan Narita aku akan bersikap seperti mertua kepada menantunya. Tapi di belakang Narita dan Nike… serambi lempitku ini sudah menjadi milikmu juga Chep. Aku takkan ijinkan lelaki lain menyentuhku. Hanya Chepi yang boleh menggauliku.”

“Narita sama sekali belum pernah pacaran? “Iya. Dia sih setiap pulang sekolah di rumah terus. Gak pernah terbawa arus pergaulan yang gak bener.” “Berarti dia masih perawan dong Chi.” “Iya. Soal itu sih kujamin. Bahkan ciuman sama cowok aja belum pernah… !” “Terus… tadi Chichi bilang dia mau datang ke sini sekarang?”

“Iya. Tadi aku suruh dia ke sini. Tapi aku belum ngomong apa – apa sama dia. Pokoknya aku ingin agar Chepi kenalan aja dulu dengan Narita. Nanti sama – sama pertimbangkan mau ke mana arah selanjutnya.”

“Memangnya dia bakal mau dijadikan istri kedua?” “Pasti mau lah. Nanti aku yang akan memberi pengarahan padanya.”

Aku terdiam. Tapi benakku berputar terus. Memikirkan sesuatu yang tak pernah kurencanakan itu.

Dalam perjalanan menuju villa kepunyaan Tante Aini itu, aku menyempatkan diri membeli makanan untuk bekal di villa nanti. Aku pun menyempatkan diri untuk menelepon Nike.

Suaranya sengaja di keluarkan lewat speaker hapeku. Agar Narita ikut mendengarkan, Lalu :

Nike :-Hallo Bang. – Aku :-Sibuk?-

Nike :-Iya. Tapi besok pagi juga semuanya selesai. Jadi lusa benar – benar bisa grand opening. Abang mau ke kantor hari ini? –

Aku :-Nggak. Ini justru udah di luar kota. Mau ke Jakarta. Ada urusan bisnis yang harus diselesaikan. – Nike :-Owh… mau nginep?- Aku :-Iya. Kalau pulang hari gak kuat lah nyetir sendiri gini. – Nike :-Tapi maksimal besok malam harus sudah pulang Bang. – Aku :-Ya iyalah, Kan lusa kita akan grand opening kantor. – Nike :-Hihihi… kirain lupa. – Aku :-Oke deh. Aku lagi nyetir nih. See you Beib. –

Setelah hubungan seluler ditutup, aku memegang tangan Narita yang berada di sampingku, “Beres kan? Udah ada ijin dari sang permaisuri.”

“Kirain tadi mau ngomongin masalah aku,” sahut Narita.

“Pelan – pelan dulu dong. Kalau sekarang kami sedang dalam hari – hari sibuk. Karena lusa kantor baruku akan dibuka.”

“Sekarang kita benar – benar mau ke Jakarta?” “Nggak. Sebentar lagi juga nyampe. Tadi bilang mau ke Jakarta, supaya ada alesan untuk nginep.”

Tak lama kemudian mobilku sudah memasuki pekarangan villa punya Tante Aini yang dipercayakan padaku untuk merawatnya. Bahkan Tante Aini membolehkanku untuk memakainya pada saat – saat tertentu, seperti sekarang ini.

“Waduh… villanya keren banget Bang. Ini villa punya Bang Chepi?” tanya Narita setelah turun dari mobilku.

“Punya tanteku. Tapi kita bebas melakukan apa pun di sini. Mau telanjang bulat seharian juga gakpapa,” sahutku sambil menggandeng pinggang Narita masuk ke dalam villa.

“Hihihiii… masa telanjang seharian,” ucap Narita sambil balas menggandeng pinggangku juga, “Ohya… mau nyobain gaun – gaun baru yang Abang belikan tadi ya.”

“Iya… sekalian ingin lihat kamu telanjang,” sahutku.

“Malu dong telanjang di depan Bang Chepi,” ucap Narita sambil mengeluarkan salah satu gaun baru dari kantong plastik besar yang diletakkannya di atas meja makan villa.

“Kamu kan calon istriku. Tapi aku harus tau tubuhmu mulus gak. Siapa tau banyak bekas kudis atau boroknya.”

“Amit – amit. Tubuhku mulus Bang. Tapi toketku kecil… hihihiii…” “Soal toket sih gak masalah. Yang penting kamu masih perawan. Masih kan?” “Masih Bang. Dijamin soal itu sih. Pacaran aja belum pernah.” “Tapi kamu naksir aku duluan kan?” “Hihihiii… kata siapa? Paling Mama yang ngomong gitu sama Abang ya.”

“Jawab dulu pertanyaanku. Setelah kamu jabatan tangan denganku di acara akad nikahku dengan Nike itu, kamu jatuh hati padaku kan? Jawab secara jujur dong.”

“Iya Bang. Makanya aku bilang sama Mama, kalau punya calon suami seperti Bang Chepi sih, aku mau.”

“Berarti kamu cewek yang jujur. Aku suka itu. Aku paling benci pada cewek yang suka membohong. Ayo bukalah baju dan celana panjangmu. Kan mau nyobain gaun.”

Tanpa banyak bicara lagi Narita melepaskan celana jeans dan baju kaus biru mudanya.

Tadinya kupikir tidak ada pakaian lagi di baliknya, kecuali celana dalam dan behanya. Tapi ternyata tidak. Masih ada pakaian dalam berbentuk rompi dan rok mini berwarna hijau tosca. Aku masih ingat, foto Narita yang diperlihatkan oleh Chichi Sui di hapenya. Narita mengenakan rompi hijau tosca itu di fotonya.

Mungkin pakaian Narita masih terbatas, karena belum bekerja. Sementara ibunya sendiri sekarang mengandalkan Nike dan aku. Cerita ini dipublish oleh situs Ngocoks.com

“Waktu dengan Nike, Abang test dulu keperawanannya sebelum menikah?” tanya Narita ketika tinggal bra dan celana dalam yang masih melekat di tubuh putih mulusnya.

“Iya,” sahutku, “Nanti boleh ditanyakan sama dia setelah urusan kita clear sekarang. Kalau aku bohong, silakan ludahi mukaku nanti.”

“Jadi sekarang Abang mau ambil keperawananku, kemudian kita menentukan hari pernikahan kita, begitu?”

“Iya.”

“Hihihiiii… aku gak pernah pacaran. Sekalinya ketemu sama Abang langsung mau diambil keperawananku.”

“Kalau kamu keberatan, silakan kenakan lagi pakaianmu, kemudian kita pulang ke rumah masing – masing,” ucapku dengan nada agak jutek.

Narita memegang kedua pergelangan tanganku, lalu berkata dengan nada memohon, “Jangan marah dong Bang. Aku sangat serius mencintai Abang. Kalau Abang merajuk atau marah, aku jadi sedih.”

Mendengar itu aku tersenyum. Lalu berkata lembut, “Makanya jangan ada keraguan sedikit pun. Kalau ternyata kamu memang masih perawan, kamu akan mendapat tempat istimewa di dalam hatiku. Oke?”

Kuraih lengan Narita dan membiarkan dia masih mengenakan bra dan celana dalam. Lalu kutarik badannya agar duduk di atas kedua pahaku. “Memang tak usah terburu – buru. Waktu kita kan banyak,” ucapku sambil menengadahkan wajah cantik Narita. Sementara wajahku menunduk di atasnya. Kuamati dengan seksama wajah anak Chi Sui itu.

Kalau aku harus menilainya secara jujur dan objektif, Narita adalah cewek tercantik di antara cewek – cewek yang pernah kukenal. Karena itu aku agak terburu – buru ingin memilikinya. Dan siap untuk mempertanggungjawabkannya kepada Nike kelak.

“Kenapa nama kecilmu Nay?” tanyaku sambil membelai rambut Narita yang agak panjang dan lurus hitam.

Narita menjawab, “Waktu kecil aku suka dipanggil Nar. Tapi aku belum bisa nyebut R. Jadi aku suka membahasakan diri Nay… akhirnya aku dipanggil Nay saja oleh ortu.”

“Orang chinese Singapore Naynay itu panggilan untuk nenek. Kalau Tata panggilan untuk kakek.” “Masa sih?! Makanya Abang jangan manggil Nay dua kali ya. Hihihiii…” “Aku mau manggil Nar aja. Kamu juga udah bisa nyebut R sekarang kan?” “Iya… terserah Abang aja.”

“Sekarang aku ingin melihat sekujur tubuhmu dalam keadaan telanjang bulat. Wajar kalau orang mau memiliki sesuatu harus tau dulu keadaannya seratus persen kan?”

Narita spontan menanggalkan behanya sambil berkata, “Sebenarnya aku malu memperlihatkan toketku. Karena… toketku kecil Bang.”

“Aku justru suka toket kecil gini. Karena dengan satu tangan bisa tergenggam semua. Lagian kalau toket kecil, sampai tua juga takkan kendor dan menggelayut ke bawah,” sahutku sambil memegang toket kecil Narita yang tergenggam oleh satu tanganku.

“Iya… kata orang sih kalau toket gede cepat lembeknya ya Bang.” “Hahahaaaa… itu betul. Pokoknya toket kecil dan toket gede punya kelebihan masing – masing.”

“Toket Mama tuh gede,” ucap Narita membuat batinku tersentak. Karena terbayang lagi apa yang sudah terjadi di antara mamanya Narita denganku.

“Masa sih?!” cetusku pura – pura belum tahu keadaan sekujur tubuh Chi Sui.

“Betul. Toket Mama sih gede. Tapi gak nurun sama aku. Mungkin karena aku banyak menuruni gen almarhum Papa juga.”

“Iya. Seorang anak kan hasil campuran chromosome ayah dan ibu, lalu dibagi dua.” “Bukankah itu untuk menentukan IQ seorang anak Bang?” tanya Narita. “Heheheee… kamu ternyata cerdas juga ya.”

“Aku di sekolah ranking satu terus Bang. Hanya saja gak punya biaya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Makanya cuma punya ijazah SMA.”

“Nike juga cuma punya ijazah SMA. Gampang kalau mau kuliah sih, nanti setelkah punya anak juga bisa aja kuliah. Aku sendiri sekarang sedang cuti kuliah setahun.”

“Kalau Abang kan karena sibuk bisnis.”

“Kok tau sih kalau aku sibuk bisnis?!” ucapku sambil mendekatkan bibirku ke bibir sensual Narita. Lalu mencium bibirnya dengan mesra.

Cerita Sex Karyawan Indomaret (Pingsan)

Narita seperti kaget. Tapi lalu membiarkanku melumat bibirnya. “Ini untuk pertama kalinya aku merasakan dicium oleh cowok Bang…” ucap Narita sambil tersipu – sipu.

Tanpa banyak bicara lagi kubopong tubuh langsing Narita ke atas bed. Di situlah aku menarik celana dalamnya sampai terlepas dari sepasang kaki putih mulusnya. Dan tubuh cewek jelita itu sudah telanjang bulat di depan mataku kini.

Sikap Narita tampak sudah pasrah sekali. Sementara aku pun melepaskan segala yang melekat di tubuhku. Hanya celana dalam yang masih kubiarkan melekat di tubuhku. Batinku memang sudah bulat. Untuk membuktikan keperawanan Narita.