Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Ibu Motivator: Memberi Pelajaran Sensual Pada Anak yang Doyan Mengintip

Ibu Motivator: Memberi Pelajaran Sensual Pada Anak yang Doyan Mengintip

Cerita Sex Motivator Untuk Anak – Selamat malam sobat Ngocokers tercinta. Vania, sebuah nama yang dipilih oleh orang tuanya dulu. Kini, ia menamani anaknya Ifan, selain karena bunyinya hampir mirip, juga karena Vania berharap anaknya tidak akan kekurangan Ifan selama hidupnya. Namun ternyata, nasib berbicara lain. Kini, setelah beranjak gede, Ifan ternyata sangat santai dalam menghadapi hidup ini.

Telah beberapa kali Vania memergoki anaknya yang sedang mengintip saat ia mandi. Bahkan terkadang, Ifan mengintip roknya saat akan dan atau beranjak dari duduk. Sikap anaknya memang tak menyenangkan, namun kali ini Vania lebih mementingkan jalan hidup anaknya. Apalagi kalau melihat rapotnya, jarang ada nilai lebih dari delapan puluh.

Seharian Vania mencoba berpikir apa yang mesti dilakukan untuk mengubah nilai dan pandangan hidup anaknya. Bagaimana caranya untuk memotivasi anaknya yang kurang termotivasi? Ingin rasanya Vania mengundang motivator terkenal, namun apa daya tiada rupiah.

Cerita Sex Motivator Untuk Anak Ngocoks Malam hari, Vania makan seperti biasa bersama anaknya. Selesai makan, saat Ifan akan kembali ke kamarnya, Vania menghentikan. Duduk dulu sini, ada yang mau mama bicarain. Lah, Ifan udah tau mama mau bicarain apa. Pasti itu lagi-itu lagi.

Iya, mama ngerti. Tapi mama inginnya meski kamu tak niat kuliah, nilaimu harus bagus semua. Apalagi mama ingin sehabis sekolah kamu tuh kuliah.

Tapi mah, Ifan udah seneng kok hidup kayak gini. Apa lagi yang kurang?

Pasti ada yang kurang. Masa kamu puas hanya dengan seperti ini sih?

Kagak ada yang kurang mah. Kecuali

Kecuali apa?

Kecuali cewek telanjang. Hehehe

Hehe Dasar kamu itu. Pantesan kamu doyan bener intipin mama mandi.

Ifan yang lagi tersenyum mendadak diam. Terkejut.

Kamu kira mama gak menyadari kelakuanmu apa?

Iya mah, maaf. Abis Ifan penasaran sih.

Iya mama ngerti. Seusia kamu memang penasaran sama segala hal. Malahan bagus kok, daripada mati penasaran.

Makasih mah.

Tapi mama ingin agar kamu tingkatin nilai kamu. Terus kuliah. Biar nanti bisa lebih daripada mama. Lebih sukses dan lebih kaya.

Gak perlu mah. Gini juga udah bahagia kok.

Meski tanpa gadis telanjang, kata Vania sambil nyengir. Ya udah, kalau kamu mau ke kamar. Mama mau beresin dulu.

Iya mah.

Vania pun membersihkan sisa makanan dan mencuci piring. Telah delapan tahun Vania sendirian mengurus anaknya. Delapan tahun lalu David, ayahnya Ifan, meninggal. Selama ini Vania berjuang mencari nafkah juga membesarkan. Tatapan mata anaknya saat mengintip membuat Vania kembali merasa ingin menjadi wanita seutuhnya, yang diinginkan oleh pria, dijamah oleh laki-laki, dicumbui lelaki.

Mama boleh masuk nak? tanya Vania setelah mengetuk pintu kamar anaknya.

Namun, tanpa menunggu jawaban, Vania langsung masuk dan mendapati anaknya sedang duduk di depan monitor. Vania lalu duduk di ranjang anaknya.

Ada apa mah?

Nak, mama rasa keputusanmu untuk kerja sehabis sekolah bakal kamu sesali nanti, kata Vania sambil mengusap kepala anaknya.

Kalau begitu adanya, biarlah nanti Ifan sesali apa yang Ifan putuskan hari ini.

Mama ingin kamu kuliah. Namun meski begitu, mama takkan menghukum kamu dengan menjual komputermu dan atau melarangmu melakukan ini-itu.

Jadi, daripada melarangmu, mama putuskan untuk memberimu hadiah jika dan hanya jika nilai rata-rata EBTANASmu lebih dari pada delapan puluh dan kamu lanjut kuliah.

Tapi mah, Ifan kan udah bilang Ifan gak perlu apa-apa lagi.

Vania menghelan nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.

JIka nanti pada saat EBTANAS nilaimu lebih dari delapan puluh dan kamu putuskan akan kuliah, mama akan hadiahi kamu wanita telanjang.

Apa?

Jika nilaimu bagus, mama tak akan lagi memakai pakaian di rumah hanya jika sedang berdua denganmu, alias tak ada tamu.

Hehehe Mama emang pinter bercanda, tawa Ifan.

Wajah Vania yang terkesan dingin membuat Ifan menghentikan tawanya.

Jika tubuh usia empat puluh empat tahun masih menarik bagimu, maka peganglah janji mama ini. Tapi jika nilai rata-ratamu kurang dari delapan puluh, maka saat itu juga perjanjian ini mama batalkan. Setuju?

Mama gila, kata Ifan namun tangannya menyalami tangan mamanya tanda setuju.

Detik-detik berganti dengan menit. Menit pun silih berganti. Hari-hari pun terus berganti. Ifan kini mulai rajin belajar. Suatu hari tiba-tiba ada surat community college setempat yang mengabari bahwa Ifan diterima untuk meneruskan pendidikan di CC tersebut.

Kok di CC sih, kenapa gak di universitas negri aja?

Biar hemat duit dong mah. Kan di perjanjiannya juga yang penting kuliah, gak mesti di sini atau di situ.

Wow, Ifan yang dulu kemana yah?

Mereka pun tertawa, namun Ifan langsung belajar lagi. Vania semakin tegang menyadari nilai harian anaknya yang makin meningkat. Kadang Vania merasa malu sendiri mengingat janji kecilnya. Tapi di sisi lain Vania senang akan perubahan positif anaknya. Tentu bukan berarti Vania akan bersenggama dengan anaknya.

Malamnya acara makan terasa sunyi, sesunyi nyanyian senyap. Di meja terletak dokumen. Dokumen yang tak hentinya dilirik oleh Vania. Vania berdiri dan akan melangkah saat anaknya menghentikannya.

Mah, Ifan tahu mama akan melaksanakan perjanjiannya, tapi Ifan rasa tak perlu mah. Lagian mama lakuin itu untuk memotivasi Ifan. Bagi Ifan itu saja sudah cukup kok. Menjanjikan sesuatu yang akan memotivasi Ifan memang menakjubkan. Tapi Ifan kini sudah di jalur yang benar.

Setelah itu Ifan membersihkan meja makan lalu beranjak ke kamarnya meninggalkan Vania yang tersenyum sendiri sambil geleng-geleng. Perasaan tak nyaman di perut kembali datang. Ngocoks.com

Sabtu itu Ifan bangun agak siang. Setelah mandi, Ifan pun ke dapur ingin makan. Ifan tahu setiap sabtu mama selalu belanja. Namun Ifan melihat daster mama tergantung di pegangan pintu. Sambil melankah Ifan menghanduki rambutnya. Namun saat di dapur Ifan menjatuhkan handuknya.

Vania menoleh dan tersenyum saat melihat Ifan, baru bangun nak? Mau goreng telor apa roti bakar?

Ifan melongo melihat mamanya menawakan sarapan tanpa memakai pakaian. Matanya menjelajahi tubuh mama mulai dari payudaranya sampai jembut halus di selangkangan. Bahkan meski telah berkali-kali ngintip, namun tak sejelas sekarang.

Merasa ditelanjangi mata anaknya membuat Vania tertawa lalu kembali masak.

Inilah tubuh empat puluh empat tahun yang mama janjikan, kata Vania sambil menggoyangkan pantatnya.

Mama ngapain sih?

Bikin sarapan, mau telur apa roti?

Telur ajalah. Kenapa mama gak dibaju?

Menurutmu kenapa? Mama bukan orang yang suka ingkar. Mama bangga sama kamu. Vania melirik mendapati anaknya sedang menatap susu kirinya. Duduk aja nunggu goreng telor nikmati pemandangan. Kamu berhak mendapatkannya. Lalu Vania melanjutkan memasak.

Ifan hanya mampu menuruti, duduk sambil menatapi tubuh mamanya. Puting mamanya terlihat seperti menunjuk tegak. Bukan karena udara, namun karena sensasi yang dirasakannya.

Mama seksi sekali.

Makasih nak.

Vania pun selesai memasak dan menaruh makanan di meja makan. Vania ikut duduk.

Baiklah, biar ini bisa berjalan lancar, kita perlu membuat aturan. Setiap pulang, mama akan ke kamar mama lalu langsung melepas pakaian. Kalau ada tamu, kamu mesti membuka pintu sementara mama berpakaian.

Pasti seru liat mama lari – lari di rumah.

Pasti itu. Serius, kini kamu bisa menatap sampai bosan, seperti yang mama janjikan. Tapi tidak boleh menyentuh, apalagi menceritakan pada siapa pun. Jika nilaimu jatuh, drop out dan atau menyentuh, mama kembali berpakaian. Paham?

Paham. Tapi mama gak berharap ikut-ikutan telanjang juga kan?

Tentu saja tidak. Aneh kau ini. Udah, nikmati saja keberuntunganmu.

Sarapan pagi itu berlangsung dalam diam. Setelah makan, Ifan membereskan meja sambil melihat susu dan selangkangan mama.

Perut Vania kembali mengeluarkan sensasi saat tubuhnya ditatap oleh anaknya.

Ifan mencoba bertahan dari keinginan untuk menyentuh susu mama. Aturan main yang ditetapkan mamanya membuatnya patuh.

Kayaknya mama adalah mama paling keren deh.

Vania menatap mata anaknya, makasih, tapi mama yakin kamu pasti bilang gitu ke setiap wanita, apalagi yang telanjang di hadapanmu.

Tentu saja Ifan tak mungkin memanggil wanita lain mama sambil berharap melihatnya telanjang.

Vania tertawa lalu reflek memeluk anaknya. Ifan tentu menikmati sentuhan tubuh telanjang mamanya.

Selama kamu mematuhi aturan mainnya mama akan telanjang di hadapanmu. Sekarang, kamu mau mama ngapain?

Ifan melirik saat akan melangkah, gak tau mah, mungkin kita main wii bareng. Vania kembali tertawa mendengar ajakan main gim dari anaknya.

Vania memencet klakson saat melihat anaknya.

“Hei, tumben kamu agak telat.”

Ifan melemparkan tas ke jok belakang lalu duduk di samping mamanya.

“Hari ini mau ngapain nak?”

“Paling ngerjain pr mah di rumah temen.”

“Ntar mama sendirian dong.”

Mobil pun memasuki garasi lalu mereka pun masuk ke rumah.

“Mama lepas pakaian dulu, abis itu masak.”

“Tunggu mah. Mama tau kan Ifan terangsang berat?”

Vania tertawa, “gimana tidak, matamu jelajatan terus kan.”

“Mama telanjang di rumah kan hadiah bagi Ifan.”

“Ya.”

Vania kembali merasakan rasa mulas di perutnya mendengar pembicaraan anaknya.

“Boleh gak Ifan lihat mama membuka pakaian?” kata Ifan sambil menunduk.

Ternyata itu yang dikatakan anaknya. Vania pun merasa lega.

“Kamu mau mama melepas pakaian sambil menggodamu, kayak di film – film barat?”

“Bukan mah. Buka aja biasa, hanya sambil Ifan lihat.”

“Menarik. Memang tak melanggar perjanjian sih. Baiklah. Ayo ikut mama.”

Vania lalu memegang tangan anaknya dan membimbingnya ke kamarnya.

“Kamu duduk aja di kasur, mama ke kamar mandi dulu.”

Ifan duduk sambil melihat foto – foto di kamar. Ada foto dirinya sedari kecil, foto papa dan lainnya. Beberapa saat kemudian Vania keluar dari kamar mandi sambil memegang rambutnya.

“Baiklah, mama akan mulai pertunjukannya untuk anak mama seorang.”

“Kenapa mama gak cari pacar lagi setelah papa berpulang?” kata Ifan sambil melihat foto keluarga yang ada di meja rias.

“Mama ingin kerja dulu sambil besarin kamu. Jadinya mama gak punya waktu luang deh,” kata Vania sambil duduk di sebelah anaknya.

“Apa mama nanti akan nikah lagi?”

“Entahlah nak. Mama masih muda, mama akui, telanjang di hadapanmu membangkitkan sesuatu dalam diri mama yang telah lama terkubur, entah apa lagi nanti yang akan bangkit lagi. Menurutmu gimana, apa kamu kecewa selama delapan tahun ini hidup berdua hanya dengan mama?”

“Mama udah jadi mama terbaik menurut Ifan. Kemarin Ifan memang sempet gak fokus, tapi kini Ifan fokus lagi mah.”

“By the way bus way, mama kok langgar perjanjian sih? Mama buka dulu ah pakaiannya. Mama lapar nih.”

Tanpa bangkit, Vania membuka kancing blus lalu melepasnya. Vania menatap payudaranya yang terbungkus bh merah muda, lalu menatap anaknya melepas kaitan bh.

“Kamu pernah ngintip mama pas lagi hanya pake cd gak?”

“Pernah, tapi liat dari belakang doang,” kata Ifan sambil tersipu malu.

“Kayaknya mama udah gak punya privasi lagi sedari dulu ya,” kata Vania sambil meninju tangan anaknya, dengan pelan tentu, lalu melepas bh nya. “Capek gak berusaha lihat ini?” kata Vania sambil memegang payudaranya.

“Apaan, Ifan belum ngintip lagi kok,” kata Ifan sambil menatap payudara mamanya.

“Dasar nakal.”

“Mah, Ifan boleh nanya sesuatu gak?”

“Tentu saja sayang.”

“Setahu Ifan, puting kan warnanya coklat, kok yang mama enggak sih?” kata Ifan sambil menunjuk puting kiri mamanya.

“Hahaha… papamu dulu juga nanya gitu. Tapi mama suka kok, puting mama jadinya spesial, beda dari yang lain.”

Tanpa disadari jemari Vania mengelus putingnya sambil sesekali menariknya. Karena mata Vania menatap payudaranya sendiri, Vania tak menyadari gundukan di celana anaknya yang tiba – tiba muncul dan mata anaknya yang terus menatap jemarinya.

Vania lalu tersadar, “Kapan makannya kita?”

Vania lalu melepas rok lalu cdnya sendiri. Setelah telanjang, Vania kembali duduk sambil menekan kedua tangannya di belakan tubuh ke kasur.

“Mama lapar nih!”

Mata Ifan terpaku ke jembut mamanya.

“Apa mama pernah mencukurnya sampai gundul?”

Vania lalu menatap jembutnya, “Tidak pernah. Selalu begini saja. Emang udah berapa kali liat wanita yang jembutnya gundul?”

“Wanita telanjang yang Ifan liat cuma mama aja.”

“Serius? Kamu belum pernah ngapa – ngapain?”

“Tentu saja mah.”

“Terus kamu pernah ngapain aja?”

“Kok jadi Ifan yang ditanyain sih. Siapa yang telanjangnya sih?”

“Mama jadi penasaran sih.”

“Hanya pernah ngeraba susu sama ciuman mah. Terus kalau mamah, kapan mama mulai nakal.”

“Mulai nakal? Sebelum sama papamu, mama dua kali pacaran.”

Vania lalu berbaring menjadikan tangannya sebagai bantal. Satu kakinya di tekuk dan kaki lainnya ditumpu ke kaki itu. Tanpa disadarinya Vania perlahan merangsang anaknya.

“Ifan boleh tanya yang lain lagi gak?”

“Tanya aja. Udah terlanjur gini kok.”

“Katanya ada bagian tubuh yang kalau disentuh bisa membuat orgasme sambil menjerit. Benar gak tuh?”

Pertanyaan anaknya membuat Vania memikirkan serambi lempitnya dan secara reflek melebarkan paha membuat anaknya dapat melihat serambi lempitnya dengan jelas. Suara anaknya menelan ludah menyadarkan Vania.

“Mama gak tau kalau soal menjerit. Tapi yang pasti memang ada beberapa titik yang sangat sensitif. Ingat aturan main kita, boleh lihat sepuasnya tapi tidak boleh sentuh.”

“Tenang mah, Ifan takkan melanggar aturannya.”

Vania lalu menyentuh selangkangannya. Vania melebarkan paha dan menyelipkan jemari ke serambi lempitnya.

“Mama tunjukan ini karena kamu nurut sama mama.”

Vania lalu melebarkan serambi lempit dengan jemarinya lalu jari tengah menyentuh daging kecil. Nafasnya memberat saat jari itu menekan. Ifan mendekatkan kepala ke selangkangan yang terpampang di depannya.

“Ini yang disebut klitoris. Sangat sensitif. Nah, di dalamnya terdapa g-spot yang apabila tersentuh bisa membuat wanita orgasme. Tapi jangan berharap jeritan karena jarang yang sampai menjerit.”

Nafas Vania kembali memberat menyadari apa yang dilakukannya di hadapan anaknya sendiri. Tubuhnya sedikit kejang. Vania menggigit bibir mencoba menangan erangan. Vania juga menegangkan otot pahanya. Setelah tak lagi kejang, Vania melepas jemari dari selangkangannya.

“Udah ah pelajaran biologinya. Makan yuk.”

“Makasih mah. Mama bener – bener baik deh.”

Ifan membungkuk lalu mencium bibir mamanya sekilas. Tak sengaja dada Ifan menekan payudara mamanya. Sentuhan ini adalah sentuhan pertama sejak diberlakukannya aturan, namun Vania membiarkannya. Ifan lalu bangkit berbalik dan keluar kamar. Ifan merasa seperti anak yang paling beruntung.

Vania masih berbaring. Linglung. Perutnya kembali seperti mules. Vania masih terkesima. Lalu Vania teringat sebuah dildo hadiah dari suaminya yang di simpan di laci. Vania lalu bangkit ingin segera makan agar anaknya cepat keluar. Ifan ingin orgasme lagi seperti tahun – tahun dulu, lepas tanpa ditahan – tahan.

Bersambung… Vania masih tak percaya dia orgasme di depan mata anaknya sendiri. Lupakan tujuh tahun tak terjamah, tahun ini mesti beda. Vania senang anaknya akan keluar main. Tak mengejutkan, semenjak Vania tak lagi berpakaian, anaknya selalu di dekatnya. Kini Vania lega anaknya akan keluar hingga bisa membuat Vania menghabiskan waktu sendiri.

Saat sedang mencuci piring, Vania mendengar suara pintu ditutup. Vania tak tahu kapan anaknya pulang maka dari itu Vania memutuskan untuk mengefektifkan waktu. Langsung Vania menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas ke kamarnya.

Setelah menutup pintu kamar Vania mengambil dildo di laci. Dulu Vania beberapa kali memakainya saat bersama suaminya. Namun semenjak kematian suaminya, gairah seksualnya seolah ikut mati.

Vania merebahkan diri sambil memegang vibrator. Jempolnya pun menekan tombol saklar, namun tiada yang terjadi. Pasti batrenya mati, pikir Vania. Untungnya Vania selalu beli batre buat anaknya.

Vania mencoba membuka penutup batre sambil berjalan ke kamar anaknya. Vania pun memutar gagang pintu hingga pintu kamar anaknya terbuka.

Vania pun melangkah masuk mendapati anaknya sedang berbaring, celana ada di lututnya dan tangan ada di rudalnya yang tegang.

Vania meminta maaf, berbalik lalu keluar dan menutup pintu kamar anaknya. Vania kembali ke kamarnya sendiri dengan jantung yang berdetak lebih kencang, seperti genderang mau perang. Vania tak bisa menyingkirkan rudal anaknya dari pikirannya.

Kira – kira seperempat jam kemudian setelah hatinya tenang, Vania kembali kembali mengetuk kamar anaknya. Setelah suara anaknya berkata masuk, Vania pun masuk. Vania melihat anaknya sedang duduk di depan monitor. Vania pun duduk di kasur bersebelahan dengan kursi yang diduduki anaknya.

“Maafkan mama nak. Mama kira kamu keluar main.”

“Gak jadi mah. Tadi temen bilang ada urusan.”

“Mama gak tahu sih.”

“Iya. Lagian mama ada perlu apa sih?”

“Mama butuh batre.”

“Mama lagi megang apaan tadi?”

Vania merasa malu, “mainan dewasa yang kehabisan batre.”

Akhrinya Ifan berbalik. Meski masih merasa malu namun Ifan tersenyum jua.

“Mama bercanda ah.”

“Gak juga. Mama buru – buru, karena, ingin cepet selesai, sebelum kamu pulang,” Vania bisa merasakan wajahnya memerah.

“Jadi mama mau ngelakuin, ehm, yang mama liat Ifan lakuin?”

“Kira – kira.”

Ibu dan anak itu pun saling tatap, lalu keduanya tertawa.

“Maafin mama ya nak,” kata Vania sambil menyeka matanya.

“Iya mah, lagian mama gak salah kok.”

“Mama boleh nanya gak?”

“Ya.”

“Apa kamu sering ngelakuin itu?”

Vania merasa malu melihat anaknya yang terlihat malu.

“Sekarang sih jadi sering setelah mama telanjang terus.”

“Serius dong. Mama tau mama gak jelek – jelek amat tapi, mama kan udah tua. Terus mama juga ibumu.”

“Ifan serius kok mah, mama masih cantik.”

“Gombal. Tiap lelaki pasti ngomongnya gitu. Tapi mama seneng masih bisa meng’inspirasi’ anak muda kayak kamu.”

Gambaran Ifan memegang kemaluannya muncul lagi di kepala Vania.

Vania pun bangkit, “sekali lagi maafin mama yah.” Setelah itu Vania berbalik menuju pintu.

“Tunggu mah!”

Vania kembali berbalik melihat anaknya membuka laci meja.

“Mama butuh batre apa?”

“Dua batre remot.”

Ifan pun menyerahkan batre ke mamanya.

“Mama jangan marah ya, tapi apa boleh kapan – kapan Ifan nonton mama?”

Vania menatap anaknya sambil memainkan batre di tangannya. Vania mulai sedikit khawatir akan hal ini.

“Gak tahu. Mama mesti pikirkan dulu, tapi tenang saja mama gak marah kok. Asal kamu jujur dan terbuka sama mama.”

Vania menghampiri anaknya lalu mencium pipi anaknya. Setelah itu Vania keluar kamar namun saat akan menutup pintu anaknya bilang agar biarkan saja terbuka.

Vania melangkah ke kamarnya lalu masuk dan membiarkan pintu terbuka. Vania pun duduk di kasur lalu memasang batre dildo.

Kini, rasanya masturbasi membuat Vania gugup. Padahal ini bukanlah kali yang pertama. Vania juga merasa bangga bisa menahan diri untuk tidak masturbasi hingga sekarang padahal cukup lama dia telanjang di depan lelaki. Mungkin jika dia dan anaknya menahan diri untuk tak masturbasi keadaan akan baik – baik saja.

Namun, tanpa mereka sadari, kejadian ini merupakan awal dari kaburnya batas – batasan yang telah disepakati. Entah sampai kapan hingga salah satunya mulai tak bisa menahan diri.

Sejauh ini tak ada kejadian yang menkhawatirkan. Bahkan kebiasaan buruk Ifan mulai menghilang, Ifan mulai belajar bertanggung – jawab.

Vania mulai menyalakan vibrator dan melihatnya sebentar. Setelah itu Vania mematikan vibrator dan meletakkan di pangkuannya. Vania tiba – tiba teringat permintaan anaknya.

“Ifan, sini nak!” suara Vania agak keras.

Ifan memasuki kamar mamanya, “ada apa mah?”

“Gini aja. Tadi mama gak sengaja liat kamu, biar adil mama izinin sekarang kamu liat mama.” Vania mengangkat vibratornya lalu menunjukkannya ke anaknya, “tapi ingat, jangan sentuh apa – apa.”

“Kok mama punya yang gituan sih?”

“Oh, dulu saat mama lagi liat film sama papamu, ada adegan satu wanita main dengan dua pria. Mama iseng bilang ingin nyobain kayak gitu, eh esoknya papamu kasih mama hadian ini.”

“Kayaknya mama dan papa harmonis bener yah?”

“Udahlah nak, jangan bicarain papamu lagi. Sekarang mending kamu duduk aja.”

Ifan pun duduk di sisi kasur sedang mamanya berbaring di tengah.

“Papamu beberapa kali nonton mama gini kayak kamu, dulu.”

Vania menatap anaknya yang sedang membasahi bibir dengan lidahnya. Vania menarik nafas dalam – dalam, santai lalu melebarkan kakinya. Vania mendekatkan dildo ke mulutnya. Anaknya mengamati dengan seksama.

“Jangan pernah gunain ini jika masih kering, harus dibasahi dulu.”

Ifan mengangguk saat melihat mamanya menempatkan dildo di mulutnya. Ifan merasakan kedutan di celananya.

Vania mulai mengulum dildo di mulutnya dengan pelan. Setelah dirasa agak basah, Vania melepas dan mulai menyalakan vibrator. Ifan dapat mendengar dengungannya. Vania mulai menyentuhkan vibrator melingkari payudaranya hingga puting. Sedangkan tangan satunya lagi mengelus selangkangannya sendiri.

Erangan Vania mulai terdengar disertai turunnya vibrator dari payudara ke perut, lalu ke sekitar jembutnya. Sementara tangan yang satunya sibuk keluar masuk di selangkangannya. Vania lalu mencabut jemarinya yang kini basah dan menghisap dengan mulutnya.

Vania menoleh melihat anaknya yang menatap dildo. Vania tetap melihat anaknya saat tangannya yang satu mulai memainkan payudaranya. Kini Vania berusaha memasukan dildo ke serambi lempitnya yang makin basah. Nafasnya mulai terengah – engah.

Vania mengangkat dadanya dan melepaskan tangan dari payudaranya. Kini tangan yang bebas mulai menyentuh pinggulnya dari belakang. Kini jempol Vania menekan anusnya sendiri. Rupanya jempol itu berusaha memasuki anus. Erangan Vania makin terdengar keras.

Vania berusaha menekan dildonya sedalam mungkin seiring dengan usaha jempol di anusnya.

“Oh, nak…!”

Vania pun mengejang membuat kasurnya gemetas untuk sesaat. Perlahan, Vania kembali bergerak lalu mengeluarkan dildo dan jempol dari selangkangannya. Vania pun berbaring sambil terengah – engah. Anaknya melihat tubuhnya yang penuh peluh.

Vania menyeka dahi dengan tangannya. Rambutnya penuh keringat hingga lengket. Sementara dildo lepas dari tangnnya meski masih bergetar.

“Oh tuhan,” Vania tersenyum sambil menatap anaknya. “Bagaimana?”

“Luar biasa mah!”

“Itu yang kamu inginkan kan?”

“Ya, tapi kayaknya mama ingin pantat mama juga dijamah yah?”

Vania memerah memikirkan apa yang baru saja anaknya saksikan.

“Harus dilakukan dengan benar nak, karena sangat sensitif. Papamu kadang melakukannya, tapi dia bisa berhati – hati.”

Vania lalu berbaring menghadap anaknya.

“Udah impas kan?”

“Iya. Tapi tetep Ifan ingin mama ketuk dulu kalau mau masuk kamar.”

Ifan mulai tak nyaman dengan rasa sesak di celananya. Ifan lalu bangkit.

“Kalau kamu mau, mama bisa sangat menginspirasi. Tinggal ngomong saja sama mama.”

Vania tersenyum mendengar erangan anaknya sambil menutup pintu kamarnya. Vania lalu melangkah ke kamar mandi sambil melihat vibrator basah menggeliat di kasurnya. Vania berpikir dia harus mulai menyetok batre di kamarnya sendiri. Tapi mungkin lebih baik mengambilnya dari kamar anaknya saja.

“Apa kabarnya anak mama yang selalu terangsang ini?”

Vania muncul lalu menempelkan tubuh ke punggung anaknya karena mau mengambil makanan di lemari. Putingnya serasa menggelitiki punggung.

“Ya makin terangsang karena mama nih.”

Vania menatap payudaranya yang menekan punggung anaknya.

“Maaf, abisnya mau ambil makanan sih.”

Vania mundur membuat tubuhnya tak lagi menempel. Ifan berbalik dan matanya menatap puting mamanya yang keras.

“Masih pagi gini kok udah keras sih mah?”

“Abis pake handuk sih, jadi gini nih,” kata Vania sambil mengelus puting dengan telapak tangannya.

“Ceria bener pagi ini mah.”

“Iya dong. Kan biar semangat.”

“Mau ngapain aja mah hari ini?”

“Gak tau. Kamu maunya mama ngapain aja?” tanya Vania sambil menggoyangkan bahunya. Otomatis payudaranya pun ikut bergoyang.

“Gimana bisa mikir kalau perut kosong mah.”

“Ya udah. Mama bikin panekuk aja ah. Biar bikinnya sambil goyang.”

Ifan duduk lalu tertawa, “goyang sambil bugil.”

Vania lalu membungkuk untuk mengambil wajan dari bawah lemari sambil menggoyangkan pantatnya, “goyang wajan nih.”

Bebepara saat kemudian setelah panekuk matang, keduanya pun sarapan.

“Apa anak perkasa ini mau menolong mamanya yang udah tua dan telanjang?”

“Siap. Mama kan tau caranya memotivasi tanpa busana.”

Ifan tersenyum melihat mamanya tertawa.

“Apa mama juga suka telanjang di depan papa?”

“Gak juga. Tapi sehabis ngelakuin sesuatu, kayak ngebikin kamu, kadang mama telanjang sampai sore atau malam.”

“Mama dan papa aneh juga ya?”

“Mama saling mencintai. Jadi mama dan papa hanya bersenang – senang saja. Lagian meski tua, namun tak mesti berpikiran kolot.”

“Jadi menurut mama, anal seks, masturbasi dan bicarain trisom, normal gitu?”

Vania menunjuk ke anaknya, “Hei, trisom hanyalah fantasi. Lagian bukan salah mama kalau papamu suka pantat. Urusan ranjang mama juga gak perlu jadi urusanmu. Wew,” Vania lalu menjulurkan lidah ke anaknya.

Ifan mengangkat alis mendengar pengakuan baru mamanya.

“Ifan tahu cara ngabisin waktu hari ini mah.”

“Oh ya, ngapain tuh.”

“Tapi, mama jangan marah ya…”

Vania memotong ucapan anaknya, “akhir – akhir ini kamu doyan bener bener bilang gitu?”

“Abisnya, mama telanjang sih. Bukan salah Ifan kalau terangsang.”

“Iya. Jadi apa yang mau kamu katakan?”

“Yah. Pokoknya gak kan melewati batas kok.”

“Baik. Kalau gak ngelanggar aturan sih mama gak keberatan kok.

“Janji ya mama takkan marah. Meski Ifan selalu terangsang, tapi Ifan selalu nurut. Hanya saja kini Ifan makin penasaran.”

“Terus.”

“Ifan,” mata Ifan kini menatap meja, “ingin lihat seperti apa sih anal seks itu.”

“Apa? Kamu ingin mama bawa pulang pria lalu memberi pantat mama cuma – cuma demi memenuhi rasa ingin tahu kamu?”

“Bukan begitu mah. Tapi pake mainan mama.”

“Pake itu? Sambil ditonton kamu? Kenapa gak cari tahu di internet saja?”

“Internet? Itu sih palsu mah.”

“Mama tak percaya kamu ingin nonton mama pake dildo di pantat mama sendiri.”

“Juga sambil Ifan fotoin yah mah.”

Vania terkejut mendengarnya.

“Mama kan udah pernah sama papa. Lagian Ifan gak bakal pegang – pegang kok, jadi jangan marahi Ifan dong.”

Vania menggeleng, “Mama kayaknya ngelahirin maniak. Biar mama pikirkan dulu. Memang itu tak melanggar aturan kita, namun kayaknya terlalu jauh melangkah. Kalau mama menolak apa kamu jadi gak mau bantuin mama?”

Ifan memutuskan saatnya untuk pergi dari dapur. “Tentu tidak mah. Meski mama menolak Ifan tetap akan membantu kok. Panggil saja kalau ada yang harus dikerjain mah. Cuma tadinya Ifan takut mama marah.”

Ifan pun bangkit lalu menuju ke kamarnya untuk main komputer.

Di dapur, Vania beres – beres. Lagi, perutnya kembali dilanda mules. Setelah beres, Vania ke kamarnya lalu duduk di kasur sambil berpikir. Memainkan dildo ke pantat tak bisa disebut normal jika dilakukan di depan anak sendiri. Apalagi sambil di foto. Vania tak terlalu mengkhawatirkan hasil fotonya.

Vania tak ingin membuat anaknya marah. Jadi sepertinya tak berbahaya asal masih dalam aturan. Apalagi dia telah masturbasi dua kali. Bahkan menyentuhkan jemari di anus. Tak heran anaknya jadi penasaran soal anal seks. Vania kembali teringat saat mengambil wajan sambil menggoyangkan pantat. Vania berpikir mungkin anaknya seperti suaminya.

Vania teringat per – anal – an dengan suaminya. Vania juga ingat betapa nikmatnya orgasme yang dirasakan saat masturbasi sambil ditonton anaknya. Vania jadi merasa bersalah menyebut anaknya saat orgasme, bukan menyebut suaminya.

Tak pernah terpikirkan oleh Vania untuk menggantikan suaminya dengan anaknya. Namun, Vania akui ketegangan seksual di rumahnya makin meningkat setelah Vania memutuskan telanjang. Vania kembali memikirkan saat – saat bahagia dengan suaminya. Begitu indah, liar dan nikmat. Kini, semuanya telah hilang.

Suaminya kurang suka diajak belanja. Jadi, untuk memotivasi suaminya, Vania membuat sebuah permainan kecil. Jika sedang belanja, suaminya menantang dia untuk melakukan lima hal, jika ada satu yang tak dipenuhi maka Vania kalah. Pun sebaliknya. Hadiahnya, ya seks.

“Dingin bener nih kulkasnya. Biar agak angetan dikit, taruh bh mama di kulkas,” suaminya menyeringai sambil menunjuk kulkas yang ada di supermarket. Vania pun melepas kaitan bh, menarik tali dari lubang lengan bajunya hingga lepas. Kemudian menaruh bhnya ke kulkas.

“Papa hutang bh baru,” Vania pun berbalik dan melangkah.

“Di bagian roti kok gerah bener yah. Buka aja cdnya di sini mah.”

Vania berhenti lalu menoleh ke suaminya, “Itu ngomong doang atau tantangan pah?”

“Kamu takut ada yang liat? Itu tantangan mah.”

Vania menatap suaminya sambil menyeringai. Vania melangkah ke sudut bagian roti, mengangkat roknya, menggoyangkan pantat, menurunkan cd lalu mengangkat kaki untuk melepasnya.

David menoleh mendengar suara wanita tua yang menggerutu kepada pria tua yang menatap Vania. David ingin Vania menyadari kehadiran pasangan tua itu, maka David menunjuknya. Vania tertawa menyadari apa yang David tunjuk.

Vania tersenyum sambil mengelus seprai. Delapan tahun tanpa belaian lelaki membuatnya gila. Vania tak pernah menyadari perubahan yang terjadi sepeninggal suaminya.

Meski menyukai pantat, namun David bisa dibilang wajar; munkin anaknya pun demikian. Kematian suami membuatnya sadar betapa kita tak tahu kapan kehidupan ini akan berakhir. Pikiran erotis itu membuat Vania sadar sekaligus menggelengkan kepala.

Vania pun melangkah mengambil hand body, kamera saku digital dan dildonya. Setelah terkumpul Vania pun duduk.

“Sini nak!” teriak Vania lantang.

“Tunggu mah,” jawab Ifan sambil bergegas ke kamar mamanya.

Vania merasakan jantungnya berdetak lebih kencang mendengar suara anaknya mendekat.

“Mau ngapain dulu kita mah?”

“Nih,” Vania melemparkan kamera ke anaknya.

“Kamu ingin mama ngapain dulu?” Vania menunjukan bodylotion dan dildo ke anaknya.

“Maksudnya apa mah?”

“Misalnya berbaring dulu, terlentang atau berlutut.”

“Maksud mama ada banyak cara?”

“Duh, kayaknya bakal jadi masalah kalau mama kasih tahu semua yang mama tahu. Mau telungkup,” Vania lalu telungkup, melebarkan pahanya. “Atau sambil berlutut,” Vania berguling lalu bangkit berlutut. Vania menoleh ke anaknya.

“Gitu bagus mah.” Ifan menatap kamera di tangannya. Merasa sangat beruntung. “Setelah selesai boleh dipindahin ke komputer kan mah?”

Vania menatap anaknya sambil memuntahkan hand body ke tangannya. “Apa mama perlu menambah aturan soal foto juga?”

“Tenang mah. Tak akan ada yang tahu kok.”

Dildonya kini dilumasi hand body. “Ingat, yang kayak gini mesti dilakukan oleh pasangan yang saling mencintai. Wanita bukanlah daging yang bisa diolah seenaknya untuk kesenanganmu sendiri. Wanita juga punya perasaan dan emosi. Hormatilah selalu itu!”

“Gini aja mah. Kalau mama memang tak nyaman, mending gak usah diteruskan deh. Lagian Ifan juga gak kan marah kok.”

“Makasih nak. Tapi mama rasa gak apa – apa kok. Kamu memang kayak papamu.”

Ifan bisa melihat wajah mamanya yang penuh semangat.

“Biasanya pria membantu melumasi. Namun dalam kasus kita tentu tidak. Jadi mama memakai jari sendiri untuk melumasi pantat mama.”

“Makasih mah.”

Vania mendengus tertawa kecil.

Ifan melihat jemari mamanya perlahan masuk ke anus. Lalu tangan yang lain menyemprotkan hand body ke anus. Setelah itu jemari lainnya mencoba masuk. Kini telunjuk dan jari tengahnya sedang berusaha memasuki anus mamanya. Kedua jemari itu bergerak berputar di dalam anus. Hand body kembali disemprotkan dan kini tiga jari yang menari.

Vania melepas jemarinya lalu meraih dildo. Jempolnya berada di tombol.

Ifan melihat lubang anus mamanya membuka lebar.

Vania menyentuhkan ujung dildo ke anus. Vania menatap anaknya yang berdiri menganga, “Halo nak, mama udah siap nih!”

“Apa mah?”

“Pake kameranya dong!”

Setelah kamera itu berada di depan wajah Ifan, Vania mulai memasukan dildonya.

“Uh… Kalau kamu ngelakuin ini sama cewek, mesti pelan – pelan karena awalnya sangat tak nyaman,” kata Vania sambil menggerakan bibirnya. “Jangan pernah lakuin tanpa pelumas!”

Vania berhenti sejenak saat setengah dildo sudah masuk. Dia bisa mendengar suara tombol kamera ditekan. Setelah itu Vania melanjutkan aksinya.

“Kita biarkan dulu sejenak.”

Vania menggoyangkan pantatnya sambil mengawasi anaknya yang sibuk memakai kamera.

Akhirnya, tangan Vania mulai menarik kemudian mendorong lagi dildo itu. Ifan mulai semakin sibuk dengan kameranya.

“Kamu menikmati pertunjukannya? Dasar anak sesat!”

“Bercanda terus ah mah.”

“Dulu papamu bahkan memakai video, bukan kamera kecil kayak gitu.” Tangan Vania mulai bergerak cepat.

“Apa? Di film mah?”

Vania tertawa melihat anaknya sibuk mengutak – atik kamera. Vania menunduk dan mulai mendorong dildo di anusnya lagi. Nafasnya mulai memburu. Ngocoks.com

“Oh, oh, oh.” Vania menjerit lalu lunglai jatuh ke kasur saat tubuhnya gemetar. Tangannya kini berada di sisi kepalanya. Saat berbaring otot anusnya membuat dildo itu perlahan keluar dan jatuh ke kasur.

Ifan melihat anus mamanya membuka – tutup berulang – ulang.

“Keren,” kata Ifan sambil memainkan zoomnya.

Vania mendengar jelas kata – kata anaknya. Tapi kesenangannya membuat Vania mengangkat pantat dan melebarkan paha ke arah anaknya.

“Goyang pinggul goyang pinggul oh asiknya,” suara Vania terdengar serak.

Setelah bergoyang Vania pun lemas dan tergolai di kasurnya. Wajahnya penuh keringat.

“Kamu mesti bantu – bantu mama abis ini.”

“Iya mah, abis mindahin ke komputer.”

Ifan bangkit lalu menghilang keluar. Vania meraih dildo di sampingnya lalu menatapnya. Memang tak sama seperti saat bersama suaminya dulu. Tapi untuk sekarang rasanya cukup. Tiba – tiba Vania tersenyum lalu memasukan dildo itu ke mulutnya. Vania tetap mengulum dildo sambil melangkah ke kamar mandi.

“Oh Tuhan, menjijikkan” Vania terhenti menatap ke kamar anaknya.

Di monitor terlihat film Vania sedang mendorong dildo ke pantatnya. Vania lalu masuk dan duduk di kasur anaknya.

“Sampe diperbesar gitu? Tunggu, mama punya tanda di sana?” Vania lalu berputar menatap pantatnya sendiri.

Ibu dan anak itu menonton video dalam diam. Hingga dildo keluar dan sang ibu menjatuhkan diri di kasur.

“Menjijikan yah,” kata Vania sambil menutup wajah dengan tangan, namun matanya mengintip dari sela-sela jemari.

Ifan tertawa, “Hahaha, kalau liat film horror juga mama bilang takut, tapi sambil ngintip.”

“Orang-orang mestinya jangan liat orang lain terbunuh; apalagi melihat mama mainin anus mama pake dildo,” kata Vania sambil melempar bantal ke anaknya. “Pokoknya, kalau sampai ada yang melihat rekaman ini, mama bersumpah akan membunuhmu.”

“Baiklah Nona Cerewet. Akan saya matikan,” kata Ifan lalu menutup media playernya.

“Ya tuhan, gambar mama lagi telanjang kok dijadiin latar belakang sih? Gimana kalau temanmu melihat? Udahlah, gak akan ada yang lihat rekaman mama karena sekarang kamu akan mama bunuh.”

“Tenang mah. Kan ada dua akun. Yang pertama kalau yang log innya Ifan. Sedangkan kalau temen pake akun umum.”

Vania melihat pantatnya memenuhi hampir seluruh layar dengan dildo menancap dan

Vania sembur. Dia melihat gambar pantatnya mengisi sebagian besar layar dengan setengah rudal karet mencuat dari anusnya dengan kepala hanya terlihat di bahu di latar belakang.

“Kok pake gambar yang itu sih? Pantat mama jadi terlihat super besar.”

“Kan gambarnya juga cuma sedikit mah. Tapi Ifan siap fotoin lagi kok.”

“Tidak. Yang terakhir aja bisa jadi masalah.”

“Tapi mah, hasil kamera ini adalah hasil terindah yang pernah Ifan lihat.”

“Bercanda aja. Mama sih lihatnya kayak lihat film porno tua. Hanya saja tanpa musik latar.”

“Kalau mama mau Ifan bisa tambahin musik kok mah.”

“Bukan gitu maksud mama,” Vania menatap monitor lagi lalu bergidik. “Jorok bener gambarnya, kamu kok bisa tahan melihatnya sih?”

“Mah, Ifan tahu mama sudah empat puluh tahun lebih, tapi mama masih cantik. Ditambah susu dan pantat mama yang montok.”

“Dasar kamu aneh,” Vania tertawa, “pokoknya gambar itu mesti dihapus!”

Ifan melambaikan tangan tanda tidak sambil menyeringai pada webcam.

“Tidak, tidak, tidak. Kamu udah bikin mama gak pake baju. Kamu udah liat mama sepuasnya, bahkan kamu udah jadiin mama bintang film porno…”

“Kamera kan ide mama.”

“Jangan ngeles.”

“Iya. Kayaknya nyonya terlalu banyak protes.”

“Pokoknya hapus.”

“Enggak”

“Ifan dapet apa kalau ngehapus ini?”

“Apa? Kamu mau sesuatu? Dasar mesum!”

“Bukankah mama yang pertama ngajarin tawar-menawar!”

“Mama sungguh tak percaya ini. Baiklah, kamu mau apa?”

“Foto lain lagi.”

“Iya, tapi sedikit.”

“Tapi Ifan suka gambar latar ini mah. Banyak dong.”

“Gak adil itu. Masa satu gambar ditukar banyak gambar,” Vania memainkan suaranya agar terdengar seperti lebih simpati.

“Suaranya gak usah dibuat-buat mah.”

“Oke, terus mama dapet apa dong?”

“Hah?”

“Kok malah bengong sih? Kamu kan pintar negosiasi.”

“Emang apa yang bisa Ifan kasih?”

Vania ingat saat memergoki anaknya yang sedang memegang kelaminnya. Vania lalu menyeringai ke anaknya.

“Wajah mama kok aneh gitu sih?”

“Inilah mamamu, hehehe…”

Ifan menyeringai, namun Vania menunjukkan telunjuk ke wajah anaknya.

“Kamu ingin ngambil banyak foto mama demi menghapus foto yang gak mama suka dan …”

Vania menghentikan sebentar suaranya, Ifan menatap cemas.

”… kamu masturbasi hingga keluar sambil diliat mama.”

“Apa?!? Tidak mungkin!”

“Bener nih gak setuju?”

“Tapi, Ifan ambil banyak foto mama dan juga film baru.”

“Film apa?”

“Seperti yang pertama, cuma kali ini sambil nungging.”

“Kamu memang aneh. Doyan bener sama pantat.”

“Kan gara-gara mama juga. Siapa suruh liatin pantat montok mama.”

“Dasar aneh.”

“Jadi, Ifan masturbasi di depan mama, terus mama yang nentuin latar belakang monitor. Mama beri Ifan film baru dan foto baru yang banyak.”

“Maksud banyak?”

“Sampai Ifan bosan.”

“Emangnya kamu bisa bosan?”

“Ifan kan masih muda mah.”

“Baiklah. Mama akan obok-obok pantat mama sementara kamu filmkan dan fotoin. Tapi sebelumnya kamu masturbasi dulu, telanjang tentunya.”

“Tapi Ifan pasti butuh rangsangan dulu dong mah. Mama bikin film aja dulu lalu Ifan mulai lepas pakaian.”

“Baik, bikin film dulu tapi harus telanjang.”

“Baik. Tapi kalau libur kita pergi liburan mah.”

“Apa? Banyak bener keinginanmu. Kenapa gak kamu pikirkan dulu sebelum mama mulai melepas pakaian mama?”

“Kan mama yang bilang ‘lihat pantat mama agar Ifan bisa berubah.”

“Ya, tapi kini pantat mama yang terus dilihat, malah diobok-obok.”

Ifan mulai menghitung memakai jemari, “Ayo kita hitung, telanjang, masturbasi, gambar latar, film anal baru, banyak foto, liburan dan bersedia difilm lagi nanti.”

“Kamu pasti cocok kalau kerja jadi politisi.”

“Enggak deh. Jadi gimana, Telanjang, masturbasi, gambar latar, film, foto, liburan, setidaknya dua film lagi.”

“Menyebalkan.”

“Bener gak mau?”

“Mama muak sama per-pantat-an.”

Ifan lalu memutar kepalanya dari yang tadinya menghadap monitor menjadi menghadap mamanya.

Vania melihat lagi gambar pantatnya yang dijadikan gambar latar, lalu bergidik.

“Baiklah, setuju.”

Ibu dan anak itu saling tatap. Ifan mengangkat alisnya, Vania menggeleng. Keduanya lalu berdiri. Ifan melingkarkan tangan ke bahu mamanya sambil berjalan ke luar.

“Lebih baik bikin filmnya di ruang tv aja. Biar pencahayaannya lebih jelas dan latarnya sofa hitam.”

“Maksudnya?”

“Biar Ifan lebih mudah beresin sofanya mah.”

“Mama benci kamu,” kata Vania sambil memukul lengan anaknya.

“Bukankah anak-anak kebanyakan dibenci mamamnya. Ifan kan cuma kasih kesempatan mama main film berkualitas.”

Vania menghentikan langkahnya lalu menatap anaknya.

“Apalagi?”

“Berkualitas?”

“Mama masih punya handycam kan?”

“Handycam? Jangan!”

“Jadi mama mau film mama terlihat seperti film porno jadul? Sekalian aja tambah musik latar murahan.”

“Mama makin benci kamu.”

“Terserah mama, mau terlihat kuno atau cantik?”

“Sekalian aja mama pake make-up, minyak zaitun dan high heel.”

“Ide bagus tuh mah!”

“Ya, tapi mama hanya bercanda. Dasar anak aneh.”

“Gak bosan mah bilang gitu?”

“Anak aneh!” kata Vania sambil menunjukkan telunjuk ke dada anaknya.

“Mama makin galak sih? Lagian, kalau pake make-up, minyak zaitun dan high heel kan Ifan jadi bisa nyeting kameranya dulu. Ntar jadinya pasti bagus mah. Kalau tidak, mungkin gambar latarnya takkan berubah mah.”

“Baik, make-up, minyak zaitun dan highheel. Biar sekalian filmnya menang kontes film.”

Vania pun melangkah menuju kamarnya sementara Ifan diam berpikir kapan terakhir kali memakai handycam.

“Hei nak.”

Ifan melihat arah suara yang ternyata di pintu. Mamanya sedang berdiri membelakangi, lalu rukuk dan menggoyangkan pantatnya sambil berkata goyang pinggul, goyang pinggul. Setelah itu mamanya tertawa lalu menutup pintu.

“Malah mama yang bilang Ifan aneh.”

Ifan tersenyum. Pasti akan menyenangkan nanti, batinnya.

Setelah mandi, Vania duduk di kasur sambil mengeringkan rambut. Vania merasa senang dengan apa yang akan terjadi namun Vania juga merasa tak senang akan sikap anaknya yang mulai arogan. Vania merasa sudah waktunya mengajarkan anaknya bahwa kalau bermain api bisa berakibat kebakaran.

++++

Setengah jam kemudian Ifan hampir selesai menyiapkan tempat. Di sisi sofa telah dipasangi lampu yang mirip di studio foto hingga membuat pencahayaan pada sofa sangat terang. Sedang hampir satu meter di depan sofa terdapat tripod yang dipasangi handycam. Saat mengecek handycam, Ifan mendengar langkah mamanya datang.

“Cantiknya!”

Rambut Vania masih basah. Wajahnya memakai make-up yang bahkan belum pernah terlihat secantik ini oleh Ifan. Tubuhnya berkilau dan mengeluarkan aroma baby oil. Tangan kanan Vania memegang dildo. Tak lupa kakinya memakai highheel.

Vania melihat ruangan yang telah disiapkan anaknya dengan takjub, “Kamu siapkan ini sendiri?”

Untuk kali pertama Vania melihat betapa anaknya sangat terpesona hingga tak bisa berkata-kata. Vania berjalan sambil mengelus dadanya, lalu elusannya turun ke pantat hingga pantat itu duduk menyentuh sofa hitam.

Pantat Vania yang berminyak kini duduk di sofa. Satu kaki dibuka lebar hingga tumitnya mengenai sisi sofa. Sedangkan kaki satunya dipanjangkan ke bawah.

Nafas Ifan tercekat melihat serambi lempit mamanya yang telah bersih tiada rambut sehelai pun. Jelas terlihat lipatan serambi lempitnya. Apalagi dengan olesan baby oil membuatnya memantulkan cahaya.

Melihat anaknya terpesona, Vania mengambil dildo dan memposisikan di serambi lempitnya, namun tanpa melakukan penetrasi.

“Jangan salahkan mama kalau kamu sampai lupa ngerekamnya. Serangan di Pantat Tua Mama jilid Dua.”

Begitu Vania selesai berbicara maka dildo itu langsung berusaha memasuki pantat Vania. Beberapa bagian sofa kini telah dipenuhi minyak yang menetes dari tubuh Vania.

Ifan langsung memainkan kameranya sambil terus membasahi bibir dengan lidahnya. Tangannya begitu sibuk memainkan tombol yang ada di handycam.

Vania mencoba tersenyum di sela-sela erangan yang terus keluar dari mulutnya.

“Kamu tuh jangan cepat-cepat matiin kameranya terus pergi. Siapa tahu kali ini bisa ngerekam saat mama bersihin dildo pake mulut mama seperti yang terakhir.”

Mulut Ifan ternganga mendapati adegan yang dilewatinya.

Vania perlahan menarik dildo dari pantat lalu mendekatkan ke wajahnya.

“Kayak gini nih.”

Vania lalu memasukan dildo ke mulut dan memainkannya. Tak lupa juga menjilatinya.

Ifan merasa rudalnya makin keras dan cairan pelumasnya pun keluar membasahi celananya.

“Aduh,” kata Ifan sambil mengelus celananya.

Vania melepas dildo di mulutnya lalu tertawa. Dildo itu kembali ditempatkan di pantatnya. Vania terus memainkan dildo sambil berbicara.

“Dasar anak muda.”

Setelah beberapa menit, Vania mengangkat lututnya hingga mendekati dada membuat pantatnya makin terlihat jelas. Kini kedua tangan Vania sibuk memainkan dildo di anusnya.

“Unh, unh, unh, unh AHHHHHHH.”

Vania menjerit sambil berusaha memasukan dildo sampai mentok. Kakinya bergoyang, tubuhnya kejang hingga beberapa detik kemudian tubuh Vania pun berhenti gemetaran. Kakinya terjatung lunglai ke bawah.

Setelah beberapa detik, Vania mencabut dildo dari pantat lalu mendekatkannya ke wajah. Dildo itu dijilati Vania lalu dimasukan ke mulutnya. Beberapa saat kemudian Vania asik memainkan dildo di mulut hingga merasa cukup.

“Jadi berantakan gini yah.”

“Iya, mama sih nakal.”

Vania tertawa, “yang penting tugasmu tuh ntar bersihin ini.”

Vania melihat keadaanya lalu bangkit berjalan mendekati anaknya.

“Nah, anak aneh, perjanjian pertama kita telah mama laksanakan.”

Ifan langsung mengangguk.

“Sayang sekali. Padahal mama udah siap ronde berikutnya. Nih deh mama kasih sedikit inspirasi buat kamu.”

Vania lalu memeluk anaknya membuat pakaian anaknya kini basah oleh baby oil. Paha Vania juga diangkat untuk membasahi sekitar pinggang dan celananya.

“Kayaknya bajumu perlu dicuci tuh.”

Ifan mengerang. Vania menepukkan tangannya.

“Baiklah pejantan muda. Mama beri kamu sepuluh menit untuk siap-siap menghibur mama.”

Ifan pun melangkah menjauh menuju kamarnya. Namun saat baru setengah jalan, terdengar suara mamanya.

“Mama taruh baby oil di lemarimu nak.”

Vania menyeringai. Pasti malam ini bakalan seru, pikirnya.

Ifan duduk di kasur dengan hanya memakai celana pendek sambil gemetaran. Ifan memang jadi terbiasa melihat mamanya telanjang, namun Ifan merasa tak nyaman jika harus ikutan telanjang juga. Ifan menyadari memang tak adil jika dirinya tetap berpakaian, namun toh bukan salahnya. Ifan tak pernah melihat mamanya seliar ini, senakal ini.

Ifan merasa hubungannya dengan mama tak pernah sedekat ini. Ifan memang mencintai mamanya, sebagai anak, juga menghirmatinya. Ifan sungguh merasa beruntung dengan perjanjian ini, tapi kebenaran yang disampaikan sendiri oleh mama merupakan hadiah tersendiri. Telah terlalu jauh sejak kali pertama Ifan melihat mamanya telanjang di dapur.

Ifan tersenyum sendiri saat berdiri lalu melepas pakaian terakhirnya, celana pendek. Setelah itu Ifan meraih baby oil yang ada di lemarinya.

Vania duduk di sofa menunggu. Keheningan yang ia rasakan sedari tadi membuatnya sampai pada kesimpulan bahwa anaknya mungkin merasa takut dan atau tidak berani. Satu kosong untuk mama, pikirnya. Tiba-tiba terdengar dentuman suara musik yang kemungkinan berasal dari kamar anaknya. Cahaya tiba-tiba menghilang menjadikan kegelapan yang muncul menyelimuti.

Tiba-tiba ada sinar. Setelah ditelisik oleh mata Vania, sinar itu mengarah ke kepala rudal. Ternyata anaknya memegang dua senter yang kini diarahkan ke rudalnya sambil berjalan mendekat. Ifan pun sampai di depan sofa yang diduduki mamanya lalu menggoyangkan pinggulnya. Puas bergoyang, tangan kanannya melempar senter lalu memegang rudalnya.

“Mah, kok Ifan jadi gini sih?”

“Jangan berhenti nak. Lagian gak apa-apa kok jadi gini juga.”

“Ini dia mah. Siap membuat mama terangsang.”

“Whoo hoo, goyang nak!” Vania tertawa.

Ifan memaju mundurkan pinggul sambil tangannya mengocok rudal. Mata Vania berbinar melihat anaknya mengocok rudalnya sendiri. Tak butuh waktu lama Ifan pun mengejang seiring dengan menyemburnya sperma yang mendarat di kaki Vania, sofa dan di lantai. Setelah orgasme tubuh Ifan berhenti mengejang namun saat akan bergerak kakinya tersandung membuat Ifan jatuh terduduk di sofa di sebelah mamanya.

Vania bertepuk “Hebat, luar dari pada biasa!”

Ifan melambaikan tangannya, “santai mah.”

Vania dan Ifan saling memangang, lalu keduanya menyeringai.

“Mah, maafin Ifan yah udah ngedorong mama terlalu jauh hingga jadi gini. Ifan bener-bener menyesal mah.”

“Ya, kamu memang nakal. Tapi mama seneng kamu berani mengakuinya. Lagian mama juga tak terlalu suka per-anal-an.”

“Ya gak apa-apa kok mah asal perjanjian kita yang lain tetap berjalan Ifan gak keberatan kok.”

“Mama gak keberatan dengan hal baru, asal tak menyakitkan bagi kita.”

Vania melingkarkan tangan ke bahu anaknya lalu memeluknya dari samping membuat tubuh ibu dan anak itu menempel ketat.

“Sial mah, Ifan menyentuh mama.” Ifan terlihat panik.

“Ini sih sikap ibu dan anak yang saling mencintai, meski tanpa pakaian.”

Mereka pun menatap tubuh mereka yang penuh baby oil.

“Kok jembut mama dibabat habis sih?”

“Mama hanya ingin memberikan yang terbaik bagi kamu. Lagian kamu tuh bener-bener maksa mama sih.”

Vania dan Ifan menatap selangkangan Vania. Seperti berjanji, keduanya sama-sama berbicara “kayaknya jelek deh.” Menyadari kesamaan kata yang terucap, keduanya saling pandang lalu tertawa.

“Untungnya ntar tumbuh lagi. Sekarang kamu tahu kan mama juga bisa mencoba hal-hal baru. Kalau kamu gimana? Mau mulai telanjang di rumah gak?”

“Gak tahu mah. Kayaknya aneh deh.”

Vania memegang payudara lalu mengangkat susunya.

“Mama tak bisa mengatakan bagaimana rasanya hidup dengan selalu menunjukan ini padamu. Mama juga senang kalau kamu gak mau ikut-ikutan. Tapi mama tak akan keberatan kok kalau kamu berubah pikiran.”

Vania dan Ifan menatap rudal Ifan. Mereka berdua melihat betapa rudal itu kini mulai kembali mengembang.

Begitu muda begitu jantan, pikir Vania.

Vania lalu mendorong anaknya bangkit.

“Kamu bersih-bersihnya ntar mama bantu deh.”

“Setuju,” seringai Ifan.

Bersambung… Suasana di foodcourt sebuah pusat perbelanjaan terbilang ramai. Meskipun tidak ber-suasanaseger, namun banyaknya abg yang berlalu-lalang membuat mata serasa segar bagi yang memandangnya.

“Woi, Vania, sini!”

Vania melangkah diantara deretan meja mencoba mencari sumber bunyi tersebut. Di arah kiri depannya ada sebuah meja yang ditempati tiga orang perempuan yang tidak berkalung sorban, usianya kira-kira setengah baya. Salah-seorang dari ketiga wanita itu melambaikan tangannya ke arah Vania.

“Gimana kabarnya?”

“Iya nih sombong bener.”

“Kok lu keliatan seger sih?”

Tiga suara yang keluar dari tiga mulut yang berbeda langsung menyambut begitu Vania duduk. Vania pun tersenyum sebelum menjawabnya.

“Lah kayak gak tau aja lu lu pada juga kan sibuk-sibuk.” Vania mengambil gehu yang ada di meja lalu makan sambil meneruskan pembicaraan. “Gila lu ya, di tempat kayak gini malah beli gehu.”

“Kan dari tadi kita mau pesen juga nungguin lu dulu. Dari pada bengong yang pesen gehu dulu. Lagian lu juga doyan kan.”

“Kok lu keliatan beda sih?”

“Iya, gw mau ajak anak liburan entar. Biar gak jenuh.”

“Kok badanlu agak beda sih.”

“Iya dong. Gw sering diajakin maen wii sama anak sih.”

“Apaan tuh wii?”

“Itu gim yang pake remot, terus kita maininnya sambil gerak-gerak.”

“O ya. Anak lu kan tukang maen gim.”

“Terus, lu keliatan lebih semangat, gak kayak dulu murung terus sih?”

“Iya dong. Gw kan kini jadi lebih deket sama anak. Apalagi kini tuh anak mau nerusin kuliah.”

Ketiga teman Vania saling pandang mendengar penjelasannya.

“Lah, kayak kita bloon aja.”

“Eh, sumpah deh, gw lagi gak deket sama siapa-siapa.”

“Lu liburan gak mau ngajak kita nih?”

“Enggaklah. Kan sama anak gw. Sebelum lu pade nanya, gw gak seranjang ntar sama anak.”

“Iya lah. Siapa tahu ntar ada laki biar lu bisa bebas.”

“Gak gitu juga kali.”

“Lu beli apaan tuh?”

“Biasa, buat ntar di pantai.”

“Pake aja trus tunjukin ke anaklu biar dia seneng.”

“Apaan sih? Yang ada juga dia malah lari ketakutan,” kata Vania sambil mengambil belanjaannya lalu bangkit.

“Eh, lu mau ikut gak ntar malam sabtu. Biasa kumpul di tempatnya Dewi.”

“Iya. Ntar gw cek dulu kalau anak gw gak keberatan sih,” kata Vania sambil melangkah pergi menjauh.

Vania merenung di rumahnya sambil memikirkan ide yang didapat dari percakapan dengan temannya tadi. Vania jadi ingin mencoba menjadi model pakaian di depan anaknya sendiri. Saat sedang asik merenung, tiba-tiba terdengar suara seperti pintu yang diketuk. Vania pun meraih daster, memakainya lalu membuka pintu.

“Eh, elu Wi, masuk.”

Vania mundur agar temannya, Dewi, bisa masuk. Dewi masuk, melihat Vania yang hanya memakai daster lalu mengelus tangannya.

“Lu pake ginian doang?”

“Iya, kan nyobain yang baru.”

“Gimana kalau anaklu ngeliat?”

“Kan ntar juga pasti ngeliat kalau jadi liburan.”

“Bagus.”

“Mau minum apa? Bikin aja sendiri.”

Vania dan Dewi pun melangkah menuju dapur. Dewi memilih membuat kopi. Dapur pun langsung dipenuhi aroma biji kopi pilihan.

“Gimana Ifan di tempatlu?”

“Biasa aja. Maen sama anak gue.”

“Gw udah lama kenal lu sama david. Tapi gw perhatiin sekarang kayaknya lu sama anaklu berubah deh. Padahal dah lama David meninggal. Ada apa sih?”

“Lho, emangnya kenapa?”

“Udahlah, gak usah bohong.”

“Iya deh. Kan sebentar lagi ada rencana mau liburan.”

“Dari dulu anak gw males kalo disuruh belajar. Cuma akhir-akhir ini semenjak anaklu sering ngajarin anak gw, kayaknya anak gw jadi agak pintar dah. Lu apain tuh anaklu?”

“Ya biasa. Gw ingetin mau jadi apa ntar kalau males terus.”

“Bohong lu. Gw aja bilang kayak gitu malah gak ngefek.”

“Ya mau bagaimana lagi. Mungkin apa gw juga gak tau.”

“Ya elah, malah maen rahasia-rahasiaan. Tapi terserah dah, yang penting gw seneng liat lu kembali ceria kayak gini. Semenjak laki lu meninggal, kayaknya lu ikutan meninggal. Tapi kini, lu kembali lagi gila seperti dulu. Kok bisa gitu sih setelah sekian lama?”

“Gila lu ya. Ya gw kagak ikut suami gw lah. Gw cuma fokusin jadi emak yang baik bagi anak gw.”

“Bener nih. Dulu lu berubah jadi pendiam.”

“Ya mungkin waktulah yang ngerubah gw. Ntar deh liat aja jumat nanti.”

“Mah!” suara Ifan menggelegar.

“Di sini nak. Lagi sama mamanya Dewo,” teriak Vania.

“Mah, ntar liburannya yang lama yah. Eh, Bu Dewi.”

“Eh Ifan.”

“Sekalian aja pindah kerja dan kuliah di sana,” canda Vania.

“Siap mah. Ntar Ifan cari infonya di internet,” Ifan terdengar serius.

“Mama bercanda sayang.”

Ifan tak menjawab namun malah bergegas ke kamarnya. Vania melihat wajah Dewi yang menunjukan ekspresi aneh.

“Apa lu?”

“Kalau gw pake baju kayak lu, pasti anak gw melototin terus. Tapi si Ifan malah gak tertarik tuh. Lu apain dia?”

“Biasa aja lah. Lagian cuma baju gini kok. Ntar juga kalo jadi liburan mungkin liat lebih dari ini.”

“Apa lu mau telanjang?”

“Gak gitunya juga kali.”

“Lu kembali gila. Pasti ada yang lu tutupin dari gw.”

“Lah, lu malah curiga sih?”

Beberapa saat kemudian Dewi berusaha menanyakan kepenasarannya. Namun yang Dewi dapat hanya kekecewaan. Akhirnya Dewi memutuskan untuk pulang.

Ifan muncul tepat saat telepon berbunyi.

“Bu Dewi ngapain mah?”

“Biasa,” kata Vania lalu mengangkat telepon. “Halo.”

“Na, ini Yanti. Seneng liat kamu kembali ceria.”

“Ya, kayak dulu lagi.” Vania menyadari anaknya sedang menatap dirinya dari atas ke bawah sambil mengangkat alisnya. Vania lalu menjepit telepon dengan bahu, lalu mulai melepas pakaiannya. Pakaian itu lalu dilemparkan ke sofa.

“Gini, gw seneng lu mau ikut ngumpul ntar. Tapi …”

“Tapi apa?”

“Si Chip jadi ngamuk nih denger anaklu mau liburan. Jadi kalau lu gak keberatan, tolong ajak anak gue dong. Kalau lu setuju, ntar gue bayarin akomodasinya.”

Vania melihat Ifan meninggalkan ruangan.

“Gue sih gak keberatan, tapi mesti tanya si Ifan dulu. Ntar gw kabarin lagi keputusannya.”

“Oke, makasih ya Na.”

Vania menutup telepon berbarengan dengan munculnya Ifan sambil membawa kamera digital dan kemeja putihnya.

“Mau diapain tuh baju?”

“Mah, makannya mau pesan gak, sekalian mama jadi model kamera Ifan?”

“Iya deh terserah kamu. Tapi mau apain tuh baju?”

“Jadi ntar pas tukang makanannya datang, mama ambilnya sambil pake ini saja.”

“Apa?”

“Iya mah. Sekarang kan lagi dingin. Kasian tuh tukang anter makanan. Biar jadi anget dikit. Biar hot gitu loh.”

“Kenapa kamu dulu gak negosiasikan tentang nilai? Biar mama gak kena masalah kayak gini.”

“Lho, kan mama yang pertama mulai. Ifan hanya belajar dari yang terbaik dong mah.”

“Gak usah muji deh.”

“Lah mama. Jadi gimana mah?”

“Tapi dikancingin ya, setuju?”

“Hanya tiga kancing dari paling bawah, setuju.”

Vania menatap kemeja, “Mama tinggal membungkuk lalu orang-orang pada ngedeketin dah.”

“Jangan membungkuk dong mah.”

“Iya deh. Tapi kalau yang nganternya cewek, yang bayarnya kamu. Tapi hanya pake celana pendek.”

“Kalau gitu, Ifan setuju asal mama cuma kancingin dua kancing saja.”

“Baiklah. Dua kancing, tapi kalau yang ngirimnya cewek, kamu yang mesti ngambil sambil goyangin pantat kamu.”

“Kalau gitu sih, mama jangan kancingin baju mama ntar kalau cewek Ifan yang ambil sambil goyang.”

“Baiklah. Asal adik kecilmu mesti keliatan… Plus kamu ajak mama ntar main keluar.”

“Setuju.”

“Gak usah banyak senyum. Dulu juga papamu pernah bikin mama kayak gini, sampai handuk mama lepas saat bayar.”

Vania lalu memikirkan menu yang akan dipesannya. Setelah yakin Vania menyambar kemejanya.

“Kamu punya niat busuk apa lagi sama mama?”

“Gak ada niat busuk, cuma apa mama gak kepanasan pake kemeja di dapur?”

“Dasar kamu. Mama mandi dulu ah… biar nanti seger pas liat kamu show.”

Vania mandi namun tak berlama-lama. Vania menuju kamar anaknya lalu mendorong pintu dengan kakinya hingga terbuka. Terpampanglah Vania yang sedang berdiri, memakai kemeja namun tiada satupun yang dikancingkannya.

Ifan langsung menyambar kamera lantas memotret. Ngocoks.com

“Mama makin hari makin cantik aja.”

“Ngegombal aja kamu nak.” Namun Vania malah terlihat berseri-seri. Vania lalu memutar tubuhnya membuat kemeja itu seolah melayang.

“Apa wanita diajari cara khusus agar bikin pria gila mah?”

“Tentu tidak sayang. Mungkin memang sudah insting,” kata Vania sambil berbalik membelakangi anaknya. Vania lantas menarik ujung kemejanya ke atas hingga memperlihatkan pantat, lalu menggoyangkannya. Vania menyeringai saat mendengar bunyi klik. Vania malah berharap agar pengantar makanan adalah pria.

Setelah beberapa menit berlalu ibu dan anak itu pun ke dapur.

“Nah, tukang foto, kamu mau mama gimana?”

“Coba mama duduk dikursi sambil menyilangkan kaki. Terus tangan mama taruh di lutut.”

Vania menuruti. Klik.

“Sekarang coba mama rebahan di meja sambil tangan mama ke depanin.”

Vania menuruti. Klik. Saat Vania bangkit, satu payudaranya terbuka membuat Ifan menyesal tak mengambil gambar pas momen itu.

“Sekarang coba mama berdiri dekat kompor, tarik baju mama ke bawah dan tatap kamera.”

Vania menuruti. Klik.

“Sekarang …” suara Ifan terpotong oleh ketukan di pintu.

Vania berbalik memperlihatkan seluruh tubuh bagian depan karena kemejanya hanya tergantung di lengan. Ifan menyadari putting mamanya agak mengeras. Ifan dan mamanya pun saling tatap. Ifan lalu mengabadikan momen itu sebelum ketukan berbunyi lagi. Mereka lalu bergegas ke ruang depan. Ifan mengintip sementara Vania menunggu.

“Yes. Yang nganternya cowok mah.”

Vania menyeringai, membetulkan kemeja dan mengancingin dua kancing terbawah.

“Dasar kamu hoki. Siapin uangnya!”

Ifan mundur lalu mengeluarkan uang dari dompetnya sambil melihat mamanya mendekati pintu. Sebagian susu mamanya terlihat namun tetap tak menunjukan areolanya.

“Maaf ya tante baru aja keluar dari kamar mandi.”

“Ng… Ng… Man… Tat… eh… Nggggaakkk apa… tanttte.”

Pintu lalu dibuka dan makanannya langsung disambar oleh Vania. Saat Ifan mendengar suara orang terkesiap, Ifan tahu pasti ada yang terlihat. Vania lalu mundur dan menyerahkan makanan ke anaknya. Entah kenapa Ifan malah melihat wajah mamanya seperti senang. Ifan menyerahkan uang ke mamanya yang langsung diraihnya sambil berseringai.

“Ntar mama benerin,” bisik Vania ke anaknya. “Sekarang waktunya kamu pergi. Sembunyi!”

Vania melangkah mundur lalu berbalik sambil mencoba menutup kemeja dengan tangannya. “Makasih ya. Nih uangnya,” kata Vania yang langsung diambil oleh pengantar makanan. Pintu pun ditutup. Vania lalu berbalik dan bersandar ke pintu. Kemejanya naik turun seirama dengan dadanya yang naik turun. Lalu Vania menatap anaknya.

“Mama jadi bening.”

“Huh?”

“Udahlah, ikutin mama.”

Vania melangkahkan kakinya ke dapur. Lalu Vania mengambil panci kecil untuk merebus mie yang memiliki pegangan, menduduki meja terus melebarkan pahanya. Panci itu lalu diposisikan agar menutupi selangkangannya.

“Mama tegang bener..”

Panci itu menyentuh sebagian kecil lipatan daging antara dua kakinya membuat seluruh tubuh Vania menegang. Panci itu pun terlepas dan jatuh ke lantai. Satu tangan Vania meraih dan menyentuh rambutnya mengiringi getaran tubuhnya.

“Ooooohhhh.”

Vania terus bergetar hingga beberapa saat. Kemudian diam. Perlahan-lahan Vania turun dari meja dan berdiri. Vania menatap anaknya. Seluruh tubuh Vania dipenuhi keringat. Vania lalu mendekati anaknya, melebarkan tangan dan memeluknya. Tiadanya kancing yang terpasang membuat payudara Vania menekan dada anaknya.

“Nikmat sekali orgasme mama barusan. Kamu gak lupa memilmkannya kan?|

“Oh iya. Aduh sial.”

Vania tertawa tanpa melepas pelukannya. “Udahlah, besok kita pesen apa lagi?” $$

“Yes, yang nganternya cewek” kata Vania sambil berjingkrak.

Ifan melepas baju dan melemparkannya ke sofa. Ifan lalu melepas ikat pinggang sambil melihat mamanya berjoget.

“Kamu kayak gak semangat gitu sih?”

“Lho, kan awalnya cuma nebak laki atau bukan.”

“Ingat, sampai tiga kali ya.”

“Iya. Yang kemarin Ifan sampai telanjang.”

“Kan handuk itu idenya kamu.”

Kini Ifan berdiri di hadapan mamanya dengan hanya mengenakan celana pendek. Ifan menatap celana pendek anaknya.

“Temen kecil mama mana?”

“Gak usah ditambahin kata ‘kecil’!”

“Sini, mama bantu.”

Vania mengangkat ujung belakang kemeja sehingga pantatnya telanjang. Setelah itu Vania berbalik membelakangi anaknya dan mundur hingga pantat itu menyentuh celana anaknya. Setelah menyentuh, Vania lalu menggesek – gesekkan pantatnya hingga terdapat benjolan yang dirasa cukup besar oleh Vania.

“Ayo goyang duyu…”

“Mama kok kejam gitu sih?”

“Biar kejam, tapi efektif kan.”

Setelah benjolan itu tak lagi membesar, Vania menghentikan aksinya. Vania kembali berbalik lalu menepuk pelan benjolan yang tiba – tiba muncul di celana anaknya. Setelah itu Vania memegang bahu anaknya dan memutar tubuh anaknya lalu mendorongnya.

“Ayo cepet buka, kasian udah nunggu tuh.”

Ifan membuka pintu.

“Pak ini pesanannya,” kata pengantar makanan sambil melihat tubuh Ifan, dari atas hingga ke bawah.

“Oh ya, jadi berapa?”

“Jadi sekian.”

Ifan mengambil makanan yang lalu tangannya menerima uang yang diserahkan oleh mamanya yang sedang sembunyi di belakang pintu. Setelah uang itu diterima oleh Ifan, tangan mamanya cepat langsung menarik ujung celana Ifan hingga melorot sampai ke bawah. Ifan langsung memberikan uang ke pengantar makanan sambil meminta maaf.

Terdengar suara tertawa dari luar rumah.

Saat akan melangkah, Ifan terjatuh dengan celananya masih melorot.

“Sini mah, Ifan mau bunuh mama!”

Vania pura – pura menjerit takut sambil tertawa. Lalu Vania melesat ke dapur yang tentu saja sambil dikejar Ifan.

“Kalau mama mati, kita gakkan liburan dong.”

Ifan kini ada di sisi meja sedangkan Vania di sisi sebrangnya. Mereka saling melotot. Saat Ifan berjalan ke arah kanannya, Vania pun melangkah ke kanannya sehingga posisi mereka tetap sama bersebrangan.

“Ayo, tangkap mama. Pasti kamu bingung setelah tangkap mama!”

“Enggak dong, pemburu selalu punya rencana.”

“Tuh liat, temen kecil mama melambaikan tangan!”

Ifan menunduk menatap rudalnya yang terlihat jelas. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Vania untuk berlari ke kamarnya lalu mengunci pintunya.

“Kuat berapa lama di dalam mah?”

“Sampai ada kesepakatan.”

“Kesepakatan apa lagi?”

“Kesepakatan yang bakal menjauhkan masalah dari mama.”

“Oh ya semoga beruntung.”

“Lho, mama juga kan udah tiga kali ngasih pertunjukan ke pengantar makanan. Jadi adil dong”

“Iya. Mama pasti keliatan seksi. Nah Ifan, pasti kelihatan bodoh.”

“Mama yakin cewek barusan gak setuju sama kata – katamu.”

“Kenapa mama gak keluar dan tanyakan aja sendiri?”

“Keluar sementara ada pembunuh liar berkeliaran di rumah? Tentu tidak.”

“Meski gak ada makanan?”

“Mama emang berencana diet kok. Ayolah, akui saja kamu juga menikmati aksimu. Temen kecil mama yang bilang kok.”

“Sekarang siapa yang ngawur? Ingat, nyonya sedang terpuruk dalam lubang.”

“Udahlah, ngaku aja kamu juga menikmatinya kan. Bahkan mama yakin kamu masih keras.”

“Terus kenapa?”

Percakapan mendadak berhenti. Kedua pihak seakan sepakat untuk berdiam diri sejenak.

“Mama bakal buat semuanya terserah kamu aja.”

“Caranya?”

“Percaya saja.”

“Enggak ah.”

“Serius nih. Mama nawarin gencatan senjata.”

“Jangan main – main lagi.”

Terdengar suara kunci dibuka. Pintu lalu terbuka perlahan hingga terbuka seutuhnya. Vania menatap anaknya yang masih berdiri.

“Tuh kan, kamu masih keras.”

“Jangan ganti topik, gimana ide mama tadi?”

“Sabar, kamu duduk dulu tuh di kasur”

Ifan melangkahkan kakinya ke kasur sambil menatap curiga mamanya yang mendekati meja rias.

“Ingat gak aturannya?” kata Vania sambil mengeluarkan celana dalam hijau dan memakainya. celana dalam itu terlihat sangat pas sehingga lekukaknya sempurna.

Ifan terlihat bingung melihat mamanya mendekat. Setelah dekat, Vania berbalik hingga membelakangi anaknya lalu seolah duduk di pangkuan anaknya, namun bukan untuk duduk melaikan untuk menggesek – gesekkan pantatnya. Tangan Vania meraih tangan Ifan dan meletakkannya di pahanya.

“Kamu hanya boleh sentuh paha,” kata Ifan sambil mencoba menekankan pantatnya lebih dalam.

“Oh tuhan,” kata Ifan sambil menarik nafas.

Vania bisa merasakan rudal anaknya yang makin tegang. Vania meletakan tangan di lututnya sambil bergoyang. Mendengar nafas anaknya yang makin tak teratur, Vania bangkit berdiri, menurunkan celana dalam hingga pantatnya kembali telanjang lalu kembali menekan rudal anaknya sambil bergoyang.

“Oh…”

Tubuh Vania tersentak dan tersentak saat rudal anaknya menyemburkan lahar panas ke pantat mulusnya. Setelah lahar itu tak lagi menyembur, kepala Vania berbalik menatap anaknya.

“Nah ingat yang barusan takkan terulang lagi.”

Ifan hanya bisa mengangguk menikmati sisa – sisa sensasinya.

“Mama udah lapar nih.”

Vania lalu bangkit berdiri yang segera disusul anaknya. Dari selangkangan keduanya menetes caiar putih kental membasahi lantai. celana dalam Vania pun dilepas.

“Kamu mandi sana. Biar mama bersihin ini. Ntar kita makan di luar aja yuk.”

Bersambung… Vania dan anaknya sedang duduk di meja menunggu pelayan.

“Selamat datang, mau pesan apa?”

Suara pelayan terdengar familiar di telinga Ifan. Ifan menoleh untuk melihatnya, saat kedua pasang mata itu bertatapan, keduanya terkejut. Ternyata pelayan itu adalah pengantar makanan yang tadi. Namun, tak seperti pelayan dan anaknya, Vania malah tertawa – tawa.”

“Eh, masih lapar ya? Memang lebih enak makan di sini.”

“IYa, kami bosan makan di rumah.”

Cerita Dewasa Ngentot - Ibu Motivator: Memberi Pelajaran Sensual Pada Anak yang Doyan Mengintip
“Mau pesan apa?” kata pelayan sambil menyerahkan daftar menu.

“Kami pesan teh manis dulu, dua. Iya kan?”

Ifan hanya mengangguk tanpa berkata. Ifan malu, celakanya wajahnya menunjukan itu.

“Segera.”

Setelah pelayan itu pergi, Vania menatap anaknya. “Apa pun yang terjadi, kamu jangan panggil mama. Panggil aja Vania. Jangan ada yang tau aku mamamu, Paham!”

“Dari semua tempat makan di kota ini, kenapa malah dilayani dia sih?”

“Itulah yang disebut takdir. Meski sebelum pergi kita bisa memutuskan untuk makan di restoran manapun tanpa ada yang memaksa harus ke mana, namun pertemuan ini sepertinya tidak bisa dihindari. Mama ke toilet dulu. Tunggu di sini.”

Vania berjalan menuju toilet, di tengah jalan, Vania berpapasan dengan pelayan tadi. Vania hanya tersenyum namun Ifan terlihat semakin gugup dan atau malu.

Vania kembali ke meja. Di meja telah tersedia minuman yang tadi dipesan. Saat Ifan menyedot minumannya, Vania lalu menaruh sesuatu di meja yang membuat Ifan tersedak. Ifan melihat mamanya menaruh celana dalam hijau.

“Biarkan itu terus di meja, berani gak?”

“Mama mau ngapain?”

“Senang – senang dong. Biar jadi kenangan indah buat kamu.”

Namun Ifan malah mengambil celana dalam mamanya dan memasukkannya ke saku. Vania hanya menyeringai melihat tingkah anaknya.

“Dasar mama gila.”

“Hehehe.”

Keduanya lalu diam saat pelayan kembali datang.

“Maaf, sudah siap pesan?”

“Saya pesan lasagna aja. Sedangkan wanita cantik ini sepertinya akan memesan chicken parmesan, benarkan Di?”

Vania tertawa, “bolehlah.”

“Tuan memang pintar memilih pasangan. Mau sekalian saladnya?”

“Boleh.”

“Ada yang lain lagi?”

“Tidak.”

“Terimakasih. Mohon tunggu pesanannya,” kata pelayan itu sambil berjalan pergi, namun tetap berusaha menatap Ifan.

Setelah pelayan itu pergi, Vania membungkuk hingga kepalanya agak mendekati anaknya, “dia masing ingat saat kamu telanjang lalu membayangkan gimana kamu menyentuh wanita seusia mama.”

Ifan menyemburkan minuman dari mulutnya.

“Mama benar – benar gila. Bagaimana dulu tingkah laku papa sama mama sih?”

“Papa dan mamamu pasangan serasi. Tau gak?”

“Pantes saja.”

“Mama dan papa saling mencintai. Pokoknya akan melakukan segalanya demi pasangan. Mama sangat setia, bahkan tak pernah selingkuh. Sepertinya papamu juga begitu. Pokoknya mama dan papa sangat terbuka bagi hal – hal baru. Intinya adalah komunikasi.”

Percakapan terhenti saat pelayan datang membawa salad. Mata pelayan itu tak henti – hentinya mencuri pandang ke Ifan.

“Jadi, ‘Vania’ ini biasa seperti ini dulu sama papa?”

“Mama rela melakukan apa saja demi papamu hingga separuh jiwa mama moksa seiring dengan moksanya papamu. Bertahun – tahun mama merasa hidup ini hambar, begitu hambarnya hingga bagaikan tiada lagi yang bisa lebih hambar lagi. Sampai akhir – akhir ini.”

“Sampai akhirnya aku mau jadi mahasiswa.”

Sekarang Vania yang tertawa dibuatnya pun hingga saat pelayan datang.

“Ini makanannya, silakan.” Pelayan mulai meletakkan makanan, namun mulutnya tak berhenti bicara. “Mohon maaf, apabila boleh tahu, berapakan usia tuan dan puan yang sungguh sangat serasi ini?”

“Baru tujuh belas.” Kata Ifan.

“Saya sih cukup tua. Bahkan layak untuk menjadi ibu dari anak ini,” jawab Vania sambil tersenyum.

Pelayan itu menggeleng, “Luar biasa. Tuan dan puan sungguh terlihat sangat bahagia.” Pelayan itu masih tetap menggelengkan kepala sambil pergi menjauh.

“Mama ternyata suka mengambil resiko.”

“Mama dan papamu justru pemburu sensasi. Apa lagi yang sangat membuat mendebarkan. Mama jadi kangen masa – masa dulu. Apa kamu sekarang merasa berdebar – debar?”

“Bukan hanya itu, tapi juga takut setengah mati.”

“Itulah sensasinya. Pokoknya ingat, asal jangan sampai ada yang terluka dan harus saling menghormati.”

Aroma makanan membuat pembicaraan berhenti. Berganti dengan acara santap. Makanan pun habis. Vania berdiri melihat pelayan mendekat. Saat pelayan itu menghampiri meja, Vania menyapanya.

“Terimakasih untuk pelayanannya sayang.”

Setelah itu mereka pun keluar dari restoran. Namun sebelum masuk ke mobil, Ifan menatap mamanya.

“Berani gak mama lepas rok itu dan nyopir sambil gak pake bawahan?”

Vania tersentak. Vania menatap anaknya lalu melihat keadaan di parkiran itu. Setelah melihat keadaan, Vania kembali menatap anaknya sambil menyeringai. Vania lalu melepas rok dan memberikan ke anaknya.

Angin dingin langsung menyentuh tubuhnya.

Vania langsung duduk di belakang kemudi. Vania lalu menurunkan jendela di pintu kiri.

“Mama gakkan nyetir sampai dapet celanamu.”

Ifan menyeringai dan mulai melepas celana panjangnya. Kini di jok belakang terdapat rok, celana panjang dan sepatu.

“Lepas juga dong celana pendekmu?”

“Siap, tapi ada syaratnya.”

“Apa?”

“Ifan ingat belum punya video mama lagi make mainan karet mama itu. Gimana, setuju?”

Ifan sedang melepas celana pendeknya saat mamanya tertawa sambil berkata setuju. Keduanya kini tidak memakai bawahan sama sekali hingga sampai di rumah.

Sampai di depan rumah, keduanya belum keluar dari mobil. Jalanan tampak sepi sehingga meski mobil mereka melintang agak tengah, tak ada yang memprotes. Pagar masih tertutup. Vania menatap anaknya.

“Berani gak kamu buka tuh pagar tanpa pake celana dulu?”

“Asal mama isep dildo itu di akhir pertunjukan?”

Vania tertawa, “bener – bener cabul.”

“Kan belajar dari ahlinya,” kata Ifan sambil keluar dari mobil dan bergegas membuka pagar.

“Sialan mama. Dasar eksibisionis.”

“Ya ya ya… kata orang yang tak bercelana,” kata Vania, tertawa sambil keluar dari mobil.

“Ya ya sekarang waktunya tampil. Ifan ingin pantat itu siap.”

“Saatnya anakku kerja,” kata Vania berjalan sambil melepas pakaiannya.

Ifan mengikuti mamanya dari belakang, “Mah, daripada telanjang, apa mama punya lingerie?”

“Wow, mungkin masih ada. Gini aja, kamu siapin aja kameranya biar mama juga siap – siap.”

“Oh iya.” Seringai Ifan.

Vania beranjak ke kamar mandi di kamarnya untuk mulai menyiapkan diri sementara anaknya memasang tripod. Selesai memasang tripod, Ifan duduk di kasur menunggu mamanya muncul.

“Oh, mama cantik sekali.”

“Makasih.”

Vania terlihat cantik memakai lingerie hitam.

“Kamu suka?”

“Iya mah.”

Vania lalu berjalan menuju laci mengambil keluar dildonya. Saat melewati anaknya, Vania menepuk rudal anaknya dengan dildo sambil tersenyum.

“Temen kecil bertemu temen palsu.”

Setelah itu Vania naik ke kasur dan terlentang.

“Cdnya dilepas apa dipake, pak sutradara?”

“Dilepas aja mah.”

“Ya udah sini bukain dong.”

Ifan tertegun. Ifan mendekat dan menjulurkan tangannya saat mamanya mengangkat pantatnya. Sentuhan tangan Ifan pada pinggul mamanya membuat mereka merasakan getaran nafsu yang tak tertahankan. Tangan Ifan lalu menarik cd itu. Saat cd itu mencapai lutut, pantat Vania kembali diturunkan dan kini kakinya yang diangkat membuat cd itu akhirnya terlepas seluruhnya.

“Makasih.”

Setelah itu Vania mengambil dildo dan mulai mendekatkannya ke selangkangan yang dirasanya sudah mulai basah. Vania lalu diam, menatap anaknya.

Ifan tertawa seolah disadarkan, “Oh iya, kamera. Duh.”

Ifan lalu memainkan kamera yang ditaruh di tripod. “Oke, action.”

Vania kini mulai mengelus – elus dildo itu ke serambi lempitnya sambil mengerang. Tak butuh waktu lama bagi Vania untuk mencapai orgasme hingga erangan Vania makin keras namun tertahan, dan tubuhnya pun mengejang. Akhirnya Vania berbaring sambil terengah – engah.

Vania lalu mendekatkan dildo itu ke wajahnya.

“Mama tantang kamu jilatin ini.”

“Apa?”

“Kamu dengar tadi, jilatin aja, gak usah yang lain. Inget aja ini barusan dari mana, jangan bayangin bentuknya.”

Ifan terlihat ragu. Namun akhirnya Ifan mengambil dildo itu dari tangan mamanya. Ifan mulai mendekatkan dildo itu ke mulutnya.

“Papamu dulu suka banget rasanya.”

Meski masih terlihat ragu, namun Ifan menjulurkan lidah sambil menutup matanya.

“Okelah.”

Ifan lalu duduk di kasur, tangan kanannya memegang dildo sambil menjilatinya sementara tangan kirinya kini menyentuh rudal dan mulai mengocoknya. Hanya sebentar, namun kocokan itu mampu membuat lahar panas menyembur dari rudalnya. Lahar itu membasahi perut Ifan sendiri. Ifan pun merebahkan dirinya di kasur.

Melihat anaknya berbaring di sebelah dengan perut penuh pejunya membuat Vania membungkuk dan mencolek peju anaknya dengan tangannya. Tangan berpeju itu lalu dihisapnya hingga bersih.

“Mmmhhh… rasanya beda sama rasa papamu.”

Mereka berdua lalu menapa kamera yang masih merekam. Vania menyeringai sambil menatap anaknya.

“Mau buat salinannya untuk pelayan kita gak?”

Vania tertawa menyadari anaknya terkejut. Vania lalu bangkit menuju kamar mandi.

“Pingin tau selanjutnya? Mainkan aja imajinasimu.” Kata Vania sambil menutup kamar mandinya.

Ifan hanya berbaring sambil menyeringai. Mencoba berimajinasi.

Ifan sedang duduk di dapur sambil memperhatikan mamanya mencuci piring. Pantat mamanya terbungkus celana dalam hijau. Ifan bertanya – tanya, mengapa mama memakai cd? Namun setelah kira – kira sepenanak nasi, Ifan baru menyadarinya. Ternyata mamanya sedang datang bulan.

“Gimana ini mah? Kalau lagi datang bulan trus kita mau ngapain?”

“Kamu sih enak gak terganggu masalah kayak gini.”

Tok… tok…

“Kamu pesen makanan lagi?”

“Enggak mah. Gak pesen apa – apa kok.”

Vania bergegas ke kamarnya untuk memakai pakaian sementara anaknya menuju pintu untuk membukanya.

Tak lama kemudian, Ifan muncul di dapur bersana Dewi dan Yanti. Di dapur sudah ada Vania yang hanya berkaos saja. Dengan celana dalam tentu.

Ifan tersenyum melihat mamanya, “Ifan pergi dulu mah.”

Dewi dan Yanti lalu duduk di kursi sambil memperhatikan penampilan Vania yang bersender ke wastafel.

“Lu liat kan, Anaklu bahkan gak merhatiin lu.”

“Emang kenapa?”

“Kalag gw pake baju kayak gitu di rumah, udah dipelototin terus sama anak gw.”

“Lho, emang gw telanjang. Lagian gak bakalan ada yang tau gw pake cd apa.”

“Ijo,” kata Dewi dan Yanti berbarengan.

Vania hanya menggelengkan kepala mendengarnya.

“Seenggaknya gw pake baju. Lu kira gw telanjang sambil joget – joget depan anak gw.”

“Tiap anak laki pasti ngintipin emaknya. Tapi anaklu malah cuek aja. Gak normal tau.”

“Lo kira anak kita homo apa?”

“Gw pernah nemuin film porno di komputernya si cipto.”

“Iya bener, anak gw juga gitu.”

“Udahlah, kok malah ngomong yang aneh – aneh sih. Mau ngapain sih lu lu pada ke sini?”

“Oh iya, kok jadi ngelantur gini. Kita – kita mo minta maaf kemarin kemarin udah agak neken lu.”

“Gak apa apa lagi. Gw udah biasa.”

“Hehe…”

“Trus gw udah maksa lu ngajak si cipto liburan juga.”

“Gak apa – apa. Biar si Ifan seneng ada temennya. Daripada cuma sama gw, emaknya, mana udah tua lagi.”

“Eh, bay de wey baswey, keberatan gak kalo sekalian ajak si dewo. Dia denger si cipto diajak makanya dia pingin ikut.”

“Duh, ngasuh tiga anak cowok saat liburan. Setua gini masih ngasuh juga,” kata Vania sambil menggosokkan kedua telapak tangannya. Namun Vania berhenti saat melihat wajah Dewi yang terlihat gugup.

“Lu kira gw mau ngapain?”

“Ya, biasa. Kayak lu yang dulu.”

“Emangnya gw pernah nyelingkuhi David?”

“David udah al – marhum sayang.”

“Nah, sebelum gw nemuin yang baru, gw gak kan buka toko dulu.”

“Tapi, apa lu gak terpesona liburan sambil ditemenin tiga pemuda?”

“Anak – anak. Bukan pria yang bakal gw temenin hingga akhir hayat. Lagian mereka kan anak kita.”

“Anak laki. Bukannya laki. Lagian, kalau lu kira bakal kayak gitu, mending kagak usah libur aja sekalian…”

“Segila apapun kita dulu, dan atau sekarang, gw tau lu gak pernah main sama laki kita bertiga. Gw tau gw bisa mercayain anak gw ke lu. Tapi, delapan tahun gak ngapa – ngapain; hormon lu pasti berontak. Gw cuman cemas lu akhirnya memuntahkan semua lahar yang terpendam selama bertahun – tahun itu, dengan sengaja maupun tidak.

“Gak usah khawatir. Delapan tahun gw bisa nahan, delapan tahun lagi gw juga bakal mampu nahan.”

“Maaf deh gw malah ngomong yang aneh – aneh. Gw percaya, bahkan gw sayang sama lu. Hanya saja, setelah delapan tahun lu kembali normal lagi. Maafin gw ya.”

“Iya, gw ngerti. Gw paham kalau lu khawatir sama anak lu. Tapi kalau lu gak yakin gak usah izinin anaklu ikut aja.”

“Bisa – bisa dia puasa ngomong sama gw.”

“Lu yakin?”

“Apa, gak mau ngomong sama gw?”

Para wanita lalu tertawa meski pertanyaan yang dilontarkan tidak mendapat jawaban.

“Jadi gw tinggal siapin agar dewo bisa ikut?”

“Ya udah, gw cabut dulu ya.” Yanti pun bangkit, pamit lalu meninggalkan rumah sahabatnya itu.

Vania akan melangkah saat dihentikan oleh Dewi.

“Tunggu Na.” Dewi menelan ludah.

Vania duduk di kursi sambil menatap Dewi, curiga.

“Gw gak jadi enak sama lu. Akhirnya lu kembali kayak dulu lagi. Setelah kemarin – kemarin lu kayak mayat hidup. Tapi, gw merasa lu jadi tertutup. Padahal ini gw, temen deket lu selama ini. Ada apa sih?”

Vania tak segera berujar, namun terus menatap Dewi. Dewi merasakan kegugupan yang coba disembunyikan oleh Vania.

“Terus, selama delapan tahun ini, apa lu ga berubah?”

“Gw merasa bosan. Begitu bosannya hingga kadang terlintas di benak untuk ngerjain si dewo dengan ngajak dia maen kartu.”

“Terus, kenapa lu gak ajak?”

“Apa?”

“Dewi yang dulu pasti bakal merasa tertantang.”

“Tapi, dia anak gw.”

“Berkelamin lelaki. Udah gede. Lagian ngajakin maen kartu gak berarti berujung pada seks. Sekali lagi, Dewi yang dulu pasti udah tertantang. Sejauh mana sih perubahan lu?”

“Emang si Ifan lu apain?”

“Selama delapan tahun gw gak ngapa – ngapain anak gw.” Vania menghentikan ucapan lalu menatap mata Dewi dalam diam. “Tapi kini, hanya dalam sekejap.” Ngocoks.com

“Serius lu?”

“Apa lu yakin mau kembali jadi Dewi yang dulu lagi?”

“Maksud lu?”

“Ada sesuatu yang mesti gw katakan. Gw paham jika sehabis lu dengerin cerita gw, mungkin lu bakal jijik, bahkan lu bakal gak mau lagi kenal gw. Keluarga gw. Mungkin juga lu bakalan ngelarang Dewo agar tak berhubungan lagi dengan keluarga gw.”

“Gak mungkin.”

Vania kembali menatap Dewi sebelum melanjutkan percakapan. “Menjelang senja nih. Lu ada kegiatan ntar sampai malem?”

“Gak juga sih. Laki sama anak gw gak ngomong apa – apa. Emang mau sampe jam berapa?”

“Kira – kira jam sepuluhan lah…”

Dewi lalu memiankan hp untuk memberitahu keluarganya. Vania menghilang dari pandangan Dewi untuk muncul lagi beberapa saat kemudian, lalu duduk di meja dapur.

“Kenapa lu mau kembali jadi Dewi yang dulu lagi. Apa lu gak bahagia sama hidup lu yang sekarang?”

Dewi berpikir sejenak. “Gw masih cinta ama laki gw. Ama keluarga gw. Gw gak pernah lupa hubungan gw dulu sama laki gw, tapi kini serasa hambar. Apalagi laki makin sibuk sama kerjaannya.”

Tiba – tiba muncul Ifan menghampiri mereka. “He bu Dewi, bu Yantinya ke mana? Udah sepuluh menit nih mah, ada apa sih?”

“Duduk nak. Bu Yanti udah pulang. Tinggal kita aja. Bu Dewi sangat suka main kartu. Tapi mama ragu apa Bu Dewi mau main malam ini. Jadi kalau Bu Dewi gak mau main, mama bisa ngajakin kamu main, berdua aja.” Selesai berbicara lalu Vania meletakan satu pak kartu di meja.

“Apa?” teriak Dewi terjekut.

“Hah?” Ifan tak kalah terkejut.

“Lu mau kembali kayak dulu? Inilah caranya.” Kata Vania sambil mendekatkan kartu ke arah Dewi.

Dewi memandang Vania. Memandang Ifan. Memandang kartu. Vania hanya menyeringai saat dipandang sahabatnya itu.

“Dijamin lu gakkan merasa bosan.”

“Main kartu trus ngapain mah?”

“Biasa. Tapi kalau ada yang kalah, mesti lepas pakaian satu – satu hingga habis.”

“Tapi mama kan cuma pake daster doang.”

“Iya, kalau daster mama lepas, yang menang boleh nanya apa saja.”

“Siaplah. Ifan ikut main deh.”

“Lu penasaran sama perubahan gw kan Wi, nah lu punya kesempatan.”

“Kalian pernah main gini sebelumnya?” Dewi bertanya sambil menatap Vania dan Ifan bolak – balik.

“Main kartu sih iya. Tapi main kartu. UDah, ntar aja lagi gw jawab kalo lu menang.”

“Jangan sampai Dewo tau tentang ini,” kata Dewi sambil meraih kartu.

“Terserah lu itu mah, karena gw sama anak gw gak kan pernah bilang.”

“Lu yakin Ifan gak kan ngomong?”

“Gw percaya anak gw. Apalagi anak gw udah bisa megang rahasia selama ini.”

“Maksudlu?”

“Lu mau tau jawabnya?”

“Kamu udah gede kan?” Tanya Dewi kepada Ifan.

“Baiknya saya bawa ktp dulu.” Ifan mulai bangkit dari kursinya.

“Jangan sampai dia ke kamar, bisa – bisa pake jaket tiga lapis.”

“Kan belajar dari ahlinya.”

“Apa, kamu belajar dari ibumu? Benar – benar sial.”

“Tenang aja. Bisa jadi kita yang kalah.”

“Jangan banyak ngobrol, Ifan mesti sekolah besok.”

Kartu pun dikocok, lalu dibagikan. Ternyata Vania menang, Ifan yang kalah. Ifan melepas kaosnya.

Putaran selanjutnya Dewi yang kalah. Dewi melirik Vania, lalu melirik Ifan. Setelah itu Dewi melepas kaosnya. Terlihatlah bh hitamnya, meski tidak seperti bh hitam tante denok, namun terlihat menantang bagi Ifan.

“Sip…” Vania bertepuk tangan.

“Ya… ya…” Kata Dewi sambil mengambil lalu mengocok kartu. “Fokus nak. Mamamu mesti dikalahkan.” Kata Ifan sambil menatap Dewi.

“Iya bu.”

Ternyata Ifan kalah. Dia pun melepas singletnya. Dewi menatap dada Ifan yang telanjang.

“Jangan – jangan kartunya sudah diatur nih,” celoteh Ifan.

“Tentu tidak. Ini bukti kalau perempuan lebih pintar.” Kata Dewi sambil memperbaiki posisi bhnya.

Vania kalah juga. “Kita lihat apakah ada perubahan setelah delapan tahun,” kata Dewi.

Vania melepas kaos lalu melemparnya ke lantai.

“Agak gemukan kayaknya,” kata Dewi sambil melihat Ifan. Ifan sedang menyeringai ke mamanya. “Gw tahu. Ifan udah melihat tubuh itu. Matanya gak begitu terkejut.”

“Baik, Ifan udah melihat wanita telanjang. Besok Ifan mesti sekolah, jadi selamat malam.”

“Kalau kamu pergi berarti liburan pun gak jadi.”

“Bener, jika masih mau main sama Dewo. Lagian, tante udah sering liat mamamu telanjang. Jadi biasa aja tuh.”

Ifan terpaksa duduk lagi.

Putaran berikutnya Dewi menang, Vania kalah. Karena Vania tak bisa melepas cd, jadi Dewi berhak bertanya dan Vania mesti menjawab. “Kapan Ifan pertama kali liat tubuhlu?”

“Hehe… kita kadang mandi bareng. Ya… setelah tiga kali mungkin…”

“Oh tuhan, Omong kosong.”

“Kan lu yang nanya.”

“Parah…”

Berikutnya Ifan menang, yang kalah masih Vania.

“Benar kata bu Dewi, omong kosong. Jawab aja yang jujur mah!”

“Baiklah. Dia liat kira – kira satu setengah atau dua bulan ke belakang.”

“Nah, lebih masuk akal jawabannya. Gimana awalnya?”

“Itu jawaban buat pemenang berikutnya…”

Putaran berikutnya kembali Vania kalah.

“Sampai mana tadi, oh ya, gimana awalnya?”

“Lu inget gak saat lu nanya kenapa anak gw jadi pinter. Nah, waktu itu jawabannya ngarang. Kamu mau jelasin Nak?” kata Vania sambil menatap anaknya.

“Saat itu Ifan gak mau kuliah. Namun mama janji kalau Ifan mau kuliah dan nilai Ifan membaik, mama bakalan telanjang di rumah jika hanya berdua .”

“Gak mungkin. Gila…”

“Dia lupa bilang, selain gak boleh cerita sama siapa pun juga gak boleh sentuh.”

“Bercanda ah. Eh, tapi, itu kelakuanlu delapan tahun silam. Liar dan nakal.” Dewi bolak – balik menatap Vania dan Ifan. “Benar – benar liar, nakal. Kasihan anak lu, bisa liat gak bisa nyentuh. Terus – terus …”

“Ya kasihan juga. Tapi dia berhasil bikin gw lakuin hal – hal gila lainnya. Bener – bener persis bapaknya…”

“Ceritain dong.”

“Ntar kalau lu menang lagi.”

Namun putaran berikutnya Dewi kalah, hingga terpaksa melepas celananya.

“Liat nak, apa cdnya selaras dengan bhnya?” kata Vania menatap anaknya.

“Iya mah.”

“Kalian ibu dan anak sama – sama gila.”

“Bentar, gw ke kamar mandi dulu.” Kata Vania lalu bangkit.

“Jadi kamu liat mamamu telanjang selama dua bulan ini nak?” Dewi menatap Ifan penasaran.

“Iya.”

“Mamamu seksi sih.”

“Ah, bu Dewi juga seksi lho,” Ifan mulai mencoba peruntungan, sambil belajar SSI.

“Makasih nak. Tante tau kamu bilang gitu agar bisa liat tante telajang, seperti mamamu.”

“Gak gitu. Ini rahasia tante, tapi kami, Dewo dan Cipto, sering ngobrolin siapa mama paling seksi.”

“Begitu ya? Tapi mamamu belum tua – tua amat.”

“Gak juga. Sebelum perjanjian, mama terlihat tanpa gairah. Pucat dan terlihat tua. Namun beberapa hari ini, mama terlihat bersemangat.”

“Tante percaya. Tapi apa kalian senang menjalaninya?”

“Memang godaan untuk menyentuh, bahkan merengkuh tubuh mama selalu datang melanda. Tapi Ifan berusaha patuh.”

“Jadi bener – bener tanpa kontak fisik? Wow.”

“Tentu. Lagian ini kan mama Ifan. Ifan juga menyayangi mama.”

Vania kembali, lalu menatap mereka. “Masih pada berpakaian, bagus.”

“Ifan juga mau ke kamar mandi.” Katanya sambil bangkit.

“Jadi, gimana meunurut lu?”

“Gw gak tau mesti mikir apa. Tapi udah lama rasanya gak ngerasain nih perut berkenyut – kenyut seperti sekarang ini.”

“Nah, itu. Beberapa hari terakhir denang Ifan membuat perut gw seakan kembali diaduk. Luar dari pada biasa,” kata Vania sambil memutar jemari di perutnya.

“Kenapa gak ngelangkah lebih lagi?”

“Ya jelas dia anak gw. Tentu gak bisa jadi suami gw. Ifan mesti nikmatin hidupnya, raih pengalaman sebanyak mungkin. Biar bisa jadi laki fearless… Tentu semua itu gak bisa dia raih jika sama gw. Lagian, dia belum cukup pengalaman buat bisa nafkahin gw, terutama nafkah lahir.”

“Lu ngomong apa sih? Maksud gw seks, ngewe. Bukan yang lainnya.”

“Bagi gw, seks bukan sekedar ngewe. Mesti spesial.”

“Bener – bener Vania yang dulu. Liar, nakal, brutal membuat semua orang menjadi gempar. Anehnya gak mau ngewe selain sama laki lu dulu.”

“Nah, itu maksud gw, mesti liar, tapi apa lu sanggup ngewe siapa aja? Mesti banyak pertimbangan. Jangan sampai pada akhirnya cukup bilang ‘saya prihatin.’”

“Nyindir gw lu yah? Itu sih udah lama banget.”

“Meski gitu, si Yanti gak pernah berubah. Malah gw rasa jadi agak ada jarak dia sekarang ini.”

“Dia bener – bener rindu lu yang dulu. Gw akuin itu.”

“Ya mau gimana lagi.”

“Gimana rasanya telanjang di hadapan anaklu?”

“Rasanya gw dulu terlalu sibuk di dapur, hingga akhirnya begitu.”

“Begitu gimana mah?” kata Ifan sambil melangkah masuk.

“Kamu ada di sini?” tatap Dewi ke Ifan.

“Jangan dibiasakan menguping percakapan orang, gak baik.” Kata Vania sambil memukul tangan anaknya.

Dewi menatap Ifan, “Kamu benar – benar anak mamamu.” Lalu menatap Vania, “Tapi gw cemburu, kalian jadi begitu dekat. Gak ada jarak.”

Vania menarik anaknya lalu memeluknya. “Ya, gimana lagi. Gw cinta banget anak gw. Meski nakalnya bukan main.”

“Duh, sekali lagi. Pelukan ini malah membuat tersiksa.”

Vania melepas anaknya, lalu melihat dadanya. “Mau gimana lagi …” Kini Vania menatap Dewi, “Kamu tau nak, malam ini bukan hanya mama yang bisa membuatmu tersiksa.”

“Benar mah, bentar lagi bu Dewi pasti telanjang.”

“Sebelum tante juga pasti kamu duluan.” Kata Dewi sambil mengocok botol, ngocok kartu.

“Kok pada ngobrol cabul di tempat gw.”

Mereka memainkan kartu. Berkonsentrasi agar tidak kalah. Namun akhirnya celana Ifan yang lepas. Otomatis Ifan hanya tinggal memakai cd nya.

“Nah, bentar lagi ketemu sama temen kecil mama.”

“Udah Ifan bilang gak perlu pake temen kecil segala. Kayaknya Ifan mesti terapi atau apalah – apalah.”

“Gak usah sok ngomongin harga diri. Coba ingat, berapa orang temanmu sekarang yang lagi sama wanita telanjang.”

“Jadi inget, lu pernah liat anaklu telanjang gak?”

“Kalahin gw dulu dong.”

“Udah, sini kartunya.” Kata Ifan sambil mengambil kartu lalu mengocoknya.

Kali ini Dewi kalah.

“Hahaha… lepas lagi nih.” Vania bertepuk tangan.

“Haha… lu mesti malu sama diri lu.” Kata Dewi sambil meraih punggungnya sendiri. Dewi tersipu malu melihat mata Ifan yang menapat tubuhnya. Dewi melepas bh dan melemparkanya ke dekat Vania yang sedang berseringai. “Gw muak liat seringai lu.”

“Hati – hati, kalau lu banyak gerak, bakal bikin susulu naik turun. Kasiah si Ifan.”

Namun, Dewi malah meletakan tangan di bawah susunya, lalu mengguncang – guncang susunya dengan tangannya sendiri, “nih, biar makin tersiksa.”

Ifan hanya bisa melihat sambil menelan ludah. Vania dan Dewi hanya tertawa. Pada putaran berikutnya, Ifan kalah.

Ifan berdiri, “jangan sampai Dewo dengar tentang ini.” Ifan melepas cdnya. DI wajahnya terlihat betapa ia malu. rudalnya sudah agak tegang. Setelah telanjang, Ifan kembali duduk.

“Salut tante, kamu udah Dewasa,” kata Dewi menatap Ifan sambil tersenyum.

“Iya makasih.”

Tiba – tiba telepon berbunyi. Vania bangkit dan meraihnya. “Wi, ini dari Widia nih.”

Dewi pun bangkit. Saat berjalan, susunya memantul bergerak liar.

“Duh, gw inget baju basket si Widia belum di cuci.”

“Lu sengaja ya rencanain bilang gitu.”

“Sengaja? Gw malah pingin tanding ulang lagi minggu depan. Juga, Ifan…”

Ifan telah membawa pakaiannya dan akan ke kamarnya saat dia dipanggil. Ifan lalu berbalik.

Dewi meraih cdnya, lalu menurukan hingga lepas. “Jangan dengarkan kata – kata mamamu.” Dewi berdiri dengan tangan di pinggulnya.

Ifan melongo melihat sahabat mamanya berdiri telanjang di hadapannya. “Makasih tante, tenang saja, Ifan takkan dengar ucapan mama kok.” Setelah itu Ifan melihat Dewi mulai memungut pakaiannya dan memakainya kembali.

Vania kembali memakai pakaian, lalu ke pintu mengantar Dewi. Dewi lalu berbalik dan memeluk Vania.

“Makasih. Abis gw cuci baju Widia, si Jefri gak bakalan tau apa yang ntar terjadi.”

Vania tertawa hingga Dewi hilang dari pandangannya.

Bersambung… “Yes” Vania berteriak sambil bergoyang. Di tangannya tergenggam remot wii. Goyangan tubuhnya membuat kedua susunya yang basah dipenuhi peluh berguncang tak mau diam.

Ifan menjatuhkan diri ke sofa hitam di belakang mereka. Kepalanya menunduk sambil duduk.

Vania membungkuk menyentuh jemari kaki sambil melemaskan perut dan ototnya. Sedang di belakangnya, anaknya sedang disuguhi pemandangan indah, berupa pantat montoknya yang ditutupi celana biru muda. Namun, dari sela kakinya Vania melihat anaknya hanya melempar remot wii dan menyandarkan kepala ke sofa.

Pun Vania mendekati anaknya lalu ikut bersandar di sebelahnya.

“Ada apa sih? Tumben cuekin pantat mama.”

“Entahlah mah. Rasanya kesal banget nih.?”

“Kesal kenapa?”

“Bener mama mau tau?”

“Iya dong sayang,” kata Vania sambil melingkarkan lengannya di bahu anaknya.

“Ifan seneng mau liburan sama mama, juga sambil ngajakin temen. Tapi di sisi lain, Ifan merasa gak seneng juga temen Ifan ikut.”

Semakin hari Vania merasa anaknya semakin Dewasa, semakin berpandangan terbuka. Kesepakatan ini sepertinya hal yang sangat disukuri Vania.

“Kok gitu?”

“Mama kan mama kandung Ifan. Akhir – akhir ini Ifan bener – bener seneng main sama mama. Tapi, tentu ini gakkan selamanya. Apa pun yang terjadi, Ifan tetap anak mama, gak akan pernah jadi pria, atau bahkan suami mama. Tapi tentu teman Ifan gak akan seperti Ifan. Apalagi saat kita liburan nanti.

“Emang kamu mau mulai ngerayu mama ntar pas liburan?”

“Ya enggak dong. Ifan juga kan tau batas. Meski kadang tak kenal kompromi, keras hati dan setegar besi. Cuma, Ifan akui, dan juga meski sama – sama kita akui, rasanya sangat berat dilarang menyentuh apalagi membicarakannya kepada seseorang. Meski kini bu Dewi tahu, tapi itu kan temen mama.”

“Memang kenapa? Hanya karena mama bisa dengan mudah hidup tanpa sehelai benang di sini, bukan berarti di tempat lain juga sama. Lagian, tubuh ini telah mengalami pelbagai macam cobaan hidup. Tubuh mama kini tak seindah tubuh mama yang dulu.”

“Omong kosong. Justru mama sangat seksi. Coba perhatikan. Tiap kali kita jalan, pasti banyak mata lelaki menatap mama. Apalagi temen Ifan pasti juga suka.”

“Kamu mau mama batalin ngajak temenmu gak?”

“Entahlah. Kalau batal ngajak mereka, mungkin Ifan jadi bakal terlihat brengsek di mata mereka. Tapi kalau jadi, mungkin bisa memulai ke hal – hal lain.”

Hening. Keduanya menghela nafas berbarengan meski tak pernah membuat janji. Menyadari itu keduanya pun saling menatap.

“Gimana semalam, kamu seneng kan liat dua wanita telanjang?”

“Yang satu sih gak telanjang. Apa bu Dewi bener – bener pingin ngulang lagi?”

Vania memukul anaknya, “Kamu gak pernah puas ya?”

“Ifan hanya gak enak sama Dewo,” kata Ifan sambil menunduk.

“Tinggal kamu pikir aja sama Dewi. Memang gak enak nutupin sesuatu dari seseorang. Bahkan pada titik tertentu, bisa membuat seseorang kecewa dan atau marah. Meski kamu tak bisa disebut curang. Mending kamu biarkan bu Dewi menanganginya. Lagian, dia lebih paham hal ginian disbanding kamu. Mama yakin kalau memang sudah pada waktunya, dia bakal memberi tahu Dewo.

“Main kartu lagi, cuma ditambah Dewo. Ifan sih seneng, kecuali liat Dewo telanjang. Najis tralala…”

“Mama yakin bu Dewi juga bakalan kembali seperti dulu. Kayak mamamu ini.”

“Maksud bu Dewi tentang ganti pasangan tuh apaan sih mah?”

“Ya beberapa pasangan bersetubuh bersama, kadang saling berbagi pasangan. Namanya swinger.”

“Emang di sekitaran kita ada mah?”

“Iya dong. Kami kadang melakukannya. Anggap saja hiburan orang dewasa.”

“Trus kira – kira ke depan bakal ngelakuin kayak gitu lagi gak?”

“Mama ragu. Kita gak semuda kayak dulu lagi. Sekarang udah pada sibuk sama keluarga masing – masing. Mama kira kamu hanya akan melihat hal kayak semalam aja, serta yang kita sering lakuin.”

“Kalau bu Yanti gimana mah?”

“Haha… Kamu gak puas ya cuma liat dua wanita…”

“Gaya hidup dia udah bikin dia bahagia. Mama ragu dia mau ngikuti mama sama Dewi. Dewi sama Jefri mungkin saja bisa diajak tukar pasangan. Kalau sampai terjadi, emang kamu mau?”

“Apa? Ifan sama bu Dewi? Entahlah mah, bisa – bisa Ifan dimutilasi Dewo. Tapi tak mungkin, ku tak berdaya, hanya mampu menunggu jawabnya.”

“Mari berandai – andai. Kita anggap tiada yang namanya Dewo. Setau mama, Dewi bahkan kemungkinan besar gak keberatan.”

“Entahlah mah, aneh juga kalau Ifan pikir. Terlalu ganjil. Bu Dewi memang masih menarik, tapi rasanya pasti aneh. Mungkin juga mama bakalan marah, iya kan?”

“Pertanyaan yang bagus. Yang pasti mama gakkan cemburu. Mama masih menunggu seseorang yang tepat untuk mengisi hidup mama. Mumpung kamu masih perjaka, sebaiknya wanita yang bakal jadi istrimulah yang jadi yang pertama dan satu -satunya bagimu. Biar lebih intim. Itulah alasannya mama sama ayahmu tak pernah berbagi pasangan.

Meski ayahmu bukanlah yang pertama, tapi dialah satu – satunya lelaki mama. Tapi kalau kamu memang mau sama bu Dewi, mama takkan melarang kamu. Bukan juga berarti mama menyuruh kamu. Mesti kamu ingat, dia itu masih punya suami juga ibu dari temenmu. Meski kamu pikirkan Dewo jika kamu ingin pertemanan abadi.

“Itulah yang bikin Ifan bingung.”

“Mama bangga sama kamu nak. Apa yang telah kita lalui kamu lakukan tanpa melanggar aturan awal kita.”

Tangan Vania kini bergerak membuat anaknya kini berada dalam pelukannya. Namun setelah beberapa saat, anaknya berontak hingga pelukan itu pun lepas.

Vania menatapnya.

“Ifan juga normal mah. Ifan gak bisa lama – lama bersentuhan sama susu kembar mama tanpa didinginkan dulu. Mandi misalnya.”

Ifan tertawa mendengar penjelasan anaknya lalu menatap payudaranya sendiri. Meski tidak besar, namun terlihat pas proporsional. Sambil melihat putingnya, Vania melirik benjolan di celana anaknya yang baru saja disadarinya kini muncul.

“Nih special buat kamu lihat,’ kata Vania sambil mengangkat susu dengan tangannya lalu mengarahkannya ke anaknya. “Emang kamu rela berbagi pemandangan ini ntar?”

“Udah ah. Mending maen lagi yuk.”

Keduanya bangkit lalu mengambil remot wii masing – masing. Keduanya kembali bermain voli sambil jingkrak – jingkrak.

Namun Ifan terus kehilangan point karena matanya tak bisa berkonsentrasi. Mata muda itu terpecah perhatiannya antara boli voli di monitor dengan bola daging di dada mamanya yang berkilauan karena penuh peluh bercucuran. Vania tahu anaknya sedang memperhatikannya. Namun, bukannya risih, Vania malah sengaja bergerak kian kemari supaya susunya ikut bergerak – gerak.

Pertandingan menjelang detik – detik terakhir. Saat Ifan akan melakukan upaya terakhir, tiba – tiba mamanya memanggil membuat Ifan menoleh. Saat Ifan menoleh, terlihat mamanya sedang nungging dimana celana dalamnya melorot sebatas lutut sehingga nampaklah pantat mamanya yang basah oleh keringat itu bergerak – gerak ke kiri kanan sambil bergoyang.

“Yes, mama menang lagi,” teriak Vania kegirangan sambil menggoyangkan pantatnya.

“Mama doyan bener nampilin asset mama. Bikin Ifan mesti kerja keras nih di kamar,” kata Ifan sambil melangkah meninggalkan mamanya.

“Tunggu nak.”

Ifan menghentikan langkah lalu berbalik menatap mamanya.

“Mama paham betapa kerasnya,” kata Vania sambil menatap gundukan yang tiba – tiba muncul di celana anaknya, “kamu mencoba menahan diri. Mama tahu kamu gak mau melewati batas perjanjian ini, baik itu perjanjian lama maupun perjanjian baru, apalagi melewati batas cakrawala. Tapi mama justru bangga dengan sikapmu yang tak kenal kompromi, keras hati dan setegar besi.

Vania menghentikan dulu ocehannya sebentar, nampak berhati – hati sebelum memulai lagi.

“Maka, atas dasar keteguhanmu itu membuat mama ingin memberi hadiah. Suatu hadiah yang secara teknis tidak melanggar atau bahkan menembus batas – batas yang telah kita sepakati bersama. Kalau kamu mau, kamu boleh mengolah ragakan tanganmu di sini sambil melihat mama yang mencoba memberi inspirasi.

Setelah berkata – kata, Vania lalu membalikan badan hingga membelakangi anaknya. Setelah itu tangannya mengelus – elus pantat dan sesekali meremasnya.

Mata Ifan membesar dan tangannya reflek mengelus selangkangannya yang masih terbungkus celana.

“Udah gak usah malu, lepas aja tuh celananya. Kayak mama gak pernah lihat aja,” kata Vania sambil terus meremas pantat. Namun kini tangan kanan Vania mulai bergerak ke arah susunya dan terus bermain di situ sementara tangan kirinya tetap di pantatnya.

Ifan menggeleng sambil melepas celananya hingga nampaklah teman kecil mamanya itu.

Vania menatap rudal anaknya lalu berlutut di depannya. Ifan terlihat sekali ingin menyentuh tubuh mamanya namun berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melakukannya.

“Dasar kamu nakal. Sekarang hadiah yang tadi mama janjikan. Ingat gak kesepakatan kita. Kamu sama sekali gak boleh menyentuh. Tapi gak ada poin yang melarang mama. Jadi dengan kata lain, kamu gak boleh menyentuh sedang mama boleh. Paham?”

“Enggak mah, Ifan gak paham. Tapi terserah mama dah.”

“Dasar kamu kalau udah nafsu otaknya mendadak buntu. Nih liat, tangan mama gak menyentuh kamu.”

Vania lalu memengan susu kanan dengan tangan kanannya. Serta susu kiri dengan tangan kirinya. Lalu belahan susunya itu dimajukan hingga kini menempel ke rudal anaknya. Tak hanya itu, kini ditekannya susu itu hingga rudal anaknya berada di antara susunya. Setelah berada di antara susu itu, tangan Vania bergerak – gerak seolah menekan membuat rudal itu seperti diremas – remas oleh susunya.

Gosokan serta remasan susu mama pada rudalnya membuat Ifan serasa melayang. Meski Ifan sadari dia tak pernah melayang. Ingin tangan Ifan mengelus dan meremas rambut mamanya, namun Ifan tak ingin menembus batas. Alhasil, tangan itu kini meremas rambutnya sendiri menahan kenikmatan tak tertahankan yang dihadiahkan mama kepadanya.

Vania terlihat bersemangat saat memainkan rudal anaknya dengan susunya. Suara anaknya makin tak jelas namun nalurinya sebagai seorang ibu membuat Vania paham bahwa anaknya akan segera orgasme. Begitu muda, begitu penuh semangat, batin Vania. Vania merasakan rudal anaknya mengejang, lalu sekejap kemudian menyemburlah lahar panas dari rudal anaknya yang langsung mendarat di rambut serta pipinya.

Vania mundur sedikit hingga lepaslah rudal anaknya dari susunya. Vania menyentuh peju anaknya lalu meratakannya hingga seluruh susunya terolesi. Vania agak lama mengusap – usap putingnya. Vania lalu menyeka peju yang ada di pipi dan rambutnya dengan jemari. Setelah jemari itu dipenuhi peju, jemari itu lantas dijilatinya hingga bersih.

“Mama suka banget ya peju Ifan?”

Vania menatap rudal anaknya yang masih bergetar. Vania lalu kembali membungkuk mendekatkan kepalanya ke rudal anaknya. Vania lalu menjilat rudal anaknya sebentar lalu menatap anaknya.

“Yah, kamu orang ketiga yang pernah mama cicipi rasanya tapi, mama ya suka aja.”

rudal Ifan tekejut hingga kembali tegang dibuatnya setelah mendapat kejutan jilatan meski hanya sekejut saja.

Akhirnya Vania menyenderkan tubuh ke sofa sambil melihat rudal anaknya yang kembali tegang dan berkedut – kedut. Vania lalu memberi ciuman lembut di bibir anaknya. Setelah itu Vania bangkit menuju kamarnya.

“Udah ah mama mau mandi dulu. Ntar mau ngumpul sama temen mama. Kalau kamu belum puas, lanjutin aja sendiri.”

Mamanya pun hilang dari pandangan. Kini pandangan itu beralih ke rudalnya sendiri. Ifan langsung duduk di sofa.

Hm… Meski hanya berdua dengan mama, namun sepertinya takkan sampai bosan hidup.

***

“Gimana penampilan mama?” kata Vania sambil berdiri di pintu kamar anaknya.

“Tergantung. Kalau mama ingin menggaet lelaki, pasti banyak yang tertarik sama penampilan mama. Tapi kalau mau ngumpul sama temen, mungkin ya biasa aja.”

“Tapi kan mama hanya pake blus dan jin,” kata Vania sambil melihat tubuhnya yang berbalut blus dan celana jin.

“Kalau pake jaket tambah cantik deh.”

“Dasar kamu. Eh, lagi liat apa tuh?”

Ifan menggeser tubuhnya sehingga mamanya bisa melihat dirinya sendiri di monitor sedang masturbasi.

“Kok kamu gak bosen sih nonton gituan terus?”

“Bosan? Liat mama kayak gini? Tentu tidak.”

“Ntar malam kamu mau ngapain?” Vania berjalan dan duduk di kasur.

“Munkin maen sama temen mah, kan mama juga mau ngumpul sama temen mama. Makan mungkin, kan Ifan gak bisa masak.”

“Kayaknya kamu mesti nikah sama yang pintar masak dan suka beres – beres.” Vania diam saat menatap adegan kursinya penuh dengan baby oil di monitor. “Bahkan gak keberatan sering beres – beres.”

“Lho, itu kan ulah mama, bukan Ifan.”

“Ya selama kamu mau bantu beres – beres, mama gak keberatan bikin ulah lagi.”

“Besok Ifan gak ada acara mah.”

Vania tertawa mendengarnya.

“Ya udah. Selamat bersenang – senang mah,” kata Ifan sambil menepuk pantat mamanya.

Beberapa saat kemudian, Ifan sedang berada di jalan, di luar sebuat restoran. “Cari yang lain aja yuk!”

“Yang lain gimana? DI sini enak makanannya.”

“Lagian, pelayannya bening – bening di sini.”

Akhirnya mereka memutuskan duduk di sudut. Pelayan datang membawa menu. Ternyata yang melayani merupakan pelayan yang dulu melayani Ifan dan mamanya.

“Tuan celana. Pacarnya mana?” kata pelayan kepada Ifan.

Ifan menatap pelayan itu, melotot sambil menggeleng.

“Eh, maaf. Saya kira teman saya.” Rupanya pelayan itu paham arti tatapan Ifan. “Mau pesan apa?”

“Mau pesan no hp anda boleh?” kata Cipto bersemangat.

“Tidak boleh, maaf. Silakan dipilih, menunya ada di daftar, bukan di dada saya.” Kata pelayan sambil menatap Cipto. Setelah itu pelayan itu pergi.

“Pantes lu gak pernah punya pacar,” kata Dewo pada Cipto.

“Lu bikin masalah aja. Ntar gw ngomong dulu sama dia minta maaf.” Kata Ifan sambil berdiri, lalu pergi.

Agak jauh dari mejanya, Ifan mendapati pelayan itu dekat dapur.

“Makasih tadi udah bilang gitu.”

“Jadi, yang dulu binor ya? Bahaya…”

“Binor, apaan tuh?”

“Bini orang.”

“Oh, enggak dong. Dia janda.”

“Oh, kamu punya pacar, jadi kamu gak mau temenmu kasih tau ini ke pacarmu ya.”

“Gak juga. Saya masih lajang kok.”

“Trus, wanita yang kemarin?”

“Dia itu spesial. Hubungan kami memang rumit. Lagian dia gak mau mereka tahu.” Kata Ifan sambil menunjuk ke mejanya.

“Jadi, biar gak ada kesalah pahaman diantara kita. Kamu punya hubungan dengan wanita cantik berumur, namun kamu gak mau temanmu tahu. Jujur saya akui saya terkesan. Biasanya cowok suka koar – koar omong kosong sama temennya. Tenang saja, saya gak akan buka mulut.

***

Cipto dan Dewo menatap Ifan saat kembali.

“Gimana?”

“Gw udah minta maaf. Gw takut dia nambahi sesuatu ke makanan kita kalau gak minta maaf.”

***

Sementara itu, Vania sedang bersenang – senang di sebuah tempat hiburan malam bersama teman – temannya.

“Lu kok keliatan seneng sih, kayak Vania?” Tanya Yanti ke Dewi.

“Ya seneng dong. Kita kumpul lagi kayak dulu.”

“Hanya saja, sekarang kayaknya gakkan ada yang sampai teler,” kata Lisa.

***

“Lu ngerti gak maksudnya celana kata si pelayan?”

“Mungkin dia kira petinju.”

“Gak bakal ada yang percaya lu bisa tinju,” kata Cipto tertawa.

Dewo menunjuk pintu, menatap Ifan, “Lu mau gw bawa dia keluar, biar kita tentuin siapa yang lebih jago kelahi?”

“Ntar, kalau dia ngomong aneh lagi ke cewek saat liburan ntar.”

“Bahkan, gw bisa bantuin pegangin dia nanti.”

“Gw masih gak percaya kita bakal liburan bareng. Apalagi sama mamanya Ifan. Seksi bro.”

“Kayak mama lu pada jelek aja.”

“Serius, ruginya kita.” Dewo tertawa. “Lagian lu pikir, mamamu bakal bebasin kita gak?”

“Maksudlu?”

“Ya, misalnya cewek, minum. Kan lagi liburan.”

“Kayak bakal dikasih aja.”

“Gw gak tau gimana mama. Tapi kayaknya mama gakkan larang selama kita gak bikin kacau.”

Pelayan tadi mendekat dan memberi bill. Anak – anak itu mengumpulkan uang, lalu Ifan pergi ke kasir. Dewo dan Cipto keluar. Setelah membayar, pelayan tadi sedang berdiri diam. Ifan menghampiri. Dia melihat tag nama bertuliskan Sendi di dada pelayan itu.

“Makasih ya atas pelayanannya. Sendi ya.”

Sendi tersenyum. “Iya, sama – sama.” Sendi lalu menarik bon dari tangan Ifan. Mengambil pulpen dari sakunya dan menuliskan sesuatu di bon itu.

“Jangan sampai temenmu dapat nomor ini. Kalau kapan – kapan bosen main sendirian, hubungi aja nomer ini.”

***

“Dah malem nih. Gw mesti pulang dulu.” Kata Dewi.

“Iya, setuju. Kalian sih enak gak punya laki.” Yanti menimpali.

“Ya udah, sekali lagi aja.” Kata Lisa lalu bangkit.

Rupanya Lisa memesan minuman lagi. Namun saat minuman siap, dia mengambil sesuatu dari tasnya dan memasukan ke minuman. Lisa kembali, memberikan minuman itu ke Ifan. Ifan langsung menelannya.

“Gw juga mau cabut ah.” Kata Vania.

Lisa panik. Lisa gak menyangkan Vania bakal langsung pulang. “Jangan dulu don Na, temenin gw dulu.”

“Lain kali aja.”

Yanti mulai membenahi pakaiannya, Dewi menatap Lisa yang kebingungan. Sedang Vania sudah mulai melangkah keluar.

“Sialan.”

“Lu kenapa sih?” tatap Dewi ke Lisa.

Lisa mengabil botol yang sudah setengah isi dari tasnya, lalu menyerahkan ke Dewi. “Gw udah kasih Vania ini. Biar dia bisa agak relaks. Eh malah pulang duluan.” Ngocoks.com

“Lu bener – bener sial ya. Sengaja lu bawa ginian? Pantes aja lu sendirian terus. Lu bener – bener butuh bantuan. Gw cabut dulu.”

Dewi ingat, Vania akan pulang. Dewi tahu kesepakatan mereka. Kini Dewi juga tahu Vania sedang dibawah pengaruh sesuatu. “Sial. Kacau.” Bisiknya.

***

Ifan menutup telepon saat mendengar pintu dibuka.

“Gimana acaramu nak?” kata Vania berseri – seri.

“Ifan dapet cewek mah. Barusan abis telepon – telponan.” Ifan berhenti bicara saat melihat mamanya berjalan sempoyongan. “Mama kenapa nih? Mama mabuk ya?”

“Enggak. Mama cuma minum tiga sloki. Tapi mama merasa aneh, melayang bagaikan terbang ke awan.”

“Apa mama ditraktir minum pria?” Ifan menghampiri mama dan memegangnya.

“Gak ada yang nyamperin mama. Mereka pecundang, gak kayak kamu. Mungkin mama cuma capek. Anter mama ke kamar sayang.”

Vania dibimbing anaknya ke kamar. “Makasih nak.”

Ifan duduk di kasur mengamati mamanya. Vania menatap dan tersenyum. “Kamu cemas ya? Jangan khawatir, mama gak apa – apa kok.” Kata Vania sambil berputar.

“Mama bener – bener cantik.”

“Makasih sayang,” kata Vania sambil melepas pakaiannya. Kini bhnya pun dilepas. “Para wanita pasti seneng liat kamu.” Vania terus tersenyum hingga telanjang.

Vania menghampiri anaknya lalu mendorongnya hingga terlentang di kasur. Vania lalu menaiki tubuh anaknya. Lengan Ifan bergetar menahan hasrat untuk menyentuh mamanya. Vania merasakan getaran tubuh anaknya.

Ibu dan anak itu tak mendengar suara pintu terbuka dan tertutup.

Ifan melingkarkan tangan untuk memeluk mamanya. Dapat Ifan rasakn sisa – sisa al – qohol di bibir mamanya. Ifan berguling sambil tetap mencium mamanya.

“Ifan sangat mencintai mama. Tapi Ifan gak bisa gini. Gak sekarang.”

“Gak apa – apa nak. Mama gak teler. Mama ingin ini.” Tangan Vania mengelus tubuh anaknya yang penuh peluh.

Ifan melepas pelukan dan berguling hingga berbaring di samping mamanya. Tangan Ifan memegang pundak mama, lalu turun hingga mengelus – elus susu mama. Ifan mendekatkan mulut lalu mencium mamanya, “sebaiknya kita bicara mah.”

“Kenapa nak?” kata Vania sambil tetap mengelus – elus tubuh anaknya.

“Apa yang kita lakukan merupakan sebuat langkah besar mah. Sebaiknya kita nikmati dulu momen ini. Mama juga dulu gak langsung gini dengan papa kan?”

Tangan Vania berhenti mengelus, “Tentu tidak. Butuh waktu lama bagi kami.” Vania tersenyum. “Mama kasih tahu rahasia ini, sebenarnya papamu bersikeras agar mama menunggu hingga kami menikah.”

Ifan melihat mama mulai menangi, “Mama bener – bener rindu papamu nak.”

Ifan merangkul mama hingga kepala mama berada di bahunya. Air mata mama menghangatakn bahu Ifan seiring dengan isak tangisnya. Ifan hanya memeluk mamanya. Saat Ifan menggerakan kepala, Ifan melihat Dewi sedang berdiri di ambang pintu menatap mereka.

Dewi melihat mereka dengan keprihatinan yang mendalam. Namun Dewi memutuksan untuk tidak berkata “Saya prihatin.” Dewi hanya menggeleng sambil mengacungkan jempol ke arah Ifan. Setelah itu Dewi tersenyum, mundur lalu menutup pintu kamar.

Sebelum Dewi keluar dari rumah itu, Dewi menulis catatan untuk Ifan. Dia menjelaskan apa yang terjadi serta merasa bangga akan sikap Ifan.

Ifan diam di kasur hingga mama berhenti menangis dan tertidur. Setelah itu Ifan bangkit dan keluar kamar. Namun, hingga Ifan ke kamarnya sendiri, Ifan tak menemukan catatan yang dibuat Dewi.

***

Ifan terbangung esok paginya. Beberapa saat kemudian, mama datang sambil tersenyum. “Mama baik – baik saja?”

Vania mendekati Ifan. Vania memakai daster pendek sambil memegang kertas. Tangan satunya membelai rambut anaknya. Vania menatap anaknya yang khawatir akan dirinya. “Mama gak apa – apa kok. Makasih kamu udah peduli sama mama.”

Vania memutuskan untuk duduk di kasur anaknya, “kamu baca catatan bu Dewi?”

“Catatan apa? Enggak tuh mah.”

“Sepertinya semalam mama dalam pengaruh sesuatu.”

“Sebaiknya kita segera ke dokter mah.”

“Gak perlu. Dewi udah nanya Lisa. Katanya tanpa efek samping. Tidak seperti efek rumah kaca.

“Kenapa bu Lisa ngelakuin itu mah?”

“Maksudnya biar mama relaks dan bersenang – senang. Mama jadi kecewa dibuatnya.”

“Maafin Ifan mah.”

“Kamu hebat nak, gak perlu minta maaf. Kamu benar – benar dewasa, lebih dewasa daripada mama. Mama bangga padamu.”

Ifan melihat daster mamanya. “Tau gak mah. Mama mending pake baju kok. Kita sebaiknya gak ngelakuini ini. Liat akibatnya ke mama. Apa yang hampir mama lakuin. Memang menyenangkan, tapi harus kita hentikan sebelum menembus batas.”

Vania berdiri dan tersenyum ke anaknya. “Mama senang dengan pikiranmu. Tapi mama pake baju bukan karena itu. Mama takut Dewi masih di sini.”

Vania melepas daster hingga telanjang, lalu naik ke kasur.

“Mah?”

Vania tertawa. “Liat ekspresimu. Mama serius kok, mama udah gak dibawah pengaruh lagi. Lagian ini hampir siang. Kamu aja yang suka malem bangun.”

“Iya deh. Tapi, mama ngapain sih?”

“Kamu benar – benar luar biasa, selain papamu. Kamu selametin mama dari kemungkinan rasa bersalah. Kini mama benar – benar bisa mempercayai kamu. Kita tak lagi butuh aturan dan kesepakatan. Apa pun yang terjadi, mama yakin kamu bisa mengatasinya. Apalagi yang kita lakukan ini penuh cinta dan kepercayaan.

Vania menatap mata anaknya dalam – dalam. “Maka dari itu, gak usah lagi ada kesepakatan.” Setelah itu Vania menindih tubuh anaknya lalu menciumnya.

Ifan balas mencium. Namun kira – kira satu menit kemudian, Ifan menghentikan ciumannya. “Udah dulu mah. Mama jangan marah ya, tapi Ifan rasa Ifan belum siap untuk seks mah. Kayaknya terlalu cepet.”

Vania menatap anaknya sambil tersenyum, “udah mama duga kamu bakal ngomong gitu. Kamu bener – bener mirip papamu. Bukan berarti kamu mesti jadi penggantinya. Kamu harus jadi diri sendiri.

Vania merebahkan kepalanya di dada Ifan sambil mengusap tubuh anaknya. “Banyak hal yang bisa kita lakukan nak.”

Ifan meletakan kepala di bantal sambil menikmati sensasi berbaringnya mama ditubuhnya. Ifan sangat menikmati elusan tangan mama.

Pelan saja, Vania berbisik, “mama suka elusan tanganmu semalam nak.”

Ifan terkejut, tangannya langsung bergerilya mencari susu mama. Setelah dapat, dieluslah susu mamanya itu. Sambil mengelus, Ifan menggerakan kepala hingga kembali mencium mamanya. Kali ini lidahnya disambut lidah mama. Sedang rudalnya dielus tangan mama.

Vania merasakan anaknya mulai bergetar, maka dia hentikan ciumannya. Vania lalu menatap anaknya, “ini caranya biar kita gak mesti beres – beres lagi.” Setelah itu Vania mengangkat kepalanya hingga mendekat ke selangkangan anaknya.

Vania langsung memasukan rudal ke mulutnya sambil mengelus peler anaknya. Saat itu juga Vania merasakan semburan peju di mulut yang langsung dia telan.

Setelah itu, Vania kembali berbaring di tubuh anaknya. Kepalanya di dada hingga bisa merasakan detak jantung anaknya. “Jadi, hari ini kamu mau ngapain?”

“Gak tau mah. Tapi Ifan udah gak sabar nih.”

Ifan memasuki dapur. Ifan melihat mamanya sedang mencuci piring dengan telanjang. Ifan merasakan tubuhnya seperti dijalari perasaan hangat. Sudah sering Ifan melihat mama telanjang, tapi kali ini beda. Ifan melihat mama dengan peraasaan yang lain. Dengan penuh cinta.

Ifan kemudian berpikir tentang pelayan dan malam penuh percakapan telepon. Ifan benar – benar ingin mengenal Sendi lebih jauh lagi. Tapi kenyataan ini tak menghilangkan perasaan cinta kepada mamanya. Ifan memang cinta mama, tapi Sendi, Sendi merupakan hal lain.

Ifan mulai membayangkan seandainya Sendi melalukan semua yang mama lakukan. Tapi pertama – tama Ifan ingin kenal dahulu.

Ifan kembali memperhatikan mama. Mama bahkan bersenandung. Ifan sungguh beruntung pagi ini, bahkan mama tak minta apa – apa setelah itu. Tapi Ifan merasa berutang nikmat, dan ingin membalasnya. Pelan – pelan Ifan mendekati mama dari belakang, lalu langsung memegang susunya.

“Aw..” Vania terkejut hingga membuat piring yang dipegangnya terjatuh.

Tangan Ifan mengelus susu mama. Jemarinya pun tak lupa memainkan pentilnya. “Mmm.. Geli nak…” Kata Vania sambil memutar kepalanya lalu mencium leher anaknya. Ifan lalu mengangkat tangan untuk meraih dan mengelus rambut anaknya.

Lembutnya sentuhan anaknya membuat Vania tak tahan untuk menggigit kecil leher anaknya sambil mengerang. Vania mulai menggesekkan pantatnya yang menempel pada rudal anaknya. Akhirnya Vania melepas tangan anaknya lalu berbalik menghadapnya. Vania menatap mata anaknya.

“Oh… Sudah sangat lama mama menanti. Kamu udah bikin mama kayak gini.”

Ifan menyeringai. “Duduk mah di meja.”

Vania lalu duduk di meja. Ifan berada diantara dua kaki mama yang terjuntai. Ifan meraih kepala mama lalu menciumnya sambil meremas rambut mama. Tangan Vania pun meremas rambut anaknya. Elusan tangan Ifan bermain di susu mama, lalu beranjak turun ke perutnya. Vania mengerang di sela – sela ciumannya.

“Oh.. Oh…” Nafas mama mengenai bibir Ifan. Ciumanya makin liar. Tubuh merespon kenikmatan yang ia terima. Tubuh Vania bergetar saat jari anaknya mencoba memasuki serambi lempitnya. Ifan merasakan kaki dan tubuh mama bergerak seirama gerakan jari di serambi lempit mama. Ifan menambah satu jari lagi, hingga kini dua jari sedang bermain di serambi lempit mama.

“Aaaahhhh,” teriakan Vania teredam oleh mulut anaknya. Vania mengangkat tubuh hingga membuat Ifan jatuh. Keduanya lalu terduduk di lantai, Vania gemetar. Kepalanya kini disandarkan di bahu anaknya.

“Dimana kamu belajar itu nak?” Vania mencium bahu anaknya.

“Dari imaji nasi dong mah.”

“Cewek yang nanti kamu ajak tidur pasti gak kan biarin kamu lepas. Makasih nak.” Vania menoleh menatap anaknya.

“Mama berhak menerimanya kok.” Ifan kembali menggerakan tangan membelai punggung mama. “Gimana rasanya mah setelah bertahun – tahun?”

“Kayak disurga. Mama gak mau pindah lagi.”

Ifan memeluk mama erat, “Ifan gakkan kemana – mana mah.”

Vania kembali menjilati leher anaknya, “Mama sangat mencintaimu.”

Ibu dan anak itu tetap pada posisi untuk waktu yang cukup lama. Setelah itu, keduanya tertawa, merasa canggung lalu berdiri.

Telepon tiba – tiba berbunyi. Vania menyadari mata anaknya menyipit, “Semalam kamu ngomong sesuatu tentang cewek ya?” Kata Vania sambil melihat anaknya yang berlari menuju telepon.

Ifan lari lalu mengangkat telepon, “Iya bu, mama gak apa – apa kok. Mah, telepon dari bu Dewi.”

Vania menatap anaknya kecewa, “Jangan kabur dulu. Mama mau dengar ceritamu.” Lalu mengambil telepon dari anaknya. “Halo… Gw normal kok. Udah gak ngefek lagi… Gak, gw gak marah… cuma kecewa… Gw jadi males liat dia… Ifan… Ya dia luar biasa… Apa, lu liat? Hehehe… Gw kasih tau, perjanjian gw sama anak gw udah tamat.

Gw udah yakin ama anak gw, jadi gak perlu aturan lagi. Lagian tadi gw dibikin lemes ama dia. Apa? Gak, pake jari doang. Lu mesti liat wajah dia sekarang. Apa, lu juga mau? Ah gak percaya gw. Inget Wi, gw udah kasih tau lu. Lu juga mesti cerita abisnya. Si Ifan mesti cerita, kayaknya ada cewek baru nih.

Vania menutup telepon sambil tersenyum ke arah Ifan. “Ada kabar baru nih. Kamu mau yang mana dulu, kabar aladin atau kabar aladin?”

Ifan mengernyitkan alisnya, “kabar aladin?” Ifan lalu tertawa, “kabar aladin dulu deh.” Ifan kembali mengernyitkan alisnya, seperti bingung. “Kabar aladin dulu.”

“Ternyata, bukan kamu saja yang aladin beruntung.”

“Mama ngomong apaan sih mah? Aladin siapa sih?”

“Ntar sore, Dewi sama lakinya, Jefri, bakalan ngajak si Dewo main kartu, kayak kita semalam.”

Ifan tertawa, “Aladin,” katanya sambil mengacungkan jempolnya.

“Kayaknya virus kita mulai menyebar.” Vania mendekati anaknya lalu memeluknya. “Sekarang cerita atau mama paksa kamu.”

“Iya deh, Ifan nyerah.” Kata Ifan sambil mengajak mamanya duduk di sofa.

Bersambung… “Wo, sini Wo.”

Dewo sedang duduk di depan monitornya. Namun bukannya senang, Dewo malah merasa jenuh. Tak ada lagi yang dapat diperbuatnya selain bengong, gak ada kerjaan. Bingung apa yang harus dia lakukan. “Beri aku uang… Beri aku uang…” Pikirnya saat suara mamanya memanggil. “Daripada terbunuh sepi…” Pikirnya sambil melangkah.

Dewo mencari sumber suara itu. Ternyata mama sedang sama ayah di meja. “Apa mah?”

“Lagi sibuk gak?”

“Emang kenapa mah? Gak sibuk sih.” Kata Dewo sambil duduk di kursi.

“Kamu bosan gak?” mama mengedipkan sebelah mata pada ayah.

“Iya.”

“Mau main gim gak?”

Dewo menatap ayahnya. Heran karena dia tertawa.

“Widia lagi pergi, mama juga bosan sama kayak ayah. Kamu mau ikut maen kartu gak? Yang kalah mesti buka pakaian?”

Dewo terkejut, “apa?” Dewo menatap ayah dan mama bolak – balik.

“Kamu kan udah besar,” ayah akhirnya angkat suara. “Ayah denger kamu dan temenmu suka bicarain mamamu dan mama temenmu. Nah, sekarang kamu punya kesempatan. Tapi, kalau gak mau ya gak apa – apa.”

“Pasti bercanda nih.” Dewo mulai senyum.

“Mama yakin kamu bakal telanjang duluan sebelum bisa liat mama,” kata Dewi sambil mengambil kartu. Lalu mulai mengocok.

“Jangan gitu. Meski ayah seneng liat anak kita dipermalukan, tapi ayah ingin liat mama telanjang lebih dulu.” Kata ayah sambil menepuk bahu Dewo.

“Silakan berharap. Ingat aja yang, mama bisa nelanjangin si Vania sama anaknya sebelum akhirnya mama telanjang.”

“Apa?” Dewo lemas hingga menggelosor ke lantai dari kursinya. Ayah tertawa melihatnya.

“Mama lagi ngobrolin kamu. Terus Vania malah nantangin main sama anaknya.”

“Bajingan itu malah gak kasih tahu Dewo.” Dewo memukul meja.

“Jangan marah sama dia. Dia gak salah, mamanya otak dari semua ini.”

“Kacau… Bener – bener kacau…”

Ayah kembali bicara, “Bukan kacau Wo, tapi menikmati hidup. Kayak ayah dan mamamu dulu, sebelum pada punya anak.”

“Gak usah terjebak masa lalu Yah. Pasti ntar Vania sama Ifan juga kebagian lawan ayah.”

“Yakin?”

“Iya dong. Mama yakin kalian akan segera telanjang asal kamu bisa tutup mulut,” Dewi menatap Dewo. “Jadi cepat ambil kartu dan mainkan.”

Ketiganya lalu bemain hingga Dewo dan Jefri hanya tinggal bercd saja. Sedang Dewi hanya memakai cd dan bh.

Putaran berikutnya Dewi kalah. “Sial,” katanya sambil tangannya menjangkau punggung untuk melepas bh. Akhirnya susu Dewi terlihat oleh anaknya untuk kali pertama.

Dewo hanya bisa melongo melihatnya.

Dewi meraih pentil susu dan menariknya, “kamu ingat dulu gak?” katanya sambil menatap anaknya.

“Ayah gak inget terakhir anak kita gak bisa bicara gitu. Hehehe.”

Dewo geleng – geleng sambil meraih lalu mengocok kartu. Setelah pertarungan yang cukup sengit, Dewi kalah. Jefri tertawa senang. Dewi lalu berdiri, melepas cd, menggoyang – goyangkan pantatnya ke arah anaknya. Setelah itu kembali duduk.

“Ee… Sekarang apa?” bengong Dewo.

“Karena mulut mamamu gak ada gunanya lagi, gimana kalau mama kalah mesti nyepong dia yang menang. Setuju sayang?” jefri menatap Dewi.

Dewi menatap anaknya, “semoga aja Dewo menang,” lalu menatap suaminya, “karena kalau ayah menang, mama pake gigi mama.”

Dewo kembali terjatuh dari kursi akibat lemas. Ayah dan mama hanya tertawa.

Kartu kembali dibagikan. Namun yang menang adalah Jefri. Jefri lalu berdiri dan menatap anaknya, “perhatikan nak. Liat bagaimana ahlinya mamamu!” Jefri berharap soal gigi tadi hanyalah candaan.

Dewo melihat pantat mama bergoyang – goyang saat mulut mama sibuk di selangkangan ayah. Dewo mendekati mama biar bisa lebih jelas melihat.

Mama melepas kulumannya lalu menoleh ke anaknya, “pantat bergoyang artinya undangan. Kamu gak homo kan?”

“Tentu tidak.”

Jefri tersenyum pada anaknya, “lepas celanamu nak. Ayo lakukan.”

Dewo langsung melepas celana hingga telanjang lalu berlutut di belakang mama. Dewo memasukan rudal ke serambi lempit mamanya.

“Oh…” kata Dewi di sela sepongannya.

Dewo merasakan betapa nikmatnya serambi lempit mama hingga mulutnya mengerang dengan sendirinya. Pompaan rudal Dewo semakin lama semakin cepat. Tangan ayah memegang kepala mama saat ayah orgasme di mulut mama. Aku pun orgasme dibarengi mama yang bergetar. Rupanya mama ikut orgasme.

Dewo mencabut rudal lalu duduk dikursi sambil memperhatikan lepasnya rudal dari mulut mama. Mama lalu menatap ayah, “gimana, senikmat imajinasimu?”

“Iya sayang.”

Dewi duduk lalu menatap anaknya. “Setelah mama main sama Vania dan Ifan, mama langsung pulang dan bergumul sama ayahmu. Abis itu mama ceritain semua. Terus ayahmu malah punya ide ini.”

Jefri menatap anaknya, “jadi, kira – kira setelah ini kamu bakal sering bosan gak?”

“Tidak komandan!” jawaban Dewo membuat ayah dan mama tertawa.

***

“Maksudmu, gadis yang dulu nganter makanan ke rumah kita trus ngelayanin kita di restoran?”

“Iya.”

“Gila, terus gimana caranya kamu mau nerangin kalau saat itu kamu sama mama?”

“Entahlah. Biar waktu yang menjawabnya.” Mata Ifan menerawang sambil mengelus meja

“Gimana kalau mama kembali berpakaian aja dan kita kembali normal seperti dulu?” Perut Vania bereaksi melihat anaknya yang jelas sedang jatuh cinta.

“Tentu tidak.”

Vania tertawa, “Terserah kamu. Kita tunggu saja, jika hubungan ini makin serius, maka kamu mesti memikirkan cara untuk memberitahukannya. Gak boleh ada rahasia jika mau berhubungan, bisa ricuh.”

“Ifan tahu. Ntar Ifan pikirkan suatu cara.”

Vania bangkit lalu mendekati anaknya. Vania duduk di pangkuan anaknya lalu menciumnya. Beberapa saat kemudian Vania melepas ciuman lalu menatap anaknya. “Mama sangat cinta sama kamu. Tapi suatu saat jika kamu sudah menemukan belahan jiwamu, mama akan merelakanmu. Gak perlu kamu khawatirkan perasaan mama.

Tangan Ifan mengelus bahu mama, sedangkan tangan lainnya memainkan jemari di susu mama. Mata Mama mulai terpejam. Erangan kecil mulai keluar dari mulut mama.

“Ifan sangat bersyukur punya mama seperti mama.” Ifan lalu mencium leher mama.

Vania menjerit saat Ifan merangkulnya lalu mengangkatnya hingga ke atas meja. Ifan lalu melebarkan kaki mama, “kamu mau lagi ya?” kata mama.

“Tentu.”

Kring… Kring…

“Biarkan saja mah.”

“Kalau dari sendi gimana?”

“Oh iya,” Ifan bergegas meraih telepon.

“Halo, Cip,” mata Ifan menatap betis mama. Meski betis mama tak bercahaya seperti ibu para raja zaman dahulu, namun sungguh terlihat seksi. “Gak, gw udah siapin semua. Tinggal lu aja sama Dewo. Telpon aja sama lu. Gw kira cewek. Ya cewek asli lah. Gak, gw gak bakalan cerita sekarang. Yo.”

Tubuh mama masih tergeletak di meja, menatap jalang pada anaknya. Ifan menghampiri dengan antusias. Tangan Ifan mulai mendekati kaki mama…

Kring… Kring…

“Sial… Sial…” Ifan kembali meraih telepon.

“Halo. Oh, kamu Sen. Iya, aku juga seneng semalem ngobrol sama kamu. Apa? Iya sip. Jadi besok, jam tiga. Sampai jumpa.”

“Wah.. wah… Ada yang janjian nih?” tawa Vania menggoda anaknya saat anaknya mendekat.

Ifan tersenyum, “hehe…”

Masih berbaring di meja, Vania melorotkan celana pendek anaknya, “berarti kamu milik mama malam ini.” Vania menjulurkan lidah perlahan untuk mengenai rudal anaknya.

Kring… Kring…

Vania melepas rudal dari tangan dan menjatuhkan kepalanya saat Ifan memukul meja. “Hehehe…” Vania cengengesan.

“Apa lagi? Eh, halo bu Dewi. Tidak, sedang santai kok. Mau ngomong sama mama? Kata mama ibu lagi main kartu? Sudah? Siapa yang menang? Maksudnya, semua? Mantap. Tentu, ada rencana sih. Ya seperti itu. Ibu kan temen mama, rasanya obrolan ini agak janggal. Ibu yakin? Tentu Ifan percaya. Siap bu. Iya.”

Ifan kembali menghampiri mama. Tangan mama disilangkan di meja, dan dagu mama bersandar di tangan itu. “Katanya bu Dewi sekeluarga mau ke sini ntar malem.”

Vania langsung duduk, kakinya menjulur dari meja. “Mau ngajak keluar?”

“Enggak, katanya mau makan di sini.”

“Apa kamu yakin gak keberatan kita kedatangan tamu?”

“Gak, bu Dewi kedengeran semangat. Katanya bakal tak terlupakan bagi kita.”

“Bisa jadi malam yang sangat menarik. Kamu siap?”

“Mungkin saja, kita lihat nanti.”

***

Saat yang dinanti para pembaca pun tiba, pintu diketuk. Ifan membuka pintu. Munculah bu Dewi dan suaminya, paman Jefri. Ifan menyalami mereka. Vania lalu datang. Jefri memandang Vania yang memakai kaos penuh keringat.

“Ku akui, aku mesti berterimakasih atas bantuanmu,” senyum Jefri saat menyalami Vania.

“Pantesan kamu senyum terus…” balas Vania.

“Jadi, tumben – tumbenan nih maen ke sini…”

“Iya, gw inget lu tanya apa gw pingin balik lagi kayak dulu. Nah gw omongin dah ke laki gw. Kalau lu oke, setidaknya gw dan laki mau ngucapin makasih udah nyalain lagi api yang pernah pudar.”

Vania menatap anaknya, “Ifan baru dalah hal ini. Jadi kalau lu setuju, kita pelan – pelan saja. Gw juga gak mau sampai main kecuali sama anak gw. Gw baru sadar, rasanya gw sengaja nunggu. Duh.”

Ketiga orang paruh baya tertawa, sementara Ifan celingukan sendiri bingung.

“Dari dulu juga gw tau lu orangnya punya komitmen. Gimana anak lu, apa dia udah punya inceran buat masa depannya? Kalau anak gw sih, tadi sore gak kesulitan.” Dewi tertawa menatap Ifan yang makin merah karena malu.

Jefri tertawa, “Jangan biarkan mereka melahapmu nak. Udah tugas wanita buat bikin kita senang – senang, setidaknya salah satu wanita ini udah melakukannya. Si Dewo mulai beruntung sama mamanya, Paman jadi khawatir.”

“Dewo sih gak pernah susah kalau soal cewek, tapi jangan bilang kalau saya kasih tahu,” kata Ifan terlihat kikuk.

“Jadi, mau di mana nih?”

“Di dapur aja, sambil duduk. Kita ngobrol normal – normal dulu. Pelan – pelan untuk remaja kita.” Dewi sambil menggandeng bahu Ifan.

“Mana makanannya, katanya lu mau bawa?” Vania meyiapkan piring ke meja.

“Udah gw pesen.” Tok.. Tok… “Nah, itu datang pesenannya.” Jefri menarik uang dari dompet sambil berjalan menuju pintu

“Tunggu, pesan dari mana paman?” Ifan meraih tangan Jefri hingga

“Tempat rekomendasi Dewo, kenapa emang?” Jefri menatap Ifan heran.

“Oh, pacarnya kerja di sana. Suka nganterin juga,” Vania menimpali sambil tersenyum.

Jefri menyerahkan uang ke Ifan, “kalau gitu, kamu ambil saja.”

Saat pintu dibuka, Ifan dan Sindi sama – sama tersenyum.

“Hay, aku ingat alamat ini, jadi sengaja aku antar.”

“Ya, setidaknya kali ini aku sengaja berpakaian kumplit.”

Sindi tertawa. Ifan melirik ke samping melihat mamanya pun tertawa.

“Bener – bener gak ada privasi di sini ya?”

Vania mengangkat tangannya, “cuma ngecek, kali aja butuh bantuan bawain makanan.”

“Ya… ya… percaya deh…”

Sindi memandang ke dalam, “bilang padanya agar jaga tangannya di tempat yang terlihat,” tawa Sindi.

Vania lalu muncul di pintu, antara Ifan dan Sindi. “Halo, kamu pasti Sindi ya.”

“Ya, kalau anda?”

“Vania, tenang saja cantik. Saya bukan sainganmu dalam remaja ini.”

“Udahlah Na, mending sana deh.”

Bukannya menghilang, Vania malah membuka pintu lalu meraih makanan dari Sindi. “Tante tau tante gak diharap ada di sini. Tapi jangan ngambek kalau nanti kamu kembali makanan udah gak bersisa.” Vania lalu masuk sambil tertawa.

Ifan memperhatikan mama hingga berada di dapur, lalu kembali ke Sindi.

“Dia makan sebanyak itu, tapi masih kelihatan cantik?” tatap Sindi ke Ifan.

“Oh, tentu tidak. Di dalam ada teman kami.”

“Kami? Aku tak sabar dengar ceritanya. Dia tampak menawan.”

“Ya, dia hanya senang saat tahu aku lagi dekat sama wanita. Tapi dia juga enak orangnya. Eh, ntar mau nonton apa?”

“Gak tahu, kita liat aja nanti apa yang sedang diputar. Terus kita putuskan bareng, biar sama – sama menikmati.”

“Bagus. Oh iya, nih uangnya. Mumpung ingat.” Ifan mengeluarkan uang lalu memberinya ke Sindi.

“Makasih. Aku mesti kembali, biar tetap kerja. Hehehe…”

Tanpa berpikir, Ifan mendekati Sindi lalu mencium pipinya. Setelah itu Ifan melihat Sindi berbalik dan menjauh, langkah Sindi seperti langkah mama saat mama senang. Saat akan masuk, Ifan melihat sesuatu di jendela.

“Tukang intip di mana – mana.” Teriak Ifan, Dewi dan Vania hanya tertawa.

“Paman udah bilang ke mereka jangan ngintip,” kata Jefri dari dapur.

“Iya, makasih udah ngelarang mereka paman.”

“Jangan marah dong, lagian siapa yang tahan liat anak lucu…” kata Dewi sambil memeluk Ifan.

“Makanan udah mulai dingin nih,” teriak Jefri sambil mengunyah.

Ketiganya lalu menuju dapur. Makanan sudah tersaji di meja. Ada satu botol kosong dan satu botol penuh.

“Lu minum sendirian?” tanya Vania ke Jefri yang sudah agak mabuk.

“Kan mau ngajarin anak ini. Pelan – pelan saja kan.”

Vania tertawa, “putar botol?”

Dewi tersenyum pada Vania, “pelan – pelan saja.” Lalu menatap Ifan, “Gimana nak, tertarik?”

“Boleh bu, tapi jangan harap Ifan mau menyetuh paman Jefri, najis tralala…”

“Tenang, ini versi pasangan. Makanya kami gak bawa Dewo.”

“Entahlah… Ifan masih merasa gak enak sama Dewo.”

“Gak usah khawatir, sore tadi Dewo udah bahagia. Apalagi esok lusa. Siapa tahu kapan – kapan kita main gim ibu dan anak bareng.”

Ifan menggeleng, “Kacau… bener – bener kacau…”

“Ngeluh? Kayak yang iya aja,” Vania tertawa.

Keempat insan itu makan, minum dan tertawa. Setelah makan selesai, meja dikosongkan hingga hanya terdapat satu botol. Dewi memutar dan botol itu berhenti tepat menunjuk Ifan.

“Cium sang gadis,” teriak Dewi.

Vania tersenyum lalu mencium anaknya.

Jefri menyeringai, “setelah bertaun – tahun, lu gak lupa caranya kan?”

Setelah beberapa saat, Vania dan Ifan kembali duduk di kursi masing – masing. Ifan memutar botol. Botol menunjuk ke mama temannya.

“Gantian,” tawa Vania.

Jefri dan Dewi berciuman. Terkadang lidahnya menjulur keluar.

“Babak pertama usai. Selanjutnya yang kalah mesti lepas pakaian. Jika kembali kalah, maka lanjut ke tes jujur.” Cukup bicara, Dewi lantas memutar botol. Ironisnya botol itu mengenai dirinya sendiri.

“Sial, gw mesti pertama telanjang lagi .” Dewi lalu melepas kaosnya. Tangan Dewi meraih ke punggung lalu melepas bh. Setelah itu Dewi berdiri dan melepas celana jins, akhirnya Dewi melepas cdnya. Ifan dengan antusias melihatnya.

Botol kembali diputar, berhenti menunjuk Vania. Vania berdiri lalu melepas bajunya. Kedua pria bertepuk tangan.

Jefri tertawa, “masih seperti dulu, liar dan cantik.”

Berikutnya Ifan yang harus melepas pakaian.

“Sejauh ini masih aja pemalu?” jefri geleng – geleng melihat Ifan yang terlihat malu. Para wanita hanya cekikikan.

Akhirnya giliran Jefri yang melepas pakaian. “Kali ini yang tertunjuk mesti ngocok atau ngelus pasangan dengan tangannya. Katanya kamu pintar Dan.” Dewi merujuk kepada Ifan sambil memutar botol. Botol menunjuk Ifan.

Vania berdiri dan jalan mendekati meja lain, “kita ulangi saja yang tadi.” Vania lalu duduk di meja dan melebarkan kaki, sementara Ifan kini berdiri diantara kaki Vania.

Vania lalu membungkuk untuk mencium anaknya. Tangan anaknya mengelus susu Vania, serta punggungnya.

Dewi menggeser kursi hingga di sebelah suaminya. Tangan Dewi lalu mengelus rudal suami, sementara tangan Jefri memainkan pentil istrinya. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com

Perlahan tangan Ifan menuruni tulang rusuk hingga berputar di perut mama. Sementara tangan satunya membelai pantat mama.

Dewi bisa mendengar erangan Vania, “Enak nak.”

Vania mengejang kembali saat jemari anaknya mengelus serambi lempit sambil tetap berciuman. Vania lantas membuka mata melihat Dewi sedang memainkan rudal suaminya, “Woy, sabar dong tunggu giliran.”

“Gak usah didengar, terus sayang hhh,” rintih Jefri. Dewi memajukan kepala untuk mencium suaminya.

Vania merebahkan kepala di bahu anaknya sambil menonton temannya. Kini Vania memeluk erat anaknya sambil gemetaran dan menggigit bahu anaknya saat Vania akhirnya keluar.

Perlahan Vania turun dari meja dan kembali mencium anaknya. Kini semua orang kembali duduk. Karena terkena guncangan oleh salah – satu tubuh, botol menggelinding. Sebelum jatuh, Vania menangkap botol.

“Rehat dulu, gw mau ke kamar mandi. Ntar gw ada ide buat ronde akhir.”

Semuanya kembali ke meja. Vania berdiri lalu menunjuk Jefri, “lu hutang muasin bini lu, tapi sebelumnya gw mau lanjutin apa yang tadi dipotong sama telepon.”

Vania lalu naik meja dan berbaring. Tangannya lalu meraih rudal anaknya dan menariknya hingga masuk ke mulutnya. Kontan saja Ifan terkejut atas aksi mama. Tangan Ifan memegang pinggir meja. Sementara matanya melihat kepala mama yang maju mundur. Tangan mama sepertinya memegang dan mengelus pantat Ifan.

Dewi bangkit, mendekati Vania lalu membungkuk untuk melihat temannya sedang nyepong anaknya sendiri. Jefri bangkit dan berlutut di belakang istrinya. Tangan jefri lalu mulai mengelus pantat istrinya.

Dewi mengerang saat lidah suaminya mulai bergerilya. Erangan Dewi menyebabkan Vania berhenti, mencabut rudal anaknya lalu mencium Dewi. rudal yang masih dalam pegangan Vania diarahkan ke mulut Dewi. Dewi menghirup rudal teman anaknya, lalu menoleh ke belakang, “masukin ke anus yang.” Setelah itu, Dewi memasukan rudal teman anaknya ke mulutnya.

Cerita Sex Keluarga Besar

Jefri berdiri, melebarkan pantat istrinya lalu mulai menusuk rudal ke pantatnya. Dewi melepas rudal dari mulut, bangkit berdiri lalu mencium mulut teman anaknya sendiri. Sementara rudal Ifan kembali bersarang di mulut mamanya.

Ifan mengerang di sela ciumannya saat rudalnya menyemburkan peju di mulut mama. Dewi meracau tak jelas saat keluar. Jefri makin cepat memompa hingga menyemburkan peju di anus istrinya.

Mereka lalu berbaring di lantai. Vania kembali mencium Ifan, Jefri mencium punggung Vania. Ifan lalu melepas ciuman dan memandang ketiga orang itu, “Ifan jadi penasaran, pelan – pelan saja sudah gini. Gimana kalau yang ekstrim?”. Ketiganya tertawa mendengar pertanyaan remaja itu.