Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Hasrat Terlarang Adik SMU pada Kakak Kandungnya yang Seksi

Hasrat Terlarang Adik SMU pada Kakak Kandungnya yang Seksi

Novel Petualangan (Adelia & Adelio) – Menceritakan tentang seorang wanita cantik yang bernama Adelia Krasniqi yang cantik, cerdas, seksi & adik nya bernama Adelio Berisha yang masih kelas 2 SMU. Kita hanya tinggal berdua, karena kedua orang tua kami tinggal di kota yang berbeda.

Khusus Dewasa18+ Cerita ini hanya fiktif belaka murni hasil dari pengembangan fantasy semata tanpa ada keinginan untuk melecehkan dan atau merendahakan suku, ras, dan agama, diharapkan kebijakan dan kedewasaan pembaca, segala sesuatu yang terjadi kemudian diluar tanggung jawab penulis.

Novel Petualangan (Adelia & Adelio) “Kak, aku pergi sekolah dulu yah”

“Iyaaa… belajar yang bener, jangan macam-macam di sekolah kamu dek!”

“Nggak kok… mending macam-macam di rumah sama kakak, hehe”

“Hah? Apaan sih kamu?”

“Bercanda kok kak”

“Dasar…” Diapun mendaratkan ciumannya di keningku, seperti yang biasa dia lakukan ketika aku pamit ke sekolah.

Ugh, sungguh senangnya tiap pagi selalu mendapatkan ciuman darinya, ciuman dari kakakku yang cantik dan seksi ini, tapi…

“Hehe.. Dado pamit juga ya kak..” Ujar temanku bernama Dado yang menungguku dari tadi.

Dia ikut mendekati kakakku dengan wajah sok polos & cengengesan seperti ingin juga mendapatkan kecup manis dari kakakku.

“Kenapa Do? Kamu mau kakak cium juga?” Tanya kakakku seakan bisa menebak apa yang dipikirkan temanku itu.

“Hehe… Iya kak… boleh?” pinta Dado.

“Hihihi… duh kamu ini, Kakak tanyain Adelio dulu yah… Dek lihat tuh, temanmu mau dicium sama kakak juga tuh… Boleh nggak dek dia juga dapat ciuman dari kakak?” tanya kakakku meminta pendapatku.

“Ya nggak lah kak!” Tolak ku, gila aja kalau si jelek ini juga dapat ciuman dari kakakku.

“Tuh dengar, gak dibolehin sama Adelio, hihihi. Udah sana kalian, buruan berangkat”

“Iya iya… Buruan Do!” Suruhku menyeret Dado.

lama-lama di sini ntar si Dado beneran bakal dapat ciuman dari kakakku lagi, tak rela aku! aku aun segera menyalakan motorku dan berangkat ke sekolah.

“Daagh kak Adeliaa…”

“Daagh kak Adeliaa cantik.. hehe..” pamit Dado juga ikut-ikutan. Kupret nih anak!

•••

Namaku Adelio Berisha. Aku masih kelas 2 SMU. Di rumah ini aku hanya tinggal berdua bersama kakakku. Ya, hanya berdua saja karena kedua orang tua kami tinggal di kota yang berbeda dengan kami.

Papaku yang bekerja di luar kota membuat Mama juga jadi harus mendampingi nya di sana. Tapi bagiku tak masalah, karena selama ini aku ditemani oleh kakakku, Kak Adelia.

Kak Adelia saat ini sedang kuliah di salah satu PTS ternama di kota kami dan baru saja menjalani tahun pertamanya. Sungguh hari-hari yang ku lalui sangat menyenangkan karena kakakku sangat memperhatikan diriku.

Seperti memasakkan makanan untukku sehari-hari, sampai mengingatkan akan pakaian kotorku yang seharusnya dicuci. Tapi karena kakakku juga memiliki kesibukan kuliah, aku memilih untuk mencuci pakaianku sendiri.

Walau terkadang justru ia yang ingin mencucikan pakaianku. Memang kakakku ini sangat baik. Hal itulah yang membuatku semakin suka bermanja-manja pada kakakku ini.

Kak Adelia sehari-hari dikenal baik, ramah dan sopan di lingkungan perumahan kami. Dia tidak pernah pilih-pilih teman dalam bergaul. Walaupun kak Adelia sudah memiliki pacar, tapi tetap saja banyak cowok yang nekat untuk mendekatinya.

Bahkan termasuk teman-temanku yang suka main kerumah dengan alasan bikin PR lah, main PS lah. Siapa juga sih yang tidak tertarik dengan cewek seperti kak Adelia. Sudah cantik, sopan, ramah pula. Aku saja sampai tertarik padanya meskipun aku adalah adik kandungnya.

Sehari-hari, Kak Adelia selalu berpakaian tertutup lengkap dengan jilbab bila keluar rumah atau saat sedang menerima tamu. Tapi ketika sedang di rumah saat hanya berdua denganku, kak Adelia sering sekali berpakaian seadanya.

Siapapun pasti memaklumi bila berpakaian seadanya saat berada di rumah tanpa ada orang lain yang melihatnya kecuali aku. Tapi yang kak Adelia kenakan justru lebih dari sekedar seadanya. Bahkan bisa dibilang sangat seadanya, pakaian yang sangat minim!

Karena hanya ada aku di rumah ini, maka akulah yang beruntung bisa melihat pemandangan indah ini setiap hari. Walaupun kadang kadang teman-temanku juga kebagian rezeki dapat melihat penampilan kakakku berpakaian minim.

Seperti saat mengantarkan aku ke depan pintu tadi, kakakku ini hanya mengenakan tank top putih ketat berbelahan rendah dengan bawahan celana pendek berwarna pink.

Sungguh setelan yang mempertontonkan aurat-auratnya! Kulitnya yang putih mulus, lekukan tubuhnya yang indah, rambut hitam sebahunya yang digerai, serta semua bagian tubuhnya yang biasa ia tutupi bila keluar rumah itupun tersaji khusus untukku, adek laki-lakinya.

Aku juga bisa pastikan kalau kak Adelia tidak mengenakan apa-apa lagi dibaliknya karena aku bisa dengan jelas melihat tonjolan mungil pada bagian dadanya. Gimana aku nggak horni coba? Meskipun aku adiknya, tapi aku kan laki-laki biasa. Sialnya temanku tadi juga beruntung bisa melihatnya.

Tapi kak Adelia sepertinya cuek-cuek saja dan tidak peduli bila dirinya selalu menjadi tontonan bagiku sehari-hari. Kak Adelia seperti sudah biasa membiarkan dirinya dan cara berpakaiannya itu dipelototi bulat-bulat olehku.

Malah sesekali kak Adelia melempar senyum manisnya ketika tahu aku sedang memperhatikannya. Ugh, sungguh bikin gregetan! Mana dianya juga tak jarang mondar-mandir di depanku seperti seakan sengaja menggodaku. Gimana aku tidak pusing dibuatnya!

Semakin lama aku malah berpikir kalau kak Adelia sepertinya suka sekali jika aku memperhatikan dirinya. Terutama ketika kak Adelia hanya berpakaian seadanya di rumah, dia betul-betul memamerkan kecantikannya itu padaku.

Berbeda dengan kesehariannya di luar, kalau di rumah kak Adelia sering menggodaku seolah-olah ia seperti perempuan nakal. Dan namanya laki-laki, aku pun sering merasa tak tahan dengan pemandangan yang selalu kak Adelia suguhkan setiap hari buatku.

Kak Adelia cantik, putih, bening, dan seksi, dan nakal, akhirnya menciptakan khayalan yang tidak-tidak di dalam kepalaku dan berujung pada kegiatan rutin harian, yaitu urut-mengurut otong ku sambil membayangkan kak Alay yang nakal.

Tentunya aku beronani membayangkan kakakku secara diam-diam, tapi akhirnya perbuatan aku itu ketahuan juga olehnya. Kejadiannya baru seminggu yang lalu…

“Adeeeeeek!” teriaknya kencang di depan kamar mandi waktu itu.

“Apaan sih kak? Berisik amat”

“Kamu onani?? Tuh pejumu belepotan di lantai kamar mandi! Cepat bersihin!”

“I..iya..” Aku malu ketahuan habis onani.

“Emang kamu udah bisa keluarin peju yah dek?” ujarnya menggodaku.

“Ya bisa dong kak… aku kan udah gede, hehe..”

“Iya.. makin gede tapi juga makin mesum kamu nya…”

“Habisnya kakak sih… ups!” sial, aku keceplosan.

“Hah? Jangan bilang kalau kamu onani sambil menghayal kakak!? Ayo jawab!”

“Eh.. i..itu…” Aku tergagap.

Masak aku mengakui padanya kalau aku membayangkan kakakku sendiri sebagai objek onani sih, Tapi dia yang melihat aku tergagap malah tertawa terbahak. Dia tidak marah!

“Dasar kamu… sama kakak sendiri nafsu… sana cepat bersihin pejuh mu!” Ujarnya lalu pergi membiarkanku sendiri membersihkan ceceran spermaku di lantai kamar mandi.

Setelah kejadian itu, kakakku ini malah semakin menjadi-jadi menggodaku. Bahkan dia mengizinkan aku untuk membayangkan nya bila aku beronani.

Malah beberapa hari yang lalu aku beronani di depannya, di depan kakakku sendiri sampai ejakulasi dan pejuh ku berhamburan mengotori lantai kamar mandi. Waktu itu aku lagi-lagi kedapatan olehnya sedang onani, dia tidak sengaja masuk ke kamar mandi.

“Kamu sih dek… kakak kira gak ada orang… eh ternyata malah asik onani”

“I..iya kak… maaf”

“Bayangin siapa kamu nya? Bayangin kakak lagi?”

“Iya kak.. hehe”

“Dasar porno! Ya udah, lanjutin gih sana” Ujarnya kemudian ingin pergi, tapi ku tahan.

“kakak di sini aja dong”

“Hah? Ngapain?”

“Temani aku…” pintaku nekat, aku pasrah kalau dia bakal memarahiku, tapi siapa tahu kalau dia malah setuju.

“Apaan sih dek… Dasar… ya udah, kali ini aja yah…”

Ternyata dia memang setuju! Sungguh beruntung aku punya kakak seperti dia. Udah cantik, baik, pengertian sama adiknya lagi, hehe. Aku pun lanjut beronani, namun kali ini ada kakakku di depanku.

Mengocok rudalku dengan melihat kakakku secara langsung! Mana dianya senyum-senyum terus kepadaku, mana tahan coba? Akhirnya spermaku pun muncrat-muncrat dengan derasnya di depannya.

“Udah kan dek? Udah lega? Udah hilang kan pusingnya?”

“I..iya kak.. makasih”

“Jangan lupa bersihin tuh peju mu…”

“I..iya..”

Tapi ternyata tidak sekali itu saja aku beronani di depannya, kemarin dan dua hari yang lalu juga demikian. Tapi hanya sampai disitu saja, kak Adelia masih selalu mengingatkanku bahwa kami adalah saudara kandung kakak beradik.Memang aku sadar bahwa sangat tidak pantas aku meminta hal ini padanya. Tapi nafsuku pada kakakku sendiri mengalahkan segala-galanya.

•••

kini, siang sepulang sekolah aku langsung menuju rumah tanpa mampir-mampir kemana lagi. Apalagi kalau bukan untuk berduaan dengan kak Adelia, bermanja-manjaan dengan kakakku yang cantik ini.

“Kak Adeliaa..” panggilku melihat kak Adelia sedari tadi mondar-mandir.

“Apa deek?”

Mendengar kak Adelia menjawab sambil tersenyum manis, sepertinya ia tahu kalau aku sedang memperhatikannya dari tadi.

“Ngapain sih kak dari tadi mondar-mandir? Pusing tau kak liatnya”

“Ooh, adek lagi pusing beneran? Atau pusing banget dek?” teguranku malah dijadikan candaan oleh kak Adelia.

“Anu kak.. Hehe.. lagi pusing banget..” jawabku cengengesan, entah kak Adelia tahu maksudku atau tidak.

“Hihi.. kamu tuh ya dek.. ga bisa apa bentar aja ga pusing.. masa tiap hari bilangnya pusing melulu..” kak Adelia duduk di sebelahku dan memberi jarak agak jauh.

“Abisnya, kak Adelia juga sih.. tanggung jawab ya kalo aku sakit gara-gara pusing melulu..” candaku mengancam kak Adelia, sekali lagi entah kak Adelia mengerti maksudku atau tidak.

“Yee.. adek yang pusing kok kakak yang disalahin? Umm, adek belum makan kalii.. Tuh kak Adelia udah masakin ikan goreng kesukaan adek”

“Aku pusing bukan karena laper kak..” jawabku sok bersungut walau sebenarnya aku memang lapar betulan, hanya saja ada yang jauh lebih lapar di banding perutku.

“Umm.. Adek pasti pusing karena belum dapet-dapet pacar yah? Hihi.. kasian banget sih kamu dek.. di rumah melulu sih..” kak Adelia mencari jawaban yang aku kini malah dijadikan bahan candaan oleh kak Adelia. Tapi senyum dan tawa ringan kak Adelia membuatku bertambah pusing.

“Iya nih kak.. kenapa ya kok aku sukanya di rumah aja berdua sama kak Adelia,? Hehe..” jawabku cengengesan sambil duduk merapat mendekati kakakku berharap kakakku tidak makin menjauh.

“Iya nih dek.. kakak juga sama. Kok sukanya di rumah aja yah sama adek berdua-duaan? Hihi..” Sambil menjawab dengan tawa renyahnya.

Kak Adelia menggeser duduknya yang malah semakin mendekat ke arahku dengan tubuhnya yang dicondongkan kedepan.

Wajah kami pun tampak berdekatan. Aku suka kaget sendiri kalo kak Adelia menggodaku tiba-tiba seperti ini.

“Serius kak?” tanyaku balik seperti tak percaya akan jawaban kak Adelia.

“Iya lho.. coba deh bayangin dek kalo ngga ada kakak.. Adek makan ga ada yang masakin.. baju kotor ga ganti-ganti.. sekolah kalo ga diingetin suka bolos, pake alasan nemenin kakak lah.. ga kebayang tuh dek, seminggu aja adek jadi kayak gembel.. Hihi..”

“Kak Adelia!” dengan sebal dan gemas aku memajukan tubuhku sambil merentangkan tangan memeluk kakakku yang sukanya menggodaku.

“Adek! Aduuh.. Geli dek! Lepasin doonk! Hihi.. kakak belum selesai ngomong nih..” kak Adelia meronta dari pelukanku yang jamahan tanganku bergerilya sampai kemana-mana. Tapi seperti biasa, kalau kak Adelia seperti mau-mau saja ku perlakukan seperti ini.

Lalu karena aku penasaran akan lanjutan kak Adelia, aku pun menghentikan gerakan gerilya, walau aku masih tetap memeluk kak Adelia yang kini posisiku jadi memeluk dari belakang karena rontaa nya barusan.

“Kalau adek lagi kambuh pusingnya, siapa yang ngobatin? Hmm?” tanyaku kak Adelia seolah menunjukkan betapa tergantung nya diriku padanya.

“Hehe.. kak Adelia donk, kan cuman kak Adelia yang pinter ngobatin..” jawabku mesum.

“Kamu tuh ya dek.. bisa-bisanya kakak sendiri di cabul, tiap hari lagi sana gih cari pacar.” Ucapnya dengan gaya mengusir menepis nipis pelukanku yang makin erat.

Semakin erat pelukanku, semakin menempel tubuhku termasuk otong ku yang sudah mulai mengeras merapat pada tubuh belakang kak Adelia.

“Ga mau ah! Maunya sama kak Adelia aja, udah baik, cantik, seksi lagi.. Uugh..”

Pelukku sambil mengangkat kakiku mengapit paha kak Adelia dari belakang agar tak mudah lepas dari pelukanku, membuat otong ku semakin menggesek pada pinggul belakang kak Adelia.

“Aduh adeek.. kok kakaknya dijepit begini sih? Kan kakak jadi ga bisa bergerak..” jawab kak Adelia dengan nada manja.

“Uugh.. kak Adelia..” mendengarnya menjawab dengan nada manja gemulai tak berdaya seperti itu malah justru membuatku semakin panas dingin.

“Dek..”

“Iya kak?”

“Udah?”

“Apanya ya kak?” jawabku pura-pura tak tahu.

“Itu tuuh yang dibelakang kakak.. ngeganjel tau deek” kak Adelia rupanya sadar aku mulai melakukan gerakan menggesek di pinggul belakangnya.

“Yaah, kak Adelia.. sekali ini doonk.. yah? Lagian kan ga nempel langsung kok kak.. tapi kalo boleh nempel langsung Adelio seneng banget loh kak..Hehe.. yah kak? Pleasee..” pintaku memohon.

“Uumm.. boleh gak yaah?” kak Adelia menggodaku seperti biasa dengan gaya genit pura-pura berpikir.

“Sekaliii aja kak.. Boleh yah?” aku memohon dengan wajah memelas sambil masih terus menggesek pelan pada pinggul kak Adelia yang semakin lama mendekat ke belahan bongkahan bokongnya.

“Kamu tuh yaa, kalo dikasih hati langsung minta jantung sama kakak..”

“Hehe.. iya kak Adelia, jantung kakak disini yah?” lanjut ku bertanya balik sambil iseng memegang dada kak Adelia.

“Adeeeeek! Tanganmu! Lepasiin.. ugh… geli… Adeek!”

Aku yang iseng terus melancarkan serangan ku pada kak Adelia malah semakin heran melihat dia yang bukannya marah, tapi malah kegelian. Tentu saja aku semakin berani dibuatnya, aku pun meneruskan aktifitas tanganku di buah dadanya sambil menekan & mempercepat goyangan pinggulku pada belahan pantat kakakku ini, dan kak Adelia tetap saja hanya diam menerima perlakuan cabul dariku!

“Kak Adelia.. maaf yah.. aku gak tahan ngeliat kakak kayak gini tiap hari..” sambil aku terus memeluk dan menggoyangkan pinggulku.

“…”

“Ngeliat kak Adelia yang cantik, putih, harum, seksi.. Uugh.. kak Adelia sih, godain aku terus!” aku makin mempercepat gerakan pinggulku, tapi kak Adelia hanya diam saja.

“…”

“Kak?” panggilku karena kak Adelia hanya diam saja dari tadi.

“…”

“Kak.. Kakak marah ya?”

aku mulai penasaran, apakah kak Adelia marah padaku karena aku semakin kurang ajar padanya! Aku mulai agak mengendurkan goyanganku.

“Bawel ah! Kamu mau nerusin atau mau udahan? Kalo udahan, kak Adelia bangun nih ya?” tiba-tiba kak Adelia buka suara.

Aku terkejut karena ternyata kak Adelia benar-benar tidak sedang marah, malah seperti menantang ku untuk meneruskan kegiatanku.

“Eh! Ja..jangan kak.. Aku mau terusin kok.. Aku kira tadi kakak marah, hehe..”

“Nggak marah kok. Emangnya pernah kakak marah sama kamu?”

“Uumm.. ga pernah sih.. makanya aku sayang banget ama kak Adelia, aku cinta banget sama kakakku yang seksi ini, hehe..”

“Huuu… dasar! Tapi ingat ya deek.. jangan sampai nyelip!”

“Kalo dikit aja kak?” aku mencoba peruntunganku dengan menawar, tidak ada salahnya, siapa tahu dia mau.

“Nggak! Inget ya dek… kita tuh saudara kandung, kakak adik.. jadi jangan yah adek..” Ah, dia tidak mau. Aku tak bisa memaksanya lebih jauh lagi.

“Iya deh kak..” jawabku agak setengah bersungut.

“Adeek…” kak Adelia menoleh kebelakang untuk melihatku, dari nadanya dia seperti sedang baik-baik ini aku yang sedang bersungut walau aku masih terus menggoyangkan pinggulku.

Tentu saja aku semakin berani dibuatnya, aku pun meneruskan aktifitas tanganku di buah dadanya sambil menekan & mempercepat goyangan pinggulku pada belahan pantat kakakku ini, dan kak Adelia tetap saja hanya diam menerima perlakuan cabul dariku!

“Kak Adelia.. maaf yah.. aku gak tahan ngeliat kakak kayak gini tiap hari..” sambil aku terus memeluk dan menggoyangkan pinggulku.

“…”

“Ngeliat kak Adelia yang cantik, putih, harum, seksi.. Uugh.. kak Adelia sih, godain aku terus!” aku makin mempercepat gerakan pinggulku, tapi kak Adelia hanya diam saja.

“…”

“Kak?” panggilku karena kak Adelia hanya diam saja dari tadi.

“…”

“Kak.. Kakak marah ya?”

aku mulai penasaran, apakah kak Adelia marah padaku karena aku semakin kurang ajar padanya! Aku mulai agak mengendurkan goyanganku.

“Bawel ah! Kamu mau nerusin atau mau udahan? Kalo udahan, kak Adelia bangun nih ya?” tiba-tiba kak Adelia buka suara.

Aku terkejut karena ternyata kak Adelia benar-benar tidak sedang marah, malah seperti menantang ku untuk meneruskan kegiatanku.

“Eh! Ja..jangan kak.. Aku mau terusin kok.. Aku kira tadi kakak marah, hehe..”

“Nggak marah kok. Emangnya pernah kakak marah sama kamu?”

“Uumm.. ga pernah sih.. makanya aku sayang banget ama kak Adelia, aku cinta banget sama kakakku yang seksi ini, hehe..”

“Huuu… dasar! Tapi ingat ya deek.. jangan sampai nyelip!”

“Kalo dikit aja kak?” aku mencoba peruntunganku dengan menawar, tidak ada salahnya, siapa tahu dia mau.

“Nggak! Inget ya dek… kita tuh saudara kandung, kakak adik.. jadi jangan yah adek..” Ah, dia tidak mau. Aku tak bisa memaksanya lebih jauh lagi.

“Iya deh kak..” jawabku agak setengah bersungut.

“Adeek…” kak Adelia menoleh kebelakang untuk melihatku, dari nadanya dia seperti sedang baik-baikin aku yang sedang bersungut walau aku masih terus menggoyangkan pinggulku.

Tiba-tiba kak Adelia melepaskan pelukanku, berpindah posisi tapi masih di kursi sofa tempat kami duduk berdua. Kak Adelia dengan bergaya merangkak di atas sofa, bergerak maju menuju tepian tangan sofa menjauhiku.

Aku masih tak mengerti apa yang kak Adelia lakukan, tapi melihat goyangan pinggul dan pantatnya seakan kak Adelia memang niat menggodaku untuk menerkamnya dari belakang. Kak Adelia kemudian menoleh ke arahku mengintip dari balik pundaknya.

“Adeek.. sini deh.. kalau gesekin pake gaya doggy, adek mau nggak?” kak Adelia dengan postur tubuh menungging membelakangi ku bertanya lirih dan manja sambil menggigit bibir bawahnya. Tubuhku langsung panas dingin! Tentu saja aku mau!

“Uugghh! Kak Adelia!” teriakku sambil menerkam dan menubruknya dari belakang.

“Hihihi… pelan-pelan! Hmm… dek, keluarin aja burungnya, kasian nanti malah bengkok ke tekuk di dalam celanamu” suruh kak Adelia sambil senyum-senyum. Haduh… tawaran apalagi ini? Tentu saja tidak ku tolak, segera ku bebaskan rudalku dari celanaku.

“Kak.. aku selipin ke dalam celana kak Adelia yah? Janji deh aku ga bakal masukin..”

“Uumm.. Iyah.. tapi bener yah dek, jangan dimasukin..”

“Ouughh, kak Adelia yang cantik dan baik.. nih kak..”

Aku menyelipkan rudalku ke dalam celana kak Adelia melalui lubang kaki celana pink nya itu. Seperti yang kuduga, kak Adelia tidak mengenakan celana dalam! Sambil ku arahkan dan ku tempelkan otong ku pada belahan pantat kak Adelia, tanganku memegang pinggang kak Adelia. Kini posisiku mirip orang yang sedang menyetubuhi kak Adelia dari belakang dengan gaya doggy.

“Ngghh.. deekk…. Sshhh… dasar kamu nakal” rintih kak Adelia, mendengar suara rintihannya itu membuatku semakin larut dalam khayalan yang seolah-olah aku seperti sedang berhubungan badan dengan kakak kandungku sendiri.

“Ugh… kak Adelia.”

“Adeek.. kalo orang liat kita, pasti dikira kamu lagi ngapa-ngapain kakak…” kata kak Adelia yang mulai memancing-mancing dengan omongan panasnya.

Walau kami masih memakai pakaian lengkap, tetap saja pemandangan sebagai kakak adik yang sedang melakukan perbuatan cabul ini menumbuhkan sensasi yang membuat panas dingin bagi yang melihatnya.

“Kalo orang liat kak Adelia sama aku lagi begini.. pasti mereka juga pengen kak..” imbuhku sambil terus menggesek otongku di sela-sela pantat dan kain celananya.

“Hihi.. iyah dek, kepengen menyetubuhiin kak Adelia juga yah merekanya? Samaan kayak adek..”

Mendengar kak Adelia mengucapkan kata-kata kotor begitu malah membuat otakku semakin ngeres, membayangkan kak Adelia benar benar disetubuhi oleh orang asing akibat melihat tingkah laku kami.

Bahkan lebih dari satu orang, saling berebut untuk memenyetubuhii kakakku yang cantik dan seksi ini. Kak Adelia benar-benar nakal, membayangkan dirinya disentuh orang lain selain aku ataupun pacarnya.

Kak Adelia yang berkulit putih, ditindih dan digagahi mereka yang berkulit gelap. Membayangkan kak Adelia yang tak berdaya berusaha melayani rudal-rudal mereka membuatku semakin horni. Entah kenapa semakin aku membayangkan apa yang dialami kak Adelia semakin cepat pulalah irama goyangan pinggulku, rudalku juga menekan semakin kuat ke belahan pantat kak Adelia.

“Uugh.. kak Adelia..”

“Hihi.. kamu ngebayangin apa sih dek? Ngebayangin kak Adelia di entotin orang lain yah dek?”

“Kak Adelia nakal nih.. Uughh.. Kak Adelia..” Aku mulai meracau tak jelas dan gesekanku semakin cepat.

“Adeek.. suka berfantasi kakak di cabulin orang lain yah dek? Emang kalau beneran terjadi kamu pengen lihat?” Suara kak Adelia makin kemari makin lirih dan menggoda.

“Kak Adelia nakal! Adek udah mau keluar.. kaak!”

“Terus deek.. entotin kakak dek.. teruss..” kak Adelia terus menggoda ku.

Akhirnya aku muncrat dan menekan otongku kuat-kuat ke belahan pantatnya yang montok dan putih itu dibalik celana pinknya hingga basah oleh pejuhku. Setelah membuang semua pejuhku ke pantat kak Adelia, aku ambruk di punggungnya sambil sesekali meremas remas susu kakakku.

“Udah dek? Udah hilang kan pusingnya?” kak Adelia bertanya setelah membantuku melampiaskan hal yang tak tertahankan.

Kakakku benar-benar nakal. Selalu membawaku mengkhayalkan yang tidak-tidak tentangnya.

“Hehe.. udah belum yah kaak?” candaku mengikuti gaya kak Adelia.

“Ooh.. jadi adek mau lagii?”

“Iyah kak.. mau.. mau..” jawabku bersemangat. Aku lalu melihat kak Adelia bangkit dari duduknya, sedang aku dengan setia menanti apa yang akan diperbuat oleh kakakku yang seksi ini.

“Lihat deek.. jangan ngedip yah..” kak Adelia dengan gaya nakal seperti seorang striptease perlahan-lahan memelorotkan celana pendek pinknya.

Aku memandang dengan tertegun. Kak Adelia memelorotkan celananya yang tidak memakai dalaman apa-apa lagi di baliknya. Bagian bawah tubuhnya pun terpampang bebas di hadapanku, adik laki-lakinya.

Aku yang baru saja memuncratkan pejuhku pada kakakku mendadak rudalku bisa mengeras kembali. Aku bisa melihat dengan jelas bulu-bulu halus yang tumbuh di atas serambi lempit kakakku yang tembam.

Memang tidak sekali aku pernah melihat serambi lempit kakakku sendiri entah di saat sengaja atau tidak. Tapi disuguhi seperti ini aku merasakan sensasi yang sangat berbeda. Kakakku sendiri sedang menggodaku, dan..

“Nih, pejuhin lagi celana kakak! Sekalian cuciin ya.. bau tuh pejuh adek, hihi..” kak Adelia melemparkan celana bekas kupejuin tadi ke mukaku.

“Iih! Kakak! Main lempar ke muka aja!” Teriakku kesal.

Dia hanya tertawa, lalu berlenggang dengan santainya keluyuran di dalam rumah dengan kondisi seperti itu tanpa memakai bawahan sama sekali, hanya memakai tank top saja.

Sungguh pemandangan yang membuat rudalku kembali ngaceng maksimal. Untung saja hanya aku yang melihatnya, tak dapat ku bayangkan bila ada orang lain yang melihat kondisi kakakku seperti sekarang ini.

Untuk seorang kak Adelia yang dikenal sopan, ramah, baik dan selalu memakai jilbab bila di luar rumah, tentunya akan menjadi hal yang sangat berlawanan dengan apa yang sedang dilakukannya sekarang.

“Permisii! Sedekahnya Paak.. Buu..!” tiba-tiba terdengar teriakan orang peminta sumbangan di luar rumah kami.

“Adek! Ada yang minta sumbangan tuh..”

“Iya, aku juga denger kali kak..” dari yang kudengar sepertinya seorang bapak-bapak tua yang berdiri di luar pagar rumah kami.

“Sana gih kasih sumbangan ke Bapak itu dek..” kak Adelia menyuruhku keluar untuk memberi sumbangan.

Melihat kondisi kak Adelia yang hanya memakai tanktop putih dan tak memakai bawahan apa-apa, serta aku yang masih memegang celana pendek kak Adelia, tiba-tiba terbesit pikiran iseng untuk kakakku.

“Gak ah! Kak Adelia ajah yang kasi sumbangan, hehe..” tanganku iseng ke kak Adelia.

Aku sungguh penasaran kalau memang kak Adelia mau menerima tantanganku untuk memberi sumbangan ke Bapak itu tanpa mengenakan bawahan apa-apa. Walau dibatasi oleh pagar yang tingginya sebatas dadaku kak Adelia, tetap saja membayangkan kakakku yang bening dan putih itu menemui bapak peminta sumbangan itu membuat darahku berdesir dan tubuhku panas dingin.

“Hmm? Gak pake celana kayak gini dek? Huhu.. Adek pengen liat yah kakak cuma pake ginian nemuin bapak itu diluar?” tanyanya dengan lirikan menggoda.

“Adeek.. liat kakak yah.. kakak penuhi lagi fantasi adek.. hihi..” seraya kak Adelia membuka pintu depan sambil berekpresi imut dengan mengedipkan sebelah mata dan menggembungkan pipi satunya.

Aku hanya bisa memegang otongku yang mulai mengeras melihat tubuh seksi kak Adelia dengan aurat yang terbuka bebas pada bagian bawahnya. Kak Adelia yang selalu berpakaian tertutup dan memakai kerudung, kini akan menemui orang asing dengan serambi lempit dan paha terpampang kemana-mana. Ugh, kak Adelia benar-benar nakal!

Bersambung… Aku lihat kak Adelia melongokkan kepalanya keluar saat pintu depan dibuka, kelihatannya dia sedang melihat-lihat apakah suasana di luar sedang ramai atau tidak. Sedangkan aku, masih saja terus asyik memperhatikan bagian belakang tubuh kakakku.

Sungguh beruntung aku sebagai adeknya bisa melihat semua ini, bahkan cowok kak Adelia saja kurasa tidak pernah melihat kondisi kakakku seperti sekarang ini, yang mana sebentar lagi kak Adelia akan keluar memberi sumbangan kepada peminta-minta, dengan hanya mengenakan atasan tank top saja!

Ugh, membayangkannya saja sudah membuat kepala atas dan bawah terasa panas dingin, aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti.

“Adeek.. liatin kakak yah.. Hihihi..”

Kak Adelia yang selesai memperhatikan keadaan sekitar segera berjalan keluar, melewati teras rumah, dan langsung menuju ke pagar rumah kami!

Aku memperhatikan dengan tegang dari balik pintu yang sengaja sedikit kubuka untuk mengintip. Kak Adelia benar-benar keluar cuma pakai tanktop putih saja. Tidak memakai bawahan apapun sama sekali. Kak Adelia berani banget! Bener-bener nakal nih Kak Adelia.

Mana jalannya pakai lenggak-lenggok sambil sesekali menoleh ke arahku dan mengedipkan matanya. Entah Pak Tua itu melihat atau tidak, karena dari yang kulihat, tinggi badan Pak Tua itu hanya sedikit di atas batas atas pagar rumah kami. Untungnya sisi tengah pagar kami ditutupi plastik fiber berwarna gelap, jadi badan bawah kak Ochi tidak terlihat jelas. Sepertinya.

“Iya Pak.. ada yang bisa saya bantu?” suara kak Adelia merdu banget saat menyambut orang itu dari balik pagar. Orang tua berpakaian kemeja putih dan membawa map.

“Ehm.. Eh, iya non.. anu.. maaf mengganggu.. saya dari Yayasan Penampungan Anak-Anak Terlantar, non.. Adapun kedatangan saya untuk meminta sumbangan dari si non.. seikhlasnya..” si Bapak peminta sumbangan itu yang berbicara dengan bahasa sok rapi mendadak gelagapan melihat kak Adelia.

Siapa sih yang tidak salah tingkah melihat kak Adelia? Apalagi kak Adelia kini mengikat rambutnya dengan mengangkat kedua tangan nya, hingga otomatis dadanya terlihat membusung maju kedepan. Kakakku seakan sengaja memberikan pose dan tontonan gratis bagi Orang itu.

“Panggil Adelia saja Pak..”

“Oh iya.. non Adelia.. hehe.. sampai lupa memperkenalkan diri, nama saya Pak Amin..”

“Pak Amin, Adelia nyumbang nya berapa yah?”

“Aduh non Adelia.. berapa ajalah kalau dari si non, seikhlasnya.. ini sih, demi anak-anak terlantar juga non.. hehe..” jawab orang tua itu cengengesan, terlihat kumisnya yang mulai ubanan melebar tersungging. Dasar muka mesum! Matanya mulai jelalatan kemana-mana ngelihatin kakakku ini.

“Berapa aja atau apa aja nih Pak? Hihihi..”

Sambil sekilas melirik kearahku kak Adelia bertanya padanya dengan menyilangkan kedua tangannya dibawah dadanya sehingga 2 susu kak Adelia yang hanya terbalut tank top putihnya seperti mau menyembul kedepan.

Gila kak Adelia, berani amat mamerin susu dan cetakan pentil di depan orang itu. Baru saja aku memuntahkan pejuhku, kini sudah ada dorongan lagi untuk onani. Aku benar-benar tak tertolong.

“Hah? Anu neng.. eh, non.. berapa aja juga boleh.. kalo apa aja juga boleh kok, hehe” senyumnya makin lebar tuh orang. Pasti isi kepalanya udah terisi dengan bayangan yang engga-engga tentang kakakku..

“Hihi.. ya udah, yang berapa aja dulu deh Pak… Ini Adelia mau sumbangin lima puluh ribu.. tapi Adelia adanya uang seratusan Paak?” kata kak Adelia yang sengaja suara di manja.

“Ooh.. sini Bapak tukarkan dulu deh.. kebetulan ada warung di dekat sini.. nanti saya kembali lagi ya..” tiba-tiba si Bapak itu sudah pergi untuk memecahkan uang kak Adelia.

Aku dapat bernafas lega untuk sesaat. Sungguh melihat mereka tadi berdua ngobrol membuat perasaanku tak menentu. Bagaimana tidak? Orang tua peminta sumbangan diladeni oleh kak Adeliaku yang bokong dan paha putihnya terpampang kemana-mana.

Aku sempat melihat si Bapak tadi agak menjinjit kan kakinya sesekali, entah ia tahu atau tidak kalau kak Adelia tidak mengenakan apa-apa lagi dibawah. Entah bagaimana kalau kak Adelia benar-benar bugil di balik pagar.

“Adeek!” kak Adelia membuyarkan lamunanku.

Kak Adelia menoleh kearahku dengan tatapan nakal dan tersenyum genit, dengan sengaja tanpa melihat lagi keluar pagar, kak Adelia tiba-tiba mengangkat tank top sampai keatas dadanya.

Sambil menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri kak Adelia memamerkan susunya kepadaku. Dua susu putih nan indah dan montok itu bergoyang-goyang.

Masih belum habis kagetku, Kak Adelia kemudian mengangkat tank top nya lagi sampai melewati kepalanya dan lolos dari tubuhnya, lalu disampirkan sembarangan di atas pagar.

Kakakku benar-benar bugil! Hal yang tak kukira sebagai khayalan saja kini benar-benar terjadi! Ooh, kak Adeliaku benar-benar mewujudkan fantasiku.

Masih dengan keadaan telanjang bebas, kak Adelia bergaya imut dengan menempelkan telunjuknya pada pipinya yang digembungkan. Uugh! Kak Adelia benar-benar imut, bikin aku gemes banget, tapi juga nakal. Adek sendiri dibikin tersiksa.

“Adeek.. Hihi.. ayo dek! Kocok yang kuat.. go go!” kak Adelia memberi semangat padaku dengan gaya imutnya dan suara pelan mendesah sambil terus bergaya seksi di luar.

“Uugh.. Kak Adelia.. kakak nakal banget sih.. aku jadi gak kuat nih kaaak..” aku meracau sambil mengocok kontiku.

Tiba-tiba kemudian aku melihat kepala seseorang mendekati pagar rumah kami. Bapak tua itu sudah kembali! Tapi… kak Adelia belum memakai tanktopnya..!?

“Ini non kembaliannya lima puluh ribu.. maaf yah, Bapak agak lama tadi.. Hah?” tiba-tiba orang tua itu seperti kaget.

Walau hanya bisa melihat kak Adelia sebatas pundak keatas, pastilah ada yang berbeda dari penampilan kak Adelia.

“Ada apa Pak Amin? Hihi.. Pak Amin simpan aja yah kembaliannya..” jawab kak Adelia santai.

Sepertinya kak Adelia tau kalau Pak Amin sadar ada sesuatu yang berbeda dari kak Adelia.

“.. Eeh.. anu non.. uang saya.. eh, uang non Adelia..”

Pastilah orang itu menyadari kak Adelia yang tadinya kelihatan ada tali pundak tank top nya, sekarang sudah tidak ada. Entah orang tua itu tau atau tidak, tapi melihat kak Adelia tanpa tali pundak tanktop, kak Adelia seperti sedang bugil di hadapan pria tua itu. Duh, kakakku ini, dia nggak takut diperkosa apa? Kak Adelia bener-bener nekat.

Sambil mereka tetap mengobrol, si bapak itu mencoba untuk memajukan badannya mendekati pagar. Sepertinya dia mau mencoba melongok ke dalam dan melihat kak Adelia secara utuh. Tapi kak Adelia sengaja maju mendekat ke bapak itu sehingga bapak itu sungkan dan mundur lagi.

Aduh kak Adelia Aku antara rela dan tak rela kalau kak Adelia sampai dilihat bugil olehnya, tapi kocokan di otong semakin kuat melihat kak Ayla meladeninya sambil tetap bergaya centil.

Saat kak Adelia berposisi adak dekat dengan si bapak itu, mereka berbicara agak pelan. Aku tak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.

“Ya udah, Pak Amin simpan saja yah.. kan mereka lebih membutuhkan dibanding Adelia”

“Anu non, hehe.. makasih banyak yah.. udah baik, ramah, cantik lagi si non, hehe.. aduh si non..”

“Kenapa Pak?”

“.. Eh, engga non.. ini.. saya kalau begitu mau pamit aja yah.. permisi non..” Pak tua itu sudah mau pergi.

“Hihi.. iya deh, kasian Pak Aminnya juga..”

“Hah?” aku dan orang tua itu sepertinya sama-sama kaget dengan tembakan langsung kak Adelia.

“Pak Amin.. kebelet kan dari tadi? Hihi.. asal jangan dibuang sembarangan ajah ya Pak? Entar keinjek orang loh..”

“Eh.. iya neng..anu.. mari, bapak permisi..” si bapak itu dengan salah tingkah pergi meninggalkan kak Adelia sendiri.

Telanjang di luar di balik pagar. Setelah bapak itu pergi kak Adelia yang masih berdiri di dekat pagar kembali menoleh kearahku.

“Adeek.. udah liatnya?” tanya kakakku dengan nada manja menggoda.

“Udah kak..”

“Adek suka?”

“Suka kak..”

“Mau dikeluarin dek?”

“Mau banget kak, aku udah ga tahan nih! Uugh!” aku masih sambil terus mengocok menunggu kak Adelia untuk kembali masih ke rumah.

Tapi kak Adelia masih gak beranjak juga dari tempatnya. Dia malah menyandarkan punggungnya pada pagar tempat kak Adelia ngobrol dengan orang tua tadi.

“Sini donk dek… Masa kakak yang kesana sih? Emang adek ga mau ngeliat kak Adelia telanjang di sini?”

Duh kak Adelia… kakakku ini memang suka banget mancing-mancing kalau aku sudah tanggung begini. Akupun yang seperti orang bodoh segera bergegas mendatangi kak Adeliaku yang seksi sambil masih membawa celana pink kak Adelia yang belepotan pejuhku tadi.

“Kak.. kalau dikeluarin di dalam mulut kak Adelia boleh nggak? Hehe” pintaku untung-untungan.

“Hah? Jangan donk… masa burung adek sendiri dimasukin ke dalam mulut kakaknya siih? Nakal nih adeknya…”

“Abisnya, kakak juga yang nakal, godain aku terus.. Ya kak.. boleh ya… Pleasee..” Sambil terus merayu aku pasang tampang memelas, siapa tahu berhasil.

Walau dengan melihat kak Adelia bugil di depanku seperti ini saja sudah bikin aku sangat tidak tahan. Hanya dalam hitungan detik bisa saja aku meledak dan muncrat kemana-mana lagi.

“.. Teruus.. nanti mulut kakak juga dipipisin sama pejuh adek? Gitu?” sambil dengan gaya centil menunjuk bibirnya merah imutnya yang memanyunkan itu.

Aku sudah hampir gila menahan ledakan otongku, tapi tetap terus ku tahan. Aku tak mau meledak duluan sebelum tercapai keinginanku untuk dilumat otongku oleh kak Adelia.

“Uugh, kak Adelia.. nakal niih.. boleh ya kaak?”

“Gak mau ah dek.. kalo ketelan sama kak Adelia gimana dek?”

“Please ya kaak..”

“Hihi.. kasian banget sih kamunya dek.. disini aja yah..” kata kak Adelia kemudian berlutut di hadapanku sambil membusungkan dadanya di depan rudalku yang sedang kukocok terus dari tadi.

“Didada kakak??” Ugh…

Sambil berlutut kak Adelia melihatku dengan wajah sayu. Menunggu semprotan pejuhku ke dadanya.

“Bayangin deh dek… kalo Pak Amin tadi ngeliatin kakak telanjang kayak gini.. Hihi.. Kakakmu ini bakal diapain ya?”

“.. Uugh.. kakak pasti diperkosa.. apalagi orang tua itu pasti belum pernah liat cewek cantik dan seksi yang menggoda kayak kak Adelia..” jawabku sambil terus mengocok kontiku.

“Gitu yah dek? Berarti kakak kandungmu ini bakal dientotin donk sama bapak-bapak tua itu dek? Hihi.. kebayang gak sih dek, kakak yang masih muda dan putih ini, ditindih sama bapak yang udah tua dan item itu?”

“Uugh! Abisnya kak Adelia sih nakal!”

“Trus sambil kakak dientotin sama bapak itu, kakak bilang gini sama adek, ‘Adeek.. kakak dientotin nih sama bapak ini, katanya kakak mau dihamilin tuh dek.’ Hihihi…”

“.. Arrgh, kakak!” kocokanku semakin liar.

“Mana tadi kakak bilang sama bapak itu, dek.. kalau mau minta sumbangan uang atau pakaian datang aja lagi kesini, gitu dek.. apa kakak sumbangin diri kakak aja yah dek? Hihi..”

“Kak Adeliaa! ARRGHH!”

“CROOOTS!” Semburan pejuhku muncrat mendarat di atas dada kak Adelia.

Sebagian muncrat sampai ke leher dan dagu kak Adelia. Memang tidak begitu banyak seperti sebelumnya, tapi sensasinya onani di depan kakaku sambil membayangkan semua yang kak Adelia ucapkan tadi membuatku masih tubuhku kejang dan bergetar walau sudah tak mengeluarkan pejuh lagi.

Sedang kak Adelia dengan mata sayunya masih terus menatap wajahku yang baru saja dilanda setruman orgasme.

Sambil melap pejuh di dadanya dengan celana pink yang diambil nya dari tanganku, kak Adelia mencolek sperma kentalku yang mampir di dagunya dengan ujung telunjuknya. Lalu dengan pandangan sayu, kak Adelia melihatku sambil memasukkan ujung jarinya yang belepotan pejuh ke dalam mulutnya.

“Hoek! Gak enak! Nih.. buat nambahin kerjaan adek, cuci ampe bersih!” untuk kedua kalinya kak Adelia melempar celananya yang belepotan pejuhku itu ke wajah ku.

Mimpi apa aku harus mencium bau pejuhku sendiri, dua kali dalam sehari! Tapi kalau setelah ngecrotin kak Adelia sih, aku mau-mau saja. Tapi tetap saja aku merasa risih dengan pejuhku yang mampir ke mukaku ini.

“Iiihh! Kak Adeliaa!” Aku berteriak sambil mengejarnya sampai kedalam rumah karena melempar celana itu ke mukaku.

“Hahaha! Bersihin donk adek, udah ngotorin masa ga mau bersihin.. Hihi.. udahan ah ngejarnya.. capek tau” Ujar kak Adelia yang setelah dia kelelahan duduk di ruang keluarga dengan tetap bertelanjang badan.

“Kak…” “Hmm? Apa dek?”

“Kakak serius tadi bilang ke bapak itu supaya balik lagi kalau mau minta sumbangan?” tanyaku yang masih penasaran.

“Umm.. iya dek.. emang kenapa?” tanya kak Adelia balik dengan lugu, padahal aku kan tidak rela kalau dia kembali lagi, si Pak tua bermuka mesum itu.

Berani-beraninya mau melongok kedalam pagar supaya bisa melihat tubuh polos kakakku.

“Ya ngga pa-pa sih kalo emang buat sumbangan.. tapi tampangnya itu, mesum..”

“Hihi.. iya tuh, kayak adek.. sebelas-dua belas sama si bapak tadi kalo dijejerin, hihi..” sialan nih Kak Adelia, masa aku disamakan dengan bapak tua itu.

Tapi siapa juga yang tahan kalo liat kak Adelia seperti ini. Udah cantik, putih, seksi, telanjang pula.

“Ah! Kakak tuh sukanya godain aja!” aku pura-pura marah sambil maju dan memeluknya.

Seperti biasa kak Adelia tertawa cekikikan dan merasa tidak keberatan sama sekali kuperlakukan seperti ini. Kakakku yang baik dan cantik. Kakakku yang seksi dan suka menggoda.

Tapi aku masih kepikiran satu hal. Ngapain sih kak Adelia nyuruh orang itu kesini lagi? Apalagi yang ngajak orangnya kayak kak Adelia, malahan dengan penampilan seperti tadi membuat si Bapak tua tadi pake ngintip-ngintip kedalam. Aku yakin tentu saja dia pasti akan datang lagi.

“Oiya dek.. tanktop kakak yang tadi kakak taruh di pagar kok ngga ada yah?”

“Hah?! Serius kak?”

“Kak…” panggilku.

“Hmm? Apa dek?”

“Malam ni tidur bareng lagi yuk…”

“Tidur bareng? Kamu udah ngantuk emangnya?”

“Belum sih kak… pengen guling-gulingan sama kakak aja sampai ngecrot, hehe”

“Huuu… ngecrot, ngecrot… enak aja! Kan kemarin malam adek udah bobok di kamar kak Adelia?”

“Hehe.. iya sih kak, abisnya kebayang terus sama yang kemarin siang”

Aku mengingat kejadian hari sebelumnya di mana kak Adelia nekat menemui peminta sumbangan dengan telanjang badan, Walau hanya berdiri di balik pagar yang tertutup plastik fiber hitam, tetap saja apa yang dilakukan kak Adelia membuatku tegang dan panas atas bawah.

Itu saja baru berdiri di balik pagar dan masih di dalam halaman rumah kami, entah bagaimana kalau kak Adelia sampai nekat bertelanjang badan sampai keluar rumah, dan membayangkannya saja sudah membuat rudalku menegang sangat keras hingga malamnya aku tak tahan dan mengerjai kakakku di kamarnya. Apalagi kalau bukan karena nakalnya kakak kandungku..

Adelia

“Males ah! Bed cover sama cd kesukaan kakak ampe kotor tuh belepotan peju kamu, awas ya ngga dicuci! Kakak ngga bolehin kamu ngecrot lagi.. huuu..” ledek kak Adelia dengan gaya manyunnya yang imut itu.

“Kan adek udah janji bakal cuciin semuanya kak.. mau ya kaak..?”

“Hihihi.. bolehin gak yaah?”

“Hehe, bolehin donk kaak?” tanyaku lagi.

Aku betul-betul pengen pejuin kakakku yang cantik ini lagi seperti malam sebelumnya.

“Hihihi… dasar kamu tuh… Jadi kamu pengen nge crot sebelum tidur yah dek?”

“Iya kak… pengen ngecrot tin badan kak Adelia pake peju aku, hehe”

“Dasar porno, kakak sendiri dicabuli terus, di pipisi lagi pake peju!”

“Abis kak Adelia gemesin sih.. hehe..”

“Kayak semalem donk dek?”

“Hehehe.. iya nih kak.. Pleasee..”

“Bener nih cuma mau gitu ajah?”

“Hah? maksudnya kak?”

“Hmm… sekarang jam berapa yah?”

“Baru jam sebelas kak”

“Tuh… masih jam sebelas. Cepat banget sih kamu boboknya…”

“Biarin, lagian gak tahu pengen ngapain lagi”

“Pikiranmu cabulin kakak terus sih… hihihi”

“Hehehe… kakak juga siih..”

“Hmm… jam segini di luar rumah udah sepi kan yah, dek?” tanya kak Adelia sambil senyum-senyum manis.

“Iya kak, kenapa?”

“Buka celana kamu, terus lihat kakak yah dek…” ujar kak Adelia mengedipkan mata.

Aku yang bingung dia mau apa hanya menuruti saja perintahnya, aku pun membuka celanaku dan langsung memegang rudalku yang mulai menegang di depan kak Adelia.

Dengan senyum-senyum melihatku, kak Adelia juga membuka celana legging ketatnya dengan perlahan di depanku, bagian bawah tubuhnya kini terbuka! Paha, pantat dan serambi lempitnya yang tembam berbulu halus di atasnya terpampang bebas untuk dilihat.

Semua kancing kemejanya juga dia buka sehingga buah dadanya jadi tergantung dengan bebas, tapi dia masih mengenakan jilbab!

“Nih dek… kakak kasih kamu bahan coli malam ini… nikmatin puas-puas yah dek” kak Adelia dengan santainya berjalan ke luar rumah dengan kondisi seperti itu! Hanya memakai jilbab serta kemeja pink yang seluruh kancingnya terbuka.

Susu kak Adelia yang putih dengan puting coklat kemerahan bergoyang bebas kesana kemari. Kakakku betul-betul nakal. Aku pun mengikutinya ke luar rumah sambil mulai mengocok rudalku.

“Adeeek…. Lihat yah, sekarang kakak bakal keluar pagar nih…”

“Hah? Ke..keluar pagar, kak? Tapi kalau dilihat orang gimana?” tanyaku heran.

Tapi dianya malah hanya tersenyum manis, lalu melangkah dengan santainya keluar pagar, kak Adelia pun berdiri di tengah jalan dengan kondisi seperti itu, yang mana kakak kandungku ini hampir bertelanjang bulat! Badanku langsung lemas dan panas dingin melihatnya.

Entah apa jadinya bila ada tetangga kami yang melihatnya. Jam segini lingkungan rumah kami memang sudah sangat sepi, tapi bukan berarti gak ada orang yang bakal lewat juga kan! kocokan rudalku juga makin cepat melihat pemandangan ini. Kak Adelia yang hampir telanjang sedang berpose nakal di luar rumah kami.

Aku yang jadi cemas minta ampun dibuatnya karena tingkah binal kakakku ini. Berkali-kali aku celingak-celinguk untuk memastikan tidak ada orang yang lewat. Kak Adelia sendiri malah mondar-mandir dengan santainya sambil sesekali melirik padaku, tersenyum manis dan juga berekspresi imut padaku.

“Adek…” panggilnya setelah beberapa lama dan mendekatiku ke pagar rumah.

“I..iya kak?”

“Kakak sering bikin adek tersiksa yah?”

“Uhm.. Iya, kakak nakal..”

“Hihihi.. Kakak jahat donk sama adek?”

“Iya tuh.. Kak Adelia selalu bikin burung aku sakit, pengen di crot terus tiap hari..”

“Kalo kakak jahat sama adek.. kakaknya dihukum donk dek?”

“Dihukum kak?”

“Iyah.. Sekarang kamu kunci kakak dari dalam yah…”

“Hah??????”

“Iya… kunci kakak, kurung kakak di luar, 10 menit aja… hihihi…” katanya lagi melirik nakal.

Aku betul-betul terkejut mendengarnya. Dia meminta aku menguncinya di depan rumah dengan busana seperti itu!? Meski cuma 10 menit tapi kan tetap sangat beresiko. Ini betul-betul di luar fantasiku! Kakakku betul-betul nakal!

“Tapi… kalau ada apa-apa gimana kak?”

“Hihihi, Gak tahu deh, mungkin kakak bakal diperkosa habis-habisan kali yah dek… Pokoknya apapun yang terjadi kamu gak boleh buka pagarnya sebelum 10 menit yah… kalau kakak sampai diperkosa ya gimana lagi, kakak cuma bisa pasrah aja… hihihi”

“hah?” Aku sungguh dibuat lemas mendengarnya.

“Adek! Tutup deeeeeekk… dikunci!” Ujar kak Adelia yang segera menutup pintu pagar.

Aku entah kenapa betul-betul menuruti perkataanya untuk mengunci pintu pagar. Sekarang kakakku terkunci di luar sana. Entah apa yang akan terjadi selama 10 menit dari sekarang. Jantungku berdebar dengan kencangnya… Kak Adelia…

“Kak… masih di sana kak?” tanyaku dari balik pagar.

“Eh, adek! Jangan ngintip!” teriak kak Adelia pelan.

Aku memang tidak bisa melihat dengan jelas karena pagar rumah kami ditutup fiber plastik berwarna gelap.

“I..iya… tapi kakak baik-baik aja kan?” tanyaku lagi.

“Iyah… kenapa sih? Belum 1 menit juga…”

“Iya sih.. tapi kan…”

Duh entah kenapa 10 menit ini terasa sangat lama. Aku sungguh panas dingin di sini. Membayangkan kakak kandungku yang cantik jelita dengan kondisi nyaris telanjang bulat dan terkunci di luar sana betul-betul membuat aku belingsatan.

“Kamu sendiri sedang apa dek? Lagi ngocok yah?” ujarnya.

“Iya kak.. sedang ngocok…”

“Hihihi… Kocok terus yah dek… Kamu bayangin gih… kakak yang sehari-hari bila keluar rumah selalu dikenal sopan dan memakai pakaian tertutup, sekarang nyaris telanjang bulat dan terkunci di luar pagar”

“Ugh… kak Adelia…”

“Aurat kakak kebuka semua kayak gini dek.. serambi lempit kakak, susu kakak… tapi masih pake jilbab. Gak tahu deh apa jadinya kalau ada tetangga yang lihat, hihihi…”

“Duh kak… jangan sampai tetangga lihat kak.. udah dong kak… masuk yah…” ajakku lagi sungguh berdebar-debar, tapi rudalku tetap tegang luar biasa sambil terus ku kocok-kocok.

“Kalau kakak teriak, kira-kira apa yang bakal terjadi yah dek? Hihihi”

“Hah? Kak… pliss… jangan!”

“Aw!” teriak kak Adelia pelan yang kemudian tertawa cekikikan.

“Kak… jangan teriak-teriak!” Gila, aku sungguh panas dingin.

Kalau sampai para tetangga terbangun dan melihat keadaan kak Adelia, entah apa yang akan terjadi.

“AAWW!” Teriaknya lagi lebih keras.

“Kak… please…… jangan….”

“AAAAAWW!” teriaknya semakin keras. Sumpah! Jantungku mau copot rasanya.

“Kak… please stop… please….” Lututku betul-betul lemas.

“Hihihihi… iya deh iya… tapi dek…” ujarnya kemudian.

“A..apa kak?”

“Kayaknya ada yang datang deh…” “Hah?? kak… masuk kak! Aku buka yah pagarnya…” tawarku cemas. “Jangan dek… udah kakak bilang apapun yang terjadi jangan dibukain… dan jangan ngintip yah…” katanya memperingatkan ku.

“Tapi kan kak…” Jantungku betul-betul berdebar dengan cepat.

Tapi terdengar kalau Kak Adelia malah melangkah semakin menjauh ke arah jalan untuk melihat siapa yang datang.

Duh… kak… jangan bikin aku mati lemas dong…

“Makin deket dek… adek…. Makin deket!” Ujar kak Adelia pelan dari kejauhan yang malah terkesan sangat antusias bila ketelanjangan nya terlihat oleh orang lain, sedangkan aku di sini mati kecemasan. Nafasku tertahan.

“Hihihi… Cuma anjing lewat kok dek…” Ujarnya kemudian menjawab rasa penasaranku.

“Udah… kamu masuk gih ke dalam rumah… masih lama lho 10 menit” Ujarnya terdengar semakin menjauh dari pagar rumah.

“Kak… kak Adelia! Kakak mau ngapain? Jangan jauh-jauh kak!” teriakku tertahan.

“Kakak mau… pipis…” ucapnya centil.

“Hah? Pipis???”

Sepertinya di seberang jalan, kalau gitu berarti kak Adelia… pipis di depan rumah tetangga kami! Rumahnya Pak Haji Somad! Lemas rasanya badanku….. Ini semakin melebihi fantasiku.

Aku sungguh tidak mengira kakakku akan senekat itu. Entah apa yang terjadi bila keluarga Pak Somad melihat kelakuan kak Adelia, kakakku yang mereka kenal sangat sopan, kini sedang pipis sembarangan di depan rumah mereka.

Tapi sepertinya yang aku takuti itu tidak terjadi, mudah-mudahan juga tidak meninggalkan bau pesing besok paginya. Sekarang aku hanya bisa berharap agar kakakku segera kembali ke rumah.

“Kak… kak Adelia!” Teriakku pelan berusaha memanggil kakakku.

“Dek… kamu kok masih di sana aja sih? Masuk gih ke dalam rumah” suruhnya yang terdengar kembali mendekat ke arah pagar.

“Terus kakak mau ngapain lagi? Udah dong kak… masuk please…” bujuk ku.

“Hihihi… kamu ini… Kan belum 10 menit dek…”

“Kak… please… udahan dong…” bajuku terus.

Aku betul-betul tidak kuat. Kakak kandungku yang cantik ini terkunci di luar sana sendirian dengan kondisi busana yang sangat sembarangan. Aku tidak yakin 5 menit selanjutnya masih akan tetap aman seperti sebelumnya.

Apa aku buka saja yah pagarnya dan menarik kak Adelia masuk ke dalam? Seharusnya memang itulah yang mestinya aku lakukan, tapi entah kenapa aku malah terus membiarkan aksi kakakku di luar sana, malah aku sambil terus mengocok rudalku pula.

rudalku dari tadi tegang bukan main melihat dan mendengar aksi-aksi nakal kakakku. Aku tidak menyangka kalau kakakku sebinal ini.

“Kak… udah 10 menit nih…” ujarku berbohong karena aku ingin kakakku segera menyudahi aksinya.

“Hihihi… bohong kamu dek…”

“Be..benar kok kak…”

“Kakak kan bawa hape dek, belum 10 menit kok.. dasar adek tukang bohong, udah mesum pembohong lagi, hihihi” jawabnya cekikikan.

“I..itu… tapi… masuk aja deh kak…” “Kamu deg-deg kan yah dek? Sama, kakak juga kok… Tapi kan kamu jadi ada bahan buat coli dek, hihihi” jawabnya santai. Ugh… kak Adelia baik amat, tapi gak perlu sampai sejauh ini juga kali. Walaupun fantasiku memang dibuat melambung tinggi sih karenanya.

“Dek, kamu bawa hape nggak?”

“Nggak kak, kenapa?”

“Kamu ambil gih ke dalam”

“Untuk apa sih kak?”

“Udaaaaah…. Kamu ambil aja gih…” suruhnya lagi.

Dia mau apa sih? Tapi aku akhirnya masuk juga ke rumah dengan langkah cepat untuk mengambil hapeku.

Baru saja aku masuk ke dalam kamarku ternyata hapeku berbunyi. Kak Adelia! Ngapain sih dia nelepon-nelepon segala? Aku yang penasaran segera mengangkat hapeku.

“Kak!” sahutku cepat di telepon.

“Hai adek…” sahutnya balik dengan irama merdu seperti tidak terjadi apa-apa.

“Ada apa sih kak? Kok pake nelepon segala!??”

“Hmm… kamu ngawasin kakaknya lewat telepon aja yah dek… pokoknya kamu di dalam rumah aja terus”

“Hah?? Enggak ah… aku mau temenin kakak di depan pagar, kalau perlu aku tarik kakak masuk ke dalam!” jawabku tegas.

“Kakak udah jauh nih dek… udah di depan rumahnya Buk Rahma” Jantungku rasanya mau meledak mendengarnya.

“K..kak…” panggilku lemas.

“Tenang aja… teleponnya gak bakal kakak tutup kok. Jadi adek bisa tahu apa yang terjadi. Kalau misalnya teleponnya terputus, itu artinya kakak udah diculik dan diperkosa dek, hihihi”

“K..kak Adelia…”

“Udah… kamu sedang di kamar kan? Baring aja gih di tempat tidur sambil terusin ngocok mu. Cukup bayangin aja kakak sedang ngapain. Asal kamu nggak ketiduran aja yah… Ntar kakak terkunci semalaman dong di luar, hihihi” ujarnya sambil cekikikan pelan.

Ngebayangin kakakku semalaman terkunci di luar sana makin membuatku panas dingin. Seharusnya aku mengejar kakakku dan menariknya masuk, tapi aku malah menuruti omongannya untuk berbaring di ranjang sambil mengocok rudalku.

“Kak… dimana?” tanyaku setelah beberapa saat kemudian.

“Hmm… hampir tiba dekat mini market dek, masih buka ternyata mini marketnya. Kamu mau kakak beliin coklat nggak dek?”

“Hah?? Nggak! Putar arah dong kak!”

“Hihihi.. iya iya… bercanda kok… nih kakak putar arah” Duh, kakakku ini. Bikin jantungku berdebar terus.

Entah apa jadinya kalau kak Adelia beneran belanja di sana dengan busana begituan.

“Eh, dek! Kayaknya orang yang jaga di dalam mini market ngeh deh dek!”

“Ah, serius kak!”

“Kalo orangnya nyusul kakak kesini gimana donk dek? Mana kakak cuman pake kayak gini.. ehmm, ternyata kakak putih banget yah dek? Hihihi..”

“Aarghh, kakak jangan nakal donk! Balik donk kak!”

“Hihihi.. iya adekku.. panik amat sih, paling dia juga ngira ngeliat hantu..”

“Iya, kalau hantunya kayak kak Adelia pasti malah dikejar..”

“Terus kak Adelia diperkosa deh.. kalau dia panggil temen-temennya kesini semua, gimana donk dek? Ada hantu cantik diperkosa rame-rame lho dek…”

“Ugh! Aku bakal susul kakak kesana, aku bakal..”

“Ngga usah adek! Adek cukup dengerin suara kak Adelia lagi diperkosa lewat HP ajah.. Hihihi..”

“Aduh, cepet pulang donk kak!”

“Iya iya.. Dek, kamu pengen kakak bugil total atau terus dipake aja jilbab dan kemejanya?” tanyanya kemudian.

“Eh… di..dipake aja kak!” jawabku.

Sebenarnya aku nyuruh dia tetap memakainya supaya gak jelas amat kalau kakakku sedang telanjang bila terlihat orang dari jauh. Walaupun tentunya aku gak berharap kakakku benar-benar akan terlihat oleh orang.

“Kak…” panggilku karena suasana sempat hening beberapa saat. “Iya…” “Lagi dimana sih kak? Buruan balik gih… udah hampir 10 menit nih… jangan bilang kalau mau nambah!?”

“Nggak kok… ntar kamu nya betul-betul jantungan lagi, hihihi” “Ya udah, buruan balik kak…” “Iya iya….” Ugh, akhirnya. Aku betul-betul tersiksa di sini.

Awas saja! Akan ku pejuin dia! Sambil dia berjalan balik ke arah rumah, kami terus ngobrol. Aku sengaja tanya-tanya terus dia lagi dimana untuk memastikan kalau kak Adelia baik-baik saja. Akhirnya kak Adelia berkata kalau dia sudah di depan pagar, telepon pun dimatikan. Aku segera bangkit dari ranjang dan menuju ke luar untuk menjemput kakakku.

“Kak… aku buka yah…” kataku dari balik pagar bersiap membuka kuncinya. “Eh, belum pas 10 menit kan… masih ada 1 menit lagi nih… pokoknya harus pas 10 menit kamu kurung kakaknya di luar!” Duh, kak Adelia.

“lima puluh detik lagi dek…” “Kak… aku buka aja yah…” “Jangan… 40 detik lagi kok dek… Hmm… dek, kayaknya ada tukang nasi goreng ke arah sini deh…” “Hah??” “Iya… tukang nasi goreng ke arah sini” “A..aku buka pagarnya yah kak!”

“Belum adeeeeek… 30 detik lagi…” kakakku ini apa-apaan sih?? Apa dia gak takut apa!? tapi akupun lagi-lagi menurutinya saja untuk tidak membuka dulu kunci pagar.

Tic toc tic toc.. Ugh… ini betul-betul 30 detik terlama dalam hidupku. “Dua puluh detik lagi dek… tukang nasi gorengnya makin deket dek… makin deket!” ujarnya pelan. Ugh… kak Adelia…

“10 detik lagi yah dek… Eh, kayaknya dia ngelihat kakak deh dek.. jalannya makin cepat ke sini” “Hah??”

“Pokoknya jangan buka dulu!” ujarnya cepat seakan tahu isi pikiranku. Aku gemetaran di dalam sini, badanku lemas, jantungku berdebar tidak karuan. “Udah dek! Buruan buka!” teriak kak Adelia.

Dengan secepat kilat aku buka buka kunci pagar dan menggeser pagar. Kak Adelia segera masuk ke dalam dan jongkok bersembunyi di balik pagar sambil menahan tawa. Tidak lama kemudian tampak tukang nasi goreng itu lewat di depan rumah kami. Tepat waktu! Sungguh-sungguh tepat waktu! Kak Adelia… kamu bikin aku jantungan!

“A..ada apa pak?” tanyaku pada tukang nasi goreng itu karena berhenti di depan pagar rumah kami.

“Itu… Kayaknya tadi ada cewek yang masuk ke rumah yah dik? Pake jilbab gitu… bapak pikir tadi dia mau beli nasi goreng” jawab bapak itu dengan wajah bingung celingak celinguk berusaha melihat ke arah rumah kami.

Aku melirik ke arah kak Adelia yang berjongkok bersembunyi di sebelahku. Kak Adelia menempelkan telunjuknya ke bibirnya dengan ekspresi imut, tanda supaya aku jangan ngomong apapun ke bapak itu.

“Eh, nggak kok pak… bapak salah liat mungkin” kataku pada bapak itu. “Oh… iya juga kali yah.. Mana kayak ngga pake bawahan lagi, ngga mungkin lah ya dik?”

“Iya pak… mana mungkin, hehehe” padahal emang benar! Untung saja tepat waktu. Kak Adelia sungguh nakal.

Akhirnya tukang nasi goreng itupun pergi, walau masih sempat melongok kesana sini, jangan-jangan nih tukang nasi goreng yakin dengan apa yang dilihatnya. Tapi paling tidak Aku bisa bernafas lega sekarang. Kak Adelia yang kini berdiri melihat kepergian tukang nasi goreng itu tertawa dengan lepasnya. Duh… kakakku ini.

“Hihihihihi… hampir aja yah dek…” “Kak Adelia nekat! Kalau ketahuan gimana coba?” “Ya kakakmu pasti diperkosa sama dia kayaknya dek, hihihi” ujarnya sambil berlari kecil masuk ke dalam rumah.

Sungguh bikin gemes! Segera ku kejar dia ke dalam. Ku peluk dia, dan ku jatuhkan ke atas sofa. Aku cium kakakku yang cantik ini sejadi-jadinya, sampai-sampai kami jatuh terguling menggelinding ke karpet. Kak Adelia hanya tertawa geli menerima perlakuanku. Ku peluk erat kakakku sambil pinggulku ku goyang-goyangkan sehingga rudalku bergesekan di pantat bulatnya.

“Kakak nekat banget… kak Adelia nakal…” erangku sambil makin mempercepat gesekan rudalku di belahan pantatnya.

“Ngh… tapi kamu suka kan dek… sshh… pelan-pelan…”

“Ugh… kak Adelia…”

“Kamu bayangin gakh dek, kalau misalnya kakak tadi ketahuan, si bapak tadi langsung menindih kak Adelia dari belakang”

“Uugh.. Kak Adelia…..”

“Terus dengan rudal itemnya, kakak kandungmu ini dientot in gila-gilaan sama bapak itu”

“Kakak..”

“Bayangin deh, kakak dientot nya sambil tetap make kemeja dan jilbab ini dek… hihihi”

Gak kuat lagiiiiiiii

“Croooottttttttt”

Langsung muncrat-muncrat berhamburan di pantat bulatnya yang putih dan montok. Badanku langsung lemas dibuatnya. Akupun terengah-engah ambruk menindih tubuhnya. Malam ini sungguh menegangkan, yang awalnya hanya membayangkan saja kalau kak Adelia bertelanjang keluar rumah, malam ini kak Adelia benar-benar mewujudkan fantasiku.

“Dek..” “Ya kak?” “Lain kali coba semalaman yuk…” “Hah?? Nggak!”

Bersambung… “Adeek! Buruan gih berangkat.. entar telat loh”

“Iya Kak Adelia yang cantiik.. gak liat nih Adelio lagi ngiket tali sepatu?” “Oh, benarkah adikku? Ngiket sepatu itu liatnya ke sepatu doonk, masa ke kakak siih?” “Adududuh! Iya kak.. iya..”

Kak Adelia menjewer telingaku karena mengikat tali sepatu gak kelar-kelar. Siapa yang bisa cepat kelar kalau kak Adelia malah duduk di depanku pakai daster bergambar hello kitty dengan potongan bawahan sepaha.

Dan saat dia duduk bagian bawahnya ketarik sampai ke pangkal paha, dan memperlihatkan kulit mulus pahanya yang putih. Kalau perlu aku gak usah berangkat sekolah saja untuk melihat pahanya selama mungkin. Dari pada ngiket tali sepatu, mendingan ngiket kakak sendiri deh, hehe..

“Enak dek?” “Hehe.. apanya kak? Liat kak Adelia? Enak kak?” “Bukan! Dijewernya deek..” “Aduh kak! Kok lagi sih?” “Lagian kamunya, mau ngiket tali sepatu.. atau mau ngiket kakak sih dek?”

Takjub mendengar tebakan kak Adelia , aku hanya bisa memandang nya sambil cengengesan.

“Kok tau sih kak? Boleh ya kak?”

“Enak aja kak Adelia di ikat-ikat.. emm, emangnya kak Adelia sapi?” “Kak Adelia jadi sapii..?”

Duh, pikiranku mendadak menerawang kemana-mana. Kak Adelia jadi kayak sapi? Dengan hanya bertelanjang dan lehernya diikat tali. Lalu payudara putih kak Adelia menggantung bebas menanti bocah-bocah sapi untuk menyedot dan memeras susu yang ada di dalam buah dada kak Ayla. Uugh.. aku mauu jadi anak sapi itu.

“Hihi.. lagi mikirin apaan sih dek? Mukanya ampe jelek begitu? Dasar mesum” “Hah? Hehe.. anu kak.. sapi..” “Sapi.. sapi.. gih, buruan berangkat!”

“Iya iya.. kak Adelia, aku berangkat yah..” aku memonyongkan bibirku kearah wajahnya, kak Adelia yang menyambutku dengan dipegangya kepalaku dan ditundukkan kebawah lalu mengecup keningku. Gagal sudah percobaanku untuk mencium bibir kakakku ini.

“Bandel ih! Kakak sendiri mau dicium.. ati-ati dijalan yah dek..” “Hehe.. dag kak Adeliaa..” sambil menstarter motorku, aku mulai berangkat sekolah.

Meninggalkan kak Adeliaku yang cantik di rumah. Dan tidak ada hal lain yang kupikirkan selain ingin cepat pulang kerumah untuk menemui kakakku ini. Kakakku yang nakal abis, dan hanya aku yang mengetahuinya.

Pagi ini Dado temanku ingin menjemput ku untuk berangkat bersama. Kebetulan arah menuju sekolah dari rumahnya ke sekolah kami satu jurusan. Tapi terkadang suka kutolak.

Apalagi kalau bukan ingin mampir dan melihat kakakku. Kak Adelia yang cantik, putih, berbulu mata lentik, dan bibir yang merona merah Bahkan Dado sering sekali sengaja goda-godain kakakku. Dari ngajak ngobrol, sering-sering ngajak salaman, sampai minta-minta foto sama kakakku. Mending nih anak enak dilihat.

Udah item, jerawatan pula. Keseringan main layangan di jalan tol sepertinya. Belum lagi temanku yang lainnya seperti Feri dan Bono alias Bon bon. Walau kami sering main PS bareng, punya otak mesum yang sama, kalau sudah urusan tentang kakakku, aku sering merasa tidak rela.

Siapa juga yang mau melihat kakaknya yang cantik dan seksi digodain mereka-mereka ini yang kucel, item, dan mendekati jelek. Entah bagaimana rasanya melihat kak Adeliaku digangguin terus sama mereka.

***

Ketika hendak pulang ke rumah, teman-temanku, Dado, Feri dan Bono ingin mampir ke rumahku. Katanya sih pengen ngerjain PR bareng-bareng. Hanya saja aku setengah percaya karena pasti tujuan utama mereka hanya ingin ngobrol dan menggoda kakakku.

Mereka itu memang mesum, tapi aku tidak bisa juga menyalahkan mereka yang sangat mengidolakan kakakku. Kak Adelia, yang meski kalau di luar busananya selalu tertutup, tapi kalau sudah di dalam rumah sering sekali nyaris telanjang.

Aku saja dibuat tidak tahan oleh penampilan maupun ulah kakakku sendiri sehari-hari bila di rumah, apalagi orang lain. Lihat saja saat beberapa hari yang lalu ketika kak Adelia menemui peminta sumbangan dengan hanya mengenakan tanktop saja, orang itu sampai salah tingkah.

Bahkan Dado saja mengaku padaku bahwa ia menjadikan kak Adelia sebagai bahan colian nya sehari-hari, dengan hanya berbekal foto kak Adelia yang entah kapan dia ambil saat berada di rumahku. Sialan tuh anak.

Sesampainya di rumah aku memarkirkan motorku dan yang lainnya di depan garasi lalu segera masuk kedalam.

“Kak… aku pulaang… Bawa demit tiga ekor” Sambil memanggil kakakku pelan aku meledek teman-teman yang suka mengganggu ketenangan di rumahku.

“Ah sial lo bro, tapi biarlah.. mana tau kakak lo demen demit kayak gue, hehe” jawab Dado seenaknya bikin telinga panas. Dasar kampret.

Sambil menaruh tas di ruang tamu aku masuk menuju ruang tengah bersama teman-temanku. Mereka bilang ingin nonton acara TV dulu sebelum mengerjakan PR, tapi tiba-tiba salah satu temanku memanggilku dengan nada setengah terkejut.

“Wah, bro! Apaan nih? Kemari woi semua…!” panggil Bono.

Dengan penasaran aku dan yang lainnya pun menghampirinya dan ikut melihat apa yang membuatnya terkejut. Dan memang apa yang dia lihat juga ikut membuatku terkejut. Malahan bagian bawahku juga berontak karena ikut terkejut. Kami melihat kak Adelia!

Kakakku sedang tertidur di sofa panjang depan tv dengan pulasnya. Tapi yang membuat kami terkejut bukan itu, tapi penampilannya! Rambut kak Adelia tergerai indah menutupi sebagian pipinya yang merona dari kulitnya yang putih.

Baju kaos pink bergambar Hello Kitty-nya tersingkap hingga hampir sampai ke pinggul! Memperlihatkan meki kak Adelia yang ditumbuhi bulu-bulu halus dengan bebasnya. Astaga kakakku ini dia benar-benar selebor tidurnya.

Untung yang datang hanya kami, coba kalau tamu asing yang tidak jelas, pasti kakak kandungku ini sudah diperkosa habis-habisan tanpa ampun. Meskipun tetap saja tidak lebih baik jika orang itu teman-temanku ini. Aku bahkan bisa mendengar suara ketiga temanku sedang menelan ludah.

Kak Adelia mulai sadar dan terbangun dari tidurnya, mungkin karena suasana yang mulai agak berisik. Aku yakin kak Adelia pasti akan kaget melihat kami sedang mengelilinginya, menonton aurat-auratnya, tapi tebakanku sepertinya salah..

“Ehh.. ada temen-temen adek rupanya? Baru pada dateng yah?” sapa kak Adelia pada mereka sambil merapikan kaos bagian bawahnya. Ha? Kok kak Adelia malah terlihat tenang sekali dan gak ada kaget-kagetnya!?

“Hehe.. iya nih kak, baru aja pada datang. Jadi ganggu tidurnya kak Adelia nih.. aduh, bening amat yak?” ujar Dado sok merasa segan.

“Iya kak Adelia, tidur aja lagi. Kita gak bakal ganggu kok..” kata Feri ikut nimbrung. Kampret, mereka pasti bermaksud ingin melihat kak Adelia buka-buka paha lagi. Lagian kak Adelia juga sih pake tidur sembarangan. Mana kakakku ini gak pake daleman lagi. Uhh, benar-benar kakakku ini.

“Hihi.. kakak udahan kok tidurnya. Tadinya sih suguhan buat adek aja, tapi karena udah pada disini.. anggap aja yang tadi itu rejeki buat kalian juga yah…” jawab kak Adelia melirik manis padaku.

Aku hanya melongo tak percaya dengan yang kak Adelia ucapkan barusan. Sial, seharusnya aku yang mendapatkan pemandangan indah ini sendiri, sekarang jadi harus berbagi dengan teman temanku juga.

Duh, andaikan aku tidak mengiyakan mereka untuk mengerjakan PR di rumahku, pasti kakakku yang bening dan seksi ini bakal habis kucabuli seharian.

“Ya udah, kakak mau mandi dulu… kakak tinggal bentar yah..” kata kak Adelia sambil bangkit berdiri, tapi teman-temanku ini menghalangi.

“Gak mandi juga tetap cantik kok kak… hehe” “Iya kak… kita ngobrol-ngobrol aja dulu. Masa udah mau pergi aja sih?” ujar mereka berusaha menahan-nahan kakakku.

“Woi! Lo semua apa-apaan sih! Kakak gue mau mandi dulu.. Hush! Hush!” gayaku setengah mengusir mereka ke ruang tamu, karena aku masih merasa tidak rela harus berbagi rejeki dengan teman-temanku yang berotak mesum semua.

“Kak Adelia mau mandi? Kalo kakak butuh bantuan, saya bersedia kok bantuin kakak mandi, hehe…” si Dado yang cengengesan mulai kumat cabulnya.

Terkadang nih bocah suka kebablasan kalau bercanda ke kakakku, tapi hal itu juga membuat aku panas dingin karenanya.

“Hihihi.. adeek, kakak mau dibantuin mandi tuh sama si Dado.. boleh ga sih dek?” tanya kak Adelia yang malah menggodaku.

“Ah! Gila kali, ga boleh kak! Enak aja.. sono-sono..” sambil mengusir aku pasang tampang sewot. Yang bener saja, aku saja belum pernah memandikan kakakku, masa mereka duluan yang dapat.

“Tuh Dado, dengerin Adelio.. Emangnya kakak kamu ini mirip sapi kali yah dek, pake dimandiin segala? Hihihi..” ujar kak Adelia malah bercanda.

“Hehe.. Sapi betina dong kak?” celetuk Bono dari belakang.

“Ya iya lah.. masa sapi jantan.. ya udah kakak tinggal mandi dulu yah. Kalian pasti mau ngerjain PR kan?”

“Eh.. iya kak, ngerjain sapi, eh.. PR kak!” jawab ketiga temanku serempak.

“Ya udah sana, ngerjainnya yang rajin yah.. jangan ngerjain kakak melulu, kayak si Adelio nih”

“Ih! Apaan sih kak?” sambil sewot aku agak menghindarkan kepala saat kak Adelia mengacak-acak rambutku. Kak Adeliapun beranjak dari sana menuju ke belakang untuk mandi.

Kembali ke ruang tamu, kami mulai membuka buku masing-masing untuk mengerjakan tugas sekolah. Aku berusaha untuk konsen, tapi tetap tidak bisa. Entah kenapa terlintas di kepalaku sebuah bayangan mesum seandainya kak Adelia benar-benar dijadikan sapi betina.

Dengan susu yang menggantung indah menunggu untuk dikenyot dan ku sedot habis isinya. Bahkan ketika sudah habis aku masih tidak mau berhenti menggenjotnya, jadilah aku seperti anak sapi yang selalu mengikuti induknya kemana saja.

Tapi kehadiran teman-temanku ini mengganggu kesenanganku saja, aku ingin mereka cepat pulang agar aku bisa berduaan lagi dengan kakakku yang seksi ini.

Sambil mengerjakan PR, ku lihat Dado berbicara pelan pada Feri dan Bono.

“Elo sih bro… tadi pake bengong… kan tinggal keluarin HP aja, lama amat…” “Gue sibuk bro, hehe.. liatin susu sapi. Cetakannya gak nahan.. hampir aja gue coli kalo gak inget ada si Adelio, hehe”

“Hehe, iya.. kalau tadi gak ada Adelio pasti kita semua udah coli bareng-bareng tuh di depan kakaknya itu, hehe” “Iya… Apalagi jembut nya itu, aduhhh… bikin pusing atas bawah bro. Itu daging tembem amat yak? Hehe”

Sial, mereka ngomongin kakakku! Gaya mereka seperti tidak mau aku mendengarnya, tapi suara mereka cukup keras untuk dapat ku dengar. Aku malah berpikir kalau mereka memang sengaja supaya aku juga bisa mendengarnya.

“Inget susu sapi gue jadi haus nih bro, jadi pengen icip-icip, kenyot-kenyot dikit, hehe..” lanjut mereka terus berbisik-bisik.

“Si Adelio liat susu sapi jadi haus ga ya? Hahaha..” “Adelio mah haus tiap hari, hahaha..” mereka terus saja mengatakan hal yang tidak-tidak tentang kak Adelia.

Aku tidak tahan lagi. telingaku mulai panas mendengar mereka membicarakan kakakku seperti itu.

“Woi, setan! Lo kira gua gak denger apa!?” makiku pada mereka.

“Hahaha, becanda broo.. jangan sewot melulu..” si Dado menoleh untuk menenangkan ku.

“Iya bro.. bagi-bagi rejeki buat kita sekali-sekali gak ada salahnya kan?” Feri ikut nimbrung yang malah bikin aku tambah panas.

“Lagian bro, kayaknya kakak lo gak masalah juga tuh kita liatin kayak tadi.. jangan-jangan kakak lo emang demen lagi kita liatin? Hehehe..” Bono malah semakin menjadi bicaranya tentang kakakku.

Seolah kak Adelia adalah objek untuk kepuasan nafsu mereka. Benar-benar pelecehan! Kakak kandungku sedang dilecehkan Sebenarnya aku antara terima dan tidak terima melihat kejadian tadi, namun seperti yang dikatakan

Bono, kak Adelia memang seperti tidak keberatan sama sekali. Tapi biasanya kak Adelia bertingkah nakal begitu bila di hadapan orang asing yang gak dikenal sama sekali, tapi masa di hadapan teman-temanku kak Adelia juga tetap bertingkah begitu.

Setelah beberapa saat, kak Adelia sudah muncul kembali ke ruang tamu dengan memakai kemeja putih lengan panjang dan rok panjang berwarna ungu gelap lengkap dengan jilbab berwarna pink. Kak Adelia lalu ikut duduk bergabung bersama kami.

Penampilan Kak Adelia sekarang sangat kontras dengan penampilan nya tadi. Yang mana sebelumnya sangat mempertontonkan aurat nya, kini malah sangat tertutup, rapi dan begitu sopan.

Hanya saja, kak Adelia sepertinya tidak mengenakan dalaman BH lagi! Karena aku bisa melihat dengan cukup jelas pentil kak Adelia agak nyetak pada kemejanya. Kak Adelia ini benar-benar deh… Teman-temanku ini kan orangnya cabul semua.

“Eh, kak Adelia yang cantik sudah balik lagi,” celetuk Dado merayu kakakku.

“Hihihi, bisa aja kamu Dado” balas kak Adelia dengan senyum manisnya pada kami.

“Iya kak, udah cantik, baik, seksi lagi.. beruntung banget yang jadi adeknya, hehehe..” Bono ikut nimbrung.

Aku hanya cengengesan membenarkan omongannya, ya… betapa beruntungnya aku memiliki kakak seperti kak Adelia, tapi si otong juga sangat tersiksa punya kakak cewek seperti dia ini.

“Iya tuh, makanya adek kakak itu jadi suka bolos, telat sekolah, jarang main-main ke luar. Kerjaannya di rumah melulu sih gangguin kakaknya. Iya dek yah?” tanya kak Adelia melirik sambil senyum–senyum padaku.

Duh! kak Adelia malah buka-bukan soal keseharian ku di depan demit-demit ini.

“Wuaa! Ketahuan lo! Suka bolos, telat nyampe kelas, ternyataa..” sorak teman-temanku membuatku malu.

“Iya tuh, kayak tadi pagi, sambil ikat tali sepatu tapi matanya ngelihatin kakaknya terus. Ngebayangin kakak diiket kayak sapi yah dek? Hihihi..” goda kak Adelia lagi padaku.

“Wuih! Ngebayangin kak Adelia diiket kayak sapi, aku mau donk kak jadi anak sapinya, hehe..” Feri mulai ikut nimbrung dengan tampang mesum.

“Gua juga mau lho kak… Kita-kita jadi anak sapinya, terus nyusu ama emaknya, hehehe..” ujar Bono juga ikut-ikutan.

“Hihihi Emak? Emangnya kakak mirip emak sapi yah dek? Bagusan dikit dong manggilnya.. misalnya, mama sapi yang suka menyusui sapi-sapi mudanya, Hihihi..”

“Hah? Eh, anu kak.. iya, mama sapi.. hehe, jadi pengen nih kak…” mereka mulai salah tingkah di depan kakakku. Aku juga ikut membayangkan yang tidak-tidak tentang kak Adelia sekarang. Celanaku mendadak mulai terasa sempit.

“Pengen? Kalian bertiga mau nyusu sama kakak? Yee, mana bisa.. susu kakak kan cuman dua, kalau kalian bertiga, satu lagi nyusu dimana donk?” Gila nih kak Adelia! Malah terus melayani omongan mereka, bahkan nantangin segala. Aku yang mendengarnya semakin panas dingin dibuatnya.

“Yang satu gak usah jadi anak sapi deh kak.. jadi papa sapi aja, hehehe..” Bono mulai ikut-ikutan kelewatan.

“Iya bro.. mama sapinya diiket, biar gak kemana-kemana.. hehe..” sekarang Feri yang mulai terbawa suasana. Aku entah kenapa hanya bisa terdiam tak percaya dengan pembicaraan kak Adelia dan teman-temanku yang semakin menjurus ini.

“Dek, masa kakak mau dijadikan sapi tuh sama mereka, dikit-dikit, terus susu kakak diperas-peras, hihihi” ujar kak Adelia yang malah cekikikan mendengar semua omongan kurang ajar mereka terhadapnya.

Aku tentu saja marah, tapi membayangkan kakakku dijadiin sapi betul-betul membuatku horni. Aku sampai tak bisa bereaksi apa-apa.

“Adeeeek, kamu kok diam aja sih?? Jadi mereka boleh nih jadiin kakak sapi? ya udah… kalian ikat kakak gih, hihihi” Ujar kak Adelia sambil menjulurkan kedua tangannya seperti pasrah untuk diikat.

Aku dan teman-temanku tentu saja terkejut bukan main melihat ulah kakakku yang malah menantang mereka itu. Mereka tentu saja sangat bersemangat.

“Eh, jangan kak!” ujarku cepat, gila aja kalau kakakku benar-benar akan diikat oleh mereka.

“Hihihi… kakak bercanda kok dek…” ujar kak Adelia yang membalas kecemasanku dengan tertawa renyah.

“Lagian kakak juga gak kebayang betapa repot nya ngurusin si papah sapi sama anak-anaknya sekaligus.. Hihihi.. Kamu kebayang gak sih dek? Pengen lihat?” ujar kak Adelia yang terus membuatku panas dingin.

Kakakku ini sadar gak sih kalau dia sedang dilecehkan Kok malah kelihatannya suka seperti ingin hal itu benar-benar terjadi sih? Aduh, aku yakin bukan aku saja yang merasakan sempitnya celana bagian selangkangan. Ku lihat ketiga temanku duduknya juga sudah tidak nyaman.

“Eh! Anu kak.. Emm..” mendadak aku jadi bingung antara ingin lihat atau tidak.

“Hihi.. Liat deh muka adek tuh, jadi sama jeleknya kayak muka temen-temen adek. Cabul! Udah ah, bukannya pada lanjut bikin PR malah ngerjain kak Adelia nanti” kata Kak Adelia sambil pergi menuju ke dalam, meninggalkanku dalam keadaan mupeng berat.

Duh! Mana celana sudah berasa sempit, malah ditinggalin begini aja. Kak Adelia memang jahat! Tapi seksi banget! Obrolan panas antara kak Adelia dengan teman-temanku tadi sungguh bikin aku terangsang.

“Aduh bro.. gua numpang kamar mandi yak? Dah gak tahan nih.” si Dado sepertinya sudah tidak kuat menahan gejolak otong nya.

Tentu saja dia tidak kuat, hanya dengan melihat sosok kak Adelia saja siapapun pasti bakal mupeng, apalagi sampai digoda-godain segitunya sama kakakku yang cantik ini.

Lagian juga sih kakakku. Pake goda-godain mereka. Kayak gak tahu aja mereka seperti apa. Aku saja sudah mau meledak rasanya. Tapi rugi kalau kukeluarkan di kamar mandi. Pokoknya harus di depan kak Adelia.

“Woi! Awas salah belok lo!” hardikku mengingatkan Dado. Siapa tahu tuh anak kalap lalu memperkosa kakakku, bisa kacau urusan.

“Sumpah bro, gue beneran mau kekamar mandi kok…” sambil seperti menahan sesuatu Dado berjalan santai kekamar mandi, membuat roman mukanya yang sudah demek menjadi semakin jelek.

Dua temanku yang lainpun sepertinya juga sedang mengalami hal yang sama. Ingin coli karena tidak tahan membayangkan hal yang tidak-tidak tentang kakak kandungku. Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu ketika kak Adelia menggoda bapak-bapak peminta sumbangan.

Entah kemana bapak itu melampiaskan nafsunya yang tertunda itu. Ngebayangin kak Adelia bugil dari balik pagar. Uugh, aku saja sampai meledak-ledak gak karuan ke dada kak Adelia. Mana sembarangan pula nyampirin tank top nya. Tapi aku malah jadi penasaran, tanktop kak Adelia yang disamperin di pagar mendadak hilang.

Setelah beberapa saat aku melamun sendiri tentang kak Adelia, si Dado sudah kembali dengan wajah cerah sumringah seperti demit yang habis makan korban.

“Wuih! Lega broo.. lo mendingan buruan deh keluarin, dari pada sakit nahan, hehe..” katanya cengengesan.

“Ah lo! Buang tai aja pake ngomong-ngomong.. risih gua dengernya..” ujar si Feri tapi tetap saja beranjak gantian ke kamar mandi, kemudian setelah itu si Bono.

Bener-bener kacau teman-temanku ini. Baru kali ini aku melihat orang coli bergantian pake kamar mandi, mana kamar mandi rumahku lagi. Hingga akhirnya mereka semua selesai dan sudah berkumpul kembali di ruang tamu.

Aku tidak yakin kita masih bisa terus melanjutkan PR ini karena sepertinya semuanya sudah tidak lagi konsen, ya.. gara-gara kak Adelia!

Mungkin ini saatnya giliranku untuk juga buang pejuh. Hanya saja jurusanku tentunya bukan kamar mandi, melainkan kamar kak Adelia. Aku ingin langsung beronani di depan kakakku, kalau bisa ngepejuin dia. Tanpa menunggu lagi aku langsung bangkit menuju ke kamar kakakku tercinta yang cantik dan seksi itu.

“Kak Adeliaa..” ketokku pada pintu kamarnya.

Tidak ada yang menjawab. Mumpung lagi tidur aku masuk saja, otong sudah ngga tahan. Bener kata Dado, kalau nggak disalurkan bisa sakit, hehe..

“Kak Adeliaa.. aku masuk yaa?” ketika aku masuk kedalam kamarnya ternyata kak Adelia tidak ada di dalam. Kamar kak Adelia kosong! Kemana kak Adelia? Masa iya kak Adelia lagi ada di..

“Adeek! Minta tolong donk deek.. ambilin kakak handuk!” suara kak Adelia memanggil dari ruangan lain.

Dari ruang kamar mandi! Sejak kapan kak Adelia berada di kamar mandi? Bukankah teman-temanku tadi juga dari kamar mandi? Membayangkan hal-hal yang mungkin saja terjadi mendadak membuat tubuhku lemas, badanku jadi panas dingin.

“Kak Adelia lagi apa sih..?” tanyaku kemudian saat sudah sampai di depan pintu kamar mandi. Kak Adelia membuka pintu kamar mandi sedikit dan mengeluarkan kepalanya.

“Hihi.. ya lagi mandi lah…” jawabnya sambil senyum-senyum. “Kan tadi udah mandi? Kok mandi lagi sih kak?”

“Iya nih dek.. abisnya gerah banget.. jadi mandi lagi deeh.. lagian kamu pengen liat kakak tetep cantik, bersih dan segar kan? Hihihi”

Kak Adelia sepertinya memang baru saja mandi, terlihat dari rambutnya yang basah dan butiran air di wajahnya yang mengalir sampai ke dagunya. Aku betul-betul terpana melihat kecantikan kakakku ini. Kak Adelia sendiri membalas melihatku dengan senyuman manis.

Aduh jantungku berdetak cepat, darahku berdesir memandang kakakku yang cantik ini tersenyum dengan sangat manisnya. Kondisinya yang sedang basah-basahan makin menambah keseksiannya. Membuat celanaku menjadi sempit!

Sambil mengambil handuk yang ada di jemuran kecil yang terletak di dekat sana, aku lalu menerobos masuk ke kamar mandi untuk memberikan handuk itu padanya. Sekalian minta dicoliin kakakku.

“Kak.. aku masuk ya… gak tahan nih” pintaku. “Eh eh, apaan nih mau masuk–masuk aja?” kak Adelia menahan pintunya agar aku tidak masuk.

“Kaak.. pengen nih kak…” rengek ku. “Hihihi.. kamu tuh apa-apaan sih? Kakak tuh lagi mandi, nanti kotor lagi lhoo..” “Yaah, kak Adelia.. ya udah deh..”

Seperti biasa ketika kak Adelia menolak keinginanku, aku berusaha untuk memahaminya. Walau sebenarnya otong sudah tidak bisa diajak kerjasama lagi.

“Adeek..” kak Adelia tiba-tiba memanggilku dengan genit. Apakah kak Adelia akan berubah pikiran?

“Iya kak, apa kak? Boleh masuk yah?” tanyaku penuh semangat.

“Bukaaaann….. Hmm… Kakak mau kasih lihat sesuatu yang spesial buat kamu” sambil mengedipkan matanya kak Adelia tersenyum manis banget. Sungguh seksi gayanya.

“Beneran kak?” “Hihihi..” “Kak? Serius nih..” ditanyain dianya malah ketawa. “Umm.. beneran gak yah? Kok kakak jadi bingung yah dek? Hihi..” kak Adelia memanyunkan bibirnya dan mengerutkan alisnya seperti sedang pura-pura bingung.

“Yaah.. kakak? Ga usah bingung-bingung deh!”

Aku memburu kak Adelia supaya tidak ragu-ragu, karena yang tersiksa adalah kontiku juga. Karena apapun yang dia lakukan, selalu akan membuat otongku muncrat tak terkendali.

“Makanya siniin handuk kakak.. entar kakak berubah pikiran lho.. sana gih, ada temen-temennya jugak” kata kak Adelia mengusirku.

Tapi ada sesuatu yang membuatku penasaran, aku coba untuk bertahan. Sebentar lagi yah tong, kasihan banget otongku ini, tak berdaya melawan cantik dan genitnya kak Adelia.

Sebelum kembali aku melihat pakaian kak Adelia di tumpukan keranjang pakaian kotor di sebelah jemuran kecil. Baju yang dia pakai tadi kini kulihat ada bercak-bercak cairan yang sudah hampir mengering! Pasti ini kerjaan ketiga temanku.

Kak Adelia tahu gak sih kalau pakaiannya jadi korban onani para dedemit cabul itu! Ingin rasanya onani juga, tapi teringat apa yang akan kak Adelia suguhkan nanti membuatku mengurungkan niatku. Kak Adelia ini bener-bener nakal. Selalu saja menggodaku terus.

Bersambung… Aku kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan PR ku yang hampir selesai. Ternyata tak terasa waktu sudah sore dan hampir gelap. Menyelesaikan PR ini sungguh terasa lama. Bagaimana tidak kalau pikiran melayang kemana-mana mengkhayal tentang kakakku.

Entah kenapa tiba-tiba aku membayangkan kak Adelia yang sehari hari menggunakan jilbab, bersikap sopan, manis, dan cantik, diam diam suka memamerkan tubuh indahnya pada orang-orang yang tidak dikenalnya. Semakin jauh aku berfantasi tentang kakakku, semakin berontak otong di dalam celanaku.

Aku lalu mendengar langkah kaki dari ruangan dalam. Itu pasti langkah kaki kak Adeliaku yang cantik. Aku sangat penasaran bagaimana kakakku akan muncul di hadapan kami kali ini. Baru mendengar langkahnya saja jantungku sudah berdegup kencang, bagaimana dengan melihatnya.

“Adek-adeek.. rajin banget ngerjain PR nyaa? Diminum dulu yaah..” sapa Kak Adelia yang menemui kami kembali sambil membawa nampan berisi empat gelas air susu dengan hanya mengenakan..

kaos terusan! Malah dengan potongan bawahan yang lebih pendek dari sebelumnya! Memperlihatkan pahanya yang putih bening. Bahkan potongan bagian lehernya pun yang modelnya lebar. Saking lebarnya sampai menunjukkan pundak dan bahu sebelah kak Adelia! Aku setengah berharap kalau kak Adelia memakai dalaman. Apa jadinya kalau mereka tahu kak Adelia nggak pakai dalaman beha, apalagi dibawahnya.

Dengan rambut digerai bebas dan kaos seksi berwarna kuning kak Adelia muncul mendadak. Aurat-auratnya yang indah terumbar kemana-mana membuat kami berempat menelan ludah. Nekat banget kakakku ini! Sungguh berbeda dengan busananya yang sebelumnya yang benar-benar tertutup, sekarang terbuka menggoda.

Kak Adelia suka sekali membuat hati kami diaduk-aduk karena dipertontonkan cara berbusananya yang sangat kontras itu. Awal kami pulang tadi busana kak Adelia minim seperti ini juga, lalu setelah itu berpakaian tertutup lengkap dengan jilbab, sekarang malah berpakaian yang mengumbar aurat lagi. Kakakku ini sungguh wanita penggoda!

“Wuih kak Adelia! Bening beneer!” Bono mulai nyeletuk duluan, sudah gak tahan untuk berbuat cabul rupanya nih anak.

“Waduuh kak Adeliaa! Cantik benerr.. Dado jadi pusing nih, hehe..”

“Iya nihh.. gara-gara kalian sih ngotorin baju kakak tadi, jadinya kakak ganti baju lagi deh..”

Hah?? Aku agak kaget dan bingung dengan semua ini. Apakah Kak Adelia memang tahu kalau pakaiannya dikotori oleh mereka? Tapi bagaimana bisa? Apa jangan-jangan…

Adelia

“Diminum yah susu dari kakak.. Jangan disisain, hihi…” kak Adelia menaruh gelas dengan posisi menunduk.

Sumpah kak Adelia bener-bener nekat di depan mereka semua. Pastilah mereka bertiga bisa dengan leluasa melihat buah dada kakakku yang putih itu menggantung dengan bebasnya di balik rongga kerahnya. Aku yang penasaran malah tidak bisa melihatnya karena posisi dudukku menyamping dari kak Adelia.

“Kok pada bengong? Hayoo.. pada mikir jorok ya? Diminum dong susunya…” ujar kak Adelia menyadarkan mereka.

“I..iya kak… cuma kebayang aja kalo susunya asli dari kak Adelia, hehe..” Ujar si Dado mulai berani berkata kurang ajar pada kakakku sambil menyeruput susu buatan kak Adelia.

“Eh, eh… Bilang apa tadi?” tanya kak Adelia dengan nada mengintimidasi tapi tetap dengan tersenyum manis, membuat Dado dan yang lainnya salah tingkah karenanya.

“Ng..ngga kak, becanda kok..”

“Kamu tuh aneh deh.. kalo susunya asli dari kakak, ngapain juga kakak taruh ke dalam gelas.. enakan minum langsung dari sumbernya dong… hihihi”

“Hah?!” tidak hanya aku yang kaget dan panas dingin, ketiga temanku melongo dibuatnya.

Omongan kak Adelia betul-betul menjurus, memancing teman-teman ku untuk semakin giat menggoda kakakku.

“Hehe.. anu.. berarti boleh minum langsung dong kak?” tanya Feri.

“Huu… ya nggak dong, mau kalian peres-peres susu kakak sekuat tenaga juga gak bakal keluar air susunya… hihihi” jawab kak Adelia enteng.

“Serius nih kak? Kan belum dicoba…”

“Iya… kalian gak percaya?”

“Nggak percaya kak… mana tau ada isinya looh? Yuk kak kita coba… hehe” tantang balik si Feri.

Terlihat seperti bertiga lawan satu. Kakakku sedang dikeroyok! Dan aku seperti tak berdaya berada dalam situasi ini. Antara ingin menghentikan obrolan gila ini tapi juga penasaran sampai dimana ujung tantang menantang ini.

“Hihihi, gitu yah… Dasar kalian ini! Segitu penasarannya sih? Hmm… Coba kakak tanya Adelio dulu yah? Deek.. tuh temen-temen kamu pada mau meresin susu kakak, pengen tau ada isinya apa nggak. Boleh nggak sih dek?”

“Hah? Eh, i..itu… Ja..jangan dong kak! Apa-apaan sih…” tolakku. Tentu saja aku menolak.

Tapi entah kenapa aku tadi sempat ragu-ragu menjawabnya. Seperti tidak terima perlakuan mereka yang mulai melecehkan kakakku, tapi juga muncul rasa penasaran seperti apa jadinya jika teman-temanku yang jelek dan dekil ini berani melakukan hal mesum itu pada kak Adelia, kakakku yang cantik, putih dan seksi.

“Yaaahhh… kok gak boleh sih bro?” protes Dado mendengar penolakanku.

“Iya bro… kita kan cuma pengen ngetest aja kakak lo udah bisa ngeluarin susu atau nggak, hehe”

“Ngetest kampret lo!” makiku pada mereka. Sialnya mereka malah tertawa terbahak-bahak mendengar makianku, mana kak Adelia juga ikut tertawa pelan juga. Bikin perasaanku jadi tak karuan saja.

“Hihihi… kalian ini… tuh adek kakak jadi marah gitu… Hmm.. gini aja, nanti kalo kakak sudah hamil, susunya kakak bagi-bagi deh buat kalian, mau?” ujar kak Adelia kemudian.

“Hah?” kami serempak kaget. Sungguh omongan kakakku ini makin lama makin membuat kami cenat-cenut! Mereka semuapun serempak mengangguk dengan wajah mupeng. Aku sendiri juga ikut mupeng membayangkan bisa meminum susu kakakku suatu hari nanti.

“Yeee! Maunya tuuh.. udah pada jelek, mupeng lagi, hihihi.. kamu kenal mereka dimana sih dek? Pada mesum semua gitu..”

“Tau tuh kak, nemu di jalan.. minta dipungut, tapi gak ada yang mau ambil” ledekku kepada mereka semua. Bukan karena marah, melainkan sebal karena membuat pikiranku menjadi kacau. Aku jadi semakin membayangkan hal yang tidak-tidak pada kak Adelia.

“Biar jelek-jelek gini bro, kak Adelia mau lho kasiin susunya buat kita, iya nggak kak?” si Dado kelewat pede ngajak-ngajak kak Adelia. Gara-gara kak Adelia juga sih…

“Hmm… kasih nggak yah… Adeek.. kasih gak dek?”

“A..anu kak.. ehmm.. jangan lah..” jawabku pelan dan penuh ragu. Aku benar-benar bingung dengan diriku sendiri.

“Hihihi, adeek… kakak gak kedengaran lho. Kakak tanya sekali lagi yah… Boleh nggak sih dek susu kakak kamu ini diperas-peras sama mereka? Terus air susunya dikasih buat mereka?” tiba-tiba setelah bertanya lagi kak Adelia beranjak dari duduknya, dan kini malah pindah dan duduk tepat di antara ketiga teman-temanku.

Kak Adelia diapit oleh mereka bertiga yang selama ini hanya bisa beronani membayangkan kakakku! Ngapain sih kakakku ini malah duduk disana? Mana saat duduk potongan bawah kaos kak Adelia makin tertarik sampai ke pangkal paha. Makin memperlihatkan paha kak Adelia yang putih mulus. Bahkan beberapa senti lagi bisa memperlihatkan bagian dalam kak Adelia. Tapi malah aku makin tak berdaya. Aku benar-benar tak tertolong!

Sedang ketiga temanku hanya melongo melihat kak Adelia yang berpakaian seksi kini duduk di antara mereka. Kakakku yang cantik dan putih diapit cowok-cowok item, jelek, nan dekil.

Sekilas kulihat wajah kak Adelia seperti mengedipkan matanya padaku saat ia duduk diantara teman-temanku.

Anehnya kontiku seperti mengiyakan kondisi ini dengan berontak keras. Tapi aku berusaha untuk tetap berakal sehat, entah sampai kapan aku bisa bertahan.

“Jangan donk kak.. Enak aja.. keenakan di mereka dong..” jawabku merana, tapi tidak sekeras sebelumnya.

“Tuuh, dengerin kata Adelio.. nggak boleh. Jadi jangan yah.. Masa kalian mau meras-meras susu kakak teman sendiri sih? Makanya cari pacar… gak laku yah? hihihi” ledek kak Adelia pada ketiga temanku ini.

“Biarin gak laku, yang penting kita punya teman yang kakaknya super cantik…” ujar Bono seenaknya.

Kampret tuh anak, jangan bilang mereka berteman denganku cuma karena kak Adelia! makiku dalam hati.

Sejenak suasana menjadi hening. Teman-temanku diam karena menikmati keberadaan kak Adelia di sebelah mereka, mana mereka sudah mengelus-elus selangkangan mereka masing-masing pula. Aku juga diam karena mengerutu sendiri dalam hati kenapa aku punya teman seperti mereka.

“Ya udah deh kak.. tapi kakak duduk disini aja ya? Temenin kita-kita ngobrol” kata Dado kemudian membuka suara.

“Iya nih kak, disini aja ya, kita ga bakal ngapa-ngapain kok, hehe..” Feri ikut nyeletuk, tapi tangannya masih dielus-elus selangkangan nya sendiri.

Sama seperti aku yang juga sudah mengelus selangkanganku. Pemandangan yang ada di depanku, yang mana kakak kandungku yang cantik dengan aurat kemana-mana sedang diapit mereka entah kenapa juga membuat aku horni.

“Iya iya.. kakak temenin deh, tapi inget jangan macem-macem yah? Inget kan kata Adelio tadi?” kak Adelia malah mau untuk tetap duduk di sana di sebelah mereka.

Entah fantasi setan mana yang merasuk, aku seperti diam saja melihat kondisi ini. Kenapa tiba-tiba kak Adelia jadi mau nemenin mereka sih? Apa yakin gak bakal diapa-apain? Tapi kalaupun diapa-apakan, kok aku malah membayangkan seperti apa kira-kira kak Adelia diperlakukan? Duh, kakakku yang cantik ini ternyata nakal banget. Mau-mau aja disuruh duduk nemenin mereka.

“Hehe, kak Adelia tangannya putih banget, halus lagi bro..” si Dado yang tepat di sebelahnya sengaja menggesek-gesekkan lengannya ke lengan kakakku. Tampak perbedaan warna kulit mereka yang begitu kontras.

“Duh, adeek.. liat nih lengan kakak dipegang-pegang ama si Dado, nakal banget ih temanmu ya?”

“Nggak sengaja kegesek kok bro, hehe.. namanya juga duduk sebelah-sebelahan…”

“Dek, si Bono ikut-ikutan juga tuh deek.. marahin tuh, mana tangannya kasar banget, kayak kulit badak, hihi..” ujar kak Adelia lagi ketika Bono ikut-ikutan menjamah kakakku, begitupun Feri. Resmi sudah kak Adelia jadi bulan-bulanan mereka. Tapi ku lihat kakakku ini hanya tertawa geli mendapat perlakuan tak senonoh dari ketiga temanku.

Aku yang masih terpana dengan suasana yang sepertinya hampir di luar kendali ini dikagetkan dengan suara nada dering HP kak Adelia dari kamarnya.

“Kak Adelia! Ada telpon tuh!” panggilku.

“Umm.. Adeek, kakak minta tolong boleh? Ambilin HP kakak yah… Please…”

“Yaah, kak Adelia.. kok aku siih, nanggung..” aku seperti tak percaya barusan bilang seperti itu. Aku seperti tidak rela pergi dari adegan yang bikin aku panas dingin ini.

“Hihihi.. adek takut ketinggalan yah?” tebak kak Adelia menggodaku. Aku hanya diam karena malu mengakuinya.

“Makanya dek, cepetan ambilin HP kakak dong…” ujar kak Adelia lagi.

Akhirnya ku turuti juga perkataan nya, walaupun jadinya seperti orang bodoh. Segera ku berlari menuju kamar kak Adelia dengan harapan cepat mengambil HP nya dan kembali keruang tamu.

Sesampainya di kamar aku melihat HP yang baru saja berhenti berbunyi. Belum sempat kulihat siapa yang misscall kakakku, HP itu sudah berbunyi lagi. Terlihat nama “Mas Hendi” tertera di layar, Mas Hendi pacarnya! Aku jadi bingung mau memberikan HP ini atau membiarkannya saja. Mana kak Adelia lagi dimasukin sama temen-temenku di ruang depan. Saking bingungnya aku, HP yang terlalu lama kubiarkan mendadak mati lagi.

Saat aku mau kembali ke depan sambil membawa HP kak Adelia, Hp itu mulai berbunyi lagi untuk yang ketiga kalinya. Akupun memutuskan untuk langsung menerimanya.

“Halo.. mas Hendi ya? .. Ada kok mas.. umm, itu.. kak Adelia lagi ada di ruang tamu sama temen-temen Adelio.. bentar yah..” Tanpa menunda lagi aku bawa HP ini ke kak Adelia.

Kakakku yang sedang di jamah jamah berjamaah, tiba-tiba ditelepon pacarnya. Aku penasaran apa yang akan dilakukan kak Adelia.

Sambil menuju ke ruang tamu aku sedikit mendengar suara kak Adelia sebelum aku sampai kesana, dan menghentikan langkahku untuk menguping..

“Pelan-pelan donk Do, sakit tau.. Aduuh si Bono tangan kakak jangan taruh disana.. bandel amat sih dibilangin.. Gak geli apa? Hihihi”

“Diem napa kak? Entar kita keluarin nih ya?”

“Tau nih.. bawel amat! Bilang aja kakak suka kan? Hehehe..”

“Aduuh.. jadi kebablasan deh semuanya.. kakak pergi nih yaa?”

“Yaah.. jangan dong kak! Nanggung nih!”

Aku mulai panas dingin mendengarnya. Entah apa saja yang sudah terlewati. Aku pun langsung muncul dan menemui mereka untuk memberikan HP itu pada kakakku.

“Kak Adelia, nih HP nya.. Hah?” aku terpana melihat kondisi kak Adelia yang baru saja ku tinggal sebentar.

Kaos bagian bawah sudah tersingkap sampai memperlihatkan pinggangnya, tapi karena posisi duduk kak Adelia yang kakinya rapat, jadi selangkangannya tidak terlihat, melainkan hanya jembut halusnya yang mengintip dari kedua paha putihnya yang mengatup rapat.

Sedang kerahnya sudah melebar turun dari pundak sampai ke lengan. Buah dada sebelah kak Adelia yang putih dan padat mengkal itu hampir kelihatan semuanya. Dan apa itu? Seperti bercak merah buah dada kak Adelia.

Apakah susu kakakku baru saja diremas-remas? Sungguh pelecehan! Tapi kak Adelia tampak seperti tidak terganggu sama sekali dengan kondisi ini. Kini rudal ku resmi sudah tak ada ruang lagi untuk berontak.

“Hihihi.. makasih ya deek.. siapa yang telpon?” tanya kak Adelia yang masih menampakkan wajah senyum manisnya walau tengah digerepe-gerepe oleh teman-temanku seperti itu.

“Mas Hendi!” seruku dengan suara kecil ke kak Adelia.

“Oh? Mas Hendi? Haloo..” heran aku melihat kak Adelia justru dengan tenang menerima panggilan dari cowoknya.

Padahal kondisinya sangat menegangkan dan kak Adelia tetap tidak beranjak dari sana. Dia menerima telepon dari cowoknya sambil tengah di gerepe gerepe teman-temanku! Kakakku sungguh nakal!

“Iyaa, maaf ya mas.. Adelia lagi nemenin Adelio dan temen-temennya di sini..”

Posisi tangan Dado kini sedang memegang-megang tangan kak Adelia. Sedangkan Bono semakin menjadi-jadi menggesek-gesekan tangannya ke paha putih mulus kakakku. Feri sendiri lagi sibuk pegang-pegang leher kak Adelia sambil mencium bau harum tengkuk kakakku. Aku? Kenapa aku tetap diam dan malah menikmati pemandangan ini!? Wanita yang sedang dilecehkan ini adalah kak Adelia! Kakak kandungku! Aku memaki diriku sendiri.

“Iya nih mas, lagi pada makan.. temen-temennya lagi menikmati suguhan Adelia.. kayaknya pada suka semua deh, abisnya minta terus, hihihi..” jawab kak Adelia.

Kalau dibilang berbohong sih tidak, apa yang diucapkan kak Adelia memang benar, hanya saja tentu maksudnya yang berbeda. kak Adelia memang nakal, kayak cewek penggoda. Nakal abis. Aku tak tahu lagi harus memberi sebutan apa pada kakakku ini. Yang pasti kontiku sudah tidak tahan lagi.

Tiba-tiba kak Adelia menutup microphone HP nya.

“Eh! Jangan kebawah-bawah ya..! Nanti gak kakak terusin nih… Tuh dek, lihat teman-temanmu nih, nakalnya gak ketulungan!” ujar kak Adelia pura-pura mengancam tapi tetap memasang senyum manisnya. Bikin kami semua jadi tambah gregetan!

“Aduh kak Adelia.. gua ga tahan lagi..” ujar Dado membuka resleting celana dan membebaskan rudal nya yang hitam dari dalam celananya! Sungguh cabul!

Belum selesai kaget ku melihat kelakuan si Dado, mendadak Bono dan Feri seperti terprovokasi akhirnya ikutan juga mengeluarkan rudal-rudal mereka.

Wajah kak Adelia tampak sedikit kaget melihat mereka semua sudah mengeluarkan rudalnya sambil dikocok-kocok. Mungkin kakakku tidak mengira mereka bakal senekat itu.

Hanya sebentar ku lihat kak Adelia dengan wajah kagetnya, tapi tak lama kemudian dia asik lagi teleponan.

“Uugh.. Udah kak, ngobrol aja lagi.. entar ketahuan lho” si Dado seperti mengingatkan kak Adelia.

Justru aku yang panas dingin melihat situasi sekarang. Apa jadinya kalau sampai ketahuan oleh pacarnya!? Anehnya akupun kini justru ikut mengeluarkan rudalku yang sejak tadi ingin dibebaskan. Aku tak berdaya melihat pemandangan ini.

“Eh.. iya mas.. maaf, Adelia juga lagii.. lagi makan.. iya maas.. tadi Adelia bikin lontong mas.. emm, lontong sayur tuh..” kak Adelia mulai tidak jelas ngomongnya, seperti cari-cari alasan supaya tidak ketahuan. Kelakuannya itu justru membuatnya terlihat semakin nakal. Uugh, aku mulai mengocok kontiku dengan cepat.

Kulihat Dado mulai meracau dan mempercepat kocokannya sambil tangannya bergerilya ke paha, leher, pinggang, dan tangan kak Adelia. Dan kakakku terlihat menahan geli! Ooh, kakakku nakal.

“.. Sssshhh.. Ooh, kak.. kak Adelia…” si Dado mulai sembarangan bersuara.

“.. apa mas? Ooh, itu mas.. Adelia bikin lontong sayurnya pedes banget deh kayaknya.. makanya pada bersuara gak jelas gitu deeh.. ampe merem melek..”

Suara desah-mendesah teman-temanku semakin menjadi-jadi, begitu juga kocokan mereka. Kak Adelia seperti tidak ada pilihan kecuali hanya diam dan berusaha meladeni cowoknya melalui HP dan juga teman-temanku yang semakin brutal memainkan tangannya pada tubuhnya, membiarkan teman-temanku ini meraba-raba auratnya yang biasa ia tutupi.

“Iya nih mas.. masih banyak lontongnya.. si adek juga suka tuh.. suka yah dek? Ini buatan spesial dari kak Adelia buat adek.. hihihi..” lirik kak Adelia nakal sambil tersenyum manis padaku. Sungguh aku ingin muncrat dibuatnya!

Tapi tiba-tiba Dado bangkit dari duduknya dan naik keatas sofa ruang tamu tempat mereka duduk berempat. Mau apa dia? Tanpa dikomandoi kedua temanku yang lainnya juga ikut berdiri mengelilingi kak Adelia yang sedang duduk.

“.. Uugh kaak.. Eegh..” erang Dado makin keras sambil kocokan tangannya juga semakin cepat.

Tiba-tiba dengan kurang ajarnya dia pegang dan tarik rambut belakang kak Adelia hingga wajah kak Adelia jadi tengadah di bawah rudal teman-temanku. Jangan bilang kalau kakakku akan di…

“Croooooottttttt!”

“..Aarghh! Kaak!” Peju teman-temanku muncrat tidak karuan menghiasi wajah kak Adelia, kakak kandungku!

“.. Iiiiih!” kak Adelia kaget dan menjerit sambil memejamkan matanya.

Siraman pejuh temanku menghiasi rambut, wajah, bahkan HP kak Adelia sendiri yang masih teleponan dengan cowoknya itu juga tak luput dari semprotan teman-temanku.

Melihat kondisi kak Adelia yang sedang kaget belepotan sperma di muka dan rambutnya membuatku semakin terangsang. Aku pun akhirnya juga menumpahkan pejuhku yang hanya mengenai meja tamu saja. Bahkan tidak mengenai kak Adelia sama sekali. Tidak seberuntung teman-temanku yang dapat dengan nikmatnya menyemprot wajah cantik mulus kakakku ini.

Aku bersandar lemas pada kursi. Begitu juga ketiga temanku yang langsung ambruk di sofa. Hanya kak Adelia yang masih duduk tegak memegang HP, dimana cowoknya memanggil-manggil tanpa ada jawaban dari kak Adelia.

“.. I-iya mas.. maaf… itu.. tadi Adelia teriak.. ternyata kuah lontongnya pedes banget.. trus temen-temen Adelio jejeritan pada minta minum.. hihihi, padahal udah Adelia suguhin susu.. salah sendiri engga diminum.. ya udah mas yah.. Adelia mau mandi lag- eh! Mau mandi dulu.. hihihi.. daagh mas..”

“Uugh.. kak Adelia..” panggilku lemas kearahnya yang kini sudah beranjak dari duduknya dan pindah mendekatiku.

“Apa adeek? Kak Adelia nakal yah? Hihihi.. tapi adek suka kaan?” kak Adelia menggodaku dengan suara pelan.

“Siapa juga yang suka..” jawabku menyangkal hasrat terdalamku tentang kebinalan kak Adelia.

“Hihihi.. adek nih. Ya udah, kakak tinggal ke dalam dulu yah.. mau bersih-bersih dulu..”

Melihat kak Adelia pergi sambil tersenyum manis ke arahku dan penuh dengan hiasan peju di wajah dan rambutnya serasa akan membangkitkan si otong lagi. Kak Adelia terlihat begitu seksi dan nakal dengan penampilan seperti itu.

Persis seperti dalam khayalanku setiap kali aku onani, hanya saja tentunya bukan hasil dari teman-temanku. Mengingat ini ulah dari teman-temanku, aku merasa sebal dan ingin segera mengusir mereka. Cukup sudah dalam sehari mereka merasakan kepuasan dalam melecehkan kakakku.

“Woi, udah gelap nih! Pada balik deh lo semua!” teriakku pada mereka. Kesadaranku terkumpul lagi untuk mengusir teman-temanku. Kesadaran yang tadi sempat dikalahkan oleh nafsu. Tepatnya, nafsu pada kakakku.

“Oiya, udah gelap nih.. gue balik deh bro, tapi boleh kan main kesini lagi? Hehe.. ngerjain PR broo..” si Dado seperti ingin meyakinkanku bahwa tiap kemari untuk mengerjakan tugas sekolah, padahal aku yakin bukan itu tujuannya.

“Ah kampret lo! Akhirnya kakak gua juga yang lo kerjain. Sono-sono.. eneg gua liat lo pada!” Aku terus mengusir mereka supaya cepat cepat pergi bukan karena aku marah.

Walau sebenarnya perasaanku agak terganggu dengan kejadian barusan, tapi aku ingin berduaan lagi dengan kakakku yang entah akan ku apakan kakakku di sisa waktu yang sudah mulai gelap ini.

“Iya-iya.. ini juga mau balik. Kak Adeliaaaaa…. Kami balik dulu yah….” teriak Dado dan yang lainnya.

“Iya… rajin-rajin main ke sini yah…” sahut kak Adelia dari arah belakang.

“Tuh, kakak lo aja gak masalah kita main-main ke sini lagi, hehe…” ujar Bono cengengesan. Aku sungguh kesal mendengarnya. Kak Adelia ini ngapain juga sih nawarin mereka untuk sering main ke sini!?

Akhirnya merekapun pergi dengan motor masing-masing. Setelah puas mencabuli kakakku seharian akhirnya mereka pulang dengan wajah cengengesan kesenangan. Seharusnya cuma akulah satu-satunya tadi yang mencabuli kakakkku, bukan mereka. Huh! Jadi panas hati ini mengingat aku hanya diam saja tak berdaya melihat kak Adelia diperlakukan tidak senonoh seperti tadi.

Kak Adeliaku yang cantik dan seksi. Dengan busana minim kaos yang serba terbuka terlihat pasrah menerima semprotan peju yang menodai wajah cantiknya. Wajah seorang gadis yang selama ini memakai jilbab, bersikap santun dan jauh dari bayangan negatif. rudal mulai menegang lagi. Ini saat yang tepat untuk menyusul kak Adelia ke dalam rumah karena akhirnya cuma tinggal kami berdua di rumah.

“Kak Adeliaaa!” aku jejeritan seperti orang gila sambil menghambur masuk ke dalam rumah.

“Apa sih deek? Teriak-teriak kayak orang gila?” kak Adelia yang terakhir kulihat masuk ke dalam sudah kembali ke ruang tengah sambil nonton acara TV.

Pakaiannya kal ini juga mengenakan baju kaos, tapi sekarang dia sudah mengenakan celana legging pendek. Dan bekas-bekas semprotan teman-temanku sudah tidak terlihat lagi. Sepertinya sudah dibersihkan oleh kakakku. Semprotan orang-orang dekil!

Aku yang bergaya seperti orang ngambek berjalan malas mendekatinya dan duduk di sampingnya. Masih dengan pasang wajah jutek, moga-moga aja dia tahu kalau aku tidak terima dengan kejadian tadi.

Aku yang diam saja malah ditanggapi hal yang sama dengan kakakku. Dia malah asyik nonton terus tanpa memperdulikan aku yang pura-pura ngambek di sampingnya. Bener-bener deh nih kak Adelia!

“Kak..”

“Hmm..”

“Kak Adelia!”

“Iya…”

“Kakak!”

“Apa sih deek? Kakak lagi nonton nih…” ujarnya tetap cuek memandang lurus ke layar tv. Bikin kesal aja!

Timbul niat aku untuk mengisengi nya karena dari tadi hanya menjawab ku sekenanya saja. Lagi pula, salah siapa dia bertingkah nakal seharian, sekalian saja aku cabuli. Biar tau rasa kakakku ini!

“Kak Adeliaa!” aku langsung memeluk tubuh kak Adelia tanpa aba-aba.

“Aduh adek! Apaan sih? Main peluk-peluk aja ih!” kakakku yang kaget kupeluk langsung ambruk badannya karena tertimpa badanku yang menindihnya.

“Habis, kak Adelia bikin aku gemes..”

“Hihihi.. gara-gara lihat yang tadi yah dek?” tanya kakakku dengan tatapan menggoda.

“Kak Adelia nakal. Kok mau-maunya sih digituin sama mereka?”

“Temen-temen kamu tuh yang nakal, baru lihat kakak kayak gini aja udah pada pipis sembarangan. Gimana kalau kakak gak pake apa-apa, kira-kira kakak bakal diapain yah dek sama mereka?” Duh, kakakku ini.

“Kakak gak takut diperkosa apa sama mereka?” tanyaku sedikit menggerutu.

“.. Ehmm.. takut sih dek, apalagi temen adek tuh.. udah pada item-item, bau keringat, dekil lagi.. gak kebayang tuh dek kalo kakak diperkosa sama mereka, hihihi. Apa jangan-jangan.. adek penasaran yah seperti apa kalo kakak kandung adek ini diperkosa sama mereka? Hihihi… hayoo ngaku!”

“Eh! Ehmm.. anu.. aku nggak rela lah kak!” jawabku ragu.

Tebakan kak Adelia benar-benar mengena, memang dalam setiap onaniku aku sering menghayal kalau kak Adeliaku yang cantik yang selalu berpakaian tertutup ini diperkosa oleh orang-orang dekil dan jorok, mungkin seperti teman-temanku ini. Tapi tentunya tidak pernah terbayangkan kalau hal itu benar terjadi. Aku tentu saja tidak rela.

“Nggak rela apa nggak rela?” tanya kakakku dengan nada manja menggoda. Sepertinya kakakku ini tahu betul kalau aku lagi ragu akan jawabanku sendiri.

“Tapi nggak temen-temenku juga kali kak..” jawabku polos. Masa bodohlah kalau kak Adelia marah atau tidak dengan khayalanku tentang dirinya.

“Hah? Berarti kalo dengan orang lain boleh? Gitu yah dek?” kak Adelia memberi respon terkejut.

“Yaa.. ngga juga sih kak, hehe..”

“Yakin? Ntar kalau beneran terjadi pasti kamunya liatin terus sambil coli… iya kan?”

“Ng..nggak lah…” jawabku lagi-lagi ragu. Kak Adelia tertawa mendengar jawabanku yang ragu-ragu itu.

“Aduuh! Adek kakak ini suka fantasiin kakak apa aja siih? Pantesan kamu bawaannya pusing melulu.. ayo lepasin kakak!” suruh kak Adelia sambil terus menepis tanganku yang masih memeluknya.

“Ngga mau kak!”

“Adek! Hihihi.. geli tau dek! Hmm.. gini deh, kalau kamu mau lepasin kakak, nanti kakak kasih sesuatu yang spesial deh, masih mau kan?”

“Hah? Kasih apaan kak? Mau donk… Hehe..” terhipnotis seperti biasanya oleh kakakku yang cantik ini, aku mulai mengendorkan pelukanku di tubuh ramping kakakku ini.

“Hihihi, dengar mau kakak kasih sesuatu langsung tanggap, dasar! Gak jadi ah…”

“Ah kak Adelia! Aku peluk lagi nih yaa?” Ancamku sambil pasang gaya mau menomplok kembali kakakku ini.

“Adek! Udahan! Iya iya… kakak kasih tapi ada syaratnya.. adek gak boleh pegang-pegang kakak yah”

“Hah? terus adek pegang apa donk kak?” tanyaku bingung, apa sih permainan kak Adelia kali ini?

“Hihihi.. pegang burung kamu sendiri… kasian tuh, kejepit dari tadi.” tawa renyahnya meledekku.

“Yaah.. kakak…” aku seperti penonton kecewa yang gagal mendapatkan permen gratis. Permen itu tak lain adalah kak Adelia sendiri.

“Janji dulu adeek..”

“Iya iya.. janji..” jawabku terpaksa.

“Yakin nih adek gak mau keluarin burungnya sekarang? Hihi.. Adek liat yah! Kakak kasih sesuatu yang spesial buat adek..” tiba-tiba kak Adelia menarik gesper ku dan meloloskannya dari pinggang celana sekolahku.

Awalnya aku berpikir kak Adelia mau menurunkan celanaku, dan memang dia tidak melakukannya. Aku masih tak mengerti apa yang sedang kak Adelia lakukan, sampai akhirnya kak Adelia selesai melakukan semuanya, dan menyerahkan sesuatu kepadaku.

“Adeek.. pegangin donk talinya, biar kakaknya gak kemana-kemana, hihihi..” kak Adelia menyerahkan ujung gesper kepadaku.

Aku terpaku dan terpana melihat pemandangan ini. Bagaimana tidak, kak Adelia membuat ikatan gesper dan mengalungkannya pada lehernya sendiri yang jenjang dan putih itu. Lalu menyuruhku memegang ujung sisi lainnya seolah aku seperti sedang memegang seekor ternak! Kakakku yang cantik dan seksi sedang berpura-pura menjadi seekor sapi betina untukku!

Mungkin inilah yang dimaksud dengan sesuatu yang spesial yang ingin kak Adelia tunjukkan padaku tadi siang. Entahlah yang mana sebenarnya yang ingin kak Adelia tunjukkan padaku, terlalu banyak hal yang buatku sangat spesial dari kak Adelia. Tapi menjadi sapi yang seksi dengan tali gesper di lehernya buatku sangat seksi.

Kak Adelia benar-benar seksi, otong ku langsung mengeras, dan benar seperti kata kak Adelia, seharusnya aku tadi mengeluarkan rudal ku karena sangat tersiksa di dalam celana. Segera ku keluarkan rudalku yang sudah menegak dengan kerasnya di hadapan kak Adelia.

“Uugh kak Adelia.. nakal banget, suka godain aku..” keluhku tak karuan karena membayangkan kakakku menjadi sapi peliharaanku betul-betul membuat kontiku terasa keras dan sakit.

“Hihihi.. ayo adeek, semangat kocoknya..”

“Kak Adelia nakal.. uugh.. kak Adelia sapi betina yang nakal..” sambil melihat tingkah manja kak Adelia yang terus memandangku dengan sayu membuat kocokanku makin kuat dan cepat.

“Adeek.. liat deh..” tiba-tiba kak Adelia mengangkat kaosnya sampai ke leher hingga memperlihatkan buah dada putih dan mengkal kak Adelia. Pentilnya yang coklat kemerahan terlihat mancung mengeras. Kak Adelia benar-benar menyiksaku!

“Kak.. boleh pegang yah kak?”

“Jangan donk adeek, janjinya tadi apaa?”

“Hehe.. dikit aja kaak, pleasee..” aku memohon supaya diijinkan memegangnya. Dan mungkin sedikit memerasnya.

“Dasar… tapi jangan keras-keras yah pegangnya…” mendengar jawaban kak Adelia membuatku seperti mendapatkan hadiah yang tiada duanya.

Walau aku pernah memegangnya sebelumnya, kali ini kak Adelia memberikannya dengan suka rela. Kak Adelia bahkan meminta dengan lembut agar aku tidak memerasnya terlalu keras. Dan yang lebih membuatku antusias karena kondisi kak Adelia yang sekarang seperti sapi betina!

Sambil terus mengocok kontiku, Aku mulai membelai-belai buah dada kak Adelia sambil terkadang memerasnya sekali-sekali. Sungguh gemas melihat kak Adelia yang cantik, sedang mengenakan tali gesper di lehernya. Kak Adelia kelihatan binal banget. Kakak kandungku sendiri, memperlakukan dirinya seperti hewan ternak yang susunya seperti mau dipersembahkan kepada siapa saja yang mau menyusuinya. Uugh, Kak Adelia nakal sekali!

“Adeek… Kebayang gak sih kalo ada dua anak sapi item yang jelek nyusu di tetek kakak?”

“Dikenyot kuat-kuat donk kak?” jawabku terus mengocok sambil membayangkan dua anak sapi itu. Entah kenapa aku malah membayangkan dua temanku yang datang tadi siang.

“Terus sambil nyusu, datang si papah sapi.. langsung naik ke punggung mamah sapi ini dek..” suara kak Adelia makin mendesah. Aku makin tak kuat mendengar suara menggoda kak Adeliaku yang makin nakal ini.

“… Uugh.. kakak nakal, nih… kak Adelia sapi binal..” aku mulai mengatai kakak kandungku yang tidak-tidak. Kontiku sudah mau meledak, dan remasanku mulai mengeras di dada kak Adelia.

“Tau nggak papah sapi bilang apa dek? Katanya, ‘sini, mamah sapi papah entotin dulu, biar hamil terus toket mamah yang penuh susu bisa dikenyot sama sapi mana aja yang mau ngenyot’ Hihihi..” ujarnya manja. Aku tidak kuat lagi!

“Aarghh! Kak Adelia pereek!” Aku berteriak sembarangan. Kontiku yang berdenyut-denyut kuarahkan ke kak Adelia dan semprotannya membasahi kursi sofa dan paha putih kakakku yang cantik ini.

Aku dan otongku terkulai lemas. Dua kali kami berjibaku menghadapi kak Adeliaku yang suka menggoda itu. Tapi rasanya aku selalu tidak pernah bosan untuk terus beronani dan membuang pejuku di depan kakakku yang seksi ini.

“Uuhh.. tiga kali deh kak Adelia disemprot. Masa kakak mandi tiga kali sih dalam sehari? Pusing punya adek mesum.. hihihi..”

“Hah?! tiga kali?”

“Iyaaa… tiga” kata kak Adelia mengedipkan matanya. Ta..tapi kapan yang satu lagi?

“Hihihi.. ya udah… kakak mandi dulu yah?” ujarnya kemudian meninggalkan aku sendiri.

“Kak Adelia!”

“Eh! Adeek! Apa-apaan sih? Bahaya tau! Lagi dijalan nih..” “Biarin! Lagian kak Adelia juga siih..”

“Eh, malah nyalahin kakak, tangan kamu tuh… Dasar, pantesan pengennya duduk di belakang melulu, kakak udah kayak sopir kamu aja tahu nggak!”

“Hehe.. sopir yang cantik dan seksi. Aku bayarnya pake ngecrotin kakak..” “Ngecrot.. ngecrot.. sembarangan aja. Emangnya kakak toilet apa dipipisin terus pake peju adek? Iya?” tanya kak Adelia dengan nada manja dan imutnya.

“Iya kak, mauu.. kakak jadi toilet pribadi adek aja yah? Hehe..” Sambil terus ngajak ngobrol cabul, aku yang suka memilih duduk persis di belakang juga terus bergerilya mencoba menggerepe gerepe tubuhnya dari belakang. Tanganku yang satunya juga asik masuk ke dalam celanaku mengelus-ngelus si otong.

“Hihihi.. bukannya dari dulu udah memang begitu yah? Makanya, cari pacar donk deek..” ujar kak Adelia sambil melepaskan tanganku yang singgah di perutnya. Ya, berkali-kali aku mencoba menggerepe dia, berkali-kali juga dia menepisnya.

Adelia

“Gak mau.. maunya pacaran sama kakak aja, hehe..” kataku sambil tanganku kali ini memegang buah dadanya yang hanya ditutupi kemeja tanpa dalaman. “Yee.. masa kakak sendiri dipacarin sih? Lagian kakak kan udah punya pacar dek” dan lagi-lagi dia juga kembali menepis tanganku. Ugh!

“Tapi kak Adelianya juga tega sama pacar kakak.. bisa-bisanya waktu teleponan sama mas Hendi kakak mau aja sambil digerepe-gerepe temen-temenku, malah sampai dicrotin pula”

“Iya juga yah dek, hihih… teman-temanmu sih nakal. Tapi kok kamu gak tolongin kakak sih? Kamu suka ya dek ngelihatnya?” tebaknya.

“Umm.. akuu..”

“Tuh kaan.. adek sukaa kaan?” godanya melirikku dari spion. “Ah kak Adelia!” jeritku malu mengakui.

Walau ada perasaan sebal, tapi entah kenapa aku memang malah menikmati pemandangan saat kak Adelia diperlakukan seperti itu. Karena seharusnya aku sendirilah yang bisa menikmatii kakak kandungku ini, bukan orang lain, apalagi teman-temanku itu.

Sambil coli dengan sebelah tanganku, tanganku yang lainnya kini mendarat persis di selangkangan kak Adelia.

“Aduh, adeek! Tangannya kemana-mana tuuh? Kakak gak suka kalau di jalan adek kayak gini ya!” katanya tegas sambil lagi-lagi menepis tanganku.

“Yaah, kak Adelia..” “Adeek.. ini kan lagi di jalan.. bisa bahaya lho” “Iya, aku juga tau kaak..” “Tuh kamu tau juga… Lagian bentar lagi kita sampai rumah kok… Awas jangan coli di mobil! repot bersihinnya…” Duh, kok dia bisa tahu sih aku juga lagi coli di belakangnya!? “Iya deh iya…” Ugh! Kak Adelia ini. Terpaksa kutunda dulu aksiku.

Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah aku benar-benar merasakan kentang luar biasa, Kak Adelia memang tidak suka apabila sedang membawa kendaraan selalu ku ganggu seperti ini. Tapi siapa yang tahan kalau kak Adelia selalu menggoda terus.

Dari nada suaranya ketika bicara denganku, sangat berbeda ketika bicara dengan orang lain yang mengenal kakakku dengan sopan dan baik. Kak Adelia ketika bicara padaku selalu dengan nada manja dan genit. Walau masih dengan menggunakan pakaian lengkap dan jilbabnya, justru malah menambah keseksiannya ketika menggoda ku.

Aku jadi ingin terus beronani karena dia. Untung persedian pejuku sangat banyak, kalau tidak aku pasti sudah mati lemas tinggal bersama kakak kandungku yang seksi ini. Tapi aku harap sih aku bisa dikasih lebih dari sekedar hanya beronani. Semoga, hehe.

Kamipun sampai di rumah. Setelah membukakan pagar dan pintu garasi dalam, aku cepat-cepat menutup pagar luar untuk segera memeluk kak Adelia. Aku merasa kentang dari tadi. Kakakku ini selalu membuatku kangen setiap saat.

“Kak Adeliaa!” aku menghambur memeluknya ketika kak Adelia baru masuk dari pintu dapur yang menyambung langsung dengan garasi dalam dan yang pasti aku juga menempelkan dan menyelipkan rudalku yang sudah menegang sedari tadi ke sela-sela pahanya.

“Iih! Adek.. gak bisa apa biarin kak Adelia istirahat bentar?” jawab kak Adelia melepas jilbabnya berusaha melepas pelukanku dari tubuhnya yang harum. Aku baru sadar kalau kak Adelia hari ini harum banget. Biasanya dia juga selalu harum sih.

“Gak mau! Aku gemes sama kak Adelia..” “Hihihi.. gemes liatin kak Adelia ngeladenin obrolan penjual ayam bakar tadi yah dek?” godanya padaku mengingatkanku akan adegan tadi.

Ketika menjemputku pulang sekolah barusan ini kami memang memesan ayam bakar. Kak Adelia lagi-lagi bertingkah nakal dengan membiarkan putingnya yang mengeras tanpa lapisan BH menyetak dari balik kemeja tipisnya sehingga terpampang kemana-mana. Aku dapat melihat mata si penjualnya jelajatan sambil menelan ludah berkali-kali.

“Kakak sih… untung di muka umum, coba ka-”

“.. coba kalau cuman berdua yah dek? Bukan cuma ngeladenin aja, malah kakak jadinya ngelayanin nafsunya yang kayaknya udah sampai ke ubun-ubun gitu, hihihi..” potong kakakku ini dengan nada centil. Ya ampun kak Adelia ini.

“Iya, kak Adelia sih.. jadi kakak tuh nakal banget.. kak Adelia perempuan nakal..” ledekku. “Hush! Enak aja bilang kakak perempuan nakal!” “Kakak sih… Pake nyuruh kirim ayam bakarnya kerumah lagi.. maksudnya apa coba?” “Dari pada kelamaan nunggu, mending abangnya di suruh kesini kan dek? Hihihi..”

“Uugh.. kak Adelia..” aku hanya bisa menjawab sambil terus menggesek-gesek otongku di sela-sela paha kakakku yang makin menjepitku.

“Adeek.. pelan-pelan donk deek, gak sakit apa burung kamu? Kakak kan masih pake celana jeans?” ujarnya sambil mendorong pelan tubuhku.

Ku pikir dia bakalan menyudahi aktifitas cabulku, tapi ternyata tiba-tiba kak Adelia melepaskan celana jeans dan membuangnya sembarangan ke lantai.

Melihatnya hanya mengenakan kemeja putih tanpa BH dengan rambut tergerai sedada, celana dalam pink dan masih mengenakan kaos kaki aja membuat rudalku makin tak bisa kompromi. Kakakku ini memang baik, tapi… nakal.

Akupun kembali menomplok punggung kakakku hingga kak Adelia telungkup tertindih badanku di atas sofa. Akupun melanjutkan kembali kesibukanku yang tertunda barusan. Menggesek-gesekan si otong di selangkangan kakakku. Pokoknya harus sampai ngecrot!

“Kak Adelia..” “Hmm…” “Kak Adelia inget gak kemarin waktu temen-temenku kesini?” “Iya dek, kenapa emang?” bener-bener deh kakakku ini, santai banget jawabnya, kayak ga ada kejadian yang berarti banget. Padahal mukanya waktu itu udah disemprotin peju. Malah oleh teman-temanku sendiri.

“Kak Adelia gak takut apa kalau mereka sampai kebablasan?” “Ehmm, iya juga sih dek.. lagian adek juga sih pake bawa-bawa mereka kesini..” “Kak Adelia juga sih, nekat nantangin mereka terus..” “Iya tuh, akhirnya kak Adelia mandi peju mereka ya dek? Hihi… kalau sampai kebablasan, kira-kira kak Adelia diapain aja yah dek?”

“Kalau sama mereka, aku gak mau ngebayanginnya kak, eneg!” “Hihihi.. iya dek, jangan dibayangin deh.. apalagi sampai ngebayangin kakakmu ini dientotin sama mereka, terus semua lubang Kak Adelia abis dijejalin sama rudal hitam temen-temen adek itu..”

“Aku gak mau kak! Ugh..” “Tapi dek kalau memang kejadian.. Kakak cuma bisa pasrah aja lho, hihihi..”

“Uugh! Stop kak Adelia!” semakin berusaha tidak membayangkannya, justru semakin cepat gesekanku pada serambi lempit kak Adelia yang masih terbungkus celana dalam. Malah tiba-tiba muncul bayangan kakak kandungku yang sehari-hari cantik dan rapi, dientotin secara brutal oleh ketiga temanku yang jelek nan tidak rupawan alias dekil.

“.. Essshh.. Ugh, adek pelan-pelan donk.. kok malah makin ngebut sih?” kak Adelia kelihatan bingung denganku yang malah semakin bersemangat menggeseknya. Bagaimana tidak, kak Adelia membiarkanku berfantasi dirinya sedang digagahi teman-temanku. Aku memang tidak rela, tapi rasa penasaran ini justru membuatku semakin cenat-cenut atas bawah.

“MISII!” Teng-Teng-Teng.

Astaga! Tukang ayam bakarnya sudah datang! Duh, kentang lagi deh..

“Misii! Ayam bakaar!” teriak si tukang itu lagi dari luar pagar.

“Adeek, abangnya datang tuuh.. Essshh.. Udahan dulu donk..” kata kak Adelia sambil berusaha melepaskan diri dariku, tapi ku tahan karena aku masih belum nyampe.

“Yaah, nanggung nih kak, masa aku kentang dua kali sih kak?” “Terus.. kita ngga makan apa-apa donk siang ini?” “Biarin! Aku makan kak Adelia aja, hehehe..” “Terus kakak makan apa donk? Makan punya abangnya? Gitu?” “Hah?!”

“Udah ah! Kasihan tuh abangnya nungguin diluar” Ah, kak Adelia, bukannya kasihan padaku yang sudah kentang dua kali, malah kasihan sama si abang itu. Akupun akhirnya nurut saja untuk melepaskan dia dari pelukanku.

Setelah kak Adelia melepaskan diri dari pelukanku, diapun langsung beranjak menuju pintu depan. Aku terperanjat melihatnya ketika kak Adelia sudah memegang gagang pintu depan. A-apa dia mau menemui tukang ayam bakarnya dengan pakaian seperti itu? Cuma pakai kemeja dan celana dalam saja!?

“Eh, kak! Tunggu!” panggilku sebelum dia membuka pintu. Dia melirik padaku sambil senyum-senyum. Dia mau menyiksa otongku lagi! Ampun deh kak Adelia!

“Adeek.. kira-kira kalo abangnya lihat kak Adelia cuman pakai ginian aja gimana yah? Hihihi…”

Belum sempat aku berkomentar tiba-tiba kak Adelia sudah membuka pintunya lebar-lebar. Maka tampaklah kondisi kakakku yang berpakaian minim itu oleh orang asing itu. Seorang gadis cantik putih dengan paha terumbar kemana-mana. Aku hanya bisa membayangkan isi kepala si abang yang pasti bakal mesum.

“Bang! Masuk aja, pagarnya ngga dikunci kok..” kak Adelia memanggil abang itu dengan gaya imut dan manja. Apa sih maksudnya kak Adelia? Gak takut apa? Masa mengajak orang asing itu masuk ke dalam rumah? Dengan busana seperti itu pula.

“Eh! I-iya neng..” Kelihatan banget si abang itu kaget melihat penampilan kak Adelia yang tadinya serba tertutup saat membeli ayam, mendadak kini disuguhi pemandangan kak Adelia yang seksi dan mengumbar aurat.

“Kak Adelia! Ngapain sih nyuruh dia masuk kesini?” “Umm.. biar adek ga keterusan ngecrotin kakak melulu..” “Ah, Kak Adelia!”

“Hihi.. becanda adeek, lagian kasihan tau dek, abangnya kepanasan di luar, sama kayak adek, tuh..” Kak Adelia menunjuk ke arah rudalku yang masih menegang dari tadi.

Entah karena melihat kak Adelia, atau sensasi membayangkan kakakku ini akan dilihat oleh si abang yang akan segera masuk keruang tamu, yang jelas aku sudah mengenakan kembali celanaku. Menghindari si abang melihat otongku yang menegang karena melihat kakakku sendiri.

“A..anu, permisi neng.. ini.. ini ayam bakarnya.. hehe” ujar abang itu saat sudah sampai di depan pintu.

Akhirnya dia dapat melihat keadaan kak Adelia dari dekat. Si abang udah mulai kelihatan gelagapan melihat kak Adelia. Melihat dari tampangnya orang ini sepertinya sudah berumur empat puluhan keatas. Udah tua masih aja jelalatan ngeliatin kakakku.

“Makasih yah, duduk dulu bang, pasti capek yah jauh-jauh kesini? Gak susah kan cari alamatnya?” tanya kak Adelia ramah dengan nada imutnya. Lagian kak Adelia aneh juga, masa iya pesan ayam bakar yang jauh banget dari rumah, entah apalah maksudnya.

“Yah.. lumayan sih neng jauhnya..” “Panggil aja Adelia..” “Oh.. I-iya, saya Pak Seno..” sambil menjulurkan tangannya dan bersalaman, mata Pak tua ini terlihat seakan menelanjangi kakakku. Mulai dari rambut, wajah, pentil yang tercetak di balik kemeja kak Adelia, lalu pahanya putihnya yang terek pos bebas itu. Sedang aku, hanya pasang wajah tak suka pada orang ini.

“Neng Adelia yang pesan tadi kan? Yang pakai mobil putih?” “Iyah pak.. emang bapak lupa yah? Atauu.. bapak pangling yaah.. hihihi..” “Hehehe.. beda aja sama yang tadi neng Adelia, tadi kan bajunya non tertutup, sekarang terbuka semua gini… hehehe..”

“Iya nih bang, abisnya si adek nih, masa ngebet sama kakak kandungnya sih bang? Sampai Adelia harus pelorotin celana dulu, hihihi..”

Hah!? Duh, kak Adelia kok malah buka-bukaan sih? Aku kan malu kak…

“Adik? Sama neng Adelia?” “Tiap haari bang, abis nih Adelia di semprotin terus sama pejunya si adik..” “Hah?? Ehm.. Anu.. gak baik itu dik, jangan sama kakak sendiri..” “Tuh, dengerin kata sih abang.. masa kakak sendiri dicabul lin terus sih, makanya cari pacar sana..”

“Apaan sih kak Adelia? Lagian kakak juga kalau pakai baju suka sembarangan..”

“Iya dik, adik cari pacar aja.. biar kakaknya sama yang lain deh, bukan begitu neng Adelia? Hehehe…” si abang yang merasa dikasih angin udah mulai kurang ajar nih kayaknya. Ngomongnya udah merembet ke hal-hal yang males kudengar.

“Maksudnya sama si abang, gitu? Hihihi.. enak aja yah!” “Eh! Anu.. maksudnya.. gak gitu juga sih neng..” “Hihihi.. becanda kali bang.. segitunya sampai gelagapan” kata kak Adelia sambil tertawa cekikikan menutup mulutnya dengan gaya imut. Kakakku ini apa-apaan sih, masa bercandanya begitu! Ugh, kak Adelia!

“A-anu neng.. gapapa kok, hehehe.. abang sempat tegang ajah, hehe..” “Bukannya tegang dari tadi yah bang? Hihihi..” “Hah!?” aku dan si abang bersuara kaget bersamaan melihat tingkah nakal kak Adelia.

Kalau caranya kak Adelia memperlakukan tamu seperti ini, siapa juga yang ga betah dan gak mau pulang-pulang. Melihat cara duduk si abang yang udah mulai gak nyaman, seperti ada yang sudah mulai berontak. Sama seperti otong ku, yang sudah kentang dua kali. Rasanya ingin segera mengusir si abang ini dan berguling-guling dengan kak Adelia sampai abis aku crot tin semua badannya.

Dengan penampilan kak Adelia yang hanya mengenakan kemeja, celana dalam pink, dan paha putihnya terpampang kemana-mana, belum lagi gaya manja dan imut kak Adelia, tidak butuh waktu lama untuk segera meledak dan mengotori badan kakakku seperti biasa.

Namun ditengah-tengah obrolan kak Adelia dengan si bandot tua ini, aku seperti mendengar deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumahku. Saat ku intip dari balik jendela, sepertinya mobil taksi.

“Kak Adelia! Kayaknya Papa deh yang datang?” panggilku ke kak Adelia karena panik. Soalnya kak Adelia hanya mengenakan pakaian seadanya.

Mana pernah kak Adelia sembarangan berpakaian begitu di depan orang tua kami. Papa Mama mengenal kak Adelia selama ini juga sebagai anak perempuan yang baik dan sopan. Belum lagi ada pria setengah tua yang tengah mengobrol di ruang tamu dengan kami. Aku yakin ini bukan pemandangan yang umum buat mereka.

“Oh? Ya udah gih, adek bukain dulu pagarnya..” “Iya, tapi kak Adelia ganti baju dulu kek!” “Iya adeek, masa iya sih kakak membiarkan Papa ngeliat kak Adelia nerima tamu cuman pake ginian, iya gak bang? Hihihi…”

“Eh.. I-iya neng.. apa perlu abang yang milih bajunya nih neng? Hehehe…”

“Eh? Tuh dek liatin deh, si abang mulai kurang ajar sama kakak, gak sopan tahu! Ada juga Adelia yang nawarin ke abang, bukan abang yang nawarin diri, hihihi…”

Aduh! Apa sih maksud kak Adelia? Gak takut apa kalau diapa-apain sama orang ini? Udah tampangnya mesum, ngomongnya juga udah mulai berani coba-coba kurang ajar.

“Kak Adelia, buruan gih ganti baju!” suruhku lagi. “Hihihi.. adek apaan sih kayak orang panik begitu. Ya udah, Adelia tinggal dulu yah kedalam..”

Sambil menuju keluar aku melihat kak Adelia pergi ke dalam kamarnya, dan si abang masih duduk di ruang tamu. Entah bagaimana nanti aku menjelaskan pada Papa, kenapa ada orang tua berkaos dan bercelana lusuh sedang duduk di ruang tamu ini.

Saat aku membukakan pintu pagar, aku lihat Papaku tidak hanya sendirian, tapi juga bersama dengan Mama.

“Motor bebek siapa itu dek?” Papa bertanya padaku setelah keluar dari mobil taksi.

“Ohh.. gak tau juga.. tetangga kali Pa” jawabku sekenanya sambil mencium punggung tangan Papaku.

Kak Adelia nih, nekat bawa-bawa orang kerumah. Sengaja kali kak Adelia, pengen bikin aku tersiksa kayak gini.

“Ooh.. ya udah, bantuin bawain koper Papa sama Mama ya?”

“Kakakmu mana dek? Nih, Mama bawain oleh-oleh buat temen-temennya di kampus..”

“La..lagi dikamar Ma.. abis pulang dari kampus sih tadi..” sambil cium tangan Mamaku, jantungku berdebar tak karuan. Karena kami sedang menuju ruang tamu. Apa kata mereka melihat ada orang tua tengah duduk disana seorang diri?

Setelah menutup pagar dan masuk ke ruang tamu, aku malah lebih kaget lagi. Orang tua itu sudah gak ada di ruang tamu! Pergi kemana dia? Jangan-jangan!

“Mungkin lagi istirahat kali dek.. nanti kasi tau aja ya, Papa sama Mama datang.. Mama mau istirahat dulu yah..”

“Eeh.. iya kali yah Ma..” Entah kenapa aku menjawab Mama dengan nada ragu-ragu.

Sambil melihat mereka pergi ke kamar mereka, Aku mulai membantu membawakan koper-koper Papa dan Mama. Jantungku terus berdebar dengan kencang, bukan karena beratnya bawaan yang dibawa orang tuaku, tapi membayangkan apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumah ini.

Bila memang si Pak tua tadi berbuat hal-hal yang mesum pada kakakku, apalagi dengan kondisi ada Papa dan Mama di dalam satu rumah, ini benar-benar kelewatan. Dan anehnya membuatku panas dingin membayangkannya.

Cukup lama juga aku membantu membawakan barang-barang sampai ke kamar orang tuaku. Kini Aku harus memastikan betul kalau-kalau yang ku takut kan itu benar-benar tidak terjadi. Walaupun sepertinya hal yang ku takut kan kelihatannya terjadi. Badanku menjadi lemas.

Kak Adelia yang terakhir kulihat pergi ke kamarnya, dan mendadak Pak Seno yang sudah tidak berada di ruang tamu lagi, aku hanya bisa membayangkan kalau Pak seno ngga mungkin pergi ke kamar mandi. Apalagi dalam waktu yang cukup lama dari ketika aku menyambut Papa dan Mama, sampai selesai membawa koper dan membuka kardus berisi oleh-oleh untuk teman-teman kak Adelia.

Baru saja sampai di depan pintu kamar kak Adelia, tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan, dan si abang tadi melongok kan wajahnya keluar. Ternyata benar orang ini menyusul kak Adelia kedalam kamar! Ngapain dia di kamar kak Adelia?!Apa yang sudah dia perbuat pada kakakku!

Begitu si abang melihatku, dia malah pasang tampang cengengesan..

“Hehehe.. jangan diambil hati yah dik, si neng juga yang mancing-mancing, hehehe… misi yah” katanya sambil keluar kamar dan berlalu melewati ku tanpa perasaan aneh sedikitpun.

Entah kakakku habis diapain aja di dalam dan kini dia mau pergi begitu saja? Tapi aku lebih memikirkan keadaan kakakku sekarang, segera saja aku masuk kedalam untuk melihat kak Adelia.

Bersambung… Sesampainya di dalam, aku terpana melihat pemandangan yang tersuguh kan di depan mataku ini. Aku melihat posisi Kak Adelia sedang terlentang dengan wajah menoleh ke arahku. Kak Adelia masih menggunakan kemeja dengan kancing yang terbuka semuanya, memperlihatkan buah dadanya yang putih terpampang kemana-mana.

Sedang celana dalamnya sudah tidak terpakai lagi. Sambil mendekati kak Adelia yang rambutnya tampak kusut dan wajahnya merona merah padam, aku lihat kakakku sedang bernapas terengah engah. Membuatku semakin penasaran apa saja yang terjadi pada kak Adelia, terutama saat si Bapak itu bersamanya dalam satu ruangan. Jangan-jangan Kak Adelia..

“Kak? Kak Adelia?”

“Apa adeek? Hihihi..” tanya kak Adelia sambil memutar tubuhnya sehingga kini dia berposisi telungkup.

Dia juga memasang wajah imut. Bisa-bisanya dia berekpresi imut begitu, padahal sekarang aku sedang panik bukan main.

“Iih! Kakak kok sempet-sempet nya sih ketawa?” tanyaku sebal.

“Teruus.. kakak harus nangis? Gitu? Ngga ah..” kakakku menjawab sambil bangkit duduk dari tidur telungkupnya.

Kak Adelia benar-benar seperti menganggap hal ini bukan sesuatu yang besar. Kakakku benar-benar perempuan nakal. Melihat posisi duduknya yang menyamping dan setengah telanjang seperti ini, tiba-tiba pusing kepala bawahku kambuh lagi.

Bisa secepat ini kak Adelia membuatku tegang? Apalagi dari tadi aku hanya kebagian kentangnya saja.

“Kak Adelia abis diapain sih sama bapak itu? Pake masuk ke kamar kakak segala..” tanyaku penuh rasa penasaran pada kakakku yang ternyata nakal ini.

“Umm.. kak Adelia habis diapain yah sama bapak itu? Menurut adek.. kakak diapain donk?” Kak Adelia malah menjawab dengan balik bertanya dengan gaya manja dan imut. Duh, aku benar-benar ga kuat tiap kali kak Adelia bergaya seperti ini!

“Jangan-jangan.. kak Adelia..”

“Hihihi.. mau kakak ceritain yaah? Adek keluarin aja burungnya, pasti udah gak tahan kan dari tadi?” suruhnya seperti tahu apa yang ingin aku lakukan.

Aku pun tidak menunggu lagi untuk mengeluarkan rudalku yang sudah poll menegang sejak melihat kak Adelia dalam pose ikut-ikutan nya.

“Ayo kaak.. ceritaiin..”

“Hihi.. adek mukanya jelek banget kalo lagi mupeng, mending mupeng sama pacarnya, ini malah sama kakak kandungnya sendiri..”

“Kaak!” hardik ku sambil memasang muka super memelas.

“Iya iya.. Adek ingat kan waktu kak Adelia tinggal ke dalam mau ganti baju, terus adek keluar buat bukain pagar?”

“Iya kak.. adek liat si bapak itu udah ngga ada di ruang tamu, dia nyusul yah? Kurang ajar tuh orang”

“Ummm.. engga juga sih dek, tapi…”

“Tapi apa kak?”

“Tapi kakak yang ngajak dia ngumpet di kamar, hihihi..”

“Hah?! Se..serius kak Adelia? Jadi tadi..”

“Iya… Lagian kalau si bapak tadi masih di ruang tamu, adek gimana donk ngejelasinnya sama Papa Mama?”

“Ugh.. Iya sih kak.. tapi bukannya dia malah tambah kurang ajar kak?” dadaku jadi berdebar membayangkan pria tua itu dan kakakku yang cantik berduaan di dalam kamar. Aku penasaran apa saja yang sudah mereka lakukan.

“Iya tuh dek, padahal udah kakak suruh jangan berisik, malah grepe grepe in kakak, tua-tua nakal juga yah tuh bapak.. sama kayak adek, hihihi… gak kebayang deh kalo tuanya adek kayak gitu”

Sial nih kak Adelia, dulu disamain sama Pak Amin, sekarang sama si bandot tua yang entah siapa namanya tadi sampai lupa aku saking kesalnya. Tapi membayangkan kakakku di gerepe-gerepe sama dia itu…

“Aduuh.. kak Adelia sih nakal, pake minta dikirim segala ayam bakarnya.. uughh..”

“Hihihi… tapi adek kebayang ga sih? Kak Adelia yang hanya berpakaian seperti ini, cuma berduaan dengan bapak tua seperti tadi?”

“Ugh.. iya kaak, si bapak itu pasti cabul terus bawaannya ya?”

“Hihihi.. iya tuh dek, kak Adelia dicabuli terus loh dek.. Tahu nggak dek, masa susu kakak diremas-remas nakal banget kan dia? Kak Adelia padahal udah bilang gak bakal keluar susunya..” sambil kak Adelia memegang susunya sendiri yang putih dengan puting coklat kemerahan itu, sungguh pemandangan yang membuat darahku berdesir liar.

“Ah.. serius kaak?”

“Iya loh dek.. juga kalo adek tau nih.. mulut kakak jadi bau rokok, huhuu..”

“Hah? kok bisa gitu sih kak?”

“Mulut kak Adelia habis dicium sama bapak itu dek mana giginya kuning-kuning lagi..”

“Terus? Kak Adelia ladenin gitu aja?”

“Umm.. awalnya sih kakak nolak dek, tapi…”

“Tapi?”

“Tapi lucu juga nge ladenin si abang yang nafsunya udah ke ubun ubun itu.. rasanya gimana gitu.. hihihi”

Duarr!

Aku dibuat jantungan mendengar ucapan kakakku ini. Ternyata kak Adelia suka meladeni orang-orang yang ga jelas asal muasalnya, terlebih lagi orang yang berantakan bentuknya.

Ugh, kak Adelia! Aku memang pernah membayangkan kak Adelia dientot sama orang-orang yang ga berkelas sedikitpun. Tapi mendengar kak Adelia benar-benar menjalaninya. Ini benar-benar level baru dalam kehidupanku, aku harus punya ekstra koin untuk terus dapat mengikuti kelanjutannya. Atau aku akan game over di tengah jalan..

“Adeek.. tau gak kakak tadi disuruh apa sama si abang tadi?”

“Hah? kak Adelia disuruh apa?”

“Masa kakak disuruh merangkak di atas kasur.. terus kakak disuruh jadi kayak anjing, hihi..”

“Hah!? Kak Adelia terus mau-mau aja?”

“Hihihi.. abis lucu sih.. sekalian aja kakak bilang ‘Guk-guk’ ke si abang itu..”

“Ugh! Kak Adelia tuh nakal banget sih.. aduuuh!” aku malah mempercepat kocokan pada rudal ku yang kentang dari tadi. Padahal kak Adelia habis dilecehkan sama si bapak tua itu.

“Habis gitu si abang malah kurang ajar tuh dek, manggil kakak jadi ‘anjing betina’, kalo kak Adelia jadi anjing betina.. mungkin anjing betina yang seksi kali yah dek? Hihihi..”

“Kakak jawab apa dipanggil kayak gitu? Kok makin kurang ajar tuh orang?”

“Hihihi.. kakak jawab, ‘Guk-guk’ lagi deh dek.. hihi..”

“Ugh.. kakak.. anjing betina nih..” ucapku ngeracau sambil makin menjadi-jadi mengocok rudalku.

“Terus dek…” kata kak Adelia kemudian.

“Terus apa kak?” tanyaku deg-degan menantikan apa yang akan dikatakan kakakku berikutnya.

“Adek mau tau? Tapi jangan marah ya… Habis itu tau-tau kak Adelia sama si bapak itu dah kayak anjing lagi kawin deh dek..”

“Hah?! Jadi bener, kak Adelia..”

“Ho’oh.. abang itu akhirnya ngentod tin kak…” katanya sambil mengerlingkan matanya dengan nakal.

Arrgh!

Hal yang sedari tadi hanya bayangan saja ternyata terjadi sungguhan. Tapi aku masih heran, kok kak Adelia mau-mau aja ngeh bolehin dirinya dientot sama orang macam bapak tua tadi seperti biasa, pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di kepala ini selalu dijawab dengan kocokan ku yang semakin cepat. Rasanya sudah mau meledak hanya dengan membayangkan kak Adelia dientot oleh si bapak tadi.

“Habisnya abang itu maksa sih dek…” ujar kak Adelia.

Aku pikir kak Adelia diperkosa, tapi dari nada dan ekspresi bicaranya jelas bukan. Dia menikmatinya.

“Si abang itu kasar banget loh ngentod tin kakakmu ini..”

“Ugh, kak Adelia liar..”

“Tau gak dek.. sambil dientot dari belakang, kakak cuman boleh jawab ‘guk-guk’ gitu dek”

“Ampun kaak.. ugh..” aku semakin tak kuat membayangkan Kak Adelia meniru suara anjing dengan imut. ‘Guk-guk’ yang disuarakan kak Adelia justru membuatku semakin panas dingin mendengarnya.

“Ya udah.. kakak jawab aja ‘guk-guk’, apalagi terakhir kak Adelia udah ngerasa rudalnya si abang berdenyut-denyut di dalam serambi lempit kakak..”

“Ugh.. kenapa tuh kak?”

“Si abang bilang pengen menyemprot kan paju nya di rahim kak Adelia..”

“Ugh.. kakak jawab apa..?”

“Sambil kak Adelia menoleh ke si abang, dengan senyum kakak jawab ‘guk’, hihihi…” katanya sambil tertawa cekikikan dan tersenyum super manis serta manja padaku.

CROOTTS!

Muncratan pejuku kini akhirnya keluar dari zona kentangnya. Mendarat dengan bebas ke kemeja kak Adelia, perutnya dari kancing yang sudah terbuka lebar, dan sisanya di paha putih kak Adelia yang seksi.

“Eeww.. kakak dikotori dua kali dalam sehari.. adek! Kemeja kakak..”

“Iya kakakku sayang, janji deh Adelio cuci..”

“Nah gitu donk.. baru namanya adiknya kak Adelia..” kak Adelia mulai mengacak-acak rambutku.

“Kak?! Kakak tu habis di perawanin tau sama orang itu? Kakak ga khawatir apa?”

“Umm… Di perawan nin sama si abang tadi? Ngga juga sih, hihihi..”

“Hah?! jadi kak Adelia udah gak perawan? Ugh! Kakak nakal nih!”

“Hihi.. apaan sih adek nih? Penting ngga sih?”

“Ah, Kak Adelia! Jadi udah sama mas Hendi yah?”

“Umm.. tau deh.. hihihi..”

“Iih! Kak Adelia nih gangguin aja sukanya!”

Aku langsung melompat dan memeluk kak Adelia hingga kami berguling-guling di kasurnya yang aku sudah tidak ingat lagi terjadi apa barusan. Aku sebal padanya, tapi aku sangat sayang pada kakakku yang cantik dan seksi ini. Malah akhirnya membuatku gemas.

“Eh! Adeek, hihihi.. geli tau deek!”

“Biarin ah kak! Kak Adelia jahat! Aku juga pengen donk menyetubuhiin kak Adelia, hehehe…”

“Adek! Lepasin kakak dulu donk deek.. hihihi, geli ah deek..” “Gak mau ah kak!”

“Adeek.. inget yah.. kita tuh saudara kandung.. jadi pleasee yah? Jangan donk..”

“Iya sih kaak.. tapi aku gak tahan lihat kak Adelia kayak begini..”

Sambil melepas pelukanku lagi untuk yang kedua kalinya semenjak siang tadi, Kak Adelia dengan senyum manis dan wajah menggoda merangkak menjauhiku lalu tidur telungkup. Apakah kak Adelia sengaja membuatku tersiksa lagi?

“Adeek.. kakak lagi capek nih.. kakak tidur dulu yah?”

“Yaah kak! Kok adek ditinggal tidur sih?”

“Makanya cepetan donk.. hihihi..”

“Ugh! Kak Adelia nih.. sukanya godain aku melulu..”

“Hihi.. dasar adek, kakak sendiri dicabuli terus.. awas aja kalo ngga cari pacar..”

“Hehehe.. males ah..”

“Adelio! Adelia! lagi di kamar yaa?” terdengar suara panggilan dari balik pintu.

Kami saling pandang. “Mama!”

Hari ini aku tak bisa berkonsentrasi penuh pada pelajaran sekolah. Sudah beberapa hari yang lalu semenjak kejadian yang aku sendiri tak tahu seperti apa persisnya, ketika kak Adelia sedang berada di kamarnya bersama seorang pengantar ayam bakar yang entah siapa namanya aku juga tak ingat lagi. Aku hanya bisa membayangkan dari semua penuturan kak Adelia tentang apa saja yang sudah mereka lakukan di dalam sana.

Setengah dari diriku berharap bahwa hal itu tak sungguh-sungguh terjadi, karena aku masih sangat tidak rela kakakku yang ku idolakan selama ini dengan mudahnya begitu saja bisa dicicipi oleh orang tua sialan itu.

Namun anehnya setengah dari diriku justru sangat penasaran dan malah membayang kan bila apa yang diceritakan kak Adelia itu benar benar terjadi, bahkan membayangkan seandainya adegan itu terjadi di depan mataku sendiri.

Kak Adelia, kakakku yang sehari-hari menggunakan pakaian tertutup dan sopan, tiba-tiba terjamah oleh pria setengah tua yang entah siapa. Tentunya pria itu juga tidak pernah membayangkan kalau dia bisa sekamar bersama seorang gadis cantik yang menjadi banyak idola lelaki termasuk diriku.

Membayangkan kakak kandungku sendiri dijamah orang asing di dalam rumah kami sendiri, bahkan ketika itu sedang ada kedua orang tua kami yang datang berkunjung, sungguh bikin hatiku teriris.

Tapi di saat bersamaan, aku tak bisa memungkiri bahwa aku ingin melihat bagaimana kak Adelia hanya pasrah menerima perlakuan orang itu di dalam kamarnya sendiri, andaikan memang apa yang kak Adelia ceritakan itu benar adanya. Kak Adelia membuatku gila!

Hal itulah yang terus menggangguku selama beberapa hari ini. Bahkan ketika kutanyakan pada kak Adelia kebenarannya, ia selalu menjawab dengan jawaban ambigu. Dia sengaja bikin aku hanya bisa menduga-duga.

Sungguh menyebalkan memang, tapi memang itulah kakakku. Yang selalu menggodaku dengan kenakalannya. Tapi bagaimanapun hanya kak Adelia yang kumiliki, seorang kakak yang baik dan selalu perhatian padaku setiap harinya. Di samping apapun kenakalan yang ia lakukan untuk menggodaku, ia tetap kakakku, dan aku selalu menyayanginya.

Meskipun sering kali ia sangat menyebalkan, tapi itulah yang membuatku selalu kangen padanya. Sesampainya di rumah setelah pulang sekolah aku langsung menuju ke kamarku tanpa mengganti pakaianku dan merebahkan diri di tempat tidur.

Ku cek hapeku berharap ada kabar dari kak Adelia. Dia belum pulang, padahal rasa kangenku padanya sudah sampai ke ubun-ubun. Aku selalu kangen pada godaan-godaan kak Adelia padaku yang selalu membuat kepala atas bawahku pusing.

Bahkan di saat aku sibuk dengan pikiranku ini, tanpa kusadari otongku sudah mulai membengkak dan mengeras di bawah sana dan aku harus menunggu kak Adelia untuk dapat melampiaskannya. Apa gunanya memiliki kakak yang cantik dan seksi kalau tidak aku crottin seharian seperti biasa.

Tidak sabar, aku pun menghubungi kak Adelia. Aku benar-benar berharap kak Adelia sedang menuju pulang kerumah, sehingga aku dapat melampiaskan rasa pusingku. Aku berharap tak ada kejadian lain lagi untuk hari ini kecuali hanya aku dan kakak kandungku tercinta.

“Kak Adeliaa!”

“Hai adeek.. udah di rumah yah?”

Terdengar sambutan hangatnya di seberang sana. Suaranya sungguh lembut dan menenangkan, tapi juga membuat otongku berontak tak karuan.

“Kak Adeliaa.. pulang doonk..”

“Iya…. nih kakak udah di jalan, udah menuju rumah. Kenapa sih? Nungguin kakak yah?” tanyanya menggodaku.

“Ya iyalah.. aku kan laper kak…”

“Lapar? Masa sih? Atau jangan-jangan udah nggak tahan yah dek? Hihihi”

“Nggak tuh..” jawabku enteng berbohong, padahal aku memang sudah gak tahan ingin berduaan dengannya.

“Ooh gitu yaah? Kalo gitu kakak putar nih ya ke rumah pacar kakak…”

“Ahh, kak Adeliaa! Iya aku nungguin kakak nih.. cepet pulang donk..” jawabku akhirnya mengaku.

“Tuh kan ngaku kamu nya… hahaha… Emang kamu mau ngapain kakak sih dek sampai ditungguin segala?” kak Adelia bertanya dengan nada seolah ingin aku mengakui sesuatu yang sebenarnya sudah dia ketahui.

“Ummm.. anu kak…”

“Pengen ngecrotin kakak lagi? Iya?”

“Hehehe… Iya…”

“Dasar… Pengen ngecrot dimana dek? Di punggung kakak mau?” kak Adelia mulai bicara dengan suara lirih dan hampir mendesah membuat darahku jadi berdesir mendengarnya.

“Mau kaak..”

“Atau, mau di susu kakak kayak waktu itu?” Ah, mendengarnya berbicara seperti itu saja aku sudah horni berat.

“Uuugh.. kaak, pengen…”

“Pengen apa sih?”

“Pengen ngelakuin sama kakak..” aku sudah tak tahan dan langsung saja ku ungkapkan keinginan terdalam ku padanya, tak peduli kalau ia kakak kandungku sendiri.

“Heeh, adeek.. pengen ngelakuin apa sih? Hayo apa!?” ujarnya masih dengan nada manja mendesah yang malah memberanikan untuk memintanya lagi dengan lebih gamblang.

“Pengen menyetubuhi sama kak Adelia” jawabku lantang.

Sungguh sebuah permintaan yang sangat kurang ajar bagi seorang adik meminta hal seperti itu pada kakaknya sendiri. Lagian salah kak Adelia yang terus saja menggodaku setiap hari.

“menyetubuhi sama kakak? Ada-ada aja kamu dek udah ah, kakak lagi nyetir nih”

“Yah kak…”

“Apa sih?”

“Boleh yah…”

“Boleh apa?”

“Itu tadi… menyetubuhi sama kakak…” pintaku memelas, berharap kak Adelia menerima permintaanku itu.

“Ya ampun kamu ini… Emangnya kamu udah gede yah? Udah bisa yah gitu-gituan? Hihihi”

“Makanya kakak ajarin aku dong… please yah, sekalii aja..” aku memohon lagi.

“Tapi kita kan saudara kandung dek.. inget lho…”

“Ummm… Iya sih kak… tapii…”

“Inget yah dek, adek boleh lakuin apa aja pada kakak, kecuali yang satu itu.. yah sayang..” kak Adelia merespon keinginanku dengan nada yang lembut dan hangat, membuatku tak tega untuk memaksa keinginanku lebih lanjut.

“Yaah kakaak.. tapi cepet pulang yaah?”

“Iya.. Ih kamu ini cerewet deh… ntar kakak singgah lagi lho ke tempat ayam bakar kemarin, hihihi”

“Aaah, kak Adeliaa! Cepat pulang!”

“Hihihihi, iya… gak sabar banget yah dek? Keluarin gih burungnya..”

“Gak mau.. nunggu kak Adelia aja..”

“Hihi.. segitunya nungguin kakak, apanya kakak sih yang bikin kamu kangen?” tanya kak Adelia yang terus meladeni meski sedang sibuk nyetir.

“Umm.. harumnya kakak..”

“Terus? Apalagi?”

“Susunya kakak, hehe..”

“Hihihi.. mulai cabul kamu yah dek.. umm, terus apalagi dek?” Suara kak Adelia semakin lirih dan manja.

Aku malah seperti lupa akan keinginanku untuk tidak mengocok otongku dan menunggu kak Adelia pulang. Tanpa sadar aku sudah mulai mengurut-urut rudalku.

“Pengen itunya kakak, hehe.. pengen masukin dalem-dalem pake rudalku kaak…”

“Uuuh… adekku pengen yah ngen-tot-in kakak kandungnya sendiri? Nakal yah kamu deek.. terusin doonk dek, hihi..” ujarnya.

Cerita Dewasa Ngentot - Hasrat Terlarang Adik SMU pada Kakak Kandungnya yang Seksi
Aku tak menyangka kalau kakakku justru memancingku terus untuk mengorek semua fantasiku tentang kami berdua apabila kami benar-benar melakukannya.

Bahkan kak Adelia memakai kata yang jorok-jorok untuk makin membuatku horni. Walau hanya melalui telepon, khayalanku tak mampu membendung hasratku untuk mengocok batang rudal yang merana ini.

“Pengen banget peluk-peluk kak Adelia sambil aku genjot serambi lempit kakak.. uugh..”

“Hihihi.. kocok terus deek.. kocokin kakak.. Go!”

“Uugh.. kak Adelia nakal.. adek entotin serambi lempit kakak!”

“Sepuas-puasnya deh kamu menghayal, hihihi… Eh, aduduh!” tiba-tiba kak Adelia menjerit mengaduh dilanjutkan dengan suara debam hape.

“Kak! Kak Adeliaa!”

“…”

“Kak Adeliaa! Kakak kenapa?”

“…”

Masih tak kudengar juga suara di seberang sana, padahal suara ramai deru kendaran dan klakson masih terdengar dari hapeku, tapi kenapa kak Adelia tidak menjawab sama sekali? Apa yang terjadi pada kak Adelia?

“Aduuh kak! Jangan bikin panik doonk.. kak Adelia?!” teriakku lagi yang rasa kekhawatiranku kini membuatku tegang hingga bangkit dari kasur dan terduduk dengan panik.

“Duh dek… kakak nyenggol mobil orang niih..”

“Kakaak.. gara-gara teleponan sama aku yah kak? Maaf yah kaak..” aku jadi sangat merasa bersalah pada kakakku.

Hanya karena rasa kangen dan nafsuku untuk memintanya agar cepat pulang dengan meneleponnya malah membuat kak Adelia tidak konsen menyetir dan akhirnya tak sengaja menyenggol mobil orang.

“Adeek, kakak gak papa kok cuma nyenggol dikit ajah.. adek jangan khawatir yah..” suaranya yang lembut langsung dapat menenangkan ku.

Kakakku sangat baik, bahkan di saat aku yang salah, dia tidak mau menyalahkan ku, malah menyenangkan ku supaya tak khawatir.

“Kak Adelia.. nyenggol nya parah nggak?”

“Ummm.. gak tau dek, kayaknya parah sih.. tuh mobil yang kakak senggol udah keluar orangnya.. duuh, mana serem-serem lagi tampangnya” ujar kak Adelia tenang.

Namun malah aku yang kembang kempis penuh kecemasan, ibarat kalah bermain arcade tapi tak punya coin penyelamat.

“Udah kak ganti aja terus cabut deh” ujarku dengan panik.

Aku ingin kak Adelia cepat-cepat menyelesaikan urusan ini dan segera pulang. Bagaimanapun juga aku khawatir pada keselamatan kakakku.

“Bentar yah dek.. mereka udah datang..”

“Kak Adeliaa!”

Aku kira kak Adelia langsung menutup hapenya. Ternyata tidak, dengan samar-samar aku pun dapat mendengar kalau kakakku sedang berbicara dengan pengendara yang mobilnya disenggol olehnya.

Tidak terlalu jelas apa yang sedang mereka bicarakan, tapi sepertinya mereka sedang membahas masalah ganti rugi. Aku bahkan mendengar suara kak Adelia tertawa cekikikan.

Apa kak Adelia sedang berusaha menego harga perbaikan? Entah apa yang kak Adelia katakan pada mereka. Aku harap kak Adelia tidak berkata yang tidak-tidak.

Setelah agak lama aku terombang-ambing dalam kekhawatiran dan rasa penasaran ini, akhirnya aku dengar suara pintu mobil ditutup dan suara mesin mobil dinyalakan.

“Adeek… nunggu lama yah?” akhirnya kudengar lagi suara kak Adelia.

“Duuh, kak Adelia kemana aja sih?”

“Orang yang punya mobil minta ganti rugi dek, ya udah kakak mau ganti”

“Terus? Udah dikasih uangnya?” tanyaku berharap semua masalah sudah selesai.

“Itu dia deek.. uang di dompet kakak gak cukup..”

“Pakai ATM donk kak…”

“Kartu ATM kakak juga ketinggalan di rumah..”

“Uuh.. kak Adeliaa..” aku sambil menepuk jidat berpikir, kok ada-ada saja kejadian yang mengganggu antara aku dan kak Adelia.

“Tapi kakak ada uang kok di laci lemari kamar, ini udah jalan pulang”

“Terus mereka gimana kak?”

“Ya mereka terpaksa ikut ke rumah dek…”

“Aduuuh!” untuk kedua kalinya aku menepuk jidatku.

Malangnya nasib otongku yang kentang, wajar memang kalau orang yang disenggol mobilnya oleh kakakku ikut ke rumah, mungkin untuk memastikan kalau kak Adelia benar-benar akan membayar ganti rugi dan tidak kabur. Aku harap memang cuma itu alasan orang itu ikut kakakku.

Sesampainya di rumah aku menyambut kak Adelia dengan wajah agak bersungut karena dia tidak pulang sendirian, tapi bersama dua orang asing yang secara tak sengaja harus ikut pulang kerumah untuk urusan ganti rugi. Menyebalkan.

“Adeek..”

“Kak Adelia..” aku mendekatinya sambil mencium punggung tangan nya.

Seolah aku ingin menunjukkan pada mereka bahwa kak Adelia adalah gadis terhormat yang tidak pantas mereka berpikir yang tidak-tidak terhadapnya.

“Silahkan duduk bapak-bapak.. capek lho berdiri terus” kak Adelia mempersilakan mereka duduk dengan nada yang sangat sopan dan ramah.

Harapanku mereka akan segan bila kak Adelia bersikap demikian, tapi sepertinya aku salah.

“Gak capek kok non… masak belum apa-apa udah capek. Bapak berdiri saja, biar lempeng dan lebih lega, hehehe…” sahut bapak yang berbadan besar dan gemuk yang kemudian ku ketahui bernama pak Has.

“Ooh gituu? Pakai aja kamar mandinya kalau mau legaan, hihihi..” sambil menyahut mereka kak Adelia malah mengerling imut ke arahku.

“Hehehe, nanti aja deh.. entar juga pasti ada yang bikin kita lega, ya nggak Pak Mit? Hahaha!” Ujar pak Has pada temannya yang bernama Mamit atau siapa lah itu.

“Aduuh, liat tuh deek, si bapak-bapak ini mulai nakal sama kakakmu.” kak Adelia hanya meladeni mereka dengan senyum kecut.

Bagaimana mereka tidak berkata kurang ajar kalau kak Adelia terus meladeni candaan mesum mereka, aku khawatir mereka nantinya juga akan berbuat kurang ajar pada kakakku.

Kak Adelia kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan mereka minuman. Untuk apa sih kak? Kan tinggal kasih duit ganti rugi saja biar urusannya cepat selesai! Kenapa berlama-lama segala!? Dasar kakakku terlalu ramah! Sungutku dalam hati.

Aku pun menyusul kak Adelia dan mulai bertanya macam-macam soal kecelakaan tadi. Bahwa kak Adelia memang agak kurang konsentrasi saat telpon denganku tadi, tapi dia berusaha menenangkan ku yang terus merasa bersalah.

Namun gara-gara kecelakaan itu juga akhirnya kak Adelia gak sempat beli makanan buat di rumah. Alhasil kak Adelia minta tolong padaku untuk memesan KFC untukku sendiri. Apa kak Adelia tidak lapar?

Setelah memesan KFC Delivery seperti yang diminta kak Adelia aku kembali ke depan untuk menemui mereka. Tapi di sana hanya ada Pak Mamit, teman dari Pak Has. Lalu dimana kakakku dan Pak Has? Dadaku berdebar kencang.

Jangan-jangan mereka ada di kamar kakakku karena ku lihat pintu kamar kak Adelia tertutup. Bandot sialan! Sekali dikasih angin berikutnya malah keterusan! Seharusnya aku berbuat sesuatu atas tingkah tak sopannya bapak itu, hanya saja entah kenapa aku malah lebih penasaran untuk mengetahui kelanjutannya dibanding menghentikan semuanya.

Untuk kedua kalinya kamar kak Adelia dimasuki orang asing selain keluarganya sendiri setelah tukang antar ayam bakar beberapa hari yang lalu. Ingin sebenarnya aku mengintip ke kamar kakakku, apa memang kak Adelia akan mengganti rugi kerusakan mobil butut Pak Has gara-gara keserempet mobil kak Adelia.

Tapi kalau memang iya kenapa harus di dalam kamar segala? Kak Adelia menjamu terlalu jauh. Tiba-tiba nada panggil BB di kamarku berbunyi, tak ingin ketahuan sedang berusaha mengintip mereka, aku segera berlari kembali ke kamarku dan mengangkatnya. Ternyata dari Dado temanku, meskipun entah dia masih bisa kusebut teman setelah kejadian waktu itu.

Setelah berbincang-bincang yang tidak begitu penting dan memberitahukan bahwa Dado dan teman-temannya kapan-kapan ingin main ke rumahku, aku segera menutup telponnya tanpa memperdulikan sedikitpun niatan dan ucapan si Dado.

That lucky bastard. Saatnya kembali ke urusan yang mendebarkan tadi. Tapi sesampainya aku di depan kamar kak Adelia, pintunya sudah terbuka. Dan tidak ada seorangpun di dalamnya, kemana mereka pergi?

“Adeek.. sini deh..” kak Adelia memanggil dari ruang tamu.

Segera ku susul, kulihat kakakku sudah memakai stelan keluarnya, atasan jilbab, kemeja putih lengan panjang, bawahan jeans agak ketat sehingga memperlihatkan bongkahan pantat kak Adelia yang semok.

Kakakku terlihat sangat cantik dan seksi. Tapi kenapa harus dandan secantik ini sih buat menjamu tamu seperti mereka? Pakai make up segala lagi. Namun yang lebih menjadi pikiranku, kapan kakakku ini berganti pakaian?? Apa sebelum pak Has masuk ke kamar? Atau saat pak Has di dalam kamar? Duh… badanku panas dingin memikirkan nya.

“Udah disini kak? Ngapain sih tadi di kamar segala? berduaan lagi?” tanyaku agak sedikit sewot.

Mengingat kejadian sebelumnya, aku mulai agak berani menegur kakakku, yang mana aku sewot karena harusnya aku hanya berduaan seharian bersama kakakku, bukan ada tamu duo bandot bermuka mesum itu.

“Gak ngapa-ngapain kok, nego masalah ganti rugi aja” jawabnya santai, aku harap memang demikian.

“Ngomong-ngomong KFC nya udah dipesan belum?” tanyanya kemudian.

“Udah kak, beneran nih kak satu porsi aja buat Adelio? emang kakak gak makan malam?” tanyaku bingung.

“Eeh.. iya nih, kakak ga makan malam dulu, dek.. mau diet dulu kali ya Bapak-bapak, hihi” terlihat kak Adelia seperti menjawab sekenanya.

“Biar tetep langsing dan cantik ya non Adelia, hehe..” sambung Pak Has menjawab seperti ada udang dibalik batu diantara mereka.

Sungguh malas aku melihat tampang Pak Has yang kelihatan mulai mupeng melihat kakakku dari tadi. Apalagi Pak Mamit yang hanya diam saja dari tadi, tapi menyimpan ekspresi seperti orang yang menantikan sesuatu.

“Pak Has dan Pak Mamit sudah mau pulang?” tanyaku tak sabar untuk mengusir mereka dari rumah ini.

“Anu deek.. ehmm..” kak Adelia seperti ingin mengutarakan sesuatu tapi terlihat bingung.

“Kamu kakak tinggal dulu ya.. bentar ajah kok.. Kakak mau ikut Pak Has dan Pak Mamit dulu” ujar kak Adelia kemudian mengagetkanku.

Ngapain juga kak Adelia sampai mau dianterin mereka keluar? Cewek sendirian pula.

“Loh, kok?! Kak Adelia mau kemana?” tanyaku kaget, kukira kak Adelia sudah membayar mereka dengan uang yang katanya ada di kamar kak Adelia.

“Tadinya mau bayar pakai uang cash, tapi uang di laci kakak gak cukup dek… ini jadinya mau ambil ke ATM juga. Mana bapak ini maunya juga di transfer aja ke rekeningnya” lanjut kak Adelia menjelaskan.

“Aku jadi bingung, apa sih maksud mereka ini?”

“Iya nih, mas Adelio gapapa kan ditinggal sebentar, udah gede juga, hehe..” Pak Mamit ikut-ikutan menjelaskan dengan ekspresi wajah mesum.

“Tau nih si Bapak pake maksa lagi ngajak nya, hihi.. gapapa yah dek..” seolah seperti terpaksa tapi tidak menunjukkan keterpaksaan sama sekali, malah dijadikan candaan.

“Serius nih kak mau sendiri aja? Ngga adek temenin? lagian kalo kurang uangnya aku ada kok, pakai ATM aku aja ya?” tanyaku.

Berharap kak Adelia mau menerima untuk memakai uang dari ATM ku supaya aku saja yang pergi, tapi setengahnya lagi dari diriku membayangkan apa yang terjadi bila mereka pergi bertiga.

“Ya ampun adek baek banget.. tapi ga usah dek, kan kakak yang nabrak, biar kakak aja yang jalan. Lagian kamu katanya udah lapar kan? Kamu di rumah aja yah nungguin KFC nya” kak Adelia berusaha meyakinkan aku dengan senyumnya yang sangat manis itu.

“Tenang aja nak Adelio, ada Bapak-bapak disini kok yang bakal jagain kakakmu yang cantik ini.. jadi nak Adelio ngga usah khawatir yah, hehehe..” potong Pak Has disertai tawa setengah mengejek membuatku gondok.

“Iya dek, kamu nggak usah khawatir gitu deh.. Bapak-bapak ini kayaknya kuat kok kalo buat jagain kakak.. Bener nggak Bapak-bapak? awas lho kalau pada gak kuat nanti..” ancamnya dengan nada centil. Kak Adelia!

“Wuiss, tenang aja non Adelia.. Kalau perlu, kita jagain ampe non Adelia gak mau pulang deh.. hahaha” Tawa Pak Mamit kencang meledek kak Adelia. Jelas mereka sedang melecehkan kakakku!

“Hihi.. Gilak kali ya, adanya Adelia gak pulang-pulang bukan karena ga mau pulang.. tapi diculik sama Bapak-bapak.. Apalagi tampangnya pada serem-serem tu.. ngaca deh pada..” ledakan pada kak Adelia malah dibalas dengan candaan, aku yang mendengar obrolan yang menjurus ini mulai panas dingin dibuatnya.

“Hehe.. entar juga lama-lama seneng kok diculik ama kita-kita, ya ngga Pak Mamit?” sambil mengerling pada temannya seolah punya rencana.

Aku yakin kakaku tahu kalau kedua pria itu punya pikiran kotor terhadapnya, tapi kenapa kakakku terus meladeni!?

“Dek, nanti kalo kakak gak pulang-pulang lapor polisi yah.. bilangin tu bapak-bapak yang culik kakak”

“Huahahaha… Ada juga polisinya non yang gabung ama kita-kita buat jagain non, HAHAHA!” tawa Pak Has yang disambung Pak Mamit keras sekali, seolah tak mampu menahan diri mereka lagi untuk melampiaskannya.

“Hihi, lihat tu dek.. Bapak-bapak ini pada kurang ajar sama kakak, emang kakak mau dijagain kayak apa coba sampai bikin kakak ga mau pulang?” kak Adelia menyampaikan seolah dia tidak tahu apa maksud dengan kata menjaga dari bapak-bapak ini.

Kakakku ini santai banget sih menanggapi gurauan cabul bapak-bapak itu. Aku saja panas mendengarnya. Hanya saja yang bawah secara tak sadar juga mulai ikut panas.

“Ya udah deh Bapak-bapak, ntar kemalaman lagi.. udah sore nih.. tinggal dulu ya adek.. kakak pasti pulang kok” sambil memandangku penuh arti ketika kak Adelia bilang.

“pasti pulang” bukannya

“segera pulang”.

Apa kak Adelia berniat berlama-lama dengan mereka? Dadaku semakin berdebar tidak karuan. Aku teringat pada KFC pesananku tadi, kak Adelia sudah merencanakan hal inikah? Bahwa ia tidak akan makan malam ini di rumah.

Mau apa kak Adelia dengan dua pria asing yang baru saja dikenalnya? Aku harap nego masalah ganti rugi itu tidak seperti apa yang ku bayangkan.

Bersambung… Hari sudah malam dan diluar sudah sangat gelap. KFC yang dikirim sudah ku santap tanpa nafsu sedikitpun. Aku kembali ke kamar merebahkan diri di kasur sambil bersandar pada kepala kasur. Mereka sudah berangkat sejak sore tadi dan belum kembali. Aku pun sudah mulai berpikir yang tidak-tidak.

Aku tak bisa menyalahkan mereka kalau sampai terjadi apa-apa pada kak Adelia, karena kak Adelia sendiri yang sepertinya memancing mancing mereka. Kini aku malah membayangkan apabila mereka memang berani berbuat kurang ajar pada kakakku, yang justru memikirkannya membuat celanaku mendadak terasa sesak.

Tanpa sadar aku sudah mengeluarkan otongku dari persembunyian nya dan mulai mengurut-urutnya. Ditengah usaha onaniku yang hampir memuncak sambil membayangkan kak Adelia, mendadak ada panggilan di BB ku. Kulihat nama di layar BB. Kak Adelia!?

“Halo kak Adelia, kok belum pulang?” tanyaku memburu.

“…” tak ada suara.

“Halo kak Adelia?” panggilku lagi meyakinkan bahwa memang kak Adelia yg membuat panggilan.

“Hhh.. Dek, kak Adelia belum bisa pulang dulu..”

“Kenapa kak? Ada apa?” tanyaku penasaran.

Ini.. Ban mobil Pak Has bocor..” jawabnya terputus-putus.

“Kakak kenapa putus-putus gitu ngomongnya” tanyaku dengan cepat seolah ada yang tak beres.

“Gak papa kok dek.. uugh.. pelan-pelan Pak..” suaranya terakhir agak menjauh seperti menghindar dari microphone BB nya.

“Kak Adeliaa! Kakak lagi diapain sih?” tanyaku langsung menembak kak Adelia, karena terdengar ia menyebut si Bapak.

“Inii.. aduuhh.. maaf ya dek.. Bapak-bapak nih.. sshhh.. uugghh” kak Adelia menjawab dengan napas agak memburu seperti orang yg sedang berolahraga.

“Kak Adelia kenapa? Kok jadi Bapak-bapaknya?” tanyaku mulai sewot dengan bayangan-bayangan yang ku takutkan.

“Kak Adelia lagi dientot ya?” lanjut ku menembak kak Adelia dengan nada kesal.

“Uugh.. Maaf ya dek, hihi.. Bapak-bapak ini nakal banget..” jawab kak Adelia manja, membuatku tak tahan mendengarnya.

“Uuhh, kak Adelia ahh..” ku tunjukkan padanya bahwa aku sewot dan gondok.

Ternyata benar dugaanku kalau negosiasi biaya ganti ruginya dengan cara seperti ini. Sialan! Ini salahku sehingga kakakku sampai berurusan sama mereka. Seandainya aku sabar menunggu kak Adelia pulang. Seandainya aku tidak menelpon kak Adelia tadi. Pastinya kak Adelia tidak akan menyenggol mobil tuh orang, dan gak akan berurusan dengan dua orang brengsek itu.

“Abisnya gimana lagi doonk.. kak Adelia dipaksa merekaa.. eegh.. paak..” kak Adelia mulai meracau ngga jelas.

“Kak Adelia nakal ah! Kak Adelia nakal!” hardik ku berkali-kali pada kakak kandungku dengan sebal, walau saat mengatai kakakku sendiri dengan kata-kata itu justru membuat tanganku mulai menggenggam erat otongku.

Entah karena fantasiku, atau karena mencoba dengan keras untuk terbiasa bahwa kak Adelia sudah dientot dua kali oleh orang asing. Aku bahkan mulai tak yakin sebenarnya sudah berapa kali kak Adelia melakukan hal seperti ini.

“Hihi.. adek pengen yah..” goda kakakku.

“jangan yah, sayang.. adek kan saudara kandung kakak.. ga boleh kalau sekandung ngen-tot bareng.. eeghh..” kak Adelia sengaja menekankan kata menyetubuhi untuk menggodaku.

“Yaahh.. pengen ni kaak..” mohon ku.

“Hihihi, adek pasti lagi ngocok yah?” kak Adelia emang jago menebak, tapi tidak jago-jago amat karena memang saban hari kerjaku hanya onani membayangkan kak Adelia.

“..iya nih kak..” jawabku memelas.

“Coli aja dek.. bayangin kakak.. hihi” tawanya manjanya terdengar seksi.

“Iya nih kak, Adelio lagi bayangin kakak..” jawabku yang akhirnya malah ikut terbawa permainan nakalnya.

“..deek.. kakak lagi.. eegh.. Dientot sama Pak Has, kakak ditambahin di atas kardus lusuh..” ujar kak Adelia seolah membantuku untuk membayangkan suasana di sana.

“Uugh.. kotor donk kaak?” sambil membayangkan betapa kontras nya kakakku yang bersih, cantik, dan harum, harus menerima di perlakukan tak senonoh hanya diatas kardus yang entah sedang di mana sebenarnya mereka itu.

“..Eegh.. iya deek.. mana bau lagi..”

“Kardusnya bau yah kaak?”

“Aakhh.. kardusnya deek.. Badan Pak Has jugaak.. eegh..” kak Adelia berusaha menjelaskan sambil terengah-engah kalau ia yang sedang digenjot dikelilingi bau yang tak sedap.

Tapi justru aku mulai memacu mendengar erangan kak Adelia. Aku hanya bisa membayangkan seperti apa kak Adelia diperlakukan oleh Pak Has saat ini. Yang pasti ini kali keduaku penasaran pada kakakku yang sedang digagahi orang asing.

“Uughh, kakak nakal.. Terus kak?” pintaku pada kak Adelia untuk meneruskannya.

“…”

“Kak.. Kak Adelia?”

“…”

“Kakak!” panggilku tak sabar.

“Fuuah! Pak Has niih.. mulut Adelia jadi bau rokok juga, huu huuu..” tiba-tiba kak Adelia kembali bersuara.

“.. hehe.. Sorry ya sayang, habis enak sih..” terdengar suara pria yg agak jauh dari jangkauan mic BB menyebut kakakku dengan panggilan.

“sayang” seenaknya.

Kurang ajar orang itu! Uggh, tapi kenapa kocokan ku semakin cepat mendengar kakak kandungku seperti dimiliki seenaknya oleh orang itu?

“Kak! Kakak diapain?” tanyaku penasaran berat.

“.. Adeek, ni kakak dientot sambil dicium-ciumin mulut kakak sama Pak Has.. tapi Pak Has mulutnya bau rokok.. mana pake lidah lagi, huu.. Marahin tu, dek. Mulut kak Adelia main dicaplok aja..”

Kakakku bukannya marah malah bertingkah manja pada orang itu, aku saja yang mendengarnya sangat cemburu bercampur gemas, bagaimana dengan orang lain, aku yakin kakakku yang cantik jelita ini akan digenjot habis-habisan malam ini. Uugh.. aku tak rela! Tapi aku tak bisa berhenti..

” Duh… kamu ini cantik banget sih sayang… Ough.. mas Adelio, serambi lempit kakakmu rapet bener loh, enaknya di empot-empot.. hehe.. mau nyobain gak mas Adelio?” potong Pak Has menjahili ku juga dari jauh ditengah genjotannya pada kakakku.

“.. Hush.. enak aja panggil-panggil ‘sayang’.. Adelia udah punya ‘cowok’ tau.. ngga boleh main kerumah lagi loh ntar.. hihi..” napas kak Adelia makin memburu walaupun mencoba bercanda.

“.. Waah, udah punya cowok rupanya.. ternyata si non nakal juga yah? Hehehe..” Pak Has mulai agak melecehkan kak Adelia sambil menikmati tubuh kakakku, membayangkan dirinya yang orang biasa bisa menggenjot tubuh gadis cantik dari keluarga atas benar-benar menimbulkan sensasi rangsangan yang tinggi.

“.. Adeek, kak Adelia dibilang perempuan nakal tuh deek.. eeghh.. Kalo kak Adelia nakal, harusnya bukan kakak yang bayar ganti rugi kan deek? Hihihi..” bahasa kak Adelia mulai menyimpang dan tak senonoh lagi, aku semakin tak tahan mendengarnya dan mulai ikut meracau tak karuan

“.. Ooghh, kak Adelia.. kak Adelia nakal banget..” aku mulai meringis dan ikut mengatai kakakku sendiri sambil menikmati kocokanku.

“.. Deek, apa kakak minta ganti rugi juga yah dek? Hihi.. ughh..” kak Adelia tetap berusaha menggodaku dengan suara yang mulai terdengar parau.

“Papa dan Mamanya si non tau gak ya kalo non nakal kayak gini.. hehehe..” Pak Has menyeletuk dengan menyinggung keluarga kami, sungguh sangat merendahkan kak Adelia.

“.. Eegghh.. Maah.. Paah.. uugh, Adelia dientot Pak Has niih..” celoteh kakak yang seolah memanggil Papa dan Mama agar diketahui kenakalannya membuatku bernafas kembang kempis sambil mempercepat kocokanku.

“.. Si non emang bener-bener nakal yah..” “Uugh.. Bapaak..” “.. Gak malu yah sama Papa Mamanya, mau-mauan dientot sama Bapak, hehehe..” “Eegh.. Paa.. Maa.. eeghh.. Pak Has nakalin Adeliaa..” racau kakakku lagi.

“Bapak bayar pake ini aja ya?” terdengar suara Pak Has disertai dengan tumbukan kulit yang beradu. Yang sepertinya tumbukan antara paha Pak Has dan pantat kak Adelia yang semakin lama semakin terdengar keras dan cepat.

“.. Augh.. Pak! Terus sayang.. uh.. uh..” kak Adelia serambi lempitik sambil terus bersuara dengan memburu dan tak mampu berkata-kata, hanya terdengar suara lenguhan seirama dengan bunyi tepukan dengan tempo yang semakin cepat.

“.. Tampung nih pejuh Bapak.. Arggh! Anak nakal.. bapak hamilin!” “Nghh…. Paaaaakkkkk” Pak Has dan kak Adelia berteriak nyaring bersamaan menandakan mereka bersama-sama mencapai kenikmatan.

“Aaarghh! Kak Adelia nakaal!” teriakku juga di sini melepaskan pejuku yang mengotori celana serta sprei kasurku.

Oh kak Adelia. Kakakku benar-benar binal. Aku hanya terbujur lemas di atas kasurku sendiri sambil pasrah melihat pejuku yang muncrat tak bertarget itu. Samar-samar aku mendengar suara erangan dan desahan mereka yang sepertinya sedang menikmati sisa-sisa orgasme. Akupun mendekatkan lagi hapeku ke telingaku.

“Adeek.. dompet kak Adelia jadi penuh nih deek.. adek udah muncrat yah?” terdengar suara manja kak Adelia sisa-sisa hasil pergumulan dengan pria bejat yang baru saja menggagahi kakak kandungku.

Sedang aku tak bisa menjawab apa-apa, sibuk mengutuk diriku sendiri yang ternyata sangat menikmati ejakulasiku dari mendengar kakakku sendiri yang digarap orang asing. Aku sungguh terlalu, tapi aku tak bisa menahannya.

“Sekarang gantian saya yang isi dompetnya non yah.. hehe, dijamin ampe luber lagi dah, hahaha!” terdengar suara tawa pria yang lain.

“Uuugh… Pak Mamit nakal deek, mau ikut-ikutan bayar di dompet kakak niih.. boleh ngga sih dek? Hihihi…” Ugh.. Kak…

Sekarang gantian saya yang isi dompetnya non yah.. hehe, dijamin ampe luber lagi dah, hahaha!” terdengar suara pria yang lain.

“Uuugh… Pak Mamit nakal deek, mau ikut-ikutan bayar di dompet kakak niih.. boleh ngga sih dek? Hihihi…”

Suara percakapan yang terakhir kudengar ketika aku tergolek lemas tak berdaya, karena berikutnya aku hanya mendengar suara desahan dan lenguhan kakakku saja di sertai ledekan pria-pria itu yang cenderung melecehkan kakak kandungku.

Antara terima dan tidak terima mendengar kakakku diperlakukan seperti itu, toh akhirnya aku memang tak bisa berbuat apa-apa. Aku sendiri malah coli ketika kakakku sendiri tengah digagahi dua pria itu.

Bahkan aku sampai coli dua kali, ketika panggilan pertama kakakku akhirnya terputus dan aku dihubungi kembali oleh kakakku yang ternyata justru Pak Has yang menggunakan hape kakakku untuk menghubungiku.

Aku ingat ketika Pak Has sambil terkekeh-kekeh menceritakan dengan detil apa saja yang tengah dialami oleh kakakku. Dia menjabarkan dengan detil bahwa kak Adelia sambil terlungkup digenjot oleh Pak Mamit hingga tak mampu berkata apa-apa.

Bahkan sengaja menempelkan hapenya dekat dengan kak Adelia agar aku dapat mendengar suaranya yang sedang digenjot habis oleh pria sialan itu. Aku hanya bisa membayangkan seperti apa adegan yang sedang terjadi di sana yang justru membuat otongku kembali bangkit dan dengan tak berdaya aku pun kembali mengocoknya lagi.

Aku marah pada diriku sendiri, tapi aku tak mampu menahan diri ketika mendengar kakakku melenguh dan mendesah tak karuan hingga akhirnya melolong panjang yang dibarengi dengan muncratan pejuku di kasurku. Dan malam itu baru menunjukkan pukul delapan malam. Sedang kakakku baru diantar pulang hampir menjelang tengah malam.

Dan itu adalah kejadian seminggu yang lalu. Dimana semenjak kejadian itu banyak mengubah pandanganku terhadap kakak kandungku.

Malam ini aku sedang tidur-tiduran di ranjangku, sendirian tapi tidak seperti biasanya yang selalu mengganggu kakakku. Habisnya kak Adelia sejak sesudah makan malam terus saja berada di kamarnya, gak mau diganggu. Katanya sih sedang sibuk bikin tugas kuliah. Padahal aku belum ngepejuin dia malam ini.

Ya hampir tiap malam aku pasti selalu menguras kantong zakar dan memindahkan isinya ke tubuh kakakku itu. Sungguh hari-hari yang indah bila mengingat kembali kebiasaan kami di rumah apabila sedang hanya berdua..

Tapi aku tidak menyangka kalau kakakku lebih nakal dari yang aku pikirkan. Ataukah dia memang sudah nakal sejak dulu dan aku baru mengetahuinya? Aku pikir kejadian dengan teman-temanku itu adalah satu-satunya, tapi ternyata terus berlanjut dan semakin parah.

Seharusnya aku marah ketika kakakku dilecehkan seperti itu, tapi entah kenapa aku juga sangat horni membayangkan kakakku yang putih dan cantik sedang ditindih oleh orang-orang seperti mereka. Aku benar-benar seperti sedang di antara dua sisi yang berjalan berdampingan.

Untung saja sampai saat ini dia masih tetap berbaik hati membolehkan ku beronani di depannya, hingga aku me muncrat muncrat kan peju ku dengan banyaknya menembak wajah maupun tubuh kakak kandungku yang cantik ini. Hanya saja belakangan ini perasaanku seperti diaduk-aduk.

Sebenarnya aku ingin sekali merasakan seperti yang orang-orang itu rasakan, tapi kak Adelia terus saja tidak membolehkannya dengan alasan kalau kami adalah saudara kandung. Sungguh bikin kesal, tapi biar deh daripada gak dapat sama sekali, apalagi aku memang selalu tidak tahan bila berkhayal sedikit tentang kakakku sendiri.

Ah, aku ingin peju dia lagi nih sebelum tidur, Aku pun bangkit dari tempat tidurku, keluar kamar, dan segera menuju ke kamarnya. Aku harap kak Adelia sudah selesai bikin tugas sehingga aku bisa bermanja-manjaan lagi dengannya.

“Tok tok tok…” ku ketok pintu kamarnya.

“Siapa?” tanya kak Adelia kemudian.

Apaan sih kakakku ini. Udah tahu di rumah cuma ada kita berdua, siapa lagi emang kalau bukan aku?

“Aku kak…” jawabku malas, terdengar dia seperti tertawa kecil di dalam.

“Oh… Ada apa dek?”

“Itu… Aku boleh masuk nggak kak?”

“Mau ngapain? Kan kakak udah bilang kalau kakak lagi sibuk, bandel banget sih kamu dibilangin”

“Eh, i..itu.. pengen main game di tabletnya kakak, penasaran nih belum tamat” alasanku mengada-ngada. Tentu saja dia tahu kalau itu cuma alasanku saja.

“Huuu… gayamu dek. Jujur aja deh… mau ngapain, hayo? kepengen yah? hihihi”

“Hehehe… iya nih… boleh ya kak?”

“Nggak!” Ugh kak Adelia..

“Yaah… janji gak bakal ganggu kok kak… Please… bolehin aku masuk yah…”

“Dasar kamu ini, emang susah dilarang kalau lagi kepengen, hihihi.. Tunggu setengah jam lagi yah..” ujarnya kemudian.

“Janji yah kak setengah jam lagi?”

“Iya… adek kakak ini cerewet banget sih…”

“Hehehe.. makasih kak…” Ya sudahlah kalau dia bilang setengah jam lagi.

Aku rela menunggu kak Adelia yang seksi demi ngepejuin sambil menunggunya aku habiskan waktu saja dulu menonton tv, sekitar setengah jam kemudian kak Adelia pun keluar dari kamarnya. Seperti biasa, dia selalu kelihatan cantik.

Tapi tumben kali ini dia muncul dengan pakaian yang cukup sopan. Dia memakai baju kaos biru lengan pendek dan rok yang panjang nya di bawah lutut. Hmm.. mungkin karena hawa malam ini cukup dingin karena baru saja turun hujan.

“Kamu lagi ngapain dek? Belum bobok?”

“Aku kan nungguin kakak, gimana sih” ujarku kesal.

“Eh, iya yah… hihihi. Eh dek, temenin kakak cari minuman ke minimarket dong… Capek nih habis ngerjain tugas, kakak jadi haus”

“Yah… kok sekarang sih kak… tengah malam gini ngapain sih keluar? Minum air putih aja deh” tolakku karena aku ingin segera bermanja-manjaan dengan nya. Sudah gak kuat lagi nahan dari tadi.

“Gak puas kalau cuma minum air putih aja, ayo dong dek.. temenin kakak yah?” pintanya lagi manja.

“Duh… Iya deh kak. Cuma nyari minum aja kan? Ga ada niat yang lain-lain?” tanyaku penuh selidik.

Meskipun aku selalu penasaran dengan tingkah kak Adelia yang tidak tertebak, tapi aku agak cemas juga kalau kak Adelia mengulangi aksi nekatnya seperti sebelumnya. Tetap sih aku konak, tapi aku merasa aksi nekatnya yang keliling komplek dengan pakaian nyaris telanjang waktu itu terlalu beresiko. Aku tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada kakakku tercinta ini.

“Hihihi, emangnya kamu ngarepin apa, hayo? Iya.. kakak beneran haus kok dek.. Bentar ya kakak ambil mantel dulu”

Kak Adelia pun pergi ke kamarnya. Beberapa saat kemudian ku lihat dia kembali dengan memakai mantel panjang rapat berwarna ungu yang menutupi hampir seluruh tubuhnya hingga sebetis kakakku. Fiuh.. leganya, sejenak ku pikir kak Adelia bakal muncul dengan pakaian yang memamerkan aurat-auratnya, untung saja tidak.

“Yuk dek,” ajaknya mengulurkan tangannya padaku sambil tersenyum manis.

“Iya kak…” Akupun menggapai tangannya. Dia lalu menarik tanganku menuntunku sampai ke luar rumah.

Tampak suasana yang sudah sangat sepi dan gelap di luar sini. Mana hawanya dingin banget pula. Aku pengen cepat-cepat saja ke mini market dan segera kembali ke rumah, terus manja-manja deh dengan kakakku. Setelah mengunci pintu kamipun segera menuju ke mini market.

“Sepi yah dek?”

“Iyalah… namanya juga tengah malam gini”

“Berarti udah gak ada orang lagi kan di luar?”

“Kalau iya memangnya kenapa kak?”

“Umm.. kalau kakak telanjang kira-kira ada yang lihat gak yah….” ujarnya genit sambil tersenyum nakal padaku. Duh… kak Adelia ini, jangan mulai deh.

“Jangan macam-macam donk kak…”

“Kenapa? Gak bakal ada yang lihat tuh kayaknya… udah pada bobok”

“Iya sih, tapi kan belum tentu gak ada orang yang bakal lewat nanti. Udah deh kak jangan yang aneh-aneh”

“Hihihi.. takut benar sih kamu. Iya deh iya… kakak gak telanjang dulu, hihihi”

Apa dia benar-benar berniat bertelanjang di tempat umum lagi? Kakakku ini sungguh membuat aku gemas! Meskipun aku penasaran dan horni juga, tapi gila aja kalau dia beneran bakal telanjang lagi di luar sini, di lingkungan komplek perumahan kami yang orang orangnya mengenal kakakku sebagai gadis baik-baik, sopan dan alim.

Kalau kakakku ketahuan keliling komplek bertelanjang bulat gimana coba, bisa rusak nama baik orang tua kami. Nasib baik waktu itu aksinya tidak ketahuan, aku tidak ingin dia mencoba mengulanginya lagi, karena belum tentu selanjutnya bakal seberuntung waktu itu.

Kak Adelia berjalan lebih dulu di depanku. Dari dulu kalau kami jalan bareng memang selalu dia yang di depan. Baik ketika jalan ke mall, jalan ke sekolah, atau kemanapun selalu begitu. Kakakku di depan dan aku mengikutinya di belakang, bukan beriringan. Hal itu karena dulu kalau kami jalan beriringan aku selalu tanpa sadar berjalan lebih cepat sehingga kakakku harus sering tergopoh-gopoh menyusul ku.

Aku tidak bisa mengimbangi langkah kak Adelia yang kecil dan pelan. Akhirnya entah mulai kapan, kak Adelia memutuskan kalau kita jalan berdua, dia harus di depan sedangkan aku harus ngikutin di belakang supaya bisa menyesuaikan langkah dengannya. Dilarang keras menyalip akhirnya lama-lama jadi terbiasa jalan berdua seperti ini.

Kami terus berjalan. Ku lihat dia membuka tali mantelnya yang tadinya terikat sehingga kini mantelnya terbuka. Menurutku tidak aneh, tapi lama-kelamaan agak janggal karena kak Adelia sering memelankan langkahnya sambil tengok-tengok. Kalau di depan terlihat ada kendaraan, dia akan melambat untuk menunggu kemana arah kendaraan itu.

Kalau ternyata kendaraan itu tidak menuju ke arah kami, hanya lewat di depan dan menghilang di tikungan jalan, kakak pun kembali berjalan dan mempercepat langkahnya seperti khawatir disalip olehku, kadang sambil menengok ke belakang dan senyum-senyum nakal padaku.

“Ada apa sih kak?” tanyaku heran melihat tingkahnya.

“Nggak ada kok, hihihi” jawabnya centil cekikikan.

Sungguh bikin gemes. Rasanya aku melihat rona wajah kak Adelia memerah, tapi aku tidak begitu yakin. Aku berusaha tidak berpikir yang macam-macam.

Kami semakin jauh dari rumah. Sekarang di depan tampak ada tukang nasi goreng. Agak jauh tapi jelas menuju ke arah kami. Namun lagi-lagi kakakku menengok ke belakang dan tersenyum kecil padaku.

Kali ini aku yakin kalau wajah kak Adelia bersemu merah. Dia lalu mempercepat langkahnya sehingga ujung-ujung mantelnya jadi agak berkibar. Aku sampai dapat melihat betis putih kak Adelia tersingkap agak tinggi hingga ke atas lutut.

Lho? Bukannya tadi sebelum pergi kak Adelia memakai rok panjang? Apa dia diam-diam sudah menggantinya dengan rok mini atau celana pendek? Kak Adelia memperlambat langkahnya lagi.

Tukang nasi goreng itu semakin dekat. Jalanan yang kami lewati agak gelap karena lampu jalan hanya menyala sebagian kecil. Begitu jarak kami dan tukang nasi goreng itu semakin dekat, kak Adelia kembali menutupkan mantelnya rapat-rapat, tidak diikat, melainkan sekedar memegangi dengan tangannya, dan lagi-lagi dia melirik ke belakang tersenyum padaku. Senyum yang membuat aku berdebar-debar karena aku tidak tahu apa maksud senyumannya itu.

“Nasi goreng neng?” Tanya tukang nasi goreng itu sambil tersenyum mesum.

Aku yang sekarang berdiri di samping kak Adelia kini mulai curiga melihat kakakku mendekapkan tangannya rapat-rapat memegangi mantelnya.

“Hihihi, nggak bang, makasih…” jawab kak Adelia centil.

“Udah kenyang, lagian malam-malam makan nasi goreng ntar gendut bang” sambungnya lagi.

Duh, kakakku ini, kalau nggak mau beli ya tinggal bilang ‘nggak’ aja, gak usah berhenti dan ngajakin ngobrol sambil kecentilan gitu!

“Emang sekarang udah jam berapa neng?”

“Hmm.. jam berapa yah… bentar bang” kak Adelia lalu berusaha mengambil hape yang ada di saku mantelnya.

Untuk mengambil hape di sakunya kak Adelia harus mengendorkan pegangannya pada mantel sehingga bagian kerahnya agak terbuka. Oleh karenanya belahan dada kakakku itu jadi tampak dengan jelas! Terang saja tukang nasi goreng menelan ludah dibuatnya, tapi kak Adelia tetap terlihat cuek.

“Jam setengah dua belas bang. Udah malam kan? Masa jam segini makan nasi goreng sih… hihihi” ujar kak Adelia kemudian dengan ramahnya.

Aku yakin kalau kak Adelia memang berniat menggoda tukang nasi goreng itu. Begitupun dengan tukang nasi goreng itu yang tentunya sangat beruntung bisa bertemu dan ngobrol dengan gadis secantik kakakku.

Tapi yang bikin aku penasaran, sebenarnya apa yang dikenakan kak Adelia dibalik mantelnya itu? Sepertinya tidak hanya aku yang penasaran, tapi juga si tukang nasi goreng. Matanya terlihat berusaha mengintip ke balik kerah mantel kakakku yang terbuka.

Aku mulai curiga kalau jangan-jangan kak Adelia tidak memakai apapun lagi dibaliknya!? Duh… Aku jadi tegang membayangkannya.

“Memangnya neng mau kemana malam-malam begini?” tanya si tukang nasi goreng yang sepertinya ingin menahan kakakku lebih lama. Tapi kak Adelia sendiri malah tetap meladeninya.

“Mau cari minuman bang ke minimarket sama adek, iya kan dek?” jawabnya sambil melirik tersenyum padaku.

“I..iya. Kak… udah yuk… jalan lagi, ntar kemalaman” ajakku. Aku tidak mau berlama-lama di sini.

Namun kak Adelia belum mau beranjak juga, sepertinya masih belum puas menggoda si tukang nasi goreng. Si tukang nasi goreng itu tampaknya juga ingin berlama-lama ngobrol dengan kakakku, bahkan dia kelihatan tidak begitu memperdulikan ku saat aku mengajak kakakku untuk pergi dari sini.

“Oh… mau ke minimarket ya neng? Haus yah malam-malam?”

“Iya bang… minimarketnya masih buka kan bang? Ya iyalah, kan 24 jam, hihihi” ujar kak Adelia yang masih saja beramah-ramah pada bapak penjual itu. Udahan dong kak!

“Hahaha, si neng… tapi ada apa sih kok lihat ke bawah terus?”

“Ah, nggak… mastiin aja kalau kakinya bapak napak ke tanah, hihihi”

“Idih si neng, masak bapak dikira setan. Yang patut dicurigai tuh neng, kok tengah malam di luar bisa ketemu cewek kayak neng, udah cantik, putiih mulus, rambutnya panjang. Jangan-jangan neng sundel bolong lagi, hayo liat punggungnya… hehe”

“Iihh… abang gak sopan nih mau lihat-lihat punggung orang!”

“Lho, tadi si neng sudah ngecek kaki saya napak apa nggak. Sekarang biar adil boleh dong saya ngecek punggung neng bolong apa nggak, hehe” ujar si tukang nasi goreng yang tentunya punya maksud mesum.

Sialan aku harap kak Adelia tidak benar-benar akan membuka mantel nya, karena apapun itu dibaliknya pastinya akan membuat heboh nantinya. Apalagi kalau sampai memperlihatkan punggungnya segala.

“Beneran abang mau lihat? Ntar kalau beneran bolong abangnya bakal lari pontang-panting lagi, hihihi”

“Ah, kalau hantunya secantik neng sih saya pasrah aja dah… Ayo dong neng buka mantelnya” pinta tukang nasi goreng itu lagi yang sepertinya ngebet banget ingin tahu apa yang dikenakan kakakku di balik mantelnya.

Aku sebenarnya juga penasaran, tapi tentunya aku tidak ingin kak Adelia benar-benar akan membuka mantelnya di hadapan orang ini. Gila aja kalau dia sampai membuka mantelnya. Kalau ternyata kakakku memang tidak memakai apa-apa dibalik mantel itu entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Aduh… abang ini. Hmm… gimana yah… Tuh dek, abang ini pengen lihat dibalik mantel kakak ada bolongnya atau nggak, kasih lihat nggak sih dek?” tanya kak Adelia senyum-senyum padaku. Tentu saja aku menolak.

“Eh, jangan kak! Ngapain juga sih diturutin becandaan abang ini”

“Hihihi… tuh bang… gak dibolehin sama adek”

“Yahh si neng, malu yah? Jangan-jangan si neng gak pake apa-apa lagi? Hehe…” si bapak penjual itu menebak seolah yakin betul yang aku sendiri tak tahu dari mana dia bisa berpikiran seperti itu. Tapi melihat sikap si bapak yang terus memaksa kak Adelia untuk memperlihatkan punggungnya jangan-jangan di kejauhan tadi dia memang melihat sesuatu. Apa kak Adelia benar tidak memakai apa-apa di balik mantel itu?

“Adeek, gimana donk niih? Si abang maksa banget deh kayaknya” kak Adelia bertanya padaku tapi bukan seperti dilanda panik karena dipaksa si bapak penjual nasgor itu, malah senyum genit gak jelas. Justru aku yang panik dan khawatir kalau kakakku akan berbuat nekat meladeni si bapak itu.

“Ayoh neng..” si penjual makin ngelunjak memaksa kak Adelia untuk membuka mantelnya untuk memperlihatkan punggung kak Adelia.

“Adek, sini deh..” panggil kakakku setengah berbisik.

Entah apa yang sedang kak Adelia ingin sampaikan sampai harus bersuara agak berbisik. Yang aku yakin pasti selalu membuatku tegang dan tak berkutik.

“Duh kak, apaan lagi?”

“Kamu bantuin kakak yah dek..”

“Bantuin apaan sih kak?” tanyaku penasaran dengan nafas mulai memburu, entah karena terburu panik atau hal yang lainnya kini sudah makin tak jelas.

“Ummm… kamu bantu pelototi mantel bagian belakang kakak yah, hihi..”

“Hah?! Ah, gak mau kak!”

“Yaah adeek, entar abangnya gak pergi-pergi loh.. mau yah?”

Kak Adelia selalu memberikan pilihan yang sulit buatku, dan aku sudah sangat panik apabila memang benar kak Adelia tak memakai apa-apa di balik mantel ini, maka kakakku akan jadi tontonan buat si bapak itu.

Tapi membayangkan melepas mantel kakakku sendiri supaya bisa dilihat orang lain, gejolak batinku benar-benar tercampur aduk makin kacau. Kakakku yang cantik dan putih, akan ku perlihatkan punggung polosnya pada si bapak sialan itu.

Tanpa menunggu persetujuan dariku, sepertinya kak Adelia tau betul kalau aku juga setengah menikmati adegan ini yang mana kakakku langsung mengambil posisi memunggungi bapak itu. Sedang aku entah sadar atau tidak kini sudah memegang kerah belakang mantel kak Adelia.

“Kaak.. kakak serius nih?” sambil menatap wajah kakakku yang sama sekali tak menyimpan kecemasan, malah melempar senyum manis dan kedipan sebelah mata. Apa maksudnya?

Lalu dengan perlahan kak Adelia menyibakkan rambut panjangnya kedepan dan membuka mantel bagian depannya yang tak terlihat oleh si bapak itu, tapi aku yang berdiri di samping kak Adelia melihat jelas apa yang dikenakannya malam ini di balik mantel ungu itu.

Kak Adelia tak mengenakan apa-apa! Mendadak jantungku merasa seperti berhenti hingga lupa bernafas. Aku melihat jelas susu kak Adelia yang putih dengan puting merah kecoklatan mengacung keras ketika membuka lebar mantelnya.

“Adeek.. tarik kebawah dong..” pinta kak Adelia dengan suara manja kepadaku.

Bersambung… Kak Adelia benar-benar seksi. Aku bahkan seperti tak mendengar celotehan si penjual sialan itu lagi. Sebagai sesama lelaki aku tahu betul ia pasti sedang menikmati pemandangan ini dengan leher tercekat.

“Uugh.. kaak, udah yah?”

“Kalo kakak bilang udahan, adek bener mau udahan? Hihihi…” kak Adelia seperti tahu betul kalau aku sedang perang bathin.

Apalagi kini aku seperti sedang menelanjangi kakak kandungku sendiri di hadapan orang lain. Sensasi ini justru malah membangkit kan hasratku untuk terus memelototi mantel kakakku.

“Kaak..”

“Apa deek?”

“Punggung kakak putih banget kaak..” tanpa sadar aku malah berceloteh sendiri dan sudah menurunkan kerah kak Adelia sampai ke punggungnya, kak Adelia benar-benar merawat tubuhnya hingga terlihat seksi seperti ini.

“Hihihi.. adek suka yah?”

“Suka kaak..”

“Dek, liatin deh abangnya..” perintah kak Adelia sambil menatap genit padaku untuk melihat reaksi si abang, karena jelas sudah kak Adelia memang niat membuat si abang ketar-ketir dengan pemandangan ini.

Saat aku melihat si abang yang sedang melongo sambil memegang pegangan gerobaknya melihat punggung putih kak Adelia, tiba-tiba aku agak dikejutkan dengan hembusan angin di kakiku seolah ada yang jatuh di bawah sana. Saat kulihat kebawah, aku melihat mantel kak Adelia sudah berada di kakinya yaitu di atas aspal. Kak Adelia menjatuhkan mantelnya!

“Kak!”

“Aduuh.. melorot deh deek, ambilkan dong, hihi.. dingin niih..” katanya sambil ketawa cekikikan sambil tersenyum geli.

Kakakku benar-benar gila dan nekat! Bahkan di depan bapak penjual nasi goreng kakak memperlihatkan tubuh belakangnya, yang mana kini si bapak itu tahu bahwa kak Adelia memang bugil!

Sepintas kulihat si bapak penjual itu masih melongo dan melotot melihat kakakku yang bugil membelakanginya. Malahan seperti orang yang tersedak biji salak. Dari tengkuk, punggung, pantat, sampai paha dan kakinya yang jenjang dan putih bersih terlihat jelas oleh si bapak itu.

Dengan cepat aku mengambil lagi mantel itu dari bawah dan memakaikan kembali ke tubuh kakakku yang agak menggigil kedinginan dan berniat untuk segera pergi dari sini dengan menariknya, tapi kak Adelia malah mendekati si bapak itu.

“Bang.. gak bolong kan punggungnya?”

“Eh, A-anu.. ngga neng, hehe.. bening..”

“Yang bolong bukan punggungnya, tapi yang dibawah, hihihi..” “Hah?!”

“Daag abaang..” celoteh kak Adelia langsung menghampiriku dan memegang tanganku meninggalkan si abang yang tengah terbengong-bengong seperti tak mempercayai bila ia akan benar-benar melihat seorang cewek cantik yang mau bugil di depannya.

Sampai di persimpangan kami berbelok dan sudah meninggalkan tukang nasi goreng tadi. Sambil terus berjalan aku semakin tak nyaman dengan situasi yang makin memanas ini. bahkan saking panasnya sepertinya aku hampir pingsan setiap kali mendapat serangan siksaan dari kakakku yang nakal ini.

“Kak… pulang aja deh kalau gini…” pintaku cemas takut-takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Apalagi setelah tahu kalau kakakku tidak memakai apa-apa lagi dibaliknya.

“Hihihi… kamu ini penakut banget sih” jawab kak Adelia santai, tapi aku tahu dia tidak sesantai itu juga, dia pastinya sangat berdebar debar juga saat ini.

Terutama kejadian barusan dimana kak Adelia langsung pergi meninggalkan si penjual nasgor itu sendirian. “Udah dekat tuh ke minimarket masak pulang sekarang sih?” ujarnya lagi.

“Iya.. tapi pakaian kakak kayak gitu…” jawabku yang masih ragu untuk meneruskan petualangan malam ini.

“Huuuu… seperti tadi tuuh, padahal kamu suka kan?” goda kak Adelia.

Tebakannya memang tidak salah, walaupun aku begitu cemas, namun aku memang sudah konak dari tadi melihat tingkah nakal kakak kandungku ini. Kak Adelia senyum-senyum manis melihat aku yang hanya terdiam, sepertinya dia tahu isi pikiranku.

Dia lalu mulai berjalan lagi. Aku pun ternyata mengikutinya juga akhirnya. Aku harap kakakku tidak akan berbuat yang akan membuat jantungku copot.

“Bentar dek” ujar kak Adelia menyuruh berhenti saat kami sampai di perempatan jalan yang lampu jalannya menyala terang.

“Ada apa kak?” tanyaku heran. Dia tidak menjawab dan hanya senyum-senyum padaku. Dia berniat menggodaku! Apa yang akan diperbuatnya? Dadaku sungguh berdebar kencang.

Kak Adelia lalu celingak-celinguk memperhatikan setiap sudut jalan. Setelah memastikan kondisi sepi dia kini malah berdiri tepat di bawah sorotan lampu jalan.

“Dek…”

“Ya kak?”

“Tangkap nih!”

Kak Adelia melemparkan mantelnya padaku! Dia kembali bertelanjang bulat! Bugil polos tanpa sehelai benangpun di tubuhnya! Badanku langsung panas dingin. Kakakku benar-benar nekat! Jelas aku jadi panik bukan main dibuatnya, namun sekaligus konak berat di saat yang sama. Melihat ekspresiku yang tidak karuan ini kakakku malah tertawa cekikikan.

“Dek… fotoin kakak dong…” pintanya kemudian sambil mengulurkan hapenya padaku.

Hah? Apa-apaan sih kakakku ini? Dia minta difotoin pake hapenya dengan pose bugil di tengah perempatan jalan di bawah penerangan lampu jalan! Badanku semakin lemas dibuatnya. Dia seakan-akan tidak memberiku kesempatan untuk bernafas lega dengan aksi-aksi nekatnya.

“Kak Adelia!”

“Apa? Fotoin dong dek…” pintanya lagi sambil masih mengulurkan hapenya padaku.

“Please kak… pakai dong mantelnya…” ujarku memohon. Aku ingin dia menyudahi aksi nekatnya ini.

“Gak mau sebelum kamu fotoin kakak dulu”

“Masa gitu sih kak!?”

“Ya udah, kalau gitu kakak telanjang terus di sini” katanya dengan gaya mengancam.

Ugh… sungguh aku dibuat gemas dengan ulahnya.

Aku pun tidak punya pilihan lain. Daripada semakin lama kami di sini ku turuti saja deh permintaannya. Aku ambil hape dari tangannya lalu menjepitnya beberapa kali. Perasaanku sungguh campur aduk antara cemas dan horni.

Sungguh pemandangan yang tidak lazim, seorang gadis cantik dengan kondisi bertelanjang bulat di tengah jalan, sedang difotoin oleh adek laki-lakinya sendiri.

Kak Adelia bergaya-gaya bak foto model professional. Sambil memotret nya, aku berkali-kali celingak-celinguk untuk memastikan kondisi tetap sepi. Sungguh nekat dan bahaya sekali! Tapi aku sungguh konak bukan main.

“Duh kak, konak berat nih…” keluhku. “Hihihi, ya udah dek dikocok aja”

“Gila di tempat umum gini. Yuk pulang aja yuk kak, kita menyetubuhi di rumah” ujarku yang sudah sangat horni. “Hihihi, maunya kamu tuh… Enak aja menyetubuhi-menyetubuhi. Udah dekat nih minimarketnya, yuk lanjut” katanya sambil beranjak dari bawah lampu jalan.

“Ta..tapi dipake dulu lagi dong mantelnya kak..” “Ogah ah, gerah nih dek…”

“Hah? Apanya yang gerah sih… Ayo donk kak, tadi udah janji lho gak bakal macem-macem”

Aku sendiri tidak tahu apa aku tulus atau tidak meminta kak Adelia mengenakan mantelnya kembali, secara aksi kakakku ini sukses membuat adik kecil di balik celanaku berontak hebat.

Tapi di sisi lain aku sungguh mencemaskan apa yang akan terjadi. Aneh memang, karena semakin aku mencemaskan kakakku, aku juga semakin horni.

“Cepetan ah kak, pakai mantelnya” pintaku lagi memaksa.

“Malas ah…” jawabnya enteng, bahkan sambil berlari. Gila kak Adelia!

“Kak!”

Aku berusaha mengejarnya, tapi semakin aku mencoba mengejar, dia malah semakin cepat berlari.

“Kak… mantelnya!” teriakku tertahan, tapi dianya malah menolehkan kepalanya ke belakang sambil memelet kan lidah dan terus berlari. Ya ampun kakakku ini!

Hingga akhirnya kak Adelia kecapean sendiri dan berhenti. Dia mengulur kan tangan mengambil mantelnya yang ku berikan pada nya.

“Jadi adek mau kakak pake ini lagi?” katanya sambil senyum-senyum nakal.

“Iya kak cepetan…”

“Hmm…” Bukannya segera mengenakan mantelnya.

Kak Adelia malah tengak tengok lalu mengerling padaku. Apa yang dia lakukan selanjutnya sungguh membuat aku jantungan, kak Adelia melemparkan mantelnya ke halaman rumah orang!

“Kak!”

Pagar rumah orang itu cukup tinggi. Kak Adelia melemparkan mantelnya melewati pagar itu. Apalagi begitu mantelnya mendarat di dalam halaman rumah orang itu langsung terdengar anjing penjaga menggonggong keras.

Aku dan kak Adelia langsung lari dan sembunyi meskipun tahu anjing itu berada di balik pagar dan tak mungkin mengejar keluar. Aku sungguh panik, tapi kakakku ini justru ketawa kegirangan. Dia seperti puas sekali dengan aksi nekatnya yang membuat adiknya ini jantungan.

“Aduh dek, gimana nih… Kakak gak punya pakaian” ucap kak Adelia manja pura-pura panik.

Aku sungguh gemas sekali dibuatnya, padahal dia sendiri yang membuang mantelnya sembarangan. Aku saat ini cuma memakai kaos dan celana pendek, tidak ada dari pakaianku yang bisa ku berikan ke kakakku.

“Duh, kakak ini gimana sih!? Masak mantelnya dibuang sembarangan gitu!” protes ku padanya.

“Maaf yah dek, gak sengaja, hihihi…” ujarnya masih dengan gaya tak bersalah.

“Pulang aja deh kak kalau gini. Gak mungkin kan kakak ke minimarket telanjang begitu”

“Masak pulang sekarang sih dek? Mini marketnya udah dekat banget gitu. Sekalian aja deh gak papa” jawabnya enteng. Apanya yang gak apa-apa!

Seharusnya aku benar-benar menyeret kaka ku pulang saat ini, tapi ternyata aku penasaran juga bagaimana kakakku tetap ke mini dengan kondisi telanjang bulat, yang mana bila terjadi apa-apa tidak akan ada sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya nanti. Tapi aku justru semakin penasaran dan horni membayangkannya. Ya, aku pun setuju akhirnya untuk tetap lanjut ke mini market.

Setelah berjalan tidak lama, kamipun akhirnya sampai di sana. Tapi tentunya kami tidak langsung masuk, karena tidak mungkin kakakku ikut masuk ke sana. Dari tempat kami berdiri dan bersembunyi di seberang jalan, aku perhatikan keadaan di sekitar minimarket tersebut.

Minimarket itu milik salah satu warga di dekat sini, bukan minimarket waralaba yang terkenal itu, tidak ada CCTV, karyawan pun hanya satu yaitu kasir, seorang mas-mas, umurnya paling baru 20-an. Suasana sepi sekali, tidak ada satupun pengunjung.

“Kak, tunggu di sini aja yah, biar aku yang masuk ke dalam”

“Oke adek…” jawab kak Adelia setuju sambil tersenyum manis, lalu mengedipkan matanya. Aku harap dia benar-benar memegang omongannya.

Akupun menyeberang jalan menuju ke minimarket, namun tiba-tiba… kak Adelia! Dari belakang kakakku ini berlari dengan cepat mendahuluiku menuju minimarket!

“Kakaaaak!” jeritku tertahan.

Muke gile kakakku ini! Kak Adelia masuk ke minimarket, saat pintu terbuka ada suara bel selamat datang yang membangunkan si kasir.

Beruntung kakakku sudah sempat berlari masuk dan menuju rak-rak dagangan. Kepalanya terlihat tapi seluruh badannya tersembunyi dari pandangan mas-mas kasir.

“Ee.. selamat belanja mbak” sapa mas-mas itu.

Kakakku hanya melemparkan senyumnya kepada mas-mas kasir itu. Seandainya mas-mas itu tahu kalau ada gadis cantik telanjang bulat sedang belanja di mini marketnya! Jantungku berdebar-debar dahsyat. Ku yakin kakakku juga demikian.

Aku pun menyusul kak Adelia, tapi aku berpura-pura tidak mengenal nya. Aku langsung menuju ke balik rak-rak tempat kakakku berada. Aku yang sudah tidak tahan segera mengeluarkan rudalku.

“Kak…”

“Apa dek?”

“Gak tahan…”

“Terus? Pengen pejuin kakak?” tanyanya senyum-senyum.

“I..iya kak”

“Sekarang?”

“Iya…”

“Ya udah… kocok aja dulu dek, sambil liatin kakak, hihihi…” ujar kak Adelia sambil lanjut kembali memilih-milih belanjaan.

“Uugh… kak Adelia” erangku pelan mulai mengocok rudalku.

Aku beronani sambil melihat kakakku yang belanja sambil bugil. Kak Adelia sendiri bertingkah seperti orang belanja dalam kondisi normal. Dia berjalan-jalan melihat-lihat di rak bagian makanan kecil, ia kelihatan yakin sekali mas-mas kasir tidak akan beranjak dari kursi kasirnya.

Bahkan ketika ku perhatikan mas-mas itu sudah mulai menguap lagi, tampak sekali berusaha kuat melawan kantuk, gila memang apa yang sedang aku lakukan, masak beronani di dalam mini market sih.

Tapi aku memang sudah tidak tahan melihat tubuh kakakku yang berkulit putih bersih itu, bertelanjang di depan rak di dalam mini market. Sesekali kak Adelia melirik dan tersenyum manis padaku yang sedang beronani. Bikin aku semakin gak tahan ingin muncrat. Dari tadi kakakku ini selalu bikin rudalku tersiksa.

Tapi mendadak terjadi hal yang sama sekali di luar dugaanku.

“Adeek.. pengen colinya lebih enak gak?”

“Uugh.. mau donk kaak..”

“Siap yaah..”

“Hehehe..”

“Mas! Mas! Mau tanya donk!” kak Adelia dalam keadaan bugil malah memanggil mas penjaga kasir! Ini bunuh diri namanya!

“Kak Adelia! Apa-apaan sih?!” sambil setengah berbisik aku melihat si penjaga kasir yang mengantuk tadi mulai berjalan mendekati kami berdua.

Mana posisiku lagi nanggung di tengah kocokan ku di samping kak Adelia. Mas penjaga kasir itu berjalan semakin mendekati kami, habis sudah kalau dia melihat kak Adelia dalam keadaan bugil.

Ingin bersuara tapi malah tenggorokan ini tercekat rasanya, saking tegangnya sampai aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku terlalu takjub melihat kenakalan dan kenekatan kakak kandungku sendiri. Ketika si penjaga hampir sampai di rak kami sedang melihat-lihat..

“Oh coklat XX mba? Bentar yah, saya liat dulu” si penjaga tanpa perasaan ganjil mencari-cari coklat yang dimaksud kak Adelia.

Sepertinya kak Adelia sengaja membuatku tersiksa hingga menyuguh kan pemandangan di mana kak Adelia seolah sedang berhadap hadapan dengan pemuda itu tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Aku hampir tak bisa mengontrol diriku lagi untuk agak merapatkan badanku ke tubuh kakakku. Kocokan ku jadi semakin liar.

“Ada gak mas?” “Kayaknya gak ada tuh mba”

“Ummm.. kalau coklat YY deh..” kakakku melempar senyum semanis mungkin ke pemuda itu hingga membuatnya salah tingkah.

Kakakku benar-benar suka menggoda orang asing, tapi melihat permintaan kak Adelia untuk mecari coklat pada pemuda itu, seperti nya kak Adelia juga tak ingin langsung dilihat oleh pemuda itu. Tapi tetap saja jantung ini mau copot rasanya.

“Gak ada juga tuh mba.. mungkin mau coklat yang lainnya mba?” tanya pemuda itu polos, tapi di telingaku bisa menjadi mesum dan cabul.

“Umm.. gak usah deh. Makasih ya mas.. lagian aku masih punya coklat batangan dari rumah kok, hihi..” sambil melirik genit kearahku kak Adelia tersenyum sayu dan genit. Apalagi ketika mengucapkan kata-kata.

“coklat batangan dari rumah”, sungguh membuat badanku panas dingin, karena aku yakin yang dia maksud adalah milikku.

Sekembalinya si penjaga kasir tadi ke mejanya, aku langsung menghadap kak Adelia sambil menempelkan kepala rudalku ke pinggang nya, aku sudah tak tahan lagi menahan siksaan yang di lancarkan oleh kakakku yang nakal ini.

“Kaak.. uugh, gak kuat kaak..”

“Hihihi.. adek suka ngga liatnya?”

“Aahh.. kak Adelia nakal banget, semua orang mau kakak godain..”

“Hihi, tapi kakak senang adek mau nemenin kakak..” sembari berucap dengan nada lirih, kak Adelia tiba-tiba duduk berlutut di depanku sambil membuka mulutnya.

“K-kak Adelia?” sambil melihat wajahnya yang cantik dengan mata sayu dan pipi merah merona aku mengarahkan otongku persis di depan mulutnya.

“Coklat batangan kakak mana deek? Hihihi..” “Hah?!”

“Ayo adeek.. katanya udah gak tahan? Kotorin gih muka kakakmu ini ama peju adek..” “Oough.. kaak..” racauku sambil terus mengocok makin cepat.

“Lama yah dek? Nanti ketahuan loh kalo ada orang yang datang, hihihi…” tawanya cekikikan setengah meledekku.

Seolah kak Adelia pun tahu aku agak susah keluar karena sebagian diriku dilanda rasa panik takut ketahuan. Bayangkan saja seorang kakak sedang bugil berlutut di depan adik kandungnya sendiri yang sedang coli di depan mukanya, dan kami tengah berada di mini market.

“Kakak gangguin aku terus ihh..”

“Adek kelamaan ah, liat nih dek yaa..” ditengah aku sedang mengocok di depan mukanya tiba-tiba kak Adelia membuka mulutnya lebar-lebar persis di depan rudalku.

Kak Adelia memasukkan rudalku kedalam mulutnya! Baru kali ini aku menikmati hangatnya rudalku berada di dalam rongga mulut kakakku sendiri. hampir melayang rasanya, bahkan aku hampir tak bisa berdiri tegak sampai harus berpegangan pada rak yang ada di sampingku.

Sambil masih dilanda badai kenikmatan kulihat kak Adelia memajukan kepalanya hingga batang rudal coklatku melesak makin dalam kedalam rongga mulutnya. Sungguh aku bisa merasakan tiap lekuk dan tepian di dalam rongga mulut kakakku, dan yang pasti aku semakin tak tahan lagi untuk menahan muncratan pejuku yang siap meledak.

“Kaak.. adek.. mauu..”

“Fuuaah..” kak Adelia langsung menarik kepalanya hingga terlepas rudalku dari dalam mulutnya.

Seketika itu juga aku yang sudah tak bisa menahan lagi langsung menyemprotkan pejuku kemuka kakakku.

CROOOT! CROOOT!

Sambil masih mengejang beberapa kali dengan getaran-getaran kecil dan pandangan yang agak berkunang-kunang aku melihat kakakku memejamkan matanya sambil membuka mulutnya.

Sungguh kak Adelia menikmati tiap siraman peju kental hangat ku yang mendarat di wajahnya yang cantik. Pengalaman pertama bagiku di mana rudalku dikulum oleh kakak kandungku sendiri. Walaupun hanya satu kali kocokan, tapi benar-benar melayang bahkan hampir pingsan aku menerima perlakuan kakakku.

“Udah deek?”

“Uugh.. udah kak.. enaak”

“Gara-gara kamu kelamaan kakak jadi ngemut coklat batangan beneran kan.. huuu, dasar..” sambil manyun ini bibir imutnya kak Adelia mencubit perutku dengan gemas.

“Auw! Sakit tau kak”

Tiba-tiba terdengar deru motor dari kejauhan dan mendekat. Oh tidak! Banyak orang berkonvoi motor mendatangi minimarket. Mereka sepertinya adalah geng anak-anak muda bermotor yang memang biasa konvoi dan mangkal di dekat sini.

Aku panik bukan main. Kak Adelia yang sedang membersihkan wajahnya dengan bajuku pun juga tampak kebingungan. Aku harus menyembunyikan kakakku! Tapi dimana!? Para geng bermotor itu mulai memarkirkan kendaraan mereka di depan minimarket. Jelas ketegangan ini masih belum selesai…

Aku benar-benar panik. Kak Adelia pun ikut panik ketika harus membersihkan pejuku yang belepotan di wajahnya. Namun setelah itu dia terlihat lebih tenang meski aku tetap bisa melihat ketegangan di wajahnya, seolah-olah aku bisa mendengar degup jantung kakakku yang memburu.

“Kak, di rambutnya masih ada peju tuh!”

“Duh, mana mana? Kamu sih dek pejunya banyak banget…”

Kesal banget aku dengan gaya kak Adelia yang sok santai ini. Padahal orang-orang bermotor itu sudah parkir dan mematikan kendaraan mereka. Itu berarti mereka bisa kapan saja masuk ke dalam mini market!

“Duh, Kak! Gimana niihh…?”

“Ya gimana dong… Kakak juga gak tau nih, tapi kayaknya mereka bukan kriminal kok… paling cuma mau beli minum kayak kita, ga bakal ngerampok… mas kasirnya aja nyantai tuh dek”

“Bukan itu masalahnya kak!” Sanggah ku pada kak Adelia sambil melihat kondisinya yang saat ini.

“Duh, iya yah dek… kakak gak pake baju, gimana dong?” Ujarnya berlagak seperti baru tersadar kalau dia sedang bugil total.

“Kakak sih pake dibuang segala mantelnya” ujarku yang dibalasnya dengan memelet kan lidah. Sungguh bikin aku gemas!

Sambil terus berusaha memposisikan diri dan kak Adelia agar tidak mencurigakan dari luar, aku terus memperhatikan orang-orang yang baru saja datang itu. Empat motor diparkirkan di depan, sedang yang berboncengan ada dua orang, total jumlah mereka ada enam orang.

Enam orang yang mungkin akan segera masuk dan memenuhi mini market ini. Aku hanya berharap mereka takkan mengetahui ke beradaan aku dan kakakku di sini. Entah apa jadinya kalau mereka melihat gadis secantik kakakku bertelanjang di mini market.

Sebenarnya perawakan mereka biasa saja, tapi dandanan mereka yang lusuh dengan jaket kotor dan celana jeans sobek-sobek membuatku jadi tidak nyaman untuk berada di sini, apalagi bersama kakakku yang sedang tak berpakaian sedikitpun.

Usia mereka sepertinya sedikit di atas kak Adelia, namun ada satu diantara mereka yang badannya agak sangar berbadan gempal walaupun lebih pendek dari yang lainnya, sepertinya dia yang dianggap seperti bosnya, aku menebak itu karena suaranya yang cukup keras tiap kali ia berbicara.

Mereka mulai masuk ke dalam. Aku semakin panik. Namun aku berusaha tampak wajar dan diam di sini bersama kakakku. Kulihat mereka langsung menuju ke showcase minuman yang letaknya di tepi satu sisi ruangan dan mulai memilih-milih.

Aku agak lega ketika mereka mulai berhenti di sana, tapi kekhawatiranku segera menyergap kembali ketika salah satu dari mereka mulai menyusuri beberapa showcase minuman yang searah menuju tempat kami berdiri. Karena apabila mereka mencari makanan ringan, di tempat kami berdirilah daerah makan ringan berada.

Hanya saja di rak sisi kami bersembunyi adalah makanan ringan seperti kue-kue kering dan roti, sedang makanan ringan seperti kacang-kacangan, coklat, dan sejenisnya berada di rak depan kami tempat sebelumnya penjaga kasir yang mengobrol dengan kak Adelia. Aku berharap mereka bukan mencari kue-kue kering untuk teman merokok dan minum-minum, melainkan kacang.

Aku lega dugaanku benar, karena salah seorang yang mendekat kearah kami berhenti persis di rak bagian depan kami. Sehingga aku dan kak Adelia kembali berhadap-hadapan dengan orang lain yang kuharap tak mengetahui kalau kakakku ini sedang bugil, jika tidak habislah kak Adelia.

Namun memang tidak perlu waktu lama untuk si orang itu sadar kalau ada cewek cantik di depan matanya. Untungnya hanya sebatas leher dan kepala kak Adelia saja yang terlihat olehnya.

“Wuih, ada cewek cakep, bening euy… cari apa neng malem-malem?” orang itu menyapa kak Adelia sambil menggoda.

Sedang kak Adelia kulihat membalas dengan senyum manis. Senyuman yang pastinya membuat pria itu makin pengen berani godain kakakku.

“Cari apa neng?” tanya orang itu lagi.

“Cari minuman bang”

“Lho cari minum kok di situ, sini nih di rak sini minuman mah… di kulkas…” kata si abang itu sambil menunjuk kulkas yang dimaksud.

“Ooh, di sini juga ada kok bang, hi hi…”

“Ah, minuman apa di situ? Susu kaleng ya?”

“Hi hi, susu? Emang ada yah dek di sini susu?” tanya kak Adelia sambil tersenyum genit melirik ke arahku. Aku malah jadi melirik ke buah dadanya. Duh!

“Susu kak?” tanyaku bingung.

“Ape? Susu kakak? Merek apaan tuh?” tanya pria itu juga bingung tapi tampak bersemangat.

“Hihi.. kok susu kakak sih dek?” ujar kak Adelia.

Padahal aku sama sekali tidak bermaksud bicara tentang susu kakakku, saking paniknya aku malah tak bisa bicara apa-apa sambil melihat mereka berdua.

“Bukan kemasan kaleng dong? Wuih, kemasan apaan yah neng?”

“Umm… kemasan apa yah? Kemasan alami kali yah bang, hihi…”

Jantungku serasa mau pecah! Udah dalam posisi telanjang menegangkan begini masih nekat meladeni omongan orang itu. Terang saja orang itu semakin ingin mendekat ke arah kami. Diapun perlahan-lahan mendekat sambil cengengesan menyusuri raknya menuju tempat kami berdiri, tapi langkahnya tertahan karena dipanggil oleh temannya.

“Uuugh.. kakaaak..” bisikku gemas melihat tingkah kak Adelia.

Makin kesini aku mulai meragukan keseharian kakakku yang dikenal sopan, baik dan terhormat. Entah kenapa malam ini kak Adelia mulai terlihat seperti tidak biasanya, lebih berani, bahkan terlalu berani dari biasanya.

Inikah yang sesungguhnya dari kakakku, atau ada sesuatu yang membuatnya seperti ini??

Beberapa orang teman lainnya yang melihat si pemuda itu ngobrol dengan kakakku malah jadi ikut mendekat. Langkahnya terdengar pelan karena mereka sembari ngobrol dan lihat-lihat makanan sepanjang yang mereka lalui.

Kak Adelia menarik napas panjang dan menghelanya sambil terus pura-pura melihat makanan-makanan kecil yang dipajang. Ketegangan nampak dari wajahnya, tak jelas apakah ia ketakutan atau justru menikmatinya.

Aku sendiri semakin panik. Sebesar apapun rasa penasaranku ketika melihat kakak kandungku yang cantik ini menjadi tontonan cowok-cowok jelek tak jelas seperti mereka, aku tetap saja tak rela bila benar-benar terjadi.

Tapi tiba-tiba aku melihat sesuatu. Ah, kenapa tidak dari tadi aku sadar? Padahal dari awal masuk tadi udah ngeliat. Aku teralihkan ketika awal masuk tadi karena kak Adelia yang menyerobot masuk mendahuluiku.

Mini market ini menjual kaos basket!

Aku melihat kaos basket dipajang rak display terdekat dengan meja kasir. Segera dengan gerak secepat kilat aku mengambilnya, tentu dengan berusaha tidak terlihat sekumpulan geng anak motor itu, dan kembali untuk menyerahkannya kepada kak Adelia. Kakakku tanpa pikir panjang menerima kaos itu dari tanganku serta secepat kilat memakainya sambil merunduk. Ternyata kakak ketakutan juga. Dasar!

Kaos basket itu hanya mampu menutupi sekitar 5 cm di bawah pantat kak Adelia. Sangat mepet, dan jelas mengekspos kaki jenjang dan paha putih mulus kak Adelia kemana-mana. Belum lagi belahan leher kaos yang rendah, membuat belahan dada kakakku yang putih bening jadi terekspos.

Bahkan puting susu kak Adelia yang mengacung keras tampak tercetak, walau tidak terlalu jelas karna kaosnya hitam, tapi jika sedikit memperhatikan saja maka memang tidak bisa disembunyikan tonjolan puting itu.

Ketika para pemuda itu datang, kak Adelia sudah mengenakan kaos itu. Waktunya sangat tepat sekali. Jantungku hampir copot rasanya.

“Suit-Suiiiiit! Bening broo!”

“Wuih! Pemandangan apa ini?”

“Waduuh, gak dingin emangnya neng malam-malam pake beginian doang?”

“Gue kira cuman di lampu merah sono noh nemuin cewek-cewek begituan, ternyata di sini ada juga.. gileee..”

Mereka terus melempar godaan pada kakakku yang menurutku lebih cenderung melecehkan itu. Kak Adelia sendiri berusaha tetap tersenyum untuk menyembunyikan kegugupannya. Sedangkan aku setengah mati cemas menghadapi situasi ini.

Harus cepat-cepat minggat sebelum terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan. Dan sepertinya kakakku juga sudah merasakan hal yang sama dengan langsung menggandeng tanganku dan mengajakku pergi dari tempat itu.

“Misi yah bang.. mau pulang dulu..” ucap kakakku sambil tetap menggandengku mengambil minuman kaleng asal-asalan dan bergegas menuju kasir. Kakak mulai panik nih…

“Lho kok buru2 neng?”

“Eh, susunya tadi mana neng?” seloroh mereka sambil masih mengikuti kami yang sedang menuju ke meja kasir.

Apa mereka nggak ngerti kalo kami nggak mau diikuti? Kak Adelia juga sih, dari kondisinya saja sudah jelas sangat mengundang orang orang seperti mereka, mana tengah malam lagi.

Mas mas kasir juga yang tadinya terkantuk-kantuk jadi terbelalak melek melihat penampilan kakakku. Masalah muncul ketika hendak membayar, minuman yang dibeli kak Adelia harganya sih tidak lebih dari sepuluh ribu, tapi kaos basketnya yang sudah dikenakan itu harganya lebih dari lima puluh ribu, dan aku tidak membawa uang sebanyak itu. Keringat dinginku mulai bercucuran. Alamat gawat!

Tapi pada saat mas penjaga itu menghitung barang belanjaan kami, dia hanya menghitung kaleng minuman yang kak Adelia ambil saja. Padahal barang yang kami ambil ada dua, yang satu lagi adalah kaos yang kuambil tadi.

Sambil si mas penjaga menyiapkan kantong plastik untuk membungkus kaleng minuman, sesekali pandangannya mengintip kakakku. Kini aku berharap bahwa si mas mas penjaga itu memang sedang iseng melihat keseksian kakakku yang sedang mengenakan kaos seadanya itu, bukan karena curiga apakah kaos itu adalah item yang dijual di mini market ini.

Tanpa sadar aku menelan ludah berkali-kali berharap semua ini akan cepat selesai, apalagi di belakang kami dan di parkiran luar mini market ini masih ada beberapa pemuda geng bermotor yang kelihatannya belum tentu kami bisa lolos semudah itu, mengingat kini sudah malam dan kak Adelia hanya mengenakan kaos yang hanya seadanya menutupi bagian vital dari tubuh kakakku.

“Udah minumnya aja? Pulsanya nggak mbak? Ini wafernya sedang promo, beli 2 gratis 1…” Tanya si mas kasir sesuai prosedur memang harus menawarkan barang lain pada tiap pembeli.

“Oh ngga usah mas, minumannya aja kok..” jawab kakakku sambil melempar senyum kepada mas itu, aku yakin kakakku juga sedang menutupi tindakan nyolong kaos ini, dan tiba-tiba kak Adelia menoleh ke arahku.

“adik, besok diganti yah… kakak ngga mau dikira klepto, hihi..”

“I-iya kak..” Duh kakakku ini, bisa-bisanya bicara bicara seperti itu di depan mas penjaga kasir, untung dia tidak memperhatikan kami.

Padahal setengah mati aku ambilkan kaos untuk menutupi tubuhnya. Pulang nanti aku takkan memberi ampun pada kakakku ini. Kalau perlu akan aku ikat seharian supaya tidak keluar rumah.

“Enam ribu lima ratus mbak..”

“Oh, i-iya.. ini..” sambil menyerahkan lembaran lima puluh ribuan aku mulai berdiri tak nyaman ingin segera menggandeng kakakku keluar dari sini.

“Ini kembaliannya mas.. terimakasih, silakan berbelanja kembali mas..” ketika ingin menjawab ucapan dari mas itu tiba-tiba kak Adelia sudah menggandengku pergi menuju pintu kaca keluar dari toko ini.

Aku yang seharusnya panik mendadak malah terasa sangat nyaman sekali ketika digandeng olehnya. Entah kenapa aku malah menikmati kebersamaan ini bersama kakakku walau di tengah situasi yang pelik seperti ini. Aku mulai berpikir, apapun ku lalui asalkan selalu bersama dengannya.

Sampai di parkiran depan toko itu kami berdua berpapasan dengan orang-orang yang tengah nongkrong sambil ngobrol-ngobrol dengan suara yang keras. Beberapa sambil merokok dan yang lainnya sambil minum. Melihat cara mereka memandang pada kakakku aku sungguh merasa tak nyaman dibuatnya.

“Wuih, malam-malam liat ginian?”

“Anjrit brooo.. apaan tuuh, bening poll.. hahaha!”

“Busyeeet, gak dingin tuh neng bawahannya? Sini deh abang pangku biar anget, hahaha!”

Cibiran-cibiran mereka mulai terdengar panas di telingaku, apalagi ucapan-ucapan mereka mulai melecehkan kakakku. Aku tak boleh berbuat konyol karena aku mengkhawatirkan keselamatan kakakku juga. Apalagi kakakku juga terus menggandengku erat walau masih mencoba untuk tersenyum di hadapan mereka.

Siapa juga yang gak bakal menggoda kakakku di malam seperti ini, kakinya yang putih terpampang bebas dari paha hingga ke ujung kakinya. Belum lagi pundak hingga ke ujung lengan, aku saja yang digandengnya dan langsung bergesekan kulit saja sudah cukup bikin otongku agak mulai tak menentu nasibnya.

“Misi yah abang-abang semua.. hihi..”

“Waaah.. manis nian senyumnya kakak ini.. hahaha.. kenalan dulu donk, buru-buru amat?” seloroh salah satu pemuda yang bicara sambil duduk di atas motornya dengan dandanan yang tak kalah kumalnya dari temannya yang masih di dalam toko itu.

Sambil tak mempedulikan mereka, aku dan kak Adelia meninggalkan mereka walau mereka tetap memanggil-manggil tak jelas apa mau nya itu. Semakin jauh kami meninggalkan mereka entah kenapa aku bukannya semakin aman tapi malah panik.

Bagaimana kalau mereka menyusul kami? Apalagi potongan mereka adalah orang yang bakal nekat melakukan apa saja? Duh, benar benar akan terjadi kriminalisasi nih, bukan seperti yang kak Adelia perkirakan sebelumnya.

“Iih dek, serem-serem yah orangnya?”

“Iya nih kak, mana jantung mau copot lagi.. gara-gara kakak sih..”

“Hihihi, beneran jantungnya yang mau copot? Atau yang lainnya yang mau copot?” ujar kak Adelia dengan nada manjanya sambil mengerling ke arahku.

Aku dibuatnya gemas melihat tingkahnya itu, tapi bukan kak Adelia namanya kalau bukan terus langsung menggodaku dengan mengatakan..

“Tapi kalau mereka godain kakak terus ikut nyusul sampai kerumah gimana yah dek?” “Iya, terus kakak diperkosa di dalam rumah sama mereka… kakak mau?” “Kok adek bayanginnya kayak gitu sih? Jangan-jangan adek pengen lihat yah? Hihihi..” jawabnya balik tanya sambil menatap lekat wajahku, kak Adelia tahu betul fantasiku tentang dirinya yang biasa kujadikan bahan colian setiap harinya.

“Ah kakak apaan sih?”

“Terus mereka pada nginep di rumah dek, bolak-balik gantian masuk ke kamar kakak, hihihi”

“Kak Adelia!”

“Yeee, muka adek merah tuuh… adek ngebayangin kakak digituin sama preman-preman kayak mereka juga yah?”

“Udah donk kak, pulang yuk!” perasaanku seperti tidak enak sambil agak menarik kak Adelia pulang sebelum hal yang ku takutkan nanti terjadi, yaitu para geng yang mungkin saja akan menyusul kami.

“Apa perlu kakak minta antar pulang mereka nih? Hihi..”

“Kak!”

“Apaan sih dek? Kakak becanda tau..”

“Bukan itu kak.. mereka pada mau nyusul kita tuh!” aku masih menoleh kebelakang yang akhirnya pandanganku diikuti oleh kak Adelia.

Aku melihat mereka mulai menghidupkan motornya masing-masing sambil menunjuk-nunjuk kearah kami. Ternyata benar mereka hendak menyusul kami berdua. Aku rasa mereka masih penasaran dengan kakakku. Kulihat di depan sudah dekat dengan tikungan tempat kami berbelok tadi saat hendak menuju mini market.

Aku dan kak Adelia mempercepat langkah kami untuk segera berbelok dan berharap bisa segera menghindar dari geng motor itu. Sesampai nya di jalan belokan ini aku bingung lagi hendak kemana karena jalan yang akan kami susuri sampai ke belokan masuk ke gang perumahan kami nanti masih cukup panjang, tak mungkin kalau harus berlari apalagi mereka menyusul menggunakan motor.

Bahkan di sepanjang jalan ini hanya satu orang saja yang kulihat sedang berdiri dekat gerobaknya dengan lampu petromak nya yang terang menyala dari tempat kami berdiri. Ya, dia adalah si tukang penjual nasi goreng yang tadi.

“Adek! Sini ikut kakak!” kata kak Adelia sambil menarik lenganku. Aku tak tahu apa rencananya, tapi aku coba saja mengikuti karena aku sendiri sudah kehabisan ide.

Kak Adelia setengah menyeret ku menggandeng sepanjang jalan menuju abang nasi goreng itu. Sebenarnya aku masih agak sebal dengan si abang penjual nasgor itu, tapi dibandingkan dengan preman geng motor tadi, aku seperti tak punya pilihan. Sesampainya di dekat abang nasgor itu kak Adelia memanggilnya.

“Eh abang ketemu lagi”

“Wah, si eneng yang putih bening, hehehe… kayaknya berjodoh kita yah? Mau kemana-kemana juga ketemu lagi..” sahutnya cengengesan sambil memandang kakakku dari ujung kepala sampai kaki berharap kakak memperlihatkan tubuh polosnya seperti tadi walau hanya bagian belakangnya saja.

“Bajunya kok ganti neng?” tanya abang tukang nasi goreng itu heran karena tadi kak Adelia memakai mantel, bukan kaos basket ini.

“Hihihi ceritanya panjang bang. Gini bang, sebenarnya Adelia mau minta tolong sama abang, boleh yah?”

“Hah? ehm.. minta tolong apa yah neng?”

“Itu bang, tadi Adelia diikutin sama preman-preman motor dari mini market…”

“Ooh, si neng takut yah diikutin sama mereka?”

“Ummm… engga juga sih… Cuma lagi males aja meladeni mereka semua, hihi.. tolong yah abang..” pinta kak Adelia dengan nada centilnya yang membuat si abang mendadak seperti seorang pahlawan yang sedang dibutuhkan pertolongannya dari seorang gadis cantik.

“Kak..” bisikku pelan di telinga kakakku.

“Apa sih dek?”

“Yang bener nih kak minta bantuan nih orang?”

“Kita punya pilihan apa donk dek? Mau yah kakak disusul mereka?” ujar kak Adelia.

Aku yang tak punya pilihan seperti menaruh harapan pada penjual nasi goreng itu walau aku masih tak suka padanya. Jangan-jangan dia menolong kakakku karena ada maunya.

“Si eneng yang cantik tenang aja deh, abang bakal lindungi si neng sama adiknya yah. gini deh, neng sama adek ngumpet aja di balik semak-semak tanaman itu yah.. tunggu aman baru keluar..”

Si penjual nasgor itu memberi instruksi agar kami mengikuti perintah nya dan segera bersembunyi di balik semak-semak yang dia maksud. Cukup lebar, tapi harus berjongkok dengan sangat rendah bila kepala kami tidak ingin terlihat oleh mereka.

Sambil bersembunyi bersama kakakku, aku mengintip dengan penuh ketegangan dari sela-sela tanaman yang tidak terlalu tinggi ini, apalagi mereka memang berhenti di dekat abang nasi goreng itu sambil celingukan. Aku dengar mereka mulai ngobrol-ngobrol.

“Yang bener nih bang gak ada cewek lewat sini?”

“Beneran mas, gak ada yang lewat sini… apalagi cewek, malam malam, apa mas gak salah lihat?” jawab si abang dan bertanya balik berusaha meyakinkan mereka.

“Ah, salah lihat bagaimana… tadi baru keluar dari toko langsung belok kesini kok..”

“Wah, malam-malam ada cewek jalan-jalan, mas udah cek kakinya belum? Jangan-jangan gak napak deh..”

“Hei, bang! Jangan macam-macam ya! Tukang nasi goreng aja belagu amat.. jangan-jangan lo ngumpet tin mereka yah?” hardik orang yang badannya kelihatan besar itu. Keadaan mulai memanas hanya demi memperebutkan kakakku.

“Waduh mas, sabar donk… lagian ngapain saya pake ngumpet tin mereka, ada juga harusnya mas-mas ini yang pada ngumpet, hehe..” aku melihat si abang nasi goreng ini berani banget ngadepi mereka. Bahkan kak Adelia pun sampai terpesona melihatnya, bukannya terpesona padaku saat aku mengambilkan kaos buat dia, huh!

“Hah?! Maksud lo apa? Lo mau gue beri nih?!”

“Ya ampun mas-mas ini, saya ngga takut sih.. lha wong tinggal teriak aja orang sekampung pada keluar semua.. apalagi mas mirip sekawanan pembegal motor, gak takut dibakar yah? Atau mau jadi nasi goreng? Hehe..”

Aku baru ingat belakangan marak kawanan pembegal motor, dan warga juga sudah mulai berani karena jengah dengan tindakan sadis mereka, hanya saja geng yang ini tidak seperti kawanan pembegal motor, tapi tetap saja membuat mereka panik karena kulihat mereka mulai saling berbisik-bisik tak jelas.

“Yuk cabut! Udah malem bro!” ajak yang paling besar pada teman yang lainnya sambil terus menatap kesal pada penjual itu.

“Ati-ati ya mas, jangan bergerombol pulangnya, hehe..” ledek si abang nasi goreng itu yang berhasil mengusirnya demi melindungi kakakku.

Lega aku ketika melihat mereka sudah berlalu di tikungan, dan benar mereka ternyata berpencar, sepertinya takut apabila kena razia atau disangka kawanan pembegal motor.

“Udah kabur semua tuh kak?”

“Abang itu yang ngusir yah dek?”

“Kayaknya sih iya kak..”

“Keren yah dek, hihi..” Duh, kak Adelia malah terpesona begitu, tapi apapun itu aku hanya ingin cepat pulang membawa kakakku yang setengah bugil ini sebelum keadaan berlanjut kearah yang tidak kami inginkan.

Bersambung… Begitu keadaan sudah aman, aku melongok kan kepalaku dan berdiri dari tempatku sembunyi yang diikuti kakakku. Hanya saja kak Adelia malah langsung menghampiri abang penjual nasi goreng itu dengan gaya centil seperti anak kecil yang baru saja dilindungi orang dewasa yang lebih tua darinya.

“Makasih yah bang, udah nolongin barusan..” kak Adelia menyampaikan terimakasih dengan tersenyum manis sekali pada si penjual nasi goreng itu. Dengan mengenakan pakaian kaos seadanya seperti itu gak mungkin si abang gak bakal berpikir ngeres.

“Oh.. i-iya neng, gak masalah kalau itu sih.. masih kalah mereka semua sama abang mah, hehe..” si penjual mulai cari muka di depan kakakku yang cantik.

“Kalah apa yah bang? Kalah kuat yah? Hihihi..”

“Eh, anu neng.. i-iya, kalah kuat sama abang, hehe..”

“Ooh, jadi abang kuat? Bagus deh… jadi tenang Adelia, hihi..”

“Iya donk neng… tua-tua begini abang masih kuat lho neng, hehehe…” obrolan si abang penjual mulai melantur ke hal yang mesum, dikiranya aku anak kecil apa yang tidak tahu!

“Masa sih bang?” tanya balik kak Adelia yang menurutku malah justru memperdalam suasana yang mulai tak nyaman di telingaku ini.

Kurang kerjaan banget sih kakakku ini, bikin aku gemes pengen nyeret pulang aja, tapi seolah aku tak enak karena dia baru saja menyelamatkan kakakku, jadi aku coba untuk bersabar dulu sebentar. Lagi pula abang ini hanya ngobrol-ngobrol nakal saja dengan kakakku, asal tidak melecehkan saja.

“Oh iya dong neng, sampai malam aja abang masih kuat dorong-dorong gerobak, hehehe.. apalagi dorong-dorong yang lainnya neng..” dengan wajah cengengesan si abang mulai coba-coba ngomong gak jelas.

“Hihihi.. dorong-dorong apaan sih bang?”

“Yang bening-bening juga boleh dah didorong-dorong.. hehe..”

“Yeee si abang.. gerobak beningnya nabrak loh kalo didorong terus, hihi..”

“Yaaah si neng… kan ada abang yang pegangin gerobaknya, biar tidak nabrak tapi kan gak kemana-mana gitu, hehehe…”

“Hihihi… udah ah, abang gangguin Adelia terus, lihat deh adek Adelia ampe cemberut gitu. Abang ini ngomong apaan yah dek? hihihi” sambil masih terus bercanda dengan penjual itu kak Adelia cekikikan ngeledek kin aku juga yang terlihat tak suka obrolan mereka. Aku sangsi kalau kak Adelia benar-benar gak tahu apa yang dimaksud sama si abang penjual itu.

“Kak! Pulang yuk!”

“Oiya, udah malam nih.. Tapi gak enak sama si abang ini, masa udah nolongin kita tinggal gitu aja? Kita beli nasi goreng dua aja yah dek.. itung-itung bantuin si abang jualan”

“Ya udah deh, masaknya rada cepetan yah bang!” aku meminta dengan nada ketus karena sedari tadi hanya dijadikan seperti obat nyamuk saja.

“Sip deh neng, dua porsi yah.. makan di sini kan?” untuk kesekian kalinya aku jadi obat nyamuk dan hanya kakakku saja yang didengar.

“Ummm.. engga deh bang, dibungkus aja, Adelia ngga mungkin habis kalau makan di sini..” “Hehehe… neng Adelia mah mana bisa habis walau seharian juga… hehehe..”

“Adeeek, si abang ngomongnya mulai deh tuh, emang kakak makanan kali yah bisa dihabisin.. Hihihi..”

Semakin kesini aku justru berpikir seperti lolos dari mulut harimau malah nyemplung ke mulut buaya. Yup, si abang ini bener-bener buaya. Dari tadi cari kesempatan terus untuk memuaskan hasratnya ngomong mesum ke kakakku, seolah masih belum puas melihat belakang tubuh kakakku yang bugil tadi sebelum masuk ke mini market barusan, entah apa niatan si abang menahan-nahan kakakku.

Sambil masih memasak pesanan kami, aku memotong obrolan mesum si abang, “Jadi dua bungkus berapa bang?” dengan ketus aku agak menghardik.

“Ooh, jadi dua puluh dua ribu mas..” kata si abang sambil masih memasak mencoba curi-curi pandang melihat tubuh kakakku yang dia tahu hanya dibalut kaos basket yang longgar itu saja.

Karena ingin cepat pulang dan pergi dari sini, aku buru-buru ingin menyerahkan uang pada penjual itu dan merogoh saku celanaku. Tapi mana uang tadi!? Uang kembalian tadi tidak ada di kantong celanaku!

Aku baru tersadar saat tadi hendak menerima kembalian tadi kak Adelia langsung menggandengku tanpa aku sempat mengambil dari tangan si mas penjaga kasir. Aduh! Untuk kedua kalinya kami kekurangan uang, hanya saja yang sebelumnya kami berhasil lolos, tapi sepertinya tidak untuk kali ini. Kakak juga sih pakai beli nasi goreng segala.

“Kak! Bentar deh..” bisikku pelan pada kakak supaya mendekatiku. “Ada apa dek?” “Uangnya gak ada nih kak..” “Nah lho dek, kok bisa? Kan tadi ada kembaliannya dari mini market?” tanya kak Adelia yang ikut bingung.

“Kakak sih tadi pake nyeret Adelio langsung pergi, jadi lupa ambil kembaliannya..” “Masa sih dek? Hihihi… maaf yah, abis kakak udah tegang banget tadi..” “Terus apa aku ambil lagi aja yah ke mini market tadi kak?” ujarku pada kakak sambil bersiap hendak kembali ke mini market tadi yang jaraknya lumayan agak dekat itu.

“Ummm.. apa ngga ambil di rumah aja dek?” “Lho kok malah di rumah kak?” aku tambah bingung mendengar kak Adelia dan penasaran dengan penjelasannya.

“Coba deh dek, kalo si mas penjaga kasir akhirnya sadar kaos ini barang yang dijual di sana, gimana hayo? Kalau uangnya kurang adek tetep harus ambil uang di rumah kan?” jelas kak Adelia padaku. Tapi aku malah bingung lagi, apa aku ajak sekalian kakakku pulang untuk ambil uang di rumah?

“Kakak ikut aja deh!” “Yeee adek, masa abangnya lagi masak ditinggal sih? Gak enak lho udah nolongin kita tadi..”

“Ah kakak, ditinggal bentar juga ga pa-pa kan?” “Ya udah, kakak tanya yah dek..” kata kak Adelia sambil menoleh ke abang meninggalkan acara bisik-berbisik kami barusan.

“Abaang… Adelia uangnya kurang nih, ditinggal dulu yah mau ambil di rumah?” “Ya udah gapapa, tapi anu neng, alamatnya si neng dimana yah? Maksudnya biar abang antar gitu nasi gorengnya, hehe..”

“Aduuh, pake pengen tahu rumah Adelia segala, gak jadi deh, hihihi… biar adek aja yang ambil uangnya… yah dek..” tiba-tiba kak Adelia merubah pikirannya yang awalnya hendak pulang bareng malah jadi pengen tinggal di sana nemenin si abang mesum itu.

“Kak Adelia!” bisikku lagi sambil menatap heran kenapa malah merubah keputusan mendadak.

“Duh dek, dengerin deh, kebayang gak sih dek kalo si abang jadi tau rumah kita… adek pengen dia mampir terus nungguin kakak tiap malem? Iya?” jawab kak Adelia balik bertanya menunggu keputusanku yang sepertinya jadi buah simalakama buatku. Tak ada jalan lain kecuali pergi secepat kilat agar dapat kembali menyusul kakakku.

“Tapi kakak jangan yang aneh-aneh lagi yah?” “Duuh, kakak kapok deh tegang kayak tadi dek, kakak kira aman lho..” “Uuugh, kakak sih nakal…” “Tapi kalo adek yang kelamaan, jangan salahin kakak kalo kumat lagi yah? Hihihi..”

“Aaah kak Adeliaa!” “Makanya, gih cepetan ambil uangnya yah..”

Saat aku hendak mengambil langkah seribu, mungkin sepuluh ribu demi kakakku tidak macam-macam lagi, tiba-tiba kak Adelia mendekatkan mulutnya ke telingaku sambil berbisik..

“Adeeek, gara-gara eksib semalaman, bawah kakak jadi banjir nih deek, cepet bawa kakak pulang yah.. hihihi…” kak Adelia mengutarakan sambil menggigit bibir bawahnya dan mengatupkan kedua pahanya rapat-rapat hingga saling bergesek-gesek seolah ingin memperlihatkan betul bahwa kak Adelia lagi horni banget. Mendadak otongku mencuat keras mempersempit celanaku.

“Aduh kakaaak… aku jadi pengen nih kaak..” “Makanya cepetan… si adek gak mau keduluan kaaan?” dengan menatapku genit aku tak mengerti maksud kak Adelia. Adek itu akukah atau adek kecilku yang meronta-ronta di balik celanaku? Aku memang harus cepat-cepat menuntaskan malam ini.

Sambil meninggalkan kak Adelia dan si abang itu aku masih sempat melihat mereka mulai ngobrol-ngobrol lagi. Mudah-mudahan tidak terjadi hal yang tidak aku inginkan, seperti melihat kakakku kembali berbugil ria dan membuatku panik semalaman.

Sesampainya di rumah aku langsung mengambil uang dua puluh dua ribu dari dompetku sambil melempar minuman kaleng ke sembarang tempat yang kak Adelia beli tadi di mini market. Sungguh kebetulan bahwa minuman itu adalah susu kedelai kalengan, mengingat guarauan mesum geng motor tadi tentang susu kakakku.

Dengan gerakan yang cepat aku langsung keluar kamar dan ingin segera keluar rumah menyusul kakakku, tapi belum sampai keluar pintu rumah hp ku berbunyi, kak Adelia!

“Adeek, buruan doonk. Si abang pengen liat punggung kakak lagi nih. Gimana nih dek?”

Terperanjat aku melihat pesan dari kakakku. Aku pun membalasnya dengan hati panas karena tak rela kakakku dicabuli seorang tukang nasi goreng yang udah berumur itu. Tiba-tiba terbayang tangannya yang dekil dan berminyak karena menggoreng itu hendak menggerayangi tubuh kakakku yang putih bersih.

“Duh kakak pergi aja deh dari sana!”

Hal yang kutakutkan sepertinya bakal terjadi Setelah dengan tegang menunggu beberapa saat, pesan dari kakak masuk lagi.

“Dek, ayo buruan. Si abang udah kelar bikin nasi gorengnya tuuh. Dia ngeliatin kakak terus nih..”

Belum sempat aku membalas pesan brikutnya sudah masuk satu pesan lagi, seolah seperti tak mengijinkaku untuk berpikir logis lagi harus bagaimana akunya.

“Adeeek. Abangnya item banget iih..”

Seperti orang bodoh yang tersadar dari hipnotis aku langsung beranjak pergi keluar dari rumah dan menutup gerbang. Kenapa aku malah terdiam membaca pesan dari kakakku? Tak bisa kupungkiri kalau aku malah membayangkan yang tidak-tidak lagi tentang kakakku yang mana seharusnya aku melindungi kakakku. Aku benar-benar tak tertolong menghadapi khayalan mesum tentang kakak kandungku sendiri. Bahkan di saat genting seperti ini. Tapi tetap saja aku panik karena tak ingin hal buruk menimpa kakakku.

Seperti orang kesetanan di tengah malam, aku berlari kembali menuju tempat kak Adelia dan penjual nasi goreng tadi. Sambil sesekali aku mengintip hapeku kalau-kalau ada pesan masuk lagi dari kakakku. Entah perkembangan berita apa yang kunantikan, aku sendiri jadi rancu. Apalagi sepanjang perjalanan menuju kesana tidak ada pesan masuk lagi. Saat ini aku hanya berharap kak Adelia masih ada di sana.

Sesampainya di sana aku melihat lampu petromak gerobak abang itu, tapi begitu mendekat aku tak melihat seorang pun di sana. Jantungku yang sudah berdegup kencang karena berlari tadi kini semakin kencang karena cemas tak mendapati kakakku di sini. Sambil melempar pandangan ke segala arah dengan panik aku bersiap berteriak memanggil kakakku, hingga aku mendengar suara air seperti seseorang sedang mencuci. Suara itu datangnya dari semak tempat ember dan piring-piring kotor milik abang penjual nasi goreng tadi. Kulihat si abang sedang berjongkok di balik semak itu sambil mencuci piring, kuketahui itu karena suara kecipak air saat membasuh piringnya.

“Bang! Kakak saya mana?!” hardikku yang sudah malas berbaik-baik dengan orang itu karena aku lebih mengkhawatirkan keadaan kakakku yang tak ada di tempat ini.

“Oh anu den.. tadi kakaknya langsung pergi tuh.. gak tau deh kemana.. pulang kali yah?” “Hah? Pulang? Serius bang?!” tanyaku panik, dan berpikir jangan-jangan kak Adelia niat mau eksib dan gangguin aku lagi.

“Iya den, tadi ada di sini.. itu nasi goreng juga belum dibawa den, karena kelamaan saya tinggal nyuci dulu… maaf yah den, lagi nanggung nih cuci-cucinya..”

Pikiranku berkecamuk tak karuan. Badan jadi terasa lemas. Pikiran buruk berkecamuk di kepalaku, bertubi-tubi mengantri untuk membuatku cemas. Pergi kemana kakakku ini?

Tanpa menunggu lagi karena percuma bila hanya berdiam di sini, aku menaruh uang di gerobak dan mengambil bungkusan nasi goreng tadi. Entah siapa yang mau makan aku tak tahu. Aku hanya ingin mengetahui kemana sekarang kakakku berada.

“Tadi lewat mana bang kakak pergi?” “Lewat sana kayaknya deh..” tunjuk si abang sambil masih mencuci piringnya. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju ke arah yang ditunjuk si abang.

Sambil terus menyusuri jalan dengan panik, akhirnya aku sampai di dekat rumahku lagi. Dan seperti tak ada tanda-tanda kalau kak Adelia sudah pulang, aku membuka pagar rumah dan membiarkannya terbuka sambil masih terduduk lemas di kursi teras rumahku.

Hari semakin larut tapi kak Adelia belum kelihatan juga, yang bisa kupikirkan hanyalah kakak saat ini sedang berada di luar rumah dengan hanya mengenakan kaos saja. Malam-malam berkeliaran perempuan cantik dan seksi, pasti akan mengundang kriminalitas.

Aku membayangkan kakakku dipergoki orang-orang jalanan, lalu diculik, dan untuk menelusuri khayalan berikutnya malah antara membuatku tegang panik dan tegang tak jelas. Duh, kakak cepet pulang doonk… tega amat sih ngerjain adik sendiri sampai seperti ini..

Tak berapa lama ketika aku masih duduk di luar aku mendengar langkah seseorang mendekat kerumahku. Tiba-tiba muncul seseorang dari balik pagar yang masih terbuka seperti hendak mengagetkanku.

“Adeek! Nungguin kakak yah?” “Kakak! Kakak jahat godain aku terus!” “Hihihi.. adek khawatir yah? Maafin kakak deh..” “Ngga ah.. aku gak mau maafin!” sambil merajuk aku pergi meninggalkan kakakku yang tertawa cekikikan menggodaku. Padahal melihat kakakku yang hanya berkaos longgar dan mempertontonkan auratnya dari lengan, atas dada, hingga paha dan kakinya yang putih itu saja sudah hampir melunakkan rasa kesalku padanya. Terutama ketika kak Adelia tersenyum seperti anak manja yang takut dimarahi olehku.

Sambil terus menuju kedalam rumah aku duduk di ruang tengah sambil melipat kedua tanganku di depan dadaku. Seperti ingin menunjukkan padanya bahwa aku tak suka diperlakukan seperti ini. Walau sebenarnya aku setengah mati ingin memeluk kakakku. Apalagi kami sudah berada di rumah lagi, dan hanya berdua tanpa ada siapa-siapa. Otongku seperti berusaha menenangkan hatiku yang sedang panas dengan mengacung-acung membujukku untuk memeluk kak Adelia.

“Adeeek… jangan marah lagi doonk..” ujar kak Adelia duduk di sebelahku. “…” aku hanya diam saja tak membalas kak Adelia.

“Deek.. kakak sedih tau kalo adek marah.. hihi.. udahan donk deek..” “Kakak tuh nyebelin…” “Adek khawatir yah sama kakak?” ujarnya sambil melihatku dengan manja, aku benar-benar diuji untuk tetap merajuk atau menyerah di hadapannya.

“I-iya kak.. adek khawatir banget kalo terjadi apa-apa sama kakak…” “Ya ampuun… adek baik banget deh sama kakak, maafin kakak yah…” “Kakak nakal, sukanya godain aku terus… rasanya pengen iket kakak biar di rumah aja…” “Iiih, kok kakak pake diiket segala sih dek?”

“Biar kakak gak godain aku lagi..” “Ummm… bukannya adek suka yah kalo kakak godain kayak gitu? Hihihi…” sambil bicara agak mendesah kak Adelia menatap genit padaku dengan masih mengenakan kaos itu, paha putihnya terpampang di depanku dengan indah, seolah aku dapat melihat bulu halus yang tumbuh dipermukaan kulit beningnya itu. Jebol sudah pertahananku..

“Aahhh, kakaaak..” “Aaahh, adeek.. hihihi..” kak Adelia menggodaku dengan mengikuti nada bicaraku.

“Aku iket nih kalo kakak nakal terus ke aku ya..” ancamku pura-pura sambil mulai ubah posisi duduk sambil menghadap kakakku. “Adeeek, kalo kakak diiket jadi gak bisa kemana-mana doonk.. adek mau yah kak Adelia jadi penjaga rumah?”

“Iya kak, kayak anjing betina, hehehe..” “Huuu… enak aja ngeledek kakak”

“Kak, kakak tadi pergi kemana sih?” “Ummm… kemana yaaah..” “Aaah, kakak mulai deeh, serius nih kak. Kakak tadi eksib lagi yah?”

“Engga.. kakak engga kemana-mana kok dek…” jawabnya enteng sambil pegang-pegang kaosnya sendiri. kulihat dengan seksama pada kaos itu seperti ada basah-basah pada bagian kerah dan potongan bagian bawahnya. Padahal di luar engga hujan, basah dari mana?

“Kak! Serius doonk..”

“Iiih, adek beneran pengen tau nih?”

“Iya!”

“Tapii.. adek gak boleh marah yaa..” katanya sambil bersiap menceritakan sesuatu.

“jangan marah”, tapi kini malah aku yang.

“tidak boleh marah”, aku khawatir apa yang akan diceritakan akan membuat telingaku menjadi panas dan meradang. Tapi karena aku selalu penasaran dengan apa yang ia lalui, dan biasanya selalu membuatku panas dingin, aku seperti siap mendengarnya. Ia pun lanjut mulai bercerita.

“Ummm.. adek tadi datang sambil lari-larian yah?”

“Hah?!”

“Terus tanya-tanya kakak ada di mana, lalu si abang bilang kakak udah pulang kan?”

“K-kok.. kakak tau? Kakak memangnya di sana?” tanyaku mulai gelagapan, bagimana kak Adelia bisa tahu semua detil ketika aku menyusulnya kesana?

“Sebenarnya kakak masih ada di situ kok dek..”

“Loh, tapi aku gak melihat kakak tadi?”

Aku mulai bingung, kalau kak Adelia ada di sana, dimana dia berada? Apakah dia sengaja bersembunyi dan mengintip ku? Tapi ngapain? Aku jadi teringat saat kak Adelia mengirim pesan singkat tadi.

“Jadi waktu adek pergi tadi si abang mulai godain kakak..”

“Duh, orang gak tahu diri tuh, udah dibeli dagangannya, masih aja kurang ajar!”

“Iya tuh dek, masa pantat kakak dicolek-colek… mana adek tau sendiri, kakak kan gak pake daleman apa-apa.. geli tau dek, tangannya kasar banget..”

Seperti kaget dan terpaku dengan nafas tercekat aku terhipnotis mendengar cerita kak Adelia, seolah aku seperti ingin tahu lanjutannya walau setengah tak rela kakak kandungku yang cantik ini diperlakukan tak senonoh oleh pedagang sialan itu. Tanpa menunggu reaksiku kak Adelia terus melanjutkan ceritanya.

“Makanya kakak tadi sms adek…”

“Uugh kakak.. supaya adek cepat jemput kakak pulang tadi yah?”

“Ummm… iya juga sih…” sambil menjelaskan matanya agak beralih dariku sebentar, aku tak mengerti maksud kak Adelia dengan jawaban yang seperti tak yakin itu.

Aku malah makin penasaran dengan semua ini, misteri apa yang sedang kak Adelia simpan dariku.

“Kurang ajar tuh abangnya grepe-grepe kakak!” sambil bersungut aku melirik kearah tubuh kakakku yang masih berkaos itu dengan paha terumbar.

Kok malah aku jadi kepingin ikut grepe-grepe kakakku sendiri yah? Ugh, kacau sudah pikiranku.

“Tau ngga sih dek, si abang tadi minta tolong sama kakak untuk bantuin dia, karena kakak pikir udah bantuin kita, apa salahnya balas budi dikit..”

“Emang dia minta tolong apaan sih kak?” tanyaku seperti malas, tapi penasaran yang malah membuatku tersiksa.

“Minta tolong cuciin piring kotor dia..”

“Hah?”

“Makanya tadi kakak tau kalo adek datang nyariin kakak..”

“Jadi?! Waktu aku datang kakak ada di balik..”

“Iya dek.. mana kakak lagi nyuci kejorok badannya ampe nungging deh kakak..”

“Uuugh, kakaaak! Jadi tadi kak Adelia… sama abang itu…”

“Abisnya si abang main dorong-dorong aja tuh dek… oiya dek, gak ngeluarin burungnya? Hihihi..” bisa-bisanya setelah diperlakukan tak senonoh oleh si abang itu malah menyuruhku untuk coli, walau aku cemburu dan sebal, tetap saja aku mengeluarkan rudalku, aku tak tahan membayangkan kakakku tengah didorong-dorong oleh orang seperti itu.

“Uugh.. kakak nakal banget siih, mau-mauan sama dia..” “Apaan sih adek, kakak dipaksa tau… lagian adek kelamaan datangnya..” “Kalo aku tadi cepat datang, emang kakak mau langsung pulang?”

“Ummm.. ngga tau juga dek, hihi.. emang adek gak mau liat kakak didorong-dorong dari belakang sama abang itu yah?” aku kaget mendengar penuturannya. Benar-benar nakal kakakku ini.

Aku malah jadi ikut membayangkan seperti apa adegan yang mereka lakukan yang gilanya lagi dilakukan saat aku masih ada di sana.

“Tuh kan! Kakak nakal, kakak perempuan binal!” ledekku habis-habisan ke kakakku yang nakal itu, aku lebih tak terima karena bukannya melakukan denganku tapi malah dengan orang-orang tak jelas seperti tukang nasi goreng itu. Aku benar-benar iri!

“Iiih adeek, kok kakak dibilang binal siih? Huu huu..” jawabnya seperti pura-pura menangis, tapi tubuhnya malah makin condong dan menempel pada tubuhku, bahkan aku mendengar nafas mulai berat. Masih melanjutkan godaannya kakak pun cerita lagi..

“Si abangnya tuh yang nakal, udah tau sempit, masih maksa masuk terus… kakak yang lagi nyuci piring ampe basah-basahan begini deh..”

Terjawab sudah kenapa pakaiannya basah, ternyata kak Adelia disuruh cuci piring sambil didorong dari belakang. Mendengar kak Adelia yang sempit dipaksa masuk oleh si abang membuat kocokan ku semakin kuat, aku hanya bisa membayangkan seperti apa ekspresi kakak saat si abang memaksa masuk di tengah kakak sedang mencuci piringnya. Kakakku benar-benar jadi mainan buat orang sialan itu malam ini.

“Uuughh.. kakaaak..”

“Mana gede banget lagi tuh ‘itemnya’ si abang, perut kakak kayak penuh dek, hihihi..”

“Kakak jahaat! Tadi aku panggil juga diem aja… kakak sengaja yah?” hardikku merana tak tahan melawan siksaan kakakku.

Kakak yang sehari-hari berhijab dan dikenal sopan pada tetangga tetangga benar-benar dientot dan digenjot tukang nasi goreng.

“Itu dia deek…”

“Kenapa kaak?”

“Sebelum adek dateng, waktu si abang menyetubuhiin kakak dari belakang.. katanya kakak berisik banget dek, kakak jejerit aja sekalian biar dia kelabakan, hihihi.. lucu tau dek liat dia panik..”

“Terus waktu aku datang kenapa kakak diem aja sih kak?”

“Ummm… mulut kakak di sumpel pake celana dalam dia dek, kurang ajar gak sih tuh abang…”

Mendengar cerita kakakku aku semakin panas dan kocokan ku makin kuat, antara rasa cemburu mendengar perlakuannya pada kakakku yang semena-mena, dan rasa ingin melihat kakakku yang cantik dan tak ternoda itu dikotori oleh orang-orang seperti mereka.

“Uugh kakaak.. aku gak tahan kaak, kakak perempuan nakal! Suka dientot tin sama orang-orang jelek! Kakak binal!” hinaku pada kakakku yang justru membuatku semakin mempercepat kocokan ku sambil melihat wajah kakakku yang cantik dan putih bersih tanpa noda itu.

“Uuugh.. adek nakal yaah, ngeledek kakak teruss.. terus dek ngocoknya.. suka yah? Ayoh dek..” pancing kakakku sambil wajahnya mulai memerah dan nafasnya terdengar makin berat.

Bahkan suaranya mulai mendesah-desah membuatku membayangkan ekspresi inikah ketika kakak digagahi abang itu? Benar-benar membuat kepala atas dan bawahku mulai berkunang-kunang.

“Tau ngga sih dek waktu adek pergi ninggalin kakak sama si abang itu berduaan lagi?”

“Ughh.. kenapa kak?”

“Selesai kakak dientot di balik semak-semak, waktu mau pulang kakak masih dientot lagi di samping gerobak…dua kali loh kakak disemprot dalam rahim, mana ampe berlapis-lapis lagi nih kakak.. gila tuh abang… huh..”

“Aaaarrgghh! Kakaak nakaal!”

CROOOT! CRROOTT! CRROOTT!

Peju ku muncrat berhamburan dengan derasnya keatas dan mengenai dagu kak Adelia yang terkaget-kaget melihat semprotan peju kental ku yang hangat menempel pada dagunya. Sebagian mengotori lenganku sendiri dan pahaku. Entah dari mana datangnya kekuatan semburan ini, tapi yang pasti aku tak tahan setiap mendengar cerita apa yang dialami kakakku. Bahkan lebih dahsyat ketimbang aku coli sendirian.

“Adeeek.. deres banget pejunyaa.. nakal nih adek. Suka yah kalo kakak beneran dientot orang asing? Hihihi..”

“Hah?! Maksud kakak?”

“Apaan sih dek.. Udah ah, kakak mandi dulu yah… kotor nih diajakin maenan sama si abang di atas rumput… abang gelo tuh..”

“Ah kakaaak! Tungguuu! Kakak beneran ngga sih tadi itu?”

“Apaan sih deek, hihi.. dag adeek..”

“Ah kakaak!”

Semenjak kejadian terakhir beberapa minggu yang lalu kak Adelia sepertinya agak kapok untuk keluar-keluar bugil lagi, sepertinya sih. Semoga kak Adelia memang tidak exsib lagi sendirian di luar sana tanpa sepengetahuanku.

Tapi tetap saja kebiasaan kakakku yang suka menjahili ku tidak pernah hilang. Seperti mengembalikan kegiatan normal harianku, yaitu memeluk kakakku seharian yang selalu diakhiri dengan menodai tubuh seksinya dengan pejuku.

Tapi setelah beberapa kejadian yang ku lalui sampai saat ini, fantasiku pada kakakku kini semakin nakal. Awalnya aku memang tak terima mengetahui kakakku diperlakukan tak senonoh oleh orang asing yang baru saja kami kenal, bagaimanapun ia adalah kakakku, dan aku sangat menyayanginya meskipun aku terobsesi pada kakakku sendiri.

Obsesi ku pada kak Adelia kini semakin liar saja. Baik dengan pakaian sopan maupun pakaian minim, tetap saja pikiran kotorku selalu membayangkan yang tidak-tidak tentang kakakku. Apalagi selama ini aku belum pernah benar-benar melihat secara langsung apakah kakak benar-benar dicabuli dan berbuat yang tidak-tidak dengan mereka-mereka yang pernah bersama dengan kakakku.

Entah itu disengaja atau tidak, Kak Adelia jadi sering sekali berpakaian minim dan sembarangan kalau di rumah. Bahkan menerima tamu juga dengan pakaian yang sembarangan, hanya pada teman teman nya dan orang-orang komplek saja dia mau muncul dengan pakaian yang sopan dan berjilbab.

Tapi kalau hanya ada aku, atau di depan teman-temanku, ataupun saat menerima tamu asing seperti peminta sumbangan atau pengantar makanan, kak Adelia selalu berpakaian minim dan mengumbar auratnya yang indah itu. Setiap dia menerima tamu asing pasti aku selalu dibikin deg-degan dan panas dingin.

Tidak hanya aku tentunya, tetapi juga tamu itu sendiri. Siapa sih yang tidak dibikin berdebar jantungnya dan mupeng berat saat melihat penampilan kakakku yang seksi itu? Dari peminta sumbangan, pengantar makanan, sampai tukang nasi goreng pernah melihat betapa seksinya kakakku ini. Bahkan menurut penuturan kakakku beberapa diantara mereka ada yang sempat mencicipi kenikmatan tubuh kakakku.

Walau tak terima, namun tak ku pungkiri kalau aku sendiri jadi ngaceng setiap mendengar ceritanya itu, karena aku memang sering dari dulu berfantasi membayangkan kak Adelia yang cantik dan sopan di mata masyarakat itu mau dinodai oleh orang-orang seperti mereka.

Belakangan ini aku sendiri jadi suka membayangkan kakakku ketika bersama tukang ayam bakar, bapak-bapak yang pernah disenggol mobilnya yang entah sopir atau bukan, lalu tukang nasi goreng dan bayangan-bayangan itu selalu membuatku terangsang dan selalu merasa tak puas apabila hanya membayangkannya saja. Apakah aku memang ingin kakakku mengalami hal itu kembali?

Saat ini aku sedang asik-asiknya nonton tv, dan kakakku sedang ada di kamarnya yang entah sedang apa.

“Deek… nanti kasih tau kakak yah kalau ada temen kakak yang datang, dia mau ambil kardus pakaian bekas layak pakai buat disumbangin ke panti asuhan” pinta kak Adelia padaku dari kamarnya.

Aku jadi ingat beberapa hari yang lalu kak Adelia memintaku untuk mengumpulkan pakaian bekas layak pakai dariku. Kak Adelia memang rajin mengikuti kegiatan bakti sosial bersama teman-teman kampus nya, seperti ke yayasan-yayasan panti asuhan untuk membantu memberi sumbangan kepada anak-anak yang terlantar dan butuh bantuan.

Bahkan terlalu sering sampai aku sendiri kadang mendapati kakakku masih sibuk di luar saat aku pulang, tidak lama kemudian terdengar suara motor yang dilanjutkan dengan ada orang yang mengetuk pintu rumah sambil mengucapkan salam. Apa itu teman kak Adelia? Tapi dari suaranya sepertinya bukan. Suara pria tua!

“Kak, kayak ada yang datang tuh…” ujarku memberi tahu kak Adelia.

“Teman kakak yah dek?” kak Adelia bertanya sambil melonggarkan kepalanya keluar dari celah pintu kamarnya.

Melihat rambut indahnya yang terjuntai indah itu sepertinya kak Adelia baru akan memakai jilbabnya.

“Kayaknya bukan kak… dari suaranya seperti orang tua kak, mana langsung masuk pagar dan ketok pintu rumah lagi”

“Orang tua? Apa mungkin dari dari yayasan yah?”

“Aku atau kakak nih yang bukain pintu? Kakak aja yah..” tanyaku saat kak Adelia masuk lagi kedalam kamarnya. Sepertinya mau bersiap siap menerima tamu.

“Iya deh… kakak aja yang buka” jawab kak Adelia dari dalam kamarnya.

Aku memang selalu berfantasi nakal pada kakakku yang cantik ini, jadi aku selalu membiarkan kak Adelia saja yang menerima tamu asing, namun diam-diam aku tetap selalu menjaga kakakku dari orang yang suka berbuat iseng pada kakakku.

Ketika kak Adelia keluar dari kamar aku setengah terperanjat melihat busana yang dikenakan oleh kakakku, kali ini kak Adelia menerima tamu yang entah siapa hanya dengan memakai kemeja. Kemeja putih lengan panjang, yang memang cukup dalam sampai menutupi pantatnya, namun paha putih mulusnya tetap terpampang bebas untuk dipandangi dengan leluasa.

Tapi sepertinya kak Adelia tidak mengenakan apa-apa lagi di balik itu. Dan benar saja! Cuma kemeja putih itu saja yang ia kenakan! Kemeja yang bahkan hampir transparant! Aku yang gak tahan melihat pemandangan menggoda itu otongku langsung menegang keras, jadi pengen onani saat itu juga.

Aku akhirnya hanya mengintip dari kejauhan sambil membayangkan hal yang tidak-tidak pada kak Adelia.

“Eehh… non Adelia?” ujar bapak peminta sumbangan itu terlihat sumringah saat kak Adelia membukakan pintu. Aku seperti ingat sebelumnya siapa peminta sumbangan itu..

“Eh, Pak Amin, apa kabar?” sambil menjabat tangannya kak Adelia tersenyum sangat manis.

Ternyata lelaki itu adalah Pak Amin! Orang yang dulu pernah minta sumbangan ke rumah. Mau apa lagi dia ke sini!?

“Silahkan masuk dulu Pak… duduk dulu” ajak kak Adelia ramah kemudian. Lagi-lagi dia mengajak orang yang tidak jelas masuk ke dalam rumah. Ampun deh kakakku ini.

Aku lihat Pak Amin terus menatap tubuh kak Adelia dengan leluasa, tidak seperti dulu yang hanya dibatasi pagar rumahku. Tentunya dengan pandangan mupeng penuh nafsu. Ku yakin Kak Adelia sadar kalau dia sedang dipandangi cabul oleh pria tua lusuh itu, tapi dia malah berlagak cuek. Posisi duduk kak Adelia agak miring sehingga paha mulusnya yang terpampang bebas di hadapan pak Amin.

“Makasih ya non sebelumnya untuk niat non mau bantuin pondok panti asuhan di tempat saya, hehe..” sambil cengengesan matanya kulihat tak berhenti jelalatan melihat kakakku.

“Sama-sama Pak, biasa aja kok”

Ternyata pak Amin ini adalah salah satu pengurus pondokan panti yang dikunjungi kak Adelia beserta teman-temannya waktu itu dalam sebuah acara amal kampus!

“Tapiii.. kok non Adelia gak pake jilbab? Terus pakaiannya ini…” kata Pak Amin sambil menelan ludah. Aku rasa pak Amin mulai sadar kalau kak Adelia tidak memakai apapun lagi di balik kemeja itu.

Aku yang melihat dari jauh saja bisa langsung tahu kalau kak Adelia tidak memakai apapun lagi dibaliknya, apalagi oleh Pak Amin yang tepat duduk di depannya.

“Begini gimana sih Pak?” tanya kak Adelia pura-pura tidak mengerti.

“Itu… bajunya… terbuka gitu… auratnya nampak lho…”

“Hmm… kan di rumah aja pak… lagian cuacanya panas banget” jawab kak Adelia santai.

“Ohhh… gitu, iya juga yah non… gerah nih, hehe..” ujar pak Amin manggut-manggut namun matanya tetap terus memandangi tubuh kakakku ini, terutama pahanya.

Aku yang melihat pemandangan ini jadi semakin panas dingin. Kaka kku yang cantik bening putih mulus dengan pakaian minim sedang bersama pria tua lusuh. Sungguh kombinasi pemandangan yang bikin darah berdesir. Aku jadi berpikir jorok seandainya pria tua itu kini yang menyetubuhiin kak Adelia. Menggenjotnya dengan liar sampai menumpahkan pejunya di dalam serambi lempit kak Adelia.

“Emang kenapa pak dengan pakaian saya?” tanya kak Adelia menyadarkan lamunan mesum pak Amin juga lamunan mesum ku.

“Eh, nggak… cuma kan waktu itu non ke tempat kami pake jilbab, baju non Adelia waktu itu sopan banget” jawab pak Amin seperti sengaja mengarahkan kak Adelia.

Ya, waktu itu tentu saja kak Adelia berpakaian sopan lengkap dengan jilbabnya, berbanding terbalik dengan saat ini yang hanya memakai kemeja putih tipis, setelan yang sangat memamerkan aurat.

Aku hanya bisa membayangkan apa isi kepala orang ini setiap kali bertemu dengan kakakku. Apakah acara yang bersifat amal untuk ibadah itu mampu membersihkan isi kepala yang sudah kotor semenjak bertemu kak Adelia dari balik pagar itu? Rasanya tak mungkin, apalagi melihat posisi duduknya sekarang yang sudah seperti orang tak nyaman lagi, entah apa yang mengganjal di bawah sana.

“Hihihi… Tapi tetap cantik kan pak?” tanya kak Adelia malah menggoda bapak itu.

“Cantik dong… malah lebih cantik begini, hehehe”

“Huuu… Pak Amin ini bisa aja”

“Emang di rumah gak ada orang ya non?” tanya pak Amin.

“Ada kok, ada adik nya Adelia di rumah”

“Terus emang adiknya non gak risih lihat kakaknya pakai baju seperti ini? Adiknya non cowok bukan?”

“Iya… adek saya cowok Pak… masak risih segala? Kan kakak sendiri, hihihi… kalau gak percaya tanya aja sendiri” jawab kak Adelia sambil tertawa renyah, kemudian tiba-tiba kak Adelia memanggilku.

“Deeeek, sini deeh..” teriak kak Adelia.

Duh, kak Adelia ini ngapain sih manggil aku segala!? Aku yang bingung kenapa dipanggil akhirnya keluar juga menemui mereka. Aku lalu bersalaman dengan pak Amin dan duduk bersama mereka di sana.

“Itu… Emm… Kamu beneran gak masalah lihat kakakmu pake baju kayak gini?” tanya Pak Amin benar-benar menanyakan hal itu padaku.

“Ng…nggak sih Pak…”

“Emang kamu gak nafsu? Hayo, jawabnya yang jujur…” tanya Pak Amin lagi seperti mengintrogasi ku, sepertinya penasaran apakah aku punya nafsu atau tidak terhadap kakak kandungku sendiri.

“Nafsu sih… hehehe” jawabku apa adanya mengingat dia orang asing yang bukan dari daerah sini sehingga aku tidak peduli, karena aku memang benar-benar sedang bernafsu melihat kakakku sendiri. Mendengar jawabanku kak Adelia langsung mencubit gemas perutku.

“Dasar kamu ini… jangan bilang kalau burungmu ngaceng sekarang?” ucap kak Adelia dengan wajah pura-pura kesal.

“Emang ngaceng kok kak…” kataku makin berani yang dibalas lagi dengan cubitannya. Bahkan seperti tak bisa ku tahan lagi, aku kembali nyerocos..

“Kakak sih pake baju begitu mana tahan coba, aku kan cowok tulen juga. Kak Adelia udah cantik kayak bidadari, imut, bening, terus pakai baju kayak gitu. Siapa yang gak nafsu coba? Iya kan pak?” kataku sengaja menanyakan pendapat pak Amin.

“Eh, I..iya… tuh kan Non Adelia, adek non Adelia ternyata nafsu lho sama non, hehe” ujar Pak Amin.

“Tau nih pak, saya juga baru tahu, hihihi beneran dek? Berarti kamu sering dong menghayal yang jorok-jorok tentang kakak?” tanya kak Adelia padaku.

“Se-sering kak…” jawabku agak malu. Aku tidak menyangka kak Adelia akan bertanya seperti itu di depan orang lain, namun ku jawab saja.

“Kamu ini… emang menghayal apa aja?” tanya kak Adelia lagi seolah mengarahkan ku, tapi seperti kesempatan buatku inilah saatnya aku mengungkapkan lagi keinginan terdalam ku, yang bedanya kali ini di depan orang asing.

“Ummm… ngayal bisa menyetubuhi dengan kakak…”

“Hah? Adeeek.. kita itu saudara kandung tahu… masak kakak dientot sama adek sendiri sih? Hihihi, mesum! Terus apa lagi dek? Itu aja?” tanya kak Adelia yang sepertinya juga sangat tertarik dengan semua khayalan jorok ku padanya.

Dia sepertinya tidak malu lagi bertanya seperti itu padaku di depan tamu itu. Entah apa yang membuatnya begitu.

“Masih ada lagi kak…”

“Apa tuh dek? Keluarin aja semua khayalanmu tentang kakak, kakak pengen dengar loh… Kamu pengen kakak di boboin sama siapa aja yah?”

Mendengar perkataannya itu sungguh membuat aku jadi panas dingin, kenakalan dan kenekatan kakak sepertinya muncul lagi. Sungguh pertanyaan yang tidak pantas dari seorang kakak pada adik nya. Tapi dengan kondisi pikiranku yang sudah kotor dari kemarin kemarin akhirnya ku utarakan juga semua fantasi liarku padanya.

“Aku juga sering ngebayangin kakak waktu sama tukang ayam bakar, bapak-bapak yang bawa kak Adelia sampai malam, juga tukang nasi goreng waktu itu..” jawabku dengan suara pelan mengungkap kan semuanya.

“Ya ampun dek…. Masih penasaran yah adek? Hihihi… Berarti barusan ini kamu ngehayalin kakak digituin Pak Amin juga dong?” tanya kak Adelia menebak sambil melirik ke arah pak Amin. Terang saja pak Amin jadi salah tingkah dan menelan ludah.

“I-iya kak…” jawabku malu karena isi pikiranku ketahuan olehnya.

“Emang kalau kejadian kamu mau ngelihatnya dek?” tanya kak Adelia dengan lirikan nakal yang membuat aku berdebar mendengarnya.

“M..maksudnya kak?”

“Iya, kalau kakak akhirnya beneran di-en-tot-tin Pak Amin, kamu pengen lihat?” tanya kak Adelia dengan nada suara lirih menggoda, bikin rudalku makin ngaceng saja dibuatnya. Ku lihat Pak Amin juga terkejut dan terdiam saja mendengar ucapan kakakku barusan.

“Ga-gak tahu deh kak…” Aku memang tidak tahu apa yang akan ku lakukan jika hal itu akhirnya betul-betul terjadi.

Di satu sisi tentunya aku tidak rela, dia kakak kandungku sendiri, masa dientot orang lain seenaknya di hadapanku. Namun di sisi lain itu merupakan imajinasi liar ku terhadap kak Adelia dan aku sungguh penasaran ingin melihatnya.

“Ngomong-ngomong, Non Adelia kapan main main ke panti lagi… anak-anak pada kangen lho… hehe” tanya Pak Amin mencoba mendinginkan suasana.

“Adelia juga kangen Pak… Apalagi sama Romi, Dodi, Budi dan Gito, hihihi” ujar kak Adelia. Kok nama-nama yang disebut kak Adelia cowok semua sih?

“Iya… Non Adelia sih cantik banget, baik lagi. Terang saja mereka kangen…”

“Hmm… libur semester ini deh ya.. Kan kalau gak ada sibu kan Adelia bisa leluasa waktunya…” tawar kak Adelia.

“Waaaah… silahkan banget non, anak-anak pasti senang banget non Adelia datang lagi. Nginap aja sekalian non…”

“Nginap? Ngg…. Boleh deh…”

“Wah, gak sabar saya, eh… maksudnya anak-anak, hehe”

“Gak sabar kenapa Pak?”

“Eh, nggak non…hehe” Pak Amin hanya cengengesan mesum.

“Oh iya Pak, bentar yah… Adelia mau siapin uang dan pakaian yang buat disumbangin…”

“Ooh, silakan non… kirain yang di depan mata yang mau disumbangin, hehe..”

“Iiihh, adeeek… Pak Amin mulai deh… Hihihi… bentar yah…”kata kak Adelia bangkit dengan sedikit hati-hai agar serambi lempitnya tidak terbuka dan terlihat oleh kami berdua, gayanya itu bikin aku gemas.

Tapi tunggu, dia sepertinya lebih berusaha menutupi serambi lempitnya dari pandanganku dari pada menutupi serambi lempitnya dari pandangan Pak Amin. Ku lihat tadi pak Amin meneguk ludah saat melihat ke arah selangkangan kak Adelia. Kakakku sendiri sepertinya tidak ambil pusing dengan pandangan pria tua itu.

Seperti sudah niat banget bikin pria itu pusing atas bawah, kak Adelia lalu menuju ke dalam kamarnya untuk mengambil duit. Dia kembali tidak lama kemudian dengan membawa amplop yang sepertinya berisi uang.

“Dek, kakak minta tolong donk beliin cemilan dan minuman, masa tamu gak dikasih apa-apa” suruh ak Adelia sambil menyerahkan uang itu padaku.

“Lha, kok aku sih kak?”

“Terus? Masak kakak sih yang pergi pake baju kayak gini? Buruan gih sana…” suruhnya lagi.

Aku pun terpaksa menuruti dengan buru-buru aku segera ke mini market. Aku tidak ingin membiarkan kakakku yang cantik sendirian bersama pria itu di rumah. Tapi sial banget mini market ini sedang rame-rame nya. Mungkin ada sekitar 15 menit sejak aku pergi tadi sampai balik ke rumah lagi.

Tapi untungnya aku tak bertemu dengan penjaga kasir malam itu, di mana untuk pertama kalinya aku dan kak Adelia mengutil kaos demi menyelamatkannya dari kumpulan orang-orang bermotor. Tapi tetap saja akhirnya jatuh ke pelukan tukang nasi goreng, huh!

Aku terkejut saat aku pulang tidak menemukan kak Adelia dan pak Amin di ruang tamu. Aku panik, dan dadaku berdebar kencang. Kemana mereka? Melihat kardus pakaian yang akan disumbangkan masih tergeletak di lantai berarti Pak Amin masih ada di dalam rumah ini. Nafasku semakin tercekat saat melihat kemeja putih yang dikenakan kak Adelia tadi tergeletak sembarangan di lantai.

Apa kak Adelia tidak memakai apa-apa sekarang? Apa dia telanjang? Sejak kapan dia membuka kemejanya itu? Tapi masalahnya dia ada dimana sekarang? Aku pun langsung mencari ke dalam rumah.

“Kaaaaak? Dimana sih?” teriakku memanggilnya.

“Di sini dek, di dalam kamar mandi.”

“Kak.. kardusnya masih di ruang tengah, Pak Amin nya dimana?”

“Ummm… ini kakak lagi sama Pak Amin di dalam, dek.” Sahut kak Adelia yang bagai halilintar di kupingku.

Badanku langsung lemas mendengarnya, tapi tak lama rudalku malah langsung ngaceng maksimal. Benarkah Pak Amin bersama kak Adelia di dalam sana?

“Kaak!”

“….”

Apa yang terjadi di dalam? Apakah akhirnya aku akan melihat semua ini? di depan mataku sendiri bahwa kakakku benar-benar dientot orang-orang asing seperti yang aku bayangkan selama ini?

“Ngapain sih kak di dalam kamar mandi berdua?” tanyaku dari balik pintu kamar mandi.

Perasaanku sungguh campur aduk saat itu, antara bingung, cemas, sakit hati, dan horni. Kakak kandungku yang cantik bening sedang berduaan dengan pria tua lusuh di dalam kamar mandi!

“Gak tahu nih Pak Amin waktu kamu pergi tadi, dia langsung nyerang kakak. Nakal banget ngga sih dek? Kamu marahin gih.” jawab kak Adelia seakan tidak bersalah, padahal tingkah lakunya itu yang membuat pria manapun akan khilaf untuk menikmati tubuh binalnya.

Ternyata walaupun kakakku ini selalu memakai jilbab kalau keluar rumah, tapi kelakuannya seperti lonte. Bahkan lonte saja dibayar. Ugh, aku sebagai adiknya sendiri dibikin mupeng berat karena ulahnya ini. Kak Adelia binaaaaal!

“Dek Adelio…. Kakakmu yang nakal banget ini udah bikin bapak nafsu. Jadi boleh kan bapak hukum?” tanya Pak Amin padaku.

“Eh, I-itu…” aku tidak tahu menjawab apa.

Sebagai seorang adek tentunya aku harus melindungi kakak perempuan ku, tapi untuk kali ini nafsuku mengalahkan logika. Aku membiarkan kakakku diberi pelajaran karena perbuatan nakalnya itu.

“Terserah bapak” jawabku pasrah.

“Adeeeeeeekkk…. Kamu jahat…. Huuuu… huuu…” ucap kak Adelia merengek, tapi selanjutnya malah terdengar suara kak Adelia menjerit manja.

“Kyaaaaaaaaaa……. Paaaaaak, ampuuuun, hihihi…” diiringi suara benturan pintu pada kamar mandi.

Seperti suara seseorang didorong sampai menubruk dan tetap bersandar pada pintu itu. Aku hanya bisa membayangkan Pak Amin yang mendorong kak Adelia sampai menempel ke pintu kamar mandi, lalu dari suara pintu yang terdorong berkali-kali sepertinya bandot tua itu menggenjot kakakku dengan liar. Tepat di balik pintu itu ada aku, adiknya yang hanya bisa membayangkan persetubuhan mereka di dalam sana.

“Kak….” Panggilku sedikit cemas, karena tampaknya kakakku betul-betul digenjot dengan liarnya oleh Pak Amin.

Hentakan pintu kamar mandi kami sampai berdebar kencang.

“Deeekkkk… kakakmu sedang dientot tin dek…. Ssshhh…. Kakak kandungmu… dientot sama peminta sumbangan… sssshhh….” Mendengar omongannya itu aku kini malah mengocok rudalku, aku hanya bisa mengocok rudalku sambil membayangkan apa yang sedang terjadi di balik pintu ini.

Aku tidak menyangka kalau kak Adelia memang nakal seperti ini. Berarti cerita-cerita kak Adelia selama ini benar adanya. Hatiku semakin sakit, tapi kenapa aku juga semakin horni dibuatnya!? Sialan.

“Ughhh… Kak Adelia nakal…” erangku.

Namun akhirnya aku memilih untuk menikmatinya saja, toh ini memang fantasiku dari dulu, meskipun aku masih tidak menyangka kalau ini benar-benar terjadi.

“Iyaaahhh…. Kakakmu ini nakal dek… Aaaahhh…. Kamu suka dek? Kamu lagi onani ya sekarang?” tanya kak Adelia menebak dengan suara manja terengah-engah.

“Iya kak, aku lagi onani… kak… aku pengen lihat boleh?”

“Ngghh… lihat apa dek?”

“Lihat kak Adelia dientot tin sama Pak Amin”

“Jangan dek… gak boleh… masak kamu lihat kakak sendiri menyetubuhi sih? Kamu onani sambil bayangin kakak aja yah… nggghhhh… Pak… pelan-pelan… sshhh”

“Ughh…. Kak… aku pengen lihat nih…”

“Gak boleh… ngghh… Pak Amiiiinn…. genjot Adelia yang kencang pak… biar adiknya Adelia makin enak membayangkannya…” suruh kak Adelia pada pak Amin.

“Eeegghh.. Iya non Adelia…. Bapak hantam yang kuat yah, nih!” kata pak Amin.

“Plak plak plak!” suara peraduan kulit yan

Bersambung… “Plak plak plak!” terdengar suara peraduan kulit yang semakin keras.

“Ahhh… kakak jahat! Dasar kakak perempuan nakal!” racauku sambil mempercepat kocokanku.

“Iya…. Kakakmu perempuan nakal dek…. Kamu bayangin yah dek… kakakmu yang keseharian berpakaian sopan… dan berjilbab… lagi dientotin sekarang… sama pria tua gak jelas… Deeeekkk… bayangin dek… bayangin… enggggghhh” erang kak Adelia.

Aku sungguh tidak kuat mendengar omongan kakakku, Persetubuhan mereka juga sungguh sangat heboh. Belum pernah aku merasakan seperti ini sebelumnya. Tanganku juga semakin cepat mengocok rudalku. Sepertinya sebentar lagi aku akan muncrat.

“Kak Adelia…. Aku pengen muncrat nih…” teriakku.

“Bapak juga dek Adelio…” malah pak Amin yang menyahut.

“Ya sudah barengan aja yah kalian muncratnya… Pak Amin keluarin di serambi lempit Adelia, tapi adek keluarin di pintu aja yah dek… gak apa kan dek?” ujar kak Adelia yang tentu saja aku tidak terima.

“Yah… kak, aku juga pengen muncrat di dalam serambi lempit kakak…” rengek ku.

“Hihihi… Jangan dong dek… ntar kakak bisa hamil anak kamu. Masa kakak dihamili adek sendiri? Gak boleh ya adikku sayang…” tolak kak Adelia.

Jadi dia lebih memilih sperma pak Amin untuk memasuki rahimnya? Pria tua yang tidak jelas itu?

“Agghhh…. Kak Adelia nakal… kak Adelia lontee!” teriakku yang hanya disambut desahan kak Adelia.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka sedikit, kak Adelia mengeluarkan kepalanya. Tubuh telanjangnya masih tertutup pintu, begitu juga tubuh pak Amin yang sepertinya masih menggenjot tubuh kakakku dengan kasarnya, terlihat dari guncangan-guncangan tubuh kakak.

“Gini aja yah dek? Cukup kan?” ujar kak Adelia.

Kak Adelia rese, aku cuma kebagian ngelihat wajahnya saja sedangkan pria tua itu dapat dengan nikmatnya dapat melihat seluruh tubuh bugil kak Adelia, bahkan menghujam serambi lempit kakak kandungku yang cantik ini.

Tubuh kak Adelia terhentak-hentak dengan hebatnya, tapi dia masih saja berusaha tersenyum padaku, bikin aku tambah horni dan semakin tidak tahan saja. Tampak wajah kakakku memerah dan mandi keringat. Di mulut, pipi, bahkan mungkin seluruh wajah kak Adelia juga ada banyak cairan bening yang sepertinya adalah liur pak Amin yang menambah kilapan cantik pada wajah kak Adelia.

“Ngghhh… kak… Aku keluar!“

“Iya deeek… keluarin aja…”

“Bapak juga pengen muncrat non Adelia… terima nih peju… bapak bikin hamil lo!” erang pak Amin, kak Adelia juga mengerang manja

“Croooooooootttttt” tumpahlah pejuku di hadapan kak Adelia.

Dibalik sana, pak Amin juga sepertinya sedang memindahkan benihnya ke rahim kakakku. Terlihat dari tubuh kakak yang sedikit terdorong kedepan seolah ingin menghujamkan sampai mentok ke mulut rahim kakakku.

Aku tidak dapat membayangkan kalau akhirnya nanti kak Adelia bakal hamil, hamil anaknya pria tua lusuh ini. Aku yang terengah-engah kecapean akhirnya mundur dan duduk di kursi di belakangku.

“Udah kan dek…? Enak?” tanya kak Adelia dengan senyum manis padaku.

“I-iya kak, enak…” Sial! Kenapa aku menikmati ini semua!?

Tiba-tiba pak Amin melontarkan kepalanya dan mencium bibir kak Adelia, lalu berkata padaku.

“Enak ya dek Adelio? Bapak juga enak… nih rudal bapak masih nancap di serambi lempitnya kakak kamu… kayaknya bakal bisa satu ronde lagi deh… boleh kan dek Adelio kalau bapak entotin kakakmu sekali lagi?”

“Boleh nggak dek? Kakakmu mau dientot sekali lagi nih…. Tapi kamu udahan kan yah? Jadi pintunya kakak tutup lagi yah dek… hihihi” aku hanya diam tidak berkata. Tenagaku sudah habis. Sungguh kakakku ini nakal banget.

Pintu pun tertutup rapat dan mereka melanjutkan menyetubuhi menyetubuhian lagi di dalam kamar mandi. Bahkan lebih heboh dari yang sebelum nya. Suara kak Adelia yang mengerang ngerang dan menjerit manja akan kenikmatan sungguh terdengar sangat erotis.

•••

Setengah jam kemudian, akhirnya kak Adelia dan Pak Amin keluar dari kamar mandi. Kak Adelia terlihat sangat segar. Rambut basahnya tergerai dengan indahnya. Dia keluar dengan menutup tubuh basahnya dengan handuk, seakan masih saja menggodaku dengan sengaja membatasi pandanganku pada tubuhnya walau sehari-hari aku cukup sering melihatnya bertelanjang di rumah.

Padahal di kamar mandi dengan pria tua yang entah siapa, dia mau saja bertelanjang bulat membuka semua auratnya, sampai entot entotan pula. Bikin kesal aja nih kak Adelia, tapi juga bikin aku horni berat.

“Kak, buka dong handuknya… masak sama adek sendiri tega…” kataku memelas ingin juga melihat kakakku ini polos di hadapanku.

“Hmm? Kamu pengen lihat kakak bugil dek?” “Iya kak…. pengen banget” kataku lagi, dia hanya senyum-senyum manis padaku.

“Ntar aja ya dek… Pak Amin, bantu Adelia pilih baju dong ke kamar…” ajak kak Adelia pada Pak Amin.

Sialan banget, malah ngajak Pak Amin, enak bener tua bangka sialan itu. Aku ingin memprotes, tapi mereka sudah keburu masuk ke dalam kamar kak Adelia, lalu menutup pintu. Hanya terdengar suara cekikikan kak Adelia setelahnya. Sepertinya tubuh kakakku sedang di gerepe-gerepe oleh Pak Amin dengan leluasa dan sebebas-bebasnya di dalam sana.

Atau mereka sedang menyetubuhi lagi? Ugh… Kak Adelia…

Ternyata setelah beberapa menit akhirnya kak Adelia keluar bersama pria tua itu. Kak Adelia memakai setelan yang baru dibelinya 3 hari lalu dan baru pertama kali ini dipakai. Kemeja pink lengan panjang, rok panjang, lengkap dengan jilbab putihnya.

Kak Adelia terlihat begitu cantik dan seks meski pakaiannya terbilang sopan dan tertutup. Sungguh berbeda dengan penampilannya sebelum mandi yang sangat terbuka dan mengumbar aurat. Kak Adelia sekarang juga memakai harum-haruman yang membuat pria pria semakin klepek-klepek padanya.

Tapi melihat penampilan seperti ini apakah kakak mau keluar?

“Mau keluar yah kak?” tanyaku agak lemas

“Ummm… menurut adek?” jawab kak Adelia cuek sambil berkaca di depan cermin, memastikan kalau penampilannya sudah cantik. Kakak itu sudah cantik banget kok kak… gak perlu bercermin segala orang-orang udah tahu, ucap batinku agak sedih. Sudah ditinggal menyetubuhi, kini akan ditinggal pergi.

“Ya udah ati-ati aja di jalan…” jawabku seakan juga tak peduli padanya walau aku ingin rasanya menemaninya terus setiap waktu.

“Hihihi… adek tuh yaaa, digodain aja udah menyun kayak gitu… emang gak boleh kakaknya tampil cantik buat adeknya di rumah?” jawab kak Adelia sambil tersenyum imut mengerling padaku.

“Uuuhh, kakaak…” jawabku pura-pura merajuk, padahal mendengarnya saja membuat badan ini menjadi terasa hangat. Ternyata kakak tidak akan pergi kemana-mana.

Kak Adelia bagaimanapun juga tak pernah melupakanku sama sekali. Aku makin sayang padanya, walau aku masih sedikit kesal karena mau-maunya aja digagahi orang macam Pak Amin.

Selesai Pak Amin mengangkut kardus berisi pakaian bekas itu ia mohon pamit pada kami berdua.

“Yuk mari non, dek Adelio… bapak pamit dulu yak..” “Iya Pak Amin, hati-hati di jalan yah…”

“Jangan lupa yah non janjinya, hehehe… ditungguin lho sama anak-anak di sana..”

“Iya, nanti Adelia sempetin deh”

“Kasihan anak-anak di sana, katanya udah pada ngebet pengen ketemu non… pada udah gak tahan, hehehe…” sambil bawa kardus itu ia cengengesan, entah apa yang dia maksudkan, tapi pasti hal mesum.

“Denger gak tuh dek? Emang pada ngebet ngapain sih Pak Amin, hihihi…”

“Ngebet mau disumbangin lagi sama non Adelia, hahaha!” tawanya yang lepas memperlihatkan gigi-giginya yang menguning dan penuh plak hitam. Tak terbayang seperti apa bau mulutnya. Entah bagaimana kak Adelia bisa tahan dicium orang seperti itu.

“Ya udah bapak hati-hati di jalan ya, kakak saya mau istirahat dulu deh kayaknya..” potongku sambil menutup pagar dan meninggalkan nya masuk kedalam rumah.

Sepeninggalnya orang bejat itu dari rumahku aku melihat kak Adelia sedang duduk melihat tv di ruang tengah. Melihat kakakku mengena kan pakaian tertutup itu malah semakin menambah kecantikannya dan membangkitkan birahi dalam diriku. Apalagi kini hanya tinggal aku berdua dengan kakakku di rumah. Belum apa-apa rudalku sudah memberontak hebat.

“Adeeek… ngapain sih liat-liat kakak kayak gitu?” “Kakak cantik siih..”

“Hihihi, gombal iih adek nih… terus apalagi?” “Kak Adelia juga seksi…”

“Ooh, gituu? Kalo seksi memang kenapa dek?”

“Anu kak.. rasanya adek pengennn…” belum selesai aku mengucap kan lanjutannya tiba-tiba hape di kantongku berbunyi.

Seperti mengganggu di waktu yang tepat aku buru-buru membuka supaya aku bisa kembali keurusan yang telah dinanti-nantikan ini, yaitu berduaan dengan kakakku. Berharap bisa mendapatkan perentotan yang kuinginkan sejak lama.

‘Bro… kapan nih kita bisa main PS lagi kerumah lo bro Ajak kakak lo sekalian maen biar rame yak, hehe..’ bunyi pesan itu.

“Siapa dek?”

“Eehh.. bukan siapa-siapa kakakku yang cantik, heheh..” jawabku tak nyaman karena gangguan ini yang sekejap bisa membuat otongku lemas.

“Ooh.. ya udah deh, kakak tidur dulu yah..”

“Loh! Kok tidur kak? Aku kan masi kentang kaak?”

“Sini, biar kakak rebus kalo kamu kentang, hihihi…”

“Uuuhh, kakak.. aku beneran kentang juga, malah di becandain..”

“Makanya, sini adek kakak rebus biar kepanasan, gak mau kakak bikin panas? Hihihi..”

“Hah? Eh, mau deh kak, mau ampe adek kepanasan, mau kaak!” jeritku menyerbu kearah kakakku.

Hampir setiap hari kini aku suka mengawasi depan rumahku sendiri seperti orang yang paranoid. Kejadian terakhir di mana kak Adelia digagahi sungguhan oleh Pak Amin benar-benar membuatku menjadi terbayang-bayang setiap saat.

Bahkan yang tak bisa ku lupakan benar adalah ketika kak Adelia dipaksa oleh bandot tua itu untuk memuaskan nafsu bejatnya di dalam kamar mandi. Yang mana aku hanya kebagian melihat ekspresi wajah kak Adelia yang sengaja melongok keluar dari celah pintu ketika mereka melakukan hubungan badan berdua denga heboh.

Seolah terjawab sudah semua rasa penasaranku selama ini, bahwa kakakku yang cantik, berjilbab, sopan dan terhormat memang benar-benar melakukan semua persetubuhan itu dengan orang orang yang tak jelas asalnya itu secara diam-diam.

Dari tukang antar makanan, sopir tak jelas, sampai tukang nasi goreng bahkan bandot tua peminta sumbangan juga ambil ke sempatan menyerobot untuk menikmati tubuh indah dan bening kakak kandungku.

Yang tadinya kakakku hanya menjadi objek fantasiku saja kini benar-benar seperti ingin mewujudkan semua keinginanku. Hanya saja kini aku malah seperti tidak rela. Tapi entah tak rela karena tak ingin kakakku digagahi orang-orang asing seperti mereka-mereka, atau memang aku yang ingin juga ikut merasakan tubuh seksi kakakku juga..

Melihatnya berseliweran di rumah hanya mengenakan tanktop, celana pendek dan ketat, membuat pikiranku tak hanya terbang untuk membayangkan andaikan aku dapat menggagahi kakakku sendiri, tapi laki-laki seperti apa lagi yang akan beruntung menindih paksa kakakku yang memang suka kecentilan sama orang-orang aneh itu.

Tak heran mereka pasti terkotak-kotak menghadapi gaya manjanya kak Adelia. Setelah pertemuan terakhir dengan Pak Amin aku belum melihat kak Adelia didatangi orang tua itu ataupun pergi untuk urusan bakti sosial lagi.

Walau jujur aku tak suka melihat Pak Amin memaksa untuk menuntaskan hasratnya pada kakakku, tapi tak bisa kupungkiri melihat kekontrasan dua tubuh berbeda strata itu saling bergerak terguncang ketika bersetubuh selalu membuatku jadi ingin melihat lagi.

Apa bila memang suatu saat nanti akan mengunjungi tempat yayasan yang Pak Amin kelola, aku jadi tak tahu harus mencegah kak Adelia, atau malah aku ingin menonton kakak kandungku di perlakukan seperti itu lagi. Aku sangat kesal bila harus selalu berada di posisi tersiksa seperti ini. tapi aku tak bisa memungkiri aku juga menikmatinya.

Senakal-nakalnya kak Adelia menyiksa birahiku, ia juga tetap kakakku. Apalagi sudah beberapa hari ini kak Adelia sengaja tidak keluar rumah hanya untuk menemaniku di rumah saja. Habis sudah kakak aku crotin seperti aku tak ingin kehilangan kesempatan untuk bersama dengan kak Adelia sampai-sampai kak Adelia tidak ikut kuliah beberapa hari.

Yang mana aku sengaja bolos sekolah juga demi tak mau melepas kesempatan untuk berduaan saja bersama kakakku. Kak Adelia memang marah apabila aku tak sekolah, tapi aku berjanji untuk ikut les siang ini agar tak ketinggalan amat pelajaran sekolah.

“Diminum dulu deh, masa udah mau pulang aja, minumannya cuman diliatin aja”

“Iya, makasih yaa… nih pada kita minum”

“Tapi makasih banget loh ya, Fahri, Echi, Lala, sama Rudi… udah pada jauh-jauh kesini nengokin Adelia…”

“Ah, biasa aja kali Adelia, namanya juga temen sekampus… ya udah kita pada pamit dulu yah Adelia.. yuk Adelio, kita pada pamit yah…” sapa teman kak Adelia ketika mereka semua hendak pamit setelah datang menjenguk kakakku yang sudah beberapa hari ini tidak mengikuti jadwal kuliah di kampus.

Beberapa hari ini kak Adelia sengaja hanya ingin berada di rumah saja dan tidak ingin keluar kemana-mana. Aku sendiri tidak tahu apa maksudnya, tapi kesempatan berduaan dengan kakakku tentunya tak akan kulewatkan.

Penampilannya sekarang pastinya berbeda dengan bila hanya berdua denganku yang kadang nyaris tanpa pakaian. Saat ini dia menerima tamu teman-teman kampusnya dengan busana serba tertutup, berjilbab, kemeja lengan panjang, dan rok yang menutupi sampai ke bawah mata kaki. Kak Adelia terlihat sangat cantik dan anggun.

Aku yang sedang asik bermain PS di ruang tengah hanya mendengar saja pembicaraan mereka di ruang tamu hingga akhirnya tamu-tamu kak Adelia pamit dan memanggilku. Fiuh, akhirnya mereka pulang juga. Aku ingin segera berduaan dengan kak Adelia lagi.

“Adeek, temen-temen kakak mau pamit niih.. sini dooonk…” “Hehehe… iya kaak…” susulku keruang tamu sambil cengengesan berdiri di samping kak Adelia.

“Balik dulu yah Adelio… kamu jagain tuh kakakmu, jangan ampe Adelia kecapean ngurusin kamu doank, hihihi…” ujar salah satu teman kak Adelia yang namanya Echi itu. Manis juga sih kalau dilihat, sama-sama berjilbab, dan imut juga, hanya saja kak Adelia tetap yang tercantik dan terseksi buatku. Dan yang pasti kakak ternakal dalam hidupku.

“Tuuuh deeek… dengerin kata temen-temen kakak, ngurusin semua keinginan kamu udah kayak pengen ngelahirin ajah, hihihi…” jawab kak Adelia bercanda sembarangan yang disambut tawa teman-temannya.

“I-iya deh kak..” aku menjawab malu, tapi segera merapatkan tubuhku tepat di sebelah kakakku.

“Iya iya doank kamunya tuh Adelio… makanya cari pacar donk biar nggak gangguin kakakmu terus, hihihi…” celetuk mereka yang makin lama makin menyudutkanku seolah aku seperti anak manja yang hanya bisa mengganggu saja. Tapi apa yang dilakukan oleh kakakku berikutnya benar-benar membuatku tak kusangka. Tiba-tiba kak Adelia merangkulku sambil mengacak-acak rambutku dan tersenyum manis.

“Hihihihi… namanya juga Adelio, Chi… Apa jadinya dia kalau ngga ada kak Adelia disampingnya, iya yah dek?”

“Hehehe… kakaak..” sambil tersenyum malu makin merapatkan tubuhku dalam rangkulan kak Adelia yang mengakibatkan kepalaku semakin menekan ke payudaranya. Rasanya sungguh lembut serta empuk sekali. Hampir mimisan aku dibuatnya.

Sambil masih berangkulan di teras rumah mereka akhirnya pulang bersamaan dan meninggalkan kami berdua yang masih saja saling mendekap. Aku rasanya tak ingin lepas dari situasi yang hangat ini.

“Adeeeek… mereka udah pulang tuh deek…” “Hehehe.. iya tuh kak, tinggal kita berdua deh..” kataku sambil mulai melingkarkan tanganku pada pinggang kakakku yang ramping. Dan perlahan tapi pasti otongku yang mulai menegang keras kutempelkan pada pinggul kak Adelia.

“Iiih… mulai deeeh… kayak ada yang nohok-nohok kakak nih di bawah, hihihi… apa tuh yaaa?”

“Kak Adeliaaa… pengeeen… boleh yaaa..” ucapku memelas sambil cengengesan melihat kakakku yang tersenyum pura-pura risih kuperlakukan seperti ini.

“Adek tuh pengen apa siiih?” “Pengen lagi kaaak…”

“Haduuuh.. kamu tuh yaaa…” dengan gemas kak Adelia mencubit hidungku sambil melanjutkan, “abis deh pakaian-pakain kakak kalo kayak gini… kamu mau jadi kayak anjing yah nandain semua pakaian kakak pake peju kamu, hihihi… dasar mesum…”

“Hehehe.. kan mesumnya sama kak Adelia doang… pliss donk kaak, lagiii…” “Tapi beneran yah abis ini kamu les bimbel… pake bolos sekolah segala kamu tuh… mau jadi apa sih nanti gede?”

“Mau jadi suami kakak, hehehe… kak Adelia jadi istriku deh…” “Hihihi… gila kamu dek, lucu dong ada adek yang nikahin kakaknya sendiri. Kamu pengen yah nikahin kakak?”

“Mau banget kaaak! Mauuu!” jeritku sambil memeluk tubuh kak Adelia makin kencang.

“Iya dek… boleh nikah… tapi gak boleh kawin, hahaha!” tawa kak Adelia meledak menurunkan kesenangnaku dalam sekejap. Tapi justru membuatku makin gemas karena tingkahnya yang suka menggodaku itu.

“Aahh! Kak Adelia nakaal!”

“Iiih adeeek! Lepasin doonk.. geli nih deek! Hihihi! Adeeek!” kami bercanda sambil aku masih memeluk kak Adelia dari belakang yang akhirnya kami terduduk di kursi teras dengan kak Adelia terpangku di atas dudukku hingga menjepit rudal ku karena kedudukan pantat kakak dengan agak keras.

Sambil masih memeluk kakak kami malah jadi terdiam berdua. Dengan suasana siang hari di mana di luar pagar rumah banyak orang lalu lalang. Ada yang berjualan, ada anak-anak pulang sekolah, juga ada rombongan ibu-ibu yang sedang ngerumpi sambil berjalan melewati depan rumah kami.

Memikirkan semua aktifitas di luar dengan posisi seorang kakak yang sedang menduduki adik kandung dengan rudalnya yang sedang menegang keras membuatku makin tak tahan untuk menggoyang-goyangkan pinggulku hingga menggesek-gesek belahan pantat kak Adelia. Walau masih mengenakan rok, aku bisa merasakan belahan itu seolah aku langsung menyentuhnya.

“K-kaaak…”

“Adeeek… kamu ngapain kakak deek?”

“A-aku lagi… lagiii…” jawabku terputus-putus menikmati semua perbuatan cabulku pada kakak kandungku sendiri.

“Adek lagi mau menodai kakak kandungnya lagi yaah? Kayak tadi malam? Hihihi…” ucap kak Adelia balik tanya dengan nada manja dan genit yang sengaja mengundang hasrat kelakianku untuk terus menggesek pantat kak Adelia makin kuat.

“Uuugh… i-iya kaak.. abis kakak nakaal… kakak jahat sama aku..”

“Adeeek… kok kakak dibilang gitu siih?”

“Kak Adelia mau-mauan aja dientot sama orang-orang gak jelas seperti mereka-mereka yang pernah gangguin kakak..”

“Lagian kamunya juga sih dek… pake punya fantasi yang aneh-aneh tentang kakak sendiri”

“Iya sih kak. Tapi kan… aku gak rela kaak.. Aku gak suka kakak digituin sama mereka..”

“Ya udah, kalo emang itu mau adek… kakak gak ngelakuin lagi deh..”

“Hah?! Beneran kak?” seruku girang mendengar ucapan kakak yang masih di atas pangkuanku itu.

“Ummm iya ngga yaah? Tapi kamu gak boleh mesumin kakak lagi yah, hihihi…”

“Yaaah, kak Adeliaaa! Jahat aaah!”

“Hihihi… adeeek! Udah ahh… kamu kan janjinya mau les kaan?”

“Gak mau kak, mau di sini aja..”

“Adeeek…” kak Adelia sambil melepaskan pelukanku lalu menghadapku dan mengecup keningku dengan cukup lama dan lembut sekali.

“Kakak gak bakal kemana-mana kok… yah?”

Melihat senyum kakak yang hangat membuatku langsung padam rasa kesal dan sebalku padanya. Seperti terbawa suasana aku lalu memberanikan diri memajukan wajahku untuk mengecup bibirnya yang ternyata kak Adeliapun menyambutku. Kamipun berciuman mesra di teras dengan suasana cukup ramai siang itu.

“Kak Adeliaaa… hehe..”

“Cabul kamu… kakak sendiri dicium, hihihi… sana berangkat les…”

“Iya kak Adeliaku yang baik dan cantik… pokoknya jemput aku yah, aku gak bawa motor loh kak… hehe”

“Iyaa.. nanti belajar yang rajin yah dek…”

“Iya deh kak..”

“Nah gitu donk, jangan bayangin kak Adelia yang engga-engga sama penjual somay depan gedung bimbel kamu yah.. hhihi…”

“Aahh! Tuh kan kakaak!”

“Iya iya adeek… kakak becanda kok!”

Bersambung… Hari sudah sore banget. Setelah mengikuti les bimbel yang cukup membosankan itu aku membeli minuman soft drink di luar bangunan bimbel. Uang yang kulihat di dalam dompet benar-benar pas-pasan.

Andai tidak dijemput kakakku sebentar lagi, pastinya aku akan pulang berjalan kaki karena merelakan uang naik ojek ini untuk melepaskan dahaga di sore hari.

Tapi untungnya kak Adelia akan menjemput ku sore ini. Aku benar benar tak sabar untuk bertemu dengan kak Adelia lagi dan menghabis kan sisa waktu hari ini untuk memeluknya dan berguling gulingan lagi.

Apalagi siang ini aku masih merasa sangat kentang. Aku sangat merindukan masa-masa mesum ketika tengah berduaan dengan kakakku. Setelah kutunggu cukup lama, entah kenapa kak Adelia belum muncul-muncul juga.

Apa kak Adelia ada kenapa-kenapa di perjalanan menuju kemari? Aku sampai membayangkan peristiwa yang membuat kak Adelia harus berurusan dengan orang asing lagi yang berujung… Ah, segera ku tepis dan membuang jauh-jauh pikiran itu. Kak Adelia pasti datang kemari.

Kecuali bila kak Adelia ada urusan mendesak yang akhirnya membuat kakakku tertahan hingga belum bisa berangkat menjemput ku. Untuk membuang pikiran itu aku segera menghubungi kak Adelia, dan langsung tersambung.

“Kak, kok belum jemput aku sih?” tanyaku di telpon yg belum juga di jemput kak Adelia dari tempat bimbel, karena motorku sedang rusak jadi aku minta tolong sama kak Adelia.

“Iya dek, ini juga rencananya pengen jemput..”

“Aku udah nunggu dari tadi nih kaak..”

“Hihihi… adek kangen yah sama kak Adelia?”

“Iya nih kak, buruan doonk..”

“Ummm… tapi teman-teman adek tiba-tiba pada datang ke rumah nih…” jawab kak Adelia dengan agak gelisah di sana..

“Hah?! Siapa sih?”

“Siapa lagi kalo bukan teman-teman mesum kamu itu tuh…”

“Aduh! Suruh mereka tunggu aja deh kak, kakak ke sini dong cepetan jemput aku..”

“Iya.. tapi…. uuugghhhh….” mendadak suara kak Adelia melenguh manja dengan tiba-tiba.

“Kak? kak Adelia?”

“…. teman-temannya nakal tuh dek… sshhhh… adeeeek… eegghhhh, baju kak Adelia jadi robek tuh kan! Jangan donk Do… geli… kamu juga Bono. Feri, Yanto, tangannya pada nakal banget sih?” ujar kak Adelia tak sadar bicara sendiri menghadapi mereka semua ketika berbicara denganku.

“Kak? Kak Adelia ? Kakak!?”

“Aduh dek, gimana nih? Kayaknya kakak gak bisa jemput kamu deh… teman-temenmu nakal banget sih… kamu bisa pulang sendiri kan?”

“Loh?! K-kok?”

“Tapi buruan yah dek, liatin deh mereka ngapain aja ke kakak nih, bandel banget loh, hihihi…” tiba-tiba panggilan terputus. Aku kini semakin panik. Kakakku kembali dicabuli oleh teman-temanku!

Segera aku cari pangkalan ojek terdekat. Aku ingin segera menyelamat kan kakakku dari teman-temanku, tapi uangku habis. Terpaksa aku jalan kaki ke rumah. Cukup jauh tentunya bila berjalan. Kak Adelia… tunggu aku, aku tak rela kalau kakak diapa-apain oleh mereka!

Aku berlari pulang. Di tengah jalan aku coba hubungi kak Adelia lagi, tapi tetap tak diangkat. Aku sungguh geram memikirkan kejadian ini, tapi entah kenapa aku malah penasaran seperti apa dan sejauh mana mereka memperlakukan kak Adelia. Padahal baru saja aku tak ingin kalau kakakku diapa-apakan lagi oleh orang-orang yang tak jelas. Kini celanaku mendadak semakin sesak. Kak Adelia…

Tak lama tiba-tiba kak Adelia menghubungiku.

“Kak??” sahutku cepat. “Sorry ni ya bro, kita sampe dirumah duluan, hehe.. abis lo rajin banget sih pake bimbel segala..” suara Dado? kenapa dia yang pakai HP kakakku? Kelewatan lama-lama ni orang.

“Heh! Lo ngapain di rumah?” aku membentak Dado karena khawatir apa yang dia lakukan pada kak Adelia.

“Ya maen lah bro, sekali-sekali namu kak Adelia bro kasian sendirian di rumah, masa namuin lo melulu, hehe..” tawanya cengengesan

“Do, lo kurang ajar ya pake HP kakak gw sembarangan.. mana kak Adelia?” tanyaku tak sabar menghadapi tingkah menyebalkan Dado.

“Hehe, kakak lo lagii.. lagi makan bro.. hehe, makan siapa ya?” Dado sengaja menggodaku dengan ucapan-ucapan tak jelas sengaja membuatku penasaran.

“Do, awas lo ya macem-macem ma kakak gue!” “Heheh, kaga bro, bukan gua. Si Bono tuh, lagi ngasi bon bon ke kakak lo, hahaha!” terdengar suara tawa Dado dan temanku yang lain, sepertinya panggilanku diloudspeaker.

“Iye bro, kakak lo lagi sibuk nih ama Bono.. Bon, ngomong donk! Diem aja lo dari tadi” terdengar suara yanto ikut nimbrung disana.

“.. egh.. bro.. sshh.. sumpah enak bener..” Bon bon bersuara terputus-putus seperti sedang merasakan sesuatu.

“Bon! Lo apain kakak gua?” “Uhuk.. uhuk.. sakit Bono.. pelan-pelan donk..” akhirnya terdengar suara kak Adelia yang sedang terbatuk-batuk. Kenapa kak Adelia sampai batuk-batuk gitu?

“Deek… si Bon bon jelek ni, jahat ma kakak…” di tengah batuknya kak Adelia masih berusaha untuk bicara.

“Kak Adelia! Duuh… kak Adelia lagi diapain sih kak?” teriakku tidak rela dan kesal atas perlakuan teman-temankuku yg kedengarannya sedang melecehkan kakakku, tapi aku hanya bisa menduga-duga sedang diapakan kakakku karena aku memang tidak ada di sana.

“Bro..” potong Bono, “mending.. eghh.. lo kesini dah.. liat sendiri.. rasain sendiri.. hehe.. ugghh, kak Adelia” Bono seperti terengah-engah menahan sesuatu sambil berusaha bicara denganku.

“Bon! kampret lo ya.. lo apain kakak gue?” tanyaku tak sabaran.

“Bukan gua bro yang ngapa-ngapainin.. hehe.. kakak lo yang ngapa-ngapain gue, hehe..” terdengar suara ramai disana, sepertinya mereka meledekku dan kak Adelia.

“.. Aduuh.. adeek, rambut kakak dijambak niih..” kak Adelia yang sepertinya sedang diperlakukan tak senonoh malah merespon dengan manja seperti tidak merasa dilecehkan oleh teman-temanku.

“Jadi lonte gak boleh berisik, hehe..” terdengar suara Feri dan disertai tawa temanku yang lainnya, sangat merendahkan derajat kakakku dan membuat telingaku panas, tapi membayangkan situasi kakakku yang sedang dikelilingi teman-teman jelekku di sana kenapa malah membuat otongku perlahan semakin keras.

“Eh! Enak aja.. Siapa yah yang panggil kakak lonte tadi?” terdengar kak Adelia menghardik.

“Feri kak.. Feri tuh!” seru temanku lainnya serempak, sepertinya heboh sekali disana.

“Eh! Bangke lu ya Fer, lo panggil apa kakak gua?” seperti tidak terima aku juga ikutan menghardik Feri. Memanggil kak Adelia dengan sebutan “lonte”? Tiba-tiba terbayang kak Adelia sebagai seorang lonte. Lebih rendah lagi, lonte yang dikerjai, tidak dibayar, hanya dijadikan mainan untuk teman-temanku yang bermuka mesum. Budak pelampiasan. Aduuh, celanaku semakin sempit, aku tak bisa berdiri tegak lagi.

“.. Adeek.. cepet pulang ya dek.. masa kakak diperkosa sama temen-temen adek sendiri sih? Nakal bener nih, dapet temen dimana sih dek? Hihi.. aduh! jangan tarik-tarik kepala kakak dong Bon..” kak Adelia yang tengah bicara denganku seperti dipaksa untuk melakukan sesuatu.

“Nganggur nih kak.. buruan donk..” Bono seperti memaksa kak Adelia untuk melakukan sesuatu.

“.. Adeek.. cepet pulang yah.. kakak lagi disuapin bonbon item dekil nih, bau lagi, uughh.. mau liat ga dek? Hihihi..” terdengar suara manjanya dibuat-buat semanis mungkin.

“Kak Adelia! Bon bon item apaan sih?” aku tak mengerti, maksud bon bon itu permenkah? Tapi bon bon hitam, dekil, dan bau?

“…” sunyi tak ada jawaban.

“Kak!” panggilku dengan keras.

“…” tetap sunyi tak terdengar apa-apa.

“Bro, jalan pulangnya lama-lama aja yak, kapan lagi bikin senang temen sendiri, hehehe.. Lagian keliatannya kakak lo suka banget tuh bro.. keliatan gak? Hehe, kakak lo mangapnya gede bener ampe ga muat, hahaha..” tawanya agak merendahkan kak Adelia.

“Do!” teriakku tak tahan lagi.

“.. kak Adelia.. nganggur nih.. jejalin dua bonbon yak?” tiba-tiba telpon ditutup dari sana.

Kucoba hubungi semuanya langsung pada tidak aktif. Aku tak dapat berpikir apa-apa kecuali membayangkan kak Adelia yg sedang dikerjai dan dlecehkan oleh teman-temanku di rumahku sendiri. Untuk kedua kalinya! Bahkan aku saja belum memperlakukan kak Adelia lebih jauh dari sebelum-sebelumnya seperti yang sedang dilakukan teman-temanku yang jelek dan tak layak buat kak Adelia ini.

Ugh, kak Adelia, aku gak terima! Tapi kok aku penasaran bagaimana seperti apa pemandangan kak Adelia dikerjai oleh teman-temanku yg jelek dan dekil itu. Bahkan untuk kejadian terakhir ketika kak Adelia bersama mereka saja tidak sejauh ini. Secepat kilat aku ambil langkah seribu untuk pulang kerumah.

Dengan jantung berdebar-debar kepalaku terus terbayang akan kak Adelia ku yg cantik, putih, bersih, dicabuli oleh teman-temanku sendiri.. bahkan mengingat kejadian terakhir seperti dengan suka rela.. Tunggu aku kak Adelia!

Sambil pegang BB sedari tadi aku mondar-mandir di ruang tamu. Sampai jam segini kak Adelia belum pulang-pulang juga. Mana kak Adelia belum masak apa-apa lagi. Untung masih ada sisa beberapa mie instant di lemari dapur. Kalau tidak aku sudah pingsan kelaparan.

Sesekali aku intip lewat jendela kalau-kalau kak Adelia sudah pulang. Padahal sudah jam 9 malam, tapi sama sekali tidak ada kabar. Kemana aja sih kak Adelia?

Aku mengingat kembali kejadian tadi sore. Kak Adelia seperti sedang digodain teman-temanku. Dado, Feri, Yanto, dan Bono. Dan ngga ada satupun yang keliatan enak dipandang kalo berdiri berjajar dengan kak Adelia. Terlalu jauh kelasnya. Tapi kak Adelia seperti terima-terima aja digangguin seperti itu. Bahkan aku ingat ketika kak Adelia menanyakan padaku, “apakah aku mau melihat apa yang dia lakukan atau tidak?”

Sepenggalan kata-kata yang kuingat adalah “pakaian kak Adelia robek”, “rambut kak Adelia dijambak”, “kak Adelia makan bonbon item dekil”, dan yang terakhir Dado bilang “jejalin dua bonbon”

Baru saja siang ini kami bicara dan kakak janji tak akan melakukan kenakalan-kenakalan ini lagi. Tapi membayangkan kak Adeliaku yang sedang dikuasai oleh mereka-mereka ini, kenapa justru aku yang galau dan seperti kembali ke fantasi-fantasi yang pernah aku inginkan dulu. Padahal seharusnya aku tak rela.

BBku mendadak bergetar, muncul nama panggilan masuk dari kak Adelia.

“Kak Adelia!” aku langsung mengintip lewat jendela.

“Adeek.. kakak udah pulang niih, tolong bukain gerbangnya donk?” agak lega akhirnya mendengar kembali suara kak Adelia, tapi agak sebal juga karena membiarkanku khawatir tanpa kabar. Terutama kejadian tadi sore.

“Kak Adelia buka aja sendiri, masa bisa keluar ga bisa masuk sendiri? Lagian adek males keluar” ucapku dengan sebal.

“Iih.. adek kok gitu siih? Sini doonk keluar.. bukain, kakak capek niih.. pliiss, hihi..” kak Adelia masih sempat-sempatnya bernada manja, memang kak Adelia capek habis ngapain?

“Hihi, adek marah ya kakak ga jemput tadi.. maaf ya deek.. Sebagai gantinya, kakak buka sendiri deh gerbangnya.. tapi bener niih, adek ga mau liat kakak buka gerbang diluar?”

“Hah? Maksud kak Adelia?” tiba-tiba aku menjadi penasaran dari kata-kata kak Adelia. Apa yang mau kak Adelia tunjukkan padaku?

“Eh Adek.. tau kan kalo sehari-hari tuh kak Adelia selalu pake jilbab?” tanyanya membuatku bingung “Iya, semua orang juga tau” jawabku masih sok ketus.

“Dan Adek tau donk kalo diluar kakak biasanya dikenal rapi dan sopan?” lanjut kak Adelia seolah mengarahkanku ke sesuatu yang aku masih belum tau.

“Iya.. Adelio tau kok kak..” jawabku semakin penasaran.

“Hmm.. Adek mau tau ga rasanya kalo liat kakak keluar dari mobil cuma pakai kemeja seragam SMU dan celana dalam putih saja.. hihi” jawab kak Adelia membuatku panas dingin.

“Rambutnya nanti kakak gerai deh.. pasti adek suka liatnya, hihihi.. ayo adeek, sinii..” undang kakakku dengan centil. Tanpa menunggu-nunggu aku langsung keluar menuju teras dan merapat ke pagar sambil melongokkan kepala keluar agar dapat melihat aksi nakal kak Adelia.

Dengan jantung berdebar aku menunggu kak Adelia keluar dari mobil. Kulihat pintu mobil terbuka dan sosok kak Adelia yang ternyata hanya menggunakan kemeja dan celdam putih dengan santai berjalan menuju ke pintu gerbang dan menggesernya sendiri. sudah sejak lama terakhir aku meminta kak Adelia mengenakan seragam SMU sambil aku crot di hadapannya.

Gila! Kak Adelia bahkan tidak melihat kanan kiri dulu, bagaimana bila ada orang sekitar yang melihat tingkah kak Adelia. Kak Adelia benar-benar makin nakal.

Bahkan sebelum akhirnya kak Adelia masuk ke mobil lagi, ia sempat bergaya imut kearahku dengan memiringkan kepala dan menempelkan telunjuknya ke pipi yang ia gabungkan.

“Uugh.. kak Adelia.. kakak kok binal banget siih..” aku tak kuat melihat gaya imutnya.

Sampai mobil masuk kedalam rumah, baru aku menghampiri kak Adelia.

Kak Adelia berjalan dengan gontai menuju kamarnya yang setelah ditutup ternyata terbuka lagi pintu itu.

“Adeek! Sini deh dek..” tiba-tiba kak Adelia melongokkan wajahnya dari sela pintu kamar memanggilku.

“Ada apa kak Adelia?” penasaran dengan panggilan kak Adelia, aku pun mendekatinya.

“Ini, baju seragam sama celana dalam kembalikan ke Dado yah.. hihi..” kak Adelia melempar satu stel itu kearahku.

“Apa! Punya Dado?” tercium seragamnya yang berbau keringat apek tak karuan itu.

Lalu celana dalam cowok? Banyak noda-noda aneh di sisi dalam celana dalam terkutuk itu. Cairan-cairan putih yang baru saja mengering sehingga bagian bawah kain tampak kaku seperti dikanji, bahkan juga ada bercak-bercak berwarna kuning yang sudah memudar.

Novel The Wild Wolves

Lalu aku memandang kak Adelia dengan tatapan penuh keterkejutan. Aku jadi benar-benar penasaran apa saja yang kak Adelia lalui saat ia keluar tadi.

“Oiya dek.. kakak lupa, tau ngga sih besok kakak mau diajak keluar lagi sama Dado.. tapi kakak bilang ga mau..”

“Uuugh… Bagus deh kak, ngapain juga mau jalan sama dia, enak aja tuh kampret!” jawabku setengah bersungut. Kampret tuh orang, kak Adelia udah diapain aja sih?

“Itu juga sih yang kakak bilang… Tapi dia malah mau main kerumah besok minggu tuh dek, hihi..”

“Apa?!” tanyaku kaget.

Di tengah kekagetan ku aku hanya bisa melihat kak Adelia yang sudah menghilang dari balik pintu kamarnya yang kini tertutup rapat. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan kami lalui besok…

TAMAT

~Hope fully no one is curious about what happens next~

Adelia adalah seorang kakak yang memiliki reputasi buruk di kalangan teman teman nya. Dia suka melakukan hubungan terlarang dengan banyak orang, tanpa memedulikan akibat yang mungkin terjadi. Meskipun sudah tidak perawan karena hubungan nya dengan pacarnya yang tidak diketahui namanya, Adelia masih tetap bersikukuh untuk menjalani hubungan tersebut hingga sekarang. Kebiasaan Adelia yang suka melakukan hubungan terlarang. Meskipun sudah memiliki pacar, Adelia terlihat tidak puas terus mencari-cari kesempatan untuk melakukan dengan orang lain.

~While his younger brother~

Adelio adalah seorang pria yang selalu tergoda setelah secara tidak sengaja melihat kakaknya baru selesai mandi. Matanya terpaku pada keindahan tubuh kakaknya yang masih basah dari air mandi, membuatnya sulit untuk mengalihkan pandangannya.

Rasa tertarik dan keinginan yang tumbuh di dalam hatinya membuat Adelio terus memikirkan kakaknya setelah kejadian tersebut, meskipun ia menyadari bahwa itu adalah perasaan yang salah. Adelio merasa tergoda dan bingung dengan perasaannya sendiri, tidak tahu harus berbuat apa untuk mengatasi perasaan yang muncul setelah insiden melihat kakaknya mandi.