Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Bersetubuh Dengan Kasir Cafe Cantik Lulusan S.Psi yang Tergoda Pelanggan

Bersetubuh Dengan Kasir Cafe Cantik Lulusan S.Psi yang Tergoda Pelanggan

Cerita Sex Kekasih Tercinta – Aku ingin sekali membahagiakan hati Mama sebagai single parent – ku. Ingin segera mengubah kesengsaraan menjadi kesenangan semata. Tapi bagaimana caranya?

Di usia 24 tahun aku sudah meraih gelar sarjana psikologi dari sebuah universitas yang tergolong perguruan tinggi swasta terbaik di kotaku. Tapi… meski sudah meraih gelar S. Psi, ternyata aku tidak mudah untuk mendapatkan kerja.

Entah sudah berapa banyak kulayangkan surat lamaran ke perusahaan – perusahaan yang tadinya kuanggap mungkin bisa menerimaku. Tapi apa yang kudapatkan? Lebih dari 2 bulan aku sibuk melamar ke sana sini, jawabannya memang beragam, tapi kesimpulannya…

Aku sampai nyaris frustasi menghadapi kenyataan pahit ini. Di bulan ketiga setelah diwisuda, kudapatkan juga pekerjaan itu. Menjadi kasir di sebuah café. Tapi jauh dari harapan dan cita – citaku.

Cerita Sex Kekasih Tercinta Ngocoks Bekerja sebagai kasir di café ini sangat meletihkan. Karena aku harus mau membantu waiters di saat café sedang sibuk. Aku ikut melayani konsumen menghidangkan makanan pesanan mereka. Dan kalau sudah ada yang berdiri di depan meja kasir, aku harus setengah berlari ke belakang meja kasir.

Bukan cuma itu. Kalau aku kebagian shift malam, café ditutup jam sebelas malam. Tapi aku tidak bisa langsung pulang. Karena harus ikut beres – beres dulu sampai jam duabelas lebih. Dan baru tiba di rumah setelah jam satu pagi.

Apakah ini pekerjaan yang kucari selama ini? Bahwa aku yang sudah S1 mendapat pekerjaan yang harus terpontang – panting setiap hari?

Karena itu diam – diam aku melamar ke sana – sini. Tapi aku tetap bekerja di café itu. Tujuanku, kalau aku sudah mendapat pekerjaan yang sesuai dengan harapan, aku akan resign dari café itu.

Sampai pada suatu saat…

Ketika aku sedang berada di belakang meja kasir, seorang lelaki menghampiriku, untuk membayar minuman dan snack yang telah dihabiskannya. Kutaksir usia lelaki itu sudah limapuluhan. Melihat dari bentuk dan sikapnya, aku yakin dia itu golongan menengah ke atas.

“Sudah lama bekerja di café ini?” tanya lelaki itu pada waktu menyerahkan uang untuk membayar sesuai dengan yang tertera di bon.

“Sudah setengah tahun Pak,” sahutku sambil mengoperasikan cash register. Lalu menyerahkan uang kembaliannya pada bapak itu.

“Pendidikannya sampai di mana?” tanyanya lagi.

“Saya… sarjana psikologi Pak.”

Bapak itu seperti berpikir sesaat. Lalu menyerahkan secarik kartu nama sambil berkata, “Kapan – kapan kalau mau bekerja mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus, silakan hubungi saya ya.”

“Iya Pak. Terima kasih,” sahutku sopan, sambil memasukkan kartu nama itu ke dalam saku celana jeansku. Aku tak berani melihat kartu nama itu secara jelas, karena takut kelihatan dan dimarahi oleh pemilik café.

Waktu menuju pulang di dalam sebuah angkot, barulah aku mengeluarkan kartu nama itu dari saku celana jeansku. Dan membacanya.

Ternyata nama Bapak itu Mathias, komisaris utama sebuah perusahaan besar yang pernah kukirimi lamaran lewat pos dan… menolak lamaranku dengan alasan belum ada lowongan.

Yang aku tahu, biasanya kedudukan komisaris utama itu diserahkan kepada pemilik saham terbesar di suatu perusahaan swasta. Dengan kata lain, bapak itu owner perusahaan yang pernah menolak lamaranku.

Tapi aku yakin Pak Mathias tidak tahu masalah penolakan lamaranku. Karena yang aku tahu, urusan lamaran kerja ditangani oleh manager personalia atau manager HRD. Bahkan mungkin ditangani hanya oleh stafnya saja, bukan oleh managernya.

Lalu apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menghubungi Pak Mathias lewat handphone atau datang sendiri ke kantornya? Bukankah di kartu nama ini ada alamat kantor berikut alamat rumahnya juga?

Bukankah aku membutuhkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikanku?

Beberapa hari kemudian, bapak itu datang lagi ke café tempatku bekerja, pada saat café sedang lumayan sibuk. Sengaja aku sendiri yang memberikan daftar menu padanya, supaya bisa sedikit berkomunikasi dengannya.

Benar saja, ketika ia sedang memegang daftar menu café, dia bertanya, “Bagaimana? Tertarik pada tawaran saya tempo hari?”

Aku menjawabnya secara to the point, karena takut ditegur pemilik café kalau terlalu lama berdiri di dekat meja konsumen. “Kalau saya mau menghadap ke kantor Bapak, kapan saya harus ke sana?”

“Ke rumah saja, jangan ke kantor. Besok sebelum jam sepuluh pagi saya masih ada di rumah,” sahutnya, “alamat rumah saya ada di kartu nama yang tempo hari saya kasih kan?”

“Siap Pak. Besok saya akan ke rumah Bapak.” “Ohya… siapa namanya?” “Nama saya Rina, Pak.” “Rina… “gumamnya seperti menghapalkan namaku.

Lalu aku kembali lagi ke belakang meja kasir, setelah menyerahkan bon pesanan Pak Mathias ke pegawai kitchen.

Pada waktu membayar makanan dan minuman yang sudah dihabiskannya, Pak Mathias sempat berkata perlahan padaku, “Besok pagi saya tunggu ya.”

“Siap Pak,” sahutku sambil memberikan uang kembalian padanya, yang ditolaknya sambil berkata, “Ambil aja kembaliannya.”

Kemudian ia meninggalkan café…

Meninggalkanku dengan penuh harapan. Agar bisa bekerja di kantor. Bekerja dengan tenang dan menggunakan otakku secara profesional. Bukan menggunakan tenaga seperti di café ini.

Keesokan paginya, aku berangkat menuju alamat rumah Pak Mathias, dengan membawa map berisi berkas lamaranku.

Jam sembilan pagi aku sudah berada di depan pintu gerbang sebuah rumah yang seolah istana di zaman Romawi, karena rumah Pak Mathias itu benar – benar klasik, dengan tiang – tiang berukir di dasar dan puncaknya.

Seorang satpam menghampiriku sambil bertanya, “Mau ke mana Mbak?” tanyanya.

“Mau ketemu dengan Pak Mathias,” sahutku. “Oh… sudah ada janji?” “Sudah,” jawabku sambil mengangguk. “Maaf… siapa namanya?” tanyanya lagi. “Rina,” sahutku.

“Sebentar, saya mau laporkan dulu kepada Boss ya,” ucap satpam itu sambil bergegas menuju pos satpam yang berada di dekat pintu gerbang. Kemudian kulihat dia berbicara di pesawat telepon. Dan kembali lagi menghampiriku sambil berkata, “Silakan masuk ke pintu ketiga dari sebelah kiri Mbak.”

“Iya, terima kasih,” sahutku sambil melangkah ke arah pintu yang ditunjukkan itu, dengan jantung berdebar – debar. Karena baru sekali inilah aku berkunjung ke rumah yang segini megahnya, bahkan layak disebut istana. Bukan sekadar rumah.

Pintu yang kutuju langsung terbuka sendiri ketika aku sudah berdiri di depannya. Dan Pak Mathias tampak sudah duduk di sebuah kursi yang seolah singgasana raja di mataku.

“Selamat pagi Pak Boss,” ucapku sambil mengngangguk sopan.

“Pagi… duduklah,” kata Pak Mathias sambil menunjuk ke sofa yang terdekat dengan kursi mewahnya.

Aku pun duduk sambil menundukkan kepala di sofa yang ditunjukkan oleh Pak Mathias, sambil meletakkan map berisi berkas lamaran di atas lututku.

“Map apa itu?” tanya Pak Mathias “Surat lamaran dan persyaratan lainnya Pak Boss.” “Coba lihat, “pintanya.

Dengan tangan agak gemetaran kuserahkan map berisi surat lamaran, fotocopy ijazah, surat kelakuan baik dan sebagainya ke tangan Pak Mathias.

Pak Mathias memeriksa berkas lamaran itu, terutama pada ijazah S1-ku. Lalu map itu ditutupkan lagi. Dan berkata, “Sebenarnya aku bukan hanya akan menempatkan Rina untuk bekerja di perusahaanku. Ada suatu kedudukan yang jauh lebih tinggi daripada sekadar jadi karyawati di perusahaanku.”

Aku ingin bertanya tapi tidak berani mengucapkannya. Maka aku diam saja, sambil sesekali memandang ke arahnya.

“Aku ingin menjadikan Rina sebagai calon istriku,” ucap Pak Mathias selanjutnya, membuatku tersentak kaget.

“Aku ini duda yang punya anak lima. Dua cewek dan tiga cowok. Yang cewek sudah pada nikah dan dibawa oleh suaminya masing – masing. Dua anak cowok kuliahnya di Amerika dan di Kanada. Jadi yang tinggal bersamaku hanya anak paling kecil. Tapi usianya sudah delapanbelas tahun. Bukan anak – anak yang harus diurus oleh orang tua lagi.

Aku cuma menundukkan kepala. Tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Karena ucapan Pak Mathias itu seolah “lamaran” bagiku. Lamaran untuk memperistrikanku.

Sedikit pun aku tak menduga bahwa aku diminta datang ke istananya ini untuk menyampaikan “tawaran”nya itu.

Sedangkan aku sudah mengikat janji dengan Ricky, yang sudah hampir lima tahun menjadi pacarku. Bahkan Ricky pun sudah merenggut kegadisanku. Bagaimana mungkin aku menerima keinginan Pak Mathias? Apalagi kalau mengingat usianya yang mungkin sudah dua kali usiaku.

Tapi bukankah ini jalan keluarku untuk membahagiakan Mama yang sering mengeluh tentang kesulitan – kesulitannya dalam soal kehidupan sehari – hari? Bukankah cita – cita utamaku ingin membahagiakan Mama?

“Bagaimana?”

Aku memandangnya sesaat, lalu menunduk lagi sambil mempermainkan jari tanganku.

“Memang tak usah dijawab sekarang. Silakan dipikirkan dulu sebaik mungkin. Tak usah terburu – buru. Dijawab sebulan atau dua bulan lagi pun tidak apa – apa.”

Batinku terhuyung – huyung dalam perjalanan pulang dari rumah yang laksana istana kekaisaran Romawi itu. Hari itu aku kebagian shift malam di café. Sehingga aku bisa pulang ke rumah dulu. Bisa curhat dulu kepada Mama.

Kuceritakan semua yang baru kualami itu. Dan Mama mendengarkannya dengan seksama.

Lalu kata Mama: “Di zaman sekarang perkawinan dengan perbedaan usia yang sangat jauh, bukan hal aneh lagi. Bahkan mendingan nikah dengan lelaki yang jauh lebih tua. Karena lelaki yang sudah tua sudah melepaskan egonya.

Lalu dia akan memanjakan dan membahagiakanmu. Apalagi kalau dia orang tajir. Kamu bisa begelimang harta.

“Tapi bagaimana dengan Ricky? Mama kan tau kalau aku sudah lima tahun menjalin hubungan dengannya,” sahutku.

“Iya… selama lima tahun tanpa kepastian, mau dibawa ke mana hubunganmu dengan Ricky itu?” ucap Mama dengan tatapan tajam.

Aku tertunduk. Memang ucapan Mama itu seolah menyadarkanku. Bahwa selama berhubungan dengan Ricky, aku tak pernah mendengar rencana kawin dari Ricky. Seolah hubunganku dengannya cuma untuk “just have fun” semata.

Dan kalau bicara tentang masa depan, Ricky bukan sosok yang menjanjikan bagiku. Karena Ricky hanya punya modal tampang doang, sementara pekerjaannya hanya nyalo sana nyalo sini.

Mama tidak mendesakku untuk menerima Pak Mathias sebagai calon suamiku. Tapi dari nada bicaranya, kelihatannya Mama memihak kepada pengusaha tajir melilit itu. Sedangkan cita – cita utamaku adalah ingin membahagiakan Mama. Karena Mama adalah segalanya bagiku.

Tapi aku masih bingung. Jalan mana yang harus kutempuh? Tetap menjalin hubungan dengan Ricky yang tanpa kepastian masa depannya? Atau menerima Pak Mathias sebagai calon suamiku, dengan harapan ingin menaikkan derajat Mama dan menyenangkan hatinya?

Berhari – hari aku mempertimbangkan semuanya itu. Sementara aku masih tetap bekerja di café.

Dan pada suatu hari, Pak Mathias datang lagi ke café. Biasa, untuk menikmati black coffee dan snack croissant isi daging dua buah. Pada waktu membayar di depan cash register yang selalu kuoperasikan, Pak Mathias bertanya perlahan, “Sudah ada keputusan?”

“Belum Pak. Masih bingung,” sahutku tanpa berani menatapnya. “Besok kerja siang apa malam?” “Siang Pak.” “Pulang jam berapa?” “Jam lima sore.”

Lalu Pak Mathias menawarkanku untuk ketemuan di sebuah café yang terletak dalam sebuah mall setelah aku pulang kerja. Aku pun berpikir sejenak. Dan akhirnya mengangguk dengan sikap canggung.

Kemudian Pak Mathias membayar kopi dan croissant itu. Dan seperti biasa, dia tidak mengambil kembaliannya.

Kemudian dia berlalu. Meninggalkanku dalam kebingungan.

Tapi keesokan sorenya, setelah jam kerjaku selesai, aku tetap menuju cafed yang berada di dalam mall itu, untuk memenuhi janjiku.

Sebenarnya hatiku sudah condong – condong ke arah Pak Mathias. Dan berniat untuk memutuskan hubunganku dengan Ricky yang tanpa kejelasan masa depannya itu.

Karena itu aku berusaha untuk tersenyum ketika melihat Pak Mathias sudah menungguku di café yang dijanjikan itu.

Begitu aku duduk berhadapan dengan Pak Mathias, dibatasi oleh meja kecil café itu, Pak Mathias langsung mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dilapisi kain beludru berwarna merah. Ia membuka kotak kecil itu dan memberikannya padaku sambil berkata, “Ini hanya tanda seriusnya hatiku untuk menjadi calon suami yang bertanggung jawab pada masa depanmu, Pam.

Batinku jadi limbung melihat isi kotak kecil itu, yang ternyata sebentuk cincin emas bermata berlian yang berkilauan…!

Tangan Pak Mathias memasangkan cincin itu di jari manis kiriku. Lalu berkata, “Kebetulan ukurannya ngepas ya?”

Aku cuma mengangguk perlahan. Dengan terawangan melayang – layang. Kata – kata Mama pun terngiang – ngiang lagi di telinga batinku. Bahwa Pak Mathias itu memberikan kesempatan teramat baik bagiku. Kesempatan untuk hidup secara layak. Dan kesempatan itu takkan datang dua kali.

“Sebulan lagi aku mau terbang ke luar negeri,” kata Pak Mathias ketika aku masih melirik – lirik ke arah cincin berlian yang sudah terpasang di jari manisku, “Kalau bisa, keputusan itu bisa Rina katakan sebelum aku terbang ke luar negeri.”

“Maaf… kalau boleh saya ingin bertanya,” sahutku. “Mau nanya masalah apa? Tanyalah, jangan ragu – ragu.” “Kenapa Bapak serius mau menikahi saya?”

Pak Mathias tersenyum. Lalu memegang tanganku yang terletak di atas meja café. Dan berkata, “Karena kamu cantik dan sangat menarik bagiku, Pam.”

“Tapi saya orang tak punya Pak.”

“Hanya lelaki gak bener yang mengharapkan harta istrinya. Dengan kata lain, aku tidak mengharapkan hartamu serupiah pun. Yang penting, kamu bisa mendampingiku sebagai istri yang akan membuatku bangga.”

“Bagaimana Bapak bisa membanggakan saya, sedangkan saya begini adanya?”

“Rina,” ucap Pak Mathias sambil memegang kedua tanganku, “Dalam keadaan tidak berdandan saja kamu sudah kelihatan cantik begini. Apalagi kalau sudah kudandani nanti. Pokoknya Rina adalah wanita tercantik di antara wanita – wanita yang pernah kukenal. Tercantik dan termuda pula.”

Hatiku jadi besar setelah mendengar ucapan itu. Tapi mungkinkah dia masih akan berkata seperti itu setelah mengetahuiku tidak perawan lagi? Inilah salah satu masalah yang selama ini mengganjalku.

Sehingga aku belum juga mengatakan “iya” pada “tembakan” Pak Mathias. Meski cincin pemberiannya masih melingkari jari manisku pada hari – hari berikutnya.

Hari – hari yang mengambang itu hanya belasan hari. Karena pada suatu hari Pak Mathias menemuiku di tempat yang sudah dijanjikan. Kemudian aku masuk ke dalam mobil mewahnya, setelah sopir bergegas turun dan membukakan pintu belakang kiri, di mana Pak Mathias sedang menunggu di sebelah kananku.

“Aku mau membawamu ke villaku ya,” bisik Pak Mathias di dekat telingaku.

Aku cuma mengangguk pasrah. Karena hatiku sudah bertekad untuk mengiyakan apa pun yang diinginkan olehnya. Termasuk ajakannya untuk menikah dengannya. Hanya belum kuucapkan secara lisan.

Di sepanjang perjalanan menuju villa, tangan kananku selalu berada di dalam genggaman Pak Mathias. Terkadang ia meremas tanganku dengan lembut, sehingga bathinku merasa seolah sudah menjadi miliknya.

Hanya sejam lebih waktu yang dibutuhkan untuk mencapai villa Pak Mathias. Kemudian dengan cara yang gentle Pak Mathias turun dulu dan setengah berlari menuju pintu di sebelah kiriku. Kemudian pintu itu dibukanya dari luar. Dan tangannya dijulurkan untuk membantuku turun dari mobil mewahnya.

Di dalam villa inilah aku sudah mempersiapkan mentalku.

Sehingga ketika aku duduk berdampingan di atas sofa, ketika tangan Pak Mathias menyelinap ke balik gaunku dan bahkan menyelinap ke balik celana dalamku, dengan teguh batinku berkata, apa yang mau terjadi, terjadilah.

Seandainya dia menyetubuhiku pun takkan kutolak. Hitung – hitung menilainya, apakah dia akan tetap membutuhkanku setelah selesai menyetubuhiku kelak atau sebaliknya.

Batinku pun memutuskan bahwa di villa ini aku seolah berada di batu loncatan. Apakah aku akan berhasil melompatinya atau tidak. Kalau gagal, aku akan kembali ke asalku. Tapi kalau berhasil, derajatku dengan sendirinya akan terangkat ke atas, sebagai wanita terhormat di samping sang Boss.

Kebetulan pula Pak Mathias pandai merawat tubuhnya, mungkin dengan olah raga dan tidak sembarangan makan makanan yang bisa membuatnya lepas kontrol. Entahlah. Yang jelas, meski usianya sudah kepala lima, perut Pak Mathias tidak buncit. Bahkan tampak bentuk sixpack yang sangat diidamkan oleh kaum pria.

Maka… ketika aku merasakan batang kemaluan Pak Mathias mulai membenam ke dalam liang serambi lempitku, lalu kudengar bisikannya, “Bagaimana? Sekarang sudah siap untuk menikah denganku atau tidak?”

Sambil melingkarkan lenganku ke leher lelaki gagah meski sudah berusia setengah abad lebih itu, aku menyahut sambil merapatkan pipiku ke pipinya, “Kalau tidak menerima Bapak sebagai calon suamiku, takkan mungkin kubiarkan Bapak memperlakukanku sampai sejauh ini…”

“Hahahaaa… syukurlah. Berarti Rina akan menjadi permaisuriku, yang akan kucinta dan kusayang dengan segenap jiwaku…” ucapnya sambil mulai mengayun rudalnya di dalam liang kemaluanku.

Gesekan demi gesekan rudal Pak Mathias di liang kewanitaanku, membuatku jadi lupa segalanya. Yang kuingat cuma satu. Bahwa rudal Pak Mathias ini gagah sekali. Meski usianya sudah lebih dari setengah abad, namun ia mampu menaklukkanku. Mampu membuatku menggeliat – geliat dalam arus nikmat yang tengah kunikmati, mampu membuat tubuhku mulai lembab oleh keringat.

Bersambung… Bahkan lalu Pak Mathias menjilati leherku ketika aku masih lemas karena baru habis orgasme. Namun gairahku bangkit kembali beberapa detik kemudian.

Gairah yang membuatku mulai berani untuk menciumi bibir Pak Mathias yang berkumis tipis itu. Bergairah untuk balas menjilati lehernya, dengan celucupan – celucupan mesra. Semesra mungkin. Karena aku akan menggantungkan masa depanku padanya.

Lalu… ketika rudal Pak Mathias dibenamkan dan diikuti dengan pancaran spermanya yang bertubi – tubi, aku memejamkan mataku erat – erat. Dalam nikmat tiada taranya.

Lalu kubiarkan ia terkapar lemas di atas perutku.

Dan ketika ia mencabut rudalnya dari liang sanggamaku, masih sempat aku bertanya lirih, “Bagaimana kalau hamil nanti Pak?”

“Hamil ya hamil aja. Dua minggu lagi juga kita kawin,” sahut Pak Mathias disusul dengan kecupan hangatnya di bibirku.

“Lho… bukannya Bapak mau ke luar negeri?” tanyaku.

“Diundurkan beberapa hari,” sahut Pak Mathias, “Karena aku ingin kawin dulu denganmu. Jadi, sepulangnya dari villa ini, nanti aku harus menjumpai ibumu. karena ayahmu sudah tiada kan?”

“Iya Pak. Tapi jangan diketawain nanti ya Pak. Rumah kami cuma rumah kecil dan sudah tua.”

“Siapa yang akan ngetawain? Kan aku sudah bilang, aku tidak butuh hartamu serupiah pun. Aku hanya ingin dirimu seutuhnya sebagai calon permaisuriku… “lagi – lagi Pak Mathias mencium bibirku dengan hangatnya, “Ohya… mulai sekarang panggil aku papie aja ya. Aku pun akan memanggilmu Mamie, meski Rina jauh lebih muda dariku.

Ucapan itu sangat membesarkan hatiku. Berarti dia tidak memasalahkan keadaanku yang tidak perawan lagi ini. Maka aku pun bertekad untuk tidak membahas masalah yang satu itu. Kecuali kalau dia menanyakannya.

Beberapa saat kemudian, aku sudah duduk di samping kiri Pak Mathias lagi, di seat belakang mobil mewahnya. Menuju rumahku. Dan aku sudah mengirim berita lewat handphoneku kepada Mama, bahwa Pak Mathias akan datang bersamaku. Entah untuk apa. Yang jelas aku minta agar Mama membersihkan dan menata rumah secepatnya, agar jangan terlihat berantakan.

Rumah Mama terletak di dalam gang yang tidak jauh dari mulut gang. Hanya sebuah rumah kecil yang sederhana.

Mama tampak senang sekali melihat kedatanganku bersama lelaki yang usianya lebih tua dari Mama. Seingatku usia Mama baru 45 tahun, sementara Pak mathias sudah 52 tahun menurut pengakuannya.

Tapi Pak Mathias mencium tangan Mama ketika baru dipersilakan masuk ke dalam ruang tamu yang sempit ini. Kemudian Pak Mathias mengatakan bahwa beliau berniat menikahiku paling lambat dua minggu lagi.

Untungnya Mama tidak kelihatan gugup. Dengan tenang Mama berkata, bahwa keputusannya terletak pada diriku sendiri, sedangkan Mama hanya bisa merestui saja apa pun keputusanku ini.

Pada saat Mama masuk ke dalam, untuk menyiapkan minum buat tamunya, Pak Mathias berbisik ke telingaku, “Nanti ajak mamamu ke rumah yang sudah kusediakan.”

“Rumah?” tanyaku heran.

“Ya. Rumah untuk Rina dan Mama. Jadi nanti akad nikahnya di situ aja. Aku takkan mengundang banyak orang, cukup dihadiri oleh tiga orang anakku yang ada di sini. Sedangkan anak – anak yang sedang kuliah di luar negeri, cukup dengan diberitahu saja.”

“Anak – anak Papie bakal setuju?” tanyaku.

“Mereka tak pernah membantah pada apa pun yang sudah kuputuskan.”

Sejam kemudian, aku dan Mama sudah berada di dalam mobil Pak Mathias yang mulai sekarang harus kubiasakan memanggilnya Papie, di jok belakang. Sementara Papie duduk di depan, di samping sopirnya.

Mobil Papie dihentikan di depan sebuah rumah yang cukup megah, meski tidak semegah rumah Papie yang laksana istana di jaman Romawi itu.

Di dalam rumah yang perabotannya sudah lengkap dan serba baru itu Papie berkata kepada Mama, “Kalau bisa, mulai besok Ibu dan Rina mulai pindah ke rumah ini. Rumah yang akan menjadi milik Rina ini. Jadi akad nikahnya pun kita laksanakan di sini saja. Setelah akad nikah, Rina akan dibawa ke rumah saya.

“Ada, “Mama mengangguk, “walinya paman Rina, adik kandung ayahnya.”

“Baguslah kalau ada walinya. Nanti kita tak usah bikin pesta ya Bu. Yang penting sah aja dulu. Soalnya dua hari kemudian saya harus terbang ke luar negeri. Mungkin Rina juga akan dibawa.”

“Keluarga Papi yang akan menghadiri akad nikah itu berapa orang kira – kira?”

“Mmm… sekitar tujuh orang saja. Mungkin keluarga Rina juga akan ada yang hadir kan?”

“Ada,” sahut Mama, “tapi takkan banyak. Sekitar sepuluh orang saja.”

“Nah… masalah catering pada hari akad nikah itu, biar saya yang atur semuanya. Ibu tak usah repot – repot.”

Kemudian Papie menyerahkan dua lembar cek, sambil berkata, “Itu untuk membeli baju pengantin dan sebagainya. Dan yang selembar lagi ini untuk membeli mobil besok. Supaya Rina jangan kelihatan kecil di mata keluargaku pada waktu mereka datang ke sini nanti.”

Lalu Papie berbisik di dekat telingaku, “Kalau ada lebihnya, kasihkan ke Mama aja.”

Aku mengangguk dengan tangan gemetaran. Karena kaget setelah melihat nominal yang tertulis di kedua lembar cek itu. Tak kusangka Papie sudah sebegitu seriusnya ingin memperistrikanku…!

Yang mengejutkan adalah laporan Mama keesokan harinya. Pada saat aku sedang berdandan untuk nyari mobil baru seperti yang disuruh oleh Papie kemaren, Mama menghampiriku. Dan berkata, “Kemaren siang, sebelum kamu pulang, Ricky datang.”

“Haa?! Mau ngapain dia?” tanyaku kaget.

“Dia mengadu sama mama.”

“Mengadu soal apa?”

“Mengadu karena hubungannya denganmu diputuskan olehmu. Dia sampai bercucuran air mata waktu mengadu kepada mama itu. Karena dia masih mencintaimu.”

“Terus Mama bilang apa?”

“Mama cuma berusaha menghiburnya. Mama bilang jodoh itu tidak bisa dipaksakan. Semoga saja dia takkan dendam padamu.”

“Ya… jangan sampai dia mengganggu rumah tanggaku setelah menjadi istri Pak Mathias nanti. Lagian seperti Mama bilang, hubunganku dengan Ricky tak jelas masa depannya. Untuk membayar cicilan motornya saja dia sering minjam uangku. Untuk beli rokok pun dia suka minjam duit padaku. Minjam – minjam yang tak pernah dibayar.

“Iya sih. Kalau hubunganmu dengan Ricky dipertahankan, paling juga dia bakal jadi benalu nantinya.”

Masalah Ricky pun langsung kulupakan. Karena aku sedang konsentrasi menghadapi pernikahanku dengan Papie nanti. Membeli mobil baru yang sangat kudambakan sejak lama, sebuah sedan matic berwarna merah metalik.

Memesan gaun pengantin. Membelikan pakaian untuk Mama dan sebagainya. Untungnya aku sudah trampil dalam mengemudikan mobil, karena waktu masih kuliah sering diajari oleh Destini, teman kuliahku yang sudah menjadi sahabat terdekatku di kampus.

Dengan dua lembar cek dari Papie yang sudah kucairkan, semua masalah keuangan tidak ada lagi. Bahkan setelah membeli segala perlengkapan untuk pribadiku dan untuk Mama, masih banyak sisa duitnya di dalam tabunganku.

Pada hari itu pula Mama kuajak pindah ke rumah megah hadiah dari Papie itu. Barang – barang di rumah Mama tidak perlu dipindahkan ke rumah megah ini. Rumah Mama pun cukup dengan dkikunci saja, kemudian Mama kubawa pindah ke rumah megah yang furniture segala peralatan elektroniknya sudah lengkap semua.

Hari demi hari pun berputar terus…

Dua hari menjelang pelaksanaan akan nikah, Papie mengajakku ke rumahnya yang laksana istana itu.

Ternyata kedua anak perempuan Papie beserta suaminya masing – masing sudah menungguku di sana. Papie pun lalu mengenalkan mereka kepadaku seorang demi seorang.

“Ini anak sulungku, Cinthia namanya. Dan itu suaminya bernama Walter,” kata Papie. Kemudian Papie menengok ke arah anak dan menantunya, “Mulai saat ini kalian harus memanggil Mamie padanya, yang dua hari lagi akan diresmikan sebagai istri papie.”

Kemudian Cinthia (yang usianya mungkin lebih tua dariku) berjabatan tangan denganku, lalu mencium pipi kanan dan pipi kiriku diikuti dengan bisikan, “Titip Papie ya Mam.”

Aku cuma menjawabnya dengan anggukan kepala sambil tersenyum.

Papi pun mengenalkan anak keduanya bersama suaminya, “Ini anak keduaku. Namanya Monica dan itu suaminya bernama Laurent. “Kemudian Papie menoleh ke arah anak kedua dan menantunya sambil berkata, “Kalian juga harus memanggilnya Mamie kepada calon istri papie ini.”

Monica dan suaminya pun menjabat tanganku disusul dengan cipika – cipiki. Pada saat cipika – cipiki denganku, Monica pun berbisik di dekat telingaku, “Semoga Mamie bisa membahagiakan Papie ya.”

Aku mengangguk lagi sambil tersenyum.

Kemudian Papi berseru – seru, “Boooy! Boyke !!!”

Terdengar suara cowok menyahut, “Yaaa… !”

Lalu muncul cowok yang kutaksir berusia 18 tahunan. “Ada apa Pap?” tanyanya.

“Ini kenalan dulu sama calon istri papie,” kata Papie sambil memegang pergelangan tangan cowok itu. Lalu menoleh padaku, “Kini anak bungsuku, Boyke namanya,” kata Papie. Sementara cowok bernama Boyke itu tampak cuek sekali. Memandang ke arahku pun tidak.

“Ayo jabatan tangan dulu dengan calon mamiemu itu,” kata Papie kepada anak bungsunya.

Cowok bernama Boyke itu menjabat tanganku sambil menunduk, kemudian pergi lagi meninggalkan kami yang masih berada di ruang keluarga ini.

Papie bergegas mengejar anak bungsunya, sementara anak sulung Papie yang bernama Cinthia itu menghampiriku sambil berkata perlahan, “Boyke memang begitu. Sejak ibu kami meninggal, Boyke jadi berubah. Jadi bandel sekali. Kuliah nggak mau, disuruh kerja di perusahaan Papie juga gak mau. Jadi kerjanya cuma makan, ngeluyur dan tidur.

Aku tidak berani menanggapi ucapan anak sulung Papie itu. Cuma mengangguk – angguk saja sambil tersenyum.

Kehidupanku laksana satelit yang diletakkan di hulu roket, lalu melesat ke angkasa biru sampai meninggalkan atmosphere bumiku. Segalanya langsung berubah drastis. Karena aku sudah menjadi Nyonya Mathias, yang memiliki segalanya.

Setelah menjadi istri Papie, aku terbiasa dipanggil Mamie oleh anak – anak tiri yang usianya lebih tua dariku. Begitu juga dengan suami mereka, yang lebih tua daripada istrinya masing – masing, aku senantiasa dipanggil Mamie. Seminggu setelah aku diresmikan sebagai istri Papie, kedua anak tiriku yang kuliah di Amerika dan Kanada pun datang.

Mereka mengucapkan selamat pada Papie dan juga padaku. Meski mereka hanya seminggu berada di Indonesia, mereka kelihatan sangat mendukung perkawinanku dengan ayah mereka. Aku pun jadi bisa membedakan mana anak tiriku yang ketiga dan keempat. Anak tiri yang ketiga bernama Bobby, kuliah di Kanada. Sementara anak keempat bernama Kent, kuliah di Amerika Serikat.

Kesimpulannya, keempat anak tiriku, baik yang tinggal di Indonesia, mau pun yang pada kuliah di Kanada dan Amerika, sama – sama merasa senang, karena ayah mereka telah memiliki pendamping, meski usiaku jauh lebih muda daripada ayah mereka.

Satu – satunya anak tiri yang sulit diajak berkomunikasi, adalah anak tiriku yang bungsu dan bernama Boyke itu. Bahkan kata “Mamie” pun tak pernah kudengar dari mulutnya.

Tapi aku berusaha untuk beradaptasi dengan anak tiriku yang bungsu itu. Karena Papie sering berkata, bahwa sikapnya memang berubah sejak ibunya meninggal dunia. Maklum tadinya Boyke sangat dimanjakan oleh ibu kandungnya almarhumah. Lalu setelah ibunya meninggal, Boyke seolah kehilangan pegangan yang paling disayang dan diandalkannya.

Setiap pagi Boyke meninggalkan rumah di atas motor gedenya. Lalu pulang setelah larut malam.

Pernah pada suatu pagi, ketika Boyke sedang menyantap sarapan pagi di ruang makan, aku mencoba mendekatinya. Ikut sarapan pagi di ruang makan.

Boyke melirik pun padaku tidak. Asyik saja makan roti bakar dan minum kopi susunya.

“Kamu tiap hari ke mana aja Boy?” tanyaku dengan nada lembut.

Boyke menyahut dengan ketus, “Bukan urusan Anda.”

“Nggak tertarik untuk kuliah seperti teman – teman sebayamu?” tanyaku, tanpa mempedulikan keketusannya.

Boyke menggeleng.

“Padahal sayang lho waktumu dibuang – buang begitu. Ilmu itu kan penting untuk masa depanmu…”

Belum lagi habis kata – kataku, Boyke berdiri sambil berkata, “Anda bukan ibuku. Jadi nggak usah ngasih ceramah padaku.”

Lalu ia meninggalkan ruang makan. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi mesin motornya, yang lalu menjauh sampai hilang dari pendengaranku.

Aku cuma bisa menghela nafas panjang. Sepertinya sulit sekali berkomunikasi dengan anak tiriku yang satu itu. Sementara Papie sering berada di luar kota. Sehingga Papie mungkin tidak tahu kalau aku sering berusaha mendekati anak bungsunya, tapi selalu mentok dan membuatku nyaris putus asa.

Ketika aku mengadu kepada Papie tentang sikap dan perilaku anak bungsunya itu, Papie berkata, “Nggak usah dipikirin Boyke sih. Jangankan sama Mamie, sama aku aja sangat jarang berkomunikasi. Dia seperti hidup di alamnya sendiri. Tapi yang jelas, dia tidak nakal, apalagi jahat. Dia tidak pernah menghabiskan duitku untuk berfoya – foya dengan temannya.

Dia juga tidak banyak teman. Beberapa kali kusuruh satpam untuk menguntitnya, agar aku tau ke mana saja dia pergi. Ternyata dia hanya duduk sendiri di puncak bukit, tanpa seorang teman pun. Mungkin di puncak bukit itu hatinya terasa tenang, mungkin juga dia sedang mengenang ibunya yang sudah tiada. Yang jelas, dia tidak pernah cari gara – gara, baik di rumah mau pun di luar.

“Apakah dia suka memakai narkoba?” tanyaku.

“Tidak pernah, “Papi menggeleng, “jangankan narkoba, minuman keras pun tak pernah disentuhnya. Bahkan pernah kutawari minum bir waktu sedang malam tahun baru, dia menolaknya.”

“Jadi, “lanjut Papie, “pada dasarnya Boyke itu anak baik. Hanya saja dia sulit beradaptasi dengan kenyataan bahwa ibunya sudah tiada. Makanya sebagai sarjana psikologi, cobalah dekati dia terus. Bujuk dia agar mau kuliah, jangan cuma pergi hanya untuk menyendiri begitu.”

“Papie pernah membuijuknya agar mau melanjutkan pendidikannya?”

“Sering. Tapi dia selalu menolaknya. Buat apa kuliah bikin pusing aja… selalu begitu jawabannya. Makanya aku memilihmu karena selain cantik Mamie kan sarjana psikologi. Cobalah lakukan segala cara agar dia mau kuliah. Tapi harus ulet dan sabar. Lama – lama juga pasti luluh hatinya. Tentu saja dengan asesmen yang biasa diterapkan oleh para psikolog.

“Aku belum jadi psikolog Pap. Baru sarjana psikologi. Harus kuliah es-dua dulu baru jadi psikolog.”

“Tapi dasar – dasar psikologi kan sudah punya. Tentu Mamie punya trik untuk membujuk anak muda seperti Boyke agar tertarik untuk kuliah. Pokoknya lakukanlah segala cara, agar dia mau kuliah. Mamie pasti bisa.”

“Mmmm… hobby Boyke apa Pap?” tanyaku.

“Setauku hobbynya cuma main catur, dengarin musik dan mendaki bukit. Bukan mendaki gunung tinggi. Kalau sudah menemukan bukit yang indah pemandangan di sekitarnya, dia bisa seharian duduk di situ. Ohya… dahulu waktu masih di SMA, dia suka sekali memelihara ikan di aquarium. Senengnya cuma ikan kecil – kecil.

“Dia perokok ya Pap.”

“Ya. Tapi dia hanya merokok di luar rumah. Karena dia juga tau, merokok di ruangan berAC itu sangat tidak baik. Dan aku tak pernah melarangnya merokok. Karena aku sendiri sudah jadi perokok sejak masih di SMP dahulu.”

“Kebiasaan Papie itu jadi menurun kepada anaknya ya?”

“Iya. Biar sajalah kalau sekadar merokok gak apa – apa. Kalau dilihat dari umur, dia itu kan sudah dewasa. Tapi kelakuannya masih kayak abege.”

Ucapan – ucapan suamiku itu seolah indoktrinasi, bahwa aku harus ikut berjuang agar Boyke mau kuliah seperti teman – teman sebayanya. Dan yang terngiang – ngiang terus di telinga batinku adalah ucapan suamiku ini…

Pokoknya lakukanlah segala cara, agar dia mau kuliah. Mamie pasti bisa …

Aku sendiri merasa sudah menjadi bagian dari keluarga Mathias ini. Sehingga aku pun punya kewajiban untuk mendekati dan membujuk Boyke agar mau kuliah seperti cowok – cowok sebayanya.

Pada suatu hari, ketika suamiku sedang berada di luar negeri (dia memang sering sekali ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya), aku semakin tersemangati anjuran suamiku, untuk membujuk Boyke dengan segala cara, agar ia punya semangat untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi.

Mengingat salah satu hobbynya adalah main catur, aku sengaja membeli papan catur dan bidaknya yang terbaik dan termahal. Kemudian kuletakkan papan itu di meja kecil meja kecil yang dikelilingi sofa dalam kamarku. Dan kuletakkan bidaknya pada tempat yang semestinya sebelum permainan dimulai.

Kebetulan aku bisa juga main catur, meski tidak seberapa ahli.

Malamnya ketika terdengar derum motor Boyke memasuki pekarangan, aku pun bersiap – siap untuk menyambutnya dengan ajakan main catur di kamarku.

Di lorong menuju ke pintu kamar Boyke, aku menyambutnya, “Baru pulang Boy?”

Boy cuma menatapku sekilas, lalu mengangguk dan membuka pintu kamarnya. Pada saat itulah aku bertanya seolah – olah belum tahu bahwa main catur adalah salah satu hobbynya, “Bisa main catur Boy?”

Boy menoleh padaku, lalu mengangguk dengan suara nyaris tak terdengar, “Bisa…”

“Temenin mamie main catur yuk,” ajakku sambil memegang bahunya.

Boyke tidak menyahut. Cuma berdiri sambil memandang ke dalam kamarnya, yang pintunya sudah dibuka.

Tapi aku mendesaknya, “Boy Sayang, Papie kan lagi di luar negeri. Mamie jadi sulit tidur. Mendingan kita main catur sampai sama – sama ngantuk yuk.”

Boyke memandangku sekilas, lalu menunduk lagi sambil menyahut perlahan, “Mau mandi dulu.”

“Iya… iya… mandi dulu deh. Mamie juga mau mandi dulu. Mamie tunggu di kamar mamie ya.”

Boyke cuma mengangguk, lalu masuk ke dalam kamarnya.

Aku pun kembali ke dalam kamarku sambil memutar otakku.

Lalu aku benar – benar mandi, karena memang belum mandi sore.

Setelah mandi, kukenakan kimono sutera hitamku.

Pada saat itulah terdengar pintu diketuk dari luar. “Masuk aja, gak dikunci… !” seruku.

Lalu Boyke masuk ke dalam kamarku, dalam baju kaus dan celana pendek serba putih.

Aku pun duduk di sofa yang berhadapan dengan Boyke, sambil bertanya, “Mau putih atau hitam?”

“Mana aja,” sahutnya sambil memegang pion hitam di depannya. Diperhatikannya pion itu sambil bergumam, “Bagus sekali bidak caturnya.”

“Iya, sengaja mamie pilih yang paling bagus. Supaya kalau dibawa ke luar gak malu – maluin.”

“Dibawa ke luar? Ke dalam pertandingan antar grup maksudnya?”

“Bukan,” sahutku sambil melangkahkan pion putihku duluan, “Mamie sih maunya maen catur itu di luar. Di puncak bukit misalnya. Jadi kita bisa maen catur sambil menikmati segarnya udara bebas polusi. Apalagi kalau ada angin sepoi – sepoi meniup kita… pasti lebih nyaman lagi.”

“Mamie suka maen ke puncak bukit?” tanya Boyke. Inilah pertama kalinya Boyke memanggilku Mamie.

“Suka banget.”

Boyke melangkahkan pion hitamnya sebagai counter atas langkah pionku. “Sayang sekarang sudah malam,” ucapnya, “Kalau pagi – pagi bisa maen catur di puncak bukit. Tapi… Mamie gak keberatan kalau kubonceng di motorku?”

“Mauuu…” sahutku, “asal jangan dibawa ngebut aja. Ngeri soalnya, kalau jatuh dari motor pasti ada bekasnya di badan.”

“Aku jarang ngebut, kecuali kalau lagi ngejar waktu. Besok pagi aja kita ke puncak bukit ya Mam. Pakai motorku, bukan pakai mobil Mamie. Kalau pakai sedan, bisa rusak nanti sedannya, karena jalannya masih bergerinjal – gerinjal di antara bebatuan.”

“Iya. Mamie juga pengen ngerasain dibonceng sama Boy. Pasti menyenangkan dibonceng saama amnak kesayangan mamie,” sahutku sambil memijit hidung Boyke.

Lalu… untuk pertama kalinya aku melihat Boyke tersenyum.

Mudah – mudahan aja skenarioku akan berjalan sebagaimana mestinya.

Permainan catur di kamarku itu hanya berlangsung satu set. Boyke yang menang. Sengaja aku mengalah agar hatinya senang. Padahal kurasa masih bisa mengalahkannya kalau aku mau.

Lalu Boyke keluar dari kamarku setelah janjian akan membawaku ke puncak bukit sambil membawa papan catur dan bidaknya ke sana.

Esok paginya, kukenakan celana pendek corduroy berwarna biru tua, dengan baju kaus berwarna biru peacock. Sepatu yang kukenakan pun sepatju sport berwarna biru, agar matching dengan baju kaus dan celana pendekku. Aku pun membawa selimut tebal yang kumasukkan ke dalam ranselku. Sekalian membekal mantel panjang yang tidak tembus air, untuk jaga – jaga kalau turun hujan nanti.

Kuketuk pintu kamar Boyke sambil berseru, “Sudah siap Boy?”

“Sudah… !” sahut Boyke dari dalam, “Masuk aja… pintunya gak dikunci Mam… !”

Kulihat Boyke sudah mengenakan celana jeans dan baju kaus putih yang ditutupi dengan jaket jeans pula.

Aku pun melangkah ke belakang Boyke. Lalu memeluk Boyke dari belakangnya sambil berkata, “Sebenarnya mamie sayang sekali sama kamu Boy.”

Boyke seperti kaget pada awalnya. Tapi lalu menyahut perlahan, “Aku juga tak p;ernah membenci Mamie…”

Ucapan Boyke itu sangat berarti bagiku. Semoga skenarioku berjalan lancar, meski harus step by step.

Beberapa saat kemudian, aku sudah duduk di belakang Boyke, di atas motor gedenya. Aku baru mau mengenakan helm, masih sempat mengingatkan Boyke, “Jangan ngebut ya Boy. Santai aja.”

“Iya Mam,” sahut Boyke sambil mengenakan helmnya.

Kemudian Boyke meluncurkan motor gedenya ke jalan aspal. Aku pun memeluk pinggangfnya erat -erat, sehingga terasa sepasang toketku menghimpit punggungnya.

Tapi aku tidak mempedulikannya. Karena aku menganggap sedang bersama anakku sendiri, meski usia Boyke hanya tujuh tahun lebih muda dariku.

Dua jam kemudian kami sudah tiba di puncak bukit yang dituju. Puncak bukit yang sangat indah pemandangan di sekitarnya.

“Wooow… pemandangannya indah sekali Boy. Apakah pemilik bukit ini takkan menegur karena kita masuk ke sini tanpa izin?” tanyaku sambil melingkarkan lengan kananku di pinggang Boyke.

“Bukit ini kan punya Papie,” sahut Boyke.

“Ohya?! Mmm… kita mau ngapain aja di sini takkan ada yang berani negor dong,” ucapku sambil mempererat lingakaran lengan kananku di pinggang Boyke, karena udara di puncak bukit ini terasa dingin sekali.

“Emangnya Mamie mau ngapain?”

“Maen catur kan. “ Boyke terperanjat, “Mam! Kotak caturnya lupa! Gak dibawa !” serunya.

“Haaa?! Tapi biarin deh. Kita duduk – duduk atau rebahan aja di sini sampai siang…” kataku sambil mengeluarkan selimut tebal dari ranselku. Lalu menggelarnya di atas rumput yang rata, tidak ada lekuk – lekuknya.

Boyke tampak girang, “Wow! Mamie bawa selimut tebal itu…?!” serunya sambil duduk menyelonjorkan kakinya di atas selimut yang sudah kuhamparkan di atas rumput.

Aku pun duduk merapat ke sisi kiri Boyke sambil berkata, “Kalau sudah berada di puncak bukit begini, hati mamie terasa damai sekali Boy.”

“Kok Mamie sama dengan aku seleranya ya?” Boy menatapku dengan sorot “jinak”. Tidak cuek lagi. Ini pun sudah membesarkan harapanku, agar dia bisa mengikuti apa yang Papie inginkan.

“Iya… hobby mamie mungkin banyak yang sama denganmu. Memelihara ikan di dalam aquarium juga mamie suka.”

“Ohya?! Ooooh Mamie… ternyata hobby Mamie sama dengan hobbyku. Aku sayang sama Mamie, “cetus Boyke diikuti dengan kecupan hangatnya di kedua belah pipiku.

Lalu entah kenapa… aku menanggapi kecupan – kecupan di pipiku dengan kecupan hangat di bibirnya… sambil melingkarkan lenganku di lehernya, lalu merebahkan diri, sehingga wajah Boyke berada di atas wajahku, dengan bibir yang masih melekat di bibirku. Bahkan entah disengaja entah tidak, perutnya menghimpit perutku, dadanya pun menghimpit sepasang toketku yang kebetulan sedang tidak mengenakan beha.

Aku pun berusaha untuk mengikuti “irama” yang Boy inginkan. Ketika bibirnya terasa lekat menyedot bibirku, aku pun mulai melumat bibirnya dengan penuh kehangatan.

Lalu… entah apa yang timbul di dalam benak Boy, ketika ia balas melumat bibirku, sementara tangannya menyelundup ke balik baju kaus biru peacock-ku. Lalu memegang payudara kananku dengan mata terpejam – pejam.

Kubiarkan semuanya itui sebentar. Lalu kukeluarkan tangan Boy dari balik baju kausku, sambil berkata dengan lembut, “Jangan lewat batas Sayaaang…!”

“Ooo… oooooh… Mamie… maafin aku Mam… barusan aku merasa seperti dengan mendiang ibuku. Maaaf… jangan marah ya Mam…” ucap Boy sambil menundukkan kepalanya.

Aku pun membelai rambutnya dengan lembut, “Memangnya bagaimana perasaanmu terhadap mamie sekarang?”

Boyke tidak menyahut. Cuma menundukkan kepala sambil membiarkan rambutnya kubelai terus dengan lembut.

“Ngomong aja terus terang. Mamie takkan marah, asalkan kamu jujur menjawabnya. Bagaimana perasaanmu terhadap mamie sekarang ini?” tanyaku sambil mengepit kedua belah pipinya dengan kedua telapak tanganku.

“Mungkin barusan ada setan lewat Mam. Tiba – tiba aja aku merasakan hal yang aneh ini. Aku… aku jadi punya perasaan ingin memiliki Mamie…” sahut Boy dengan sikap seperti merasa bersalah.

“Sebenarnya hal itu wajar Boy. Karena kamu sudah mulai dewasa. Yang gak wajar adalah… mamie ini kan punya Papie.”

“Iya Mam. Aku mohon Mamie memaafkanku…”

“Dengar Boy… kalau kamu mau mendaftarkan diri ke perguruan tinggi pilihanmu, mamie akan mengikuti apa pun yang kamu inginkan. Asalkan kamu bisa merahasiakannya.”

“Haaa?! “Boyke menatapku dengan sorot bersemangat, “Serius Mam?”

“Serius. Mamie akan menganggapmu sebagai anak tercinta sekaligus kekasih tercinta. Asalkan kamu melanjutkan pendidikan ke universitas dan fakultas pilihanmu sendiri.”

“Mau Mam… mau…! Besok juga aku akan mendaftar ke sebuah universitas swasta. Aku mau daftar ke fakultas ekonomi aja ya Mam.”

“Terserah. Yang penting kamu sudah siap belajar, siap mengikuti pendidikanmu dengan serius. Kalau sudah seperti itu, setiap Papie nggak ada, mamie akan kasih ini nih,” sahutku sambil menurunkan celana pendek biru tuaku yang pinggangnya elastis, sehingga kemaluanku terbuka di depan mata Boyke.

“Mamie… ooooh… Mamie… !” Boyke berlutut di depanku, dengan mata nyaris tak berkedip, memandang kemaluanku seperti kafilah dahaga menemukan oase di tengah gurun pasir…!

“Mamie takkan ngasih serambi lempit mamie sekarang. Mamie hanya akan ngasih kalau kamu sudah kuliah, dengan nilai bagus pula. Kalau IPKnya di bawah tiga, jangan harap bisa terus – terusan bisa menikmati serambi lempit mamie.”

Boy malah menekan – nekan bagian di bawah perutnyha sambil menyeringai.

“Kenapa?” tanyaku.

“Ini punyaku… jadi pegel dan sakit Mam… sakit sekali…” sahutnya.

“Coba buka celananya… sembulkan tititnya… biar mamie bantu supaya gak pegel lagi,” sahutku bernada perintah.

Aku pernah mendengar bahwa kalau cowok sedang sangat bernafsu, lalu nafsunya itu ditahan – tahan, maka rudalnya akan pegal – pegal. Testisnya pun ikutan pegal dan sakit.

Dan Boyke menurut saja. Celana jeans sekaligus celana dalamnya dipelorotkan, maka tersembullah rudalnya yang tampak ngaceng sekali itu. rudal yang… waaaw… rudal Boyke itu ternyata lebih panjang dan lebih gede daripada rudal papienya…!

Bersambung… Terus terang, aku horny juga melihat batang kemaluan segede dan sepanjang itu. rudal yang ngaceng dengan perfect pula. Hanya saja aku harus menahan diri, agar tujuan utamaku tercapai. Bahwa Boyke harus kuliah dulu, barulah aku akan memberikan kewanitaanku padanya. Itu pun kalau diijinkan oleh suamiku.

Dan kini rudal ngaceng itu sudah berada di dalam genggamanku, setelah menyuruh Boy celentang di atas hamparan selimutku.

Kalau bawa lotion, mungkin aku bisa mengocok rudal Boy sampai ejakulasi. Tapi karena aku tidak membawa lotion, maka sebagai gantinya kualirkan air liurku ke moncong ke leher dan ke badan rudal Boy.

Kemudian kukocok – kocok rudal panjang gede itu dengan telaten. Namun diam – diam aku menyelinapkan tangan kiriku ke balik celana pendekku sendiri, lalu… ketika aku semakin gencar mengocok rudal Boyke dengan tangan kananku, jemari tangan kiriku pun gencar mewngelus – elus kelentitku sendiri.

“Dududuuuuh Maaaam… dduududuuuuh Maaam… bo… boleh sambil megang toiket Mamie gak?” rengek Boy sambil menunjuk ke arah toketku yang tertutup oleh baju kaus biru peacock ini.

Aku pun membungkuk agar tangan Boy bisa mencapai toketku lewat bagian leher baju kaus elastisku. “Peganglah…” ucapku sambil menggencarkan kocokan di rudal Boy dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku pun semakin gencar mengelus – elus kelentitku sendiri.

Lama kelamaan aku menganggap mulutku harus ikjut campur, agar rudal Boy cepat ngecrot. Maka dengan binal kujilati moncong dan leher rudal Boy, sementara tangan kananku tetap gencar mengocok badan rudalnya.

Tangan Boy pun mulai giat meremas – remas toketku. Sehingga aku jadi merasa lengkap dengan “sesuatu” yang tengah kurasakan ini. Bahwa kelentitku sedang dielus – elus oleh jemariku sendiri, sementara toketku sedang diremas – remas oleh tangan Boy.

Akhirnya moncong rudal Boy memuncratkan air mani berulang – ulang, sampai membuat wajahku berlepotan air mani anak tiriku.

Aku sendiri sudah berhasil mencapai orgasme beberapa detik sebelum rudal Boy berejakulasi.

Kukeluarkan kertas tissue basah dari dalam ranselku, untuk menyeka wajahku yang berlepotan air mani Boy.

“Bagaimana? Masih pegel rudalnya?” tanyaku sambil mencolek colek ujung hidung Boy yang mancung seperti mancungnya cowok Arab.

“Nggak Mam. Langsung hilang setelah ngecrot barusan. Terima kasih ya Mam.”

“Iya. Tapi ingat… apa pun yang terjadi di antara kita berdua, harus dirahasiakan. Jangan ada seorang pun tau, termasuk saudara – saudaramu, apalagi Papie… jangan sampai tau ya.”

“Iya Mam. Percayalah, aku ini orang yang teguh janji. Takkan menjilat air ludahku sendiri.”

“Termasuk janjimu untuk mendaftarkan diri ke fakultas pilihanmu itu kan?”

“Iya Mam. Bukan sekadar daftar, tapi juga akan kuliah serajin mungkin, agar cepat jadi sarjana.”

“Bagus. Semua itu demi masa depanmu sendiri kan?”

“Iya Mam,” sahut Boy sambil memegang tanganku. Lalu meremasnya sambil melanjutkan, “Aku… aku sayang Mamie… sangat sayang sama Mamie.”

Sebagai jawaban kucium bibir Boy lalu berbisik di telinganya, “Perasaan mamie juga sayaaaaaaang sama kamu Boy. Makanya mulai saat ini kamu harus mengubah sikap dan perilakumu. Minimal kamu harus mau berkomunikasi sama mamie ya.”

“Iya Mam. Sejak Mama meninggal, aku tidak punya tempat untuk curhat lagi. Sedangkan Papie kan selalu sibuk mengurus bisnisnya di sana – sini. Tapi mulai saat ini, kalau ada sesuatu untuk dikemukakan, aku mau curhat sama Mamie aja ya.”

“Iya. Mamie siap mendengarkan curhatanmu. Kalau ada masalah mamie mau ikut mencari solusinya,” sahutku sambil mengelus – elus rambut Boy.

Keesokan harinya, Boy menepati janjinya. Ia pergi pagi – pagi sekali dan pulang di tengah hari, sambil memperlihatkan sehelai formulir yang harus diisinya. Formulir pendaftaran ke fakultas ekonomi di universitas swasta paling bergengsi di kotaku.

Formulir yang belum diisinya itu diperlihatkan padaku. Kubaca isi formjulir itu. Lalu berkata, “Mendaftar ke universitas itu tentu harus membayar uang sumbangan pembangunan kan.”

“Iya Mam.”

“Kalau ada kekurangan dananya, ngomong aja sama mamie. Nanti mamie bayarin.”

“Nggak Mam. Uang jajan pemberian Papie, masih banyak di rekening tabunganku. Kalau aku mau, beli mobil baru pun bisa.”

“Nah… itu kan lebih bagus. Naik motor itu besar resikonya Boy. Makanya mamie lebih senang kalau kamu pakai mobil. Jangan pakai motor terus. Sayangi badan dan nyawamu sendiri Boy.”

“Iya Mam. Nanti aku pikirkan lagi soal itu sih.”

“By the way, kamu gak punya cewek Boy?”

“Nggak, “Boy menggeleng, “aku sudah muak sama cewek – cewek yang mendekatiku, tapi tujuannya hanya ingin menguras dompetku doang. Soalnya mereka tau kalau aku ini anak orang kaya. Makanya sekarang sih aku mau fokus sama Mamie aja. Kalau aku ingin mencintai seseorang, aku akan mencintai Mamie aja seorang.

Sebagai jawaban, kurengkuh leher Boy ke dalam pelukanku, “Kalau kamu selalu menuruti saran mamie, sampai kapan pun mamie akan tetap menyangimu Boy…” ucapku yang disusul dengan ciuman hangat di bibir Boy.

Boy tampak sangat terhanyut oleh perlakuanku padanya. Lalu berkata perlahan, “Mam… entah kenapa… sekarang ini Mamie sudah ada di dalam hatiku. Ke mana pun aku pergi, bayang – bayang wajah Mamie selalu mengikutiku.”

“Memangnya apa kelebihan mamie sehingga kamu sampai segitunya memikirkan mamie?” tanyaku sambil mengajaknya duduk berdampingan di atas sofa kamarku.

“Mamie sangat cantik di mataku. Dan… Mamie sangat… sangat menggiurkan…”

“Kamu juga ganteng Boy. Nanti… kalau kamu sudah kuliah dan IPK-mu di atas tiga terus, kamu boleh tidur sama mamie pada saat Papie sedang gak ada.”

“Mmmm… sudah kebayang nyaman dan indahnya bobo sama Mamie… bisa melukin Mamie.. bisa melakukan apa pun bersma Mamie…! Aku akan membuktikan kepada Mamie dan Papie, bahwa aku ini bukan cowok bodoh. Lihat aja nanti ya Mam.”

Ketika pulang dari luar negeri, suamiku terheran – heran setelah mendengar laporanku, bahwa Boyke sudah mulai kuliah di fakultas ekonomi.

Lalu suamiku berkata, “Sudah kuduga dari semula, sebagai sarjana psikologi, Mamie pasti mampu memperbaiki sikap dan perilaku Boyke. Hahahaaaa… aku senang mendengarnya, Sayang.”

“Tapi Pap… dia meminta sesuatu sebagai kompensasinya kalau IPKnya di atas tiga terus kelak.”

“Apa yang dimintanya? Sedan sport?” tanya Papie.

“Bukan Pap,” sahutku yang lalu kulanjutkan dengan bisikan di dekat telinga suamiku, “Kalau IPKnya di atas tiga terus, dia ingin menyetubuhiku Pap…”

“Haaah?! Serius?!” Papie tersentak kaget. Aku pun menyiapkan mental untuk menghadapi kemarahan suamiku.

“Iya. Tapi itu nanti kalau sudah dua semester baru akan keluar IPKnya.”

Papie menunduk sambil memijat – mijat keningnya sendiri. Lalu memandangku sambil berkata, “Aku harus berbesar jiwa menghadapi masalah ini. Karena biar bagaimana pun Boy itu anakku, darah dagingku sendiri. Jadi… kalau memang keinginannya seperti itu, kabulkan aja Mam.”

“Kabulkan?!” ucapku dengan sikap seolah – olah tidak setuju pada keputusan suamiku itu. Padahal… ooo… batinku melonjak girang. Karena belakangan ini aku pun sudah mulai terobsesi oleh kegantengan dan kemudaan Boy.

“Iya. Memang kalau dipikir oleh otak picik sih, aku takkan mengijinkan. Tapi setelah dipikir secara luas, dia kan anakku sendiri. Lalu apa salahnya kalau aku berbagi rasa dengannya, agar dia semakin bersemangat kuliahnya? Di sisi lain, dalam beberapa bulan ke depan ini aku akan semakin sibuk mewngurus bisnisku.

“Lalu… nanti cinta Papie padaku akan pudar, karena aku dianggap istri yang serong kan?”

“Tidak, “Papie menggeleng, “Bahkan di dunia Barat, banyak suami yang sengaja men – sharing istrinya, justru karena ingin membahagiakan istrinya itu. Sedangkan aku men – sharing dengan anak sendiri, demi masa depan anak bungsuku itu. Kalau hal itu sudah terjadi, pasti akju akan semakin mencintaimu, sebagai istri yang bijaksana dalam menentukan langkah yang sangat krusial itu.

“Jadi… “lanjut Papie, “Kasih aja apa yang dia inginkan itu. Tapi semangatnya harus dipacu terus. Dan… jangan bilang – bilang kalau aku sudah ngasih ijin begini. Supaya dia tidak sewenang – wenang padamu nanti.”

Aku tertunduk, seperti bingung. Padahal hatiku sedang bersorak kegirangan. Karena aku sudah membayangkan semua itu. membayangkan segarnya daun muda seperti Boy. Kalau memakai istilah umum, aku akan menikmati segarnya brondong ganteng, dengan seijin suamiku sendiri.

“Terus… apa dia sudah dikasih?” tanya suamiku.

“Belum lah,” sahutku, “Kan dia janjinya juga kalau IPKnya di atas tiga terus, baru akan minta bonus istimewa itu.”

“Kalau nunggu setahun lagi, kasihan dia dong. Kasih aja nanti setelah aku terbang ke Eropa. Tapi dia harus berjanji akan mencapai nilai tinggi terus di kampusnya.”

“Memangnya kapan Papie mau terbang ke Eropa?”

“Sekarang kan hari Selasa. Hari Senin mendatang aku akan terbang ke Eropa bersama beberapa stafku. Untuk menandatangani beberapa perjanjian di sana.”

Tiba – tiba terdengar derum motor gede Boy di pekarangan, lalu mendekat ke arah garasi.

“Nah itu Boy datang Pap, “katgaku.

“Iya, “Papie mengangguk, “aku akan menyambut dia dengan pelukan seorang ayah yang bangga melihat anaknya bersedia melanjutkan pendidikannya. soal yang tadi itu, aku akan pura – pura tidak tahu aja.”

Kemudian Papie melangkah ke ruang keluarga.

Karena sebelum masuk ke dalam kamarnya, Boy pasti harus melewati ruang keluarga dulu.

Pada waktu baru masuk ke ruang keluarga, Boy tampak kaget melihat papienya sudah berdiri tegak di depan matanya.

“Papie udah pulang?” tanya Boy.

“Iya. Dari mana kamu Boy?”

“Pulang kuliah Pap.”

“Hahahahaaaaa… akhirnya anak kesayangan papie sadar juga pada masa depannya ya?” ucap Papie sambil memeluk Boy dengan sikap hangat sekali. “Papie bahagia sekali mendengar kamu mau kuliah seperti yang sering papie anjurkan. Syukurlah Boy. Papie gak punya ganjalan lagi sama kamu. Semoga kamu sukses kuliah dan menata masa depanmu ya.

“Iya Pap,” sahut Boy sambil melirik ke arahku, yang membuatnya seperti salah tingkah. Karena itu aku meninggalkan ruang keluarga, menuju ke belakang. Ke arah kolam renang yang bisa diset menjadi hangat airnya. Tapi aku masih mendengar suara Papie berkata, “Dengar Boy… untuk membuktikan kebahagiaan papie, mulai saat ini uang jajanmu dinaikkan duaratus persen.

“Iya Pap. Terima kasih.”

Aku yang sedang berjalan menuju kolam renang, cuma tersenyum mendengar suara Papie dan Boy itu.

Tadinya aku berniat untuk melepaskan housecoatku, lalu melompat ke kolam renang. Tapi tiba – tiba Papie menghampiriku sambil berkata setengah berbisik ke dekat telingaku, “Uang belanja Mamie juga akan kunaikkan empatratus persen. Jadi mulai saat ini transferku ke buku rekening Mamie akan menjadi lima kali lipat.

“Iya, terima kasih Papie Sayaaang…” sahutku. Dan terpaksa kubatalkan niat berenangku, karena takut Papie merasa dinomorduakan olehku. Lalu aku melangkah mengikuti Papie yang berkata sambil berjalan, “Ada oleh – oleh dari Jepang tuh Sayang.”

Pada hari Senin yang sudah ditetapkan, pagi – pagi sekali Papie sudah siap – siap mau berangkat ke bandara. Papie menerangkan bahwa rombongannya harus transit di Singapore dulu, kemudian dari Singapore terbang langsung menuju Bandara Internasional Schiphol (di selatan Amsterdam – Nederland) sebagai tujuan utamanya.

Menjelang keberangkatan Papie dan rombongannya, aku mencium bibir suamiku yang bijaksana itu, disusul dengan ucapan, “Semoga penerbangannya lancar, bisnisnya sukses dan pulang kembali dalam keadaan lancar juga, ya Papieku Sayang.”

Papie mengangguk sambil menepuk – nepuk bahuku dan berkata, “Take care ya Sweetheart. Semoga keadaan di rumah tetap damai dan nyaman selama ditinggalkan olehku.”

Sejam kemudian Boy mengetuk pintu kamarku. Setelah kusuruh dibuka pintunya, Boy pun membuka pintu dan masuk menghampiriku yang sedang duduk di pinggiran bed, “Aku mau kuliah Mamie,” ucapnya yang disusul dengan ciumannya di tanganku.

“Iya… nanti pulangnya jangan ngeluyur dulu ya Sayang. Mamie mau mengajak ke suatu tempat nanti sore.”

“Iya Mam,” sahut Boy sambil mengecup pipi kanan dan pipi kiriku.

Kemudian Boy berlalu.

Meninggalkanku dalam sedikit keresahan. Karena aku sudah sangat tergiur oleh kemudaan dan kegantengan Boy. Meski sudah menjanjikan baru akan “dikasih” setelah terbukti IPKnya di atas tiga, kini justru aku yang tak sabar lagi menunggunya sampai setahun lagi, setelah ada hasil ujian dari dua semesternya.

Itulah sebabnya, aku jadi gelisah dibuatnya. Dan menunggu Boy pulang rasanya lama sekali.

Untungnya jam 12.15 siang terdengar derum motor gede Boy sudah memasuki garasi. Buru – buru kubukakan pintu kamarku, untuk menyambut kedatangan sang pangeran yang sudah membuatku resah gelisah ini.

Di balik kimono sutera putih aku berdiri di ambang pintu, menunggu munculnya sang pangeran. Dan ketika ia muncul, aku langsung bertanya, “Kok tumben siang – siang begini sudah pulang?”

“Kebetulan dosennya gak bisa datang, karena ada acara kawinan di rumahnya. Mau ngajak ke mana Mam?”

Kutarik pergelangan tangan Boy ke dalam kamarku sambil berkata, “Mau ngajak ke sini,” kataku.

“Heheheee… Mamie… ada – ada aja. Kirain mau ngajak ke mana.”

“Sini… mamie mau nanya,” kataku sambil mengajak Boy duduk berdampingan denganku di sofa bedroomku.

“Mau nanya apa Mam? Aku ini sangat setia lho sama Mamie… jangan mikir yang bukan – bukan.”

“Nggak Sayang. Mamie sangat percaya pada kesetiaanmu. Cuma mau bilang bahwa Papie di Eropanya akan makan waktu tiga bulan.”

“Asyik dong Mam. Sedikitnya aku bisa ngemut toket Mamie tiap hari selama tiga bulan.”

“Sekarang mamie mau nanya, masalah apa yang membuatmu masih penasaran? Jawab sejujur mungkin. Apa pun jawabanmu takkan membuat mami marah.”

“Mamie nanya masalah yang membuatku masih penasaran? Tapi maaf ya Mam… Mamie jangan marah… mmm… yang membuatku masih penasaran ya punya Mamie itu,” sahut Boy sambil menunjuk ke arah kemaluanku yang masih tertutup oleh kimono sutera putihku.

Aku lalu berbisik ke dekat telinganya, “Maksudmu… serambi lempit mamie?”

“Iya Mam. Tapi Mamie kan bilang, aku baru boleh menikmati yang satu itu kalau IPK-ku tiga ke atas. Berarti aku harus menunggu setahun lagi, baru aku bisa nagih janji Mamie.”

“Kalau mamie nyuruh kamu jilatin serambi lempit mamie, mau nggak?”

“Waaaah… mau banget Mam. Aku sering nonton filmnya… film yang jilatin serambi lempit, tapi aku belum pernah jilatin serambi lempit. Sedangkan serambi lempit Mamie… megang aja belum pernah. Baru dilihatin sekilas di puncak bukit tempo hari.”

Saat itu aku tidak mengenakan beha mau pun celana dalam. Sehingga kalau kimono ini kulepaskan aku akan langsung telanjang bulat di depan mata Boy.

Lalu kulepaskan ikatan talki kimono di pinggangku. Dan kurentangkan kedua sisi kimonoku sambil berkata, “Kalau begitu, jilatin deh serambi lempit mamie sekarang…”

“Mamie…! Oooooh…! “seru Boy tertahan, sambil melompat ke depanku. Lalu duduk bersila di lantai, di antara kedua kakiku yang sudah kurenggangkan.

Lalu tangannya seperti mau menyentuh kemaluanku yang senantiasa dicukur bersih ini. “Mam… boleh aku megang serambi lempit Mamie ini?” tanyanya dengan suara parau, dengan tangan gemetaran pula.

“Boleh. Dijilatin juga boleh…”

“Mamie… berarti aku… akju akan mendapatkan keringanan hari ini?”

“Iya. Narapidana juga suka dikasih remisi kan? Karena itu kamu pun boleh jilatin serambi lempit mamie sepuasnya. Bahkan boleh juga menyetubuhi mamie sekarang. Asalkan kamu berjanji akan benar – benar membuktikan IPK-mu yang harus di atas tiga. Oke?”

“Siap Mam!” sahut Boy sambil mengacungkan dua jari tangan kanannya.

Kemudian Boy mulai menjilati kemaluanku secara serampangan, pertanda dia memang sangat pemula. Belum pernah menyentuh kemaluan wanita seperti pengakuannya yang berkali – kali diiringi sumpah segala macam.

Maka kuberi petunjuk bagian mana saja yang harus dijilatinya.

Lalu kenapa aku seperti ngebet banget ingin agar serambi lempitku dijilati oleh Boy? Masalahnya aku sudah tahu betapa gedenya batang kemaluan Boy itu. Lebih gede daripada rudal papienya dan bahkan lebih gede daripada rudal Ricky, mantan pacarku yang sudah kuputuskan itu.

Untungnya Boy cukup cerfdas. Dia cepat mengerti petunjukku. Maka mulailah ia menjilati mulut serambi lempitku dengan lahapnya. Bahkan terkadang ia bergumam sendiri. “Hmmm… serambi lempit Mamie harum sekali…”

Tentu saja harum. Karena sesaat sebelum dia turun dari motor gedenya, aku sudah menyemprot selangkanganku dengan parfum made in France. Sehingga harumnya tersiar sampai ke kemaluanku.

Tak cuma itu. Dia juga sudah mengerti yang mana bagian kecil mungil dan bernama kelentit alias itil itu. Bagian yang paling peka di atas mulut serambi lempitku itu. Dan ketika dengan lahapnya dia menjilati kelentitku, yang terkadang disedot – sedotnya… aku pun mulai merintih keenakan. “Iyaaaa… aaaaaaaah…

Setelah Boy menjilati kelentitku dengan lahapnya, terasa liang serambi lempitku mulai basah. Makin lama makin basah. Sehingga akhirnya aku minta Boy menghentikan jilatannya. Lalu aku bangkit dari sofa dan mengajak Boy pindah ke bed, dengan nafsu birahi yang sudah memuncak.

Di atas bed aku yang sudah telanjang bulat ini menyuruh Boy telanjang juga.

Lalu aku cdelentang sambil merentangkan sepasang pahaku lebar – lebar. Sementara Boy merayap ke atas perutku sambil memegangi batang kemaluannya yang sudah ngaceng berat itu.

Karena takut salah sasaran, kupegangi leher rudal Boy dan kuledtakkan pada tempat yang tepat. Kemudian aku berkata, “Ayo… doronglah…”

Boy menuruti perintahku. Ia mendorong rudalnya kuat – kuat dan… blesssssssss… rudal panjang gede itu pun membenam ke dalam liang kenikmatanku. Yang kusambut dengan pelukan di leher Boy, sambvil memberikan instruksi, “Ayo… entotin rudalmu Boy… tapi jangan sampai lepas ya… nanti susah lagi masukinnya…

O, Boy yang ganteng dan cerdas…! Kini ia mulai mengayun rudalnya, bermaju mundur di dalam liang serambi lempitku. Awalnya pelan – pelan… kemudian ia mempercepat entotannya sesuai dengan instruksi dariku.

“Mamie… oooooo… oooooh Maaaam… serambi lempit Mamie enak sekali Maaaaaam… impianku sudah menjadi kenyataan… impian untuk menyetubuhi Mamie seperti ini… dan aku jadi semakin mencintaimu Maaaam… “desis Boy pada waktu mulai lancar memenyetubuhiku, sambil merapatkan pipinya ke pipiku.

“Iya Sayang… mamie juga makin sayang sama kamu Booooy… mungkin lebih sayang daripada seorang ibu kepada anak kandungnya… ayo ent terus serambi lempit mamie Boooy… entooot teruisssss… entoooooootttt… Booooy… entooot terusssss… jangan mandeg – mandeg Boooy… entooooottttttttt…

Rintihku berlontaran begitu saja dari mulutku, tanpa dapat kukendalikan lagi. karena sesungguhnyalah gesekan demi gesekan rudal Boy yang panjang gede itu menimbulkan rasa nikmat yang luar biasa. Nikmat yang sulit dilukiskan dengan kata – kata belaka.

Saking enaknya, entotan Boy menimbulkan nikmat yang seolah mengalir dari ujung kaki sampai ke ubun – ubunku. Terkadang membuatku merinding. Merinding dalam syur, bukan merinding karena takut.

Semua nikmat yang kurasakan ini, akan membuatku semakin menyayangi Boy. Mungkin lebih dari sayangnya seorang ibu kepada anak kandungnya. Karena Boy seolah telah melengkapi kebahagiaanku setelah menjadi Nyonya Mathias ini.

Nikmat ini pun membuatku lupa daratan. Lupa sdegalanya. Sehingga rintihan – rintihan di luar kesadaranku berlontaran terus dari mulutku, seolah tak bisa dikendalikan lagi.

“Iya Booooy… entot terussss Boooy… entoooot teruuuussssssss… entooootttt… entooooottttttt… entoooootttt… rudalmu enak sekali Boooooy… !”

Sementara Boy pun tampak seperti tenggelam dalam arus birahinya sendiri. Arus yang membuatnya berdengus – dengus terus, laksana dengus kerbau yang tengah disembelih…!

Boy pun mengikuti petunjukku. Bahwa ketika ia sedang gencar memenyetubuhiku, mulutnya terkadang nyungsep di pentil toketku yang masih kencang ini. Tanpa ragu lagi ia mengemut pentil toketku, membuatku semakin merinding – rinding dalam nikmat yang tiada bandingannya.

Keringat Boy pun mulai berjatuhan di atas dadaku, wajahku dan leherku. Bercampur aduk dengan keringatku sendiri.

Cukup lama Boy menyetubuhiku. Sampai pada suatu saat ia seperti panik. Ia mengayun rudalnya dengan tergesa – gesa sambil merintih – rintih, “Oooooh Maaaam… Maaaaaam… aaku… mau lepas Maaaam…”

Aku pun menanggapinya dengan menggoyangkan pinggulku sedemikian rupa, sehingga terasa kelentitku bergesekan dengan kepala rudal Boy terus – menerus.

“Ayo letuskan di dalam serambi lempit mamie Boy… lepasin semuanyaaaa… mamie juga mau lepasssss… ayooooo lepasiiiiin semuanyaaaaa…”

Sesaat kemudian, aku sudah tiba di puncak nikmatku yang membuat batinkju serasa melesat ke langit tinggi… langit ketujuh, seperti yang sering dibilang oleh orang – orang tua dahulu. Inilah orgasmeku yang paling nikmat di antara orgasme – orgasme yang pernah kualami.

Boy pun berkelojotan sambil menancapkan rudalnya di dalam liang sanggamaku.

Crooootttt… crettttt… crooooootttt… crettt… croooooottttttt… cret… croooooottttt…!

Wow… terasa banyak sekali air mani yang dimuntahkan oleh moncong zakar anak tiriku ini. Membuat liang serambi lempitku seperti dilanda banjir lendir… namun sangat mengesankan bagiku.

Boy terkulai lemas di atas perutku. Dan aku merasa berterimakasih padanya, karena sudah diberikan kesempatan menikmati kejantanannya yang sangat memuaskan batinku ini.

Maka kucium bibir Boy, disusul dengan bisikan di dekat tewlinganya, “serambi lempit mamie enak nggak Sayang?”

“Ughhh… luar biasa enaknya… terima kasih Mam… semua ini akan membuat semangat belajarku semakin kuat. Mamie memang luar biasa baiknya padaku. Sungguh aku tak menyangka kalau hari ini bisa merasakan nikmatnya menyhetubuhi Mamie… sebagai pengalaman pertamaku merasakan menyetubuhi wanita. Sangat mengesankan Mamie…

Ketika hari mulai senja, Boy sudah duduk di sebelah kiri dalam sedanku yang tengah kukemudikan sendiri.

Menyadari bahwa sedanku matic, Boy terus – terusan menggenggam tangan kiriku dengan sikap mesranya, memperlakukanku laksana kekasihnya.

Jujur, aku suka sekali diperlakukan semesra ini. Bahkan kalau kubanding – bandingkan dengan Papie atau Ricky, perlakuan Boy padaku ini terasa paling mesra.

Bahkan pada suatu saat Boy berkata, “Seandainya Mamie bukan istri Papie, aku mau kawin dengan Mamie.”

“Tadi kita kan sudah kawin Boy,” sahutku sambil menepukkan tangan kiriku ke lutut Boy.

“Heheheee… iyaaa… tapi maksudku menikah Mam.”

“Gak usah mikirin nikah segala. Kamu kan sudah mamie ijinkan, kapan pun kamu mau, serambi lempit mamie boleh kamu sodok.”

“Memang iya. Tapi kalau Papie sudah pulang dari Eropa, aku harus jauh – jauh lagi dari Mamie kan?”

“Tetap bisa Boy.”

“Tetap bisa gimana?”

“Kita kan bisa cek in ke hotel. Setelah sama – sama puas, cek out.”

“Oh, iya ya.”

“By the way, kenapa kamu gak pernah pacaran?”

“Kan aku sudah bilang. Cewek – cewek yang mendekati aku pada matre semua. Mereka mendekatiku karena ada maunya. Minta dibeliin inilah, itulah… karena mereka tau kalau aku ini anak orang kaya. Makanya aku sudah enek sama cewek yang cuma money oriented.”

“Terus… kenapa sama Mamie kamu mau?”

“Karena Mamie memiliki kedudukan ganda bagiku. Sebagai kekasih sekaligus sebagai pengganti ibuku yang sudah tiada. Itulah sebabnya pada saat ini tiada satu pun cewek yang bisa menggantikan Mamie.”

“Tapi cewek cantik yang nggak matre juga banyak kan?”

“Mamie cewek tercantik di dunia. Di mana pun aku berada, nama Mamie selalu tersimpan di dalam hatiku.”

Aku cuma tersenyum dengan perasaan bangga mendengar ucapannya itu.

Dan ketika sedanku mentok di depan lampu merah, Boy menggerayangi paha kiriku yang tersembul di belahan gaun malamku. Kubiarkan saja Boy melakukan hal ini. Aku bahkan ingin agar Boy bisa menjadi cowok yang agresif, tanpa terlalu mengikuti etika.

Dan lampu merah menyala cukup lama, sehingga tangan kanan Boyh sudah tiba di pangkal pahaku. Bahkan sudah menyelusup ke balik celana dalamku, untuk mengotak -atik kemaluanku.

Ketika lampu hijau sudah menyala, tangan Boy masih berada di balik celana dalamku. Padahal aku sudah menjalankan sedanku kembali, menembus kepadatan lalu lintas di hari yang sudah mulai gelap ini.

Tak lama kemudian aku sudah membelokkan sedanku ke area parkir yang terletak di basement. Area sebuah hotel five star.

“Mau cek in di hotel ini Mam?” tanya Boy.

“Tadinya mau makan dulu. Hotel ini menyediakan makanan all you can eat, dengan system buffet. Tapi mendingan cek in dulu. Setelah ML, baru kita makan. Kamu judah kepengen menyetubuhi serambi lempit mamie lagi kan?”

“Heheheee… iya Mam. Mendingan ML dulu, baru makan. Punyaku udah ngaceng berat nih.”

Lalu kami turun dari mobil dan melangkah ke arah pintu lift untuk cek in di front office dulu. Beberapa saat berikutnya kami sudah berada di dalam lift lagi, yang membawa kami ke lantai lima. Lantai di mana letaknya kamar yang sudah kami booking.

Pada waktu di dalam lift yang sedang membawa kami ke lantai lima itulah Boy mendekap pinggangku sambil mencium bibirku dengan mesranya. Memang Boy bebas menciumku, karena hanya ada kami berdua di dalam lift ini.

Setelah lift berhenti, barulah Boy melepaskan ciumannya.

Lalu kami keluar dari lift, menuju kamar yang sudah dibooking.

Setelah berada di dalam kamar hotel, Boy seperti ingin melanjutkan perilakunya di dalam lift tadi.

Boy memeluk leherku sambil berkata, “Di mataku, Mamie ini penuh pesona yang takkan pernah membosankan.”

“Semoga kata – katamu itu muncul dari hatimu yang sebenarnya,” sahutku sambil tersenyum. Lalu kurapatkan bibirku ke bibirnya. Dan kemudian kami jadi saling lumat sambil saling remas. Aku meremas – remas rambut Boy, sementara Boy meremas – remas bokongku.

Setelah saling lumat ini terurai, Boy berkata sambil duduk di atas sofa yang menghadap ke sebuah televisi kecil, “Besok kan sabtu Mam.”

“Terus kenapa kalau Sabtu?” tanyaku sambil duduk di samping Boy.

“Sabtu – Minggu aku kan gak kuliah.”

“Terus kamu maunya nginep di hotel ini sampai Minggu?”

“Maunya sih gitu. Tapi kita gak bawa pakaian ganti ya? Ini aja aku cuma pakai celana pendek dan bersandal pula. Gak pakai sepatu.”

“Sudahlah. Kita nginap sampai besok siang aja. kalau belum kenyang kan bisa dilanjutkan di rumah.”

“Siap Mamie… !” sahut Boyke sambil membusungkan dadanya.

Aku tersenyum sambil menyelinapkan tanganku ke balik celana pendek hitam yang Boy kenakan. Celana pendek yang elastis di bagian lingkaran perutnya. Dan kupegang rudalnya yang memang sudah ngaceng berat. Maklum anak muda masih belasan tahun. Produksi sperma dan gairahnya masih melimpah.

“rudalmu udah ngaceng full gini… udah gak sabar pengen menyetubuhi serambi lempit mamie lagi ya?” tanyaku sambil meremas rudalnya dengan lembut.

“Iya Mam… please…” sahut Boy sambil melepaskan celana pendek hitam dan celana dalamnya.

Dan… rudal panjang gede itu tampak mengacung ke atas. Membuatku tersenyum. Lalu berdiri sambil melepaskan gaun malamku. Kemudian kugantungkan gaunku di kapstok. Begitu juga beha dan celana dalam kutanggalkan dan kugantung di kapstok. dan menghampiri Boy kembali, yang juga sudah menanggalkan baju kaus hitamnya, sehingga jadi telanjang bulat, seperti aku.

Kutarik pergelangan tangan Boy sambil berkata, “Di bed aja yuk. Biar leluasa pergerakannya.”

Boy manut saja. Mengikuti langkahku menuju bed. Lalu ia duluan melompat ke atas bed, diikuti olehku yang terus – terusan mengamati rudal Boy secara diam – diam.

Entah nurun dari siapa rudal Boy bisa sepanjang dan segede itu. Soalnya rudal Papie tidak sepanjang dan segede rudal Boy gitu.

Aku pun mulai bergumjul hangat dengan Boy. Terkadang aku berada di atasnya, sambil sengaja menggesek – gesekkan kemaluanku ke rudal Boy. Terkadang Boy yang berada di atas, menciumi bibirku sambil meremas – remas toketku dengan lembut.

Dan akhirnya… Boy seperti sadar bahwa ukuran rudalnya terlalu gede untuk liang serambi lempitku yang kecil ini. Lalu Boy menelungkup di antara kedua pahaku yang sudah kurentangkan. Dengan wajah berada di atas kemaluanku.

Lalu… Boy mulai menjilati serambi lempitku dengan lahapnya, sambil mengelus – eluskan ujung jarinya ke kelentitku. Entah belajar dari mana Boy itu… atau sengaja mengembangkan dirinya, sehingga trik yang satu ini terasa jauh lebih nikmat. Bahwa lidah dan bibirnya menggeluti celah serambi lempitku, sementara ujung jarinya menggesek – gesek kelentitku.

Karuan saja aku pun mulai merintih – rintih histeris, “Enak sekali Boy… oooooh… itilnya gesek terus Booooy… itilnyaaaa… iiitiiiiiil… iiiiitiiiiiil… hihihihiiiii… geli – geli enak Boooy… gesek terus itilnya… iiitiiiiilnyaaa… iiiiiiiiitttttttttiiiillll…

Saking enaknya permainan Boy ini, dalam tempo singkat saja liang serambi lempitku terasa sudah basah oleh air liur Boy bercampur dengan lendir libidoku sendiri.

Sehingga akhirnya aku meratap seperti memohon, “Udah Boy Sayaaang… masukin aja rudalmu Booooy… sudah bisa kan masukin sendiri rudalnya?”

“Mudah – mudahan bisa Mam, “Boy merangkak ke atas perutku sambil mencolek – colekkan moncong rudalnya ke mulut serambi lempitku.

Tak urung aku pun ikut memegangi leher rudal Boy, agar jangan meleset ke arah lain.

Setelah moncong rudal Boy terasa berada di posisi yang tepat, aku pun memberi instruksi, “Ayo dorong Boy…”

Boy mengikuti instruksiku. Ia mendorong rudal ngacengnya sambil menahan nafas… lalu… blesssss… rudal panjang gede itu melesak masuk ke dalam liang serambi lempitku.

Aku pun menyambutnya dengan merengkuh lehernya ke dalam pelukanku. Lalu kupagut bibir machonya, yang kulanjutkan dengan lumatan lahap dan penuh gairah.

Boy pun mulai mengayun rudalnya, bermaju – mundur di dalam liang kewanitaanku. Menimbulkan gesekan demi gesekan yang membuatku terpejam – pejam saking nikmatnya.

Terlebih ketika Boy mulai menjilati leherku disertai dengan gigitan – gigitan kecil, aku semakin terpejam – pejam dibuatnya. Bahkan aku spontan membisikinya, “Cupangin leher mamie Boy…”

“Cupangin? Nanti kalau kelihatan beklas cupangan di leher Mamie gimana?”

“Nggak lah. Nanti belitkan aja selendang di leher mamie, biar gak kelihatan bekas cupangannya.”

Maka Boy pun mengikuti keinginanku. Ia mulai menyedot – nyedot leherku dengan kuatnya. Membuat mataku terpejam – pejam lagi. Memang terasa sakit cupangan Boy ini. Namun aku bisa merasakan sensasi dari persetubuhan ini dengan sedotan – sedotan Boy di leherku, membuatku menggeliat – geliat dalam sakit bercampur nikmat.

Bersambung… Namun tak lama kemudian, bibir dan lidah Boy berpindah sasaran… ke ketiakku…! Ya… dengan lahapnya Boy menjilati ketiak kanan dan ketiak kiriku yang selalu terharumkan oleh parfum dan deodorant-ku.

Jilatan di ketiak yang begini gencarnya, membuatku geli… geli sekali. Tapi gelinya memang geli enak…!

Maka rintihan – rintihan histerisku pun berhamburan lagi dari mulutku, tak terkendalikan lagi.

“Booooy… oooooh… ini enak sekali Boooooyyyy… entot terus Boooooy… entot terus Booooy… entoooootttt… entooootttttttt… !”

Entotan rudal Boy makin lama makin nikmat saja rasanya.

Aku pun sadar bahwa persetubuhan di kamar hotel bintang lima ini merupakan persetubuhan yang kedua, karena yang pertama berlangsung di kamarku tadi.

Dengan sendirinya ketahanan Boy pun jauh lebih tangguh daripada persetubuhan yang pertama tadi. Batang kemaluannya sudah sangat lama mondar – mandir di dalam liang serambi lempitku. Keringatnya pun sudah bercucuran dan berjatuhan di muka, leher dan dadaku. Namun belum kelihatan juga gejala – gejala mau ejakulasi.

Padahal aku sudah dua kali orgasme, sementara Boy jadi sedemikian tangguhnya menyetubuhiku.

Aku pun sudah menggoyang pinggulku dengan geolan – geolan yang makin lama makin menggila. Sehingga liang serambi lempitku begini gencarnya membesot – besot dan memilin – milin batang kemaluan anak tiriku.

Namun Boy tetap mantap mengantotku, sementara bibir dan lidahnya sudah berpindah – pindah sasaran. Terkadang menjilati leherku, terkadang mengemut dan menjilati pentil – pentil sepasang toketku. Di saat lain ia pun begitu asyik menjilati ketiakku yang selalu bersih dari bulu ketek ini.

Namun aku tak menyerah. Aku bahkan ingin merasakan multi orgasme seperti yang pernah kubaca di sebuah media asing, media khusus membahas masalah seksual.

Ya… aku mulai merasakannya lagi. Merasakan seolah sedang melesat ke langit tinggi, lalu melayang – layang di angkasa… membuatku takut jatuh dan… aaaaah… aku sudah mencapai orgasme lagi untuk yang ketiga kalinya.

Apakah aku akan mencapai orgasme yang keempat nanti?

Ternyata tidak. Sesaat kemudian Boy berkelojotan di atas perutku. Kemudian membenamkan rudalnya sedalam mungkin, sampai mentok di dasar liang sanggamaku. Lalu kurasakan lagi sesuatu yang indah ini. rudal Boy memancarkan air maninya yang hangat di dalam liang kewanitaanku.

Crooootttt… crot… croooootttttttt… crotttt… crooooottt… crooootttt…!

Lalu Boy terkulai lemas di atas perutku. Dengan tubuh bermandikan keringat.

Karena merasa berat, kudorong dada Boy. Maka ia pun mencabut batang kemaluannya dari liang kewanitaanku. Cepat aku bangkit untuk mengambil kertas tissue basah dari tas kecilku. Untuk menyeka kemaluanku yang berlepotan air mani anak tiriku.

Kulihat Boy masih menelentang dengan tubuh penuh keringat. “Di kamar mandi pasti ada handuk. Lap dulu keringatmu gih. Kita kan mau makan di lantai satu,” kataku.

“Iya Mam, “Boy bangkit, lalu turun dari bed dan melangkah ke kamar mandi.

Aku pun ikut masuk ke kamar mandi. Untuk menyemprot kemaluanku dengan air hangat shower. Sementara Boy sedang menghanduki badannya. Aku pun mengambil handuk yang satunya lagi, untuk mengeringkan kemaluanku.

Lalu iseng kugednggam rudal Boy yang sudah terkulai lemas. “Masih kuat berapa kali lagi menyetubuhi mamie heh?” cetusku.

“Nggak tau Mam. Sekarang sih masih letih,” sahutnya lirih.

“Emang juga jangan terlalu sering. Nanti energimu habis di serambi lempit mamie. Lalu kekurangan energi di kampus.”

“Iya Mam. Tapi besok dan lusa aku kan gak kuliah,” sahutnya.

“Iya… kalau hari – hari weekend sih ada pengecualian. Ayo kita makan dulu.”

“Iya Mam.”

Beberapa saat kemudian kami sudah berada di resto, yang selalu menyediakan makanan “all you can eat” dengan system buffet.

Aku hanya makan sedikit, karena terbiasa makan sedikit waktu malam. Takut badanku jadi gendut. Tapi Boy makan habis – habisan, mungkin karena mengikuti cara all you can eat. Rugi kalau makan sedikit.

Kebetulan di lantai satu ada boutique. Maka setelah selesai makan aku membeli kimono sehelai. Boy pun mengambil kimono yang cocok untuk pria.

Dan malam itu aku tidur sambil memeluk Boy. Inilah pertama kalinya aku tidur bersama anak tiriku yang muda, ganteng dan perkasa itu.

Tapi menjelang subuh aku terbangun karena pengen pipis. Lalu aku turun dari bed dan melangkah ke kamar mandi.

Setelah pipis, aku kembali lagi ke bed, di mana Boy masih tertidur nyenyak. Tanpa menyadari bahwa kimononya terbuka. Sedangkan rudalnya yang “sedang tidur” itu terbuka, karena ia tak mengenakan celana dalam.

Melihat rudal lemas seperti itu aku pun jadi penasaran. Karena aku ingin menikmati hubungan sex menjelang subuh ini. Karena menurut pengalamanku, bersetubuh menjelang pagi begini nikmat sekali rasanya.

Maka tanpa ragu lagi aku duduk di dekat pangkal paha Boy. Lalu perlahan – lahan kupegang rudal lemasnya.

Kujilati moncong rudal Boy, lalu kuselomoti dengan sepenuh gairah mudaku.

Boy terjaga. Membuka kelopak matanya sambil menatapku yang sedang asyik menyelomoti rudalnya. Tapi dia diam saja. Membiarkanku mengoral tongkat kejantanannya yang mulai menegang… dan akhirnya ngaceng full…!

Begitu mudahnya membangunkan rudal Boy. Maklum usianya baru 18 tahun.

Lalu kutanggalkan kimonoku dan berlutut dengan kedua lutut berada di kanan – kiri pangkal paha Boy, dengan kemaluan berada di atas rudal Boy yang sudah ngaceng itu. rudal yang sedang kupegang dan kuarahkan ke mulut serambi lempitku.

Kuturunkan pinggulku dengan hati – hati, sehingga kepala rudal Boy mulai melesak ke dalam liang serambi lempitku.

Cukup seret masuknya, karena rudal Boy gede sekali. Butuh “perjuangan” untuk memasukkannya ke dalam liang kemaluanku.

Namun akhirnya liang serambi lempitku berhasil juga “menelan” rudal Boy. Bahkan kemudian aku mulai mengayun pinggulku, membuat rudal Boy mulai bergesekan dengan dinding liang serambi lempitku.

Tampaknya Boy sangat senang dengan aksiku di subuh yang masih gelap ini.

Cukup lama aku beraksi dalam posisi WOT ini. Tapi seperti biasa, posisi ini membuatku cepat orgasme. Karena dasar liang kemaluanku terasa disodok – sodok terus, menciptakan rasa yang terlalu nikmat dan memaksaku cepat orgasme.

Maka aku pun ambruk di atas perut Boy. Lalu menggulingkan badan jadi terlentang di samping Boy. “Ayo masukin lagi Boy, “pintaku sambil mengusap – usap serambi lempitku yang sudah orgasme dan masih basah ini.

Boy pun merayap ke atas perutku sambil memegang rudal ngacengnya.

Tampaknya Boy sudah mulai “pandai”. rudalnya membenam ke dalam liang serambi lempitku, tanpa harus dibantu lagi.

Lalu mulailah Boy mengayun rudalnya di dalam liang serambi lempitku yang basah licin ini.

“Enak kan menyetubuhi di waktu subuh – subuh gini?” ucapku sambil menepuk – nepuk pantat Boy.

“Iiii… iyaaa Mam… enak sekali… !” sahut Boy terengah.

“Para pakar bilang, bersetubuh menjelang pagi begini sangat bagus. Karena sperma dalam keadaan fresh setelah tidur semalaman. Ayo entot sepuasmu Boy… mamie barusan udah lepas, tapi sekarang udah bergairah lagi…”

“Iiii… iiiyaaaa Maaaam… dudududuuuuh… enak banget Mamie Sayaaaang…”

Dengan nafas berdengus – dengus Boy menggencarkan entotannya, karena liang serambi lempitku sudah sangat licin, sehingga dia bisa mempercepat gerakan rudalnya… maju mundur dan maju mundur terus di dalam liang kenikmatanku.

Aku pun jadi bergairah untuk menggoyang pinggulku sebinal mungkin. Sehingga nafas Boy semakin berdengus – dengus, sementara rudalnya terbesot – besot oleh dinding liang kemaluanku.

Tiba – tiba Boy membenamkan rudalnya, sehingga moncongnya mentok di dasar liang serambi lempitku. Disusul dengan bermuncratannya air mani Boy di dalam liang serambi lempitku.

Crot… crooottttt… croooooottttttttt… crooootttt… crotcrottt… crooootttttttt…!

“Ugh… cepat sekali ngecrotnya ya Mam, “keluh Boy sambil merapatkan pipinya ke pipiku.

“Saking enaknya jadi cepat ngecrot kan?”

“Iiii… kiya Mam. Barusan terlalu enak…”

Aku tidak menyahut. Kubiarkan saja Boy tetap menghimpitku dalam keadaan yang sudah lunglai itu.

Tapi diam – diam aku jadi teringat kembali kejadian beberapa hari yang lalu…

Bahwa aku tertegun ketika melihat satpam baru itu. Karena wajahnya masih sangat kuingat.

Satpam itu kupanggil. Dia bergegas menghampiriku di teras depan.

“Kamu Ivan kan?”

“Betul Bu Boss.”

“Masih ingat aku?”

Satpam itu takut – takut menatapku. Lalu mengangguk, “Masih ingat Bu Boss.”

“Coba sebutkan siapa namaku?”

“Iiii… ibu Rina.”

“Di mana kamu mengenalku?”

“Waktu… waktu sama – sama di SMA.”

Aku ketawa kecil sambil menepuk bahu satpam yang di dadanya tertulis nama Hartawan.

“Nama panjangmu Hartawan?”

“Betul Bu Boss. Tapi nasib saya sebaliknya, tidak sesuai dengan nama yang diberikan orang tua saya. Sebenarnya saya malu memakai nama ini. Tapi dalam akte kelahiran memang begini nama saya. Hartawan yang melarat.”

“Jangan mengutuk dirimu sendiri. Siapa tau di masa tuamu beneran jadi seorang hartawan.”

“Amiiin…”

“Sudah berapa lama jadi satpam di sini?”

“Baru dua hari dengan hari ini.”

“Jadi baru kemaren tugas di sini?”

“Betul Bu Boss. Tadinya saya jadi satpam di perusahaan. Lalu kemaren dimutasikan ke sini.”

“Bisa nyetir?”

“Bisa Bu Boss. Di perusahaan juga tugas saya jadi valet boy.”

“Tukang parkir mobil VIP kan?”

“Betul Bu Boss.”

“Sebenarnya bangsa kita salah sebut. Kata valet berarti pelayan laki – laki. Tidak ada hubungannya dengan mobil.”

“Betul Bu Boss.”

“Terus… kamu punya SIM?”

Cerita Dewasa Ngentot - Bersetubuh Dengan Kasir Cafe Cantik Lulusan S.Psi yang Tergoda Pelanggan
“SIM A punya Bu Boss.”

“Kamu jadi driver pribadiku aja ya. Nanti manager HRD akan kutelepon. Agar menugaskan seorang satpam lain, untuk menggantikanmu di sini.”

“Siap Bu Boss.”

“Sebentar lagi aku mau keluar. Sekalian ngetes kamu yang bawa ya Van.”

“Siap Bu Boss.”

Lalu aku masuk ke dalam rumah yang berkali – kali kunilai mirip istana kekaisaran Romawi dahulu.

Di dalam rumah kugunakan telepon rumah untuk menelepon kantor perusahaan suamiku dan minta berbicara dengan manager HRD.

Lalu terdengar suara lelaki di ujung sana. “Hallo… ada yang bisa kami bantu?”

“Ini dengan manager HRD kan?”

“Betul. Ini dengan siapa ya?”

“Dengan Nyonya Mathias.”

“Ooooh… Ibu Boss? Maaf Bu, saya pikir siapa yang nelepon ini. Ada yang bisa saya bantu Bu?”

“Manager HRD ini siapa namanya?”

“Nama saya Benny Bu Boss.”

“Oke deh. Begini Pak Benny, satpam yang baru ditugaskan di rumah kami, sangat dibutuhkan untuk menjadi sopir pribadi saya. Jadi, bisakah Pak Benny mengirim satpam lain untuk menggantikan satpam yang bernama Hartawan itu?”

“Oh, bisa… bisa Bu Boss. Silakan aja kalau terpakai untuk jadi sopir pribadi Bu Boss sih. Soal satpam untuk menggantikannya di rumah Bu Boss, hari ini juga saya akan mengirim seorang anggota satpam ke rumah Bu Boss. Ada lagi yang bisa saya bantu, Bu Boss?”

“Cukup, itu saja. Terima kasih Pak.”

“Sama – sama Bu Boss. Selamat siang.”

“Siang.”

Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di dalam sedan merah metalic-ku, yang dikemudikan oleh Ivan Hartawan. Mantan teman seSMA denganku dahulu.

Sebenarnya aku ingin duduk di depan, tapi aku sudah dibiasakan duduk di belakang oleh suamiku. Karena itu aku duduk di belakang sebelah kanan, tepat di belakang Ivan.

“Anakmu sudah berapa Van?” tanyaku ketika sedanku baru menginjak jalan aspal.

“Saya belum punya istri Bu Boss,” sahutnya.

“Kamu kok jadi kaku gitu Van? Kalau sedang bewrduaamn gini gak usah manggil boss – bossan. Lagian dulu kita kan selalu memakai istilah gue dan elu. Kenapa sekarang pakai saya – sayaan?”

“Saya tau diri aja… karena kedudukan saya sekarang rendah sekali. Sementara Bu Boss kan sudah menjadi istri sang Big Boss. Masa saya harus nyebut nama.”

“Nggak ah. Kalau sedang berdua gini, panggil aku Pam atau Pampam aja seperti waktu masih sama – sama di SMA dahulu.”

“Iya Bu eh Pam… hehehe.”

“Dulu waktu masih sama – sama di SMA, kamu cuek banget sama aku. Bahkan cenderung sombong kan?”

“Bukan sombong. Saya… eh… aku hanya tau diri, gak berani deketin cewek mana pun, karena aku cuma anak seorang janda tua yang hidupnya pun serba pas – pasan.”

“Kalau soal itu, aku juga sama – sama tidak punya ayah lagi sejak aku baru kelas satu SMP dahulu.”

“Iya Bu eh… Pa… Pam.”

“Santai aja Van,” ucapku sambil menepuk bahunya dari belakang, “Aku gak bakalan gigit kok. Biar aku udah jadi bini boss, aku tetap teman lamamu kok.”

Ivan hanya tertawa kecil di belakang setir mobilku. Aku pun mulai merasakan bahwa Ivan cukup trampil dan halus nyetirnya.

“Kalau jadi sopir pribadi, mungkin pakaiannya harus hitam – hitam seperti seragam security ya Pam,” ucapnya.

“Gak usah. Pakaian casual juga gak apa – apa,” sahutku, “Kamu kan sopir pribadi istri Boss. Bukan sopir Boss. Ada bedanya kan?”

“Iya Pam.”

“Ohya, tadi aku udah nelepon manager HRD. Dia sudah tau kalau kamu udah jadi sopir pribadiku. Jadi nanti aku yang akan bayar gajimu. Bukan dari perusahaan lagi.”

“Iya, terima kasih. Ohya… sekarang mau ke mana?”

“Ke rumah ibuku,” sahutku. Lalu kujelaskan alamat rumah yang harus dituju. Rumah pemberian Papie yang kini jadi tempat tinggal Mama.

Ivan pun melarikan mobilku ke arah wilayah di mana rumah megah itu berdiri.

Sebelum turun dari mobil, kuberikan sepuluh lembar uang seratusribuan kepada Ivan. “Ini uang untuk beli baju casual, jangan pakai baju satpam begitu, risih melihatnya. Cari di mall terdekat aja dari sini. Tapi jangan terlalu lama ya. Soalnya aku juga takkan lama – lama di rumah ibuku.”

“Siap Pam… !” sahut Ivan sambil memasukkan uang pemberian dariku ke dalam dompetnya.

Aku pun turun dari mobil. Dan melangkah ke pintu gerbang yang tidak dikunci. Lalu masuk dan melangkah menuju teras. Pintu depan terkunci. Maka kupijat bel di samping pintu depan.

Tak lama kemudian Mama membuka pintu dan tampak girang melihat kedatanganku. “Mela?! “seru Mama yang lalu merangkul dan menciumi pipiku. Teman – teman memangilku Pam atau Pampam, tapi Mama selalu memnanggilku Mela.

“Mama sehat – sehat aja kan?” ucapku sambil melangkah ke ruang tamu, lalu masuk ke ruang keluarga.

Di ruang keluar pandanganku tertumbuk ke asbak di atas meja kecil yang dikelilingi sofa – sofa. Sepintas pun tampak, banyak puntung rokok di dalam asbak itu.

Setahuku, Mama sama sekali tak pernah merokok. Lalu siapa yang merokok di ruang keluarga itu? Apakah ada famili yang datang ke rumah ini?

“Sudah dapat pembantu Mam?” tanyaku..

“Belum. Zaman sekarang sih susah nyari pembantu.”

“Terus… ini puntung rokok siapa? Mama gak pernah merokok kan?” tanyaku sambil menunjuk ke asbak itu.

“Oh itu… ta… tadi ada Pak RT datang ke sini…” sahut Mama tampak gugup

“Mau ngapain RT ke sini? Kan sjurat pindah dan sebagainya sudah dikasihkan padanya.”

“Cu… cuma silaturahmi aja…” sahut Mama, masih gugup kelihatannya.

“Pak RT diterima di ruang keluarfga? Kenapa gak di ruang tamu?” tanyaku bernada mendesak.

Mama cuma bengong dan kelihatannya tidak tahu harus menjawab apa lagi. Aku pun mengeluarkan kunci kamarku dari dalam tas kecilku, kemudian membuka pintu kamarku dan masuk ke dalamnya setelah menguncikan pintu dari dalam kamarku.

Aku melompat ke atas bedku yang sudah lama tidak kutiduri.

Namun… tiba – tiba aku ingat sesuatu. Ya… aku teringat monitor CCTV yang selalu aktif di dalam lemari khusus. Mama tidak tahu bahwa aku punya CCTV yang bisa memantau ke seluruh ruangan yang ada di dalam rumah ini.

CCTV itu sengaja dipasang oleh suamiku, untuk berjaga – jaga, agar kalau ada maling masuk ke dalam rumah, bisa dipantau dan direkam oleh CCTV itu. Dan setahuku CCTV itu dilengkapi oleh external hardisk yang besar sekali memorinya (4 Tb). Sehingga kejadian sebulan yang lalu pun bisa direkam oleh CCTV itu.

Lalu iseng – iseng aku membuka pintu lemari yang berisi monitor CCTV itu.

Hari itu adalah hari Kamis. Kuputar kejadian yang terpantau sejak hari Senin. Tanggal, bulan dan tahunnya selalu muncul di layar monitor bagian bawah sebelah kanan.

Aku langsung mengarahkan monitor ke kamar Mama.

Haaa… ternyata pada hari Senin ada seorang lelaki muda yang masuk ke kamar Mama. Dan ternyata Mama yang membawa lelaki muda itu masuk.

Lalu… setelah kuperhatikan dengan seksama, ternyata lelaki muda itu… Ricky!

O my God! Ternyata mantan pacarku yang dibawa masuk oleh Mama itu…!

Dan adegan selanjutnya membuatku merinding -rinding tak menentu. Karena kulihat Mama melepaskan daster, beha dan celana dalamnya. Lalu dalam keadaan telanjang bulat Mama menelentang di atas bed. Sementara Ricky pun sudah melepaskan segala yang melekat di tubuhnya. Lalu ia naik ke atas bed dan disambut oleh Mama dengan pelukan dan ciuman binalnya.

Aku serasa mau pingsan ketika melihatg adegan – adegan berikutnya. Bahwa Ricky memasjukkan rudalnya ke dalam kemaluan Mama.

Lalu… Ricky memenyetubuhi Mama dengan garangnya. Disambut dengan goyangan pinggul Mama yang benar – benar binal di mataku…!

Mama sama sekali tidak tahu kalau setiap peristiwa yang terjadi di dalam kamarnya, terpantau oleh kamera – kamera kecil di setiap sudut yang tersamarkan.

Aku tidak tahan lagi menyaksikan semuanya itu. Tapi aku ingin menontonnya di rumah secara tenang nanti. Lalu kucari – cari external hardisk yang masih kosong. Karena seingatku ada tiga external hardisk cadangan di laci lemari ini.

Setelah kutemukan, kucabut external hardisk yang terpasang, lalu kuganti dengan external hardisk yang belum pernah dipakai.

External hardisk yang sudah ada isinya itu kumasukkan ke dalam tas kecilku, lalu aku keluar dari kamarku.

Kulihat Mama sedang duduk di ruang keluarga. Sementara asbak yang tadi penuh dengan puntung rokok itu sudah bersih. Pasti Mama sudah membuangnya ke tempat sampah, lalu mencuci asbak itu dan meletakkan kembali di tempat semula.

“Jadi puntung – puntung rokok tadi puntung rokoknya Ricky ya Mam?!” cetusku dengan nada mendakwa.

Mama tersentak kaget. Tapi bderusaha membohongiku, “Ricky mana?” ia balik bertanya.

“Ricky keparat yang bekas pacarku itu,” sahutku, Memangnya ada Ricky lain?”

“Ah nggak. Itu puntung rokok RT.”

“Iya RT singkatan dari Ricky Terkutuk! Tidak mendapatkan anaknya lalu menyetubuhi ibunya! Mama gak usah membohongiku. Dia sering datang ke sini untuk menyetubuhi Mama kan?!”

“Si… siapa yang laporan begitu sama kamu?”

“Nggak ada yang laporan. Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri. Mama masih mau menghindar juga? Mama membawanya masuk ke kamar Mama. Lalu Mama lepaskan daster dan beha dan celana dalam Mama… lalu Ricky memasukkan rudalnya ke dalam serambi lempit Mama. Dan Mama menyambutnya dengan goyang Karawang yang gila – gilaan…

Mama tertunduk sambil menangis terisak – isak.

“Aku akan maafkan Mama, asalkan Mama mau berterus terang. Sejak kapan Mama biarkan Ricky menyetubuhi Mama?” tanyaku to the point.

Mama tewrdiam sambil terisak – isak. Lalu terdengar juga suaranya lirih, “Sejak masih di rumah lama, Mela. Kan mama udah laporin sama kamu, bahwa setelah kamu putuskan hubunganmu dengannya… dia datang sambil mencucurkan air matanya di depan mama. Pada saat itu mama hanya ingin melindungi kamu dari gangguannya.

“Lalu Mama kasih serambi lempit Mama padanya, agar dia tidak membuktikan ancamannya?”

“Iiii… iya…” sahut Mama sambil bercucuran air mata. “Karena dia yang memaksa mama. Dia mau tutup mulut asalkan mama dijadikan pengganti Mela.”

“Sudah berapa kali Mama disetubuhi oleh lelaki terkutuk itu?”

Mama terdiam.

“Aku ingin Mama bicara sejujurnya. Sudah sering kan dia menyetubuhi Mama?” tanyaku dengan nada dan kata – kata vulgar. Saking jengkelnya.

“Seminggu dua kali… sudah gak terhitung lagi.”

“Terus kalau Mama hamil bagaimana?”

“Kalau hamil sih gak mungkin. Mama selalu minum pil kontrasepsi.”

“Berarti Mama sudah menikmatinya juga kan? Setiap kali terjadi, selalu suka sama suka kan?”

Mama terdiam lagi.

“Mama… kalau sekadar ingin rudal anak muda, nanti aku kasih. Tapi jangan dengan si Ricky…! Apakah mama gak sadar kalau dia akan menjadi ancaman bagi rumah tanggaku, akan menjadi ancaman bagi Mama juga kelak?”

Mama tetap membisu. Hanya isakan – isakannya yang terdengar.

Dan aku jadi pusing. Maka ketika terdengar bunyi mesin mobilku berhenti di depan, aku langsung bangkit dari sofa ruang keluarga. Kukunci lagi pintu kamarku. Lalu aku melangkah ke depan tanpa pamitan lagi kepada Mama.

Mama mengejarku sampai di pintu gerbang besi, “Mela… maafin Mama ya Mel…” ucapnya sendu.

“Akan kumaafkan kalau Mama tidak mengulanginya lagi dengan si Ricky jahanam itu,” sahutku yang lalu bergegas menghampiri sedanku. Membuka pintu depan sebelah kiri dan masuk ke dalamnya.

Dalam keadaan galau, aku jadi lupa bahwa seharusnya aku djuduk di belakang. Tapi saat itu aku sudah telanjur duduk di samping Ivan. Maka kataku, “Ayo jalan Van… !”

Ivan memindahkan tongkat persneling matic ke D. Lalu sedan merahku meluncur perlahan di jalan aspal.

“Yang barusan ibunya?” tanya Ivan di belakang setirnya.

“Iya,” sahutku singkat.

“Masih muda ya ibunya. Cantik pula,” ucap Ivan sambil tersenyum -senyum.

Aku cuma menghela nafas panjang. Karena masih teringat pada semua yang terjadi tadi.

Dan aku mencoba untuk berpikir secara objektif. Bahwa menurut pengakuannya, Mama ingin melindungiku, agar jangan sampai diganggu oleh Ricky yang telah melontarkan ancamannya. Seandainya Mama mengatakan yang sebenar – benarnya, mungkin aku tak boleh terlalu marah padanya. Karena biar bagaimana pun Mama itu ibu yang mengandung dan melahirkanku ke dunia ini.

Aku bisa memaafkan Mama. Tapi aku tidak bisa memaafkan kalau Mama tetap berhubungan dengan si Ricky keparat itu. Kalau Ricky mau membuktikan ancamannya, silakan. Malah akan kuadukan lewatg pengacaraku, bahwa dia sudah mengganggu ketentraman rumah tanggaku dengan Papie.

Bahkan kalau jengkel – jengkel amat, aku bisa minta bantuan pada bodyguard Papie yang banyak dan rata – rata bertubuh tinggi tegap kekar itu.

Tapi aku yakin, Ricky takkan berani membuktikan ancamannya. Lagipula kalau hubunganku ddengannya dilanjutkan, mau ke arah mana dia membawaku kelak? Untuk membiayai dirinya sendiri pun masih payah sekali, apalagi membiayai istri dan anak – anak…!

Tapi seandainya Mama sudah ketagihan oleh permainan Ricky, bagaimana mengatasinya?

Tiba – tiba aku mendapat ilham yang bagus. Diam – diam aku memperhatikan Ivan dengan sudut mataku. Ivan yang sudah mengenakan pakaian casual, bukan seragam satpam lagi.

Hmmm… kalau dibandingkan dengan Ricky, Ivan ini jauh lebih ganteng. Kulit Ivan pun putih cemerlang. Tidak seperti Ricky yang berkulit coklat kusam

(Sekarang aku baru nyadar kalau si Ricky itu jelek…! Tapi kenapa dahulu aku bisa menerima cintanya?).

“Ivan… bisa gak aku minta tolong sama kamu?” tanyaku tiba – tiba.

“Minta tolong apa Pam?”

“Aku butuh sesuatu…”

“Butuh apa?”

“Butuh ini…” sahutku sambil memegang celana panjang Ivan, tepat di bagian rudalnya.

“Haaa?” Ivan menoleh padaku, “Nggak salah nih?”

“Ini serius Van. Aku butuh ini… tapi bukan buat aku.”

“Lalu buat siapa?”

“Buat ibuku itu…! Kan kamu bilang masih muda dan cantik. Makanya aku mau minta tolong sama kamu. Tolong gauli dia, supaya dia tidak terlalu jauh melenceng.”

“Sebentar… saya masih rada bingung Bu, eh Pam…”

Lalu kujelaskan semua yang telah terjadi itu. Bahwa mantan pacarku meminta Mama sebagai kompensasi atas kejadian diputuskannya hubunganku karena mau menikah dengan Tuan Mathias. Dan aku tidak suka Mama berhubungan dengan mantan pacarku itu. Untuk itu aku membutuhkan lelaki lain, agar pikiran Mama beralih ke lelaki yang kuajukan.

Dan Ivan ini sangat memenuhi syarat. Dia jauh lebih bagus daripada Ricky. Usianya pun lebih muda daripada Ricky. Karena Ricky sudah berusia 31 tahun, sementara Ivan ini seangkatan denganku di SMA dahulu. Jadi kira – kira umurnya pun sebaya denganku.

“Bagaimana Van?” tanyaku, “Kamu bersedia untuk mengikuti arahanku?”

Ivan tidak menjawab. Tetap berkonsentrasi pada setir mobilku.

Maka kataku lagi, “Kalau kamu bersedia membantuku… aku takkan melupakan jasamu. Aku akan berusaha agar kamu mendapatkan jabatan yang bagus di perusahaan nanti.”

“Tapi… saya bukan gigolo Pam.”

“Lho… siapa yang nganggap kamu gigolo? Aku tidak menjanjikan bayaran kan? Aku minta tolong padamu sebagai sesama teman lama. Bukan sebagai istri boss kepada anak buah suaminya. Bukan pula sebagai mak comblang yang akan menjodohkan kamu dengan ibuku. Bahkan aku dengan berat hati minta bantuan ini padamu.

“Tapi nanti saya harus menggaulinya secara rutin, begitu?”

“Iya,” sahutku, “anak muda zaman sekarang malah banyak yang terobsesi oleh wanita setengah baya seperti ibuku itu. Karena servis perempuan setengah baya pada umumnya sangat memuaskan. Daripada rudalmu dikocok sama tangan kan mendingan dimainkan di dalam serambi lempit. Ibuku itu sangat rajin merawat tubuhnya.

“Terus nanti Pampam mau nonton saya begituan dengannya?” tanya Ivan.

“Nggak lah. Aku hanya akan menemani ibuku pada awalnya aja. Kalau sudah siap main, aku akan keluar dari kamar ibuku dan tiduran di kamarku sendiri,” sahutku. Dengan hati tertawa, karena nantinya aku bisa nonton di kamarku lewat monitor CCTV.

Hihihiiii…!

Akhirnya Ivan sepakat untuk mengikuti arahanku. Dan aku yakin bahwa kalau Ivan sudah dihadirkan di dalam kehidupan Mama, maka Ricky akan segera ditinggalkan. Karena dalam segala hal Ivan lebih berbobot kalau dibandingkan dengan Ricky.

Aku pun menjanjikan, kalaju Ivan sukses meraih Mama, aku akan mengangkatnya sebagai aspriku (asisten pribadiku), tentu dengan gaji yang jauh lebih tinggi daripada sopir pribadi.

Keesokan paginya, Ivan tampak sudah siap berangkat. Sudah mandi dan mengenakan pakaian yang pantas di mataku. Dan secara jujur aku menilai, bahwa di balik pakaian yang “layak” itu, Ivan tampak ganteng sekali di mataku. Mudah – mudahan saja Mama akan mengikuti arahanku nanti.

Ivan juga sudah menguasai point – point yang sudah kurancang tadi malam.

Lalu sedan merah metalic-ku meluncur di jalan aspal, menuju rumahku yang ditempati Mama itu.

Jam tanganku baru menunjukkan pukul 09.30 pagi ketika mobilku sudah dimasukkan ke dalam garasi. Mama pun keluar dari rumah, menghampiriku dengan senyum ceria, “Kirain kamu masih marah sama mama,” ucapnya sambil memegang pergelangan tanganku dan menuntunku masuk ke dalam rumah.

Ivan pun mengikuti langkahku, masuk ke dalam rumah megah hadiah dari Papie menjelang perkawinanku dengannya dahulu.

“Ini siapa Mel?” tanya Mama sambil menunjuk ke arah Ivan yang ikutan masuk ke dalam rumah…

“Dia asisten pribadiku Mam,” sahutku.

Lalu Ivan pun menjabat tangan Mama dengan sikap sopan.

“Dia ini akan menjadi obat bagi Mama,” kataku sambil memegang bahu Ivan, “Obat untuk melupakan buaya darat itu.”

“Buaya darat?” Mama menatapku.

“Iya… buaya bernama Ricky sialan itu.”

Lalu kami bertiga duduk di ruang keluarga. Di situlah aku melanjutkan pembicaraan, “Coba Mama bandingkan Ricky dengan Ivan ini… bagusan mana?”

“Kok harus membanding – bandingkan dengan Ricky?”

“Iya. Harus dibandingkan sekarang juga. Bagusan siapa?”

“Yaaa… bagusan ini lah… siapa namanya tadi?” Mama menoleh ke arah Ivan.

Ivan menyahut, “Saya Ivan, Tante.”

“Berarti bagusan Ivan kan?” tanyaku kepada Mama.

Mama mengangguk dengan sikap salah tingkah. “Lalu kenapa Ivan ini disebut obat buat mama?” tanyanya.

“Begini Mam,” kataku, “Mama memang belum tua – tua banget. Karena itu aku yakin bahwa libido Mama masih berkobar. Masih jauh dari padam.”

Lalu aku berdiri sambil menarik pergelangan tangan Mama dan mengajak masuk ke dalam kamarnya.

Di dalam kamar Mama, aku berbisik ke telinganya, “Ivan kutugaskan untuk memanjakan gejolak birahi Mama. Jangan menolak ya Mam. Kalau Mama menolak, berarti Mama masih ingin melanjutkan hubungan dengan si Ricky keparat itu.”

“Jadi Mama harus bagaimana?” tanya Mama dengan sikap bingung.

Kujawab dengan bisikan, “Ivan siap buat menggauli Mama sekarang dan di hari – hari yang akan datang. Mama jangan menolak ya. Ini tanda perasaan sayangku kepada Mama.”

Kemudian kulambaikan tanganku ke arah Ivan. Maka Ivan pun berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamar Mama.

Dengan cepat kuambil kunci pintu kamar Mama. “Titip Mama, ya Van. Silakan enjoy sepuasnya. Pintu ini akan kukunci. kalau mau pipis atau bersih -bersih gampang, karena kamar ini ada kamar mandinya. Ayo terkam Mama Van… !”

Pintu kamar Mama kututup dan kukuncikan dari luar. Lalu aku bergegas menuju pintu kamarku. Membuka kuncinya, lalu masuk ke dalam kamarku yang sudah lama tidak kutiduri ini.

Cepat kubuka lemari berisi monitor dan perangkat CCTV itu.

Karena aku hanya ingin memantau keadaan di dalam kamar Mama, aku bisa mendengarkan suaranya (kalau kejadian jauh di luar rumah, hanya bisa dilihat gambarnya saja), maka kuambil headphone dan kutancapkan jack kabel kontaknya ke perangkat, lalu kupasangkan ke kepalaku.

Monitornya sudah aktif… hmmmm… Mama sedang duduk di pinggiran ranjang, sementara Ivan sudah melepaskan celana jeans dan t-shirtnya.

Mama: “Ini serius Van?”

I v a n: “Serius Tante. Saya gak berani maen – maen, takut dipecat oleh Pampam.”

Mama: “Hihihihi… rasa ngimpi, tau – tau dikasih cowok ganteng gini, “(Mama mencolek dagu Ivan… hmmm Mama sudah mulai “on”)

I v a n: “Dasternya lepasin aja ya Tante”(kedua tangan Ivan berada di punggung Mama)

Mama: “Atur – atur aja lah. Tante juga gak berani menentang niat baik Mela”

I v a n: “Tante manggil Mela ya sama dia”(daster Mama sudah dilepaskan, kedua tangan Ivan masih berada di belakang Mama. Oooo… lagi melepaskan kancing beha Mama).

Mama: “Iya. Teman – temannya sih manggil Pam atau Pampam.”

I v a n: “Duh… payudara Tante masih bagus gini. Diapain bisa kencang gini Tan?”(Ivan menggenggam kedua toket Mama. Ivan masih berdiri di belakang Mama)

Mama: “Tante kan gak pernah menyusui anak. Suka pake sufor, karena tetek tante sedikit sekali asinya”

(Mama menelentang dalam keadaan cuma mengenakan celana dalam)

I v a n: (menelungkupi perut dan toket Mama)

Mama :(meraih leher Ivan ke dalam pelukannya… mencium bibir Ivan sambil memejamkan mata)

I v a n: (menciumi pentil toket Mama, lalu mengemutnya)

Mama: “Van… tante langsung horny nih. Ivan ganteng banget sih.”

I v a n :(melorot turun… wajahnya berada di atas celana dalam Mama yang sedang dipelorotkan olehnya… hmm serambi lempit Mama memang selalu dibersihkan jembutnya… mulai dijilati oleh Ivan).

Mama: “Dudududuuuuh Ivaaaan… tante kalau dijilatin gini, gak tahan lama… bisa langsung lepas… ooo… ooooo… oooooh… apalagi kalau itilnya yang dijilatin gini… bisa langsung orgasme Vaaan… aaaaa… aaaaaah… masukin aja rudalnya Vaaan… hssss… pake rudal aja…”

I v a n: “Iya Tante, ini juga udah mau pake rudal… kalau gak dijilatin dulu takut Tante kesakitan… soalnya rudal saya segede gini… “ (Ivan sudah melepaskan celana dalamnya, memperlihatkan rudalnya kepada Mama… anjriiiittttttttt… rudal Ivan gede banget… !)

Mama: “Waaaw…! Ini rudal kuda apa rudal orang?”(mama memegangi rudal Ivan sambil melotot)

Bersambung… Diam – diam aku mulai horny menyaksikan perbuatan mereka. Apalagi setelah Ivan memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang serambi lempit Mama… wooow… memang gede sekali rudal teman lamaku itu… gak nyangka sedikit pun kalau Ivan punya alat vital sedahsyat itu… sehingga Mama harus merentangkan sepasang pahanya selebar mungkin…

Mama: “Ooooh… Vaaaan… rudalmu gede sekali Vaaaan… ooooh… tapi ini mantap sekali Van… ayo entotin sekarang… iyaaaaa… iyaaaaa… iyaaaaa… iyaaaaaaa… enak sekali Vaaan… aaaah… aaaaah… gak nyangka Mela bakal ngirim kamu Van… aaaaaah… tante bakal ketagihan nih dapetin rudal segede gini siiih…

I v a n: “Stttt… jangan keras – keras Tante. Nanti kedengaran sama Pampam…”

Mama: “Biarin aja… sekarang kita beginian atas permintaan dia juga kan?”

Menyaksikan perbuatan Mama dan Ivan itu, makin lama membuatku semakin horny. Sehingga aku merasa harus melepaskan gaunku, behaku dan terutama celana dalamku…!

Dalam keadaan telanjang bulat kulanjutkan kembali menonton aksi Mama dan teman lamaku itu. Namun kini jemari tangan kananku mulai mempermainkan serambi lempitku sendiri. Sementara tangan kiriku meremas – remas toketku sendiri.

Ya… jemari tangan kananku sengaja kusodok -sodokkan ke dalam liang serambi lempitku sendiri, sambil membayangkan tengah dientot oleh rudal Ivan yang dahsyat kitu. Tangan kiriku pun meremas – remas toketku sendiri, sambil membayangkan tengah diremas oleh tangan Ivan…

Tiba – tiba aku teringat sesuatu yang kusimpan di dalam tas kecilku. Sebuah vibrator yang kecil, hanya sebesar telor burung puyuh. Vibrator itu baru dua hari yang lalu kubeli dari pedagang kaki lima. Dia menawarkan vibrator itu untuk olah raga alis, katanya. Tapi setelah kudesak apa kegunaan vibrator sekecil itu?

“Cara pakainya gimana?” tanyaku.

“Semua kotak vibrator ada aturan pakainya seperti ini Non,” sahutnya sambil memperlihatkan selembar kertas berisi cara penggunaan vibrator itu.

Lalu wanita itu berbisik lagi di dekat telingaku, “Kalau Non seorang karyawati dan mendadak horny di kantor, masukin aja vibrator ini ke dalam serambi lempit, lalu aktifkan batrenya. Enak sekali Non. Saya juga sering pakai kalau suami sedang di luar kota. Tapi yang lebih enak lagi tempelkan aja ke clitoris, dalam beberapa menit juga bisa orgasme Non.

Dan kini, ketika aku semakin terangsang oleh adegan demi adegan di layar monitor CCTV, rasanya aku semakin horny. Lalu vibrator mini yang cuma segede buah melinjo ini kukeluarkan dari tas kecilku, berikut batrenya yang sebesar kotak korek api. Batre kecil ini bisa terhubung ke vibrator secara wireless (tanpa kabel).

Aku mau mengikuti anjuran penjual vibrator ini, kutempelkan ke clitoris alias itil ini. Sambil mengaktifkan batrenya dengan jemari tangan kiriku, sementara tangan kanan tetap kugunakan untuk menempelkan vibrator mini ke clitorisku.

Dan… ttttrrrr…

Vibrator segede telur burung puyuh ini bergetar membuat mulutku ternganga sementara mataku terpejam erat – erat saking enaknya…!

Gila! Ini benar – benar enak… sehingga dalam tempo singkat saja aku menjengking seperti hewan mau melepaskan nyawanya. Dan… aku mencapai orgasme dengahn mudahnya.

Tapi adegan di monitor CCTV masih seru. Mama mulai menggoyang – goyangkan pinggulnya edan – edanan. Pinggul Mama bergeol – geol lebih edan daripada geolan penyanyi dangdut pantura… sementara Ivan pun mengayun rudalnya edan – edanan pula.

Aku jadi horny lagi melihat adegan – adegan syur itu. Sehingga terpaksa kumasukkan vibrator yang ada tali pendeknya (untuk mencabut kembali dan jangan sampai “tertelan” oleh kemaluanku). Setelah “telur burung puyuh” itu berada di dalam liang kemaluanku, cepat kuaktifkan kembali batrenya dengan tangan kiriku.

Teeeeeerrrr…

“Telur burung puyuh” ini bergetar kembali. Membuatku tersentak – sentak, seperti penunggang motor sedang berada di jalan yang berbatu – batu.

Dan aku cuma bisa berdesah – desah sendiri sambil memejamkan mataku erat – erat.

“Aaaaaah… aaaaa… aaaaaaah… aaaaaa… aaaaaaah… aaaaa… aaaaaaah… !”

Namun ketika pandanganku tertuju ke layar monitor CCTV lagi, wow… Mama dan Ivan lebih gila lagi. Mereka sudah berganti posisi, jadi posisi doggy.

Rintihan Mama pun semakin riuh terdengar di headphoneku, “Ivan… duuuuh Vaaaan… tante udah orgasme dua kali… tapi sekarang udah enak lagi… entot terus Vaaan… sambil tepuk – tepuk bokong tante… Vaaan… aaaa… aaaahhhh… aaaa… aaaaah… Vaaan… aaah… Vaaaan… rudalmu…

Pada saat itu pula aku tak kuasa lagi menahan enaknya getaran vibrator mini di dalam liang serambi lempitku ini…

Maka aku pun merintih sendiri di dalam kamarku aaaahhhh…!

Aku menggelepar sambil memejamkan matanya. Lalu kubayangkan rudal Ivan sedang menancap di dalam liang kenikmatanku yang sangat peka ini. Kubayangkan moncong rudal Ivan sedang memuncratkan spermanya yang menghangati liang kemaluanku.

Ooooh… nikmatnya orgasmeku ini…!

Lalu kumatikan batre kecil di tanganku ini. Kucabut vibrator ini dari liang serambi lempitku. Dan aku terlena di atas bedku. Dan kepalaku tersungkur tepar di atas bantal. Dalam kenikmatan semu yang seolah nyata.

Ketika aku terjaga, kulihat Mama dan Ivan sudah selesai melakukannya. Tampak mereka sudah berpakaian lagi, bahkan seperti yang baru selesai mandi.

Ya… semuanya itu terjadi sebelum aku menyerahkan kewanitaanku kepada Boyke.

Dan pada waktu aku sudah berada di dalam mobilku yang dikemudikan oleh Ivan, lagi – lagi aku duduk di depan lagi. Aku pun bertanya kepada teman lamaku itu, “Bagaimana tadi Van? Tugas dariku enak kan?”

Sebagai jawaban, Ivan mengacungkan jempol kirinya ke depan wajahku. “Luar biasa…” sahutnya.

Aku cuma tersenyum, tak mau berkomentar. Namun tangan kananku diam – diam bergerak, untuk menurunkan ritsleting celana panjang Ivan. Karena penasaran, ingin tahu sehebat apakah rudal Ivan yang tadi di layar monitor CCTV kelihatan dahsyat itu.

Hmmm… memang gede sekali. Tapi sudah lemas.

“Mmm… Pampam mau juga?” tanya Ivan sambil melambatkan laju mobilku.

“Nggak, “aku menggeleng, “cuma ingin tau aja seperti apa bentuk rudal yang sudah ngecrot di dalam serambi lempit ibuku…”

rudal Ivan pun mulai membesar dan menegang di dalam genggamanku. “Kamu sudah pengalaman dalam soal sex ya?”

“Belum Pam. Kalau ngocok sih sering. Tapi dimainkan di dalam serambi lempit baru sekali tadi,” sahut Ivan.

“Berarti kebujanganmu dilepasin di dalam serambi lempit ibuku ya?”

“Hehehe… betul Pam. Ini pengalaman yang sangat mengesankan.”

Kulepaskan kembali genggamanku, karena takut lupa diri dan tak kuat menahan nafsu.

Setibanya di rumah, hari sudah sore. Aku berkata kepada Ivan, “Sekarang pulang aja Van. Kamu harus istirahat, supaya badanmu fits kembali.”

“Siap Bu Boss,” sahut Ivan dengan sikap formal.

Aku pun masuk ke dalam rumah yang mirip istana kekaisaran Romawi ini. Langsung masuk ke dalam kamarku dan melepaskan gaun berikut pakaian dalamku.

Lalu kukenakan kimono putihku dalam perasaan tak menentu. Karena masih membayangkan apa yang telah kusaksikan di monitor CCTV tadi. Pada saat itulah aku dibuat tersentak kaget mendengar suara lelaki di belakangku, “Selamat sore Mamie…”

Ketika aku menoleh, ternyata Walter sudah berada di dalam kamarku. Walter adalah suami anak sulung Papie yang bernama Cinthia itu. Berarti statusnya adalah menantu Papie.

Aku baru nyadar bahwa pintu kamarku masih terbuka, sehingga Walter bisa nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Kini pintu itu sudah tgertutup, tapi Walter sudah berada di dalam.

Pada saat itu Papie sedang berada di luar negeri. Tapi Papie sedang berada di Jepang, bukan di Eropa seperti perjalanan bisnis berikutnya.

Walter mencium tanganku, lalu cipika – cipiki seperti biasa. Tapi pada saat itu ada yang tidak biasa dilakukannya. Setelah cipika – cipiki, Walter mencium bibirku sambil memelukku erat – erat. Tentu saja akju kelabakan dibuatnya. Dan berusaha meronta agar lepas dari pelukannya. Tapi pelukan lelaki indo Belanda itu bahkan semakin erat memelukku.

Lututku lemas seperti tak ada tulangnya lagi. Aku tak mau munafik, bahwa ciuman Walter membangkitkan libidoku yang belum terpuasi secara normal. Baru dipuasi oleh vibrator mini itu.

Dan… aku tidak tahu sejak kapan aku duduk merapat di sisi kiri Walter di atas sofa kamarku. Aku memang sangat terpancing dengan ciuman dan pelukan menantu tiriku tadi. “Mana Cinthia?” tanyaku berusaha memulihkan pikiranku dari keterlenaan ini.

“Cinthia sedang di rumah sakit Mam,” sahut Walter sambil menciumi tanganku.

“Haa?! Sakit apa dia?” tanyaku sambil berusaha melepaskan tanganku dari genggaman lelaki kebule – bulean itu. Tapi tak berhasil, karena genggaman Walter terlalu kokoh.

“Mau melahirkan, bukan sakit,” sahutnya.

“Berarti Walter sedang menunggu kelahiran anak ketiga ya?”

“Iya Mam. Menunggu kelahiran anak ketiga sekaligus sedang puasa dan membuatku lapar sekali.”

“Sekarang sedang puasa?”

“Iya… puasa dalam soal sex. Cinthia takkan bisa diapa – apain sampai puluhan hari mendatang.”

“Pantesan kamu jadi nakal begini.”

“Maaf Mam. Soalnya Mamie terlalu cantik di mataku,” sahut Walter sambil merayapkan tangannya ke balik kimonoku.

Aku berusaha menepiskan tangan kekar itu dari balik kimonoku. Tapi jemari Walter sudah tiba di permukaan kemaluanku yang belum mengenakan celana dalam ini.

Dengan sendirinya pertahananku jadi lemah. Terlebih setelah jemarinya menyelusup ke dalam celah kewanitaanku yang cepat basah ini.

Dan… tiba – tiba Walter melorot turun. Berjongkok di lantai, di antara kedua kakiku yang sedang lemas ini.

Lalu… mulut Walter menyeruduk ke serambi lempitku…!

Dan jilatannya luar biasa trampil. Membuat lututku semakin lemas.

Oooh… adakah godaan yang lebih kuat daripada godaan lelaki indo berambut pirang ini?

Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa ketika Walter semakin gencar menjilati setiap sudut kewanitaanku. Bahkan kelentitku pun mulai dijilati dan disedot – sedot, membuatku terkejang – kejang dalam nikmat…!

Tentu saja batinku semakin tidak karuan. Tak tahu harus berbuat apa dalam situasi yang sudah terpojok begini.

Aku cuma tahu bahwa liang serambi lempitku basah lagi (setelah dibuat basah oleh vibrator mini di rumah Mama tadi).

Lalu, aku hanya bisa pasrah ketika Walter mengangkat dan membopong tubuhku ke arah bed. Kemudian ia meletakkanku dengan hati – hati di atas bed. Disusul dengan pelepasan busananya sehelai demi sehelai, sampai telanjang bulat.

Aku terkesiap ketika melihat rudal Walter yang putih kemerahan itu. Besarnya mungkin sama dengan rudal Ivan. Tapi panjangnya itu… ooooooh… rudal Walter yang sudah ngaceng itu… panjang sekali…!

Walter pun naik ke atas bed. Lalu menanggalkan kimonoku. Sehingga aku jadi telanjang bulat. Karena aku belum mengenakan celana dalam maupun beha tadi.

Ketika Walter meletakkan moncong rudalnya di mulut serambi lempitku, masih sempat aku berkata, “Pintunya kunci dulu.”

“Sudah,” sahutnya, “begitu aku masuk ke sini tadi, pintunya sudah langsung kukunci. Biar aman ya Mam.”

Aku tidak menyahut. Cuma memejamkan mata ketika terasa moncong rudal bule itu mendesak mulut serambi lempitku.

Dan… oooohhhh… rudal gede yang sangat panjang itu mulai menerobos liang serambi lempitku. Membuatku terbeliak… lalu terpejam erat – erat ketika terasa rudal long size itu mjulai bermaju – mundur di dalam liang sanggamaku. Sementara leherku pun mulai dipeluknya dengan hangat. Disusul dengan ciuman hangatnya yang membuatku semakin terlena dalam nikmatnya entotan lelaki indo itu.

Pertahananku memang sudah runtuh oleh suami Cinthia ini. Lalu haruskah aku jadi orang munafik dan berpura – pura tidak merasakan nikmatnya entotan rudal Walter yang sangat panjang dan terus – terusan menabrak dasar liang serambi lempitku ini (saking panjangnya rudal Walter ini)?

Aku tahu bahwa Cinthia lebih tua dariku. Bahkan adik Cinthia yang bernama Monica itu pun lebih tua dariku. Lalu entah dari mana datangnya keinginan yang satu ini. Keinginan untuk menyadarkan Walter, bahwa aku ini lebih muda daripada istrinya. Bahwa aku ini lebih memuaskan daripada Cinthia.

Maka dengan sepenuh gairah kugoyangkan puinggulku dengan gerakan, memutar – mutar, meliuk – liuk dan menghempas – hempas. Sehingga gesekan rudal panjang gede itu semakin terasa olehku. Tentu saja, karena dengan goyangan yang sudah terlatih ini, rudal Walter dibesot – besot dan diremas – remas oleh liang serambi lempitku.

Aku memang sudah lupa daratan. Lupa segalanya. Sehingga rintihan -rintihanku pun mulai berlontaran dari mulutku, tanpa kendali lagi.

“Walter… aaaaaa… aaaaaahhhh… Walteeeeer… aaa… aaaaahhhhh… aaaaaa… aaaaaaaahhhhhhh… rudalmu pan… panjang se… sekali… Walteeerrrrr… aaah…”

Walter malah menghentikan entotannya sambil berkata, “rudal panjang rasanya lebih mantap kan Mam?!”

Kucubit pinggang Walter sambil menyahut, “Ayo entotin terus. Jangan mandeg – mandeg gini… !” Walter mencium bibirku, lalu melumatnya dengan lahap, sambil menggenjot rudalnya kembali.

# part 3

Dengan sejujurnya aku mengakui, bahwa gesekan demi gesekan yang terjadi antara liang kewanitaanku dengan tongkat kejantanan Walter, terasa nikmat. Nikmat sekali.

Inilah perselingkuhan pertamaku di belakang Papie (karena pada saat itu aku belum ngapa – ngapain dengan Boy).

Semuanya ini tidak kukehendaki awalnya. Kalau aku berniat selingkuh, mungkin sejak tadi siang pun akan kurenggut Ivan ke dalam dekapanku. Tapi aku tidak melakukan apa – apa dengan Ivan, kecuali memegang rudalnya saja.

Begitu juga dengan Walter ini. Bermimpi pun tidak pernah, lalu tahu – tahu aku sudah dihimpit dan dientot oleh mantu tiriku ini.

Dan sebagai seorang wanita yang banyak kelemahannya ini, aku tidak bisa menolak lagi. Karena Walter keburu menggerayangi kemaluanku, keburu menjilati serambi lempitku pula. Mana mungkin aku punya kekuatan untuk menolak kehadiran rudalnya di dalam liang kewanitaanku?

Akhirnya aku bertekad untuk menikmatinya saja, karena sudah kepalangan basah. Itulah sebabnya aku berusaha membuat Walter puas sepuas – puasnya. Bahkan aku seolah ingin bersaing dengan Cinthia yang lebih tua dariku itu. Ingin agar Walter menganggapku jauh lebih memuaskan daripada istrinya.

Karena itu goyangan pinggulku makin lama makin binal. Goyangan ini selain untuk memuaskan Walter, juga untuk memuasi diriku sendiri. Karena dengan goyangan ini, kelentitku terus – terusan bergesekan dengan badan rudal Walter. Dan ini luar biasa nikmatnya…!

Akibatnya, aku mulai merasa berada di detik – detik krusial. Detik – detik menuju puncak orgasmeku.

Karena itu aku terengah – engah mendesis, “Sssss… Wal… Walter… Walterrrrr… aku… aku udah mau orgasme… Walter… Walter… Walter… !”

Walter pun menjawab terengah, “Iiii… iya Mam… aku… aku juga… udahg… ma… mau ejakulasi… ki… kita barengin ya Maaaaaaaam…”

Lalu kami seperti sepasang manusia yang tengah kerasukan. Walter meremas sepasang toketku dengan kencangnya. Tapi aku tidak kesakitan, karena liang serambi lempitku sedang menggeliat dan mengedut – ngedutg di puncak orgasmeku.

Aku pun meremas – remas rfambut pirang Walter sampai acak – acakan.

Pada detik – detik inilah moncong rudal Walter memuntahkan lendir hangatnya berulang – ulang… crooooottttttttt… crot… crot… crooootttttt… crolttttt… crooootttt… crooootttt…!

Gila… banyak sekali air mani yang dimuntahkan oleh moncong rudal Walter ini…! Terasa sampai membludak dari mulut serambi lempitku, mengalir ke arah anusku.

Walter terkapar lunglai di atas perutku. Tapi beberapa detik kemjudian ia mencabut rudal lemasnya dari liang serambi lempitku.

Aku pun cepat bangun, karena merasa liang serambi lempitku kebanjiran air mani Walter. Bergegas aku masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan serambi lempitku dengan air hangat shower, sekalian menyabuninya sampai bersih.

Lalu aku mengambil sebutir pil kontrasepsi dari kotak obat – obatan yang tergantung di dinding kamar mandi. Kuambil pula segelas plastik air mineral, untuk bantu menelan pil itu.

Ya, aku harus waspada. jangan sampai aku hamil yang gak jelas. Apalagi Waltewr kebule – bulean begitu. Bagaimana kalau aku hamil lalu melahirkan anak yang bule seperti Walter?

Jangan sampai terjadi hal seperti itu. Hal yang akan merugikan diriku sendiri itu.

Walter mengajakku menengok istrinya di rumah sakit bersalin, sebagai wakil dari Papie.

Aku pun setuju. Sedikitnya untuk mengurangi perasaan bersalahku karena telah membiarkan suami Cinthia menyetubuhiku tadi.

Cinthia tampak senang sekali melihat kedatanganku bersama suaminya. Pada waktu cipika – cipiki dengan Cinthia yang perutnya masih buncit itu, kudengar Cinthia berbisik, “Doakan aku lancar melahirkannya ya Mam.”

“Iya… mamie ikut mendoakanmu Cin. Semoga kelahirannya berjalan lancar. Mau melahirkan biasa atau mau dicesar?” tanyaku.

“Mau melahirkan secara normal aja Mam. Mungkin aku akan melahirkan nanti malam atau besok pagi.”

Aku cuma mengangguk – angguk perlahan.

“Nanti Mamie menyusul ya. Biar aku punya adik dari Mamie,” kata Cinthia.

“Kayaknya masih jauh Cin. Papie kan sudah tua. Mungkin bibitnya juga sudah jarang.”

“Sabar ya Mam. Lagian Mamie kan sudah punya anak lima orang. Aku salah satu anak Mamie,” ucap Cinthia dilanjutkan ciumannya di pipiku.

Aku cuma tersenyum sambil mengangguk.

Begitu baiknya sikap Cinthia padaku, membuatku malu sendiri.

O, seandainya dia tahu bahwa aku baru disetubuhi oleh suaminya, apakah dia masih tetap akan sebaik itu sikapnya padaku?

Ada perasaan bersalah yang sangat mendalam di hatiku. Karena aku merasa telah mencuri suami Cinthia, walau pun bukan atas kehendakku pada awalnya.

Seharusnya Walter pun punya perasaan bersalah seperti yang kurasakan ini. Tapi Walter sangat pandai menyembunyikan segala yang pernah terjadi denganku tadi. Walter bersikap biasa – biasa saja. Bahkan kelihatan lebih mesra sikapnya kepada Cinthia.

Keesokan harinya adalah hari Sabtu. Ivan sudah kukasih libur dua hari. Hari Sabtu dan hari Minggu.

Sedangkan aku pun istirahat saja di rumah, tidak menikmati week end di luar rumah.

Hari Senin… pagi – pagi sekali Ivan sudah datang. Lalu duduk di pos satpam, sambil ngobrol dengan teman – temannya. Satpam yang bertugas menjaga rumahku ada enam orang. Tapi dibagi menjadi dua shift, masing – masing shift terdiri dari tiga orang.

Pintu kamarku ada dua. Yang satu menuju ke ruang keluarga, yang satunya lagi menuju ke teras depan. Karena itu aku bisa melihat Ivan ketika dia baru datang tadi.

Aku baru selesai mandi dan baru mau berdandan, karena ingin menengok rumah lama yang sudah ditinggalkan itu.

Ketika masih mengenakan kimono, aku mengambil kunci mobilku dan keluar lewat pintu yang menuju teras depan itu.

Ivan yang sedang duduk di pos satpam, melihat kemunculanku di teras depan. Lalu kulambaikan tanganku ke arahnya. Ivan pun bergegas menghampiriku.

“Kita mau keluar. Panasin dulu mobilnya Van,” kataku sambil menyerahkan kunci mobilku.

“Siap Bu Boss,” sahut Ivan yang bersikap formal di rumahku. Mungkin agar tidak ada hal yang mencurigakan teman – temannya semasa masih jadi satpam.

Aku pun kembali ke dalam kamarku. Dan berdandan serapi mungkin.

Pagi itu aku mengenakan spanrok abu – abu dengan blouse putih yang ditutupi lagi oleh blazer berwarna abu- abu, sama dengan spanrok yang kukenakan.

“Kenapa tadi kamu bengong ketika melihatku sudah dandan begini?” tanyaku yang sudah duduk di samping Ivan yang tengah mengemudikan mobilku.

“Pakaian itu… membuat Pampam jadi cantik plus sesuatu,” sahut Ivan tidak formal -formalan lagi padaku.

“Plusnya apa?” tanyaku.

“Mmm… maaf ya… cantik plus seksi abis.”

Aku cuma tersenyum. Ivan bilang aku ini seksi abis. Apalagi kalau dia tahu bahwa saat ini aku sengaja tidak mengenakan celana dalam… pasti tambah lagi komentarnya…!

“Ohya… kamu udah ketemu mamaku lagi?” tanyaku tiba – tiba berbelok ke topik Mama.

“Belum. Kan kalau mau ketemu Tante Rini harus dibarengi putrinya.”

“Kamu udah tau nama mamaku segala ya?”

“Iya. Kemaren dia nelepon. Dia nanya apa gak kangen sama Tante Rini? Nah saaat itulah saya tau siapa nama beliau.”

“Kamu kalau kangen sama mamaku, datang aja sendiri. Asalkan jangan di jam kerja aja. Kemaren kamu kan dapet libur dua hari. Kenapa gak pergi aja sendiri ke sana?”

“Belum dapet ijin dari Pampam sih gak berani. Kalau sudah dikasih ijin gini, mungkin besok atau lusa akan dateng ke sana malem – malem.”

Aku tidak menyahut. Karena lampu merah di depan menyala. Sehingga Ivan harus menghentikan mobilku. Pada saat itulah aku diam – diam menarik spanrokku ke atas. Lalu kutarik tangan kiri Ivan sambil berkata, “Tempo hari aku sempat megang rudalmu. Sekarang giliranmu…”

Telapak tangan Ivan kutempelkan di permukaan serambi lempitku yang tidak bercelana dalam ini.

Ivan terkejut setelah menyadari bahwa tangannya sedang menempel di permukaan kemaluanku. “Pam… oooo… oooooh… Pampam… ti… tidak pake celana dalem?”

“Iya… kalau gak pake celana dalem gini lebih seksi apa malah menakutkan?”

“Iii… iiini sih super seksiiiiii… oooo… oooooohhhhhhhh… “jemari Ivan mengelus – elus mulut serambi lempitku. Tapi lampu merah sudah berganti jadi lampu kuning, lalu lampu hijau pun menyala.

“Ayo jalan lagi. Sudah hijau tuh,” kataku sambil menjauhkan tangan Ivan dari kemaluanku. Spanrokku juga kubetulkan lagi.

Ivan segera menjalankan lagi mobilku. Sambil bergumam, “Apakah ini sebagai lampu hijau juga bagi saya Pam?”

“Lampu hijau apa? Itu tadi lampu hijaunya udah ditinggalin,” sahutku sambil diam – diam mengeluarkan celana dalam dari tas kecilku. Lalu kutempelkan celana dalamku ke mulut Ivan.

Ivan agak terkejut. Tapi lalu diambilnya celana dalamku sambil tetap nyetir mobilku dengan kecepatan rendah. Lalu diciuminya celana dalamku sambil bergumam, “Harum… harum sekali…”

Aku malah menunjuk ke mulut jalan yang hampir terlewati, “Pelan – pelan… itu di depan ada belokan ke kiri… !” kataku.

“Jadi belok ke kiri, ke jalan yang kecil itu?” tanya Ivan.

“Nggak kecil – kecil amat kok. Dua truk berpapasan juga bisa lewat,” sahutku.

Ivan membelokkan mobilku ke kiri.

“Setelah warteg itu ada gang ke kiri lagi. Tapi mobil gak bisa masuk. Tinggalin aja mobilnya,” kataku.

“Di sini aman? Maksudnya aman untuk ninggalin mobil di jalan?”

“Alaaa… mobilku dicuri sih ada asuransi,” sahutku, “Biar pihak asuransi yang nyariin malingnya. Santai aja. Eh kembaliin celana dalamku. Masa diciumin terus?”

Ivan mengembalikan celana dalamku, lalu menghentikan mobilku di dekat mulut gang yang menuju ke rumah lama itu.

“Ayo turun Van,” kataku sambil membuka pintu di sampingku. Dan turun dari mobilku, setelah memasukkan celana dalamku ke dalam tas kecilku.

Sambil berjalan di gang menuju rumah lama itu, kukeluarkan kunci – kunci rumah lamaku. Lalu melangkah ke depan rumahku dengan perasaan terharu. Terharu melihat rumah yang jadi tempat tinggalku sejak bayi hingga dewasa.

Lalu kubuka kunci pintu depan dan masuk ke dalam rumah lama yang bersejarah ini.

Tadinya kupikir rumah lama ini kotor dan penuh debu. Tapi ternyata bersih sekali. semua furniture kucolek – colek dengan ujung jari, untuk melihat banyak debu atau tidak. Ternyata memang tidak ada debu di rumah tua ini.

Mungkin Mama suka membersihkan rumah ini, karena Mama memegang kunci cadangan untuk pintu – pintu di rumah tua tapi bersejarah ini.

Ivan duduk di sofa yang berhadapan dengan sofaku. Dan aku jahil lagi. Sengaja aku duduk dengan kedua lutut direntangkan lebar lebar. Sehingga Ivan melotot nyaris tak berkedip… memandang ke arah kemaluanku yang sengaja dipamerkan padanya ini.

“Kenapa melototin serambi lempit terus? Pengen jilatin ya?” tanyaku sambil menahan tawaku.

“Kalau diijinkan sih mau banget. Mau jilatin serambi lempit Pampam,” sahut Ivan dengan sikap malu – malu.

“Ya udah. Jilatin deh sepuasmu. Tapi aku hanya ngasih ijin menjilati doang ya. Gak pake yang lain – lain.”

“Megang pake tangan gak apa – apa kan?”

“Boleh. Mau masukin hidung juga boleh. Yang penting jangan masukin rudal. Itu aja.”

Ivan menghampiri sofaku. Seperti sudah mau jongkok di depanku. Tapi aku berkata, “Eiiittt… nanti dulu… kunciin dulu dong pintu itu. ntarf kalau ada tamu nyelonong masuk, bisa heboh se-RW… !”

Ivan nyengir. Lalu bergegas menuju pintu depan dan memutar anak kuncinya… klik…! Lalu menghampiriku lagi.

“Van… aku pengen serambi lempitku dijilatin, tapi pengen sambil megang rudalmu. Gimana caranya ya?”

Ivan tmapak berpikir. Lalu menjawab, “Kalau begitu, mungkin harus pake posisi 69. Jadi saya jilatin serambi lempit Pampam, sementgara Pampam juga bisa mainin rudal saya. Gimana?”

“Kalau begitu mendingan di kamarfku aja yok. Biar bisa sama – sama telanjang,” ucapku sambil berdiri.

Ivan mengangguk, “Siap Bu Boss.”

Setelah sama – sama berada di dalam kamarku, Ivabn duluan melepaskan segala yang melekat di tubuhnya.

Aku pun melepaskan blazer, blouse, spanrok dan behaku. Lalu berdiri sambil bertolak pinggang, “Gimana kalau sudah telanjang gini? Masih seksi?” tanyaku sambil memperhatikan rudal Ivan yang tampaknya sudah ngaceng.

“Sangat menggiurkan Pam. Makanya rudal saya langsung ngaceng gini nih,” sahut Ivan sambil memegang rudalnya yang memang sudah ngaceng itu.

Lalu Ivan melompat ke atas bed yang sudah berbulan – bulan tidak kutiduri itu.

“Kamu mau di bawah?” tanyaku ketika melihat Ivan sudah celentang di atas bedku.

“Terserah… saya sih ikut keinginan Bu Boss aja.”

“Kamu bukan budakku, Van. Makanya jangan pakai istilah saya, karena saya itu berasal dari kata sahaya, yang artinya budak belian.”

“Rasa kurang sopan aja kalau pake istilah aku. Karena biar bagaimana pun Pampam ini kan istri Big Boss.”

Aku pura – pura tak mendengar ucapan Ivan itu. “Kamu yang di bawah ya. Supaya aku tidak menanggung berat badanmu,” kataku sambil merayap ke atas perut Ivan. Lalu memegang rudalnya yang panjang gede ini. Membuatku membanding – bandingkan antara rudal Ivan dengan rudal Walter. Rasanya sama persis…

Tapi yang jelas, kalau melihat rudal sepanjang dan segede ini, aku suka tergiur… ingin menyelomotinya sepuasku.

Tapi kalau nonton video dewasa, aku paling tergiur pada adegan facesitting. Maka aku pun berubah pikiran. Aku menaiki perut Ivan, lalju naik lagi sehingga kedua kakiku berada di kan – kiri leher Ivan, sementara kemaluanku berada persis di atas mulut Ivan.

“Ayo facesitting dulu van… “pintaku sambil mendekatkan serambi lempitku ke mulutnya…

Teman lama yang sudah menjadi anak buahku mulai menjilati kemaluanku dengan lahapnya. Sementara aku setengah duduk di lehernya, tapi tidak terlalu bertumpu, agar dia jangan sesak nafas.

Gila… begitu lahap dan gencarnya Ivan menjilati kemaluanku, sehingga aku mulai terpejam – pejam saking nikmatnya. Bahkan hidung Ivan pun berkali – kali “nyasar” untuk menggesek – gesek kelentitku.

Hanya belasan menit serambi lempitku dijilati oleh Ivan dalam posisi facesitting ini. Lalu aku memutar badanku jadi menghadap ke arah batang kemaluan Ivan. Bahkan akhirnya aku merapatkan badanku ke badan Ivan dalam posisi 69. Dalam posisi sungsang. Ivan berhadapan dengan kemaluanku yang berada di atas mjulutnya, sementara wajahku berada di atas batang kemaluan Ivan yang sangat ngaceng dan sedang kugenggam dengan sepenuh gairahku ini.

Ivan bukan hanya menjilati mulut serambi lempitku, lidahnya menyapu – nyapu ke sekitar kemaluanku dengan gencarnya. Bahkan terkadang ujung lidahnya menjilati mulut anusku pula. Oooo… ini luar biasa nikmatnya.

Sehingga akhirnya aku menelentang sambil berkata sambikl mengusap – usap permukaan serambi lempitku, “Lanjutkan Van… terserah kamu mau diapain serambi lempitku ini. Tapi rudalmu jangan dimasukin ke serambi lempitku ya…”

Tampaknya Ivan tahu apa yang harus dilakukannya. Ia menelungkup di antara kedua pahaku yang sudah direntangkan selebar mungkin. Mulutnya beraksi lagi. Menjilati kemaluanku dengan lahapnya. Jemari tangan kanannya pun mulai diselundupkan ke dalam liang serambi lempitku, lalu digerak – gerakkan seperti rudal yang sedang memenyetubuhi.

Begitu gencarnya Ivan menjilati serambi lempitku, juga menjilati kelentitku disertai dengan sedotan – sedotan kuat, sehingga kelentitku terasa jadi “mancung”. Ini membuatku tak kuat menahannya lagi. Aku serambi lempitik lirih, “Ivaaaan… “sambil mengejang tegang. Dan… liang serambi lempitku terasa mengejut – ngejut kencang di puncak orgasmeku.

Sedetik kemudian Ivan pun memegang rudalnya yang diarahkan ke kakiku. Lalu… air maninya berhamburan ke telapak kakiku. Crooot… crotttt… croootttttt… croooooottttt… crooootttt… crooootttttttt…!

Ivan pun terkapar, tengkurap lemas di sisiku. Dan aku cepat mengambil kertas tissue basah dari dalam tas kecilku, untuk menyeka telapak kakiku yang berlepotan air mani Ivan.

Sebenarnya aku merasa kasihan dengan apa yang Ivan lakukan barusan. Seharusnya air mani Ivan dimuntahkan di dalam liang serambi lempitku. Tapi begitu patuhnya ia padaku, sehingga ia tidak berani melanggar laranganku. Tidak berani menyentuhkan rudalnya ke serambi lempitku.

“Biasanya kalau ngocok, kuat berapa kali sehari?” tanyaku sambil menepuk pantat Ivan yang sedang telungkup.

“Hehehe… itu sih rahasia perusahaan Pam.”

“Aku sih cuma mau tau power kamu aja.”

“Ngocok sih gak perlu sering – sering. Kalau keseringan bisa gila nanti.”

“Daripada main sama pelacur mendingan ngocok lah. Lebih aman dari penyakit kotor. Belum lagi resiko ketularan HIV, herpes, hepatitis dan sebagainya.”

“Gak pernah nyentuh perempuan gituan.”

“Sekarang kalau disuruh menyetubuhi mamaku masih kuat?” tanyaku ketika Ivan sudah duduk dalam keadaan masih telanjang bulat.

“Masih kuat. Emangnya mau ditugaskan ke sana?”

“Nanti aja. Setelah kamu pulih tenaganya,” sahutku sambil memegang rudal Ivan yang masih terkulaki lemas, “serambi lempit mamaku enak gak?”

“Sangat enak. Sudah punya anak tapi masih mrepet rapet.”

“Iya sih. Mamaku sudah tiga kali melahirkan, tapi pandai merawat diri.”

“Tiga kali melahirkan? Bukannya Pampam ini anak tunggal?”

“Aku punya dua orang adik cowok. Kukun dan Ajie. Tapi sejak mereka berumur tujuhbelas dan delapanbelas sudah pada kerja di kapal. Makanya lama gak pulang – pulang. Waktu aku kwin sama Pak Mathias juga, mereka gak bisa hadir.”

“Adik – adik Pampam kerja di kapal pesiar?”

“Bukan. Mereka kerja di kapal barang, bolak – balik dari Eropa ke Afrika. Kadang kapalnya bawa lokomotif, kadang bawa mesin. Pokoknya mereka kerja di kapal pengangkut barang – barang berat.”

“Biasanya kalau kerja di kapal, sembilan bulan di laut, tiga bulan di darat.”

“Bisa lebih lama lagi. Buktinya sekarang… sudah dua tahun mereka gak pulang – pulang.”

“Gak apa – apa. Yang penting sekalinya pulang bawa duit banyak.”

“Kalau mereka pulang, aku mau rekrut untuk bekerja di perusahaanku.”

“Perusahaan Big Boss memang besar sekali.”

“Itu perusahaan suamiku. Nanti beda lagi perusahaan suamiku dan perusahaanku sendiri.”

“Wow… Pampam mau buka perusahaan sendiri?”

“Iya. Berkat dukungan suamiku juga sih. Sekarang surat badan hukumnya belum terbit. Kalau sudah terbit, nanti kamu juga akan kuaktifkan di perusahaanku. Haaaiiii… rudalmu sudah keras lagi Van.”

“Iya… abis… dipegang – pegang sama Pampam terus… jadi bangun lagi deh… hehehee…”

“Nanti spermanya lepasin di serambi lempit mamaku aja ya.”

“Ya… ikut perintah Bu Boss aja…”

Aku tercenung sesaat. Lalu… entah kenapa aku jadi ingin… ingin sekali merasakan nikmatnya dientot oleh rudal sepanjang dan segede punya Ivan itu.

Karena itu kudorong dada Ivan sehingga teman lamaku itu celentang. Dan sambil berjongkok dengan kemaluan berada di atas rudal ngaceng Ivan, aku berkata, “Mau nyobain rudalmu sebentar aja ya…”

“Iya,” sahut Ivan dengan sorot bingung.

Sambil memegang rudal Ivan, kuturunkan badanku, sehingga rudal Ivan menyruak masuk ke dalam liang serambi lempitku. “Van… ooooh… rudalmu memang gede banget Van… “rintihku pada saat rudal Ivan baru masuk kurang dari setengahnya.

Lalu kunaikkan lagi serambi lempitku, sehingga rudal Ivan terlepas dari serambi lempitku. “Hihihihiii… takut tembus ke jantung… karena selain gede, panjang sekali sih.”

Lalu aku menelentang sambil mengusap – usap serambi lempitku. “kamu gak pengen nyobain menyetubuhi serambi lempitku Van?” tanyaku dengan senyum menggoda.

“Pengen sih pengen. Tapi kan Pampam melarang masukin rudalku ke serambi lempit Pampam.”

“Kamu bisa merahasiakannya kalau kuijinkan menyetubuhi serambi lempitku?”

“Siap. Sangat bisa merahasiakannya.”

“Termasuk mamaku juga jangan sampai tau.”

“Siap Pam.”

“Ya udah… masukin deh rudalmu. Soalnya aku juga jadi horny berat nih. Tapi serambi lempitku jangan dijilatin lagi, masih basah sekali. Langsung masukin aja rudalmu…”

“Iya Pam… iyaaa…” sahut Ivan terdengar gugup. mungkin karena ia tidak menduga kalau aku akan ngasih ijin untuk memenyetubuhiku. Soalnya sudah kepalangan basah sih.

Ivan berlutut sambil mengarahkan moncong rudalnya ke mulut serambi lempitku yang sudah agak ternganga ini, karena aku merentangkan pahaku selebar mungkin. Sebagai tanda “welcome” buat kehadiran rudal Ivan di dalam liang serambi lempitku.

Dan… rudal Ivan mulai menerobos liang serambi lempitku yang masih basah akibat orgasmeku tadi. Memang seret masuknya, saking gedenya rudal teman lamaku itu. Tapi setelah rudal panjang gede itu masuk setengahnya, Ivan mulai memaju mundurkan rudalnya perlahan – lahan dan pendek – pendek jaraknya.

Namun beberapa detik kemudian, liang serambi lempitku sudah beradaptasi dengan ukuran rudal Ivan yang dahsyat itu. Ooooh… edan…! Gesekan demi gesekan rudal Ivan di liang serambi lempitku, luar biasa enaknya…!

Bersambung… Aku pun mulai melontarkan rintihan yang tidak mempedulikan lagi siapa Ivan dan siapa diriku sekarang, “Dudududuuuuuh… Ivaaaan… aaaaaa… aaaaah… rudalmu ini… luar biasa enaknya Vaaaaan… aaaaah… gede bangeeeeet… pa… panjang bangetttt Ivaaaaan… ayo entotin terus Vaaaan…

Entoooot teruuuuussss… edaaaaan… edaaaaan… luar biasa enaknyaaaaaaa Vaaaan… aaaaaah… entot teruuuuusssss… iyaaaa… iyaaaa… entooooooootttt… entooooooottttttttt… enak Vaaaaaaannnnnnnnn… entotttt… entoooooottttt terussssssss …

Ivan pun masih sempat menyahut terengah, “Me… serambi lempit Pampam juga… eeee… enak sekaliiiiii… uuuuuugghh… uuuuuughhhhhh… ‘

Seperti waktu disetubuhi oleh Walter, kali ini pun aku memiliki keinginan yang sama. Bahwa aku ingin terasa sangat memuaskan bagi Ivan. Sehingga ketika Ivan mulai berani mencium bibirku, dengan sepenuh gairah kusambut ciumannyha itu dengan lumatan yang sangat bergairah.

Pada saat itu pula aku mulai menggoyang pinggulku dengan goyangan yang seolah membentuk angka 8. Memutar – mutar dan meliuk – liuk. Terkadang juga kuhempaskan pantatku ke kasur, sehingga dengan sendirinya kelentitku bergesekan dengan rudal Ivan.

Aku ingin jadi perempuan yang memuaskan Ivan, sekaligus memuaskan diriku sendiri. Bahwa dengan goyangan ini liang serambi lempitku seolah membesot – besot dan meremas – remas rudal Ivan, yang dengan sendirinya menimbulkan kenikmatan bagi Ivan mau pun bagi diriku sendiri. Bahwa gesekan antara rudal Ivan dengan dinding liang serambi lempitku semakin kencang rasanya.

Lalu aku tidak peduli lagi bahwa Ivan itu sudah menjadi anak buahku, yang harfus selalu menghormatiku… ya… aku sudah melupakan status itu. Ivan telah berubah menjadi lelaki yang benar – benar memuaskan, karena rudalnya sangat gagah, kekuatannya pun bisa diandalkan.

Bahwa setelah aku mencapai orgasme lagi, rudal Ivan tetap tangguh memenyetubuhi liang kewanitaanku.

Karuan saja rintihan – rintihan histerisku berlontaran begitu saja dari mulutku yang sudah lupa daratan ini. Rintihan – rintihan di luar kesadaranku, yang berlontaran begitu saja secara spontan, karena aku sudah lupa segalanya. Yang kuingat cuma satu, bahwa rudal Ivan ini luar biasa nikmatnya…

“Vaaaan… oooo… oooooh… Vaaan… rudalmu ini luar biasa enaknya Vaaaaan… entot terus Vaaaan… entot teruuuusssssss… entoooooootttt… iyaaaaaa… iyaaaa… iyaaaa… aaaaaa… aaaaah Vaaaaan… ini enak sekali Vaaaan… entot teruuuusssssssss… entoooot Vaaaan…

Lalu terasa rudal Ivan semakin gencar menggenjot liang kenikmatanku. Membuatku semakin merem – melek dalam indah dan nikmatnya permainan surgawi ini.

Sementara keringat Ivan mulai bercucuran, bercampur aduk dengan keringatku. Dan ketika Ivan berbisik terengah, “Pam… aku… aku sudah mau ngecrot… lepasin di luar?”

Kusahut, “Di dalam… aja. Aku juga udah… mau lepas lagi. Ayo barengin Vaaan…”

Lalu Ivan semakin gencar memenyetubuhiku, yang kusambut dengan semakin menggilanya juga goyangan pinggulku.

Lalu kami seperti sepasang manusia yang kerasukan. Ivan mencengkram sepasang bahuku kuat – kuat, aku pun menjambak dan meremas – remas rambut Ivan.

Kdetika aku tiba di puncak kenikmatanku, terasa liang serambi lempitku berkedut – kedut kencang. Pada saat yang sama, rudal Ivan pun mengejut – ngejut sambil memuntahkan air maninya di dalam liang sanggamaku.

Croooootttttttt… crottt… crooootttttttt… crottcrott… croooootttt… croooootttt… crooootttt…!

Ivan mengelojot, lalu terkulai di atas perutku.

Setelah Ivan mencabut rudal lemasnya dari liang kemaluanku, kucubit perutnya sambil berkata, “Akhirnya rudalmu bisa ngerasain serambi lempitku juga ya?”

“Heheheee… iya… terima kasih Pam,” sahut Ivan tersipu.

“Tapi ingat… tugas utamamu adalah menggauli mamaku sesering mungkin. Karea mamaku gede nafsunya. Selain daripada itu, aku ingin agar mamaku benar – benar melupakan mantan pacarku yang geblek itu.”

“Iya Pam. Jangan takut, aku akan menggauli mama Pam sesering mungkin.”

“Kalau dibandingkan, enak mana serambi lempit mamaku dengan serambi lempitku? Ayo jawab sejujurnya.”

“Lain – lain enaknya Pam. Jadi kalau harus dibanding – bandingkan, aku harus jawab sama saja enaknya. Karena wanita setengah baya seperti mama Pam itu seolah sudah tiba di phase puber kedua. Makanya beliau berusaha untuk menciptakan kepuasan bagi lelaki yang menggaulinya.”

Begitulah… pada saat aku sedang bersama Boy di dalam hotel ini, semuanya itu masih lekat dengan ingatanku.

Bahwa sebelum Boy “dekat” denganku, aku sempat merasakan digauli oleh Walter dan Ivan. Tapi hanya satu kali. Tidak lebih.

Dan setelah aku merasakan begini dekatnya dengan Boy, aku bertekad untuk menolak lelaki mana pun yang mau menggauliku. Karena aku ingin mencurahkan perasaan sayangku buat Boy seorang (di samping Papie).

Namun beberapa hari kemudian, ketika Boy sedang kuliah, pagi – pagi sekali aku mendapat telepon dari suamiku :

“Hallo Papie… kok baru nelepon sekarang sih. sedang di mana Papie sekarang?”

“Sedang di Jerman, Sayang. Mungkin besok akan ke Swedia dan Denmark, lewat darat aja. Ohya… aku punya berita penting nih. Bobby dan Kent sedang menuju ke rumah sekarang.”

“Haaaa? Bobby yang kuliah di Kanada dan Kent yang kuliah di Amerika itu?”

“Betul. Kebetulan kuliah dan skripsi mereka sudah selesai. Bahkan sudah pada diwisuda. Selanjutnya, entah mereka akan bekerja di Amerika atau mau membantu perusahaanku di Indonesia. Entahlah. Yang jelas mereka ingin liburan dulu dan mau memotret – motret beberapa candi di pulau Jawa. Entah untuk apa mereka mau motret candi – candi bersejarah itu.

“Orang Indonesia kok harus pake guide di negaranya sendiri Pap?”

“Heheheee… mereka itu hanya hafal dua kota. Jakarta dan Bandung. Mereka belum pernah menginjak Jateng dan Jatim. Tapi kota – kota besar di luar negeri sudah banyak yang hafal, seperti Tokyo, Beijing, Shanghai, Hongkong dan beberapa kota di Benua Amerika. Makanya jadilah guide buat mereka ya Sayang.

“Kapan mereka datang ke rumah?”

“Mungkin beberapa jam lagi juga tiba di rumah. Ohya… aku sudah izinkan kalau mereka menginginkan sesuatu darimu, seperti yang Boy inginkan itu. Oke aku mau meeting dulu, yha Sayang. Take care and see you… !”

Klik, telepon ditutup. Membuatku bingung sendiri.

Apa maksud suamiku dengan kalimat*“… aku sudah izinkan kalau mereka menginginkan sesuatu darimu, seperti yang Boy inginkan itu”*… Apakah aku harus memperlakukan mereka seperti perlakuanku terhadap Boy?

Tadi aku mau menanyakan hal itu. Tapi Papie keburu menutup teleponnya. Sehingga aku tak sempat menanyakannya, apa maksud dengan “seperti yang Boy inginkan” itu?

Aaaah… entahlah.

Yang jelas, kedua anak tiriku itu tiba sejam setelah aku menerima telepon dari suamiku.

Baik Bobby mau pun Kent menjabat tanganku dengan hangat. Lalu mencium sepasang pipiku dengan hangat. Benar – benar mencium pipi, bukan sekedar merapatkan pipi mereka ke pipiku.

Dan yang jelas, mereka ganteng – ganteng. Terutama Kent yang bertubuh tinggi semampai itu. Dan aku merasa harus beradaptasi dengan mereka, agar kehadiranku di rumah yang mirip istana ini, diterima oleh semua pihak.

Setelah ngobrol beberapa saat, Bobby berkata, “Sekarang Mamie bisa temani kami makan siang di luar kan?”

“Boleh, “aku mengangguk, “Tapi mamie mau ganti baju dulu ya.”

“Iya Mam,” sahut Bobby dan Kent hampir serempak. Lalu mereka saling pandang ketika aku mau masuk ke dalam kamarku.

Aku hanya berdandan sebentar. Mengenakan gaun terusan berwarna orange, dengan motif bintik – bintik putih secara sporadis. Tanpa mengenakan make up lagi, karena aku sudah bermake up sebelum kedua anak tiriku itu datang. Lalu kuambil tas kecilku dan keluar dari kamarku.

“Sudah siap Mam?” sambut Bobby di ruang keluarga.

“Sudah,” sahutku sambil mengangguk.

Kemudian Bobby mengajakku ke teras depan dan tampak Kent sudah memanaskan mobil double cabin-nya yang berwarna military green. Aku sudah dikasih tau kalau mobil double cabin itu punya Kent, sementara punya Bobby sebuah sedan built up Eropa, yang harganya jauh lebih mahal daripada sedanku.

Aku masuk ke dalam double cabin itu, di belakang Kent. Sedangkan Bobby duduk di samping kiriku.

“Mau makan di mana kita sekarang Bob?” tanya Kent di belakang setirnya.

“Nyari yang sejuk aja udaranya. Kita kan terbiasa hidup di hawa dingin, jadi terasa panas di kampung halaman sendiri,” sahut Bob.

“Mau ke luar kota?”

“Why not. Sudah cukup lama kita tidak menikmati udara sejuk di sana.”

Aku diam saja tidak ikut bicara. Tapi aku mulai degdegan, karena lengan kiri Bobby melingkari pinggangku.

Bahkan Bobby lalu berbisik ke dekat telinga kiriku, “Mamie udah ditelepon sama Papie?”

Aku cuma mengangguk tanpa bersuara.

“Papie menugaskan kami berdua untuk mengisi kesepian Mamie, sekaligus untuk membuat Mamie happy.”

Meski Bobby menyampaikan ucapannya dalam bentuk bisikan, tampaknya Kent sudah menduga apa yang Bobby katakan di belakangnya. karena Kent berkata di belakang setirnya, “Pada dasarnya Papie takut kalau kami main – main sama perempuan nakal, yang beresiko bisa terkontaminasi penyakit kotor. Karena itu Papie hanya mengijinkan kami dengan Mamie saja.

Akhirnya Bobby juga bicara tanpa berbisik – bisik seperti tadi. “Tadinya kami tidak tertarik pada saran Papie itu. Tapi setelah melihat Mamie yang begini cantiknya, kami langsung setuju. Mamie juga tidak berkeberatan kan?”

“Gak tau masih bingung. Masa mamie harus melayani kalian berdua sekaligus?”

“Kita akan bergiliran menggauli Mamie. Bukan mau mengeroyok Mamie. Santai aja Mam… kami akan melakukannya dengan smooth, karena biar bagaimana pun Mamie ini ibu sambung kami,” kata Bobby yang dilanjutkan dengan kecupan hangatnya di pipi kiriku.

“Iya Mam, “sela Kent, “Kami bukan hanya mau melampiaskan nafsu. Kami juga akan berusaha untuk membuat Mamie happy…!”

Aku terdiam. Tapi apakah sebenarnya batinku menolak untuk menerima kehadiran mereka di dalam diriku? Tidak. Sejujurnya harus kuakui, bahwa kehadiran mereka menimbulkan fantasi tersendiri di dalam benakku. Karena aku memang sudah diijinkan oleh suamiku untuk menggauliku…

“Kalau dipikir – pikir Papie hebat juga ya,” kata Kent di belakang setirnya, “papie bisa mendapatkan istri yang usianya tidak jauh beda dengan kita… sangat cantik pula.”

“Iya,” sahut Bobby, Begitu melihat pertama kali pun aku langsung jatuh hati kepada Mamie kita ini Kent.”

“Sama, aku juga begitu,” kata Kent.

“Mamie sendiri gimana?” tanya Bobby sambil mempererat dekapannya di pinggangku, lalu merapatkan pipi kanannya ke pipi kiriku.

“Hihihiiii… yaaaa gimana ya? Seneng sih seneng tapi sambil bingung. Karena kalian juga tau posisi mamie kan?”

“Lupakan posisi itu Mam. Mendingan kita senang – senang aja, mumpung kami masih di Indonesia,” kata Bobby sambil memegang tangan kiriku, lalu dicuminya dengan hangat.

Tak lama kemudian, Kent membelokkan mobilnya ke pekarangan sebuah restoran yang berada di luar kota, sekitar 15 kilometer di utara kotaku.

Di dalam restoran itu, Kent duduk di sebelah kiriku, sementara Bobby duduk di sebelah kananku.

Tampak banyak juga orang bule yang sedang makan siang di restoran ini. Sementara AC restoran ini terasa sangat dingin. Mungkin untuk menyesuaikan diri dengan bule -bule yang biasa tour ke daerah sejuk ini.

Setelah makan siang bersama, mobil Kent meninggalkan restoran itu dan mengarah ke utara lagi, semakin jauh meninggalkan kotaku.

“Ini mau terus ke mana Bob?” tanyaku kepada Bobby.

“Snatai aja Mam. Pokoknya kita akan menuju tempat yang aman dan nyaman,” sahut Bobby sambil mempererat dekapan lengan kanannya, sementara tangan kirinya mulai mengelus – elus betisku. Membuatku degdegan. Tapi rasanya aku seperti tak punya tenaga untuk menepiskannya.

Bahkan ketika tangan Bobby merayap terus ke atas… kubiarkan saja. Namun tangan anak tiriku yang gagah itu menyelinap terus ke balik gaunku… merayap sampai ke pangkal pahaku. Bahkan mulai menyelinap ke balik celana dalamku. Membuat lututku semakin lemas. Dan tiada daya untuk menepiskan tangan yang mulai menggerayangi kemaluanku.

Yang bisa kulakukan hanyalah mendekap dada Bobby seerat mungkin. Dengan hasrat birahi yang semakin menagih – nagih.

Tapi ketika aku melihat ke luar, tampaknya mobil ini sudah berada di tengah hutan pinus.

“Kok masuk hutan segala Kent?” tanyaku.

“Santai aja Mam,” sahut Kent, “Hutan pinus ini punya Papie. Nanti kita akan nyantai di gubuk yang indah sekali pemandangannya. “

Mobil Kent terasa berada di jalan tanah, tidak diaspal. Dan terasa sedang menanjak dengan jalan yang berliku – liku. Sampai akhirnya berhenti di depan sebuah gubuk yang bukan sekadar gubuk. Karena tiang – tiangnya terbuat dari besi seperti yang biasa dipakai untuk tiang listrik. Atapnya pun terbuat dari genteng alumunium berwarna biru langit.

“Lihat itu Mam,” kata Bobby sambil menunjuk ke satu arah. Ke arah lembah yang banyak rumpun – rumpun bambunya, diselingi oleh pesawahan yang sedang menghijau, “Indah kan?”

Aku yang sedang berdiri di samping Bobby, spontan melingkarkan lenganku ke pinggangnya. “Iya, indah sekali,” sahutku.

“Lembah pesawahan dan rumpun – rumpun bambu itu, semuanya punya Papie,” kata Bobby lagi.

“Ohya?!” cetusku dalam kaget dan kagum. Ternyata harta Papie ada di mana – mana.

“Hutan pinus ini pun punya Papie. Luasnya sekitar limapuluh hektar,” kata Bobby lagi, “Nantinya hutan ini akan dijadikan kompleks villa yang akan mulai dibangun tahun depan. Tapi lembah pesawahan dan hutan bambu itu akan dibiarkan tetap begitu, supaya penghuni villa – villa di sini nanti kerasan menyaksikan pemandangan yang indah itu.

Aku cuma mengangguk – angguk. Sementara Kent kulihat sedang asyik mendengarkan musik deep house yang berdentum – dentum suara bassnya.

“Mamie gak keberatan kalau kita lakukan di situ?” tanya Bobby sambil menunjuk ke alas lantai gubuk yang empuk dan bertilamkan kulit sintetis itu.

“Nanti kalau ada orang lihat gimana?” aku balik bertanya, sambil mempererat dekapanku di pinggang Bobby.

“Gak mungkin ada orang ke sini Mam. Mamie gak lihat sebelum kita masuk ke hutan ini? Kan sekeliling hutan ini dipagar oleh kawat berduri. Ada tulisan Dilarang Masuk pula di pintu masuknya. “

“Ooo, begitu ya… terus Kent bagaimana?”

“Biarin aja Kent dengarin musik dulu. Dia takkan merecoki kita Mam. Nanti kalau aku sudah selesai, baru dia akan turun dari mobilnya. “

Bobby melepaskan sepatu dan kaus kakinya. Lalu menjatuhkan diri ke lantai bertilamkan kasur yang sangat lebar itu.

Aku pun melepaskan sepatuku, lalu menghempaskan diri ke dekat Bobby.

“Empuk sekali busanya ya?! Emang biasanya gubuk ini suka dipakai apa?” tanyaku.

“Dulu, waktu aku dan Kent masih di Indonesia, Papie suka ngajak makan rame – rame. Sekarang sih gak tau, apakah Papie masih suka makan di sini atau gak. Aku kan sudah lama tinggal di Kanada, Kent juga di Amerika,” sahut Bobby yang lalu merayap ke atas tubuhku. Untuk mencium bibirku dengan hangatnya.

Lalu Bobby berkata setengah berbisik, “Gaunnya lepasin aja ya Mam. Supaya gak kusut. “

“Bobby aja yang lepasin,” sahutku tetap celentang.

Kancing – kancing gaunku memang berderet di depan semua, dari bagian leher sampai ke bagian terbawahnya.

Tiba – tiba handphoneku berdering. Cepat kukeluarkan hapeku dari dalam tas kecilku. Ternyata dari Boyke…!

“Hallo Boy… !”

“Hallo Mamie… lagi di mana neh?”

“Lagi di hutan pinus, nganterin kedua abangmu. “

“Haaa?! Bang Bobby dan Bang Kent pada pulang?”

“Iya. Ada apa Boy? Tumben nelepon mamie seperti serius gitu. “

“Anu Mam… aku mau laporan… aku mau beli mobil. Mamie setuju gak?”

“Haaa?! Setuju banget. Berarti pikiranmu sudah dewasa tuh. Pakai motor terus kan besar resikonya. Mau beli mobil apa?”

“Yang sesuai dengan saldo tabunganku aja. Beli SUV juga gak apa – apa… “

“Hmmm… anak mamie udah belajar mandiri ya. “

“Iya Mam. Setelah deket sama Mamie, rasanya banyak yang harus kuperbaiki dalam hidup ini Mam. Pokoknya demi Mamie tewrcinta, aku mau melakukan apa aja. “

“Iya baguslah. Kalau duitnya kurang, jangan malu – malu, minta aja sama mamie. Nanti mamie tambahin. “

“Gak usah Mam. Duitku sudah cukup banyak kok. Kan uang jajanku dinaikkan sama Papie. Makanya daripada duitnya nganggur, mendingan dibeliin mobil. Supaya kalau sedang hujan gak kehujanan. Naik motor kan sering kehujanan, sampai kena flu terus. Makanya motorku mau dijual aja, uangnya mau digabung dengan tabunganku.

“Iya.. iyaaa. “

Bobby menatapku, “Siapa barusan? Boyke Mam?” tanyanya.

“Iya. Dia titip salam sama Bobby dan Kent katanya. Barusan dia laporan, mau beli mobil. “

“Haaa?! Boy mau beli mobil?! Hahahaaa… teraphi dari Mamie sangat manjur ya. Boy udah mau kuliah, udah mau mobil pula. Berarti dia mau setop pakai motor. “

“Iya. Dia bilang motornya mau dijual buat nambahin uang untuk beli mobil. “

“Baguslah. Dia mau belajar mandiri rupanya. “

“Iya, duit jajan dari Papie dibiarkan ngendap di rekening tabungannya. Ternyata dia punya niat ingin beli mobil sendiri, bukan minta duit lagi sama Papie. “

“Bagus itu Mam. Dan sekarang… aku mau lepasin gaun Mamie yaaa,” ucap Bobby sambil membuka kancing – kancing gaunku satu persatu. Lalu gaunku dilepaskan olehnya dan menggantungkannya di kapstok dinding gubuk modern ini. Bobby seperti mau melepaskan behaku juga, tapi aku menepiskan tangannya sambil berkata, “Bobby sendiri masih pakaian lengkap gitu.

Bobby tersenyum. Lalu menanggalkan busananya sehelai demi sehelai. Tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuhnya. Lalu dengan senyum macho di bibirnya, Bobby melepaskan behaku secara hati – hati. Disertai bisikan, “Mamie memang luar biasa cantik dan seksinya. Beruntung Papie bisa mendapatkan Mamie, sehingga kami bisa mewakili Papie seperti sekarang ini.

Sebagai perempuan, tentu saja aku senang mendengar pujian dari Bobby itu.

Dan… ketika Bobby menciumi toketku, lalu mengemut pentilnya, aku pun tak mau kalah. Kuselinapkan tanganku ke balik celana dalamnya. Wow… ternyata rudal Bobby tak kalah “gagah” dari rudal adik bungsunya (Boyke). Sudah ngaceng berat pula.

Jujur… aku semakin dibelenggu oleh nafsu birahiku. Sehingga tanpa malu – malu lagi kupelorotkan celqana dalam Bobby. Dan kupegang rudal ngacengnya ini, sambil membayangkan nikmatnya kalau rudal ini sudah dibenamkan dan dientotkan di dalam liang serambi lempitku…!

Lalu, tanpa canggung – canggung lagi kujilati puncak dan leher rudal anak tiriku ini. Sesaat kemudian rudal Bobby bahkan kukulum dan kuselomoti dengan lahap sekali.

Sehingga Bobby pun menggeliat – geliat. Sementara rudalnya jadi semakin ngaceng dan kemerah – merahan.

Tapi aku tak mau terlalu lama menyelomoti rudal Bobby. Lalu menelentang dengan nafsu birahi yang sudah semakin menguasaiku.

Dan kubiarkan Bobby menarik celana dalamku sampai terlepas di kedua kakiku.

Ternyata Bobby pun langsung menyerudukkan mulutnya ke… serambi lempitku… Kemudian ia menjilati serambi lempitku dengan lahapnya. Bahkan jari tangannya pun ikut campur, menyodok – nyodok liang serambi lempitku seperti ayunan rudal tengah memenyetubuhi. Aku pun menggeliat – geliat sambil menahan – nahan nafasnya. Bahkan pada suatu saat aku berkata terengah, “Sudah basah sekali Bob…

Bobby menurut saja pada perintahku. Sabil berlutut ia meletakkan puncak rudalnya di mulut serambi lempitku. Lalu ia mendorong rudalnya. Dan terasa masuk sampai leher rudalnya. Kemudian ia mendorongnya lagi dengan kuat sekali… sehingga rudalnya masuk lagi sampai lebih dari setengahnya.

Aku pun menarik leher Bobby ke dalam pelukanku sambil berbisik, “Mamie gak pernah menyangka kalau kamu bakal langsung menyetubuhi mamie. Padahal baru beberapa jam kamu tiba di rumah kan?”

“Aku sih udah ngebayangin sdebelum terbang ke Indonesia,” sahut Bobby, “Karena Papie paling takut kalau aku main dengan perempuan sembarangan. Makanya Papie relakan miliknya yang paling berharga ini, untuk ikut dinikmati oleh anak – anaknya… emwuaaaaahhhh… “Bobby mengakhiri kata – katanya dengan ciuman hangatnya di bibirku.

“Untung kamu ganteng Bob,” sahutku, “kalau gak ganteng, mana aku mau?!”

Bobby tersenyum sambil start… mulai mengayun rudalnya bermaju – mundur di dalam jepitan liang serambi lempitku. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com

Tentu saja aku mulai merasakan nikmatnya disetubuhi oleh Bobby ini. Tapi kenapa aku membayangkan hal yang lebih dari ini? Kenapa aku membayangkan indahnya kalau aku bisa memegang rudal Kent pada saat Bobby sedang memenyetubuhiku ini?

Ya… aku sering menyaksikan film bokep, tentang cewek yang “dikeroyok” oleh dua orang cowok. Pernah juga nonton yang ceweknya seorang sementara cowoknya tiga orang. Bahkan aku pernah juga nonton bokep yang ceweknya diantri oleh beberapa orang cowok… bahkan sampai 50 orang cowok memuntahkan air maninya di tubuh si cewek.

Hiiii… aku tak mau dikeroyok oleh cowok sebanyak itu. Aku cuma ingin merasakan yang sudah jelas hadir saja. Ingin agar Kent jangan terlena mendengarkan musik di dalam mobilnya. Aku ingin Kent cepat turun dari mobilnya, lalu bergabung bersama Bobby di dalam gubuk modern ini.

Aku ingin merasakan bagaimana fantastisnya menikmati dua macam rudal dalam waktu bersamaan. Namun entotan Bobby makin lama makin gencar. Bahkan dasar liang serambi lempitku terus – terusan disundul oleh puncak rudalnya.

Cerita Sex Anugerah atau Malapetaka

Aku p;un mulai melontarkan rintihan – rintihan di luar kesadaranku. Berlontaran begitu saja dari mulutku. “Bobby… aaaaah… Boooob… aaaaaaa… aaaaah Boooob… entot terus Booob… jangan brenti – brenti… entot teruuuuuusssss… entoooooottttt… “

Bahkan aku lalu merasa ingin agar rintihan – rintihanku terdengar oleh Kent. Karfena itu aku sengaja merintih – rintih lebih keras lagi, agar suaraku bisa mengalahkan bunyi musik yang sedangb Kent dengarkan di dalam mobilnya, “Booob… Oooo… ooooh Booobby… Ini enak sekali Boooob… Entot terus Booob!

Tampaknya “usaha”ku mendatangkan hasil. Ketika Bobby sedang gencar – gencarnya memenyetubuhiku, ketika rintihan – rintihanku semakin lama semakin keras, bunyi musik dari mobil Kent pun hilang. Lalu terdengar bunyi pintu mobil dibuka dan ditutupkan. terdengar pula bunyi langkah Kent mendekati gubuk modern ini…