
Cerita Sex Memanjakan Pesona Birahi – Sebenarnya aku punya beberapa pilihan untuk mendapatkan calon suami yang terbaik di mataku. Namun pilihanku jatuh kepada Bang Abe (nama lengkapnya Abraham). Karena menurutku, Bang Abe itu penyabar dan selalu mengalah dalam setiap perdebatan denganku. Selain daripada itu, Bang Abe mendapat gelar masternya di Amerika.
Aku pun teringat kata-kata Bang Abe, “Sebenarnya aku ini rugi kalau bekerja untuk orang lain. Aku mengejar master degree di Amerika dengan tujuan ingin membuka perusahaan sendiri, bukan mau bekerja di perusahaan orang lain. Tapi sekarang kita belum punya modal.
Karena itu terpaksalah aku bekerja untuk orang lain dahulu, sambil mengumpulkan modal untuk start di perusahaan kita sendiri. Dari perkawinanku dengan Bang Abe, lahirlah anak pertama kami, bayi perempuan yang cantik dan kami beri nama Vania, dengan nama kecil Nia.
Namun sampai Vania sudah berusia 3 tahun, keadaan kami masih “jalan di tempat”. Perbedaannya cuma satu hal. Bahwa sejak lahirnya Vania, aku mengajak Mbak Rumiar, kakak kandungku, tinggal di rumahku. Kebetulan Mak Rum sejak dua tahun terakhir berstatus janda tanpa anak.
Cerita Sex Memanjakan Pesona Birahi Ngocoks Kehadiran Mbak Rum lumayan meringankan bebanku sebagai ibu rumah tangga. Karena Mbak Rum sangat menyayangi Nia. Maklum dia belum punya anak, sehingga naluri keibuannya dilimpahkan kepada anakku.
Mbak Rum juga sangat cekatan untuk bersih-bersih dan masak makanan untuk kami makan bersama. Tapi begitulah, keuangan kami belum kuat. Sehingga Mbak Rum hanya bisa masak dengan bahan seadanya saja.
Memang aku cukup prihatin dengan keadaan ini. Sampai aku sering punya keinginan untuk bekerja. Karena percuma aku punya gelar SE tapi tidak digunakan untuk meringankan beban suamiku.
Tapi suamiku selalu menolak permintaan ijinku untuk bekerja. Suamiku selalu menjawab, “Meskipun kamu jadi pejabat tinggi, aku lebih suka statusmu sebagai ibu rumah tangga, Sayang.”
Karena itu aku terpaksa berdiam diri di rumah terus sebagai ibu rumah tangga yang sejati. Padahal aku sudah gemas, ingin melihat suamiku sukses dengan profesinya. Kalau pun dia tetap bekerja, aku sih ingin melihatnya punya jabatan yang bagus di perusahaan besar itu.
Aku juga prihatin karena suamiku hanya mampu memiliki motor bebek. Dengan motor murahan itulah dia pulang-pergi ke kantornya. Padahal teman-teman seangkatan dengannya, rata-rata sudah punya mobil.
Rasanya percuma saja suamiku mengejar gelar master di Amerika, tapi kalah dengan teman-teman seangkatannya yang masih S1. Ada juga yang S2, tapi didapatkan di Indonesia. Gelarnya juga magister, bukan master seperti suamiku. Tapi keadaannya jauh lebih sukses daripada suamiku.
Untungnya aku ini bukan seorang istri yang banyak tuntutan. Aku tak pernah meminta pakaian dan perhiasan yang mahal-mahal. Aku pun tak pernah membeli alat make up yang serba impor, karena pada dasarnya aku tak terlalu mengandalkan alat make up. Memoles bibir dengan lipstick pun hanya sekali-sekali saja.
Mengenai keadaan keuangan pun, mungkin aku harus pasrah saja. Karena mungkin nasib kami belum bisa juga meraih sukses seperti orang lain. Siapa tahu kelak kami bisa mengejar teman-teman yang sudah duluan sukses itu.
Di sudut lain, masalah seksual misalnya, berjalan secara normal menurutku. Meski Bang Abe bukan sosok yang menggebu-gebu di atas ranjang, namun aku selalu terpuaskan oleh kejantanannya.
Dalam komunikasi pun selalu normal. Karena suamiku seorang penyabar dan selalu mengalah padaku, kecuali ijin bekerja itu yang tetap tidak diberikan padaku.
Karena itu, kami tidak pernah bertengkar dalam soal sekecil apa pun. Lalu kenapa aku harus mengkhayalkan sesuatu yang belum ditakdirkan untuk meraihnya? Kenapa aku pun tidak mengikuti sikap dan perilaku suamiku yang penyabar itu?
Ya, barangkali aku harus bersabar menghadapi segala kenyataan ini. Meski banyak pahitnya, harus kutelan dengan sabar, sabar dan sabar.
Terlalu ngotot juga bisa hypertensi nanti… hihihihiiii…!
Pada suatu sore, suamiku pulang dalam keadaan yang lain dari biasanya. Dia pulang dengan sebuah sedan mahal. Aku tahu benar sedan itu built up dari Eropa, yang harganya pasti milyaran.
Aku terheran-heran dibuatnya. Lalu menghampiri suamiku yang baru turun dari mobil mewah itu. “Mobil siapa ini Bang?” tanyaku.
“Punya Kevin,” sahut suamiku.
“Kevin mana?”
“Kevin… putra mahkota perusahaan.”
“Owh anaknya big boss itu?”
“Iya. Tiga bulan lagi juga dia akan menjadi orang nomor satu di perusahaan. Karena ayahnya sudah sakit-sakitan, punya penyakit jantung segala.”
“Kevin kan masih muda sekali Bang. Apa mampu dia mengendalikan perusahaan sebesar itu?”
“Umurnya sudah duapuluhtiga tahun. Sudah jadi sarjana tamatan Inggris pula. Nanti deh kita bicarakan… ada sesuatu yang harus kita rundingkan.”
Suamiku melangkah masuk ke dalam rumah kami yang di pinggir jalan besar tapi masih sangat sederhana.
“Memangnya ada apa Bang? Kok seperti serius gitu? Ada kabar baik atau…”
“Siapin makan dulu deh. Perutku lapar.”
“Emang tadi gak makan siang di kantin kantor?”
“Makan. Tapi hanya sedikit. Banyak yang harus dipikirin sih.”
Aku bergegas menyiapkan makanan untuk suamiku. Tidak ada yang istimewa makanan yang kuhidangkan untuknya. Cuma sayur asem, ikan asin jambal, kerupuk kampung dan sambel bajak.
Tapi suamiku tampak bersemangat menyantap makanan yang kuhidangkan itu. Memang dia sudah mulai bosan dengan makanan-makanan mewah dan kebarat-baratan, lalu kembali ke makanan tradisional begitu.
Aku belum lapar. Karena itu aku hanya duduk di samping suamiku, untuk menemaninya makan.
“Nia mana?” tanyanya setelah selesai makan.
“Lagi tidur di kamar Mbak Rum.”
Setelah menyeka mulutnya dengan kertas tissue, Bang Abe menarik pergelangan tanganku, “Kita ngobrol di kamar aja yuk. Biar bebas ngomongnya.”
Kuikuti saja langkah suamiku menuju kamar.
Suamiku merebahkan diri, menelentang di atas bed. Aku pun rebahan di sampingnya. Tanpa keberanian untuk mulai bicara.
Lalu dia mulai berkata, “Sebenarnya masalah ini masalah berat. Tapi demi kemajuan kita, harus dihadapi juga dengan hati dan otak dingin.”
“Masalah apa sih? Kok Abang seperti berat gitu menyampaikannya. Apakah ada tugas baru yang harus Abang hadapi?” tanyaku.
“Seperti yang sudah kubiang tadi, tiga bulan lagi Kevin akan sepenuhnya memegang kendali perusahaan. Karena dia anak tunggal big boss yang sudah sakit-sakitan itu. Aku pun berusaha mendekati dia sejak beberapa hari belakangan ini. Dengan tujuan, semoga nanti aku dikasih jabatan penting di perusahaan.
“Memangnya apa permintaan Kevin itu Bang?”
“Sebelum menjawab soal itu, aku ingin mengingatkan bahwa kamu pernah menghadiri pesta ulang tahun Kevin dan waktu perayaan anniversary perusahaan kan?”
“Iya, “aku mengangguk sambil mengingat-ingat dua kejadian penting itu.
“Apakah kamu melihat sikap Kevin yang berbeda saat itu?”
“Nggak. Biasa-biasa aja,” sahutku berbohong. Padahal aku memang merasa risih karena di kedua even itu Kevin menatapku terus sambil tersenyum-senyum. Tapi masa soal sekecil itu harus kusampaikan kepada suamiku?
“Kevin sangat tergiur olehmu. Dan akan mendudukkanku di posisi penting dalam perusahaan asalkan… “Bang Abe tidak melanjutkan kata-katanya.
“Asalkan apa?” tanyaku penasaran.
“Asalkan kamu bersedia menemaninya di villa, satu atau dua malam saja.”
“Gila! Mentang-mentang orang tajir melilit! Seenaknya aja meminta istri orang. Memangnya aku ini perempuan apa?”
“Tapi… apa salahnya kalau kita berkorban demi kemajuan kita? Aku yakin kalau permintaannya itu dikabulkan, masa depan kita bakal gilang-gemilang, Sayang.”
“Kevin kan anak konglomerat. Cewek yang seperti bidadari pun bisa didapatkannya. Kenapa harus memilih istri orang?”
“Karena kamu punya daya tarik yang luar biasa, Sayang.”
“Aaaah… aku nggak mau diperlakukan sewenang-wenang oleh siapa pun.”
“Sayang… tadi dia sampai berkali-kali minta maaf dan minta aku tidak tersinggung.”
“Lalu Abang menyetujui keinginannya? Begitu?”
“Belum kusetujui. Aku hanya bilang akan menunggu keputusanmu. Jadi sekarang bola ada di tanganmu. Kalau ingin masa depan kita cemerlang, ikuti saja keinginan Kevin itu. Kamu kan sudah ikut program KB. Jadi pasti Kevin takkan bisa menghamilimu.”
“Baaang…! Aku merinding nih dengernya juga. Udah ah. Abang harus tegas menolaknya. Kalau nanti kedudukan Abang tidak ada perubahan, pindah aja ke perusahaan lain. Kenapa harus ngikutin rencana jahanam seperti itu?”
“Seperti yang kubilang barusan, Kevin berulang-ulang minta maaf, minta agar aku tidak tersinggung. Sama sekali tidak kelihatan arogan. Itu pun kalau kamu mau. Kalau tidak, ya gampang… tinggal laporan aja padanya besok, bahwa kamu tidak mau. Selesai. Tapi resikonya ya gitu itu. Kita akan tetap seperti sekarang ini.
Aku terdiam. Dengan perasaan masih jengkel.
“Orang-orang yang sudah sukses, pasti ada terobosan dengan jalannya masing-masing.”
“Tapi bukan dengan menjual serambi lempit istrinya, kan?”
“Aku juga takkan menjualmu. Meski dibeli berapa pun aku takkan pernah menjualmu,” ucap suamiku sambil membelai rambutku dengan lembut. Membuat keteganganku agak mereda.
“Kalau aku mengikuti omongan Abang, keutuhan dan nilai-nilai suci perkawinan kita pasti akan hancur.”
“Tidak! Bahkan sebaliknya… aku akan semakin mencintaimu, Sayang…”
“Omong kosong. Mana ada suami yang tambah mencintai istrinya setelah si istri dinodai oleh lelaki lain?!”
“Ya buktikan aja nanti. Sebagai lelaki, aku pantang menjilat air ludahku sendiri. Masalahnya, jika kamu melaksanakan rencana yang kuanggap sebagai kesempatan baik itu, aku akan menganggapmu turut membantu kemajuan karierku. Bukan sekadar membiarkan lelaki lain menodaimu.”
Aku terdiam.
Suamiku berkata lagi, “Coba pikirkan unsur-unsur positifnya dulu. Kalau kamu pandai mengambil hati Kevin, apa pun permintaanmu pasti dikabulkan. Misalnya mobil yang di depan itu kamu pinta, pasti diberikan. Memang harganya milyaran. Tapi buat konglomerat seperti Kevin, beli seratus mobil mewah pun gak ada apa-apanya.
Aku masih terdiam.
Suamiku melanjutkan, “Coba kamu pikirkan dengan positif thinking. Kevin itu tampan, karena dia itu berdarah campuran Jerman dengan Tionghoa dan Indonesia. Masih muda pula, empat tahun lebih muda dariku. Dan aku akan mengijinkan apa pun yang akan kamu lakukan waktu meladeninya. Bahkan sebaiknya dia dirayu tapi lakukan secara halus sekali.
Aku terdiam terus. Bahkan kupeluk bantal guling sambil membelakangi suamiku. Seolah mau tidur. Padahal aku tetap menunggu suamiku berkata lagi.
Tapi dia malah turun dari bed dan keluar dari kamar.
Aku jadi bingung sendiri. Karena semua yang telah dikatakan oleh suamiku tadi, benar-benar mengejutkanku. Semua itu tak pernah terpikir olehku sebelumnya.
Lalu apa yang harus kulakukan? Haruskah aku membuang “kesempatan bagus” seperti yang dikatakan olehnya tadi? Bukankah aku sudah berkali-kali minta izin untuk bekerja, karena ingin membantunya? Lalu sekarang ada “terobosan”, tapi semuanya itu tergantung pada keputusanku.
Diam-diam aku turun dari bed, mengambil selimut tipis, lalu kubawa selimut itu ke luar. Ternyata suamiku sedang duduk di ruang tamu sambil duduk di sofa panjang yang menghadap ke televisi.
Aku menghampirinya. Lalu merebahkan diri di atas sofa dan menumpangkan kepalaku di atas paha suamiku, sambil menyelimuti diriku sendiri karena kalau sudah menjelang malam begini suka banyak nyamuk.
Suamiku tidak bicara sepatah kata pun. Hanya membelai rambutku yang terurai ke atas pahanya.
“Bang…” ucapku memecahkan kebisuan.
“Hmm?”
“Kalau keinginan Kevin itu ditolak, apa akibatnya?”
“Ya takkan ada apa-apa. Kita akan berada di posisi semula. Serba pas-pasan. Bahkan mungkin aku akan resign saja, karena tidak kuat dengan penghasilan yang tidak sesuai dengan kebutuhan kita.”
“Lalu setelah resign mau kerja di mana?”
“Nggak usah nyari kerja. Mau usaha sendiri aja. Kalau perlu dagang gorengan juga gak apa-apa.”
“Seorang master lulusan Amerika mau dagang gorengan?!”
“Nggak apa-apa. Hidup di zaman sekarang ini tak perlu gengsi-gengsian. Siapa tau dari dagang gorengan kita bisa lebih sukses daripada sekarang.”
Aku terdiam. Membayangkan suamiku mendorong gerobak yang dilengkapi dengan wajan berisi minyak goreng dan kompor dengan tabung gas kecil.
Ooooh… yang bener aja!
Lalu kalau sudah seperti itu, siapa yang mau disalahkan? Aku? Takdir? Siapa?
Ya Tuhan! Semoga hal itu jangan pernah terjadi dalam kehidupan kami!
“Lalu… kalau kita kabulkan keinginan Kevin itu, apa akibatnya?” tanyaku.
“Banyak sekali yang akan terjadi. Aku bisa ditempatkan di posisi penting seperti yang kita harapkan. Kamu juga akan mendapatkan beberapa efek positif. Apa pun yang kamu minta pada Kevin, pasti dikasih.”
“Maksudku, apa akibatnya terhadap keutuhan perkawinan kita Bang.”
“Akibatnya… aku akan semakin mencintai dan menyayangimu. Karena beberapa kemajuan akan terjadi. Dan itu berkat jasamu. Berkat semangatmu untuk membantu karierku.”
“Bukannya Abang bakal jijik mendekatiku yang telah dinodai oleh orang lain?” tanyaku dengan nada kurang percaya.
“Buktikan saja nanti. Kalau sampai seperti itu, ludahi saja mukaku. Pernahkah aku ingkar janji selama ini? Pernahkah aku menjilat air ludahku sendiri?”
Memang suamiku tidak pernah ingkar janji. Apa pun yang diucapkannya selalu dibuktikan. Karena dia berprinsip, seorang lelaki itu harus bisa dipegang omongannya.
Aku duduk di samping suamiku. Kemudian kucium pipinya dengan mesra. Tanpa melontarkan kata-kata. Karena aku bingung harus berkata apa.
“Jadi bagaimana? Apakah kamu sudah mulai berpikir secara positif thinking?” tanya suamiku.
“Aku akan mengikuti apa pun yang Abang inginkan. Dengan syarat, jika kelak terjadi hal-hal negatif, Abang yang harus bertanggung jawab. Jangan menyalahkan aku.”
“Tentu saja semua akan kupertanggungjawabkan Sayang. Termasuk janjiku akan semakin mencintai dan menyayangimu… akan kubuktikan nanti.”
“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyaku dengan perasaan bimbang.
“Sekarang baru hari Rabu. Besok aku akan mengatakan padanya bahwa kamu masih belum memberi keputusan, supaya dia juga jangan terlalu mudah mendapatkanmu. Pada hari Jumat, baru aku akan mengatakan bahwa kamu sudah bersedia mengikuti kehendaknya.”
“Lalu?”
“Kemungkinan pada Jumat sorenya aku akan mengantarkanmu ke villa milik Kevin. Dengan mobil mahal itu. Lalu hari Minggu sore aku akan menjemputmu lagi.”
“Iiih… aku degdegan mendengarnya juga Bang.”
“Biasa itu sih. Orang kan suka takut pada sesuatu yang belum diketahuinya. Tapi setelah tahu, pasti gak degdegan lagi.”
“Gak tau juga. Sebenarnya aku masih bimbang. Tapi aku juga berusaha untuk tak mengecewakan Abang.”
“Iya… baguslah.”
“Kalau Jumat sore aku diantarkan ke villa itu, Abang sendiri mau ke mana?”
“Ya pulanglah. Sambil ngajak main Nia jalan-jalan pakai mobil yang luar biasa nyamannya itu.”
“Kalau Mbak Rum nanyain ke mana aku, gimana?”
“Mmmm… gampanglah. Aku mau bilang kamu sedang bantu-bantu masak di rumah Kak Reni, karena mau ada rapat dua hari berturut-turut. Gimana?“
“Iya… itu jawaban bagus,” sahutku. Yang dimaksud Kak Reni itu adalah kakak kandung suamiku, yang aktif di dalam sebuah organisasi.
“Tapi,” kataku lagi, “kalau Jumat sore aku diantarkan dan Minggu sore baru dijemput lagi… berarti lebih dari sehari semalam aku harus menemani Kevin, Bang.”
“Iya, dua hari kan gak lama. Hitung-hitung nyari pengalaman menikmati hari-hari weekend bersama orang yang sangat tajir. Pasti segalanya serba wah…”
“Sebenarnya aku heran juga, kenapa Kevin bisa tertarik sama aku? Dia kan punya duit berlimpah ruah. Cewek yang seperti apa pun bisa didapatkannya. Kenapa dia malah tertarik sama aku?”
“Bangsa kita memang suka sekali memikirkan kekurangannya, tanpa memikirkan kelebihannya. Padahal kelebihan itu harus dikembangkan sebaik mungkiin. Seperti kamu ini Sayang. Kamu ini punya paras cantik. Punya tubuh kayak biola. Pokoknya kamu ini sangat cantik dan seksi habis.”
“Aku kan lebih tua empat tahun kalau dibandingkan dengan Kevin Bang.”
“Justru itu yang disukai Kevin.”
“Maksudnya?”
“Kevin berterus terang padaku, bahwa dia itu pengagum wanita yang lebih tua darinya. Dia sama sekali tidak suka cewek yang masih remaja. Sebenarnya banyak lelaki yang seperti itu. Lelaki yang hanya tertarik kepada wanita yang usianya lebih tua… bahkan ada lelaki muda yang hanya tertarik pada wanita berusia empatpuluh tahunan ke atas.
“Terus… nanti apa saja yang harus kulakukan di villa itu?” tanyaku.
“Ikuti mengalirnya arus saja.”
“Tapi Bang… bagaimana kalau dia menginginkan hubungan seks?”
“Ladeni aja. Bikin dia sepuas mungkin.”
“Iiiih… gak kebayang…! Emangnya Abang gak cemburu kalau aku sampai digituin sama Kevin?”
“Tentu aja cemburu. Tapi aku akan mengembangkan cemburu itu menjadi gairah.”
“Maksudnya?”
“Lihat aja nanti. Sepulangnya dari villa itu, pasti aku jadi semakin bergairah untuk menyetubuhimu, Sayang.”
“Begitu ya?”
“Iya… duh… ini baru membicarakannya saja rudalku udah ngaceng. Kita main dulu yok,” ucap suamiku sambil berdiri dan menuntun tanganku, masuk ke kamar lagi.
Setelah menutup dan mengunci pintu, suamiku langsung mencumbuku. Menyingkapkan dasterku sampai ke perut, lalu menarik celana dalamku sampai terlepas di sepasang kakiku. Dan menyerudukkan mulutnya ke kemaluanku yang senantiasa tercukur bersih ini.
Bang Abe mulai menjilati kemaluanku. Ini yang paling kusukai. Foreplay dengan cunnilingus. Membuatku klepek-klepek dalam nikmatnya jilatan suamiku.
Tak lama kemudian suamiku sudah menelanjangi dirinya. Aku pun melepaskan dasterku sehingga kami jadi sama-sama telanjang bulat.
Batang kemaluan suamiku pun mulai membenam ke dalam liang kewanitaanku yang sudah basah akibat jilatannya barusan.
“Ini aku sambil membayangkan dirimu sedang disetubuhi oleh Kevin,” ucap suamiku sambil mulai memenyetubuhiku perlahan.
Ah… tahukah suamiku bahwa aku pun sedang membayangkan hal yang sama? Membayangkan tengah digauli oleh putra mahkota perusahaan besar itu?
Memang luar biasa akibatnya. Suamiku jadi begitu gagahnya menyetubuhiku. Sementara aku sendiri merasakan luar biasa nikmatnya entotan suamiku yang tengah kubayangkan sebagai entotan Kevin…!
Apakah aku mulai bisa “positif thinking” seperti dikatakan berkali-kali oleh suamiku tadi? Lalu apakah gairah kami ini timbul sebagai akibat dari “positif thinking” itu juga?
Suamiku memang terasa sangat bergairah menyetubuhiku. Padahal menurut pengakuannya, gairah itu langsung timbul sebagai akibat dari pembicaraan mengenai Kevin. Apalagi jika aku sudah melaksanakan rencana yang sudah diatur oleh suamiku bersama calon big bossnya itu nanti…!
Ya… pikiranku mulai bergeser ke sudut lain. Sudut tentang ketampanan Kevin yang masih belia itu. Pikiran tentang segarnya fisik lelaki yang lebih muda dariku itu.
Ah… aku harus mengakuinya secara jujur, bahwa aku mulai terhanyut dalam khayalan tentang rencana suamiku yang akan kulaksanakan itu…!
Tapi biar bagaimana pun juga aku ini seorang istri. Aku tetap harus pandai menjaga mulutku sendiri, dalam keadaan apa pun.
Keesokan harinya, tiada berita penting yang kudapatkan dari suamiku, selain berita bahwa ia sudah mengatakan kepada Kevin, bahwa aku belum memutuskan menolak atau menyetujui keinginannya itu. Namun mobil mahal itu tetap dibawa pulang lagi. Sementara motor bebeknya ditinggalkan di kantor.
Besoknya lagi, adalah hari Jumat yang membuatku berdebar-debar menunggu kabar dari suamiku. Karena kalau sudah disampaikan kepada Kevin bahwa aku sudah menyetujuinya, maka nanti sore aku akan diantarkan oleh suamiku menuju villa yang aku belum tahu di mana letaknya.
Jam satu siang, ada call dari suamiku, “Sayang… barusan udah disampaikan. Dia kelihatan seneng banget. Jadi… nanti siap-siap aja ya. Jam tiga aku pulang dan akan langsung mengantarkanmu ke villa. Itu aja beritanya. Ini aku ngomong juga ngumpet-ngumpet. Takut ada karyawan yang nguping.”
“Iya Bang, “hanya itu jawabanku. Lalu hubungan seluler ditutup oleh suamiku.
Dan aku degdegan sendiri, karena membayangkan apa yang bakal terjadi di villa itu nanti. Membayangkan Kevin langsung menelanjangiku, lalu menyetubuhiku? Ah, jangan seperti itu benar. Aku sih maunya diperlakukan secara romantis dulu, supaya birahiku terpancing secara perlahan tapi pasti.
Yang pertama kulakukan adalah mengemasi pakaian yang akan kubekal, kumasukkan dengan rapi di tas pakaianku. Lalu mandi sebersih mungkin.
Selesai mandi, aku telanjang di depan cermin besar di dalam kamarku.
Kuperhatikan dengan teliti, apa kekuranganku?
Tapi seperti kata Bang Abe, aku harus memperhatikan kelebihanku. Lalu memanfaatkan kelebihanku ini. Ya… memang wajahku cantik, kulitku juga putih mulus. Aku punya sepasang payudara dan bokong yang gede, namun pinggangku ramping dan tiada kerutannya, meski sudah pernah hamil dan melahirkan. Mungkin itulah sebabnya banyak teman yang mengatakan tubuhku ini laksana biola.
Sepintas lalu orang takkan menyangka kalau aku ini sudah punya anak. Lagipula usia 27 tahun mungkin belum termasuk tua ya?
Tapi patutkah Kevin yang tajir melilit bisa tergiur olehku? Apakah dia sekadar ingin membuatku sebagai pelampiasan nafsunya belaka ataukah diikuti dengan perasaan yang belum disampaikan padaku?
Entahlah. Nanti sang Waktu yang akan menjawabnya.
Tepat jam tiga sore suamiku datang.
“Kirain udah berdandan,” kata suamiku ketika aku menyongsongnya masih dalam kimono.
“Takut jam tiga itu Abang berangkatnya dari kantor.”
“Ya udah. Cepetan ganti baju sama yang agak pantes tapi seksi.”
“Abang gak mau makan dulu?”
“Gak. Tadi di kantin kantor udah makan banyak. Masih kenyang.”
Lalu aku mengganti pakaianku dengan gaun yang dipilih oleh suamiku. Gaun terusan berwarna orange yang bagian bawahnya terlalu pendek, sehingga mempertontonkan sebagian besar paha putih mulusku.
Sebenarnya aku agak segan memakai gaun ini, karena seperti mau pameran paha. Sementara bagian atasnya pun mempertontonkan batas kedua payudaraku terlalu lebar, juga seolah pameran toket gedeku.
Tapi karena suamiku yang memilihkan gaun ini untuk kupakai, akhirnya kukenakan juga.
Sebelum berangkat, aku berpesan kepada Mbak Rum, bahwa aku akan menginap dua malam di rumah saudaranya Bang Abe, karena “mau bantuin masak untuk peserta rapat selama dua hari berturut-turut”.
Beberapa saat kemudian, aku sudah duduk di dalam sedan mahal itu. Memang nyaman sekali, suara mesinnya hampir tak terdengar, suspensinya pun halus sekali. Sehingga aku seolah duduk di dalam mobil yang tidak bergerak. Padahal saat itu kami sudah berada di jalan tol dengan kecepatan 100 km/jam.
Aku punya saudara sepupu yang kalau sudah berada di jalan tol suka tancap gas sampai 140km/jam. Tapi untungnya suamiku tak suka main kebut begitu. Dahulu, waktu masih suka mengemudikan mobil orang tuanya pun, kecepatannya tak pernah lebih dari 100km/jam. Malah dia suka bilang, “Gak ada yang mau melahirkan, kenapa harus ngebut?!
“Nanti berusahalah agar bisa mengambil hati Kevin. Soalnya aku tau, kalau sudah terambil hatinya, Kevin itu tidak sulit untuk menghambur-hamburkan uangnya,” kata suamiku di belakang setir.
“Ohya… Kevin itu sudah punya istri belum Bang?” tanyaku.
“Belum. Dia masih bujangan,” sahut suamiku, “Dalam keseharian, kulihat Kevin itu baik kok. Pegawainya banyak yang cantik, tapi tak pernah diganggu olehnya. Makanya aku juga heran, kenapa dia sangat kagum padamu. Mungkin kamu itu sesuai dengan kriterianya.”
“Istri orang juga termasuk kriterianya? Hihihiii…”
“Mmmm… mungkin hal itu suatu kebetulan saja. Kebetulan yang sesuai dengan kriterianya itu sudah punya suami.”
“Tapi aku dagdigdug terus rasanya Bang. Soalnya aku gak pernah menghianati suami sejengkal pun. Sekarang tau-tau harus…”
“Santai aja Sayang. Semua yang akan terjadi kan atas izin lisan dariku. Kamu malah harus bangga karena jadi satu-satunya wanita yang dipilih oleh calon orang nomor satu di perusahaan.”
“Tapi hatiku belum bisa menerima Bang. Biar bagaimana aku ini seolah dipaksa untuk meninggalkan suami tercintaku…”
“Kamu akan mendukung perjuanganku, lewat pengorbananmu. Bukan akan meninggalkanku.”
Rasanya aku dicekoki terus dengan aksioma-aksioma baru, yang mulai menjejali benakku. Bahwa apa pun yang akan terjadi di villa nanti, adalah demi kemajuan karier suamiku.
Dan aku seolah sedang membacakan mantra di dalam batinku. Mantra yang seolah pembenaran pada apa pun yang akan kulakukan di villa nanti: Demi kemajuan karier suamiku. Demi kemajuan karier suamiku. Demi suamiku. Demi suami tercintaku…!
Tapi setelah tiba di villa yang lumayan jauh dari kotaku itu, tak urung aku degdegan lagi. Tak ubahnya anak kecil yang mau disuntik…!
Ternyata suamiku membawa kunci villa megah itu. Dia sendiri yang membuka pintu depan dan mengajakku masuk ke villa itu.
Aku berbisik ke telinga suamiku, “Dia belum datang?”
Suamiku malah memperlihatkan WA di hapenya. WA dari Kevin yang berbunyi.
-Aku juga sudah dekat. Sepuluh menit lagi pasti tiba di villa-
Aku semakin dagdigdug setelah membaca WA itu. Dengan pikiran serba salah. Karena sebentar lagi suamiku akan pulang, lalu tinggal aku bersama Kevin berdua saja di villa ini.
“Bang… nanti Abang tidur sama siapa di rumah?” tanyaku asal nyeplos, untuk mengurangi perasaan gugup ini.
“Sendirian aja,” sahutnya, “Nia kan sama Mbak Rum.”
“Bang… biar adil, nanti Abang tidur sama Mbak Rum aja ya.”
“Ngaco kamu. Kalau aku nafsu nanti gimana?”
“Ya salurin aja sama Mbak Rum. Dia kan udah lama menjanda. Belum pernah melahirkan pula. Pasti serambi lempitnya lebih enak daripada serambi lempitku.”
“Jangan ngawur ah ngomongnya.”
“Aku serius Bang. Soalnya aku merasa kasian juga sama Abang. Pasti Abang merasa tersiksa juga nanti, sambil membayangkan aku bersama Kevin. Daripada tersiksa, mendingan salurkan aja sama Mbak Rum. Tapi nanti rekam suaranya, pake hape juga bisa kan?”
“Sudahlah jangan ngomong ngelantur. Mendingan siap-siap aja untuk menyenangkan hati Kevin. Jangan kecewakan dia. Ingat… tiga bulan lagi dia bakal jadi orang nomor satu di perusahaan. Dialah yang bakal menentukan nasib kita ke depannya nanti. Nah tuh… mobilnya sudah datang…” sahut suamiku sambil menunjuk ke depan.
(Karena aku sering mengamati perkembangan harga-harga mobil di internet, sambil melamun… seandainya kami sudah punya mobil…).
Kevin masuk ke dalam villa dalam pakaian sport, celana pendek, baju kaus dan sepatu olahraga, semuanya serba putih.
Dan Kevin menghampiriku yang berdiri kaku di dekat pintu depan.
“Apa kabar Mbak?” sapanya sambil menjabat tanganku.
“Baik Boss,” sahutku tanpa keberanian menatap matanya.
Suamiku juga berdiri tegak dan kaku di sampingku. Lalu berkata, “Maaf Boss… kalau tidak ada lagi yang harus aku kerjakan, aku mohon pamit pulang.”
“Oke, “Kevin mengangguk sambil tersenyum, “Hari Minggu sore jemput istrinya ke sini ya.”
“Siap Boss.”
Lalu Kevin menepuk bahu suamiku sambil berkata, “Terima kasih atas pengertiannya ya. Nanti akan berbuah hal positif pada Abe juga.”
“Siap Boss. terima kasih. Aku mohon pamit.”
“Ohya… sebentar, “Kevin membuka tas kecil yang tergantung di bahunya. Lalu mengeluarkan amplop berwarna coklat muda, mungkin berisi segepok uang di dalamnya. Amplop itu diberikan kepada suamiku sambil berkata, “Ini untuk beli pertamax.”
“Siap! Terimakasih Boss.”
Suamiku cipika-cipiki dulu denganku, kemudian meninggalkanku bersama Boss Kevin berdua saja di ruang tamu villa megah ini.
Bersambung… Setelah menutupkan sekaligus menguncikan pintu depan, Kevin memegang tanganku dan mengajak masuk ke dalam. Ke ruang keluarga yang lumayan luas. Dan aku semakin degdegan, karena semakin membayangkan apa yang bakal terjadi sebentar lagi.
“Tadi aku main tenis sebelum ke sini,” kata Kevin sambil mempersilakanku duduk di sofa ruang keluarga, “Jadi badanku penuh keringat. Aku mau mandi dulu ya.”
“Silakan Boss,” sahutku sambil berusaha untuk tersenyum semanis mungkin.
“Apa mau nemenin aku mandi?” tanya Boss Kevin dengan tatapan menggoda.
Aku tergetar hebat melihat tatapan dan senyum lelaki muda yang memang ganteng dan maskulin itu. “Aku sudah mandi sebelum ke sini tadi Boss,” sahutku rikuh.
“Oke… kalau gitu tunggu sebentar ya. Kalau haus, silakan ambil minuman di kulkas itu,” ucapnya. Kemudian dia membuka salah satu pintu di antara beberapa pintu yang berderet di kanan kiri villa besar ini.
Pintu yang dibuka oleh Boss Kevin tidak ditutup lagi. Tak lama kemudian terdengar bunyi pancaran air shower. Sementara aku melangkah ke belakang, karena lewat dinding kaca tebal ruang keluarga ini kulihat ada kolam renang segala di belakang.
Berenang memang salah satu hobbyku. Waktu masih gadis, aku bahkan senang menyelam di laut yang airnya bening, sambil menikmati pemandangan di bawah air dengan ikan-ikan yang beraneka ragam berseliweran di antara karang-karang dan biota laut lainnya.
Kolam renang di belakang villa ini cukup luas. Membuatku gemas, ingin mencoba berenang di situ. Tapi aku tak membawa pakaian renang. Maka aku hanya melihat-lihat saja dari dekat dinding kaca tebal yang ada di bagian belakang ruang keluarga ini.
Ternyata Boss Kevin tidak lama mandinya. Beberapa saat kemudian dia sudah muncul lagi dalam kimono putihnya yang terbuat dari bahan handuk tebal.
Lalu ia meraih tanganku, mengajak duduk di sofa yang paling dekat dengan dinding kaca menghadap ke kolam renang itu. “Suka renang?” tanyanya sambil melingkarkan lengan kirinya di pinggangku.
“Suka. Tapi gak bawa pakaian renang,” sahutku dengan jantung berdebar-debar, karena tangan kirinya mulai meremas pinggang kiriku.
“Telanjang aja. Kolam renangnya kan takkan bisa dilihat dari luar, karena bentengnya cukup tinggi.”
“Hihihi… seumur hidup aku belum pernah berenang telanjang. “ Kevin mendaratkan kecupannya di pipi kananku. Lalu terdengar bisikannya, “Aku bahagia sekali Mbak bersedia memenuhi undanganku ke sini.”
“Boss… jujur aja, aku baru sekali ini mau nyeleweng dari suami.”
“Jangan sebut boss ah. Mbak kan bukan pegawaiku.”
“Mmm… kalau gitu panggil Linda juga pada aku. Jangan pakai mbak-mbakan.”
“Mmm… namanya Belinda kan?”
“Iya. Tapi dalam keseharian suka dipanggil Linda aja.”
“Linda tau gak… aku sudah lebih dari tiga tahun mengharapkan pertemuan seperti ini.”
“Waktu ketemu pertama, aku kan sedang hamil Boss… eh Vin.”
“Justru dalam keadaan hamil itu Linda terlihat menggiurkan sekali. Apalagi kalau bayi yang ada di dalam perut itu anakku… pasti kuciumi perut Linda tiap ada kesempatan. Kalau Abe izinkan, aku ingin sekali menghamili Linda. Nanti anaknya akan sepenuhnya menjadi tanggungjawabku,” ucapnya sambil merapatkan pipi kirinya ke pipi kananku.
“Kalau soal itu, harus minta izin dulu pada suami aku…”
“Tentu aja. Soalnya sebelum hamil pun Linda harus dipingit dulu. Tidak boleh digauli oleh Abe. Supaya anaknya seratus persen berasal dari benihku. Makanya belum tentu Abe menyetujuinya. Tapi kalau dia setuju, aku akan memberikan kompensasi yang luar biasa berharganya. Sekarang Linda ikut program KB kan?
“Iya.”
“Nanti kalau sudah ada persetujuan dari Abe, Linda harus stop dulu KBnya.”
“Kevin… mendengarnya juga aku merinding-rinding nih…”
“Kenapa merinding? Takut?”
“Nggak. Aku membayangkan bakal melahirkan anak yang kebule-bulean seperti papanya.”
“Keinginan itu hanya sebagai tanda bahwa aku serius jatuh hati padamu Linda. Tapi sudahlah… jangan pikirkan masalah itu dulu. Sekarang aku minta jawaban yang jujur. Bagaimana perasaan Linda sekarang? Maksudku… perasaan Linda padaku seperti apa sekarang?”
Aku tercenung sesaat, karena memilih kata-kata yang mau kuucapkan. Lalu kataku perlahan, “Tadinya sih takut… karena aku ini wanita bersuami. Tapi setelah berdekatan begini… jujur… hati aku mulai runtuh…”
“Serius?” Kevin melingkarkan lengan kirinya di leherku, sambil menatapku dengan sorot yang mendebarkan.
“Serius. Aku munafik kalau bilang gak ketarik sama Kevin… baru melihat tatapannya saja sekujur batin aku bergetar…”
Ucapan itu terputus di tengah jalan, karena Kevin memagut bibirku, lalu menciumku dengan hangatnya. Membuatku terlena dan membalas lumatannya dengan lumatan pula.
Entah kenapa, baru berciuman begini saja diam-diam aku mulai horny. Mungkin karena aku terlalu menghayatinya, sesuai dengan ajuran Bang Abe yang menyuruhku enjoy dan mencoba menghayati semua ini, agar aku tidak kelihatan hanya ingin mengejar hartanya saja.
Jujur saja, dalam keadaan sudah mulai ketelanjuran ini, sedikit pun aku tidak memikirkan harta lagi. Seandainya Kevin tidak memberikan apa pun, aku rela diperlakukan sekehendak hatinya oleh lelaki muda berdarah campuran yang sangat ganteng dan jantan itu. Mungkin ini suatu pertanda bahwa hatiku sudah benar-benar runtuh padanya.
Aku benar-benar terlena, sehingga aku tidak menyadari sejak kapan tangan Kevin mulai menyelusup ke balik gaun miniku. Sementara payudaraku sudah disembulkan lewat belahan gaun di bagian dadaku. Lalu aku semakin lupa daratan ketika ia mengemut pentil payudaraku, sementara tangannya memijat-mijat pangkal pahaku…
Aaaah… jemarinya mulai menggerayangi kemaluanku yang senantiasa tercukur bersih ini. Jelas ini membuatku horny berat…! Membuatku ingin segera disetubuhi oleh boss muda yang sangat ganteng ini…!
Aku tak menduga bahwa sentuhan demi sentuhan Kevin ini sengat menghanyutkan. Sehingga aku benar-benar terlupa bahwa aku ini seorang istri yang sangat mencintai suamiku.
Lalu terngiang lagi bisikan suamiku sebelum berangkat menuju villa ini tadi, “Pokoknya selama sedang bersama Kevin nanti lupakan aja aku. Supaya kamu bisa konsen membuat Kevin puas lahir-batin.”
Maka ketika Kevin masih asyik mengemut puting toketku sambil mengelus-elus mulut serambi lempit dan kelentitku, diam-diam aku pun menyelusupkan tanganku ke balik kimono Kevin. Dan… Maaaak… Ternyata dari tadi Kevin tidak mengenakan celana dalam di balik kimono putihnya. Aku sudah memegang rudalnya yang sudah sangat tegang ini!
Tapi semua ini membuat nafsu birahiku semakin menggila.
Sehingga tanpa tedeng aling-aling lagi aku membisiki telinga Kevin: “Kevin… aku sudah tak kuat lagi menahan naf… nafsu. Lakukanlah se… sekarang juga… !”
Kevin mencium bibirku. Lalu mengangkat dan membopong tubuhku ke dalam kamarnya yang penuh dengan perabotan serba impor. Dan meletakkan tubuhku dengan hati-hati di atas tempat tidur yang juga aku yakin bukan buatan lokal.
Di situlah Kevin melepaskan busanaku sehelai demi sehelai, sampai akhirnya telanjang bulat.
Kemudian Kevin menanggalkan kimononya, sehingga ia pun langsung telanjang bugil di depan mataku.
Wow… sekujur tubuh Kevin nyaris sempurna di mataku. Sempurna sebagai seorang lelaki muda berdarah campuran bule-indo-chinese yang ganteng dan maskulin. Tinggi tegap, dengan otot sixpack di perut rampingnya. Sehingga hatiku semakin runtuh dibuatnya.
Sementara sorot wajahnya terasa teduh. Membuat hatiku nyaman dan terlindungi.
Auranya demikian kuatnya bagiku, seolah mengandung daya magnetis yang membuatku akan mengiyakan apa pun yang diinginkannya.
Maka tanpa ragu-ragu lagi kuusap-usap dadanya yang bidang, perutnya yang sixpack dan bahkan kugenggam rudalnya yang tidak bersunat tapi sudah tegang ini. Dengan gairah yang tak pernah kenal rasa malu.
Sebenarnya aku ingin menciumi rudal putih kemerahan itu. Tapi Kevin mendorongku agar celentang dan mendekatkan wajahnya ke permukaan kemaluanku. Membuatku yakin bahwa dia akan menjilati kemaluanku.
Namun aku mencegahnya sambil berkata, “Gak usah diapa-apain Boss eh Vin… punya aku sudah basah…”
“Ohya?! Jadi mau sama ini aja langsung?” tanyanya sambil mmegang rudalnya yang diacungkan ke arah perutku.
“Iii… iyaaa,” sahutku dengan senyum malu-malu.
Dan ketika Kevin meletakkan puncak rudalnya di mulut kemaluanku, wajah Bang Abe terlintas di pelupuk khayalku. Membuatku merintih dalam hati, “Maafkan aku Bang… semuanya ini atas kehendakmu kan?!”
Lalu terasa Kevin mencolek-colekkan moncong rudalnya ke mulut kemaluanku. Mendesakkannya sejenak… membuat kepala rudalnya membenam di bagian dalam mulut serambi lempitku. Aku memejamkan mataku sambil merengkuh leher Kevin ke dalam pelukanku. Pada saat itulah kurasakan rudal Kevin semakin jauh membenam ke dalam liang kewanitaanku.
Oooh… inilah untuk pertama kalinya serambi lempitku diterobos oleh rudal yang bukan alat kejantanan suamiku. Ada perasaan pilu yang meresap ke dalam lubuk hatiku. Namun ketika membuka kelopak mataku, wajah penuh daya pesona Kevin membuatku luluh. Terlebih lagi setelah melihat sepasang matanya yang indah dan begitu dekat dengan wajahku.
Ditambah dengan terngiangnya suara suamiku sebelum tiba di villa ini tadi*“… jangan kecewakan dia… lupakan saja aku selama bersama dia nanti… puaskan dia… enjoy saja… puaskan dia… semua itu demi masa depan kita dan keturunan kita… puaskan dia… “*
Dalam cengkraman nafsu sehebat ini, aku memang ingin menikmatinya.
Kevin pun mulai benar-benar memenyetubuhi liang kenikmatanku. rudalnya mulai lancar bergeser-geser dan menggesek-gesek dinding liang sanggamaku. Dalam keadaan sudah jauh begini, perempuan mana yang tidak melupakan segalanya kecuali merasakan nikmatnya gerakan maju-mundurnya rudal yang sedang memompa liang kewanitaanku ini?
Cara menggerakkan rudalnya pun terasa soft sekali, seolah film dalam gerakan slow motion. Ini membuatku bisa menghayati geseran demi geseran rudal Kevin.
Sementara bibirnya terkadang menciumi bibirku, menyedot dan menggeluti lidahku di dalam mulutnya. Dan ketika mulutnya bersarang di leherku, dengan jilatan dan gigitan lembutnya, rintihan demi rintihanku pun mulai berhamburan tanpa terkendalikan lagi.
Dalam keadaan lupa segalanya inilah aku meremas-remas bahu Kevin sambil merengek-rengek keenakan, “Keviiin… ooo… ohhhh… Keviiiin… ba… baru sekali ini aku merasakan disetubuhi yang se… seenak ini Viiin… ooohhhhhhh… Keviiin… ini lu… luar biasa enaknya Viiin…!”
Celotehanku itu di luar alam sadarku. Tapi aku sadar setelah semuanya berceplosan begitu saja dari mulutku. Dan aku sadar bahwa semuanya itu benar. Greget persetubuhanku dengan Kevin ini benar-benar luar biasa. Aneh memang, aku sudah sangat sering merasakan nikmatnya disetubuhi oleh suamiku sendiri.
Apakah rasa nikmat yang terlalu ini karena dibantu oleh setan? Ataukah seperti kata orang bahwa selingkuh itu indah (SII)?
Entahlah. Yang jelas makin lama Kevin memenyetubuhiku. makin terlupalah aku kepada suamiku. Tapi bukankah suamiku sendiri yang menganjurkanku agar semuanya ini dinikmati saja dan jangan mengingat-ingat suamiku selama bersama Kevin ini?
Ya… akhirnya akumemang jadi ingin enjoy saja… ingin menikmati dan menghayati betapa setiap geseran rudal Kevin menciptakan arus indah yang mengalir dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun di kepalaku. Lalu tiap kali aku menatap wajah Kevin, oh, aku serasa melihat seorang pangeran tampan yang sentuhan demi sentuhannya membuatku klepek-klepek.
“Keviiiin… oooo… ooooooh… rudal Kevin ini kok enak sekali Viiin… dudududuuuuh… entot terus Viiin… iyaaa… iyaaa… entot terussss… iyaaaa… entot terusssss… entooootttttt… entooootttt… duuuuh Kevin… rudal Kevin bikin aku lupa segalanya Viiin… toketnya emut Viiin…
Sementara itu nafas Kevin pun sudah ngos-ngosan. Tapi dia masih sempat membisikiku, “Linda… serambi lempit Linda ini luar biasa enaknya… karena itu… Linda harus tetap menjadi milikku sampai kapan pun… !”
Aku pun menyahutnya, “Kapan pun Kevin mau… aku akan selalu siap untuk merasakan enaknya dientot oleh Kevin… ayo entot terus Keviiin… rudal Kevin enak sekaliii… iyaaaaaa… entooootttt… entoooootttt…”
Kevin mengikuti permintaanku. Tongkat kejantanannya dipacu terus dengan gagahnya. Sehingga aku sendiri yang harus menanggung “akibat”nya.
Ya… aku mulai gedebak-gedebuk lalu tubuhku jadi kejang… oooo… ooooohhhhhh… ini indah sekali… bahwa ketika batang kemaluan Kevin sedang asyik memompa liang serambi lempitku dalam kecepatan tinggi, aku terkejang-kejang sambil menahan nagfasku… dan… terasa liang serambi lempitku berkedut-kedut kencang, pertanda diriku sudah tiba di puncak kenikmatanku alias orgasme…
Aku pun terkulai lemas dengan kepuasan sedalam lautan…!
“Kenapa? Udah orgasme ya?” tanya Kevin sambil menghentikan entotannya.
“Iya… rudal Kevin terlalu enak sih…”
“Tukar posisi yuk, “ajaknya sambil mencabut batang kemaluannya dari liang sanggamaku.
“Mau posisi gimana?” tanyaku sambil duduk dan mengambil kertas tissue basah dari meja kecil di dekat bed. Lalu kuseka kemaluanku dengan kertas tissue itu.
“Sekarang Linda di atas,” sahut Kevin sambil terlentang dan mengusap-usap rudalnya yang masih ngaceng itu.
Aku pun berlutut, dengan kedua lututku berada di kanan kiri pangkal paha Kevin. Sambil memegang rudal Kevin dan mengarahkan moncongnya ke mulut serambi lempitku. Lalu kuturunkan pantatku, sehingga batang kemaluan Kevin melesak masuk ke dalam liang serambi lempitku.
Aku terpejam dengan bibir bergetar, karena waktu peis Kevin membenam ke dalam liang serambi lempitku, ada gesekan lagi yang membuat darahku sur-ser dalam nikmat. Aku pun mulai mengayun pinggulku, naik turun dan naik turun terus, sehingga rudal Kevin tenggelam di dalam liang kemaluanku, lalu muncul lagi badan rudalnya, tenggelam lagi dan muncul lagi.
Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena Kevin menarik kedua lenganku, sehingga dadaku terhempas ke dada Kevin. Dalam posisi ini, Kevin tidak pasif seperti tadi. Meski berada di bawah, Kevin bisa memenyetubuhikan rudalnya, sehingga tanpa menggerakkan pinggul pun aku bisa merasakan nikmatnya entotan Kevin itu.
Sepertinya aku mulai jatuh hati kepada Kevin ini, karena setiap sentuhannya selalu saja menimbulkan getaran aneh di hatiku. Sementara dengan melihat bibirnya saja aku sudah gemas, ingin mencium dan melumatnya.
Akhirnya hal itu kulakukan. Bibir macho itu kucium dan kulumat. Kevin pun menanggapi. Ketika lidahku terjulur sedikit, dia menyedot sampai terbenam ke dalam mulutnya. Suasana perasaanku pun semakin melayang – layang di alam birahi yang teramat indah ini. Bahkan aku tergetar – getar dalam perasaan bergelimang keindahan dan kenikmatan.
Semua ini terjadi dalam waktu yang ckup lama. Sehingga tubuh kami mulai bersimbah keringat. Aku pun jadi teringat kata – kata seorang pakar seksuologi di dalam bukunya. Dia bilang, persetubuhan tanpa adalah persetubuhan yang kurang berbobot.
Karena persetubuhan yang berbobot hampir selalu diiringi dengan terbitnya keringat di tubuh sepasang manusia yang tengah melakukannya.
Sampai pada suatu saat, kami berguling hati – hati ke posisi semula, sementara rudal Kevin tetap berada dalam jepitan liang sanggamaku… Kevin di atas, aku di bawah lagi.
Namun, o, betapa romantisnya Kevin itu. Ia tidak buru – buru mengayun rudalnya. Ia menyempatkan diri untuk mencium bibirku dengan mesra… mesra sekali. Lalu membelai rambutku sambil berkata, “Linda benar – benar memenuhi kriteriaku untuk menjadi calon istriku. Sayangnya aku terlambat… Linda sudah punya suami.
“Sekarang aku sudah menjadi milik Kevin,” sahutku, “aku sudah langsung mencintai Kevin. Karena itu aku mohon, jangan sia-siakan cintaku ya…”
“Tentu saja. Aku memintamu untuk berjumpa dan bercinta ini, bukan sekadar mau melampiaskan nafsu. Semua yang kulakukan pada Linda ini dengan segenap perasaan cintaku, Beib…”
Lalu Kevin menggerakkan rudalnya pelan – pelan. Membuatku merasakan kebenaran ucapannya barusan. Bahwa ia melakukan semuanya ini dnegan cinta. Bukan sekadar melampiaskan nafsu syahwatnya semata.
Tentu saja aku pun menyambutnya dengan perasaan cinta juga. Kurengkuh lehernya ke dalam pelukanku. Lalu kuciumi bibirnya dengan segenap perasaanku. Kemudian kurapatkan pipinya dengan pipiku.
Kevin pun mulai melancarkan entotannya dalam kecepatan sedang. Dan aku mulai menahan – nahan nafasku. Dengan perasaan seolah tengah melayang – layang di langit tinggi… langit ketujuh, kata orang. Langit asmara manusia dewasa yang indahnya tiada banding.
Dalam kecepatan yang tidak terlalu tinggi ini, setiap geseran rudal Kevin membuatku tergetar – getar dalam nikmat yang sulit dilakukan dengan kata – kata.
Kevin memang sosok yang nyaris sempurna di mataku. Dia berwajah kebule – bulean dengan mata yang tidak terlalu sipit. Hidungnya mancung sebagaimana lazimnya orang berdarah campuran dengan chinese dan bule. Bibirnya tampak macho dan selalu menggemaskan… selalu ingin menciuminya. Tubuhnya pun sangat atletis dan seksi di mataku.
Seandainya dia benar – benar mencintaiku, o, betapa akan bahagianya aku ini kelak. Takkan ada lagi kekurangan yang memusingkan kepalaku. Semuanya akan berganti dengan kesenangan untuk dinikmati di dunia ini.
Dan ketika tubuh Kevin sudah bermandikan keringat, Kevin membisiki telingaku, “Aku sudah mau ejakulasi, Sayaaang… !”
“Tahan sebentar… aku juga mau lepas… biar bisa bareng lepasnya… !” sahutku sedikit panik. Takut orgasmeku tercapai setelah Kevin keburu ejakulasi.
Kevin tidak menyahut. Dia hanya melambatkan entotannya. Seolah menunggu orgasmeku.
Tak lama kemudian Kevin mengayun rudalnya dalam gerakan yang cepat… cepat sekali…! rudalnya maju mundur dengan mantapnya di dalam liang serambi lempitku.
Sampai pada suatu saat… ketika orgasmeku datang… kupeluk Kevin seerat mungkin, sambil menahan nafasku. Sementara Kevin pun membenamkan rudalnya dalam -dalam dan tidak menggerakkannya lagi.
Lalu rudal Kevin terasa mengejut – ngejut sambil memuncrat – muncratkan air maninya.
Craaaat… craaaat… crettt… cretcret… craaaaaaattttt… craaaattttttttt!
Berbarengan dengan kedutan – kedutan liang sanggamaku yang tengah mengalami orgasme… puncak dari segala kenikmatan dari hubungan seks.
Kevin mengelojot di atas tubuhku. Lalu terkapar lemas dalam pelukan hangatku.
Setelah sama – sama berpakaian kembali, Kevin bertanya serius, “Sekarang kebutuhan Linda yang harus didahulukan?”
Aku terdiam. Memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikan.
“Katakan saja terus terang. Apa yang paling dipikirkan oleh Linda untuk dibiayai?” tanya Kevin lagi.
Akhirnya aku menjawab, “Yang paling mendesak sih rumah. Sudah hampir roboh, karena sudah terlalu tua.”
“Ukuran rumahnya berapa meter persegi?” tanya Kevin.
“Tanahnya sih luas sekali. Dipakai untuk sepuluh rumah juga bisa. Tapi rumahnya kecil. Mungkin ada sekitar enampuluh meter persegi.”
“Kalau rumahnya sudah tua, mending dirobohkan saja. Sisa tanahnya dibangun buat kos – kosan aja gimana?”
“Kalau dibuat kos – kosan, delapanpuluh kamar juga bisa,” sahutku. Memang sudah lama aku bercita – cita ingin punya kamar untuk kos – kosan. Karena rumah pemberian ibuku ini tanahnya sangat luas. Letaknya dekat sebuah universitas swasta yang paling terkenal di kotaku pula. Tapi aku tak berani mengutarakan cita – citaku kepada siapa pun.
“Ya udah. Begini aja… untuk sementara Linda dan keluarga tinggal di rumah kontrakan aja dulu. Karena rumahnya akan diratakan dengan tanah dulu. Sepulangnya dari sini, nanti akan datang seorang arsitek yang akan melakukan survey sekaligus membuat gambar design bangunannya ya.”
“Iya,” sahutku sambil menyandarkan kepalaku ke bahu Kevin, “Aku kan sudah memasrahkan tubuh dan segenap perasaanku kepada Kevin. Jadi masalah rumah pun terserah Kevin aja. Aku yakin Kevin akan tahu apa yang terbaik untukku.”
“Iya… aku akan memikirkan yang terbaik bagi Linda. Makanya aku memikirkan bangunan untuk kos – kosan juga, karena bisnis sederhana itu bisa dijadikan sumber untuk menambah – nambah pemasukan. Sementara Abe pun akan kutempatkan sebagai manager marketing. Kedudukan yang cukup basah. Bisa mendapatkan penghasilan tambahan tanpa harus korupsi.
“Iya, terima kasih sebelumnya Vin. Memang Bang Abe kasihan juga. DIa itu kan master tamatan Amerika. Tapi keadaan kami sudah ketinggalan sama teman – temannya yang hanya berdiploma S1.”
Kevin mencium pipiku. Lalu berkata, “Nanti semua teman Abe yang sudah sukses akan terkejar setelah dia menduduki jabatan barunya. Aku memang wajib berterima kasih padanya. Karena dia sudah merelakan istri tercintanya untuk mengobati perasaanku yang sudah lama menggilaimu, Lin.”
“Ohya… ini ada beberapa gaun yang kubeli dari Shanghai China seminggu yang lalu. Mudah – mudahan pas ukurannya dengan badanmu. Linda biasa memakai gaun ukuran medium kan?” kata Kevin sambil membuka salah satu lemarinya dan mengelurakan sebuah kantong plastik besar.
“Iya,” sahutku.
“Cobalah satu persatu. Nanti yang paling bagus harus dipakai untuk pergi ke pantai sebentar lagi.”
“Emangnya Kevin mau ngajak aku ke pantai? Malam – malam gini?”
“Iya. Dari sini ke pantai hanya butuh waktu sembilanpuluh menit. Di sana aku punya villa yang tepat berada di pinggir pantai. Jadi nanti kita bisa menyaksikan matahari terbit di pagi hari… indah sekali pemandangannya.”
“Sudah lama aku tidak main ke pantai,” sahutku sambil mencoba gaun pemberian Kevin sehelai demi sehelai.
Gaun oleh – oleh dari Shanghai itu seksi semua. Hampir semuanya gaun cheong sam, yang ada belahan di sebelah kanan atau kirinya. Tapi semua belahan itu terlalu tinggi, sedangkan gaun – gaun cheong sam itu gaun mini. Seandainya aku tidak mengenakan celana dalam, dari belahannya bisa dipakai untuk mengintip serambi lempitku…
“Seksi semua,” ucapku, “Risih aku makainya, apalagi kalau dipakai di tempat umum.”
“Yang seksi – seksi pakainya waktu mau ketemuan denganku aja. Tapi ada kan yang long dress,” kata Kevin.
“Ada… cuma satu ini,” kataku sambil menunjukkan gaun cheong sam yang berwarna orange polos, terbuat dari bahan sutera halus. Tapi belahannya tetap saja sampai ke pinggang. Kalau ingin kelihatan sopan, mungkin aku harus mengenakan legging hitam atau merah.
“Nah… gaun itu aja yang Linda pakai sekarang.”
“Oke. Tapi aku mau mandi dulu ya.”
“Silakan mandi aja dulu,” sahut Kevin, “aku mau bangunkan sopir dan pengawalku. Supaya mereka siap – siap untuk berangkat ke pantai.”
Setelah Kevin berlalu, aku pun masuk ke dalam kamar mandi. Dan mandi sebersih mungkin. Setelah mandi kuhanduki sekujur tubuhku sampai kering. Lalu kusemprotkan parfum di bagian – bagian penting, seperti ketiak, leher, belakang telinga dan selangkanganku. Lalu keluar dari kamar mandi.
Kukenakan gaun cheong sam sutera berwarna orange itu.
Ketika aku sedang me – make up wajah di depan cermin meja rias, Kevin muncul lagi. Langsung membuka salah satu lemarinya. Dan mengeluarkan sebuah kotak dus berisi parfum.. Kotak itu diberikannya padaku sambil berkata, “Parfum ini buat Linda. Pakailah… supaya Linda tetap harum di sepanjang perjalanan nanti.
Aku tahu harga parfum yang Kevin berikan padaku itu sangat mahal. Sehingga aku tak pernah mampu membelinya. Hanya sebatas ngiler saja, ingin membelinya tapi tak mampu. Dan kini aku mendapatkannya tanpa harus menabung dulu.
“Terima kasih. Barusan udah pake parfum murahan,” sahutku, “kalau sekarang pakai parfum mahal ini bisa kacau nanti baunya. Nanti aja dipakainya setelah tiba di pantai ya.”
“Iya,” sahut Kevin, “aku ingin memanjakanmu sebisaku. Karena itu, kalau ada kebutuhan apa – apa, jangan segan – segan minta padaku kelak ya.”
“Iya Vin. Terima kasih atas perhatiannya. Mmm… aku mau manggil Ayang aja ya. Boleh nggak?”
“Tentu aja boleh. Aku sendiri mau memanggilmu Beib ya.”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Lalu kucium bibir Kevin dengan mesra.
“Sudah siap?” tanya Kevin yang sudah mengganti kimononya dengan celana panjang, baju kaus dan sepatu serba putih.
Beberapa saat kemudian aku dan Kevin sudah berada di dalam sebuah limousine hitam, yang sudah mulai melaju di jalan raya. Di depan ada dua orang berpakaian serba hitam. Dua – duanya bodyguard merangkap sopir Kevin. Sebagaimana lazimnya limousine, di antara seat sopir dengan seat di belakang, dibatasi oleh kaca gelap, untuk menjaga privasi yang duduk di belakang.
“Kalau ngantuk tidur aja Beib,” kata Kevin sambil meletakkan bantal di atas pahanya.
“Nggak ah… aku ingin menikmati detik – detik indah bersama Ayang,” sahutku.
Kevin menatapku dengan sorot lembut. Lalu mencium bibirku dengan mesranya.
Batinku melayang – layang dalam keindahan. Karena sejujurnya aku sudah mencintainya. Terlebih lagi setelah Kevin memaksaku untuk merebahkan kepalaku di bantal yang diletakkan di atas kedua belah pahanya itu… lalu ia menatapku dengan senyum di bibir dan ucapan yang menggetarkan sekujur batinku, “Aku semakin menyadari bahwa aku sangat mencintaimu, Sayang…
Ya, aku percaya itu. Bahwa Kevin bukan sekadar ingin melampiaskan nafsu birahinya padaku. dia memang mencintaiku. Terbukti dengan santainya dia waktu menggauliku. Tidak habis – habisan seperti lelaki yang rakus, yang hanya ingin memuaskan nafsunya belaka. Bahkan kini dia akan membawaku ke pantai, yang katanya romantis sekali.
Kalau dia tidak mencintaiku, dia akan habis – habisan menyetubuhiku di villanya. Takkan membuang waktu berharganya untuk menuju pantai di tengah malam seperti ini.
Maka dengan segenap perasaan, kurengkuh tengkuk Kevin ke dalam pelukanku. Lalu kucium dan kulumat bibirnya… kemudian kubisiki kata – kata ini, “Kevin Sayang… aku sudah menjadi milikmu. Makanya ke mana pun diriku akan Ayang bawa… aku akan ikut. Diajak ke lubang semut pun aku ikut. Karena aku sudah menjadi milikmu lahir – batin.
Lalu Kevin membelai rambutku dengan lembut. Menciumi dahiku, kedua kelopak mataku, kedua belah pipiku… aaaah… aku mulai terhanyut dalam indahnya cinta. Bukan sekadar memperturutkan nafsu birahi semata…!
“Kalau Linda kubawa terus selama sebulan, apakah Linda tidak keberatan?” tanya Kevin seolah memancingku. Maka dengan tegar kujawab, “Jangankan sebulan… mau dibawa selama sepuluh tahun pun aku siap…”
Kevin tersenyum lagi. Lalu menanggapi jawabanku, “Tidak… biar bagaimana, Linda punya suami. Dan aku harus menghormati perkawinan kalian berdua. Aku hanya diizinkan untuk bersamamu selama seminggu.
Mungkin Abe bilang bahwa kamu hanya akan bersamaku selama dua malam kan? Tapi dia sudah menyetujuiku untuk membawamu selama seminggu. Limousine hitam yang suspensinya sangat halus ini pun meluncur terus di tengah kegelapan malam…
Bersambung… Limousine itu memasuki pekarangan sebuah villa cantik yang berada di tepi pantai laut selatan. Malam itu kebetulan langit sedang cerah, sehingga bulan yang hampir purnama menampakkan diri dengan anggunnya, dikelilingi bintang gemintang yang berkedap – kedip nun jauh di atas sana.
Tadinya kupikir Kevin akan menyetubuhiku. Tapi ia malah mengajakku tidur, agar kesehatanku tetap terjaga. Inilah untuk pertama kalinya aku tertidur dalam dekapan hangat lelaki yang bukan suamiku.
Esok paginya… pagi – pagi sekali Kevin membangunkanku dengan usapan lembut di rambutku. “Beib… bangun dong. Kan mau menikmati indahnya matahari terbit,” kata Kevin sambil menyalakan lampu yang semalaman dimatikan di kamar villa ini.
Aku pun bangun. Cuci muka sebentar di washtafel. Lalu mengikuti langkah suamiku menuju ke bagian belakang villa di tepi pantai laut selatan ini.
Ternyata di bagian belakang villa ini ada lantai yang menjulur jauh ke selatan. Lantai itu berada di atas batu – batu karang berbaur pasir pantai. Membuatku agak takut juga setelah menyadari bahwa lantai ini tidak menginjak bumi. Tapi Kevin meyakinkanku bahwa semua yang dibangun di villa ini sudah diperhitungkan secara.
Di sebelah barat dan timur lantai yang memanjang ke selatan ini ditutup oleh tembok tinggi. Sementara sisi paling selatan ditutup oleh dinding kaca yang sangat tebal. Di dekat dinding kaca itu ada mangkok raksasa, yang sebenarnya sebuah kolam berbentuk mangkok.
Tak jauh dari mangkok raksasa itu, ada sebuah kursi malas yang lebar… bisa muat untuk dua atau tiga orang. Dengan bantalan dari semacam kasur tipis.
Kevin justru menunjuk ke arah kolam berbentuk mangkok itu. “Ayo kita berendam di situ. Airnya hangat lho… takkan kedinginan,” ucapnya sambil menanggalkan kimononya, “Jangan takut… tidak akan ada orang yang bisa melihat ke sini. Jadi kita melakukan apa saja takkan ada yang bisa ngintip.”
Maka aku tak ragu untuk menelanjangi diriku sendiri. Lalu menaiki tangga pendek untuk masuk ke dalam mangkok raksasa itu. Pada waktu aku masih berdiri di dalam mangkok yang memang berisi air hangat itu, aku masih bisa melihat di sebelah timur sana fajar mulai menyingsing. Tapi matahari belum memperlihatkan bentuknya.
Kevin pun masuk ke dalam kolam air panas berbentuk mangkok ini. Lalu duduk menyandar ke dinding mangkok raksasa yang tampaknya terbuat dari batu pualam yang sangat licin ini. Kemudian Kevin menarik tanganku, agar duduk di atas kedua belah pahanya.
Aku ikuti saja kemauannya. Duduk di atas pangkuannya dengan dekapan hangatnya di perutku. “Aku sedang merasa bahagia sekali, karena bisa bersama wanita cantik yang sudah lama kudambakan ini,” kata Kevin sambil menciumi tengkukku. Sementara kedua tangannya mulai memegang sepasang payudaraku yang masih terawat dan kencang ini.
“Aku justru merasa seolah sedang bermimpi. Karena tak menyangka kalau lelaki seganteng Kevin bisa mencintaiku,” sahutku sambil memejamkan mata. Karena terasa Kevin mulai menjilati tengkukku, sementara kedua pentil toketku mulai dipermainkan oleh sepasang tangan Kevin.
Berendam di dalam air hangat, di atas pangkuan Kevin, di dalam pelukannya yang terasa melindungiku… sementara mentari mulai timbul di ufuk timur sana… diiringi debur – debur ombak laut selatan sebagai musiknya… ooo… tak berlebihan kalau aku mengatakan bahwa ini adalah detik – detik terindah di sepanjang perjalanan cintaku…
Namun Cupido (dewa cinta) selalu bersama Psyche (dewi nafsu).
Maka tidaklah mengherankan setelah mengeringkan badan dengan handuk, lalu kami pindah ke kursi malas lebar bertilamkan kasur tipis itu… kemudian rudal Kevin dibenamkan ke dalam liang kenikmatanku… semakin jauh batinku melayang di alam yang teramat indah ini…!
Membuat nafasku tertahan – tahan, sementara rudal Kevin terayun – ayun di dalam liang kemaluanku… di bawah sorotan sinar mentari pagi… seolah ada kumandang di telinga batinku: Selamat datang pagi terindah di dalam hidupku…!
Seminggu bersama Kevin adalah hari – hari yang bertaburkan cinta dan indahnya pelukan birahi. Memang tiap hari Kevin menggauliku. Tapi dalam sehari hanya satu kali saja. Kevin tidak mau berlebihan, meski usianya masih sangat muda.
Dan ketika kembali ke villa pertama, di mana suamiku sudah menunggu, segala yang pernah terjadi bersama Kevin itu membentuk kenangan indah yang takkan terlupakan.
Yang menggembirakan adalah ketika Kevin menyerahkan sehelai kertas kepada suamiku. Ternyata di atas kertas itulah tercetak keputusan Kevin untuk mengangkat suamiku sebagai manager marketing…! Kedudukan paling basah di perusahaan mana pun…!
“Semoga Anda bisa mengembangkan perusahaan ke arah yang positif, sesuai dengan jabatan yang akan Anda pegang mulai besok,” ucap Kevin sambil menjabat tangan suamiku.
“Siap Boss… !“kata suamiku sambil membungkuk hormat. Namun kelihatan sekali betapa cerianya sorot wajah suamiku saat itu.
“Kalau sudah jadi manager marketing, tentu akan sering melakukan perjalanan ke luar kota. Karena itu, silakan mobilnya dipakai terus,” ucap Kevin sambil menepuk bahu suamiku.
“Owh… terima kasih Boss. Terima kasih… !”
Kemudian Kevin menghampiriku sambil menyerahkan sebuah amplop sambil berkata, “Cek ini silakan cairkan besok. Gunakan uangnya untuk mengontrak rumah, karena rumahmu akan dirobohkan setelah ada seorang arsitek untuk mengukur luas tanah keseluruhan dan membuat gambar bangunannya.”
Berarti amplop itu berisi cek. Entah berapa nominalnya. Aku tak berani membukanya di depan Kevin. Aku hanya mengucapkan terima kasih sambil tersenyum manis.
Kemudian Kevin menoleh ke arah suamiku sambil berkata, “Boleh aku mencium bibir Linda sebagai tanda perpisahan untuk sementara?”
“Silakan Boss,” sahut suamiku sambil mengangguk.
Lalu Kevin merengkuh leherku ke dalam pelukannya. Dan mencium bibirku dengan mesra… mesra sekali…!
Kemudian suamiku berpamitan kepada Kevin, untuk meninggalkan villa itu bersamaku. Bersama kenangan indah yang takkan terlupakan.
Ketika sedan yang dikemudikan oleh suamiku mau meninggalkan pekarangan villa itu, kulihat Kevin berdiri sambil melambaikan tangannya padaku. Entah kenapa, saat itu hatiku terasa berat sekali untuk meninggalkan Kevin yang sedemikian baiknya padaku. Namun tentu saja perasaan berat ini harus kutindas. Bukankah aku sudah bersama suamiku lagi sekarang?
“Bagaimana selama bersama Boss Kevin, apakah kamu baik – baik aja?” tanya suamiku setelah sedan buatan Eropa itu berada di jalan raya.
“Baik,” sahutku, “dia memperlakukanku secara sopan dan lembut. Tidak pernah bersikap kasar sedikit pun.”
Suamiku terdiam sejenak. Lalu berkata, “Nanti pasti dia akan meminta pertemuan kedua, ketiga dan seterusnya. Setujui saja, kecuali kalau kamu sedang datang bulan. Jadi sekarang ini anggap saja suamimu ada dua orang. Aku dan Boss Kevin.”
“Tapi dia punya keinginan yang berat melaksanakannya Bang.” ucapku lirih.
“Keinginan apa?”
“Dia ingin punya anak dariku.”
“Ohya?! Mmm… setujui saja. Apa pun yang diinginkannya harus disetujui.”
“Tapi setelah aku hamil, aku harus tinggal bersamanya sampai melahirkan.”
“Nggak apa. Selama kamu bersama Kevin kan ada Mbak Rum, yang akan kujadikan pelipur rinduku padamu.”
“Ohya… Mbak Rum sudah Abang gauli?”
Suamiku mengangguk.
“Selama aku bersama Kevin, Abang diliburkan ya?”
“Iya.”
“Hihihiiii… Abang pasti habis – habisan menyetubuhi Mbak Rum setiap hari.”
“Kamu juga habis – habisan dientot Kevin selama seminggu kan?”
“Kevin tidak habis – habisan Bang. Dia seperti menjaga sikap dan perlakuannya padaku. Tidak seperti memperlakukan seorang pelacur.”
“Jadi… berapa kali dia menggaulimu selama seminggu itu?”
“Pokoknya tiap hari dia menggauliku. Tapi tidak lebih dari satu kali dalam semalam.”
“Berarti kalah sama aku dan Mbak Rum dong.”
“Iya. Abang kan seolah mendapatkan kompensasi dari kehilanganku dengan mendapatkan Mbak Rum yang seksi abis gitu. Hihihiiii… !”
“Tapi kalau tidak disuruh olehmu, aku takkan melakukannya.”
“Ohya… mengenai kebersamaanku dengan Kevin tetap dirahasiakan?”
“Tentu aja. Aku cuma bilang kalau kamu sedang berada di rumah Kak Reni.”
Aku terdiam. Lalu teringat pada amplop yang kuterima dari Kelvin tadi. Kukeluarkan amplop itu dari tas kecilku. Lalu kukeluarkan isi amplop itu. Selembar cek yang nominalnya membuatku terbelalak. Artis panggilan pun takkan pernah mendapatkan dana sebesar ini…!
Mungkin karena semua yang Kevin lakukan itu atas dasar cintanya padaku, sehingga dia tidak hitung – hitungan lagi.
“Bang… lihat isi cek ini,” kataku sambil memberikan cek itu kepada suamiku.
Setelah melihat isi cek itu suamiku juga terbelalak, “Wow! Besar sekali! Tadi dia bilang untuk biaya ngontrak rumah itu bagaimana sebenarnya?”
“Kan dia nanya apa yang pertama kali harus kulakukan kalau ada biayanya? Lalu kujawab ingin merenovasi rumah tua kita. Kubilang juga kalau tanahnya cukup luas. Kalau dibikin kos – kosan delapan puluh kamar juga bisa.”
“Terus?”
“Dia bilang nanti akan ada arsitek yang datang, untuk mengukur tanah kita sekaligus untuk membuat gambar bangunan yang akan dilaksanakan nanti. Nah… rumah kita akan dirobohkan, karena memang sudah terlalu tua. Jadi selama pembangunan rumah dan kos – kosan itu belum selesai, kita harus tinggal di rumah kontrakan dulu.
“Wah… pintar juga kamu mengajukan keinginan itu. Biayanya pasti lebih gede daripada harga mobil ini nanti, Sayang.”
“Kalau aku minta mobil kan malu Bang. Makanya aku ajukan sesuatu yang sangat kita butuhkan. Sudah saatnya kita memiliki rumah yang layak, yang sesuai dengan gelar mastermu.”
“Gelar masterku gak ada apa – apanya. Semuanya itu kita dapatkan berkat pengertianmu. Kalau kamu tidak mau mengikuti rencanaku, kita takkan mendapatkan apa – apa. Kita akan tetap hidup pas – pasan. Ohya… biaya untuk ngontrak rumah kan tidak seberapa. Sepuluh juta juga cukup. Sedangkan nominal cek itu…
“Nanti lagi beli mobil sie… kan mobil sudah ada. Mobil mahal pula,” sahutku.
“Kali aja kamu ingin punya mobil sendiri. Biar kalau dipanggil oleh Boss Kevin bisa langsung pergi sendiri, gak usah minta dianterin sama aku lagi.”
“Jadi kalau Kevin manggil aku, boleh aku langsung menemuinya tanpa minta izin dulu dari Abang?”
“Boleh. Yang penting sebelum berangkat, kirim WA dulu. Kasihtau aku bahwa kamu akan menemui Boss Kevin.”
Tiga hari kemudian, rencana Kevin itu benar – benar dilaksanakan. Seorang arsitek datang untuk mengukur dan membuat denah tanah warisan dari orang tuaku itu. Arsitek itu datang bersama utusan dari kontraktor.
Kemudian mereka berkata kepadaku, bahwa seminggu lagi rumah tua itu akan diratakan dengan tanah. Kemudian akan dibangun rumah dan kos – kosan itu.
Kebetulan sehari sebelumnya kami sudah mendapatkan rumah kontrakan yang tidak jauh letaknya dari rumah kami. Letaknya di pinggir jalan, ada garasi pula untuk menyimpan mobil kami. Saking dekatnya rumah kontrakan itu dengan rumah lamaku, tiap hari aku akan bisa melihat proses pembangunan rumah dan kos – kosan itu.
Menurut suamiku, pembangunan yang akan diselesaikan dalam waktu 5 bulan itu termasuk sangat cepat. Karena pembangunan rumah biasa pun bisa setahun baru selesai. Pasti Kevin meminta kepada kontraktor agar selesai dalam tempo 5 bulan saja.
Setelah arsitek dan utusan kontraktor itu pulang, kami mulai memindahkan barang – barang kami ke rumah kontrakan itu. Dalam waktu 2 hari pemindahan barang – barang itu selesai.
Sebulan kemudian, tanah yang sudah diratakan (tidak ada rumah tua lagi) itu mulai dibangun.
Pada saat itulah aku iseng mencari – cari buku harian suamiku.
Aku masih ingat benar, waktu aku baru menikah dengan Bang Abe, setiap hal penting yang terjadi, selalu dia catat di dalam buku hariannya.
Aku tidak pernah membahas kisah suamiku dengan Mbak Rum selama aku sedang bersama Kevin. Tapi aku penasaran juga, apa saja yang pernah terjadi di antara suamiku dengan kakak kandungku itu.
Tapi aku tidak menemukan buku harian yang kucari itu.
Apakah sekarang suamiku tak pernah mencatat lagi kejadian – kejadian penting dalam hidupnya?
Hmm… zaman sekarang kan orang – orang suka menyimpan catatan seperti itu di flashdisk. Jadi kalau pun ada catatan pribadi yang sangat dirahasiakan, pasti catatan itu tersimpan di flashdisk. Bukan lagi dalam bentuk tulisan tangan di buku tebal.
Setelah mencari – cari secara cermat, pada saat suamiku sedang berada di kantornya, akhirnya kutemukan salah satu flashdisk yang berisi catatan pribadi suamiku itu.
Dengan sangat bernafsu kubuka file di flashdisk itu. File yang berjudul “Lembaran Kehidupanku”.
Aku mengira akan mendapatkan catatan tentang hubungan seksual suamiku dengan Mbak Rum. Tapi yang kutemukan malah catatan kejadian penting sejak masa bujangan Bang Abe. Isinya sebagai berikut ini… :
Lembaran Kehidupan Abe Abraham
Masa laluku tidak secerah langit biru seperti waktu aku menulis catatan pribadiku ini. Memang aku tergolong berhasil dalam pendidikanku. Setelah lulus S1, aku langsung mengejar master degree di Amerika Serikat. Dan pulang kembali ke Indonesia dengan perasaan bangga.
Tapi aku tak mau menipu diriku sendiri. Bahwa pada masa masih kuliah di kotaku, banyak hal kelam tergores dalam lembaran kehidupanku.
Dimulai sejak usiaku hampir 19 tahun…
Waktu usiaku 5 tahun, aku menjadi anak yatim, karena ayahku meninggal dalam suatu kecelakaan pesawat terbang di luar negeri. Karena ayahku almarhum seorang eksekutif muda yang mapan, kata Mama.
Setelah ayahku meninggal, lumayan banyak harta yang diwariskan kepada Mama. Belum lagi santunan asuransi dari maskapai penerbangan itu. Meski secara hukum agama, ahli waris Papa itu adalah aku dan dua orang kakak perempuanku, namun aku dan kakak-kakakku saat itu masih kecil-kecil, sehingga kami pasrahkan saja masalah warisan dan uang asuransi itu kepada Mama.
Pada saat aku masih berusia 19 tahun, kedua kakakku juga masih muda-muda. Saat itu Teh Nuke baru berusia 20 tahun dan Teh Reni baru 21 tahun. Tapi mereka sudah pada punya suami. Mungkin hal itu menurun dari Mama yang kawin muda, pada saat Mama baru berusia 17 tahun.
Lalu berturut-turut Mama melahirkan Teh Reni waktu usia Mama baru 18 tahun, melahirkan Teh Nuke waktu Mama baru berusia 19 tahun dan melahirkan aku pada waktu Mama baru berusia 20 tahun. Berarti pada saat aku berusia 18 tahun ini, usia Mama sudah 38 tahun.
Dan sebagai anak bungsu, satu-satunya anak cowok pula, Mama sangat memanjakanku. Apalagi setelah Teh Reni dan Teh Nuke menikah dan dibawa oleh suaminya masing-masing, tinggal aku dan Mama yang tinggal di rumah, bersama seorang pembantu setia bernama Nining.
Pada saat aku berusia 18 tahun inilah awal dari kisah kelamku.
Saat itu aku sering tidur bersama Mama. Terkadang tidur di kamarku sendiri, terutama kalau sedang belajar. Tapi lebih sering tidur bersama Mama. Dan hal itu terjadi sejak aku masih kecil. Karena kalau tidak tidur bersama Mama, aku jadi sulit tidur. Terasa seperti ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang bisa menyebabkanku ngantuk dan tertidur.
Waktu masih kecil, aku senang sekali memijat-mijat tetek Mama sebelum tidur. Dan selalu saja aku tertidur sambil memegangi tetek Mama.
Setelah duduk di bangku SMA pun aku masih suka melakukan hal itu. Mama suka menegurku, “Sekarang kamu udah gede Abe. Jangan megangin tetek Mama gini lagi.”
“Nggak ah… aku suka sulit bobo kalau nggak megangin tetek Mama, “bantahku
“Tapi kamu kan udah gede Sayang. Kalau ketahuan orang lain, malu kan? Masa anak SMA harus megangin tetek ibunya menjelang bobo? Itu kan kelakuan bayi,” kata Mama.
“Biarin aja. Lain orang lain kebiasaannya. Walau pun udah jadi mahasiswa, aku akan tetap megangin tetek Mama sebelum bobo, “sanggahku.
Akhirnya Mama membiarkanku berbuat semauku. Biasanya malah Mama yang tidur duluan pada saat aku meremas-remas teteknya.
Tapi lain kelakuanku waktu masih kecil dengan setelah gede begini. Pada waktu masih kecil aku hanya meremas-remas tetek Mama saja, tanpa tujuan yang lain-lain. Tapi setelah jadi mahasiswa, aku mulai senang meremas teteknya sambil mempermainkan pentilnya. Mama pun menegurku. Beliau mengizinkanku untuk meremas toketnya, tapi tidak boleh memainkan pentilnya.
Pada waktu tidur, Mama terbiasa nyenyak sekali tidurnya. Terkadang Mama suka mendengkur. Mungkin karena bodynya yang padat gempal itu tidak boleh terlalu banyak bekerja pada siang harinya.
Selain daripada itu, kalau sudah tidur, Mama susah sekali dibangunkannya. Terkadang kuguncang – guncang badannya sambil memanggil – manggil namanya, Mama tetap saja tidur dengan nyenyaknya.
Pada suatu malam… ketika aku mau tidur di belakang Mama yang sudah tidur miring menghadap ke dinding, aku melihat sesuatu yang lain dari biasanya. Mama tidur miring sambil memeluk lututnya. Mungkin untuk melawan dinginnya malam itu.
Pada saat itu daster Mama tersingkap sampai perutnya. Sehingga aku bisa melihat sesuatu yang lain dari biasanya. Ya… serambi lempit Mama itu kelihatan nyempil di antara kedua pangkal pahanya…!
Aku degdegan dibuatnya. Lalu kugerakkan wajahku ke bawah bokong Mama… memperhatikan bentuk serambi lempit Mama yang tampak jelas itu. Iseng-iseng aku pun mengelus-elusnya perlahan… makin lama makin penasaran… sehingga jariku mulai diselundupkan ke bagian di antara dua bibir kemaluan Mama itu. Ternyata jariku memasuki daerah berlendir licin.
Gila… diam-diam rudalku mulai ngaceng dibuatnya.
Pada saat itu aku hanya mengenakan celana pendek yang ada bagian elastis di lingkaran perutnya. Meski dengan perasaan ragu bercampur dengan penasaran, kuturunkan celana pendekku, sehingga rudalku yang sudah ngaceng ini tersembul.
Ketika kuselundupkan jariku ke dalam celah serambi lempit Mama, terasa ada yang basah dan licin. Maka kupegang rudalku sambil kuelus-eluskan moncongnya ke bagian yang basah licin di serambi lempit Mama itu, dengan mata tetap waspada, takut Mama terbangun dan memarahiku.
Tapi seperti biasa, Mama kalau sudah nyenyak tidur selalu sulit dibangunkan. Padahal aku sudah mendorong rudalku sampai membenam separohnya. Anjaaay…! Ternyata enak sekali rudalku yang sudah berada di dalam jepitan liang serambi lempit Mama yang basah dan licin ini…!
Lalu perlahan – lahan kuayun batang kemaluanku, maju mundur di dalam liang serambi lempit Mama yang aduhai ini. Sambil berjaga – jaga kalau Mama mendadak terbangun. Tapi tampaknya Mama tetap pulas tidurnya, tanpa menyadari kalau aku sedang memenyetubuhinya dari belakang.
Hmmm… aku tidak tahu seperti apa sikap Mama kalau mengetahui bahwa aku sedang menyetubuhinya. Namun aku sudah lupa segalanya. Yang aku tahu, semuanya ini terasa nikmat sekali. Gesekan antara rudalku dengan liang serambi lempit Mama menimbulkan rasa geli-geli yang luar biasa enaknya.
Tapi sayangnya aku tak kuat lama menahan rasa nikmat ini. Maklum aku sama sekali belum berpengalaman. Karena selama ini aku hanya sering ngocok di kamar mandi. Baru sekali inilah aku merasakan rudalku dientotkan di dalam serambi lempit.
Lalu aku merasakan moncong rudalku menyemprot – nyemprotkan air mani di dalam serambi lempit Mama… crot… crooottt… crooooottt… crooootttttttt… crooootttttt…!
Setelah memuntahkan air mani, rudalku melemas dan menciut. Lalu lepas sendiri dari liang serambi lempit Mama. Maka kurapikan lagi celana pendekku. Aku pun sengaja membetulkan dater Mama agar menutupi serambi lempitnya yang nyempil di antara kedua pangkal pahanya itu.
Lalu aku pun tertidur dengan nyenyaknya. Tapi sebelum terdengar adzan subuh dari masjid paling dekat dengan rumah kami itu, tiba – tiba mataku terbuka dan menoleh ke arah Mama yang tidurnya sudah berubah posisi. Jadi menelentang.
Aku ingin menyingkapkan daster Mama. Tapi aku ingin kencing. Sudah kebelet. Maka perlahan – lahan aku turun dari tempat tidur.
Setelah kencing, aku kembali lagi ke atas bed. Sementara Mama masih tampak nyenyak tidurnya dalam posisi celentang dengan kedua kakinya agak mengangkang. Lalu perlahan – lahan kusingkapkan dasternya. Dan tampaklah kemaluannya yang berjembut tipis sekali, sehingga bentuk kemaluannya tampak jelas di mataku.
Aku berdebar – debar menyaksikan pemandangan yang sangat indan dan merangsang itu. Perlahan – lahan aku bergerak sampai berada di antara kedua kaki Mama yang mengangkang lebar itu. Tanganku pun bergerak mendekati kemaluan Mama yang tampak tembem dan menggiurkan itu.
Kucolek – colek celah kemaluan Mama dengan hati – hati dan siap untuk melompat ke samping kalau Mama terjaga.
Nafsu memang sudah menguasai jiwaku. Sehingga aku nekad untruk membenamkan batang kemaluanku ke dalam liang serambi lempit Mama… lalu mulai mengayun rudalku perlahan – lahan. Sementara Mama tetap tertidur nyenyak. Seandainya pun Mama terjaga dan marah, aku siap untuk memeluknya erat – erat sambil membuka rahasia yang selama ini kututupi.
Ya… rahasia itu membuatku berani menjatuhkan dadaku ke atas dada Mama, sambil mempercepat entotanku.
Tiba – tiba Mama membuka matanya. Dan tampak terejut setelah menyadari bahwa dia sedang dientot oleh aku, anak kandungnya… “Abe! Oooooh… apa yang sedang kamu lakukan ini?” pekiknya tertahan.
“Lagi menyetubuhi Mama… ternyata serambi lempit Mama enak sekali… !” sahutku tanpa menghentikan entotanku.
“Hentikan Abe… hentikan…! Ini dosa besar Abeeee… !“Mama meronta tapi kupeluk kedua lengannya erat – erat. Erat sekali… sehingga Mama tak berkutik.
“Abeee… oooh… jangan teruskan Abeee… cabut rudalmu sekarang juga… ini dosa besar Abeee… !“Mama berusaha meronta terus. Tapi tenagaku jauh lebih kuat untuk menahan kedua lengannya dalam cengkramanku.
“Mama jangan sok suci !” bentakku, “Memangnya disetubuhi oleh Oom Dani waktu aku masih di SMA bukan dosa besar?”
Mama tampak klaget. Dan berusaha membantah, “Mama dengan Dani hanya ciuman, Abe !”
“Mama pikir aku tidak tau? Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri. Puluhan kali Mama dientot oleh Oom Dani yang sekarang menghilang entah ke mana. Lalu setelah bersetubuh, Mama suka mandi bareng sama dia. Setelah mandi, ngewe lagi kan? Mama pikir pada waktu itu aku tidak tahu? Nanti rekaman cctv yang sudah kusimpan di laptopku akan kuputar ulang.
Mama terhenyak. Dan tidak mengucapkan apa apa lagi.
Mungkin Mama sudah percaya bahwa aku mengetahui petualangannya dengan lelaki bernama Dani yang sering datang ke rumah pada saat aku masih duduk di SMA dahulu.
Dan Mama akhirnya terdiam pasrah pada saat aku semakin menggencarkan entotanku…! Bahkan sesaat kemudian Mama mulai menggoyang – goyangkan pinggulnya. Mungkin karena dia mulai merasa enaknya entotan rudalku, yang mungkin saja membuatnya mulai lupa segalanya…!
Makin lama Mama pun seperti sudah lupa bahwa dia sedang dientot oleh anaknya sendiri. Karena dia mulai merintih – rintih seperti tak terkendalikan lagi oleh kesadarannya, “Abeee… oooooh… ooooh… ternyata rudalmu enak sekali Beee… Ayo entot terus sepuasmu Sayaaang… iyaaaa… entot terussss…
Aku pun semakin lupa segalanya. Bahkan tidak sadar lagi sejak kapan daster Mama terlepas dari tubuh montoknya.
Yang aku tau cuma satu. serambi lempit Mama luar biasa enaknya…!
Aku pun semakin gencar menggenjot rudalku bermaju – mundur di dalam jepitan liang serambi lempit Mama yang makin lama makin terasa betapa legitnya liang yang pernah melahirkanku ke dunia ini…!
Tampaknya Mama pun sudah lupa segalanya. Karena Mama terus – terusan merintih perlahan seperti ini: “Abeeee… kamu nakal… tapi rudalmu enak sekali Saayaaang… ayo entot terus… entot teruuuuussssss… ini luar biasa enaknya Abeeee… ooo… oooohhhh… pentil tetek mama emut Sayaaang…
Iyaaaa… seperti kamu suka meneteknya waktu masih bayi dahulu… iyaaaa… rudalmu… entoootttt… entooootttt… entot teruuuusssssss… enak sekali… iyaaaa… entot terusss Abeeee… ooo… ooooh… oooo… ooooh… pentil teteknya juga emut terussss… sambil disedoooooot..
Keringatku pun mulai bercucuran. Namun aku masih giat memenyetubuhi liang serambi lempit Mama yang ternyata luar biasa enaknya ini.
Entah berapa lama aku melakukan semuanya ini.
Yang jelas, ketika tubuhku sudah bermandikan keringat, aku tetap mengayun batang kemaluanku yang tak mengenal lelah ini.
Sampai pada suatu saat… aku tak kuasa lagi menahan nikmatnya menyetubuhi Mama ini. Lalu kucabut batang kemaluanku dari liang serambi lempit Mama.
Kupegang dan kukocok – kocok batang kemaluanku di atas perut Mama yang agak buncit. Lalu… berlompatanlah air maniku di atas perut Mama tercintaku.
Croooottt… crooot… crot… crooooootttt… crotcrot… crooooooootttt… croooooottt…!
Air maniku berlompatan ke atas perut Mama. Ada juga yang “mendarat” di toket dan di dagu Mama…!
Mama tidak marah perut dan toket serta dagunya dikecroti air maniku. Bahkan air mani yang terlempar ke dagunya dicolek oleh jarinya, lalu dijilat dan ditelannya.
Karena hari masih sangat pagi, aku pun bergerak ke pinggiran tempat tidur. Mau mandi. Namun aku masih menyempatkan diri meremas toket Mama perlahan sambil berkata, “Maafkan aku sudah kurang ajar ya Mam.”
Mama menatapku sambil menyahut lirih, “Yaaah… semuanya sudah telanjur terjadi. Mau diapain lagi…”
Lalu aku melangkah ke kamar mandi dan menyemprotkan air hangat shower ke sekujur tubuhku. Tak lama kemudian Mama pun muncul di kamar mandi yang pintunya tidak kukunci itu. Tak cuma muncul, Mama pun menyabuni tubuhku, seperti yang selalu dilakukannya pada waktu aku masih kecil dahulu…
“Kamu mau kuliah pagi ini?” tanya Mama sambil menyabuni punggungku.
“Iya Mam…”
“Kamu harus lebih rajin kuliah dan cepat jadi sarjana, ya Be.”
“Iya Mam. Kalau Mama kasih serambi lempit terus, aku akan semaklin bersemangat untuk kuliah dan mempercepat jadi sarjananya.”
Mama cuma menghela napas panjang. Tapi Mama tidak menolak ketika kusabuni punggungnya, pahanya, toketnya, perutnya dan bahkan serambi lempitnya juga…
Bersambung… Peristiwa yang harus dirahasiakan bersama Mama itu tidak berhenti sampai di situ saja. Esok malamnya terjadi lagi “:sesuatu” yang sangat “sesuatu”.
Ketika makan malam bersama Mama, aku mulai melihat Mama sebagai sosok yang sangat menggiurkan. Tubuh yang tinggi montok dengan kepadatan yang luar biasa untuk wanita seusianya. Memang Mama rajin senam tiap pagi, sehingga menghasilkan tubuh yang begitu padat di sekujurnya. Tidak ada yang kendor sedikit pun.
Kulit Mama pun putih mulus, wajah Mama masih terlihat cantik. Ya, semuanya itu mulai kuperhatikan sejak Mama kusetubuhi, sebagai pasangan seksual yang sangat memuaskan. Bukan lagi seorang ibu yang melahirkanku.
Sikap Mama sendiri terasa mulai berubah. Kemaren Mama kelihatan seperti sedih. Bahkan kulihat air matanya berjatuhan ketika aku sudah siap – siap mau berangkat kuliah.
Tapi sore tadi, ketika melihatku datang, Mama jadi kelihatan ceria. Tatapannya jadi seperti tatapan seorang wanita kepada seorang lelaki yang dicintainya. Senyumnya juga jadi manis di mataku. Manis sekali.
Mama bahkan berkata, “Nanti kalau mau tidur sama Mama lagi, mandi dulu yang bersih ya Sayang. Supaya badanmu harum.”
“Iya Mam. Setelah isi perutku turun, aku mau mandi sebersih mungkin,” sahutku, “Nanti kita begituan lagi kan Mam?”
“Iya. Tapi kalau mau ngecrot, lepasin di dalam aja ya.”
“A… aku cuma takut bikin Mama hamil.”
“Nggak mungkin hamil. Mama kan masih ikutan KB sejak kamu lahir sampai sekarang, belum pernah dicabut. Takut mama kebablasan dalam bergaul.”
“Termasuk waktu Mama kebablasan dengan Oom Dani itu kan?”
“Sudahlah Abe. Itu masa lalu mama. Jangan diungkit – ungkit lagi. Dani itu lelaki bajingan yang hanya mengincar harta mama. Sekarang mama sudah benci dia. Benci sekali.”
“Mobil peninggalan almarhum Papa juga dijual untuk memenuhi keinginan dia kan?”
“Sudahlah. Jangan ungkit – ungkit lagi masa lalu mama yang kelam itu. Sekarang mama kan suydah punya kamu.”
“Iya… sampai kapan pun aku takkan mengkhianati dan meninggalkan Mama.”
Mama mencium pipiku. Lalu berkata setengah berbisik, “Sekarang mandi dulu gih. Pakai air panas aja, biar lancar aliran darahmu.”
“Iya Mam,” sahutku sambil melangkah ke arah kamar mandi pribadi Mama.
Sebenarnya kamarku juga ada kamar mandinya. Tapi di kamarku hanya ada shower, tanpa water heater. Sementara kamar mandi Mama ada water heaternya. Karena itu aku jadi sering mandi di kamar mandi Mama.
Di kamar mandi, ketika tubuhku sedang disemprot oleh air hangat shower yang mengepul, aku tersenyum sendiri. Karena aku merasa memenangkan sesuatu. Sedikitnya aku telah berhasil mengubah sikap Mama dengan drastis.
Kalau kemaren Mama tampak menyesal, kini malah tampak ceria. Bahkan secara tidak langsung Mama sudah memberi lampu hijau untuk melakukan seperti yang kemaren lagi.
Kenyataan menggembirakan itu membuatku berubah juga. Bahwa aku tak usah sembunyi – sembunyi untuk berjumpa dengan janda yang usianya seumuran dengan Mama itu lagi. Dengan Mama, segalanya lebih aman dan bisa kulakukan kapan saja. Sementara dengan janda itu, selalu saja aku harus mencari saat yang tepat untuk menemuinya, terutama pada saat anaknya sedang tidak ada.
Yang membuatku agak kaget, adalah ketika aku melihat serambi lempit Mama sekarang… jadi bersih dari jembut! Dalam keadaan bersih plontos begitu, serambi lempit Mama jadi lebih jelas bentuknya. Sampai lipatan – lipatannya pun terlihat dengan jelas…!
“serambi lempitnya dicukur Mam?” tanyaku sambil menepuk – nepuk serambi lempit Mama.
“Iya. Kalau sudah gondrong suka dicukur. Karena suka gatel kalau keringatan,” sahut Mama ketika aku semakin mendekatkan mataku ke serambi lempit Mama.
“Lebih bagus gundul gini Mam. Kalau dijilatin takkan nyelip jembut di gigiku.”
“Kamu kok seperti yang sudah berpengalaman Be.”
“Berpengalaman gimana maksudnya Mam?”
“Pengalaman menyetubuhi cewek.”
“Pengalaman sih gak ada,” sahutku berbohong, “aku cuma sering nonton bokep sama teman – teman kuliahku. Sering juga mendengar cerita mereka yang sudah berpengalaman.”
Mama bergumam, “Owh… kirain…”
Sebenarnya aku berbohong. Belakangan ini aku sering berada di rumah seorang janda bernama Kaila, tapi aku suka menyebutnya Tante Lala.
Tante Lala itu ibu sahabatku sendiri. Dan sahabatku itu bernama Rendi.
Aku masih ingat benar awal dari dekatnya hubunganku dengan Tante Lala itu, yakni pada waktu aku datang ke rumahnya.
“Abe?! Ayo masuk, “sambut Tante Lala setelah membuka pintu depan rumahnya.
“Iya Tante… terima kasih…” sahutku sambil masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
“Rendi lagi ke Blitar Be,” ucap Tante Lala sambil duduk di sofa yang berhadapan denganku. Membuatku terkesiap, karena gaun rumah yang dikenakannya sangat tipis dan transparant. Sehingga samar – samar aku bisa melihat beha dan celana dalamnya di balik gaun rumah tipis transparan itu.
“Ohya?! Mau lama dia di sana Tante?” tanyaku sambil memandang ke arah lain, karena Tante Lala duduk sambil bertumpang kaki, sehingga paha putih mulusnya terlihat jelas di mataku.
“Selama liburan aja,” sahut Tante Lala sambil tersenyum, “Kamu juga libur sekarang kan?”
“Iya Tante. Meski Rendi berbeda fakultas denganku, tapi Rendi kan seuniversitas denganku. Ohya… di Blitar ada saudara?”
“Iya. Tante punya adik di sana. Jadi Rendi mau menikmati liburan di rumah oomnya yang di Blitar itu.”
Aku berkali – kali harus membuang pandanganku ke arah lain. Tidak berani bertatapan mata dengan ibunya Rendi itu. Karena dia seperti sedang memperhatikanku terus.
Sambil menunduk aku berkata, “Kalau tau Rendi mau ke Blitar, aku mau ikut. Sekalian ingin tau suasana Jawa Timur.”
“Memangnya Rendi nggak ngasih tau kalau dia mau ke Blitar?” tanya Tante Lala sambil berdiri, lalu melangkah ke arah sofa yang kududuki. Dan duduk di samping kiriku.
“Nggak ngasih tau, Tante,” sahutku mulai salah tingkah, karena Tante Lala duduknya terlalu merapat padaku.
“Memang keberangkatan Rendi mendadak. Setelah mendapat telepon dari oomnya, Rendi langsung bilang mau berangkat ke Blitar,” ucap Tante Lala, “Tapi Abe kalau nggak ada teman selama liburan ini, nginap aja di sini. Biar tante ada temen juga.”
Ucapan itu dilontarkan oleh Tante Lala sambil memegang tanganku, disertai remasan perlahan.
Aku mulai grogi. “Iii… iya Tante. Ta… tapi aku gak bawa baju ganti,” sahutku nyeplos begitu saja.
“Kalau buat tidur aja sih tante punya beberapa pakaian baru yang tadinya akan kuberikan untuk Rendi di hari ulang tahunnya sebulan lagi. Nanti boleh kamu miliki. Buat Rendi sih bisa beli lagi sebelum dia datang. Yang penting, jangan ngomong apa-apa sama Rendi nanti,” ucap Tante Lala sambil menarik tanganku dan meletakkannya di atas lututnya yang terbuka sampai ke pertengahan pahanya.
Aku degdegan menghadapi kenyataan ini. Apalagi setelah mendengarkan bisikan Tante Lala, “Kamu mengerti kan apa yang harus kamu lakukan kalau tanganmu sudah berada di lutut tante?”
“Bo… boleh Tante?” tanyaku tergagap.
“Boleh. Justru tante sedang membutuhkan keberanianmu sekarang.”
Meski belum punya pengalaman, sebagai seorang mahasiswa tentu saja aku mengerti apa yang harus kulakukan sebagai “keberanian” seperti yang diinginkan oleh Tante Lala itu.
Tanpa diminta kedua kalinya, aku merayapkan tanganku yang agak gemetaran ini ke paha Tante Lala. Tante Lala malah melingkarkan lengan kanannya di pinggangku, sambil merapatkan pipi kanannya ke pipi kiriku.
Paha dan pipi Tante Lala terasa hangat… menimbulkan desir – desir aneh di dadaku. Mungkin inilah yang disebut desir nafsu birahi.
Sementara itu tanganku sudah tiba di pangkal paha Tante Lala yang lebih hangat lagi. Membuatku mulai lupa segalanya. Ketika tanganku menyentuh celana dalamnya, aku tak kuasa lagi menahan diri, untuk menyelinapkan tanganku ke balik celana dalam Tante Lala. Sampai menyentuh sesuatu yang empuk hangat…
Nafasku mulai tak beraturan. Hah – hoh – ha – hoh terus. Namun Tante Lala memagut bibirku, lalu melumatnya. Sementara jemariku sudah menyelinap ke dalam celah basah yang licin dan hangat itu.
Saat itu aku betul – betul belum pernah menyetubuhi perempuan. Tapi meski belum berpengalaman, aku yakin bahwa jemariku sedang berada di dalam liang serambi lempit Tante Lala.
“Kamu udah pernah menyetubuhi cewek Be?” tanya Tante Lala sambil melingkarkan lengannya di leherku. Dan menatapku dari jarak yang sangat dekat. “Belum pernah Tante,” sahutku. “Sama sekali belum pernah?” “Iya Tante.”
“Serius Be… kamu belum pernah menyetubuhi perempuan?” “Belum pernah Tante. Silakan aja tanyain Rendi. Dia tau benar rahasia pribadiku.” “Hush… semua ini harus dirahasiakan. Rendi jangan sampai tau.”
“Iii… iiiyaaa Tante…” “Kamu mau merasakan menyetubuhi serambi lempit Tante gak?” “Kalau dikasih sih mau… mau banget Tante…”
Bersambung… Tante Lala berdiri sambil memegang pergelangan tanganku, “Di kamar aja yuk. Di sini sih takut mendadak ada tamu, “ajaknya. Kuikuti langkah Tante Lala menuju kamarnya, dengan jantung berdebar – debar.
Aku memang sudah terlalu sering membayangkan nikmatnya menggauli perempuan. seperti sering kudengar dari mulut teman – teman yang sudah berpengalaman dalam masalah perempuan.
Tapi sampai berada di dalam kamar Tante Lala, aku seolah tengah bermimpi saja. Karena semuanya ini tak pernah kurencanakan. Niatku mendatangi rumah ini adalah ingin berjumpa dengan sahabatku. Tapi yang kudapatkan malah ibunya, bersama ajakannya yang membuatku seakan sedang bermimpi…!
Saat itu aku benar – benar belum berpengalaman. Aku hanya sering nonton bokep dan dengar cerita dari teman – teman yang sudah berpengalaman menyetubuhi perempuan. Maka setibanya di dalam kamar Tante Lala, aku jadi kebingungan. Tak tahu dari mana aku harus memulainya.
Tapi Tante Lala mengawalinya dengan membuka kancing – kancing baju kaus hitamku. Dan menanggalkannya. Lalu menarik ritsleting celana jeansku, sekaligus menurunkannya berikut celana dalamku.
“Hmmm… rudalmu gede juga,” ucap Tante Lala sambil memegang rudalku yang sudah ngaceng sejak tadi ini.
Aku cuma tersenyum – senyum. Sementara Tante Lala sudah melepaskan housecoat tipis transparannya. Disusul dengan pelepasan beha dan celana dalamnya.
Wow…! Sekujur tubuh Tante Lala yang tinggi langsing namun tidak kurus itu… kini tak tertutupi sehelai benang pun. Jelas aku semakin degdegan melihatnya. Dan semakin kebingungan, tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan.
Pada saat aku masih berdiri canggung di dekat bed, Tante Lala tersenyum centil, sambil mendorong dadaku… sehingga aku terhempas ke atas bed… rebah celentang tanpa mengetahui apa yang harus kulakukan.
Namun Tante Lala tahu benar apa yang harus dilakukannya. Ia menelungkup di antara kedua kakiku, dengan wajah mendekati batang kemaluanku yang masih ngaceng ini… lalu tahu – tahu ia menjilati puncak dan leher rudalku… kemudian mengulum batang kemaluanku yang sangat peka ini…
Lalu terasa lidah Tante Lala mengelus – elus puncak dan leher rudalku di dalam mulutnya, sementara tangannya mengurut – urut badan rudalku yang mulai membasah oleh air liurnya…
Semuanya ini menimbulkan geli – geli enak. Dan membuatku agak menggeliat – geliat saking enaknya.
“Tante… ooooh… Tante… oooooh… Tanteeee… “hanya rintihan seperti itu yang berlontaran dari mulutku, sementara selomotan dan isapan Tante Lala makin lama makin menggila. Sehingga aku menggelepar – gelepar dibuatnya… dalam nikmat…!
Aku cuma terdiam pasrah, terkadang sambil memejamkan mataku. Dan aku tidak tahu lagi sejak kapan Tante Lala memasukkan batang kemaluanku ke dalam serambi lempitnya. Yang aku tahu, Tante Lala sudah berlutut, dengan kedua lutut berada di kanan kiri tubuhku, sementara serambi lempitnya mulai naik turun dan menggesek – gesek batang kemaluanku…
Cukup lama Tante Lala melakukan semua itu di atas tubuhku. Sampai pada suatu saat ia mengajakku berguling, mengubah posisiku jadi di atas, Tante Lala jadi menelentang, sementara batang kemaluanku masih berada di dalam liang serambi lempit Tante Lala.
“Ayo… sekarang kamu yang menyetubuhi, “perintah Tante Lala ketika dadaku sudah bertempelan dengan sepasang toketnya yang membusung indah itu.
Dengan canggung kuikuti instruksi Tante Lala. Kuayun rudalku seperti pisau pendulum. Maju mundur dan maju mundur terus.
“Iyaaa… ini sudah bener Be,” kata Tante Lala ketika aku mulai lancar memenyetubuhinya, “Yang penting, jangan sampai terlepas… usahakan rudalmu tetap berada di dalam serambi lempit tante… !”
“Iii… iyaaa Tanteee… ddduuuuhhh… serambi lempit Tante ini… enak banget… !”
Tante Lala tidak bicara banyak lagi. Ia bahkan mulai mendesah – desah, sementara dekapannya di pinggangku makin erat saja.
Ayunan rudalku pun makin lama makin lancar. Bermaju mundur di dalam jepitan liang serambi lempit Tante Lala yang luar biasa enaknya. Liang serambi lempit yang membuat nafasku tersengal – sengal, yang membuat mataku kadang terpejam dan kadang melotot.
Sementara itu desahan dan rintihan Tante Lala makin lama makin berhamburan dari mulutnya.
“Abeee… oooh… rudalmu mantap bangeeet… Beee… iyaaaa… entot terusss Beee… ooooh… entot teruuuuussss… rudalmu luar biasa enaknya Abeeee… ayo… sambil emut tetek tante Be… nah gituuu… aduuuuh… ini makin enak Beee…”
Makin lama entotanku terasa makin lancar. Gesekan – gesekan antara rudalku dengan dinding liang kemaluan Tante Lala benar – benar nikmat bagiku. Nikmat yang sulit kulukiskan dengan kata – kata belaka.
Lebih nimat lagi setelah aku disuruh ngemut teteknya. Maka seperti bayi yang masih menetek di tetek ibunya, kukulum petil toket kiri Tante Lala, sambil kuisap-isap. Sementara tangan kiriku digunakan untuk meremas – remas toket kanannya. Sedangkan batang kemaluanku makin aktif menggenjot liang serambi lempitnya.
Tante Lala semakin “meraung – raung” laksana harimau betina yang sedang naik birahi.
“Abeee… oooo… ooooh… ooo… oooh… Abeee… rudalmu luar biasa enaknya Beee… entot terus Beee… entot teruuuusssssss… entoooot… entooot… entooootttttt… !”
“Raungan” Tantew Lala baru berhenti kala aku memagut bibirnya, lalu menciumnya dalam tempo yang cukup lama.
Keringatku pun mulai terbit dari pori – pori sekujur tubuhku. Bercampur aduk dengan keringat Tante Lala. Namun kami tak peduli dengan masalah “kecil” itu. Kami hanya peduli pada satu hal. Bahwa pergesekan batang kemaluanku dengan dinding liang serambi lempit Tanbte Lala menimbulkan rasa yang makin lama makin nikmat.
Aku baru sekali ini menyetubuhi perempuan. Namun tadinya aku sering ngocok sambil nonton bokep yang kutayangkan lewat USB di televisiku. Karena itu aku sudah hafal kapan saatnya mau ejakulasi.
Dan kini… setelah cukup lama aku menyetubuhi Tante Lala, aku merasakan gejala – gejala mau ejakulasi ini. Maka tanyaku terngah, “Tante… aaa… aaaku su… sudah mau nge… ngecrot… lepasin di mana?”
“Lepasin di dalam aja. Ini tante juga udah mau lepas… ayo lepasin bareng -bareng biar nikmat… ayooo… percepat entotannya… iyaa… iyaaaaaa… aaaaa…”
Aku pun mempercepat entotanku, seperti pelari yang sedang sprint menjelang garis finish… makin cepat… makin cepat…!
Lalu tibalah kamki di puncak kenikmatan yang teramat indah ini.
Aku membenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin. Lalu mendiamkannya. Tidak menggerakkannya lagi.
Pada saat yang sama Tante Lala malah gedebak – gedebuk menggoyang pinggulnya ke sana – sini. Mungkin sedang mencari – cari yang lebih nikmat lagi di ujung pelampiasan nafsu birahi ini.
Sampai akhirnya… mulut rudalku memuntahkan spermaku di dalam liang kewanitaan Tante Lala.
Crooooottt… crotcrot… cooootttttttt… croooootttt… crot… croooooootttt…!
Aku pun terkulai di atas perut Tante Lala. Seperti juga Tante Lala yang tampak tepar, dengan wajah dan leher bersimbah keringat.
Dua minggu liburan, kuisi dengan mengunjungi rumah Tante Lala tiap hari. Dan setiap kali aku datang ke rumahnya, selalu saja aku disuguhi masakan Tante Lala yang selalu enak – enak. Aku pun selalu disuguhi serambi lempitnya yang senak sekali itu… sekaligus sebagai serambi lempit pertama yang bisa kunikmati dalam hidupku.
Namanya juga pengalaman pertama, tentunya akan kuingat terus di sepanjang kehidupanku. Namun aku akan tetap merahasiakannya, sesuai dengan janjiku kepada Tante Lala.
Namun sebulan kemudian, ketika Rendi sudah kuliah lagi seperti biasa, Rendi mengajakku duduk berdua di puncak bukit yang konon tadinya milik orang Belanda di zaman kolonial.
Pada saat itulah Rendi mulai membuka pembicaraan yang berbeda dengan biasanya. “Abe… loe pernah punya ketertarikan kepada mama loe sendiri?” tanyanya.
“Ketertarikan gimana maksud loe?” aku balik bertanya, karena pada saat itu aku belum pernah punya affair dengan Mama.
“Misalnya aja… ngintip mama loe waktu sedang mandi, sedang tidur dan sebagainya… lalu nafsu loe timbul dan ingin menyetubuhinya…”
“Damn you…! Gue sih gak pernah punya pikiran segila itu Ren.”
Rendi tersenyum dan berkata, “Jujur kalau gue sie sering menyetubuhi mama gue.”
“Haaa?! Lu udah jadi manusia incest?”
“Gue sih gak musingin soal istilahnya. Mau disebut incest lah, taboo lah… yang jelas gue sama mama udah jadi sepasang manusia yang saling membutuhkan dalam soal sex. Tapi ini rahasia Be. Jangan sampai jadi gosip di kampus nanti. Gue percaya loe sih bakal menyimpan rahasia ini.”
“Ya iyalah,” sahutku yang diam – diam mulai memikirkan Mama dari sudut yang gila itu.
Namun pembicaraan itu berkelanjutan. Rendi berkata lagi, “Sekarang mama gue punya keinginan terpendam. Ingin merasakan main threesome bersama cowok lain.”
“Terus?!”
“Gue kan ingin selalu membahagiakan Mama. Karena itu gue tanya siapa cowoknya yang Mama inginkan untuk mendampingi gue menggaulinya. Ternyata Mama milih loe, Be.”
“Gue?!” seruku kaget.
“Iya. Makanya kalau loe mau, malam Minggu mendatang ini tidur di rumahku aja ya.”
“Terus?”
“Ya kita threesome aja mama gue, kalau loe mau sih. Jangan salah lho… serambi lempit mama gue masih enak banget, Be.”
Aku tersenung sesaat. Dari ucapan – ucapan Rendi, aku mengambil kesimpulan bahwa Tante Lala masih merahasiakan affairku dengannya pada waktu Rendi sedang berada di Jatim. Karena itu aku bersikap seolah – olah belum pernah menyentuh Tante Lala.
“Loe serius Ren?” tanyaku sambil menepuk bahu Rendi.
“Sangat serius, “Rendi mengangguk sambil tersenyum aneh.
Aku terdiam lagi. Memikirkan ajakan Rendi dengan hati limbung.
“Gimana? Mau?” desak Rendi ketika aku masih membisu.
Akhirnya aku mengangguk, “Oke…”
Rendi menepuk pangkal lenganku sambil berkata, “Tapi gue mohon agar hal ini menjadi rahasia kita ya Be.”
“Percaya deh sama gue,” ucapku sambil mengacungkan dua jariku.
Sabtu sore yang dijanjikan, aku sudah mandi sebersih mungkin. Kumasukkan dua stel pakaian ke dalam ransel kuliahku. Lalu pamitan kepada Mama dan berkata bahwa aku akan menginap di rumah Rendi.
Sebelum berangkat, aku masih sempat menerima WA dari Tante Lala. Isinya :
Abe… mau ke rumah tante malam ini kan?
Lalu kubalas, Iya Tante. Masalah kita berdua masih tetap kurahasiakan. Tante juga masih merahasiakannya kan?
Iya. Jadi nanti bersikaplah seolah – olah kamu belum pernah ngapa – ngapain sama tante ya
Oke Tante. Ini aku udah siap mau berangkat ke rumah Tante
Iya. Tante tunggu ya
Lalu kuhidupkan mesin motorku.
Beberapa saat kemudian aku sudah berada di atas motorku, menuju rumah Rendi.
Hanya butuh waktu setengah jam untuk mencapai rumah Rendi. Dan ketika motorku sudah disimpan di dekat teras depan rumah Rendi, kulihat pintu depan terbuka. Tante Lala menyongsong kedatanganku, dalam kimono sutera berwarna pink polos. Dengan senyum manis di bibirnya.
Aku pun menghampirinya, sambil mencium tangannya seperti pada awal aku mengenalnya dahulu. Tapi Tante Lala malah merangkulku sambil mendaratkan ciuman hangat di bibirku. Membuatku agak gelagapan, karena takut terlihat oleh Rendi.
“Rendi mana Tan?” tanyaku sambil duduk di sofa ruang tamu.
“Lagi disuruh beli wine… untuk mencairkan suasana,” sahut Tante Lala sambil duduk merapat ke samping kiriku.
“Beneran Tante ingin dithreesome?” tanyaku setengah berbisik.
Tante Lala menyahut dengan senyum menggoda, “Sebenarnya sih tante cuma kangen padamu aja Be. Makanya tante nyari alasan yang tepat untuk berjumpa denganmu. Setelah dipikir – pikir, gak perlu lagi kita merahasiakan hubungan kita. Mendingan fair aja. Tapi kita harus bersikap seolah baru sekali ini kita akan melakukannya.
Ucapan itu Tante Lala lanjutkan dengan menarik tanganku… menyelinapkan ke balik kimononya… lalu meletakkan telapak tanganku di permukaan kemaluannya yang licin seperti habis waxing… membuat nafsuku langsung berkobar, bukan cuma membara saja…!
Aku yang sudah terbiasa mempermainkan serambi lempit Tante Lala, langsung menggerakkan jemariku… menyelinap ke balik liang serambi lempitnya yang membasah dan hangat itu…!
Pada saat yang sama, Tante Lala mencium dan melumat bibirku dengan hangat dan harumnya.
Aku bahkan sudah hafal di mana letak kelentit Tante Lala, yang dia bilang harus sering disentuh pada saat foreplay ini… dan kini aku melakukan hal itu. Mengelus – elus kelentit Tante Lala dengan nafsu yang semakin bergejolak. Sementara bibirku tetap berada di dalam lumatan Tante Lala…!
Ooo… adakah detik -detik yang lebih indah daripada detik -detik yang sedang kualami ini? Adakah nafsu yang lebih bergolak daripada panasnya hasratku saat ini?
Bersambung… Tiba – tiba handphone Tante Lala berdering. Tante Lala cepat mengambil handphonenya dari atas meja kecil di depan sofa yang sedang kami duduki.
“Dari Rendi,” ucap Tante Lala sambil membuka panggilan itu sekaligus mengeluarkan suaranya lewat speaker. Lalu :
“Hallo Ren! Masih lama?”
“Kelihatannya masih lama Mama. Ini jalanan lagi macet berat. Abe sudah datang?”
“Sudah. Ini kelihatannya Abe sudah horny… gimana dong? Harus nunggu kamu datang?”
“Nggak usah nunggu aku datang. Jalanin aja dulu, supaya Mama dan Abe gak kesal nungguin aku datang.”
“Ya udah. Abe akan mama ajak maen aja tanpa menunggu kamu datang dulu ya Sayang.”
“Iya… iya… selamat berhapy – happy dengan sahabatku, ya Ma…”
“Iya. Kamu hati – hati di jalan. Memang sekarang malam Minggu sih, pasti jalanan macet.”
Setelah menutup hubungan seluler dengan anaknya, Tante Lala tersenyum dan mencolek hidungku sambil berkata, “Abe dengar sendiri kan? Rendi menyuruh kita duluan main, tanpa harus menunggunya datang.”
“Iya Tante,” sahutku. Namun sejak saat itu aku mulai membayangkan seperti apa rasanya serambi lempit mamaku sendiri ya? Tapi apakah Mama akan “sebaik” Tante Lala dan takkan marah kalau aku mencoba menggaulinya?
Terawanganku buyar ketika Tante Lala menurunkan ritsleting celana denimku. Lalu menyelundupkan tangannya ke balik celana dalamku. Dan menyembulkan rudalku yang sudah ngaceng total ini. sambil berkata, “rudalmu lebih gagah daripada rudal Rendi.”
Sebenarnya aku ingin bertanya apakah Tante Lala sudah sering berhubungan sex dengan Rendi? Namun niat itu kubatalkan, karena aku sadar bahwa hubungan Tante Lala dengan putranya itu sangat terlarang. Sangat tabu.
Ketika aku masih memikirkan semuanya itu, tiba – tiba Tante Lala menyingkapkan kimononya. Lalu bergerak untuk menduduki kedua pahaku, sambil memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang serambi lempitnya yang tidak mengenakan celana dalam.
Blessss… Tante Lala berhasil membenamkan batang rudalku sambil duduk membelakangiku. Lalu ia menggerak – gerakkan pinggulnya, naik turun. Sehingga rudalku pun jadi keluar – masuk di dalam liang kewanitaannya.
Aku pun memeluk pinggangnya erat – erat, agar Tante Lala tetap stabil duduk di atas kedua pahaku. Bahkan pada saat berikutnya pelukanku berubah, jadi menggenggam sepasang toket di balik kimononya. Karena Tante Lala bukan hanya no-CD, tapi juga nobra…!
Cukup lama Tante Lala mengayun pinggulnya, yang dengan sendirinya membuat liang serambi lempitnya mengocok rudal ngacengku. Sampai akhirnya ia mengajakku pindah ke kamarnya, “Takut ada tamu mendadak, kita pindah ke kamar aja yuk.”
Kuikuti saja langkah Tante Lala menuju kamarnya.
Di dalam kamarnya itulah Tante Lala melepaskan kimononya, sehingga tubuhnya jadi telanjang bulat, karena sejak tadi tiada pakaian dalam di balik kimononya.
Secepatnya kutanggalkan pakaianku sehelai demi sehelai, sampai akhirnya telanjang bulat, seperti Tante Lala. Lalu kyuterkjam Tante Lala yang sudah menelentang dengan kedua kaki mengangkang lebar.
Aku tahu bahwa liang serambi lempit Tante Lala sudah cukup basah. Karena itu tanpa basa – basi lagi kuletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempitnya yang sudah menganga merah basah itu. Dan… blessss… rudalku mulai membenam lagi ke dalam liang serambi lempit Tante Lala yang membuatku ketagihan itu. Langsung amblas seluruhnya, diiringi desah nafas mamanya Rendi itu, “Ooooh…
Aku menarik nafas panjang dulu sambil memeluk leher Tante Lala. Kemudian kuayun batang kemaluanku, bermaju – mundur di dalam liang serambi lempit tante Lala yang basah licin dan hangat ini.
“Abe… rudalmu memang enak sekali Be… entotnya pelan – pelan dulu yaaa… tante ingin menghayati nikmatnya gesekan rudalmu Bee…” bisik Tante Lala sambil melingkarkan lengannya di leherku. Lalu menciumi bibir dan kedua belah pipiku.
Waktu Rendi berada di Jatim tempo hari, selama dua minggu aku dilatih oleh Tante Lala. Tentang bagaimana caranya untuk membuat perempuan puas waktu disetubuhi. Jadi aku tahu bahwa pada waktu rudalku sedang memenyetubuhi liang serambi lempit perempuan, aku harus melengkapinya dengan ciuman di bibir, emutan di pentil toket, jilatan di leher, di ketiak dan sebagainya.
Itu semua kulakukan, demi kepuasan Tante Lala. Akibatnya, rintihan – rintihan histeris Tante Lala semakin menjadi – jadi.
“Abe… oooh… tante bener – bener ketagihan sama rudalmu Beee… ketagihan sama caramu menjilati leher tante… menjilati ketek tante… mengisap dan menjilati pentil tetek tante… semuanya enak sekali Beee… ooooh… tante ketagihan Abeee… entot terus Bee… entoooootttt… iyaaaaa …
Aku pun menjawabnya dengan bisikan, “serambi lempit Tante juga… lu… luar biasa enaknya… uuuuughhhh…”
Lalu gerakan batang kemaluanku mulai kupercepat.
Tante Lala pun mulai menggoyang pinggulnya dalam gerakan meliuk – liuk dan menghempas – hempas. Liang sanggamanya pun membesot – besot dan memilin – milin batang kemaluanku. Dan ini… luar biasa nikmatnya…!
Namun pada saat itu pula terdengar suara Rendi di ambang pintu kamar ibunya, “Asyiiik… ada tontonan yang sangat merangsang… jauh lebih merangsang daripada bokep !”
Aku hanya menoleh dan mendengus. Karena aku sedang enak – enaknya merasakan besotan – besotan liang serambi lempit Tante Lala yang sedang bergoyang Karawang ini.
Bahkan ketika Rendi duduk di pinggiran bed ibunya, aku tak peduli lagi.
Keringat ku pun mulai membanjir. Bercampur aduk dengan keringat Tante Lala.
Sampai pada suatu saat, kudengar bisikan Tante Lala, “Stttt… tante udah mau lepas Be. Lepasin bareng yuk… !”
Aku mengerti bahwa sebenarnya Tante Lala mau orgasme untuk yang kedua kalinya. Karena sejak tadi terasa liang serambi lempitnya sudah becek sekali.
Tapi aku tak mau membahas masalah itu pada saat sedang enak – enaknya menikmati liang serambi lempit Tante Lala yang sedang digoyang ke sana ke mari ini.
Aku hanya berusaha agar secepatnya ejakulasi seperti yang diinginkan oleh Tante Lala. Lagipula aku harus bertenggang rasa pada Rendi yang mungkin sudah ingin secepatnya menyetubuhi ibunya.
Entotanku pun mulai kupercepat. Makin lama makin cepat, sementara Tante Lala sudah berkelojotan. Lalu mengejang tegang sambil mendekap pinggangku erat – erat…!
Aku pun mengelojot, lalu mendorong rudalku sedalam mungkin. Dan mendiamkannya, tidak menggerakkannya kembali.
Moncong rudalku mengejut – ngejut sambil meletuskan spermaku. Crooootttt… crotcrot… crottt… croooooootttt… crot… croooooooootttt… crotcrooot…!
Sekujur tubuhku mengejut, lalu terkulai di dalam dekapan Tante Lala. Lemas tapi luar biasa nikmat dan puasnya.
Ketika aku sudah mencabut batang kemaluanku dari liang serambi lempit Tante Lala, kulihat spermaku membludak dari mulut serambi lempit mamanya Rendi itu.
Namun pada saat itu Rendi sudah telanjang. Dan langsung merayap ke atas perut Tante Lala, sambil memegang rudalnya yang sudah diarahkan ke mulut serambi lempit mamanya.
Kusaksikan dengan jelas batang kemaluan Rendi melesak masuk ke dalam liang serambi lempit Tante Lala.
Aku cuma tersenyum menyaksikan semuanya itu. Tampaknya Rendi tak peduli dengan spermaku yang masih banyak tersimpan di dalam liang serambi lempit ibunya.
Pada saat Rendi mulia memenyetubuhi ibunya, aku turun dari bed. Lalu melangkah ke kamar mandi pribadi Tante Lala. Untuk mencuci rudalku yang berlepotan sperma bercampur dengan lendir kewanitaan Tante Lala.
Pada saat itulah aku menerawang jauh. Membayangkan seandainya aku menyetubuhi Mama, apa yang akan terjadi kelak? Apakah aku juga akan mengajak Rendi untuk men-threesome Mama?
Entahlah. Soalnya pada saat itu aku belum pernah menyetubuhi Mama.
Tapi sejak saat itulah aku mulai membayangkan seandainya aku nekad menyetubuhi Mama dengan cara bagaimana pun… apakah Mama takkan murka?
Memang Mama dan Tante Lala punya bentuk tubuh yang berbeda. Tante Lala itu tinggi langsing, tapi tidak kurus. Sementara bentuk tubuh Mama tinggi montok, dengan sepasang toket montok, dengan bokong gede pula. Tapi seperti apa ya rasanya serambi lempit Mama itu? Mungkinkah aku bisa menikmatinya?
Setelah rudalku dicuci bersih, kukeringkan dengan handuk Tante Lala. Kemudian aku keluar dari kamar mandi. Untuk menonton persetubuhan antara kibu dan anak kandungnya itu.
Rendi tampak garang sekali memenyetubuhi ibunya. Membuat rudalku diam – diam jadi ngaceng lagi.
Aku pun duduk di atas bed, dekat Tante Lala yang sedang mendesah – desah sambil menggoyangkan pinggulnya seperti pada waktu aku menyetubuhinya tadi. Namun diam – diam tangan Tante Lala merayap ke arah rudalku yang sudah ngaceng lagi ini.
Tante Lala masih sempat menoleh ke arahku sambil tersenyum. Dengan tangan meremas rudalku perlahan. Tampaknya Tante Lala senang setelah mengetahui kondisi rudalku yang sudah ngaceng berat lagi ini.
Aku pun tidak mau berdiam pasif. Diam – diam kupegang dan kuremas toket Tante Lala yang tidak terhimpit oleh dada Rendi.
Untungnya Rendi tidak terlalu lama menyetubuhi ibunya. Sesaat kemudian tampak dia mengelojot di atas perut ibunya. Lalu terkulai lemas di atas perut Tante Lala. Aku pun mempersiapkan diri untuk menyetubuhi Tante Lala yang kedua kalinya…!
Bersambung… Kalau diibaratkan perang, malam itu aku dan Rendi habisan menyerang Tante Lala yang mungkin sudah tergolong wanita hypersex. Karena setelah aku maju untuk yang kedua kalinya, Rendi pun “maju” lagi ke “Makassar tempur” untuk kedua kalinya. Perilaku Rendi dengan ibunya itu jelas membuatku terangsang berat.
Maka setelah Rendi ambruk, aku pun maju lagi untuk yang ketiga kalinya.
Begitulah kejadiannya. Bahwa malam itu Tante Lala disetubuhi lima kali. Tiga kali denganku dan dua kali dengan anaknya sendiri.
Kisah di rumah Tante Lala itu takkan terlupakan olehku. Namun kenapa aku jadi sering membayangkan seandainya aku melakukan hal yang sama dengan Mama?
Mama memang sudah kerap kusetubuhi. Namun sejauh ini aku belum berani mengundang Rendi agar bisa bergabung untuk menggauli Mama.
Dan sebelum aku melangkah lebih jauh lagi, pada suatu sore aku ditelepon oleh Bang Idang, suami Kak Reni. Bang Idang memintaku datang ke rumahnya, karena ada sesuatu yang penting, katanya.
Aku pun berangkat menuju rumah Bang Idang dan Kak Reni. Setibanya di rumah mereka, aku dihampiri oleh suami Kak Reni dan mengajaknya ngobrol di ruang keluarga.
Lalu Bang Idang bertanya, “Abe… kamu sedang libur gak?” “Libur lima hari Bang. Emangnya kenapa?” tanyaku.
“Kakakmu itu mau ke Makassar besok. Aku tak mungkin bisa mengantarnya. Karena di kantor sedang sibuk – sibuknya. Maklum dikejar deadline tutup buku. Kamu bisa kan nganter kakakmu ke Makassar?”
“Di Makassarnya berapa hari Bang?”
“Sekitar tiga atau empat harian gitu. Gimana? Bisa?”
“Kalau empat hari sih bisa Bang. Asal jangan lebih dari lima hari aja. “
“Kalau segalanya berjalan lancar, malahan dua hari juga selesai urusannya di Makassar. “
Esok harinya, pagi – pagi sekali aku dan Kak Reni sudah berada di bandara. Karena kami akan terbang dengan pesawat yang take off jam 08.30. Bang Idang pun mengantar kami sampai di bandara.
Setelah berada di dalam pesawat, aku bertanya kepada kakakku, “Sebenarnya di Makassar mau mengurus apa Kak?”
“Ada orang yang mau pinjam uang. Dia menjaminkan rumah dan tanahnya di Makassar. Karena itu aku harus menaksir dulu seperti apa kondisi rumah dan tanah yang akan dijaminkan itu. “
“Alamat lengkapnya sudah Kakak catat?”
“Sudah. Katanya sih gak jauh dari bandara. “
Aku tidak tahu, apakah aku yang masih awam atau Kak Reni yang kebilnger. Karena menurutku, untuk menaksir harga tanah dan rumah cukup dengan menghubungi lembaga appraisal, lalju tunggu hasilnya. Nanti akan datang laporan berapa taksiran mereka harga tanah dan rumah di Makassar itu.
Entahlah. Aku tak mau mengungkapkan pendapatku, takut Kak Reni tersinggung. Yang jelas Kak Reni dan aku setibanya di Makassar langsung cek in di sebuah hotel yang tak jauh dari Bandara Sultan Hasanuddin. Hotel itu sudah dibooking oleh Kak Reni lewat sebuah biro jasa di internet, bahkan sudah dibayar untuk menginap di sana selama 4 malam.
Cukup lama kami mengotak – atik masalah itu. Sampai sore kami berada di kelurahan itu. Kemudian makan di rumah makan dan kembali ke hotel setelah senja.
Hotel itu adalah hotel berbintang. Jelas setiap kamar menggunakan AC. Tapi Kak Reni sengaja mematikan ACnya dan membuka jendela kacanya. Karena Kak Reni seorang perokok. Tapi ia hanya merokok di rumah atau dsi tempat tertutup seperti hotel ini. Tak berani merokok di tempat umum.
Aku kegerahan. Maklum udara Makassar yang terasa menyengat panasnya. Sementara fasilitas AC malah dimatikan.
Karena itu aku hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada sebelum merebahkan diri di atas bed. Sementara Kak Reni masih menggeluti angka – angka yang didapatkannya dari kelurahan tadi.
Sebelum terlena tidur, aku masih sempat melihat Kak Reni melepaskan gaunnya, lalu dalam keadaan cuma berbeha dan bercelana dalam saja ia menggeluti angka – angka itu lagi. Sambil merokok terus.
Lalu aku tertidur nyenyak di atas satu – satunya bed dalam kamar hotel ini.
Tapi aku membuka mataku ketika terasa ada sesuatu yang menghimpit pinggangku. Ternyata paha Kak Reni yang menghimpit pinggangku itu.
Memang pada waktu aku masih kecil, Kak Reni suka memelukku pada waktu tidur bersama seperti ini.
Tapi kini aku sudah dewasa. Kak Reni yang cuma mengenakan beha dan celana dalam itu jelas mengundang perasaan lain. Tapi aku berusaha untuk menindas pikiran yang bukan – bukan, karena mengingat Kak Reni iutu kakakku sendiri. Sudah punya suami pula.
Tapi batinku mulai bergulat. Membayangkan bahwa Mama pun sering kusetubuhi. Lalu apa salahnya kalau Kak Reni pun kuperlakukan yang sama? Tapi apakah Kak Reni takkan marah?
Lebih dari setengah jam batinku bergulat. Sampai akhirnya… ketika Kak Reni tampak sudah tertidur, diam – diam tanganku bergerak ke celana dalamnya. Kugeser celana dalam putih itu ke sebelah kanan, sehingga aku menyaksikan sebagian dari kemaluan kakakku.
Sang Nafsu pun mulai menguasai benak dan hatiku. Aku mulai menggunakan jemariku untuk menggerayangi kemaluan kakakku.
Gila… nafsuku semakin menjadi – jadi. Membayangkan nikmatnya kalau kemaluan Kak Reni diterobos oleh rudalku.
Tapi… ketika aku sedang asyik mengelus – elus mulut serambi lempit Kak Reni… tiba – tiba dia memegang pergelangan tanganku. Tentu saja aku kaget dibuatnya. Maka kutarik tanganku, menjauhi kemaluan kakakku. Lalu membelakanginya sambil pura – pura tidur lagi.
Mudah – mudahan Kak Reni tidak marah, pikirku.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya?
Kak Reni mendekap pinggangku dari belakang. Bukan cuma mendekap. Tangannya menyelusup ke lingkaran elastis celana pendekku. Lalu memegang batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini…!
Kak Reni meremas – remas dan mengelus – elus batang kemaluanku. Ini membuatku yakin bahwa Kak Reni pun menginginkannya…!
Lalu kenapa aku harus berdiam diri dan pura – pura tertidur? Akhirnya aku memberanikan diri untuk membalikkan tubuhku jadi berhadapan dengan kakakku.
Kutatap bola mata Kak Reni yang tampak bersorot lain itu. Bahkan ia bangkit untuk menarik celana pendekku sampai terlepas dari kakiku. Lalu kembali menggenggam batang kemaluanku sambil berkata setengah berbisik, “rudalmu sudah ngaceng banget Abe… “
“Iya Kak…” sahutku sambil merayapkan tanganku ke balik celana dalam Kak Reni. Dan menjamah kemaluannya yang licin plontos… mengelus celahnya yang mulai membasah dan membiarkannya mengelus – elus puncak rudalku.
Nafasku mulai tak beraturan. Kak Reni pun memegang rudalku dengan mata yang terpejam. Dan tetap terpejam ketika kupelorotkan celana dalamnya sampai terlepas dari kakinya.
Masih terpejam juga mata Kak Reni ketika aku sudah mendekatkan mulutku ke serambi lempitnya yang tembem dan sudah kungangakan itu.
Lalu aku mulai menjilati serambi lempit Kak Reni… membuat nafas kakakku tertahan – tahan. Terlebih setelah jempol kiriku mulai beraksi, untjuk menekan kelentitnya… lalu menggesek – geseknya… sementara jemari tangan kananku mulai kuselundupkan ke celah kewanitaannya.
Karuan saja Kak Reni mulai merintih – rintih histeris, “Abe… ooooh… ini enak sekali Bee… ternyata kamu udah pengalaman juga ya… iya Beee… jilatin terusss… itilnya juga elus terus Beee… ooooooh… oooo… oooooh… ini luar biasa enaknya Beeee… oooo… ooooohhh… itilnya elus terus Beee…
Aku pun jadi semakin bersemangat untuk menjilati serambi lempit kakakku yang ternyata sangat menggiurkan ini.
Bahkan pada suatu saat, ketika terasa liang serambi lempit Kak Reni sudah sangat basah, aku tak minta izin dulu padanya, untuk menjebloskan batang kemaluanku ke dalam liang serambi lempitnya…!
“Ooooooh… rudalmu langsung masuk semua Be… tapi ingat… ini rahasia kita berdua aja ya Be. “
“Iya Kak. Aku juga ngerti soal itu sih. “
“Apakah kamu pernah membayangkan kejadian seperti ini?”
“Nggak pernah Kak. Baru tadi aja aku tiba – tiba jadi nafsu. “
“Mmm… begitu ya… Ayo entotin rudalmu… jangan direndem terus… ntar keburu jadi cacing… “
Aku menahan tawaklu mendengar kelakar Kak Reni itu. Lalu aku mulai mengayun batang kemaluanku seperti yang Kak Reni inginkan.
Gila… ternyata serambi lempit kakakku ini enak sekali. Sehingga aku semakin bergairah untuk memenyetubuhinya.
Kak Reni pun mulai mendesah – desah dan merintih – rintih. “Aaaaah… aaaaah… entot terus Beee… ternyata rudalmu enak juga Beee… aaaaah… aaaah… entot terus Beee… entot terussss… entooooottttt… entooooottttt… iyaaaaaa… iyaaaaaaa… entot teruuuuusssss… entooooottttttttt…
Sambiol mempergencar entotanku, masih sempat aku membisiki telkinga Kak Reni, “serambi lempit Kak Reni juga ternyata enak sekali Kak… rasanya legit dan menjepit gini… seperti serambi lempit yang belum pernah melahirkan… ooooh… gak nyangka kita bisa beginian ya Kak… “
“Hmh… kita ini lagi ngapain Be?”
“Lagi ngeweeee… ngewe serambi lempit Kak Reniiiii…” sahutku terengah.
“Hihihiii… kamu memang nakal, tapi menyenangkan,” ucap Kak Reni sambil menepuk – nepuk pipiku.
“Aaa… aaku bakal makin sayang sama Kak Reniii…” sahutku sambil meremas – remas toket Kak Reni.
“Aku juga bakal makin sayang padamu, Bee…” sahut Kak Reni sambil mulai menggoyang – goyangkan pantatnya. Berputar – putar, berkelok – kelok dan menghempas – hempas. Sehingga makin nikmat saja rasanya menyetubuhi kakak kandungku tercinta ini.
Keringat pun mulai membasahi tubuh kami. Tapi kami tak mempedulikannya.
Aku semakin lama semakin bergairah untuk memenyetubuhi Kak Reni yang rintihan histerisnya makin berhamburan.
“Iyaaaaaa… iyaaaaaaa… entot terus yang kencaaaaang… entoooot teruuuus Abeeee… ooooooh… ini enak sekali Beee… entot yang kencang Be… iyaaaaaa… enoooot… entoooot… !”
Lama sekali aku mengenrtot kakakku. Sampai pada suatu saat aku bertanya, “Kak… lepasin di mana?”
“Di dalam serambi lempitku aja Be. Tapi sebentar… tahan dulu… aku juga udah mau orgaaaa… tahan dikit… iyaaaaaa… iyaaaaa… ayo sekarang lepasin Beeee… !”
Aku pun memacju entrota nku secepat mungkin, agar cepat ngecrot.
Dan akhirnya… ketika Kak Reni terkejang – kejang di puncak orgasmenya, rudalku pun menembak -nembakkan air mani di dfalam liang serambi lempit Kak Reni… Dan kami seperti sepasang manusia yang tengah kerasukan. Kami saling cengkram… saling remas dan… crootttt… crooootttt… crot… crooootttt…
Aku berkelojotan di atas perut Kak Reni. Lalu terkulai lemas… dalam kepuasan yang mendalam sekali.
Beberapa saat kemudian ketika kami sudah bersih – bersih di kamar mandi, Kak Reni membuka pembicaraan :
“Abe… sebenarnya ada rahasia yang tak boleh dibocorkan ya. “
“Rahasia tentang apa Kak?” tanyaku.
“Tentang Bang Idang itu. Sejak tabrakan di Puncak, rudalnya tak berfungsi lagi. “
“Maksud Kak Reni… Bang Idang jadi impoten?”
“Iya. Tabrakan itu membuat syaraf tertentu pada putus. Dan tidak bisa dibetulkan lagi. Makanya sejak saat itu aku tak pernah disetubuhi lagi olehnya. Untung aku sudah punya dua anak. Kalau tidak, aku bisa minta cerai… “
“Kecelakaan di Puncak itu sudah lama terjadinya kan Kak?!”
“Iya… kalau gak salah sejak kamu masih semester pertama. Sekarang kamu sudah semester akhir kan?”
“Iya Kak. Berarti sudah empat tahun, Kak. “
“Iya. Selama empat tahun aku tak pernah selingkuih satu kali pun. Baru sekarang aku selingkuh.. dengan adik kandungku pula selingkuhnya,” ucap Kak Reni dengan mata berkaca – kaca.
“Jangan sedih Kak. Aku akan siap memuasi Kakak kapan pun aku dibutuhkan. “
“Iya Be. Memang Bang Idang masih hidup juga sudah untung. Sopirnya malah meninggal kan?!”
“Iya Kak. Lagian Bang Idang kelihatannya seperti normal – normal saja tuh. “
“Yang lainnya normal semua. Bahkan prestasi di tempat kerjanya makin meningkat dengan pesatnya. Sehingga dia sudah dijadikan orang kepercayaan bossnya. Kecuali rudalnya itu, sama sekali nggak bisa ngaceng. Lemas terus. “
“Hadapi dengan tenang aja Kak. “
“Iya. Aku akan berusaha untuk bersikap seolah nggak ada apa – apa pada rumah tanggaku. Kalau aku minta cerai, kasihan sama anak – anak. Kasih sayang ayahnya tetap dibutuhkan oleh mereka. “
“Jangan minta cerai Kak. Biarin aja… kan ada aku yang bisa mewakili Bang Idang untuk meredakan hasrat biologis Kak Reni. “
“Janji ya. Kalau aku sedang horny, kamu harus siap untuk menyetubuhi aku lagi. “
“Iya Kak. Aku janji deh. “
“Hmmm… sejak saat itu pula aku jadi perokok Be. Soalnya aku ingin menindas kegalauanku. “
“Tapi kata orang, cewek perokok itu suka enak ngemut rudalnya Kak. “
“Hihihihi… kamu ada – ada aja. Nanti kamu buktikan sendiri deh. Kita kan bakal lama di sini. Walau pun urusan penting itu sudah selesai, aku masih ingin dientot lagi olehmu sesering mungkin. Sampai aku benar – benar kenyang. ”
Bersambung… Aku terdiam setelah membaca riwayat masa lalu suamiku yang sangat melenceng dari kaidah – kaidah hukum mau pun agama itu.
Tadinya aku merasa sudah terlalu jauh membelot dari nilai – nilai sakral dalam suatu perkawinan, dengan membiarkan Kevin menggauliku. Tapi ternyata suamiku jauh lebih gila lagi. Sampai ibu kandung pun dijadikan sasaran pelampiasan hawa nafsunya. Bahkan kakak kandungnya pun menjadi sasaran berikutnya.
Banyak sekali catatan berikutnya yang membuatku merinding sendiri.
Tapi aku ingin mengetahui sejauh mana suamiku telah melangkah bersama Mbak Rumiar, kakak kandungku satu – satunya itu.
Karena itu petualangan suamiku sebelum aku menjadi istrinya kulewati dulu, nanti saja akan kubaca semuanya setiap bagian yang belum kubaca.
Aku mencari – cari petualangan suamiku bersama Mbak Rum itu.
Akhirnya kutemukan catatan yang kucari itu.
Isinya sebagai berikut :
Sesungguhnya aku berat sekali melepaskan istriku ke tangan Boss Kevin. Tapi biarlah… aku harus merelakannya demi masa depanku dan masa depan anakku.
Namun sejujurnya harus kuakui bahwa aku jadi gelisah dibuatnya. Karena itu ucapan Linda tentang Mbak Rumiar itu kuanggap sebagai keputusan bijaksana. Agar keresahanku terobati dengan mendapatkan Mbak Rum sebagai kompensasi dari kehilangan Linda selama beberapa hari.
Lalu apakah aku akan mengajak Mbak Rum untuk berhubungan sex? Why not?!
Lagian sebenarnya sejak Mbak Rum tinggal di rumahku, diam – diam aku sering tergiur oleh kakak iparku yang berperawakan sangat berbeda dengan istriku.
Dan mungkin banyak lelaki seperti aku ini. Seandainya punya istri yang putih mulus, mungkin malah ingin merasakan nikmatnya perempuan yang hitam manis. Kalau punya istri berperawakan tinggi langsing, mungkin ingin merasakan perempuan yang montok – gempal… seperti Mbak Rum itu.
Ya… dalam hal warna kulit, baik Linda mau pun Mbak Rum sama – sama putih mulus. Tapi bentuk tubuh mereka jauh beda. Linda berperawakan tinggi langsing, tapi dengan bokong yang lumayan semok. Sementara kakaknya berperawakan tinggi montok.
Sepasang toket Linda berukuran sedang – sedang saja. Tapi Mbak Rum itu kelihatannya bertoket gede, meski aku belum pernah melihatnya secara jelas. Ketika aku tiba di rumah, kulihat Mbak Rum seperti baru selesai mandi, karena rambutnya tampak kelimis.
“Nia udah tidur Mbak?” tanyaku.
“Sudah,” sahut Mbak Rum, “Mau dibuatkan kopi ya?”
“Iya Mbak. Tolong bikinin kopi yang kental ya.”
“Iya,” sahut Mbak Rum sambil mengangguk, lalu melangkah ke arah dapur.
“Mbak baru habis keramas ya?” ucapku sambil mengikuti langkahnya dari belakang.
“Iya. Biasa… baru bersih mens,” sahut Mbak Rum.
Ketika Mbak Rum sedang menyalakan teko listrik di dapur, aku mendekap pinggangnya dari belakang, sambil berbisik di dekat telinga kakak iparku, “Kalau baru bersih dari menstruasi, biasanya lagi enak-enaknya, ya Mbak.”
“Iiiih… enak apanya?” Mbak Rum meronta tapi tidak terlalu kuat. Sehingga dekapanku tetap pada tempatnya.
“Ininya,” sahutku sambil menggerakkan tangan kananku untuk menepuk bagian di bawah perutnya.
“Aaaah… jangan ngaco dong Be, “Mbak Rum meronta lagi. Tapi aku malah mempererat dekapanku.
Lalu aku mulai melontarkan gombalan, “Sebenarnya aku sudah lama tergiur sama Mbak. Tapi baru sekarang aku punya kesempatan…”
“Emangnya mau berapa hari Linda di rumah kakakmu?”
“Semingguan gitu.”
“Lama banget?!”
“Biar aja. Biar kita punya kesempatan lebih lama.”
“Kesempatan untuk apa?”
“Untuk saling bagi rasa… Mbak bisa merasakan diriku, aku pun bisa merasakan nikmatnya tubuh seksi Mbak ini…” ucapan itu kulanjutkan dengan menarik ujung daster Mbak Rum ke atas, lalu kuselinapkan tangan kananku ke balik celana dalamnya. Sampai kutemukan sebentuk serambi lempit tembem dan gundul di balik celana dalam Mbak Rum itu.
“Abe… aaaah… jangan gini dong Beee… kalau ketahuan Linda bisa disemprot aku nanti…”
“Kan Linda gak ada sekarang Mbak,” sahutku dengan jemari yang sudah kuselinapkan ke dalam celah serambi lempitnya yang hangat dan mulai membasah.
Mbak Rum tidak meronta lagi. Mjungkin karena jemariku sudah mulai membuatnya horny. Karena jari tanganku bukan cuma direndam di dalam celah serambi lempitnya, tapi juga kugerak – gerakkan maju mundur… sehingga celah serambi lempit Mbak Rum mulai membasah… dan mulai menghangat.
“Di kamarku aja ya Mbak,” bisikku setelah terasa tubuh Mbak Rum melemah dan menghangat.
“Kan mau bikin kopi kental,” sahutnya.
“Biarin Mbak. Sekarang Mbak jauh lebih penting daripada kopi,” bisikku.
“Sebentar… mau halangin Nia sama bantal guling dulu. Takut jatoh.”
“Iya deh. Aku tunggu di kamarku ya Mbak.”
“Iya…”
Lalu aku mencium pipi Mbak Rum disusul dengan ucapan, “Mbak Rum memang baik hati… aku senang Mbak…”
Mbak Rum tidak menyahut. Langsung melangkah ke kamarnya, di mana anakku selalu tidur bersamanya.
Sementara aku masuk ke dalam kamarku. Kunyalakan AC, lalu kukenakan baju dan celana piyama tanpa mengenakan celana dalam di baliknya.
Sesaat kemudian Mbak Rum sudah muncul di ambang pintu kamarku, dalam kimono putihnya yang tampak seksi. Karena belahan dada kimono itu mempertontonkan pertemuan dua bukit kembar Mbak Rum yang montok itu.
Membuatku sadar bahwa Mbak Rum tidak mengenakan beha di balik kimono itu, karena dua titik tampak menonjol di kimono itu, dua titik yang kutahu sebagai dua pentil payudara montoknya.
Jangan – jangan celana dalam pun tidak terpasang juga di balik kimono putih itu…!
Begitu Mbak Rum masuk, aku langsung memegang kedua pergelangan tangannya sambil berkata, “Lamunanku selama ini akan menjadi kenyataan. Bahwa aku akan bisa menikmati Mbak Rum sepuasnya.”
Mbak Rum cuma tersenyum. Tapi tangannya memegang celana piyamaku, tepat pada bagian yang menutupi batang kemaluanku yang sudah mulai ngaceng ini.
“Sebenarnya aku pun sering membayangkan dicumbu olehmu Be. Tapi aku selalu menindas pikiran dan lamunan seperti itu. Karena aku sadar bahwa Abe ini suami adik kandungku,” kata Mbak Rum sambil meremas – remas batang kemaluanku yang masih tertutup celana piyamaku ini.
Remasan Mbak Rum itu membuatku menduga – duga, bahwa mungkin dia ingin memegang batang kemaluanku tanpa tertutupi apa pun. Maka kupelorotkan celana piyamaku, sehingga batang kemaluanku terbuka sepenuhnya. Lalu kuraih Mbak Rum ke atas bed.
Pusat perhatian Mbak Rum tetap tertuju ke rudalku yang sudah agak ngaceng ini. Setelah berada di atas bed, Mbak Rum memegang rudalku yang sudah tak tertutup celana piyama lagi ini. Tak cuma memegangnya. Sesaat kemudian ia mulai menciumi puncak dan leher rudalku. Ciuman itu pun lalu berubah jadi jilatan yang membangkitkan gairahku.
Aku cuma menelentang sambil membiarkan Mbak Rum menjilati leher dan moncong rudalku. Bahkan lalu ia mulai menyelomoti batang kemaluanku dengan trampilnya.
Setengah dari batang kemaluanku berada di dalam mulutnya, sementara bagian yang tidak terkulum sudah mulai diurut – urut oleh tangan trampilnya. Dibantu oleh air lurnya yang mulai mengalir dan membasahi batang kemaluanku sampai pangkalnya.
Tentu saja rudalku makin ngaceng saja dibuatnya. Sampai pada suatu saat, Mbak Rum menanggalkan kimononya. Sehingga tubuh chubby-nya langsung telanjang bulat, karena ia tak mengenakan bra mau pun CD di balik kimononya itu.
Tadinya kupikir Mbak Rum mau main di atas (WOT). Tapi ternyata tidak. Setelah batang kemaluanku ngaceng berat, ia merebahkan diri dengan kedua kaki mengangkang lebar.
Maka aku pun duduk sambil melepaskan baju piyamaku. Lalu mendekatkan wajahku ke serambi lempit tembem dan bersih dari jembut itu.
Lalu mulutku “terbenam” di permukaan serambi lempit tembem itu. Sementara jempol tangan kiriku mencari – cari kelentit Mbak Rum yang tersembunyi akibat ketembeman serambi lempitnya. Sedtelah menemukan kelentitnya, jempolku pun mulai menggesek – geseknya, sementara lidahku mulai menjilati bagian dalam serambi lempitnya yang ternganga dan berwarna pink itu.
Mbak Rum mulai menggeliat – geliat dan mengejang – ngejang sambil bergumam, “Linda… maafkan aku ya Lin… aku tetap sayang padamu Lin…”
Kemudian Mbak Rum menggeliat – geliat lagi. Sambil merintih – rintih erotis, “Ooo… ooooh… Beeee… oooooh… jilatanmu kok enak sekali Beee… oooooh… itilnya elus terus Beee… itilnyaaaa.. itiiil… itiiiilnyaaa… iyaaaaaaa… itilnya gasak terus Beee… gilaaaa… ini luar biasa enaknya Beeee …
Kuikuti apa yang Mbak R7um inginkan. Sambil menjilati belahan serambi lempitnya, jempol kiriku menggesek – gesek itilnya terus – menerus, sementara telunjuk dan jari tengah kananku membenam ke dalam liang serambi lempit dan menekan bagian bawahnya.
Maka dalam tempo singkat saja liang serambi lempit Mbak Rum terasa sudah mulai membanjir… pertanda sudah siap untuk diterobos oleh batang kemaluanku.
Maka dengan gerak cepat aku sudah meletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempit Mbak Rum. dan hanya dengan sekali dorong, batang kemaluanku langsung membenam ke dalam liang serambi lempit yang sudah basah itu… blesssskkkk…!
“Ooooh… rudalmu langsung masuk semua Beee… entah sudah berapa lama aku tak pernah merasakan enaknya rudal… “rintih Mbak Rum sambil merengkuh leherku ke dalam pelukannya. Kemudian ia mencium bibirku dengan lahapnya.
Aku pun mulai memenyetubuhinya dengan sepenuh gairah. Gairah yang seolah menuntut kompensasi atas diri Linda yang pasti sedang dientot oleh Kevin di villa itu…!
Memang aku seolah sedang balas dendam atas apa yang mungkin terjadi di antara Linda dan putra mahkota perusahaan besar itu. Sehingga entotanku jadi garang… garang sekali. rudalku bergerak seperti sedang memompa liang serambi lempit Mbak Rum. Maju mundur dengan cepat dan kerasnya…!
Bunyi unik pun mulai terdengar. Bunyi yang ditimbulkan oleh gesekan batang kemaluanku dengan liang serambi lempit Mbak Rum yang sangat basah ini… creeeek… creeek… craaaak… creeek… craaak… creek… crekkkk… creeeeekkkk…!
Bunyi unik itu seolah diiringi oleh bunyi “tamparan – tamparan” biji pelerku ke bagian di bawah serambi lempit Mbak Rum. Pleeeek… ploook… ploook… ploook… plook… plooook… pleeek… ploook… plooook… ploook… plook…!
Makin riuh pula dengan kumandang rintihan Mbak Rum yang makin lama makin histeris, “Entot terus Beee… oooooh… rudalmu luar biasa enaknya Abeeee… entooot teruuussss… iyaaaa… iyaaaa… entot terussss… entot… entooooot… Abeee… rudalmu enak Abeeeee… !”
Di lain saat rintihan Mbakj Rum lain lagi “lirik“nya, “Tetekku remas Abeee… iyaaa… remas yang kuat… leherku gigitin Beee… sambil cupangin juga boleh Abeee… ooooh… rudalmu bakal bikin aku ketagihan Beee… luar biasa enaknyaaaa… entot terus sambil remasin tetekku… gigitin dan cupangin leherkuuuu…
Begitu riuhnya suara rintihan Mbak Rum, sehingga diam – diam aku cemas juga. Takut kalau Nia terbangun lalu menangis karena Mbak Rum gak ada di sampingnya.
Untunglah sesaat kemudian Mbak Rum mulai klepek – klepek, lalu mengejang tegang, justru pada saat aku hampir ejakulasi.
Aku tahu bahwa Mbak Rum mau orgasme. Maka aku pun memeprcepat ayunan rudalku. Maju mundur dengan cepatnya, seolah sedang menggedor – gedor dasar liang serambi lempit Mbak Rum yang terasa dangkal, sehingga moncong rudalku sering menyundul dasarnya.
Akhirnya Mbak Rum menahan nafas sambil mencengkram bahuku kuat – kuat, disusul oleh geliang – geliut liang serambi lempit Mbak Rum disertai dengan kedutan – kedutan super erotisnya.
Pada saat yang sama moncong rudalku sedang menghamburkan sperma di dalam liang sanggama Mbak Rum… crooot… croooot… crotcrot… croooooooootttt… crooot… crooootttt…!
Aku pun mengelojot, lalu terkapar lunglai di atas perut kakak iparku.
“Barusan dibarengin ya?” tanya Mbak Rum lirih.
“Iya. Kan biar nikmat Mbak.”
“Kalau aku hamil nanti gimana?”
“Tenang aja Mbak. Apa pun yang akan terjadi, aku akan bertanggungjawab. Percayalah.”
Malam itu goresan baru telah tercatat di dalam lembaran kehidupanku.
Dan malam itu aku sampai tiga kali menyetubuhi Mbak Rum yang seksi habis itu.
Sehingga esok paginya rambut Mbak Rum tampak kelimis. Pasti dia baru selesai “mandi besar”.
Pada waktu menyuguhkan makanan untuk sarapan, aku berkata, “Sebenarnya aku libur selama seminggu Mbak. Jadi besok lagi, jangan terlalu pagki menyediakan sarapan.”
“O gitu?” Mbak Rum melayangkan tatapan sejuk dengan senyum manis di bibirnya.
“Nanti malam masih kuat kuentot lagi?”tanyaku.
“Ayoo… sapa takut?” sahut Mbak Rum sambil mencubit lenganku.
Aku cuma tersenyum. Namun pikiranku tetap tertjuju ke istriku. Sedang apa dia sekarang? Apakah Kevin juga habis – habisan menyetubuhi Linda seperti yang kulakukan kepada Mbak Rum tadi malam?
Entahlah. Yang jelas semuanya itu demi masa depan kami semua.
Baru sampai di situ Bang Abe menulis catatan pribadinya. Mungkin masih banyak yang belum ia tulis dalam catatan pribadinya ini. Tapi kesimpulan yang kucari sudah kutemukan.
Setelah membaca catatan pribadi suamiku itu, aku tercenung sendiri. Bukan memikirkan kejadian antara Mbak Rum dengan suamiku itu. Melainkan membandingkan antara penyimpanganku dengan penyimpangan suamiku.
Aku memang punya perasaan bersalah setelah menyerahkan tubuhku kepada Kevin. Karena aku ini seorang istri. Dan tak seharusnya aku mengikuti ajakan setan, lalu berkali – kali aku menyerahkan kehormatanku kepada Kevin. Aku bahkan merasa sudah menjadi seorang istri yang serong.
Tapi apa yang telah suamiku lakukan di masa lalunya, benar – benar membuatku bergidik. Segala yang telah dilakukannya di masa lalu adalah sesuatu yang mengerikan. Terutama kelakuannya bersama ibu kandungnya sendiri itu, benar – benar pelanggaran yang sulit dimaafkan.
Namun aku berusaha untuk tidak mengingat – ingat lagi masa lalu suamiku itu. l Aku lebih memikirkan pembangunan rumah dan wisma kos itu…
Pembangunan rumah dan wisma kos itu sudah selesai. Bahkan furniture dan perabotannya pun berdatangan dan dipasangkan di tempatnya masing – masing, atas perintah dan pesanan Kevin.
Rumahnya 100% model baru dalam bentuk minimalis. Terdiri dari 2 lantai. Di lantai bawah ada 3 kamar, di lantai dua ada 2 kamar. Kamar paling depan akan dipakai ruang kerja oleh suamiku. Kamar yang di tengah untuk kamar tidurku dan kamar paling belakang untuk kamar Mbak Rum.
Bentuk rumah yang minimalis itu cantik sekali di mataku. Maklum gambarnya dibuat oleh arsitek pilihan Kevin.
Rumah baru itu menghadap ke selatan dan merapat ke batas tanah di sebelah timur. Sementara di sebelah barat hanya ditanami rumput peking. Di tengah alas rumput itu ada lantai tembok menuju ke wilayah kos – kosan.
Tanah warisan dari orang tuaku ini memanjang ke belakang. Sehingga kos – kosan itu pun memanjang ke belakang, jadi dua bnaris dari selatan ke utara. Setiap barisnya berlantai dua. Baris yang di sebelah barat disebut blok A, sementara baris di sebelah timur disebut blok B. Setiap baris terdiri dari 50 kamar, di lantai 1.25 kamar…
Yang mengejutkan, Kevin pun mengirim 100 buah kulkas kecil dan 100 buah pesawat televisi kecil (21 inchi). Semuanya untuk kamar kos – kosan. Kemudian Kevin mengirim 100 buah bed yang terbuat dari besi, berikut kasur dan kain seprainya.
Kevin pun menganjurkan untuk membuat kos – kosan elit yang tarifnya jutaan per bulan. Karena itu dia mengirimkan 100 buah televisi dan kulkas kecil untuk di semua kamar yang tersedia. Bed – bednya pun terbuat dari logam yang kokoh, supaya tidak mudah reyot.
Di antara kedua blok kos – kosan itu ada deretan tanaman hias yang ditata rapi dan artistik, memanjang dari selatan ke utara. Kedua blok kos – kosan itu dibangun terpisah dengan rumah bariku.
Di teras belakang rumahku, ada dapur terbuka berikut meja makan dan kursi – kursinya. Atap dan dindingnya terbuat dari alumunium berwarna – warni. Bagian ini disediakan untuk kantin. Karena kalau kamar – kamar kos itu sudah penuh, pasti banyak penghuninya yang mencari makanan, cemilan atau pun minuman.
Pokoknya wisma kos yang terdiri dari 100 kamar itu keren sekali, jauh lebih bagus daripada yang pernah kucita – citakan.
Setelah rumah dan wisma kos itu selesai, Mbak Rum bertanya waktu aku sedang memberi makan ikan koi di kolam yang membatasi deretan wisma kos blok A dengan deretan blok B. “Linda… sebenarnya dari mana kalian mendapat uang segitu banyaknya, sehingga pembangunan rumah dan wisma kos ini luar biasa megahnya?
Aku tercenung sesaat. Tadinya aku ingin tetap merahasiakannya. Tapi tadi pagi aku menerima WA dari Kevin, bahwa dia akan datang ke rumahku. Ingin melihat – lihat seperti apa pembangunan rumah dan wisma kos yang sudah selesai 100% itu.
Dan kalau Kevin datang, aku perkirakan dia akan mencumbuku. Tanpa perasaan takut pada siapa pun, karena suamiku sudah memberikan “hak istimewa” kepada Kevin untuk melakukan apa pun padaku.
Maka aku pun menjawab pertanyaan Mbak Rum itu secara terbuka, “Sebenarnya ini rahasia Mbak. Kuharap Mbak bisa merahasiakannya ya.”
Mbak Rum mengangguk dengan sorot makin penasaran.
“Rumah, wisma kos dan semua barang baru, termasuk mobil yang Bang Abe pakai itu pemberian bossnya Bang Abe,” kataku lagi.
“Kok bisa segitu baiknya bossnya Abe ya?” ucap Mbak Rum dengan sorot curiga, “Pasti ada sesuatu yang kamu rahasiakan ya.”
“Iya, “aku mengangguk sambil memegang bahu Mbak Rum, “Inilah rahasianya yang harus Mbak rahasiakan juga. Boss Bang Abe itu tergila – gila padaku. Mbak masih ingat waktu aku tidak pulang sampai seminggu itu kan?”
Mbak Rum cuma mengangguk sambil menatapku.
“Nah… waktu aku hilang seminggu itu, sebenarnya aku sedang bersama Kevin… nama bossnya Bang Abe itu.”
“Haaa?! Apakah Abe tau kalau kamu sedang bersama bossnya itu?” tanya Mbak Rum dengan nada semakin penasaran.
“Tau,” sahutku.
“Lalu… apakah Abe tidak marah?”
“Justru aku yang setengah dipaksa oleh Bang Abe, supaya mau menemani bossnya itu selama seminggu.”
“Masa?!” Mbak Rum menatapku, seperti tidak percaya pada penjelasan jujurku.
“Betul Mbak. Memang ada alasannya. Boss Bang Abe itu menjanjikan akan menaikkan jabatan Bang Abe kalau bersedia meminjamkan aku. Bukan cuma itu. Banyak lagi janji lainnya, termasuk rumah dan wisma kos ini… belum lagi barang – barang lainnya.”
“Kok bisa ya Abe merelakan kamu untuk menemani bossnya. Padahal selama seminggu itu pasti kamu sering digauli oleh bossnya Abe itu kan?”
“Iya Mbak. Demi masa depan kita semua… Bang Abe merelakannya.”
“Kasihan juga Abe…”
“Iya. Aku lebih merasa kasihan lagi. Karena itu, aku menyuruh Bang Abe untuk mendapatkan Mbak, supaya dia tidak tersiksa dan membayangkan aku sedang diapa – apain oleh bossnya.”
“Ja… jadi… kamu ngasih izin pada Abe untuk me… menggauliku?” Mbak Rum tampak salah tingkah.
“Bukan cuma ngasih izin. Aku bahkan menyuruhnya. Supaya dia tetap tenang selama aku bersama bossnya itu.”
“Iya Lin. Aku mau mengakui sejujurnya, Abe itu berkali – kali menggauliku pada waktu kamu hilang seminggu itu. Maafkan aku ya Lin.”
“Nggak apa – apa Mbak. Aku ikhlas kok. Malah kapan – kapan kita keroyok Bang Abe ya.”
“Keroyok gimana?”
“Kita ajak dia threesome. Biar dia semakin tenang menghadapi semua ini.”
“Iiiih… gak kebayang…”
“Ohya… sejam lagi bossnya Bang Abe itu bakal datang ke sini, untuk memeriksa hasil pembangunan rumah dan wisma kos ini. Siapa tau ada yang kurang bagus menurut pandangannya nanti. Sekalian mau temu kangen sama aku.”
“Abe kan sedang di Jawa Tengah. Apakah Abe tau bossnya mau ke sini?”
“Boss Bang Abe itu bernama Kevin. Bang Abe sudah memberikan hak istimewa pada Kevin untuk melakukan apa pun denganku. Jadi kalau Kevin mau berjumpa denganku di mana saja dan kapan saja, Bang Abe takkan berkeberatan.”
“Kevin itu sudah tua?”
“Iiih… dia masih sangat muda Mbak. Lebih muda beberapa tahun dariku.”
“Masa sih?! Masih sangat muda kok bisa jadi boss.”
“Perusahaan tempat Bang Abe bekerja kitu punya ayahnya. Tapi dua bulan lagi Kevin akan jadi orang nomor satu di perusahaan. Karena ayahnya sudah sakit – sakitan.”
Mbak Rum cuma terlongong.
“Ohya Mbak… kira – kira sejam lagi Kevin mau datang. Nanti jauh – jauh aja darinya ya Mbak. Supaya dia tidak merasa canggung.”
Mbak Rum mengangguk perlahan.
“Aku mau mandi dulu, kemudian berdandan secantik mungkin… karena pangeranku bakal datang… hihihi…!” ucapku sambil menepuk bahu Mbak Rum. Kemudian bergegas masuk ke dalam rumahku. Langsung menuju kamarku di lantai dua.
Kamar ini sudah memiliki furniture dan peralatan yang serba modern. Kamar mandinya pun berdinding kaca buram yang sangat tebal. Dilengkapi dengan bathtub model terbaru.
Dari mana aku bisa memiliki semua peralatan mutakhir ini kalau bukan dari Kevin yang ganteng dan baik hati itu?
Selesai mandi sebersih mungkin, kupakai salah satu gaun kiriman Kevin, waktu pulang dari luar negeri. Sehelai gaun berwarna orange polos, terbuat dari bahan sutera yang sangat halus dan mengkilap. Dengan belahan di paha kanan kiriku. Gaun yang aku tidak berani memakainya, karena belahannya memamerkan bukan hanya paha, tapi juga pangkal paha dan hampir ke bagian perutku.
Bagian dadanya pun terbuka lebar. Sehingga kalau aku tidak mengenakan beha, pasti pertemuan kedua bukit kembarku akan tampak lebar sekali. Hanya putingnya saja yang tersembunyi di balik gaun impor ini.
Dan sore itu aku memang sengaja tidak mengenakan beha. Sehingga kedua puting toketku membuat dua tonjolan kecil di gaun bagian dadaku.
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi mobil memasuki pekarangan rumahku. Cepat aku turun ke lantai dasar. Lalu memburu pintu depan dan membukanya. Ternyata mobil mewah Kevin yang datang dan berhenti tepat di depan pintu garasi. Bukan limousine yang dipakainya, tapi tetap saja mobil mana pun yang dipakainya pasti mobil mahal sekali.
Aku menyongsong kedatangan Kevin di teras depan.
Saat itu Kevin mengenakan celana corduroy dan baju kaus yang sama warnanya. Sama – sama biru ultramarine. Memang ganteng sekali Kevin itu. Dalam pakaian apa pun, Kevin selalu tampak ganteng.
Setelah kubawa ke ruang tamu, Kevin menyapaku, “Apa kabar? Sehat -sehat aja kan?”
“Sehat. Cuma kangennya ini yang sangat menyiksa. Kan udah lama kita gak ketemu lagi,” sahutku.
Kevin yang berdiri berhadapan denganku di ruang tamu, lalu memelukku dengan hangatnya. Dan mencium bibirku dengan mesranya… mesra sekali. Membuat sekujur batinku tergetar hebat.
“Kirfain cuma aku aja yang kangen padamu Sayang,” ucap Kevin sambil menarik tanganku, agar duduk berdampingan di sofa putih ruang tamu.
“Ohya.. siapa nama anakmu? Nita?” tanyanya.
“Nia,” sahutku.
“Mana dia sekarang? Aku bawain oleh – oleh untuknya tuh di mobil.”
“Ada, “aku menoleh ke dalam lalu berseru memanggil Mbak Rum, “Mbaaaak… !”
“Yaaaa…!” sahut Mbak Rum dari dalam.
Tak lama kemudian Mbak Rum muncul di ambang pintu yang membatasi ruang tamu dengan ruang keluarga.
“Tolong bawa Nia ke sini Mbak, ini pangeranku pengen ketemu,” ucapku setelah melihat Mbak Rum muncul tanpa Nia.
Mbak Rum mengangguk lalu masuk lagi ke dalam. Sementara Kevin berdiri dan melangkah ke teras depan. Lalu memanggil sopirnya, “Bawa masuk kotak – kotak itu Ton !” ucapnya.
Lalu Kevin kembali ke tempat duduk semula.
Sesaat kemudian sopir Kevin muncul dengan membawa beberapa kotak besar. Ada juga kantong plastik besar, yang kelihatannya berisi boneka Panda.
Pada saat yang sama Mbak Rum muncul lagi sambil menuntun tangan Nia.
“Nia sayang… ayo salim dulu sama Oom Kevin inhi,” ucapku kep[ada anakku.
Nia dengan lucunya menghampiri Kevin. Lalu mencium tangan pangeranku.
Kevin tampak kagum melihat gerak – gerik Nia yang lucu dan menggemaskan itu. Lalu ia berjongkok di depan Nia, “Siapa namanya anak cantik?”
Tenang saja Nia menyebutkan namanya sambil tersenyum, “Nia Oom…”
“Tuh lihat… oom bawa oleh – oleh mainan buat Nia cantik…” kata Kevin sambil menunjuk ke tumpukan kotak – kotak karton dan kantong plastik besar itu. Sopuir Kevin sampai dua balikan mengangkut oleh – oleh itu dari mobil, saking banyaknya oleh – oleh untuk Nia itu.
Satu persatu isi kotak – kotak itu dikeluarkan. Semuanya mainan mahal.
Nia sampai melonjak – lonjak kegirangan. Terutama waktu melihat isi kantong plastik berupa boneka Panda yang besar itu.
“Ohya… kenalin dulu… ini kakakku,” kataku sambil mendampingi Mbak Rum.
Kevin pun menjabat tangan Mbak Rum sambil menyebutkan namanya. “Ini kakak kandung?” tanya Kevin sambil menoleh padaku.
“Iya. Dia satu – satunya saudara kandungku, Honey.”
“Wah… aku gak bawa oleh – oleh buat Mbak. Lain kali aja kalau ke sini kubawain oleh – oleh ya,” ucap Kevin kepada Mbak Rum.
“Iya, gak apa – apa,” sahut Mbak Rum dengan sikap canggung.
Sementara itu Nia tampak senang sekali. Lalu kuingatkan, “Nia… bilang apa sama Oom?” Nia tersenyum dan menatap Kevin sambil berkata lucu, “Makacih Oom…”
“Iya, sama – sama, anak cantik,” sahut Kevin sambil mengusap – usap rambut Nia yang ikal. Setelah Nia dan Mbak Rum masuk ke dalam, sambil mengangkut mainan – mainan itu, Kevin berbisik padaku, “Kapan aku bisa punya anak darimu yang secantik Nia ya?”
Cerita Sex Freya Jayawardhana JKT48
“Aku sudah bilang pada Bang Abe,” sahutku, “bahwa Kevin ingin punya anak dariku. Dan kalau hal itu terjadi, berarti aku harus bersama Kevin terus, dari mulai hamil sampai melahirkan anak Kevin.”
“Terus apa tanggapan Abe?” tanya Kevin.
“Dia mengijinkan. Tapi setelah bangunan wisma kos dan rumah ini selesai.”
“Sekarang sudah selesai kan?”
“Sudah, “aku mengangguk, “Tapi wisma kos itu belum ada penghuninya. Bisa kan Kevin bersabar sampai wisma kos itu jalan dulu?”
“Terus kalau Linda sedang bersamaku, sejak hamil sampai melahirkan, siapa yang akan mengurusi wisma kos itu?”
“Kan ada kakakku. Kalau masih kurang tenaga, nanti akan kurekrut saudara sepupuku. ‘
“Iya.. iya… nanti wisma kosnya akan kuperiksa. Siapa tau kontraktornya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Tapi sekarang aku sudah kangen sekali sama dirimu Sayang,” ucap Kevin sambil menyelinapkan tangannya ke balik gaun bagian dadaku. Dan terasa tangannya mulai memegang toket kananku.
Birahiku mulai berdesir – desir. Tapi aku dan suamiku sudah sepakat untuk Memanjakan Birahi Kevin…