
Cerita Sex Belajar Tanggung Jawab – Fania duduk di pematang sawah yang kering akibat kemarau berkepanjangan. Di depannya terlihat ibunya yang sedang kencing tanpa malu dan atau mencoba menutupi kegiatannya. Mau tak mau, Fania melihat urin yang keluar dari selangkangan mamanya.
Teriknya matahari membakar wajah dan atau kulit Fania. Juga membuat tenggorokan Fania kering. Selain ibunya, Fania juga sering melihat tante dan bahkan kakaknya kencing di hadapannya. Detik berganti dengan menit dan menit pun silih berganti.
Kini Fania telah memiliki anak bernama Vina. Seorang siswi menengah pertama yang sudah mulai mens sedari dasar. Detik berganti dengan menit dan menit pun silih berganti.
Fania memilah isi keranjang pakaian kotor putrinya lantas mengeluarkan cd kotor putrinya. Fania hirup aromanya. Terlihat secuil bercak kekuningan yang lantas Fania jilat dan hisap meski tidak mengeluarkan tetesan.
Cerita Sex Belajar Tanggung Jawab Ngocoks Setelah dirasa puas, Fania mengambil cd putrinya lantas ke kamarnya dan mengunci pintu. Setelah terkunci Fania langsung merebahkan diri di lantai tanpa pusing – pusing ke kasurnya. Fania kembali menikmati cd putrinya itu.
“Kenapa bersih amat sih membersihkan serambi lempitnya?” batin Fania sambil menghirup aromanya.
Saat tangan kiri memegang cd putrinya, tangan kanan Fania langsung menyusup ke dalam cdnya sendiri lantas mengelus – elus klentitnya sendiri. Elusan tangan di kelentitnya membuat Fania cepat keluar. Aneh, padahal saat bercinta dengan suaminya, Fania tak pernah keluar secepat ini.
Meski telah keluar, namun Fania merasa belum puas seutuhnya. Dengan enggan, Fania kembalikan cd putrinya ke keranjang sebelumnya. Saat di kamar putrinya, Fania melihat wadah tissue yang kosong. Fania lantas ke warung dengan maksud membeli tissue.
Baru saja melangkah dengan pasti keluar pintu rumah, Fania dikejutkan oleh seorang kakek yang memegang tongkat di tangan kiri sedang tangan kanan dalam posisi meminta.
Fania tidak merasa iba, namun tangannya tetap memberi recehan.
“Terimakasih bu, semoga rezekinya semakin banyak dan segala maksud dan tujuan tercapai.”
“Iya, sama – sama kek.”
Di perjalanan, tiba – tiba Fania merasa mendapat wangsit yang mengatakan agar Fania membeli Tisu yang banyak.
“Wah, jangan – jangan ini efek sedekah kali?” batin Fania.
Di rumah, tisu yang banyak itu Fania ambil satu bungkus lantas ditaruh di kamar putrinya. Sisanya Fania ambil dan diremas hingga membentuk bola. Bola–bola tisu itu lantas disumpal ke jalur pembuangan di kamar mandi.
Setelah selesai menyumpal, Fania sabar menanti kepulangan putrinya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Ayo makan dulu, udah mama siapin perkedel buat kamu.”
“Asik. Wah, ini ada kelapa muda siapa nih mah?”
“Siapa yah? Siapa lagi kalau bukan buat kamu.”
Vina makan dengan lahap, tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Dulu Fania suka menyuruhnya untuk langsung ganti pakaian, namun Vina jarang menurut. Akhirnya Fania biarkan saja.
“Gimana sekolahnya sayang?”
“Gak gimana – gimana mah. Ini beli di mana sih mah, air kelapanya banyak bener. Dagingnya malah sedikit.”
“Tadi ada yang lewat. Tumben kamu sudah pulang jam segini.”
“Yah mama, pulang jam segini dibilang tumben. Giliran telat setengah jam aja dimarahi.”
“Namanya juga orangtua. Wajar kalau cemas. Apalagi zaman sekarang.”
“Emang kenapa kalau zaman sekarang mah?”
“Mama takut kamu dibawa temen terus diapa – apain.”
“Diapa – apain bagaimana?”
“Mama takut kamu diculik sayang.”
“Mama mah gitu aja ngomongnya. Bukannya ngomong yang baik – baik. Ya udah, biar gak ada yang nyulik, ntar – ntar pulangnya minta dianterin temen deh.”
“Temen siapa? Pacar? Kamu belum boleh pacaran, masih kecil.”
“Emang kenapa mah? Temen aja udah banyak yang pacaran.”
“Pokoknya gak boleh.”
“Ya udah, Vina mau kerjakan pr dulu di rumah temen.”
“Temen siapa?”
“Sukma mah.”
“Ganti dulu pakaiannya.”
“Iya dong mah.”
@@@
“Mah, kayaknya kamar mandinya mampet tuh.”
“OH gitu? Ya udah ntar nunggu papa dibetulin deh.”
“Oh, yang udah Vina pamit dulu ya. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Begitu putrinya keluar, Fania langsung melepas busana hingga tiada sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Fania lantas beranjak ke kamar mandi. Di kamar mandi terdapat genangan air agak kekuningan campuran urin anaknya dengan air.
“Untung gak kencing di kloset,” batin Fania.
Fania lantas berlutut dan kedua tangannya menyentuh lantai. Mulutnya mulai minum mencicipi. “Ohhhh…” lenguh Fania. Lantas kembali minum. Tangan kanan Fania mulai mengelus klentitnya. Elusan dan tegukan membuat Fania keluar dan kembali melenguh. “Ohhh…”
Tubuh Fania mengejang hingga membuatnya tak tahan berlutut. Fania berbaring di lantai dan langsung terpaku saat melihat wajah putrinya yang terlihat jijik.
Saat mata Fania mulai berkedip, putrinya melangkah pergi. Dapat Fania dengar suara pintu depan yang ditutup dengan keras.
* * *
“Vina mana mah?”
“Lagi kerja kelompok pah di rumah sukma.”
“Sampai jam segini?”
“Iya. Katanya juga mau sekalian nginep.”
“Tumben mama izinin.”
“Iya pah, mama juga mesti belajar memberinya tanggung jawab. Lagian dia juga udah mulai gede.”
“Wah, ada apa nih tumben – tumbenan.”
Setelah meluangkan waktu di tempat pemakaman umum setempat, Vina mulai memikirkan langkah yang akan diambil. Memang, saat butuh ketenangan, Vina lebih memilih menyepi di tempat pemakaman umum.
Sekitar jam sembilan malam, Vina datang tanpa dendam, dia terima keadaannya.
“Lho, katanya mau nginep di rumah temen, kok gak jadi?”
Vina diam menyadari pertanyaan mama. Setelah menebak arah pembicaraan, maka Vina pun buka mulut, “Iya, gak jadi mah, males ah.”
“Betul itu, apalagi ayah tidak setuju kamu bermalam di rumah teman.”
“Iya yah. Vina tidur dulu.”
***
Fania mendesah gelisah saat sedang digauli oleh suaminya. Bahkan hingga suaminya tidur, pikiran Fania masih melayang menyadari ketenangan anaknya.
***
Sekitar dua minggu Fania menderita akibat anaknya tidak berbicara dengan dia. Namun, Fania tak berani berbicara lebih dahulu.
“Cukup satu kata, kenapa?”
Fania paham akan maksud dan tujuan dari pertanyaan putrinya itu. “Kehidupan rumah tangga, meski terlihat bahagia tapi tetap membuat mama stress. Memang kadarnya tidak separah orang lain. Tetap saja, keinginan untuk membahagiakan suami dan melihat kamu sukses terkadang membuat urat syaraf mama menegang.
“Namun, saat mama mencium aromamu, aroma pakaianmu, mama merasa mendapat pelarian dari stress dan tuntutan kehidupan. Mama seperti mendapat wangsit, keseimbangan, nilai plus dan min.
“Mama merasa plus mama terpenuhi saat menjalankan peran sebagai seorang istri dan atau ibu. Lantas, mama merasa min mama terpenuhi saat mama melakukan apa yang, mungkin bagi orang lain, kotor.”
Hening.
Hening..
Hening…
“Kalau memang itu yang mama mau, biar Vina bantu mama mengekspresikan diri tanpa khawatir akan penilaian dari Vina. Itu juga kalau mama setuju.”
“Maksudmu apa?”
Tangan Vina lantas mengelus kepala mama. Fania diam saat kepalanya dielus putrinya. Saat elusan sedikit menggenggam, maka kepala Fania mengikut langkah tangan putrinya. Fania kini berlutut seiring dengan tekanan pada kepalanya. Tanpa Fania sangka, kepalanya masuk ke dalam rok pendek yang dipakai putrinya hingga wajahnya mengenai celana dalam putrinya.
“Minum semua mah, hisap dan jilat kalau perlu!”
Sebelum benar – benar mengerti perkataan putrinya, tiba – tiba wajah Fania basah oleh urin yang merembes dari celana dalam putrinya. Setelah paham, Fania membuka mulut dan berusaha membuat urin putrinya masuk ke mulut. Setelah tak ada lagi aliran urin yang keluar, Fania meneguk hingga habis. Karena masih basah, celana dalam putrinya dihisap oleh Fania.
“Enak. Terus jilat… Oh… Buka mah, buka cd Vina!”
Fania menurut. Dengan tangannya Fania menurunkan CD putrinya hingga lepas. Setelah itu, kepala Fania kembali dibimbing menuju ke selangkangan putrinya.
“Bersihin dong mah”
Jilatan Fania semakin semangat saat kepalanya dielus – elus.
“Enak mah… Terus jilat… ahhh… disana mah… ah…”
Fania menghentikan jilatan saat putrinya orgasme. Fania biarkan tubuh putrinya menikmati hasil dari jilatannya.
“Sudah mah ah, capek. Fania mau rebahan dulu.”
“Iya nak.”
Fania senang akhirnya putrinya mau berbicara dengannya. Fania senang akhirnya putrinya mau memenuhi keinginannya. Fania senang akhirnya apa yang dilakukannya kembali diulangi oleh putrinya.
Jika dan hanya jika putrinya mengelus kepalanya, maka Fania pasrahkan kepalanya dipandu oleh tangan kecil putrinya.
Bersambung… Detik – detik bergant jadi menit dan menit pun silih berganti.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Eh sudah pulang nak.”
“Iya. Aduh…”
“Kenapa sayang?”
“Cepet berlutut mah?”
“Berlutut?”
“Iya, sudah, jangan banyak tanya dulu.”
Saat Fania berlutut, Vina melepas rok birunya hingga kini terlihat cd putihnya, yang meski tak seputih salju namun tetap sedap dipandang. Vina berdiri agak jauh dari mama yang berlutut sambil melihatnya. Setelah itu Vina ngompol. Cairan urin merembes menuruni kakinya. Ada juga yang menetes langsung ke lantai.
“Diam dulu ya mah, jangan ngapa – ngapain sebelum Vina bilang.”
“Iya sayang.”
Hidung Fania begitu dekat dengan selangkangan putrinya, namun tidak mengenai. Terasa elusan sayang di rambutnya dari tangan putri kecilnya itu.
“Ayo mah, hirup saja, tapi jangan kena ya.”
Fania menurut. Fania menghirup tanpa terasa waktu berjalan.
“Sekarang hisap mah, puas – puasin mama.”
Fania menghisap cd putrinya hingga urin yang ada masuk dan ditelan. Fania tetap menghisap dan menjilat cd putrinya meski kini sudah tak ada lagi cairan urinnya.
“Masih ingin mah?”
“Iya sayang.”
“Kalau begitu, jilatin saja yang tadi mengalir di kaki Vina.”
Tanpa menjawab, Fania langsung menjilati kaki putrinya.
“Geli mah…” namun Vina tak menghentikan jilatan mama. “Sudah mah, Vina gak tahan kalau berdiri.” Kini tangan Vina sedikit menjambak rambut mama. Saat mulai melangkah, Vina merasa mama akan berdiri.
“Mama jangan berdiri, majunya berlutut aja, atau merangkak sekalian. Kan biar Vina pandu ini pake rambut mama.”
Fania hanya mampu menurut saat dibimbing merangkak hingga ke ruang tv. Di sana, putrinya duduk dan kepalanya kembali di arahkan ke selangkangan putrinya.
“Lepasin dong celana Vina mah.”
Vina memegang cd anaknya, namun tangannya langsung ditampar oleh putrinya.
“Jangan memakai tangan. Gigit saja mah!”
Vina menggigit cd anaknya, pelan dan perlahan, hingga lepas.
“Jilatin lagi mah!”
Jilatan dan jilatan kembali dilancarkan oleh Vina.
“Enghh… terus…” rintih Fania sambil menggerakkan selangkangan hingga turut menggesek hidung mamanya. Rintihannya berubah jadi lolongan saat kepalan tangannya menjambak rambut mama dan menekannya.
“Enak mah,” ritih Fania sambil terengah – engah.
***
Detik – detik berganti jadi menit dan menit pun silih berganti.
Aktifitas Vina dan anaknya berlanjut tanpa sepengetahuan yang lain. Bagi Vina, menikmati urin putrinya serasa menikmati obat pengharmonis rumah tangga. Karena, suami makin sering menjamah dirinya, bahkan pernah suatu ketika mengatakan kalau dia merasa istrinya makin bVinafsu.
Tentu saja segala hasrat yang ditimbulkan putrinya harus mendapat pelampiasan. Dan dalam kasusnya, suamilah yang menjadi pelampiasannya.
Vina pun melihat putrinya lebih riang. Suatu ketika, Vina melihat putrinya sedang nonton tv sambil nungging.
“Kamu kenapa sayang, kok nonton tvnya sambil begitu?”
“Iya mah, nunggu mama. Sengaja.”
“Sengaja?”
Vina melihat putrinya menepuk – nepuk pantatnya sendiri.
“Sini mah, bukain celana Fania!”
“Hah, digigit lagi?”
“Boleh, tapi terserah mama saja.”
Vina menurut. Vina mendekat. Vina melorotkan celana pendek lantas cd putrinya. Saat sudah mencapai lutut, satu lutut Fania diangkat sehingga bagian kirinya bisa dilorotkan lagi. Pun dengan bagian kanan, hingga akhirnya tidak bercelana, pendek maupun dalam.
Vina mengelus pantat putrinya, melebarkan hingga anusnya terpampang jelas.
“Cantiknya…” Vina menghirupnya “hm… segar…”
“Masa sih mah?”
“Iya sayang.”
“Duh rasanya mau kencing nih. Mama mau gak?”
Vina menganggukan kepala?
“Mau gak mah? Kok gak jawab?”
“Iya.”
“Iya apa?”
“Iya mau.”
“Iya mau apa?”
“Iya, mama mau minum kencing kamu.”
“Oh, kalau begitu, coba berbaring mah. Mulutnya taruh dibawah selangkangan Fania!”
Vina melakukan apa kata putrinya. Vina berbaring di, kepalanya ada di bawah selangkangan putrinya. Sementara itu, putrinya kini jongkok lantas.
“Buka mulutnya mah. Tapi jangan dulu ditelan, meski nanti mungkin penuh.”
Vina merasakan urin putrinya mulai membasahi wajah, mengisi mulutnya hingga penuh dan luber.
Setelah selesai kencing, Fania melihat mulut mama penuh dengan urinnya. Fania lantas menutup hidung mama dengan jemarinya.
Vina bingung saat tangan putrinya menutup hidungnya.
“Kalau Fania tutup hidung mama, berarti mama harus menelan kencing Fania.”
Setelah mendengar penjelasan putrinya, Vina lantas menutup mulut dan minum hingga tegukannya terdengar oleh putrinya.
“Udah habis mah? Sekarang tolong jilatin serambi lempit Fania hingga bersih ya mah?”
Tanpa menunggu jawaban, Fania menurunkan serambi lempit hingga mengenai lidah mamanya. serambi lempitnya kini dijilati.
“Bagus mah. Hayati, kalau gini kan Fania jadi punya toilet pribadi.”
Vina menjilati tetesan urin di paha putrinya, lantas di serambi lempitnya. Setelah itu di bagian jembut tipisnya.
Setelah merasa cukup, Fania berdiri dan duduk di kursi.
“Sudah mah, bersihin lantainya sekalian.”
Vina menurut dan membersihkan lantai, dengan mulutnya.
***
Detik – detik berganti dengan menit dan menit pun silih berganti. Keakraban ibu dan anak terus berlanjut. Rasa penasaran sang anak membuatnya menyentuh dan memainkan serambi lempit ibu. Seiring berjalannya waktu, sang anak akhirnya bisa mengetahui saat – saat sang ibu akan orgasme.
Setiap ada kesempatan, jemari lentik sang anak selalu bermain di serambi lempit sang ibu, permainannya begitu cekatan sehingga saat sang ibu akan orgasme, jemari lentik itu dicabut, meninggalkan sang ibu perasaan sange yang berlebih.
“Terus sayang, mama udah mau enak nih…”
“Emang enak. Udah, sekarang bikin Vina enak dulu,” kata Vina sambil membimbing kepala mama ke serambi lempitnya. serambi lempit Vina lantas dimainkan oleh mulut mama hingga Vina orgasme.
“Nanti mama main aja sama papa!”
“Iya deh.”
Fania hanya bisa pasrah. Malamnya ketika suaminya meminta, Fania memberikan tubuhnya dengan senang hati. Mendapati Fania yang bergairah membuat suaminya menggebu – gebu hingga adegan ranjang pun tak bertahan lama.
***
Kejadian terus berulang. Fania dibawa ke puncak, namun saat akan orgasme, putrinya menghentikan permainan. Pelampiasan Fania otomatis hanya dengan suaminya.
Kejadian terus berulang. ketika suaminya meminta, Fania memberikan tubuhnya dengan senang hati. Mendapati Fania yang bergairah membuat suaminya menggebu – gebu hingga adegan ranjang pun tak bertahan lama.
Kehidupan ranjang yang bahagia membuat karir suami Fania cemerlang hingga mendapat posisi strategis. Kenaikan pangkat berimbas pada kenaikan penghasilan. Kenaikan penghasilan berimbas pada kenaikan tugas. Suami Fania mulai jarang di rumah.
***
“Papamu mulai jarang belai mama.”
“Lho, emang kenapa Mah?”
“Biasa, sibuk dengan pekerjaannya.”
“Ntar deh Vina bantu. Pokoknya, apa pun yang terjadi, mama diam saja. Pura – pura bego dan tak tahu apa – apa.”
“Oke deh.”
Setelah percakapan itu, Vina mulai memakai baju babydoll, dengan celana dalam yang berbeda warna sehingga terlihat mencolok.
“Sayang, kok bajunya kayak gitu sih?”
“Gerah sih pah.”
“Kan malu kalau dilihat orang.”
“Iyalah malu. Tapi kan lagi gak ada siapa – siapa. Pokoknya kalau lagi ada tamu, Vina ganti deh.”
“Ya, terserah kamu saja.”
Awalnya biasa, namun lama – lama Fania mulai melihat lirikan suaminya pada putrinya semakin lama.
Fania menyadari ayahnya mulai sering memperhatikannya. Kini Fania bahkan tidak memakai BH.
Perubahan cara berpakaian anaknya kembali memanaskan ranjang Fania. Namun, setelah beberapa minggu, panasnya ranjang mulai berkurang. Bahkan kini terasa kembali dingin.
Seolah dibuat secara tidak sengaja, Vina mulai dekat, secara fisik, dengan ayahnya. Saat menonton tv, Vina sengaja duduk di samping ayahnya. Ayahnya merasa risih, lantas bangkit dengan alasan minum.
Setelah minum, duduk di tempat lain. Vina biarkan. Namun, di hari yang lain, ketika ada kesempatan, Vina kembali melancarkan aksinya. Saat tidur, siang maupun malam, Vina mulai jarang menutup pintu.
Saat tidur, siang maupun malam, Vina mulai jarang menutup pintu. Vina membeli sebuah kamera mata – mata lantas memasangnya di tempat yang dia kira strategis.
***
Suatu sore, Vina sedang menonton acara tv sambil menikmati geli – geli yang diakibatkan oleh tangan dan lidah mama. Telinga Vina menjadi tempat bermain bagi lidah dan mulut mama, sedang tangan Vina sibuk mengarahkan tangan mama agar bermain di susu dan atau serambi lempitnya. Jilatan dan sentuhan itu baru berhenti setelah Vina orgasme.
“Mama jangan dulu menyetubuhi sama ayah!”
“Emang kenapa?”
“Pokoknya, Vina punya rencana.”
***
Sudah dua bulan sang ayah tidak orgasme. Sebuah pertengkaran biasa membuat istrinya tak ingin disentuh. Melihat kemolekan tubuh putrinya membuat sang ayah tidak tahan lagi.
Suatu malam, sang ayah melewati kamar putrinya. Pintu yang tidak tertutup membuatnya bisa melihat sang putri tidur memakai kaos, hanya bercelana dalam dan selimut yang tidak menutupi tubuhnya.
Sang ayah masuk, mengelus paha putrinya lantas melorotkan celana dalam. Setelah itu, sang ayah melepas pakaiannya dan mulai menaiki tubuh putrinya. Karena ada yang menindih, sang putri bangun lantas berontak.
***
“Diam, diam,” hanya itu yang keluar dari mulut sang ayah.
Menyadari siapa yang sedang berada di atasnya membuat Vina sadar. Vina tetap berontak, namun hanya formalitas saja. Saat keperawanannya diambil sang ayah, Vina mengeluarkan air mata. Namun tidak jelas, apakah air mata itu keluar karena rasa sakit ataukah karena bahagia semua berjalan sesuai rencananya.
Puas melampiaskan nafsu, sang ayah lantas keluar dari kamar putrinya dan kembali ke kamarnya.
***
Fania terkejut dan marah mendengan cerita putrinya. Namun ia juga merasa aneh mendapati Vina yang bereaksi menenangkannya.
“Sudah mah, diam saja. Mama pura – pura tidak tahu. Vina sudah tahu dan bahkan berharap seperti ini.”
“Seperti ini bagaimana?”
“Pokoknya mama jangan bertindak apa – apa tanpa izin Vina.”
***
Detik – detik berganti jadi menit dan menit pun silih berganti. Sang ayah kembali mengulangi perbuatan bejatnya, dengan sedikit ancaman. Vina menuruti kemauan sang ayah, dengan sedikit meronta.
***
Karena memiliki niat, maka Vina mengoperasikan perangkat lunak pembuat dan atau perubah video. Hasil rekaman diam – diam saat dirinya dinikmati sang ayah dirubah sedemikian rupa sehingga terlihat jelas adegan rudapaksa.
Film tersebut diperlihatkan kepada sang ayah.
“Nah, apabila ayah mau menuruti semua kata – kata Vina, maka ayah tidak akan masuk bui. Namun, apabila ayah ingin mencoba masuk bui, ya silakan saja.”
“Iya nak, ayah akan menuruti kamu,” kata sang ayah gemetar melihat akibat dari perbuatannya.
“Nah, kalau ayah mau nurut, ayah boleh tiduri Vina. Bilang dulu kalau mau, ntar Vina kasih. Asal jangan kasih tahu siapa – siapa.”
“Iya.”
***
Vina merasa tentram. Nafsunya terpuaskan. Belajarnya terfokuskan. Dan bahkan karir ayahnya pun lancar.
Bersambung… “Selamat sore Pak, maaf ganggu. Lagi ngopi ya.”
“Eh, iya Pak RT, masuk Pak. Silakan duduk.
“Ada apa ya Pak?”
“Jadi begini, kebetulan saluran got kita akan diperbaiki. Ada bantuan pemerintah, jadi depan rumah Bapak termasuk yang diperbaiki.”
“Alhamdulillah. Tunggu sebentar Pak.”
Ayah lantas masuk rumah, meninggalkan Pak RT duduk sendirian di teras.
“Mah, bikinin kopi dong dua, ada Pak RT.”
“Iya Yah.”
“Ya udah, Ayah ke depan lagi.”
***
“Ada tamu siapa Mah?”
“Itu ada Pak RT lagi ngoborol sama Ayah.”
“Oh. Eh, tunggu mah, sini dulu sebentar…”
***
“Eh, gak usah repot – repot Bu, jadi malu nih.”
“Gak apa – apa kok Pak, lha wong cuma kopi.”
Senyum Pak RT berubah jadi kaget saat melihat pentil susu Vina yang tercetak jelas dari balik jilbab lebar yang menutupi dasternya. Apalagi daster longgar itu dijepit di bagian pinggang oleh jepit jemuran sehingga terlihat ketat.
“Ayo Pak, diminum kopinya.”
“Terimakasih Bu.”
***
Ekspresi terkejut Pak RT membuat Vina cekikian. Vina mulai memikirkan kemungikan ke depan yang tidak terbatas. Kini Vina menyuruh Ayah agar lebih akrab lagi dengan Pak RT.
“Silakan Pak, kopinya.”
“Terimakasih Bu, memang beruntung Bapak ini. Dapet istri yang cantik, perhatian lagi.”
“Ah Pak RT ini ada – ada saja.”
“Namanya juga jodoh Pak. Padahal dulu banyak saingannya.”
“Pantes Bapak menang, Bapak juga gagah dan tampan sih.”
“Pak RT ini bisa saja. Skak mat Pak.”
“Skak mat lagi? Bapak memang pintar bermain catur.”
“Ya, dulu gak ada hiburan lain lagi sih selain catur. Jadi ya sekedar bisa saja.”
“Terus kalau sekarang, hiburan nambah dong?”
“Ah, Pak RT bisa saja. Pak, nanti beli lampu ya, kamar mandi lampunya mati.”
“Iya Bu, nanti malam bapak ke mini market aja.”
“Ah, gak enak Pak RT, biar nanti saja.”
“Kok gak enak. Saya yang seharusnya tidak enak, sering ngopi gratis di rumah Bapak. Sudah, saya ambil dulu.”
***
“Sekarang Ayah pergi dulu keluar sekitar jam sembilanan balik lagi?”
“Ke mana? Ngapain?”
“Bebas, pokoknya Vina punya rencana.”
“Iya deh.”
Ayah lantas pergi.
“Sekarang, mama usahakan agar Pak RT pasang lampu. Terus kalau di dalam rumah, buka jilbab mama.”
“Ntar makin jelajatan tuh Pak RT.”
“Biarin, pokoknya mama bikin tuh Pak RT berani. Misalnya terpeleset di kamar mandi.”
***
“Lho, Bapak ke mana Bu?”
“Tadi ada telepon mendadak dari kantornya.”
“Oh, ya sudah, ini bu neonnya. Mau sekalian saya pasang Bu?”
“Tidak usah, merepotkan.”
“Tidak merepotkan lho Bu.”
“Kalau tidak merepotkan, ya silakan Pak. Mari.”
“Eh, Pak RT.”
“Iya nak Vina, Bapak mau pasang neon.”
“Silakan Pak.”
“Tinggi juga ya bu. Ada tangga tidak? Atau kursi tinggi?”
“Ada Pak, di ruang makan.”
“Biar saya ambil Bu,”
“Silakan Pak.”
***
Saat tangan Pak RT menyentuh kursi tinggi, yang akan diambil, mendadak terdengar jeritan mengaduh dari kamar mandi. Tangan Pak RT tak jadi mengambil kursi lantas bergegas ke kamar mandi.
“Ada apa bu?”
“Saya terpeleset Pak.”
“Apanya yang sakit Bu?”
“Kaki saya sepertinya keseleo…
“Aduh…” erang Fania saat mencoba berdiri.
“Biar saya papah Bu.”
“Iya Pak, terimakasih.”
Vina lantas keluar sambil dipapah Pak RT.
“Sudah Pak, ke kursi saja.”
“Iya Bu. Ada balsem tidak, biar saya urut Bu.”
“Ada Pak, di meja itu.”
Lantas Pak RT mengambil balsem.
“Maaf ya Bu, biar saya urut.”
“Iya Pak silakan.”
“Yang mana Bu yang sakitnya?”
“Pergelangan kaki kiri Pak.”
“Oh ini Bu.”
“Wah, Pak RT bisa urut juga ya.”
“Ya, sedikitlah Bu.”
“Kalau begitu boleh dong kapan – kapan minta dipijat.”
“Boleh Bu, tinggal bilang saja.
“Nah, sudah selesai Bu.”
“Iya Pak, terimakasih.”
“Kalau begitu, saya pamit dulu Bu.”
***
“Gimana akting mama nak?”
“Bagus Mah.”
“Syukur kalau kamu suka.”
“Nah, nanti begini… begini… begini… Mah.”
“Hah? Ada – ada saja idemu itu.”
***
Sudah beberapa kali Pak RT memijat Ayah. Tiap ketika dipijat, Ayah selalu tidur meski pijatan Pak RT belum selesai. Tidurnya begitu lelap hingga tak jarang terdengar dengkurannya. Kini Pak RT tak lagi canggung saat memijat Ayah.
Hari itu ada yang berbeda. Saat Pak RT memijat, ayah memintanya untuk memijat istrinya juga. Tentu saja Pak RT tidak keberatan. Satu kali pijatan, Pak RT memijat dengan sopan. Tentu sambil diiringi obrolan ringan seputar Indonesia.
Kali berikutnya, sentuhan tangan Pak RT mulai menjamah bagian – bagian yang tidak patut disentuh. Sesuai instruksi Vina, Fania diam tak berontak saat sentuhan Pak RT mulai beda.
Tiap kali memijat, Pak RT semakin berani. Pijatan tersebut tentu tak luput dari mata kamera yang Vina pasang.
“Nak Vina ke mana Bu, kok gak ada?”
“Oh, iya, katanya lagi ada tugas. Jadi tidur di temannya.”
Menyadari suami Fania yang sedang pulas dan Vina yang sedang tidak ada di rumah membuat tangan Pak RT tidak bisa dikendalikan. Usapan tangan di sisi luar payudara Fania mulai berubah menjadi remasan kecil. Remasan – remasan tersebut tak membuat Fania bergerak, hingga jemari Pak RT mulai menyentuh putingnya.
Fania mengangkat sedikit dadanya hingga jemari Pak RT bisa bermain bebas di putingnya. Menyadari perubahan yang terjadi membuat mulut Pak RT terasa berat. Karenanya, Pak RT menurunkan mulut hingga menempel ke leher Fania.
Tak hanya jemari, kini lidah dan bibir Pak RT ikut bermain di tubuh Fania. Tangan Pak RT kini mencoba membalik tubuh Fania.
“Gini saja Pak, lepas saja sarungnya.”
“Iya bu,” Pak RT berkata lantas menurunkan sarung yang menutupi bagian tubuh Fania. “Wah, ternyata ibu gak pake celana dalam ya.”
“Mmmmm,” Fania hanya bergumam sambil menggoyangkan pantat.
Goyangan pantat itu bagaikan magnet yang menarik mulut Pak RT hingga mendekat, hingga bermain di dalamnya… jilatan demi jilatan terus membombardir Fania hingga Fania merasakan ujung batang rudal Pak RT mencoba melakukan penetrasi.
“Uh, enak Bu…”
“Iya, terus Pak.,” celoteh Fania yang kini mengangkat pantatnya hingga Pak RT menyetubuhi dengan gaya anjing. “Jambak rambut saya Pak.”
Tarikan tangan Pak RT di rambut kini membuat pergerakan rudalnya semakin kencang…
Persetubuhan yang mendebarkan ini membuat kedua insan orgasme dengan cepat, begitu cepatnya bagaikan perawan dan perjaka yang baru mengenal hubungan badan.
“Enak Pak?”
“Iya Bu…”
“Enak Pak?”
“Iya Bu…”
“Kalau begitu, saya pamit dulu.”
“Lho, mau ke mana?”
“Pulang, keburu Bapak bangun.”
***
“Pak, ini lho, Vina katanya pingin dipijat.”
“Eh, iya Nak Vina.”
Kini Vina pun ikut dipijat. Awalnya hanya pijatan wajar. Kali kedua, Pak RT mulai mencoba, namun Vina tidak bereaksi. Kali ketiga, percobaan Pak RT makin berlebih. Kali ini Vina mulai memberi sinyal, walau secuil.
Hingga tiba saatnya tangan Pak RT mengurut sisi pinggang kiri yang berbatasan dengan payudara, Vina agak mengangkat bagian kirinya sehingga tangan Pak RT mulai menjamah daerah yang belum dia jamah. Jari Pak RT mulai menyentuh puting Vina. Desahan Vina membuat jari itu seperti bolak-balik menyentuh puting hingga akhirnya jempol Pak RT ikut membantu.
“Jangan pake tangan Pak!”
“Eh, iya Nak, maaf.”
Vina membalikan tubuh hingga terlentang menantang.
“Pake mulut saja.”
Tanpa menjawab, Pak RT lantas menyusu.
“Buka celananya Pak!”
Mendapat perintah seperti itu membuat Pak RT tak kuasa menolak. rudalnya kini terbebas dari siksa celana dalam.
“Cepet masukin Pak!”
“Iya Nak!”
Dengan gaya biasa, Pak RT menyetubuhi Vina. Sensasi menikmati daun muda membuat Pak RT lupa diri hingga ejakulasi dini.
“Hihihi… Lain kali lagi ya Pak.”
“Iya Nak.”
“Sekarang, tamatin pijatnya ya. Bener – bener pegel nih.”
“Eh iya.”
“Pakai lagi dulu celananya.”
Pak RT kini menyelesaikan pijatannya.
***
Kali pijatan kedua, Pak RT dibuat pasrah saat terlentang. rudalnya dimainkan oleh serambi lempit Vina yang berputar liar sambil mencubit – cubit puting Pak RT.
***
Kali ke lima, di Fania dan suaminya sedang keluar.
“Jangan Pak, bosan,” celoteh Vina saat Pak RT mulai menyentuhnya.
“Bosan bagaimana?”
“Bosan yang biasa.”
“Terus maunya apa?”
“Kita main sandiwara yuk?”
“Sandiwara? Boleh.”
“Pura – puranya, Bapak perkosa Vina!”
“Boleh.”
Kini, Pak RT mencoba memperkosa Vina.
“Stop dulu Pak!”
“Kenapa?”
“Kurang liar Bapak mainnya.”
Kini, Pak RT mencoba memperkosa Vina, dengan agak liar.
“Stop dulu Pak!”
“Kenapa lagi?”
“Kurang seru, Bapak ngomong kasar dong.”
“Siap Nak!”
Kini, Pak RT mencoba memperkosa Vina, dengan agak liar, sambil berkata – kata kasar. Vina mencoba meronta dan meronta namun apa daya, tenaga Pak RT membuat Vina tak berdaya.
Pak RT menyetubuhi Vina sambil tangannya memegang kedua tangan Vina di atas kepala.
“Tampar pipi Vina Pak!”
“Hah, oh iya.”
Pak RT menampar Vina.
“Itu sih bukan tamparan Pak”
Pak RT kembali menampar Vina.
“Kurang keras Pak!”
Pak RT menampar Vina lagi. Namun kali ini, setelah tangannya menampar rudalnya menyemburkan peju.
“Jangan dicabut dulu Pak!”
“Terus?”
“Pan ceritanya pemerkosaan. Jadi bapak ancam ini itu.”
“Oh.”
Pak RT lantas mengancam Vina agar tak melaporkan perkosaan ini. Jika lapor maka nyawanya akan melayang.
Bersambung… Baru kali ini Dudung disuruh menyerahkan berkas kepada keluarga Fania. Biasa melihat Fania dengan gaya resmi yang serba tertutup membuat Dudung terkejut saat melihat Fania yang mengambil berkas dengan hanya berbalut daster.
Dudung disuruh duduk dulu di dalam karena berkas tersebut akan diperiksa dulu. Sebelum Fania membacanya, berkas itu ditaruh di meja.
Fania tertawa dalam hati menyadari mata Dudung yang mengintip belahan payudara dari belahan dada dasternya saat menyuguhkan segelas air sirup. “Silakan diminum dulu nak!” celoteh Fania lantas duduk. Fania memeriksa berkas, formalitas saja. “Bilang sama Pak RT ya, terimakasih.”
“Iya Bu, kalau begitu saya pulang dulu.”
“Iya, hati – hati ya. Terimakasih.”
“Sama – sama Bu.”
***
Setelah kepergiannya, Fania teringat percakapannya dengan Pak RT. Fania mencurahkan hati bahwa dia merasa tua. Pak RT menghibur dengan mengatakan Fania masih cantik. Obrolan berlanjut kepada mitos yang mengatakan bahwa bercinta dan atau meminum peju daun muda bisa membuat awet muda. Celoteh tersebut direspon dengan ide Fania yang menjadi penasaran ingin mencoba daun muda.
Pak RT bingung. Namun saat ada kesulitan, biasanya muncul juga kemudahan. Fania meminta izin untuk menyetubuhi Dudung, anak Pak RT yang masih menengah atas, namun sudah cukup umur hingga sudah memiliki SIM dan KTP. Pak RT terkejut. Namun Fania mencoba meyakinkan bahwa menyetubuhinya akan lebih aman daripada suatu ketika Pak RT mendapati seorang gadis datang kepadanya meminta pertanggungjawaban karena telah mengandung anak dari putranya.
***
Dudung bingung saat ia jadi sering disuruh antar jemput berkas oleh bapaknya ke rumah Bu Fania. Namun, perbedaan gaya busana dan obrolan ringan yang selalu disuguhkan Bu Fania membuat Dudung menjadi betah berlama – lama. Kini, bahkan Dudung tak lagi canggung saat Bu Fania mencubit dan atau mengelus tubuh saat obrolannya diselingi oleh candaan.
Candaan demi candaan membuat Dudung menjadi berani mengutarakan isi hati. Karena merasa kasihan, Fania lantas mengelus rambut Dudung. Elusan Fania disertai dorongan hingga kepala Dudung kini menempel di dadanya. Meski masih memakai daster, namun Dudung girang bukan kepalang.
Kegirangan Dudung mesti berhenti saat elusan tersebut berhenti. Karena sudah mau magrib, Dudung pun pamit. Fania berterimakasih karena Dudung sudah mau mencurahkan isi hati padanya yang menandakan bahwa Dudung mempercayai Fania.
***
Kali lain saat Dudung kembali mengantar berkas, terjadi lagi obrolan hangat yang mengarah pada elusan rambut Dudung. Tangan kiri Fania sibuk mengelus rambut, sedang tangan kanannya meraih tangan kiri Dudung dan membimbingnya hingga tangan kiri Dudung menyentuh susu Fania.
Dudung diam, bimbang, antara takut, ragu dan nafsu. Jari Dudung dielus – elus ke bagian putingnya. Dudung jadi tahu kalau Fania tak memakai BH. Elusan jari yang dibimbing oleh Fania membuat keberanian Dudung bangkit. Kini, tangan Dudung mulai meremas – remas.
Tanpa perlu dibimbing lagi, tangan kiri Dudung meremas susu Fania. Sedang tangan kanan Fania melepas resleting dan kancing celana Dudung. Setelah beberapa saat, rudal Dudung pun tegak menantang. Fania lantas meludahi tangan kanannya. Tangan kanan tersebut Fania pakai untuk mengocok rudal Dudung. Rangsangan tersebut akhirnya membuat Dudung memuncratkan peju.
“Ayo, lap dulu rudalnya. Tuh tisunya di meja?”
“Iya Bu.”
“Sudah, kamu pulang ya. Nanti ada orang.”
“Iya.”
***
Kunjungan berikutnya mulai ada peningkatan. Meski Dudung masih pasif, diam saja menunggu inisatif Fania, namun tak menghalangi niat Fania. Meski beralas ubin sehingga punggung pantat Dudung terasa dingin, namun Dudung tidak keberatan.
Tidak perlu telanjang, Fania hanya sedikit melorotkan celana Dudung hingga Dudung telentang dengan rudal menantang. Fania mengangkat daster dan merendahkan tubuh hingga rudal Dudung masuk ke serambi lempitnya. Fania lantas meraih tangan Dudung dan meletakan di dadanya. Dudung lantas meremas susunya sedang Fania lantas menggoyang pantatnya.
Goyangan Fania begitu nikmat hingga membuat Dudung memuncratkan peju di serambi lempitnya.
***
Kunjungan berikutnya mulai ada peningkatan. Dudung mulai proaktif sehingga Fania tak harus berinisiatif. Meski hanya bergaya anjing, namun Dudung merasa puas.
***
Kunjungan berikutnya mulai ada peningkatan. Dudung mulai proaktif sehingga Fania tak harus berinisiatif.
“Duduk dulu ya, biar Ibu kupasin mangga,” kata Fania sambil mengupas mangga. Setelah mangga dikupas, lantas dihidangkan di meja. Pisau tetap ditaruh di meja, meski sudah dilap oleh tissue.
“Biar gak jenuh, kita main pura – pura yuk.”
“Pura – pura bagaimana Bu?”
“Pura – puranya Ibu kamu perkosa. Coba kamu ambil pisau, terus ceritanya tempelkan ke leher ibu, sambil mengancam.”
“Serius Bu?”
“Iya, kalau kata bahasa inggris, fantasy.”
“Baiklah.”
“Ayo, kamu mulai.”
Adegan dimulai. Fania harus beberapakali menyuruh Dudung mengulangi. Dari mulai mengancam dengan menempelkan pisau di leher, dimana tangan satunya menggerayangi. Puas menggerayangi, tangan Dudung melepas celananya.
Setelah itu, daster Fania disingkapnya hingga Fania telentang di lantai. Dudung menyetubuhi Fania sambil satu tangan tetap fokus pada pisau yang menempel di leher Fania.
Setelah menyemprotkan peju di serambi lempit Fania, Dudung disuruh mengancam, menampar dan mengulangi karena menurut Fania kurang menjiwai.
Bu RT lantas bersimpuh di hadapan Fania, memohon agar jangan melibatkan pihak yang berwajib. Fania lantas menawarkan altVinatif, jika memang tak ingin keluarga Bu RT berhubungan dengan pihak berwajib.
“Apa altVinatifnya Bu?”
“Sebagai anak yang beranjak gede, tentu putra ibu akan menjadi ketagihan perempuan. Lantas, jika Ibu memang tak ingin melibatkan pihak berwajib, maka Ibu mesti menggantikan posisi saya!”
“Menggantikan bagaimana?”
“Ibu harus berhubungan dengan putra Ibu, selamanya. Kalau tidak, saya takut saya akan kembali dihubungi dan atau diperkosa, Bu.”
“Astagfirullah, tapi…”
“Tapi, hanya itu pilihan Ibu.”
“Tapi, saya tak tahu harus bagaimana, Bu.”
“Kalau Ibu tak tahu, sore ini ibu ke sini.
“Putra ibu sudah mengancam saya, agar sore ini kembali melayaninya.”
“Benarkah anak saya sebejat itu?”
“Ibu sudah lihat buktinya.”
***
Meski sudah ngaceng berat, namun Dudung menurut saat tangannya diikat ke sisi ranjang. Sepadan, pikir Dudung, demi serambi lempit. Apalagi matanya ditutupi.
Kini terasa sentuhan di perutnya.
***
Mata Bu RT tak kuat menahan air mata. Putranya yang sangat dibanggakan, kini terikat seolah tak berdaya. Tangannya, meski dengan bimbingan tangan Fania, kini menyentuh perut putranya. Jemarinya mulai mengelus putting putranya, membuat putranya mendesah. Disaat tangannya memainkan puting kiri, kepalanya didorong hingga mulutnya menyentuh puting putranya.
“Jilat Bu,” bisikan Fania terdengar pelan. Bu RT menurut, jilatannya ternyata berefek kepada pergerakan tubuh putranya. Kepalanya lantas dibimbing, menurun hingga ke selangkangannya. Bu RT menutup mulut, hingga bibirnya hanya menyentuh saja. Kepalanya menggeleng.
“Ayo, Bu,” seolah mendapat izin, Bu RT kini menjilati dan menciumi rudal putranya. Tak lama kemudian, rudal itu mulai dihisap dan disepong. Pantat anaknya kini mulai tak diam, mencoba naik turun berirama.
***
Dudung mencium mulut yang menciumnya. Aneh, rudalnya masih disepong, namun kini bibirnya dicium. Seolah mengerti dengan kebingunannya, penutup mata Dudung dibuka.
“Mah, ngapain Mah?
“Lepasin Dudung Bu!”
Dudung mencoba berontak, namun rudalnya sangat menikmati mulut ibunya.
“Sudah, tenang Nak, mama paham. Kalau kamu mau, minta saja sama mama. Mama mau kok memberikannya sama kamu.”
“Minta apaan mah?”
“Minta ini dong.”
Bu RT lantas bangkit dan berdiri di atas Dudung. Pantatnya diturunkan hingga serambi lempitnya mulai dimasuki oleh rudal putranya.
“Sudah Mah, hentikan.”
“Yakin, tapi kok punyamu malah tegang sih?”
Tak perlu waktu lama, Dudung pun memuncratkan peju di serambi lempit ibunya. Bu RT lantas bangkit, mulutnya mendekat rudal putranya. Jijik bahkan sebelumnya tak pernah mengulum rudal suaminya, tapi, karena ini permintaan Fania, agar anaknya selamat, maka Bu RT menjilati dan menghisap sisa peju yang ada di rudal anaknya.
Setelah bersih, Bu RT lantas berlari ke kamar mandi, mual dan muntah karena tidak terbiasa. Setelah kembali, Bu RT lantas melepas ikatan tangan putranya dengan gunting.
“Mama paham, kamu mulai dewasa. Kini setelah Papa tak ada, Mama juga kesepian. Maka, daripada kamu nakal, Mama minta kamu hanya berhubungan sama mama saja. Mau ya, sayang.”
“Iya Ma, Dudung mau.”
“Tuh, dengerin permintaan ibumu Dung.”
“Iya Bu Fania.”
“Kalau begitu, kami pamit dulu Bu.”
“Iya, Bu RT, hati – hati di jalan ya.”
Bersambung… Perih akibat lecet yang terasa di lutut lama – lama hilang. Memang, bekas lukanya tidak hilang, namun kini Fania dan suaminya tak lagi merasa perih. Mungkin karena kulit lututnya menyesuai diri dengan keadaan di mana mereka kini sudah mulai sering merangkak.
Setiap subuh, jika dan hanya jika tidak sedang datang bulan, Vina selalu terbangun karena jilatan ibunya. Jika terlentang, maka jilatan itu menjilati selangkangannya. Namun, jika kebetulan sedang tengkurap, maka jilatan itu menjilati anusnya.
Susu Fania kini makin berat, dengan asi yang selalu ada dan diperas tiap hari. Fania dan suaminya kini dilarang untuk bersetubuh di kamar mereka. Maka saat setelah sarapan biasanya sering dipakai oleh suaminya untuk mengawininya, dengan gaya anjing, tentunya.
Gaya hidup yang unik ini, malah semakin mendekatkan keakraban di keluarga kecil Fania. Keharmonisan rumah tangga membuat Fania selalu menjadi narasumber bagi tetangga dan atau saudarinya, yang bertanya tentang rahasia keluarga harmonis.
Fania tentu menjawab dengan santai, bahwa seks adalah rahasianya. Ada yang puas dengan jawaban tersebut. Tapi ada juga yang masih kurang puas. Rasa – rasanya telah melayani dengan baik, kata mereka yang kurang puas, namun tetap saja pasangannya masih melirik wanita lain. Fania lantas menyarankan untuk mencoba sesuatu yang baru.
***
Di rumah, kini dekat pintu utama tersedia meja. Di atas meja itu selalu terdapat daster dan kerudung instan yang mudah dipakai. Ya, ide tersebut tercetus saat Vina merenung, sambil selangkangannya dijilat oleh ibunya. Kini, Fania selalu telanjang di rumah. Adapun daster dan kerudung instant tersebut digunakan jika ada yang mengetuk pintu.
***
“Wah, sandal baru nih.”
“Iya, nih, biar gak dingin. Mah, Yah, biar makin seru, Mama dan Ayah kalau mau ngomong, saat makan saja. Kalau sedang tidak makan, menggonggong saja.” Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com
Kenyang setelah makan, Vina lantas beranjak dari kursi makan ke sofa di ruang TV. Namun, sengaja sandalnya tidak dipakai, sehingga ada di bawah meja makan.
“Mah, bawain sandal Vina dong ke sini! Gigitin maksudnya!”
“Guk.”
Fania mencoba menggigit sepasang sandal.
“Satu – satu saja kalau susah mah.”
Fania lantas menggigit sandal kiri dan membawanya ke hadapan putrinya. Sementara suaminya melihatnya. Setelah itu Fania kembali lagi untuk membawa sandal kanan.
“Rapikan ya, biar siap pakai! Tapi jangan lupa, jangan pakai tangan.”
Fania lantas memposisikan sandal dengan cara menggeser dengan mulutnya. Adegan ini rupanya membuat suaminya bereaksi, hingga merangkak mendekatinya dan lantas tangan suaminya memenggang punggungnya.
Ayah Fania menghentikan aksinya saat ada sandal melayang mengenai kepalanya.
“Yang sopan dong Yah, jilati dulu hingga basah. Jangan main colok saja. Sini ambilin sandal Fania.”
Ayah Fania lantas menggigit sandal dan memposisikannya kembali di hadapannya.
“Nah, gitu dong,” kata Fania sambil mengelus kepala Ayahnya. Elusan tangan Fania kini pindah ke rudal Ayahnya. “Pingin kawin ya?”
“Guk!”
“Pintar, ayo, kawini saja betinanya!”
“Guk!”
Suami Fania lantas merangkak ke belakangnya, hidungnya mengendus anus Fania. Puas mengendus, kini serambi lempit Fania lantas dijilati. Tak perlu waktu lama hingga basah, suaminya kini mengawininya, dengan gaya anjing.
Vina lantas ke kamar mengambil ikat pinggang. Melihat keseruan anjing yang sedang kawin, membuat Fania asik menonton. Ikat pinggang itu lantas Vina pasang ke leher Ayah hingga pas. Fania lantas menarik – narik, dengan tidak keras, ikat tali sabuk itu.
“Parah nih anjing, tiap hari kawin mulu,” celoteh Vina. Crot… celotehan Vina membuat kedua anjing yang sedang kawin melolong orgasme.
Cerita Sex Sang Sahabat Suami
“Sini – sini, biar gak kawin mulu,” Vina lantas menarik sabuk, membuat Ayahnya merangkak mengikuti tarikan. Lantas ujung sabuk itu diikat ke kaki meja makan. Sebuah ikatan sederhana, yang mudah dilepas, dimana ikatan ini lebih ke simbol.
Setelah itu, mangkuk air minum anjingnya Fania geser dengan kaki, hingga ke dekat anjing jantannya. Melihat peju yang seperti akan menetes di serambi lempit mamanya, Fania lantas mendekati mamanya dan menarik rambutnya.
“Sini – sini.”
Tarikan tersebut berhenti di dekat ayahnya.
“Nih, jilatin serambi lempit betinanya biar bersih, jangan ada bekas peju ya.”