Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Istri Berwajah Dingin, Dalang Skandal Aktris Pemenang Piala Puspa

Istri Berwajah Dingin, Dalang Skandal Aktris Pemenang Piala Puspa

Vanesa Francisca, aktris berbakat yang namanya bersinar terang di jagat hiburan, mendapati karirnya tiba-tiba dibayangi oleh sebuah skandal besar. Publik, yang sebelumnya memujanya, kini terpecah antara dukungan dan kecaman. Namun, di balik gejolak pemberitaan yang meluas, tersembunyi sebuah kebenaran yang hanya diketahui segelintir orang, para dalang di balik skandal tersebut. Apakah rahasia ini akan terungkap? Bisakah Vanesa memulihkan citranya dan kembali meraih simpati publik?

Malam itu, gemerlap penghargaan Piala Puspa mewarnai suasana. Sorak sorai memenuhi ruangan saat nama Vanesa diumumkan sebagai pemeran utama wanita terbaik. Dengan anggun, ia melangkah ke atas panggung, menerima piala emas tersebut. Senyumnya merekah, mencerminkan kebahagiaan yang luar biasa. Di sampingnya, seorang pria berjas hitam menunjukkan rasa bangga yang tak terkira. Sorotan kamera menangkap momen istimewa itu, mengarahkan perhatian seluruh hadirin pada Vanesa yang bercahaya.

Namun, di sudut ruangan lain, suasana terasa berbeda. Sebuah meja yang hanya dihuni dua orang menawarkan kontras yang mencolok. Seorang pria tampan dan berwibawa, dengan setelan jas yang rapi, duduk bersebelahan dengan seorang wanita cantik namun berwajah dingin. Pasangan ini, yang telah membina rumah tangga selama lebih dari satu dekade, menyaksikan Vanesa dari kejauhan. "Dia memang berbakat," gumam sang pria, tatapannya tertuju pada Vanesa yang tengah menyampaikan pidato kemenangannya. Wanita itu hanya menggeleng pelan, raut wajahnya seolah menyimpan sebuah misteri yang dalam. "Namun, dia bukan penggantiku," bisiknya lirih, kata-kata yang menyimpan arti lebih dari sekadar perbandingan.

charm yang beda. Fiara adalah Fiara dan Vanesa adalah Vanesa. Kau jangan terbawa perkataan media,” ujarnya sambil memandangi suaminya.

“Bukan masalah akting. Aku sedang memperhatikan rambutnya. Dia menggantikanmu untuk menjadi duta sampo Ratine, bukan?” tanya sang suami seraya menahan tawanya.

Fiara memandang suaminya dengan wajah malas. “Kalau itu, iya. Aku akui rambutnya juga berkilau, pantas menjadi duta sampo, sedangkan rambutku sekarang….” Fiara mengusap rambutnya.

Sang suami menyentuh dagu istrinya dan mengarahkan pandangan istrinya ke arahnya. “Jika rambutmu tak lagi berkilau, yang penting rasa cintamu padaku akan tetap berkilau hingga kapan pun.”

Fiara memutar pandangannya serasa apa yang dikatakan suaminya hanya gombal belaka. “Aku mau jadi duta sampo lain saja,” ujar Fiara seakan bertekad.

“Duta hatiku saja!”

“Aska, kau sudah 45 tahun. Berhentilah menggombal.”

“Darahku tetap muda, jika bersamamu yang cantiknya tetap sama seperti tiga puluh tahun yang lalu,” kata Aska seraya menunjuk wajah istrinya.

Fiara menatap Aska dengan tatapan tidak senang. “Kau pikir wajahku sekarang seperti bocah?Aku masih kelas dua SD tiga puluh tahun lalu.”

Aska cekikikan. “Aku lupa kita berbeda tujuh tahun.”

Namun, wajah Fiara langsung berubah. Ia seakan termenung dan memilih kembali memandangi panggung di tempat Vanesa yang kini tengah turun. Aska seakan tahu apa yang dipikirkan istrinya sehingga dia menarik tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat di atas meja dengan taplak putih itu.

“Dia sudah bahagia di atas. Aku yakin keinginannya sekarang adalah melihat kita berdua juga bahagia,” ujar Aska seakan menguatkan istrinya.

Fiara tak menoleh ke arah Aska. Dia memilih diam dan terus memperhatikan Vanesa yang kini sudah ada di mejanya lagi, berpelukan dengan pasangannya dengan tangan memegang piala keemasan itu. Piala itu adalah piala yang sama dengan yang dimilikinya di rumah. Fiara tidak hanya punya satu, ia punya tiga.

***

Acara penghargaan itu sudah hampir berakhir. Di saat itu, Fiara melihat Vanesa dan pria berjas hitam yang ia tahu adalah seorang aktor yang menjadi pacar Vanesa, keduanya mendekati mejanya. Tidak hanya Fiara, Aska juga menyadari kedatangan dua orang muda itu.

“Kak Fiara,” sapa Vanesa dengan senang.

“Hai cantik,” ujar Fiara yang langsung berdiri dan menjabat tangan Vanesa.

“Aku Nolan Geraldo,” kata pria tampan yang mendampingi Vanesa itu pada Fiara dan Aska.

“Aku sudah tahu namamu, aktor muda,” ujar Aska saat berjabat tangan dengan Nolan.

“Paman, Pak, Bang, Uncle, bagaimana aku harus memanggilmu, ya?” tanya Nolan ke arah Aska.

“Apa pun asal jangan Om,” jawab Aska seraya tertawa. “Itu selalu diartikan negatif,” lanjutnya dengan bisikan.

“Silakan kalian duduk,” kata Fiara sembari menunjukkan bangku yang kosong. Di situ memang ada empat bangku.

“Kalian berdua terlihat sangat serasi,” puji Vanesa setelah memandangi Fiara dan Aska secara bergantian.

Walau begitu, pandangan Vanesa ke Aska agak dipercepat karena ia memilih untuk terus memandangi Fiara–orang yang sudah ia ambil posisinya sebagai duta sampo Ratine.

Fiara sendiri tampak tersenyum senang melihat juniornya itu mau menyapa, tetapi Fiara mulai merasa risih saat melihat piala yang dibawa Vanesa ditaruh ke atas meja.

“Kami berharap bisa menjadi pasangan yang harmonis seperti kalian berdua,” kata Nolan seraya merangkul Vanesa.

“Kau sangat beruntung,” ucap Aska sembari melirik ke Vanesa yang tampak malu. “Vanesa adalah aktris yang tidak hanya cantik, tetapi juga sangat berbakat. Aku sudah menonton film Wanita Dalam Roda Malam.

Dan dia,” Aska menunjuk ke wajah Vanesa, “pantas mendapatkan piala ini,” ucapnya yang kemudian mengambil piala di atas meja dan memperhatikannya.

“Kau berbakat menjadi pelacur,” ujar Fiara yang langsung membuat ketiga orang di meja itu menoleh padanya. “Maksudku kau bisa berperan sebagai wanita malam di film itu dengan sangat meyakinkan.

Filmmu sebelumnya juga bagus saat kau menjadi seorang penyanyi, tetapi aku lebih suka peranmu di film Wanita Dalam Roda Malam itu. Kau sangat total!”

Vanesa tersenyum. “Tidak sebaik dirimu. Semua film yang kau bintangi sangat luar biasa,” kata Vanesa yang tentu saja bermaksud memuji balik.

“Tipikal wanita, selalu membalas pujian dari wanita lain,” kata Aska yang diikuti tawa kecil.

“Tapi benar kata Vanesa. Sosok Fiara adalah legenda hidup, dia selalu berperan total,” ujar Nolan yang tersenyum pada Fiara dan Aska.

Fiara mengernyitkan dahi sembari memandangi Nolan. Sosok pria mata teduh, bibir manis, dan hidung yang proporsional itu mengingatkannya dengan seseorang. “Kau pernah bermain film denganku, ya?”

“Aku pernah berperan sebagai adikmu, lima belas tahun yang lalu,” kata Nolan seakan mengingatkan.

“Aku tidak percaya, kau Aldo si aktor cilik itu. Aku tak mendengar namamu lagi selama bertahun-tahun, dan sekarang kau ada di depanku sebagai seorang aktor dewasa. Aku sudah begitu tua ternyata,” ungkap Fiara menunjukkan ketidakpercayaannya.

“Dan aku juga tidak percaya karena kau sama sekali tak berubah. Kau masih sama seperti dulu, tetap cantik,” kata Nolan memuji. Ngocoks.com

Kemudian terjadilah nostalgia kecil antara Nolan dan Fiara yang membuat Vanesa dan Aska serasa menjadi pendengar saja. Di saat itu, kedua pasang mata itu bertemu. Mata tajam Aska memandang mata anggun Vanesa.

Dan penghargaan Film terbaik, jatuh pada… Wanita Dalam Roda Malam.

Vanesa tersadar oleh suara beberapa orang yang memanggilnya. Saat ia tahu film yang dimainkannya menang, ia pun segera berdiri untuk berpamitan pada Aska dan Fiara.

“Pialamu,” kata Aska memberikan piala milik Vanesa.

“Terima kasih,” jawab Vanesa yang langsung menurunkan pandangannya pada Aska.

“Filmmu menang?” Nolan ikut berdiri dan segera memeluk pacarnya itu.

Fiara melihat suaminya terus memandangi Vanesa dan Nolan yang sedang berpelukan itu. Setelah pasangan muda itu pamit untuk kembali, Aska menoleh ke arah Fiara.

“Mereka mengingatkanku pada kita dulu. Masih muda dan masih sangat bersemangat,” ujarnya.

Fiara mengangguk. “Mereka masih punya banyak kesempatan memerankan banyak peran,” ucapnya seraya menoleh ke arah panggung di mana Vanesa berdiri di sana bersama beberapa orang. “Sebagai pemeran utama.”

Bersambung… Segala hal baik menerpa Vanesa sekarang ini. Setelah kemenangannya di ajang penghargaan perfilman terbesar di negeri ini. Banyak media memberitakan penampilan cantiknya kemarin malam selain berita tentang kemenangannya dan filmnya.

Para artis lain pun berbondong-bondong memberikan selamat lewat pesan singkat atau chat. Sementara orang-orang di internet memujinya habis-habisan di berbagai kolom komentar di media sosialnya.

“Kau mengenal Fiara dengan baik? Semalam kau sampai ingin bergabung dengan dia dan Aska di meja mereka,” kata Nolan sembari terus menyetir.

“Aku mengidolakan Fiara, dia adalah salah satu aktris terbaik negeri ini. Ya, dulu sebelum dia hiatus cukup lama hingga popularitasnya menurun,” jawab Vanesa yang kini duduk di jok depan di samping pacarnya. “Dia wanita yang hebat, lebih memilih fokus membesarkan anaknya daripada melanjutkan karirnya yang gemilang.”

“Aku juga mengagumi Fiara, tapi Aska adalah idolaku. Aktor pria paling keren di layar lebar. Apa pun peran yang dia bawakan selalu mencuri perhatian utama, itu membuat filmnya tampak selalu berkelas,” jelas Nolan dengan begitu semangat.

“Pantas saja kau sangat semangat aku ajak bertemu mereka, tapi kenapa kau tidak mengatakan hal itu padanya?” tanya Vanesa dengan wajah tampak bingung.

Nolan menggeleng. “Aku malu.”

“Ya, payah!” sahut Vanesa seraya mendorong lengan Nolan dengan pelan.

“Tapi, aku ingin sekali suatu saat kita bisa seperti mereka berdua. Dikenang sebagai pasangan aktor dan aktris yang melegenda,” ungkap Nolan dengan begitu optimis.

Vanesa mengangguk pelan dengan wajah yang kemudian berubah menjadi muram. “Aku merasa berada di atas angin sekarang,” ujar Vanesa.

“Kau pantas mendapatkan itu,” ucap Nolan yang tersenyum ke arah kekasihnya.

“Kita berdua hampir tidak pernah diberitakan negatif oleh siapa pun,” kata Vanesa yang memandang Nolan dengan kerutan di dahinya.

“Memangnya kau ingin?” tanya Nolan seraya menggeleng. “Aku sebenarnya tidak peduli. Dari kecil aku sudah berada di depan kamera. Walau aku sempat berhenti bertahun-tahun untuk fokus pada pendidikanku, tetapi aku kembali ke dunia ini. Aku hanya melakukan apa yang aku suka dan cukup, aku tidak terlalu peduli pendapat orang.”

“Yakin? Sepertinya kau selalu peduli dengan gadis-gadis remaja yang mengatakan bahwa kau sangat tampan, seksi, dan mereka mau melakukan apa pun hanya untuk bisa bertemu denganmu. Ya, melihat wajahmu,” ungkap Vanesa dengan ekspresi kurang senang.

“Kau cemburu?” Nolan menyeringai.

“Jika iya, kau juga seharusnya cemburu dengan ribuan pria yang berkata ingin menikahiku,” jawab Vanesa dengan malas.

“Tidak terlalu. Aku lebih cemburu melihatmu dengan lawan-lawan mainmu. Namun, aku bisa mengendalikan rasa cemburuku. Itu resiko jadi artis, kan? Banyak orang yang memuja kita,” jawab Nolan seraya tertawa.

“Itu poinnya,” jawab Vanesa.

“Lagi pula, kau akan tetap menikahiku, kan?” tanya Nolan seraya menggerak-gerakkan alisnya.

Vanesa tidak menjawab pertanyaan Nolan. “Aku hanya bosan dengan pujaan. Saat memerankan seorang pelacur yang mendapatkan begitu banyak kata-kata kotor, aku merasakan ada sisi lain dari diriku.”

“Sisi lain? Dunia lain? Masih dunia lain?” tanya Nolan yang tidak serius.

“Aku hanya… lupakan,” ujar Vanesa yang kini memandangi sisi jalan dari jendela yang tertutup itu.

Nolan seakan tak mengerti dengan apa yang terjadi dengan Vanesa. Ia berargumen dalam benaknya. Ia tahu wanita itu rumit, akan tetapi mencoba untuk mengerti itu bukan hal yang salah.

Nolan beranggapan bahwa Vanesa adalah orang yang selalu peduli opini publik. Sekarang semua orang memuja pasangannya itu dan menurutnya mungkin saja Vanesa berpikiran jika suatu saat semua orang mencacinya.

“Percayalah, entah kau dipuja atau dicaci, aku tetap akan ada di sampingmu,” ucap Nolan yang membuat Vanesa langsung menoleh.

“Semua pria akan mengatakan hal yang sama,” kata Vanesa dengan malas.

“Syukurlah, itu berarti aku pria sejati,” jawab Nolan seraya tertawa.

“Dasar!” kata Vanesa yang kemudian menusuk pinggang Nolan dengan telunjuknya.

“Geli!”

“Katanya pria sejati, begitu doang geli,” kata Vanesa seraya tertawa.

Nolan langsung membalas perlakukan Vanesa dengan hal yang sama. Hingga keduanya saling membalas dan tertawa di dalam mobil itu.

***

Vanesa melakukan banyak pose di depan kamera di dalam kafe yang digunakan sebagai tempat pemotretan. Wanita itu tampak sangat percaya diri dengan apa pun gaya dan busana yang dipakainya. Ia memang selalu tampil cantik, wajahnya begitu cerah bagaikan sosok yang selalu punya energi positif.

“Vanesa benar-benar sangat sempurna di depan kamera,” ujar seorang wanita dengan rambut sepanjang pundak yang dicat pirang pada Nolan yang berdiri di sampingnya.

“Aku beruntung mendapatkannya,” sahut Nolan yang memakai kemeja hitam yang dua kancing atasnya dibuka itu.

“Ya, tapi aku khawatir pada hubungan kalian,” kata wanita berambut pirang itu menoleh ke arah Nolan.

“Apa yang membuat Kak Milan khawatir? Aku sudah cukup dewasa untuk bisa mengatur segalanya,” jawab Nolan pada kakak perempuannya itu.

“Entahlah, aku hanya punya firasat aneh. Lupakan saja,” kata Milan yang sepertinya tak jadi mengatakan apa yang ada di benaknya.

Nolan mengernyitkan dahi. “Percaya padaku, Kak. Aku bisa menjaga diriku,” kata Nolan seraya merangkul kakaknya.

Milan tersenyum kecil seraya menoleh ke arah Vanesa yang masih dalam sesi pemotretan. Ini adalah sesi pemotretan untuk majalah dengan Milan sendiri sebagai kepala redaksinya.

Wajah Vanesa dan pialanya akan menjadi sampul majalah Generasi yang selalu mendukung hal-hal positif yang terjadi tidak hanya dunia hiburan, tetapi juga generasi muda di Indonesia.

***

Milan tengah memilih-milih foto sampel yang tersebar di atas meja. “Ini bagus, kan?” tanyanya pada Nolan dan Vanesa yang sudah duduk di depannya.

“Iya, ini bagus untuk sampul,” jawab Vanesa seraya mengangguk.

“Vanesa dari mana saja sama, jadi aku tidak bisa memilih,” ujar Nolan seraya menoleh ke arah Vanesa.

“Sama apa maksudnya?” kata Vanesa sambil melirik penuh selidik ke arah pacarnya.

“Sama cantiknya, sama apanya lagi, Sayang,” jawab Nolan seraya menyentuh dahi Vanesa dengan jari telunjuknya.

“Gombalin mulu, nikahin kapan?” sindir Milan seraya melirik ke arah Nolan.

“Kawin aja dulu,” kata Nolan dengan santai.

“Hush!” Vanesa langsung mencubit Nolan dengan keras.

Milan tertawa singkat sembari menggeleng.

“Kak, buat berita terbaik untuk Vanesa. Dia berhak mendapatkan cinta dari publik,” ujar Nolan.

“Kak Milan berhak membuat berita apa pun, kita tidak boleh memaksa,” sahut Vanesa seraya menekan dan mendorong pipi pacarnya itu dengan jari telunjuknya.

Milan tertawa singkat. “Seperti apa yang Nolan katakan, kau berhak mendapatkan cinta dari publik. Kau cantik, bertalenta, dan kau juga punya attitude. Kombinasi terbaik untuk role model masa kini,” puji Milan pada wanita yang lima tahun lebih muda darinya itu.

Vanesa tersenyum kecil. “Kau terlalu memuji, Kak.”

“Kau pantas dipuji, Sayang,” sahut Nolan yang kini membalas perbuatan pacarnya dengan menekan ujung hidung Vanesa. Ngocoks.com

Milan mengecek arlojinya, sudah lewat dari tengah malam. “Sebaiknya kita segera pulang. Kalian harus syuting lagi besok, kan?”

“Aku akan mengantar Vanesa ke apartemennya,” ujar Nolan yang segera berdiri dan mengambil jas hitamnya yang ia taruh ke atas kursi.

“Segera pulang setelah itu,” suruh Milan pada adiknya.

“Kak Milan jangan terlalu khawatir denganku,” jawab Nolan yang kini mengambilkan tas tangan milik Vanesa di meja.

“Siapa yang mengkhawatirkanmu lagi kalau bukan aku?” tanya Milan seraya menatap Nolan dengan senyum malas.

“Mungkin sepuluh juta pengikutnya di Instagram, Kak,” sahut Vanesa seraya tertawa.

“Sepuluh koma lima,” ujar Nolan membenarkan.

“Iya, bawel!” sahut Vanesa.

“Vanesa. Selama kau selalu positif, aku akan selalu mendukungmu,” kata Milan sembari mengusap lengan Vanesa.

“Kami akan selalu positif. Vanesa juga tidak akan terkena skandal kotor atau sejenisnya, ya kan?” tanya Nolan seraya melirik ke arah Vanesa.

Vanesa tampak terkejut, dia seperti tidak senang mendengar kata-kata Nolan. “Tentu saja.”

“Apalagi skandal yang di-setting, menggelikan sekali,” ujar Nolan yang tertawa disusul Milan.

Vanesa ikut tertawa sebelum ketiganya keluar dari kafe. Ia berada di belakang Nolan dan Milan yang sedang mengobrol bersama. Bagi Vanesa, sosok Milan adalah kakak yang baik, bahkan mungkin terlalu baik.

Vanesa seakan menjadi sosok yang selalu muncul di majalah Generasi, laman web, dan akun-akun resmi lainnya milik majalah Generasi.

Ia seakan berpikir, apakah sosoknya terlalu putih hingga terus dikabarkan positif? Apakah warna hitam itu perlu untuk membuat segalanya jadi abu-abu? Apa skandal itu perlu?

Bersambung… Di balkon sebuah rumah mewah, sepasang suami istri tengah memandangi pemandangan langit malam yang tanpa bintang. Aska merangkul Fiara sembari tersenyum ke arah langit, sementara Fiara mendekatkan tubuhnya ke arah suaminya itu.

“Andai Cakra masih hidup, rumah kita tak akan sesepi ini,” ujar Fiara dengan nada sendu.

“Sudah empat tahun yang lalu, kau masih tidak bisa merelakannya?” tanya Aska yang merangkul Fiara semakin erat.

“Bagaimana aku bisa rela, dia adalah buah hati kita. Dia yang membuatku menjadi ibu, membuatku merasa punya sesuatu yang sangat berharga untuk dilindungi,” ungkap Fiara yang menahan dirinya untuk tidak menangis. “Namun, aku gagal melindunginya.”

Aska langsung memeluk istrinya, membuat Fiara menangis di pelukannya. Ia tahu tidak berat bagi seorang ibu kehilangan anaknya, apalagi Cakra masih berumur delapan tahun waktu itu.

Sebagai suami, ia memosisikan diri sebagai orang yang lebih tegar, tidak mau ikut terbayang masa lalu dan menangisi kehilangannya.

***

Fiara yang sudah memakai pakaian tidurnya, memandangi etalase lemarinya. Ada banyak piala di sana. Tiga piala Puspa berada di tingkat paling atas etalase itu.

Sejenak, ia mengingat masa-masa di mana dia menjadi aktris paling gemilang. Ya, sudah lebih dari satu dekade lalu. Dia dikenal sebagai aktris yang sangat bersinar pada masa itu.

Melihat wajahnya di cermin, ia membayangkan dirinya adalah Warni. Seorang perempuan desa yang merantau ke kota dan menaklukkan hati seorang saudagar kaya.

Sosok yang pernah diperankannya itu adalah sosok yang mengubah kehidupannya. Tidak hanya di dalam film, ia pun berhasil menaklukkan–atau justru ditaklukkan–sosok saudagar yang diperankan oleh suaminya sendiri.

Tubuh prianya itu terbaring di atas ranjang. Fiara bergerak ke arah ranjang dan berbaring di samping Aska. “Kau ingat saat pertama kita bertemu?” Fiara menoleh ke arah suaminya yang sudah menutup matanya.

“Aku gugup, sungguh aku sangat gugup waktu itu. Kau yang mengajak berkenalan dan melontarkan candaan lebih dulu, aku selalu tertawa dengan leluconmu. Dulu, aku berpikir kau melakukan itu pada semua gadis, tapi saat kau mengatakan bahwa kau menyukaiku. Aku percaya, kau hanya suka padaku.”

Fiara membelai wajah suaminya. Melangkahkan dua jarinya dari dahi, menuju hidung, lalu ke bibir Aska. Ia mengusap bibir itu sembari tersenyum sebelum menarik selimut dan terbaring menghadap arah yang membelakangi suaminya.

Saat mata terpejam, ada gerakan yang ia rasakan. Aska memeluknya dari belakang, membuatnya tersenyum dalam kehangatan.

***

Vanesa dan Nolan sudah sampai di apartemen mewah milik Vanesa. Apartemen sebesar itu hanya ditinggali oleh Vanesa. Nolan tahu bagaimana perasaan seorang Vanesa.

Kedua orang tua Vanesa semua tinggal di Paris, Vanesa sendiri yang memilih hidup di Jakarta sebagai aktris. Nolan yang sudah tak memiliki orang tua pasti mengerti perasaan Vanesa.

Vanesa merupakan keturunan darah Prancis dari ayahnya dan darah Sunda dari ibunya. Dari remaja, Vanesa memang sudah hidup mandiri. Vanesa pun dinilai sebagai sosok yang cerdas, belum genap dua puluh tahun, ia sudah menyelesaikan kuliahnya di perguruan tinggi jurusan seni peran di London.

Hingga ia menuju Indonesia–tempat neneknya berada–dan kemudian merintis karir sebagai aktris. Lima tahun berlalu, karirnya sekarang sedang berada di puncaknya.

“Biar aku bantu buka bajumu,” ujar Nolan seraya mendekat ke punggung Vanesa yang berdiri di depan cermin.

“Nolan,” panggil Vanesa pelan.

“Sekarang kau jarang memanggilku Sayang,” sindir Nolan yang masih berusaha membuka baju pasangannya itu.

“Jika aku kehilangan segalanya, apa kau akan tetap di sampingku?” tanya Vanesa tanpa menoleh ke arah Nolan.

“Tidak,” jawab Nolan santai yang membuat Vanesa langsung menoleh dengan wajah penuh tanya. “Sisakan satu hal untukku, hatimu. Jangan sampai kehilangan hati,” tambahnya yang kini tersenyum tenang.

“Sekali pun aku tak lagi cantik?” tanya Vanesa.

“Siapa yang bilang kau cantik?” Nolan balik bertanya.

Vanesa menyipitkan matanya. “Oh, begitu?”

“Bukan cantik, tapi cantik banget,” jawab Nolan meringis. “Lagi pula, aku yakin kau tidak akan membiarkan dirimu menjadi jelek.”

“Tidak juga. Kalau aku harus berperan menjadi jelek, aku akan membuat diriku jelek,” jawab Vanesa.

“Iya iya, asal jangan imejmu saja yang jadi jelek,” kata Nolan tertawa kecil.

“Memangnya kenapa kalau imejku jadi jelek?” tanya Vanesa.

Nolan menggeleng. “Hal semacam itu tak mungkin terjadi.”

“Kenapa tak mungkin? Kenapa imejku tak mungkin jadi jelek?” tanya Vanesa lagi.

“Karena aku percaya padamu, kalau kau bisa menjaga personamu,” jawab Nolan dengan senyuman.

Wajah wanita muda itu langsung berubah, Vanesa kembali memandang ke depan cermin tanpa bicara apa pun lagi.

“Kau sedang banyak pikiran mengenai peran yang sedang kau mainkan bukan? Kau pasti punya beban selain kesenangan setelah kau bisa memenangi kemenanganmu sebagai aktris terbaik. Kau tidak perlu terlalu memikirkan itu, just do it because you love it,” terang Nolan mencoba mengerti.

Bagi Vanesa, Nolan adalah sosok yang hangat. Pria yang tidak hanya tampan, tetapi juga memiliki hal yang membuat Vanesa merasa nyaman.

Sentuhan Nolan di punggungnya memberikan getaran kecil yang menjalar ke tubuhnya. Saat gaunnya terlepas, Vanesa merasa telanjang walau dia memakai sesuatu yang menutupi keindahannya.

Jemari Nolan meraba lengan Vanesa yang begitu lembut dan mulus, itu membuat Vanesa segera menoleh ke arah pacarnya. “Bukannya kau harus segera pulang?”

“Bagaimana aku bisa pulang kalau melihatmu dalam kondisi seperti ini?” tanya Nolan seraya menunjukkan seringainya.

Vanesa membuka lemari dan mengambil pakaian tipis yang segera dia pakai. “Pulanglah,” suruh Vanesa yang kemudian bergerak menuju ke arah meja riasnya.

Akan tetapi, Nolan dengan gesit menarik tangan Vanesa dan segera menarik sang bidadari dalam pelukannya. Vanesa menggeleng karena Nolan selalu menggodanya seperti itu, dia pun berjinjit agar menyamai tinggi sang pangeran cinta dan mencium bibirnya.

“Kau membuatku semakin ingin,” kata Nolan kembali menunjukkan seringainya.

Vanesa hanya tersenyum sembari menggeleng pelan.

***

Milan tahu kalau adiknya tak mungkin pulang. Ia hanya tidur tiga jam sebelum bangun dan menyalakan laptopnya di ruang tengah ditemani segelas kopi. Ngocoks.com

Ia sedang mencari-cari berita di internet. Sebagai seorang kepala redaksi sebuah media, ia adalah sosok yang sangat update pada apa yang terjadi di negeri ini, khususnya masalah kehidupan para selebriti.

Abdul Keenan dan Ralina Syarif resmi bercerai setelah menikah tiga minggu.

Milan menggeleng pelan karena tidak mengerti apa yang dilakukan dua selebriti muda itu. “Sudah buang-buang uang milyaran rupiah buat pernikahan super mewah, sampai ada siaran langsungnya di stasiun televisi swasta juga. Eh, baru tiga minggu sudah bubar,” komentar Milan seraya tertawa.

Milan kemudian memindahkan halaman web berita itu dan menemukan berita tentang penghargaan Piala Puspa malam kemarin. Milan tentu tersenyum saat melihat sosok yang diniscaya akan menjadi adik iparnya itu tengah memegang piala pemeran utama wanita terbaik. Ia sangat bangga.

Akan tetapi, di barisan berita terkait muncul sesuatu yang benar-benar membuatnya membuka mata semakin besar. Ia tampak sangat kaget melihat apa yang ada di depannya.

Tangannya langsung ia angkat dan ia gunakan untuk menutupi mulutnya. Kepalanya menggeleng pelan dan matanya tampak basah saat membaca deretan kata di layar laptopnya.

Tangannya yang gemetar segera menyambar ponsel yang berada di mejanya. Ada banyak pesan di aplikasi chating miliknya. Semua pesan membahas hal yang sama, berita itu. Berita yang ia yakin akan menjadi topik hangat selama berbulan-bulan di negeri ini.

Bersambung… Kulitnya terpapar cahaya matahari dari jendela yang ia buka. Bening dan lembut, itu gambaran paling pantas untuk indera peraba dari wanita muda yang memiliki rambut hitam yang berkilau itu.

Bibirnya berwarna merah muda dan tampak sangat manis, hidungnya yang proporsional, dan mata kecokelatannya yang sangat indah membuat Vanesa tampak sangat cantik meski belum mandi. Tak tun tuang!

Melihat panorama kota Jakarta dari ketinggian apartemen mewahnya, ia membalikkan badan. Tubuhnya yang hanya memakai pakaian tipis memancarkan keindahan lekukan dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Foto dirinya dalam pigura yang tampil seksi dengan pakaian merah menjadi bukti bahwa Vanesa adalah seorang yang menjaga bentuk tubuhnya. Sebagai tuntutan, atau ia sendiri yang menyukai keindahan dalam dirinya.

Suara pancuran air terdengar dari arah kamar mandi. Vanesa tahu kalau Nolan yang berada di sana. Ia memilih duduk di ranjang dan mengambil ponselnya yang berada di meja kecil samping kasurnya itu.

Jari lentiknya menyentuh layar hingga menemukan aplikasi Instagram, ada sangat banyak notifikasi. Ia tampak kaget saat membaca deretan komentar yang yang terpampang di sana. Wajahnya tampak memucat saat ia menemukan sebuah berita dari media ternama.

“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Nolan yang muncul dengan hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya.

Vanesa menoleh pada Nolan, pria tampan yang tengah memandanginya dengan bingung. Tubuh segar Nolan tak membuat Vanesa luluh seperti biasanya, ia tengah panik. Ada gemetar di tangannya yang tertangkap mata Nolan dengan cepat.

“Ada sesuatu yang buruk?” tanya Nolan seraya mengambil kaus dari lemari–ia menyimpan beberapa pakaian di lemari Vanesa.

“Aku harus mandi,” ucap Vanesa yang segera berdiri dan menaruh ponselnya.

“Boleh aku merekamnya?” tanya Nolan seusai memakai kausnya.

“Tidak,” jawab Vanesa yang segera pergi ke kamar mandi.

“Atau aku temani?” tanya Nolan lagi. “Aku rela mandi lagi.”

Vanesa tidak menjawab.

“Seharusnya aku tidak mandi dulu,” ujar Nolan seraya menggeleng sebelum memakai celana panjangnya.

Pria itu kemudian mencari-cari di mana ponselnya. Ia lupa menaruhnya di mana. Saat melihat ponsel Vanesa, ia segera mengambilnya untuk menelepon ponselnya. Akan tetapi, saat membuka ponsel milik pacarnya itu, ia melihat sebuah berita yang sepertinya sedang dibaca Vanesa sebelum wanita itu menuju kamar mandi.

Video syur mirip artis Vanesa Fransisca tersebar di dunia maya.

Nolan menggeleng tidak percaya. Ia sekalipun tak pernah merekam kegiatan malamnya dengan Vanesa. Pacarnya itu selalu melarangnya. Jadi, ketika ada berita video Vanesa yang tersebar. Nolan merasa begitu panik.

Setelah menemukan ponselnya, Nolan segera mencari sumber berita itu dan ia segera menemukannya di sebuah situs dewasa.

Video itu tampak tidak jelas, wajah pelakon wanita tidak bisa dikenali dengan pasti, walau Nolan mengakui bahwa itu mirip Vanesa. Pelakon pria pun tak terlihat wajahnya.

Media perekam sepertinya diletakkan di atas bantal yang bergerak-gerak sehingga video tampak tidak jelas. Akan tetapi, Nolan berhasil menemukan sebuah petunjuk. Sebuah tato di lengan sang pria, tato dua cincin yang terikat.

Nolan menggeleng, karena sepertinya ia tahu siapa pria itu. Akan tetapi, jika video itu benar. Vanesa dalam musibah besar.

***

Seorang wanita yang umurnya sekitar pertengahan tiga puluhan berdiri dengan memandangi jendela. Rambut pirang bergelombang sepanjang pundak dan wajahnya yang sangat mencerminkan keanggunan dari wanita dewasa terasa tengah merenungi sesuatu yang berat.

Ia memakai pakaian yang terlihat formal untuk bekerja, tetapi sangat fashionable. Rok pendek, dan kemeja biru muda yang ketat, ada kesan dewasa yang begitu melekat.

“Kita harus mencari berita apa pun yang menyangkut Vanesa, sebentar lagi dia akan menjadi sorotan semua media,” ujar Milan pada seseorang di belakangnya.

“Aku tahu berita ini juga berdampak besar padamu, Milan. Aku harap skandal besar ini tidak mempengaruhi profesionalitasmu,” wanita di belakang Milan itu mendekat dan berdiri di samping Milan.

“Majalah Generasi hanya menerbitkan berita positif yang membangun generasi. Jadi, aku tidak setuju jika kau mencampurkannya dengan berita gosip tidak mendidik.”

“Aku sudah tidak peduli dengan hal itu, Mona! Kita harus menjadi media terdepan yang mengetahui kabar-kabar lain tentang kasus ini,” ujar Milan menoleh ke arah Mona dengan mata yang menatap dengan tajam.

Mona dengan rambut pendek dan wajah yang terlihat jauh lebih muda dari usianya tampak peduli dengan perasaan sang Kepala Redaksi itu. Sebagai bawahan langsung dan sahabat Milan, Mona tahu bagaimana perasaan seorang kakak yang adiknya disakiti seperti itu.

“Aku akan membuat Vanesa dibenci semua orang di negeri ini,” ujar Milan penuh ambisi.

***

Vanesa kini terlihat gugup, ia duduk sembari memperhatikan orang-orang yang tengah mondar-mandir di lokasi syuting. Ada lampu-lampu, orang yang membawa kamera, payung, dan berbagai macam alat.

“Kau bagus, Nes. Jangan terlalu pedulikan kesalahan tadi,” ujar seorang wanita berbadan gempal sembari memberikan minuman untuk Vanesa.

Vanesa tak menjawab, ia memandang wanita yang telah menemaninya cukup lama dalam karirnya sebagai aktris. Bagi Vanesa, Della lebih dari sekadar manajer, tetapi juga saudara.

“Aku hanya gugup karena Rendra adalah lawan mainku,” ujar Vanesa seraya meminum air putih dari gelas di tangannya.

“Dia sangat tampan,” sahut Della setengah berbisik.

Vanesa tertawa kecil sebelum kembali diam dan merenung. Ia seakan tertekan oleh banyak pikiran.

***

Berita di Internet membuat pria berusia dua puluh delapan itu semakin geram. Nolan meremas tangannya sembari menahan amarahnya yang ingin memuncak.

Ia menghindar dari banyak pertanyaan yang dilontarkan orang-orang padanya. Ia sama sekali tidak ingin membahas video itu. Video yang membuktikan jika Vanesa tidur dengan pria lain selain dirinya.

“Kau ingin makan sesuatu? Aku akan pesankan,” ujar seorang pria berambut keriting yang duduk di samping Nolan di sebuah sofa panjang di apartemen itu. Ngocoks.com

Nolan tidak menjawab pertanyaan Gerry, ia masih diam semenjak datang ke apartemen milik teman kuliahnya itu. Gerry seakan tahu apa yang terjadi, tentu dia sudah mendengar kabar yang sangat tidak mengenakan itu.

“Kau yakin itu Vanesa?” tanya Gerry sedikit berhati-hati. “Aku melihat banyak komentar yang mungkin dari penggemar Vanesa, kalau itu bukan Vanesa. Itu hanya wanita yang kebetulan mirip. Seharusnya kau bicara pada Vanesa dulu sebelum pergi dari apartemennya.”

“Tengah malam, kita pergi,” ujar Nolan seraya memperhatikan arlojinya.

“Satu jam lagi,” sahut Gerry menoleh ke arah jam dinding di atas televisi. “Pergi ke mana?” tanyanya ke arah Nolan.

“Kelab. Aku ingin minum sebanyak-banyaknya,” jawab Nolan yang menoleh ke arah Gerry.

Gerry melihat bagaimana wajah Nolan. Mata dari seorang aktor terkenal itu memerah dan wajahnya terlihat sangat kacau. Nolan yang biasanya merapikan rambutnya, kini dibiarkan acak-acakan. Mau tidak mau, Gerry harus mengiyakan ajakan sahabatnya itu.

“Cukup minum. Aku tidak akan membiarkanmu bermain dengan wanita malam ini,” kata Gerry yang terlihat sangat peduli dengan Nolan itu.

Bersambung… Milan berdiri di depan para anggota redaksinya. Matanya yang tampak memerah seakan menandakan ia kurang istirahat. Akan tetapi, ia mencoba tersenyum.

“Kita akan segera melahirkan saudara baru bagi Generasi. Kita beri nama, RoomPhi. Untuk sementara, aku akan menunjuk Mona untuk menjadi kepala redaksi bagi Generasi. Aku akan lebih fokus untuk membesarkan nama RoomPhi.”

“Apa konten yang akan disajikan dalam RoomPhi?” tanya seorang staf yang mengangkat tangannya ke arah Milan.

“RoomPhi akan terdengar seperti rumpi. Di sini, aku punya filosofi dari nama ini,” jawab Milan seraya menunjuk ke arah papan putih yang terpancar gambar dari proyektor.

Di sana dijelaskan jika nama RoomPhi berasal dari dua kata yaitu room yang berarti ruang dan phi yang merupakan nilai konstan dari perbandingan diameter dan keliling lingkaran.

Milan ingin membuat sebuah media yang menjadi ruang bagi orang-orang untuk mendapatkan berita yang selalu konstan dan terus-menerus bagaikan lingkaran yang tak ada ujungnya.

Ia ingin membawa orang-orang ke ruang di dalam lingkaran yang ia buat–dalam bentuk berita–agar orang-orang tergerak untuk mengikuti pemikiran dalam ruangnya.

“Isi dari RoomPhi adalah tentang fakta, skandal, hal-hal yang disembunyikan. Kita akan menghadirkan media paling menarik yang akan melahirkan pro dan kontra yang terus diperbincangkan,” ujar Milan dengan pandangan berapi-api.

“Maaf menyela, tetapi ini jauh berbeda dengan Generasi. RoomPhi sudah jelas akan menghadirkan sensasi. Sementara itu, Generasi adalah media mencerdaskan bangsa yang penuh prestasi,” kata seorang staf lain.

“Jika sama saja apa serunya?” tanya Milan.

“Tapi ki–”

“Ikuti aku saja!” bentak Milan. “Aku akan memanggil nama-nama yang akan membantuku menyusun keanggotaan dalam RoomPhi. Selain yang aku panggil, kalian akan bersama Mona untuk terus menjalankan majalah Generasi,” kata Milan yang seakan tak mau lagi mendengar pendapat para bawahannya itu.

Milan tampak begitu berambisi sekarang. Rencananya, ia ingin segera bertemu Nolan. Dari kemarin, adik satu-satunya itu tidak bisa dihubungi dan bahkan tidak pulang ke rumah dalam dua hari.

Siapa lagi orang yang harus ia salahkan kalau bukan Vanesa. Dari sorot matanya, kebencian akan sosok yang pernah ia puji setiap waktu itu tampak semakin besar.

***

Vanesa terus menghindari awak media saat ditemui di lokasi syuting. Dia langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi tanpa mengucapkan apa pun.

Video viral mirip dirinya bersama pria misterius itu masih menjadi perbincangan hangat di berbagai laman internet dan sosial media. Banyak spekulasi muncul akibat merebaknya video tersebut.

Dugaan paling kuat mengenai video itu adalah sosok pria yang bersama wanita mirip Vanesa itu adalah aktor senior tanah air yang berini–

Gerry mematikan televisi di kamarnya. Ia memandang ke arah ranjang tempat Nolan yang masih terlelap. Ia seakan tahu apa yang dirasakan sahabatnya itu, kacau dan tidak bisa dijelaskan lagi.

Semalam Nolan benar-benar mabuk, ia yang membawanya kembali ke apartemen itu. Cepat atau lambat, Nolan harus segera menghadapi masalah ini. Dia tidak bisa kabur ke mana pun.

“Bangun Lan. Minum air putih, mandi, dan segera temui Vanesa!” ujar Gerry seraya menarik selimut yang dipakai Nolan.

Suara ponsel berdering membuat Gerry menoleh ke arah meja. Dari semalan, ponsel milik Nolan itu selalu berbunyi.

Sepertinya sudah saatnya ia mengangkat telepon itu dan memberitahu di mana Nolan berada pada kakaknya. Namun, dugaan Gerry salah. Bukan Milan yang menelepon Nolan, melainkan Vanesa.

“Sayang,” panggil Vanesa.

“Ini Gerry,” jawab Gerry.

“Nolan bersamamu?” tanya Vanesa dengan nada getir. “Aku ingin bicara dengannya.”

“Dia masih tidur,” jawab Gerry seraya menoleh ke arah ranjang.

“Tolong katakan padanya, kalau aku menunggunya,” kata Vanesa.

Gerry mengiyakan permintaan Vanesa dan setelah itu, Vanesa menutup panggilannya. Dari suara Vanesa, Gerry menilai bahwa wanita itu tengah ketakutan, butuh orang di dekatnya, dan orang yang dia inginkan adalah Nolan.

***

Fiara dan Aska tampak sangat serasi dalam pemotretan yang sedang mereka langsungkan. Mereka berdua akan mengisi salah satu kolom di sebuah majalah, keduanya memakai pakaian dengan warna hitam. Fiara yang anggun dan Aska yang gagah tampak memesona dalam segala sudut pengambilan gambar.

“Biar aku rapikan dasimu,” ujar Fiara sembari mengangkat tangannya untuk merapikan dasi yang melingkari kerah kemeja suaminya.

“Kau selalu merapikan segalanya tentangku,” kata Aska seraya menyentuh ujung hidung Fiara.

“Ya, tentu saja.” Fiara mengangkat kapalanya untuk bisa menatap wajah Aska. “Asal kau tidak merusak segalanya tentangku.”

“Jika aku merusaknya?”

“Aku hancur.”

Aska terdiam. Suara dari kru pemotretan itu membuatnya berpaling dari istrinya. “Satu take lagi?” tanya Aska.

Seusai pemotretan itu, Aska dan Fiara segera menuju ke sebuah ruangan terpisah. Keduanya akan melakukan wawancara dengan topik yang sama. Mereka akan dites dengan beberapa pertanyaan kecil yang akan membuktikan seberapa serasi keduanya.

***

“Pertama kalian berciuman?”

Aska seakan mengingat-ingat masa yang lama itu. “Saat aku mengajak Fiara ke bioskop, aku menciumnya di sana.”

“Kau tahu kapan itu?”

“Aku tidak mengingat hari dan tanggalnya. Namun kurasa lima atau enam belas tahun lalu,” jawab Aska seakan tidak yakin.

“Apa warna kesukaan Fiara?”

“Dia suka hitam. Dia bilang hitam adalah warna paling tenang, dan menyimpan sisi misterius,” jelas Aska seraya mengangguk-angguk.

“Kalau warna kesukaanmu?”

“Aku suka biru. Karena aku suka laut dan langit.”

“Di mana tempatmu melamar Fiara?”

“Aku melamarnya di pesta ulang tahunnya. Itu kado dariku,” jawab Aska dengan bangga.

“Dari enam film yang kalian bintangi berdua, mana yang menjadi favoritmu?”

“Janda Merah Jambu. Film itu sangat lucu. Aku mengejar-ngejar Fiara yang merupakan seorang janda yang suka sekali dengan warna merah jambu,” jawab Aska seraya tertawa kecil.

***

“Pertama kalian berciuman?”

“Di pesta ulang tahunku. Ya, dia bilang dia tidak membawa kado apa pun. Jadi, dia memutuskan memberikanku first kiss. Ya, faktanya dia adalah ciuman pertamaku.

Sementara aku adalah gadis ke 68 yang dia cium–selain untuk keperluan pengambilan gambar dalam film ya,” ujar Fiara. “Ya, tentu saja gadis ke 69 tidak akan pernah ada.”

“Apa warna kesukaan Aska?”

“Dia suka warna biru. Aska bilang kalau dulu dia ingin jadi pelaut di mana lautan biru terhampar di depannya dan langit sebagai atapnya saat dia berlayar. Ya, karena itu aku suka sekali diajak naik kapal pribadinya, dia selalu senang dengan lautan. Aku suka melihatnya bahagia,” jawab Fiara seraya tersenyum senang.

“Kalau warna kesukaanmu?”

“Aku suka putih. Aku ingin jadi awan putih yang menghiasi langitnya. Aku ingin jadi buih-buih putih yang menghiasi lautnya. Dan aku, ingin menjadi Vinso-nya yang menjadikan segala masalahnya menjadi bersih,” jawab Fiara. “Oh ya, Vinso jadi sponsor majalah ini, kan? Jadi tidak perlu disensor ya,” lanjutnya berbisik.

“Di mana tempat Aska melamarmu?”

“Aku tidak mungkin melupakan hal itu. Dia melamarku di bioskop. Aku dan Aska sering menyamar untuk bisa menonton film layaknya pasangan lain. Ngocoks.com

Saat film berakhir, dia turun ke depan layar, membuka topi dan kacamatanya, lalu berteriak pada semua orang untuk tidak pergi dari ruang bioskop itu. Ya, tentu saja tidak ada yang pergi. Semua orang tahu Aska yang kala itu adalah aktor yang digilai banyak wanita.

“Dia menunjukku yang masih duduk di belakang dan saat itu, layar bioskop menampilkan sebuah foto. Foto diriku dengan tulisan Wanita paling cantik di semua layar lebar, aku ingin kita saling memiliki.

Lalu dia tunjukkan sebuah wadah cincin dan menurunkan satu sikunya. Semua orang berteriak histeris dan aku segera turun dan menerima cincin itu,” terang Fiara dengan semangat.

“Dari enam film yang kalian bintangi berdua, mana yang menjadi favoritmu?”

“Favoritku adalah Warna Warni, itu film pertamaku dan aku harus beradu akting dengannya. Itu sangat mengesankan. Ya, tapi favoritku yang lain adalah film Cinta Imitasi.

Aska berperan sebagai seorang berandalan yang selalu memberikan barang-barang imitasi pada wanita yang disukainya. Itu film sembilan tahun lalu, dan pasti orang-orang kurang tahu hal ini.

Demi film itu, dia sampai membuat tato di lengannya, tato dua cincin. Tato itu sudah dia hapus beberapa waktu lalu, padahal aku menyukainya,” kata Fiara yang masih tersenyum.

Wajah pewawancara tampak berubah saat mendengar jawaban Fiara. Begitu juga wajah kameramen dan beberapa kru di ruangan itu.

“Ada yang salah dengan apa yang kukatakan?” tanya Fiara dengan bingung.

Bersambung… Vanesa duduk di depan meja makannya. Makanan yang ia pesan belum ia buka bungkusnya. Wajahnya tampak lelah dan ekspresinya seakan menggambarkan begitu banyak hal yang ia pikirkan. Vanesa sama sekali tidak menyentuh ponselnya lagi sejak kemarin menelepon Nolan–yang diangkat oleh Gerry.

Suara pintu dibuka membuat Vanesa langsung terkejut. Ia segera berdiri dan berjalan keluar dari dapur. Di depan pintu, ia melihat pria itu. Sosok yang pergi meninggalkannya selama tiga hari. Dengan cepat, Vanesa langsung berlari dan memeluk Nolan.

“Aku mengkhawatirkanmu,” kata Vanesa dengan suara yang hampir menangis. “Aku tidak tahu lagi siapa yang bisa kuhubungi selain kau di saat seperti ini.”

Nolan tertawa kecil. “Aku sudah ada denganmu. Sekarang kita harus pergi jauh dari sini. Aku punya uang untuk kita memulai hidup baru di tempat lain dengan profesi yang lebih menyenangkan,” kata Nolan yang membuat Vanesa segera melepaskan pelukannya.

Wajah Vanesa terlihat bingung. “Apa maksudmu?”

Nolan mengangkat kedua tangannya dan ia letakkan ke kedua pipi Vanesa. “Ayo kabur. Semua orang akan menyerangmu dari mana pun,” ujarnya seraya menatap wanita di depannya lekat-lekat.

Vanesa menggeleng. “Aku tidak mau kabur.”

“Kenapa?”

Vanesa mengenyahkan tangan-tangan Nolan. “Aku tidak ingin berhenti begitu saja,” jawab Vanesa tampak tegas seraya mundur dua langkah.

“Tapi video itu, lelaki dalam video itu. Tidak lama lagi karirmu akan hancur,” kata Nolan dengan nada getir.

“Itu bukan aku,” jawab Vanesa seraya mengalihkan pandangan.

“Aku sudah melihat seluruh bagian dari tubuhmu. Mataku tidak bisa dibohongi,” jawab Nolan yang mendekati Vanesa yang mulai menjauh.

Vanesa menggeleng saat melihat Nolan menatapnya dengan pandangan aneh. “Kau percaya mereka?” tanya Vanesa yang terus melangkahkan kakinya ke belakang.

Nolan terus mendekat. “Aku sangat pencemburu. Aku membenci semua pria yang menjadi lawan mainmu. Aku membenci semua penggemar priamu. Sekarang, aku benar-benar benci pada pria itu,” kata Nolan yang tampak marah sembari melangkah mendekati Vanesa. “Oh ya, dia bahkan tidak pantas disebut seorang pria.”

“Nolan, kau terlihat sedang tidak baik,” kata Vanesa dengan gemetar.

Dengan cepat, Nolan menangkap tangan Vanesa. Ia menarik wanita itu ke kamar tidur. Lalu, ia mengambil handycam yang ada di atas lemari. “Ayo kita membuatnya,” ujar Nolan.

“Apa yang sedang terjadi padamu?” tanya Vanesa yang sedang berusaha melepas tangannya dari cengkeraman Nolan.

Nolan melepaskan tangan Vanesa. “Lepaskan pakaianmu sekarang,” suruh Nolan dengan suaranya yang mulai serak.

Vanesa merebut handycam di tanan Nolan dan segera membantingnya dengan keras. “Tidak akan pernah.”

“Kenapa kau melakukan itu dengannya dan tidak mau melakukannya denganku!” bentak Nolan seraya menatap Vanesa dengan tajam.

Dengan keras, Vanesa mengangkat tangannya dan diarahkan telapak tangannya itu ke pipi Nolan. Suara tamparan itu cukup keras hingga membuat pipi Nolan tampak sangat memerah.

Nolan kemudian tersenyum. “Kau sudah mandi?”

Vanesa diam, dia menatap Nolan dengan wajah marah.

“Ini Sabtu malam, kita biasa berkencan ke tempat-tempat romantis pada Sabtu malam, bukan?” tanya Nolan yang tidak dijawab oleh Vanesa. “Kenapa kau diam? Kau juga tidak mau berkencan denganku?”

Vanesa tak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis. Matanya langsung basah dan meneteskan air. Bibirnya tak bergerak, ia menangis tanpa isakan.

Melihat Nolan tampak sangat kacau membuatnya segera membalikkan tubuhnya. Ia menjatuhkan tubuhnya, terduduk di lantai sambil terisak.

***

“Kau sudah mendengar berita tentang Vanesa?” tanya seorang wanita dengan rambut pendek sebahu pada Fiara yang tengah mengambil segelas air putih dari meja penuh makanan itu.

“Aku mendengarnya. Namun, aku tidak peduli. Sarah, orang-orang bisa dengan mudah membuat video, dan bisa jadi itu bukan Vanesa,” jawab Fiara santai.

“Semua orang bilang kalau itu benar-benar Vanesa. Kau mungkin belum melihat videonya, jadi tidak bisa mengiyakan,” ujar Sarah seraya mengambil ponsel dari sakunya.

“Aku tidak ingin melihatnya,” kata Fiara yang segera mendorong ponsel milik teman dekatnya itu.

“Apa makanannya kurang?” tanya seorang wanita yang muncul dari arah belakang sofa yang diduduki Fiara dan Sarah itu.

“Terima kasih, Anin. Kami berdua datang bukan untuk makan,” kata Fiara yang kemudian menepuk sofa, sebuah kode agar wanita berambut keriting yang dipanggil Anin itu segera duduk.

Anin mengambil remote di atas meja, ia segera menekan tombol power dan televisi pun menyala. Sebuah acara gosip langsung menghiasi layar kaca itu.

Media baru bernama RoomPhi, merilis gambar-gambar di Instagram mereka. Ada satu gambar yang menunjukkan dua buah foto. Sebuah tato di lengan pria dalam video panas mirip Vanesa, dan satu foto lagi adalah foto milik seorang aktor senior yang tengah menunjukkan tato di lengannya.

Benar atau tidak pria dalam video itu adalah Aska Kusuma Bestari, tetapi kebanyakan netizen yang berkomentar dalam foto di akun yang sudah diikuti ratusan ribu orang itu merasa yakin jika bukti dalam gambar itu adalah benar.

Layar televisi menampilkan hasil screenshoot dari kolom komentar di gambar unggahan itu.

“Aku menonton film Cinta Imitasi, di sana ada satu cuplikan, di mana lengan Aska yang bertato itu terlihat. Walaupun tidak jelas karena pengambilan gambar dari jauh, tetapi aku yakin tato itu serupa dengan gambar ini.”

“Dari awal sudah menduga. Aku termasuk fan berat Aska, sudah tahu kalau dia punya foto itu. Aku sih penasaran sama reaksi Nolan, dia kan pernah bilang kalau dia itu fan Aska. Sekarang tinggal tunggu respons dari pihak-pihak terkait saja sih.”

Fiara merebut remote dari tangan Anin dan segera mengganti saluran dalam televisi itu. “Kalian ini suka sekali menonton gosip. Bukannya banyak acara bagus,” ujar Fiara dengan suara yang sangat serak. “Ah, program kesukaanku masih iklan.

Aku ke kamar mandi sebentar,” tambah Fiara yang segera berdiri dan pergi meninggalkan Sarah dan Anin yang tampak membisu itu.

***

“Kau lihat Mona? Timku tidak akan mengecewakan,” ujar Milan sembari tertawa. “Kami akan mencari lebih banyak hal menyangkut kasus ini. Bulan depan, majalah RoomPhi pertama akan rilis dan memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai skandal Vanesa dan Aska.”

“Kau harus mendapatkan konfirmasi dari keduanya. Selama empat hari ini, belum ada konfimasi dari mulut Vanesa sama sekali. Dan sekarang, Aska ikut kena,” kata Mona yang tampak kurang senang melihat sahabatnya yang kini berubah menjadi tukang bongkar aib orang lain. Ngocoks.com

“Tidak perlu Vanesa atau Aska. Aku akan membuat semuanya lebih menarik dengan mendatangkan Fiara. Sosok yang menjadi korban dalam kasus ini selain Nolan, adikku,” jawab Milan dengan pandangan berapi-api.

“Ingat! Vanesa dan Aska juga korban. Orang yang menyebarkan video itu sama sekali belum terungkap, atau bahkan tidak ada yang peduli. Semua orang mengarahkan pandangannya pada kontennya, bukan prosesnya,” ungkap Mona yang mencoba berpikir logis.

“Vanesa dan Aska bukan korban. Mereka sedang menerima karma,” kata Milan. “Dan aku akan membuat karma yang mereka terima semakin besar!”

Mona diam saja saat melihat Milan mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menatap tajam ke arah yang tidak fokus. Sahabatnya sudah begitu berubah dalam waktu singkat.

Bersambung… “Bagaimana bisa kalian mengira pria dalam video itu adalah saya? Lucu sekali,” ujar Aska seraya tertawa singkat pada kumpulan wartawan yang menemuinya seusai aktivitasnya di sebuah tempat olahraga.

“Aska, bagaimana pendapatnya?” tanya seorang wartawan. “Iya, bagaimana respons Anda dengan pemberitaan tentang video itu?” tanya wartawan lain.

“Saya tidak bisa memberi pendapat. Ini pasti berat untuk Vanesa. Entah benar atau tidak dia yang berada di video itu, saya turut prihatin atas pemberitaan buruk yang menerpanya.

Semoga pelaku penyebaran video itu segera ditangkap,” ungkap Aska yang tetap tampak santai walau ia sudah dituduh sebagai pemeran pria dalam video tidak senonoh itu.

Beberapa teman yang menemani Aska segera membawa Aska yang memang ingin segera pergi dari kepungan para wartawan dan awak media itu. Wajahnya yang santai saat diwawancara seakan berubah saat ia berjalan dengan terus diikuti wartawan yang melontarkan rentetan pertanyaan.

“Bagaimana reaksi Mbak Fiara saat mendengar pemberitaan tengan Mas Aska ini?” tanya salah seorang wartawan yang cukup berani maju menghalangi Aska yang masih berjalan.

Aska tersenyum dibalik kekesalannya yang terlihat ditahan. “Istri saya tidak terlalu peduli,” ujar Aska. Ia kemudian membalik badan dan menoleh ke para kumpulan wartawan. “Tolong carikan video yang lebih jelas! Kalau itu benar saya, kabari lagi!”

***

Carikan video yang lebih jelas! Kalau itu benar aku, kabari lagi!

Kata-kata Aska langsung menjadi headline di banyak media baik cetak maupun online. Hal itu sampai dibaca oleh Milan, yang sekarang selalu berada di depan layar laptopnya sembari mencari-cari berita. Matanya yang mulai lelah tetap dipaksakan untuk terbuka.

Sembari mengecek ponselnya beberapa kali, ia berharap agar adiknya segera menghubunginya balik. Sudah empat hari sejak berita video Vanesa keluar, Nolan belum memunculkan batang hidungnya di mana pun.

“Semua media memberitakan wawancara Aska kemarin malam. Sekarang, belum ada tindakan apa pun dari kepolisian. Bagaimana ini bisa dibiarkan?” gumam Milan sembari terus mencari-cari berita.

Dering ponsel di atas meja yang berada di dekat tangannya berbunyi, Milan langsung mengangkat panggilan itu.

“Aku punya berita bagus,” ujar seseorang dalam panggilan itu.

Milan tampak bersemangat mendengar berita yang disampaikan oleh orang yang dipercayainya itu. “Sangat menarik,” ujarnya seraya tersenyum.

***

Vanesa dan Nolan tengah berada di ranjang yang sama. Mereka saling membelakangi satu sama lain. Wajah Nolan tampak tak berdaya, mencerminkan keputusasaan, sedangkan wajah Vanesa tampak kosong, matanya yang sembab memandang hampa ke arah yang tidak fokus.

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Nolan.

Tidak ada jawaban untuk beberapa detik. Suara napas yang dilepaskan dengan perlahan terdengar. “Melanjutkan segalanya,” jawab Vanesa.

“Ini yang selama ini kau inginkan? Tertimpa pemberitaan buruk?” tanya Nolan.

Vanesa tidak menjawab.

“Tidak apa jika kau tak ingin mengatakan segalanya padaku. Saat kau mau bicara, aku akan menjadi orang pertama yang mendengarkan,” ungkap Nolan yang kemudian membalikkan badannya.

“Apa kau percaya padaku?” tanya Vanesa dengan suara serak.

“Tentu saja,” jawab Nolan seraya memeluk Vanesa dari belakang.

“Aku punya dosa. Itu mengapa aku merasa saat melihat diriku terus dipuji semua orang, aku merasa tidak pantas untuk itu. Mungkin video itu adalah karma untukku,” jelas Vanesa yang terdengar tengah menahan tangisnya. “Akan tetapi, itu bukan aku.”

Nolan memeluk Vanesa lebih erat. “Aku tidak akan meninggalkanmu dalam situasi seperti ini,” kata Nolan yang terlihat masih sangat berat untuk menerima kenyataan itu.

“Aku akan membantumu. Siapa pun orang yang menyebarkan video itu, akan aku beri pelajaran. Aku akan mencarinya,” tambah Nolan seakan bertekad.

“Aku tidak boleh bersembunyi terlalu lama, aku akan menghadapi ini,” ucap Vanesa. “Aku akan mengatakan semua pada media.” Vanesa pun hendak bangun sehingga Nolan melepaskan pelukannya.

“Kau siap?” tanya Nolan yang kemudian mengangkat tubuhnya untuk bangun bersama Vanesa.

“Manajerku akan mengatur segalanya. Aku akan siap ketika waktuku untuk bicara telah ditentukan,” jawab Vanesa yang menoleh ke arah Nolan.

“Aku akan mendukungmu,” kata Nolan mencoba tersenyum. “Berdiri di sampingmu.”

Vanesa tidak bisa lebih sedih melihat Nolan mau untuk melakukan hal itu. Seharusnya pria itu marah padanya, meninggalkannya, dan memilih mencari wanita yang bisa membuatnya senang.

Bukan dirinya yang kini tengah tersandung masalah yang mengubah presepsi publik selamanya. Akan tetapi, di mata Nolan ada hal lain yang Vanesa rasakan.

“Temui kakakmu,” kata Vanesa dengan pandangan seakan memohon.

Nolan tak menjawab apa pun. Ia tahu apa yang akan dikatakan kakaknya. Akan tetapi, ia yakin jika pilihannya untuk tetap bersama Vanesa adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat.

***

“Aku pulang,” kata Nolan saat masuk ke dalam rumahnya.

Itu adalah rumah yang ia tinggali sejak kecil. Ada foto-foto keluarga kecilnya di dinding. Lukisan kedua orang tuanya, foto-foto masa kecilnya dan kakaknya. Terlalu banyak memori di dalam rumah itu.

Milan yang sedang duduk di depan meja tempat komputernya berada mendengar suara adiknya. “Jam satu malam. Lima hari ini ke mana saja kau?” tanya Milan tanpa menoleh ke arah Nolan.

“Banyak hal yang harus kulakukan,” jawab Nolan.

“Kau tidak syuting, manajermu bilang dia cukup kerepotan untuk menyusun ulang jadwalmu. Kau tidak pergi ke gym, tidak main golf, kau tidak main ke Nolan’s Bakery. Ada urusan lain selain hal-hal yang menjadi kebiasanmu itu?” tanya Milan yang kemudian menoleh ke arah adiknya.

“Kak Milan pasti sudah tahu aku ada di mana. Kenapa harus bertanya lagi?” ujar Nolan malah balik bertanya.

“Tinggalkan pelacur itu,” suruh Milan sembari berdiri.

“Siapa yang Kakak panggil sebagai pelacur?” tanya Nolan dengan mengernyitkan dahi.

Milan memutar pandangannya. “Siapa lagi kalau bukan Vanesa?”

Nolan menggeleng. “Apa yang terjadi dengan Kak Milan? Hanya karena berita di luar sana, Kakak balik membenci Vanesa?”

“Dia bermain dengan pria lain. Pria yang sudah memiliki istri. Kau tidak jijik dengannya?” tanya Milan seraya menyipitkan matanya.

“Kak Milan tidak bisa memberi penilaian secara sepihak, kasus ini masih belum bisa ditarik kesimpulannya,” jawab Nolan. Ngocoks.com

“Kau sudah melihat video itu dan kau pasti sudah tahu kebenarannya. Kesimpulannya adalah, tinggalkan Vanesa. Aku tidak mau kau tetap bersamanya,” ucap Milan seraya menatap adiknya tajam-tajam.

“Tidak akan. Aku akan tetap setia dengannya,” kata Nolan.

“Kau bodoh!”

“Sudahlah, aku ke sini hanya untuk mengambil barang-barangku. Aku akan tinggal di tempat lain,” ujar Nolan sembari berjalan ke arah tangga.

“Silakan. Aku akan melihat sampai kapan kau akan bertahan dengannya. Kau sudah dibutakan olehnya, Nolan,” kata Milan seraya menahan tangisnya.

“Iya, kakak lihat saja,” jawab Nolan yang kemudian menaiki tangga.

“Kau juga lihat saja. Aku akan membuatnya kehilangan segalanya! Termasuk kehilangan dirimu!” teriak Milan.

“Semoga berhasil,” balas Nolan menyamai kerasnya suara kakaknya.

Bersambung… Vanesa menjalani kegiatan syutingnya seperti biasa. Ia tampak tampil maksimal membawakan karakternya. Saat tiba waktu istirahat, Vanesa makan bersama rekan mainnya, Rendra. Seorang aktor yang dianggap sangat berbakat dan mampu menguasai berbagai jenis peran.

“Kau sudah terlihat lebih rileks,” ujar Rendra sembari mengelap sendoknya dengan tisu.

“Terima kasih,” jawab Vanesa tampak ragu.

“Lupakan saja masalah-masalah itu. Saat take dimulai, kau adalah Vanesa yang beda, bukan Vanesa yang sekarang,” kata Rendra seraya tertawa kecil.

“Aku akan berusaha tidak terpengaruh dengan hal-hal itu,” kata Vanesa yang mencoba membalas senyum Rendra.

“Ayo makan,” ajaknya yang kemudian mulai menggoyangkan sendok dan garpunya.

Vanesa memperhatikan Rendra. Ia merasa bahwa Rendra adalah sosok yang bisa tetap tenang dan santai pada kondisi apa pun. Itu yang Vanesa rasa harus dicontoh.

***

Rekaman pertengkaran Fiara dan Aska tersebar! Publik mendesak Vanesa dan Aska untuk memberikan klarifikasi.

Akun media sosial RoomPhi kembali menghebohkan jagat maya dengan pengunggahan rekaman suara Fiara dan Aska yang tengah bertengkar. Banyak pihak yang mengatakan bahwa rekaman itu adalah rekaman asli. Baik dari Fiara maupun Aska belum ada yang menanggapi masalah tersebarnya rekaman itu.

Milan tertawa cukup keras saat melihat desakan demi desakan publik pada Vanesa. Ia yakin orang yang sedang dibela oleh adiknya itu tengah tertekan dengan sangat berat. “Ini semua baru dimulai,” ujarnya yang kemudian kembali tertawa.

“Milan, aku mulai khawatir denganmu,” ujar Mona yang masuk ke ruangan Milan tanpa permisi.

“Kenapa perlu khawatir? Majalah perdana RoomPhi akan segera rilis. Tinggal wawancara eksklusif dengan Fiara saja, semua akan segera beres. Publik akan membenci Vanesa mati-matian,” kata Milan yang tampak sangat puas dengan rencananya.

“Majalah Generasi dengan sampul Vanesa juga akan terbit minggu depan,” kata Mona.

“Aku sudah bilang padamu untuk mengganti sampulnya, membuang beritanya dari majalah generasi edisi kali ini. Kau tidak mendengarkanku?” bentak Milan tampak tidak senang.

“Milan, kau tidak ingat sudah memberikan kewenangan tertinggi padaku untuk Generasi? Aku yang mengatur itu sekarang,” jawab Mona. “Lagi pula dana yang kita keluarkan untuk pemotretan Vanesa lumayan besar.”

Milan menyipitkan matanya dan memandang Mona dengan tatapan tajam. “Terserah padamu, tapi yang jelas Vanesa akan tetap hancur. Seribu berita baik akan tetap ternoda dengan satu berita kotor.

Selayaknya sebuah kain putih yang terkena tumpahan tinta,” ujar Milan yang kemudian kembali fokus pada layar laptopnya.

***

Nolan mengajak Vanesa untuk masuk ke sebuah ruangan di sebuah kafe. Ia sudah memesan ruangan private itu hanya untuk mereka berdua. Cukup banyak perjuangan sebelum sampai ke ruangan itu.

Sekarang, Vanesa harus lebih dijaga. Nolan sudah menyewa empat bodyguard untuk menjamin keamanan Vanesa saat keluar dari tempat tinggal.

Biasanya, mereka berdua selalu merasa aman di mana pun mereka berada. Mereka tidak pernah keberatan jika ada banyak orang yang menangkap keberadaan mereka dan meminta berfoto bersama atau pun meminta tanda tangan.

Selalu menjadi kesenangan saat bertemu dengan penggemar. Akan tetapi, sekarang hal itu sudah berbeda. Selama kasus video itu terus berlanjut, keduanya harus lebih hati-hati.

“Kenapa kau harus repot-repot membawaku ke tempat ini. Kita kan bisa makan di apartemen,” ujar Vanesa yang tampak kelelahan.

“Kau lupa ini hari apa?” tanya Nolan dengan antusias.

“Hari Senin biasa, kan?” jawab Vanesa.

“Bukan. Ini adalah hari jadi kita yang ketiga, kau lupa?” tanya Nolan yang kini menyipitkan matanya. “Padahal kau yang selalu ingat lebih dulu.”

Vanesa balik menyipitkan matanya ke arah Nolan. “Ya, kau benar mengenai tanggalnya. Tapi hari jadi kita itu bulan Juli. Ini masih Juni, Sayang,” ujar Vanesa dengan malas.

Nolan melototkan matanya. “Benarkah? Salah dong. Ya, sudah anggap saja ini perayaan hari jadi ketiga minus satu bulan ya,” tanggap Nolan seraya tertawa kecil.

“Ya terserah kau saja,” Vanesa mendorong dahi Nolan dan kemudian tertawa.

Mungkin itu adalah tawa pertamanya sejak kemunculan video skandalnya. Ia masih tidak bisa mengalihkan satu momen pun tanpa memikirkan hal itu. Beruntungnya, Vanesa masih punya Nolan. Prianya yang masih bisa membuatnya tersenyum.

“Aku sudah memesankan menu spesial untuk kita. Aku yakin kau akan suka,” kata Nolan.

“Kalau aku yang mengajakmu ke sini, aku tidak perlu memesan menu spesial,” ujar Vanesa.

“Kenapa bisa begitu?” tanya Nolan yang tampak bingung.

Vanesa menahan tawanya. “Kau kan makan apa aja suka, aku pesen sambil merem juga entar kau makan,” jawabnya yang kemudian tertawa.

“Oh gitu!” Nolan memencet hidung Vanesa dengan pelan. “Aku kira kau akan mengatakan karena aku spesial jadi tidak perlu ada lagi menu spesial!”

Setelah Vanesa berhenti tertawa, ia seperti ingin masuk ke pembicaraan lebih serius. “Bagaimana kabar Kak Milan setelah kau menemuinya kemarin?” tanya Vanesa.

“Dia tidak ada apa-apa,” jawab Nolan seraya melunturkan senyumnya.

“Dia pasti menyuruhmu untuk meninggalkanku,” kata Vanesa yang sudah mampu menebak.

“Lihat pesanan kita datang,” ujar Nolan seakan mengalihkan pembicaraan.

Vanesa tahu kalau Nolan tidak ingin membicarakan kakaknya. Ia ingat saat Nolan mau untuk berhenti menanyakan segalanya tentang skandalnya. Dia memilih untuk menunggu Vanesa bicara sendiri.

Ini yang membuat Vanesa ikut tidak bertanya lebih lanjut tentang Milan. Vanesa menarik kesimpulan kalau bisa jadi, sudah terjadi pertengkaran antara Nolan dan kakaknya itu.

***

Saar Vanesa dan Nolan keluar dari kafe, ternyata di depan kafe sudah ada banyak orang. Di antara mereka ada juga para kru awak media. Ternyata, ada yang mengikuti mereka berdua hingga ke kafe itu. Nolan melihat jelas wajah Vanesa yang berubah pucat.

“Vanesa biadab! Beritahu kami!” teriak salah seorang dari kerumunan di luar pintu kafe. “Wanita jalang! Apa yang kau lakukan pada Fiara dan keluarganya. Dasar perebut suami orang!” teriak yang lain. “Vanesa, keluar! Kami ingin melihat wajah tidak tahu malu milikmu!”

Kata-kata kasar sudah terdengar walau Nolan dan Vanesa masih berada di dalam kafe itu. Empat bodyguard sudah siap untuk melindungi Vanesa. Nolan membuka jaketnya dan menutupi kepala Vanesa dengan jaket itu. Ia segera memeluk Vanesa dan menuntunnya berjalan.

Teriakan kembali terdengar di luar. Nolan dilempari banyak sekali pertanyaan. Terjadi adu dorong. Untung saja, empat bodyguard berbadan kekar itu mampu menjaga Vanesa agar tidak terkena dorongan masa yang sepertinya sangat resah dengan kasus Vanesa.

“Nolan! Kenapa kau masih mau bersama si jalang sialan itu! Pergi saja!” teriak seorang wanita dengan begitu keras. “Nolan, jangan lindungi dia!” teriak yang lain.

Nolan tidak peduli dengan kata-kata orang-orang itu. Ia hanya ingin membawa Vanesa pergi. Ia tidak akan pernah membiarkan Vanesa terluka oleh orang-orang yang hanya termakan pemberitaan media yang sama sekali belum dikonfirmasi pihak terkait tentang kebenarannya.

***

Aksi heroik Nolan membawa Vanesa pergi dari kerumunan tuai reaksi beragam dari publik.

Nolan tentu saja diberitakan positif, tentang kesetiaannya dan perjuangannya. Walau banyak dari mereka yang juga menganggap Nolan melakukan pencitraan dengan terus bersama Vanesa.

Komentar lain juga menuduh Nolan seakan mengambil keuntungan dari skandal pacarnya, Nolan dianggap panen popularitas dengan terus berada di dekat Vanesa. Ngocoks.com

Walau mayoritas publik sudah geram dengan Vanesa yang belum saja mengatakan apa pun pada media. Namun, sebenarnya masih banyak orang yang mendukung Vanesa.

Orang-orang itu tidak hanya para penggemar Vanesa, tetapi juga orang-orang yang merasa bahwa tidak seharusnya publik bereaksi begitu keras pada Vanesa.

Meskipun begitu, para pendukung Vanesa itu malah mendapat banyak kecaman dan cyberbully dari para netizen lain yang sudah sangat membenci Vanesa. Alhasil, perdebatan pun sering berlangsung di kolom komentar dalam segala konten yang berkaitan dengan kasus itu.

“Fiara, kau sudah siap?” tanya Milan pada orang yang akan menjadi senjata terbesarnya untuk menghancurkan Vanesa.

Namun, di mata Fiara yang tertuju pada Milan. Ada sekelebat harapan. Fiara merasa, Milan akan menjadi tangga baginya.

Bersambung… Sarah mengantar Fiara yang terus terdiam sejak dari rumah Anin. Tentu ia tahu kalau sahabatnya itu sedang sangat kesal, terpukul, sekaligus marah tentang pemberitaan suaminya.

Siapa seorang istri yang tidak emosi ketika suaminya dikabarkan telah berhubungan badan dengan wanita lain. Hubungan itu direkam dan kini tersebar menjadi konsumsi publik!

“Depan ada mall, kau jadi belanja?” tanya Sarah sembari menyetir mobilnya.

Fiara yang duduk di Jok samping Sarah hanya diam memperhatikan jendela. Ia seakan tak mau bicara apa pun. Walau begitu, sebagai sosok yang sudah dewas Fiara merasa tidak boleh bertindak seperti anak kecil. “Antar aku langsung ke rumah saja, ya. Aku bisa belanja dengan suamiku nanti.”

“Baiklah, ngomong-ngomong kau jadi bermain film lagi?” tanya Sarah. “Sudah waktunya kau kembali menjadi bintang.”

“Tenang, kau akan tahu nanti,” jawab Fiara yang terlihat mencoba tersenyum pada sahabatnya itu.

Sarah sendiri adalah istri seorang sutradara terkenal. Banyak film yang dibintangi Aska disutradarai oleh suaminya. Itu yang menjadikan Sarah dan Fiara menjadi dekat dan bersahabat karena suami mereka pun merupakan rekan yang solid.

“Aku tahu kau bisa melewati ini,” ujar Sarah yang fokus pada jalan di depannya. “Apa pun yang terjadi, aku ada di sisimu.”

Fiara tentu tahu apa yang dimaksudkan Sarah, namun ia tak mau membicarakan hal itu. Ia memilih diam dan merenung lagi.

***

Sesampainya di rumahnya yang berada di salah satu perumahan mewah, Fiara mengajak Sarah untuk masuk. Fiara ingin memberikan kue yang kemarin dibawakan Aska untuknya. Aska bilang kalau kue itu dari Nolan’s Bakery.

“Ya, dia membawa dua. Satu saja sudah cukup buatku,” ujar Fiara memberikan sekotak kue pada Sarah di ruang makan itu.

“Ini usaha milik pacar dari Va–” Sarah terhenti. “Aku tahu Nolan, dulu saat kecil dia sangat menggemaskan. Dari aktor cilik sekarang jadi aktor papan atas yang jadi idola banyak orang,” kata Sarah sembari tersenyum seperti menyembunyikan kesalahannya.

“Ya, dia memang aktor berbakat,” ujar Fiara yang kemudian membalikkan badan. “Sarah,” panggilnya pelan.

Sarah terlihat menyipitkan matanya melihat gerak-gerik Fiara yang sepertinya akan berbicara serius kepadanya. “Kenapa Fiara?”

“Apa aku harus percaya suamiku?” tanya Fiara dengan suara yang tertahan.

Sarah tampak tersontak. Ia tahu kalau apa yang sedang dialami Fiara adalah sesuatu yang sangat menguras emosi. Apalagi Sarah tahu sosok wanita di depannya itu. Fiara sangat mencintai Aska. Rasa terpukul pasti menghantam kuat jiwa wanita 38 tahun itu.

“Aku sendiri bingung, tapi kau bisa mempercayainya jika dia punya sesuatu yang menegaskan bahwa itu bukanlah dia,” jawab Sarah. “Tapi jika benar, kau harus menemui Vanesa!”

Fiara membalikkan badan dan menghadap ke Sarah, matanya sudah mulai basah. “Bukan wanita itu yang kupermasalahkan, entah itu benar Vanesa atau wanita lain aku tidak peduli. Ini masalah rumah tanggaku. Aska sudah mengkhianatiku,” kata Fiara.

Tiba-tiba ada suara langkah kaki. “Sayang, aku pulang!” teriak Aska. “Kau tidak ingin menciumku?”

“Iya Sayang, aku ke situ!” seru Fiara seraya mengusap matanya dan segera keluar dari dapur.

Sarah membawa plastik isi kardus kue yang Fiara berikan dan kemudian mengikuti Fiara ke ruang tengah. Namun, ia berhenti di lorong saat melihat Aska dan Fiara sedang berhadapan.

Aska mencoba mencium Fiara, tetapi Fiara menjauhkan wajahnya enggan untuk dicium. Ide muncul dari kepala Sarah untuk merekam percakapan suami istri itu.

“Aku ingin tahu kenapa kau menghapus tatomu,” kata Fiara dengan tertahan. “Pasti ada alasan di balik itu, kan?”

“Kau tahu sendiri aku ingin membuat tubuhku bersih, jadi aku menghilangkan tatoku,” jawab Aska yang tersenyum seakan heran dengan Fiara. “Kau belum mandi, kan?” tanya Aska. “Ayo mandi bersama,” bisik Aska dengan suara nakal.

“Di saat videomu maksiatmu sedang ditonton ribuan orang di seluruh negeri ini?” tanya Fiara dengan pandangan terhunus ke arah Aska.

“Apa-apaan kau ini? Video yang dibicarakan di media itu? Kau percaya?” tanya Aska dengan senyum menyepelekan.

“Itu dirimu,” ucap Fiara yang kemudian tak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis. “Itu pria yang sama dengan yang tidur denganku setiap malam!”

“Fiara,” panggil Aska lirih.

“Itu pria yang sama dengan yang aku banggakan pada semua orang. Itu pria yang sama dengan yang aku punya, yang memberikanku segalanya, membuatku merasa istimewa. Pria itu sudah mengkhianatiku!” seru Fiara yang kemudian memukuli dada Aska.

Aska mencoba membuat Fiara tenang. Ia memegangi kedua tangan Fiara dan kemudian memeluknya, membiarkan Fiara menangis di pelukannya.

“Kenapa kau tega?” tanya Fiara yang dicampuri serak.

“Hanya sekali. Itu hanya sekali, Sayang,” jawab Aska.

Fiara menangis semakin kencang. Namun setidaknya suaminya mengakui bahwa itu adalah dirinya. Yang harus ia lakukan hanya percaya pada orang yang kini memeluknya, dia tidak bisa ke mana pun selain tetap tinggal.

Diam-diam, Sarah pergi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.

***

Majalah Gaya Kita menerbitkan edisi terbarunya, di sampulnya ada pasangan Aska dan Fiara yang bergaya dengan romantis. Keduanya sangat serasi di foto itu. Namun, kehebohan muncul saat isinya menggambarkan sebaliknya.

Aska dan Fiara yang tampak tidak sejalan dari wawancara yang mereka lakukan. Itu membuat tanda tanya bagi publik tentang keharmonisan keluarga yang sudah menikah lebih dari satu dekade itu.

Isi majalah itu bocor dan diulas oleh salah satu Youtuber yang tidak dikenal. Banyak komentar negatif muncul dalam video ulasan itu.

“Sangat aneh bagi dua pasangan yang sudah hidup bersama begitu lama tetapi lupa hal-hal semacam itu!”

“Serius? Aska atau Fiara yang lupa kapan lamaran mereka itu dilangsungkan? Itu kan hal yang seharusnya terus diingat!”

“Fiara kelihatan sangat cinta dengan Aska, tapi Aska seperti tidak tahu istrinya. Jangan-jangan dia punya banyak istri!”

“Kayaknya yang suka hitam itu Vanesa. Lihat deh Instagram Vanesa, kebanyakan dia pake baju hitam.”

Secara bersamaan pula, majalah Generasi edisi terbaru terbit. Sampulnya adalah Vanesa dengan piala Pusma miliknya. Kecantikan Vanesa tidak bisa diragukan lagi.

Tentu majalah itu juga menimbulkan kehebohan karena headline dalam majalah itu adalah Vanesa the real role model. Banyak orang yang tidak terima dengan penerbitan majalah itu hingga terjadi boikot di mana-mana. Bagaimana bisa seorang pencuri laki orang dianggap layak dicontoh?

***

“Segala pemberitaan akhir-akhir ini pasti membuat Mbak Fiara sangat terpukul. Saya merasakan apa yang Mbak rasakan,” ungkap Milan saat berhadapan dengan Fiara untuk wawancara eksklusif.

Fiara sudah tampak tenang, ia tampak anggun seperti biasanya. Pemberitaan demi pemberitaan memang membuatnya tampak terpukul, tetapi wajah sedih tak pernah nampak di kamera. Bagi Fiara, menangis hanya untuk akting di film, saat turun menjadi dirinya sendiri, dia akan menahan itu.

“Kau sudah mendengar percakapanmu dengan suamimu yang viral di jagad maya?” tanya Milan.

“Ya, itu adalah hasil ulah temanku sendiri Sarah. Namun, dia melakukan itu untukku. Agar semua orang tidak lagi bertanya-tanya apa di video itu benar Aska atau bukan. Ya, aku mengakui dan sudah diiyakan oleh suamiku bahwa pria dalam video itu adalah Aska,” jawab Fiara.

“Lalu bagaimana perasaan Mbak Fiara saat tahu semua ini?” tanya Milan lagi.

“Sedih pasti, tapi aku juga lega karena suamiku mau jujur padaku. Selama dia mau jujur, ada kesempatan untuk berubah,” jawab Fiara seraya tersenyum ke arah Milan.

“Bagaimana dengan wanita dalam video itu?” tanya Milan. “Pela… maksudku wanita itu sudah menggoda suamimu.”

“Aku tidak menyalahkan wanita itu. Bukannya menggoda adalah pekerjaannya? Jadi, kenapa harus disalahkan?” jawab Fiara yang penuh sarkasme.

“Mengenai hasil wawancara di majalah Gaya Kita, apa ada penjelasan untuk itu?” tanya Milan seraya memandang Fiara dengan penuh.

“Ada dua insiden yang sering sekali terbolak-balik olehnya, yaitu soal lamaran dan ulang tahunku. Jadi dia sering mengira dia melamarku di ulang tahun dan mengajakku ke bioskop saat aku ulang tahun, padahal sebaliknya.

Dia hanya sering tertukar. Kalau masalah warna kesukaan. Dulu aku suka hitam dan kemudian berganti menjadi putih, dia masih mengira warna favoritku adalah hitam. Semuanya hanya kesalahpahaman, aku dan Aska masih suami istri yang harmonis,” terang Fiara yang membuat Milan mengangguk-angguk.

Milan mengejek catatannya, ia ingin mempersingkat daftar pertanyaan untuk Fiara. “Apa yang akan Mbak Fiara lakukan untuk selanjutnya?”

Fiara masih tampak tenang. “Tentu akan terus melanjutkan hidupku bersama suamiku. Video itu dibuat sudah lama, sekitar lima tahun yang lalu. Jadi suamiku adalah sosok yang berbeda sekarang, dia sudah berubah.

Kami akan tetap bersatu. Untuk orang yang sudah menyebarkan video itu, pasti akan ada sangsi yang pantas untuknya.”

“Untuk si wanita, ingin titip salam?” tanya Fiara.

“Selamat sudah berhasil melayani suamiku walau hanya semalam. Aku rasa aku tahu kenapa kau hanya bisa melakukan itu semalam saja, Aska pasti tahu siapa yang lebih baik melayani. Semalam tidak berarti dibanding belasan tahun, bukan?” ujar Fiara yang kemudian tertawa.

Cerita Dewasa Ngentot - Istri Berwajah Dingin, Dalang Skandal Aktris Pemenang Piala Puspa
Milan ikut tertawa walau ia tahu apa yang sebenarnya dirasakan Fiara.

Bersambung… Menghindar, itu yang masih dilakukan Vanesa setelah semua pemberitaan yang menyudutkannya. Publik masih dibuat bertanya-tanya tentang kesaksian Vanesa.

Berbeda dengan Vanesa, Aska tidak menghindar. Pria itu menghadiri acara talk show pagi tempat yang membuatnya akan diwawancarai oleh host tentang berita-berita yang mengenainya.

“Kita sudah kedatangan bintang tamu istimewa, Aska Kusuma Bestari, kita akan berbincang-bincang selama satu jam ke depan dengannya,” seru pembawa acara wanita berambut pendek itu.

Aska duduk berhadapan dengan sang host. Ia tampak tenang dan masih sempat memberikan senyum hangat ke arah penonton di studio itu.

“Bang Aska, bagaimana nih kabarnya?” tanya si pembawa acara.

“Sangat baik, Melly,” jawab Aska. “Lama rasanya nggak diundang ke sini lagi. Kayaknya harus bersyukur dengan berita-berita itu, ya,” tambahnya seraya tertawa.

Melly ikut tertawa. “Ah, bukan karena video. Eh, keceplosan. Berita itu kok. Ini karena Melly kangen Bang Aska aja,” ujarnya dengan nada bercanda.

“Ah, yang benar aja,” ejek Melly.

“Eh emang benar, ya? Bang Aska minta video yang kualitasnya lebih bagus?” Melly pura-pura berbisik.

“Ya. Tapi nggak ada yang kasih,” jawab Aska. “Kan bisa buat koleksi itu.”

Melly tertawa singkat. “Eh, tapi abis itu rekaman pengakuan Bang Aska malah kesebar. Jadi Bang Aska mengalami inkonsistensi, ya di sini. Tadi nggak ngaku, nantangin minta video yang bagus, eh malah rekaman pengakuannya bocor,” ujar Melly dengan nada bercanda.

“Sebenarnya gini, saya hanya mempertanyakan kenapa semua orang percaya itu saya, kan saya belum bilang apa-apa saat itu. Itu kenapa saya bilang lucu.

Dari video kualitas rendahan seperti itu orang-orang sudah bisa menyimpulkan macam-macam. Itu mengapa saya saya tantang buat orang, terutama yang sudah menyebarkan video itu untuk memberikan video yang lebih jelas.

Kenapa saya bilang begitu? Agar semua orang tahu siapa yang ada di video itu dan tidak asal main tebak-tebakan,” terang Aska.

“Jadi sebenarnya Bang Aska nggak mengelak, ya. Cuma mungkin agak marah karena pemberitaan itu, ya,” kata Melly seakan menyimpulkan. “Jadi, itu benar Abang, ya?”

“Ya, tentu itu saya,” jawab Aska dengan tenang seraya tersenyum. “Itu kejadian lima tahun yang lalu. Sebenarnya nggak ada masalah saya tidur dengan siapa saja, toh itu hanya satu malam. Yang salah adalah saya ketahuan. Iya, nggak?” tambahnya yang malah tertawa.

Melly ikut tertawa. “Lalu, mengenai dalam tanda kutip partner Bang Aska di video itu sebenarnya siapa sih? Apa sesuai sama tebakan semua orang atau sebenarnya dia adalah orang lain?” tanya Melly yang tampak begitu penasaran.

“Ya, saya masih menantang dia–orang yang menyebarkan video itu–untuk menunjukkan kualitas yang lebih baik. Karena netizen tidak akan tertarik lagi dengan berita ini jika saya langsung katakan siapa partner saya di sana,” jawab Aska. “Lagi pula, saya tidak punya hak untuk memberitahu. Dia yang berhak mengungkapkan itu sendiri.”

“Saya juga dapat laporan kalau polisi sedang menyelidiki orang yang pertama kali menyebar video itu ke internet. Pendapat Bang Aska sendiri bagaimana?” tanya Melly seraya mengangguk-angguk.

“Bagus. Semoga pelaku cepat ditangkap. Jangan sampai artis lain aibnya bocor juga kayak saya,” jawabnya yang masih bisa bercanda.

Reaksi orang-orang pada talkshow itu begitu beragam. Ada yang menganggap bahwa itu semua adalah settingan belaka, ada yang memberikan komentar negatif pada Aska yang seperti bangga dengan aibnya yang menjadi konsumsi publik, hingga pujian atas kejujuran Aska.

***

Saat break syuting, Nolan duduk sembari minum air mineral dari botol plastik kemasan. Ia mengamati apa yang ada di depannya dengan wajah lesu. Proses syuting memang tampak melelahkan, apalagi masalah-masalah yang menghampirinya sekarang ini.

Nolan masih harus terus mendukung Vanesa yang masih terus ditekan untuk mengaku, ditambah lagi kakaknya yang menginginkannya untuk pergi dari wanita yang dicintainya. Nolan tidak bisa merasakan keseruan proses syuting seperti biasanya.

“Nolan, kau tidak mau gabung dengan yang lain?” tanya seorang wanita yang kemudian duduk di samping Nolan.

Wanita itu tampak cantik, dengan rambut berlombang, make up penuh yang membuatnya tampil begitu menarik, dan tubuhnya yang indah terpapar jelas lewat kaus tipis dan celana jin ketatnya.

Nolan menggeleng. Ia kemudian mengeluarkan rokok dan korek api.

“Kau ingin merokok di sampingku?” tanya wanita itu dengan mata disipitkan.

“Emang kenapa?” tanya Nolan yang tampak tak suka.

“Nolan, apa kau lupa?” jawab wanita itu balik bertanya. “Aku alergi asap.”

“Della, lebih baik kau bergabung dengan yang lain,” usul Nolan seraya menunjuk kumpulan pemain film yang sedang beristirahat.

“Aku ingin di sini, denganmu. Kau begitu berubah sejak kasus itu. Apa tidak ada pikiran buatmu untuk berhenti saja?” tanya Della dengan pandangan penuh ke arah Nolan.

Nolan tampak tak mengerti. “Apa maksudmu?”

Della mengeluarkan napas lesu. “Tinggalkan saja Vanesa. Kau bisa berhubungan dengan siapa saja, kenapa harus dengan orang yang sudah mengkhianatimu?”

“Tidak akan. Dia hidupku,” jawab Nolan.

“Move on, dan cari hidup baru,” ucap Della seraya menaruh tangannya ke atas tangan Nolan.

Della memandang lawan mainnya itu dengan mata yang tampak menyembunyikan maksud. Sesuatu yang seakan sudah ditunggu-tunggunya.

Nolan menarik tangannya dari genggaman Della. “Hidup hanya satu, jalani atau mati. Jika aku tidak di sampingnya maka aku mati.”

Della tertawa kecil dan kemudian mendorong bahu Nolan. “Ada apa denganmu? Kau pandai sekali berbual. Cinta mati itu tidak ada. Ayolah, lihat kenyataan. Siapa orang yang ada di ranjang bersamamu bukan berarti orang yang kau miliki.”

Della kemudian mencium pipi Nolan dengan cepat, dan kemudian berdiri. Nolan tak menjawab kata-kata Della. Ia hanya diam saja saat Della pergi. Dengan cepat ia meludah dan mengusap pipinya yang sudah dicium Della.

“Lipstick di pipi kan bikin gatal,” ujarnya.

***

“Aku akan mengatakan semuanya malam ini,” kata Vanesa yang sedang berdiri di depan cerminnya.

“Kau siap?” tanya Nolan yang kemudian memeluk Vanesa dari belakang.

“Iya, aku sudah siap. Entah mereka percaya atau tidak, aku tetap akan katakan sejujurnya,” jawab Vanesa seraya mengangguk. Ngocoks.com

Baik Nolan dan Vanesa terlihat sangat gugup malam itu. Tidak lama lagi, puluhan wartawan dari berbagai media akan meliputnya. Semua yang ia katakan akan segera tersebar dan menjadi berita yang akan dibicarakan.

Babak baru kasusnya akan terbuka dan itu membuat mereka percaya satu hal. Tidak mudah untuk menjadi seorang public figure. Jika saja waktu bisa diputar, mereka akan memilih mimpi lain.

Namun, segala risiko harus tetap ditanggung. Itu yang dinamakan passion. Jika kita sudah terjun ke suatu bidang yang kita suka, tidak ada kata berhenti. Yang ada hanya jalani atau mati.

“Aku akan selalu memilihmu. Selalu,” bisik Nolan di telinga Vanesa.

“Jika suatu saat kau menyerah, tinggalkan aku saja. Tapi ingat, jika kau kembali, aku tak akan bersamamu lagi,” ujar Vanesa.

“Tidak akan,” jawab Nolan.

Bersambung… Suara musik di kelab malam itu mendengung cukup keras. Di pojok bar, dua wanita tengah duduk ditemani gelas dan botol berisi minuman beralkohol. Milan terus menambah minumnya. Telah lama ia tidak mabuk, itu membuatnya ingin merasakan kehilangan kesadaran lagi karena alkohol.

“Vanesa benar-benar pelacur murahan! Dia sudah merenggut adikku darinya. Kau tahu kenapa aku sangat membenci Vanesa?” tanya Milan pada sahabatnya yang tampak diam saja.

Mona meminum koktailnya, lalu menoleh ke arah Milan. “Masa lalumu?”

Milan tertawa, lalu menuangkan minuman dari botol ke gelasnya. Ia menghabiskannya dalam sekali teguk. “Kau tahu, kan? Aku pernah memergoki tunanganku berhubungan badan dengan wanita lain di rumah yang seharusnya akan kami tempati setelah menikah? Sejak saat itu aku sangat membenci perselingkuhan.

Vanesa telah melakukan itu. Ya, walau dalam rekaman itu Aska dan pelacur itu melakukannya lima tahun lalu, tetapi you know what? Vanesa tidak menyelingkuhi Nolan, tapi dia menjadi perusak rumah tangga orang. It worse!”

“Kita belum mendengar statement dari Vanesa. Kita belum boleh menyimpulkan,” ujar Mona.

Milan memandang wajah sahabatnya dengan ekspresi tidak percaya, kemudian ia menaruh kedua tangannya ke pipi Mona. “Mona, kau terlalu polos. Ayolah lebih realistis. Vanesa ketakutan dan tidak pernah bicara pada media.”

“Dia akan melakukan itu, besok malam,” jawab Mona.

Milan memiringkan wajahnya. “Sungguh?”

“Ya, kenapa kau tidak tahu? Dia baru aja membagikan postingan di Instagramnya bahwa dia akan menceritakan segalanya,” jelas Mona seraya menunjukkan ponselnya pada Milan.

Kalian mungkin bertanya-tanya apa yang sesungguhnya terjadi.

Aku akan menceritakan segalanya besok malam. Beberapa media akan meliputnya.

Aku akan katakan apa yang aku tahu secara jujur.

Milan tertawa saat membaca postingan itu. “Attention seeker. Dia menginginkan atensi publik dan dugaanku sangat kuat. Dia pasti akan memilih playing victim.”

“Bukannya justru Fiara yang sekarang sedang playing victim?” tanya Mona yang sekarang terlihat mulai berani mengemukakan pendapatnya.

Milan menatap Mona dengan heran. “Apa yang kau katakan? Fiara, orang yang sudah dikhianati seperti itu kau bilang playing victim? Dia the real victim! Kau mulai gila, ya?”

“Aku tidak merasakan empati apa pun pada Fiara. Dia terlihat dingin saat aku bertemu dengannya. Ada hal yang disembunyikan, ada hal aneh dalam kasus ini. Kau tidak mendengar desas-desus bahwa dia ingin comeback?

Ia akan mengejutkan semua orang dengan tampil lagi di layar lebar? Apa kau tidak berpikir jika dia sedang membangun atensi publik dengan membongkar perselingkuhan suaminya sendiri yang sudah terekam sejak lima tahun lalu?” ungkap Mona.

Plak!

Tamparan keras menimpa pipi Mona. “Kau sudah gila. Apa yang membuatmu berpikiran seburuk itu?”

“Aku mencoba bersikap sepertimu. Penuh dengan pikiran negatif,” jawab Mona yang terlihat menahan rasa sakit dari pipinya yang kini merah.

“Apa maksudmu?” tanya Milan.

“Aku sedang menjadi sepertimu. Kesal, bukan? Orang yang aku dulu banggakan sekarang menjadi tukang bongkar aib, penuh kata-kata kasar, dan bermulut ular. Kita membentuk Generasi agar menjadi oasis di antara gurun pasir.

Memberitakan prestasi dan sisi positif agar para bintang dan orang-orang yang pantas bersinar terangkat. Sekarang, kau beralih haluan. Hanya demi dendam masa lalu yang kau tunjukkan pada orang yang salah,” terang Mona yang kini berdiri.

Milan terdiam. Ia membiarkan Mona berbalik badan dan pergi darinya.

***

Banyak media telah bersiap-siap untuk meliput klarifikasi dari Vanesa. Tempatnya sudah ditentukan, dan walau masih sore tempat itu sudah cukup ramai oleh wartawan dan kameramen. Mona dan seorang lelaki menilik televisi di sebuah kafe yang menampilkan pemberitaan itu.

“Nolan tidak bicara banyak padamu?” tanya Mona pada Gerry. Mona dan Gerry memang saling mengenal, mereka merupakan teman baik.

“Aku masih sering meneleponnya. Dia terus bertekad akan selalu di samping Vanesa,” jawab Gerry. “Tapi ada yang aneh.”

Mona mengerutkan dahinya. “Apa itu?”

“Clara, lawan main Nolan di film yang sekarang masih syuting sepertinya ingin Nolan dan Vanesa pisah. Pernah dengar berita tentang Clara dan Nolan beberapa bulan lalu, kan?” tanya Gerry.

Mona mengangguk. Ia membuka ponselnya, ada screenshoot tentang berita yang dimaksud Gerry.

Clara menyebutkan bahwa ia menikmati adegan ciuman bersama Nolan. Aktris berumur dua puluh enam tahun itu mengatakan jika bibir Nolan sangat enak dan menggairahkan. “Aku mau saja jika filmnya hanya berisi adegan ciuman. Sepertinya, aku ketagihan,” tambah Clara.

“Ya, tapi tidak lama setelah muncul berita itu. Clara mengklarifikasi jika itu hanya candaan,” jelas Gerry.

“Clara suka dengan Nolan, itu hal yang normal. Namun, apa kau tahu jika Clara sangat dekat dengan Fiara? Mereka bibi dan sepupu,” ujar Mona.

“Lalu?” Gerry tampak bingung.

“Clara pasti ada di kubu Fiara, dan itu berarti ia mungkin saja sedang menjalankan rencana dengan bibinya itu,” ungkap Mona berspekulasi.

“Tapi memangnya apa yang mereka rencanakan?” tanya Gerry.

“Membuat skandal kotor,” jawab Mona yang membuat Gerry terdiam.

***

Saat yang ditunggu-tunggu datang, Vanesa tampil anggun bersama seorang pria yang menjadi manajernya dan tentu saja Nolan. Ketiganya susuk di depan para awak media dengan Vanesa yang berada di tengah.

Sesekali, Nolan melempar senyum ke arah Vanesa agar pacarnya itu juga tersenyum. Ia tahu kalau Vanesa sangat gugup. “Kau bisa melakukan ini, Sayang.”

Suara-suara para wartawan dan jepretan kamera membuat Vanesa semakin terlihat tertekan. Walau sang menajer mencoba membuat para wartawan yang dijaga para bodyguard dan tim keamanan itu agar memberikan ketenangan bagi Vanesa, tetapi tetap saja Vanesa tampil gugup.

Siapa yang tidak gugup saat harus bersiap memberikan klarifikasi atas sebuah skandal yang menghebohkan suatu negeri?

“Selamat malam semua,” sapa Vanesa yang mencoba tersenyum. “Seperti yang sudah saya janjikan. Di sini, saya ingin memberikan klarifikasi atas kebenaran dari rekaman video yang sungguh memalukan itu.

Pertama-tama, saya mohon maaf karena selalu menghindari awak media yang merupakan partner saya untuk terus eksis di dunia hiburan ini. Saya sungguh tertekan. Video itu direkam lima tahun lalu di sebuah hotel ternama.”

Kehebohan pecah kala Vanesa mengatakan kalimat terakhir itu. Semua orang seakan langsung menyimpulkan kalau Vanesa memang orang dalam video itu. Ngocoks.com

“Semua tenang!” seru Nolan yang juga ingin mendengar cerita Vanesa lebih jauh.

“Aska adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam karirku sebagai aktris. Saat aku baru masuk ke manajemen yang sama dengannya, dia banyak memberikan ilmu dan bahkan menawariku banyak job sehingga aku bisa sampai seperti sekarang. Dia mengenalku dengan sangat baik.

“Malam itu, aku bersamanya di sebuah kelab malam. Kala itu, aku sering mabuk-mabukan. Syukurlah tak ada media yang tahu sehingga namaku selalu dicap baik. Aska adalah salah satu orang yang sering bersamaku di kelab.

Malam itu, aku benar-benar mabuk berat. Aku sedang tidak bersama manajerku karena Aska memintaku untuk datang sendiri saja.

“Saat aku mabuk, aku tidak ingat apa pun. Aku ingat ketika aku bangun. Di sebuah hotel bersama Aska. Dia tidur di sofa, aku di ranjang. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya.

Jika video itu benar, maka aku adalah orang di dalamnya. Aska memperkosaku saat aku mabuk,” ungkap Vanesa yang kemudian menangis.

Nolan memberikan tisu untuk Vanesa.

“Tapi, saat aku melihat video itu. Aku merasa ada hal yang aneh. Hal yang membuatku sedikit punya harapan.”

Mata Vanesa yang basah kini tampak menampilkan hal yang berbeda. Bibirnya mencoba tersenyum.

Bersambung… Publik terkejut.

Orang-orang yang menyaksikan pengakuan Vanesa di televisi sungguh dibuat terperangai. Sebagian besar dari mereka langsung mengerti alasan Vanesa yang selama ini tidak mau memberikan klarifikasi.

Kasus pemerkosaan bukan hal yang akan dibicarakan dengan begitu mudah oleh korbannya. Tanda #VanesaMengaku dan #AskaIsOver langsung menjadi trending topic di jejaring sosial Twitter.

Banyak orang yang percaya dengan pengakuan Vanesa. Namun, masih banyak pula yang menganggap bahwa Vanesa hanya bermain sebagai korban dalam kasus itu–padahal kenyataannya belum tentu.

Milan hanya bisa terdiam saat melihat Vanesa yang memasang wajah begitu sedih, dan adiknya ada di layar itu bersama Vanesa. Matanya memandang dengan tidak percaya.

Sebenarnya ada harapan kecil yang hinggap di pikirannya, ia ingin kalau apa yang dikatakan Vanesa adalah benar. Namun, ia tak akan mudah percaya.

“Skenario yang bagus, Vanesa. Tidak salah kau mendapatkan piala Puspa sebagai aktris terbaik. Aktingmu memang luar biasa,” ujar Milan yang berbicara sendiri pada televisi.

***

“Vanesa bakal menang jika ia bisa membuktikan dirinya mabuk pada malam itu. Rekaman CCTV hotel harusnya bisa membantu.l,” ujar Gerry.

“Belum ada perkembangan dari polisi. Siapa penyebar video? Kita belum tahu. Jika Vanesa ingin membawa kasus ini ke permukaan sebagai korban asusila. Kurasa polisi bisa menyelidiki lebih lanjut segalanya. Kasus ini bisa lebih panjang dari yang kita duga,” ungkap Mona seraya mengamati layar televisi.

“Kau benar. Ini bukan masalah yang main-main. Aktor senior yang menjadi panutan telah menodai seorang aktris yang sekarang berada di puncak kejayaannya. Video itu hanya awal dari masalah yang lebih besar dan sensitif,” terang Gerry berpendapat.

“Kecuali satu hal,” ujar Mona.

Gerry mengernyitkan dahi. “Apa?”

“Kemungkinan Vanesa untuk berbohong pada media sama besarnya dengan kemungkinan dia jujur,” jawab Mona seraya memasang wajah serius.

Gerry mengangguk, lalu menoleh ke layar televisi lagi. “Vanesa akan bicara lagi,” ucapnya yang melihat Vanesa sudah tampak tidak menangis lagi.

***

Vanesa tampak mempersiapkan diri untuk kembali bicara. Sekarang, para wartawan dan media sudah tampak lebih diam. Mereka tidak mencecar pertanyaan dan memilih menunggu Vanesa bicara sendiri.

“Aku benar-benar mabuk berat malam itu. Aku tak ingat apa yang terjadi. Bahkan, jika dia memang melakukan itu padaku. Aku tidak akan tahu. Walaupun begitu, aku masih ingat sesuatu saat aku bangun. Di kamar hotel itu, aku menemukan baju. Ya, itu bukan bajuku. Aku merasa aneh kenapa ada baju wanita lain di situ.

“Setelah malam itu, Aska sedikit berbeda dalam menatapku. Aku merasa ada yang ia sembunyikan. Lalu, setelah munculnya video itu. Aku yakin bahwa semua terjadi di malam itu. Harapanku mungkin satu.

Ada kemungkinan wanita dalam video itu bukanlah aku, melainkan wanita pemilik pakaian yang ada di hotel itu. Ya, jika pun itu memang aku. Aku bersumbah bahwa aku dalam keadaan tidak sadar dan orang itu telah menodaiku!” jelas Vanesa yang kemudian menangis lagi.

Vanesa sangat jarang menangis, sehingga saat melihat pacarnya itu menangis, Nolan tampak benar-benar mengerti apa yang dirasakan pacarnya.

“Aku akan membawa kasus ini ke hukum. Ini merupakan pelecehan, iblis itu harus dihukum. Polisi pasti bisa menemukan segala buktinya,” ujar Nolan yang tampak berapi-api.

Vanesa menggeleng. “Tidak perlu. Itu sudah lama. Aku hanya ingin Aska jujur pada publik tentang apa yang sesungguhnya terjadi,” ungkap Vanesa.

***

“Sarah. Kau menonton siaran Vanesa?” tanya Milan yang menghubungi partnernya.

“Ya, tentu,” jawab Sarah.

“Bagaimana menurutmu, apa dia berbohong?” tanya Milan.

“Ayolah Milan! Kau jangan bodoh. Sudah jelas dia berbohong,” jawab Sarah yang terdengar yakin.

“Apa yang membuatmu percaya?” tanya Milan lagi.

Tedengar suara tawa di ponsel yang dipegang Milan.

“Dia tidak berani mengajukan kasusnya ke hukum. Itu karena dia berbohong! Ayolah, jika CCTV dari hotel yang dia maksud diselidiki, hasilnya hanya akan memperlihatkan seorang pelacur yang tengah menggoda suami orang!”

Milan diam. Ia menutup panggilannya. Ia ingin menelepon Fiara, tetapi wanita itu tak akan mengangkatnya. Ia ingin menelepon Mona, tetapi sahabatnya itu tak akan mau mendengarnya lagi.

Ia ingin menelepon Nolan, tetapi adiknya sudah memblokir nomornya. Sekarang, Milan merasa sendiri dalam kekalutan. Percaya atau tidak pada wanita yang sedang berada di depan puluhan kamera itu?

***

Dukungan pada Vanesa begitu besar. Orang-orang kini kembali mencari Aska untuk dimintai keterangan. Namun, Aska sekarang sedang berada di luar negeri untuk agenda syutingnya. Sehingga dia tidak akan bisa ditemui dalam waktu dekat oleh media lokal.

Fiara sendiri memilih menuju makam putranya daripada mengurusi media yang haus akan informasi.

“Kau tahu. Aku menyesal. Ya, aku menyesal karena menyuruhmu pergi malam itu. Betapa bodohnya aku bisa menyuruh anak berusia delapan tahun untuk pergi dari rumah.

Aku menggertak, tetapi kau menanggapinya dengan serius. Aku seharusnya berlari mengejarmu, bukannya menunggumu kembali,” ungkap Fiara seraya mengelus nisan putranya.

“Bibi,” panggil seseorang yang sama sekali tidak membuat Fiara menoleh.

“Jika saja, aku mengejarmu. Kau pasti tidak akan pergi secepat itu,” ucap Fiara yang kini mulai menangis.

“Bibi. Ayo kita pulang. Bibi sudah di sini berjam-jam,” ujar Clara pada bibinya itu.

Fiara menoleh pada keponakannya, ia mengangguk sembari menghapus air matanya. “Ayo kita pergi,” jawabnya.

“Semua akan baik-baik saja,” ujar Clara seraya tersenyum mencoba membuat bibinya.

Fiara berdiri dan mengangguk. “Ya, aku percaya.”

***

Nolan dan Vanesa duduk bersama di sofa. Nolan memeluk Vanesa dan mereka terdiam sembari merenung bersama. Setelah pengakuan Vanesa semalam, rasanya mereka butuh waktu untuk kembali menghadap kamera. Waktu syuting pun mereka tunda, dan sekarang mereka memilih berdua untuk saling menguatkan.

“Apa aku harus menghajar bajingan itu?” tanya Nolan.

Vanesa menggeleng.

“Dia pantas untuk dihajar,” ujar Nolan.

“Tidak ada gunanya,” jawab Vanesa.

“Kenapa kau tidak mau membawa kasus ini ke hukum. Semua akan jelas. Masih banyak orang yang mengira dirimu berbohong, Sayang,” ungkap Nolan. Ngocoks.com

“Aku capek, Nolan. Ini karma buatku, aku tidak ingin melanjutkannya lagi. Aku harus berhenti,” terang Vanesa yang kemudian melepaskan pelukan pacarnya. Ia menghadap ke arah Nolan.

“Apa itu dosa yang pernah kau katakan?” tanya Nolan.

“Yap. Alkohol adalah dosaku. Aku seharusnya jangan minum. Aku seharusnya bisa mengatasi semua pikiran kacauku tanpa harus minum. Itu hanya wujud pelarian diri yang sia-sia. Sekarang aku sudah melihat hasilnya, karma yang datang lima tahun setelah dosa,” terang Vanesa.

“Baiklah. Sekarang, kita hanya perlu menunggu bajingan itu bicara. Semua akan baik-baik saja,” ujar Nolan yang kini membelai wajah pacarnya. “Kita akan berhenti setelah semua selesai.”

Vanesa mengangguk dan memunculkan sedikit senyumnya. “Ya, semua akan baik-baik saja. Berhenti dari semua pekerjaan yang mengharuskan kita berpura-pura. Kita cari hidup yang lebih baik. Hidup di mana kita hanya menjadi diri sendiri,” ungkap Vanesa.

“Kau benar,” jawab Nolan yang langsung mencium bibir wanita cantik di depannya itu.

***

“A-aku, aku adalah wanita dalam video itu,” ucap seseorang di depan kamera yang menyala.

Bersambung… Orang-orang menganggap jika Aska kabur dari tanggung jawab. Semua sosial media pria itu didatangi ribuan netizen yang menginginkan klarifikasi atas pengakuan Vanesa.

Semua orang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Atau sesungguhnya semua orang ingin segera menghakimi yang salah.

Karena kasus suaminya, Fiara tentu mendapat banyak perhatian. Sebelum pengakuan Vanesa, Fiara adalah satu-satunya korban. Vanesa menjadi korban setelah publik mendengar pengakuannya.

Fiara dan Vanesa seharusnya bergabung, itu yang diinginkan publik. Mereka seharusnya bisa saling mendukung. Namun, Fiara enggan memberikan komentar apa pun.

“Bibi saya tidak mau mengatakan apa pun. Vanesa bisa mengatakan apa saja. Dia tidak punya bukti. Ayolah! Semua orang percaya dengan kata-katanya begitu saja? Oh ya, ada satu fakta unik.

Vanesa tidak pernah memakai obat mata untuk adegan menangis di semua filmnya. Jadi? Kalian tahu sendiri, kan?” ungkap Clara pada salah satu wartawan yang mengikutinya.

“Clara, apa itu artinya Vanesa berbohong?” tanya sang wartawan.

“Aku tidak bilang begitu. Tapi, kita selama ini tahu kalau dia sangat pandai berakting. Mungkin, Nolan saja tidak akan tahu kalau dia sedang berakting,” jawab Clara.

“Oh ya, Mbak Clara juga partner Nolan untuk di film Harmoni Cinta, kan? Bagaimana Nolan saat syuting? Apa dia begitu terpengaruh dengan pemberitaan pacarnya?” tanya sang wartawan lagi yang membuat Clara harus berhenti berjalan ke mobil yang sudah menunggunya.

“Nolan still hot like always! Aku bilang padanya untuk tinggalkan Vanesa dan memilih denganku saja. Yap, aku melakukan itu. Aku jujur. Tidak seperti pacarnya,” jawab Clara yang kemudian tertawa.

Saat video wawancara Clara itu disiarkan. Semua orang langsung segera mencaci sosok Clara yang begitu bermulut besar. Selama ini, Clara memang dikenal sebagai sosok yang blak-blakkan.

Namun, tidak sedikit pula yang malah memuji Clara sebagai sosok yang jujur. Banyak yang mendukung pasangan Nolan dan Clara yang dinilai lebih cocok daripada pasangan Nolan dan Vanesa. Cuplikan wawancara itu langsung menjadi trending di Youtube.

Sekarang, kasus video itu telah semakin besar dan menjadi cukup meresahkan. Polisi masih mencoba mencari pelaku penyebaran video itu. Aska juga sudah pernah diwawancarai sebagai saksi oleh polisi.

Ia mengatakan tidak pernah menyimpan video itu. Jadi, siapa yang menyimpan dan merekam video itu. Apa mungkin si wanita yang merekamnya dan kemudian menyebarkannya?

Siapa yang berbohong dalam kasus ini. Vanesa tidak mungkin bisa merekam video dalam keadaan mabuk. Itu pun jika dia memang mabuk. Jika kata-kata Aska benar, maka Vanesa telah berbohong.

Namun, ada hal yang bisa menjadi kunci permasalahan. Kemungkinan jika wanita dalam video itu bukanlah Vanesa. Dari awal, Aska tidak pernah mengatakan kalau wanita itu adalah Vanesa. Jadi, apa yang dikatakan Vanesa bisa benar. Ada wanita lain. Namun, siapakah dia?

***

Di kantor, Milan terlihat tengah sibuk sendiri. Ia mencari-cari berita di internet. Bahkan ia menonton video seorang pakar ekspresi yang menjabarkan tentang video pengakuan Vanesa.

Di situ, sang pakar mengatakan jika Vanesa sangat terpukul. Vanesa sangat sulit untuk mengakatan apa yang terjadi malam itu. Sang pakar tidak menemui kebohongan yang terbaca di wajah Vanesa.

“Apa selama ini aku salah? Apakah aku harus minta maaf padanya?” tanya Milan pada dirinya sendiri.

Milan bersandar pada kursinya yang nyaman dan menghadap ke atas sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa telah gagal. Ia melakukan tindakan gegabah sehingga adiknya meninggalkannya.

“Tidak ada gunanya lagi kau memusuhi Vanesa, Milan,” ujar Mona yang tiba-tiba masuk ke ruangan Milan.

“Mona…,” ucap Milan yang menggantung.

“Seharusnya kau berada di sisi mereka. Nolan dan Vanesa pasti membutuhkanmu. Hentikan Roomphi dan kita bangun kembali Generasi bersama,” ujar Mona seraya tersenyum.

Milan mengalihkan pandangan. “Aku masih butuh waktu untuk berpikir. Sepertinya, aku akan berlibur dulu. Aku percayakan semua urusan kantor padamu saja,” terangnya yang kemudian berdiri dan menutup laptopnya.

Mona mengangguk. “Ya, kau butuh liburan.”

***

Nolan menarik Clara saat berada di lokasi syuting. Pria itu tampak marah. Namun, Clara tampak menyengir dengan malas saat sudah dilepaskan di tempat yang lebih sepi.

“Kau ini ya benar-benar! Bagaimana bisa kau mengatakan hal-hal semacam itu pada media?” tanya Nolan dengan mata tajamnya yang menuju ke arah Clara.

“Apa? Aku hanya jujur. Tidak ada yang aku tutup-tutupi. Memangnya dia bisa jujur sepertiku? Ayolah, Nolan. Kau masih saja mau dibohongi,” ujar Claraseraya menaruh tangannya ke pipi Nolan.

Nolan melempar tangan Clara. “Berhenti ikut campur. Kau tidak berhak mengatakan apa pun,” ujar Nolan yang setengah berbisik karena tidak mau didengar yang lain.

“Hm, kalau aku tetap bicara memangnya kau mau apa?” tanya Clarayang sengaja bicara keras agar ada yang mendengarnya.

“Aku mundur dari film ini,” jawab Nolan.

Claramenggeleng heran sembari tersenyum. “Ayolah, kau akan membayar denda karena memutus kontrak dan pikirkan reputasimu, Sayang!”

“Aku akan berhenti menjadi aktor. Aku tidak butuh reputasi lagi,” jawab Nolan dengan mantap.

“So, karena sudah memiliki Vanesa kau merasa tak memerlukan apa pun? Bodoh! Pikirkan baik-baik. Vanesa tidak pernah merasa dimiliki olehmu!” seru Clarayang merasa menang.

Nolan terdiam.

Clarayang terlihat puas menatap Nolan dengan kasihan. “Makanlah, kita masih ada pengambilan gambar lagi,” ujar Clarayang kemudian enyah.

Apa benar kata Clara? Vanesa tidak pernah merasa dimiliki oleh Nolan. Bukannya mereka saling memiliki satu sama lain?

***

Dua orang sedang duduk berhadapan di sebuah ruangan yang dipenuhi peralatan syuting. Di sana sedang sepi, waktu istirahat. Sosok tampan itu memandang wajah wanita cantik di depannya dengan penuh perhatian.

Rendra mengusap pelan punggung tangan Vanesa. “Semua akan baik-baik saja,” ujarnya.

Vanesa menarik pelan tangannya seakan takut ada yang melihatnya. “Aku tidak yakin,” jawab Vanesa.

“Tidak lama lagi, syuting kita akan selesai. Kau ingin merayakannya?” tanya Rendra seraya tersenyum.

“Di saat seperti ini?” tanya Vanesa.

Rendra mengangguk. “Kenapa? Kau takut dia marah?”

“Tidak,” jawab Vanesa sontak.

“Untuk semua kerja keras kita! Jangan mudah down,” ujar Rendra agar Vanesa mau tersenyum.

Vanesa mengangguk. “Sepertinya kau benar. Aku tidak boleh down,” ucapnya yang kemudian tersenyum. “Ayo kita rayakan ya kalau syutingnya sudah selesai,” jawabnya.

“Kau sudah selesai membacanya?” tanya Rendra lagi.

“Novelnya?” Vanesa balik bertanya.

“Ya. Film kita kan adaptasi novel, kita harusnya membacanya,” jawab Rendra.

Vanesa menggeleng. “Bukannya itu tidak begitu penting? Selama kita tahu naska skenarionya,” jawab Vanesa.

“Seharusnya, saat kita sudah mendapatkan peran. Kita harus total dalam menjalaninya. Termasuk membaca sumber adaptasi dari film yang kita lakoni,” terang Rendra.

“Ya, walaupun sudah telat. Aku akan mencoba membacanya,” jawab Vanesa seraya tersenyum.

“Kau sangat manis saat tersenyum,” ujar Rendra.

Vanesa mengalihkan pandangan. “Di mana sutradara kita? Aku ingin menemuinya,” katanya yang mengalihkan pembicaraan.

Rendra tertawa kecil melihat ekspresi Vanesa.

***

Sebuah video mendapatkan perhatian lebih dari publik. Sebuah pengakuan. Dalam video itu ada seorang wanita yang memakai kaus putih duduk di ruangan yang terang. Sangat jelas bahwa dia sudah mempersiapkan segalanya.

“Aku Tiara, aku adalah wanita dalam video mirip Vanesa yang yang heboh belakangan ini. Aku ingin jujur sebelum semua hal menjadi semakin rumit,” ujar wanita yang tampak mencoba tegar itu.

Tiara membuka sebuah wadah berkas, ia mengeluarkan foto-foto. Saat itu, kamera di-zoom ke arah foto itu. Terlihat, foto demi foto dirinya dengan Aska. Ngocoks.com

Ada foto keduanya tengah berpelukan. Bahkan ada foto di mana Tiara sedang mencium pipi Aska.

“Aku adalah fans berat Aska. Ini foto-foto lima tahun lalu. Ya, sekilas aku mirip dengan Vanesa. Sekarang sudah jelas jauh sekali perbedaannya, tetapi berbeda dengan lima tahun lalu,” terangnya.

Iya membuka sebuah plastik dan di situ ia mengeluarkan sebuah pakaian tidur berwarna cokelat muda.

“Ini adalah pakaian yang tertinggal di hotel itu, aku mengambilnya dua hari kemudian,” ucapnya.

Tiara menaruh baju itu ke atas meja dan kemudian mengalihkan pandangan dari kamera. Ia tampak tengah mempersiapkan diri untuk bicara.

“Aku tidur dengan idolaku dan ya, aku yang merekamnya. Aku benar-benar minta maaf pada Mbak Fiara dan juga pada Vanesa, aku tidak tahu akan seperti ini…,” ucapnya yang kemudian menangis. “Aku akan jelaskan semua apa yang terjadi sebenarnya.”

Bersambung… Mona! Kau harus segera melihat video yang aku kirimkan!

Gerry

Pesan dari Gerry membuat Mona segera mengecek link yang dikirim sebelum pesan itu. Mona yang sekarang berada di ruangan Milan–menggantikan untuk sementara–itu langsung menggeleng pelan saat membaca judul video yang dikirim Gerry.

Aku wanita dalam video menghebohkan yang melibatkan nama Aska dan Vanesa!

Sepanjang durasi, Mona tampak tak percaya. Tampak keraguan dan rasa lega yang terpatri dalam ekspresi yang sulit diungkapkan itu.

“Sebagai fans berat Aska, aku hampir selalu mengikutinya. Ya, kalian bisa mengataiku penguntit dan semacamnya,” ucap Tiara yang tampak mencoba menahan diri untuk tidak menangis. “Lima tahun lalu, aku sering sekali melihatnya bersama Vanesa.

Ya, aku pikir Vanesa adalah sosok yang dia sukai selain istrinya. Jadi, aku memilih untuk bergaya dan berdandan layaknya Vanesa yang saat itu masih pendatang baru di dunia hiburan. Ternyata itu cukup berhasil.

“Aku sering mendapatkan respons baik dari Aska dan akhirnya aku bisa dekat dengannya. Lalu, ya impianku. Pikiran kotorku yang selama ini memenuhi otakku akhirnya aku utarakan padanya. Making Dirty Scandal. Aku bisa tidur dengannya.

“Aska sudah menyewa hotel itu untuk waktu yang lama, jadi saat kejadian Vanesa mabuk itu dia memang sudah menyewa hotel itu. Aku tidur dengan Aska adalah semalam sebelum Vanesa masuk ke hotel itu.

Jadi, itu mengapa Vanesa menemukan bajuku yang tertinggal di sana. Video itu dibuat di sana, aku merekamnya tanpa sepengetahuan Aska. Kalian sulit mengenali pelakon wanita karena memang aku sengaja lebih mengarahkan kamera ponsel itu ke Aska.”

Sekarang Tiara tampak lega, walau air matanya menetes. Namun, ada kelegaan yang bisa terlihat di wajahnya. “Video itu tersebar karena aku menyimpannya di laptopku, aku kehilangan laptop itu.

Mungkin, orang yang menemukan laptop itu yang menyebarkannya. Namun, aku punya bukti di ponsel ini,” terangnya yang kemudian menunjukkan sebuah ponsel keluaran lebih dari lima tahun lalu.

Mona menggulirkan ponselnya untuk melihat komentar-komentar di bawah video itu. Banyak orang yang kaget dan juga tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tiara. Namun, mereka juga tidak bisa mengelak karena wanita itu punya bukti-bukti.

Sekarang, semua sudah mulai semakin jelas. Cerita Tiara benar-benar berhubungan dengan cerita Vanesa. Jadi, jika keduanya jujur. Semua masalah sudah terjawab. Penyebar video itu justru terasa sudah tidak penting lagi.

***

Karena Aska masih belum pulang dari luar negeri, Fiara yang menjadi incaran berita. Saat ditemui di depan salah satu tempat makan bersama temannya. Fiara dihadang oleh beberapa media. Fiara tidak bisa lagi menghindar karena ia tahu jika media memang akan selalu berusaha mencari informasi.

“Sekarang, Tiara sedang diperiksa oleh polisi. Ya, jika ceritanya benar dan bukti-buktinya valid. Semua sudah terbongkar, kan? Itu yang dibutuhkan publik, suami saya sudah tidak perlu mengakui apa pun,” ujar Fiara.

“Lalu, bagaimana hubungan Mbak Fiara dengan Vanesa setelah ini. Apakah Mbak akan minta maaf?” tanya salah satu wartawan.

“Minta maaf? Saya tidak pernah menyebut namanya di media. Kenapa saya harus minta maaf? Hubungan kami hanya sebatas teman sesama artis,” jawab Fiara.

“Tapi, banyak yang menyebut bahwa Mbak Fiara sangat membenci Vanesa. Terutama di satu majalah di mana Mbak Fiara menyebut Vanesa sebagai pelacur,” sanggah sang wartawan.

Fiara tertawa kecil sembari menggeleng. “Aku menunjukkannya untuk wanita dalam video itu. Sekarang kan masih dalam penyelidikan. Apa itu Vanesa atau Tiara, ya salah satu di antara mereka adalah pelacur. Atau dua-duanya, aku juga tidak tahu,” jawabnya yang kemudian berjalan pergi menghindari para awak media.

***

Vanesa berdiri di balkon apartemennya, ia tampak termenung sembari merasakan angin yang menerpa wajahnya sore itu. Ada wajah sedih yang terpatri di sana, tetapi ada juga kelegaan. Saat bel apartemennya berbunyi, ia segera mebalikkan badan karena yakin bahwa yang datang adalah Nolan.

Namun, saat ia membuka pintu itu. Yang datang adalah Milan, orang yang ia anggap seperti kakaknya sendiri.

“Vanesa,” panggil lemah Milan dengan wajah tampak bersalah.

“Kak Milan,” sapa Vanesa yang kemudian tersenyum.

Milan segera memeluk pacar dari adik kandungnya itu. “Maafkan aku, maafkan aku. Seharusnya aku ada di sisimu kala semua pemberitaan itu.”

Vanesa menggeleng. “Tidak perlu minta maaf, Kak.”

Mereka berdua pun masuk dan duduk di ruang makan. Milan membawakan Vanesa makan. Untuk membuat saudara perempuan Nolan itu senang, ia memakan makanan itu dengan lahap.

“Sebentar lagi, semua akan selesai. Namamu akan kembali membaik dan perlahan semua orang akan melupakan kasus itu,” ujar Milan seraya tersenyum. “Mungkin, tahun depan kau sudah bisa menikah dengan Nolan.”

Vanesa menghentikan makannya. “Menikah?”

Milan mengangguk dengan semangat. “Tenang, jangan memikirkan itu dulu. Kau masih butuh waktu.”

Vanesa mengangguk pelan. “Iya, Kak.”

“Aku seharusnya tetap percaya padamu,” ujar Milan seraya tertawa kecil untuk menutupi ekspresi penyesalannya. “Ternyata wanita itu bukanlah kau, Van. Sesaat setelah pengakuanmu itu, aku benar-benar merasa menjadi kakak yang buruk. Bagaimana aku malah menyerangmu dan tidak mendukungmu di posisi terbawahmu, aku sangat buruk sebagai Kakak.”

Milan menunduk sembari menghapus air matanya yang mulai menetes di ujung mata. Lalu, ia kembali mengangkat wajahnya dan menatap Vanesa beserta senyumnya.

***

Gerry dan Mona kembali bertemu di kafe yang sama seperti sebelumnya. Mereka membahas kembali kasus Vanesa.

“Ada yang aneh dengan pengakuan Tiara, kan?” tanya Gerry yang memperhatikan Mona sedang menonton kembali video itu.

“Tiara melakukan itu sehari sebelum Fiara datang diantar Aska ke kamar itu, kan? Berarti masih ada kemungkinan Vanesa juga melakukan itu dengan Aska,” jawab Mona.

“Ini justru semakin rumit, ada banyak kemungkinan yang melandasi kasus ini. Selama Aska belum pulang dan tak mau memberikan klarifikasi. Kita tidak bisa menemukan kebenaran sejati dari kasus ini.”

“Kau benar, Mona. Pengakuan Tiara itu pun seperti sangat profesional. Kamera yang dipakai, editing, dan semuanya. Serasa sudah dipersiapkan matang-matang,” ujar Gerry. Ngocoks.com

“Jika landasan dia mengaku agar semua permasalahan menjadi jelas, tetapi aku malah semakin tidak mengerti. Laptopnya dicuri dan orang yang memegang laptop itu menyebarkan video itu begitu saja? Apa itu masuk akal?”

“Ya, aku pun juga berpikir demikian. Pengakuannya aneh,” ujar Mona.

“Kalau diibaratkan pengakuan Vanesa dan Tiara itu…,” ucapan Gerry terhenti.

“Seorang aktris profesional dan orang awan yang disuruh berakting,” sahut Mona.

Gerry mengangguk tanda itu yang ingin disampaikannya pada Mona. “Ya, kau benar. Seperti itu ibaratnya.”

“Jadi, kau pikir Vanesa berbohong?” tanya Mona. “Aku belum seratus persen percaya dengan keduanya. Tapi Vanesa hampir mustahil berbohong, semua yang ia katakan masuk akal.”

Gerry mengangguk tanda mengerti maksud Mona. “Apa hanya Tiara yang berbohong?”

“Aku juga tidak tahu. Semua masih belum jelas,” jawab Mona. “Jika Tiara berbohong, pasti ada yang menyuruhnya.”

“Wanita dalam video itu benar-benar sulit ditebak. Dari foto Vanesa lima tahun lalu, dan foto Tiara lima tahun lalu. Mereka memang terlihat mirip, apalagi di dalam video yang kurang jelas itu,” ujar Gerry. “Apa yang bisa kita lakukan sekarang?”

“Tidak ada. Kita hanya bisa menunggu,” jawab Mona.

Bersambung… “Sejak kapan kau tak mau mengendarai mobil lagi? Kadang, kalau aku bosan aku akan mengendarai mobil ini entah ke mana,” ujar Milan yang duduk di jok kemudi.

Vanesa yang duduk di samping Milan menoleh ke arah jendela mobil. “Mungkin enam tahun lalu, aku lupa. Aku dulu pemabuk, jadi tidak bisa mengendarai mobil dengan benar. Ya, aku trauma saja, Kak,” jawab Vanesa yang kemudian tertawa kecil ke arah calon kakak iparnya.

Milan balik tertawa kecil. “Oh ya, jadi ingat beberapa hari lalu aku mabuk, aku hampir menabrak motor. Untung, aku masih punya sedikit kesadaran,” ujarnya.

“Hati-hati, Kak. Lain kali, jangan mengemudi saat mabuk,” Vanesa menyahut dengan nada bercanda.

Milan mengangguk. “Aku malah berpikir untuk sepertimu, berhenti mengonsumsi alkohol. Aku sebelumnya juga merokok, tapi sudah berhasil aku atasi. Alkohol juga harus kuatasi,” ungkap Milan dengan semangat.

“Bagus, Kak!” seru Vanesa seraya menyemangati Milan.

Mereka berhenti di sebuah swalayan. Keduanya turun dari mobil yang sudah diparkirkan dan segera masuk departement store itu untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Sejak kasus itu, Vanesa memang tidak begitu peduli lagi dengan kebutuhan sehari-harinya. Sehingga Milan berinisiatif untuk mengajak peraih piala Puspa itu untuk berbelanja.

***

Identitas dari Tiara mulai ditelusuri, ia memang seorang penggemar garis keras dari Aska, ternyata dia juga merupakan mantan ketua fansclub Aska yang dinamai Askawan.

Bahkan, beberapa anggota Askawan yang mengenal Tiara sudah tidak kaget jika wanita dalam video itu memanglah Tiara.

Lambat laun, pemberitaan tentang skandal Aska dan Vanesa mulai kurang terdengar lagi. Walaupun Aska masih belum bisa ditemui oleh media, tetapi polisi sudah tidak mencarinya.

Itu sungguh berbeda dengan Mona dan Gerry yang masih ingin tahu cerita sebenarnya. Mereka masih sering bertemu untuk sesekali membicarakan kasus itu.

“Sudah dua minggu sejak video pengakuan Tiara, sepertinya semua sudah tampak normal kembali. Vanesa juga sudah aktif mengunggah foto selfie-nya di Instagram. Orang-orang sudah yakin kalau wanita itu adalah Tiara,” ungkap Mona yang kemudian meminum kopinya.

“Tiara berada di kamar hotel itu di malam yang berbeda dengan Vanesa, ya kan? Jika itu video Tiara, bukan tidak mungkin ada video Vanesa juga,” ujar Gerry.

Mona mengangguk. “Banyak orang yang menanyakan itu juga. Namun, kembali ke pengakuan Vanesa. Ia mabuk dan tak sadarkan diri saat itu, jadi jika Aska melakukan itu pada Vanesa.

Ini merupakan kasus pemerkosaan,” jawab Mona. “Tapi, karena Vanesa sudah tidak ada bukti–karena video itu sudah tidak bisa dijadikan bukti lagi jika wanita itu bukan Vanesa–maka Vanesa tidak bisa melakukan apa-apa, dan dia tidak bisa mengajukan perkara hukum kepada Aska karena dia tidak merasa dan hanya menduga, saja kan?”

Gerry menyipitkan matanya seakan mengerti. “Kau berpikiran sama sepertiku?”

“Apa?” tanya Mona.

“Pengakuan Vanesa membuat Aska takut! Sehingga ia menyuruh Tiara untuk mengaku bahwa wanita dalam video itu adalah Tiara. Dengan begitu, ia tidak akan terjerat kasus pelecehan seksual,” jawab Gerry.

Mona mengangguk dan tampak tertarik dengan teori Gerry. “Iya juga. Pengakuan Tiara bisa jadi hanya kamuflase untuk menutupi kebenaran!”

“Jadi, video itu memanglah Vanesa yang sedang dilecehkan oleh Aska,” tegas Gerry.

“Kita harus cari bukti,” kata Mona.

“Kau tahu caranya?” tanya Gerry.

“Kau jangan meremehkanku, kau akan lihat bagaimana caraku mencari kebenaran,” jawab Mona.

“Aku percaya padamu,” ucap Gerry seraya menaruh tangannya di atas pundah Mona.

“Enyahkan tanganmu,” suruh Mona.

“Maaf,” jawab Gerry sembari meringis.

Keduanya pun bertatapan sebelum akhirnya tertawa kecil.

***

Nolan harus datang dalam konferensi pers untuk perilisan trailer film terbarunya bersama Clara. Tentu saja, di depan media Nolan dituntut untuk bersikap menyenangkan saat bersama lawan mainnya.

Sesungguhnya, ia lelah berakting untuk selalu mesra dan akrab bersama Clara. Akhir-akhir ini, Clara memang sangat tidak menyenangkan.

“Ya, pokoknya di film ini. Aku jadi wanita yang tertindas dan butuh seorang pangeran tampan,” Clara melirik ke arah Nolan, “untuk menyelamatkanku dari dept collector. Ah, pokoknya pertemuan Gina dan Raynald di film ini pasti bikin gemas,” ungkap Clara yang begitu senang. “Iya, nggak Lan?”

Nolan mengangguk seraya tersenyum. “Aku menyukai karakter yang aku bawakan, sebagai pemuda yang tidak memiliki keluarga. Rayland termasuk karakter yang kuat dan bisa diandalkan,” ujar Nolan.

“Nolan juga bisa diandalkan, kok,” ujar Clara seraya tersenyum gembira ke arah Nolan.

“Clara juga,” sahut Nolan agar suasana lebih menyenangkan.

Tiba-tiba ada pertanyaan yang membuat Nolan dan Clara tampak terkejut.

“Adegan ranjang?” tanya Nolan memastikan. “Ah, kami menikmati prosesnya. Tidak ada yang berat,” lanjutnya seraya mengangguk dan mengharapkan pertanyaan itu tak melebar.

“Di sini cukup lucu, adegan itu adalah adegan yang berbeda dengan keseharian kami. Di film, Nolan harus lebih agresif, padahal aslinya aku yang lebih agresif,” jawab Clara seraya tertawa. “Iya, kan Nolan?”

“Aku tidak tahu,” jawab Nolan seraya tertawa.

“Kau lupa kita sudah pernah melakukannya?” tanya Clara.

Nolan tertawa dengan canggung. “Olahraga bareng di GBK, kan?”

Clara tertawa singkat.

Saat konferensi pers itu selesai. Nolan membawa Clara ke tempat yang sepi. Ia benar-benar kesal atas candaan Clara yang di luar batas.

“Kenapa kau bercanda seperti itu? Media sangat sensitif sekarang,” ujar Nolan yang menahan amarahnya.

“Nolan, aku hanya bercanda. Kita kan tidak perlu setegang itu,” jawab Clara seraya mengaluhkan tangannya ke leher Nolan.

Nolan segera mengenyahkan tangan Clara dari lehernya. “Ini adalah kerjasama terakhir kita. Aku tidak mau lagi bermain film denganmu!”

Clara memiringkan wajahnya, kemudian ia menampar dirinya sendiri. “Ah! Apa yang kau lakukan, Nolan!” serunya seraya memegangi pipinya.

Nolan tampak kaget.

Beberapa orang keluar dari ruangan mendengar suara Clara. “Apa yang terjadi?”

Clara yang memegangi pipinya langsung lari, membuat situasi canggung bagi Nolan yang tak bisa menjelaskan apa-apa pada tatapan sinis para staf itu.

***

“Clara melakukan itu padamu?” tanya Vanesa yang tampak heran.

Nolan yang sedang menyiapkan bahan masakan itu mengangguk. “Dia sangat menyebalkan.”

Vanesa tertawa kecil. “Dia fans-mu. Ada banyak penggemarmu yang tidak setuju dengan hubungan kita. Jadi, aku rasa itu wajar. Fans memang ada yang overprotective,” ujarnya yang kemudian memperhatikan apa yang akan dimasak Nolan.

Nolan ikut tertawa. “Kau benar. Kau tidak ingin cerita tentang orang-orang di lokasi syuting?” tanyanya yang tampak penasaran.

“Tidak ada yang perlu diceritakan, semuanya normal,” jawab Vanesa. “Bawangnya terlalu banyak, Sayang.”

“Kau jangan mengganggu. Duduklah, biar aku saja yang masak untukmu,” ujar Nolan yang mengusir pacarnya itu.

Tiba-tiba bel berbunyi.

“Mungkin Kak Milan, suruh saja dia masuk,” ujar Nolan.

Vanesa mengangguk dan langsung segera menuju ke arah pintu. Ia membuka pintu dan mendapati Milan dengan wajah marahnya. Ngocoks.com

“Di mana Nolan?” tanya Milan.

“Di dapur, Kak,” jawab Vanesa yang tampak heran dengan ekspresi Milan.

Milan segera menarik tangan Vanesa dan membawanya ke dapur.

“Pelan-pelan, Kak!”

“Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi!” seru Milan saat sampai di dapur.

Nolan dan Vanesa tampak bingung dengan kata-kata Milan. Itu membuat Milan segera membuka tas tangannya dan mengeluarkan beberapa foto.

“Jelaskan!” serunya seraya menaruh foto itu ke meja.

Vanesa dan Nolan segera mengambil foto-foto itu. Kening mereka pun mengerut. Sembari menggeleng, keduanya tampak tak percaya.

Bersambung… Sebuah bukti-bukti baru mencuat, drama kasus skandal Aska dan Vanesa yang sepertinya sudah berakhir ternyata memasuki babak baru. Foto-foto bukti pertemuan Vanesa dan Tiara mencuat, Vanesa dinilai telah membayar Tiara agar mengaku bahwa masalah siapa wanita dalam video itu.

Publik langsung geger mendengar berita itu. Terlebih lagi, satu-satunya orang yang bisa memberi konfirmasi atas berita itu tak menampik.

“Aku butuh uang,” ujar Tiara yang ditemui wartawan di sebuah pusat pembelanjaan.

Walau jawaban Tiara tidak memberikan secara gamblang bahwa ia dibayar oleh Vanesa, tetapi kata-kata itu sudah cukup menjadi bukti bahwa ia memang dibayar oleh seseorang agar melakukan pengakuan.

***

“Terangkan semua itu!” seru Milan yang kini mulai menangis. “Aku tidak tahu kau benar-benar pintar mempermainkan orang. Semua orang kau bodohi dengan dramamu itu! Kenapa tidak mengaku saja dan semua akan selesai! Kau malah membuatnya menjadi rumit!”

“Vanesa, tolong jawab. Apa ini benar?” tanya Nolan yang mencoba tenang.

Vanesa terus menggeleng melihat foto-foto itu. “Ini bukan aku. Aku berani bersumbah bahwa ini bukanlah aku! Aku tidak pernah membayar siapa pun untuk melakukan hal semacam itu,” jawab Vanesa.

“Oke, ini memang terlihat sepertimu, tapi sebuah foto tak bisa dipercaya begitu saja, kan?” ujar Nolan yang kemudian menatap kakaknya dengan pandangan kurang suka.

“Tiara sudah mengaku,” ucap Milan.

“Kau percaya wanita itu daripada Vanesa?” tanya Nolan.

“Aku percaya pada bukti itu dan Tiara hanya sebagai penguat. Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang, aku sudah muak mengurusi ini. Silakan jika kau masih percaya pada wanita itu,” Milan menunjuk Vanesa. “Aku akan pergi,” lanjutnya yang kemudian pergi dengan air mata yang bercucuran.

“Kau percaya padaku, kan?” tanya Vanesa.

Nolan yang tak bisa mencegah kepergian kakaknya langsung menoleh ke arah pacarnya lagi. Ia pun kemudian memeluk Vanesa. “Ya, aku akan selalu percaya padamu. Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja.”

***

Kepulangan Aska di bandara dikerumuni oleh media, kali ini media tak mau menunggu lagi. Mereka sudah haus dengan informasi dan kebenaran dari segala hal yang berseliweran dalam berita mengenai skandal yang membawa nama Vanesa.

“Aku benar-benar bingung ketika tahu wanita bernama Tiara itu tiba-tiba mengaku bahwa dia adalah wanita dalam video itu. Aku sama sekali tidak pernah tidur dengannya. Tanpa aku mengatakan namanya, kalian sudah tahu siapa yang sedang bersandiwara,” jawab Aska saat ditanya oleh media mengenai Tiara.

“Katakan saja namanya, semua orang ingin kejelasan,” seru beberapa wartawan.

“Suruh saja Vanesa mengaku,” kata Aska yang kemudian ingin pergi.

Berita wawancara Aska tersebut langsung membuat publik kembali heboh karena drama ternyata belum berakhir. Banyak yang memilih lelah untuk ikut berkomentar, tetapi banyak pula yang malah semakin geram dengan kasus yang ternyata bergulir lagi.

Media pun mewawancarai orang-orang untuk mengambil sampel reeaksi masyarakat tentang kasus skandal kedua artis papan atas itu. Salah satu wartawan mendekati kumpulan orang-orang yang sedang makan di sebuah tempat makan terbuka.

“Apa pendapat kalian tentang kasus ini?”

“Kalau aku jujur udah muak ya, udah nggak peduli siapa yang salah,” jawab seorang wanita berambut keriting yang sedang mengambil bawang dari nasinya karena dia tidak suka bawang. “Tadi kan aku minta yang tidak ada bawangnya!”

“Kalau aku sih, masih ikut terus perkembangannya. Jadi seru aja, ternyata si Vanesa bayar si Tiara. Alurnya belum bisa ditebak, lebih asyik daripada nonton sinetron yang itu-itu saja,” jawab wanita yang sedang mengambil makanan milik temannya.

“Punyamu kan masih ada! Kok ambil punyaku satenya!” seru si korban pembegalan sate.

“Kalau aku sebagai pria, tentu tidak suka mengikuti gosip, tapi pacarku selalu saja membicarakan tentang Vanesa dan Aska. Aku jadi ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, sejauh ini cukup menarik,” jawab satu-satunya pria yang ada di situ.

“Kalau kalian harus memilih, kalian ada di pihak mana?” tanya sang wartawan lagi.

“Aku rasa semuanya di-setting, jadi aku tidak mau memihak,” sahut si wanita berambut keriting itu.

“Aneh kalau ini diset. Sebelum kena kasus ini, baik Aska maupun Vanesa udah begitu gemilang. Apalagi Vanesa yang notabenya ada di puncak karir, menurutku dia sudah tidak perlu skandal buat tenar,” sahut si pembegal sate.

“Tapi kan bisa ada alasan lain di balik sekandal itu kenapa harus di-setting,” sanggah di korban pembegalan.

“Yang jelas di sini kami tidak memihak siapa pun, kami memihak kebenaran. Kami ingin tahu kebenarannya,” ujar si pria yang langsung disetujui ketiga temannya.

***

Kali ini, Fiara mau datang ke sebuah acara talkshow, tampaknya ia ingin kembali menyuarakan apa yang ia pikirkan. Namun, Fiara tidak sendiri. Ada sang keponakan yang tak lain adalah Clara yang belakangan ini memang sering muncul di infotainment karena tanggapannya yang sering dianggap kontroversial.

“Kalau sebelumnya, Melly udah datangkan Bang Aska, sekarang kita kedatangan Mbak Fiara dan Mbak Clara, kalian berdua cantik-cantik sekali,” ujar Melly seraya menyapa kedua bintang tamunya.

“Akhirnya diundang Kak Melly lagi ke sini, sudah lama tahu aku belum ke sini lagi,” ujar Clara seraya tertawa kecil.

“Silakan duduk dulu,” suruh Melly dengan ramah.

Clara yang tampak ceria pun segera duduk, sedangkan Fiara yang tampak kurang ekspresif ikut duduk di sebelah keponakannya. Penonton dalam studio itu tampak mulai serius ingin mengikuti acara.

“Sebelum kita memulai ngobrol, kita lihat dulu cuplikan video yang sudah kami rangkum dari Tim Melly’s Show,” ujar Melly yang kemudian menoleh ke belakang ke arah layar LCD berukuran besar.

Di layar itu langsung muncul video berita tentang kasus skandal Vanesa dan Aska.

Kasus skandal yang menimpa artis besar mengguncang tanah air selama beberapa waktu terakhir ini. Dimulai dari munculnya sebuah video mesum yang menyeret nama Vanesa Francisca, publik langsung dibuat heboh.

Video berdurasi kurang dari tiga menit itu menampilkan seorang wanita dan seorang pria yang melakukan adegan seksual. Dari tato di lengan sang pemeran pria, publik menduga bahwa aktor besar Aska Kusuma Bestari.

Awalnya, baik Vanesa maupun Aska tidak ada yang mau memberikan konfirmasi. Hingga sebuah rekaman suara pertengkaran Aska dan istrinya tersebar, publik diberi kejelasan tentang siapa pemeran pria dalam video itu. Aska kemudian mengaku di acara The Melly’s Show.

Tidak lama setelah pengakuan Aska, Vanesa akhirnya tampil di depan media bersama sang kekasih dan manajernya. Ia berdalih jika ia sedang mabuk sehingga tak punya kesadaran dalam waktu itu.

Publik langsung mengecam Aska karena menganggap kasus itu sebagai pelecehan seksual. Walau begitu, Vanesa tidak mau melaporkan Aska ke polisi untuk penyelidikan. Ngocoks.com

Tidak berhenti di situ, pengakuan mengagetkan kembali muncul dari seorang wanita bernama Tiara yang mengaku sebagai wanita dalam video itu. Ia memberikan bukti-bukti, seperti pakaian yang ia pakai pada waktu itu dan ponsel yang digunakan untuk merekam video.

Pada titik itu, publik sudah cukup diam karena merasa segalanya mulai jelas. Walau tanpa konfirmasi Aska yang sedang berada di luar negeri, publik sudah cukup percaya dengan pengakuan Tiara.

Dua minggu berselang, babak baru dari kasus ini dimulai, sebuah foto-foto bukti bahwa Vanesa dan Tiara sudah pernah bertemu dan diberitakan bahwa mereka melakukan transaksi muncul. Vanesa dituding telah membayar Tiara untuk membuat pengakuan palsu.

Saat Aska kembali ke tanah air, ia langsung memberikan kejelasan bahwa memang Vanesalah orang dalam video itu. Ia juga menyindir Vanesa untuk segera mengaku. Publik menilai bahwa ini akan menjadi akhir karir bagi Vanesa.

“Setelah menonton video itu, pendapat Mbak Fiara bagaimana?” tanya Melly.

Fiara mulai duduk dengan tegak, dari tatapannya terlihat sudah mantap ingin mengungkapkan apa yang ia rasakan.

Bersambung… “Saya mengakui jika Vanesa adalah aktris berbakat. Namun, apa yang dia lakukan sangat menjijikkan. Segala drama dari kasus ini dibuat olehnya, memutarbalikkan fakta hingga berperan menjadi korban dengan merasa dirinya telah dinodai.

“Dengan karir yang begitu gemilang, ia tidak membutuhkan skandal. Jadi, saya katakan tidak ada settingan dalam pembuatan video itu, itu adalah murni aib suami saya dan juga si jalang itu.

Jika orang bertanya bagaimana perasaan saya? Merasa dibohongi selama bertahun-tahun itu sakit, apalagi kebohongan itu menyangkut sebuah kesetiaan. Saya marah dengan Aska, tetapi memilih memaafkannya karena saya ingin menjadi istri yang setia,” ungkap Fiara.

“Tapi kalau ke si wanita beda lagi, ya?” tanya Melly.

Fiara mengangguk. “Saya tidak akan memaafkan Vanesa. Bagaimana caranya memutarbalikkan fakta menunjukkan seberapa buruk kualitasnya sebagai wanita. Sejak video itu muncul, ia terus menghindar.

Itu respons normal, tetapi setelah kasus semakin memanas ia keluar dan menceritakan kebohongan besar yang memojokkan Aska. Ia mengatakan secara tidak langsung jika Aska telah memperkosa dia! Namun, di sana ia memberi clue untuk rencana cadangannya.

Yaitu, dengan memberikan alternatif kejadian. Ia bilang bahwa ia menemukan pakaian yang bukan miliknya, mengindikasikan bawah bukan dirinya yang ada dalam video itu. Jadi apakah dia atau bukan, ia akan terlihat tidak bersalah.

“Pengakuannya dibuat saat Aska sedang tidak di tanah air, itu akan meminimalisir sanggahan. Saya melihat bahwa ia menginginkan atensi dari publik, ia mendapatkan itu. Namun, karena tidak punya bukti, masih banyak orang yang ragu.

Akhirnya, rencana kedua dilancarkan yaitu menyuruh Tiara untuk mengakui hal itu dengan bukti-bukti yang ia simpan, karena sesungguhnya bukti itu akan menunjukkan bahwa dia adalah dalangnya. Si perekam video sekaligus si wanita dalam video itu.

“Namun, Vanesa tidak memperhatikan sekeliling saat melakukan transaksi. Dalam posisinya yang sedang menjadi incaran media, ia selalu diikuti oleh awak media yang menyamar. Vanesa begitu ceroboh dalam hal itu.

Namun, itu bagus. Sekarang, publik tahu jika aktris yang digadang-gadang akan menjadi aktis go international dan mengharumkan nama bangsa, malah menjadi aktris murahan.”

Suasana tampak tegang, Melly sendiri sulit untuk memberikan respons, tetapi ia mencoba tersenyum. “Wah, terima kasih Mbak Fiara. Kalau boleh tahu dari kacamata Clara bagaimana?” tanyanya seraya mempersilakan Clara untuk menjawab.

“Aku sendiri tidak melihat bahwa ini suatu masalah besar. Maksudnya, kenapa harus membuat drama dan tidak mengatakan sejujurnya saja? Jika Vanesa mengatakan bahwa itu memang terjadi, dalam tanda kutip ia bermain panas di belakang bibiku, Fiara dengan pamanku, Aska.

Mungkin publik akan memaafkan karena kejadiannya sudah lima tahun yang lalu. Contohnya saja Bi Fiara yang memaafkan suaminya. Akan tetapi, karena Vanesa memilih bermain drama akhirnya dia sendiri yang kena batunya,” ungkap Clara.

“Menurut Clara, Vanesa orangnya bagaimana sih?” tanya Melly dengan nada yang seakan dibuat bahwa dia begitu penasaran.

“Vanesa is full of fake. Bukan bakat atau rupanya yang palsu, dia cantik harus aku akui, dia berbakat ya, harus aku akui juga. Dia juga punya kekasih kayak Nolan. She is already perfect. Namun, persona dia yang begitu palsu.

Dia itu berlagak seperti tak punya dosa, seakan kalau dia itu artis baik-baik. Mungkin manajemennya menyuruhnya untuk selalu menampilkan imej seperti itu. Tapi, dia itu fake. Tidak alami.

Setiap apa yang dia lakukan terkesan punya maksud agar orang menganggapnya seperti apa yang dia inginkan. Berbeda denganku yang apa adanya, aku katakan kalau aku ingin Nolan putus dari Vanesa, aku katakan dengan lantang. Why? Lebih dari separuh penggemar Nolan juga ingin sekali itu terjadi.

Aku katakan kalau aku menyukai adegan ciumanku dengannya juga adegan ranjang, semua aku katakan tanpa memperhatikan resiko kalau aku akan diccap murahan atau apa.

“Sekarang lihat Vanesa. Dia ingin menampilkan dirinya seperti she is too good to be true. Aktris cantik, kata, berbakat, punya kekasih sempurna, tanpa skandal, namanya selalu dicap baik. Namun, ternyata dia menyimpan keburukan. Ya, berhubungan badan dengan lelaki yang sudah bersuami itu sangat murahan.”

“Bukan aku bela Vanesa ya,” ujar Melly, “tapi memang kalian tahu cerita aslinya? Sampai mengatakan seperti itu?”

“Katakan saja,” ucap Fiara pada Clara yang sepertinya minta izin dulu untuk menjawab.

“Sekarang, aku mau kasih tahu yang sebenarnya. Paman Aska sudah menjelaskan segalanya pada Bibi Fiara dan aku. Semua orang juga sepertinya perlu tahu,” ungkap Clara.

“Lima tahun lalu, Vanesa hanya akris pendatang baru yang namanya belum diperhitungkan. Ia mengenal pamanku saat mereka ada dalam satu project, di sanalan mereka mulai kenal. Vanesa meminta bantuan pamanku untuk bisa tampil menjadi pemeran utama di film besar.

“Pamanku melihat Vanesa punya bakat dan look yang sesuai dan ia memberikan bantuan. Sebagai gantinya, Vanesa ingin membayar hal itu pada pamanku. Ia ingin membayar dengan sesuatu yang tak akan dilupakan.

Oke, kalian sudah tahu arahnya. Vanesa menawarkan tubuhnya untuk dijajah pamanku sebagai bayaran. Pamanku hanya tertawa karena mengira itu candaan, tetapi Vanesa serius.

“She is truly a bad bitch. Ia menyukai pamanku. Saat pamanku mabuk, ia menggodanya. Pamanku yang tak bisa berpikir jernih akhirnya mau menuruti kata-kata Vanesa. Keduanya melakukan itu di sebuah hotel.

Vanesa merekamnya untuk dirinya sendiri. Jika orang menanyakan kenapa video itu bisa tersebar bisa jadi orang di manajemennya atau ponsel dan laptopnya diretas. Oh, c’mon we dont fucking care who share it!”

Acara talk show itu pun segera menjadi perbingangan baru bagi publik. Sekarang, nama Vanesa sudah semakin dibenci.

***

Vanesa duduk di ranjangnya sembari menatap ke arah jendela. Ia tak mau ke mana-mana. Di dalam tangisnya, ia tersenyum, tertawa sendiri seperti ada yang lucu. Dalam situasi yang ia hadapi, tampak sekali mengenai kesehatan psikisnya.

Nolan yang baru datang setelah membeli makan, mendekati kekasihnya itu. Ia duduk di sebelah Vanesa sembari memperhatikan wajah yang bergeming.

“Aku ada bersamamu,” ucap Nolan seraya merangkul kekasihnya.

Vanesa menoleh ke arah Nolan dan menyingkirkan tangan pria itu dari tubuhnya. “Aku rasa kita harus berakhir di sini,” ujarnya.

Nolan mengerutkan dahinya. “Berakhir? Apa maksudmu, Sayang?”

“Kau harus pergi tinggalkan aku,” jawab Vanesa yang terlihat menahan tangis.

“Tidak akan,” ujar Nolan.

“Pergilah. Tak ada alasan lagi kau ada di sini,” terang Vanesa yang kemudian berdiri.

“Apa maksudmu menyuruhku pergi? Karena berita itu? Aku sama sekali tidak peduli tentang apa yang orang katakan,” kata Nolan yang juga ikut berdiri. Ngocoks.com

“Bagaimana jika mereka benar?” tanya Vanesa.

Nolan terdiam beberapa detik. “Aku tidak peduli meskipun kau memang melakukan apa yang dikatakan media. Aku tetap akan ada di dekatmu,” jawabnya tegas.

“Kau tidak sepatutnya mengatakan itu. Aku tahu kau goyah, Nolan. Kau tidak akan bisa bertahan lebih jauh. Mereka masih belum selesai,” jawab Vanesa dengan tatapan yang tampak menampilkan getir yang begitu terasa.

“Kau salah. Justru aku akan menjadi tameng yang lebih kuat,” ujar Nolan.

“Kau tidak mengerti,” jawab Vanesa. “Apa yang media katakan masih lebih baik dari apa yang sebenarnya aku lakukan.”

“Apa yang kau maksud?” tanya Nolan yang tampak tidak mengerti.

Dengan mata yang basah, Vanesa menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Nolan menggeleng tak percaya. Cara dia melihat Vanesa berubah seutuhnya. Ia pun memilih pergi untuk menemukan tempat di mana dia bisa berteriak dan mencurahkan segalanya.

Bersambung… Suasana justru semakin menunjukkan bahwa Vanesa memang bersalah. Itu terlihat dari hilangnya seluruh akun media official-nya. Seluruh akun-akun itu lenyap. Publik menyebut Vanesa memilih kabur dari serangan dan itu dikatakan sebagai tindakan pengecut.

Berbeda dengan publik, Mona menemukan bukti-bukti yang menyatakan hal yang mengejutkan. Apa yang tersampaikan oleh media tak seperti yang sebenarnya. Sebagai seorang yang hidup dalam lingkup media, Mona sudah belajar begitu banyak.

Gerry berhenti meminum kopinya di kafe itu. “Kau yakin?” tanyanya saat Mona memperlihatkan hal-hal yang dia temukan.

“Aku sangat yakin. Orang yang membayar Tiara adalah Aska dan Fiara. Ponsel yang digunakan untuk merekam video itu adalah Iphone 5s, melihat foto-foto lima tahun lalu, ponsel itu adalah milik Aska.

Vanesa tidak pernah memiliki ponsel itu,” terang Mona seraya menunjukkan foto ponsel di video pengakuan Tiara dan foto Aska lima tahun lalu yang memegang sebuah ponsel. “Ada retak yang sama di bagian atas.”

“Kau yakin Fiara juga ikut andil?” tanya Gerry.

“Wanita dalam foto transaksi Tiara yang tersebar bukanlah foto Vanesa melainkan foto Fiara,” jawab Mona. “Saat melihat acara talk show kemarin, aku menemukan bahwa Fiara sudah akrab dengan Tiara.

“Dia mengatakan seperti ini, ‘rencana kedua dilancarkan yaitu menyuruh Tiara untuk mengakui hal itu dengan bukti-bukti yang ia simpan.’ Fiara jarang langsung menyebut nama dengan begitu gamblangnya, tetapi dengan mudah ia menyebut nama Tiara.”

“Itu tidak menjadi bukti, kan?” tanya Gerry yang masih ragu.

“Kau amati lagi foto-foto ini. Kenapa orang yang memotret tidak menampilkan wajah Vanesa secara utuh. Seakan ada efek blur yang membuat wajah Vanesa tampak kabur. Itu karena ini bukanlah Vanesa, media saja yang mengatakan itu.

Upaya Fiara menyerang Vanesa tampak begitu jelas rasa dengki yang begitu besar di dirinya. Jika kau melihat video-videonya sebelum kasus ini muncul, Fiara memang tidak pernah menyukai Vanesa. Seakan Vanesa telah melakukan kesalahan yang besar padanya,” ungkap Mona.

Gerry masih bertanya-tanya. “Terus, apakah kesalahan itu hanya sebatas Vanesa sudah berhubungan badan dengan Aska? Rasanya aneh jika Fiara memaafkan Aska begitu saja, tetapi ia seakan bersumpah tak akan memaafkan Vanesa.”

“Ya, itu dia. Alasan dari ini semua sebenarnya apa? Tapi, aku menemukan sebuah jawaban yang benar-benar mengejutkan. Aku tidak yakin ini benar, tetapi aku memikirkan ini setiap saat. Aku harap kau jangan mempercayaiku,” terang Mona.

Gerry mengernyitkan dahinya. “Katakan saja,” ujarnya.

Mona pun mengatakan apa yang ada di pikirannya serta bukti-bukti yang menguatkan itu. Ia tahu jika ucapannya terasa sangat jahat dengan dan terkesan menuduh, tetapi ia hanya ingin berbagi dengan orang lain apa yang ia resahkan. Sedangkan Gerry, dia tak bisa mempercayai kata-kata Mona.

***

“Sekarang hanya kita berdua,” ujar Rendra pada Vanesa.

Ruangan itu tampak remang, bersusah payah Rendra membawa Vanesa ke apartemennya tanpa diketahui oleh orang lain. Akhirnya, waktu yang ia inginkan sudah di depan mata.

“Tidak apa-apa?” tanya Vanesa yang masih tampak ragu.

Rendra memegang kedua lengan Vanesa. “Yakinlah, tak ada yang tahu.”

“Baiklah,” jawab Vanesa yang akhirnya tersenyum.

Tangan kekar Rendra langsung mengangkat tubuh Vanesa untuk menuju ke ranjang. Vanesa tertawa kecil. Dengan perlahan, Rendra membaringkan Vanesa ke atas ranjangnya. Ia menatap tubuh wanita yang menjadi pujaan banyak orang itu.

“Aku akan bertanggung jawab atas segalanya, jangan khawatir,” ujar Rendra seraya membuka kausnya. Tubuhnya yang terpatri dengan baik terlihat oleh kedua mata Vanesa.

Rendra mulai menaiki ranjang dan kemudian menghadapkan wajahnya ke wajah wanita yang pipinya memerah itu. “Jangan menyalahkan dirimu,” kata Rendra seraya tersenyum.

Vanesa mengangguk dan memberikan kode bahwa ia telah siap. Rendra pun menurunkan wajahnya, mencium leher wanita itu.

“Nolan,” panggil Vanesa.

Rendra menghentikan aktivitasnya dan tertawa kecil. “Kau memanggilku dengan nama itu?”

“Boleh, kan?” tanya Vanesa seraya ikut tertawa.

“Terserah padamu,” jawab Rendra yang kemudian melanjutkan kegiatan yang tertunda.

***

Sebuah undangan makan malam diterima oleh Vanesa. Ia membaca undangan itu. Melihat siapa yang turut diundang membuatnya tampak ingin menangis. Namun, kali ini ia tidak boleh kabur. Makan malam itu bisa jadi akan menjadi titik terang untuk dirinya.

Ia pun segera mandi dan berdandan untuk hadir dalam makan malam itu. Penampilannya sudah sangat cantik. Walau perasaannya begitu tak menentu, tetapi ia harus tampil dengan baik di hadapan orang-orang itu.

Vanesa memesan taksi dan segera naik setelah taksi itu sampai di depan gedung apartemen yang ia tinggali. Dengan mamakai kacamata dan jaket, ia rasa tak ada orang yang mengenalinya.

Di dalam taksi itu, ia mengingat kembali kejadian yang berlangsung lebih dari lima tahun lalu. Saat ia masih berani mengendarai mobil sendiri. Begitu bodohnya, ia mabuk dan mengendarai mobil di tengah malam. Jika saja ia tak mabuk, segala hal akan berlangsung dengan baik.

Namun, selalu ada karma di setiap apa yang dilakukannya. Ia tersenyum karena sudah menerima karma itu. Banyak kontrak pekerjaan yang dicabut, ia hampir tak punya pekerjaan lagi.

Mungkin inilah saatnya berhenti menjadi seorang aktris. Saatnya hidup sebagai orang yang tak ingin dilihat sebagai apa yang diinginkan publik, tetapi hidup sebagai apa yang ia inginkan sebagai dirinya sendiri.

***

Fiara merapikan pakaian Aska seperti biasa. Ia memang selalu merapikan pakaian suaminya kala akan menghadiri acara yang dinanti-nanti. Untuk makan malam ini, semua orang akan datang. Ia sudah tak sabar untuk menyantap ‘hidangan’ yang ada di sana.

“Kehilangan adalah hal paling menyakitkan,” ujar Fiara.

“Sebenarnya tidak jika kita ikhlas,” jawab Aska.

“Tetapi, tidak ada yang ikhlas untuk hal yang satu ini,” sahut Fiara yang tampak kesal.

“Semua akan berakhir,” kata Aska seraya tersenyum dan kemudian mendekatkan wajahnya ke arah istrinya.

“Jangan menciumku, aku sudah memakai lipstick,” kata Fiara yang mencoba menghindar kala Aska ingin menciumnya,

Aska tertawa kecil. “Baiklah, ayo kita berangkat,” ajak Aska yang diangguki oleh Fiara.

***

Ruangan itu sudah disewa dan disulap menjadi ruang makan yang tampak mewah. Clara telah menyiapkan ini untuk semua orang. Candle light dinner kali ini akan menjadi yang terbaik. Penyelesaian atas segala yang yang terjadi. Ngocoks.com

“Selamat datang, Kak Milan,” ujar Clara yang kedatangan tamu pertamanya.

“Yang lain belum datang?” tanya Milan seraya melihat meja yang masih kosong.

“Mereka dalam perjalanan, silakan duduk,” kata Clara mempersilakan.

Milan pun duduk di hadapan Clara. Sebenarnya ia malas untuk datang karena ia sudah mulai muak dengan segalanya, tetapi momen berkumpulnya orang-orang yang terlibat skandal itu diundang semua. Ini akan menjadi momen menarik.

Cerita Love Story

“Tiara, selamat datang,” sapa Clara yang melihat sosok yang akhir-akhir ini lebih mendapat sorotan dari pada dirinya itu.

“Aku harap kalian membayarku lebih banyak karena aku sudah tak ingin terlibat,” ujar Tiara yang memakai pakaian hitam itu.

“Ini yang terakhir,” jawab Clara.

“Jadi, kau yang membayar Tiara?” tanya Milan seraya menyipitkan matanya.

“Tenang, Kak Milan. Sebentar lagi, kakak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Clara seraya tersenyum.

Bersambung…

Penulis: Andyrama

Pertama, maaf aku nggak bisa lanjutin cerita ini, karena aku kebanyakan project, dan akhirnya banyak yang terlantarkan. Aku tahu yang baca cerita ini pastinya banyak yang kesel karena digantung. Oleh karena itu, aku minta maaf ya.

ENDING CERITA INI AKAN DICETAK SEBAGAI BUKU!

Kalian bisa mulai nabung untuk ikutan pre-order-nya nanti, ya!

Tidak ada di toko buku, jadi hanya dijual saat pre-order saja!

ISINYA ADALAH VERSI REVISI + 5 BAB BARU!

DAN AKU PASTIKAN CERITANYA LEBIH SERU!

APALAGI BAGIAN ENDING-NYA YANG OMGGGG!! ARGHHH!! SERU DEH! PAS NULISNYA JUGA DUGUN-DUGUN GITU! HAHAHA.

Untuk info pemesanan bisa langsung Kontak admin Ngocoks, terima kasih.

DAN BUAT KALIAN YANG KECEWA KARENA NGGAK BISA BACA VERSI REVISI KARENA DICETAK ATAU NGGAK BISA BELI, JANGAN SEDIH! JANGAN MARAH JUGA, YA!