
Seorang teman memiliki usaha perjalanan yang tak biasa, menawarkan paket liburan di beberapa kota besar di Indonesia. Saya sendiri pernah mencoba paketnya di Solo, Jawa Tengah, dan pengalamannya cukup menarik untuk diceritakan. Saya memilih paket tiga hari dua malam yang mencakup berbagai layanan. Biaya paket tersebut sudah termasuk tiket pesawat pulang-pergi Jakarta-Solo, antar-jemput bandara-hotel, penginapan dua malam di hotel bintang empat dengan sarapan, serta transportasi lokal selama saya berada di Solo. Yang paling unik, paket ini juga termasuk pendamping.
Bukan hanya satu, melainkan empat pendamping dengan karakteristik yang berbeda-beda, yang dipilih melalui katalog foto yang dikirimkan oleh perusahaan teman saya. Saya berangkat dari Jakarta pada sore hari dan tiba di Bandara Adi Soemarmo saat malam hari. Seorang sopir yang memperkenalkan diri sebagai Marto sudah menunggu di area parkir. Beliau dengan ramah membantu membawa barang bawaan saya ke mobil. Di dalam mobil Avanza hitam tersebut, saya disambut oleh seorang wanita yang tampak menawan, yang memperkenalkan dirinya sebagai Indri. Ia adalah pendamping saya selama malam itu, dipilih dari lima pilihan foto yang ditawarkan. Semua wanita dalam katalog memiliki wajah cantik khas Jawa, namun saya memilih Indri karena penampilannya.
Alih-alih langsung menuju hotel, Marto mengajak saya makan malam di sebuah restoran pilihan perusahaan travel. Kami menikmati hidangan sate kambing, gulai tengkleng, dan gulai kambing – semuanya lezat dan dagingnya sangat empuk. Suasana makan malam bersama Indri dan Marto sangat hangat dan akrab. Indri sangat ramah dan supel, membuat percakapan terasa mengalir dengan nyaman. Sebenarnya, ada beberapa pilihan restoran yang ditawarkan, tetapi restoran ini dipilih untuk memberikan pengalaman bersantap yang menyenangkan.
tapi aku memilih menu sate kambing. Sebelum berangkat aku juga sudah tahu karena pihak travel sudah memberi tahu restoran pilihanku itu.
Perut sudah kenyang, Marto langsung membawa kami ke hotel, yang aku rasa cukup eksotis juga, karena interiornya khas Jawa benget dan para tamu tidak perlu mampir di reception, tetapi langsung diantar ke depan pintuk kamar.
Mobil bisa parkir di depan pintu. Petugas sudah siap di depan pintu dan mempersilakan kami masuk. Aku ditemani Indri langsung masuk kamar yang di dalamnya sudah tersedia wellcome drink yaitu 2 gelas wedang uwuh, atau air diseduh dengan rempah-rempah. Rasanya nikmat dan hangat.
Marto kemudian minta diri dan dia mengatakan akan menjemput besok sekitar pukul 10 pagi. Petugas hotel juga berlalu dengan sebelumnya minta tanda pengenalku. Aku mengamati interior hotel yang lumayan artistik. Tapi mungkin jika aku menginap sendirian di kamar ini agak merinding juga.
Tapi karena ditemani Indri jadinya terasa eksotis. Indri sangat ramah, dia membantu membuka sepatu dan kaus kaki ku dan meletakkan di tempatnya. Kami ngobrol sebentar untuk saling menyesuaikan diri. Tak payah menjadi sesuai dengan Indri karena dia begitu ramah.
Indri menawarkan agar aku mandi dengan air hangat dahulu, sehingga badan lebih segar. Dengan nada menggoda aku katakan bahwa aku mau mandi, tetapi di mandikan oleh Indri.
Indri hanya tersenyum saja. Dengan telaten dibukanya bajuku satu persatu sampai tinggal celana dalam saja. Dia pun begitu, membuka semua bajunya sampai bugil.
Badannya tidak terlalu putih, tetapi kelihatan masih kencang, teteknya masih kokoh, mengkal dan memang besar. Pentilnya tenggelam. Indri mengaku belum pernah hamil, meski dia sudah janda. Pendidikannya lumayan juga dia lulusan salah satu universitas swasta di Solo.
Aku digandengnya ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi celana dalamku dilucuti. rudalku langsung mencuat, karena memang dari tadi sudah tegang apalagi melihat Indri telanjang. Jembutnya tidak terlalu lebat, tetapi yang aku kagumi adalah pantatnya yang nonggek dan kelihatan kenyal.
Indri mengatur kehangatan air shower lalu aku dibimbing untuk di guyur. Dia mengguyur seluruh tubuhku mulai dari kepala sampai ke bawah. Setelah badanku basah seluruhnya, gantian dia pula yang menyiramkan ke badannya.
Sabun cair yang disiapkan langsung dilaburkan ke seluruh badanku, dan dia agak lama mengocok rudalku. Rasanya birahiku makin memuncak. Setelah selesai melumuri diriku dia menyabuni dirinya juga.
Tubuh kami berdua penuh dengan sabun. Indri memelukku dan menggeser-geserkan payudaranya yang besar ke dadaku rudalku yang menodong bagian kemaluannya ditekan Indri sehingga terjepit diantara kedua pahanya. Dia memainkan rudalku dengan jepitan pahanya. Sejauh ini layanannya luar biasa.
Dia lalu mengguyur air untuk membilas membersihkan sabun dari seleuruh tubuhku dan tubuhnya juga. Aku diam saja, Indri dengan cekatan mengambil handuk lalu dia seka ke seluruh tubuhku sampai kering dan dia juga mengeringkan badannya dengan handuk yang berbeda.
Terasa wangi sabun, aku digandeng untuk berbaring di tempat tidur. Dia minta aku telungkup.
Indri mulai beroperasi memijatku dari ujung kaki sampai ke bahu. Pijatannya harus kuakui sangat profesional. Aku bukan hanya menikmati pijatannya tetapi juga menikmati tindihan tubuhnya terutama selangkangannya yang kadang kali jembutnya menggerus badan dan kakiku,
Ketika tubuhku diminta telentang, Indri langsung melakukan terapi ke sekitar alat kelaminku. Aku merasa dia mengerti apa yang dia lakukan, sehingga rudalku ketika ditarik sempat berbunyi krek. rudalku jadi mengeras sejadi-jadinya.
Dengan lemah lembut dia mulai melakukan oral. Pertama dia menciumi kantong zakarku. Rasa geli dan nikmat bercampur menjadi satu. Setelah itu jilatannya turun ke daerah perbatasan kantong zakar dengan dubur.
Sekitar lubang dubur pun dia jilati. Aku merasa nikmat luar biasa. rudal menjadi garapan berikutnya . Diawali dengan jilatan di lubang kencingku yang sudah mulai mengeluarkan cairan kental, yang disebut air mazi.
Dia lalu mengulum dan menenggelamkan seluruh panjang rudalku ke dalam mulutnya. Kukira rudalku menerjang sampai ke tenggorokannya (deep throat). Kulumannya bervariasi antara jilatan dan sedotan kuat. Aku merasa seperti spermaku ditarik keluar.
Aku jarang bisa ejakulasi dengan hanya oral, tetapi kali ini aku tidak mampu menahan desakan nikmat itu sehingga ketika terasa akan meledak aku mengingatkan ke Indri. Dia malah bertahan mengulum rudalku.
Aku sudah tidak mampu membendung lagi sehingga kulepas tembakan nikmat itu ke dalam mulutnya. Indri menelan semua maniku sampai tetes terakhir. Ada beberapa yang dia muntahkan ke telapak tangannya tetapi digunakan untuk membalurkan ke seluruh wajahnya.
Setelah nembak, kepala rudalku terasa ngilu dan geli sekali sehingga aku tidak mampu terus dioral. Indri kuminta melepaskan lomotannya. Untung dia mengerti, sehingga aku terlepas dari siksaan geli.
Badanku lemas, dan mulai terasa agak mengantuk. Aku terbaring diam, Indrilah yang membersihkan sisa lendir dan ludah di sekitar kemaluanku dengan handuk lembab. Kami beristirahat sebentar.
Indri ikut masuk kedalam selimutku. Dia tidur sambil memelukku. Tangannya meremas-remas batang rudalku yang sedang loyo karena habis memuntahkan peluru.
Cara dia meremas kemaluanku nikmat sekali sehingga rudalku perlahan-lahan mulai mengeras kembali. Indri terus memainkan rudalku sampai akhirnya layak terobos. Memang belum 100 persen keras, tetapi sudah lumayan tegak juga. Indri bangkit dan dia menyarungkan kondom, mungkin dia sudah menyiapkan.
Setelah itu Indri menaiki tubuhku dan dengan arahan tangannya rudalku dimasukkan ke gerbang kewanitaannya. Perlahan-lahan rudalku melesak ke dalam serambi lempitnya. Indri mulai memainkan peranannya bergoyang diatas tubuhku.
Teteknya berguncang sehingga membuatku ingin meremasnya. Indri makin cepat mengayunkan tubuhnya sehingga serambi lempitnya menabrak-nabrak kemaluanku.
Dia mengerang sambil terus berpacu dan akhirnya tiba juga saat puncaknya. Indri tanpa rasa sungkan menjerit dan rebah diatas tubuhku. Dia sebetulnya ingin memuaskanku tetapi dia sudah keburu sampai ke puncak terlebih dahulu.
Sementara itu aku belum merasa gelombang orgasmeku masih jauh. Kubalikkan posisi sambil tetap menjaga rudal di dalam lubangnya. Aku kembali menggenjot Indri . Sebetulnya aku kurang suka main pakai kondom, karena rudalku tidak merasa gesekan kulit serambi lempit.
Namun demi keamanan aku terpaksa juga memakainya. Sudah setengah jam aku menggenjot dengan ganti posisi beberapa kali, tetapi tetap saja rasa nikmat belum datang.
Mungkin bisa lebih sejam aku menggenjot. Dan tentu saja sangat melelahkan. Aku sebenarnya tidak suka bermain terlalu lama, tetapi lebih mengutamakan permainan yang berkualitas.
Aku tanya Indri, bagaimana, kalau kondomnya aku lepas, apa keberatan. Indri tidak keberatan. Dia malah mengatakan bahwa dirinya rutin periksa ke dokter, dan hasil labnya terakhir keluar sehari sebelum aku datang. Aku yakin dia bersih maka aku lepas kondomnya dan aku main tanpa pelindung.
Rasanya lebih nikmat gesekan kulit rudalku dengan dinding serambi lempitnya lebih terasa. Sebelum aku membuka kondom, Indri sudah sempat mencapai orgasmenya.
Sekarang giliran aku berkonsentrasi untuk mencapai orgasme ku. Erangan Indri menambah rangsanganku apalagi dia menanggapi gerakanku. Aku merasa sudah dekat mencapai orgasme, tanpa memberi tahu aku akan melepas spermaku aku benamkan rudalku dalam dalam dan menyemburlah sari pati ku kedalam dasar serambi lempit Indri.
Dia rupanya juga membarengiku mencapai orgasme sehingga aku bisa merasakan kedutan liang serambi lempitnya. Selepas aku mengeluarkan dua kali sperma, rasanya makin ngantuk dan ingin istirahat.
Indri membantuku membersihkan sisa-sisa pertempuran dengan handuk hangat. Setelah itu dia agak lama berada di kamar mandi. Aku tidak tahu dia balik, karena sudah terlelap.
Pagi-pagi ketika cahaya matahari masih belum menerobos tirai, aku terbangun. Biasanya jika aku bangun pagi rudalku mengeras, paling tidak karena desakan ingin pipis.
Tetapi pagi ini rudalku tetap loyo, padahal juga kebelet pipis. Agak cemas juga rasanya. Aku bangkit perlahan-lahan menuju kamar mandi dan melepas hajat kecilku yang cukup banyak. Setelah itu kembali ke balik selimut. Indri pun terbangun dan dia rupanya juga ingin pipis juga.
Kami berdua kembali berbaring masih dalam keadaan bugil di dbalik selimut. Aku mencoba menggerayangi tubuh Indri. Teteknya aku remas-remas dan putingnya aku pelintir perlahan-lahan. Ngocoks.com
Dia mendesis lalu tangannya meraih rudalku dan dia pun mulai meremas. Di dalam genggamannya rudalku bangkit perlahan-lahan. Rasa cemasku jadi hilang, karena ternyata senjata kebanggaanku masih normal.
rudalku belum sempurna mengeras, tetapi aku sudah mengambil inisiatif untuk menungggangi Indri. Ia pun pasrah dan melebarkan kedua pahanya siap menerima tujahanku. Kuarahkan rudalku memasuki gerbang kenikmatan dan perlahan-lahan rudalku tenggelam.
Aku berdiam sejenak sambil melakukan gerakan kegel. Indri mungkin merasakan denyutan rudalku. Dia pun mengikuti melakukan gerakan di liang serambi lempitnya. Jepitan dari gerakan kegel Indri lumayan keras juga, sehingga menimbulkan rasa nikmat.
Cukup lama kami bersenggama sambil diam, tetapi nikmatnya sama dengan ayunan maju mundur rudalku. Indri pun makin terangsang. Ini terlihat dari matanya yang sayu.
Senggama dengan gerakan kegel ini rupanya bisa membawa orgasme pada Indri sehingga aku merasa denyutan cepat di serambi lempitnya. Nikmat sekali rasanya. Setelah itu aku kembali menggenjot sampai aku pun mencapai kepuasan.
Setelah pertempuran pagi kami mandi bersama. Indri kembali mengenakan bajunya karena dia akan kembali. Di dalam itenerary dia memang selesai tugas pada pagi hari. Aku melepasnya dan memberi uang tips. Uang jasanya sudah aku bayar melalui paket ke travel temanku. Indri memelukku dan mencium pipiku kiri dan kanan.
Setelah Indri berlalu aku keluar kamar menuju Coffe Shop untuk sarapan pagi. Tadinya aku mengajak Indri, tetapi dia menolak halus. Aku pun sebenarnya khawatir juga tampil di depan umum dengan perempuan. Takut-takut kepergok oleh orang-yang aku kenal.
Jam 10 Pak Marto mengetuk kamarku, Aku dijemput untuk sight seeing seputar kota Solo. Tour diakhiri dengan makan siang. Aku memilih makan sup kimlo Solo. Lumayan juga rasanya dan segar.
Acara setelah makan siang adalah main dengan ABG. Spek ABG yang akan kupakai sebetulnya sudah aku ketahui, karena fotonya sudah di kirim ke emailku sebelum ini. Tapi aku penasaran juga. Pak Marto memberiku opsi ingin ikut menjemput, atau aku menunggu di hotel.
Aku memilih opsi pertama, yaitu ikut menjemput. Aku ingin tahu bagaimana ABG itu dijemput. Pak Marto mengarahkan Avanzanya ke salah satu rumah sakit besar di kota Solo.
Bersambung… Pak Marto mengkonfirmasi agar target standby di lobby rumah sakit. Mobil Pak Marto memasuki lobby, seorang remaja langsung bergerak dan mendekati mobil lalu membuka pintu.
Anaknya cantik masih kelihatan imut dan abg banget. Menurut agent di travel umurnya masih 15 tahun dan baru kelas 1 SMA. Aku duduk depan dan menjulurkan tangan berkenalan. Dia memperkenalkan diri dengan nama Vivi.
Aku tanya ke Marto kenapa janjiannya ke rumah sakit. Vivi yang menjawab, kalau di rumah sakit kan selalu banyak orang dan tidak pernah tutup. Orang juga gak curiga kalau di rumah sakit. Kalau di mall, gak enak oom nanti ketemu teman, saudara.
“Ya sih tapi kan gak ngajak ngobrol,” kata Vivi.
Akhirnya kami sampai ke hotel. Aku duluan turun lalu membuka pintu, Vivi setengah berlari langsung masuk ke kamar. Pak Marto berjanji menjemput Vivi sekitar jam 6 sore, sekarang masih jam 2.
Aku tidak langsung menyerang Vivi, aku lebih suka mencermati ABG ini. Wajahnya innocent, manis. Teteknya belum terlalu menonjol dari balik baju T shirtnya. Dari obrolan sebelum pertempuran Vivi mengaku kedua orang tuanya keluarga yang sederhana. Bapaknya guru dan ibunya dirumah saja mengurus anak-anak.
Dia menerjuni ini karena ingin uang jajan tambahan dan untuk beli pulsa. Uang jajan dari orang tuanya sangat terbatas dan tidak cukup untuk beli pulsa.
Aku ajak dia duduk di ranjang sambil aku peluk. Dia diam saja. Bajunya aku lucuti satu persatu. Teteknya masih mengkal dan mancung. Putingnya kecil. Kata dia BHnya no 32 A. Aku remas memang masih sangat mengkal.
Celana Jeans aku plorotkan dan juga celana dalamnya. serambi lempitnya masih gundul. Hanya ada sedikit rambut di ujung lipatan serambi lempitnya Melihat itu aku jadi terangsang lagi.
Aku melepas semua pakaianku sampai telanjang juga. Aku mengajaknya untuk membersihkan diri ke kamar mandi, Kesempatan itu Vivi pipis di closet dan membersihkan kemaluannya dengan sabun.
Setelah mengeringkan badan kami berdua kembali ke ranjang. Vivi duduk sambil kepalanya tertunduk. Aku ajak dia rebahan dan handuk yang melilit pinggangnya kebawah aku buka dan kusisihkan ke pinggir ranjang.
Kami berdua sudah telanjang bulat. Sementara itu rudalku belum berdiri penuh. Aku mulai meremas-remas kedua payudaranya yang masih belum berkembang sempurna. Pentilnya masih kecil sekali seperti pentil tetek pria.
Aku pelintir pelan-pelan dan terasa mengeras. Puas memainkan tetek yang masih sangat kenyal tanganku merambah ke selangkangan. Kemaluannya masih gundul, hanya ada terasa rambut sedikit di atas lipatan. Jari tengahku menyelinap ke dalam lipatan dan mencari clitorisnya.
Agak susah menemukan clitorisnya tetapi aku menduga berada di lipatan bibir dalamnya, sehingga bagian itu aku uyel-uyel. Pinggulnya bergerak-gerak. Mungkin dia merasakan geli, atau mungkin juga terasa nikmat.
Aku terus memainkan bagian itu, sampai akhirnya terasa ada bagian yang mengeras. Dengan hati-hati aku menyentuh bagian itu. Vivi menggelinjang, geli katanya. Jari tengahku kujangkaukan lebih jauh menyelinap ke lipatan serambi lempitnya terasa di sana sudah mulai berlendir. Berarti serambi lempitnya sudah siap menerima terobosan.
Aku berpindah ke bawah untuk melihat dari dekat serambi lempit abg. Vivi diam saja, dia tidak terkesan malu serambi lempitnya dilihat dan dikuak-kuak. Aku melihat bagian dalamnya berwarna merah muda. Sebetulnya aku ingin mengoral clitorisnya tetapi aku urungkan.
Vivi lalu kuminta mengoral rudalku. Kemauanku dituruti. Oralnya standar saja, tidak secanggih Indri, tetapi lumayan jugalah. Aku sambil dioral menyaksikan dia melakukannya. Ada sensasi unik, karena rudal orang dewasa dioral oleh anak-anak.
rudalku makin mengeras, aku minta dia menyudahi, karena dia tidak terlalu piawai memainkan oral rudalku. Kukangkangkan kakinya dan rudalku memakai kondom. Perlahan-lahan aku tekan ke lubang serambi lempitnya.
Agak seret juga, sehingga aku harus perlahan-lahan memasukkan ke lubangnya. Tanpa halangan berarti rudalku bisa tenggelam seluruhnya ke dalam serambi lempitnya. Aku lalu mengayuh perlahan-lahan. Terasa berbeda serambi lempit abg dengan wanita dewasa. Paling tidak terasa lebih sempit sehingga rudalku seperti terjepit.
Mungkin rudalku sudah imun karena sudah 3 kali sebelumnya ejakulasi, apalagi mainnya sekarang pakai kondom. Sekitar setengah jam aku bermain dengan posisi MOT. Aku minta mengubah posisi karena aku lelah.
Vivi berada di atasku dan dengan tangannya dia mengarahkan rudalku masuk ke serambi lempitnya . Vivi cukup lihai memainkan gerakan di atas, dia kayaknya mencari posisi nikmatnya. Kira-kira 10 menit dia mulai mendesis dan makin cepat bergerak sampai akhirnya dia mencapai klimaks.
Dia rubuh di atas tubuhku dengan nafas terengah-engah. Aku masih juga belum merasakan akan klimaks, Vivi kuminta nungging lalu aku menerobosnya dari belakang dengan posisi doggy. Unik juga rasanya memegang pinggul anak yang masih terasa kecil.
Sementara rudalku keluar masuk di serambi lempit yang masih gundul. Pemandangan ini menambah rasa gairah sehingga aku merasa makin dekat ke puncak sampai akhirnya klimaks juga.
Bermain seks dengan ABG 15 tahun tidak terlalu nikmat, hanya sensasi saja yang bisa dinikmati. Obrolan juga agak sulit nyambung. Mungkin aku tidak bisa mengikuti alam pergaulannya. Setelah melap bekas mani kami berdua berbaring.
Aku sambil berbaring menonton TV, Vivi bangkit lalu mengambil Fanta merah dan sebungkus chiki. Dia duduk di sampingku yang berbaring ikut menonton TV, namun dia minta chanelnya diganti ke chanel infotaiment.
Aku sebetulnya ingin bermain dua ronde dengan vivi, Tetapi rasanya sudah tidak berhasrat lagi. Badanku terasa lemah dan agak ngantuk juga. Aku tawarkan ke Vivi apa mau pulang lebih awal, karena jam masih pukul 4. Dia hanya mengangguk dan bertanya, tidak main lagi oom. Aku bilang aku capek dan mau istirahat dulu.
Pak Marto kutelepon untuk segera menjemput Vivi. Setelah sendiri aku segera melampiaskan kantukku. Aku terbangun ketika kamarku diketuk. Jam di meja kulihat sudah jam 7 malam. Aku segera menyambar celana pendek dan kaus oblong.
Pintu kubuka, muncul Marto dan seorang gadis cantik dengan celana jeans dan atasan tank top. Dia langsung masuk dan memperkenalkan diri dengan nama Alia. Aku yang sesungguhnya sudah berencana membatalkan menikmati satu lagi perempuan, tetapi setelah melihat kecantikan dan kemontokan Alia aku jadi lupa. Alia kupersilakan masuk dan duduk di kursi.
Pak Marto menjelaskan bahwa acara malam ini adalah makan malam dilanjutkan dengan santai di tempat dugem. Aku setuju, karena kalau ngesek lagi aku masih agak kurang selera. Marto permisi keluar menunggu di mobil dan aku lalu menyegarkan diri dengan mandi air panas. Rasa segar, setelah tidur cukup puas.
Kami berangkat menuju restoran yang sudah ditentukan. Makan malam kali ini adalah menu khas Solo, yakni nasi liwet. Aku sebetulnya kurang begitu suka, tetapi aku santap juga sampai habis, karena perut memang agak lapar juga. Kami makan bertiga.
Sebelum ke club, kami keliling kota menyaksikan kehidupan malam hari di kota ini. Sekitar sejam kemudian mobil Marto parkir di sebuah club yang cukup ramai. Marto mengajak turun dan dia mengantar aku dan Alia sampai ditempat duduk. Suara musik berdentam. Aku memesan bir, Alia memesan orange jus.
Tidak lebih dari 2 jam aku bisa bertahan di club itu. Meski pemandangannya mengasyikan karena banyak cewek-cewek muda dengan gaya sexy tetapi aku tidak tahan dengan kebisingan musiknya. Aku kurang yakin apakah aku masih punya kemampuan bertempur malam ini. Namun karena paketnya yang kupesan memang begini, ya apa boleh buat.
Aku pun ke kamar mandi dan membersihkan diri lalu keluar dengan hanya menggunakan handuk di pinggangku. Aku duduk di tepi ranjang di sebelah Alia. Dia langsung memijat bahuku. Nikmat juga rasanya pijatan anak cantik ini.
Aku lalu mengambil posisi telungkup dan Alia sudah duduk diatas bokongku. Pijatannya membuatku rileks. Aku merasa dia sudah telanjang sambil memijatku. Aku ngobrol sambil pijat. Aulia mengaku berusia 19 tahun.
Dia kuliah fakultas ekonomi, Asalnya dari Jawa Timur, dan tinggal di Solo indekost. Aulia adalah sosok ayam kampus. Aku memang pesan ke travel, minta ayam kampus.
Alia meski masih muda, tetapi servicenya jago, dia bisa membangkitkan gairahku sehingga aku sempat main satu ronde sebelum terlelap. Pagi-pagi sekali aku seperti diusiknya, kulihat matahari cahayanya belum masuk, tetapi aku sudah dibangunkan dengan cara menggugah gairahku.
Namun pagi itu aku merasa sudah habis gairahku. Alia bertanya apakah aku mau main lagi. Aku menolaknya secara halus. Dia lalu pamit, karena dia ada acara pagi ini.
Alia kulepas dan memberi sedikit uang tips. Aku kembali tidur tapi sudah agak susah sehingga aku memilih berendam di bak dengan air hangat. Sebelum turun ke coffee shop, kulihat acaraku hari ini
masih ada satu perempuan lagi. Sebenarnya aku benar-benar sudah kehilangan nafsu. Tetapi apa boleh buat, karena memang paketnya begitu.
Jam 10 Marto datang membawa seorang perempuan STW. Kutaksir usianya sekitar 35 tahun, kata Marto Ibu Jum demikian namanya dia pandai memijat urat. Meski usianya sudah STW, tetapi bodynya tidak terlalu gemuk, Boleh dibilang montok gitulah.
Hanya pijatan saja yang kuinginkan di hari terakhirku. Aku lalu pasrah buka baju seluruhnya dan tidur telungkup. Bu Jum mulai melancarkan pijatnya. Terasa dia memang mengerti urat.
Dia bilang aku habis kerja keras, terlihat staminanya rendah sekali. Aku tidak tahu dia itu mengejek aku, apa memang aku benar seperti yang dikatakannya. Dia lalu menekan bagian-bagian tertentu yang rasanya perih sehingga aku mlintir-mlintir menahan rasa sakit.
Aku minta disudahi saja karena tidak tahan rasa sakitnya. Bu Jum lalu menawarkan pijat peregangan. Pada sesi ini pijatannya memang nikmat. Bagian-bagian yang tadi terasa sakit, sekarang sudah tidak lagi.
Entah bagaimana Bu Jum melakukannya, rudalku perlahan-lahan jadi mengeras. Ketika aku diminta berbalik, dia senyum-senyum melihat rudalku mengeras. Aku sendiri heran, mengapa rudalku bisa keras begini, padahal sudah banyak perempuan kutujah beberapa hari belakangan.
Sambil berpromosi mengenai kemampuannya melakukan terapi kejantanan, Bu Jum mengolah bagian di sekitar kelaminku. Hasilnya memang luar biasa, terasa batang rudalku menjadi kencang luar biasa malah kelihatannya jadi lebih besar dan panjang.
Lama-lama aku pandang Bu Jum jadi lebih merangsang. Kepalaku jadi penuh seperti berhari-hari tidak ngewek.. “ Gimana pak kerasa nggak khasiat pijatan saya,” goda Bu Jum. Aku hanya mengangguk.
“Gimana mau dicoba,” tanyanya.
Wah pertanyaan itu sangat aku harapkan, karena rangsangan di kepalaku sudah memuncak rasanya. Bu Jum berlalu masuk kamar mandi dan keluar dengan hanya menggunakan kemben handuk.
Dia melakukan ritual dengan memulai mengoral lalu mendudukiku dan memeras rudalku. Meski tua tetapi rasa serambi lempitnya luar biasa nikmatnya. Aku pun sudah lupa soal kondom. Ngocoks.com
Aku harus akui Bu Jum ini jago banget bermain. serambi lempitnya legit banget, teteknya berayun-ayun di depanku.. Kalau kubandingkan dengan serambi lempit si ABG tadi, punya Bu Jum lebih ngegrip.
Anehnya meski nikmat banget tapi aku tidak keluar-keluar. Aku jadi berpeluang main berbagai gaya dengan Bu Jum. Dia pintar pula mengolah gerakan serambi lempitnya sehingga di posisi apa pun terasa rudalku seperti ditarik-tarik. Bu Jum mungkin sudah 3 kali muncak, tapi aku masih terus bertahan.
Aku merasa makin nikmat sehingga akhirnya tak tertahankan lagi aku pun nyemprot ke dalam serambi lempit bu Jum. Luar biasa rasanya rudalku seperti diurut oleh serambi lempit Bu Jum.
Aku benar-benar puas atas pelayanan terapi kejantanan yang lengkap oleh Bu Jum. Satu rondeku luar biasa memuaskan, sehingga kami menyudahinya dengan mandi bersama.
Body Bu Jum sangat terpelihara, perutnya tidak membuncit, bulu serambi lempitnya tecukur rapi, bokongnya mbonceng dan teteknya masih kencang meski cukup besar. Aku puas sekali layanannya Bu Jum, Bahkan ketika mandi, seluruh tubuhku dibersihkannya.
Cerita Pemain Kartu
Sekembali ke Jakarta aku memerlukan diri bertemu dengan temanku. Aku puji paket wisata sexnya. Dia hanya tersenyum-senyum. Dia hanya mengatakan, menjalankan bisnis ini tanpa modal sama sekali. Aku sempat terheran.
Dia bilang usaha travelnya tanpa kantor, tanpa badan usaha dan nyaris tanpa pegawai pula. Dia menjalankan usaha ini hanya bertiga. Modalnya hanya membangun jaringan dengan mami or papi di daerah-daerah yang mau kerjasama.
Dengan inovasinya itu temanku mempunyai paket tidak hanya di kota-kota besar di Indonesia, tetapi dia juga sudah merambah sampai ke Singapore, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Kamboja.