Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Bersetubuh Dengan Dokter Pribadi di Pondok Perkebunan Singkong

Bersetubuh Dengan Dokter Pribadi di Pondok Perkebunan Singkong

Investasi saya di perkebunan singkong telah membuahkan hasil yang lebih dari sekadar keuntungan finansial. Memang, proyek ini cukup menuntut—perjalanan rutin dari Jakarta ke lokasi perkebunan yang cukup jauh terkadang melelahkan. Namun, hasrat saya untuk pertanian, khususnya sebagai kegiatan yang menyenangkan di masa pensiun nanti, menjadikan perjalanan ini terasa berharga.

Memiliki lahan yang luas di pedesaan juga membawa saya pada pengalaman-pengalaman sosial yang tak terduga. Saya bertemu banyak orang, dan interaksi tersebut turut memperkaya kehidupan saya di usia menjelang lima puluh tahun. Kondisi kesehatan saya pun cukup prima—saya menjaga pola makan sehat, membatasi asupan kalori, dan rutin melakukan olahraga ringan seperti jalan pagi. Pemeriksaan kesehatan rutin selalu menunjukkan hasil yang baik, dan dokter sering mengomentari betapa bugarnya saya untuk usia saya. Rahasianya? Tak ada rahasia khusus, hanya disiplin diri dan pola hidup sehat yang konsisten. Saya percaya menjaga keseimbangan hidup, baik fisik maupun sosial, adalah kunci kebahagiaan. Dan perkebunan singkong ini, secara tak terduga, membantu saya mencapai keseimbangan tersebut. Saya bersyukur atas segala berkah yang saya terima.

, tidak ada keinginanku yang tidak tercapai. Ini bukan menyombongkan diri, kan ada pepatah, “dimana ada kemauan di situ ada jalan”. Pepatah seperti ini kan tidak membatasi kemauan apa atau keinginan apa.

Terlalu panjang menyombongkan diri nggak enak juga ya, tapi ya begitulah keadaanku, Jadi aku ingin menegaskan bahwa aku bukan superman, aku orang yang normal seperti kabanyakan orang.

Hasil tabungan, maupun hasil hobby main internet sambil trading, aku bisa mengumpulkan tabungan yang lumayan, sehingga bisa membangun villa serta mempunyai garapan dgn kerjasama dengan petani untuk lahan seluas sekitar 200 ha.

Baru 3 bulan rumah villaku rampung dibangun. Bentuknya memang eksotis dan sangat menyatu dengan alam perkebunan. Ini adalah vila ku, berada di dataran tinggi sehingga hawanya sejuk sepanjang hari, tetapi jika malam, bisa membuat menggigil.

Letak villaku bukan di Puncak atau di daerah-daerah mahal, tetapi jauh di pedalaman, di daerah pertanian yang kalau ditempuh dari Jakarta bisa sampai 6-8 jam.

Aku berada di villaku setiap minggu hanya hari Sabtu dan Minggu. Meski begitu, semua peralatan rumah sudah lengkap, sampai kamar mandi dengan air panas.Aku menginap di atas awalnya selalu ditemani istriku.

Maka dialah yang mengurus segala-galanya. Kadang-kadang anak ku ikut juga untuk refreshing katanya. Namun kemudian istriku malas ikut ke kebun, karena sepi katanya.

Maklum dia memang lahir dan besar di Jakarta, jadi tidak betah tinggal di alam yang sepi. Anakku pun sudah bosan ke kebun, dia lebih memilih nongkrong di mall dari pada jongkok di depan perapian di kebun sambil menunggu singkong bakarnya mateng.

Masalah mulai timbul, karena jika menginap, jadinya aku tidur sendirian dan tidak ada yang mengurus rumah ini. Salah seorang kepercayaanku di kebun ini menawarkan pembantu untuk memberesi rumahku.

Aku pikir sih oke-oke saja. Apalagi katanya yang ditawarkan itu adalah saudara istrinya. Pak Sudin demikian aku mengenalnya, memang lahir dan besar di daerah ini.

Suatu siang ketika sedang istirahat siang, Pak Sudin memperkenalkan seorang gadis, yang ternyata janda. Abis kelihatannya masih muda, lumayan cakep, meski penampilan desanya masih kental.

Dia menyalamiku dan menyebut namanya Imah. Otak jahatku mengipas agar aku menerima saja gadis, eh janda itu untuk bekerja dirumah ku.

Siapa tahu bisa memberi layanan plus, kan lumayan, jadi tambah betah. Kuakui bahwa di usia senja ini vitalitasku untuk urusan selangkangan masih normal, hanya istriku yang lebih muda setahun dari ku setelah manupause, dia seperti kehilangan selera.

Jadi sering menolak “ajakan” ku. Jadi terbayang gimana ya pria yang punya istri lebih tua, istrinya pasti lebih cepat kedaluwarsa dari dia. Jadi otak jahatku ada ngarep dot com pada Imah.

Sebaliknya otak baikku mencegah jangan sampai terjadi affair gila itu, karena risikonya lebih besar dari rasa nikmatnya. Betul juga sih. Apalagi sampai ketauan istri, tau pula Pak Sudin yang hormatnya kepadaku kadang berlebihan. Ah yang penting rumahku rapi dan terurus, itu sajalah targetnya, kata hatiku yang lurus.

Sampai 3 bulan Imah tinggal bersama ku, situasi aman-aman saja. Tetapi aku tidak berani berterus-terang menceritakan ke istriku bahwa aku sudah punya pembantu, si Imah aku fungsikan sebagai pesuruh kantor, jika ada istriku datang menginap. Jadi waktunya banyak dihabiskan di bawah.

Tapi istriku sekarang sudah sama sekali ogah ke kebun, tapi duitnya demen. Dia pun ketika melihat Imah tidak curiga, lha wong dia bekerja melayani kebutuhan kerja pegawai di bawah, seolah-olah memberesi rumahku hanya kerja sambilan. Padahal sih sebaliknya.

Imah cukup rajin bekerja, sikapnya baik bisa menyesuaikan diri dengan semua orang, sangat menghormatiku, meski kadang-kadang aku menangkap pandangan matanya yang agak nakal kepadaku.

Tapi aku pikir perempuan Jawa Barat memang suka begitu kalau memandang laki-laki, karena aku sering menangkap sorot mata seperti itu di banyak tempat di Jawa Barat. Mungkin juga itu bagian dari keramahan.

Semakin hari Imah semakin akrab denganku, meskipun dia memanggilku Bapak, tetapi tidak terlihat jarak antara majikan dan pekerja. Aku memang sengaja menciptakan suasana yang begitu, kan katanya sudah era demokratis.

Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, tiarap beda posisi, begitu kan.Kami kalau makan satu meja, menonton TV duduk di sofa yang sama. Tinggal tidur yang belum satu kasur. Dua UR yang sudah, yaitu Satu Dapur, Satu Sumur, tapi belum Satu Kasur.

Sejujurnya aku sudah tidak tahan ingin menerkam si Imah, tapi gimana caranya, aku belum dapat. Aku tidak mau ada pemaksaan. Inginnya sih biarlah dia yang memulai baru aku menanggapi.

Jadi aku selama ini bersikap biasa-biasa saja tidak berusaha memancing di air keruh. Bisa saja dia kuajak nonton video porno, sebab kalau sudah malam di atas tinggal kami berdua.

Tapi rasanya taktik seperti itu, belum tentu cocok untuk wanita desa. Bisa-bisa dia malah malu dan kabur masuk kamarnya. Yah mungkin nanti akan tiba juga saatnya. Aku percaya pada pepatah Jawa “Tresno jalaran kulino”. Gak usah diterjemahkan lah, kalau gak tau ya skip aja.

Akhirnya tiba saatnya. Suatu malam Imah nyeletuk ketika kami sedang santai menonton TV. Jam di dinding baru menunjuk pukul 7 malam. Diluar gerimis dan sesekali ada petir dan kilat yang cahayanya membersit masuk .

“Pak mau saya pijat ?” Aku agak terkejut mendengar tawaran itu, karena badanku memang lelah dan duduk di kursi dengan posisi bersandar agak rebah.

Selama ini aku segan bertindak yang mengarah ke arah “keliru” terhadap Imah, karena dia bekerja di sini sebagai pengurus rumah tangga Tentunya aku malu jika berusaha bertindak tidak senonoh ke Imah lalu dia melapor ke Pak Sudin.

Padahal Imah, merupakan sosok yang lumayan menarik. Usianya sekitar 24 tahun, janda tanpa anak, kulitnya putih seperti umumnya orang Jawa Barat badannya lumayan montok, tinggi lumayan tinggi untuk rata-rata perempuan di sini yakni sekitar 155 cm. Wajahnya ya lumayanlah, rambutnya agak panjang dan selalu digelung.

“Emang Imah bisa mijet,” tanyaku sambil bersikap biasa saja. ” Ya bisa lah atuh Pak,”

“Ya udah kamu beresi dulu kamar saya, saya mau mandi dulu rasanya badan agak lengket bekas berkeringat,” kataku, lalu bangkit ke kamar mandi.

Air hangat memancur dari shower. Tanpa air hangat, aku tidak kuat mandi di daerah ini karena hawa dingin di daerah dengan ketinggian sekitar 700 dpl.

Selesai mandi, rasanya segar sekali. Aku hanya mengenakan celana dalam dan kaus oblong putih lalu mengenakan sarung. Itu memang pakaian tidurku jika aku berada di sini.

Selama mandi aku membayangkan kira-kira apa yang akan terjadi selama pemijatan, apakah aku akan mendapat layanan plus, bagaimana memulainya karena sesungguhnya aku sedang berhasrat, setelah sekian lama tidak dilayani istri.

Dengan pikiran itu, kemaluanku jadi agak menegang. “Ah bagaimana nantilah, sebab risikonya juga besar,” batinku. Aku keluar dari kamar mandi yang ada di kamarku. Ruangan kamar cahayanya sudah ditemaramkan.

Aku memang memasang lampu yang remang selama aku tidur. Kasur ukuran 180 cm aku hampar di lantai papan, gaya rumah Jepang.Di situ sudah bersiap Imah sedang duduk bersimpuh.

Dia mengenakan sarung juga dan bagian atasnya kelihatannya kaus lengan panjang. Aku tidak terlalu jelas melihat karena dari cahaya terang di luar masuk ke dalam yang remang-remang mataku belum menyesuaikan dengan penerangan yang minim.

“Gimana nih telentang atau telungkup,” tanyaku ke Imah. “Sok terserah bapak, gimana enaknya,” jawabnya.

Aku kemudian memilih posisi telungkup, karena ingin punggungku dipijat dulu. Aku di Jakarta sering juga ke panti pijat, sehingga aku hafal ritual pijat dimulai dari mana berakhir dimana,.

Imah rupanya bukan alumni panti pijat di Jakarta, karena dia bukan memulai memijat dari kaki, tetapi memulai dari punggung. Pijatannya memang lumayan nikmat juga. Cengkeraman dan tekanan tangannya nikmat sesuai dengan tingkat yang kuinginkan.

Dia rupanya sudah menyiapkan minyak urut yang dibuat dari minyak kelapa dicampur bawang merah. Baunya memang kurang enak, tapi orang desa jamak menggunakan minyak urut seperti ini.

Imah minta izin membuka kaus oblongku untuk mengoles minyak di punggungku. Aku setuju saja sambil menunggu aksi berikutnya.

Kuat betul si Imah sudah sekitar sejam dia masih berkutat di sekitar punggung dan tangan ku. Rasanya memang enak dan sepertinya badanku jadi ringan. Setelah punggung Imah beralih ke kaki.

Mulanya sarungku dinaikkan sampai sebatas lutut. Dia menggarap kaki kiri dan kananku sebatas lutut. Untuk memijat bagian paha dia meminta aku melepas sarung. Aku setuju saja dan dia menarik sarungku ke bawah. Aku jadi tinggal mengenakan celana boxer saja yang pendek.

rudalku sudah menegang dari tadi. Jika dalam posisi tengkurap begini sih tidak ada masalah, tapi kalau nanti telentang dia bakal menonjol mendorong celana dalamku. Ngocoks.com

Aku pasrah saja akan apa yang terjadi nanti, rasanya sih manusiawi seorang laki-laki akan terangsang jika berdua dengan perempuan apalagi dalam situasi memijat begini dan dalam ruangan remang-remang.

Aku sama sekali tidak menyiapkan skenario apa pun, kecuali mengikuti arus saja. Imah memintaku berbalik posisi. Entah terlihat jelas atau tidak dalam cahaya remang begini. Ah aku abai saja.

Aku rasa yang memang wajar, sebagai laki-laki kalau rudalnya tegang karena berduaan dengan wanita. Apa lagi terus menerus di jamah tubuhnya,

Pahaku mulai dipijatnya. Mengurutannya entah disengaja atau memang prosedurnya begitu, tetapi jarinya sering menyentuh kantong zakarku. Awalnya aku diam tidak bereaksi, padahal sentuhan itu memberi kenikmatan dan rangsangan.

Bersambung… Tapi lama-lama secara tidak sengaja aku mendesis setiap kali tersentuh kantong zakarku. Aku merasa dia tidak lagi memijat dengan tekanan, tetapi sudah berubah dengan gerakan mengelus dengan jalur urut yang berakhir menyentuh zakarku.

“Kenapa pak,” tanya Imah mendengar desisanku. “Nikmat,” kataku singkat. “Kalau mau lebih nikmat celananya dibuka, boleh pak,” tanyanya “Boleh,” jawab ku singkat.

Tanpa ragu dia menarik celanaku sehingga rudalku yang sudah mengeras dari tadi langsung tegak mengacung.

“Wah bapak sudah umur tapi masih sehat ya,” komentarnya melihat rudalku. Dia lalu menggenggam sambil membelai-belai kantong zakarku. Birahiku serasa sudah diubun-ubun dan segala macam pertimbangan dan akal sehat sudah ditindas nafsu.

“Nggak adil nih saya dipijat sampai telanjang, tetapi yang mijat masih pakai baju lengkap,” kataku.

“Jadi bapak maunya gimana?” tanya Imah. Aku lalu meminta dia membuka juga semua bajunya. “Ah si Bapak mah, dingin atuh Pak,” katanya. “Tapi kok keringetan,” ujarku.

Mungkin dia berhasrat pula sehingga dia bangkit lalu menaikkan sarungnya sehingga seperti mengenakan kemben. Dia berbalik lalu melepaskan kausnya, lalu kelihatannya melepas celana dalamnya. Mungkin tadi dia tidak mengenakan BH, karena tidak terlihat dia meloloskan BHnya.

Meski dengan cahaya remang-remang tapi saya bisa menangkap bayangan kedua buah teteknya yang cukup besar, pahanya yang gempal.

Imah lalu duduk bersimpuh diantara kedua kakiku dia menggenggam rudalku diremas dan dikocoknya perlahan-lahan, aku merintih merasakan nikmatnya olahan tangannya. Tanpa aku minta dia merunduk lalu menciumi kantong zakarku, rudalku diikuti dengan jilatan-jilatan.

Kemudian rudalku dilahapnya dan langsung dihisap sambil menaik turunkan mulutnya di sepanjang rudalku. Aku sudah tidak mampu menahan desakan birahi sehingga tidak terlalu lama dihisap aku langsung menyemprotkan spermaku. Imah tetap bertahan selama aku melepas desakan spermaku, sampai akhirnya tuntas.

Semua spermaku dikumpulkan di dalam mulutnya lalu dimuntahkan ke handuk yang memang ada di situ. Aku terkulai nikmat. Imah lalu menarik selimut dan dia memelukku menyamping sehingga kami berada dalam satu selimut.

Tangannya memainkan kemaluanku yang sedang melemas. Sedangkan susunya yang lembut menghimpit lenganku sebelah kanan. Cuaca memang dingin, sehingga berpelukan di dalam selimut begini memang sangat hangat.

Dari percakapanku dengan Imah, terungkap bahwa dia memang sudah lama menginginkan suasana seperti ini denganku. Namun dia merasa segan untuk mengutarakannya. Ternyata tawaran memijat itu adalah bagian dari strateginya untuk mereguk kenikmatan bersamaku.

Aku juga mengungkapkan bahwa aku sebenarnya segan bertindak agak kurang ajar pada Imah, karena Imah dibawa oleh Pak Sudin, ” Pak Sudin mah kayaknya udah maklum,” kata Imah.

“Bapak dulu masih mudanya pasti ganteng ya Pak,” kata Imah sambil dengan nada manja. “Kenapa begitu,” tanyaku. “Masih kelihatan tuh bekas-bekasnya.” kata dia.

Dalam keadaan sudah mencapai orgasme dengan kesadaran yang baik aku tanyakan ke Imah, apa yang dia harapkan dengan intim bersamaku. ” Imah mah demen aja ama Bapak,” katanya.

Aku menegaskan bahwa aku tidak mungkin mengawininya, karena aku sudah mempunyai istri dan anak yang juga sudah besar-besar. Ku katakan jika hanya untuk mendapatkan kepuasan sex, aku tidak keberatan selanjutnya akrab dengan Imah, tetapi kalau mengharapkan lebih dari itu aku tidak bisa memenuhi.

Imah ternyata setuju bahwa hubunganku dengannya hanya “just for fun”.

Aku juga mengetahui bahwa di daerah sekitar perkebunanku ini masih kuat dengan ilmu-ilmu hitam yang mampu membuat orang mabuk kepayang. Hal ini juga aku tekankan pada Imah agar jangan sekali-kali bermain ilmu untuk mendapatkanku, karena aku juga akan membalasnya.

“Ih Bapak, pikirannya jelek aja,” katanya.

Sekitar sejam kami ngobrol sambil pelukan dan tangannya terus memainkan rudalku. Perlahan-lahan rudalku mulai bangun dan berisi. Mengetahui usahanya berhasil. Imah bangkit langsung menghisap rudalku dan menjilati nya.

rudalku makin mengeras sampai cukup keras untuk menerobos celah serambi lempit, meski pun belum mencapai keras 100%. Imah lalu bangkit mungkin kerena bosan mengoral terus.

Dia duduk mengangkang di atas ku sambil memegang rudalku dia mengarahkannya memasuki lubang kenikmatannya. Perlahan-lahan rudalku ambles seluruhnya ke dalam lubang kenikmatannya.

Uniknya sambil pantatnya melakukan gerakan memutar, tangannya memijat dada dan bahuku bagian depan. Pijatannya nikmat ulegannya juga sedap. Kadang-kadang dia melakukan gerakan naik turun, tetapi kadang-kadang melakukan gerakan maju mundur atau gerakan seperti mengayak.

rudalku mendapat perlakukan itu jadi makin mengeras. Namun aku bisa mengontrol rasa nikmat sehingga bisa menunda datangnya puncak kenikmatan.

Baru pertama kali aku merasakan nikmat dientot sambil dipijat. Bukan hanya dada, tetapi dia juga memijat kepalaku dengan meremas-remas rambutku. Aku salut padanya karena dia bisa melakukan multi tasking. Permainan adu kelaminnya terjaga, juga pijatannya tidak kacau..

Susu Imah yang cukup besar terlihat bergoyang dan mengayun mengikuti gerakan badannya. Meskipun cahaya remang-remang tetapi aku cukup jelas menyaksikan gontaian sepasang buah dada yang masih lumayan sekal dan puting kecil serta lingkarannya yang juga masih kecil.

Aku merasa lubang serambi lempit Imah meskipun basah oleh cairan birahinya tetapi tetap masih terasa menggigit. Imah makin semangat mengayun dan suara desahannya juga makin keras. Aku khawatir sebenarnya suara itu terdengar keluar dan terdengar oleh kedua penjaga malam di bawah. Bukan apa-apa, aku merasa malu aja.

Tiba-tiba Imah ambruk menindih tubuhku dengan nafas terengah-engah. Rupanya dia sudah mencapai orgasme. serambi lempitnya terasa menjepit-jepit dengan irama gelombang puncak kepuasan.

Sementara itu aku merasa masih jauh dari garis finish. Segera kubalikkan posisi sehingga aku berada di atas. Aku menggenjot dengan gerakan cepat. Namun aku tidak terlalu jauh menarik keluar rudalku, tetapi hanya sedikit saja dan menghempas serta menekan dimana terdapat clitorisnya.

Gerakan ini selain menghemat tenaga aku juga bisa memberi kenikmatan kepada Imah karena clitorisnya tergerus terus menerus dan di dalam G spotnya juga terus tergesek.

Aku memang tidak terlalu mendapat kenikmatan dengan gaya seperti itu, tetapi Imah sudah mengigau dengan erangan yang menandakan setiap gerakanku memberi rasa nikmat padanya. Memang tidak lama kemudian dia mendapat O nya yang kedua.

Kedua kakinya mencekam badanku sehingga tidak bisa bergerak. rudalku serasa dipijat dan disiram oleh cairan hangat. Imah terengah-engah seperti orang kecapaian habis lari marathon.

Ternyata dia mengatakan baru kali ini merasakan kenikmatan menyetubuhi yang katanya belum pernah dirasakan. badannya merasa lelah dan seluruh persediannya terasa lemas. Sementara aku belum mencapai finish. Aku kembali menggenjot setelah memberi kesempatan jeda Imah menikmati orgasmenya.

Aku mengubah cara bermainku dengan melakukan tarik-sorong yang panjang sehingga rudalku juga merasa nikmat bergesekan dengan lubang kenikmatan Imah.

Jika ini tidak kulakukan, bisa-bisa rudalku layu di tengah jalan. Nikmat terasa di sekujur batang rudalku, tetapi aku masih bisa menguasainya agar tidak merangsang sepenuhnya menuju ke ejakulasi.

Imah kembali berolah vokal khas orang menyetubuhi. Mungkin suaranya itu sebagai representasi dari rasa nikmat di serambi lempitnya. Buktinya jika aku mengubah posisi yang tidak memberi kenikmatan Imah tidak bersuara.

Tetapi ketika aku kembali pada posisi yang memberi kenikmatan penuh dia kembali ke nyanyiannya dengan nada berulang-ulang dan iramanya sesuai dengan gerakan di kedua kemaluan kami.

Imah tidak mampu membendung gelombang orgasmenya yang menerpanya lagi dia lalu memelukku erat sekali sehingga tubuhku tidak mampu bergerak. Aku hanya merasakan denyutan serambi lempitnya dan siraman hangat di sekitar batangku.

“Aduh ampun deh bapak kenapa kok kuat banget, saya nyerah deh udah gak kuat lagi,” katanya setelah dia siuman dari orgasmenya.

Karena sudah setengah jalan aku tidak perduli dengan ketidak-mampuan Imah, Dia terus kugenjot sampai dia dapat lagi orgasme mungkin kalau aku tidak lupa dia dapat dua kali lagi baru kemudian yang terakhir dia menyamaiku ketika semprotan spermaku kulepas dalam-dalam di dasar serambi lempitnya.

Aku tidak ragu mengumbar air mani ke dalam serambi lempitnya karena menurut Imah dia susah punya anak, sehingga karena itu pula dia dicerai oleh suaminya.

Badanku lemas sekali. Bukan hanya lemas karena ejakulasi, tetapi juga lemas karena bergerak terus hampir satu jam. Untung aku cukup bugar berkat setiap hari berkeliling kebun jalan kaki.

Aku tidak perduli dengan mani yang meleleh dan bekas keringat yang membasahi badan kami. Rasa lemas, kantuk yang luar biasa membuat aku dan Imah langsung tertidur.

Dia manja sekali tidur memelukku dalam selimut tebal untuk menahan hawa dingin. Sejak saat itu, jika aku menginap di kebun dia selalu memuaskanku. Aku pun jadi makin sering keladang.

Jika dulu aku hanya sabtu-minggu berada di kebun, sekarang jadi lebih panjang yakni sejak jumat sampai senin, bahkan kadang-kadang Selasa baru balik ke Jakarta.

Selain untuk mereguk kenikmatan dengan Imah, urusan di kebun juga banyak yang membutuhkan keputusan dan perhatianku. sumber Ngocoks.com

Aku sering kewalahan menghadapi nafsu Imah, karena dia selalu menggebu-gebu keinginan sexnya. Tidak ada rasa malu lagi, jika dia sedang ingin dia malah yang mengajakku. Meskipun aku kadang kurang bergairah, tetapi olahan Imah selalu berhasil membangkitkan nafsuku.

Mungkin karena kadar gairah yang tidak full, jadinya aku malah bisa main lama sekali. Apalagi sehari semalam minimal aku main dua ronde. Jadi lama-lama rudalku jadi agak imum dengan gesekan-gesekan liang serambi lempit.

Hampir setahun aku menjalani hidup free sex dengan Imah sampai suatu hari dia dengan berlinangan air mata menyampaikan bahwa dia akan menikah dengan duda di kampungnya. Menurut Imah sudah sebulan dia pendam ingin menyampaikan kepadaku, tetapi dia merasa tidak kuat, sampai akhirnya mendekati waktu dead-line.

Calon suaminya cukup baik dan lumayan bagus serta punya kehidupan yang mapan. Umurnya selisih 10 tahun lebih tua. Aku tentu saja tidak bisa menahan atau melarangnya menikah, karena itu adalah masa depannya.

“Pak saya sudah berusaha mencari gantinya, saya pilih yang paling cocok untuk bekerja di rumah Bapak ini, kalau bapak bersedia anaknya akan saya bawa besok.” ujarnya sambil sesekali menghapus air mata.

“Maaf pak, sebetulnya sih tidak terlalu cocok dengan Bapak, tetapi saya kasihan dengan kehidupannya. Dia yatim piatu, selama ini tinggal sama neneknya yang kehidupannya juga sangat pas-pasan.

Dengan bantuan tetangga dan saudara-saudaranya dia bisa lulus SMA. Pak kalau boleh dia selain ngurus rumah, juga bisa Bapak kerjakan di kantor, entah untuk buat kopi atau urusan administrasi.” katanya.

“Lha jadi masih muda banget ya, kalau baru lulus sma, umurnya baru sekitar 17 dong,” ujarku. Imah membenarkan, “Itulah pak makanya sebenarnya tidak terlalu cocok dengan bapak, karena dia masih sangat muda, tapi bagaimana ya.

Oh ya dia sebenarnya sudah mau dilamar orang Jakarta untuk kawin kontrak, tapi orangnya jelek Pak, mana perutnya buncit banget, jadi anak ini ogah,” kata Imah.

“ Dia udah pernah kok melihat Bapak, bahkan sudah sering, cuma mungkin bapak tidak memperhatikan,” kata Imah.

Imah nyrocos terus sementara otakku berputar-putar antara bayangan ngeloni ABG dengan berbagai macam risiko yang mungkin timbul. Aku memang gemar bermain dengan ABG, tetapi yang ditawarkan ini bukan “sate” tapi “kambingnya”.

Maksudnya jika aku bermain dengan ABG selama ini ya ibarat beli sate, tapi kali ini ABG ini kan akan aku urus, ibarat piara kambing.

Pikiran positif dan negatif berperang dalam otakku, sehingga aku jadi termenung saja mendengar uraian si Imah. Ada juga rasa iba melihat nasib anak itu, disamping itu juga ada rasa pengin. Aku tidak munafiklah.

“Ya sudah besok anaknya bawa kemari, saya mau liat dulu,” kataku. Imah menyambut germbira dan memeluk dan menciumku. Mungkin dia merasa usulannya aku terima. Benar sih sebetulnya 80 persen aku sudah setuju. Tetapi kalau tampangnya jelek, bodynya tidak menarik, biar pun abg aku tidak akan tergoda.

Bersambung… Keesokan harinya seusai aku keliling kebun dengan kendaraan ATV sekitar jam 11 siang aku kembali ke markas, yang juga merupakan kantor dan rumahku sementara berada di kebun. Sebetulnya aku tidak ingat bahwa hari itu, Imah akan menunjukkan calon penggantinya.

Ketika aku naik ke atas rumah, yang merupakan tempat tinggalku. Imah dan seorang gadis menyambutku. Imah menyalamiku dengan mencium tanganku gadis yang bersama imah itu juga bertindak begitu.

Dia memperkenalkan namanya Maya. Aku terkesan, karena sosok anak ini tidak seperti yang kubayangkan. Tingginya lumayan mungkin sekitar 165, kulit putih bersih, wajah ayu, hidung agak mancung, rambut lurus sebahu dan bibirnya tipis.

Meski dia mengenakan kaus yang dibalut dengan sweater, tetapi tidak bisa menyembunyikan payudaranya yang kelihatan besarnya diatas rata-rata. Aku membatin, anak secantik ini tidak pantas, miskin.

Ada pertanyaan yang tidak aku lontarkan. Sebab tidak mungkin ada gadis desa yang secakep, bahkan wajahnya cenderung ada campuran bule.

Si Imah menceritakan bahwa Ibunya dulu bekerja sebagai TKW di Singapore. Konon dia bekerja di keluarga bule. Akibat keintimannya dengan majikan, akhirnya hamil. Istri si bule tahu sehingga akhirnya diusir pulang.

Di kampung Ibu Maya bertahan sampai melahirkan. Mereka dulu termasuk orang berada, karena ibu Maya mendapat bantuan dari si Bule. Setelah Maya berumur 2 tahun, ibunya kembali menjadi TKW, bukan ke Singapura, tetapi ke Taiwan.

Di Taiwan kecelakaan terjadi lagi, sehingga ibu Maya kembali membawa oleh-oleh di perutnya. Dari hasil menjadi TKW mereka di kampung sempat mempunyai warung. Namun karena ibunya terkena kanker, perlahan-lahan harta yang dikumpulkan habis bahkan warungnya pun tutup. Penyakit itu kemudian merengut nyawa ibu Maya. Pada saat itu hartanya sudah habis-habis.

Tragis juga cerita keluarga Maya. Saya baru mengerti sehingga pantaslah anak ini cantik tidak seperti anak desa pada umumnya. Tentunya berat untuk menolaknya.

Setelah aku bertanya beberapa hal, Maya lalu diajak Imah melihat sekeliling rumahku dan beberapa fasilitas yang ada. Imah dengan pedenya merasa bahwa aku sudah setuju menerima penggantinya. Tapi emang sih, aku tidak bisa nolak.

Kalau di Jakarta, anak secakep ini pasti aku buru meski pun minta bayaran mahal. Lha ini di tengah perkebunan yang sepi, aku malah disodori barang kelas ”Senayan City”. Maya terbiasa hidup mandiri dan bekerja keras, ketika bersama neneknya.

Bahkan dia terbiasa membawa cucian piring atau baju ke kali di dekat rumahnya. Semua urusan rumah tangga sudah biasa ditangani. Untuk masalah mengurus rumah tangga aku tidak ragu kemampuannya, tetapi untuk aku keloni apakah dia ikhlas.

Ketika kami makan bertiga di meja makan, si Imah mulai nyerocos lagi. “May” sebutan Imah kepada Maya, “Kalau kamu kerja disini kamu harus bisa melayani makan bapak, masak membersihkan rumah dan kalau bapak cape kamu harus mijitin, ya” kata Imah. Maya yang lebih banyak menunduk hanya mengangguk menjawab arahan Imah.

“Iyalah mending kerja sama Bapak di sini. Bapak orangnya baik, gajinya lumayan, bisa belajar kerja kantoran lagi. Dari pada kawin kontrak sama si buncit itu, mana jelek. Kalau Bapak kan cakep, Iya enggak May, “ kata Imah. Si Maya hanya diam saja.

Imah memang aku gaji lumayan juga, karena sedikit di atas upah rata-rata kabupaten. Selain itu sering aku kasih uang jajan yang kalau di jumlah bisa melebihi gajinya.

Otak ku terus berproses mengenai apa yang bisa aku berikan kepadanya. Selain kerja rumah tangga, dia akan aku pekerjakan di kantor untuk mencatat pembukuan membantu bagian akunting. Pastinya kerja di kantor akan ada gaji juga nantinya.

Setelah mendapat kepastian Maya aku terima bekerja di rumah ku di kebun, Imah lalu minta izin mengantar Maya ke kampung untuk mengambil baju ganti. Jarak kampung dengan rumahku sekitar 5 km. Kebun yang aku garap sampai ke pinggir kampung itu. Kedua mereka mengunakan sepeda motor milik Imah.

Aku sudah berpesan kepada Imah agar dia mendampingi Maya selama sebulan agar dia terbiasa dengan pekerjaan yang tadinya dipegang Imah.

Sejak kehadiran Maya, pergumulanku dengan Imah jadi terganggu. Masalahnya bukan karena Imah segan bergumul dengan ku , tetapi kalau malam, Maya tidak berani tidur sendiri. Sementara itu belum waktunya mengajak Maya bersatu dalam kamarku bersama Imah. Dia masih terlalu hijau.

Jadi kami sering melakukannya pada siang hari, ketika Maya sedang asyik belajar akunting di kantor di lantai bawah.

Semula aku tidak tahu bahwa Maya penakut. Karena memang Imah tidak menceritakan. Jika pada awal-awal dia tidak berani ditinggal sendiri di kamar, aku pikir suatu ketakutan yang wajar.

Rumah kebun ku ini memang jauh dari tetangga dan kalau malam sepi sekali. Meskipun begitu rumahku kalau malam dijaga 2 penjaga malam pensiunan tentara.

Setelah sebulan, Maya jadi terbiasa hidup bersamaku dan bekerja dikantor jika siang hari. Saatnya Imah berhenti dan mempersiapkan perkawinannya. Hari pertama, Maya ditinggal sendiri, dia kelihatan gelisah, terutama setelah jam kantor selesai.

Aku tidak memahami apa yang menyebabkan dia gelisah. Untuk bertanya aku menahan diri. Seperti biasa dia menyiapkan makan malamku. Kami sama-sama menikmati makan malam di meja. Aku lalu minta dibuatkan wedang jahe, yang diseduh dari saset yang memang sudah aku siapkan, jadi gak perlu susah cari jahe segala.

Aku merasa nikmat menyeruput air jahe sambil menonton TV. Maya ikut nimbrung. Sambil kami nonton aku ngobrol mengenai berbagai macam, untuk mencairkan kekakuan. Maya memang cepat akrab dan memanggilku ayah. Dia kusuruh memilih saluran TV yang dia senangi, tapi dia menolak, karena dia katakan mau ikut saja sama apa yang saya sukai.

Aku selalu memilih saluran berita atau film action, tapi kadang-kadang tertarik juga menikmati film dokumentasi yang ditayangkan Discovery atau National Geography. Sementara aku asyik menyimak tayangan dokumentasi ilmu pengetahuan, ternyata si Maya sudah terkantuk-kantuk.

Dia kusuruh tidur di kamarnya, bekas kamar si Imah. Dengan langkah berat dia menuju kamarnya yang letaknya agak kebelakang, yang hanya berselang satu kamar dengan kamarku. Kira-kira setengah jam kemudian aku pun diserang kantuk pula, lalu segera masuk kamar dan meredupkan lampu kamar.

Entah berapa lama aku kemudian sudah mulai agak tertidur, terbangun karena kamarku di ketuk. Antara sadar dan tidak aku bangun untuk melihat siapa sih yang ngetuk-ngetuk kamarku. Kukuak pintu, ternyata si Maya sambil memeluk bantalnya berdiri di depan pintu kamarku. “Ayah saya takut,” katanya sambil nunduk.

“Takut sama apa, “ tanyaku agak menyelidik. “Takut tidur sendiri di kamar belakang,” katanya.

Tidak ada jalan lain untuk mengatasi rasa takutnya maka aku ajak dia tidur dalam kamarku. Dikamarku hanya ada satu kasur, meski cukup lebar. Mungkin rasa takutnya mengalahkan rasa segannya untuk tidur satu kasur denganku. Jadi dia langsung mengambil posisi tidur di bagian yang spreinya kelihatan masih rapi.

Dia tidak membawa selimut, hanya sarung. Padahal pada malam hari udara sangat dingin. Aku saja harus berselimut tebal. Dia tidur membelakangiku. “dingin?” tanyaku.

“Iya yah,” jawabnya.

Lalu dia kutawari masuk kedalam selimutku. Aku memang hanya punya satu selimut. Itu pun sebenarnya bukan selimut, tetapi bed cover.

Kantukku jadi hilang karena tidur berada dalam satu selimut dengan ABG yang cantik. Sampai pagi tidak terjadi insiden apa-apa. Padahal sejataku sudah standby terus. Tapi nafsuku kukalahkan dengan akal sehatku sendiri.

Begitulah ceritanya untuk seterusnya dia tidur bareng aku dan sudah tidak ada lagi rasa canggung. Malah lucunya dia sering mengajak aku tidur (kayak istri aja) masalahnya jika dia masuk kamar duluan, sedang aku masih nonton TV, dia juga takut dikamar. Parah banget penakutnya.

Mulanya dia selalu tidur miring membelakangiku, setelah sekitar seminggu dia mulai tidur telentang. Nah kemarin malam dia kok tidur miring menghadapku. Aku masih tidak memberi reaksi. Pikiranku berkecamuk karena Maya ini lebih muda dari anak bungsuku. Jadi ya agak gimana lah gitu.

Malam ini kami masuk kamar sekitar jam 9 malam. Maya langsung mengatur posisi tidur miring menghadapku. Setengah jam kami diam karena tadi sudah puas ngobrol sambil nonton TV.

Aku pikir dia sudah tidur rupanya belum karena dia nyeletuk, “Yah malam ini dingin banget, boleh enggak Maya dipeluk ayah.”

Aku memang belum tidur jadi sulit juga menolak permintaannya. Maka aku peluklah dia. Aku pikir anak perempuan ini sedang merindukan sosok ayahnya. Maklum dia tidak sempat mengenal ayahnya. Bagaimana ya, seorang laki-laki normal memeluk perempuan cantik masih muda dalam satu selimut.

Ya otaknya langsung singit. Tapi aku tetap masih berusaha menjaga agar tidak singit. Aku hanya mencium keningnya dan menarik ke dalam pelukanku. Namun aku mendeteksi nafas Maya hembusannya keras dan terdengar seperti agak mendengus.

Sebagai pemain kawakan aku paham perempuan ini sedang dalam keadaan terangsang. Dia tidur menghimpitku di sisi kiriku. Lenganku terhimpit oleh susunya. Lenganku merasa bahwa dia tidak mengenakan bra, sehingga tetek lembutnya terasa menekan lenganku.

Pikiranku berkecamuk, antara Maya menginginkan keintiman yang lebih, atau hanya ingin dipeluk untuk memberi rasa perlindungan.

Sejauh ini aku belum berani berbuat tidak senonoh, jadi setelah mencium keningnya yang ternyata menimbulkan reaksi pada dirinya dengan makin rapat memelukku dan sepertinya dia memberikan wajahnya untuk aku cium lagi. Maka pipinya aku cium. Hembusan nafasnya makin deras. Aku mencium mulutnya yang masih tertutup.

Aroma pasta gigi terasa dari hembusan dari mulutnya. Mulanya dia terdiam dan bibirnya terkatup tetapi terasa agak bergetar. Tidak ada penolakan, mungkin karena dia belum pernah dicium laki-laki jadi masih bingung. Melalui mulutku aku mencoba membuka mulutnya dan melakukan ciuman french kiss.

Saat itu baru dia bereaksi dan membalas ciumanku dan lidahnya ikut bermain. Lama sekali kami saling berpagutan sampai dia terengah-engah seperti kehabisan nafas. “Ayah, Maya sayang ayah, “ katanya sambil tenggelam dipelukanku

Aku membalas pelukannya dan membelai rambutnya. Untuk malam ini aku membatasi cumbuan sampai hanya pada ciuman.

Bukan malam itu saja sampai 2-3 malam berikutnya aku juga tidak bergerak lebih jauh dari hanya berciuman saja. Tetapi akhir-akhirnya dia tidak lagi mencium dan berciuman denganku di tempat tidur, tetapi dia sofa dia minta pangku duduk menghadapku dan menciumiku.

rudalku yang mengeras didudukinya dan rasanya berada tepat dibelahan selangkangannya. Tidak kuketahui pasti apakah rudalku menekan serambi lempitnya atau belahan pantatnya. Tapi pasti dia merasa menduduki rudalku yang mengeras.

Cumbuan kami teruskan di kamar, karena memang sudah malam. Kami berangkulan di dalam selimut. Udara memang cukup dingin. Aku tidak mampu bertahan terus menerus tidak menjamah tubuh montok Maya, apalagi dia sepertinya memang menginginkan aku bertindak lebih jauh menjamah tubuhnya.

Aku menciumi telinga, lalu turun kelehernya. Sementara itu tanganku mulai menggerayang ke dadanya. Terasa dibalik dasternya Maya tidak mengenakan BH, karena di balik kain itu aku merasa kekenyalan susunya.

Aku remas-remas dan mencari putingnya. Terasa agak keras di ujung payudaranya. Sementara itu Maya mendesis menikmati remasan lembut tanganku di teteknya.

Setelah tidak ada penolakan susunya aku remas, aku makin menggila dan berani memasukkan tanganku ke balik dasternya. Dasternya aku tarik keatas sampai tanganku menjamah gundukan payudaranya.

Gundukan daging itu lebih besar dari lebarnya tanganku. Dagingnya terasa mengkal. Aku tidak meremas terlalu keras, tetapi meremas perlahan-lahan dan memlintir putingnya yang masih kecil. Rasanya putingnya sudah menegang.

Mulutku berpindah menyusu ke pentilnya dan menjilatinya. Maya menggeliat-geliat sambil terus mendesis. Kedua susunya aku kenyot bergantian dan aku jilati. Gerakan tubuhnya seperti menyodorkan teteknya untuk terus aku jilati dan kenyot.

Diantara kesibukan mengenyot, tanganku bergerak ke bawah mencari gundukan di selangkangan. Terjamah gundukan yang masih terbungkus celana. Aku menjejaki celah belahan kemaluannya. Terasa belahan itu di jari tengahku. Terasa celananya seperti basah. Maya sudah sangat terangsang sehingga cairan serambi lempitnya meleleh keluar membasahi celananya.

Celah celana dalamnya tidak terlalu ketat, sehingga bisa aku pinggirkan untuk memberi ruang jariku menemukan celah serambi lempit. Celah serambi lempitnya terasa berlendir. Tidak ada penolakan Maya. Dia pasrah tubuhnya aku jelajahi.

Maya malah mengangkat bokongnya ketika aku melepas celana dalamnya. serambi lempitnya cembung dengan jembut yang masih sangat sedikit. Maya menggelinjang ketika jariku menyapu celah serambi lempitnya yang sudah banjir.

Jariku segera menemukan letak clitorisnya lalu aku sapu dengan gerakan halus. Pusat birahinya terbelai oleh jariku membuat Maya tanpa sadar mengerang nikmat. Dia sudah tidak ingat apa-apa karena tingginya rangsangan.

Aku merangsang itilnya dengan gerakan halus memutar sambil sedikit menekan. Cairan dari celah serambi lempitnya aku gunakan untuk melicinkan agar gerakan di itilnya jadi lancar. Ngocoks.com

Sekitar 10 menit aku mainkan itilnya sampai akhirnya dia mencapai orgasme. Dia mengerang sambil menjepit tanganku dan terasa serambi lempitnya makin banjir dan berkedut-kedut.

“Ayah enak banget ayah, Maya makin sayang ama ayah,” katanya sambil memelukku. Aku menjawab dengan mengucup mulutnya. Selimut sudah terbuka sehingga kedua tubuh kami terpapar dengan udara dingin. Tapi anehnya aku dan mungkin juga Maya tidak merasa dingin. Badan kami malah berkeringat.

Aku bangkit, lalu pindah ke posisi diantara kedua kakinya aku mengoral serambi lempit Maya. Mulanya Maya bertanya apa yang akan aku lakukan. Pertanyaannya tidak aku jawab tetapi langsung membekapkan mulutku ke serambi lempitnya yang banjir dengan lendir. Tidak tercium bau yang mengganggu.

Dengan lidahku aku menjilati belahan serambi lempitnya dan lidahku langsung menemukan titik clitorisnya. Maya merintih, “ aduuuhh ayaahhh, maya dia apain, enak banget. Aduh serambi lempit maya rasanya enak banget, aduuuuuuh ayaaaah.”

Mulutnya tidak henti-hentinya merintih sampai akhirnya dia kembali mencapai orgasme, yang katanya luar biasa enaknya. Setelah orgasme itu aku merasa sudah cukuplah, karena kalau dilanjutkan bisa jebol segelnya.

Aku mengambil celananya dan berusaha memakaikan dari kaki. Tapi Maya malah menolak. Ayah Maya ingin tidur gak pakai baju biar meluk ayah bisa langsung kena kulit. Maya bangkit sambil duduk dia melepas dasternya.

Setelah dia bugil dia lalu memintaku untuk juga membuka kaus oblong, sarung dan celana dalamku. Dia yang membuka. Akut turuti saja apa yang dia maui nanti.

Setelah kami berdua bugil dia menarik selimut dan kami berpelukan di dalam selimut. Kulit kami memang saling menempel. Tapi cilakanya rudalku tidak bisa ditidurkan. Posisinya mengeras sehingga menarik perhatian Maya.

Tangannya meremas-remas rudalku yang mengeras sempurna. Sambil tidur dia terus memainkan rudalku. Aku tidak mengajarkan apa-apa, kecuali membiarkan nalurinya menuntun tindakan apa yang dilakukannya.

Bersambung… Mungkin karena lelah setelah dua kali orgasme, Maya tertidur dalam pelukanku. Perlahan-lahan aku lepas pelukannya dan aku bangkit menuju kamar mandi sambil telanjang.

Dikamar mandi aku kocok rudalku dengan bantuan pelicin sabun. Tidak terlalu lama muncratlah spermaku sehingga lega rasanya. Setelah aku bersihkan aku kembali masuk selimut bersama Maya.

Pagi-pagi sekitar jam 6 kami bangun dalam keadaan masih bugil. Udara masih sangat dingin. Namun karena jam 7 pegawai sudah mulai berdatangan, maka sepagi ini aku memutuskan mandi dulu.

Dengan hanya menggunakan sarung aku masuk kamar mandi yang ada dikamarku. Tak lama kemudian masuk Maya yang katanya mau ikut mandi bersamaku. Aku sudah telanjang, dia pun membuka dasternya. Dibalik daster itu memang tidak ada celana dan bra lagi, sehingga dia langsung telanjang.

Tubuhnya mendekati sempurna, tetek yang cukup besar mancung kedepan, dan belum terlihat kendor. Puting yang kecil masih agak kemerah-merahan. Perut rata, pinggang mengecil. serambi lempitnya cembung dengan sedikit bulu jembut di puncak belahan serambi lempit dan sedikit saja di sisi kiri dan kanan belahan serambi lempit.

Pantatnya bahenol dan pahanya yang berisi tegap, tetapi betisnya langsing dan tumitnya kecil kulit putih. Maya memang benar-benar memiliki tubuh yang sempurna .

Aku mandi dengan pancuran air hangat dan kami saling menyabuni, dia sempat memainkan rudalku sehingga pagi itu aku muncrat lagi karena dia berhasil aku ajari ngocok. Meski umurnya masih remaja, tetapi tindakannya sama sekali tidak canggung. Bahkan dia tidak merasa malu memperlihatkan semua bagian tubuhnya.

Seharian setelah malam itu saya tidak tenang berkerja, pikiran tidak fokus. Saya berpikir dan membayangkan, apa yang akan terjadi nanti malam, apakah saya akan bertahan sampai batas yang dicapai tadi malam, atau maju lagi.

Entah dapat kekuatan dari mana setelah siang itu saya ketemu lagi dengan maya dalam kesempatan makan siang, saya memutuskan untuk berhenti atau tidak melebih batas yang telah saya capai. Saya tidak mau timbul risiko macam-macam kelak di kemudian hari.

Malamnya seperti biasa dia bermanja-manja dengan saya. Maya mungkin menemukan sosok ayah yang sekaligus pacar. Jadi dia menemukan pelindung dan penyayang. Saya merasa begitu, sehingga saya sadar peran.

Malam itu kami tidur dengan damai, dia hanya minta tidur dipeluk saja. Itu adalah wajar pikir saja. Saya kali itu lebih cepat tertidur, mungkin karena tadi siang kerja melelahkan. Paginya seperti biasa mandi bersama tetapi tidak terjadi insiden.

Aku hari itu harus kembali ke Jakarta. Jika aku kembali ke Jakarta, maka Maya juga pulang kerumah neneknya. Pastilah dia tidak berani tinggal sendiri di rumah, meski dibawah ada penjaga. Orang tidur di kamar sendiri aja takut.

“Ayah jangan lama-lama dong di Jakarta,” katanya.

Aku berkata dalam hati, inginku juga begitu, tetapi aku juga harus membagi peran untuk menjadi ayah yang baik di keluarga. Selama di Jakarta pikiranku melayang-layang memikirkan Maya. Oleh karena itu menunggu sejak selasa ke Jumat rasanya seperti lama sekali.

Hari Jumat pagi-pagi sekali aku sudah bertolak ke kebun. Lepas makan siang aku baru sampai. Perjalanan dari Jakarta cukup melelahkan karena perlu waktu sekitar 8 jam. Maya sudah terlihat aktif di kantor.

Di depan pegawai-pegawai ku, Maya bisa akting, dengan menempatkan diri sebagai pegawai. Kedekatan hanya biasa , jika kami hanya berdua. Itu memang sudah komitmen kami.

Aku masih berpegang pada batasan yang beberapa hari lalu aku tetapkan sendiri. Aku harus menang melawan hawa nafsu di tubuhku sendiri. Selesai makan malam, ritual kami adalah menggosok gigi baru masuk ke peraduan. Maya sudah menggelendot terus dari tadi. Mungkin dia rindu karena berpisah beberapa hari.

Pada saat kami berbaring, dia langsung menyerangku dengan ciuman dan kali ini tangannya aktif pula meremas selakanganku. Aku biarkan saja. Bisa saja dia baru dapat ilmu baru, atau memang dia punya rencana.

Aku tidak membalas, kecuali pasif. Benar juga, tangannya tidak hanya meremas dari luar celana dalamku, tetapi menelusup ke dalam dan berusaha memelorotkan celana dalam ku.

Setelah dia menciumiku, lalu dia menelusuri leher turun terus ke bawah, lalu menjilati dua putingku. Rasanya geli, tetapi aku berusaha menahan. Sementara itu tangannya masih terus meremas dan sesekali mengocok rudalku.

Aku makin suprise karena ciumannya terus turun ke bawah sampai mendekati rudalku yang sudah menegak. Luar biasa dia menciumi kantong zakarku menjilati batang rudalku, juga kantong zakarku. Nikmat menjalari seluruh tubuhku sehingga aku tak kuasa jika tidak menggeliat nikmat.

Perlahan-lahan dimasukkannya ujung rudalku ke dalam mulutnya lalu dia mulai menghisap. Aku merasa sedotannya bagaikan memaksa spermaku keluar dari tempatnya diproduksi. Tapi aku masih bisa bertahan dan membiarkan aksinya .

Rasa nikmat tidak bisa ditahan dan tidak bisa diabaikan, sehingga perlahan-lahan gelombang birahiku mulai muncul dan makin lama makin besar sampai pada titik no return.

Dengan agak memaksa kujauhkan wajahnya dari rudalku dan ujungnya langsung kubekap, karena sudah akan memuntahkan sperma. Aku belum tega membiarkan ejakulasiku meletus di dalam mulutnya.

Nikmat sekali rasanya setelah sperma dilepas. Setelah rileks aku bertanya dari mana pengetahuan ini dia dapat. Katanya dari film yang dia lihat di HP. Aku mahfum. Apalagi katanya dia penasaran ingin melakukan itu setelah melihat adegan oral. Dia berbaring disampingku. Tanganku langsung meraba kemaluannya.

Ternyata di sana sudah tidak ada celana dalam. Aku merasa harus membalas budinya sehingga dia aku telanjangi dan aku memuaskan dia juga dengan mengoralnya sampai dia mencapai orgasmenya.

Setelah siuman dia bertanya kepadaku, kenapa aku tidak berusaha memasukkan rudalku ke dalam serambi lempitnya. Dia mengatakan sudah siap dan rela melepas keperawanannya untukku. Aku katakan bahwa untuk itu aku belum berani, karena dia masih terlalu muda. Yang membuat aku goyah, dia mengatakan ingin merasakan.

Untuk sementara ini aku berusaha menaklukkan nafsuku dengan mengatakan, nanti sajalah, kalau dia sudah benar-benar siap. Dia menanyakan kapan itu yang menurutku dia sudah siap. Tentu itu tidak bisa kujawab. “ pokoknya nanti sajalah”.

Dia agak kecewa tapi aku abaikan saja, karena aku masih kurang yakin, sebab bisa saja nanti aku terjebak dengan berbagai konsekwensi, jika segelnya aku jebol.

Pergelutan di dalam batinku kurang menarik jika aku uraikan dalam cerita ini. Tetapi kesimpulannya adalah aku berusaha sekuat mungkin menahan diri. Padahal Maya sudah pasrah bahkan meminta untuk disetubuhi.

Aku pikir inilah akibat aku terlalu intim sampai melakukan cumbuan berat, sehingga saling mengoral sampai masing-masing kami mencapai orgasme. Tidak ada halangan atau rasa malu diantara kami untuk melindungi genital kami.

Seperti halnya kepada Imah aku memberi pengertian bahwa meskipun aku menyayangi Maya dan sebaliknya juga begitu, tapi aku tidak mungkin memperistri Maya, karena aku sudah berkeluarga. Selama keadaan memungkinkan aku akan membantu Maya untuk masa depannya.

Dibalik kekhawatiran ku menahan diri tidak menjebol Maya, tetapi ada juga kekhawatiran mengenai kemungkinan Maya bermain dengan laki-laki lain dan dengan mudahnya menyerahkan mahkotanya. Aku tidak mau seperti itu.

Seminggu ini aku tidak perlu mengekang diri, karena Maya sedang haid. Kami tidur berdampingan dalam keadaan damai, maksudnya tidak ada pergelutan. Dia tetap manja menggelendot. Bedanya selama dia haid dia tidak minta dimandikan. Mungkin dia malu oleh darah yang keluar dari serambi lempitnya.

Tanpa terasa sudah 3 bulan Maya tinggal bersamaku dan tidur di sebelahku. Aku mempunyai persiapan jika sewaktu nanti aku tidak mampu lagi menahan nafsu dan harus menyetubuhi Maya, aku sudah menyimpan K-jel, untuk melicinkan jalan masuk.

Setelah selesai masa haidnya, Maya kembali merengek minta disetubuhi. Dia katanya penasaran sekali karena melihat di video, kelihatannya hubungan sex itu nikmat katanya, selain itu rasa penasarannya juga ikut mendorong. Sudah aku jelaskan bahwa penetrasi rudal ke serambi lempit itu pada awalnya akan perih, karena robeknya selaput perawan. Dia sudah tahu, katanya, tetapi tetap ingin mencoba.

Akhirnya aku setujui malam itu akan memberi pengalaman baru. Untuk awalnya aku minta di oral sampai aku mencapai orgasme. Dia mengoralku dengan penuh nafsu . Bajunya telah dia buka semua. Untuk mempercepat aku mencapai orgasme dia berada di atasku dengan posisi terbalik.

Kali ini lampu kamar dalam keadaan terang benderang, sehingga aku bisa melihat dengan jelas celah serambi lempitnya yang merekah. Pemandangan itu menaikkan birahiku. Aku mencoba melakukan juga oral terhadapnya, tetapi posisi aku dibawah agak sulit melakukan oral yang sempurna, sehingga ketika aku mencapai orgasme dia belum nyampe.

Kami jeda sejenak. Setelah itu aku melakukan oral. Pada ronde pertama aku mengoralnya di tempat tidur sampai dia menyampai orgasme, Aku masih meneruskan oral untuk orgasmenya yang kedua. Orgasme keduanya datang lebih cepat.

Lubang serambi lempitnya sudah banjir oleh cairan, baik cairan yang keluar dari serambi lempitnya sendiri maupun ludahku yang sudah bercampur. Ritual memperawani dimulai dengan menempatkan bantal yang sudah dilapisi handuk kecil putih di bawah pantatnya.

rudalku aku lumuri K jel. Meski belum 100 persen mengeras, tetapi sudah cukup keras untuk menerjang masuk ke dalam celah serambi lempit. Apalagi rangsangan diotak yang membayangkan memerawani cewek cakep.

Selain ujung rudalku, di sekitar lubang serambi lempitnya sudah aku lumuri pelumas. Kepala rudalku setelah tepat berada di gerbang serambi lempitnya lalu aku tekan perlahan-lahan. Maya meringis menahan sakit. Tapi tangannya yang memegang pinggangku terus menarik tubuhku untuk maju lebih jauh.

Aku melancarkan jalan masuk dengan bergerak maju mundur sampai dia tidak merasa terlalu perih. Maju mundur sambil makin maju sehingga seluruh kepala rudalku bisa tenggelam. Sampai batas itu, ada halangan, yang aku perkirakan disitulah letaknya selaput dara.

rudalku seperti menemukan jalan buntu, karena meskipun sudah kulakukan pelancaran jalan dengan menggerakkan maju mundur, tetapi tetap berhenti di batas itu. Aku berhenti menggenjot dan merapatkan posisi kepala rudalku pada selaput penghalang.

Gerakan yang aku lakukan adalah gerakan bagaikan senam kegel, atau kontraksi. Dengan irama konstan rudalku aku keras dan kendurkan sambil sedikit-sedikit menekan ke dalam. Terasa perlahan-lahan tambah masuk.

Sementara Maya mengernyitkan matanya dan tangannya menggenggam sprei. Dia kelihatan sekali menahan sakit. Aku bertanya padanya, apakah diteruskan atau berhenti. Dia hanya mengangguk. Jawaban itu tentu tidak aku pahami. “Teruskan ?” tanyaku. Dia mengangguk.

Pada kesempatan dia lengah karena kosentrasi gerakan angguk itu aku menekan dengan lebih bertenaga sambil mengeraskan rudalku. Terasa seperti bunyi kres lantas rudalku maju menjulur masuk sampai ambles seluruhnya. serambi lempitnya terasa sangat sempit, sehingga sejujurnya aku juga merasa sakit, karena seperti terjepit rudalku.

Untuk sementara waktu aku jeda tidak melakukan gerakan apapun kecuali gerakan kontraksi. Setiap gerakan Maya mengikuti dengan kernyitan matanya. Berarti dia merasa sakit.

Sekitar 2 menit jeda, perlahan-lahan aku tarik sedikit lalu aku benamkan lagi dengan gerakan perlahan-lahan. Ketat sekali serambi lempit yang baru dibuka segelnya sehingga gerakan maju mundur jadi tidak lancar.

Aku terus melakukan gerakan maju mundur dan makin lama rasanya makin lancar. Jika aku tidak melepas spermaku dengan oral tadi, maka aku tidak bisa bertahan selama ini. serambi lempit sempit meski agak sakit di rudal, tetapi memberi kenikmatan yang top.

Makin lama gerakan makin lancar dan lubang serambi lempitnya makin licin. Aku coba keluarkan rudalku, terlihat lendir bercampur darah, tapi cuma sedikit. Dengan handuk aku bersihkan lendir di rudalku lalu aku coba memasukkan ke serambi lempit.

Jalan masuknya lebih mudah di terobos, tanpa halangan rudalku terbenam di lahap serambi lempitnya. Maya masih merasakan sakit, tapi katanya dia bisa tahan. Aku terus mengocok maju mundur yang kurasa sekitar 10 menit baru terasa aku akan memuncratkan sperma. Buru-buru aku cabut dan ku tumpahkan di atas perut si cantik.

Lelah dan puas rasanya. 2 kali ejakulasi membuatku sangat lelah. Apalagi proses membukaan segel tadi sangat menguras energi dan konsentrasi. “Gimana rasanya enak, atau sakit,” tanya ku.

“Sakit, perih ayah,” kata Maya.

Aku jelaskan bahwa di dalam serambi lempit nya sekarang ada luka, mungkin sampai 3 hari masih terasa perihnya. Maya kemudian mengaku serambi lempitnya perih ketika kencing. Dibawa jalanpun agak sakit. Malam itu aku tidur berpelukan telanjang dengan maya sampai pagi tidak ada insiden.

Selama 3 hari kemudian kami istirahat tidak melakukan cumbuan yang berarti. Setelah merasa serambi lempitnya tidak perih lagi, mungkin sekitar seminggu setelah penjebolan perawan, Maya menggodaku dan mengatakan ingin mencoba lagi. Permintaannya aku layani, tetapi aku tetap membutuhkan olesan pelumas untuk memperlancar.

Pada saat awal penetrasi, dia merasakan perih, tetapi setelah masuk seluruhnya perihnya mulai hilang dan seterusnya ketika aku genjot dia mulai mendesis nikmat. “ Masih sakit ?” tanyaku. Ngocoks.com

Maya menggeleng, “ enak” katanya. Aku terus menggenjot. serambi lempitnya sempit banget sehingga aku tidak mampu bertahan lama. Maya belum mencapai puncak kepuasan aku sudah keburu keluar. Kutarik rudalku dan kutumpahkan di perutnya. Takut bunting man.

Sejak saat itu setiap malam Maya selalu minta disetubuhi. Meski kadang aku kurang bergairah, tetapi dia pandai mengolah sehingga rudalku berdiri dan dia yang aktif melakukannnya dengan mengambil posisi diatas.

Kalau pada awalnya aku kurang bergairah. Pertahananku bisa lama sekali. Bahkan sering, Maya sudah mencapai 2 kali orgasme, aku masih sulit mencapainya. Akhirnya permainan selesai tanpa aku mendapat orgasme.

Memang kurang memuaskan rasanya, tapi aku berpikir, dengan begitu aku bisa menyimpan energi.

Mungkin sudah 6 bulan aku terbiasa berhubungan dengan Maya. Sampai dia kini mahir bermain dengan berbagai posisi dan melakukan bermacam-macam gerakan. Selain melayaniku makin komplit ternyata kerja di kantorpun dia makin banyak diberi tanggung jawab.

Kendala yang masih tersisa adalah penakut. Kami lama berdiskusi soal perlunya dia ditemani, sehingga bisa tetap tinggal di rumah ini, meski aku balik ke Jakarta. Namun Maya merasa sayang, jika ada yang menemaninya dia tidak bisa bobo lagi denganku. Sehingga cukup lama pertimbangan itu terbengkalai.

Bersambung… Malam itu Maya membuka pembicaraan soal siapa yang akan menemaninya jika aku ke Jakarta. Dia memutuskan memilih adiknya sendiri. “Lho kalau adikmu, kenapa gak dari dulu-dulu.” tanya ku.

Menurut Maya sejak awal dia sudah ingin mengajak adiknya, tetapi neneknya melarang, karena khawatir adiknya mengganggu pekerjaan Maya. Pertimbangan neneknya bener juga sih. Selain itu neneknya ternyata tidak tahu kelemahan Maya yang penakut itu.

Setelah hampir setahun bekerja di tempatku baru neneknya mengizinkan adiknya ikut menemani Maya. Mengenai kemungkinan mengganggu keintiman, Maya sudah punya siasat. Menurut dia bisa dilakukan setelah adiknya tertidur. Pikirku masuk akal juga siasatnya.

Dia minta izin membawa adiknya yang ternyata juga perempuan. Jadi mereka itu dua bersaudara perempuan. Adiknya baru berumur 11 tahun, kelas 5 SD. Dia bisa berangkat dari rumah ku di kebun diantar Maya. Aku baru memberi Maya sebuah sepeda motor matic.

Jadilah kehidupan kami bertiga di atas. Adik Maya juga cantik tapi tidak seperti kakaknya.

Wajah orientalnya menonjol, mungkin karena bibit Taiwan. Rambutnya lurus hitam. Tubuhnya agak jangkung untuk anak seumur 11tahun, badannya berisi.

Benar kata Maya, aktifitas hubungan kami tidak terganggu, karena pergumulan selalu dilakukan menjelang tengah malam. Setelah mencapai kepuasan, Maya kembali ke kamarnya. Aku tidak memberi kamar pembantu untuknya, tetapi kamar di sebelahku yang kuberi dua buah kasur.

Mudah-mudahan adiknya tidak terganggu tidurnya ketika ada erangan kakaknya di kamarku. Sampai sekitar 3 bulan semuanya berjalan aman-aman saja. Adik Maya yang bernama nama Deasy juga makin manja kepadaku. Dia ikut-ikutan memanggil ku Ayah.

Namanya menyimpan bangkai, akhirnya tersua juga. Tengah malam itu kami lagi asyik bermain, Posisi Maya diatas sedang aku dibawah. Maya membelakangi pintu, tetapi aku bisa melihat pintu.

Tanpa suara pintu yang lupa aku kunci terbuka perlahan-lahan. Aku terkejut karena Deasy melihat situasi di kamarku. Dia pasti melihat jelas di keremangan cahaya tubuh kami berdua bugil.

Aku tidak memberi tahu Maya yang sedang asyik. Jariku memberi kode agar Deasy masuk. Dia paham dan masuk perlahan-lahan lalu duduk disamping kami. Maya terkejut, tetapi dia tidak bisa berlindung dan menyembunyikan ketelanjangan dan adegan kami.

Cerita Dewasa Ngentot - Bersetubuh Dengan Dokter Pribadi di Pondok Perkebunan Singkong
“Ngapain lu,” tanya Maya.

“Kakak ngapain,” dijawab Deasy dengan pertanyaan juga.

Maya yang berhenti sebentar bergerak lalu melanjutkan gerakannya, karena tadi aku merasa dia sudah hampir mencapai finish. Namun akibat gangguan tadi mungkin dia harus mengulang dari awal lagi untuk menaikkan tingkat kenikmatannya sampai mencapai puncak.

Deasy ternyata tanpa rasa malu atau rikuh duduk saja menonton permainan kakaknya dengan aku. Aku tidak tahu, anak seumur dia apakah terpengaruh nafsunya atau tidak. Kalau dia memahami soal persetubuhan, tentunya dia malu melihat adegan ini. “ kakak ngapain sih,” tanyanya.

Pertanyaan itu menjelaskan bahwa memang dia belum tahu soal menyetubuhi. Kakaknya ditanya begitu tidak menghiraukan dia terus bergerak mengejar puncak kenikmatannya.

Celakanya rintihan Maya tidak dia simpan malah dilepas begitu saja seolah-olah tidak ada adik di sampingnya. Ketika mencapai orgasme malah Maya berteriak histeris yang membuat adiknya makin melotot.

Kehadiran Deasy menggangu aku mencapai kenikmatan, sehingga aku tidak mencapai orgasme. Setelah orgame tuntas, Maya bangkit dan masuk ke kamar mandi, Dengan mengenakan kemben dia tarik adiknya masuk ke kamarnya. Aku mendengar mereka berbicara, tetapi tidak terlalu jelas benar.

Keesokan harinya situasi berjalan normal, seperti tidak terjadi apa pun. Maya berbisik kepadaku bahwa Deasy berjanji simpan rahasia. Dia tidak ingin kakaknya tidak bekerja lagi.

Mungkin setelah Deasy bekerja, membawa kemakmuran bagi keluarga mereka, selain HP yang juga untuk Deasy, mungkin uang belanja untuk rumah neneknya, juga motor matic yang sekarang dijadikan kendaraan kebanggaan.

Sebelum Maya bekerja ditempatku, jangankan sepeda motor, televisi pun tidak ada di rumah, makan pun kata Deasy sering hanya sekali. Aku tidak bisa membayangkan malamnya bagaimana.

Ternyata malam itu tidak ada kejadian apa-apa. Maya dan Deasy masuk kamar setelah menonton TV. Sementara aku masih mengikuti siaran National Geography. Sejam sudah berlalu akhirnya aku pun masuk peraduan lalu tidur berselimut tebal.

Malam kedua, Maya masuk ke kamarku sekitar jam 1 malam dia langsung memelukku dan meremas senjata kebanggaanku. Aku belum terlalu sadar, karena sedang tidur nyenyak.

Kami saling memuaskan diri dan Maya tidak mau pindah tidur ke kamarnya. Pagi sekali Deasy duluan bangun dia langsung menyusul ikut tidur. Tapi dia memilih posisi di tengah diantara aku dan Maya.

Tidak lama kemudian mereka bangun karena Deasy harus ke sekolah. Mereka masuk kamar mandi di luar aku juga mandi di dalam kamar mandi kamarku.

Rasanya hanya malam itu saja yang kami bisa leluasa. Malam berikutnya Deasy menuntut ingin tidur bersama dengan aku. Bahkan kata Maya, si Deasy tetap ingin tidur bersama ayah, meski kakaknya tidak mau. Aku jadi geli tapi aku pendam dalam hati. Mana mungkin Maya mau tidur sendiri di kamar, orang penakut begitu.

Aku tidak tahu apa maksud Deasy sebenarnya ikut tidur di kamarku. Apakah dia ingin mencegah perbuatan kakaknya dengan aku atau maksud lain yang aku belum tahu. Yang jelas Deasy ingin tidur ditengah.

Permintaan itu aku pikir pasti Deasy ingin mencegah kakaknya akrab dengan ku. Tapi kalau itu niatnya mestinya semua gerak-gerik Maya yang dekat denganku akan dia halangi, tapi ini tidak. Dia hanya menghalangi aku tidur di sebelah Maya.

Ah dasar anak kecil. Tapi apakah zaman keterbukaan informasi seperti sekarang ini, anak seusia Deasy bisa dianggap anak kecil yang belum banyak tahu. Dalam obrolan selama berbaring, Deasy tidak menyinggung sedikitpun soal sex. Dia tampaknya rindu dengan sosok ayah. Dia memang memposisikan aku sebagai ayahnya. Bermanja-manja adalah kelakuannya dia setiap hari.

Dengan kehadiran Deasy tiap malam diantara aku dan Maya, akibatnya kami tidak bisa bertempur. Aku bisa menahan diri, tapi Maya tampaknya tidak.

Beberapa kali dia mengatur strategi mengajak aku keluar masuk kekamarnya dan kami bertempur disana. Rupanya anak seusia Maya sudah mempunyai ketergantungan sex. Apakah karena dia memiliki gen Bapaknya yang bule, atau pengaruh makanan yang sekarang gizinya lebih baik daripada zamanku dulu.

Suatu malam ketika kami tidur bertiga, sementara aku tidak bisa tidur, mungkin karena siangnya aku sempat tidur agak lama ketika jam istirahat siang. Aku ingin tahu Deasy yang umurnya 11 tahun ini bagaimana bodynya.

Aku yakin dia sudah nyenyak, ketika aku raba dadanya dari balik baju. Terasa ada tonjolan kecil payudaranya. Jika sehari-hari tonjolan teteknya yang baru tumbuh itu tidak terlihat. Tampaknya dadanya masih rata.

Aku tekan-tekan pelan, teteknya kenyal banget. Tidak puas meraba dari luar lalu tanganku masuk ke balik kausnya dan meraba teteknya. Tonjolan kecil teteknya masih belum ada pentilnya, atau mungkin tidak teraba.

Ngaceng akibatnya, dan mana ada puasnya. Setelah mengetahui dan meremas tetek kecil, ingin pula menjamah serambi lempitnya. Perlahan-lahan tanganku menyusup masuk kebalik celana pendeknya dan terus menyusup ke dalam celana dalamnya.

serambi lempitnya teraba cembung dan terasa ada bulu halus di ujung atasnya. Meski bulu itu terasa halus tetapi cukup banyak juga di bawahnya masih terasa bulu yang baru tumbuh.. Belahan serambi lempitnya aku raba juga.

Belahan masih rapat membuat aku penasaran sehingga jariku aku usahakan masuk sedikit ke belahan serambi lempitnya. Agak basah dan licin di dalamnya.

Aku berpikir apakah serambi lempit memang selalu dalam keadaan lembab. Selama ini aku ketahui serambi lempit jika berlendir begini, pemiliknya dalam keadaan terangsang. Tapi aku tahu dia kan tidur nyenyak, jadi mana mungkin terangsang. Setelah puas menjamah aku tarik tanganku dan mencium sisa cairan di jariku. Tidak tercium aroma apa-apa.

Aku tenang, karena merasa aksiku tidak diketahui pemiliknya. Tapi aku galau karena birahiku melonjak. Karena situasi tidak terlalu kondusif, aku terpaksa redam. Tiba tiba Deasy memelukku.

Aku anggap ini hal normal, karena mungkin dia menganggap aku seperti gulingnya. Namun suara nafasnya kok agak memburu. Kalau dia tidur mestinya nafasnya tidak begini.

Wah apa aku ketahuan ya? Selain soal nafas aku merasa pahaku seperti sengaja ditempeli gundukan serambi lempitnya malah terasa seperti ditekan oleh pemiliknya. Aku lalu berpikir bahwa analisaku dipengaruhi oleh nafsu, sehingga hasil analisanya bisa ngawur. Aku mencoba tidur dan akhirnya memang tertidur juga.

Sampai bangun tidur tidak ada insiden apa-apa. Hanya yang aneh pagi ini Deasy minta mandi bersama-sama di kamar mandiku. Aku tidak perlu keberatan karena toh dia sudah pernah menonton kami lagi bersetubuh.

Mungkin pengaruh udara dingin, rudalku agak membengkak, meski tidak sampai tegak. Ini mungkin birahi semalam yang tidak tersalurkan. Bertiga sudah bugil dan kami mandi dengan shower air hangat.

Aku perhatikan memang benar payudara Deasy baru tumbuh, Daging teteknya terlihat kencang, karena mungkin masih kecil. Di selangkangannya terlihat ada sekompok bulu halus di ujung atas lipatan kemaluannya.

Semula aku duga dia masih gundul, di serambi lempitnya, tetapi ternyata sudah ada bulu-bulu di sana. Mungkin ras oriental lebih cepat punya bulu, di bandingkan orang melayu. Di bawah sekumpulan bulu terlihat daging cembung yang dibelah oleh lipatan yang rapat

Saling bersabun dan bercanda sedikit menjadi suasana keakraban dan keterbukaan. Dengan demikan tidak ada yang kami tutupi lagi diantara kami. Sampai siang tidak ada kejadian apa-apa dan kebetulan hari itu Maya tidak minta jatah. Dia tampaknya sibuk dengan urusan akuntingnya.

Maya konsentrasi dengan pekerjaannya. Menurut pegawaiku yang menangani akunting, Maya cepat paham dengan bidang kerjanya. Kemauan dia memang keras untuk mengusai pekerjaan. Menurutku pengamatanku intelektualnya cukup tinggi.

Hari itu hujan sehingga aku tidak bisa keliling kebun. Aku istirahat saja di atas sambil menikmati singkong rebus dan kopi hangat . Deasy seperti biasanya duduk merapat denganku.

“Yah Tadi malam adik ngrasa enak deh dipegang-pegang ama ayah,” kata Deasy yang menyentak ku. Ternyata anak ini tidak tidur, atau dia terbangun lalu pura-pura tidur membiarkan aksiku menggerayanginya. Pantas saja nafasnya memburu dan celah serambi lempitnya basah.

Dia tanya ke aku kenapa tidak bermain lagi dengan kakaknya seperti ketika dia lihat pertama kali. Aku katakan, kami malu kalau dilihat anak kecil. “Ye ayah kenapa malu, biasa ajalah, kakak aja gak malu,” katanya.

“Nanti malam ya Yah, main sama kakak, adik ingin liat. Bosen kalau liat film di HP, “ katanya.

Memang benar, serbuan teknologi tidak bisa dibendung, sehingga anak 11 tahun sudah puas melihat film porno melalui layar HP.

Jadi meski pun umur 11 tahun dan teteknya baru tumbuh, dia sudah tidak bisa dianggap anak kecil yang masih belum tahu apa-apa. Dia ngerti soal hubungan sex, dan ketika aku tanya apa reaksinya setelah nonton film bokep. “Ah biasa aja, cuma penasaran aja,” katanya.

“Penasaran apa maksudnya” tanyaku.

“Ya, penasaran pengen tahu aja,” katanya singkat.

“Kalau sudah tahu terus mau apa,” tanyaku.

“Ya gak tau lah, emang kenapa sih Yah kok nanya terus,” ujarnya.

Di kepalaku terbayang aku melakukan adegan hubungan sex dengan penonton anak 11 tahun, yang duduk disamping tempat pertempuran.

“Kakak sih sebenarnya gak masalah main sama ayah diliat saya, tapi dia takut nanti ayah yang marah, “ kata Deasy.

Aku merasa bakalmemasuki babak baru, bahkan terbayang kemungkinan aku menyetubuhiin si Deasy. Ah tapi kutepis, karena tidak mungkin anak 10 tahun di ewek. Mungkin lubang serambi lempitnya belum bisa ditikam.

Dan yang lebih mengerikan kalau sampai ketahuan aku bisa masuk penjara untuk waktu yang lama sekali. Mending masuk penjara karena korupsi, tapi kalau menyetubuhiin anak di bawah umur rasanya tak terbayangkan malunya.

Sebetulnya Maya pun masih tergolong di bawah umur, karena dia masih sekitar 17 tahun. Tapi aku dan dia sudah seperti suami istri bermain sesuka kami. Kutepis juga bahwa tidak mungkin Maya mengizinkan adiknya aku “sikat”.

Suatu kesempatan di sore hari ketika aku sedang jalan, Maya mendekatiku. Kami duduk-duduk berdua di kursi di kebun belakang. “Adik tadi ngomong apa yah,” tanya Maya.

“Katanya kamu tidak keberatan main ditonton adik,” ujarku.

“Terus,” selidiknya.

“Ya itu aja, apa emang bener,” tanyaku.

“Bener sih, tapi gimana ya, apa ayah bisa,” tanyanya.

“Yah gak tau, emang rada risih sih tapi, kita kan belum coba. Cuma aku khawatir nanti adikmu terpengaruh, gimana,” tanyaku.

“Terpengaruh gimana, maksud ayah, pengen juga ?” tanya Maya.

“ Iya mungkin saja begitu kan.” kataku.

“Gimana kalau dia pengen juga,” tanyaku.

“Gak tau ya,” ujarnya.

“Apa ayah mau juga ama adik,” ujar Maya.

“Ah masih terlalu kecil, mana bisa masuk, lubangnya aja masih kecil gitu,” kataku.

“Iya sih,” ujar Maya.

Malam itu Maya mencoba bermain di depan adiknya. Aku pun mencoba melayaninya dengan normal tanpa menghiraukan kehadiran adiknya. Kami memulai dengan saling bercumbu diakhiri dengan saling mengoral sampai mencapai orgasme.

Aku di oral tidak bisa mencapai orgasme, beda dengan Maya yang rasanya malah lebih cepat mencapai kepuasan. Aku mengarahkan rudalku memasuki lubang kenikmatan Maya.

Seperti biasa mengawali permainan dengan posisi MOT lalu berganti WOT, dan Doggy. Entah mengapa aku susah mencapai orgasme, sebaliknya Maya malah lebih cepat.

Deasy melihat dari dekat gerakan rudalku maju mundur di serambi lempit kakaknya. Kadang-kadang dia malah meraba-raba kantong zakarku ketika sedang bekerja menghunjam serambi lempit. Rasa ingin tahunya ternyata besar.

Kami bertempur sekitar 30 menit, Deasy sudah dapat 2x orgasme sedang aku hanya lelah saja tanpa mencapai orgasme. Badanku lelah. Sehingga keringat membasahi tubuhku demikian juga si Maya. Aku dan Maya berbaring berdua denganku berdampingan.

rudalku masih bengkak. Dengan lancangnya Deasy menjamah rudalku. Ditekan-tekan, lalu digenggam-genggam. Dia melihat dari dekat diangkat- diputar, lalu kantong zakarku juga di pegang-pegang. Ngocoks.com

Aku biarkan dia memuaskan memperhatikan genitalku. Setelah dia puas, dia minta aku menjamahi tubuhnya. Tanpa aku minta dia membuka bajunya semua setelah bugil dia memelukku yang juga masih bugil. Kakaknya diam saja melihat kelakuan adiknya. Deasy mengambil posisi berbaring diantara aku dan Maya. Kami beselimut karena hawa dingin mulai terasa.

Menanggapi keinginan Deasy aku meremas tetek kecilnya pelan-pelan, dan memainkan pentilnya yang masih sangat kecil. Nafasnya mulai memburu. Badannya menegang. Mungkin inilah bedanya wanita dewasa dengan anak dibawah umur menanggapi kenikmatan sex. Aku mempermainkan tetek kecilnya, sampai nafas Deasy benar-benar memburu.

Puas mempermainkan benjolan kecil, tanganku beralih ke apem kecil di selangkangan. Pertama-tama aku belai gundukan dengan garis ditengahnya. Deasy kembali kaku tubuhnya seperti orang kejang.

Dia diam tidak bersuara, seperti mengerang, mendesis atau merintih. Kakinya merapat dan tegang sekali. Aku pikir dia tegang bukan karena takut, karena cumbuan ini juga atas permintaan dia sendiri.

Maya sudah tertidur dengan dengkuran halus. Aku memainkan belahan serambi lempit Deasy dan berusaha mencari clitorisnya. Tidak mudah menemukan tonjolan clitoris. Ada terasa tonjolan, tapi rasanya bukan clitoris, tetapi lipatan bibir dalam (labia minora).

Aku menggosok lipatan tonjolan itu. Deasy bergerak-gerak pinggulnya mengikuti irama kilikanku di lipatan tonjolan. Kadang-kadang dia berhenti, tapi badannya kaku, tegang banget. Cukup lama aku mengilik kemaluan Deasy, aku menanti kapan dia mencapai orgasme.

Aku tidak menangkap tanda-tanda dia orgasme, seperti wanita dewasa. Lama-lama jariku pegal dan lelah juga, karena seperti tidak ada ujungnya. Akhirnya ku hentikan kilikan itu, karena bosan juga.

Aku sudahi merangsang Deasy. Aku lalu mengatur posisi untuk lanjut tidur, meskipun rudalku masih menegang. Deasy merangkulku sambil tidur miring. Celakanya tangannya menggapai rudalku dan meremas-remasnya.

Tentunya rudalku jadi makin keras. Dibukanya selimut dibagianku dan dia menaikiku. serambi lempitnya di arahkan ke rudalku dia pegangi rudalku dan berusaha memasukkan ke lubang serambi lempitnya.

Aku biarkan saja, karena aku tahu pasti dia tidak bisa memasukkan. Biar saja dia tahu sendiri bahwa lubangnya memang belum waktunya dimasuki rudal dewasa. Toh dia akan berhenti berusaha nanti kalau merasa perih.

Ujung rudalku dipaksanya memasuki lubang serambi lempitnya. Meski belahan serambi lempitnya banyak lendir yang licin, tetapi karena lubangnya masih kecil, jadi Deasy sulit memaksakan masuk.

Bersambung…Namun aku kagum dia berusaha menahan rasa sakit dan perih, karena tetap berusaha menekan serambi lempitnya turun agar kepala rudalku memasuki, Kepala rudalku terasa agak masuk juga, paling tidak seluruh kepala rudal ternyata bisa menguak masuk. Setelah itu terasa terhalang karena meski dia paksa juga tapi tidak bisa masuk lebih dalam. Deasy diam sejenak. Aku diam saja tidak tahu apa yang akan dia lakukan.

Secara tiba-tiba dia paksa menekan dengan melepaskan seluruh berat tubuhnya. rudalku otomatis melesak masuk semua. Sakit rasanya karena seperti kejepit sesuatu yang sangat ketat. Aku waktu itu khawatir tidak bisa dilepas.

Aku segera membalik posisi dengan menindih dia lalu aku menarik pelahan-lahan. Rasanya rudalku bisa kutarik, lalu aku coba menekan lagi, ternyata bisa dan tidak tercekat. Memang rasa nya agak sakit.

Kutarik sampai lepas, khawatir gesekanku menimbulkan luka di dinding serambi lempitnya. Anehnya Deasy masih menarik badanku untuk menindihnya. Aku minta dia sabar sebentar. Aku melumasi rudalku dengan jelly.

Setelah itu aku coba mencoblos serambi lempitnya. Perlahan-lahan sekali . Walau sambil meringis yang pastinya dia merasa sakit, tetapi tangannya menarik badanku bukan menahannya.

Aku kagum juga serambi lempit anak sekecil ini bisa dimasuki rudal dewasa. rudalku masuk sepenuhnya. Relatif lebih mudah dari yang tadi. Aku coba tarik sedikit, dan tekan lagi. rudalku tidak terlalu tercekat, meskipun rasa sempit masih menjepit. Maju-mundurnya rudalku relatif lancar.

Aku terus mencoba melakukan gerakan naik turun. Rasa nikmatnya tidak bisa kuingkari, sehingga aku tidak mampu menahan perasan serambi lempitnya untuk menarik spermaku sampai akhirnya kulepas saja di dalam emeknya.

Darah yang membasahi batang rudalku ketika tadi kucabut cukup memerah. Aku sempat membersihkan dengan sapu tangan handuk. Maniku yang meleleh juga berwarna merah muda.

“Kenapa dipaksa sampai kamu kesakitan gitu,” tanyaku.

“Aku penasaran yah. Kak Maya sudah kasi tahu kalau diperawani itu perih dan sakit. Jadi aku udah tahu dan udah membayangkan. Aku pikir sekarng atau nanti, tetap aja sakit. Jadi karena ada ayah dan aku sayang ama ayah jadi aku paksa aja anunya ayah masuk ke serambi lempitku,” kata Deasy polos.

Kebutulan itu malam sabtu, sehingga dia besok tidak sekolah dan bisa bangun siang. Aku rasa kalau dia berjalan, pasti selangkangannya terasa perih dan jalannya jadi agak aneh. Bisa-bisa karena itu orang jadi tahu.

Oleh karena itu Deasy aku minta dia tetap diatas seharian dan aku beri pengertian, kalau dia turun, orang bisa tahu kalau dia habis diperawani. Ini bahaya dan bisa merusak semua. Untung Deasy mengerti.

Maya akhirnya tahu karena Deasy sendiri yang menceritakan proses penjebolan segelnya. Dia tidak memprotes ke aku dan juga tidak tampak kecewa karena adiknya sudah tidak perawan lagi gara-gara aku.

Setelah peristiwa itu aku lebih bebas melakukan hubungan dengan Maya. Sampai seminggu Deasy hanya menonton saja. Mungkin sakit di belahan selangkangannya masih membuatnya gentar untuk mencoba lagi. Aku sama sekali tidak membujuk atau mengajaknya bersetubuh. Kalau dia ingin biar saja dia sendiri yang mengambil inisiatif.

Deasy pada usia itu tubuh dan kewanitaannya mulai berkembang. Pinggulnya mulai berisi, pinggangnya mulai terbentuk, pantatnya makin membulat dan pahanya agak membesar. Sementara itu susunya juga tumbuh terus. Hanya jembutnya belum tumbuh sehelai pun.

Setelah mungkin 10 hari, Deasy mengajakku “bermain”. Aku berusaha menolaknya dan kembali aku beri pengertian bahwa dia belum pantas untuk kusetubuhi. Namun dia terus merengek dan matanya berair. Dia menuduh aku lebih sayang kepada kakaknya daripada dia.

Akhirnya kuturuti kemauannya disaksikan kakaknya Deasy kubiarkan bermain dengan rudalku. Sebelumnya aku sengaja melumur rudalku dengan jelly untuk melicinkan. Deasy mengambil posisi di atas ku dan mengarahkan rudalku memasukkan ke lubang serambi lempitnya.

Perlahan-lahan tanpa halangan rudalku tenggelam. Dia mencoba bergerak. Tapi karena belum ada pengalaman, maka gerakannya tidak beraturan bahkan sering kali rudalku lepas.

Aku terpaksa mengambil kendali dan mengubah posisi menjadi MOT dan mulai memompa pelan-pelan. Deasy diam saja seperti patung. Sulit aku menerka posisi yang memberi kenikmatan baginya. Aku jadi asyik sendiri memompa sampai akhirnya aku muncrat.

Kelihatannya Deasy agak sulit mendapatkan orgasme melalui hubungan. Yah memang karena usianya belum waktunya melakukan hubungan sex.

Deasy sulit mendapatkan orgasmenya meski aku pernah bermain cukup lama Namun yang mengherankan dia selalu menagih minta disetubuhi. Selalu saja dia yang meminta. Sekalipun, aku tidak pernah memulai.

Aku agak penasaran soal orgasme, sehingga setiap kali dia minta di setubuhi aku selalu mengawali dengan mengoralnya. Pada awalnya cukup lama dia mencapai orgasme, sampai aku bosan dan leherku pegal. Jika dia mencapai orgasme badannya menegang kaku dan serambi lempitnya berkedut.

Sampai saat aku bisa lancar memainkan serambi lempitnya, dia belum mendapat mensturasi. Aku kadang-kadang menyalahkan diriku sebagai orang yang paling kurang ajar di dunia. Mungkin anda kalau berada di posisi saya bisa lebih bijak.

Aku sering termenung membayangkan diriku yang menggauli wanita jauh lebih muda dariku. Kadang-kadang sulit membayangkan situasi itu bisa terjadi, tetapi nyatanya itu sudah menjadi bagian hidupku.

Mungkin ada sekitar 2 tahun hidup seperti itu, sampai payudara Deasy berkembang cukup besar dan tubuhnya juga mekar sebagai gadis yang sangat cantik. Sulit dipercaya melihat keadaan kedua anak itu jika disebutkan bahwa mereka adalah asli kelahiran desa terpencil yang jauh dari Jakarta.

Maya sudah makin piawai di pekerjaannya, Setelah menguasai akunting, dia kutugaskan ke bagian marketing. Pada awalnya dia mendampingiku melakukan tugas pemasaran, tetapi sudah 6 bulan terakhir dia sudah bekerja sendiri. Hasilnya lumayan.

Anak ini sangat berbakat di bidang marketing, wawasannya luas sehingga selalu menemukan pasar-pasar baru. Meski kerjanya sudah bagus, aku ingin membekali dirinya dengan ilmu formal, sehingga aku membujuknya untuk kuliah.

Pada awalnya dia keberatan, karena selain sudah menikmati pekerjaan dia juga mendapat penghasilan yang lumayan besar. Namun aku menjelaskan kepadanya bahwa pengetahuannya jika dibekali dengan pengetahuan dari pendidikan formal, maka dia tidak hanya bisa bekerja di perusahaanku, tetapi di manapun dia ingin bekerja akan dihargai.

Aku sudah merencanakan dia menuntut ilmu di Singapura, Semua biaya akan aku tanggung, termasuk apa yang selama ini dia peroleh tetap akan dia dapatkan. Si Deasy juga ikut sekolah di Singapura, agar kakaknya tidak takut sendiri.

Setelah keberangkatan kedua anak asuhku yang puas aku kentotin, aku kini sendiri lagi, dan rumahku tidak ada yang mengurus kembali. Pak Sudin memahami keadaanku, dia menawarkan agar istrinya yang membantu aku membereskan rumahnya.

Mulanya aku pesimis, soal tawaran Pak Sudin, Namun setelah dia memperkenalkan istrinya aku agak terkesima. Istrinya ternyata jauh lebih muda dari Pak Sudin. Bukan hanya lebih muda tetapi juga penampilannya menggairahkan. Kembali aku menangkap pandangan nakal dari sorot matanya. Aku tidak enak menanggapinya, karena dia adalah istri pegawaiku.

Pak Sudin yang tadinya bekerja di lapangan mengawasi tanaman, kini dia mohon kepadaku untuk bekerja di kantor. Dia mengaku tubuhnya sudah kurang kuat.

Aku tidak keberatan, tetapi aku bingung akan kutempatkan dimana, sementara latar belakangnya memang petani. Dia malah menawarkan diturunkan saja gajinya, yang penting tidak bekerja berat di lapangan.

Umur Pak Sudin baru sekitar 43, tetapi karena kerasnya kehidupan di desa membuat tampilannya jauh lebih tua. Badannya juga kelihatan makin lama makin kurus. Aku menduga dia mengidap suatu penyakit, tetapi dia belum mau berterus terang.

Mengingat istrinya bekerja mengurus rumahku, dan dia belum punya anak meski sudah 5 tahun membina rumah tangga, maka kutawarkan menempati kamar pembantu. Kamar itu aku modifikasi menjadi agak lebih besar.

Aku memberi tugas Pak Sudin sebagai Kepala Urusan Rumah Tangga. Selain memberesi tempat tinggalku dia juga mengurus segala macam keperluan kantor.

Aku memberi arahan kerja apa yang harus dilakukan, maklum jabatan itu tidak pernah dia pahami apa yang harus dikerjakan dan apa tanggung jawabnya, orang petani disuruh ngurus rumah tangga ya maklum saja kalau dia blank.

Istri Sudin selain cantik juga pintar masak. Sudah 3 bulan dia mengurusi rumahku bersama suaminya, mungkin timbangan badanku naik, karena selalu berselera dengan masakan istri si Sudin, terutama buatannya yang istimewa adalah sambal dan sayur asem.

Ada yang hilang setelah tidak ada dua anak ABG dan Imah. Tidak ada yang aku keloni lagi malam-malam. Jadi aku tidak terlalu betah berlama-lama di kebun, kadang-kadang hanya malam minggu saja.

Sebetulnya usahaku makin besar dan makin luas tanamannya. Berkat sistem yang aku terapkan berjalan, maka meski tidak aku awasi setiap hari bahkan dibiarkan saja sebulan tanpa kehadiranku perusahaan tetap jalan.

Istilah sekarang yang lagi populer usahaku sudah bisa auto pilot. Jadi kalau aku ke kebun, sebenarnya hanya refreshing saja.

Sementara itu hampir setiap bulan aku pasti ke Singapura mengunjungi anak asuhku sekaligus memuaskan nafsu sex ku. Mereka tinggal di apartement yang sudah kubeli.

Istri dan anak-anakku tidak mengetahui apartemen baru ini. Aku mempunyai apartemen lain yang biasa dijadikan tempat singgah istri atau anak-anakku kalau ke Singapura.

Suatu malam ketika aku sedang ada di kebun, Pak Sudin katanya minta waktu ingin bicara denganku. Dia sudah mengatakan tadi siang. Kayaknya dia serius sekali ingin bicara khusus denganku.

Aku sulit menduga apa yang ingin disampaikan, aku jadi agak berdebar juga, jangan-jangan dia tahu aku telah menyetubuhi si Maya dan Deasy, dan mungkin juga orang di desa tahu.

Aku jadi tidak tenang setelah Pak Sudin mengatakan ingin ngomong khusus denganku secara pribadi. Pak Sudin kali ini jadi sangat mendebarkan bagiku.

Malam itu selepas makan malam, Pak Sudin duduk berdua denganku di teras depan. Dua cangkir kopi menemani obrolan kami. “Pak maaf ya pak jika yang akan saya kemukakan ini nanti tidak berkenan, bapak lupakan saja, dan anggap saja tidak pernah ada pembicaraan ini,” katanya.

Pernyataan awal pembukaan pertemuan 4 mata ini menambah kebingunganku, karena aku jadi sulit menebak kemana arah yang akan dia bicarakan.

“Begini Pak, saya mau berterus terang kepada Bapak, Saya sekarang ini sedang mengalami penyakit yang kayanya tidak bisa sembuh. Makanya saya minta ke Bapak, untuk pindah kerja dari lapangan ke Kantor, “ katanya.

“Sakit apa, “ tanyaku sambil menyeruput kopi yang takut keburu dingin.

“Saya terkena diabetes, dan gula darah saya tinggi sekali Pak, “ ujar Pak Sudin sambil menunduk sedih. Kayaknya mata dia basah oleh air mata.

“ Ya diabetes memang jarang ada yang bisa disembuhkan, malah kalau tidak di jaga dia akan merusak organ lain, “ ujarku setelah agak tenang soalnya topik yang dibahas ini ternyata tidak seperti dugaanku.

“Saya paham Pak, tapi ada yang membuat saya terbebani lebih berat. Bukan soal biaya pak, saya berterima kasih bapak sedikit banyak membantu saya sehingga saya tidak kewalahan untuk membiayai pengobatan.” katanya.

“Soal apa Pak,” tanyaku.

“Keluarga besar saya, juga istri saya selalu bertanya kapan saya dapat anak, Kami sudah berusaha dalam 8 tahun perkawinan ini, tapi memang tidak diberi rezeki itu kayaknya Pak.” katanya.

Saya menyarankan dia adopsi anak saja, sebab beberapa kasus, setelah satu keluarga yang sulit mendapat keturunan, setelah mengadopsi anak, dia lantas mendapat keturunan.

“Saya paham pak soal itu, tapi bagaimana mau bisa punya keturunan sendiri pak, orang untuk menggauli istri saya saja saya sudah tidak mampu. Praktis sudah 3 tahun terakhir ini pak saya tidak mampu melakukan tugas sebagai suami,” katanya blak-blakan dan bernada sedih.

“Saya memang salah pak, karena kawin telat, jadi belum lama nikah saya sudah loyo,” katanya dengan nada agak menggelikan.

“Saya menawarkan istri saya untuk bercerai agar dia bisa kawin lagi dan dapat keturunan, tapi dia tidak mau pak. Tapi Pak dia sering uring-uringan kalau mencoba merangsang saya tapi tidak pernah berhasil,” katanya.

Saya jadi kurang enak hati, karena Sudin sudah bicara masuk ke wilayah pribadi, tetapi saya diam saja menunggu dia melanjutkan ke arah mana.

“Maaf pak saya benar-benar mohon maaf kalau permintaan saya ini kelewatan,” katanya . Dia terlihat sulit sekali mengutarakan maksudnya.

“Ya sudahlah saya maklumi apa pun yang akan kamu sampaikan, kalau saya bisa tolong, pasti saya tolong, tapi kalau gak bisa Bapak pun, jangan sakit hati pula,” jawabku tenang, sambil penasaran.

“Begini Pak, saya mohon hmmmm, iya pak saya mohon bapak mau membenihi istri saya,” katanya agak tercekat.

Saya seperti mendengar bom mendengar pernyataannya itu. Tapi saya kemudian berpikiran bahwa dia akan melakukan metode bayi tabung dengan mengambil benih saya lalu disemaikan ke indung telurnya. “ Kenapa tidak benih bapak saja yang disemaikan melalui sestem bayi tabung,” tanya saya penuh keheranan.

“Pak saya sudah cek kualitas sperma saya, ternyata sperma saya lemah,” katanya sedih.

“Jadi kamu mau pakai sperma saya untuk dijadikan bibit dengan bayi tabung,” tanya saya dengan antusias.

“Hmmm kalau bapak bersedia, kami inginnya tidak pakai bayi tabung pak,” katanya polos.

Bom kedua meledak lagi mengejutkan saya. Untuk mengatasi grogi saya sruput lagi kopi yang sudah tinggal sedikit.

“Maksud kamu gimana, Sudin,” kataku.

“Saya sudah diskusi dengan istri berhari-hari soal ini pak dan sudah memikirkan berbagai alternatif, tetapi akhirnya kesimpulannya seperti yang saya sampaikan ini. Saya akui ini awalnya memang ide saya.

Istri saya mulanya diam saja. Saya bingung pak dia tidak menjawab tidak atau menjawab setuju. Jadi pak saya sudah ikhlas lahir batin pak, dan akhirnya istri saya juga menerima,” kata Sudin.

Wah aku harus jawab apa ya, terus terang bingung.

“Begini, Din, seandainya saya terima, tetapi kalau istrimu tidak berhasil hamil, bagaimana,?” tanyaku.

“Ya itu juga sudah saya perhitungkan pak, sebetulnya masalahnya bukan hanya ingin punya anak saja Pak, tetapi saya kasian istri saya tidak mendapatkan kebutuhan biologisnya, jadi makanya saya tidak memilih soal bayi tabung,” kata Sudin.

Aku diam-diam memuji pemikiran pegawaiku ini, ternyata dia sudah berpikir jauh.

“Begini din saya tidak bisa menjawab permitaan kamu, saya ingin kamu bicara ini bersama istrimu juga,” jawabku.

Dia kemudian bersamaku masuk kedalam, karena di luar udara juga makin dingin. Sudin memanggil istrinya yang berada di kamar. Mungkin istrinya stress menunggu hasil pembicaraan suaminya denganku.

Istrinya tidak langsung keruang tengah. Dia menyiapkan 2 cangkir teh jahe, untuk aku dan Sudin. Setelah kami duduk bertiga, aku langsung tanyakan ke istrinya Sudin. “Teh (sebutan kakak, bahasa sunda) Pak Sudin sudah bercerita, Teteh ada yang mau disampaikan,” tanya saya.

Istri Sudin masih terlalu muda, karena katanya belum tamat SMA, sudah dilamar langsung nikah. Umurnya ketika itu mungkin sekitar 16 tahun. Jadi sekarang baru sekitar 23 -24 tahun. Ngocoks.com

“Ya pak saya mah ikut kata Pak Sudin aja,” katanya singkat sambil tertunduk malu.

“Begini ya, saya usianya jauh lebih tua dari Pak Sudin, meskipun sejauh ini kondisi saya sehat-sehat saja, tapi siapa tahu nantinya saya tidak bisa memenuhi harapan yang dibebankan kepada saya. Satu hal lagi yang ingin saya tahu, kenapa saya yang dipilih, kenapa bukan orang yang lebih muda, dan lebih ganteng,” tanya saya.

“Pak ini pilihan yang paling sulit, saya menilai Bapak orangnya baik, sopan penuh tanggung jawab. Usia mungkin menjadi tidak penting pak yang penting Bapak sehat.

Sudah seumur segitu saja masih kuat keliling kebun, kerja dari pagi sampai malam, dan kelihatannya tidak pernah ada capeknya. Pak saya tidak menemukan orang lain, apalagi yang lebih muda, tanggung jawabnya saya ragu pak, nanti malah dia macam-macam, saya yang repot,” kata Sudin.

“Teh apa teteh merasa dipaksa ama mang Sudin, apa benar teteh ikhlas dan benar bisa dengan saya,” tanya saya.

“Saya mah demen ama Bapak,” katanya.

Dasar orang desa bahasanya tidak ada basa-basinya. Saya jadi malu hati.

“Apa Teteh gak kasian, Kang sudin tidur sendirian, sementara Teteh tidur ama saya,”

“Saya mah sudah ikhlas lahir batin, kalau istri saya sama bapak, malah saya bersyukur Pak, kalau bapak mau menerimanya, saya bener-bener tidak ngiri pak, Bapak adalah dewa penolong keluarga saya,” jawab Sudin.

“Karena tujuan saya menolong, dan ingin keluarga kamu tetap utuh dan bahagia, permintaan itu bisa saya penuhi, tapi jangan berharap banyak. Tapi saya minta apa pun kejadiannya jangan sampai ada yang tahu soal ini.

Cukup kita bertiga saja. Andai pun nanti ada anak, saya juga rela anak itu manjadi anak mang sudin dan istri. Untuk selanjutnya akan saya bantu biayanya selama saya bisa bantu,” kataku menanggapi pertanyaan mereka.

Sudin langsung menyalamiku dan mencium tanganku, Istrinya ikut-ikutan menyalamiku sambil duduk bersimpuh di depanku seperti posisi sungkem.

“Pak maaf mulai malam ini istri saya akan mengurus bapak, Bapak jangan segan-segan nyuruh dia, anggap saja itu istri Bapak selama bapak di kebun,” kata Sudin.

Bersambung… Malam itu aku jadi canggung mau tidur. Apa mulai malam ini istri si Sudin yang diperkenalkan bernama Salma akan tidur bersama ku atau kapan ya. Ah aku masuk saja lah, meskipun belum ngantuk.

Padahal sudah jam 11 malam dan dingin diluar karena dari sore hujan rintik-rintik. Tidak lama aku berbaring sambil berselimut, pintuku diketuk. “Punten” suara si Salma. “Mangga” jawabku.

Muncul sosok Salma dengan mengenakan sarung dan baju atasannya sweater. “Maaf pak saya disuruh Kang Sudin untuk mijet Bapak,” kata Salma dengan suara yang nadanya rada ragu.

“Mangga, mangga, “kata saya sok berbahasa Sunda mempersilakan istrinya masuk. Aku duduk di kasur sambil bersila. Salma duduk bersimpuh di depanku dan bertanya, bagian mana yang ingin dipijat.

Tangan saya memegang bahu menunjukkan bagian ingin di pijat. Aku dimintanya duduk membelakangi dia, tapi aku bukan berbalik malah meminta dia naik ke kasur sehingga berada di belakangku.

Tangannya mulai meremas bahuku. Lumayan juga, untuk nglemesin otot. Setelah puas dipijat bahu, dia menawarkan memijat kepalaku. Setelah dia meminta maaf karena memegang kepalaku, dia menyenderkan kepalaku ke dadanya. Terasa gundukan empuk menyentuh sisi kanan kiri kepalaku. Nikmat rasanya.

Pijatan kepala menjadi tidak penting, karena konsentrasiku justru mengendus apakah dia memakai BH atau tidak. Masalahnya dia pakai sweater cukup tebal, jadi agak sukar juga mendeteksi. Namun rasanya dia tidak pakai BH.

Tanpa tedeng aling-aling aku langsung aja tanyakan, “ Teh udah berapa lama gak kumpul sama Kang Sudin.”

“Kumpul mah tiap malam Pak” kata Salma memanfaatkan kelemahan kata-kataku.

“Ah maksud saya gak dapat nafkah biologis,” tanya saya.

“Biologis itu, naon teh Pak, saya sudah lama gak sekolah jadi lupa,” katanya.

“Ah, susah nih di ajak ngomong alus kagak ngerti, ngewek,” kataku langsung.

“ Ih bapak, saru atuh,” katanya protes.

“Udah lama ya,” tanyaku.

“Iya, punyanya akang kagak bisa bangun sampai saya capek dia lemes terus, katanya karena diabet ya Pak,” tanyanya.

“Iya, lha dulu waktu baru kawin, gimana,” tanya ku.

“Ah saya malu ngomongnya, tapi ya gitu mainnya baru sebentar udah keluar, jadi kadang-kadang saya malas kalau diajak, karena ngotor-ngotori aja Pak.” katanya.

“Jadi kamu belum pernah orgasme,eh maksudnya nyampai puas,’ tanya saya.

“Puas gimana sih pak, ya biasa aja,” katanya polos.

Mungkin si Salma ini belum pernah merasakan orgasme, karena ketidak-mampuan suaminya sejak awal.

“Teh malam ini mau gak ngewek ama saya,” tanyaku tanpa tedeng aling-aling.

“Ih Bapak, saya malu ah Pak kalau ditanya-tanya,” katanya,

“Ya udah kalau gitu pijet aja dulu ya, badan saya di urut pake hand body lotion, tolong bukain kaus saya.”

Salma membuka kaus oblongku dengan menarik ke atas, setelah itu aku tidur telungkup. Dia mulai beraksi mengurut punggungku. Ah lumayan juga, tapi masih perlu diajari dan dilatih biar tekanannya sesuai dengan keinginan ku serta penekanan-penekanan di bagian yang aku sukai.

Setelah punggung, kelihatannya dia mulai berkeringat. Kusarankan dia membuka saja sweaternya. Saranku dituruti, Dia membukanya, sehingga tinggal kaus oblong.

Sementara itu aku berbalik posisi menjadi telentang. Salma kuminta memijat bagian dada, perut lalu ke paha. Aku bisa melihat dia sambil dia memijat. Kelihatan guncangan teteknya, yang ternyata cukup gempal.

Dia bingung bagaimana memijat dada, jadi dia hanya menyibak-nyibak dadaku. Setelah itu dia turun ke perut, dan juga tidak tahu cara memijat perut, jadi dia tanya perutnya diapakan.

Aku minta dia turun saja ke bagian paha dan dia kusuruh membuka sarungku. Tanpa ragu diplorotkan sarungku sehingga aku tinggal mengenakan celana dalam.

rudalku sudah bangun sehingga kelihatan menonjol di balik celana dalamku. Karena cahaya di kamar remang-remang jadi mungkin tidak begitu terlihat. Atau mungkin aku yang tidak bisa melihat kemana sorot matanya.

Pijatan paha berdampak meningkatkan rangsangan sehingga rudalku mendekati sempurna mengeras siap untuk dilaga. “Teh bisa mijet anunya saya,” tanyaku.

“Gimana pak mijetnya saya gak pernah, kalau bapak ajari nanti saya pijet,” katanya.

“ Ya udah, coba buka celananya,” perintahku.

Celanaku ditarik kebawah, sehingga rudalku langsung mencuat. Salma kutuntun tangannya memegang sekitar paha bagian dalam dan mengurutnya , lalu di sekitar batang rudal. Rasanya nikmat sekali. Dia lalu kutuntun untuk menggengam rudalku. “ Ih keras banget pak,” katanya.

Dia memainkan rudalku dengan mengocok. Mungkin sudah lama dia tidak pernah ketemu mainan yang menggairahkan ini. Aku memintanya dia berhenti karena lama-lama rudalku ngilu.

Salma kusuruh minum air putih dulu sekaligus pipis, lalu balik lagi. Dia turuti kemauanku. Sebenarnya aku bersiasat karena dia akan aku oral. Jadi dia membersihkan genitalnya dulu sebelum aku jilati.

Tak lama kemudian dia kembali. Dia kuminta berbaring disampingku yang masih bugil. Dia masuk selimut disampingku Aku memeluknya dan menciumi pipi, telinga dan menjilati lehernya. Bau wangi sabun masih terasa.

Tanganku meremas teteknya dari luar baju. Terasa kenyal dan lumayan besar. Nafas Salma mulai memburu, menandakan dia mulai terangsang. Kubuka kausnya dengan menarik ke atas. Dia membantu keinginanku.

Bagian atasnya terbuka. Dua gunung kenyal dengan ujung pentil yang sudah kaku menjadi sasaran jilatan dan hisapanku. Salma mulai melenguh nikmat merasakan jilatan di kedua putingnya.

Tanganku mengelus-elus perutnya yang lembut dan belum terlalu gendut, lalu simpul sarungnya aku buka. Tanganku langsung menelusup ke dalam celana dalamnya. Dia sama sekali tidak mencegah, Tanganku menemukan gundukan dengan bulu halus, parit di tengahnya sudah basah sampai membasahi bagian celananya.

Itilnya mudah kutemui dan langsung menstimulasi nya dengan mengusik-usik. Salma bergelinjang tidak karuan. Dia sudah aku telanjangi dan aku terus menelusuri ciuman sampai ke perut.

Terus turun sampai lidahku mencapai celah serambi lempitnya. Salma berusaha menarik kepalaku ke atas. “ Aduh pak jijik atuh Pak, ulah disitu,” tidak kuturuti kemauannya kecuali malah makin kebawah sehingga lidahku berhasil menemukan itilnya.

Setelah itilnya terkena lidahku dia tidak lagi berusaha menarik kepalaku.Salma mulai merintih seperti orang menangis dan badannya mengelinjang mengikuti irama jilatanku di itilnya. Tadinya kepalaku ditolak, sekarang malah ditarik mendekat ke serambi lempitnya. “ Aduh pak enak banget pak,” rintihnya berkali-kali.

Sekitar 10 menitan saja aku oral dia bisa mencapai orgasme. Di puncak orgasmenya dia menjerit tertahan. Badannya ikut berkedut-kedut mengikuti gelombang orgasmenya. Aku duduk disampingya yang terbaring pasrah.

serambi lempitnya sudah banjir dengan cairan pelumas. Kucoba menusuk jari tengahku masuk ke dalam lubang serambi lempitnya, perlahan-lahan masuk . Kutarik keluar lalu kucoba memasukkan jari tengah dan jari manis. Agak susah masuknya, tapi perlahan-lahan bisa masuk meski terasa sempit.

Setelah kedua jari terbenam aku mulai melakukan gerakan merangsang titik G spotnya. Mulanya dia tidak bereaksi, tetapi tidak lama kemudian dia mulai merasakan rangsangan di Gspotnya, Tangannya meremas-remas sprei.

Kepalanya digerakkan seperti orang menggeleng, desisan mulai terdengar. Tiba-tiba dia berteriak lirih, “Pak awas pak saya kebelet pipis Pak aduh pak saya gak tahan pak, awas pak,” aku tau dia tidak benar-benar pipis, tetapi dia akan segera mencapai orgasmenya yang paling nikmat.

Tak lama kemudian dia menjerit dan dari celah serambi lempitnya muncrat cairan kental sampai mengenai hidungku. Pancaran itu melesat berkali-kali dan makin lama makin lemah sehingga hanya meleleh saja.

Setelah usai orgasmenya dia memelukku erat sekali. “Aduh saya mah gak nyangka bapa jago banget nyenengi cewek, sampai saya lemes banget, sumpah pak saya belum pernah ngrasai kayak gini,” katanya.

Aku tidak menunggu lama, untuk mengambil kesempatan memasukkan rudalku ke dalam serambi lempitnya. Aku arahkan pelan-pelan ke celah serambi lempitnya. Terasa ada otot yang menjepit di dalam. Seperti kebanyakan perempuan, jika usai orgasme serambi lempitnya makin terasa enak dan menjepit.

Aku melakukan gerakan dengan menggesek kembali titik G nya sampai dia mulai bereaksi menangkap gerakanku sambil merintih. Terasa jepitannya makin kencang sehingga memberi rasa nikmat.

Meski sudah banjir tetapi serambi lempitnya masih tetap menggengam rudalku. Mungkin hanya 10 menitan aku sudah mulai measa akan muncrat. Gerakan aku percepat dan konstan di posisi yang sama.

Salma juga ikut menggila dan dia kembali berteriak mau pipis. Aku genjot terus sampai akhirnya aku mencapai titik tertinggi dan hanya selang hitungan detik dia pun mencapai orgasmenya kembali dengan siraman cairan hangat.

Spermaku kumntahkan seluruhnya ke dalam cekungan serambi lempitnya dan aku tancap lama sampai rudalku mengkerut dan keluar sendiri dari sarangnya.

“Ah saya mah gak nyangka Bapak udah usia tapi mainnya masih jago banget, pak kalau saya ketagihan jangan salahin saya ya Pak, abis kenapa bapak mainnya enak banget,” kata si Salma.

Salma tidak mau kembali ke kamarnya tidur bersama suaminya. Dia pilih tidur telanjang bersamaku dalam satu selimut.”Pak biar aja jangan dicuci biar cepet jadi, lagian saya ngantuk banget, badan saya lemes rasanya gak kuat berdiri,” katanya.

Menjelang bangun pagi dia masih menggodaku dan dia minta main satu ronde lagi. Untung senjataku bisa bangun. Aku minta dia main diatas, karena aku menghemat energi.

Salma memuaskan dahaganya sampai dia mencapai orgasmenya,sedangkan aku tidak sampai puncak. Salma merasa bersalah, tapi kuberi pengertian bahwa itu tidak jadi masalah dan dengan aku tidak mencapai ejakulasi badanku sepanjang hari nanti tidak akan lelah.

Jika aku menginap di kebun, setiap malam Salma selalu meminta disetubuhi. Alasannya biar cepat benihnya tumbuh. Padahal di sebalik itu aku tahu dia memang doyan.

Mungkin si Salma agak exhibitionist, karena kalau dia meladeniku makan siang dimana suaminya belum naik ke atas, Salma hanya mengenakan sarung, sedang teteknya yang menggantung cukup besar dibiarkan gondal-gandul.

Rumahku di atas memang cukup esklusif , karena tidak ada yang berani naik kecuali Salma dan suaminya. Kadang-kadang suaminya mendapati istrinya melayaniku makan sambil hanya sarungan dengan dada terbuka, Sudin hanya senyum-senyum saja.

Yang parah kadang-kadang dia mondar-mandir hanya pakai celana dalam. Malah kalau mandi, dia tenang saja jalan dari kamar mandiku sambil telanjang menuju ke kamarnya.

Kalau aku sedang diatas malah dengan manjanya dia minta pangku sambil tetap telanjang. Anehnya dia kok tidak merasa dingin. Suaminya memang sering memergoki, tapi dia maklum saja.

Setelah 3 bulan kelihatannya mulai ada tanda-tanda benih yang tertanam di rahim Salma mulai tumbuh Dia mulai tidak haid dan ketika dites dengan alat pendetekesi kehamilan, hasilnya memang positif.

Salma melahirkan anak laki-laki, Sudin dan Salma merasa sangat berbahagia. Mereka tidak habis-habisnya berterima kasih. Aku pikir setelah seorang anak lahir, kewajibanku selesai. Memang benar 40 hari setelah kelahiran. Salma istirahat untuk “bertempur”.

Mungkin dia “cuti “ sekitar 2 bulan. Bukan hanya untuk memulihkan luka bekas melahirkan, tetapi dia repot dan asyik dengan bayinya. Oleh karena itu tidak terpikirkan untuk melakukan sex.

Setelah dia menguasai ritme sebagai ibu seorang bayi, baru dia mengatakan kepada ku bahwa dia kangen tidur dipelukanku.

Kalau malam, bayinya diserahkan oleh Sudin untuk diurus, kecuali pada jam-jam tertentu dia datang ke kamar suaminya untuk menyusui anaknya. Selepas itu dia kembali ke kamarku, meski pun kadang-kadang tidak melakukan hubungan. Tampaknya dia lebih nyaman tidur dalam pelukanku dari pada di sisi suaminya.

Meskipu aku menrasakan kenikmatan istri si Sudin, tetapi lama-lama aku merasa kasihan. Secara diam-diam aku mencari tempat berobat diabetes yang sekaligus memulihkan vitalitas lelaki.

Dari sekian banyak yang aku selidiki ada dua atau tiga tempat yang aku temukan reputasinya cukup baik. Sebab keberhasilan pasiennya sembuh cukup tinggi.

Pengobatan itu semuanya sifatnya alternatif. Pak Sudin setuju setelah aku berunding dengannya untuk berobat. Aku bawa Pak Sudin ke 3 tempat pengobatan alternatif. Sebab ketiga tempat itu metode pengobatannya berbeda-beda, jadi aku pikir bisa saling mendukung.

Semua biaya pengobatannya aku yang tanggung. Sebulan setelah menjali pengobatan, gula darahnya mulai turun mendekati normal.

Bulan ketiga kata Pak Sudin “senjatanya “ kalau pagi sudah mulai mengeras, meskipun tidak cukup keras untuk penetrasi. Salma akuj minta membantu Sudin untuk memulihkan rasa percaya dirinya sehingga kesembuhan untuk vitalitasnya lebih cepat.

Bulan ke empat, Pak Sudin melaporkan bahwa dia sudah bisa penetrasi ke serambi lempit istrinya, tetapi belum bisa bertahan lama. Hanya sekitar 1 menit, sudah meletus. Aku terus memberinya semangat.

Bulan ke enam Sudin sudah mampu bertahan main selama 5 menit. Aku kira durasi itu sudah cukup bagus, apalagi kata Salma, rudal suaminya cukup keras. Cerita ini diupload situs Ngocoks.com

Meski pun suaminya sudah mulai bisa memberi nafkah batin, tetapi Salma tetap masih minta jatah dariku. Menurut dia main dengan suaminya kurang berkualitas, sehingga dia tidak bisa orgasme. Salma kunasihati agar jangan mau enaknya sendiri, cepat atau lambat dia harus kembali ke suaminya.

Mulanya Salma berlinangan air mata ketika kunasihati, dia katanya sudah terlanjur menyenangiku, sehingga ketika bersama suaminya terasa hambar.

Setelah setahun berobat, Sudin sudah mulai normal, Dia mampu menyambangi istrinya seminggu sekali dengan durasi yang lebih baik. Sudin aku ajari teknik-teknik menghadapi istrinya.

Cerita Sex Tatapan Nakal

Untungnya dia cukup terbuka menerima anjuranku, sehingga satu persatu dia praktekkan. Istrinya kemudian berbisik kepadaku bahwa suaminya sekarang sudah mahir sehingga setiap kali bertempur bisa memberinya orgasme.

Walau pun begitu Salma tidak mau lepas dariku. Dia melayani dua pria dalam rumah tangganya, satu suami de jure dan satu lagi suami di facto.

Bahkan akhirnya kami bisa ber 3some aku dan Sudin mengeroyok Salma. Bukannya kewalahan, Salma malah menggila nafsunya kalau dikeroyok berdua.