Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Hasrat Tersembunyi Negosiator di Penjara Jenderal Kejam

Hasrat Tersembunyi Negosiator di Penjara Jenderal Kejam

Di negeri Kalimera, sebuah negara maju di bulan, wabah mematikan mengguncang peradaban yang selama ini makmur. Presiden Orion, pemimpin yang bijaksana dan berwibawa, terpaksa mengambil keputusan-keputusan sulit untuk menyelamatkan rakyatnya dari virus mematikan yang diciptakan oleh kelompok pemberontak di dalam negeri sendiri. Keputusan-keputusan tersebut, meskipun berat, dimaksudkan untuk membendung penyebaran wabah dan melindungi masyarakat yang masih sehat. Konsekuensinya, sebuah rasa kehilangan dan kemarahan melanda sebagian penduduk yang selamat, sementara yang lain bersumpah setia untuk membantu negeri mereka bangkit kembali.

Di tengah kekacauan ini, Vintari, seorang negosiator ulung yang dikenal karena kecerdasan dan kesetiaannya pada Kalimera, menerima tugas yang sangat berat. Dia ditugaskan untuk mendapatkan penangkal virus yang dikembangkan oleh seorang ilmuwan muda berbakat bernama Duncan. Namun, perjalanan Vintari menuju keberhasilan dipenuhi tantangan yang tak terduga. Dia harus menghadapi kehilangan sahabatnya, seorang prajurit yang berjuang di garis depan, dan menjadi tawanan Jenderal Achilles, seorang pemimpin yang dikenal karena ketegasannya yang kadang-kadang tampak kejam. Situasi tersebut memaksa Vintari untuk mengambil keputusan-keputusan yang penuh pertimbangan, di antara kesetiaan pada negaranya dan perasaan pribadi yang tak terduga yang mulai tumbuh di hatinya. Kisah ini akan menceritakan bagaimana Vintari berjuang di tengah-tengah pergulatan antara kewajiban, pengorbanan, dan perasaan yang kompleks.

tru menaruh hati pada Vintari. Akankah Vintari berkhianat kepada Orion dan menerima cinta Achilles? Sedangkan saat ini Vintari sedang terikat jiwa dan raganya pada ilmuwan muda yang tampan dengan pesona memabukkan, Duncan.

“Silakan kopi, Anda,” suguh seorang wanita bermata kecil dan kulitnya kuning cerah. Bibir tipis wanita itu menyunggingkan senyum hormat kepada presiden wanita di hadapannya. “Terima kasih,” jawab Presiden Orion kepada asisten pribadinya. Wanita berambut cokelat terang itu menyentuh cangkir yang berisi cairan bening. Di bulan, hampir semua makanan memiliki nama seperti di bumi, tetapi tampilannya berbeda. Kopi di bulan misalnya, berbentuk cairan bening meski aroma dan rasanya tetap seperti kopi pada umumnya.

“Ohh …,” rintih asisten Orion. Wanita itu memegang dada lalu terjatuh.

Presiden Orion segera berdiri dan melangkah mundur. “Ada apa Hiro? Kau kenapa?” tanya Orion. Dia bingung dan memanggil para penjaganya.

Beberapa orang masuk ke kamar Orion. Salah satunya mengamankan Hiro dan ketiga pria dari penjaga itu melindungi presiden mereka. Kecemasan kembali melingkupi mereka saat salah satu penjaga mengalami kesakitan yang sama seperti Hiro.

“Bawa presiden pergi dari sini!” seru kepala keamanan presiden. Pria itu segera menghubungi tim lain untuk menetralisir keadaan.

Ketika para penjaga itu membawa presiden keluar, mereka berpapasan dengan tim lain yang akan mengamankan istana. Kericuhan tak dapat dihindari ketika separuh tim tersebut justru terjatuh seperti terserang sesuatu yang tak kasat mata. Presiden Orion menjerit saat kepala keamanannya ikut terjatuh dan mengeluh kesakitan.

“Murray! Ya Tuhan, ada apa ini?!” Orion sampai menangis saat melihat beberapa orang tiba-tiba sekarat di sekitarnya.

“Pergilah, Bu Presiden.” Suara Murray tercekat. Pria berkulit putih itu menyerahkan sebuah mini card kepada penjaga lainnya yang nanti akan digunakan sebagai akses membuka ruang pribadi presiden.

Baru beberapa langkah presiden dan para pengawal meninggalkan Murray, satu-persatu pengawal tumbang. Presiden Orion berlari dengan air mata yang tak terbendung hingga sampai ke lift menuju ruang pribadinya.

Wanita cantik yang kini panik itu menyentuh layar datar dan memasukkan kode keamanan. Belum juga pintu lift terbuka, kepala presiden wanita itu terasa nyeri bukan kepalang. Diapun jatuh pingsan setelah pintu lift terbuka sepenuhnya.

“Dean, kau gila!” seru seorang wanita lantas mengurai tawa. Kedua tangannya berusaha keras menyingkirkan kepala pria yang tengah berada di antara kedua pahanya. Wanita itu merengek manja saat sang pria menggoda area pribadinya hingga kenikmatan diraih wanita itu.

“Aku tahu kau menyukainya,” balas Dean seraya tersenyum puas dan menatap wajah wanita itu. Kini tubuh Dean menindih makhluk tercantik yang pernah ia lihat lalu memberikan ciuman lembut. “Aku mencintaimu, Vin,” bisik Dean.

“Aku lebih mencintaimu,” balas Vintari dan menatap mata cokelat Dean lekat-lekat.

Hanya beberapa detik mereka saling menatap hingga keduanya tertawa lepas. Mereka saling membual. Yang sebenarnya terjadi adalah hubungan mereka sebatas permainan ranjang.

Vintari yang berprofesi sebagai negosiator negara, berteman baik dengan Dean yang seorang prajurit istana. Hubungan intim yang mereka lakukan sudah berjalan sejak satu tahun yang lalu tanpa perasaan cinta.

Kini Vintari menggeram sebal saat mendengar dering ponsel Dean. Dia hafal dengan nada panggilan itu yang berarti dari istana. Sedangkan Dean tertawa dengan reaksi sahabat cantiknya. “Aku harus kembali bertugas.” Dean bergegas memakai kembali seragamnya.

“Menyebalkan! Kau lebih memilih Orion daripada aku,” rajuk Vintari. Wanita berambut cokelat gelap itu bangkit dan duduk di tepi ranjang.

“Bukan dia, tetapi negara,” ralat Dean lalu tertawa lagi. Setelah selesai berpakaian, pria itu mendekati Vintari. “Jangan keluar malam. Bernegosiasi dengan teroris di perbatasan selama tiga hari pasti melelahkan bagimu. Aku tak ingin kau sakit.” Dean mengecup kening sahabatnya.

“Itu sudah tugasku.”

“Kau bisa mencari pekerjaan lain, Vin,” tekan Dean. Pria itu memang tak suka profesi Vintari. “Kau tak tahu aku begitu mencemaskanmu.”

“Menjadi terlalu protektif, ya?” singgung Vintari saat Dean hampir mencapai pintu kamar.

Pria itu mengentikan langkah lalu berbalik dan menatap Vintari yang tubuh telanjangnya tak tertutup selimut. “Aku peduli padamu, Vin. Kau ini seorang wanita. Untuk apa melakukan pekerjaan yang berbahaya? Apa yang sedang kau coba buktikan? Atau siapa?”

Vintari menghela napasnya. Ia tahu jika mereka membahas tentang pekerjaan pasti akan berakhir dengan pertengkaran. Wanita itu tak ingin Dean pergi dengan kondisi kesal. Dia mengenakan piyama lalu menyusul sahabatnya yang sudah kelur kamar.

“Dean, maafkan aku!”seru Vintari. Wanita itu setengah berlari ke arah garasi tempat Dean akan mengambil mobilnya.

Sebelum Dean masuk ke mobil, pria itu justru menghampiri seorang penjaga yang sedang kesakitan. “Kau baik-baik saja?” tanya Dean.

“Dean! Ada ada ini?” Vintari mendekati Dean yang memegang tubuh penjaga yang terlihat sekarat.

“Mundur, Vin,” perintah Dean yang masih tak mengerti. “Mundur, kataku!” seru Dean ketika Vintari justru semakin mendekatinya. Kini Dean mengalami napas yang sesak dan kepalanya berdenyut nyeri. Pria itupun jatuh lemas di sisi penjaga yang sudah lebih dulu kehilangan kesadarannya.

“DEAN!” jerit Vintari.

Vintari menatap sedih pada sebuah tabung kaca di mana Dean terbaring koma di dalamnya. Tak seperti di bumi, alat penunjang kehidupan di bulan cukup sebuah tabung kedap udara yang akan memberi energi mikro dari dalam. Butuh waktu lima hingga sepuluh menit untuk menyembuhkan luka seseorang. Namun, Dean dan beberpa orang di Kalimera sudah koma hingga dua bulan lamanya.

“Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini, Dean. Tapi, aku takut menghadapinya seorang diri. Kau tahu, berhadapan dengan teroris yang menodongkan senjata ke arah wajahku tak seberapa menakutkan dibanding melihatmu terdiam seperti ini.”

Hati wanita itu terasa diremas. Ia menyesalkan setiap kata-kata Dean untuknya agar menjaga diri. Namun, kini justru pria itu yang tidur seperti orang mati.

“Siapapun yang melakukan ini, akan kubalas. Akan kulakukan apapun untuk membuatmu sembuh.” Vintari melangkah maju. Tangannya menyentuh tabung kaca dan air mata tak dapat ia tahan lagi.

Pintu ruang perawatan terbuka secara otomatis saat ada seseorang melewati sensornya. “Nona Vintari,” panggil seorang pria bersuara berat.

“Ya?” sahut Vintari tanpa menoleh.

“Mari ikut aku. Presiden Orion menunggumu di istana.”

Vintari memang bekerja sebagai negosiator negara. Namun, baru kali ini ia diminta langsung oleh sang presiden. Tanpa banyak tanya, Vintari mengikuti pria itu untuk pergi ke istana tampat presiden Kalimera berada.

***

“Virus itu kami sebut D3V4. Diciptakan oleh pemberontak bernama Fachrein.” Presiden Orion menyentuh layar dan muncul sebuah hologram wajah seorang pria. Beberapa gambar tentang aktivitas pria itu tergambar dengan jelas.

“Fachrein tadinya seorang pembuat paket nutrisi. Dia berasal dari negara Kashmir dan tak mendapat respon yang bagus di sana. Dia pindah ke Kalimera secara legal dan menawarkan produk yang sama. Seperti di Kashmir, warga di sini tak terlalu menyambut baik penemuannya.” Orion menjeda kalimatnya dengan menatap satu per satu orang di ruangan itu.

“Seperti yang pernah dilakukan para nenek moyang kita di bumi, Fachrein juga melakukan persaingan dagang. Dia mempelajari paket nutrisi yang dijual oleh warga Kalimera lainnya. Dia tahu beberapa paket nutrisi itu mengandung zat kafein dengan kadar tinggi hingga berbahaya jika disuntikkan ke dalam tubuh dalam dosis tertentu,” terang Orion. Dia kembali menyentuh layar dan nampaklah sebuah diagram.

“Virus D3V4 akan menyebar melalui udara, sentuhan, dan bertukarnya cairan tubuh. Manusia dengan kadar kafein tertentu di tubuhnya akan terjangkit, lalu koma, bahkan meninggal.” Tangan Orion menekan layar. “itu skema penyebaran virus.” Tampak sebagian besar Kalimera sudah terjangkit. “Dan bagian yang berwarna hijau adalah banyaknya warga yang koma.”

Orion kembali memandang orang-orang di ruangan itu yang menatap serius ke arahnya. “Sepertiga warga Kalimera sudah koma. Mungkin virus ini sudah menjangkiti kita semua. Hanya saja, sistem kekebalan tubuh dan jumlah kafein yang terdapat dalam tubuh kita mempengaruhi reaksi virus D3V4. Dua bulan yang lalu, aku terjangkiti virus tersebut. Namun, aku kebal.”

“Konyol sekali. Hanya karena warga menyukai kafein tinggi dan Fachrein tak menjualnya, dia tega menyebarkan virus hingga banyak korban berjatuhan karenanya. Dia gila,” umpat Vintari. Sedetik kemudian ia menyadari kesalahannya. “Maafkan ucapanku, Bu Presiden.”

“Kau tak sepenuhnya salah,” tutur Orion. “Dia mengalami tekanan mental dan haus akan pengakuan. Ditambah, istrinya pergi karena tak pernah dipuaskan.”

Tawa Vintari pecah. Dia memilih untuk tertawa saat ini karena ia menyimpan tenaganya untuk memenggal kepala Fachrein nanti. “Maaf, semuanya,” sesal Vintari lagi saat orang-orang menatapnya.

“Sepertinya negara kami yang nantinya akan direpotkan oleh virus itu,” ujar seorang pria dengan wajah tampan tak terkira. Tubuhnya gagah perkasa. Tatapan matanya pun sangat mengintimidasi.

Dialah jenderal Achilles. Pemimpin negara Detroit City yang terkenal kejam dalam setiap peperangan. Armada perang Detroit City sangat sulit ditaklukkan. Namun, di sektor lain tak sehebat perangkat militer mereka. Oleh sebab itu, perekonomian Detroit City tak semaju Kalimera karena rakyat yang dipimpin jenderal Achilles tak hidup makmur jika mereka bukan dari kalangan militer.

“Untuk itu aku mewakili Kalimera mengundangmu kemari dan bernegoisasi,” balas Vintari yang menatap jenderal itu sekilas lantas kembali memandang sang presiden. Setelah Presiden Orion mengangguk pertanda Vintari dapat melanjutkan, wanita berambut cokelat gelap itu menoleh ke arah jenderal yang mamandangnya dengan pandangan berbeda.

“Kami sudah melakukan tindakan isolasi dengan mendirikan perisai di perbatasan Kalimera, agar virus itu tak menyebar ke negara lain. Namun, perisai itu tak dapat bertahan lama. Mengingat warga Detroit City aku pastikan memiliki kadar kadein tinggi dan Detroit City paling dekat dengan negara kami, satu bulan kemudian perangkat militer kalian akan habis.”

“Singkatnya, Nona,” potong Jenderal Achilles.

Senyum Vintari tersungging. “Kalimera membutuhkan serum penawar buatan ilmuwan dari negeramu, Jenderal. Sebagai imbalannya, kami akan membantu perekonomian Detroit City setahun ke depan,” tawar Vintari dengan pasti.

Darah Jenderal Achilles mendidih. Dia tahu wanita bertubuh kurus itu sedang bernegoisasi. Namun, sang jenderal tak kenal perintah. Semua berjalan atas kehendaknya, bukan seorang negosiator yang wajahnya lebih sedap dipandang daripada mulut pintarnya yang mengeluarkan kata-kata serambi lempitakkan telinga.

“Aku ingin Detroit City dan Kalimera bersatu … ditandai dengan pernikahan para pemimpinnya.”

Senyuman Vintari kembali merekah. “Sayang sekali, Jenderal. Kami menawarkan kerjasama bilateral, bukan mak comblang.”

“Lancang sekali kau!” bentak Jenderal Achilles dan berdiri dari kursinya hingga semua orang di ruangan itu siaga.

“Aku ingin privasi,” tekan Jenderal Achilles seraya menatap tajam ke arah Presiden Orion.

“Seperti yang aku katakan di awal tadi, aku nego—” ucap Vintari dan terpotong.

“Aku tidak bicara padamu.” Jenderal yang tadi menatap marah ke arah Vintari kini memandang Orion. “Tapi, pada presidenmu.”

Mendengar hal itu, Orion meradang. Ia terpaksa keluar dari ruangan rapat para petinggi negara dengan kaki dihentakkan dan sang jenderal mengikutinya. Mereka masuk ke ruangan lain hanya berdua saja. Setelah mendengar jenderal menutup pintu, Orion meluapkan kekesalannya.

“Aku tak suka jika kau memerintah di wilayahku, Jenderal. Aku yang berkuasa di sini. Kau ….”

Orion terkejut karena lengannya ditarik paksa dan ketika ia berbalik badan, tubuh bagian depannya sudah jatuh di pelukan Jenderal Achilles. Jantung wanita itu berdetak kencang, napasnya cepat, dan cemas menantikan apa yang selanjutnya terjadi. Ia tak berdaya di bawah intimidasi Jenderal Achilles.

“Diamlah, Orion. Kau sudah bicara terlalu banyak,” ungkap Achilles lalu membungkam Orion dengan bibirnya.

Suara Orion serambi lempitik dalam ciuman mereka. Wanita itu meronta, tetapi Achilles tak jua melepaskannya. Ciuman mereka kian menggelora hingga lutut Orion lemas. Ia tak melakukan hal lain lagi selain membalas cumbuan kasar Achilles dan menikmatinya.

“Aku … aku tak menyangka kau melecehkanku seperti ini,” geram Orion, tetapi tak lama karena Achilles menguasai bibirnya lagi. Ngocoks.com

Kedua tangan Achilles merengkuh erat tubuh presiden wanita itu. Ia kesal dengan yang telah terjadi dan melampiaskannya dengan mencium Orion layaknya manusia yang butuh udara. Pria itu menjauhkan wajah dan melihat Orion yang terengah napasnya.

“Aku tak peduli jika setelah ini Kalimera menyerang Detroit City. Aku tak mengelak jika kau membunuhku nanti. Segala yang kuinginkan adalah memilikimu, Orion.” Pelukan Achilles mengendur dan membuat Orion melepaskan diri.

Dengan jarak satu meter mereka saling menatap. Sama-sama mengejar udara. Hasrat keduanya semakin membara, tetapi ditekan oleh harga diri masing-masing.

“Setelah Detroit City, separuh hidupku hanya ingin kuhabiskan bersamamu, Orion,” ungkap pria itu sebelum pergi meninggalkan sang presiden wanita dengan sikap dingin.

Sementara itu Orion mengusap bibirnya. Tangan lain Orion menyentuh dada dan menetralkan detak jantungnya. Ia mengerang, memejam mata, dan menggeleng cepat untuk memudarkan bayangan wajah Achilles yang mengganggunya.

“Tidak. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada Jenderal Achilles,” kilahnya.

Bersambung… Sementara Presiden Orion dan Jenderal Achilles keluar ruangan, Vintari diajak oleh beberapa dewan untuk membicarakan hal yang lebih serius di ruang lain. Vintari merasa resah karena ia sama sekali tak mengenal orang-orang di ruangan ini. Wanita itu hanya mengenal orang-orang di divisi keamanan negara. “Nona Vintari, Kalimera menginginkan pengabdianmu karena sudah memberi hak hidup padamu, juga temanmu,” ujar salah seorang pria dengan rambut beruban.

Dahi Vintari berkerut. “Apa maksudmu? Nyawaku bukan milik Kalimera. Aku mengabdi pada negara, tapi tak mau mengorbankan diri,” tegas Vintari. Dia tak ingin seperti Dean yang menjadi aparat negara ini dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk diatur oleh pemerintahan.

Orang itu tersenyum sinis. “Warga Kalimera yang terkena virus pada level tiga akan dibebaskan hak hidupnya. Ini demi menjaga warga lain agar tak tertular. Temanmu—Tuan Dean—sudah mencapai level tiga. Jika kau tak mau bekerjasama dengan pemerintah, kami tak dapat menolongnya.”

“Kau …,” ucap Vintari dengan sengit. Matanya memanas dan napasnya bagai terenggut saat mengingat kondisi Dean. Dean begitu berbakti terhadap Kalimera, tetapi inikah yang negara lakukan untuknya? Cukup dengan membuatnya mati saat sang prajurit tak berguna lagi.

Pria berkepala botak lainnya turut berbicara. “Nona Vintari, dari catatan kesehatanmu, kau dan Dean pengonsumsi kafein dosis tinggi. Keintiman kalian membuat zat tersebut melekat erat di darah dan saat virus menyerang, hanya daya tahan tubuh masing-masing yang menentukan. Kau kebal, Dean tidak,” terangnya.

“Maksudmu, aku menularkan efek kafein pada Dean saat kami berhubungan intim dan secara tak langsung aku menjadi penyebab Dean tak dapat bertahan?” Vintari tertawa mengejek. “Baik, apapun penjelasan ilmiah kalian tentang kafein atau hormon di tubuh kami, tetap saja virus dari si Bangsat itu yang harus kalian cemaskan.”

Keparat kau, Dean, umpat Vintari di dalam hati.

Saat bersama pria itu, Vintari lupa daratan dan selalu menurutinya untuk tenggelam dalam panasnya bercinta. Vintari lupa jika tubuh Dean juga dipantau negara yang artinya dapat diketahui dengan siapa ia bercinta.

Pemerintah di Kalimera sangat ketat pada kondisi para aparatur negara. Mereka dapat mendeteksi seberapa banyak para prajurit itu mengonsumsi gizi, bahkan melepas hormonnya. Bagi Vintari, ini sangat tak nyaman ketika urusan pribadinya diketahui oleh orang lain.

Seharusnya ia tahu, mereka dapat mengontrol Dean saat makan, minum, olahraga, bahkan bercinta, dan Vintari termasuk di dalamnya karena ia berhubungan intim dengan Dean.

“Untuk itu, kami membutuhkan kesediaanmu demi menolong Kalimera,” jelas pria dengan rambut beruban.

“Apa yang kalian inginkan?” tanya Vintari kemudian. Dia teringat dirinya kebal. Mungkin mereka menginginkan darah dan beberapa organ tubuhnya untuk diteliti.

Pria berkepala botak melirik pada pria muda yang berdiri tak jauh dari mereka. Pria muda itu mengangguk lantas mulai menekan layar datar hingga di tengah meja tampak sebuah hologram seorang pria.

Dia terlihat muda, berkacamata, tubuhnya sehat terawat dan kesan tampan tapi dingin tak terelakkan. Beberapa layar memunculkan data dan video aktifitas orang tersebut. Vintari seksama memerhatikannya.

“Duncan, seorang ilmuwan muda dari Detroit City. Ia pernah dipenjara dan diasingkan karena menentang sang Jenderal. Namun, kecerdasannya sangat kita butuhkan. Dia memiliki penghambat virus yang menyerang warga Kalimera. Sayangnya, dia tak dapat dengan mudah memberikan penemuannya begitu saja. Kau harus ….”

“Tunggu dulu,” potong Vintari. “Dalam hematku, kita justru harus menemukan Fachrein. Paksa dia untuk membuat penawarnya karena setiap racun akan ada penawarnya.

Jika ia tak mau, suntikan kafein dalam tubuhnya maka ia akan terpaksa menunjukkan di mana penawar itu. Atau … lakukan dengan cara lama, cabut satu persatu kuku-kukunya, sayat-sayat wajahnya, atau cari seluruh keluarganya dan gantung bersamaan di depan seluruh warga lain,” terang Vintari dengan geram.

Pria berkepala botak itu tertawa. “Mulut tajammu seperti Jenderal saja.”

“Aku tak sudi kau menyamakanku dengannya!” hardik Vintari.

“Tenanglah, Nona.” Pria berkepala botak mendekati Vintari. “Orang seperti Fachrein sulit untuk ditumpas. Jika Fachrein sudah tak ada pun akan bermunculan Fachrein-Fachrein yang lain.”

“Hukum semua pengikutnya! Asingkan mereka di bumi dengan bawaan penyakit menular seperti kusta,” potong Vintari berapi-api.

Sebuah tawa terdengar lagi dari pria tak berambut itu. “Simpan tenagamu, Nona. Lagipula, aku belum selesai bicara.” Pria itu sekarang duduk di samping Vintari. “Kami punya orang-orang untuk membasmi pengacau seperti Fachrein. Percayalah.

Namun, jika kami hanya menggunakan cara itu, warga Kalimera akan banyak yang dikorbankan karena prosesnya lama. Mereka tidak akan tahan karena virus itu membuat sakit mereka parah dan ketika mencapai tahap level tiga, Presiden Orion akan mengikuti cara Jenderal Achilles untuk membunuh mereka.”

Pria itu menjeda agar Vintari menyerap apa yang ia ucapkan. “Duncan punya penghambat, memang bukan penawar. Virus D3V4 tetap akan menjangkiti mereka yang tak kebal. Tapi, bagi kita itu keuntungan. Rakyat Kalimera kebal dan virus itu akan terus menjangkit warga di luar Kalimera. Itu seperti kita menyerang mereka, hanya tak menggunakan tangan sendiri. Dalam hal ini, Fachrein yang akan disalahkan seperti Jenderal Achilles yang berapi-api memburu orang itu.”

“Bukankah itu sama saja seperti merenggut hak hidup orang banyak, Tuan ….”

“Juan Daniel,” ucap pria berkepala botak itu.

“Tuan Juan Daniel,” sambung Vintari. “Mengapa tak memberikan penghambat itu juga untuk yang lainnya?” tanya Vintari.

Juan Daniel menghela napas. “Bukan tugas kita untuk mempertahankan ras manusia. Tapi, sudah kewajiban kita melindungi Kalimera. Setiap warga di bulan punya cara sendiri untuk bertahan, salah satunya pada kebijakan pemerintah. Ngocoks.com

Detroit City misalnya, Jenderal Achilles membuat perisai anti virus tercanggih untuk melindungi negaranya. Namun, ketika ada warganya yang terjangkit, Jenderal tak bisa mengobati dan harus membunuhnya demi kestabilan negara. Kalimera akan melakukan tindakan yang sama, tetapi akan lebih baik jika warga diberi kekebalan tubuh juga, kan?” desak Juan Daniel.

“Lalu, apa tugasku?” Vintari bertanya langsung pada intinya. Ia pusing jika harus memikirkan usaha negara.

“Kami akan mengubah datamu menjadi seorang petani biasa. Kau yang kebal, pasti dapat menembus perisai Detroit City. Selama menjadi imigran gelap, kau harus mengambil zat penghambat D3V4 dari Duncan,” terang Juan Daniel.

“Caranya?” tanya Vintari yang masih belum mengerti.

“Membujuk,” sahut Juan Daniel setelah diam beberapa detik.

Vintari mencerna sebuah kata yang mengandung banyak makna dari pria di sampingnya lantas tawanya meledak. “Aku harus tidur dengan Duncan lalu mengendap-endap di tengah malam untuk mengambil penemuannya?” Vintari berdiri dan memandang marah. “Aku seorang negosiator negara, bukan pencuri murahan!”

“Nona Vintari, mengingat hubunganmu dengan Dean ….”

“Tinggal bersama Dean tak menjadikanku seorang jalang yang dapat tidur dengan siapapun.” Vintari melangkah pergi dari Juan Daniel. Setelah mencapai pintu ia menoleh ke arah pria yang masih menatapnya. “Berhenti mengurusi aktifitas ranjangku dengan Dean,” murkanya.

Lutut Vintari begitu lemas saat keluar dari istana. Tak ia sangka akan begitu pelik bencana di Kalimera. Kini dia menggunakan alat transportasi umum di bulan, seperti sebuah kereta gantung, tetapi memiliki kecepatan luar biasa. Butuh waktu tiga menit untuk mencapai tiga kilometer jarak perjalanan. Wanita itu memilih ke rumah sakit untuk membesuk Dean.

Saat di depan ruang isolasi, terjadi keributan. Beberapa warga masuk membawa senjata laser dan menembak secara membabi buta. Mereka marah karena pihak rumah sakit tak dapat menolong beberapa pasien yang mencapai level tiga.

Mereka bisa menebak bahwa pihak rumah sakit sengaja membuat pasien meninggal lebih cepat. Beberapa yang tak terima dengan ketidakadilan ini, menghancurkan tabung-tabung lain yang berisi warga sekarat.

“Dean!” jerit Vintari saat seorang warga yang marah akan menembakan senjata laser itu.

Vintari menendang tangan pria itu hingga senjatanya jatuh. Pukulan dari pria itu dilayangkan ke arah wajah Vintari, tetapi dapat dihindari. Vintari balas memukul perut pria di hadapannya, saat pria itu menunduk, Vintari menendang belakang telinga lawannya hingga tersungkur.

Sebuah tembakan laser lain hampir saja melukai Vintari. Wanita itu berbalik badan dan melihat pria lain mengarahkan senjata pada tabung Dean. Vintari melepas sebelah sepatunya untuk melempar tangan pria bersenjata. Tembakan pria itu meleset dan senjatanya terjatuh. Sinar laser dari senjata yang dapat membakar kulit itu mengenai perut bawah Vintari.

Wanita itu mengerang kesakitan dan jatuh tertelungkup di atas tabung Dean. Darahnya menghiasi tabung kaca dan Vintari menangis saat melihat wajah pucat Dean. “Tolong aku, Dean,” isaknya.

Sebuah pukulan mendarat di punggung Vintari. Wanita itu terjatuh dan mengerang. Ia melihat pria penyerangnya sedang menodongkan besi panjang padanya. Sakit meranggas seluruh tubuh Vintari hingga wanita itu pasrah untuk mati. Namun, pria itu melayangkan besi untuk menghancurkan tubuh kaca Dean.

“Jangan!” jerit Vintari. Ia mengeluarkan belati dari sepatunya yang lain lalu mencabik di atas mata kaki pria penyerang Dean. Pria itu jatuh dan terkapar saat darahnya memuncrat. Sementara Vintari berusaha berdiri. Ia melihat tubuh Dean yang mulai bergerak seperti kesulitan bernapas.

“Dean, bertahanlah,” lirih Vintari sebelum wanita itu jatuh dan tak sadarkan diri.

Bersambung… Mata Vintari mengerjap. Ia melihat cahaya terang menyinari tubuhnya yang terlentang di atas meja penyembuhan. Mulutnya mengeluarkan rintihan lalu mencoba untuk bangkit. Tubuh wanita itu terjatuh dan ia menjerit kesakitan karena luka di tubuhnya makin menganga. “Dean,” lirih Vintari. Air matanya menetes saat mengingat temannya yang sedang koma karena virus D3V4.

“Dia selamat.” Suara seorang pria yang membuat wajah Vintari mendongak.

Mata Vintari melebar saat melihat Juan Daniel di hadapannya. Berdiri angkuh tanpa mau menolong wanita cidera itu. “Di mana dia?”

“Dean bersama kami. Kau berhutang pada negara, Nona Vintari.”

Vintari tertawa getir. “Aku tak berhutang apapun pada kalian. Aku bisa menyelamatkan Dean seorang diri. Kalian berengsek,” umpat Vintari lantas merintih lagi.

“Kau bisa mati di sini dan Dean akan segera menyusulmu. Atau, saat ini juga kami akan membawamu ke Detroit City dan lakukan tugasmu. Kami sudah menghapus datamu sebagai negosiator negara. Profesimu saat ini menjadi petani gandum,” terang Juan Daniel.

Vintari tertawa lagi lantas menggeram murka. “Keparat kau,” lirihnya tak berdaya. Juan Daniel menyimpan senyum saat wanita muda keras kepala di hadapannya akhirnya setuju juga.

***

Petani gandum di bulan berbeda dengan di bumi. Karena manusia bulan hanya membutuhkan paket nutrisi—seperti serum yang disuntikkan ke tubuh sebagai makanan—maka gandum hanya dikonsumsi oleh orang-orang kalangan atas sekelas raja atau presiden. Para petani gandum bagai orang suci. Mereka tak pernah ikut campur urusan politik, militer, bahkan perekonomian negara. Mereka menjadi kaum terlemah, tetapi sangat dilindungi.

Saat ini Vintari bersama beberapa imigran gelap lainnya sampai di perbatasan Kalimera. Mereka dapat keluar dengan selamat atas bantuan petugas perbatasan yang berkomplot dengan ketua imigran. Untuk mencapai Detroit City, mereka harus berjalan melewati sebuah terowongan agar tak terpindai oleh satelit.

Satu persatu orang dari dalam lorong keluar dan menatap langit di kawasan Detroit City. Para imigran dari berbagai usia dan jenis kelamin bergerak cepat menuju perisai yang tak jauh dari perbatasan. Perisai yang dipasang oleh pemerintah Detroit City dapat menyensor orang-orang yang berkafein tinggi dalam tubuh mereka dan akan terbunuh jika melewatinya.

“Ayo, lewati perisai itu,” perintah ketua imigran. Dia seorang pria berusia tiga puluhan yang berbadan tinggi besar.

Beberapa imigran terlihat ragu. Mereka takut perisai itu akan membunuh mereka. Beberapa hanya saling berpandangan takut untuk bergerak.

“Perisai ini hanya bereaksi saat kalian memiliki kadar kafein tinggi. Dan jika kalian berkafein tinggi, kalian sudah terjangkit virus. Kalian di sini karena kalian kebal. Ayolah,” ajak pria itu lagi. Untuk meyakinkan para imigran, pria itu mengulurkan tangan melewati perisai dan perisai itu tak berpengaruh padanya.

Satu orang memberanikan diri berjalan dan melewati perisai dengan aman. Lainnya menyusul, tetapi pada orang keempat, perisai itu seperti menyetrumnya. Orang tersebut terkapar dan nyawanya tak tertolong. Beberapa imigran yang tersisa mundur ketakutan. Satu warga lain nekat melewati perisai dan ia selamat.

“Ayo! Abaikan dia. Kalian belum tentu mati sepertinya,” ajak pria itu kepada imigran yang tersisa.

“Kau berbohong, Drew!” teriak salah satu imigran di samping Vintari.

Seperti tak punya harapan lagi, Vintari maju dan melewati perisai itu tanpa hambatan. Di luar dugaan, satu satelit milik Detroit City melintas. Mereka menembaki dengan laser ke arah para imigran. Beberapa imigran lari tunggang langgang dengan jerit ketakutan mereka. Sebagian kembali ke terowongan dan beberapa nekat melintasi perisai. Orang-orang yang melintasi perisai pun ada yang selamat, ada pula yang tersetrum hingga mati.

Vintari terus berlari bersama imigran selamat lainnya lalu menunggang sebuah kendaraan bulan yang berbentuk kubus. Dengan kecepatan yang hanya hitungan menit, kubus itu membawa mereka ke pusat kota. Para imigran berpencar untuk mencari suakanya masing-masing.

Sementara Vintari sendiri sudah kehilangan banyak darah. Ia memasuki sebuah gedung dari pintu belakang. Kaki Vintari sudah sangat terbakar karena ia tak memakai alas kaki. Wanita itu membobol sebuah pintu yang kuncinya hanya menggunakan tablet yang memiliki layar datar dengan sebuah lempeng besi. Berjalan dengan terhuyung, Vintari masuk ke dalam sebuah gudang yang berisi perkakas bekas.

Di sisi lain, mata biru seorang pria muda nyalang ke langit-langit kamarnya. Ia mendengar suara aneh dari gudang belakang, tetapi ia ragu jika ada penyusup. Pria bertubuh atletis dan memiliki rambut warna pirang itu mengendap-endap keluar kamar. Ia mengambil tongkat besi karena tak memiliki senjata laser. Mata biru pria itu menatap tajam ke arah kegelapan.

Sesampainya di gudang belakang, ia mengayunkan besi itu ke arah sumber suara setelah menyentuh sensor lampu. Namun, sedetik pria itu membeku melihat makhluk yang setengah berbaring di lantai. Seorang wanita yang hanya memakai satu helai kain yang dililitkan sedemikian rupa hingga menutupi payudara dan kewanitaannya saja. Ia cantik bagai dewi, tetapi kondisisnya begitu kotor seperti habis keluar dari kubangan lumpur.

“Kau pencuri?” desak pria berambut pirang itu.

Vintari mendongak dan memandang pria berambut pirang yang tak memakai atasan hingga dada bidangnya terpampang. Wajah tampannya begitu waspada dan mata birunya membuat wanita itu terbius beberapa detik. “Aku belum mencuri apapun.”

Pria itu menyeringai saat mendengar jawaban yang tak ia sangka. Namun, senyumnya memudar saat melihat luka di tubuh wanita itu. Ia membuang tongkat besinya lantas berjongkok menatap wanita yang sudah mencuri perhatiannya dengan waspada.

Saat tangan pria itu terulur dan menyingkap kain di tubuh Vintari, Vintari melayangkan tangannya untuk melukai pria itu. Dengan gerakan sigap, pria itu menangkap dan memelintir tangan penyerangnya hingga tubuh mereka saling menempel. “Kau di sini untuk membunuhku?” tanya pria itu.

“Aku akan membunuhmu dan mereka yang telah membunuh keluargaku,” ujar Vintari lalu mencoba melawan pria yang mengungkungnya. Saat Vintari berhasil berdiri, pria itu kembali menyerangnya dan Vintari yang terluka tak dapat menghindar. Tubuh bagian depan wanita itu dihempaskan ke sebuah meja dengan kedua kaki yang masih berdiri.

“Kenapa kau ingin membunuhku?”

“Karena kau pasti akan menyakitiku,” jawab Vintari yang meronta. Ia tak dapat bergerak karena tangannya ditekan pria itu di belakang punggung.

Terdengar suara tawa mengejek dari sang pria. “Kau yang menerobos tempat tinggalku, Nona. Kaulah yang ancaman.”

“Wanita terluka adalah ancaman bagimu? Tak kusangka kau selemah itu,” balas Vintari.

Pria itu menarik kedua tangan Vintari agar wanita itu berdiri kembali. Lagipula, pemandangan wanita menungging di hadapannya membuat pikiran pria itu kacau. “Supaya adil, aku harus memastikan seberapa bahayanya dirimu.” Pria itu menarik kain di tubuh Vintari hingga tubuh polosnya yang penuh luka menjadi sebuah pemandangan berbeda bagi sang pria.

Perlahan Duncan berlutut di hadapan Vintari dan memerhatikan luka yang mengangan di perutnya. Sedangkan Vintari merasa malu luar biasa karena wajah pria asing itu tepat di depan kewanitaannya. Selama ini hanya Dean yang menyentuh tubuhnya dan wanita itu bukan jalang yang mampu menerima sentuhan sembarang pria.

“Bagaimana kau mendapatkan ini?” tanya Duncan sambil mendongak.

“Bi-bisa kau menyingkir dari sana?” Sudah cukup! Vintari hampir runtuh pertahanannya. Napas pria itu menyapa kulit telanjangnya dan membuat getaran aneh di bagian sensitifnya. Wanita itu mulai resah jika saja Duncan menangkap bagian tubuh lain Vintari mulai mendamba.

Seringai Duncan terbit di wajah tampannya. Tanpa bertanya, ia menggendong Vintari dengan kedua tangan kekakrnya. Saat kesakitan itu kembali datang, mata Vintari terpejam dan menelusupkan wajah di dada bidang Duncan.

“Kau tak seberbahaya itu. Aku akan menolongmu,” ujar Duncan.

Pria itu membawa Vintari ke sebuah ruangan pengobatan. Ia menyalakan lampu tepat di atas tubuh telanjang Vintari. Mempersiapkan segala yang dibutuhkan, Duncan pun kembali mendekat ke arah meja.”

“Siapa namamu, cantik?”

Vintari ingin mendengus, tetapi rasa sakit mengalahkannya. “Vintari.”

Untuk mengetesnya, Duncan mengambil sebuah alat berbentuk layar pipih dan mengarahkan pemindai ke wajah dan tubuh wanita yang kesadarannya mulai mengikis. Ia tersenyum puas saat alat itu menampakan identitas Vintari. Meletakkan alat pendeteksi identitas, Duncan mengambil benda berbentuk tabung sebesar pena dan berwarna hitam.

“Dengar, kau tak punya barcode di tubuhmu, jelas kau bukan warga negara Detroit City. Karena itu, aku tak dapat membawamu ke rumah sakit. Aku akan mengobatimu,” terang Duncan sambil menunjukkan tabung kecil itu.

“Ini akan sedikit sakit,” ucap Duncan yang menundukkan tubuh sambil mendekatkan alat itu ke luka Vintari.

“Tunggu,” cegah Vintari. “Kau akan mengobatiku secara manual? Oh, bunuh saja aku!”

Di negera Kalimera, pengobatan dilakukan dengan lebih canggih. Orang yang sakit dibaringkan dalam sebuah tabung besar dan setelah kaca penutup tabung ditutup, seorang petugas kesehatan mengatur alat itu bekerja menyembuhkan sakit yang di derita. Tak ada rasa sakit sama sekali. Gelombang-gelombang listrik yang masuk ke dalam tubuh bahkan tak terasa menyengat. Dalam hitungan menit, orang akan merasa sehat.

Namun, pengobatan manual adalah menyalurkan energi listrik dari tabung yang dipegang Duncan, yang mana akan menimbulkan rasa pedih, sensasi terbakar, bahkan sengatannya membuat sakit kepala. Vintari bergidik ngeri, sementara Duncan tersenyum menenangkan yang sama sekali tak membantu.

“ini tak akan membunuhmu. Sakit sedikit, tahan saja, ya,” bujuk Duncan dengan santai.

“Ngomong-ngomong namaku Duncan.”

“Duncan, tunggu,” cegah Vintari lagi. “Kumohon, aku butuh sesuatu. Ayolah, aku tak ingin merasakan sakitnya.”

Duncan berdiri tegak dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Kaupikir aku menyimpan semacam obat terlarang agar kau teler? Lupakan saja! Aku bukan warga yang melanggar pemerintah.”

Kata-kata Duncan membuat mata Vintari berputar. Jika saja Vintari tak tahu siapa penjahat tampan di hadapannya. “Kumohon, Duncan. Aku tak ingin merasa sakit,” rengek Vintari.

Terkadang sifat manjanya akan meluluhkan Dean-sahabatnya. Mungkin kali ini akan berhasil menundukkan Duncan. Mereka kan sama-sama pira.

“itu … aku … ada, hanya saja lumayan berbahaya.”

“Aku ambil resikonya,” pungkas Vintari mantap.

Duncan menatap Vintari beberapa detik lalu mengangkat bahu. “Baiklah, jika itu keinginanmu.”

Vintari bernapas lega. Sedangkan Duncan mengambil satu kaleng dengan masker di ujungnya. “Hirup gas dalam kaleng ini.” Ngocoks.com

Vintari segera mengambil kaleng itu dan menghirup melalui masker. Beberapa tarikan napas, membuat Vintari rileks. Ia tak mengeluh saat Duncan meraba perut datarnya.

“Kau pasti merasa rileks sekarang.” Duncan menyalakan tabung pengobatan dan menyetel sebera aliran listrik untuk merapatkan luka wanita di hadapannya.

“He em,” gumam Vintari.

Duncan melirik Vintari sekilas. “Kau terus menghirupnya. Itu akan membuat tubuhmu terasa ringan.”

“Aku terbang,” tutur Vintari dengan senyum yang tak ia tahan. Wanita itu seperti mati rasa karena sentuhan Duncan saat ini tak berarti apa-apa baginya.

“Aku tak bisa menolong dengan apa yang akan terjadi berikutnya.”

“Apa?” tanya Vintari. Ia mendesah kecil saat merasa aliran darahnya bagai dirasuki angin panas.

“Kau akan bergairah.”

Bersambung… Rintihan dan pekikan kecil Vintari terdengar saat Duncan mengalirkan sengatan listrik di kulit Vintari yang terbuka dengan tabung hitam di tangannya. Wanita itu menggeliat hingga Duncan harus memegangi kedua kakinya.

Mengabaikan rengekan wanita asing yang mengganggu konsentrasi karena tak berbusana, Duncan bergerak cepat menyembuhkan luka Vintari dengan tabung miliknya. “Lepaskan! Kau menyakitiku,” rintih Vintari.

“Sabarlah, Sayang. Sedikit lagi,” tutur Duncan yang menahan diri untuk tak melirik terus pada selangkangan Vintari.

Menit demi menit terus berlalu. Wanita itu berakhir dengan menangis saat Duncan berhasil mengentikan aliran darah yang keluar dari luka Vintari. Luka-luka sayatan dan lebam lainnya akan berangsur pulih. Kini tinggal suara Vintari yang merengek serak karena hampir 30 menit ia berteriak-teriak.

“Kau akan membaik esok hari,” terang Duncan sambil membantu Vintari duduk. “Maaf, aku harus melakukan semua ini.”

“He em. Terima kasih,” gumam Vintari sambil menunduk. Ia memeluk, lalu meraba pundak dan lengannya sendiri.

“Ehm … aku pikir kau butuh mandi,” ujar Duncan sambil menelan ludahnya.

Demi Tuhan dia itu laki-laki normal. Rasanya Duncan ingin mengubur diri sendiri saja saat ini. Bagaimana bisa ia bertahan bersama seorang wanita tanpa busana yang mondar-mandir di rumahnya? Pria itu menahan napas dan menetralkan detak jantungnya saat menuju ruang kaca yang ia gunakan untuk membersihkan diri.

Duncan segera pergi dari sana. Tak ingin membuat dirinya lebih tersiksa dengan melihat wanita itu mandi melalui kaca frosted. Ilmuwan muda itu pun membereskan ruang pengobatan dari beberapa bercak darah dan mensterilkan alat-alatnya.

Namun tetap saja, bayangan bidadari bugil yang terbaring di meja penyembuhan itu kembali mengganggunya. Mulut Duncan mengumpat pelan. Ia bisa kencan dengan wanita mana pun di Detroit City ini. Mengapa melihat seorang imigran saja, kinerja otaknya menjadi rusak begini?

Menuruti naluri gilanya, Duncan kembali ke tempat membersihkan diri. Kotak kaca itu pintunya terbuka. Jelas Duncan mendengar rintihan sang wanita. Berjalan pelan, Duncan mendekati Vintari. Jantungnya berdegup kencang saat pemandangan wanita tak berbusana ini di bawah guyuran air dari shower.

“Aku … merasa sakit,” desah Vintari.

Dada membusung wanita itu naik-turun karena napasnya tersengal. Kedua tangannya berpegang pada dinding kaca di belakangnya. Mulutnya sedikit terbuka dan erangan sensual bertarung dengan gemercik air.

“Sial,” umpat Duncan lirih. Pasti pengaruh obat itu. Obat perangsang yang ia ciptakan sendiri untuk kliennya para hidung belang untuk mendapatkan gadis-gadis di tempat hiburan. Ngocoks.com

“Masih beberapa jam lagi,” sesal Duncan. Pria gila itu menciptakan sebuat obat pemicu birahi yang akan hilang khasiatnya selama beberapa jam.

“Aku ….” Kalimat dari bibir Vintari terputus dan disusul erangan kecil.

“Aku tahu, Cantik. Aku tahu. Maafkan aku,” katanya kemudian sebelum bergabung dalam kotak kaca besar lalu menanggalkan seluruh pakaiannya.

Tangan Duncan terulur untuk menangkup pipi Vintari. Perlahan ia mengecup bibir wanita dengan lembut di bawah guyuran air dari pancuran. Lembut, dingin, dan memabukkan. Duncan terlena seperti baru mendapat ciuman pertama.

Sebaliknya, Vintari balas mencium Duncan dengan rakus. Lidahnya mulai bermain sementara kedua tangannya meremas rambut blonde Duncan agar pria itu tak melepas ciuman mereka. Senyuman Duncan tak dapat ditahan lalu menjauhkan wajahnya.

“Sabar, Vintari. Aku tak kemana-mana,” goda Duncan dengan seringai di wajah tampannya.

Tak mengindahkan kata-kata bermata biru, Vintari kembali melumat bibir tebal Duncan. Mengajak pria itu kembali bersinggungan dengan nafsu melalui ciuman panas mereka. Namun, Duncan kembali menguasai permainan. Tubuh wanita asing itu ia balik hingga menghadap tembok. Kedua tangan Duncan menangkup lalu meremas pelan payudara Vintari hingga wanita itu mengerang.

Tangan kiri Duncan meraba perut dan berhenti di selangkangan wanita itu. “Di sini?”bisik Duncan meminta persetujuan.

“Ya,” jawab Vintari dengan desah erotisnya.

Duncan kembali menyeringai saat jemari tangan kirinya menggoda selangkangan wanita yang diamuk birahi itu. Sedangkan tangan kanan Duncan terus meremas payudara Vintari secara bergantian. Terlena dengan semua rangsangan itu, Vintari sedikit berjinjit saat rasa geli, sakit, tapi nikmat itu melebur di kewanitaannya.

Tangan kekar Duncan membuat tubuh wanita itu menghadapnya. Duncan begitu bernafsu saat rona merah di wajah Vintari bagai pemulas yang menambah kecantikannya. Tak menunggu lama, pria itu mengangkat tubuh Vintari dan memepetnya di dinding kaca. Perlahan, Duncan menekan kejantanannya ke jalan menuju surga.

“Kau siap?”tanya Duncan ketika miliknya terkubur dalam lembah hangat penghasil nikmat.

“Lakukan saja,” desak Vintari yang mendapat hujaman kasar dari pria yang memegangi tubuhnya.

Erangan keduanya terdengar diiringi suara gemercik air dari pancuran. Vintari menggeram pasrah saat dipuaskan oleh pria yang bahkan tak ia kenal. Sebaliknya, Duncan justru mabuk dalam percintaan yang seharusnya tak ia lakukan.

“Dean,” bisik Vintari saat wajahnya terkulai di bahu Duncan ketika mendapatkan orgasme kedua kalinya.

Rasa nyeri di dada dan menyebar ke seluruh urat nadi Duncan. Telinganya belum tuli. Wanita ini menyebut pria lain dan bukan dirinya. Dibakar perasaan marah yang asing, Duncan mematikan shower. Membawa wanita itu dalam gendongannya menuju kamar tidur.

Duncan mengempaskan tubuh Vintari di kasur empuk miliknya. Tubuh Vintari terlentang, basah, lelah karena perbuatan Duncan, dan pria itu yakin Vintari tak sepenuhnya sadar akan reaksi tubuhnya. Namun, Duncan terbius oleh suatu rasa yang telah lama ia pendam, cemburu. Duncan merasakan cemburu untuk kedua kali. Namun, kali ini kecemburuannya pada wanita asing yang beberapa jam yang lalu menyelinap di gudang rumahnya. Duncan memang sakit jiwa!

Buktinya kini ia kembali menunggangi tubuh Vintari, menghentaknya sedemikian rupa sampai erangan permohonan Vintari terdengar. Kali ini Duncan tak mengejar kepuasannya saja, apalagi menyenangkan bidadari yang ingin ia miliki. Persetubuhan kali ini sebagai peringatan bahwa pria itulah yang menyentuh tubuh sang dewi. Bukan siapa pun pria yang namanya Vintari sebut dalam kilatan memori.

Lenguhan Vintari terdengar saat ia menggerakkan tubuh dan rasa pegal menyerangnya. Ia tersenyum, merasa telah menghabiskan malam panas bersama sahabatnya seperti biasa. Namun ketika matanya terbuka, rasa terkejut menyentaknya. Ini bukan kamarnya dan ingatan Dean yang terbaring koma memukulnya. Vintari duduk dan serambi lempitik kecil saat mendapati dirinya telanjang di kamar orang asing.

Matanya terpejam, mengumpulkan kepingan memori yang menyebabkan dirinya berakhir di tempat ini. Dadanya meledak-ledak saat mengingat pria cabul itu. Seharusnya ia todong saja Duncan dengan senjata dan paksa untuk menyerahkan penghambat virus D3V4. Vintari tak perlu membuka selangkangannya hanya agar Duncan percaya padanya.

“Selamat pagi.”

Mata Vintari terbuka dan menatap pria berambut pirang yang berjalan ke arahnya. Masih kesal, Vintari berteriak dan menyerang pria bertubuh atletis itu. Tentu kedua tangan Vintari dapat dengan mudah ditangkap Duncan dan ditekuk ke punggung wanita itu.

“Bajingan kau!”

“Aku minta maaf,” ucap Duncan kemudian. Pegangan Duncan mengendur dan Vintari meronta hingga terlepas.

“Aku sudah bilang tak punya obat penghilang rasa sakit, tapi kau memaksa …,” ucap Duncan dan meneruskannya di dalam hati seraya menatap tubuh telanjang Vintari dari belakang, dan aku menikmatinya.

“Kita bicara setelah kau berpakaian,” putus Duncan sambil menelan ludah.

***

Selama Vintari membersihkan diri dan berganti pakaian, Duncan menyiapkan suntikan nutrisi. Di bulan, mereka tak memakan makanan seperti di bumi. Cukup paket nutrisi yang berupa kapsul atau suntikan.

“Kemarilah! Aku harus menyuntikan sarapan padamu.”

“Terimakasih untuk semalam, tapi aku sebaiknya pergi. Tak baik untukmu menampung imigran,” balas Vintari dan berjalan melewati Duncan.

“Hey … hey! Tunggu, Vintari. Vintari!” cegah Duncan sambil memegang pundak wanita bermata cokelat itu.

“Aku tahu kau marah, tapi aku akan bertanggung jawab. Aku … aku akan menjadikanmu pasangan ….”

“Tak perlu,” potong Vintari sambil menyingkirkan tangan Duncan yang menghalanginya.

“Atau istri,” ucap Duncan lagi.

“Aku tidak mau!” tegas Vintari.

Darah pria itu mendidih. Setahunya, Vintari adalah seorang petani gandum yang mana ia tahu memiliki kedudukan tinggi di suatu negara. Namun, tetap saja, penolakan wanita itu melukai egonya. Apalagi, Duncan merasakan perasaan yang berbeda dengan penolakan wanita itu. Duncan kembali teringat nama yang Vintari sebut karena pria itu kah?

Duncan menyusul wanita keras kepala yang hampir mencapai pintu keluar ia menarik dan memepet tubuh Vintari ke tembok. Satu tangan Duncan menahan kedua tangan Vintari di atas kepal wnaita itu. Tangan Duncan yang bebas mencengkeram rahang bawah Vintari lalu membungkamnya dengan ciuman kasar.

Vintari mengerang dan mencoba menutup bibirnya. Akan tetapi pria pemaksa itu meraba leher dan meremas lembut payudara Vintari hingga mendesah. Ciuman Duncan kembali menguasai diri Vintari sampai wanita itu merengek untuk untuk dilepaskan.

“Untuk ukuran petani gandum, kau cukup liar saat menganggap kejadian semalam biasa saja.”

Mata Duncan nyalang menatap wanita yang masih pucat di hadapannya. “Perilakumu seperti manusia bumi, bercinta dengan orang asing lalu melupakannya,” cemooh Duncan.

Manusia di bulan justru hidup lebih terkontrol. Mereka hanya boleh memiliki satu pasangan—sebelum meresmikan ke jenjang pernikahan—dan terdaftar. Memilih pasangan pun tak boleh sembarangan. Sudah ditentukan secara otomatis oleh suatu alat dan disesuaikan dengan gen. Boleh saja berganti pasangan, tetapi mereka harus melaporkannya.

Vintari sendiri selalu berpasangan dengan Dean untuk urusan hubungan intim. Ia pernah menyuruh Dean untuk mencari pasangan lain, tetapi sahabatnya itu belum mau. Perselingkuhan adalah tindak pidana di bulan karena dikhawatirkan menghasilkan keturunan yang tak baik karena berbeda gen dan lain sebagainya.

Vintari menyadari penyamarannya. Menutup kesalahannya, Vintari berusaha melepaskan tangan dari cengkeranan Duncan dan menampar keras pipi pria itu. “Aku tahu tentang aturan itu. Itu sebabnya cukup malam ini aku berbuat kesalahan. Kau sudah menolongko dan aku tak sekejam itu membuatmu dihukum oleh pemerintah.”

Duncan mengerutkan alisnya. “benarkah? Bukan karena seseorang yang bernama Dean?”

Rontaan Vintari lebih kuat sehingga ia lepas dari kungkungan Duncan. “Dia sudah mati dan juga seluruh keluargaku. Aku bersumpah untuk membunuh mereka semua dan tak segan membunuhmu jika menghalangiku!” teriak Vintari histeris.

“Hey … hey! Tenanglah,” tagas Duncan.

Karena wanita itu terus memukuli lengan dan dadanya disertai teriakan murka, Duncan memanggul Vintari dan membawa wanita keras kepala itu ke kamarnya. Ia menghempaskan tubuh Vintari sebelum menindihnya.

“Hey, tenanglah! Aku tak akan membiarkanmu pergi. Kau aman di sini ….”

Sebelum Duncan menyelesaikan kalimatnya, suara ledakan terdengar membuat keduanya berguling dan jatuh. “Apa itu?”

“Sepertinya aku ketahuan,” jawab Duncan santai.

Vintari akan berkata lagi namun serangan demi serangan membuatnya berteriak. Ia ditarik Duncan keluar kamar sambil menunduk lantaran banyak tembakan laser yang bertebaran di udara.

“Aman apanya?!” geram Vintari sambil mengikuti pria itu ke sebuah lift untuk melarikan diri dari rumah Duncan. Begitu lift turun, terasa sebuah dentuman.

“Aduh, mereka menghancurkan rumahku lagi,” kesal Duncan.

Bersambung… Vintari serambi lempitik dan memeluk Duncan. Namun, sedetik kemudian ia meronta mundur. “Siapa mereka? Mengapa mereka menyerang rumahmu? Apa yang telah kau lakukan?” “Bisakah kau tidak cerewet? Aku sedang berpikir,” sanggah Duncan.

Pria itu menekan-nekan layar yang ada dinding lift. Mencari tujuan ke mana mereka akan lari.

“Baiklah, setelah ini, kita berpencar saja. Kau bukan pria baik. Aku tak ingin terlibat lebih jauh.”

Duncan mendengus kesal, membalikkan tubuh, lalu menekan tubuh wanita yang hanya berbalut selembar kain itu. “Biar kusegarkan ingatanmu, Nona. Kau yang menerobos ke rumahku. Seharusnya aku melaporkanmu ke dinas keamanan, atau membiarkanmu mati kehabisan darah, atau membunuhmu saat itu juga karena kau mengetahui tempa tinggal orang jahat,” singgung Duncan.

Wanita itu memalingkan wajah ke arah lain untuk menghindari sorot tajam dari mata biru Duncan.

“Ada virus D3V4 di luar sana yang menjangkiti siapa pun, aku harusnya takut tertular. Tapi, aku mengambil resiko bersinggungan denganmu. Inikah caramu berterima kasih? Aku kagum.”

Vintari mencibir di dalam hati. Duncan tak takut tertular karena pria itu punya penghambatnya. Tinggal menunggu waktu saat Duncan menggunakan penghambat virus itu pada diri sendiri dan Vintari, lalu Vintari akan mencuri sisanya.

“Apa maumu?” tantang Vintari.

“Apa?”

“Kau mencoba menerangkan utang budiku. Lalu apa yang kau inginkandariku untuk membalasnya?” tanya Vintari yang sudah ia tebak jawabannya.

Mata Duncan menelaah tubuh molek yang dia tekan di hadapannya. Mengingat bagaimana rasa wanita itu semalam, tentu Duncan menginginkan kepuasan yang rutin.

Lagipula, sudah cukup yang ia miliki sekarang, kecuali wanita. Terlalu sayang jika Vintari ia lepaskan dan akan menjadi pasangan warga negara Detroit City lainnya.

Bagian terburuknya adalah warga di negara ini yang berdedikasi penuh pada kestabilan nasional, tentu minim bermain-main. Mereka akan menjadikan Vintari istri, itu artinya Vintari tak dapat dimiliki siapa pun lagi. Perceraian adala pidana di Detrit City.

“Kau jadi pasanganku.”

“Tidak,” tolak Vintari mentah-mentah.

Wajah lebih mendekat ke arah Vintari. “Dengar, Sayang. Dengan menjadi pasangan, setidaknya kau mendapatkan baju.”

Tepat Duncan mengatakan itu, pintu lift terbuka. Seorang wanita usia 30an menatap Duncan dan melebarkan mata. “Apa yang kau lakukan?”

“Martinez, aku butuh baju … untuknya,” tutur Duncan sambil memandang Vintari.

“Oh, kau ingin berpasangan? Akhirnya untuk sekian lama,” ucap Martinez.

“Di mana Riyu? Aku ingin dia menyiapkan identitas juga.

Martinez menatap Duncan dan Vintari bergantian. “Dia imigran?”

Duncan mengangguk dan berjalan mengikuti Martinez ke sebuah kamar yang berwarna biru. Semua jenis pakaian ada di sana. Tinggal diprogram untuk siapa pemakainya. Pakaian yang disiapkan memiliki alat khusus yang mendeteksi kulit, sehingga tak dapat dipakai sembarang orang atau saling meminjam.

“Darimana?”

“Kalimera,” jawab Duncan.

Martinez menoleh. “kau yakin?”

“Bisa kau panggilkan suamimu?” desak Duncan.

“Maaf, itu bukan urusanku. Riyu ada di ruang kerjanya,” tutur Martinez. Menekan layar pada meja datar lalu sebuah pintu terbuka. Ia menylakan Duncan untuk masuk.

“Baik Nona ….”

“Vintari,” ucap Vintari.

“Ah, Nona Vintari, mari kita pilih pakaian yang sesuai ukuran tubuhmu. Riyu akan menyiapkan identitasmu dan kau segera kan memakainya,” tutur Martinez dengan senyum lebar.

Sedangkan Vintari menuruti langkah wanita berkulit kecokelatan itu membuka satu demi satu koleksi dagangannya. Ia tersenyum tipias. Mengingat bagaimana ia membeli pakaiannya bersama Dean. Sebuah rasa sesak di dada menyentaknya saat mengingat kondisi pria itu.

“Aku senang sekali Duncan memutuskan untuk berpasangan.”

“apa?” tanya Vintari yang tak fokus.

“Kau … dan Duncan,” ulang Martinez. “Di mana kalian bertemu? Ah, aku sudah menduga dia akan memilih pasangan seorang imigran. Pantas saja selama ini ia seperti tak butuh wanita. Aku sempat kesal dengan tingkahnya yang sedikit nakal.” Martinez terkekeh kecil.

“Apa maksudmu?” tanya Vintari sambil menunjuk pakaian berwarna hitam dengan lis ungu di dadanya. Pakaian untuk kaum petani gadum.

“Ah, kau seorang petani gandum?” tanya Martinez. Setelah Vintari mengangguk ia mengambilan pakaian itu dan kembali bercerita.

“Jarang sekali ada petani gandum di Detroit City. Kebanyakan dari kami penghasil senjata. Semua pakian yang aku jual dilengkapi dengan perisai pertahanan dan tak jarang beberapa serum untuk melumpuhkan penyerang. Aku mendapatkan serum dari Duncan. Tapi, pakaian ini hanya berperisai.”

“tadi kau mengatakan Duncan … nakal?”

Martinez terkekeh. “Dia pembuat serum. Terkadang, ia membuat nutrisi dengan komposisi … gila. Ia menciptakan serum yang membuat warna kulit seseorang berbeda. Ingin tanning, lebih putih, kuning seperti keturunan ras Asia di Bumi, banyak. Tentu itu dilarang karena warna kulit yang berbeda sama seprti membuat penyamaran. Ya, meski beberapa menyebutnya trend kecantikan.”

Vintari tertawa kecil. “ya, bayangkan saja bagaimana dia dulu membujuk keluargaku untuk membuat makanan gandum menjadi sebuah nutrisi. Itu kan tidak boleh. Gandum harus dibuat berupa makanan fisik seperti bubur, roti, atau biskuit. Jika berbentuk nutrisi, semua rakyat dapat mengonsuminya. Itu kan sebuah tradisi. Tak boleh sembarang menyentuhnya.”

Kepala Martinez mengangguk maklum. Seorang petani gandum memang dari kalangan atas dan nada bicaranya pun angkuh. Ia bagai menjaga jarak dengan kaum militer atau warga sipil lain. Bahkan, seorang raja atau president di suatu negara akan menghormati dan melindungi petani gandum. Mungkin karena mereka merasa begitu dibutuhkan, ada rasa kesombongan di sana.

Terlepas dari itu semua, Martinez begitu penasaran pada mereka. Duncan yang biasanya dingin, tak mungkin dapat menggoda wanita dari kaum petani gandum. “Aku penasaran mengapa kalian bisa bersama.

Mendekatkan wajah pada Vintari, Martinez berbisik. “Ia tak menyuntikan serum jatuh cinta padamu kan?”

Vintari mendapatkan rona merah di wajahnya dan Martinez tertawa saat menyangka wanita di hadapannya tersipu. Tentu Vintari dapat menunjukkan wajah bersemu mengingat bagaiman ia diperdaya ilmuwan gila itu. Ia tersenyum lebar karena tak ada yang mengenali penyamarannya.

Di sisi lain, Duncan menemui Riyu—sahabatnya. Pria bermata sipit itu berbicara lewat panggilan video dengan kliennya dan merasa terganggu dengan kehadiran Duncan. Ia buru-buru menyudahi pembicaraan telepon video saat Duncan mulai menyentuh beberapa alat di ruang kerjanya.

“Jangan sentuh apa pun, Pengacau!”

“Ayolah, aku tak berbuat apa pun,” kilah Duncan.

“Kau kemari, pasti karena kau telah melakukan sesuatu.”

Duncan menyeringai. “Belum.”

Geraman Riyu terdengar dan dengan kesal mendekati Duncan. “Pergi dari sini! Kau selalu membuat ulah dan memintaku membereskannya.”

Duncan mengangkat tangannya pertanda menyerah. “Kau saudaraku. Siapa lagi yang dapat membantuku.”

“Penjara dan pengasingan membuatmu semakin tak waras,” ketus Riyu dan dibalas tawa keras oleh Duncan.

“Mungkin,” ujar Duncan sambil menaikkan bahu. “Ngomong-ngomong aku butuh identitas. Dia imigran dari Kalimera dan aku ingin berpasangan dengannya.”

Satu pukulan dari Riyu bersarang di pipi kiri Duncan. Pria berambut pirang itu mengerang, tetapi seigap menangkis tangan Riyu saat pria itu kembali menyerangnya.

“Jangan kejam padaku, Riyu.”

“Tak lelahkah kau membuat masalah?” desah Riyu.

“Aku janji, ini yang terakhir aku meminta bantuanmu. Aku menyukai wanita ini. Ayolah, kau ingin aku bermain-main. Dengan Vintari, aku berhenti hidup dalam pelarian. Aku sudah berubah.”

Riyu memandang sahabatnya dengan raut curiga.

“Kau tahu aku,” ucap Duncan meyakinkan.

“Kau benar-benar mengetahui identitasnya? Jika dia seorang kriminal, justru akan menyulitkanmu … dan aku,” dengkus Riyu. Ngocoks.com

“Aku sudah memindainya,” terang Duncan lalu menyeringai, “Seluruhnya.”

Riyu berdecih lalu berkomunukasi dengan Martinez. Melihat itu, Duncan merangkul Riyu dan tersenyum lebar.

“Kau selalu dapat kuandalkan.”

Di ruang berwarna biru, Martinez memindai Vintari dari wajah hingga seluruh tubuhnya. Mengambil sampel darah wanita itu lalu menyiapkan membuat identitas baru. Semua diselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam.

Sedangkan Vintari, tadinya ia begitu cemas saat Martinez berkata menyiapkan identitas baru untuknya. Ia sudah berpasangan dengan Dean. Jika mereka tahu Vintari akan dipasangkan lagi dengan Duncan, Vintari bisa dilaporkan dan dihukum oleh pemerintah Detroit City. Namun ternyata, Vintari justru menahan untuk tak memaki. Kalimera benar-benar menghapus datanya, termasuk Dean.

“Aku bangga dapat memakaikan baju ini untukmu. Kau tahu, baju untuk kaum petani gandum sangat langka.”

“Terima kasih,” ucap Vintari dan memerhatikan kostum berwarna hitam berbentuk baju lengan panjang dan celana yang menutup tubuhnya.

“Akh,” rintih Martinez kemudian.

“Kau kenapa?” Vintari buru-buru memegangi wanita itu.

“Aku … sesak napas, kepalaku … juga pusing,” keluh Martinez terbata.

Vintari mulai resah. Ia pernah melihat situasi semacam ini. Saat itu, Dean yang mengalaminya. Otak wanita itu memutar keras dan menyimpulkan Martinez terserang virus D3V4.

Bersambung… Vintari menoleh ke arah telepon yang digunakan Martinez untuk menghubungi suaminya. Wanita itu segera menekan layar lebar, mencari ruangan yang akan ia hubungi. Pada tulisan ‘ruang meeting’ ia menekannya dan muncul wajah pria bermata sipit di layar monitor. “Ya?”

“Istrimu sakit,” ujar Vintari.

Vintari kembali ke sisi Martinez yang mulai kehilangan kesadaran. Tak lama pintu terbuka dan dua pria berlari ke arah Vintari. Riyu segera meraup tubuh atas Martinez, sedangkan Duncan menarik Vintari untuk memberi ruang.

“Apa yang terjadi?”

“Dia mengeluh sakit kepala dan sesak napas,” jawab Vintari pada pertanyaan Riyu.

“Hubungi dokter sekarang,” usul Duncan yang terdengar seperti perintah.

Riyu mengambil ponsel di sakunya lalu menghubungi rumah sakit di bulan. Suara operator terdengar dan meminta status Martinez saat ini. Riyu menempelkan telapak tangan di ponsel, agar pihak rumah sakit mendeteksi penyakit Martinez cukup men-scan telepak tangan dan datang membawa pertolongan yang dibutuhkan.

“Terinfeksi virus.” Suara operator.

Wajah Riyu nampak terkejut begitu juga dengan Duncan. Sementara Vintari justru semakin tegang karena ia tahu virus apa tepatnya. Riyu meminta detail dari alat di tangannya.

Layar ponsel mengeluarkan suara operator yang menerangkan penyakit yang diderita Martinez. Ia positif mengidap virus D3V4 stadium 2. Martinez akan segera dikarantina.

“Ini tidak mungkin,” keluh Riyu bagai sebuah bisikan.

“Dia baru stadium 2. Masih bisa diselamatkan. Tenang saja,” tutur Duncan menenangkan.

“Tenang? Tadi kami baik-baik saja dan sekarang istriku terserang virus. Mana mungkin aku bisa tenang?!” Riyu menatap Vintari. “Kau … apa yang sudah kau lakukan?”

Duncan melindungi tubuh Vintari dengan menyembunyikan wanita itu di balik tubuhnya. “Riyu, kami tak terkena virus itu.”

Riyu bangkit dan menantang Duncan. “Dia imigran. Tubuhnya pasti membawa virus itu.” Riyu berjalan ke dinding ruangan, menyetel beberapa sandi dan sebuah kotak keluar dari dinding. Ia mengeluarkan senjata dan menodongkannya ke arah Duncan dan Vintari.

“Katakan apa maumu? Mengapa kau menulari kami?” tekan Riyu dengan napas tersengal-sengal.

“Bukan aku,” bantah Vintari.

“Kumohon, Riyu. Jangan gegabah. Turunkan senjatamu. Kau bisa melukai kita semua.”

“Minggir, Duncan! Aku hanya ingin melukainya. Ia penyebab Martinez sakit!”

Pintu ruangan otomatis itu justru dibuka paksa dan beberapa tentara Detroit City menggerebek mereka. Semua berpakaian lengkap dengan sejata di tangan mereka. Beberapa orang lain yang mengenakan pakaian bagai astronot memeriksa tubuh Martinez.

“Mengapa tentara Detroit City ada di sini?” tanya Duncan pada semua orang yang ada di sana. “Martinez hanya sakit, bukan?”

Langkah seorang pira mencuri perhatian orang-orang di sana. Wajah tampannya begitu dingin hingga membuat siapa pun yang menatapnya, akan gentar. Ia memandang ke arah Duncan sebelum menoleh ke arah Riyu.

“Seorang pembuat pakaian menyimpan senjata, mengaktifkan dan menodongkannya pada warga sipil lainnya, di tengah istrinya sekarat karena virus D3V4.”

Riyu gemetaran, menurunkan senjatanya, lalu tergagap menjawab, “Ma-maaf, Jenderal Achilles. Mereka … istri sakit.”

Jenderal Achilles menoleh ke arah orang-orang yang menangani Mertinez. Kepalanya mengangguk memberi perintah lalu salah seorah medis itu menyuntikan sesuatu pada pergelangan tangan Martinez. Beberapa detik kemudian tubuh wanita itu dimasukkan ke dalam tabung kaca yang mereka bawa.

“Apa yang kau lakukan? Kau … kau membunuhnya?” tanya Riyu dengan suara bergetar.

“Dia baru stadium 2, Jenderal! Kau bisa mengarantinanya hingga sembuh!” bentak Duncan yang segera dipegang oleh tentara Detroit City. Salah seorang dari mereka memukul pria berambut pirang itu hingga terjatuh dan menodongkan senjata laser tept di kepalanya.

“Dia bisa menularkan virus kepada warga lain. Aku tak ingin mengambil resiko,” ujar Jenderal Achilles tanpa perasaan.

“Kau kejam!” teriak Riyu lalu mengaktifkan senjata laser ditangannya untuk ditembakkan ke arah pemimpin negara Detroit City.

Jenderal Achilles yang mengerti akan reaksi Riyu, memutar badan dengan lihai dan terhindar dari serangan laser yang dapat melukainya. Sinar laser dari Riyu mengenai tembok, memantul, dan merusak beberapa alat di sana hingga menimbulkan letupan kecil.

Sedangkan Vintari segera tiarap karena letupan angin panas itu mendorong tubuh belakangnya. Jatuh yang tak wanita itu duga membuat kepalanya terantuk lantai dan mengerang. Melihat itu, Duncan ana menolong, tetapi tentara lainnya memukul wajah pria itu.

Sedangkan Jenderal Achilles segera memberi isyarat pada tentaranya untuk menembak mati Riyu saat itu juga. “Aku tak suka pemberontak,” ucapnya. Ngocoks.com

Orang-orang itu mengusung jasad Riyu dan mata Jenderal Achilles menatap wanita yang duduk di lantai memandangnya. Ketika didekati, wanita itu beringsut mundur. Seringai tipis yang hampir tak kentara terbit di wajah tampan Jenderal. Ia menarik tubuh Vintari agar berdiri dengannya.

Sementara Vintari sudah gatal ingin balas mengunci tangan sang jenderal yang menyentuhnya. Pria yang mendominasi atas dirinya membuat Vintari muak. Namun, posisinya saat ini bukan negosiator Kalimera yang dapat mematikan lawan hanya dengan mulut pedasnya. Ia seorang petani gandum.

Alih-alih mengeluarkan perlindungan diri, Vintari mengerang dan meneteskan air mata saat pria yang dikenal berdarah dingin itu meraih rahang bawahnya.

Tangan halusnya menangkup punggung tangan sang jenderal dan menyapunya secara tak sengaja. Jenderal itu tak tergoda? Vintari bermain lebih jauh lagi. Tangannya terulur hingga menekan dada sang jenderal, mendorongnya dengan lemah, layaknya hanya itu kekuatannya.

“Jangan, Jenderal,” isak Vintari dengan menunjukkan raut tak berdaya.

“jenderal! Dia pasanganku, kau tak boleh menyakitinya!” hardik Duncan yang bergegas bangun, menahan beberapa pukulan, dan berhasil mendekati sang jenderal.

Namun, jenderal yang ahli bela diri itu menendang Duncan hingga pria itu jatuh berlutut. Tentara yang lain segera memukulkan senjata ke arah kepala Duncan hingga pria itu jatuh di lantai. Menatap Vintari yang menangis dengan pandangan kaburnya.

Mata Jenderal Achilles kembali nyalan menatap Vintari. Gemuruh di dadanya kian menggebu. Ia segera memerintahkan salah satu tentara untuk memindai wajah Vintari. Jenderal terkejut saat data di benda pipih itu menyebutkan bahwa wanita itu petani gandum. Belum pernah berpasangan dengan siapa pun.

Tangan Jenderal Achilles meraih pinggang Vintari setelah memberikan alat itu kembali ke tentaranya. “Apa yang Kalimera rencanakan?”

“Aku tak mengerti maksudmu. Kau menyakitiku,” erang Vintari. Menunduk agar beberapa helai rambutnya menyapu punggung tangan Jenderal. Melemaskan kedua kakinya hingga tubuh wanita itu mendekat ke arah jenderal lalu menggaungkan desahnya. Vintari yakin pria dari Detroit City tak pernah digoda.

Seperti dugaan Vintari, Jenderal melepaskannya dan berjalan mundur. Pria itu masih menunjukkan ekspresi tak suka dan memerintahkan kepada para tentara. “Sterilkan tempat ini!”

Duncan yang mengerti akan hal itu, menarik lengan Vintari agar berlari bersamanya. Ia menekan layar dan pergi dari pintu lain yang dilewati jenderal. Setelah di dalam lift, Duncan memeluk Vintari erat-erat dan terdengar sebuah ledakkan hingga ruangan lift bergetar.

“Aku akan membawamu pergi dari sini,” bisik Duncan di telinga Vintari.

Wajah Vintari mendongak. “Aku takut. Mereka membunuh Riyu dan Martinez, lalu meledakkan tempat mereka. Apa yang terjadi?”

“Aku berurusan dengan Jenderal terkejam di Detroit City, Sayang. Begitulah cara kami hidup. Dibayang-bayang Jenderal Achilles yang kejam.”

Vintari menenggelamkan wajahnya di dada bidang Duncan. Isakannya terdengar, tetapi senyum kecilnya tersungging. Baginya, sang jenderal tak akan berkuasa lebih lama, karena Vintari memeluk Duncan. Pria yang bisa menyelamatkan Kalimera di saat negara lain seperti Detroit City hancur oleh virus D4VA.

Seharusnya Vintari tak perlu dendam pada Fachrein si pembuat kekacauan. Terima kasih pada pria itu yang telah merusak kestabilan suatu negera, tetapi orang-orang seperti Vintari yang akan mengambil keuntungan dari pengacau seperti dia. Kalimera akan tetap berjaya.

Bersambung… Setelah pintu lift dibuka, Vintari terperangah karena di hadapannya kini membentang tanah lapang yang ditumbuhi rumput hijau. Ini adalah bagian paling pinggir negara Detroit City. Duncan membawa wanita itu ke sebuah bangunan seperti mansion.

Jika di bumi, mansion adalah bangunan untuk orang-orang kaya. Namun di Detroit City, di sini adalah tempat orang-orang terbuang. Mereka yang tak sanggup berpacu dalam teknologi, mengasingkan diri di sini. Hidup bagai manusia bumi dengan minim alat-alat modern.

“Mengapa kau membawaku ke sini?” tanya Vintari saat berdiri di depan pintu mansion.

Mansion milik Duncan tetap memiliki pindai tubuh di pintu depan. Sedangkan di dalamnya, persis rumah mewah di bumi tanpa alat canggih. Tentu bagi manusia bulan ini justru tempat paling tidak nyaman karena tidak ada perlindungan diri.

“Kau pasanganku. Aku berhak membawamu ke mana pun aku mau,” tutur Duncan.

Selesai memindai tubuh wanitanya dengan alat yang terpasang di bagian depan pintu mansion, Duncan menarik lengan Vintari untuk masuk. Sementara itu, Vintari yang enggan, terpaksa mengikuti Duncan karena lengannya ditarik perlahan pria itu.

“Aku tebak, pasanganmu sebelumnya sudah mati. Kau membawanya ke sebuah mansion, jelas itu seperti membahayakan nyawanya dengan membiarkan wanita itu tanpa perlindungan,” ungkap Vintari.

Duncan melirik petani gandum itu. “Aku bisa menjaga pasanganku. Lagipula, aku sebelumnya tak punya pasangan.”

Tawa mengejek Vintari terdengar. “Pantas saja. Pria primitif sepertimu tak mengerti bagaimana caranya berkompetisi dengan teknologi.”

Telinga Duncan panas mendengar sindiran itu. Petani gandum memang terkenal dengan keagungan strata sosialnya. Namun, Duncan tak menyangka, Vintari seangkuh ini. Andai saja wanita itu tahu, Duncan memang tak menyukai teknologi. Ia ilmuwan. Peneliti serum, racun, bahkan virus.

Tak tahukah wanita itu, jika jenderal Detroit City menyerang suatu negara dengan pertempuran dua hingga tiga hari juga beberapa tentara yang dilengkapi senjata? Sedangkan Duncan, ia bisa melenyapkan seperempat populasi manusia bulan dengan gas beracun dalam dua jam saja.

Tentu Duncan tak sekejam itu. Tapi ya, mulut pasangannya ini harus diberi pelajaran agar tak sesumbar. Duncan meraih kedua lengan Vintari dan merapatkan tubuh mereka. Hidung Duncan menyentuh hidung lancip Vintari dan pria itu mendengar desah napas wanita yang kini membelalakkan mata.

“Dengarkan, aku. Riyu dan Martinez adalah sahabatku. Mereka dibunuh Jenderal di depan mataku. Kau tahu, rasanya saat itu juga aku ingin melenyapkan Detroit City.”

Tangan kiri Duncan meraih pinggang Vintari sedangkan tangan kanannya menangkup pipi kiri wanita itu. “Jenderal melakukan itu pasti karena sesuatu. Ia menginginkan sesuatu dariku atau …,” Duncan memerhatikan tubuh wanita itu, “Kau.”

Tangan Duncan kian mendekatkan wajah hingga bibir mereka bersentuhan. “Kita di sini, di mana pemerintah Detroit City akan sulit melacak karena daerah ini jauh dari jangkauan radar. Berbicara manislah padaku, Sayang.”

Duncan menutup kalimatnya dengan melumat bibir manis Vintari. Pria itu mengernyit heran. Mengapa setiap jengkal tubuh Vintari terasa memabukkan baginya? Bibir itu begitu manis untuk dicecap. Tubuh Vintari bagai candu yang selalu membuat nikmat. Duncan melepaskan ciumannya ketika mereka sudah butuh udara.

Di sisi lain, Vintari terengah-engah dengan kedua tangan yang berpegangan pada lengan Duncan. Pria tampan itu selalu saja memancing gairahnya untuk meminta lebih. Vintari begitu menggenggam hatinya agar setiap sentuhan Duncan tak membuat hati wanita itu jatuh.

“Aku tunjukkan kamar kita,” bisik Duncan setelah mengecup lembut bibir wanita yang bengkak karena ciumannya.

Mereka berjalan menuju sebuah kamar tidur. Satu ranjang besar dari besi dengan kasur bulu angsa di atasnya. Vintari duduk di tepinya dan memandang ke arah jendela yang menghadap ke arah padang ilalang.

“Aku tak pernah membayangkan. Bagaimana manusia di bumi dulu hidup di tempat seperti ini,” Vintari mendongak ke arah Duncan yang kini berdiri melihatnya, “Mereka bisa terbunuh dari jendela yang terbuka seperti itu.”

“Kau tak tahu apa-apa,” Duncan berjalan ke arah Vintari sambil membawa sebuah suntikan nutrisi yang berbentuk pistol kecil. “Manusia di bumi justru hidup damai di tempat seperti. Anak-anak bermain bebas di taman tanpa takut terkena virus atau tembakan laser. Mereka mengerjakan seni, tak selamanya memikirkan membuat senjata atau teknologi.”

Vintari mencibir. “Terdengar seperti mimpi buruk bagiku.”

“Ya, tentu. Kalian petani gandum hidup jauh dari teknologi atau senjata, tetapi merasa was-was sehingga haus akan perlindungan dari pemerintah atau raja, ‘kan? Mereka bilang kalian agung, tetapi bagiku kalian lemah.”

Vintari berdiri dan menatap garang. “Jaga mulutmu, Duncan. Kau tak bisa menghina kaum kami karena dari tangan kamilah, roti, biskuit, bahkan bubur, masih dapat terhidang dan disantap para pembesar,” Mata Vintari melirik ke arah alat di tangan Duncan, “Warga sipil sepertimu tak pernah tahu bagaimana rasanya.”

“Ya … ya,” balas pria itu dengan bosan lalu menarik tubuh Vintari agar lebih dekat, “Cobalah nutrisi warga sipil ini. Mungkin kau sedikit menyukainya.”

“Tidak. Aku tak ingin nutrisi sekarang … Duncan!” Vintari mengerang saat Duncan mendekapnya lalu menyuntikan nutrisi itu ke lehernya.

“Apa yang kau lakukan?!” geram Vintari saat merasakan pahit di kerongkongannya.

Seringai Duncan terulas. “Kau pintar juga. Itu imun tubuh. Aku khawatir kau sakit karena kita akan tinggal beberapa hari di daerah padang rumput seperti ini. Aku akan siapkan nutrisi. Tunggu di sini.”

Saat Duncan keluar kamar, Vintari mengumpat. Ia segera memeriksa setiap sudut kamar. Duncan ternyata kuno. Pria itu tak menyembunyikan serumnya dalam wadah yang dilindungi laser atau kode rahasia di sebuah lemari besi.

Pantas saja mereka sulit mencari hasil penemuan Duncan karena teknologi tak bisa melacak penghambat kafein yang di sembunyikan di suatu tempat.

Geram karena ia tak juga menemukan apa pun di kamar ini, Vintari kembali menggunakan cara hina itu. Ia mengerang kesal dan bergegas menanggalkan seluruh pakaiannya. Bukankah memang seperti ini cara wanita itu memancing Duncan?

Beberapa menit kemudian, Duncan masuk kamar dengan membawa satu suntikan nutrisi. Ia membeku di tempatnya berdiri saat siluet Vintari menghadap ke arah jendela, tanpa busana.

Jantungnya mulai berdetak lebih kencang, napas Duncan tercekat, dan tangannya mulai sedikit bergetar. Wanita itu mengacaukan hidupnya. Ngocoks.com

“Vintari, kau … kenapa …?” Duncan menelan ludah dengan susah payah saat pasangannya berbalik badan lalu datang padanya.

Vintari tersenyum kecil. “Aku ingin merasakan bagaimana rasanya tanpa perlindungan.” Mata Vintari melirik pakaiannya yang tergeletak di lantai.

“Ya … kadang tanpa perlindungan itu tanpa beban,” balas Duncan yang tak sanggup berpaling dari payudara Vintari yang menggantung. Tak lupa celah di antara selangkangan wanita itu, Duncan gatal sekali ingin menyentuhnya.

“Itu nutrisi untukku?” tanya Vintari.

“Hem? Oh, ya … ya.”

Vintari berdecak bosan. Menghentakkan kaki merajuk, lalu berbalik badan, menyuguhkan pemandangan kedua bongkahan pantatnya yang bulat. Ia merangkak ke ranjang dan merabahkan tubuhnya miring ke kiri. Ia memastikan Duncan melihat kewanitaannya dalam posisi seperti itu.

“Ayolah, semua orang perlu nutrisi. Biar aku suntikkan ini ke perutmu,” bujuk Duncan yang naik ke atas ranjang.

Vintari mengubah posisi menjadi terlentang, kedua kakinya ditekuk dan dibuka lebar, celah di antara pahanya seperti memanggil Duncan untuk dimasuki.

“Baiklah,” desah Duncan lalu menempelkan ujung alat berbentuk pistol kecil ke arah lambung Vintari. Ia menyiapkan dosisnya lalu menembakan nutrisi itu.

Setiap pemberian nutrisi tak pernah terasa sakit seperti disuntik. Namun, beberapa memberi sensasi dingin bahkan terbakar di lambung. Erangan Vintari terdengar, ia meronta kecil dan mendorong tangan Duncan seolah-olah ingin pria itu berhenti.

Namun, tangan Duncan yang ia tepis justru bergeser ke perut bawahnya. Ia mengerang lagi saat Duncan menyentuh titik kenikmatannya.

Duncan mengumpat pelan, membuang pistol nutrisi, lalu meraba tempat yang ia rindukan. Rasanya Duncan ingin kembali bercinta habis-habisan seperti saat ia baru bertemu Vintari. Maukah wanita itu? Mengingat Vintari tak lagi dalam pengaruh bius nafsu.

Bersambung… Vintari merengek protes saat tangan Duncan menangkup dan menggesek-gesek kewanitaannya. Kedua kaki Vintari merapat, menjepit tangan besar nan hangat yang menenangkan keresahan daerah sensitifnya. Bagai diberi izin, Duncan membuka kembali kedua kaki Vintari. Jari tengah Duncan menusuk pelan dan menginvasi celah hangat yang mulai mengucurkan madunya.

Tergoda melakukan lebih, jemari Duncan mulai menari. Merasakan tempat sakral di mana miliknya pernah tenggelam dalam nikmat. Lenguhan wanita itu membuat Duncan kian kencang bergerilya pada lapisan lembut kulit yang basah.

Sedangkan Vintari menahan rasa bosan akan reaksi pria di hadapannya. Duncan bukan Dean yang memujanya bagai dewi Nirwana. Wanita itu bangun dan menghentikan tangan Duncan yang sedang menggoda pusat kenikmatannya. Ia membawa jari Duncan yang berlumuran madu murninya untuk dijilat.

Erangan kecil Duncan terdengar. Pria ia menggerung saat mulut Vintari mengisap jari telunjuknya. Rasa basah dan gesekan gigi Vintari memberi sensasi yang berbeda. Mata Vintari menatapnya dengan nakal. Kobaran api gairah pun mrmbakar Duncan.

“Biarkan aku memujamu,” ujar Vintari dengan suara serak.

Duncan membulatkan mata saat tangan Vintari terulur untuk menanggalkan pakaian pria itu. Desahan Duncan ditahan kuat-kuat saat jemari lentik Vintari menggenggam lembut milik sang ilmuwan muda.

Bibir jingga Vintari mengecup ujung batang dalam genggamannya. Tak menunggu persetujuan sang pemilik, Vintari memanjakan kejantanan Duncan dalam balutan mulut hangatnya.

Tak pernah melakukan aktivitas seksual seperti saat ini, Duncan mulai linglung. Kakinya tak kuat berdiri karena serangan gairah luar biasa yang berpusat di antara pahanya.

Tangannya reflek terulur memijat kedua payudara Vintari yang menyembul saat posisi wanita itu terlentang di ranjangnya. Duncan berteriak dan napasnya tercekat saat perbuatannya justru membuat Vintari semakin kuat mengisap area pribadi pria itu.

Sudah tak tahan lagi, Duncan memaksa Vintari mengentikan godaannya. Pria itu membuat tubuh Vintari tertelungkup dan ditindihnya. Hujaman kasar dilakukan Duncan dari belakang. Duncan ingin kembali meledak dan menggapai kepuasan lewat tubuh si Cantik yang membuatnya tak berdaya.

Sedangkan Vintari sengaja membuat suara erangan yang menjadikan Duncan lebih kasar menyetubuhinya. Menjadi jalang lumayan menguntungkan baginya. Kini ia mengerti, jika jenderal Achiles haus kekuasaan, maka Duncan lapar akan kepuasan.

***

Vintari menggerakkan tubuh saat angin membelai kulit telanjangnya. Ia terjaga dari tidur lalu tersenyum puas akan pergumulannya dengan Duncan. Dari jendela, Vintari dapat melihat langit sudah gelap.

Kamar yang telah terang karena lampu, tak menampakkan keberadaan Duncan. Tanpa menutup tubuhnya, Vintari turun dari ranjang dan keluar kamar.

Udara dingin bagai akrab membelai kulit tubuh Vintari yang enggan dibalut pakaian. Saat Vintari melangkah ke lantai dasar, angin mulai menerbangkan rambut cokelat gelapnya. Ia sedikit mendesah saat puncak payudaranya seakan digoda angin. Reflek, wanita itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Menuruti naluri, Vintari masuk ke sebuah kamar yang tak terkunci.

“Duncan?” panggilnya lirih hingga menyerupai bisikan.

Langkah tanpa suara Vintari terus masuk ke dalam ruangan remang-remang. Di sana ada satu tempat tidur seperti pada ruang pengobatan di rumah Duncan sebelum diledakkan. Ia menoleh ke arah sudut dan melihat pria itu di sana. Duncan gemetaran bagai menahan rasa sakit. Seluruh tubuhnya berkeringat dan ia meringik pelan.

“Duncan, apa yang terjadi? Kau kenapa?” Vintari mendekati pria yang bertelanjang dada itu.

Saat Vintari menyentuh lengan Duncan, pria itu balas mencengkeram kedua lengan Vintari, menariknya mendekat hingga Vintari jatuh berlutut di hadapan Duncan. Raut wajah Vintari kian cemas saat Duncan mengerang panjang.

“Aku … aku semakin menginginkanmu di setiap waktu.”

“Apa maksudmu?” tanya Vintari sambil berusaha melepaskan tangan Duncan.

“Aku harus melakukan ini,” desis Duncan lalu beranjak dari tempat duduknya hingga Vintari turut berdiri.

“Duncan!” pekik Vintari saat pria itu membopong tubuh mungilnya.

Duncan meletakkan tubuh pasangannya di tempat tidur yang terletak di tengah kamar. Ia mengambil suntikan yang berbentuk pistol. Wajah Vintari menunjukkan raut cemas dengan apa yang dilakukan pria itu.

“Itu… itu apa?” tanya Vintari dengan takut-takut.

“Penawar kafein,” jawab Duncan. “Aku harus menyuntikkan ini padamu agar kau ternetralisir dari kafein. Kita sudah sering bertukar cairan tubuh. Aku … tak ingin kita saling menukar bibit virus D3V4 yang bersarang di tubuh masing-masing. Aku tak ingin kita mati seperti Riyu dan Martinez.”

“Duncan ….” Vintari tak melanjutkan kata-katanya karena ia serambi lempitik keras.

Duncan menembakkan penawar virus itu ke lambung Vintari. Tubuh telanjang Vintari mulai kejang-kejang. Seluruh raganya seakan sakit dan mulai terserang kelumpuhan. Mulut Vintari membuka karena ia kesulitan bernapas lewat hidung.

Penawar virus itu bekerja melunturkan seluruh kafein dalam tubuh. Vintari memang kebal dan konsumsi kafeinnya lebih banyak. Maka kesakitan yang ia dapat lebih menyiksa.

Mata wanita itu menatap langit-langit mansion milik Duncan. Seluruh tubuhnya terasa panas, ngilu, dan lemah. Sakit yang Vintari rasakan hampir merenggut kesadarannya. Air mata menetes dari sudut matanya karena lara ini melebihi saat ia sekarat terkena senjata laser di rumah sakit.

“Aku seperti kecanduan atas tubuhmu.” Tangan Duncan membelai paha Vintari dan jemarinya terus menjalar ke bagian paha dalam. “Di sini begitu nikmat hingga aku bagai hilang kewarasan.” Tangan kiri itu menangkup kewanitaan Vintari tapi wanita itu sedang mati rasa.

Sedangkan Vintari tak memedulikan kalimat yang keluar dari mulut Duncan karena ia sedang menahan ngilunya segala persendian, dada yang terasa terbakar, dan mual teramat sangat. Satu detik Vintari merasa hancur lalu ringan. Ia tak merasakan tempat tidur itu dan sepertinya ia dapat melompat ke awan sekali sentak.

Vintari segera duduk dan terengah. Ia merasa penuh tenaga. Matanya menatap mata biru Duncan yang tak menjauhkan wajah tampannya. Senyum kecil muncul di bibir Vintari hingga Duncan turut tersenyum padanya.

“Setakut itukah kau padaku?”

Duncan mendesah pelan. “Aku gila karena tubuhmu. Inginku bersamamu setiap waktu. Ya, aku teramat takut … kehilangan dirimu.”

“Aku ingin melihat seberapa menginginkannya dirimu padaku,” tantang Vintari lalu menarik tengkuk pria itu agar mendekat lalu diciumnya.

Duncan kembali bernafsu menyerang Vintari dengan ciuman-ciuman yang menuntut. Pria itu naik ke atas kasur dan mulai menindih tubuh indah tanpa balutan pakaian itu. Bibir Duncan mengecup tiap jengkal tubuh Vintari.

Menatap sebentar payudara kenyal itu, Duncan mengisap pelan di sana dan memberi beberapa tanda. Pria itu menuntun bibirnya hingga di antara paha Vintari.

“Aku bisa berlama-lama di sana. Kau terasa seperti surga,” aku Duncan lalu menghirup aroma khas Vintari sebelum mencecap manis madunya.

Duncan mabuk pada sensasi nikmat cairan cinta wanitanya hingga tanpa menunggu lama, pria itu melahap lipatan sensitif di hadapannya. Tak cukup dengan lidah, Duncan memainkan jemarinya. Desahan Vintari yang terdengar membuat ia semakin rakus menyantap hidangan spesialnya.

Sedangkan Vintari mulai menyerah pada siksaan Duncan. Kedua kakinya terus bergerak liar. Dadanya naik turun karena napasnya sesak dan ditambah detak jantung yang menghebat. Gelenyar asing yang berpusat pada kewanitaannya kini mengahncurkan wanita itu setelah menggapai puncak.

Ia salah menilai Duncan. Rupanya pria itu dapat bermain lebih gila dibanding Dean, tetapi ia tahan karena takut akan virus itu. Kini Duncan merasa bebas karena tubuh mereka sama-sama bersih dari virus mematikan yang membayang. Ngocoks.com

Tak hanya sekali Vintari berteriak saat percikan dari tubuh bawahnya mengalir deras tiap kali wanita itu menggapai puncak. Isakannya terdengar saat kelelahan membelenggunya. Mata Vintari yang masih berkabut menatap pria berambut pirang dengan seringai memuja terhadapnya.

Duncan menunduk dan mencium bibir Vintari yang terus mengeluarkan erangan. Pria itu membungkan tangisan si Cantik yang menyerah pada kelihaian lidah Duncan yang memabukkan. Pria itu membopong tubuh lemah Vintari untuk dibawa ke kamar dan dibaringkan perlahan.

Senyum Duncan semakin lebar saat Vintari membuka lebar kedua kakinya. Wanita itu menyebut nama Duncan tanda permohonan. Tak menyiksa pasangannya lebih lama, Duncan menanggalkan pakaiannya yang tersiksa lalu membuat Vintari kembali berteriak karena hujaman kasar yang mengobarkan lagigairah keduanya.

***

Mata Vintari mengamati raut tampan Duncan. Jemari lentiknya membelai ringan rambut pirang Duncan dan gumaman kecil Duncan terdengar.

Vintari memajukan tubuhnya dan mencium bibir pria itu hingga tidur nyenyak Duncan tak lagi terganggu. Perlahan Vintari bergerak mundur dan turun dari ranjang. Masih tak memakai pakaian, wanita itu keluar kamar menuju ruang penyimpanan.

Di ruang penyimpana itu, Vintari bergerak cepat mengambil segala tabung yang berisi penaar virus lalu menyimpannnya di sebuah kotak. Vintari mengambil satu tabung kafein lalu kembali ke kamar di mana Duncan tidur.

Bergegas Vintari berpakaian lengkap lalu menuang cairan kafein itu ke sprei dan lantai. Vintari menyimpan wadahnya dan mengaktifkan pelacak di pakaian Duncan. Ia keluar membawa kotak berisi serum. Sebelum meninggalkan mansion, Vintari mengaktifkan alat pnangkap sinyal di mansion Duncan dan memberi tanda darurat agar tentara Detroit City menemukannnya.

Vintari berlari kencang menuju padang rumput di mana di depan lift, ia mengaktifkan alat pelacak di anting-anting kanannya. Vintari melepas anting-anting sebelah kiri, menekan tombol di sana dan tampak sebuah hologram pria tak berambut.

“Bawa aku pulang,” perintah Vintari.

“Nona Vintari, untuk dapat pulang kau harus ….”

“Penawarnya ada padaku,” potong Vintari sambil menunjukkan kotak di tangannya.

“Pakailah lift untuk menuju perbatasan. Kami menyiapkan datamu dan kau akan melewati pemeriksaan imigrasi tanpa hambatan,” tutur Juan Daniel yang kini melalui sebuah hologram.

Di padang rumput itu, Vintari masuk ke sebuah kotak yang disebut lift. Dalam kotak lift itu Vintari menekan kemana tujuannya dan memasukkan kode identitas. Dari kode itu ia dapat membayra segala tagihan. Sekitar enam menit, pintu itu terbuka dan Vintari melihat sebuah ruang yang ia tebak sebagai tempat imigrasi.

Seorang petugas imigrasi memindai tubuh Vintari dan kotak yang dibawanya. Ia memerhatikan layar monitor dan melihat Vintari dengan raut ramah. “Terima kasih atas kunjungan Anda ke Detroit City. Kami harap perjalanan Anda menyenangkan.”

“Tentu. Aku suka souvenir dari Detroit City,” pungkas Vintari sambil menunjukkan kotak itu lalu pergi ke sebuah lift lain. Lift yang akan mengantarkan dirinya kembali pulang ke Kalimera.

Bersambung… Tanpa pikir panjang, Vintari membawa kotak berisi penawar virus D3V4 ke istana negara. Identitasnya yang kembali menjadi warga negara Kalimera memudahkannya masuk dan menemui seseorang yang telah menunggunya. Wanita itu diantar ke sebuah ruangan di mana Juan Daniel dan dua orang pria lain berdiri di samping pria itu. “Ini penawarnya. Tunaikan janjimu,” tekan Vintari.

Juan Daniel melirik ke salah satu pria di sampingnya. Pria itu mengangguk patuh dan meminta tiga orang lain yang baru saja masuk membukanya. Setelah terbuka, tiga pria yang sudah memakai pakaian pelindung itu segera memeriksa beberapa botol kecil dalam kotak.

“Bagaimana, Cheung?” tanya Juan Daniel pada pria yang mengomandi tiga anak buahnya memeriksa penawar.

“Kami harus meneliti dan mengujinya,” jawab Cheung penuh hormat.

“Tak perlu,” sanggah vintari. Ia menatap Juan Daniel sekarang. “Aku melihat Dun …; maksudku profesor Duncan menguji pada dirinya sendiri.”

“Ia hanya menyuntikkan penawar kafein itu ke tubuhnya lalu tubuh akan ternetralisir. Aku pernah mengonsumsinya dan aku bersih dari kafein sekarang,” yakin Vintari.

“Baiklah,” Juan Daniel berdiri dan mendekati Vintari, “Negara berterima kasih atas jasamu. Kini kau boleh pergi karena telah menyelesaikan misimu.”

“Tunggu. Bagaimana dengan Dean? Aku harus pulang dengannya,” pinta Vintari.

“Seperti yang kau dengar dari jawaban Cheung, penawar itu akan diuji kelayakannya dan banyak korban yang lebih dulu terserang. Jadi ….”

“Kau tidak bisa melakukannya. Kau harus menolong Dean. Dia bisa mati!” seru vintari.

“Kami bisa menyelesaikannya dengan cara kami.” Juan Daniel menatap pria yang berdiri dekat pintu dan memberi intruksi padanya.

Pria bertubuh tinggi dan tegap itu menyeret lengan Vintari. Saat Vintari meronta, ia semakin erat mencengkeram dan membawa paksa Vintari ke arah pintu.

“Kalian tidak bisa melakukan ini! Tuan Juan Daniel, kau sudah berjanji akan menyelamatkan Dean. Berikan penawar itu padanya!” jerit Vintari hingga keluar ruangan.

Ia mengambil napas panjang. Lututnya terasa lemas sekarang. Ia melakukan hal gila itu demi sahabatnya, tetapi mereka seakan menipunya. Dadanya sesak karena marah. Vintari nekat menerobos ke ruang lain, mencari-cari di mana laboratorium berada. Dengan identitas yang masih menjadi negosiator negara, wanita itu memiliki akses untuk keluar masuk istana.

Ia sampai di ruang penelitian. Tak mengetahui apa ruangan itu benar tujuannya, Vintari masuk dan menunjukkan wajah datar. Beberapa orang hanya melihatnya sekilas dan tetap berfokus pada pekerjaan mereka.

Vintari baru menyadari dirinya salah masuk ruangan. Itu bukan laboratorium, tetapi ruangan penelitian senjata biologis Kalimera. Wanita itu segera pergi dari sana, tetapi pindai di pintu keluar justru tak dapat membaca identitasnya.

Seorang penjaga menyadari itu dan mendatanginya. Pria yang berambut hitam itu memandang waspada. Ia mengeluarkan senjata laser dari sarungnya lalu ditodongkan ke arah Vintari.

“Aku negosiator negara. Kau lihat itu,” perintah Vintari pada penjaga.

Penjaga itu melihat sekilas pada monitor yang menunjukkan identitas Vintari. “Aku tahu. Tapi, negosiator negara tak diperkenankan berada di ruang penelitian. Kau menyusup, Nona.”

Vintari melakukan tendangan memutar dan mengenai senjata penjaga itu. Saat akan dibekuk, Vintari kembali melakukan perlawanan hingga lawannya tumbang. Petugas lain datang dan Vintari kembali membela diri dengan melakukan serangan balik pada penjaga kedua. Seperti sebelumnya, penjaga itu terjatuh karena terluka.

Sebuah sengatan listrik menyerang Vintari dari belakang. Wanitu merintih dan berlutut. Tubuhnya yang lemas terjatuh ke lantai. Samar-samar ia melihat Juan Daniel menghampirinya.

“Seorang negosiator menyusup ke ruang penelitian senjata bilogis dan melakukan penyerangan pada dua penjaga, negara bisa memenjarakanmu, Nona Vintari.”

Vintari merasa tubuhnya dipaksa berdiri oleh seseorang. Dengan sisa tenaga ia menatap Juan Daniel. Kepalanya pening akibat reaksi senjata yang baru saja ditembakkan padanya.

“Mengingat kau pernah berjasa pada Kalimera, kami hanya akan menghapus jabatanmu sekarang,” ujar Juan Daniel lalu mengangkat tangan kanan Vintari lalu menempelkan pada sebuah tablet.

Tablet itu membaca sidik jari Vintari. Setelah selesai, Juan Daniel menghapus data Vintari di sana. Ia melihat Vintari dengan ekspresi datar.

“Tidak,” cegah Vintari dengan lirih.

“Kau hanya warga sipil sekarang,” tutur Juan Daniel. Ia memandang penjaga yang memegangi tubuh Vintari.

“Pastikan ia kembali ke rumahnya,” perintah Juan Daniel.

“baik, Pak,” patuh pria muda itu.

Saat melewati Juan Daniel, Vintari yakin ia mendengar ucapan pria itu. Ucapaan yang tak pernah Vintari mengerti maksudnya.

“Ini demi kebaikanmu, Nak.”

****

Siraman air di wajah Duncan membuat pria itu terbangun. Belum begitu sadar, satu pukulan dari ujung senjata mengenai wajahnya. Duncan meringis kesakitan.

“Bagaimana pestamu?” tanya Jenderal Achiles yang mengintari kamar profesor itu.

Anak buahnya memeriksa kamar ini dan ditemukan banyak sisa kafein di sana. Achiles semakin muak saat melihat bekas percintaan pria itu yang pasti dengan Vintari. Ia ingin membunuh Duncan saat ini juga jika saja Duncan tak dibutuhkan negara saat ini.

“Di penawar itu?”

“Penawar apa?” kilah Duncan dan satu pukulan dari salah seorang tentara telak mengenai dadanya.

Duncan merasa begitu nyeri di ulu hatinya. Ia terbatuk-batuk dan melihat Achiles. “Aku tak tahu apa maksudmu, Jenderal.”

Kini jenderal meraih tubuh Duncan dan menghadiahkan satu pukulan pada profesor muda itu. Duncan melawan, tapi para prajurit justru melumpuhkannya. Pukulan demi pukulan Duncan terima seakan membuat kesadarannya menghilang.

“Di mana wanita itu?” tekan Achiles.

Duncan terkekeh sumbang. “Dia hilang bersama apa yang kau cari. Dia lebih hebat darimu, ‘kan?”

Amarah meranggas jenderal keji itu dan membuatnya memberikan pukulan telak pada Duncan hingga pria itu tak sadarkan diri. Achiles berdiri memandang Duncan yang bersimbah darah.

“Kita penjarakan dia?”

“Jangan,” cegah jenderal. “Biarkan dia di sini. Aku yakin dia akan menuntun kita kepada wanita yang membawa penawar itu.”

Rasa terbakar di tenggorokan membuat Duncan terjaga. Pria berambut pirang itu mengerjapkan mata dan masih mengenali ruangan di mana ia berada. Sedikit kelegaan ia rasakan saat Jenderal Achiles tak meledakkan rumahnya di kawasan Detroit City yang dekat dengan perbatasan. Biasanya ia tak peduli, akan tetapi kali ini ada secercah harapan ia ingin hidup lebih lama lagi.

Bukan untuk menjadi pribadi lebih baik tentu saja, melainkan ia masih penasaran pada sosok yang menyapa hidupnya baru-baru ini. Dalam pelariannya, Duncan tak suka pada ikatan karena hanya akan membebaninya. Setelah kematian Riyu dan Martinez, Duncan pun tak ingin menjalin pertemanan lagi. Tubuh Duncan miring ke kiri dan rasa sakit tak terkira menghantamnya. Profesor muda itu berteriak panjang.

“Kau benar-benar punya sembilan nyawa.”

Duncan menoleh pada suara yang tak asing itu. Matanya menatap pria paruh baya dengan rambut abu-abu masuk ke kamar. Ia membawa sebuah alat untuk menyuntikan serum. Duncan pasrah saat Salih Alam memberinya cairan bening ke dalam tubuhnya.

Napas Duncan mulai sesak dan ia meronta di tempat tidurnya. Cairan penyembuh luka-lukanya seakan tak dapat meredam rasa sakit pria itu. Duncan menatap langit-langit kamar dengan mata nanar. Dia menerima semua luka ini demi satu wanita. Dia sungguh tak waras.

“Setelah dapat berjalan, aku akan membawamu pulang ke Alexandria,” tutur pria itu.

Duncan mengalihkan segala rasa sakitnya dengan merespon ucapan pria itu. “Aku tidak punya rumah di sana, Paman.”

“Rupanya aku memberimu dosis terlalu banyak,” singgung Salih Alam.

“Aku tak akan pernah kembali ke sana.” Duncan menoleh ke arah Salih Alam. “Terima kasih sudah menolongku.”

“Sudah tugasku, Pangeran.”

Duncan tertawa sumbang. “Itu menggelikan.” Pria itu mencoba untuk bangkit walau setiap menggerakan badan, tubuhnya begitu ngilu. “Kadang aku berpikir, mengapa dulu kau tak memberiku racun dan malah merawatku. Kau membunuhku dengan segala cerita menjijikkan itu.”

“Saya tidak punya kuasa untuk membunuh Anda,” balas Salih Alam dengan nada santai lalu membuang semua pakaian Duncan yang kotor karena noda darah.

“Benar. Kepatuhanmu memang milik kaisar.” Posisi Duncan kini duduk di tepi ranjang dengan kaki yang menapak lantai. “Tapi, aku minta tolong. Aku ingin ke Kalimera.”

“Anda hanya akan pergi ke Alexandria. Saya sudah menyiapkan kendaraan untuk Anda. Detroit City tak akan menyadari bahwa Anda keluar dari negeri ini sebagai Pangeran Negeri Alexandria.”

Duncan mendengkus bosan. “Aku ingin kau merawat dan membawaku ke Kalimera. Jika tidak, aku bisa melakukannya sendiri.”

Kaki Duncan mulai memijak lantai. Kesulitan, ia mulai berdiri. Hanya beberapa detik kaki Duncan menopang tubuh sebelum ia jatuh dengan keras di atas lantai. Duncan mengerang dan mengulurkan tangan pada pria yang sejak kecil merawatnya.

“Lakukan saja sendiri,” tutur Salih Alam lalu melenggang pergi.

Umpatan keluar dari mulut Duncan dan terus memanggil pria paruh baya itu. “Aku akan pulang ke Alexandria setelah dari Kalimera.”

Langkah Salih Alam terhenti, tapi ia masih belum membalikkan badan.

“Aku akan menyelesaikan urusanku di sana lalu menyerahkan diri ke kaisar. Aku bersedia digantung olehnya.”

Salih Alam berbalik badan dan mengulas senyum pada pemuda tampan yang ia sayangi layaknya putra sendiri. “Kaisar akan memberimu tahta, bukan menghukummu, Nak.”

****

Dua malam berlalu dan Vintari berduka di rumah futuristiknya. Banyak rasa yang bergelut dalam sanubarinya. Ia kecewa pada negara tempatnya mengabdi. Ia bersalah pada Dean karena tak mendengar nasihat pria itu untuk berhenti bertindak heroik.

Ketakutan adalah rasa yang mendominasi. Selama wanita itu menjadi negosiator negara, beberapa kali ia ditodong senjata oleh pemberontak. Maut di hadapannya, ia sambut dengan senyum. Namun kali ini, ia enggan merasa sendiri.

Dean memberi kenyamanan di tengah kegundahan dalam hidup Vintari. Wanita itu baru menyadari jika Dean pelengkap hidupnya walau Vintari tak pernah merasa cinta. Tiap malam wanita itu berharap, Dean kembali ke rumah ini dan mereka memulai hidup yang baru.

Hari keempat, Vintari terkejut mendengar speaker pemberitahuan bahwa seseorang akan masuk rumahnya. Rumah yang menyerupai apartemen di bulan, hanya akan memberi infromasi tentang penghuni rumah tersebut. Di sini, hanya Vintari dan Dean yang terdaftar dan boleh masuk.

Langkah perlahan Vintari menuju pintu depan. Jantungnya seakan melompat keluar saat Dean masuk dengan berpakaian seragam lengkap. Di tangannya ada satu kotak yang berisi dua botol sampanye dalam bentuk serum.

“Aku sudah pulang,” kata Dean, layaknya ia pulang dari peperangan besar.

“Dean!” jerit Vintari lalu berhambur ke arah pelukan pria berseragam itu.

Dean terkekeh sambil mengangkat tubuh Vintari. Ia memutar wanitanya sebentar sebelum mengelus punggung Vintari yang bergetar karena menangis.

“Apa yang kulewatkan?” tanya Dean dalam posisi berdiri.

Kedua kaki Vintari melingkar di kedua pinggang sang prajurit sedangkan tangannya tak melepas leher Dean untuk dipeluknya. “Aku kira kau sudah mati.”

Dean tertawa lagi. “Aku hanya rela mati untukmu.”

Vintari memukul bahu sahabatnya. “Jangan bicara seperti itu.”

“Aku tahu kau menyayangiku,” kekeh Dean lalu membawa tubuh wanita itu ke kamar utama.

Perlahan Dean merebahkan tubuh Vintari, tetapi wanita itu seperti menempel padanya. Dean pun merebahkan tubuhnya bersamaan dengan Vintari. Pada posisi miring dan saling berhadapan. Dean menangkup wajah Vintari.

“Apa yang terjadi padamu? Kau tampak tak sehat. Padahal aku mendengar laporan kau tak terjangkit virus.”

Vintari mengatur napasnya. “Aku ketakutan sekali sejak kau dirawat Dean. Negara semakin kacau. Aku pernah membesukmu, aku justru diserang orang.”

Mata Dean melebar. “tapi, kau tak apa-apa, ‘kan?”

“Mereka meninggalkan luka,” adu Vintari. Vintari melepas pakaiannya. Ia menunjukkan bekas luka sayatan yang tak benar-benar hilang.

“Ya Tuhan,” ucap Dean. Tangan kanannya menyentuh pelan bekas luka itu. Wajah Dean tertunduk hingga berjarak beberapa centi dari luka Vintari.

“Maafkan aku. Aku tak akan pernah pergi hingga membuatmu terluka seperti ini,” lirih Dean sebelum memberi kecupan ringan di atas bekas luka itu.

Cerita Dewasa Ngentot - Hasrat Tersembunyi Negosiator di Penjara Jenderal Kejam
Lembutnya bibir Dean dan hangat napas pria itu membuat lenguhan Vintari terdengar. Kedua tangan wanita itu terulur dan menyisir rambut cokelat Dean dengan jemarinya. Wajah Dean mendongak, memandang wanita yang sering kali bermain-main di kepalanya.

“Aku merindukanmu,” aku Dean dengan suara serak.

“Dean,” desah Vintari.

Pria itu menegakkan tubuhnya dan Vintari menarik tubuh Dean hingga mereka saling berdekatan. Tangan Vintari menangkup wajah Dean dan mencium bibir tebal pria itu. Dean seperti diberi izin, ia membalas ciuman wanita itu dengan panas dan dalam. Tubuh Vintari merasa gemetar saat tangan besar Dean meraba perut telanjangnya, terus mengelus punggung, hingga memberi remasan ringan di payudaranya.

Dean mengakhiri ciuman mereka. Pria itu meloloskan Vintari dari pakaiannya yang tersisa. Menoleh ke arah kiri, Dean mengambil serum yang ia bawa, menyiapkannya dengan alat seperti pistol lalu tersenyum ke arah Vintari. “Kau cantik sekali.”

“Berikan padaku,” mohon Vintari.

Vintari terkekeh saat Dean menyuntukan serum itu di bawah lengannya. Wanita itu mengerang saat reaksi sampanye itu menginvasi tubuhnya. Ia menjerit kecil saat sedang menikmati sampanye, Dean menciumi tiap jengak tubuhnya. Dean melepas seragamnya hingga ia tanpa busana. Mata Dean tak lepas dari Vintari yang telanjang di atas tempat tidur dan melenguh manja karena sensasi serum sampanye.

“Biar aku,” rengek Vintari saat melihat satu serum lagi untuk Dean konsumsi.

Dean menyeringai lalu bergabung dengan wanita itu di ranjang. Rasanya tak perlu serum itu karena Dean sudah pasti akan mabuk saat bercinta dengan Vintari. Pria itu menurut saat Vintari mendorongnya agar berbaring telentang. Vintari tertawa senang dan duduk mengangkangi pria itu.

“Vintari, kau tau aku bisa hilang kendali dengan ini,” cegah Dean saat Vintari akan menyuntikkan serum itu ke leher Dean.

Senyum Vintari semakin mengembang dan matanya menatap nakal. “Aku selalu suka saat kau hilang kendali. Aku menikmati setiap kali kau mendominasiku,” tuturnya sensual.

Vintari segera menyuntikkan serum itu ke leher Dean. Rasa panas yang mengalir di setiap sendi Dean karena rekasi sampanye membuat pria itu mengerang. Ngocoks.com

Melihat Dean yang sedang masa nikmatnya, Vintari menyerang pria itu dengan ciuman-ciuman di sekujur tubuh atletis Dean. Sang prajurit semakin terbakar oleh hasrat. Ia menggelinjang saat Vintari memainkan area pribadi pria itu. Lenguhan Dean terdengar saat miliknya yang tegak menantang, tenggelam perlahan di mulut Vintari.

Tangan Dean terulur untuk menggapai kepala Vintari. Namun, ia seakan tak bertenaga karena wanita itu memegang kuasa. Dean merasa akan meledak saat lidah Vintari menjilat-jilat miliknya dengan raut menggoda. Bibir merah wanita itu mengisapnya dengan kuat dan Dean semakin frustrasi saja.

“Cukup,” perintah Dean, tapi Vintari tak peduli.

Pria itu mendorong pelan kepala Vintari dan erangan protes wanita itu terdengar. Dean kini menindih tubuh Vintari yang ia rebahkan. Tangan Dean menahan kedua tangan Vintari di atas kepala wanita itu. “Kau tahu akan berakhir seperti ini.”

“Lakukan saja,” balas Vintari menantang.

Dean memposisikan diri lalu membenamkan miliknya di liang hangat Vintari. Pria itu mencium lembut wanitanya sebelum bergerak cepat untuk menggapai kepuasan. Vintari mengerang dan menggelinjang saat Dean menghujamnya kian kasar. Ia serambi lempitik saat persetubuhan mereka semakin tak terkendali.

Deru napas berlomba dengan erangan erotis. Keduanya semakin berkejaran mencari puncaknya. Hingga bersama, mereka tenggelam dalam puas yang tak berujung.

Dalam pengaruh serum sampanye yang memabukkan Dean tak akan berhenti mencari kepuasan dari tubuh Vintari. Pria seolah akan berhenti jika Vintari jatuh pingsan. Mereka tak melakukannya sekali sampai Vintari terisak karena kelelahan. Dean menoleh ke arah wanita yang tidur lelap di sampingnya. Aroma seks masih tercium dan Dean bahkan enggan bergerak menjauh karena merasa kakinya lumpuh dihajar orgasme.

Penyeranta Dean berbunyi. Dahinya berkerut saat alat itu menunjukkan aktivitas sekseual tubuhnya yang berlebih. Semua prajurit di kalimera, terpantau segala reaksi tubuhnya. Namun, Dean tak mengerti. Ia seperti diberi warning oleh negara karena telah melewati batas. Padahal tak ada batasan jika dengan pasangan yang terdaftar.

Dean duduk di tepi ranjang dan menyentuh ibu jarinya di layar alat persegi itu untuk dipindai. Alat itu menunjukkan tentang data diri Dean dan segala catatan kesehatannya. Dia pulih dari virus, tetapi mengaa ia mendapat peringatan?

Ia menoleh ke arah wanita yang tanpa busana di sampingnya. Tangan Dean menarik pelan tangan Vintari. Ia ragu jika tubuh Vintari yang bermasalah. Untuk mengenyahkan pikiran buruknya, Dean membawa tangan Vintari untuk dipindai. Pria itu penasaran dengan apa yang terjadi pada Vintari.

Bersambung… Vintari mengerang dan menarik tangannya dari genggaman Dean. Pria itu lekas menaruh penyerantanya di samping tempat tidur. Tangan Dean membelai lembut rambut Vintari yamg kusut. “Maaf, aku membangunkanmu,” sesal Dean berbisik.

Mata Vintari terbuka dan memandang pria tampan yang ia kenal sepanjang hidupnya. “Ada apa?”

Dean mengubah posisi duduknya sehingga menghadap ke arah Vintari yang berbaring tengkurap. “Aku mendapat peringatan dari negara. Apa aku menyakitimu?” Dean menundukkan badannya dan menangkup pipi Vintari.

“Apa maksudmu?” tanya Vintari yamg kini berbaring miring. Dada telanjangnya dapat Dean lihat seutuhnya.

Bahu Dean naik. “Kau tahu, mereka mengontrol kami sepenuhnya. Reaksi tubuhku bisa terbaca. Kali ini, aku semacam melanggar aturan.”

Tak menunggu Dean menyelesaikan ucapannya, amarah sudah meranggas diri Vintari. Ia mengingat bagaimana perlakuan negara pada wanita itu setelah ia berhasil mencuri serum. Vintari memang tak pernah suka jika Dean membahas tentang hal-hal yang berbau militer. Ditambah hal buruk yang Vintari alami, ia seperti ingin pindah negara saja.

“Berhentilah menjelaskannya. Aku muak setiap kali kau menjelaskan tugasmu,” ketus Vintari sambil beranjak dari ranjang.

“Apa yang kau bicarakan? Aku menjadi prajurit tidaklah sebentar. Kau tahu aku ingin mengabdi pada negara. Hormatilah Kalimera karena kau tinggal di dalamnya. Aku juga akan marah jika sikapmu terus-terusan seperti memusuhi negara,” tegur Dean yang kini berdiri tegak memandang tubuh polos Vintari yang berjalan ke arah kamar mandi.

Langkah Vintari berhenti di depan kamar mandi. Dia berbalik badan dan menatap Dean yang tak mengenakan busana. “Lihat apa yang negara lakukan padamu.”

“Virus D3V4 bukan salah Kalimera. Aku beruntung karena mereka memberiku penawarannya hingga aku bisa pulang.”

“Mereka ….” Vintari tak mungkin mengatakan yang sebenarnya, walau hati kecilnya berteriak, penawar itu didapatkan atas usaha Vintari.

“Aku ingin mandi, Dean. Kau boleh bergabung denganku jika kau mau,” ujar Vintari lalu masuk ke kamar mandi.

Dean mengumpat pelan. Negara yang mengatur fungsi tubuh para prajuritnya, bukanlah omong kosong belaka. Para prajurit dimonitor sedemikian rupa agar fisik juga pikirannya selalu terjaga. Tentara adalah aset negara.

Mereka tak akan membiarkan orang-orang seperti Dean melakukan hal buruk yamg berakibat fatal. Kedua tangan Dean meremas rambutnya. Ia tak mengerti mengapa dirinya dibatasi saat menyentuh Vintari. Vintari pasangannya resminya.

Semua pemikiran Dean menguap saat panggilan Vintari akan namanya, mengudara diiringi suara gemericik air. Ia ingin masuk ke dalam, tetapi hatinya meneriakkan sebaliknya. Logika pria itu membeku saat ingatan bagaimana nikmatnya tubuh wanita itu berkelebat. Dean melangkah masuk ke kamar mandi dan bergabung dengan Vintari.

Hasrat keduanya tak lagi terbendung dan bercinta lagi di bawah siraman air hangat. Tak berhenti di kamar mandi, Vintari masih menginginkan kepuasan dari tubuh Dean dan mereka mengadu gairah lagi dan lagi hingga tengah hari.

Dean terbangun saat perutnya merasa lapar. Ia berjalan keluar kamar menuju ke ruang penyimpanan gizi. Di dalam lemari pendingin, ia mengambil pil lalu segera dilahapnya sebagai makan siang. Dean menyiapkan serum makan siang untuk Vintari dan kembali ke kamar.

Saat akan membangunkan Vintari, Dean kembali mendapat pesan dari penyeranta. Ia segera menghidupkan layar untuk komunikasi. Setelah menekan beberapa angka, muncul pesan di layar tentang pelanggaran yang Dean lakukan. Pria itu segera memakai pakaian sebelum menghubungi kantor pusat.

Dean mencoba menelepon, tetapi jaringan sibuk. Ia tak sabar dan mengirim beberapa masalahnya ke pusat untuk diatasi. Mengejutkan, jawaban dari laporannya sama, ia melakukan pelanggaran. Ngocoks.com

“Dean,” panggil Vintari dari atas ranjang.

“Sebentar. Aku urus di sini dulu.”

Vintari bangun dengan tubuh pegal. “Dean, kembali ke sini,” perintah Vintari.

Pria itu masih sibuk membaca layar dan Vintari mendengkus kesal. Ia beranjak dan berjalan ke arah Dean tanpa sehelai benang di tubuhnya. Wanita itu duduk di atas pangkuan Dean lalu memberikan ciuman di seluruh wajah pria itu.

Sementara Dean yang kesal karena diganggu, segera menyuntikan nutrisi ke tubuh Vintari. Lenguhan Vintari terdengar dan ia merebahkan kepalanya di lekuk leher Dean. Serum makanan akan terasa menenangkan sebelum menimbulkan reaksi kenyang.

“Kau kenyang?” tanya Dean yang kini menatap wajah Vintari. Tubuh wanita itu menempel pada tubuhnya.

Kepala Vintari mengangguk sebelum menyembunyikan wajah di lekuk leher Dean. Posisi itu membuat Dean mudah meraih tangan Vintari dan meletakkan ibu jarinya di alat pindai.

Menyadari perilaku Dean, Vintari menegakkan tubuhnya. “Apa yang kau lakukan?”tanya Vintari waspada

“Aku hanya memastikan,” jawab Dean. Kini pria itu terkejut bukan main dengan hasil yang terlihat di layar monitor.

“Mengapa begini?” tanya Dean yang tak jelas ditujukan untuk siapa. Sedangkan Vintari mulai merasakan napasnya tercekat.

“Kau hanya warga sipil dan … tak berpasangan denganku. Apa yang terjadi.”

Dean membawa tubuh telanjang Vintari hingga mereka kini berdiri berhadapan. “Kau berhutang penjelasan.”

Mata Vintari menoleh ke segala arah, menghindari tatapan menyelidik dari Dean. “Mereka memaksaku.”

“Siapa?”

Vintari memalingkan wajahnya.

“Vintari!”hardik Dean yang mulai tak sabar.

“Kau sedang koma. Orang-orang itu menyerangku dan saat aku terbangun, aku berada di tempat mereka … orang-orang dari negara. Mereka memintaku untuk mencuri serum dari seseorang di Detroit City.”

Dean menggeleng tak percaya. “Kau negosiator terkemuka. Ini semua karanganmu.”

“Aku mengatakan yang sebenarnya,” tegas Vintari.

Hati wanita itu bagai disetrum dengan aliran listrik ribuan volt saat mengingat perjalanannya untuk mendapatkan serum. “Aku mencuri dari seorang profesor di Detroit City. Aku menyusup sebagai imigran.”

“Dia … profesor itu … bagaimana caramu mendapatkannya?”

“Aku menemuinya. Aku imigran … lalu mencurinya.”

Dean mendekati wanita yang tubuhnya terlihat gemetaran. “Katakan padaku. Apa kau menidurinya?”

“Aku mencuri serumnya. Dia seharusnya kubunuh, tetapi tidak,” racau Vintari.

“Dia menyentuhmu?!”tanya Dean dengan nada tinggi.

Vintari terkejut dan seketika merasa kaku. “Aku … maaf.”

Umpatan Dean terdengar dan ia berteriak keras.

“Aku tak bisa melihatmu mati, Dean,” erang Vintari.

“Kau sudah membunuhku dengan menjadi milik orang lain,” balas Dean.

Mata Vintari menatap pria yang ia anggap kakak, sahabat, bahkan pasangan. “Ap-apa maksudnya?”

“Aku ingin memilikimu secara utuh. Itu sebabnya aku ingin menjadikanmu istri. Tapi kau memintaku hanya sebagai pasangan. Aku bertahan hanya agar kau tak pergi dariku.”

“Dean, aku ….”

“Bukan begini caramu menolakku.”

Vintari menangkup wajah dengan kedua tangannya. Ia tak menyangka Dean mengutarakan perasaannya. Selama ini Vintari menganggap mereka dapat terus bersama tanpa perlu saling melibatkan perasaan. Ternyata Dean memendam cinta untuknya.

“Aku mendapat peringatan karena menyentuhmu … yang bukan pasanganku.” Dean mendekat ke arah Vintari. “Dan karena perbuatanmu, Detroit City menyatakan perang terhadap Kalimera.”

Vintari ternganga. Seharusnya ia mengantisipasi ini saat jenderal menatapnya di kediaman Riyu dan Martinez. Dia memang seegois itu karena tak memikirkan Kalimera dan hanya mementingkan Dean saja.

“Aku mendapat tugas, Vintari. Barisan perisai untuk perang antariksa,” tutur Dean sambil melewati wanita itu.

Vintari bagai kehilangan napasnya. Perang antariksa adalah perang di atas planet hingga tak mengganggu warga sipil suatu negara.

Namun, menempatkan seseorang di barisan perisai sama saja membunuhnya karena perisai adalah penahan serangan. Tubuh Vintari luruh ke lantai karena begitu lemas. Usahanya menyelamatkan Dean justru mengantarkan pria itu ke gerbang maut.

Bersambung… Vintari menoleh ke arah sahabatnya yang sedang berpakaian. Isakan wanita itu terdengar di ruang kamar mereka. Wanita itu terus meratap hingga Dean selesai memakai seragam lengkap dan berjalan ke arah Vintari. Kedua tangan Dean membimbing wanita itu untuk berdiri. “Jaga dirimu saat tidak ada aku,” pesan Dean.

Kepala Vintari menggeleng. “Ayo, kita pergi dari sini, Dean. Kita bisa pergi ke bumi.”

Senyum sinis Dean tersungging. “Bumi sudah seperti neraka. Aku tidak akan membiarkanmu mati di sana.”

“Aku juga tak ingin kau mati sia-sia.”

“Aku tidak mati sia-sia. Aku membela negara.”

“Mereka menjadikanmu tameng. Kau masih mau membelanya?” tekan Vintari.

Dean menghela napasnya. Ia melihat tubuh telanjang Vintari lalu mengambil sehelai selimut. Pria itu menutup tubuh Vintari lalu memeluknya.

“Lakukan demi aku,” mohon Vintari.

“Kau dan Kalimera berbeda.” Dean mulai gelisah. “Aku pergi.”

“Dean,” cegah Vintari.

Pria itu tak menghentikan langkah dan terus keluar ruangan. Sementara Vintari mengejar dan menahan lengan Dean walau pria itu menepisnya.

“Dean, aku begitu menyayangimu. Jangan pergi. Aku melakukan semua ini demi kau. Kau satu-satunya orang yang kumiliki. Tak ada yang boleh mengambilmu termasuk Kalimera. Aku akan menantang dunia agar kau tak pergi.”

Langkah Dean terhenti. Tubuhnya menoleh ke arah Vintari. Tangan kiri Dean menghapus air mata yang berlinang di pipi wanita itu.

“Aku sedang melakukan hal yang sama denganmu. Menjadi perisai bagi musuh yang menyerang Kalimera, tempat teraman untukmu.”

Dean meraih pinggang Vintari. Tangan kanannya membelai wajah cantik yang mungkin tak akan ia lihat lagi. Wajah Dean mendekat lalu mengecup pelan bibir Vintari. Tangan wanita itu melingkar di leher Dean.

Membalas ciuman Dean yang terasa bagai lara yang menyiksa raga. Erangan Vintari lolos karena semuanya terasa salah. Ia tak pernah siap berpisah dengan pria yang ia kenal seumur hidupnya.

“Dean,” erang Vintari saat pria itu memaksa melepaskan tangan Vintari dari lehernya.

Dean pergi begitu saja tanpa memedulikan panggilan dan isak pilu Vintari. Ia tahu takdirnya akan seperti ini saat memilih menjadi prajurit negara Kalimera. Saat itu Dean rela mengorbankan jiwa dan raganya. Hanya saja, saat ini ia berat meninggalkan wanita yang diam-diam ia cinta.

Sementara rasa tak berdaya meranggas jiwa Vintari. Wanita itu jatuh terduduk dan merebahkan dirinya di lantai dengan sedu sedan yang enggan berlalu. Seumur hidup, Vintari tak pernah melihat rupa orangtuanya.

Ia diasuh oleh ayah Dean dan mereka harus hidup sebatang kara karena pria itu meninggal saat Vintari juga Dean berusia delapan tahun. Mereka diasuh oleh negara dan dididik dengan patriotisme tinggi.

Dean akhirnya tetap memilih sebagai abdi negara sementara Vintari membangkang. Ia ingin lepas dari aturan yang mengikat walau akhirnya harus cukup puas menjadi negosiator negara.

Kini tanpa Dean, Vintari tak merasa punya kehidupan lagi. Wanita itu segera duduk dan membulatkan tekadnya untuk menyelamatkan Dean hingga titik darah terakhir.

Setelah menjadi warga sipil, Vintari tak serta merta punya wewenang untuk masuk ke istana negara. Akan tetapi, sebagai salah satu negosiator negara, Vintari tahu bagaimana caranya menghubungi presiden Kalimera secara langsung. Wanita itu mendapat kesempatan untuk bertemu Presiden Orion meski hanya lima menit.

“Terima kasih sudah menemuiku,” ucap Vintari saat memasuki ruangan berwarna krem dan salah sisi gedungnya terbuat dari kaca. Pemandangan yang disuguhkan adalah langit kelam tanpa bintang.

“Waktumu hanya lima menit. Manfaatkan dengan sebaik-baiknya,” ujar Presiden Orion dengan raut wajah dingin.

“Aku kemari untuk meminta pengampunan bagi Dean. Ia ditugaskan sebagai perisai dalam pertempuran.”

Presiden wanita itu tersenyum sinis. “Apa yang membuatmu berpikir jika aku akan memberikan pengampunan semudah itu?”

Amarah Vintari terpancing saat melihat sikap angkuh sang presiden. “Jangan lupa, aku adalah orang yang mendapatkan penawar virus itu. Ilmuwan di negara ini hanya mengembangkan dan menyebarkannya lewat udara, agar warga yang terserang dapat menghirup untuk kesembuhannya. Aku yang berjasa dan aku ingin keselamatan Dean untuk balas jasaku itu.”

Presiden Orion mencibir. “Kau pikir tugasmu mulia?” Wanita berambut cokelat terang itu bangkit. “Juan Daniel bekerja tanpa sepengetahuanku. Cara yang ia lakukan justru membahayakan Kalimera. Jenderal dari Detroit City menyerang negara kita.”

“Masih untung, kau tidak dihukum,” tekan Orion.

Vintari turut berdiri menghadap presiden. “Aku yang membuat misi menjadi tak sempurna. Aku rela dihukum, asal Dean dibebastugaskan.”

“Bicara apa kau?! Warga sipil sepertimu begitu lancang mencampuri urusan negara.” Tangan Orion terlipat di depan dada. “Pergilah. Aku masih banyak urusan.”

“Orion,” panggil Vintari lalu mendekat ke arah sang presiden, “Dia satu-satunya orang yang kumiliki. Aku tak bisa kehilangan dia.”

“Begitu egois,” umpat Orion. “Seharusnya kau malu. Dean mengabdi kepada negara dengan merelakan seluruh hidupnya. Bukan cuma dia, kami semua sedang sibuk menghadapi peperangan. Tapi kau, berisik karena kepentingan pribadi.”

“Pembicaraan ini kuanggap tak pernah terjadi. Jadilah warga negara yang baik dengan tidak memperkeruh keadaan yang sedang genting,” ancam Orion lalu meninggalkan Vintari.

Seorang penjaga mempersilakan wanita itu untuk meninggalkan istana. Vintari berjalan pelan dengan pikiran yang berkecamuk. Apalagi yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan Dean? Ketika ia akan memasuki lift yang digunakan sebagai kendaraan, seseorang yang ia kenali berdiri di sana.

“Ikut bersamaku, Nona Vintari,” ajak Juan Daniel.

Vintari mencibir. “Aku hanya warga sipil. Tidak menerima perintah dari penasihat negara … yang sudah dipecat.”

Juan Daniel menarik lengan Vintari dan memaksanya masuk ke dalam lift. Pria itu menekan tombol dan menentukan tujuan yang berbeda dengan tujuan Vintari. Sontak Vintari melakukan perlawanan pada Juan Daniel di tempat sempit itu. Vintari memukul beberapa bagian tubuh pria paruh baya itu dan baru berhenti saat Juan Daniel menodongkan senjata laser padanya.

“Aku bisa menyelamatkan temanmu,” ujar Juan Daniel.

Vintari tertawa sinis. “Aku tak akan tertipu lagi,” balas wanita itu lalu menendang tangan Juan Daniel.

Senjata dari tangan pria itu terlepas dan Vintari mengambil alih. Wanita itu menodongkan senjata pada Juan Daniel dan pria paruh baya itu mengangkat tangan.

“Itu pistol sidik jari. Kau tak akan bisa menggunakannya,” ucap Juan Daniel.

“Aku tahu,” potong Vintari, lalu menekan tombol untuk memilih destinasinya sendiri.

“Aku menugaskanmu untuk mencuri serum dan membunuh profesor itu. Tapi tidak kau lakukan. Jenderal Achilles menemukan profesor Duncan dan ia pasti mengadukanmu sehingga Detroit City menyerang Kalimera. Semua kekacauan ini karena ulahmu,” tekan Juan Daniel.

Vintari tak menyanggahnya karena yang terjadi di Kalimera lebih buruk dari dugaan pria itu. Jenderal Achilles lebih dulu mencurigai Vintari saat pertemuan mereka di rumah Riyu dan Martinez. Membunuh Duncan atau tidak, misi itu sudah pasti diketahui oleh jenderal Detroit City. Itulah yang Vintari yakini. Ia menolak perasaan lain pada Duncan hingga enggan membunuh pria itu.

Saat mereka sampai di tempat tujuan Vintari, Juan Daniel berkata lagi, “Jenderal Achilles memiliki permintaan konyol terhadap Kalimera. Ia akan membatalkan penyerang jika Orion bersedia menikah dengannya. Jika itu terjadi, Kalimera berada di bawah kekuasaan Jenderal.”

Langkah Juan Daniel mendekati Vintari saat lift itu terbuka. “Kau bisa menghentikan ini dengan membunuh Jenderal. Temanmu akan kupanggil pulang dari perang antariksa.” Ngocoks.com

Vintari ingin tertawa. Ia seperti anak kecil yang dibodohi. Jenderal Achilles adalah pria kejam yang menguasai bela diri dan taktik perang brilian. Vintari hanya seorang wanita mantan negosiator negara. Yang ada, dirinya nanti yang dihabisi sang jenderal.

Wanita itu memukul Juan Daniel dengan pistol di tangannya. Pukulan yang lumayan keras itu menumbangkan Juan Daniel seketika. Dengan tanpa perasaan tak bersalah, Vintari meninggalkan pria itu begitu saja. Ia bahkan tak peduli jika Kalimera memenjarakan dirinya.

Tak ada yang Vintari lakukan lagi selain berharap keajaiban terjadi. Setiap saat ia memantau perang di antariksa yang disiarkan oleh negara. Di atas sana, Dean sedang berjuang membela negara dengan menahan serangan musuh.

Vintari menatap langit dengan hati yang tercabik. Dean sedang dibantai di sana. Jika Kalimera menang nanti, akankah ia menikmati kemerdekaan yang ia peroleh dari pengorbanan Dean?

Hari kedua perang, beberapa kapal dilaporkan tumbang dan nama-nama prajurit gugur mulai diberitakan. Vintari merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ia bahkan berpikir bagaimana cara mengakhiri hidupnya jika nama Dean terpampang di sana.

Saat hari ketiga, kondisi mental Vintari semakin parah. Ia telah menentukan perjalanan ke bumi secara ilegal. Ia mungkin akan mati ditembak manusia bumi karena kapal asing tak diizinkan masuk ke bumi. Namun jika ia lolos, setidaknya Vintari akan memulai kehidupan baru di bumi karena ia tak akan dapat bertahan tanpa Dean di sini.

Langit petang dan ketakutan Vintari membayang. Negara kembali mengumumkan berita buruk. Banyak armada kapal Kalimera yang hancur karena kalah perang. Jika ini terjadi, negara terpaksa tunduk pada Detroit City. Satu nama prajurit gugur membuat Vintari berhenti menghirup udara. Dean dinyatakan gugur karena kapal perangnya ditembak hancur.

Vintari merasakan kekuatan asing mengambil alih raganya hingga ia jatuh dengan lemas di lantai. Berkelebat segala kenangan wanita itu bersama Dean. Ia mendengar tawa pria itu, teriakannya, bahkan suara Dean memanggil namanya.

Tiba-tiba Vintari bagai melihat api besar dan jerit kesakitan Dean. Vintari membuka mulut tapi suaranya seakan terenggut. Matanya begitu perih dan bulir bening itu memaksa keluar. Seluruh tubuh Vintari terasa pedih bagai dibakar api yang sama membunuh Dean.

“Dean,” bisik Vintari saat merasa kesadarannya menipis.

Bersambung… Mata seorang wanita berbinar pada grafik yang terpampang di layar datar di hadapannya. Senyum liciknya tersungging hingga tawa kecilnya tedengar. Naypa—nama wanita itu—menoleh ke arah pria yang ia kagumi belakangan ini. “Dev, kita berhasil. Aku … kita sudah menyebarkan banyak virus di beberapa negara. Para pengonsumsi kafein itu akan sirna dari muka bulan ini.” Ia menghela napas lega. “Akhirnya bulan perlahan bersih dari perilaku manusia tak beradab yang memuja kafein sebagai kesenangan belaka.”

“Kita berlaku benar, ‘kan?” Ada ragu terbesit pada diri Naypa. Akan tetapi, minatnya untuk mendapatkan perhatian Devos jauh lebih besar sampai ia kehilangan akal sehatnya. Rela kehilangan teman-teman dan melanggar aturan negara dengan membunuh para penikmat kafein yang berlebih.

Devos—pria berusia dua puluh enam tahun yang telah kehilangan istrinya itu—memandang Naypa. “Tentu kau sudah berbuat benar. Satu-satunya kesalahanmu adalah mengabdi pada Jenderal.”

Wajah Naypa tertunduk saat diingatkan pada masa lalunya. Saat di mana wanita itu begitu memuja Jenderal Achilles dan patuh dengan segala kebijakannya. Sayang, Naypa harus menelan kecewa karena keinginannya untuk diperistri sang jenderal dari Detroit City pupus karena Naypa hanya dianggap sebatas pengabdi negara.

Ketika Naypa terpuruk karena penolakan pria junjungannya, datang seorang Devos, penjual nutrisi yang juga depresi karena usahanya tak laku. Warga bulan lebih menginginkan nutrisi dengan kandungan kafein yang nikmat untuk dikonsumsi.

Sementara produk Devos yang tak mengandung kafein, jarang sekali diminati. Devos dendam dan bertekad menghancurkan siapa pun yang tak sejalan dengan pemikirannya.

Devos dapat mewujudkan keinginan liciknya dengan memperdaya Naypa. Wanita itu dapat dengan mudah merekrut beberapa orang yang bersedia mengabdi pada Devos. Orang-orang yang tak mengerti penuh tentang hukum, dibujuk Devos dengan ajaran-ajaran yang menentang pemerintahan.

“Sepertiga rakyat Kalimera terinfeksi virus. Aku belum mendapat laporan dari orang kita di Detroit City, Panama, dan negara-negara lain. Tapi, aku sudah cukup puas dengan hasilnya.” Naypa mendekati Devos dan menyentuh pundak pria itu. “Kau tak akan meninggalkanku, ‘kan, Dev? Aku melakukan semuanya untukmu.”

“Itu tergantung seberapa setianya dirimu,” balas Devos.

Naypa tersenyum mengerti. Ia mendaratkan kecupan di bibir Devos. Pria ini, meski Naypa telah tahu bahwa ia memiliki istri, Naypa rela menjadi pasangan tak resmi.

Naypa memperdalam ciumannya saat tangan Devos meremas bokong wanita itu. Naypa bahkan masih membayangkan Achilles yang menyentuhnya saat bersama Devos.

“Dev, kau ingin sekarang?” tawar Naypa saat hasratnya membara.

“Aku lelah,” tolak Devos.

Naypa memberengut kesal. “Kau mengonsumsi kafein? Kau tahu itu berbahaya.”

“Aku mengonsumsi kafein hanya untuk menguji virusku. Kau tau, ‘kan?”

Ketika Naypa akan berkata lagi, sebuah ledakan terdengar. Pintu di ruang kerja Devos dijebol oleh beberapa tentara berseragam. Devos melakukan perlawanan dan salah satu tentara menembakkan sinar laser padanya. Devos berhasil menghindar dan membawa tubuh Naypa sebagai perisainya.

“Dev, apa yang kau lakukan?!” jerit Naypa ketakutan.

“Kau harus melindungiku,” perintah Devos sambil membawa tubuh Naypa untuk kabur dari serangan sinar laser yang membakar kulit mereka.

Di pintu darurat yang biasa Devos gunakan untuk kabur, muncul tentara lain yang mengayunkan senjatanya. Sebuah pukulan dari senjata laras panjang mengenai kening Naypa hingga wanita itu jatuh tersungkur. Erangan Naypa terdengar dan ia mengulurkan tangan ke arah Devos.

“Dev … tolong aku, Dev. Jangan tinggalkan aku,” rintih Naypa.

Devos mengabaikan Naypa lalu menyerang tentara Detroit City dengan tangan kosong. Perkelahian mereka berlangsung beberapa menit sampai tentara itu terjatuh karena Naypa menyabet kakinya dengan pisau.

Seorang tentara lain memukul kepala Naypa hingga wanita itu jatuh bersimbah darah. Mata Naypa buram menatap kepergian Devos yang enggan menolongnya.

“Bawa dia,” perintah seorang prajurit ke temannya.

Tubuh Naypa dibawa salah seorang prajurit Detroit City untuk diadili. Sementara beberapa tentara yang mengejar Devos harus melumpuhkan kaki pria itu dengan tembakan listrik yang menyakitkan. Devos pun berhasil diringkus dan dibawa ke penjara Detroit City.

Setiap negara memiliki kebijakan yang berbeda dalam pengaturan hukum pidana. Kalimera dan beberapa negara di bulan memberlakukan hukum penjara untuk kesalahan pertama, sedangkan kesalahan kedua adalah pengasingan.

Berbeda dengan hukuman di negara Detroit City yang berbasis militer. Kesalahan sekecil apa pun dapat segera diketahui dan ketika seorang warga Detroit City atau siapa pun bersalah pada negara, hukumannya bukan kematian melainkan siksaan. Tak ada yang berani melawan sang jenderal karena siksaannya lebih buruk dari kematian itu sendiri.

Sebuah lorong lembab dan berhawa panas dilalui oleh langkah Jenderal Achilles dan beberapa prajurit yang berjalan di belakangnya.

Aura dingin dari sang jenderal menambah mencekamnya lorong yang menuju ruang penyiksaan itu. Suara rintihan wanita terdengar. Seorang prajurit membuka pintu otomatis dengan sebuah kode. Saat Jenderal Achilles masuk, tercium aroma tak sedap dari ruangan itu.

Jenderal Achilles menatap wanita yang duduk diikat sebuah sabuk penghantar aliras listrik. Wanita itu memiliki luka di beberapa bagian tubuhnya. Darah yang mengering menghias kening hingga pipinya. Air mata wanita itu berlinang karena menahan sakit.

“Kau masih ingin melindungi beberapa kawanmu?” tanya Achilles dengan wajah datarnya.

Suara itu bagai penyejuk bagi Naypa. Ia mengangkat wajah dan melihat pria yang ia cintai. Seberkas rasa benci menyeruak. “Aku lebih baik mati,” ketus Naypa.

Kalimat itu terdengar bagai lelucon di telinga sang jenderal. “Setiap tahanan di Detroit City memohon padaku untuk kematian mereka,” Tubuh Achilles menunduk ke arah Naypa, “Tapi kau tahu, aku tak pernah berbuat baik kepada para pengacau.”

“Kau kejam, Jenderal! Tak malu kah dirimu menyiksa seorang wanita?!”

Jenderal Achilles memiringkan wajahnya. “Wanita harus memelihara kehormatannya demi suami atau pasangan mereka yang mengabdi pada negera. Ngocoks.com

Sementara kau, memilih menjadi gundik seorang penjahat. Membantunya menyebar virus hingga banyak manusia sakit bahkan mati. Kau anggap dirimu wanita? Mereka suci dan punya derajat. Kau ini apa?!”

Naypa tersenyum getir. “Kau tak suka jika aku disentuh Devos, ‘kan?”

Jederal tak habis pikir mengapa Naypa mengira pria itu menyukai dirinya. “Sesungguhnya Naypa, aku bukan tak berminat padamu. Tapi aku bahkan tak sudi menyentuhmu.”

Satu pedang terhunus ke hati Naypa saat mendengar penolakan sang jenderal. Wanita itu kembali mendapat siksaan dan seakan pasrah jika ia mati di bawah hukuman sang jenderal. Hidup pun Naypa tak punya tujuan. Jalan satu-satunya yang membuatnya tenang adalah kematian.

Sedangkan Jenderal Achilles keluar ruangan dan memberi perintah kepada kepala penjara. “Siksa terus sampai ia buka suara tentang teman-temannya atau biarkan ia mati. Tetap siarkan penyiksaan Naypa dan Devos ke penjuru negeri. Ciptakan ketakutan agar mereka tunduk pada pemerintah.”

“Baik, Jenderal.” Saat Jenderal Achilles akan berpaling, pria paruh baya itu bertanya lagi. “Jenderal, kau akan mengunjungi Devos?”

“Tak perlu. Pastikan saja ia mendapatkan siksaan yang aku inginkan.”

Jenderal Achilles berlalu dari kepala penjara negara Detroit City ditemani beberapa tentara. Saat rombangan itu sampai di kendaraan futuristik berbentuk mobil yang dapat terbang, Jenderal Achilles menoleh ke arah penasihat negara. “Siapkan informasi lengkap tentang Vintari dari Kalimera.”

Bersambung… Vintari menatap setiap sudut di rumahnya. Malam ini adalah malam terakhir ia berada di bulan. Esok sebelum matahari menyapa bulan dengan sinarnya, Vintari sudah pergi ke bumi dalam perjalanan ilegal. Selama menjadi negosiator, Vintari menjadi mengenal beberapa orang dari dunia hitam.

Ia menjual beberapa asetnya di pasar gelap untuk ditukarkan paket perjalanan ke bumi. Vintari bahkan berani membeli virus penyakit yang akan ia suntikan ke tubuhnya jika di bumi nanti ia mendapat perlakuan buruk. Wanita itu siap bunuh diri karena tak menemukan alasan untuk hidup lebih lama lagi.

Tangan Vintari melepas pakaiannya hingga ia berdiri tanpa busana. Matanya melirik pakaian yang terbuat dari kain yang esok akan dikenakannya. Pakaian manusia bumi yang tanpa perlindungan.

Mata Vintari terpejam, mengenyahkan ketakutannya karena ia merasa begitu sendirian. Perlahan Vintari naik ke atas ranjang yang terasa dingin. Sehelai selimut menutup tubuh telanjangnya dan tak lama isakannya terdengar.

Kembali ia mengingat Dean. Lima hari setelah berita kematian pria itu, Vintari tak jua menerima laporan penemuan jasad sahabatnya. Negara menyatakan tubuh Dean hancur dalam ledakan pesawat perisai dan tak pernah ada evakuasi karena negara sedang sibuk berperang melawan serangan negara Detroit City.

“Dean,” sebutnya dengan dada yang terasa sesak.

Vintari juga tertekan karena merasa peperangan ini sedikit banyak karena ulahnya. Andai ia tak teledor, Jenderal Achilles tak akan memergokinya. Jika saja sang jenderal tak mengetahui aksi Vintari, mungkin Kalimera tak akan diserang oleh Detroit City.

Ia tak hanya berduka untuk sahabatnya, melainkan menanggung beban duka para keluarga prajurti yang gugur di medan perang antariksa. Kelelahan yang mendera Vintari membuatnya jatuh tertidur. Dalam ketidakberdayaannya ia memimpikan Dean.

Tak hanya itu, Vintari melihat pria lain yang menyentuhnya. Vintri bergerak gelisah karena bergulat dengan mimpinya. Ia merasakan sakit tak terkira di hati dan tubuhnya melalui mimpi. Mulutnya menggumam tapi tak ada satu pun yang membangunkannya.

Tubuh Vintari seperti tersentak dan wanita itu membuka mata. Menatap langit-langit di kamarnya yang futuristik dan mengambil napas sebanyak-banyaknya. Vintari segera duduk di atas ranjang kemudian memandang sekelilingnya yang gelap.

Keringat membasahi kening dan dada telanjang wanita itu. Udara di sekeliling Vintari terasa lebih dingin dari biasa, menghadirkan seberkas keraguan menyapa wania itu. Akankah ia pergi ke bumi dan bangun dalam kondisi lebih buruk dari ini?

Kedua tangan Vintari menangkup wajahnya dan mengerang kecil. Ia butuh Dean di sini atas kebingungannya. Hanya pria itu yang sanggup menghapus kecemasannya. Tangan Vintari perlahan turun dari wajahnya tatkala mendengar napas seseorang.

Dalam keremangan, Vintari melihat siluet pria di sana. Bibirnya perlahan menyunggingkan senyum tipis. Dean-nya kembali. Pria itu di sini dan Vintari tak seharusnya mencemaskan apa pun lagi.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya Vintari saat sosok itu berjalan ke arahnya. Sekelebat wajah dingin itu. Mata birunya menatap tajam hingga Vintari merasa dihujam jantungnya. Kilau keemasan rambut pria itu berpendar saat melewati berkas cahaya di kamar Vintari. Tenggorokan wanita itu tercekat ketika didatangi oleh sang profesor muda.

Masih dengan tatapan tak bersahabat, Duncan memindai tubuh telanjang Vintari yang tertutup selimut. Wanita itu sungguh berbeda dengan waktu ia temui di Kalimera.

Sebagai seorang imigran, Vintari justru terlihat begitu menggoda. Akan tetapi saat ini, Duncan tak tahu apa yang terjadi, yang pasti Vintari tak ubahnya terlihat seperti tahanan perang. Wajahnya terlihat tirus dan pucat pasi.

“Apa kabarmu, Petani Gandum?”

“Apa kabarmu, Petani Gandum?”

Vintari menggigil di tempatnya saat ini. Seharusnya ia menuruti perintah untuk membunuh Duncan setelah ia mencuri penawar virus D3V4. Kini pria itu pasti mencari apa yang telah Vintari curi. Namun wanita itu tidak memilikinya. Lalu apa? Duncan akan apa? Vintari berpikir seharusnya Kalimera melindungnya.

Semestinya Dean ada di sini dan tak ada orang asing menerobos masuk. Saat Vintari bergulat dengan pemikirannya sendiri, Duncan menarik kasar selimut wanita itu. Vintari terpekik dan sontak menutup tubuh bagian depannya dengan tangan.

“Aku sudah melihat semuanya,” ucap Duncan penuh hinaan.

“Aku sudah melihat semuanya,” ucap Duncan penuh hinaan

Kepala Vintari tertunduk. Baru kini ia menyadari betapa murahan perlakuannya dulu. dia seorang negosiator Kalimera dan harus berpura-pura menjadi perempuan murahan dan mencuri penawar virus. Vintari salah jika manusia bumi akan menyakitinya kelak, karena Duncan-lan yang akan membunuhnya.

“Aku tak memilikinya,” lirih Vintari. Pasrah jika Duncan tak mempercayainya.

“Aku tahu,” balas Duncan. “Untuk itu, aku ingin memilikimu.”

Kepala Vintari mendongak dan menatap mata biru Duncan

Kepala Vintari mendongak dan menatap mata biru Duncan. Secepat kilat ia mengambil senjata dari bawah bantalnya dan mengacungkan ke arah Duncan. “Pergi dari sini atau aku akan menyakitimu.”

Alis Duncan naik. “Wow, Petani Gandum-ku berubah jadi gadis nakal? Apa yang terjadi padamu?”

Vintari menarik pelatuk pistol yang mengeluarkan laser. Kepiawaian Duncan membuatnya berhasil menghindar, meski tangannya terluka karena terkena sinar laser itu. Duncan tertawa sumbang. Ternyata wanita itu hobi melukainya, tetapi Duncan semakin tergila-gila.

Duncan menarik seprai hingga membuat Vintari jatuh terlentang. Senjatanya menembakan ke segala arah dan saat posisi wanita itu di tepai ranjang, Duncan dengan mudah merebut dan membalikan posisi. Pria itu menodongkan pistol ke dahi Vintari.

“Bunuh saja aku,” ujar Vintari dalam kondisi tertekan.

Duncan seklias melihat pistol di tangannya. “Milik prajurit. Dari mana kau mendapatkannya? Biar kutebak. Mencuri setelah kau tidur dengannya.”

Satu pukulan Vintari layangkan ke arah Duncan, tetapi pria itu menangkisnya. Duncan membuang pistol iotu jauh-jauh lalu meladeni Vintari yang terus menyerangnya. Pria itu sedikit tak fokus karena Vintari begitu menggila, menyerang dengan tangan kosong dan tanpa busana. Setelah Duncan bosan menangkis segaal serangan Vintari, pria itu mengunci tangan Vintari dan membanting tubuhnya di kasur yang empuk.

“Aku merindukan kelembutanmu, Sayang. Tapi … tak apa jika kau ingin main kasar,” tutur Duncan yang membuat Vintari bertambah marah.

Tak rela disentuh Duncan lagi, Vintari menyerang pria itu lagi dengan perlawanan dari tenaga yang tersiksa. Lemahanya tubuh Vintari tak seberapa dibanding kekuatan Duncan yang begitu menginginkannya.

Vintari terengah saat posisinya kini tengkuap dengan kedua tangan ditahan ke belakang oleh Duncan. Sementara tangan Duncan yang lain menyentuh selangkangan wanta itu.

“Duncan, jangan! Kau menjijikan,” umpat Vintari. Sekuat tenaga menahan erangannya karena perbuatan tak senonoh profesor itu. Ngocoks.com

“Benarkah? Di Detroit City tampaknya kau menyukaiku. Biar aku ingatkan saat itu,” tekan Duncan.

Vintari menoleh ke arah belakang, menantikan apa yang terjadi. Namun, ia justru membenamkan wajah dalam bantal saat jemari Duncan lebih kasar di kewanitaannya. Wanita itu menggeliat dan mengerang tertahan.

Tak mungkin bertahan lebih lama, Vintari menegang dan melenguh panjang saat rasa terlarang itu menghanamnya. Isakan Vintari terdengar saat ia mengutuk dirinya yang begitu terangsang hanya dengan jemari pria itu.

Tubuh Vintari yang mulai lemas dibalikan oleh Duncan. Senyum pria itu terbit saat memposisikan dirinya di antara kedua tungkai Vintari. Menghirup aroma madu yang ia rindu. Tubuh Duncan menegang seperti sebuah rasa keramat akan ia terima saat ini. sementara Vintari mengerang lagi. Ia gelisah saat napas hangat Duncan membuatnya menggigil, secara bersamaan merasa curahan hangat mengalir dari dalam tubuhnya.

“Duncan,” cegah Vintari di atas ketidakberdayaannya.

Sebaliknya, suara serak itu bagai api yang membuat gairah Duncan kian membara. Tak menunggu lagi, Duncan mencecap nikmatnya manis madu yang rindu. Menghisap rakus sebelum gairah pupus. Meluapkan segala isi hatinya melalui bibir dan lidah dengan cara yang indah.

Erangan dan pekikan Vintari membungkam sudut ruangan. Tubuhnya gemetaran karena birahi yang meninggi. Tak seperti sebelumnya, apa yang ia lakukan dengan Duncan terasa salah hingga Vintari terlarang untuk menikmatinya.

“Aku merindukanmu,” ucap Duncan yang kini menindih tubuh wanita itu.

Mencium kasar bibir Vintari seakan esok ia tak bisa melakukannya lagi. Duncan mengabaikan penolakan wanita cantik di hadapannya. Sepanjang malam ia membawa Vintari dalam badai kepuasan yang melemahkan raga juga mengaburkan segala logika.

Duncan berulang kali mengerang karena dahaga akan sentuhan Vintari kini terpuaskan. Setelah malam ini, pria itu tak akan melepaskan Vintari. Sang pangeran telah menetapkan siapa yang akhirnya menjadi permaisuri.

Bersambung… Dekapan hangat dan remasan tak senonoh di bagian terlarangnya, membuat Vintari membuka mata. Ia menoleh ke arah kanan dan melihat sosok tampan itu masih di sana. Pia dengan rambut pirang yang acak-acakan itu memberi Vintari tatapan penuh nafsu yang seakan tak berujung. Tangan Vintari menyingkirkan tangan Duncan seraya menggeram kesal. Ia berbaring miring ke kiri dan memeluk tubuh sendiri.

Sebaliknya, Duncan terkekeh geli. Wajah mengantuknya ditelusupkan ke ceruk leher Vintari. Tangan Duncan tak berhenti meraba tubuh polos di sampingnya. Seolah tuli, Duncan tak mengindahkan larangan Vintari dan malah mencium lembutnya kulit wanita itu di setiap inci.

“Ada apa denganmu? Saat di Detroit City, kau lebih menggairahkan.”

Vintari berbalik badan, memberi beberapa pukulan di dada pria itu, lalu menarik selimut untuk menutup tubuh telanjangnya. “Tutup mulutmu.”

Tawa Duncan lolos saat kalimat ketus itu terlontar. Ia membelai rambut cokelat Vintari. “Ayo, kita mandi.”

“Berhenti menyentuhku!” sentak Vintari saat Duncan mencoba meraih selimut wanita itu.

“Galak sekali,” ucap Duncan sebelum beranjak dari tempat tidur. Ia memerhatikan ranjang yang kusut berhiaskan darah Duncan dan bekas-bekas percintaan mereka. Duncan tersenyum miring saat teringat bagaimana ia menaklukan Vintari di bawah tubuhnya.

Setelah pria menjengkelkan itu masuk kamar mandi, Vintari beranjak dan memakai pakaian. Ia keluar kamar untuk menuju pintu keluar. Rasa panik menyerang saat pintu rumahnya tak mau terbuka. Sensor suara, wajah, bahkan kode untuk membuka pintu tak juga dikenali oleh pemindai. Vintari mengumpat ketika menyadari Duncan melakukan sesuatu pada rumahnya.

Vintari bergegas menuju alat komunikasi di bulan. Menyalakan layar datar dan menghidupkan mesin untuk menghubungi pihak luar. Sayang semuanya terkunci. Vintari mengerang frustrasi. Dengan napas tersengal ia berjalan ke loker penyimpanannya. Ia mengambil sebuah tabung yang berisi cairan bening. Salah satu senjata yang akan ia gunakan jika ia terancam di bumi.

Sedangkan Duncan yang sudah membersihkan diri dan mengobati luka di lengan kanannya, mengambil sebuah kimono hitam untuk menutup tubuhnya. Ia kembali ke kamar dan melihat Vintari berdiri waspada di dekat pintu kamar. “Kau ingin menggunakan kamar mandi? Aku tidak akan mengintip.”

Tak ada ekspresi yang Vintari tunjukan saat kalimat itu terucap. Wanita itu tetap siaga, menunggu Duncan datang padanya. Saat Duncan sudah beberapa senti di hadapannya, Vintari menyerang pria itu dan sebuah pukulan memalingkan wajah tampan Duncan.

“Ini caramu mengungkapkan rindu?” singgung Duncan.

Senyuman licik Vintari tersungging. “Bukan, tapi ini!” Vintari kembali menyerang dengan mengayunkan tabung itu ke arah Duncan.

Sigap, Duncan menangkis dan menyentak tangan Vintari hingga tabung itu jatuh. Saat Vintari akan mengambilnya, Duncan menendang keras hingga tabung itu pecah membentur tembok. “Kau mengotori kamar ini, Gadis Nakal,” geram Duncan sambil memegangi tangan Vintari.

Vintari menendang pria itu hingga ia dapat lolos. Secepat kilat Vintari mengambil pecahan tabung dan akan melukai tangannya. Harus Duncan atau dirinya yang mati. Ngocoks.com

“Hey!” seru Duncan sambil melempar sebuah hiasan dari kayu. Benda seukuran kepalan tangan manusia itu mengenai tangan kanan Vintari sehingga wanita itu menjatuhkan pecahan tabung yang akan ia gunakan untuk melukai diri sendiri.

Hal itu Duncan manfaatkan untuk meraih tubuh Vintari dan mendekapnya. Tangan kanan Duncan menahan kedua tangan Vintari di belakang tubuh wanita itu sementara tangan kiri Duncan meraih rahang bawah Vintari.

“Katakan padaku, apa itu?”

Mata Vintari nyalang menatap Duncan. “Persetan denganmu.”

“Apa mulutmu tak bisa mengucapkan kata lain selain namaku seperti semalam?” Duncan menyeringai.

Ketika Vintari meronta kembali, tangan Duncan menarik rambut wanita itu hingga wajah Vintari menengadah. “Aku lebih suka teriakanmu, tapi saat ini aku butuh jawaban.”

“Tetanus,” kata Vintari.

Dahi Duncan berkerut dan menelengkan kepalanya. “Mengapa kau menyerangku dengan virus tetanus … dan menyakiti dirimu sendiri?”

Satu hentakan membuat salah satu tangan Vintri terlepas dan meninju wajah Duncan. Pria itu mengerang beberapa detik lalu mendorong dan memepet tubuh Vintari ke tembok. Kedua tangan Duncan menahan kedua tangan Vintari di sisi wajah wanita itu.

“Tak ada yang aku inginkan selain menikmati tubuhmu tanpa jeda. Tapi saat ini aku lebih butuh penjelasan darimu, Vintari.” Kaki Duncan memaksa kaki wanita itu terbuka. Dengan tangan kirinya, Duncan menyentuh dan menggoda pusat kenikmatan Vintari hingga wanita itu menggelinjang menahan segala hasrat yang mulai datang.

“Di sini sangat menyenangkan tapi yang harus kau lakukan sekarang adalah, mandi sebelum mengatakan hal yang sebenarnya,” ujar Duncan lalu mengeluarkan jemarinya dari lipatan hangat wanita itu.

Dada Vintari naik turun karena napas yang tersengal. Perbuatan Duncan tadi sangat kurang ajar dan membuat dirinya hampir hilang kewarasan. Kini Vintari hanya mengeluarkan erangan protes saat Duncan menggendong tubuh wanita itu dan membawanya ke kamar mandi.

Duncan menurunkan tubuh Vintari saat berada di kamar mandi. Ada sebuah kotak kaca dan shower di dalamnya. Pria itu meninggalkan Vintari di sana. Masih saja ia ingat saat Vintari membersihkan diri di rumah Duncan, pria itu tak tahan untuk mengajaknya bercinta. Bukan Duncan tak ingin, hanya saja, saat ini ia harus menahan hasratnya.

Duncan keluar kamar dan menuju ruang komunikasi di rumah Vintari. Sebagai pangeran negara Alexandria, Duncan memiliki akses memberi perintah kepada seseorang untuk mencari informasi tentang Vintari. Hanya butuh hitungan menit, Duncan menerima berkas lengkap tentang wanita itu lewat sebuah file.

Pria itu seksama membaca tulisan di layar datar ruangan ini. Ia cukup terkesan karena Vintari mengambil pekerjaan sebagai negosiator negara Kalimera. Pekerjaan yang umumnya dilakukan pria karena cukup berbahaya. Ia menelan ludah dengan susah payah ketika membaca tentang siapa mantan pasangan wanita yang diinginkannya.

Merasa cukup dengan informasi yang dikirimkan oleh Salih Alam, Duncan kembali ke kamar Vintari. Duncan tak menemukan Vintari di sana dan merasa aneh ketika wanita itu tak kunjung keluar kamar mandi. Berjanji tak akan tergoda tubuh telanjang Vintari nanti, Duncan pun memutuskan untuk masuk ke kamar mandi.

Pria itu melangkah ke kotak kaca dan melebarkan matanya. “Vintari!”

Vintari sengaja mengunci kotak kaca itu hingga tak ada udara yang keluar masuk. Panasnya air dari shower membuat Vintari kekurangan oksigen dan mengerang kesakitan di dalam sana. Duncan mengumpat sebelum keluar dan mencari sesuatu untuk menghancurkan kunci kotak kaca itu.

Di dalam pakaian luarannya, Duncan mengambil senjata laser lalu kembali ke kamar mandi. Pria itu menembakkan laser hingga membuat lubang di pintu kotak kaca. Duncan segera membuka dan menarik tubuh wanita yang hampir melepuh itu keluar.

“Apa yang kau lakukan? Bodoh!” teriak Duncan lalu membawa tubuh tak berbusana Vintari ke kamar.

Ilmuwan muda itu keluar kamar dan membawa kopor yang ia bawa. Dengan tangan bergetar, Duncan memilih serum penghilang rasa sakit dan alat penyuntik. Ia kembali ke kamar dan segera memberi pertolongan pada Vintari.

Wanita itu menolak dalam kondisi lemahnya. Duncan sendiri semakin geram dan menyuntikkan dengan paksa cairan itu ke leher Vintari. Tubuh Vintari kejang seketika. Napasnya terengah-engah dan seluruh otot tubuhnya kaku sebelum lemas tak berdaya. Duncan segera mengambil selimut bersih dan menutup tubuh telanjang Vintari.

“Apa yang kau lakukan?” lirih Duncan sambil memeluk wanita itu.

Mengingat fakta bahwa dirinya tak diinginkan Raja Alexandria cukup menyesakkan hati Duncan. Namun kini, ketika untuk pertama kalinya ia menginginkan seorang wanita tapi Duncan ditolak, rasanya jauh lebih menyakitkan. Duncan merasa begitu tak berharga sebagai manusia.

“Biarkan aku mati,” bisik Vintari hampir dengan suara tak terdengar.

“Aku tak akan membiarkannya. Tak cukup jelaskah jika aku begitu menginginkan dirimu?”

“Aku tak bisa hidup sendirian, Duncan,” isak Vintari karena rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Kulitnya yang hampir melepuh di seluruh tubuh karena suhu air panas ketika di kamar mandi mulai terasa pedih dan menyakitkan.

“Aku akan menjagamu,” yakin Duncan. Perlahan Duncan mengusap rambut basah Vintari dengan tangan kanannya. “Kita akan hidup bersama … di Alexandria. Aku akan menjadi pasanganmu untuk melindungimu.”

Vintari mengerang lebih keras ketika kesakitan mulai menggerogoti tubuhnya.

“Kau akan sembuh. Percayalah padaku,” janji Duncan.

Ia menundukkan wajah dan memberi kecupan begitu ringan di puncak kepala Vintari. Duncan keluar kamar dan menuju ke ruang komunikasi. Sebisa mungkin ia meminta penjaganya untuk mengirim sebuah kendaraan penyamaran. Kendaraan seperti sebuah mobil yang dapat terbang dan beberapa peralatan canggih di dalamnya seperti ruang pengobatan.

Sulit bagi pihak Alexandria membuat alat transportasi penyamaran. Sebuah mobil yang dapat terbang itu harus dikirim ke Kalimera tanpa terdeteksi sebagai pesawat asing. Akan tetapi, demi kembalinya sang putra mahkota tang siap mengemban tugas negara, Raja Alexandria pun menyiapkan permintaan putranya.

Kendaraan menyerupai mobil di bumi, tetapi dapat terbang dan dikendalikan jarak jauh tanpa seorang sopir di dalamnya. Mobil itu akan melintasi perbatasan Kalimera sebagai turis dan tak terdeteksi milik Pangeran Alexandria. Perjalanan itu membutuhkan waktu berjam-jam, membuat Duncan begitu resah menunggunya.

Empat jam berlalu dan Duncan hanya mengawasi Vintari yang tertidur karena pengaruh obat. Saat reaksi obat penenang itu mulai hilang Vintari terjaga karena rasa sakit yang ia dera. Duncan pun kembali mengambil obat penghilang rasa sakit lain yang ada di kopornya.

“Tinggalkan aku … pergi,” rintih Vintari saat melihat Duncan mendekatinya.

“Sebentar lagi kita akan pergi dari sini,” terang Duncan sambil menyiapkan sebuah suntikan penghilang rasa sakit.

“Apa yang kau inginkan?” desah Vintari mengerang panjang.

Dulu ia begitu takut mati. Kejadian yang menimpa Dean membuatnya hilang kewarasan dan memutuskan untuk bunuh diri. Ya, ia ingin mati. Bukan hidup tersiksa oleh luka begini. Ia jadi ingat Dean dan sakit di tubuhnya kian parah.

“Sudah jelas itu dirimu,” jawab Duncan yang naik ke atas ranjang.

“Kenapa?”

Duncan mengembuskan napas kasar. “Kau menyelinap ke rumahku, menggodaku dengan kemolekan tubuhmu, lalu menjebakku pada jenderal. Aku bahkan tak bisa menerima alasanmu melakukan semua itu demi dia.” Duncan menyuntikkan cairan bening itu ke leher Vintari sampai wanita itu menjerit.

“Ya, aku melakukan semua itu untuknya,” Vintari mengerang panjang karena reaksi penghilang rasa sakit justru lebih menyakitkan. Ia mengejar udara dan mengerang saat tenggorokannya terbakar.

“Semua itu sia-sia. Aku bahkan tak punya alasan untuk hidup.”

Ada amarah yang menyulut ego Duncan. Wanita di hadapannya rela berbuat gila bahkan mencoba bunuh diri demi seorang pria. Apakah Vintari tak tahu jika Duncan dapat lebih gila demi wanita itu.

Wajah Duncan menunduk, mencium bibir Vintari dengan rakus. Ia tak peduli Vintari sedang kesakitan. Membungkam mulut Vintari yang mendamba udara dengan ciumannya yang brutal.

“Sampai kemarin aku masih ragu. Sekarang aku yakin bahwa kau harus menjadi milikku.” Duncan menutup ucapannya dengan ciuman di pipi kanan Vintari sebelum pergi keluar.

Pria itu masuk ke kamar komunikasi dan meminta Salih Alam menyegerakan kendaraan yang datang. Duncan terluka saat wanita yang diidamkannya menolak mentah-mentah dan masih mengenang pasangannya. Jika selama ini Duncan lebih melepaskan apa yang seharusnya menjadi miliknya, kini pria itu akan mempertahankannya seseorang yang ia inginkan.

Butuh dua jam untuk kendaraan itu benar-benar terparkir di depan rumah Vintari. Tak membuang waktu, Duncan membawa tubuh Vintari yang terbungkus selimut ke dalam mobil terbang. Di sana ada sebuah tabung dan Vintari dibaringkan di dalamnya. Tabung penyembuh itu hanya butuh hitungan menit untuk membuat manusia kembali sehat.

Duncan hampir tak berkedip menatap tabung kaca di mana ada Vintari di dalamnya. Teringat sesuatu, Duncan kembali ke dalam rumah Vintari dan menghapus segala jejak di sana. Vintari dan pasangannya hanya akan menjadi cerita karena sosok wanita akan Duncan boyong ke negaranya. Vintari hanya akan menjadi permaisuri di Alexandria.

Empat puluh menit berlalu dan tabung penyembuh terbuka secara otomatis. Vintari duduk dengan perlahan lalu mencoba mengingat apa yang telah ia lalui. Kedua tangan Vintari menyapu wajah dan tak sengaja mengaktifkan alat komunikasi yang berbentuk anting-anting.

“Vintari,” sapa pria dari speaker anting-anting.

“Juan Daniel,” balas Vintari lirih.

“Aku mencoba menghubungimu, Nak. Kau mendengarku?”

“Ya.”

“Kau baik-baik saja?”

“Ya,” jawab Vintari yang sedang mencoba mengenali kendaraan itu.

“Aku bersyukur kau baik-baik saja. Sayangnya, Presiden Orion tak baik-baik saja. Ia dan Kalimera sedang terancam.”

Vintari tersenyum getir. “Di mana kau atau siapa pun saat Dean terluka?”

Juan Daniel tak segera menjawab. “Aku turut menyesal tentang Dean. Bukan hanya dia, banyak prajurit yang gugur. Kau bisa membalas kematiannya dengan membantu Kalimera.”

“Aku mengabdi kepada Kalimera. Dean juga. Lantas apa yang kalian lakukan pada Dean? Aku? Kau mengkhianatiku. Aku berikan penawar itu tapi kau membuat Dean menjadi pasukan perisai,” kesal Vintari. Hatinya kembali diremukkan ketika mengingat kematian Dean.

“Kalimera membutuhkan dirimu.”

“Maaf,” ucap Vintari dengan getir.

“Setidaknya lakukan ini demi Orion.”

Vintari hampir tertawa saat ia diminta berkorban untuk seseorang yang bahkan tak bersahabat dengannya.

“Dia saudarimu,” ungkap Juan Daniel yang membuat Vintari seakan lumpuh di tempat.

Bersambung… Vintari tertawa sinis. “Kau memanipulasiku.” “Sayangnya, tidak,” tegas Juan Daniel.

“Presiden Ellias begitu mencintai Kalimera, hingga ia tak ingin negeri ini dipimpin oleh manusia yang bukan berasal dari bibit unggul.”

“Apa maksudmu?” Vintari mengerutkan alisnya.

“Kau tahu setiap pasangan di Kalimera merencanakan anak mereka akan jadi seperti apa saat besar nanti. Dengan bantuan rekayasa genetik, akan menghasilkan bayi dengan bibit unggul. Sejak dalam kandungan, dokter akan memantau perkembangan janin agar kelak ia menjadi seseorang yang dicita-citakan orangtua.”

“Ibumu—Hiera—justru mengandung dengan cara alami. Kau lahir tanpa ‘keistimewaan’ apa pun. Presiden Ellias memaksa ilmuwan untuk membuatmu menjadi bibit unggul karena kau diharapkan menjadi presiden kelak.”

“Aku lelah dengan omong kosongmu,” potong Vintari.

“Datanglah padaku dan kau akan menemukan kebenarannya.”

“Kau akan dapatkan mayatku,” ancam Vintari.

“Hierra tak mengizinkan itu. Aku sendiri yang memalsukan kematianmu dengan alasan kegagalan biologis. Presiden Ellias tak tinggal diam, menyuruh Hierra hamil lagi dan menjadikannya bibit unggul, seperti Orion.”

“Tidak mungkin,” desah Vintari.

“Tidakkah kau menyadari, kau kebal sama seperti Orion. Lukamu lebih lekas pulih karena kau bibit unggul. Belum lagi kau yang mudah menghafal dan mengingat sesuatu, kau pandai memanipulasi orang, sehingga kau berprofesi sebagai negosiator. Kau menekan mereka dengan catatan riwayat hidup mereka yang mudah kau ingat dalam kepalamu.”

“Orion ….”

“Dia sudah tahu.”

“Apa?” Vintari semakin tak mengerti.

“Datanglah padaku. Aku akan menjelaskan semuanya.”

Juan Daniel memutuskan sambungan komunikasi. Vintari perlahan keluar dari tabung penyembuhan dan mulai mengamati sekitarnya. Sebuah mobil dengan desain canggih di dalamnya.

Vintari memeriksa layar dan membaca keterangan tentang kendaraan itu. Dia mengingat kendaraan ini tak pernah ada di Kalimera dan hanya orang tertentu yang memilikinya.

Vintari membaca segala intruksi di ruang canggih itu dan mulai mempelajari bagaimana menggunakannya. Gadis itu tercekat. Bagaimana bisa ia memahami mekanisme kendaraan ini hanya dengan membaca tulisan di layar datar itu? Sedikit, Vintari mulai mempercayai Juan Daniel.

Tangan Vintari juga cekatan mencari di mana penyimpanan pakaian di mobil itu untuk menutupi tubuh telanjangnya. Vintari mengambil benda yang dapat membuat segalanya berubah mulai saat ini. Wanita itu kembali duduk dan memerhatikan Duncan yang masuk dengan tatapan terkejut.

“Mengapa kau keluar dari sana?” Duncan mengerti pertanyaannya begitu konyol.

Tabung penyembuhan akan terbuka otomatis jika manusia di dalamnya dideteksi telah sembuh. Namun, Duncan yakin rentan waktu yang dibutuhkan masih beberapa menit lagi. Mengapa Vintari bisa sembuh lebih cepat?

“Tabungnya terbuka. Aku sembuh,” jawab Vintari dengan nada dingin.

Duncan membenarkan posisi duduknya. “Baiklah. Itu artinya kita harus segera ke Alexandria.”

“Mengapa kau memilikinya?”

Duncan tahu arah pembicaraan itu. “Pinjam.”

“Kau seharusnya tak berbohong pada wanita yang kau jadikan pendamping.”

Sepercik rasa bahagia membara di dada Duncan. Wanita ini mau diajaknya? “Milikku. Ehm … untukku. Nanti.”

“Duncan?”

Duncan melirik ke arah Vintari. “Aku pangeran Alexandria. Kau adalah wanita yang kupilih menjadi permaisuri.”

“Kau masuk wilayah Kalimera dalam penyamaran. Itu pelanggaran negara.”

“Aku tak peduli. Aku hanya menginginkanmu.” Duncan menentukan titik koordinat tujuan mereka. “Kekuasaan itu … aku tak menginginkannya. Mereka melepasku sejak aku masih bayi karena tak boleh ada dua pangeran di sana. Maka, selamanya aku enggan memegang kuasa di Alexandria.”

“Alasanmu mau kembali?” selidik Vintari.

“Kakakku melakukan pelanggaran. Dia diasingkan dan aku harus menerima tahta.”

“Maka memimpinlah dengan baik, Pangeran.” Vintari menembakkan senjata listrik pada tubuh Duncan.

Pria itu kejang seketika dan mengerang kesakitan. Napas kasar Duncan terengah-engah, wajahnya memerah, pria itu melihat Vintari di sampingnya dengan pandangan kabur.

“Mengapa mencintaimu harus sesakit ini?” erang Duncan.

Vintari membalas, “Seharusnya kau mengerti, aku tak pantas untuk kau cintai.”

“Kau tak mengenalku. Aku akan mencarimu hingga di ujung ketidakberdayaanku.”

“Hentikan!” bentak Vintari. “Dengar, aku bukan manusia yang hidup dengan roman picisan. Bahkan aku tak diajarkan bagaimana memiliki perasaan.”

Duncan tertawa mengejek. “Mereka menjadikanmu monster pembunuh?” Tawanya kian keras meski itu menyakitinya.

“Tak beda denganku. Aku pun harus tunduk pada peraturan. Tapi, aku manusia, Vintari. Aku memiliki otak dan hati. Tak akan kuturuti jika peraturan itu tak sesuai dengan prinsipku. Kau mau diperbudak negaramu? Ikutlah denganku. Kau menjadi pemimpin di sampingku,” mohon Duncan.

Keringat membasahi wajah Duncan. Tubuhnya mati rasa dan ia susah bernapas. Sesekali ia mengerang karena ngilu di sekujur tubuhnya kian jelas terasa.

“Pimpinlah negaramu. Biar kulindungi negaraku,” lirih Vintari.

Duncan menautkan alisnya tak mengerti. “Kumohon jangan berlari lagi. Aku tetap akan mencarimu. Tak pernah aku semenginginkan ini pada wanita.”

Vintari menghirup napas yang terasa sesak. Tangannya menodongkan senjata listrik itu pada kaki Duncan. “Aku harus melumpuhkan kakimu agar kau berhenti mengejarku. Selamat tinggal …, Pangeran.”

“Vintari. Tidak ….” Duncan menjerit saat sengatan ribuan volt listrik ditembakan pada kakinya. Kesakitan yang ia rasa membuat Duncan kehilangan kesadaran.

Vintari mengembuskan napas dan mengeluarkan isakan tanpa air mata. Beberapa detik menenangkan diri, Vintari memprogram perjalanan mobil terbang itu ke Alexandria. Ia segera keluar dan menyaksikan kendaraan itu terbang meninggalkannya.

Tak menunggu lama, melalui anting-anting yang ia kenakan, Vintari mengirim sinyal pada Juan Daniel. Ia berdiri di sana hingga sebuah kendaraan militer bulan menjemputnya.

Vintari masuk ke dalam sebuah kendaraan berbentuk kubus dan terbuat dari baja. Di dalamnya, sudah ada beberapa pria dengan senjata mengawalnya. Vintari tahu, setelah ini hidupnya tak akan pernah sama.

Hanya dalam waktu hitungan menit, Vintari sampai di sebuah lab rahasia. Ia pernah ke sini sekali, tetapi itu sebagai pelatihannya saja saat ia memegang senjata. Vintari mendatarkan ekspresi wajahnya saat bertemu pria yang mengkhianatinya. Ngocoks.com

“Kau melakukan yang terbaik dengan menyingkirkan Pangeran Duncan,” puji Juan Daniel.

Vintari tak heran. Mereka bisa melacak wanita itu dari alat yang ia gunakan sebagai perhiasan. “Kau mengatakan Orion sudah tahu tentang masa laluku.”

Juan Daniel menyuruh Vintari duduk di sebuah meja bundar dan dinding dalam ruangan itu adalah layar raksasa yang menujukkan beberapa rekaman video gadis kecil. Vintari mengerti, itu dirinya.

“Dia tahu. Itu sebabnya kau ditempatkan dekat dengan persembunyian Pangeran Duncan. Orion pikir, kau akan aman bersama Pangeran Duncan.” Juan Daniel mencibir. “Dia membuatmu pergi dari Kalimera agar terhindar dari virus. Tentunya kau tidak melakukannya bukan? Kau kembali demi virus itu. Kau layak memimpin sedangkan Orion, dia gegabah.”

Vintari bagai menerima lecutan lain tak kasat mata di tubuhnya. Setiap orang punya tujuan. Begitu juga dirinya. Vintari rela mengambil virus itu semata-mata demi keselamatan Dean.

Sedangkan Orion justru mengirimnya ke tempat yang jauh dari Kalimera agar Vintari tak tertular virus. Sementara pria di depan Vintari ini, dia begitu menginginkan kestabilan Kalimera. Vintari menarik satu kesimpulan.

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Kalimera kalah armada dengan Detroit City. Namun, kita tak dapat membiarkan pernikahan antar dua negara. Jenderal Achilles tak berhak memimpin Kalimera.”

Juan Daniel berdiri, memberi tatapan menusuk pada Vintari, lalu berkata tanpa keraguan, “Bunuh dia.”

Bersambung… Vintari yang tak memiliki tujuan hidup lagi, patuh pada perintah kepala dewan Kalimera untuk berkoalisi menghancurkan kekuasaan Jenderal Detroit City.

Di satu sisi, negara menyiapkan pernikahan Presiden Orion dengan Jenderal Achilles sebagai tanda perdamaian dan berakhirnya perang. Sedangkan di sisi lain, Vintari disiapkan untuk melakukan pembunuhan yang berkedok negosiasi.

Ilmu bela diri Vintari ditingkatkan. Kemampuan negosiasinya dikembangkan. Vintari juga mempelajari bagaimana menggunakan senjata penyamaran. Sebelum dikirim ke Detroit City, tubuh Vintari dinetralisir dari virus hingga ia diizinkan masuk kawasan negara itu tanpa di curigai.

Mata Vintari menatap pria berseragam di hadapannya dengan tatapan bersahabat. Senyumnya terulas hangat. Wajah Vintari yang segar menunjukkan bahwa dirinya datang dengan damai.

Sebaliknya, Jenderal Achilles seakan tak mampu menyembunyikan rasa bencinya terhadap wanita di hadapannya. Makhluk dengan sejuta pesona untuk menutupi kelicikannya.

Jenderal Achilles mengingat mulut pedas wanita itu saat pertama kali negara mereka bernegosiasi. Semakin membenci ketika Vintari melakukan penyusupan ke negaranya dan bagaimana dia berpura-pura menjadi orang lain di hadapan Jenderal Achilles.

“Kau masih punya nyali untuk datang ke sini,” ujar Jenderal Achilles. Itu bukan pujian tentu saja. Jenderal Achilles sedang mengancamnya.

Kembali Vintari menunjukkan wajah ramah yang siapa pun akan luluh karenanya, kecuali sang jenderal. “Seperti yang aku katakan, Jenderal. Aku ke sini untuk perundingan ulang perjanjian pernikahan antara kedua pemimpin.”

“Orion ragu?”

“Sebetulnya dia tertekan. Mungkin Presiden Orion akan lebih menghormati pernikahannya jika ini persekutuan ini untuk memperkuat kedua negara, bukan takluk kepada Detroit City saja.”

Achilles mencibir pernyataan Vintari.

“Lagipula, Jenderal, ini berawal dari kesalahan Kalimera yang mengacau di negaramu.” Raut wajah Vintari berubah ekspresi. Sorot mata teduh Vintari kini sarat dengan godaan. “Seseorang harus dihukum, Jenderal.”

Vintari berdiri dan mendekati Achilles. Seketika enam tentara penjaga menodongkan senjata laras panjang kepada wanita itu. Tak gentar, Vintari melangkah satu sekali lagi dan para tentara itu menyiapkan tembakan yang siap memecahkan kepala Vintari saat ini juga.

“Aku yang pantas kau hukum. Bukan Orion,” tekan Vintari.

Jenderal Achilles tertawa mengejek. Satu tangan kirinya terangkat, para prajurit itu pun perlahan menurunkan senjata mereka. Tangan kiri Jenderal Achilles melambai pelan dan seluruh prajurit keluar dari ruangan. Senyum tipis terulas di bibir sang jenderal yang kini bangkit dan mendekati Vintari hingga mereka berdiri berhadapan.

Jenderal Achilles membungkuk pada meja kecil yang menunjukkan sebuah layar senyuh. Ia menekan beberapa bagian di sana lalu dua tentara wanita datang ke ruangan itu.

“Netralkan dia,” perintah Achilles.

Kedua tentara wanita itu mengangguk mengerti sementara Vintari berdiri bingung. Ia terkejut dan sempat menolak saat kedua prajurit itu memaksa Vintari untuk menanggalkan pakaiannya.

Tak ingin menuruti, mereka membuka paksa seluruh pakaian Vintari dan memasukannya ke dalam kotak sampah yang didesain untuk membakar benda.

Satu prajurit menyuntikan cairan bening ke leher Vintari, setelah itu ia menempelkan telapak tangan Vintari pada sebuah tablet. Tak lama layar pada dinding di ruangan itu muncul beberapa tulisan tentang catatan medis Vintari saat ini.

“Dia bersih, Jenderal.”

Jenderal Achilles tersenyum puas. Saat prajurit wanita itu melepaskan pegangannya pada lengan Vintari, Kaki Vintari terasa lemas dan ia jatuh terduduk. Kedua prajurit pergi atas perintah jenderal. Setelah hanya berdua,Vintari menekuk lututnya untuk menutup dada telanjangnya dari penglihatan Jenderal Achilles, meski ia tahu pria itu bahkan sudah melihat area pribadi Vintari.

“Seorang jenderal penguasa Detroit City takut pada pakaianku,” ejek Vintari lalu terkekeh.

Jenderal berjalan ke arah wanita tanpa busana itu. Tangan kirinya menyentuh dagu Vintari hingga wajah wanita itu menengadah. Jenderal kian menangkup wajah Vintari hingga wanita itu berdiri. Satu erangan Vintari lolos saat mereka berhadapan dengan jeda beberapa senti saja.

“Aku belum pernah bertemu wanita dengan bibir beracun sepertimu,” tutur Jenderal seraya mengusap bibir Vintari dengan jemari kirinya.

Sengaja, Vintari membuat engahan kecil. Dadanya naik turun karena napas beratnya hingga jenderal mendapat pertunjukan dada yang bergerak menggoda. “Aku negosiator. Wanita lain hanya sebagai pasangan seseorang atau istri.”

Vintari melangkah mendekat hingga tubuh mereka saling menempel. Tangan kanan Vintari menyentuh tangan besar Jenderal yang masih menangkup pipi Vintari. “Kau menginginkan wanita seperti itu? Pasangan … istri? Kau tahu menyantuh wanita lain selain pasangan aatau istri adalah tindakan kriminal.”

Bibir Vintari mengecup tiap buku-buku jari Achilles. Mengeluarkan napas dari mulutnya setelah jejak basah ia tinggalkan di kulit jenderal. “Aku harap kau menikmati pernikahanmu.”

Tangan Vintari membawa tangan besar Achilles ke leher jenjangnya. Saat jenderal menekan batang lehernya, Vintari mengerang—menggoda. Wanita itu terus membawa tangan kiri jenderal merasakan kulit halus tubuhnya.

Sampai di payudara kanan Vintari, ia membiarkan telapak tangan itu mengusapnya. Sebentar. Hanya untuk menggoda sang jenderal dan Vintari membawa tangan pria itu menyusuri perutnya yang rata juga pinggang Vintari yang ramping.

Dengan gerakan cepat, tangan kiri Jenderal Achilles mengunci tangan kanan kanan Vintari di punggungnya. Vintari terkejut saat tangan kanan Jenderal Achilles menahan tengkuknya.

“Achilles,” bisik Vintari yang berarti penolakan. Namun, segala gerak tubuh wanita itu justru berkata lain. Desah napas Vintari dan erangan kecil mengundang Achilles mencicipi rasa bibir merah itu.

Tanpa meminta izin, Achilles memagut bibir kenyal yang kerap mengeluarkan kalimat kontroversi padanya. Mahir, Vintari membalas ciuman pria itu hingga sang jenderal menciumnya lebih dalam. Beberapa detik ciuman mereka terputus hanya untuk berebut udara. Kembali Achilles mencari kenikmatan di balik ciumannya yang brutal.

Tak cukup, Jenderal Achilles membawa tubuh telanjang itu ke sebuah sofa panjang di ruangan itu. Achilles mengecup setiap senti tubuh mulus Vintari. Merasakan harum payudara wanita sebelum memberikan isapan di ujung putingnya. Kedua tangan Achilles membuka kedua tungkai Vintari. Dengan jemarinya, Achilles meraba lipatan kulit yang kini meneteskan madunya.

“Achilles,” sebut Vintari. Ia begitu menahan diri agar tak jatuh pada siksaan mulut dan jari-jari sang jenderal. Sayangnya wanita itu tak mampu menampik kepiawaian jenderal yang menyentuh tubuhnya.

Tubuh Vintari menggeliat sebelum jatuh lemas karena ledakan nikmat yang berujung pada pangkal pahanya. Vintari menetralkan napas dan membiarkan lidah pria itu membersihkan kekacauan yang dibuat oleh jari-jari Achilles sendiri.

“Tidakkah … kau menginginkanku?” tanya Vintari saat napas hangat sang jenderal kembali membakar gairahnya.

Achilles mengentikan aktivitasnya lalu membopong Vintari ke kamar. Ia meletakkan tubuh Vintari di ranjang dan menanggalkan pakaiannya.

Sementara Vintari setengah terbangun, memandang pahatan sempurna tubuh jenderal muda. Wajah pria itu oriental, kulitnya yang kecokelatan, juga otot-otot yang menunjukkan betapa ia memiliki keindahan tubuh pria.

Tersenyum, Vintari menekuk satu kaki untuk menyembunyikan daerah kewanitaannya. “Kumohon Jenderal. Lepaskan dia. Kau sudah memilikiku,” rengek Vintari. Kini ia bertingkah bagai wanita lemah tak berdaya.

Hal itu membuat letupan hasrat sang jenderal kian terpacu. Kedua tangan jenderal diletakkan di pinggang. Alisnya naik. “Begitu?” Ngocoks.com

“Kau tidak dapat memiliki kami berdua,” tutur Vintari bagai rusa tak berdaya.

Tak tahan dengan godaan wanita yang berpura-pura lemah, Achilles menarik kedua kaki Vintari hingga wanita itu terlentang. Jenderal memposisikan dirinya di kedua kaki Vintari yang terbuka lebar. Ia mulai menghirup aroma kewanitaan yang menggiurkan.

“Jenderal, jangan lagi ….” Kalimat Vintari putus di tengah serangan pria itu di area intimnya.

Suara erangan dan isakan Vintari berbaur dengan cecapan Achilles yang rakus. Saat dirinya mulai hilang akal, Achilles menindih dan mencari kepuasannya sendiri di atas tubuh Vintari. Keduanya lebur dalam hasrat yang memburu nikmat. Satu erangan kepuasan membuat mereka saling terengah merindukan udara.

Semua pakaian Vintari memang dilucuti, tetapi satu cincin emas masih melingkar di jari manisnya. Dengan ibu jari, Vintari memutar batu permata ke arah dalam sebelum menekannya pada leher jenderal. Jenderal Achilles terkejut dan segera menangkis tangan Vintari lalu beranjak dari ranjang. Ia merasa lehernya kram dan dadanya seakan terbakar.

“Apa itu?”

Vintari tersenyum di wajahnya yang sayu dan sedikit lelah. “Kafein 30%. Rata-rata manusia bulan memiliki kadar kafein di tubuhnya sebanyak 20%. Aktivitas tadi …,” Vintari menatap sinis, “Membuat kafein di tubuhmu meningkat. Sebentar lagi kau akan mati karena kadar kafeinmu yang mencapai 60% karena akan dengan mudah terserang virus.”

Tangan Jenderal Achilles mengusap lehernya yang terasa kaku. Sebuah panggilan dari tablet pria itu berbunyi. Jenderal pun menerima panggilan suara dari anak buahnya.

“Jenderal, tentara Kalimera menyerang gudang bahan makanan kita.”

Achilles tersenyum miring pada Vintari. “Mereka takut menghadapi kita di medan antariksa dan menyerang kita dari belakang? Habisi mereka semua,” perintah Achilles dengan keji.

Tangan Vintari menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut. Seharusnya ia dapat setenang tadi. Hanya butuh beberapa jam saja, ia pasti dapat melihat sang jenderal terkapar seperti Dean-nya yang terserang virus. Wanita itu mulai gelisah saat Achilles berjalan tenang dan memakai kembali pakaiannya.

Setelah Achilles kembali rapi, ia memandang Vintari bagai mangsa dalam tawanannya. “Seharusnya kau tau. Aku kebal.”

Aura dingin mencekam seiring kepergian Jenderal Achilles dari kamar. Vintari seakan lupa cara bernapas. Dirinya telah kalah tanpa perlawanan pada penguasa kejam Detroit City.

Bersambung… Dua puluh empat jam setelah sang jenderal menyentuhnya, Vintari dikurung dalam kamar dengan sisi tembok lunak agar Vintari tak dapat melukai diri sendiri. Peredam suara dari dalam dan luar. Juga satu kamar mandi. Vintari menolak serum gizi atau makan makanan manusia bumi. Hingga sekali lagi pintu dibuka, Vintari kembali berteriak marah pada sosok pria yang tengah masuk. “Keluar!”

Pria berkepala pelontos, tubuhnya besar dan atletis, memakai pakain resmi tentara Detroit City berjalan tegap. Dia membungkuk sedikit di hadapan Vintari. “Rome, utusan Kalimera,” ucapnya.

Vintari melihat pria yang menjulang tinggi di hadapannya. “Aku lelah dengan kegilaan ini.”

“Aku akan merawat dan menjaga anda, Nona Vintari,” tuturnya penuh hormat.

“Katakan … berapa?” Tenggorokan Vintari tercekat. “Berapa orang yang harus dikorbankan agar kau menyusup kemari?”

Di saat Vintari bersama Jenderal Achilles, tentara Kalimera menyerang gudang persediaan makanan dan merusak lab pembuat gizi untuk warga Detroit City. Semuanya dilakukan untuk mengaburkan data dan menyusupkan Rome—utusan dari Kalimera.

“Sepuluh … mungkin” jawab Rome sambil membuka tangan kanannya untuk Vintari.

Sedangkan rasa sakit menyeruak di dada Vintari. Sepuluh nyawa harus rela dibantai demi mengacaukan sistem suatu negara. Di bulan, setiap nyawa tentunya teramat berharga, mengingat populasi bulan jauh lebih sedikit dari manusia bumi.

Vintari ingat bagaimana mereka mengorbankan Dean demi mempertahankan negara. Sudah ditakdirkan bagi seluruh manusia bulan, untuk membela tanahnya. Demi kelayakan bulan agar selalu menjadi tempat terbaik untuk ditinggali, terkadang manusia harus menyingkirkan akal sehatnya demi naluri bertahan hidup lebih lama.

“Kalian tak memiliki belas kasih,” umpat Vintari.

Ada benarnya. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku, cara berpikir, bahkan empati manusia di bulan. Mulai dari tempat tinggal yang jauh lebih baik dari bumi. Faktor hormonal di mana rekayasa genetik sudah ada di setiap tubuh penduduk bulan.

Naluri terbesar hanya bertahan hidup, berkembang biak, selebihnya mempertahankan tempat tinggal. Merasakan cinta kasih perlahan melebur bahkan sebagian lupa bagaimana merasakan hubungan baik pada sesama.

Vintari mengangkat tangan kirinya lalu Rome melepas cincin di jari manis wanita itu. Cekatan, Rome membersihkan jari Vintari dan menyiapkan gizi untuk wanita itu. Kali ini Vintari tak menolak saat Rome memberi serum gizi padanya.

Sambil menunggu serum gizi bekerja pada tubuh Vintari, Rome membuka tablet lipat, menyambungkan kabel pada tablet dan cincin Vintari yang telah terisi darah sang jenderal. Teknologi canggih Rome di tablet kecilnya, membuat ia memiliki akses ke mana pun berkat sensor DNA Jenderal Achilles yang berhasil diperolehnya.

“Anda sudah merasa lebih baik, Nona?” tanya Rome setelah tiga puluh menit berlalu.

Vintari mengangguk lemah. “Ayo, lakukan sekarang.”

Lagi, Rome mengangguk. Ia menggunakan tabletnya dan membuka kamar. Pria itu sudah membajak sistem komunikasi di istana Detroit City hingga kamera pengawas dibuat tak merekam saat mereka keluar.

Vintari berjalan di belakang Rome yang melangkah lebih dulu. Melewati beberapa ruangan hingga masuk lift untuk ke ruang pengendali. Saat lift terbuka, Rome terus mengoperasikan tabletnya agar kamera pengawas di sepanjang lorong tak merekam mereka. Sampai di sebuah ruangan, Vintari menggeser tubuhnya dan membiarkan Rome membuka pintu dengan tabletnya.

Saat masuk ke ruangan itu, Rome cekatan menembak tiga orang yang ada di dalam hingga ketiganya terkapar. Vintari masuk dan mendatarkan ekspresi wajahnya. Ia melihat ke arah Rome dengan tatapan sinis.

“Mereka bisa saja ayah atau anak seseorang,” desis Vintari.

Rome menatap wanita itu dan tersenyum miring. “Itu hanya tembakan bius, Nona. Aku sungguh akan direpotkan jika harus mengurus jenazah mereka.” Ngocoks.com

Ada sedikit kelegaan di hati Vintari. “Baiklah, lakukan tugasmu.” Vintari mengambil tempat duduk dan menatap layar besar. “Aku akan lakukan tugasku.”

Tak memedulikan Rome yang bekerja membajak satelit milik Detroit City, Vintari segera mencari nama Duncan di file milik Detroit City. Tak mudah, Vintari terus mengulik, apa yang disimpan negara itu tentang Duncan.

“Nona, Anda tidak seharusnya melakukan pencarian ….”

“Bukan urusanmu,” tegur Vintari tanpa menoleh. Wanita itu semakin resah karena waktu mereka tak banyak di tempat ini.

“Kita lima menit lagi di sini.”

Hampir berteriak frustrasi, jari tengah Vintari tak sengaja menekan layar file keamanan. Tampak di layar beberapa informasi daftar orang-orang yang dicari Detroit City. Dengan gemetar, Vintari mengetik nama Duncan. Terpampanglah di layar dinding semua data tentang Duncan. Foto-foto dan video pria itu ada di sana.

Vintari membeku di tempat duduknya saat melihat video Duncan tertangkap pemerintah Detroit City dan disiksa. Ada data mulai dari lokasi dan video di mana Duncan diasingkan karena menjual serum ilegal. Rasa ingin tahu menyeruak dalam hati Vintari. Apa yang dicari pangeran Alexandria di negeri ini?

Jika Duncan membuat kekacauan di Detroit City untuk kemudian menyerangnya, mengapa harus sang pangeran sendiri yang melakukannya? Vintari semakin tak mengerti saat Duncan memiliki beberapa catatan kriminal tetapi Jenderal Achilles berulang kali melepaskan pria itu.

Tubuh Vintari mulai merinding takut saat menebak jika jenderal Achilles sudah tahu bahwa Duncan adalah pangeran Alexandria. Seperti pada Kalimera, mungkin jenderal Achilles punya rencana pada Alexandria.

“Nona, kita harus pergi,” tegur Rome yang kini siaga di dekat Vintari.

“Aku harus menghapus ini.” Vintari mengotak-atik keyboard hologram untuk mencari cara menghapus data Duncan.

“Itu bukan urusan kita lagi.”

Vintari menatap pria berbadan besar itu. “Cukup ini menjadi masalah Detroit City dan Kalimera saja. Alexandria tidak perlu mengintervensi.”

Dahi Rome mengerut tak mengerti.

“Tak dapat ku jelaskan karena kita tak punya waktu. Sekarang bantu aku.”

Saat Rome bergeming, Vintari memohon.

“Ini demi Kalimera.”

Rome bergerak ke kursi lain dan membantu Vintari menghapus data Duncan dari sistem catatan Detroit City. “Tapi yang aku lihat di sini, Anda sedang melindunginya.”

Suatu perasaan aneh menjalar di hati Vintari. Menyentuh relungnya hingga terasa sakit bagai dihujam pisau tak kasat mata. Tak sempat Vintari membalas, tablet Rome berbunyi lirih. “Pintu gerbang terbuka. Jenderal telah kembali.”

Bertepatan dengan itu, Rome berhasil menghapus data Duncan dari sistem Detroit City. Mereka berhati-hati keluar tempat pemgendali dan harus memutar jalan karena banyak tentara yang berjaga di lorong yang mereka lewati. Rome terus mengikuti petunjuk di tabletnya untuk kembali ke kamar Vintari.

Malangnya, mereka bertemu rombongan Jenderal Achilles dan harus bersembunyi di salah satu celah ruangan. Seorang wanita datang membawa tablet dan menunjukkan benda itu pada Jenderal Achilles. Pria berseragam militer itu memeriksa sebentar dan tersenyum puas.

“Pernikahan Anda telah disiapkan, Jenderal.”

“Bagaimana dengan wanita itu?” Suara Jenderal Achilles membuat Vintari gentar di persembunyiannya.

“Dia masih di kamarnya. Kami menunjuk ahli gizi untuk memastikan keadaannya sehat.”

Jenderal Achilles mengangguk puas. “Pemilik gen terbaik pantas menjadi presiden. Aku tak akan menyentuh manusia buatan seperti Orion. Singkirkan dia,” geram Jenderal Achilles.

Bersambung… Vintari akan keluar dari persembunyiannya, tetapi Rome dengan kuat menahan tubuh wanita itu. Rasa marah membakar tubuh Vintari saat pria kejam itu akan mencelakai adiknya. Orion tetap saudarinya dan Vintari tak akan membiarkan itu terjadi. Cukup Dean yang kematiannya tak bisa Vintari cegah.

Dengan patuh Vintari dituntun Rome kembali ke kamarnya melalui jalan lain. Mereka beruntung dapat kembali tanpa ketahuan. Rome pun meninggalkan Vintari di kamarnya dan menunaikan tugasnya sebagai penyusup di Detroit City.

Pada pertengahan malam, tidur Vintari terjaga. Sosok pria yang belakangan rutin mengunjunginya kini berdiri di dekat ranjang. Raut wajah Jenderal Achilles begitu dingin menatap tubuh Vintari yang tampak kecil di ranjang yang luas. Gerakan yang dibuat oleh Vintari terasa bagai godaan bagi sang jenderal.

“Mengapa tak kau bunuh saja aku?” tanya Vintari dengan suara serak. Pasrah tersirat dalam kalimatnya lantaran begitu enggan melayani penguasa Detroit City seperti malam-malam sebelumnya.

Langkah jenderal mendekat. “Aku tak membutuhkan tubuhmu jika kau sudah mati.”

Kalimat keji itu mendorong Vintari untuk bengkit lalu menyerang Jenderal Achilles dengan alat suntik. Tak benar-benar melukai Jenderal Achilles, tetapi ujung jarumnya menggores leher pria itu hingga menoreh sayatan kemerahan. Dengan sigap, pria itu membuang alat suntik dan mengunci pergerakan tangan Vintari.

“Tanganmu bisa saja kupatahkan. Namun, apa yang kau miliki justru lebih menyenangkan.” Jenderal Achilles menjatuhkan tubuh Vintari di ranjang.

Masih melakukan perlawanan, Vintari menendang kaki pria itu dan berusaha meninggalkan ranjang. Kaki Vintari tersangkut kain dan ia terjatuh ke lantai yang tak keras. Merangkak, Vintari memiliki naluri untuk menjauh dari pria kejam itu.

Namun hanya dengan satu tangan, sang jenderal membawa kembali tubuh Vintari ke atas ranjang kemudian menanggalkan pakaian wanita itu dengan paksa hingga koyak.

Tangis kekesalan Vintari mengalun saat tubuh telanjangnya tengkurap di atas ranjang dengan kaki yang direntangkan.

Tak seperti malam-malam sebelumnya–di mana jenderal memberinya serum teh agar Vintari merasa rileks, menyatukan tubuh dengan berhati-hati, tetapi kini jenderal ingin menunjukkan dominasinya. Kedua tangan Vintari meremas sprei di sisi wajahnya saat merasa pria itu di atas tubuhnya.

Tangan Jenderal Achilles menyibak rambut Vintari lalu menundukkan wajah—mengembuskan napas hangatnya di telinga wanita itu. “Sesungguhnya, orang yang kaupedulikan tidak artinya untuk kelangsungan hidupmu mendatang.”

Mulut Jenderal Achilles mengulum daun telinga kiri Vintari. Lenguhan Vintari lolos karena tak sudi. Tubuhnya bergerak di bawah kungkungan sang jenderal.

“Aku menyaksikannya, Vintari,” desis Achilles lalu memberi kecupan pada pipi Vintari.

“Ingin sekali aku menyaksikan wajah ketakutan pria itu ketika prajuritku melumpuhkan pesawatnya,” ucap Achilles.

Tubuh Vintari menegang. Jenderal sedang membicarakannya? Membicarakan Dean-nya?

Kedua tangan Jenderal Achilles menahan tangan kanan dan kiri Vintari agar tetap di sisi kepala. “Dia beberapa detik di udara. Mungkin berteriak meminta pertolongan, sebelum aku menembak pesawatnya hingga hancur.”

Kepala Vintari bagai dipukul batu. Tubuhnya seperti disetrum ribuan volt listrik hingga sakitnya membuat Vintari tak berdaya. Vintari serambi lempitik marah. Tubuhnya meronta tapi ditahan jenderal. Wanita itu kian berang saat mendengar kekehan puas jenderal.

“Kalian bahkan tidak bisa menemukan sisa jasadnya, bukan?”

“Aku akan membunuhmu, Achilles! Lepaskan aku!” teriak Vintari.

Jenderal Achilles semakin menyerang wanita itu dengan kecupan-kecupan di tubuh Vintari. Erangan tak rela Vintari terdengar saat bibir jenderal menyusuri tiap jengkal tubuhnya.

Wajah Vintari ditenggelamkan pada bantal lantaran wajah jenderal sudah pada bagian bawah tubuh wanita itu. Menyiksa dengan memberi rangsangan yang tabu untuk dicecap.

Isakan dan erangan Vintari kembali memenuhi ruangan saat pria tanpa perasaan itu menyatukan tubuh mereka. Menyetubuhi secara brutal dari belakang. Mata Vintari terasa kunang-kunang karena air mata dan sakit yang diterimanya secara fisik dan psikis.

Betapa ia merasa hina dilecehkan oleh pria yang membunuh sahabatnya secara keji. Vintari hampir kehilangan suaranya karena menangis sepanjang malam, disiksa dengan cara biadab oleh pria yang merencanakan pembunuhan pada adiknya.

Mata Vintari terasa berat dan ingin sekali terpejam ketika lelah menahan lara yang jenderal berikan padanya sepanjang malam. Hatinya selalu berharap kematian segera menjemputnya karena tak sanggup lagi mempertahankan hidupnya.

****

Langkah enggan Vintari ayunkan menuju ruang makan di istana Detroit City. Di sana, pria berseragam militer dengan aura gagah menunggunya. Wajahnya tampan dan senyum lebarnya membuat mata pria itu semakin mengecil. Vintari mual sekali memandangnya. Pria dengan segala keindahan fisik itu memiliki perilaku kejam dari makhluk paling mengerikan.

“Tinggalkan kami,” perintah Jenderal Achilles saat Vintari dipaksa duduk di dekatnya.

“Aku ingin sarapan denganmu untuk terakhir kalinya—setidaknya untuk sekarang,” terang Jenderal Achilles.

Vintari diam tak membalas. Tatapan matanya kosong. Ia seperti tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Rasanya begitu lemas, tetapi ia mampu duduk dan berjalan.

Selama berada di Detroit City, jenderal mengunjunginya hampir tiap malam untuk menikmati tubuh wanita itu. Ingatan Vintari beberapa hari yang lalu, Jenderal Achilles menyuruh prajurit membawa Vintari ke sebuah laboratorium. Tak ada yang Vintari ingat selain dipaksa dibaringkan di meja dan diberi obat bius.

Vintari tak merasakan apa pun saat ia bangun di tempat tidurnya. Tak tahu apa yang terjadi. Sama sekali tak ada informasi berapa lama ia tak sadarkan diri. Saat seorang prajurit wanita datang memberinya suntikan serum gizi, Vintari menebak Rome tak selamat.

“Gandum. Kau teringat sesuatu?” singgung Jenderal Achilles saat mengambil pisau dan garpu lalu mulai menyantap gandum yang diolah menjadi roti. Ngocoks.com

Setelah menelan makanan di mulutnya, pria itu menatap Vintari. “Kumohon jangan mengingat pria itu. Dia tak akan lama menjabat sebagai putra mahkota.”

Mengerti yang dibicarakan adalah Duncan, Vintari mengambil pisau roti, dan bangkit untuk menyerang jenderal. Sedangkan jenderal sendiri menangkis serangan itu, mendapatkan luka lecet di pergelangan tangannya sebelum berhasil membuang pisau itu. Tangan jenderal menahan tangan kanan Vintari lalu mencengkeram leher jenjang wanita itu dengan tangan kirinya.

“Aku akan melepaskanmu.”

Menangkap kebingungan Vintari, jenderal menyeringai. “Ada bom di kepala cantikmu dan detonatornya ada padaku. Sekali kau membuat kacau, bomnya akan kuledakkan. Berani lari dariku, kepalamu pun akan hancur. Daripada berbuat konyol, persiapkan dirimu untuk memimpin negara.”

Jenderal menghempaskan tubuh Vintari hingga wanita itu kembali ke kursi. Sementara Vintari menatap wajah jenderal yang berdiri menjulang di hadapannya. Matanya berair, kekesalan di hatinya begitu memuncak.

“Aku akan membunuhmu, Achilles. Aku bersumpah kau tak bertahan lebih lama.”

Kekehan kecil keluar dari mulut Achilles. “Jika kau membunuhku, kau tak akan mendapatkan apa pun. Tapi, jika aku menyingkirkan Orion, kau berkuasa.”

“Bajingan!” umpat Vintari.

Dengan mudah, Achilles menangkap kedua tangan wanita itu. Membungkamnya dengan ciuman rakus sampai Vintari melenguh sebagai permohonan agar ia berhenti. Senyuman puas Achilles terbit.

“Aku rindu mulutmu yang menyenangkanku,” tutur Achilles dengan nada dingin sebelum meninggalkan Vintari dalam kehampaan tak bertepi.

Bersambung… Sesuai dengan apa yang dikatakan Jenderal Achilles, Vintari dilepaskan. Wanita itu dibiarkan berjalan melewati gerbang negara Detroit City dengan pengawalan ketat. Para prajurit di perbatasan menodongkan senjata ke arahnya, seakan wanita ringkih itu adalah bahaya bagi mereka.

Pesawat tempur milik Kalimera datang menjemput. Vintari dilumpuhkan dengan tembakan obat bius, baru kemudian beberapa tentara Kalimera turun dari pesawat dalam seragam tertutup rapat.

Mereka menganggap seolah Vintari biang virus yang akan menjangkiti tubuh manusia. Raga tanpa daya Vintari dimasukkan ke dalam tabung untuk dinetralisir sebelum dimasukkan ke pesawat. Pesawat tempur dengan perisai anti peluru itu melesat bagai cahaya, membawa Vintari ke Kalimera.

Pernikahan Jenderal Achilles–penguasa Detroit City yang terkenal kejam–dengan Orion telah diberitakan ke seluruh negara. Menciptakan rasa gentar bagi para pemimpin negara lain karena bersatunya negara adikuasa.

Mereka berspekulasi, jika Detroit City dan Kalimera di bawah kekuasaan orang yang sama, tak menutup kemungkinan akan adanya penjajahan di negara-negara lain sebagai perluasan wilayah.

Tiba hari bersatunya negara Kalimera dan Detroit City. Seluruh penghuni bulan dapat menyaksikan upacara resmi pernikahan mereka. Kekaguman akan keindahan paras dan fisik keduanya menjadi pembicaraan hangat.

Di sisi lain, kengerian di balik political marriage membawa mimpi buruk tersendiri bagi sebagian orang. Mereka justru menyebut ini adalah petaka terbesar di antariksa.

Dengan langkah pasti, Vintari menyusup ke istana Kalimera. Dengan bantuan Rome yang melindunginya, Vintari menerobos pertahanan dan masuk ke kamar pengantin. Hatinya terhenyak melihat sosok Orion dalam balutan busana malam. Perlahan, Vintari mendekati wanita itu dan rasa iba menyeruak di dadanya.

Terkejut, Orion berbalik badan dan memandang takut. Sebelum suaranya mengumandang, Vintari menembakkan senjata pelumpuh ke tubuh Orion. Tubuh sang presiden ditangkap Vintari kemudian diseretnya untuk disandarkan pada tembok. Orion tak dapat bergerak dan mulutnya tercekat. Tubuhnya lumpuh dan tak bisa ia gerakkan.

“Jangan takut, Orion. Aku akan mengakhiri semuanya,” terang Vintari yang tak kuasa menahan air mata.

Kedua tangan Vintari mengecup cepat punggung tangan Orion. “Aku menyayangimu. Memimpinlah dengan bijak,” pesan Vintari.

Vintari mematikan sebagian lampu, hingga di posisi Orion kini gelap gulita sedangkan di sisi ranjang masih temaram. “Percayalah padaku.”

Setelah mengatakannya, Vintari menggerai rambut yang kini sewarna dengan Orion. Ia naik ke atas ranjang dan tidur miring ke kiri–di bawah selimut sutra. Mata Vintari menatap ke arah tembok yang gelap di mana–ia yakin–Orion sedang balas menatapnya.

Sementara itu, Jenderal Achilles melangkah masuk ke kamar utama. Menatap sosok pemimpin Kalimera dengan senyum tipis di bibirnya. Tangan kanan Jenderal Achilles meraba sakunya, mengeluarkan senjata kecil yang dapat mengeluarkan ribuan volt listrik, kemudian menodongkan ke arah wanita yang tidur membelakanginya.

Di sisi lain, Orion melebarkan matanya. Berusaha berteriak meski usahanya sia-sia. Tangan dan kaki Orion dipaksa bergerak, tetapi hanya air mata yang keluar dari netra. Ingin rasanya Orion buta saat ini karena tak sanggup melihat pembunuhan langsung di depan mata.

Tanpa ragu, Jenderal Achilles naik ke ranjang, menempelkan senjata itu pada leher istrinya, dan detik yang sama, menembakkan sengatan listrik yang merusak seluruh saraf korban.

Vintari hampir tak merasakan sakit. Tubuhnya mati rasa dan ia tak mampu berpikir saat kejutan listrik itu menyengat tubuhnya. Mulutnya terbuka, tetapi untuk mengerang pun ia tak bisa.

Tersenyum puas, Jenderal Achilles membalik tubuh wanita itu hingga terlentang. Senyum Jenderal Achilles hilang dan tubuhnya kaku. Ia mengerjap beberapa kali dan rasa panik mulai dirasakannya ketika di hadapannya kini adalah sosok Vintari.

“Apa yang telah kulakukan?” lirih Jenderal Achilles.

Tangan kirinya membelai kepala Vintari. Wanita itu menatap kosong dan perlahan kehilangan desah napasnya. Degub jantung sang jenderal mulai tak beraturan sekarang.

“Kau tak seharusnya di sini. Orion yang semestinya mati, bukan kau.”

Napas Jenderal Achilles terasa sesak. Rasa pening mulai menghunus kepalanya. Tangan sang jenderal mulai gemetaran hebat.

Erangan kecil terdengar oleh Jenderal Achilles. Ia menyalakan lampu dan menodongkan senjata ke sosok wanita yang bersandar pada tembok. Mata kecil Jenderal Achilles melebar saat Orion menatapnya dengan tatapan benci.

“Kau … pembunuh,” rintih Orion yang termegap karena berusaha mengeluarkan suara dan bergerak. Bius yang melumpuhkan tubuhnya hanya sementara.

Jenderal Achilles kembali menatap raga wanita di sisinya. Wajah Vintari pucat, matanya nyalang, dan mulutnya sedikit terbuka. Sepertinya seluruh persendian Jenderal Achilles terasa lepas hingga membuatnya lemas.

“Kau tidak boleh mati. Kau … tak kuizinkan untuk mati!” seru Achilles dengan penuh murka.

Pria itu mengarahkan senjatanya ke arah Orion. Saat jemari sang jenderal akan menyentuh pelatuk, pintu terbuka dan satu tembakan dari Rome mengenai tangan Jenderal Achilles. Senjata itu jatuh bersamaan dengan tubuh Achilles di sisi Vintari.

Termegap dan kesulitan bernapas karena tembakan Rome, Achilles mendekatkan wajah ke sisi kanan paras Vintari. Berbisik di atas keputusasaan yang dalam, “Kau lebih memilih mati daripada kumiliki.”

“Anda melakukan percobaan pembunuhan pada pemimpin negara, Jenderal. Hukumannya adalah pengadilan internasional,” ujar Rome. Ngocoks.com

Beberapa tentara Kalimera masuk. Sebagian mengevakuasi Orion dan lainnya mengamankan sang jenderal tanpa perlawanan dari pria itu. Sementara Rome memandang ke seluruh ruangan untuk memastikan.

“Seperti pernikahan Anda yang disiarkan secara langsung, tindakan Anda juga disaksikan oleh seluruh manusia di bulan,” tutur Rome.

Tak ada kata yang keluar dari mulut Jenderal Achilles, setelah menyadari bahwa pihak Kalimera menyerang laboratorium gizi Detroit City bukan tanpa tujuan. Mereka menyusupkan Rome sebagai ahli gizi dan pria itu mengendalikan sistem telekomunikasi, hingga Rome dengan mudahnya menyiarkan apa yang terjadi di ruangan ini.

Hanya butuh dua hari untuk membuat pertemuan dengan beberapa pemimpin negara di bulan. Mereka sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati pada kejahatan Jenderal Achilles. Para dewan di negera Detroit City pun sepakat mengganti pemimpin negara.

Jenderal Achilles, mantan pemimpin negara Detroit City ditembak mati saat fajar menyingsing. Jasadnya dihancurkan agar tak ada yang mereplikanya lagi. Cerita semasa hidup sang jenderal hanya tertulis segala kebaikan dan pengorbanannya demi negara, mengantisipasi agar tak ada kejahatannya serupa.

Pernikahan Orion dianggap tidak sah karena di balik political marriage tersebut ada usaha pembunuhan. Kekuasaan Kalimera tetap berada di tangan Orion dan fakta bahwa Vintari adalab keturunan resmi dari pemimpin negera sebelumnya, ditutup rapat.

Orion melakukan segala pembenahan sistem di negara dan berfokus pada pembangunan di segala sektor. Perekonomian yang sempat lumpuh karena virus D3V4 dikembangkan.

Ketahanan negara yang porak-poranda karena perang, kembali dibangkitkan. Bekerjasama dengan beberapa negara lain agar kekacauan yang dibuat oleh Fachrein atau Devos, tak lagi tercipta.

Di sebuah ruangan tersembunyi di Kalimera. Ruangan dengan suhu dingin dan dijaga ketat, terbujur kaku tubuh seorang wanita. Dilindungi oleh kapsul dengan kaca tebal yang tembus cahaya. Ujung pintu ruangan tersebut dibuka paksa dengan sebuah ledakkan. Tiga orang masuk dan mengamankan sekitar.

Dengan waktu yang terbatas, ketiganya mendorong kapsul keluar ruangan. Saat dekat dengan sebuah kendaraan, mereka memasukkan kapsul tersebut. Tepat kapsul masuk ke sebuah mobil yang dapat mengudara, satu peleton tentara Kalimera datang. Menghadang mereka dengan senapan laras panjang yang siap ditembakkan.

Tak gentar, ketiga pria itu memulai baku tembak dengan tentara Kalimera. Mengorbankan diri mereka agar mobil terbang itu lolos membawa kapsul yang sangat berharga. Kalah jumlah, perisai yang melindungi tiga pencuri itu tak dapat menahan serangan peluru para tentara. Ketiganya gugur dalam kerelaan tugas yang diberikan oleh negara.

Ibu jari seorang pria menyentuh layar kecil di tangan kursi rodanya. Roda kecil itu bergerak pelan, membawa sang pria berambut pirang masuk ke sebuah ruangan dengan aksen putih dan futuristik. Satu erangan pria itu mulai lolos. Tangannya menyentuh layar di sebuah kapsul hingga kacanya terbuka.

Nampak sosok wanita yang terbujur kaku. Lenguhan pria itu terdengar lebih keras saat mata yang biasa memberinya tatapan sejuta makna, kini tertutup rapat. Tangan sang pria menyentuh pelan tangan halus yang tak bergerak milik sosok itu. Hatinya perih saat tak ada pergerakan apa pun.

“Vintari …. Kumohon jangan lakukan ini.”

Kepala sang pangeran tertunduk. Satu bulir air dari matanya menetes dan disusul tetesan lain. Rongga dada Duncan terasa terbakar. Wajah tampannya kini memandang jasad Vintari yang bergeming.

“Bangunlah, Vintari! Jangan mati!” seru Duncan.

Cerita Resah Gelisah

Mata biru pria itu menutup rapat, membiarkan lelehan hangat dari mata terus menyapu wajah tampannya yang begitu terluka. Erangan keras sang pangeran terdengar karena luka hatinya terasa menyakitkan. Duncan berteriak lepas lantaran duka bagai menyayat jantungnya. Rasa kehilangan membuat otak Duncan membeku hingga ia merasa tanpa nyawa saat ini.

Mata Duncan terbuka dan menatap jasad Vintari dengan pandangan buram. Bibir Duncan bergetar dan tubuhnya menggigil. Isakan tangis membuat pria itu sulit bernapas dengan baik. Titah di bawah alam sadarnya pun terucap.

“Segenap hati, aku mencintaimu. Batas semesta tak akan bisa memisahkan kita.”

Penulis: Vintari

TAMAT