Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Bersetubuh dengan Mantan Kekasih London yang Mempesona

Bersetubuh dengan Mantan Kekasih London yang Mempesona

Cerita Sex Menguntai Masa Lalu – Surat dari kampung halaman yang mengingatkan Kino pada acara pernikahan Alma di ibukota ternyata hanya satu saja dari serangkaian kejadian yang seakan melemparkan pemuda itu ke masa lalunya … Dua hari kemudian, pemuda itu menerima sepucuk kartu pos bergambar langit biru dan seekor burung camar yang terbang sendirian.

Dengan penuh tanya, Kino membulak-balik kartu pos misterius itu, mencari pesan apa yang tertulis di sana. Tidak ada tulisan apa pun di bagian yang biasanya berisi kabar dari si pengirim.

Juga tidak ada tulisan apa pun di bagian alamat pengirimnya, kecuali sebuah peringatan yang di-stempel-kan, berbunyi: SENDER NOT KNOWN berwarna merah.Kino mengamati gambar di kartu pos itu.

Menguntai Masa Lalu Ngocoks Kini ia mendapatkan kesan kuat dari sana. Langit biru dan burung yang sendirian … Kosong dan sepi. Biru dan sendu. Sendiri dan gundah. Dengan berdebar, Kino mengamati perangko-perangko yang tertempel di pojok kanan atas.

Jantungnya berdegup keras ketika menyadari dari mana perangko-perangko bergambar Ratu Elizabeth dan jam raksasa Big Ben itu berasal. Apalagi stempel cap pos menegaskan darimana kartu pos itu dikirim.

London!

Terduduk di dipan di kamarnya, Kino mendekap kartu pos itu di dadanya, seakan dengan demikian ia bisa meredakan debur jantungnya. Sebuah rasa sakit samar-samar menyeruak dari uluhati, naik ke dadanya, dan menyekat di tenggorokannya.

”Trista!”, desis Kino sambil memejamkan matanya yang tiba-tiba terasa perih.Tidak ada orang lain di London yang tahu alamatnya, selain bidadari itu! Tidak ada orang lain yang bisa mengirim rasa sunyi dan rindunya, selain wanita mempesona yang tercerabut dari kisah indah yang mereka jalani bersama dulu!

Kino menghempaskan tubuhnya di ranjang. Kartu pos terlepas dari genggamannya, melayang cepat sebelum terhempas di lantai dingin.Terlentang, pemuda itu memandang nyalang langit-langit kamar yang berwarna putih buram. Langit-langit itu kini berubah menjadi sebuah layar lebar. Dan sebuah film bermain di layar itu ….

Trista menyibakkan anak rambut yang tergerai di keningnya, tersenyum manis dan memandang penuh kehangatan. Cantik sekali ia, sekaligus menggairahkan dan mengundang rengkuhan sepenuh badan. Kedua matanya, pusat dari segala perasaannya, berbinar lembut sekaligus tegas.

Hanya ada kerinduan dan sayang dan kemesraan di sana. Bening memberikan gambaran dasar-dasar jiwanya yang terdalam. Indah bagai sengaja tercipta untuk menampilkan diri secara mempesona!

Trista tertawa renyai, membiarkan seluruh tubuhnya berguncang lembut, melepaskan keriangannya. Angin meniup rambutnya berkibar ramai. Bahunya bergerak-gerak seperti orang menari.

Seluruh wajahnya menyemburatkan keriangan yang tersebar ke segala penjuru. Setiap kali ia tertawa seperti itu, Kino selalu ingin menarik tubuhnya, merengkuh bahu yang mulus itu, mendekapnya sekuat tenaga!

Trista tergeletak di hamparan rumput biru, membiarkan rambutnya tergerai lepas menjadi bingkai dari wajahnya yang jelita. Kedua tangannya tergolek leluasa di atas kepalanya, membuat dadanya membusung menantang. Bahkan gaya grafitasi pun tak mampu menyembunyikan bukit indah yang mencuat kenyal di balik baju tipis putih.

Salah satu kakinya tertekuk, membuat rok panjangnya tersingkap sebatas paha, menampilkan keindahan pualam mulus. Senyum tetap tersungging di bibirnya yang merekah basah. Betapa kuatnya undangan di balik kepasrahan itu!

Kino memejamkan matanya kuat-kuat. Bayangan-bayangan di langit-langit itu hanya membangkitkan kesenduan yang menusuk.

Tidak ada yang sensual atau erotik di sana, walau pemuda itu masih bisa dengan jelas membayangkan tubuh telanjang yang bermandi peluh, yang ia ciumi penuh nafsu, yang ia peluk penuh birahi, yang ia selami berkali-kali. Tidak ada erotisme di bayangan-bayangan itu! Yang datang justru perasaan sakit tertusuk sembilu!

Sesungguhnyalah, sejak kecelakaan dan sejak bidadari itu menghilang ikut suaminya ke London, Kino berusaha sekuat tenaga membuang bayang-bayang Trista dari kehidupannya. Tetapi sungguh gegabah lah ia, kalau menyangka bahwa usaha itu mudah.

Sama sekali tidak! Sama sekali tak mungkin! Bayangan-bayangan itu datang seperti kabut di pagi hari, seperti rembulan di malam hari, seperti debu di siang hari. Ngocoks.com

Apalagi kalau Trista mengirimkan pesan sunyi-sepi-biru lewat kartu pos seperti ini!Kino bangkit, meraih kartu pos yang tergeletak di lantai, memandang gambarnya lekat-lekat, seakan-akan ingin memastikan bahwa semua ini bukan mimpi buruknya.

Kino bertanya-menduga dalam hati: apa yang bidadari itu rasakan ketika memilih-milih kartu pos? Apa yang mendorongnya mengirim pesan yang penuh kesunyian ini?

Ia merindukan ku! jerit Kino dalam hati. Ia juga merentangkan tali rindu itu melewati batas lautan. Betapa jauhnya kini ia berada, dan betapa kuatnya rindu itu menyeruak, tak mampu tercegah oleh batas-batas benua. Sekaligus pula, betapa terikatnya kita berdua! jerit Kino lagi. Terikat oleh keindahan masa lalu!

Kino menggeleng-gelengkan kepalanya seperti hendak membantah sendiri kata hatinya. Mana mungkin. Sekuat apa pun ia menggeleng-geleng, kata hatinya tak terbantahkan: ia terikat-kuat kepada sekeping masa lalu yang indah dan mempesona itu. Selamanya terikat. Sampai mati!

Kalau pun Trista tak mengirimkan rindunya, tak mencoba mengontaknya, tak membangun jembatan perasaan …. Kalau pun Trista tak melakukan apa-apa di London sana, Kino tetap tak akan bisa melepaskan diri dari ikatan mahakuat yang terlanjur telah tercipta.

Betapa menakutkannya!

Kino menunduk dan tak sengaja meremas-remas kartu pos itu menjadi gumpalan. Telapak tangannya basah oleh keringat, sehingga gumpalan itu menjadi lembek. Dengan tangan masih mengepal dan masih menggenggam gumpalan kartu pos, pemuda itu memukul-mukul dahinya. Dentuman-dentuman terdengar di telinganya setiap kali kepalan itu membentur dahi.

Setidaknya, dentuman-dentuman itu mampu meredam suara-suara lain di kepalanya.

******

Pada saat yang bersamaan, di rumah sebelah, Indi untuk yang kesembilan kalinya kembali ke depan cermin. Wajahnya serius, kedua matanya memandang seksama bayangan diri di cermin itu.Hmmm … lipstik ku terlalu tebal, bisiknya dalam hati sambil menggunakan tissu untuk menghapus bibirnya.

Hmmm … sebaiknya rambutku dibiarkan terlepas, karena toh terlalu pendek untuk diikat. Hmmm … kancing nomor dua sebaiknya kulepas supaya ada yang bisa kupamerkan. Hmmmm … rok ku agak terlalu ketat sehingga garis-garis celana dalamku terlihat. Tetapi, ah ….. biar saja! sergah gadis itu dalam hati sambil tersenyum nakal.

Sejam yang lalu, Indi menyelinap ke kamar orangtuanya, mencuri-pakai parfum ibunya. Ia memutuskan untuk tidak memakai parfumnya sendiri, karena terlalu “ramai” dan lebih cocok untuk ke pesta atau ke disko. Parfum mama jauh lebih lembut dan jauh lebih “dewasa”! begitu pikir Indi.

Ketika ia lewat di dapur, ibu menegurnya dengan lembut, membuat Indi merasakan mukanya terbakar, “Mau ketemu siapa, sih, sore-sore sudah rapi?””Mau belajar!” sahut Indi cepat sambil buru-buru berlalu.Ibunya tercengang, tetapi tak bertanya lagi, melanjutkan menggoreng pisang. Sejak kapan anak gadisku mencuri-pakai parfumku untuk belajar? tanyanya dalam hati.

Indi memang mau belajar matematika, dan sudah menguatkan hati untuk mengundang Kino mengajarinya! Kini ia harus mengatur jantungnya yang berdegup kencang sebelum pergi ke sebelah dan berteriak memanggil Kino. Sekali lagi ia mematut-matutkan diri di depan cermin. Kalau cermin itu bisa berbicara, pastilah ia akan mengeluh panjang lebar!

Sebelum ke rumah sebelah, Indi kembali ke dapur, dan dengan singkat mengatakan bahwa ia akan meminta Kino membantunya menjawab beberapa persoalan matematika. Indi bilang ia akan memakai ruang tengah untuk belajar. Ibunya agak tercengang, tetapi dengan bijak menyimpan komentarnya.

“Oh, yaa …,” seru Indi sebelum pergi,

“Boleh minta pisang gorengnya untuk Kak Kino, ya, Ma!” Lalu gadis itu melesat pergi, meninggalkan ibunya yang menggeleng-geleng pelan.

******

Kino masih memukul-mukul dahinya sendiri ketika ia mendengar suara Indi memanggil-manggil.Dengan lunglai, pemuda itu bangkit dan keluar dari kamarnya. Sekali lagi ia menggeleng kuat-kuat, menghela nafas dalam-dalam dan berharap agar kerisauan tak terpancar dari mukanya. Sambil memicingkan matanya karena harus menghadapi sinar terang di luar kamar, Kino menemui si empunya suara yang memanggil-manggil itu.

“Mengganggu?” teriak Indi dari balik tembok yang memisahkan rumahnya dengan rumah kost Kino. Kino tersenyum dan terus berharap agar kerisauannya tak terlalu kentara,

“Tidak. Tidak mengganggu!” Indi sejenak mengernyitkan keningnya, melihat ada sepercik gundah di wajah pemuda di depannya.

“Betul tidak mengganggu?” desak gadis itu. Kino menggeleng lagi,

“Tidak. Aku cuma agak sedikit capai.” Indi sejenak merasa kecewa. Ah, bagaimana kalau ia terlalu letih untuk mengajarkan matematika?

“Ada apa Indi?” tanya Kino sambil berjalan mendekat. Indi menggigit bibirnya,

“Hmmm … ada perlu dikit. Tapi, kalau Kak Kino capai, yaaa … ngga jadi, deh!” Kino tersenyum, mengetahui bahwa si centil ini pasti akan memintanya membantu menyelesaikan tugas-tugas matematika. Cantik sekali ia sore ini. Eh .. tetapi apa hubungannya cantik itu dengan tugas matematika? gerutu Kino dalam hati.

“Mau belajar matematika?” tanya Kino sambil berjalan lebih dekat. Kini hanya tembok yang memisahkan mereka berdua.

Indi mengangguk pelan, dan berucap samar,

“Kalau Kak Kino tidak keberatan …” Timbul keingingan Kino untuk menggoda,

“Bagaimana kalau aku keberatan?” Sayang sekali, Indi tahu bahwa ucapan itu cuma godaan. Maka gadis itu menyahut dengan mata berbinar,”Harus ada alasan, dong … kenapa Kak Kino keberatan.””Terserah aku, kan, mau keberatan atau tidak?” kata Kino sambil mengutuk dalam hati, mengakui bahwa tidak mudah menggoda si centil yang banyak akal ini.

“Iya .. terserah Kak Kino, tapiiiiii….,” kata Indi sambil mengerahkan semua kemampuan kekenesannya,”Harus ada penjelasan, kenapa keberatan.””Aku harus tahu dulu,” kata Kino pura-pura serius, “Kenapa aku harus membantu kamu?” ”Ada pisang goreng dan secangkir kopi?” jawab Indi sambil mengangkat kedua alisnya, menambah cemerlang kedua matanya yang bening.

Kino tertawa tergelak,”Ha ha ha … masak cuma dengan pisang goreng dan kopi sudah cukup alasan untuk membantu kamu!” Indi senang melihat pemuda di depannya tertawa tergelak. Setidaknya, Kak Kino tidak serisau yang aku duga sebelumnya, bisik gadis itu dalam hati.

“Selain itu, ada anugrah, lho, untuk orang yang mau membantu orang lain dalam kesulitan!” ucap Indi sungguh-sungguh. Kino menahan tawanya,”Aku tahu itu. Tetapi apakah kamu termasuk orang yang dalam kesulitan?” Indi tersenyum manis sekali,”Sungguh-sungguh dalam kesulitan!”

“Kesulitan apa, sih!?” sergah Kino tak mau kalah.”Macem-macem … selain matematika!” sahut Indi cepat-cepat,”Nanti Indi ceritain … kalau Kak Kino mau datang ke rumah sore ini!” Kino menyerah.

Percuma menggoda Indi, karena gadis itu punya indera keenam yang bisa mengetahui perasaanku! keluh pemuda itu dalam hati. Ia lalu mengangguk dan mengatakan akan mengganti baju.”Cihui!” jerit Indi sambil berlari kembali ke rumahnya.

*****

“Selamat sore tante,” ucap Kino sopan ketika ia tiba di rumah Indi dan menemui ibunya di ruang tamu.”Selamat sore Kino,” sahut ibu yang penuh senyum itu,”Ayo masuk.”

Bagi orangtua Indi, mahasiswa yang indekos di sebelah rumah itu bukanlah orang asing. Apalagi ayah Indi pernah ikut mengurus Kino ketika kecelakaan dulu. Sebatas pengetahuan kedua orangtua Indi, pemuda itu adalah “anak baik-baik” yang tidak pernah terdengar membuat ulah.

Samar-samar mereka menduga, terutama sang ibu, bahwa anak gadis mereka punya perasaan istimewa terhadap Kino. Tetapi tak terlalu banyak yang mereka ketahui, dan pada umumnya mereka membebaskan Indi menentukan sendiri pacar atau temannya.

“Kami mau belajar di ruang tengah,” kata Indi yang berdiri di sebelah ibunya,

“Jangan diganggu!””Lho … memangnya ibu mau mengganggu?” protes sang ibu.

“Pokoknya Indi ngga mau diganggu!” sergah si centil.”Mama, kan, juga perlu belajar matematika,” goda sang ibu. Sambil menarik tangan Kino yang masih terpana memandang “pertengkaran” di depannya, Indi mencibir dan menyergah,”Ahh .. mama suka ngarang!”

“Mama tidak perlu mengantar kopi ke sana?” goda sang ibu lagi.”Eh .. tidak usah tante!” kali ini Kino yang menyahut karena merasa tidak enak merepotkan tuan rumah. Indi terus menarik tangan Kino sambil berkata,”Kak Kino mau aja diganggu mama!””Tapi ngga enak dong .. kalau sampai merepotkan mama kamu!” protes Kino sambil terhuyung-huyung mengikuti langkah Indi.”Biar aja, kalau mama mau mengantar kopi, dan jangan protes lagi!” sergah Indi.

Kino pun diam, setelah menggerutu sebentar. Lalu mereka belajar. Sungguh-sungguh belajar, karena Indi memang punya beberapa pertanyaan pelik menyangkut beberapa rumus matematika. Dengan sabar Kino mengajari gadis yang biasanya centil dan manja itu.

Kali ini, Kino juga merasa heran sendiri, mengapa Indi terlalu serius. Baru kali ini ia mengajari gadis itu dengan keseriusan yang sama seperti kalau ia mengajar di tempat kursus. Tetapi tentu saja Kino tak mempersoalkan “kejanggalan” ini, dan malah berterimakasih dalam hati karena tidak membuang-buang waktu untuk meladeni si centil.

Selain serius, Indi juga tampak “lain” sore itu. Berkali-kali Kino mencoba menerka, apa yang lain di diri gadis itu. Selagi Indi serius mengerjakan soal matematikanya, pemuda itu diam-diam memandangnya dengan seksama. Indi tampak cantik sekali dengan pupur tipis dan lipstik yang tak terlalu kentara. Hmmm … pikir Kino, mungkin itu yang menyebabkannya cantik!

Dari posisi agak di samping, Kino bisa memandang profil wajah gadis itu. Hidungnya yang agak mancung, bulu matanya yang lentik, dan pipinya yang mulus. Kombinasi ini tampak indah di bawah seonggok rambut pendek yang lepas tergerai.

Beberapa anak rambut tampak menyeruak di sana-sini, seperti serabutan semak di taman. Bibir bawahnya tergigit-gigit oleh pemiliknya yang sedang serius; basah memerah-muda seperti jambu air yang berangkat matang.

Kalau memakai nilai 1 sampai 10, Indi boleh dimasukkan kategori 9,5. Tidak bisa sempurna, pikir Kino, karena anak centil ini sering terlalu mengandalkan kecantikannya untuk merajuk-merayu. Seandainya saja ia bisa lebih kalem dan dewasa, mungkin aku harus memberinya nilai 11!

Atau barangkali justru kemampuan merajuk-merayu itu yang membuatnya cantik? Ah, sebaiknya memang tidak usah terlampau repot memberi nilai. Indi memang cantik, apa pun alasan yang dipakai!Tiba-tiba Indi melirik, memergoki Kino yang sedang memandang dirinya.

“Kenapa?” tanya gadis itu pelan.

“Kamu selalu memakai make up walau di rumah?” tanya Kino terus terang, kadung sudah terpergok!Indi tersenyum, tidak menjawab pertanyaan itu, dan kembali menekuni persoalan matematika di bukunya. Gadis itu membiarkan Kino menjawab sendiri pertanyaannya. Membiarkan pula pemuda itu melanjutkan “peninjauan”-nya atas wajah atau bagian mana pun dari tubuhnya! Terserah dia, lah! sergah Indi dalam hati.

Kino menginterpretasi diam Indi itu sebagai “ya”. Hmmm … tetapi biasanya ia tidak memakai pupur kalau di rumah. Atau mungkin tidak terlalu kelihatan oleh ku! katanya dalam hati. Apa lagi yang “lain” hari ini? Rambutnya tergerai lepas, seperti biasanya. Lagipula terlalu pendek untuk diikat, pikir Kino. Bagaimana kalau ia memanjangkan rambutnya, sampai sebahu. Seperti rambut Trista, tergerai lepas.

Ah, … tanpa sadar bayangan bidadari itu bermain kembali di pelupuk mata Kino. Terbayang Trista duduk di depannya, serius menekuni semangkuk es buah di kedai yang selalu mereka kunjungi untuk rendesvouz.

Terbayang sinar mentari sore menerpa rambutnya yang legam, menimbulkan kilauan samar lembayung aneka warna, menambahkan guratan keindahan ke wajahnya yang sudah cantik mempesona. Terbayang betapa hangat rasanya membelai rambut itu dengan jemarinya!

“Hei!”sergah Indi membuat Kino tersentak,

“Koq melamun, sih?”

“Eh … ada apa?” sahut Kino tergagap.

“Kak Kino melamun, ya!” sergah Indi agak kesal karena tahu pemuda di sebelahnya tidak sungguh-sungguh sedang memperhatikannya. Kino tersenyum kecut,

“Maaf. Kamu sedang serius, dan aku tidak punya kegiatan. Memangnya ngga boleh melamun?” Indi mencibir,

“Boleh. Apa sih yang Kak Kino lamunkan?”

“Ah, tidak ada!” sahut Kino cepat.

Indi meletakkan pensilnya, menghadapkan tubuhnya ke Kino,

“Bohong. Mana mungkin ada orang melamunkan sesuatu yang tidak ada.” Kino menghela nafas,

“Kalaupun aku melamun sesuatu, tidak ada hubungannya dengan matematika.” Indi tertawa kecil,

“Habisnya, ada hubungan dengan apa, dong?”

“Apakah aku harus mengatakan semua yang aku lamunkan?” sahut Kino pura-pura kesal.

“Kalau boleh Indi tahu …,” kata Indi sambil mengerling genit.

“Soal matematikanya sudah selesai belum?” sergah Kino mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Sudah!” jawab Indi cepat,

“Sekarang Indi ingin tahu apa yang Kak Kino lamunkan!” Kino terdesak, tetapi tak ingin menyerah begitu saja,

“Aku mau minum kopi, boleh?” Indi menyorong secangkir kopi yang sudah mulai dingin, lebih dekat ke tempat Kino duduk.

“Silakan, jangan malu-malu. Pisang gorengnya sekalian!” kata gadis itu.

Dengan lega Kino mengangkat cangkir itu ke bibirnya, menikmati kopi yang memang sedap. Dua hirup ia teguk cairan hangat yang mempesona itu masuk menebarkan kenikmatan di dadanya. Sangat tepat campurannya: tidak terlalu pahit, tidak terlalu manis. Siapa pun yang membuatnya, harus diberi acungan jempol. Kino baru saja mau mengambil sepotong pisang goreng ketika Indi menyela,

“Ayo … cerita dulu, dong, sebelum makan pisang goreng!” Pemuda itu menghentikan gerakan tangannya,

“Wah, .. masak musti cerita dulu. Aku lapar!” Indi justru menarik piring pisang goreng menjauh,

“Cerita dulu … Tidak baik cerita dengan mulut penuh pisang!””Indi ..,” Kino memprotes,”Kamu tidak menghormati tamu …. dan gurumu!”

Indi makin menjauhkan piring pisang goreng, tetapi dengan demikian ia makin mendekatkan tubuhnya ke Kino. Pemuda itu tak bisa meraih piring tanpa harus menyentuh badan Indi. Ketika Kino mencoba melakukannya, tubuh Indi justru jatuh ke pelukannya.

Cepat-cepat Kino menegakkan tubuhnya, takut kepergok ibu Indi, dan juga sadar akan jebakan yang dipasang si centil.”Cerita dulu!” sergah Indi bersikeras. Kino menarik nafas panjang, memutuskan untuk menyerah saja daripada tidak kebagian pisang goreng!

“Aku teringat Trista,” ujar Kino pendek. Indi terdiam. Ucapan pendek itu seperti sebuah kalimat panjang lebar yang perlu disimak sehari penuh sebelum bisa dimengerti maknanya.

“Aku teringat dia, karena tadi siang aku menerima kartu pos dari London,” kata Kino lagi sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. Ngocoks.com

Indi tetap diam. Menunduk memandang tangannya sendiri yang kini bermain-main dengan pinggiran piring. Kino menghela nafas panjang, berkata dalam hati: apakah aku harus ceritakan semuanya? Lalu, tanpa berpikir lagi, langsung berkata,

“Entah kenapa aku tiba-tiba sangat merindukannya. Bukan cuma karena kartu pos itu. Sejak lama aku tidak bisa melupakan dia. Hampir setiap hari bayangan wajahnya datang. Tidak siang, tidak malam, tidak pagi, tidak sore … Setiap saat.”

Indi merasakan dadanya sesak. Cara Kino mengucapkan pengakuannya terdengar sangat getir di telinga Indi. Terbayang saat ia pertama kali melihat kegundahan di wajah pemuda itu sewaktu ia memanggil-manggil dari balik tembok. Jadi, itulah yang ia risaukan. Betapa keruhnya kedua matanya waktu itu! Seperti sungai yang penuh lumpur akibat hujan lebat di hulunya. Betapa tersiksanya ia! kata Indi dalam hati.

Kino tak bisa menebak apa arti diam Indi, maka ia melanjutkan ceritanya karena merasa sudah terlanjur.

“Aku tak tahu, Indi, apakah hal ini baik atau tidak,” katanya, “Tetapi aku sungguh risau setiap kali menyadari bahwa aku tidak bisa lepas dari masa lalu yang getir itu. Sampai kapan aku harus terus terikat kepadanya? Aku seakan-akan terpenjara oleh kenangan yang manis sekaligus menyakitkan itu. Sampai kapan aku harus merasa sakit hati?”

Indi mengangkat mukanya. Kino berbicara setengah menunduk. Gadis itu merasakan kembali dadanya menjadi sesak oleh sebuah perasaan yang berisi campuran antara iba dan iri. Ia iba melihat pemuda yang ia senangi itu mengalami kegetiran. Ia juga iri kepada Trista, perempuan yang ia jumpai di rumah sakit dan yang ia akui sendiri sebagai perwujudan dari kecantikan wanita yang alamiah.

Kino mengangkat mukanya, menemukan kedua mata Indi memandang lekat. Sejenak mereka hanya saling pandang dalam sepi. Walau begitu, kedua hati mereka bercakap-cakap ramai, masing-masing dengan kegundahan dan kerisauannya sendiri.

Indi memaksakan sebuah senyum, yang tentu saja terlihat janggal dalam situasi seperti ini.

“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Kino karena ia mengenali kejanggalan itu.

“Habis … harus bagaimana?” Indi balik bertanya, tangannya seperti tak sengaja menumpang di punggung telapak Kino.

“Cerita ku tadi lucu, ya?” tanya Kino, membiarkan gadis itu mengirimkan simpatinya lewat telapak tangan yang halus.

“Ceritanya sedih,” jawab Indi terus terang,

“Tetapi mendingan Indi anggap lucu. Daripada Indi ikut nangis!” Kino tertawa.

Cerita Dewasa Ngentot - Bersetubuh dengan Mantan Kekasih London yang Mempesona
“Betul juga!” katanya,

“Sebaiknya kita menertawai kesedihan, daripada menangisinya!” Indi tersenyum lembut, mengelus-elus punggung tangan Kino seperti hendak meredakan gundah-nestapa di dada pemuda itu. Ia berucap pelan,

“Indi sebetulnya ngiri sama Kak Trista … kenapa harus selalu dia yang diingat. Tapi, lalu Indi pikir itu adalah hak Kak Kino. Jadi …..” Kino menunggu lanjutan kalimat itu. Tetapi, sampai lama tidak ada yang diucapkan lagi oleh Indi.

“Jadi ….?” tanya Kino sambil memandang lekat-lekat wajah manis yang kini berbinar lembut itu.

“Jadi …,” kata Indi sambil menghela nafas panjang,

“Jadi, sekarang Kak Kino boleh makan pisang goreng!”

Kino tertawa lagi. Betul-betul menikmati tawanya, karena gadis kenes centil di depannya ini memang pandai mencairkan suasana yang beberapa saat tadi penuh kegundahan. Sejenak Kino seperti mendengar syair lagu populer itu … buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanya …

“Husy!” sergah Indi sambil menyorongkan piring pisang goreng,

“Jangan tertawa terlalu keras, nanti mama sangka Kak Kino gila sehabis mengajar matematika!” Kino langsung menghentikan tawanya,

“Benar juga, sih … Aku bisa gila kalau setiap hari mengajar matematika seperti ini!” katanya.

“Seperti ini … seperti apa?” sergah Indi sambil ikut mengambil pisang goreng. Kino mengambil sepotong pisang yang tampak lezat menantang,

“Seperti ini … seperti kamu yang bisa becanda di depan orang yang sedang kesusahan!” katanya.

“Indi senang becanda,” kata Indi dengan mulut penuh,

“Apalagi kalau becanda-nya membuat Kak Kino gembira.”

“Merayu, nih!” sergah Kino juga dengan mulut penuh. Indi menelan pisang gorengnya, lalu berkata sungguh-sungguh,

“Tidak. Indi memang senang kalau Kak Kino gembira!”

“Kenapa harus membuat aku gembira. Biar saja aku sedih,” kata Kino bersikeras.

“Jangan di depan Indi, kalau mau bersedih,” sahut Indi ikut bersikeras.

“Jadi, aku harus pura-pura gembira, begitu?”

“Terserah. Yang penting jangan sedih. Kalau Kak Kino sedih, Indi akan terus becanda.”

“Kamu anggap hidup ini becanda, ya!”

“Memang. Apa sih susahnya becanda. Lagipula, Indi suka jika hidup ini gembira terus. Ngapain hidup kalau cuma untuk bersedih.”

“Kamu tidak pernah bersedih?”

“Pernah. Sering.”

“Jadi, apa yang kamu lakukan kalau kamu yang sedih?”

“Ya, anggap saja selingan. Indi akan berusaha gembira lagi!”

“Tetapi itu tidak gampang, kan?”

“Memang tidak gampang. Tetapi juga tidak sesulit matematika yang barusan Kak Kino ajarin!”

Kino tertawa. Senang sekali ia berkutat dalam percakapan ringan dengan Indi hari ini. Bahkan dengan takjub ia menyadari bahwa kegundahan yang tadi menelikungnya, kini hilang seperti kabut sirna oleh mentari. Indi bagai mentari itu … menyinari hari kelabunya. Tanpa maksud apa-apa, Kino menangkat tangannya, menyentuh ringan pipi Indi sambil berucap pelan,

“Terimakasih Indi. Kamu membuat aku gembira.” Indi menyandarkan pipinya lebih kuat ke telapak tangan Kino, tersenyum lembut dan menyemburatkan sinar matanya yang hangat. Sejenak mereka hanya berpandang-pandangan, dan Kino mengelus-elus pipi mulus yang terasa hangat itu.

“Kalau sudah selesai, aku mau pamit.” ujar Kino akhirnya. Indi mengangguk, lalu bangkit terlebih dulu. Kino meneguk sekali lagi kopinya, lalu bangkit menyusul Indi yang sudah mulai melangkah ke ruang tamu.

Di luar, senja telah datang dengan segala kemegahanNya. Indi bersandar di bingkai pintu depan, memandang Kino meninggalkan halaman sambil sesekali menengok dan melambaikan tangan.

Lalu pemuda itu hilang di balik tembok. Indi masih berdiri beberapa saat, memandang ke langit yang memerah, dan merasakan betapa indahnya senja kali ini. Sekali lagi ia menengok memastikan bahwa Kino sudah pulang, sebelum akhirnya masuk ke rumah.

Bersambung…

Setelah membantu Indi dengan PR-nya, hubungan Kino dengan gadis itu mencair kembali. Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, hubungan mereka tak pernah membeku secara total. Tetapi masing-masing pihak memang bersikeras bahwa “tidak ada apa-apa”, sehingga jadinya malah kisruh dan kaku. Masing-masing pihak terlibat oleh kesungkanan dan keraguan yang mereka ciptakan sendiri, seperti seorang nelayan yang terjerat jaring buatan sendiri.

Kino merasa lega, ia bisa berbicara lepas kembali di hadapan Indi. Sesungguhnya pemuda itu menyukai si centil karena mengingatkannya pada sikap lepas-terbuka yang selama ini ia tak bisa lakukan.

Indi seperti semacam rujukan bagi Kino tentang betapa mudahnya untuk tidak membohongi diri sendiri. Gadis itu biasa terus terang, bahkan untuk hal-hal yang sangat pribadi. Jika ia suka pada sesuatu, ia mengatakannya blak-blakan. Jika ia marah, ia menyampaikannya dengan lugas.

Sebaliknya bagi Indi, pemuda yang memikat hatinya itu juga adalah semacam suar yang mengingatkannya kepada kedewasaan. Kino bagi Indi adalah pemuda yang bisa keras-kepala secara baik dan benar! Pemuda yang tak terus-terang dan penuh bimbang, tetapi sekaligus bisa punya prinsip yang sekeras batukarang.

Setiap kali Indi membandingkan Kino dengan berbagai pemuda yang pernah dikenalnya, selalu datang kesimpulan bahwa Kino lebih “aman” untuk diajak mengarungi hidup belia yang penuh godaan sekaligus peluang ini.

Tahu sendiri lah, Indi ! Gadis itu menganggap hidup ini seperti lautan luas yang penuh gelombang, atau dataran pegunungan yang bergunduk-gunduk. Baginya, ombak adalah ayunan yang musti dinikmati walau bisa juga menenggelamkan mu sampai mati.

Pegunungan adalah keteduhan yang nyaman walau kalau meletus bisa juga membawa bencana. Hidup ini, buat Indi, harus diarungi dengan semangat yang membebas-lepaskan, tanpa harus lupa akan risiko dan bahaya di sana-sini.

Sementara bagi Kino, hidup ini bukan lagi cuma mengandung risiko atau kemungkinan bahaya. Ia sudah mengalami sebentuk bahaya dalam hidup ini, yang langsung menjelma tanpa peringatan. Ia sudah pernah terjerembab sangat dalam di jurang hitam asmara yang memabukkan itu.

Bahkan sampai kini pun ia belum sepenuhnya bisa keluar dari jurang tersebut. Itu sebabnya, Kino kini memandang hidup dengan penuh kegundahan dan sekelumit ketak-percayaan.

Kini pemuda itu selalu mempertanyakan keabsahan setiap perasaannya, atau ketepat-gunaan tindakannya. Akibatnya, ia terlihat lebih perenung dari biasanya. Wajahnya makin mengguratkan wajah seorang perenung yang prihatin.

Campuran antara Indi yang bebas-lepas dengan Kino yang gundah-waspada bisa semarak, tetapi juga bisa meruyak. Tergantung bagaimana mereka berdua memainkan peranannya masing-masing. Kita tahu, ada kalanya hidup ini bagai sebuah cerita panggung yang ditetapkan secara jelas oleh seorang sutradara.

Tetapi lebih sering, cerita itu sengaja dibuat oleh Sang Sutradara dalam bentuk lepas terbuka. Para aktor di dalam cerita itu punya peluang untuk menjalankan perannya secara bebas, selama masih dalam kerangka cerita.

Perjumpaan Kino dan Indi yang berikutnya adalah pada suatu kesempatan di Minggu sore, yang seakan-akan tercipta untuk mereka berdua. Tidak ada hujan, langit bersih, tetapi juga tidak terlalu panas karena angin basah bertiup agak kencang. Suasana sejuk mendominasi sejak siang, dan ketika sore tiba dengan kemegahanNya, udara semakin terasa nyaman.

Kino memutuskan untuk berjalan-jalan ke pertokoan di pusat kota, mencoba memulai perburuan kado untuk perkawinan Alma dengan Devin. Memakai jeans kesayangan dan kaos t-shirt merah tua, pemuda itu melangkah sambil bersiul-siul riang.

Pada saat yang sama, Indi menuju keluar karena ibunya minta gadis itu membelikan beberapa gulung benang. Rok selutut bercorak kembang biru-hijau dan kemeja ketat warna khaki membuat si centil tampak ceria sekaligus menggoda.

Keduanya bertemu di gang menuju jalan raya. Sama-sama tersenyum, mereka segera beriringan, melangkah ringan seperti di atas bantalan berkwintal-kwintal kapuk.

“Mau kemana?” adalah pembukaan yang terlontar dari mulut Kino. “Kak Kino mau kemana?” balas Indi sambil tetap menjaga kemanisan senyum yang berhias lesung pipit samar-samar itu. “Tidak baik menjawab pertanyaan dengan pertanyaan,” kata Kino sambil mengira-ngira berapa sendok gula pasir diperlukan untuk membuat senyum semanis senyum Indi. “Tak baik menanyakan ke mana seorang gadis pergi sendirian,” sahut Indi sambil tertawa kecil karena ia memang suka tertawa kalau ada di sebelah pemuda itu. “Jadi, aku harus menawarkan diri untuk mengawal. Bukan malah bertanya. Begitu?” kata Kino sambil menahan keinginannya untuk men-cowel pipi bersemburat merah muda yang menggemaskan di sebelahnya itu. “Indi ngga berkata begitu, lho!” sergah Indi cepat, “Kak Kino yang mau mengawal, kan?!” “Mana mungkin aku bisa mengawal kalau tidak tahu kemana kamu mau pergi,” sahut Kino. “Tidak jauh-jauh, kok!” ujar Indi sambil mendekatkan diri, sehingga kini mereka berjalan nyaris bersentuhan lengan. “Jauh-dekat ongkosnya sama,” goda Kino menikmati rasa dekat yang menyeruak di antara mereka. “Ongkosnya es krim, cukup ngga?” tanya Indi sambil berpikir keras mencari alasan untuk mama kalau nanti ia pulang agak terlambat.

Kino tertawa, tentu saja ia suka es krim, apalagi kalau sambil ngobrol dengan si centil yang punya segudang kekenesan. Lagipula, sore ini ia tidak ada acara apa-apa selain mencari kado. Maka ia menyatakan persetujuannya dengan perjanjian bahwa yang mentraktir adalah dirinya.

Biar bagaimana pun ia adalah pihak yang lebih “mampu”, karena punya penghasilan dari mengajar kursus. Sementara Indi toh cuma mengandalkan uang saku. Setelah agak membantah (karena bukan Indi namanya, kalau tidak membantah), akhirnya Indi setuju.

Mereka sudah tiba di tepi jalan raya, dan langsung naik ke angkot pertama yang muncul. Indi mengatakan kepada Kino ke mana ia harus pergi membeli benang, dan keduanya sepakat untuk mencari pesanan itu dulu sebelum mampir di kedai es krim favorit anak-anak tanggung kota B.

******

Benang pesanan ibu tidaklah susah dicari, karena Indi sudah tahu nama dan lokasi toko langganannya. Segera setelah keluar dari toko itu, Indi langsung menggamit lengan Kino dan menyeret pemuda itu ke kedai es krim yang kira-kira 10 menit jauhnya berjalan kaki.

Walau Kino membiarkan Indi menggandengnya, namun pemuda itu punya perasaan kurang nyaman berada di tempat umum dengan seorang gadis yang bukan pacarnya. Ngocoks.com

Tetapi Indi seperti menganggap bergandengan tangan adalah kelumrahan yang tak perlu dipersoalkan. Maka tanpa berusaha menolak, Kino membiarkan lengannya terpeluk dan terhenyak nyaman di dada si centil yang lembut itu.

Indi selalu bisa menerka perasaan Kino, maka ia berkata setengah berbisik,

“Anggap aja menggandeng adik!” Kino menggerutu, “Adikku tidak secentil kamu, dan juga tidak nakal!” Indi malah mempererat pelukannya di lengan Kino, menekan keras-keras dada sebelah kirinya. “Biarin! Indi memang suka nakal kalau di dekat Kak Kino!” “Bagaimana kalau pacar mu memergoki kita!” sergah Kino dengan kekuatiran yang sesungguhnya. “Siapa? … Si Randi yang Indi kenalin dulu itu?” sentak Indi dengan nada tak suka. “Bukankah itu pacarmu?” desak Kino. Indi mencibirkan bibirnya, “Aku ngga suka sama dia!”

“Sudah putus?” tanya Kino, tiba-tiba ingin tahu lebih banyak. “Resminya, sih, belum putus!” kata Indi dengan ketus, “Tapi sudah lama Indi ngga mau jalan sama dia lagi!” “Jangan terlalu galak, dong. Kasihan …,” kata Kino sekenanya. “Ah, apa peduli Kak Kino. Biarin saja dia marah sama Indi. Memang Indi pengin dia begitu!” sergah Indi. “Kenapa kamu tidak suka lagi kepadanya?” tanya Kino.

Indi tidak segera menjawab karena kedai yang mereka tuju sudah tampak. Gadis itu hanya menggumam tak jelas lalu mempercepat langkahnya menyeret Kino.

******

Mereka duduk di sebuah meja yang cuma punya dua kursi, agak ke dalam kedai yang belum begitu ramai.

“Boleh Indi terus terang sama Kak Kino?” ucap Indi di antara suapan es krim. Kino menggumam meng-iyakan, sibuk menikmati coklat moka yang disukainya.

“Indi sudah terlalu banyak kenal cowok,” kata Indi, “Kadang-kadang Indi merasa terlalu pemilih, dan terlalu gampangan.” “Berapa, sih, pacar kamu?” tanya Kino sekenanya, ia masih sibuk menikmati es krimnya, belum terlalu serius menanggapi Indi. “Mungkin sudah lebih dari selusin!” kata gadis itu sambil tertawa kecil, “Indi ngga pernah bikin daftarnya! Tetapi pokoknya sudah banyak!” “Kenapa kamu terlalu pemilih?” tanya Kino sekadar menimpali.

“Sebetulnya Indi ngga mau asal pacaran, tetapi soalnya banyak banget yang mau sama Indi,” celoteh gadis itu sambil terus menyuap, ”Jadi Indi asal terima saja kalau ada yang ngajak jalan-jalan atau nonton. Lagipula, Indi senang bergaul. Indi senang punya banyak teman.” “Ya, kalau begitu tidak ada salahnya,” ujar Kino mencoba serius, “Malah bagus, punya teman banyak, punya pacar banyak.” “Kak Kino ini serius atau asal bunyi, sih!?” sentak Indi. “Eh … serius, dong!” sahut Kino mencoba sekali lagi untuk terlihat serius, tetapi tentu saja tampangnya tak mendukung. “Kenapa malah bilang banyak pacar adalah bagus?” cecar Indi sambil membelalakan matanya yang indah itu. “Lho … katanya kamu suka banyak teman. Bukankah pacar juga teman?” ucap Kino membela diri. “Lain, dong!” sergah Indi kesal, “Teman tidak mungkin mencium Indi, megang-megang Indi, atau yang lain-lain itu!” Kino melongo, “Yang lain-lain itu?” “Iya! Yang lain-lain itu. Kak Kino pura-pura bego!” sergah Indi dan tahu-tahu tangannya sudah mencubit. Kino menahan tawanya, melihat Indi cemberut tanpa kehilangan kekenesan, kecentilan dan kemanisannya.

“Si Randi itu, misalnya, terlalu doyan!” sergah Indi sambil mengaduk-aduk es krimnya dengan gemas, “Lama-lama Indi sebel dan muak!” “Orang doyan, kok, dipermasalahkan, sih!?” kata Kino. “Bukan doyan bakso!” hentak Indi kesal,

“Dia doyan megang-megang Indi dan ngajakin yang aneh-aneh!” Kino tak bisa menahan tawanya. Cepat-cepat ia menutup mulutnya dengan punggung tangan, kuatir es krim muncrat ke mana-mana. Juga kuatir Indi tersinggung. Tentu saja Indi tersinggung, dan menghentak sambil mencubit lengan Kino, “Brengsek! … Kak Kino malah ngeledek. Bukannya bantuin!” Kino membiarkan tangannya dicubit, toh tidak terlalu sakit. Ia membela diri, “Lho … aku bukan meledek kamu. Aku tertawa karena cara kamu menjelaskan sikap pacar kamu!” “Tapi dia memang kelewat doyan!” sergah Indi.

“Kamu juga, sih .., yang membuat dia doyan!” balas Kino. Indi sekali lagi mendelikkan matanya yang mempesona, “Eh … Kak Kino sekarang malah belain dia, yaaa!!” “Bukan membela, tapi kamu sendiri yang bilang bahwa kamu terlalu mudah, terlalu ….. apa itu? …. terlalu gampangan,” sahut Kino tak mau kalah. Indi menggerutu, mencibirkan bibirnya yang basah oleh es krim sampai berkilat-kilat, “Kalau sekali-sekali, sih, Indi ngga keberatan. Tetapi dia selalu mengajak yang aneh-aneh, bikin Indi sebel!” “Apa, sih, yang aneh-aneh itu?” tanya Kino karena ia memang tidak terlalu mengerti. Indi menatap pemuda di depannya dengan tajam, sampai Kino merasa agak rikuh juga dan menyesal telah bertanya.

“Kalau Indi cerita, Kak Kino janji ngga ngetawain yaaa!” tuntut gadis itu dengan kedua matanya tajam berderang. “Kenapa musti tertawa?” tanya Kino. “Pokoknya … tidak boleh tertawa. ….. Janji???” sentak Indi.

Kino mengangguk. Indi menghela nafas, lalu berucap agak pelan,

“Dia suka mengajak Indi oral sex .. ” Kino melongo. Bukan cuma karena kaget mendengar pengakuan Indi, tetapi juga karena perlu sejenak mencerna apa yang dimaksud dengan “oral sex” itu. Setelah otaknya berhasil menghubungkan kata “oral” dengan “mulut”, barulah Kino mengucapkan,

“Oooo … begitu.” Indi mendelik, mengancam dengan pandangannya yang sekaligus menakjubkan tetapi juga menakutkan. Setidaknya, menakutkan dalam ukuran seorang gadis centil yang ceria seperti dia. “Kenapa musti mendelik begitu, sih?” sergah Kino. “Awas kalau Kak Kino tertawa!” ancam Indi sambil bersiap mencubit. “Apakah kamu penuhi permintaannya?” tanya Kino mencoba kembali ke persoalan yang mengagetkan itu. Indi menggeleng cepat. “Ngga mau dan ngga akan mau!” Kino melepas nafas lega. Tadinya ia kuatir akan ada cerita-cerita lebih seram keluar dari mulut gadis yang mudah “berkicau” seperti burung parkit ini.

“Untuk Indi, itu sudah kelewatan,” ujar Indi dengan muka serius, “Pasti dia terlalu banyak nonton be-ef … menyangka semua cewek mau diajak yang begituan!” “Apa itu be-ef?” sela Kino, sungguh-sungguh tidak tahu. Indi mendelik lagi, kali ini bukan untuk marah tetapi untuk menunjukkan keheranannya. “Kak Kino ngga tahu apa itu be-ef?” Kino menggeleng jujur. “Ya ampun!” desis Indi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Itu, lho .. video-video porno yang berisi adegan orang begituan!” “Oooooh ..,” Kino menepuk dahinya sendiri mengakui kebodohan dan kenaifannya, “Maksud kamu blue film!” “Ck .. ck .. ck!” Indi menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat rambutnya tergerai-gerai ramai, “Kak Kino lama-lama semakin bloon!” Kino tertawa, mengakui ke-bloon-an itu tanpa tersinggung.

“Jangan bilang sama Indi bahwa Kak Kino ngga pernah nonton be-ef!” sergah Indi. “Pernah. Tapi aku tidak suka,” jawab Kino cepat, teringat kenakalan-kenakalan di masa awal kuliah di rumah Ridwan yang punya selusin film biru. “Indi juga ngga suka!” kata Indi sambil menyingkirkan gelas es-krim yang tinggal berisi sendoknya. Kino tertawa sebentar, lalu cepat-cepat melanjutkan makan es-krim yang tertunda. Dalam tiga suap, kosong sudah gelasnya.

“Kak Kino,” Indi berkata pelan, “Boleh Indi tanya hal yang pribadi?” “Hmmm ..,” gumam Kino sambil mengangguk. Ia tiba-tiba merasa dekat sekali dengan gadis manis di depannya; apalagi setelah Indi berterus terang tentang pacarnya tadi. “Seberapa jauh hubungan Kak Kino dengan Kak Trista ..,” tanya Indi hati-hati, sambil memandang lekat-lekat pemuda di depannya, memantau dengan seksama reaksinya. Kino sejenak ragu-ragu, mengangkat mukanya dan membalas menatap Indi. Apakah ia akan berterus terang?

“OK …,” Indi menghela nafas panjang, “Tidak perlu dijawab, kalau Kak Kino ngga mau cerita … ” “Bukan begitu …,” ucap Kino cepat, “Bukan aku tidak mau cerita.”

Indi diam, menunggu kelanjutan penjelasan pemuda yang entah kenapa semakin lama semakin ia sukai ini. Bukan wajahnya (walaupun wajah itu tergolong cakep). Bukan juga penampilannya (terkadang ia berpakaian sembrono, pikir Indi).

Bukan juga latar belakangnya (dia, kan, anak desa!). Bukan semua itu yang menarik perhatian Indi, melainkan kepolosan dan sekelumit misteri yang menyelimutinya. Indi seperti berhadapan dengan sebuah buku cerita yang menarik dan perlu dibaca sampai tamat berkali-kali!

Kino menghela nafas panjang sebelum berkata,

“Sebetulnya aku justru mencari orang yang bisa aku ajak bercerita … ” Indi tetap diam. Menunggu penuh harap, memainkan tissu dengan jemarinya yang lentik.

“Aku punya banyak cerita tentang dia,” lanjut Kino dengan suara pelan, “Sering sekali cerita itu berulang-ulang di kepalaku, aku ceritakan kepada diriku sendiri. Sebenarnya, aku akan senang kalau ada orang lain yang mau mendengar.” Kino terdiam, sehingga Indi merasa perlu menyela, “Kenapa ngga cerita sama Indi?” Kino memandang gadis di depannya, “Aku tidak tahu bahwa kamu tertarik mendengar cerita tentang dia.” Indi balas menatap, menyiratkan pengakuan sejujurnya bahwa ia tertarik kepada cerita pemuda itu. Tertarik kepada si empunya cerita itu juga! “Tidak seorang pun yang pernah mendengar cerita itu,” ucap Kino pelan sambil mengalihkan pandangan ke luar. Malam sudah menjelang, walau masih belia. “Pasti ceritanya serem ..,” goda Indi. Kino tertawa, “Betul …. Memang terkadang menakutkan. Terutama kalau aku ingat bahwa aku hampir tewas.”

Indi menggigit bibirnya, merasa tidak enak menyinggung peristiwa yang nyaris berakhir tragis itu. Tetapi dia juga masih ingin tahu lebih banyak. Maka ia diam saja, memandang seksama pemuda yang kini menunduk dan menggurat-guratkan jarinnya menggambarkan sesuatu yang abstrak di taplak meja.

“Kami sering berhubungan,” ucap Kino pelan, nyaris tidak terdengar.

Indi menahan rasa kagetnya sekuat tenaga. Ia tidak pernah menyangka begitu jauh. Kini ia mendengar dari pemuda yang ia sukai itu, ternyata tidak se-“suci” yang ia duga. Indi tak tahu harus bereaksi bagaimana terhadap pengakuan terbuka ini! Kino mengangkat mukanya, menatap sepasang bola bening yang sedang menembus raganya menelusup ke relung-relung dadanya mencari-cari kebenaran.

“Kamu kaget?” tanya Kino hati-hati, karena sebetulnya dirinyalah yang terkejut. Mengapa begitu mudah ia “buka kartu” di depan Indi? Indi mengangguk pelan. Tak sanggup berkata-kata. Keceriwisan dan kekenesannya sirna begitu saja. Kino menatap tajam gadis di depannya,

“Kamu minta aku cerita. Maaf kalau mengagetkan dan membuat kamu kecewa.” Indi cepat-cepat menggeleng, balas menatap tak kalah tajam. Keduanya saling pandang bertukar-tukar pesan rahasia yang tak seluruhnya bisa dimengerti bahkan oleh si empunya pesan.

“Sampai begitu jauh, Kak Kino berhubungan ..,” akhirnya Indi berbisik, seperti takut terdengar orang lain padahal kedai es-krim cuma berisi mereka dan sepasang muda-mudi lain di pojok sebelah sana. “Ya ..,” sahut Kino sambil menghela dan menghempaskan nafas panjang, “Kami berhubungan hampir setiap kali berjumpa. Aku seperti orang mabuk, Indi … tidak bisa menolak ajakannya, dan juga tak berhenti membujuknya untuk melakukan berulang-ulang.” “Tidak takut hamil?” bisik Indi lagi.

Kino menunduk, mengenang rasa kuatirnya yang sempat muncul ketika ia tersadar dari pingsan setelah kecelakaan. Ia memang tidak mengatakan kekuatirannya kepada Trista waktu itu, dan ia merasa itulah salah satu bentuk ke-pengecut-annya. Kepada Indi kini ia mengakuinya, “Aku sempat takut …. Tetapi kami memang tidak pernah membicarakan risiko itu.”

“Kak Kino menyesal?” tanya Indi pelan, perasaan iba muncul menggantikan rasa kaget. Padahal Indi bisa marah, atau jijik mendengar pengakuan seorang yang ia puja tetapi ternyata sudah ternoda. Tetapi gadis itu terlalu sulit memutuskan, apakah ia patut membuat penilaian tentang baik-buruknya Kino. Kino menghela nafas panjang lagi sebelum berkata,

“Ya, aku menyesal sekali dan sekaligus bertanya-tanya mengapa kami sampai melakukannya dengan begitu bernafsu dan tak pikir panjang.” “Itu kah yang namanya cinta?” tanya Indi pelan.

Kino mengangkat muka dan menatap wajah Indi yang kini menunduk. Ada perasaan janggal pada diri pemuda itu mendengar pertanyaan yang datang dari seorang gadis centil-kenes dan nakal di depannya. Pertanyaan itu sederhana sekali, tetapi Kino tahu jawabannya tidak mudah.

“Barangkali …, ya. Barangkali memang itu namanya cinta,” jawab Kino. Indi diam, memainkan telapak tangan dan menggigit-gigit kecil bibirnya yang masih basah oleh air putih penyerta es-krim. Ngocoks.com “Barangkali juga bukan …,” bisik Kino. Indi mengangkat mukanya, memandang pemuda yang kini bermuka keruh seperti air sungai yang kebanyakan lumpur. “Kak Kino tidak mencintainya?” tanya Indi pelan, entah kenapa dia menaruh harapan besar pada jawaban “tidak”.

Sejenak Kino diam saja, mengalihkan pandangan kembali ke luar. Malam beringsut menuju kelam. Lampu-lampu jalanan sudah menguasai suasana menggantikan Sang Surya yang telah lama beristirahat. Keramaian tak lagi seperti siang hari, tetapi juga belum sama sekali reda.

“Aku tidak tahu, Indi …,” akhirnya Kino menjawab, “Aku sekarang selalu meragukan perasaanku sendiri. Aku tidak berani lagi mengatakan apa-apa tentang cinta.” “Tetapi Kak Kino masih terus merindukannya,” desak Indi. Kino menatap Indi, “Aku memang merindukannya. Aku selalu teringat masa-masa bersamanya. Tetapi aku juga tersiksa oleh perasaan menyesal dan bersalah. Itu sebabnya, aku tak merasa bahagia kalau merindukan dia.”

Indi tak bisa menahan tangannya mengusap lembut lengan Kino; ia ingin bersimpati sepenuhnya pada apa yang Kino hadapi, walaupun sekelumit cemburu dan iri tak henti-hentinya mendera minta perhatian. Indipun berkuat-hati memendam kedua perasaan itu, dan menggantikannya dengan simpati.

“Indi tidak setuju kalau Kak Kino menyalahkan diri sendiri,” kata gadis itu dengan sungguh-sungg

uh.

Kino tersenyum kecut mendengar ucapan simpatik yang datang dari gadis centil yang menggemaskan itu. Sudah sering ia menemukan banyak kedewasaan di balik penampilan Indi yang serampangan, nakal, dan berani itu. Sudah sering ia bersyukur berteman dengan Indi; kali ini ia bahkan semakin bersyukur.

“Menurut Indi, orang yang saling mencintai memang wajar kalau ingin berhubungan seks,” kata Indi lagi, kini kembali dengan gaya “sok-tahu”-nya. “Kamu, kok, tiba-tiba menjadi ahli, sih?” goda Kino. Indi tertawa kecil, “Bukan ahli … tapi Indi pernah baca seperti itu di majalah.” “Lalu, apa lagi kata majalah itu?” tanya Kino, senang karena persoalannya bisa dibicarakan secara lebih ringan.

“Katanya, memang wajar kalau dua orang yang saling menyukai ingin melakukan hubungan-hubungan yang lebih jauh. Makanya, keduanya harus bisa mengendalikan diri,” kata Indi serius, mengalahkan keseriusan seorang penasihat psikologi.

“Bagaimana cara mengendalikan diri?” tanya Kino, lebih untuk menggoda katimbang mencari jawaban sesungguhnya. “Katanya, harus menghindari peluang berduaan dan jangan terlalu sering bertemu,” jawab Indi, lalu buru-buru menambahkan, “Itu kata majalahnya, lho!” “Kalau menurut kamu sendiri bagaimana?” desak Kino.

“Menurut Indi?” tanya Indi sambil mengangkat alisnya menambah lebar kedua matanya, “Menurut Indi …. itu cuma teori. Pada kenyataannya, susah!” Lalu gadis itu tertawa lepas dan riang. Kino pun ikut tertawa, sungguh-sungguh senang mendapatkan teman bicara yang bisa menetralisir kegundahan.

“Menurut Indi, orang yang nulis di majalah itu ngga pernah jatuh cinta!” sergah gadis itu di antara tawanya. “Kenapa?” tanya Kino. “Karena … kalau dia pernah jatuh cinta, pasti dia tahu bagaimana susahnya menghindari pertemuan dengan orang tersayang. Iya, kan?” kata Indi. “Ah, kamu sok tahu saja!” goda Kino. Indi tertawa renyai, tak mau terpancing oleh godaan Kino. “Kak Kino pura-pura membantah, padahal dalam hati bilang ya!” “Memangnya kamu pernah jatuh cinta?” tanya Kino tiba-tiba.

Indi terdiam, dan sejenak tidak bisa menjawab. Kino tertawa senang melihat gadis itu kehilangan kata-kata. Indi memberengutkan mukanya, walau tentu saja malah membuatnya semakin menggemaskan.

“Pernah atau tidak?” desak Kino. “Mau tambah es-krim?” Indi malah balik bertanya mengalihkan pembicaraan. Kino tergelak. Indi semakin merengut dan semakin manis. Ia juga semakin rajin mencubit lengan Kino.

Cerita Sex Istri Jalang

Lalu pembicaraan mereka tak lagi teratur, melainkan penuh canda ringan yang tak banyak makna. Humor dan gosip menggantikan topik-topik sendu tentang rindu dan cinta. Kino senang sekali bisa lepas dari topik itu, sekaligus lega karena ternyata ceritanya tidaklah terlalu sulit untuk disampaikan kepada orang lain.

Tentu saja Kino juga sadar bahwa Indi kini menjadi salah satu teman teristimewa dalam hidupnya. Belum ada orang lain yang tahu tentang Trista sampai sejauh itu. Sebaliknya, Indi pun merasa mendapat kehormatan tersendiri dari pemuda yang memang ia kagumi ini. Menjelang pulang, Indi sempat bertanya dalam hati: apakah aku akan mendapat tempat istimewa di hatinya?

Pertanyaan itu tetap ia simpan sampai mereka berpisah di gang tempat mereka tinggal. Dan Kino menepuk dahinya sendiri di kamar, ketika menyadari bahwa ia sama sekali belum membeli kado untuk Alma dan Devan!

Bersambung…

Bagaimana sobat Ngocokers cerita Menguntai Masa Lalu diatas? jika bagus jangan lupa klik salah satu iklannya yah biar mimin update kelanjutannya (part 3) yang pasti lebih menarik. Jika mau tau kelanjutan kisah ini jangan lupa follow akun telegram Ngocokers yah, terima kasih.