Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Ustadzah Cantik dan Montok Berpayudara Besar Terjebak Birahi Saat Periksa Sakit Perut

Ustadzah Cantik dan Montok Berpayudara Besar Terjebak Birahi Saat Periksa Sakit Perut

Cerita Sex Hubungan Haram Ustadzah Syifa – Malam sobat Ngocokers. Hari masih pagi. Masih belum banyak murid yang hadir di sekolah. Ustadzah Syifa Safiyah sengaja berangkat lebih pagi untuk mampir ke klinik kesehatan yang ada di sebelah sekolah. Ia ingin memeriksakan diri, sudah hampir 3 hari ini ia merasa nyeri dan sakit di bagian bawah perut. Terutama di dekat kemaluannya, padahal saat itu ia tidak sedang datang bulan. Tidak biasanya ia begini, karena itulah ia jadi takut.

Jangan-jangan ini tanda-tanda kanker rahim, rekan sesama guru pernah mengalaminya. Lebih baik berjaga-jaga daripada terlambat sama sekali. Perlu pembaca Ngocokers ketahui bahwa usia Ustadzah Syifa sendiri masih muda, berkisar 26 tahun. Baru tahun kemarin menikah dan dikaruniai 1 orang anak.

Sekarang bayinya yang baru berusia 2 bulan diasuh oleh ibunya karena tidak mungkin Ustadzah Syifa membawanya ke sekolah. Selain karena sifatnya yang rendah diri dan baik hati, ibu guru yang satu ini juga dikenal karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Mungkin itu turunan dari ibunya yang berdarah Cina.

Setelah melahirkan, pesona dan kharismanya bukannya berkurang, malah semakin menjadi-jadi. Wajahnya jadi tampak dua kali lebih jelita, kulitnya jadi lebih putih, sementara body-nya -jangan ditanya lagi- begitu montok dan mengundang birahi.

Cerita Sex Hubungan Haram Ustadzah Syifa Ngocoks Payudaranya jadi semakin besar karena berisi air susu, dulu saja sudah kelihatan membusung, apalagi sekarang. Baju selebar dan selonggar apapun tidak bisa menutupi kemolekannya. Setiap mata lelaki yang memandangnya pasti berdecak kagum, dan ujung-ujungnya timbul keinginan untuk menjamahnya, atau minimal memandanginya sepuas hati.

Karena itulah, sekarang Ustadzah Syifa selalu memakai jilbab lebar kalau ke sekolah. Ia ingin mengalihkan perhatian para lelaki, meski dalam hati tahu kalau itu sia-sia belaka.

Dan tak cuma payudara, pinggul dan paha Ustadzah Syifa juga membengkak makin sempurna. Kalau dulu masih agak kecil dan kerempeng, sekarang sudah membulat begitu indah.

Kalau dia berjalan, goyangan pantatnya sanggup membuat semua mata lelaki berpaling, padahal sehari-hari Ustadzah Syifa senantiasa mengenakan jubah panjang dan stoking kaki. Tak lupa juga sarung tangan dan kain dalaman, namun tetap saja para lelaki memandang lapar kepada dirinya.

Sebagai seorang ustazah yang sehari-hari mengajar pendidikan agama, Ustadzah Syifa bukannya tidak tahu hal itu. Namun segala cara sudah ia lakukan, dan sampai sekarang hasilnya masih minim. Ia masih terlihat seperti ikan asin diantara para kucing, keberadaannya terlalu sukar untuk diabaikan.

Ia pernah mengutarakan hal ini pada sang suami, bukannya jawaban memuaskan yang ia terima, malah kecupan mesra di bibir yang ia dapat. Dan ujung-ujungnya, mereka sama-sama tak tahan dan akhirnya bercinta di ruang tengah, di sebelah bayi mereka yang tidur pulas dalam buaian.

Ibu mertua yang memergoki aksi mereka, pura-pura tidak tahu, dan melanjutkan kegiatannya di dapur. Menghadapi kecantikan dan kemolekan Ustzah Nur, memang selalu membikin suaminya lepas kendali. Dan begitu lepas kendalinya hingga membuat laki-laki itu jadi tidak tahan lama. Pembaca Ngocokers tahu kan artinya? Ya, suaminya selalu keluar duluan sebelum Ustadzah Syifa melenguh puas.

Sebenarnya ini tidak terlalu dirisaukan oleh sang ibu guru muda, karena sebagai istri yang baik, ia harus menurut dan tidak boleh mengecewakan sang suami. Apapun keadaannya harus ia terima, meski itu artinya ia tidak pernah sekalipun mengalami orgasme selama 1 tahun pernikahannya.

Ustadzah Syifa bukannya tidak menginginkannya, kadang ia mengharapkannya juga, bahkan cerita-cerita dari rekan sesama guru yang kehidupan ranjangnya begitu panas dan menggelora, sering membuatnya berpikir; senikmat apakah orgasme itu? Tapi sekali lagi, ia terlalu sungkan untuk mengutarakan pada sang suami.

Didikan agama yang begitu ketat membuatnya memandang tabu pembicaraan seperti itu. Lagian, sebagai seorang istri yang solehah, cukup baginya melihat sang suami melenguh puas, tak peduli dengan dirinya sendiri yang tidak pernah merasa nikmat.

Ya, Ustadzah Syifa berani berkata seperti itu karena memang itu yang ia alami. Sudah ejakulasi dini, barang suaminya juga kecil lagi pendek. Memang terasa saat dimasukkan, tapi masih seperti ada yang kurang.

Benda itu tidak bisa menjangkau seluruh lorong kewanitaannya. Hanya terasa di gerbang depan saja, itupun cuma membentur-bentur ringan, tidak bisa menyesaki seperti cerita Ustazah Rina yang suaminya seorang Perwira Polisi. Bikin Ustadzah Syifa jadi gatal setengah mati.

Dan saat gatalnya perlahan memuncak, sang suami malah sudah KO duluan. Ustadzah Syifa memang tidak pernah protes, ia bisa menerima semua itu dengan ikhlas, namun dalam hati kecilnya tetap terbersit keinginan untuk dipuaskan seperti wanita pada umumnya.

Yang lebih tragis lagi, bahkan untuk menembus keperawanan Ustadzah Syifa saat malam pertama dulu, suaminya tidak menggunakan rudalnya. Ia tidak mampu! Laki-laki itu menggunakan dua jari tangannya untuk merobek selaput dara Ustadzah Syifa. Kecewa pastinya, tapi apa mau dikata. Ia sudah memilih laki-laki itu sebagai suaminya, apapun keadaannya harus diterima.

Memang di atas ranjang, suaminya tidak mampu. Tapi sehari-hari, lelaki itu itu adalah sosok yang alim lagi bertanggung jawab. Dan itulah yang dicari oleh Ustadzah Syifa, ia harus bisa menekan hasrat birahinya demi kebahagiaan keluarga. Itu yang lebih penting.

Ustadzah Syifa masuk ke dalam klinik yang sudah menjadi langganannya itu. Setiap kali sakit atau ada keluhan kesehatan, ia selalu pergi kesana karena selain dekat dan murah, juga karena ada beberapa doktor muslimah yang bertugas di sana.

Ustadzah Syifa kurang sreg kalau diperiksa oleh dokter lelaki, batasan bukan muhrim membuatnya jadi tidak leluasa berbincang dan berkonsultasi. Beda kalau ditangani dokter wanita, untuk suntik atau apapun, Ustadzah Syifa bisa bebas melakukannya. Kalau dengan dokter lelaki, jangankan memamerkan pinggulnya yang seksi, untuk tensi darah saja ia malu setengah mati.

Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Ustadzah Syifa masuk ke ruang periksa. Untunglah saat itu dokter Aini yang sedang bertugas, Ustadzah Syifa lega saat melihatnya.

”Keluhannya apa, bu Ustazah?” tanya dokter Aini ramah. Lesung pipitnya tampak indah di bawah kacamata bulatnya. ”Ini, dok,” Ustadzah Syifa pun menceritakan keluhannya.

Dokter Aini mendengarkan dengan seksama, setelah itu ia meminta ustazah Nur untuk naik ke atas tempat tidur. ”Maaf, bisa diangkat bajunya, mau saya USG dan periksa secara visual.” kata dokter cantik yang usianya baru lewat 40 tahun itu.

Ustadzah Syifa segera menyingkap baju kurungnya ke atas, dan dililitkannya ke dada. Juga dalemannya. Dengan hanya berstocking dan bercelana dalam, ia berbaring di atas ranjang. Dokter Aini memandangnya, sekilas tampak mengagumi kemolekan dan kesintalan tubuh Ustadzah Syifa. ”Bisa dilepas juga celananya?” tanya dokter itu.

Ustadzah Syifa pun melepas celana dalamnya, tanpa malu-malu ia kini berbaring setengah telanjang di depan dokter Aini.

”Buka sedikit kakinya,” dokter Aini meminta. Dengan alat semacam pengait, ia membuka lipatan serambi lempit Ustadzah Syifa. ”Bilang kalau misalnya ada yang sakit ya,” kata Dokter Aini sambil mulai menekan-nekan lorong serambi lempit Ustadzah Syifa dengan alatnya.

Ustadzah Syifa merasakan sensasi dingin logam menjalari dinding-dinding serambi lempitnya. Dokter Aini menekan di beberapa tempat, sampai menemukan suatu benjolan aneh di sisi klitoris Ustadzah Syifa. ”Apakah sakit?” tanya sang Dokter sambil sedikit menusuk.

”Auw! Ahh,” Ustadzah Syifa berjengit dan sedikit kaget, itu sudah cukup sebagai jawaban.Dokter Aini melanjutkan pemeriksaannya dengan melakukan USG. Setelah selesai, ia mempelajari hasilnya lalu berkata. ”Nampaknya ini sedikit serius.”

”Ada apa, dok?” tanya Ustadzah Syifa pelan, takut mendengar jawabannya. ”Ustazah sudah menikah?” tanya dokter Aini. ”Iya, sudah.” jawab Ustadzah Syifa.

”Anak?””Baru satu. Memangnya kenapa, Dok?” tanya Ustadzah Syifa lagi. ”Begini, dari hasil pemeriksaan, sebaiknya Ustazah menjalani pemeriksaan lebih lanjut dengan seorang doktor ahli kandungan. Sepertinya ada masalah serius di bagian kewanitaan Ustazah.” terang dokter Aini.

”Ah, begitu ya, dok?” gumam Ustadzah Syifa lirih. ”Tapi jangan khawatir, ini cuma dugaan awal saja. Siapa tahu itu cuma bisul yang salah tempat.” dokter Aini berusaha menenangkan.

”I-iya, Dok.” resah Ustadzah Syifa, apa yang ditakutkannya ternyata terjadi juga. ”Saya tidak bisa menerangkan lebih banyak lagi, karena itu bukan bagian saya. Ustazah bisa bertanya nanti pada dokter Ismi, biar dia yang memeriksa lebih lanjut.” Ustadzah Syifa mengangguk lagi.

”Ustazah silakan tunggu di depan, nanti kami panggil.” kata dokter Aini. ”Periksanya harus sekarang, dok?” tanya Ustadzah Syifa, hari sudah siang, ia harus mengajar ke sekolah. ”Iya, soalnya saya takut kalau terlambat nanti jadi bahaya.” terang dokter Aini.

”B-baik, terima kasih, dok. Assalamu’alaikum…” Ustadzah Syifa pun pamit dan melangkah keluar dari ruang periksa dengan perasaan bimbang. Ia segera mengirim SMS kepada Ustazah Rina, mengabarkan kalau hari ini ia tidak bisa masuk karena sakit.

Kurang dari 15 menit, Ustadzah Syifa dipanggil kembali. Ia disuruh masuk ke ruang periksa oleh seorang perawat muda yang juga berjilbab lebar seperti dirinya. Kali ini ruangannya agak sedikit berada di pojok, dekat dengan ruang bersalin.

Ustadzah Syifa membuka pintunya dan alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa yang berada di dalam. Bukan dokter Ismi yang ia temui, melainkan seorang dokter tua yang usianya hampir setengah abad, dua kali lipat dari usianya. Badan lelaki itu kurus, tapi cukup tegap. Kulitnya agak gelap, dengan dandanan rapi dan sopan. Ada sedikit petak-petak putih di rambutnya yang tersisir rapi.

Dokter itu tersenyum dan menyuruh Ustadzah Syifa untuk masuk, ”Silakan duduk, Ustazah.” Dia terlihat cukup sopan. Dr. Pramudya, begitu tulisan yang tertera di nametag-nya.

Ustadzah Syifa balas tersenyum dan segera menempatkan diri di depan dokter tua itu. Perasaannya sungguh tak karuan. Dimana dokter Ismi? Apakah dia harus diperiksa oleh dokter laki-laki ini? Ustadzah Syifa tentu sangat keberatan. Tapi sebelum dia sempat memprotes, dokter Pram sudah keburu berkata,

”Maaf, Ustazah, dari hasil laporan pendahuluan yang saya terima dari dokter Aini, saya menduga ini adalah sejenis virus atau bibit kanker. Untuk memastikannya, saya harus melakukan pemeriksaan lanjutan pada diri Ustazah.” kata dokter Pram

Ustadzah Syifa terhenyak, apa yang selama ini berusaha ia hindari, ternyata terjadi juga. Ia akan ’dijamah’ oleh dokter lelaki. Untuk menenangkan gejolak di hatinya, Ustadzah Syifa menarik nafas panjang dan kemudian bertanya, ”Kalau boleh tahu, kemana dokter Ismi? Menurut dokter Aini, dokter Ismi lah yang harusnya menangani saya.”

Dokter Pram tersenyum, ”Dokter Ismi mendapat telepon mendadak dari keluarganya, salah satu anaknya terlibat kecelakaan di luar kota. Saya terpaksa datang untuk menggantikannya.” ”Ehm, begitu ya. A-apakah tidak ada dokter yang lain, yang wanita maksud saya.” kata Ustadzah Syifa terbata-bata.

Dokter Pram tertawa, ”Jangan takut, Ustazah. Saya tidak akan berbuat macam-macam pada Ustazah. Saya sudah berkerja puluhan tahun, sudah tidak terhitung jumlah pasien yang saya tangani. Semuanya tidak ada masalah, saya akan perlakukan Ustazah seperti saya memperlakukan mereka. Saya terikat sumpah kalau sampai berbuat buruk pada Ustazah.”

Ustadzah Syifa menunduk, ia jadi tidak punya argumen lagi untuk menolak. ”Bagaimana, Ustazah, bisa kita mulai sekarang?” tanya dokter Pram melihat Ustadzah Syifa yang terdiam membisu.

”I-iya, Dok. Tapi sebelumnya, kalau boleh tahu, pemeriksaan macam apa yang akan dokter lakukan?” tanya Ustadzah Syifa malu-malu.

”Pap smear dan VE. Dengan begitu saya bisa memastikan jenis benjolan yang ada di kewanitaan Ustazah.” jelas dokter Pram. ”Sekarang, silakan Ustazah berbaring di situ,” laki-laki itu menunjuk kasur yang ada di pojok ruangan.

Perawat berjilbab yang sejak tadi menyiapkan segala sesuatu, sekarang berbalik pergi meninggalkan ruangan, menyisakan dokter Pram dan Ustadzah Syifa hanya berdua di tempat yang sepi itu.

Jantung Ustadzah Syifa berdegup kencang, dia teringat berbagai cerita mengenai pap smear dari rekan-rekannya. Kebanyakan kisah mereka sungguh menakutkan karena harus memamerkan mahkota yang paling berharga kepada lelaki yang bukan muhrim, padahal sepatutnya hanya kepada suami sajalah mereka boleh memperlihatkan pemandangan indah itu.

Dalam hati, Ustadzah Syifa ingin menolak, namun dia bingung juga akan keadaan dirinya, apalagi mengingat kata-kata dokter Pram barusan. Ia terancam terkena kanker rahim! Oh, sungguh sangat menakutkan.

Dan ketakutan ternyata bisa meruntuhkan akal sehatnya, terbukti saat dokter Pram berkata, ”Silakan Ustazah letakkan kedua kaki di atas sini,” Ustadzah Syifa sama sekali tidak bisa menolak. Bayangan akan ancaman kanker rahim membuatnya menurut dengan cepat.

Dokter Pram menunjuk dua penyangga yang ada di ujung ranjang, saat Ustadzah Syifa meletakkan kedua kakinya disana, posisinya sekarang jadi seperti mengangkang. Kedua pahanya terbuka lebar, sementara kemaluannya terekspos bebas, siap menerima tatapan dokter Pram yang akan menghujam sebentar lagi.

Laki-laki itu berdiri di ujung ranjang, tepat di tengah-tengah celah kaki Ustadzah Syifa. Tampak sebagian paha Ustadzah Syifa sedikit terbuka, juga selangkangan perempuan cantik itu yang tampak menggembung indah. Dokter Pram menatap nanar kesana, seperti tengah menyantap dan menikmati betapa mulus dan mempesonanya aurat Ustadzah Syifa.

Ustadzah Syifa sendiri bukannya tak sadar diperhatikan seperti itu, namun apa daya, ia tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah semua itu. Sama sekali tidak ada! Yang bisa ia lakukan sekarang cuma duduk terdiam pasrah sambil berharap pemeriksaan itu berlangsung cepat sehingga rasa malu yang menggumpal di hatinya tidak bertambah menjadi lebih besar lagi.

”Maaf, Ustazah.” Dokter Pram menarik jubah terusan panjang warna hijau muda bercorak bunga yang dikenakan Ustadzah Syifa ke atas, kain daleman warna putih yang dipakainya turut disingkap ke atas sampai ke batas pinggang, membuat sebagian paha dan celana dalam si ustazah terlihat jelas.

Ustazah alim ini memakai stoking putih panjang hingga ke ujung lututnya, meski begitu, separuh tubuhnya sudah telanjang sekarang. Memang dia masih memakai baju dan jilbab lebar untuk menutupi tonjolan buah dadanya yang membusung indah, tapi bagian bawah tubuhnya -yang merupakan bagian paling intim- justru terbuka lebar.

Bersambung… Dokter Pram menelan ludah, dia memang beruntung. Meski sudah banyak melihat berbagai bentuk dan rupa kemaluan wanita, namun milik Ustadzah Syifa ini tampak sangat spesial. Masih tertutup celana dalam saja sudah terlihat begini indah, apalagi kalau dibuka.

Membayangkannya membuat rudal sang dokter yang sudah lama tidak terbangun, jadi menggeliat lagi. Ditambah kulit paha Ustadzah Syifa yang begitu putih dan mulus, jadilah dokter Pram menyeringai mesum karenanya.

”Maaf ya, Ustazah, ininya saya buka,” kata dokter tua itu sambil menyingkap sedikit celana dalam Ustadzah Syifa hingga celah kemaluannya terlihat jelas. Tampak begitu indah dan sempurna. Meski baru saja dipakai untuk melahirkan, benda itu tetap terlihat imut dan lucu, begitu sempit dan mungil, tampak tidak melar sama sekali.

Pasti rasanya masih sangat menggigit. Dengan warna merah kecoklatan, dan rambut yang tercukur rapi tumbuh di bagian atasnya, jadilah kemaluan itu begitu mantab dan mempesona. Ustadzah Syifa bukannya ikhlas diperhatikan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, mau mundur sekarang juga percuma, dokter Pram sudah terlanjur menatap kemaluannya.

Ia sebenarnya malu bukan main, air mata mulai menetes di sudut kelopaknya, tapi apa yang bisa ia lakukan? Ini prosuder normal, hanya dengan begini dokter Pram bisa mendiagnosis penyakitnya, meski itu artinya ia harus merelakan dokter tua itu mengutak-atik kemaluannya. Ustadzah Syifa menghela nafas, demi kesembuhan, tampaknya ia harus rela melakukan itu.

”Maaf, Ustazah,” sekali lagi dokter Pram meminta maaf. Tanpa memperhatikan ekspresi Ustadzah Syifa yang malu dan takut, ia mengambil krim dari salah satu tube yang tertata rapi di meja dan mengoleskan ke telapak tangannya. Ustadzah Syifa memperhatikan dengan seksama saat dokter Pram meratakan krim itu ke permukaan kemaluannya.

”Agar Ustazah nyaman dan tidak sakit.” kata dokter tua itu sambil tangannya terus bergerak. Ustadzah Syifa bergidik, baru kali ini ada lelaki lain yang memegang kemaluannya, dan bukan cuma memegang, tapi sudah memijit dan menggesek-gesek meski sama sekali tidak terlihat punya niat buruk. Jari-jari dokter Pram bergerak dengan ringan, membelai bibir kemaluan Ustadzah Syifa, berusaha meratakan krim di tangannya sesempurna mungkin.

serambi lempit Ustadzah Syifa jadi terlihat licin dan mengkilap sekarang. Tadi saja sudah terlihat begitu indah, apalagi sekarang. Dokter Pram yang sering melihat kemaluan wanita saja, sempat berhenti sebentar karena saking terpesonanya.

Sekilas ia menatap kemaluan Ustadzah Syifa tanpa berkedip, memperhatikan saat benda itu berkedut-kedut ringan seiiring nafas Ustadzah Syifa yang semakin cepat karena saking malunya. Ingin ia melihat lebih lama lagi, namun janji sumpah setianya sebagai dokter melarang hal itu. Maka sambil sedikit bergidik, dokter Pram menarik pandangannya.

”Hah,” Ustadzah Syifa menghela nafas lega, namun itu cuma sementara, karena selanjutnya sang dokter sudah bersiap untuk langkah berikutnya.

”Ustazah tidak apa-apa? Saya akan memulai pemeriksaan,” kata dokter Pram sambil mulai menutul dan menguak-nguak lubang kelamin Ustadzah Syifa dengan ujung jarinya.

Ustadzah Syifa yang tidak diberi kesempatan untuk bernafas, kontan mengeluh karenanya. Namun sepertinya dokter Pram tidak mengetahui, atau tidak peduli? Entahlah, yang pasti, laki-laki itu terus memegang dan memeriksa alat kelamin Ustadzah Syifa.

Dengan jari-jari tangannya yang panjang dan keriput, dia terus mengelus dan memijitinya. Ditelusurinya serambi lempit cantik Ustadzah Syifa tanpa berkedip, tiap bagiannya ia perhatikan dengan teliti. Air cinta Ustadzah Syifa yang mulai mengalir keluar diusapnya dengan hati-hati agar tidak menghalangi pandangan. Dokter Pram sepertinya jenis orang yang teliti.

”Hmm, sepertinya semua baik-baik saja,” kata laki-laki tua itu, tangannya terus bermain di permukaan kewanitaan Ustadzah Syifa.

Sang ibu guru muda yang diperlakukan seperti itu, sebenarnya ingin protes, namun tidak berani. Siapa tahu ini benar-benar prosedur normal, bukan seperti kata hatinya, yang merasa kalau jari-jari tangan dokter Pram seperti merangsang dirinya!

Sama seperti yang biasa dilakukan suaminya ketika merayu untuk mengajak bercinta. Akibatnya, cairan kewanitaan Ustadzah Syifa jadi meleleh deras sekarang. Semakin lama menjadi semakin banyak. Karena malu, ia pun menguatkan diri untuk melayangkan protes. Ustadzah Syifa tidak ingin digoda lebih lama lagi. Sudah tahu kalau kewanitaannya baik-baik saja, kenapa masih dipegangi juga?

”Ehm, dok… a-apa nggak sebaiknya pake s-sarung tangan? B-bersalaman aja k-kita tidak boleh, a-apalagi bersentuhan s-seperti ini!” sergah Ustadzah Syifa dengan nafas panjang pendek. Wajah cantiknya sudah memerah karena malu.Dokter Pram menoleh dan tersenyum bijak, ”Sarung tangan cuma membatasi feeling saya, Ustazah. Begini lebih baik, hasil diagnosanya bisa lebih akurat.” kata laki-laki tua itu.

”T-tapi… saya masih keberatan,” Ustadzah Syifa mengeluh, ia berusaha keras melawan rangsangan yang datang… karena sambil berbincang, tangan dokter Pram terus memegang dan memijit-mijit kemaluannya.

”Ustazah tenang saja, biar saya yang menanggung dosanya. Yang penting Ustazah cepat sembuh.” doktor Pram menggunakan dua jarinya untuk menguak lubang kemaluan Ustadzah Syifa. Kalau tadi cuma permukaannya yang terlihat -yang mana itu sudah membuat Ustadzah Syifa malu bukan main-sekarang seluruh lorong dan celah kewanitaan sang Ustazah terlihat jelas.

Sungguh indah bukan main. Warna dan lipatannya yang masih tampak sempurna sanggup membuat dokter Pram terdiam. Lagi-lagi pria itu terpesona, bagaimana bisa wanita alim seperti Ustadzah Syifa yang jarang merawat tubuh bisa memiliki alat kelamin sebagus ini. Sungguh suatu anugrah dari yang kuasa. Mungkin ini yang namanya karunia, kalau tidak mau dikatakan mukjizat.

”Ahh, dok…” kembali Ustadzah Syifa membuka suara, mencoba untuk memprotes. ”K-katanya baik-baik saja, k-kenapa masih diteruskan?” tanyanya dengan suara berat.

”Tadi cuma bagian luar saja, yang dalam kan belum saya periksa.” kilah dokter Pram. Dengan satu jari ia mengorek kemaluan Ustadzah Syifa.

Tak dinyana, Ustadzah Syifa yang sejak tadi sudah matian-matian berusaha menahan diri, tiba-tiba saja berteriak kencang. ”Dok, auw!” jeritnya parau.

Doktor Pram sempat terkejut, namun selanjutnya tersenyum penuh pengertian. ”Kenapa, Ustazah? Sepertinya saya tidak menyentuh bagian yang sakit.”

”Ah, s-saya…”

Belum selesai Ustadzah Syifa menjawab, dokter Pram sudah cepat memotong, ”Jangan bilang kalau jari saya lebih besar dari kemaluan suami Ustazah,”

Ustadzah Syifa terdiam, matanya melotot, sementara mulutnya komat-kamit ingin membalas kekurang-ajaran dokter tua itu, namun ia tidak bisa mengeluarkan suara karena apa yang dikatakan oleh dokter Pram memang benar adanya.

Memang tidak lebih kecil sih, tapi ukuran rudal suaminya sama dengan jari dokter Pram (Menyedihkan bukan?) itulah kenapa ia menjerit, saat dokter Pram memasukkan jarinya, Ustadzah Syifa jadi merasa seperti disetubuhi.Melihat keterpanaan Ustadzah Syifa, doktor Pram tersenyum nakal dan meneruskan aksinya. Tangannya kembali mengorek-ngorek serambi lempit Ustadzah Syifa, sementara mulutnya berbisik, ”Punya saya lima kali lebih besar dari

ini lho,”

”Hah,” Ustadzah Syifa mendelik marah, sama sekali tidak menyangka kalau dokter tua yang kelihatan sopan itu kini menggodanya. ”Dokter jangan macam-macam ya, saya…”

Cerita Dewasa Ngentot - Ustadzah Cantik dan Montok Berpayudara Besar Terjebak Birahi Saat Periksa Sakit Perut
”Kenapa, Ustazah ingin melihatnya?” tantang dokter Pram dengan lebih berani. Ia nekad berbuat seperti itu karena meski melihat Ustadzah Syifa marah, tapi wanita itu seperti terlihat pasrah. Hanya mulut dan matanya yang memprotes, sementara gerak-gerik dan isyarat tubuhnya menunjukkan hal yang sebaliknya.

”Bukan!” Ustadzah Syifa menggeleng cepat, ”Mana mungkin ada yang punya barang sebesar itu,” ujarnya kemudian dengan muka menunduk menahan malu, entah kenapa ia bisa berkata seperti ini, padahal biasanya ia paling anti berkata jorok.

”Haha,” dokter Pram tertawa, tangannya terus bergerak membelai kemaluan sang Ustazah cantik dengan mesra. Benda itu sudah sangat membanjir sekarang. ”Ustazah mau bukti?” tanyanya menggoda.

Ustadzah Syifa terdiam, tubuh sintalnya menggeliat, namun tidak bisa melepaskan diri dari kekangan penyangga yang menahan kakinya. Usahanya memang tidak terlalu keras, karena meski ia tidak menginginkannya, perbuatan dokter Pram sanggup memancing gairahnya secara perlahan. Itu yang membuatnya jadi sedikit pasrah.

”Dari tadi, benda ini bikin saya penasaran,” kata dokter Pram sambil menekan pelan kelentit Ustadzah Syifa.

”Auw!” seperti tadi, kali ini perempuan cantik itu juga berteriak kesakitan.

”Aha, sepertinya kita menemukan letak penyakit Ustazah.” kata dokter Pram pura-pura gembira. Tangannya bergerak mengusap pelan kelentit Ustadzah Syifa, mencoba menaksir apa kiranya benjolan merah yang terasa kaku itu.

”I-iya, dok… i-itu yang sakit.” sahut Ustadzah Syifa dengan terengah-engah. Bukan saja karena kaget, tapi juga karena rangsangan birahi yang mulai menguasai tubuh sintalnya. Bagaimana tidak? Sambil mengusap kelentit, salah satu jari dokter Pram terus menjejalahi lubang kemaluannya. Laki-laki itu seperti merangsangnya. Misalkan ditambah jilatan, lengkaplah sudah ritual mesum itu.

”Ini cuma benjolan biasa, tapi untuk memastikannya, kita harus melakukan tes lain.” kata dokter Pram.

”T-tes apa, d-dok?” tanya Ustadzah Syifa dengan sedikit berbisik, ia mulai tidak bisa berpikir jernih. Tebalnya iman yang biasanya ia bangga-banggakan, perlahan terhapus oleh bayangan rudal sang dokter yang katanya lima kali lipat besarnya.

Kalau pakai jari saja sudah begini enak, gimana kalau pakai rudal sungguhan? Ah, Ustadzah Syifa mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa berpikir seperti itu. Mencoba mengusir bayangan mesumnya, ia pun menarik nafas panjang.

”Ustazah lelah?” tanya dokter Pram yang melihat Ustadzah Syifa menghela nafas.”Ah, t-tidak. Saya cuma pingin rileks,” Ustadzah Syifa melemaskan lagi tubuhnya yang tadi sempat tegang. Dengan dokter Pram yang menarik jarinya dan sekarang berdiri di sampingnya, ia jadi bisa melakukan itu.

”Maaf tadi saya berlaku kurang ajar. Habisnya, tubuh Ustazah begitu indah. Baru kali ini saya dapat pasien yang sanggup bikin saya lepas kendali.” kata dokter Pram dengan sangat terus terang.

”Emm, tidak apa-apa, dok. Saya juga minta maaf, saya bisa mengerti kok.” Ustadzah Syifa melirik selangkangan sang dokter yang kini tepat berada di sudut matanya, tampak benda itu sudah sangat menggembung, besar sekali.

Apapun sesuatu yang ada di dalamnya, kini sudah terbangun dan menggeliat, menampakkan keperkasaannya. Tanpa sadar, Ustadzah Syifa menelan ludahnya. Bayangan rudal yang besarnya lima kali lipat dari milik sang suami kembali menggoda pikirannya.

”Saya ingin tahu reaksi tubuh Ustazah. Bukankah tadi ustazah bilang kalau perut bagian bawah yang sakit? Benjolan itu seharusnya tidak menghasilkan efek seperti itu. Saya takut ini karena sebab lain.” kata dokter Pram.

Seperti ditusuk dan dipelintir-pelintir terus merajam bagian bawah perutnya. Membuatnya jadi benar-benar tak tahan. Maka, sambil meringis kesakitan, ia pun merelakan saat tangan kurus dokter Pram membantu mencopoti kancing bajunya.

”M-maaf, Ustazah.” kata dokter tua itu saat tangannya dengan tidak sengaja menyenggol tonjolan buah dada Ustadzah Syifa.

Tidak menjawab, Ustadzah Syifa menyingkap baju panjang dan daleman yang ia kenakan. Jadilah, dengan perasaan sangat malu namun kesakitan, ia berbaring hampir telanjang di depan dokter Pram. Hanya jilbab lebar dan beha putih susu yang masih tersisa di tubuh sintalnya.

Yang lain sudah terlepas begitu mudah. Memang masih ada celana dalam, tapi benda itu seperti jadi penghias saja karena sudah tersingkap dari tadi, memperlihatkan lubang kemaluan Ustadzah Syifa yang sudah basah dan memerah.

Bersambung… Dokter Pram memandangi sejenak tubuh montok Ustadzah Syifa yang masih menggeliat-geliat menahan sakit. Ia perhatikan bahu ibu muda itu yang ternyata begitu bersih, putih sekali, dengan lekuk tubuh yang masih menampakkan keindahan meski baru saja melahirkan.

Bulatan payudaranya tampak begitu menggoda, sangat besar sekali. Sisi-sisinya yang padat dan putih mulus terlihat jelas karena beha yang dikenakan Ustadzah Syifa ternyata kekecilan.

Ustadzah Syifa berusaha membenahinya dengan mendekapkan tangan di bagian atasnya, berharap bisa menghalangi pandangan sang dokter dari tonjolan buah dadanya.

”Dok, s-sakit!” ia mengingatkan laki-laki tua itu saat melihat dokter Pram cuma diam saja tanpa bertindak apa-apa.

”Ah… eh, iya. Maaf.” tersadar dari lamunan, cepat dokter Pram memegangi tubuh Ustadzah Syifa. Dimulai dari bagian bawah perut. ”Katakan kalau sakit,” perintahnya. Ustadzah Syifa mengangguk. Bisa dirasakannya tangan sang dokter yang tengah meraba lembut kulit selangkangannya.

Dilanjutkan naik ke atas menuju bukit kemaluannya. Dokter Pram seperti meraba-raba rambut kemaluannya sebelum tangannya terus naik menuju ke bagian bawah pusar. Disini dokter Pram menekan sedikit, membuat Ustadzah Syifa sedikit berjengit namun tidak berteriak kesakitan.

”Tapi saya curiga ini karena kesalahan saya,” sambung dokter Pram.

”Kesalahan dokter? Maksudnya?” tanya Ustadzah Syifa tak mengerti.

”Mungkin saya kurang teliti dalam memeriksa, jadi penyakit Ustazah terlewat dari pengamatan saya.” jelas dokter Pram.

Ustadzah Syifa berusaha mencerna kata-kata itu. Lalu, ”Ehm, jadi… dokter mau melakukan pemeriksaan ulang, gitu?” tanyanya.

Dokter Pram mengangguk, ”Dengan ustazah melepas bh ini,” jarinya menunjuk beha putih susu yang masih bertengger di atas gundukan payudara ustazah Nur. ”Saya harus memegangnya langsung, kulit bertemu kulit. Dengan begitu, saya bisa memastikannya dengan lebih teliti.” tambahnya sebelum Ustadzah Syifa sempat membantah.

Ibu guru berjilbab itu kembali terdiam, berat sekali rasanya menanggung semua ini. Sebelum kesini tadi, ia sama sekali tidak menyangka kalau akan disuruh telanjang. Tapi sekarang?

Ah, namun penyakitnya sangat perlu untuk diobati. Rasanya sakit sekali kalau lagi kambuh. Lebih baik ia telanjang daripada merasakannya lagi. Bisa-bisa ia pingsan kalau rasa sakit itu datang lagi.

Maka, sambil menghela nafas panjang, Ustadzah Syifa pun berucap. ”Bagaimana kalau tangan dokter masuk ke dalam. Saya malu kalau harus melepasnya, malu sekali!” bisiknya.

Dokter Pram mengangguk, ”Begitu juga bisa,”

Selesai berkata, dengan tangan bergetar, dokter tua itupun menjamah payudara Ustadzah Syifa. Jari-jarinya menyusup masuk ke balik cup bh sang ibu muda.”Ahh…” Ustadzah Syifa melenguh saat merasakan jari-jari sang dokter yang mulai melingkupi tonjolan buah dadanya.

Dokter itu mengusap-usap pelan seluruh permukaannya yang halus dan mulus, terutama putingnya, beberapa kali jari dokter Pram seperti sengaja menjepit dan memilinnya, membuat butiran keringat mulai bermuncul di dahi Ustadzah Syifa yang masih tertutup jilbab.

Dokter Pram tersenyum menyaksikan betapa nafas pasiennya yang cantik ini mulai sedikit tidak teratur. Ia terus memijit dan meremas-remas, merasakan betapa payudara Ustadzah Syifa begitu licin dan empuk dalam genggaman tangannya. Pesona benda itu begitu luar biasa hingga membuat dokter Pram jadi ikut kesulitan untuk mengatur nafas.

”Dok…” tegur Ustadzah Syifa dengan suara nyaris berbisik.

”Shh… tenang, Ustazah.” desis dokter Pram untuk menenangkan. ”Saya masih belum selesai,” ucapnya dengan tangan terus bergerak. Dari yang kiri, selanjutnya berpindah ke yang kanan. Ia terus meremas-remas payudara Ustadzah Syifa yang bulat besar dengan penuh kelembutan.

Dari degup jantung dan deru nafas sang dokter yang kian memacu, sudah bisa ditebak betapa luar biasanya rasa bulatan kembar itu.

”Dok…” Ustadzah Syifa kembali berbisik, ia memegang kedua pergelangan tangan sang dokter, berusaha sedikit menarik dari permukaan buah dadanya.

Tapi dokter Pram yang sudah terlanjur enak, tentu saja tidak mau berhenti begitu saja. ”Tahan, tinggal sedikit lagi.” sahutnya sambil terus mempertahankan remasan tangannya.

Ustadzah Syifa terdiam, ia sudah tidak bisa lagi memprotes. Malah yang ada sekarang, bulu kuduknya mulai meremang. Lalu tubuhnya yang sintal jadi sedikit agak gemetar, dengan diiringi deru nafas yang mulai tidak beraturan.

Sepertinya ia sudah mulai kehilangan kendali. Habisnya, siapa juga yang tahan diremas-remas seperti itu. Wanita manapun pasti takluk, tak peduli seberapa hebat imannya.

Cup beha Ustadzah Syifa mulai tertarik ke atas secara perlahan-lahan, menampakkan gundukan daging kenyal yang ada di dalamnya, yang tengah ditampung oleh dokter Pram ke dalam genggaman tangannya.

”Dok, jangan…” lirih Ustadzah Syifa saat melihat dokter tua itu mulai menunduk untuk menciumnya.

Tapi dokter Pram yang pertahanan moralnya sudah tumbang, cepat menindihnya. Ustadzah Syifa berusaha untuk melawan dengan mencoba mendorong tubuh laki-laki tua, namun apalah arti tenaga seorang wanita dibanding pria yang tengah terbakar nafsu.

Dengan mudah dokter Pram bisa meringkusnya.”Dok… jangan, ini tidak boleh… mmmff!!” ucapan Ustadzah Syifa terhenti ketika dokter Pram menyumpal paksa mulutnya dengan ciuman. Laki-laki itu mencucup dan melumatnya penuh nafsu sambil tangannya terus bergerak meremas-remas bukit kenyal di dada Ustadzah Syifa.

”Mmmf… Dok, mmmhh!” tangan Ustadzah Syifa terus meronta, namun dokter Pram cepat menangkap dan merentangkannya ke atas, membuat perempuan cantik itu jadi benar-benar tidak berdaya sekarang.

Kembali dokter Pram melumat bibirnya, ia menahan pergelangan tangan Ustadzah Syifa dengan satu tangan karena sebelah tangannya sibuk berupaya melepas ikatan celana panjang yang ia pakai. Ustadzah Syifa mulai menangis terisak, tubuhnya menggeliat-geliat, berusaha melakukan perlawanan untuk yang terakhir kali.

Namun itu justru menciptakan pemandangan sensual yang makin membangkitkan birahi sang dokter tua. Mata Ustadzah Syifa membelalak dan kian panik ketika dengan paksa dokter Pram merenggut celana dalamnya.

”Dok, jangan!” Ustadzah Syifa sama sekali tidak bisa melawan. Kakinya yang tertahan di kaki ranjang tidak bisa dirapatkan. Akibatnya, batang rudal sang dokter yang sudah ngaceng berat -yang ukurannya lima kali lipat dari rudal sang suami- tepat berada di antara kedua pahanya, mencari-cari lubang kemaluannya untuk dimasuki.

”Ahh, Dok!” rintih Ustadzah Syifa saat merasakan tumbukan benda itu di bibir alat kelaminnya, dan terus berusaha mendorong masuk hingga menemukan celahnya, yang ternyata… telah begitu basah.

Dokter Pram tersenyum, ”Tahan, Ustazah. Akan saya masukkan sekarang. Ustazah pasti akan menyukainya.” bisik laki-laki tua itu sambil mulai mendesakkan pinggul. ”Ahh…” ia melenguh saat merasakan jepitan kemaluan Ustadzah Syifa yang ternyata lebih sempit dari rongga serambi lempit Mia, perawat yang tadi membantunya, yang sudah sering ia tiduri saat sedang bertugas.

”Ugh,” Ustadzah Syifa hanya bisa meringis pasrah, air mata terus mengalir menemani isakan masih yang keluar dari mulutnya.

”Maafkan saya, Ustazah… tubuh Ustazah begitu menggoda, bukan salah saya kalau jadi nggak tahan seperti ini.” ujar dokter Pram sambil berusaha mengayun-ayunkan pinggulnya.

”Hah, hah,” Ustadzah Syifa hanya bisa terisak dan menggigit bibirnya saat dokter Pram mulai memompa tubuhnya. Mula-mula perlahan, tapi semakin lama menjadi semakin cepat hingga membuat tubuh ibu guru muda yang cantik itu jadi berguncang-guncang.

Terutama tonjolan buah dadanya yang sangat besar, yang sayang jika disia-siakan. Maka dokter Pram segera menangkap dan memeganginya sambil menggigit ringan kedua puncaknya secara bergantian, membuat Ustadzah Syifa kian merintih dan menangis pilu. Pagi itu, suasana yang sejuk berubah menjadi panas.

Tubuh tua dokter Pram mulai dibanjiri keringat, begitu juga dengan Ustadzah Syifa. Kamar praktek dengan cat biru muda itu seolah-olah berubah menjadi kamar pengantin yang begitu indah (bagi dokter Pram), diiringi deritan ranjang besi yang bergerak pelan seiring goyangan sepasang manusia yang berbaring di atasnya.

Ustadzah Syifa sudah terdiam, pasrah akan nasibnya. Melawan seperti apapun, semuanya pasti sia-sia. Kelakuan bejat dokter Pram tidak mungkin dapat ia hindarkan. Memang ia sendiri yang salah, mau saja dijebak dengan alasan pemeriksaan lanjutan. Kalau tahu jadinya akan seperti ini, tentu ia akan menolak tadi. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Suara kecipak alat kelamin mereka semakin keras terdengar. Dokter Pram kembali melumat bibir Ustadzah Syifa yang mengatup rapat dan menghisapnya dengan begitu rakus. ”Jangan diam saja, Ustazah… saya tahu kalau Ustazah juga menikmatinya!” lenguh dokter Pram, membuat wajah Ustadzah Syifa jadi kian memerah.

”Auw!” Ustadzah Syifa menjerit ketika tiba-tiba dokter Pram merangkul dan memeluk ketat dirinya. Di bawah, ia merasakan rudal sang dokter berkedut-kedut pelan saat menumpahkan segala isinya.

Laki-laki itu telah orgasme, ejakulasi di dalam dirinya. Semprotan demi semprotan benih terlarangnya menerjang setiap sudut gua kenikmatan Ustadzah Syifa bagai air bah. Sangat kental dan banyak sekali. Ustadzah Syifa menangis pilu, ia terisak pelan tanpa mengeluarkan suara.

Saat dokter Pram bangkit meninggalkan tubuh sintalnya, tampak cairan putih kental mengalir keluar dari celah bibir kemaluannya, menciptakan danau kecil di atas sprei klinik yang putih bersih. Mata Ustadzah Syifa menerawang ke langit-langit kamar. Dadanya naik turun membawa serta dua gunung indah di atasnya, membuat dokter Pram jadi tergoda untuk menjamahnya kembali.

“Maafkan saya, Ustazah… saya khilaf. Sebagai lelaki normal, berat bagi saya untuk mengabaikan tubuh indah Ustazah begitu saja. Sekali lagi, maafkan saya. Kalau Ustazah ingin lapor ke polisi, silakan saja. Saya pasrah!” kata dokter Pram sambil membenahi celananya.

Ustadzah Syifa melirik sekilas ke rudal sang dokter yang masih basah belepotan sperma. Benda sebesar lima jari itulah yang barusan merenggut kehormatannya. Kehormatan seorang istri yang lama tidak dipuaskan oleh seorang suami, yang tragisnya, menemukan kepuasan itu dalam sebuah pemerkosaan!Ya, Ustadzah Syifa tidak ingin munafik.

Jujur ia mengakui, inilah persetubuhan ternikmat yang pernah ia rasakan. rudal besar dokter Pram seperti memanjakannya, meski pada awalnya memang sangat menyakitkan. Namun begitu alat kelamin mereka sudah mulai bisa terbiasa dan bisa menyesuaikan diri, bukan nyeri yang dirasakan oleh Ustadzah Syifa, melainkan rasa nikmat yang amat sangat, yang tidak pernah ia dapatkan dari sang suami.

Itulah sebabnya kenapa tadi ia terdiam di akhir-akhir permainan. Ustadzah Syifa rupanya mulai bisa menikmatinya. Tapi sayang, dokter Pram keburu keluar duluan. Kalau saja diteruskan lebih lama lagi, pasti Ustadzah Syifa akan orgasme juga, sesuatu yang sudah lama ia rindukan dan cari-cari.

”Maafkan saya, Ustazah.” kata dokter Pram sekali lagi, menyadarkan Ustadzah Syifa dari lamunannya. Wanita itu memandang dengan muka sayu dan berujar. ”Saya tidak akan melaporkan ini ke polisi, dok, karena ini merupakan salah saya juga. Tapi saya berharap, ini jadi rahasia kita berdua.”

“Saya akan jaga rahasia ini, Ustazah,” jawab dokter Pram pelan sambil berupaya memeluknya, kali ini Ustadzah Syifa dengan pasrah meringkuk dalam dekapannya dan menumpahkan tangis di dada kurus sang dokter.

Entah siapa yang memulai, kembali bibir mereka saling bertemu dan berpagutan. Tangan dokter Pram kembali meremas-remas payudara montok milik Ustadzah Syifa, sementara Ustadzah Syifa dengan malu-malu membalas dengan mengusap-usap batang rudal sang dokter yang kembali siap tempur.

”Ustazah?” lirih dokter Pram. Menyadari kalau ibu muda itu ternyata juga memendam hasrat kepada dirinya, maka dengan cepat ia kembali menindih dan mengangkangi Ustadzah Syifa. Ia arahkan batang rudalnya ke selangkangan perempuan cantik itu.

”I-iya, lakukan, dok!” sahut Ustadzah Syifa dengan pasti. Tersenyum penuh kemenangan, dokter Pram pun menusukkan rudalnya. ”Jlebb!” kembali batang itu tenggelam dalam liang senggama Ustadzah Syifa.

”Arghh… dok!” Kali ini Ustadzah Syifa sudah tak malu-malu lagi mengeluarkan suara rintihan nikmat. Pantat moleknya tampak berguncang-guncang akibat hentakan sang dokter yang mulai bergerak cepat.

Tangan dokter Pram meraih gunung kembar yang terayun-ayun indah di dada Ustadzah Syifa. Ia memijit dan meremas-remasnya sambil terus menggoyang keras.”Ouuh… Dok!” rintih Ustadzah Syifa menemani tusukan dokter Pram.

Tubuh mereka kembali basah, berkilauan oleh keringat. Ronde kedua ini lebih lama berlangsung. Ustadzah Syifa makin mendesah-desah saat nikmatnya orgasme mulai terasa datang menyerang tubuh sintalnya. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com

”Dok, terus! Aku… arghhhh!” dengan satu teriakan kencang, tubuh Ustadzah Syifa pun berguncang. Kemaluannya berkedut cepat memijit batang rudal dokter Pram yang masih bergerak cepat.

Bersamaan dengan itu, cairan bening berhamburan memancar dari liang senggamanya, menyiram rudal sang dokter hingga jadi terasa basah dan lengket. Tubuh montok Ustadzah Syifa gemetar hebat saat mengalaminya. Itulah orgasme terdahsyat yang pernah ia alami seumur hidupnya. Yang pertama, sekaligus yang ternikmat.

”Ustazah, ahh…” dokter Pram menyusul tak lama kemudian. Kembali cairan spermanya menyiram mulut rahim Ustadzah Syifa secara bertubi-tubi.

Pagi itu, hubungan profesional seorang dokter dan pasiennya, telah melanggar batas, berubah menjadi hubungan terlarang sepasang manusia yang masing-masing telah terikat perkawinan. Dokter Pram terlihat puas, begitu juga dengan Ustadzah Syifa. Wanita itu, yang awalnya begitu malu, sekarang sudah menjadi nakal dan ketagihan.

Kembali ia merayu sang dokter tua hingga sekali lagi mereka melakukannya. Menjelang siang, saat sekolah sudah akan bubar, baru Ustadzah Syifa beranjak keluar dari kamar praktek dokter Pram. Tersungging senyum manis di bibirnya yang tipis.

Cerita Sex Tragisnya Pembantu Rumah Tangga

Hari-hari berikutnya, hubungan haram itu terus berlangsung. Dan membawa konsekuensi tumbuhnya benih di rahim Ustadzah Syifa, padahal bayinya yang pertama masih berumur 3 bulan. Untunglah sang suami sama sekali tidak curiga, bahkan saat Ustadzah Syifa meminta untuk diantar periksa ke dokter Pram, laki-laki itu dengan senang hati melakukannya.

Dibiarkannya sang istri tercinta masuk ke ruang periksa tanpa ia dampingi, ia sama sekali tidak tahu kalau di dalam, dokter Pram sudah menunggu kedatangan Ustadzah Syifa dengan tubuh telanjang dan rudal mendongak ke atas begitu kencang.