Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Perempuan Berhijab Nakal

Perempuan Berhijab Nakal

Cerita Sex Perempuan Berhijab Nakal – Happy weekend sobat Ngocokers. Aku menggeliat kedinginan. Suhu AC di kamar ini dingin sekali. Aku menengok ke kiri dan kekanan untuk mencari remote control mesin pendingin itu. Ketika Sedang mencari-cari, pandanganku tertumbuk pada tubuh polos telanjang seorang pria yang masih terbaring tidur. “Lelap sekali dia…”, pikirku. Di sebelahnya ada anak perempuan kecil, dia Fanny, anakku. Aku melihat jam yang ada di meja disamping tempat tidur, “Jam 6…”, gumamku.

Malas sekali untuk pulang. Aku masih ingin disini, di rumah Alex. O.. Iya… Alex itu adalah nama pria yang masih tidur di sampingku. Dia bukan suamiku, aku baru mengenalnya kemarin siang. Tapi kami sudah saling melakukan penjelajahan pada tubuh kami berdua selama semalaman ini.

Aaahhh…. Dingin sekali kamarnya Alex. Saking dinginnya, putting susu di payudaraku mendadak mengeras. Sambil senyam-senyum sendiri, niat isengku timbul, aku membalikkan tubuh Alex yang sangat atletis itu. Seketika itu juga, aku disuguhkan pemandangan yang sangat indah.

Cerita Sex Perempuan Berhijab Nakal Ngocoks Sebuah benda yang sangat panjang dan besar, yang selama beberapa jam tadi telah membuatku lupa akan keberadaan suamiku, telah kembali bangkit berdiri tanpa disadari pemiliknya. Dan seolah-olah menyuruhku untuk menjilati dan mengulumnya. Tapi aku belum sepenuhnya tergoda.

Sambil menggenggam batang keras itu, akupun mengelus-elus liang serambi lempit ku sendiri, dan entah kenapa, pikiranku menerawang ke saat aku dan pemilik rudal besar ini bertemu….

***

Pukul 11 siang. Aku dan Fanny sedang berbelanja bulanan di sebuah supermarket. Sambil mendorong trolly, aku berjalan dari lorong ke lorong, berusaha mencari barang-barang yang ada di daftar belanjaan ku. Sampai suatu ketika, aku membelokkan trollyku ke lorong minuman.

Tapi karena aku tidak melihat sisi sebelah kiri lorong –karena terhalang oleh sebuah rak display- trollyku menabrak trolly lain yang ada di sisi luar display tadi. Kontan saja aku meminta maaf. Pria yang trollynya aku tabrak tadi tersenyum, “Nggak apa-apa kok…”, katanya.

“Bener gak apa-apa?”, Tanya ku memastikan.

“Iya, “ jawabnya. “Makanya non, jangan sambil melamun. Mikirin apa sih?” tanyanya lagi sambil tersenyum.

“Aku nggak mikirin apa-apa kok….” Jawabku agak sedikit genit (Aku sendiri heran, kenapa bisa bergenit-genit gitu)

Lalu, tanpa terduga, pria tadi mengajukan tangannya dan mengajak berkenalan.

“Mmh… boleh tahu namanya gak non?”

Terus terang, aku kaget. Tapi entah kenapa, aku juga mengajukan tangan dan berkenalan dengan pria tinggi, putih dan ganteng yang berdiri di depanku ini.

“Kenapa nggak kamu duluan?” tantangku.

Sambil tersenyum maaanniiisss sekali, dia menyebutkan namanya….

“Alex… kamu?”

“Mmmhh…. Mia! Dan ini anakku… Fanny…”

“Oo.. anakmu tho non….” Sahutnya.

“Iya…” jawabku, “emang kenapa?”

“Nggak papa… Eh iya… boleh tahu no hp mu nggak?” tanyanya lagi.

Dan sekali lagi, entah kenapa… aku dengan entengnya memberikan no hp ku. Padahal biasanya, aku gak pernah kaya gini. Setelah mencatat no ku ke dalam hp nya, Alex me-misscall-ku. “Itu no ku…” katanya. Tak lama setelah itu, kami pun berpisah dengan berjanji akan saling telfon, paling tidak, sms-an.

Pukul 11.30 siang.

Aku baru saja sampai dirumah. Aku menyuruh pembantuku membereskan belanjaan, sementara aku masuk kekamar untuk berganti pakaian. Pas… ketika kain peradaban terakhir yang melingkar menutupi daerah sensitifku meluncur turun melalui kedua paha dan betis indahku, Hp ku berbunyi… aku lihat nama si penelfon. Ternyata Alex!!!

“Hallo…” kataku.

“Hallo non… lagi ngapain?” jawab Alex.

“Mmh… lagi ganti baju. Ngapain telfon?”

“Lho… kok sinis sih? Aku Cuma mau ngobrol kok…”

“Iya… iya…. Nggak sinis kok..!!” kataku mengoreksi, “maksudku, kok telfonnya cepet banget… kirain besok-besok…”

“Mmh… tapi nggak papa kan?” Tanyanya…

Kami ngobrol-ngobrol hampir 1 ½ jam sebelum aku (dengan herannya pada diriku ini) Memberikan no telfon rumahku. Ternyata, Alex lagi sendirian dirumah. Istrinya lagi ke Semarang dengan anaknya. Tanpa diduga, Alex mengajakku untuk ketemuan. Setelah aku pikir-pikir, toh cuma ketemuan ini…. Ya sudah, akhirnya aku mengiyakan ajakannya. Janjiannya di PIM, didepan bioskop 21, jam 7 nanti malam.

Pas jam ½ 6, aku mengajak Fanny untuk mandi bareng (Alex membolehkanku untuk mengajak Fanny). Didalam kamar mandi, Fanny bertanya kepadaku…

“Mami kenapa? Kok senyum-senyum?” tanyanya lugu.

“Gak papa”, kataku, “mami mau ketemu sama Om Alex… tapi Fanny jangan bilang-bilang sama papi ya…. Nanti kalo Fanny nurut, mami beliin baju baru….”

“Asiiikkk…” sahut Fanny, “tapi…” katanya lagi, “kok ketemu Om Alex, mami seneng bener?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaan Fanny, “Iya lah… Om Alex lebih ganteng dari papi, terus badannya bagus banget. Mami rasa, rudalnya Om Alex besar banget deh Fan….”

“rudal apaan sih Mam?” Tanya Fanny lugu.

“rudal itu buat dimasukkin kesininya mami!” jelasku sambil memperlihatkan belahan indah dibagian selangkanganku ini.

“Fanny juga punya….” Sahut Fanny seraya memperlihatkan serambi lempit kanak-kanaknya.

“Iya… tapi belum boleh dimasukkin rudal… nanti kalo Fanny sudah SMP atau SMU, Fanny mami bolehin deh masukkin rudal ke itunya Fanny”

“Emangnya rudal itu kaya gimana sih mam?”

Sedikit bingung njelasinnya, aku ngomong gini ke Fanny, “Kalo nanti Mami diajak ngewe sama Om Alex, mami kasih tahu ya…. Tapi inget… jangan bilang-bilang ke papi ya…!”

“Emangnya kenapa?”

“Nanti papi-mu ngiri…. Jangan bilang ke papi ya?”

Fanny mengiyakan saja…

Ketika aku ganti pakaian, suamiku bertanya, “kamu mau kemana?” Aku menjawab, kalau aku mau ke rumah Rieke, temanku, tapi suamiku gak tahu kalo aku sudah menelfon Rieke dan bilang kalo aku ada janji sama cowok… Rieke cuma ketawa kecil tapi ngerti. Lah… si Rieke ini jagonya selingkuh… hihihihihihi…..

Suamiku gak curiga dengan pakaianku. Aku memakai jilbab, baju kurung dan celana panjang ( aku pake g-string putih tipis dan tembus pandang), Sekitar jam ½ 7, aku dan Fanny, dengan menggunakan Taxi, cabut ke PIM.

Pertemuanku dengan Alex sangat menyenangkan. Dia selalu bisa membuatku tertawa dengan banyolan dan joke-jokenya. Bahkan dia membelikan Fanny, baju dan boneka. Kami juga sempat makan, belanja dan saling memuji.

Katanya, rambut panjangku yang hitam sangat menarik, ditambah dengan tubuh yang proporsional, membuat dia ingin memeluk, mencium dan mencumbuku. Mau gak mau, aku cerita ke dia, kalo’ tadi pas lagi mandi, aku sempat membayangkan ‘barangnya’. Sambil tertawa, dia ngomong, “Ya ampun non, kamu sempat mikir gitu?”

“Iya!” jawabku singkat sambil tersipu malu.

Lalu ia membungkukkan badannya dan berbisik padaku, “Non, kamu mau nginap dirumahku gak? Nanti aku akan memuaskan rasa penasaranmu. Bahkan kamu boleh ngotak-ngatik barang yang tadi kamu bayangin.” Lalu ia mengecup pipiku dan tersenyum.

Tanpa banyak basa-basi, aku langsung meng-iyakan ajakannya. Di mobil, dalam perjalanan ke rumah Alex, aku menelfon suamiku. Aku bilang kepadanya, kalo’ aku dan Fanny menginap dirumah Rieke. Setelah menutup Hp-ku, aku bilang ke Alex… “Tonight, I’m yours!”

Dan Alex berkata (seolah untuk suamiku) “Sorry man! Tonight, your lovely, sexy, adorable and juicy wife is mine!”, lalu ia tertawa.

Aku ikut tertawa, sambil mengecup bibirnya, aku berkata, “Kamu lupa satu lagi!”

“Apa itu?” tanyanya…

“My pussy… my hairless, tight and warm pussy is yours too, tonight!”

“Yeah… baby! And my red neck dick is yours!” katanya…

Aku menjawab dengan gairah dan nafsu yang menggebu, “You’re right, baby! Can I try it now?”

Tanpa banyak basa-basi, Alex segera melepas celananya sebagian dan mengeluarkan benda yang dari tadi mengganggu pikiranku. Belum bangun sih… tapi itu saja sudah membuatku sesak nafas, karena besar sekali.

Sisa perjalanan ke rumah Alex diisi oleh suara-suara kecipak dan hisapan, tanpa ada suara lain. Aku sibuk dengan ‘barang baru’, Alex nyetir sambil keenakkan (terkadang, dia mengelus rambutku dan meremas toketku). Sementara Fanny, anakku, duduk di jok belakang dan diam saja menyaksikan aksi maminya ini.

Sesampainya dirumah, Alex langsung mengunci pintu dan jendela. Lalu ia menelfon istrinya dan berpura-pura ber ‘miss u-miss u’an, sementara tangan kirinya menggenggam batangannya sendiri, berusaha untuk menjaga agar tetap tegang.

Setelah selesai nelfon, Alex langsung membuka jilbab dan pakaianku meninggalkan Bh dan g-string. Sisa pakaianku tergeletak pasrah di pintu depan. Alex memelukku dari belakang. Tangan kanannya merogoh cd-ku dan memainkan jarinya di kelentitku, sementara tangan kirinya saling bergantian meremas kedua payudaraku. Aku yang melingkarkan tanganku di belakang lehernya, memasrahkan bibir dan lidahku untuk dilumat bibir dan lidah Alex.

Lalu kami melanjutkan aksi kami dengan ber-69 ria. Ketika sedang bertukar posisi (sekarang aku tengkurap diatas tubuh Alex yang berbaring terlentang), Fanny mendatangi kami.

“Mami lagi ngapain?” tanyanya.

Sambil terengah-engah (Lidah Alex tidak mau keluar dari liang serambi lempitku), aku berusaha menjawab, “ssh… lagi ngisep… rudalnya… mmmhh… Om Alex! Uuuh… enak baangget Lex…”

Setelah itu, Alex menghentikan serangannya dan menyuruhku berlutut sambil menghisap zakarnya, sementara ia duduk di sofa dan menyuruh Fanny duduk di sampingnya.

“Fanny lihat mami kan?” Tanya Alex.

“Iya, Om… mami lagi ngapain?”

“Mami lagi ngisep rudalya Om Alex, sayang.” Jelas Alex.

Aku menghentikan seranganku dan menjelaskan ke Fanny, kalau benda panjang, besar dan keras yang sedang aku hisap ini adalah rudal. Fanny mengangguk mengerti, mungkin ia ingat omonganku di kamar mandi tadi sore.

“Fan…” kata Alex, “nanti mami sama Om Alex mau ML. Fanny diam aja ya…”

Fanny mengiyakan saja, walaupun ia tidak tahu apa itu ML.

Lalu aku bangkit berdiri dan duduk di samping Alex sambil memangku Fanny. “Fan, inget pesen mami ya… jangan bilang ke papi. Nanti, kalo Fanny bilang, kasihan mami… gak bisa ML lagi sama Om Alex… ya?”

“Iya mam…” jawab Fanny polos.

“Dan kamu…” kataku ke Alex, “mulai hari ini, serambi lempitku punya kamu. Dan gak usah ikut mikir suamiku. Kalo sama dia kan kewajiban… kalo sama kamu namanya hak… hak untuk menikmati rudalmu yang besar ini!”

Alex tertawa, “Kalo’ serambi lempitmu punyaku, berarti rudalku boleh kamu acak-acak!” Setelah menurunkan Fanny, kami berpelukan dan saling mengulum bibir kami.

Kemudian, Alex menyuruhku terlentang dan dia membuka kakiku lebar-lebar. Setelah itu, serambi lempitku mulai dijajah oleh jari dan lidahnya. Aah… nikmat sekali. Tak lama kemudian, aku meraskan ada cairan yang membasahi serambi lempitku, rupanya cairan pelumasku keluar. Mengetahui hal ini, Alex segera berlutut dan berusaha memasukkan rudalnya yang besar itu kedalam serambi lempitku.

“Ssshh… Alex… eeennaaakkkk…. Baangeeettt…. Mmhhh!!!!”

Aku tahu kalo’ serambi lempitku ini memang sempit, tapi aku heran, ternyata barang kesayanganku ini sanggup menelan zakar Alex yang panjang dan besar itu. Pergulatan kami dilanjutkan dengan doggy style. Baru saja aku nungging, serambi lempit kesayanganku ini langsung disumbat oleh batang besarnya Alex.

Alex merangsak maju mundur, walau sesekali dia menancapkan dalam-dalam batangannya lalu diam, seolah menyuruh dinding bagian dalam serambi lempitku untuk merasakan denyutan-denyutan dari urat dan kelenjar di batang besar itu.

Hujaman-hujaman Alex kian liar tatkala dia tahu aku bocor untuk yang pertama. Aaahhh… nikmat sekali rasanya (suamiku pun belum pernah memberikan yang seperti ini). Gerakan maju mundur Alex kian lancer saja, karena serambi lempitku sudah basah banget. Lalu Alex melepas rudalnya dan menyuruhku berbaring miring.

Dengan gerakan cepat, Alex mengangkat kaki kananku dan menancapkan rudalnya dengan mantap di liang surgaku dari belakang. Rupanya ini jurus andalannya. Dan ternyata, gayanya ini membawaku ke orgasme kedua, aahhh…. Lebih nikmat dari yang pertama!! Di tengah hujaman-hujaman itu, Alex berkata;

“Non… mmmhh… aku mau keluar yaaa….?!”

Baru saja aku mau bilang ‘didalam aja ngeluarinnya!’, Alex sudah mengerang hebat. Pada saat yang sama, bagian dalam serambi lempitku disiram dengan kencang sekali oleh cairan yang hangat, lengket, kental… dan sepertinya banyak sekali.

Pokoknya enak banget! Kemudian Alex melepas rudalnya dan menyuruhku terlentang. Lalu dia menempelkan kepala rudalnya di mulutku lalu mengocoknya. Ternyata masih ada cairan yang keluar dari bapak beranak satu ini. Peju lengket dan hangat itu muncrat di mulut dan lidahku.

Sebagian memang ada yang ku kumur-kumurkan dulu sebelum kutelan, tapi sebagian lagi (dan itu yang paling banyak) langsung aku nikmati dari batang tempat keluarnya tadi. Setelah selesai, Alex langsung bersandar di sofa, sementara aku masih terbaring terlentang, merasakan kenikmatan luar biasa.

Sementara Fanny berlutut dan membungkukkan badannya didepan serambi lempitku. Kakiku memang aku buka selebar-lebarnya, walau aku menaikkan kedua lututku. Kata Fanny, “Mami, kok pipisnya putih?” Sambil berusaha mencerna pertanyaan Fanny, aku merasakan ada sisa cairan sperma Alex yang mengalir keluar dari serambi lempitku.

10 menit kemudian, aku dan Alex ke kamar mandi untuk membersihkan ‘kotoran’ yang ada di tubuh kami. Setelah itu, kami bertiga ke kamr tidur Alex. Aku dan Alex saling mencumbu lagi, sementara Fanny masih menyaksikan kami. Tiba-tiba Hp ku berbunyi, kulihat siapa yang menelfon… ternyata suamiku!

“Sayang…” kataku ke Alex, “ini suamiku. Kamu diam dulu ya… main sama Fanny dulu kek!” Lalu aku berkata ke Fanny, “Fan, kamu jangan berisik dulu yaa… main sama Om Alex dulu giih?!”

Fanny dan Alex menjawab berbarengan, “Iya mami…”

Lalu aku mengangkat telfon. Suamiku bertanya dimana aku sekarang. Aku bilang saja, ada di rumah Rieke. Sekarang, Rieke lagi keluar sama anaknya dan Fanny… lagi cari makan. Sementara aku menelfon, aku melihat Fanny sedang memegang-megang rudal Alex. Aku terus berbicara di telfon sambil berusaha menahan senyum melihat Fanny dan Alex. Tak lama kemudian, aku menyudahi pembicaraan telfon dengan suamiku.

Setelah aku kembali ke tempat tidur, Alex ngomong ke aku, “Non, sekarang Fanny sudah tahu darimana dia berasal…”

“Kamu ngomong apa ke Fanny?” tanyaku. Lalu Alex menjelaskan pembicaraannya dengan Fanny. Aku hanya senyam-senyum aja dengerinnya. Sambil terus mendengarkan, aku dengan posisi berbaring miring menghadap Alex, kembali menggenggam batangan Alex dan mengocoknya.

Sementara Alex yang berbaring terlentang, terus bercerita sambil terkadang meremas payudaraku yang besar dan memilin-milin putting susuku. Akibatnya, kami saling mencumbu lagi dan langsung memulai babak ke 2 pertandingan seru antara serambi lempitku dan rudal Alex.

Pergulatan itu berlangsung dalam berbagai gaya dan cara. Aku sampai 2 kali lagi mengalami orgasme. Untuk babak ini, Alex sengaja menyemprotkan spermanya di tubuh Fanny. Anakku kaget sekali disiram cairan kenikmatan Alex yang hangat, lengket dan banyak itu, tapi aku langsung menenangkannya.

Setelah tenang, aku langsung membersihkan sperma itu dengan cara menjilati dan menelannya semua… sampai bersih. Aku dan Alex benar-benar gila sekali malam itu.

“We’re not makin’ love… we’re fuck!” kata Alex. Aku mengiyakan saja, sambil terus menjilati dan menciumi kepala zakar Alex. Sampai ½ 5 pagi, Alex sudah 4 kali mengeluarkan peju, sementara orgasmeku sudah tak terhitung lagi. Sekitar jam 5, kami tidur.

***

Tiba-tiba, aku tersadar dari lamunanku. Setelah mencium rudal Alex. Aku kamar mandi untuk sikat gigi dan mandi, lalu ke dapur untuk membuat sarapan (aku masih bugil). Ketika sedang membuat kopi, tubuhku dipeluk dari belakang, aku kaget sekali. Setelah melihat siapa dia, ternyata Alex.

“Pagi sayang!” kataku.

“Pagi juga Mia cantik…” jawab Alex sambil mengecup bibirku. “Kok kamu sudah bangun? Kenapa?”

“Aku kedinginan. Ya sudah, aku mandi aja pakai air hangat!” jawabku sambil memeluk tubuhnya yang tegap. “Kamu belum mandi! Kamu gak ke kantor?”

Alex menjawab sambil melepas pelukanku dan menyandarkan tubuhnya ke lemari kecil di sampingnya. “Kalo aku ke kantor, kamu kemana?”

“Ya… disini aja… nungguin kamu pulang!” jawabku.

“Tapi aku males masuk. Aku pingin ML lagi sama kamu… seharian ini!”

Akupun kembali memeluk tubuh Alex yang telanjang itu, dan membiarkan rudalnya menempel di perutku. “Aku juga mau! Tapi gimana kalo dirumahku aja?”

“Boleh…! Aku setuju!” sahut Alex sambil tersenyum. Senang sekali dia.

Singkat cerita, aku dan Fanny pulang jam 9 pagi, Alex ikut kerumahku. Dalam perjalanan pulang itu, aku mengenakan baju yang aku pakai waktu pergi (jilbab, baju kurung dan celana panjang). Sementara didalamnya, aku tidak memakai apa-apa… no bra… no kancut! Di lain pihak, Alex hanya mengenakan kaos dan celana pendek.

Sesampainya di rumah, suamiku sudah berangkat, hanya pembantuku saja. Kepadanya, aku bilang kalau Alex ini adalah rekan baruku dalam bisnis yang baru kurintis (bohong siiihh… ) Jadi, aku dan Alex akan berdiskusi dikamarku. Dan aku berpesan, supaya jangan ada yang masuk ke kamarku. Kalau ada yang telfon, bilang aja gak ada, Tapi kalau suamiku yang telfon, bilang aja aku sudah pulang dari pagi, tapi pergi lagi sama Rieke.

Didalam kamar, Alex langsung melepas jilbab dan bajuku dan aku melepaskan bauju Alex. kembali bugil! Setelah mengunci pintu, rudal Alex langsung aku sepong lagi. Kali ini, Alex sudah dapat mengontrol dirinya. Hisapan-hisapanku ditanggapinya dengan tenang dan tidak grasak-grusuk.

Sekitar 5 menit kemudian, aku minta Alex gantian menjilati serambi lempitku. Alex langsung memainkan peranannya, jilatan lidahnya pada kelentitku sangat hebat sekali dampaknya… cairan pelumasku keluar, basah sekali serambi lempit tersayangku ini. Mengetahui hal ini, Alex segera membalikkan tubuhku, sehingga aku dalam posisi menungging.

Segera saja Alex memasukkan akar tunjangnya ke tempat yang seharusnya. Sambil bekerja keluar-masuk, rudal Alex terkadang diputar-putarkan didalam serambi lempitku. Batang besar itu lancar sekali bekerja, karena serambi lempitku sudah basah sekali. Setelah itu, Alex melepas zakarnya dan berbaring terlentang.

Melihat hal ini, aku faham. Aku duduki pahanya, dan kujepit rudalnya dengan serambi lempitku. Aksiku yang satu ini ditanggapi Alex dengan meremas-remas toket besarku. Ketika sedang nikmat-nikmatnya menggenjot batangan Alex, aku merasakan akan orgasme… “Lex, aku mau dapet… enaaakkk banngeeetttt!!” erangku sambil bergetar hebat. Ternyata, Alex juga mau keluar.

Tanpa dikomando lagi, aku dan Alex orgasme berbarengan. Cairan orgasmeku membasahi rudal Alex yang pada saat bersamaan, menyemprotkan spermanya, yang kutahu banyak sekali. Dan sepertinya, serambi lempitku gak sanggup menampung semua sperma Alex, sehingga sebagian ada yang mengalir keluar. Setelah itu, (tanpa mengeluarkan rudal Alex) kami saling berpelukan dan berciuman, menikmati orgasme kami masing-masing.

Ketika sedang berciuman. Hp ku berbunyi, kulihat nama penelfonnya. Ternyata Rieke! Aku angkat telfon…

“Eh Ke… ngapain telfon?” tanyaku.

Di seberang sana, Rieke menjawab. Suaranya terdengar agak panik, “Ngapain… ngapain… Gila lo! Laki lo nyariin, nelfonin gue terus. Dimana lo?”

“Di rumah. Lo dimana?” tanyaku tenang.

“Di rumah? Sinting lo ya…” Rieke menghela nafas lega, “tadi malam nginep dimana neng? Gw sampe bohong sama laki lo.”

“Ada aja…” jawabku genit. Sementara Alex sedang memelukku dari belakang (kami masih di tempat tidur) sambil meremas-remas toket dan menciumi leherku. “Eh… elo dimana?” tanyaku lagi.

“Gw lagi di taksi. Mau jalan-jalan sama Meta”

“Ke sini aja neng!” kataku lagi sambil melirik Alex yang tampak kaget. Lalu aku menyuruh Alex tenang.

“Ke rumah lo? Ngapain? Sepi, gak ada apa-apa!” kata Rieke, “gue mau nyari ‘lontong’ di mall!”

“Hahahahaha….. dasar lo! Gak jauh-jauh dari rudal. Gak pernah puas apa? Tiap hari ngewe…”

“Lo tau gue kan neng… Gue belum nemu ‘lontong’ yang pas buat serabi botak gue.” Tiba-tiba Rieke tertawa, seolah menyadari sesuatu, “Eh… dari tadi gue ngomong ‘lontong’ terus ya… hihihi… supr taxi ngeliatin gue sambil senyam-senyum. Dia ngerti, barangnya gue sebut dari tadi!”

Aku tersenyum, “Ya udah… makanya kesini aja… disini ada rudal satu, tapi gede banget! Mau nyoba gak?”

“Ha? Waaahhh…. Gue ngerti kemana lo semalem. Di perkosa sama tu laki-laki dirumahnya ya? Gila lo…. Ya udah gue ke rumah lo!”

Hubungan terputus………

“Ku berangkat dulu ya sayang…” kata suamiku sambil mengecup keningku. Aku masih terbaring di tempat tidur, baru bangun. “Iya… hati-hati ya!” jawabku, “pulang jam berapa nanti?”

“Gak tahu. Tapi kayaknya gak pulang deh.”

Aku sedikit tersentak mendengar jawaban suamiku, setengah senang-setengah bingung. “Kok tumben? Kenapa?” tanyaku.

“Mia…” jawab suamiku, “hari ini, aku harus ngawasin proyek yang di Sukabumi. Soalnya sudah mau deadline, dan harus segera dibuat laporannya. Jangan marah ya…”

Aku menjawab sambil pura-pura kesal, padahal aku seneng banget. “Ya sudah lah, terserah! Tapi jangan lupa makan… biar gak sakit!”

“Iya… iya… ya sudah, aku berangkat dulu. Luv U!”

“Luv U too!”

Lalu suamiku berangkat.

Setelah suamiku pergi, aku ngulet sebentar. Aku melihat jam… Mmh… jam 6. bangun dari tempat tidur. Aku masih telanjang bulat, sisa pertarungan gak seru semalam. Kulihat di cermin lemariku, melihat serambi lempitku yang agak tebal dan sedikit merekah… ulah Alex! Selama sebulan ini, aku digenjot terus-terusan. Ya main berdua lah.

Bonyok serambi lempit gue bisa-bisa, pikirku. Walaupun begini, suamiku sepertinya gak sadar, tapi kayaknya, dia memang gak ngerti. Tapi gak apa-apa… mereka semua punya zakar yang besar, jadinya aku juga ikut puas… lagipula, akunya juga suka kok!

Sepanjang pagi itu, aku hanya memakai daster dirumah. Aku tidak memakai jilbab. Pembantuku sedang pulang kampung dan Fanny lagi di rumah ibuku. Bener-bener sendiri. Setelah mandi, aku sarapan terus nonton TV sampai jam ½ 9. Sekitar jam 9 kurang seperempat, Alex telfon.

Dia bilang, dia harus ke Surabaya selama 2 minggu, tugas kantor katanya. HUH… BT! Gak ada orang di rumah, gak ada Alex… emangnya serambi lempitku mau nganggur selama 2 minggu? Ya sudah… aku terusin aja nonton Tv.

Sekitar jam 10an, ada yang memencet bel rumah. Siapa sih pagi-pagi begini? Pikirku malas-malasan, dan aku memang malas kalau harus berapih-rapih. Ya sudah… aku tutupi saja tubuhku dengan jilbab dan daster tanpa mekai bra dan celana dalam.

Daster bercorak bunga-bunga dengan warna dasar biru! Dasterku itu agak panjang, juga gak lebar. Jadi, setelah aku pakai, tubuhku tertutup sampai dibawah lutut. Tetap saja payudaraku yang besar ini, kelihatan banget walaupun sudah tertutup jilbab. Sementara di dalam tidak memakai apa-apa,. Lagipula, mungkin itu tamu yang gak penting. Lalu aku berjalan ke depan untuk membukakan pintu.

Ternyata, tamunya adalah teman kantor suamiku, namanya Andre. Kami sudah saling kenal.

“Eh ‘Ndre… ada apa? Kok gak ke kantor?” tanyaku setelah mempersilahkan dia duduk. Andre tampak kaget sekali melihat dandananku. Tapi bodo amat, paling Cuma sebentar.

“Eh… mmhh… anu…” katanya sedikit gugup. “Aku mau ngambil gambar blue print proyek nya Tino (suamiku-pen). Tadi katanya ketinggalan”

“Tinonya mana?” tanyaku lagi.

“Dia buru-buru ke Sukabumi, ke proyek. Maka itu dia nyuruh aku…” jawab Andre sudah lebih tenang.

“Ooo… ya sudah. Kamu cari sendiri aja di kamar! Aku nggak tahu… ngomong-ngomong, mau minum apa say?”

“Mmh… es teh manis aja deh…” katanya sambil tersenyum. (Anjrit… manis juga senyumnya, pikirku). Lalu dia pergi ke kamarku. Tapi kayaknya dia sempet melihat celana dalamku deh… soalnya, yang bangun duluan kan aku, pas bangun, aku agak sedikit mengangkang. Aah… bodo amat!

Pas lagi bikin teh didapur, aku mikir… Andre… Mmh… dia sudah married, dia temen suamiku, tapi dia ganteng banget. Tinggi, putih… jujur saja, waktu aku lihat dia berenang di laut waktu ada acara outing kantor suamiku dulu, dia tuh keren banget.

Pas ngeliat dia pakai celana renangnya… Uuh… aku dan 4 ibu muda lainnya yang lagi ngumpul di teras bungalow, langsung pada ber-fantasi ria. Menurut kami, dan itu disetujui oleh semua, enak kali ya, kalau di ‘hajar’ pake barang segede gitu?! Hihihi…. Nakal ya kami…. Tanpa di duga, tiba-tiba selangkanganku basah. Anjing! Gue horny, pikirku.

”Hei… kok bengong?” kata Andre mengagetkan aku dari belakang.

“Eh… eee… mmhhh…. Gak apa-apa kok” sahutku sedikit panik dan gugup. “Sudah ketemu anunya?”

Andre tersenyum, “Anunya apa?”

“Ee… blue printnya maksudku…”

“Oo… sudah… nih!” Kata Andre lagi sambil menunjukkan 3 gulung kertas blue print yang tadi dicarinya. “Mi, mana teh ku?”

“Ini…” kataku sembari memberikan gelas tehnya. “Liat-liat apa di kamarku? Soalnya aku belum beres-beresin kamar!”

“Nggak liat apa-apa… Cuma jilbab, lingerie yang sexy banget, bra, kondom, g-string hitam yang tipis, 3 vcd blue, sama fotomu” jawab Andre sambil tersenyum.

“Aah… kamu tuh, iseng banget sih?” kataku sambil memukul pelan pundaknya (dan berharap dia agak-agak terangsang melihat aku. Horny berat niiihhh!!!)

“Lagian berantakan gitu!” katanya lagi, “Mi, kamu tuh sexy banget ya…”

“Mmh… genit deh. Kenapa? Karena dandananku sekarang?”

“Enggak… mmhh…. Iya juga sih!”

“Lagian,… males ganti baju. Kirain gak ada siapa-siapa yang dateng.”

“Ya… tapi kan….”

“Aah… udah ah…” potongku genit, “gak usah di omongin!”

“Ya sudah… tapi aku penasaran deh… itu kamu gak pake…”

Aku memotong lagi, “Enggak… gak pakai apa-apa!”

“Bohong…..”

“Nih lihat!” kataku sambil mengangkat jilbab yang menutupi dasterku. Sekarang terlihat pentil buah dadaku. Aku tersenyum.

“Bangsat…” kata Andre, “Sumpah! Bagus banget bodymu Mi!” Tiba-tiba, Andre membungkuk dan melepaskan jilbab dan dasterku.

“Ngeliat apa kamu say?”

“Ini lho…” kata Andre, “serambi lempitmu basah gini… kamu lagi horny ya Mi?” tanya Andre sambil tersenyum.

“Kalo iya, kenapa?” tantangku.

Tanpa banyak cingcong, Andre segera memeluk dan menciumku. Dia melumat bibirku dengan liar, ya sudah, aku membalas lebih liar lagi. Lalu Andre melingkarkan tangannya ke belakang tubuhku dan meremas kedua belahan pantatku. Demikian juga aku, ku tarik kepalanya dan ku hisap dalam-dalam lidahnya. Andre memanas… Dia membuka baju dan celananya, tapi ketika hendak membuka CD-nya, dia kutahan.

“Ini bagianku!” kataku. Akupun langsung melepas celana dalam Andre, pelan… pelan… pelan… sampai aku berlutut di depannya, sementara mulutku face to face dengan batang rudalnya yang baru setengah bangun. Setelah melihat Andre dan saling tersenyum, zakarnya langsung aku masukkan ke mulutku dan ku kulum, perlahan tapi pasti. Butuh sekitar 3 menitan untuk membuatnya benar-benar menjadi rudal.

Setelah mengeras, aku lepas kulumanku, dan ku genggam erat-erat dan mengocoknya perlahan-lahan, sambil sesekali menjilati bagian kepalanya.

Tak lama setelah itu, Andre menyuruhku berdiri dan membopongku ke kamar tidur. Sesampainya di kamar, Andre membaringkan aku terlentang. Dan dia pun ‘balas budi’. serambi lempitku di ciumi, di jilati, dan kelentitku di gosok-gosok menggunakan jarinya.

Cairan pelumasku keluar lagi. serambi lempitku sudah basah kuyup. Tanpa banyak basa-basi, Andre membuka pahaku lebar-lebar dan memasukkan benda keras dan panjang itu ke dalam lubang kesayanganku. Sumpah! Rasanya enak banget. Setelah itu, batangannya mulai merangsak maju mundur (kadang berputar) di dalam serambi lempitku.

Sekitar 10 menit kemudian, Andre menyruhku menungging. Dia ingin doggy style rupanya. Lalu dia berlutut dan menghajar serambi lempitku dari belakang. Tusukan-tusukannya sangat cepat tapi berirama, dan membawa dampak kurang baik bagiku, karena orgasmeku cepat sekali mau datang.

Sesekali Andre menghentikan serangannya, membiarkan dinding serambi lempitku merasakan denyutan urat rudalnya. Dan itu enak banget! Pada kali keempat dia berhenti, aku orgasme! Merasa batangannya disiram mendadak, teman suamiku ini malah menggenjot aku semakin cepat.

Andre memegang kedua sisi pinggangku dengan erat, dan dia menghajar, menusuk dan mengeweku semakin keras dan liar. Goyangan buah dadaku yang seperti lampu gantung kena gempa, menandakan buasnya serangan bapak beranak 2 ini. Keringat kami deras sekali mengucur, sementara desahan, erangan dan teriakan kenikmatan ku sangat keras sekali terdengar.

Tiba-tiba, aku merasakan akan orgasme lagi… “Gila!”, pikirku… “cepet banget!” Tak lama setelah aku orgasme kedua (dan itu enak banget!), Andre mengerang. Aku tahu…. Dia mau orgasme. Benar saja, tak lama kemudian, Andre menghentikan serangannya, dan menarik pinggulku dengan cepat, supaya rudalnya masuk semua.

Dia muncrat di dalam serambi lempitku. Nikmat sekali rasanya, bagian dalam itil kesayanganku disiram cairan hangat, kental dan lengket. Dan kayaknya banyak banget! Lalu dia mengeluarkan rudal besarnya dan membaringkan aku terlentang, setelah itu, dia menumpahkan sisa spermanya ke mulutku, yang segera aku minum dan telan.

“Gurih juga pejumu, Ndre!” kataku. Andre hanya tersenyum mendengar komentarku tentang cairan kenikmatannya itu. Lalu kami berdua berbaring kelelahan. Setelah bercumbu sebentar, kami ke kamar mandi untuk membersihkan jejak-jejak pertempuran kami yang hebat sekali. Kemudian, Andre berpakaian dan akan langsung ke Sukabumi. Sejujurnya, aku gak mau… tapi, mau gimana lagi?

Aku mengantarkan Andre sampai pintu depan, hanya memai daster. Di depan pintu (yang belum dibuka) aku secara terang-terangan ngomong ke Andre…

“Sayang… Usahain nanti bikin Tino agak lama di sana ya… 2 – 2 harian gitu deh. Syukur-syukur sebulan….?!”

“Kenapa?” tanya Andre bingung.

“Mmh… aku mau lagi di perkosa sama kamu…”

Andre tersenyum mendengar ucapanku, “Ya sudah… pasti aku usahain!”

“Tapi kamu nanti balik lagi kesini, ya…. Bilang aja sama istrimu, kamu nginep di Sukabumi…!”

“Ya sudah. Aku usahain jam-jam 7 aku sudah sampai disini lagi!” sahut Andre.

“Bener ya…?” rengekku agak manja, “Janji lho! Aku beneran nih hornynya….!”

“Iya… iya….!”

Lalu kami berpelukan dan berciuman dengan bernafsu sekali. Akibatnya… kami ML lagi di depan pintu sambil berdiri (Andre hanya melepas celananya saja). Setelah selesai, Andre berangkat ke Sukabumi. Sementara aku berbaring kelelahan di sofa dengan sperma Andre mengalir pelan, keluar dari serambi lempit indahku yang kian menebal dan lubang surganya yang mulai merekah, karena selalu dihajar oleh batang-batang zakar yang besar-besar.

Dan aku berfikir, semua orang yang ML sama aku selalu membuang cairan kenikmatannya di dalam serambi lempitku (tapi aku nggak khawatir hamil. Soalnya aku selalu minum pil KB)… Tapi nggak apa-apa… akunya juga suka kok!

Sekitar jam ½ 8, Andre sudah sampai lagi dirumahku, sementara suamiku (atas usaha Andre) tetap di Sukabumi, dan baru pulang besok malam. Kami 4 kali ML malam itu. Top banget stamina Andre. Pada game ke 3, suamiku telfon. Aku berbicara dengan sumiku dalam posisi nungging, sementara Andre bergerak pelan sekali… Lucu juga melihat tampang teman suamiku ini.

O iya… aku lupa bilang. Anakku tersayang juga melihat serambi lempit ibunya ini dihajar oleh Andre. Anakku pulang sekitar jam 9 malam (beberapa saat setelah game 1). Dia diantar oleh ibuku. Ketika melihat Andre yang mengenakan kaos dan celana pendek (dia gak sempat pake cd, buru-buru banget!), ibuku bertanya kepadaku didapur…

“Mia… itu siapa? Kok malem-malem ada laki-laki kesini?”

“Dia itu namanya Andre, bu… tetanggaku kok. Dia kesini nyari mas Tino…” ucapku asal.

“Ya sudah… suruh dia pulang! Sudah malam!”

“Iya… iya…!”

Pada saat itu, aku hanya mengenakan daster (no bra, no cd!). Tak lama kemudian, ibuku pulang dengan berpesan kepadaku (dan ini membuatku kaget sekali… )

“Hati-hati… jangan sampai Tino dan tetangga yang lain tahu!”

“Ha…??? Tahu apa bu?”

“Jangan pura-pura bego kamu! Itu seprai buktinya. Di situ ada celana dalam laki-laki, baju laki-laki, bh dan celana dalammu. Terus di situ juga ada tissu yang lengket-lengket basah. Ibu tahu kamu habis ngapain…”

“Maafin Mia ya bu…”

“Ya sudah… asal hati-hati saja!”

Tentu saja, aku kaget, terharu tapi senang. Langsung aku peluk ibuku dan dia tersenyum bijak. Setelah itu, ia memesankan hal yang sama kepada Andre, dan dia menghormati ibuku. Andre berjanji pada ibuku untuk merahasiakan hal ini…

“Bu…” kata Andre, “saya janji, gak akan nyakitin Mia…”

“Bagus… bagus….” Sahut ibuku.

“Kecualiiii….”

“Kecuali apa?” tanya ibuku bingung.

“Kecualii… mmhh… sakit-sakit enak!” sahut Andre.

Kami bertiga tertawa… “Bisa aja kamu!” kataku. Saking senangnya dengan suasana ini, aku memperlihatkan rudalnya Andre ke ibuku, yang cuma bisa tersenyum dan kagum.

Setelah itu, ibu pulang…

Paginya, aku terbangun karena suara telefon yang berdering dari arah ruang tamu. Tanpa berepot-repot mengenakan pakaian, aku langsung mengangkat telfon… Rupanya suamiku. Dia ngecek keadaan rumah dan berpesan supaya hati-hati. Dia pulang malam ini. Setelah menutup telfon, akupun langsung menuju ke kamar mandi. Ketika sedang membasuh sisa sabun di sekitar kemaluanku, Andre masuk ke kamar mandi (aku tidak menutup pintu kamar mandi. Dan dia juga masih telanjang.)

“Siapa tadi yang telfon Mi?” tanyanya.

“Tino…” jawabku.

“Ngapain? Iseng amat pagi-pagi nelfon?”

“Yaa… ngecek istrinya lah…”

“Buat apa? Kan istrinya ditemenin sama laki-laki yang baik ini…”

“Justru itu… dia mungkin takut kalo istrinya yang sexy ini diperkosa sama laki-laki itu…” kataku sambil mulai menggenggam rudal teman suamiku ini dan mendekatkan tubuhku ke tubuhnya yang bidang itu.

“Tapi istrinya kan nggak diperkosa…” Kata Andre sambil meremas kedua buah dadaku yang ranum. “Dia di perlakukan dengan baik… karena…. (tangannya mulai turun ke bawah) serambi lempitnya… (tangannya mulai mengelus serambi lempitku) enak banget…!”

Andre langsung mencium bibirku dan melumatnya. Aku langsung membalas serangan Andre. Ku hisap dalam-dalam lidahnya… dan kugenggam dengan erat rudalnya dan mulai mengurut dan mengocok batangan yang makin lama makin keras dan memanjang itu.

“Mami…”

Aku dan Andre segera menghentikan kegiatan kami ini ketika Fanny memanggilku, tapi kami tetap berpelukan dengan erat sekali.

“Kenapa sayang?” kataku.

“Mami sama Om Andre lagi ngapain?” tanyanya.

“Mami sama Om Andre lagi mandi…” Jawabku.

“Kok madinya pelukan?” tanyanya lagi.

“Mmmhhh….” Belum selesai menjawab, Andre memotong…

“Mami kedinginan… makanya Om peluk supaya badannya anget!”

Aku tersenyum mendengar jawaban Andre. “Iya sayang… airnya dingin banget!”

Andre lalu melepas pelukannya dan langsung berlutut didepan Fanny, “Fanny mau mandi bareng sama Om, sama mami?”

“Mau…”

Lalu kami bertiga telanjang bulat dan masuk kedalam Bath tub, dan berendam bersama-sama. Walaupun itu tidak lama. Karena 10 menit kemudian, Fanny kembali menjadi saksi, bagaimana lubang tempat dia keluar dulu disumbat oleh batangan besar milik teman papinya itu.

Bersambung… Malam itu aku baru pulang. Aku dan Andre habis dari jalan-jalan. Sekarang jam 12 malam. Suamiku tentu saja sudah tidur, tapi nggak apa-apa… aku bawa kunci rumah. Sebelum berangkat tadi sore, aku bilang ke suamiku, kalau aku mau ke rumah Rieke… dan dia percaya!

Pas mau turun mobil (parkir di 2 rumah sebelum rumahku. Kebetulan tempat itu sepi dan gelap, karena samping kanannya adalah taman kompleks, dan sebelah kirinya lapangan bulu tangkis), Andre minta aku untuk blowjob. Aku nggak mau… aku maunya ML.

Ya sudah, akhirnya kami bertempur di mobilnya Andre. Kami tidak mau repot-repot… karena memang aku tidak mengenakan bh dan celana dalam (aku sudah siap-siap). Aku hanya mengenakan jilbab, baju kurung selutut dan rok lebar semata kaki . Praktis kan? Tinggal menaikan rok, pindah ke jok belakang dan ML dengan posisi duduk.

Aku diatas, dipangku Andre. Setelah selesai, aku masuk ke rumah dengan serambi lempit penuh spermanya Andre yang juga menetes di pahaku. Sebelum ke tempat tidur, aku ke kamar mandi, nyuci serambi lempit, bersihin make-up pakai lingerie (tapi nggak pakai dalaman), terus tidur deh…

Sekitar jam ½ 5an, suamiku bangun untuk minta jatah. Aku bilang aja begini, “Nggak sekarang ya mas… aku lagi nggak mood. Aku capek banget. Maaf ya mas…!”

Terus kata suamiku, “Ya sudah, nggak apa-apa.” Lalu dia turun dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi. Aku rasa dia masturbasi,… soalnya sudah 3 hari nggak dapet jatah. Aku senyam-senyum sendiri… “Kavlingnya sekarang punya orang banyak.

Kalo mau pake, izin dulu… mentang-mentang resmi di depan penghulu, belum berarti tubuhku dan semua anggotanya jadi properti pribadi, hihihi…..” kataku dalam hati. Lalu aku tidur lagi, dan baru bangun jam 10 pagi, tentu saja Tino sudah berangkat.

Sekitar jam 11an, aku mandi. Rumahku sepi sekali. Pembantuku belum pulang, Fanny sedang dirumah ibuku. Andre kerja… Alex belum pulang dari Surabaya. Aah…. Dengan suasana seperti ini, aku jadi hanya pakai daster (no bra no cd). Daripada iseng, aku nonton dvd blue aja sambil mbayangin Alex dan Andre.

Sekitar jam 1an, suamiku telfon. Katanya dia malam ini nggak pulang, karena proyeknya di Sukabumi harus sudah selesai besok pagi. Setengah nggak percaya, aku menelfon hp-nya Andre untuk memastikan, ternyata benar! Tapi, baru saja aku akan menyuruh Andre menginap di rumah, Andre bilang kalo’ dia juga harus kesana. “Aahh…. Sial banget! BT!”

Dari pada bengong di rumah, akhirnya aku memutuskan untuk ke mal. Aku mau belanja saja. Ya sudah… aku memacu mobil ke mal. Sekitar 1 jam aku disitu, ada seorang pria menghampiriku. Pada saat itu, aku sedang makan di restoran. Kami berkenalan dan ngobrol-ngobrol. Nama orang itu, Vito. Dia sudah menikah dan sedang menantikan kelahiran anak pertamanya.

Sekarang, istrinya sedang dirumah orang tuanya, dan dia sendiri baru pulang kantor. Singkat cerita, kami akan bertemu malam ini, dirumahku. Tapi dia akan ke mertuanya dulu untuk melihat istrinya. Karena sudah tukeran no Hp, kami janjian lewat telfon. Akhirnya, Vito bilang kalau dia akan datang kerumahku jam 9 malam. Setelah aku memberikan alamatku, kami menyudahi pembicaraan telfon.

Vito mau datang jam 9… sekarang baru jam ½ 8. “Aah… lama banget!” pikirku. Aku memakai jilbab biru muda seperti yang dipakai ineke, kemeja yang pas di badan berwarna biru terang dengan celana panjang hitam. sementara di dalam aku pakai g-string hitam tembus pandang.

Buat atasannya, aku pakai tanktop model tali yang agak longgar, sehingga toketku bisa bergerak bebas (aku nggak pakai bh), Pas jam 9 lewat 10, Vito datang… “Ganteng banget sih ni orang!” pikirku. Kami duduk-duduk di ruang tv sambil ngobrol-ngobrol, ngopi dan merokok.

Sambil ngobrolin tentang keluarga kami masing-masing, Vito menyelingi dengan pujian-pujian seputar keindahan dan kemontokkan tubuhku. Aku kan jadi GR!!! Vito bercerita dengan jujur, bahwa semasa istrinya hamil ini, dia juga ‘jajan’ ke wanita-wanita lain. Seperti ; sepupu istrinya, istri teman kantornya, beberapa anak SMU dan SMP dan juga beberapa teman istrinya.

“Aku kan juga pingin ‘ginian’ Mi…” kata Vito sambil menjepitkan ibu jari tangan kanannya di jari tengah dan telunjuknya.

“Iya lah… aku ngerti kok!” kataku bersimpati.

Sekitar jam ½ 11, Vito numpang ke kamar mandi. Dia mau mandi, gerah katanya. Ya sudah… dia kusuruh mandi dikamar mandi ruang tidurku. Karena kamar mandi tamu sedang rusak ledengnya.

“Numpang mandi ya Mi…” kata Vito.

“Iya… iaya…” sahutku.

Vito baru saja masuk kekamar mandi, dan aku mau keluar kamar, tiba-tiba aku terasa mau pipis. Daripada ngompol, aku ketok aja kamar mandi. “Vito, aku mau pipis nih… bukain pintu dong?!”

Pas pintu kamar mandi dibuka, aku disuguhkan pemandangan indah. rudal Vito setengah tegang, dan itu saja sudar besar. Aku sampai menelan ludah, “Glk…. Gede banget!” gumamku.

“Ya sudah….” Kata Vito, “katanya mau pipis?!”

Setelah selesai pipis (belum cebok), Vito tiba-tiba memegang tanganku dan menyuruhku berdiri. Dia melepas jilbabku (cd dan celana panjangku sudah ku lepas dari tadi) dan menanggalkan kemeja dan tanktopku. Kini aku bugil. Kemudian, Vito memelukku dari belakang, dia menciumi leherku dan membasuh serambi lempitku, dengan posisi; tangan kanannya menyirami serambi lempitku dan tangan kirinya mengelus-elus barang kesayanganku itu.

Ternyata tidak sampai disitu saja. Vito mulai memainkan jarinya, keluar masuk lubang itilku sambil sesekali menggosok kelentitku. Ketika aku mulai mendesah keenakkan, tangan kanan Vito bergerak kearah payudaraku. Toketku itu, diremas bergantian.

Sementara mulutnya mulai mengulum bibir dan menghisap lidahku. Tak lama kemudian, aku mengajak Vito ke tempat tidur. Setelah duduk di pinggiran spring bed, aku segera membuka kakiku lebar-lebar, mengundang lidah Vito untuk bermain dan menari di lubang tempat Fanny keluar dulu.

Desahan kenikmatanku makin keras, dan pada saat yang bersamaan…. Cairan pelumasku keluar. Tanpa banyak argumen, Vito segara memasukkan barangnya yang besar, panjang dan keras itu ke tempat yang seharusnya.

Dia mulai merangsak maju mundur, sementara kedua tangannya menopang tubuhnya di kedua sisi tubuhku. Tusukan dan hujaman Vito sangat berirama. Segera aku ikut memutar-mutarkan pinggulku untuk merespon Vito.

Desahan kenikmatanku keras sekali terdengar, sehingga terkadang, Vito membungkamku dengan melumat bibirku dengan bibirnya. Tak lama kemudian (dengan rudalnya masih menancap di serambi lempitku) Vito menggendong dan membopongku. Lalu ia duduk di kursi di samping tempat tidur. Setelah itu, aku yang bekerja.

Zakar Vito dikocok dengan keras dan cepat oleh serambi lempitku. Sementara aku bergoyang naik turun memanjakan rudal gede ini, aku berpegangan di pundak pria atletis itu, sambil tangannya meremas kedua payudaraku. Kemudian aku mencondongkan tubuhku lebih dekat ke tubuh Vito.

Sambil menciumi bibirnya, aku menggerakkan pinggulku semakin cepat… dan efeknya? Aku orgasme… lalu aku menurunkan tempo pergerakanku, untuk merasakan kenikmatan ini. Vito sadar kalau lawan mainnya ini sudah jebol, tiba-tiba dia meremas pantatku dan menusuk serambi lempitku dari bawah… pelan tapi beraturan. “Anjing!” pikirku, “enak banget!”

Ketika ada jeda dalam serangan-serangan Vito, tiba-tiba telfon di meja samping kami berbunyi.

“Sst…” bisikku, “kamu jangan ngomong dulu ya sayang!!”

Sambil berbicara di telfon (itu suamiku), aku bergerak turun naik secara perlahan-lahan. Sementara Vito menjilati putting susuku. Di tengah pembicaraan telefon, Vito berbisik, “Aku mau keluar!” Setelah aku berhenti bergerak, Vito memasukkan batangannya dalam-dalam sambil menekan pantatku.

Segera aku tutup telfon dengan tanganku dan aku berteriak tertahan… serambi lempitku di semprot oleh sperma yang hangat, kental dan banyak sekali. Setelah semuanya keluar, Vito menciumi dan melumat bibirku. rudalnya masih di dalam serambi lempitku, ketika aku melanjutkan pembicaran telfon dengan suamiku.

Tak lama kemudian aku menutup telfon. Tanpa membersihkan kedua alat kelamin kami, kami berbaring kelelahan. Setelah berbaring 10 menitan… tiba-tiba aku merasa lapar sekali, dan setelah aku tanya, Vito juga.

Lalu aku keluar. Vito tetap di rumahku (takut dilihat orang). Setelah hanya mengenakan daster (didalem gak pakai apa-apa) dan jilbab, aku beli nasi goreng yang kebetulan lewat di depan rumah. Lalu, aku dan Vito makan sambil masih bertelanjang bulat. Selesai makan, kami nonton Tv di kamar tidurku (yang nonton sih Vito, aku sibuk dengan batangannya yang aku sepong dengan beringas). Sepanjang malam itu, kami 3 kali ML. Sekitar jam 1/6, kami tidur.

Aku kaget sekali, sekitar jam ½ 8 ada yang memencet bel rumahku. Aku lihat, Vito masih tertidur pulas. Bergegas aku cuci muka dan mengenakan dasterku (aku dan Vito masih bugil). Setelah kubuka pintu, ternyata yang datang supir ibuku. Dia mengantar Fanny pulang. Setelah itu dia pun pergi.

Setelah membangunkan Vito, aku membuatkan sarapan. Di meja makan, aku mengenalkan Fanny ke Vito. Vito tersenyum ketika mendengar pertanyaan polos Fanny;

“Kok Om Vito telanjang?”

“Iya. Kan habis main kuda-kudaan…”jawabku asal.

“Fanny jangan bilang ke papi ya…” kata Vito menimpali.

“Iya Om….”

“Sekarang, mami mau mandi sama Om Vito. Fanny mau ikut nggak?” kataku sambil berdiri dan menggandeng Vito.

“MAU…!!!”

Di kamar mandi, Fanny yang duduk di ujung bathtub terpaku bingung melihat aku yang sedang berlutut sambil menghisap rudal Vito yang duduk di toilet.

“Mami makan apaan tuh?” tanyanya polos.

“Mami lagi maem permennya Om vito sayang…” jawabku tanpa menoleh ke Fanny, “kan Fanny sering ngeliat… masa belum tahu juga?”

“Iya, Fanny tahu… terus nanti dimasukkin ke serambi lempitnya mami kan?”

Vito terkejut mendengar omongan Fanny, “Kok Fanny tahu serambi lempit? Tahu darimana?”

“Aku yang ngasih tahu…” sahutku.

“Oo…!”

“Terus…” lanjut Fanny, “mami juga maem permennya papi?”

“Pernah sih… tapi sekarang mami males! Habisnya, permennya papi kecil. Kalo’ punya Om Vito… bbeesssaaarrr….. bangeettt! Fanny mau pegang gak?”

“Boleh Fanny pegang nggak Om?” tanya Fanny ke Vito.

“Boleh… sini!” jawab Vito.

Aku hanya tertawa saja melihat ulah Fanny dan Vito. Akhirnya, setelah selesai mandi, kami bertiga bugil seharian itu.

Setelah itu, kami bertiga duduk-duduk di ruang Tv. Aku dan Vito senderan dengan santai di sofa. Iseng-iseng ngocokin batangan Vito, sementara dia sedang berbicara dengan istrinya di hp, sambil sesekali mencium bibirku dan meremas toketku. Akupun merasakan cairan pelumasku keluar, ketika Vito menutup hp-nya.

Tanpa banyak bicara, aku langsung berputar dan duduk di paha Vito sambil mengangkang. Vito yang langsung memahami nitaku, segera menggenggam batangannya dan mengarahkannya langsung ke serambi lempitku yang kian melebar. Lama sekali kami mengolah kenikmatan kami dengan gaya itu.

Tusukan-tusukan Vito semakin cepat ketika aku mengerang dan bergetar dengan hebat. Aku orgasme! Setelah itu, Vito membaringkan aku terlentang di lantai yang hanya beralaskan karpet. Sambil setengah membungkuk, Vito berusaha mengejar orgasmenya sendiri.

Benar saja… tak lama kemudian, serambi lempitku kembali dibanjiri cairan kental dan hangat milik Bapak Vito. Tidak itu saja, sisa sperma yang masih ada di zakarnya di semprotkan di payudaraku, dan dibalurkan di bibirku.

Kami berbaring bersebelahan. Sama-sama merasakan kenikmatan yang kami dapat. Aku menggoda Fanny dengan menorehkan peju Vito yang ada di toketku dan menempelkannya di hidung Fanny.

“Iih… mami… apaan sih itu? Kok lengket?” kata Fanny sambil mengelap hidungnya sendiri.

“Itu namanya sperma… tapi mami, nyebutnya peju! Enak deh Fan, kamu lihat mami njilatin itu kan?”

“Rasanya apaan sih mi?” tanya Fanny. Lalu aku menorehkan sisa sperma itu ke bibir Fanny yang langsung meringis, “Iih… asin!” katanya.

Vito dan aku tertawa terbahak-bahak melihat ulah Fanny.

Bersambung… Sekarang Fanny sudah masuk sekolah. Memang sih dia baru play group, tapi selama dianya senang… aku dan Mas Tino nggak masalah. Selain di rumah sudah nggak ada pembantu, tugasku semakin banyak dengan mengantar-jemput Fanny ke sekolahnya… belum lagi harus melayani Mas Tino (dan juga ‘suami-suami’ku yang lain). Pokoknya mulai saat ini, aku sibuk sekali.

Sudah dua hari ini, aku harus menjemput Fanny dengan menggunakan taksi. Mobilku lagi ada di bengkel, tapi nggak apa-apa. Sewaktu sedang menunggu Fanny keluar sekolah, aku melihat-lihat sekeliling… halaman sekolah dipenuhi ibu-ibu muda yang juga sedang menunggu anak-anaknya.

Tapi aku males banget bila harus bersosialisasi dengan mereka. Aku terus melihat-lihat, sampai akhirnya pandanganku tertumbuk pada seorang pria, yang keberadaannya sangat aneh sekali. Maksudku, kebanyakan yang ada di sini adalah ibu-ibu. Kenapa ada bapak-bapak disini?

Yaaa…. Kalau diperhatiin, bapak yang satu ini sih cukup masuk dalam kriteriaku. Tinggi, putih dan mmhh… ganteng juga J Sedang asik-asiknya ngeliatin si bapak itu, tiba-tiba bel sekolah berbunyi. Waahhh…. Sebentar lagi, halaman ini akan dipenuhi anak-anak kecil yang berlarian mencari ibunya. Berarti aku harus siap-siap….

Benar saja, tak lama kemudian, halaman ini penuh dan berisik sekali. Aku mendongakkan kepalaku untuk mencari Fanny. Tapi nggak lama… Fanny datang menghampiriku. Dia berlari ke arahku… “Mami…” teriaknya lucu. Dia berdua dengan temannya, anak laki-laki kecil yang lucu banget tampangnya.

“Halo sayang…” kataku, “ini siapa?”

“Namanya Haikal, mami!” jawab Fanny, “Haikal ini teman aku”

“Halo Haikal… kamu nunggu mami kamu juga ya?” tanyaku pada Haikal.

“Nggak tante… aku nunggu Ayah. Soalnya mami lagi pergi… 1 minggu!” katanya tegas tapi lucu, sambil mengacungkan 1 jarinya.

“Ooo… Ayahnya sudah datang?” tanyaku lagi.

“Sudah… itu” jawab Haikal sambil menunjuk sosok pria yang sedang setengah berlari menghampiri kami. Ternyata, cowok ganteng yang dari tadi aku liatin adalah Ayahnya Haikal.

“Halo… ibunya Fanny ya?” katanya membuka pembicaraan.

“Oo.. tahu Fanny ya?” kataku.

“Iya… Haikal sering cerita tentang Fanny. Rupanya mereka teman akrab!” katanya lagi, “O iya… namanya siapa?” tanya ayah Haikal, “Saya Fachri!” sahutnya.

“Eh… mmhh… Mia!” jawabku.

“Mia sama Fanny mau langsung pulang?” tanya Fachri.

“Mmmh… iya sih. Kenapa memangnya?” jawabku.

“Nggak papa. Cuma mau ngajak makan siang bareng aja. Gimana? Mau ikut?”

“Terserah Fanny… kalau dia mau, aku sih ikut aja!” jawabku.

Lalu Fachri bertanya ke Fanny, “Fanny mau ikut Om makan dulu nggak. Sama Haikal?”

“Mau.. tapi mami ikut!” jawab Fanny lucu.

Tanpa banyak bicara lagi, akhirnya kami berempat (dengan menggunakan mobil Fachri) meluncur ke arah Kemang untuk makan siang.

Sambil makan, Fachri bercerita banyak tentang kehidupan rumah tangganya. Menurutku, keluarga Fachri termasuk keluarga harmonis, walaupun pekerjaan istrinya banyak menyita waktu, namun pada dasarnya, mereka cukup harmonis.

Yaa… aku mencoba membandingkannya dengan keluargaku sendiri, walaupun Tino sibuk dengan pekerjaannya (dan aku sibuk dengan orang-orang yang mengerjai), pada dasarnya, kami pun cukup harmonis (selama Tino tidak tahu dengan ulah istrinya ini J). Cukup lama juga kami di Kemang, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Fachri mengantarkan aku dan Fanny sampai di rumah. Setelah ngobrol sebentar dan tukeran no telf (rumah dan hp), Fachri dan Haikal pun pulang.

Sekitar jam 9 malam, suamiku sampai dirumah. Saat itu, aku sedang membaca novel yang baru aku beli kemarin. Setelah selesai mandi, suamiku langsung berbaring di tempat tidur.

“Kamu nggak makan, mas?” tanyaku.

“Mmh… tadi sudah. Aku sama Andre makan di kantor. Aduh… Mi… pekerjaanku makin lama makin menumpuk. Btw, besok aku lembur dan paginya aku harus langsung ke Menado.” Kata suamiku.

“Loh? Terus kalo besok lembur, malamnya kamu pulang?” tanyaku lagi.

“Enaknya sih aku nginap di kantor ya…. Ya udah deh, kamu tolong siapin baju-bajuku aja ya…”

“Berapa lama di Manado, mas?”

“Kurang lebih 1 minggu….!”

Wow… lama sekali, pikirku. Berarti kesempatanku untuk berpetualang, di mulai lagi. Tapi sama siapa ya? Alex… Sekarang dia tinggal di Semarang ; Andre… dia pergi ke Manado ; Vito… mmh.. suasana hubunganku dengan dia lagi nggak enak… yaahh… liat aja deh besok-besok.

Keesokan harinya, Tino berangkat sekitar jam 5 pagi… ke kantor, lembur & menginap di kantor dan esoknya langsung ke Menado. Setelah Tino berangkat, akupun langsung menyiapkan baju dan sarapan untuk Fanny yang mau berangkat sekolah. Sekitar jam 6an, hp ku berbunyi… ternyata Fachri.

“Pagi Mia…” kata suara ramah di seberang sana.

“Pagi Fachri… kok telfonnya pagi bener?”

“Mmh… nggak papa kan?”

“Ya.. nggak papa sih… Cuma heran aja, kok pagi-pagi telfon. Gimana Haikal, dah siap berangkat sekolah belum?”

“Sudah sih.. karena nggak ada ibunya, makanya aku bangun pagi-pagi untuk nyiapin semuanya… uuhh… capek juga ya?”

“Waahh… contoh ayah teladan! Sekarang lagi ngapain?”

“Siapa? Haikal apa aku?”

“Kamu!”

“Oo… lagi ganti baju.. mau nganterin Ikal. Kamu sendiri?”

“Aku juga lagi ganti baju… habis mandi! Sekarang lagi pake celana dalam! Kenapa emangnya? Mau bantuin?”

“Bantuin apa? Bantuin kamu pake cd? Mmmhh…. Mau banget!” Kata Fachri sembari tertawa kecil.

“Uuu… maunya!!”

“Eh… Mi… nanti mau bareng nganter Fanny ke sekolahan nggak? Kalo mau, nanti aku mampir dulu ke situ. Gimana?”

“Ya udah… lagian mobilku juga belum selesai servis. Masih di bengkel. Jam berapa mau dateng?”

“Mmhh… kalo kamu masih bertahan pake cd aja, aku pasti cepet datengnya!” goda Fachri.

“Dasar kamu tuh… pagi-pagi udah iseng…”

“Ya udah… gimana? Masih bertahan nggak?”

“Ntar dulu deh… perjalananmu ke sini kan kurang lebih ½ jam… kalo’ kamu bisa sampai disini dalam 20 menit, pas buka pintu, aku pasti masih pake kimono mandi. Gimana?”

“Tapi pake cd?”

“Ya… iyalah….”

“Mmmhh… gak usah deh…!”

“Terus aku bugil?”

“Iya!”

“Topless aja ya….”

“Mmmhhh…. Ok!”

“20 menit ya….!!!”

“OK!”

Sambil senyum-senyum, akupun memutuskan hubungan telfon dengan Fachri. Dalam hati aku berkata. ‘Thanks God… akhirnya bisa ngewe juga. Sama cowok Arab lagi… Wah, enak banget kali ya, pagi-pagi di genjot rudal Arab?! Beruntung banget sih kamu…!’ sambil mengelus serambi lempitku sendiri.

Setelah itu, aku membantu Fanny ganti baju hanya dengan memakai g-string tipis tembus pandangku yang berwarna senada dengan kulit tubuhku. Sementara diatas, aku membiarkan toket besarku yang indah ini menggantung bebas. Tentu saja Fanny bertanya dengan heran…

“Kok mami belum pakai baju…. Kan sebentar lagi aku berangkat sekolah…”

“Iya… iya… tapi nanti kita dijemput sama Om Fachri. Nanti Om Fachri ke sini dulu! Nyamper kita”

“Sama Haikal?”

“Ya… iya… sama Haikal. Kan mau sekolah juga”

“Tapi mami kok belum pakai baju? Nanti kalau Om Fachri dateng, gimana? Emang mami nggak malu, ininya keliatan?” Kata Fanny sambil memegang toketku.

Aku mau menjelaskan ke Fanny soal perjanjianku dengan Fachri, tapi daripada sudah berpanjang lebar Fannynya nggak ngerti juga, akhirnya aku jawab aja sekenanya..

“Mami belum pakai baju, soalnya mami nanti mungkin mau di pakai sama Om Fachri.”

“Di pakai gimana?”

“Ya… serambi lempitnya mami mau dipakai sama rudalnya Om Fachri…”

“Oo… mau gituan dulu ya…”

“Gituan apa?”

“Ya.. yang kayak waktu sama Om Vito, sama Om Alex itu maam….” Kata Fanny lucu.

“Ooo… iya… kayak gitu. Tapi jangan bilang-bilang ke Om Fachri soal Om Vito, Om Alex, Om Andre…. Ya? Soalnya Om Fachri kan ada keturunan Arabnya. Kata Tante Keke, orang Arab rudalnya gede-gede. Mami mau nyobain. Makanya jangan cerita2 soal papi-papi mu yang lain itu ya?”

“Iya!” sahut Fanny, “tapi nanti aku sama Haikal ngapain?”

“Ya… kamu sama Haikal ngeliat mami aja!”

“Nggak boleh ikut gituan juga?”

Aku tertawa mendengar perkataan Fanny, “Ya nggak boleh… besok kalo Fanny sudah besar, Fanny boleh deh begituan!”

“Kalo gituan, namanya apa sih mam?”

“Mmhh… namanya banyak. Ada yang bilang ngewe, menyetubuhi, ML…. pokoknya banyak deh…!”

Kami terus ngobrol sampai akhirnya aku mendengar pintu pagar ada yang membuka. Aku tahu itu Fachri… spontan aku lihat jam… wow… Cuma 15 menit lebih sedikit. Sambil berjalan ke depan, aku berfikir akan memberikan Fachri bonus. Sebelum membuka pintu, aku melepas kain peradaban terakhir yang menutupi serambi lempit sempitku ini dan melemparnya asal ke arah sofa. Sambil mengenakan kimono mandi dan jilbab, aku membukakan pintu.

“Kok cepet datengnya?” tanyaku ke Fachri sambil menggandeng tangannya.

“Gimana nggak cepet? Orang ditawarin ngeliat toket… pagi2 lagi!”

“Diih… siapa yang bilang mau ngeliatin toket?” tanyaku genit.

“Ooo… nggak mau nepatin janji?”

“Kan aku bilang, kalo’ kamu datengnya cepet, aku masih pake kimono tapi nggak pake BH… gitu doang kok…”

“Yaahh… terus aku nggak boleh liat?” tanya Fachri sedikit kecewa.

“Emangnya kalo sudah liat, mau diapain?”

“Toketmu?”

“Iyalah…”

“Mau aku remes2!!!”

Nggak boleh…” kataku sambil berlari kecil setelah sebelumnya meremas batangan pria keturunan Arab ini.

Merasa barangnya diremas tanpa izin, Fachri langsung lari mengejarku.

“Aaachh… jangan! Tolong!” teriakku sambil tertawa, ketika Fachri berhasil menangkapku. Lalu aku dipeluknya dari belakang. Aku pura2 meronta-ronta. Tapi tanganku aku lingkarkan ke belakang lehernya. Dan dengan begitu, aku memasrahkan tangannya yang kekar berbulu itu, merangsak masuk ke balik kimonoku dan meremas dengan lembut kedua toketku ini.

Tidak lama setelah itu, Fachri berhasil melepas kimonoku dan jilbabku. Dan dia terkejut sekali melihatku bugil.

“Wow… kok kamu nggak pakai celana dalam?” tanyanya.

“Bonus!” jawabku singkat.

“Bonuss apa?” tanyanya lagi.

“Bonusss karena kamu sampai disini kurang dari 20 menit!”

“Mmh… kalo’ tadi aku sampainya Cuma 10 menit, bonusnya apa?”

“Aku suruh Fanny yang buka pintu.”

“Lho? Terus kamunya?”

“Bugil sambil ngangkang di tempat tidur.”

“Waah… kamu nggak bilang sih tadi. Kalo’ tau gitu kan, aku ngebut aja kesininya!” kata Fachri dengan nada kecewa.

“Tapi nggak papa kok. Biarpun kamu nggak 10 menit sampai sini, aku tetep mau kok kamu suruh ngangkang.”

Cerita Dewasa Ngentot - Perempuan Berhijab Nakal
“Kenapa emangnya?”

“Aku pingin ngerasain rudal Arab!”

“Dasar kamu!!!!!”

Kemudian, Fachri mulai menciumi bibirku. Dan aku dibopong ke arah sofa. Setelah sampai di sofa, Fachri duduk dan mulai melucuti sendiri celananya. Ternyata tubuh Fachri tuh bagus banget. Tegap, dadanya berbulu daaannn… rudalnya gede banget! Padahal itu aja baru setengah bangun. Sebelum mulai mengisap rudalnya, aku menyuruh Fanny menutup pintu depan yang masih terbuka.

Setelah Fanny menutup pintu, dia dan Haikal duduk di dekat ku dan Fachri.

“Mi…” kata Fachri, “anak2 gimana nih?”

“Gimana apanya?”

“Mereka disini ngeliatin kita.”

“Nggak papa… biar ngerti” kataku asal.

Fachri hanya senyum-senyum saja mendengar jawabanku. Sementara aku melanjutkan ‘kerjaanku’. Menikmati rudal arab satu ini sambil menggosok kelentitku sendiri.

Setelah selesai dengan rudalnya, aku berdiri di sofa dan membungkam mulut Fachri dengan serambi lempitku. Lidahnya mulai menari-nari diantara belahan serambi lempitku, dia menghisap dan menjilati kelentitku, sambil memainkan jarinya didalam lubang itilku.

Cairan pelumasku keluar banyak sekali, sehingga serambi lempitku banjir. Menyikapi hal ini, Fachri segera membibimbing tubuhku untuk duduk di pangkuannya. Perlahan-lahan, batangan kerasnya mulai memasuki liang sempit yang seharusnya milik suamiku.

Aku mulai mengoyang pinggulku untuk perlahan membiasakan diri dengan barang baru ini. Tapi, nafsuku tak bisa ku bendung lagi. Aku makin mempercepat gerakanku. Pada saat yang bersamaan, Fachri meremas kedua belah pantatku sambil menusukkan batangan kerasnya itu bertubi-tubi.

Eranganku makin keras ketika bapak ini menghujamkan rudalnya kedalam serambi lempitku dan mendiamkannya saja disana, bukan apa-apa… semua urat yang mengeras didalam rudalnya berdenyut dengan kencang sekali. serambi lempitku merasakan sensasi yang belum pernah dirasakannya sama sekali.

“Ssshhh… Yang… kok berhenti?” tanyaku.

“Mmmhh… enak kan tapinya?”

“Iya…. Oohh….! Yang… aku basah banget ya….???”

“Nggak papa…. Kamu dah mau dapet belum?”

“Kayaknya… sshhh… dikit lagi… kenapa?”

Tapi Fachri tidak menjawab. Dia malah dengan tiba2 kembali menghujamkan batangannya itu. Kontan saja aku berteriak keenakkan… Aku tak tahu berapa lama Fachri menggenjot serambi lempitku, tapi yang jelas entah kenapa orgasmeku cepat sekali datangnya.

“Yang… uuuhhh… aku mau keluar….!!!”

Benar saja, tak lama setelah itu aku merasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat sekali. Tapi Fachri tetap tidak berhenti. Dia terus menggenjot serambi lempitku dari bawah. Makin keras hujamannya, makin kencang aku memeluk tubuh bapak ini. Wajah ganteng Fachri makin lama makin terbenam ke dalam kedua belah buah dadaku.

Kemudian, Fachri menghentikan serangannya sebentar untuk berdiri dan menggendongku. Sambil berjalan, Fachri mengangkat tubuhku dengan topangan tangannya di kedua belah pantatku, sementara aku mencoba untuk tetap memanjakan rudalnya dengan membuat gerakan naik turun. Tapi dia tidak jauh membawaku. Dia membaringkan aku di sofa tempat Fanny dan Haikal duduk.

“Ical minggir dulu… Ayah lagi sibuk main kuda-kudaan sama tante Mia!” perintah Fachri kepada Haikal.

“Fanny juga minggir dulu ya…” kataku pada Fanny, “Kamu sama Haikal duduk di bawah aja dulu ya…”

Lalu mereka pindah tempat ke lantai sambil tetap menyaksikan pertarungan alat kelamin milik ayah dan maminya.

Dengan posisi terlentang seperti ini, tentu saja serambi lempitku makin terlihat merekah. Ditambah dengan kedua kakiku yang aku buka lebar-lebar untuk memudahkan Fachri memasukkan rudalnya. Sambil mengocok batangannya sendiri, Fachri tersenyum dan berkata…

“Sumpah, Mi… serambi lempitmu enak bener!”

“Aahh.. kamu tuh… bisa aja! rudalmu juga enak kok! Ayo… masukkin lagi… !”

Lalu Fachri kembali memasukkan rudal arabnya ke dalam serambi lempit lokalku. Sumpah… pergesekkan perlahan yang dibuat rudal Fachri kepada liang serambi lempitku, membawa sensasi kenikmatan yang cukup membuat nafsuku kembali memuncak.

Sambil memegang kedua kakiku, Fachri kembali membuat penetrasi yang sangat hebat sekali. Mulai dari gerakan maju mundur perlahan sampai gerakan yang cepat sekali. Tiba-tiba, Fachri kembali menusuk dengan kencang serambi lempitku dan kembali diam tak bergerak. Sialan… rupanya ini jurus andalannya. Orgasmeku kembali terasa lagi ingin datang untuk yang kedua kalinya.

“Ooohh… ssshhh…. Kamu hebat banget ssiihh…. Aku mau dapet lagi!” desahku.

Tapi Fachri tetap tidak menjawab, dia malah membuat gerakan menusuk yang simultan namun gerakannya pendek-pendek, sehingga serasa seperti memompa orgasmeku. Tak lama kemudian, erangan dan desahan kenikmatanku kembali terdengar.

Aku dapet lagi… Ketika kenikmatan ini sampai pada puncaknya, tiba-tiba Fachri menusukkan dalam-dalam rudalnya. Lalu terasa ada cairan yang mengalir didalam liang serambi lempitku. Lengket, kental dan kayaknya banyak sekali.

Setelah semua pejunya ditumpahkan kedalam serambi lempitku, Fachri mengeluarkan rudalnya dan menyuruhku menghisapnya. Dia duduk bersandar kelelahan di sofa, sementara kakinya dia buka lebar-lebar. Wow… rudal yang masih menegang itu terlihat mengkilat karena basah oleh cairan kenikmatan kami berdua.

Langsung aku duduk di bawahnya dan mengocok batang besar itu sambil menghisap dan menjilatinya… sampai bersih. Setelah itu kami ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami. Sambil masih telanjang bulat, kami kembali ke ruang tamu untuk bergabung dengan kedua anak kami.

“Fan…” kataku pada Fanny, “hari ini kamu nggak usah masuk sekolah dulu ya?”

“Kenapa?” tanya Fanny.

“Om Fachri sama mami mau ngewe seharian…!”

“Mi… emang Fanny tau ngewe? Kok kamu ngomongnya gitu…?” tanya Fachri bingung.

“Sayang… Fanny udah pernah aku kasih tahu soal apa itu ngewe, menyetubuhi, ML…. tinggal pilih!

“Oo….! Berarti seharian kita menyetubuhi nih?” tanya Fachri lagi.

“Terserah kamu…” jawabku, “Kalo aku sih maunya gitu!”

“OK!”

“Berarti… hari ini kita… telanjang bulat!” kataku pada Fanny.

“Haikal juga telanjang, mam?” tanya Fanny.

“Tanyanya sama Om Fachri dong, Fan!” lalu aku bertanya pada Fachri, “Gimana yang… anakmu kita telanjangi juga nggak?”

“Ya sudah….”

Akhirnya seharian itu kami berempat telanjang bulat di rumahku. Aku, Fachri, Fanny dan Haikal. Betapa lucunya Fanny ketika ia membandingkan rudal Fachri dengan batangan imut milik Haikal.

“Kok punya Om Fachri gede banget mam?” tanya Fanny.

“Soalnya supaya muat di serambi lempitnya mami!” Jawabku singkat.

“Tante…” kata Haikal, “serambi lempit apaan sih?”

Tapi yang menjawab ayahnya sendiri. Sambil mengelus serambi lempitku, Fachri berkata…

“Ini yang namanya serambi lempit, Cal! serambi lempitnya Tante Mia enak banget deh… coba kamu cium serambi lempitnya Tante Mia, pasti wangi banget baunya!”

Mendengar hal ini, aku segera menyodorkan serambi lempitku pada Haikal, “Cium Cal!” Lalu anak kecil ini mencium serambi lempitku. Belum selesai Haikal menciumi serambi lempitku, Fachri menyuruh anak laki-lakinya itu menjilat serambi lempitku. Jilatan Haikal memang nggak berpengaruh banyak, tapi geli2nya cukup bikin kaget juga, maklum… lidahnya anak kecil!

Lalu aku juga menyuruh Fanny mengocok rudal Fachri dan mengajarkan untuk mengulumnya. Fachri tertawa kecil ketika ia melirikku… “Eksperimen nih?” Aku menjawab dengan mengecup bibirnya. “Sekali2 gak papa kan? Mumpung ada moment…” kataku.

Sekitar jam ½ 12 siang, HP Fachri berbunyi. Rupanya istrinya menelfon menanyakan kabarnya dan Haikal. Setelah selesai, Fachri menutup telfonnya. Saat itu, ia sedang memangku Fanny di sofa sambil mengelus-elus serambi lempit mungilnya. Fanny hanya diam walaupun kadang2 seperti kegelian.

Sementara aku memangku Haikal sambil memainkan rudal kecilnya. Setelah tegang, aku mengocok rudal kecil itu dengan dua jariku. Tapi itu nggak lama, soalnya sekarang jam makan siang. Fachri mengajak aku untuk makan. Sekitar jam ½ 2, Fanny dan Haikal tidur siang berdua di kamarnya Fanny, sambil masih tetap telanjang bulat.

Aku dan Fachri berdiri didepan pintu kamar sambil memperhatikan mereka. Fachri memeluk tubuhku dari belakang sambil tangan kanannya meremas toketku dan tangan kirinya mengelus serambi lempitku. Sementara tangan kiriku aku lingkarkan ke belakang lehernya dan tangan kananku menyelinap untuk menggenggam dan meremas rudalnya.

“Mi… hari ini aku seneng banget!” kata Fachri.

“Kenapa?”

“Bisa nyobain serambi lempitmu! Kamu?”

“Aku apalagi! Bisa nyobain rudal arab. Yang gede dan yang kecil”

Aku dan Fachri tertawa kecil.

“Sekarang kita ngapain?” tanya Fachri.

“Terserah!” jawabku, “ngapain aja aku mau… yang penting enak!”

“Yang enak yaa….”

“NGEWE!” potongku sambil meremas batang besar Fachri.

“Astaghfirullah!!!” sahut Fahri terkejut…

“Kenapa?”

“Kaget aku!” Sahutnya lagi, “Mi… aku mau tanya boleh nggak?”

“Apa sayang?” kataku sambil memutarkan tubuhku untuk berhadapan dengan Fachri sambil melingkarkan tanganku ke belakang lehernya.

“Kamu seneng banget menyetubuhi ya?” tanyanya lagi.

“Mmhh… kalo iya kenapa?”

“Gak papa… Cuma heran aja!”

“Heran kenapa?”

“Mmmhh… aku tahu, aku pasti bukan laki-laki satu-satunya yang kamu jadikan petualanganmu. Iya kan?”

“Iya… terus?”

“Mmhh… suamimu tahu gak sih?”

“Ya … nggak lah.. kenapa emangnya?”

“Gak papa… Cuma pengen tahu aja reaksi suamimu kalo misalnya tiba2 pas dia pulang kantor, ada aku atau siapa lah… yang jelas-jelas habis ngacak-ngacak serambi lempit istrinya.”

“Mmhh.. aku nggak tahu gimana reaksinya. Tapi…. Boleh dicoba juga tuh kapan2! Gimana? Kamu mau nyoba nggak?”

“Itu maksudku dari tadi…” sahut Fachri, “Lucu kali ya….??”

Kami berdua lalu pergi ke ruang tamu sambil masih ngobrolin tentang berbagai spekulasi soal eksperimen tadi. Kami terus ngobrol sambil terus bercumbu, tanpa terasa sudah magrib. Sambil masih telanjang bulat, kami lalu menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, sementara dari arah kamar Fanny, aku mendengar dua anak itu sudah bangun dan mencari ayah dan maminya.

Fachri menginap malam itu. Kami mengisi malam ini dengan berfoto berempat (sambil telanjang bulat tentu saja). Kebetulan, aku punya cam digital dan handycam. Fachri memotret aku dengan berbagai macam cara dan gaya.

Sampai akhirnya, dia menyuruh aku menghisap titit Haikal, sementara dia dengan senangnya merekam adegan itu dengan handycam. Sebagai gantinya, aku menyuruh dia menjilati serambi lempit mungil Fanny. Setelah selesai, kami menontonnya di TV. Fachri tertawa geli sekali ketika melihat adeganku dengan anaknya.

“Liat Fan… mamimu!” katanya kepada Fanny yang sedang dia pangku. Sementara tangannya tidak berhenti mengelus-elus serambi lempit anakku itu. “Mamimu itu seneng banget sih sama yang namanya rudal!”

“Aah.. kan kamu yang nyuruh?!” kataku membela diri. Sementara Haikal yang aku pangku berkata, “Tapi tadi aku kok enak yaa, Tan…”

Aku dan Fachri tertawa mendengar Haikal bicara begitu.

“Makanya Cal…” kata Fachri, “ayah nggak ada bosen-bosennya disepong sama Tante Mia… soalnya hisapannya enak banget!”

Aku tersenyum kepada Fachri lalu mengecup bibirnya, “Makasih atas pujiannya ya Yang…!” Lalu berkata kepada Haikal, “rudalnya ayahmu juga enak kok Cal… makanya tante mbolehin rudalnya ayahmu ngacak-ngacak serambi lempitnya tante….!”

Sekitar jam 11 malam, kedua anak itu tertidur. Sementara kedua orang tuanya ini, kembali saling meniduri.

Bersambung… Hari ini aku dan Fachri sudah genap 4 ½ bulan menjalani hubungan. Di sela-sela hubunganku dan pria Arab itu, aku juga masih menjalin hubungan dengan pria-pria yang dulu sering banget menggenjotku di tempat Fanny keluar (menurutku mereka sudah ketagihan) J.

Sekarang sudah jam 5 sore, berarti suamiku sebentar lagi pulang dari kantornya. Aku dan Fachri baru saja selesai mandi, setelah sebelumnya dia membuatku orgasme yang tak terhitung banyaknya. Aku baru saja selesai berpakaian (daster, no bra dan no cd) dan memakai jilbab, sementara Fachri baru saja memakai celana panjangnya, ketika aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Suamiku pulang! Segera saja aku mnyuruh Fachri untuk ‘berakting’ di ruang tamu (rumah sedang kosong, Fanny dirumah ibuku). Tak lama kemudian, suamiku masuk kedalam rumah dan langsung bertatap muka dengan Fachri.

“Mi… eh… ada tamu… siapa ya?” tanya suamiku yang segera menjabat tangan Fachri yang berdiri dan mengulurkan tangannya.

“Fachri!” katanya tegas.

“Mmh.. Tino.”

Aku segera menengahi suasana yang agak kikuk itu, “Fachri ini temanku SMA dulu mas… dia kesini mau mengkonfirm soal reunian bulan besok!”

“Oo… kok tapi tadi pintunya ditutup?” tanya suamiku curiga.

“Anu… tadi ada pengamen lewat. Males banget aku ngelayaninnya. Makanya pintunya aku tutup, eh… keenakkan ngobrol sampe lupa mbuka pintu!” jelasku asal.

“Oo… Fanny belum pulang?” tanya suamiku lagi.

“Belum!”

“Ya sudah… Mmh.. aku mandi dulu ya. Fachri, saya tinggal dulu ya…!”

“O.. Ok!”

Setelah suamiku masuk ke kamar mandi, Fachri segera memelukku. Sambil berbisik di telingaku, dia bilang kalo aku pinter banget bikin alasan..

“Ya… kalo nggak gitu, kita nggak bisa ngewe lagi dong…” jawabku.

Tapi Fachri tidak berkata apa-apa lagi, dia langsung mengulum bibirku yang aku balas dengan bernafsu sekali, sementara tangan si Arab itu masuk ke dalam dasterku dan melesat ke arah serambi lempitku sambil mengelus dan menggosok serambi lempitku.

Sementara tanganku mengelus gundukan daging di balik celananya di arah selangkangan. Sekitar 10 – 15 menit kemudian terdengar pintu kamar mandi terbuka, aku dan Fachri segera berakting lagi pura-pura ngobrol di sofa.

Setelah berganti pakaian, Tino langsung bergabung dengan kami. Tapi aku malas banget bila harus berakting terus. Setelah minta ijin untuk ke belakang, aku segera pergi ke dapur. Di dapur aku menelfon ibuku untuk menelfon ke rumah. Aku bilang supaya ibu pura-pura menelfonku untuk menjemput Fanny. Tentu saja dia bertanya-tanya, tapi aku menjelaskan dengan singkat alasanku.

Aku bilang ke Ibu, kalo dirumah ada selingkuahanku yang lagi ngobrol sama Tino. Aku bilang aja kalo aku dan selingkuhanku itu lagi nanggung dan ingin melanjutkan ‘pertempuran’ dirumah ibu. Ibuku langsung mengerti dan dalam 5 menit akan menelfon ke rumah.

Benar saja, 5 menit kemudian telfon berbunyi. Tino yang angkat. Setelah menutup telfon, Tino bilang kalo ibu minta Fanny dijemput, soalnya ibu mau pergi. Aku segera berganti pakaian di kamar. Aku memakai jilbab putih, kemeja tangan panjang dan rok lebar semata kaki.

Setelah selesai berpakaian aku segera ke ruang tamu untuk izin sama Tino. Aku segera memberi kode pada Fachri. Lalu, dengan beralasan akan pulang, Fachri segera pamit kepada Tino, setelah sebelumnya pura-pura menawariku tumpangan untuk mengantarkanku ke rumah ibu. Setelah itu, aku dengan menggunakan mobil Fachri, pergi ke rumah ibu.

Sesampainya disana, ibu tidak banyak bertanya. Dia langsung aku kenalkan pada Fachri. Setelah itu, aku dan Fachri segera masuk kamar ibu dan nggak keluar-keluar sampai jam ½ 9 malam. Saat itu aku sedang membersihkan batang zakar milik bapak beranak satu itu, ketika ibu masuk ke kamar dan memberitahu kalau Tino telefon.

Setelah minta izin ke Fachri (masih bugil) aku segera keluar kamar untuk menerima telefon Tino. Setelah selesai, aku kembali ke kamar dan memberitahu Fachri dan ibu bahwa Tino menyuruhku segera pulang. Aku dan Fachri segera berpakaian lalu aku pulang menggunakan taksi agar Tino tidak curiga.

Keesokan harinya, Fachri menelfonku, katanya dia nggak bisa ke rumahku hari ini, karena tadi malam ia hrs melayani istrinya yang minta ML J. Terus aku juga bilang kalo nggak kerumah gak papa, soalnya ibu dan kakaknya Tino akan datang malam ini dan mungkin menginap selama 3 hari.

Aku nggak tahu apa urusan mertuaku itu datang kesini, apalagi Mbak Tammy juga ikut. Aku gak pernah suka sama kakak perempuan Tino itu. Sudah gendut, cerewet, selalu iri dengan penampilanku, bawel, suka ikut campur… uuugghh… pokoknya semua hal yang negatif ada di dia deh….

Tapi yang membuatku agak senang, Mas Pras (suaminya Tammy) ikut juga ke sini. Aku bingung, padahal Mas Pras itu ganteng, tinggi, baik, lucu ,ramah… kok mau ya sama si Tammy gembrot itu? Cocoknya, Mas Pras itu dapet perempuan sexy kayak adik iparnya ini… tapi, sudahlah….

Mereka datang sekitar jam 5 sore. Tino menjemput mereka di Gambir. Setelah berbasa-basi nggak jelas dengan ibu mertuaku itu, aku langsung ke dapur untuk membuatkan minum dan menyiapkan makan malam.

Jelas-jelas aku sibuk, si gembrot itu bukannya mbantuin, malah mencela aku. “Kamu kok kayak males-malesan gitu sih Mi kerjanya? Nggak ikhlas aku dateng?”

RESEEE….. !!!!

Biarpun begitu, Mas Pras malah ndatengin aku ke dapur setelah si babon itu pergi, “Udah Mi, jangan dipikirin. Kamu kan tahu… si Tammy memang begitu orangnya.”

“Iya Mas, nggak papa!”

“Ngomong-ngomong, kamu kok kayaknya makin cantik ya Mi apalagi memakai jilbab…” kata Mas Pras memujiku.

“Ah… Mas Pras bisa aja. Tapi Mas Pras juga makin ganteng kok…” balasku sambil memukul pelan pundak pria gagah ini.

“Kamu bercanda apa serius nih?”

“Serius!!!”

“Ya udah… aku kan emang ganteng!” sahut Mas Pras sambil tertawa.

Aku juga ikut tertawa sambil mencubiti Mas Pras di bahunya yang keras dan kekar itu.

“Udah ah…” potongku, “nanti Mbak Tammy denger, terus curiga lagi!”

“Iya… ya udah… aku ke depan dulu ya?!”

“Lho, nggak mau nemenin aku di belakang nih?”

“Ntar aja… aku nanti balik lagi!”

“Kapan?”

“Mmmhh… maunya kapan?”

“Nanti malem aja!”

“Lho… kok nanti malem?” tanya Mas Pras bingung.

“Iya….” Sahutku, “nanti malem aja. Pas semua sudah pada tidur…”

“Maksudmu?” tanya Mas Pras sambil mendekati aku.

“Mmmhhh… nanti malem aku tunggu di kamarnya Fanny!” bisikku.

“Terus ngapain?” tanya Mas Pras sambil terus merapatkan tubuhnya ke tubuhku.

“Terus… kita… “ belum selesai aku bicara, Mas Pras, dengan lembutnya, memeluk dan mengecup bibirku.

“Mas… nanti ada yang….” Tapi sisa kata-kataku hanya menggantung di udara. Mas Pras malah langsung mengulum bibirku sambil tangannya dilingkarkan ke tubuh setengah horny ini dan meremas kedua belahan pantatku. Mendapat perlakuan demikian, aku langsung membalas kuluman itu dengan memainkan lidahku didalam mulut Mas Pras.

Sedang nikmat-nikmatnya aku mencium Mas Pras, tiba-tiba ada yang memanggilku.

“Mami…”

Kami berdua tersentak kaget, dan langsung mengambil posisi berjauhan yang tampak aneh sekali. Ternyata yang memanggil adalah Fanny.

“Aduh… kamu bikin mami kaget, Fan…. Kenapa?”

“Mami lagi ngapain?”

“Mami lagi ngelapas kangen sama Om Pras… Iya kan Om…” sahutku asal sambil melirik Mas Pras.

“Iyaa Fan… tapi jangan bilang ke papi ya…”

“Oke Om….”

“Kenapa kamu nyari mami?” tanyaku ketika sudah sedikit tenang.

“Aku laper… mau makan…”

“Ooo… ya udah.. kamu panggil papi sama nenek gih… bilang makan malam siap habis shalat maghrib. Ya…?”

Setengah berlari, Fanny langsung pergi ke ruang tengah. Ketika aku berjalan menyusul Fanny, Mas Pras dengan isengnya meremas pantatku.

“Aahh… Mas Pras iseng nih… dah nggak sabar ya?”

“Iya…!!”

“Tahan sedikit dong! Eh… mau lihat itunya dong Mas?” pintaku sedikit manja.

Mas Pras langsung menurunkan relsletingnya dan mengeluarkan batangannya sendiri. Lalu aku kembali mendekati Mas Pras lalu menngenggam rudalnya itu.

“Sabar ya dik… nanti malem kamu boleh masuk kesini deh.” Kataku sambil menempelkan kepala rudal besar yang setengah bangun itu ke arah serambi lempitku yang ada dibalik g-stringku yang masih tersembunyi di balik rok panjangku yang sudah terangkat bagian depannya.

“Mi…” kata Mas Pras, “buka dong cd mu!”

Tanpa banyak komentar, aku langsung menurunkan cd ku dan kembali menempelkan palkon Mas Pras di belahanku ini.

“Sabar ya Mas… aku juga dah nggak tahan!” bisikku pada Mas Pras.

“OK!” jawabnya singkat.

Malamnya, sekitar jam ½ 1, aku bangun dari tempat tidurku dan mulai mempreteli semua pakain yang menempel ditubuhku. Untuk menutupi tubuh telanjangku, aku hanya memakai daster tanpa lengan. Setelah melihat suamiku yang tertidur pulas, aku berjalan mengendap keluar kamar menuju kamar Fanny.

Sesampainya di sana, aku melihat Fanny tertidur pulas sekali, tapi Mas Pras belum datang. Sekitar 5 menit kemudian, Mas Pras, yang hanya memakai celana pendek, masuk ke kamar Fanny.

Saat itu aku tengah berbaring terlentang di samping Fanny. Aku mengangkang lebar memamerkan liang yang sebentar lagi akan dimasuki oleh batang besar milik kakak iparku ini.

“Bagus banget bentuknya, Mi!” bisik Mas Pras.

“Buat Mas!” jawabku singkat.

Lalu Mas Pras mulai naik ke tempat tidur Fanny dan langsung memeluk dan mengulum bibirku. Tangan kanannya langsung melesat ke arah serambi lempitku dan mulai meraba, mengelus dan menggosok kelentitku. Pada saat yang bersamaan, aku mulai melepas celana pendeknya dan mencoba untuk menggenggam rudal yang setengah bangun itu.

Setelah dapat, aku mulai mengocoknya perlahan-lahan. Semua gerakan yang kami buat, kami lakukan dengan pelan-pelan sekali. Kami berusaha untuk tidak grasak-grusuk, supaya tidak membuat suara-suara yang dapat membangunkan seluruh isi rumah. Akibatnya, nafsu kami sudah tidak dapat terbendung lagi. Cairan pelumasku cepat sekali keluarnya, begitu juga Mas Pras. rudalnya menegang dengan cepat sekali.

“Gimana Mas?” tanyaku, “langsung aja ya?”

Tapi Mas tidak menjawab, dia hanya bangikt dan berlutut di hadapanku dan mulai mengarahkan senjatanya itu langsung ke sasarannya. Perlahan-lahan. rudalnya mulai memasuki liang serambi lempitku. Lalu Mas Pras sambil setengah berlutut, berbaring tengkurap diatasku, rapat sekali.

Aku faham, ini untuk meminimalisasi gerakan dan suara yang pasti keluar. Memahami hal ini, aku langsung melingkarkan kakiku ke bagian atas pinggulnya, sementara tanganku aku lingkarkan di lehernya. Tusukan-tusukan Mas Pras sangat lembut namun mantap sekali di dalam serambi lempitku.

“Enak banget Mas!” bisikku di telinga Mas Pras.

“Tahan Mi. Kita tukar posisi. Jangan sampai lepas ya?!” kata Mas Pras.

Lalu kami mulai berputar untuk bertukar posisi.

Setelah aku berada diatas, aku mulai menggenjot Mas Pras. Mulai dari putaran pinggulku sampai gerakan-gerakan erotis yang membuat Mas Pras merem melek. Tangannya meremas dengan kuat kedua toketku. Setelah itu, gantian aku yang merebahkan tubuhku diatas tubuh Mas Pras.

Sambil meremas kedua pantatku, ia mulai menggasak serambi lempit adik iparnya ini dari bawah. Efeknya jelas sekali terasa. Aku mulai merasa orgasmeku akan datang. Lalu aku mulai mengolah sendiri orgasmeku itu. Masih ditengah-tengah tusukan-tusukan Mas Pras, aku memutar-mutarkan pinggulku. Benar saja… tak lama kemudian, aku dapet. Uuuhhh…. Enak banget!

Mengetahui hal ini, Mas Pras makin mempercepat gerakannya sendiri untuk mengejar orgasmenya. Dan itu tidak lama kemudian. Dia memuntahkan seluruh pejunya didalam serambi lempitku.

Setelah selesai membuang kotoran kami masing-masing, aku dan Mas Pras segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami. Sambil masih bertelanjang bulat, kami segera bergegas untuk kembali kekamar kami. Di depan kamarku, Mas Pras memeluk ku dan berkata, “Terima kasih ya Mi… malam ini aku puas banget!” lalu dia mengulum bibirku.

“Sama-sama Mas… aku juga puas banget. Kira-kira, besok bisa beginian lagi gak ya….??”

“Aku nggak tahu…. Tapi aku coba cari cara. OK?!”

Setelah itu, aku masuk ke kamarku dan segera berbaring di samping Tino. Belum lama aku merebahkan badanku, Tino minta jatah hariannya.

“Mi,… ML dong!” katanya.

“Anuku lagi perih mas… nggak tau kenapa!”

“Oo.. terus nggak bisa ML dong?”

“Aku kocokin aja ya….”

“Ya udah deh… nggak papa!”

Sambil tersenyum dalam hati, aku segera mengocok rudal suamiku ini. Aku bergumam dalam hati, “bukannya perih karena apa-apa sih Mas… tapi serambi lempitku habis dihajar sama kakak ipar lo! Mana rudalnya gede banget!” J

***

Paginya, suamiku berangkat ke kantor seperti biasa. Sementara mertuaku dan si gembrot pergi nggak tahu kemana. Mas Pras pergi mengantar mereka. Aku dirumah sendirian. Fanny tentu saja sedang berada di sekolahnya dan Fachri berjanji akan menjemput dan mengantarnya. Sekitar jam 1an, saat itu aku sedang asik-asiknya mencukur bulu yang ada di sekitar kemaluanku, ada suara mobil parkir di depan rumah. Setelah mengintip sebentar keluar jendela kamar, aku langsung pergi ke depan untuk membukakan pintu. Karena aku tahu yang datang Fachri, makanya aku hanya pakai daster dan jilbab.

“Halo yang…” sambutku pada pria Arab itu.

“Halo juga sexy….” Jawabnya sambil memeluk tubuh polos ini, lalu mengulum bibirku.

“Kok Tante pentil teteknya kelihatan?” tanya Haikal, anak Fachri.

“Tante lagi lagi malas pakai daleman Ikal…” jawabku sambil menunjukkan menunjuk tetekku ke arahnya.

Sambil meremas tetekku, Fachri berkata, “Tante mau menyetubuhi ama papa ya!”

“iya….” Sahutku.

Sambil menggandeng tangan Fachri, Fachri mengajakku ke kamar mandi untuk menemaninya buang air kecil. Momen ini kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Celana Fachri langsung aku preteli dan akibatnya…. Kami ngewe di kamar mandi!

Setelah selesai, aku langsung berlutut di hadapannya dan menghisap serta menjilati sisa peju yang ada di rudalnya.

Karena kami tidak menutup pintu kamar mandi, makanya anak-anak kami dengan mudah masuk dan ikut menonton aksi kami. Setelah selesai, Fachri segera mengenakan bajunya lagi. Sementara tubuh indahku ini hanya aku tutupi dengan daster. Setelah kurang lebih 15 menit kemudian, Fachri dan Haikal pulang.

Bersambung… “Oke… sampai besok yaa….!” Ucapku menutup pembicaraan telfon. Uuuhhh… besok pasti seru banget deh, makan malam… terus… kemungkinan besar, aku pasti nginep dirumahnya. Ngapain yaaaa….???

Sambil masuk ke kamar, aku melihat suamiku sedang menonton TV.

“Siapa Mi’? tanya suamiku tiba-tiba.

“Siapa apa?” tanyaku lagi, pura-pura bego.

“Yang tadi telfon…”

“Ooo…. Rahma!” jawabku sekenanya, “temen SMA dulu, dia ngajakin ketemuan di rumahnya. Kebetulan, suaminya sedang pergi ke luar kota. Mungkin aku nginep disana. Boleh ya Mas…?” rengekku sedikit manja.

“Sendirian aja?”

“Ya enggak! Kan sama Rahma…”

“Maksudku, nggak ada yang lain?”

“Nggak tau! Yang sudah pasti sih… yaaa… baru aku. Yang lainnya baru besok bisa ngasih kepastian. Boleh yaa…?? O iya… aku ngajak Fanny. Jadi besok, pulang dia sekolah, aku jemput langsung ke rumah Rahma.”

“Pulang kapan?”

“Yaaa… besok kan Sabtu. Mungkin pulangnya Minggu malam. Kenapa? Mau jemput?

“Yaa… kamunya bawa mobil nggak?”

“Kayaknya enggak deh, Mas…!”

“Emangnya mau dijemput dimana? Di rumahnya Rahma?”

“Enggak. Di ini aja… di PIM, kapan dan dimananya, besok aku telfon. Gimana?”

“Ya udah. Besok hati-hati lho. Soalnya besok kan Sabtu, kamu inget kan, aku ada janji sama klien di Kemang. Setelah itu aku langsung ke Bogor bareng si Andre.”

“Iya… iya… kamu juga hati-hati lho Mas… jangan macem-macem!”

“Siip!!”

“Ya udah, aku mau tidur. Habis nonton, matiin TV nya, tadi malam kamu kelupaan…!”

“Oke…!!!”

Di dalam kamar, aku senyam-senyum sendiri. Sambil melepas daster yang aku pakai sekarang, aku membayangkan wajah David yang sedang melongo karena kagum, kalau melihat tubuh telanjangku nanti. Hihihi…. Lalu aku mengenakan lingerie ku yang tipis, tembus pandang dan pendek sekali. Aku berfikir, aku akan membawa lingerie ini sebagai surprise untuk si bapak itu.

Ketika aku berbaring, aku membayangkan momen dimana kami pertama kali bertemu, kemarin siang. Tentu saja sambil menggosok-gosok serambi lempit dan meremas kedua toketku.

Aku sedang makan siang dengan Fachry di Pizza Hut, PIM. Tentu saja bareng dengan Fanny dan Haikal. Ketika sedang asik-asiknya makan, Hpnya Fachry berbunyi. Setelah memberi kode ke aku kalo yang telfon itu istrinya, dia lalu keluar.

Aku yang sedang bertiga saja dengan anak-anak kami, melihat Fachry berjalan keluar. Ketika aku mengalihkan pandangan dari Fachry, aku melihat ada seorang laki-laki yang ngeliatin aku sambil senyam senyum. Dia bertanya kepadaku dari jauh.

Tentu saja dengan tidak bersuara. Tapi karena jarak mejaku dan mejanya sangat dekat, aku dengan mudah, dapat membaca gerak bibirnya.

“Suaminya ya?” tanyanya.

Aku menjawab dengan menggelengkan kepalaku sambil tersenyum.

“Boleh kenalan?” tanyanya lagi.

Aku kembali tersenyum, tapi kali ini aku menganggukkan kepalaku.

“&imana kenalannya?

“Apa?” tanyaku nggak ngerti pertanyaannya. ‘Dimana apa Gimana’

Lalu dia tersenyum (manis juga, pikirku) sambil membuat huruf ‘G’ dengan jarinya, “Gimana kenalannya?”

“Ooo….” Aku jadi malu. Sambil tersenyum aku berdiri. “Ikutin aku!” kataku ber-kode.

Sebelum berjalan keluar, aku bilang sama Fanny dan Haikal kalo aku mau ke department store. “Fan, mami nyari baju dulu yaa, sebentar. Ical jagain Fanny ya…”

“Iya mam/tan..” sahut mereka berbarengan.

Diluar aku berbisik ke Fachry, yang lalu menutup Hpnya dengan tangan. “Aku nyari baju dulu ya, yang….”

Fachry mengangguk. Sambil berjalan, aku sempat menengok ke belakang sebentar, dan melihat pria tadi mengikutiku dengan tampang acuh tak acuh ketika melewati Fachry.

Ketika aku merasa sudah agak jauh dari Pizza Hut, aku berhenti di depan sebuah toko. Sambil sedikit mengaca di kaca toko dan merapihkan baju (hari itu, aku jilbab putik, kemeja ketat warna pink bra yang setengah dan celana panjang yang ketat – tentu saja pakai g-string) aku menunggu pria tadi, yang berjalan semakin dekat ke arahku.

Ketika jarakku dengannya hanya tinggal (kurang lebih) semeter lagi, dia tersenyum.

“Hai…” katanya.

“Hai juga…” jawabku sambil tersenyum.

“David!” katanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Mia!” jawabku sambil membalas salamnya.

“Tadi itu suamimu?” tanyanya lagi.

“Bukan! Aku kan udah bilang…” jawabku.

“Terus, siapamu?”

“Ada deh… udah lah… nggak usah dibahas!”

“Oke… tapi tadi itu anakmu?”

“Yang perempuan!”

“O… Oke….”

Lalu kami ngobrol-ngobrol sebentar yang dilanjutkan dengan tukeran no HP. Setelah itu, aku kembali ke Pizza Hut, dan dia pergi nggak tahu kemana, tapi sebelum pergi, dia bilang mau telfon aku nanti malam.

Di Pizza Hut, aku kembali duduk dengan ‘keluargaku’, melanjutkan makan. Ketika Fachry bertanya tentang ‘tujuan’ku pergi tadi, aku bilang kalo model baju yang aku cari, nggak ada! Setelah selesai makan, kamipun langsung meluncur ke rumah ibuku untuk ‘buang hajat’.

Sesampai di rumah ibuku, aku bilang ke ibuku aku mau numpang ‘buang hajat’. Aku dan Fachry langsung menuju kamar dan meminta Fanny dan Haikal sama ibuku dulu. Facri langsung memelukku dan menciumku dengan penuh nafsu.

Sambil menciumku, tangan Fachry menbuka kancing kemejaku, bra dan kancing celana panjangku. Aku juga sambil membuka kemeja yang dipakai. Setelah selesai berciuman, Fachry melepaskan jilbab yang aku pakai dan melemparnya.

Lalu dia melepaskan celana dan cdnya. berlanjut melepaskan celana dan cd yang aku pakai. Fachry menjilati serambi lempitku sampai basah. Lalu mengendongku ke ranjang dan mengarahkan rudalnya ke serambi lempitku. Kemudian mengatakan bahwa dia udah mau keluar. ” Aku juga. Kita sama-sama” ujarku.

Fachry lalu mencabut rudalnya dan megarahkan ke mulutku. setelah tau aku sudah mencapai klimaks dengan memelukknya dengan erat dan mengigit punggungnya. aku melahap semua sperma yang keluar dan menelannya tanpa sisa.

Setelah selesai, aku dan Fachry ngobrol di tempat tidur sambil masih telanjang bulat. Fachry berbaring terlentang dengan tangannya dia lipatkan ke belakang kepalanya. Telfon Fachry berdering dan memberitahuku bahwa istrinya telfon. Sementara aku berbaring miring disampingnya sambil mengurut dan mengocok perlahan rudal Arabnya itu sewaktu Fachry berbicara dengan istrinya.

“Istrimu nelfon mau ngapain, yang?” tanyaku.

“Dia harus ke Sukabumi nanti malam. Dapet telfon kalo bapaknya sakit.”

“Kamu ikut?” tanyaku lagi.

“Kayaknya iya! Nggak papa ya?”

“Ya udah… berapa lama?”

“Sekitar 2 atau 3 mingguan lah… kenapa?”

“Yaa nggak papa, nanya aja!”

Dalam hatiku, aku mikir, kamu pergi lama juga nggak papa… aku dan serambi lempitku mau nyobain rudal baru kok! ?. 2 jam kemudian, kami pulang. Fachry dan Haikal langsung ke rumahnya dengan mobilnya, sementara aku dan Fanny naik Taksi.

Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan berpakaian. Suamiku belum pulang, hari ini ada rapat katanya. Dia baru pulang jam 9 nanti, sementara sekarang baru jam ½ 7 malam. Sekitar jam 8an, HP ku berbunyi. Aku lihat nama di Hpku… ‘D@v1d’… Kami ngobrol lama banget. Nggak taunya, David ini sudah merit dan punya anak 1 laki-laki. Tapi istri dan anaknya tidak tinggal disini, tapi di Surabaya. David tinggal di Jakarta karena sedang mengurus bisnisnya (dia pengusaha… dan dia memang punya rumah di sini). Sebelum tutup telfon, dia bilang, kalo dia ingin ketemuan lagi sama aku. “Kapan?” tanyaku

“Besok bisa?”

“Yaahhh… nggak bisa, aku harus nemenin suamiku ke acara kantor…” padahal, besok aku ada janji sama Andre (teman suamiku) untuk SAL (Sex After Lunch) di rumah ibuku.

“Oo… ya sudah. Terus kira-kira, bisanya kapan?”

“Gini aja… besok malem kamu telfon aku. Ya?”

“Jam berapa?” tanyanya lagi.

“Jam-jam seginian deh…”

Setelah terjadi kesepakatan, kamipun menyudahi pembicaraan kami.

Nah… besok malamnya David nelfon untuk ngajakin ketemuan. Setelah ngobrol agak panjang (aku sengaja pindah ke teras depan rumah, supaya nggak kedengaran Tino) aku menyetujui ajakan David untuk makan malam. Tapi sebelum itu, dia memintaku datang ke rumahnya.

“Lho…? Kok gitu?” tanyaku

“Kamu mau suamimu ngeliat aku jemput kamu dirumah?”

“Iya siihh… ya udah jam berapa?”

“Ya.. jam 1 an deh! Gimana?”

“Kok siang banget. Kan Kita makan malamnya jam 8.”

“Aku mau ngobrol-ngobrol dulu sama kamu. Boleh kan?”

“Terus dari jam 1 sampai jam 8, kita ngapain? Masa ngobrol-ngobrol doang?” tanyaku sedikit memancing.

“Yaaa… ngapain kek… udah gede ini…!” jawabnya

“Dasar kamu tuh… ditanya bener-bener juga! Ngapain? Jawab yang jelas dan tegas!”

“Kamu maunya diapain emangnya?” tanyanya lagi setengah nyerempet.

“Emang mau ngapain aku!

“Yang pasti yang membuatmu senang… besok kamu pasti aku apa-apain!”

“Emang kamu tau yang bisa buatku senang!” jawabku tegas….

“Aku tau apa yang bisa membuat wanita sepertimu senang” timpalnya

“OKE…! jawabku

“Dadah Mia sayang…. Sampai besok !“

“Oke… Sampai besok yaa….!”

Aku senyam senyum sendiri kalo ngebayangin wajahnya itu. Apalagi ngebayangin seberapa besar rudalnya. Pas baru mau tidur, Hpku berbunyi lagi, tapi itu suara SMS. Dari David… nggak taunya dia ngirim sms berisi alamat rumahnya. Setelah itu akupun tidur.

Esoknya, sekitar jam 10an, aku mandi dan berpakaian (minimalis tentu saja. Cukup jilbab putih model inneke–kemeja lengan panjang berwarna pink-dilapisin cardigan biru muda-no bra- dan celana panjang hitam yang agak ketat –no cd- jadi kalo ngeliat dengan jelas dan teliti bagian selangkanganku, tercetak bentuk mem… uuppss… ‘tempat keluarnya Fanny’ ?).

Lingerie dan baju untuk makan malam aku masukan ke dalam tas, tentu saja dengan peralatan make-up, 1 bra, 1 celana pendek yang pendek banget, 1 tangtop dan 1 buah g-string (kayaknya bawa 1 celana dalam cukup kok… buat aku pakai makan malam aja). Baju-bajunya Fanny juga aku masukkan di situ. Setelah pamit dengan suamiku, aku pergi untuk menjemput Fanny, dengan menggunakan Taksi.

Sesampainya di alamat yang dituju, akupun turun dari Taksi, setelah sebelumnya membayar harga yang ada di argo. Lalu, aku dan Fanny berjalan, masuk kedalam halaman rumah yang lumayan luas itu. Setelah memencet bel, ada seorang wanita setengah baya yang membukakan pintu.

“Ya…? Cari siapa ya bu?” kata wanita itu.

“Mmhh,… benar ini rumahnya David?” tanyaku.

“Iya, betul!”

“Davidnya ada, bu?” tanyaku lagi sambil tersenyum seramah mungkin.

“Oo… ada. Pak Davidnya lagi berenang. Masuk dulu, bu! Biar saya panggilkan Pak David nya” setelah itu dia pergi memanggilkan David, dan aku serta Fanny masuk ke ruangan yang cukup mewah, walaupun tidak terlalu besar. Baru berjalan beberapa langkah, perempuan tadi balik lagi, “Kalo saya ditanya, yang cari Pak David namanya siapa ya?”

? Aku tersenyum, “Bilang aja, MIA!” jawabku.

Setelah beberapa saat, Davidpun keluar menemui aku dan Fanny. Dia hanya memakai Piama mandi. Rambut dan bagian tubuhnya yang kelihatan, basah sekali.

“Aduh… ada wanita cantik lagi nungguin aku rupanya?” katanya memuji, sambil menyapaku.

? Aku tersipu mendengar pujiannya, “Aah… kamu bisa aja! Lagi ngapain, kok basah semua gitu sih?”

“Lagi berenang! Kenapa? Mau ikut?”

“Aku nggak bawa swimsuit!” jawabku.

“Oohh… nggak papa! Kebetulan, aku sudah merencanakan hari ini. Jadi, kemarin aku sengaja pergi untuk beli swimsuit buat kamu. Tapi aku lupa, kalo anakmu ikut, jadinya aku nggak beli buat anakmu.” Katanya sedikit kecewa.

“Aduh… kamu sampai segitunya! Jadi nggak enak aku…..”

“Gak papa! Buat kamu, apa sih yang nggak aku beliin?” katanya lagi sambil tersenyum.

Aku juga ikut tersenyum, “Ngomong-ngomong, kamu beli swimsuit buatku, modelnya kayak apa?”

Tapi David tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menarik tanganku. Setelah aku berdiri dan mengikutinya naik ke lantai atas, aku bilang ke Fanny untuk menungguku sebentar.

Ternyata aku diajak kekamar tidurnya yang cukup besar dan sangat elegan. Lalu David menunjuk ke arah tempat tidur. Aku tersenyum kepadanya, “Terima kasih ya!?” Lalu aku berjalan ke tempat tidur, untuk mengambil dua potong kain yang ternyata adalah bikini.

“Kamu tidak masalahkan memakai bikini?” tanya David

“Aku malu sama pembantumu masa wanita pakai jilbab berenang pakai bikini!” jawabku

“Mbo Surti disini tidak nginep” jawabnya

“Oooo….”timpalku

“Dimana pakainya?” tanyaku pada David.

Lalu David menunjuk sebuah ruangan, yang ternyata adalah kamar mandi. Setelah masuk, aku segera melepas jilbabku, bajuku, dan segera mengenakan bikini itu. Aku merasa kalau bikini ini kekecilan 1 nomer, soalnya bagian bawahnya terasa sedikit sempit, walaupun bahannya nyaman sekali.

Setelah aku pakai, ternyata bagian thong nya itu, Cuma sampai sebatas pinggul, sehingga lekukan pinggang dan perutku (yang mengarah ke arah serambi lempitku) kelihatan sekali… dan setelah aku perhatikan, ternyata belahan ku itu tercetak jelas sekali (udah gitu, warnanya senada pula dengan kulit tubuhku.

Sehingga aku berkesan tidak memakai apa-apa ? ). Lalu, bagian bra nya juga tipis dan kecil sekali, sehingga puting susuku terlihat menyembul. Dan bagian atas bra nya, pas sekali diatasnya. Aku lalu memperhatikan diriku di cermin… Sexy banget siihhh aku!!!

“Mi… sudah belum?” terdengar suara David di luar kamar mandi.

“Iya…” jawabku… “sudah selesai kok! Kalo mau masuk, masuk aja… pintunya gak aku kunci!”

Tak lama kemudian, David membuka pintu kamar mandi dan berdiri saja disana. Terpaku dengan kemolekan tubuhku…. Tapi, ternyata tidak hanya dia saja yang terpana. David sudah melepas kimononya, sehingga tubuhnya yang hanya terbalut celana renang yang ketat itu, seolah ingin memamerkan benda besar yang menggunung di baliknya.

“Wow…” kataku setengah berbisik, dan aku yakin ada nada kagum pada suaraku tadi.

“Kenapa?” tanya David.

“Besar banget… itumu!” kataku sambil menunjuk ke arah gudukan di bagian selangkangannya itu.

“Ooo… ini?!” katanya… “mau lihat?”

Tanpa berbasa-basi, langsung aku jawab… “Mau!”

Lalu David membuka celana renangnya, gak sampai lepas sih… tapi benda besar yang menggantung itu serasa sudah menggodaku. Tapi baru saja aku hendak memegangnya, ada suara wanita di luar kamar tidur memanggil si pemilik rudal besar ini.

“Pak David…!” kata suara itu.

David, sambil tersenyum, mengenakan lagi celana renangnya… “Yaa.. mbok?”

Lalu aku dan David berjalan ke arah pintu kamar. Sebelum David membuka pintu kamarnya, aku segera berlari kecil, balik ke kamar mandi.

“Mau kemana?” bisik David.

“Mau pakai handuk!”

Lalu David membuka pintu kamarnya dan berbicara dengan wanita itu. Aku, yang sudah memakai handuk berjalan ke arah pintu dan mendengarkan perbincangan mereka. Mbok Surti pamit mau pulang. Ternyata Mbok Surti tidak menginap di rumah ini.

Setelah selesai, aku mendengar langkah kaki menjauh dari kamar. Dan tak lama kemudian, David sudah nongol dari balik pintu mengajakku turun ke bawah, ke pool nya.

Setelah sampai kembali ke ruang tamu, aku segera melepas kembali handukku, dan mengajak Fanny ke kolam renang. 2 jam kami disitu, main air dan sebagainya. Karena Fanny gak bawa baju renang, aku dan David sepakat menelanjangi Fanny. Fanny yang berenang telanjang, merasa diperlakukan tidak adil, rupanya.

“Mami, aku kok berenangnya gak pakai baju. Mami juga dong…” protes Fanny.

Aku dan David tertawa mendengar celoteh anakku itu.

“Fan… kalo mami telanjang juga… nanti adiknya Om David bangun!” kataku sambil melirik David.

“Gak papa…” kata Fanny “kan nanti bisa main sama aku!”

Aku langsung tertawa lagi mendengar perkataan Fanny.

“Maksud mami,… bukan adik kecil… tapi adik yang itu…”

“Yang mana sih mam…??” tanya Fanny sambil celingukan.

“Fanny… maksud mami… rudalnya Om David…!! Kalo rudalnya bangun, nanti dia minta masuk ke sininya mami….!” Kataku sambil menunjuk selangkanganku.

“Ooo…” kata Fanny, “tapi mami bukannya suka, kalo serambi lempitnya dimasukin rudal?”

Aku dan David kembali tertawa. Lalu David bangun dari kursi kolamnya dan langsung menghampiri kami.

“Fanny… Fanny… kamu lucu banget siihh…. Kecil-kecil tau serambi lempit… rudal… siapa yang ngajarin sih?” tanya David.

“Mamiiii…!!“ katnya sambil menunjuk ku.

“Dasar kamu tuh!” kata David sambil mengecup bibirku. “Emangnya, Fanny kamu ajarin apa aja sih?”

Lalu aku cerita dengan singkat ke David, kalo setiap ML aku selalu di depan Fanny, dan menyuruhnya diam dan jangan ngomong ke Papinya.

“Kamu pinter deh….!!” Kata David sambil mengelus kepala Fanny.

“Terus Mami mau buka baju juga gak?” tanya Fanny lagi.

“Iya…” potong David sambil melepas celana renangnya, “mami mau bugil gak?”

Melihat David sangat semangat, aku juga langsung berdiri dan melepas bikiniku.

“Iya… iya…Fanny sayang!!” kataku.

Lalu kami main air lagi, tapi sekarang kami telanjang. Ketika hari menjelang magrib, kami pun selesai dan masuk ke dalam rumah… tetap telanjang tentu saja.

Setelah terjadi perbincangan singkat, akhirnya kami memutuskan untuk tidak jadi makan malam diluar. Kami hanya memesan pizza. Sambil menunggu deliverynya dateng, aku dan David serta Fanny ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Aku hanya memakai kemeja David (tetep no bra… no cd).

“Fan…” kata David kepada anakku, “mamimu tuh sexy banget yaa…”

“Emangnya kenapa, Om?” balas Fanny.

“Iya… emangnya kenapa kalo aku sexy?” timpalku.

“Ya… gak papa… Cuma….”

“Cuma apa?” potongku.

“Mmmmhhh… aku mau tanya boleh gak?” ujar David lagi.

“Tanya apa?” kataku sambil menggeser posisi dudukku semakin mendekati David.

“Langsung aja ya Mi… aku mau ML sama kamu… boleh nggak?”

? (Akhirnya !) “Dave… untuk apa aku kesini… nginep sama kamu… kalo bukan kepingin ML sama kamu(sambil memukul pelan lengan David)?! Lagian… tadi kamu juga udah ngeliat semua barangku kan? Kenapa gak tadi aja di pool?”

“Tadi… biarpun aku konak banget, tapi aku masih nggak enak sama kamu… soalnya ada Fanny!”

Aku tidak menjawab… yang aku lakukan Cuma berdiri dan melepas kemeja yang aku kenakan. Setelah telanjang, perlahan-lahan aku mendekati David dan menarikku duduk di pangkuannya. Setelah melingkarkan tangannya diperutku sesekali meremas-remas buah dadaku, aku berbisik di telinganya. “Tonight… I’m Yours!”

Lalu aku merasa kedua tangan David mulai meraba bagian pinggulku, dan mulai menjelajah ke seluruh bagian belakang tubuhku. Sementara bibir kami saling berpagut dan lidah kami saling membelit. “Mi…” bisik David, “ada Fan…”

Belum selesai dia bicara, aku memotongnya dengan kembali mengulum bibirnya. Aku merasa birahiku semakin naik, sedikit demi sedikit. Lalu aku mulai menggoyangkan pinggulku… pelan… pelan… dengan gerakan yang erotis, sementara posisi serambi lempitku semakin menggosok gundukan daging di bagian selangkangan David, yang makin lama makin mengeras.

Setelah itu, aku mulai melepas T-shirt yang dia kenakan. Melihat dadanya yang bidang, aku mulai memeluknya dan menempelkan kedua toket indahku ini, sementara bibirnya tidak mau lepas dari bibirku. Aku gak tahu berapa lama Fanny melihat aksi maminya ini. Tapi ketika aku mulai merasakan birahi yang tinggi sekali,…. Bel pintu depan berbunyi… “tukang Pizza” pikirku.

Biarpun malas-malasan, David bangun untuk mengambil dan membayar Pizza itu. Ketika David berjalan ke depan, aku duduk di sofa sambil mengangkang dan memainkan klitoris serambi lempitku (supaya gak kehilangan momen) sementara tanganku yang satu lagi meremas bergantian kedua toketku. Setelah selesai, David balik lagi ke ruang TV.

Dia berdiri di depanku sambil memperhatikan ‘istrinya’ yang sedang onani ini. Lalu dia melepas celananya. Sambil masih berdiri dan menonton aksiku, David mulai menggenggam batangannya dan berusaha untuk membangunkannya.

“Fan….” Kataku pada Fanny, “mami minta tolong gosokin ininya mami dong…” sambil memperlihatkan klitorisku.

“Mami mau ngapain?” tanya Fanny

“Mami mau ngisep rudalnya Om David!”.

Lalu aku mulai berlutut di hadapan David dan segera memasukkan rudalnya ke dalam mulutku, sementara Fanny menuruti kemauanku untuk menggosok kelentitku itu. David yang merasa keenakkan, mendesah pelan sambil tangannya mengelus-elus rambutku.

Ketika mulutku mulai merasakan keras dan kencangnya benda yang sedang aku hisap dan kulum ini, aku menghentikan seranganku. Lalu aku berdiri dan memeluk tubuh David dengan erat sekali sambil mengulum bibirnya. Lalu David mulai mengangkat kaki kananku dan sesekali menggesekkan rudalnya di serambi lempitku sambil sesekali mencoba untuk memasukannya.

Mengerti hal ini, aku langsung merenggangkan kakiku yang satunya dan menggenggam batangannya sambil mengarahkannya ke dalam serambi lempitku. Ketika aku mulai merasakan kepala rudalnya masuk, David menghentikan serangannya…

“Kenapa sayang?” tanyaku sambil setengah erengah-engah.

“Kamu siap?” tanyanya sambil tersenyum…

“Whenever you are… baby!”

Tanpa lebih banyak argumen, David segera menghentakkan pinggulnya, dan pada saat yang bersamaan, rudalnya menancap mantap di dalam serambi lempitku…

“Aaahhh….” Desahku.

Tidak berhenti di situ saja, David langsung menggendongku dan duduk di sofa. Aku yang dipangkuannya, tanpa berlama-lama, segera menggoyangkan pinggulku sambil sesekali membuat gerakan maju mundur. Gesekan serambi lempitku pada rudal David sepertinya agak sedikit terasa longgar (mungkin serambi lempitku sudah lebar kali yaaa… ?)

Lalu, untuk menanggapi hal ini, aku segera merapatkan kedua pahaku, sambil terus menggenjot si bapak ini. David tampak merasa keenakkan sekali aku perlakukan demikian, untuk lebih menikmati bapak ini, aku sengaja melambatkan gerakanku… hal ini ditanggapi David dengan beringas rupanya, ia langsung memelukku, mengulum bibirku sambil kedua tangannya meremas kedua belah pantatku…. Sambil terus begitu, ia menggenjotku dengan mendadak.

Pada tahap ini, aku ternyata tidak bisa menahankan orgasmeku… tanpa mau menahannya lebih lama lagi, aku membiarkan diriku terbuai oleh kenikmatannya. Aku makin kencang memeluk si bapak ini, sementara dia tetap terus menggenjotku… Rupanya dia sadar kalo aku sudah mendapatkan yang aku cari, Sambil tetap memanjakan rudalnya di serambi lempitku, David bertanya, “Enak sayang?”

Aku cuma tersenyum keenakkan sambil mengengguk… “Enak banget!” Rupanya David juga tidak mau menahan lama-lama orgasmenya. Baru saja aku selesai ngomong, dia langsung menggenjot kembali serambi lempitku… “Aaakkhhh….!!!!” Terdengar dia berteriak keenakkan, sementara rudalnya menyemprotkan peju yang hangat dan banyak ke dalam serambi lempitku…

Setelah selesai, aku nggak mau ngeluarin rudalnya. Jadi kami terengah-engah dan beristirahat sambil masih berposisi seperti ketika kami ngewe tadi.

“Uuuhhh… serambi lempitmu enak banget Mi!” kata David.

“Terima kasih. Tapi aku yakin kamu belum puas banget deh….” Sahutku

“Iya… so?”

“Ya… nggak papa. We have whole nite…!”

Setelah mencium bibirku, David menggendongku ke kamar mandi untuk membersihkan badan kami. Setelah selesai, sambil masih bertenjang bulat, kami ke ruang tamu untuk bergabung kembali dengan Fanny.

Cerita Sex Berhubungan Intim Saat Haid

Di ruang tamu, aku, Fanny dan David ngobrol-ngobrol… tentu saja tetap diselingi dengan cumbuan dan ciuman dan terkadang petting-petting kecil. Ketika jam menunjukkan pukul 3 pagi, kami ML lagi di ruang tamu David. Sekitar jam 9 pagi, aku terbangun. HP ku berbunyi… ternyata suamiku,

“Pagi mas… kok udah bangun?” tanyaku dengan suara masih terkantuk-kantuk.

“Gak papa… lagi ngapain Mi?”

“Baru bangun! Nih, Fanny tidur di sampingku. Masih tidur.” Jawabku, sementara kulihat David terbangun. “Siapa?” bisiknya. Setelah tau yang nelfon suamiku, David kembali tidur, kali ini sambil memelukku. rudalnya yang pelan-pelan mulai bangun, serasa meraba-raba pahaku.

“Nanti mau pulang jam berapa?” tanya Tino lagi.

“Gak tahu… nanti kalo dah mau pulang, aku telfon deh…!”

“Ya udah… hati-hati ya…”

“Iya… iya….”

Pembicaraan selesai.