Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Kepala Perawat Berhijab dalam Ancaman Ayah Tiri Hidung Belang

Kepala Perawat Berhijab dalam Ancaman Ayah Tiri Hidung Belang

Cerita Sex Putri Berhijab yang Berbakti – Meliora telah mulai bersiap-siap untuk kembali Yogyakarta setelah seminggu berada di desa kelahirannya. Telah bulat tekadnya bahwa kedatangannya ke desa kelahirannya di pulau bali kali ini adalah yang terakhir kali, bukan karena Meliora telah menjadi angkuh dan lebih senang di kota besar, melainkan ada sebab lainnya.

Telah terpenuhi tugasnya sebagai putri yang berbakti yaitu menghadiri dan mendampingi ibu kandungnya disaat-saat terakhir sakit dan sampai menutup mata serta dimakamkan. Meliora yang berwajah cantik itu adalah seorang jururawat dengan kedudukan cukup mantap dan baik di sebuah rumah sakit terkenal di ibukota.

Ia telah menikmati pendidikan sebagai jururawat bukan saja di Yogyakarta, namun telah dilanjutkannya di Amsterdam, Belanda dan memperoleh ijazah perawat internasional. Oleh karena itulah setelah kembali dan memperoleh pekerjaan di Yogyakarta.

Hanya dalam waktu singkat Meliora – dengan nama lengkap sebenarnya Putri Meliora, telah menduduki jabatan kepala dari seluruh team perawat, termasuk bagian operasi dan juga ICU/CCU – meskipun usianya baru 22 tahun dan belum berkeluarga karena sibuk dengan tugasnya sehari-hari di tempat kerja.

Cerita Sex Putri Berhijab yang Berbakti Ngocoks Telah banyak dokter-dokter muda yang mengincarnya namun belum ada satupun yang dapat merebut hati si perawat cantik ini. Ibu kandungnya yang tetap tinggal di desa telah menikah lagi beberapa tahun lalu karena suaminya telah meninggal dunia akibat kecelakaan.

Sebagai “janda kembang” berusia awal empat puluhan dan masih terlihat anggun menarik, tak mudah hidup di desa pedalaman, selalu dijadikan bahan pergunjingan. Meliora sebenarnya tak begitu senang bahwa ibu kandungnya menikah lagi – apalagi ketika diketahuinya bahwa ayah tirinya adalah Kades Dollah yang terkenal “hidung belang” dan sering main gila dengan istri orang lain. Perlu pembaca Ngocokers tahu, Dollah telah tiga kali menikah dan semua pernikahannya kandas karena perselingkuhannya.

Terbukti pada saat duduk di pelaminan bersama dengan ibunya, terlihat sering sekali mata Dollah mampir ke arah Meliora anak tirinya seolah ingin menelanjangi tubuhnya, membuat Meliora resah dan tak betah.

Oleh karena itu pula Meliora jarang pulang ke desa kelahirannya karena segan bertemu dengan ayah tiri yang mata keranjang itu, justru sang ibu yang lebih sering datang ke kota mengunjungi putrinya dan selalu menanyakan kapan kiranya putri semata wayangnya itu akan menikah dan mempunyai keturunan.

Sebelum keinginan mempunyai cucu dari putrinya tercapai terjadilah musibah tak terduga: desa kecil itu mengalami wabah demam berdarah – dan salah satu korbannya adalah ibu kandung Meliora. Entah karena memang daya tahan tubuhnya kebetulan sedang lemah atau ada faktor lain, maka proses sakit ibu Meliora itu sangat cepat dan hanya dalam waktu tak ada 2 hari langsung meninggal akibat pendarahan hebat.

Kesedihan Meliora tak dapat diuraikan dengan kata-kata, namun sebagai seorang yang taat beragama maka Meliora menerima tabah percobaan yang menimpanya. Semua acara adat dan tradisi desa diikuti oleh Meliora dengan patuh, semua kebiasaan ritual yang sangat melelahkan dijalankannya pula.

Selama upacara sampai dengan pemakaman selesai, Meliora selalu memakai chadar tipis berwarna hitam dan demikian pula jilbab dengan warna serupa. Dihadapan semua yang hadir sebelum jenazah ibunya dimakamkan, Meliora berjanji akan selalu memakai jilbab putih selama satu tahun – juga selama menunaikan tugasnya di RS sekembalinya di yogyakarta , ini sebagai tanda penghormatan dan juga masih berkabung.

Dengan dalih bahwa masih ada sedikit warisan dan peninggalan pribadi ibunya almarhum yang masih harus diurus dan setelah itu disimpan sendiri oleh Meliora, maka sang ayah tiri Dollah dan putra kandungnya (kakak tiri Meliora) bernama Ghazali dengan nama panggilan Ali meminta agar Meliora tak langsung keesokannya kembali ke ibukota, melainkan menginap satu dua malam lagi setelah acara duka cita dengan penduduk desa selesai.

Sebetulnya Meliora telah ingin segera meninggalkan ayah dan kakak lelaki tirinya secepat mungkin, tapi dengan muslihat kata-kata keduanya mengemukakan bahwa apalah pandangan penduduk desa jika putri satu-satunya langsung meninggalkan desa kelahiran sementara tanah pemakaman ibunya masih basah.

Akhirnya Meliora mengalah dan menelpon RS tempatnya bekerja bahwa ia baru akan kembali bekerja dua hari kemudian – sebuah kesalahan yang tak dapat dibayar atau ditebus kembali dengan apapun.

***

Di sore hari itu hujan turun dengan amat deras – disertai suara petir dan guntur silih berganti, karena itu jalanan diluar sepi tak ada tukang jualan. Setelah makan malam bersama ayah dan kakak laki tirinya, Meliora dengan sopan santun mengundurkan diri masuk kamar tidurnya dan mulai membenahi pakaian di kopernya. Karena malam minggu maka para pembantu pun diizinkan Dollah pulang ke rumah masing-masing.

Dollah dan Ali juga berpamitan dengan Meliora dan mengatakan bahwa mereka masih harus selesaikan pelbagai urusan kantor di kelurahan yang juga ada hubungannya dengan persoalan catatan sipil. Tanpa curiga dan bahkan merasa lega, Meliora melepaskan kedua laki-laki itu dan melihat mereka menghilang di tikungan sudut jalan dengan mengendarai motor masing-masing di tengah arus hujan lebat.

Sangat naif sekali Meliora mengira bahwa keduanya betul-betul pergi – padahal mereka hanya naik motor sekitar tiga menit, menyembunyikan motor mereka di belakang ruangan sholat pelataran jual pompa bensin, lalu dengan memutar jalan kaki sedikit telah kembali lagi memasuki kebun belakang rumah.

Hujan yang sangat deras disertai bunyi petir dan guntur memudahkan dan menutup semua bunyi langkah kaki mereka ketika memasuki pekarangan rumah dari belakang. Bahkan bunyi terputarnya kunci pintu belakang sama sekali tak dapat didengar oleh Meliora yang merasa aman seorang diri di rumah dan sedang bersiap untuk mandi menghilangkan kepenatan tubuhnya.

Baju tidur telah digantungnya di kamar mandi, demikian pula celana dalam bersih putih berbentuk segitiga kecil, sedangkan bh-nya yang berukuran 34B serta celana dalam yang dipakainya telah dilepaskan dan terletak di ranjang.

Hanya jilbab hitamnya masih menutup rambutnya yang bergelombang melewati bahu, sedangkan badan yang langsing namun sintal menggairahkan setiap lelaki dibalut dengan kain batik kemben. Sebagaimana pada umumnya wanita pedesaan yang akan mandi di sungai, maka kain kemben itu dibawah menutup setengah betis sedangkan bagian atas pas-pasan dilipat di tengah melindungi tonjolan buah dada.

Dengan hanya terlindung balutan kain kemben itu Meliora keluar dari kamar tidurnya untuk berjalan lima meter memasuki kamar mandi namun merasa aneh bahwa lampu di gang mati padahal dua menit lalu masih menyala ketika ia membawa celana dalam bersih, baju tidur dan handuk ke kamar mandi itu.

Disaat Meliora meraba-raba dinding untuk mencari tombol lampu, tiba-tiba ia merasa tubuhnya disergap dari belakang dan sebelum ia sempat berteriak, mulutnya juga dibekap dan disumbat oleh seseorang. Meskipun sangat kaget, Meliora langsung berontak sekuat tenaga dan berusaha menendang ke kiri dan ke kanan, namun pukulan tinju keras menghantam ulu hati, membuatnya kehilangan nafas dan menjadi lemas lunglai.

Kesempatan ini segera dipakai oleh salah satu lelaki penyergapnya yaitu Dollah untuk menggendong dan membawa Meliora ke kamar tidurnya sendiri yang memang letaknya paling dekat dengan kamar mandi.

Sementara itu Ali mengencangkan kembali sekring listrik yang tadi sengaja dikendorkan sehingga tak ada aliran listrik, kemudian kembali ke kamar Meliora untuk membantu ayahnya menikmati mangsa mereka. Lampu yang telah menyala kembali kini memberikan cahaya cukup, menampilkan dengan jelas apa yang sedang terjadi di kamar tidur.

Meliora si cantik direbahkan di tengah ranjangnya sendiri yang cukup besar. Tubuhnya nan ramping namun sintal menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri dari tindihan ayah tirinya, Dollah, yang penuh kerakusan sedang melumat bibir Meliora dengan mulut besarnya yang berbau rokok.

Dollah tahu bahwa putri tirinya ini sangat benci terhadap lelaki merokok – oleh karena itu ia senang sekali saat ini dapat melumat mulut Meliora dengan bibir manisnya hingga membuatnya membuka dan menerima uluran lidah penuh ludah berbau rokok miliknya.

Terlihat Meliora berusaha selama mungkin menahan nafas agar tak mencium bau yang sangat tak disenanginya itu, namun akhirnya terpaksa menerima limpahan ludah sang ayah tiri serta lidahnya yang berusaha mengelak kini telah ditekan dan disapu-sapu oleh lidah ayahnya yang kasar itu.

Akibat rontaan Meliora maka kain batik kemben yang menutup tubuhnya hanya sampai batas atas dada itupun terlepas dan dengan mudah ditarik ke bawah oleh Dollah dan Ali, kemudian diloloskan melewati pinggul Meliora yang bergeser menggeliat ke kanan dan ke kiri dengan tidak teratur sehingga kini tubuhnya polos bugil tanpa tertutup sehelai benangpun, menyebabkan kedua lelaki durjana itu makin bernafsu melihatnya.

Meliora mulai mengalirkan air mata karena sadar nasib apa yang akan segera menimpanya dan menyesali dirinya sendiri kenapa mau dibujuk untuk menginap lagi dua malam di rumah yang dihuni dua srigala itu.

Dollah tak perduli akan tangisan putri tirinya karena nafsu birahi yang selama ini tertahan sudah naik ke ubun-ubunnya, didudukinya perut datar Meliora hingga gadis itu jadi sukar bernafas dan kembali diciumi berulang-ulang bibir ranum Meliora, kembali dijarahnya rongga mulut Meliora yang hangat dengan lidah kasarnya.

“Eeeehmmm, emang dasar perawat dari kota, mulut atasnya aja harum begini, gimana mulut bawahnya… sebentar lagi abah mau nyicipin, nyerah aja ya nduk, percuma teriak enggak ada yang denger,” demikian celoteh Dollah sambil berulang-ulang meneteskan ludah yang bau, membuat Meliora merasa amat mual.

“Iya, percuma berontak, pasti cuma akan makin pegel dan sakit badannya. Ikut aja nikmati permainan kita berdua, pasti belon pernah ngalami ginian kan di kota?” ujar Ali menyebabkan Meliora semakin takut.

Sementara itu Ali tak mau kalah dan ikut beraksi : kedua kaki Meliora yang menendang kesana-sini, ke kiri dan ke kanan, dengan sigap ditangkap dan dicekalnya di pergelangan sehingga Meliora jadi sukar berontak lagi. Tak hanya sampai disini saja : telapak kaki Meliora yang halus licin dan peka diciumi dan dijilat-jilatnya, membuat Meliora terkejut dan semakin menggelinjang kegelian.

Apalagi ketika satu persatu jari kakinya dikulum oleh Ali, celah jari kakinya juga dijilat-jilat, membuat ronta kegelian Meliora semakin sukar dikendalikan, dan ini menambah nafsu birahi Dollah yang tengah menindih tubuhnya.

Kedua pergelangan tangan Meliora direjangnya diatas kepala yang masih tertutup jilbab sehingga tampak ketiak tercukur licin yang menjadi sasaran ciuman dan gigitan Dollah sehingga mulai muncul cupangan-cupangan merah disana.

Meliora yang kini lepas dari ciuman buas ayah tirinya berteriak sekuat tenaga, namun deras hujan angin disertai dentuman petir dan guntur menutup teriakan minta tolong memelas hati itu.

Dollah merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Meliora diatas kepalanya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya kini mulai meremas-remas bukit gunung kembar di dada putri tirinya yang amat menggemaskan itu.

Buah dada putih montok kebanggaan Meliora yang sampai saat ini tak pernah disentuh lawan jenisnya kini menjadi sasaran Dollah : selain diremas dan dipijit dengan kasar, putingnya yang berwarna merah tua kecoklatan itu juga diraba dan diusap-usap, sesekali juga ditarik, dipilin bahkan dipelintir ke pelbagai arah oleh Dollah, mengakibatkan rasa geli dan sekaligus juga ngilu tak terkira bagi Meliora.

Meliora tetap berusaha berontak sambil menangis sesenggukan, wajah cantiknya terlihat semakin ayu manis tetap di bawah jilbab hitamnya, tapi dirasakannya daya tahannya untuk melawan semakin berkurang.

Dollah yang telah sering menggarap banyak perempuan entah yang telah bersuami, maupun janda dan bahkan juga perawan di desa sekitar situ merasakan bahwa perlawanan Meliora mulai menurun.

“Hehehe, mulai lemes ya, Nduk? Gitu donk, pinter banget nih anak manis, ntar lagi diajak ngerasain apa itu surga dunia, tapi sekarang belajar dulu gimana ngisep sosis desa alamiah. Nih sosis makin diisep makin jadi gede, ntar malahan bisa keluarin sari jamu awet muda, mau nyoba kan?” seringai Dollah.

Meliora tidak langsung mengerti maksud kata-kata Dollah, ia merasakan tubuh ayah tirinya yang hampir delapan puluh kilo itu kini tak menduduki perutnya, melainkan bergeser ke atas dan meletakkan kedua lututnya hampir setinggi lipatan ketiaknya, sehingga dalam posisi ini wajah cantik Meliora langsung berhadapan dengan selangkangan Dollah.

Dengan tetap merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Meliora ke kasur dengan satu tangan kiri saja, Dollah kini dengan sigap melepaskan ikat pinggang serta ritsluiting celananya. Sebagai wanita dewasa dan jururawat, Meliora kini paham apa kemauan Dollah dan dengan penuh ketakutan berusaha mati-matian meronta.

Tercium bau tak menyenangkan dari celana dalam ayah tirinya yang mungkin hari itu belum diganti – yang mana segera diturunkan pula oleh Dollah dan bagaikan ular Cobra yang mencari mangsanya, keluarlah rudal kebanggaan Dollah.

Kemaluan Dollah yang besar panjang berurat-urat serta di-khitan itu kini mengangguk-angguk di depan wajah Meliora yang berusaha melengos ke samping. Reaksi penolakan semacam ini sudah biasa dialami dan ditunggu Dollah.

“Hehehe, biasa tuh perempuan, selalu malu-malu ngeliat barang lelaki, padahal dalam hati kecil udah pingin ngerasain ya. Tapi sebelumnya bikin si Otong makin binal, ayooh buka tuh bibir lebar-lebar, kulum, isep dan jilat dulu nih sosis alam sampe ngeluarin pejuh obat awet muda.”

Meliora merasa amat jijik melihat rudal Dollah dan tak mau menyerah begitu saja, namun ayah tirinya sudah berpengalaman bagaimana mengatasi penolakan perempuan – dicubitnya puting susu Meliora yang telah tegak mengeras dengan memakai kukunya sehingga Meliora menjerit kesakitan atas perlakuan sadis ini.

Kesempatan ini telah dinantikan ayah tirinya : segera alat kelelakiannya yang memang telah bersiap di depan wajah Meliora ditempelkan ke bibirnya yang tentu saja Meliora segera menutupnya kembali. Dollah menyeringai sadis dan kini jari-jarinya yang sedang mencubit puting susu Meliora dipindahkan untuk memencet hidung mancung bangir milik putri tirinya

Sehingga Meliora kelabakan megap-megap mencari udara, otomatis tanpa dikehendaki mulutnya kembali membuka. Kali ini tanpa ada ampun lagi kejantanan Dollah menerobos masuk diantara kedua bibir basah merekah dan memasuki rongga mulut Meliora yang hangat basah.

Meliora merasa sangat jijik dan ingin mengeluarkan kemaluan yang sedang memerawani mulutnya itu, namun apalah dayanya sebagai perempuan lemah dikeroyok dua laki laki perkasa, apalagi kini ayah tirinya kembali merejang kedua tangan ke atas kepalanya yang masih tertutup jilbab,

Sedangkan tangan satunya tetap memencét hidungnya hingga mulutnya tetap terpaksa untuk terbuka untuk mencari nafas. Dollah kini mulai memaju-mundurkan rudalnya di mulut Meliora, setiap gerakan maju selalu lebih dalam daripada sebelumnya, menyebabkan Meliora tersedak setiap kalinya, ingin batuk tapi tidak bisa.

“Hehehe… nah, gimana rasanya, Nduk, dirajah dan diperkosa mulutnya, enak kan? Abah enggak bohong lan! Iyaaa… mulai pinter nyepongnya, teruuus… iyaaa… gituuuu… kulum nyang bener! Aaaaaah… pinteer emang putri abah satu ini! Ayo, iseeeep nyang kuaaat… jilaaaat… iyaaa… abah udah mau keluaar nih, ooaaah!!!” akhirnya Dollah hanya berhasil memasukkan sekitar setengah dari rudalnya ke mulut Meliora.

Ujung kemaluan Dollah kini menyentuh, memukul-mukul dinding rahang Meliora di ujung kerongkongannya, menyebabkan Meliora berkali-kali tersedak menahan rasa mual ingin muntah. Rasa ingin muntah itu mengalami puncaknya ketika alat kejantanan Dollah terasa semakin membesar dan berdenyut-denyut, hingga akhirnya…

“Aaaaaah… iyaaaaaaa… nduuuuuk… ini abah keluaaaaar! Pinter banget, Nduuk… ayo, jangan ada yang dibuang! Teguk, abisin semuanya, Nduuuk… aaaah… iyaaaaa!!” Dollah menggeram bagai binatang buas disaat ia dengan penuh nikmat menyemprotkan lahar panasnya ke mulut Meliora.

Berbeda dengan Dollah yang sedang dilanda orgasme, Meliora merasa sangat terhina dan terpaksa menghirup sperma ayah tiri yang saat itu sangat dibencinya. Cairan kental hangat itu bagai tak henti menyembur dari lubang di puncak kemaluan Dollah, memenuhi kerongkongan Meliora, terasa sepat agak asin dengan bau khas sperma laki-laki.

Pertama kali merasakannya membuat perawat cantik berkudung ini tersedak ingin muntah. Namun Dollah bukan anak kemarin sore yang baru masuk usia belasan – kedua tangannya dengan sangat kuat segera memegangi kepala Meliora yang berjilbab sehingga Meliora jadi tak berkutik sama sekali,

rudal Dollah yang memang besar tetap memenuhi rongga mulut mangsanya dengan sempurna sehingga tak ada ruangan bagi Meliora untuk melepehkan cairan yang dirasakannya sangat menjijikkan itu.

Meliora hanya dapat mencakar-cakar lemah kaki Dollah dengan kukunya yang rapih terawat karena lengan atasnya telah ditindih dan ditekan ke kasur dengan kasar oleh lutut ayah tirinya sehingga tidak banyak dapat digerakkannya untuk melawan.

Teguk demi teguk air mani Dollah terpaksa harus ditelannya karena jika tidak maka pasti akan masuk memenuhi dan mencekik jalan nafasnya. Meliora mengharapkan agar nasibnya dijarah kedua lelaki itu telah berakhir disini, namun dugaannya itu sia-sia belaka – ini baru babak pertama penderitaannya.

Setelah sang ayah tiri menarik rudalnya dari rongga mulutnya, maka kini giliran sang kakak tiri menagih bagiannya dengan tentunya mendapat bantuan dari sang ayah. Dollah berlutut di samping kiri badan Meliora dan tetap mencekal menekan kedua nadi putri tirinya yang langsing diatas kepalanya yang masih tertutup jilbab dengan tangan kanannya ke kasur, sementara tangan kirinya kembali mengusap-usap buah dada korbannya, Dollah meremas-remas, memijit-mijit dan menyentil-nyentil puting Meliora.

Serangan bertubi-tubi ini kembali menunjukkan hasilnya karena bagaimanapun Meliora berusaha menekan gejolak birahinya, namun tubuhnya yang bahenol penuh dengan hormon kewanitaan kembali mulai mengkhianatinya.

Kedua putingnya yang memang selalu mencuat ke atas dirasakannya semakin hangat gatal dan geli menginginkan ada tangan yang meremasnya. Namun karena tangannya sendiri di rejang ke kasur, maka yang dapat dilakukannya secara tanpa disadari adalah melentingkan tubuh bagian atasnya sehingga buah dadanya semakin membusung keatas.

“Hehehe, nikmat ya, Nduk? Enggak usah malu-malu deh, enak ya pentilnya dirangsang, ntar lagi abah sama Ali pingin ngerasain susu asli, nih abah bantuin supaya keluar susunya,” Dollah bersenyum cabul lalu menundukkan kepalanya dan mulai menyusu di bongkahan payudara Meliora, mulutnya menyedot-nyedot sambil sesekali menggigit puting susu Meliora yang begitu merangsang.

“Aaah, auuw, oooh, udah dong abaah… jangan diterusin, enggak mauu… jangaaaan, lepasiiin, iieeempppphh, eeehhmmmp, jangaaan!” keluh si gadis cantik tanpa daya sambil terus menggeliat-geliat penuh keputus-asaan. Namun itu semua hanya makin memacu nafsu birahi dan kebuasan kedua lelaki pemerkosanya.

Sementara itu, Ali telah menempatkan diri diantara kedua paha Meliora yang begitu halus mulus dengan kulit putih kuning langsat. Kedua tangannya tak henti-henti mengusap-usap betis belalang Meliora – menyentuh dengan mesra kemudian meneruskan elusannya semakin naik ke arah paha, naik dan terus naik menuju ke arah selangkangan Meliora.

Nafas kedua lelaki jahanam itu semakin berat mendengus-dengus melihat indahnya bukit kemaluan Meliora – bukit intim itu ternyata licin karena selalu dirawat dan dicukur tandas oleh sang empunya.

“Wuuiiih, memang lain ya perawat dari kota, serambi lempitnya kelimis begini, pasti sering diurut dan mandi spa ya?! Abang pengen nyicipi air celah perawan, pasti manis madunya, betul enggak, Neng?” goda Ali.

Tanpa menunggu jawaban, Ali merebahkan diri diantara kedua paha Meliora dan mendekatkan wajahnya ke arah selangkangan yang begitu merangsang nafsu setiap lelaki yang melihat itu. Ali menelungkupkan diri di antara kedua paha mulus yang dipaksa untuk dibuka lebar, betapapun Meliora berusaha mengatupkannya, namun tenaganya kalah dengan kedua lengan Ali yang sangat berotot.

“Emmmhhhh… emang bener, harum banget nih mémék, pake sabun apa sih, Neng? Atau selalu diolesin minyak wangi ya?” tanya Ali sambil mulai mengecup dan menciumi bukit kemaluan Meliora. Lidahnya yang kasar tak kalah dengan sang bapak mulai menjelajahi bukit gundul kemaluan Meliora,

Ali menjilat dan membasahinya dengan ludahnya, telaten ia menelusuri celahnya yang masih rapat karena belum pernah diterobos siapapun. Bibir kemaluan luar pelindung celah kewanitaan Meliora mulai dibuka oleh jari-jari Ali disertai dengan jilatan naik turun, sesekali berputar, merintis jalan memasuki bagian dalam yang berwarna kuning kemerahan.

“Jangaaan, udaaaaah, sialaaaan, anjiing semuanya, enggak malu dua lelaki main keroyokan dengan perempuan!! Oooooh, udaaaah, stoooop, jangan diterusin, aaaaaah!” Meliora semakin menggeliat geli dan menahan gejolak naluri kewanitaannya yang semakin lemah menginginkan penyerahan total.

“Baguuus amat nih mémék, haruuuum, enggak ada bau pesing sedikitpun, enggak seperti punya lonte desa, rejeki banget bisa ngerasain yang kaya begini,” Ali menjilat semakin ganas sambil menceracau tak karuan.

Gerakan paha mulus Meliora yang mengatup membuka tak teratur tak dipedulikannya karena penjelajahannya kini semakin dalam sampai lidahnya menemukan tonjolan daging kecil berwarna merah jambu yang tersembunyi diantara lipatan bibir kemaluan Meliora bagian dalam.

“Ini dia yang gue cari dari tadi, horeeee akhirnya ketemu juga butir jagung paling lezat… eeeemh, cuppp, cupppp, legitnya nih daging… si neng rupanya enggak disunat ya, jadi ngumpet tuh butir jagung. Tapi udah ketemu nih, jadi perlu diberikan pelayanan extra ya, Neng.” demikian sindir Ali yang kemudian tak berkata-kata lagi karena asyik menjilati kelentit Meliora yang semakin terlihat menonjol keluar.

“Aaaaaah, lepaaaaas, lepaaaaaskan, jangaaaan, enggaaaak mauuuuu, oooooooohh, emmmppfhhhh,” suara teriakan putus asa Meliora menggema di malam yang dingin itu, namun tetap dikalahkan oleh bisingnya suara hujan menimpa atap rumah, ditambah pula semakin seringnya gema petir dan guntur yang menggelegar menakutkan.

Dollah yang kembali tak sanggup menahan syahwatnya melihat tubuh Meliora yang telanjang bulat putih mulus meronta-ronta tak berdaya berusaha melawan rangsangan kakak tirinya yang dengan asyik melumat dan menggigit-gigit kelentitnya yang semakin lama semakin memerah, kembali mendekap dan menciumi mulut putri tirinya itu sehingga teriakan Meliora segera teredam.

Bersambung… Sementara itu Ali terus meningkatkan rangsangannya terhadap klitoris Meliora – dijepitnya daging mungil amat peka itu diantara bibirnya yang tebal dan dowér, kemudian dijilatinya dengan penuh nafsu dan semangat sambil sesekali digosok-gosoknya kelentit yang semakin membengkak itu dengan kumis baplangnya dan juga janggutnya.

Terutama janggutnya yang hanya tumbuh beberapa milimeter, bagaikan sapu ijuk kaku sehingga sentuhannya dirasakan oleh Meliora ibarat klitorisnya sedang digosok dengan sikat – itu tak dapat ditahan lagi oleh pusat susunan syaraf Meliora yang kini sedang dipenuhi oleh hormon birahi kewanitaannya.

Jutaan bintang kini meledak dihadapan matanya mengiringi gelombang orgasme bagaikan angin taufan menghempas tubuhnya yang melambung ke atas, Meliora mengejang beberapa menit ibarat terkena aliran listrik tegangan tinggi, jeritan yang seharusnya melengking, tertahan oleh mulut dan lidah Dollah, hingga akhirnya badan Meliora melemas dan terhempas kembali ke atas ranjang , menggelepar bagaikan orang sekarat.

Inilah saat yang telah dinantikan oleh kedua lelaki itu – sampai taraf ini mereka akan meruntuhkan pertahanan Meliora : dari perempuan alim berjilbab yang belum pernah disentuh lelaki menjadi wanita binal mendambakan kehangatan tubuh lelaki.

Sesudah itu mereka akan bergantian dan juga sekaligus menikmati tubuh Meliora namun dengan cara lebih mesra dan hanya dimana perlu akan sedikit saja dikasari secara halus. Mereka telah telah merencanakan siapa lebih dahulu menikmati lubang yang mana, bahkan mereka sebelumnya telah melakukan undian.

Dalam undian itu Dollah akan pertama merajah mulut atas Meliora dan memaksa menikmati air maninya, sedangkan Ali mengoral mulut bawah sehingga gadis malang itu mengalami orgasme pertamanya.

Setelah itu mereka akan bergantian tempat – Ali memaksa Meliora mengoralnya dan menikmati lagi pejuh lelaki kedua dalam hidupnya sementara Dollah akan merebut kegadisan putri tiri yang memang sudah diidamkannya sejak lama.

Dan babak terakhir mereka berdua akan threesome mengajarkan Meliora untuk di”sandwich” : Dollah tetap berada di bawah dan menikmati kehangatan celah kewanitaan yang baru direnggutnya , sedangkan Ali akan merenggut keperawanan Meliora yang kedua dengan menembus lubang bulat kecil di belahan pantatnya.

Dalam pelaksanaan maksud jahat mereka itu, keduanya telah sepakat bahwa Meliora akan mereka telanjangi terkecuali jilbab di kepalanya – ini akan memberikan lebih rasa kebanggaan dan ego yang tersendiri : mereka berhasil menjarah seorang gadis alim dan taat tata susila, merebut keperawanannya dan diakhir pergulatan mereka akhirnya si gadis menjadi wanita dewasa yang ke arah dunia luar tetap terlihat alim berjilbab namun di dalam tubuhnya telah terbangun nafsu birahi bergejolak, membuatnya menjadi wanita binal.

Kedua lelaki ayah dan anak itu saling berpandangan penuh kepuasan melihat korban mereka tergelimpang lemah lunglai dilanda kenikmatan. Untuk beberapa saat bahkan keduanya tak perlu memegang, merejang atau bahkan menindih tubuh Meliora, karena si gadis yang telah mandi keringat akibat orgasme pertamanya itu sedang “menderita” kelemasan.

Tubuh Meliora yang sedemikian sintal dan bahenol hanya kejang-kejang lemah tanpa busana disertai sesenggukan tangisnya – saat itu tak sadar harus melindungi auratnya yang sedang dijadikan kepuasan mata para pemerkosanya.

Kini Ali dan Dollah menukar posisi mereka untuk memulai babak kedua aksi mereka : Ali dalam posisi rebah setengah menyamping di sisi kiri Meliora, memegangi kedua tangan Meliora di atas kepala yang masih terhias jilbab satin hitam.

Tangan kiri Ali kini mendapat kesempatan untuk ekspedisi naik turun gunung daging putih yang disana sini agak merah akibat jamahan kasar Dollah tadi. Sesuai dengan rencana maka Ali kini mempermainkan buah dada mangsanya dengan lebih halus daripada ayahnya.

Ali meraba dan membelai payudara berkulit halus itu dengan penuh kemesraan ; ibarat seorang ahli benda purbakala sedang menilai cawan porselen dynasti Ming yang sangat langka, mengusap-usap dengan sangat hati-hati.

Jari-jari tangan Ali menaiki lerengnya yang terjal dan dengan lembut menuju ke arah puncaknya yang berwarna merah kecoklatan, ia menyentuhnya sedemikian perlahan dan halus seolah ingin menambah kemancungan dan ketinggiannya.

Dan memang Meliora mulai mendesah mengeluh perlahan dengan mata masih setengah tertutup karena merasakan buah dadanya mengalami godaan yang sangat berbeda dengan kekasaran yang dialaminya tadi oleh Dollah.

“Wah, ini tedoy emang betul yahud, legit dan kenyal banget. Bisa dijadikan guling nih, sambil nyusu anget, pasti lebih sehat dari susu kaleng. Enggak tahan lagi nih, mau néték dulu ah, boleh ya?” celoteh Ali sambil meremas kedua buah dada dan bergantian menyedot menggigit kedua puting merah mencuat milik Meliora, menyebabkan Meliora semakin menggelinjang meronta tapi semua sia sia saja.

Sementara itu Dollah telah menempatkan diri diantara paha Meliora – mulutnya dengan bibir tebal berkilat karena berulang kali dibasahi oleh lidahnya sendiri ibarat ular python telah menemukan mangsa.

Meliora masih di dalam keadaan setengah ekstase akibat orgasme menyadari apa yang akan segera dialaminya, ia berusaha lagi memberontak sekuat tenaga tapi tetap tak berdaya menghadapi kedua lawan yang demikian kuat dan sedang dipenuhi oleh hawa nafsu dan bisikan iblis.

Dollah kini berusaha menekan nafsu iblisnya dan bertindak seolah seorang suami di malam pengantin akan merenggut mahkota kegadisan istrinya. Diciuminya secara bergantian telapak kaki Meliora, jari-jari kakinya, betis langsing halus mulus, paha licin putih, naik melusur ke atas ke arah selangkangan Meliora yang tercukur rapi.

Kini Meliora mulai merasakan malu sehingga tak terasa pipinya yang basah airmata merona merah, malu karena tubuhnya tanpa dikehendaki dan diluar kemauannya sendiri mulai merasakan pengaruh rangsangan dari ayah dan saudara tirinya.

Selangkangan Meliora yang masih terasa pegal kaku karena tadi dipaksa membuka oleh Ali, kini kembali dipaksa menguak. Kedua pahanya yang sekuat tenaga ingin dirapatkan, telah dipaksa lagi dipengkang sehingga terasa ngilu. Kedua lutut Meliora menekuk dan diletakkan di bahu kiri kanan Dollah – sementara mulut dowérnya semakin mendekati mengendus-endus lipatan paha Meliora sampai akhirnya menempel di bukit Venus putri tirinya itu.

“Duuuuh, sialaaan! Ini mémék emang buatan alam kelas satu, enggak pernah ngeliat bukit gundul licin kayak gini. Pinter banget ngerawatnya, hmmh… kalo mau tetep tinggal disini, ntar abah cukurin tiap hari, terus langsung dijilatin. Mau ya, Nduk? Mmmmmh, udah keluar madu lagi, duuuh manisnya, Nduk!” Dollah berceloteh sendiri sambil mulai menjilati kemaluan Meliora.

Lidahnya yang kasar menyapu dan menyelinap diantara celah bibir kewanitaan Meliora, menjilati dinding yang telah licin akibat madu pelumas disaat orgasme beberapa menit lalu, ditelusurinya bibir bagian dalam serambi lempit kemerah-merahan itu, menuju lipatan atas dan akhirnya menemukan apa yang dicarinya.

Kembali Meliora diterpa rasa kegelian yang tak terkira, klitorisnya yang beberapa saat lalu menjadi sasaran lidah Ali sehingga memaksanya naik ke puncak orgasme, kini dilanjutkan dan diulang kembali.

Ibarat seorang yang baru dipaksa mendaki, akhirnya mencapai puncak gunung, tapi tak diberikan waktu istirahat untuk menuruni tebing ke bawah – kini mulai lagi diseret dan dipaksa sekali lagi mendaki ke arah puncak. Meliora tak rela diperlakukan seperti ini, dikutuknya kelakuan kedua lelaki yang sedang menjarahnya itu, namun apalah daya seorang wanita dalam keadaan seperti ini.

Meliora berusaha menekan semua perasaan nikmat yang semakin menguasai tubuhnya, badannya yang sejak tadi meliuk meronta, kini dibiarkannya lemas lunglai, ia berharap bahwa dengan memperlihatkan reaksi “dingin” itu kedua pemerkosanya akan bosan dan menghentikan kegiatan mereka.

Sayang sekali lawan yang dihadapinya – terutama Dollah bukan lelaki sembarang dan ingusan, ia telah mempunyai pengalaman cukup banyak dan tahu bagaimana memaksa bangun gairah seorang wanita yang sedang dikuasainya.

Bibir Dollah yang tebal kini mengecup dan melekat di kelentit idamannya, tak dilepaskannya sasaran utamanya itu, dicakupnya daging kecil berwarna merah jambu milik Meliora diantara bibirnya, dipilinnya ke kiri dan ke kanan, ditekan dan dijepitnya dengan gemas diantara bibirnya, dilepaskannya sebentar dan digantinya dengan sapuan lidah ampuhnya, demikian terus menerus dan berulang-ulang.

Diserang dengan cara sangat ampuh seperti ini, Meliora akhirnya harus mengakui kekalahannya – rambutnya yang hitam bergelombang menjadi kebanggaannya telah acak-acakan tergerai, hanya jilbab penutupnya yang masih belum terlepas, disertai rintihan putus asa, tubuh sintal bahenolnya kembali kejang di orgasme keduanya.

“Toloooong, lepaaaaas, janggaaaan diterusiiiiiin, aaaauuuuuwww, aaaiiiihh, enggggggak maaauuu, tolooong, oooouuuuuuuw, eeemmmppffffhh!” kembali Meliora melenguh menjerit putus asa berusaha menembus bisingnya deraian hujan menimpa atap rumah, dan kembali mulutnya tertutup oleh bibir Ali yang berusaha sejauh mungkin mencium mulut adik tirinya dengan penuh kemesraan.

Dollah merasa puas melihat hasil rangsangannya – ia tahu bahwa di saat ini Meliora sedang dilanda badai orgasme lagi – dan saat ini adalah saat yang terbaik untuk menembus celah serambi lempitnya. Tak ada rasa yang lebih nikmat bagi Dollah ketika menembus keperawanan seorang gadis pada saat otot-otot dinding serambi lempitnya berdenyut berkontraksi karena orgasme.

Saat itu adalah saat paling membahagiakan bagi pria berpengalaman : merasakan rudalnya menembus liang kewanitaan wanita yang seolah dipijit diurut-urut oleh dinding nan licin basah namun masih sangat sempit dan penuh kehangatan. Semuanya itu disertai dengan wajah si wanita yang seolah-olah tak percaya dengan apa yang terjadi : nikmat sakit, sakit tapi nikmat.

Dollah kini telah berhasil menempatkan kepala rudalnya yang keras, tegang berwarna hitam, dihiasi oleh pembuluh darah yang melingkar-lingkar menghiasi sepanjang batangnya. Kepala rudalnya yang gundul bagaikan topi baja serdadu terlihat sangat gagah dengan lobang di tengah agak membuka seperti mulut ikan, mulai memasuki serambi lempit putri tirinya.

Mili demi mili, sang rudal maju menusuk membelah celah yang belum pernah dijarah oleh lelaki manapun itu – disertai rasa kepuasan Dollah namun penderitaan bagi Meliora yang menangis tersedu-sedu, menjerit, merintih memilukan hati mengiringi kehilangan miliknya yang selama ini sangat dijaga dan diharapkannya akan diberikan kepada suami tercintanya kelak.

Habislah harapan muluk Meliora untuk memasuki malam perkawinan dengan kesucian yang utuh, punah sudah impiannya untuk meneteskan air mata kebahagiaan di dalam pelukan kekasih dan suaminya ketika dengan penuh kerelaan ia mempersembahkan mahkota kegadisannya.

Sesuai dengan rencana maka saat ini Dollah tak memperlakukan Meliora dengan kasar, ia tidak menusuk secara brutal membabi buta ke dalam serambi lempit sang putri, melainkan agak diputar-putarnya gerakan maju mundur sang rudal.

“Nikmaaat tenaaaan, Nduk… begeuuuuur teuuuiiiing no bahenoool, abaaah dikasiiiih hadiaaaah begini enaaak, ntar abah ajariiiin yang lebiiiiih mantaaaab lagi. Ayooooh goyaaaangin tuh pinggul, jangan dieeem aja. Abaaah cobaa masuuuk dalemaaaaan lagi, Neng… jangan berontaaak ya, ntaar sakit, terima pasraaah aja!!” dengus Dollah sambil dengan yakin memaju-mundurkan pinggulnya, ibarat pompa air berusaha mencari sumber di tempat yang semakin dalam. Sesekali disodoknya ke arah atas, kiri, kanan, bawah, lalu diulangnya lagi dari awal.

Gerakan ini menyebabkan dinding tempik Meliora yang sedang mengalami penjarahan pertama seolah diaduk – diulek dan digesek dengan penuh kemesraan.

Sementara Ali tetap memegangi kedua nadi Meliora sambil mulutnya tak kunjung berhenti menyusu di puting kiri kanan Meliora yang tetap mengeras bagaikan batu kerikil. Kedua lelaki itu penuh kepuasan mengamati wajah Meliora yang telah mendongak ke atas namun tetap menggeleng ke kiri dan ke kanan. Wajah cantik Meliora semakin terlihat kuyu dan lemas, hidung bangirnya kembang kempis mendengus dan bernafas semakin cepat, sementara bibirnya yang mengkilat basah setengah terbuka.

“Auuummph, aaaaaoooohh, eeemmmpppph, eeeeeengghhh, aaaaaauuuww, ssssshhhhhh, udaaaah doong, aaaahhhh, udaaaaah, saaakiiiiiiit, ngiluuuuuu, ouuuuhhh, eeemmpphh, iiyyyaaaa, auuuuw, iyaaaaa,” tak sadar lagi Meliora mengeluarkan suara khas wanita yang sedang dilanda kenikmatan birahi.

Dollah dan Ali yang rupanya telah beberapa kali mengerjai wanita secara bersama, kembali saling berpandangan dan yakin bahwa pertahanan Meliora telah hancur luluh dan kini tinggal dilanjutkan permainan seksual ini untuk mengubah Meliora dari gadis alim menjadi wanita dewasa yang bukan saja hilang rasa malunya bersenggama, namun sebaliknya bahkan tak segan segan menagih jatah untuk selalu dipuaskan.

Merasakan bahwa Meliora telah tak sanggup melawan, maka mereka berdua mengganti lagi posisi badan mereka : Ali kini setengah terlentang dengan rudal telah berdiri mengacung ke udara, Meliora diangkat oleh Dollah dan diatur berlutut sambil menungging untuk “memanjakan” rudal Ali, sedangkan dari belakang sang ayah tiri kembali mendorong dan memasukkan rudalnya ke serambi lempit Meliora.

Meskipun telah demikian licin basah, namun karena baru saja diperawani maka tetap terasa perih sakit disaat rudal ayah tirinya mulai masuk sehingga Meliora tak sadar serambi lempitik dan melepaskan rudal Ali yang sedang dikulumnya sambil menggoyang pinggul seolah ingin melepaskan diri dari penetrasi Dollah.

Namun Dollah telah memegangi pinggang Meliora yang ramping sehingga pinggulnya tak dapat digeser ke samping – sementara Ali juga dengan mantab menjambak jilbab putih dan menekan kembali kepala Meliora untuk melakukan “service” ke rudalnya yang berukuran tak kalah dengan milik ayah tirinya.

Ketika Dollah semakin dalam mendorong rudalnya maka Meliora kembali merasa perih ngilu kesakitan, mungkin karena bagian selaput daranya yang beberapa menit lalu sobek kembali terbuka lukanya.

Meliora berusaha mencakar paha sang pemerkosa dibelakang pinggulnya dengan kuku-kuku kedua tangannya, namun Dollah sudah siap dan terbiasa dengan reaksi perlawanan wanita dalam posisi sepertiini. Kedua tangan Meliora yang menggapai ingin menyakar itu lekas ditangkap, dicekal pergelangan nadinya dan lalu ditelikung ke belakang.

Dalam kedua tangannya berada dipunggung dan ditelikung maka Meliora tak dapat menunjang lagi badan bagian atasnya, namun ini justru memudahkan Ali yang sedang disepong untuk menjambak jilbab dan rambut Meliora, lalu dengan ritmis diturun-naikkan dengan irama yang sangat memuaskan “otong”nya.

Dengan satu tangan Dollah tetap menelikung nadi mangsanya sehingga Meliora tak dapat mencakar, sementara tangannya yang lain meremas-remas buah dada Meliora yang menggantung indah dan memilin serta memijit-mijit putingnya.

Tubuh Meliora kembali mengkhianati : rasa ngilu, sakit, nyeri dan nikmat berkumpul lagi menjadi satu dan melanda semua bagian peka yang sedang dirangsang oleh Dollah dan Ali, memacu pusat orgasme di otaknya kembali bekerja.

Dollah merasakan dinding serambi lempit Meliora kembali mulai berdenyut, semakin lama menjadi semakin cepat, mantap memijit kemaluannya, dan dengan sangat tak terduga oleh Meliora, mendadak jari tengah Dollah yang baru saja memilin putingnya, pindah merantau menusuk masuk ke lubang anusnya.

Teriakan kaget dan kesakitan Meliora teredam oleh rudal Ali yang menancap di mulutnya, yang disaat sama berdenyut-denyut pula sambil menyemburkan lahar panas ke arah kerongkongannya. Kembali Meliora merasakan tubuhnya bagai meledak mengalami orgasme untuk kesekian kalinya, terutama disaat bersamaan Dollah juga menyemprotkan sperma hangatnya ke dalam rahimnya.

Ketiga insan itu dalam waktu hampir bersamaan mengalami orgasme secara bersama-sama – ketiganya merasakan tubuh mereka mengejang beberapa menit sebelum terkulai lemas penuh dengan keringat beberapa saat kemudian.

Sementara Meliora masih lemas setengah pingsan, Ali yang termuda, dalam waktu singkat, hanya seperempat jam, telah mulai pulih kembali tenaganya, terutama ketika melihat tubuh Meliora yang putih mulus, yang telanjang bulat setengah telungkup diatas tubuh ayah tirinya. Betapa kontras warna kedua tubuh itu, Dollah yang agak gemuk berisi berkulit hitam legam dekil, sedangkan Meliora bertubuh ramping langsing berkulit putih kuning langsat. Namun yang menarik perhatian Ali adalah bongkahan pantat Meliora yang begitu sempurna, besar bulat tanpa cacat sedikitpun. Membayangkan betapa sempitnya lubang yang tersembunyi diantara belahan itu menyebabkan si ayam jago di selangkangan Ali mulai bangun dan siap untuk kukuruyuk kembali.

Ali menyentuh kaki Dollah sehingga sang ayah membuka matanya, diberikannya tanda agar Dollah memeluk Meliora secara ketat untuk mencegah jangan sampai gadis itu dapat berontak. Dollah segera mengerti apa maksud Ali, ia langsung meletakkan tubuh Meliora diatas tubuhnya sendiri dengan sempurna, kemudian dipeluknya pinggang putri tirinya yang langsing itu dengan kedua lengannya yang berotot sehingga Meliora tak mungkin bergeser kemanapun.

IFFAH

Ali dengan perlahan mendekati tubuh Meliora dari belakang, ditariknya pinggul Meliora ke atas sehingga menjadi posisinya sekarang menjadi berlutut menungging tinggi dan sekaligus kedua paha Meliora yang masih gemetar halus akibat sisa orgasme dibukanya lebar-lebar dan ditahan di kiri kanan oleh paha ayah tirinya.

Kini terpampang dengan jelas celah diantara belahan pantat Meliora yang di bagian tengahnya terlihat cekungan berwarna coklat muda kemerahan dihiasi kerut-kerutan halus tipis menandakan masih sempurnanya tegangan otot lingkar yang melindungi anus Meliora.

Ali mengolesi telapak tangannya dengan ludah lalu diratakannya ke ujung kepala rudalnya sehingga benda itu jadi terlihat licin mengkilat, selanjutnya ia meneteskan ludahnya di cekungan anus Meliora. Penuh kepuasan Ali melihat bahwa cekungan itu mulai berdenyut dan “menelan” tetesan ludahnya seolah ada sedotan kuat yang menarik ke dalam.

Kejantanan Ali yang semula masih terlihat agak menggantung kini menjadi tegak penuh kegagahan karena sang empunya telah membayangkan betapa perlawanan sia-sia dari otot lingkar pelindung itu, namun jika telah ditembus dikalahkan maka justru secara alamiah akan menarik menyedot kemaluannya semakin dalam.

Dengan kedua tangannya Ali memegang dan agak menarik bongkahan pantat Meliora ke kiri dan ke kanan, lalu mulailah ia menekan kepala rudalnya di pintu gerbang paling intim dari Meliora, adik tirinya itu. Bagaikan disengat oleh hewan berbisa, Meliora melonjak meronta dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Dollah yang kuat, anusnya terasa sangat panas dan perih bagai disayat pisau saat ada barang keras berusaha untuk masuk ke dalam sana.

“Aaaaaah, auuuuuuuuww, jangaaaan! Aduuuuuuh, jangaaaan! Sialaaaan! Ampuuuuuun, sakiiiiiiiiit, lepaaaas, tolooong lepaskan! Mmmphh, auuuuuuuuuww! Tolong, Bang, kasihani saya, saya enggak mau disodomi! Sakiiiiiit, Bang, udaaah!” Meliora menjerit dan berteriak sekuat nafas yang dapat dikeluarkan dari paru-parunya, namun semua sia-sia dan terlambat karena tanpa rasa kasihan, Ali terus mendorong kemaluannya untuk menembus keperawanan Meliora yang kedua.

Selama ini Meliora hanya mendengar dari teman-teman dekatnya yang telah menikah bahwa suami mereka kadang menginginkan variasi dalam ML dengan memakai jalan belakang. Semuanya menceritakan secara sembarang saja apa yang dirasakan saat itu – namun Meliora tak pernah membayangkan betapa sakit dan penderitaan yang dialami disaat ini.

Berbeda dengan Ali yang diawal penetrasi juga merasakan betapa susah dan peretnya memasuki lubang anus adik tirinya, namun kini mulai terbiasa dan secara ritmis memaju mundurkan pinggulnya untuk lebih menikmati penjarahannya itu.

Dollah melihat penuh kepuasan wajah cantik Meliora yang kini dibasahi oleh air mata dan dari celah bibir mungilnya yang terbuka terdengar rintihan dan keluhan tiada henti menimbulkan iba. Suara rintihan Meliora semakin lama semakin sesuai dan sinkron dengan dengusan Ali yang kini makin mempercepat gerakan pinggulnya.

Dirasakannya bahwa semua lahar yang berkumpul di pelirnya makin mendidih dan akhirnya menyemburkan membasahi bagian dalam anus Meliora yang sudah sedemikian peka sehingga dengan jeritan putus asa kesekian kalinya, Meliora jatuh pingsan kembali dan ambruk diatas tubuh ayah tirinya.

***

Meliora sebagai seorang gadis alim shalihah yang selama ini tak pernah mengikuti aliran dunia anak muda modern dengan pesta pora dan kelakuan hura-hura sebagaimana yang dikerjakan dan dialami oleh para selebs, tentu saja sangat shock mendapat perlakuan sangat tak senonoh yang diperbuat oleh ayah dan saudara laki-laki tirinya.

Setelah diperkosa habis-habisan di malam itu, maka Meliora menangis semalaman di kamarnya. Ia tak mau keluar, semua kepercayaannya terhadap keluarga sendiri pun punah. Disesalkannya dirinya yang tidak jadi pulang ke kota tempatnya bekerja sebagaimana telah direncanakannya semula, malah mau dibujuk untuk menginap semalam lagi.

Kini hilanglah sudah kehormatannya, hilang kegadisannya yang layak untuk dipersembahkan kepada suaminya di malam pengantin nanti.

Di saat mengalami puncak keputusasaannya itu, hanya kesadaran bahwa banyak sekali pasien yang sangat berterima kasih terhadap perawatannya yang jadi hiburan. Dan dengan berdasarkan rasa kesadaran itulah akhirnya Meliora berhasil memejamkan mata dan mulai jatuh pulas ketika malam telah amat larut, memasuki hampir jam setengah tiga pagi. Tubuhnya terasa sangat penat, pegal, terutama di bagian-bagian yang sangat intim. Semuanya terasa memar dan memang terlihat banyak bekas cupangan serta gigitan gemas. Namun yang paling menyakitkan adalah selangkangannya karena begitu lama berusaha ditutupnya pada saat dipaksakan untuk menguak membentang, sendi pahanya jadi terasa bagaikan patah dan dilolosi tulang-tulangnya.

Esok harinya Meliora jatuh sakit, badannya demam panas dingin, menggigil. Kepalanya terasa pusing melayang, perutnya bagaikan diaduk-aduk serta mual sehingga berkali-kali ia muntah. Rencananya untuk secepat mungkin meninggalkan tempat malapetaka itu kembali harus ditunda dan terpaksa dibatalkan. Makanan daerah Sunda yang biasa menjadi favoritnya sama sekali tak dapat ditelan, sehingga akhirnya hanya bubur hangat yang dapat sedikit menghilangkan rasa lapar dan berhasil dimakan tanpa dimuntahkan kembali.

Selama tiga hari Meliora menderita demam -dan oleh karena itu tidak lagi mengalami pelecehan ulang yang sangat dibencinya itu- ia juga berharapan bahwa peristiwa yang dialaminya itu hanya terjadi sekali saja….

Sementara itu, tiga hari setelah peristiwa penggarapan anak dan adik tirinya, pak Dollah serta Ghazali duduk di ruang tamu penghulu desa bernama Ustadz Beduin. Beduin adalah penghulu desa Bojongan yang terletak sekitar 20 km terpisah dari desa kediaman pak Dollah. Kunjungan pak Dollah dan Ali adalah kunjungan yang ‘terpaksa’ -karena seminggu lagi mereka harus membayar hutang mereka kepada Ustadz Beduin.

Kedatangan pak Dollah serta Ghazali ke Ustadz Beduin adalah kedatangan ketiga kalinya untuk negosiasi soal yang sama : soal hutang mereka kepada Ustadz yang sudah lama jatuh tempo waktu pembayarannya, namun karena Dollah maupun Ali tak mempunyai pekerjaan tetap dan selama krisis ekonomi semakin sukar untuk keduanya mencari nafkah, maka mereka tetap belum mampu membayar balik hutang mereka.

Hutang yang membebani pundak kedua lelaki pemerkosa Meliora itu sebetulnya adalah salah mereka sendiri, karena awal mulanya akibat kegemaran mereka berjudi – yaitu judi yang dimulai hanya kecil-kecilan : tarungan ayam jantan. Dari soal adu ayam kemudian dilanjutkan dengan pelbagai jenis permainan kartu – hanya ‘kecil-kecilan; saja.

Namun apa yang dimulai dengan jumlah kecil akhirnya semakin bertambah, semakin bertumpuk, dan kedua ‘pejantan’ kampung itu akhirnya ibarat masuk jebakan lumpur hisap, semakin lama semakin dalam terseret lingkaran setan.

Istilahnya yang tepat adalah gali lubang tutup lubang, pinjam uang di satu tempat untuk membayar hutang di tempat lain, dan akhirnya mereka jatuh ke dalam cengkeraman Ustadz lintah darat yang rupanya memang mengincar rumah milik istri pak Dollah yang baru meninggal itu.

Pak Dollah tentu saja tak ingin kehilangan tempat meneduhnya , dan bagaikan ‘pucuk dicinta ulam tiba’ maka pada saat ini ada kemungkinan lain untuk menghapus semua hutangnya kepada Ustadz Beduin yang sama seperti Dollah adalah kambing bandot tua rakus daun muda – kesempatan ini harus dipakai sebelum Meliora balik ke kota!

Ustadz Beduin yang telah jemu dan bosan selalu dijanjikan pengembalian hutang oleh Dollah dan Ali sebenarnya tak mau lagi bertemu dan menerima kunjungan kedua penghutang itu. Namun ketika oleh Dollah diperlihatkan KTP anak perempuan tirinya yang sempat dicurinya dari dompet Meliora, maka wajah Beduin yang sudah sangat kecut asam bagaikan cuka tahunan itu mulai berubah serta mengajak tamunya duduk.

“Begini, pak Ustadz, kita kan sama-sama sudah dewasa dan tahu bagaimana kesenangan masing-masing. Saya mempunyai usul yang pasti sukar untuk ditolak oleh pak Ustadz -dan jika usul saya diterima, maka saya akan membantu untuk melaksanakannya.

Pasti pak Ustadz tak akan menyesal, karena apa yang akan dinikmati oleh pak Ustadz harganya sangat mahal. Pasti lebih dari cukup untuk sekaligus menghapuskan semua hutang kami,” demikian pak Dollah mengajukan penawaran tanpa ada rasa malu sama sekali karena artinya menjual tubuh putrinya.

“Pak Ustadz kan baru kehilangan istri yang kedua karena sakit parah dan meninggal, kemudian istri ketiga kan baru diceraikan karena selingkuh, sedangkan istri pertama pasti sudah uzur, mungkin tak begitu memenuhi apa keinginan pak Ustadz yang segar bugar seperti anak muda ini,” tambah Ghazali dengan siasat menjilat.

Cerita Dewasa Ngentot - Kepala Perawat Berhijab dalam Ancaman Ayah Tiri Hidung Belang
“Kalau memang kalian bersedia untuk menyediakan dan mempersiapkan segalanya, maka mungkin semuanya nanti dapat diatur. Apakah cukup untuk menghapus hutang kalian yang begitu banyak, masih tanda tanya besar.

Tergantung bagaimana pengalaman pertama,” balas Ustadz Beduin yang memegang dan menatap foto Meliora di KTP yang sedemikian cantik. Pikiran kotornya mulai membayangkan bagaimana geliatan perlawanan gadis kota yang akan menjadi bulan-bulanan permainan ranjang dan pelampiasan nafsunya ini.

Bersambung… Ketiga lelaki dengan niat tak senonoh itu merancang bahwa Meliora tidak akan diberi kesempatan untuk kembali ke kota. Begitu keadaan tubuhnya pulih dari sakit demamnya, maka kesempatan itu tak boleh diabaikan dan langsung akan dijebak dan dijadikan ‘gadis persembahan’ untuk membayar hutang.

Sementara itu hampir seminggu telah berlalu dan perlahan-lahan Meliora mulai sembuh dari demamnya. Keinginan untuk makan minum juga telah hampir pulih sehingga ia memutuskan untuk kembali ke kota dan melupakan segala pengalaman pahit yang telah dialaminya disini.

Meliora berniat untuk kembali pada hari Jum’at setelah sarapan pagi dan untuk itu sebagai seorang terpelajar dan sopan santun, maka Meliora telah memberitahukan hal ini pada ayah tirinya (dengan wajah tanpa mimik sedikitpun dan suara sangat dingin serta datar tanpa emosi) dua hari sebelumnya yaitu di hari Rabu pagi ketika makan siang.

Hal ini kembali merupakan kesalahan besar karena dengan demikian sang ayah tiri serta adik laki-laki tirinya yang sudah punya maksud jahat langsung dapat merancang jebakan yang akan dipasang. Mereka langsung memberitahu Ustadz Beduin bahwa ‘sang kelinci’ sudah siap untuk dijadikan santapan dan direncanakan bahwa hari Kamis petang menjelang malam Jum’at tanggal 13 adalah waktu terbaik untuk melaksanakan jebakan itu.

Setelah makan tengah hari, Meliora mulai membereskan dan memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Sejak pagi hari Meliora melihat ayah dan saudara lelaki tirinya pergi meninggalkan rumah entah kemana, dan ketika makan tengah hari, mereka tak pulang, padahal biasanya paling tidak salah seorang dari mereka akan pulang makan di rumah. Namun hal itu sama sekali tak meresahkan Meliora, bahkan ia merasa gembira tak usah berhadapan muka atau bahkan duduk bersama satu meja dengan orang yang telah merenggut kegadisannya.

Menjelang masuk awal petang hari, cuaca mulai memburuk. Udara semakin mendung dan hujan lebat mulai turun disertai dengan kilat dan petir sambung-menyambung. Semuanya tak menjadi bahan perhatian Meliora karena semua isi pikirannya hanya dipenuhi hasrat dan tujuan untuk kembali ke tempat kerjanya.

Tanpa disadarinya keadaan di luar menjadi semakin gelap akibat mendung dan hujan lebat -bagai ulangan peristiwa dimana hari naas ketika Meliora kehilangan mahkota kegadisannya. Hanya bedanya kali ini lampu tetap menyala sehingga dengan penuh ketenangan Meliora dapat melanjutkan membereskan kopernya, hingga esok hari ia dapat berangkat setelah sarapan.

Selesai merapihkan semuanya maka Meliora merasa lebih tenang. Diambilnya buku novel yang dibawanya dan belum sempat dibaca habis akibat peristiwa yang dia alami, dan juga karena sakitnya beberapa hari ini. Dalam posisi setengah duduk terbaring di ranjang, ia mulai membaca. Novel karya pengarang terkenal itu dengan cepat membawanya ke alam hayalan, mengajak Meliora agar melupakan duka nestapanya untuk sejenak.

Tanpa terasa satu jam telah berlalu, ditambah dengan udara sejuk bahkan agak dingin akibat hujan lebat, maka Meliora mulai memejamkan matanya yang terasa berat. Tak lama kemudian tanpa terasa ia sudah semakin ngantuk, maka diletakkannya buku yang baru selesai dibacanya itu dan beberapa menit kemudian iapun jatuh tertidur…

Sebagaimana rumah-rumah di pedalaman, maka kamar tidur Meliora juga tidak mempunyai lubang kunci. Derasnya hujan angin serta gemuruh guntur menyamarkan bunyi pintu kamar yang terbuka perlahan-lahan disertai intipan mata jalang Beduin yang entah kapan tiba.

Jakun Beduin turun naik dan matanya melotot wanita muda ayu cantik terbaring di ranjang dalam posisi menyamping dengan wajah menghadap pintu dimana Beduin sedang mengintip. Ustadz pejantan cabul yang usianya mendekati limapuluh itu semakin blingsatan dan nafasnya semakin memburu melihat betis dan paha Meliora yang begitu putih dan mulus, tersingkap di bawah gamisnya.

Meskipun bagian atas tubuh Meliora tertutup rapat dan rapi sebagaimana seorang gadis alim shalihah, namun semuanya tak dapat menyembunyikan tonjolan bukit kembar di dada Meliora yang bergerak naik turun seirama dengan tarikan nafas halusnya yang sama sekali tidak terdengar.

Beduin merasakan alat kejantanannya langsung terbangun -apalagi disaat Meliora tanpa sadar sedikit membalikkan tubuhnya telentang sehingga pahanya jadi agak membuka, memperlihatkan sebentuk selangkangan yang tertutup oleh celana dalam kecil berwarna putih. Dari jarak itu, Beduin tidak dapat melihat dengan jelas apakah di balik celana dalam itu kemaluan Meliora bersembunyi di balik bulu lebat atau hanya sebagian tersembunyi di balik bulu halus…

Ali dan Dollah yang berada di belakang Beduin hanya memberikan sedikit dorongan di punggung Ustadz mesum itu sebagai tanda bahwa mangsa yang diincar telah sedemikian lengah terbaring dan siap untuk dinikmati.

Keduanya telah sepakat bahwa Dollah akan membantu Beduin untuk merejang Meliora agar tak sanggup berontak, sedangkan Ali baru akan menyusul ikut ‘pertempuran’ jika diperlukan tenaganya. Ali mempunyai tugas lebih penting, yaitu mengambil semua adegan penjarahan Meliora oleh pak Dollah dengan ponselnya,

Dan ini akan dijadikan bukti hingga tak dapat dipungkiri seandainya Beduin akan menyalahi janjinya dan tak bersedia menghapuskan hutang-hutang mereka sebagaimana ucapannya secara lisan.

Memang pada saat itu ibarat iblis sedang menguasai alam sekitar desa -hujan semakin deras mengguyur sehingga di dalam rumah pun suram gelap, menguntungkan manusia-manusia yang hendak berniat jahat. Juga bunyi limpahan air hujan di atap rumah menutup semua bunyi lain -termasuk bunyi engsel pintu kamar tidur Meliora yang perlahan-lahan dibuka oleh Beduin, serta langkah ketiga lelaki jahanam yang kini telah berdiri di samping ranjang dan mengawasi si bidadari yang tertidur itu.

Ali mempersiapkan ponselnya dan berdiri di sebelah kanan ranjang, sementara Dollah berada di ujung bagian kepala ranjang. Ketika keduanya telah siap dalam posisi yang strategis itu, maka Beduin segera melepaskan baju, celana panjang serta kaos yang menutupi badan atasnya sehingga ia kini hanya memakai celana dalam saja.

Bagaikan seorang suami yang terpesona dengan kemolekan tubuh istrinya, maka Beduin dengan setengah merebahkan diri mulai mendekatkan mukanya yang bopéngan bekas cacar serta berhias kumis dan jenggot lebat bagai kambing gunung ke wajah Meliora yang sedemikian cantik jelita. Lalu dengan rakusnya ia mulai menciumi bibir tipis Meliora yang setengah terbuka.

Meliora yang tengah terbuai di alam mimpi langsung terbangun begitu bibirnya direnggut dengan kasar oleh mulut dan lidah yang kini secara ganas dan kurang ajar serta beraroma tak sedap dan juga penuh air liur memuakkan berusaha menerobos masuk ke dalam rongga mulutnya.

Meliora dengan segera berusaha memberontak, namun Dollah yang berada di ujung ranjang langsung memegang dan merejang kedua pergelangan tangannya yang langsing lalu menekannya kuat-kuat ke kasur sehingga Meliora jadi tak berdaya lagi untuk menepis tangan Beduin yang mulai meraba-raba bukit kembar di dadanya, apalagi untuk mencakar muka penjarahnya, tak ada kemungkinan sama sekali.

Meski begitu, Meliora tetap melawan sekuat tenaga dan meronta-ronta. Ia tidak ingin menyerah dengan mudah. Namun tentu saja hal ini sia-sia karena tenaga Beduin yang seolah dirasuki setan terlalu kuat, apalagi dibantu oleh Dollah yang ikut merejang tangannya. Rontaan serta tendangan-tendangan kaki Meliora hanya menyebabkan gaun tidur penutup tubuhnya kini semakin tersingkap, membuat betis dan pahanya yang begitu putih dan mulus jadi terpampang jelas.

“Mphfhh… sialaaan! Jahanaaam! S-siapa kamuu! Mpffhff… auowfhh… hhmmfh…” Meliora berusaha memaki-maki lelaki yang sedang menciuminya, namun yang dilihatnya hanya mata jelalatan yang penuh nafsu.

Meliora bahkan merasakan bahwa gaunnya telah tersibak seluruhnya ke atas dan hanya dalam waktu beberapa menit kemudian tangan Beduin yang meraba-raba gundukan dadanya dari luar gaun tidurnya dengan kasar merenggut telah bh berukuran 34B-nya hingga terlepas. Kini terbukalah kedua buah dada Meliora yang sangat sekal dan padat dengan dihiasi dua puting coklat yang terlihat mencuat ke atas, nampak begitu menggemaskan bagi setiap lelaki yang melihatnya.

“Hmhh… wangi tenan nih tetek. Pasti penuh isinya, udah lama enggak ada yang nyusu. Abang punya sapi dan kambing, jadi ngerti banget gimana mesti keluarin susu perahan alam si néng. Abang isep dan gigit-gigit biar bisa keluar ya, udah pengen ngerasain susu gadis muda. Ssshh… uuuh… maniisnya!!” celoteh Ustadz Beduin yang seolah telah kerasukan sambil menghisap dan menggigit puting Meliora, membuatnya jadi menggelinjang mati-matian.

Air mata mengalir kembali dengan derasnya membasahi pipi Meliora karena peristiwa biadab beberapa hari lalu kini terulang kembali, bahkan sekarang yang menggarap tubuhnya adalah lelaki setengah baya yang sama sekali tidak dikenalnya.

Ketika melihat betapa eratnya kerjasama antara ketiga lelaki itu maka Meliora menarik kesimpulan bahwa semuanya telah diatur oleh Dollah. Ayah tirinya itu sudah merancang pelecehan ini dengan seksama. Betapa Meliora menyesali kebodohannya selama ini -segala macam sopan santun dan adat istiadat tidak ada maknanya bagi laki-laki itu. Dollah hanya mempunyai satu keinginan, yaitu menggarap tubuh montoknya habis-habisan. Dan sekarang menawarkannya kepada laki-laki lain

Sambil meremas-remas dan menggigiti puting susu Meliora, dengan sigapnya Beduin telah menindih tubuh gadis itu dan gaun tidurnya juga telah dicabik-cabik sehingga tubuh montok Meliora telah telanjang bulat di bawah tubuhnya.

Dollah yang dari tadi hanya memegangi, sedikit demi sedikit mulai tidak dapat menahan nafsunya melihat tubuh putri tirinya yang berada dalam cengkraman Ustadz Beduin yang terus menciumi dan menyedot-nyedot puting susu Meliora yang telah tegang mencuat. Maka sambil tetap memegangi kedua pergelangan tangan Meliora ke atas kepala, Dollah menunduk dan mulai menciumi pipi dan bibir Meliora yang setengah merekah.

“Huekhg!” Meliora merasa sangat jijik dan mual karena bau mulut Dollah yang tak pernah menyikat giginya, sehingga mulut itu selalu beraroma asam tak menyenangkan.

Ali yang mengambil semua adegan penjarahan itu dengan ponselnya ikut merasa si ‘adik’ di balik celana mulai terbangun, apalagi melihat geliatan tubuh Meliora yang putih mulus tanpa daya ketika Beduin mulai merosotkan badannya dan menciumi pusar Meliora yang melekuk indah di perutnya yang datar.

Kumis jenggot si Ustadz cabul menggelitik perut Meliora, membuatnya jadi kegelian dan semakin menendang-nendang dengan kaki jenjangnya yang diusahakannya agar selalu terkatup rapat. Namun apalah daya Meliora karena si Ustadz jahanam itu telah sempurna menempatkan diri di tengah kedua kaki si gadis cantik yang kini dipaksa melebar.

Mata Beduin bagaikan akan meloncat keluar ketika melihat betapa indahnya pemandangan yang terpampang di hadapannya. Diantara kedua paha putih mulus Meliora terlihat selangkangannya yang membukit dengan belahan amat licin tanpa bulu. Tepat di bagian tengahnya tampak celah kenikmatan Meliora yang menekuk ke dalam, menyembunyikan rongganya yang sangat mungil dan sempit milik seorang gadis alim.

Ustadz Beduin merasakan kemaluannya memberontak mengangguk-angguk karena tak sabar lagi ingin membelah lipatan hangat itu dan menerobos masuk untuk menyemburkan benihnya ke rahim yang masih jarang ditaburi oleh air mazi lelaki, terkecuali dalam peristiwa perkosaan beberapa hari lalu oleh ayah tirinya.

Meliora menyadari kedudukannya yang sangat lemah dan tak akan bisa lolos dari bencana pelecehan kedua kalinya, dan harapannya kini hanyalah agar semuanya cepat berlalu dan ia akan meninggalkan desa kelahirannya untuk selama-lamanya.

Karena itu dibiarkannya mulutnya dilumat habis-habisan oleh ayah tirinya, diusahakannya sedapat mungkin menahan nafas melalui hidung dan hanya menarik udara dari mulut saja. Dengan demikian tak begitu banyak aroma amat memuakkan dari mulut Dollah yang harus diciumnya. Selain itu ditutupnya matanya rapat-rapat karena Meliora tidak ingin melihat wajah para pemerkosanya, terutama Ustadz Beduin yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya.

Namun Ustadz cabul itu bukan anak kemarin sore yang dapat begitu saja dipuaskan nafsunya. Meliora harus merasakan bahwa yang kali ini akan menggagahinya bukan lelaki sembarangan, melainkan seorang pemimpin di kampung yang cukup disegani karena mempunyai ‘senjata; yang jarang dimiliki oleh lelaki lain. Selain itu, dia mempunyai kondisi tubuh dan stamina yang sangat tangguh, melebihi kesanggupan lelaki desa yang jauh lebih muda darinya.

Menikmati tubuh wanita yang digagahinya namun memejamkan mata tak mau melihat wajah sang pemerkosa bukanlah sesuatu yang dapat memuaskan Ustadz Beduin. Tak ada kepuasan lebih tinggi jika ia dapat mengawasi dan menatap wajah wanita yang semula menolak mentah-mentah namun akhirnya dapat dikalahkan. Terutama wajah ayu cantik berlinang air mata yang memohon belas kasihan dan mendengarkan ratapan minta ampun karena tak tahan dan tak sanggup lagi melayani kegagahan dan kejantanannya.

Hal ini juga harus dialami oleh Meliora yang kini telah berada di dalam genggaman dan cengkramannya –gadis itu harus ditaklukkannya hingga bersedia melayani semua keinginan nafsu birahinya dengan senang hati, betapapun menjijikkan dan merendahkan diri bagi yang sedang diperkosa.

Untuk mencapai tujuan itu maka tubuh sintal Meliora harus dipermainkan serta dirangsang sehingga mendekati titik didih birahi kewanitannya, sampai gadis itu jadi tidak sanggup lagi menahan diri serta rasa malunya untuk minta dipuaskan perlahan sirna, barulah saat itu Beduin akan menikmati kehangatan firdausi yang telah diidam-idamkannya sejak lama.

Beduin memberikan tanda kepada Ali agar memegangi pergelangan kaki kiri Meliora dan menariknya selebar serta sejauh mungkin ke samping, sementara ia sendiri memegang pergelangan kaki kanan Meliora dan mulailah jari-jari Meliora yang kecil mungil itu dimasukkan ke dalam mulutnya, lalu dihisap-hisap dan dijilatinya, terutama di celah-celah diantara jari kaki yang begitu peka.

Tentu saja Meliora langsung menggelinjang dan menggeliat-geliat tak karuan karena menghadapi serangan yang sama sekali tak diduganya ini. Belum pernah ada yang melakukan hal seperti ini kepadanya. Kumis dan jenggot pendek Beduin bagaikan sikat mengesek-gesek telapak kakinya, menggelitik celah jarinya yang secara bergantian dihisap-hisap pula.

“Lepaas! Lepaskan aku! Mau diapaain?! Gelii…!! Aiih… aah… oooh… hhhh… enggak mau! Lepaskan! U-udah! Gelii… sialan semuaanya! Kalian bangsat! Lepaas! Ohmmph…” Meliora meliuk-liukkan tubuhnya yang telanjang, yang tanpa sadar malah semakin memacu nafsu birahi si Ustadz cabul.

Kini jari-jari tangan ustadz Beduin yang berkuku panjang mulai mengusap-usap lembah kemaluan Meliora. Dibelahnya celah yang tertutup bibir kemaluan itu, dicarinya sebutir daging yang tersembunyi disitu, lalu dicubit dan dipilin-pilinnya pelan.

Bagai terkena aliran listrik, tubuh Meliora langsung menggelepar dan mengejang sambil menendang-nendang tak berdaya karena kedua pergelangan kakinya dicekal erat. Beduin melakukan aksinya berganti-ganti; kaki kanan, kaki kiri, kembali ke kaki kanan, sementara tangan satunya tetap merangsang celah kewanitaan Meliora yang semakin lama menjadi semakin lembab.

Semuanya tak sanggup lagi ditahan oleh tubuh Meliora sebagaimana wanita muda yang membutuhkan belaian dan kemesraan lawan jenisnya, tak perduli apakah rangsangan itu berdasarkan kasih sayang atau dipaksakan.

“Udah! Aah… auw! Aihh… ohh… emhh… sshh… aughh!!” jeritan Meliora melengking memenuhi seluruh ruangan ketika badannya melengkung ke atas menandakan tercapainya orgasme pertama, sementara dihadapan matanya meledak jutaan bintang bagaikan kunang-kunang di malam gelap gulita.

Beduin kembali memberikan aba-aba kepada Ali agar melepaskan cengkeramannya di pergelangan kaki Meliora, lalu digeser dan didorongnya sebuah bantal di bawah pinggul Meliora, kemudian diletakkannya kedua lutut Meliora di atas pundaknya. Dengan demikian terbukalah selangkangan Meliora secara optimal.

Celah serambi lempitnya yang terlihat licin mengkilat dibasahi oleh cairan lendir kewanitaan akibat orgasmenya, kini terkuaklah melebar dihadapan rudal Beduin yang bagaikan pentungan bertopi baja. Satu dua tetes air mazi telah mulai keluar dari saluran kencing Meliora pada saat Beduin meletakkan kepala rudal kebanggaannya itu di gerbang kenikmatan si gadis kota.

Tapi Beduin tidak buru-buru untuk melakukannya. Ia ingin menyaksikan bagaimana wajah keputus-asaan Meliora saat gairah birahinya terus menerus dipacu. Secara sangat sadis Beduin kembali mengusap-usap dan memilin-milin klitoris Meliora dengan jari tengah dan ibu jarinya secara ritmis namun tanpa henti.

Akibatnya, Meliora yang masih lemas sehabis mencapai puncak orgasmenya dan agak lega memperoleh kesempatan sebentar untuk melepaskan lelah di tebing gunung, mendadak dipaksakan untuk mendaki kembali naik ke gunung guna mencapai puncak orgasme berikutnya.

“Hehehe… gimana, Neng, enak tenan ya? Hmm… ini biji pentil ngumpet melulu, bapak pijit-pijit ya biar gedean dikit dan gampang digaruk-garuk… hehehe, lha tuh nongol lagi. Kelihatan mulai merah, bikin bapak jadi nafsu aja. Ntar dicup-cup dan digigit-gigit mau ya, Neng… tapi sekarang bapak mau kasih bibit unggul dulu ke Eneng, hehehe…” Beduin cengengesan dan tersenyum lebar penuh kemesuman ketika melihat mangsanya tak berdaya.

Meliora hanya dapat menatap Beduin dengan mata yang sayu dan kuyu, tenaganya hampir habis terkuras, namun sang pemerkosa baru akan memulai dengan penjarahannya.

Tanpa rasa jijik sedikitpun, Beduin mulai menjilati tebing bukit kemaluan Meliora. Lidahnya bagaikan ular, menyelinap memasuki celah kenikmatan yang telah mulai licin oleh ludah dan lendir kewanitaan itu. Sambil menjilat bagian dalam serambi lempit Meliora, ibu jari dan telunjuk tangan kiri Beduin tak henti-hentinya mengusap dan memilin-milin kelentit kesayangannya. Kemudian tanpa peringatan apapun, Beduin menusuk masuk lubang dubur Meliora dengan jari tengah kanannya!!

“Aaah… a-aduh! Jangan! Toloong! Enggak mau! Aihh… a-ampun! Haraam, Pak! Jangaan! Kasihani saya, Pak! Ngiluu… auw!!” Meliora melolong menjerit-jerit bagaikan hewan akan disembelih. Tubuhnya kembali menggeliat-geliat dan meronta, berusaha menggeser ke kiri dan ke kanan menghindari perbuatan maksiat yang sedang dilakukan oleh Ustadz cabul itu.

“Geli ngilu ya, Neng?! Ntar juga biasa… percuma ngelawan, Neng, mendingan nyerah dan nikmati aja. Sekarang masih belon biasa, tapi ditanggung sebentar ketagihan minta nambah! Hmmh… makin dijilat semakin wangi nih serambi lempit! Wuih, juga makin gede dan merah aja nih itil. Udah nggak malu lagi rupanya, hehehe…” Semakin semangat dan bernafsu Beduin merangsang semua tempat peka di selangkangan Meliora.

Ustadz cabul itu memutuskan untuk sekali lagi memaksa Meliora mengalami orgasme dengan cara rangsangan oral -oleh karena itu kembali dijilat-jilat dan digigit-gigitnya bibir dan dinding kemaluan Meliora, lalu digesek-gesekkannya kumis pendeknya yang bagaikan sikat ijuk itu menusuk kelentit Meliora.

Tak tahu harus melakukan perlawanan apa lagi, Meliora hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan serta memukul-mukulkan tumit kakinya ke punggung Beduin. Namun semuanya tak ada guna sama sekali, kelentitnya yang sedemikian peka terus disiksa habis-habisan.

Ibarat disentuh dengan kawat beraliran listrik, maka klitoris Meliora menyalurkan rangsangan tiada hentinya ke seluruh tubuh indah gadis itu yang semakin meliuk dan menggelepar-gelepar. Arus rangsangan itu juga memasuki seluruh permukaan syaraf di kepala dan otak Meliora. Dan terus menerus menyerang tak kenal lelah hingga…

“Aaahh… auw!! Pak, a-ampuun! Ayuk mesti ke belakang, mesti ke belakaang! Aoohh… lepaskan! Ayuk mesti ke belakang! Aiihh…” Meliora melolong disertai ketegangan, badannya kaku melenting ke atas memberikan tanda tercapainya lagi orgasme untuk yang ke sekian kalinya.

“Hehehe, si neng enggak usah kebelakang… ini namanya pipis air mazi, Neng. Iya, pinter gitu… pipis terus enggak apa-apa, malahan jadi makin licin nih terowongan. Bapak mau masuk, jangan ngelawan atau berontak segala.

Ikutin aja semua kemauan bapak, ntar pasti ketagihan… Mau dibikinin anak enggak, Neng?! Nah, bapak mulai permisi masuk ya,” sambil berceloteh Beduin menekan kepala rudalnya yang besar dengan batang kemaluan hitam penuh urat melingkar-lingkar dan agak bengkok itu ke tengah celah kewanitaan Meliora. Perlahan-lahan ia mendorong hingga mulai masuk sedikit, lalu ditekannya lagi dengan lebih kuat.

“Tahan dikit ya, Neng… pasti ngilu dijebol barang pusaka bapak! Nih bapak tekan dan puter-puter dikit ya kaya buka peles botol… kalo sakit bilang ya, Neng, bapak sayang si neng geulis! Ooh… sempitnya!!” ujar Ustadz Beduin mulai menodai Meliora yang telah tak berdaya di bawah kekuasaannya itu.

Meliora merasakan perutnya menegang dan mengejang karena secara tak sadar hati nuraninya tetap menolak. Otot-otot serambi lempitnya mengerut berkontraksi seolah berusaha menahan serangan batang besar dan panjang di liang kemaluannya.

Dia mengeluh dan mendesis tak karuan ketika merasakan desakan kepala rudal Beduin yang menyelinap ke liang kenikmatannya. Ketika akhirnya kepala rudal itu berhasil bertahta di tengah jepitan serambi lempitnya, maka pandangan Meliora jadi semakin nanar. Butir-butir keringat semakin nyata mengalir di atas dahinya.

Tanpa rasa belas kasihan lagi kini Beduin menyekal keras kedua pergelangan kaki Meliora yang langsing dan mengangkangkan paha belalang idaman setiap pria itu selebar mungkin sehingga Meliora jadi menjerit-jerit kesakitan.

Dan jeritan itu semakin memilukan, semakin menimbulkan rasa iba ketika rudal Beduin membelah lipatan kewanitaan Meliora mili demi mili meski si empunya tetap tak rela menerima perkosaan yang tak mungkin dielakkan lagi itu.

“Ya Allah… tolong! Sialan semuanya! Bangs…mmpffh!!” teriakan Meliora terhenti dan terbungkam karena mulutnya disergap dengan penuh kerakusan oleh Beduin.

Perkosaan yang dialami Meliora oleh ayah tirinya beberapa hari lalu cukup menyakitkan serambi lempitnya, namun apa yang kini dialaminya melebihi beberapa kali penderitaannya. Liang kewanitaannya jadi terasa sangat panas, perih, ngilu dan seolah-olah dibelah oleh kayu kasti yang ketika masih remaja sering dimainkannya di sekolah menengah.

rudal Beduin bukan hanya lebih panjang dan lebar daripada rudal ayah tirinya, namun juga agak membengkok ke atas sehingga proses pemasukannya menjadi jauh lebih sulit. Untuk itu Beduin secara sangat perlahan melakukan tarik-dorong dengan disertai mengubah-ngubah arah tusukannya karena ia memang sudah berpengalaman dalam menjarah pelbagai perempuan.

Dengan cara tarik-dorong ini maka dinding-dinding kewanitaan Meliora yang memang masih sangat sempit untuk ukuran rudal Beduin, jadi seolah-olah ikut ditarik keluar-masuk. Namun meski telah basah oleh lendir air mazinya, Meliora tetap saja merasakan perih dan ngilu yang teramat sangat hingga menyebabkannya terus melenguh dan merintih keras, disertai mengalirnya air mata di pipi gadis cantik itu.

“Tenang, Neng… shhh… jangan ngelawan! Pasrah aja! Emang sekarang sakit, tapi itu biasa, Neng… jangan sedih-sedih dong, kan lagi dikasih kenikmatan! Semua perempuan emang nangis kalo ngelayani abang, tapi sebentar lagi pengen minta tambah,” Beduin memberikan tanda kepada kedua lelaki lainnya untuk melepaskan bantuan mereka, dan kini Beduin sendiri yang merejang kedua pergelangan tangan Meliora di atas kepalanya.

Tarik dorong, maju mundur, serong ke kiri, putar ke kanan, sekali-kali perlahan, lalu berubah menjadi cepat, ganti lagi ritme bagaikan penari dangdut yang sedang goyang pinggul. Semuanya dipraktekkan oleh Ustadz cabul ini. Gerakan-gerakan itu sangat memberikan kenikmatan baginya, namun bagi Meliora adalah siksaan sakit tanpa henti.

Beduin menatap dengan penuh kepuasan perawat cantik yang tengah dikuasainya itu. Dilihatnya wajah demikian ayu manis di bawah tindihannya yang terlihat lelah kehabisan tenaga. Mata yang biasanya amat jeli bersinar kini telah kuyu hampir tertutup dan basah pelupuknya.

Hidung mancung bangir dengan dua lubang sangat mungil kembang-kempis mengiring isak tangis yang tersedu-sedu. Mulut yang dihiasi dua bibir merah basah setengah terbuka membuat Beduin tak henti-henti melumatnya.

Meliora hanya sanggup mendesah, mengeluh, merintih dan menjerit tanpa sadar pada saat Beduin memasukkan rudalnya dengan kasar dan sadis hingga menghantam mulut rahimnya. Sesaat kemudian diubah lagi gerakan-gerakan itu seolah sedang menggoda dan memancing reaksi Meliora untuk mengeluarkan naluri birahi kewanitaannya.

Bersambung… Betapapun Meliora berusaha melawan semuanya, namun tetap tak mampu menandingi kehebatan siasat Beduin. Perlahan-lahan rasa ngilu dan sakit tak terkira mulai bercampur dengan gejolak dan gelora lain. Seperti seolah-olah ada semut dan ulat bulu yang sedang merayapi dinding-dinding celah kewanitaannya, perih dan ngilu bercampur baur dengan rasa gatal.

“Hehehe… gimana, Neng, mulai nyaman kan? Bener kan yang abang bilang… semuanya jadi enak dan anget sekarang. Neng jadinya kegatelan dan geregetan enggak pengen ngelepasin nih lembing pusaka… iyah, gitu, pinter banget remesan serambi lempit, Neng! Duh, emak! Ngurut mijit-mijit, ini bener-bener faradj houri firdaus!!”

Beduin merem melek merasakan kedut-kedut serta denyutan ringan dinding serambi lempit korban perkosaannya dan komentarnya itu diiringi dengan cemoohan dan gelak tawa Dollah serta Ali, menyebabkan Meliora jadi semakin merah pipinya.

Tak cukup dengan mengalami dua kali perkosaan yang menyakitkan hati, Meliora sebagai perempuan alim kini harus mengalahkan sudut gelap tersembunyi dari tubuhnya yang tak ingin diakuinya ternyata mendambakan elusan laki-laki.

Sebagai wanita dewasa normal, Meliora tentu saja sekali-kali memimpikan kemesraan badani suami istri dengan lawan jenis, namun tak pernah dibayangkannya bahwa tubuhnya yang penuh hormon kewanitaan ini ternyata ’membalas’ keganasan seorang lelaki tua, seorang yang lebih pantas menjadi ayahnya, namun mempunyai potensi kejantanan hebat.

Mengetahui bahwa korbannya telah berhasil ditaklukkan, maka Beduin kini bersiap menuaikan benih laki-lakinya ke dalam rahim Meliora. Dimulailah genjotannya yang bertubi-tubi bagaikan gempuran mesin bor listrik.

Sukarlah dihitung berapa banyak gempuran batang kelamin Beduin menghantam rahim Meliora setiap menitnya, hanya dengusan nafas sang Ustadz cabul yang bagai kuda pacuan disertai rintihan Meliora yang semakin lama menjadi semakin meninggi nadanya memberikan tanda bahwa keduanya sedang berlomba-lomba menuju puncak kepuasan.

“Ssshh… aaahh… aaiihh… ooohh… eegnhh…” keluhan dan rintihan Meliora bersilih ganti dengan, “Ayo, Neng… ngaku nggak sekarang kalo jadi budak abang?! Ayo ngaku cepetan! Mau diterusan jadi budak abang, apa minta dipuasin siang malem? Ngaku aja… aaah… oooh… mau kan dibikinin anak sama abang? Ayo ngaku, nggak usah malu. Semua perempuan sama aja, ayo ngaku!!” Beduin bagaikan kemasukan setan terus menggenjot tubuh sintal Meliora seperti seolah-olah ingin menusuk ulu hatinya, bukan rahimnya.

“Enghh… u-udah! Udah dong… aihh… emmh… oooh… nikm-aaah! Sshh… a-ampun, Bang! Nggak kuat lagi, iiih… nikmatnya! Aahh…” jerit Meliora bagai disembelih saat mencapai orgasmenya lagi disertai kucuran peluh membasahi tubuhnya yang telanjang.

Disaat bersamaan, Beduin menyemburkan spermanya membanjiri rongga dalam serambi lempit mangsanya, sambil mulutnya berganti-ganti melumat bibir tipis Meliora, lalu turun ke leher kiri dan kanan, kemudian ke ketiak, dan terus menuju ke puting buah dada si perawat yang mencuat menggemaskan. Beduin mengigit-gigitnya lembut hingga membuat Meliora jadi kembali mendesah-desah.

Tubuh gadis itu terlihat lemas dan tergolek bagaikan tak sadarkan diri, sementara Beduin perlahan-lahan menarik keluar rudalnya dari serambi lempit Meliora, yang anehnya… rudal itu tetap gagah mengacung bagaikan sedia kala ketika belum mengalami orgasme dan ejakulasi sama sekali! Inilah kehebatan dari stamina Beduin yang ditakuti hampir semua wanita-wanita di desa.

Beduin tertawa penuh kebanggaan dan kini merebahkan dirinya dengan batang kejantanan masih mengacung ke atas. Diberikannya tanda kepada Dollah dan Ali agar mengangkat tubuh montok Meliora yang telah lemas lunglai bagaikan hampir pingsan itu, rupanya ia ingin melanjutkan persetubuhan dalam posisi woman on top.

Jadilah Ali dan Dollah harus mengangkat dan menurunkan perlahan-lahan tubuh Meliora yang ditelungkupkan. Keduanya mengerti dan menuruti maksud si Ustadz cabul meski tak mudah untuk memenuhinya. Dengan serambi lempit diarahkan ke batang kemaluan Beduin yang gagah perkasa bagai tonggak bambu, mereka mempersilahkan Beduin yang masih penuh dengan nafsu birahi untuk melanjutkan menggagahi Meliora.

Sekali, dua kali, tiga, empat kali meleset, barulah pada kesempatan kelima, Dollah dan Ali berhasil menempatkan gerbang kewanitaan Meliora di kepala rudal Beduin yang berbentuk topi baja serdadu itu. Pelan-pelan… pelan-pelan… turun… dan…

“Aduh! Yaa gusti… auw! J-jangan lagi, oohh… saya nyerah, Bang! Ampun… aiihh… shh… udah! Hentikan! A-ampun, Bang!” Meliora kembali menjerit-jerit ketika merasakan serambi lempitnya ditusuk dari bawah. Tubuhnya menggeliat meronta-ronta, tapi langsung dipeluk sekuat tenaga oleh Baduin dan laki-laki itu mencaplok bergantian buah dada Meliora yang menggantung indah dan dihisap-hisapnya rakus secara bergantian.

Sementara Meliora merasakan perih yang amat sangat, setiap genjotan rudal Ustadz Beduin pada liang serambi lempitnya membuatnya tersentak dan mengeluarkan desahan penuh kepiluan..

Hebatnya meskipun sudah sangat tua, tapi kemampuan Ustadz Beduin dalam melakukan persetubuhan ternyata sangat hebat. Mungkin sebelumnya dia sudah meminum ramuan khusus sehingga membuatnya jadi bisa bertahan lama. Hampir lima belas menit Ustadz Beduin menggenjot tubuh sintal Meliora, tapi belum ada tanda-tanda kalau dia akan segera selesai.

Malah Meliora yang tadinya lemas perlahan mulai terangsang, ia mulai melenguh dan mendesah-desah merasakan sensasi tusukan Ustadz Beduin yang bertubi-tubi. Genjotan laki-laki tua itu perlahan menaikkannya kembali, dan membuatnya siap meledak setiap saat. Benar juga, beberapa menit kemudian, tubuhnya kembali mengejang dengan tangan menggenggam jari-jari Ustadz Beduin dan menekannya dengan sangat kuat.

“Ohh… ahh…!!” Meliora mengerang keras, wajahnya merah padam karena terbalut nafsu birahi. Tubuh montoknya mengejang dan bergetar sangat kuat seolah akan melemparkan Ustadz Beduin yang masih asyik menggoyangnya. Sekali lagi dia mengalami orgasme.

Ustadz Beduin berusaha menahan agar tidak buru-buru ejakulasi, dia menghentikan gerakannya dan membiarkan Meliora bergerak liar. Seluruh tubuh Ustadz Beduin juga menegang, bedanya: Ustadz Beduin sedang berusaha menahan ejakulasi agar spermanya tidak buru-buru muntah keluar.

Ustadz Beduin pelan-pelan merasakan tubuh Meliora kembali melemas, segera dia mendekap tubuh mulus itu dan kembali melanjutkan genjotannya. Kali ini gerakannya menjadi lebih cepat dari sebelumnya, bahkan cenderung kasar. Ini karena serambi lempit Meliora yang berubah menjadi sangat basah setelah tersiram cairan orgasmenya.

Meliora merasakan tubuhnya sampai terbanting-banting menahan hentakan demi hentakan pada bagian bawah tubuhnya. Erangan-erangannya perlahan kembali mengeras, dengan badan dan kepala ikut bergoyang-goyang tidak beraturan menahan nikmat di dalam liang serambi lempitnya.

Beberapa kali bibir Meliora yang tipis dikulum dengan lembut oleh Ustadz Beduin, seolah dilekatkan oleh lem yang sangat kuat. Mata Meliora sudah sangat sayu dan merem melek menerima kenikmatan yang rasanya tiada berakhir tersebut.

Badannya bergoyang erotis mengikuti setiap genjotan rudal Ustadz Beduin. Terlihat sekali Meliora sedang menikmati permainan tersebut meski sudah sekuat tenaga berusaha untuk melawan. Ia sudah sepenuhnya dikuasai oleh nafsu birahi yang kian lama menjadi kian memuncak.

Meliora menggelinjang liar dan erotis, tubuhnya dibiarkan mengikuti apa mau laki-laki tua yang sedang menyetubuhinya itu. Desahan dan erangannya makin liar dan meracau. Namun sekali ini Ustadz Beduin yang sudah sangat berpengalaman tidak membiarkan Meliora untuk mencapai orgasmenya.

“Ampun! Eghh…” erang Meliora keras mengharap klimaks. Namun harapan tinggallah harapan, karena Ustadz Beduin masih ingin mempermainkannya dalam waktu lama. Tubuh Meliora sampai mengejang-ngejang setiap kali gagal menggapai orgasmenya.

Baru setelah lebih dari satu jam, Ustadz Beduin melepaskan gadis cantik itu. Seketika orgasme Meliora meledak dengan begitu dahsyatnya, membuat tubuh Meliora sampai melengkung dan terangkat-angkat. Kakinya menyepak-nyepak ke segala arah dengan erangan begitu keras meluncur dari bibirnya yang tipis memerah.

“Aahh… oohh…!!” Meliora menumpahkan segenap tenaganya saat orgasmenya meledak, seolah menghancurkan tubuhnya dari dalam. serambi lempitnya sedemikian kuat mencengkeram rudal Ustadz Beduin, membuatnya jadi seperti dibetot oleh tangan yang tidak terlihat.

Ustadz Beduin akhirnya tidak tahan lagi. Dengan satu dorongan keras, dilesakkannya rudalnya dalam-dalam ke liang serambi lempit Meliora. “Ahhgh…” laki-laki itu mengejang tertahan ketika spermanya menyembur membanjiri lorong rahim Meliora.

Setelah itu keduanya sama-sama lemas dan saling berbaring bertumpuk. Meliora membiarkan saja Ustadz Beduin memeluknya. Laki-laki itu untuk terakhir kalinya meresapi kehangatan tubuh montok Meliora dengan mengelusnya lembut sambil sesekali menciumi bibir tipis Meliora yang masih mendesah-desah pelan.

Setelah Ustadz Beduin selesai melepaskan hasrat seksualnya, sekarang giliran Dollah yang akan menyetubuhi Meliora. Laki-laki yang telah telanjang bulat itu lalu menarik pinggang Meliora dan membalikkan tubuhnya sehingga posisi anak tirinya itu jadi sedikit menungging. Kemudian tanpa menunggu lama, Dollah mulai melesakkan rudalnya ke dalam serambi lempit Meliora yang masih belepotan sperma ustadz Beduin dan menggenjotnya dengan sangat kuat.

Dollah sudah terangsang menyaksikan adegan persetubuhan Meliora dengan Ustadz Beduin. Ia merasa tidak perlu lagi melakukan pemanasan, bahkan gerakan rudalnya pada serambi lempit Meliora semakin lama menjadi semakin kasar sehingga membuat Meliora jadi menjerit-jerit dan melolong-lolong histeris. Batang kemaluan Dollah yang berukuran besar bagaikan mengaduk-aduk liang serambi lempitnya yang masih belum sepenuhnya siap.

Tidak puas dengan gaya anjing, Dollah membimbing Meliora untuk melakukan gaya lain. Kini dia duduk di atas ranjang, sementara Meliora di atas pangkuannya dengan paha mengangkang dan saling berhadapan. Dalam posisi seperti itu, buah dada Meliora jadi tampak sangat menggairahkan. Apalagi dengan tubuhnya yang ramping, tampak buah dada Meliora menggantung indah, padat dan sekal berisi.

Sambil menyetubuhi Meliora, Dollah segera meraih dan meremas-remasnya dengan sangat bernafsu. Kadang ia mendempetkan kedua buah dada Meliora lekat-lekat sehingga kedua putingnya jadi menempel satu sama lain, terlihat begitu indah dan sangat merangsang sekali. Sementara Meliora hanya dapat merintih-rintih dalam keadaan antara sadar dan tidak.

Terus memompa, Dollah tertawa-tawa dengan disaksikan oleh Ali yang sudah tidak sabar menanti giliran. Sesekali Dollah juga mengulum bibir tipis Meliora dengan gemas seolah ingin menggigitnya. Meliora benar-benar tidak berdaya, dia hanya mengikuti naluri seksualnya tanpa mempedulikan apapun lagi.

Itulah kenapa ketika ayah tirinya berhenti memompa, secara refleks Meliora melenguh dan mulai menggerak-gerakkan pantatnya sendiri agar tetap dikocok oleh kemaluan Dollah yang terasa sangat sesak di liang serambi lempitnya.

“Ehh… kamu seneng menyetubuhi juga rupanya,” Dollah tertawa mengejek di tengah lenguhannya. Dia memeluk tubuh gadis itu dan mengelus-ngelus punggungnya, sementara buah dada Meliora yang kenyal terjepit di antara tubuh mereka.

Mendengar perkataan itu, wajah Meliora kontan memerah karena malu dan marah, lalu tubuhnya diam tak bereaksi. Tapi Dollah tidak tinggal diam, dia kembali merangsang Meliora agar tetap berada dalam kendalinya. Ia mencengkeram kuat-kuat kedua buah dada gadis itu, lalu dengan gemas diremas-remasnya keras hingga membuat Meliora jadi merintih-rintih antara sakit dan nikmat

Dollah juga semakin ganas memperkosa Meliora, hingga selang beberapa saat tampak tubuh Meliora berkelojotan dan menegang, kedua kakinya mengacung lurus dengan otot paha dan betisnya mengejang. Jari-jarinya menutup dan nafas Meliora terdengar sangat tak teratur diantara rintihannya yang keras dan panjang.

“Ooohh… ” Setelah menggelinjang sesaat, tubuh gadis itupun tumbang lemas di pelukan Dollah yang masih terus memompa sambil tertawa-tawa gembira.

“Gimana rasanya, Neng? Enak nggak? Jangan diem aja, ngomong dong!” kata Dollah sambil terus menyodok-nyodokkan rudalnya di serambi lempit sempit Meliora.

Meliora hanya terdiam sambil membiarkan kedua putingnya dijilat dan digigit-gigit kecil oleh sang ayah tiri. Sampai setengah jam kemudian, Dollah masih menyetubuhinya. Baru setelah Meliora orgasme untuk yang kelima kalinya, laki-laki itu melenguh dan menyemburkan spermanya ke dalam rahim si gadis kota.

Giliran ketiga adalah Ali. Saudara tiri Meliora itu sudah sedari tadi bertelanjang bulat sambil mengocok-ngocok rudalnya sendiri. Begitu tiba gilirannya, segera ia menarik tubuh mulus Meliora yang masih terbaring lemah dan memaksanya untuk menegakkan badan. Kemudian dia menyodorkan rudalnya ke wajah cantik Meliora.

“Ayo, isep punyaku!” katanya sambil menyorongkan rudal.

Namun Meliora hanya diam saja, tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih dari orgasme. Dia hanya menurut saja ketika Ali membimbingnya untuk melingkarkan jari-jari tangannya yang lentik ke rudal pemuda hitam itu. Kemudian dengan gerakan lembut, Meliora mulai mengocoknya naik turun. Semula gerakannya pelan, tapi lama lama menjadi semakin cepat.

Ali yang merasakan sensasi nikmat langsung melenguh lirih, “Ohh… emhh… terus! Kocokan kamu memang mantap… ahh!” Dia mulai mengerang-erang menikmati permainan jari lentik Meliora pada batang rudalnya.

“Kocokan gadis kota memang beda…” kata Ustadz Beduin sambil membelai-belai rambut panjang Meliora, tampaknya ia sudah mulai pulih dari masa klimaksnya. “Begitu juga dengan tubuhnya!”

Perlahan tangan Ustadz Beduin menyusur turun menyentuh payudara Meliora dan mulai meremasinya dengan penuh nafsu. Sentuhan dan remasan tangan laki-laki itu pada payudaranya membuat Meliora jadi kembali terangsang, dia semakin bersemangat mengocok-ngocok rudal besar dan hitam milik Ali.

“Sekarang masukin ke mulut.” perintah Ali.

Meliora yang sudah mulai terbangkitkan kembali gairahnya jadi tidak malu-malu lagi. Diapun langsung memasukkan rudal Ali ke dalam mulutnya. Ali mendesah merasakan kehangatan mulut Meliora, sentuhan lidahnya memberi sensasi nikmat padanya.

“Eeghh… aah… aah!” terdengar desahan Ali saat rudalnya dikenyot-kenyot oleh Meliora. Sesekali Meliora mengeluarkan rudal itu untuk dikocoknya pelan, ia menarik nafas, setelah itu dikulumnya lagi. rudal Ali jadi semakin mengeras dan berkedut-kedut di dalam mulutnya.

Melihat itu, Ustadz Beduin yang rupanya sudah tak tahan dengan sigap berlutut di belakang punggung Meliora. “Sini aku bantuin,” ujarnya sambil menarik tubuh Meliora dan membaringkannya telentang di ranjang. Dia membuka kaki gadis itu lebar-lebar dan kemudian langsung menindihnya sambil mengarahkan rudalnya yang kembali membesar ke serambi lempit sempit Meliora.

“Aghh…” erang Meliora ketika rudal besar Ustadz Beduin mulai memasuki liang serambi lempitnya.

Ustadz Beduin dengan kasar langsung memasukkan rudalnya sampai mentok dan mulai memompanya dengan cepat dan kasar. Meliora hanya bisa mengerang-erang dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka karena batang rudal Ali masih menancap erat disana.

“Aah… ooh… ahh…” ia mendesah-desah dan menggelinjang-gelinjang sambil tangannya meremas-remas kain seprei, sementara Ustadz Beduin semakin cepat memompa liang serambi lempitnya.

Ali yang menonton dari jarak dekat jadi melotot dan terangsang hebat begitu melihat bagaimana seorang pria separoh baya dengan perut buncit sedang menyetubuhi seorang wanita muda yang sangat cantik. Apalagi saat melihat Ustadz Beduin yang mengajak Meliora untuk bertukar posisi. Sekarang tubuh putih Meliora berada di atas dengan posisi agak melengkung karena perut gadis itu tertekan oleh perut gendut Ustadz Beduin.

Dengan posisi seperti itu, Ustadz Beduin memegangi pinggang Meliora dengan kedua tangannya, lalu memaksa gadis itu untuk bergerak sehingga rudalnya yang masih terbenam di dalam serambi lempit Meliora kembali terkocok nikmat.

“Hehehe… Neng memang gadis pintar.” Ustadz Beduin tertawa sambil memeluk tubuh montok Meliora, tangannya mengelus-ngelus punggung putih mulus milik gadis itu.

Meliora yang tidak mempedulikan ejekan Ustadz Beduin, terus menggerakkan pantatnya naik-turun. Saat itulah mendadak Ali maju mendekat. Dia yang dari tadi dikulum, rupanya belum merasa puas. Sekarang pemuda itu memegangi pantat Meliora sambil sesekali meremas-remasnya gemas.

“Pak Ustadz nggak keberatan kan kalau saya ikutan?” tanya Ali sambil sibuk meremasi pantat sekal Meliora.

“Ohh… tentu saja tidak,” kata Ustadz Beduin di tengah usahanya menggagahi Meliora.

Meliora terkejut ketika dengan kasar Ali membuka celah pantatnya. Sesaat kesadarannya pulih. “Jangan! Ampuun… jangan di situ!” Ia menggeliat, mencoba untuk memberontak. Tapi Ustadz Beduin segera mendekapnya dengan erat, membuatnya jadi tidak bisa bergerak lagi.

“Saya mau nyobain lubang pantat gadis kota,” kata Ali sambil terkekeh-kekeh.

“Jangan! Kumohon!” tangis Meliora mulai pecah lagi, dia tersedu-sedu merasakan geliat tangan Ali pada lubang pantatnya.

Ustadz Beduin tidak membiarkan Meliora berontak, ia mendekap dengan semakin erat hingga membuat Meliora jadi terhimpit oleh dua pria sekaligus. Dia terus menusuk lorong kawanitaan Meliora dari bawah, sementara Ali merentangkan kedua paha gadis itu sampai terbuka selebar-lebarnya.

“Jangan! Jangan!” tangis Meliora semakin keras.

Tapi seakan tidak mendengarnya, Ali terus saja menguak bongkahan pantat Meliora hingga mengakibatkan lubang anusnya menjadi terlihat jelas.

“AAAHHH…!!” Tiba-tiba terdengar jeritan Meliora. Rupanya Ali sudah mulai memasukkan rudalnya yang besar ke dalam lubang pantat gadis cantik itu.

“Jangan! Ampuun… s-sakiit!” teriak Meliora ketika perlahan tapi pasti rudal Ali semakin terbenam dalam.

“Uhh… masih seret dan sempit nih,” kata Ali ketika seluruh rudalnya sudah masuk ke dalam lubang pantat Meliora. Untuk sesaat tidak ada pergerakan baik dari dia, Meliora maupun Ustadz Beduin. Mereka seakan-akan sedang di-freeze dalam posisi seperti itu. Ali ingin memberikan waktu kepada Meliora agar terbiasa dengan keadaan dimana terdapat rudal besar di dalam lubang pantat dan juga di liang serambi lempitnya.

“Aghh…” jerit Meliora ketika Ali mulai menarik rudalnya secara perlahan dari lubang pantatnya. “AGHHHH…” jeritnya lagi dengan keras ketika secara tiba-tiba Ali memasukkan kembali rudal itu dengan sangat cepat dan kasar.

Sementara Ustadz Beduin juga mulai menggerakkan pantat sehingga batang rudalnya kembali menyodok-nyodok serambi lempit sempit Meliora. Ia dan Ali dengan kompak memompa tubuh mulus Meliora hingga membuat gadis kota itu tergoncang-goncang akibat benturan. Kepala Meliora bergoyang tidak beraturan karena nikmat sekaligus sakit yang kembali dirasakannya. Kedua payudaranya dijilati oleh Ustad Beduin dari bawah, sementara putingnya yang mungil dimainkan oleh Ali seperti orang yang sedang mencari sinyal radio.

Selama hampir lima belas menit kedua laki-laki itu menghimpit tubuh montok Meliora, menjadikannya seperti daging dalam jepitan roti hamburger. Dollah menyaksikannya tanpa berkedip bagaimana tubuh putih mulus milik Meliora terhentak-hentak di tengah jepitan Ustad Beduin dan Ali, anaknya.

Genjotan demi genjotan rudal kedua laki-laki itu pada anus dan liang serambi lempitnya benar-benar memaksa Meliora untuk kembali mengalami orgasme. Tubuhnya mengejang-ngejang dengan kedua tangan dan kaki kembali meronta-ronta liar. Tapi kedua laki-laki itu terus menyetubuhinya. Bahkan selama hampir satu jam mereka melakukannya.

Meliora benar-benar sudah kepayahan, berulangkali orgasme membuat wajah cantiknya jadi memerah seolah akan meledak. “Ohghh… a-ampun! Sudah… a-aku nggak tahan! Ahh… mau sampai!!” Dia merintih-rintih putus asa di tengah usahanya untuk cepat menyelesaikan permainan ini.

Namun Ustad Beduin dan Ali hanya tertawa-tawa saja mendengar rintihannya. “Tunggu bentar lagi, Neng… Bapak belum puas.” kata Ustad Beduin di telinga Meliora. Ia terus menggenjot tubuh mulus gadis itu yang sudah melemas pasrah.

Meliora sekarang tidak ubahnya seperti boneka kain yang terhentak-hentak dalam himpitan dua lelaki. Matanya sudah sayu dan hanya bisa merem melek menerima segala siksa yang seperti tiada berakhir. Badannya bergoyang mengikuti irama sodokan rudal kedua lelaki pada serambi lempit dan lubang pantatnya.

Setelah lebih dari satu jam mengerjai Meliora sedemikian rupa, akhirnya Ali dan ustadz Beduin jadi tidak tahan lagi. Ali lah yang pertama kali mencapai puncak orgasmenya. Tubuhnya mengejang keras sambil kakinya menyentak-nyentak seperti kuda liar, sementara tubuhnya melengkung seperti mendorong tubuh Meliora yang berada di bawahnya.

“Aaahh!!” Dia mengerang keras sambil tangannya mengepal kuat-kuat.

Pada saat yang bersamaan, Ustad Beduin juga mengejang. Laki-laki tua itu menekan keras rudalnya ke dalam liang serambi lempit Meliora. “Ohhh… ahhh…” Diiringi desah penuh kenikmatan, ia menyemburkan spermanya yang sudah tidak sekental tadi.

Cerita Sex Pestanya Artis Papan Atas

Tubuh Meliora tergolek lemas di atas ranjang, tenaganya benar-benar habis. Ia merasa seluruh tulang di tubuhnya seperti rontok dari persendiannya, badannya terasa sakit sekali, seolah baru saja dilindas oleh serombongan gajah. Ia benar-benar tidak berdaya, sekujur tubuhnya yang putih mulus dan telanjang itu kini penuh berlumuran sperma.

Gadis itu hanya bisa menangis setelah kesadarannya kembali pulih. Penderitaan yang barusan dialaminya telah menghancurkan dirinya luar dalam. Meliora merasa benar-benar hina, lebih hina dari pelacur yang paling rendah. Apalagi ketika teringat berapa banyak sperma yang disemprotkan ke dalam rahimnya, Meliora merinding dengan kemungkinan dirinya akan hamil mengingat saat ini adalah masa suburnya.