Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Karyawati Eksibisionis Menggoda Driver Ojol yang Kehujanan di Pinggir Jalan

Karyawati Eksibisionis Menggoda Driver Ojol yang Kehujanan di Pinggir Jalan

Cerita Sex Penderita Eksibisionis – Setiap hari, aku menggunakan office look yang casual. Selain pada hari tertentu, aku terbiasa ke kantor menggunakan kaos panjang atau hoodie dan cardigan dengan celana jeans. Aku juga bepergian ke kantor dengan menggunakan KRL. Aku tinggal di daerah kota hujan sedangkan kantorku berada di dekat pusat ibukota. Meskipun memiliki mobil, namun aku merasa lebih baik berdesak-desakan di KRL dibandingkan macet-macetan di jalanan.

Suatu malam, aku dan suamiku sedang berada di rumah. Kami tinggal berdua di sebuah rumah kecil yang berada pada perumahan yang masih sepi. Perumahan ini merupakan cluster baru yang pintu masuknya terletak di pinggir jalan raya.

Dari pintu keamanan di depan, terdapat jarak hingga 1 Km ke arah perumahan. Namun, perumahan ini tetap aman karena hampir tidak ada jalan untuk maling keluar masuk kecuali melewati pos keamanan. Selain itu, jarak antar rumah di sini tidaklah terlalu dekat. Sehingga setiap rumah memiliki halaman yang cukup luas.

Seminggu ini, aku sedang sibuk-sibuknya di kantor. Sudah 2 hari ke belakang aku pulang malam. Hari ini, aku pulang lebih cepat, pukul 10 malam. Setelah merapihkan meja kerjaku, aku segera memesan ojek online dari kantorku ke stasiun. Aku buru-buru ingin pulang karena langit sudah mendung.

Cerita Sex Penderita Eksibisionis Ngocoks Aku ingin dapat segera pulang agar terhindar dari hujan yang mungkin turun. Hari ini aku mengenakan turtleneck putih dilapisi cardigan hitam. Aku juga memakai celana jeans yang cukup ketat dan sepatu sneakers. Kantorku tidak terlalu mempermasalahkan pakaian yang dikenakan selama masih sopan.

Ketika mencapai lobby, driver ojol yang ku pesan pun datang. Kami bergegas meluncur menuju stasiun kereta. Di tengah perjalanan, rintik hujan mulai turun. Meskipun hanya gerimis, namun cukup deras. Akhirnya, driver ojolku memutuskan untuk berhenti dan memakai jas hujan terlebih dahulu. Aku pun dipinjamkan olehnya jas hujan plastik.

Ku pindah semua barangku ke tas, kemudian kumasukkan ke dalam jam hujan. Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan. Rupanya, tidak lama setelah kami lanjut berjalan, gerimis pun berhenti. Karena sudah tanggung, akhirnya jas hujan tetap kami kenakan sampai kami tiba di stasiun.

Tiba di stasiun, aku pun basah kuyup. Aku basah kuyup bukan karena kehujanan, tapi karena kepanasan akibat memakai jas hujan. Keringat bercucuran di seluruh tubuhku. Bahkan, turtleneck yang kugunakan menyeplak di tubuhku.

Aku yang hari itu memakai BH berwarna biru dongker sampai terlihat samar-samar karena memang turtleneck yang kugunakan berbahan cukup tipis. Bahkan, baju yg sebelumnya agak longgar kini menempel di tubuhku dan membentuk tubuhku. Dengan penampilan seperti ini, banyak mata laki-laki yang melihatku. Mata mereka benar-benar terpaku padaku.

Tidak perlu waktu lama, kereta pun datang. Aku sebenarnya terbiasa masuk di gerbong wanita. Meskipun penuh, tapi aku merasa lebih aman di sana. Namun, karena terburu-buru dan kereta selanjutnya masih lama, aku pun naik di gerbong biasa.

Awalnya memang kereta sudah cukup penuh. Setelah aku naik, kereta semakin penuh. Kini aku terjepit di antara banyak orang. Depan belakang kanan kiri semuanya pria. Aku terjepit di antara pria-pria yang matanya menatap penuh nafsu kearahku. Aku sendiri berhasil mendapatkan pegangan tangan sehingga aku tidak perlu khawatir terjatuh.

Di perjalanan, banyak sekali rasanya yang menyender ke arahku. Bahkan, semua orang di sekitar ku menghadap kepadaku. Kulihat tidak seorangpun berpaling dariku. Aku bisa melihat bahwa mereka melihat diriku dengan tatapan penuh nafsu.

Menjadi pusat perhatian seperti ini, aku tidak tahu kenapa tapi aku menikmatinya. Tiba di stasiun berikutnya, masih ada beberapa penumpang yang masuk kembali. Aku semakin terjepit di antara para lelaki. Mereka sepertinya 1 rombongan karena di jalan mereka terus mengobrol bahkan dengan aku di antara mereka.

Meskipun begitu, aku tahu mata mereka mengarah kemana. Mata mereka mengarah ke dada dan pantatku. Stasiun berikutnya, kereta semakin penuh dan aku semakin berdesakan dengan mereka. Dadaku bahkan menempel dengan pria yang ada di depanku.

Begitupun dengan pria di belakangku. Aku dapat merasakan dadanya menempel dengan punggungku. Sedangkan kedua lenganku juga menempel dengan orang di sampingku. Semakin lama, mereka mulai memperlihatkan gelagat yang tidak baik. Karena terdesak, aku bahkan tidak dapat melihat ke arah mana pun.

Jangankan untuk mengalihkan pandangan, untuk berdiri saja aku kesulitan. Orang di belakangku bahkan mulai kurang ajar. Aku dapat merasakan bokongku diremas. Orang didepanku juga mulai menggerakkan badannya. Sedangkan orang di kanan dan kiriku beberapa kali menyenggol dadaku.

Aku sendiri merasa ada 4 benda keras menempel di bawahku. Sepertinya keempat pria tersebut sedang ereksi. Perlahan-lahan, aku merasakan gesekan di bokongku. Pria di depanku, ia mengarahkan tangaku ke selangkangannya. Rupanya ia sudah mengeluarkan rudalnya di depanku. Aku menengok ke bawah, dan benar saja, keempat pria tersebut mengeluarkan rudal mereka masing-masing.

Pria di belakanhku menggesekkan rudalnya ke bokongku, pria depanku menggunakan tanganku, sedangkan 2 pria lainnya mengocok rudal mereka sendiri. Awalnya aku malu dan merasa dilecehkan. Namun, lama kelamaan, ukuran rudal mereka yang lebih besar dari suamiku membuatku penasaran. Mereka juga tidak malu untuk meremas dadaku.

Mereka semakin berani saja. Tangan mereka mulai masuk ke dalam bajuku. Kedua pria di sampingku, masuk ke dalam bh ku dan meremas serta memilin puting dan payudaraku. Pria di depanku, berusaha menciumku, namun aku menghindar. Ia bahkan berkata “udah nikmatin aja mba, kalo teriak kita semua sama-sama malu kan mba.”

Dirangsang terus menerus aku pun menikmatinya. Tangan pria di depanku bahkan masuk ke dalam celanaku. Ia menggesek jarinya di bibir serambi lempitku. Pria tersebut tersenyum mengetahui serambi lempitku basah. Dilecehkan seperti ini seharusnya aku berteriak meminta pertolongan, namun aku justru mendesah dan menikmatinya.

Beberapa stasiun terlewati dan serambi lempitku semakin becek. Entah bagaimana, celana jeansku juga sudah merosot sepahaku. Begitu pun celana dalamku. Pria di belakangku kini sudah mulai menggesekkan langsung rudalnya dengan pantatku. Sedangkan pria didepanku menggesekkan rudalnya dengan serambi lempitku. Aku juga sudah tidak berpegangan sekarang. Kedua tanganku berpegangan dengan 2 rudal di kanan kiriku. Mereka mengocok rudal mereka dengan tanganku.

Tidak lama berselang, aku merasakan cairan di pantatku. Pria di belakangku sepertinya ejakulasi setelah puas melecehkan pantatku. Dua pria yang kukocok menyusul dengan menembakkan sperma mereka di pahaku. Sedangkan pria didepanku, ia mulai memasukkan rudalnya sedikit-sedikit ke dalam serambi lempitku. Tidak lama, ia pun mengeluarkan spermanya tepat di depan bibir serambi lempitku.

Setelah itu, mereka kembali memasukkan rudal mereka ke dalam celana masing-masing. Setelah itu, mereka membantuku memakai kembali celana dalam dan celanaku. Kini, di balik celanaku terdapat lelehan sperma dari 4 pria tersebut.

Setelah pakaianku rapih, kereta mencapai stasiun tempat aku akan turun. Aku pun turun dan keempat pria tersebut tersenyum nakal ke arahku. Aku kemudian berjalan ke pintu keluar stasiun setelah memesan ojek online. Saat ojek online tersebut menjemputku, matanya tidak lepas dari arah selangkangaku.

Celana jeansku ternyata telah basah akibat sperma mereka. Ia juga melihat ke arah dadaku. Ternyata, tanpa kusadari, keempat pria tersebut berhasil melepas BH ku. Turtleneck yang masih agak basah membuat putingku samar-samar terlihat.

Setelah puas melihatku, ia pun memberikan helm kepadaku. Di perjalanan, kami merasa canggung. Ia pun berusaha membuka obrolan.

“Ga takut masuk angin neng?” Ujar bapak ojol. “Maksudnya pak?” Jawabku. “Engga neng, bajunya basah gitu, katanya gampang masuk angin nanti.” “Oh iya pak, tadi sebelum naik kereta hujan, jadi kebasahan dikit pak.” “Oh gitu neng, oh iya makasih rejekinya neng” “Maksudnya pak?” “Engga neng, lumayan ada orderan ke arah pulang”

Obrolan kami sepanjang jalan terus menjurus. Aku tahu kemana obrolannya mengarah. Aku yang malas dengan driver ini akhirnya memutuskan untuk turun beberapa blok sebelum rumahku. Saya tidak ingin driver ini mengetahui rumahku. Setelah itu, akupun berjalan pulang. Kini, sudah tidak merasa selangkanganku basah. Sepertinya semua sperma tersebut telah mengering. Kulihat semua orang sudah berada di dalam rumah.

Saya yang sudah tidak betah karena celana dalam yang basah akhirnya diam sejenak. Aku melihat sekitar memastikan semuanya aman. Kulepas celanaku. Beserta celana dalamku. Ternyata, sperma keempat pria tersebut belum mengering sepenuhnya. Ingin rasanya mencoba sensasi baru. Akupun berjalan pulang hanya dengan turtleneck yang kugunakan.

Aku terus berjalan hingga mencapai belokan masuk ke dalam blok rumahku. Sensasi setengah telanjang di tempat terbuka membuatku bergairah. Selain itu, aku juga menikmati aliran sperma yang belum mengering. Kini aku ingin berbuat lebih. Aku memastikan keadaan di sekitar rumah. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com

Saat ini pukul 12 malam dan tidak kulihat siapa pun. Aku membuka turtleneck ku dan kini aku telanjang bulat. Kumasukkan semua pakaianku ke handbagku. Setelah itu aku berjalan pulang ke rumah. Sensasi ini membuat birahiku semakin membara.

Aku berjalan sembari memainkan jariku di serambi lempitku. Hingga akhirnya aku tiba di depan pagar rumahku. Aku membuka pintu pagar dan masuk ke halaman rumahku. Kumainkan serambi lempitku dengan liar dan aku pun orgasme. Aku menahan suaraku agar tidak mencuri perhatian.

Setelah puas menikmati orgasmeku, aku masuk ke dalam rumah tetap dalam keadaan telanjang. Aku kemudian membersihkan diriku. Suamiku sedang tidak di rumah seminggu ini. Hal ini juga membuatku mudah bergairah. Setelah mandi, aku tetap tidak mengenakan apa pun.

Aku mulai merasa nyaman tidak berpakaian sama sekali. Aku pun mencari tahu apa yang terjadi denganku dan keempat pria yang suka memamerkan bagian vitalnya. Ternyata, itu adalah gejala eksibisionis. Semakin kucari tahu, semakin aku ingin terjun semakin dalam. Aku pun mengantuk dan akhirnya aku tertidur.​

Bersambung…PERCOBAAN PERTAMA

Keesokan harinya, hari ini aku libur. Aku bangun masih dalam keadaan hanya selimut yang menutupi tubuhku. Hari ini aku ingin bersantai menikmati hari liburku setelah beberapa hari harus lembur. Hingga beberapa saat, aku rebahan di atas kasurku. Kubuka HP ku dan kulihat ada pesan dari suamiku.

Ia mengatakan bahwa hari ini ia akan pergi wisata dengan teman-temannya sehingga akan lama membalas pesanku. Kemudian, aku juga menutup pencarianku tentang eksibisionisme semalam. Kulanjutkan pagiku dengan rebahan di kasur sambil membuka sosmed.

Setelah agak siang, aku pun bangkit dari kasurku. Aku kemudian mencuci pakaian kotorku dengan mesin cuci. Sambil mencuci pakaian, aku pun membuat mie instan untuk sarapanku. Semua kegiatan masih kulakukan tanpa sehelai benang pun menutupi diriku.

Kunikmati sarapanku sambil menunggu cucianku selesai. Kunyalakan tv dan muncul berita yang intinya adalah seorang istri diceraikan suaminya karena mengandung anak dari orang dengan gangguan jiwa. Sungguh semakin aneh saja dunia ini.

Sang suami, S, menceraikan V, istrinya, karena hamil di saat sang suami tengah pergi berbulan-bulan akibat pekerjaan. Melihat hal tersebut, aku jadi teringat Vita teman baikku saat SMA. Suaminya bernama Sandi. Meskipun foto keduanya disamarkan, secara sekilas postur tubuhnya cukup mirip. Semoga saja itu bukan mereka.

Setelah menghabiskan sarapanku, aku mencuci piring dan alat masak yang ku gunakan. Kemudian, aku pun menuju ke dispenser untuk mengambil minuman. Gelasku belum penuh, namun air sudah tidak keluar. Ketika aku periksa, ternyata galonku sudah kosong.

Saat akan kuganti dengan galon cadangan, ternyata galon tersebut juga sudah kosong. Artinya aku harus memesan galon. Aku pun memesan galon dengan menggunakan aplikasi sebuah minimarket. Setelah pesananku selesai dan aku menunggu pesananku datang, cucianku ternyata juga telah selesai. Kini aku hanya perlu menjemur pakaian tersebut.

Aku yang malas berpakaian akhirnya menjemur pakaian dalam keadaan telanjang bulat. Aku menjemur pakaian di halaman belakang rumahku yang memang tertutup tembok sehingga tidak akan terlihat oleh siapapun, kecuali jika ada yang sedang berada di atap rumahnya.

Hari ini cuaca cukup terik. Jadi harusnya cucianku akan cepat kering. Saat sedang menjemur pakaian, aku dikejutkan dengan suara ketukan pintu rumahku. Rupanya galon yang kupesan sudah tiba. Aku mengetahuinya karena melihat di balik jendela rumahku.

Petugas yang mengantar pesananku juga mulai berusaha mengintip melalui jendela rumahku. Saat ini aku masih aman karena berada di halaman belakang sehingga ia tidak dapat melihat diriku. Namun, jika ia tetap seperti itu, aku tidak akan bisa masuk ke kamarku.

Kulihat di antara jemuranku, ada sebuah dress satin berwarna merah dengan belahan rendah yang pertama ku jemur tadi dan sudah mulai mengering. Akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan dress tersebut tanpa apa pun dibaliknya.

Aku pun menuju pintu dan membukanya. Pria yang mengantar pesananku kutaksir berusia sekita 22 tahun. Ia terkesima dan terdiam melihatku. Dengan tubuh dan pakaianku yang seksi ini, aku dapat memahaminya. Tiba-tiba aku terbersit untuk memamerkan tubuhku kepadanya.

Aku pun memintanya menunggu sebentar di depan pintu. Kemudian aku mengambil galon yang berada di dapur sambil membelakangi dirinya. Ketika aku mengambil galon, dressku terangkat dan aku yakin ia dapat melihat pantat dan serambi lempitku.

Sengaja aku bergerak agak lambat lambat agar ia dapat menikmati pemandangan di hadapannya. Setelah itu, ku angkut galon tersebut dan kuletakkan di hadapannya. Payudaraku dapat terlihat lebih jelas di hadapannya. Setelah itu, ia mengambil galon kosong ku dan membawanya.

Namun, aku masih ingin melanjutkan aksiku. Aku mulai terangsang karena aksiku dan sedikit basah di bawah sana. Tatapannya yang tajam terhadap tubuhku membangkitkan gairahku. Ia sangat menikmati melihat payudaraku tadi.

Kupanggil pegawai tersebut “mas, boleh minta tolong pasangin galonnya ga, tangan saya lagi agak sakit”. Saya hanya beralasan agar dapat melanjutkan aksiku. Aku masih ingin dirinya melihat tubuhku. Akupun masih ingin menunjukkan bagian tubuhku. Aku sangat menikmati tatapan penuh nafsunya.

“Oh iya baik bu” Ujarnya.

Kami pun masuk ke dalam. Ia pun membawa galon yang sebelumnya berada di pintu rumahku ke dapur. Aku berinisiatif menggelindingkan galon yang 1 lagi. Sengaja kulakukan hal tersebut agar aku dapat menunduk dan memperlihatkan payudaraku jika ia melihay ke arahku.

Benar saja, mendengar suara galon yang menggelinding, ia melihat ke arahku. Tentu ia dapat melihat dengan jelas payudaraku. Pakaian ini sangatlah longgar sehingga ia pasti dapat melihat seluruh bongkahan payudaraku.

Bahkan kini salah satu talinya telah lolos dari pundakku. Ia kemudian menuju ke arahku dan membantuku. Aku tahu ia sebenarnya bukan ingin membantuku, tapi ingin melihat dadaku dengan lebih jelas.

Kini kami berdua sudah berada di dapur. Aku juga sudah memperbaiki posisi tali pakaianku. serambi lempitku sudah sangat basah saat ini. Aku sendiri pasrah jika aku memang akan diperkosa. Nafsu birahi sudah menguasaiku. Sudah beberapa hari aku tidak berhubungan badan.

Suamiku berangkat tepat ketika masa haidku berakhir. Kami tidak sempat bercinta karenanya. Petugas tersebut kemudian berusaha memasang galon pada dispenserku. Ia cukup kesulitan. Kemudian aku berusaha mencari pisau di rak sambil menungging.

Pada posisi ini ia tentu dapat melihat pantat dan serambi lempitku yang basah dengan jelas. Aku mengintip ke belakang dan ia terpana melihatku sambil memegangi selangkangannya. Kemudian kuberikan pisau tersebut dan ia pun berhasil memasangkan galon minumku.

Ia kemudian pamit untuk segera kembali ke toko. Aku bermaksud untuk memberinya tips. Aku kemudian memintanya menunggu sebentar dan aku pergi ke kamar.

Kulihat, aku sangatlah seksi berpenampilan seperti ini. Jadi aku bermaksud untuk memperlihatkan segalanya padanya sebagai penutup. Jadi kulonggarkan tali dressku ke bahuku. Kucoba menjatuhkan kedua tali penyangga tersebut dan benar saja pakaianku lolos ke bawah.

Aku kemudian memperbaiki pakaianku dan menempatkan tali pakaianku pada posisi yang kuinginkan. Kubawa uang 10 ribu untuk tips baginya karena sudah membantu memasangkan galon. Kemudian aku berjalan ke ruang tamu dan kulihat ia agak gelisah sambil memperbaiki posisi celananya di depan pintu rumahku.

Kulancarkan aksiku. Aku sengaja meletakkan tanganku ke bawah saat berjalan agar seluruh pakaianku lolos. Ketika aku sudah mencapai pintu, momen yang ditunggu datang. Pakaianku lolos seluruhnya dan jatuh ke bawah.

Ia pun melotot dan takjub melihat tubuhku tanpa sehelai benang pun. Aku kemudian berusaha pura-pura menutupi ketelanjangan ku. Kuserahkan uang tips dan kututup pintu rumahku. Kulihat melalui jendela, ia masih terdiam bengong di depan pintu rumahku.

Aku yang sudah dikuasai libidoku pun memainkan serambi lempitku di balik pintu. Saya tidak mempedulikannya lagi. Sudah sangat terbakar oleh nafsuku. Sengaja mengeluarkan desahan cukup keras agar ia dapat mendengar. Kulihat ke arah jendela, motornya belum bergerak.

Ia juga berusaha mengintip ke dalam dan melihat apa yang aku lakukan. Namun saat yang bersamaan, satpam komplek lewat dan ia pun pergi. Aku lanjutkan permainanku dan tidak lama aku pun orgasme hingga membanjiri lantai rumahku. Orgasme yang sangat nikmat untukku.

Sensasi memamerkan tubuhku ini sangatlah luar biasa. Kemudian, Kulap cairanku dengan pakaian yang kukenakan tadi. Kemudian aku melanjutkan menjemur pakaian dalam keadaan telanjang bulat. Setelah menjemur seluruh pakaian yang kucuci, aku pun bersantai di ruang tamu.

Waktu menunjukkan jam 12 siang dan aku kembali lapar. Waktunya makan siang, aku pun memesan makanan melalui ojek online. Tidak butuh waktu lama, pesananku diterima dan disiapkan. Aku malas berpakaian jadi aku akan menerima pesananku dari balik pintu. Seharusnya ojol tersebut tidak akan dapat terlalu melihatku. Ketika pesananku sudah siap diantar, aplikasi menunjukkan bahwa driver akan segera mengambil pesanan dan mengantar.

“Mohon menunggu” Ujar pak Dodi, driver yang mendapat pesananku. “Baik pak” Jawabku.

Aku pun menunggu pak Dodi mengantar pesananku. Aku bersantai di depan tv. Kubiarkan gordynku terbuka. Tidak lama berselang, karena bosan menunggu aku pun tertidur karena juga kelelahan akibat orgasmeku tadi.

“Nah ini rumahnya” Ucapku dalam hati. Kucoba menghubungi customer yang memesan namun tidak ada jawaban. Karena rumah di sini tidak ada pagar, aku pun berusaha masuk untuk mengetuk pintu. Mungkin saja ia tidak sedang pegang HP. Keketuk pintu rumahnya tak kunjung ada jawaban.

Kucoba telfon juga tidak diangkat. Aku bermaksud menitipkan pesanan di pos depan saja. Namun, sebelumnya aku mencoba melihat ke dalam melalui jendela terlebih dahulu. Saat melihat melalui jendela, aku terkesima melihat pemandangan yang kulihat.

Sesosok wanita cantik dan seksi terbaring telanjang di dalam. Ia mengingatkanku akan Vita (Vita dan Dodi). Vita adalah lonte yang sebelumnya juga pernah kunikmati. Setelah Vita menghilang, aku tidak pernah menuntaskan birahiku lagi. Kini ingin kunikmati pemandangan tersebut. Tanpa pikir panjang kuketuk pintu rumah tersebut dengan lebih kencang. Tak lupa aku juga mendokumentasikan pemandangan itu.

Aku terbangun karena suara ketukan pintu yang sangat kencang. Aku tertidur rupanya dan sepertinya itu ojol yang mengantar pesananku. Akupun panik. Serta khawatir kalau dia sempat melihatku. Benar saja, ia berusaha mengintip ke dalam melalui jendela. Aku bergerak dengan cepat menuju pintu dan semoga ia tidak melihatnya. Kemudian memposisikan diri di balik pintu. Kubuka pintu dan kuambil pesananku.

“Maaf pak saya ketiduran” “Iya gapapa neng” “Makasih ya pak” Karena kurasa ia telah melihatku, jadi sekalian saja kubiarkan ia melihat ketelanjanganku sebagai tips. “Sama sama neng, emang bener namanya ya, Indah” “Makasih pak” Aku berusaha menutup pintu. Namun pak Dodi menahannya. “Kenapa ya pak?” “Ini parkirnya belom dibayar neng” “Oh bentar pak” “Tunggu neng, sekalian saya mau kasih liat sesuatu” Pak Dodi memperlihatkan foto tubuhku yang telanjang.

“Eh pak, hapus dong, saya kasih bintang 1 nih” “Lah biarin aja, suka suka saya lah, siapa suruh ngasih pemandangan, lagian kalo saya bintang 1,tinggal lamar aplikasi lain, ga rugi banget, malah mba yang rugi karena bakal terkenal hahaha” “Yauda masuk dulu deh pak”

Pak Dodi pun ikut masuk setelah memarkirkan kendaraannya. “Oke sekarang mau gimana pak?” “Sabar dong neng, saya mau nikmatin lihat tubuh nenag” “Oke bapak bebas menikmati pemandangan tapi saya mohon hapus ya pak fotonya” “Enak aja, ga segampang itu lah” “Terus maunya gimana pak?” “Puasin saya” “Gamau pak, apa ga ada cara lain?” “Gamau, pokoknya buat saya puas” “Tapi janji hapus ya pak fotonya” “Oke”

Aku pun hanya pasrah. Karena birahi dan kecerobohan ku, kini aku harus melayani pria tua bangka ini. Aku pun mengerti apa yang harus kulakukan. Di satu sisi, aku menikmati menunjukkan tubuhku padanya. Tapi aku juga berat karena malas melayaninya. Saat aku berusaha mendekatinya, ia menolakku.

“Udah sana makan dulu neng, biar kuat layanin saya” Ujar pak Dodi.

Kini aku pun makan dalam keadaan telanjang bulat di hadapannya. Aku makan dengan cepat agar dapat segera mengakhiri semua ini. Sambil aku makan, ia memandangi tubuhku dan sesekali mengelus bagian tubuhku. Setelah selesai makan, aku membereskan semuanya.

Ia pun mulai membuka bajunya satu per satu hingga menyisakan celana dalamnya. Saat aku kembali ke ruang tamu, ia memintaku mulai melayani dirinya. Ia menyuruhku membuka celana dalamnya dengan mulutku. Kulakukan kemauannya agar semua cepet selesai.

Setelah itu, kukulum rudalnya dengan mulutku. Kujilat rudal dan bijinya. Kulihat ia memegang HPnya. Sepertinya kali ini ia merekamku. Aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk merebut HPnya dan menghapus foto dan videoku secara mandiri.

Dengan segala teknik mulutku, tiba-tiba aku merasakan kedutan di rudalnya. Ia ternyata akan orgasme padahal aku sendiri belum terangsang. Namun ini momen yang tepat bagiku untuk merebut HPnya. Kuteruskan blowjobku dan saat ia akan ejakulasi, kulepaskan rudalnya dari mulutku.

Crot crot crot spermanya menembak ke wajah dan dadaku. Ia begitu menikmatinya hingga hilang kontrol dan aku berhasil merebut HPnya. Aku pun bergerak cepat dan menghapus semua foto dan videoku. Pak Dodi sepertinya tidak peduli. Ia begitu menikmati orgasmenya.

Aku pun memastikan pada aplikasi lain bahwa foto dan videoku sudah benar terhapus. Ketika aku sedang memeriksa HPnya, pak Dodi bangkit. Ia menghampiri diriku dan menyergapku dari belakang. Sebelum ia merebut HPnya, aku mengunci HPnya. Kusalahkan passwordnya berulang kali hingga terkunci selama 1 jam. Setidaknya aku bisa merasa aman sementara.

Pak Dodi sendiri rupanya bukan ingin merebut HPnya. Ia justru kembali ingin menggarap tubuhku. Dengan paksa ia masukkan rudal kecilnya ke dalam serambi lempitku yang masih kering. Ia juga kemudian memperkosaku dalam posisi berdiri. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com

Namun, sama seperti sebelumnya, ia hanya bertahan sebentar dan ejakulasi hanya dalam 1 menit. Untungnya aku berhasil melepaskan diri sehingga ia tidak sempat menembakkan spermanya di dalam serambi lempitku. Setelah itu, aku menyuruhnya pergi. Aku mengancam akan berteriak dan mengatakan bahwa ia memperkosaku.

Mengetahui kini ia tidak bisa melawan dan tidak memiliki senjata untuk serangan balik, pak Dodi pun panik. Ia pun berpakaian dengan cepat dan segera pergi. Sedangkan aku, aku merasa kentang. Ketika libidoku naik, pak Dodi sudah ejakulasi. Aku pun akhirnya kembali masturbasi. Aku tak lupa menutup gordyn agar tak terlihat dari luar. Setelah orgasme, aku kembali tertidur.

Bersambung…MALAM MENDEBARKAN

Malam harinya aku terbangun dengan keadaan rumah gelap gulita. Kulihat sekitar melalui jendela rumahku, semua rumah pun gelap gulita. Sepertinya listrik di sekitar perumahan ini padam. Terdengar gemuruh petir di luar. Sepertinya cuaca akan segera hujan. Aku pun berlari ke halaman belakang rumah. Aku mengangkat semua jemuran ku. Untungnya benar belum hujan. Setelah aku mengamankan seluruh jemuranku, aku kembali ke dalam rumah. Kulihat jam pada HP ku dan ternyata sudah jam 9 malam. Aku pun mulai merasa lapar.

Awalnya aku ingin memasak makan malam, namun karena kondisi yang tidak memungkinkan akibat padamnya listrik, maka kuurangkan niatku. Akupun ingin memesan online, namun kulihat baterai hp ku tersisa 1%. Aku lupa mencharge HPku. Aku pun memutuskan untuk mencari powerbank terlebih dahulu. Saat kucolokkan powerbank ku, daya di HP ku tidak terisi. Ternyata power bank ku juga sudah kosong. Hal ini tentu membuatku terpaksa tidak bisa memesan makanan secara online. Aku pun harus keluar untuk membeli makan malam.

Melihat kondisi di luar yang sangat gelap aku pun memiliki pemikiran iseng. Aku akan pergi keluar rumah dengan hanya mengenakan parka selutut tanpa apa pun dibaliknya. Berniat untuk sedikit pamer saat membeli makan nanti. Sengaja meninggalkan HP ku di rumah karena tentu tidak akan ada gunanya.

Setelah mengunci pintu rumah, ku sembunyikan kunci pintu di pot tanaman. Jaket yang ku kenakan masih terkancing seluruhnya. Aku berencana untuk membuka kancingnya setiap kali aku berbelok. Total ada 4 kancing dan sebelum mencapai pos keamanan, artinya seluruh kancingku akan terbuka. Dari sana hanya ada jalanan saja dengan tanah kosong di kanan kiri hingga mencapai pos keamanan.

Aku melihat sekitar dan suasana sangatlah hening. Aku juga tidak melihat seorang pun. Karena long weekend, mungkin banyak warga yang pergi dan memang belum banyak warga yang tinggal di sini. Aku pun mulai berjalan keluar perumahan. Hingga belokan pertama yang jaraknya memang dekat dengan rumahku tidak ada masalah.

Akupun melepas kancing paling atas. Begitu pun seterusnya hingga belokan ketiga tak ada hambatan apa pun hingga kini aku hanya menyisakan kancing kedua dari bawah. Dadaku sudah cukup terbuka dan kancing yang tersisa hanya membantu menutupi serambi lempitku.

Setelah berbelok, terbuka lah seluruh kancingku. Kini tubuh bagian depanku hanya sedikit tertutup oleh jaketku. Masih cukup jauh hingga mencapai pos keamanan. Aku terus berjalan dan angin bertiup kencang. Jaket ku kini bagaikan jubah. Berterbangan ke belakang.

Sebelum mencapai pos, aku pun memperbaiki jaketku. Aku tidak ingin mengambil resiko dengan memamerkan tubuhku ke orang yang ku kenal. Sebelum mencapai pos, aku berusaha memperbaiki jaketku. Aku harus cepat karena khawatir mungkin mereka melihatku.

Namun, kencangnya angin membuatku kesulitan. Aku lihat salah satu satpam mulai menengok ke arahku. Untungnya kini aku telah berhasil mengancingkan 2 kancing di tengah. Jika cahaya terang, perut hingga pahaku sudah tertutup. Mencapai pos keamanan, aku berhasil mengancingkan seluruhnya.

“Malam pak” Sapaku. “Malam mba, mau kemana mba? ” Jawab satpam. “Mau ke mini market pak, oh iya ini udah lama listriknya padam, kenapa ya pak?” “Itu mba, gardunya kesambar petir, lagi diperbaiki cuma mungkin lama baru benar” “Oh gitu, yauda saya jalan dulu pak, takut keburu hujan” Aku berusaha kabur. Aku melihat matanya seperti berusaha mencari-cari sesuatu.

Setelah itu, aku pun ke minimarket yang terletak tidak jauh dari pos keamanan terlebih dahulu. Aku membeli beberapa minuman dingin. Saat aku keluar dari minimarket, aku lihat ternyata tidak ada seorang pun pedagang makanan. Jalan juga semakin sepi karena selain waktu sudah malam, hujan juga akan segera turun.

Aku harus bergegas agar tidak kehujanan. Aku berusaha berjalan namun tak kutemukan seorangpun. Kemudian tak lama, hujan pun turun. Aku terpaksa berteduh di depan sebuah bengkel yang sudah tutup. Jujur aku ketakutan. Seorang diri di tengah kegelapan dengan hanya jaket tanpa apa pun dibaliknya.

Semakin lama, hujan semakin deras. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan makan mie instan saja. Ide nakalku kembali muncul. Karena saat ini aku kehujanan, mungkin akan menarik jika aku berjalan telanjang ke rumah. Tapi aku sedang berpikir bagaimana caranya melewati pos keamanan dengan keadaan seperti ini.

Saat sedang berpikir, ternyata di depan ada pedagang nasi goreng keliling yang sedang berteduh di depan sebuah rumah yang terbengkalai. Aku pun menghampiri nya. Kulihat pedagang tersebut adalah seorang bapak-bapak yang sudah menua. Umurnya kutaksir di atas 60 tahun.

“Pak, masih ada ga ya?” “Masih neng, mau pesan berapa?” “1 aja pak pedes ya” “Bungkus atau makan sini neng?” “Makan sini aja deh pak”

Mungkin memang lebih baik aku makan dulu di sana. Sambil berteduh dan berpikir cara untuk menjalankan niatku. Aku pun duduk di teras rumah tersebut sambil menunggu pesananku. Setelah pesananku jadi, aku duduk bersama tukang nasi goreng tersebut. Kami berbincang sambil aku menyantap nasi gorengku.

“Baru neng di sini?” “Udah beberapa bulan pak” “Oh saya belum pernah lihat, nama saya Zainal, neng?” “Saya Indah pak” “Oh iya, ga takut masuk angin neng?” “Kenapa pak?” “Itu jaketnya basah, udah gitu” “Udah gitu kenapa pak?” Aku panik, jangan-jangan ia bisa melihat tubuhku melalui celah yang ada. “Celananya pendek banget neng” “Oh iya pak, tadinya cuma niat bentar, lagian biar ga basah juga kalo hujan pak, bapak udah lama jualan?”

“Iya neng, udah 30 tahun saya jualan di sini, dari umur 39. Kalo ujan gini mah sepi pembeli, untung aja itu di perumahan sana mati listrik, jadi lumayan banyak yang beli tadi”

“Alhamdulillah ya pak. Tinggal dimana pak?” “Saya mah di kampung cicicak neng, kalo neng?” “Saya di perumahan sana pak, tau gitu tadi saya nunggu bapak aja ya” “Haha iya neng”

Aku pun menghabiskan santap malamku. Hujan semakin deras. Lampu petromax di gerobak pak Zainal pun sampai mati. Kini kami berdua bergelapan bersama. “Pak berapa semuanya?” “Loh ga nunggu reda neng? Nanti sakit loh” “Gapapa pak tanggung udah basah juga, daripada makin malam nanti” “Oh yauda, semuanya 15 ribu neng”

Aku pun merogoh kantongku. Tanpa kusadari, kantong jaketku robek. Semua uangku sepertinya terjatuh. Aku bingung harus bagaimana karena aku tidak membawa uang sepeserpun. Aku pun mengatakan “pak, maaf, uang saya jatuh semua”

“Ah bohong aja si neng” “Beneran pak, aduh gimana ya, bapak mau tunggu sebentar?” “Ga bisa gitu neng, saya mau dibayar sekarang, kalo ga saya kumpulin orang nih” “Beneran pak” “Coba sini saya cek”

Tanpa seizinku, ia memasukkan tangannya ke kantong jaketku. Ia memeriksa semua kantong luar.

“Coba buka jaketnya neng” “Aduh pak, jangan, saya malu” “Yauda saya teriak kalau gitu” “Iya Iya Pak saya buka”

Aku pun membuka kancing jaketku. Kulihat mata pak Zainal pun terbelalak. Meskipun belum seutuhnya terlihat, tapi belahan dadaku, bulu kemaluanku yang kucukur tipis, dan perut rataku dapat dilihat olehnya.

“Udah ya pak” “Emang rusak ya jaman sekarang, makin banyak aja lonte, lanjutin buka semua, gua mau cek jaket lu bener ga ada duit apa engga” “Tapi pak…” “Gamau tau, buru atau gue kumpulin warga” “Iya iya pak” Aku pun meloloskan jaketku. Kini aku telanjang bulat di hadapannya setelah aku memberikan jaketku.

“Bagus, sekarang sambil gue cek, lo cuci dah tuh semua cucian piring, sendok, gelas, sama wajan sekalian” Ujarnya. Karena takut membuatnya semakin emosi, aku pun menurutinya. Ketika aku akan mencuci semua piring kotor, ia pun menendang tubuhku. Bekas sandalnya yang kotor penuh lumpur membentuk di tubuhku.

“Eh siapa yang suruh cuci di sini, sana di bawah hujan, terus lu ga boleh lap pake spons, lap itu semua pake dada lu, dasar cewe murahan”

Murahan katanya? Aku murahan. Ingin aku marah dan menangis tapi aku sadar, apa yang ia katakan ada benarnya. Tidak mungkin wanita normal akan berjalan keluar tanpa mengenakan apa pun di balik jaketnya.

Aku pun merapihkan semua piring, gelas, dan alat makan. Saat aku mengangkat semua cucian kotor. Pak Zainal menahanku. Ia memasukkan 2 buah timun utuh yg cukup besar ke lubang serambi lempit dan pantatku. Sakit sekali rasanya saat timun dimasukkan ke lubang analku.

Aku tidak pernah melakukan anal sex sebelumnya. Aku hanya bisa menahan raungan rasa sakit karena tidak ingin ada yang datang. Ia kemudian menyuruhku berjalan untuk mencuci piring. Ia juga mengatakan bahwa jika ada yang terlepas, maka akan dimasukkan lagi dengan tambahan 1 buat tomat utuh. Aku bergidik ngeri. Aku pun berjalan ke bawah sisi yang terkena hujan.

Setiap langkahku terasa sakit awalnya di anusku. Namun lama kelamaan terasa nikmat. Gesekan di kedua lubangku sangatlah nikmat. Kini tubuhku mulai basah dari rambut hingga kakiku karena tersiram hujat. Selain itu, karena rasa nikmat di serambi lempitku, kini serambi lempitku pun basah. Pak Zainal? Dia melihatku dengan penuh kemenangan.

Aku pun mulai aktifitas ku mencuci piring dan wajan kotor. Aku membasuh semuanya dengan air hujan. Setelah itu, ku balurkan sabun ke payudaraku. Kemudian, aku menyabuni satu per satu piring dan wajan dengan dadaku. Saat selesai menyabuni piring terakhir, karena serambi lempitku yang sudah sangat basah, timun yang ada di sana keluar.

Pak Zainal pun memanggilku. Ia memakiku dan menyuruhku menungging. Ia kemudian memasukkan satu buah tomat ke serambi lempitku. Kemudian ia menusuk kembali timun tersebut. Setelah itu, ia menyuruhku merangkak ke arah cucian tersebut.

Aku merasa sesuatu hancur di serambi lempitku. Aku yakin tomat tersebut pasti terpecah di sana. Akupun bingung bagaimana caraku membersihkannya nanti. Kemudian sayapun melanjutkan mencuci piring sambil duduk di tanah. Setelah semua piring bersih, kini aku mencuci sendok dan spatula. Aku menyabuni sendok dan spatula setelah menuangkan sabun di belahan dadaku.

Kemudian sendok dan spatula kugesekkan di sana. Begitupun dengan pisau. Sisi tajam ku arahkan keluar demi keselamatan diriku. Setelah itu, aku membilas semuanya. Kini hanya tinggal gelas yang perlu kubersihkan. Aku mencuci gelas dengan cara yang sama seperti saat aku mencuci piring. Namun, payudaraku tidak benar-benar dapat membersihkan sisi dalam gelas.

Payudara ku ukuran 38C sehingga tidak muat membersihkan gelas. Setelah kubilas bersih semua, aku mengangkat semua piring, gelas, alat makan, dan wajan bersih. Ketika aku berdiri, timun di serambi lempitku kembali keluar. Plop. Timun tersebut keluar karena serambi lempit dan analku kedutan.

Selain itu, tomat yang hancur dalam serambi lempitku juga membuatnya makin licin. Aku bawa dan simpan semua cucian bersih di gerobak pak Zainal. Melihat timun yang keluar dari serambi lempitku, pak Zainal mengambilnya. Ia kembali memasukkannya ke dalam serambi lempitku. Kemudian mengambil tali di gerobaknya. Ia ikat selangkanganku dan dibuatnya bagaikan aku menggunakan g-string.

“Nah sekarang lu boleh pulang, tapi jaket sama sendal lo sini gue ambil, lumayan buat bini gue, body kaya lo ga nafsuin buat gue” “Tapi pak, gimana cara saya pulang?” “Urusan lo” Pak Zainal pun pergi dengan gerobaknya meninggalkan aku sendirian telanjang bulat bahkan tanpa sandalku. Selain itu, ada 2 di timun di 2 lubangku.

Hujan tak kunjung reda, aku pun tak menyerah membuka ikatan ini. Selain harus pulang telanjang, aku pun akan sulit berjalan karena 2 timun di lubangku terasa sangat mengganjal. Aku pun menyerah dan hanya bisa pasrah. Aku juga harus segera pergi dari sini. Mungkin saja akan ada yang melihatku jika terus di sini atau bahkan orang sekedar berteduh. Aku pun berjalan mengendap-endap.

Mendekati minimarket aku bingung. Meskipun jalanan gelap karena listrik padam, namun mini market tersebut tetap terang karena mesin pembangkit mini. Dari kejauhan kulihat ada beberapa motor di sana. Satu satunya pilihanku adalah berlari. Namun, tentu saja mereka dapat melihatku.

Di tengah keraguanku, aku mendengar suara orang ramai. Sumbernya berasal dari mini market. Kulihat ternyata ada beberapa pengendara yang sedang touring. Mereka sedang asik mengobrol dan sedang menikmati kopi. Karena bingung, aku pun mencari jalan lain.

Namun, ketika aku akan berbalik arah, aku melihat cahaya lampu mobil dari kejauhan. Aku harus segera sembunyi. Kulihat ada celah semak sedikit. Aku pun melompat ke sana. Rupanya di balik semak ini, ada celah masuk melalui rawa menuju pintu masuk perumahanku. Aku pun berjalan melaluinya.

Celah yang kulalui ini cukup sempit. Batang ranting tanaman pun menggesek tubuhku. Ada beberapa bagian tubuhku yang lecet. Angin kencang juga membuat beberapa kali ranting tersebut memukul pantatku. Rasanya sama seperti dipukul.

Semakin jauh ke dalam, semakin sempit celah yang dapat kulewati. Aku bahkan harus merangkak sekarang. Bahkan beberapa kali juga aku harus tiarap hingga kini tubuhku dipenuhi lumpur. Sulit sekali rasanya bergerak bukan hanya karena celah sempit, tapi juga karena kedua timun di serambi lempit dan anusku. Mereka terus bergesekan di sana. Aku merindukan suamiku.

Nikmat sekali rasanya pergerakan di dua lubang tersebut. Aku bahkan hampir orgasme karenanya. Aku terus berjalan hingga akhirnya aku menemukan ruang terbuka dan aku pun mencapai orgasmeku. Sungguh nikmat sekali rasanya. Ingin aku beristirahat sejenak namun karena hujan badai, aku harus segera pulang.

Setelah mengumpulkan tenagaku kembali, aku berjalan menuju perumahanku. Rawa dan jalanan perumahanku dibatasi pagar. Aku pun berusaha memanjatnya. Setelah berhasil melewati pagar, ternyata aku sudah melewati pos keamanan. Untungnya bagiku karena aku aman dari pantauan cctv. Namun, aku juga tersadar bahwa motor pak satpam tidak ada di sana.

Artinya, aku harus berhati-hati agar tidak dipergoki olehnya karena ia sedang keliling. Aku terus berjalan menuju rumahku. Beberapa kali juga aku sempat orgasme karena kedua timun tersebut. Aku sudah sangat lemas dan kini aku sudah di belokan terakhir menuju rumahku.

Saat aku akan melanjutkan perjalananku, kulihat motor pak satpam sedang berada di blok ini. Aku terpaksa harus bersembunyi. Namun, aku tidak menemukan tempat yang aman. Untungnga listrik masih padam sehingga sementara ini aku masih aman. serambi lempitku sudah sangat gatal sekali rasanya, aku ingin segera orgasme lagi.

Tapi akan sangat berbahaya jika aku melakukannya. Aku pun terus berjalan mengendap karena arah jalannya motor pak satpam sama denganku. Ia hanya dapat melihatku jika ia menengok ke belakang. Aku terus berjalan hingga aku pun mencapai pintu rumahku. Aku kemudian berusaha mencari kunci rumahku.

Saat sudah menemukannya, tanpa kusadari ternyata pak Satpam balik arah. Aku pun berlari bersembunyi di taman depan. Aku berharap setidaknya dengan aku terlentang di sana, aku tidak akan terlalu kelihatan. Benar saja pak satpam lewat begitu saja. Merasa sudah aman, aku pun masuk ke dalam rumah.

Aku langsung mencari gunting untuk melepas g-string buatan pak Zainal tadi. Aku keluarkan timun di anusku tersebut. Kemudian, aku pun memainkan timun di serambi lempitku. Gairahku sungguh memuncak. Aku pun akhirnya orgasme kembali. Puas sudah rasanya aku orgasme.

Ingin aku memejamkan mataku, namun aku harus membersihkan diriku karena banyak bekas lumpur dan tanah di tubuhku. Sebelum membersihkan diriku, aku membuang kedua timun tersebut keluar. Namun, tiba-tiba aku mendapatkan ide. Aku ingin mandi di halaman mengingat hujan badai masih sangat deras.

Aku kemudian mengambil handuk, sampo dan sabun. Kemudian, kubawa semua alat mandi dan 2 timun tadi ke halaman depan. Kututup pintu dan aku pun membuang kedua timun tersebut terlebih dahulu. Setelah itu, aku membasuh tubuhku dengan air hujan. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com

Kemudian, aku menyampoi rambutku dan membilasnya dengan air hujan. Setelah bersih dari busa, aku menyabuni tubuhku. Ketika aku sudah menyabuni seluruh tubuhku, tiba-tiba listrik nyala dan semuanya menjadi terang. Panik? Tentu saja. Siapa saja bisa melihat aku sekarang.

Namun, aku tetap tenang. Aku menyelesaikan mandiku. Setelah semua busa di tubuhku bersih, aku memakai handuk, menutup pintu dan mengeringkan tubuhku. Selanjutnya aku mengeringkan rambutku dan kembali tidur dalam keadaan telanjang bulat di ruang tamu.

Bersambung… Keesokan harinya, aku terbangun pukul 10 pagi. Tubuhku sangatlah lelah. Petualangan semalam sangatlah menyenangkan. Pengalaman yang sangat menegangkan sekaligus menyenangkan kulalui malam tadi. Satu hal yang akan selalu kuingat adalah anal ku kehilangan virginitas oleh sebuah timun.

Selain itu, petualangan melewati celah sempit di rawa juga masih menyisakan beberapa luka dan lecet di tubuhku. Aku juga masih kelelahan akibat kejadian tadi malam. Aku tak menghitung berapa kali aku orgasme malam tadi. Tubuhku sangatlah lelah dan tak bertenaga.

Rasanya aku ingin beristirahat seharian di atas kasur. Hari ini hari minggu. Sungguh saat yang pas untuk beristirahat seharian penuh. Namun, tiba-tiba terdengat suara ketukan di pintu rumahku. Aku dengan terpaksa berjalan ke pintu depan rumahku. Kukumpulkan seluruh tenagaku untuk berjalan ke sana.

Rupanya yang mengetuk pintu rumahku adalah pengantar paket. Kulihat paket yang ia antar cukup besar. Aku tidak tahu apa isinya. Namun jelas bahwa paket itu memang ditujukan ke sini karena penerima adalah suamiku. Saat akan meminta tanda tanganku, kulihat matanya cukup kaget.

Aku yang bingung dan juga baru sadar bahwa sedari tadi aku tidak mengenakan apa pun. Untungnya aku berada di balik pintu sehingga tidak siapa pun melihatku. Karena kepalang tanggung, kuperlihatkan saja sebagian tubuhku setelah memberikan tanda tangan. Setelah itu, aku pun menutup pintu rumah.

Seperti biasa, aku menjalani berbagai aktivitas tanpa sehelai benang pun menutupiku. Mulai dari memasak hingga membersihkan rumah. Setelah selesai semua, aku pun bersantai. Lelah dan pegal sekali rasanya tubuh ini. Ingin rasanya aku spa atau pijat untuk sekedar relaksasi. Namun aku malas sekali untuk pergi keluar rumah. Seandainya saja ada layanan spa panggilan.

Saat sedang merapihkan brosur yang ada di meja ruang tamu, aku melihat selebaran pijat panggilan tunatera ibu Lili. Berhubung tubuhku sangat lelah, Aku pun mengkontak jasa tersebut dan memanggilnya. Setelah memanggil jasa tersebut, aku pun ke kamar untuk mengenakan pakaian.

Aku tidak begitu niat untuk eksib kembali. Aku mengenakan bra dan celana dalam berwarna hitam. Kemudian, kubalut tubuhku dengan kimono. Tidak berselang lama, kudengar ketukan pintu rumahku. Kubuka pintu dan aku terkejut. Seorang pria tua datang ditemani seorang pemuda.

Saat aku tanyakan maksud kedatangan mereka, rupanya yang akan memijatku adalah seorang pria. Ibu Lili adalah nama panti pijatnya. Karena sudah tanggung, jadi kulanjutkan saja semuanya. Aku sudah sangat lelah dan butuh pijatan di tubuhku. Aku pun mempersilahkan sang terapis masuk.

Kami pun saling memperkenalkan diri. Pak tua yang akan memijatku bernama Saiful dan yang mengantarnya adalah anaknya yang bernama Singgih. Setelah berbincang sebentar, aku pun menggelar matras lipat di lantai kamar tamu. Sehabis itu, aku alasi dengan seprai matras tersebut. Setelah semua persiapan selesai, kami pun akan memulai sesi pijat.

Saat memasuki kamar tamu, rupanya Singgih pun ikut masuk ke kamar. Aku bingung mengapa demikian, ia pun menjawab bahwa ia harus membantu pak Saiful karena ia tidak dapat melihat sama sekali. Aku sebenarnya keberatan. Namun, tiba-tiba jiwa eksibisionis ku muncul dan kubiarkan saja.

Singgih sendiri meminta 2 buah handuk. Ia mengatakan bahwa handuk tersebut akan digunakan untuk menutupi area sensitif ku. Sesi pijat pun dimulai. Saat ini aku masih mengenakan kimonoku beserta pakaian dalam. Pijatan dimulai dari kaki kanan ku tanpa menggunakan minyak. Pijatan pak Saiful sangatlah pas untukku.

Rasanya nikmat dan relax sekali. Kemudian pijatan pun naik ke betis dan pahaku. Setelah itu dilanjutkan dengan pijatan di bagian kiri. Kemudian setelah pahaku dipijat, ia pun memulai pijatan di area pinggang dan pantatku. Ia juga memijat bagian dalam pahaku.

Beberapa kali jarinya mengenai bibir serambi lempitku. Diperlakukan seperti itu membuat hasratku perlahan bangkit. Ia juga beberapa kali memainkan jarinya di sekitar lubang anusku. Mungkin jika ia dapat melihatnya, serambi lempitku sudah mulai sedikit basah.

Saat ini, kulihat Singgih sedang asyik memainkan HPnya. Aku tidak begitu mempedulikan dirinya karena kulihat ia sepertinya sedang sibuk bermain game di HPnya. Pijatan pun berlanjut ke punggung dan leherku. Aku sedikit kecewa karena sebenarnya aku menikmati permainan jari pak Saiful. Namun, aku harus terlihat biasa saja agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Setelah itu, pak Saiful memintaku untuk melepas kimonoku karena ia akan memulai pijatan dengan menggunakan minyak urut. Aku pun mengikuti perintahnya. Kini terpampang jelas tubuhku yang hanya dibalutkan pakaian dalam. Kulihat Singgih mencuri-curi pandangannya terhadap tubuhku. Sedangkan pak Saiful mulai menuangkan minyak ke kakiku.

Dipijatnya kakiku dengan telaten. Nikmat sekali rasanya setelah menjalani hari yang melelahkan hingga kemarin malam. Pijatannya juga mulai naik ke betis dan pahaku. Rasanya otot tubuhku yang sebelumnya kaku kini melemas. Pijatan terus berlangsung sama seperti sebelumnya. Hingga saat mencapai pantatku, ia melepas celana dalamku.

Aku pun mengikutinya karena sebelum melepas celana dalamku, pak Saiful telah menutupnya dengan handuk. Kini, hanya handuk saja yang menutupi pantatku dari pandangan 2 pria tersebut. Pak Saiful pun melanjutkan pijatannya dengan pola yang sama. Setelah memijat pinggang dan pantatku, ia mulai memijat bagian dalam pahaku.

Kali ini, jari pak Saiful sangat terasa menyentuk bibir serambi lempit dan analku. Kali ini jari pak Saiful menyentuh tanpa terhalang apa pun. Pak Saiful tentu dapat merasakan bahwa serambi lempitku tentu sangat basah akibat rangsangan yang ia berikan. Beberapa kali bahkan jarinya sedikit masuk ke dalam lubang serambi lempitku.

Di tengah kenikmatan yang kurasakan, pak Saiful berpindah naik untuk memijat punggungku. Aku kecewa karena kenikmatan tersebut harus terhenti.

Kemudian, pak Saiful membuka kaitan BH ku sebelum menuangkan minyak. Namun, ia tidak menutupinya dengan handuk karena payudaraku masih tertutup. Meskipun begitu, kini bagian belakang tubuhku hampir telanjang seutuhnya. Ia juga memintaku untuk melepas saja BH ku. Aku pun mengikuti perintahnya.

Ia pun mulai memijat punggung bagian bawah dan dilanjutkan hingga naik ke bagian leher. Pijatan tersebut terus berulang hingga bagian samping tubuhku. Beberapa kali tangannya juga mengenai sisi samping payudaraku. Setelah itu, ia melanjutkan dengan memijat tanganku.

Satu hal yang kusadari, saat ia memijat punggungku aku sedikit merasakan ada tonjolan keras yang mengenai pantatku. Meskipun ia tidak dapat melihat, bukan berarti ia tidak memiliki birahi. Mungkin sentuhan yang ia berikan padaku juga membuat birahinya bangkit.

Setelah memijat tangaku, ia memintaku berbalik badan. Ia juga membantuku dengan menutup area sensitifku dengan handuk. Sementara Singgih kulihat masih sibuk dengan gamenya. Entah apakah ia hanya berpura-pura atau tidak. Tapi kulihat ia tidak fokus dengan gamenya dan mencuri-curi melihat tubuhku.

Ia kemudian memulai pijatan kembali di bagian kaki. Pijatannya yang nikmat membuatku mulai mengantuk. Meskipun begitu, rasa kantuk yang kurasakan tidaklah sebesar birahiku yang sudah bangkit. Pijatan pak Saiful sendiri mulai naik ke atas. Aku sendiri memejamkan mataku berpura-pura tertidur.

Pijatan pak Saiful lagi beberapa kali menyerempet ke lubang serambi lempitku. Ia juga melepas handuk yang menutupi selangkanganku sehingga kini aku hanya ditutupi handuk di dadaku. Singgih kulihat sudah tidak fokus dengan gamenya. Pak Saiful melanjutkan pijatannya ke bagian perutku dan dadaku. Setelah itu pijatannya pun berakhir.

Aku merasa tanggung. Ingin sekali rasanya aku orgasme. Tapi tidak mungkin aku mengatakan hal tersebut. Kemudian aku meminta pak Saiful memijat kembali pinggangku dengan alasan masih kurang nyaman. Aku pun kembali tengkurap. Ia kembali memijatku. Ia juga tidak lupa memijat bagian dalam pahaku.

Beberapa kali ia kembali menyentuh bibir serambi lempitku. Bahkan kali ini, ia berani memasukkan jarinya ke dalam serambi lempitku. Aku yang sudah tidak tahan hanya bisa mendesah. Aku pun sedikit mengangkat pinggulku saat ini. Sementara jari pak Saiful sudah masuk seutuhnya. Ia mengobok serambi lempitku dengan jarinya.

Ia juga memasukkan jari lain ke dalam lubang anusku setelah diolesi minyak. Kini kedua lubangku sedang dipeneterasi menggunakan jarinya. Nikmat yang tiada tara. Tanpa kusadari aku pun menggeliat. Kini tak ada apa pun yang menutupi tubuhku. Aku yakin Singgih pasti dapat melihat segalanya.

Pak Saiful terus memainkan jarinya. Aku sudah tidak lagi menahan desahanku dan justru menikmatinya. Ketika aku akan mencapai orgasmeku, pak Saiful menghentikan permainan jarinya dan mencabutnya. Ia memintaku berbalik badan. Aku sangat tersiksa dengan ulahnya. Aku pun berbalik arah agar ia dapat segera memainkan jarinya kembali.

Kulihat Singgih tidak ada di kursi yang sebelumnya ia duduki. Aku kembali memejamkan mataku. Pak Saiful kembali memainkan jarinya di dalam serambi lempitku. Sungguh nikmat sekali permainan jarinya. Tidak butuh waktu lama aku pun mengeluarkan cairan cintaku. Aku yakin pak Saiful mengetahui nya karena aku mengempot jarinya.

Akupun mengatur nafasku kembali. Saat sedang mengatur nafasku, aku merasa selangkanganku terbuka. Saat aku ingin melihat ke bawah, mataku ditutup oleh handuk. Aku yang masih mengatur nafas tidak dapat berontak.

Aku merasakan sesuatu yang tumpul masuk ke dalam serambi lempitku. Kemudian aku mendengar bisikan “Nikmati saja mba”. Suara tersebut adalah suara Singgih. Rupanya ia masih berada di ruangan ini. Pak Saiful kemudian menggejot serambi lempitku. Aku pun hanya bisa pasrah dan menikmati saja.

Daripada berontak dan aku disakiti, lebih baik aku menikmati saja pikirku. Kemudian, aku merasa ada sesuatu yg ingin masuk ke dalam mulutku. Sepertinya itu adalah rudal Singgih. Kini aku digenjot dua pria sekaligus di mulut dan serambi lempitku. Puas menikmati mulutku, Singgih pun beranjak.

Pak Saiful kemudian mencabut rudalnya, sepertinya ia akan berganti dengan Singgih. Kemudian aku pun digendong dan kurasakan sebuah rudal masuk ke dalam serambi lempitku. Lalu, aku merasakan satu rudal lagi masuk ke dalam anusku. Kini aku dipeneterasi 2 rudal sekaligus dalam keadaan digendong.

Tidak butuh waktu lama, aku mendengar pak Saiful mengerang. Sepertinya ia akan orgasme. Kemudian kedua pria tersebut menghentikan genjotan mereka. Aku pun diposisikan berlutut dan kurasakan tembakan sperma tepat di wajahku. Setelah itu, pak Saiful pun rebahan untuk beristirahat.

Singgih kemudian membersihkan wajahku dengan handuk. Setelah itu, ia kembali menggendong ku sambil mempenetrasiku. Ia menggendongku keluar kamar. Ia kemudian menggenjot diriku di ruang tamu. Permainan Singgih sangatlah perkasa. Aku sangat menikmatinya.

Hingga tak berselang lama, aku kembali akan mencapai orgasmeku. Singgih yang mengerti mempercepat sodokannya. “Aaahhh… Teruss…. Enakkk” Ujarku. Tidak lama kemudian aku pun orgasme. Singgih menghentikan pergerakannya agar aku dapat menikmati orgasmeku.

Setelah orgasmeku selesai, Singgih terus menggenjot tubuhku dengan posisi aku direbahkan di sofa. Kami berganti berbagai gaya di sini. Singgih sangatlah perkasa. Desahanku terdengar nyaring di ruangan ini. Mungkin jika ada yang lewat di depan rumahku, secara samar ia akan mendengarnya.

Aku tentu saja tidak ingin hal itu terjadi. Aku sendiri kembali akan orgasme untuk yang ketiga kalinya. Namun, kekhawatiranku benar terjadi. Rupanya saat aku sedang dipijat tadi, Singgih sengaja memesakan makanan online. Ia memesan menggunakan HP ku yang dapat dibuka dengan wajah.

Sepertinya ia mengscan wajahku tadi. Kini, makanan tersebut telah tiba dan sang ojol sudah berada di depan pintu rumahku. Singgih kemudian menghentikan genjotannya. Ia juga menyuruhku untuk mengambil pesanan tersebut. Namun, aku sudah sangat tanggung. Aku ingin mencapai orgasmeku dahulu.

Akhirnya, Singgih menarikku ke depan pintu. Ia membuka sedikit pintu tersebut. Kami bersembunyi di balik pintu dan aku mengeluarkan kepalaku. Ia kemudian memasukkan rudalnya ke dalam serambi lempitku. Ia menggenjot diriku perlahan dengan pintu terbuka. Aku pun terpaksa harus menerima pesanan dari ojol tersebut dengan memperlihatkan kepalaku yang bergoyang akibat sodokannya.

“makasih ya pak” “Sama sama neng, kayanya seru banget, boleh ikutan gak” Ujar ojol tersebut “Jangan pak, ahhh…, udah… Bapakkkk… Pergi sana… Ahhh… “ “Masuk aja sini pak ikutan” Teriak Singgih.

Mendengar hal tersebut, pak ojol pun masuk ke dalam. Singgih pun mengatakan bahwa si bapak ojol bebas menyaksikan kami namun ia tidak boleh menyentuhku. Ia juga diperbolehkan mengocok rudalnya dan membuangnya di wajahku.

Mendengarkan hal tersebut, bapak ojol kemudian melepas celananya. Ia pun mengocok rudalnya sambil menyaksikan live sex di hadapannya. Payudaraku terus berayun, serambi lempitku semakin becek, dan desahanku tak kunjung berhenti. Aku pun mencapai klimaksku dan cairan cintaku membasahi lantai. Setelah itu, aku ambruk ke lantai.

Singgih kemudian kembali menghujam rudalnya di dalam serambi lempitku. Kali ini ia bergerak cepat karena sepertinya ia akan orgasme. Saat Singgih sedang menggenjot diriku, Tiba-tiba ada sperma yang menyembur ke wajahku. Aku lupa bahwa kami sedang disaksikan oleh orang lain.

Setelah itu, pak ojol kembali mengenakan celananya dan pergi meninggalkan kami dengan pintu terbuka. Aku yang sudah tak bertenaga akibat orgasme hanya bisa pasrah jika ada melihat kami. Untungnya, tidak butuh waktu lama, Singgih pun orgasme. Namun sial, ia mengeluarkan spermanya di dalam serambi lempitku.

Setelah puas mengeluarkan spermanya, Singgih melepas pens nya dari serambi lempitku. Spermanya pun ikut mengalir perlahan keluar dari serambi lempitku. Setelah itu, ia kembali menggendong diriku. Namun, rupanya ia menggendong ku ke halaman depan. Singgih kemudian menidurkanku di halaman depan dan meninggalkan aku.

Ia kemudian masuk ke dalam rumah. Akupun mengumpulkan tenagaku. Takut jika ada yang melihatku. Aku pun berusaha merangkak menuju ke pintu rumahku. Sambil merangkak, sperma Singgih terus menetes. Jika ada yang melihatku, mungkin akan diperkosa di tempat. Saat  berhasil meraih gagang pintu rumahku, aku tak dapat membukanya.

Rupanya Singgih mengunci pintunya dari dalam. Kulihat di dalam Singgih dan pak Saiful sedang memyantap makanan mereka. Mereka tidak mempedulikan aku yang telanjang seorang diri di halaman. Aku pun bingung kemana harus bersembunyi. Aku tidak bisa terus berdiam diri. Dengan terpaksa aku pun mencari tempat bersembunyi.

Kulihat di luar memang sangatlah sepi. Mobil seluruh tetangga juga tidak ada di tempat. Namun, hal itu tidak menutup kemungkinan jika suatu saat akan ada saja yang melihatku. Benar saja, saat aku mencari tempat bersembunyi, aku mendengar suara kendaraan dari kejauhan.

Aku tidak tahu dimana aku harus bersembunyi. Aku yang sudah bingung akhirnya berusaha mengetuk pintu rumahku. Saat kendaraan semakin dekat, Singgih akhirnya membukakan pintu dan aku pun masuk secepat kilat. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com

Cerita Dewasa Ngentot - Karyawati Eksibisionis Menggoda Driver Ojol yang Kehujanan di Pinggir Jalan
“Gimana mba? Seru gak?” “Sera seru apanya” “Hehe udah jangan ngambek, yauda kami mau pamit pulang, bayarannya mana mba?” “Bayar apalagi? Kan itu udah pesan makanan seenaknya, mana saya diperkosa juga” “Oh gitu? Tapi kan udah dipuasin sama kita, udah dipijit juga sama kita, kalo emang gamau bayar yauda” “Oke ini ongkosnya, terima kasih” “Nah gitu dong, sama sama mba cantik, semoga bisa cepat bertemu lagi.”

Mereka pun pergi dari rumahku. Sungguh berbahaya sekali tadi. Terlambat beberapa detik saja, aku pasti terekspos. Aku kemudian membersihkan semua ruangan dan membersihkan diri. Setelah itu, aku bersantai hingga tertidur di kamarku.

Di sisi lain kota “Eh Supri, kenapa lu sumringah gitu?” “Ini tadi gue abis anter makanan eh dikasih suguhan” “Mana coba liat” “Lah ini si Indah. Yang kemarin gue ceritain, Maknyus itu pri.” “Eh serius ini orangnya? Anjing cakep banget, enak lu bisa nikmatin, lah gue cuma bisa coli ngeliatin” “Santai pri, gue ada rencana, hehehe” “Oke Dod hehehe”

Bersambung… INCIDENT

Dering telefon membangunkanku di sore hari. Mas Angga menelfonku untuk sekedar saling memberikan kabar. Kami berbincang banyak hal termasuk soal listrik padam dan paket yang ia pesan telah tiba. Tentu aku tidak menceritakan soal aksiku. Ia pasti akan marah besar jika mengetahui apa yang kulakukan.

Ia adalah seseorang yang berpegang teguh pada norma di masyarakat. Sehingga hal tabu seperti yang kulakukan tentu tidak akan bisa ia terima. Secara seksual, sebenarnya tidak ada masalah. Ia hanya tidak menyukai anal sex saja yang menurutnya menjijikan. Sejujurnya ada rasa bersalah di hatiku setelah mengkhianati pernikahan kami.

Aku telah berhubungan badan dengan 3 orang tanpa sepengetahuannya dan semua itu terjadi dalam 2 hari saja. Mas Angga banyak sekali menceritakan apa yang telah ia lalui, namun aku hanya bisa terdiam mendengarkan. Setelah 1 jam kami bertelefonan, kami pun mengakhiri panggilan.

Waktu menunjukkan pukul 6 malam. Akupun melihat ke dapur untuk mencari makan. Kemudian menyiapkan bahan masakan untuk makan malam. Kukeluarkan sayuran dan telur untuk makan malamku. Kemudian, aku juga akan memasak nasi sekalian untuk bekal ku ke kantor esok hari. Aku terbiasa membawa bekal ke kantor.

Hal ini bertujuan untuk menghemat waktu istirahatku. Aku kerap bingung akan makan apa pada jam istirahat. Setelah mencuci beras dan memasukannya ke rice cooker, aku melanjutkan memasak sayuran dan telur untuk makan malamku. Aku memasak dalam keadaan tanpa sehelai benangku. Aku sudah sangat terbiasa telanjang saat di rumah.

Setelah selesai memasak, aku pun menyantap makan malamku. Di tengah santapanku, aku menerima telfon dari atasanku, pak Parto. Pak Parto orang yang sudah berumur. Usianya sekitar 60 tahun.

“Malam Indah” “Malam pak” “Maaf ya mengganggu malam-malam, untuk meeting besok di kantor client akan dimajukan ke pukul 8 pagi. Tolong persiapkan berkas dan print proposalnya ya. Terima kasih” “Baik pak, kalau begitu besok saya langsung ke sana karena lebih dekat dan cepat dari stasiun pak” “Ok, terima kasih ya, selamat malam” “Selamat malam pak”

Pak Parto meskipun sudah berumur, ia merupakan pria yang baik. Jiwa kepemimpinannya pun sangat baik sehingga seluruh anggota timnya tentu nyaman bekerja dengannya. Ia juga bisa menjadi sosok ayah di pekerjaan, jika kami berbuat salah, ia tidak ragu untuk pasang badan dan melindungi kami. Ia juga sangat apresiatif terhadap seluruh anggota timnya.

Setelah menghabiskan santap malamku, aku pun menyiapkan berkas dan file yang diperlukan untuk besok. Ketika ku periksa semuanya, ternyata aku baru teringat bahwa proposal yang perlu ku bawa tertinggal di kantor. Untungnya, file yang ku perlukan ada di emailku. Aku pun bergegas berpakaian untuk pergi ke fotokopi yang ada di depan perumahan.

Cuaca di luar sangat gerah, aku pun memutuskan untuk mengenakan hoodie dan celana kaos saja. Tentu tanpa sehelai pakaian dalam. Aku pun berjalan kaki ke depan. Ternyata hanya sebentar angin bertiup kencang kembali. Hujan akan segera turun dari langit.

Aku berjalan lebih cepat. Setelah melewati pos ronda, hanya tinggal berjarak 100 meter aku akan sampai di fotokopi. Namun hujan turun dengan derasnya. Aku pun berlari agar tidak basah kuyup. Ketika tiba di sana, toko fotokopi sudah akan tutup.

Aku sendiri saat ini dalam keadaan basah di seluruh pakaianku. Penjaga toko sendiri sudah hendak pulang karena hujan sudah turun. Namun aku memohon kepadanya dan berjanji akan memberikan uang tips. Cuaca juga seakan mendukungku karena badai semakin kencang. Akhirnya ia pun mengiyakan pesananku.

“Mas, boleh ya, ini saya cuma print aja kok, saya udah basah-basahan kehujanan karena butuh urgent, tolong ya mas, nanti saya kasih uang tips deh, lagian badainya makin jadi tuh mas.” “Yauda deh kalo gitu, semoga aja nanti reda hujannya. Mana yang mau diprint mba?”

Aku pun menyerahkan flashdiskku. Aku pun memintanya untuk mengcopy kembali 3 rangkap dan menjilid semuanya. Kemudian ia pun menyalakan kembali komputer dan mesin fotokopi. Sambil menunggu, ia pun menutup pintu tokonya. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada pelanggan lain yang datang. Setelah itu, komputer pun menyala dan proposal pun dicetak. Setelah aku cek sekilas, dokumen sudah siap untuk diprint. Proposal itu cukup tebal sekitar 100 halaman.

Jadi akan cukup memakan waktu. Aku sendiri mulai kegerahan. Tidak ada kipas di dalam toko ini ditambah pintu ditutup membuatku keringetan. Kini pakaianku basah luar dalam. Saat memasuki halaman ke 40an printer eror. Akhirnya waktu semakin lama terbuang karena menunggu mas nya memperbaiki printer tersebut.

Setelah 15 menit, akhirnya printer kembali berfungsi. Aku sudah sangat kegerahan. Jika saja hoodie yang kukenakan ada resleting, mungkin akan kuturunkan sleting tersebut. Aku sudah basah kuyup akibat hujan dan keringat di seluruh tubuhku. Dokumen pertama pun tercetak. Kini hanya tinggal menunggu difotokopi. Tidak berselang lama, copy pertama dan kedua selesai.

Sambil menunggu copy ke 3, mas penjaga pun mulai menjilid semua dokumen. Saat menjilid dokumen kedua, Tiba-tiba listrik padam. Semakin lengkap lah penderitaanku. Bingung harus bagaimana. Aku perlu dokumen ini siap malam ini karena esok aku harus berangkat pagi-pagi sekali. saya tidak yakin ada toko yang buka pagi nanti.

“Waduh mati lampu mba, gimana nih? Saya gerah banget mau keluar bentar ya ngerokok” “Iya mas, saya tunggu aja deh bentar, kalo emang lama ga nyala, yauda yang ada aja, tapi masnya gapapa kalo mau ngerokok dulu”

Akhirnya aku ditinggal seorang diri. Mengetahui kini aku seorang diri, akupun mengangkat sedikit hoodieku untuk sedikit menghilangkan rasa gerah. Rasanya sedikit nyaman sekarang. Baru sebentar aku merasa nyaman, tiba-tiba masnya membuka pintu.

“Mba maaf, saya pulang dulu ya sebentar ada yang mau saya ambil, paling 15 menit, paling lama sejam, mbanya gimana?” “Mas balik lagi tapi kan?” “Iya mba tenang aja, ini mba pegang aja kuncinya kalau ga percaya” “Gausah mas gapapa, saya percaya kok” “Yauda mba kalau gitu, tapi mohon maaf, ini nomor saya, nanti saya kunci dari luar ya, takut ada apa apa” “Oke mas”

Ia pun pergi meninggalkan aku. Aku juga mendengar suara pintu gembok. Kini aku dikuncinya seorang diri. Merasa situasi aman, aku melepaskan seluruh pakaianku. Kunyalakan flash hp ku untuk memberi sedikit pencahayaan. Aku pun duduk sejenak sembari mengeringkan badanku.

10 menit kemudian, aku pun mulai bosan. Aku pun menjilid dokumen copy kedua. Selain untuk mengisi waktu, aku melakukan ini agar ketika nanti penjaga toko kembali, aku bisa pulang saja. Kebutuhan dokumen sendiri memang sebenarnya hanya 2, namun sengaja kupersiapkan lebih jika dibutuhkan mendadak.

Ketika sedang sibuk menjilid, tiba tiba ada sebuah tangan yang menutup mulutku dan meremas dadaku. Tanpa kusadari, rupanya seseorang masuk ke dalam toko. Ia terus meremas payudaraku dengan keras. Saat kutengok ke belakang, ia bukan merupakan penjaga toko.

“Kamu siapa?” Ujarku. “Lo yang siapa? Masuk ke sini waktu toko tutup, telanjang gini lagi, maling gatau malu” “Saya pelanggan di sini, tadi lagi ngeprint, terus mati lampu dan yang jaga lagi keluar dan saya ditinggal di sini karena katanya sebentar” “Bohong aja lu, gue bawa juga lu ke kantor keamanan” “Kamu yang maling kali”

Kulihat memang ia sangat berbeda dengan penjaga toko tadi. Penjaga toko tadi berbadan kecil sementara laki-laki ini memiliki postur yang berbeda.

“Gue karyawan di sini. Si Kamil juga tadi bilang ke gue udah pulang, lu mau maling kan?” Ujarnya sembari menjambak rambutku.

Rupanya ia adalah karyawan lain di toko ini. Ia kemudian melemparku ke lantai. Aku hanya bisa pasrah dan kesakitan. Badai di luar juga semakin kencang sehingga pertikaian kami tidak akan terdengar keluar. Aku pun meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Namun, sepertinya semua ini belum akan berakhir. Ia kemudian membangunkan tubuhku.

“Berdiri lu anjing. Cepet jelasin semuanya!” Bentaknya.

Aku pun hanya bisa pasrah. Ketika aku akan mengenakan pakaianku, ia merebutnya. Ia menyuruhku untuk menceritakan semuanya dahulu. Ia juga mengatifkan kamera hp nya. Aku tahu karena kini ada flash yang mengarah kepadaku. Ia menyuruhku memperkenalkan diriku dahulu dan dilanjutkan menceritakan semuanya. Aku pun terpaksa mengikutinya. Perawakannya yang sangat besar membuatku tidak berani untuk melawan.

“Nama saya Indah, saya tadi mau ngeprint dan fotokopi di sini, tapi tadi pas tokonya sudah mau tutup, kemudian saya berusaha meyakinkan penjaga toko untuk membantu saya dengan iming-iming uang tips. Kemudian saat masih memfotokopi dokumen, listrik padam. Dokumen saya masih kurang 1 lagi, sebenarnya tinggal sedikit lagi selesai, jadi saya tunggu sampai listrik nyala. Mas penjaga toko kemudian izin pulang sebentar dan saya ditinggal dalam keadaan toko terkunci.”

“Terus lu ngapain telanjang?” “Saya kegerahan, jaket dan celana saya basah, jadi saya lepas biar saya merasa lebih nyaman dan kebetulan dibalik celana dan jaket hoodie saya tidak ada apa apa lagi karena tadi buru-buru takut toko tutup”

“Bohong!” Bentaknya. Dugh. Ia menendang selangkanganku. Aku pun terjatuh dan meringis kesakitan. Ia pun berusaha menyeretku. “Ikut gue ke kantor keamanan” Ujarnya. Aku pun membalas dengan iba dan mengatakan bahwa aku memohon maaf dan memohon agar tidak dibawa ke kantor polisi. Ia pun terdiam. Ia mengatakan “Oke gue ga akan bawa lo ke kantor keamanan.” Aku pun merasa lega.

Ia kemudian melepaskan diriku. Aku masih menahan rasa sakit. Kemudian sibuk melakukan sesuatu. Lalu mengarahkan flash hapenya ke arahku kembali. Iapun menaruh hp nya di atas meja.

“Oke gue ga akan bawa lo, tapi lo harus siap gue siksa dulu”

Aku tidak bisa melawan. Aku hanya bisa pasrah. Ia kemudian mencari sesuatu. Ia membawa sebuah lakban hitam yang biasa digunakan untuk menjilid dokumen. Kemudian, ia menempelkannya di sekitar bulu kemaluanku. Ia menekannya dengan kuat.

Setelah itu, ia menarik lakban tersebut dengan kencang. Prak. Lakban tersebut tercabut. Aku meringis kesakitan. Bulu kemaluanku tercabut hampir semuanya dengan paksa. Ia kemudian mengambil sesuatu. Ia kemudian menyuruhku berposisi merangkak. Setelah itu, ia menjepit putingku dengan jepitan kertas. Sakit sekali rasanya. Aku pun hampir ambruk. Melihat hal itu, ia kesal dan memukul pantatku dengan penggaris besi.

Aku hanya bisa menahan rasa sakit di sekujur tubuhku. Ia kemudian menyalakan lilin. Kupikir ia melakukan itu untuk menamban penerangan, rupanya bukan. Iapun meneteskannya perlaham ke punggungku. Ia terus melakukannya hingga mencapai pantatku. Kemudian membuka pantatku.

Akupun berusaha kabur. Namun ia menginjak tubuhku hingga aku tak dapat bergerak. Aku hanya bisa menahan sakit saat lelehan lilin menetes di dekat lubang anusku. Setelah itu, ia menyuruhku kembali menungging. Kemudian, ia memasukkan lilin tersebut ke dalam anusku. Kini aku terlihat bagaikan pokemon Charmender.

Setelah itu, ia bergerak ke arah kepalaku. Ia kemudian membuka celananya dan memaksaku membuka mulutku. Kemudian ia memasukkan rudalnya ke dalam mulutku. Ia menyodok mulutku dengan paksa. Puas dengan mulutku, ia menyuruhku mencabut lilin tersebut. Kemudian, ia pun duduk di kursi komputer. Setelah itu, ia menjambakku dan kembali memaksaku memainkan mulutku kepada rudalnya. Tidak lama berselang, listrik kembali menyala.

“Ternyata cakep banget lu ya, sayang cakep gini maling.” Ujarnya.

Kemudian ia pun menyuruhku berdiri. Setelah itu, ia menggendong tubuhku. Ia juga memasukkan rudalnya ke dalam serambi lempitku yang masih kering. Rasa takut yang kualami tidak membuatku memiliki gairah seks sama sekali. Dengan paksa ia memasukkan keseluruhan rudalnya. Sakit sekali rasanya. Untung saja rudalnya basah dengan cairan liurku sehingga tidak terlalu sakit. Ia kemudian menggenjotku tanpa membiarkan aku menyesuaikan diri.

Setelah beberapa saat, mas Kamil datang kembali. Ia terkaget saat melihat keadaan di dalam. “Eh Bang Yadi, ada apaan ini?” “Ini mil ada maling, dia gamau gue bawa ke kantor keamanan, jadi gue hukum aja, sini ikutan” Ujar Yadi sambil terus menggenjotku. “Bukan maling dia bang, dia pelanggan, tadi lagi ngeprint ama fotokopi terus mati lampu, jadi gue tinggal bentar” “Oh ga bohong ya dia, yauda lah udah tanggung gue lanjutin aja” “Gila lu bang” “Udah lu diem aja, lanjutin dah kerjaan tuh”

Setelah itu Yadi terus menggempurku tanpa ampun. Sementara Kamil melanjutkan pekerjaannya. Setelah Kamil menyelesaikan semua dokumenku, ia pun menghampiri kami. Kini ia juga sudah dalam keadaan bugil. Ia mengatakan bahwa uang tipsnya tidak perlu, cukup berikan dia kenikmatan. Awalnya kupikir ia berbeda, ternyata sama saja. Mereka berdua terus menggenjotku.

Waktu sudah pukul 12 malam dan akhirnya pertempuran birahi ini berakhir. Kedua pria tersebut sudah 2 kali mengeluarkan spermanya di lubang serambi lempit dan anusku. Mereka kemudian meminta bayaran jasa print dan fotokopi. Setelah itu mereka menggotong diriku yang kelelahan keluar toko.

Mereka juga melemparkan pakaianku. Aku merasa hina sekali. Dokumenku juga dilemparkan padaku. Untungnya dokumen-dokumen tersebut dilapisi plastik beserta flashdiskku. Mereka kemudian pergi dari toko meninggalkan diriku seorang diri. Aku pun mengenakan kembali pakaianku dan berjalan pulang.

Namun ternyata, aku salah, rupanya mereka mengikutiku. Setelah melewati pos keamanan, mereka kembali menghampiriku. Mereka melepas seluruh pakaianku dengan paksa. Mereka merobek hoodie dan celana ku dan membuangnya.

Untung aku hanya membawa HP dan uang saja saat pergi dan sudah kumasukkan dalam plastik dokumen. Mereka kemudian mengalungiku dengan seutas tali. Setelah itu, mereka menyuruhku menggigit plastikku. Mereka juga menyuruhku berjalan merangkak seperti seekor anjing. Mereka menuntunku beberapa saat. Badai pun belum berakhir. Aku merasa sangat kedinginan saat ini.

Tiba di sebuah taman kosong, mereka kembali memakaiku. Kali ini aku sedikit menikmatinya. Sensasi bercinta di luar ruangan membuat gairahku bangkit. Kekhawatiran dilihat orang lain membuatku bergairah. Kini aku dengan suka rela melayani nafsu birahi mereka. Kali ini aku juga mendapatkan orgasmeku.

Mereka memandikanku dengan sperma kali ini. Sesaat setelah kami selesai bercinta, mereka berpakaian dan meninggalkanku. Aku pun melanjutkan perjalanan pulang seorang diri. Di tengah perjalanan, tepatnya ketika sudah berada di gang sebelah rumahku, aku melihat pak Zainal sedang mendorong gerobaknya.

Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya. Masih teringat kejadian kemarin. Lubang anusku ia perawani dengan timun. Aku pun bersembunyi di semak-semak. Karena semak-semak tempat ku bersembunyi tidak terlalu tinggi, aku pun terpaksa menungging dalam posisi merangkak.

Pak Zainal sedang berhenti sebentar di depan sebuah rumah. Aku terpaksa harus menunggu hingga kondisi aman. Tiba-tiba aku nerasakan benda lunak di lubang serambi lempitku. Saat menengok ke belakang, ternyata seekor anjing tengah menjilati serambi lempitku. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com

Aku pun berusaha menghindar, namun anjing tersebut tidak kunjung berhenti. Aku hanya berharap ia tidak menggonggong dengan kencang. Setelah beberapa saat, pak Zainal pun bergerak. Di saat yang bersamaan, jilatan dari anjing tadi juga berhenti. Kini dalam pikiranku hanya berharap pak Zainal segera lewat.

Namun ternyata aku salah, anjing tadi naik ke atas tubuhku. rudalnya merangsek masuk ke dalam serambi lempitku. Anjing tersebut kemudian menggenjot serambi lempitku. Aku sendiri mulai terangsang dengan seks gila ini. Ketika gairahku mulai bangkit, aku merasakan serambi lempitku hangat.

Rupanya anjing tadi sudah ejakulasi dan menembak spermanya di dalam serambi lempitku. Setelah itu, ia mendiamkan rudalnya di dalam serambi lempitku. Pada saat yang bersamaan, pak Zainal melewati tempatku bersembunyi. Anjing tadi juga sudah mencabut rudalnya. Kini saatnya bagiku untuk pulang.

Sesampainya di rumah, Kukeluarkan dokumen dari plastik. Aku melihat secarik kertas bertuliskan “Terima kasih atas servicenya malam ini, jangan bertindak gegabah jika tidak ingin videomu viral.” Saya yakin ini adalah ulah Kamil dan Yadi. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku. Akupun menangis hingga tertidur dengan bekas sperma manusia di tubuhku dan anusku. serambi lempitku? Di sana tercampur sperma Yadi, Kamil, dan anjing tadi.​

Bersambung…WORK OF LUST

Aku terbangun pukul 5 pagi. Aku hanya tidur selama 3 jam saja. Masih teringat siksaan yang ku terima malam tadi. Begitu pun seluruh tubuhku. Masih sangat lelah dan kesakitan terutama di bagian selangkanganku. Pemerkosaan yang ku derita malam tadi membuatku sedikit trauma. Aku bangkit dan membersihkan diriku termasuk sperma yang sudah mengering di seluruh tubuhku. Setelah mandi, aku juga tidak lupa mempersiapkan diri untuk berangkat kerja.

Rasanya aku tidak ingin bekerja hari ini. Aku ingin bersembunyi saja. Aku ingin menangis seharian. Namun rapat penting untuk proyek besar yang akan dihadapi membuatku harus kerja hari ini. Kukenakan bra putih tanpa kawat beserta celana dalam berenda dengan warna senada.

Kupakai tank top berwarna putih dan kukenakan celana hitam ketat. Kemudian aku membawa blazzer untuk menghangatkan tubuh. Bentuk tubuhku jelas tercetak dengan pakaian yang ku kenakan. Namun, aku harus berpakaian seperti ini untuk menarik perhatian client. Setelah berpakaian, kubawa semua barangku. Kupesan ojek online untuk ke stasiun.

Tiba di stasiun, aku berlari ke peron. Keretaku tiba dan aku masuk ke gerbong campur yang sudah cukup penuh. Biasanya, aku naik gerbong wanita, namun karena aku sedikit terlambat, jadi aku masuk ke gerbong yang terdekat. Padatnya kereta di pagi hari membuatku tidak mendapatkan tempat duduk dan terpaksa berdiri. Kupeluk proposal dan tas di depanku dengan tangan kiri, sementara tangan kananku berpegangan. Kereta pun berjalan setelah berhenti sesaat.

Keadaan kereta semakin penuh. Aku terjepit di antara penumpang lain yang mayoritasnya pria. Seperti ini lah resiko pekerja ibukota yang tinggal di pinggir ibukota. Beberapa kali juga aku merasa dada dan pantatku tersentuh orang lain. Namun aku tidak dapat marah karena memang padatnya kereta tentu saja mungkin terjadi ketidaksengajaan. 2 stasiun sebelum aku turun, aku berusaha bergerak mendekat pintu keluar. Hal ini ditujukan agar ketika mencapai tujuanku, aku dapat turun.

Aku pun mengangkat barangku ke atas untuk memudahkan gerakanku. Namun karena kereta sangat padat, aku pun terhenti. Aku terhenti dalam posisi kedua tanganku ke atas. Aku sempat berusaha menurunkan tanganku, namun karena terlalu penuh, aku mengalami kesulitan.

Kereta terhenti sejenak. Masinis mengumumkan bahwa kereta sedang dalam antrian masuk stasiun berikutnya. Pegal sekali rasanya tanganku. Di tengah kepadatan ini, tiba tiba aku merasa ada yang menyentuh dada dan pantatku. Awalnya area sensitifku hanya tersentuh.

Namun, lama kelamaan sentuhan tersebut berubah seperti disengaja. Aku juga merasakan dadaku dan pantatku diremas. Remasan tersebut tak kunjung berhenti. Bahkan aku merasakan kancing kemejaku dibuka. Sebuah tangan kemudian menelusup masuk ke dalam. Tidak butuh waktu lama, tangan tersebut memilin putingku. Sementara tangan satunya lagi, masuk ke dalam celanaku dan menggesek klitorisku.

Masih pagi dan hari masih panjang. Namun aku sudah harus berada di posisi ini. Ini kali kedua kejadian seperti ini menimpaku. Kejadian ini perlahan membuat gairahku bangkit. Kereta pun kembali berjalan. Akal sehat kembali menguasai diriku. Akuu harus segera turun.

Saya berusaha berjalan mendekati pintu. Belum sempat memperbaiki pakaianku. Pintu terbuka dan aku berusaha sekuat tenaga untuk turun. Aku berhasil turun dan buru-buru kuperbaiki pakaianku. Aku kemudian memesan ojek online ke kantor clientku. Tidak lama, orderan ku diterima.

5 menit menunggu, ojek pesananku datang. Aku pun naik dan segera berangkat. Di perjalanan, ojek ini kerap mengajak aku berbincang. Sampai akhirnya ia membuka pembicaraan pada sebuah topik yang membuatku tercengang.

“Mba Indah tinggal di perumahan C Village ya?” Ujar bapak ojol. “Iya pak” Jawabku seadanya. “Oo, tau ga mba, katanya di sana ada perempuan suka telanjang gitu kalo ambil orderan makanan dari ojol” “Masa sih pak?” Aku terkejut. Jantungku rasanya ingin copot. Aku khawatir aksiku sudah diketahui banyak orang. Habislah hidupku jika memang benar demikian. “Iya mba. Malah katanya pernah ada ojol yang sampai diajak masuk buat nonton dia lagi ngewe”

“Ih parah banget pak” Jawabku dengan nada berusaha tenang. Aku pun mengecek HP ku dan ternyata ojol ini bernama Supri, sama seperti ojol yang waktu itu mengantarkan makanan saat aku sedang disenggama Singgih. “Iya mba, kalo ga salah namanya Indah juga mba. Mau liat ga mba orangnya?” Ujarnya sambil membuka galeri HP nya. Ia kemudian menunjukkan video saat aku sedang digenjot Singgih.

“Gimana ya mba kalo orang di kantor mba tau?” “Pak tolong hapus pak” “Boleh, tapi ada syaratnya” “Berapa pak?” “Saya ga butuh uang tutup mulut” Ujarnya ketus. “Terus bapak mau apa pak?” “Mau dong nyicip body nya mba” “Tolong jangan itu pak” “Wah bakal rame nih mba, sekalian kali ya biar banyak ojol yang tau” “Baik pak, tapi jangan sekarang, saya buru-buru pak” “Wah siap-siap viral nih mbak” “Pak saya mohon pak, malam ini saja ya pak” “Ok kalo gitu, tapi gua butuh jaminan” “Saya janji pak gak akan bohong” “Ga percaya ah” “Yauda pak, bapak mau jaminan apa pak?” “Oke kita menepi bentar di tanah kosong sana”

Kami pun berhenti di depan sebuah tanah kosong. Di sana ada bangunan yang sudah tak terurus. Kami pun turun dan masuk ke dalam. Untuk mempercepat waktu, aku pun membuka pakaianku. Namun pak Supri menahannya. Ia menyuruhku membuka seluruh pakaian sambil berjoget. Karena diburu waktu, aku mengikuti keinginannya.

Aku bergoyang perlahan membuka satu per satu kancing kemejaku. Setelah semua kancing terbuka, kubuka seluruh pakaianku. Kuletakkan pakaianku di atas tasku. Setelah itu, aku melepas celanaku mulai dari kancingnya, kemudian resleting, dan perlahan ku pelorotkan ke bawah.

Kini terpampanglah diriku yang hanya mengenakan tanktop putih dengan bra putih dibaliknya dan celana dalam berwarna putih. Setelah itu, perlahan kuangkat tanktopku. Kini, aku hanya menggunakan bra dan celana dalam berwarna putih di hadapannya.

Kemudian, kulepas kait bra ku. Sambil bergoyang kulepas tali braku dari tangan kananku dan dilanjutkan tangan kiri. Terpampanglah di hadapannya 2 gunung kembar yang indah. Kulanjutkan dengan melepas celana dalamku secara cepat. Aku sudah telanjang bulat di hadapannya.

Pak Supri pun menghampiri ku. Ia merekam seluruh lekuk tubuhku. Diperlakukan seperti ini ditambah birahi kentang di keretaku membuat serambi lempitku basah. Tanpa kusadari, pak Supri sudah mengeluarkan rudalnya. Ia pun tanpa aba-aba menahan pinggulku dan menusukkan rudalnya.

“Pak jangan pak, saya bisa terlambat pak” “Bacot lu udah nikmatin aja”

Sejujurnya aku menikmati ini. Namun aku tidak boleh terlambat. Aku pun berusaha melepaskan diri. Namun, pak Supri terus menahan pinggulku. Pak Supri pun mengangkat kedua kakiku. Aku pun terpaksa mengangkat kedua tanganku dan berpegangan pada leher pak Supri agar tidak terjatuh. Pak Supri kemudian menggendongku ke arah luar.

“Nurut ga lu? Gue bawa ke luar nih” “Iya iya pak ampun pak” “Gitu dong”

Pak Supri terus menggenjotku. 5 menit kemudian karena aku sudah terangsang sebelumnya dan birahi yang sudah tinggi, akhirnya aku orgasme. Tak lama berselang, pak Supri meningkatkan tempo genjotannya dan crot keluarlah spermanya di dalam serambi lempitku. Aku pun segera mengambil tisu dan mengelap serambi lempitku sementara pak Supri menyuruhku membersihkan rudalnya dengan mulutku.

Setelah mengelap sperma di serambi lempitku hingga bersih, aku pun memungut pakaianku. Namun naas, pakaianku hanya tersisa kemeja dan celana saja. Rupanya pak Supri mengambil tanktop, bra, dan celana dalamku. Aku sempat meminta dirinya mengembalikan setidaknya tanktopku, namun ia tak memberikannya.

Aku pun segera mengenakan pakaianku mengingat waktu semakin mepet. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke kantor clientku. Desir angin yang masuk melalui sela-sela pakaian mengenai putingku. Kami pun tiba di kantor clientku. Pak Supri mengatakan bahwa ia akan menjemputku sepulang kerja. Ia hendak menagih janjiku dan jika tidak, ia akan menunggu di depan rumahku beserta teman-temannya. Aku pun mengiyakan.

Aku pun tiba di kantor client dan menunggu pak Parto di lobby. Kami berjanjian untuk bersama pergi menuju ruang meeting. Untungnya aku membawa blazer sehingga putingku dapat tersamarkan. Sesaat setelah sampai tadi, aku langsung ke toilet untuk memperbaiki riasanku dan memeriksa setelanku.

Benar saja, putingku terlihat samar di balik kemeja putihku. Tidak lama berselang pak Parto datang dan kamipun beranjak menuju ruang meeting. Selama berjalan, ada rasa tidak nyaman di selangkanganku. Clistoris dan bibir serambi lempitku bergesekan dengan celanaku.

Kami pun tiba di ruang meeting dan menunggu pak Gunawan, client kami. Tidak lama berselang, pak Gunawan datang. Kami pun saling bertegur sapa dan basa-basi sebelum memulai diskusi sembari menunggu 1 orang lagi. 5 menit berselang, datanglah pak Fredy.

Kini lengkaplah seluruh peserta rapat dan rapat pun dimulai. Aku pun diminta pak Parto mempresentasikan proyek ini. Aku berdiri di hadapan 3 pria paruh baya dan menjabarkan perihal proyek ini. Presentasi berjalan lancar dan sesi diskusi dimulai dan berjalan juga dengan lancar.

Tidak terasa waktu sudah pukul 11.30. Aku dan pak Parto pun pamit untuk kembali ke kantor kami. Namun, pak Gunawan dan pak Fredy mengajak kami makan bersama. Kami pun makan bersama di sebuah restoran di dekat kantor mereka.

Kami makan di sebuah restoran mewah yang juga memiliki fasilitas karaoke dan biliard. Sembari menyantap makan siang, kembali kami berbincang. Kami banyak berbincang mengenai kehidupan pribadi dan kini kuketahui bahwa mereka bertiga adalah teman semasa kuliah.

Pak Gunawan adalah seorang duda yang ditinggal oleh istrinya yang meninggal 5 tahun lalu. Ia memiliki seorang anak yang kini sedang studi di luar negeri. Sementara pak Fredy, ia juga seorang duda yang diceraikan oleh istrinya 10 tahun lalu karena ketahuan selingkuh.

Jika pak Gunawan hampir mirip dan sopan dengan pak Parto, pak Fredy justru berbeda. Ia seorang yang to the point. Pak Fredy kemudian mengajak kami berkaraoke. Pak Parto pun mengatakan bahwa ia tidak bisa karena ada rapat lain yang perlu ia hadiri. Namun, sebagai bentuk entertainment kepada client, pak Parto menyuruhku meneman mereka.

Pak Parto juga mengizinkan aku untuk pulang sebagai imbalannya. Akhirnya aku ditinggal dengan pak Gunawan dan pak Fredy di restoran. Kami kemudian masuk ke ruang karaoke. Ruang karaoke di sini sangat tertutup dan bahkan tak ada celah mengintip sedikit pun dari pintu.

Selain itu, pintu ruangan juga dapat dikunci dan tak ada kamera cctv. Sepertinya memang karaoke ini kerap menjadi area jamuan bisnis. Entahlah aku juga tidak paham karena aku hanya pernah ke karaoke keluarga bersama temanku dahulu.

Setelah masuk ruangan, pak Fredy juga telah memesan beberapa minuman dan cemilan sehingga semua pesanannya kini telah disuguhkan. Kami juga menyewa ruangan selama 2 jam. Setelah waktu sewa kami dimulai, pak Fredy mengunci pintu. Ia tidak ingin ada yang keluar masuk.

Kami pun bernyanyi dengan lagu-lagu lawas. Aku sebenarnya tidak tahu lagu-lagu yang mereka nyanyi kan, namun aku mengikuti saja alunan musik sambil menikmati cemilan. Kemudian, pak Fredy dan pak Gunawan memintaku menyanyi di hadapan mereka.

Aku pun menyanyikan lagu di hadapan mereka. Di tengah nyanyianku, pak Gunawan menerima telfon mendadak dan ia harus segera kembali ke kantor dan kini tersisa aku dan pak Fredy. Kini tinggallah aku dengan seorang pria paruh baya.

Kami pun bernyanyi bersama sambil duduk. Ia kemudian berusaha merangkul pundakku. Ia juga menyanyi sambil merokok. Hampir 30 menit di ruangan, aku pun berkeringat. AC ruangan tidaklah terlalu dingin. Aku yang merasa agak gerah melepas blazzer ku. Aku tak khawatir karena ruangan cukup gelap dan hanya bercahayakan monitor saja.

Semakin lama, kemeja ku semakin basah. Aku yakin jika pak Fredy menengok ke arahku, ia dapat melihat putingku yang tercetak di balik kemejaku. Semakin lama, tangan pak Fredy juga semakin turun ke pinggulku. Pada lagu berikutnya, ia pun mengajakku berdansa.

Kami pun bernyanyi sambil berdansa di depan monitor. Ia tertegun melihatku. Ia mengatakan bahwa aku sangat cantik. Kemudian ia mengatakan juga bahwa tubuhku sempurna, ia juga sadar bahwa aku tak mengenakan bra. Kemudian, ia memintaku membuka kancing kemejaku dan menjanjikan bahwa jika aku melakukannya, ia akan mempertimbangkan proposal proyek dari perusahaanku.

Aku pun menurut dan membuka kancing kemejaku. Ia pun memelukku dan tangannya turun ke pantatku saat berdansa. Ia pun akhirnya menyadari bahwa aku tak mengenakan sehelai celana dalam. Kemudian ia pun meremas pantatku. Setelah itu, ia memintaku untuk telanjang.

Ia mengatakan bahwa jika aku mengikuti keinginannya, proyekku akan diterima dan jika menolak, maka proposalku juga akan ia tolak. Aku takut pak Parto kecewa dan marah padaku jika sampai proyek ini gagal. Namun di sisi lain, aku juga tidak ingin memamerkan tubuhku ke orang lain lagi.

Setelah mempertimbangkan segalanya, aku pun menyetujui permintaan pak Fredy dengan syarat tidak boleh ada dokumentasi. Pak Fredy kemudian memintaku untuk bergoyang di atas meja sambil bernyanyi dan membuka pakaianku. Ia memasangkan lagu dangdut dan kini aku bagaikan seorang biduan. Aku terus berlenggok sambil bernyanyi dan melepas pakaianku.

Kulepaskan kemejaku mulai dari tangan kanan terlebih dahulu. Pak Fredy terlihat bahagia dengan hiburan yang ku suguhkan. Kini, kulepas kemeja ku melalui lengan kiri. Tak ada lagi pelindung di bagian atas tubuhku. Lalu sambil bernyanyi, kubuka kancing celanaku. Setelah itu, ku buka resleting celanaku. Sambil bergoyang, perlahan celana ku pun lepas.

Di tengah aksiku, pak Parto mengatakan kepadaku bahwa selain aku boleh pulang cepat hari ini, aku diperbolehkan libur selama 2 hari tanpa potong cuti karena proposal kami sudah disetujui. Rupanya pak Fredy tidak hanya bicara besar. Perlahan tapi pasti, kini aku sudah telanjang di hadapan pak Fredy.

Pak Fredy kemudian menyuruhku yang sudah telanjang bulat turun dan bernyanyi di pangkuannya. Aku pun menurutinya dan duduk di atas pangkuannya. Kemudian, sambil aku bernyanyi di atas pangkuannya, ia menciumi pipi dan leherku. Pipi dan leherku pun kini bau rokok.

Setelah itu, ia berusaha mencium bibirku dan kubiarkan ia melakukannya. Sambil berciuman, ia juga menggerayangi tubuhku. Kemudian, ia melepaskan ciumannya. Ia memintaku terus bernyanyi dan ia memandangi ku yang kini menjadi biduan bugil bernyanyi menghiburnya sambil merokok.

Tiba-tiba, pintu ruangan kami diketuk. Waktu sewa kami masih tersisa 30 menit, jadi seharusnya bukan karena itu pintu kami diketuk. Pak Fredy kemudian mengatakan bahwa ia memesan rokok. Ia memintaku untuk mengambilnya. Aku ragu untuk menyetujui permintaan itu.

Namun ia memaksaku dan aku pun bersembunyi di balik pintu untuk menerima rokok tersebut. Aku menengokan sedikit kepalaku dan mengeluarkan tanganku. Aku yakin si pelayan tentu dapat melihat tanganku yang tak tertutup apa pun. Ia sedikit tertegun karena ternyata, tubuhku sedikit terlihat.

Setelah itu, aku langsung menutup pintu ruangan dan menguncinya kembali. Kemudian, pak Fredy memintaku menaruh sebatang rokok di mulutnya. Sambil dipangku olehnya, ia memintaku menyalakan korek api. Setelah menyalakan rokoknya, aku bernyanyi kembali sambil menghadap dirinya.

Ia kemudian memainkan payudaraku dengan tangan kanannya. Semakin lama, tangannya semakin turun ke area serambi lempitku yang sudah basah. Aku sangat terangsang dengan situasi ini sedari tadi. Ia pun memasukkan jarinya ke lubang serambi lempitku. Ia mengobok serambi lempitku dengan jarinya.

Kini nyanyianku berubah menjadi suara desahan. Aku sudah sangat terbawa suasana. Akupun sangat menikmati permainan jarinya. Bahkan sudah hampir orgasme. Namun, ia mencabut jarinya. Ia kemudian menyuruhku untuk memasukkan botol air mineral ke dalam serambi lempitku.

Botol tersebut terbuat dari kaca. Aku pun menurutinya. Ku letakkan botol di pinggir meja dan kumasukkan perlahan. Aku kemudian menaik turunkan tubuhku. Aku menimati gesekan botol tersebut di dalam serambi lempitku. Pal Fredy terlihat sangat menikmati show yang aku berikan.

Tidak lama berselang, aku pun orgasme dan cairan serambi lempitku mengalir deras. Pak Fredy memindahkan diriku ke sofa. Ia mengatakan padaku bahwa ia akan mengajakku ke hotel. Ia ingin aku melayaninya di sana karena waktu sewa karaoke akan segera habis.

Bersambung…ENDLESS NIGHT

Setelah aku mengumpulkan tenagaku, aku pun mengenakan pakaianku. Pak Fredy pun kulihat sibuk dengan HP nya. Kulihat ia memesan kamar hotel untuk kami berdua. Setelah aku kembali berpakaian, kami pun keluar dari ruang karaoke. Kami menuju ke kasir. Saat aku akan membayar tagihan, pak Fredy menahannya. Aku menyampaikan bahwa ini adalah entertainment dari kantor, namun ia menolaknya.

Ia mengatakan bahwa entertain yang ia butuhkan adalah diriku. Saat kami akan keluar, pelayan yang melihat sedikit tubuhku membukakan pintu untuk kami. Aku tersenyum kepadanya dan ia terlihat gelagapan. Setelah itu, aku naik ke mobil pak Fredy. Kami pun pergi menuju ke hotel yang telah ia pesan.

Setelah masuk mobil, pak Fredy memintaku melepas seluruh pakaianku kembali. Aku pun mengikuti keinginannya tanpa sadar. Entah kenapa apa pun permintaannya selalu kuikuti. Setelah itu, ia pun menjalankan mobilnya. Kaca mobilnya yang gelap membuatku merasa aman untuk telanjang. Di tengah perjalanan, kami berhenti di sebuah pom bensin. Pom bensin tersebut sangat sepi.

Karena letak tangki bensin yang berada di sisi kiri, maka petugas pom bensin akan menghampiri sisi kiri mobil. Setelah itu, ia membuka sedikit kaca kiri mobilnya. Kututupi tubuhku dengan cardigan. Meskipun begitu, pahaku yang mulus masih dapat tetap terlihat.

Saat petugas menghampiri kami, aku melihatnya menelan ludah. Tentu saja ia dapat melihat pahaku yang putih mulus. Saat pak Fredy mengatakan nominal pengisian, ia tidak menanggapinya. Ia hanya bengong melihatku. Kemudian pak Fredy kembali memanggilnya dan ia pun mengiyakan.

Setelah itu, ia pun pergi mengisi bensin mobil pak Fredy. Setelah bensin penuh, petugas tersebut kembali menghampiri kami. Pak Fredy kemudian menyerahkan uang dan petugas tersebut menerimanya. Saat kami akan pergi dan Fredy menaikan kaca mobil, aku pun membuka cardiganku. Petugas tadi tentu masih dapat melihatnya dan melihat tubuh mulusku.

Setelah melalui perjalanan selama 15 menit, kami pun tiba di sebuah hotel. Hotel tersebut terlihat biasa saja. Aku pun kembali mengenakan pakaianku. Kami pun turun ke lobby, sementara mobil pak Fredy diparkirkan oleh jasa valet. Pak Fredy kemudian check in hotel.

Setelah itu, kami pun menuju kamar yang ia pesan. Rupanya, kamar yang ia pesan adalah kamar mewah. Ranjang di kamar tersebut sangatlah besar. Setelah masuk ke dalam kamar, pak Fredy mengunci pintu. Pak Fredy kemudian menyuruhku untuk melepas seluruh pakaian. Aku pun menurut dan melepas seluruh pakaianku.

Setelah itu, ia juga turut melepas pakaiannya. Tanpa basa basi, ia langsung melumat bibirku. Ia juga meremas dadaku dan memainkan jari lengan satunya di serambi lempitku. Sungguh panas sekali hubungan kami. Aku pun tidak tinggal diam dan mengusap rudalnya.

5 menit di posisi ini, aku pun berlutut untuk mengemut rudalnya. rudalnya ternyata tidaklah terlalu besar. Bahkan ini mungkin rudal terkecil yang pernah kulihat. Kumasukkan rudalnya ke dalam mulutku secara keseluruhan. Kumainkan lidahku dan membuat rudalnya tegang maksimal. Selain itu, kumainkan juga kedua testisnya sambil kujilat satu per satu. Ia pun mengerang keenakan.

Setelah itu, ia memintaku menungging di atas kasur dan ia menjilat serambi lempitku. Permainan lidahnya sangatlah hebat. Aku bisa katakan bahwa ia sangatlah hebat dalam foreplay. Aku sudah sangat becek saat ini. Puas memainkan lidahnya, ia pun mengambil posisi berdiri.

Ia kemudian memasukkan rudalnya yang kecil ke serambi lempitku secara perlahan. Jujur, aku tidak merasakan apa pun di sana. Pak Fredy kemudian memaju mundurkan pinggulnya. Aku pun dengan terpaksa pura-pura mendesah. Hal ini bertujuan agar ia dapat terpuaskan. 5 menit berselang, kami pun berganti posisi.

Akupun telentang dan ia menggenjot diriku dalam posisi missionary. Saya dapat melihat wajahnya sangatlah bernafsu saat menikmati tubuhku. Akupun memasang ekspresi bahwa aku menikmatinya. Setiap sodokan yang ia lakukan, aku hanya merasakan tubrukan antara selangkangannya dengan selangkanganku.

2 menit berselang, kami pun berganti posisi. Ia memintaku untuk naik ke pangkuannya. Kini kami bercinta dalam posisi aku di atas. Aku pun menggerakkan pinggulku. Hanya beberapa detik berselang, ia mengerang. Ia menahan pinggulku. Rupanya, ia telah ejakulasi dan mengeluarkan spermanya di dalam serambi lempitku.

Hanya dalam 1 hari, sudah 2 rudal menembakkan sperma di dalam serambi lempitku. Aku pun berpura-pura orgasme untuk meningkatkan kepercayaan dirinya meskipun aku sebenarnya kesal karena tidak menikmati penetrasi yang ia lakukan. Sejujurnya, penetrasi pak Supri lebih nikmat dibandingnya.

Setelah itu, ia memintaku membersihkan rudalnya dengan mulutku. Kuikuti keinginannya agar semua ini dapat berakhir dan aku dapat segera pulang. Setelah menjilati rudalnya sampai bersih, ia mengajakku untuk mandi bersama. Kami pun mandi bersama di bawah shower.

Ku sabuni seluruh tubuhnya. Ia juga memintaku menyabuni rudalnya dengan dadaku. Aku pun menurut dan menyabuni rudal dan kakinya dengan tubuhku. Untuk kakinya, kusabuni sembari menggesekkan serambi lempitku. Setelah itu, kami pun membilas tubuh kami. Kubersihkan tubuhnya sembari menggesekan tubuhku.

Jika biasanya orang membilas sabun dengan tangannya, maka pak Fredy kubersihkan dengan tubuhku. Setelah tubuh kami bersih, kami pun handukan. Ia kemudian kembali ke kasur lebih dahulu dan aku menyusul setelah mengeringkan rambutku.

Saat sedang mengeringkan rambut, kudengar HP pak Fredy berbunyi. Ia pun mengangkat telfon dan berbicara dengan cukup serius. Rambutku pun kering dan aku keluar dari kamar mandi. Kulihat ia mengenakan pakaiannya dengan tergesa-gesa.

Ia mengatakan bahwa ia harus pulang karena ibunya dikabarkan masuk ke rumah sakit setelah terjatuh di kamar mandi. Iapun meninggalkan diriku seorang diri. Dan juga mengatakan bahwa aku bebas menggunakan kamar tersebut hingga esok hari.

Dikarenakan aku libur pada esok hari, aku pun memutuskan untuk menginap di sana. Aku yang sudah cukup kelelahan setelah melayani pak Supri di pagi hari dan dilanjutkan meeting dan melayani pak Fredy memutuskan untuk rebahan sejenak.

Saat sedang rebahan, aku menerima pesan di HPku. Pesan tersebut dari pak Supri. Ia menagih janjiku pagi tadi. Aku hampir lupa bahwa aku masih harus melayaninya malam ini. Aku pun mencari alasan bahwa aku lembur, namun ia tidak peduli.

Ia bahkan mengatakan bahwa ia sudah berada di depan kantor dan menungguku. Aku pun bingung alasan apa lagi yang harus kuberikan. Akhirnya aku mengatakan bahwa aku menginap di hotel karena meeting. Aku pun mengatakan bahwa ia dapat ke sini dan aku akan melayaninya di sini.

Dengan secepat kilat, rupanya ia telah sampai di hotel dan berada di depan kamarku. Waktu menunjukkan pukul 5 sore dan lorong hotel mulai ramai oleh beberapa tamu lain. Dengan terpaksa dan berat hati, aku pun membuka pintu. Saat aku membuka pintu, aku kaget karena ia membawa 2 orang temannya. Salah satu dari mereka terlihat familiar.

Setelah mengingat, rupanya ia adalah pak Dodi, ojol lain yang juga pernah menikmati tubuhku. Aku ingat aku pernah menghapus video yang ia rekam saat melecehkanku di rumah. Saat kupersilahkan masuk, tak satu pun dari mereka masuk. Mereka ingin aku membuka pintu lebar dalam keadaan telanjang bulat menyambut mereka.

Aku pun membuka lebar pintu dan mereka pun masuk. Setelah masuk, pak Dodi dan pak Supri tidak langsung ke dalam, sementara teman mereka langsung duduk di sofa. Mereka berbisik padaku bahwa rekan mereka, Sofyan, berjanji akan menganggap hutang mereka lunas jika dipersilahkan menikmati tubuhku.

Sementara Dodi dan Supri memang sudah merencanakan untuk menikmati tubuhku. Aku pun ingin marah namun aku hanya bisa pasrah. Setelah itu, pak Supri berbisik bahwa mereka akan membersihkan diri terlebih dahulu. Pak Supri kemudian membuka pintu dan mendorongku keluar.

Aku pun terdorong keluar dalam keadaan telanjang hingga terjatuh dan pak Supri menutup pintu. Untungnya kondisi lorong sedang kosong. Aku pun membunyikan bel. Namun mereka tidak menjawab. Pak Supri kemudian membuka sedikit pintu dan mengatakan bahwa pintu akan dibuka setelah 1 jam.

Ia memberikanku HP ku dan mengatakan bahwa ia akan memberikan instruksi melalui HP. Aku pun hanya terduduk diam dan meratapi nasibku. Ratapanku buyar setelah mendengar lift bergerak. Aku harus bersembunyi agar tidak ketahuan. Aku pun berlari ke tangga darurat.

Tidak lama berselang, pak Supri memvideocallku. Melihatku yang berada di tangga darurat, ia menyuruhku untuk naik ke atap gedung. Aku menolaknya namun ia mengatakan bahwa ia akan membuang pakaianku dan tidak akan membukakan pintu. Aku pun menurut dan naik ke atap melalui tangga darurat. Setelah itu, pak Supri memintaku mengangkang dan menaruh HPku. Atap gedung hotel ini cukup terbuka dan banyak barang yang tak terpakai. Di sini juga terdapat beberapa tanaman.

Langit yang juga sudah mulai gelap menyelamatkan diriku karena dengan begitu, aku tidak akan terlihat dari gedung lain di sekitar. Namun tetap saja bukan berarti tak akan ada yang melihat diriku. Namun aku sejujurnya merasa lebih tenang. Selain karena dapat bertelanjang ria di tempat terbuka, aku juga merasa aman di sini hingga diizinkan masuk kamar kembali.

Lamunanku buyar saat pak Supri menyuruhku masturbasi. Ia menyuruhku memainkan serambi lempit dengan tangan kiriku dan meremas dan memilin payudara dengan tangan kananku. Aku pun menurutinya. Kupilin-pilin kedua putingku dan kugesek clitorisku. Permainan jariku terus kulakukan hingga akhirnya aku akan mencapai orgasmeku. Setelah memainkan 2 jari di dalam serambi lempitku, aku pun orgasme.

Aku bernafas terengah-engah setelah orgasmeku. Tubuhku lemas karena orgasme barusan sangatlah nikmat. Sensasi masturbasi di tempat terbuka dengan resiko dilihat banyak orang membuat orgasmeku ini adalah orgasme ternikmat yang ku alami. Aku pun sampai kelelahan dan lemas akibatnya.

Saat sedang mengatur nafas dan mengumpulkan tenagaku, aku mendengar pintu tangga darurat terbuka. Aku pun panik dan akhirnya berlari ke kumpulan tanaman. Aku lihat ada celah di sana dimana aku bisa bersembunyi di antara tanaman yang ada tanpa khawatir terlihat karena hari sudah gelap.

Namun, aku hanya tidak akan terlihat jika berada pada posisi menungging seperti seekor anjing. Aku melihat seorang anak muda berkostum lusuh keluar dari sana. Ia kemudian menyalakan sebatang rokok. Setelah itu, ia tampak mencari-cari sesuatu. Rupanya ia mencari sebuah selang dan menyambungkannya ke keran air.

Setelah itu, ia pun menyalakan keran air. Sepertinya ia memiliki tugas untuk menyiram tanaman. Tanaman di sini memang terlihat sangat terawat. Aku hanya bisa pasrah ketika ia mulai menyiram kumpulan tanaman tempatku bersembunyi. Satu per satu tanaman ia sirami dengan selang air. Sedikit demi sedikit tubuhku pun terciprat hingga basah. Aku berusaha menyelamatkan HP ku agar tidak terkena air. Setelah semua pot ia siram, ia pun pergi menuju keran dan mematikan air.

Kondisiku kini sudah basah kuyup. Ia pun kemudian pergi kembali masuk ke dalam tangga darurat dan turun. Aku pun bernafas lega saat ini. Aku kemudian keluar dari persembunyianku dan mencoba kembali menghubungi pak Supri. Namun, pak Supri tidak menjawab panggilanku.

Merasa putus asa, aku kembali bersembunyi di tangga darurat. Aku tidak ingin berada di luar ruangan kembali karena dinginnya malam. Tidak lama berselang, pak Supri menelfon dan mengatakan bahwa aku dapat kembali masuk ke kamar.

Ketika mencapai lantai kamarku, aku memeriksa keadaan sebelum berjalan di lorong menuju kamarku. Kulihat suasana sangat sepi. Kemudian, aku pun melangkah dengan cepat ke kamarku. Ku pencet bel dan pintu terbuka. Di dalam, pak Supri dan pak Dodi kulihat sedang merokok, sementara pak Sofyan sedang rebahan di TV sambil memainkan HP nya.

“Nah bintang utama kita udah dateng nih, yuk kita mulai” Ujar Dodi. “Yuk, waktu kita juga ga banyak kan” Ujar pak Sofyan.

Ketiga pria tersebut pun tampak mulai berdiri dan melepas pakaian mereka. Aku sendiri saat ini masih dalam keadaan lusuh dan lepek. Aku juga masih cukup lemas. Kemudian mereka berdiri mengitariku. Tangan mereka menggerayangi seluruh tubuhku.

Kemudian, aku diminta berlutut. Mereka menyuruhku bergantian memblowjob rudal mereka. Aku menghisap satu per satu rudal mereka. Ketika aku menghisap satu rudal, kedua tanganku memainkan rudal lainnya. Terus begitu hingga akhirnya aku diangkat ke kasur.

Mereka kemudian bergantian menjilati serambi lempit dan kedua putingku. Sungguh rangsangan yang sangat luar biasa bagiku. Bahkan ketika mereka telah melakukan itu 2 putaran, aku pun mencapai orgasmeku dan mereka tersenyum melihatku yang squirting.

Saat aku masih menikmati orgasmeku, tiba-tiba pak Sofyan menarikku. Tanpa aba-aba ia memasukkan rudalnya ke dalam serambi lempitku. Aku pun terkejut namun tak dapat melawan. Pak Sofyan kemudian menggenjotku dengan kencang. Pak Dodi dan pak Supri menyaksikan diriku yang digenjot sambil mengelus rudalnya masing-masing. Aku hanya bisa terdiam dan mendesah tanpa mengeluarkan suara.

Aku sudah sangat lelah. Namun, saat aku hampir kehilangan kesadaran, pak Sofyan mengangkat diriku untuk berganti posisi. Ia menggendongku tanpa melepas rudalnya. Kemudian, ia mengangkatku dan mempenetrasiku dalam tempo tinggi. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku pun hampir kehilangan kesadaran.

Namun, pak Sofyan kemudian meremas payudaraku dengan keras sehingga aku tersadar kembali. Tidak lama berselang, pak Sofyan melemparkan diriku ke kasur. Kemudian ia kembali menggenjotku hingga akhirnya ia ejakulasi di dalam serambi lempitku 5 menit berselang.

Setelah puas menikmati diriku, pak Sofyan menyingkir disusul pak Dodi dan pak Supri yang menghampiriku. Aku sempat mengampun kepada mereka, namun mereka tak peduli. Wajah keduanya tampak seperti orang kesetanan. Tubuhku diangkat oleh pak Supri. Kemudian ia memasukkan rudal ke serambi lempitku dengan posisi diriku menungging. Aku bersuara dan memohon untuk dibiarkan beristirahat sebentar, namun ia tak mempedulikan diriku.

Di saat pak Supri menghujam serambi lempitku dari bawah, pak Dodi memposisikan rudalnya di lubang anusku. Pak Dodi dengan paksa memasukkan rudalnya. Perih sekali rasanya saat anusku ditusuk pak Dodi. Aku hanya bisa memohon untuk berhenti sejenak. Namun mereka semakin liar.

Aku sudah tak bisa melawan. Namun, aku juga tak dapat menikmati siksaan ini. Mereka berdua terus bergantian menggenjotku hingga akhirnya mereka ejakulasi di dalam serambi lempitku. Setelah itu, ketiga pria tersebut pun membiarkanku dan merokok bersama. Aku hanya bisa terbaring di kasur sembari mengatur nafasku. Setelah merokok 2 batang, ketiga pria tersebut kembali menggarap tubuhku.

Seluruh lubangku diisi rudal ketiga pria tersebut secara terus menerus tanpa henti. Mereka saling bergantian menggenjotku. Tubuhku bagaikan sebuah piala bergilir. Ketika mereka orgasme, mereka akan ejakulasi di dalam serambi lempitku, sementara yang lain menggenjot mulut dan anusku. Aku pun akhirnya tak sadarkan diri.

Pukul 2 pagi, aku terbangun dengan kondisi serambi lempit, mulut, anus, dan seluruh tubuhku berlumuran sperma. Aku dibiarkan tergelak di lantai sementara ketiga pria tersebut tertidur di atas kasur. Aku ingin sekali menangis. Tubuhku rasanya remuk sekali. Kulihat HP ku dan ada beberapa pesan masuk dari suamiku.

Setelah semua yang kulalui, aku merasa sangat bersalah kepada suamiku. Aku pun bangkit dan meminum air putih yang tersisa. Kemudian, aku kulihat HP ketiga pria tersebut. Aku berusaha membuka HP mereka dan ternyata HP ketiganya tidak terkunci.

Ku lihat galeri HP mereka dan banyak sekali dokumentasi dari aksi kami malam ini. Aku juga menemukan rekaman dan foto aksi-aksi ku sebelumnya. Kuhapus semua foto dan video tersebut dari galeri HP mereka. Kini mereka sudah tidak memiliki senjata untuk memanfaatkanku.

Setelah itu, aku pun membersihkan diri. Saat kembali ke kamar, kulihat ketiga pria tersebut masih tertidur pulas. Aku pun berinisiatif mengunci HP mereka dengan password yang kubuat. Hal ini bertujuan agar mereka tidak dapat menggunakan HP mereka kembali dengan mudah.

Aku juga kemudian berpakaian untuk melarikan diri dari kamar tersebut. Setelah berpakaian, ku ambil pakaian ketiga pria tersebut. Aku ingin membalas perbuatan mereka. Kubiarkan harta benda mereka di atas meja. Kemudian, aku ambil semua pakaian mereka tanpa tersisa satu pun.

Kubawa pakaian mereka dengan plastik untuk ku buang. Aksiku tentu akan aman karena tidak ada cctv di lorong hotel. Jika mereka mengancam melaporkanku, mereka tidak akan memiliki bukti apa pun. Kemudian, aku pun memesan taxi online untuk pulang ke rumah.

Setibanya di depan rumah, aku pun turun dari taxi. Sesaat telah turun, terdengar suara tek tek tek tanda tukang nasi goreng sedang berjualan. Aku yang kelaparan akhirnya memanggilnya dan memesan makanan. Namun sial bagiku, rupanya itu adalah gerobak pak Zainal.

“Eh ada neng yang bugil kemarin, ternyata tinggalnya di sini.” “Eh iya pak” “Mau nasi goreng neng?” “I… Iya pak saya pesan 1” “Oke neng, ditunggu ya” “Ii.. Iya pak”

Pak Zainal pun membuatkan aku nasi goreng. Sambil menunggu, aku pun masuk ke dalam rumah dan menyimpan barang-barangku. Aku sengaja tak mengganti pakaianku dahulu untuk menghemat waktu. Ketika aku keluar kembali, nasi gorengku telah jadi. Pak Zainal yang kini melihatku tanpa cardigan pun berkata “wah emang hobi pamer ya neng, itu pentil kemana-mana.”

Aku pun hanya bisa tertunduk malu. Kemudian aku pun menyantap makananku dengan lahap karena aku sudah sangat kelaparan. Setelah menghabiskan santap malamku, aku mengembalikan piring kepada pak Zainal. Aku kemudian bermaksud membayar, namun pak Zainal menolaknya.

“Ga usah neng gapapa, kalo liat neng kayanya saya punya ide. Neng ga usah bayar.” “Tapi pak, kenapa?” “Tubuh neng bagus” “Makasih pak, tapi gapapa saya bayar aja pak, saya bayar lebih” “Gausah neng, ini jualan saya belom laku satu pun, kayanya saya bisa pakai bantuan neng.” “Maksudnya pak?” “Neng telanjang gih sekarang” “Tapi pak?” “Tenang aja, saya ga akan garap tubuh neng, saya udah tua, udah ga bisa berdiri juga rudal saya, neng cukup jual nasi goreng saya aja sambil telanjang buat narik pembeli” “Tapi pak” “Ga ada tapi-tapian. Neng mau semua orang tau neng pernah telanjang dari luar ke sini? Neng juga pernah ngewe di taman kan? Nih saya ada buktinya.”

Aku terkejut. Kupikir kesialanku sudah berakhir setelah membalss dendam kepada para ojol tadi, namun masih ada lagi masalah yang harus kuhadapi. Aku pun bimbang. Aku ingin semua ini berakhir. Namun, aku merasa tak akan ada akhirnya semua yang kuhadapi saat ini.

“Oke pak, tapi saya mohon jangan di komplek ini ya pak” Aku pun menyetujui permintaan pak Zainal. “Bagus, yauda neng kita jalan sekarang”

Setelah mengunci pintu rumahku, aku pun pergi bersama pak Zainal. Saat melewati pos keamanan, aku berjalan lebih belakangan. Ketika melewati pos, satpam menyapaku dan aku menyapa balik. Ia menanyakan kemana tujuanku dan aku hanya menjawab ingin ke rumah temanku. Untungnya lampu di pos keamanan sudah redup sehingga tidak terlihat bahwa aku tak mengenakan pakaian dalam.

Setelah itu, aku menyusul pak Zainal. Kami pun menuju ke rumah kosong tempat pertama aku bertemu pak Zainal. Pak Zainal kemudian memarkirkan gerobaknya. Ia kemudian menyuruhku bertelanjang bulat dan duduk menunggu sementara ia bersantai di dalam rumah kosong beralaskan pakaianku.

Tugas pertama yang ia berikan padaku adalah membersihkan piring makanku dengan cara yang sama seperti kemarin. Aku harus membersihkan piring, sendok, dan wajan dengan dadaku. Tak lupa, ia juga memasukkan serambi lempit dan anusku dengan timun.

Ia juga mengancam jika lepas, maka akan dimasukkan kembali dengan 2 buah mentimun. Begitu pun seterusnya akan bertambah 1. Aku pun menuruti keinginannya. Bertelanjang ria di tempat terbuka dengan keadaan seperti ini dan tenaga yang telah pulih membuat hasratku bangkit.

Aku ingin sekali ada yang melihat diriku seperti ini. Setelah mencuci semua cucian piring, aku pun meletakannya di gerobak. Namun, tanpa kusadari karena serambi lempitku yang basah, timun di serambi lempitku terlepas. Pak Zainal yang menyaksikan itu memasukkan 2 buah timun sekaligus sebagai hukumannya.

Tidak lama berselang, hujan pun turun. Aku sedikit kecewa. Jika seperti ini, maka tak akan ada yang membeli. Aku pun kedinginan akibat hujan tersebut. Pak Zainal kemudian berbaik hati memberikanku kemejaku. Aku pun mengenakan kemejaku.

Saat aku mengenakan kemeja, datang seorang pelanggan yang akan membeli nasi goreng. Pak Zainal kemudian menyuruhku melayaninya. Ia juga mengizinkan mengenakan kemejaku namun dengan syarat yang ia berikan. Ia mencopot 2 kancing teratas sehingga belahan dadaku tentu dapat terlihat. Kemudian aku pun pergi melayani pelanggan tersebut.

“Nasi goreng mas?” “Eh iya mba” Ujarnya dengan raut terkejut. Ia nampak kaget melihatku. Namun, ia juga nampak tertegun melihat keseksianku. “Dibungkus kan mas? Pedes ga?” “Iya mba, sedang aja” Ujarnya gelagapan. Aku pun menggoreng nasi untuknya. Namun karena keterbatasan gerobak, aku pun terkena hujan. Kini, pakaianku sangatlah menyeplak di tubuhku. Payudaraku bahkan terbentuk sempurna. Pelanggan tersebut hanya tertegun melihatku.

Saat selesai membungkus nasi goreng, angin bertiup kencang hingga kemejaku terangkat. Ia tentu dapat melihat perutku hingga kaki. Ia juga mungkin melihat timun yang ada di selangkanganku. Namun untungnya, ia tak dapat merekam atau memfotoku karena hujan. Setelah membayar, ia pun pergi dengan tampang mupeng.

Hingga pukul 4 pagi, tak ada lagi pelanggan yang datang. Badai masih kencang namun pak Zainal memutuskan untuk pulang. Namun, karena gagal, ia menyita kemeja dan celanaku. Sandal yang kukenakan pun tak luput dari sitaannya. Kini aku harus pulang tanpa sehelai benang pun untuk kedua kalinya. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com

Aku pun berjalan pulang dengan buru-buru. Waktu akan segera memasuki subuh dan aku harus cepat sebelum ada yang melihatku. Aku terus berjalan dalam keadaan telanjang bulat dengan timun di kedua lubang selangkanganku. Tiba di pos ronda, kulihat satpam tengah tertidur pulas. Aku pun bergerak secepat kilat. Aku juga bergerak cepat menuju rumahku.

Meskipun aku kenikmati nikmatnya hawa sejuk pagi hari di tubuhku yang tak tertutup apa pun, aku harus pulang mengamankan diri. Aku tak ingin ada yang memanfaatkan tubuhku lagi. Aku pun tiba di gang rumahku. Namun, saat sudah mendekati rumah, rupanya tetangga sebelahku sedang bersiap berangkat solat subuh di masjid. Aku pun terpaksa bersembunyi di dalam parit.

Aku terus menunggunya yang tak juga kunjung pergi. Di saat seperti ini, adrenalin membuat hasratku bangkit. Kumainkan timun-timun tersebut. Aku terus mempenetrasi serambi lempit dan anusku dengan timun. Tepat saat tetanggaku melewatiku, aku pun orgasme dan sedikit mendesah.

Cerita Sex Akibat Dendam Timbul Nafsu

Aku mendengar suara motornya tancap gas. Sepertinya ia kaget dan ketakutan. Aku pun menikmati orgasmeku sejenak dan mengumpulkan tenaga untuk pulang. Tepat saat azan subuh, aku pun masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri dilanjutkan dengan beristirahat.

Di suatu sisi ibukota, di kamar sebuah hotel. Pak Dodi, pak Supri dan pak Sofyan terbangun dengan keadaan terkejut. Pintu kamar mereka terbuka dan sudah banyak orang di sana. Mereka dianggap pasangan gay dan dibawa ke kantor polisi. Mereka dituduh berbuat tidak senonoh karena ditemukan dalam keadaan telanjang bulat dan tak ditemukan pakaian.

Untung bagi pak Fredy karena saat checkin ia mengenakan identitas palsu. Sementara ketiga ojol tersebut, harus mendapatkan hukuman penjara. Mereka pun beralasan bahwa mereka dijebak namun polisi tak menemukan satu pun bukti.