Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Ngentot Ustazah Aminah Berdada Montok di Asrama Mahasiswi

Ngentot Ustazah Aminah Berdada Montok di Asrama Mahasiswi

Perlu dicatat untuk pembaca Ngocokers yang setia bahwasanya tulisan ini hanya sebatas hiburan semata. Cerita ini tidak ada tujuan untuk menjelekkan salah satu pergerakkan islam. Saya harap para pembaca Ngocokers untuk bijak dalam cerita panas ini. Mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian ataupun cerita, maka itu semua hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan dari penulisnya.

Cerita Sex Asrama Syahamah – Jika kau akrab dengan salah satu perguruan tinggi islam terkenal di kota ini, maka kau akan mudah menyusuri jalan menuju Asrama Syahamah. Asrama itu tidak megah meski lumayan besar. Banyak mahasiswi yang kuliah di perguruan islam tersebut memilih tinggal di asrama itu.

Selain lokasinya dekat kampus, hanya terpisah satu jalan besar dan kemudian masuk ke gang dengan papan penunjuk bertuliskan Asrama Syahamah, biaya untuk tinggal di sana juga sangat murah, jika dibandingkan dengan biaya kos wanita setahun di area dekat kampus.

Wanita. Ya, Asrama Syahamah adalah asrama khusus untuk wanita. Pimpinan tertingginya sekarang, Ustazah Aminah, adalah kader aktif salah satu partai yang terkenal sebagai partai ukhti di kota ini. Tak heran jika salah satu peraturan yang berlaku jika kau ingin masuk ke asrama ini adalah kau harus mengenakan kerudung lebar.

Cerita Sex Asrama Syahamah Ngocoks Ustazah Aminah berusia 45 tahun. Wajahnya lembut dengan kacamata berbingkai hitam kemerah-merahan. Tubuhnya lumayan tinggi, dan tak gemuk. satu hal yang tak bisa diabaikan oleh siapapun saat melihatnya adalah buah dadanya yang berukuran bulat besar. Bahkan besarnya buah dadanya itu tak bisa ditutupi oleh baju gamis kombor yang dia pakai dikombinasikan dengan kerudung lebar sampai sepinggang.

Asrama syahamah dibangun dua lantai. Asrama ini memiliki kapasitas total dua puluh kamar dengan kamar mandi dalam. Ada separuh bagian atap yang dibiarkan terbuka untuk tempat jemuran. Di pinggir area yang menyerupai balkon itu dibangun dinding setinggi pinggang, semacam pagar untuk mencegah terjadinya hal yang tak diinginkan.

Kamar di asrama sendiri diposisikan melingkar. Ada ruangan aula yang difungsikan sekaligus untuk kajian agama. Kemudian ada pula dapur untuk mereka yang ingin memasak. Di sisi sebelah kanan lantai 2 ada satu ruangan yang berukuran lebih besar daripada yang lainnya. Ruangan itu adalah ruangan kantor asrama.

Di sebelahnya satu ruangan kecil yang kelihatan kontras merupakan ruangan yang sering digunakan untuk tempat mengobrol jika ada penghuni asrama yang melakukan pelanggaran. Sebelahnya lagi adalah satu kamar yang juga berukuran lebih besar daripada berbagai kamar yang lain di sana. Kamar itu adalah kamar Ustazah Aminah.

Malam itu, di ruangan kecil sebelah kamar Ustazah Aminah, sang ustazah sedang duduk di belakang meja. Wajahnya tampak serius. Di meja satu kotak kardus kecil tergeletak, di dalamnya ada beberapa barang, termasuk satu bekas bungkusan paket. Selintas saja sudah bisa dilihat bahwa barang-barang yang ada di dalamnya tadinya adalah isi dari paketan tersebut.

Tak lama seseorang terdengar mengetuk pintu dari luar. “Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Masuk.”

Seraut wajah cantik menyembul seiring terbukanya pintu. Ustazah Evi Apriliani, biasanya dipanggil ukhti Lia. Dia sudah tinggal di asrama ini selama dua tahun, dulu kuliah di jurusan tarbiyah kampus islam yang dekat dengan asrama Syahamah. Usianya saat ini 24 tahun.

Raut wajahnya sebenarnya tidak terlalu cantik, akan tetapi siapapun akan terpesona pada bibirnya yang sangat mengundang birahi. Jenis bibir yang membuat setiap lelaki akan membayangkan betapa nikmatnya saat rudal mereka disepong oleh sang ustazah.

Tubuhnya mungil, pinggangnya ramping. Sekilas buah dadanya nampak kecil, akan tetapi sebenarnya bagian menonjol yang disembunyikan di balik kerudung lebar yang dia pakai itu berukuran lumayan dan nampak sekal terawat.

“Duduk, ukhti,” demikian Ustazah Aminah mempersilahkan ukhti Lia.

Ukhti Lia lantas duduk di depan Ustazah Aminah, wajahnya nampak kebingungan, tapi dia tak mengatakan apapun.

“Ukhti sudah tahu kenapa ukhti dipanggil ke sini?”

“Belum umi,” Ukhti Lia menjawab, menatap kardus di meja, kemudian kembali menundukkan kepala.

Terdengar Ustazah Aminah menarik nafas dalam-dalam.

“Begini, ukhti. Tadi siang ada paketan sampai ke asrama. Kebetulan umi yang menerimanya. Kebetulan juga bungkusnya sedikit sobek.” Ustazah Aminah berhenti sejenak. Matanya masih menatap Ukhti Lia yang menunduk.

“Alamatnya untuk ukhti. Nah, yang membuat umi penasaran itu bungkus yang nampak sedikit dari sobekan itu. Umi kemudian membukanya, demi kebaikan. Ternyata isinya barang-barang setan!” Suara Ustazah Aminah terdengar meninggi.

Ukhti Lia mengangkat kepalanya. Wajahnya masih nampak bingung. “Afwan, Umi, ukhti tidak memesan barang apapun. Apa pula isi dari paketan itu, umi?”

Brakkk. Ustazah Aminah mengeluarkan barang dari dalam kardus dan meletakkannya dengan keras di meja hadapan ukhti Lia.

Mata ukhti Lia terbeliak menatap Dildo di hadapannya.

“Ukhti tau barang apa ini?!”

“Iya, umi.”

Ustazah Aminah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dari mana ukhti tahu?”

“Tidak sengaja umi, di internet.” Dia kembali menundukkan kepalanya. “Tapi ukhti tidak memesan barang apapun umi, apalagi barang seperti ini.” Nada suaranya terdengar semakin pelan seperti akan menangis.

“Ukhti kan tahu, barang seperti ini itu barang haram! Ini barang ciptaan syetan. Kok bisa-bisanya barang seperti ini masuk ke asrama Syahamah!”

“Ukhti tidak memesannya umi. Ukhti tidak tahu apapun tentang ini.”

“Kalau begitu bagaimana bisa namamu dan alamat asrama ini tertera di bungkusnya?” Ustazah Aminah menyodorkan bungkus paketan dari kardus. Jelas tertera nama Evi Apriliani dan alamat asrama Syahamah di sana.

“Tidak tahu, umi, ukhti tidak tahu.” Ukhti Lia sesenggukan menangis.

Ustazah Aminah menghenyakkan tubuhnya di kursi. Dia menarik nafas dalam-dalam. “Umi tak ingin terjadi sesuatu padamu, ukhti. Ukhti sudah dua tahun di asrama ini, jadi ustazah pula, jangan sampai mempermalukan diri sendiri dengan menjerumuskan diri pada pergaulan dengan barang-barang seperti ini!” nada suaranya terdengar memelan.

Ukhti Lia masih sesenggukan.

Ustazah Aminah masih akan mengatakan sesuatu sebelum kemudian di pintu terdengar ketukan sebelum pintu itu terbuka. Seraut wajah laki-laki kebapakan muncul. Berpeci putih bercorak, berkumis tipis, dagunya ditumbuhi janggut pendek yang nampak tercukur rapi. Ustaz Karim.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Abi sudah pulang? Kok cepat?” wajah Ustazah Aminah nampak sumringah. Lia yang duduk di hadapannya hanya menundukkan kepala. Ustaz Karim adalah suami Ustazah Aminah. Dia satu-satunya laki-laki yang tinggal di asrama Syahamah. Meski demikian, dia juga memang relatif jarang tinggal di sana dan lebih sering disibukkan oleh karirnya sebagai salah satu pimpinan partai yang sama dengan yang diikuti oleh Ustazah Aminah.

“Sudah umi,” Ustaz Karim mengakhiri jawabannya dengan senyum. Dia menatap Lia sebentar yang bahunya masih bergerak-gerak menangis. Setelah bertatapan dengan Ustazah Aminah, dia kemudian meneruskan. “Abi bersih-bersih dulu ya mi. Ini abi bawa oleh-oleh.”

Ustaz Karim kembali menutup pintu.

Ustazah Aminah kembali menatap Lia kemudian berkata. “Ya sudah, ukhti Lia, umi percaya dengan perkataanmu. Yang jelas sekarang ukhti harus hati-hati ya, jangan seenaknya mempublish alamat asrama ini ke sembarang orang supaya kejadian semacam ini tidak terulang.”

Ustazah Lia mengangguk.

“Sudah sekarang ukhti istirahat. Barang-barang ini biar di sini, besok dibuang oleh pihak keamanan. Besok kita selidiki lebih lanjut tentang siapa penngirim barang setan ini!”

Ustazah Lia tak mengucapkan sepatah kata apapun. Dia kemudian bangkit, menyalami dan mencium tangan ustazah Aminah. Sepintas dia sempat mengamati barang yang ada di kardus sebelum kemudian dia pergi.

Sepeninggal ustazah Lia, Ustazah Aminah tidak terburu-buru pergi ke kamarnya. Dia mengambil dan menimang-nimang dildo yang warnanya nampak mengkilap tersorot cahaya ruang yang tidak terlalu terang.

Selintas nampak dia menggigit bibirnya. Lalu dia meletakkan dildo itu di kardus, kemudian berdiri dan melangkah ke pintu. Saat tangannya akan menyentuh saklar lampu, dia termenung sejenak, kemudian kembali dan mengambil dildo itu, memasukkannya ke dalam saku gamisnya.

Setelah itu dia mematikan lampu, kemudian keluar. Saat langkahnya mendekati kamarnya, masih terdengar suara shower di kamar mandi dalam kamarnya. Dia hanya tersenyum, kemudian masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

Pulang dari kamar interogasi, ustazah Lia langsung menuju kamarnya. Dalam perjalanan menuju kamarnya itu nampak dia menunduk sambil sesekali menggigit bibir. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.

Kamarnya terletak di lantai bawah, kamar nomor lima. Di pintu kamar tertempel stiker “masuk ucapkanlah salam”. Membuka pintu kamarnya dan langsung menutupnya kembali, dia kemudian duduk di kursi depan meja belajarnya.

Sekilas dia menoleh pada jam beker yang terletak di meja. Jam setengah sembilan malam. Dia menggapai laptop ASUS-nya, memencet tombol on dan kembali mendesah sambil menghenyakkan punggungnya di sandaran kursi.

“tok tok”, terdengar ketukan di pintu.

“Ya, masuk,” spontan ustazah Lia mengubah arah duduknya menghadap ke pintu kamar.

“Assalamualaikum.” Terdengar sapaan salam seiring masuknya sosok yang sudah sangat Ustazah Lia kenal. Ustazah Raudah, kamarnya hanya terpaut 3 kamar dari kamar Ustazah Lia. Kamar nomor 8. Dia adalah salah satu kawan dekat Ustazah Lia di asrama.

Ustazah Raudah berusia 27 tahun, belum menikah. Wajahnya keibuan dengan baju kesukaan baju gamis warna cream. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Ustazah Lia dan juga sedikit lebih berisi.

Karena ia berasal dari salah satu desa di jawa tengah, maka tubuhnya sudah terlatih untuk bekerja sejak kecil. Hal itu membuat buah dadanya mengembang besar menggoda meski tidak sebesar buah dada Ustazah Aminah.

“Bagaimana tadi ukhti? Ada masalah apa?” Ustazah Raudah bertanya sambil duduk di dipan.

Ustazah Lia hanya tersenyum. Dia menjawab santai. “Hehee, sudah selesai kok ukhti, masalah kecil.”

“Alhamdulillah. Syukurlah kalau bukan masalah besar. kirain ada apa tadi ukhti dipanggil.” Ustazah Raudah balas tersenyum.

“Tadi sebenarnya ana masih akan dinasehati Umi Aminah lama, tapi ustaz karim keburu datang. Jadi yah waktu pertemuan ana dipersingkat.” Ustazah Lia tertawa lebar.

“Ustaz Karim sudah datang?” Ustazah Raudah nampak tertarik dengan info itu.

“Iya, ukhti, kenapa?” Ustazah Lia bertanya dengan heran.

“Gak kenapa-kenapa, biasanya kan…dua minggu baru pulang. Ini baru 8 hari kayanya.”

“Mungkin kangen umi, ukh,” Ustazah Lia mengedippkan mata.

Ustazah Raudah tertawa… “Yasudah, ana pulang ke kamar dulu ya ukh.” Ustazah Raudah bangkit dari dipan dan melangkah menuju pintu.

“Iya ukhti, makasih ya.”

“Oya, jangan lupa besok giliran ukhti yang ngisi kajian gender di aula ya.”

“Siap, ukhti.” Ustazah Lia mengacungkan jempolnya.

Ustazah Raudah tersenyum. Dia melangkah keluar dari kamar kemudian menutup pintu sambil mengucapkan salam, “asalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” Ustazah Lia menjawab pelan. Dia kemudian berdiri dan mengunci pintu kamarnya. Setelah itu dia kembali menghadap laptopnya yang sudah menyala.

Di asrama syahamah memang ada koneksi internet gratis setiap malam. Ustazah Aminah merasa bahwa seorang ukhti sekalipun tidak boleh tertinggal oleh perkembangan zaman. Maka jika kau menemukan berbagai artikel keislaman yang menyebar di beranda facebookmu, bisa saja itu merupakan salah satu produk ukhti asrama syahamah.

Memang setiap hari seorang ukhti diwajibkan membuat artikel sederhana tentang keislaman dan memostingnya ke internet.

Ustazah Lia adalah admin yang bertugas mengumpulkan artikel itu dan kemudian memostingnya. Malam ini dia langsung membuka emailnya mengcek apakah jatah artikel yang harus diposting sudah masuk atau belum.

Ternyata belum. Tugas malam itu dibebankan pada ukhti Khusnul. Dengan segera ustazah Lia membuka facebooknya dan mengirimkan inbox pada ukhti Khusnul.

“Ukhti, artikelnya belum jadi ya? Mohon segera dikirim.”

Balasan langsung muncul: “Afwan, ukh, sebentar lagi ya ana kirim.”

“Oke, ana tunggu.”

Sambil menunggu kiriman artikel dari ukhti khusnul, ustazah lia membuka beberapa inbox yang masuk. Matanya berbinar menemukan satu pesan dari akun “ahmad soleh”, 20 menit yang lalu. Dia langsung membukanya. Pesannya sangat singkat.

“Ustazahku, kangennn.”

Tersenyum sendiri, ustazah Lia membalasnya. “kangen apa?”

Balasan muncul beberapa menit kemudian: “pengen menyetubuhi ustazah pake kerudung lebar.”

Tertawa-tawa binal, ustazah Lia membalasnya: “ayo ke sini sayangg.”

Memang ustazah Lia pun manusia. Sejak kecil dia sangat dikekang oleh keluarganya. Hal itulah yang membuatnya menjadi liar ketika tiba saatnya dia dewasa. Gairahnya memuncak dan lebih tinggi daripada gairah gadis kebanyakan yang sepanjang hidupnya tak pernah dikekang.

Sebenarnya keliaran itu pun tidak langsung muncul. Dia bermula secara sembunyi-sembunyi. Sejak mengenal internet, ustazah Lia kemudian mulai mengetahui seperti apa bentuk rudal. Imajinasinya kemudian bermain-main.

Semula hanya membayangkan bagaimana rasanya jika mengelus-elusnya. Berlanjut pada khayalan bagaimana jika dia bisa mengulumnya. Puncaknya, dia juga membayangkan bagaimana rasanya jika benda kenyal tegang itu dimasukkan ke dalam lubang serambi lempitnya.

Sampai di sana dia kemudian mulai rutin masturbasi.

Lalu dia bertemu dengan akun “ahmad soleh”. Pria itu mengaku seorang aktifis partai yang sama dengan partai umi aminah di jogja juga. Pria seusia ustaz karim dan sudah menikah, memiliki dua orang anak. Pria itu juga mengaku pernah melihat ustazah lia dalam salah satu acara di asrama syahamah yang kebetulan mengundang kenalan-kenalan umi aminah dan ustaz karim.

Dari perkenalan yang biasa saja lewat inbox facebook, kemudian berkembang menjadi gurauan yang makin intim. Dari sanalah akhirnya keintiman itu kian meninggi seperti sekarang ini.

Jawaban dari ahmad soleh masuk: “ustazahku, dildo yang ana kirim sudah sampai.”

“Ikhh, kamu. Itu disita sama umi aminah tahu.”

“Lho kok bisa?”

“Kebetulan yang menerima paketannya umi aminah. Nah, bungkus paketnya sedikit sobek. Ketahuan dehh.”

“Waduhh. Padahal ana sudah ngebayangin malam ini lihat ukhti mainin dildo.” Dilanjut dengan emotikon sedih.

“Cupp, cuppp, lain kali bisa sayangg. Ini Lagi di mana?”

“Ana di hotel ini ustazah. Tadi habis acara sama ustaz karim. Ana gak langsung pulang. Capek.”

“Serius capekk?” di kamarnya Ustazah Lia senyum-senyum sendiri.

“Iya nihh….”

Ctak, ustazah Lia menghidupkan webcam. Kemudian dia bergaya manja sambil menayangkan gamisnya yang semua kancingnya sudah terbuka. Memang gamis yang dipakai oleh ustazah lia adalah tipe gamis yang berkancing dari atas sampai batas pinggang. Gayanya manja seolah tidak ingin orang melihatnya tapi pada saat yang sama semua kancingnya telah dia buka.

“Ahhh, ustazahkuu, kangennn…”

Ustazah lia lalu sedikit demi sedikit memelorotkan gamisnya. Di seberang sana ahmad soleh gelagapan mencopot pakaian dan celananya. “Ustazahku, ukhtiku, sini, ahhh, sinii.” Dia mengocok rudalnya yang nampak tegang mengacung.

Melihat rudal itu ustazah lia bangkit gairahnya. Gamisnya luruh ke pantai menampakkan tubuhnya yang mulus. Perutnya rata, pinggang ramping. Di atas, buah dadanya mengacung tegak tak tersembunyi apapun. Perlahan dia menyampirkan kerudung lebarnya menutupi celah di antara kedua payudaranya sementara kedua putingnya masih nampak jelas. Coklat menggoda.

Ahmad soleh makin gelagapan. Dia membayangkan rudalnya dihisap-hisap oleh ustazah yang binal itu. Selama ini dia memang kekurangan seks karena istrinya sudah tidak menggairahkan lagi setelah melahirkan dua orang anak. Selain itu, istrinya hanya mau melakukan hubungan seks dengan gaya formal dan membosankan.

“Ahhh, ahhh,” desahnya.

“Sayang, hisap dada ukhti, ahhh,” ustazah lia balas mendesah-desah. Tangannya perlahan meremas-remas kedua buah dadanya yang menggoda. Kemudian dengan gaya manja tangan itu bergerak makin ke bawah, ke perutnya yang rata, mengelus-elusnya sebentar. Dari sana kemudian tangan itu turun makin ke bawah, makin ke bawah….

Di seberang, ahmad soleh makin melotot melihat pemandangan itu. Bukan sekali dua kali dia melihat pemandangan yang sama tapi dia tak pernah merasa bosan. Dia tahu bahwa ustazah lia dalam kesehariannya adalah ustazah yang alim, maka membayangkan ustazah alim itu malam ini nampak demikian liar memberikan sensasi tersendiri yang membuatnya kecanduan. Dia mengocok-ngocok rudalnya makin cepat.

Tangan ustazah lia mengelus rambut kemaluannya lembut. Tubuhnya meremang. Imajinasinya terbang membayangkan rudal yang nampak di layarnyalah yang menyentuh-nyentuh rambut kemaluannya itu. Di kursinya dia duduk mengangkang, menampakkan jelas celah yang bersih dan menggairahkan dikelilingi oleh jembut yang membuat di seberang sana ahmad soleh makin menggila mengocok rudalnya.

Setelah mengelus jembutnya, jemari lentik itu bergerak perlahan menyentuh mulut kemaluannya. “Ahhh”, tubuh ustazah lia mengejang pelan. Naluriah jemari itu kemudian menyentuh itilnya dan mengusap-usapnya lembut. Dalam imajinasinya kepala rudal ahmad solehlah yang menyentuh-nyentuh itilnya itu.

Ahmad soleh merasa dirinya hampir sampai ke surga. Betapa ingin dia menggapai apa yang menunggunya di seberang. Di matanya nampak pemandangan yang sangat menggairahkan melebihi apapun. Seorang ustazah alim yang selalu berkerudung lebar kini duduk mengangkang di kursi mengelus-elus itilnya sendiri.

Wajah yang masih berhias kerudung cokelat lebar itu mendongak, mulutnya menganga mengeluarkan desahan yang makin menggairahkan, matanya merem melek merasakan kenikmatan. Ujung-ujung kerudung lebarnya menyatu di antara kedua payudaranya, menutupi sebagian bukit tapi masih menampakkan dua puting yang menggemaskan mengintip.

Ahmad soleh merasakan aliran darahnya makin kencang. Ada kedutan-kedutan kecil terasa di kepala rudalnya. “Arghh, ukhtiku, ustazahku, lonteku, ana mau keluar, ahhh,”

Ustazah lia membuka matanya, dia juga merasakan ada gairah yang makin memuncak dalam dirinya mendengar ahmad soleh akan orgasme. Dia selalu suka melihat pemandangan rudal yang menyemburkan cairan kental putih, dia selalu membayangkan dirinya menjilat-jilat kepala rudal yang seperti jamur menggoda itu.

“Akhh, sayang, muncratkan di wajah ukhti, akhh, siniih,” Ustazah Lia juga makin intens mengelus-elus itilnya. Tangannya yang satu lagi meremas buah dadanya kanan kiri bergantian.

Di seberang sana ahmad soleh membayangkan rudalnya keluar masuk lubang yang menganga di sela rimbun jembut. Dia membayangkan tangannyalah yang meremas-remas kedua buah dada yang sekal, dia membayangkan mulutnya menghisap-hisap puting susu itu dan dia membayangkan setiap rudalnya menusuk, ustazah lia mendesah-desah, kerudung lebarnya berkibar-kibar membuat suasana makin menggairahkan dirinya.

Kocokan di rudalnya makin cepat, makin cepat, hingga akhirnya….”akhhhh, ukhtiiii, ana keluarrr,,,,”

Ustazah Lia menatap takjub rudal yang mengangguk-angguk liar memuncratkan lahar putih kental itu. Dia juga akhirnya ikut orgasme membayangkan wajahnya yang tertutupi kerudung lebar warna hitam itu termuncrati oleh cairan yang bahkan baunya pun belum pernah dia hidu.

“Akhhh, sayangggg, ukhti juga….akhhhh….” Tubuhnya mengejang-ngejang liar seiring rintihannya yang tak jelas. Kerudung lebarnya bergerak-gerak seiring gerak kepalanya yang menggeleng-geleng merasaka kenikmatan yang tak terkira.

Beberapa menit kemudian, di dua tempat yang terpisah itu, nampak dua pemandangan yang berbeda. Ahmad soleh terbaring lemas di ranjang hotel, rudalnya terkulai lemas, masih ada sisa-sisa spermas, basah, di ujung rudalnya. Wajahnya menampakkan raut puas. Ngocoks.com

Sementara di asrama syahamah kamar nomor lima, ustazah lia terkulai di kursi, keringat memenuhi tubuhnya. Kerudung lebarnya kusut menutupi beberapa bagian tubuhnya acak. Pahanya masih terkangkang lebar, tangannya mengelus-elus jembutnya penuh kenikmatan.

“Sayang, bersihin rudalku dongg,”

“Emmmhh, emm, slurrrppp,” Ustazah lia mengeluarkan lidahnya menjilat-jilat bibir.

“Ahh, ustazahku, lonteku alim. Kamu benar-benar binal.”

“Iya dong, ustazah lia gitu.”

“Hehee, kapan nih ana bisa main ke kamar ukhti?”

“Kapan-kapan yahh,” Ustazah Lia mengedipkan matanya menggoda.

“Ahh, sayang ni.”

“hehe, udah dulu ya, sayang, ini masih ada kerjaan. Besok lagi ya. Cuppp, sayangku.”

“Baiklah sayang, met bobok ya, lonteku ustazah.”

Ustazah Lia kemudian mematikan webcam dan keluar dari jendela facebooknya. Dia membuka emailnya. Artikel dari ukhti Khusnul sudah masuk enam menit yang lalu. Dia mendonlod dan membuka file itu. Tugasnya memang sebagai editor juga untuk memastikan bahwa artikel yang diposting memang sesuai dengan faham keagamaan yang dianut oleh asrama syahamah.

Setelah memastikan bahwa artikel itu memang layak publish, dia langsung memostingnya. Judulnya: BAHAYA SEKS BEBAS DAN PORNOGRAFI DI WAHANA KAMPUS DARI SUDUT PANDANG TARBIYAH.

Sambil tersenyum, jemari lentik ustazah lia mengklik enter. Sementara itu tangan kirinya mengusap-usap puting susunya yang perlahan kembali menegang. Setelah itu, dia mematikan laptopnya.

“Ahhh,” begitu dia mendesah sambil menggeliat. Kemudian dia membuka lemarinya, mengeluarkan mukena gamis warna putih dengan motif bunga warna kuning emas di pinggangnya. Setelah mencopot kerudungnya dan memakai mukena itu, dia meraih androidnya dan membaringkan diri di dipan. Dia kembali membuka browser di hpnya, melihat-lihat situs video gratisan.

Malam itu, dia streamingan video threesome antara seorang wanita seusia dirinya dengan dua orang negro. rudal-rudal hitam besar yang membuat wanita itu merintih-rintih keenakan membuat birahinya kembali bangkit. Perlahan, tangannya kembali menelusup ke serambi lempitnya di balik mukena.

“Akhh,” malam makin dingin, malam makin larut, jika kau ada di dalam kamarnya, akan kau dengar kembali desahannya perlahan-lahan.

Bersambung… Sementara ustazah Lia pergi dari ruang interogasi ke kamarnya, pada saat yang sama ustazah Aminah pergi dari ruang interogasi ke kamarnya. Samar terdengar suara shower di kamar mandi menyapa telinganya bahkan saat tangannya baru saja memegang handle pintu kamar: sepertinya ustaz karim masih mandi. Ustazah Aminah mendorong pintu dan masuk ke dalam kamarnya.

Kamar ustazah Aminah sangat rapi. Satu rak besar dengan buffet di bagian bawahnya nampak langsung saat kau berdiri di ambang pintu. Tidak penuh memang raknya, beberapa jilid yang terbaca adalah buku “Kumpulan Fatwa untuk Ummahat”, dan “Menjadi Ummahat Modern”. Alihkan pandanganmu ke pojok sebelah kanan rak maka akan kau temukan meja belajar lengkap dengan lampu dan beberapa buku yang berserakan di sana.

Di pojok sebelah kiri ada lemari pakaian, di sampingnya tepat kapstok di mana tergantung beberapa pakaian Ustaz Karim dan sebuah mukena sutera warna hitam bercorak kembang-kembang. Ke sanalah Ustazah Aminah menuju. Dia mengambil mukena sutera itu, menilik-niliknya sebentar, kemudian meletakkannya di dipan. Berdiri menghadap dipan, dia mencopot gamis dan kerudungnya, berniat menggantinya dengan mukena itu.

Memang di asrama Syahamah ada peraturan yang unik. Setiap jam tidur ataupun jam-jam kegiatan asrama seperti jam kajian keagamaan ataupun jam rapat, setiap ukhti penghuninya diwajibkan menggunakan mukena, baik itu mukena terusan ataupun mukena dua potong atas bawah. Konon, alasan peraturan itu adalah karena mukena merupakan pakaian yang melambangkan seorang ukhti yang sangat agamis.

Mukena sutera hitam Ustazah Aminah adalah mukena dua potong. Dengan posisinya berdiri menghadap dipan itu, pada saat yang sama dia membelakangi pintu kamar mandi yang terletak di satu pojok yang lain di deretan yang sama dengan posisi kapstok. Sudah beberapa saat tadi suara shower di sana berhenti.

Ustazah Aminah sudah hanya mengenakan celana dalam dan beha saja. Dua-duanya warna hitam. Dua-duanya dihiasi dengan renda-renda di pinggirnya. Kulitnya putih bersih memantulkan cahaya neon yang bersinar di atasnya. Rambutnya lumayan panjang, dia kibaskan ke belakang. Di bagian depan, buah dadanya mengkal bulat seperti semangka hanya tertutupi separuh oleh cup beha.

Ke bawah dari buah surga itu Nampak perut yang masih terhitung rata. Hanya ada sedikit perubahan setelah melahirkan dua orang anak. Sebagai seorang ukhti, Ustazah Aminah memang sedikit telat menikah, dia menikah usia 25an, dua tahun kemudian dia melahirkan anak pertamanya yang sayangnya meninggal di tahun keduanya.

Usia 30 tahunan, barulah Ustazah Aminah melahirkan anak keduanya, Alif Nazarudin, kini tinggal bersama dengan ibunya Ustazah Aminah di bandung, sekolah di sana. Sebulan dua kali biasanya Ustazah Aminah dan Ustaz Karim mengunjungi sang anak semata wayang.

Dari perut terus turun ke bawah, pusar yang menggoda untuk dikucup, lalu area yang ditutupi celana dalam seksi berhias renda…. Ustazah Aminah perlahan membuka kaitan behanya. Di benaknya terbayang malam ini yang akan menjadi malam istimewa setelah seminggu lebih dia ditinggal dalam sepi oleh sang suami.

Membayangkan rudal suaminya, puting-puting susunya perlahan menegak mencuat. Entah apa rahasianya, yang jelas buah dada Ustazah Aminah meskipun sangat jumbo tapi tidak melorot. Bahkan setelah beha hitam berendanya tergeletak di dipan di samping mukena, dua bulatan besar itu nampak anteng menantang.

Ustazah Aminah tersenyum-senyum sendiri mengingat suaminya yang sangat suka bermain-main dengan buah dadanya itu, sekaligus juga tak pernah tahan lama tiap kali rudalnya bersentuhan dengan bulatan itu. Sedikit membungkuk, Ustazah Aminah kemudian ganti melepaskan segitiga berenda di bagian bawah. Saat benda itu terlempar sempurna menumpuk dengan beha di dipan, bagian bawah tubuh Ustazah Aminah pun nampak seutuhnya.

Dari belakang, punggung tonggek yang membuat dua bulatan di dadanya semain nampak membusung sekaligus juga bulatan pantatnya semakin menungging. Jika kau punya kesempatan, telusurilah dari pantat itu ke paha kemudian ke pangkalnya. Maka akan kau temukan di sana belahan yang indah dan jelas, dengan jembut yang tercukur rapi. Memang ustaz Karim paling benci pada serambi lempit yang berjembut lebat, maka Ustazah Aminah pun selalu rutin mencukurnya.

Perlahan tangan ustazah Aminah mengelus belahan itu lembut, menguakkannya pelan. Di benaknya mendadak terbayang dildo berbentuk rudal yang masih tersimpan di gamisnya. Ah, begitu desahnya pelan. Jemarinya lembut menelusuri belahan surgawi itu, mengarah ke itilnya yang mencuat sedikit tersembunyi…

Kemudian dia tersadar. Tangannya segera meraih mukena sutera hitam, bagian bawah, bagian yang digunakan menutupi area pinggang ke bawah. Tanpa mengenakan dalaman apapun, dia langsung memakainya. Hawa malam itu lumayan panas, musim pancaroba, musim cuaca yang tak jelas, maka dia pikir tidak apa-apa dia tidak mengenakan apapun. Lagipula dia sudah sholat isya, kegiatan asrama sudah selesai pula.

Tanpa Ustazah Aminah ketahui, Ustaz Karim keluar dari kamar mandi, diam-diam, tanpa suara. Sejenak di ambang pintu kamar mandi dia berdiri, matanya terpaku menatap Ustazah Aminah yang sedang membungkuk memasukkan bagian bawah mukena ke tubuhnya. Ustaz Karim merasakan rudalnya yang hanya ditutupi handuk bangkit mengeras tanpa tedeng aling-aling. Dengan handuk yang perlahan melorot karena tertarik oleh rudalnya yang menujah ke depan, dia begerak maju dan langsung memeluk sang istri dari belakang.

“Akh!” Ustazah Aminah serambi lempitik kaget, tapi kemudian dia tertawa senang saat menyadari suaminyalah yang memeluknya itu. Dia sandarkan kepalanya ke bahu kanan sang suami sambil mulutnya mencium leher. “Wangi banget, abii.”

Tangan Kanan Ustaz Karim sementara itu memeluk bahu kanan Ustazah Aminah, sementara tangan kirinya meremas-remas payudara kiri Ustazah Aminah gemas. Di bagian bawah, ustazah Aminah merasakan sesuatu yang keras menyentuh-nyentuh belahan pantatnya gemas.

“Iya dong, Umiku,” Mulut Ustaz Karim kemudian menggapai bibir Ustazah Aminah yang sedikit tebal dan sedikit terbuka. Cuppp, dengan penuh gairah keduanya berciuman, kemudian ustaz Karim mengendorkan ciumannya dan lidahnya keluar menyapa lidah ustazah Aminah. Ustazah Aminah membalasnya tak kalah panas. Dihisapnya lidah yang masuk itu sampai Ustaz Karim merem melek menahan kenikmatan.

Masih dengan gemas tangan ustaz Karim menggerayangi tubuh ustazah Aminah. Dielus-elusnya perut ustazah sampai dia menggelinjang penuh kenikmatan, tangan ustazah aminah kemudian juga tak tinggal diam. Tangan kirinya menggapai-gapai ke belakang, meraih benda yang mengacung tegak di balik handuk yang lantas terlepas saat tangan ustazah aminah dengan liar menggenggam batang pemberi kenikmatan itu.

“Ahhhh, umii, umi, abi kangen serambi lempitmu.”

Ustazah Aminah hanya mendesah-desah. Birahinya memang selalu mudah naik saat payudaranya diremas-remas. Buah yang bulat besar itu memang sangat sensitif. Sebagai balasan, dia mengocok-ngocok rudal ustaz karim dengan penuh gairah sementara bibirnya kembali menggapi bibir ustaz karim, melumatnya seolah gregetan.

Saat itulah hp Ustazah Aminah berbunyi. Kedua insan yang sedang naik-naiknya gairah itu tersentak kaget dan sama-sama memandang nama yang tertera di display hp.

“Alif, mi,” “Iya, bi,” “Yaudah umi terima dulu,” sambil mengatakan demikian, ustaz karim bukannya melepaskan tubuh sang istri tapi malah mulutnya dengan buas melumat bibir seksi ustazah Aminah.

Rambut ustazah aminah yang tak tertutupi apapun karena memang dari bagian pinggang ke atas tubuhnya telanjang bulat itu tergerai berantakan. Sementara tangan sang ustaz yang satu merangkul tubuh ustazah, tangan yang satunya lagi dengan nakalnya menelusup ke dalam terusan mukena bagian bawah yang dipakai ustazah Aminah.

Ustazah aminah menggelinjang merasakan usapan lembut yang menelusuri area serambi lempitnya. Nafsunya kembali memuncak. Akan tetapi naluri keibuannya di satu sisi juga membuatnya merasa terganggu oleh dering telpon dari anak kesayangannya itu. “Abi nakalll,” ucapnya di sela nafasnya yang terengah-engah setelah ustaz karim melepaskan mulutnya.

Ustaz karim hanya tertawa. Dia kemudian mengendorkan pelukannya, Ustazah Aminah kemudian mengambil hpnya dan menerima telpon dari anak tunggalnya itu.

“Asalamualaikum Umi,” terdengar sang anak mengucapkan salam dari seberang.

“Waalaikumsalam, sayangku. Gimana kabarmu di sana? Sehat? Maap ya umi belum bisa mengunjungimu, mungkin dua hari ke depan, sama abimu.” Ustazah Aminah menoleh sambil tersenyum ke arah ustaz karim yang saat itu sedang membungkuk mengambil handuknya yang tergeletak di lantai. Ustaz karim mendongak kemudian mencubit pantat menggoda ustaz Aminah.

“aww.” Tanpa sadar ustazah aminah serambi lempitik. “Ada apa umi?” terdengar nada heran dari seberang. “Alif baik-baik saja, umi. Iya gak apa-apa, mi. Cuma kangen umi.” Ada nada manja dalam ucapan anaknya itu.

Umi Aminah tertawa sementara matanya memelototi ustaz karim yang cengar-cengir nakal dan berdiri di belakangnya sambil mengusap-usap rudalnya yang makin mengacung tegak. “Baiklah, Alif sayang. Umi juga kangeeeen banget sama alifku yang ganteng, yang cerdas, yang saleh, ya.” Kemudian membalas cengiran nakal Ustaz Karim, dia menambahkan, “ ngomong-ngomong Alif kangen juga sama abi enggak nihh?”

“Hehe,” terdengar tawa alif di seberang. “ya kangen dong mii, tapi kan kata hadis juga dahulukan dulu umi tiga kali, baru abi.”

Umi Aminah menjulurkan lidahnya ke arah ustaz karim yang juga mendengar jawaban alif itu. Ustaz karim cuek, dia kemudian memasang gaya hendak memeluk kembali ustazah aminah. Ustazah aminah bergerak menghindar.

“Aihhh, anak soleh, anak umi, ya, sini umi kecup, cuppp, cuppp,” Ustazah Aminah melanjutkan. “Alif minta oleh-oleh apa besok?” “Emmm, Alif minta dibeliin jaket saja mi, ada model baru yang keluar, alif suka.” “Jaket? Baiklah, sayang, besok pasti umi beliin.” Melihat Ustaz Karim yang hanya duduk di dipan mengamatinya, ustazah aminah tergerak untuk kembali menggoda suaminya itu. Dia menghampiri meja belajar, kemudian sambil menungging berposisi seperti orang yang sedang ruku, dia melanjutkan berkata, “yang penting alif belajar terus yang rajin ya.”

“Iya, umi.” Jeda sebentar. Ustaz Karim saat itu tampak asyik mengusap-usap rudalnya sambil matanya berbinar-binar menatap bokong ustazah aminah yang menugging menggoda. Semakin menggoda lagi, ustazah aminah menggeol-geolkannya seolah memanggil-manggil. “Eh umi,” Alif meneruskan.

“Iya ada apa sayang?” Ustazah Aminah menjawabnya. Saat itu suaminya sudah ada di belakangnya dan mengusap-usap belahan pantatnya dengan menggunakan kepala rudalnya yang nampak seperti jamur. Besar. perasaan ustazah aminah berdesir kencang.

“Alif cium lagi dong, umi, biar bisa bobok pules.” “Hehe, alif ini, ada-ada saja.” Tangan ustazah aminah yang satu memegang hp sementara yang satunya lagi mencoba menepis tubuh dan tangan ustaz karim yang makin nakal. rudal yang tegak itu mengangkat ujung bawah mukena ke atas, makin ke atas, “cuppp, cuppp, umi kecup alif ya, anak pintar, anak….ahhhh” tanpa sadar ustazah aminah mendesah kencang di hpnya saat dia rasakan rudal suaminya menerobos lubang serambi lempitnya.

“Anak apa umi? Umi kenapa?” Ada nada heran dalam pertanyaan Alif. “Ahhh, gak kenapa…kenapa….sayanggg, anak…saleh,” sekuat tenaga ustazah aminah mencoba bersuara biasa. Sementara itu dengan kuat tangan ustaz karim memegang satu tangan dan pinggang ustazah aminah. rudalnya bergerak liar keluar masuk liang serambi lempit ustazah aminah dalam posisi doggy. “Alif…cepat tidur..yaa…ukhh.”

“Iya, umi,” entah kenapa ustazah Aminah merasa suara anak kesayangannya itu sedikit bergetar. Dia sebenarnya berharap anaknya itu segera menutup telponnya, tapi dia tunggu hal itu tak juga terjadi. Sementara itu, perasaannya semakin tak terkendali merasakan kenikmatan yang sangat sempurna saat rudal besar suaminya mengobok-obok serambi lempitnya. Ditambah lagi kini kedua tangan suaminya meremas-remas buah dadanya dengan kasar.

Ustazah Aminah tak tahu seperti apa sebenarnya anak lelakinya, Alif Nazarudin itu. Dia juga tak tahu apa yang sedang dilakukan sang anak di seberang saat dia menelponnya. Alif nazarudin sekarang berusia 14 tahunan, remaja yang sedang puncak-puncaknya gairah. Dan, sudah lama sekali sang Alif ini menyimpan rasa birahi terhadap ibu kandungnya sendiri. Ya, Ustazah Aminah. Tentu saja rasa birahi itu selama ini dia simpan rapat-rapat.

Selama ini Alif memang terlindungi oleh kenyataan bahwa dia dan ibunya jarang bertemu, jadi siapapun menganggap wajar-wajar saja jika remaja itu saat bertemu dengan ibunya selalu menggelendot manja, memeluk, kadang tiduran di paha sang ibu sambil nonton televisi.

Padahal sementara melakukan hal itu, selalu ada denyar-denyar birahi di ujung rudal Alif. Biasanya dia melampiaskannya dengan onani. Alif juga menyimpan banyak koleksi foto ibunya dalam berbagai posisi, tentunya yang dia simpan adalah posisi yang menampakkan bulatan besar di dada dan bokong sang ibu.

Alif sepertinya mewarisi birahi bapaknya, Ustaz Karim. Malam itu, sambil menelpon ibunya, Alif duduk di kursi sementara di depannya laptopnya menayangkan foto ibunya sedang mengenakan gamis kaftan, salah satu jenis gamis favorit kesukaan Alif karena membuat dada ibunya nampak tercetak menggairahkan.

Saat mendengar desahan ibunya di telpon, alif tahu ibunya, umminya, pasti sedang bercumbu dengan abinya. Birahinya pun langsung terpacu. Dia langsung mengocok-ngocoks rudalnya dengan liar. Dia tahu ibunya mengharapkan dirinya menutup telpon, tapi dia sengaja menunda-nundanya.

Di saat yang sama, Ustaz Karim semakin menggoda menyetubuhi istrinya dengan posisi doggy style. Tubuhnya mendorong tubuh istrinya semakin mepet ke meja. Dengan serampangan ustaz karim mengambil kerudung lebar istrinya yang tersampir di kursi dekat meja dan menaruhnya di kepala istrinya. Dengan satu tangan, Ustazah Aminah yang tahu maksud suaminya kemudian memantaskan posisi kerudung itu sebisa mungkin. Ia tahu bahwa suaminya selalu lebih bergairah saat dia memakai kerudung tapi dengan buah dada terpampang bebas.

Seperti saat itu. Perasaan ustazah Aminah sudah sepenuhnya tak terkendalikan. Dia hanya pasrah. Hanya desahan-desahan tertahan keluar dari mulutnya yang terbuka, pipinya menempel erat pada meja, tepat pada sampul buku berjudul “Akhwat Muslimah Calon Istri Sejati” yang ada di sana. Satu tangannya terjulur ke dapan tanpa sadar masih menggenggam hp yang dia harap sudah dimatikan, sementara tangan yang satunya meremas-remas buah dadanya sendiri.

Sementara itu, ustaz karim dengan penuh semangat menusuk-nusukkan rudalnya di serambi lempit istrinya yang dia rasakan semakin lama semakin rapat, memberikan sensasi menghisap seperti pompa. Dia merasakan sensasi tersendiri mengetahui bahwa dirinya sedang bersetubuh saat tadi istrinya itu sedang menelepon sang anak.

Keduanya tak tahu bahwa di seberang sana, Alif masih bisa menikmati sensasi mendengarkan orang tuanya bersetubuh dengan penuh gairah karena sambungan hpnya masih belum dimatikan. “Ahhh, ahhhhh,” begitu dia mendesah-desah sambil mengocok rudalnya.

Ustazah Aminah merasakan seolah aliran listrik mulai menjalari tubuhnya dalam voltase kecil tapi membuat ada banyak kedutan terasa di bagian-bagian tertentu tubuhnnya. Dia mencoba menggapaikan tangannya ke belakang.

Ustaz karim menyambutnya, kemudian dia mengangkat tubuh sang istri dan kembali meremas kedua payudaranya. Gerakan di pinggulnya tidak berhenti. Dengusan nafasnya hangat di punggung ustazah Aminah. Ustazah aminah sendiri saat itu sudah melupakan hpnya. Kedua tangannya yang sudah bebas kemudian merapikan kerudungnya susah payah.

Melihat istrinya sudah berkerudung lebar, ustaz karim yang merasakan pertahanannya tak akan lama lagi, ingin merasakan sensasi yang lain. “Ploppp,” dia menarik rudalnya dari serambi lempit sang istri. Bokong sang istri nampak sedikit bergerak ke belakang, seolah tak rela kenikmatan itu terhenti. dia kemudian menarik istrinya berdiri dan membalik tubuh molek menggiurkan yang kini mulai dibasahi keringat itu.

Kemudian mulutnya dengan buas melumat bibir sang istri. Liur meleleh dari kedua bibir yang bertemu itu seiring dengus nafas panas beradu. Tak ada yang peduli. Lalu tubuh ustazah aminah diangkat sang suami dan didudukkan di meja.

Ustazah Aminah refleks meletakkan tangannya ke belakang, menahan tubuhnya. “Arrrrrrggghhh, ahhh, abiiii, ahhhhhh,” desahannya terdengar merangsang birahi saat dia merasakan rudal ustaz karim yang sudah basah itu kembali menusuk serambi lempitnya, kali ini dari depan. Tangan ustaz karim bergantian dengan mulutnya meremas dan menghisap dua buah dada sang ustazah membuatnya makin blingsatan.

Kepala ustazah aminah mendongak ke atas, mulutnya tercungap-cungap tak mampu mengeluarkan kata apapun. Ada air liur menetes sedikit dari pojok mulutnya. Dia sudah pasrah. Kerudung lebarnya bagian depan menutupi sela kedua buah dadanya yang jumbo, sementara bagian belakang menjuntai menyentuh permukaan meja membuat posenya nampak semakin seksi di mata ustaz karim.

“Ahhh, ahhh, umi, umiku, lonteku, abi mau keluar, umi, argghhhhh,” ustaz karim mendengus-dengus dan mempercepat laju batang rudalnya di lubang yang semakin lama semakin kuat menghisap, membuat dirinya yakin sebentar lagi keluar.

“Akhhh, akh, aaaaaaah, abi….akh, umi ju..ga…abi…konnnttoollmuuu buat umiiiii!”

Dengan satu sentakan yang membuat tubuh ustazah aminah terdorong sedikit ke belakang, ustazah aminah akhirnya merasakan puncak kenikmatannya. Mulutnya mengeluarkan racauan tak jelas, matanya membeliak mennyimpan kenikmatan yang tak terkatakan. Ustaz karim membiarkan istrinya merasakn kenikmatan beberapa saat, kemudian dia meremas buah dada sang istri dan menyodokkan kembali rudalnya keluar masuk dengan gencar.

Ustazah aminah merasakan tangan yang menyangga tubuhnya mulai gemetar. Kenikmatan ini terlalu indah baginya, dia hanya berharap sang suami pun segera mencapai puncaknya. Harapan yang bukan hanya harapan. Di satu titik ustaz karim mencabut rudalnya kemudian menarik tubuh ustazah aminah bangun sambil menggeram.

Dia memposisikan sang istri yang hanya memakai bagian bawah mukena dan kerudung lebar itu dalam posisi bersimpuh. Kemudian… Crott, crott, crotttt, rudalnya memuntahkan lahar putih kental berkali-kali mengenai wajah istrinya, kacamatanya, kerudungnya, bibirnya. Ustazah aminah tersenyum lalu mengeluarkan lidahnya dan menjilat-jilat bibirnya atas bawah.

Tak tahan melihat pemandangan ustazah berkerudung lebar dan alim dalam kesehariannya itu kini bertabur sperma miliknya, ustaz karim membungkuk dan dengan rakusnya melumat bibir sang istri, lidahnya menerobos dan saling berjalin dengan lidah ustazah aminah, saling berbagi wangi sperma yang dimuncratkannya.

Sementara itu, rudalnya yang masih mengeluarkan muncratan-muncratan kecil dalam posisi membungkuk itu memberikan noda-noda warna putih di bagian selangkangan mukena sutra bagian bawah yang dipakai oleh ustazah aminah.

rudal besar itu mengangguk-angguk semakin lemah semakin lemah sampai akhirnya berhenti. Ustazah Aminah tersenyum sambil mendongak menatap wajah suaminya yang meneduhinya. “Makasih abi, abi hebatt.”

“Umi juga sayang.” Ustaz Karim mencium sang istri sebelum menariknya bangkit. Ustaz karim mendahului sang istri mengambilkan gamisnya. Saat itulah tangannya memegang sesuatu yang mengganjal di saku gamis sang istri. Dildo. Dia mengeluarkannya, menimang-nimangnya, kemudian sambil tersenyum menoleh pada sang istri. Di bawah, rudalnya kembali bergerak mengacung…

Pada saat yang sama, keduanya tak tahu bahwa sambungan telpon dari Alif baru saja dimatikan. Tadi saat ustazah aminah meracau tak jelas merasakan kenikmatan mencapai puncaknya, pada saat yang sama rudal Alif juga mengangguk-angguk memuncratkan benih si anak remaja, membasahi kerudung hitam kaus yang dia curi dari lemari sang ibu.

Tubuhnya mengejang-ngejang membayangkan sang ibu menampakkan wajah puas di bawah himpitannya. Ya, sang ibu yang memakai gamis kaftan dengan kerudung lebar sepinggang. Sampai saat dia mematikan sambungan telponnya, rudalnya masih mengacung tegak.

Bersambung… Malam yang sama. Ustazah Raudah menutup pintu kamar Ustazah Lia dengan tergesa. Informasi yang dia dengar dari Ustazah Lia bahwa Ustaz Karim baru saja pulang membuatnya ingin cepat-cepat menggapai hpnya. Dengan langkah-langkah cepat dia menuju ke kamarnya, masuk, kemudian menutup pintu dan langsung meraih hpnya, android berlayar empat setengah inchi.

Dia mengetik pesan singkat di BBM dan mengirimkannya ke satu kontak yang pasti sudah kau kenal: Alif. Isi pesannya sederhana: “Abi baru saja pulang.” Ustazah Raudah kemudian duduk di dipan, imajinasinya melayang.

Dirinya membayangkan Alif putra Ustazah Aminah bukan sebagai anak kecil biasa yang baru beranjak puber. Setiap kali membayangkan putra semata wayang ustazah raudah itu, dia selalu membayangkan rudal yang berukuran sangat besar dan panjang, dan setiap membayangkan rudal yang berukuran sangat besar yang pernah menemaninya selama sebulan penuh itu, dia selalu merasa serambi lempitnya perlahan membasah. Setidaknya sejak setahun yang lalu.

Saat itu, Ustazah Aminah mengatakan bahwa dia membutuhkan bantuan Ustazah Raudah untuk selama sebulan mengajari Alif Bahasa Inggris. Ya, dalam hal ini kemampuan bahasa Inggris Ustazah Raudah memang paling bagus di kalangan penghuni asrama. Dia dulu pernah kursus di Pare, kampung Inggris di Jawa Timur sana, kemudian menuntaskan pendidikan bahasa inggris di kampus islami dekat asrama Syahamah.

Maka di bulan ramadhan tahun kemarin itu, ustazah Raudah diajak oleh ustazah Aminah untuk menemani Alif di rumahnya di bandung. Keberangkatannya disengaja dua hari sebelum bulan ramadhan, supaya perjalanan yang panjang ke Bandung tidak membuatnya harus membatalkan puasa.

“Nanti akan Umi bayar juga kok, ukh, santey,” Ustazah Aminah berkata demikian dalam nada guyon. Ustazah Raudah hanya tersenyum kecil. Baginya, tanpa dibayar pun tak apa-apa, anggap saja itu adalah bagian dari bakti dia pada sang ustazah yang selama ini telah banyak membantunya.

Berhubung ustazah aminah saat itu sedang sibuk, demikian juga ustaz karim, maka mereka pun tidak bisa mengantarnya menggunakan mobil pribadi. Maka berangkatlah ustazah Raudah ke bandung dengan menggunakan bis. Sebelum berangkat, ustazah aminah sudah memberikan nomor Alif.

“Nanti kalau sudah sampai ke terminal Cicaheum sms Alif ya, dia akan jemput ukhti.” Begitu pesan ustazah Aminah.

Perjalanan ke bandung saat itu menghabiskan waktu sepuluh jam lebih. Entah, ustazah Raudah tak tahu berapa lama biasanya perjalanan itu dihabiskan. Yang jelas, sepuluh jam itu sudah cukup membuatnya lelah. AC dalam bis juga terasa terlalu dingin membuatnya tak bisa tidur. Maka dia sangat merasa terbantu bahwa dirinya akan dijemput Alif nanti. Setidaknya dia tidak perlu repot mencari-cari angkutan umum.

Sesuai pesan ustazah Aminah, sampai di terminal, ustazah Raudah mengirim pesan pada Alif bahwa dia sudah sampai. Tak lupa juga dia mengatakan di spot mana dia menunggu supaya Alif tidak kebingungan mencarinya. Toh yang namanya terminal di mana-mana pun memang lumayan luas, apalagi terminal Cicaheum memang merupakan terminal bis.

Ustazah Raudah memilih duduk di salah satu bangku terminal, tidak terlalu jauh dari pintu masuk. Sedikit mengantuk, dia mengamati orang-orang yang keluar masuk terminal, siapa tahu dia bisa mengenali sosok Alif putra tunggal Ustazah Aminah itu. Kira-kira lima belas menitan, seseorang menyapanya dari belakang: “Ustazah Raudah?”

Sedikit kaget, Ustazah Raudah menoleh. “Iya, ini Alif?”

Alif tersenyum menampakkan giginya yang rata. “Iya, umi, emm, kupanggil umi saja yah.”

Ustazah Raudah mengangguk. Balas tersenyum. Sosok Alif ternyata jauh dari bayangannya. Dia membayangkan remaja itu sebagai remaja berusia 14 tahunan yang bertubuh kecil, manis, dan malu-malu. Lha ini? Sosok yang ada di depannya ini lebih mirip laki-laki dewasa daripada seorang remaja. Tubuhnya tinggi besar, dan wajahnya…ada keliaran yang tercermin di sana.

Bibir yang selalu tersenyum, nada bicara yang nampak riang. Dan, ustazah raudah merasa dia ganteng, hidungnya mewarisi hidung Ustazah Aminah, bentuk wajahnya mewarisi bentuk wajah Ustaz Karim. “Mungkin karena dia anak kota, biasanya kan memang anak kota cenderung cepet besar,” begitu Ustazah Raudah membatin.

“Ini saja bawaan umi?” Alif menunjuk satu kardus kecil yang tergeletak di depan Ustazah Raudah. “Iya, Lif.” Alif langsung mengangkat kardus itu, “umi ikuti Alif ya, tadi Alif lewat jalur belakang.”

Barulah Ustazah Raudah paham mengapa sosok itu tak nampak masuk dari pintu depan terminal meski tentu saja dia tak yakin bisa mengenali Alif kalaupun dia melihatnya sebelum Alif menyapanya. Dia kemudian bangkit dan berjalan mengikuti Alif. Bahkan saat berdiri, Ustazah Raudah bisa melihat dirinya kalah pendek dari remaja itu. Diam-diam Ustazah Raudah tertawa dalam hati sambil membatin bahwa sebenarnya Alif memang berusia 14 tahun atau tidak sih? Jangan-jangan info yang dia dapatkan salah.

Sepanjang perjalanan mereka mengobrol ngalor ngidul. Kesan pertama yang didapat oleh ustazah raudah memang benar: Alif anak yang ramah. Dia bersyukur. Akan lebih mudah mengajari anak yang ramah daripada anak yang introvert. Mereka cenderung lebih terbuka untuk bercerita kalau ada masalah pas belajar.

Sepeda motor itu berhenti di depan sebuah rumah bergaya campuran klasik dan modern. Rumah yang sangat megah dalam pandangan ustazah raudah. Halaman luas yang sudah jarang ditemukan di rumah-rumah zaman sekarang, dipenuhi rumput yang nampak rapi.

Pohon rambutan berdiri kukuh di satu sudut, dekat dengan satu gazebo yang berarsitektur klasik. Sekeliling rumah di pagar teralis besi dengan ukiran abstrak dengan tugu tembok berdiri di beberapa spot. Berjalan melintasi halaman itu, ustazah raudah tak henti-hentinya melayangkan tatapan kagum ke sekeliling.

Di serambi seorang wanita yang sudah tua menyambut mereka. Ibu Teti, ibunya Ustazah Aminah, sudah tua tapi nampak sehat dan lincah. Dia menyambut ustazah Raudah dengan pelukan hangat seperti seorang ibu menyambut anaknya yang baru pulang. Ah, untuk kedua kalinya Ustazah Raudah merasa lega. Dia yakin dirinya akan betah di rumah itu.

Ternyata di rumah itu ibu Teti hanya tinggal bersama Alif. Kakeknya Alif sudah meninggal saat Alif berusia 8 tahun. Maka di rumah semegah itu hanya ada Ibu Teti, Alif, dan dua orang pembantu lelaki dan perempuan yang bertugas sebagai koki, merangkap pula sebagai tukang kebun, dan beberapa pekerjaan lainnya. Kedua pembantu itu sendiri tidak menetap di sana, mereka hanya datang setiap pagi dan pulang setiap sore, Mang Juma dan Bi Emeh. Keduanya sepasang suami istri yang berumah tak jauh dari rumah Ibu Teti.

“Bagaimana perjalanannya, neng?” Begitu tanya ibu Teti saat mereka sudah duduk-duduk di ruang tengah, menghadapi segelas es teh.

“Lumayan lama, bu, tadi berangkat jam lima pagi.”

Ustazah Raudah masih terkagum-kagum dengan arsitektur interior rumah itu. Rumah dua lantai dengan tangga melingkar ke atas dari ruang tengah itu. Ada 3 kamar di bawah, dan 3 kamar di atas yang nampak, meski sebenarnya ada beberapa ruang yang lain juga di sana. Perabotan rumah nampak tertata rapi, dan indah. Nampak artistik dan mahal.

“Nek, umi Raudah mungkin sudah capek, Alif antar ke kamarnya saja dulu ya, kita bisa ngobrol-ngobrol lagi nanti deh.” Alif menyela sang nenek yang masih mengajukan banyak pertanyaan. Biasa, ibu-ibu selalu punya banyak bahan untuk diobrolkan.

Ustazah Raudah tersenyum dalam hati. Dia membenarkan ucapan Alif. Saat ini dirinya sudah sangat ingin istirahat. Dia sudah sangat ingin mandi, kemudian membaringkan tubuhnya di kasur.

Ibu Teti tersenyum. “Neng Raudah ingin kamar di atas atau di bawah?”

Ustazah Raudah berpikir sebentar. Dia langsung merasakan keinginan untuk memilih kamar di atas saja, dia sudah membayangkan berdiri di balkon yang dia harapkan ada di luar kamarnya, menatap ke kejauhan, ah, Bandung konon indah. Bayangan seperti itu saja sudah membuat pikirannya segar.

“Di atas saja, Bu.” Jawabnya.

“Baiklah. Alif antarkan ustazah ke kamarnya ya, nenek mau ke belakang dulu.”

“Baik nek.” Alif langsung mengangkat kardus tadi. Dia langsung naik tangga sementara ustazah raudah mengikuti. Ternyata lantai dua pun lebih luas daripada yang diduga ustazah raudah. Ada tiga kamar di sana sesuai tebakannya. Kemudian ada juga satu ruangan yang difungsikan sebagai mushola. Di sebelah mushola adalah kamar mandi. Hanya satu, kamar mandi terluas yang pernah ustazah raudah temukan. Di pojok kamar mandi dilengkapi dengan bilik shower.

Kemudian ada lagi satu ruangan dengan meja bundar dan tiga kursi mengelilinginya. Di dinding ada rak tinggi dengan banyak buku nampak. “Ini ruang belajar nanti, umi.” Kata Alif menjelaskan. Selesai menerangkan tentang lantai dua itu, Alif pamit turun dulu ke bawah.

Kamar Ustazah Raudah adalah kamar ketiga dari tangga. Kamar Alif tepat di sampingnya. Sementara kamar yang paling dekat tangga kosong. Konon kamar itu sering digunakan teman-teman Alif saat mereka numpang nginap misalnya.

Ustazah Raudah membuka jendela kamarnya. Dia hampir bersorak gembira menemukan balkon seperti yang dia idamkan. Pemandangan dari sana, senja itu, sangat indah. Horison langit luas membentang, rumah-rumah yang tersusun rapi, di kejauhan gunung tinggi menjulang. Balkon itu terhubung dengan dua kamar lainnya, memanjang, dengan pagar sepinggang kurang lebih, nampak kokoh.

Ustazah Raudah kemudian menutupnya dan menarik tirai. Setelah menghidupkan lampu, dia membaringkan tubuhnya di dipan. “Empuk sekali,” batinnya. Kamar ini pun lumayan luas, lengkap dengan lemari pakaian di pojok, rak buku, dan meja belajar. Ustazah Raudah bangkit, membereskan barang bawaannya. Dia merasa tubuhnya lumayan penat. Maka dia langsung berniat untuk mandi.

Setelah mandi, dia sholat magrib di mushola. Pulang dari mushola itu dia menemukan Alif menunggunya di depan kamar. Entah kenapa dia merasa tatapan remaja itu seperti tanpa berkedip melihatnya. Dia saat itu mengenakan mukena sutera putih kesayangannya. Mukena dengan motif bunga-bunga yang nampak sangat lembut menonjolkan kefeminimannya.

“Umi cantik sekali.” Puji Alif. “Hei, pujianmu gak akan membuat umi tidak galak pas mengajarmu besok.” Ustazah Raudah mencoba menimpali dengan guyon. Alif tertawa. “Emang umi bisa galak ya?” “Lihat saja nanti,” Ustazah Raudah balas tertawa. “Oya, umi, makan malam dulu yuk, bareng-bareng, sudah ditunggu nenek di bawah.” Alif berkata demikian sambil matanya tak henti menatap ke arah dada ustazah raudah.

Ustazah raudah kemudian masuk dulu ke kamarnya, dia akan mengganti mukenanya dulu dengan baju gamis biasa. Toh ini bukan di asrama. Saat mencopot mukenanya itu dia baru sadar bahwa di balik mukenanya dia hanya mengenakan beha, dan behanya berwarna pink. Mungkin warna itu nampak dari luar mukena suteranya yang tipis. Tapi dia tak berpikir banyak. Toh alif masih remaja, bisiknya.

Makan malam itu berlangsung dengan sangat meriah. Sepanjang makan, Ibu Teti tak henti mengajak Ustazah Raudah mengobrol sampai-sampai Alif mengingatkan neneknya itu untuk makan. Mereka tertawa bersama. Begitulah, hari pertama kedatangannya di sana, Ustazah Raudah langsung merasa dirinya bakalan betah di sana.

Selesai makan, Ustazah Raudah lalu kembali ke kamarnya. Membaringkan tubuhnya di dipan, tak lama kemudian dia tertidur dengan lelapnya.

*****

Esok harinya, selesai makan pagi, Alif kembali mengajak Ustazah Raudah berkeliling. Kali ini di lantai satu. Ibu Teti sepagi itu sudah berangkat, konon ada urusan bisnis. Salah satu kamar di lantai satu itu ditempati Ibu Teti, dua lainnya kosong, salah satunya biasanya ditempati oleh Ustazah Aminah dan Ustaz Karim. Ke bagian belakang, Ustazah Raudah kembali merasa kaget, bagian sana lebih luas dari yang dia perkirakan. Kamar mandi, tempat mencuci, tempat menjemur pakaian. Kemudian ada juga kolam renang kecil dalam ruangan. Nampak bening dan menggoda. Secara naluriah ustazah raudah teringat masa kecilnya ketika dia sering berenang-renang di sungai jernih di kampungnya.

“Ini kalau umi ingin berenang, di sini tempatnya.” Demikian kata Alif. Di ruangan kolam renang itu ada juga spot untuk duduk di kursi rotan. Di sebelah pojok satu ruang kecil juga disediakan sebagai mushola lantai satu.

Kemudian, ada lorong memanjang menuju pintu ke bagian belakang. Satu kamar yang biasa ditempati oleh pembantu, kemudian dapur, dan kamar mandi lagi. Benar-benar rumah yang tak hentinya membuat Ustazah Raudah berdecak kagum.

“Terus, kapan Alif mulai belajar nih?” tanya Ustazah Raudah. Saat itu mereka berdua sedang menghadapi es teh dan peuyeum bandung di gazebo di luar. Alif menatap Ustazah Raudah lekat. Kemudian jawaban yang dia sampaikan sama sekali tidak nyambung. “Ustazah cantik sekali dengan gamis cream seperti itu.”

Ustazah Raudah tersenyum. “Hei, ditanya apa jawabnya apa.”

Alif tertawa. “Mulai nanti malam ya umi, besok kan sudah tanggal satu puasa saja ya umi, sore umi adaptasi saja dulu dengan bandung.”

“Baiklah.” Ustazah Raudah mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sementara itu Alif mengamati ustazah. Gamis creamnya merupakan gamis kombor tapi mata tajamnya bisa melihat bahwa dada sang ustazah itu nampak menonjol dilindungi oleh kerudungnya yang sepinggang. Perlahan rudal di balik celananya menegang.

“Srupuut,” Ustazah Raudah menyeruput es tehnya, kemudian dia bangkit berjalan-jalan di sekitar pekarangan itu. Alif hanya memandang saja sambil duduk. Sesekali dia mengusap rudalnya dari balik celana, membenarkan posisinya yang semakin liar saja di balik celana dalam yang dia pakai.

Ustazah Raudah berhenti di bawah pohon rambutan. Dia sedikit berjongkok mengamati alur yang nampak artistik di batang pohon itu. Melihat posisi itu rudal Alif semakin menegang. Dia membayangkan menusuk serambi lempit sang ustazah dari belakang sementara sang ustazah berjongkok dan memegangi batang pohon itu. Ahh, betapa indahnya, begitu dia membatin.

Tak tahan dengan imajinasinya sendiri, Alif berdiri dan melangkah menghampiri Ustazah Raudah. Dia berdiri di belakangnya. Sempat terpikir olehnya untuk menekan pantat yang menggoda di balik gamis itu dengan tonjolan rudalnya, sekadar untuk menguji tanggapan sang ustazah. Tapi dia tak mau tergesa. Bahkan sebagai remaja pikiran alif memang sudah matang, dia memang dewasa sebelum waktunya. Dia pikir bahwa jangan tergesa-gesa daripada nanti malah buyar segala rencananya.

“Alon-alon asal kelakon,” begitu pikirnya.

Maka dia hanya berdiri saja dan mengajak ustazah raudah bercakap-cakap. Ustazah raudah sementara itu sudah berdiri kembali dan saling berhadapan dengan alif. Sesekali terdengar tawa renyahnya ketika alif menyelipkan guyonan ke dalam percakapan mereka. Sungguh, jika dilihat sepintas keduanya lebih mirip suami istri yang sedang menikmati hawa segar pagi kota bandung daripada guru dan murid sebagaimana status mereka demikian adanya.

Seharian itu hanya bersantai sajalah yang dilakukan oleh ustazah raudah, bersantai dan mengenal lebih dekat rumah yang akan dia diami sebulan ke depan. Sempat ada alif menawarkan untuk jalan-jalan ke luar, akan tetapi ustazah raudah belum mengiyakannya. Dia belum berpikir untuk berjalan-jalan, menurutnya masih banyak yang menarik dari rumah ini untuk dijelajahi dan mereka bisa jalan-jalan ke luar suatu hari nanti.

Besoknya sudah masuk tanggal satu ramadhan. Maka mulai malam itu rencananya ustazah raudah akan memulai kursus bahasa inggrisnya dengan alif. Mereka sepakat bahwa pelajaran akan dilakukan setiap malam hari setelah tarawih, dan sore hari setelah ashar.

Malam itu, mereka bertiga, Alif, Ibu Teti, dan Ustazah Raudah berjamaah sholat tarawih. Alif menjadi imam, kedua wanita menjadi makmum di belakangnya. Setelah sholat tarawih, Ibu Teti kemudian pamitan tidur lebih dulu di kamarnya, tak bisa menemani mereka belajar. Ustazah Raudah mengiyakan saja, kemudian dia pergi sebentar ke kamarnya membawa diktat Bahasa Inggris, sementara Alif pergi ke dapur membuatkan teh hangat.

Dimulailah sesi belajar bahasa Inggris itu.

Ustazah Raudah mengakui bahwa otak Alif memang cerdas. Anak itu bisa memahami dengan cepat semua penjelasannya. “Kalau begini terus dalam sebulan kau sudah jadi bule, Lif,” begitu seloroh Ustazah Raudah. Pelajaran malam itu sudah usai. Keduanya memutuskan untuk bercakap sambil menghabiskan teh.

Alif tertawa. “Yang ngajar seksi sih.” Jawabnya sambil lekat menatap Ustazah Raudah. Malam itu ustazah Raudah masih memakai mukena seperti malam kemarin: sutera putih dengan motif kembang-kembang. Tentu saja beha yang dia pakai pun masih yang kemarin. Warna pink tampak membayang di bagian dadanya. Ke sanalah tatapan Alif dengan liarnya menancap.

Semula Ustazah Raudah merasa risih. Akan tetapi setelah meminum tehnya dia merasa lebih rileks. Bahkan kini perasaan aneh berdesir dalam hatinya. Ada gairah yang mencuat merasakan dirinya bisa kelihatan menarik di mata laki-laki. Tentu saja ustazah raudah tak tahu bahwa Alif meneteskan obat perangsang ke dalam teh Ustazah Raudah. Dosis kecil. Permulaan.

“Hush, padahal tadi ngakunya belum dewasa dan tak mau jadi imam,” Ustazah Raudah membalas.

Alif cuma cengar cengir. Naluriah tangannya mengusap rudalnya yang menegang di balik celana. Kemudian seperti baru teringat sesuatu, dia mengeluarkan androidnya dari saku. “Eh, Ustazah punya BBM enggak?”

“Punya lahh,” entah kenapa Ustazah Raudah menjadi ingin bermanja-manja. dia mengerling sambil meneruskan, “emang kamu kira mentang-mentang ustazah terus tak punya BBM?”

“Hehe, minta dong, umi sayang,” Alif kemudian menggeser kursinya ke sebelah ustazah raudah. Tercium oleh ustazah raudah bau laki-laki yang membuat jantungnya berdebar makin kencang. Alif menyodorkan hpnya menampilkan barcode BBM untuk discan. Ustazah raudah kemudian menyecannya.

Alif kemudian mengotak-atik hpnya merapikan kontak, sementara ustazah raudah tanpa sengaja menyenggol diktatnya di meja yang membuat pulpennya menggelinding ke pinggir meja, ke arah Alif duduk. Refleks dia mengulurkan tangannya menadah hendak mengambil pulpen itu yang sudah melayang dari meja. Srettt, pas, pulpen itu tertangkap, tapi punggung tangan ustazah raudah menyentuh sesuatu yang kenyal liat sepintas.

rudal Alif. Ustazah Raudah langsung menarik kembali tangannya dengan malu. Wajahnya bersemu merah. Sementara Alif mengejat kaget. Tapi dia kemudian berkata sambil mengedipkan matanya ke Ustazah Raudah, “ ustazah nakal.”

“Maap, gak sengaja Lif.” Ustazah Raudah menundukkan kepalanya, sebagian karena malu, sebagian untuk menutupi debar jantungnya yang kian gak karuan.

“Gak apa-apa kok, disentuh lagi juga gak apa-apa,” jawab Alif. Dia kembali cengar-cengir. “Habiskan dulu tehnya umi, biar Alif saja yang nanti membawa gelasnya ke dapur.”

Ustazah Raudah meneguk tehnya sampai habis. Setelah basa-basi sedikit, dia pergi ke kamarnya sementara Alif pergi ke lantai bawah, ke dapur.

Di kamarnya, ustazah Raudah langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Di benaknya terbayang tadi saat dia menyentuh rudal Alif. Dia mengelus-elus punggung tangannya, masih tertinggal rasa kenyal yang membangkitkan birahinya. Pengaruh obat perangsang yang dimasukkan Alif makin tinggi. Perlahan tangannya menelusup ke dalam mukenanya, mengelus pahanya kemudian semakin ke atas…

“Sshhhh,” tubuhnya menggelinjang, mulutnya mendesis.

Ting tongg. Bunyi penanda pesan BBM di hpnya mengangetkannya. Refleks dia langsung menarik tangannya kemudian menggapai hpnya yang dia taruh di meja samping dipan.

“Umi.” Hanya itu. Pesan dikirim oleh Alif. “Ya, ada apa lif?” Balas ustazah raudah. “Linu nih gara-gara umi.” Jantung ustazah raudah berdetak makin cepat. “Apanya yang linu hayoo?” “Itu…” “Apa?” “Ah kalau kusebutkan umi bakalan marah.” “rudal,” tanpa sengaja ustazah raudah mendesis sebelum kemudian tersadar dan menutup mulutnya. Lalu dia tersenyum sendiri. Dia heran sendiri kenapa dirinya mendadak jadi binal. “Ayo sebutkan saja,” balasnya.

Lama tak ada jawaban. Ustazah Raudah menunggu. Sementara itu imajinasinya makin meninggi. Dia membayangkan alif datang ke kamarnya membiarkan dirinya kembali menyentuh benda kenyal itu. Ahhh, ustazah raudah selama ini belum punya pacar karena itu haram bagi seorang ukhti, paling banter dia hanyalah ketidaksengajaan melihat gambar-gambar kemaluan dalam artikel tentang kesehatan di internet. Tadi itu pengalaman pertamanya menyentuh rudal.

“Mungkin karena itu aku jadi binal,” pikirnya.

Tangannya kemudian kembali menelusup ke balik mukena. Mengelus-elus pahanya, naik ke atas, “hhhhh,” tubuhnya kembali menggelinjang saat tangannya menyentuh itilnya. Tak tahan, dia menarik tangannya kemudian menyamping dan memeluk guling erat dengan kedua tangannya. Diposisikannya guling itu di sela kedua pahanya. “Ahhh,” terdengar desahannya saat digesek-gesekkannya serambi lempitnya ke guling itu dari balik mukena. Terasa lembut melenakan.

Ting tong, satu pesan BBM kembali masuk. Tanpa mengubah posisinya, ustazah raudah membuka pesan itu. Pesan gambar. Mata ustazah raudah membelalak menatap foto bagian selangkangan Alif. Memang foto itu diambil alif tanpa mencopot celananya. Akan tetapi nampak jelas alur batang yang ada di dalamnya. Tegang. Sepertinya alif tak memakai celana dalam.

“Saruu,” balas ustazah raudah. Tangannya makin liar menggesek-gesekkan guling. “Tapi ustazah suka kan?” alif membalas dengan diakhiri oleh emotikon senyum. “Tanggung jawab nih umi.” “Tanggung jawab gimana?” ustazah raudah membalas sambil mendesah.

Tak ada jawaban dari alif. Sementara itu ustazah raudah mengubah posisinya menjadi di atas guling, WOT. Dia memeluk erat guling itu sambil mengerak-gerakkan tubuhnya maju mundur. Selangkangannya menggesek dan menekan kuat permukaan gulingnya. Jika kau melihatnya terus malam itu, maka kau akan menemukan saat ketika Ustazah Raudah akhirnya melenguh panjang sebelum kemudian menjatuhkan tubuhnya ke samping guling, terlentang. Bagian mukena yang menutupi area selangkangannya nampak basah. Sekujur tubuhnya dipenuhi keringat. Setelah menenangkan nafasnya, tak lama kemudian dia terlelap.

*****

Esok harinya sebenarnya Ustazah Raudah sedikit malu untuk ketemu Alif mengingat apa yang terjadi tadi malam. Akan tetapi ketika dia melihat bahwa remaja itu nampak biasa seolah tak ada apa-apa tadi malam, maka dia pun mencoba bersikap biasa. Dia bersyukur, setidaknya dia bisa menganggap kejadian tadi malam itu mungkin hanya guyonan.

Selama beberapa hari selanjutnya juga tak terjadi apa-apa. Satu kali Ustazah Raudah diajak keluar oleh Alif ke alun-alun, membeli jajanan untuk dimakan waktu buka. Kursus juga berjalan lancar, satu dua kali Ibu Teti ada menemani. Ketiganya kemudian biasa mengobrol setelah kursus sampai larut sambil menikmati sirup dingin dan keripik kentang.

Suatu sore, Ustazah Raudah baru dari lantai bawah dan akan ke kamarnya. Kursus sore itu libur karena Alif mengatakan dia agak kurang enak badan. Untuk pergi ke kamarnya otomatis ustazah raudah melewati depan kamar alif. Sebenarnya ustazah raudah tak berniat mengintip, akan tetapi dari pintu kamar yang tidak sepenuhnya tertutup rapat, dia sayup-sayup mendengar desahan: “umii, ahh, ustazahh….”

Penasaran, dia melihat dengan hati-hati dari sela pintu itu. Pemandangan di dalam membuatnya tersentak. Nampak alif dengan tubuh telanjang sedang berbaring telentang. Tangan kanannya menggenggam hp yang lekat dia pandangi sementara tangan kirinya mengocok rudalnya yang tegak mengacung dengan liar. Yang membuat ustazah raudah lebih kaget lagi adalah kain yang digunakan untuk membungkus rudal itu. Itu celana dalamnya, belang-belang merah putih. Seingatnya celana dalam itu dia masukkan ke dalam keranjang cucian kotor di kamarnya.

Kemudian nampak kocokan tangan Alif semakin liar dan mendadak dia bangkit, mengambil posisi seperti push up, tubuhnya ditahan dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya kembali mengocok rudalnya. Kembali ustazah raudah terkesiap melihat benda yang diposisikan di tempat tidur tepat di bawah rudal Alif. Itu behanya yang warna pink! Barang yang sama ditaruh dengan celana dalamnya yang belang-belang itu.

“Argghhh, Alif keluar umiii, umi, alif keluarin di serambi lempitmu, arghhhhh,” nampak tubuh alif menegang kaku, tangannya ber

Dengan sedikit mengendap-endap ustazah raudah pergi ke kamarnya. Perasaannya campur aduk. Dia memeriksa keranjang cucian kotornya dan memang kedua barang itu tak dia temukan di sana. Setelah termenung sejenak, akhirnya dia memutuskan untuk mandi. Masalah ini nanti saja dia pikirkan, yang jelas dia merasa serba salah.

Selesai mandi, penasaran Ustazah Raudah mengecek kembali tempat pakaian kotornya. Celana dalam dan behanya sudah kembali. Dia mengambilnya dan merasakan basah di sana. Naluriah dia mendekatkan kedua benda itu ke hidungnya. Ngocoks.com

Mmmm, begitu hidungnya menghidu campuran keringat dirinya sendiri dan bau tajam air mani Alif. Bau itu membangkitkan perasaan aneh dalam dirinya. Dia mendekatkan wajahnya hendak mencium kedua benda itu saat terdengar ketukan di pintu.

Ustazah Raudah segera mengembalikannya ke keranjang cucian. Kemudian terburu dia membuka pintu seiring detak jantungnya yang kembali meningkat. “Jangan-jangan Alif,” pikirnya. Ternyata bukan. Ibu Teti. Penampilannya nampak rapi, seperti ibu-ibu sosialita. Dia tersenyum.

“Eh ibu,” sapa Ustazah Raudah. “Ada apa bu?” “Ibu pamit dulu, neng.” “Eh, pamit ke mana bu?” Ustazah Raudah bertanya heran. “Ada acara ziarah wali songo. Harusnya kemarin sebelum ramadhan, tapi yah, tahu sendiri lah, ibu-ibu kompleks sini kan kadang memang dapat duitnya tidak menentu,” Ibu Teti tertawa. “Paling tiga harian. Enggak sampai seminggu kok. Kalau ada apa-apa bilang saja ke Alif ya, atau ke Mang Juma dan Bi Emeh.”

“Oh gitu, iya bu. Semoga lancar ya,” “Sebenarnya ibu ingin mengajak eneng, tapi nanti Alif malah kursusnya gak selesai, kan tanggung sudah dibelain jauh-jauh dari Yogya kok gak sukses,” demikian Ibu Teti mengakhiri percakapan itu dengan senyum di ujung. Kemudian dia pamitan langsung berangkat.

Sepeninggal Ibu Teti, Ustazah Raudah langsung merenung di kamarnya. Ada perasaan aneh merasakan bahwa dirinya kini hanya berdua saja dengan Alif di rumah itu. Toh Mang Juma dan Bi Emeh kan hanya seharian. Malam hari? Imajinasi Ustazah Raudah langsung bermain.

“Pukk,” dia menepuk jidatnya sendiri. “Ah, jangan berkhayal yang macam-macam, Raudah, kau itu ukhti, akhir-akhir ini pikiranmu kotor padahal ini bulan ramadhan,” begitu dia berkata pada dirinya sendiri. Kemudian dia berwudhu dan tadarus di mushola.

Malamnya, kursus seperti biasa berjalan lancar. Tidak ada tragedi Ustazah Raudah menyentuh rudal Alif seperti kemarin, dan dia merasa lega. Alif juga menampakkan dirinya sebagai murid yang sopan. Kalaupun ada guyonan, maka guyonan itu hanyalah guyonan wajar.

Merasa lega, Ustazah Raudah meneguk teh hangatnya dengan nikmat. Dia tidak tahu bahwa untuk malam itu Alif sudah punya rencana, dan di teh hangat itu sudah dia campurkan tetes obat tidur dengan dosis sedang.

Tak heran kemudian Ustazah Raudah merasa ngantuk tidak lama kemudian. Selesai kursus, dia langsung pamitan akan tidur. Bahkan saat berjalan menuju kamarnya pun ustazah raudah sudah merasa setengah tidur. Dia berjalan seperti melayang dan langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

Bersambung… Bahkan dia lupa mengunci pintu kamarnya. Jam 1an, Ustazah Raudah terbangun. Dia merasakan sesuatu yang aneh: tangannya tak bisa digerakkan, demikian juga kakinya. Setelah pikirannya terang, barulah dia sadar bahwa dia terbaring menelentang dengan kedua tangan dan kedua kaki terikat masing-masing di pangkal dan ujung ranjang, masing-masing kanan dan kiri.

Posisinya membuat tubuhnya terbuka lebar, meski kemudian dia juga menyadari bahwa untunglah dirinya masih mengenakan mukena lengkap. “Sudah bangun, ustazahku?” terdengar satu suara menyapa dari sampingnya.

Terkejut, ustazah Raudah mengangkat sedikit kepalanya menoleh dengan susah payah. Alif. Tapi yang membuat ustazah Raudah makin terkejut lagi adalah remaja itu sedang duduk dengan santainya di kursi samping tempat tidurnya tanpa mengenakan apapun. Bugil. Tumpang kaki. Di tangannya sebuah buku.

“Alif! Apa-apaan ini?” Suara Ustazah Raudah langsung meninggi. “Psst, psst, tenang,” Alif berkata dengan santai. Dia kemudian bangkit. Meletakkan buku di meja Ustazah Raudah. Tadi dia memang mengambil buku yang judulnya “Ukhti Muslimah dan Tantangan Dunia Modern” itu dari sana.

Kemudian dia duduk di dipan samping kepala ustazah raudah. Tangannya membelai kepala ustazah raudah lembut. “Alif kan sudah bilang ustazah harus tanggung jawab.”

“Tanggung jawab apa Lif? Lepasin ustazah.” Ustazah Raudah mencoba menggoyang-goyangkan tangan dan kakinya. Sia-sia. Kain yang mengikat tangannya terasa sangat kuat dan kukuh.

“Percuma, Umi, Alif paling jago di tali temali. Alif kan ikut di pramuka.” Kata Alif. Kemudian wajahnya turun, dan….cuupppp. bibirnya mencium bibir ustazah Raudah dengan mesra.

Ustazah Raudah menggeleng-gelengkan kepala. “Alifffff,” teriaknya. Perasaan jengkel, takut, tegang, bercampur menjadi satu. “Umi teriak, Alif, kalau Alif gak lepasin.” Dia mencoba mengancam.

Alif tertawa. “Teriak saja Umi, emang siapa juga yang mau dengar.”

Ustazah Raudah kemudian menyadari juga kebenaran ucapan Alif. Tak ada siapa-siapa yang lain di rumah ini, rumah tetangga juga lumayan berjarak karena halaman yang luas. Putus asa, dia kembali menggoyang-goyangkan tangannya. “Alif lepasin, Alifff.”

“Enggak mau, umi, enggak mau,” jawab Alif dengan nada menggoda. Kemudian dia mengambil posisi mengangkangi ustazah Raudah di bawah mulut. Sebelum ustazah Raudah sadar, rudal Alif sudah nyelonong menyentuh bibirnya. “Kulum dong umi. Masih ngilu nih kemarin umi pukul.”

Ustazah Raudah memalingkan kepalanya. Dia merasa malu. Ini kali pertama dia melihat benda itu sejelas dan sedekat ini. Ada bau asing menyeruak ke dalam hidungnya.

“Ayo dong umi.” “Lepasin umii, Aliff! Lepasin!” Ustazah Raudah kembali menggoyang-goyangkan tangannya.

Alif bangkit dari posisinya. Semula Ustazah Raudah mengira bahwa remaja itu sadar dan akan melepaskannya. Akan tetapi ternyata dia hanya mengambil satu benda dari mejanya, kemudian memencet satu tombol di sana.

Drrrrrrrrrrrt, Ustazah Raudah sontak menggelinjang, bagian tengah tubuhnya refleks terangkat. Saat itu dia baru sadar ada benda bergetar di serambi lempitnya, menimbulkan rangsangan yang semakin lama makin meninggi, drrrr drrrrrrrrrrrrrrrrttttt.

“Aliff! Uhhhhh! Liff!” Ustazah raudah menggelinjang gelinjang tidak tahan. Matanya sesekali membeliak, sesekali menutup. Alif sementara itu hanya memandang saja sambil berdiri bersandar di meja. rudalnya perlahan semakin menegang tegak.

Setelah 3 menitan, Alif kemudian memencet kembali tombol itu, dan getaran di serambi lempit Ustazah Raudah terhenti. Tubuh Ustazah Raudah ambruk ke tempat tidur. Nafasnya seperti nafas orang yang sudah berlari jauh. Bulir-bulir keringat nampak di dahinya.

“Gimana ustazah? Mau ngulum rudal Alif apa mau orgasme sendirian?” Alif bertanya kemudian tersenyum nakal. “Ustazah baru sadar ya, ustazah sekarang tu sedang pake produk canggih strapon stimulator itil sama serambi lempit. Tuh,” Alif dengan nakalnya menyingkap mukena bagian bawah ustazah raudah, “warnanya cream lho ustazah, kesukaan ustazah kan?”

Tentu saja percuma, dalam posisinya seperti itu, ustazah raudah tak bisa melihatnya. Dia tak mengeluarkan jawaban apa pun. Nafasnya masih kembang kempis.

“Baiklah kalau gitu…” tangan Alif kembali akan memencet tombol…

“Jangannnn!” Ustazah Raudah menjerit.

“Jadi…” Alif sengaja menggantung ucapannya.

Ustazah Raudah tak menjawab.

“Jadi umi kulum….”Alif berhenti. “Terusin dong mi, kulum apa?”

“Iya.”

“Lho kok jawabannya ‘iya’, kulum apa umi? Sebutin saja.”

“Kon…rudal.” nada ragu terdengar dalam jawaban ustazah raudah.

“Yang tegas dong, gak kedenger nihh.”

“rudal!” Ustazah Raudah berteriak dengan putus asa.

“Nah gitu.” Alif tertawa terbahak-bahak.

“Awas nanti umi laporin ke ibu, Alif.” Ustazah Raudah masih mencoba mengancam.

“Kita lihat saja nanti.” Alif menjawab sambil mengedipkan matanya. Dia kemudian naik ke ranjang, melongggarkan kain yang mengikat tangan ustazah raudah menjadi lebih panjang terulur. Dengan posisi itu, gampang bagi dia kemudian untuk menegakkan bagian tengah ke atas tubuh ustazah raudah dengan membuat ganjalan punggung menggunakan tumpukan bantal.

Dalam posisi ustazah raudah duduk seperti itu, Alif kemudian berdiri di depannya. rudalnya yang sudah tegak mengacung disodorkannya kembali ke depan mulut ustazah raudah.

Ustazah raudah tak tahu apa yang harus dia lakukan. Akan tetapi naluriah dia membuka sedikit mulutnya, menyungkup kepala rudal alif. Rasa yang aneh yang baru kali itu dia rasakan. Kemudian terdengar suara alif, “jilat dulu, umi, jilat.”

Ustazah raudah mengeluarkan lidahnya menjilat kepala rudal Alif, semula dia nampak ragu, tapi kemudian semakin mantap. Ahhh, terdengar sekilas desahan alif. Setelah puas rudalnya dijilati, alif menyuruh ustazah raudah untuk membuka mulutnya lebih lebar dari tadi dan mengulum rudalnya.

Itulah untuk pertama kalinya Ustazah Raudah merasakan benda asing bernama rudal itu masuk ke dalam mulutnya. Hanya sepertiga yang masuk, dan itu pun sudah membuat dirinya sedikit susah bernafas. Alif tak peduli. Tangannya kemudian memegang bagian belakang kepala ustazah raudah yang terlindung mukena dan mendorongnya ke dapan ke belakang seirama gerakan mengulum ustazah raudah.

Lalu tiba tiba, “drrrrrrrttttt drrrrrrrrrrttt, “ ustazah raudah kembali merasakan getaran merangsang di serambi lempitnya. Dia kalang kabut dan akan melepaskan kulumannya di rudal alif, akan tetapi alif memegang erat-erat kepala ustazah raudah sehingga tak bisa melakukan apa-apa selain melakukan gerak mengulum seiring tangan Alif yang menggerakkan kepalanya maju mundur. Sementara itu, rangsangan di serambi lempitnya semakin menjadi-jadi. Saking tak tahannya, dari sela-sela rudal yang memenuhi mulutnya, dari sudut mulutnya menetes air liur.

Setelah merasa puas, alif kemudian mencabut rudalnya. Splasshh, rudalnya nampak licin mengkilap berlumur air liur ustazah raudah. Ustazah raudah sementara itu hanya bersandar di tumpukan bantal sambil mulutnya mengeluarkan erangan-erangan nikmat. Vibrator yang dipasang pada strapon di selangkangannya terus bergetar memberikan sentuhan-sentuhan kenikmatan pada saraf di sekujur tubuhnya.

Semakin lama dia semakin tidak tahan, tangannya ingin melepas vibrator itu, tangan itu juga ingin terbebas, tapi dia tak berdaya. Maka dia hanya bisa membanting-banting tubuhnya di kasur. Erangan tak hentinya keluar dari mulutnya. Alif hanya memandang pemandangan erotis itu sambil berdiri di samping dan mengocok rudalnya.

“Akhh, ukhhhh,” desahan ustazah raudah semakin meninggi. Pada akhirnya dia mencapai puncak kenikmatan. Tubuhnya melengkung seiring lenguhan kenikmatan memancar dari mulutnya. Beberapa detik setelah itu tubuhnya ambruk ke kasur. Alif mematikan vibrator. Dia kemudian duduk di dipan samping kepala ustazah raudah. Tangannya membenahi rambut ustazah yang keluar dari sela mukena. Tangan yang sama kemudian mengusap keringat yang muncul di dahi ustazah.

Ustazah raudah tak mengatakan apapun. Pengalaman orgasmenya barusan masih menyerap separuh kesadarannya. Alif kemudian menyodorkan segelas teh yang dia ambil dari meja, “Ustazah capek kan? Ini minum dulu biar segar.”

Naluriah ustazah raudah menerima teh itu dan meminumnya. Alif tersenyum. Rencana selanjutnya akan berjalan mulus. Dia sudah memberikan beberapa tetes obat perangsang dosis tinggi ke dalam minuman itu. Dengan lembut dia kemudian beranjak ke bagian selangkangan ustazah raudah dan melepaskan strapon yang dipasang di sana. Ustazah raudah melepas lega tanpa tahu apa lagi yang bakal menimpanya. Dikiranya semua ini sudah berakhir.

Beberapa saat hening dalam kamar. Alif merapikan mukena yang dipakai oleh ustazah raudah. Sementara itu ustazah raudah hanya berbaring saja tanpa mengatakan apapun. Semula dia merasa tubuhnya terasa sangat lemas setelah orgasme. Akan tetapi dia kemudian merasakan kekuatan baru memancar dalam tubuhnya. Ada perasaan aneh. Gairah. Dan dia merasa ada rasa rindu untuk merasakan orgasme lagi seperti tadi.

“Alif….aaaaaahhhhhh, ahh aaaahhhhhhhh,” ustazah raudah baru saja hendak mengatakan sesuatu ketika dia kembali merasakan getaran, kali ini bukan di selangkangannya, melainkan di puting susunya. Ternyata alif sudah memasang perangsang puting juga di sana. Bentuknya seperti cup beha super mini, dihidupkan oleh remot yang lain.

Kembali tubuh ustazah raudah menggelepar-gelepar. “Akhhh, liff, akhhhh,” dia hanya mampu mengeluarkan lenguhan-lenguhan tak jelas. Birahinya meningkat drastis dipantik juga oleh obat perangsang yang mulai bereaksi. Alif hanya tersenyum-senyum menatap pemandangan itu sambil kembali mengocok-ngocok rudalnya.

“Aduhhh, alifff, tolong, akhhh,” “Tolong apa, umi,” kata Alif, dia kini duduk di dipan. Tangannya dengan lembut membelai bagian dalam paha ustazah raudah, bergerak pelan ke atas… “Auhhhhhh, ukhhhh,” ustazah raudah merasakan kenikmatan dari sentuhan itu. Sangat nikmat. Jauh lebih nikmat dari tadi. Tuhan, kenapa nikmat sekali, begitu jerit Ustazah Raudah.

Setelah puas mengusap-usap paha ustazah raudah. Alif kemudian mengambil posisi di antara kedua paha ustazah raudah. rudalnya sudah menegang sempurna, siap menusuk serambi lempit ustazah raudah yang sudah nampak basah. Sebagian karena orgasmenya tadi, sebagian karena cairan birahi yang kembali memancar. Ustazah raudah masih menggelepar-gelepar merasakan rangsangan di puting susunya.

“Jangan, liff, ukhhh, ja…ngan…”

“Jangan apa umi?” tanya Alif. Dia mengusap-usapkan ujung rudalnya ke itil ustazah raudah.

“Akhhh, ukhhh…. masukkann.”

Alif tertawa. “Masukkan, umi? Baiklah, Alif masukkan ya.” Alif mengambil posisi siap menusukkan rudalnya. Dia singkapkan mukena ustazah Raudah ke atas supaya tidak menghalangi.

“Ahhhh, maksudku…jangann n n…”

Alif tak menjawab. Dia kembali mengusap-usapkan kepala rudalnya ke mulut serambi lempit ustazah raudah yang tampak bersih tanpa jembut. Dengan satu tangan dia menopang tubuhnya sehingga tidak ambruk menimpa tubuh ustazah raudah. Ustazah raudah sementara itu merasakan serambi lempitnya berkedut-kedut merindukan pasangannya. Di satu sisi nuraninya mengatakan bahwa dia harus bertahan. Akan tetapi gabungan serangan perangsang yang sekarang dialaminya terlalu kuat untuk dilawan.

Akhirnya, ustazah raudah tak tahan. Dia kemudian sedikit mengangkat pinggulnya sehingga untuk sesaat serambi lempitnya membuka menampung sedikit kepala rudal Alif. Hanya sesaat, karena kemudian tubuhnya kembali ambruk. “Uhhhhhhh,” terdengar dia mengerang.

“Umi pengen rudal ya?” Alif berkata menggoda.

“Konn..tolll, uhhh,” ustazah raudah sudah kehilangan kewarasannya. Matanya sayu menatap Alif sementara mulutnya terus menerus mengeluarkan desah yang berkepanjangan.

“Masukkan ya umi?” Alif sedikit menekan kepala rudalnya.

“Iyaaaa, masukk…kannn, uhhhh,”

Alif perlahan memasukkan kepala rudalnya. Dia tahu bahwa ustazah raudah masih perawan, maka supaya dia tidak merasa kesakitan, dia harus melakukannya perlahan. Sedikit demi sedikit rudal itu melesak masuk. Sangat sempit menjepit. Mulut ustazah raudah mengeluarkan lenguhan nikmat. Dia kemudian sedikit menggerakkan pinggulnya membantu, separuh masuk, ujung rudal Alif terasa menyentuh sesuatu yang sedikit menahan geraknya, memberikan sensasi tersendiri saat dia kembali mendorong, kemudian….plasssshh

“ukhhhhhhhh,” seiring lenguhan panjang ustazah raudah, rudal Alif menembus keperawanannya. Ngilu bercampur nikmat. Apalagi ketika Alif kemudian mulai menggerak-gerakkan rudalnya maju mundur dengan perlahan, terasa lembut, membuatnya terlena.

Alif kemudian mengambil insiatif mematikan perangsang di puting susu ustazah raudah. Dengan mudah dia mencopotnya. Kemudian dengan brutal dia melumat dan menghisap puting itu penuh gairah, sementara tangannya yang satu mengentel-gentel puting yang lain.

Irama kedua selangkangan yang saling beradu itu terlihat liar. Ustazah raudah sudah tak memikirkan apapun selain mendapatkan kenikmatan. Dengan naluriah dia menggerakkan pinggulnya penuh semangat mengimbangi gerakan Alif. Tiba-tiba….

Ploppppp, Alif mencabut rudalnya. “ngngnghhhh,” Ustazah raudah mengeluh. Matanya menatap Alif seolah bertanya kenapa. Selangkangannya bergerak melelengkung ke atas seperti ingin menggapai rudal Alif. Birahinya masih bergejolak sedang nikmat-nikmatnya.

Alif hanya tersenyum. Dia turun dengan sigap dari ranjang kemudian dengan gerakan cepat melepaskan semua kain yang mengikat tangan dan kaki ustazah raudah. Bahkan sebelum ustazah raudah menyadari sepenuhnya apa yang dia lakukan, Alif sudah berada di antara kedua pahanya kembali dan menusukkan rudalnya untuk kedua kali ke dalam serambi lempitnya.

“Aggggghhhhhhh, ahhh ahhhh,” ustazah raudah kembali merintih nikmat. Tangan dan kakinya kini bebas, kakinya membelit pinggang Alif dengan kuat sementara tangannya menekan-nekan kepala remaja itu ke buah dadanya. Meminta ransangan yang lebih nikmat.

Gerakan pinggul kedua insan itu semakin harmonis, kian lama kian cepat. “Ahhh, auhhh, umi…hampir…Alif, ahhhh ahhh.”

Alif tahu ustazah raudah kembali hampir mencapai puncak. Maka dia semakin intens menggenjot serambi lempitnya sementara mulutnya juga semakin liar menghisap dan melumat puting susu yang menjulang indah dari balik mukena yang sudah dia singkapkan. Betapa indahnya sensasi ini. Dia bisa memenyetubuhi ustazah yang dalam kesehariannya sangat alim. Gurunya. Anak buah uminya. Ahhh, alif mendesah penuh kenikmatan.

Tibalah ustazah raudah pada orgasme keduanya. Mulutnya menganga lebar sementara matanya membeliak menatap langit-langit. Tubuhnya melenting sementara selangkangannya mengejat-ngejat seiring dengan sodokan Alif yang kuat. “Aggh, aghhhhhhhhhhhhhhhh.” Setelah itu tubuhnya ambruk ke kasur. Alif diam sejenak memberikan waktu bagi ustazah raudah untuk menikmati puncak kenikmatannya yang kedua kali. Setelah itu dia kembali meneruskan menggenjot tubuh yang sudah mulai lemas itu.

“Ahhhh nngngnggnngng ukhhhh ukhhh,” hanya terdengar lenguhan nikmat ustazah raudah yang dengan susah payah mencoba mengimbangi genjotan Alif. Lama kemudian barulah Alif menggeram panjang, memberikan sodokan-sodokan terakhir yang lebih kuat dari sebelumnya, kemudian dia mencabut rudalnya dan menarik ustazah raudah berdiri. Dia arahkan rudalnya ke mulut ustazah raudah. Ustazah Raudah surti dan membuka mulutnya kemudian mengulum rudal raksasa itu dengan penuh gairah.

“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh, lonteeee! Lonte ustazah! Umi lontee ahhhhhhhh”. Teriakan panjang Alif mengakhiri persenggamaan pertama mereka. Ustazah raudah merasakan pancutan-pancutan keluar dari rudal di dalam mulutnya. Dia hampir tersedak. Ketika kemudian alif mencabut rudalnya, cairan putih meleleh keluar dari sudut mulutnya.

Keduanya kemudian berbaring berdampingan merasakan lelah yang luar biasa. Ustazah raudah membalik tubuhnya membelakangi Alif sambil merapikan mukenanya. Alif kemudian memeluk ustazah raudah dari belakang. Hangat dan sedikit basah oleh keringat. Dia memeluknya erat sambil berbisik di telinga: “Ustazah yang minta dimasukkan lho, makasih ya, ustazah sudah mengambil perjaka Alif dengan sangat nikmat.”

Ustazah Raudah tak menjawab. Ada sedikit rasa sedih dibawakan oleh kesadarannya. Tanpa sadar matanya terasa panas. Akan tetapi dia juga sadar bahwa dirinya sangat menikmati persetubuhan tadi.

*****

Setelah persetubuhan pertama mereka, Alif terus mencekoki minuman ustazah raudah dengan obat perangsang sehingga pada akhirnya ustazah raudah pasrah karena merasa bahwa tubuhnyalah yang lebih sering meminta dipuaskan pada alif. Dia merasa kesalahan lebih banyak tertumpu pada dirinya, bukan pada Alif, dan celakanya dia merasa kecanduan.

Seperti suatu sore. Ibu Teti sedang pergi ke arisan ibu-ibu kompleks. Ustazah Raudah sementara itu mencari-cari Alif karena jam kursus sudah mulai tapi remaja mesum itu tak kelihatan. Akhirnya sampailah dia di kolam renang dan menemukannya sedang duduk bersantai di pinggir kolam dengan hanya mengenakan celana kolor.

“Alif,” panggilnya sambil menghampiri. “Lonteku,” balas Alif. “Apa?” Ustazah Raudah mengerutkan keningnya. “Ustazahku.” Balas Alif sambil senyum-senyum menggoda. “Dasar.” Mau tak mau ustazah raudah tersenyum. Dia menepuk bahu Alif. Ketika itulah tanpa diduganya Alif menariknya ke kolam. Byurrrrrrrrr. Sekujur tubuhnya pun basah kuyup. Tubuhnya erat dipeluk Alif yang masih tersenyum-senyum.

Karena basah, tubuh ustazah raudah yang dibalut mukena sutera kemudian menjadi melekat dan dia tidak mengenakan apapun di baliknya. Dinginnya air kolam membuat puting susu ustazah raudah mencuat dan dadanya perlahan mengeras. Melihat pemandangan itu, mau tak mau rudal Alif menegang. Tangannya kemudian menarik tangan ustazah raudah ke arah rudalnya, kemudian mengocok-kocokkannya pelan.

Ustazah raudah surti. Dia langsung menggerak-gerakkan tangannya sementara bibirnya menyambut mesra bibir Alif yang melumatnya dengan liar. Air kolam renang berkecipak ketika mereka begerak makin ke pinggi kolam renang. Kemudian Alif mengangkat tubuh ustazah raudah ke tangga. Sampai di sana, Alif menarik tubuh ustazah raudah membelakanginya. Refleks tangan ustazah raudah menggapai pegangan tangga atasnya, membungkuk.

“Ahhhhhhhhhh,” begitu dia mendesah merasakan rudal Alif mendadak menerobos serambi lempitnya dari belakang. “Alifff, ahhhh, rudalmu nakallll, ahhhh,” satu hal yang sangat disukai Alif adalah ustazah raudah sangat suka meracau saat bersenggama dan itu membuat birahinya makin terpacu.

Mereka beberapa kali melakukan persetubuhan serupa. Ibu Teti sama sekali tak menyadari apa yang terjadi sebenarnya antara kedua insan itu dalam rumahnya. Selain karena sibuk sering pergi dari rumah, Ustazah Raudah dan Alif juga memang pandai menutupi rahasia mereka berdua.

Di waktu yang lain pernah Alif tiba-tiba masuk ke kamar ustazah raudah dan menyodorkan sesuatu. Saat itu habis magrib. Ibu Teti kebetulan sedang mengikuti buka bersama dengan ibu-ibu pengajian dan akan langsung melanjutkan tarawih di sana.

“Apa ini?” tanya ustazah Raudah yang saat itu sedang asyik membaca buku “Ukhti Muslimah dan Kenikmatan Surga”.

“Hadiah buat ukhtiku,” jawab Alif. Tangannya nakal mencolek buah dada ustazah raudah.

Ustazah raudah menggelinjang. Dengan penuh rasa penasaran dia membuka bungkusan itu. Ternyata Alif membelikannya rok pendek berempel seperti yang sering dipakai oleh girlband. Dia kemudian menoleh ke arah Alif meminta penjelasan.

Alif berbisik di telinga ustazah Raudah. “Aku ingin ustazahku pakai ini setiap kali nenek sedang tidak di rumah. Ayo dicoba.” Ustazah Raudah membeliakkan matanya. Tapi dia menurut juga. Ketika dia akan langsung memakainya di balik mukena yang dia kenakan. Alif mengangkat tangannya. “No, no, bukan begitu maksudku. Ini tidak cocok dikombinasikan dengan mukena, lonte. Coba ustazah kombinasikan dengan jilbab lebar cream kesukaan ustazah.”

Kembali ustazah raudah menurut. Dia membuka mukenanya kemudian memakai rok itu tanpa mengenakan celana dalam. Kemudian sesuai permintaan Alif dia melepas behanya juga dan mematut-matut dirinya menggunakan kerudung lebar. Setelah itu dia bercermin.

Tampaklah di cermin itu pemandangan yang sangat menggairahkan. Seorang ustazah berjilbab lebar sepinggang tidak mengenakan apapun di bagian bawah tubuhnya selain rok pendek. Buah dadanya yang besar menggantung indah dengan puting yang menarik mulut untuk menghisap dan melumatnya. Ustazah Raudah kemudian memutar tubuhnya dengan gerakan seperti seorang model, menghadap ke arah Alif yang menatapnya tanpa berkedip. Alif membuka celananya. rudalnya bergerak menegang dengan cepat.

“Tuhh, kok selalu semangat ya meski bulan puasa,” seloroh ustazah Raudah sambil menunjuk rudal itu.

“Umi, keluar yuk.” Suara Alif bergetar menahan gairah.

“Ke luar? Hey, kalau ketahuan orang gimana?” Ustazah Raudah mengerutkan keningnya.

“Gak apa-apa.” Alif menarik tangan Ustazah Raudah. Meski sedikit segan, Ustazah Raudah mengikuti. Di lantai bawah, Alif menyambar high heels koleksi Ibu Teti yang sudah tak pernah dipakai kemudian menyuruh ustazah raudah untuk memakainya.

“Aneh-aneh saja,” komentar Ustazah Raudah. Tapi dia memakainya juga.

Angin malam menerpa puting susu ustazah raudah saat mereka sudah di luar. Sedikit kedinginan, ustazah raudah merapikan jilbabnya sambil mengamati sekitar juga siapa tahu ada orang yang memperhatikan. Untunglah tak ada. lampur-lampu jalan sudah menyala. Temaram. Indah.

Alif ternyata membawa ustazah raudah ke bawah pohon rambutan. Sampai di sana dia menyuruh ustazah raudah memegang batang pohon itu dan dengan kasar menyingkap rok pendek itu kemudian mengusap-usap kemaluan dan belahan pantat ustazah raudah. Setelah itu, ustazah raudah merasakan sesuatu yang hangat menekan-nekan lubang serambi lempitnya dari belakang, dan…

“Ahhhh,” dia mendesah merasakan rudal Alif memasuki serambi lempitnya, “Ah ah ah ahhh, ahhhhhhh” desahannya berkepanjangan saat Alif dengan kasarnya memaju mundurnya tubuhnya. Buah dadanya bergoyang seirama sodokan-sodokan itu.

Sesekali tangannya harus membenahi jilbabnya yang jatuh ke pinggir akibat gerakan yang tak beraturan yang dilakukan mereka. Dari tempat mereka melakukan doggy itu nampak jalan raya dari balik teralis. Cahaya-cahaya lampu mobil dan motor melintas, sesekali ada juga suara penjual bajigur lewat.

Ustazah Raudah merasakan sensasi tersendiri antara merasa takut ketahuan dan kenikmatan yang dia rasakan. Kadang-kadang dia rasakan tangan Alif meremas-remas payudaranya dari belakang. Kadang dia lentikkan punggungnya ketika dia rasakan lidah remaja itu melintasi garis punggungnya dari atas ke bawah.

“Beruntunglah Ibu Teti langsung tarawih,” begitu pikirnya di sela kenikmatan yang mendera. “Jadi kami punya waktu yang banyak.” Semakin lama Alif memang semakin berpengalaman mengatur ritme dan dia juga semakin lama orgasme. Biasanya Ustazah Raudah mencapai puncak duluan.

Persetubuhan semacam itu pun mereka lakukan berkali-kali. Biasanya sebelum memulainya mereka membuat es teh dan menyimpannya di gazebo dekat pohon rambutan itu. Kemudian setelah selesai, mereka akan melepas lelah sambil duduk-duduk berpelukan dan saling bercanda di sana.

Alif biasanya hanya memakai kaus, sementara Ustazah Raudah memakai rok pendek hadiah dari Alif itu, kerudung lebar, dan high heels yang setelahnya sengaja dibelikan oleh Alif untuk ustazah Raudah tanpa sepengetahuan Ibu Teti dan dipakai hanya khusus dalam “acara privat” mereka berdua itu.

Sesekali alif dengan nakalnya kembali mempermainkan buah dada ustazah raudah kemudian ustazah raudah akan membalas dengan melumat atau mengocok rudal Alif. Kadang setelah itu mereka kembali mengulangi persetubuhan di bawah pohon rambutan itu kedua kalinya, dengan lebih liar, dan lebih nikmat, kadang juga di gazebo itu dengan posisi WOT kesukaan Ustazah Raudah.

Tanggal 28 ramadhan baru ustazah Aminah pulang ke rumah bersama dengan ustaz Karim. Rumah pun mulai ramai, dan waktu berduaan antara Ustazah Raudah dengan Alif semakin sedikit. Mereka hanya bisa mencuri-curi waktu lewat malam hari, itu pun mesti dilakukan sesepi mungkin supaya tidak ketahuan. Meski demikian, semakin menegangkan justru semakin sensasinya tertanam erat di hati Ustazah Raudah sebagai pengalaman yang sangat mengesankan.

Tanggal 10 syawal mereka bertiga pulang ke asrama syahamah dengan menggunakan mobil. Ustaz Karim memang terbiasa membawa mobilnya sendiri sebagai sopir. Ustazah Aminah sangat bahagia karena selepas kursus sebulan itu Alif Nampak benar menguasai Bahasa Inggris.

“Berkah bulan ramadhan, mi,” kata Alif, “dan berkat Ustazah yang sangat telaten mengajari Alif banyak hal.” Matanya mengerling ke arah Ustazah Raudah yang hanya menundukkan kepala menyembunyikan pipinya yang mendadak terasa panas.

Tapi dasar Alif nakal. Remaja itu masih sempat-sempatnya membisikkan kalimat perpisahan saat dia membantu memasukkan barang bawaan ustazah raudah ke bagian belakang mobil. “Jaga serambi lempitmu ustazah sayang.” Kemudian satu gerayangan singkat di dada yang menonjol itu saat ustazah aminah sedang menunduk memasang safety belt di jok depan dan Ustaz Karim masih mengambil dua jilid buku yang ketinggalan di kamar.

Ustazah Raudah sedikit menggelinjang. Semenjak merasakan kenikmatan persetubuhan dengan Alif dia jarang-jarang lagi memakai beha dan celana dalam. Entah kenapa dia suka merasakan debar-debar antara takut ketahuan ataupun merasakan orang terpesona dengan kemolekan tubuhnya. Kemudian Alif menutup pintu mobil dan mengucapkan kata perpisahan pada ibunya.

Ting tongg, kenangan gairah setahun silam Ustazah Raudah diputus oleh bunyi hpnya. Balasan Alif muncul di BBM: “Oke, ustazahku sayang.” Ditambahi dengan emotikon cium. Ustazah Raudah tersenyum. Matanya melirik ke high heels yang tergeletak di atas lemari pakaiannya.

Pada saat yang sama, di kamar samping kamar interogasi, Ustaz Karim baru saja keluar dari kamar mandinya, hanya mengenakan handuk. rudalnya teracung tegak saat melihat Ustazah Aminah sedang membungkuk memasukkan potongan bagian bawah mukena sutera warna hitam ke tubuhnya, sementara bagian atas tubuhnya polos bugil, menampakkan buah dadanya yang bulat membusung, menggantung seperti semangka.

Bersambung… Malam yang sama. Sepulang dari kamar Ustazah Lia, Ustazah Raudah mengirimkan pesan BBM kepada Alif” “Abi baru saja pulang.” Jawaban Alif tak lama muncul: “Oke, ustazahku sayang.”

Memang sejak setahun yang lalu, Alif mewanti-wanti ustazah raudah untuk selalu memberitahunya setiap kali abinya baru saja pulang dari bepergian. Semula ustazah raudah tidak menanyakan apapun tentang alasannya. Tapi kemudian suatu kali, ia menanyakannnya juga karena penasaran, dan jawaban alif tidak sepenuhnya dia mengerti: “Pengen denger abi sama umi menyetubuhi, sayang.”

Ustazah Raudah mencoba mengabaikan jawaban itu. Tapi semakin lama dia mencoba mengabaikannya, semakin tertarik dia untuk memikirkannya. Pertama-tama pola pikirnya memang sederhana, tapi dirangsang terus dengan obrolan mesum oleh Alif, dia jadi mudah berpikir mesum juga di balik kerudung lebar dan gamis yang selalu dia kenakan setiap hari. Maka suatu kali dia sampai juga pada kesimpulan yang membangkitkan nafsunya: ustazah aminah dan ustaz karim memiliki gairah yang sangat tinggi, bayangkan bagaimana serunya mereka berdua menyetubuhi setelah berpisah.

Pertama kali dia mendapatkan pikiran semacam itu, dia langsung masturbasi dan orgasme dengan dahsyat tanpa mencopot mukenanya. Setelahnya, dia mulai memikirkan untuk mengintip persetubuhan itu. Tentu saja mengintip dari pintu tak mungkin. Selain susah karena tak ada cukup lubang, faktor ketahuan juga jelas sangat tinggi. Kemudian dia terpikir untuk mengintip dari atas. Ya, dari plafon.

Di pojok lantai dua ada pintu kecil ke atas, menuju plafon. Pintu itu biasa digunakan oleh tukang jika ada masalah dengan bagian plafon atau atap. Pintu yang tak pernah dikunci karena untuk apa pula dikunci, toh di baliknya bukanlah ruangan yang penting. Dengan kepala yang dikuasai oleh birahi yang membludak, dia kemudian memutuskan untuk pergi ke plafon lewat pintu kecil itu.

Seperti malam itu, malam ketika Ustazah Lia sibuk memuaskan hasratnya dengan seks melalui webcam bersama ahmad soleh, Alif sibuk mengocok rudalnya sambil membayangkan menyodok serambi lempit ibunya, ustazah Aminah, ummahat berkerudung sepinggang bersusu bulat seperti semangka, ustazah Raudah pun punya kesenangan tersendiri. Dia menonton langsung persetubuhan panas antara ustazah aminah dan ustazah karim dari atas. Ya, dari plafon.

Karena sudah bolak-balik menonton isi kamar Ustazah Aminah dari balik plafon, maka bisa dibilang Ustazah Raudah sudah paham spot di mana dia bisa mendapatkan pemandangan yang jelas. Dia beruntung karena dulu saat pertama kali ke sana dia menemukan lubang kecil pada internit di sana. Dulu dia memperbesar lubang itu menggunakan pisau untuk mendapatkan pemandangan yang lebih jelas, dan kini dia pun langsung menuju ke lubang itu. Lubang yang sudah menantinya.

Ustazah Raudah berlutut dengan mata ditempelkan tepat di lubang. Memang lubang itu cukup untuk melihat segala adegan di kamar ustazah Aminah dengan jelas, meski demikian, jika dilihat dari bawah, lubang itu sama sekali tak akan kelihatan. Lagi pula, mana ada ustazah aminah memiliki pikiran bahwa ada seorang ustazah asrama syhamah yang berani kurang ajar mengintip kamarnya.

Karena menonton persetubuhan itulah ustazah raudah kemudian paham apa yang dimaksud oleh Alif dengan kata-katanya “Pengen denger abi sama umi menyetubuhi”. Dia tahu bahwa Alif sengaja menelpon sang ibu di saat-saat yang dia perkirakan ibunya itu sudah mulai bercumbu dengan sang ayah. Tentu saja ustazah Raudah tak bodoh, dia tahu benar bahwa sambungan telepon Alif masih tersambung dan anak mesum itu pasti mengocok rudalnya sambil membayangkan seperti apa dahsyatnya sang ibu yang umahat itu bersetubuh.

Menonton adegan panas di bawah, tubuh ustazah raudah pun memanas. Tangannya menggosok-gosoknya serambi lempitnya yang gatal di balik gamis. Sesekali dia mendesah tertahan juga saat itilnya tersentuh lembut tangannya. Ahh, begitu, dia membayangkan betapa indahnya jika dirinyalah yang ada di bawah. Dia membayangkan sudah pernah bersetubuh dengan sang anak, maka bagaimana pula rasanya bersetubuh dengan sang ayah?

serambi lempit ustazah raudah sudah benar-benar basah ketika persetubuhan di bawah selesai meninggalkan ustazah aminah, umahat seksi berusia 45 tahun itu dengan wajah berlumur sperma ustaz karim. Dia melihat ustaz karim menggapai gamis ustazah aminah, kemudian mengambil sesuatu dari saku gamis itu. Dildo. Ustaz karim menimang-nimangnya, kemudian sambil tersenyum menoleh pada sang istri. Nampak rudalnya kembali bergerak mengacung. Ustazah raudah membandingkan rudal itu dengan rudal Alif dan dia berkesimpulan rudal Alif masih lebih besar dan panjang. Memang anak yang mengagumkan.

“Abii, mau lagi?” ustazah Aminah membeliak manja. tampaknya dia pun bersedia untuk melanjutkan.

Ustaz Karim tidak menjawab, dia hanya tersenyum kemudian meraih tubuh istrinya dan membopongnya ke dipan. Cupppp, cuppp, bibirnya dengan buas melumat bibir ustazah Aminah bahkan sebelum posisi ustazah aminah mapan berbaring. Tangannya meremas-remas dada yang tak pernah membuatnya bosan itu. Ustazah Aminah menggelinjang, bibirnya balas melumat bibir ustaz karim tak kalah ganasnya. Bunyi peraduan bibir mereka berdua terdengar bahkan ke tempat ustazah raudah, berkecipak membuat nafsunya juga semakin memuncak.

Dengan penuh debar ustazah raudah meneruskan menonton. Dari atas dia melihat betapa binalnya ustazah aminah. Tubuhnya masih mengenakan mukena bagian bawah, kepalanya masih tertutup kerudung lebar meski sudah tak jelas asal menempel. Sementara bagian tengah tubuhnya terbuka digerayangi tanpa ampun oleh tangan nakal ustaz karim. Betapa seksinya!

“Uhhhhh,” ustazah aminah mendesah sambil mendongakkan kepalanya sementara lehernya dijilat dengan liar oleh ustaz karim. Pada saat yang sama tangan ustaz karim yang satu bergerak ke arah selangkangan ustazah aminah, dan….slepppp, dildo di tangannya masuk menembus serambi lempit yang masih becek sisa-sisa orgasme tadi.

“Ahhhhh, abiii, ahhhh,” ustazah aminah merintih-rintih keenakan apalagi saat tangan ustaz karim mengocok-ngocokkan dildo itu dengan gerakan cepat. Tangan ustazah aminah menggapai-gapai kemudian menjambak kepala ustaz karim, menariknya ke arah buah dadanya yang membusung sebesar dada pamela anderson.

“HHhmmm, hmhhmmmmm,” ustaz karim hanya mengeluarkan suara yang tak jelas. Tangan dan mulutnya memang sedang sibuk. Setelah merasa puas, cupppppppp cupppp, dia kembali melumat bibir ustazah aminah, kemudian dia mengeluarkan dildo dan bangkit.

“Abiiii,” desis ustazah aminah. Matanya sayu menatap suaminya yang sudah bersiap di sela kedua pahanya dengan rudal mengacung.

“Kita puaskan sekalian umi, besok-besok kalau abi sudah pergi kan gak bisa merasakan serambi lempitmu….”

Mendengar ucapan ustaz karim itu raut wajah ustazah aminah berubah. Dia bangkit terduduk dan mendorong tubuh ustaz karim menjauh. Ustaz karim untuk sesaat bengong tak mengerti kenapa istrinya mendadak bersikap seperti itu.

“Jangan sebut-sebut soal kepergian abi, bikin hasrat umi hilang saja,” ustazah aminah merengut jengkel sambil menatap suaminya. “Tapi….iya iya, maap, umi,” ustaz karim kembali mendekati istrinya, tapi ustazah aminah sepertinya nafsunya sudah benar-benar pergi. Dia mengambil headshet dan hapenya dari meja, menepis tangan ustaz karim yang mencoba meraihnya, “Umi tidur saja, bete!” kemudian dia membaringkan tubuhnya membelakangi ustaz karim, memasang headshet di kedua telinganya. Tangannya kemudian menarik selimut menyelimuti tubuhnya.

Ustaz karim sepertinya masih akan mengatakan sesuatu, tapi kemudian dia hanya turun dari ranjang dengan bahu terkulai. Dia tahu adat istrinya itu yang kalau sudah bad mood maka diajak bercinta sudah pasti tak akan mau. Dia mengambil air minum kemudian duduk di kursi sambil memandangi istrinya yang terbaring di balik selimut memunggunginya. Hatinya merasa kesal sebenarnya karena nafsunya yang masih belum sepenuhnya terlampiaskan

Di atas plafon, ustazah raudah menghela nafas. Gak jadi lihat ronde kedua nih, begitu pikirnya. Kemudian dia mengirimkan pesan ke alif tentang kondisi yang dia lihat di bawah. Alif membalasnya dengan memberikan rincian baru yang harus dilakukan ustazah raudah untuk mendukung kemulusan rencananya. Membacanya, untuk sejenak ustazah raudah terpaku, akan tetapi kemudian dia tersenyum sambil mengelus serambi lempitnya, “Aku pun sedang butuh dipuaskan,” begitu bisiknya pada dirinya sendiri.

Dengan bergegas dia turun dari plafon melalui pintu kecil pojok lantai dua tempat dia masuk tadi. Dia pergi ke kamarnya sebentar, mematut-matut diri di cermin, kemudian mengganti gamisnya dengan mukena yang paling tipis, mukena terusan berbahan satin. Dia melihat bayangan dirinya di cermin dan tersenyum ketika melihat bongkahan pantatnya nampak membayang jelas. Memang dia sengaja tidak memakai apapun di baliknya.

Kemudian dia pergi ke kantor asrama syahamah, ya, kau pasti masih ingat, kantor itu terletak tepat di samping ruang interogasi, dan itu artinya ia ada di lokal yang sama pula dengan kamar ustazah aminah. Ketika sampai di sana, dia melihat ustaz karim sedang duduk di depan kantor. Memang di sana ada kursi panjang yang biasa digunakan untuk duduk-duduk. Ustaz karim sedang asyik merokok.

Dalam kehidupan sehari-harinya, sebagaimana kaum ikhwan, ustaz karim bukan seorang perokok, jika dia kemudian terlihat merokok sekarang ini maka itu tanda dia sedang punya beban pikiran, sebab di saat-saat seperti itulah dia biasanya merokok. Tentu saja dia tak berani merokok di dalam kamar, karena ustazah aminah sangat benci rokok.

“Ustaz,” Ustazah Raudah menyapa sambil menganggukkan kepala.

Ustaz Karim balas mengangguk. Matanya langsung tertancap pada benda yang nampak bergoyang di dada ustazah raudah saat ukhti bermukena itu menganggukkan kepala. “Tumben malam-malam ke kantor, ukhti?”

“Iya ustaz, ini ada dokumen yang harus ana cari, tadi lupa. Harus ngetik juga sedikit, laptop ana rusak,” begitu ustazah raudah beralasan. Tentu saja semuanya bohong belaka. Dia kemudian memasukkan anak kunci ke lubang. Sengaja dia pura-pura kesusahan memasukkannya sehingga posisi tubuhnya sampai harus membungkuk. Niatnya untuk memamerkan pantatnya kepada ustaz karim.

Mata ustaz karim langsung liar melihat pemandangan indah itu. Apalagi saat ustazah raudah membungkuk dia juga melihat benda indah menggantung di dadanya. Dia bisa menebak dengan tepat bahwa sang ukhti tidak memakai apapun di balik mukenanya. Ah, kain satin itu nampak mengkilap dan licin, membayangkan mengelus-elus payudara ukhti itu dari balik kain satin langsung membuat gairah ustaz karim yang masih belum terlampiaskan kembali bangkit.

Ustaz karim menghisap rokoknya sementara ustazah raudah sudah sukses masuk. Tangan ustaz karim sementara itu mengusap-usap rudalnya yang tegak diam-diam. Dia sedang mempertimbangkan antara merayu ukhti itu untuk melayaninya atau memperkosanya. Dia kurang yakin bahwa dia bisa merayu baik-baik, sementara untuk memperkosanya…

Ustaz karim dengan gelisah memutuskan bangkit pergi ke kamarnya. Dia pura-pura melihat kondisi istrinya yang nampaknya terlelap sambil mendengarkan lagu maher zain dari balik headshet. Maka ustaz karim kemudian memantapkan hatinya, didorong oleh nafsunya yang menggebu. Dia keluar dari kamarnya kemudian pergi ke kantor asrama. Saat itu dia mengenakan celana training dan kaus singlet saja untuk memudahkan rencananya.

“Gimana ukhti, sudah ketemu dokumennya?” ustaz karim menyapa sambil menutup pintu.

“Belum, ustaz,” begitu ustazah raudah menjawab. Tangannya masih sibuk memilihi dokumen di bufet. Posisinya saat itu membungkuk. Ustaz karim kemudian mendekat pura-pura hendak membantu. Sambil mendekat begitu sengaja pahanya dia senggolkan pada paha ustazah raudah. Serrrr, terasa gairahnya makin meningkat.

Ustazah Raudah surti bahwa pancingannya berhasil. Diam-diam dia mengirimkan pesan ke Alif, “misi hampir terlaksana, tunggu lima menitan.” Dia kemudian membawa setumpuk dokumen ke meja, kemudian memeriksanya. Dia melakukan hal itu semata untuk membuat posisinya tetap menungging membelakangi ustaz karim.

Ustaz karim menatap pantat yang memancing dari balik mukena satin itu sambil mengghela nafas dalam-dalam. “Ini saatnya,” begitu pikirnya. Tanpa suara dia memelorotkan celananya yang sangat gampang karena celana training. Ustazah raudah masih asyik membolak-balik dokumen. Kemudian perlahan ustaz karim mendekat dari belakang….

“Ah!” Ustazah Raudah serambi lempitik ketika dia merasakan ustaz karim mendekap dirinya dari belakang. Dua tangan kekar itu langsung meremas buah dadanya dari balik mukena. “Ustaz! Apa-apaan ini! Lepaskan!” ustazah raudah meronta-ronta.

Ustaz Karim tak menjawab. Dengan satu tangan dia kemudian menyingkapkan mukena bagian belakang dan langsung memajukan tubuhnya. Semakin cepat semakin aman, begitu pikirnya. Ustazah raudah merasakan benda hangat menyelusup lewat sela dua pahanya langsung menyentuh ke bibir serambi lempitnya.

Dia masih terus meronta-ronta meski percuma. Ustaz karim masih meremas-remas dada montok itu selama beberapa saat. Memang tidak seindah dada ustazah aminah, tapi lumayan untuk pemuas nafsunya. Tangannya juga dengan penuh nafsu menggerayangi sekujur tubuh ustazah raudah. Mukena satin yang licin itu membantu memacu nafsunya makin meninggi.

“Ustaaaaazz, leppaskannnn! Hiks hiks ahhh,” ustazah raudah masih meronta-ronta. Sebenarnya cukup sukar juga bagi dia untuk berakting seolah tidak rela. rudal ustaz karim yang dirasakannya menggesek-gesek belahan serambi lempitnya di bawah membuatnya terbuai. Belum lagi gerayangan tangan di titik-titik sensitif di tubuhnya membuat dia kelimpungan.

“Iyahh, ahhh, nanti ya, nduk, ahhh, tubuhmu seksi sekali,” ustaz karim mendengus. Tangannya menggentel-gentel puting susu ustazah raudah dari balik mukena. Sementara itu selangkangannya juga dengan aktif maju mundur semakin intens menggesek-gesekkan batang rudalnya pada mulut serambi lempit ustazah raudah.

Mendengar ucapan ustaz karim itu ustazah raudah semakin bangkit nafsu birahinya. Akan tetapi dia masih mencoba meronta meski tanpa niatan melepaskan diri. Pada akhirnya ustaz karim tak tahan. Dia kemudian membungkukkan ustazah raudah menekankan tubuhnya ke meja, sementara tangannya mengangkat sedikit bagian selangkangan ustazah raudah sehingga dia rasa rudalnya sudah pas di lubang yang basah menantang itu.

Lalu….sleppp, dengan satu hentakan ke depan ustaz karim memasukkan rudalnya dengan sukses. Tubuh ustazah raudah menggelinjang seiring rintihannya, “ustazz, ahhh, hiks, ahhh,” kepalanya tanpa sadar mendongak. Memang ustazah raudah sadar bahwa dirinya pun sangat merindukan rudal, rudal siapapun. Meski dalam kesehariannya dia selalu menutupi tubuhnya dengan gamis dan kerudung lebar sepinggang, tapi kenikmatan bersetubuh yang dulu diajarkan oleh Alif telah membuatnya selalu merindukan momen-momen seperti itu.

Plokkk plokk plokk, bunyi selangkangan ustaz karim yang beradu dengan pantat ustazah raudah terdengar berirama seiring dengan maju mundurnya rudal ustaz karim di serambi lempit ustazah raudah. Ada sebenarnya rasa heran pada ustaz karim merasakan serambi lempit ustazah raudah sudah sangat basah, tapi pikirannya yang sudah dikuasai nafsu tak membuatnya berpikir panjang. Satu hal yang juga terpikir olehnya kemudian dia ucapkan:

“Kau sudah tidak perawan, ndukk? Agh agh, tak apa, serambi lempitmu peret juga, ahhh,” dengan intens dia meremas-remas buah dada ustazah raudah dari belakang, sesekali tangannya mengelus-elus belahan punggung ustazah raudah juga membuat tubuh sang empunya menjengkit menahan kenikmatan.

“Hiks, lepasin, ustaz, ahh, lepasin, hik, lepasinnn,” Di sela kenikmatan yang dia rasakan, ustazah raudah masih memaksakan diri untuk melepaskan tangisan. Sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak menunjukkan bahwa dirinya pun menikmati persetubuhan itu. Meski dia merasa ingin sekali membalasa setiap sodokan ustaz karim di serambi lempitnya, akan tetapi dia mencoba untuk mendiamkan tubuhnya, hanya menerima, supaya ustaz karim tidak curiga.

Sementara itu, di kamar ustaz karim, Ustazah Aminah mendadak terbangun dari tidurnya ketika dia mendengar nada panggil pada headshetnya. Bahkan tanpa melihat nama si pemanggil pun dia sudah tahu bahwa itu adalah Alif, karena saking sayangnya pada sang anak, dia memberikan nada panggil tersendiri untuknya.

Setengah sadar dia langsung mengangkat panggilan itu. “Ya, sayang, ada apa malam-malam gini? Belum tidur?” “Hehe, udah, umi, ini Alif terbangun.” “Lha kenapa? Ada apa sayang?” “Alif mimpi buruk umi,” “Aaahh, itu bunga tidur, sayang, sini sini umi usap-usap kepala Alif, ya,” “Tapi beneran syerem banget mi,” nada Alif terdengar manja, “Umi sudah tidur?” “Belum sayang, umi baru mau tidur. Yuk umi temenin. Jangan-jangan tadi Alif tidak baca doa ya?” “Hehe, iya umi. Lupa. Yaudah yuk umi tidur yuk.” “Nah, baca doa dulu ya sayang, biar nyenyak tidurnya.”

Kemudian setelah basa-basi sedikit lagi dengan anak kesayangannya itu, sambungan itu diputus. Saat itulah ustazah aminah baru sadar bahwa sang suami tidak ada di sampingnya. Tidak terdengar juga suara dari kamar mandi. Sedikit heran ustazah aminah mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, jelas ustaz karim tidak ada di sana.

Merasa sedikit penasaran karena tidak biasanya ustaz karim keluar malam, dia turun dari ranjangnya dan melangkah menuju pintu keluar. Ustaz karim juga tidak nampak di luar. Kemudian dia lihat cahaya dari ruang kantor. “Ngapain suamiku di kantor malam-malam begini,” begitu pikirnya. Dia melangkah ke arah sana.

Saat mencapai jendela paling kiri, dia tersentak, kemudian merapatkan tubuhnya ke dinding dan mengintip dengan hati-hati. Betapa terkejutnya dia melihat suaminya sedang menyetubuhi ustazah raudah dengan posisi doggy style. Memang posisi ustaz karim saat itu nampak jelas kalau ada orang melihat dari luar jendela. Hampir ustazah berusia 45 tahun yang wajahnya masih dipenuhi sperma ustaz karim yang sudah mengering itu menjerit. Kecewa, marah, campur aduk menjadi satu dalam pikirannya. Sejenak dia bersandar di dinding memejamkan matanya, menenangkan hatinya yang bergejolak.

Kemudian setelah pikirannya kembali jernih, dia mulai berpikir. Dirinya merasa bersalah juga karena tadi menolak meneruskan memuaskan nafsu suamiya, padahal dia tahu bahwa suaminya itu libidonya cukup tinggi. Jika melihat wajah ustazah raudah yang nampak meringis dan sepertinya menangis, berarti ustaz karim memperkosa ukhti itu. Kalau sampai dia ribut, maka seisi asrama bisa tahu skandal ini dan namanya juga nama sang suami akan ikut tercoreng. Belum lagi dia sebenarnya merasa ini adalah karma dari apa yang terjadi padanya tadi siang….

Berpikiran seperti itu, ustazah aminah kemudian memutuskan untuk mendiamkan saja pura-pura tidak tahu kejadian itu untuk sementara. Nanti dia akan memikirkan apa langkah selanjutnya yang paling baik. Maka bukannya meneruskan menuju ke ruang kantor, ustazah aminah kembali ke kamarnya dan kembali memasang posisi seperti tadi, tiduran membelakangi pintu.

Sementara itu, di tengah-tengah persetubuhannya, ustaz karim mendadak memiliki ide baru. Dia ingin menyetubuhi sang ukhti di kamarnya sendiri. Membayangkan sensasi menyetubuhi wanita lain di samping istrinya membuat sodokan-sodokannya di serambi lempit ustazah raudah tanpa sadar semakin keras. “Ahhhh ahhhh,” desahan ustazah raudah selalu terdengar seiring dengan sodokan itu.

Masih dengan posisi doggy style, ustaz karim mendorong ustazah raudah untuk berjalan pelan-pelan. Posisi seperti itu membuat gesekan rudalnya di serambi lempit ustazah raudah sedikit tidak teratur. Meski demikian, bukan berarti hal itu mengurangi kenikmatan yang dirasakan ustazah raudah. Di sela isaknya yang masih terdengar, dia merasakan kenikmatan yang cukup membuatnya merasa terpuaskan.

Di ambang pintu kamarnya, ustaz karim sempat menarik tubuh ustazah raudah berdiri, kemudian dia menolehkan kepala ustazah raudah dan melumat bibir yang ustazah dengan penuh gairah. Cuppp cuppp cuppp, tanpa sadar ustazah raudah membalas, posisi semacam itu memang sangat nikmat dia rasakan.

Bukan hanya ustazah raudah sebenarnya yang kaget oleh kenekatan ustaz karim, akan tetapi juga ustazah aminah. Untuk sesaat sebenarnya ustazah aminah tak bisa menebak apa yang dilakukan suaminya. Dia masih tiduran di posisi semula, membelakangi pintu. Akan tetapi ketika dia mendengar campuran desahan wanita dan dengusan suaminya, maka dia pun bisa menebak bahwa keduanya kini bersetubuh di kamarnya, di sampingnya.

Ustaz karim tahu bahwa adat istrinya adalah kalau sudah tidur, dia cenderung susah bangun, apalagi sekarang sang ustazah sedang tidur dengan mengenakan headshet. Maka dengan leluasa dia langsung mendorong tubuh ustazah raudah untuk berbaring di samping istrinya, menelentang. Dengan nafsu yang kian bergelora, dia langsung meneruskan menusuk kembali serambi lempit ustazah raudah yang saat itu sudah sangat basah.

“Ahhhkkk, hiks hiks,” desahan ustazah raudah terdengar bercampur dengan tangisan. Aktingnya benar-benar sukses menipu baik ustaz karim maupun ustazah aminah. Sementara ustazah raudah sendiri sebenarnya merasakan kenikmatan yang sangat tinggi karena sensasinya juga. Dia yakin ustaz karim pun merasakan sensasi yang sama.

Ustazah Aminah meneruskan pura-pura tidur sementara deru nafas ustaz karim yang menyetubuhi Ustazah Raudah di sampingnya terdengar jelas. Sesekali dia rasakan dipan itu bergoyang saat sodokan Ustaz Karim dipercepat oleh gairah. Ustazah Raudah masih terdengar mengisak dan mengeluarkan suara seolah menyesal oleh persetubuhan itu. “Mungkin dia capek”, demikian Ustazah Aminah membatin, “sehingga suara ukhti raudah itu lebih terdengar mirip lenguhan kenikmatan”.

Sementara aroma keringat dan birahi menguar di kamar ustazah Aminah, perlahan ingatannya melayang pada peristiwa tadi siang. Peristiwa itulah sebenarnya yang membuatnya tidak bangkit dan menggampar ustaz karim saat itu. Ustazah Aminah memendam perasaan bersalah dan dia menganggap apa yang Ustaz Karim lakukan sekarang adalah karma. Dia patut menerimanya. Selain itu, diam-diam dia malah membayangkan dirinya adalah ustazah raudah dan perlahan dia rasakan desir-desir aneh merambati dadanya. Sensasi yang membuatnya diam-diam ikut bergairah.

*****

Pagi tadi, sebelum malamnya Ustazah Aminah memanggil Ustazah Lia ke kamar interogasi mempertanyakan dildo, melampiaskan birahi yang tertahan seminggu, kemudian ustaz Karim memperkosa Ustazah Raudah yang pura-pura tidak mau, dua orang tukang tembok datang ke asrama syahamah. Yang seorang adalah Jupri, usianya sudah 45an, tukang tembok senior, tubuhnya tidak terlalu tinggi tapi gempal, yang seorang lagi Deni, usianya baru 20, laki-laki ceking lulusan SMA yang mentok tak bisa kuliah karena terkait biaya. Dia kemudian diajak oleh Jupri, pamannya, untuk menemaninya bekerja.

Dua tukang itu memang sengaja dipanggil. Sehari sebelumnya ustazah Aminah menyuruh ustazah Raudah untuk memanggil tukang tembok memperbaiki kamarnya. Bukan, kamarnya bukan rusak tapi hanya akan sedikit dipermak. Rencana tentang kepergian Ustaz Karim memang sudah lama diperbincangkannya dengan istrinya itu. Keduanya juga sudah sepakat untuk mengajak Alif tinggal di sana, sekalian juga sekolahnya dipindah saja, biar nanti sekalian lanjut kuliah di kota itu.

Alif memang sudah pernah berkunjung ke kamar orang tuanya itu. Dia juga setuju-setuju saja untuk tinggal di sana. Hanya dia punya satu permintaan yaitu kamarnya yang direncakan menempati kamar di sebelah kamar orang tuanya, sebelah kiri, dibuatkan sebuah pintu sambung.

“Kan gak enak umi kalau Alif bolak-balik kelihatan masuk ke kamar umi. Dilihat sama ukhti-ukhti asrama gak baik itu. Mending dibuatin pintu di dalam. Lagipula nanti kalau misalnya umi butuh bantuan Alif kan mudah gak perlu keluar kamar dulu.”

Baik Ustazah Aminah maupun Ustaz Karim sudah setuju. Toh proses membuat pintu sambung itu sendiri mudah, hanya tinggal membuat lubang tembok, merapikannya, kemudian memasang pintu. Sehari pun jadi dan tidak memakan biaya yang terlalu banyak juga. Lokasi pintunya sendiri sudah ditetapkan, tepat di samping lemari yang berposisi dekat kapstok. Dengan kata lain, itu tepat di pojok kiri kamar berseberangan dengan kamar mandi.

Selain itu juga ada alasan lain sebenarnya. Kamar Alif memang lumayan luas, akan tetapi kamar itu semula bukan dipersiapkan untuk kamar penghuni asrama, melainkan hanya ruang cadangan. Maka di sana tidak ada kamar mandi. Dengan kata lain, jika Alif nanti tinggal di sana dia bisa menumpang mandi di kamar Ustazah Aminah.

Jupri dan Deni adalah orang suruhan Ustazah Raudah. Satu hal yang tidak diketahui Ustazah Aminah adalah rencana pemanggilan tukang itu sudah diperbincangkan oleh ustazah raudah dengan Alif. Alif kemudian membeberkan rencananya, dan rencana itu membutuhkan peranan kedua tukang itu.

Maka ketika Ustazah Raudah menghubungi Jupri dan membeberkan rencananya sambil menyodorkan 3 lembar uang seratus ribuan, Jupri hanya tertawa mengekek sambil menerima uang itu.

“Baru kali ini mamang ini dibayar mahal untuk melakukan hal yang mudah dan enak, neng.” Jupri memang orang sunda. Logat bahasa indonesianya campur aduk. “Siapp lah, tanggung beres. Si deni mah pasti manut lah, bakalan seneng juga dia.”

“Bagus, Mang, tapi ingat ya gak boleh melanggar kesepakatan nih. Ana bakal ngawasi lho.” Ustazah Raudah dengan cepat mengambil kembali dua lembar uang itu dari tangan Jupri, “nah, dua lembar ini nanti kalau rencana sukses ya.”

Jupri mengangguk-anggukkan kepalanya meski dalam hatinya dia memaki. Diam-diam mendengarkan rencana yang dibeberkan sang ustazah, birahinya naik. Dia mengulurkan tangannya akan menoel dagu ustazah raudah.

“Husshhh,” ustazah raudah mengelak sambil memasang pandangan marah. “Jangan gak sopan, mang.” “Hehehe, habis mamang gregetan nih, neng.” “Udah dulu ya mang. Besok pagi sebelum bekerja mamang ketemuan dulu sama ana di asrama.” “Oke neng, beress.” Pagi itu Ustazah Raudah sudah menunggu Jupri di gerbang. Dia menyerahkan android sembunyi-sembunyi sambil berbisik, “bikin rekaman yang bagus, tapi jangan berlebihan.”

Jupri nyengir menampakkan giginya yang kuning kecokelatan dirusak tembakau murahan. Dia menerima android itu sementara tangannya nakal mencoba menepuk pantat Ustazah Raudah. Lagi-lagi ustazah raudah mengelak sambil matanya menoleh ke sekitar. Untung tak ada yang melihat. “Mamang jangan kurang ajar ya!”

“Hehe iya neng iya. Di sebelah mana ini kamarnya neng?” “Di atas. Ayo mamang ikuti saya.” Perjalanan ke lantai dua melewati tangga berputar dengan lorong yang lumayan sempit dan sepi. Memang di sisi sebelah sana ruang yang ada adalah ruang-ruang khusus asrama bukan kamar penghuni, dan ada kamar mandi di pojok bawah tangga. Karena posisi ustazah raudah mau tak mau di depan dan jupri menyusul diikuti deni, mau tak mau pula pemandangan indah pantat Ustazah Raudah yang seksi itu tersuguh sepenuhnya untuk jupri.

Pagi itu ustazah raudah mengenakan gamis kaus warna cokelat tua dan kerudung lebar warna cream. Karena dia seperti biasa tidak mengenakan apapun di baliknya, maka setiap dia menginjak satu anak tangga, belahan pantatnya tercetak jelas. Melihat itu mau tak mau rudal jupri menegang. Setelah beberapa anak tangga, dia tak tahan dan berhenti. Tanpa menoleh kiri kanan, dia langsung membuka resleting celananya dan mengeluarkan tongkolnya yang sudah menegang. Tidak besar memang tapi Nampak dihiasi urat-urat bertonjolan. Dia langsung mengocok-kocoknya sambil menatap penuh nafsu ke arah ustazah raudah.

Ustazah raudah yang merasa tak diikuti kemudian berhenti di tengah tangga. Dari tengah tangga itu sebenarnya tinggal berputar dan kemudian tangga akan lurus menuju lantai dua. Dia kemudian membalikkan tubuhnya dan terkesiap melihat jupri mengocok-kocok rudalnya sambil memandang dirinya. Deni sementara itu nampak berdiri bingung di belakangnya.

“Mang, ngapain?” Ustazah Raudah bertanya lirih kuatir ada yang mendengar. Sesekali matanya melirik ke atas kuatir kalau ustazah Aminah pas turun. Kalau ukhti-ukhti yang lain untungnya jarang yang melintas lewat tangga itu. “Gak tahan neng, hehe, habis eneng seksi banget.” “Aduhh, gimana sih mang,” Ustazah Raudah bingung. Ingin marah juga. Tapi kemudian pikirannya berpikir cepat. Rencana yang nanti akan dilaksanakan itu bakalan lebih sukses juga kalau jupri bisa orgasme dulu. Kalau tidak, dia sebenarnya sedikit kurang percaya dengan tukang tembok mesum ini. Maka demi resiko yang lebih kecil, dia kemudian berbisik, “Mang, cepetan tapi ya! Nanti ada orang.”

“Hehe hehe, baik neng, tapi si eneng dadanya ditonjolin lagi dong, biar lebih cepat.” Dalam hatinya Ustazah Raudah memaki, “banyak maunya nih tukang tembok mesum”. Tapi dia menurut juga dan membusungkan dadanya, tangan kirinya bahkan membelai-belai payudara kanannya sementara lidahnya dikeluarkan menjilat-jilat bibirnya. Puting susunya yang sudah tegang nampak mencuat dari balik gamis kausnya.

Dengan penuh semangat Jupri mengocok-ngocok rudalnya sambil sesekali melenguh. Ustazah raudah sebenarnya sedikit terangsang, tapi dia sadar bahwa sekarang bukanlah saat yang tepat kecuali jika dia ingin segalanya berantakan. Apa yang dia lakukan kemudian berganti-ganti pose untuk membuat jupri semakin bergairah.

“Ukhh, ukhhh,” Jupri mendesah. Mukanya sudah merah padam. Tampaknya dia akan segera orgasme. Saat itulah ustazah raudah baru terpikir, bahaya kalau sampai air maninya muncrat di tangga, kalau ketahuan oleh Umi Aminah atau ukhti-ukhti yang lain pasti bakal jadi pertanyaan.

Maka dia pun memutuskan untuk turun mendekati Jupri yang semakin semangat mengocok-ngocok rudalnya. Jupri yang melihat itu sedikit kaget, dia memelankan kocokannya.

“Bersandar di tangga tembok mang, cepet!” bisik ustazah raudah. Jupri segera menyandarkan tubuhnya masih sambil berdiri, di selusur tangga yang memang dibuat dari tembok juga. Tanpa dia sangka, ustazah raudah kemudian membungkukkan tubuhnya, tangannya melepas tangan jupri yang sedang mengocok rudalnya, kemudian mulutnya membuka….

“Ahhhh,” Jupri mendesah penuh kenikmatan ketika rudalnya terasa menyentuh langit-langit mulut ustazah raudah yang hangat dan lembab. Ustazah raudah kemudian menghisap-hisapnya dengan mahir, membuat tubuh jupri semakin merinding merasakan kenikmatan yang sejujurnya tak pernah dia rasakan seperti ini. Tangan jupri naluriah terulur ke bawah meremas dua bulatan di dada ustazah raudah. Dengan kasar dia meremasnya sampai tubuh ustazah raudah sedikit mengejang. Meski demikian, mulut yang lembut itu tetap menghisap dengan semangat.

Jupri merasakan sensasi yang beda dengan ketika istrinya ataupun pelacur-pelacur murahan melakukan blowjob. Entah, mungkin itu karena dia merasakan bahan lembut gamis kaus yang melindungi dua bola di dada ustazah membuat tangannya pun merasa nikmat. Lagi pula payudara istrinya tak semontok itu. Diblowjob dengan ahli dan pada saat yang sama merasakan sensasi meremas-remas dada ustazah yang masih berpakaian lengkap dan berkerudung sepinggang, mau tak mau jupri pun kewalahan.

“Arrggghhh,” sedikit menggeram, dia menyentakkan pinggulnya ke depan, ustazah raudah merasa rudal di mulutnya mengeras sempurna, kemudian memuncratkan cairan hangat memenuhi rongga mulutnya. Dengan penuh semangat dia langsung menelannya sampai habis.

Sampai pancutan terakhir, ustazah raudah menghisapnya sampai-sampai tubuh jupri menyentak-nyentak ke depan merasakan kenikmatan tambahan. Akhirnya ustazah raudah melepaskan rudal itu dari mulutnya. Nampak sudah melemas berlumur ludah, hanya tersisa sedikit tetesan mani di ujungnya. Ustazah raudah tersenyum, kemudian dia kembali naik ke tangga. “Ayo mang, kita ke atas.”

Deni sedari tadi hanya menonton. Meski sebenarnya dia ingin gabung juga, tapi dia takut pada mamangnya itu. Selama ini mamangnya tidak tahu bahwa dirinya sering menjadi pelampiasan sang bibi sementara mamangnya lebih suka pergi ke pelacuran. Dari tadi sebenarnya rudal dia pun menegang di balik celananya, akan tetapi dia menahan diri.

“Gila, Den, enak banget, mamang nyampe lemes nih.” Ucap Jupri sambil melangkah ke atas setelah memasukkan rudalnya kembali ke sarangnya. Deni hanya tersenyum kecut kemudian melangkah mengikuti mamangnya itu.

*****

Di atas, mereka berdua langsung masuk ke kamar sebelah kamar ustazah Aminah. Ustazah Aminah sudah ada di sana bersama ustazah Raudah. Ustazah Aminah memberikan beberapa petunjuk tentang apa yang harus mereka lakukan. Jupri hanya mengangguk-angguk. Sesekali matanya mengerling ke arah ustazah raudah.

Setelah selesai, Ustazah Aminah kemudian berkata, “silahkan dimulai saja, Mang, ana di kamar sebelah kalau butuh apa-apa.” Dia kemudian pergi.

Ustazah Raudah masih di sana sebentar. “Dia yang dimaksud eneng dalam rencana kemarin ya, neng?” Jupri bertanya sambil mengerling ke arah ustzah aminah yang dari kaca jendela nampak berjalan pergi.

Ustazah Raudah mengangguk. “Ingat dua ratus ribu ya mang.” Setelah itu dia pun beranjak pergi. “Dan jangan lupa kalian berdua ana awasi.”

Jupri hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Seksi sekali ya ,” begitu dia mendesis.

Pekerjaan itu tidak lama. Dalam waktu singkat sudah tercipta lubang di sana. Pekerjaan selanjutnya tinggal merapikannya, kemudian menunggu kering, dan dilanjut dengan memasang pintu. Itu pekerjaan yang sangat mudah terutama karena kedua tukang itu pun bisa dikatakan ahli. Maka jatah seharian yang diberikan pada mereka bahkan sebenarnya waktu yang terlalu lama.

Sementara kedua tukang itu bekerja, ustazah aminah duduk di mejanya, membelakangi keduanya. Dia asyik membaca majalah ummi, sesekali tersenyum khususnya ketika dia sampai di rubrik tanya jawab seksual. Ada misalnya seorang umahat yang bertanya tentang boleh dan tidaknya blowjob. Ustazah aminah tak kuasa menahan senyumnya jika teringat dulu dirinya juga pernah menanyakan hal yang sama pada suaminya.

Sambil bekerja kadang-kadang Jupri menatap tubuh ustazah aminah yang nampak gebu. Imajinasinya melayang-layang membayangkan kerudung kembang-kembang itu dipenuhi oleh spermanya. Tubuh umahat itu pun, dia yakin, jauh lebih montok daripada ukhti yang bergamis dan bertudung lebar dan tadi menghisap rudalnya di tangga.

Sambil berbisik-bisik Jupri dan Deni menyusun rencana eksekusi. Pekerjaan kemudian selesai, pintu sudah terpasang. Ustazah Aminah mengecek hasil pekerjaan mereka. Dia mencoba membuka dan menutup pintu itu sementara Jupri dan Deni berdiri di dekatnya. Berdiri dekat Ustazah itu Jupri bisa mencium wangi parfum yang lembut, matanya bisa melihat betapa halusnya kulit wajah sang ustazah, kacamata yang menempel di wajahnya juga membuat wajahnya terlihat menggairahkan.

Diam-diam Deni mengambil celana dalam dari keranjang pakaian kotor di kamar ustazah aminah sementara ustazah aminah sibuk mengecek.

“Gimana, Umi, sudah kan?” “Sudah, mang, bagus.” Ustazah Aminah tersenyum kepada keduanya. Dia kemudian beranjak ke mejanya, membuka laci dan mengambil uang. “Ini bayarannya mang,” dia menyodorkannya. Jupri menerimanya. “Makasih, umi.” Dia tersenyum lebar. “oya, umi, ini ada sesuatu yang harus saya tunjukkan, ini pojokan…” Jupri melangkah ke arah pintu yang tadi dia pasang. Ustazah Aminah tanpa curiga mengikuti sementara Deni menngikuti dari belakangnya. Kemudian…..

“Ahhhh apa ap…!” Ustazah Aminah menjerit saat Deni menyergapnya dari belakang. Tangan ustazah Aminah ditelikung ke belakang sementara dengan satu tangannya Deni langsung menyumpalkan celana dalam ustazah aminah ke mulutnya sehingga umahat seksi itu tak mampu melanjutkan ucapannya.

“Hehehe,” Jupri hanya mengekeh sambil menatap ustazah aminah dengan pandangan liar. “Pfffttt, pffttt,” Ustazah Aminah mencoba mengeluarkan suara tapi sumpal celana dalam di mulutnya meredamnya. Deni sementara itu masih memegang sang ustazah kuat-kuat, sementara Jupri nyengir di depannya. Dengan liar tangan Jupri langsung menyentuh semangka di dada Ustazah Aminah. Meremasnya pelan.

“Gila, besar sekali, eh eh, umi gak makai beha ya?” Umi Aminah merasa terhina sekali. Baru kali ini ada orang asing yang memegang-megang payudaranya. Selain itu, dia merasa kuatir juga sebab dadanya itu adalah kelemahannya.

Jupri terkenang blowjob yang dilakukan ustazah raudah di tangga tadi, maka perlahan namun pasti rudalnya kembali menegang. Tangannya kembali merasa-raba tubuh Ustazah Aminah dari balik gamisnya. Ternyata sama seperti ustazah raudah, ustazah aminah pun tak mengenakan apapun di baliknya.

Tak tahan, Jupri membuka celananya. “Mang,” Deni memanggilnya. Jupri asyik mengelus-elus rudalnya sambil tangannya yang satu lagi menggerayangi tubuh umi aminah yang terus meronta mencoba melepaskan diri. “Mang,” kembali Deni memanggil. “Apa?” Jupri menjawab sambil tetap meremas-remas buah dada ustazah aminah. “Jangan begitu, kebablasan lho mang.”

Jupri celingukan sebentar. Dari balik jendela tak nampak seorang pun. Dia pikir bahwa ucapan ustazah raudah bahwa dirinya mengawasi mereka berdua hanyalah omong kosong. Maka dia berpikir bahwa kebablasan gak apa-apa. Toh tak bakal ketahuan sama ustazah seksi yang tadi sudah memberikan layanan blow job sempurna untuknya.

Memang perjanjian dengan ustazah raudah dengan mereka berdua adalah kedua tukang tembok itu harus merangsang birahi ustazah Aminah, melecehkannya secara seksual, merekamnya, tapi tak boleh sampai kebablasan menusuk serambi lempitnya. Pokoknya tugas keduanya hanya membangkitkan gairah ustazah aminah, kemudian berhenti saat ustazah itu mulai memuncak, bagaimanapun caranya. Adapun menggerayangi tubuhnya dan meremas-remas buah dadanya adalah bonus. Demikianlah rencana alif yang dilaksanakan oleh ustazah raudah itu.

“Bawa ke ranjang, Den. Gak usah cerewet maneh!” Jupri berkata memerintah. rudalnya sementara itu sudah menegak, nampak hitam.

Deni menurut saja karena dia takut juga sama mamangnya, sekaligus jengkel. Dalam hatinya dia membatin, “sialan, mau enak sendiri si mamang ni, harusnya sekarang giliranku, mana bisa-bisa kehilangan dua ratus ribu nih.” Saat itulah android yang tadi diberikan oleh ustazah raudah bergetar. Deni membukanya.

“Ayo kehed, aing geus hayang menyetubuhi yeuh!” cepetan bego, aku sudah pengen menyetubuhi nih.

Deni tak menjawab. Dia hanya menyodorkan hp itu. Jupri membacanya dengan kesal. Matanya membulat saat dia membaca pesan yang masuk: “Kalian mau melanggar perjanjian? Ingat, dua ratus ribu melayang, dan kalian siap-siap digrebek.”

Jupri langsung celingukan. Ketakutan digrebek membuat rudalnya perlahan mengkerut lagi. Selain itu, dia memang sedang butuh uang juga. Uang seratus ribu dp kemarin sudah habis dan dia masih punya utang kalah judi seratus ribu. Sisa seratus ribu sebenarnya untuk jatah Deni.

“Giliranku nih, mang, mamang udah tadi.” Deni yang masih memegang Ustazah Aminah yang sesekali masih meronta kemudian berkata. “Giliranmu apa?” Jupri memandang tajam Deni. “Ngocok mang, mamang kan sudah. Gantian lah mamang yang megangin.” Takut-takut Deni mengeluarkan isi hatinya juga.

Merasa sudah tak mungkin lagi memenyetubuhi ustazah aminah, Jupri akhirnya mengalah juga. Maka kini mereka berdua menggotong ustazah aminah ke ranjang. Jupri berbaring menelentang, pahanya membuka, punggungnya diganjal tumpukan bantal sehingga punggungnya tegak, sementara ustazah aminah dipegangnya dalam posisi yang sama di atasnya, dua paha ustazah itu dikepitnya dengan pahanya. Tangannya yang satu menelikung dua tangan ustazah ke belakang, sementara tangan satunya tak hentinya mendesah-desah. rudalnya sementara itu sudah tegang lagi, nampak terjepit oleh paha luar ustazah aminah dan pahanya sendiri.

Deni kemudian mencopot celananya. rudalnya tidak besar akan tetapi nampak panjang. Bulu-bulu jembut nampak semrawut di sekitarnya. Pelirnya hitam menggantung. Dia langsung mengambil posisi duduk mencakung di depan ustazah aminah, tepat di antara kedua pahanya yang terbuka. Sebelumnya dia meletakkan android dalam posisi merekam video di meja pinggir ranjang dengan diganjal oleh beberapa buku.

Jupri tahu keponakannya itu ingin onani sambil melihat dirinya merangsang ustazah. Maka dia semakin gencar mengelus-elus dan meremas kedua buah dada ustazah aminah. Sementara itu, perlahan deni mulai mengocok rudalnya.

Semula ustazah aminah dipenuhi kemarahan merasa dinistakan oleh kedua tukang tembok itu. Akan tetapi lama-kelamaan remasan yang dia rasakan di payudaranya membuatnya terangsang juga. Ia rasakan di bawah sana serambi lempitnya mulai basah. Sementara itu, dengusan nafas panas jupri yang terasa menghembus tengkuknya juga membuatnya mulai panas. Apalagi dia melihat dengan jelas pula pandang mata deni yang penuh birahi menatap sekujur tubuhnya sambil mengocok rudalnya. Rasa bangganya terpancing.

Pada akhirnya tubuhnya diam. Nafasnya mulai tidak beraturan. Jupri yang merasakan itu semakin gencar merangsang tubuh ustazah aminah. Sementara itu, deni berhenti sebentar dan menyingkapkan gamis yang dipakai ustazah aminah hingga nampak jelas serambi lempitnya yang merekah indah tanpa dihiasi jembut. Nafas deni makin tak beraturan. Kalau saja dia tak teringat bahwa dia membutuhkan uang, maka dia pasti sudah memasukkannya dari tadi.

“Mang, copot saja tuh, kayaknya ustazah kita sudah menikmatinya.”

Jupri mencopot celana dalam yang menyumpal mulut ustazah aminah. Ustazah itu nampak merem melek merasakan remasannya. Meski demikian, dia hanya mengendorkan sedikit saja pegangannya, kuatir bahwa ustazah itu hanya berpura-pura.

Deni yang saat itu sudah tak mampu bertahan lama kemudian mengambil posisi meneduhi ustazah aminah seperti hendak menyetubuhinya. Diam-diam jupri memaki, kuatir keponakannya itu kebablasan. Tapi ternyata deni hanya ingin menempelkan kepala rudalnya ke mulut serambi lempit ustazah aminah. Ustazah itu menggelinjang merasakan benda hangat menempel di serambi lempitnya. Sebenarnya saat itu gairahnya sudah mencapai puncak, dia merasakan kedutan di serambi lempitnya dan tanpa sadar dia mengharapkan benda itu dimasukkan ke dalamnya.

Tapi deni ternyata bisa menahan diri tidak memasukkannnya, akan tetapi pengalaman baru yang penuh sensasi itu membuat rudalnya tak kuat bertahan lama. Dia merintih pelan kemudian mendadak bangkit dan mengarahkan rudalnya ke wajah ustazah aminah. Crottt…crotttt….ustazah aminah memejamkan matanya merasakan pancutanpancutan air kental hangat itu mengenai wajahnya. Sebagian mengenai kacamatanya.

“Aaaahhh,” deni mendesah sambil memeras rudalnya, tetesan terakhir jatuh di gamis ustazah aminah. “Geus anjing,” dengus Jupri.

Deni segera bergerak mengambil alih posisi pamannya itu, tapi Jupri membisikkan sesuatu. Deni kemudian mengambil kamera android tadi dan memposisikan diri siap merekam. Sementara itu, jupri dengan rudalnya yang sudah tegang secepat kilat berpindah posisi seperti menyetubuhi ustazah aminah dengan posisi misionari. Saking cepatnya gerakannya, ustazah aminah menyadari ketika dia merasakan ada benda hangat panjang menggesek-gesek bagian bawah selangkangannya. Tubuhnya kembali menggelinjang.

Ternyata Jupri memiliki ide yang bagus. Dia memang tidak memasukkan rudalnya ke serambi lempit ustazah aminah tapi dia meletakkan di pangkal paha ustazah. Dengan menaikturunkan tubuhnya yang dia tahan dengan dua tangan seperti posisi push up di samping tubuh ustazatah aminah, dia bisa merasakan sensasi seolah dirinya sedang memenyetubuhi ustazah itu. Gesekan rudalnya di lembab bibir serambi lempit ustazah itu terasa nikmat sekali.

“Uhh, uhhhh,” begitu dia mendesah. Sesekali dia menurunkan wajahnya melumat bibir ustazah aminah yang setengah membuka. Ustazah aminah hanya memejamkan matanya. Gairahnya sebenarnya sudah hampir tak tertahankan, tapi egonya yang merasa malu masih mampu membuatnya bertahan. Hanya nafasnya yang sedikit tertahan-tahan dan gerak tubuhnya yang terkadang mengejang yang menunjukkan bahwa dia pun terangsang.

“Arrghh, anjing, arrghhh, enak banget aingg, ahh, ustazah,” Jupri meracau. Kemudian mulutnya mencaplok buah dada besar ustazah AMinah dari balik gamisnya. “Ahh!” tanpa sadar ustazah aminah mendesah tertahan. serambi lempitnya terasa sangat gatal mengharapkan masuknya sebatang rudal yang hangat menggesek-geseknya dari tadi. Gamisnya sudah basah oleh keringat yang dipacu oleh syahwat.

Kemudian jupri mengangkat mulutnya, menampakkan gamis yang basah di bagian dada yang membusung. Dia mempercepat gerak naik turunnya tubuhnya, membuat hasratnya makin cepat untuk terpuaskan. Walau bagaimanapun dia tak punya waktu banyak. Sementara itu, di samping, dengan telaten Deni merekam adegan-adegan itu. Sesekali tangannya kembali meraba rudalnya yang terasa tegang di balik celananya.

Jupri merasakan sesuatu kian mendesak ke batang kemaluannya. Dia hampir mencapai puncak. Dengan cepat dia bangkit dan menekankan rudalnya ke mulut ustazah aminah yang setengah terbuka. Blesshhh, ustazah aminah kaget merasakan benda panjang hangat itu masuk ke mulutnya. Pahanya tanpa sadar membuka sementara mulutnya mengatup.

“Aghhh,” Jupri mendesah. Kemudian, crottt… crottt, rudalnya menyemburkan lahar panas yang sepenuhnya memenuhi rongga mulut ustazah aminah, kemudian masuk ke tenggorokannya. Blowjob yang kedua dalam sehari, dua-duanya oleh ustazah berkerudung lebar, demikian pikir Jupri bangga. Setelah puas, Jupri mencabut rudalnya dan turun dari dipan setelah meremas dengan gemas buah dada ustaah aminah yang membusung.

Ustazah aminah mencoba bangkit sambil batuk-batuk. “Ter…lak..nat…kalian!” Di balik gairahnya yang tadi sempat bangkit, ustazah aminah mencoba menutupinya dengan menunjukkan dia adalah korban. Dari sudut mulutnya lelehan peju mengalir.

Jupri hanya tertawa. Dia melihat hasil rekaman Deni sebentar, kemudian dia membisikan kata-kata yang sudah didiktekan oleh Ustazah Raudah kemarin, “ada rekaman yang menunjukan kalau ustazah menikmati juga adegan tadi. Jangan lapor siapapun, kecuali kalau ingin rekaman ini menyebar.”

Ustazah AMinah tercenung. Gairahnya masih belum sepenuhnya tersalurkan. Bau mani yang lengket di wajahnya dan gamisnya membuat serambi lempitnya merindukan rudal. Dia hanya menatap dengan mata sayu deni dan jupri yang sedang mengenakan celana kemudian sibuk memberesi alat pertukangan mereka.

“Baiklah, kami pergi dulu, ustazah, makasih atas semuanya ya, kalau butuh bantuan membobol dinding yang lain, kabari saja kami,” Jupri mengakhirinya dengan tertawa senang, kemudian dia keluar. Ngocoks.com

Di tangga, mereka sudah ditunggu oleh Ustazah Raudah yang saat Jupri orgasme tadi sesegera mungkin dia turun dari plafon. Ya, dari awal dia menonton mereka dari atas, maka dia pun bisa tahu ketika melihat Jupri hampir tak bisa menahan diri melihat tubuh seksi ustazah aminah. Itu sebenarnya merupakan perintah Alif.

Bagi Alif, serambi lempit uminya sebisa mungkin harus suci dan hanya dia nanti yang boleh menikmati. Baginya, uminya hanya perlu dipancing gairahnya sedikit demi sedikit supaya nanti saat dia setubuhi uminya akan meledak-ledak memberikan surge kenikmatan baginya.

Ustazah Raudah menyodorkan tangannya sambil tersenyum. Deni mengulurkan android yang tadi dipakai untuk merekam adegan di kamar ustazah aminah. Jupri melewati ustazah raudah sambil meremas pantat ustazah itu yang langsugn mendelik tapi kali ini dia tidak mengelak. Kemudian sambil tertawa jupri melemparkan ciuman dan mengakhirnya dengan ucapan perpisahan, “neng, kapan-kapan kabari mamang ya.” Ustazah Raudah hanya tersenyum.

Sementara itu, di kamarnya, sepeninggal dua tukang tembok itu, ustazah aminah yang di satu sisi merasa kotor tapi di sisi lain juga merasa membutuhkan pelampiasan birahi kemudian memutuskan membersihkan diri. Dia masuk ke kamar mandi, menghidupkan shower, kemudian terdengar desahannya selama beberapa menit yang diakhiri dengan jeritan tertahan di sela deru air dari shower.

*****

Kembali ke malam, di kamarnya, ustazah aminah masih tiduran menyamping dengan headshet di telinga. serambi lempitnya tanpa sadar basah membayangkan suaminya di sebelahnya yang masih memacu ustazah raudah dengan penuh semangat. Rasa bersalah menekan-nekannya membuat dia semakin enggan menggangu mereka.

“Aghh, aghh, serambi lempitmu seret banget nduk,” begitu terdengar ucapan ustaz karim. “Hnggg hiks hiks,” tangisan ustazah raudah terdengar kian pelan. Kemudian di satu titik ustazah aminah merasakan tempat tidurnya bergetar, terdengar geraman suaminya yang memang selalu menjadi pertanda bahwa dia orgasme, kemudian semuanya terhenti.

Dia bisa merasakan ustazah raudah turun dari pembaringan dengan hati-hati, masih ada sisa suara isaknya, kemudian suara langkah menjauh, sedikit percakapan yang tak jelas, dan suara pintu kamarnya ditutup. Setelah itu, didengarnya suaminya menghidupkan shower di kamar mandi.

Terakhir, dia merasakan suaminya menjatuhkan tubuhnya di sampingnya, memeluknya erat. Tangannya membelai payudaranya yang membusung, sementara yang satu menelusup ke bawah ke celah kelangkangnya. Tapi tak lama kemudian sudah terdengar dengkurnya, dengkur ustaz karim yang tidur pulas di tempat yang masih penuh keringat ustazah raudah yang habis digenjotnya habis-habisan.

Bersambung… Taksi yang membawa Alif berhenti tepat di depan gang tempat sebuah plang hijau bertuliskan Asrama Syahamah dengan cat warna putih terletak. Setelah membayar sesuai kargo, Alif kemudian melangkah membawa kopernya, tas ransel di punggungnya juga Nampak kembung. Tinggal berjalan masuk gang sekitar 300 meteran maka sampailah dia ke gerbang asrama syahamah.

Ustazah Aminah sedang duduk-duduk di kursinya sambil membaca buku “Ukhti-ukhti Jilboob” ketika ketukan dan suara salam terdengar di pintu kamarnya. Perlahan dia bangkit kemudian membuka pintu. Sejenak dia tercengang menatap anaknya yang tersenyum berdiri di depan pintu.

“Aliiifff, sayang, kok gak bilang-bilang? Tau gitu kan umi bisa menjemputmu di terminal.” Ustazah Aminah memeluk sang anak dengan erat. Alif hanya tersenyum kemudian balas memeluk ibunya sama eratnya. Dadanya ditekan oleh bulatan yang membusung indah di dada umminya itu, bulatan yang selalu dia rindukan dan jadi bahan khayalannya tiap dia mengocok rudal.

“Ahh, Alif kan pengen bikin kejutan buat umi,” begitu jawabnya. “Abi ke mana, mi?”

“Abi masih keluar, sedang ngurus paspor, sayang,” Alif menengarai perubahan raut wajah uminya saat menyebutkan sang abi. Dia sebenarnya tahu apa masalahnya, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan juga pura-pura tidak melihatnya.

“Kamar Alif sudah jadi, Umi?” Tanya Alif sambil kembali mengangkat kopernya.

“Sudah, sayang, ayo, masuk lewat sini saja,” Ustazah Aminah mendahului anaknya berjalan ke arah pintu sambung, melintasi kamarnya. Alif berjalan sambil mengedarkan pandanganannya ke sekitar kamar ibunya itu, merekam semua yang mungkin bisa dia masukkan ke dalam rencananya selanjutnya.

Kamar Alif sangat sederhana. Di sana hanya ada ranjang, lemari baju, meja dengan bufetnya, dan satu rak buku. Sangat mirip dekorasi kamar kos biasa. Bedanya adalah ukurannya yang memang lumayan luas. “Nanti perabotan lainnya bisa ditambah sesuai kebutuhan, sayang,” Demikian Ustazah Aminah menambahkan.

“Segini juga sudah cukup kok umi,” jawab Alif membesarkan hati ibunya.

“Yaudah Alif istirahat dulu ya sama beres-beres, umi di kamar sebelah.” Setelah mencium kening sang anak, Ustazah Aminah kemudian berlalu. Alif menatap kepergian ibunya itu dengan mata lekat menatap pantatnya yang bergeol menggairahkan. Untuk sesaat dia sibuk menebak-nebak uminya itu memakai dalaman atau tidak. Pelan dia menggosok rudalnya yang mendadak tegang.

Ustazah Aminah kembali duduk di kursinya. Tangannya meraih buku “ukhti-ukhti jilboob” yang tadi sedang dia baca. Lalu dia melanjutkan membaca, sampai ke bab “berpakaian tapi telanjang”. Satu halaman setelah bab tersebut dan dia menyerah, pikirannya dipenuhi banyak masalah dan tanpa sadar dia langsung melamun.

Dia kemarin memanggil Ustazah Raudah dan bertanya tanpa niatan menghakimi tentang peristiwa malamnya dengan Ustaz Karim di kantor asrama. Ustazah Raudah langsung menangis sampai Ustazah Aminah harus menambahkan bahwa dirinya tidak mau menyalahkan Ustazah Raudah, melainkan hanya ingin mengetahui kebenarannya. Lalu dengan suara terputus-putus Ustazah Raudah menceritakan kronologinya.

Ustazah Raudah mengatakan bahwa dia ada urusan mendesak di kantor malam itu. Saat dia datang, dia melihat Ustaz Karim sedang merokok. Kemudian Ustaz Karim menawarkan membantunya, dan dia ternyata malah memaksanya melakukan hubungan seks. Ustazah Raudah sambil bercucuran air mata meminta maaf juga kepada Ustazah Aminah.

Ustazah Aminah menepuk-nepuk bahunya menenangkan. Dia kemudian mengakhiri obrolan dengan mengatakan bahwa kalau ada apa-apa maka cerita saja pada dirinya biar dia pun bisa membantu. Ustazah Aminah juga meyakinkannya bahwa hal tersebut tak akan pernah terulang. Pada dasarnya memang ustazah aminah pun berpendapat seperti itu, karena dia tetap yakin bahwa ustaz karim bisa khilaf seperti kemarin itu semata karena dirinya tidak mau melayani sang suami itu. Sedikit banyak dia tetap merasa bersalah.

Kini yang membuat Ustazah Aminah merasa bingung, apa yang selanjutnya harus dia lakukan? Dirinya bisa saja mengajak ngobrol sang suami, akan tetapi dia kuatir nanti sang suami bukannya sadar melainkan malah menyalahkan dirinya yang menolak melayani. Padahal kewajiban istri kan harus melayani ketika sang suami sedang bergairah. Selain itu, saat ini bukan saat yang tepat juga sebenarnya sebab sang suami sedang sibuk juga banyak urusan mengurus keberangkatannya.

Sementara itu, dirinya juga bisa mendiamkan kejadian itu, berharap ustaz karim tidak melakukan hal yang sama lagi. Ustazah Aminah percaya malam itu kejadian tersebut semata disebabkan oleh ustaz karim mata gelap. Artinya, kejadian itu semata bukan kesengajaan…

“Hayo umi, katanya membaca kok malah melamun?” Ustazah Aminah tersentak mendengar suara sapaan Alif, Alif memeluknya dari belakang kursi, tangannya melingkar di leher sang umi sementara wajahnya nyelonong ke depan ikut mengintip buku yang sedang ia pegang. Kedua pipi mereka bergesekan, terasa halus pipi anaknya itu.

“Huss sayang ini, ngagetin saja.” Ustazah Aminah tersenyum, satu tangannya bergerak ke belakang, menyentuh dan mengusap-usap belakang kepala Alif. Dalam posisi demikian, mau tak mau posisi dadanya menjadi terangkat membuat gunung di dadanya itu semakin membusung menggairahkan.

Alif merasakan rudalnya menegang melihat pemandangan itu. Posisinya yang tepat di atas uminya membuat dirinya bisa mengintip bulatan indah itu dengan hanya menundukkan kepalanya sedikit saja. Memang saat itu ustazah aminah memakai kerudung lebar sepinggang, akan tetapi karena sedang ada di dalam kamar, posisi kerudung itu pun tidak sepenuhnya mantap.

Hanya dengan sedikit menggeser tangannya seolah tidak sengaja, Alif bisa menarik kerudung itu sedikit ke samping sehingga membuat celah terbuka di atas gamisnya. Dari atas melalui celah itu, Alif bisa melihat kulit dada ibunya samar, nampak kencang, dan dari sentuhannya di bahu sang umi dia pun tahu bahwa uminya itu tidak memakai beha.

Betapa gregetannya dia ingin menyentuh dada yang tak terpengaruh usia itu. Bahkan di usianya 45 tahun, ustazah aminah di matanya nampak sebagai wanita matang usia 30 tahunan, wanita yang sudah sangat berpengalaman di ranjang dan karenanya sangat menggairahkan.

“Ngelamunin apa sih umi? Alif ya?” Alif melanjutkan sambil mengusap-usap kepala uminya itu. “Hihi, anak umi tahu saja, iya, sayang,” jawab Ustazah Aminah. Dirinya merasa bahagia sebab percakapan dengan anak kesayangannya seperti inilah yang sangat dia rindukan selama ini. Kerinduan itu mendorongnya menolehkan wajah dan mencium pipi Alif, cuppp, cupppp,

Bisa dibayangkan betapa bergairahnya Alif saat itu. Kalau saja dia tidak bisa menahan diri maka sudah dilumatnya habis bibir uminya yang terasa lembab menggoda di pipinya. Tapi dia melihat sikon dan hanya balas tersenyum sambil balas mencium pipi uminya.

Saat itu Ustaz Karim mengetuk pintu, mengucapkan salam, kemudian masuk. “Abi,” Alif langsung bangkit menghampiri dan menyalami ayahnya. “Eh, Alif sudah datang? Cepat sekali? Kok gak kabar-kabar ke umi sama abi.” Ustaz Karim tersenyum sambil menatap ke Ustazah Aminah yang juga memaksakan tersenyum. “Iya tu bi, katanya pengen bikin kejutan dia,” Ustazah Aminah bangkit mengambilkan tas yang dibawa oleh Ustaz kArim. “Gimana Abi, sukses?” Alif sementara itu hanya berdiri.

“Sukses mi, sudah selesai kok.” “Jadi abi beneran nih mau pergi jadi utusan partai ke luar negeri itu?” “Iya, Lif, lumayan juga di bidang ilmu pengetahuan, Abi ngisi ceramah dan ngajar satu semester, sisanya kan abi bisa membantu lobi-lobi sokongan dana buat partai. Yah, siapa tahu pulang dari sana abi dipercayai jadi pimpinan pusat nanti,” Ustaz Karim tersenyum.

“Enam bulan,” Alif membatin dalam hatinya. Waktu yang lumayan lama untuk melaksanakan semua rencananya. Tapi di luar, raut wajahnya menampakkan kesedihan. “Baiklah, abi tenang saja, selama abi pergi, Alif akan jaga umi, bi,”

Ustazah Aminah menatapnya penuh kasih sayang. Sementara Ustaz Karim menjawab dengan raut wajah nampak lega, “tentu saja, abi percaya Alif, dan karena itu pula Alif pindah ke sini kan? Sudah beres-beres kamar?”

Ustaz Karim langsung menuju ke kamar anaknya akan melihat-lihat. “Sudah, bi,” jawab Alif sambil mengikuti sang ayah. Ustazah Aminah juga bangkit dan mengikuti. Kemudian ketiganya mengobrol di kamar Alif sambil merencanakan apa-apa saja yang bisa ditambahkan untuk membuat kamar itu makin nyaman ditempati.

*****

Sore hari, Ustazah Aminah bangun tidur dengan tubuh lumayan penat. Ustaz karim masih tidur di sampingnya. Mungkin dia kecapekan, begitu pikir ustazah aminah. Tadi sang suami lebih dahulu tidur daripada dirinya tapi kini dirinya bangun lebih dulu pula. Duduk di pembaringan, dia kemudian melihat segelas teh yang diberi tutup di meja. Dia tersenyum. Seingat dia dirinya tidak membuat teh sebelum tidur.

“Pasti Alif,” begitu bisiknya. Kemudian dia meminumnya separuh. Lalu dia turun dari pembaringan, dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Tak ada suara dari kamar Alif, dia kira sang anak pun kelelahan dan tidur. Dicobanya membuka pintu penghubung ke sana, dikunci.

“Yah, kadangkala seseorang memang membutuhkan privasi,” begitu batinnya sambil tersenyum. Kemudian dia meraih handuk di kapstok dan mencopot gamisnya. Karena merasa tidak ada seorang pun di sana selain ustaz karim, dia merasa bebas seenaknya mencopot baju kemudian melilitkan handuk di tubuhnya. Setelah itu dia membuka lemarinya dan mengambil satu gamis warna cream, kerudung hitam dengan motif bunga-bunga putih, satu beha hitam berenda, dan satu celana dalam hitam, juga dengan hiasan renda-renda di tepinya.

Ustazah Aminah memang punya kebiasaan meletakkan pakaian yang akan dia pakai di kursi setiap sebelum mandi. Dengan begitu, dirinya tak perlu susah-susah lagi mencari-cari baju nanti. Bisa langsung memakainya. Setelahnya, dia langsung masuk ke kamar mandi.

Ustazah Aminah tidak tahu bahwa Alif sebenarnya tidak tidur. Sejak sekitar setengah jam sebelum ustazah aminah bangun, dia sudah ada di plafon. Sederhana masalahnya, dia memang sudah diberitahu ustazah raudah tentang lubang di atas kamar ustazah aminah, akan tetapi dia juga diberitahu bahwa tak ada lubang di atas plafon kamar mandi ustazah aminah, padahal dia membutuhkannya. Dengan memperkirakan waktu mandi sore sang ibu, maka dia pun memulai perencanaan membuat lubang di sana.

Sudah dia periksa memang tak ada lubang tak sengaja di sana, maka dia harus membuatnya sendiri. Sedikit sukar melubangi internit tanpa membuat suara, maka dia harus melakukannya pelan-pelan. Tak heran pas ketika ustazah aminah bangun, lubang itu baru saja jadi. Lubang kecil yang tak nampak dari bawah akan tetapi cukup untuk melihat apapun dari atas sana.

Selesai bekerja itu, Alif menyulut sebatang rokoknya, beristirahat sambil duduk bersandar pada palang yang ada di sana. Walau bagaimanapun dia butuh istirahat sambil menunggu kemungkinan ibunya mandi. Dia sudah hafal jadwal kegiatan ibunya perharinya.

Tebakannya tidak salah. Dari bawah terdengar suara pintu kamar mandi dibuka, kemudian ditutup.

Dengan segera dia mematikan rokoknya, kemudian memasang matanya di lubang yang tadi dia buat. Nampak ibunya di bawah, menutup pintu, kemudian menguncinya. Diam-diam Alif mengagumi hasil pekerjaannya yang sangat pas itu. Setelah itu, ustazah aminah menghidupkan keran bak mandi. Baru setelah itu dia menghadap kapstok dan melepas handuknya, mencantelkannya ke kapstok di sana.

Alif menahan nafas melihat tubuh ibunya terdedah dengan sempurna. Buah dadanya nampak bulat membusung di dadanya. Bahkan dalam posisi berdiri, buah dada itu tidak kelihatan kendor. Membusung indah ke depan, menantang tangan siapapun untuk meremasnya. Satu kali siraman, kemudian puting susu itu nampak mencuat terkena hawa dingin, membuat alif tak tahan ingin menghisap-hisapnya seperti saat dia kecil dulu.

Rambut ustazah aminah lumayan panjang, sebagian terurai menutupi bagian depan tubuhnya, sebagian ke bagian belakang. Kemudian ibunya duduk jongkok dan terdengarlah suara khas seorang perempuan yang sedang kencing. sambil mengusap-usap rudalnya yang sudah memberontak keluar dari sarangnya, alif membayangkan dirinya membuka mulut di bawah, menerima kucuran air kencing sang ibu sambil menatap buah dada itu….

rudal Alif sudah menegang total, kocokannya juga semakin liar. Terlihat kepala rudalnya mengembang seperti jamur, urat-uratnya bertonjolan. Untuk sesaat matanya merem membayangkan andai dirinya ada di bawah, di kamar mandi itu, memeluk umminya yang telanjang itu dari belakang, mengusapkan sabun di dadanya yang menonjol membulat menantang…

Kemudian matanya kembali membuka. Dia punya ide baru. Sepintas dia intip kembali ibunya. Nampak ibunya sedang membasahi rambutnya, nampaknya ibunya hendak keramas. Secepat kilat Alif turun dari loteng. Dengan mengendap-endap, dia masuk ke kamar ibunya. Sang abi nampak masih tertidur pulas, terdengar suara ngoroknya perlahan, teratur. Tubuhnya memunggungi pintu.

Alif kemudian menggapai celana dalam yang diletakkan uminya di kursi. Dia tahu uminya punya kebiasaan mandi dengan santai, lama, makanya dia berani menjalankan ide yang mendadak muncul ini. Sejenak dia sempat bimbang juga antara mengambil beha atau celana dalam, tapi kemudian karena pertimbangan keamanan, dia memutuskan mengambil celana dalam saja.

Setelah dia segera keluar dan akan kembali ke plafon. Saat hendak keluar dia masih sempat menoleh ke gelas teh yang tinggal separuh. Dia tersenyum. Tadi dia memang membuatkan teh itu untuk sang umi, dengan sedikit campuran obat perangsang yang cukup membuat wanita yang meminumnya minta dipuaskan.

Di plafon alif menemukan paku tertancap pada palang. Dengan sigap dia membuka celananya. Untung dia punya kebiasaan tidak memakai celana dalam. Setelah itu dia langsung kembali ke atas kamar mandi uminya dan menempelkan matanya kembali di lubang. Tangannya menggenggam celana dalam uminya erat sementara rudalnya saat itu sudah menegang mengangguk-angguk minta dipuaskan.

Di kamar mandi, ustazah aminah merasakan sensasi yang berbeda saat kulitnya tersentuh air. Dia menggelinjang, tampaknya obat perangsang yang dicampurkan Alif sudah mulai bereaksi. Dia kembali mengguyur kepalanya dengan air, dan untuk kesekian kalinya dia kembali menggelinjang. Nafsu birahinya mendadak bangkit.

Dia kemudian berhenti mengguyur tubuhnya. Diamatinya puting susunya yang mencuat. Sebentar dia raba payudaranya, “ahhh,” tanpa sadar dia mendesah. Payudaranya mengeras seperti saat benda bulat membusung itu diremas-remas oleh ustaz karim saat bercinta. Merasa nikmat, dia meremas-remas payudaranya sendiri, pertama-tama perlahan, akan tetapi makin lama makin gencar seiring kenikmatan yang semakin meningkat.

Di atas plafon Alif merasakan nafasnya semakin memburu. Dia cium-cium celana dalam ibunya, wangi, dia bayangkan sewangi itu pulalah serambi lempit ustazah aminah, betapa menggairahkannya. Kemudian dengan tubuh dalam posisi menungging berlutut dan mata tertancap di lubang mengintip ke bawah, dia menggosok-gosok rudalnya dengan tangan yang dilapisi celana dalam itu. “Ahhhh,” dia mendesah pelan. Betapa nikmatnya.

Mata Alif hampir terbelalak melihat adegan di dalam kamar mandi semakin panas. Dilihatnya ibunya terduduk berselonjor, kepalanya mendongak ke atas, menahan kenikmatan. Nampaknya kakinya tak kuat menyangga kenikmatan yang menderanya. Tangannya yang satu meremas-remas buah dadanya bergantian, sementara tangannya yang satu lagi menggerayangi sekujur tubuhnya dengan liar.

Dari posisinya, Alif bisa melihat dengan jelas tubuh bugil ibu kandungnya yang telah melahirkannya itu. Posisinya benar-benar menggoda. rudalnya dikocok semakin keras seiring bayangan dirinya ada di bawah sana, menjilati serambi lempit ibunya sambil tangannya menggentel-gentel puting susu yang nampak mencuat merangsang birahi mudanya.

Bak kamar mandi sudah penuh, airnya luber, keran masih menyala mengucurkan air dengan deras. Akan tetapi Ustazah Aminah yang sibuk dimabuk syahwat sama sekali tidak mempedulikannya. Satu tangannya yang tadi menggerayangi tubuhnya kini sudah menemuka posisi yang pas, dengan lembut dia mengusap-usap area sekitar serambi lempitnya yang bersih tanpa bulu. Alif bisa melihat dengan jelas sesekali sentuhan tangan sang ibu itu membuat belahan serambi lempitnya membuka dan menutup, seirama dengan pahanya yang bergerak-gerak gelisah membuka dan menutup.

“Ahhh, auhhh, aaaahh ahh,” Desahan penuh birahi terdengar makin menggelora keluar dari mulut ustazah aminah yang membuka. Kepalanya mendongak ke atas, matanya terpejam. Alif langsung membayangkan mulut itu mengulum rudalnya, ahh, betapa hangatnya mulut itu, betapa indahnya jika dia bisa memancutkan air maninya ke wajah keibuan ummahat berusia 45 tahunan yang sedang mendongak itu.

rudal Alif makin menegang. Tangannya dengan konstan mengocoknya, sentuhan kain celana dalam berenda milik sang ummi memberikan rasa nikmat tersendiri baginya. Saat di rumah dulu, Alif memang sering mengambil pakaian-pakaian sang ibu dan dalamannya hanya untuk dia jadikan wadah air maninya. Dia tak pernah mencucinya. Dia sering membayangkan bagaimana air maninya itu membasahi kulit halus ibunya.

Di kamar mandi, Ustazah Aminah semakin menggila. Jemarinya menggentel-gentel itilnya yang mencuat, tubuhnya sudah tak bisa tenang, menggeliat-geliat ke sana ke mari. Desahan tak henti keluar dari mulutnya, Alif menikmati semua adegan live itu dengan birahi menggejolak. rudalnya terasa semakin mengembang siap memuntahkan cairan nikmat.

Saat itulah Ustazah Aminah mendadak berhenti. Dengan nafas masih memburu, dia kemudian membuka pintu kamar mandi perlahan, mengintip melihat kondisi suaminya. Alif saat itu langsung deg-degan kuatir jangan-jangan uminya nanti tahu celana dalamnya dia bawa. Gerakan tangannya berhenti.

Setelah yakin bahwa suaminya masih tertidur pulas, dengan mengendap-endap ustazah aminah menghampiri lacinya. Sambil tersenyum dia mengambil dildo dari sana dan kembali ke kamar mandi terburu-buru. Alif menarik nafas lega. Uminya ternyata tak sempat memeriksa keberadaan celana dalamnya. Toh mandinya memang belum selesai.

Ustazah Aminah menutup dan mengunci kamar mandinya lagi. Air keran dia putar sedikit supaya tidak terlalu deras mengucur. Dia pandang dildo itu dengan seksama, sisa birahinya membuat imajinasinya kembali meningkat. Maka dia kembali mengambil posisi duduk selonjor bersandar di dinding kamar mandi. Dengan mata dipejamkan, tangannya yang satu memasukkan dildo itu ke dalam lubang serambi lempitnya…

“Ahhhhhhhhh,” tubuhnya menggeliat merasakan dildo seukuran rudal ustaz karim itu menelusup menyentuh dinding-dinding serambi lempitnya yang sudah sangat sensitif. Dengan gerakan konstan dia memasukkan dan mengeluarkan dildo itu di sana, slupp sluppp, bunyinya terdengar di sela desahannya yang kian menggila.

Sambil memejamkan matanya, ustazah aminah membayangkan ustaz karimlah yang saat itu sedang mengobok-obok serambi lempitnya. Tapi sedikit rasa jijiknya karena ustaz karim sudah mengkhianati dirinya dengan memperkosa ustazah raudah membuat imajinasi itu malah mengurangi kenikmatannya. Otaknya berputar cepat sebelum kemudian dia menemukan imajinasi lain yang lebih pas.

Dia membayangkan dirinya sedang dirangsang dengan hebat oleh Jupri dan Deni. Dia membayangkan tangannya yang sekarang sedang meremas-remas dadanya adalah tangan Jupri yang memeluknya dari belakang. Sementara dildo yang sedang menusuk-nusuk serambi lempitnya dia bayangkan sebagai rudal Deni yang meski tidak besar tapi lebih panjang daripada punya ustaz karim.

“Ouhhhh, ahhh,” dia kembali mendesah-desah merasakan nafsu syahwatnya memuncak seiring imajinasi liar itu. Sungguh dia sendiri tak mengerti kenapa dirinya bisa sebinal itu, akan tetapi dia tak perduli. Toh Cuma imajinasi, begitu pikirnya. Yang penting sekarang gairahnya harus dipuaskan terlebih dahulu.

Merasa tak puas dengan posisi seperti itu, ustazah aminah kemudian duduk menungging. Tangannya masih menekan dildo itu di serambi lempitnya. Setelah posisinya pas, dia kemudian kembali memaju mundurkan dildo itu. “Aaaahhhhh, aghhh, agghhh auhhhh,” Tubuhnya terasa menggeletar serasa ujung setiap syarafnya berpacu memberi kenikmatan.

Tak tahan, kepalanya bergoyang-goyang sesekali hampir berlutut mencium lantai kamar mandi. Matanya tak pernah membuka, terus merem merasakan kenikmatan yang terus bergerak makin ke puncak. Dari mulutnya yang membuka, air liur meleleh jatuh ke lantai kamar mandi bergabung dengan luapan air dari bak.

Alif sebenarnya ingin melihat umminya orgasme. Tapi dia juga memiliki pikiran lain. Semakin ibunya dirangsang dan diganggu saat hampir sampai ke puncak, akan semakin mudah baginya meneruskan rencananya menggagahi sang ibu suatu saat nanti. Maka saat ibunya menggelepar-gelepar penuh kenikmatan dengan tubuh menungging dan tangan penuh semangat memasukkkan dan mengeluarkan dildo itu di serambi lempitnya, dia memutuskan untuk sampai ke puncak lebih dulu.

Alif mengatupkan mulutnya supaya tak keluar geramannya saat dia rasakan air maninya mengumpul mendesak ke kepala rudalnya. Kemudian dengan satu kali sentakan tangan, dia pun sampai ke puncak kenikmatannya, rudalnya mengangguk-angguk di balik genggaman tangannya yang terlindungi oleh celana dalam sang ibu. Beberapa saat kemudian, rudal itu pun diam meski tetap tegang.

Alif kemudian merentangkan celana dalam itu, melihat betapa banyaknya air maninya tumpah ditampung oleh celana dalam berenda milik sang umahat berusia 45 tahunan yang dulu telah melahirkannya itu. Bagian yang basah tepat di bagian yang menutupi serambi lempit tembus sampai ke belakang menutupi bagian pantat. Karena warnanya hitam, maka jika dilihat sekilas celana dalam itu tidak nampak basah. Hanya saat alif menciumnya, tercium bau khas air mani di sana.

Dia tersenyum. Kemudian memakai kembali celananya dan bergegas turun ke bawah setelah memantapkan pula posisi rudalnya di dalam celana yang tak mau juga turun. Dengan memejamkan matanya kemudian menghirup nafas dalam-dalam, rudalnya akhirnya mau juga sedikit tenang di dalam sangkarnya meski tetap saja tidak sepenuhnya tenang.

Kemudian dengan tenang dia masuk ke kamar ibunya dan meletakkan celana dalam itu di tempatnya semula. Setelah itu, dia membuka pintu kamarnya, kemudian menempelkan telinganya di pintu kamar mandi. Di dalam ibunya masih terdengar mendesah. Dia tersenyum. Sekilas dia melihat ayahnya yang masih tertidur pulas. Kemudian tangannya mengetuk pintu kamar mandi dan dia memanggil, “Umi? Umi masih lama?”

Di dalam kamar mandi, Ustazah Aminah sedang asyik memacu birahinya dengan menungging dan mengocok-kocok serambi lempitnya dengan dildo. Rambutnya sudah tergerai tak karuan, dadanya memerah karena remasan tangannya yang sudah tak terkendali tadi. Puting susunya mencuat menantang, air liurnya meleleh sampai ke dagu dan leher. Birahinya sudah hampir sampai ke puncak ketika terdengar ketuka di pintu kamar mandi dan suara anaknya memanggil.

Srrrrttt, dia langsung terduduk bersimpuh. Tergesa dia copot dildo itu dari serambi lempitnya, nampak basah berlumur cairan kewanitaannya. Dia sebenarnya merasa sayang menghentikannya, nafsunya masih meronta-ronta meminta dipuaskan. Akan tetapi dia merasa kuatir dan merasa bersalah juga kalau sampai anaknya tahu ataupun curiga.

Setelah sedikit menenangkan nafasnya yang tersengal, dia menjawab, “Alif? Sebentar lagi sayang.” Kemudian dia mencuci dildo itu dan memasukkannya ke dalam gamis yang tergantung di kapstok kamar mandi. Perlahan dia dengar suara langkah kaki anaknya menjauh.

Menghela nafas lega, cepat-cepat dia membersihkan tubuhnya. Tak sampai sepuluh menit, dia kemudian keluar dengan hanya mengenakan handuk dari kamar mandi. Ustazah Aminah sedikit kaget melihat Alif sedang duduk di ranjang, di pinggir suaminya yang masih tergolek pulas dengan hanya mengenakan handuk sebatas betis. Sedikit tergetar perasaannya melihat tubuh kekar anaknya yang sangat kontras dengan tubuh ustaz karim yang sudah dipenuhi lemak di sana-sini. Anaknya itu nampak asyik membaca majalah Ummi.

Alif kemudian menoleh melihat umminya. Bahkan meski tadi dia sudah melihat uminya itu saat telanjang, dia masih juga terpana melihat tubuh montok dan matang itu hanya mengenakan handuk. Handuk yang besar itu masih tak muat menutupi seluruh tubuhnya. Di bagian dada nampak membulat sementara ke bagian bawah hanya menutupi sampai ke atas lutut. Sempat terbayang oleh Alif untuk menarik handuk itu…

Tapi dia akhirnya hanya tersenyum sambil menahan diri sebisanya supaya rudalnya tidak kelihatan mengacung. Ustazah Aminah sebenarnya sedikit malu juga karena dia sadar sebagian tubuh telanjangnya terlihat. Tapi menganggap bahwa Alif adalah anaknya yang tak mungkin punya perasaan apapun padanya selain seorang anak pada ibunya, maka dia mencoba bersikap wajar.

“Alif mau mandi?” “Iya, umi, tapi ini nanggung nih mau nyelesain majalah Umi dulu, menarik.” Sejenak Ustazah Aminah bingung. Bagaimana dia bisa berpakaian kalau alif masih di sana? Mana tubuhnya belum sepenuhnya dia keringkan juga. Dia tidak sadar bahwa dirinya sudah sepenuhnya masuk ke dalam rencana Alif. Pada akhirnya dia berkata.

“Alif berpaling dulu sana bacanya, umi mau pakai gamis dulu.” “Alahh ummi, Alif mau lihatt,” Alif menampakkan cengiran nakal. “Hussss, gak boleh gitu, saru.” Tangannya kemudan menyentuh bahu Alif dan mencoba memalingkannya ke arah berlawanan. Srrrr, Ustazah Aminah yang masih dikuasai obat perangsang dan nafsunya belum sepenuhnya terlampiaskan merasa birahinya kembali naik saat kulitnya bersentuhan dengan sang anak. Dia mencoba mengusir perasaan itu.

“Iya deh umi,” Kata Alif. Dia kemudian berdiri dan melangkah ke arah jendela sambil membawa majalah ummi. Saat berdiri itulah seolah tidak sengaja Alif menyenggolkan bahunya ke bagian pangkal lengan ustazah aminah yang tak tertutupi handuk. Ustazah Aminah semakin blingsatan dan tak karuan. Sepintas dia juga melihat ada tonjolan di balik handuk yang menutupi selangkangan Alif…

Tapi dia tak berpikir lama. Bergegas dia kemudian meraih celana dalamnya dan langsung memakainya. Memang ada sedikit rasa aneh merasakan kenapa celana dalam itu terasa basah saat sudah menempel menutupi area kewanitaannya. Akan tetapi dia berpikir ringkas bahwa itu mungkin karena tadi dia belum sepenuhnya mengeringkan daerah sana. Setelah itu, karena terburu-buru juga, dia tak sempat mengeceknya dan langsung memakai beha, gamis,dan kerudungnya.

“Hayo sana mandi sayang,” kata Ustazah Aminah setelah dirinya selesai berpakaian. Dia kemudian meraih gelas teh dan meneguknya sampai habis.

Alif membalikkan tubuhnya. Ahh, tonjolan itu, betapa menggoda. Pikiran ustazah aminah yang kembali disuplai obat perangsang dari teh yang barusan dia teguk kembali liar. Dia membayangkan seberapa besar benda yang ada di dalam sana. Seingatnya ketika suaminya hanya mengenakan handuk saja pun tak pernah kelihatan semenonjol itu. Dia tak tahu bahwa rudal sang anak sudah mulai menegang dari tadi.

Alif meletakkan majalah di meja. “Iya mi, Alif mandi dulu ya,” Kemudian dia melangkah menuju ke kamar mandi, meninggalkan ustazah aminah yang imajinasinya mulai berkeliaran ke mana-mana. Ustazah Aminah hanya duduk saja di pinggir ranjang. Sepintas dia melihat ustaz karim masih pulas tertidur. Aneh, kenapa dia kelihatan capek sekali, begitu pikir ustazah aminah. Tapi dia tak ambil pusing, mencoba memaklumi sang suami yang akhir-akhir ini memang sedang banyak urusan.

Terdengar suara anaknya menghidupkan keran, kemudian terdengar sang anak menyenandungkan lagu yang tak dia hafal. Didorong oleh imajinasinya akan tonjolan di selangkangan sang anak, dia melangkah perlahan menuju pintu kamar mandi. Birahinya sudah membuat naluri keibuannya pergi. Dia melihat-lihat pintu kamar mandi dengan seksama, berharap ada lubang yang bisa dia gunakan untuk melihat ke dalam.

Beruntung memang pintu kamar mandi itu terbuat dari gabungan papan. Pada salah satu sambungan yang tak terlalu halus, dia menemukan celah. Dia kemudian membungkukkan tubuhnya, mengepaskan matanya pada celah itu, memuaskan kepenasarannya. Di belakangnya masih terdengar suara dengkur sang suami yang tertidur pulas.

Mata ustazah aminah membelalak ketika pandangannya sudah bisa beradaptasi dengan pemandangan di dalam kamar mandi. Entah sengaja atau tidak akan tetapi posisi Alif pas sekali kelihatan lewat lubang itu. Dia sedang berdiri menyabuni rudalnya. Busa-busa sabun menutupi rudal yang menegang panjang dan besar itu.

Ustazah AMinah menghela nafas. Bahkan meski rudal sang anak tak bisa dilihatnya dengan jelas karena tertutupi buih sabun, dia tahu benar bahwa rudal itu jauh lebih besar dan panjang daripada milik suaminya. Tanpa sadar tangannya menyelinap ke balik celana dalam, ketika itu… Tok tok tok, terdengar ketukan di pintu kamarnya seiring ucapan salam.

Ustazah Aminah terperanjat dan mengurungkan tangannya yang tadi hendak mengusap-usap serambi lempitnya. Ustaz karim tampak berpindah posisi tidurnya, tapi dia tak terbangun. Ustazah Aminah langsung menghampiri pintu kamar dan membukanya.

“Ukhti Lia, ada apa ukhti?” Ustazah Aminah mengedarkan pandangannya menatap ustazah lia yang saat itu berdiri di depan pintu bersama seorang bercadar dan bergamis warna cokelat di belakangnya. “Ini, umi, mau meminta izin, saudara jauh ana, ukhti solihah, sedang berkunjung ke sini, karena kuatir kemalaman, mau menginap semalam di asrama.” “Oh, boleh, boleh,” Ustazah Aminah mengangguk sambil tersenyum ke arah sosok bercadar itu yang balas mengangguk.

Kemudian selama beberapa saat terjadi perbincangan basa-basi di antara ustazah lia dan ustazah aminah. Sementara itu sosok bercadar itu hanya menunduk saja mendengarkan. Kemudian ustazah Lia pamit hendak kembali ke kamarnya. Ustazah Aminah mengiyakan.

“Oya, ukhti,” saat ustazah Lia sudah melangkah beberapa langkah, terdengar kembaii suara ustazah Aminah memanggilnya. Ustazah Lia membalikkan tubuhnya, “Iya, umi?” “Tadi umi ditelpon umi Latifah, katanya dia membutuhkan bantuan ustazah untuk membantunya memberi kajian pada ibu-ibu kampung. Sepertinya dia kewalahan sendirian ukhti siap?” “Kapan, umi?” “Masih lama kok, kira-kira 4 atau 5 bulanan lagi, ini tadi baru ngobrol-ngobrol saja kok.”

Ustazah Lia mengangguk. “Siap, umi.” Kemudian karena tidak ada lagi yang diobrolkan, dia melangkah pergi mengikuti saudaranya yang bercadar. Umi Latifah adalah adiknya Ustaz Karim, Sama seperti Ustazah Aminah dia juga bergabung di partai yang sama. Kini dia tinggal di sebuah desa di Jawa Tengah. Usianya sekitar 38 tahunan. Memang jeda usianya dengan Ustaz Karim sedikit jauh karena ustaz Karim anak sulung sementara Umi Latifah adalah anak bungsu.

Sampai di kamarnya, Ustazah Lia langsung menutup pintu dan menguncinya. Saudara jauhnya yang tadi dia panggil ukhti solihah duduk di ranjang. Terdengar dia tertawa perlahan. Ustazah Lia balas tersenyum sambil berkata dengan nada lucu, “ukhti solihah, yang sopan ya.”

Malam itu, jika kau memperhatikan dengan seksama, maka akan kau lihat satu bayangan mengendap-endap di selusur utara asrama syahamah, turun melalui tangga tempat dulu ustazah raudah menyepong Jupri, diam sejenak mengamati sekitar, ketika kemudian dia yakin bahwa tak ada satu orang pun terlihat, dia langsung melesat ke arah sisi tempat kamar deretan nomor lima.

Dia sebenarnya akan langsung berlalu menuju kamar nomor delapan, akan tetapi telinganya menangkap suara-suara aneh dari dalam. Penasaran, sejenak dia menempelkan telinganya di pintu kamar lima itu, kemudian tersenyum, dan dia melanjutkan menuju pintu kamar delapan yang nampak sedikit terbuka.

Tanpa mengetuk pintu, dia langsung masuk, kemudian menutup pintu. Setelah mengunci pintunya, dia langsung berdiri menghadap Ustazah Raudah, sang pemilik kamar, yang saat itu berdiri menatapnya hanya mengenakan kerudung rabbani sepinggang. Ke bawahnya dia tidak mengenakan apapun.

Bayangan itu adalah bayangan Alif. “Alif, umi kang….emmm mmm,” Ustazah Raudah tak bisa melanjutkan ucapannya karena bibir Alif sudah dengan buas melumat bibirnya. Tangannya memeluk pinggang ramping ustazah raudah yang tertutupi kerudungnya.

“Alif juga kangen umi,” Alif berkata mesra. Cuppp, cuppp, dia kembali melumat bibir itu sampai ustazah raudah gelagapan kehabisan nafas. Lumatannya kemudian turun ke bawah ke leher, menjilat-jilatnya sampai ustazah raudah tak tahan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya hanya mampu meremas-remas punggung alif yang masih tertutupi kemeja Alisan.

Alif pertama meremas-remas payudara ustazah raudah yang masih tertutup kerudung, kemudian setelah puas dia menyingkapkan kerudung itu ke samping, kemudian mulutnya turun menghisap-hisap bulatan yang mengencang itu. Dengan nakal dia menyentil-nyentil puting itu dengan menggunakan ujung lidahnya.

Ustazah raudah hanya mampu merintih-rintih, “Hhhh, ahhh, ahhhh, auhhhhh,” kenikmatan ini benar-benar membuainya. Dia rasakan serambi lempitnya membasah berkedut-kedut mendambakan pelampiasan. “Ahhh, Aliff, hhh, ahhhhhhhhkkk.”

Nafsu birahi Alif yang masih tersimpan tadi setelah menonton adegan live ustazah aminah bermain dildo di kamar mandi kembali membara. Dia mengangkat tangannya ke atas dan ustazah raudah surti segera membantu melepas kemeja itu. Kini giliran ustazah raudah mengusap-usap dada alif, menciumi puting di sana sampai Alif menggelnjang kegelian.

“Ustazahku nakall,” bisik Alif sambil menciumi kedua cuping telinga ustazah raudah dari balik kerudung rabbaninya meninggalkan jejak basah di sana. Area sensitif rangsangan itu membuat ustazah raudah makin menggila. Tangannya lincah menarik ke bawah celana kolor yang dipakai alif, dan terpampanglah benda yang selama ini sangat dia dambakan.

rudal alif mengacung keras mengangguk-angguk menantang. “Ihhh,” refleks ustazah raudah mengeluarkan seruan gemas. Tangannya mengelus-elus batang itu sampai Alif merem melek merasakan sentuhan tangan ustazah yang sangat lembut di kulitnya yang sensitif.

“Aghhh, hisap, ustazahku, ahhh,” Alif kembali berbisik sambil mendorong tubuh ustazah raudah membungkuk. Tanpa diperintah pun ustazah raudah sudah paham. Dia kemudian menarik tubuh Alif supaya duduk di ranjang sementara dirinya duduk bersimpuh di lantai dengan mulut mencaplok benda yang panjang besar menggairahkan itu.

Slrrrpppp, slrrpp, bunyi sepongan ustazah raudah terdengar mengisi kesunyian kamar, membuat dua manusia itu semakin terbakar gairahnya. Ustazah Raudah merasa rindu ingin melampiaskan nafsu syahwatnya yang selama ini terus menerus dibakar oleh pesan-pesan alif setiap malam. Sementara alif juga merasa bergairah melihat di bawahnya seorang ustazah yang kesehariannya alim kini sedang dengan binalnya menghisap rudalnya, dengan hanya mengenakan kerudung rabbani panjang saja, tanpa mengenakan apapun.

Tangan alif menyangga tubuhnya di belakang. Sementara kepalanya mendongak dengan mata merem melek merasakan kenikmatan sepongan ustazah raudah. Slrrrp slrrrrpppppp, kembali terdengar bunyi sepongan sang ustazah yang nampak ahli menghisap dan mengulum batang rudal Alif. Tangannya sementara itu mengusap-usap buah pelir alif, sesekali memencetnya pelan membuat tubuh alif menggelinjang. Sesekali juga tangan itu mengusap-usap bagian dalam paha alif dengan lembut.

Puas dengan sepongan ustazah yang membuat rudalnya terasa berkedut-kedut, alif menarik tubuh ustazah raudah berdiri, kemudian cupppppppp, bibirnya langsung melumat kembali bibir sang ustazah, air liur yang sedikit meleleh di ujung bibirnya dihisapnya. Ustazah raudah membalas tak kalah buasnya. Kerudung rabbaninya menjuntai-juntai seirama pergerakan tubuhnya yang liar.

Kemudian alif mendorong tubuh ustazah raudah berbaring di ranjang. Kedua kakinya dibiarkan menjuntai ke lantai dengan dua belah paha mengangkang. Untuk sesaat alif melihat pemandangan itu dengan penuh nafsu. Tangannya mengocok-ngocok rudalnya yang licin karena ludah ustazah raudah. Betapa membangkitkan nafsu pemandangan yang terlihat di depannya sekarang ini. Seorang ustazah yang sehari-harinya selalu menundukkan kepala dengan alim, bergamis dan berkerudung lebar, kini berbaring pasrah dengan tubuh terbuka sepenuhnya hanya tertutup oleh kerudung saja.

Tubuh itu nampak sedikit berkeringat. Di pangkal pahanya nampak sedikit membukit dengan belahan yang merangsang di tengah-tengah. Ada sedikit jembut yang tidak terlalu lebat di sana, berbeda dengan serambi lempit ustazah aminah yang licin tanpa bulu. Perlahan alif merendahkan kepalanya, mencapai area jembut itu dijulurkannya lidahnya.

“Augghh, ahhh, Alif, ahhh, terussshhh, hhhh hhhhh,” ustazah raudah merintih-rintih saat lidah itu mulai bermain di area paling sensitif di tubuhnya. Setelah puas membasahi jembut yang tumbuh di sana, lidah alif semakin lincah bermain menyelinap sesekali ke sela lubang yang sudah siap menerima tujahan rudalnya itu. “ngghhh ngghhhh, ahhhh,” ustazah raudah hanya mampu merintih. Tangannya meremas-remas kasur tak beraturan, menahan nafsu syahwatnya yang sudah sampai di ubun-ubun.

Tangan alif kemudian memegang erat kedua paha ustazah raudah, sementara mulutnya sepenuhnya terbenam di pusat kenikmatan itu. Lidahnya sudah menemukan itil ustazah raudah dan menghisap-hisapnya dengan penuh gairah. Diserang seperti itu, tentu saja ustazah raudah blingsatan. Tapi dalam posisinya dia tak bisa melakukan apa-apa.

“Auhhhh ahh ahh aaaaaahhh, ahh ngngngngggg, ahhh, Aliff alif alifffffffffff,” hanya terdengar rintihan berkepanjangan dari mulutnya, kepalanya gelisah tak bisa diam membuat kerudungnya kusut tertarik ke sana ke mari. Tangannya meremas-remas kasur dengan gemas, apa yang dia inginkan saat itu hanya satu, secepatnya rudal alif menujak serambi lempitnya supaya nafsunya terlampiaskan.

Alif bukannya tak tahu, akan tetapi dia masih ingin mempermainkan ustazah raudah. Maka dengan cuek mulutnya terus menghisap itil ustazah raudah, tangannya juga meremas-remas paha ustazah raudah, sementara di bawah, rudalnya sudah berkedut-kedut juga meminta bagian. Akhirnya ustazah raudah tak kuat dengan rangsangan yang terlalu hebat itu, dia merintih, “Ahhhhh, alif, ahhhh, umi mau kelu…arrrr, arhhhh, ahhhh…”

Mendengar itu, alif mempergencar serangannya. Satu hisapan lagi di itilnya dan tubuh ustazah raudah melenting ke atas seiring jeritan panjang, “aaaaaaaaahhhhhhhhhh,” dari serambi lempitnya keluar sedikit cairan kenikmatan meleleh yang langsung dihisap alif dengan rakusnya sampai tak tersisa. Tubuh ustazah raudah ambruk kembali ke ranjang, masih terdengar sisa rintihannya seirama dengan nafasnya yang menderu tak teratur.

Alif kemudian berdiri sementara sambil mengatur nafasnya ustazah raudah menatap apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu. rudal alif sudah tegang mengacung mengangguk-angguk perkas. Dia mengocok-kocoknya sebentar sambil matanya nyalang melihat pemandangan menggairahkan di ranjang. Kemudian dia mendorong posisi tubuh ustazah raudah supaya sepenuhnya berbaring di ranjang.

Setelahnya, dia langsung mengambil posisi membungkuk di atas tubuh telanjang ustazah raudah yang masih tertutupi kerudung rabbani itu. Tangannya menahan sehingga tubuhnya tidak jatuh menimpa tubuh sang ustazah. Ujung rudalnya menyentuh-nyentuh lubang kenikmatan ustazah membuat nafsunya sedikit demi sedikit kembali naik.

Alif kemudian menurunkan kepalanya dan berbisik di telinga ustazah raudah, “ustazah masih mau terus enggak?” Ustazah Raudah menjawab genit. Tenaganya sudah kembali. “Iya dong sayang, masukan cepatt.” “Masukan apanya?” Alif menggoda. Bibirnya disentuhkannya ke bibir ustazah raudah sementara di bawah kepala rudalnya menggosok-gosok jembut ustazah raudah menimbulkan rasa geli. “rudalnya,” jawab ustazah raudah mesum. Alif langsung melumat bibir yang baru saja membuka itu. Ustazah raudah membalas melumatnya dengan ganas.

Kemudian perlahan alif menurunkan rudalnya, sleepppp, rudal yang kokoh itu masuk sepertiga. Ustazah raudah memejamkan matanya sementara tangannya memeluk tubuh alif, menariknya supaya segera menurunkan tubuhnya sepenuhnya.

Alif menurunkan kembali tubuhnya dan sleeeppppp, rudalnya kembali masuk, separuh. “Ahhhhhh,” ustazah raudah merintih. Pantatnya sedikit terangkat merasakan batang panjang besar dan berotot yang masuk ke serambi lempitnya. Terasa hangat dan nikmat. Kemudian alif kembali melumat bibir itu sambil menurunkan tubuhnya sepenuhnya.

“Nggngngnggg,” Tubuh ustazah raudah sedikit terangkat merasakan rudal itu memenuhi serambi lempitnya. Masih terlihat bahwa rudal tersebut tidak sepenuhnya masuk tapi dia sudah merasakan bahwa serambi lempitnya sudah mentok. Kemudian alif mulai menaik turunkan tubuhnya sementara bibirnya sudah dia lepaskan. Tangan ustazah raudah meremas-remas punggung alif sementara pantatnya bergerak mengimbangi gerakan naik turun tubuh alif.

Plokkk plokkk plokkk, bunyi rudal alif yang mengobok-obok serambi lempit ustazah raudah terdengar menggema dalam ruangan itu. Kerudung rabbani yang dipakai ustazah raudah sudah hampir basah oleh keringat. Sesekali satu tangan alif meremas payudara ustazah raudah dari balik kerudung itu. Dengusan nafas alif hangat menerpa kulit wajah ustazah raudah, membuat udara dalam kamar itu terasa makin panas.

Sementara di kamar nomor delapan itu alif sedang menyetubuhi ustazah raudah dengan buas diiringi bunyi rintihan dan dengusan nafas penuh nafsu, mari kita lihat apa yang sedang terjadi di kamar lima yang tadi menarik perhatian alif. Di ranjang yang memiliki struktur sama dengan ranjang di kamar ustazah raudah, nampak pemandangan yang unik. Dua insan sedang bergelut dalam posisi yang sama dengan alif dan ustazah raudah, juga dengan rintihan dan erangan yang sama.

Di ranjang berbaring ustazah lia yang saat itu masih lengkap mengenakan gamis dan kerudung meski gamisnya bagian bawah sudah disingkapkan sampai ke pinggang. Tubuhnya dihimpit oleh tubuh laki-laki di atasnya, tepat di serambi lempitnya rudal sang laki-laki itu juga sedang asyik naik turun dengan irama liar. Anehnya, beda dengan alif yang telanjang, tubuh laki-laki itu masih mengenakan gamis warna cokelat yang sama dengan gamis yang dipakai ustazah lia juga sudah tersingkap sampai ke pinggang.

Gamis warna cokelat, kau pasti masih mengingatnya: sosok yang tadi dikenalkan kepada ustazah aminah sebagai ukhti solihah. Bedanya kini wajahnya sudah tak mengenakan cadar dan kepalanya sudah tidak berkerudung. Ternyata ukhti solihah itu adalah pasangan chat ustazah lia, ahmad soleh. Kerudung, gamis, dan cadar hanya digunakan sebagai kamuflase supaya dia bisa masuk ke asrama syahamah.

Jika dilihat sepintas nampak dua insan di atas ranjang itu seperti pasangan lesbian yang sedang saling memuaskan kenikmatan karena keduanya masih mengenakan gamis perempuan. Bedanya adalah adanya rudal yang nampak konstan keluar masuk ke dalam serambi lempit ustazah lia seirama tujahan ahmad soleh dan goyangan pantat ustazah lia.

“Uhhh uhhh, ukhti, serambi lempitmu peret sekali, uhhh,” ahmad soleh melenguh sambil meremas-remas dada ustazah lia yang sekal dari balik gamisnya. “Iya, sayang, jarang banget dipake, ahhhhh, teruss terusssss, ahhh,” ustazah lia merintih-rintih sambil tak henti menggoyangkan pantatnya. Bibirnya nampak seksi, mulutnya setengah membuka membuat ahmad soleh tak tahan dan langsung melumatnya sampai ustazah lia megap-megap kehilangan nafas.

Sleppp sleeepppp sleppp, dengan lancar rudal ahmad soleh keluar masuk serambi lempit ustazah lia yang sudah sangat basah itu. Terlaksana sudah impiannya menyetubuhi ustazah yang selalu nampak alim itu kini. Dia bisa menyetubuhinya dengan masih memakai gamis dan kerudung lebarnya yang nampak akhwat sekali. Tangan ahmad soleh mengusap-usap kepala ustazah lia lembut, sangat kontras dengan tujahannya yang kasar membuat tubuh ustazah lia bergerak ke kiri ke kanan mencoba menyeimbangkan.

“Ukhti, kamu menggairahkan sekali, ukhtiku,” terdengar mulut ahmad soleh meracau, rudalnya terasa berkedut-kedut hampir tak tahan. Sensasi menyetubuhi akhwat yang ustazah ini memang luar biasa. Dia tak akan kuat bertahan lama. Apalagi serambi lempit ustazah lia terasa seperti menghisap kepala rudalnya membuat sekujur tubuhnya bergetar merasakan kenikmatan yang selama ini tak pernah dia rasakan saat dia menyetubuhi istrinya.

“Ahhh, rudalmu enak, sayang, ahhh, puaskan ana, sayang, ah, puaskan lia.” Ustazah lia membalas. Tangannya menyelinap ke balik gamis yang dipakai ahmad soleh, mengusap-usap dada ahmad soleh yang dipenuhi bulu. Usapan itu terasa sangat lembut membuat gairah ahmad soleh makin tak tertahankan.

“Ukhti, ana hampir keluar, ukhti, ahhh, ana gak tahannn,” ahmad soleh melenguh merasakan laharnya mendesak ke kepala rudalnya. Tujahannya di serambi lempit ustazah lia makin tak teratur membuat tubuh mungil itu terguncang-guncang. “Ana juga sayang, ahh, terusss terusss, pancut di dalam sayang, ahhh, tusuk terussshhh,” ustazah lia mengimbangi gerakan liar ahmad soleh dengan membelitkan kedua kakinya di punggung ahmad soleh. Kemudian tujahan-tujahan ahmad soleh makin liar dan makin liar sampai akhirnya…. “Arrrgghhhhhhhhh,” ahmad soleh menggeram sambil menujahkan rudalnya sekuat tenaga ke serambi lempit ustazah lia.

Pada saat yang sama ustazah lia juga merasakan kedutan-kedutan di serambi lempitnya semakin tak tertahankan. Seiring rudal ahmad soleh memancutkan lahar panasnya di dalam serambi lempit ustazah lia, ustazah lia juga meraung mencapai kenikmatannya, “Anggghhhhhh anggggghhhh, ahhhhhhhhhh.” Dirasakannya cairan dari serambi lempitnya bersatu dengan cairan panas ahmad soleh kemudian mengalir menuju rahimnya. Sebagian tertahan.

Setelah beberapa saat ahmad soleh kemudian mencabut rudalnya. Plopppp, terdengar bunyi seperti sumbat dicabut dan nampak cairan meleleh keluar dari lubang serambi lempit ustazah lia, membasahi kasur yang selama ini ditiduri sang ustazah alim itu. Ahmad soleh lalu membaringkan tubuhnya di samping ustazah lia. Lalu, cuppp, cuppp, bibirnya mencium bibir ustazah lia yang menolehkan kepalanya ke arah dirinya.

Sang ustazah alim itu tersenyum bahagia. “Nikmat sekali, terima kasih, sayang, antum sudah memberi ana kenikmatan seperti ini.” “Sama-sama ustazahku lonte,” jawab ahmad soleh. Tangannya membelai-belai pipi ustazah lia dengan gemas. Ustazah lia membalas dengan menelusupkan tangannya di bawah, menggapai rudal ahmad soleh. Tubuh ahmad soleh sedikit mengejang saat tangan itu dengan lembut mengusap rudalnya yang licin oleh cairan orgasme keduanya. Perlahan tapi pasti, benda kenyal itu kembali menegang.

“Lagi, ukhti?” Ahmad soleh berbisik di telinga ustazah lia. Ustazah lia tak menjawab. Dia bangkit, kemudian mulutnya mencaplok rudal ahmad soleh dan mengulumnya. Ahmad soleh memandang kelakuan ustazah itu dalam diam. Dia hanya merasakan saja kenikmatan sepongan ustazah alim itu.

Setelah rudal itu kembali tegak, ustazah lia kemudian mengambil posisi WOT. Tangannya membimbing rudal itu memasuki serambi lempitnya kembali yang masih meneteskan cairan putih sisa orgasme tadi, sleppppp, “ahhhhhhh,” terdengar desahannya saat tubuhnya sudah kembali turun membuat rudal itu masuk dengan mudah karena serambi lempitnya sudah sangat licin.

Kemudian dia menaik turunkan tubuhnya sementara tangannya menyingkap gamis ahmad soleh dan menggerayangi bulu yang tumbuh di dadanya. Ahmad soleh tak kalah liar, tangannya menelusup ke balik gamis ustazah bertubuh mungil itu dan meremas-remas buah dada yang menggantung dengan penuh gairah…

Sementara itu, di kamar nomor delapan asrama syahamah, Alif juga sudah hampir mencapai orgasme, sementara ustazah raudah sudah mencapai dua kali orgasme. Tubuhnya sebenarnya sudah lelah tapi nafsu birahinya masih menggebu-gebu. Alif menunggangi tubuh yang sudah basah oleh keringat itu dengan buas. rudalnya menujah keluar masuk tanpa peduli ustazah raudah yang meringis dan merintih-rintih merasakan kenikmatan yang dia rasakan terlalu tinggi untuk dia tanggung.

“Aghhhh, umi, keluarkan di dalam ya, aghhhh,” alif meremas buah dada ustazah raudah dengan kasar. Posisi mereka sudah pindah ke meja. Ustazah raudah duduk mengangkang sementara alif mengobok-obok serambi lempitnya dengan posisi berdiri.

“Iyya, sayang, ahh, ahhhh, auhhhhhh, ayohh, ahhhh,” ustazah raudah sudah hampir mencapai puncak lagi untuk kesekian kalinya. Alif juga sudah merasakan bahwa dirinya hampir mencapai puncak. Tangannya satu membenahi kerudung rabbani ustazah raudah yang sudah acak-acakan. Dibiarkannya kerudung itu menutupi sedikit payudara ustazah raudah membuat birahinya semakin naik melihatnya.

Ustazah raudah sudah merem melek pasrah, mulutnya tak mau menutup mengeluarkan desisan seperti orang kepedasan. Alif menurunkan kepalanya dan melumat puting susu sang ustazah yang kemudian melenguh, “unggghhhh, uhhhhh, alifff, aliffffff, umi mau kelu…arrr,”

“Ahhh, tahan umi, ahhh, alif jugaaaa.” Alif mempergencar sodokannya sampai meja itu terasa bergetar. Lalu dengan geraman dahsyat tangan alif memelintir puting susu ustazah raudah sampai mata ustazah raudah melotot merasakan sakit yang berangsur digantikan oleh kenikmatan. Tubuhnya bergetar merasakan puncaknya sementara rudal alif terasa membengkak di serambi lempitnya sampai tak mampu lagi bergerak, kemudian…

Crotttt crottttt crottttt, dia merasakan rudal itu menyemburkan lahar panas yang sangat banyak di dalam serambi lempitnya. Dia tak khawatir hamil karena sudah dia antisipasi sejak awal. Kenikmatan yang dia rasakan membuat kepalanya mendongak dan tubuhnya hampir ambruk di meja karena tangannya yang menopang tubuhnya gemetar hampir tak kuat.

Alif mendiamkan rudalnya beberapa saat sebelum kemudian perlahan menariknya keluar. Ustazah raudah nampak enggan rudal itu keluar, tapi akhirnya dia pasrah juga. Kemudian dia juga bangkit dari meja dan melangkah dengan sedikit tertatih-tatih ke arah ranjang. rudal besar itu masih terasa memenuhi lubang serambi lempitnya bahkan setelah rudal itu dicabut.

Alif mengikuti dan duduk di samping ustazah raudah. Mulut keduanya kembali saling melumat sementara tangan alif mendekap erat tubuh itu. Tangan alif yang satunya sudah beroperasi kembali menggerayangi tubuh ustazah raudah yang basah oleh keringat kenikmatan. Di bawah rudalnya tak pernah benar-benar lemas, masih menggantung dan perlahan kini bangkit kembali.

“Umi, tadi Alif udah ngerjain umi Aminah.” Alif berkata sementara tangannya tak henti meremas-remas dada ustazah Raudah, sesekali memelintir putingnya pelan dan lembut. “Engghh, ngerjain apa hayo, ahh,” Ustazah Raudah menjawab sambil menggeliat-geliatkan tubuhnya yang masih ada dalam dekapan Alif.

Alif kemudian menceritakan kisahnya tadi dengan Ustazah Aminah. Lengkap. Dari mulai dia membuat teh yang dicampuri obat perangsang, membuat lubang di atas kamar mandi, sampai ke adegan dirinya memuntahkan sperma di celana dalam sang umi. Setelah itu dilanjut juga dengan cerita tambahan dari ustazah aminah tentang ustazah lia.

“Ohh, jadi ustazah Lia malam ini nginap bareng saudaranya ya?” ustazah raudah bangkit sebab Alif pun bangkit. rudalnya masih tegak mengacung, nampak basah oleh cairan orgasme dari serambi lempit ustazah raudah. “Iya, mi, hehehe.” Alif menggapai bajunya dari kursi. Ustazah raudah mengikuti, kemudian bersimpuh di depannya, memegang pahanya sambil slupppp, mulutnya meraih rudal itu dengan beringas, kemudian menghisap-hisapnya dengan gemas.

Alif memicingkan matanya merasakan kenikmatan. Sejenak tangannya terhenti, tapi kemudian dia meneruskan. “Alif Cuma ngebayangin seharian ini umi Aminah memakai celana dalam berlumur peju Alif, hehehe, membuat Alif bergairah saja.” Tentu saja Alif tak tahu bahwa sebenarnya Ustazah Aminah tadi hampir tahu bahwa celana dalamnya lengket oleh sperma, akan tetapi beruntungnya keburu datang Ustazah Lia. Yang jelas, seharian tadi nafsu menggelegak Ustazah Aminah dua kali tak terpuaskan karena gangguan.

Ustazah Raudah juga merasakan rudal di dalam mulutnya berdenyut lebih tegang. Dia tak berkomentar, asyik menghisap mainan yang sudah lama sangat dia rindukan itu. Alif mengusap-usap kepala ustazah raudah yang masih mengenakan kerudung rabbani acak-acakan.

“Umi, umi tahu enggak apa yang sedang terjadi di kamar lima?” Alif berkata sambil mengenakan kembali bajunya. rudalnya masih tegak mengacung, dihisap-hisap dengan gemas oleh Ustazah Raudah sampai semua sperma yang tadi melumurinya sekarang berganti menjadi berlumuran ludah. “Kamar nomor Lima? Ustazah Lia?” Ustazah Raudah bertanya heran. Untuk sejenak dia menghentikan sepongannya. Alif kembali dengan gemas mengelus lembut kepala ustazah alim itu.

“Iya, umi,” jawabnya lembut. Meski hanya mendengarkan sekilas dari balik pintu tadi, alif bisa menebak bahwa pasangan ustazah lia bukanlah wanita melainkan laki-laki, hal itu terlihat dari suara yang terdengar. Otaknya yang cerdas langsung menyimpulkan bahwa saudara jauh ustazah lia yang diceritakan ustazah aminah tadi jelas hanya samaran. Kemungkinan besar ustazah lia telah memasukkan laki-laki ke kamarnya.

“Kenapa emang?” Kali ini tangan ustazah raudah mengocok-kocok rudal yang selalu membuatnya gemas itu. Dia sangat merindukannya dan kalau boleh dia ingin seharian hanya mempermainkan benda kenyal tegang yang sudah memberikannya kenikmatan itu.

“Coba saja nanti umi ke sana, dengerin dari balik pintu,” Alif mengakhiri ucapannya sambil tersenyum. “Umi pasti tahu apa yang harus umi lakukan saat mengetahuinya.” Cupppp, Alif mencium kepala ustazah raudah. Kemudian perlahan dia melepaskan tangan itu dari rudalnya. Setelah itu dia menggapai celananya. “Nanti lagi dong, umi, kok gak bosen-bosen.” Ngocoks.com

“Hihi, gede sih, Alif,” jawab ustazah Raudah dengan nada manja. Alif menarik bangkit ustazah itu, kemudian dengan mesra dia melumat kembali bibir itu entah untuk keberapa kalinya. Dia juga sebenarnya masih ingin berbagi kenikmatan dengan ustazah seksi berkerudung lebar itu, akan tetapi dia juga sadar sikon, dia sangat suka membuat waita bertekuk lutut dan merasa penasaran dengan rudalnya. Setelah meremas buah dada ustazah raudah, Alif pun pergi.

Ustazah Raudah tersenyum-senyum sendiri. Lima belas menitan setelah Alif pergi, dia membersihkan wajahnya di kamar mandi, kemudian memakai mukena terusan. Setelah celingukan sebentar dari ambang pintu kamarnya, dia langsung melangkah perlahan menuju kamar nomor lima, kamar ustazah lia, kemudian dia menempelkan telinganya di pintu kamar. Setelah puas mendengarkan, dia mencoba mencari celah yang bisa dia gunakan untuk mengintip. Sayang tidak ada. Tapi suara-suara yang terdengar dari dalam sudah memberikan bahan yang lengkap untuk menebak-nebak.

*****

Di dalam kamar nomor lima, entah sudah untuk ke berapa kalinya ustazah lia orgasme. Tubuhnya terasa sudah lunglai dan jika dia sekarang masih bisa bergumul dengan liar melayani nafsu menggelegak ahmad soleh, maka itu adalah karena bantuan obat kuat yang dibawa oleh tamunya itu.

Kala itu, ustazah lia sedang dalam posisi menungging di ranjang sementara ahmad soleh menusuknya dari belakang dengan penuh semangat. Setiap kali ahmad soleh menujahkan rudalnya, dari mulut ustazah lia terdengar erangan, “Nggh ngh nghhh ngngng, ahhh.”

Erangan itu membuat ahmad soleh kian terangsang. Bagaimana tidak dirinya kini bisa menyetubuhi ustazah mungil yang dalam kesehariannya itu nampak alim dan terjaga. Kini dengan binalnya ustazah itu dia setubuhi dengan posisi doggy style. Dia resapi sepenuhnya pelirnya yang menggantung beradu dengan pantat ustazah lia. Sesekali dia remas bongkahan pantat itu bergantian dengan bongkahan sekal di dada sang ustazah.

“Ahhh, lonteku, ahhh, ukhti, ana mau keluar lagi, ahhhh,”

Ustazah lia tak menjawab. Dia hanya menggoyangkan pantatnya sebagai balasan membuat rudal ahmad soleh di dalam serambi lempitnya terasa seperti disedot-sedot. “uhh, nikmatnyaaaa,” begitu desisnya. Saat ahmad soleh merasakan rudalnya hampir memuntahkan sperma, dia membalik posisi tubuh ustazah lia menjadi berbaring. Kemudian rudalnya kembali dia tujahkan kuat-kuat. Tubuh ustazah lia melenting terangkat, dadanya yang membusung sekal langsung disambut dengan caplokan mulut ahmad soleh.

Lalu kedua tubuh itu mengejang berbarengan merasakan persatuan cairan dari kelamin masing-masing. Hangat. Nikmat. Keduanya mengerang bersamaan, “Ahhhhhhhhhhh, aghhhhhhh,”

Seiring dengan pancutan-pancutan yang masuk menerobos ke dalam liang kenikmatan ustazah Lia, ustazah raudah yang mengikuti semua kejadian itu dari balik pintu menghela nafas panjang. Lega. Dia kemudian beranjak pergi kembali ke kamarnya. Benaknya dipenuhi rencana yang penuh birahi untuk ke depannya. Dia tersenyum kemudian menutup pintu dan menghubungi Alif.

Bersambung… Masih pagi, ustazah lia sedang duduk di kamarnya menghadapi segelas teh hangat yang masih mengepulkan asap. Di tangannya satu buku baru tentang reproduksi perempuan sedang dia baca, karangan seorang ummahat yang terkenal di Indonesia. Minggu depan dia diundang untuk mengisi kajian reproduksi perempuan dari sudut pandang agama. Undangan itu datang dari organisasi akhwat kampus tempat dia dan ustazah raudah dulu juga bergabung. Karena itu pulalah hubungannya dengan para kader juniornya masih terjalin sampai sekarang.

Buku itu buku bagus, dilengkapi dengan gambar-gambar juga, gambar-gambar berwarna alat reproduksi perempuan. Beberapa bahkan sangat jelas berupa photo. Ustazah lia membayangkan bagaimana proses pembuatan buku itu berlangsung. Apakah si penulis buku memoto organ tubuhnya, atau dia meminta suaminya, ah, bukan, berondong simpanannya memoto serambi lempitnya kemudian setelahnya mereka berdua langsung bersetubuh di depan naskah yang belum jadi, sementara suami sang ummahat itu sedang mengobrol dengan tamu dari penerbitan di ruang sebelahnya.

Memang imajinasi ustazah lia termasuk tinggi. Di balik tubuh mungilnya dan kerudung lebarnya tersimpan nafsu birahi yang menggelora. Itu sudah dibuktikan dengan rutinitas seks webcamnya dengan ahmad soleh yang berujung kenikmatan bersenggama malam kemarin. Ahmad soleh. Ustazah Lia tersenyum membayangkan laki-laki itu yang menolak pulang dan baru mau dia antar pulang setelah sore.

Tentu saja sebenarnya hanya pura-pura diantar pulang, lengkap dengan gamis dan cadarnya sebagai penyamaran. Membayangkan rudal ahmad soleh yang disepongnya menggunakan bibir seksinya dan tubuh laki-laki itu yang menggeliat-geliat, ustazah lia tersenyum lagi. Birahinya bangkit. Diam-diam tangannya menyelinap ke balik gamisnya, mengusap-usap serambi lempitnya yang tak tertutup celana dalam.

Semakin lama dia usap, semakin tidak konsentrasi pikirannya pada buku yang dia baca. Dia memutuskan untuk membuka laptopnya dan membuka situs-situs pemuas nafsu birahinya. Karena gejolak syahwatnya yang sudah terlanjur memuncak, dia sampai lupa bahwa pagi itu pintu kamarnya belum dia kunci. Maklum dia tadi keluar sebentar meminta gula ke kamar ustazah raudah untuk tehnya.

Di sebuah situs, dia temukan video yang menayangkan seorang gadis berkerudung disodok-sodok serambi lempit dan anusnya oleh dua lelaki kulit hitam. Ahhh, dia terbelalak melihat betapa besarnya batang-batang itu, jauh lebih besar dari batang ahmad soleh. Desahan dan lenguhan si gadis berkerudung yang diikuti dengan raut wajahnya yang nampak meringis campuran antara kenikmatan dan rasa perih membuatnya merasa kian terangsang.

Dia duduk di kursi, mengangkang, kakinya menginjak tepian kursi. Gamisnya tidak sepenuhnya dia singkapkan, tapi tangannya sudah jelas menyelinap ke balik sana, menggerayangi paha dan serambi lempitnya sendiri menyentuh titik-titik sensitif di sana. “Ahhhh ahhhhh,” begitu desahannya terdengar seiring birahinya yang memuncak.

Durasi video itu hanya 15 menit. sudah lima menit berjalan dan ustazah lia merasa serambi lempitnya sudah basah. Jemarinya semakin liar menusuk-nusuk dinding serambi lempitnya sementara imajinasinya melayang membayangkan dirinyalah yang sedang ditusuk oleh dua pria kulit hitam itu. “Auhhhh, uhhhhh, uuuuukkhhhhhh,” matanya merem melek, kepalanya mendongak sementara mulutnya menganga.

Saat itu…

“Ukhti, ana mau ngambil gula, ehhhhhh……” terdengar suara pintu dibuka dan sapaan itu yang berujung pekikan kaget. Ustazah Raudah. Ustazah lia kaget terutama karena dari pintu layar laptopnya terlihat sangat jelas karena posisinya juga membelakangi pintu. Dia tadi memang membawa gula bersama wadahnya dari kamar ustazah raudah, dan dia lupa mengunci pintu.

Ustazah Raudah keluar kembali dan menutup pintu. Dia meninggalkan ustazah lia yang termangu merasa malu karena dirinya sudah tertangkap basah sedang menonton video porno. Bahaya kalau sampai ustazah raudah melaporkannya pada ustazah aminah. Betapa malunya dia. Bisa-bisa dia diusir dari asrama syahamah. Nafsu birahinya turun seketika. Dimatikannya laptop dan dia duduk termenung di kursi memikirkan alasan apa yang bisa dia gunakan untuk membujuk supaya ustazah raudah tidak melaporkannya.

Tentu saja ustazah lia si mungil berkerudung lebar itu tidak tahu bahwa ustazah raudah sebenarnya sudah berdiri di luar pintunya dari tadi. Ustazah lia si akhwat berbibir seksi itu juga tidak tahu soal hubungan antara ustazah raudah dengan Alif dan Ustaz Karim. Dia bahkan tidak tahu bahwa ustazah raudah sudah tahu dirinya kemarin memasukkan laki-laki ke dalam kamar dengan menyamar sebagai ukhti.

Merasa pusing, akhirnya ustazah lia bertekad untuk terus terang saja dan meminta maap pada ustazah raudah. Siapa tahu temannya itu berbaik hati merasa kasihan dan tidak melaporkannya. Maka diambilnya wadah gula dari meja dan dengan gontai dia melangkah keluar dari kamarnya menuju ke kamar nomor delapan. Kamar ustazah raudah.

Tok tok tok “assalamualaikum.” Dia berdiri dengan gamang di depan kamar itu. “Waalaikumsalam. Masuk.” Terdengar jawaban ustazah raudah dari dalam. Ustazah lia masuk dengan ragu. Dia menatap ustazah raudah yang sedang duduk di depan laptopnya. Di meja ada segelas teh yang belum diseduh. Ditutupnya pintu perlahan, kemudian dia meletakkan gula di meja. “Makasih gulanya, ukhti,” bisiknya lirih.

Ustazah Raudah hanya menoleh sekilas kemudian kembali menekuni laptopnya. “sama-sama, ukhti lia.”bUstazah lia berdiri dengan ragu di belakang ustazah raudah. Dia bingung harus memulai dari mana membicarakan hal tadi. Akhirnya, “ukhti, ana mau menjelaskan soal….tadi.” Ustazah Raudah tetap tidak menunjukkan perhatian. “Maksud ukhti?”

“Emmmh, tadi itu ana…” “Nonton video porno?” Kali ini ustazah raudah menjawab sambil membalikkan posisi duduknya menghadap ke ustazah lia. Matanya menatap tajam. “i…iy…iya, ukhti, ana khilaf.” Ustazah lia menunduk.

Ustazah raudah bangkit. Dia memasukkan gula ke dalam gelas tehnya, kemudian menuangkan air dari pojok ruangan. Setelah meletakkan gelas itu di meja, dia berkata sambil berdiri. “Kenapa, ukhti?”

Ustazah lia mengangkat kepalanya, kemudian dia kembal menunduk. “Ana…tidak tahan, ukhti. Cuma sekali itu kok ana nonton.” “Oya? Kalau selain nonton?” ustazah Raudah kembali meneruskan. Ustazah lia terperanjat. Sempat terpikir olehnya jangan-jangan ustazah raudah tahu dirinya sering web seks dengan ahmad soleh. Atau…jangan-jangan ustazah raudah tahu tentang dirinya dan ahmad soleh malam kemarin. “Ti…tidak, ukhti.”

“Tidak apa? Duduk saja ukhti, di ranjang ya, kursinya hanya satu.” Jawab ustazah raudah. Dia menghampiri pintu dan menguncinya sementara ustazah lia duduk di ranjang. Kepalanya masih menunduk. Pasrah. Ustazah raudah kemudian duduk juga di sampingnya. “Jujurlah, ukhti, kita sudah berkawan lama. Ana mengenal ukhti sudah seperti saudara sendiri.” Ustazah Raudah melingkarkan tangannya ke belakang tubuh ustazah lia. Tangan itu kemudian meremas bahu ustazah lia dengan lembut.

Ustazah lia mendengar nada lembut ustazah raudah merasa bahwa kemungkinan sang ustazah akan melaporkannya pada ustazah aminah semakin kecil. Maka berangsur-angsur ketakutannya hilang. “Iyya ukhti, ana pernah gituan…”

“Gituan apa ukhti? Yang jelas lah, jangan seperti perawan sedang menerima pinangan,” ustazah raudah tersenyum menenangkan. Tangannya menarik kepala ustazah lia ke arahnya, posisinya kemudian setengah memeluk sang ukhti. Merasa ada sandaran, naluriah ustazah lia menyandarkan tubuhnya.

“Gituan, ukhti, aaaaah, ana malu mengatakannya.” Wajah ustazah lia bersemu merah. “Alah, nonton video porno gak malu tapi ngobrol sama saudaranya sendiri malu-malu.” Ustazah Raudah kembali tersenyum menggoda.

“Ustazah iniiiii.” Ustazah Lia mulai terbawa juga. Suasana mulai cair di antara mereka berdua. “Itu lho, ukhti, main antara laki-laki sama perempuannn.” “Main? Main apa ukhti? Main petak umpet? Ana gak paham.” Ustzah Raudah masih menggoda.

Merasa kesal digoda terus, ustazah lia mencubit pinggang ustazah raudah. “Iiihhhh,” ustazah raudah menggeliat. “Malah nyubit coba.” “Hihi, salah ukhti sendiri malah menggoda.” “Emang ukhti lia sendiri sih, kenapa susah banget bilang menyetubuhi.” Jawaban ustazah raudah membuat hati ustazah lia berdesir. Betapa lugasnya ustazah yang satu ini mengucapkan kata yang dari tadi sungkan dia ucapkan.

“Ukhti…..” ustazah lia menatap ustazah raudah yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum. Tangan ustazah raudah merengkuh pinggangnya sementara posisi tubuhnya setengah dipeluk oleh ustazah itu. “Tubuh ukhti mungil, tapi dadanya sekal ya…” ustazah raudah menjawab sementara tangannya mengusap payudara ustazah lia pelan. “Ukhti! Apa-apaan….” ustazah lia mencoba bangkit tapi tangan ustazah raudah menahannya dan malah menariknya semakin erat dalam pelukan.

“Sudahlah, ukhti, ana bisa ngelaporin ukhti ke umi aminah, kecuali….” ustazah raudah menggantung ucapannya. Tangannya semakin liar meremas payudara ustazah lia. “Kecuali ap….mmmmhhhh,” ucapan ustazah lia menggantung juga karena mulutnya yang sedang membuka dicaplok oleh mulut ustazah raudah. Dia berusaha melepaskannya tapi tangan ustazah raudah yang satu lagi malah menekan kepalanya dari belakang.

“Bibir ukhti seksi,” bisik ustazah raudah setelah bibir mereka berpisah. Ustazah lia tak menjawab. Diam-diam dia merasakan birahinya yang tadi sempat turun kini naik kembali. Bibir ustazah raudah dirasakannya sangat lembut, membuai dan membangkitkan birahinya yang tadi sempat dirangsang oleh video akhwat berkerudung lebar dientot oleh dua kulit hitam.

“Ukhti pernah menyetubuhi kan? Kini ukhti bakal ngerasain sama perempuan juga sama nikmatnya.” Kembali ustazah raudah berbisik. Tangannya dengan ahli menggerayangi sekujur tubuh ustazah lia dari balik gamisnya, menyentuh area-area sensitif di tubuh sang ukhti. Posisi tubuh ustazah lia kini sudah sepenuhnya berada di pelukan ustazah raudah.

Tangan ustazah raudah kini menyelinap ke balik gamis ustazah lia, menyusuri paha ustazah lia ke atas sampai tubuh ustazah lia bergetar merasakan syaraf-syarafnya yang sensitif disentuh dengan lembut oleh jemari nakal ustazah raudah. Tak berhenti di sana, tangan itu dengan nakalnya langsung membelah bibir serambi lempit ustazah lia membuat yang punya mendesah sambil memejamkan matanya, “Ukhhhhhhh, ukhti, ukhti, sudah, aaah ah aaaaaahhhhh,”

Boro-boro berhenti, ustazah raudah semakin liar. Kini didorongnya tubuh ukhti lia ke ranjang sampai berbaring. Ustazah lia yang meredakan nafasnya yang memburu belum sempat melakukan apa-apa ketika dia merasakan ustazah raudah menyingkap gamisnya sepinggang dan dirasakannya jilatan-jilatan basah di jembutnya.

“Ukhh, aduhhh, ukhti, apa-ap…ahhh, akh nikmatnyaaa,” rintihan ustazah lia terdengar antara rasa sungkan dan kenikmatan. Dengan ahli ustazah raudah menusuk-nusukkan lidahnya ke belahan yang nampak bersih itu. Sesekali disentilnya itil ustazah lia menggunakan ujung lidahnya membuat yang punya merintih-rintih kenikmatan.

Suatu saat ustazah raudah kemudian menghentikan jilatannya. Dia bangkit dan menyingkapkan gamisnya juga sepinggang. Kemudian dia memposisikan serambi lempitnya bersentuhan dengan serambi lempit ukhti lia sementara mulutnya langsung melumat bibir ustazah lia yang saat itu sudah pasrah. Matanya terpejam seiring desahan dan rintihan yang keluar dari mulutnya.

Cuppp cupppp cupppp, bibir ustazah lia yang seksi memang membuat ustazah raudah merasa gregetan. Dilumatnya bibir itu tanpa bosan. Lalu dimasukkan lidahnya menjelajahi rongga mulut ustazah lia, memberikan kenikmatan yang sama nikmatnya dengan saat ahmad soleh mencumbu ustazah lia. Diakui oleh ustazah lia bahwa sang ukhti memang lebih jago dalam mencumbu dan menyerang area sensitif di tubuhnya daripada ahmad soleh.

Selangkangan ustazah raudah kemudian bergerak perlahan, “Ukhhh,” tubuh ustazah lia mengejang ketika dirasakannya serambi lempit sang ukhti menyentuh itilnya. Dirasakannya kenikmatan yang penuh sensasi meski tak dirasakannya ada rudal yang memasuki rongga serambi lempitnya. Dirangsang sedemikian rupa, kini ustazah lia pun mulai aktif membalas.

Diremasnya kuat-kuat buah dada ustazah raudah sampai gantian ustazah alim itu mengerang. Tak tahan, ustazah raudah melepaskan tangan ustazah lia dari buah dadanya kemudian dijilatinya leher sang ustazah sambil menyingkapkan kerudung lebarnya. Dengan gemas digigit-gigitnya leher jenjang ustazah mungil itu meninggalkan bekas cupangan merah di sana.

Merintih-rintih ustazah lia memeluk erat tubuh ustazah raudah. Digesek-gesekkan selangkangannya mencari posisi yang pas itilnya supaya bersentuhan kembali seperti tadi. Setiap tersentuh, rintihannya terdengar makin keras memenuhi ruangan. “Akhh akhhh, ukhti, akhhhh, terussh hhhh hhhh ukhtiku, akhhhh,”

Rintihan binal ustazah lia membuat ustazah raudah semakin bernafsu. Bibirnya kini menjilati dada ustazah lia dari balik gamisnya sampai basah dan memperlihatkan putingnya. Setelah itu, digigit-gigitnya pelan masih dari balik gamis. Tubuh ustazah lia menggelinjang. Dirasakan desiran-desiran nikmat di sekujur tubuhnya yang tak jelas entah di sebelah mana. Kenikmatan itu membuatnya demikian cepat akan mencapai orgasme.

“Ukhti, ahhh, ukhti, ana mauuu…ahh, ken…cingggg…ahhhh auhhhh,” ustazah lia merintih-rintih. Tubuhnya menggelinjang-gelinjang tak karuan sementara gesekan selangkangannya makin tak beraturan. Ustazah raudah kemudian menyudahi jilatannya di payudara ustazah lia kemudian dia menurunkan kepalanya ke arah selangkangan ustazah lia, dan….

“Aaaaaaaaaaaaaagggggghhhhhh,” ustazah lia menjerit keras seiring dengan orgasmenya ketika ustazah raudah menjilat dan menghisap klentitnya. Selangkangannya terangkat membuat tangan ustazah raudah harus menahan pahanya kuat-kuat. Mulutnya menganga lebar sementara matanya mendelik memandang langit-langit. Beberapa saat kemudian setelah orgasmenya itu, tubuh ustazah lia melenting ke bawah ke ranjang. Nafasnya terengah-engah seperti habis berlari maraton.

“Gimana, ukhti? Sama enaknya kan dengan menyetubuhi bareng laki-laki bergamis?” Ustazah Raudah berbisik sementara kedua serambi lempit mereka masih bergesekan. Tubuhnya masih meneduhi tubuh ustazah lia. Tangannya membelai kepala ustazah lia, merapikan kerudung lebar sang ustazah alim yang acak-acakan.

“Hhhh hhhh,” ustazah lia hanya mendesah-desah. Selangkangannya bergerak-gerak menggesek-gesekkan bibir serambi lempitnya dengan bibir serambi lempit ustazah raudah. Sepertinya dia mengharapkan ronde kedua.

“Hihi, malah kecanduan kan ukh….” ucapan ustazah raudah terpotong oleh mulut ustazah lia. Dia membalas tak kalah binal. Lidahnya menari-nari masuk menggelitik rongga mulut ustazah lia.

“Nakall,” begitu ucapnya saat mulut mereka berdua sudah terpisah.

Ustazah Lia tersenyum. Kemudian dia membalik posisi tubuhnya menjadi di atas ustazah raudah. Di meja, gelas teh ustazah raudah masih utuh tak tersentuh. Teh di dalamnya sudah mendingin sementara yang empunya masih sibuk diamuk syahwat yang menggelora, mencari kepuasan sesama jenis, sesama ustazah asrama syahamah yang dalam kesehariannya selalu menundukkan kepala dari pandangan laki-laki dan menutupi tubuh seksi mereka menggunakan gamis kombor dan kerudung lebar.

*****

Ustazah Lia akhir-akhir ini sibuk dengan twitternya. Semula dia memang lebih suka facebookan, terutama ketika dia sudah mengenal ahmad soleh. Layanan seks webcam memberikan sensasi kenikmatan tersendiri baginya. Walaupun dia adalah seorang akhwat, ustazah pula yang sehari-harinya selalu bergamis dan berkerudung lebar, akan tetapi bukan berarti nafsu birahinya tidak membara.

Akhwat-akhwat seperti dirinya justru memang memiliki nafsu yang lebih mudah meledak dan juga imajinasi yang tinggi karena selama ini syahwat mereka terlalu dikekang. Tapi kemudian ketika dia sedang membuka twitternya, dia menemukan direct message dari seorang followernya

“Halo ukhti, bibirnya indah sekali,” begitu direct message yang pertama. “Ahh, aku selalu membayangkan rudalmu dihisap bibirmu ukhti.” Begitu selanjutnya. Lalu direct message yang selanjutnya adalah foto-foto dirinya yang dimuncrati sperma. Nampak sebagai foto asli. Belum lagi ada banyak kata-kata yang menunjukkan kalau followernya itu benar-benar pengagumnya. Diam-diam ustazah lia merasa tersanjung juga. Selain itu, dia melihat bahwa rudal si follower itu lebih besar daripada punya ahmad soleh.

Nama follower itu kalakanji. Akhirnya ustazah lia membalas juga direct message itu, termasuk melayani inboks seks atau insex dengannya. Berurutan setelah itu entah kenapa seiring dengan seringnya dia ngetwitt yang mengesankan dirinya adalah akhwat malu-malu kucing, menggoda tapi tetap terkesan sopan, banyak sekali followernya yang mengirimi direct message yang intinya sama: mereka merasa bergairah untuk menyetubuhinya, beberapa bahkan berani membayar mahal.

Sejak dulu ustazah lia tak pernah merasa kesulitan soal uang karena dia mendapatkan tunjangan yang lumayan dari bibinya yang janda. Tapi bulan kemarin bibinya itu, Umi Purwanti menikah lagi dan entah kenapa kebutuhannya meningkat. Maka tunjangan untuk ustazah lia pun berkurang sedikit demi sedikit. Sementara pada saat yang sama ustazah lia hanya mendapatkan penghasilan dari gajinya mengajar privat yang tak seberapa.

Intinya, saat ini ustazah lia sedang kekurangan uang. Maka sempat terpikir olehnya bagaimana jika dia merelakan saja tubuhnya untuk dibayar mahal. Yang penting aman dan tak diketahui ustazah aminah, maka semuanya akan beres. Toh akhir-akhir ini dia rasakan juga birahinya sering meledak-ledak minta dipuaskan. Kan asyik dia bisa mendapatkan uang banyak sekaligus juga mendapatkan pelampiasan birahi.

Tok tok tok, “assalamualaikum,” bahkan tanpa menoleh pun ustazah lia sudah tahu itu adalah ustazah raudah. Dia hanya tersenyum. Lamunannya pun terputus. “Waalaikumsalam, masuk ukhti, gak dikunci.” Ditutupnya laptopnya, kemudian dia duduk menghadap ke ustazah raudah yang masuk dan tersenyum kepadanya. Cklek, ustazah raudah mengunci pintu dari dalam.

“Kok dikunci, ukhti?” Ustazah Lia bertanya pura-pura heran. “Ada dehh,” Ustazah Raudah menjawab seenaknya. Dia melangkah menghampiri ustazah lia dan menundukkan kepalanya, “Cupp cuppp,” bibirnya melumat bibir seksi ustazah lia. Ustazah Lia membalas dengan memain-mainkan lidahnya di dalam mulut akhwat yang penuh birahi itu. Setelah kenikmatan kemarin bersama rekannya itu, dirinya sudah tak merasa sungkan lagi.

“Ukhti ini, jam segini udah maen cium saja,” Ustazah Lia menggoda. “Kangen antum sih,” jawab ustazah raudah. Dia kemudian meletakkan tas kanvas yang tadi dia jinjing di ranjang ustazah lia. “Apa itu ukh?” ustazah lia bangkit menghampirinya. Tangannya meremas bokong ustazah raudah sambil membungkuk mencoba melihat isi tas itu. Matanya membelalak melihat barang-barang aneh yang selama ini hanya dia lihat di internet. dia pun mengeluarkan satu demi satu. Ada dildo vibrator, ada benda seperti seperti kalung dengan bulatan-bulatan yang sedikit lebih besar, ada benda seperti ikat pinggang…

Ustazah raudah mengambil benda seperti ikat pinggang itu, menyingkap mukenanya kemudian memakainya di pinggangnya. “Strapon ukhti,” ustazah raudah memberitahu namanya. Kemudian dia memasangkan dildo di bagian yang menutupi serambi lempitnya dan berdiri seperti memamerkan dirinya di hadapan ustazah lia. Ceritasex.site

Nampaklah kini seorang ustazah alim asrama syahamah dengan mukena tersingkap sepinggang dengan strapon di pinggangnya menyangga dildo warna pink mengacung. Perasaan ustazah lia berdesir membayangkan petualangan syahwatnya yang baru.

Dia menyentil-nyentil dildo itu yang lalu bergetar berayun-ayun. “Coba jilat, ukhti,” ustazah raudah berbisik. Ustazah lia lalu menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilatnya dengan gaya yang menggoda. Tak tahan, ustazah raudah meremas buah dada ustazah lia yang sudah membusung mengeras di balik mukenanya.

Dildo di selangkangan ustazah raudah sudah basah oleh liur ustazah lia. Sang ustazah kemudian berdiri. Dengan nafas memburu dan mata sedikit sayu, disentuh-sentuhkannya bibirnya pada bibir ustazah raudah. Menggoda. Ustazah raudah mencoba menangkap bibir itu dengan bibirnya, tapi bibir seksi ustazah lia menghindar dan masih seperti tadi hanya menyentuh-nyentuh saja.

“Ukhti nakal ya sekarang..” desis ustazah raudah sambil tangannya memeluk tubuh ustazah lia. Bibirnya masih mencoba melumat bibir seksi ustazah lia. “Dari dulu, hhh” jawab ustazah lia seperti bisikan. Di bawah, diangkatnya mukenanya dan dibimbing satu tangannya diselipkannya dildo itu di antara kedua pahanya, tepat di bawah selangkangannya sehingga dildo itu menggesek-gesek pangkal pahanya nikmat. Disengajanya pahanya sedikit diregangkan sehingga tidak mejepit dildo itu. Ustazah raudah yang mengerti kemudian menggerakn-gerakkan dildo itu pelan.

Cupppp cupppp cupppp, akhirnya setelah tangan ustazah raudah mencengkram belakang kepala ustazah lia erat, dia bisa juga melumat bibir ustazah lia. Ustazah lia menghisap bibir bawah ustazah raudah penuh gairah, sementara itu lidah ustazah raudah sudah menari-nari menerobos mulutnya, menjilat-jilat rongga hangat, menimbulkan rasa geli pada ustazah lia.

Setelah puas bercumbu dalam posisi itu, ustazah raudah membalikkan tubuh ustazah lia, membuatnya membungkuk dengan tangan menahan tubuhnya pada pinggiran ranjang. Ustazah raudah menyingkapkan mukena ustazah lia, kemudian…

“Aaaaaaah ah ahhhhh ahhhhhhhh,” ustazah lia menggeliat-geliatkan tubuhnya saat dirasakan lidah usatzah raudah menari-nari di belahan pantatnya. Lidah itu dengan nakalnya kemudian menyelinap ke bawah pangkal selangkangannya, membuat dia menggerak-gerakkan selangkangannya mengharapkan serambi lempitnya juga terjilat oleh lidah basah dan hangat itu.

Ustazah raudah surti. Dengan tangannya paha ustazah lia sedikit diangkat sehingga serambi lempitnya kelihatan merekah. Ustazah lia membantu dengan melentingkan tubuhnya dan menunggingkan bokongnya. Belahan yang merekah itu lalu dijilat-jilat oleh ustazah raudah, membuat ustazah lia semakin keras merintih-rintih. Kepalanya bergoyag-goyang liar dengan mata terpejam merasakan kenikmatan jilatan sang ustazah.

Sesaat ustazah lia merasakan jilatan itu terhenti, lalu saat dia baru hendak membalikkan kepalanya menengok ke belakang, “Uggghhhhh,” dirasakannya benda panjang menyelinap menujah serambi lempitnya dari belakang. Dildo itu berjaya menerobos area kenikmatannya, kemudian dengan liar ustazah raudah memaju mundurkan tubuhnya menambah kenikmatan sang ustazah berbibir seksi itu.

Plokkkk plokkk plokkkkk, suara benturan pangkal selangkangan ustazah raudah dengan pantat indah ustazah lia terdengar serasi berkombinasi dengan bunyi desahan keduanya. Sesekali tangan ustazah raudah membelai-belai puting susu ustazah lia dari belakang, sesekali memelintirnya memberikan campuran rasa nyeri dan kenikmatan.

Setiap kali dildo itu menujah masuk, bukan hanya ustazah lia yang merasakan kenikmatan akan tetapi juga ustazah raudah. Ternyata strapon milik sang ustazah adalah strapon dobel. Tak hanya mengandung dildo tapi juga vibrator perangsang serambi lempit. Maka setiap dildo itu menekan, ustazah raudah pun merasakan vibrator di serambi lempitnya makin merangsang memberikan getaran di area sensitifnya. Tak heran desahannya kemudian tak kalah nyaring dengan ukhti pasangannya itu.

“Teruss terusss ukhti terusssshh ahhhh hhh nikmatnya, ahhhhhh,” ustazah lia menggumam tak karuan seiring tubuhnya yang makin liar bergerak-geak mengimbangi sodokan ustazah raudah. Ustazah raudah menggeram keras “Ughhhh akhhhhh, augggghhhh, ukhti, akhhhh,” tubuhnya mendorong-dorong makin keras sampai-sampai ustazah lia harus menekan ranjang lebih keras, sepertinya rangsangan vibrator di serambi lempit ustazah raudah sudah hampir selesai melaksanakan tugasnya.

Merasa dirinya hampir orgasme, ustazah raudah mencabut dildo itu kemudian mendorong tubuh ustazah lia terlentang di kasur. Dengan tergesa sambil merintih-rintih merasakan vibrator yang menggetarkan serambi lempitnya, dia melumat bibir ustazah lia kemudian memasukkan kembali dildonya di serambi lempit ustazah lia yang juga sudah hampir orgasme. Diremas-remasnya buah dada ustazah raudah yang menggantung, sesekali disentilnya pelan puting yang sudah mencuat menggoda itu membuat ustazah raudah meraung raung penuh kenikmatan.

Tubuh keduanya sudah basah oleh keringat. Mukena ustazah lia sudah menempel ke tubuhnya membuat pemandangan yang makin merangsang birahi ustazah raudah. Disentakkannya dildonya makin liar menusuk-nusuk serambi lempit ustazah lia yang sudah makin basah, “ahhh, ukhti, ukhti, ukhtiiiiiiiiii, ana hampir keluarrr, ahhh, keluarrrrrrrhh,” ustazah raudah meracau tak karuan, ustazah lia yang merasakan hal yang sama kemudian mencengkram kepala ustazah raudah mendekatkannya ke mulutnya dan menempelkan hidungnya di hidung sang ustazah, matanya menatap mata pasangannya itu penuh birahi. Di bawah pantatnya digoyangkannya membalas tujahan ustazah raudah.

“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!” ustazah raudah meraung keras , tubuhnya bergeletar liar, ditahan oleh tangan ustazah lia yang memeluknya kuat-kuat. Pada saat yang sama, ustazah lia juga mencapai puncaknya, tubugnya kelojotan merasakan cairan kewanitaannya memancar membasahi dildo yang menancap kukuh di serambi lempitnya. “Ukhtiiiiiiiiiiiiiiiiii!” ustazah lia balas menjerit.

Selama beberapa saat tubuh keduanya menggeletar-geletar di atas ranjang. Vibrator di serambi lempit ustazah raudah dan dildo di serambi lempit ustazah lia menjadi saksi kenikmatan dua ustazah itu yang semakin kreatif mencari kepuasan syahwat mereka di asrama syahamah. Mukena keduanya sudah hampir seluruhnya basah, melekat pada tubuh keduanya yang seksi, menciptakan pemandangan yang sangat erotis bagi siapapun yang melihatnya.

“Ukhti,” Ustazah Raudah berkata pelan sementara tubuh mereka berdua yang penuh keringat berbaring berdampingan. Paha ustazah raudah menumpang satu di paha ustazah lia. Wajah keduanya berseri meski nampak lelah setelah petualangan seks yang mendebarkan itu. Ngocoks.com

“Iya, sayang,” Ustazah Lia menjawab genit sambil tangannya tak diam mengusap-usap dada ustazah raudah. “Ukhti besok ke kampus kan? Ngisi kajian?” Tangan ustazah raudah menggenggam tangan ustazah lia dan mengelusnya lembut. “Iya, ukh, kenapa? Mau ikut?” “Enggak, ana punya ide yang menarik buat ukhti.” “Apa itu?” Ustazah Raudah kemudian menyampingkan tubuhnya. Kakinya menumpang ke kedua paha ustazah lia yang berbaring menelentang. Kemudian dia berbisik di telinga ustazah lia.

Mata ustazah lia membelalak. “Hussss, ukhti ini.” “Hihi,” ustazah raudah kembali menelentangkan tubuh bugilnya. “Menarik kan, ukhti? Besok ana pinjamin kok, gratis.” “Gak mau ah ukhti,” “Coba bayangkan sensasinya. Gak bakalan ketahuan kok ukh, kujamin dehh.” Ustazah Lia berpikir sejenak. Kemudian dia berkata, “baiklah, ukh, kayaknya menarik memang.”

“Nah gitu.” Ustzah Raudah tertawa lebar. Dia kemudian bangkit dan membenamkan kepalanya di selangkangan ustazah lia dari samping. “Aduhhhh, uhhhh, ukhti ini gak bosen-bosennn,” Ustazah lia menggeliat merasakan lidah ustazah raudah menjilat-jilat serambi lempitnya. Tangannya mencengkram kepala ustazah raudah, membenamkannya di jembutnya yang rapi. Ustazah raudah tak menjawab. Dia asyik menikmati mainan barunya yang menyenangkan. Dirasakannya serambi lempitnya sendiri pun sudah sangat basah meminta dipuaskan.

Bersambung Kampus sepagi itu sudah ramai. Di antara orang-orang yang bergegas masuk ke sana, terdapat ustazah lia membawa sepeda motornya, jilbab lebarnya warna biru, berkibar-kibar diterpa angin. Dia mengenakan gamis jeans yang sangat serasi dengan kerudung yang dia gunakan itu. Motornya menempuh beberapa belokan kemudian berhenti di parkiran fakultas tarbiyah.

Dari sana dia berjalan sedikit menuju taman fakultas. Di taman itulah kajian akan dilakukan. Taman itu lumayan luas, dipenuhi rumput segar yang tumbuh rapi dan terurus. Selain itu, lokasinya juga sangat teduh meski cahaya mentari sesekali masih bisa menerobos lewat celah-celah gedung kampus.

Ketika ustazah lia sampai ke sana, di sana sudah ada beberapa ukhti yang sampai. Memang kajian itu hanya khusus untuk para akhwat saja. Meski demikian, sudah hadir juga seorang laki-laki yang merupakan pengurus organisasi bidang psdm atau pengembangan sumber daya manusia. Dia merupakan satu-satunya laki-laki yang hadir di sana.

Laki-laki itu biasa dipanggil fahri. Akhi Fahri. Usianya masih sangat muda karena dia masih kuliah semester 4 di jurusan yang sama dengan yang ustazah lia ambil dulu. Wajahnya adalah wajah khas seorang ikhwan, lengkap dengan jenggot tipis dan rambut pendek rapinya. Pembawaannya santun. Fahri berdiri menyambut ketika ustazah lia sampai. “Ustazah, sama siapa datang?” Fahri menangkupkan tangannya di dada, ustazah lia membalas dengan menangkupkan tangan di dadanya juga. Bukan mahram maka tidak boleh bersalaman, seperti itulah peraturan di organisasi ukhti itu.

“Sendiri, Akhi, deket kok asrama dari sini.” “Oh gitu. Ustazah di sini saja duduknya.” Fahri mempersilahkan ustazah lia duduk tak jauh dari tempat duduknya.

Ustazah Lia kemudian duduk. Kajian belum akan dimulai masih menunggu beberapa ukhti yang belum datang. Sementara menunggu ustazah lia menngobrol dengan Fahri tentang organisasi. Nampak bahwa Fahri sangat hormat pada ustazah lia yang merupakan seniornya baik di kampus maupun di organisasi.

Diam-diam dalam pikiran ustazah lia timbul niat aneh untuk menggoda pria itu. Dia ingin membuktikan apakah pria seperti Fahri ini masih bisa tergoda olehnya atau tidak. Memikirkan hal itu membuat syahwat ustazah lia bangkit. Diam-diam dia menyentuh selangkangannya tanpa kentara. Memastikan bahwa dirinya memakai strapon vibrator yang ditutupi celana dalamnya.

Kemudian kajian pun dimulai. Dengan telaten ustazah lia menerangkan seluk beluk organ reproduksi wanita. Kajiannya berlangsung dengan serius meski terkadang ustazah lia menyelipkan humor juga. Beberapa kali Fahri hanya tertunduk malu ketika guyonan sedikit tabu untuk diketahui laki-laki seperti dirinya. Meski demikian, kesepakatan di awal kajian memang bahwa kajian itu dilakukan dengan bebas dan Fahri yang memposisikan diri sebagai moderator juga memang mempersilahkan.

Di pertengahan kajian, ustazah lia yang penasaran dengan sensasi yang dibisikkan ustazah raudah tadi malam kemudian diam-diam menghidupkan vibratornya. “Ukhhh,” begitu tanpa sadar dia mendesah dan tubuhnya sedikit menggeliat merasakan rangsangan di serambi lempitnya.

“Ustazah Lia?” Fahri yang menangkap desahan ustazah lia memandangnya dengan penuh tanda tanya. Saat itu seorang ukhti baru saja mengajukan pertanyaan.

“O ya ya, hhh,” wajah ustazah lia sedikit memerah. Dia sedikit menggeser duduknya. “Jadi, emm, gini, ukhh…ti, pertanyaan ukhti tadi, emm, masalah mencukur bulu kemaluan, memang hal itu bagus dari sudut pandang agama, juga dari sudut pandang kesehatan. Akan tetapi hal itu berpulang pada kesepakatan dengan suami ukhti sendiri, jika misalnya suami ukhti tidak membolehkannya, ya tidak apa-apa, yang penting merapikannya, karena seorang istri saleha itu harus bisa menyenangkan suami juga.”

Fahri menundukkan kepalanya. Demikian juga ustazah lia, memejamkan matanya sesaat sambil menunduk. Merasakan birahinya membludak seiring perasaan aneh dirinya sedang dirangsang vibrator di dekat seorang ikhwan yang ganteng. Selanjutnya kajian dilanjutkan. Beberapa kali ustazah lia menggeliatkan tubuhnya dan mengeluarkan desahan pelan yang untungnya tak menarik perhatian. Dirasakannya serambi lempitnya sudah basah, beberapa kali juga dirasakannya dirinya hendak orgasme, akan tetapi ditahan-tahannya.

Kajian dilakukan selama dua jam. Waktu yang terhitung lama tapi ternyata tak terasa juga. Setelah selesai, para ukhti menyalami ustazah lia kemudian pulang ke tempat mereka masing-masing. Pada akhirnya yang tersisa di taman itu hanya Fahri dan ustzah lia.

“Akhi Fahri kos di mana?” ustazah lia bertanya. Fahri menyebutkan tempat kosnya. Lumayan jauh dari sana, dekat toko buku, kira-kira satu kilometeran dari asrama syahamah. Satu sms masuk ke hpnya dan dia membukanya.

“Jauh juga ya. Biasanya anak kuliah kan suka nyari yang deket kampus. Bawa motor sendiri ya?”

Fahri tersenyum. “Biasanya ustazah, tapi hari ini motor ana dipinjam teman. Tadi katanya mau jemput, tapi ini dia bilang baru bisa ngembaliin motor nanti malam.” “Yaudah ayo sama ana saja akhi, kebetulan ana juga mau beli buku di toko buku dekat kosan antum.”

“Ah, gak usah, ustazah, merepotkan.” Fahri menggelengkan kepalanya. “Sekaiian, gak apa-apa. Toh gak bareng Fahri pun ana mau ke toko buku.” Akhirnya Fahri menurut. Maka mereka pun berlalu ke parkiran. Fahri memposisikan diri di depan mengendarai motor, sementara ustazah lia duduk di belakang dengan posisi menyamping. Untung tadi Fahri membawa helm sebab dia memang berangkat ke kampus diantarkan temannya juga tadi.

Sepanjang perjalanan itu, ustazah lia merem melek merasakan rangsangan tanpa henti di serambi lempitnya. Dia yakin serambi lempitnya sudah sangat becek. Seolah tanpa sadar, tangan kanannya berpegangan pada pinggang Fahri. Untuk sesaat Fahri sedikit tersentak. Tapi kemudian dia diam saja, toh ini memang kondisi darurat, daripada kecelakaan, ya gak apa-apa lah pegangan.

Karena posisi toko buku terlewati sebelum sampai ke kosan Fahri, maka mereka berdua pun mampir dulu ke sana. Demi kesopanan, Fahri mengantar ustazah Lia berkeliling mencari buku yang dia inginkan. Saat itu Fahri merasakan sesekali ustazah lia terasa manja kepadanya. Pernah juga ustazah lia hendak jatuh dan Fahri refleks menahannya dari belakang. Hmmm, wanginya tubuh ustazah lia dan kelembutan tubuhnya yang tersentuh olehnya sempat membangkitkan juga naluri laki-lakinya. Saat itu sebenarnya ustazah lia sedang mengalami orgasme pertamanya. Makanya dia tidak lagsung bangkit, berusaha menahan diri untuk tidak mendesah.

“Ustazah gak kenapa-kenapa?” Fahri sedikit kuatir melihat wajah ustazah lia yang nampak berkeringat. “Engg…enggak kok akhi, enggak. Maap ya.” Ustazah lia menjawab sebisanya. Nafasnya sedikit memburu. Akhirnya acara belanja buku itu selesai. Lanjutlah perjalanan mereka ke kosan Fahri. Ternyata kosannya merupakan kosan elit. Lengkap dengan kamar mandi dalam dan juga ranjang dan satu ruangan tambahan berupa dapur kecil.

“Mampir dulu ustazah.” Ustazah Lia pura-pura menolak. Akan tetapi ketika Fahri mengulanginya lagi, dia pun menerima untuk mampir, sekalian beribadah dulu, kuatir waktunya keburu habis, begitu alasannya.

Masuklah kemudian ustazah lia. Beruntung ustazah lia selalu membawa mukena ke mana pun. Maka sementara Fahri masuk ke dapur, ustazah lia kemudian pergi ke kamar mandi, membersihkan serambi lempitnya yang basah dan mencopot vibratornya. Kemudian dia sengaja mencopot gamis jeansnya dan hanya mengenakan mukena saja tanpa dalaman.

Fahri masih di dapur ketika ustazah lia beribadah. Fahri sedang memanaskan air membuat teh. Dispensernya kebetulan sedang rusak. Ketika teh sudah selesai dibuat, dia pun pergi ke ruang utama kosnya. Saat itu posisi ustazah raudah kebetulan sedang membungkuk. Terlihat jelas betapa menggairahkannya posisi itu, belum lagi mukena yang dipakainya terlihat tipis menerawang. Fahri kembali ke dapur sambil mengusap wajahnya. Dibenarkannya posisi rudalnya yang mendadak tegang. Di satu sisi dia merasa malu karena yang bersamanya itu adalah ustazah, di sisi lain dia tak bisa menipu dirinya sendiri bahwa dirinya pun merasa terangsang.

Ustazah lia sudah selesai, barulah Fahri masuk. Sedikit gagap dia menawarkan teh hangat buatannya, meletakkannya di meja. Di sana memang ada meja dengan dua kursi. Sengaja tanpa mencopot mukenanya, ustazah raudah langsung duduk di kursi. Fahri duduk di kursi yang lain. Saat ustazah raudah ada dalam posisi mencicipi teh itu, mau tak mau pandangan Fahri tertuju pada bagian dada ustazah raudah yang tampak samar. Busungan itu tak terlindungi oleh beha.

Fahri merasakan rudalnya kembali tegang. Sementara itu ustazah raudah yang pura-pura tak tahu padahal dia memang sengaja menggoda kemudian berkata. “Segar sekali akhi, pas manisnya.”

“Uhh, iyaka, ustazah?” sedikit gugup Fahri mencicipi punyanya. Memang manis, tapi merasakan rudalnya menegang, dia merasa harus membenarkannya. Maka dia pun berkomentar. “Punya ana kurang manis, ustazah.” Dia pun bangkit membawa tehnya ke dapur. Meletakkannya di meja tembok yang menyatu dengan dinding di samping kompor.

Kemudian sambil membelakangi pintu masuk, dia merogohkan tangannya ke celananya. Sedikit sukar karena celananya sempit, dia pun melepas kancing celana dan risletingnya. Toh dia tak berpikir bahwa ustazah lia akan menyusul ke sana. Tersentuh oleh tangannya, rudalnya justru kian menegang. “Ukhh,” tanpa sadar dia mendesah merasakan kenikmatan tanpa sengaja. Memang Fahri termasuk ikhwan yang belum pernah mengenal seks.

Ustazah Lia diam-diam mengikuti. Dia berdiri tepat di belakang Fahri, kemudian memanggilnya, “Akhi Fah…uhhh,” ucapan ustazah lia terpotong. Fahri yang kaget dipanggil langsung membalikkan tubuhnya dan hal itu membuat tubuh keduanya langsung merapat. Tubuh ustazah lia hampir jatuh dan Fahri refleks meraihnya. Karena dua tangan Fahri yang tadi memegang celana kini terpaksa meraih ustazah lia, otomatis celananya langsung melorot ke bawah.

Fahri merasa malu. Kepalanya tertunduk. Dia tahu mata ustazah raudah langsung tertuju pada area menonojol di balik celana dalamnya. Dia tak tahu harus bersikap seperti apa. Ustazah lia yang tahu bahwa dirinya harus mengambil inisiatif kemudian mengulurkan tangannya sementara tubuhnya maju. Tangan itu meremas tonojolan di selangkangan Fahri.

“Ustazah….” mulut Fahri yang membuka langsung dilumat oleh bibir ustazah lia. Tubuh Fahri mundur terdesak ke dinding. Dia serba salah. Tapi dia juga meraskaan kenikmatan aneh saat tangan lembut ustazah lia meremas rudalnya dari balik celana dalam. “Ustazah…” Fahri kembali berkata ketika mulut itu terlepas dari mulut ustazah lia.

Ustazah lia tak menjawab, dia hanya menatap Fahri dengan mata sayu dan nafas memburu. Di bawah tangannya menyelinap ke balik celana dalam membuat tubuh Fahri sedikit mengejang. Fahri memejamkan matanya merasakan syahwatnya makin memuncak meski di satu sisi dia merasa sungkan.

Ustazah lia kemudian menurunkan tubuhnya. Fahri merasakan kulit rudalnya disentuh oleh benda basah dan lunak, juga hangat. Dia membuka matanya. Dilihatnya sang ustazah mengulum dan memaju mundurkan rudalnya di dalam mulutnya. “Ahhh, ahhhh,” tanpa sadar dia mendesah, tangannya menggapai-gapai dinding di belakangnya. Hanya berapa menit ustazah lia merasa rudal di mulutnya berkedat kedut. Dia tahu rudal itu hampir muncrat. “Maklum pemula,” batinnya. Dia kemudian melepaskan rudal itu dari mulutnya, selangkangan Fahri sedikit maju seakan tidak rela.

Ustazah lia kembali berdiri menghadap Fahri yang perlahan membuka matanya. Nafasnya kini sama memburunya dengan ustazah lia. Rasa sungkannya sudah digantikan nafsu birahi yang membara. Maka ketika bibir seksi ustazah lia melumat bibirnya kembali, dia pun kini membalas. Tangan ustazah lia membimbing tangan ikhwan juniornya itu ke dadanya. Dituntun naluri kelelakiannya, Fahri meremas busungan sekal itu dari balik mukena. Didengarnya desahan pelan ustazah alim itu yang membuatnya semakin bergairah. Tangannya yang satu kemudian makin canggih menggerayangi tubuh ustazah lia, turun ke bawah dan….

“Akh!” ustazah lia menggelinjang ketika dirasakannya tangan itu menyentuh itilnya. Kemudian dirasakannya tangan itu membelai-belai jembutnya yang dicukur rapi tapi tak gundul. Lidahnya dengan penuh nafsu menjelajahi rongga mulut Fahri. Kemudian turun menjilat-jilat leher sang ikhwan pemula itu yang kini mulai bisa memberikan rangsangan pula pada tubuhnya.

Lama mereka bercumbu di sana. Baru kemudian Fahri membopong tubuh sang ustzah ke ranjangnya. Dibaringkannya sang ustazah di sana yang lalu mengambil posisi menantang. Dikangkangkannya pahanya dengan sedikit bagian mukena dibuka. Dengan menggila Fahri langsung menyingkapkan mukena itu dan membenamkan mukanya tepat di serambi lempit tembem ustazah lia. Diciumnya aroma yang baru kali itu dia ketahui, dijilat-jilatnya jembut ustazah lia dan sesekali lidahnya naluriah menjelajahi belahan serambi lempit sang ustazah membuatnya merintih-rintih keenakan.

“Akhh, akhii, sudah,, ahhhh, masuk..kannnn, ahhhh,” akhirnya ustazah lia tak kuat. Dia bangkit dan langsung meraih kepala sang ikhwan dan melumat bibirnya membabi buta. Fahri lalu memposisikan tubuh di atas ustazah lia. rudalnya diposisikan tepat di belahan serambi lempit ustazah lia. Jantungnya berdetak kencang membayangkan pengalaman pertanya menyetubuhi, dengan ustazah pula, seniornya yang alim yang sangat dihormatinya.

Setelah pas, Fahri menurunkan tubuhnya. rudalnya yang lumayan besar sedikit tertahan oleh serambi lempit ustazah lia meskipun sudah sangat basah. Akan tetapi hanya dengan satu hentakan tambahan, rudal itu masuk sepenuhnya menusuk serambi lempit ustazah lia.

“Uhhhhhh,” Fahri mengeluh. Untuk sesaat dia mendiamkan saja rudalnya di sana, merasakan kenikmatan kulit rudalnya yang bergesekan dengan hangat dinding serambi lempit ustazah lia yang basah. Ustazah lia sementara itu memejamkan matanya. Kepalanya sedikit terangkat dari bantal yang menahannya.

“Gerakkan, akh…akhii,” ustazah lia berbisik. Fahri paham. Maka dia menurun naikan tubuhnya, merasakan kenikmatan yang kian meninggi seiring maju mundurnya rudalnya di lubang kenikmatan ustazah alim itu. Ustazah lia mengimbangi juniornya itu dengan menaikturunkan pantatnya. “Akh akh akhhhh,” desahannya membuat Fahri memacu semakin bersemangat.

Mungkin karena itu merupakan pengalaman pertama Fahri, maka dia belum bisa mengatur tempo. Tak heran hanya dalam beberapa menit pun dia sudah merasakan rudalnya terasa hampir meledak. “Agghhhhh,” dia menggeram. Ustazah lia yang melihat wajah Fahri nampak menahan syahwat dan rasa nikmat yang hampir meledak itu langsung surti. Dia menggoyangkan pantatnya makin cepat sambil membusungkan dadanya. Fahri yang paham maksud ustazah lia langsung meremas bungkahan sekal yang menggoda itu dengan gemas.

“Ana…ahh ahhh ahhhhhhh,” baru saja Fahri akan mengatakan dirinya hampir orgasme, ustazah lia sudah merasakan pancutan-pancutan air hangat di dalam serambi lempitnya. Dia pun maklum bahwa sang junior memang masih butuh pelajaran lanjutan. Maka dia mendiamkan saja ikhwan juniornya itu merasakan keperjakaannya yang dilepas di serambi lempit ustazah lia.

Akan tetapi ketika Fahri hendak mencabut rudalnya, ustazah lia melarangnya. Dia bangkit tanpa melepas serambi lempitnya dari rudal Fahri yang masih tegang di dalamnya, kemudian dengan gerakan berpengalaman dia mendorong sang ikhwan menjadi berbalik terlentang, dirinya di atas. Sambil tersenyum nakal sang ustazah membiarkan selangkanga mereka menyatu sementara tangannya membelai-belai dada sang ikhwan. Kemudian, cupppp cuppp, bibirnya kembali melumat bibir Fahri sementara tangannya meraih tangan sang ikhwan menekankannya ke buah dadanya yang menggantung sekal.

Dirangsang seperti itu, mau tak mau Fahri kembali bergairah. Dirasakannya rudalnya menegang kembali seperti tadi setelah sebelumnya sedikit melunak. Setelah merasakan itu, ustazah lia langsung menaik turunkan pantatnya, posisi WOT. Betapa eksotisnya pemandangan itu di mata fahri. Seorang ustazah memenyetubuhinya dari atas dengan hanya mengenakan mukena. Sementara itu keringat sang ustazah nampak membasahi bagian tubuhnya yang terbuka, membuat kulit mulus yang selalu ditutupi gamis dan kerudung lebar itu nampak mengkilap.

“Ukhh ukhh, ahhhh aaaaahh,” desahan kedua manusia alim itu terdengar syahdu memenuhi ruang kamar Fahri. Fahri sudah tak ingat status wanita yang dientotnya sebagai ustazah seniornya yang seharusnya dihormati, sementara ustazah lia juga sudah tak tahan membutuhkan pelampiasan birahinya yang tadi dirangsang sensasi vibrator selama kajian di kampus dengan para ukhti.

*****

Malamnya, ustazah lia sedang duduk di pinggir ranjang, dia baru saja selesai berganti baju dengan mukena terusan pertanda dia sudah siap-siap akan tidur. Aihhh, begitu dia membatin melihat ustazah raudah masuk. Bakalan tidur telat lagi nih. Tapi jelas dia pun menyukainya.

“Bagaimana tadi pengalaman di kampus, ukh?” Ustazah lia tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. “Apa ana bilang,” begitu jawab ustazah raudah. Dia kemudian duduk di samping ustazah lia. Saat itu ustazah raudah juga mengenakan mukena terusan warna putih kembang-kembang. Di area selangkangannya, ustazah lia melihat ada benda mengacung.

“Ukhti memakai strapon rudal dari kamar ukhti?” ustazah lia dan ustazah raudah memang semakin liar saat mereka hanya berdua, istilah rudal dan serambi lempit sudah tak terbilang banyaknya keluar dari mulut mereka yang suci.

“Hihi, iya, kan bukan Cuma antum yang pengen ngerasain sensasi nakal, ana juga penngen.” “Hush, untung tidak ketahuan umi aminah.” Ustazah lia menyentil benda yang mengacung tegak itu. Lalu dia tertawa mengingat kenikmatan yang sudah dilaluinya bersama ustazah raudah dengan menggunakan benda itu. Membalas godaan itu, ustazah raudah memajukan selangkangannya, membuat dildo itu mengangguk-angguk menggemaskan.

Cuppppppppppp, ustazah raudah mencium bibir ustazah lia. Ustazah lia membalas dengan penuh nafsu, tangannya mulai bergerilya ke balik mukena ustazah raudah. Ahh, buah dada sang ustazah itu selalu membuatnya merasa terangsang. Putingnya demikian cepat mengacung, membuatnya ingin mengadukannya dengan bibirnya yang seksi itu.

Setelah cumbuan itu, ustazah raudah langsung mengangkat bagian belakang betis ustazah lia membuatnya terdorong berbaring di ranjang dengan posisi menghadap pintu, artinya posisi itu menyamping di ranjang, tidak membujur seperti biasanya. Akan tetapi hal itu tak jadi pikiran bagi ustazah lia. Dia langsung membuka pahanya, mempersilahkan ukhti rekannya yang alim itu memberikan cumbuan selanjutnya.

Kali ini ustazah raudah tak langsung membenamkan kepalanya di selangkangan ustazah lia, melainkan tangannya mengangkat kaki ustazah raudah kemudian menjilat-jilatnya naik ke betis. Ustazah lia memejamkan matanya merasakan sensasi baru di tubuhnya. Jilatan itu bergantian di kakinya kiri kanan, menyusur ke atas sedikit demi sedikit. “Ahhhhh,” dia mendesah sambil mendongakkan kepalanya saat lidah itu dirasakannya menyusuri pahanya yang mulus.

Tak sesuai harapannya, jilatan itu berhenti sebelum sampai ke selangkangannya. Dia membuka matanya dan melihat ustazah raudah menatapnya menggoda. “Ukhtiiiii, teruuuuussss,” ustazah lia merengek dan menggerak-gerakkan pantatnya. Ustazah lia menjulurnya lidahnya menggoda, membasahi bibirnya seolah menantang.

Merasa jengkel, ustazah lia mencoba bangkit, tapi tangan ustazah raudah menahan tubuhnya. “Ukhtiiiiiiiiiiiiiii,” ustazah lia tak berdaya. Nafsunya meninggi meminta dipuaskan setelah rangsangan tadi, tapi ustazah raudah ternyata hanya mempermainkannya.

“Hihihi.” Ustazah raudah ketawa-ketawa sambil tangannya mengelus-elus betis ustazah lia. Ustazah lia diam. Dia hanya mengoyang-goyangkan pantatnya mencoba bangun, tapi tak bisa. Akhirnya ustazah raudah kasihan juga. Dia kemudian membenamkan kepalanya di selangkangan ustazah lia. Tak diduganya…..

Ceerrr ceeeerrrrr ceeeerrrr, saat kepalanya pas di muka belahan serambi lempit ustazah lia, sang ustazah kencing, air kencingnya menyemprot tepat di mukanya, lumayan banyak, luruhan air kencing itu membasahi mukena dan ranjang.

Ustazah raudah mengerjap-kerjapkan matanya yang ikut tersiram air kencing. sementara kini giliran ustazah lia yang tertawa, merasa puas bisa balas dendam mengerjai ustazah raudah. Dilihatnya ustazah raudah menjilat-jilat air kencing yang membasahi bibirnya dan sebagian yang luruh ke sudut bibirnya seolah penuh kenikmatan. Lalu dia berkata, “serambi lempit tak sopan, harus diberi pelajarannnn,”

Dengan gemas dibenamkannya mukanya di lembah kenikmatan itu, dihisap-hisapnya klentit ustazah lia sekuat yang dia bisa sementara itu jemarinya juga ikut turun mengobel-ngobel serambi lempit ustazah lia dengan buas “Aaaaaanggghhh aaaaanggggh uhhhhhh ukhtiiiiii ampunnnnn uhhhhhhhhhhhhhhh,” ustazah lia hanya mampu merintih-rintih binal. Tubuhnya bergerak ke kanan ke kiri berusaha melepaskan serambi lempitnya dari cengkraman ustazah raudah tapi tak bisa.

Rangsangan itu dirasakan ustazah lia tak tertahankan. Tubuhnya seperti tersetrum listrik berkelojotan. Keringatnya turun bercampur dengan air kencingnya tadi. “Cret cret cretttt,” tubuhnya mengejang saat serambi lempitnya mengeluarkan orgasme pertamanya gara-garanya klentitnya yang tak henti dihisap ustazah raudah. Ustazah raudah mengetahui pasangan nya sudah orgasme lalu menelusupkan lidahnya ke belahan serambi lempit ustazah lia, merasakan perpaduan cairan orgasmenya yang berkombinasi dengan rasa air kencing.

Ustazah lia berbaring lemas dengan nafas ngos-ngosan. Ustazah raudah yang masih ingin membalas dendam tak memberi ampun. Dihentikannya hisapannya di klentit sang ustazah, tapi dibaliknya tubuh itu menjadi menelungkup dan ditusuknya serambi lempit yang sudah sangat licin itu dengan dildonya dalam posisi doggy style. “Aaaaaahhhhhhh,” ustazah lia hanya bisa merintih pasrah saat dirasakannya rudal buatan itu menusuk serambi lempitnya dengan brutal.

Pada saat itu, posisi tubuh ustazah lia memang membelakangi pintu. Dia lupa bahwa tadi ustazah raudah sama sekali tak mengunci pintu itu. Apa boleh buat, nafsu syahwat sudah terlanjur menguasainya. Apa yang dipirkannya saat itu hanyalah kenikmatan yang diberikan sang ukhti pasangannya itu.

Dia tak tahu bahwa sebenarnya malam itu ustazah raudah sudah kongkalikong dengan alif. Tanpa suara, Alif membuka pintu kamar ustazah lia dan masuk ke dalam. Ustazah raudah merintih agak keras sehingga menutupi suara pintu yang dikunci Alif dari dalam. Kemudian sambil mengendap-endap alif menghampiri kedua ustazah yang sedang diamuk syahwat itu.

“Ahhhhhh, ahhhh, aaaaaaakhhhhhhhhh, appaaa…..” ukhti lia kaget merasakan batang yang menujah serambi lempitnya terasa lebih besar dan kenyal daripada tadi. Dia kemudian menoleh. Betapa kagetnya dia melihat sosok Alif yang kini sedang maju mundur menusukkan rudalnya di serambi lempitnya. Dia akan melepaskan diri, tapi tangan Alif kukuh mencengkeram pinggangnya. Sementara itu, ustazah raudah mengambil posisi di depan ustazah lia dan melumat bibirnya, “Mmmmmm mmmmm mmmm,” suara ustazah lia teredam oleh bibir ustazah raudah.

Ustazah lia merasakan rudal Alif menyentuh area-area dalam serambi lempitnya lebih nikmat daripada saat tadi menggunakan dildo. Bahkan lebih nikmat juga daripada rudal ahmad soleh. Lumatan di bibirnya juga pada akhirnya membuat otaknya tak peduli apapun selain kepuasan. Maka ketika ustazah raudah melepas bibirnya, yang terdengar dari mulut ustazah berbibir seksi itu hanyalah rintihan kenikmatan.

Sudah dua pertiga rudal alif memasuki serambi lempit ustazah lia dan dirasakannya serambi lempit sang ustazah itu sudah mentok. Diremas-remasnya penuh birahi buah dada ustazah alim itu yang sekal menggantung. Sementara itu, di depannya, ustazah raudah menyodorkan serambi lempitnya yang kini sudah tak mengenakan strapon. Ustazah lia menjilati serambi lempit sang ukhti yang sudah sangat basah itu dengan buas. Erangan kenikmatan tak henti keluar dari mulutnya seiring tujahan ganas Alif di serambi lempitnya.

“Aaaaaanggg aaaa aaaanggg aaaangg unggghhhh uuuuuuuuunggghh,” erangan ustazah lia membuat birahi alif makin meningkat. Tapi pengalaman seksnya membuat dirinya pandai mengatur tempo permainan. Maka bukannya dirinya yang mencapai puncak kenikmatan lebih dulu, melainkan ustazah lia.

Ustazah lia merasakan desiran-desiran syahwatnya sudah hampir tak tertahankan. Bau serambi lempit ustazah raudah membantu merangsangnya juga, belum lagi tangan alif yang berjaya meremas-remas dan memilin-milin putingnya sesekali. Jilatan-jilatan alif di punggungnya dari atas ke bawah dan kadang sebaliknya juga memberikan kenikmatan tersendiri baginya.

Maka tak heran dia kemudian menjadi yang mencapai kenikmatan paling dulu di antara mereka bertiga. Ketika orgasme keduanya menggapainya, dirasakannya pandangan matanya berkunang-kunang, Alif menujahkan rudalnya kuat-kuat sampai hanya sedikit bagian rudalnya yang tak masuk. Ngocoks.com Ustazah lia merasakan rudal itu memenuhi serambi lempitnya, memberikan rangsangan total pada dinding-dinding serambi lempitnya.

Lalu seperti air bah, kenikmatan membanjiri tubuhnya, tak ada erangan keluar dari mulutnya yang menganga, air liurnya menetes dari sudut bibirnya sementara matanya mendelik dan kepalanya mendongak ke atas. Kemudian tubuhnya mengejang-ngejang, ditahan oleh tangan kukuh alif yang untuk sementara menghentikan tujahannya.

Saat kepala ustazah lia sudah ambruk ke ranjang. Alif perlahan mencabut rudalnya, ploppppp, bibir serambi lempit ustazah lia melebar seolah akan tertarik keluar juga. Ustazah lia mengerang merasakan kenikmatan terakhir dalam gelombang orgasme keduanya itu, kemudian tubuhnya menelungkup jatuh di kasur.

Ustazah raudah langsung mengangkangkan pahanya di ranjang sementara alif mengocok-ngocok rudalnya yang berlumuran cairan serambi lempit ustazah lia. Matanya liar menatap tubuh ustazah raudah yang tertutup mukena basah, sebagian oleh air kencing ustazah lia, sebagian oleh keringat. Dengan gaya menggoda ustazah lia mengangkat buah dada kanannya yang masih terutup mukena. Karena mukena itu basah, maka puting susunya nampak tercetak menggairahkan, kemudian dia menjilatinya dengan bibirnya, matanya sementara itu memandang alif penuh birahi.

Alif naik ke ranjang dan meraih tubuh ustazah raudah. Dilumatnya bibir ustazah raudah yang meski tak seseksi bibir ustazah lia tapi juga tak kalah binalnya. Tangan ustazah raudah sementara itu mencekal rudal alif yang panjang besar itu membimbingnya ke arah serambi lempitnya.

“Akhhhhh,” ustazah raudah mendesah dan melentingkan tubuhnya saat alif menurunkan tubuhnya kuat-kuat. Bahkan meski serambi lempitnya sudah sangat basah, ustazah raudah masih merasakan rudal itu perlu beradaptasi sebentar dengan lubang kenikmatannya. Alif yang sudah separuh jalan menuju kenikmatan menaik turunkan tubuhnya dengan liar, tangannya meremas-remas dan sesekali menepuk lembut buah dada ustazah raudah yang hanya bisa menggelepar-gelepar di ranjang.

“Ah!” Alif mendongakkan kepalanya saat dirasakannya sentuhan di pelirnya. Dia menoleh ke belakang sedikit dan dilihatnya ustazah lia berbaring menelentang di bawahnya. Kepalanya terangkat menjilat-jilat pelirnya. “Ahhhhh, terusssshhh ustazahhh, ahhhh,” jilatan di pelirnya itu membuatnya kian liar seperti kuda birahi. Ustazah raudah semakin keras ditujahnya membuat sang ustazah melolong-lolong dengan mata mendelik. Tangannya menggapai-gapai tapi pada akhirnya hanya bisa meremas-remas seprai. Lenguhan seperti suara sapi disembelih terdengar keluar dari mulutnya.

“Ahh ahhh ahhh, ustazahku, ukhti, ukhti alimm, ahhhh, rasakan rudalku ukhtii ukhtiiii,” alif menggeram-geram buas. Dirasakannya mulut ustazah lia mencaplok pelirnya, menghisap-hisapnya membuat rangsangan di tubuhnya terasa kian membabi buta. Di bawahnya ustazah raudah mendesah-desah, “Aliffff, pelannn, ahhh, teruss, lifff, lifffffffff, umi kelu…arrrrrrrrrrhhhh,” ustazah raudah meremas seprai kuat-kuat sampai awut-awutan. Kepalanya terangkat seiring tubuhnya yang melenting, alif meraih kepala itu dan melumat bibirnya dengan dahsyat. tangan ustazah raudah memeluk tubuh alif kuat-kuat sementara kuku jarinya mencengkram punggung alif, menggores-gores liar seiring deru nafasnya yang menahan desahannya keluar.

Alif sementara itu juga merasakan kedutan-kedutan di rudalnya mulai mengerap. Kuluman di pelirnya membantu mempercepat orgasmenya. Kenikmatan dalam tubuhnya sudah mendesak di sana sini siap meledak. Membayangkan bibir seksi ustazah lia dia makin tak tahan hingga akhirnya, “Annnn…jinggggg,” dia menggeram,

“ustazahhhhhh, aku keluar, ahhhhhhhh, rudalnya menusuk sekuatnya ke serambi lempit ustazah lia yang kembali mendongakkan kepalanya dengan mulut menganga merasakan kenikmatan yang sudah hampir tak bisa dia tahan. Air liur menetes-netes dari sudut bibirnya, membasahi ranjang yang remuk redam oleh remasan tangannya.

Tak diduga alif, tangan ustazah lia mendorong selangkangannya dari bawah saat rudalnya baru satu kali memuncratkan sperma. Creetttt, satu kali lagi muntahan spermanya membasahi bagian luar serambi lempit ustazah raudah sementara gesekan tiba-tiba antara kulit rudalnya dengan dinding serambi lempit ustazah raudah saat rudalnya didorong ustazah lia keluar memberikan kenikmatan tersendiri.

Lalu secepat kilat ustazah lia mendorong kepalanya menindih serambi lempit ustazah raudah dan creetttt creettt cretttttttt, sperma alif kembali memancut mengenai muka ustazah lia dengan liar. Alif mendongakkan kepalanya merasakan kenikmatan yang melandanya. Di akhir pancutannya, ustazah lia membuka mulutnya dan memasukkan rudal panjang besar itu ke dalam mulutnya.

“Akhhhh, ustazahkuuu,” Alif mendesah merasakan hisapan yang membuatnya makin terlena. Ketika ustazah menghisap rudalnya, tubuh alif mengejang-ngejang dan rudalnya memuncratkan sisa-sisa sperma yang masih tersimpan. Ustazah lia menelannya dengan lahap. Ketika rudal itu akhirnya keluar dari mulut ustazah lia yang berbibir seksi, rudal itu sudah bersih tapi berlumuran ludah ustazah lia.

Alif duduk mengangkang, nafasnya terengah-engah. Tubuh ustazah lia menggelosoh di ranjang. Kepalanya bertelekan pada pangkal paha Alif. rudal alif yang basah oleh liurnya menyentuh-nyentuh hidungnya. Tidak setegang tadi, tapi ukuran rudal itu tetap saja membuatnya kagum. Ahh, bau yang khas, desahnya. Nafasnya masih terengah-engah. Alif dengan lembut membelai-belai kepala ustazah lia yang tertutup mukena.

Sementara itu, hp ustazah raudah berbunyi. Dengan malas-malasan, dengan serambi lempit masih berlumuran cairan kenikmatan Alif dan tubuh yang masih lemas, serambi lempitnya juga masih terasa sedikit pegal menyimpan sisa kenikmatan yang tadi menerjangnya lewat sana, dia menggapai hpnya. Setelah membukanya, dia menunjukkannya pada Alif. Ngocoks.com

“Ukhti…” begitu bunyi sms itu. Di bawahnya ada nama pengirimnya: ustaz karim. Alif tersenyum. Ustazah Raudah tersenyum sambil mengirimkan balasan. Sementara di bawah, ustazah lia bangkit dengan wajah masih berlumuran sperma alif, sebagian turun ke bibir seksinya. Dengan buas dia mencaplok bibir alif yang membalasnya dengan penuh gairah.

Dihisapnya sperma yang tersisa di bibir seksi ustazah lia, asin. Dijilatnya spermanya yang membasahi wajah cantik ustazah mungil itu. Dalam posisi alif berselonjor seperti itu, ustazah lia merapatkan tubuhnya dengan posisi yang sama, kedua kakinya membelit pinggang alif sementara serambi lempitnya perlahan tapi pasti semakin mendekat ke rudal alif.

Bersambung…. Ustazah Lia menunggu dengan gelisah di parkiran kampus dekat asrama syahamah itu, tempat yang sama dirinya kemarin-kemarin mengisi acara kajian yang berakhir dengan persetubuhannya dengan Fahri. Sesekali matanya memandang orang-orang yang datang ke sana, berharap orang yang dia tunggu datang.

Parkiran itu memang parkiran terbuka. Siapapun bisa mengaksesnya terutama karena di pojok parkiran itu juga ada mesin ATM yang beroperasi 24 jam. Sudah sepuluh menit yang lalu dia mengirim sms ke nomor orang yang dia tunggu: “Ana sudah di parkiran.”

Sore itu ustazah lia mengenakan kerudungnya yang berwarna hitam kembang-kembang panjang sampai pantatnya. dikombinasikan dengan gamis kombor berwarna cokelat muda yang nampak sederhana. Hanya ada sedikit corak di bagian depannya. Dia membawa tas kanvas yang dulu sering dia bawa saat dia masih kuliah. Penampilannya sebagai seorang ukhti sudah sangat sempurna.

Sepuluh menitan kemudian, seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan dandanan rapi seperti mahasiswa datang mengendarai vixion. Perasaan ustazah lia berdesir. Laki-laki itu memandang sekitar seperti mencari seseorang, kemudian saat matanya menangkap sosok ustazah lia, dia melajukan motornya dan berhenti tepat di depan ustazah lia.

Membuka helmnya, dia mengangguk kemudian menghampiri ustazah lia.

“Ukhti Lia?” sapanya dengan nada bertanya.

Ustazah Lia tersenyum kemudian mengangguk. Matanya masih mengamati laki-laki itu dengan seksama. Kemudian laki-laki itu kembali bertanya, “Aku kalakanji. Langsung saja yuk ukhti, ngobrolnya nanti saja,” sambil mengedipkan matanya, dia menambahkan, “udah enggak sabar.”

Ustazah lia kemudian bangkit dan naik ke boncengan di belakang Kalakanji. Lalu sepeda motor itu pun berlalu meninggalkan parkiran kampus. Dalam perjalanan, mereka berdua sempat mengobrol sedikit, ternyata Kalakanji adalah mahasiswa kampus itu. Semester 6. Jelas dia orang kaya, terlihat dari penampilannya. Dan terlihat juga dari kosnya.

“Ini kosku, ukhti,” Kalakanji memarkir motornya di depan kamar kosnya. Sebuah kamar kos yang besar, lengkap dengan serambi. Hanya ada 3 lokal di sana, dan masing-masing lokal dibuat dengan model perumahan. Artinya, jika tinggal di sana sepertinya tak perlu berakrab-akrab dengan tetangga.

“Mari masuk,” Kalakanji mendahului masuk ke kamarnya. Kamarnya memang luas meski perabotannya tak banyak. Ada kamar mandi dalam, ada juga ruangan terpisah ke belakang sebagai dapur. Sepintas mirip dengan kamar kos Fahri akan tetapi ukurannya kira-kira dua kali lipatnya.

“Duduk dulu ukhti, anggap saja kamar sendiri,” Kalakanji menampakkan senyum nakalnya. Dia kemudian berlalu ke belakang. Ustazah Lia menaruh tasnya di meja. Dia kemudian duduk di kursi depan meja itu. Matanya menatap sekitar kamar, mencoba menebak seperti apa karakter penghuni kamar itu.

“Nama asli antum siapa, mas?” Ustazah Lia membuka pertanyaan ketika Kalakanji sudah kembali ke depan. Ustazah Lia sedikit memicingkan matanya melihat minuman yang dibawanya. Dua botol pilsener ukuran tanggung, tampaknya baru keluar dari coolbox yang memang ada di dapur kalakanji. Ustazah lia tentu saja belum pernah meminum minuman seperti itu sehingga dia merasa berdebar-debar juga.

“Ahh, Nofal, ukhti, hehe,” Kalakanji memberi isyarat ustazah lia supaya bangkit dari kursi. Kemudian dia duduk di sana dan tanpa cannggung langsung menarik tubuh ustazah lia sehingga jatuh ke pangkuannya. Ustazah Lia menurut saja, meski dia untuk sementara belum menunjukkan banyak gerak. Hal itu justru membuat Nofal gemas. Tangannya merangkul pinggang ustazah lia di pangkuannya, sementara tangannya yang satu menyentuh-nyentuh bibir ustazah lia.

“Ayo diminum dulu ukhtiku,” Nofal kemudian sambi menenggak bir itu. Ustazah lia mengamati. Kemudian dia nyeletuk. “Kok ana enggak dikasih gelas sih, mas?”

Nofal tertawa. “Gelas? Gak usah ukhti,” tangannya sedikit meremas pinggang ustazah lia. “Buka saja mulut ukhti,” ucapnya. Ustazah lia menurut. Sementara nofal menenggak kembali minumannya, tapi tidak meminumnya. Mulutnya nampak kembung dipenuhi pilsener. Dia kemudian mendekatkan bibirnya ke mulut ustzah lia yang terbuka. Kemudian dicaploknya bibir itu dengan posisi kepalanya di atas dan kepala ustazah lia mendongak, ditahan oleh satu tangan Nofal.

“Glkkkkk glkk glkkk,” pilsener dari mulut nofal kemudian berpindah ke mulut ustazah lia dan langsung mengalir ke tenggorokannya. Terasa sedikit aneh, ada rasa masamnya, tapi entah kenapa ustazah lia menyukainya. Baru kali ini dia mencoba permainan semacam ini.

Nofal mengamati wajah ustazah lia sambil tersenyum. “Gimana ukhti, enak?”

Ustazah lia mengangguk. Balas tersenyum. Nofal tak tahan melihat bibir seksi itu, bibir bawah yang tebal menggoda membuatnya langsung menurunkan kembali bibirnya, cuppp cuppp cuppp. Kali ini ustazah lia mulai beraksi, dikeluarkannya lidahnya menelusup ke dalam rongga mulut nofal, membuat nofal terangsang dan tangannya mulai liar menggerayangi tubuh ustazah lia di pangkuannya yang mengenakan gamis kombor coklat muda itu.

“Ahhhh,” ustazah lia menggeliat-geliat. Tangannya memeluk erat leher nofal, sesekali mengusap-usapnya lembut, menyentuh saraf-saraf tubuh nofal membuat rudalnya yang terhimpit pantat ustazah lia mulai bergerak-gerak. Ustazah lia juga merasakannya. Sambil tersenyum dia menyelipkan tangannya ke benda di bawah pantatnya itu.

“Apa ini, mass?” “itu rudal, ukhtiku sayang,” Nofal menyingkapkan sedikit kerudung lebar ustazah lia, kemudian kepalanya menyelusup ke baliknya, bibirnya langsung menjilat-jilat leher ustazah lia sampai yang punya kelimpungan. Tak hanya itu, sesekali ustazah lia juga menggelinjang ketika dirasakannya gigitan-gigitan kecil di lehernya.

Balas dendam, dia menurunkan sedikit pantatnya di pangkuan nofal, dengan demikian area rudal nofal pun bisa bebas. Dengan sedikit gerayangan tangannya menyusup ke balik celana nofal, menyentuh rudalnya yang sudah membesar terangsang. Diusapnya lembut, tapi saat dirasakannya gigitan-gigitan di lehernya, dia balas mencubit pelan rudal itu.

“Arrrghhhh,” Nofal menggelinjang bangkit. Mau tak mau ustazah lia pun ikut berdiri sambil tertawa. “Nakal ukhti,” desis naufal, tubuhnya memeluk ustazah lia dari belakang dalam posisi berdiri.

“Tapi suka kan?” ustazah lia menggelendot manja ke tubuh nofal, membuatnya makin gregetan. Memang nofal punya pacar, tapi bukan akhwat. Dia sudah berkali-kali ngesek dengan pacarnya itu sampai bosan dan mengharapkan sensasi lain, menyetubuhi akhwat seperti ustazah lia.

“Suka sekali, hehe, uangnya sudah masuk rekening ukhti kan?” kali ini nofal meremas-remas kedua payudara ustazah lia dari belakang dengan ganas. Sementara ustazah lia menyandarkan kepalanya di bahu kiri nofal sambil kepalanya menoleh ke wajah nofal.

“Sudahh, tambahi dong mass,” cupp cuppp cupp, diciumnya bibir nofal yang membalas sambil memejamkan mata. Dirasakannya rudalnya semakin tegang di bawah, terkurung di celananya yang terasa kian menyempit.

“Iyah ukhtiku, nanti pasti kutambahi,” desisnya. Nofal sudah mentransfer sebesar 2 juta tadi, sebagai upah 24 jam menikmati tubuh sang ustazah. Bagi dia duit sebesar itu hanya duit yang sepele.

“Cuppp,” ustazah lia kembali menciumnya. Kemudian ustazah lia membalikkan tubuhnya dan mendorong tubuh nofal ke dinding kamar. Nofal menurut saja dengan hati berdebar-debar. Apalagi yang akan dilakukan ukhti liar ini, begitu pikirnya.

Setelah tubuh nofal bersandar di dinding, ustazah lia tersenyum dan menggerakkan wajahnya mencium sepintas saja bibir nofal. Kemudian sambil tangannya mengusap-usap makin ke bawah, dari dada, ke perut, tubuhnya pun semakin ke bawah. Lalu tangan ustazah lia mencapai celana nofal dan langsung mencoba melepasnya.

Mata ustazah lia berbinar menatap benda yang nampak tegang di bawah celana dalam nofal. Dia melepas celana itu sampai ke bawah dengan sabar. Nofal mengangkat kakinya supaya celana itu bisa terlepas semuanya. Kemudian tangan ustazah lia dengan lembut melepas celana dalam itu. rudal nofal langsung mengacung menyentuh-nyentuh kepala ustazah lia yang ditutupi kerudung kembang-kembang hitam.

Ustazah lia menundukkan kepalanya mencium paha nofal dari atas menyusur ke bawah pelan-pelan, sementara tangannya mengocok-ngocok rudal nofal pelan. Nofal memejamkan matanya bersandar di dinding. Kakinya bergerak-gerak dirangsang oleh gerakan bibibr ustazah lia yang membuat rudalnya makin menegang. Kocokan di rudalnya juga terasa sangat lembut. Maklum tangan ustazah lia bukan tangan yang terbiasa bekerja berat.

“Ahhh, ukhtiiii,” tangan nofal kemudian bergerak meraih kepala ustazah lia, mengusap-usapnya pelan. Ustazah lia pindah ke paha satunya dan dia pun melakukan hal yang sama seperti tadi, tangannya semakin gencar mengocok-ngocok rudal nofal membuat benda itu makin tegang mengacung.

“Aihhhhhhhhhh,” desahan nofal berganti, kepalanya mendongak dengan mata memejam ketika dirasakannya rongga yang hangat, lembut, dan basah mengulum rudalnya. Terasa seperti serambi lempit, nikmat sekali. Tangannya gelisah di dinding sementara ustazah lia perlahan memaju mundurkan mulutnya yang dipenuhi oleh rudal nofal. Sesekali diperagakannya seperti dia sedang menggosok rongga-rongga mulutnya dengan menggunakan rudal itu.

“Terus ukhti, teruss,” desis nofal. Kali ini kepalanya menunduk mengamati pemandangan erotis ustazah alim berkerudung lebar dan bergamis kombor sedang asyik mengulum rudalnya. Tangannya meraih belakang kepala ustazah lia dan ikut menggerak-gerakkannya maju mundur.

Slappp slappp, bunyi kuluman rudalnya menggema memenuhi ruangan itu. Nofal merasakan kuluman di rudalnya terasa berbeda dengan kuluman pacarnya. Terasa lebih nikmat. Dia bahkan merasakan rudalnya tak akan bertahan lama jika dibiarkan begini terus. Maka dia pun menahan kepala ustazah lia dan berkata, “Sudah dulu ukhtiku,”

Ustazah lia menurut. Dia kembali berdiri berhadapan dengan nofal. Tangannya kini ganti mengocok-ngocok rudal nofal yang sudah licin berlumuran liurnya. Nofal mencopot kausnya kemudian dengan ganas memegang kepala ustazah lia dan melumat bibir seksinya. Ustazah lia membalas, cuppp cuppp cupppp,” ciuman keduanya nampak liar menimbulkan bunyi kecipak menggairahkan.

Nofal meremas-remas payudara ustazah lia yang sudah membusung sekal. Disentuh-sentuhnya putingnya dari balik gamis ustazah lia membuat sang ustazah mengerang-erang kenikmatan. Lalu tangan nofal semakin liar menyingkapkan gamis ustazah lia, meraba-raba pahanya, menyentuh lubang serambi lempitnya yang tak terlindungi apapun.

“Ahhhh, masssshhhh,” ustazah lia menggelinjang. Nofal mengobel-ngobel serambi lempit ustazah lia penuh nafsu. “Ahhhhh ahhhhh,” desahan ustazah lia meninggi ketika jemari nofal menyentuh-nyentuh itilnya dengan kasar. Tubuhny mengejang-ngejang gelisah, ditahan oleh satu tangan nofal yang lain yang merengkuhnya.

Nofal kemudian menghentikan rangsangannya. Dia tersenyum. “Sebentar, ukhtiku.” Ustazah lia kemudian duduk di ranjang. Nofal membuka lemari pakaiannya, kemudian mengambil satu pakaian dari sana dan memberikannya pada ustazah lia. “Hadiah, dipakai sekarang ya, ukhti sayang,”

Ustazah Lia membeberkan pakaian itu. ternyata itu lingerie. Lingerie seksi warna hitam, tembus pandang, dia menatap nofal, “Pakai ini?” tanyanya sambil mengacungkan lingeri itu. Nofal mengangguk. Dia masih berdiri mengamati ustazah lia. rudalnya mengacung tegak, tampak basah oleh liur ustazah lia.

“Baiklah,” ustazah lia berdiri dan mencopot kerudungnya lebih dahulu. “Nanti kerudungnya pakai lagi ya ukhti,” nofal berkomentar. Ustazah lia hanya tersenyum kemudian mencopot gamisnya juga. Baru saja ustazah lia akan memakai lingeri itu, sudah dirasakannya tubuh nofal menghimpit tubuhnya dari belakang, tangannya meremas-remas payudaranya sementara dirasakan oleh ustazah lia gigitan di bahunya.

“Ahhh, mas ini, katanya pake lingerie,” tangan ustazah lia bergetar mengacungkan lingeri, menahan rangsangan yang diraskaannya.

“Hhhhhh hhh ukhti seksi sekali, tak tahan aku,” suara nofal terdengar bergetar. Hembusan nafasnya terasa panas menimpa leher ustazah lia. Satu kali remasan di buah dada ustazah lia yang membuat tubuhnya menggeletar, kemudian nofal melepaskannya. Ustazah lia kemudian memakai lingeri itu, terlihat pas di tubuhnya.

“Pakai lagi kerudungnya ukhti, oya sama ini,” desis nofal sambil mengambil high heels dari bawah ranjang dan memberikannya pada ustazah lia. Ustazah lia menurut. Dia menghampiri cermin yang ada di sana, mematut-matut dirinya sebentar kemudian membalikkan tubuhnya menatap nofal.

Nofal ternganga menatap pemandangan di depannya. Seorang ustazah alim berdiri di depannya mengenakan lingeri yang nampak sangat seksi, bagian bawah tubuhnya sudah terbuka bebas, hanya sedikit bagian serambi lempitnya yang tertutup, tapi karena kain lingeri itu tembus pandang malah membuat bayangan hitam di selangkangan ustazah lia sangat merangsang.

Di bagian atas, sang ustazah masih mengenakan kerudung lebar, kembang-kembang warna hitam. Kerudung itu menyampir menutupi payudaranya, sampai pinggang. Di bawah, kaki sang ustazah mengenakan high heels membuat nofal langsung teringat pada pelacur-pelacur kelas atas yang pernah bersetubuh dengannya tanpa mencopot high heels mereka.

Dia mengocok-ngocok rudalnya sementara ustazah lia masih berganti-ganti pose di depannya. Sesekali diangkatnya sedikit kerudungnya, menampaknya putingnya yang mencuat, mengintip dari bagian tengah kerudung. Sesekali disibakkannya bagian bawah lingeri yang dia pakai, dan tangannya mengusap-usap jembut yang tumbuh di sana.

Nofal tak tahan, dihampirinya sang ustazah, kemudian diserbunya dengan ganas dan dibaringkannya di ranjang. Tubuh ustazah lia berbaring di ranjang sementara kakinya menjuntai ke bawah. Dengan beringas nofal melumat bibir ustazah lia sementaa tangannya meremas-remas payudaranya membuat ustazah lia mengeluarkan rintihan-rintihan yang kian memancing birahi nofal.

“Hhhhh sayanggg, ukhti sayangg, hhh,” nofal mendesah-desah sementara rudalnya menggesek-gesek paha atas ustazah lia, seiring gerakan nofal yang mengulum kuping ustazah lia dari balik kerudungnya. Kerudung itu sudah basah oleh liurnya, tapi dia tak peduli.

Merasakan gesekan-gesekan itu, ustazah lia menggapaikan tangannya ke rudal nofal dan mengusap-usapnya pelan. Tangannya yang satu lagi mengusap-usap punggul nofal lembut membuat nofal makin keranjingan. Kini dia menghisap-hisap payudara ustazah lia dari balik lingeri yang melekat dibasahi liurnya. Digigit-gigitnya pelan putingnya sesekali membuat tubuh ustazah lia melenting ke atas dan mendesah-desah, “ahhhh, ahhhhh,”

Puas dengan bagian atas tubuh ustazah lia, nofal bangkit dan membenamkan kepalanya di selangkangan ustazah lia. Dia meludah di jembut ustazah lia, kemudian menjilat-jilatnya dengan penuh nafsu. Dimain-mainkannya lidahnya menyeruak ke balik belahan serambi lempit ustazah lia. Sementara tangannya mencengkram bagian dalam paha ustazah lia, tak hentinya menyusur dari atas ke bawah bolak-balik.

Ustazah lia memejamkan matanya merasakan rangsangan itu. dia tak peduli bahwa dirinya sekarang sedang menjadi pelacur. Toh dirinya pun menikmatinya, belum lagi dia sudah mendapatkan bayaran tinggi hanya untuk 24 jam, belum lagi nanti katanya akan ada bonus….

“Aaaaahhhh,” ustazah lia menjerit ketika dirasakannya jemari nofal menyeruak ke dalam serambi lempitnya, mengobok-obok dinding serambi lempitnya itu. dinaikkannya kakinya ke ranjang satu. tak disangkanya, nofal malah kini pindah menjilat-jilat betisnya sementara kakinya masih mengenakan high heels.

“Ukhtiii, mulus sekali, terawat yahhh,” nofal mendesis-desis. Sesekali tangannya mengocok-ngocok rudalnya yang sebenarnya sudah dari tadi menginginkan masuk ke serambi lempit. Akhirnya dia tak tahan. Ditariknya tubuh ustazah lia bangkit dan dibalikkannya untuk berposisi menungging di kasur. Ustazah lia mengerti bahwa nofal ingin mendoggynya. Dilentingkannya punggungnya membuat pantatnya kian menggairahkan dan buah dadanya kian nampak menggantung.

Untuk sebentar nofal memandang pemandangan itu sambil mengocok rudalnya. Betapa erotisnya. Seorang ustazah yang masih mengenakan kerudung lebar, memakai lingeri yang seksi dan high heels kini siap dia tunggangi. Dengan perlahan diselusupkannya rudalnya ke bawah anus ustazah lia, menyelinap menyentuh serambi lempit yang sudah basah. Lalu…..sleeeepppppp, dengan sekali hentakan, rudalnya masuk ke serambi lempit itu.

“Ahhhhhh,” ustazah lia mendesah. “Ahh ahhh ahhhhhh,” desahnya terus berlanjut seiring gerakan kasar nofal memaju mundurkan tubuhnya. Tangan nofal memegang pinggang ustazah lia erat sementara matanya penuh gairah menatap buah dada ustazah lia yang membusung menggantung. Diraihnya payudara itu dan diremas-remasnya dengan gemas.

“Auhhhhh,” ustazah lia melentingkan tubuhnya kembali, tangannya mencengkram kasur kuat-kuat. Tubuhnya mulai berkeringat. “hhhh hhhh,” Nofal mendengus-dengus merasakan kehangatan dinding-dinding serambi lempit ustazah lia yang bergesekan dengan rudalnya. Betapa nikmatnya. Sesekali dipejamkannya matanya merasakan kenikmatan sensasi yang baru kali ini dia rasakan.

“Aku tak peduli membayar mahal lonte yang satu ini,” batinnya. Toh kenikmatan yang diberikan pun sebanding. Dia bahkan sudah menetapkan hatinya untuk memberikan bonus nanti.

“Plokk plokkk plokk,” suara beradu selangkangan nofal dengan pantat ustazah lia terdengar berkombinasi dengan rintihan ustazah lia dan desahan nofal. Seprai kasur itu sudah awut-awutan karena pergerakan mereka yang liar. Tangan nofal meraih kerudung lebar ustazah lia dan menariknya seperti tali kekang kuda. Hal itu membuat kepala ustazah lia mendongak, mulutnya menganga. “Plakkk,” nofal menepuk pantat ustazah lia, ustazah lia menjawab dengan lenguhan dari mulutnya, “Uhhhhh,”

“Ukhti, ambilkan botolku,” di tengah persetubuhan itu nofal berkata. Memang posisinya tak memungkinkan menjulurkan tangannya ke meja, tapi posisi ustazah lia bisa. Maka ustazah lia menjulurkan tangannya seiring denyar-denyar kenikmatan di serambi lempitnya yang hampir membuatnya tak bisa fokus. Nofal mengambil botol pilsener dan menenggaknya sementara hentakan selangkangannya tak pernah berhenti. Ustazah lia merasakan rudal itu menerobos liang serambi lempitnya yang ketat, membangkitkan saraf-saraf sensitif di dinding serambi lempitnya, membuat lututnya bergetar hampir tak kuat menyangga tubuhnya.

Satu tenggakan diminum oleh nofal, kemudian tenggakan kedua tidak diminumnya, tapi disemburkannya ke punggung ustazah lia setelah menyingkapkan lingeri dan kerudung ustazah lia ke atas, “Ahhhhhh, massss,” ustazah lia melentingkan punggungnya merasakan semburan pilsener di sana. Akibatnya, alur punggungnya menahan air itu, menggenang di sana. Dengan penuh gairah, nofal mencucupkan mulutnya ke genangan itu dan menyedotnya perlahan.

“Ahhhhhhh, ahhh, geli mass, ahhh,” ustazah lia bergerak-gerak merasakan geli di punggungnya. Geli yang nikmat. Geli itu diikuti oleh remasan dua tangan nofal di payudaranya sementara mulutnya kini menjilat-jilat alur di punggung ustazah lia. Tujahan di serambi lempit ustazah lia kian gencar, ustazah lia hanya bisa menggerak-gerakkan kepalanya merasakan semua itu.

“Aduhhh uhhh, ana hampir sampai, ahhh, mass, ahhh,” ustazah lia merintih-rintih. Dirasakannya serambi lempitnya berkedut-kedut hampir meraih kenikmatan. Nofal paham, dia semakin gencar meremas payudara ustazah lia dan menujahkan rudalnya di lubang serambi lempit yang terasa mengempot batangnya itu. kemudian…..

“Agggggggggggggggggggggggghhhhhhhhhh, ahhh…” suara jeritan ustazah lia tinggi kemudian memelan seiring tubuhnya mengejang hebat, nofal menahan tubuh itu erat-erat supaya tidak ambruk, saat kejangan kedua dirasakannya, dia langsung menusukkan rudalnya lebih kuat, membuat ustazah lia merasakan orgasme susulan, matanya mendelik dan tangannya bergetar tak kuat menahan tubuhnya. “hhhh HHHHH,” desahannya terdengar seiring air liur mengucur dari sudut bibirnya.

Setelah orgasme itu selesai melanda sang ustazah, nofal kemudian menarik rudalnya dari serambi lempit ustazah binal berkerudung lebar itu. ada cairan kental ikut jatuh dari lubang itu, rudal nofal juga berlumuran cairan kental yang sama. Nofal kemudian membalik tubuh ustazah lia menjadi terlentang. Dikangkangkannya paha sang ustazah, dan ditusukkannya kembali rudalnya ke lubang kenikmatan itu.

Ustazah lia kembali mendesis-desis, serambi lempitnya sudah sangat licin membuat kulit rudal nofal semakin sensitif dan memberikan kenikmatan yang lebih dari tadi. Nofal menusuk-nusuk dengan liar, dirasakannya serambi lempit itu kini semakin mengempot rudalnya entah kenapa. Dia pun sudah merasakan kedutan-kedutan dan cairan kenikmatan mengalir dari pangkal selangkangannya ke batangnya.

“Akhhh, aku hampir keluarrr, ukhtii,” gigi nofal gemeletuk merasakan badai kenikmatan yang hampir melandanya. Tujahannya makin liar membuat tubuh ustazah lia berguncang guncang dan desahannya terdengar makin tak jelas. Kepalanya bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan. Sesekali tangannya membenahi kerudungnya yang sudah tak karuan.

Sleep sleep sleeeeeeppp, akhirnya nofal menusukkan rudalnya kuat-kuat, ustazah lia menggoyangkan pinggulnya membuat rudal nofal terasa seperti diputar, satu empotan kuat seperti menghisap rudalnya dan crotttttt satu pancutan keluar dari rudalnya di dalam rahim ustazah lia.

Nofal mendongakkan kepalanya merasakan kenikmatan itu, kemudian dikeluarkannya rudalnya sambil mendengus keras, diarahkannya rudalnya ke wajah ustazah lia, dan crottt, crottt pancutan spermanya mengenai wajah sang ustazah. Kemudian tak diduganya mulut ustazah lia membuka dan mencaplok rudalnya.

“Aaaaagghhhhhh ahhhhh ukhh ukhtiiiii,” nofal menjerit-jerit merasakan kenikmatan ketika rudalnya yang masih memancut mancutkan sperma dihisap oleh ustazah lia. Ustazah lia merasakan rudal itu berkedut liar memuntahkan lahar di dalam mulutnya. Dengan penuh gairah ditelannya sperma itu sampai kedutan-kedutan di rudal nofal berhenti.

Nofal kemudian mengeluarkan rudalnya. Leleran spermanya nampak dari sudut bibir ustazah lia yang seksi. Tak tahan, dilumatnya bibir ustazah jalang itu yang membalas tak kalah binalnya. Untuk beberapa saat keduanya saling melumat di atas ranjang.

Kemudian nofal membaringkan tubuhnya di samping ustazah lia. Sambil tersenyum dia meraih kepala ustazah lia menolehkannya ke wajahnya. “Ukhti seksi, hebat sekali,” “Hihi, antum juga, mas,” jawab ustazah lia. Dia menggapai meja dan mengambil botol pilsenernya.

Ditenggaknya satu kali, kemudian dia menenggak kembali dan mengangkat kepalanya meneduhi kepala nofal. Dengan bibirnya disentuhnya bibir nofal hingga mulut itu membuka dan dituangkannya pilsener dari mulutnya. Nofal meminumnya dengan penuh kenikmatan. Dan cupppppp, akhirnya bibir ustazah lia mencium bibir nofal. “Gantian, mass,” bisiknya.

Nofal tersenyum. Batas waktunya 24 jam masih lama. Dia sudah memikirkan banyak kenikmatan lain yang bisa dia habiskan bersama ustazah itu. tapi sebelum itu, dia menggapai dompetnya dari meja, mengeluarkan uang seratus ribuan lima lembar, menggulungnya seperti batang rokok, kemudian dia bangkit sambil cengar-cengir dan menyelipkan gulungan itu di serambi lempit ustazah lia. “Bonus buat ukhtiku,” bisiknya.

Ustazah lia tertawa dan menggerak-gerakkan serambi lempitnya membuat gulungan itu terlempar keluar, kemudian dia memungutnya dan menaruhnya ke tasnya.

*****

Sementara di kosan nofal ustazah lia sedang berpacu dalam birahi dengan si penghuni kos, di kamar delapan asrama syahamah ustazah raudah pun sedang melakukan hal yang sama. Pasangannya kali ini bukan alif, melainkan ustaz karim.

Sms ustaz karim tadi malam adalah awal dari kencan mereka di kamar ustazah raudah. Ustaz karim sebenarnya menginginkan malam pas dia sms, tapi karena saat itu ustazah raudah sedang threesome dengan ustazah lia dan Alif, maka baru hari inilah dia bisa.

Kepada ustazah aminah, ustaz karim beralasan ada acara rapat kepartaian, dia mungkin menginap dan baru pulang besok pagi. Ustazah aminah percaya saja. Dia tak tahu bahwa ustaz karim bukannya keluar dari gerbang tapi menyelinap masuk ke kamar ustazah raudah.

Ustazah Raudah sebenarnya suka-suka saja bersetubuh dengan ustaz karim, tapi dia tetap menunjukkan kealimannya dengan pura2 terpaksa. Bahkan sms ustaz karim tadi malam pun dia balas seperti ini:

“Ada apa ustaz?” “Ehmm, kangen ukhti. Pengen menyetubuhi.” “Hush, jangan begitu ustaz, dosa.” “Alaaaahhh, ukhti juga menikmatinya kan?”

Ustazah Raudah tidak menjawab, saat itu dia sedang menggesek gesekkan nenennya pada punggung ustazah lia yang sedang bersetubuh dengan penuh gairah dengan alif. Ustaz Karim mengirim sms lagi: “ahhh, ukhti, ana terbayang serambi lempit ukhti, ana sedang ngocok rudalll!”

Ustazah Raudah mengikik dan menunjukkannya pada Alif. Alif membalas sms itu sambil terus menusukkan rudalnya pada ustazah lia yang dientotnya dalam posisi saling memeluk: “ustaz tobatt, gak baik, ingat ustazah aminah!”

“Hehe, ustazah aminah bosan, pengen memel ukhti raudah. Ya? Ana ke kamar anti sekarang ya?”

Alif tersenyum membaca balasan itu. Yesss, batinnya. Berarti ibunya kini makin kesepian sementara gairahnya terus dibangkitkan oleh obat perangsang yang dia campurkan ke dalam tehnya. Dia menyerahkan hp itu kembali ke ustazah raudah sementara bibirnya melumat bibir seksi ustazah lia.

“Jangan ustaz, jangann!” “Ah, sudahlah, ana maksa kok, pokoknya ana ke sana!” Ustazah raudah kemudian membalas begini: “besok agak siangan saja ustaz ke kamar ana, kita ngobrol ya. Cuma ngobrol.” Balasan ustaz karim: “oke.”

Tentu saja ustazah raudah tak percaya bahwa nanti ustaz karim mau diajak ngobrol saja. Akan tetapi saat tiba saatnya, ketika ustaz karim mengetuk kamarnya, ustazah raudah bersikap sesopan mungkin. Dia mempersilahkannya masuk, kemudian mengunci pintu dan duduk di pinggir ranjang.

Ustaz karim duduk di sampingnya. Tangannya mengusap tangan ustazah raudah lembut. “Ukhti, nanti ana pulang dari luar negeri ana akan nikahi ukhti jadi istri kedua.” Dalam hatinya ustazah raudah tertawa mendengar rayuan gombal itu. “Jangan ustaz, ana gak enak sama ummi aminah.”

“Sudahlah ukhti, jangan menyebut nyebut umi aminah, pokoknya beres,” kini ustaz karim makin liar, tangannya mulai menelusuri paha ustazah raudah yang ditutupi gamis warna biru tua. Ustazah raudah menepis tangan itu. “Jangan ustaz. Udah ya, kalau ustaz gak mau ngobrol.”

Ustaz karim tertawa. Dia kemudian menjawab. “Yaudah ana pergi, tapi ukhti bantu kocokin rudal ana dulu ya, ana tadi malam lama sekali ngocok sambil ngebayangin dikocok tangan lembut ukhti.” “Gak mau ustazzz,” ustazah raudah menggeser tubuhnnya menjauh. Gaya ustazah yang malu malu seperti itu membuat ustaz karim makin terangsang. Tanpa pikir panjang dia langsung berdiri dan mencopot celananya. “Ikhhhh,” ustazah raudah memalingkan mukanya. Ternyata ustaz karim tak memakai celana dalam dan rudalnya sudah mengacung.

Ustaz karim tersenyum. Dia kembali duduk di samping ustazah raudah yang kini tak menatapnya. Perlahan tangannya meraih tangan ustazah raudah dan menuntunnya ke arah rudalnya. Tangan ustazah raudah sedikit bergetar tapi pada akhirnya tangan itu menurut.

“Nah gitu ukhti, ahhhh, ayo dikocok biar cepat,” ustaz karim menggerak gerakkan tangan ustazah raudah mengocok ngocoks rudalnya. Kemudian dilepaskannya tangannya dan tangan ustazah raudah dengan perlahan mulai bergerak sendiri mengocok. “Ahhhh ahhh ahhh,” ustaz karim mendesah pelan seirama kocokan tangan ustazah raudah di rudalnya.

Ustazah raudah menjaga dirinya supaya nampak tidak terlalu bersemangat. Dikocoknya rudal ustaz karim dengan lembut. Memang rudal itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rudal Alif, tapi tak apa lah sebagai pemuas sementara, begitu pikirnya. Sementara itu ustaz karim yang menduga bahwa ustazah raudah memang mengocok rudalnya karena terpaksa kemudian berusaha sebisa mungkin menahan diri supaya rudalnya tidak muncrat cepat-cepat. Tidak terlalu mudah memang karena dirasakannya juga tangan lembut ustazah raudah itu sangat nikmat mengocok rudalnya.

Sudah lima belas menit berlalu, ustazah raudah menampakkan raut lelah. Ustaz karim yang melihat hal itu tersenyum. Dia mengulurkan tangannya mengusap keringat yang muncul di dahi sang ustazah. “Ustazah, lama sekali, coba dihisap biar cepat.” Ustazah raudah menggelengkan kepalanya. “Gak mau ustaz, gak boleh gitu. Biar ana kocok saja.”

“Apanya ukhti yang dikocok?” ustaz karim malah menggoda. “Ini,” sahut ustazah raudah sambil menggedikkan bahunya ke arah benda yang sedang dia genggam. “Ini apa?” “Ini ustaz, punya ustaz.” “Apa ini?” “rudal, ustaz!” Ustazah Raudah menjawab dengan nada terdengar jengkel. Ustaz karim tertawa. “Sudahlah ustazah, lelah kan, sekarang mending hisap saja, pegal kan tangan ustazah?”

Gerakan tangan ustazah raudah akhirnya terhenti juga seolah dia benar-benar pegal. Melihat itu, ustazah karim langsung mendorong tubuh ustazah raudah supaya menggelosoh di lantai, kemudian diraihnya kepala ustazah aminah yang berkerudung warna hijau itu ke arah rudalnya yang mengacung. Semula dirasakannya kepala ustazah raudah tak mau bergerak. Tapi akhirnya ustazah itu menyerah. Mulutnya semakin dekat dengan rudal ustaz karim, kemudian menempel di sana.

“Buka mulutnya ustazah,” desis ustaz karim. Ustazah raudah tak menjawab. “Ayo buka,” ustaz karim kembali berkata, kali ini dengan nada memerintah. Tangannya sedikit mencengkram rambut ustazah raudah dari balik kerudung. Ustazah raudah menurut. Dibukanya mulutnya, dan “Heghk,” dia kaget ketika ustaz karim langsung menusukkan rudalnya masuk ke mulutnya.

“Aghhhh,” ustaz karim mendesah kembali sambil memaju mundurkan kepala ustazah raudah. Seperti tadi, ustazah raudah akhirnya refleks memaju mundurkan kepalanya tanpa harus digerakkan oleh ustaz karim. Sudah demikian, ustaz karim menahan tubuhnya dengan kedua tangannya ke ranjan, sementara di bawah rudalnya dengan asyik dikulum dan dihisap-hisap penuh kenikmatan oleh ustazah raudah.

Lima belas menit kembali berlalu dan rudal ustaz karim masih belum juga mengeluarkan sperma. Ustazah raudah kembali menampakkan raut wajah lelah. Gerakan kepalanya sudah semakin pelan. Ustaz karim yang menyadari hal itu kembali berkata. Tangannya membelai kepala ustazah raudah mesra.

“Ustazah, coba buka deh gamis ustazah, biar ana lebih terangsang.” Wajah Ustazah Raudah memerah. “Sembarangan ustaz ini, tadi minta ini, terus sekarang minta ini itu.”

“Hehe, lha mau gimana lagi? Antum mau berapa jam menghisap rudal ana?” Ustazah Raudah tampak termenung seolah berpikir. “Udah buka saja gamisnya doang ukhtiku, kerudungnya tak usah.”

Akhirnya ustazah raudah menyerah juga. Dibukanya gamisnya, menampakkan buah dadanya yang sekal ranum. Pinggangnya ramping, perutnya rata. Kulitnya nampak halus dan mulus karena memang selalu terlindungi oleh gamis kombor dan kerudung lebarnya. Melihat pemandangan itu ustaz karim menghela nafasnya, mencoba menenangkan dirinya menikmati ustazah muda separuh telanjang di depannya.

Lalu ustazah raudah kembali duduk berjongkok dan menghisap-hisap rudal ustaz karim yang saat itu sudah sangat tegang. Pada akhirnya ustaz karim sudah tak kuat menahan lagi nafsunya. Ditariknya kepala ustazah raudah mengeluarkan rudalnya, kemudian didorongnya tubuh ustazah itu sampai terjengkang ke belakang, terduduk mengangkang, kedua pahanya terbuka.

Belum juga ustazah raudah bisa menguasai keseimbangannya, ustaz karim sudah menempakan tubuhnya di antara kedua paha ustazah raudah. Tanpa basa basi, ditusukkannya rudalnya ke celah di tengah selangkangan ustazah raudah.

“Ahhhh, ustaz, jangannn, ahhh, ustaz jahattt!” ustazah raudah pura-pura tak mau. Tangannya memukul-mukul punggung ustaz karim yang saat itu sudah mulai memaju mundurkan rudalnya di dalam serambi lempitnya. Ustaz karim tak mempedulikan penolakan ustazah raudah. Sepengelamannya lama-lama juga sang ustazah akan menurut jika sudah terasa enaknya.

Tebakannya tak meleset. Dirasakannya perlawanan ustazah raudah sudah mengendur. Bahkan kini dirasakannya selangkangan sang ustazah mengimbangi gerakan selangkangannya. Merasa sudah bisa menaklukkan sang ukhti alim itu, ustaz karim mengangkat tubuh itu dan membaringkannya di ranjang tanpa melepas rudalnya.

“Huu huuu ukhhh, ustazzz, akhhh, auhhhh,” ustazah raudah hanya terdengar mendesis-desis tak jelas. Sementara bunyi kocokan rudal ustaz karim di serambi lempit ustazah berkerudung kelabu lebar itu menggema di kamarnya. Tangan ustaz karim meraih buah dada ustazah raudah yang meski tak sebesar punya istrinya tapi juga tak kalah menggairahkan. Diremas-remasnya pelan, sesekali dipelintirnya puting susu itu sampai rintihan kenikmatan keluar dari mulut sang ustazah.

“Agh agh, ukhtiku, nikmat kann, ahhh, rasakan rudalku, ahhh, ukhtiku,” ustaz karim terus mencoba menaikkan syahwat ustazah raudah dengan mengucapkan kata-kata kotor. Ustazah raudah membalas dengan merintih-rintih penuh kenikmatan. “Ahhh, ustazzz, jangannn, ahhh, terus terus teruuuuuusshhh ahhhh,” rintihannya juga membangkitkan birahi ustaz karim sampai ke ubun-ubun.

Bosan dengan posisi itu, didorongnya tubuh ustazah raudah ke dinding dan diselonjorkannya kedua kakinya ke bawah punggung sang ustazah. Kemudian ditariknya tubuh ustazah raudah ke arahnya. Dalam posisi berpelukan duduk berselonjor di atas ranjang itu, rudalnya terus bergerak menusuk serambi lempit sang ustazah dengan liar.

“Ustazzzz, ahhh, ana mau kencingggg, ahhh,” tangan ustazah raudah menggaruk-garuk punggung ustaz karim dengan ganas. Dengan posisi seperti itu memang klentitnya bisa terangsang dengan mudah setiap kali rudal ustaz karim menujah. Bau tubuh laki-laki ustaz karim dan bulu-bulu di dadanya yang menggesek-gesek payudaranya juga ikut memberikan sensasi tersendiri bagi sang ustazah.

Cuppp cupppp, ustaz karim melumat bibir ustazah raudah dengan lembut. Tangannya mengelus-elus alur punggung sang ustazah membuatnya menggelinjang-gelinjang kegelian. rudal dan serambi lempit keduanya beradu kian erat kian rapat, seiring dengan keringat yang mulai turun membasahi tubuh mereka berdua.

Ustaz karim membenahi kerudung ustazah raudah yang nampak acak-acakan, sementara ustazah raudah menekankan dagunya di bahu ustaz karim sambil terus merintih-rintih. Saat gelombang kenikmatan itu mulai mendekat, ustaz karim merasakan rudalnya seolah masuk ke ruang hampa, terhenti sejenak sebelum kemudian seperti tersedot. Penjagaannya pun ambrol, rudalnya berkedut-kedut tak tertahankan.

“Aaaaaaaaaaaaahhhh, ahhh ahhh ahhh ana ahhhhhhh,” ustazah raudah menjerit keras. Kemudian digigitnya bahu ustaz karim seiring tubuhnya menggelepar-gelepar seperti ikan di kolam kekeringan. Ustaz karim menggerung keras sementara tangannya erat memeluk tubuh sang ustazah. Kepalanya dipenuhi dengan kenikmatan, tubuhnya mengejang saat rudalnya menumpahkan lahar panas ke rahim ustazah raudah. “Hghh Hhhhhhhhhh,” terdengar dia mendengus-dengus penuh gairah.

Beberapa saat keduanya berpelukan erat merasakan kenikmatan yang mereka alami. Kemudian ustaz karim melonggarkan pelukannya dan tersenyum menatap ustazah raudah. Pura-pura malu, ustazah raudah menundukkan kepalanya. Ustaz karim membenarkan kerudung yang dipakai sang ustazah. Kemudian dia mencium bibir itu. setelahnya, ustaz karim turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Ustazah raudah duduk di ranjang, mengirimkan bbm pada alif: “Sukses, abi pasti tak pulang sampai besok.”

Ustaz karim kembali dari kamar mandi. Sepertinya dia mencuci rudalnya. Kemudian dia duduk di kursi sambil memandang ustazah raudah yang balas menatapnya. “Ustaz. Sudah kan? Sudah pulang.” “Pulang ke mana ukhtiku?” Senyum licik tergambar di bibir ustaz karim. “Lho, kan sudah ini ustaz, pulang ke kamar ustaz.” “Hehe, ini masih tegang,” seru ustaz karim sambil menunjuk rudalnya yang memang sudah kembali tegak. “Sini ukhti, ana pangku.”

Ustazah Raudah hanya menatapnya seolah putus asa. “Ayo sini,” ustaz karim kini duduk di kursi sambil memamerkan rudalnya yang tegang mengacung. Akhirnya ustazah raudah menghampiri, membenahi kerudung lebarnya, kemudian mengangkangi tubuh ustaz karim dan mengepaskan lubang serambi lempitnya ke rudal sang ustaz. Saat sudah pas, dia menurunkan tubuhnya.

“Ukhhhh,” ustaz karim melenguh merasakan rudalnya kembali menyentuh kehangatan dinding serambi lempit sang ustazah yang sudah sangat becek setelah orgasme pertamanya. Entah kenapa serambi lempit itu terasa sangat peret. Mulut ustaz karim sementara itu tak diam. Dilahapnya buah dada ustazah raudah yang menggoda pas di depan mulutnya.

“Ahhh ahhhhh, auuuuhhhhh,” ustazah raudah mendesah-desah sambil menggerak-gerakkan selangkangannya. Dia sudah lupa bahwa dia harus pura-pura terpaksa. Pada akhirnya dia hanya berharap sang ustaz mengira dirinya menjadi binal karena rangsangan yang sudah diberikan oleh sang ustaz, bukan karena dia memang ingin menikmati juga persetubuhan yang ganas itu. selain itu, sebisa mungkin sesuai rencana Alif dirinya harus menahan sang ustaz sampai esok hari.

*****

Sementara Ustazah Lia sedang asyik dientot Nofal dan ustazah Raudah sedang asyik digumuli ustaz karim, di kamarnya malam itu ustazah Aminah tak bisa tidur. Kepalanya terasa pusing terutama karena gairahnya sudah lama tak terpenuhi. Dia duduk di kursinya bertopang dagu, kemudian diminumnya teh yang sudah tinggal separuh, teh buatan Alif. Dia tak tahu bahwa bukannya menjadi segar melainkan setelah meminum teh itu gairahnya semakin menjadi-jadi.

Saat itu sudah jam sepuluh malam. Asrama sudah sepi. Sambil mempermainkan hpnya tanpa tujuan, ditengoknya kamar Alif yang tak dikunci, lampu tidur sudah dihidupkan, dalam samar cahayanya nampak bayangan berbaring di ranjang. Sepertinya alif sudah tertidur. Hhh, ditariknya nafas dalam-dalam ketika dia mendadak teringat pada rudal jumbo anaknya yang dilihatnya sembunyi-sembunyi dari celah pintu kamar mandi kemarin itu. dia merasakan syahwatnya semakin meninggi.

Saat akan ditutupnya kembali kamar alif, didengarnya sang anak mendesah. Sejenak dia mematung di ambang pintu. “Alif?” tanyanya pelan.

“Umi…umi….” Alif terdengar kembali mendesah, kemudian dilihatnya tubuh di ranjang itu bergerak dan kini berbaring terlentang. Dalam remang kamar Alif, dilihatnya di bagian selangkangan alif yang tertutupi selimut itu sesuatu bergerak, meninggi. Ustazah Aminah membeliakkan matanya memandang pemandangan menggairahkan itu.

“Nggghhhh, umi, ahhh, umiii,” Alif kembali terdengar mendesah. Kali ini ustazah aminah yakin sang anak semata wayangnya itu bermimpi. Dan dia memimpikan dirinya. Sepertinya mimpi erotis karena dia yakin rudal sang anak kini dalam posisi menegang.

Sebenarnya ustazah aminah akan pergi kembali ke kamarnya, tapi entah kenapa dia mendadak penasaran. Kakinya tanpa sadar bergerak ke arah ranjang anaknya. Ditatapnya wajah sang anak. Matanya terpejam, mulutnya masih mendesah-desah menyebut-nyebut “umi,”

Dengan hati berdebar, ustazah raudah menggeser selimut yang menutupi bagian atas tubuh anaknya pelan. Anaknya ternyata tak memakai baju. Dadanya nampak bidang untuk anak seumurannya. Lalu ustazah aminah bergerak ke bagian samping selimut dan menyingkapnya perlahan. Sesekali ditengoknya mata sang anak, kuatir dia terbangun.

Akhirnya setengah dari selimut yang menutupi bagian tengah tubuh sang anak bisa dia angkat tanpa membuat sang anak terbangun. Nafasnya hampir tercekik ketika pandangannya tertumbuk pada rudal yang menegang sangat besar dan panjang dari selangkangan anaknya. Urat-urat bertonjolan di sana, kepalanya membesar seperti jamur. Tanpa sadar ustazah aminah mengangkat hpnya dan memotret rudal sang anak dalam posisi seperti itu.

Makin berani, didekatkannya wajahnya hendak mencium rudal itu. tiba-tiba tubuh alif bergerak membuat ustazah aminah kaget dan refleks menjatuhkan selimut itu. Kemudian dia bergerak cepat kembali ke arah pintu sambung ke kamarnya dengan hati deg-degan. Sejenak dia berdiri di depan pintu, mendengarkan siapa tahu ada suara dari kamar alif, suara dia terbangun. Ketika tak didengarnya apapun, dia pun menarik nafas lega.

Tak diketahuinya saat itu di kamarnya, Alif yang dari tadi sebenarnya hanya pura-pura tidur dan pura-pura bermimpi hanya untuk memancing sang ibu itu kini berbaring sambil mengocok rudalnya. Bibirnya menyunggingkan senyum sementara di benaknya terbayang rencana selanjutnya yang akan dia praktekkan esok hari. Dia menunggu selama sepuluh menitan sebelum kemudian didengarnya desahan tertahan dari kamar sang ibu. Sambil tersenyum dia bangkit dari ranjangnya. Kemudian tanpa menimbulkan suara, dia melangkah pelan-pelan menuju pintu sambung yang menuju kamar ibunya.

Setelah kembali ke kamarnya tadi, ustazah aminah langsung duduk di ranjangnya dengan perasaan campur aduk antara tegang, gairah, dan juga perasaan bersalah telah mengintip sang anak. Dia membuka hpnya memandang foto rudal anaknya tadi. Perlahan dirasakannya gairah syahwat merayap di tubuhnya. Diusap-usapnya serambi lempitnya yang mulai membasah.

“Ah!” begitu dia mendesah. Lalu dia mendadak teringat pada kejadian tadi siang. Tadi siang itu dia pergi ke rumah Umi Lilik Hamidah karena ingin mengobrolkan masalahnya. Umi Lilik Hamidah adalah istri Abu Fawaz yang merupakan atasan ustaz karim dan ustazah aminah di partai akhwat. Usianya sepantaran dengan ustazah aminah. Hubungan ustazah aminah dengan umi lilik memang lumayan akrab. Jika ada apa-apa permasalahan pribadi biasanya ustazah aminah curhat ke umi lilik, begitu juga sebaliknya.

Siang itu ustazah Aminah yang curhat. Curhatnya sederhana. Dia bercerita tentang gairahnya yang akhir-akhir ini terasa meninggi. Dia meminta saran tentang bagaimana nanti saat dia ditinggalkan oleh sang suami dalam waktu yang lama sementara birahinya minta dipuaskan. Umi Lilik saat itu mengangguk-angguk maklum.

“Umi mengerti kok permasalahan antum,” umi Lilik membesarkan hati ustazah aminah. “Dalam posisi seperti antum sekarang, menurut umi ada satu solusi yang kebetulan umi bisa bantu.”

“Alhamdulillah, apa itu umi?” Wajah Ustazah Aminah nampak cerah. Umi Lilik tersenyum. Kemudian dia mengajak ustazah aminah pergi ke kamarnya. Di sana dia menyodorkan satu barang yang membuat ustazah aminah terkejut. Ternyata umi Lilik menyodorkan strapon vibrator perangsang serambi lempit dan strapon dildo yang dilengkapi vibrator.

“Dalam keadaan darurat boleh kok pakai ini, daripada berzina,” Umi Lilik tersenyum. Ustazah Aminah memandang barang itu, memegang-megangnya. Langsung terbayang di benaknya bagaimana cara memakai benda itu. perlahan dirasakannya serambi lempitnya membasah.

“Sudah, sekarang umi tenangkan saja, ini hadiah ana berikan buat antum,” Umi Lilik langsung memberikan benda itu lengkap dengan wadahnya. “Umi masih punya yang lain kok,” begitu tambahnya sambil mengedipkan matanya.

“Euh, makasih, umi, umi benar-benar membantu masalah ana,” Ustazah Aminah sedikit tergagap saat menerima barang itu. setelahnya keduanya mengobrol beberapa hal-hal lain sampai kira-kira setengah jam kemudian ustazah aminah pulang. Kepulangannya diantar dengan senyuman Umi Lilik Hamidah.

Malam ini, saat birahinya memuncak, ustazah aminah langsung terpikir pada strapon vibrator itu. dia kemudian beranjak mengambil benda itu dari lacinya. Dipakainya langsung di balik mukenanya, mukena sutera warna hitam yang terlihat menerawang. Lalu dia langsung berbaring di ranjang dan menghidupkan vibrator itu.

“Ahhhhh! Ahhhh!” dia tak bisa menahan desahannya ketika dirasakannya getaran-getaran yang merangsang serambi lempitnya. Dirapatkannya pahanya merasakan vibrator itu bergetar lebih terasa, meranngsang juga bagian dalam kedua pahanya. Terasa nikmat. Dia merintih-rintih keenakan. Dibayangkannya saat itu lidah Alif menjilat-jilat serambi lempitnya, kemudian lidah sang anak itu menelusup menusuk-nusuk dinding lubang tempat dia dulu dilahirkan.

Saat itu alif membuka sedikit pintu sambung dan mengintip sang umi yang bergerak-gerak gelisah sambil merintih di ranjangnya. rudalnya sudah mengacung, dikocok-kocoknya penuh nafsu.

“Aliffff, ahhhh,” Alif sedikit tersentak ketika didengarnya sang umi menyebut-nyebut namanya. Dilihatnya ustazah aminah membuka hpnya dan menatap layar dengan mata sayu. Saat itu memang ustazah aminah menatap foto rudal anaknya sambil membayangkan rudal itu sedang menujahnya sekarang ini. “Ahhh, masukkan rudalmuuuu, ahh, sayang, aliff, ahhhhh, ahhhh,” gairah sudah menguasai kepalanya, ustazah aminah sudah tak ingat apa-apa selain rudal dan kenikmatan. Kakinya tak henti bergerak-gerak seiring getaran vibrator di serambi lempitnya.

Alif mengocok-ngocok rudalnya makin keras. Rencananya berjalan dengan mulus kalau ternyata sang ibu sudah mulai tertarik pada rudalnya. Kalau dia tak sabaran sudah dari tadi dia meloncat dan menerkam tubuh sang ibu. Birahinya pun sudah memuncak membayangkan betapa enaknya menyetubuhi sang ibu yang memiliki payudara sangat besar itu. tapi dia mencoba menahan diri, toh masih ada rencana kelanjutan supaya kelak dia bisa merasakan kenikmatan yang lebih dahsyat.

“Akhhhh, ukhhh, aduhhh, alif aliff, alif sayang, masukkan, ahhh, umi gak….tahannnn, nghhhhh,” ustazah aminah bergerak-gerak liar di ranjangnya. Mukenanya sudah tersingkap di sana sini. Getaran di serambi lempitnya sudah menguasainya, membuat tangannya meremas-remas buah dadanya dengan liar. Ngocoks.com

Ditungganginya guling dengan posisi seperti menyetubuhi manusia, wajahnya menempel erat pada guling itu yang dia peluk erat-erat. Tak disadarinya air liurnya sudah menetes membasahi guling itu, sementara diadu-adukannya selangkangannya pada guling itu sementara kakinya mengunci guling itu kuat-kuat.

“Akhhh akhhhhhhh, umi…umi kelu….ar sayang, ahhh, rudalmu nikmat sayang, ahh ahhh ahhhhhh,” tubuh ustazah aminah tersentak-sentak liar di atas guling itu. Dari balik celah pintu alif juga merasakan sensasi yang sangat dahsyat membuat rudalnya memuncratkan lahar panas pada dinding kamar. Digigitnya bibirnya mencegah mulutnya mengucapkan nama ibunya.

Dilihatnya tubuh sang ibu menggelosoh lemas di ranjang, nafasnya yang memburu terdengar sampai ke tempatnya mengintip. Saat sang ibu nampak membenahi mukenanya, Alif dengan perlahan menutup pintu tanpa suara. Di benaknya tergambar jelas apa yang akan dia lakukan esok pagi.

Bersambung… Paginya, jam lima pagi setelah beribadah subuh, ustazah aminah memutuskan untuk kembali tidur. Pusing di kepalanya hanya berkurang sedikit meski tadi malam dia sudah melampiaskan syahwatnya menggunakan strapon vibrator perangsang serambi lempit hadiah dari Umi Lilik Hamidah.

Ustaz karim memang tidak pulang malam itu dan dia baru saja mengirimi sms mengatakan bahwa dia mungkin akan pulang sore karena masih ada rapat di mabes partai tentang keberangkatannya yang semakin dekat.

Setelah merasakan pengalaman pertamanya tadi malam menggunakan strapon vibrator itu, dia merasa ketagihan. Setidaknya alat itu bisa memberikan kenikmatan pengganti layanan seks dari suaminya. Merasa aman, dia kemudian memakai kembali strapon vibratornya di balik mukenanya.

Dikenakannya mukena hitam sutera yang juga tadi malam dia kenakan. Mukena yang pernah dikomentari oleh suaminya sebagai mukena paling seksi karena mukena itu sangat tipis, tembus pandang, padahal pagi itu dia tidak mengenakan dalaman apapun. Dia berpose di depan cermin besar di pintu lemarinya, sesekali menekan-nekan payudaranya yang nampak membusung indah menggoda dari balik mukena. Putingnya nampak kecoklatan disamarkan oleh bayang hitam kain sutra.

Setelah puas, dibaringkannya tubuhnya di ranjang. Lalu dihidupkannya strapon vibratornya dan dia mulai mendesah-desah merasakan kenikmatan di sekitar serambi lempitnya. “Uhh uhhhhhh,” begitu dia mendesah sambil meremas-remas payudaranya sendiri dari balik mukenanya. Dirinya seolah mengenakan lingerie hanya bentuknya sajalah yang membedakan pakaian seksi itu dengan mukena yang sekarang dia pakai. Dia merasa bangga karena di usianya yang sudah tidak muda dia masih nampak seksi.

“Ah aaahhh aahhhh aaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh,” saat mencapai klimaks dia melenguh keras tanpa sadar. Setelahnya dia pun terlelap dengan pulasnya. Untung sebelum tidur dia sudah mematikan lampu kamar. Dia berpikir bahwa tidurnya saat itu memang akan jadi tidur yang panjang.

“Umi, umi,” Ustazah Aminah setengah sadar merasa mendengar suara memanggil-manggilnya. Kemudian dia rasakan tangan menggoyang-goyang tubuhnya. Dengan malas dia membuka matanya. Nampak alif melihatnya dari atas dengan pandangan takut-takut.

“Ehh, sayang, ada ap…ohh,” ustazah aminah bangkit dan duduk di pembaringan sebelum dia kemudian melihat tubuh alif lengkap yang berdiri di samping pembaringannya. Alif hanya mengenakan kaus singlet, tapi bukan itu yang membuat ustazah aminah serambi lempitik melainkan bagian bawah tubuh alif yang tak ditutupi apapun. rudalnya nampak menggantung besar seperti belalai. Ada cairan kental di kepala rudalnya yang seperti jamur.

“Alif apa-apaan?” ustazah aminah bertanya sambil memandang ke wajah alif setengah bingung setengah marah. Dia mencoba tidak melihat bagian bawah tubuh anaknya itu. “Umi, ini kenapa rudal alif,” suara alif terdengar takut-takut. “Kenapa, kenapa?” refleks ustazah aminah mengamati rudal anaknya dan dia tidak merasa menemukan sesuatu yang aneh. Yang dia lihat adalah rudal yang sangat besar dan sepertinya habis orgasme.

“Itu umi…tadi alif tidur dan mimpi indah, pas bangun rudal alif kencing tapi warnanya putih miiii,” alif merengek lagi sambil duduk di pinggir ranjang.

“Oooooohhh,” Ustazah Aminah ujung-ujungnya merasa geli. Dia baru ingat anaknya baru berusia 15 tahun, dalam benaknya kemudian terpikir bahwa anaknya itu mungkin baru saja merasakan spermanya pertama kali keluar, mimpi basah. Dia tidak tahu bahwa sang anak sudah berhasil merenggut keperawanan ustazah raudah dan memenyetubuhi ustazah itu dan juga ustazah lia berkali-kali.

“Itu normal sayang, itu tandanya alif sudah dewasa.” “Normal mi? Beneran?” Alif menyandarkan kepalanya di dada ustazah aminah yang langsung memeluknya penuh kasih sayang seorang ibu. Usatzah aminah mengelus-elus punggung alif. “Iya, sayang, normal. Tenang ya.” Dalam posisi seperti itu ustazah aminah mau tak mau memandang rudal alif yang nampak jelas di depannya. Ada desir birahi di dadanya. Apalagi dirasakannya kepala alif yang bersandar tepat di buah dadanya dari balik mukena itu terasa membuatnya geli.

“Umiii, jelasin dong, alif gak ngerti,” “Nanti saja ya sayang, nunggu abi.” Ustazah aminah mengelus rambut anaknya kembali kemudian menciumnya. “Gak mau umi, pengen sekarang, pengen umi yang jelasin.” Alif merajuk dan membenamkan kepalanya lebih dalam di dada uminya.

“Hushhh, sana Alif pake celana dulu, alif kan sudah besar,” suara ustazah aminah sedikit bergetar. “Gak mau umiii, pokoknya jelasin dulu,” Alif merajuk makin parah. “Sama abi malu, sama umi kan lebih asyik.” “Yaudah, yaudah, ayo alif bangun dulu, umi jelasin dehh,” akhirnya ustazah aminah menyerah karena rasa sayangnya pada sang anak. Diam-diam dia merasa birahinya membuatnya merasa senang juga karena bisa melihat rudal anaknya lebih lama. “Alif duduk diam di sini, umi cuci muka dulu ya.”

Keluar dari kamar mandi, dilihatnya sang anak sedang duduk tenang di pinggir ranjangnya. rudalnya masih menggantung besar dan panjang seperti tadi. Ustazah aminah mengambil kacamatnya dan mengenakannya, kemudian dia menarik kursi dan menaruhnya tepat di depan alif dan duduk di sana.

“Jadi gini, sayang, Alif baru saja resmi akil baligh, itu artinya Alif sudah dewasa, sudah menjadi pria yang seutuhnya.” Suara ustazah aminah terdengar serius. ceritasex.site “Maksudnya gimana, mi? Apa hubungannya dengan ini?” Ustazah Aminah berusaha keras mengatasi detak jantungnya saat Alif dengan santainya menggerakkan tangannya menggoyang-goyangkan rudalnya yang menjuntai seperti belalai gajah. “Kok kencing Alif beda, mi, biasanya kalau Alif ngmpol di kasur kan kencingnya banyak dan gak lengket. Lha kalau ini…”

“Itu namanya sperma, lif, dan meski keluarnya sama lewat….rudal Alif,” ustazah Aminah sedikit malu untuk menyebutnya sebagai rudal. “tapi yang keluar itu bukan air kencing. namanya sperma.” “Oh, sama enggak ma dengan peju?” “Hussshhh, Alif tahu dari mana kata itu?” Ustazah Aminah mengelus-elus tangan Alif lembut. “Itu kata-kata kotor, sayang.”

“Pernah denger saja mi, hehe. Sama ya?” “Iya, sama, sayang. Nah, sperma ini pas keluar itu biasanya sambil merasa nikmat, beda sama air kencing.” “Oh gituuu, oke, oke, Mi. Apa lagi sih yang membedakannya lagi dengan kencing, mi?” Ustazah Aminah tercenung sejenak. “Begini, kalau air kencing itu kan pengeluaran kotoran, sayang, nah kalau sperma itu pengeluaran bibit yang nantinya bisa menjadi anak.” “Ehhh, gimana mi membuat anaknya tu?”

“Kan nanti campur sama ovum, sayang, sel telur wanita. Pas nyatu nanti bisa menjadi anak. Alif pasti sudah tahu itu kok dari pelajaran di sekolah.” “Iya sih mi, tapi dulu di kelas Alif masih gak paham. Prakteknya maksud Alif.” “Alif, Alif, prakteknya ya nanti kalau Alif sudah menikah.” Ustazah Aminah tertawa menutupi desir-desir syahwat dalam hatinya.

“Lewat senggama itu ya mi?” Ustazah Aminah mengangguk. “Lha tapi Alif belum menikah kok sudah keluar sperma mi?” Ustazah Aminah kebingungan harus menjelaskan bagaimana. Keceplosan dia kemudian bilang: “bisa kok Alif tanpa senggama pun keluar sperma, tapi…..uhhhh,” tanpa sadar Ustazah Aminah menghidupkan strapon vibrator yang masih menempel di selangkangannya.

“Tapi apa mi?” “Tapi…enghhh…asal dirangsang rudalh…hh..Alif juga bisa mengeluarkannnya. Istilahnya onani, sayangg,” wajah ustazah aminah mulai berkeringat. Dibetulkannya posisi kacamatanya yang terasa melorot. “Oh, gitu, gak sehat ya mi kalau gak dikeluarkan?”

Ustazah Aminah mengangguk. “Gak sehat, sayang.” “Lha gimana caranya onani itu umi? Apa Alif harus nunggu mimpi indah gitu?” “Ada caranya, sayang,” jantung Ustazah Aminah semakin berdebar-debar. Birahinya sudah naik, dipacu vibrator di serambi lempitnya. Dia mencari alasan supaya bisa menyentuh rudal itu tanpa terkesan tidak sopan. Walau bagaimanapun Alif adalah anaknya semata wayang, anak kandungnya.

“Gimana mi?” “Nanti saja tanya abi ya, sayang, masa umi yang ngajarin.” “Ahhhh umii, lama ah nunggu abi, malu juga.” “Lho, kalau sama umi tidak malu?” Ustazah Aminah tersenyum. Kata-kata Alif terasa lucu baginya. “Ya enggak lah umi, umiku sayang, kan dulu yang suka mandiin Alif pas kecil juga umi bukan abi.” “Emang Alif ingat?” Senyum ustazah aminah makin lebar. “Eng..pengennya sih ingat, mi,” jawab alif sambil nyengir.

“Huuu. Yaudah deh karena Alif maksa, umi contohin satu kali ya,” ustazah aminah bangkit dari duduknya dan mengambil lotion dari mejanya. Dadanya berdegup kencang membayangkan akhirnya dia bisa menyentuh rudal anaknya juga yang besar dan panjang dan pernah dia intip saat di kamar mandi itu dan hampir diciumnya tadi malam. Dirasakannya serambi lempitnya makin becek mengetahui bahwa apa yang dia lihat kini bukan hanya foto di hpnya melainkan memang rudal asli.

“Lihat baik-baik ya sayang,” Ustazah Aminah sebisa mungkin menjaga supaya suaranya terdengar normal. “Lotion ini harus alif gunakan buat pelicin supaya, emmm, rudal alif tidak lecet-lecet. Tapi enggak memakai juga enggak apa-apa sebenarnya yang penting tangan alif tidak terlalu ketat mengocoknya.” Ustazah Aminah kemudian membubuhkan lotion itu ke telapak tangannya, meratakannya dengan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya itu.

“Ada dua cara untuk onani itu sayang. Alif bisa menyuruh istri alif untuk membantu mengocok rudal alif….” “Jadi orang yang sudah menikah pun masih onani, mi?” Alif bertanya heran. “Mmm, bukan begitu, yah, kadang itu cuma buat seru-seruan saja sayang.” Melihat Alif termenung, Ustazah Aminah melanjutkan. “Sudahlah, kalau hal itu nanti alif sendiri akan paham kalau sudah menikah. Nah sekarang kita lanjut, ini contoh kalau onani dilakukan oleh orang lain…”

Ustazah Aminah kemudian menyentuhkan telapak tangannya ke rudal alif yang perlahan bangkit, kemudian dia menggenggamnya dan mengocoknya pelan. Alif merasa kenikmatan itu membuat nafasnnya sedikit memberat. Betapa indahnya, rudalnya kini sedang dikocok oleh ibunya sendiri. Ingin rasanya dia meraih kepala yang terbungkus kerudung lebar itu…

“Nahhh, lihat, rudal alif sekarang berdiri kan?” terdengar kembali suara ustazah aminah yang kini melepaskan genggaman tangannya. rudal Alif Nampak berdiri menegang sedikit demi sedikit, mengacung membesar membuat berbagai bayangan erotis bermunculan di benak ustazah aminah.

“Kenapa itu umi?” “Itu artinya alif terangsang, sayang, alif bergairah. Emm, besar sekali kon…eh rudal alif….” Tanpa sadar ustazah aminah mulai ngelantur. Vibrator di serambi lempitnya membuatnya merasa gelisah dan penuh gairah. “rudal ya mi, heee, sama punya abi besaran mana umii?”

“Punyamu, sayang,” wajah ustazah aminah memerah ketika menjawab itu. “Nah, kini umi contohin onani sendiri ya, biar alif nanti kalau sedang terangsang bisa melakukannya, supaya alif tak terjerumus pada dosa zina.” Ustazah Aminah kemudian bangkit, dia menyempatkan diri mengambil air dan meminumnya segelas. Syahwatnya membuat tenggorokannya terasa kering. Kembali dibenarkannya letak kacamatnya yang melorot.

Ustazah Aminah kemudian duduk di ranjang. “Sini Alif, enghhh,” ustazah aminah sedikit menggeliat karena gerakannya duduk itu membuat rangsangan di serambi lempitnya semakin menjadi. “Sini alif biar mudahh umi jelasinn nya, duduk umi pangku,”

Alif menurut. Dia meletakkan pantatnya di pangkuan sang umi, sementara punggungnya disandarkannya ke dada sang umi. Dirasakannya ada dua tonjolan raksasa di dada yang menekan-nekan punggungnya, membuat rudalnya makin mengacung. Ustazah aminah juga merasakan kenikmatan saat dirasakannnya buah dadanya ditekan kulit telanjang sang anak. Mukenanya yang sangat tipis bahkan membuat putingnya seolah menyentuh kulit punggung anaknya tanpa penghalang.

“Alif, coba tiru tadi tangan umi ngngngasihh lotion,” begitu ustazah aminah meneruskan kursusnya. Tangannya memencet botol lotion itu ke telapak tangan alif. Alif kemudian berlaku seperti ibunya tadi, kemudian dia langsung juga menggenggam rudalnya dengan tangannya.

“Umi…” dia bertanya sambil menolehkan kepalanya ke belakang, karena posisi tubuh Alif yang sedikit lebih rendah, maka posisi setelah dia menoleh itu seperti posisi akan mencium. Dirasakannya hangat nafas ibunya menerpa bibirnya. Punggungnya semakin menekan ke belakang.

“Iya sayang?” Suara ustazah aminah bergetar menahan birahinya yang memuncak. Dielus-elusnya rambut sang anak penuh kasih sayang.

“rudal alif bisa berdiri itu gimana penjelasannya mi?” “Ohh, itu kalau misalnya alif melihat pemandangan yang membuat alif terangsang.” “Lha tadi kan alif tak melihat apapun selain…umi?” nada suara alif terdengar ragu. “Ahh iya yaa, emmm, mungkin alif…euh emang kalau disentuh juga bisa terangsang kok sayang, tak perlu memandang apapun.” Ustazah Aminah hampir kelepasan menyebut “mungkin alif terangsang melihat umi”.

Alif mengangguk-angguk. Betapa inginnya dia mencium bibir yang sangat dekat dengan bibirnya itu. Tubuh sang ibu dirasakannya sangat hangat dan lembut. Dia seolah bisa merasakan kelembutan itu dari balik mukena tipis yang dipakai ibunya. Imajinasi-imajinasi liarnya membuat rudalnya semakin menegak.

“Sekarang begini sayang,” ustazah aminah memegang belakang telapak tangan alif, dua-duanya, dari belakang. Membimbingnya menggenggam rudal alif, kemudian menggerak-gerakkannya mengocok rudal itu. “Alif lakukan ini terus sampai nanti ujung-ujungnya pasti kon..eh, rudal alif ngeluarin lagi cairah putih kental kaya tadi. Nah itu namanya alif sudah orgasme, mengeluarkan sperma.” Demikian akhir penjelasan ustazah aminah.

Cerita Dewasa Ngentot - Ngentot Ustazah Aminah Berdada Montok di Asrama Mahasiswi
Dalam posisi masih duduk di pangkuan ustazah aminah dan bersandar di dada sang ibu, alif kemudian mengocok-ngocok rudalnya cepat. Ustazah Aminah menahankan tangannya ke belakang karena gerakan alif membuatnya hampir terjengkang. Dirasakannnya irama nafas sang anak makin memburu, keringatnya bermunculan, keringat bau lelaki yang sedang bergairah, membuatnya memejamkan mata mencoba menikmati rangsangan yang juga masih dirasakannya dari getaran vibrator di serambi lempitnya.

“Ahh, umiii, enakkk, ahhh,” sudah 10 menitan berlalu dan Alif kini mulai meracau. Kepalanya mendongak sementara tubuhnya makin bersandar ke belakang membuat ustazah aminah harus lebih kuat menahan tubuhnya. Tubuh keduanya sudah merapat, buah dada ustazah aminah membusung menggencet punggung alif, dirasakannya juga keringat mulai bermunculan membuat mukenanya lengket ke tubuhnya, sebagian juga karena keringat dari punggung alif.

Alif merasakan dua tonjolan putting susu ibunya seperti menyentuh kulitnya. Mencuat keras membuat birahinya makin meluap. rudalnya dikocok-kocoknya menimbulkan bunyi ploppp plopp yang konstan. Kemudian tangannya yang satu turun meremas-remas pinggiran paha ustazah aminah.

Ustazah aminah berdesir merasakan remasan itu. Dia sebenarnya ingin melarang, tapi rasa nikmat yang ditimbulkannya membuatnya enggan. Lalu dia menenangkan pikirannya bahwa orang yang sedang penuh gairah memang bisa bergerak dengan sendirinya dan otaknya tak memikirkan apapun selain memenuhi kebutuhan syahwatnya. Biarlah alif merasakannya untuk kali ini. Itu naluriah laki-laki. Dipejamkannya matanya menikmati remasan dan usapan di pahanya itu. Nafasnya terasa makin cepat.

“Umiii….” Alif terdengar mendesah. “Yyyyaa sayangh, ada apa?” di sela gairahnya, ustazah aminah menjawab. “Pengen dikocok pake tangan umi,” desah alif. “Jj Jangan, sayang, udah ini Cuma contoh,” terbata-bata ustazah aminah menjawab, tangannya yang satu mengusap-usap kepala anaknya itu penuh sayang. Tapi dia tak menunjukkan penolakan saat tangan alif meraih tangan tersebut, membimbingnya ke rudalnya dan menggerak-gerakkannya pelan. “Arhhhh, enakkk hh hh umiii,” alif mendesah-desah, tangannya yang satu makin gencar meremas dan mengusap paha ustazah aminah.

“Hhhhh,” tanpa sadar ustazah aminah mendesah pula merasakan kenikmatan. Naluriah tangannya mengocok rudal alif lebih cepat membuat sang anak mendongakkan kepalanya sambil mengeluarkan desahan tertahan. Di serambi lempitnya, vibratornya juga masih hidup, membuat perasaannya makin tak karuan.

Didera kenikmatan seperti itu, ustazah aminah membuka belahan pahanya. Tubuh alif pun merosot kini karena posisi paha ustazah aminah pun menjadi mengangkang lebar. “uuuuunghhhh,” ustazah aminah melenguh merasakan pantat sang anak menyenggol serambi lempitnya dari balik mukena tipis yang dia pakai. Dengan pahanya dijepitnya kedua paha alif yang merapat, sementara tangannya masih mengocok-ngocok rudal alif yang kian menegang menampakkan urat-urat bertonjolan di sana.

Kepala alif kini sepenuhnya bersandar di bahu ustazah aminah, sementara kepala ustazah aminah justru terdorong ke muka mengamati tangannya yang terus mengocok. Pafff pafff pafff, bunyi kocokan itu terdengar berirama di dalam kamar yang kini terasa menguarkan aroma syahwat ibu dan anak. Mata ustazah aminah melotot memandang rudal yang sangat menggairahkannya itu, sementara di lehernya dirasakan basah bibir anaknya menembus melalui kain sutra tipis yang dia kenakan.

Tangan alif di bawah tidak diam, kini kedua tangannya sama-sama meremas paha ustazah aminah, birahinya menggelora merasakan kenyal yang mengganjal di punggungnya, hangat, sementara dirasakannya kedua paha ustazah aminah semakin ketat menghimpit tubuhnya. Diusap-usapnya paha itu dengan bergairah menyusur dari bawah ke atas bolak-balik.

“Umi, hhh, umiiii, enakk, ahh, terus umii, ahhh, umiiii,” Alif terus memanggil-manggil ibunya. Matanya terpejam merasakan tangan lembut yang mengocok rudalnya, sesekali pelan, sesekali cepat.

Ustazah Aminah merasa bahwa hal semacam ini sebenarnya tidak diperbolehkan. Dia ibu Alif. Akan tetapi gairahnya membuat otaknya sudah tak berpikir ke sana. Selain itu dia juga beralasan bahwa ini hanya pelajaran satu kali demi tujuan yang baik supaya Alif tidak terdorong untuk berzina. Seorang ibu harus menjauhkan anaknya dari resiko yang buruk, batinnya.

Maka dengan penuh semangat dia terus mengocok rudal itu, sesekali dipejamkannya matanya merasakan sentuhan pantat arif di selangkangannya, berpadu dengan getaran vibrator yang merangsang syaraf-syaraf serambi lempitnya itu. Tubuhnya sudah bersimbah keringat birahi. Di lehernya dirasakannya bibir alif sudah sepenuhnya menempel di sana. Basah. Hangat. Tubuhnya bergetar.

“Alifff, masihh h lam lama sayangg?” Ustazah Aminah terdenngar bertanya dengan suara bergetar. Kalau begini terus bisa dirinya yang lebih dulu orgasme, begitu pikir Ustazah Aminah. Dia masih tetap merasa malu jika sampai anaknya tahu dirinya orgasme hanya gara-gara mengocok rudalnya.

Alif sadar itu juga. Karena itulah meski dia sebenarnya lebih suka jika sang ibu orgasme lebih dulu dari dia, kemudian dia akan langsung mengeksekusinya, akan tetapi dia tetap berpikir halus juga. Dirasakannya bahwa sekarang belum waktunya dirinya menyetubuhi sang ibu.

Masih ada sisa-sisa kesadaran yang membuat ibunya belum sepenuh hati memasrahkan tubuhnya untuk disetubuhinya. Masih perlu ada rencana lain, begitu pikirnya. Untuk sekarang cukuplah seperti ini, setidaknya hubungan antara dirinya dengan ibunya sang ustazah alim berdada membusung itu sudah naik ke level yang lebih baik.

“Aaaahhh ahhhh ahh, bentar lagi, umi, ahhh, kocok terus umiii,” Alif menjawab demikian. Remasannnya di paha ustazah aminah makin gencar sampai membuat ustazah aminah merem melek menahan rasa geli di sana. Setidaknya dia merasa lega juga mendengar jawaban sang anak. Demi menambah rangsangan, seperti tidak sengaja dimajukannya tubuhnya ke depan sambil sedikit menggeser tubuhnya ke samping.

Dengan demikian, alif merasakan di punggungnya puting susu sang ibu menggelitik membuat gairahnya kian terpacu. Dalam genggamannya, ustazah aminah merasakan rudal alif mengedut, batang itu semakin bengkak seiring dengan batang itu yang makin mengeras. Urat-urat yang menonjol di rudal anaknya itu terasa menggelitik telapak tangannya yang halus, membuatnya ingin terus mengocok-ngocoknya makin cepat makin cepat…

“Aaa hh aaa hh aa hhhh,” desahan alif terdengar terus seiring dengan kocokan tangan ibunya yang alim itu di rudalnya. Ustazah aminah merasakan kembali kedutan di batang itu. dikocoknya lagi dan dirasakannya mulut alif membuka di lehernya seperti akan menggigitnya. “Ahhh umii, aliff, ahhh, pengen kencing umi, umiiii,”

Untuk sejenak ustazah aminah baru terpikir ke mana sperma anaknya akan dibiarkannya muncrat. Terlintas di benaknya betapa erotisnya jika rudal itu ditadahnya dengan menggunakan mulut yang terbuka. Akan tetapi kemudian dia sadar juga bahwa itu akan sangat tidak sopan. Dia masih merasa malu pada anaknya. Akan tetapi jika dibiarkannya rudal itu memuntahkan sperma di lantai, dia juga akan repot membersihkannya nanti.

Akhirnya ketika dirasakan tubuh alif mengejang dan menggeletar, dia mengambil keputusan. Diangkatnya tubuh alif sampai tubuh itu terduduk di pinggir ranjang dan dirinya terbebas. Kemudian dengan cepat dia berjongkok di depan anaknya dan disungkupkannya kepala rudal itu ke lubang di mukenanya, tepat di sela-sela bawah dagunya.

Saat itu tubuh alif mengejang, kedua tangannya menyangga tubuhnya ke belakang, ke ranjang, kepalanya mendongak ke atas, mulutnya menganga. Kenikmatan yang dirasakannya jauh lebih dari nikmat yang diberikan oleh ustazah lia dan ustazah raudah. Ibunya benar-benar dewi yang dia ingin setubuhi sepuas-puasnya. Baru onani saja nikmatnya sudah seperti ini…

“Aaaaaahh aaaah ahhhhh aaaaaaaaaaaaaaaaaahhh,” sambil kelojotan rudalnya yang masih digenggam erat oleh tanga lembut sang ibu memancut-mancutkan sperma. Ustazah aminah memejamkan matanya saat dirasakannya pancutan hangat diiringi bau sperma yang sangat dirindukannya mengenai lehernya, bawah dagunya. Pancutan-oancutan itu terasa seolah tanpa henti, dalam genggamannya dirasakannya rudal sang anak menggeliat-geliat liar hampit tak mampu dia tahan.

Setelah dikiranya berhenti, dia kemudian mengeluarkan rudal itu dari sela mukena bawah dagunya. Saat itulah ternyata alif sengaja menahan satu kali pancutan sperma dan dia kemudian mendesah, “Ahhh umm miii, masihhh, ahhh,” rudal itu menggeliat dari genggaman tangan ustazah aminah yang sudah melonggar, kemudian croottt croottt crootttt, rudal itu memancutkan sperma tepat di wajah ustazah aminah yang mendongak, kemudian batang itu menggeletar liar memukul-mukul hidung dan pipi ustazah aminah.

Sementara Alif menikmati orgasme susulannya mengamati wajah alim sang umahat yang masih terlindungi mukena itu berlumur spermanya, ustazah aminah untuk sesaat bengong. Sensasi seperti ini dirasakannya sangat indah, beruntunglah ini kejadian yang tidak dia atur sehingga dia tidka merasa malu, begitu pikirnya.

“Ahhh, alif ini, kotor deh wajah um mi, hhh,” masih ada desah di ujung ucapan ustazah aminah ketika dirasakannya gairahnya mendadak bergejolak membara dirangsang oleh sensasi itu, getaran vibrator di serambi lempitnya terasa membuat serambi lempitnya gatal.

“M mm aaaff umi, maaff, sini alif bersihin,” begitu kata alif terbata-bata seolah malu. Dia mengambil tissue dari meja kemudian membantu menyeka wajah umi aminah sang ibu yang alim. Sebagian pancutan itu mengenai kacamata ustazah aminah memberikan kesan seksi yang membuat alif hampir tak tahan ingin menciumi wajah ibunnya itu.

“Makasih sayanggg, nahh,” ustazah aminah terhenti sejenak, memejamkan mata merasakan di balik mukena sutranya air mani sang anak mengalir dari lehernya ke dada, sebagian di area punggung juga, ke ketiaknya. Terasa hangat dan licin. Tubuhnya bergetar seperti digelitik ketika dirasakannya air mani itu melewati sela kedua payudaranya. “ehhh, ahhh, sayang sudah tahu kan begitu caranya onani. Kalau…hh, alif, bergairahhh, begitu saja, jangan berzinaa uhhh,” ustazah aminah merapatkan pahanya merasakan air mani itu sudah sampai ke bawah pusarnya, terasa turun membasahi jembutnya.

“Iya umi, makasih ya. Enak sekali. Alif sayang umi,” alif kemudian mencium pipi sang ibu. Bau sperma. Di bawah rudalnya yang masih belum melembek kini kembali tegak. “Sana alifff bersih bersihh dulu,” ustazah aminah saat itu hampir tak kuat menahan dorongan kenikmatan di tubuhnya yang hampir mencapai puncak. Ditahan-tahannya tubuhnya yang bergetar dengan syaraf kenikmatan semuanya terpacu menuju orgasme yang lama dia rindukan.

“Iya umii, eh, ini tegak lagi mi, gimana ini harus alif…kocok lagi?” Alif bangkit sambil menunjuk rudalnya. Tatapan ustazah aminah jatuh ke rudal itu. dadanya berdesir melihat rudal yang masih nampak gagah mengacung bahkan setelah memancutkan sperma yang sangat banyak itu. “I iyy yaa sayang, di kamar alif saja yahhh, lakukan sperti, uhh, tad tadiii.” Ustazah aminah bertelekan di meja, pahanya bergerak makin merapat seperti wanita yang menahan kencing. tangannya meraih-raih kertas di meja tanpa tujuan

“Baiklah mi, makasihh yaa,” Alif tersenyum. Dia tahu ustazah alim ibunya itu sebentar lagi orgasme. Diam-diam dia juga tahu bahwa sang ibu saat itu memang sedang memakai strapon vibrator di serambi lempitnya. Benar saja, saat alif sudah menutup pintu penghubung dari balik kamarnya, ustazah aminah mencapai puncaknya. Dia jatuh dengan lutut menekan lantai, bersimpuh sementara tangannya berpegangan pada meja.

“Aaaaaaaaahh aaaaaaaaaaaaaaaaaawwhhhhh h h h h…” mulutnya masih menganga dengan kepala mendongak tapi jeritannya sudah tak terdengar. Matanya membeliak merasakan puncak kenikmatan yang melandanya. serambi lempitnya berkedut-kedut menyebarkan kenikmatan syahwat ke syaraf-syaraf di sekujur tubuhnya. Tubuhnya mengejang seperti disetrum listrik. Tangannya menggenggam pinggiran meja erat-erat menahan tubuhnya supaya tidak menggelosoh di lantai.

Setelah kenikmatan itu mereda, ustazah aminah mematikan vibratornya. Dia bangkit dengan tubuh lemas dan bertumpu pada meja. Disekanya air liur yang meleleh dari sudut bibirnya. Tubuhnya kini basah oleh keringatnya sekaligus oleh air mani alif membuat mukenanya lekat mencetak bentuk tubuhnya yang sangat menggoda.

Penasaran dimasukkannya jarinya menyeka air mani anaknya yang mencapai jembutnya, kemudian dijilatnya. Terasa asin. Tubuhnya bergetar. Diam-diam dalam pikirannya dia bertanya-tanya: baru membantu sang anak onani saja kenikmatan yang dia dapatkan sudah seperti ini, bagaimana pula jika rudal yang sangat panjang dan besar itu dimasukkan ke serambi lempitnya?

Dirabanya serambi lempitnya yang basah. Lalu dicopotnya strapon vibrator itu. setelah itu, ustazah alim itu mencopot mukenanya kemudian langsung masuk ke kamar mandi. Dia ingin mandi membersihkan tubuhnya yang berlumuran air mani anak kandungnya. Bau sperma terasa menyengat, bau yang sangat dirindukannya.

Selesai mandi, dilihatnya sudah ada segelas teh hangat di mejanya. Dia tersenyum merasakan tubuhnya yang segar kemudian diminumnya teh hangat itu. sebelum meminumnya dalam pikirannya terbayang alif, anaknya yang sangat dia sayangi telah membuatkan teh itu untuknya.

Akan tetapi beberapa menit setelah meminum teh itu, yang terbayang di benaknya adalah rudal panjang dan besar milik anaknya dan sang anak yang meremas-remas pahanya saat dia pangku tadi, serta desahan nakalnya dan nafas hangat yang menerpa lehernya sebelum sang anak orgasme. Dirasakannya serambi lempitnya kembali basah, dan dia mendesah, “Ahhhhhhh, alif sayang.” Tubuhnya kembali dipasok obat perangsang yang dimasukkan alif ke dalam tehnya.

*****

Sore itu, beberapa hari setelah pengalamannya mengocok rudal Alif, ustazah aminah nampak sedang merenung di kamarnya. Alif sedang pergi keluar dari tadi siang. Pikiran ustazah aminah sedang ruwet. Sesekali dia meneguk tehnya, teh buatan alif yang seperti biasa dicampuri obat perangsang. Sesekali dia nampak gelisah menyentuh-nyentuh buah dadanya yang nampak membusung dari balik gamis kombor yang dia kenakan.

Otaknya ruwet memikirkan Alif, birahinya, dan juga ustaz karim. Memang sejak dia tahu bahwa suaminya itu menyetubuhi ustazah raudah, ustazah aminah sempat berhenti memberi jatah juga pada suaminya. Tapi itu tak lama, toh birahinya justru lebih besar dari birahi ustaz karim. Akan tetapi kini, tiap dia meminta jatah pada suaminya itu, sang suami selalu punya alasan menolah. Lelah lah, atau sedang gak mood, dan sederet alasan yang lain.

Sementara pada saat yang sama, dirinya juga tak bisa menolak bahwa setelah satu kali mengocok rudal anaknya itu, dia selalu terbayang-bayang rudal besar dan panjang sang anak. Belum lagi kini sering sekali dipergokinya Alif sedang mengocok-ngocok rudalnya di kamarnya ataupun di kamar mandi. Alif memang tak menyebut nama uminya, akan tetapi ustazah aminah terlanjur mendengar desahan sang anak dalam mimpi dan mau tak mau dia pun selalu menduga sang anak membayangkan memenyetubuhi dirinya.

Kejadian-kejadian semacam itu membuat pikirannya ruwet dan otaknya kadang terasa sakit. Dia tak tahu memang bahwa Alif sengaja mengocok rudalnya di momen yang kira-kira dipergoki sang ibu. Alif juga masih rutin membubuhkan obat perangsang pada teh sang umi dengan dosis yang kian tinggi.

Maka ustazah aminah pun selalu membayangkan rudal yang panjang dan besar itu dikocok kembali oleh tangannya, lalu desahan menggairahkan anaknya yang menyebut namanya, kemudian rudal itu memuntahkan cairan putih yang dia tadahi dengan mulut, sebagian muncrat ke kacamatanya….

Tok tok tok, “asalamualaikum,” ketukan di pintu dan ucapan salam membuyarkan lamunan erotis ustazah aminah. Sedikit kaget dia melepaskan tangannya yang tadi tanpa sadar sudah menyusup ke balik gamisnya, mengusap-usap pahanya. Sore itu ustazah aminah mengenakan gamis kombor berwarna hijau tua, nampak serasi dengan kerudung lebar berwarna biru muda yang dia kenakan.

Ustazah Aminah kemudian berdiri sambil menjawab salam. Dibukanya pintu kamarnya. Dia sudah tahu yang datang adalah ustazah lia sebab dia memang mengundang sang ustazah ke kamarnya. “Masuk ukhti,” ustazah aminah mempersilahkan sang ustazah masuk.

Ustazah Lia masuk. Lalu dia duduk di karpet setelah dipersilahkan oleh umi aminah. Dia sebenarnya sudah tahu apa masalah yang mungkin akan dikisahkan sang umi. Dia juga sudah merembuknya bersama ustazah raudah dan alif. Kini adalah bagiannya untuk membantu alif menjalankan rencananya.

“Ada apa umi kok sore-sore begini sepertinya umi sedang ada masalah memanggil ana? Masalah paketan buat ana yang dulu itukah?” ustazah lia pura-pura tak tahu dan menyinggung soal vibrator yang dipaketkan untuknya.

“Bukan ukhti,” jawab ustazah aminah. Di benaknya langsung terbayang vibrator dicolok-colokkan ke dalam serambi lempitnya. “Begini, umi ingin curhat. Kebetulan Umi Lilik Hamidah sedang sibuk dan umi tidak punya orang lain yang bisa dipercaya selain ukhti Lia.” Ustazah Aminah menatap ustazah lia yang tersenyum mengangguk.

“Tentang apa, umi?” Semula ustazah Aminah sedikit ragu harus memulai dari mana, tapi dia kemudian memulai juga berkata. “Ukhti, ini tentang Alif.” “Oya, gimana umi memang Alif kenapa?” Ustazah Aminah menghela nafasnya. “Alif sepertinya marah sama umi, dia pergi dari tadi siang belum kembali.” “Lho kenapa, umi?” “Euhh, umi malu mau cerita…” “Sudahlah umi, kayak sama siapa saja. Ana siap bantu kalau memang ana bisa membantu. Minimal ana bisa mendengarkan cerita umi, biasanya nanti perasaan umi menjadi lebih lapang.” Akhirnya ustazah Aminah bercerita juga. “Gini, ukhti, tadi siang itu Alif bertanya ke umi begini:

“Umi, onani itu rasanya sama enggak dengan bersetubuh?” Umi menjawab: “Emm, sama, lif,” “Kalau begitu kenapa orang harus menikah?” “Ehhh iya iya, beda lif,” “Lebih enak atau tidak umi?”

Kepalang basah, umi menjawab begini, “lebih enak, Lif,” “Alif pengen.” “Husssh, jangan, nanti alif juga nikah.” “Yaudah. Tapi jangan salahkan Alif kalau Alif kebablasan beli.” “Beli apa sayang?” ustazah aminah menatap sang anak heran. “Beli pelacur!” kemudian Alif melengos dan pergi ke luar. “Begitu, ukhti, sampai sekarang ini Alif belum pulang juga.” Ustazah Lia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Eh, umi, bukannya ana nakut-nakutin, tapi ana pernah punya kisah yang mirip….”

Ustazah aminah melebarkan matanya menatap ustazah lia. “Bagaimana itu, ukhti?” “Tapi umi jangan cerita-cerita ke siapa-siapa ya?” pinta ustazah lia. “Iya, sayang, biar ini jadi rahasia kita berdua saja,” jawab ustazah aminah. Hatinya sedikit berdebar-debar.

Dimulailah cerita ustazah lia: Ustazah Lia memiliki seorang bibi, biasa dipanggil sebagai Umi Purwanti. Umi Purwanti ini seorang janda, suaminya meninggal setelah memberinya anak satu. Namanya Dirga. Umi Purwanti ini memiliki beberapa butik busana muslimah. Dari sanalah dia memiliki uang banyak sehingga mampu menanggung biaya Ustazah Lia juga. Kirimannya rutin setiap bulan dan Ustazah Lia memang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.

Beberapa tahun yang lalu, ustazah lia pernah selama tiga bulan tinggal di sana. Saat itu ustazah lia cuti dulu dari kuliah karena ada masalah. Usia dia saat itu 20 tahunan. Dirga sementara itu baru berusia sepuluh tahunan. Karena Dirga memang pada dasarnya anak yang baik, maka keduanya pun menjadi akrab, seperti adik dan kakak.

Ustazah Lia sering membantu dirga mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolahnya. Ustazah lia juga sering memberikan pelajaran keagamaan buat dirga. Tentu saja umi purwanti yang saat itu usaha butiknya berkembang semakin pesat dan membuatnya makin sibuk merasa terbantu oleh keberadaan ponakannya itu di rumahnya. Dia tak kuatir bahwa dirga akan terpengaruh oleh pergaulan buruk dari teman-temannya. Suatu hari, saat itu ustazah Lia sedang membaca buku kerohanian di kamarnya. Dirga tiba-tiba masuk ke kamarnya.

“Mbak Lia,” begitu dia memanggil, kemudian langsung duduk di samping ustazah Lia. “Iya, dek,” ustazah lia tersenyum. Ditutupnya bukunya. Diusap-usapnya lembut kepala Dirga yang langsung menyandarkan tubuhnya ke tubuh ustazah lia. “Ada apa? Kok kayak sedang pusing,” lanjutnya

Dirga menatap ustazah lia. Kemudian kata-kata yang terlontar dari mulutnya membuat ustazah lia kaget. “Mbak, menyetubuhi itu apa sih?” Ustazah Lia diam sejenak. “Emmm, siapa yang ngajari dirga bilang begitu?” tanyanya. “Tadi temen-temen dirga pas ngobrol-ngobrol pada bahas kalau mereka nonton orangtuanya menyetubuhi. Terus dirga tanya apa itu menyetubuhi eh malah diketawain mereka coba. Apa sih mbak?” Dirga makin merapatkan tubuhnya ke ustazah lia yang lalu melingkarkan tangannya memeluk anak itu.

“Hush, itu bukan bahasan untuk anak seumuran dirga lho.” Jawab ustazah lia. Memang meskipun saat itu ustazah lia sudah mengenakan kerudung lebar, tapi dia juga sudah tahu sedikit sedikit tentang seks. Bahkan di saat itu dirinya juga terkadang masturbasi saat gairahnya sedang meninggi. Sebagaimana kebanyakan akhwat, dia memang terhitung memiliki gairah yang sangat tinggi.

“Kok gitu mbakk, kan temen-temen dirga sudah pada tahu.” Dirga terdengar merajuk. Ustazah lia menghela nafasnya dalam-dalam. Dia kebingungan harus menjelaskan seperti apa. Pada akhirnya dia menjawab juga, “Emmm, menyetubuhi itu kata yang kasar, dek, yang lebih sopan itu senggama, atau bersetubuh. Nah, bersetubuh itu proses yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan. Dirga sekarang ini bisa ada karena Umi sama Abi dirga bersetubuh.”

Dirga diam beberapa saat, mencoba mencerna ucapan ustazah Lia. Dia nampak bingung. “Gini saja, dirga sudah baligh belum?” “Baligh itu apa, mbak?” “Hussshh dirga ini, kemarin sudah pernah mbak jelasin hayoo.” Ustazah Lia mengacak-acak rambut Dirga.

Dirga nyengir. “Ooohh, itu, mbak, keluar air mani yah? Ya kan? Dirga sudah, tahun kemarin.” “Nah, bersetubuh juga sama, dek, yang laki-laki ngeluarin air mani, terus dimasukin ke punyanya perempuan, nanti gabungannya itu jadi anak, dirga misalnya.” Ustazah Lia mencoba menjelaskan sesederhana mungkin. Dirga mengangguk-angguk. Tampaknya dia mulai paham. “Pantesan, mbak, temen-teman pada mainin ininya juga pas ngobrolin itu.” Dirga menyentuh selangkangannya pas nyebut “ininya”. Sekejap ustazah lia terkesiap

“Kok temen-temen dirga kayaknya liar gitu. Mending dirga nyari temen yang lain deh.” “Tapi mereka temen-temen dirga yang paling akrab, mbak.” “Yaudah, yaudah, tapi dirga janji gak bakalan ikut-ikutan yak? Kalau ada apa-apa tanya ke mbak saja.” “hehehe, iya, mbak, dirga sayang mbak.” Dirga menatap ustazah lia sambil tersenyum. Kemudian dia bangkit dan keluar dari kamar ustazah Lia. Ustazah Lia hanya memandang kepergian anak itu tanpa mengatakan apapun.

Tiga hari setelah itu. Saat itu sudah malam. Ustazah Lia sedang gelisah di rumah Umi Purwanti. Umi sedang tidak ada karena sedang ada urusan ke luar kota, tiga hari berselang baru akan kembali. Sementara itu, sudah jam 7 malam tapi dirga belum juga pulang ke rumah. Ustazah lia gelisah, kuatir terjadi sesuatu pada anak itu, sementara dirinya sudah terlanjur dipasrahi tanggung jawab oleh umi Purwanti

Ustazah Lia mondar-mandir saja di tengah rumah. Diingat-ingatnya siapa teman dirga yang mungkin dia tahu dan bisa dimintai keterangan. Ketika itulah dia teringat pada Diki. Diki teman akrab dirga yang rumahnya hanya beda satu blok dari rumah umi purwanti. Akhirnya ustazah lia memutuskan untuk pergi ke rumah itu.

Dengan mengendarai sepeda motor, ustazah lia sampai ke sana. Rumah itu nampak sepi. Akan tetapi ketika sampai ke depan pintu, ustazah lia merasa senang karena di sana dia melihat ada lima pasang sandal dan salah satunya adalah sandal Dirga. “Mungkin mereka sedang kerja kelompok,” begitu pikirnya.

Dia baru akan memencet bel ketika pintu rumah itu mendadak terbuka. Kemudian dua orang wanita seumuran ustazah lia keluar sambil tertawa-tawa. Yang membuat ustazah lia kaget adalah dandanan mereka yang nampak menor. Ada bau keringat dan bau lain juga menguar ketika mereka berdua melewati ustazah lia. Mereka hanya menatapnya sekilas kemudian keluar rumah dan langsung pergi.

“Mbak?” terdengar suara Dirga. Ustazah lia menoleh. Dirga berdiri di ambang pintu. Tubuhnya berkeringat. Di belakangnya lagi nampak Diki dan satu orang lagi seumuran mereka berdua. “Kok ada di sini?”

Ustazah Lia menatap mereka tajam. “Mbak jemput dirga. Ayo pulang.” Ucapnya tegas. Dirga menurut saja ketika ustazah lia menggamit tangannya dan membawanya pulang dengan mengendarai sepeda motornya. Sampai di rumah, ustazah lia langsung menyuruh dirga duduk di ruang tengah dan menginterogasinya. “Dek. Apa yang kamu lakukan tadi di rumah diki? Sampai malam begini? Siapa juga dua cewek tadi?”

Dirga diam membisu. Kepalanya menunduk tak berani menentang tatapan ustazah lia. “’Jawab, dek! Mbak ini pengganti umi saat umi tidak ada. ayo, apa yang adek lakukan tadi? Gak mungkin kalau Cuma ngerjain pe er.” “Ngggg, enggak kok mbak…” “Enggak apa?” “Dirga Cuma nonton..Diki mbak sama Ihsan yang…ngg…” “Yang apa, dek?” “menyetubuhi, mbak….” “Apa?!” Ustazah Lia terkaget-kaget.

Dirga akhirnya menjelaskan bahwa Diki mengajak dirinya dan Ihsan ke rumahnya. Kebetulan orang tuanya sedang pergi. Nah, ternyata Diki menyewa dua orang pelacur untuk mengajari mereka menyetubuhi. Tapi Dirga bersikeras bahwa dirinya hanya menonton, sementara Diki dan Ihsan…

Ustazah Lia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak habis pikir, anak-anak yang baru berusia sepuluh dan sebelas tahunan kok sudah sejauh itu melakukan maksiat. “Beneran Dirga tidak ngapa-ngapain?” dia kembali menekankan. “Iya, mbak. Dirga Cuma nonton…tapi…” “Tapi apa?” “Kayaknya menyetubuhi itu enak ya mbak? Ihsan sama Diki sampai menjerit-jerit begitu…” Dirga menatap ustazah lia meminta penjelasan.

“Dirga…dirga…” Ustazah Lia kembali menggeleng-gelengkan kepala. “Itu tidak boleh. Haram. Sudah bagus dirga tidak ikut-ikutan.” Dipeluknya anak itu. dirga balas memeluk. Kemudian tubuh ustazah lia tersentak ketika dirasakannya tangan dirga meremas payudaranya. “Dirga….jangan begitu…”

“Tapi tadi Diki kayak gitu mbak, kata mbak pelacur itu enak… Dirga sayang mbak.” Merasa putus asa, ustazah lia menatap dirga. Disadarinya memang remasan itu terasa enak, akan tetapi… “Iya, dek, tapi jangan begitu, adek nanti kalau sudah menikah baru boleh.” “Lha Diki sama Ihsan boleh, tapi kok Dirga gak boleh?” suara dirga terdengar menuntut. “Pokoknya dirga gak boleh!” “Sama mbak juga gak boleh?” “Apa? Gak boleh!”

“Kalau begitu Dirga milih bareng Diki sama Ihsan saja. Mbak ini apa-apa gak boleh, padahal enak.” “Bukan begitu…” Ustazah Lia kehabisan kata. “Mbak jahat! Besok Dirga sewa pelacur saja! Sama kayak Diki.” Dirga berteriak kemudian pergi ke kamarnya. Ustazah Lia menyusulnya. Ternyata pintu kamar Dirga dikunci.

“Dek, dengerin mbak dulu. Dek.” Diketuk-ketuknya pintu kamar dirga. Tapi anak itu tak juga membuka pintu kamarnya. Akhirnya ustazah lia menyerah dan pergi ke kamarnya sendiri. Dipikir-pikirnya semoga saja besok dirga sudah menyadari kesalahannya, begitu dia menghibur dirinya sendiri.

Tapi ternyata harapan ustazah lia itu tak menjadi kenyataan. Esoknya pagi-pagi sekali dirga sudah pergi, dan dia baru pulang malam hari. Berpapasan dengan ustazah lia pun dia tidak menyapa. Dia langsung menuju ke kamarnya.

“Dirga dari mana? Sudah makan? Itu sudah mbak masakin kesukaan dirga.” “Udah makan tadi di rumah Diki.” Kemudian dia menutup pintu kamarnya dengan keras. Meninggalkan ustazah lia yang menatapnya sedih. Ustazah lia kemudian duduk di kursi ruang tengah. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai prasangka. Pada akhirnya, didorong oleh rasa tanggung jawabnya, dia mengambil keputusan…

“Dek, dek, buka pintunya.” Diketuknya kamar dirga. Tak terdengar jawaban. “Dekk…ayo menyetubuhi sama mbak.” Akhirnya dia mengambil langkah terahir. Sepi, kemudian pintu itu terbuka. Dirga menatapnya tak percaya. “Boleh mbak masuk?” Dirga tak menjawab tapi dia kemudian menyingkir memberi jalan ketika ustazah lia masuk. Ustazah Lia langsung duduk di ranjang. Dirga berdiri menatapnya.

“Mbak serius?” akhirnya dirga bertanya. Ustazah Lia mengangguk. “Tapi jawab dulu pertanyaan mbak, dan dirga juga harus janji sama mbak.” “iya mbak, apa?” Dirga tersenyum. Dia langsung duduk di samping ustazah lia. Mepet. Perasaan ustazah lia berdesir.

“Adek beneran bersetubuh sama pelacur di rumah Diki?” Dirga menggeleng. “Rencananya besok, mbak, tadi Dirga Cuma nonton lagi, soalnya pelacur yang disewa Cuma ada dua, duitnya kurang.” Ustazah Lia menghela nafas panjang. “Bagus. Kini mbak mau dirga janji.” Dia berhenti dan menatap dirga.

“Iya mbak,” dirga kini mulai nakal. Tangannya merayap mengelus-elus paha ustazah lia. Seumur-umur baru kali itu ustazah lia merasakan elusan dari laki-laki. Terasa nikmat. “Dirga harus janji kalau hanya akan menyetubuhi malam ini saja sama mbak. Itu Cuma biar dirga penasaran. Mbak mau menyetubuhi sama dirga, tapi dirga gak boleh ke pelacur sama sekali, oke? Cukup malam ini saja sama mbak, sampai nanti dirga nikah.”

“Oke, mbak.” “Janji?” “Iya, mbak, dirga janji.” Ustazah Lia menatap anak itu, dibiarkannya jemari dirga menyusuri pahanya, membuat gamisnya terangkat sedikit demi sedikit. Kemudian diraihnya kepala anak itu. diarahkannya bibirnya ke bibir dirga, dan cuuppppp, diciumnya lembut. Ahh, rasanya nikmat sekali. Itu ciuman pertama yang dialami ustazah lia.

Dirga nampak sangat menikmati ciuman ustazah lia. Mungkin karena sudah berkali-kali menonton ajaran pelacur di rumah diki, tangannya kini berpindah memeluk ustazah lia, kemudian yang satu meremas payudara ustazah lia, terasa kasar memang, mungkin karena belum terbiasa, tapi sudah cukup membuat tubuh ustazah lia menggelinjang. Birahi mulai merayapi tubuhnya.

Dengan sigap tangan ustazah lia membantu dirga membuka kausnya. Kebetulan saat itu dirga memang hanya memakai kaus dan celana kolor, sementara ustazah lia memakai gamis kombor. Ustazah lia juga menarik celana kolor dirga supaya dicopot. Maka anak itu kini hanya memakai celana dalam saja. Perasaan ustazah lia berdesir melihat benda yang menonjol di sana.

“Mbak naik ke ranjang,” bisik dirga. Ustazah lia menurut. Dia naik dan duduk berselonjor di ranjang. Dirga kemudian naik dan duduk di atas paha ustazah lia, mepet ke tubuh ustazah lia, menghadap ke arahnya. Kemudian dengan liar dia menciumi bibir ustazah lia sampai ustazah lia merasa kesulitan bernafas. “pelan-pelan dek,” bisiknya dengan nafas mulai terengah-engah. Dibayangkannya video porno yang suka dia tonton.

Tangan dirga melingkar ke punggung ustazah lia. Sementara itu kepalanya kini menyuruk ke dada ustazah lia, mulutnya menangkup buah dada yang membusung di sana, tidak terlalu besar tapi sekal, hanya dalam sekejap saja gamis ustazah lia di area buah dadanya itu basah oleh liur dirga. Ustazah lia memejamkan matanya menikmati rangsangan anak itu. di selangkangannya dirasakannya tonjolan rudal alif menekan-nekan.

Ada memang sedikit kegamangan dalam hatinya, sebab dia selama ini selalu berpikir kehormatannya akan dia persembahkan untuk suaminya. Akan tetapi dia menghbur diri juga bahwa apa yang dia lakukan sekarang ini demi kebaikan. Daripada dirga ke pelacur, kemudian terjangkit penyakit aids, betapa sedihnya nanti umi purwanti….

“Ahhhh….” ustazah lia mendesah saat dirasakannya gigitan di payudaranya dari balik gamis. Dirga berhenti dan menatapnya. Nafasnya nampak memburu. Kemudian tangannya mendorong tubuh ustazah lia yang tadi ditahan oleh tangan sang ustazah ke belakang. Ustazah lia paham, dia kemudian menjatuhkan punggungnya ke ranjang, berbaring terlentang

Lalu tanpa diduganya, tangan dirga menelusup ke balik gamisnya dan menarik celana dalam sang ustazah. Ustazah lia membantu menggerakkan kakinya supaya celana dalamnya mudah terlepas. Kemudian dirasakannya kepala dirga menyelusup ke gamisnya dan mendarat di selangkangannya.

“Auhhhh, uhhhh,” tubuhnya menggelinjang saat dirasakannnya pertama kali jilatan di serambi lempitnya. Dia sering membayangkannya saat menonton video porno tapi tentu saja dia tak bisa melakukannya sendirian. Terasa sangat nikmat. Desir-desir gairah terasa di berbagai bagian tubuhnya. Dijepitnya kepala dirga dengan pahanya, sementara tangannya refleks meremas-remas payudaranya sendiri.

“Sebelah kiri dek, hhhh, sebelah kiri…” ustazah lia mendesah-desah tanpa terdengar oleh dirga. Dia sangat menginginkan klentitnya dijilat tapi dirga yang belum berpengalaman nampaknya tak mengerti hal itu. “Ahhhhh,” hanya satu kali klentitnya terjilat dan nikmatnya terasa sampai ke kepala ustazah lia, membuatnya mendongakkan kepala dan mendesah.

Hanya lima menitan dirga melakukan itu. dia kemudian mengangkat kepalanya keluar dari balik gamis ustazah lia. Wajahnya merah padam karena gerah dan juga karena gairah. Dia berdiri di ranjang, kemudian langsung mencopot rudalnya. rudal itu nampak berdiri tegang menantang. Perasaan ustazah iia berdesir melihatnya. Memang tidak sebesar rudal negro yang dilihatnya di video, tapi untuk anak seukuran dirga sepertinya ukuran itu sudah lumayan

Dirga nampaknya sudah tidak tahan. Dia langsung menyingkapkan gamis ustazah lia membuat serambi lempitnya nampak jelas di hadapannya. Kemudian dibimbing oleh tontonan di rumah diki, dia memposisikan selangkangannya di atas selangkangan ustazah iia, seperti akan push up. Digenggamnya rudalnya, kemudian diarahkannya ke belahan serambi lempit ustazah lia.

Ustazah lia memejamkan matanya. Dirasakannya benda hangat untuk pertama kalinya menyentuh bibir serambi lempitnya. Hangat, menggairahkan. Kemudian kehangatan itu terasa masuk perlahan-lahan ke dinding serambi lempitnya, “Ahhhhh,” tanpa sadar dia mendesah. Dilihatnya dirga menatap wajahnya lekat-lekat, di wajahnya juga tergambar kenikmatan.

Ustazah lia merasakan rudal itu tergelincir perlahan di dalam serambi lempitnya yang sempit. “Uhhhhhh,” dia merintih saat dirasakannya semakin dalam semakin dalam dan sesuatu dalam serambi lempitnya seperti menahan laju rudal dirga. “do..rongg…dekk…” dia mendesah. Kepalanya terasa pening diserbu kenikmatan yang baru kali itu dia rasakan.

“Huhhhhh,” dirga mendorong tubuhnya, dan… “Agghhhhhh,” keperawanan ustazah lia terkoyak. Ada rasa perih sesaat, tapi saat dirga kembali mendorong tubuhnya rasa perih itu mulai tergantikan oleh kenikmatan. Refleks tubuh ustazah lia pun bereaksi, pantatnya bergerak mendorong ke atas, membuat dirga merem melek merasakan sentuhan kulit rudalnya dengan dinding serambi lempit ustazah lia.

“Pantas Diki dan Ihsan nampak sangat menikmati,” begitu pikirnya. Ditatapnya wajah ustazah lia. Mulut yang sedikit membuka dan keringat yang mulai muncul itu membuat dia menurunkan bibirnya dan melumat bibir ustazah lia. Ustazah lia membalas melumat bibir dirga. Tangannya memeluk punggung dirga kuat-kuat, sementara di bawah, selangkangan mereka menyatu.

“hhhh Hhhhh hhhhh,” dirga mendesah-desah sambil menggerak-gerakkan rudalnya keluar masuk, sementara ustazah lia naluriah mengimbangi dengan gerakan pantatnya. tangan dirga yang satu menahan tubuhnya sementara yang satu lagi meremas-remas payudara ustazah lia bergantian.

Ustazah lia merasakan kenikmatan yang sangat indah. Sudah tak lagi dipikirkannya bahwa apa yang dia lakukan sekarang ini tak boleh. Toh dia menghibur dirinya tentang tujuannya yang baik, dan dirinya juga merasakan kenikmatan yang tak terkira, jauh lebih nikmat daripada masturbasi.

Di balik kerudung lebarnya kepala ustazah lia terasa gerah, begitu juga gamis kombornya yang hanya tersingkap sampai ke selangkangannya. Tubuhnya berkeringat. Bagi dirga keringat ustazah lia terasa wangi, menggairahkannya, beda dengan keringat pelacur di rumah diki yang berbau sengak membuat perutnya mual. Dibelainya pipi ustazah lia lembut. Ustazah lia meraih tangan itu, kemudian mengarahkannya ke mulutnya dan mengulumnya.

“Mbakk, ahhh, mbakk,” dirga mendesah-desah seiring rudalnya yang terasa mulai ngilu. Ada sesuatu mendesak dari pangkal rudalnya maju ke batangnya. “mmbakkk ingin…ahh, kencing, dirga kencing mbak, ahhhhh,”

Crott crottt crotttt, rudal dirga memancut-mancutkan air mani ke rahim ustazah lia. Untuk ukuran pemula memang dirga terhitung lumayan lama orgasme. Sementara itu, ustazah lia masih merindukan rudal itu dan dia masih jauh ke orgasme. Akan tetapi dipeluknya tubuh dirga erat-erat, dilumatnya bibir dirga saat tubuh anak itu mengejang. Dirasakannya cairah sperma dirga mengalir di serambi lempitnya menuju ke rahimnya. Terasa hangat dan nikmat.

Plopppp, dirga mencabut rudalnya, dia tampak bingung dan duduk bersimpuh di antara paha ustazah lia. Ustazah lia bangkit dengan gairah masih memenuhi pikirannya. Melihat rudal yang masih pegang itu, dia kemudian meniru adegan yang pernah dilihatnya di video porno.

Ustazah lia bangun dan memegang pangkal rudal dirga. Kepalanya kemudian menghampiri dan “Ahhhh” dirga mendesah lagi ketika dirasakannya rudalnya dikulum oleh ustazah lia. Ditahannya tubuhnya dengan kedua tangannya di belakang. Kepalanya mendongak merasakan kenikmatan yang kini terasa kembali. Gairahnya kembali bangkit.

rudal berlumuran cairan kewanitaannya itu dikulum oleh ustazah lia. “Asin,” batinnya. Ternyata begini rasanya mengulum rudal. Seperti anak kecil menemukan mainan baru, dikulum-kulumnya dan sesekali dihisapnya rudal itu, membuat tubuh dirga berkelojotan. Setelah merasa puas, dikeluarkannya rudal itu dari mulutnya. Kini nampak bersih tapi berlumur liurnya

Ditatapnya dirga yang tak tahu harus ngapain. Lalu didorongnya tubuh anak itu dengan lembut supaya berbaring terlentang. Dirga menurut. rudalnya tegak menantang mengacung. Lalu ustazah lia mencopot gamisnya. Dirga merasakan rudalnya makin menegang saaat dilihatnya dengan jelas tubuh sang ustazah.

Tubuh itu nampak lebih seksi dari tubuh pelacur. Putih bersih, keringatnya yang tersinari lampu kamar membuat tubuh itu mengkilap. Buah dadanya tegak membusung, “punya pelacur di rumah diki kendor,” batin dirga. Lalu putingnya nampak mencuat membuat naluri laki-lakinya ingin menghisap-hisap puting itu sepuasnya.

Ustazah lia memberikan dua bantal untuk menyangga punggung dirga. Kemudian dia mengangkangkan kakinya di tubuh dirga dan seolah tahu keinginan dirga, disodorkannya payudaranya ke mulut anak itu. “Happp,” dirga menyambut puting susu itu dengan mulutnya. “ngg ngg nggggg,” suara tak jelas keluar dari mulutnya seiring isapannya yang liar. Suaranya kecipak sesekali terdengar, disela juga desahan ustazah lia yang birahinya menuntut untuk dipuaskan

Dengan tangan lembutnya, ustazah lia mengusap-usap dada dirga. Sementara pangkal selangkangannya menyentuh-nyentuh perut dirga membuatnya merasa geli-geli nikmat. Bebuluan di sana sesekali membuat tubuh dirga mengejang saat menyentuh lubang pusarnya. “Ini lebih asyik dari permainan di rumah diki,” batinnya. Dia merasa bangga sudah bisa melebihi teman-temannya dalam hal seks.

“Cuppp cupp cuppp,” ustazah lia mencium bibir dirga. Setelah itu dia beringsut ke belakang, semula dirga mengira sang ustazah akan menghisap kembali rudalnya, tapi ternyata tidak. ustazah lia menjilat-jilat belahan dalam paha dirga sementara tangannya mengocok-ngocok rudal dirga dengan lembut. Dirga yang sudah melepaskan keperjakaannya tadi kini lebih kuat. Diaturnya tempo supaya dia bisa merasakan kenikmatan itu lebih lama.

Udara kamar dirga terasa semakin panas oleh syahwat. Nafas keduanya sama-sama memburu. Tak tahan karena serambi lempitnya terasa berdenyut-denyut minta dipuaskan, ustazah lia kemudian mengambil posisi WOT. Digenggamnya rudal dirga sementara tubuhnya mengepaskan lubang serambi lempitnya di rudal sang anak.

“Blesss” ahhhhhhhhh,” dirga mendesah kembali saat rudalnya untuk kedua kalinya menembus serambi lempit ustazah lia. Ustazah lia menaik turunkan tubuhnya dengan gencar seiring rangsangan di tubuhnya yang terasa kian meninggi. Dicondongkannya tubuhnya ke depan sampai wajahnya mendekati wajah dirga sementara selangkangan mereka berdua terus memacu kenikmatan.

“Enak deekkk?” bisiknya lirih. “En.. nakkk mbakk, ahhh ahhh,” dirga meraihkan tangannya ke payudara ustazah lia, mengusap-usapnya pelan. “Lebih enak mana sama pelacurrr?” “Kayaknya enakan ini mbakk, uhhh terus mbak terusssss,” tubuh dirga melenting-lenting merasakan rudalnya yang seperti dihisap-hisap serambi lempit ustazah lia. “Makanya besok jangan ke pelacur yaaa?” ustazah lia mengusap-usap dahi dirga, turun ke pipinya, lalu ke mulutnya. “Iyyyaaaa mbakk, hhh hhhh hhh, auhhhhh, ahhhhh,” dirga mendesah-desah. Kepalanya diangkatnya hendak mencium bibir ustazah lia. Tapi sambil tersenyum ustazah lia menarik kepalanya sehingga bibir dirga hanya menemukan area kosong.

“Dirga jangan nakalll, ke pelacur itu haramm,” ustazah lia kembali berkata. “Iya mbakkk, iyaaa, dirga janji,” erang dirga. “sini bibirmu mbakkk, hhh hhh,” “Gak mau, dirga nakal soalnya. Masa dirga pengen ke pelacur. Diki itu anak rendahan. Seleranya pelacur. Dirga kok ikut-ikutan.” Ustazah lia mendekatkan kepalanya seperti akan mencium dirga.

“Iya mbak, ampunnn, ahhhh, mbakkk,” dirga kembali mengangkat kepalanya, tapi untuk kedua kalinya ustazah lia menarik kepalanya. “Mbak jah….ughhhhh uhhh ahhhhhhhh,” mata dirga membeliak-beliak dan nafasnya mendengus-dengus saat ustazah lia tiba-tiba mempergencar kocokan rudal dirga di serambi lempitnya.

Tubuh keduanya berguncang-guncang di atas kasur empuk kamar dirga. Saat itu ustazah lia merasakan birahinya hampir memuncak. Kenikmatan dirasakannya makin menguasai tubuhnya menunggu saat akan meledak. Digerak-gerakkannya pantatnya semakin cepat, kemudian dengan liar mulutnya mencaplok bibir dirga, “mmmm mmmm mmmmngh,” bibir keduanya saling melumat.

Dengan naluriah, tangan dirga mencengkram punggung ustazah lia erat-erat, mengusap-usap keringat yang mengalir di alur punggun sang ustazah. Kerudung ustazah lia sudah basah juga oleh keringat. Gerah tapi nikmat. Kelak itu juga yang membuat ustazah lia menjadi kecanduan menyetubuhi tanpa membuka kerudungnya.

“Dekk, mbak…ahh,, mbakkk…hampir…ahhhhhhh” ustazah lia meracau merasakan puncak kenikmatannya makin dekat. Dihentak hentaknya pantatnya membuat rudal dirga terasa makin dalam menusuk serambi lempitnya dari bawah. Dirga tak terlalu paham tapi dia juga merasakan orgasme seperti tadi akan dia alami sebentar lagi, maka digerak-gerakkannya juga pantatnya menyodokkan rudalnya dari bawah di lubang nikmat ustazah lia yang saat itu bugil di atasnya dan hanya memakai kerudung.

“Ahhh ahhhh ahhh aaaaaaaaaaaaaahhhhhh,” ustazah lia meraung keras saat orgasme pertamanya melanda. Rangkulan dirga di pinggangnya terlepas, tubuhnya tegak ke atas dengan punggung melenting, disodokkannya serambi lempitnya kuat-kuat sementara kepalanya mendongak dengan mulut menganga. Serrrrrr, dirasakannya cairan kenikmatannya muncrat membasahi rudal yang menjejali serambi lempitnya.

Sementara itu, dirga merasa serambi lempit sang ustazah mengempot rudalnya membuat spermanya mendadak terpancing keluar, “auhhhhhhhhh uhh mbakkkk, ahhh, dirga keluarrr,,,,,ahhhhhhh” dipegangnya pantat ustazah lia dan disodokkannya rudalnya kuat kuat, crott crottttt, rudalnya memuntahkan sperma untuk kedua kalinya di serambi lempit sang ustazah, tubuhnya mengejang ngejang diterpa kenikmatan yang luar biasa.

Keduanya merasakan kehangatan di rudal dan serambi lempit mereka yang menyatu dikelilingi cairan kenikmatan yang keluar. Setelah merasa cukup, ustazah lia menjatuhkan tubuhnya di tubuh dirga yang langsung merangkul tubuh sang ustazah. Cuppp cupppp cupppp, keduanya saling melumat bibir masing-masing, tangan dirga membenahi kerudung ustazah lia yang sudah basah oleh keringat. Kemudian ustazah lia tersenyum menatap dirga.

“Gimana dekkk? Enakk?” “Ahh, enak mbakkk, pengen lagiiii,” “Husshhh, ingat janji dirga.” Ustazah lia tersenyum. “Hehe, iya mbakk, tapi malam ini….” dirga kemudian membalik tubuh ustazah lia kembali dihimpit tubuhnya.

“Dirga nakalll,” jawab ustazah lia. Tapi dia tak mencegah saat dirga kembali menurunkan kepalanya, menyentil-nyentil putingnya dengan lidah. “Ahhh ahhhh ahhh,” dia kembali mendesah-desah. Tubuhnya bergerak-gerak ke sana ke mari di bawah himpitan tubuh dirga.

“Dirga sayang mbakkk,” begitu dirga berkata di sela kesibukannya mempermainkan payudara ustazah lia. “Mbak juga sayang dirgaaa,” jawab ustazah lia pelan di sela desahannya. Dirasakannya birahinya juga naik kembali. Sepertinya malam ini bakal jadi malam pertamanya bercumbu dengan laki-laki. Benaknya memikirkan berbagai kenikmatan yang pernah dia tonton di video. Malam ini dia akan mempraktekkan semuanya satu demi satu dengan dirga.

Selesai ustazah Lia bercerita, ustazah aminah termenung. Sedikit banyak dia terpengaruh oleh cerita itu. Rasa sayangnya pada sang anak membuatnya sedikit condong ke arah mengabulkan apapun permohonan Alif seperti ustazah lia mengabulkan permohonan dirga. Dia bergidik membayangkan Alif bersetubuh dengan pelacur yang tak jelas bagaimana kesehatan serambi lempit mereka. Bagaimana jika kemudian Alifku terkena penyakit gak jelas? Begitu pikirnya.

“Tapi dirga kemudian tidak ke pelacur kan ukhti?” tanyanya pada ustazah lia. Ustazah Lia mengangguk sambil tersenyum. “Tidak, umi, hanya malam itu saja sama ana. Setelahnya dia tak pernah lagi menyinggung hal itu.” tentu saja tadi saat dia bercerita, ustazah lia sedikit menyensor dengan menyembunyikan fakta bahwa dia sebenarnya juga terangsang dan suka. Dia hanya menyebutkan dalam ceritanya bahwa dia hanya melayani dirga alakadarnya. Hal itu demi menjaga nama baiknya di mata ustazah aminah. Dia juga tidak mengatakan bahwa dirinya suka menonton video porno ataupun sering masturbasi.

Tentang dirga yang hanya meminta malam itu saja pun ustazah lia berbohong, sebab sampai sekarang pun kalau dia main ke rumah umi purwanti, dirga selalu meminta jatahnya, dan dia tentu saja selalu melayaninya dengan senang hati. Karena itu pula dirga selalu mendukung umi purwanti untuk menambah uang yang diberikannya untuk ustazah lia.

Ustazah aminah mengangguk-angguk. Dia tampak berpikir. “Yang namanya remaja seperti dirga ataupun alif itu, umi, mereka hanya penasaran saja. Kalau kepensarannya sudah terpenuhi, biasanya sembuh. Yah dulu ana juga berpikir seperti itu, dan ternyata terbukti. Maka ana tak menyesal telah melayani dia malam itu, demi kebaikan kok umi, menghindarkan kerusakan yang lebih besar.” begitu ustazah lia menambahkan.

Ustazah Aminah menatap ustazah lia tanpa mengatakan apapun. Saat itulah dari kaca jendela nampak sosok Alif lewat menuju ke kamarnya. Wajahnya nampak muram. “Sebentar, ukhti,” begitu ustazah aminah berkata sambil bangkit menuju ke pintu sambung. Maka saat Alif masuk ke kamarnya, ustazah aminah sudah ada di sana.

“Dari mana saja, sayang?” ustazah aminah melebarkan tangannya memeluk tubuh Alif. “Dari temen, umi.” Jawaban alif singkat. Dia juga bergegas melepaskan pelukan ibunya itu. “Kok sampai jam segini? Biasanya kan Alif hanya sebentar saja.” “Iya, mi,” kembali alif menjawab dengan pendek. Tak nampak senyum di wajahnya. “Sudah ya mi, Alif mau istirahat, lelah banget.”

“Baiklah, sayang, selamat istirahat ya.” Ustazah Aminah mencium dahi Alif, kemudian dia beranjak dengan gontai menuju ke kamarnya. Setelah itu, sambil berbisik dia berkata ke ustazah lia: “Alif tampak beda, ukhti.” Nada suaranya terdengar sedih.

Ustazah Lia memegang tangan ustazah aminah, memberikan dukungan. “Ana tak bisa bantu apa-apa, umi, anda Cuma bisa bantu doa. Umi juga bisa pertimbangkan cerita ana tadi, sebab menyesal biasanya datang belakangan.” Ngocoks.com

Ustazah Aminah tampak merenung sebentar. “Baiklah ukhti, makasih banyak ya sudah mau cerita ke umi, sudah mau mendengarkan cerita umi. Semoga ada jalan keluar yang bagus buat semuanya.” Ustazah Lia kemudian bangkit. “Kalau begitu, ana pamit umi, sekalian mau ijin sore ini mau nginep di kos teman. Bantu nyelesain skripsi, umi.”

“Oh, baiklah, ukhti, hati-hati ya. Kalau ada apa-apa hubungi saja umi.” Ustazah Aminah tak curiga apapun. Dia tersenyum sambil mengantarkan ustazah lia ke luar. Dia tak tahu bahwa saat itu ustazah lia mengirim pesan ke seseorang: “ana sudah siap, jemput ana 10 menitan lagi di parkiran kampus, tahu kan tempatnya?” Balasan dari sana pendek saja. “Oke.”

Bersambung… Dua hari setelah ustazah aminah mengobrol dengan ustazah lia, sore itu ustazah lia kembali izin dua hari dua malam. Kali ini izinnya dia berbohong akan pulang dulu ke rumah umi Purwanti. Padahal alasan sebenarnya adalah dirinya disewa oleh Pak Tanto, seorang pemilik perusahaan besar di Semarang. Kebetulan dia sedang ada acara di Yogya, maka sekalian pula dia menyewa akhwat itu untuk menemaninya.

Pak Tanto mengenal Ustazah Lia dari twitter. Dia menawarkan memberi bayaran yang sangat tinggi, tapi syaratnya Ustazah Lia harus kuat melayani dia dan tiga temannya selama sehari semalam. Semula ustazah lia sedikit berpikir-pikir dulu, dia belum pernah melayani banyak lelaki sekaligus, akan tetapi setelah melihat beberapa video gangbang yang didownloadnya, dia kemudian memutuskan untuk menerima tawaran itu.

“Hitung-hitung pengalaman baru,” pikirnya. “Toh si perempuan di video juga Nampak menikmati banget, lagian bayaran yang ditawarkan terlalu menggiurkan untuk ditolak.”

Sore itu ustazah lia memakai gamisnya yang berwarna cokelat cerah, dikombinasikan dengan kerudung warna abu-abu. Tubuhnya yang mungil terlihat selaras membawa tas kecil sederhana. Setelah izin, dia pun melangkah keluar dari gerbang asrama syahamah.

“Ukhti?” baru sepuluh meteran dia keluar, terdengar suara motor berhenti di belakangnya dan suara sapaan. Dia berhenti dan menoleh. Ternyata Alif. “Mau ke mana ukhti?” Alif bertanya sambil tersenyum. “Mau ke parkiran kampus, Lif,” Ustazah Lia menjawab. Dia balas tersenyum. “Ayo, sekalian, Alif juga searah.” “Serius nih? Gak merepotkan?” “Enggak kok ukhti,” Jawab Alif sambil mengedipkan matanya.

Tanpa banyak berkata, Ustazah Lia langsung naik ke belakang Alif. Memang jarak antara parkiran kampus dengan asrama syahamah tidak jauh, akan tetapi lumayan juga jika ditempuh dengan jalan kaki. Sambil menjalankan motornya, tangan Alif sedikit iseng meraba paha ustazah Lia tanpa kentara.

“Husshhhh, tangannya nakal,” ustazah lia berkomentar. Tapi dia tidak mencegah tangan Alif. “Ukhti…” Alif berkata dengan nada bertanya. “Ya?” “Ukhti gak pakai celana dalam?” Alif menoleh sedikit ke belakang, kemudian kembali fokus mengendarai motornya.

Ustazah Lia tidak menjawab. Tangannya perlahan digerakkan ke depan seperti akan berpegang pada pinggang Alif, tapi tangan itu tak berhenti di sana, terus maju dan… ceritasex.site “Ikhhh,” Alif sedikit mengejang. Dirasakannnya tangan ustazah lia meremas rudalnya pelan. “Ana juga tidak pakai kutang,” bisik Ustazah Lia di telinga Alif. Alif menyumpah-nyumpah dalam hatinya mendengar kebinalan ustazah lia. Sudah dua malam dia tidak menyentuh sang ustazah, terus terang dia kangen pada payudara kenyal sang ustazah bertubuh mungil itu.

“Ukhti nanti malam pulang kan?” Bisik Alif. “Enggak, kenapa? Mau minta jatah?” Ustazah Lia semakin binal. “Iya ukh….ahhh!” Tubuh Alif kembali mengejang ketika dirasakannya tangan ustazah lia kembali meremas rudalnya yang perlahan mulai tegak di balik celananya. Ada orang di pinggir jalan yang menoleh mendengar jeritannya yang terlepas tanpa sengaja.

“Ukhti jangan nakal, tuh orang pada lihat.” Bisik Alif. “Hihi, salah antum sendiri yang duluan nakal. Ngomong-ngomong antum mau ke mana?” “Ini ada urusan mau ke rumah umi lilik, ukhti.” “Kok sore-sore gini?” “Iya dong,” jawab Alif. Dibelokkannya sepeda motornya ke parkiran kampus. “Makasih ya Lif,” ustazah Lia berkata setelah dia turun dari sepeda motor. Alif menyodorkan pipinya. “Sun dulu dong.” “Hushhh,” ustazah lia menjawab pelan sambil sedikit menoleh ke sekitar. Parkiran kampus sore itu lumayan ramai. “Jangan nakal,” desisnya.

“Iya, ukhti,” jawab Alif. Matanya liar menatap busungan sekal di dada ustazah lia. Ah, menggairahkan sekali. “Kabar-kabar ya kalau ukhti sudah pulang.”

Ustazah Lia celingukan menoleh sekitar, kemudian sembunyi-sembunyi supaya tak ada yang melihat, disingkapkannya sedikit kerudungnnya di bagian dada, lalu kancing gamisnya dibuka tiga, mata Alif makin liar menatap busungan itu yang nampak separuh, lalu puting itu yang mencuat….

Saat Alif hendak turun dari motornya, ustazah lia menutupkan kembali kerudungnya, lalu dia berjalan menjauh sambil menjulurkan lidahnya menggoda. “Weekk, makasih ya Lif.” Alif menyumpah-nyumpah di dalam hatinya menyadari dirinya dipermainkan sang ustazah alim tapi binal itu. “Awas kalau kau sudah balik asrama, kugenjot semalaman sampai bilang ampun.” Desisnya sambil memajukan kembali sepeda motornya menjauh dan keluar dari parkiran kampus itu.

*****

Jam enam malam lebih seperempat, mobil yang membawa ustazah Lia berhenti di sebuah villa mewah di Kaliurang. Kaliurang jam segitu hawa sudah terasa sangat dingin. Sekitar berkabut. Memang daerah kaliurang terkenal dengan cuaca dinginnya, maklum terletak di lereng gunung merapi.

“Mari, ustazah, sebelah sini,” seorang pesuruh yang tadi juga menyertai ustazah lia di mobil kemudian mendahului berjalan ke arah pintu. Ustazah lia melangkah mengikuti sambil tak henti mengedarkan pandangannya ke sekitar. Halaman villa itu lumayan luas, lengkap dengan gazebo dan juga kolam renang. Taman yang dipenuhi bunga, dan rumput segar serta palem yang tersinari lampu redup. Suasananya sangat romantis.

Masuk ke villa itu, ustazah lia langsung diarahkan ke salah satu ruang yang lumayan besar. sepertinya itu ruang berbincang-bincang. Ada meja bar kecil lengkap dengan raknya yang dipenuhi beberapa botol minuman, lalu ada sofa mewah berwarna hitam yang nampak sangat empuk. Di sana ada empat orang laki-laki seumuran ustaz karim sudah duduk menunggu. Merekalah sepertinya pelanggannya kali ini.

Ustazah Lia langsung duduk di sofa yang kosong. Salah satu dari laki-laki itu tersenyum dan menyodorkan tangannya ke ustazah lia, “saya Tanto, ukhti.” Ustazah lia menyambut uluran tangan itu sambil tersenyum. Pak Tanto bertubuh agak gemuk pendek, wajahnya nampak ramah dan murah senyum. Kemudian berurutan pak Tanto mengenalkan tiga orang lelaki yang bersamanya.

Lelaki yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya nampak tegas itu namanya Pak Sakir. Sementara yang sama gemuknya dengan pak tanto tapi lebih tinggi namanya Pak Karto, laki-laki yang satu lagi yang bertubuh langsing tinggi adalah pak Sahid, dia yang paling ganteng di antara mereka berempat dan nampaknya dia juga yang paling muda.

“Gimana perjalanannya Ukhti?” Pak Tanto membuka kembali pembicaraan setelah mereka selesai berkenalan. Di ruangan itu kini hanya ada mereka berlima. Meski demikian, di luar ruangan itu ada dua orang anak buah Pak Tanto yang berjaga. Pak Tanto memang adalah tuan rumah, ketiga orang itu adalah tamunya sekaligus sahabatnya.

“Sangat mengesankan pak, ana sangat nyaman seolah tak terasa,” ustazah lia tersenyum manis. Tangannya membetulkan letak kerudungnya. Dadanya berdesir membayangkan nanti tubuh mungilnya didekap oleh keempat laki-laki itu. dia merasa tertantang.

“Syukurlah kalau ukhti nyaman,” jawab pak Tanto. “Ayo minum-mnum dulu,” dia kemudian mendahului bangkit dan mengambil satu botol dari rak. Diambilnya sloki dan langsung dituangkannya mengisi setengah sloki itu. lalu dia mengambil empat sloki lagi dan melakukan hal yang sama. Ketiga laki-laki yang lain pun bangkit, sementara ustazah lia yang akan ikut bangkit tak jadi ketika dilihatnya pak tanto menghampirinya. Diterimanya sodoran satu sloki dari pak tanto, sementara pak tanto langsung duduk di sampingnya, merapatkan tubuhnya, tangannya yang satu melingkar ke belakang tubuh ustazah lia dan memeluk bahunya.

“Ustazah cantik sekali, dan mungil,” bisik pak tanto. Lalu, cuppppp, diciumnya pipi ustazah lia. “Ah, bapak ini,” jawab ustazah lia, matanya mengerling, dia tersenyum sementara tubuhnya sedikit bergerak, membuat gayanya terlihat sangat menggoda di mata pak tanto. “Serius, ukhti, berkerudung lebar pula, menggairahkan,” pak tanto menyambung, tangannya meremas-remas bahu ustazah lia.

“Hei hei, Tanto, kau gak sabaran banget,” Pak Sakir menyambung. Dia duduk di sebelah kanan ustazah lia. Maka kini tubuh ustazah lia diapit oleh dua laki-laki itu. sementara Pak Karto duduk di seberang mereka, dia tak berkata apa-apa, mulutnya langsung mencicipi isi slokinya. “Enak sekali,” desisnya, “Kau benar-benar tahu caranya berpesta, Tanto.” Suaranya terdengar berat. Dikendorkannnya dasinya. Pak Sahid sementara itu yang paling tenang. Dia duduk di sofa sambil mengamati ketiga rekannya. Mulutnya menyunggingkan senyum.

Tangan Pak Sakir menjawil dagu ustazah lia, sementara pak Tanto mlepaskan tangannya yang tadi merangkul, kemudian mengambil tas kecil ustazah lia dan meletakkannya di meja. Pak Sakir menuangkan isi sloki ke mulutnya, tangannya masih memegang dagu ustazah lia, lalu dia mendekatkan mulutnya yang kembung dengan minuman di mulutnya, dengan sedikit kasar dibukanya mulut ustazah lia, dan disodorkannya mulutnya mendekat.

Glgk glgk glgk, ustazah lia merasakan isi sloki itu berpindah dari mulut pak Karto saat mulut itu memaku erat mulutnya. Dia langsung menelannya. Cairan itu terasa hangat di tenggorokannya. Tak berhenti sampai di situ, pak Sakir langsung melumat bibir seksi ustazah lia dengan ganas. “Kau menggairahkan sekali ustazah mungil.” Desisnya kemudian sebelum dia kembali melumat bibir itu.

“Mmmmm mmmm,” ustazah lia mengeluarkan desahan pelan diperlakukan seperti itu. dari sudut matanya dilihatnya pak Tanto berdiri di sampingnya, mencopot jasnya, mengendorkan dasinya, kemudian meraih satu tangan ustazah lia yang tak memegang sloki. Dihisap-hisapnya jemari lentik ustazah lia sambil bersimpuh di lantai.

“Kau wangi sekali ukhtiku,” Pak Sakir nampaknya yang paling beringas di antara mereka berempat. Tangannya mulai liar menggerayangi tubuh ustazah lia dari balik gamisnya. Tubuh itu meliuk-liuk merasakan rangsangan yang ditimbulkan gerayangan pak karto. Dirasakannya juga rasa hangat di perutnya akibat minuman tadi.

Tahu bahwa dirinya malam itu harus memberikan servis yang memuaskan, satu tangan ustazah lia kemudian menenggak slokinya, tapi dia tidak menghabiskannya. Ditariknya tangan yang sedang dihisap-hisap pak Tanto dan digerakkannnya memberi kode, pak tanto kemudian tahu kode sang ustazah. Dia menyodorkan mulutnya yang langsung disambut ustazah lia. Ustazah lia menyungkup mulut pak tanto sambil mengalirkan minuman itu dari mulutnya. Sementara pak sakir makin liar meremas-remas dada sekal sang ustazah dan mengusap-usap perutnya dari balik gamis. Tangannya mengambil sloki dari tangan ustazah lia dan melemparkannya ke lantai.

Prangg, bunyi itu sedikit mengagetkan ustazah lia, tapi melihat keempat laki-laki itu tidak terpengaruh, dia pun cuek. Diteruskannya lumatan di bibir pak tanto, sesekali dia mendesah, “Ahhhhh ahhh,” merasakan gerayangan tangan pak sakir yang tampaknya tak ada puas-puasnya.

Pak Karto bangkit dari sofa. Dicopotnya jasnya, baju, dan celananya hingga kini dia hanya mengenakan singlet dan celana kolor. Nampak benda menonjol membayang di selangkangannya. Kepalang tanggung, dicopotnya juga sekalian kolornya menampakkan rudalnya yang sudah tegang. Setelah itu, dihampirinya tiga orang yang sedang bercumbu itu. tangannya meraih tangan ustazah lia yang bebas, diarahkannya ke rudalnya, dikocokkannya pelan sampai kemudian ustazah lia pun mengocok rudal itu dengan lembut.

“Euuuhhh,” Pak Karto mendesis penuh kenikmatan merasakan lembutnya tangan ustazah alim berkerudung lebar itu. sementara pak tanto masih asyik menjulur-julurkan lidahnya ke rongga mulut ustazah lia yang dibalas dengan ganas oleh ustazah itu. tangan ustazah lia yang satu meraih ke samping ke arah pak Sakir, digenggamnya bagian kemeja di bawah kerah pak sakir dan dengan gerakan kuat ditariknya ke bawah.

Krrrttkkkkkk, kemeja pak sakir terbuka lebar saat kancing-kancing putus berhamburan akibat tarikan ustazah lia. “Anjing, aku suka cewek alim kayak gini, hahaha,” pak sakir memaki sambil menghentikan sebentar cumbuannnya. Dicopotnya sekalian kemejanya itu lengkap. Tubuhnya nampak tegap berisi. Setelah itu diangkatnya tubuh ustazah lia.

“Awww!” ustazah lia serambi lempitik. Lalu dirasakannya tubuhnya menimpa tubuh pak sakir. Kini posisinya dipangku oleh pak sakir di atas sofa. Tangan kekar pak sakir meremas-remas payudaranya dari belakang. Pak Tanto sementara itu duduk dengan posisi menyamping di samping kirinya, sementara pak Karto dalam posisi yang sama tapi di samping kanannya.

Tangan Pak Tanto kembali meraih kepala ustazah lia supaya menoleh ke arahnya. Dia nampak sangat terobsesi dengan bibir seksi ustazah lia. Dilumatnya kembali bibir itu sampai menimbulkan suara berkecipak, sementara pak Karto punya kesibukan lain. Tangannya meraih tangan ustazah lia untuk kembali mengocok rudalnya yang nampak tegang memerah.

Ustazah lia merasakan rangsangan dari tiga arah itu sangat menggairahkannya. Tubuhnya tak henti bergerak ke kiri kanan menahan rangsangan tangan pak sakir. Tangannya yang satu mengocok rudal pak karto sementara tangannya yang satu lagi mengelus-elus leher pak tanto yang mulai berkeringat.

Lalu dirasakannya sentuhan di kakinya. Dia menoleh sedikit. Ternyata pak Sahid. Sambil tersenyum jahil pak sahid mengelus-elus kaki ustazah lia sampai sang ustazah merasa tak tahan dan menggerak-gerakkan kaki itu. pak sahid terus melakukannya dan ustazah lia merasakan perutnya berdesir-desir tak tahan.

“Ah!” ustazah lia serambi lempitik, mulutnya lepas dari mulut pak tanto saat dirasakannya benda yang basah hangat menyusuri pahanya terus ke atas. Kepala pak sahid ternyata menelusup di dalam gamisnya, mengangkangkan kakinya, lalu kepala itu bermukim dengan tenang di selangkangannya. “Ahhh ahhhh,” kepalanya bergerak gerak ke kiri ke kanan ketika dirasakannya lidah pak sahid menjilat-jilat serambi lempitnya.

Pak Sakir tak mau kalah. Dibukanya tiga kancing gamis teratas ustazah lia, lalu dikeluarkan dua tonjolan sekal membusung di dada ustazah lia. Diremas-remasnya buah dada sang ustazah dengan gemas. “Aghh aghhhh, terus ahhhh, auhhhh,” ustazah lia hanya bisa merintih-rintih.

Pak tanto yang melihat tak ada ruang bagi dia kemudian memilih memenuhi slokinya kembali. Baru kemudian disingkirkannya satu tangan pak sakir dan dibasahinya satu buah dada ustazah lia. Tubuh ustazah lia bergetar merasakan siraman itu. “Agh agh aghhhhhhhhhhh,” satu tangannya yang bebas menekan erat kepala pak tanto di dadanya. “hhhh HHHH hhh,” pak tanto dengan bernafsu melumat dan menghisap-hisap buah dada ustazah mungil itu, sementara buah dada yang satunya masih diremas-remas tangan kekar pak sakir. Kocokan tangan ustazah lia di rudal pak karto semakin keras dan cepat sampai pak karto meringis-ringis menahan kenikmatan.

Dikocok seperti itu, pak karto tak tahan. Dengan rudal mengacung dia duduk di sofa. Diraihnya tubuh ustazah lia dari pangkuan pak sakir dan ganti dipangkunya tubuh mungil itu. Pak Sakir tertawa. “Kau mau giliran pertama Kar?”

“Tak tahan aku, hh hhh, ustazah binal ini menggairahkan sekali.” Sahut pak Karto. Digerayanginya sekujur tubuh ustazah lia dengan kasar sampai ustazah lia menggeliat-geliat tak tahan. Ketiga temannya tertawa. Ustazah lia meronta membebaskan diri, pak karto hendak bangkit tapi ustazah lia berbalik dan mendorong tubuh pak karto tetap di sofa. Dia bersimpuh di lantai dan sluppppppp, disepongnya rudal pak karto dengan liar.

“Ughhh, terus lonteee, ughhhhh, hangat sekaliii,” pak karto merem melek merasakan kuluman dan hisapan mulut ustazah lia di rudalnya. Tangannya meraih kepala ustazah lia yang tertutupi kerudung, mengelus-elusnya pelan seirama gerakan kepala itu maju mundur menikmati rudalnya.

Melihat posisi ustazah lia seperti itu, pak tanto tak tahan, dia mengambil posisi di belakang ustazah lia, disingkapnya gamis ustazah lia yang ngelumbruk ke lantai. Pantat ustazah lia kini terbuka bebas. Ditepuk tepuknya pantat itu sampai tubuh ustazah lia sediki bergerak maju. Erangannya tertahan oleh rudal pak karto yang memenuhi mulutnya

“Ahh!” rudal itu terlepas dari mulut ustazah lia saat rudal pak tanto yang sudah tegang menyelinap di belahan selangkangannya dari belakang. Kepala rudal itu menyentuh-nyentuh belahan serambi lempit ustazah lia yang basah karena jilatan pak sahid tadi, mencari posisi yang tepat untuk menujah. Pak karto meraih kembali kepala ustazah lia dan menariknya untuk mengulum kembali rudalnya.

“HmmHmmmmhhhhhmmmmm,” di sela kulumannya ustazah lia mengeluarkan erangan tak jelas saat rudal pak tanto mulai membelah serambi lempitnya. Punggung ustazah lia melenting merasakan benda kenyal yang kini terus maju menembus serambi lempitnya yang hangat.

“Uhhh,” pak tanto melenguh merasakan betapa sempitnya serambi lempit ustazah bergamis dan berkerudung lebar itu. dipajukannya tubuhnya membuat tubuh ustazah lia juga terdorong maju, tapi ditahan oleh tubuh pak karto. rudal pak karto mulai bergerak masuk keluar sementara tangan pak karto mencengkram pinggang ustazah lia erat-erat

“Hhhh hhhh hhh,” pak tanto mendesah-desah nikmat, dinding serambi lempit ustazah lia terasa sangat hangat bergesekan dengan kulit rudalnya. Sementara itu sambil merem melek ustazah lia mengulum dan menghisap rudal pak karto kian liar membuat tubuh pak karto berkelojotan menahan keliaran mulut sang ustazah.

Setelah beberapa saat menonton kedua kawannya seperti itu, pak sakir ikut tak tahan. Dikangkangkannya kakinya di atas punggung ustazah lia. Lalu dipukul-pukulkannya rudalnya yang hitam panjang di alur punggung ustazah lia membuat ustazah lia makin melentingkan tubuhnya. Setelah itu dengan perlahan pak sakir memaju mundurkan rudalnya menggosok alur punggun ustazah lia dari balik gamisnya.

Pak sahid tak mau kalah. Dia berbaring menelentang dan memposisikan kepalanya tepat di bawah payudara ustazah lia. Disentil-sentilnya puting susu ustazah lia membuat ustazah lia bergerak ke kiri dan ke kanan tanpa guna sebab tertahan oleh kedua kaki pak sakir. Lalu slupppppppppp, dicaploknya payudara ustazah lia membuat sang ustazah merasa dirinya hampir gila dirangsang dari semua arah.

Ustazah lia melampiaskan gairahnya dengan menghisap-hisap rudal pak karto kuat-kuat. Beruntung pak karto terhitung jago menyetubuhi sehingga dia tak langsung orgasme meski dirasakannya hisapan itu sangat nikmat. Pak tanto masih mendesah-desah sambil menusukkan rudalnya keluar masuk serambi lempit ustazah lia yang kian basah oleh cairan kewanitaannya. Di atas punggung ustzah lia, pak sakir mengusap-usap leher sang ustazah dari balik kerudungnya, sementara rudalnya masih menggesek-gesek alur punggun ustazah lia.

“Hmmmmm mmmm hhhhmmmm,” ustazah lia menggeram-geram ketika dirasakannya rasa gatal di serambi lempitnya kian menjadi. Tangannya menggapai-gapai yang satu ke bawah mengangkat kepala pak sahid supaya menghisap puting susunya lebih kuat, sementara tangannya yang satu menahan tubuhnya yang mulai bergetar.

Ploppp, rudal pak karto lepas dari mulutnya, kepalanya mendongak, mata ustazah lia terpejam. Pak sakir yang paham bahwa sang ustazah hampir mencapai puncak kenikmatan kemudian menarik kerudungnya membuat kepala sang ustazah kian mendongak. Cuhhh, pak karto mludahi mulut ustazah lia yang terbuka, ludah itu langsung mengalir ke tenggorokan ustazah lia membuatnya hampir tersedak. Segala syaraf di tubuhnya terasa berdenyar bersiap menuju puncak kenikmatan. Di belakangnya, pak tanto juga kian gencar menusuk serambi lempitnya dalam posisi doggy ketika dirasakannya empotan empotan serambi lempit sang ustazah kian mengerap.

“Auhh uhhh uh ah uuhhhhhhh uuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhh,” ustazah lia meraung, tubuhnya bergetar hebat saat dirinya orgasme. Pak sahid menahan tubuh ustazah lia kuat-kuat dari bawah supaya tidak ambruk, sementara pak tanto menujahkan rudalnya kuat-kuat, dirasakannya cairan orgasme ustazah lia membasahi rudalnya, hangat, digenggamnya pinggang sang ustazah kuat-kuat, ditepuknya pantat bulat itu dengan penuh gairah.

Ustazah lia menundukkan kepalanya setelah orgasmenya berlalu. Nafasnya terengah engah sementara dari sudut bibirnya air liur meleleh keluar. Ploppp, “Nghhhh,” kepala ustazah lia kembali mendongak merasakan sisa orgasme menyerangnya saat pak tanto mencabut rudalnya yang kini basah dari serambi lempit ustazah lia.

Pak sakir menarik kerudung ustazah lia menarik tubuh itu berdiri. “hhhmmmmm,” ustazah lia mengerang saat tubuh mungilnya didekap pak sakir kuat-kuat sementara bibirnya dilumat dengan kasar. Dimainkannya lidahnya di rongga mulut pak sakir sementara dengan gemas pak sakir menghisap-hisap bibir bawahnya yang seksi. Dari serambi lempit ustazah lia keluar cairan kental kewanitaannya sisa orgasme tadi. Pak sahid yang melihat itu langsung menjilatinya dengan penuh gairah, sementara pak tanto masih dengan rudal mengacung pergi ke meja bar dan mengambil bungkusan.

“Ukhti, pakai ini, ganti gamisnya.” Ustazah lia melepaskan pelukan pak sakir. Diraihnya bungkusan itu. ternyata isinya lingerie hitam menerawang. Dia tertawa, diraihnya sloki yang disodorkan pak karto dan diminumnya, kemudian dibukanya kancing gamisnya dan dicopotnya sampai dia bugil.

Keempat lelaki itu menatap pemandangan eksotis ustazah alim yang kini bugil dan hanya memakai kerudung lebar sepinggang. Dengan gaya menggoda ustazah lia memakai lingerie itu, melenggak lenggok membuat keempat lelaki itu menelan ludah. Pak karto yang pertama tanggap. Ditariknya tubuh ustazah lia ke sofa dengan posisi menelungkup, disambut oleh tubuh pak karto yang menelentang. rudal pak karto yang masih tegang setelah tadi disepong ustazah lia kemudian langsung diarahkan ke serambi lempit ustazah lia.

“serambi lempitmu peret sekali ustazahhh,” bisik pak karto saat rudalnya mulai menembus serambi lempit ustazah lia yang basah karena cairan orgasmenya tadi. Ustazah lia tak menjawab, dia sedikit meringis merasakan rudal pak karto yang terasa lebih besar dari rudal pak tanto.

“Slapp slappp slappp,” bunyi kocokan rudal pak karto di serambi lempit ustazah lia terdengar seiring gerakan ustazah lia yang menarik turunkan tubuhnya. Ustazah lia menoleh ke belakang saat dirasakannya benda hangat basah menjilati anusnya. “Ppp pakkk,” desahnya melihat pak tanto menjulurkan lidahnya di sana. “Kottorrr pakkk, jang ahhhhhh,” dia melenguh merasakan kenikmatan saat jemari pak tanto menyentuh-nyentuh lubang tempat keluarnya kotoran itu.

“Hahaha, tampaknya masih perawan ya ndukk?” sahut pak tanto. Dikocok-kocoknya rudalnya yang basah oleh cairan serambi lempit ustazah lia. Lalu diludahinya anus ustazah lia, “cuhhh cuhhh,” “Pak, jangan pakkk, ahhh, jangann,” ustazah lia dipeluk erat oleh pak karto, sementara itu matanya membeliak merasakan ujung rudal pak tanto menyentuh anusnya, pak tanto mendorong tubuhnya. Tubuh ustazah lia bergetar, dahinya sedikit mengernyit merasakan benda asing menusuk anusnya. Ada rasa nyeri sedikit.

“Ahhhhhh!” dia menjerit keras, tubuhnya ambruk di tubuh pak karto saat pak tanto mendorong tubuhnya keras-keras ke depan membuat anusnya serasa terbelah. “Hehehe, nanti juga nikmat ndukkk,” pak tanto mengekeh sambil mulai mendorong rudalnya keluar masuk di anus ustazah lia. Pada saat yang sama pak karto juga mulai mendorong tubuhnya dari bawah, membuat rudalnya kembali bergerak maju di serambi lempit ustazah lia.

Untuk sejenak ustazah lia memejamkan matanya merasakan dua rudal yang kini menujah dua lubang dalam tubuhnya. Diakuinya ucapan pak tanto benar. Rasa sakit tadi kini tergantikan oleh kenikmatan yang berangsur-angsur membuat tubuhnya kembaii segar. Maka dia kini mulai mengikuti tempo tusukan kedua laki-laki itu dengan menggerakkan pinggulnya membuat rudal pak karto makin dalam menusuk serambi lempitnya.

“Uhh uhhh, aku ustazahh, uhhhh,” mulutnya mendesah-desah merasakan kenikmatan itu. “Iya ukhti, kamu ustazahku lonte,” sahut pak karto, tangannya mengelus-elus pipi ustazah lia. Ustazah lia meraih jemari itu dengan mulutnya dan mengulumnya dengan gaya menggoda. Pak tanto mengusap-usap punggung ustazah lia yang tertutupi lingerie, dirapihkannya kerudung ustazah lia yang kusut karena gerakan ketiganya. Betapa bergairahnya dirinya merasakan kenikmatan menyetubuhi ustazah yang kini hanya mengenakan kerudung lebar dan lingerie, threesome pula!

Seolah sepakat, pak sakir dan pak sahid masing-masing duduk di kanan kiri ustazah lia. rudal keduanya sudah tegang maksimal, dikocok-kocok dengan tangan mereka sendiri. Paham dengan maksud mereka, pak karto lalu menahan tubuh ustazah lia dengan menangkupkan kedua tangannya di kedua payudara sekal ustazah lia. Ustazah lia yang juga maklum kemudian mempercayakan tubuhnya ditahan pak karto, kedua tangannya masing-masing menggapai rudal pak sakir dan pak sahid dan mulai mengocoknya.

Suara desahan dan rintihan memenuhi ruangan itu saat kelimat orang itu dipacu birahi. Sesekali dengan nakal tangan pak sakir mengelus-elus pinggang ustazah lia dari balik lingerinya, sementara pak tanto menarik-narik kerudung ustazah lia dari belakang seperti menarik tali kekang kuda. Pak karto tak kalah nakalnya, tangannya meremas-remas payudara ustazah lia sekaligus menahan tubuh mungil sang ustazah.

Diperlakukan seperti itu tentu saja ustazah lia kalang kabut. Tubuhnya terkunci rapat oleh keempatnya. Maka yang bisa dilakukannya hanya merintih-rintih sambil mempercepat kocokannya kedua tangannya di rudal pak sakir dan pak sahid, goyangan pantatnya juga semakin gencar mengikuti irama tusukan di lubang kenikmatannya.

Plakkkk plakkk, pak karto melepaskan satu tangannya dan menampar lembut pipi ustazah lia kemudian kembali menahan tubuh itu. “ustazah Lonte, serambi lempitmu enak sekali, hhhh,” “serambi lempitku enakkkkhh?” ustazah lia menjawab setengah mendesah. Dijulurkannya lidahnya. Air liurnya menetes di dada pak karto. “Enak sekali ustazah, peret kaya perawan.”

“Hihihi, serambi lempit ustazah ahhhhh, rudal kaliannn ahhhh,” ustazah lia mulai meracau. Setelah orgasme tadi tubuhnya memang lebih sensitif, belum lagi ketika dirasakannya rangsangan di semua spot tubuhnya tanpa henti. Dilenting-lentingkannya tubuhnya merasakan remasan tangan kasar pak karto di dadanya. Sesekali jemari pak karto dengan nakal menjepit putingnya membuat mulutnya membuka tercungap-cungap merasakan kenikmatan syahwat yang menggila.

“Ukhti lonteee,” pak tanto mendengus sambil terus menusuk anus. “Lubangmu nikmatt,,gak mirip lonte lainn,” srakk srakkk plokkkkkk, bunyi sentuhan selangkangannya dengan pantat sang ustazah terdengar menggema di ruangan itu. tubuh mungil ustazah lia nampak sangat seksi, berbalut lingerie dan kerudung lebar, terjepit empat lelaki. Sementara di samping, pak sakir dan pak sahid hanya bisa merem melek merasakan kocokan tangan ustazah lia yang kian tak beraturan. Tangan mungil yang lembut dan terawat. Tangan ustazah yang alim.

“Iya donggg pakk, ukhhh, ana kan ukhti alimmm,” rintih ustazah lia, matanya memejam. Mulutnya tak henti mendesah. Rasanya kenikmatan ini tak ada habis-habisnya bagi dirinya. Pengalaman pertamanya melayani empat laki-laki bersamaan juga membuat hatinya berdebar-debar seperti malam pertama.

“Akhhh, terus pak, terussss,” ustazah lia mengerang-erang saat dirasakannya rudal pak karto hampir mentok di serambi lempitnya, mengunci selangkangannya yang terus didorong maju oleh tujahan pak tanto di anusnya. “terussssss,” bisiknya makin pelan.

“Iya ukhti, hhhhhhhh,” pak karto mendengus, kini dilepaskannya topangan tangannya di dada ustazah lia, dipeluknya erat tubuh ustazah itu. bibirnya melumat ganas bibir sang ustazah. Lidah ustazah lia mulai menari-nari mencari jalan menuju ke mulut pak karto. Sementara kedua tangannya masih mengocok rudal pak sahid dan pak sakir. Lingerinya sudah mulai basah kembali oleh keringat.

Bunyi nafas tertahan ustazah lia terdengar pula setiap kali pak tanto menghentakkan tubuhnya. serambi lempit ustazah lia masih diganjal penuh oleh rudal pak karto. “ungghhhhhhh,” tubuh ustazah lia menggeliat geliat saat tangan pak tanto menggusap-usap punggunya lembut. “Ahhh, ana mau kelu..arrr…ahhh,…rudallll,” ucapan ustazah lia mulai tak terkontrol. Syahwatnya mulai menguasai pikiran. Digoyang-goyangnya pantatnya seolah mengharapkan pak tanto menujah anusnya lebih kuat.

Pak tanto surti. Dikabulkannya keinginan ustazah lia. Plokkk plokk plokkk, dia makin gencar mengocok lubang kenikmatan ustazah lia. Ustazah lia akan mendongakkan kepalanya saat kenikmatan orgasme kembali menerpanya, tapi pak karto mendekap kuat-kuat tubuhnya dan melumat bibirnya.

“Nnghh!” hanya itu yang sempat keluar dari mulut ustazah lia. Tubuhnya bergetar hebat. Pak tanto mendiamkan tubuhnya dan memegang pinggang ustazah lia. Kocokan tangan ustazah lia di tubuh pak sahid dan pak sakir terlepas. Kedua tangannya kini menggapai gapai liar, pantatnya bergoncang hebat.

“Huh huhhh huhhhhh,” dengan nafas terengah engah ustazah lia mendengus-dengus saat bibirnya terlepas dari bibir pak karto. Pak tanto tersenyum kemudian menepuk pantat ustazah lia sambil mencabut rudalnya. Pak karto mendorong tubuh ustazah lia sambil meremas payudaranya.

Ploppp, seiring tubuh ustazah lia yang berdiri, rudal pak karto pun lepas dari serambi lempitnya. Dengan liar ustazah lia menatap ke rudal pak sakir yang hitam panjang. Dia meraih rudal itu dengan mulutnya dan menghisap-hisapnya seperti gemar sampai pak sakir memaki-maki penuh kenikmatan. “Anjing, lonte, ukhti, anjinggg, ahhh, ukhti binal, ukhti syahwatttt!”

“Hrhhh hrrrhhhh,” hanya jawaban itu yang keluar dari mulut ustazah lia. Birahinya seperti tak habis-habisnya. Dari serambi lempitnya cairan kewanitaan dari orgasme keduanya meleleh keluar. Pak tanto menyapu cairan itu dengan jemarinya membuat tubuh ustazah lia menggelinjang.

Pak tanto yang nampaknya sudah punya ide lain kemudian menarik tubuh ustazah lia dan menyodorkan bingkisan baru. “Ustazah, stop dulu, istirahat sebentar, ustazah ganti pake ini.” Ustazah Lia menurut. Dilepaskannya rudal pak sakir dari mulutnya. Nampak hitam mengkilap terkena air liurnya. “Mukena?” ustazah lia menatap seolah tak percaya. Di tangannya kini tergenggam mukena putih bersih berbahan sutera. Mukena dua potong atas bawah, bukan mukena terusan.

“Iya ukhti, sama pakai ini,” pak tanto menyodorkan kacamata berbingkai hitam. “Kami ingin lihat ukhti menari dulu, sama pidato. Kan ukhti ustazah, pasti bisa pidato.” Sambung pak tanto. Keempat pria itu lalu duduk di sofa, berdampingan. Ustazah lia mencopot lingerinya yang sudah basah dan melemparkannya ke arah pak sakir. Pak sakir mencium-cium lingerie itu penuh nafsu. Keringat ustazah lia baginya terasa menggairahkan, sama menggairahkannya dengan tubuh mungil itu. demikian juga kerudungnya dicopot.

Setelah mengenakan mukena putih lengkap, ustazah lia kemudian duduk di seberang keempat lelaki itu seperti seorang guru akan mengajari murid-muridnya. Bedanya murid-muridnya ini semuanya telanjang bulat dengan rudal mengacung. “Anak-anak,” suara ustazah lia memulai. “Hahaha,” keempat pria itu tertawa tergelak-gelak. “Teruskan, teruskan, iya buuu.” “Kalian harus belajar menyetubuhi sejak dini….” ustazah lia menjulurkan lidahnya menjilati bibirnya dan menatap keempat pria itu. “menyetubuhittt,” teriak mereka berempat sambil mengocok-kocok rudal. “Karena menyetubuhi itu nikmat, ya enggak?” ustazah lia meremas payudaranya dengan gaya menggoda. “Iya buuu, setujuu.” Pak sakir tak tahan, dicondongkannya tubuhnya ke depan, meremas payudara ustazah lia.

Ustazah lia menepis tangan itu. “Kamu! Jangan tidak sopan ya.” “ustazah, contohin menyetubuhitt,” bisik pak sakir sambil mendekap erat tubuh ustazah lia. “Jangannn, jangan begini, nanti ustazah laporin ke kepala sekolah,” ustazah lia bergaya merengek seperti wanita yang menolak diperkosa. Gayanya yang menggoda seperti itu membuat pak sakir kian gemas. Dilumatnya bibir ustazah lia, “jang….ahhh,” ustazah lia balas melumat bibir pak sakir. Gairahnya kini kembali naik.

pak sakir menurunkan tubuhnya setelah puas, disingkapkannya mukena bagian bawah ustazah lia, Clupppp clupppp, dijilat-jilatnya serambi lempit ustazah lia yang lembab dan lengket oleh cairannya. “Ngghhh, anak nakalll,” rintih ustazah lia, “Kamu bikin ustazah ketagihan ngen…totttt!”

Pak sahid mengambil sebotol anggur dari rak. Kemudian dia menuangkan isinya ke dada ustazah lia. “Ahhh, slurppp slurrpppp,” ustazah lia menengadahkan kepalanya menadahi sebagian anggur itu. sebagian lagi membasahi mukena bagian atasnya tepat di dada, membuat busungan sekal di dadanya itu terbayang jelas karena mukena yang lengket di kulit.

Pak tanto langsung meremas remas payudara itu dari depan, dikangkanginya tubuh pak sakir yang masih merunduk sibuk merangsang serambi lempit ustazah lia. “Ahhh, kalian ini…ahhh ahhh enakkkkkk,” ustazah lia menggeleng-gelengkan kepalanya menikmati rangsangan dari ketiga laki-laki itu. dari sudut matanya dilihatnya pak karto sedang mengocok-ngocok rudalnya sambil memandang pemandangan ustazah alim bermukena putih bersih sedang dihimpit oleh tiga laki-laki.

“Pppakkk, masukin ppakkkk, ana udah gak tah..hannn,,,” desis ustazah lia sambil meraih-raih kepala pak sakir di selangkangannya. “Ana tak tahann, ahhh, rudalll rudalll,” “ukhti pengen rudal?” pak sahid menjawab lembut sambil mengusap-usap kepala ustazah lia yang tertutup mukena. “Iyaaaa, ahh ahhh aaaaaaahhhhh,” ustazah lia menjawab sambil menjambak kepala pak sakir. “Ayo pppakkkk, rudalmuuuu,” sambungnya setengah berbisik.

Pak sakir mengangkat kepalanya. Lalu dia menyuruh kedua kawannya pindah posisi. Pak sahid mendahului pergi ke meja bar. rudalnya mengangguk-angguk di setiap langkahnya. Lalu dia berbaring menelentang di sana. Meja bar kecil itu memang unik, berbentuk bundar dan tidak terlalu lebar. Pak sakir lalu membopong tubuh mungil ustazah alim yang terbalut mukena putih itu ke sana. Dipaskannya tubuh ustazah lia di atas pak sahid, ditahannya sebentar sampai pak sahid bisa mengepaskan rudalnya yang mengacung tepat di lubang anus ustazah lia. Lalu dilepaskannya tubuh ustazah lia masuk ke rangkulan pak sahid.

Jreeeessshh “Aaaahhhhh!” ustazah lia menjerit saat benda kenyal panjang langsung menerobos anusnya seiring tubuhnya yang jatuh ke dekapan pak sahid. Matanya membeliak lebar. Lalu dengan gerakan cepat, pak sakir langsung menusuk serambi lempitnya dari depan sambil berdiri. “Nih serambi lempit lonteeeeeeee!” serunya.

Tubuh ustazah lia menggeliat merasakan rudal hitam itu menujah serambi lempitnya yang sudah licin. Dibandingkan yang lain rudal pak sakir memang yang paling besar. sambil menusuk anus ustazah lia, tangan pak sahid menelusup ke balik mukena bagian atas ustzah lia dan meremas-remas buah dada sekal sang ustazah dengan gemas.

“uhhh, dadamu indah sekali ustazah, uhhhhh,” desisnya penuh gairah. “Ahh Ahh ahhh,” ustazah lia hanya menjawab dengan erangan. Tubuhnya masih meresapi kenikmatan tusukan rudal pak sakir yang liar di serambi lempitnya. Urat-urat di batang rudal hitam itu terasa menekan-nekan dinding serambi lempitnya membuatnya merem melek merasakan kenikmatan syahwat untuk yang kesekian kalinya.

Lalu pak Tanto datang menghampiri. Plakkk, ditepuknya pipi ustazah lia sampai menoleh ke samping. Pak tanto berdiri di samping kepala ustazah lia dan menyodorkan rudalnya untuk dikulum. “Hmmmphhhh,” ustazah lia mendesis mengulum rudal itu. ada bau kotorannya sendiri tercium sekilas tapi anehnya dia tak merasa mual. Dia malah makin bergairah. Dihisap-hisapnya rudal itu dengan liar, “Hngh hngh hngh,” bunyi seperti orang mengejan keluar sesekali di sela kulumannya seiring dengan henjutan pak sakir di serambi lempitnya.

Pak karto yang terakhir menghampiri ustazah lia. Dia membelai kepala ustazah lia yang tertutup mukena. Ditatapnya wajah ustazah lia yang nampak keibuan dan alim dengan kacamata bingkai hitam menghiasinya. Selintas terbayang olehnya wajah ustazah yang tinggal di rumahnya yang juga sering dia khayalkan sebagai cewek yang melayaninya. Sang ustazah pun sama memakai kacamata hitam dan selalu memakai baju gamis kombor setiap kali keluar.

Membayangkan itu rudalnya makin menegang. Diraihnya tangan ustazah lia dan dimbimbingnya menuju ke rudalnya. Tangan itu langsung mengocok-kocok rudalnya lembut, kemudian makin lama makin cepat, seiring kepalanya yang bergerak-gerak mengulum rudal pak tanto.

“Hhhh, peretnya serambi lempit ukhtiiii, anjinggg, serambi lempit alim nihhh, ahhh rasakan rudalku rasakann!” pak sakir memaki-maki sambil menusuk-nusukkan rudalnya tanpa henti dengan liar. Sesekali pak sahid bergerak pelan di bawah mengangkat dan menurunkan tubuh ustazah lia membuat rudalnya menggesek-gesek dinding anus ustazah lia yang tadi diperawani pak tanto.

“Hisap terus ustazahku, ahhh hisap terusss, ustazah alim hisap rudallkuuu,” pak tanto berteriak-teriak menimpali, “Hmmphhhhh, hhhh hhhh,” hanya itu jawaban ustazah lia. Tangannya sibuk mengocok rudal pak karto sementara mulutnya pun tak kalah sibuknya menghisap rudal pak tanto.

“Hhh, ahhh, Karto, gantian sini, tak tahan aku, sini, hhh,” pak tanto merasa hisapan itu terasa nikmat sementara dia belum mau keluar, maka dia pun pindah posisi dengan pak karto. rudal pak karto kini dihisap-hisap dan dikulum oleh ustazah lia, membuat yang empunya rudal mendengus-dengus keenakan. Sementara itu tangan ustazah lia kini mengocok-ngocok rudal pak tanto yang sudah licin oleh liurnya tadi.

Aroma ruangan itu mulai kembali menguarkan bau syahwat yang menggelora. Bunyi desahan dan erangan kelima orang itu bercampur baur dengan bau anggur dan keringat. Plokkkk plokkk plookkk, bunyi kocokan rudal pak sakir di serambi lempit ustazah lia terdengar sesekali, serambi lempit ustazah lia memang sudah licin tapi tetap terasa peret memijat dan meremas batang pak sakir yang hitam panjang.

“Ahhhh ahhhh!” dihisap seperti itu oleh ustazah lia, pak karto mulai tak tahan. Diraihnya kepala sang ustazah dan digerak-gerakkannya lebih cepat mengulum rudalnya itu. pada saat yang sama pak tanto juga merasakan hal yang sama. “Argh, ukhti, terus uhti terus terusssss a…aahh ahhhhhhhhh.”

Pak karto akhirnya orgasme. Ustazah Lia merasakan rudal pak karto menegang di dalam mulutnya, kemudian memancutkan sperma di dalam. Dicobanya akan mengeluarkan rudal itu tapi pak karto menahan kepalanya kuat-kuat. Dengan mata membeliak ditelannya semua sperma yang dipancutkan rudal pak karto.

Crot crottt crottttt, pada saat yang sama dirasakannya pancutan sperma juga menimpa wajahnya, sebagian mengenai kacamatnya. Ternyata pak tanto juga akhirnya orgasme. “Uh uhhh uhhhhhh,” dengus pak tanto sambil memeras batang rudalnya, memancutkan semprotan-semprotan sperma di wajah ustazah lia yang terlindungi mukena.

“Hhhhh hhh,” akhirnya pak karto melepaskan genggamannya di kepala ustazah lia. Sebagian spermanya berleleran dari mulut ustazah lia yang terbuka dengan nafas memburu. Mencium bau sperma itu, ustazah lia merasakan denyar-denyar di tubuhnya seolah dirinya pun sudah hampir kembali mencapai puncak kenikmatan.

“Plopppppp,” saat itu mendadak pak sakir mencabut rudalnya dari serambi lempit ustazah lia. “Terusshhh hhhh terusssss,” rintih ustazah lia merasa kenikmatannya terhenti mendadak. Lalu dirasakannya pak sahid mengangkat tubuhnya mencopot rudalnya dari anus ustazah lia. Dia langsung bangkit dan blesssssss, “ahhhhhh,” rudal pak sahid kini gantian menusuk serambi lempitnya menyambung kenikmatan yang sempat terhenti.

Pak sakir naik ke meja bar. Dikangkanginya kepala ustazah lia lalu diarahkannya rudalnya yang hitam tegak berlumuran cairan serambi lempit ustazah lia. “Sloppppppp,” rudal itu masuk menyumbat mulut ustazah lia. Digerak-gerakkannya pinggulnya membuat ustazah lia seperti sedang gosok gigi menggunakan batang rudalnya.

“Auhhhhhhhhgggg,” ustazah lia merintih di sela kuluman batang rudal itu. serambi lempitnya terasa makin gatal seiring tusukan rudal sahid di sana. Satu tujahan, “ahhh,” tubuhnya bergetar. rudal sahid terasa makin dalam menyentuh-nyentuh rongga kewanitaannya. Satu tusukan lagi, “auuuhggggggg ah terusss ahh ahh ahhhh,” dia merintih-rintih, bau rudal pak sakir terasa menyengat membuatnya makin cepat meraih puncak.

“Aku hampir keluar ukhti, ahhh, serambi lempitmu ketat, aghhh,” pak sahid mendengus dengus. Batangnya terasa seperti diperas di dalam serambi lempit sang ustazah. Dirasakannya sesuatu mengalir dari pangkal ke pucuk rudalnya, dan akhirnya muncrat seiring kenikmatan.

“Aghhhh, rasakan ahhhh, ukhtiii.” Dicengkramnya pinggang ustazah lia kuat-kuat seiring rudalnya memancut-mancut menumpahkan sperma di lorong serambi lempit ustazah lia. Merasakan kehangatan pancutan itu tubuh ustazah lia bergetar hebat, serambi lempitnya mengempot kuat lalu matanya membeliak meraskaan kenikmatan orgasmenya yang ketiga malam itu. dia ingin menjerit tapi mulutnya disumpal rudal pak sakir yang kian menegang, kian menegang, dan…

“Mphhhhhhhh,” mata ustazah lia kian membeliak merasakan rudal di mulutnya juga menyemprotkan sperma dengan ganasnya. Orgasme pak sakir di mulutnya membuatnya merasakan orgasme susulan yang membuat serambi lempitnya mengempot makin keras rudal pak sahid. Pak sahid melolong-lolong merasaan kenikmatan yang sedemikian rupa tak pernah didapatkannya dari istrinya ataupun pelacur yang pernah dia sewa.

Tubuh ustazah lia berkelojotan hebat. Pak sakir lalu mencabut rudalnya dan memuncratkan pancutan pancutan terakhir spermanya di wajah ustazah lia yang kini basah berlumuran keringat dan air mani. “Hhhh,” pak sakir mendesah puas, sementara ustazah lia berbaring lemas dengan nafas terengah-engah. Empat lelaki ini benar-benar memeras kebinalannya malam itu.

Selesai ronde ketiga itu, jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Aroma ruangan itu sudah pepat oleh aroma syahwat dan bau sperma keempat lelaki itu bercampur keringat mereka dan keringat ustazah lia. Ustazah lia bangkit dengan mukena basah oleh keringat dan sperma yang berleleran. Wajahnya juga nampak dipenuhi oleh sperma. Kacamatanya juga tak kalah kotornya oleh sperma nampak putih kental di kaca dan frame hitam yang membingkainya.

“Kau benar-benar hebat ukhti lonte,” desis pak sakir sambil menapok pantat ustazah lia. Ustazah lia tertawa mengikik sambil mengelus rudal pak sakir yang menjuntai hitam. Pak sahid memeluk ustazah lia dari belakang, melumat bibirnya ganas. Sementara pak karto duduk terhenyak di sofa, nafasnya masih memburu. Pak tanto duduk di sisi lain sofa sambil memenuhi kembali slokinya.

“Malam yang dahsyat, aku janji kukasih bonus besar lonte alim ini.” Desisnya sambil mengacungkan sloki. “Aku juga, sebulan sekali kusewa lonte ustazah ini, anjing sekali dia.” Pak Karto membalas sambil balas diacungkannya slokinya.

“Hihiihiii, geliiii,” keduanya menatap ustazah lia yang saat itu sedang mengikik geli karena tubuhnya dipangku oleh pak sakir sementara mulut pak sakir mencucup serambi lempitnya yang dipenuhi jembut semrawut tersiram sperma tadi. Pak sakir membopong ustazah itu dan membaringkannya terlentang di meja depan pak karto dan pak tanto. Pak sahid mengikuti lalu duduk di samping pak karto, sementara pak sakir duduk di samping pak tanto.

Posisi ustazah lia kini terbaring menelentang dengan mukena dua potong yang dia kenakan acak-acakan berlumur sperma, tersingkap di sana sini. Sementara di sisi kanannya dan di sisi kirinya empat pria yang telanjang bulat setelah merasakan kepuasan tubuhnya memandangnya penuh gairah.

Pintu ruangan itu terbuka. Dua orang pelayan Pak Tanto masuk mendorong kereta dorong kecil penuh dengan berbagai macam makanan. Dada ustazah lia kembali berdesir melihatnya. Kedua pelayan itu meletakkan kereta barang di tepi meja, kemudian mereka kembali.

“Ayo kawan-kawan, kita kembali berpesta,” teriak Pak Tanto. Dimulainya dengan mengambil tiga potong sosis dari nampan di atas kereta dorong, disingkapkannya mukena bagian bawah ustazah lia, lalu diselipkannya sosis-sosis itu di belahan serambi lempit ustazah lia. Setelah itu, disodorkannya mulutnya mendekat, digigitnya sosis itu satu gigitan, “Nggghhhhhh,” ustazah lia melenguh merasakan geli di serambi lempitnya. Tak mau kalah, pak karto mengambil es cream dan menumpahkannya di kedua buah dada ustazah lia.

“Auhhhh, hhhhrrrrr ahhhhh,” ustazah lia melenguh merasakan dingin di susunya. Lalu tubuhnya menggelepar gelepar saat dirasakannya dengan buas dua lidah menjilat-jilat es cream di sana, pak karto dan pak sakir. Sementara itu pak sahid meneduhi kepala ustazah lia dari atas, lalu perlahan bibirnya turun dan cuppp cuppp, dilumatnya bibir ustazah lia dengan posisi terbalik.

“Ahhhh ahhh ahhhhh” di ruangan itu kini hanya terdengar suara desahan ustazah lia yang sedang dicicipi oleh keempat pria penuh nafsu. Bunyi kecipak mulut dan ciuman terdengar juga berselang-seling. Tubuh ustazah lia entah kenapa terasa segar, ada desir-desir gairah yang terus memuncak di tubuhnya terutama ketika dia membayangkan bahwa ini baru awal dirinya melayani keempat tamu istimewa itu, waktu 24 jam masih lumayan panjang.

*****

Malam Rabu. Malam hari yang sama dengan ketika Ustazah Lia melayani pak Tanto dan tiga kawannya di villa di dinginnya Kaliurang.

Di sebuah rumah mewah yang tampak asri. Ada plang di depan yang bertuliskan “Abu Fawaz” dan keterangan bahwa rumah tersebut adalah rumah ketua presidium satu partai yang populer di indonesia sebagai partai akhwat dan ummahat. Rumah itu nampak sepi dari luar. Tapi tidak demikian jika kau menengok ke dalam.

Di sebuah kamar yang ada di dalamnya, desahan penuh kenikmatan keluar dari mulut dua insan beda jenis di atas ranjang. Yang wanita tentu saja Umi Lilik Hamidah, tubuhnya saat itu masih mengenakan gamis meski sudah tersingkap di sana-sini, kerudung lebarnya juga masih terpakai meski sudah acak-acakan, sementara itu tubuhnya menggelinjang ke sana ke mari karena sedang digerayangi dengan nakal oleh seorang laki-laki. Bukan, bukan Abu Fawaz, sang abu malam itu tidak pulang ke rumah karena sedang giliran menginap di istri keduanya, Umi Habibah.

Laki-laki yang sedang menggumuli umi lilik nampak masih sangat muda, berondong. Tubuhnya tegap dan rudalnya nampak sudah tegang mengacung, menusuk-nusuk belahan paha Umi Lilik. Laki-laki itu adalah Alif. Ya, Alif yang tadi sore pergi ke rumah umi lilik sebenarnya memang sengaja ke sana karena dia diminta datang oleh umi lilik, meminta jatah tusukan rudal Alif di serambi lempitnya setiap Abu Fawaz sedang menginap di rumah istri keduanya itu. Pada saat yang sama kebetulan ukhti sofia, putri tunggal umi Lilik yang sudah berusia 23 tahun sedang menginap di sekretariat partai.

Dari mana sebenarnya umi lilik bisa kenal Alif dan kemudian menjadi pasangan menyetubuhinya? Kalau masalah kenal sudah jelas sejak dulu sudah, karena Umi Lilik pun sudah bolak-balik berkunjung ke rumah umi Aminah. Perkenalan itu lalu berlanjut ke facebook sampai keduanya pun menjadi akrab. Sudah biasa guyon dan Alif pun memanggil umi lilik sebagai umi keduanya.

Setelah Alif memerawani ustazah Raudah, dia mulai ketagihan memenyetubuhi akhwat, terutama akhwat yang lebih tua dari dia. Sejak dulu dia sudah merasa tertarik pada umi lilik karena buah dadanya yang nampak menonjol, belum lagi umi lilik pun kalau sudah guyonan di inbok facebook dengannya sudah tak ragu lagi, blak-blakan, bahkan sampai masalah seks.

Umi lilik misalnya sering curhat ke Alif tentang kebutuhan seksnya yang tak terpenuhi setelah Abu Fawaz punya istri kedua. Alif semula menanggapi dengan sopan, kemudian dia mulai memancing-mancing.

“Umi nyari suami kedua saja deh,” begitu balas Alif saat itu. “Ahh, mana boleh, sayang, mana ada juga yang mau sama umi, udah tua gini.” “Alif mauuu,” balas Alif sambil memberi emotikon cinta. “Serius? Sini dongg, umi lagi pengen nihhh, Abu sedang di rumah umi habibah.” “Serius dong, oke, Alif otewe ya.” “Hush, nikah dulu dongg,”

“iya umi, nikahnya berdua saja, tanpa saksi tanpa wali” balas alif sambil memberi emotikon ketawa. “Hihihi, sini Alif, umi di rumah nih, umi tunggu satu menit.” Alif tak membalas. Dia memoto wajahnya dengan posisi mencium. Satu menit kemudian umi lilik kembali membalas. “Mana ini yang ditunggu kok gak dateng-dateng?” Alif mengirimkan fotonya. “Ahh, Cuma foto wajah doangg, gak bikin umi puas dong,” umi lilik membalas dengan emotikon menjulurkan lidah. “Maunya umi foto apa dong?” Alif memancing. Agak lama baru umi lilik membalas. “Foto ituuuu. Tapi Alif masih kecil ya, percuma dehhh, pasti kecil juga.” Kembali emotikon menjulurkan lidah. “

Lalu satu pesan lagi menyusul. “Mending Alif bantu umi bikin makalah yaa.” Alif memfoto rudalnya yang tegak mengacung. Dia sebenarnya agak ragu kuatir umi lilik marah. Akan tetapi merasa bahwa umi lilik sedang horny saat itu, dia nekat. Dikirimkannya foto itu. agak berdebar dia menanti balasan yang agak lama. Baru kemudian balasan umi lilik begini:

“Alif ngambil gambar porno dari internet yaa? Gak baik, mentang-mentang umi sedang pengen.” Yessss, Alif berteriak. Umi lilik gak marah. Dia membalas: “itu punya Alif kok umi.” “Umi gak percaya.” “Serius.” “Alahh, Alif bohong. Itu lebih besar dan panjang dari punya Abu.” “Itu punya Alif umi.” “Bohong. Awas umi laporin ke umi Aminah lho.”

Alif kemudian memfoto tubuhnya yang sedang berbaring dengan rudal mengacung. Diusahakannya supaya wajahnya juga kelihatan. Lalu dikirimkannya foto itu. Umi Lilik lama tak membalas. Kemudian muncul permintaan chat dengan webcam dari umi lilik. Hampir bersorak Alif menyetujuinya.

Itulah kali pertama Alif melihat tubuh telanjang umi lilik. Malam itu dia memuaskan umi lilik meski hanya melalui chat seks dan mereka hanya saling melihat melalui webcam. Setelah itu, mereka rutin melakukannya setiap kali Abu Fawaz sedang menggilir istri keduanya. Sampai kemudian Alif pindah ke asrama syahamah yang artinya mereka pun tinggal satu kota. Dari sana dimulailah petualangan Alif mengontoli Umi Lilik setiap kali ada kesempatan.

“Umi,” Alif mengelus-elus pinggang umi lilik. Dikecupnya bahu sang umi yang halus menyembul dari gamisnya yang sudah tersingkap di sana sini. “Iya sayanggg, hhh,” umi lilik membalas. Diterlentangkannya tubuhnya. Ditatapnya alif dari bawah. Mulutnya sedikit membuka. Cuppppp cupppp, Alif tak tahan, dikecupnya bibir sang umi.

“Umi harus bantu lagi Alif supaya alif bisa menyetubuhi umi Alif ya?” yang Alif maksud umi Aminah. “Hihi, kan udah umi bantu sayang. Umi sudah ngasih umi aminah vibrator lho, biar dia tambah kepengen rudal, hihihi,” umi lilik kembali tertawa ngikik. Tangannya meraba-raba ke bawah, tangannya menelusup ke balik celana kolor Alif, diraihnya rudal Alif yang sudah tegang di sana dan dikocok-kocoknya pelan

“Uhhh, terus umi,” Alif melenguh. “Alif masih butuh bantuan umi,” “Apa sayang?” Umi Lilik terus mengocok. Alif menurunkan mulutnya mengulum cuping telinga umi lilik sampai dia mendesah-desah seperti kepedasan. Lalu Alif berbisik di telinga umi Lilik.

“Oke sayang, nanti umi laksanakan, tapi….” dia menatap Alif. “Tapi apa umi….” Alif melepas kancing gamis umi lilik dengan brutal sampai terlepas sepenuhnya. Diangkatnya tubuh umi lilik dan dicobanya melepaskan gamis itu. umi lilik menggerakkan tangannya membantu. Kini dia hanya mengenakan beha dan celana dalam warna hitam, sementara kepalanya masih ditutupi kerudung.

“Tapi Alif harus selalu puasin umi.” Alif tertawa kecil. “Iya umi seksi, emmm, Alif suka beha umi,” jawab Alif. Tangannya mengelus-elus payudara umi lilik dari balik behanya sampai umi lilik menggelinjang keenakan. Alif lalu mengambil posisi di atas umi lilik, rudalnya menekan-nekan serambi lempit umi lilik dari balik celana dalam. Umi lilik kembali menggeliat-geliat membuatnya nampak semakin seksi.

Dengan lembut mulut Alif menggigit tali beha umi lilik, tepat pada kaitan behanya. Beha umi lilik memang tipe beha dengan kaitan di depan. Tessss, dengan mulutnya Alif membuka kaitan beha itu. “Uhhh,” tubuh umi lilik melenting, apalagi saat dengan rakus mulut Alif langsung mencucup payudaranya yang memang besar meski sudah sedikit kendor termakan usia.

Alif bisa menaksir bahwa payudara umi lilik hanya sedikit lebih kecil dari punya umi aminah. Selain itu, sementara punya umi lilik sudah agak kendor, punya umi aminah masih sangat kencang seperti anak muda. Suatu hari dulu dia pernah mendengar umi aminah dan ustaz karim mengobrol mesra dan umi aminah mengatakan bahwa dia mendapat resep membuat payudaranya membulat besar dan kencang dari umi latifah. Resep rahasia turun temurun, begitu. Alif tentu saja tahu umi latifah dan dia pun mengakui bahwa payudara umi latifah masih jauh lebih bulat dari punya ibunya.

Cupppp cluppppp clupppp, dengan bergairah dilumatnya payudara umi lilik. Lalu disentil-sentilnya puting kecokelatan di sana dengan menggunakan ujung lidahnya. “Ahhhhh terus sayangggkkkk, ahhhhkkkkk,” tubuh umi lilik menggeliat-geliat. Diadu-adukannya serambi lempitnya dengan rudal Alif yang menonjol dari balik celana kolornya. “Alif suka susu umi, Alif hisap ya umi,” jawab Alif. “Iya alifff, ahhh, sayangg, hisap susu umi alifff, shhhhhhhh, hisapppp,” tangan umi lilik meraih belakang kepala Alif, ditekankannya kepala itu ke susunya. Tangan Alif yang satu lagi meremas-remas susu umi lilik yang satunya membuat desahan umi lilik semakin kerap.

“Umi pengen menyetubuhi?” tanya Alif di sela hisapannya. “Pengennnnn, sudah seminggu umi gak dikasih jatah sayangg, ahhh, umi gak tahannn, entot umi sayang, entot umiii!” “Abu gak pernah menyetubuhi umi?” Alif kembali menyambung. Tangannya dengan gemas meremas-remas payudara umi lilik. “Auhhhh, remas terusss, ahhh ahhh ahhhh, Abu lebih suka umi habibahh, lebih muda. Hisap lagi sayang, susu umi, hisappp,”

Hsssssppppppp, Alif menarik payudara umi lilik dengan mulutnya. Payudara umi lilik yang bermodel pepaya itu pun tertarik. Lalu dielus-elusnya payudara itu dengan tangannya, dipencet-pencetnya seperti memeras susu sapi. “Akh akhhhhh, nikmat sayang, ayo entot umi, entottt,” Umi Lilik mendesah histeris. Sepertinya dia sudah benar-benar horny. Dibandingkan umi aminah, umi lilik memang lebih lemah pertahanannya tentang syahwat. Umi aminah jauh lebih alim darinya.

Alif lalu menurunkan kepalanya, dijilatinya perut umi lilik, dijulur-julurkannya lidahnya di lubang pusar umi lilik. Umi lilik mendesah-desah, tangannya meremas-remas seprai sampai awut-awutan. Jilatan itu lalu turun kembali ke bawah. Desir birahi semakin menguasai umi lilik saat dirasakannya Alif menggigit-gigit celana dalamnya.

“Copot saja sayanggg,” bisik umi lilik. Alif tak menggubrisnya. Dijilatinya belahan serambi lempit umi lilik dari balik celana dalamnya sampai celana dalam itu basah. Lalu dengan tangannya, dicopotnya celana dalam itu, umi lilik membantu dengan meluruskan kakinya. Lalu Alif juga mencopot celana kolornya, menampakkna rudalnya yang tegak mengacung. Setelah itu, dia memutar tubuhnya sampai kini keduanya ada dalam posisi 69. Mulut Alif tepat mencucup belahan serambi lempit umi lilik, sementara itu rudalnya juga pas di depan mulut umi lilik.

“Hummmpphhhhh,” dengan liar umi lilik mencaplok rudal itu dengan mulutnya. Dihisap-hisapnya gemas rudal yang sudah beberapa kali memberikannya kenikmatan itu. sama gemasnya, Alif menjulur-julurkan lidahnya ke belahan serambi lempit umi lilik yang bereaksi merapatkan kakinya menahan kenikmatan. Saat dilihatnya ada tonjolan kecil seperti kacang di sebelah atas, Alif langsung menghisap-hisapnya.

“Aughhhhhhh,” untuk sesaat rudal Alif terlepas dari mulut umi lilik yang kepalanya sedikit terangkat. “Hisap Alif, hisap hisap hisaaapppppp, ughhhhh, hisap itil umii,” saking gemasnya umi lilik kembali memasukkan rudal Alif dan menghisap-hisapnya tanpa henti. Alif merasakan kenikmatan menjalar dari rudalnya ke perutnya, membuatnya merasa tak tahan. Setelah dirasanya serambi lempit umi lilik sudah basah, dia lalu bangkit. Diputarnya kembali tubuhnya. Diposisikannya tubuhnya di atas tubuh umi lilik dengan posisi misionaris. Umi lilik yang sudah mengharapkan tusukan rudal Alif dari tadi menyeringai gembira.

“rudalmu tusukkan serambi lempit umi sayang, cepetttt,” dia menarik punggung Alif. Alif segera menurunkan tubuhnya setelah mengepaskan rudalnya di belahan serambi lempit umi lilik. Umi lilik melihat rudal perkasa anak tunggal umi aminah itu membelah serambi lempitnya membuat serambi lempitnya tersibak. Sedikit tertahan karena rudal itu yang terlalu besar untuk serambi lempitnya, dia membantu menggerakkan pinggulnya sementara alif juga menekankan tubuhnya.

Blessshhhh, “Ahhhhhhh,” keduanya merintih bersamaaan merasakan kenikmatan persetubuhan terlarang itu. umi lilik membetulkan kerudungnya yang menjulur menutupi dahinya sementara Alif mulai menaikturunkan tubuhnya dengan tempo cepat. Dia sudah sangat bergairah karena tadi sore dirangsang oleh ustazah lia saat mengantarkan sang ustazah ke parkiran kampus.

“Ewe umi sayang, ewe umi pake rudal besarmu,” “Huhhhhh huhhh huhhh,” Alif hanya menjawab dengan lenguhan. Tangannya asik meremas-remas buah dada umi lilik yang terguncang-guncang seirama gerakan liar mereka berdua.

“Puaskan umi, puaskan umi, puaskan umiiii,” Umi lilik menjerit-jerit. Tangannya menggaruk-garuk dada alif gemas. Kepalanya menggeleng-geleng liar, birahinya yang selama ini terpendam membuatnya malam itu benarbenar ganas. Kerudung lebar yang menutupi kepalanya kembali acak-acakan. Dia tak lagi mempedulikannya, apa yang dia rindukan saat itu hanyalah kenikmatan.

Dirasakannya rudal Alif mengganjal serambi lempitnya. Setiap tusukan menambah kenikmatan yang berdenyar di sekujur tubuhnya. Lenguhan Alif yang nampak sangat bergairah juga membuat dirinya merasa semakin bergairah menyadari tubuh tuanya masih bisa memikat remaja berrudal besar itu. diulurkannya tangannya ke atas mengusap pipi Alif, lalu dia berbisik. “Kamu ganteng sayang, rudalmu besar. jadi pacar umi ya?”

“Iya umi, Alif pacar umi, alif suami Umi,” jawab Alif di tengah deru nafasnya yang menghembuskan birahi. Diturunkannya kepalanya ke bawah, dilumatnya bibir umi lilik. Lidah umi lilik bergerak liar menerobos masuk ke dalam rongga mulut Alif, menambah kenikmatan yang membuat Alif makin liar menggenjot tubuh umi lilik.

Tubuh umi lilik terguncang-guncang di ranjang. Seprai sudah acak-acakan tanpa mereka pedulikan. Tubuh keduanya terus berpacu, keringat mulai keluar dari tubuh-tubuh mereka membuat suasana dalam kamar terasa makin panas.

“Uuggggh, peret banget serambi lempitmu umi binal!” Alif memaki sambil meremas payudara umi gemas. Dipelintirnya puting susu itu sampai umi lilik menahan nafasnya merasakan kenikmatan yang tak terkira.

“Uhhhh, uhhhh, umi, uhhhh,” dia meracau tak jelas. Kenikmatan mulai merambah ke sel-sel otaknya, membuatnya tak mampu lagi berpikir jernih. Dia merasakan badai kenikmatan sebentar lagi akan datang. Diraihnya kepala Alif mendekat. Dijilat-jilat cuping telinga remaja itu sebelum dia berbisik: “Umi hampir sampai, genjot terus sayanghhh,”

Mendengarnya Alif terus menggenjot tubuh umi lilik sambil kian gencar memberikan rangsangan di dada umi alim itu. betapa nikmat sensasi menyetubuhi umi lilik yang dalam sehari-harinya selalu berpenampilan tertutup itu. Dibenahinya kerudung lebar umi lilik yang membuatnya nampak makin erotis. Dirasakannya rudalnya juga kian menegang mengocok serambi lempit umi lilik.

“Umi sampai sayang, umi sampaiii, ahh, umii samppppaaaiiiiii,” umi lilik berteriak keras, tubuhnya berkelojotan liar, dipeluknya erat tubuh Alif lalu digigitnya bahu Alif kuat-kuat. Alif menusukkan rudalnya saat dirasakannya serambi lempit umi lilik mengempot-empot rudalnya kian kerap. Lalu dirasakannya cairan hangat membasahi kepala rudalnya. Dia pun hampir saja muncrat, akan tetapi masih ditahan-tahannya. Dibalasnya memeluk tubuh umi lilik saat tubuh itu berkelojotan seolah tanpa henti.

“Ahhhh, kau hebat sayanghhh, hhhh, hebatt,” umi lilik melepaskan pelukannya dan menatap wajah yang meneduhinya. Wajah remaja yang ganteng dan sudah menjadi pasangan selingkuhnya selama ini. Dengan gemas diraihnya lagi kepala itu ke pelukannya.

Alif mencabut rudalnya dari serambi lempit umi lilik, tubuh umi lilik sedikit terangkat saking rapatnya rudal itu dalam lubang kenikmatan sang umi. Lalu Alif menggeser tubuhnya menduduki perut umi lilik. Diselipkannya rudalnya di antara kedua payudara umi lilik. Lalu dirapatkannya kedua payudara itu menjepitnya. Digerak-gerakkannya rudalnya turun naik.

Umi lilik mencengkram pinggul Alif dan ikut membantu menggerak-gerakkannya maju mundur. Rangsangan di payudaranya kembali terasa, sedikit ngilu tapi enak. Abu Fawaz tak pernah melakukan eksperimen liar seperti ini yang sebenarnya justru sangat didambakan umi lilik.

Jepitan buah dada umi lilik di rudalnya terasa sangat rapat dan lembut. Alif melenguh penuh kenikmatan. Birahinya terpacu melihat wajah cantik perempuan seumuran ibunya yang kini sedang berpacu dengan kenikmatan di bawahnya. Wajah keibuan itu masih mengenakan kerudung lebar membuat birahinya kian meningkat. Puting susu yang mencuat karena tekanan pada kedua payudara umi lilik juga membuatnya gemas ingin menggigitnya.

“Susumu menggemaskan, umi sayang,” desisnya. “Hihi, susu umi, susu umi alim, sayang,” balas umi lilik yang tersenyum binal. Dia membelai-belai paha Alif bagian dalam menambahkan rangsangan pada diri remaja itu. “Alif ingin muncratin muka umi yang alim tapi binal,”

“Muncratin saja sayang, akan umi santap mani Alif sampai habis.” Umi lilik lalu menjulur-julurkan lidahnya membasahi bibirnya. Digoda terus seperti itu akhirnya Alif pun mencapai puncaknya. Dia menggeram sambil memajukan rudalnya dan menjepitnya kian rapat dengan payudara umi lilik.

“Aghhhhhhhh!” rudal Alif nampak bertambah panjang, meregang, sebelum kemudian bergerak ke depan memuncratkan maninya ke wajah umi lilik yang sedang menatap rudal itu, sebagian mengenai dagunya dan mengalir ke lehernya. Umi lilik mengerjap-kerjapkan matanya merasakan semburan mani alif yang seolah tanpa henti. Dibukanya mulutnya dan dengan lidahnya dijilat-jilatnya mani yang berleleran di sekitar mulutnya itu.

“Akhhhhhhhhhhh!” Alif serambi lempitik lagi. Akhirnya gairah yang tertahan-tahan sejak tadi terlepaskan juga. Ditatapnya wajah umi lilik yang berlumuran spermanya. Sebagian mengenai kerudungnya juga. Ah, pemandangan yang sangat seksi, batinnya. Seorang perempuan alim setengah tua kini berbaring nampak binal dengan wajah dan kerudung lebarnya berlumuran air maninya.

Diturunkannya wajahnya, dilumatnya bibir umi lilik sekaligus bersama dengan air maninya yang ada di area itu. umi lilik membalas tak kalah binalnya. Lalu Alif melepaskan kulumannya, dia tersenyum mengangkat wajahnya. Lalu dijatuhkannya tubuhnya ke samping tubuh umi lilik, berbaring terlentang. Umi lilik lalu menyampingkan tubuhnya. Dijepitkannya kakinya ke kaki Alif, tangannya bergerak mengusap-usap dada Alif.

“Alif suami keduaku,” bisiknya di telinga Alif. “Umi Lilik yang binal, istriku yang alim,” balas Alif. Keduanya lalu tertawa berbarengan. Alif balas menyampingkan tubuhnya. Dipeluknya tubuh seksi umi lilik hamidah. Saat kepala rudalnya bergesekan dengan bulu-bulu serambi lempit umi alim yang binal itu, Alif pun sadar bahwa birahinya belum sepenuhnya terpuaskan. Begitu juga umi lilik.

*****

Pagi hari, umi lilik terbangun oleh remasan tangan Alif di payudaranya. Dia melenguh binal, “Ahhh, sayang ini, masih pagi kok sudah nakal,” desahnya genit. “Iya dongg, tubuh umi bikin rudal Alif ngaceng terus sihh,” Alif meremas-remas payudara umi lilik hamidah. Meski sudah agak kendur dan tidak sebesar punya ustazah aminah akan tetapi tetap saja payudara yang seperti buah pepaya itu membuatnya bergairah.

“Hihi, jam berapa ini sayang?” “Jam tujuh mi.” Sebelum umi lilik terbangun, Alif baru saja mengirimi sms ke ustazah lia yang nanti jam sembilan baru terbangun di villa kaliurang. “Ahhh, kamu sih, tadi malam masa sampai jam 3 masih saja menyetubuhiin umi.” “Ah kan umi juga yang minta hayoo.”

Cuppp cupp cuppp, umi lilik mencium bibir Alif, Alif membalas melumat bibir umi lilik sementara tangannya membalikkan tubuh itu terlentang. Dia langsung mengambil posisi di tengah paha umi lilik. Umi lilik surti dan langsug membuka pahanya, membuat dada Alif berdebar memandang serambi lempit wanita alim itu kini terpampang jelas di hadapannya.

Tingg tongg, saat itu bel rumah berbunyi. Wajah umi lilik langsung pucat. Dia mendorong tubuh Alif dan berkata, “masa abi sih, biasanya dia menginap dua malam.” Alif lebih tenang. Dengan rudal yang masih mengacung, dia langsung pergi ke depan dan mengintip siapa yang datang. Dia kembali dengan wajah cerah. “Bukan kok umi, sepertinya dari partai, paling mau minta tanda tangan.”

“Ohhh,” umi lilik menarik nafas lega. Dia turun dari ranjang dan akan memakai pakaiannya. Alif mengampirinya dan berbisik. “Apa Aliffff,” umi lilik membeliakkan matanya. “Ayolah umi, gak bakal ketahuan kok, sensasinya lhoo,” jawabnya sambil mengelus-elus pantat umi lilik. “Kamu ini,” umi lilik tersenyum. Dipakainya kerudung panjangnya, tanpa memakai baju. Dia langsung pergi ke pintu depan. Alif mengikuti.

“Eh, ukhti nafisah, ada apa ukhti pagi-pagi begini?” Umi Lilik tersenyum pada orang yang berdiri menanti di depan pintu. Umi Lilik sengaja hanya membuka pintu sedikit sepenuh wajahnya. Ditunggingkannya tubuhnya ke belakang sehingga yang terlihat oleh Ukhti Nafisah hanya wajahnya saja dan separuh tubuhnya ke bawah yang tertutup oleh kerudung lebar yang menjuntai. “Maaf ukhti, ini pintunya dari kemarin macet, umi saja tak bisa lewat, baru mau diperbaiki hari ini.” Sambung Umi lilik.

“Ohh, gak apa-apa umi, maaf ana mengganggu sepagi ini,” ukhti nafisah mengangguk hormat. Dia tak punya prasangka apa-apa karena umi lilik adalah figur yang sangat dihormati di partai. Ukhti Nafisah sendiri hanyalah anggota sie di kepartaian yang tugasnya memang menjadi penghubung atau semacam pengantar surat. “Ana mau minta tanda tangan umi, ini buat undangan acara diskusi akhwat di tengah-tengah dunia global, umi,”

“Oh gitu, ohhh,” umi lilik sedikit mendesah. Dahinya mengernyit saat dirasakannya Alif mengelus-elus belahan serambi lempitnya di belakang di balik pintu. “Mana suratnya ukhti, biar umi tanda tang…ahhh…umi tanda tangan sekalian.” Umi Lilik merasakan sensasi yang luar biasa saat dirasakannya rudal Alif menusuk serambi lempitnya dari belakang. Sensasi itu muncul karena debar-debar di hatinya yang kini sedang disetubuhi di depan akhwat alim seperti ukhti nafisah.

Ukhti nafisah memang sedikit aneh dengan nada bicara umi lilik, tapi dia tak berpikiran buruk. Dikeluarkannya surat dan pulpen, berikut buku untuk alas. “Ini umi,” sahutnya sambil menyodorkannya pada umi lilik.

“Ohh, iyya,” sedikit tergagap umi lilik menerimanya. Henjutan rudal Alif terasa sangat nikmat, rudal besar dan panjang itu terasa sangat penuh di serambi lempitnya yang sudah melahirkan seorang putri. Dia lalu menggoretkan tanda tangannya dengan tangan sedikit gemetar.

“Abu sedang tidak di rumah ya umi?” hanya sekadar basa basi, ukhti nafisah bertanya. Sementara diedarkannya pandangannya ke sekitar, “halaman rumah yang asri,” begitu batinnya.

“Enghhh, enggak ukhti, abi sedang keluarrhh,” sekuat tenaga umi lilik menahan desakan syahwat yang terasa bergejolak di sekujur tubuhnya. Andai dia sedikit menegakkan tubuhnya maka ukhti nafisah akan melihat tangan Alif sedang meremas-remas payudaara umi lilik dengan ganas. “Ukhti sofia juga sedang tidak ada, nginap di sekre.”

Ukhti Nafisah mengangguk sambil tersenyum menerima kembali kertas, pulpen, dan buku dari tangan umi lilik. Diceknya sebentar, setelah beres, dia langsung berkata, “Kalau begitu ana pulang dulu, umi, makasih ya, mohon maaf ana mengganggu pagi-pagi begini.”

“Enggak apa-apa ukhti,” jawab umi lilik. “Oya, ukhti, ada tawaran pengabdian menjadi ustazah, tapi di kampung terpencil, mau enggak ukhti? Udah lulus kuliah kan?” “Benarkah umi? Dari partai?” mata ukhti nafisah berbinar. Dia memang sedang bingung setelah lulus kuliah mau pergi ke mana. Dibetulkannya kacamatanya yang mendadak melorot.

Pikirnya kalau tawaran itu datang dari partai maka dia bisa mendapatkan peluang naik karir seandainya mengambil tawaran itu. tawaran yang datang bukan dari orang sembarangan pula melainkan figur yang sangat dihormati di partainya.

“Emmm, iya, ukhhhh, partai dapat permintaan bantuan menjadi ustazah selama setengah tahun di desa Kalicangkir, desa pelosok sih, tapi kalau menurut umi itu justru baguss,” umi lilik berhenti sejenak saat dirasakannya tubuhnya semakin sukar dikendalikan. Dia hampir orgasme. “Bagus buat pembelajarann ukhh. Ukhti Sofia juga mau ikut.”

Ukhti Sofia, putri tunggal umi lilik memang kawan akrab ukhti nafisah, mereka bareng-bareng kuliah. “Nanti kalau ukhti mau umi bisa bantu ukhti biar naik ke sie pengembangan sumber daya manusia.” Sambungnya.

Ukhti nafisah membelalakkan matanya. Hatinya berdebar. Sie pemberdayaan SDM adalah seksie elit di partai. Hanya orang-orang terpilih yang bisa naik ke sana. Setahunya dulu umi lilik dan juga ustazah aminah memulai karirnya di sana sebelum mencapai jabatan tinggi seperti sekarang. Tanpa pikir panjang dia mengangguk. “Baik umi, ana siap.”

Umi Lilik tersenyum. “Baiklah ukhti, nanti ana kabari ya kalau sudah siap. Ana koordinasi sama umi Aminah juga, karena sebenarnya permintaan bantuannya lewat beliau.” “Terima kasih umi, terima kasih.” Ukhti nafisah membungkukkan badannya kemudian dia pamit.

“Akhhhh,” umi lilik mendesah seiring kepalanya mendongak saat tubuh ukhti nafisah sudah berbalik dan sedang berjalan ke sepeda motornya yang diparkir di luar gerbang rumahnya. Pegangannya di pintu hampir terlepas, tubuhnya makin membungkuk dalam posisi doggie style sambil berdiri.

Srekkkk, Alif kini menggeser tubuhnya sehingga dia bisa melihat dan juga terlihat melalui celah pintu. “Ukhti Nafisah, lihat umimu sedang dirudali Alif nih, ukhti, menolehlah,” racau Alif sambil terus menggenjot serambi lempit umi lilik dari belakang.

“Alif, jangannn ahhh!” umi lilik terkejut dengan tingkah Alif. Andai ukhti nafisah menoleh dia pasti bisa melihat apa yang sedang dilakukannya. Dia mencoba menutup pintu tapi tak kuat. Kekuatirannya malah membuat desir-desir di dadanya kian memuncak.

“Ayolah ukhti, ukhti nafisah, lihat umimu yang alim tapi binal ini,” racau Alif lagi. Plok plok plokkkk, setiap henjutannya menimbulkan bunyi khas yang membuat umi lilik kian birahi. “Alif, awwasss keta…huannnnn,” susah payah umi lilik berbisik. Tapi Alif terus menghenjutnya tanpa memperdulikan ucapannya. Saat ukhti nafisah sampai ke motornya dan menytater motornya, umi lilik mencapai orgasmenya.

“Aakhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh,” dia berteriak lirih, tubuhnya kelojotan sementara matanya membeliak menatap ke arah ukhti nafisah. Dirasakannya kenikmatan itu bertahan selama beberapa detik membuat tubuhnya menggeletar-geletar tak tertahankan. Lalu saat Alif kembali menghenjutkan rudalnya di dalam serambi lempitnya, dia kembali mengerang-erang merasakan orgasme susulan yang melandanya. Beruntung saat itu ukhti nafisah langsung memacu sepeda motornya tanpa sekali pun menoleh kembali ke rumah umi lilik.

“hhh hhh hhhh,” nafas umi lilik terlihat memburu. Pegangannya dipintu dilepaskannya dan dia kini berdiri. Alif sudah melepas rudalnya dari serambi lempit umi lilik. Dia kini berdiri di hadapan umi lilik sambil tersenyum. “Nakal kamu Liff,” kata umi lilik di sela nafasnya yang memburu sambil memukul dada alif pelan. “Umi takut benar ketahuan ukhti nafisah tadi.”

Alif merengkuh tubuh perempuan berkerudung lebar berusia 45 tahunan itu ke dalam pelukannya. Dirasakannya tubuh sang umi melekat di tubuhnya karena keringat yang sudah membanjir dari tadi. Cuppp cuppppp cupppp, dilumatnya bibir umi lilik yang masih terasa kenyal. “Tapi umi suka kan, sampai orgasme gitu,” jawabnya.

“Iya sihhh, tapi kan itu un…ahhhh,” umi lilik kembali mendesah saat dirasakannya tangan Alif mengorek serambi lempitnya. Dari serambi lempitnya yang tak tertutupi apapun itu cairan orgasmenya meleleh menetesi karpet. “Anak nakalllll,” umi lilik memukul-mukul dada Alif, lalu dia menyandarkan kepalanya di dada anak kandung ustazah Aminah itu. alif mengelus-elus belakang kepala umi lilik yang masih tertutup kerudung lebarnya.

“Umi katanya mau ngirimi umiku video.” “Ahh iyaaa, hampir lupa. Habis kamu nakal sih,” umi lilik tersenyum binal. Dia kemudian melepaskan diri dari rengkuhan Alif dan berjalan mendahului menuju kamarnya. “Nah kan, Alif lagi yang disalahin,” sahut Alif sambil menyusul umi lilik. Umi Lilik berbaring menelungkup di ranjangnya sambil menghidupkan laptop. Alif juga berbaring dalam posisi yang sama di sampingnya. Ditumpangkannya satu kakinya ke kaki umi lilik. Digesek-gesekkannya pelan.

“Aliffff, geli tau,” seru umi lilik sambil menatap Alif yang tersenyum lebar. “Hihihi, iya iya umi.” Kini Alif berhenti menggesek-gesekkan kakinya meski tetap dibiarkannya kakinya di sana. Umi Lilik membuka facebooknya kemudian dia membuka koleksi video bokepnya yang ternyata sangat banyak. Sambil memilihi sesekali Alif mengajaknya bercanda sampai membuat Umi Lilik tertawa-tawa dan menyenggol-nyenggol tubuh Alif. Kelakuan ustazah alim itu sudah seperti anak muda yang masih puber saja di samping Alif.

“Yang ini saja, mi, cocok,” bisik Alif sambil menunjuk video yang barusan dicoba. Karena posisinya di samping kiri umi lilik, maka tangan kanannya digerakkannya ke samping, menelusup di bawah kerudung lebar di punggung umi lilik kemudian meraih pinggang umi lilik dan mengusap-usapnya. Umi lilik menggerak-gerakkan tubuhnya merasa geli geli nikmat.

“Oke. Umi kirim ya.” Jawab umi lilik. Lalu dikirimkannya video itu ke umi aminah melalui inbok facebook. “Terus sekarang gimana sayang?” umi lilik kemudian bertanya sambil menoleh ke Alif. “Sekarang?” Alif balik bertanya. Lalu digelitiknya pinggang umi lilik sampai sang umi mengikik geli.

Lalu didorongnya tubuh itu sampai terlentang. “Sekarang Alif akan memenyetubuhi umi lilik yang binal ini sambil menunggu suaminya pulang.” Jawab Alif sambil memasang posisi di atas umi lilik. rudalnya menggantung dari atas menyentuh-nyentuh belahan serambi lempit umi lilik yang basah oleh cairan orgasmenya tadi. “Serius sayang? Gak mau sarapan dulu?” umi lilik menjawab setengah mendesah. Kepala rudal Alif terasa hangat di mulut serambi lempitnya.

“Sarapan Alif kan ini,” sahut Alif sambil mencucupkan mulutnya di payudara umi lilik. Dihisap-hisapnya putingnya yang kecokelatan itu dengan gemas. Umi lilik menggelinjang dan mendesah-desah liar. Dia selalu mengharapkan kenakalan seperti ini dari suaminya, akan tetapi suaminya selalu saja main cepat dan hanya memuaskan dirinya sendiri tanpa memikirkan kebutuhan seks istrinya.

“Kamu suami rahasiaku, sayanggg,” bisiknya mesra sambil memeluk tubuh Alif. Tangannya mengelus-elus punggung Alif penuh rasa sayang. Diangkat-angkatnya pinggulnya supaya rudal Alif bisa menembus serambi lempitnya. Tapi hanya sedikit saja yang masuk dan tentu saja saat tubuhnya kembali turun, rudal itu pun kembali keluar dari serambi lempitnya.

“Iya umiku binal. Sampai kapan pun,” jawab Alif tak kalah mesranya. Wajahnya kini meneduhi wajah umi lilik kemudian dia menurunkan bibirnya dan mengulum bibir itu mesra. “Kamu ini benar-benar memuaskan umi,” umi lilik mengusap-usap dada Alif, tetesan keringat jatuh dari sana ke payudaranya, membuatnya merasa tambah nikmat. “Umi, kalau Alif menyetubuhi ukhti sofia gimana?” “Hushhh!” umi lilik menepuk pipi Alif. “Kamu ini tidak puas hanya uminya, anaknya juga mau dientot,” lanjutnya dengan nada guyon.

Alif tertawa. “Dada ukhti sofia kayaknya lebih besar dari punya umi ya?” “Iya sayang, gampanglah soal anak umi, nanti umi bantu, tapi pelan-pelan ya, fokus ke umimu saja dulu. Umi Aminah.” “Iya umiku sayang,” cuppp cuppp, Alif kembali melumat bibir umi lilik. “Turunin tubuhmu sayanggg, umi tak tahannn,” rintih umi lilik. Dibelitkannya kedua kakinya ke pinggang Alif, membuat tubuhnya sedikit terangkat dengan belahan serambi lempit kian membuka siap menelan rudal Alif.

“Hehe, umi gak sabaran banget,” jawab Alif. Diturunkannya tubuhnya sekaligus. “Aaaawwwwww!” umi lilik menjerit ketika dirasakannya rudal alif yang besar dan panjang membelah serambi lempitnya dalam gerakan cepat. Pinggulnya menyentuh ranjang kemudian kembali terangkat. rudal itu terasa menyentuh bagian paling ujung dari lobang kenikmatannya, jeritannya berubah menjadi rintih kenikmatan ketika Alif mulai menaik turunkan tubuhnya.

“Ahh ahh ahh terus sayang, terus rudali umi, ahhh, teruuuusss,” rintihnya. Matanya terpejam sementara tangannya tak mau diam mengusap-usap punggung Alif. Sentuhan tangan itu dirasakan Alif sangat lembut membuatnya makin merasa sayang pada sang umi.

“Umi, bayangin suatu saat nanti Alif menyetubuhi umi bareng ukhti sofia,” desahnya sambil terus menggenjot umi lilik. “Ahh ahhh ahhh, kayaknya nikmat sayang, ahh ahh ahh,” umi lilik membalas di sela rintihannya. “Tapi anakku alim beneran sayang, perlu trik khusus untuk membuatnya mau, seperti umi aminah,” umi lilik mengakhiri ucapannya dengan senyuman.

“Hehe, kalau putrinya alim beneran, uminya alim apaan nihhh?” Alif membalas, lalu dikucupnya puting susu umi lilik sampai tubuh sang umi menggeliat-geliat keenakan. “Uminya alim binal, hihihi,” jawab umi lilik sambil tertawa mengikik.

Plokk plokk plokkk, suara beradunya selangkangan umi lilik dengan Alif terdengar memenuhi ruangan. Bunyi nafas keduanya sudah tak teratur seiring dengan birahi yang terus menggelegak. Sesekali terdengar bunyi kucupan kedua bibir mereka yang saling melumat penuh gairah syahwat. “Sayanggg, ahhh, kamu kuat sekali sayang, umimu mau orgasme lagiii,” desah umi lilik setelah dua puluh menitan tubuhnya digenjot Alif.

“iya umi, Alif masih belum,” jawab Alif lembut. Tangannya menyibakkan kerudung umi lilik yang turun menutupi dahinya karena gerakan umi lilik yang makin liar. “Ahh ahh umi suka rudalmu, umi suka dientot, ahhh,” umi lilik mulai meracau liar. Tangannya mencengkram punggung Alif erat, sementara kakinya kian rapat membeli pinggang Alif. Alif paham dan dia langsung mempercepat tusukannya di serambi lempit umi lilik yang terasa kian licin karena cairan kewanitaannya yang kian membanjir.

“Umi, ukhti sofia pulang jam berapa?” “Puaskan dulu umimu sayanggg, nanti umi jawabbb hhh hhh hhh,” umi lilik menggoyang-goyangkan pinggulnya makin liar. Tiba-tiba Alif menghentikan gerakannya. “Sayanggg,” umi lilik melenguh. Dia mencoba menarik pinggul Alif tapi Alif bertahan. “Jawab dulu dong umi,” “Iya iyaa, jam sepuluhan biasanya sayang,” jawab umi lilik dengan nafas memburu. “Ayo turunkan lagi, ayo entot umiii,” teriaknya gemas.

“Hehe, dasar umi binal!” jawab Alif. Kembali ditujahnya serambi lempit umi lilik dengan gencar. Umi lilik kembali mendesah desah tak karuan sampai kemudian gelombang kenikmatan menerpanya. Dirasakannya serambi lempitnya terasa gatal, kemudian kenikmatan menyebar ke perutnya dan sekujur tubuhnya. Lalu tubuhnya tersentak sentak seiring cairan orgasmenya menyembur menerpa kepala rudal Alif yang sedang berdiam di lubang kenikmatannya itu.

“Aaaaaaaaaaaaahhh umi keluarrhhh!” teriaknya keras. Kuku jemarinya menusuk punggung alif, bibirnya kemudian dengan ganas mencaplok bibir alif dan menggigitnya sampai Alif merasa kuatir bibirnya berdarah. Sekuat tenaga Alif menusukkan rudalnya sambil dirasakannya tubuh umi lilik berkelojotan dalam himpitannya. Saat bibir mereka terlepas mulut umi lilik hanya mampu menganga tanpa mengeluarkan suara apapun.

Saat badai kenikmatan itu mereda, Alif lalu mencabut rudalnya, dia membaringkan tubuhnya di samping umi lilik sambil sesekali menyentil-nyentil puting susu sang umi. “Umi, bikinin adonan agar-agar dong.”

“Agar-agar?” umi lilik bertanya heran. Nafasnya masih terdengar terengah-engah. “Yuk, umi bikinin ya,” jawab Alif sambil mendahului bangkit dan keluar kamar. “Apa maunya nih anak?” umi lilik berkata sendiri. Kemudian dia bangkit dengan tubuh terasa lelah dan keluar dari kamarnya. Dengan ditemani Alif di dapur, umi lilik kemudian membuat adonan agar-agar. Setelah selesai, umi lilik menatap Alif penuh tanya tentang apa yang selanjutnya akan dilakukan. Adonan untuk tiga orang, ditempatkan di dalam gelas.

“Umi berbalik dong,” pinta Alif. Umi lilik lalu menungging sambil berpegangan pada tempat cuci piring di dapurnya. Dia sudah bisa sedikit menebak apa yang akan Alif lakukan. Ditunggingkannya pantatnya sebisanya. Lalu desahannya kembali terdengar saat dirasakannya rudal alif mulai kembali membelah serambi lempitnya dari belakang.

Tangan Alif mencengkram pinggang umi lilik sementara tubuhnya dengan liar bergerak maju mundur. Sesekali diremasnya payudara umi lilik yang menggantung menggoda. “Umi binalll, umi binalll,” racaunya. serambi lempit umi lilik dirasakannya mulai mengempot rudalnya. Posisi doggie membuat umi lilik yang saat itu hanya memakai kerudung lebar acak-acakan yang sudah basah oleh keringat membuatnya makin nampak seksi.

“Iya sayangg, umi binalll, entot terus sayangg, ahhhh,” umi lilik membalas dengan kata-kata porno membuat birahi Alif makin terpacu. rudalnya dengan ganas mengobok-obok umi lilik yang alim, sesekali ditamparnya pantat perempuan seusia ibunya yang masih kencang itu.

“Alif mau keluar umi, ahhh, serambi lempit umi enakk,” “serambi lempit umi kan alim sayang, seperti yang punya,” jawab umi lilik menggoda. Digeol-geolkannya pinggulnya dalam gerakan memutar membuat rudal alif terasa seperti diremas-remas di dalam serambi lempitnya. Alif mencengkram ujung kerudung umi lilik membuat kepala umi lilik mendongak. Punggungnya melenting membuat payudaranya nampak kian menggantung di bawah tatapan alif penuh nafsu.

“Arghhh aghh, umiiii, Alif mau keluar umiii, hghhhhh,” Alif menggeram hebat. Tubuh umi lilik sedikit tersentak saat Alif mendadak mencabut rudalnya, kemudian diarahkannya rudalnya ke salah satu gelas dengan adonan agar-agar. “Aaaaaaaakhhh!” dia mendengus seiring muncratan-muncratan spermanya masuk ke dalam salah satu gelas, bergabung dengan susu yang tadi sudah ditambahkan umi lilik.

Umi lilik hanya menatap adegan itu sambil tersenyum. Diusap-usapnya itilnya dengan lembut. Alif kemudian menghampiri umi lilik dengan rudal yang masih tegak. Dia berdiri di hadapan umi lilik yang bersandar di tempat cuci piring. “Agar-agar spesial untuk ukhti sofia,” bisik Alif.

“Nakall!” jawab Umi Lilik. Tangannya bergerak ke bawah mengocok rudal Alif dengan gemas. “Aaaawwww!” tiba-tiba dia menjerit kaget ketika Alif mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di tempat cuci piring itu. lalu dengan ganas Alif melabuhkan mulutnya di belahan serambi lempit umi lilik.

“Ahhh ahh h auhhhhhh,” tubuh umi lilik bergerak-gerak liar. Tubuhnya tak bisa berpindah karena kedua pahanya ditahan kuat-kuat oleh Alif. Sementara itu mulut Alif menghisap-hisap klentitnya dengan kuat.

“Terus sayanggg, terus ahhhh, enaknnyaaaaa, ahhhhh,” umi lilik terus menggelepar-gelepar. Tangannya menggapai-gapai ke samping mencari pegangan. Dirasakannya kedutan-kedutan halus di serambi lempitnya kian mengerap.

“Hmmmmhmmmm,” Alif hanya menggeremang tak jelas. Dihisapnya klentit umi lilik dengan penuh gairah. Paha umi lilik diusap-usapnya dari bawah ke atas bolak-balik. Sesekali lidahnya dijulurkannya membelah serambi lempit umi lilik membuat yang empunya kian keras mendesah-desah penuh kenikmatan.

“Alifff, anak nakallll, umi keluar lagi, oooooooohhhh umi keluar…ahhhhhh,” crett crettt crettt, serambi lempit umi lilik berkedut hebat dan cairannya sedikit menyemprot ke luar mengenai wajah Alif yang menengadah tepat di depannya. Alif mengeluarkan lidahnya menjilat-jilat cairan kenikmatan umi lilik. Setelah usai, dia kemudian berdiri, diraihnya kepala umi lilik dan diciumnya lembut mulut sang umi.

“Kau benar-benar gila,” bisik umi lilik. Alif hanya tertawa. “Jangan lupa adonan agar-agarnya umi,” jawabnya. Umi lilik tertawa mengikik saat Alif membopong tubuhnya kembali ke kamarnya. Alif menjatuhkan tubuhnya di ranjang sementara umi lilik membersihkan tubuhnya dan menyiapkan sarapan.

Jam sepuluh pagi, Ukhti Sofia pulang, saat itu Alif sudah rapi di meja makan bersama umi Lilik. “Eh ada dek Alif. Sudah lama?” sapa ukhti sofia. Ukhti sofia adalah ukhti dengan wajah keibuan, nampak lembut, ada tahi lalat di atas bibirny sebelah kanan. Dia mengenakan kacamata minus dua berbingkai merah tua, nampak sangat serasi dengan kerudung lebarnya yang juga berwarna seperti itu.

“Belum mbak,” jawab Alif sambil mengangguk. Di hadapannya ada segelas agar-agar. “Ini baru sampai, terus umi malah ngajak sarapan,” dia mengerling umi lilik yang juga tersenyum.

Ukhti sofia duduk di seberang Alif. Umi lilik lalu menyodorkan segelas agar-agar ke hadapannya. “Ini sebelum sarapan,” ucapnya sambil menepuk bahu ukhti sofia. Ukhti sofia mulai menyendok. Alif mengamatinya dengan dada berdebar. Agar-agar itu yang ada campuran air maninya. Perlahan di bawah meja, dibukanya resleting celananya. Dijuntaikannya rudalnya supaya terbebas. “Toh ukhti sofia tak akan melihatnya,” batinnya.

Di mata Alif, ukhti sofia yang sedang mengunyah agar-agar itu lalu menelannya nampak sangat seksi. Ukhti sofia memang merasa ada yang aneh dalam agar-agar itu, akan tetapi dia tak menaruh curiga sedikit pun sebab memang warnanya seputih susu.

“Gimana rasanya sayang?” Umi Lilik bertanya. Dia duduk di sisinya. “Enak banget umii, makasih yaaa,” sahutnya. Sambil tersenyum dia mengelus tangan ibunya penuh rasa sayang. “Baguslah, umi memang sedikit bereksperimen dengan agar-agar itu.” jawab umi lilik. Matanya sedikit mengerling Alif. “Apa resepnya umiii?” tanya ukhti sofia manja. dia kembali menyuapkan sesendok agar-agar ke mulutnya. Alif merasakan rudalnya bergerak-gerak, tapi dia pura-pura sibuk memakan agar-agarnya sesopan mungkin.

“Resep dari Alif tuh.” Jawab umi lilik sambil mengarahkan dagunya ke Alif. “Dekk, apa resepnya nih, enak banget,” kini ukhti sofia menatap ke Alif. Mata Alif balas memandang sang ukhti sebelum tertumbuk ke dada ukhti sofia yang meski ditutupi kerudung lebar tapi tetap nampak menonjol. Sepertinya dia mendapatkan keturunan payudara besar dari ibunya. Umi lilik yang tahu ke mana arah pandangan Alif langsung melotot ke arahnya.

“Euhh, rahasia mbak,” jawab Alif. Dalam benaknya terbayang dia mendoggy sang ukhti berkacamata itu di meja makan sementara tangannya meremas-remas buah dada itu dari belakang. Nampaknya sama besar dengan buah dada umi lilik tapi tentunya masih kencang karena belum disentuh pria mana pun.

“Ahhh, kalian ini bersekongkol, oke oke,” ukhti sofia pura-pura merengut, lalu dia menyuapkan sendok terakhir agar-agarnya ke mulutnya. Umi lilik hanya tertawa. Ngocoks.com

Saat itulah ukhti sofia tanpa sengaja menjatuhkan sendoknya. Dia langsung membungkuk memungut sendok itu yang jatuh ke kolong meja. Agak lama dia di dalam posisi itu, saat posisinya kembali duduk di kursi, dia langsung menatap Alif dengan pandangan aneh. Wajahnya sedikit merah. Ukhti Sofia bangkit.

“Eh eh eh, sarapan dulu sayang,” seru umi lilik. “Ana ke kamar dulu umi, ini belum ganti baju.” Jawabnya. “Umi sarapan saja sama dek Alif, ya, sofi belum lapar mi, malah ngantuk juga,” Dia langsung berlalu.

Saat itulah Alif baru sadar, saat ukhti sofia membungkukkan tubuhnya, dia pasti bisa melihat rudalnya yang menjuntai keluar dari risleting. Dia menepuk kepalanya. Umi lilik menatapnya heran. Alif hanya menunjuk ke bagian selangkangannya. Penasaran umi lilik langsung membungkukkan tubuhnya melihat dari bawah meja. Saat tubuhnya kembali ke posisi semula, dia menatap Alif cemberut

“Semoga ukhti sofia menganggap Alif lupa menutup risteling, umi,” bisik Alif, meski dia pun tak terlalu yakin. Umi Lilik hanya menjulurkan lidahnya menggoda. Lalu dia balas berbisik pelan, “Jangan pulang dulu, setelah sarapan ke kamar umi dulu, sofia kalau sudah tidur paling bangun-bangun siang.” Alif mengacungkan jempolnya. Di bawah meja rudalnya mulai bergerak mengacung.

Bersambung… Hari Rabu. Ustazah Aminah bangun dari tidur siangnya dengan kepala sedikit pusing. Laptopnya masih menyala. Tadi sampai jam sebelas siang dia masih mengetik makalah untuk disampaikannya di diskusi mingguan partai akhwat. Akan tetapi mendadak otaknya terasa pusing dan dia memutuskan untuk tidur setelah meminum obat. Dia bahkan tak sempat mematikan laptopnya.

Dengan malas dia turun dari ranjangnya. Sudah jam dua, andai dia tak ingat bahwa dirinya harus beribadah siang maka dia akan malas-malasan saja di ranjangnya. Selesai membasahi wajahnya dengan air, dia merasa sedikit segar. Setelah selesai beribadah, dia lalu duduk di kursi dan menghadapi laptopnya. Niatnya dia ingin melanjutkan mengetik makalahnya.

Karena idenya mentok, dia kemudian memutuskan untuk browsing dulu mencari penyegaran. Tentu saja dia juga menyempatkan diri membuka facebooknya. Beberapa kenalannya di kepartaian memang terkadang menghubunginya lewat facebook, termasuk umi lilik hamidah.

Benar saja, ada beberapa inbok baru yang belum dia buka. Setelah membalas semuanya, dia kemudian membuka satu yang paling akhir yaitu dari umi lilik. Umi lilik mengirim sebuah video. Ustazah Aminah membaca pesan yang mengiringi video itu. begini bunyinya:

Umi, ana mau sedikit cerita. Ada kenalan ana di facebook tiba-tiba ngirim video yang tidak senonoh ini. Ana sudah ngeblokir dia dari pertemanan. Nama akunnya ini. Silahkan umi juga cek, sekalian saja umi juga ngeblokir dia karena ana lihat dia juga berteman dengan umi. Dia sepertinya hanya pura-pura saja mencari kenalan untuk berteman, padahal sebenarnya punya niat tersembunyi. Atau jangan-jangan dia juga sudah mengirim inbok ke umi? Ana sertakan videonya, silahkan umi lihat, benar-benar video tidak senonoh…

Ustazah Aminah merasa penasaran dengan video itu. Dikliknya untuk menonton langsung secara streaming. Betapa kagetnya dia. Ternyata video itu adalah video bokep. Durasinya 34 menit. Seperti tersihir ustazah aminah menontonnya, terutama karena tokohnya adalah seorang wanita yang nampaknya seumuran dirinya, dan anak kecil. Dadanya berdesir membayangkan Alif dan dirinya sendiri.

Cerita bokep itu begini: dua tokoh itu yang ternyata ibu dan anak, hanya tinggal berdua. Suatu hari si ibu tanpa sengaja melihat anaknya mandi dan mengocok rudalnya yang lumayan besar. si ibu kemudian memikirkan berbagai cara untuk menikmati rudal anaknya itu. dia kemudian memberi anaknya minuman yang diberi obat tidur. Setelah itu, si ibu meniduri anaknya saat dia tidur.

Selesai menonton film itu, ustazah aminah merasakan serambi lempitnya basah. Jantungnya berdegup kencang. Di benaknya langsung terbayang-bayang bahwa dirinya adalah sang ibu dan alif adalah anak itu. imajinasinya kemudian melambung makin tinggi, mana dia sudah lama tidak bersetubuh juga dengan suaminya…

Dibalasnya pesan dari umi lilik itu: Iya umi, menjijikkan sekali. Ana juga sudah memblokir akun itu. beruntung dia belum mengirimi ana video apapun. Terima kasih atas pemberitahuannya ya. Bla bla bla.

Balasan dari umi lilik langsung muncul: Sama-sama umi. Oya, kemarin sore Alif datang ke rumah ana, katanya mau ngobrol sama Abu, tapi Abu sedang di istri mudanya, jadi Alif langsung pulang lagi, katanya dia mau nginap di rumah temennya saja. Gak ada masalah kan di rumah? Dia kok kelihatan agak galau gitu. Ustazah Aminah termenung sejenak sebelum membalas pesan itu. Enggak kok umi, enggak ada apa-apa. Iya sih Alif malam tadi tidak pulang.

Setelah itu dia mengirim pesan pada ustazah raudah lewat sms: Ukhti, bisa tolong belikan umi obat tidur? Umi susah tidur nih akhir-akhir ini. Jawaban ustazah raudah: Baik, umi. Setelah itu, ustazah aminah mengirim pesan ke nomor Alif: Alif pulang jam berapa? Jawaban Alif: Jam limaan mi.

Ustazah Aminah menarik nafas lega. Diteruskannnya mengetik makalahnya sampai sejam kemudian ustazah raudah datang mengantarkan obat tidur. Ustazah Aminah tak tahu bahwa Umi Lilik sengaja mengirimi video itu supaya dirinya punya ide meniru video itu. saat umi lilik inbokan facebook dengannya tadi, Alif masih ada di sampingnya, ikut membaca juga sambil tak lupa meremas-remas payudara umi lilik yang sudah agak turun.

Ustazah Aminah juga tidak tahu bahwa ustazah raudah mengirimi pesan kepada Alif tentang ustazah aminah yang menyuruhnya membeli obat tidur. Membaca pesan itu, Alif berbisik di telinga Umi Lilik sambil menjilat-jilat cuping telinganya: Rencana Alif hampir sukses umi, berkat umi juga. Makasih ya sayang.

*****

Malam Kamis. Jam setengah delapan malam, ustazah Raudah membaca sms dari ustazah lia dengan heran. Dia disuruh menjemput kawannya itu membawa sepeda motor. Bukan hal itu yang aneh, melainkan bahwa dia juga disuruh membawa bawahan mukena potong.

Untuk apa? begitu dia bertanya-tanya. Ustazah Lia tak membalas lagi, maka dia pun langsung berangkat ke tempat yang disebutkan. Tak jauh memang dari asrama syahamah yaitu di parkiran kampus. Sekalian mau ngecek saldo di rekening, begitu pikir ustazah lia.

Pada saat yang sama, ustazah Aminah sedang mengaduk teh. Ada tiga gelas teh di depannya, terlihat sama, akan tetapi hanya dia yang tahu bahwa dua gelas isinya berbeda. Di benak ustazah aminah yang terbayang saat itu adalah dirinya yang sedang meneduhi sang anak yang bugil dan tertidur pulas. Sudah terbayang di benaknya bahwa dia akan merintih-rintih seperti sang ibu dalam video yang dia tonton kiriman dari umi lilik hamidah tadi.

Tentu saja dia tak tahu bahwa Alif sudah bisa menebak rencananya. Tiga gelas teh itu diperuntukkan tiga orang. Yang dua adalah untuk ustaz karim dan Alif sementara yang satu untuk dirinya sendiri. Yang untuk dirinya sendiri adalah the normal, sementara yang dua dibubuhi obat tidur. Kuat untuk 6 jam tidur nyenyak, begitu iming-iming di bungkusnya. Saat itu ustaz karim masih di mushola bersama Alif, sementara ustazah Aminah sendiri ijin dengan alasan kepalanya sedikit pusing.

Setelah selesai mengaduk teh itu, dia meletakkannya di meja, kemudian dia pura2 menunggu sambil membaca buku. Alif ternyata datang lebih dulu daripada ustaz karim. Sayang, ini umi bikinin teh. Seru ustazah aminah sambil tersenyum.

Eh tumben umi. Begitu jawabnya pendek. Alif memang masih meneruskan rencananya untuk membuat pertahanan uminya makin lemah mengira bahwa dirinya marah sebab uminya menolak melayani keinginannya untuk bersetubuh yang sudah dia sampaikan secara tersirat kemarin itu.

Sekali-kali, sayang, jawab ustazah aminah. Alif pergi sebentar ke kamarnya. Dia mengirim pesan ke umi lilik: Telpon umi sekarang, setelah itu dia mengambil obat perangsang dan pergi kembali ke kamar ibunya.

Ustazah Aminah baru akan berkata kembali ketika hpnya berbunyi. Dia langsung mengangkatnya. Ya umi? Kok suaranya gak jelas, umi, putus-putus, begitu terdengar balasan umi lilik dari seberang. Oh, iya, sebentar umi, mungkin sinyalnya, ana keluar dulu. Ustazah aminah bergegas pergi ke luar.

Alif menghampiri meja. Dilihatnya tiga gelas teh, yang satu terpisah, sepertinya punya ustazah aminah. Setelah yakin bahwa ibunya sedang menerima telpon di luar dan memunggungi jendela, dia langsung menaburkan obat perangsang ke gelas teh ibunya dan mengaduknya. Lalu dia mengambil gelas teh satu dan langsung membawanya ke kamarnya. Dibukanya bufetnya yang selalu dia kunci. Sambil senyum-senyum dikeluarkannya gelas yang sama berisi setengah teh yang sembunyi-sembunyi tadi magrib dia bikin. Dimasukkannya teh buatan ibunya ke dalam.

Lalu dengan memasang wajah polos, dia kembali ke kamar ibunya menenteng gelas teh setengah gelas, seolah dirinya sudah meminumnya. Saat itu, ibunya masuk diiringi oleh ustaz karim. Teh, abi, ustazah aminah langsung menyodorkan satu gelas teh kepada suaminya. Sekilas dia melirik ke Alif yang duduk di kursi sambil mereguk tehnya. Sudah setengah gelas dia minum, batinnya. Dadanya berdebar-debar. Diraihnya tehnya dan dia pun meminum dengan nikmat.

Umi Lilik ada apa mi? Tanya Alif. Itu lho sayang, katanya ukhti nafisah siap ikut pengabdian ustazah di kampungnya Umi Latifah. Ustazah Aminah kemudian menoleh ke Ustaz Karim. Jadi kita sudah ada tiga orang yang siap, bi, ustazah Lia, ukhti nafisah, sama ukhti sofia. Tinggal dua orang lagi, karena kata Umi Latifah butuhnya lima orang.

Ustaz Karim hanya mengangguk. Dia kemudian meneguk teh hangatnya. Mereka bertiga kemudian mengobrol ringan di sana. Lima belas menitan kemudian, Alif mereguk habis tehnya, sementara ustaz karim sudah meneguk tiga perempat gelas. Sama dengan ustazah aminah.

Ah, kok jam segini alif sudah ngantuk ya mi? alif menutupkan tangannya ke mulutnya yang menguap. Ya sudah alif tidur saja, Jawab ustazah aminah dengan hati berdebar-debar. Obat perangsang yang dimasukan alif sudah mulai bekerja, membuat syahwatnya naik dan benaknya terisi oleh adegan-adegan dalam video kiriman umi lilik tadi.

Iya nih, abi juga, ustaz karim menyusul menguap. Ustazah Aminah menatapnya sambil tersenyum. Yee, abi ikut-ikutan. Sono tidur juga. Ustazah Aminah mencubit suaminya pelan. Ustaz Karim sebenarnya sedikit heran merasakan ustazah aminah Nampak gembira sekali malam itu. Tapi rasa kantuk sudah menyerangnya. Dia kemudian ngeloyor hendak membaringkan tubuhnya di kasur. Saat itulah dia melihat kasur yang biasa dia tiduri basah.

Umi, ini basah kenapa? Oh, itu tadi tak sengaja ketumpahan air, bi. Maap lho. Jawab ustazah Aminah. Waduh, lha abi tidur di mana nih? Masa di mushola? Abi tidur di tempat alif saja ya, lif? Ustazah aminah menoleh pada alif yang saat itu masih terus menguap. Iya bi, gak apa2, muat kok. Jawab alif.

Ustaz Karim menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Yaudah, alif tidur dulu ya mi. Alif langsung beranjak ke kamarnya. Ustaz karim menyusul juga pergi ke sana dengan wajah nampak sudah sangat mengantuk. Pintu penghubung kedua kamar itu tidak dikunci.

Ustazah aminah merasakan gairahnya semakin naik. Dengan gelisah dia menunggu sambil meneruskan membaca buku. Setengah jam kemudian, dia tak tahan kemudian masuk ke kamar alif. Lif, Alif. Dia memanggil-manggil nama anaknya itu dengan keras. Untuk memastikan bahwa obat tidurnya benar-benar bekerja. Abi. Sekali lagi dia memanggil.

Alif yang hanya pura-pura tidur tidak menjawab. Dia tidur terlentang, seperti biasa hanya mengenakan sarung yang kedodoran dan kaus singlet. Demikian juga sang abi, tidur terlentang, benar-benar pulas. Terdengar ngoroknya berkepanjangan. Ustazah aminah tersenyum lega.

Ustazah Aminah kemudian kembali ke kamarnya, mengunci pintu, meredupkan lampu. Dia membuka gamisnya dan menggantinya dengan mukena sutera hitam kesayangannya. Setelah itu, sambil mengendap-endap naluriah yang sebenarnya tak diperlukan, dia kembali ke kamar sang anak.

Dia merasakan desiran aneh menguasai dirinya seiring dengan gairah yang semakin memuncak. Pertama-tama dia menghampiri sang suami, menyingkap sarungnya kemudian mengusap-usap rudal yang dulu pernah sangat dia rindukan.

Diusap-usap lembut, rudal ustaz karim menegang, kemudian dicaplok dengan hausnya oleh mulut ustazah aminah. Setelah mengoralnya dengan kasar sambil tangannya menggentel-gentel serambi lempitnya yang telah basah dari tadi, ustazah aminah kemudian beralih ke sisi lain dipan, menghampiri sang anak. Dia biarkan rudal ustaz karim mengacung berlumuran ludahnya.

Perlahan dia tatap wajah alif, sang anak semata wayang itu. Dia kemudian menyingkapkan sarungnya perlahan-lahan. Nampak jelas rudal anaknya yang besar dan panjang terkulai. Dia menghela nafasnya yang semakin memburu. Kemudian dia usap-usap rudal itu perlahan sampai akhirnya bangkit dan mengacung tegak, melebihi rudal ustaz karim.

Ustazah aminah melumat habis rudal itu dengan penuh gairah. Tangannya terus mengobok-obok serambi lempitnya yang sudah tak terkira basahnya. Setelah merasa birahinya sudah di ubun-ubun, dia kemudian naik ke dipan dan mengambil posisi WOT. Dia angkat bagian bawah mukenanya sedikit, mengepaskan kepala rudal yang seperti jamur melebar itu dengan liang serambi lempitnya. Setelah pas, diturunkannya tubuhnya…

Uhhhhhhhh, tanpa sadar dia melenguh merasakan rudal itu membelah serambi lempitnya, terhenti sebentar saking besarnya, tapi kemudian ditekannya kembali tubuhnya turun. Dibantu oleh cairan birahi yang sudah membasahi serambi lempitnya, rudal raksasa itu akhirnya kembali menusuk serambi lempitnya sedikit demi sedikit.

Kepala ustazah Aminah mendongak, matanya merem melek merasakan kenikmatan yang tak terkira. Kedua tangannya masih memegang ujung mukenanya sementara tubuhnya ditahannya dengan kedua lututnya sebagai tumpuan di ranjang, di samping kedua paha Alif.

Besarnya punya kamu nakk, ahhh, lebih besar dari rudal di video, ada desir aneh saat dia menyebutkan kata rudal. Naluri binalnya yang sudah lama terpendam serasa terlepas terlampiaskan. Perlahan diturun naikkannya tubuhnya memacu rudal itu menggesek-gesek dinding serambi lempitnya.

Enak serambi lempit umi nak? Enak? serambi lempit umi lama tak dirudali abimu yang selingkuh, serambi lempit umi kini Cuma buatmu nakkk, ahhhhh ahhhh, Ustazah aminah terus meracau sementara tangannya meremas-remas payudaranya sendiri dari balik mukena. Dibiarkannnya ujung mukenanya jatuh menutupi kedua lututnya. Desisan-desisan nikmat terus keluar dari mulutnya seperti orang kepedasan.

Sementara pinggulnya sibuk bergerak naik turun, ustazah Aminah menoleh ke samping menatap wajah suaminya yang nampak pulas tertidur. Dengkurnya masih terdengar. Dirasakannya kembali sensasi aneh menerpa, menciptakan desir-desir yang memberikan kenikmatan tambahan di tubuhnya. Bagaimana tidak fantasi liarnya kini menjadi kenyataan, dirinya seorang ustazah Alim kini memenyetubuhi anak kandungnya sendiri di sampingnya suaminya, ayah anak yang kini sedang digenjotnya.

serambi lempitnya terasa sudah sangat basah membuat tusukan rudal anaknya terasa kian lancar. Meski demikian, tetap saja rudal itu hanya bisa bertambah dalam masuk sedikit demi sedikit saking besarnya. rudalmu buat umi saja ya nak, buat umiii, ustazah aminah kaget sendiri mendengar dirinya mengatakan demikian. Itu semua terjadi secara spontan. Nafsu birahinya yang sudah mengendap lama selama ini nampaknya membuat segala keliarannya tumpah saat mendapatkan pelampiasan.

Ustazah aminah mencengkram kedua pinggang anaknya saat dirasakanya tubuhnya sedikit bergetar tak kuat menahan kenikmatan. Tusukan-tusukan yang kian dalam menembus serambi lempitnya itu terasa sangat melenakan. Kalau tak disangganya tubuhnya bisa bisa ambruk menimpa tubuh sang anak. Betapa nikmatnya, ohhhh, begitu dia mendesah. Ada sedikit rasa menyesal dalam hatinya kenapa tidak dari kemarin-kemarin dia melakukan ini. Dalam hatinya dia juga berterima kasih pada umi lilik yang sudah mengirimkan video padanya sehingga dia bisa punya ide seperti ini.

Alif membuka matanya sedikit mengintip sang umi. Dilihatnya uminya mendesah-desah dalam posisi woman in top. Tubuh uminya nampak sangat seksi mengenakan mukena sutera tembus pandang, buah dada uminya nampak membusung besar menggoda tangannya untuk meremas-remas sepuasnya. Dalam remang lampu kamarnya dia bisa melihat bayangan hitam puting sang umi yang dia yakin sudah sangat mencuat.

Uuhhh nikmatnya rudalmu uhhhh, ahhh, terus sayang, kocok serambi lempit umi pake rudalmu, kocokkkk uhhh, umi pasrah sayang, ahhh ahhhh, didengarnya uminya meracau sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Pinggulnya makin liar bergerak ke kiri ke kanan. serambi lempit uminya terasa sangat hangat, dinding-dinding serambi lempitnya menjepit batangnya kuat, kalau tak tahan-tahan menahan dari tadi rudalnya sudah memuncratkan air mani.

Aduhh, umi tak tahan sayanggg, ah, rudalmu besar sekali umi tak tahannn, ustazah aminah merem melek, tangannya meremas-remas pinggang Alif sementara pinggulnya begerak kian liar memompa. Masih sepertiga rudal alif yang belum masuk tapi sudah dirasakannya kepala rudalnya menembus sangat dalam menyentuh-nyentuh ujung serambi lempitnya yang tak pernah tersentuh rudal ustaz karim.

Diliriknya kembali ustaz karim yang kini bergerak menyamping. Posisinya seperti dirinya sedang mengamati persetubuhan terlarang seorang ibu dengan anak kandungnya di samping dirinya. Sensasi semacam itu membuat ustazah aminah kian tak tahan. Dihunjamkannya tubuhnya sekuat tenaga membuat serambi lempitnya terpaku kuat dan hanya sedikit rudal Alif yang belum masuk.

Ahhhh umi keluar sayangg, umi keluarrrrrhhhhhh, ustazah aminah melenguh keras kemudian digigitnya bibirnya saat puncak kenikmatan menerpanya. Tubunya bergerak-gerak liar, kepalanya mendongak dengan mata membeliak menatap langit-langit.

Seerrrrr serrrr serrrr, dirasakannya cairan kenikmatannya menggelora di dalam serambi lempitnya, Auhhhhhhhhh, dia kembali melenguh, tubuhnya bergerak ke samping seperti akan ambruk. Kenikmatan orgasmenya susul menyusul tanpa henti, untuk pertama kalinya dia merasakan multi orgasme. serambi lempitnya mengempot rudal Alif dengan kuat selama beberapa detik sebelum akhirnya dia kembali berkelojotan liar di atas tubuh sang anak yang kini mulai berkeringat.

Hh hhhh hhhhh, deru nafas ustazah aminah terdengar memburu saat kenikmatan itu akhirnya selesai. Diangkatnya tubuhnya pelan-pelan seolah dirinya sangat sayang untuk mencopot rudal sang anak dari serambi lempitnya. Plopppppp, rudal itu keluar dari serambi lempitnya dengan susah payah, terasa kedutan di serambi lempitnya, kedutan nikmat, saat rudal itu tercabut bibir serambi lempitnya ikut tertarik ke bawah, lalu tetesan cairan kenikmatannya ikut meleleh keluar, sebagian mengenai bulu kemaluan sang anak yang nampak rimbun.

Ustazah Aminah mengamati rudal anaknya yang masih tegak teracung, nampak mengkilap berlumur cairan kewanitaannya. Ahh, masih tegak ya nak, rudalmu gagah sekali, sini umi bersihinnn, bisik ustazah aminah. Lalu dengan gemas dikulumnya rudal itu, dihisapnya kuat-kuat sampai Alif hampir tak tahan menahan kedutan rudalnya yang siap memuncratkan air mani.

ungghhhh, Alif melenguh. Ustazah aminah menoleh ke wajah anaknya lalu dia kembali berbisik. Ahhh, nikmat ya nak hisapan umi? Ustaz karim kalau umi hisap biasanya langsung muncrat lho nakk, rudalmu masih tetap tegak, nakk, buat umi yaaa, kini rudal Alif nampak bersih kembali seperti semula. Lalu dengan liar ustazah aminah menjilati jembut alif yang tadi terkena cairan kewanitaannya. Alif merasakan geli yang nikmat di selangkangannya saat dirasakannya lidah ustazah aminah menyapu-nyapu pangkal selangkangannya itu.

Ustazah aminah menenangkan nafasnya yang memburu sambil membaringkan tubuhnya di antara kedua laki-laki itu. Alif sementara itu sekuat tenaga menahan keinginannya untuk memeluk sang umi yang bau keringatnya saja sudah membuatnya sangat bergairah. Kemudian ustazah aminah bangkit duduk, sambil tersenyum, satu ide baru muncul di kepalanya.

Tangan kanannya meraih rudal ustaz karim sementara tangan kirinya meraih rudal alif. Kemudian dengan penuh semangat dia mengocok keduanya sambil mendesah-desah tak karuan. serambi lempitnya kembali basah dan dia kembali merasakan birahinya naik ke ubun-ubun.

Nggghhh, didengarnya Alif kembali melenguh dalam tidurnya. Sebenarnya Alif saat itu saking tak tahannya hampir saja memanggil nama uminya. Beruntung dia masih bisa menahan diri dan hanya mengeluarkan lenguhan sementara matanya tetap menutup pura-pura tidur.

Ustazah Aminah menatap wajah Alif. Wajah yang ganteng. Dilihatnya mulut anak kandungnya itu sedikit membuka. Dadanya berdesir membayangkan bagaimana rasanya jika bibirnya dilumat bibir itu. dia sadar dirinya tadi terburu nafsu sebab syahwatnya sudah mencapai ubun-ubun maka dia tak sempat mencumbu dulu sang anak. Dilepaskannya kocokannya di kedua rudal itu. ditatapnya sebentar rudal suaminya yang langsung ngelumbruk kembali lemas. Lalu ditatapnya rudal Alif yang tetap tegak mengacung.

Beda sekali, bisiknya kagum, seolah ingin diterkamnya rudal raksasa milik anak kandungnya itu. Birahinya kembali naik. Dia ingin mengulang apa yang dia lakukan tadi dengan tubuh anaknya tapi kini dengan lebih pelan supaya kenikmatannya terasa lebih dahsyat. Toh pengaruh obat tidur masih lama, begitu batinnya.

Dia duduk di samping kepala anaknya. Dibelai-belainya rambut anak kandungnya itu penuh kasih sayang. Dihirupnya bau rambut anaknya. Lalu cupppp, diciumnya dahi anaknya. Bibirnya turun menyusuri ke bawah, sampai akhirnya disentuh-sentuhkannya bibirnya lembut ke bibir anaknya. Terasa nikmat.

Cuppp cuppp cupppp, kali ini dipagutnya bibir itu, dilumatnya bergantian bibir atas dan bawah, dia melakukannya berkali-kali sampai dia merasa puas. Sempat digelitiknya juga rongga mulut anaknya dengan lidahnya, meneteskan sebagian liurnya ke mulut yang setengah terbuka itu.

Tak cukup di situ, dengan tangannya digenggamnya pangkal payudaranya dari balik mukena sampai membusung. Bahkan dari balik mukena itu nampak jelas puting susunya mencuat, tertekan oleh bahan sutera yang tipis. Lalu dengan hati-hati ditekan-tekankannya puting susu itu ke bibir anaknya sambil meracau, hisap puting susu umi sayang seperti dulu saat kau kecil, hisap terus, hisappp, bisiknya. Dilakukannya bergantian payudaranya yang kanan dan kiri.

Setelah merasa puas. Dia lalu naik kembali ke ranjang. Didudukinya bagian bawah perut anak kandungnya itu. Pantatnya menyentuh-nyentuh rudal alif yang tegak mengacung. Lalu dirundukkannya tubuhnya ke depan setelah disingkapkannya singlet yang menutupi tubuh anaknya ke atas. Mmmmm, begitu dia menggumam, bibirnya menjilat-jilat puting susu anaknya.

Tangan ustazah aminah mengelus-elus pinggang alif sementara bibirnya asyik berpindah-pindah menjilati kedua puting susu anaknya sampai basah. Lalu disusurinya dengan kedua tangan dari perut anaknya sampai ke atas dengan lembut sampai Alif merasakan desir-desir yang membuatnya tak tahan ingin menerkam sang ibu. rudalnya kian tegak mengacung berkedut-kedut ingin kembali menusuk serambi lempit ibu kandungnya yang hangat.

Ustazah aminah makin merundukkan tubuhnya. Kini tubuhnya menempel erat dari atas ke tubuh anaknya. Lalu kembali dilumatnya bibir anak kandungnya itu dengan penuh nafsu birahi. Disentuh-sentuhkannya pantatnya ke belakang menyenggol rudal alif sampai rudal itu bergoyang-goyang pelan.

Puas dengan cumbuannya, ustazah aminah memundurkan tubuhnya sampai kini posisinya tepat menghadap rudal yang mengacung itu. diludahinya rudal itu sebelum dikocok-kocok lembut menggunakan tangannya. Menatap rudal dalam keremangan lampu kamar alif, dirasakannya ketakjuban yang kembali tumbuh. rudal anaknya yang tegak mengacung itu memang benar-benar merangsang syahwatnya. Dia yakin sehari semalam pun rudal itu akan sanggup berpacu terus dengan serambi lempitnya. Sensasi liar menjalarinya kian pekat, menimbulkan denyar-denyar nikmat di tubuhnya.

Satu tangan ustazah aminah mengobel-ngobel serambi lempitnya sementara yang satu tetap mengocok rudal alif dengan pelumas air ludahnya. Ahhh ahhhh ahhhh, ustazah aminah mendesah-desah, serambi lempitnya mulai dibanjiri kembali cairan kewaniitaannya, membuatnya kian matang untuk digenjot kembali dengan rudal raksasa alif.

Sayangg, umi tak tahan, ayo masukkan yaaa, bisik ustazah aminah. Kembali diangkatnya pinggulnya, mengepaskan rudal alif ke serambi lempitnya. Diturunkannya pelan-pelan sementara tubuhnya dicondongkan ke depan ke dada alif. Tangannya yang satu menahan di pinggir tubuh alif sementara tangannya yang satu lagi memegang rudal alif membimbingnya masuk ke lubang nikmat di pangkal selangkangan ustazah aminah.

Sleppppp, kali ini rudal itu bisa masuk lebih lancar karena serambi lempit ustazah aminah yang sudah licin dan juga lebih mudah beradaptasi setelah menyetubuhi tadi. Uhhhh, ustazah aminah kembali mendesah. Kenikmatan mendesak ke atas perutnya, terasa geli dan gatal membuatnya tidak sabar ingin rudal itu menusuk kian dalam.

Kembali diturunkannya tubuhnya sampai rudal itu mulai amblas perlahan. Matanya merem melek menahan kenikmatan, lalu diturunkannya tubuhnya pelan-pelan ke tubuh alif. Setelah merasa posisinya pas, ustazah aminah menaik turunkan pinggulnya, lidahnya kembali menjilat-jilat puting susu anaknya sementara kedua tangannya memegang bahu alif kuat-kuat.

Hngh hngh hnghhhh, setiap tusukan rudal alif diiringi dengan lenguhan ustazah aminah. Betapa nikmatnya tusukan yang terus kian dalam di lubang nikmatnya itu. keringat sudah membanjir di punggung ustazah aminah membuat mukenanya terasa lengket di sana. Sementara perutnya dan buah dadanya juga terasa hangat, menempel lekat ke perut alif.

Ahhh, nikmat sekali menyetubuhi kamu sayang, ahhh, diremas-remasnya bahu alif penuh gairah. Sesekali dipandangnya wajah alif yang di matanya tetap nampak pulas. Sesekali pula dielus-elusnya leher alif penuh kasih sayang. Dia merasa jatuh cinta pada anaknya itu. sudah tak diperdulikannya bahwa dirinya adalah ibu kandung alif, sekaligus juga seorang ustazah alim yang dalam kesehariannya selalu menutup tubuhnya dengan gamis kombor dan kerudung lebar sepinggang. Saat itu yang ada di pikirannya adalah rudal anaknya yang raksasa dan serambi lempitnya yang butuh kenikmatan setelah lama tak dientot ustaz karim.

Slepp slepp sleppp, bunyi gerakan rudal alif di serambi lempit ustazah aminah terdengar konstan mengisi kesunyian kamar. Ustaz karim masih asyik mendengkur sementara alif masih sibuk dalam pura-pura tidurnya menahan kenikmatan yang hampir mencapai puncaknya. serambi lempit ibunya terasa hangat sekali, serambi lempit yang sangat dia dambakan. Dinding-dinding serambi lempit ibu kandungnya itu menjepit rudalnya seperti memerasnya. Jauh lebih nikmat dari serambi lempit umi lilik ataupun ustazah raudah dan ustazah lia.

Entot ibu terus nak, entot umi, racauan ustazah aminah terdengar pula sesekali. Pinggulnya makin liar bergerak-gerak memacu rudal alif. Huhhh huhhh huhhh, kau mau kan menyetubuhi umi nak? Entot umi semalaman, ahh, umimu binal, umimu lontemu nak,,, ahhh, ahhh ahhh, racauan ustazah aminah terdengar makin porno. Tangannya liar menggerayangi sekujur tubuh alif sebisanya. Andai alif tidak kuat menahan dari tadi dirinya pasti sudah menggelinjang-gelinjang penuh kenikmatan.

Ouhhhhh, umi hampir keluar lagi sayang, ahhh, umi tak tahannn, rudalmu enak sekali nak, ahhh, rudalmu buat serambi lempit umi yaaa rudalmuuuuuuuu, pinggul ustazah aminah bergoyang dahsyat seperti mengebor rudal alif. Mulai dirasakannya kedutan-kedutan tanda dirinya hampir orgasme lagi. rudal alif melesak makin dalam seiring gerakan pinggulnya menekan dari atas.

Ahhhhh akhh auhhh, uhhh huh huh huhhh, umi ke lua…ahhhhhhhhh! Ustazah aminah menjerit keras. Kepalanya ambruk di dada alif, ada air liur menetes keluar dari kepalanya yang tergeletak menyamping, membasahi singlet alif. Tangannya memeluk tubuh alif kuat-kuat. Pinggul ustazah aminah menyentak-nyentak kuat beberapa kali sementara cairan kenikmatan kembali menyemprot-nyemprot di dalam serambi lempitnya.

Ouhhhhhhhhhhhhhh, dia merintih panjang seiring sentakan terakhir orgasme yang kedua kalinya malam itu. keringat membanjir di tubuhnya, menimbulkan bau yang bahkan tercium oleh alif, membangkitkan rangsangan yang memabukkan.

Beberapa saat kemudian, ustazah aminah mengangkat tubuhnya dari tubuh anak kandungnya itu. digoyangkannya kembali pinggulnya sebelum kemudian dia perlahan mengangkat pinggulnya itu. sebenarnya dia ingin mendiamkan rudal itu lebih lama di tubuhnya, tapi dia juga ingin berbaring. Maka ditariknya tubuhnya ke samping dan dia kembali berbaring di antara ustaz karim dan alif. Ditatapnya sebentar rudal alif yang masih tegak mengacung itu. untuk kesekian kalinya dia merasa takjub pada kegagahan rudal anak kandungnya itu. sudah dua kali dirinya orgasme dan rudal itu masih tegak tanpa menyemprotkan apapun.

Kau hebat nakkk, bisik umi aminah di telinga alif. Alif tentu saja mendengarnya tapi dia pura-pura tidur. Ustazah aminah berbaring terlentang mengatur nafasnya yang masih tak karuan. Pada saat yang sama dia juga mengingat-ingat video yang tadi dikirimkan umi lilik padanya, mencoba memikirkan apa lagi yang bisa dilakukannya malam itu untuk mendapatkan kenikmatan dari rudal anak kandungnya. Malam masih panjang.

*****

Jam dua pagi, ustazah Aminah baru kembali ke kamarnya. Dia sebenarnya masih belum puas, tapi dia memutuskan untuk malam ini cukup seperti itu saja, toh kepenasarannnya sudah terobati untuk sementara. Pusing di kepalanya syukurnya lumayan berkurang, dia merasa sangat tenang dan kini setelah syahwatnya terpenuhi, dia ingin sekali berbaring dan tidur.

Jam setengah tiga, Alif bangun. Dia mengendap mengintip ke kamar sang umi dan melihatnya tidur pulas. Bersijingkat dia pergi ke kamar ustazah raudah, toh dia tahu abinya tak akan bangun sampai pagi. Dia sudah mengirimi sms ke ustazah raudah untuk tidak mengunci kamarnya, maka dia pun bisa masuk dengan mudah.

Perlahan ditutupnya pintu dari dalam. Cklek, dikuncinya. Di dalam sangat tenang. Di atas ranjang ditemukannya ustazah raudah dan ustazah lia tertidur nyenyak sambil berpelukan, keduanya masih mengenakan gamis lengkap meski dilihatnya juga strapon vibrator plus rudal melingkar di pinggang ustazah raudah. rudal-rudalan itu nampak basah, sepertinya kedua ustazah itu tertidur setelah saling memuaskan.

Dibaringkannya tubuhnya di belakang ustazah lia, dielus-elusnya pinggang sang ustazah dengan lembut. Nnggghhh, ustazah lia menggeliat. Kemudian dia membuka matanya. Alifff? begitu tanganya saat kesadarannya sudah pulih.

Alif melumat bibir seksi ustazah lia. Kemudian dipeluknya erat-erat tubuh sang ustazah itu. dibisikkannya di telinganya: Aku sudah janji akan memenyetubuhimu sampai kau berteriak ampun, ustazahku, Ana capai banget, Lif, desah ustazah lia. Alif tak peduli. Digerayanginya tubuh ustazah lia sampai dia menggeliat-geliat dan membuat ustazah raudah pun ikut bangun. Dia langsung bertelekan dengan sikutnya dan menyapa Alif.

Eh Alif, dini hari gini kok ke sini? Dari tadi malam ditunggu lho, untung ada ustazah lia. Hehe, kan enak dini hari, mumpung dingin-dinginnya nih, jawab Alif seenaknya. Tangannya kini menelusup ke balik gamis ustazah lia. Meremas-remas benda sekal yang membusung di dadanya. Enghhhh Alifff, ana capai nihh, sama ustazah raudah saja ya? ustazah lia mengerang.

Alif pengen ukhti, jawab Alif. Semakin nakal tangannya memencet-mencet puting susu ustazah lia yang masih sangat sensitif setelah digumuli empat pria di villa kailurang. Mau tak mau birahi ustazah lia bangkit juga. Ahhhh, kamu ini, nakal banget ganggu orang tidur, dia menggerutu. Tapi tangannya kini mulai membalas menggerayangi tubuh Alif. Ustazah raudah hanya tertawa. Dia bangkit dari ranjang dan berlalu ke kamar mandi. Pipis dulu ahhh, ucapnya.

Saat ustazah raudah sudah keluar dari kamar mandi, dilihatnya ustazah lia sedang meringis-ringis merasakan tusukan-tusukan rudal Alif di serambi lempitnya. Tubuhnya terbaring menelentang di ranjang, pahanya rapat menjepit kedua paha Alif. Setiap hentakan Alif diikuti oleh lenguhan ustazah lia dan sentakan kepalanya ke atas. Alif nampaknya sudah sangat bergairah akibat rangsangan ustazah Aminah tadi yang menyetubuhinya karena mengiranya sedang tidur.

Unghhh, pelan Lif, pelannn, keluh ustazah lia. rudal Alif yang terlalu besar dan panjang itu terasa sangat pepat di serambi lempitnya. Dia mencoba sedikit menahan tubuh Alif yang meneduhinya. Alif tak peduli. Benaknya dipenuhi oleh bayangan ibunya yang memenyetubuhinya dengan posisi woman in top tadi. Diremas-remasnya payudara ustazah lia dengan kasar. Lontee, kuentot kau lonte, anakmu sendiri kau entot, lontee! dia meracau tak jelas.

Ustazah raudah yang sudah ada di belakangnya tersenyum mendengar racauan Alif. Sedikit banyak dia bisa menebak apa yang ada dalam benak anak itu. diposisikannya tubuhnya di belakang Alif. Tubuhnya kini bugil hanya ditutupi oleh beha pink sementara bagian serambi lempitnya terbuka lebar. Ditempelkannya bebuluan serambi lempitnya di atas pantat Alif yang sedang sibuk memacu birahinya.

Umi suka melihat rudalmu sayang, bisik ustazah raudah di telinga Alif. Suaranya diusahakan meniru suara umi aminah. Lalu dijulurkannya lidahnya menjilati belakang telinga Alif, merangsang saraf di sana yang sangat sensitif.

Uhhhh uhhh uhhhh, rintihan ustazah Lia terdengar makin keras. Tubuhnya melonjak lonjak dihenjut oleh Alif makin keras. Kepalanya bergerak-gerak ke kiri ke kanan sementara tangannya meremas-remas seprai putus asa. Rasa sakit dan kenikmatan atas entotan Alif yang kasar membuat otaknya tak mampu berpikir apa-apa.

Alif menolehkan kepalanya ke belakang yang langsung disambut dengan ciuman dari ustazah raudah. Bibir keduanya saling melumat penuh gairah. Umii, bisik Alif. Umi pakai beha ya? Iya sayangg, ustazah raudah balas berbisik. Ditempelkannya rapat payudaranya yang masih tertutup beha di punggung Alif. Digesel-geselkannya di sana membuat Alif merasa geli. Bahan lembut beha sang ustazah terasa nikmat di alur punggungnya yang telanjang.

Kenapa sayang? Alif lebih suka susu umi gak ditutupi beha, besar dan kencang, balas Alif. Tangannya meremas-remas gemas susu sekal ustazah lia di bawahnya. Ustazah lia hanya bisa menatapnya sayu sambil mengggerak-gerakkan pinggulnya sebisa mungkin mengimbangi setiap tusukan rudal Alif di serambi lempitnya.

Umi ingin kamu yang membukanya pake mulut kamu anakku sayang, balas ustazah raudah di telinga Alif. Ustazah Raudah beranjak dari belakang Alif dan berpindah mengangkangi perut ustazah Lia tepat di depan Alif menghadap ke anak itu. dipaskannya kedua payudaranya di depan mulut Alif.

Alif menjulurkan mulutnya menyambut, giginya menempel di kaitan beha ustazah raudah yang memang ada di depan. Sementara itu bagian bawah tubuhnya tetap bergerak-gerak menusukkan rudal jumbonya di serambi lempit ustazah lia. Dirasakannya paha ustazah lia kian kuat menghimpit pahanya.

Susah sayangg? ustazah raudah menggoda Alif yang nampak kesusahan membuka kaitan behanya. Grrrhhhh, Alif hanya menggeram pelan. Giginya mencoba menarik kaitan itu ke atas, dengan sekali sentakan akhirnya kaitan itu terlepas. Ustazah raudah tertawa kecil kemudian dia meloloskan beha itu melalui kedua tangannya. Lalu didorongkannya kedua payudaranya yang sudah terbuka lebar dengan puting mencuat itu ke mulut Alif.

Mmmpphhh, Alif mencaplok payudara kanan ustazah raudah dan memasukkannya sepenuh mulutnya. Setelah itu digigitnya sedikit sambil dihisapnya seperti pompa. Ustazah raudah mendongakkan kepalanya, hisapan Alif terasa sangat nikmat dirasakannya. Sambil menunggu Alif tadi memang dia sudah saling memuaskan dengan ustazah lia, tapi bercumbu dengan Alif selalu memberikannya sensasi tersendiri yang tak tergantikan, bahkan oleh kenikmatan sesksual dengan ustaz karim sekalipun.

Setelah itu ganti payudara kiri ustazah raudah yang diserang Alif. Disentuhkannya ujung lidahnya ke sekitar puting susu ustazah raudah membuat tubuh sang ustazah menggeletar penuh kenikmatan. Tak tahan, ustazah raudah meraih belakang kepala Alif dan dibenamkannya kepala itu di payudaranya, membuat Alif megap-megap kehabisan nafas.

Umi nakal, bisik Alif dengan nafas memburu. Iya sayang, hanya buat kamu, balas ustazah raudah. Alif pengen menyetubuhi umi, serambi lempit umi juga sudah gatal, serambi lempit umi alim hanya buat Alif anakku, jawab usatzah raudah tak kalah binal. Kemudian dia menahankan tangannya ke belakang, lalu diturunkannya tubuhnya pelan-pelan sampai akhirnya tubuhnya terlentang rapat tepat di atas tubuh ustazah lia. Kakinya diselonjorkan sementara pahanya dibuka menampilkan serambi lempitnya dengan belahan menggoda.

Ploppppp, melihat posisi ustazah raudah seperti itu, Alif mencabut rudalnya dari serambi lempit ustazah lia, lalu ditusukkannya rudalnya langsung ke serambi lempit ustazah raudah yang langsung merem melek merasakan benda hangat tegang menembus lubang kenikmatannya. Di bawahnya, dirasakannya lidah ustazah lia menjilat-jilat kulit lehernya membuatnya merasa geli-geli nikmat.

Hhh hhh hhh, ustazah ustazah alim, kuentoti kalian semua, dengus Alif sambil tak henti menusuk-nusukkan rudalnya memacu kenikmatan syahwat yang kian menggebu. Plakk plakk, sesekali ditamparnya pinggiran paha ustazah lia dan ustazah raudah menimbulkan bekas merah di sana.

Ustazah lia menangkupkan kedua tangannya di payudara telanjang ustazah raudah di atasnya. Digerakkannya tangannya melingkar di pangkal payudara itu, kemudian semakin mengerucut dan berakhir memijat-mijat putingnya yang merah kecokelatan kian melebar.

Ukhtiiii, ustazah raudah mendesah nikmat. Kepalanya melorot ke bahu kiri ustazah lia di bawahnya. Lalu ditolehkannya kepalanya ke samping yang langsung disambut dengan lumatan ustazah lia di bibirnya. Slurrrppppp sllurrrpppp, terdengar bunyi beradunya kedua bibir mereka. Ustazah lia menjulurkan lidahnya ke dalam mulut ustazah raudah, ustazah raudah membalas. Lidah mereka saling membelit liar sementara kedua bibir mereka menyatu. Tetesan-tetesan air liur mereka yang lolos dari celah mulut mereka menetes membasahi ranjang.

Alif menatap kedua ustazah yang saling melumat dengan liar itu penuh gairah. Dibayangkannya andai kedua wanita itu adalah ustazah aminah ibu kandungnya dan umi lilik hamidah, betapa bahagianya dia andai itu terjadi. Imajinasi seperti itu membuat rudalnya makin tegang dan dia makin ganas menggenjot serambi lempit ustazah raudah.

Ustazah raudah merasakan sentuhan-sentuhan tangan ustazah lia yang halus dan lembut di tubuhnya membuat tubuhnya meremang. Apa yang bisa dia lakukan hanyalah makin liar mencumbu bibir seksi ustazah lia. Dihisapnya lidah ustazah lia sampai dirasakannya wanita alim itu menahan nafasnya lama dan terengah-engah hebat saat dilepaskannya hisapannya. Gantian ustazah lia menghisap bibir bagian bawah ustazah raudah sampai dia meremas-remas seprai dengan liar menahan rangsangan di serambi lempitnya, di payudaranya, dan di bibirnya.

Ploppppp, Alif kembali mencabut rudalnya dari serambi lempit ustazah raudah dan dimasukkannya kembali ke serambi lempit ustazah lia. Tubuh ustazah lia sedikit mengejang merasakan kembali benda itu menusuk lubang kenikmatannya. Jemari Alif dengan brutal kini mengocok-ngocok serambi lempit ustazah raudah yang tepat di atas serambi lempit ustazah lia.

Hhhhhhhhngngng hhhhngngng, ustazah raudah mengeluarkan erangan tak jelas merasakan kocokan kasar itu. serambi lempitnya sudah sangat basah. Dijepitkannya kedua pahanya di pinggul Alif saat dirasakannya jemari Alif menggesek-gesek klentitnya. Sementara itu perutnya berdesir-desir nikmat saat tangan ustazah lia mengusap-usap pusarnya dan payudaranya bergantian.

Ahh ahh ahh, terus sayang, terus ahhh, ahhh, auhhhh, ustazah lia tak henti mengeluarkan desahan nikmat. Himpitan punggung ustazah raudah di payudaranya yang masih terlindungi gamis sebagian terasa hangat. Dirasakannya keringat bermunculan di alur punggungnya yang seperti menempel di ranjang.

Enak lonte? Enak?! Alif berteriak keras di tengah dengus nafasnya yang menderu-deru. Enakkkk, ahhk terus, ke atas, sayang, ke atas ah ituuuu yaa, ahhhh, ustazah raudah membalas dengan racauan yang tak kalah binalnya merasakan rangsagan jemari alif di titik-titik sensitif tubuhnya. Dikulumnya cuping telinga ustazah lia dengan gemas dan digigit-gigitnya sampai ustazah lia merasa kuatir rekannya itu akan menggigitnya sampai putus.

Enak mana sama rudal ustaz karim ha? Enak mana? Alif kembali berteriak. Enak rudalmu auhhhhhhhhh, hhh hhh hhhhhhh, tubuh ustazah raudah menggelepar-gelepar. Rangsangan di klentitnya memicu kenikmatannya menuju titik tertinggi. Tak ingin orgasme sendirian, tangannya diulurkannya ke samping, meraih puting susu ustazah lia dan memelintirnya kuat-kuat.

Heeee auh auhhhh ukhtiiii, gantian tubuh ustazah lia yang menggelepar-gelepar. Dia belingsatan merasakan kenikmatan yang terasa menyebar di sekujur tubuhnya. Sodokan rudal Alif di serambi lempitnya terasa kian dalam kian dalam meraih titik-titik sensitif dalam lubang serambi lempitnya. Gamisnya kian kusut tersingkap di sana sini, sebagian basah oleh keringatnya yang tak terbendung.

Hah hah hah, rasakan sodokanku hah! Alif kian kuat menyodok. Tangannya yang satu kini meremas payudara ustazah lia yang tak tertutupi tubuh ustazah raudah yang sedikit menyamping. Tangan ustazah lia semakin luar meremas kedua payudara ustazah raudah sampai sang ukhti hanya bisa merem melek dan mengeluarkan desahan nikmat tanpa bunyi yang jelas.

Aaaaahh ana keluar ana keluar ana keluarrrr, ahhh, ukhtiiii, Ustazah raudah merintih keras saat puncak kenikmatan menerjangnya. Ustazah Lia merasakan hal yang sama, digerakkannya pinggulnya sekuat tenaga membuat empotan keras yang membuat Alif tersentak dan tak kuat menahan muncratnya mani dari rudalnya.

Lonteeeee! maki Alif sambil mencabut rudalnya. Merasakan rudal yang mengganjal serambi lempitnya tiada, ustazah lia cepat meraih tubuh ustazah raudah dan langsung memeluknya dengan posisi tubuh menyamping saling berhadapan. Ustazah raudah balas memeluk sambil melumat bibir ustazah lia.

NGhhhhhhhh, keduanya melenguh bersamaan menyambut puncak kenikmatan. Kedua paha mereka saling membelit sementara serambi lempit mereka saling beradu. Tangan keduanya saling merangkul erat lalu tubuh-tubuh seksi itu berkelojotan dengan pinggul menyentak-nyentak liar. Cerita ini dipublish oleh situs ngocoks.com

Crottt croottt crooooooot, Alif menyemprotkan air maninya ke bibir kedua ustazah itu yang saling menyatu. Dia menggeram merasakan kenikmatan yang sangat dahsyat orgasmenya yang pertama. Diperasnya batang rudalnya sampai pancutan terakhir. Tubuh kedua ustazah itu sudah tenang, lalu mereka saling melepaskan bibir mereka dan saling menjulurkan lidah menjilat air mani Alif yang meleler di pipi dan pinggir mulut mereka.

Lonte kalian, lonte alimmm, bisik Alif. Kedua tangannya meraih kepala kedua ustazah itu lalu dilumatnya bibir keduanya bergantian. Setelah itu dibaringkannya tubuhnya terlentang di antara mereka berdua. Tangan ustazah lia mengusap-usap dada Alif, sementara tangan ustazah raudah bergerak ke bawah menggerayangi area perut ke selangkangan. Kalian benar-benar cocok, sambung Alif lagi.

Ustazah Lia dan ustazah Raudah hanya tertawa binal. Mereka tahu bahwa ini baru orgasme pertama Alif, dia tak pernah puas hanya dengan satu kali orgasme, beberapa menit lagi sesi selanjutnya akan berlanjut. Mungkin sampai pagi.

Tak heran kedua ustazah itu tidak Nampak di mushola saat ibadah pagi karena kelelahan melayani rudal perkasa Alif yang tak mau berhenti menggenjot lubang-lubang kenikmatan mereka, demikian juga ustazah Aminah dan ustaz Karim yang bangun telat. Hanya Alif yang kemudian menjadi imam, karena dia memang belum tidur, menggenjot kedua ustazah itu hanya menguras staminanya sedikit saja.

Bersambung… Hari Rabu. Pagi. Uhhhh, ustazah Lia menggeliat bangun terduduk. Butuh beberapa saat sebelum dia sadar di mana dia berada. Diraihnya hpnya, sudah jam 9 pagi. Ada satu sms masuk, dari Alif, ustazah binal, nanti malam pulang ya, pengen menyetubuhi kamu habis-habisan. Ustazah Lia tersenyum, dibalasnya sms yang berwaktu dua jam sebelumnya itu. Ustazah Lia tak tahu bahwa Alif saat itu masih di rumah umi lilik hamidah setelah semalaman menggenjot umi alim yang sehari-harinya selalu berkerudung lebar itu. Ustazah Lia kembali meletakkan hpnya. Dilihatnya sekitar. Dirinya tertidur telanjang di kasur empuk kamar villa. Kamar yang luas dan mewah.

Dirasakannya sisa-sisa sperma mengering di hampir sekujur tubuhnya. serambi lempit dan anusnya terasa sedikit ngilu, semalaman dia dikerjai habis-habisan oleh Pak Tanto dan tiga kawannya sampai jam 4. Tak terhitung dirinya orgasme dan tak terhitung pula berapa kali rudal-rudal hitam beragam ukuran itu memasuki serambi lempit dan anusnya.

Pak Sakir tidur telentang di sampingnya, satu kakinya menumpang di kaki ustazah Lia. rudalnya nampak menjuntai diam, ada bunyi dengkurnya halus terdengar. Di sisinya yang lain Pak Karto nampak pulas tertidur menelungkup. Tangannya meraih ke arah tubuhnya, ustazah Lia ingat semalam pak Karto memang masih meremas-remas payudaranya yang licin oleh sperma sebelum dia tertidur.

Lalu ustazah lia menoleh ke belakangnya dan dia baru sadar semalam dia tidur berbantalkan pangkal selangkangan Pak Tanto. Masih diingatnya rudal pak tanto menepuk-nepuk pipinya dan dia masih sempat menjilat rudal yang berlumuran sperma campur cairan kewanitaannya itu sebelum dia menutup mata

Dengan hati-hati ustazah lia memindahkan kaki pak sakir ke samping. Lalu dia turun dari ranjang. Tak dilihatnya pak sahid. Tubuhnya terasa pegal-pegal, lalu dia beranjak menuju ke kamar mandi. Dia ingin membersihkan tubuhnya membuat tubuh yang kini bau sperma itu kembali wangi. Masih sembilan jam sebelum kontraknya habis.

Keluar dari kamar mandi, tubuhnya terasa sangat segar selepas mandi air hangat. Dengan tubuh bugil dia keluar dan setengah kaget mendapati Pak Sahid sedang berdiri bersandar di meja sambil tersenyum mengamatinya.

Sudah bangun Ukhti, sapanya.

Sudah dong Pak, jawab Ustazah Lia sambil berjalan menghampiri lelaki itu. cupppp, cupppp, keduanya berciuman mesra seperti sepasang suami istri. Pagi itu pak sahid hanya mengenakan kaus biasa dengan celana kolor. Sepertinya dia juga sudah mandi.

Nakal sekali kamu, ukhtiku, bisik pak sahid sambil menatap wajah ustazah lia, tangannya melingkar di pinggang memeluk sang ukhti.

Hihihi, ustazah lia hanya tertawa mengikik. Tangannya manja bergantung di leher pak sahid.

Pak sahid melepaskan pelukannya kemudian dia meraih bungkusan di meja. Ini buat pakaian ukhti hari ini, katanya sambil menyerahkan bungkusan itu. ustazah lia menerimanya dan langsung membukanya. Sementara itu tangan pak sahid nakal meremas-remas bokong ustazah alim itu.

Bagus sekali pakkk, seru ustazah lia. Di tangannya kini tergenggam sebuah baju gamis warna putih dengan kerut yang lumayan lebar di pinggang, model gamis peplum. Kainnya tipis menerawang. Biasanya baju gamis seperti itu memang dipakai sebagai rangkap luar, akan tetapi ustazah lia tahu bahwa pak sahid mengharapkan dirinya memakai itu tanpa rangkap dalam.

Dipakainya langsung baju gamis itu, dikombinasikan dengan kerudung hitam polos sepantat. Dilenggak lenggokkannya tubuhnya di depan pak sahid seperti peragawati. Pak sahid menelan ludahnya melihat pemandangan menggairahkan di depannya itu. tanpa sadar rudalnya menegang di bawah celana kolornya.

Ustazah lia tertawa melihat tonjolan di selangkangan pak sahid. Diremasnya rudal itu, ni si otong masih pagi udah minta jatah gini.

Pak sahid tak menjawab, dengus nafasnya terasa cepat. Tapi dia sadar bahwa ustazah lia mungkin masih belum kembali penuh staminanya, maka dia pun menahan diri. Ustazah, yuk minum teh dulu sama sarapan. Dia menarik tangan sang ustazah ke luar dari dalam ruangan, meninggalkan ketiga temannya yang masih mendengkur pulas kecapekan.

Keduanya kemudian keluar villa dan pergi ke gazebo. Dua pelayan mengikuti sambil membawa nampan penuh berisi beragam makanan dan minuman. Ustazah Lia dan pak Sahid duduk berdampingan seperti suami istri, punggung mereka bersandar ke dinding gasebo. Dari sana nampak jalan raya dan pemandangan indah di bawah. Villa itu memang terhitung ada di atas, maka selain sepi, hawanya juga sejuk dan pemandangannya menentramkan.

Keduanya menikmati sarapan sambil bercanda gurau dan tertawa-tawa. Sesekali tubuh ustazah lia menggeliat ketika tangan pak sahid mulai nakal kembali menggerayangi tubuhnya. Tak lama, nampak pak sakir keluar dari villa dan langsung menghampiri mereka sambil tersenyum lebar. Sepertinya dia sudah terbangun dan mandi. Tubuhnya telanjang sementara bagian bawahnya hanya memakai celana kolor.

Kalian asyik sekali nampaknya, jawabnya sambil naik ke gazebo, kemudian dia menyodorkan bibirnya yang langsung disambut oleh ustazah lia, cuppp cuppp cuppp, keduanya saling melumat dengan liar. Ciuman selamat pagi dari ustazahku yang jago menyetubuhi, kata pak sakir setelah lumatannya selesai. Dia kemudian menyambar paha ayam sambil bersila.

Ustazah Lia iseng menyelonjorkan kakinya lewat bawah meja kecil dan menumpangkannya di selangkangan pak sakir yang duduk di seberangnya. Ungghh, pak sakir sedikit menggeliat merasakan sentuhan itu, dia tak memakai celana dalam. Matanya langsung menatap ustazah lia dengan liar. Dari balik gamis putih menerawang itu puting kecokelatan ustazah lia membayang dengan jelas. Nakal kau ukhti, desisnya.

Ustazah Lia menjulurkan lidahnya. Sementara itu telapak kakinya dengan liar bergerak-gerak menyentuh-nyentuh rudal pak sakir yang lalu tak henti menggeliat. Pak sahid tertawa melihat itu. Tangannya kini mulai sibuk menggerayangi paha ustazah lia yang mulus dan lembut. Lalu mendadak terbetik rencana indah di pikirannya. Dia lalu berkata, ke gua jepang yuk, Capai ah pakkk, tinggi banget mendakinya. Sergah ustazah lia dengan nada manja

Setuju ayo ke sana, pak sakir tampaknya mengerti maksud pak sahid. Kalau ustazahku ini capai nanti aku bisa menggendongnya. Tubuhku masih kuat, sambungnya sambil memamerkan otot tubuhnya yang kekar.

Pada akhirnya ustazah lia setuju. Maka selesai sarapan mereka bertiga kembali masuk ke villa, di kamar tidur mereka pak karto masih mendengkur sementara pak tanto sedang asyik menghisap rokok sambil bertelanjang bulat. Kami mau ke gua jepang dulu, ikut kau, Tan? tanya pak sakir.

Pak Tanto menatap ustazah lia yang nampak seksi dengan baju gamis menerawang itu. diusap-usapnya rudalnya sambil memberi kode supaya ustazah lia menghampiri. Ustazah lia menurut lalu duduk di pangkuan pak tanto. Cupppp, diciumnya pipi pak tanto. Bussssshhh, pak tanto menghembuskan asap rokok ke wajah ustazah lia sampai dia serambi lempitik.

Ikhhhh, bapak merokokkk, ucapnya sambil mengipas-ngipaskan tangan.

Hehehe, ustazahku sudah wangi banget. Pak tanto tertawa. Tangannya meremas-remas pantat ustazah lia. Aku gak ikut, Kir, tubuhku gak bakalan kuat. Karto juga kayaknya. Kalian saja yang ke sana. Jawab pak Tanto sambil menoleh ke pak sakir.

Oke, jawab pak sakir yang saat itu sudah berpakaian lengkap, baju kaus, jaket, dan celana. Sementara pak sahid masih tetap dengan tampilannya semula.

Tapi kalian jam 3 balik ya, biar aku dan karto nerusin sisa pesta tiga jam, sambung pak tanto sambil mengedipkan matanya. Ustazah lia hanya tersenyum. Pak sakir mengangguk. Setelah satu kali lumatan di bibir seksi ustazah lia, pak tanto kemudian mendorong tubuh ustazah lia dari pangkuannya. Pak sakir, pak sahid, dan ustazah lia kemudian pergi ke gua jepang dengan mengendarai mobil, pak sakir menjadi sopir.

Tempat wisata gua jepang memang dekat dari villa mereka. Mobil hanya bisa sampai di parkiran, sementara untuk ke gua jepangnya mereka harus menempuh jalan setapak mendaki yang lumayan jauh.

Tiga orang, pak? tanya petugas karcis di loket. Matanya liar menatap tubuh ustazah lia yang memang nampak sangat menggiurkan. Ustazah lia kemudian sengaja berpose menggeliatkan tubuhnya dengan posisi menyamping membuat busungan dadanya yang sekal terekspos dengan jelas di mata petugas karcis itu.

Iya pak, jawab pak sakir. Pak sahid tersenyum geli mengamati petugas itu.

Si petugas menelan ludahnya kemudian memberikan tiga karcis. Melewati penjagaan itu, pak sakir tertawa ngakak. Tangannya meremas pantat ustazah lia yang berjalan di depannya. Kau nakal banget ukhti, bikin aku gregetan saja.

Hihihi, ah itu petugasnya saja yang mata keranjang, jawab ustazah lia sambil menepis tangan pak sakir. Pasti tu petugas langsung ke kamar mandi. Ngapain? tanya ustazah lia sambil menoleh ke pak sahid.

Col…ah! pak sahid tak mengira tangan mungil ustazah alim itu akan meremas rudalnya. Kau benar, Kir, ustazah kita ini binal sekali. Aku gak sabar pengen menyetubuhi dia.

Hussshhh, jangan berkata kotor di muka umum ya bapak bapak, seru ustazah lia dengan nada sopan. Tapi dia kemudian tertawa disusul oleh tawa pak sakir dan pak sahid. Ketiganya sudah sampai ke jalan setapak dan mulai mendaki. Perlahan tentu saja, karena mereka bisa menikmati pemandangan indah dari jalan setapak itu, rimbun pohonan area kaliurang, juga bunyi kicau burung yang jelas sudah tak bisa dinikmati di perkotaan.

Setengah perjalanan, ustazah lia berhenti. Memang ada perhentian di beberapa spot, berupa gubuk kecil tanpa dinding yang didirikan di beberapa belokan jalan setapak itu. dia berhenti dan duduk di sana. Keringat nampak membasahi gamisnya membuat gamis itu melekat dan menampakkan kulit lembutnya membayang. Pak sahid menelan ludahnya.

Capai ukhti? tanya pak sakir. Tangannya menyodorkan botol mizone yang tadi dibelinya dari pedagang yang memang ada di beberap spot sepanjang perjalanan. ceritasex.site

Iya sayang, jawab ustazah lia setelah meminum mizone. Nafasnya memburu. Dijulurkannya lidahnya menjilati cairan itu yang sebagian berleleran ke samping karena dia meminumnya terburu-buru. Pak sahid menatapi adegan itu dengan penuh gairah.

Kugendong ya? tanya pak sakir.

Ustazah lia menatap sekitar. Hanya ada mereka di jalur pendakian saat itu. memang saat mereka naik tadi mereka hanya berpapasan dengan orang-orang yang turun. Hanya ada berapa orang yang sudah mendahului mereka naik, sementara di jalur jalan belakang mereka tak nampak satu orang pun. Langit kaliurang yang mendadak mendung sepertinya membuat orang lebih memilih segera turun kembali.

Baiklah, jawab ustazah lia sambil berdiri. Pak sakir langsung membungkukkan tubuhnya dan ustazah lia naik ke punggungnya. Lalu dengan pak sakir menggendong ustazah lia, mereka meneruskan perjalanan ke atas. Bagi pak sakir dan pak sahid, mendung bukanlah halangan untuk meneruskan rencana mereka.

Kira-kira seperempat perjalanan lagi menuju puncak, mereka kembaii bertemu dengan orang-orang yang turun. Ada juga penjual yang sama mengikuti orang-orang itu. Mau hujan mas, jawab mereka tanpa disapa. Beberapa dari mereka mengamati ustazah lia yang digendong pak sakir. Dugaan mereka kedua orang itu adalah suami istri.

Nanggung pak, jawab pak sakir sambil tersenyum ramah.

Pak sahid yang mengikuti dari belakang mereka berdua lekat mengamati tubuh ustazah lia yang bergelayut di punggun pak sakir itu. sesekali tangannya dengan nakal mengelus bokong ustazah lia membuat ustazah lia menggeliat-geliat dalam gendongan pak sakir. Sementara itu langit makin mendung.

Sampai di gua jepang, hujan pun turun. Di sana hanya ada satu orang penjaga yang sepertinya merasa bosan juga sendirian di sana. Sudah tak ada pengunjung sama sekali.

Kok sepi mas? tanya pak sakir. Saat itu ustazah lia sudah turun dari gendongannya. Iya nih, sudah pada turun, hujan deres gini, saya juga sudah niat turun sebenarnya, sahut penjaga itu dengan nada kesal.

Ketiganya lalu masuk ke dalam gua. Gua jepang di sana terhitung pendek. Ada beberapa yang memang dalamnya saling bersambungan. Dari penjaga di depan tadi, mereka sudah menyewa senter untuk menerangi. Di satu ceruk gua yang sudah tak nampak dari luar, pak sakir mendadak memeluk ustazah lia erat-erat dari belakang. Tangannya yang kekar langsung menangkup kedua susu sekal ustazah lia.

Unghhhhh, ustazah lia menggeliat dengan gaya menggoda. Dia tak menolak pelukan itu melainkan justru bersandar di tubuh pak sakir. Tubuh ustazah lia yang berkeringat menimbulkan aroma yang membuat birahi pak sakir kian menggelora. Inilah yang direncanakannya dari tadi, menyetubuhi sang ustazah lonte itu di gua jepang. Betapa mendebarkannya.

Tubuhmu wangi sekali sayang, bisiknya di telinga ustazah lia. Dijilat-jilatnya telinga ustazah itu smpai kerudungnya basah. Tangan ustazah lia dengan liar bergerak di bawah, meremas selangkangan pak sakir. Pak sahid sementara itu sudah berjongkok di depan ustazah lia, disingkapkannya gamis sang ustazah dan langsung dibenamkannya mukanya di selangkangan ustazah lia yang berbau harum bercampur keringat.

Ahh shhhhhhh, ustazah lia mendesis merasakan jilatan lidah pak sahid di belahan serambi lempitnya. Tangannya menggapai leher pak sakir ke belakang, lalu dihadapkannya kepalanya ke samping yang langsung disambut dengan lumatan pak sakir di bibirnya.

Tangan kekar pak sakir masih meremas-remas susu sekal ustazah lia. Di luar gua bunyi deru hujan terdengar sangat deras. Hawa dingin merasuk ke dalam akan tetapi ketiganya merasa hangat karena syahwat. Tangan pak sakir yang satu meremas-remas pantat ustazah lia membuat pinggulnya bergerak-gerak, tertahan oleh cengkeraman tangan pak sahid di pahanya sambil mulutnya terus bergerak menyusuri serambi lempit ustazah lia.

Uhhh uhhhh, kalian ini, uhhh, mau menyetubuhiin ana di sini? bisik ustazah lia. Dia juga merasakan sensasi nikmat membayangkan bersetubuh di tempat umum sementara di depan ada seorang penjaga yang mungkin bisa memergoki mereka.

Iya sayang, ide yang nikmat kan? jawab pak sakir setengah berbisik. Tangannya membimbing tangan ustazah lia menyentuh rudalnya yang sudah dikeluarkannya dari risleting celananya. Ustazah lia tanpa harus disuruh langsung mengocok-ngocoknya penuh gairah.

Setelah beberapa saat, pak sakir sudah merasa syahwatnya naik ke ubun-ubun, didorongnya tubuh ustazah lia supaya membungkuk. Tangannya menyingkapkan gamis ustazah lia menyampirkannya ke pinggang. Lalu dengan liar dipegangnya rudalnya menyelinap ke bawah selangkangan ustazah lia, mencari lubang serambi lempitnya yang sudah basah oleh pak sahid. Pak sahid sendiri saat itu sedang berdiri menyulut rokoknya. Selangkangannya yang tertutupi celana kolor nampak menggembung.

Uhhhhh, pelan sayangg, uhhh, rintih ustazah lia saat pak sakir mulai mendorong rudalnya masuk ke serambi lempitnya. Pinggangnya dicengkeram oleh tangan pak sakir membuat tubuhnya yang membungkuk itu tidak jatuh ke depan. Uhhh uhhh, nikmatttt, dia kembali mendesah-desah binal.

Ustazah lonte, kuentot kau di tempat umum ahhh, ustazah alim lonte, pak sakir meracau sambil menusuk-nusukkan rudalnya dengan liar. Pak sahid masih mengamati mereka berdua beberapa saat. Mulutnya mengepulkan asap rokok penuh kenikmatan. Sesekali dia mengarahkan pandangannya ke mulut gua. Tak nampak si penjaga, hanya nampak kepulan asapnya sesekali, bercampur dengan kabut di puncak kaliurang.

Lalu pak sahid memasang posisi di depan ustazah lia. Tangannya memelorotkan celana kolornya ke lutut, membuat rudalnya yang sudah menegang menyembul menyentuh-nyentuh pipi ustazah lia. Pak sahid mengepaskan rudalnya di mulut ustazah lia yang langsung membuka.

Kulum ustazah alimmm, bisik pak sahid. Tangannya yang satu meraih kepala ustazah lia sementara yang satu memegang rokoknya.

Hhmmpppppp, ustazah lia mengulum rudal itu penuh gairah. Kini tubuhnya tertahan dari dua arah. Dari belakang dipegang oleh pak sakir, dari depan ditahan oleh pak sahid. Kedua lubang di tubuhnya sama-sama terisi rudal. Betapa nikmatnya persetubuhan yang menegangkan di tengah gelapnya gua jepang ini, begitu pikirnya.

Bibir seksi ustazah lia yang basah bersentuhan penuh kenikmatan dengan kulit rudal pak sahid. Pak sahid merem melek merasakan kenikmatan itu. hembusan rokoknya juga terasa kian nikmat. Persetubuhan kali ini benar-benar sesuatu yang di luar imajinasinya. Penuh kenikmatan, menyetubuhi ustazah yang seksi berkerudung panjang di tempat umum.

Uhhhh, serambi lempit yang ketat seperti perawannn, plakkk plakkk, sesekali pak sakir menampar pantat bulat ustazah lia. Suara persetubuhan mereka untungnya teredam oleh suara deras hujan di luar. Di kaliurang memang hujan sering sekali turun, seiring hawa dingin yang kini mereka enyahkan dengan hangatnya tubuh ustazah alim yang sedang mereka entot.

ngngng, mulut ustazah lia hanya mengeluarkan gumaman yang tak jelas. Mulutnya masih penuh oleh rudal pak sahid. Pak sahid sudah membuang rokoknya yang tinggal puntung. Kini tangannya memegang erat kepala ustazah lia. Jemarinya tak henti merangsang belakang telinga ustazah lia, memberikan rasa geli yang membuat tubuh ustazah berkerudung lebar itu melenting-lenting penuh kenikmatan.

Setelah beberapa saat, pak sakir merasakan rudalnya hampir memuncratkan mani. Dia memberi kode untuk berpindah posisi dengan pak sahid. Diberdirikannya tubuh ustazah lia yang kini bersandar di tubuhnya dengan nafas memburu. Pak sahid langsung berpindah seperti pak sakir tadi. rudalnya menusuk-nusuk serambi lempit ustazah lia yang kembali merintih-rintih.

Rintihan ustazah lia itu diredam kembali oleh rudal pak sakir. Cairan kewanitaannya yang melumuri rudal pak sakir terasa asin-asin lezat di lidahnya. Sementara itu tusukan pak sahid di serambi lempitnya juga terasa makin membangkitkan kenikmatan yang tadi sudah hampir mencapai puncaknya sebelum pak sakir mencabut rudalnya.

Sambil mengocok-ngocokkan rudalnya di mulut ustazah lia, tangan pak sakir meraih susu sekal ustazah lia dan meremas-remasnya membuat sang ustazah belingsatan bergerak-gerak ke kiri ke kanan ditahan dari depan dan belakang oleh dua rudal. Andai mulutnya tak dibekap rudal pasti sudah keluar erangan-erangan penuh kenikmatan dari sana.

Uhhhh, emang peret ni serambi lempit ustazah, aku tak tahann, hhhrrrr, racau pak sahid. Tusukannya makin liar dan makin liar seiring air maninya bergerak cepat dari pangkal rudalnya ke ujung kepala rudalnya itu. Aku keluar anjing, anjing anjjiiiiinggg, ustazah serambi lempit pereettttt, ahhhhhh, tubuhnya mengejang, tangannya mencengkram pinggang ustazah lia makin erat.

Tubuh ustazah lia tersentak ke depan saat dirasakannya pancutan-pancutan hangat dari rudal pak sahid di dalam rongga kenikmatannya itu. serrrrr, dirasakannya desiran syahwat di dadanya, saat itu pak sakir pun menusukkan rudalnya kuat-kuat sampai mencapai tenggorokannya, lalu crottt crottt crottttt, rudal itu memancutkan air mani banyak sekali membuat dirinya gelagapan dan sebisa mungkin langsung menelan semuanya. Tubuhnya kembali tersentak ke belakang, dan saat itulah tubuhnya mengejang mencapai pucak kenikmatannya.

Arhhhhhhhh, dia mendesis nikmat, rudal pak sakir yang masih mengangguk angguk meski sudah tak mengeluarkan lagi air mani yang sudah habis tertelan ustazah lia terlepas dari mulutnya. Tubuhnya bersandar ke belakang ke tubuh pak sahid yang sebisa mungkin menahan supaya tubuh keduanya tak terjatuh ke belakang.

Sleeeeppp, saat orgasmenya masih berlangsung, rudal pak sahid yang sudah mulai lembek terlepas dari serambi lempitnya. Tubuh ustazah lia sempoyongn ke depan, tangannya meraih pinggang pak sakir yang langsung menahan tubuhnya kuat-kuat supaya tidak jatuh.

Ahh ahhhhhhhh ahhhhhhh, serambi lempit ustazah lia berkedut-kedut lalu cairan kewanitannya muncrat berleleran di lantai gua jepang. Dia squirting saat multi orgasme menimpanya. Sensasi bersetubuh dengan dua orang laki-laki dalam ketegangan tempat wisata membuatnya merasakan kenikmatan yang tak terhingga seperti itu.

Setelah puncak kenikmatan itu berlalu, pak sakir mengangkat tubuh ustazah lia berdiri. Dilumatnya bibir sang ustazah penuh gairah. Lidahnya bergerak-gerak menimpa lidah ustazah lia, menjilat sisa-sisa air maninya yang tadi membasahi relung-relung rongga mulut ustazah lia.

Setelah mengatur nafasnya, pak sahid kembali menyulut sebatang rokok. Dimasukkannya rudalnya yang sudah lembek ke dalam celana kolornya. Demikian juga pak sakir. Dibantunya ustazah lia merapikan gamis dan kerudungnya. Setelah nafas mereka bertiga kembali seperti biasa, ketiganya lalu berjalan keluar dari gua.

Masih deras ya pak? sapa pak sahid pada si penjaga yang sedang merenung menatap hujan. Penjaga itu mengangguk. Mungkin sebentar lagi mas, jawabnya.

Rokok pak, pak sahid menawari penjaga itu rokok yang langsung disambutnya dengan gembira. Mereka berempat lalu mengobrol sambil menunggu hujan reda. Sesekali sembunyi-sembunyi tangan pak sakir meremas-remas pantat ustazah lia yang dibalas dengan kerlingan binalnya.

Karena hujan itu membuat mereka sedikit telat pulang kembali ke villa. Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat saat mereka sampai. Kedatangan mereka disambut oleh pak tanto dan pak karto yang sudah siap melanjutkan ke ronde selanjutnya. Untuk ke sekian kalinya tubuh molek ustazah lia yang tertutupi gamis putih tipis merangsang dan kerudung lebar hitam polos sepantat itu kembali jadi santapan dua bapak mesum itu. lubang-lubang kenikmatan ditubuh ustazah alim itu kembali disemprot oleh pancutan-pancutan air mani para majikan yang menyewanya.

Saat sudah waktunya ustazah lia pulang karena kontraknya sudah habis, tangan pak tanto masih meremas-remas susu sekal ustazah itu dengan gemas. Mereka berempat ada di ruang tamu dengan tubuh telanjang penuh keringat. Gamis putih ustazah lia sobek memanjang dari bagian dada ke selangkangan oleh renggutan kasar pak karto saat bersetubuh tadi. Hanya kerudungnya yang masih utuh.

Sudah sudah pak, besok besok lagi, pak sakir yang menghentikan pak tanto yang nampaknya masih pengen menyetubuhi itu.

Hehe iya ya, biar ustazah alim kita ini istirahat dulu. Gak seru kalau menyetubuhi pas udah lemas. Jawab pak tanto akhirnya.

Ustazah lia memang saat itu merasakan tubuhnya sudah sangat lelah. Bau keringat bercampur air mani keempat pria itu menguar dari tubuhnya. Sekujur tubuhnya terasa lengket, ada rasa ngilu juga di lubang serambi lempit dan mulutnya yang tak henti dikerjai rudal-rudal yang seolah tak pernah puas itu.

Pak Tanto mengeluarkan lembaran-lembaran uang dari dompetnya. Ditambahinya beberapa lembar lebih dari perjanjian sewa di awal. Ini buat bonus sayang, besok-besok lagi ya, ucapnya sambil ditepuk-tepukkannya lembaran uang itu di jembut ustazah lia.

Ustazah lia mengikik gembira. Diraihnya lembaran uang itu.

Ini tambahan dariku ustazah lonte, desis pak karto, dan ganti buat gamismu yang kubikin sobek, hahaha, dia meraih kepala ustazah lia dan melumat bibir seksinya sementara tangannya menyelipkan lembaran beberapa uang ratusan ribuan ke tangan ustazah lia. Ustazah lia membalas ciuman itu dengan binal sampai pak karto merasa rudalnya kembali menegang.

Ahhhh, kau ini, sialan, kalau kau jadi istriku kuentot kau tiap jam. Keluh pak karto sambil mengocok rudalnya.

Hahaha, ketiga lelaki rekannya itu tertawa keras, merasa lucu dengan keluhan pak karto.

Pak sakir dan pak sahid juga memberikan tambahan bonus lengkap dengan gaya perpisahan mereka masing-masing. Yang membuat ustazah lia terkejut adalah saat dia mencari-cari gamisnya dan tidak menemukannya.

Ustazah pulang tanpa gamis ya, buat kenang-kenangan kita, kata pak sakir dengan tatapan menggoda. Ehhh, masa? ustazah lia sedikit gugup. Mana bisa dia pulang dengan penampilan semacam itu. Iya sayang, copot saja gamis putih itu, udah gak layak pakai, bau juga, timpal pak sahid.

Akhirnya mau tak mau ustazah lia mencopot juga gamis putih yang memang sudah tak layak pakai itu. keempat lelaki tua itu memandang tubuh seksi ustazah lia dengan tatapan liar. Tubuhnya nampak mengkilap berlumur keringat dan juga air mani mereka di beberapa spot.

serambi lempitnya nampak dikelilingi jembut yang semrawut berlumur air mani, area payudaranya yang sekal nampak memerah akibat remasan kasar pak karto, ada beberapa tanda cupangan di leher sang ustazah meski langsung ditutupi oleh kerudung lebar sepinggang yang masih dipakai ustazah itu.

Dengan langkah menggoda, kaki memakai kaus kaki panjang khas ukhti alim dan high heel warna merah cerah, ustazah alim itu kemudian melangkah ke pintu. Di pintu dia membungkukkan kepalanya ke arah empat pria yang penuh nafsu birahi itu. kepalanya yang tertutup kerudung lebar menimbulkan sensasi yang langsung membuat keempat pria di sana mengocok rudal masing-masing yang kembali tegak.

Setelah itu ustazah lia masuk ke mobil yang kemarin menjemputnya. Sang sopir sesaat menatap pemandangan yang baru kali itu dia lihat. rudalnya mendadak menegang di balik celananya. Ahh, lonte lonte, sayang aku Cuma sopir, gak mungkin kuat bayar lonte muslimah seperti ini, keluhnya. Lalu diinjaknya gas dan perlahan mobil itu meninggalkan villa kaliurang tempat 24 jam ustazah lia memadu syahwat dengan empat pria bukan muhrimnya itu.

Saat hampir mencapai area kampus, ustazah lia mengirim sms meminta ustazah raudah menjemputnya tidak jauh dari area asrama syahamah. Sengaja dia meminta ustazah raudah menjemputnya di tempat gelap yang jarang ada orang nongkrong itu. lalu dimintanya juga ustazah raudah membawakannya bawahan mukena. untuk bagian pinggang ke atas tubuhnya toh kerudung lebarnya masih sanggup menutupi.

Sebelum keluar dari mobil, ustazah Lia menengok dulu kanan kiri. Dia sengaja meminta berhenti di jalan yang gelap, tepat di mana dia meminta ustazah raudah menunggunya. Saat itu jam 8 malam. Sudah dilihatnya ustazah raudah dan motornya menunggu di pinggir jalan.

Ukhti? ustazah raudah menatap sang ukhti heran. Dilihatnya sosok yang keluar dari mobil tanpa mengenakan pakaian, hanya memakai kerudung lebar itu. Ustazah lia tersenyum binal. Diraihnya bawahan mukena yang dibawakan ustazah raudah kemudian setelah menengok kanan kiri memastikan bahwa tak ada orang yang akan melihatnya, dia langsung memakainya.

Ayo, ukhti, kita pulang, begitu katanya sambil langsung naik ke sepeda motor di belakang ustazah Raudah. Di belakang kemudinya, si sopir mengamati sampai mereka berdua hilang dari pandangannya. Lalu dia kembali mengeluh sebelum menjalankan mobilnya. Dia tak langsung pulang melainkan mampir dulu ke sarkem, tempatnya memuaskan birahi yang bergejolak setelah melihat tubuh seksi ustazah lia, dengan membayar pelacur harga murah di sana. Hanya itulah tipe pelacur yang bisa dia sewa, bukan tipe pelacur alim seperti ustazah lia yang harganya tak terjangkau gajinya.

*****

Hari Minggu.

Hari itu Ustaz karim akhirnya benar-benar berangkat melaksanakan tugas yang diembannya dari kepartaian. Kepergiannya ke luar negeri yang berdasarkan rencana akan memakan waktu satu semester itu diantar oleh Alif dan Ustazah Aminah sampai di bandara. Sebelumnya sudah dilakukan acara perpisahan dengan semua rekan dan kolega di sekretariat umum kerpartaian.

Termasuk umi lilik dan abu fawaz juga hadir. Ustazah Aminah tentu saja merasa sedih meski dia berusaha juga untuk membuat kadar kesedihannya nampak lebih besar daripada yang benar-benar dirasakannya. Sementara itu Alif berusaha keras mengekang perasaan gembira dalam hatinya. Betapa tidak, dengan berangkatnya sang ayah, rencananya untuk memenyetubuhi ibunya menjadi makin mulus.

Jaga umi baik-baik ya Lif, ucap ustaz karim sambil memegang bahu anaknya. Alif mengangguk. Siap Abi, begitu jawabnya pendek sambil menunduk. Dalam hatinya dia menambahkan, akan kuentot habis-habisan umi dan kupuaskan syahwatnya setiap hari.

Abi, jangan lupa ngabarin umi sesering mungkin ya, ucap umi aminah sambil memeluk suaminya. Ustaz karim mengelus-elus punggung istrinya itu. semenjak dia memenyetubuhi ustazah raudah entah kenapa dirinya menjadi kurang berhasrat pada istrinya itu. dia tak pernah tahu bahwa istrinya tahu soal skandal yang dia buat itu.

Iya umi, doakan ya biar tugas abi lancar, begitu jawabnya.

Akhirnya perpisahan yang nampak mengharukan itu pun usai. Selesai keberangkatan ustaz karim, ustazah aminah dan alif pun kembali ke asrama syahamah. Alif langsung pergi ke kamarnya sementara umi aminah duduk di tepi ranjangnya. Benaknya dipenuhi oleh berbagai pikiran membuatnya pusing. Dari mulai birahinya yang terus menerus meminta mengulang adegan malam-malam memenyetubuhi Alif sampai khayalannya yang akhir-akhir ini semakin sukar dia kendalikan.

Aduhhhhh, rintihnya sambil memegang kepalanya. Pusing di sana tak tertahankan. Dibaringkannya tubuhnya di ranjang, berharap rasa pusing itu bisa sedikit reda. Dia sudah pernah mencoba meminum obat pereda sakit kepala akan tetapi tanpa hasil. Karena itulah kini dia sama sekali tak berniat meminum obat sama sekali. Dengan bantalnya ditekannya kepalanya dari atas. Cara itu biasanya membuat sakit kepalanya sedikit reda memang.

Ustazah aminah sedikit menduga-duga mungkin rasa pusing di kepalanya itu karena pikirannya terlalu banyak menanggung beban. Dia juga tak menyangkal bahwa dirinya masih menyimpan rasa marah pada ustaz karim karena merasa dikhianati. Belum lagi dia juga merasa kesal karena suaminya seolah tidak lagi bernafsu melihat dirinya. Tak heran dia menemukan dirinya sebenarnya tak terlalu sedih juga ditinggal oleh suaminya. Satu-satunya pria yang kini sering mengisi mimpinya adalah anaknya, Alif, pria yang memiliki rudal besar.

Kontoooolll, begitu tanpa sadar dia mendesah. Lalu dia kaget sendiri dan mengangkat bantal yang menutupi kepalanya. Diedarkannya pandangannya ke sekitar kamar, untung tak ada alif. Dia merasa sangat malu jika sampai anak kandungnya itu mendengar desahannya.

Merasa mentok tak bisa mengatasi masalahnya, ustazah aminah kemudian memutuskan untuk curhat ke umi lilik hamidah. Diraihnya hpnya dan dia langsung menghubungi kontak sang umi.

Terdengar ucapan salam dari seberang. Umi aminah pun menjawabnya.

Ada apa umi? umi lilik hamidah langsung mengajukan pertanyaan. Dia memang sudah bisa menebak apa yang akan diceritakan oleh umi aminah sesuai dengan rencana alif, akan tetapi dia jelas harus berpura-pura tidak tahu.

Emm, umi, ana mau curhat. Umi sibuk enggak. Ah kaya sama siapa saja antum ini. Ayo kalau mau curhat, tentang apa nih?

Makasih umi, ustazah aminah merasa terharu. Dia sama sekali tak mengira bahwa di balik kebaikan umi lilik itu ada rencana jahat tersembunyi. Begini, umi…. ustazah aminah lalu menceritakan masalahnya tentang rasa sakit di kepalanya yang menjadi-jadi belakangan ini. Tentu dia tak menceritakan tentang hubungannya dengan alif ataupun bahwa rasa sakit itu selalu hilang jika nafsu birahinya sudah dilampiaskan.

Nah gitu umi, gimana menurut pandangan umi? demikian ustazah aminah mengakhiri ceritanya dengan mengajukan pertanyaan. Oh gitu ya. Gampang umi, ana ada saran bagaimana kalau ke pengobatan alternatif saja?

Pengobatan alternatif? Gak mau ah umi, biasanya itu penuh dengan syirik. Lha tapi kan antum sudah nyoba minum obat dan tidak bisa sembuh kan? Menurut ana alternatifnya ya itu. Mmmm gak ada yang lain, umi? Ustazah Aminah masih merasa ragu.

Gak ada umi, eh jangan lupa lho dalam agama kita pun ada kepercayaan bahwa penyakit-penyakit yang disebabkan guna-guna itu ada lho umi. Siapa tahu justru gejala seperti itu yang menimpa umi sekarang.

Ahhh masa iya umi?

Iya. Umi juga dulu pernah ngalamin. Nah kalau antum setuju, besok ana antar deh ke tokoh pintar pengobatan alternatif. Tenang saja dia prakteknya enggak pake nyentuh-nyentuh dan ritual syirik kok, antum nanti Cuma diajak ngobrol. Yah, tapi orangnya memang agak nyentrik sih.

Nyentrik gimana umi? ustazah aminah mulai terpancing. Nah, udah deh, besok saja umi antar, oke? Biar antum cepat sembuh. Di seberang sana umi lilik tersenyum senang.

Emmm, baiklah umi kalau gitu. Ana percaya umi. Oke, oke, nah sekarang antum istirahat saja. Pokoknya sama umi ditanggung beres, hehe, Umi bisa saja. Makasih banyak ya umi. Antum selalu bantu ana nih. Maap ana merepotkan. Hushh, merepotkan apanya. Antum sudah ana anggap saudara sendiri kok. Ana seneng bisa bantu.

Heehee, iya umi,

Ustazah aminah kemudian menutup telponnya setelah mengucapkan salam. Hatinya kini agak tenang, setidaknya ada kemungkinan dirinya bisa sembuh dari penyakit yang menjengkelkan ini. Dia kemudian turun dari ranjangnya dan mengetuk pintu kamar Alif.

Lif, lif,

Pintu pun terbuka. Ada apa umi?

Besok alif antar umi ya.

Boleh, ke mana umi?

Ke rumahnya umi lilik. Nanti langsung ke pengobatan alternatif, umi agak sakit.

Ehhh, umi sakit apa? Alif pura-pura terkejut.

Sakit kepala lif, tadi kata umi lilik ini obatnya sepertinya bukan obat biasa.

Ada ada saja ya, yah yang penting umi cepat sembuh deh. Oke besok Alif siap ngantar.

Ustazah Aminah tersenyum lalu menutup kembali pintu sambung itu. Alif masih berdiri di depan pintu. Dia tersenyum lebar. Ustazah Aminah tak tahu bahwa Umi Lilik sudah bersekongkol pula dengan Alif soal pengobatan Alternatif itu. pengobatan Alternatif itu hanya akal-akalan. Yang benar adalah umi lilik sudah menyewa seorang kenalannya untuk berpura-pura menjadi ahli pengobatan alternatif. Tentu saja ke depannya itu akan berfungsi memuluskan rencana alif untuk memenyetubuhi ibu kandungnya.

*****

Besoknya, dengan mengendarai mobilnya, ustazah aminah pergi ke rumah umi lilik. Tentu saja ustazah aminah yang menyetir karena alif belum punya SIM. Terlalu berbahaya membiarkannya menyetir. Karena memang jarak ke rumah umi lilik dari asrama syahamah tidak terlalu jauh, mereka pun cepat sampai ke sana.

Sampai di sana nampak Umi Lilik dan Abu Fawaz sedang mengobrol di meja yang ada di halaman. Ukhti sofia juga ada di sana. Dia menatap Alif agak lama saat alif dan umi aminah menghampiri mereka. Alif mencoba bersikap biasa. Sementara itu umi lilik nampaknya sudah siap berangkat karena dia sudah berdandan.

Waduh waduh umi aminah, sama Alif, gimana kabarnya umi? Abu Fawaz menyambut. Duduk di sini duduk, Abu Fawaz akan bangkit dari kursinya, karena kursi di sana hanya ada empat.

Baik, abi, enggak usah abi, ana jemput umi kok, mau langsung pergi ini. Jawab Umi Aminah. Alif menyalami Abu Fawaz.

Oh gitu, baiklah, cepat-cepatan banget umi. Sambung Abu Fawaz. Umi Lilik langsung mengambil tas kecil seperti yang biasa dibawa ibu-ibu sosialita di meja. Ana pergi dulu ya abi, ucap umi lilik.

Hati-hati di jalan, umi, jawab abu fawaz. Oya, umi, Abu Fawaz berkata ke umi Aminah, soal pengabdian ustazah di Kalicangkir itu, emm, dia berhenti sejenak memandang ke istrinya, lalu dia melanjutkan, Umi Habibah juga ingin ikut.

Umi Habibah adalah istri kedua Abu Fawaz yang berusia tiga puluh tahunan. Oh begitu, beneran nih Abu? Umi Aminah menatapnya. Iya, umi, bisa kan?

Oh, bisa, bisa abu, nanti ana konfirmasi ke umi Latifah. Berarti kuota tinggal satu orang. Oya sepertinya berangkatnya bulan depan, ana belum ada kejelasan lagi soal itu dari umi Latifah. Jawab umi aminah. Setelah itu mereka berlalu.

Sekali lagi saat mereka bertiga berlalu, alif merasa bahwa ukhti sofia menatap kepergiannya. Dia masih sukar menebak sebenarnya apa yang ada di pikiran ukhti sofia saat itu. memang benar apa kata umi lilik bahwa untuk mendapatkan anaknya itu Alif harus benar-benar pelan pelan.

Ustazah Aminah menjadi sopir sementara Umi Lilik duduk di sampingnya sebagai penunjuk arah. Sementara itu Alif duduk di belakang. Sesekali mereka juga mengobrol dan sesekali tertawa ketika ada sesuatu yang lucu. Perjalanan itu lumayan lama khususnya karena daerah yang dituju ada di tengah perkampungan. Umi Lilik mengarahkan mobil yang mereka kendarai ke sebuah rumah kecil bercat hijau muda.

Ini rumahnya, umi, ucap Umi Lilik. Ustazah Aminah memarkir mobilnya di halaman yang sempit. Lalu ketiganya pun keluar dari mobil itu. sesekali Umi Lilik mengerling Alif tanpa sepengetahuan Ustazah Aminah. Alif hanya membalas dengan senyuman.

Setelah mengetuk pintu beberapa kali, barulah seseorang membuka pintu itu. Umi Lilik, selamat datang umi, kok tidak kabar-kabar dulu, untung ana tidak sedang keluar, masuk masuk, orang itu langsung mempersilahkan mereka masuk.

Di luar sangkaan Ustazah Aminah, si ahli pengobatan alternatif yang mengenalkan diri sebagai Pak Sarjito itu ternyata berpenampilan rapi dan sederhana. Peci hitam bertengger di kepalanya. Senyum ramah juga selalu menghiasai bibirnya. Dalam hatinya Alif membatin bahwa pilihan Umi Lilik memang sangat tepat.

Emm, gimana umi? Apakah umi sengaja datang ke sini hanya untuk silaturahmi, atau… Pak Sardjito mulai berbicara lagi setelah disodorkannya tiga gelas teh hangat untuk tiga tamunya itu. kini mereka berempat duduk di karpet kembang-kembang hijau yang terhampar di ruang tamu rumah itu. rumah yang kecil memang dan nampak sederhana.

Oh, yang pertama jelas silaturahmi, pak, kan silaturahmi itu memperlancar rezeki, jawab umi Lilik sambil tertawa. Yang kedua, saya mengantar teman saya ini, yang sudah seperti saudara sebenarnya. Ia sedang ada masalah, siapa tahu bapak bisa membantunya.

Pak Sarjito menatap Ustazah Aminah lekat-lekat. Lalu dia tersenyum. Ustazah menjabat di partai juga ya? Dia menyebutkan jabatan ustazah aminah.

Ustazah Aminah terperanjat. Kata-kata pak sarjito memang tepat. Dia menoleh kepada umi lilik tapi umi lilik hanya tersenyum. Dengan senyumnya itu ustazah aminah memaknai bahwa sang umi tidak pernah menceritakan tentang ustazah aminah pada pak sarjito. Lalu dari mana bapak ini tahu?

Benar pak? jawab ustazah aminah. Kok bapak bisa tahu? sambungnya penasaran. Pak sarjito kembali tersenyum. Kadangkala kita memang diberi beberapa kelebihan oleh yang di atas, ana juga misalnya tahu bahwa hari ulang tahun ustazah sebentar lagi ya? pak sarjito menyebut tanggal lahir ustazah Aminah.

Untuk kedua kalinya ustazah aminah terkejut. Tanggal yang disebutkan pak sarjito benar-benar tepat. Dalam hatinya mulai tumbuh kepercayaan bahwa pak sarjito memang benar-benar seorang linuwih. Maka dalam hatinya dia berharap bahwa penyakitnya ini bisa disembuhkan oleh bapak itu.

Nah, kita mau ngobrol-ngobrol dulu atau gimana umi? Mau langsung ana diagnosis? Gimana perjalanan tadi? Gak ada masalah kan?

Ustazah Aminah memandang umi lilik. Umi lilik lalu menjawab. sepertinya langsung saja pak, toh perjalanan kami tadi tidak melelahkan kok. Lagipula hawanya di sini benar-benar segar.

Baiklah. Umi aminah bisa ikut saya ke ruangan sebelah. Umi Lilik tunggu saja di sini dengan Alif ya, sahut pak sarjito. Untuk kali ini ustazah aminah tidak heran sebab tadi dia dan alif sudah memperkenalkan nama mereka kepada pak sarjito. Pak sarjito mendahului masuk ke ruangan yang dipisahkan oleh pintu kayu. Ustazah Aminah mengikuti.

Paling Cuma setengah jam kok biasanya umi, umi lilik berbisik di telinganya tadi.

Ruangan yang dimasuki ustazah Aminah adalah ruangan kecil, seperti kamar. Di sana tidak ada perabotan, hanya ada meja dengan dua kursi saling berhadapan. Ada setumpuk kertas di meja dan juga satu pulpen warna merah. Ruangan itu sangat bersih dan juga wangi. Pak sarjito duduk di satu kursi sementara dia memberi isyarat supaya ustazah aminah duduk di kursi satunya menghadap dirinya, dipisahkan oleh meja.

Dengan lega ustazah aminah duduk di kursi itu. bayangan-bayangan buruknya tentang pengobatan alternatif langsung hilang. Pikirannya merasa tenang dan untuk kesekian kalinya dia berterima kasih pada umi lilik yang telah membantunya untuk memecahkan masalahnya seperti sekarang ini.

Nah, kini umi ceritakan saja masalah umi ke ana. Begitu kata pak sarjito dengan sopan.

Baik pak, jawab ustazah aminah. Lalu dia mulai menceritakan masalah yang dia hadapi secara kronologis. Cerita yang dia kisahkan sama persis dengan ceritanya kepada umi lilik. Dengan kata lain, ada beberapa bagian yang dia sembunyikan terutama yang berkaitan dengan hubungan seksualitasnya dengan anak kandungnya sendiri yaitu Alif.

Sepeninggal ustazah aminah dan pak sarjito, di ruang tamu, Alif menggeser duduknya ke samping umi lilik yang duduk bersandar di dinding sambil senyum-senyum. Kepalanya mendekat ke telinga umi lilik kemudian dia berbisik, Umi cantik sekali.

Cantik siapa sama umi aminah? jawab umi lilik. Mmmmm, sebelas dua belas deh, jawab Alif sekenanya. Tangannya perlahan menyentuh paha umi lilik, mengelus-elusnya pelan. Pinter ngeles ya sekarang, jawab umi lilik, lalu dia tersenyum. Iya dong, suaminya umi lilik gitu,

Umi lilik mengikik tertahan. Hari itu umi lilik mengenakan gamis modern warna abu-abu dengan hiasan kembang-kembang merah di beberapa bagian. Kerudung yang dia kenakan adalah kerudung biru sepinggang. Kakinya, sebagaimana biasanya para akhwat dan ummahat, ditutupi oleh kaus kaki panjang warna cokelat.

Tangan Alif semakin giat menggerayangi paha umi lilik. Bahkan kini tangannya yang satu lagi mulai nakal merangkul pinggang umi lilik. Nakal ya, gak pandang tempat kamu ini, umi lilik berbisik di telinga Alif. Hembusan nafasnya terasa hangat menggairahkan.

Alif tak menjawab. Dia baru akan menyentuh dada umi lilik ketika umi lilik mendadak bangkit. Ternyata dia mau menutup pintu rumah. Saat melangkah itu digeol-geolkannya pinggulnya membuat Alif senyum-senyum senang. Lalu umi lilik kembali duduk, kali ini disandarkannya tubuhnya di dada Alif. Alif memeluk tubuh umi alim sahabat ibu kandungnya itu.

Umi tadi malam menyetubuhi enggak sama abu fawaz? Tanyanya. Tangannya meremas-remas payudara umi lilik dari balik gamis. Unghh, iya dong sayang, jawab umi lilik. Kepalanya menengadah tepat di bawah dagu Alif. Enak? Sampai orgasme enggak? kini tangan Alif menngelus-elus dagu umi lilik lembut.

Enak apanya. Baru lima menit dia sudah ngecrott. Beda benar sama kamu, nafas umi lilik terdengar mulai memburu. Remasan alif di payudaranya terasa nikmat. Dia yakin puting susunya yang tak terlindungi beha sudah mencuat di balik gamisnya.

Hehe, Alif entotin sekarang ya? bisik Alif lagi.

Tap…mmmmmm, kata-kata umi lilik terputus karena bibir Alif sudah melumat bibirnya dengan ganas. Dibalasanya lumatan itu dengan penuh kenikmatan. Memang posisi kepalanya yang tepat di bawah kepala Alif terlalu menggoda bagi Alif untuk dilewatkan. Dihisap-hisapnya bibir ustazah itu penuh gairah. Di bawah, satu tangannya membimbing tangan umi lilik ke selangkangannya, diusap-usapkannya lembut, membangkitkan rudalnya yang mulai menggeliat.

Tak perlu disuruh, umi lilik mengusap-usap rudal yang selalu dirindukannya itu. bibir keduanya masih saling melumat, berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan bunyi supaya tidak ketahuan ustazah aminah yang sedang menceritakan sakit kepalanya pada pak sarjito di ruangan sebelah.

Sayang, waktu kita sedikit, jangan lama-lama, bisik umi lilik di sela gairah syahwatnya yang memburu.

Alif mengerti. Mereka hanya memiliki waktu setengah jam. Sangat singkat, tapi dia sudah ahli menatur tempo permainan, maka disambutnya juga kesempatan memenyetubuhi umi lilik saat itu. Buka resletingku sayang, bisiknya di telinga umi lilik. Alif sudah lama tak disepong ustazah alim istriku ini, sambungnya sambil meremas pantat umi lilik.

Umi lilik langsung pindah posisi jongkok di depan selangkangan alif. Alif menyelonjorkan kakinya supaya mudah membuka risleting. Sreeeek, lalu dengan penuh gairah umi lilik mengeluarkan rudal alif. Ternyata saat itu Alif pun tidak mengenakan celana dalam.

Umi pun tidak pakai celana dalam, sayang, bisik umi lilik membangkitkan gairah Alif.

Uhhhh, Alif hanya bisa melenguh tertahan saat mulut binal umi lilik mulai mengulum dan menghisap-hisap rudalnya. Ada gairah tersendiri bercumbu dengan umi lilik sementara di ruangan sebelah ibunya sewaktu-waktu bisa saja keluar dan memergoki mereka. Tangannya dengan lembut mengusap-usap kepala umi lilik yang turun naik dengan penuh semangat.

Slllppp sllllp sllllp, suara khas kuluman umi lilik di rudal alif teredam suara percakapan umi aminah dan pak sarjito di ruangan sebelah yang lumayan keras. Mereka berdua mencoba sebisa mungkin bercumbu tanpa mengeluarkan suara berisik. Walau bagaimanapun mereka berdua tak mau menimbulkan kecurigaan umi aminah.

Terus sayang, terusss, ahh nikmatnya, bisik Alif. Tangannya meraba-raba cuping telinga umi aminah dari balik kerudungnya. Umi lilik sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya merasakan geli campur nikmat dari usapan alif itu. jika mengikuti nafsunya maka sekarang dia sudah menelanjangi tubuh anak muda yang sudah dia anggap suami keduanya itu.

Umii, ahhh, sudah umii, giliranku, seru alif lagi saat dirasakannya hisapan umi lilik sudah membangkitkan gairahnya terlalu tinggi. Suasana tegang takut ketahuan ibunya ini memang membangkitkan syahwatnya lebih cepat. Hisapan dan kuluman umi lilik pun terasa lebih nikmat daripada biasanya.

Umi lilik menyudahi kulumannya. Dia duduk dan menjilat jilat bibirnya dengan lidahnya menggoda. Alif yang tak tahan langsung berdiri menarik umi lilik dan melumat bibirnya dalam posisi seperti itu. sementara tangannya menarik ujung gamis yang dipakkai umi lilik, menariknya ke atas perlahan lahan sampai ke pinggang.

Lalu perlahan pula Alif menurunkan tubuhnya menggelitik dada dan perut umi lilik dengan kepalanya, lalu kepala itu pun mencapai serambi lempit umi lilik yang sudah terbuka karena gamisnya yang tersingkap. Slllurrrpppp slurrppppp, bunyi jilatan lidah Alif terdengar pelan di ruangan itu. satu tangan umi lilik memegang ujung gamisnya menjaganya supaya tidak menutupi kepala Alif, sementara satu tangannya lagi meremas-remas rambut Alif menyalurkan gairahnya.

Digigit-gigitnya bibirnya, menjaga supaya dia tidak mengeluarkan desahan keras. Lidah Alif terasa menggoda area-area sensitif di selangkangannya membuat lututnya terasa lemas ingin duduk. Akan tetapi dikuatkannya kakinya menopang tubuhnya supaya alif bisa terus menikmati sensasi menjilati serambi lempitnya yang sudah basah itu.

Andai ustazah aminah keluar dari ruangannya saat itu, maka dia akan mendapati pemandangan yang sangat menggairahkan. Seorang ustazah sedang berdiri dengan gamis tersingkap sampai ke pinggang, serambi lempitnya sedang dijilati oleh anak kandung ustazah aminah dengan liar. Paha ustazah itu nampak putih bersih, di bawah lututnya kaus kaki warna cokelat menutupi sampai ke telapak kakinya. Satu tangan alif memeluk paha umi lilik dengan kuat, sementara tangannya yang satu lagi mengelus-elus betis umi lilik yang ditutupi kaus kaki itu.

Ahhh, sayanggg, umi lilik tak tahan juga mengeluarkan desahan pelan. Sentuhan tangan alif di betisnya terasa membuat bebuluan di sana meremang. Nikmat. Sementara lidah alif juga semakin liar dan kini mulut anak itu mencucup klentitnya membuat matanya merem melek menikmati rangsangan yang penuh kenikmatan itu.

Kulitmu halus sekali umiku, bisik alif di sela kucupannya. Jemarinya sesekali masuk ke bagian atas kaus kaki, menariknya membuat kaus kaki itu meregang, kemudian melepaskannya. Sensasi permainan alif itu terasa membuat serambi lempit umi lilik makin basah. Air liur alif sudah membasahi jembutnya juga membuat pinggulnya bergerak-gerak tak tahan. Geli campur nikmat. Di bawah, rudal Alif sudah berdenyut-denyut mengharapkan secepat mungkin menemukan sarangnya, gua suci sang ustazah yang tersembunyi di balik rimbun bulu-bulu hitam basah di selangkangan umi lilik hamidah.

Alif menyudahi jilatannya dan kembali berdiri. Direngkuhnya pinggang ramping umi lilik dan dipeluknya erat. Keduanya kembali saling melumat bibir dan saling bertukar lidah dalam rongga mulut mereka. Kehangatan menyebar membuat dada mereka kian berdebar merasakan percumbuan terlarang di ruang tamu rumah itu.

Setelah puas, alif melepaskan pelukannya, lalu dia kembali memasang posisi duduk berselonjor sambil bersandar di dinding. rudalnya tegak mengacung melalui risleting celananya yang terbuka. Masih dengan memegang ujung gamisnya, umi lilik mengambil posisi menghadap alif, serambi lempitnya dipaskannya ke kepala rudal alif yang mengembang seperti jamur itu. setelah merasa pas diturunkannya tubuhnya perlahan…

Sleeepppp,

uhhh, keduanya mendesah bersamaan saat serambi lempit dan rudal bersatu. Umi lilik melepaskan pegangannya di ujung gamisnya dan tangannya kini menekan bahu alif pelan. Ujung gamis itu pun turun menyungkup pinggang dan selangkangan alif. Di bawahnya, tertutupi gamis itu, rudal alif mulai menujah-nujah serambi lempit umi lilik seiring dengan gerakan umi lilik yang menaikturunkan tubuhnya.

serambi lempitmu hangat sekali umi istriku, bisik alif. Kepalanya menengadah, menatap wajah umi lilik yang menunduk balas menatapnya.

Hhhng hhhnngg, rudalmu keras sayang,, jawab umi lilik. Matanya menatap mesra wajah alif. Dengan tangannya, dipegangnya dan dielus-elusnya pipi anak itu. tangan alif kini mulai bergerak meraih pinggang umi lilik. Sementara tangannya yang satu lagi meremas-remas payudara umi lilik yang membusung terlindungi gamisnya.

Umi cantik, umi menggairahkan, pengen menyetubuhiin umi terusss, ahh, umi, umi, Alif kembali berbisik penuh gairah. Payudara umi lilik terasa lembut bergerak-gerak seirama remasannya. Dia ingin merobek gamis itu dan menghisap-hisap susu di baliknya tapi dia teringat ibunya yang sebentar lagi keluar dari ruangan sebelah. Maka ditahannya hasratnya dan sesekali digerakkannya pinggulnya mengimbangi kocokan serambi lempit umi lilik yang terus menaik turunkan pinggulnya itu.

puaskan umi sayang, puaskan istrimu ini, jawab umi lilik. serambi lempit umi Cuma puas oleh rudal besarmu. Sambungnya lagi. Tangannya meremas-remas bahu alif lalu bergerak nakal ke belakang lehernya menyusuri ke bawah ke alur punggung alif membuat alif menggeliat-geliat kegelian.

Iya umi, kuentot kamu di mana pun. Kuentot kamu kapanpun.

Bahkan saat umimu ada di kamar sebelahhh…. sambung umi lilik. Dia mengikik pelan. Pinggulnya bergerak-gerak memutar membuat rudal alif serasa dihisap ruang hampa rongga serambi lempit umi lilik. Terasa nikmat dan membuat rudalnya berkedut-kedut kian menegang.

Sesekali Alif menoleh ke pintu ruang sebelah. Masih terdengar sesekali suara ustazah aminah di sana meski tak jelas apa yang dikatakannya. Tangan alif meremas-remas pinggang umi lilik yang sudah setua itu masih terasa ramping dan sekal. Hanya di bagian perutnya memang sedikit menggembung ke depan, tapi itu justru membuat umi yang alim itu makin menggairahkan di mata alif. Dielus-elusnya perut itu dengan tangannya yang menyelinap ke balik gamisnya.

Uuuuuh uuhhhhh, kamu suka perut umi sayang? tanya umi lilik sambil mengelus-elus rambut alif. Suka sekali umi, pengen alif puncratin mani alif di pusar umi, sahut alif tak kalah liarnya. Umi sukaa sayang, umi suka kamu yang liarr seperti itu,

Terus gerakin pinggul umi, terusss, nah gitu, ahh ahh, nikmatnya umi, nikmatttt, racauan alif pelan terdengar menimpali bisikan umi lilik.

Persetubuhan terlarang kedua insan itu kian panas di ruang tamu. Di kamar sebelah, ustazah aminah baru selesai menceritakan semua kisahnya. Pak sarjito nampak merenung sejenak. Kemudian dia mengajukan pertanyaan untuk memperjelas: jadi umi sudah mencoba mengobati dengan menggunakan obat standar, dan tidak berkurang?

Ustazah Aminah mengangguk. tidak berkurang sama sekali, pak, malah terasa kian sakit kepala ini. Pak sarjito mengangguk-angguk. Kemudian mulutnya komat-kamit sementara matanya dipejamkannya. Ustazah aminah menatapnya tanpa mengatakan apapun. Dia bingung dan hanya bisa menunggu.

Ada sekitar lima menitan pak sarjito bersikap seperti itu. lalu masih dengan mata tertutup, tangannya meraih satu kertas putih dan pulpen merah. Tangannya mencoretkan sesuatu dengan cepat di sana. Umi aminah ingin mengintip apa yang dituliskan pak sarjito akan tetapi dia merasa segan juga. Maka dia memilih tetap menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Uhhhhhh uhhhhh, umi hampir keluar sayanggg, di ruang tamu umi lilik berbisik di telinga alif. Tangannya kian kuat meremas bahu alif. Dirasakannya keringat mulai muncul di leher anak itu.

Alif balas mendesah. Dia juga merasakan kedutan di rudalnya makin kerap setiap kali dirasakannya serambi lempit umi lilik menekan dari atas. Alif juga umi, ahhh, terus tekan umiii, balasnya.

Plopp ploppp ploppp, suara peraduan serambi lempit dan rudal di ruang tamu itu teredam oleh gamis umi lilik yang menyungkup selangkangan Alif. Tangan alif meraih kaki umi lilik dan kembali meremas-remas betis umi lilik yang terlindungi kaus kaki cokelatnya.

Auhhhh, umi…umii….nghhhhhhmnn, Umi Lilik seperti tersedak. Pinggulnya bergoyang makin liar. Alif yang tahu umi lilik hampir mencapai orgasme lalu meraih tubuh umi lilik dan mendorongnya terlentang. Ditusukkannya rudalnya kuat-kuat ke lubang kenikmatan itu. sesuatu terasa bergerak cepat dari pangkal rudalnya ke kepala rudalnya.

Uuuuuuhhhhhhhhmmmm, lenguhan panjang umi lilik diredam oleh bibir alif yang melumat bibir umi lilik. Selangkangan keduanya menyatu kuat-kuat. serambi lempit umi lilik mengempot kuat sebelum kemudian memancutkan cairan orgasmenya seiring dengan pancutan mani alif yang juga mencapai orgasme pada saat yang bersamaan.

Keduanya saling memeluk erat dengan mulut saling melumat saat puncak kenikmatan itu datang. Lalu tubuh yang tergeletak di atas karpet ruang tamu itu mengejat-ngejat dan berkelojotan beberapa saat sebelum kemudian diam.

Hhh hhh hhh, nafas umi lilik terdengar memburu saat akhirnya alif melepaskan bibirnya. Dengan hati-hati alif mengangkat tubuhnya, melepaskan rudalnya dari serambi lempit hangat umi lilik hamidah. Saat itulah mereka berdua mendengar ucapan ustazah aminah yang nampaknya hampir keluar dari ruangannya.

Dengan cepat alif memasukkan rudalnya yang berlumuran cairan kenikmatan umi lilik ke dalam celananya, risletingnya ditutup langsung. rudalnya yang masih menegang terasa mengganjal dan nampak bagian selangkangannya kembung. Dia langsung duduk bersila membelakangi pintu rumah, pura-pura memegang gelas teh hangat sambil mencoba sebisa mungkin menenangkan nafasnya yang tak teratur.

Umi lilik juga langsung membenahi gamisnya dan duduk bersimpuh membelakangi dinding, agak jauh dari alif. Diusapnya keringat yang muncul di wajahnya dengan kerudung lebarnya. Dia lalu menundukkan kepalanya berlagak mengamati layar hpnya.

Beberapa detik kemudian, ustazah aminah keluar dari ruangan sebelah diikuti oleh pak sarjito. Tak ada prasangka apapun pada diri ustazah aminah melihat kedua orang yang menantinya di ruang tamu itu. dia langsung duduk di dekat umi lilik dan meraih gelas tehnya.

Sudah umi? tanya umi lilik dengan suara yang diusahakannya sebisa mungkin biasa. Di bawah, di selangkangannya, dirasakannya air mani alif mengalir keluar sedikit, membasahi jembutnya.

Sudah umi, jawab ustazah aminah sambil mengangguk pula ke arah pak sarjito yang kini duduk bergabung di dekat mereka. Mereka berempat kemudian mengobrol beberapa saat. Beruntung bahwa yang banyak berkata saat itu adalah ustazah aminah dan pak sarjito sehingga baik alif maupun umi lilik bisa dengan mudah mengatur nafas mereka setelah persetubuhan yang sangat menegangkan tadi.

Kemudian mereka bertiga pamit pulang. Kepergian mereka diantar oleh pak sarjito sampai ke ambang pintu. Bagaimana tadi umi? tanya umi lilik dalam perjalanan pulang.

Lancar, umi, sahut ustazah aminah. Tadi pak sarjito memberikan amplop berisi kertas yang sudah ditulisi. Katanya ana boleh membuka dan membacanya saat sudah sampai ke rumah. Isinya adalah petunjuk pengobatan

Oh gitu, jawab umi lilik. Tangannya meletakkan tasnya di atas pangkuannya. Cairan mani alif yang keluar dari serambi lempitnya membasahi sedikit gamisnya di area selangkangannya, maka dia menutupinya dengan tas itu. Memang begitu kok cara pengobatannya.

Memang nyentrik ya umi, sambung ustazah aminah sambil tersenyum. Matanya asyik mengamati jalanan sambil memajukan mobilnya.

Hehe, apa kata umi, jawab umi lilik. Tangannya sibuk dengan hpnya. Dia sedang melakukan transaksi internet banking, mentransfer uang bayaran yang dia janjikan bersama alif untuk pak sarjito, tokoh ahli pengobatan jadi-jadian sewaan dia tadi. Setelah beres, dia menolehkan kepalanya ke belakang ke arah alif yang duduk bersandar di jok belakanng.

Alif kok diam saja? matanya mengedip memberi kode. Hehe, bagi alif sih yang penting semua beres ya kan mi? dia balas mengedipkan matanya. Iya sayang, ustazah aminah membalas dari belakang kemudi. Cerita dewasa ini dipublish oleh ngocoks.com

Setelah mengantarkan umi lilik ke rumahnya, ustazah aminah langsung pulang bersama alif. Dirinya merasa sangat penasaran dengan isi amplop dari pak sarjito tadi makanya dia menolak ajakan mampir dari umi lilik. Satu-satunya yang diinginkannya saat itu adalah segera sampai ke asrama syahamah dan mengetahui apa saran pengobatan yang diajukan oleh pak sarjito.

Sampai di asrama syahamah, alif yang tahu bahwa ustazah aminah membutuhkan waktu privat untuk membuka amplop itu langsung pergi ke kamarnya sendiri. Sementara itu, ustazah aminah langsung duduk di pinggir ranjangnya setelah mengambil amplop dari tasnya yang lalu dia letakkan di atas meja.

Dengan hati berdebar, ustazah Aminah membuka amplop itu. Hanya ada selembar kertas di sana. Kertas warna putih dengan tinta merah. Dibacanya coretan singkat dengan tulisan tangan buruk yang tertulis di sana, dan dia tersentak. Isi surat itu sederhana dan singkat.

Diagnosis si ahli pengobatan alternatif itu ternyata bahwa ada orang iri yang mengguna-guna umi aminah dengan guna-guna yang sangat ampuh. Guna-guna itu dilakukan dengan ritual persetubuhan seorang ibu dengan anak kandungnya selama tujuh hari tujuh malam. Akibat dari guna-guna itu, selama tiga bulan orang yang dikenai guna-guna akan merasa sakit di kepala, lalu setelah itu dia akan meninggal.

Solusi penyembuhannya hanya ada satu cara, demikian tertulis di kertas itu. ustazah aminah harus bersetubuh dengan anak kandungnya selama empat minggu. Dengan demikian guna-guna itu akan berbalik kembali pada si pengirim dan ustazah aminah akan sembuh total.

Bersambung… Ustazah Aminah menatap kertas putih dengan coretan warna merah itu sambil meraba kepalanya yang akhir-akhir ini semakin pusing. Saat itu dua hari setelah dia pergi ke pengobatan alternatif bersama umi lilik dan dia masih belum mengambil keputusan langkah apa yang akan dia ambil. Dia masih bimbang. Kemarin dia sudah mengunjungi umi lilik, berdebat panjang dengannya yang intinya umi lilik mendukung keputusan pengobatan alternatif itu.

Di satu sisi antum kan tidak mau, umi, jelas, ana juga tak bakalan mau dalam kondisi biasa, tapi ingat bahwa ini mungkin satu-satunya cara supaya antum sembuh. Ustaz karim sudah berangkat, kan? Nah, ana yakin penyakit pusing di kepala antum akan semakin menjadi-jadi juga karena antum sudah tak memiliki pelindung sama sekali. Jadi kalau menurut ana ini merupakan satu-satunya pilihan buruk di antara beberapa yang paling buruk.

Ustazah Aminah diam. Lalu dia mengangkat kepalanya sambil berkata ragu, Tapi….masa sama Alif, umi, anak kandung ana. Sama pria lain pun haram, apalagi sama anak kandung sendiri, makin haram itu.

Aisshhh, Umi Lilik mengibaskan tangannya. Ingat bahwa darurat itu membolehkan segala yang haram. Antum pasti sudah paham itu.

Umi Aminah semakin menunduk.

Sambil diminum tehnya, umi, Umi Lilik mencoba mencairkan suasana. Didahuluinya mengambil gelas teh. Umi Aminah menyusul. Umi Lilik tersenyum dalam hatinya. Sesuai petunjuk Alif, dirinya sudah mencampurkan obat perangsang juga ke dalam teh umi Aminah.

Emm, umi, Umi Aminah berkata dengan ragu. Kalaupun misalnya ana mengambil saran pengobatan ini, gimana menurut umi langkah-langkahnya?

Begini, antum sudah ngobrol dengan Alif belum, umi? Umi Lilik malah balas bertanya.

Be..belum, umi, ana malu. Umi Aminah nampak gelisah.

Nah, menurut ana sebaiknya antum sesegera mungkin ngobrolin ini dulu sama Alif. Hal semacam ini tak mungkin diobrolin melalui perantara. Yang perlu diobrolkan itu misalnya kesediaan dia ataupun masalah peraturan yang harus disepakati antara kalian berdua. Ngocoks.com Toh ini kan hanya untuk pengobatan, jadi hubungan antum dengan Alif jelas tidak sesederhana hubungan suami istri antara antum dengan ustaz karim.

Saran Umi Lilik terdengar sangat bijak di telinga umi Aminah. Meski demikian, hati kecilnya jelas menduga bahwa Alif dengan senang hati akan menyetujuinya. Demikian juga dirasakannya dalam dirinya ada keinginan yang kuat untuk menggunakan momen ini supaya dia dapat menikmati rudal Alif anak kandungnya itu dalam keadaan sadar.

Dengan kata lain, jika sekarang dia nampak ogah-ogahan di depan umi Lilik, dia hanyalah membangun imej supaya dirinya tidak terkesan murahan. Dia membutuhkan dukungan sehingga seolah-olah dirinya mau menuruti saran pengobatan itu setelah mendapatkan saran tambahan dari umi Lilik.

Di sisi lain, Umi Aminah juga berpikir bahwa selain nanti pusing di kepalanya bisa sembuh, dia juga bisa sekalian menuruti saran Ustazah Lia supaya anaknya nanti tidak terjerumus pada pelacuran yang kotor.

Baiklah, umi, nanti ana akan ngobrolin ini dulu dengan Alif. Akhirnya umi Aminah mengambil keputusan. Nahh, begitu, ana ikut bahagia jika sakit antum kemudian sembuh. Umi Lilik tersenyum senang. Oya, umi sebaiknya nanti kawin kontrak saja, umi, untuk mengurangi dosa.

Kawin kontrak? Umi Aminah bertanya heran. Setahunya dari kepartaian kemarin kemarin pernah menggalang demonstrasi menolak praktek itu saat musim-musimnya isu tentangnya merebak. Bukannya itu tak boleh, umi?

Sekali lagi, umi, ini kondisi darurat. Daripada nanti antum hukumnya zina, kan lebih baik kawin kontrak. Sama anak kandung ana, umi? Ada desir gairah di dada umi Aminah hanya membayangkan pun.

Umi Lilik mengangguk. Iya, umi, nanti diputuskan saja durasinya empat minggu, sesuai saran pengobatan itu. Nah, yang namanya kawin kontrak nanti yang penting itu ada saksi. Antum bisa ngambil ustazah dari asrama saja untuk jadi saksi, dua orang misalnya. Biar kisah antum ini nantinya tidak tersebar keluar.

Umi Aminah mengangguk-angguk paham. Dia tambah lega karena berpikir bahwa setidaknya dia tidak berzina tapi melakukan kawin kontrak yang legal. Tinggal berpikir siapa nanti yang akan dia jadikan saksi. Pikiran pertama dia jelas ke ustazah lia, yang kedua mungkin ustazah raudah. Walau bagaimanapun keduanya adalah dua ustazah yang paling dekat dengannya.

Umi, lamunan Umi Aminah buyar oleh suara sapaan Alif. Alif saat itu sudah ada di dekatnya, mengenakan baju rapi dan langsung duduk di depannya. Ada apa umi kok kelihatannya serius banget memanggil Alif.

Umi Aminah menghela nafas dalam-dalam sebelum kemudian dia berkata. Alif enggak sibuk kan? Ah, Alif sibuk pun kalau buat umi pasti ada waktu kok, Serius sayang, sahut ustazah Aminah sambil memasang mimik serius.

Iya umi, nih Alif santey-santey gini kok, jawab Alif. Serius banget umi, Alif jadi deg-degan. Ustazah Aminah kembali menghela nafasnya. Umi butuh bantuanmu, sayang. ceritasex.site

Oke, mi, bantuan apapun pasti Alif berikan kalau untuk umi. Sahut Alif. Alif sayang umi. Ditatapnya ibu kandungnya itu dengan tatapan seperti ingin menelanjangi. Ustazah Aminah menelan ludahnya. Serius? Apapun?

Apapun, umi. Alif mengangguk untuk menegaskan ucapannya.

Mmm, bagaimana kalau umi minta Alif nikah sama umi? Ustazah Aminah menatap anaknya lekat-lekat. Untuk sesaat, seperti orang yang mempertimbangkan dengan seksama kata-katanya, Alif terdiam. Dibalasnya tatapan umi aminah.

Maksud umi? Akhirnya dia malah balas bertanya.

Iya umi minta Alif nikah sama umi.

Sebentar, sebentar, Alif agak bingung. Jawab Alif meski dalam hatinya dia bersorak gembira. Kan Alif putra kandung umi nih, emang boleh nikah sama umi? Lagipula nikahnya model apa mi?

Ustazah Aminah menghela nafasnya. Ini darurat, Lif, kondisi darurat membolehkan apapun. Nanti model nikahnya nikah kontrak saja, empat minggu. Umi sudah ngobrol sama umi lilik katanya bisa seperti itu.

Alif tampak merenung. Tujuannya apa umi?

Ustazah Aminah lalu menceritakan kisah saran pengobatan dari pak sarjito. Ditambahinya pula dengan hasil obrolannya dengan umi lilik hamidah. Juga beberapa konsep nikah kontrak yang sudah dia pelajari tadi.

Oh begitu, Alif mengangguk-angguk. Jadi Alif nikah kontrak empat minggu dengan umi untuk pengobatan mi?

Iya sayang.

Dan nikahnya ini model nikah seperti umi sama abi, jadi kalau empat minggu terus umi sembuh ya sudah gitu ya mi?

Iya sayang. Tentu saja jangan sampai abi tahu. Kalau kata umi lilik nanti nikahnya hanya ada dua saksi saja. Umi rencananya minta bantuan ustazah raudah sama ustazah lia, tapi umi belum ngubungi mereka.

Kembali Alif mengangguk-angguk. Dia tampak berpikir.

Nanti tentu saja umi sama Alif seperti suami istri biasanya. Nanti emmm, ustazah aminah sedikit malu menyebut menyetubuhi. umi sama alif bersetubuh juga, justru itu aspek yang paling penting.

Alif menatap ibu kandungnya lekat-lekat.

Tapi tentunya tanpa nafsu, sayang, hanya buat pengobatan. Sambung ustazah aminah buru-buru untuk menutupi rasa malunya. Dadanya berdesir.

Baiklah mi, akhirnya Alif menjawab mengiyakan.

Wajah ustazah aminah menjadi cerah. Makasih sayang, makasih banyak ya.

Alif akan ngelakuin apapun supaya umi sehat, jawab Alif. Senyum mengembang di bibirnya. Ada bulan madunya enggak mi? tanyanya dengan nada bercanda.

Husss, ustazah aminah tersenyum. Dia menggerakkan tangannya hendak menepuk pipi Alif. Alif menangkap tangan itu. lalu ucapnya, ehh, belum mahram, lalu dilepaskannya tangan itu. ustazah aminah dan Alif tertawa bareng. Keduanya sudah seperti sepasang kekasih saja. Entah kenapa ustazah aminah pun merasa ada desir-desir cinta dalam hatinya yang tumbuh kian subur.

Kalau Alif sudah setuju berarti umi tinggal ngubungi ustazah lia sama ustazah raudah, ustazah aminah kembali berkata, mencoba menutupi desir-desir dalam dadanya. Tapi mereka berdua sih pasti mau juga kok bantu umi.

Iya mi, menurut Alif juga begitu. Tentu saja kisah ini jangan sampai tersebar keluar ya sayang, biar kita saja yang tahu, sama umi lilik. Baik mi, beres deh, jawab Alif. Kapan rencananya, emm, nikahnya mi?

Kapan ya kalau menurut Alif? Ustazah Aminah balas bertanya.

Selasa saja gimana mi?

Lha kenapa selasa?

Gak kenapa-kenapa, jawab Alif sambil mengedipkan matanya menggoda. Atau umi mau cepat-cepat?

Husshhh, lagi-lagi umi aminah hendak menepuk pipi Alif. Kamu ini, sambungnya sambil tersenyum. Oke deh hari selasa. Biar ada persiapan juga.

Hehe, iya mi. Mending umi langsung sekarang manggil ustazah raudah sama ustazah lia mi, biar cepat beres semuanya.

Ustazah Aminah mengangguk. iya sayang, ini udah umi minta ke sini kok, nah, tuhh, saat itu terdengar ucapan salam dan ketukan di pintu kamar. Dari kaca jendela nampak dua sosok ustazah asrama syahamah berdiri di depan pintu. Alif langsung bangkit dan beranjak pergi ke kamarnya, sementara ustazah aminah pun bangkit dan berjalan ke pintu, dibukakannya pintu dan disuruhnya kedua ustazah itu masuk.

*****

Hari Selasa.

Tak ada yang beda dengan asrama syahamah saat itu. para ukhti penghuninya melakukan aktifitas seperti biasa. Yang sedikit berbeda mungkin adalah suasana kamar ustazah aminah. Saat itu jam setengah tujuh malam, di kamarnya ustazah aminah sudah berdandan rapi meski tetap dengan style seorang ustazah. Terus terang dia sedikit deg-degan karena hari ini dia akan menikah dengan anak kandungnya sendiri.

Saat mandi, diraba-rabanya jembutnya yang sudah tumbuh lebat. Dia bimbang antara mencukurnya atau tidak. jika mengikuti pengalamannya saat menikah dengan ustaz karim dulu, maka dia harus mencukur rapi jembutnya. Akan tetapi dia mendadak teringat malam ketika disetubuhinya anaknya saat tidur. Ada kenikmatan tersendiri saat bulu-bulunya menyentuh-nyentuh selangkangan anaknya. Dibayangkannya anak kandungnya itu menjilatinya jembutnya sampai basah…

Akhirnya dibiarkannya jembutnya seperti itu, hanya dicucinya bersih-bersih supaya tidak semrawut dan juga berbau harum. Dia menghabiskan waktu di kamar mandinya lebih lama dari biasanya. Entahlah, dia merasa dirinya seperti perawan yang akan menikah dengan pemuda idaman hatinya.

Lalu dikenakannya gamis kombornya yang berwarna hijau tua, senada dengan warna kerudung lebar sepinggang yang dia kenakan. Nampak sederhana tapi natural. Sebagai seorang ustazah, tak lupa dipakainya kaus kaki warna cokelat menutupi betisnya. Kacamata berbingkai merah tua yang dikenakannya juga membuat paras keibuannya kelihatan tanpa mengurangi kecantikannya. Dipakainya wangi-wangian sekadarnya.

Tok tok tok, ada ketukan di pintu.

Masuk, jawab ustazah aminah pendek.

Ustazah Raudah dan Ustazah Lia masuk. Keduanya menatap ustazah Aminah lekat-lekat. Umi cantik sekali, seru mereka dengan nada kagum. Ustazah Aminah tersipu malu. Udah tua begini, komentarnya.

Umi gak kelihatan tua kok, goda ustazah lia.

Husshh, kalian ini, ukhti-ukhti yang suka menggoda. Dosa lho menggoda umi, jawab ustazah aminah sambil diiringi tawa. Diam-diam dia merasa bangga juga disebut cantik oleh kedua ustazah itu.

Ayo ke Aula, umi, acara sudah siap. Lanjut Ustazah Raudah. Kemudian keduanya menggandeng Ustazah Aminah ke Aula yang biasanya dijadikan tempat kajian keagamaan. Ternyata Alif sudah berada lebih dulu di sana.

Malam itu aula sudah ditata oleh para ukhti asrama syahamah. Di depan ada dua kursi mewah yang biasanya dipakai dalam momen-momen tertentu misalnya ketika diskusi di sana mengundang pembicara orang penting. Di depannya diletakkan meja kayu berukir dari Jepara. Alif duduk di salah satu kursi yang ada, kemudian Ustazah Aminah juga duduk di kursi yang kosong di sisinya.

Memang ketika ustazah raudah dan ustazah lia dipanggil oleh Ustazah Aminah untuk mengobrolkan kawin kontraknya dan meminta mereka berdua menjadi saksi, keduanya malah memberi usul bahwa kawin ibu dan anak itu dilakukan di aula saja dengan disaksikan para ukhti semuanya.

Lha umi Cuma kuatir kalau nanti ada yang mempermasalahkan, ukhti, kan ini kawin yang tidak lazim. Bahaya kalau sampai bocor ke luar misalnya, nama baik umi dipertaruhkan. Begitu semula ustazah aminah menolak.

Kedua ustazah itu saling berpandangan. Santai umi, bisa dikondisikan, sahut mereka hampir berbarengan. Setelah beradu argumen beberapa saat, akhirnya ustazah aminah setuju setelah kembali kedua ustazah kepercayaannya itu memberikan jaminan bahwa acara itu tak akan sampai bocor ke luar asrama.

Maka ketika ustazah aminah masuk ke aula, para ukhti semuanya sudah ada di sana. Terhitung ada lima belas ukhti saat itu, termasuk ustazah raudah dan ustazah lia. Sebenarnya keseluruhan penghuni asrama syahamah saat itu adalah enam belas orang, akan tetapi satu orang ukhti sedang mudik.

Justru ukhti yang sedang mudik itulah yang sebenarnya berpotensi menentang dan ribut soal kawin kontrak ini. Namanya ukhti Nani Hidayanti. Ukhti Nani asli Rembang. Dia termasuk yang paling kritis selama ini dan seringkali berdebat dengan ustazah raudah tentang banyak hal khususnya yang berkaitan dengan ajaran agama. Andai sang ukhti tidak sedang mudik maka ustazah raudah dan ustazah lia pun tak akan berani menyarankan nikah kontrak itu diselenggarakan terbuka di aula.

Para ukhti semuanya, diharap tenang dan mengikuti acara ini dengan tenang. Demikian sambil berdiri ustazah raudah memulai acara. Semua ukhti yang hadir langsung duduk tenang memandang ke depan. Beberapa menundukkan kepala.

Sebagaimana ana sudah obrolkan dengan antum semua, malam ini adalah acara kawin kontrak antara umi aminah, ibu kita, dengan Alif Nazarudin. Ana sudah menerangkan panjang lebar tentang kebolehannya, dan sebagaimana kita sudah sepakat, antum semua malam ini menjadi saksi. Bagaimana hadirin semua? Siap?

Siaaaappp, begitu para ukhti menjawab berbarengan. Memang kepatuhan para ukhti pada ustazah aminah sangat tinggi. Sang ustazah sudah mereka anggap ibu mereka dan juga orang yang lebih alim dari mereka. Jadi, apapun yang dikatakan benar oleh sang umi pasti mereka anggap benar juga tanpa butuh alasan.

Lalu dimulailah resepsi kawin kontrak itu dengan bersahaja. Alif menyebutkan masa kawin kontrak itu, dan juga beberapa detail lainnya sesuai dengan tuntunan yang sudah diberikan oleh umi Lilik. Acara kawin kontrak memang sederhana dan mudah, maka hanya setengah jam kemudian, keduanya sudah resmi menjadi suami istri. Tanpa sadar ustazah aminah merasa matanya berkaca-kaca. Terharu. Refleks dipeluknya Alif kuat-kuat.

Sttt, umi, umi, bisik Alif sambil berusaha melepaskan pelukan istrinya itu dengan halus.

Terdengar deheman dari ustazah Raudah. Beberapa ukhti yang hadir tersenyum. Ustazah Aminah pun sadar. Dilepaskannya pelukannya dengan wajah bersemu merah. Kepalanya menunduk untuk beberapa saat. Bibirnya menyunggingkan senyum malu-malu.

Nah, hadirin sekalian. Ustazah Raudah kembali melanjutkan. Kini setelah acara akad nikah selesai, kita masuk ke acara selanjutnya. Ustazah Raudah memberi isyarat dan dua ukhti yang duduk paling belakang, Ukhti Rakhma Nurjanah dan Ukhti Novi Setyowati kemudian beranjak ke luar dari aula.

Ustazah Aminah menoleh ke arah Alif dengan pandangan bertanya-tanya. Dia memang tidak tahu apa sebenarnya acara selanjutnya. Alif hanya senyum-senyum. Demikian juga ustazah raudah dan ustazah lia.

Tak lama, ukhti rakhma dan ukhti novi pun masuk kembali sambil membawa kue besar dengan lilin di atasnya. Mereka berdua meletakkannya di meja depan sang ustazah. Ustazah aminah menatap kue itu dengan mata terbelalak. Dia baru ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.

Pikirannya terlalu tersita oleh acara kawin kontrak sampai dia lupa memikirkan hal itu. ternyata itulah sebenarnya yang menjadi alasan Alif menyodorkan hari selasa itu sebagai hari resepsi. Dengan demikian setiap ultah ustazah aminah akan selalu diperingati sebagai hari pernikahannya juga dengan anak kandungnya itu.

Alif mendahului berdiri. Ustazah Aminah refleks mengikuti. Ustazah Raudah mengarahkan ustazah aminah untuk menyalakan lilin di atas kue. Setelah semuanya menyala, lampu aula pun dimatikan. Suasana di sana hening.

Alif memegang tangan uminya. Keduanya berdiri berhadapan, saling memandang, suasana menjadi sangat romantis. Lalu Alif berbisik mesra, selamat ulang tahun umi, wanita yang tak pernah menua.

Umi Aminah tak sanggup berkata apapun. Rasa haru terasa mengganjal tenggorokannya. Diremasnya tangan alif yang menggenggamnya, berharap bahwa itu sudah cukup sebagai jawaban bahwa dirinya malam itu merasa sangat bahagia.

Lalu tibalah acara tiup lilin. Para ukhti serempak menyanyikan lagu selamat ulang tahun berbahasa Arab dengan dipimpin ustazah lia dan ustazah raudah. Lalu ustazah aminah pun meniup lilin itu. potongan kue yang dipotongnya tentu saja dipersembahkannya untuk Alif Nazarudin, suaminya sekaligus anak kandungnya itu.

Lampu sudah kembali menyala. Ustazah Raudah kembali mengambil alih acara. Nah, kawan-kawanku para ukhti asrama syahamah, acara selanjutnya adalah pesta. Silahkan menikmati minuman dan makanan yang sudah kami sediakan sepuasnya.

Para ukhti bersorak gembira. Mereka kemudian berebutan maju ke depan menyalami ustazah aminah sambil mengucapkan selamat ulang tahun. Alif berdiri mendampingi ustazah aminah sambil senyum-senyum sementara matanya diam-diam menilai fisik para ukhti, mengamati wajah-wajah mereka yang manis dan menggairahkan dengan sensasi alim yang menyembunyikan keliaran mereka.

Acara formal itu sudah selesai. Mereka keluar dari aula dan duduk-duduk di halaman. Memang struktur bangunan asrama syahamah dibuat melingkar sehingga ada halaman yang luas dan kosong sebagai taman berumput di tengah-tengah. Di sana sudah tersedia banyak cool box berisi beragam minuman, sudah ada pula meja-meja yang berisi beragam kue. Kue ulang tahun ustazah aminah pun diboyong ke sana dan menjadi santapan utama para ukhti.

Ustazah Aminah dan Alif berdiri di samping aula mengamati para ukhti yang sedang bergembira. Tangan keduanya saling menggenggam. Hangat.

Asyik ya umi? kata Alif.

Iya sayang, malam ini umi bahagia sekali, jawab ustazah aminah.

Alif ikut bahagia kalau umi bahagia,

Alif meremas tangan ustazah aminah sambil menatapnya mesra. Ustazah aminah tersipu malu. Kemudian disandarkannya kepalanya di bahu Alif. Dadanya berdebar-debar penuh dengan kebahagiaan dan juga gairah.

Ternyata ustazah Raudah pun sudah menyediakan kembang api. Maka malam itu di langit asrama syahamah nampak percikan-percikan kembang api yang nampak indah membuat orang-orang yang melihatnya di luar asrama syahamah sempat bertanya-tanya pula tentang acara apa sebenarnya yang ada di sana. Akan tetapi karena asrama syahamah memang sudah tenar sebagai asrama para ukhti yang alim-alim, maka tak ada yang berprasangka buruk.

Di pojok yang gelap, dekat kamar nomor 14, ukhti novi dan ukhti rakhma nampak duduk di lantai yang sudah ditutupi karpet kecil. Ukhti rakhma duduk bersandar di dinding. Kamar 14 adalah kamar ukhti novi, sedangkan kamar 15 adalah kamar ukhti rakhma. Ukhti novi nampak sedang menenggak isi botol sementara ukhti rakhma mengamatinya sambil senyum-senyum.

Ahhh, coba asrama ini pesta terus kaya gini ya ukh, kata ukhti novi sambil meletakkan botol itu di hadapannya.

Hihihi, yah besok-besok kita usulin saja ke ustazah raudah sama ustazah lia, timpal ukhti rakhma. Diambilnya botol yang tadi diletakkan ukhti novi. Ternyata itu botol pilsener. Dingin. Dilekatkannya mulut botol itu, kemudian mulut botol yang tadi dikulum ukhti novi dijilat-jilatnya. Matanya sayu menatap ukhti novi yang juga sedang memandangnya

Ustazah Aminah tentu saja tidak tahu bahwa minuman yang ada di coolbox di taman itu bukan hanya teh botol, sprite, fanta, coca cola saja melainkan juga pilsener dan juga bir bintang. Itu merupakan inisiatif ustazah raudah dan ustazah lia dengan dibantu oleh para ukhti yang lain. Mereka semua sudah sepakat bahwa pesta malam itu segala hal dibebaskan tanpa kecuali.

Ukhhh, bisik ukhti rakhma.

Ukhti novi meresponnya dengan meraih tangan ukhti rakhma. Diremas-remasnya lalu ditariknya tubuh ukhti rakhma bersandar ke tubuhnya. Lalu lututnya diangkat sehingga posisi dia duduk dengan lutut seperti akan dia peluk. Ukhti rakhma paham. Diletakkannya punggungnya di lutut ukhti novi. Keduanya saling bertatapan. Nafas mereka berdua mulai memburu.

Kamu menggairahkan sekali malam ini ukhti, bisik ukhti novi. Bibirnya nampak bergetar. Jemari ukhti rakhma menyentuh-nyentuh bibir itu dengan lembut. Lalu perlahan wajah ukhti novi mendekat dan kemudian bibir keduanya saling melumat.

Nghhhhhh, ukhti rakhma mendesah di selama lumatan bibir ukhti novi. Tangan ukhti novi meremas-remas payudara ukhti rakhma yang membusung indah. Tubuh itu menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan sementara mulut keduanya makin liar saling melumat.

Ehem ehemm, terdengar deheman di dekat mereka. Tersentak mereka melepaskan kuluman bibir mereka dan berbarengan menoleh ke arah sosok yang mendehem tadi. Nampak ustazah raudah berdiri sambil tersenyum menatap mereka.

Kalian ini malah mojok, gelap-gelapan, pacaran lagi, ucapnya sambil duduk di depan mereka. Diambilnya botol yang tergeletak dan diminumnya isinya.

Hihi, iya ustazah, mumpung bebas, sahut ukhti novi sambil mengedipkan matanya. Ustazah raudah tersenyum membalasnya.

Rencana malam ini sukses. Bantu terus ya buat malam-malam selanjutnya biar sering-sering kaya gini.

Siiip pokoknya. Coba dari dulu ustazah ngobrol sama kita-kita ini. Ukhti rakhma kini yang menjawab. Diacungkannya jempolnya.

Hehe, lha kalian kan nampak alim banget. Bahaya kalau ustazah ini asal ngomong kan, harus nyelidiki dulu. Jawab ustazah raudah santai. Oya, kalian hati-hati ya, memadu kasihnya nanti saja setelah umi aminah sudah masuk kamar. Mereka bertiga menatap ke ustazah aminah dan alif yang nampak berdiri mengamati para ukhti di taman. Nampak sesekali mereka tertawa-tawa.

Ukhti novi tak menjawab. Dirogohnya saku gamisnya, lalu dikeluarkannya sebungkus rokok. Ngisep dulu ustazah. Disulutnya satu batang. A Mild.

Ustazah Raudah membelalakkan matanya. Kalian ini! Nakal sekali awas ya ukhti-ukhti nakal harus dihukum! tapi di ujung perkataannya dia tertawa. Lalu dia pamit mau nyamperin ustazah aminah dulu, sekadar mengobrol-ngobrol, ditinggalkannya kembali ukhti rakhma dan novi berduaan di kegelapan depan kamar mereka yang lampunya sengaja tidak dinyalakan.

Setelah ngobrol beberapa lama dengan ustazah raudah dan ustazah lia, ustazah Aminah kemudian pamit dan mempersilahkan para ukhti untuk meneruskan berpesta. Besok gak jamaah gak apa-apa, libur dulu ya satu hari, ucapnya disambut oleh sorakan para ukhti.

Lalu Ustazah Aminah pergi melangkah berdampingan bersama alif menuju kamar mereka. kedua tangan mereka saling menggenggam. Dicubitnya pinggang alif pelan saat didengarnya komentar guyonan ustazah raudah yang mengatakan, tidak usah ana antar ke kamar kan umi?

Alif hanya menggeliat sedikit, diketatkannya genggamannya di tangan ustazah aminah. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

*****

Alif sebenarnya ingin langsung menerkam ustazah aminah saat mereka sampai kamar, akan tetapi dia tertahan oleh keharusan menjaga sikap. Maka untuk mengesankan bahwa dia menuruti keinginan uminya untuk kawin kontrak dengannya itu semata karena pengobatan ibunya, dia pun tidak bertindak gegabah.

Dia pergi sebentar ke kamarnya menukar pakaian resepsinya. Dia kembali lagi ke kamar ibunya dengan memakai celana kolor dan kaus. Di tangannya ada dua gelas teh yang belum diberi air. Yang satu sudah dia campuri obat perangsang level yang sangat tinggi. Sekalian dia ingin membuat ibunya meledak-ledak malam ini.

Saat Alif menyeduh teh itu di kamar ibunya, ibunya menghidupkan tivi dan langsung duduk di bawah, bersandar di dinding di atas karpet merah. Alif lalu duduk di sampingnya. Diletakkannya satu gelas teh di depan sang ibu.

Untuk istriku sayang, katanya. Ustazah Aminah menatapnya sambil tersenyum. Diacak-acaknya rambut anak kandungnya itu. Makasih sayang, balasnya.

Keduanya lalu terdiam. Mata mereka menatap layar televisi tapi pikiran mereka saling memikirkan hal lain. Keduanya merasa canggung juga untuk membuka percakapan malam pertama mereka. Masing-masing sama-sama bingung harus memulai dari mana.

Emm, sayang, Akhirnya umi aminah yang memulai.

Alif menoleh. Iya, umi?

Emm, karena nikah kita ini hanya untuk pengobatan ya, jadi kita harus membicarakan soal peraturan-peraturannya.

Boleh mi, Alif pikir juga begitu.

Ustazah Aminah terdiam sejenak. Ng, yang pertama umi pikir tentang durasi. Menurut umi salah satu pembeda antara nikah yang normal dengan kawin kontrak yang seperti kita ini ya durasi, ng, orgasme, sayang. Wajahnya sedikit memerah.

Maksud umi?

Maksud umi lebih baik kita menyepakati bahwa kita hanya orgasme satu kali dalam sehari, sayang, tidak berlebihan. Hanya sebagai syarat saja.

Alif tertawa. Baiklah, umi, Alif setuju. Yang lainnya?

Alif gak ada saran? Ustazah Aminah balik bertanya.

Alif menggeleng. Alif manut umi saja.

Ustazah Aminah menghela nafas dalam-dalam. Peraturan selanjutnya, karena alasan umi bersetubuh dengan Alif adalah untuk pengobatan, bukan karena ingin, maka persetubuhan itu hanya dilakukan sampai ada yang orgasme, artinya jika misalnya umi duluan orgasme, maka persetubuhan harus berhenti, tidak perlu menuggu Alif juga orgasme. Begitu.

Alif pura-pura berpikir sejenak sebelum mengangguk.

Lalu orgasme juga tidak boleh dikeluarkan di dalam ya sayang, soalnya umi sedang masa subur, nanti bisa hamil.

Oh gitu, kita lihat nanti saja mi, jawab Alif tersenyum. Kenapa Alif tidak pakai kondom saja mi?

Engg, kata umi lilik tidak boleh, sayang, tidak natural nantinya. Begitu jawab Umi Aminah. Ditatapnya wajah Alif sekilas.

Alif kembali mengangguk-angguk. Ada lagi mi?

Ada, sayang, umi terus terang malu bersetubuh dengan Alif, Umi Aminah berhenti sejenak menelan ludah. Nah, bagaimana kalau kita sama-sama pake tutup muka biar tidak malu?

Alif setuju mi, Alif juga malu. Jawab Alif. Padahal alasan dia yang sebenarnya menyetujui usulan itu hanya karena ingin merasakan sensasi baru bersetubuh.

Baguslah kalau begitu, Ustazah Aminah tersenyum. Yang terakhir, untuk meredam nafsu, maka saat bersetubuh umi dan alif tidak bugil.

Syarat yang terakhir ini jelas disetujui alif. Toh dia lebih bergairah membayangkan menyetubuhi ibu kandungnya sambil memakai kerudung daripada jika misalnya sang ibu telanjang bulat di depannya. Nah, semua syarat itu harus dipatuhi selama empat minggu kawin kontrak kita, sayang, oke?

Oke istriku sayang, jawab Alif. Yuk minum teh dulu, sengaja Alif bikinin nih, mumpung masih hangat.

Umi Aminah menyeruput teh hangatnya dengan nikmat. Satu tahap lagi kini sudah selesai, tinggal melanjutkan bagaimana caranya malam pertama itu bisa sesuai dengan harapannya. Setelah menyeruput teh itu, matanya kembali memandang ke layar tivi.

Beberapa menit kemudian, obat perangsang yang dicampurkan Alif mulai bereaksi. Umi aminah merasakan tubuhnya mulai panas. Ada keinginan dirinya untuk merapat ke Alif yang duduk selonjor di sampingnya. Tapi dia masih merasa malu. Untunglah Alif yang melihat gelagat itu langsung tanggap. Dilingkarkannya tangannya ke belakang tubuh ibunya, diraihnya pinggang ramping sang ibu, lalu ditariknya merapat ke tubuhnya.

Merasa mendapat angin, ustazah Aminah langsung menyandarkan kepalanya di bahu Alif. Umi sayang Alif, bisiknya.

Alif juga, sayang, Alif mengusap-usap pinggang ibunya. Umi Aminah memejamkan matanya menikmati setiap usapan yang membuat tubuhnya berdenyar-denyar mengharapkan kenikmatan yang lebih. Tubuhnya ditariknya makin merapat ke tubuh sang anak yang kini sudah menjadi suaminya itu.

Umi cantik sekali, bisik Alif lagi. Kepalanya menoleh menatap wajah ustazah aminah yang sangat dekat, hangatnya hembusan nafas sang ibu terasa di lehernya. Kacamata yang menempel di sana membuat wajah itu nampak makin menggairahkan di matanya.

Ahh, makasih sayangg, suara ustazah aminah sudah menyerupai desahan. Lalu bibir Alif mendekat ke bibir umi aminah, tangannya makin kuat memeluk sang ibu. Cupppp, bibir keduanya bertemu. Alif melumat bibir itu pelan, pengaruh obat perangsang membuat sang ibu membalas dengan agresif. Lidah ustazah aminah bergerak-gerak mencoba memasuki mulut sang anak. Alif membuka mulutnya membiarkan lidah itu menggelitik rongga mulutnya. Lalu dihisapnya lidah itu kuat-kuat sampai ustazah aminah mendesah pelan, ahhh sayangg,

Tangan Ustazah Aminah refleks bergerak menelusup ke balik kaus yang dipakai Alif. Tangannya mengusap-usap perut Alif membuat Alif bergerak-gerak gelisah. Sentuhan ibunya terasa sangat lembut. Kulit halus yang tak pernah melakukan pekerjaan kasar itu bahkan dengan liar naik ke atas, meraba-raba puting susu Alif sampai Alif sedikit menggeliat. Meski demikian, Alif menahan-nahan nafsunya supaya rudalnya tak lekas bangun. Ia tak ingin terburu-buru. Ingin dinikmatinya cumbuannya semalaman dengan sang ibu.

Cupppppppp ahhh, ustazah aminah mendesah ketika akhirnya Alif melepaskan bibirnya. Mulut ustazah aminah sedikit membuka dengan nafas mulai tak karuan. Matanya menatap sayu Alif seolah meminta cumbuan itu diteruskan. Alif tersenyum. Dibelainya kepala uminya yang masih memakai kerudung itu.

Umi ganti baju dulu ya, dia berbisik pada ibunya itu.

Sebenarnya nafsu ustazah aminah yang sudah sangat bergejolak itu ingin menyanggah, akan tetapi dia mengangguk juga, sedikit mengalah. Lalu tidur ya sayang?

Yeee, maunya, hahaha, Alif tergelak. Tawanya itu kemudian berganti menjadi jeritan ketika dirasakannya cubitan ustazah aminah di pinggangnya.

Ni suami nakal, ditanya bener-bener malah menggoda, rasain, Ustazah Aminah menggerutu.

Hehehe iya iya umi, habis itu tidur. Cengiran Alif makin lebar. Dia berdiri bergegas menjauhi tangan ustazah Aminah yang sudah bersiap hendak mencari mangsa lagi.

Ustazah Aminah ikut berdiri. Saat dia akan membuka seluruh bajunya, dia merasa malu dan berkata pada Alif: Alif keluar dulu, umi mau buka baju.

Lho, kenapa umi? Kita kan suami istri, lagian alif gak bisa menyetubuhi umi kalau rudal alif gak berdiri nih, siapa tahu lihat umi ganti baju langsung berdiri, hehe.

Ustazah Aminah menampakkan wajah tak setuju mendengar perkataan alif meski jauh di dalam hatinya dia justru merasa perkataan kotor anak kandungnya itu membuatnya makin bergairah. Hush, alif, jangan bicara kotor lho sayang.

Pokoknya alif ingin nonton umi bugil dulu, biar rudal alif ngaceng.

Ustazah Aminah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian dia menyerah. Karena masih dikuasai rasa malu, dia kemudian membuka gamisnya sambil menghadap ke dipan. Dengan demikian, otomatis tubuhnya pun membelakangi alif. Perlahan dia buka kerudung lebarnya, kemudian gamisnya.

Di belakangnya alif berdiri bersandar di dinding. Perlahan dia mencopot baju dan celana kolornya, lalu dia mendekati ustazah aminah yang sedang sedikit membungkuk melepas gamisnya. Dengan lembut alif memegang rudalnya dan menempelkan ujung rudalnya yang melebar seperti jamur pada belahan pantat ibunya yang menggairahkan.

Umi aminah tersentak berdiri merasakan sentuhan itu. Dia menoleh ke arah anaknya. iiihh alifff, jangan begitu, kok dilepas bajunya? Sana pakai sarunggg. Dia pura-pura malu menutupi wajahnya meski matanya mencuri pandang juga pada rudal anaknya yang digenggam Alif.

Alif masih tetap menyentuh-nyentuhkan ujung rudalnya ke belahan pantat uminya sambil tersenyum nakal. Akhirnya ustazah aminah cuek. Tanpa melepas kaus kakinya yang menutupi betis, dia beranjak ke arah kapstok mengambil mukena hitam sutera kesayangannya. Bukan mukena yang dua potong kemarin melainkan mukena terusan. Koleksi mukenanya dengan motif sama memang ada banyak. Dia sudah merencanakan yang satu ini untuk malam pertamanya.

Alif hanya diam saja mengamati ibunya sambil berdiri bersandar di ranjang. Tangannya mengusap-usap rudalnya perlahan. Ustazah aminah menatap anaknya kemudian berkata: alif, cepetan pakai sarung. Umi malu lihat kamu seperti itu.

Alif gak mau pakai sarung mi.

Lha terus? Kan gak boleh bugil, aliff sayang.

Umi ada mukena yang lain? Boleh gak alif pakai?

Aduhh, sarung saja alif sayang.

Gak mau, alif pengen pake mukena.

Untuk ke sekian kalinya ustazah aminah menyerah. Dia kemudian mengambil potongan bagian bawah mukena sutera hitamnya dari tempat cucian. Lalu dia menyerahkanya pada alif. Sambil tersenyum alif menerimanya. Dia kemudian memakainya. Maka tampaklah dia memakai mukena bagian bawah dengan rudal yang kini sudah tegak mengacung. Alif langsung menghampiri ustazah Aminah yang saat itu sudah nampak rapi dan duduk di tepi ranjang.

Jakun Alif naik turun menatap sosok ibunya yang menggairahkan. Mukena tipis itu tak menyembunyikan apapun melainkan justru membuat tubuh sang ibu nampak membayang dari kain tembus pandang. Alif bisa melihat samar puting susu sang ibu yang mencuat di atas bongkahan besar payudaranya. Lalu ke bawah, dadanya berdesir melihat rimbunan semak yang melingkari lubang kenikmatan sang ibu yang sangat dia dambakan.

Alif ikut duduk di pinggir sang ibu. Satu tangannya meraih punggung sang ibu dan mengusap-usap alur punggung indah itu.

Nghhh, ustazah aminah mengerang kegelian. Tangan ustazah aminah memeluk tubuh Alif sementara tangan alif yang satu menggerayangi paha ustazah aminah. Kain tipis itu membuat paha ustazah aminah seolah tidak tertutupi apapun. Setiap sentuhan alif membuat syahwatnya makin meninggi.

Umi seksi sekali, desis Alif sambil menatap wajah ibunya.

Umi Aminah tak menjawab. Digerakkannya kepalanya mendekat, bibirnya sedikit dibuka lalu melumat bibir Alif seperti tadi. Terasa hangat. Syaraf-syaraf bibirnya yang sensitif menyebarkan kehangatan itu ke seluruh badannya. Terasa nikmat sekali bercumbu dengan anak kandungnya itu.

Umi, bisik Alif.

Iya sayangh, Ustazah Aminah balas berbisik.

Katanya kalau serambi lempit langsung ditusuk tuh sakit, gak pemanasan dulu umi? Atau umi sudah terangsang ya lihat rudal alif tadi? Alif sengaja mengeluarkan kata-kata vulgar untuk makin merangsang sang ibu.

Ustazah aminah serba salah. Dia sebenarnya sudah terangsang, tapi jika dia mengatakannya maka itu berarti mengakui bahwa dia terangsang melihat rudal anaknya. Akan tetapi jika dia tidak mengakuinya, maka alif pasti akan meminta merangsangnya dulu. Akhirnya dia memilih yang kedua. Kepalang basah, dia akan menikmati juga cumbuan sang anak.

Oh iya, lif, umi belum terangsang. Gimana ya?

Alif tak mengatakan apapun. Hanya saja tangannya bergerak perlahan menyelinap ke balik mukena ustazah aminah, menelusur dari lutut ke arah atas. Ustazah aminah menggelinjang. Nafsunya makin naik dirangsang juga oleh pengaruh obat yang sudah mulai bereaksi. Sebenarnya alif ingin melakukan lebih, tapi dia juga ingin mencumbu ibunya selama mungkin, maka pertama-tama dia hanya menahan diri dan hanya mengelus-elus saja paha bagian dalam ibunya.

Uuuuhhhh, terus lif, enakkk, uhhhh, Ustazah Aminah mulai mendesah-desah tak tahan akan kenikmatan yang dia rasakan.

Perlahan tangan Alif lalu melingkar di punggung ibunya. Lalu ditariknya tubuh sang ibu ke belakang membuatnya terlentang di ranjang dengan kaki terjuntai ke lantai. Posisi semacam itu membuat dada sang ibu nampak membusung indah seperti dua buah semangka, bulat dengan tonjolan seksi puting susu di puncaknya.

Masih dengan satu tangan meraba-raba paha ibunya, mulut Alif kembali beraksi menciumi bahu sang ibu membuatnya menggerak-gerakkan bahunya terangsang. Ciuman Alif makin bergeser mendekat sampai akhirnya bibir alif hinggap di leher sang ibu yang masih tertutup muken sutera tipisnya.

Ahhhh, Alifffff, Ustazah Aminah mendesah panjang. Matanya merem melek sementara tangannya yang satu meremas-remas seprai ranjangnya gregetan. Selangkangannya sesekali bergerak melenting ke atas lalu ambruk lagi ke ranjang. Usapan tangan Alif sementara itu bergerak makin ke atas makin ke atas….

Ukh! Ustazah Aminah serambi lempitik. Matanya terbuka lebar. Dirasakannya jemari alif mengusap-usap jembutnya dengan lembut. Bebuluannya meremang merasakan mimpinya menjadi kenyataan. Disyukurinya bahwa dirinya memutuskan tidak mencukur jembutnya, betapa nikmatnya merasakan tangan anaknya membelai-belai di sana.

Posisi tubuh Alif kini menelungkup dengan bibir menyusuri bagian depan leher ustazah aminah. Lalu bibir itu sedikit terangkat dan mencium area di bawah bibir ustazah aminah. Bibir ustazah aminah sedikit bergetar menahan perasaan ingin melumat bibir anak kandungnya yang tak henti menelusuri kulit halusnya.

Umi seksi, bisik Alif, bibirnya kini menciumi sudut bibir ustazah aminah, Umi seksi dan cantik, bisiknya lagi.

Ustazah Aminah tak tahan. Diraihnya belakang kepala alif lalu ditekankannya ke bawah dengan bibirnya langsung menyambut bibir sang anak. Cuuuuuuupppp, dilumatnya lama bibir itu seolah untuk memuaskan dahaga.

Tangannya yang satu lagi kini menggerayangi punggung Alif memberikan kehangatan yang membuat punggung sang anak terkadang melenting-lenting bergerak tak tenang. Di bawah, jemari alif masih nakal mengusap-usap membuat gerakan melingkar di sekitar bibir ustazah aminah. Ustazah aminah merasa serambi lempitnya sudah gatal ingin dirangsang tapi jemari jemari anaknya tak juga sampai ke sana.

Ternyata alif memang sengaja ingin membuat gairah sang ibu kian terpacu. Masih dinikmatinya lumatan bibir sang ibu di bibirnya yang membuatnya terlena. Dengus nafas ibunya yang menghembus dari hidung mulai terasa tak beraturan, hangat dan nikmat menerpa wajahnya. Posisi tubuhnya kini menghimpit separuh tubuh ustazah aminah dengan tangan yang satu menahan kepala ustazah aminah sementara tangan yang satunya lagi sibuk bergerilya di tubuh bagian bawah ustazah aminah.

Nng ngngnggg hhhhhhhh hhh hhh, ustazah aminah merintih-rintih keenakan. Tubuhnya tak bisa tenang bergerak-gerak di bawah himpitan tubuh anak kandungnya itu. lalu tubuhnya sedikit mengejang diiringi bunyi seperti orang tersedak dari mulutnya saat jemari alif mulai menguak bibir serambi lempitnya.

Hhkkk, pertama-tama alif menggerak-gerakkan jarinya pelan kemudian makin liar dan makin liar sampai tubuh ustazah aminah pun bergerak-gerak binal. Selangkangannya bergerak ke kiri dan ke kanan setiap kali alif menggerakkan tangannya. ceritasex.site

Aduhhhhhh Aliff, ahh ahh ahhhhhh, lifff,, sambil merintih-rintih terdengar dia memanggil-manggil nama anaknya. Matanya terpejam sementara mulutnya terbuka sedikit. Alif tersenyum menatap itu. dialihkannya pandangannya ke buah dada ibunya yang membusung seperti semangka itu.

Ahhh! Ustazah Aminah kembali serambi lempitik pelan saat bibir alif kini mendarat di puncak susunya. Di bawah jemari alif masih mengobok-obok serambi lempitnya dengan liar, kini susunya juga dikenyot-kenyot anak kandungnya itu dengan ganas. Mukenanya di bagian susu sudah basah oleh air liur alif. Puting susunya makin nampak mencuat, disentil-sentil dan dihisap oleh lidah dan mulut anaknya.

Liff, kenyot liff, ahhh, hisap lifff, dia makin tak terkontrol. Tangannya kini memeluk kepala Alif kuat-kuat sementara yang satu lagi turun ke punggung sang anak membelai-belai dan sesekali mencengkramnya sampai alif meringis merasakan perih dan nikmat.

Slluurrrp sluurrpppp, ckkkkckkkkk ckkkkk, bunyi hisapan Alif di susu ibu kandungnya itu berpadu dengan bunyi kocokan jemarinya di serambi lempit sang ibu. Tubuh ustazah aminah bergerak-gerak liar di ranjang tapi tertahan oleh tubuh Alif. Mulutnya hanya mengeluarkan erangan tak jelas sementara dari sela mulutnya air liur berleleran membasahi ranjang.

Karena kuatir ibunya keburu orgasme, Alif menghentikan kocokannya. Dia duduk bertelekan tangannya di ranjang. Tubuh ibunya kini menggelosoh di ranjang dengan nafas tak teratur. Mata ibunya menatapnya sayu seolah menginginkan sang anak secepat mungkin membawanya pada puncak kenikmatan yang didambakannya. Alif mengocok-kocok rudalnya dari balik bawahan mukena ibunya yang digunakannya. Gesekan kain tipis itu membuatnya makin terangsang dan membuat rudalnya dengan cepat menegang.

Lalu tangan Alif meraih tangan ibunya, menariknya berbaring menyamping dan digenggamkannya tangan itu pada rudalnya setelah disingkapkannya bawahan mukena yang dia pakai. Ustazah aminah pun lanngsung mengocok rudal anaknya yang selama ini sangat didambakannya itu. pertama masih malu-malu dikocoknya pelan-pelan.

Kemudian semakin cepat semakin cepat seiring birahinya yang kembali naik. Alif kini duduk dengan tubuh ditahan dua tangannya ke belakang. Kepalanya mendongak dengan mata merem melek sementara rudalnya di antara pahanya yang mengangkang dikocok oleh tangan ibunya. Tangan yang terasa halus dan lembut.

Terus umi, terusss, ahhh, terus kocok rudal Alif umiii, racaunya. Mendengar racauan Alif itu umi aminah makin bersemangat. Dikocoknya terus sambil ditatapnya takjub rudal yang makin membesar dan memanjang itu. dibayangkannya rudal itu menusuk serambi lempitnya, betapa akan nikmatnya rasanya seperti malam ketika dia memenyetubuhi sang anak yang dia kira tertidur itu.

Umi, umi, sudah umi, ahhhh, Alif tak tahan dengan kocokan ibu kandungnya itu. dilepaskannya tangan ustazah aminah dari rudalnya. Diciumnya sekilas bibir sang umi. Lalu ditariknya kepala ibu kandungnya itu mendekat ke selangkangannya. Umi, kulum rudal Alif umi, bisiknya.

Umi aminah pura-pura menolak. Gak mau sayang, jangann, gak baik gitu. Alaaah, ayo umi, alif pengenn, Alif tetap menarik kepala uminya mendekat.

Umi kocok lagi saja ya, umi Aminah kembali mengulurkan tangannya. Tapi alif menolak. Sedikit demi sedikit kepala umi aminah makin mendekat ke rudal Alif yang tegak mengacung.

Enak kok umi, rudal Alif maniss, umi bakalan ketagihan, Bisik Alif. Bibir umi aminah kini sudah menempel di kepala rudalnya. Dengan sendirinya bibir itu membuka dan rudal alif masuk sedikit. Uhhhhh, nikmat yang dirasakan alif terasa berlipat ganda. Hangat mulut ibunya dan nafasnya menerpa rudalnya membuatnya serasa melayang.

Ustazah Aminah lalu membuka mulutnya semakin lebar dan dipajukannya mulutnya sehingga sepertiga rudal alif memasuki mulutnya. Terasa sesak sekali rudal yang besar dan panjang itu membuatnya seperti akan tersedak. Allif yang maklum akan kesulitan uminya lalu membiarkan mulut sang umi beradaptasi dengan ukuran rudalnya sebelum kemudian digerakkannya kepala uminya pelan-pelan mengocok rudalnya.

Uhhh uhhh, mulut umi enakkk, uhhh, alif sukaaa, Alif kini kembali meracau saat ibunya mulai memaju mundurkan kepalanya mengocok rudal Alif. Kedua tangan Alif kini kembali menopang tubuhnya ke belakang. Dirasakannya tangan ibunya menyentil-nyentil buah pelirnya memberikan kenikmatan tambahan rasa ngilu dan enak dikombinasikan dengan hisapan mulut sang ibu.

Ya umi, hisap umi, hisap terusss, ahhh, umiku, istriku sayang, Paha alif bergerak-gerak menahankan kenikmatan yang timbul. Sepongan mulut ibunya terasa enak sekali dan suara-suara tak jelas yang muncul dari mulut ibunya yang penuh diganjal rudalnya membangkitkan gairahnya. Mata ibunya sesekali menatapnya dan sesekali pula tangan alif membelai-belai kepala uminya dengan penuh kasih sayang.

Setelah merasa puas dengan sepongan mulut ibunya, Alif mengangkat kepala uminya pelan. Ploppppp, rudal alif seperti lepas dari penghisap yang hampa udara, untuk sesaat ustazah aminah membuka mulutnya lebar-lebar menghirup udara yang sempat tertahan oleh rudal anak kandungnya itu. ditatapnya rudal besar dan panjang yang kini nampak basah oleh air liurnya itu.

Besar sekali sayang, tanpa sadar dia berkomentar. Hehehe, umi suka? Tanya Alif. Dimajukannya tubuhnya sambil dipeluknya tubuh umi aminah.

Wajah umi Aminah bersemu merah. Dia tak berkata apa-apa hanya disambutnya ciuman Alif di bibirnya. Setelah itu alif mendorong tubuh ibu kandungnya supaya kembali berbaring terlentang di ranjang. Umi Aminah meraih tangan Alif sehingga membuat tubuh sang anak kini meneduhinya.

Udah liff, ayo, bisiknya dengan suara bergetar. Syahwatnya sudah naik ke ubun-ubun. serambi lempitnya dirasakannya sudah berkedut-kedut meminta ditusuk oleh rudal besar anak kandungnya itu.

Alif tersenyum. Lha katanya pake penutup muka, mana topengnya, umi?

Ustazah Aminah tersipu malu. Oh iya, ambil di tas umi, lif, umi lupa. Ustazah Aminah ternyata sudah menyiapkannya. Topeng kulit yang tipis yang didapatkannya setelah muter-muter mencari-cari di beberapa pusat perbelanjaan Yogya.

Alif mengambil dua buah topeng dari sana, menyerahkannya satu pada ustazah aminah, kemudian memakai yang satu lagi. Setelah dirasa siap, ustazah aminah lalu menyuruh alif naik ke depan, memposisikan diri di antara kedua pahanya.

Ustazah aminah mulai mengangkangkan pahanya yang sudah sangat peka merasakan setiap sentuhan apapun sebagai rangsangan. Umi aminah menunggu sambil memejamkan matanya, tapi tak juga dirasakannya rudal besar anaknya itu memasuki lobang nikmatnya. Dibukanya kembali matanya. Alif nampak meneduhinya sambil tersenyum menggoda.

Liff, uhh, udah, masukin liff, umi udah terangsang.

Apanya umi yang dimasukin? alif menjawab diiringi cengiran nakal.

rudalmu.

Bukan rudal umi, nama lainnya apa?

Alif, kamu nakal, ingat, ini hanya pengobatan.

Iya, umi, nama lain rudal apa? Tanya alif, sementara itu tangannya menyibakkan mukena ibunya ke atas, menampakkan serambi lempitnya yang sudah nampak lembab dikelilingi jembut yang indah. Dia mengarahkan kepala rudalnya ke belahan itu.

rudal, alif.

Apa umi?

rudalll! ustazah aminah setengah berteriak. Dia kemudian menutup mulutnya teringat statusnya sebagai ustazah alim. Serrr, sensasi aneh mulai merasuki hatinya. Saat itu juga dia merasakan sentuhan kepala rudal anaknya di belahan serambi lempitnya.

Ahh, tanpa sadar dia mendesah.

Kemudian perlahan alif memasukkan rudalnya. Mentok hanya sedikit yang masuk. Itupun rasanya sudah sangat nikmat. Dia kemudian kembali menekan sampai kembali masuk sedikit. Barulah setelah ustazah aminah membantu dengan sedikit menghentak dari bawah, dua pertiga rudalnya bisa masuk.

Ahh, kali ini alif yang mendesah.

Refleks dia menggerakkan pinggulnya turun naik. Ustazah aminah merasakan kenikmatan yang tak terhingga saat dirasakannya rudal jumbo anaknya itu membelah serambi lempitnya. Tangannya meremas-remas seprai, sementara dari balik topengnya terdengar lenguhan yang masih dia tahan-tahan. Sebenarnya alif ingin meremas-remas buah dada ibunya yang terlihat menggembung tertutupi mukena. Akan tetapi dia menahan diri, dia ingin ibunyalah yang terlebih dahulu mengambil inisiatif melanggar perjanjian.

Dan hal itu kemudian terjadi. Ketika alif semakin mempergencar genjotannya. Ustazah aminah akhirnya tak tahan. Dia mencopot topengnya yang dirasanya menghalangi nafasnya, kemudian tangannya merangkul alif, melepas topeng alif, dan bibirnya dengan ganas melumat bibir alif. Sementara itu, kedua kakinya membelit pinggang alif kuat-kuat.

Terussh, hhh, terushh, genjot sayang, hhh, terushhh, demikian racaunya.

Dengan buas alif balas melumat bibir ibunya. Tangannya juga mulai aktif meremas kedua gunung yang menjulang di dada sang ibu. Di bawah rudalnya makin gencar menyodok lubang tempat dia keluar dulu saat bayi. Alif sudah pernah merasakan beberapa serambi lempit akan tetapi dia merasa serambi lempit ibunya paling nikmat. Saking nikmatnya dia bahkan merasakan bahwa dirinya akan keluar lebih dulu.

serambi lempit umi enak, ahhh, serambi lempit umi nikmattt,

Iya sayangg, rudalmu, akhhh, rudalmu besar sekaliii,

Besaran mana sama punya abi, umi?

Besaran punyamu sayangg, ahhh, Aliff, aliff,

Iya dongg, alif kan suami umi,

Suami dan anak kandung umi, ahhh, umi menyetubuhi anak kandung umi, akhhh, Umi Aminah makin gelap mata. Kata-kata cabul berhamburan dari mulutnya membuat alif makin terangsang. Digenjotnya terus tubuh seksi uminya itu sambil tangannya tak henti meremas-remas gunung kembar sebesar semangka yang selalu jadi dambaannya sejak dulu.

Plokk plokkk plokkk, bunyi kocokan rudal alif di serambi lempit ustazah aminah bergema memenuhi ruangan. Entah sudah berapa lama tubuh keduanya saling memacu, yang keringat sudah membanjir memenuhi tubuh mereka. Alif menggeram-geram merasakan kedutan-kedutan di batang rudalnya. Akhirnya rencananya menyetubuhi ibu kandungnya ustazah alim yang seksi itu kesampaian juga. Disodok-sodokkannya rudalnya dengan sangat kuat sampai sang ibu pun mengeluarkan gumaman tertahan.

Ustazah aminah merasakan kedutan-kedutan di batang rudal anaknya, terasa nikmat menyentuh-nyentuh dinding serambi lempitnya yang basah sensitif oleh batang yang hangat. Digoyangkannya pinggulnya mengempot rudal dambaannya itu dan didengarnya alif melenguh dan makin gencar menusukkan rudal besarnya itu.

Ustazah Aminah yang tahu bahwa sang anak akan segera orgasme kemudian membelai wajah yang meneduhinya itu. nanti cabut ya sayanggg, uhhh. Ustazah Aminah sedang ada dalam masa suburnya saat itu.

Alif tak mengatakan apapun, dia menggigit bibirnya merasakan kenikmatan yang mengumpul dengan cepat di ujung rudalnya, siap meledak. Gerakannya semakin cepat, ustazah aminah mulai panik. Aliff, nakk, jangan di dalam, nakk

Suaranya dipotong oleh geraman alif. Aaaaaaahhhhhh, alif sampai umii, ahhh, pancut rahim umiii, Ustazah aminah merasakan pancutan-pancutan keluar dari rudal anaknya, menghangatkan rahimnya. Birahinya terasa kian memanas, apalagi menyaksikan wajah sang anak yang penuh kepuasan dengan mata merem melek di atasnya. Sebenarnya orgasme lebih dulu itu juga merupakan bagian dari strategi Alif. Dia ingin tahu apakah ibunya nanti akan melanggar peraturan yang dibuatnya dengan meminta dipuaskan juga atau tidak.

Ustazah Aminah merasakan gerakan anaknya itu melemah, lambat laun berhenti. Ustazah aminah yang nafsu syahwatnya sedang naik-naiknya mencoba menekan kembali tubuh anaknya tapi tubuh itu tak bergerak meski rudalnya masih tegang di dalam serambi lempitnya. Dia mulai belingsatan. Tak lagi diperdulikannya bahwa sang anak telah memancutkan spermanya di dalam serambi lempitnya. Yang terpikir olehnya adalah dirinya pun ingin mendapatkan kenikmatan yang sama.

Nggghhh, ustazah aminah melenguh.

Sempat terpikir olehnya peraturan yang tadi sudah dia sepakati. Dia malu sebenarnya akan melanggar peraturan itu. akan tetapi nafsu birahinya yang meminta dipuaskan kemudian membuatnya lupa diri dan masa bodoh soal aturan. Dengan gerakan buas dia membalik posisi, tubuh anaknya di bawah dan dia menghimpit dari atas. Dengan gerakan liar dia menggenjot rudal anaknya yang tak hentinya mendesah. Ahh, umi, umi, ahhh,

Persetubuhan terlarang itu terus berjalan, ustazah aminah benar-benar mengeluarkan semua keliarannya yang selama ini terpendam. Diremas-remasnya dada anaknya dengan kedua tangannya. Pinggulnya tanpa henti bergerak terus naik turun membuat rudal anaknya mengocok-ngocok serambi lempitnya yang kian basah. Sperma anaknya yang tadi menyemprot rahim suburnya sebagian meleler turun karena gerakannya, menyelinap membasahi jembut sang anak.

Uhhh, Alif, suamiku, uhhh, nakkkk, bantu umi nakk, uhh, dia mendesah-desah tak karuan. Otaknya hanya dipenuhi oleh keinginannya untuk mendapatkan kepuasan yang sudah lama tak didapatkannya dari ustaz karim. Mukena sutera yang dikenakannya lengket di tubuhnya, nampak sangat seksi dalam pandangan Alif.

Iya umi, ahh, umiii, serambi lempit umi nikmat, ahhh, istriku, Alif membalas. Tangannya tak henti-hentinya meremas bongkahan besar di dada ibu kandungnya itu. putingnya sudah mencuat menggairahkan, Alif teringat bahwa dulu masa kecilnya dia pernah menghisap-hisap puting itu membuatnya kini makin bergairah.

rudalmu besar sayangg, besar dan panjagg, puaskan umi sayangg, auhhhh, mulut umi aminah sudah tak terkontrol menngeluarkan kata-kata cabul yang membuat Alif makin bernafsu. Dipelintirnya puting susu ibu kandungnya dari balik mukenanya sampai sang ibu merintih panjang, arrrgghhhhhhhhhhh ah ah ah aaaaahhhhh,

rudal Alif buat serambi lempit umi saja, ukhhh, serambi lempit umi enakk, ahhh nikmattt, Alif menggerak-gerakkan pinggulnya mengimbangi gerakan pinggul ibu kandungnya yang makin liar. rudalnya dirasakannya makin menegang dan makin dalam menancap di lubang kenikmatan itu. lubang kenikmatan tempat dirinya dulu dilahirkan.

Sayang sayang sayanggg, umi hampir, ukhhh, umi hampirr, kocok terus kocok, ahhhhh, goyangan pinggul ustazah aminah makin cepat. Sesekali pinggulnya berputar memberikan efek empotan ke rudal Alif yang berjaya di lubang serambi lempitnya. Dirasakan umi Aminah tubuhnya hampir meledak siap menjemput kenikmatan puncak persetubuhannya dengan sang anak.

Ayo umii, basahi rudal Alif dengan cairan nikmatmu umi, basahi rudal anakmuu, Alif mendesis-desis penuh kenikmatan supaya sang ibu bisa meraih orgasme pertama darinya pula. Dielus-elusnya perut ibunya yang tidak terlalu rata tapi masih kencang. Ditusuk-tusuknya lembut lubang pusar sang umi yang kini meremas-remas kedua susunya sendiri dengan kepala mendongak.

Umi samp paiiiii, akh uuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhh, Umi Aminah berteriak keras. Tangannya mencengkram dada anaknya sementara pinggulnya dihentakkannya sekuat-kuatnya ke bawah, serambi lempitnya menempel erat pada rudal alif yang kini sepenuhnya masuk. Selangkangan keduanya menyatu rapat seolah keduanya satu tubuh.

Arrrggghh, annn..jingggg. Alif memaki saking nikmatnya sambil meremas buah dada ibunya yang membusung besar seperti semangka. Diperlakukan seperti itu ustazah aminah menggelepar-gelepar dengan kepala mendongak ke atas. hhh hhhh hhhh hanya desahnya kemudian yang terdengar. Tubuhnya mengejat-ngejat kuat, matanya membeliak ke atas merasakan kenikmatan yang tak terhingga. Dirasakannya cairan kenikmatannya membanjir membasahi rudal Alif yang memenuhi serambi lempitnya.

Unghhhhhhhh, nikmatnyaaaa, aakhhh akh akh akhhhhhh, ternyata ustazah aminah merasakan multi orgasme. Kenikmatan susul menyusul seperti badai membuat tubuhnya bergetar-getar dan kelojotan. Tangannya mencengkram dada Alif makin kuat seiring dengan semprotan-semprotan cairan kenikmatan dalam serambi lempitnya yang seolah tanpa henti.

Alif memegang erat pinggang ibu kandungnya. Cairan kenikmatan ibunya terasa hangat menyiram rudalnya membuatnya hampir saja kembali orgasme. Ditahan-tahannya sambil menggigit bibirnya. Kenikmatan yang dirasakannya jauh lebih nikmat dari saat dia memenyetubuhi umi lilik hamidah. Tubuh ibunya yang berkeringat menguarkan wangi perempuan matang yang penuh gairah, membuatnya mampu menggumuli tubuh itu bahkan jika sepanjang malam diminta.

Huhhhh huhh huhh, tubuh ustazah aminah sudah berhenti kelojotan. Diaturnya nafasnya seiring cengkramannya di dada Alif yang sudah mengendur. Kini tangan itu mengusap-usap bekas cengkramannya tadi dengan lembut. Alif menarik tangan itu sampai tubuh ustazah aminah kian membungkuk ke arahnya. Lalu dipeluknya tubuh sang umi dan dilumatnya bibir yang nampak bergetar merasakan sisa kenikmatan itu.

Cuuuuuuuppppp, lumatan bibirnya berakhir dengan ciuman panjang. Tubuh ibu kandungnya itu ambruk menimpa tubuhnya sementara selangkangan mereka masih menyatu erat. Tubuh keduanya terasa panas akibat syahwat yang sudah terlampiaskan.

Makasih sayang, bisik Alif sambil menatap mata ibunya yang meneduhinya dari atas. Mendengar itu ustazah aminah memejamkan matanya sejenak lalu senyum terbit di bibirnya. Dia tak menjawab akan tetapi dikecupnya pelan bibir sang anak yang langsung membalas dengan ganas menyosor bibirnya seolah ingin menelannya.

Anak dan ibu kandung itu saling berpelukan beberapa saat sementara bibir dan selangkangan mereka menyatu. Kenikmatan yang mereka rasakan terlalu indah untuk dilepaskan. Kemudian alif mendorong tubuh ibunya ke atas sedikit. Dia rindu pada bongkahan dada ibunya dan dengan perlahan diremas-remasnya kembali buah dada yang sangat menggairahkan itu.

Sementara itu, Ustazah Aminah masih mengatur nafasnya. Dia tak peduli apapun. Kenikmatan yang diperolehnya tak bisa dia gambarkan. Dia mengibaskan tangan anaknya kembali ke samping dan dia kembali berbaring menelungkup dengan paha mengangkangi sang anak semata wayang. serambi lempitnya masih dicoblos dengan rapatnya oleh rudal alif. Tubuh anaknya terasa hangat menuntaskan segala rindu yang selama ini dia pendam.

Kemudian setelah kenikmatan itu reda, diangkatnya tubuhnya pelan-pelan. ploppp, cairan putih kental meleleh keluar dari serambi lempitnya ketika rudal Alif tercabut dari lobang serambi lempitnya. Alif dengan liar langsung bangkit dan menjilati cairan putih itu, membuat sang ummi yang alim terduduk mengangkang dan kembali mendesah-desah.

Sssss sudah, sayang, suda..hhhh, ustazah Aminah berbisik sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya menjambak rambut anaknya, mencoba memindahkan kepala itu dari serambi lempitnya, sementara satu tangannya menahan tubuhnya ke belakang. Setelah cairan itu habis dia jilati, Alif berhenti dan mengangkat kepalanya. Dengan bibirnya diserbunya bibir sang ibu dan dilumatnya dengan mesra.

Hshhhh, ustazah aminah mendesah. Dipeluknya tubuh anaknya erat-erat. Andai dia mengumbar nafsunya maka dia ingin kembali mengulangi persetubuhan dahsyat yang barusan dia alami. Akan tetapi sisi keibuannya tetap masih ada dan selepas syahwatnya terpenuhi untuk sementara dia bisa berpikir lurus juga. Maka biarlah malam ini hanya itu saja, bisiknya, toh masih ada malam-malam yang lain selama sebulan.

Ternyata Alif pun berpikir serupa. Dia tak ingin buru-buru. Cukup sudah malam ini dia menikmati persetubuhan malam pertamanya dengan ibu kandungnya. Toh dia berpikir untuk malam-malam selanjutnya sedikit demi sedikit akan ditambahnya dosis menyetubuhi dengan ibunya sampai kelak sang ibu mau dientotnya semalaman pun. Jika melihat ibunya yang tadi saja kehilangan kontrol dan terus memacu nafsunya mengharapkan dirinya sendiri orgasme, Alif yakin bukan hal yang sukar membuat ibunya bertekuk lutut sepenuhnya pada dirinya.

Alif sayang umi, begitu bisik Alif mesra di telinga ibunya. Umi juga sayang Alif, balas ustazah aminah. Senyum mengembang di bibirnya.

Umi copot saja yuk ini pada basah semua, sahut alif. Tanpa menunggu persetujuan uminya, dicopotnya bagian bawah mukena yang dikenakannya tadi. Lalu dibantunya uminya berdiri dan langsung diangkatnya ujung bawah mukena uminya yang basah oleh keringat itu.

Tapi lif…. Umi Aminah tak sempat melanjutkan karena kini mukena itu sudah terlepas dari tubuhnya. Tubuh bugilnya nampak seksi tersinari lampu kamar. Untuk sesaat Alif terpana. Tubuh yang penuh keringat dan menguarkan bau perempuan yang sudah matang. Buah dada yang membulat sebesar semangka, dan jembut yang melingkari serambi lempit yang sudah memberinya kenikmatan. Di bawah, kaus kaki cokelatnya masih menutupi betisnya kelihatan seksi. Ditariknya tubuh itu sampai jatuh di ranjang.

Aliiiiifff, umi Aminah serambi lempitik. Tubuh bugilnya kini ada dalam pelukan Alif yang juga sama bugil.

Hehe, ayok tidur istriku, Alif pengen tidur sambil meluk umi, bisik Alif, hembusan nafasnya terasa hangat menerpa leher telanjang ustazah aminah. Tangannya memeluk erat pinggang ustazah aminah. Keduanya berbaring saling berhadapan. Ustazah Aminah hanya tersenyum mendengar Alif memanggilnya istriku. Digerakkannya tubuhnya supaya makin melekat ke tubuh Alif.

Umi! tubuh Alif mengejang ketika dirasakannya tangan uminya bergerak menggerayangi tubuhnya dan menyentuh rudalnya yang langsung menegang.

Maap maap, umi salah pegang, sahut uminya nakal.

Awas ya umi, alif entotin lagi tahu rasa,

Hush, jangan gitu, perjanjiannya gak gitu. Umi pengen meluk pinggang Alif kok, balas umi aminah. Tangannya meraih pinggang Alif menariknya mendekat. rudal Alif yang terlanjur menegang dijepitnya dengan pahanya, tepat di bawah serambi lempitnya, terasa hangat dan nikmat.

Alif mendengus. Ditariknya kepala ustazah aminah dan dibenamkannya di bawah dagunya. Saat itu terdengar suara musik arab sayup-sayup dari halaman asrama syahamah. Nampaknya para ukhti masih berpesta mi, bisiknya.

Biarin saja, ada ustazah raudah kok sama ustazah lia yang mengamankannya, jawab ustazah aminah. Kepalanya dibenamkannya makin dalam. Tubuh suaminya sekaligus anak kandungnya itu terasa hangat menentramkan.

Alif tak menjawab. Diusap-usapnya rambut sang umi penuh kasih sayang. Akhirnya tubuh indah ini bisa kunikmati juga, begitu batinnya. Rasa cintanya pada ibu kandungnya itu makin besar. tanpa sadar dalam jepitan paha umi aminah, rudalnya kembali berkedut-kedut mendambakan kenikmatan.

Sementara di kamar ustazah Aminah sedang terjadi persetubuhan terlarang yang liar antara ibu dan anak kandungnya sendiri, apa yang terjadi di halaman asrama syahamah tak kalah seru. Semakin malam mereka semakin bebas berimprovisasi. Sprite, Fanta, dan Teh Botol tak laris tapi Pilsener berkali-kali keluar dari Cool Box. Pilsener dingin untuk hawa yang makin panas.

Ukhti Rakhma duduk di meja tempat kue-kue masih tersisa sedikit. Tangannya memegang botol dan meneguknya serampangan sampai sebagian cairan itu berleleran ke bawah ke gamisnya. Bagian dadanya nampak basah mencetak payudaranya yang berukuran sedang. Ukhti Novi berdiri di depannya, mengamatinya dengan pandangan penuh birahi. Ukhti Novi saat itu mengenakan kaus lengan panjang dikombinasikan dengan rok.

Selesai menenggak pilsener, ukhti rakhma menatap Ukhti Novi, lalu dia memberi isyarat dengan tangannya supaya ukhti novi menghampiri. Tanpa menunggu waktu, ukhti novi langsung menghampirinya. Keduanya saling berciuman dengan ganas. Untuk menahan tubuhnya, ukhti rakhma menekankan satu tangannya ke belakang sementara tangannya yang lain masih memegang botol pilsener.

Grhhhhh, ukhti novi mendengus. Dikangkangkannya paha ukhti novi. Lalu kepalanya langsung turun dengan lidah menjulur lebar. Pangkal selangkangan ukhti rakhma menjadi area yang dituju. Disibakkannya gamis ukhti rakhma ke pinggang.

Uuuuhhhh, Ukhti Rakhma melenguh. Lidah ukhti novi terasa menjilat-jilat serambi lempitnya yang dari tadi bahkan sudah basah. Sesekali dirasakannya remasan jemari sang ukhti di bagian dalam pahanya. Memang hal semacam itu sudah mereka lakukan semenjak keduanya resmi menjadi pasangan lesbian, akan tetapi melakukannya di taman dengan ukhti-ukhti yang lain sibuk berpesta di sekitar jelas membuat mereka merasakan sensasi tersendiri.

Tangan Ukhti Rakhma bergerak mengangkat tangannya yang memegang pilsener. Dituangkannya sedikit cairan dari dalam botol ke kepala Ukhti Novi membuat sang ukhti menggeleng-gelengkan kepalanya sambil merintih-rintih pelan. Hihihi, ukhti rakhma mengikik geli.

Ukhti nakall, hhmmm hhmmmmmm, demikian komentar ukhti novi di sela jilatannya di serambi lempit ukhti rakhma. Tiba-tiba dia serambi lempitik dan mengangkat kepalanya, ehh! Dirasakannya seseorang memeluk tubuhnya yang membungkuk dari belakang. Lalu ada remasan di susunya yang membuat tubuhnya menggellinjang kegelian.

Ukhti Novi menoleh ke belakang, dilihatnya ukhti nurul sedang menatapnya sambil tersenyum. Pangkal pahanya menempel erat di pantatnya seperti pasangan yang melakukan doggy style. Perlahan tangan ukhti nurul menarik ujung kaus yang dikenakan ukhti novi ke atas sampai ke bawah payudaranya. Lalu tangan itu dengan lembut menyusup ke bongkahan di dadanya, meremas-remasnya pelan.

Ngrrrrrhhhhhh, Ukhti Novi memejamkan matanya. Tak disangkanya ukhti nurul yang selama ini nampak alim itu pandai meremas-remas susunya juga. Tak berhenti di situ, ukhti nurul membenamkan mulutnya di alur punggung ukhti novi membuat tubuhnya menggelinjang liar kegelian. Akhhh, ukhtiii, akhhhh,

Melihat adegan itu, ukhti rakhma langsung mengangkat kembali tangannya yang memegang pilsener. Dicucurkannya air itu di atas punggung ukhti novi sehingga cairannya mengalir ke bawah melewati alur punggung ukhti novi. Di bawah mulut ukhti nurul membuka siap menyambut aliran cairan itu.

Slurrpp slurrpp, terdengar bunyi mulut dan lidah ukhti nurul mencecap cairan dari botol pilsener yang dituangkan ukhti rakhma. Sementara tubuh ukhti novi melenting keenakan membuat punggungnya kian melengkung. Payudaranya yang makin menonjol ke depan langsung diremas-remas dengan penuh gairah oleh tangan ukhti nurul.

Uuuuuh,, ukhti, ukhttiiiiii, ukhti novi merintih-rintih. Tangannya kini sibuk menggentel-gentel serambi lempitnya sendiri yang terasa gatal. Kepalanya menggeleng-geleng ke kiri ke kanan sebelum kemudian terhenti ditahan oleh tangan ukhti rakhma. Ukhti rakhma menatap wajah ukhti novi yang tengadah dengan tatapan mesra. Lalu diturunkannya wajahnya, dan cuppp cuppp cupppp, ciuman dahsyat menimpa bibir ukhti novi, dilanjur dengan dua bibir mereka yang saling mengulum.

Ustazah Raudah dan Ustazah Lia menatap adegan itu dari pinggir kamar. Beberapa ukhti yang lain sambil tertawa-tawa juga saling menonton adegan tiga ukhti itu. sudah lama sebenarnya mereka mendambakan kesenangan semacam ini dan malam ini mereka merasa mendapatkan kebebasan sepenuhnya.

Tit tit tit, bunyi pesan masuk ke hp ustazah Lia. Dia membacanya sekilas, kemudian sambil tersenyum dia berkata pada ustazah raudah. Mereka sudah di depan ukhti.

Yasudah ayo kita jemput, ana sudah tak tahan, balas ustazah raudah. Keduanya berlalu ke arah pintu gerbang. Tak berapa lama keduanya kembali dengan diiringkan oleh dua orang bergamis kombor dan bercadar. Tanpa ada satupun ukhti penghuni asrama syahamah yang mengamati mereka, keempat orang itu langsung masuk ke kamar ustazah lia. Cklek, terdengar pintu kamar itu dikunci dari dalam.

Di taman asrama syahamah, seorang ukhti menyetel musik yang lazim mengiringi tari perut. Lirik-lirik ceria berbahasa arab pun mengalun. Beberapa ukhti langsung menari-nari erotis sambil sesekali saling merangkul ukhti yang lain. Sudah tak terhitung bunyi bibir-bibir yang bertemu dan saling mengulum di sana. Bunyi-bunyi tarikan nafas mereka sudah makin tak beraturan. Sesekali terdengar pula tawa cekikikan para ukhti.

Ukhti rakhma kini sudah berbaring telentang di atas meja. Tak diperdulikannya beberapa kue yang peyek tertimpa tubuhnya. Gamisnya sudah tersingkap sampai ke pinggang, pahanya mengangkang membuka. serambi lempitnya tampak basah oleh jilatan ukhti novi yang bercampur dengan kucuran pilsener.

Sementara itu ukhti novi sedang saling berciuman ganas sambil berdiri dengan ukhti nurul. Tangan ukhti rakhma menggentel-gentel serambi lempitnya sementara matanya liar mengamati adegan yang menggairahkan itu. Ukhtiii, udah ukhtiii, bisiknya.

Ukhti novi menghentikan kulumannya di bibir ukhti nurul. Sambil tersenyum dia menghampiri ukhti rakhma dan langsung naik ke meja. Dipaskannya satu kakinya di tengah paha ukhti rakhma sementara kakinya yang satu di luar. Uhhh, ukhti rakhma merintih saat dirasakannya bulu-bulu yang tumbuh di sekitar kemaluan ukhti novi menggesek pangkal pahanya.

Kaus ukhti novi saat itu sudah basah. Tangannya mengetatkan kaus di bagian dadanya. Disentuhkannya buah dadanya di buah dada ukhti rakhma dan digesel-geselkannya sambil tersenyum. Aduhh, ukhti, teruuushhh, ukhti rakhma kembali merintih-rintih. Tangannya menarik punggung ukhti novi makin mendekat. Ditekankannya kepala ukhti itu di lehernya.

Slurppp, slurpp, ukhti novi menjilat-jilat leher ukhti rakhma. Sementara di bawah, pinggulnya mulai bergerak menggesek-gesekkan selangkanngannya dengan selangkangan ukhti rakhma membuat ukhti rakhma makin ketat memeluk tubuhnya. Kakinya menendang-nendang meja dengan liar.

Melihat adegan itu, ukhti nurul tak diam saja. Dihampirinya kedua ukhti itu. lalu tangannya memegang kaki ukhti rakhma dan menahannya supaya diam. Dijilar-jilatnya betis sang ukhti, diremas-remasnya telapak kaki yang putih bersih terawat itu dengan lembut. Ukhti rakhma kini tak bisa apa-apa selain melenting-lentingkan tubuhnya dan menggerakkan pinggulnya mengikuti gerakan pinggul ukhti novi.

Aihh, rame-rame gini ana jadi penasaran nih, seorang lagi ukhti menghampiri mereka. Ukhti nurul tersenyum menyambut. Ayo sini ukhti, tubuh ana juga rasanya udah terbakar nihhh, ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya lalu mulutnya kembali asyik menikmati kaki ukhti rakhma.

Yang datang ternyata ukhti khusnul. Ukhti yang bertubuh mungil itu menyingkapkan gamis ukhti nurul ke atas. Dibimbing oleh imajinasinya, langsung dibenamkannya mulutnya di belahan pantat ukhti nurul.

Ehh ukhtiii, aduhhhh, tubuh ukhti nurul tersentak merasakan jilatan di anusnya. Dirasakannya sensasi yang selama ini hanya bisa dia bayangkan. Tak pernah diduganya ukhti khusnul akan mau menjilati lubang tempat keluar kotorannya itu. terasa geli-geli nikmat tersalur ke syaraf-syaraf di sekujur tubuhnya.

Crrppp crrppp, bunyi jilatan lidah ukhti khusnul tedengar berkali-kali, tubuhnya yang mungil ternyata menyimpan keliaran tersendiri. Tak berhenti di situ, jemarinya bergerak ke depan dan langsung menyentuh-nyentuh bibir serambi lempit ukhti nurul.

Uh uhhh, uhhhh, lenguhan ukhti nurul terdengar bersahutan dengan rintihan ukhti rakhma. Tangan ukhti nurul sudah tak lagi memegangi kaki ukhti rakhma. Kini tangannya memegang pinggiran meja erat-erat sementara kepalanya menunduk menahankan kenikmatan yang diberikan oleh jilatan dan remasan tangan ukhti khusnul.

Anusmu wangi, ukhti, ahhh, wangi sekali, bisik ukhti khusnul di sela jilatannya. Jemarinya makin liar merekah-rekahkan serambi lempit ukhti nurul.

Ukhtii, jemarinya jangan dimasuk…kan, ukh, ana masih pera…wannn, saking tak tahannya merasakan kenikmatan, mata ukhti nurul sampai terasa basah. Air liurnya menetes-netes sebagian mengenai telapak kaki ukhti rakhma.

Aghhh, aku cinta kamu ukhti, aku cinta kamuuu, terus terus terusss, ahhhh auhhh, Terdengar ukhti rakhma berteriak. Pinggulnya bergoyang makin liar. Kakinya menjepit-jepit kaki ukhti novi yang juga bergoyang makin liar di atasnya. Digesek-gesekkannya klentitnya di klentit ukhti rakhma. Keringat keduanya sudah mengucur deras. Gamis yang dipakai sudah awut-awutan tak karuan.

Ana juga ukhti, bisik ukhti novi lembut. Ana cinta kamu, matanya menatap mata ukhti rakhma. Tangannya begerak mengelus-elus dagu ukhti rakhma. Antum cantik sekali, sambungnya lagi.

Antum juga cantik ukhti, ukhhhh, balas ukhti rakhma. Sekilas ditatapnya ukhti nurul di bawah kakinya yang sedang merintih-rintih dengan tubuh melenting-lenting keenakan. Aduhhhh, ana hampir sampai ukhti, aduhhhh,

Ukhti novi juga merasakan desakan syahwat di tubuhnya makin meninggi. Gesekan jembutnya dengan jembut ukhti rakhma terasa perih-perih nikmat. Klentitnya makin mencuat terasa berkedut-kedut memberikan kenikmatan pada setiap sentuhan dengan klentit ukhti rakhma.

Arghhhhh, ahhh ahhh, sudah ukhtiii, ahhh, kali itu terdengar suara rintihan ukhti nurul. Susah payah diangkatnya tubuhnya berdiri. Lalu tanpa berkata apapun langsung didorognya tubuh ukhti khusnul berbaring di rumputan. Tanpa mempedulikan rumputan yang kotor, dengan penuh gairah ukhti nurul langsung mengangkangkan paha ukhti khusnul.

Kujilati serambi lempitmu ukhtiii, sambungnya. Lalu dibenamkannya mukanya di pangkal selangkangan ukhti khusnul membuat ukhti bertubuh mungil itu merintih keenakan. Tangan ukhti khusnul dengan lembut mengusap-usap kepala ukhti nurul yang bergerak liar di pangkal selangkangannya.

Selama ini ukhti khusnul memang seringkali membuka-buka situs bokep. Pertama-tama dia melakukannya karena penasaran dan juga untuk persiapan supaya kelak dia bisa melayani suaminya sebaik-baiknya. Tapi situs bokep yang dia buka mengandung konten ribuan atau bahkan puluhan ribu bokep yang bisa ditonton langsung ataupun didonlod gratis.

Dia yang semula hanya melihat-lihat lalu jadi kecanduan menjelajahi berbagai tawaran desahan yang bisa dilihatnya gratis menggunakan wi fi asrama syahamah. Tentu saja dalam kesehariannya dia tetap selalu berpenampilan alim, menundukkan kepala, kaki selalu tertutupi kaus kaki panjang. Betapa kagetnya dia ketika malam ini dia mendapatkan kebebasan seperti ini.

Baik ukhti khusnul ataupun ukhti nurul memang pemula dalam permainan seks seperti ini. Tak heran mereka masih membabi buta memuaskan kepenasaran mereka yang terpendam selama ini. Ukhti nurul masih menyosor-nyosor bibir serambi lempit ukhti khusnul penuh gairah, menghirup bau khas area nikmat itu sambil mendengarkan irama rintihan ukhti khusnul. Baru kemudian ketika tangan ukhti khusnul menggeser kepalanya ke arah klentitnya, ukhti nurul pun tahu area yang lebih penting untuk dihisapnya.

Semula ukhti nurul hanya menyentuh-nyentuh daging yang kecil menyentil itu dengan ujung lidahnya. Setiap sentuhan lidahnya membuat ukhti khusnul merintih kian kencang dibarengi pahanya menjepit kepala ukhti nurul. Semakin panas barulah dikucupnya klentit itu. Ukhhhhh, ukhti, hisap ukhti, hisapppp, ukhti khusnul mendesah-desah liar.

Ukhti nurul menurut, dihisapnya klentit itu kuat-kuat. Ukhti khusnul merintih panjang sementara kepalanya mendongak ke langit dengan mata terbeliak. Kenikmatan ini membuatnya terpinga-pinga dan lalai mengatur tempo. Beberapa detik kemudian tubuhnya mengejang-ngejang sambil dijepitnya kepala ukhti nurul dengan pahanya.

Dia orgasme. Gelombang kenikmatan menimpanya membuat pandangannya terasa berkunang-kunang. Tubuhnya mengejat-ngejat kuat dan jepitannya di kepala ukhti nurul makin kuat pula membuat sang ukhti megap-megap.

Ukhtiiiiiiiiiiii, ana cummingggg, begitu tanpa sadar dia mengucapkan kata yang seringkali dilihatnya diucapkan wanita-wanita bule dalam film bokep yang dia tonton. Ukhti nurul dengan takjub melihat kedutan-kedutan hebat di bibir serambi lempit ukhti khusnul sebelum kemudian dilihatnya cairan kental meleleh keluar. Dijilatnya cairan itu, asin asin aneh, tubuh ukhti khusnul kembali mengejat-ngejat sebelum terkulai lemas.

Bagaimana ukhti? ukhti nurul mengangkat kepalanya lalu menatap wajah ukhti khusnul yang juga menatapnya. Ukhti khusnul baru akan menjawab ketika tiba-tiba….

Buggggg, bunyi jatuh di dekat mereka mengagetkan membuat mereka berdua menoleh. Demikian juga ukhti yang lain. Ternyata tubuh ukhti novi dan ukhti rakhma jatuh dari meja bergulingan di rumput. Tubuh keduanya masih saling bertumpukan dengan paha saling menjepit dan selangkangan menyatu.

Aaaaahhh akhhhhh auhhhhhh, lenguhan kedua ukhti itu terdengar kencang. Bibir keduanya saling melumat ganas, kedua tangan mereka saling merangkul membuat buah dada mereka saling berhimpitan lekat. Lalu bibir keduanya terlepas dan mereka menjerit berbarengan.

Tubuh ukhti novi yang di atas tubuh ukhti rakhma melenting ke atas, sementara selangkangan keduanya rapat menyatu. Tubuh keduanya kejang-kejang hebat, pinggul ukhti novi memperlihatkan gerakan seperti laki-laki menyodokkan rudalnya, lalu beberapa saat kemudian tubuh keduanya tergeletak lemas di rumput taman asrama syahamah. Keduanya orgasme bersamaan.

Para ukhti yang lain bersorak dan menghampiri kedua ukhti itu. ukhti Novi tersenyum puas, diciumnya bibir ukhti rakhma yang masih dihimpit di bawahnya. Lalu diedarkannya pandangannya ke sekitar mencari-cari ustazah raudah dan ustazah lia, tapi tak ditemukannya keduanya.

Pasti mereka berdua sedang bercumbu di kamar, begitu pikirnya. Ukhti nurul melihat ke arah tubuh yang sama sepertinya berbaring di rumput taman itu, dia baru akan mengatakan sesuatu ketika dirasakannya jemari lembut meraih serambi lempitnya.

Akh! begitu dia serambi lempitik sambil menatap ke depan. Ternyata ukhti khusnul kini sudah duduk di depannya dan jemarinya mulai beraksi mengusap-usap serambi lempit ukhti nurul. Dengan lembut ukhti khusnul mendorong tubuh ukhti nurul ke belakang, terbaring menelentang. Sambil tersenyum, diteduhinya tubuh ukhti itu.

Kini giliran ana memuaskanmu, ukhti, desisnya.

*****

Ustazah Aminah terbangun oleh dering hpnya. Untuk sejenak dia berbaring mengumpulkan ingatannya. Berangsur dirasakannya ngilu di selangkangannya. Seperti dulu pernah dia rasakan setelah malam pertama bersama ustaz karim. Tubuhnya terasa sangat lelah. Barulah kemudian ingatannya pulih dan dia mendesah, Ya, ini memang malam pertama, malam pertamaku yang kedua,

Dia lalu bangkit terduduk di ranjang. Tubuhnya bugil, hanya ada kaus kaki cokelatnya menutupi betisnya. Dilihatnya di sampingnya suaminya, anak kandungnya Alif tertidur pulas menelungkup. Ustazah Aminah tersenyum membayangkan kegagahan sang anak tadi malam memenyetubuhinya. Seumur hidupnya baru tadi malam dia merasakan kenikmatan seksual seperti itu. diam-diam dia merasa bersyukur telah mengambil keputusan menuruti saran pengobatan alternatif itu.

Diangkatnya panggilan telpon itu yang ternyata dari Umi Latifah. Apa kabarnya umi? Maap menelpon sepagi ini, suara halus umi latifah terdengar dari seberang. Cerita ini dipublish oleh situs ngocoks.com kisah sex terpopuler!

Baik, umi, gimana sebaliknya umi? Ndak apa-apa kok, ana juga tidak sedang ngapa-ngapain. Umi Aminah menyempatkan diri menoleh ke arah Alif. Pandangannya jatuh pada rudal sang anak yang nampak menjuntai besar. rudal yang semalam telah mengantarkannya ke kenikmatan yang tak pernah dia rasakan.

Gini, umi, ana mau ngasih kabar bahwa pengabdian ustazah yang dulu sudah kita bicarakan itu jadinya bulan depan. Ohhh, bulan depan? Oke umi, lima orang ya? Jemari ustazah aminah meraba jembutnya yang terasa kaku, sisa-sisa jilatan Alif yang sudah kering. Iya umi, bisa ya? Ana butuh sekali bantuan dari ustazah-ustazah terpercaya.

Siap umi, sudah ada kok. Ustazah Lia, Ukhti Sofia, Umi Habibah, ukhti Nafisah, sama satu lagi ukhti…Salsabila. Ukhti Salsabila adalah kerabat ustazah lia. Umi Aminah sendiri belum mengenalnya. Nama itu disodorkan oleh ustazah lia kepadanya kemarin. Sipp lah kalau begitu. Maap ya umi, ana belum sempat berkunjung. Di sini sibuk sekali.

Iya gak apa-apa umi, ana maklum kok, maklum ustazah perintis di kampung terpencil ya pasti sibuk, sahut umi aminah dengan nada bercanda. Umi latifah membalas dengan tawa berderai dari seberang. Keduanya kemudian melanjutkan mengobrol tentang beberapa hal, termasuk mengenai ustaz karim, kakaknya umi latifah yang pergi ke luar negeri, tepatnya ke palestina untuk tugas kemanusiaan sekaligus juga memperbanyak jaringan partai.

Pagi hari itu cuaca cerah. Di taman asrama syahamah para ukhti yang semalam berpesta sudah membereskan sisa-sisa sampah yang ada di sana. Mereka bergadang semalaman memuaskan hasrat seksual mereka dengan kawan-kawan sesama perempuan. Asrama syahamah kembali nampak asri, para penghuninya sudah kembali ke kamar mereka masing-masing, menyimpan pengalaman mereka tadi malam untuk kali lain.

Sementara ustazah aminah sedang mengobrol dengan umi latifah, dua sepeda motor keluar dari pintu gerbang asrama syahamah. Berhenti sebentar di depan karena ada motor melintas di gang, ibu penjual nasi yang berumah di seberang asrama syahamah menyapa Ustazah Raudah dan Ustazah Lia yang menjadi pengendara. Pagi-pagi begini semangat sekali ukhti sudah pada berangkat?

Iya, bu, ini mau ngantar teman ke terminal, mau mudik, Ustazah Lia menjawab sambil tersenyum. Ustazah Raudah ikut tersenyum sambil mengangguk ke arah si ibu. Mari, Bu, sambungnya. Kemudian dua sepeda motor itu melaju.

Di belakang kedua ustazah itu memang masing-masing membawa sosok bergamis dan bercadar. Jika kau membuka cadar-cadar itu maka kau akan menemukan wajah-wajah berkumis dan jika kau membuka gamis-gamis itu maka akan kau temukan rudal yang mengacung di selangkangan keduanya.

Cerita Sex Gatotkaca Perkasa

Ya, keduanya adalah Ahmad Soleh dan Nofal, dua tamu laki-laki yang habis berpesta bersama Ustazah Raudah dan Ustazah Lia semalam suntuk. Masuk ke jalan besar keduanya memepetkan tubuh mereka ke depan. Karena keduanya memakai celana juga, maka posisi duduk keduanya memang mengangkang. Itu hal yang biasa bagi ukhti yang sedang bepergian. Kemudian kedua tangan mereka perlahan merayap ke depan, meremas dada dan menggerayangi paha ustazah raudah dan ustazah lia yang langsung menggelinjang sambil tertawa-tawa.

Pagi hari itu cuaca cerah. Lampu merah berganti hijau tapi motor mereka maju perlahan-lahan, menikmati birahi yang dilampiaskan sepanjang jalan. Jauh di belakang mereka bangunan Asrama Syahamah semakin tertinggal, meninggalkan Alif yang masih tertidur pulas di ranjang ibunya dengan rudalnya menjuntai panjang dan besar dan Ustazah Aminah yang menerima telpon dari Umi Latifah sambil sesekali mengelus-elus serambi lempitnya yang terasa gatal, meninggalkan sepi yang merambat di gerbang kokoh asrama syahamah. Nanti, kisah mereka akan kembali bermula, kini, cukuplah kisah syahwat para ukhti dan ustazah alim dari asrama syahamah ini disudahi dulu, untuk sementara.

TAMAT