Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Istri Pak RT Datang Menasihati Bajag, Berujung Pasrah di Kamar Sang Penjudi

Istri Pak RT Datang Menasihati Bajag, Berujung Pasrah di Kamar Sang Penjudi

Cerita Sex Bajag (Sang Penjudi) – Gosip tentang Bajag semakin tersebar luas. Dari mulut ke mulut, gosip itu hinggap ke gang demi gang, lalu mampir ke desa-desa sampai akhirnya seisi komplek tahu kalau Bajag dijemput polisi pas tengah malam tadi. Orang-orangpun berkata, Bajag, seorang pemuda pengangguran telah mengangkat kembali pamor komplek sebagai tempat judi nomor wahid di kota.

Dulu komplek ini memang dikenal sebagai tempat lahirnya para penjudi kelas kakap. Tapi sejak beberapa tahun belakangan cerita itu tak pernah terdengar lagi. Entah karena tobat atau karena takut, orang-orang seakan sepakat untuk menghapus cerita itu. Dan di depan komplek kini sudah di bangun polsek. Beberapa polisi juga tinggal di sini. Tiap malam ada ronda bergilir dari warga komplek. Pak Camat juga punya rumah disini, tepat di belakang rumah Bajag.

Anak anak komplek hampir semuanya sekolah di madrasah yang berdampingan dengan polsek. Setiap ada kesempatan entah itu pengajian ataupun arisan, pak Camat selalu berceramah yang intinya meminta warga agar terus menjaga ketertiban dan keamanan komplek serta menjaga nama baik komplek. Tapi tetap saja Bajag dan judi merajalela.

Tiap malam, Bajag berangkat ke pasar lama yang sudah jadi arena perjudian. Dan dia pulang ketika orang sibuk berangkat kerja. Dia selalu naik motor yang entah darimana dia dapatkan. Sebenarnya sudah beberapa kali Bajag didatangi polisi.

Dia pernah di datangi ketua RT dan memberinya nasihat. Konon setiap ada yang datang ke rumahnya dan memberinya nasehat agar sadar dan tobat, Bajag selalu mengangguk sopan kemudian masuk ke dalam. Pas keluar di pinggangnya sudah terselip golok.

Cerita Sex Bajag (Sang Penjudi) Ngocoks Konon juga pak RT langsung diam dan pergi begitu diberi hidangan golok. Maka tidak ada lagi yang berani datang ke rumahnya, takut kalau golok itu melayang sesuka hati. Semakin menjadi-jadilah Bajag sang penjudi. Tidak ada lagi yang berniat menghentikannya.

Satu-satunya orang yang merasa sangat sedih adalah Murti, yang kini sudah jadi istri pak Camat. Bajag dan Murti sudah berkawan akrab sejak kecil. Bahkan sampai sekarang mereka tinggal berdekatan, hanya dibatasi tembok setinggi setengah meter yang memisahkan dapur rumah Bajag dengan dapur rumah pak Camat.

Selain menjadi istri pak Camat, Murti juga menjadi guru agama di Madrasah. Tentu gosip tentang Bajag membuat Murti serasa ditohok dari belakang. Sama seperti yang lainnya, Murti juga tak kuasa menghentikan Bajag. Karena tak kuat membayar listrik, pak Camat memberi sambungan dari rumahnya ke rumah Bajag dan itu gratis.

Pun demikian dengan air, Bajag setiap sore selalu mengambil bertimba-timba air dari mesin pompa milik pak Camat. Bahkan Bajag juga menumpang jemuran disamping rumah pak Camat. Murti sering dengan terpaksanya mendatangi rumah Bajag untuk mencari pakaian suaminya yang terbawa bersama pakaian Bajag.

Entah Bajag tidak sengaja atau memang sengaja mengambil pakaian suaminya, Murti tidak berani berprasangka. Dia takut menuduh Bajag sebagai pencuri. Bajag memang nakal, itu yang diingat Murti. Seketika Murti teringat pada masa masa kecilnya bersama Bajag.

Ketika masih ingusan, Bajag hanyalah bocah kurus kerempeng tapi punya wajah ganteng. Dia sering mendorong- dorong Bajag sampai terjatuh, membuat bocah itu menangis. Dulu Bajag sangat cengeng, lebih suka bermain sama anak perempuan karena takut pada sesama bocah lelaki.

Perlu pembaca Ngocokers tau bahwa semasa kecil, Bajag dapat julukan bencong. Murti juga sering merasa malu kalau mengingat betapa ia dulu setiap hari mandi bersama Bajag, ia sering menarik-narik ’ulat’ milik Bajag. Dan Bajag selalu membalas dengan memukuli ’bukit kecilnya’. Sampai kelas empat sekolah dasar, ia masih sering mandi bareng Bajag.

Bajag juga sering belajar dan nonton TV di rumah Murti sambil menunggu ayah Murti pulang. Keluarga Murti sudah menganggap Bajag sebagai anak sendiri. Jadi setiap pulang kerja, ayah Murti selalu membawakan Bajag cemilan. Dulu Bajag adalah anak yang baik dan penurut. Banyak sekali kenangan bersama Bajag yang tak mudah dilupakan oleh Murti.

Tapi Bajag dulu lain dengan Bajag sekarang. Ada yang bilang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Bajag yang cuma sempat sekolah sampai kelas dua SMP seakan mewarisi perilaku ayahnya. Siapa di seantero komplek yang tidak kenal ayah Bajag. Para orang orang tua pasti tahu persis kelakuan cak Karso, ayahnya si Bajag. Kalau pagi, cak Karso memang bekerja normal sebagai sopir truk.

Tapi begitu malam tiba, cak Karso beralih profesi, membuka warung kopi di pintu masuk komplek. Tentu bukan semata kopi yang dijual. Mulai dari air putih biasa sampai minuman anggur beralkohol luar biasa semuanya bisa didapat dan dinikmati dengan bebas, menemani permainan kartu dengan taruhan tak kalah luar biasa. Cak Karso adalah pelopor judi yang membuat komplek ini begitu tersohor hingga keluar kota.

Bajag kecil sering menemani ayahnya dan mengaku senang karena orang- orang sering memberinya uang jajan. Bajag juga mengaku suka kalau diajak minum-minuman yang katanya berasa nikmat. Sejak itulah Bajag kecil mulai menampakkan perubahan total. Dan semakin menjadi-jadi ketika ibunya meninggal dengan tragis, gara-gara dipertaruhkan judi oleh cak Karso.

Yu Darti, ibunya Bajag, meninggal tak lama setelah tiga hari tiga malam diperkosa secara bergiliran oleh para begundal. Cak Karso dengan kejamnya menjadikan istrinya sendiri sebagai tumbal permainan judi. Yu Darti yang merupakan bunga desa akhirnya lebih memilih mengakhiri hidup daripada menanggung aib dan malu. Sedangkan cak Karso tiba-tiba raib, menghilang entah kemana meninggalkan Bajag seorang diri.

Jadilah Bajag anak sebatang kara, putus sekolah, hidup dari belas kasihan orang. Salah satu alasan yang jadi penyebab kuat dia menjadi penjudi kawakan. Toh sampai sejauh itu Murti masih bisa menahan rasa sedihnya. Murti tetap memberikan listrik dan air gratis, juga masih membolehkan Bajag menumpang jemuran. Seburuk apapun kelakuan Bajag, dia adalah teman dekatnya.

Bajag memang kurang ajar. Dia pernah mengintip Murti mandi, juga sering menggoda Murti kalau pulang dari mengajar. Puncaknya, Murti merinding bila mengingat kejadian itu, saat Bajag datang ke rumahnya, lalu masuk ke kamarnya dan menggerayanginya yang lagi tidur. Murti mengira itu adalah pak Camat, suaminya, maka iapun diam saja. Sudah kebiasaan suaminya, meminta ‘jatah’ di siang hari bolong seperti ini.

Meski merasa lain, karena terasa lebih kasar, Murti tidak pernah curiga saat Bajag mulai memeluk dan menciuminya. Ia juga tidak menolak begitu Bajag mulai melepas daster putih yang ia kenakan. Setelah mencumbuinya sebentar, Bajag mulai membuka bra tipisnya dan melepaskan celana dalamnya.

Setelah itu sedikit demi sedikit Bajag mulai menikmati jengkal demi jengkal seluruh bagian tubuh Murti, tidak ada yang terlewati. Dalam keremangan kamar, Murti bisa melihat rudal Bajag yang disangka suaminya, benda itu tampak mulai menegang, tetapi belum keras sepenuhnya. Ukurannya yang agak lebih besar masih belum membuat Murti curiga.

Dengan penuh kasih sayang, Murti meraih batang kenikmatan Bajag dan memain-mainkannya sebentar dengan kedua belah tangannya, untuk kemudian mulai dikulumnya dengan lembut. Terasa di dalam mulutnya, batang rudal Bajag mulai hangat dan mengeras.

Murti terus menyedot batang panjang itu sambil sesekali matanya terpejam menahan nikmat akibat kocokan jari-jari Bajag di liang serambi lempitnya. Ia masih belum menyadari siapa sebenarnya laki-laki di depannya ini. Bajag kemudian membalas dengan meremas-remas kedua payudara Murti yang terlihat sangat menantang.

Remasan Bajag membuat Murti mulai merasakan denyut-denyut kenikmatan yang bergerak dari puting payudaranya dan terus menjalar ke seluruh bagian tubuhnya yang lain, terutama lubang serambi lempitnya, yang kini terasa semakin basah dan lengket akibat kocokan jari-jari Bajag.

Murti melirik ke atas, ingin mencium sang suami, tapi Bajag dengan lihai menyembunyikan mukanya di punggung gadis itu hingga lagi-lagi Murti tidak mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Bahkan agar lebih mengelabui Murti, Bajag turun ke bawah dan mulai menjilati serambi lempit sempit Murti. Ia menyembunyikan mukanya di celah selangkangan istri pak camat itu.

Dengan liar lidahnya menyapu dan mengulum daging kecil klitoris milik Murti yang terlihat begitu mungil dan menggemaskan. Murti kaget sekaligus sangat kewalahan menerimanya, karena sebelumnya pak Camat tidak pernah melakukan hal yang seperti itu. Tubuh Murti langsung bergetar menahan nikmat, peluhnya mengucur begitu deras, dengan diiringi erangan-erangan kecil dan nafas tak tertahankan ketika ia merasakan rasa yang begitu nikmat ini.

Pelan tapi pasti, dengan posisi saling membelakangi, mulai dirasakannya rudal Bajag, yang masih disangka suaminya, mulai terbenam sedikit demi sedikit ke liang serambi lempitnya. Rasa gatal yang dirasakan Murti sejak tadi kini berubah menjadi rasa nikmat yang amat sangat saat rudal Bajag yang telah ereksi sempurna mulai bergerak-gerak pelan maju mundur menggesek liang serambi lempitnya.

Murti merasa suaminya lebih jago dalam permainan ini, beda dengan biasanya. Tapi sekali lagi, Murti tidak curiga. Ia menganggap, mungkin pak Camat telah banyak belajar hingga sekarang jadi sedikit lebih pintar. Akhirnya, dengan mata terpejam, dinikmatinya goyangan laki-laki itu. Murti begitu meresapinya hingga tak sampai lima menit kemudian, ia sudah berteriak kecil saat sudah tak mampu lagi menahan gejolak birahinya.

Tubuhnya yang montok meregang sekian detik sebelum akhirnya rubuh di ranjang ketika puncak kenikmatan perlahan meninggalkan tubuhnya. Murti memejamkan matanya sambil menggigit kecil bibirnya saat merasakan sisa-sisa orgasme yang membuat serambi lempitnya terus mengeluarkan denyut-denyut ringan penuh kenikmatan.

Bajag menyusul tak lama kemudian, laki-laki itu dengan cepat menarik rudalnya dan beberapa detik kemudian, air maninya tumpah dan menyembur dengan derasnya ke tubuh dan wajah cantik Murti. Murti gelagapan, tapi dia berusaha membantu dengan mengocok rudal ’suaminya’ sampai air mani Bajag habis, menetes seluruhnya. Murti sedang asyik menjilati rudal itu, saat Bajag berbisik, ”Aku benar-benar puas, Mur, kamu memang hebat!” pujinya.

Seketika Murti berbalik, terkejutlah ia karena yang sedang ia ciumi rudalnya adalah Bajag. Spontan ia mengusir laki-laki itu dan menangis sejadi-jadinya di kamar, sampai suaminya pulang. Pak Camat bingung melihat keadaan Murti, tapi ia tak pernah tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Sejak kejadian itu, Murti selalu mengunci semua pintu dan jendela bila sendirian di rumah. Dia takut Bajag akan masuk lagi sesuka hati.

Sampai tersiar berita yang masih dari bisik-bisik warga komplek. Bajag tidak hanya berjudi di pasar lama. Bajag diam-diam sering mengajak teman-temannya untuk berjudi dan minum sampai teler di rumahnya. Jelas itu adalah hal yang mencemaskan Murti.

Bahkan sering juga ada perempuan yang menginap di rumah Bajag sampai berhari-hari. Yang jelas perempuan itu bukan istri Bajag karena sampai umur tigapuluhdua tahun ini, Bajag masih seorang duda. Bisik-bisik tetangga itulah yang membuat Murti perlu berdialog dengan pak Camat.

“Mas Joko, pepatah bilang nila setitik akan merusak susu sebelanga.”

“Artinya?” Joko sang pak Camat bertanya.

“Masa sih mas Joko nggak tahu. Artinya sebanyak apapun kebaikan yang kita lakukan akan rusak oleh keburukan.” Murti menjawab sambil memperbaiki posisi berbaringnya.

“Apa hubungannya dengan kita, Murti?”

“Bukan kita, mas. Tapi komplek kita ini,”

“Maksudmu tentang Bajag?”

Murti mengangguk. Pak Camat menarik napas panjang. Murti menunggu pak Camat bicara, tapi suaminya itu cuma tersenyum. Murti terpaksa ikut tersenyum. Senyum yang kecut dan kelu. Setelah itu mereka tak bicara lagi karena lebih memilih untuk meneruskan keintiman yang tertunda.

Pak Camat dengan penuh nafsu melumat bibirnya, sementara Murti tersenyum manja saat memegang batang pak Camat yang memang sudah berdiri dari tadi. Laki-laki itu dengan sigap membuka kancing baju serta kait BH yang Murti pakai. Murti membalas dengan menarik kepala suaminya ke arah buah dadanya yang sudah terpampang bebas.

”Hisap, mas… hisap putingnya. Ughhhh!” pinta Murti tak tahan lagi.

Tapi belum puas pak Camat menghisapnya, Murti sudah dengan cepatnya menunduk dan mengulum batangnya yang sudah semakin mengeras dan menegang, “Ah… Mur, baru kali ini kamu menghisap rudalku.” desahnya keenakan. Dia tidak pernah tahu, ada satu peristiwa yang membuat Murti jadi nakal seperti itu.

“rudal mas besar sekali, dan ah… berurat lagi, seperti kawat baja.” desah Murti tak mau kalah.

Pak Camat agak bingung mendengar perkataan istrinya, ”Besar? Berurat?” perasaan, rudalnya tidak sampai seperti itu. Lalu, burung siapa yang dibicarakan oleh Murti? Pak Camat sudah ingin bertanya saat Murti mulai menghisap barangnya semakin cepat sambil kedua tangannya menggoyang-goyangkan bola kenikmatan yang ada di bawahnya, membuatnya jadi tak tahan dan akhirnya mengurungkan niat.

Malah yang ada, tanpa terasa pak Camat sudah mulai menunggangi tubuh bugil Murti. ”Kamu cantik banget, Mur.” seiring perkataan itu, melesaklah rudal pak Camat menembus serambi lempit sempit Murti.

”Oughh…” mereka menjerit bersamaan dan mulai menggoyangkan tubuh masing-masing.

Persetubuhan itu berlangsung singkat karena beberapa menit kemudian, pak Camat sudah melenguh penuh kepuasan. “Ahh… Mur, aku keluar! Ahh…” dia tekan pantatnya kuat-kuat dan menyemburkan spermanya di lorong sempit Murti.

Murti menerimanya dengan agak kecewa. Baru saja dia merasa nikmat, pak camat sudah keburu keluar. Tidak seperti… ah, dia tidak boleh mengatakannya. Murti sadar kalau apa yang ada dipikirannya bisa saja membuat pak Camat marah besar. Sambil membiarkan pak Camat merangkul tubuhnya, Murti juga membiarkan angannya terbang menjelajahi masa lalunya bersama Bajag kecil.

Bagi kebanyakan warga komplek, Bajag muda dan Murti muda bagaikan Rama dan Sinta. Bajag yang ketampanannya mewarisi kecantikan Yu Darti sangat cocok dan serasi bila sudah berjalan berdua dengan Murti yang memang sudah cantik sejak bayi. Setiap ada acara agustusan di komplek, Bajag dan Murti selalu berpasangan bila tampil di panggung. Bajag yang masih lugu dan pemalu sering membuat warga tertawa bila sudah dijahili Murti diatas panggung. Pokoknya dimana saja dan mau kemana saja, keduanya selalu bersama.

Murti ingat ketika baru masuk SMA, ayahnya sering meminta tolong pada Bajag agar mengantarnya ke sekolah. Bajag yang pengangguran senang saja mengantar Murti ke sekolah karena kalau sudah berdua dalam mobil, Murti sering lupa diri kalau sudah bukan anak kecil lagi. Tingkah Murti masih seperti bocah dan menganggap Bajag masih bocah juga.

Bajag senang karena Murti cuma mengikik geli tiap kali dia meremas buah dada yang lagi ranum-ranumnya. Bajag senang karena Murti cuma merem-melek kalau dia mengelus dan menjilati paha yang sedang mulus-mulusnya. Itu setiap hari Bajag lakukan kalau mengantar Murti sekolah. Sampai akhirnya Murti sadar bahwa itu terlarang.

Sejak sadar itulah, Murti tidak mau lagi diantar Bajag. Terakhir Murti diantar Bajag dan dalam mobil Bajag berusaha memelorotkan celana dalamnya. Murti yang sudah sadar berusaha mempertahankan diri, namun karena kalah kuat, diapun cuma bisa menangis. Ajaib, tangisannya itulah yang membuat Bajag menghentikan niat busuknya.

Padahal rok dan celana dalam Murti sudah teronggok di jok belakang. Tuhan memang maha besar hingga Murti masih tetap perawan. Sejak saat itu, Bajag tak pernah lagi mengantar Murti. Dan Murti kemudian mengganti seragam sekolah dengan seragam muslimah dan berkerudung. Sejak gagal memperkosanya, Murti tidak pernah lagi melihat Bajag berkeliaran di komplek.

Kemudian Murti tahu kalau ternyata Bajag menyewakan rumah peninggalan orang tuanya dan menggunakan uang hasil sewa rumah itu untuk pergi merantau ke luar pulau. Orang-orangpun senang dan berpikir kalau Bajag tidak seperti ayahnya yang pemabuk dan penjudi. Umur delapan belas tahun, Bajag sudah meninggalkan komplek.

Enam tahun sejak meninggalkan komplek, terdengar kabar yang makin membuat warga memanjatkan puji syukur. Bajag telah menikah dengan gadis anak ulama terkenal di perantauannya. Mau tidak mau Bajag harus menyesuaikan dengan kehidupan istrinya. Setiap hari Bajag memakai baju gamis dan menjadi tukang azan di masjid. Ketika Bajag dipercaya oleh mertuanya untuk mengelola pondok pesantren, semakin besyukurlah warga komplek karena Bajag benar-benar berbeda dengan ayahnya.

Namun dua tahun kemudian Bajag berubah. Kabar yang berhembus mengatakan kalau Bajag mulai menyalahgunakan fungsi pondok. Dia mulai meniru perilaku ayahnya. Bajag mengganti musik qasidah dengan musik rock. Persatuan hadrah dia tambahi dengan konsep lagu mancanegara. Para santri tidak diwajibkan untuk sholat lima waktu. Santri pria tidak lagi dibatasi untuk bertemu santri wanita. Pengajian rutin berubah menjadi acara makan makan dan minum. Tentu saja mertuanya marah besar.

Dan istrinya menanggung malu besar. Tidak sampai tiga tahun, perkawinan itu kandas tanpa dikaruniai seorang anak. Tuhan pasti tidak meridhoi Bajag menjadi seorang ayah karena takut akan menjadi seperti ayahnya. Bajag cerai dan mendapat harta bagi warisan dari istrinya berupa mobil dan uang tunai beberapa puluh juta.

Orang-orang mulai yakin kalau Bajag memang tak lebih baik dari ayahnya. Ketika Bajag kembali pulang ke komplek, maka ketika itulah perlahan tapi pasti dia merubah komplek menjadi seperti dulu. Harta yang didapat dari hasil perceraiannya ludes dalam sekejap, termasuk mobil.

Awalnya Bajag berjudi kecil-kecilan bersama tukang tukang ojek, tapi kemudian beralih ke judi yang lebih besar di pusatnya judi, yakni pasar lama. Semakin hari, Bajag bukannya semakin kaya, tetapi justru semakin hidup susah dengan tumpukan hutang disana-sini. Sampai tersiar kabar kalau pas tengah malam tadi Bajag digelandang ke kantor polisi.

Murti menarik napas dan melemaskan urat-urat setelah beberapa lama berada dalam himpitan pak Camat. Tubuhnya yang masih terlihat segar dan montok telentang penuh keringat. Murti mendehem ketika pak Camat mau meminta lagi. Pak Camat paham artinya itu. Murti membiarkan pak Camat keluar kamar.

Dia sendiri kemudian menyusul keluar untuk membersihkan diri dan sholat Ashar. Sehabis sholat, Murti berjalan menuju dapur. Namun belum sampai disana, dia mendengar bel rumah berbunyi diiringi ketukan pintu dan ucapan salam. Murti mengurungkan niat memasak dan berjalan menuju pintu.

Begitu pintu terbuka, Murti kaget setengah mati. Di hadapannya telah berdiri Bajag dengan keadaan babak belur. Bajag berdiri menyandar pada kusen pintu seakan untuk menopang tubuhnya agar tak jatuh. Antara takut dan kasihan, Murti mempersilahkan masuk, namun Bajag menolak dan tetap berusaha untuk berdiri tegak.

“Mur, suamimu ada?” kata Bajag dengan suaranya yang parau. Dulu suara Bajag sangat bening dan jernih karena sering dipakai untuk mengaji dan qiro’ah.

“Ada. Untuk apa kamu cari suamiku?” Murti agak khawatir juga kalau-kalau Bajag nantinya akan menyakiti suaminya.

“Tak usah takut, Murti. Aku tidak akan menyakiti siapapun. Tolong panggilkan saja pak camat.”

Murti masuk ke dalam dan tak lama kemudian keluar menemui Bajag bersama suaminya. Melihat keadaan Bajag, pak Camat yang tadinya agak takut menjadi kasihan. “Ada apa, Bajag? Masuk saja ke dalam,” pak Camat menuntun Bajag dan mendudukkannya di kursi ruang tamu. Murti bergegas ke belakang untuk membuat minuman lalu muncul lagi dan duduk di samping suaminya.

“Saya sangat memohon bantuan, pak Camat.” kata Bajag tanpa berani menatap Murti, teringat apa yang telah ia lakukan pada teman mainnya itu. Bajag cuma berani mengangkat wajahnya sesekali untuk memandang pak Camat, lalu menunduk lagi.

“Kalau itu masih di dalam kemampuan saya, pasti kamu akan saya bantu, Bajag.”

“Saya ingin meminjam uang pada pak Camat.”

“Berapa?”

“Sepuluh juta, Pak. Untuk bayar hutang. Kalau sampai besok saya tidak bisa melunasi, polisi akan menahan saya.”

Murti dan pak Camat saling berpandangan dalam berjuta makna. Sepuluh juta adalah jumlah yang besar, apalagi yang meminjam adalah Bajag.

Bersambung… Setiap pagi Bajag mengantar Murti terlebih dahulu ke madrasah, baru kemudian mengantar Pak Camat ke kantor dan siap siaga di kantor kecamatan menanti perintah Pak Camat. Jam satu siang, Bajag meninggalkan kantor sebentar untuk menjemput Murti dan mengantar Murti pulang, lalu balik lagi ke kecamatan sampai jam lima sore, waktu bagi Pak Camat pulang ke rumah.

Tak terasa rutinitas seperti itu sudah berjalan selama hampir dua bulan. Seperempat gaji yang diterima Bajag dipotong oleh Pak Camat sebagai cicilan hutang yang sebesar enam juta tanpa bunga. Hari minggu Bajag diberi libur, tapi Bajag tak pernah mengambil jatah libur dan tetap bekerja di hari minggu karena Pak Camat menghitung sebagai lembur. Jadi kalau hari minggu, Bajag siap siaga di teras rumah Pak Camat, menunggu siapa saja yang minta diantar.

“Bajag, mau ikut bapak mancing?” ajak Pak Camat suatu ketika di hari minggu yang cerah.

“Mancing kemana, Pak?” tanya Bajag.

“Kolam Pakuan. Ikannya besar-besar di situ.”

“Baik, Pak. Saya pulang dulu ambil pancing.”

“Tidak usah. Ada pancing nganggur di dapur. Kamu pakai itu saja.”

Bajag mengangguk dan bergegas menuju dapur. Sampai di dapur, ia bertemu dengan Murti yang sedang memasak. Murti agak kaget dengan kemunculan Bajag karena kalau memasak dia tidak pakai baju muslimah. Kalau memasak, Murti berpakaian biasa, pakai daster yang kainnya tipis, kalau tertiup angin kain itu berkibar kesana kemari. Untung saat itu tidak ada angin. Melihat Bajag berjalan sambil menunduk, Murti semakin tenang saja dan melanjutkan memasak.

“Maaf, Murti, dimana Pak Camat menyimpan pancingnya?”

“Itu di sudut dapur. Kamu mau ikut mancing?”

“Iya. Pak Camat yang ngajak.”

“Semoga dapat ikan banyak. Bisa buat makan nanti malam.”

Bajag memandang Murti yang kebetulan juga memandangnya dengan senyum yang sulit diartikan. Tak mau Pak Camat menunggu lama dan tak mau masakan Murti gosong, maka Bajag pun meninggalkan dapur. Sejurus kemudian terdengar mobil meninggalkan halaman rumah.

Dalam kesendiriannya Murti menghela napas, mengusir pikiran-pikiran aneh yang tiba-tiba datang. Hatinya terasa nyeri saat bertatapan dengan Bajag tadi. Entah kenapa dia harus tersenyum sedemikian rupa pada Bajag. Murti sadar kalau senyumannya tadi telah membuat Bajag terpana. Tapi Murti melihat Bajag telah mengalami perubahan nyata. Tatap mata Bajag tidak liar penuh nafsu. Bajag juga lebih sering menunduk bila bertemu atau bersamanya. Murti mulai merasa aman dengan keberadaan Bajag, tidak takut lagi seperti saat hari pertama Bajag menjadi sopir.

Dalam kesendiriannya itu juga Murti memikirkan perjalanan rumah tangganya. Selama tujuh tahun menjalani mahligai suci bernama perkawinan, hingga kini belum ada tanda-tanda akan hadirnya seorang anak. Murti kerap bertanya-tanya dalam hati apa gerangan penyebabnya. Dia dan Pak Camat sudah puluhan kali memeriksakan diri ke sejumlah dokter dan semuanya menyatakan kedua pihak subur.

Setiap kali berhubungan intim, Murti selalu berharap itu bukan hubungan rutin biasa antara suami istri, tetapi juga hubungan yang bisa menghasilkan buah hati. Dia selalu berdo’a semoga setiap sperma yang masuk ke rahimnya bisa menemukan sel telur. Tapi hingga kini semuanya seakan terbuang sia-sia.

Tenaga dan keringat yang setiap malam selalu dia korbankan rasanya tiada arti. Rahimnya tetap kosong, seiring dengan hampanya suasana hidup tanpa tangisan seorang bayi. Dan di hari minggu ini Pak Camat, suaminya, malah pergi memancing, padahal dia sudah merasa siap dan dalam keadaan paling memungkinkan untuk menghasilkan telur yang bisa dibuahi.

Murti merasakan hormonnya sedang dalam masa-masa paling subur. Dan dia berpakaian daster setipis ini juga demi memunculkan rangsangan pada suaminya. Tapi semua yang dia harapkan tidak terjadi dan Murti harus kembali pada kenyataan bahwa dia memang belum dipercaya memiliki anak.

Murti menata masakan yang sudah matang di meja makan, menarik kursi lalu duduk seorang diri sambil menyuapkan nasi ke mulut. Tidak ada selera sama sekali. Murti mengakhiri makannya dan merenung dalam kamar. Tidak banyak yang bisa dilakukannya selain bergelimpangan kesana kemari dengan gelisah. Tak lama kemudian Murti tertidur dengan pintu kamar terbuka, dengan daster yang tersingkap sampai batas paha. Murti tidur dengan lelah hati memikirkan berjuta-juta problema.

Sayup-sayup Murti mendengar pintu depan diketuk berkali-kali disertai salam dan teriakan seseorang memanggil namanya. Murti menganggap itu adalah mimpi di siang bolong yang menghiasi tidurnya. Semakin keras saja ketukan pintu sampai Murti sadar itu bukanlah mimpi. Terlebih ketika pintu itu berderit terbuka dan terdengar derap langkah halus mendekati kamar.

Murti sudah yakin itu adalah Pak Camat, suaminya, karena yang memegang kunci serep cuma suaminya. Cuma Murti heran, tidak biasanya Pak Camat pulang secepat ini bila memancing. Pas orang itu berdiri di ambang pintu kamar yang masih terbuka, barulah Murti sadar bahwa yang datang memang bukanlah Pak Camat.

“Bajag!” ia serambi lempitik.

“Iya, Mur. Pak camat menyuruhku jemput kamu.” Bajag menunduk dengan muka memerah, matanya sempat menangkap kemulusan paha montok Murti.

“Jemput kemana?”

“Pak Camat bilang kamu harus pergi ke arisan Darma Wanita.”

Astaga, Murti menepuk keningnya penuh sesal. Dia lupa kalau hari minggu ini harus hadir untuk membuka arisan. Untung masih belum terlambat. Arisan dimulai jam empat sore, sedangkan ini baru setengah tiga. Berarti cukup lama juga dia tidur.

“Baiklah, Bajag. Tunggu sampai saya selesai ganti baju.” katanya kemudian.

“Saya tunggu di luar.”

Bajag sudah ingin berbalik dan melangkah pergi saat Murti berkata, “Tunggu saja disini, tapi jangan menghadap ke arahku.”

Murti sudah merasa kepalang tanggung. Dia sedari tadi bicara dengan berbaring, dengan daster tersingkap di sana-sini, dengan rasa malu yang hilang entah kemana. Keberadaan Bajag tidak menjadi masalah baginya untuk mengganti daster dengan gaun lain. Selama masa pergantian baju itu, selama itu juga waktu bagi Bajag untuk menahan mati-matian semua hasratnya.

Bajag berjuang membunuh birahinya. Meskipun Murti memintanya membelakangi, namun tetap saja wujud bahenol itu terlihat nyata bagi Bajag yang berdiri menghadap cermin besar. Tubuh Murti terlihat lebih menggoda daripada saat ia mencicipinya dulu.

“Bajag, tolong pasangkan bagian belakang gaunku.” Murti meminta.

“Itu tidak boleh, Murti.” Bajag mengingatkan, tampaknya ia benar-benar sudah berubah sekarang.

“Aku membolehkan. Kamu cuma akan melihat punggungku saja, Bajag. Tolong agak cepat.” Murti terus memaksa.

Bajag merasakan hal yang pernah dirasakannya beberapa bulan silam begitu menyaksikan punggung polos Murti. Ketika jemarinya memasang satu persatu kancing gaun wanita cantik itu, maka satu persatu setan laknat coba menggoyahkan imannya. Bajag sudah kebal berhadapan dengan setan jenis apapun, tapi untuk setan manis seperti ini, hati dan birahi siapa yang akan tahan.

“Aku pernah memperkosamu, Mur. Tidakkah kamu takut hal itu akan terjadi lagi?” tanya Bajag.

“Aku tidak pernah merasa kamu perkosa, Bajag. Kejadian itu karena kita sama-sama tidak tahu. Sekarang kita sudah sama-sama mengerti kalau itu salah. Aku yakin kamu tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku percaya kepadamu, Bajag.” jelas Murti.

”Kalau aku melakukannya lagi, bagaimana?” tantang Bajag.

”Kamu mau melakukannya?” Murti menahan gerakannya.

”Kalau kau terus memancingku seperti ini.” jawab Bajag, pelan tangannya mulai menyusuri lekuk tubuh Murti.

Murti terdiam. Tubuhnya menegang. Ia menunggu hingga Bajag melingkaran tangan dan memeluknya, barulah ia berbisik. ”Apa aku bisa menolak?” senyum tersungging di bibirnya yang tipis.

Bajag ikut tersenyum dan segera memajukan kepalanya, mengecup pipi Murti lembut. Murti mengeluh lirih dan merangkulnya erat sambil mulutnya bergeser mencari bibir Bajag. Mereka berpagutan cukup lama, Murti seakan sedang menumpahkan semua beban pikirannya kepada pagutan bibir mereka berdua. Bajag betul-betul terhanyut, tetapi masih dapat ’menjaga kesopanannya’ dengan hanya memegangi pipi Murti saja.

Tapi begitu serunya ciuman mereka, hingga tanpa sadar, tubuh montok Murti perlahan terdorong ke belakang dan akhirnya menjadi berbaring telentang di tempat tidur. Bajag menindihnya dari atas dengan bibir terus menempel erat. Tiba-tiba saja tangan Bajag sudah berpindah ke dada Murti yang membusung indah, ia meremas-remas dengan gemas daging bulat itu. Meski dari luar baju, tapi kekenyalan dan keempukannya sudah cukup terasa. Bajag sangat menyukainya, ia jadi merinding dibuatnya.

”Ehmm…” Murti melenguh, dengan tak sabar ia menurunkan baju gamisnya hingga ke perut agar Bajag bisa menyentuh payudaranya secara langsung.

Tak berkedip, Bajag memandangi gundukan daging yang masih tertutup BH itu. Itupun juga tidak lama karena Murti buru-buru menyingkap cup-nya hingga tonjolan buah dadanya yang besar benar-benar terburai keluar, dua-duanya. Mata Bajag makin melotot. Sejenak ia meneliti wanita di hadapannya ini. Leher Murti tampak putih berkeringat, anak-anak rambut yang menggerai di sekeliling lehernya membuat rudal Bajag mengejang. Bahunya yang pualam menyangga mulutnya yang sedikit menganga dan mengeluarkan desisan lirih yang sedikit memburu. Mata Murti terpejam.

Bajag tak dapat lagi menahan diri. Segera ditubruknya payudara Murti yang membulat indah, dengan puting mungil kemerahan yang mengacung indah ke depan, benda itu tampak begitu sempurna. Bajag pun segera menggenggam dan meremas-remasnya dengan penuh nafsu, sambil bibirnya menelusuri leher Murti yang jenjang.

Murti menempelkan badannya erat-erat ke tubuh Bajag, ia menggelinjang ketika Bajag memutar-mutar telapak tangannya di kedua puncak payudaranya, memelintir-lintir putingnya, sambil sesekali memijit benda mungil itu dengan gemas. Gelinjangannya makin bertambah ketika tangan Bajag turun ke bawah, menyingkap baju gamisnya dan menyentuh sela-sela selangkangannya. Bajag menekan-nekan lembut disana sambil mulutnya mulai menjilati puting susu Murti. Dengan nakal tangan Bajag berusaha menurunkan celana dalam Murti, tetapi masih sulit.

”Egh!” Murti mendesis. Dia membalas dengan menerobos celah ritsleting celana Bajag dan mengelus-ngelus rudal pemuda itu yang sudah menegang dahsyat dari luar celana dalamnya. Murti juga merengkuh kepala Bajag dan ditariknya ke arah puting susunya agar Bajag bisa menghisapnya dengan lebih nikmat. Sementara di bawah, tangannya beralih meraih tangan Bajag dan dibimbingnya untuk segera masuk ke dalam CD-nya. Sebagai istri yang baik, Murti sudah bertindak berlebihan.

Mendengus kesenangan, Bajag mengelus-elus bulu serambi lempit Murti pelan-pelan. Terasa lebat sekali. Dari sekian banyak wanita yang pernah ditiduri Bajag, baru Murti ini yang memiliki rambut sedemikian lebat. Bajag terus mengelus-elusnya, bahkan kini tangannya bertindak lebih berani dengan menggelitik bibir serambi lempit Murti, berusaha mencari lubangnya yang basah dan hangat. Dengan mudah Bajag menemukannya karena air nikmat Murti sudah begitu banyak keluar. Murti sendiri membantunya dengan menekan-nekan tangan Bajag yang ada di permukaan serambi lempitnya agar menusuk lebih dalam lagi.

“Euuuhh… eeuuuhh…” Murti menggelinjang. Lalu tak sabar, segera diturunkannya CD yang ia pakai hingga ke paha. Telanjang bulatlah ia.

”Gila, putihnya!” batin Bajag dalam hati. Pantat Murti yang bulat, yang biasanya cuma bisa ia pandangi kalau Murti lagi bergelayut manja di lenganku, ternyata betul-betul indah. Pinggulnya apalagi. rudal Bajag langsung berdiri melihat semua itu. Ia pun segera menunduk dan menggosok-gosokkan ujung hidungnya ke pinggul Murti yang lebar, pelan-pelan Bajag menjilat memutar menuju ke pantat Murti yang indah. Bajag meremas-remas bulatan kembar itu, sambil terus menggesek-gesekkan ujung hidungnya ke lubang serambi lempit Murti. Harum baunya, harum sekali. rudal gatot yang tegang bergerak-gerak semakin liar .

Murti yang sudah tak sabar segera memegang tangan Bajag, dibimbingnya untuk kembali menusuk-nusuk lubang serambi lempitnya. Ia sendiri seakan kesetanan menunggu lubang serambi lempitnya dimasuki oleh jari-jari Bajag. Tetapi Bajag malah lebih tertarik pada puting susu Murti, ia berkonsentrasi disana. Bajag menjilat, mengelus-elus memakai lidah, menyedotnya pelan-pelan sampai Murti melenguh dan menggelinjang-gelinjang penuh kenikmatan. Wanita itu makin tidak tahan lagi, tangannya mulai menurunkan celana panjang Bajag, juga CD yang dikenakan oleh pemuda itu. Lalu dengan cepat tangan Murti menggenggam rudal Bajag yang sudah menegang sempurna. ”Besar, Jag.” gumam istri Pak Camat itu.

”Ehmm,” Bajag serasa melayang. Sebagai sopir pribadi, selama ini kalau Murti bergayut di lengannya saat dibantu masuk ke dalam mobil, ia sering membayangkan tangan putih dengan jari-jarinya yang panjang itu mengelus-elus batang rudalnya. Bajag cuma berani membayangkannya, tanpa pernah mencoba untuk meminta. Dan sekarang, ternyata hal itu menjadi kenyataan.

Bahkan bukan cuma dipegang, di luar dugaan, Murti langsung membalik tubuhnya dan mengarahkan mulutnya ke arah rudal Bajag. Lalu tanpa basa-basi dikulumnya rudal itu. Bajag sendiri langsung meneroboskan mukanya ke arah serambi lempit Murti. Tangannya memisahkan rambut-rambut keriting halus yang tumbuh disitu untuk melihat klitoris mungil Murti yang sudah menyembul keluar. Bajag menggosok-gosok perlahan permukaannya hingga membuat Murti menggelinjang keenakan. Dan istri Pak Camat itu makin suka saat Bajag mulai menjilat sambil menghisap-hisapnya penuh nafsu.

“Ouw… Jag, ouw! Bajag! Oughss…” lenguh Murti keras-keras, “Terus, Jag… teruuuss… ughhh!” lenguhnya makin kencang saat cairan bening mulai merembes dari lubang serambi lempitnya. Semakin gatot menjilat, semakin banyak cairan itu meleleh keluar. Dan puncaknya, begitu Bajag menggigit klitorisnya, istri Pak Camat itupun menyemburkan cairan orgasmenya. Wajah Bajag tersiram cairan panas yang berbau sedikit pesing. Isapan Murti di rudal Bajag jadi sedikit melemah. Ia lebih banyak diam menikmati sisa-sisa orgasme yang masih melanda tubuh sintalnya.

Bajag berpikir kalau Murti sudah selesai. Ia sudah akan beranjak saat tiba-tiba Murti membalikkan badan dan langsung duduk di atas perutnya. Murti memegang rudal Bajag dan coba dimasukkan ke dalam liang serambi lempitnya yang sudah sangat basah. Rasanya wow, sungguh luar biasa ketika kepala rudal Bajag mulai menerobos masuk. Bajag yang kegelian sampai terpejam dan mengangkat kepala karena saking tak tahannya. Maklum, sudah dari dulu ia memendam hasrat ini. Dan sekarang, setelah mendapatkannya, ia jadi tak kuat menahan birahinya lama-lama. Murti yang melihat itu segera memberi Bajag payudaranya yang sebelah kiri. Melihat ada gumpalan daging kenyal putih menantang menggantung di depan matanya, Bajag langsung menyambar dan menghisap-hisapnya dengan penuh nafsu.

Di bawah, rudalnya dengan mudah menembus serambi lempit basah Murti. Ia langsung merasa nikmat-nikmat nyeri karena serambi lempit Murti ternyata begitu sempit dan ketat. rudal Bajag serasa dicekik dan dipijit kuat-kuat, tapi terasa sangat nikmat dan menggelikan sekali. Terasa ada yang mulai mengalir keluar dari ujung rudalnya. “Gila, padahal belum digoyang, aku sudah mau keluar…” pikir Bajag heran.

Ditahan sekuat apapun, ia tetap tak tahan. serambi lempit basah Murti betul-betul begitu nikmat. Dalam beberapa kali goyangan pendek, sambil memeluk tubuh montok Murti erat-erat, sperma Bajag menyembur keluar. Ia remas payudara Murti kuat-kuat saat cairan pejuh itu mengalir keluar. Murti memegangi pantatnya dan berbisik, “Masukkan semua, Jag… masukkan semua.”

Bajag menekan rudalnya kuat-kuat ke dalam serambi lempit Murti, ia masukkan semua benih hidupnya ke dalam jaringan tubuh istri Pak Camat itu. Setelah tuntas semuanya, barulah Bajag menggulingkan tubuhnya hingga jepitan Murti terlepas. Masih terengah-engah, mereka berbaring bertindihan dengan kelamin masih meneteskan cairan masing-masing. Bajag menikmati saat-saat itu dengan mempermainkan payudara Murti dan menggesek-gesekkan ujung rudalnya ke lubang serambi lempit Murti yang basah. Murti membalas dengan menciuminya sambil merangkul tubuhnya erat-erat.

Lima menit mereka berada dalam posisi seperti itu hingga Bajag teringat akan tugas dia yang sebenarnya. ”Mur, arisanmu.” ia mengingatkan.

Murti menoleh ke jam di dinding dan tersenyum. ”Masih ada waktu sepuluh menit lagi,” selesai berkata, ia menggoyang-goyangkan pantatnya hingga rudal Bajag yang masih berada dalam jepitan pinggulnya, berdiri kembali.

“Kamu pengen lagi?” tanya Bajag mesra. Terasa bibir serambi lempit Murti yang hangat memijat lembut batang rudalnya. ughh… rasanya sungguh nikmat sekali.

Tak sabar, Murti segera membimbing rudal Bajag agar segera memasuki liang serambi lempitnya. ”Aghhh…” mereka mengerang berbarengan dan mulai saling menggoyang.

10 menit kemudian, Murti dua kali mengalami orgasme. Sedangkan Bajag, menyusul tak lama kemudian dengan tembakan ringan di liang serambi lempit Murti. Mereka saling tersenyum dan berciuman. Ketika sudah tidak berdaya lagi, Bajag melihat jam. Hampir 30 menit berlalu sejak ia masuk ke kamar ini. Ia harus segera mengantar Murti pergi ke arisan kalau tidak ingin Pak Camat curiga.

Jadi Bajag segera bangkit dan mulai memunguti pakaiannya yang terserak di sana-sini. Tercium bau sperma bercampur keringat yang sangat pekat di kamar itu. Murti segera membenahi pakaiannya dan menyemprotkan Bayfresh ke dinding-dinding kamar untuk mengurangi bau ‘mesum’ itu. Setelah mengenakan jilbabnya, ia pun mengajak Bajag agar cepat berangkat.

Sepanjang perjalanan, Bajag dan Murti tidak bicara sepatah kata pun. Bayang-bayang perselingkuhan mereka barusan membuat keduanya cuma bisa berbagi senyuman. Tidak ada kelanjutan dari senyum yang mengambang di udara sore itu, sampai tiba di kantor kecamatan tempat Murti arisan.

“Bilang ke Pak Camat agar menjemput jam setengah enam.” kata Murti.

“Baik, Mur. Selamat tinggal.”

Murti melangkah ke pendopo dimana para ibu-ibu sudah berkumpul. Bisik-bisik diantara para ibu langsung berhenti begitu Murti lewat. Murti bukannya tidak tahu dan tidak mendengar apa isi gunjingan para ibu. Telinganya cukup sehat untuk menyimak namanya disebut-sebut dalam gunjingan itu. Sudah kebiasaan para ibu untuk bergosip di setiap kesempatan. Apalagi Bu Marni, istri Pak Sekcam juga hadir. Murti seratus persen yakin gosip itu berawal dari mulut usil Bu Marni.

“Apa arisan sudah bisa dimulai, ibu-ibu?” tanyanya sesopan mungkin.

“Silahkan dibuka saja, Bu Murti.” jawab seorang ibu.

Seperti biasa, Murti memimpin para ibu menyanyikan lagu mars Darma Wanita. Setelah itu dia memberi beberapa sambutan dan pengumuman yang berhubungan dengan kegiatan Darma Wanita. Murti merasakan pandangan Bu Marni seperti menelanjangi dirinya. Tahu apa si Marni tentang diriku? bisik hati Murti sebal. Dia sudah merasa jemu dan kesal, namun sebagai pembina Darma Wanita tingkat kecamatan, dia harus mengikuti acara arisan sampai akhir.

“Bu Murti, bagaimana kalau pertemuan berikutnya kita bahas masalah poligami dan poliandri?” usul dari Bu Fatimah.

“Jeng Fatimah ada-ada saja. Kita kan sudah tahu kalau itu dilarang.” jawab Bu Marni menimpali.

“Ada baiknya juga usul Bu Fatimah itu. Biar kita para ibu ini lebih jelas dan paham gitu,” kata Bu Yati yang membuat Bu Marni merengut.

“Baiklah. Pertemuan bulan depan kita bahas itu. Nanti saya koordinasikan dengan ibu Bupati,” kata Murti memutuskan sekaligus menutup acara.

Arisan pun bubar, tetapi bisik-bisik para ibu tetap berlanjut. Murti segera meninggalkan pendopo karena melihat mobil dinas suaminya sudah menunggu di luar. Lagi-lagi cuma Bajag seorang diri yang ada dalam mobil.

“Mana Pak Camat, Jag?” tanya Murti.

“Masih di kolam pancing, Mur. Bapak minta saya jemput kamu.”

“Langsung pulang saja.”

Murti masuk ke mobil diikuti tatapan mata para ibu yang sedari tadi memang terus-terusan menggunjingnya. Hari minggu yang benar-benar menyebalkan bagi Murti. Tidak ada satu hal pun yang berpihak padanya hari ini. Semua menyudutkannya.

“Ada apa, Mur?” tanya Bajag.

“Tidak ada apa apa.”

“Kita ini bersama dari kecil, Mur. Aku tahu sesuatu telah membuatmu gelisah.”

“Dulu satu-satunya hal yang membuatku gelisah adalah ulah dan perbuatanmu. Sekarang ada banyak hal yang membuatku gelisah.”

“Terima kasih kamu masih mau memikirkan teman kecilmu yang sontoloyo ini.”

“Bajag, kuharap kamu tidak kembali ke jalan menyesatkan itu.” pinta Murti.

“Aku akan berusaha, Mur.” janji Bajag.

“Berusahalah demi hubungan kita.”

Murti dan Bajag berpisah di jalan depan rumah. Bajag sekali lagi harus bolak-balik antara rumah dan kolam pancing untuk memenuhi perintah majikannya. Sedangkan Murti sekali lagi harus kembali masuk ke dalam kamar sambil menunggu Pak Camat pulang. Dulu dimasa kecil, kamar ini menjadi tempatnya bermain bersama Bajag, dari permainan biasa seperti halma, dakon, main monopoli, sampai permainan luar biasa seperti saling kejar, saling bergulingan, saling piting sana-sini, dan saling tarik menarik ini-inu. Semua terjadi tanpa aturan, tanpa ada batas. Dan kini kamar itu menjadi saksi perselingkuhan antara dirinya dengan Bajag tadi siang.

Lamunan Murti terputus oleh derap langkah kaki Pak Camat dari luar. Murti sudah menghapalnya.

“Mur, lihat yang kubawa pulang.” kata Pak Camat menunjukkan hasil pancingannya.

“Banyak sekali, Mas. Jangan-jangan beli di pasar.”

“Ya ampun, Mur, ini hasil pancinganku dan pancingan si Bajag. Dia memberikan pada kita.”

“Lalu mana Bajag?”

“Langsung pulang. Kamu masak yang enak ya. Jangan lupa anterin sebagian ke rumah Bajag.”

“Mas Joko sajalah yang ngantar ke sana. Nggak enak dilihat tetangga.”

“Ya antar lewat belakang dong. Ternyata Bajag itu luar biasa, Mur, nyambung kalo diajak ngomong.”

“Ya sudah, Mas Joko mandi dulu. Baunya bikin eneg.”

Murti membawa ikan hasil tangkapan ke dapur. Butuh waktu hampir dua jam mengolah ikan-ikan itu sampai menjadi masakan yang lezat. Murti berusaha membuat masakannya senikmat mungkin karena bukan hanya akan dimakan keluarganya saja, tetapi juga akan dimakan oleh Bajag. Ada rasa ragu antara ya dan tidak untuk mengantar masakannya ke rumah Bajag.

Ia takut kejadian tadi siang akan terulang, padahal Pak Camat lagi ada di rumah. Tapi pada akhirnya, Murti memutuskan untuk mengantar juga. Dibalik keremangan malam, dia pun mengendap-endap lewat belakang rumah, lalu melintasi tembok dan dalam sekejap sampai di dapur Bajag.

Murti meletakkan masakan di atas meja lalu merayap halus mendekati kamar Bajag. Matanya nanar melihat Bajag yang tidur meringkuk di atas kasur lusuh. Murti tak mau mengganggu, jadi ia kembali merayap ke belakang dan melintasi pagar sampai di dapurnya sendiri.

“Sudah kamu antar?” tanya Pak Camat.

“Sudah, Mas. Bajag lagi tidur, jadi kutaruh saja diatas mejanya.” jelas Murti.

“Bagaimana dengan arisan Darma Wanitanya, Murti?”

“Seperti itulah, Mas. Ibu-ibu berkumpul cuma untuk menggosip.” sahut Murti.

“Membicarakan tentang kita kan?” tebak suaminya.

“Kok Mas Joko tahu?” Murti heran.

“Telingaku ini masih bolong semua, Mur. Ke kamar yuk,” ajak suaminya.

“Masih juga jam segini. Nonton TV dulu ya, Mas.” Murti tahu apa yang diinginkan oleh laki-laki itu, tapi Murti masih lelah setelah main dengan Bajag tadi siang.

“Tapi nonton TV sambil anu ya?” Pak Camat terus menggoda.

Murti mesem dan Pak Camat langsung kesengsem. Tak ada rotan akarpun jadi. Tak ada tempat tidur, karpet pun jadi. Murti asyik menonton sex and the city, sementara Pak Camat sibuk sex bersama istri. Murti ngiler melihat tubuh seksi para artis luar negeri, sedangkan Pak Camat air liurnya sudah mengalir di sekujur tubuh seksi si Murti. Ketika film di TV sudah the end, namun Pak Camat masih pengen. TV sudah mati, tapi barang Pak Camat masih tegak berdiri. Sampai Murti menggoyangnya hingga benda itu terkulai lemas tak lama kemudian.

“Kita sudah berjuang sekeras ini, tapi belum ada hasilnya juga ya, Mur.” kata Pak Camat sambil mempermainkan serambi lempit basah Murti.

“Sabar, Mas. Semuanya Tuhan yang menentukan.” jawab Murti kalem.

“Yang penting kita sudah berusaha kan, Mur?” tanya Pak Camat lagi, mulutnya dengan nakal menciumi payudara Murti satu per satu.

Murti tersenyum, mencoba untuk berbesar hati. Semua memang butuh kesabaran karena orang sabar akan dapat imbalan yang setimpal. Seperti dirinya yang sabar menanti Bajag menyetubuhinya dan kini kesabaran itu membuahkan hasil.

Bersambung… Bajag semakin betah bekerja di rumah Pak Camat. Pak camat juga semakin menaruh kepercayaan pada Bajag. Jika sebelumnya Bajag cuma diberi jabatan sopir, sekarang jabatannya bertambah satu, yakni sebagai penjaga malam di rumah Pak Camat, otomatis juga gajinya meningkat.

Jadi sekarang Bajag jarang menempati rumahnya karena lebih sering berkeliaran di sekitar rumah Pak Camat. Meskipun sudah tobat, tapi orang-orang tetap menaruh segan dan takut pada kegarangan Bajag. Atas dasar itulah Pak Camat mempercayai Bajag banyak hal, memberi Bajag kebebasan keluar masuk rumahnya. Para tamu Pak Camat juga merasa nyaman dan tenang tanpa perlu takut kehilangan motor.

Dulu memang pernah ada kejadian motor salah satu tamu Pak Camat hilang saat diparkir di depan pagar. Ketika itu secara tidak langsung orang-orang mengarahkan tuduhan pada Bajag. Untung tuduhan itu tak terbukti. Lebih untung lagi Bajag tidak tahu kalau dirinya dituduh mencuri. Seandainya Bajag tahu, entah apa yang akan terjadi pada komplek.

Bisa jadi ada beberapa orang mati tersambar golok maut si Bajag. Sekarang Bajag tidak pernah lagi membawa golok itu. Cuma Pak Camat dan Murti saja yang tahu bahwa Bajag selalu menyelipkan celurit kecil di balik jaketnya kemanapun pergi. Celurit kecil yang bisa membawa bencana besar jika ada yang mencoba macam-macam.

“Rokok, Jag.” Pak Camat menawari Bajag rokok saat duduk duduk santai di teras depan.

“Terima kasih, Pak.” Bajag mengambil sebatang lalu menyulut menggunakan korek Zippo milik Pak Camat dan mengebulkan asap rokok itu sampai ke dalam rumah, tercium oleh Murti yang lagi menonton sinetron.

“Ada pegawai kantor yang sering menanyakan kamu,” kata Pak Camat.

“Siapalah saya ini kok sampai ada yang menanyakan,” jawab Bajag merendah.

Murti mulai tidak serius nonton sinetron mendengar obrolan itu. Dia lalu beringsut sedikit agar bisa mendengar lebih jelas.

“Bapak serius, Jag. Si Dewi itu yang sering nanyakan kamu.”

“Saya yakin Mbak Dewi itu cuma bercanda, Pak Camat.”

“Bajag, kalau bercanda itu tidak mungkin tiap hari nanya terus. Dewi perempuan yang baik kok.”

“Justru karena itu, Pak. Seorang duda yang bergelimang dosa sangat tidak pantas buat perempuan manapun.”

“Kamu terlalu pesimis. Padahal bukan cuma Dewi yang tanya seputar kamu. Banyak lho gadis komplek ini yang naksir kamu.”

“Saya belum ada niat untuk memulai lagi, Pak.”

“Ya sudah. Sebelumnya bapak mohon kamu tidak tersinggung dengan pertanyaan bapak ini,”

“Pak Camat mau menanyakan apa?”

“Tentang ayahmu. Bapak dengar dari cerita Murti, ayahmu menghilang dan sampai sekarang tak ada kabar.”

Bajag mengangguk. Seumur-umur belum pernah ia memikirkan tentang ayah kandungnya, namun pertanyaan Pak Camat membuat bayang-bayang ayahnya kembali muncul. Bajag ingat hari hari terakhir dia bersama ayah ibunya. Saat itu malam sangat buta. Dia duduk di warung ayahnya, menonton ayahnya mengadu untung dengan berjudi besar-besaran.

Betapa dia melihat uang taruhan ayahnya sedikit demi sedikit beralih tangan sampai uang itu ludes sama sekali. Tapi ayahnya tidak berhenti berjudi, bahkan kemudian berunding dengan musuhnya. Perundingan yang tampaknya disetujui karena kemudian judi berlanjut. Ayahnya sempat menang beberapa kali tapi kemudian lebih banyak kalahnya. Dan ayahnya yang kalah total lalu membawa tiga musuhnya ke rumah.

Bajag ingat betul teriakan minta tolong ibunya yang ditelanjangi kemudian diperkosa ketiga lelaki itu. Bajag mendengar tangisan ibunya yang menyayat hati sementara ia tidak melihat ayahnya sama sekali. Tiga hari tiga malam Bajag mendengar berbagai ratapan, tangisan, sumpah serapah ibunya. Selama tiga malam pula tiga lelaki itu tidak keluar sama sekali dari kamar ibunya.

Pada malam keempat tiga lelaki itu keluar dan pergi begitu saja. Bajag yang masuk kamar ibunya terkejut melihat sebilah pisau menancap tepat di jantung ibunya yang telanjang bulat. Ibunya mati. Orang-orangpun berduyun-duyun datang dan bilang kalau ibunya mati bunuh diri. Tetapi Bajag yakin ibunya mati dibunuh tiga begundal itu. Wajah tiga orang itu masih diingat Bajag sampai sekarang, sama dengan ingatannya tentang wajah sang ayah. Semua telah menjadi musuh dalam hatinya.

“Saya tidak ingin orang menanyakan ayah saya. Siapapun!” kata Bajag dengan suara bergetar menahan marah. Beruntung Murti muncul dan dengan gerakan yang anggun menyuguhkan kendi berisi air dingin. Seketika jiwa Bajag yang sempat membara jadi dingin tersiram gerakan itu, juga tersiram oleh air yang mengalir ke tubuh. “Maafkan kalau saya agak kasar, Pak Camat.” katanya kemudian.

“Seharusnya bapak yang minta maaf. Lanjutkan saja tugasmu, ya.”

“Iya, Pak. Kalau butuh sesuatu, panggil saja saya.”

Pak Camat masuk meninggalkan Bajag. Sampai di dalam rumah, lengannya ditarik menuju kamar oleh Murti. Pak Camat sampai hampir jatuh saking kerasnya seretan itu. “Apa-apaan sih kamu, Murti?!” tegur Pak Camat agak marah. Mereka sudah ada di kamar dan Murti mengunci pintu, juga menutup tirai kamar.

“Mas Joko gimana sih? Saya kan sudah bilang jangan pernah tanyakan hal itu ke Bajag!”

“Jadi kamu nguping ya?” kata Pak Camat mulai lunak.

“Bukannya nguping, Mas. Tapi aku khawatir mas nanya yang macam macam ke Bajag. Nyatanya terbukti kan?”

“Aku cuma ingin tahu saja, Murti. Siapa tahu Bajag mau berbagi masalah pribadinya pada kita.”

“Tapi Bajag itu sangat sensitif kalau ditanya masalah keluarganya. Untung tadi Bajag cuma gusar.”

“Maaf deh. Aku janji nggak bakal nanya-nanya itu lagi.”

“Aku nggak mau kehilangan Mas Joko,”

“Kalau aku mati, kamu kan bisa kawin lagi. Kamu masih terlihat muda, masih seksi dan bahenol, masih…”

Pak Camat tak meneruskan kata-katanya karena Murti keburu menghujaninya dengan cubitan. Dari sekedar cubit mencubit kemudian berkembang jadi jepit menjepit. Tapi keduanya memang lagi tidak berselera. Pak Camat menjauhkan wajahnya dari buah dada Murti yang masih ranum dan montok padahal Murti sudah membukanya lebar-lebar.

“Aku mau pergi menemui Pak Hasan. Kamu di rumah saja ya?!” katanya sambil menutup kembali baju Murti.

“Tapi jangan pulang terlalu malam ya, Mas!” Murti mengancingkan kembali bajunya.

“Tidak usah takut. Ada Bajag yang berjaga di depan.” Pak Camat mencium bibir Murti sebelum keluar kamar. Kemudian Murti mendengar deru mobil menjauh dan hilang di keramaian jalan.

Murti melangkah keluar kamar menuju teras, duduk menemani Bajag yang juga masih ada di teras. Keduanya duduk bersebelahan, dibatasi meja kecil yang memisahkan kursi mereka. Seperti biasa, keduanya saling diam terlebih dulu sampai bermenit-menit, lalu saling tersenyum, dan kemudian tawa merekapun pecah.

“Apa yang kamu tertawakan, Mur?”

“Tidak ada, Jag. Aku cuma menertawakan diriku sendiri.”

“Bohong. Kemana Pak Camat pergi?”

“Ke rumah Pak Hasan. Ada urusan kantor bilangnya. Kuambil cemilan dulu ya,” Murti berkelebat ke dalam, tak sampai satu menit keluar lagi dengan mendekap toples berisi keripik singkong. Diletakkan toples itu di meja. Angin malam berhembus agak kencang, juga agak nakal karena membuat Murti sibuk menahan dasternya agar tidak tersingkap. Untuk menutupi tonjolan buah dadanya yang segar, malam itu ia sengaja mengenakan jilbab yang agak lebar.

“Apa yang akan dikatakan orang kalau melihat kita duduk berdua seperti ini, Mur?”

“Semua orang di komplek ini tahu kalau kamu temanku sejak kecil,” sahut Murti enteng.

“Tapi tetap saja bakal ada yang berpikiran lain.”

“Sudahlah. Jangan bahas itu lagi, toh kita memang melakukannya. Bahas yang lain saja.”

“Aku cuma mau jujur, Mur. Di usia setua ini, kamu masih cantik, Murti…”

“Gombal. Aku malah kagum denganmu, Jag. Sampai sekarang kamu masih bisa menarik minat gadis-gadis muda.”

“Pasti Pak Camat yang cerita kan?”

“Aku yakin cerita itu benar. Tinggal kamunya saja mau atau tidak.”

“Aku belum ada niat. Lagian, kalau aku menikah, aku akan meninggalkan kamu, Mur.”

“Bagiku itu bukan masalah besar. Kita masih bisa tetap berhubungan, dengan sembunyi-sembunyi tentunya.”

“Itu sangat berbahaya, Mur.”

”Yah, mau bagaimana lagi.”

”Satu-satunya orang yang bisa mengerti aku ya cuma kamu, Mur. Sayang kamu sudah jadi istri orang.”

“Kalau aku masih perawan gimana?”

“Tetap saja aku tidak akan bisa kawin denganmu. Mana mau orangtuamu menerimaku.”

“Bajag, aku jujur pernah jatuh cinta padamu.”

“Ah, ada-ada saja kamu ini. Sudah malam, ayo masuk saja sana.”

Murti meninggalkan teras. Sepeninggalnya, Bajag terus berjaga sambil bersiul siul kecil serta menghabiskan sisa keripik singkong dalam toples. Ketika dilihatnya handphone Murti tertinggal di meja, dia segera memanggil istri Pak Camat itu. Tidak terdengar jawaban dari Murti. Bajag pun berdiri dan memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah.

Dia mengetuk pintu perlahan, setelah tetap tidak ada jawaban, ia pun mendorongnya hingga terbuka dan melangkah ke dalam. Dilihatnya Murti telah terlelap tidur di depan televisi, jilbabnya sudah dilepas, hanya tersisa daster putih tipis yang membalut tubuh sintalnya. Bajag terpana karena daster itu agak sedikit terangkat sehingga memperlihatkan sebagian paha Murti yang putih mulus, Bajag jadi terangsang karenanya.

Dengan cepat ia lupa mau apa dia masuk kemari tadi, Bajag segera mendekat dan mulai mengelus paha mulus Murti, betul-betul hangat dan terasa lembut. Bajag menunduk dan mulai menciuminya, mulai dari lutut hingga ke atas paha, mendekati selangkangan Murti. Ia melihat istri Pak Camat itu masih tetap terlelap tidak bergeming, Bajag pun mulai berani merenggangkan kakinya hingga selangkangan Murti terbuka lebar di depan matanya. Tak tahan, Bajag segera menunduk dan melumatnya, mulutnya bergerak liar di sekitar selangkangan Murti. Dengan penuh nafsu ia pagut daging lembut milik Murti yang masih tertutup oleh celana dalamnya.

Merasa belum puas, dengan hati-hati sekali Bajag menggeser pinggir celana dalam Murti ke sebelah kanan. Ia makin terangsang hebat manakala melihat daging berbentuk bibir berwarna merah kecoklatan di selangkangan Murti. Meski sudah sering mencicipi dan merasakannya, tak urung tetap membuatnya tergoda juga. Sambil tangannya menahan pinggir celana dalam Murti, Bajag mencium lembut serambi lempit yang berbulu jarang itu. Hmm, nikmat sekali rasanya ketika lidahnya mulai menjilat-jilat lubang kemaluan Murti.

Bajag menjilat-jilat lipatan di kiri dan kanannya, ia pakai kedua tangannya untuk membuka bibir yang menutupi bagian dalam serambi lempit sempit itu dan kemudian mulai menjilati klitorisnya. Ia terus memainkan lidahnya di daerah sensitif Murti, yang lama kelamaan tentu saja membuat Murti mulai merasakan kenikmatan permainannya, nafas istri Pak Camat itu mulai memburu dan tak beraturan.

Bajag terus menggerakkan lidahnya, sambil menjilat, tak lupa tangannya mulai mermbat naik menuju ke arah payudara Murti yang bulat besar. Bajag meremas-remasnya sebentar, merasakan betapa lembut dan kenyalnya benda itu, sebelum tiba-tiba ia dikejutkan oleh Murti yang mendadak terbangun. Istri Pak Camat itu mengusap-usap matanya dengan bingung, ia menatap Bajag seperti tak percaya kalau dirinya sedang dikerjai oleh laki-laki itu. Tangan Bajag masih berada di atas gundukan payudaranya dan meremas-remas lembut disana.

Belum sempat Murti berkata apa-apa, Bajag segera mengecup bibirnya dengan lembut dan berbisik, “Ayo, Mur, mumpung Pak Camat lagi nggak ada.” ajaknya berani.

Murti masih belum sepenuhnya sadar rupanya, ia hanya bisa mengguman tak jelas sebagai jawaban. Bajag mengecup bibirnya lagi, dan kali menghisap-hisap bibir itu dengan rakus. Murti sepertinya merasakan kenikmatan, antara sadar dan tidak sadar dia mulai melenguh dan merintih keenakan. Apalagi sambil memainkan bibirnya, Bajag juga terus meremas-remas gundukan payudaranya.

Selanjutnya Bajag melepaskan kecupannya di bibir Murti, dan ganti menghujani pipi istri Pak Camat itu dengan ciuman, dan saat ia kembali mengulum bibir Murti, wanita itu langsung membalasnya dengan tak kalah bernafsu. Bajag memberanikan diri menaruh tangannya ke selangkangan Murti dan mulai mengusap-usap lembut disana. Mula-mula ia hanya mengusap pelan bibir luar serambi lempit sempit Murti, tapi setelah beberapa lama mereka berpelukan, Bajag mulai memasukkan jari-jarinya ke celah serambi lempit Murti yang basah dan hangat itu. Dengan jari tengahnya Bajag memainkan klitoris Murti. Licin dan hangat sekali rasanya.

Permainan jarinya membuat Murti menggelinjang, pinggulnya yang besar bergerak-gerak seirama dengan gerakan tangan Bajag, apalagi saat laki-laki itu berbuat lebih jauh lagi dengan menarik daster yang dipakainya ke atas. Seakan mengerti dengan maksud Bajag, Murti menaikkan pinggulnya sehingga daster itu dapat dengan mudah melewati pantatnya hingga akhirnya lepas dari tubuh sintalnya.

Bajag melepas kancing BH Murti, ia sedikit terpana saat menatap tubuh putih mulus milik Murti yang hanya mengenakan celana dalam dengan tatapan penuh menantang. Segera Bajag menunduk untuk menghisap puting payudara Murti yang berwarna coklat kemerahan, sementara tangan kanannya ia selipkan ke balik celana dalam istri Pak Camat itu dan kembali memainkan klitorisnya. Kali ini Murti betul-betul terangsang dan merasakan keenakan yang luar biasa, ini bisa terlihat dari deru nafasnya yang semakin tidak teratur dan desahan-desahan kenikmatan yang terus keluar dari bibir tipisnya.

Bajag terus mempermainkan tubuh mulus wanita cantik itu hingga beberapa saat kemudian, Murti tiba-tiba merintih kencang, hampir setengah berteriak. Otot-otot badannya mengejang, sepertinya ia telah orgasme. Setelah terkejang-kejang beberapa saat sambil menyemburkan cairan kenikmatannya, Murti menghembuskan nafas panjang dan berbisik lirih, “Jag, nikmat banget… kamu memang betul-betul…”

Belum selesai dia mengucapkan kata-katanya, segera Bajag mengecup bibirnya yang seksi dan melumatnya dengan begitu mesra. “Kamu mau merasakan yang lebih hebat lagi?” bisik Bajag sambil berdiri dan mulai melepaskan pakaiannya. Ketika Bajag membuka celana, rudalnya yang sudah menegang sejak tadi, langsung terlontar keluar dan menunjuk ke depan, besar dan tegang, tepat di depan muka Murti.

Mata Murti tidak berkedip melihat batang yang sudah sering memasuki liang kewanitaannya itu. Dengan cepat ia meraihnya dan mulai mengusap-usapnya pelan. “Ya ampun, besarnya…” lirih Murti dengan mata tak berkedip, tampak takut sekaligus menyukainya. Ia menggigit bibir bawahnya sambil tangannya terus mengelus-elus barang Bajag yang kini semakin bertambah besar dan keras.

“Mur, isep ya?” tanya Bajag meminta.

Tidak menjawab, Murti segera mencium dan mulai menjilati kepala rudal Bajag dengan lidahnya yang mungil. Kemudian, dia mulai berani memasukkan rudal itu ke dalam mulutnya, walaupun hanya kepala rudalnya saja, dan Murti mulai menghisapnya maju mundur. Bajag merasakan kegelian sekaligus nikmat. Tubuhnya menggelinjang. Agar bisa bertahan, ia segera meraih payudara mulus milik Murti dan lekas meremas-remasnya dengan begitu rakus untuk mengalihkan perhatiannya.

Tapi meski begitu, tak urung ia tetap tak tahan juga. Saat sudah tak kuat lagi, Bajag segera menyuruh Murti agar merebahkan tubuh mulusnya di sofa ruang tengah, dengan pantat berada di pinggiran kursi empuk itu. Ini adalah untuk yang ketiga kalinya mereka bercinta di tempat ini. Bajag dengan cepat melepas celana dalam Murti yang sejak tadi belum dilepas agar mereka jadi sama-sama telanjang. Ia kembali menjilat-jilat serambi lempit Murti yang telah kembali menguncup. Dihisapnya cairan putih kental yang telah banyak mengalir keluar di pinggiran liang surga Murti.

“Aghh… Jag!” wanita itu merasakan kenikmatan yang amat sangat dan mulai mendesah perlahan. serambi lempitnya mulai basah kembali oleh ludah Bajag, dan pelan namun pasti lubangnya yang sempit mulai membesar kembali.

Bajag merasa inilah saatnya, dengan berdiri di atas lutut, ia pun segera memasukkan rudalnya ke dalam serambi lempit Murti yang hangat dan lembab. Ia berusaha melakukannya dengan cepat karena takut akan Pak Camat yang bisa kembali sewaktu-waktu.

Bless…!! dengan mudah rudalnya terbenam semua, dilihatnya wajah cantik Murti yang terpejam menahan nikmat. Agar rasa itu bisa lebih bertambah lagi, Bajag segera menggerakkan rudalnya maju-mundur di dalam liang serambi lempit Murti. Terasa hangat dan ketat sekali serambi lempitnya. Bajag menyukainya, inilah yang membuatnya tidak pernah bosan menyetubuhi dengan Murti. Semakin lama, genjotan rudalnya menjadi semakin lancar, juga semakin nikmat, Bajag sampai memejamkan matanya merasakan keistimewaan serambi lempit sempit Murti.

Mereka saling mendesah dan merintih keenakan. Saking cepatnya Bajag menggenjot, sampai sofa yang mereka pakai ikut bergerak hebat. Lama-kelamaan Bajag jadi tak tahan lagi, begitu Murti orgasme untuk yang kedua kalinya, iapun menyusul tak lama kemudian. Sambil menggeram, ia tembakkan seluruh isi rudalnya ke kedalaman serambi lempit sempit Murti. Bajag terus mengocok rudalnya hingga seluruh cairannya terkuras habis, barulah kemudian ia ambruk di sebelah Murti yang juga terkapar kelelahan. Keduanya tersenyum dan saling memagut mesra untuk beberapa saat.

Bajag sedang asyik meremas-remas payudara Murti saat berita malam di televisi menyiarkan tentang ditemukannya buronan yang paling dicari oleh polisi. Buronan yang telah bertahun tahun lamanya malang melintang di dunia hitam, yang sudah menghabisi berpuluh-puluh nyawa, pembunuh bayaran paling mahal di seantero jagad bumi. Buronan yang akan didakwa dengan pasal berlapis-lapis, dengan hukuman penjara minimal seumur hidup dan maksimal hukuman mati. Buronan itu bernama Sukarso, sebuah nama yang seketika memaksa Bajag mencabut rudalnya dari jepitan kewanitaan Murti.

Nama itu juga mengejutkan Murti. Ia yang masih telentang dengan cepat bangkit dan duduk di samping Bajag, dicengkeramnya lengan Bajag kuat-kuat, mencegah agar laki-laki itu tidak murka setelah melihat dengan pasti wajah buronan tersebut. Tidak salah lagi. “Itu Cak Karso! Ayahmu, Jag!” bisik Murti hati-hati.

“Benar, Mur. Itu memang ayahku.” jawab Bajag, sukar untuk membaca ekspresi wajahnya.

“Istighfar, Jag, kuatkan hatimu.” Murti hendak mengubah channel, tapi Bajag melarang. Wajah Karso berkali-kali ditayangkan secara langsung disertai riwayat kejahatannya yang membuat Bajag serasa ingin membanting TV. Murti buru-buru mengenakan pakaiannya dan mengantar Bajag pulang lewat pintu belakang. “Kamu di rumah saja, Jag. Biar nanti aku bilang ke Pak Camat kalau kamu sakit.”

“Terima kasih, Mur. Aku akan baik baik saja.”

Maka pecahlah suasana malam itu di komplek. Berita tertangkapnya Cak Karso menyebar dari mulut ke mulut, dari pintu ke pintu, mulai dari depan sampai ujung komplek semuanya pada ribut dengan berita itu. Di jalan-jalan orang berkerumun cuma untuk membicarakan tentang Cak Karso. Para bapak sampai rela meninggalkan istri masing-masing. Ada yang keluar cuma pakai sarung, ada yang masih tertempel lipstick istrinya, ada juga yang berpakaian ala manusia purba saking semangatnya. Mereka berkumpul untuk membicarakan satu nama putra asli kelahiran komplek, Cak Karso.

Kantor Polsek menjadi pusat para pencari berita. Pokoknya malam ini suasana komplek dan sekitarnya persis pasar malam. Lampu-lampu jalan yang jam segini biasanya sudah mati, khusus malam ini terang benderang. Warung-warung dan toko memperpanjang masa buka. Semakin malam, kerumunan orang di depan rumah Bajag semakin banyak serta makin berisik, mengganggu pikiran Bajag yang jiwanya sedang terguncang. Bajag merasa perlu untuk keluar rumah dan mengusir para manusia di depan rumahnya.

“Pergi kalian semua dari sini. Pergi!!” teriakan Bajag membahana sampai ke segala penjuru. Maka semburatlah orang-orang itu berlarian tunggang langgang demi melihat Bajag mengacung-acungkan golok mautnya dengan kemarahan yang meluap-luap.

Pak Camat dan Murti yang juga mendengar teriakan Bajag sampai harus melompat dari tidurnya. Sejenak keduanya saling pandang lalu menghambur ke belakang rumah, melompati tembok dan dalam sekejap sudah berada di tempat Bajag mengacungkan golok. Tidak ada lagi orang selain mereka bertiga. Semuanya dilanda takut. Para tetangga yang dekat dengan rumah Bajag kini menutup pintu rapat-rapat, mengintip dari dalam rumah masing-masing.

“Tenang, Jag!” Pak Camat menurunkan lengan Bajag dan Murti mengambil perlahan golok dari genggaman jari kekar itu. Bajag tidak melawan. “Masuklah ke dalam, Jag. Biar bapak yang memberitahu warga komplek.”

“Saya cuma tidak senang mereka mengganggu ketenangan saya, Pak.”

Tengah malam itu juga, lagi-lagi Bajag didatangi oleh dua anggota Polsek berseragam lengkap. Pak Camat berbincang serius dengan dua polisi itu, lalu mengangguk anggukkan kepala kemudian memandang Bajag. “Bapak-bapak ini ingin bicara denganmu di kantor polisi, Jag.”

“Baik. Kalau tidak sibuk, Pak Camat boleh ikut.” kata salah satu polisi.

Maka pergilah keempat orang itu ke kantor polisi. Pak Camat menyuruh Murti pulang. Murti mengangguk tapi masih tetap berada di dalam rumah Bajag. Murti melangkah ke kamar Bajag, berdiri tercenung sambil menahan jatuhnya airmata manakala ingat ini adalah kamar Lek Sumiah mengalami penyiksaan lahir batin sampai akhir hayat. Dia membayangkan Lek Sumiah berbaring di kasur itu, berbaring dengan senyum keibuan. Murti duduk di kasur, merasakan betapa kasur itu telah mengeras, tak layak untuk ditiduri. Murti lalu mendekati almari yang berpintu dua.

Satu pintu tidak terkunci, pintu yang satunya dikunci dan digembok. Saking lamanya tak pernah dibuka, kunci dan gembok itu sampai berkarat. Murti membuka almari yang tidak terkunci dan tercekat. Matanya berkunang-kunang menatap potret besar di lemari bagian atas. Potret dirinya sendiri ketika masih SMA. Itu adalah potret dirinya yang diambil Bajag di dalam mobil. Ada satu lagi potret tentang pernikahan terdahulu Bajag.

Murti menutup almari dan keluar kamar. Pintu-pintu dia kunci dari dalam agar aman, lalu dia menyelinap lewat pintu belakang, melompati tembok sebelum akhirnya sampai di dapurnya sendiri. Murti menarik napas yang terasa berat dan melangkah menuju kamar, mengucapkan beberapa lafal do’a sebelum memejamkan mata. Di sisa waktu malam, Murti tertidur dan merajut mimpinya sendiri, tanpa ada Pak Camat yang biasa menemani.

Bersambung… Hari telah berganti. Malam yang hening berlalu diusir oleh sang pagi yang hangat. Murti seperti biasa bangun lebih awal untuk menyiapkan kebutuhan suaminya. Pak Camat juga sudah bangun, tapi seperti biasa langsung menyeruput kopi hangat sebelum mandi. Murti masih repot di dapur guna memasak sarapan pagi.

Pak Camat memandangi istrinya yang semakin hari bukannya bertambah tua, malah semakin muda dan berisi. Tidak terlihat tanda-tanda ketuaan pada istrinya. Semua masih halus mulus dan kencang. Sedangkan Pak Camat merasa mulai tua.

Memang antara Pak Camat dan Murti terpaut perbedaan umur yang cukup jauh. Ketika menyunting Murti, Pak Camat sudah berumur tiga puluh lima tahun, sedangkan Murti baru lulus kuliah. Sepuluh tahun selisih umur mereka. Memasuki usia perkawinan yang sudah tujuh tahun berjalan, Pak Camat kerap merasa kewalahan dengan semangat dan gairah Murti yang masih menggebu-gebu.

“Mur, cobalah belajar mengemudi. Biar kemana-mana nggak melulu diantar Bajag.” kata Pak Camat.

“Gak mau ah, Mas, bisa bahaya.” sahut Murti.

“Bahaya apanya? Lha wong cuma duduk di belakang setir kok.” jelas Pak Camat.

“Memangnya Mas Joko mau istri cantikmu ini keluyuran kemana-mana kalau bisa naik mobil sendiri?” tanya Murti.

“Kalau keluyuran untuk tujuan yang jelas, buat apa takut? Sejauh ini dan sampai kapanpun aku percaya sama kamu, Mur.” kata Pak Camat.

“Aku juga percaya sama Mas Joko.” sahut Murti.

Pak Camat membantu Murti memasang baju muslimah kebesarannya. Setelah itu ganti Murti yang membantu Pak Camat memasangkan celana. Mereka sempat saling mencolek kemaluan sebentar, tapi tidak diteruskan ke tahap yang lebih jauh lagi. Mereka harus sama-sama kerja.

Di luar terdengar deru mesin mobil yang dipanasi oleh Bajag. Murti mempercepat riasan wajahnya karena sudah hampir jam tujuh, jangan sampai ia terlambat ke Madrasah. Pak Camat juga terburu-buru karena ini adalah hari senin, hari pertama yang biasanya banyak kegiatan menumpuk. Mereka kemudian keluar beriringan menghampiri Bajag yang sudah siaga di teras.

“Kalau ada waktu luang, ajari Murti nyopir, Jag.” seru Pak Camat.

“Baik, Pak. Kapan saja saya siap.” jawab Bajag.

“Oh ya, Jag, nanti siang kamu nggak usah nunggu saya.” kata Pak Camat begitu mobil sudah melaju.

“Iya, Pak.” Bajag mengangguk, matanya terus konsentrasi ke jalan.

“Memangnya mau kemana, Mas? Tumben nggak minta diantar?” cetus Murti dengan nada curiga.

“Urusan kantor.” sahut Pak Camat.

Murti diam, tidak bertanya lagi, tapi terlihat sorot ketidak-percayaan di sudut matanya yang bening.

”Sudah sampai tuh,” Pak Camat mencium kening Murti sebelum istrinya yang cantik itu turun. Murti melirik Bajag dan melempar sedikit senyum sebelum melangkah masuk ke gerbang Madrasah. Tinggal Pak Camat dan Bajag yang ada di dalam mobil.

Pak Camat menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya, lalu bicara pelan pada Bajag. “Murti mulai mencurigaiku, Jag.”

Bajag cuma tersenyum kecut sambil mendengarkan Pak Camat melanjutkan keluhannya. “Rupanya Murti mulai termakan gosip-gosip itu.”

“Itu wajar, Pak Camat. Kita hidup ini kan cuma punya dua pilihan, memakan gosip atau dimakan.” jawab Bajag tanpa bermaksud menggurui.

“Bisa saja kamu. Yang penting kamu jangan bilang apapun ke Murti ya,” kata Pak Camat.

“Saya janji menyimpan rahasia itu, Pak.” sahut Bajag.

Ada kesepakatan rahasia antara Pak Camat dan Bajag. Mereka meneruskan ke kantor kecamatan. Seperti biasa, begitu Pak Camat masuk ke dalam kantor maka Bajag langsung meluruskan jok mobil dan tiduran sambil membaca koran. Saat itulah Bajag kaget karena di halaman depan ia melihat foto ayahnya terpampang besar dengan judul AKHIR SANG JAGAL. Kalimat demi kalimat dibacanya sampai tamat kemudian ia lemparkan koran itu ke belakang. Wajahnya mengeras.

Bajag terpukul dengan adanya berita di koran yang mengabarkan kalau ayahnya telah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan tinggi setelah upaya bandingnya ditolak. Menurut berita, ayahnya menolak meminta grasi ke presiden. Masih kata berita, ayahnya cuma mengajukan permintaan terakhir yakni bertemu sang anak bernama Bajag, dirinya sendiri. Ayahnya tak akan dieksekusi sebelum permintaan terakhir terpenuhi. Jadi sampai sekarang Cak Karso masih ada di penjara paling top, Nusakambangan.

Bajag menghantam jok mobil pelan. Ia sudah bersumpah untuk tidak mau lagi ketemu ayahnya. Ia tidak bisa memaafkan sang ayah yang tega menghancurkan keluarga. Ia sakit hati pada ayahnya yang telah menjual ibunda tersayang. Ibunda yang mati mengenaskan di depan mata kepalanya sendiri. Biar saja ayahnya dihukum mati. Sebenarnya Bajag sudah berkali-kali diminta oleh polisi agar mau datang ke Nusakambangan. Tapi Bajag tak mau karena di Nusakambangan banyak kawan-kawannya yang di bui. Ia tidak mau ketemu kawan-kawan begundalnya agar bayang-bayang masa suram itu tidak muncul. Biarlah yang terhukum menjalani hukumannya.

“Mas Bajag nganggur?” Bajag terkaget-kaget oleh suara halus yang menegurnya.

“M-mbak Dewi butuh bantuan saya?” tanyanya tergagap.

“Iya. Pak Camat yang nyuruh.” jawab gadis cantik yang bersinar bagai bidadari tersebut.

“Kemana, Mbak?” tanya Bajag, berusaha mengalihkan perhatian matanya.

“Ke Cemorosewu. Saya masuk ya?” tanya Dewi.

Bajag menghidupkan mesin sambil menunggu Dewi duduk dengan nyaman. Lalu berangkat. Dewi, gadis cantik berparas menarik sesekali berusaha memancing selera bicara Bajag. Tapi Bajag memang sedang tidak mood untuk bicara. Bajag cuma mengemudikan mobil dan mengawasi jalan raya menuju Cemorosewu. Dewi pun tak lagi bicara meski dalam hati kecewa karena Bajag seperti batu arca yang ada di pintu masuk desa Cemorosewu. Sampai suatu ketika Bajag akhirnya buka suara untuk pertama kalinya.

“Jalan aspalnya cuma sampe sini, Mbak?”

“Iya. Dari sini sampai Cemorosewu jalannya masih tanah.” sahut Dewi.

“Tidak ada jalan lain?” tanya Bajag.

“Tidak ada. Kenapa, takut mogok?” tantang Dewi

“Iya, Mbak. Saya juga takut dimarahi Pak Camat kalau sampai rusak. Ini kan mobil dinas.” jelas Bajag.

“Ya ampun, Bajag. Ini mobil pemerintah. Kalo rusak ya urusan pemerintah. Kamu cuma perlu bilang ke Pak Camat, tidak bakal dipotong gajimu.” terang Dewi.

“Mbak Dewi bisa saja. Ada perlu apa ke Cemorosewu?” tanya Bajag sambil tersenyum.

“Mengantar tumpukan berkas ini,” Dewi menunjuk setumpuk kertas yang ada di pangkuannya. Bajag cuma melirik sekilas karena tidak mau tergoda maksiat. Kalau dia memandang lama-lama tumpukan itu, sama saja dengan memandang lama-lama bonggol paha Dewi yang putih mulus karena gadis itu cuma mengenakan span tipis yang pendek sekali.

Cemorosewu masih tiga kilo lagi. Semakin mendekati tujuan, jalan semakin tidak karuan, membuat penumpang dalam mobil juga bergerak kesana-sini mengikuti goyangan mobil. Kali ini bongkahan payudara Dewi yang menarik perhatian Bajag, benda itu terus bergerak-gerak memamerkan kesintalannya. Konsentrasi Bajag jadi terbelah, antara melihat jalan yang berlubang atau melirik susu Dewi yang bulat besar.

“Tahu jalannya begini, aku nggak bakal mau disuruh Pak Camat.” keluh Dewi, sama sekali tidak menyadari keadaan tubuhnya.

“Iya, Mbak. Entah jalannya yang memang rusak atau pejabatnya yang korup.” sahut Bajag. Terbayang payudara putih mulus milik Murti, yang coba ia bandingkan dengan punya Dewi, yang dua-duanya langsung membuat rudalnya kaku dan mengeras seketika.

Dewi tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Bajag. “Semua pejabat di negeri kita ini sudah rusak, Jag.” kata Dewi sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya, tapi gagal. Dia terlempar ketika mobil menghindari lubang besar, dan tepat mendarat di dada Bajag. Payudaranya yang besar mendesak Bajag begitu rupa hingga membuat rudal Bajag makin menegang tak karuan. “Maaf ya, Jag.” bisik Dewi begitu menyadari, dia lekas menarik tubuh sintalnya menjauh.

“Nggak apa, Mbak. Saya juga minta maaf.” suara Gator bergetar.

Permintaan maaf yang tak lebih dari sekedar basa-basi, pemanis suasana hati yang penuh warna warni. Bukan hatinya Bajag, tapi hatinya Dewi. Warna hati itu mungkin sama dengan warna paras ayu yang sekarang berubah menjadi merah delima. Dan Bajag tentu tidak menyia-nyiakan manisnya delima yang duduk di sampingnya ini. Ia melirik Dewi dengan senyum penuh arti, tapi tetap berusaha menjaga wibawanya sebagai seorang laki-laki.

“Bolehkah aku main ke rumahmu, Jag?” tanya Dewi kemudian saat sudah bisa menguasai suasana hatinya.

“Boleh saja, Mbak. Tapi setiap hari, dari pagi sampai ketemu pagi, saya selalu di rumah Pak Camat.” sahut Bajag.

“Masa sih kamu kerja nggak ada liburnya?” tanya Dewi.

“Libur ada, Mbak, tapi saya selalu lembur. Maklum banyak tanggungan.” kata Bajag.

“Semua punya tanggungan, Jag. Saya juga punya banyak tanggungan. Hutang di bank menumpuk.” sahut Dewi.

Cemorosewu sudah di depan mata. Dewi memberi petunjuk kepada Bajag agar langsung menuju ke balai desa. Dewi menemui kepala desa, sedangkan Bajag seperti merasa tidak asing dengan wajah kepala desa itu. Ia teringat sesuatu yang membuatnya berdiri dengan tegang. Ia teringat salah satu wajah orang orang yang berjudi besar-besaran dengan ayahnya puluhan tahun silam. Ia juga ingat wajah salah satu begundal yang memperkosa ibundanya dan ia yakin wajah Pak Kepala Desa sama dengan wajah itu.

Ia perlahan mendekat, semakin dekat dan akhirnya bisa melihat ciri yang memperkuat keyakinannya. Tato macan Pak Kepala Desa sama dengan tato macan milik ayahnya. Perlahan Bajag meraba sesuatu di balik jaketnya dan ketika ia hendak mencabut benda itu, seketika itu pula Dewi menepuk pundaknya.

“Sudah selesai, Jag. Kita kembali ke kecamatan.” kata gadis cantik itu.

“Oh ya… Mbak Dewi jalan saja dulu.” sahut Bajag.

Maka Dewi pun berlalu, sedangkan Bajag memandang tajam pada Pak Kepala Desa, membuat laki-laki tua itu merasa grogi dan tak nyaman. Tapi Bajag tidak ingin membuat masalah. Ia cuma menunjukkan celurit kecil yang dulu membunuh ibunya pada kepala desa, membuat kepala desa berdiri gemetaran dan memandang takut pada Bajag.

“Dimana dua temanmu yang memperkosa ibuku?” bisik Bajag dengan suara bergetar menahan amarah. Ia tidak melepaskan jabat tangannya sehingga Pak Kepala Desa tidak bisa lari kemana-mana.

“Saya tidak paham maksudmu,” kata Pak Kepala Desa semakin ketakutan.

Bajag melepaskan tangannya dan mengembalikan celurit kecilnya ke balik jaket. “Aku telah menemukan pemerkosa dan pembunuh ibuku,” katanya sebelum meninggalkan balai desa, meninggalkan Pak Kepala Desa yang pucat pasi setelah sadar siapa pria yang baru berhadapan dengannya. Pria dengan sorot mata penuh amarah dan dendam, pria dengan nafsu membunuh yang besar. Pak Kepala Desa langsung terduduk lesu di kursi kerjanya.

Bajag sudah kembali bersama Dewi dan mulai meninggalkan desa Cemorosewu disertai hujan yang turun dengan lebat, membuat jalanan tanah jadi semakin becek, memperlambat laju mobil.

“Sabar ya, Mbak. Jalannya hancur.” kata Bajag.

“Tidak apa. Aku sudah telepon Pak Camat dan bilang kalau mobilnya mogok.” jawab Dewi.

“Terima kasih, Mbak.” Bajag tersenyum.

“Kamu kenal dengan kepala desa itu?” Dewi bertanya.

“Tidak, Mbak. Kebetulan saja tadi ngobrol lama. Maaf kalo membuat Mbak Dewi menunggu.” Bajag berbohong.

Butuh perjuangan keras untuk menaklukkan jalan yang lebih cocok buat arena off road itu. Kaca belakang dan samping mobil sudah dipenuhi oleh tanah liat sehingga menyulitkan pandangan. Terlanjur basah, mandi saja sekalian; itulah pemikiran Bajag. Maka iapun segera meminta pada Dewi untuk mengencangkan sabuk pengaman, setelah itu pedal gas diinjaknya kuat-kuat sampai mobil melesat menembus derasnya hujan. Dewi sampai harus berpegangan pada apa saja agar tidak terlempar kesana-kemari. Beberapa kali tubuhnya berbenturan dengan bahu Bajag, dan berkali-kali pula payudara besarnya mendarat di lengan laki-laki itu. Terasa sangat empuk dan kenyal bagi Bajag hingga membuat rudalnya kembali kaku dan menegak di bawah sana.

Dewi bukannya tidak mengetahui, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah pada ’penderitaan’ yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak itu. Tapi yang aneh, Dewi seperti menikmatinya. Ia dengan ikhlas terus memberikan dadanya pada Bajag, sampai akhirnya mereka tiba juga di jalan desa yang beraspal. Bajag segera mengurangi kecepatan dan memandang penuh arti pada Dewi yang terduduk lemas di sebelahnya.

“Berhenti dulu, Jag. Kita makan di warung itu.” Dewi menunjuk warung makan yang ada di sebelah kiri jalan. Wajahnya nampak memerah padam, sementara nafasnya masih sedikit tersengal.

“Baik, Mbak. Kebetulan saya lapar.” kata Bajag. Ia tidak pernah mengetahui kalau serambi lempit Dewi sudah sangat basah saat itu.

Bajag segera memarkir mobil di depan warung. Sudah jam satu siang. Bajag teringat pada Murti. Siapa yang menjemput Murti hari ini, sedangkan ia masih berada lumayan jauh dari kecamatan. Iapun meminjam handphone pada Dewi untuk menelpon Murti dan bilang tidak bisa menjemput. Bajag menarik napas lega karena Murti sudah ada di rumah. Ia mengembalikan handphone pada Dewi.

“Terima kasih, Mbak.” katanya.

“Mau makan apa?” tanya Dewi.

“Sama dengan Mbak Dewi saja.” kata Bajag.

Merekapun makan dengan lahap. Dewi memperhatikan Bajag tak putus-putus, sementara Bajag tidak peduli pada apapun selain pada makanan yang ada di hadapannya. Selesai makan barulah ia sadar kalau diperhatikan. Mereka saling tersenyum. Dewi sudah akan membuka obrolan, tapi sayang seribu kali sayang mereka harus cepat sampai di kantor kecamatan. Dengan diiringi pandangan seisi warung yang mengagumi kesintalan tubuh Dewi, merekapun lekas kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan.

Setelah mengantar Dewi ke kantor, Bajag dipanggil Pak Camat ke ruangannya. Pikiran Bajag mulai macam-macam karena tidak biasanya Pak Camat memanggilnya. Setelah berada di depan Pak Camat, ia tambah bingung karena Pak Camat tampak sangat gembira, tidak marah seperti yang ia bayangkan sebelumnya.

“Pak Camat memanggil saya?” tanya Bajag.

“Benar, Jag. Ada dua kabar gembira yang ingin saya sampaikan ke kamu.” sahut Pak Camat.

“Kabar apa itu, Pak?” tanya Bajag penasaran.

“Yang pertama, Murti telah resmi jadi PNS. Tadi pagi SK pengangkatannya turun.” jawab Pak Camat.

“Syukurlah. Saya ikut senang, Pak.” sahut Bajag.

“Kamu tidak ingin tahu yang kedua?” tanya Pak Camat.

“Kalau Pak Camat tidak keberatan memberitahu saya,” kata Bajag.

“Ini tentangmu, Jag. Mulai hari ini, kamu adalah calon PNS.” kata Pak Camat.

“Maksud Pak Camat?” tanya Bajag meski sudah bisa sedikit menebak.

“Kamu jadi pegawai honorer kecamatan. Tapi itu hanya sementara. Nanti kamu akan jadi PNS.” kata Pak Camat.

“Alhamdulillah. Saya tidak pernah bermimpi sampai kesana, Pak.” ucap Bajag penuh rasa syukur.

“Aku yang membantumu, Jag. Anggap saja sebagai imbalan karena kamu juga banyak membantuku.” kata Pak Camat.

“Terima kasih, Pak Camat. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.” Bajag tersenyum gembira.

“Sekarang pulanglah. Bilang ke Murti kalau aku ada kunjungan kerja sampai malam.” sahut Pak Camat kemudian, menutup pembicaraan itu.

Bajag bergegas meninggalkan kantor kecamatan sekaligus meninggalkan Pak Camat. Ia sangat paham kunjungan kerja macam apa yang akan dilakukan oleh Pak Camat, kemana Pak Camat melakukan kunjungan, menemui siapa, semuanya ia pahami betul sebagai sesama lelaki. Ia hanya merasa kasihan pada teman semasa kecilnya yang bernama Murti. Itulah alasan ia selalu ingin berada di dekat Murti untuk sekedar menghiburnya, baik dengan kata-kata maupun dengan tubuhnya. Kalau Pak Camat bisa selingkuh, kenapa Murti tidak. Dan Bajag dengan senang hati menemani teman masa kecilnya itu.

Begitu menginjak teras rumah Pak Camat, ia sudah disambut senyuman manis oleh Murti. “Mana Pak Camat, Jag?” tanya perempuan cantik itu.

“Pak Camat ada kunjungan kerja sampai malam,” jawab Bajag.

Seketika senyum Murti memudar, berganti dengan wajah kecewa. “Masuklah, Jag!” ia menarik lengan Bajag ke dalam rumah.

Setelah pintu tertutup, Bajag dibuat kalang kabut karena Murti tiba-tiba memeluknya sambil menangis sesenggukan. Bajag tak tahu harus berbuat apa selain membawa Murti ke ruang tengah. Di sana Bajag melihat betapa segala sesuatunya sudah dipersiapkan; makan malam bagi Pak Camat. Bajag menghela napas memahami kekecewaan dan kesedihan yang dirasakan oleh Murti. Ia tanpa sadar telah membalas pelukan Murti secara lebih erat, membuat tubuh Murti yang molek berada lekat di dalam dekapannya.

“Aku siapkan semua ini buat suamiku, Jag.” lirih suara Murti diiringi isakan kecil.

“Itulah resiko menjadi istri pejabat, Mur. Sabar saja ya,” Bajag tak kuasa menahan keinginannya untuk sekedar mengelus kepala Murti yang masih tertutup jilbab. Ia juga ingin menjamah bagian lain dari tubuh perempuan cantik itu, tapi belum, sekarang bukan saat yang tepat.

Murti menyeka airmata dengan ujung lengan. Bajag menyumpahi dalam hati betapa Pak Camat telah begitu tega menyia-nyiakan seorang istri yang cantik bagai bidadari ini. Yang kesintalan tubuhnya sanggup membuat Zaskia Adya Mecca menjadi iri. Siapa yang tahan melihat pesona Murti. Seluruh komplek juga sudah mengakui sang bunga desa. Apalagi jika sudah bermuram durja seperti sekarang ini, yang sering lupa diri bahwa ia adalah wanita bersuami. Sungguh kurang ajar suami yang tega membiarkan istrinya menderita dalam sedih.

“Kuucapkan selamat, Mur. Kamu telah jadi PNS.” kata Bajag, tubuhnya sedikit bergidik merasakan tonjolan payudara Murti yang mendesak di depan perutnya.

“Aku ingin dengar ucapan itu pertama kali dari suamiku, Jag.” sahut Murti, tanpa merasa bersalah, ia makin mempererat pelukannya.

“Pak Camat sangat sibuk.” suara Bajag mendadak menjadi parau karena batang besar yang ada di balik celananya perlahan mulai bangkit dan mengeras. ”Oh ya, maaf aku tadi tidak menjemputmu.” tambahnya.

“Tidak apa. Aku diantar Aisyah. Sekarang makan saja bareng aku, ya?” tawar Murti dengan senyum menawan.

“Semakin sering bersamamu, aku semakin merasa tak bisa mengontrol diri, Mur.” kata Bajag terus terang.

”Tidak masalah, toh Pak Camat juga semakin jarang pulang. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan menemaniku?” jawab Murti. Ia memang nekad bila berada di dalam rumah bersama Bajag. Sejak mereka ’melakukannya’ Murti tidak malu lagi bila duduk berdua dengan Bajag. Ia tidak risih menampakkan hal-hal yang seharusnya disembunyikan sebagai wanita bersuami. Kenapa tidak? Toh mereka sudah sering telanjang berdua akhir-akhir ini.

Sungguh beruntung si Bajag, bisa melihat bentuk tubuh Murti yang bohay secara utuh. Ia melirik tajam pada sepasang paha Murti yang sengaja diongkang-ongkangkan, yang membuat baju panjangnya jadi tersingkap hingga ke pinggang, menampakkan kulit pahanya yang halus mulus serta kencang. Juga dada montok milik Murti yang terus digoyang-goyangkan selama perempuan cantik itu menyiapkan makan malam bagi Bajag.

“Sudah berapa tahun kamu menduda, Jag?” tanya Murti dengan desah menggoda.

“Aku tidak pernah menghitungnya, Mur.” Bajag tak berkedip menatap teman masa kecilnya itu, yang kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang mulus sempurna.

“Rasanya aku juga ingin menjanda saja, Jag. Biar bebas.” kata Murti.

“Menjanda justru tidak baik, Mur. Omongan orang selalu usil.” sahut Bajag.

“Peduli setan sama omongan orang. Selama ini aku sudah kebal berbagai gosip, termasuk gosip tentang suamiku yang punya istri muda.” sergah Murti.

“Yakinlah, Pak Camat tidak seperti itu. Aku selalu bersama suamimu dan aku tahu dia suami yang baik.” kilah Bajag. Ia mengangguk meski dalam hati menggeleng. Pak Camat memang bukan suami yang baik. Pak Camat juga bukan pria yang alim. Pak Camat sama seperti dirinya. Hanya saja Pak Camat punya cara tersendiri untuk berbuat nakal. Dia adalah orang yang tahu seperti apa kenakalan Pak Camat. Dirinya jugalah satu-satunya orang yang tahu kenakalan istri Pak Camat.

“Kamu bukan anak kecil lagi, Mur.” kata Bajag.

“Memang bukan. Tapi aku ingin mengulangi masa-masa kecil yang kita jalani bersama, Jag.” sahut Murti, senyumnya makin kelihatan menggoda.

“Itu tak mungkin, Mur.” lirih Bajag, berusaha keras menekan gemuruh di dalam dadanya yang bidang.

“Siapa bilang tak mungkin?” Murti mencubit perut Bajag kuat-kuat. Awalnya Bajag masih bisa menahan, tapi karena cubitan Murti terasa makin menggigit, iapun tak punya pilihan selain balas mencubit perut Murti. Berawal dari cubit mencubit, kemudian berkembang jadi saling kejar dan saling menjatuhkan.

“Jangan memancingku, Mur.” seru Bajag sambil menggeleng. Sudah terlihat tonjolan besar di depan selangkangannya akibat gesekan tubuh montok Murti.

“Aku akan menangkapmu, Jag.” seperti tidak peduli, Murti terus menggodanya. Mereka berkejaran sampai ke dalam kamar. Di situlah Murti dan Bajag seperti anak kecil yang bodoh. Saling raba sana-sini dan cium ini-itu. Murti sendiri yang melepas baju panjang dan dalamannya, lalu merenggut paksa tubuh Bajag dalam kekuasaannya. Ia menuntun Bajag untuk melakukan sesuatu yang tak seharusnya mereka lakukan. Itulah momen kejatuhan Bajag.

Kesempurnaan yang dimiliki Murti ditelannya bulat-bulat tanpa ada yang tersisa. Desah dan rintih mengalir bersama cucuran keringat yang meminyaki tubuh telanjang mereka berdua, melicinkan jalan bagi setan untuk menancapkan kuku maksiat ke hati keduanya. Murti dan Bajag telah benar-benar terjatuh bersama ke dalam jurang perzinahan. Tidak ada lagi yang menghalangi kemaksiatan mereka, sekalipun itu suara azan.

Ya, saat itu Azan Isya’ terdengar, tapi telinga mereka telah terkunci oleh kenikmatan orgasme yang memuncak. Dan mencapai klimaks ketika cairan keduanya tercecer di mana-mana. Sebagian dari muntahan itu bersarang telak di rahim Murti, sisanya yang tak tertampung tumpah ruah ke atas ranjang. Murti dan Bajag menggelepar kelelahan, baik fisik maupun batin. Namun mereka tampak sama-sama puas, bahkan keduanya seperti menginginkannya lagi.

“Aku memang ditakdirkan menjadi pendosa, Mur.” bisik Bajag sambil mengelus dan meremas-remas payudara putih mulus milik Murti.

“Kita tanggung dosa ini bersama, Jag.” balas Murti sambil memeluk Bajag dan mengocok pelan batang rudal laki-laki itu.

Bajag balas memeluk Murti, merengkuh istri Pak Camat itu erat-erat ke dalam dekapannya. ”Dosa yang sepertinya tidak akan pernah bisa aku tolak.” bisiknya mesra.

Murti mencoba untuk tersenyum. “Aku tak pernah sehebat ini bila bersama Pak Camat, Jag.” terangnya. Murti masih punya gairah untuk sekedar memberi suguhan terakhir pada Bajag. Tidak sedahsyat yang pertama, tapi sudah cukup sebagai penutup segala kemaksiatan yang tercatat di tangan Tuhan sebagai perbuatan laknat.

Dan Bajag dengan senang hati menerimanya, apalagi saat handphone Murti berbunyi, tanda kalau ada pesan singkat yang masuk.

”Dari Mas Joko, Jag, dia pulang telat.” terang Murti begitu selesai membacanya.

Bajag langsung memeluk teman masa kecilnya yang cantik itu dan lekas melebarkan kedua kaki Murti hingga tampaklah belahan serambi lempitnya yang basah sempurna. ”Berarti ada waktu bagi kita untuk mengulangi sekali lagi, Mur.” bisik Bajag sambil menggesek-gesekan rudalnya di permukaan serambi lempit sempit Murti.

”Ahh… iya, Jag.” rintih Murti saat Bajag mulai menekan ujungnya, senti demi senti benda itu mulai memasuki tubuhnya, agak sedikit tersendat karena Murti merasa kegelian, namun perlahan tapi pasti penetrasi itu terus tejadi sampai akhirnya batang rudal Bajag amblas seluruhnya, masuk sepenuhnya memenuhi celah kewanitaan Murti.

”Ughh… Mur!” Bajag melenguh menikmati jepitan dan kehangatannya yang begitu menggigit.

Wajah Murti agak sedikit mengernyit, apalagi saat Bajag mulai menggerakkan rudalnya maju mundur secara perlahan. Setiap tusukannya terasa begitu tajam dan dalam. Suara gesekannya terdengar begitu merdu, dipadu dengan rintihan lirih yang keluar dari bibir manis Murti, sempurnalah ritual persetubuhan mereka malam itu.

Bajag menatap payudara Murti yang berguncang-guncang pelan akibat gerakannya. Ia segera memeganginya. Sambil kembali memijit dan meremas-remasnya, mata Bajag berpesta pora menikmati tubuh indah dan putih mulus milik Murti yang sekarang berada di dalam dekapannya. Ia sungguh beruntung bisa mendapatkan wanita ini, perempuan teramat cantik dan seksi yang sudah disia-siakan oleh suaminya yang bodoh.

”Auw, Jag!” kepala Murti terlempar ke kiri dan ke kanan menerima tusukan dari Bajag yang semakin lama terasa semakin kuat. Matanya tertutup, tapi bibirnya yang merah merekah terlihat begitu indah.

Bajag segera mengecup dan melumatnya mesra. ”Mmh… Mur,” panggilnya. Murti hanya mengangguk sambil membalas ciuman itu. Mereka berpagutan sejenak sebelum Bajag mengalihkan mulutnya ke puncak payudara Murti yang membusung indah, laki-laki itu mencucup dan menjilati putingnya secara bergantian sementara pinggulnya terus bergerak cepat di bawah sana, menusuk dan mengobrak-abrik serambi lempit sempit milik Murti hingga membuat benda itu jadi semakin basah dan lengket.

”Arghh… Jag!” pekik Murti saat Bajag makin menambah kecepatannya, suara becek dua organ kelamin yang saling bergesekan kian memenuhi ruangan kamar, tentu saja sambil diiringi melodi rintihan dari Murti dan Bajag. Hawa malam yang dingin tak mampu lagi menahan panas tubuh mereka berdua, peluh keduanya sudah meleleh dan saling bercampur menjadi satu.

Bajag melipat kedua paha Murti ke atas hingga lututnya nyaris menyentuh bulatan payudaranya, dengan begitu tusukan rudal Bajag jadi makin dalam menghujam liang senggama milik perempuan cantik itu.

”Oouh… Jag, nngh… ahh!!” rintih Murti setengah serambi lempitik saat melepaskan cairan orgasmenya.

Tak peduli dengan semprotan deras dari liang sempit Murti, Bajag terus menggerakkan rudalnya. Ia juga merasa sudah hampir sampai. Kedutan dan jepitan serambi lempit Murti makin menambah daya rangsangnya. Akibatnya, tak lama kemudian biji pelirnya pun mengerut kaku lalu… dengan satu tusukan terakhir, Bajag mengantar semburan demi semburan spermanya membanjiri alat kelamin Murti yang masih memuntahkan isinya.

Mereka terus menguras nafsu masing-masing hingga Bajag yang kelelahan duluan, rebah di atas tubuh sensual milik Murti. Ia mencoba mengatur nafasnya sambil menjilati puting Murti yang terlihat menonjol indah di depan hidungnya. Murti merangkul dan mengelus-elus punggung Bajag yang bermandikan keringat penuh rasa sayang, ia membisikan kata-kata mesra ke telinga laki-laki itu, bagai seorang gadis muda kepada kekasihnya.

“Aku harus pulang, Mur.” kata Bajag saat merasakan rudalnya mulai mengkerut dan mengecil pelan.

“Jangan, Jag, aku masih pingin kamu temani.” Murti menahan badan Bajag yang sudah akan beranjak meninggalkan tubuhnya.

“Maaf, Mur, nanti bisa dipergoki sama suamimu.” Bajag mencabut rudalnya. ”Lagian, aku ingin cari berita ke kantor polisi.” tambahnya sambil memperhatikan cairan putih pekat yang mengalir keluar dari celah liang serambi lempit Murti yang merah merekah, menciptakan danau kecil di atas sprei.

“Ya sudah. Kalau mau balik ke sini, pintu belakang nggak kukunci.” sahut Murti sambil merebahkan tubuh sintalnya ke atas ranjang.

Bajag menatapnya tanpa berkedip. Sebelum pergi, ia memeluk dan memagut mesra bibir teman masa kecilnya itu, bak sepasang kekasih yang bakal lama tak bertemu. “Jangan, Mur. Pak Camat pasti pulang sebentar lagi.”

Sehabis berkata, ia pun pergi dengan sejuta rasa di dalam hati. Jalan terang yang baru saja datang telah kembali berubah dengan begitu cepat menuntunnya menyusuri kegelapan. Dosa telah kembali tercipta dan itu pasti membawanya ke jurang neraka.

Bajag cuma sebentar saja masuk ke rumahnya lalu keluar lagi dengan jaket hitam gelap, celana hitam, helm hitam, dan tak lupa menyelipkan sesuatu di balik jaket. Ia memanasi motornya sejenak lalu melesat menembus rinai gerimis hujan. Malam benar-benar hitam pekat.

Sesekali petir menyambar berkilat-kilat. Bajag tidak pergi ke kantor polisi sebagaimana yang ia katakan kepada Murti. Ia berbohong kepada gadis itu. Sebenarnya Bajag menuju ke desa Cemorosewu. Ada tugas maha penting yang harus secepatnya ia rampungkan demi ketenangan hati.

Bersambung… Setelah ngebut menembus hujan lebat selama dua jam, Bajag sampai di jalanan tanah menuju desa Cemorosewu. Ia berhenti dan turun dari motor, menuntun motor itu menuju semak-semak, menutupinya dengan tanah lempung dan daun-daun, lalu meninggalkannya disana. Langit yang menghitam berwarna sama dengan bayangan tubuhnya yang serba hitam, berkelebat cepat di sepanjang tepian desa Cemorosewu, dalam sepi sunyi yang teramat senyap.

Dalam sekejap ia sudah berdiri di depan sebuah rumah. Mata elangnya menatap nyalang mengamati rumah itu dari atas pohon mangga. Ia lalu melompat ringan dan hinggap di genteng rumah. Seluruh panca indranya bekerja dan senyumnya mengembang dari balik topeng hitam. Dengan penuh tenaga, ia jejakkan kaki menjebol genteng dan dalam hitungan detik ia sudah berada di dalam sebuah kamar.

Gerakannya teramat sangat cepat menghunus golok dan mengayunkan ke arah sesosok tubuh yang masih berbaring. Tidak ada teriakan dan sosok itupun mati seketika. Setelah itu ia menyelinap dalam gelap dan berkelebat cepat hingga sampai di tempat ia menyembunyikan motor. Kemudian ia pergi bagai hantu.

***

Di pagi yang masih diselimuti mendung, desa Cemorosewu geger. Kentongan berbunyi bertalu-talu memanggil penduduk untuk berduyun-duyun mendatangi rumah kepala desa. Pengumuman disebarluaskan melalui mulut ke mulut, dari surau ke surau, dari satu dusun ke dusun yang lain. Bendera hitam berkibar di sepanjang jalan menuju desa.

“TELAH TUTUP USIA BAPAK ASNAWI, PEMIMPIN DAN SESEPUH DESA CEMOROSEWU.”

Begitulah inti dari kegegeran itu. Dalam sekejap rumah kepala desa dipenuhi ratusan orang. Di jalan-jalan masyarakat ramai membicarakan penyebab tewasnya bapak kepala desa. Ada yang bilang kepala desa mati dibacok. Yang lain berkata kepala desa dibunuh selingkuhan istrinya. Banyak juga yang yakin kepala desa mereka korban balas dendam. Semuanya masih simpang siur.

Murti terbangun dari tidurnya oleh dering handphone. Semalaman ia tidur sendiri karena Pak Camat, suaminya, belum pulang. Ia sangat malas untuk bangun. Tapi dering handphone tak kunjung berhenti, memaksanya menyingkirkan selimut dan sempoyongan mendekati meja rias, meraih HP untuk mencari tahu siapa yang berani mengusik tidurnya di pagi buta begini.

“Assalamu’alaikum,” jawab Murti.

“Wa’alaikum salam… selamat pagi, Bu. Saya cuma mau menyampaikan kabar kalau pagi ini Madrasah diliburkan. Ayahnya Bu Aisyah meninggal.” kata suara di seberang.

“Pak Asnawi meninggal? Kapan terjadinya, Bu Minah?” tanya Murti pada rekannya sesama guru yang menelepon.

“Tadi malam. Kalau Bu Murti mau ikut melayat, bisa ikut rombongan guru-guru.” kata Bu Minah.

“Baiklah, Bu Minah. Biar saya berangkat sendiri saja. Terima kasih informasinya, Bu.” kata Murti.

Murti tidak bisa tidur lagi. Kabar yang disampaikan oleh Bu Minah membuatnya terkejut. Tidak ada angin, tiba-tiba ada kabar buruk bahwa Pak Asnawi, salah satu pendiri Madrasah, ayah kandung dari Aisyah, kepala desa Cemorosewu, meninggal dunia. Ia pun segera keluar kamar dan menuju halaman belakang. Terlihat olehnya Bajag sedang mengambil air.

“Jag, cepat mandi. Antar aku ke rumah Aisyah.” kata Murti.

“Di mana itu, Mur?” tanya Bajag.

“Cemorosewu. Kutunggu di rumah ya,” tanpa menunggu jawaban, Murti berbalik masuk ke dalam rumah.

Wajah Bajag langsung berubah begitu mendengar kata Cemorosewu. Entah kenapa hatinya berdebar-debar tak nyaman. Tapi perintah Murti harus dilaksanakan karena Murti adalah istri majikannya, yakni Pak Camat. Menolak perintah Murti sama saja dengan menolak perintah Pak Camat. Maka Bajag pun tidak meneruskan pekerjaannya mengambil air. Ia langsung masuk dan tidak sampai sepuluh menit sudah berada di ruang tamu rumah Pak Camat. Bajag heran karena suasana rumah Pak Camat masih sangat sepi, padahal ini masih teramat pagi. Lagipula tidak mungkin Pak Camat pergi ke kantor tanpa bersamanya.

“Pak Camat sudah berangkat ya, Mur?” tanya Bajag sambil memandangi Murti yang baru keluar dari kamar mandi.

“Suamiku malah belum pulang sejak kemarin. Entah dimana dia,” kata Murti.

Bajag pun manggut-manggut sambil matanya nyalang memandangi tubuh Murti yang masih belum berpakaian lengkap, belum memasang kerudung, bahkan belum juga mengenakan pelindung. Tubuh yang masih setengah basah itu tampak begitu indah, memancing penuh hasrat gairahnya. Tapi Bajag lekas berpaling dari hadapan Murti, sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Ia kembali memikirkan Pak Camat yang menurut Murti belum pulang sejak kemarin.

’Berarti Pak Camat masih ada di sana,’ pikir Bajag dalam hati. Ia sangat tahu persis dimana Pak Camat berada saat ini, tapi ia tidak mau memberitahukannya pada Murti. Semua ini ia lakukan demi sebuah janji.

Bajag cuma menyayangkan kenapa Murti harus menikahi pria semacam Pak Camat, yang kurang lebih sama bejatnya dengan dirinya sendiri. Pak Camat lebih suka bersenang-senang dengan daun muda, meninggalkan istrinya yang cantik merana seorang diri. Istri yang kemarin ia gauli dengan sepenuh hati.

“Ayo berangkat, Jag!” seru Murti mengagetkan lamunan Bajag.

“B-baik.” Bajag berpaling cepat. ”Betulkan kerah bajumu dulu, Mur.” tambahnya saat melihat kerah baju Murti yang sedikit terbuka, menampakkan belahan buah dadanya yang ranum dan indah.

Murti mesem, tapi tetap membiarkan kerah bajunya melonggar. Ia juga tidak memakai kerudung yang sengaja ia simpan di dalam tas kecil. Murti merasa aman di dalam mobil yang baru sebulan dibeli Pak Camat. Kacanya gelap, inilah mobil pribadi yang dibeli Pak Camat khusus untuknya. Selama ini mobil baru itu nongkrong di garasi karena Pak Camat lebih suka mobil dinas, sementara ia sendiri belum bisa nyetir.

“Sebaiknya kamu turuti suamimu, Mur. Sayang kan kalau mobil sebagus ini cuma diam saja di garasi.” kata Bajag saat mereka mulai meninggalkan rumah Pak Camat.

“Kamu serius mau ngajari aku nyetir?” tanya Murti.

“Tentu. Apalagi Pak Camat sudah memberi ijin.” sahut Bajag.

“Aku tidak mau,” sergah Murti.

“Kenapa? ’Kan malah enak. Kemana-mana kamu bisa pergi sendiri.” kata Bajag.

“Aku tidak suka pergi sendiri.” sahut Murti.

Bajag menghela nafas. Ia pun berusaha untuk mengganti topik pembicaraan, “Ada keperluan apa kamu minta diantar ke Cemorosewu?” tanyanya.

“Nanti kamu juga tahu sendiri,” jawab Murti, masih sedikit ketus.

Bajag diam tidak bertanya-tanya lagi. Murti memang seperti tidak ingin diganggu saat ini. Mungkin karena ketidakpulangan Pak Camat malam tadi. Jadilah dua insan itu terdiam dalam sepi. Larut dalam irama hati masing-masing. Murti lalu rebah, menyandarkan kepalanya ke dada Bajag, sementara tangannya menyusup ke balik kemeja Bajag dan mengusap bulu-bulu dada pria kekar itu.

“Aku sangat menyesali diriku, Jag.” bisik Murti lirih.

Bajag menghela napas dan mengurangi kecepatan mobil untuk mengimbangi konsentrasinya yang mulai terpecah. “Apa yang membuatmu menyesal?” tanyanya sambil membelai rambut panjang Murti dengan tangan kiri.

“Aku menyesal kenapa harus menikah dengan Mas Joko.” kata Murti lirih.

“Itulah jodohmu, Mur. Pak Camat sangat mencintaimu dan aku yakin kamu juga cinta dia.” balas Bajag.

“Salah. Aku tidak mencintai Mas Joko, Jag. Aku menikah dengannya demi menyenangkan hati ayahku. Abah yang memilih jodoh untukku, Jag.” terang Murti.

“Semua orangtua ingin yang terbaik buat anaknya, Mur. Pun demikian dengan ayahmu. Nyatanya Pak Camat memang baik.” kata Bajag.

“Tapi aku tidak mencintainya,” Murti bersikeras.

“Cinta sudah tidak penting buat orang seusia kita, Mur. Apalagi kamu sudah bertahun-tahun berumah tangga.” Bajag mencoba bersikap bijak.

“Tapi cintaku hanya buat satu orang saja, Jag.” tukas Murti.

“Siapa itu?” tanya Bajag, meski dalam hati ia takut dengan jawabannya.

“Belum saatnya kamu tahu. Yang jelas, orang itu membuatku ingin mengakhiri saja kehidupan rumah tanggaku.” jelas Murti.

“Janganlah terbawa perasaan, Mur. Belum tentu setelah cerai nanti kehidupanmu jadi lebih baik.” kata Bajag.

“Jadi kamu mendoakan aku sengsara seumur hidup?” sengit Murti.

“Aku hanya mengatakan hal-hal yang pernah kualami, Mur. Aku adalah potret dari manusia yang gagal dalam perkawinan.” kata Bajag.

”Aku tidak peduli,” Murti mencubit perut Bajag dan tersenyum ketika merasakan sesuatu yang kaku tersentuh oleh ujung jemarinya. Wajahnya bersemu merah, semerah bibir yang basah dan merekah bagai mawar itu, menanti hisapan sang kumbang. ”Ahh,” Murti mendesah, melenguh ketika merasakan tangan Bajag yang semakin turun dan terus turun, lalu hinggap di atas gundukan payudaranya.

Tapi sayang sekali, disaat sang kumbang akan menghisap sisa madu yang tentu masih terasa manis itu, gerbang desa Cemorosewu sudah siap menyambut. Terpaksa acara intim mereka harus diakhiri sampai disitu. Murti segera memperbaiki posisi duduknya, ia juga lekas memasang kerudung hitam dan membenahi kancing baju muslimnya yang tadi sempat sedikit terbuka, dan menyapu wajahnya dengan make up tipis. Dengan cepat ia telah menjelma kembali menjadi ibu guru Madrasah yang cantik dan alim.

“Kamu tahu arti umbul-umbul hitam itu, Jag?” tanya Murti pada Bajag.

“Hitam identik dengan duka dan kematian. Benar kan?” tebak Bajag.

“Benar. Hari ini desa Cemorosewu berkabung. Pak Asnawi, kepala desa ini meninggal semalam.” kata Murti.

“Kamu mau melayat?” tanya Bajag.

“Iya. Untuk menghormati Aisyah, Jag. Dia pasti sangat terpukul oleh kematian ayahnya.” sahut Murti.

Bajag merasakan ulu hatinya bagai ditusuk ribuan jarum. Jantungnya serasa berhenti berdetak mendengar perkataan Murti. Mulutnya terkunci dan wajahnya berubah pias. Ia ingin bicara tapi tak bisa. Ocehan Murti sudah tidak didengarnya sama sekali. Ia lebih sibuk mendengarkan kata hatinya sendiri.

“Kita sudah sampai, Jag. Ayo ikut ke dalam.” ajak Murti.

Bajag melangkah ragu memasuki rumah duka. Semakin masuk ke dalam rumah, hati dan perasaannya semakin gundah dan gelisah. Terlebih setelah ia dan Murti sampai di kamar tempat sesosok tubuh terbujur kaku, dibungkus kain jarik dan dikelilingi beberapa orang. Tubuh pak kepala desa. Bajag tak menyangka sama sekali. Terlebih ketika seorang wanita menoleh, wanita yang seketika menyiksa batinnya. Wanita itu adalah Aisyah, wanita jelita yang kini bersimbah airmata.

“Assalamu’alaikum, Aisyah.” kata Murti.

“Wa’alaikum salam, Bu Murti, silahkan duduk. Silahkan, Mas.” kata Aisyah pada Bajag.

“Terima kasih. Biar saya di luar saja.” jawab Bajag. Ia menyampaikan beberapa patah kata sebagai tanda bela sungkawa lalu melangkah keluar, menuju kerumunan polisi yang masih berjaga-jaga di sekitar rumah kepala desa. Begitu ia muncul, para polisi langsung mengajaknya ngobrol. Maklum sebagian besar polisi telah mengenalnya. Ia juga sudah dikenal karena seringnya mendatangi kantor polisi.

“Selamat pagi, Pak.” sapa Bajag.

“Selamat pagi, Jag. Kamu melayat?” tanya salah seorang polisi.

“Iya, Pak. Saya ngantar Bu Murti, istrinya Pak Camat.” Bajag terdiam sejenak sambil memperhatikan sekitar rumah. “Kok banyak anggota bapak disini?” tanyanya kemudian.

“Kami sedang melakukan olah TKP. Ini kan pembunuhan.” kata polisi itu.

“Pembunuhan?” Bajag pura-pura tidak tahu.

“Benar. Semalam kepala desa dibacok orang. Kepalanya hampir putus.” jawab sang polisi.

“Sudah dapat pelakunya, Pak?” tanya Bajag.

“Sampai saat ini belum. Kami masih menanyai beberapa saksi dan berusaha mencari barang bukti.”

“Kan biasanya ada petunjuk, Pak?” kata Bajag.

“Pembunuh yang ini mahir, Jag.” jawab si anggota polisi. ”Dia tidak meninggalkan jejak sama sekali. Hujan deras semalam juga menyulitkan kami.” terangnya.

“Semoga cepat terungkap, Pak.” sahut Bajag.

Polisi itu mengangguk. “Oh ya, Jag. Ada kabar kalau ayahmu mendapat pengampunan. Dia cuma dihukum seumur hidup.” kata polisi itu.

“Apapun yang terjadi pada ayah saya, biar saja. Bapak sudah tahu keputusan saya.” jawab Bajag.

“Bapak mengerti.” Polisi itu mengangguk. “Tuh, Bu Murti manggil kamu,” dia menunjuk ke arah rumah Aisyah.

Bajag menoleh dan tersenyum, “Baik, Pak. Saya permisi dulu.”

Ia meninggalkan sang komandan polisi dan menghampiri Murti. Kini Bajag telah berada kembali di hadapan Aisyah, yang tengah menatapnya dengan sorot mata sayu. Ia tidak berani berlama-lama menantang sorot mata itu. “Jam berapa pemakamannya?” tanyanya pada Aisyah.

“Sepuluh menit lagi, Mas. Saya harap Mas Bajag ikut mendoakan ayah saya.” sahut Aisyah.

“Saya akan berdoa, Aisyah. Semoga kamu tabah.” jawab Bajag.

“Saya menerima ini dengan ikhlas, Mas. Semoga pembunuh ayah saya mendapat rahmat dari Allah untuk kembali ke jalan yang benar. Semoga dia juga ikhlas menyerahkan diri.” kata Aisyah lirih, air mata kembali bergulir di matanya yang lentik.

“Allah mendengar doa orang-orang yang ikhlas, Aisyah.” timpal Bajag dengan hati tercabik-cabik.

“Terima kasih, Mas. Pemakaman sudah siap. Saya mohon Bu Murti dan Mas Bajag mau mendampingi saya.” pinta Aisyah.

Permohonan itu membuat Bajag semakin resah dan gelisah. Terlebih saat jemari halus gadis itu menggandengnya menuju pemakaman umum yang cuma beberapa langkah saja dari rumah duka. Ia sungguh tak mampu berkata-kata. Bajag kini berada di sisi sebelah kanan Aisyah, sementara Murti ada di sebelah kiri. Ia tak kuasa menolak cengkeraman jemari yang semakin kuat menggenggam lengannya, ikut merasakan isak tangis yang tak tertahan saat jenasah diturunkan ke liang lahat dan tanah-tanah mulai menimbun.

Belum selesai makam ditimbun, sosok mungil Aisyah limbung, tepat di rengkuhan Bajag. Aisyah pingsan dan wajah ayunya pucat kelelahan. Bajag dengan dibantu beberapa orang segera membopong Aisyah dan membawanya kembali ke dalam rumah.

“Tolong dijaga ya, Mas.” kata seorang warga memintanya menjaga Aisyah.

“Baik, Pak.” angguk Bajag.

Kini ia berada berdua saja dengan Aisyah, gadis berhati mulia yang tiba-tiba mengingatkannya pada sang ibunda. Ia melihat sosok Aisyah yang terbujur sama seperti ia melihat sosok ibunya saat tidur. Sangat damai. Membuat matanya jadi terasa panas, menahan airmata agar tidak jatuh. Tapi usahanya gagal dan setitik airmatanya jatuh ke wajah Aisyah, tepat di saat gadis itu perlahan membuka mata.

“Abaaah,” lirih suara Aisyah, terucap dengan getar yang menghantam seluruh sendi tubuh Bajag. Laki-laki itu terpaku, diam membatu menatap Aisyah tanpa menyadari ia telah menggenggam jemari Aisyah dengan sangat kuat.

“Saya bisa merasakan kesedihanmu, Aisyah.” bisik Bajag tulus.

“Saya tidak sedih dengan kematian abah, Mas. Tapi sedih dengan dosa pembunuh abah.” sahut Aisyah.

“Tuhan akan membalas setiap perbuatan umatnya.” balas Bajag.

“Semoga dosa orang itu terampuni, Mas. Aisyah ikhlas lahir dan batin.” kata Aisyah.

“Keikhlasanmu akan mendapat ganjaran berlipat-lipat, Aisyah. Maafkan saya,” Bajag melepaskan cengkeramannya. Ia meninggalkan Aisyah dan pergi ke mobil.

Sambil menunggu Murti, Bajag tercenung sendiri, merenungi betapa kejahatan yang telah ia lakukan semalam telah membuat begitu banyak orang berduka, membuat beberapa hati terluka. Ia sungguh tidak tahu siapa sebenarnya orang yang semalam mati di ujung golok mautnya. Yang ia tahu tentang kepala desa Cemorosewu adalah bahwa lelaki itu adalah salah satu begundal bejat yang mencabut nyawa ibunya. Ia sama sekali tidak tahu tentang Pak Asnawi yang kata orang-orang adalah sosok dermawan, berjiwa sosial, ulama terkenal, pendiri madrasah tempat Murti mengajar.

Yang paling menyakitkan dan menyiksa batinnya ialah kenyataan bahwa kepala desa Cemorosewu tak lain dan tak bukan adalah ayah kandung Aisyah. Berarti lantunan ayat-ayat suci yang ia dengar semalam adalah suara Aisyah, sosok manusia bermukena yang sempat ia intai adalah gadis mulia berwajah jelita itu. Sekarang gadis itu dirundung duka akibat perbuatan jahat yang ia lakukan. Untung semalam ia tidak meneruskan niat menghabisi seluruh keluarga kepala desa. Untung Aisyah terlalu khusyuk mengaji sehingga tidak mendengar tragedi semalam. Untung ia urung untuk menelanjangi sosok bermukena itu. Lebih untung lagi, Aisyah sama sekali tidak tahu bahwa pembunuh itu adalah dirinya. Pun demikian dengan polisi yang tidak curiga padanya.

Bajag menyandarkan kepala ke jok mobil, memejamkan mata untuk beberapa saat hingga ia merasa seseorang mencubit pahanya. Ia membuka mata dan melihat Murti sudah ada disana. “Ayo kembali ke kota, Jag.” kata perempuan cantik itu.

Mereka pun meninggalkan desa Cemorosewu dengan diiringi lambaian umbul umbul hitam yang tertiup angin. Warna hitam yang membuat seluruh jiwa jadi muram. Bajag dan Murti sama-sama diam. Hanya desah napas dan detak jantung mereka saja yang terdengar. Cuaca siang ikut murung dan berduka. Langit diselimuti mendung dan titik-titik kecil air mulai menetes di kaca mobil. Gerimis yang membuat hati menjadi miris.

Tiba di rumah, Murti mendapati Pak Camat masih belum pulang. Di HP-nya ada sms, Pak Camat masih ada acara di tempat lain. Murti mendesah kecewa, sekaligus lega. Ia segera turun dari mobil dan berbisik pada Bajag, ”Kalau sudah selesai masukin mobil, pergi ke kamarku ya… ada yang ingin aku bicarakan.”

”Iya, Mur.” sahut Bajag tanpa membantah.

Sementara Bajag sibuk di dalam garasi, Murti segera mengganti pakaiannya. Ia sengaja mencopot BH-nya untuk merangsang Bajag. Di balik daster tipis yang sekarang ia kenakan, bentuk payudaranya yang bulat besar terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul indah. Murti yakin, Bajag pasti suka dan terangsang dibuatnya.

Masuk ke dalam kamar, mata Bajag nyaris copot karena melotot melihat tubuh molek Murti yang sekarang tersaji utuh di depan hidungnya. Istri Pak Camat itu membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya yang selalu tertutup jilbab lebar saat ia tampil di muka murid-muridnya. Di dada Murti, tampak tonjolan payudaranya menggunung sangat indah, membuat Bajag sejenak lupa bernafas dan memejamkan mata.

”Kenapa, Jag? Ayo duduk dulu,” Murti mempersilakannya sambil tersenyum manis.

Muka Bajag langsung memerah karena nafsu, bayangan wajah cantik Aisyah segera lenyap dari pikirannya, tergantikan oleh tubuh telanjang Murti yang sudah beberapa kali ia nikmati. Dan sekarang, sepertinya ia juga akan mendapatkannya lagi, terlihat dari senyum Murti yang merekah semakin lebar saat pandangan Bajag terarah tajam ke buah dadanya.

”Jag, kamu mau nolong aku?” Murti merapatkan tubuh ke arah Bajag yang masih berdiri mematung di depan pintu.

”N-nolong apa, Mur?” tubuh Bajag bergetar ketika tangan teman masa kecilnya itu merangkul dirinya, sementara tangan Murti yang lain mengusap-usap daerah ‘vital’ nya.

”Tolong temani aku, Jag… aku takut tidur sendiri.” bisik Murti manja.

Muka Bajag makin memerah mendengar perkataan itu. ”T-tapi, Mur… nanti dipergoki sama Pak Camat.” tukasnya ragu.

”Mas Joko masih lama pulangnya,” Murti menunjukkan sms dari Pak Camat pada Bajag. ”Kita punya banyak waktu,” bisiknya. Dan tanpa menunggu jawaban dari Bajag, Murti segera menarik tangan laki-laki itu dan membimbingnya agar duduk di atas tempat tidur. Murti yang agresif karena haus akan sentuhan laki-laki, kemudian duduk di pangkuan Bajag. Tanpa bisa dicegah, bibir keduanya pun langsung saling bertemu dan berpagutan erat.

”Ehm, Mur…” lenguh Bajag saat merasakan puting susu Murti yang sudah mengeras menggesek ringan di permukaan perutnya, sementara lidah perempuan cantik itu terus menjelajahi mulutnya, mencari lidahnya untuk diajak saling melilit bagai ular.

Setelah puas, Murti kemudian berdiri di depan Bajag yang masih melongo karena tidak menyangka akan diserang seganas itu. Satu demi satu Murti mencopoti pakaiannya hingga tubuhnya yang mulus sempurna jadi polos seperti bayi yang baru lahir. Tersenyum manja, Murti seakan menantang Bajag agar segera menghangatkan tubuhnya yang selama ini jarang disentuh oleh Pak Camat.

”Lepaskan pakaianmu, Jag.” Murti berkata sambil merebahkan dirinya di atas ranjang. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindih oleh tubuhnya yang sangat sintal menggoda.

”Ayo cepat, Jag!” Murti mendesah tak sabar saat melihat Bajag masih terdiam kagum memandangi tubuhnya..

”Ah, i-iya.” terkaget-kaget, Bajag lekas ikut menelanjangi diri. Dengan rudal mendongak kuat ke depan, ia kemudian duduk berlutut di samping Murti. Pelan Bajag meletakkan tangannya di atas dada Murti yang bergerak naik turun seirama dengan tarikan nafasnya, lalu mulai meremas-remasnya lembut sambil tak lupa memijit dan memilin-milin putingnya yang montok kemerahan.

”Oohh… enak, Jag… terus… yah, begitu… remas pelan-pelan!” bisik Murti lirih, matanya sudah mulai terpejam rapat.

Dengan penuh semangat Bajag melakukan apa yang teman masa kecilnya katakan. Ia terus meremas-remasnya bergantian kiri dan kanan, merasakan betapa empuk dan kenyalnya benda itu, sampai akhirnya tubuh Murti menegang tak lama kemudian saat jilatan dan hisapan mulut Bajag mampir ke puncak payudaranya yang mungil dan indah. Seperti anak kecil, Bajag mulai menyusu ke arah puting Murti.

”Oohh… jilat terus, Jag… ohh… enak!” tangan Murti mendekap erat kepala Bajag ke arah payudaranya.

Bajag semakin buas menjilati puting susu istri Pak Camat tersebut, mulutnya sampai menimbulkan bunyi decapan yang sangat nyaring, tanda kalau hisapan Bajag begitu keras dan kuat, bahkan tanpa ia sadari, Bajag mulai menggigit-gigit ringan puting mungil itu.

”Hmm… nakal kamu, Jag!” Murti tersenyum merasakan tingkah sang sopir. ”Jangan cuma disitu, coba juga daerah bawah pusarku,” pintanya.

Bajag menurut saja. Cepat ia duduk diantara dua kaki Murti yang sudah terbuka lebar. Murti sendiri menyandarkan punggungya ke sandaran tempat tidur, membiarkan Bajag memandangi daerah kemaluannya yang sudah menganga lebar dengan sepuas hati.

”Sudah basah bukan?” Murti membimbing telunjuk Bajag agar memasuki liang serambi lempitnya.

Bajag mengangguk, ”Lengket sekali, Mur…”

”Kelentitku, Jag. Coba kamu gosok-gosok sebentar, rasanya gatal sekali.” Murti memohon.

Pelan jari-jari Bajag mulai mengusap-usap tonjolan pink yang mulai menyembul itu.

”Ahh… yah, gosok terus, Jag… ughh, enak!” Murti menggelinjang keenakan ketika klitorisnya terus dipermainkan oleh Bajag.

”Kalo aku giniin, enak nggak?” Bajag tersenyum sambil menekan kelentit Murti semakin keras.

”Ooh… Jag! Emm…” tubuh montok Murti makin melengkung keenakan, nafasnya terdengar semakin memburu, sementara bibirnya yang mungil terus mengeluarkan rintihan dan desahan yang sangat membangkitkan gairah, menandakan kalau pertahanan perempuan cantik itu akan segera jebol tidak lama lagi.

”Ooaahh… Jag!” Murti mencengkeram kuat pundak Bajag saat semua otot di tubuhnya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati sesuatu yang telah lama tidak ia rasakan bersama Pak Camat.

”Hmm… kamu pintar sekali, Jag.” bisik Murti dengan serambi lempit masih berkedut-kedut ringan mengeluarkan cairan kenikmatannya. Bajag tersenyum dan menurut saja saat Murti menyuruhnya untuk berbaring, ”Sekarang giliranku untuk memuaskanmu,” ucap Murti sambil mengurut lembut batang rudal Bajag. Benda itu jadi semakin kaku dan menegang saat berada di dalam genggaman tangannya.

”Wow, makin besar aja, Jag!” dengan gemas Murti terus mengusap-usap dan membelainya. Bajag cuma tersenyum dan terdiam menikmati segala tingkah istri Pak Camat yang cantik dan seksi itu.

Tanpa menunggu lama, segera saja rudalnya berpindah tempat. Kini benda coklat panjang itu sudah masuk ke dalam mulut Murti. Dengan rakus tapi sangat telaten, Murti mulai mengulum dan menghisapnya. Kepala rudal Bajag yang berbentuk jamur tumpul digigitnya keras-keras hingga membuat Bajag merintih kegelian.

”Ahh… enak, Mur… terus!” Bajag tanpa sadar menyodok-nyodokkan pinggulnya, menekan rudalnya semakin dalam ke mulut tipis Murti. Gerakannya menjadi semakin cepat seiring semakin kerasnya hisapan sang ibu guru cantik.

”Oohh, Mur… aku… aku… arghhh!” tanpa bisa dicegah, muncratlah cairan sperma Bajag ke dalam mulut Murti, yang segera dijilati oleh Murti hingga tandas dan tuntas.

”Hmm… manis juga rasa manimu, Jag.” Murti tersenyum, masih dengan mulut tetap menjilati ujung rudal Bajag yang masih tegak berdiri.

”Kamu juga makin pintar, Mur, bikin aku jadi tak tahan.” sahut Bajag dengan nafas terengah-engah pelan.

Murti ikut tersenyum, ”Kita istirahat dulu ya, habis itu…”

”Kenapa istirahat, aku masih kuat kok.” potong Bajag sambil mendekap tubuh montok Murti dari belakang dan dengan cepat menyodokkan rudalnya ke liang serambi lempit perempuan cantik itu keras-keras.

”Arghkh!!” Murti menjerit kaget, namun cuma sebentar, karena dalam hati ia sangat menikmati hal ini. Siapa juga yang tidak suka mempunyai partner seks sejantan Bajag, biarpun habis keluar tapi rudalnya masih bisa digunakan!

”Kamu menikmatinya ’kan, Mur?” bisik Bajag di telinga Murti. Tangannya yang satu menyangga tubuh montok Murti, sementara yang lain meremas payudara Murti yang menggantung indah. Sementara rudalnya dengan keras melumat liang serambi lempit Murti hingga jadi semakin basah dan memerah.

”Ahh… hhh…” Murti hanya bisa merintih, tubuhnya bagai lemas tak bertenaga menikmati setiap sodokan Bajag di liang serambi lempitnya. Mereka terus berada alam posisi seperti itu hingga Bajag menyemprotkan kembali cairan spermanya tak lama kemudian, kali ini di dalam serambi lempit sempit milik Murti.

”Ahh… Bajag!” rintih Murti saat merasakan cairan hangat memenuhi liang kewanitaannya. Ia cepat menekan pinggulnya ke belakang agar rudal Bajag yang masih berkedut-kedut ringan makin amblas lagi ke dalam miliknya. Di saat yang sama, Murti rupanya orgasme juga.

Kedua insan itu pun tergolek lemas menikmati apa yang baru saja mereka lakukan. Cairan keduanya bertemu dan bercampur menjadi satu, memenuhi liang kelamin Murti hingga terasa jadi begitu basah dan lengket. Beberapa ada yang menetes keluar saat Bajag mencabut pelan batang rudalnya.

”Ughh,” Murti mendesah, rambutnya yang hitam panjang terurai menutupi bantal, sementara dadanya yang besar bergerak naik-turun mengikuti irama tarikan nafasnya. Tangan Bajag bertengger disana, meremas-remasnya pelan.

”Pak Camat masih lama pulangnya?” tanya Bajag.

”Sebentar, aku sms dulu.” Murti segera mengambil HP-nya yang ditaruh di atas meja dan mengirim sms kepada Pak Camat. Tak lama sms balasan sudah ia terima.

Bajag tersenyum lebar saat ikut membaca, ”Masih 2 jam lagi, itupun kalau sudah selesai.” katanya.

Murti mengangguk, ”Iya, masih banyak waktu bagi kita.”

”Gimana, sudah siap lagi?” tanya Bajag sambil mencolek serambi lempit Murti mesra.

”Hei, jangan bilang kalau kamu sudah ngaceng lagi!” sahutnya sambil melirik ke bawah dan serambi lempitik gembira saat melihat rudal Bajag yang sudah beranjak bangun dan menegang. ”Gila, benar-benar gila!” Murti menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.

”Akan kubikin kamu pingsan malam ini,” janji Bajag sambil menindih tubuh molek Murti dan bersiap untuk memulai ronde yang kedua.

Bersambung… Hari masih teramat pagi tapi Murti sudah berdandan sangat rapi. Dengan baju muslimah warna pink, ia terlihat lebih anggun dan ayu. Sementara Pak Camat, suaminya, masih tidur mendengkur kayak lembu. Murti tidak berniat untuk membangunkan. Suaminya pasti kelelahan dari bepergian. Ia tidak tahu jam berapa Pak Camat datang. Yang pasti ketika ia bangun jam dua dini hari, suaminya sudah ada.

“Besok aku libur, Mur. Kamu pergi saja ke pendopo dengan Bajag.” kata suaminya tadi malam. “Baik. Mas Joko istirahat saja. Mas pasti capek setelah dua hari keluyuran.” balas Murti pedas. “Kamu kok gitu sih? Aku kan ada tugas luar kota.” kilah Pak Camat. “Bukannya apa-apa, Mas. Aku cuma sedikit rindu,” kata Murti. “Rindu tapi benci ’kan?” sela Pak Camat.

Biarpun rindu tapi benci, namun tadi malam sempat terjadi juga keintiman suami istri. Tapi Murti tahu suaminya tidak bersungguh-sungguh. Keintiman tadi malam dibayangi ragu. Pelukan dan cumbuan tadi malam terjadi dengan setengah hati. Terasa hambar dan kaku. Keintiman yang tidak berlangsung lama, bahkan sangat singkat bagi Murti. Belum setengah ronde, suaminya sudah loyo. Murti tersenyum kecut. Memang lebih enak barang milik Bajag.

“Baik, Mas, saya berangkat.” kata Murti pada akhirnya. Hari ini ia memang hendak ke pendopo untuk menghadiri acara pelantikan dirinya sebagai sebagai pegawai negeri sipil. Sebenarnya ia sangat ingin didampingi suami seperti para undangan yang lain. Murti kecewa karena hanya dialah satu-satunya tamu undangan yang datang seorang diri. Yang lainnya datang bersama istri dan suami masing-masing. Ia melangkah gontai menuju kursi yang telah diberi nomor.

Sementara Bajag yang mengantarnya lebih suka menunggu di luar pendopo, ngobrol bersama petugas pamong praja. Ternyata bukan hanya polisi yang mengenal Bajag, tetapi pamong praja juga kenal baik dengannya. Boleh dibilang kalau semua aparat di kota mengenal sejarah Bajag dari masa ke masa. Biarpun cuma lulusan SD, Bajag masih ingat wajah teman-teman mainnya dulu.

“Hei, kamu Bajag kan?” sapa seseorang. “Iya, kamu pasti si Bejo.” balas Bajag. “Betul. Makin subur saja kamu, Jag.” kata lelaki yang dipanggil Bejo. “Jangan memuji.” sahut Bajag. ”Kamu sudah mapan, Jo, jadi pegawai negeri.” tambahnya. “Ini sih sudah nasib. Mainlah ke rumah,” tawar Bejo. “Pasti. Tapi aku masih sibuk, Jo, maklum cuma babunya Pak Camat.” Bajag beralasan. “Kakakku pasti senang kalau ketemu kamu, Jag.” kata Bejo lagi. “Si Ningsih?” tebak Bajag. ”Dimana kakakmu itu sekarang? Sudah punya suami?” tanyanya kemudian. “Kak Ningsih ada kok. Dia sering menanyakan kamu.” jawab Bejo. ”Makanya main ke rumah!” kembali ia menawarkan.

Bajag tertawa kecil. Perbincangannya dengan Bejo telah membuatnya teringat pada Ningsih. Dulu ia, Bejo, Ningsih, dan juga Murti adalah teman bermain dan bersekolah. Mereka sering bersama kemana-mana, belajar kelompok bersama, bermain di sungai sampai puas.

Sampai kemudian Bejo dan keluarganya keluar dari kompleks dan pindah ke jalan lain. Bajag ingat Ningsih dulu sama nakalnya dengan Murti, sama-sama suka mempermainkannya ketika kecil dulu, sering membuatnya menangis. Murti dan Ningsih juga sama cantiknya ketika masih bocah. Cuma sekarang ia tidak tahu seperti apa bentuk dan rupa Ningsih. Tentu tidak sama dengan puluhan tahun silam.

“Sampaikan saja salamku pada ningsih, Jo.” kata Bajag sambil tersenyum. “Kak Ningsih berharap ketemu kamu, Jag.” sahut Bejo sedikit memaksa. ”Main saja ke rumah, nanti kukenalkan ke istri dan anakku.” ia masih belum mau menyerah. “Baiklah.” Bajag akhirnya mengalah. ”Tapi aku tidak janji ya…”

Sementara itu Murti duduk dengan gelisah di bangkunya. Acara pelantikan masih setengah jam lagi, tapi Murti sudah sangat ingin keluar dari pendopo. Ia tahu bahwa semua mata tengah memandanginya dengan sorot mata dan ekspresi wajah bermacam-macam. Sekelompok orang yang ada di baris paling belakang kasak-kusuk dan sayup terdengar oleh Murti, membuatnya makin ingin angkat kaki. Untung ia duduk di sebelah Aisyah, membuatnya sedikit tenang dan terhibur.

“Bu Murti sepertinya tidak semangat,” kata Aisyah memecah kebekuan. “Iya, Aisyah. Semalam saya begadang.” jawab Murti sekenanya. “Pantas Bu Murti kelihatan loyo.” angguk Aisyah, ia memang gadis yang lugu dan polos. ”Kok tidak bersama Pak Camat?” tanyanya kemudian. “Bapak lagi libur, Aisy. Beliau istirahat di rumah.” jawab Murti. “Jadi ibu diantar Mas Bajag?” tanya Aisyah dengan wajah bersemu merah, senang sekaligus grogi karena ada kesempatan bertemu dengan Bajag.

“Benar.” Murti tersenyum memandang Aisyah yang menunduk malu-malu. ”Nanti kamu bisa pulang bersama kami,” jawabnya untuk makin menyenangkan gadis itu. “Terima kasih, Bu. Tapi saya malu,” lirih Aisyah. “Malu sama siapa? Anggap saja aku ini kakakmu, Aisy.” sahut Murti menggoda. “S-saya malu sama mas Bajag, Bu.” ucap Aisyah dengan muka makin merona. “Ibu ngerti kok. Nggak usah malu. Bajag senang kok berkenalan denganmu.” jawab Murti. “Ah, Bu Murti bisa saja,” Aisyah makin tersipu.

Murti tertawa melihat Aisyah yang malu-malu kucing seperti itu. Ia ingin bicara lagi, tapi acara pelantikan sudah mulai dibuka. Saat-saat membosankan telah berlalu, berganti dengan wajah-wajah penuh harapan baru. Ada sekitar seratus orang yang semuanya adalah guru yang mengikuti pelantikan. Murti tidak begitu mendengarkan sambutan dari Bupati dan Kepala Diknas. Ia lebih suka menunggu dan berharap acara segera berakhir. Memang kata sambutan itu yang paling lama, sementara acara acara lain berlangsung cepat, begitupun dengan penyerahan SK yang sengaja dikebut.

Murti merasa bahagia sekaligus kecewa. Ketika membuka SK, wajahnya kontan berubah. Ia memang resmi jadi pegawai negeri, tapi juga dipindah tugaskan ke sekolah negeri, bukan lagi di madrasah. “Kamu juga dimutasi, Aisyah?” tanya Murti pada Aisyah. “Benar, Bu. Mulai besok saya mengajar di SMA 3.″ jawab Aisyah kalem. “Syukurlah kita masih satu tempat. Rasanya berat sekali meninggalkan madrasah.” kata Murti. “Saya juga begitu, Bu. Sedih meninggalkan sekolah rintisan Abah. Tapi memang harus ada regenerasi.” jawab Aisyah bijak. “Kamu benar. Semoga tempat baru memberi kita rejeki baru.” dukung Murti. “Semoga. Kita berdoa saja, Bu.” Aisyah mengangguk mengiyakan.

Mereka menunggu dengan sabar sampai acara pelantikan bubar. Setelah berjabat tangan memberi ucapan selamat pada semua orang, Murti dan Aisyah segera keluar dari aula pendopo dan menghampiri Bajag yang masih setia menunggu di bawah pohon. Bertiga mereka menuju mobil. “Sudah selesai acaranya?” tanya Bajag pada Murti. “Sudah. Aku dan Aisyah mau ke madrasah. Antar kesana ya?” ajak Murti.

Bajag menatap Aisyah yang masih dibayangi duka. Ingin rasanya ia menghapus wajah duka itu agar terlihat kembali ceria seperti sedia kala. Kematian memang menimbulkan duka mendalam bagi orang-orang yang ditinggalkan. Dan gatot menghitung kematian Pak Asnawi, ayahnya Aisyah, telah memasuki hari ke tujuh. Ia dibayangi ketakutan bahwa suatu saat nanti kejahatan itu akan terbongkar. Ia takut berhadapan dengan Aisyah bila saat itu tiba.

“Nanti malam terakhir tahlilan ya, Aisyah?” tanya Bajag pada Aisyah yang berjalan pelan di sebelahnya. “Benar.” Aisyah mengangguk, dia tidak berani menatap Bajag. ”Saya akan senang bila Mas Bajag mau hadir mendoakan abah.” tambahnya.

“Saya ingin sekali datang. Tapi semua tergantung ijin Pak Camat.” jawab Bajag. Aisyah mengangguk, lalu menoleh pada Murti. “Oh ya, Bu Murti, saya berniat tinggal di komplek. Adakah di sekitar situ rumah yang dikontrakkan?” tanyanya sopan. “Komplek sudah penuh.” sahut Murti. ”Coba kamu bicara ke Bajag. Siapa tahu dia mau menyewakan rumahnya,” tambahnya sambil tersenyum penuh arti.

Bajag menoleh dan memandang Murti. “Apa maksudmu?” tanyanya tak mengerti. “Maksudku, rumahmu kan sering kosong. Bagaimana kalau kamu sewakan saja?” jawab Murti ringan. “Lalu saya mau tinggal dimana, Mur?” tanya Bajag sedikit kesal. “Ya tinggal di rumahku. Mas Joko sudah lama ingin kamu tinggal bersama kami, Jag.” sahut Murti dengan senyum dikulum di bibir.

“Nggak,” Bajag menggeleng, dengan cepat menolak. ”Saya tinggal di rumah saja.” putusnya. Beda rumah aja, mereka sering melakukannya. Apalagi kalau satu rumah, bisa-bisa Murti makin lengket dengannya, dan ujung-ujungnya Pak Camat jadi curiga. Bajag tidak mau itu terjadi. Dia masih ingin menikmati tubuh molek Murti sedikit lebih lama, kalau bisa memberikan anak kepadanya. Mudah-mudahan saja …

“Bagaimana kalau saya saja yang tinggal di rumah Bu Murti?” tawar Aisyah, nadanya sedikit penuh harap. “Bukannya ibu menolak niat baikmu, Aisyah. Tapi ibu dan Pak Camat sudah sepakat untuk tidak menerima wanita di rumah kami.” tolak Murti dengan halus. “Tidak apa-apa, saya bisa paham kok sikap keluarga ibu.” Aisyah mengangguk, kemudian berpaling pada Bajag, ”Bagaimana kalau saya kos di rumah Mas Bajag saja?” tanyanya ragu.

Ganti Bajag yang terkejut mendengar permintaan Aisyah. Ia melihat kesungguhan di balik kata-kata gadis itu. Mungkin ada sisi baiknya, ia jadi punya teman ngobrol. Tetapi Bajag merasa akan lebih banyak sisi buruknya bila sampai Aisyah tinggal serumah dengannya. Bajag harus menebalkan iman untuk menghadapi kecantikan dan kemolekan tubuh gadis itu, yang mana ia yakin tidak akan bisa melakukannya. Belum sehari, bisa-bisa ia sudah memperkosa Aisyah. Belum lagi tanggapan warga yang lain, pasti akan ada pergunjingan dan cemoohan.

“Sebenarnya apa yang membuat Aisyah ingin pindah?” tanya Bajag menyelidik. “Capek mas tiap hari bolak-balik ke Cemorosewu. Kalau kos kan bisa irit waktu dan tenaga. Bagaimana, Mas Bajag setuju?” tanya Aisyah, ia kembali menunduk saat Bajag menatap wajahnya. “Saya belum bisa putuskan, Aisyah. Saya harus diskusikan dulu dengan Pak Camat dan Pak RT.” jawab Bajag. “Secepatnya ya, Mas. Saya tunggu keputusan Mas Bajag.” Aisyah meminta.

Setelah mengantar Murti dan Aisyah ke madrasah, Bajag pulang ke rumah Pak Camat. Murti yang menyuruhnya pulang karena ada sms yang intinya Pak Camat sangat butuh bantuan Bajag. Sampai di rumah Pak Camat, ia sudah ditunggu majikannya itu di teras. Pak Camat tampak sangat rapi, membuat Bajag bertanya-tanya dalam hati hendak pergi kemana beliau. Ia segera menghampiri Pak Camat. “Bapak mau kemana?” tanyanya tanpa berniat usil. “Tempat biasa.” jawab Pak Camat tanpa beban. “Tapi kalau Murti tanya, bilang saja aku rapat.” pesannya pada Bajag. “Baik, Pak.” Bajag mengangguk, ia sama sekali tidak boleh melawan perintah Pak Camat meski itu bertentangan dengan kata hatinya.

Merekapun pergi. Bajag tahu tempat biasa yang dimaksud oleh Pak Camat. Tidak begitu jauh dari komplek, tepatnya di sebuah kawasan perumahan mewah yang tidak sembarang orang bisa masuk. Ke situlah Bajag mengantar Pak Camat. Di depan sebuah rumah tingkat yang terletak paling ujung, Bajag menghentikan mobil, membunyikan klakson dan masuk ke halaman rumah begitu pagar terbuka. Dengan cepat pula pagar itu kembali tertutup. Seorang wanita muncul dan tersenyum pada Bajag, lalu wanita itu menggelayut manja dipelukan Pak Camat.

“Jag, terserah kamu mau kemana. Tapi jemput nanti jam lima sore ya,” pesan Pak Camat yang tanpa malu-malu melingkarkan tangan ke pinggul selingkuhannya, dan meremasnya pelan. Bajag mengangguk, “Baik, Pak. Saya pergi dulu.” iapun pamit, tidak tahan melihat pemandangan itu lebih lama lagi.

Bajag meninggalkan rumah itu, meninggalkan Pak Camat yang sudah sibuk dengan wanita simpanannya. Ia bingung mau kemana, tapi akhirnya ia putuskan untuk pulang saja ke rumah Pak Camat. Sepi. Murti belum pulang dan pintu masih terkunci. Untung Pak Camat memberikan kunci serep sehingga ia bisa masuk sesuka hati bagai di rumah sendiri. Dalam kesendirian itu, Bajag teringat semua kejadian yang menimpanya dalam kurun enam bulan terakhir ini.

Sejak bercerai dari istrinya, Bajag merasa hidupnya berputar bagai yoyo. Pahit manis kehidupan telah ia jalani dengan beragam perasaan suka duka, senang sedih, rindu benci, dan segudang perasaan lain. Ia teringat pada mantan istrinya yang berada nun jauh disana, di seberang pulau. Ingin sekali ia kembali ke pulau itu, pulau yang telah memberinya banyak harapan dan kenangan.

Bajag duduk di teras rumah Pak Camat. Matanya menatap lurus ke depan, ke jalanan yang ramai oleh anak-anak komplek. Tapi ia tidak merasakan keramaian itu. Ia terasing di alamnya sendiri. Bajag memandang foto yang ada di dompetnya. Itu adalah foto Zulaikha, mantan istrinya. Tidak secantik dan semontok Murti, tetapi Bajag sangat mencintainya sepenuh hati. Dua tahun lamanya membina rumah tangga bersama Zulaikha, ia belum pernah melihat istrinya itu marah. Istrinya adalah wanita yang sabar dan rendah hati, pintar menjaga perasaan dan emosi.

Bajag menyesal kenapa ia harus meninggalkan istri sebaik Zulaikha. Ia berpikir rasanya tak mungkin lagi bisa menemukan wanita sebaik Zulaikha. Sayang semua itu kini hanya menjadi memori yang membelenggu jiwa. Ia ingin mendapat kabar tentang Zulaikha, tetapi ada rasa ketidakpantasan untuk menelepon mantan istrinya itu. Bajag menghela napas dan mengusap wajahnya, mengembalikan foto Zulaikha ke dalam dompet. Tepat tengah hari, Murti pulang. Bajag merasa bersalah. Gara-gara tertidur di teras, ia sampai lupa menjemput istri majikannya itu. Untung Murti tidak marah dan memang tidak pernah bisa memarahi Bajag, yang ada ia malah menginginkannya. Murti cuma bisa tersenyum masam sambil menyeka keringat yang menetes di kening.

“Maaf, Mur, aku tertidur.” kata Bajag jujur. “Tidak apa-apa. Tapi kenapa tidur di teras? Mana Mas Joko? Kamu sendirian di rumah?” tanya Murti cepat, ada sedikit nada curiga dan penasaran dalam suaranya. “Tadinya aku berniat cari angin, eh malah ketiduran.” Bajag mencoba untuk tersenyum. ”Pak camat rapat. Tadi aku nganter beliau ke gedung dewan.” jawab Bajag, hatinya ngilu karena sudah berbohong pada Murti.

“Bukannya bapak libur?” Murti bertanya tak percaya, namun selanjutnya ikut tersenyum mengingat kesempatan langka yang terbuka di depan mata. ”Ayo masuk ke dalam.” ajaknya kemudian, sedikit terburu-buru. “Aku disini saja, Mur.” Bajag mencoba untuk menolak, setelah persetubuhan mereka kemarin, ia masih sedikit lelah. “Masuk saja. Ada yang mau kubicarakan!” tapi Murti memaksa, ia sama sekali tidak mau tahu alasan Bajag yang menolak untuk masuk. Ia dengan agak kasar menyeret Bajag dan menutup pintu saat mereka sudah ada di dalam.

Murti terus menyeret Bajag hingga ke kamar. Disitu ia baru membebaskan Bajag. Pintu kamar telah terkunci dan kuncinya disimpan oleh Murti, Bajag sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Diperhatikannya Murti yang kini mengganti baju muslimahnya dengan baju rumahan. “Benarkah Pak Camat rapat, Jag?” tanya Murti dengan tubuh hanya terbalut bh dan celana dalam. Bajag tidak langsung menjawab, ia mendesah dengan mata tak berkedip menatap tubuh molek Murti. Ia tidak bisa menjawab dengan jelas pertanyaan istri majikannya itu. Semakin hari pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Murti semakin datang bertubi tubi, semua bernada ketidakpercayaan dan kecurigaan.

“Begitulah, Mur.” jawab Bajag pendek, suaranya sedikit serak. “Bohong!” Murti memotong. “Terserah kamu, Mur. Tapi memang begitulah kenyataannya.” Bajag melihat Murti yang kini berjalan mendekatinya. “Kamu tidak jujur, Tor!” tuduh Murti. ”Katakan dimana suamiku sekarang!” ancamnya sengit. “Aku tidak bisa katakan.” Bajag menggeleng, sementara matanya tetap lekat menatap tubuh mulus Murti yang kini cuma berjarak sejengkal.

Murti mencopot lagi daster merah kembang-kembang yang baru saja ia kenakan, berharap dengan begitu bisa lebih mudah mengorek keterangan dari Bajag. Tubuh sintalnya biasanya selalu berhasil membuat Bajag menyerah. “Kenapa? Berapa mas joko menyuapmu sampai kamu tega membohongiku, Jag? Mana belas kasihanmu padaku?” hibanya pura-pura.

“Maafkan aku, Mur.” Bajag menatap sayu. ”aku mengasihimu. Tapi aku juga harus menjaga semua yang diamanatkan oleh Pak Camat.” katanya menegaskan. Tapi itu cuma di mulut, karena tak urung rudalnya mulai bangkit juga melihat provokasi Murti yang kelewat berani.

Wanita itu sekarang sudah mencopot bh hitamnya, membuat Bajag bisa melihat dengan jelas tonjolan buah dadanya yang ranum dan indah. “Jujurlah demi aku, Jag.” Murti meminta. Digoyang-goyangkannya benda itu tepat di depan muka Bajag, membuat Bajag makin melongo dan bertekuk lutut, tak tahu harus berbuat apa lagi.

Bajag menggeleng untuk yang terakhir kali saat Murti merangkul dan menempelkan tonjolan buah dada itu tepat di mukanya. Keduanya segera larut dalam pelukan bisu, namun penuh dengan gairah. Keduanya hanyut dalam gelombang nafsu, yang meski begitu besar dan menggelora, tetap membuat Bajag ragu untuk berkata sejujurnya mengenai sepak terjang Pak Camat yang sudah kebablasan.

Setelah menunggu lama, dan Bajag tetap diam, Murti akhirnya mendesah. Ia memang ragu pada kesetiaan suaminya yang dirasa makin luntur dari hari ke hari, namun sepertinya keterangan itu tidak bisa didapatnya dari Bajag hari ini. Mungkin lain kali. Yang bisa diberikan Bajag saat ini cuma kehangatan. Murti bisa melihatnya lewat rudal laki-laki itu yang kini sudah mengacung tegak dalam genggaman tangannya.

“Sampai kapan jiwa kita terbelenggu seperti ini, Mur?” bisik Bajag lirih sambil mulutnya mulai menghisap dan menciumi puting Murti satu per satu. ”Ahh…” sedikit menggeliat, Murti menjawab. “Mungkin sampai detak jantung kita berhenti, Jag.” balasnya berbisik. Tubuh sintalnya cuma dibalut oleh celana dalam, tapi tak lama benda itupun juga melayang, membuat Murti benar-benar telanjang bulat seperti bayi yang baru lahir sekarang.

Bajag tidak pernah menang bila sudah berhadapan dengan Murti yang seperti ini. Ia menyerah dengan begitu mudah dan kalah dalam satu kali serangan. Hati nuraninya memang bilang ini tidak boleh dan sangat dilaknat oleh Tuhan, tetapi Setan lebih berani dengan berkata bahwa keintiman yang dijalaninya bersama Murti adalah sesuatu yang sah dan wajar. Bajag tak tahu mana yang benar. Yang ia tahu cuma dahaga batin Murti harus terpenuhi. Dan hanya ia yang bisa memenuhinya.

Toh Murti juga sama sekali tidak merasa tersakiti, malah seperti menikmati. Dengan sigap dia menurunkan celana panjang Bajag, juga celana dalamnya hingga Bajag jadi sama-sama telanjang sekarang. Kejantanan Bajag yang sudah mengeras dan menegang tajam langsung digenggamnya dengan begitu erat, terlihat sangat mengagumi dan menyukainya.

”Hmm…” Murti mulai menjilat dengan sangat lembut, dimulai dari ujung hingga pangkal kejantanan Bajag, seakan ingin memanjakannya. Tak sesenti pun kejantanan Bajag yang tak tersapu oleh lidahnya yang mahir itu. Murti juga mengemut-ngemut kantong pelir Bajag dengan gemasnya, bahkan dia tak sungkan menjilati lubang dubur Bajag.

Mungkin karena didorong oleh perasaan cemburu pada Pak Camat, kenikmatan yang diberikan oleh Murti pada Bajag jadi sangat total dan berlipat ganda. Bajag jadi melenguh keenakan saat menikmatinya, ini sungguh diluar perkiraannya. ”Mur, uuh… enak sekali. Terus jilat punyaku, Mur… arghh!!” gumam Bajag dengan tubuh bergetar pelan. Jarang-jarang Murti mau mengulum rudal dengan begini telaten.

Murti semakin ganas menghisap kejantanannya, benda itu terus keluar masuk di mulutnya, dari sisi kanan bergerak ke sisi kiri, menggesek susunan gigi dan lidahnya yang basah. Kenikmatan yang dirasakan oleh Bajag sungguh luar biasa, tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata. Ngilu, geli, nikmat, semua bercampur menjadi satu. Hingga akhirnya pangkal rudal Bajag terasa berdenyut kencang, ingin menembakkan apapun yang sudah sejak tadi berusaha ia tahan-tahan.

“Mur, aku mau keluar…” rintihnya sambil menahan batang rudal di dalam mulut Murti. Tanpa bisa menolak, Murti hanya bisa pasrah saat Bajag memuncratkan seluruh spermanya di dalam mulut mungilnya yang berbibir tipis itu. Croot… croot… croot… tidak ingin muntah dan tersedak, iapun lekas menelan semuanya hingga tak tersisa. Murti juga membersihkan sisa-sisa sperma yang masih terlihat meleleh dari lubang kencing Bajag dengan menjilatinya sampai puas. Bagaikan wanita yang kehausan di tengah padang gurun pasir, Murti menyapu seluruh batang kejantanan Bajag dan menelan semua cairannya tanpa ragu.

”Ahh… Mur,” Bajag dengan lemas berguling ke sisi kiri, ia rebahkan tubuhnya yang sudah lunglai itu di sebelah Murti. ”Jag, aku belum dapat lho…” ingat Murti, ”Aku pengen nih,” pintanya memelas sambil terus mengelus-elus rudal Bajag yang kini sudah meringkuk dan melemas gemas dalam genggaman tangannya. ”Iya, Mur, kamu pasti dapat kok…” janji Bajag. ”Tapi aku istirahat dulu ya.” ia tarik Murti ke dalam pelukannya dan diciuminya dengan mesra.

”Aku pengennya sekarang, Jag.” Murti menggeliat, tapi tak urung mendesah juga saat jari-jari nakal Bajag mulai meremas-remas pelan gundukan payudaranya. ”Tapi punyaku masih lemes, Mur.” Bajag berkata malu. ”Aku jilatin lagi biar cepet bangun.” sahut Murti penuh semangat. ”Terserah kamu saja, yang penting punyaku bisa kaku lagi.”

Tanpa menjawab, Murti dengan cekatan segera mengambil posisi. Kepalanya kini tepat berada di atas rudal Bajag, dan kembali menghisap-hisapnya dengan begitu rakus dan cepat. Segala upaya ia lakukan, mulai dari membelai ujungnya yang tumpul hingga melumat habis biji pelirnya yang bulat kembar. Tak lama, rudal Bajag pun sudah kelihatan basah oleh air liur Murti. Dan tak cuma itu, benda itupun juga mulai kaku dan menegang. Merasa usahanya berhasil, Murti semakin mempercepat temponya. Alhasil kejantanan Bajag kembali mencuat dan mengeras dengan gagahnya, siap untuk bertempur kembali.

“Sudah, Jag. Ayo cepat lakukan!” seru Murti saat melihat batang rudal Bajag sudah menegang maksimal. Bajag yang juga sudah sabar ingin menerobos masuk dan mengaduk-aduk isi serambi lempit Murti, memberi aba-aba pada Murti agar bergerak. ”Kamu di atas,” bisiknya.

Dengan sigap Murti menggenggam batang rudal Bajag dan menuntun untuk menyentuh lubang serambi lempitnya yang sudah basah sedari tadi. rudal Bajag ia gesek-gesekkan terlebih dahulu di bibir serambi lempitnya, sesekali dibiarkannya membelah gemas, hingga perlahan batang rudal itu mulai menerobos masuk saat Murti mulai mendudukinya pelan.

”Eghh…” rintih Bajag saat seluruh batang rudalnya sudah terbenam di liang kewanitaan Murti. Goyangan pinggul istri Pak Camat itu juga membuatnya nikmat sekali, begitu lihai dan sangat menggairahkan. Semakin lama semakin kencang, hingga mau tak mau Bajag jadi makin melenguh nikmat dibuatnya. ”Pelan-pelan, Mur. Bisa patah punyaku!” sela Bajag sambil meremas-remas gundukan payudara Murti kuat-kuat.

Tapi seperti kesetanan, Murti tidak menghiraukannya. Bongkahan pantat semoknya terus bergoyang liar mempermainkan batang rudal Bajag yang masih terbenam dalam. ”Uuh… Jag, punya kamu perkasa sekali. Nikmat… beda dengan punya suamiku!” bisik Murti dengan mata merem melek menikmati hujaman rudal Bajag di liang senggamanya.

”Punya kamu juga enak, Mur.” balas Bajag. ”Rasanya punyaku jadi seperti dipijit-pijit… kamu apakan sih, kok bisa enak gitu?” tanyanya penasaran. ”Ahh… mau tahu aja kamu! Gak penting aku ngapain, yang penting kita bisa sama-sama enak!” sahut Murti sambil menggoyang semakin cepat. ”Cepat, Jag, aku sudah mau keluar… ooh!” ujarnya sambil menengadahkan kepala ke atas.

Bersamaan dengan itu, Bajag merasakan ada semburan cairan hangat yang sangat banyak sekali dari lubang kewanitaan Murti. Istri Pak Camat itu sudah mencapai orgasmenya. Dengan lunglai Murti ambruk merebahkan tubuhnya yang telanjang tepat di atas badan Bajag.

”Tahan, Mur, aku juga sudah hampir…” seru Bajag sambil menyuruh Murti mengangkat pantatnya sedikit. Masih dengan posisi women on top, kembali ia menyodok-nyodokkan rudalnya dengan beringas ke dalam liang kewanitaan Murti yang sudah basah kuyup. ”Jag, ini yang aku suka dari kamu… kuat sekali, tidak seperti suamiku… aah… aah… uhh…” erangan demi erangan keluar silih berganti dari bibir tipis Murti, bersama dengan keringat yang semakin mengucur deras di sekujur tubuh sintalnya.

Kata-kata Murti itu membuat darah muda Bajag semakin panas membara, sekaligus semakin membuatnya terangsang. ”Ehm… aku juga suka tubuhmu, Mur, nikmat sekali!” seru Bajag dengan nafas menderu karena nafsu birahinya sudah semakin memuncak.

Gerakan rudalnya juga semakin mengencang, mungkin seusai pertempuran ini, serambi lempit Murti akan lecet-lecet karena sodokannya. Tapi tidak apa-apa, yang penting mereka sama-sama puas sekarang. Merasa sebentar lagi akan keluar, maka Bajag segera membalikkan posisi tubuh Murti ke bawah tanpa harus melepaskan batang rudalnya yang sudah tertanam rapi di liang kewanitaan istri Pak Camat itu.

”Lanjut ya, Mur?” pinta Bajag sambil membuka lebar-lebar selangkangan Murti dan kembali memompa tubuhnya. ”Lakukan, Jag, lakukan!” jerit Murti, dalam posisi seperti ini, terasa sekali milik Bajag seperti menyentuh hingga ke mulut rahimnya. Setiap hujaman yang Bajag berikan, maka erangan Murti yang tertahan terdengar semakin mengeras.

Sampai akhirnya, denyut-denyut nikmat yang sudah dirasakan oleh Bajag, terasa semakin menghebat. Bagaimanapun Bajag berusaha untuk menahannya, rasa itu tetap semakin menjadi. Hingga saat tak dapat ditahan lagi, akhirnya…

”Mur, aku mau keluar…” rintih Bajag. ”Jangan dicabut, keluarkan di dalam saja, tidak apa-apa. Jangan sia-siakan sperma kamu, siapa tahu aku bisa hamil karenanya!” seru Murti penuh harap. ”Arghh!!!” menjerit sedikit kencang, Bajag pun memuncratkan spermanya di liang senggama Murti Dian.

Bagi Murti, semprotan sperma di liang kewanitaannya terasa begitu nikmat sekali. Berbeda dengan milik suaminya yang biasanya cuma sedikit, cairan Bajag terasa sangat panas dan banyak, terasa meluncur hingga ke mulut rahimnya. Murti yakin, ia akan bisa hamil karenanya.

Ketika Bajag mencabut rudalnya, tampak beberapa tetes cairan putih ikut mengalir keluar secara perlahan-lahan dari sela-sela belahan bibir serambi lempit sempit Murti. ”Terima kasih, Jag.” ucap Murti sambil merebahkan dirinya yang lemas terkuras akibat pertempuran yang membawa kenikmatan ini.

”Aku yang terima kasih, Mur. Kamu sudah memberikanku kenikmatan yang tidak setiap orang bisa mendapatkannya.” balas Bajag, tangannya kembali meraih gundukan payudara Murti dan meremas-remasnya pelan. ”Aku juga merasa beruntung, Jag. Banyak gadis yang mengejarmu, tapi cuma aku yang bisa merasakan kejantananmu!” sahut Murti sambil membelai mesra rudal Bajag yang sudah terkulai lemas. ”Awas, Mur… nanti bangun lagi lho. Apa kamu kuat meladeninya?” goda Bajag sambil memilin-milin puting Murti yang mungil seperti wanita yang belum menikah.

”Ihh… kamu kuat banget sih. Bisa mati aku kalau kamu hantam lagi seperti tadi.” Murti merajuk. ”Hahaha… habisnya tubuhmu sungguh menggiurkan.” sehabis berkata begitu, Bajag tiba-tiba terdiam. ”Kenapa, Jag?” tanya Murti bingung. ”Aku tidak ingin kehilangan kamu, Mur.” bisik Bajag sungguh-sungguh. “Bagaimana kalau kamu menikahiku di bawah tangan?” tawar Murti. “Itu takkan menghapus dosa kita, Mur.” ucap Bajag.

“Kalau begitu biarlah gelimang dosa ini kutanggung sendiri.” kata Murti yakin. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia meneliti setiap inci tubuhnya dan tertawa sendiri. “Bukankah aku masih segar?” katanya di sela tawa yang tak kunjung berhenti. “Adakah yang lebih segar hingga Mas Joko tak lagi ingat aku?” katanya lagi. “Tidak ada siapapun di hati Pak Camat, Mur. Dia hanya sibuk dengan tugasnya.” jawab Bajag.

Murti tertawa semakin keras, sampai tubuhnya terguncang-guncang, begitu pula dengan pembaringan yang bergoyang. Bajag hanya bisa memeluk dan mendekap Murti. Dan tak lama, mereka menyatu lagi dalam kobaran api birahi yang tak kunjung padam.

Bersambung… Jam setengah lima sore, Bajag pergi lagi. Ia sengaja tidak membangunkan Murti yang masih tertidur pulas. Ia juga sangat hati-hati saat mengambil kunci pintu kamar dari sela paha Murti, lalu melangkah perlahan-lahan tanpa suara. Aman. Bajag kembali menutup pintu kamar dan langsung ke garasi. Ia tidak menghidupkan mobil, tapi mendorong mobil itu sampai ke jalan raya. Barulah ia menyalakan mesin. Bajag sudah akan melaju tapi ada yang menghalangi mobilnya.

Persis di depannya tiba-tiba ada sebuah motor melintang di jalan. Motor itu tidak juga menyingkir meski sudah di klakson berkali-kali. Bajag hilang kesabaran. Iapun keluar dari mobil dan melangkah cepat menghampiri motor itu. Belum sempat ia menegur, pengendara motor itu mendahului membuka helm dan mengurai rambut panjangnya, lalu berbalik memandang Bajag dengan senyuman yang menghanguskan kemarahan. Emosi Bajag yang siap meledak jadi jinak. Sekarang pengendara motor itu menepi.

“Masih ingat aku?” kata pengendara motor. “Ya Tuhan! Ningsih?!” seru Bajag senang. “Benar, Jag. Lama sekali kita tidak jumpa.” kata Ningsih. “Iya.” Bajag mengangguk. ”malah kupikir kamu sudah punya anak banyak.” candanya. Ningsih tertawa, “Boro-boro beranak, nikah aja belum. Kamu mau kemana?” tanyanya kemudian. “Jemput majikanku. Kamu sendiri?” tanya Bajag. “Mau jalan-jalan ke komplek. Aku kan juga lahir di sini, Jag.” jawab Ningsih. ”Gimana si murti?” ia bertanya lagi. “Kamu langsung ke rumahnya aja.” sahut Bajag. ”Maaf ya, Ning, aku buru-buru.” serunya. “Baiklah. Sampai ketemu lagi, Jag.” Ningsih tersenyum.

Mereka berjabat tangan sebelum berpisah. Sayang sekali waktu tidak mengijinkan, padahal Bajag sangat ingin ngobrol lama dengan Ningsih. Iapun tancap gas dan ngebut karena sudah jam lima sore lewat sedikit. Berarti ia sudah terlambat menjemput Pak Camat. Semoga Pak Camat tidak marah, batinnya.

Sesampainya di tujuan, Bajag disambut senyum ramah sang pemilik rumah; seorang wanita yang cantik dan seksi. Pak Camat belum menampakkan batang hidungnya, yang nampak hanya hidung mancung wanita pemilik rumah. Bajag mengedarkan mata dan berharap Pak Camat segera muncul, tapi harapannya sia-sia. Daripada menunggu lama, tidak ada salahnya bertanya. “Pak Joko ada, mbak?” tanya Bajag pada wanita muda itu. “Masuk saja dulu. Ayo,” ajak wanita tersebut.

Bajag ikut masuk sampai ruang tamu, lalu duduk di kursi yang empuk dan berhadapan dengan si wajah ayu. Inilah wajah wanita idaman lain Pak Camat. Bajag mulai dilanda gelisah karena yang ia tunggu tak juga muncul. Ia tidak mau bertanya dua kali. Sesekali ia memandang sebentar ke tuan rumah. Ia memandang hanya ke bagian wajah saja karena kalau memandang lebih ke bawah ia takut imannya goyah. Wanita itu duduk serampangan, begitu juga pakaiannya yang melekat sembarangan. Bajag ingin secepatnya keluar dari ruang tamu ini, tapi si wanita malah menyuguhkan segelas susu hangat. Keinginan Bajag pun tertahan.

“Mana Pak Joko, mbak?” tanyanya lagi dengan terpaksa. “Sudah pulang,” kata wanita itu dengan gaya centil dan suara mendayu. “Sudah pulang? Kok Mbak Ayu tidak bilang dari tadi?” Bajag merasa ditipu. ”Naik apa Pak Joko pulang?” tanyanya sengit.

Rentetan pertanyaan Bajag dijawab oleh Ayu dengan kerling mata merayu. Bajag jadi serba salah, serba tak tahu harus berkata apa lagi dan tak tahu harus berbuat apa menghadapi situasi yang sangat berbahaya ini. Bajag sudah terbiasa menghadapi berbagai jenis marabahaya, tetapi menghadapi bahaya berupa wujud wanita, ia seringkali kalah. Contohnya; ia sudah kalah dan takluk di pelukan Murti. Ini ada tanda-tanda ia akan kalah lagi di hadapan Ayu.

“Baiklah, Mbak. Saya pulang dulu,” Bajag mencoba untuk pamit. “Jangan buru-buru.” Ayu mencegah. ”Nanti aku bantu cari alasan ke Pak Joko,” ia tersenyum lagi. “Terima kasih, Mbak.” sahut Bajag. ”tapi saya masih punya banyak kerjaan di rumah Pak Camat.” katanya. ”selamat sore,” ia pamit kembali. “Yah, mau gimana lagi.” Ayu tampak kecewa, tapi tidak bisa lagi mencegah. ”Habiskan dulu susunya sebelum pulang,” ia meminta.

Bajag menenggak habis susu itu tanpa tersisa barang setetespun. Setelah itu ia pamit pulang dan menjabat tangan mulus Ayu. Sungguh terlalu, sungutnya setelah berada dalam mobil. Bajag masih terbayang-bayang segala bentuk tingkah laku Ayu. Memang wajar kalau ia menyumpahinya, wanita itu memang benar-benar terlalu. Bajag tak habis pikir, betapa Ayu tidak sedikitpun merasa malu mempertontonkan diri, menampakkan berbagai gaya dan aksi yang mengundang birahinya.

Tiba-tiba Bajag merasakan kepalanya nyeri. Ia mencoba untuk bertahan, tetapi nyeri itu semakin keras menghantam, membuat kepalanya serasa dipukul-pukul, pusing sekali. Konsentrasinya pun buyar dan ia tak sadar telah mengemudikan mobil ke jalur yang tak semestinya. Sekuat tenaga ia terus mencoba kembali fokus, namun pandangannya malah ikut-ikutan kabur.

Ketika sampai di sebuah perempatan, Bajag sudah tak bisa lagi membedakan yang mana rem yang mana pedal gas. Dalam keadaan tak sepenuhnya sadar, mobil melaju kencang menerobos lampu merah, tepat di saat sebuah tronton melintas. Dalam panik, Bajag tak bisa lagi berbuat apa-apa. Ia masih sempat melihat dan merasakan benturan sebelum semuanya menjadi sangat gelap. Bahkan ia tidak sempat melihat darah mengucur deras, darahnya sendiri. Bajag pingsan di dalam mobilnya yang ringsek.

***

“Praaaangg…!!!” Murti terkaget-kaget ketika mendengar suara gaduh dari dapur. Ia melompat dari tempat tidur dan berlari ke asal suara. Ia berdiri tercenung. Tidak ada siapapun di dapur, baik itu manusia ataupun hewan. Pintu dapur juga tertutup rapat, pun demikian dengan jendela. Aneh. Tidak ada angin tidak ada badai, tiba tiba piring sudah pecah, berserakan di lantai.

Perasaan Murti seketika menjadi galau. Ia ingat petuah dari para orang tua bahwa jika ada barang atau apa saja jatuh dan pecah tanpa sebab, berarti akan ada hal-hal buruk yang akan terjadi. Semacam firasat. Murti memungut pecahan piring dengan hati kalut. Ia berharap tidak terjadi apapun yang menimpa diri dan keluarganya. Ia maghsul. Perasaannya makin tak nyaman, membuatnya gelisah. Ada apa ini? batinnya. “Mur, cepat pakai baju dan ikut aku,” seru sebuah suara.

“Mas Joko! Bikin kaget saja!” Murti sama sekali tidak menduga suaminya sudah berdiri di belakangnya. Dalam hati ia bersyukur suaminya pulang dalam keadaan selamat dan sehat wal afiat. Berarti kekhawatirannya tidak terbukti. “Ikut kemana, Mas?” tanya Murti kemudian.

“Ke rumah sakit. Bajag kritis!” jawab Pak Camat. “Apa?!!” Murti berteriak dengan mulut menganga dan wajah penuh tanda tanya. “A-apa yang terjadi dengan Bajag, Mas?” tanyanya dengan suara bergetar. “Kecelakaan.” jawab Pak Camat pendek. ”Waktu kita sedikit. Cepatlah.” desak laki-laki itu.

Kalau menyangkut Bajag maka Murti tak mau terlambat. Ia berlari cepat menyambar pakaian dan tanpa make up langsung menyusul suaminya di mobil. Tak lama merekapun melesat. Murti gelisah. Ternyata piring pecah itu memang sebuah firasat buruk. Petuah dari para orang orang tua itu benar. Terjadi hal-hal yang sangat tidak diharapkan. Bajag kecelakaan dan sekarang tengah kritis di rumah sakit. Murti ingin segera sampai di rumah sakit.

“Cepat dikit, Mas.” ia meminta. “Ini sudah cepat, Murti.” jawab Pak Camat. ”Kamu mau kita kecelakaan juga?” tanyanya mengingatkan. Murti mencubit perut suaminya dengan wajah merengut. Tentu ia tidak ingin mengalami kecelakaan. Masih banyak keinginannya yang belum tercapai dan ia tak ingin mati sekarang. Murti merasa mobil terlalu lambat padahal jarum speedometer sudah menunjuk angka seratus lebih. Berarti suaminya memang ngebut, sama-sama ingin segera sampai di rumah sakit. Dan akhirnya memang sampai juga. “Yang mana kamarnya, Mas?” tanya Murti sedikit panik. “Sabar, kita tanya dulu,” sahut Pak Camat.

Murti paling benci birokrasi, tapi kalau mau tahu kamar pasien memang mau tidak mau harus bertanya ke bagian administrasi. Setelah informasi didapat, iapun berkelebat cepat mendahului Pak Camat menuju ruang perawatan. Pak Camat cuma tersenyum samar lalu menyusul istrinya. Kini mereka sudah berada di instalasi gawat darurat. Murti ingin masuk, tapi perawat yang berjaga melarang. Ia cuma bisa mengintip dari lubang pintu. Murti langsung pucat begitu tahu apa gerangan yang terjadi di dalam ruangan. Buru-buru ia berbalik dan menyandarkan kepala di bahu suaminya, duduk berdua dengan suaminya di bangku depan IGD. Perawat yang berseliweran keluar masuk tidak bersedia memberi pernyataan.

“Kita tunggu dokter saja. Sabar ya,” kata Pak Camat. “Bagaimana bisa terjadi, Mas?” tanya Murti. “Entahlah, Mur. Aku sendiri tidak tahu. Malah polisi yang memberitahuku tadi.” jawab Pak Camat. “Mas Joko bagaimana sih? Memangnya Mas nggak pulang bareng Bajag?” ketus Murti dengan curiga. “Tidak.” jawab Pak Camat. ”Tadinya aku memang minta dijemput. Tapi karena Bajag lama, terpaksa aku pulang bareng Pak Hasan. Ternyata malah kecelakaan gini,” gumamnya.

“Mas Joko rapat dimana?” tanya Murti, masih tak percaya. “Ya di kantor dong, sayang.” jawab Pak Camat, mencoba untuk tersenyum. “Bohong.” potong Murti. ”Orang kecamatan bilang Mas Joko tidak ngantor sama sekali hari ini.” terangnya. “Aku memang tidak ngantor, tapi rapat di gedung DPRD.” kilah Pak Camat, berusaha tetap bersikap tenang. ”Jangan curiga, ah!” katanya kemudian. “Gimana nggak curiga kalau tiap hari Mas Joko lupa sama istri.” ketus Murti. “Aku tidak melupakanmu, Mur. Aku sibuk.” kata Pak Camat. ”Sudahlah, ini rumah sakit, bukan tempat untuk berdebat.” tutupnya.

Mulut Murti langsung mengatup rapat, tidak bicara lagi. Tapi dalam hati ia yakin ada yang tidak beres dengan suaminya. Pak camat memang mengalami perubahan besar, itu yang dirasakan oleh Murti, mengingat suaminya yang akhir-akhir ini jarang di rumah. Liburpun Pak Camat tidak di rumah. Kepercayaannya pada sosok suami perlahan luntur, digerus oleh kecurigaan yang semakin hari semakin tak terbendung lagi. Satu-satunya orang yang tahu betul adalah Bajag. Sayang Bajag tidak berani membuka rahasia, malahan kini Bajag tengah menghadapi maut.

Teringat Bajag, lagi-lagi Murti mendesah. Padahal tadi siang ia masih bersama Bajag, melewati masa-masa bahagia dan suka, menghiasi siang dengan tumpahan kasih dan mesra. Tapi di sore menjelang petang ini, Bajag tak bisa lagi diajak bercanda dan tertawa. Murti jadi gelisah. “Maafkan aku, Mas.” ia akhirnya berkata. “Tidak apa, Mur. Aku tidak pernah menganggapmu bersalah. Kita berdoa saja buat keselamatan Bajag.” sahut Pak Camat bijak.

Tanpa diminta, Murti memang sudah berdoa sejak mendapat firasat tadi. Kini doanya semakin ia perbanyak, tak peduli Tuhan masih sudi mendengar doanya atau tidak. Yang pasti sebagai makhluk penuh dosa, ia tak pernah berhenti berdoa. Terlebih ini menyangkut hidup mati seorang pria yang sangat melekat kuat dalam hatinya. Pria yang sejak kecil telah menjadi idaman yang abadi, dan setelah dewasa menjadi tempatnya melipur duka.

“Bagaimana pelantikan tadi pagi?” tanya Pak Camat. “Baik-baik aja, Mas.” sahut Murti. ”Tapi aku dimutasi ke SMA 3. Jadi jauh kerjaku sekarang.” tambahnya. “Tidak apa. Sementara biar aku antar kamu sampai Bajag sembuh.” kata Pak Camat. “Tidak usah, Mas. Aisyah bersedia berangkat bersamaku,” tolak Murti halus. “Kasihan Aisyah, Mur. Sudah jauh dari Cemorosewu, masih harus jemput kamu.” kata Pak Camat. “Aisyah berencana pindah ke komplek kita, Mas. Dia lagi nyari kontrakan atau kos-kosan.” terang Murti. “Bagaimana kalau kita tawarkan rumah Bajag saja?” usul Pak Camat. “Sudah. Aisyah sendiri yang ngomong langsung ke Bajag. Tapi Bajag masih pikir-pikir.” jawab Murti. “Itu bisa diatur,” sahut Pak Camat.

Seorang dokter keluar dari ruangan. Murti dan Pak Camat serempak berdiri dan memburu dokter itu. “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Pak Camat. Murti yang ada di sebelahnya berusaha untuk ikut mendengarkan. “Masih koma. Tapi tidak usah khawatir. Dia tidak mengalami luka fatal.” jawab sang dokter. “Syukurlah.” Pak Camat menghela nafas lega. ”Bagaimana dengan tulang-tulangnya?” tanyanya lagi. “Baik.” jawab dokter itu. ”Memang ada beberapa tulang kaki yang retak. Tapi kami usahakan tidak diamputasi,” lanjutnya. “Bisakah kami masuk ke ruangan itu?” tanya Murti. “Silahkan. Tapi jangan terlalu dekat dengan pasien,” pesan dokter. “Terima kasih, Dok.” Murti mengangguk.

Mereka bergegas masuk dan berdiri agak jauh dari tempat dimana Bajag terbaring koma. Tidak ada yang berani bersuara. Hanya mata mereka saja yang berkaca-kaca menyaksikan Bajag dikelilingi beragam jenis peralatan medis yang serba canggih. Selang infus menempel di sana-sini dan perban membalut hampir seluruh bagian wajah dan kaki. Belum ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Alat pendeteksi detak jantung masih menampilkan garis lurus.

“Maaf, adakah diantara bapak dan ibu yang bergolongan darah AB?” seorang perawat bertanya. “Saya, Mbak. Silahkan kalau mau ambil darah,” sahut Murti cepat. “Baik. Silahkan ibu berbaring di kasur itu.” kata si perawat.

Murti tidak menunggu persetujuan Pak Camat. Ia mematuhi perintah si perawat untuk berbaring dan menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mendonorkan darah. Ia rela dan ikhlas, bahkan biar darahnya tersedot sampai habis ia rela demi kesembuhan Bajag.

“Kami sangat butuh pendonor untuk memenuhi persediaan darah.” kata perawat itu sambil terus bekerja. “Mas Joko, cari dong orang kantor yang bergolongan darah AB.” seru Murti pada suaminya. “Baiklah. Kamu tunggu sebentar ya,” Pak Camat keluar dari ruangan dan menelepon beberapa pegawai kecamatan. Wajahnya tampak kecewa karena hanya satu yang punya golongan darah AB. “Dewi, bisakah kamu datang ke rumah sakit?” tanya Pak Camat. “Baik, Pak. Saya langsung kesana,” jawab Dewi dari seberang telepon. Pak Camat tidak pernah tahu kalau Dewi menjawab sambil tubuhnya berada di dalam pelukan seorang laki-laki.

”Siapa?” tanya laki-laki itu yang rupanya adalah Pak Rahmad, bapak kost Dewi. ”Atasan saya, Pak. Ada yang kecelakaan, saya disuruh cepat ke rumah sakit.” jawab Dewi, tubuhnya sedikit menggelinjang saat Pak Rahmad kembali menggerakkan rudalnya. Mereka memang sedang bersetubuh saat itu. Seperti biasa, setiap kali ibu kos tidak ada, Pak Rahmad akan pergi ke kamar Dewi untuk mengambil jatahnya. Termasuk malam ini. ”Sekarang?” tanya Pak Rahmad dengan mimik muka kecewa. Baru saja dapat enak, masa harus diputus di tengah jalan. ”Bapak selesaikan aja dulu,” Dewi tersenyum. Ia berhitung, paling lama permainan ini berlangsung 5 menit lagi, itu sebentar untuk ukuran seorang wanita.

Pak Rahmad pun kembali menggerakkan rudalnya, sambil tangannya membelai rambut dan payudara Dewi yang bulat membusung. Kecepatan tusukannya mulai bertambah, dari yang semula pelan kemudian berubah menjadi semakin cepat. Nafsu laki-laki itu rupanya kembali memuncak, hingga setelah beberapa menit, ia berbisik mesra di telingan Dewi, ”Wi, aku sudah nggak tahan lagi, mau orgasme.” ”Iya, Pak. Akan Dewi temani sampai ke puncak sama-sama.” sahut Dewi sabar.

Pak Rahmad makin mempercepat gerakannya, ia tampak berkonsentrasi ke tubuh Dewi yang mulus dan sintal. Sambil terus menggenggam dan meremas-remas payudara Dewi, ia pun menyemprotkan air maninya kuat-kuat; creet… creet… creet… berkali-kali rudal tuanya berkedut kencang, menumpahkan segala isinya memenuhi lorong serambi lempit Dewi hingga jadi terasa begitu basah dan lembab.

“Ahh… bapak sampai, Wii,” rintih Pak Rahmad sambil memeluk dan mendekapkan kakinya ke pinggul Dewi, dengan begitu batang rudalnya bisa tertanam sangat dalam di belahan serambi lempit gadis cantik itu. Dewi membelai tubuh gendut bapak kos-nya itu. Tidak ada cinta disana, cuma pelampiasan nafsu. ”Cabut ya, Pak. Dewi harus lekas pergi ke rumah sakit,” ia berbisik.

”Ah, i-iya.” Pak Rahmad segera mencabut rudalnya. Dewi buru-buru bangun dan mengambil kertas tissue yang ada di atas meja, ia lap rudal Pak Rahmad dengan hati-hati sekali. Setelah itu bibir serambi lempitnya yang basah ia lap juga, lalu ia pergi ke lemari untuk mengambil baju ganti.

”Kamu nggak mandi dulu?” tanya Pak Rahmad sambil rebahan di ranjang, tubuhnya masih telanjang. rudalnya yang tadi menegang, kini sudah mengkerut kembali ke ukuran semula. Dewi tersenyum saat melihatnya, ”Nanti nggak keburu, Pak.” jawabnya singkat dan lekas pergi meninggalkan kamar.

***

Pak Camat masih berusaha menghubungi siapa saja yang dikenalnya. Sungguh repot mencari, dan sampai habis pulsa, tidak ada yang cocok dengan permintaan si perawat. Murti juga sibuk menelpon dan mengirim sms pada rekan-rekannya sesama guru, juga kawan-kawannya, siapapun yang ia kenal segera ditelponnya. Tapi Murti ragu untuk menelpon Aisyah karena malam ini adalah acara tujuh hari meninggalnya ayah Aisyah. Tapi demi Bajag, ia menepis keraguan itu dan coba untuk menghubunginya. Beberapa kali belum juga diangkat. Murti paham Aisyah pasti sibuk. Sekali lagi ia coba, dan kali ini langsung tersambung.

“Assalamu’alaikum, Aisyah.” sapa Murti. “Wa’alaikum salam, Bu Murti. Ada apa?” tanya Aisyah. “Begini, Aisy. Kami sangat butuh pendonor. Apa golongan darahmu?” tanya Murti. “AB.” jawab Aisyah, yang langsung memberi kelegaan di hati Murti. ”Buat siapa, Bu? Siapa yang sakit?” tanya Aisyah kemudian. “Buat Bajag. Tadi sore dia kecelakaan dan sekarang masih koma.” sahut Murti. “Astaghfirullah.” Aisyah berseru kaget. ”Ada di rumah sakit kan? Saya segera kesana, Bu.” janjinya. “Terima kasih, Aisyah.” Murti mempersilahkan. ”Assalamualaikum…” ia kemudian menutup pembicaraan.

Murti lega. Setidaknya ada empat orang termasuk dirinya sendiri yang bersedia menjadi pendonor. Tiga orang yang lain adalah Aisyah, Ningsih, dan Dewi. Tidak sampai setengah jam, Ningsih dan Dewi sudah berada di rumah sakit. Pak Camat mengantar keduanya ke ruang gawat darurat. Murti menyambut mereka dengan jabat tangan dan ucapan terima kasih. Pengambilan darah berlangsung cepat. Meski sudah selesai, tapi Ningsih dan Dewi tetap bertahan di rumah sakit bersama Murti. Pak Camat ijin pulang untuk mengambil beberapa kebutuhan Bajag.

Sepeninggal Pak Camat, Aisyah datang dengan keringat bercucuran. Murti maklum, pasti Aisyah naik angkot sampai keringetan begitu. Semua berlangsung sama dengan tadi. Dalam sekejap tiga kantong darah sudah siap. Mereka memang memaksa perawat untuk mengambil darah sebanyak-banyaknya. “Terima kasih, kalian semua mau membantu kami.” kata Murti. “Saya juga senang bisa membantu.” sahut Ningsih. ”Padahal tadi sore aku bertemu Bajag. Katanya sih dia mau jemput suamimu,” tambahnya.

“Iya, Mbak Murti. Aku juga sempat lihat mobil Pak Camat di perumahan Residence. Pasti gatot yang bawa mobil itu,” kata Dewi. “Perumahan Residence?” tanya Murti mulai berpikiran curiga. Ia tidak lagi tertarik pada obrolan ketiga tamunya. Ia lebih tertarik pada penjelasan yang disampaikan oleh Dewi; mobil suaminya kedapatan memasuki perumahan Residence.

Selama bertahun-tahun berumah tangga, belum pernah sekalipun Pak Camat membawanya ke perumahan mewah itu. Suaminya juga tidak pernah menyinggung kawasan elit itu. Tapi yang dibilang Dewi membuatnya berpikir seribu kali. Ada apa gerangan dengan keberadaan mobil suaminya di sana? Apakah itu berhubungan dengan perubahan suaminya? Siapa yang ditemui oleh suaminya disana? Kenapa Bajag tidak bilang apa-apa? Pertanyaan-pertanyaan itu bergentayangan merasuki alam pikirannya, membuat Murti semakin yakin dengan gosip yang dihembuskan di arisan darma wanita.

“Kok Bu Murti malah diam?” tanya Aisyah. “Tidak apa, Aisy.” jawab Murti. ”Kamu serius mau tinggal di komplek?” tanyanya kemudian untuk mengalihkan pembicaraan. “Benar, Bu. Ini saya malah bawa seragam kerja. Rencana saya malam ini mau menginap di rumah Bu Murti.” kata Aisyah. “Nanti bilang sama Pak Camat dulu ya,” sahut Murti. “Baik, Bu.” Aisyah mengangguk. “Oh ya, Mur, aku lupa sampaikan kalau keluargaku berencana kembali ke komplek,” kata Ningsih memberitahu. “Benarkah? Dimana keluargamu mau tinggal, Ning?” tanya Murti gembira. “Ya di rumah yang dulu.” jawab Ningsih. ”Abah sudah membeli kembali rumah itu. Kami tidak betah di tengah kota, berisik.” terangnya.

“Syukurlah, kita bisa berkumpul lagi, Ning.” jawab Murti. “Harapanku juga begitu, Mur. Bukan cuma dengan kamu, tapi aku berharap bisa berkumpul dengan teman-teman kecil yang dulu.” kata Ningsih. “Sepertinya komplek sangat menarik buat dihuni ya, Mbak Murti?” tanya Dewi yang sedari tadi cuma diam mendengarkan.

“Kamu juga mau pindah ke komplek?” tanya Murti penasaran. “Melihat antusias kalian, terus terang membuat saya tertarik, Mbak.” jawab Dewi. “Sayang sekali komplek sudah penuh, Dewi. Si Aisyah saja masih bingung cari kontrakan.” kata Murti. “Sayang sekali.” Dewi kelihatan kecewa. ”Aku juga mulai nggak kerasan di kos-kosan yang sekarang, tidur sering nggak nyenyak.” bagaimana bisa tidur nyenyak kalau Pak Rahmad terus menyatroninya setiap malam. “Nantilah kutanyakan ke tetangga,” janji Murti.

Ada-ada saja. Kenapa semua orang ingin tinggal di komplek yang tersohor sebagai kawasan buram itu? Tapi siapa yang bisa menebak isi hati orang. Murti hanya bisa menebak isi hatinya sendiri. Jam sepuluh malam Pak Camat kembali ke rumah sakit. Murti dan Aisyah membantu membawakan empat tas besar berisi pakaian dan kebutuhan Bajag selama dirawat, sementara Dewi dan Ningsih setengah jam yang lalu sudah meninggalkan rumah sakit karena jam besuk sudah berakhir.

“Mur, kamu tahu kemana Bajag mau pergi?” tanya Pak Camat. “Maksud Mas Joko?” tanya Murti tak mengerti. “Begini, tadi aku masuk ke rumah Bajag. Aku lihat satu setel baju koko dan kopiah seperti sudah disiapkan olehnya. Makanya kutanya kamu, tau dia kondangan dimana?” jelas Pak Camat. Murti dan Aisyah berpandangan. Aisyah lalu memandang Pak Camat dengan wajah sedih. “Mungkin Mas Bajag mau tahlilan ke rumah saya, Pak. Tadi siang saya memang undang dia.” jawabnya.

“Ooh begitu.” Pak Camat manggut-manggut. ”Saya juga mohon maaf kalau tidak bisa hadir ya, Aisyah. Saya sibuk.” tambahnya. “Tidak apa-apa, Pak. Saya memahami kesibukan Pak Camat.” kata Aisyah. “Sudah malam. Ayo kita pulang. Aisyah mau ikut?” tanya Pak Camat. “Iya, Pak.” Aisyah mengangguk. ”Saya harap bapak tidak keberatan menerima saya semalam saja. Terlalu malam kalau saya pulang ke Cemorosewu.” “Saya malah senang. Ayo,” jawab Pak Camat sambil tersenyum.

Merekapun meninggalkan rumah sakit dengan hati berat, terutama Murti. Ia sangat ingin lebih lama di rumah sakit, bahkan kalau perlu menginap untuk memastikan keadaan Bajag baik-baik saja. Sayangnya semua itu tak mungkin karena ia bersuami. Cukup doa saja yang ia panjatkan bersama mekarnya seribu harapan.

***

Di dalam kamar, Dewi serambi lempitik kaget saat seseorang tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang. ”Auw! Pak Rahmad… saya kira sudah tidur.” gelinjangnya. Laki-laki tua itu tertawa, ”Tadi belum puas,” bisiknya sambil mengendus leher jenjang Dewi. Si cantik yang baru pulang dari rumah sakit itu tersenyum, ”Dasar, bapak ini nggak ada bosan-bosannya ya!” ”Sama gadis secantik kamu, masa aku bisa bosan?” balas Pak Rahmad, mulutnya perlahan mencari dan memagut pelan bibir Dewi yang tipis mungil, lalu mengulumnya lembut.

Mereka saling berciuman, lidah Pak Rahmad dijulurkan ke dalam rongga mulut Dewi, yang diterima Dewi dengan senang hati. Langsung saja mereka saling melumat dengan penuh gairah. Tangan mereka juga saling meraba. Dewi yang saat itu mengenakan hem agak longgar, mulai dibuka kancingnya satu persatu oleh Pak Rahmad. Dadanya pun akhirnya terbuka, menampakkan sepasang payudara indah miliknya yang terlihat begitu mulus dan menggiurkan.

Dewi tak berkutik saat Pak Rahmad menggiringnya naik ke atas ranjang, laki-laki itu merebahkannya ke tempat tidur tanpa melepaskan lumatannya, sambil tangan kanannya mulai meremas-remas payudara Dewi yang bulat besar dengan penuh nafsu.

Dewi yang sudah mulai horny langsung melucuti sisa pakaiannya hingga telanjang bulat, ia juga membantu Pak Rahmad untuk melepas kain sarungnya. Setelah sama-sama bugil, mereka kembali berpelukan dan saling bertindihan di atas ranjang. Dengan gemas Dewi memegang dan meremas-remas batang kemaluan Pak Rahmad yang pendek tapi sangat besar, cepat sekali benda itu ereksi. Kini sudah terasa sangat keras dan tegang sekali.

Tangan kanan Pak Rahmad terus meremas-remas payudara Dewi, bibirnya juga tak henti melumat dan menghisap mulut perempuan cantik itu, bahkan kini ciumannya turun ke arah leher Dewi yang jenjang. Ia menghisap lembut disana sambil memberikan gigitan-gigitan kecil yang sangat diinginkan oleh Dewi.

”Ah, Pak…” gadis itu merintih, paha kanannya ditumpangkan ke paha kiri Pak Rahmad, sementara lututnya ia gesek-gesekkan ke atas pinggul laki-laki tua itu hingga alat kelamin mereka bisa saling bersentuhan. Pak Rahmad memindahkan tangannya, kini ia menggesek naik turun tepat di bagian luar serambi lempit Dewi yang sudah mulai basah berlendir, sementara bibirnya terus menciumi bagian-bagian tubuh Dewi yang sensitif. Dengan piawai Pak Rahmad memainkan ujung jarinya di belahan serambi lempit Dewi, sambil sesekali menyentuh dam merangsang klitorisnya. Dengan sengaja ia menyentil-nyentil daging mungil itu hingga Dewi sampai menghentak-hentakkan tubuhnya karena saking gelinya.

Pelan ciuman Pak Rahmad juga mulai turun ke bawah dan berhenti di payudara Dewi yang bulat besar, dengan lembut lidahnya menggelitik puting susu Dewi yang ranum dan berwarna merah kekuningan. Buah dada itu habis dilumatnya, Pak Rahmad sudah hafal dimana titik-titik sensitif di tubuh Dewi, dan semuanya habis ia kerjai.

Sekarang tinggal yang bawah. Dewi melenguh saat merasakan nikmatnya belaian tangan Pak Rahmad di lubang serambi lempitnya. Jari laki-laki itu yang besar menggosok-gosok bagian luar serambi lempitnya, berkali-kali sengaja mengenai bulatan klitorisnya, sambil jari tengahnya seperti dimain-mainkan di lorongnya yang sempit sehingga serambi lempit Dewi dengan cepat menjadi basah dan becek. Terdengar bunyi kecipak keras saat Pak Rahmad terus merangsangnya.

Tak ingin kalah, Dewi mengulurkan tangan. Kembali ia meremas dan mengocok-ngocok batang kemaluan laki-laki tua itu. Ia terus melakukannya saat dengan telapak tangannya, Pak Rahmad mendorong lutut Dewi ke atas dan mengangkangkan pahanya lebar-lebar sehingga bagian serambi lempit Dewi yang mungil terpampang jelas. Pak Rahmad lalu mengarahkan kepalanya ke situ, dengan rakus mulutnya langsung menyerbu mulut serambi lempit Dewi, semua cairan yang ada disana dijilat dan langsung ditelannya sampai habis. Seakan tidak puas, laki-laki itu terus menjulurkan lidahnya, menjilat belahan pantat Dewi hingga lubang anusnya juga. Tak ketinggalan liang serambi lempit Dewi yang sempit juga jadi sasaran lidahnya, Pak Rahmad mengorek dan menusuk-nusuknya hingga dalam sekali.

”Augh… Pak!” diperlakukan seperti itu, nafsu Dewi jadi semakin memuncak. ”Ooo… ampun, Pakk… aduh… aduduh… uhh… bapak gila! Aah…” rintihnya kesetanan. Pak Rahmad yang tidak ingin memberi Dewi kesempatan untuk menarik nafas, segera merangkak naik mencium bibirnya, sambil tangan kanannya kembali meremas-remas puting susu perempuan cantik itu.

”Ahh…” Dewi melenguh saat merasakan benda lunak padat menempel di bibir serambi lempitnya. Dengan tangan kirinya Pak Rahmad menuntun batang kemaluannya agar tepat berada di pintu masuk serambi lempit Dewi. Setelah tepat, segera didorongnya dengan sepenuh tenaga. Sleepp… bleessh! Masuklah batang gemuk itu, memenuhi lorong serambi lempit Dewi dengan segala pesonanya. ”Arghh…!” Dewi mengernyit, tapi terlihat menikmatinya. Apalagi saat Pak Rahmad mulai memompa rudalnya maju-mundur, mengocok lubang serambi lempitnya, rasanya bukan main. Dewi jadi semakin menggelinjang keenakan dibuatnya.

”Aduh… enak banget, Pak… terus!” rintih Dewi penuh kepuasan, karena sambil tetap mengocok batang kemaluannya, ibu jari tangan kanan Pak Rahmad ditempelkan ke klitorisnya dan digesek-gesekkan dengan lembut disana, sementara tangan kirinya meremas-remas payudara Dewi sambil juga memilin-milin puting susunya.

”Ooo… ooh! Dewi, aku sudah mau keluar lagi.” rintih Pak Rahmad tiba-tiba. Seperti biasa, laki-laki itu tidak bisa tahan lama. ”Sebentar, Pak! Kita keluarkan sama-sama.” kata Dewi sambil ikut menggerakkan pinggulnya, dengan begitu ia berharap rangsangan pada tubuhnya akan lebih nikmat lagi.

Pak Rahmad hanya bisa menggeleng-geleng dan menyusupkan kepalanya ke belahan payudara Dewi yang besar saat menerima semua itu. ”Ooh… s-sudah, Dewi… aku nggak tahan!” jerit laki-laki tua itu, dan akhirnya ia orgasme sambil memeluk tubuh montok Dewi erat-erat.

Dengan selangkangan masih basah dan belepotan oleh cairan sperma Pak Rahmad yang sedikit kental, Dewi meneruskan genjotannya. Mumpung rudal laki-laki itu masih belum melemah, ia membatin. Dan akhirnya bisa juga menjemput orgasmenya tak lama kemudian. Cairannya memancar keluar banyak sekali, begitu deras, bahkan hingga sampai membasahi bantal dan sprei. Pak Rahmad tersenyum saat melihatnya.

”Enak?” tanya laki-laki tua itu, tangannya kembali meremas-remas payudara Dewi yang begitu putih dan montok. ”He-em,” Dewi mengangguk. ”Bapak juga enak kan?” tanyanya balik.

Pak Rahmad tersenyum, ”Kalau nggak enak, nggak mungkin aku bisa ketagihan sama tubuh kamu.” jawabnya diplomatis. Mereka saling berangkulan dan akhirnya tertidur pulas tak lama kemudian, sama-sama puas dan kelelahan.

Bersambung… Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, Bajag menunjukkan kemajuan pesat. Ia sudah bisa membuka mata dan bicara meski terbata-bata. Yang paling melegakan bagi semua adalah bahwa Bajag tidak hilang ingatan. Bajag masih bisa mengenali orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Yang paling merasa beruntung adalah Murti. Sakitnya Bajag bersamaan dengan liburan sekolah. Ia mendapat libur selama dua minggu dimulai hari ini. Ia jadi punya banyak waktu luang dan ia tidak ingin waktu luang itu terbuang begitu saja. Ditambah ia sudah mendapat restu dari suaminya untuk mengunjungi Bajag kapan saja. Murti jelas bahagia. Pak Camat suaminya bilang bahwa ia boleh menunggui Bajag mengingat Bajag tidak punya sanak saudara dan kerabat dekat. Orang yang paling dekat dengan Bajag ya cuma mereka saja.

“Kamu tidak mengajar?” tanya Bajag dengan suara masih gemetar. Kini Bajag sudah dipindahkan ke paviliun kelas satu. Masa-masa kritis yang dialaminya telah lewat, tinggal masa penyembuhan dan pemulihan.

“Aku libur, Jag, dua minggu.” kata Murti sambil menyuapkan sesendok demi sesendok makanan ke mulut Bajag. “kamu juga sudah seminggu lho di sini,” tambahnya.

“Aku ingin pulang, Mur. Aku mau di rumah saja.” kata Bajag.

“Jangan buru-buru. Tunggu sampai kamu benar-benar sehat.” sergah Murti.

“Aku tidak punya uang buat bayar biayanya,” Bajag merenung.

Cerita Dewasa Ngentot - Istri Pak RT Datang Menasihati Bajag, Berujung Pasrah di Kamar Sang Penjudi
“Jangan dipikirkan. Aku dan Mas Joko yang menanggung biaya sampai kamu sembuh.” kata Murti. “Aku selalu merepotkanmu ya, Mur?” Bajag berbisik malu. “Sudahlah. Kita ini sudah sehati, Jag.” Murti memberi Bajag minum lalu duduk persis di samping laki-laki itu. “Aku mencintaimu!” bisiknya perlahan. “Akupun begitu, Mur. Tapi kamu punya suami.” sahut Bajag getir. “Sekarang jelaskan bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi. Kamu tidak mabuk minuman keras kan?” tanya Murti.

“Aku sempat minum susu di rumah teman. Entah apa karena susu itu atau ada hal lain, tiba-tiba aku pusing. Kupaksakan untuk pulang sampai rumah, tapi ya begitu, di tengah jalan aku tak tahan lagi dan nabrak tronton.” Bajag berkilah. “Darimana dan siapa yang memberikan susu itu?” todong Murti. “Kawanku,” Bajag menjawab pendek.

“Bohong. Pas kejadian itu ada yang memergoki mobil dinas suamiku di perumahan residence.” sanggah Murti. “Aku memang kesana, Mur. Rumah kawanku ada disana,” Bajag tetap bersikukuh. “Rumah kawanmu atau rumah kawan Mas Joko, suamiku?” tanya Murti. Bajag terdiam, tapi Murti ingin mendapat penjelasan sejelas-jelasnya. Dia sudah akan bertanya lagi saat dokter yang bertugas memeriksa datang. “Kapan saya bisa pulang, Dok?” tanya Bajag pada laki-laki itu. “Sebenarnya hari ini bisa. Tapi demi kesembuhanmu, mungkin dua hari lagi kamu bisa pulang.” kata pak Dokter “Saya bosan tidur terus.” balas Bajag.

“Cobalah jalan-jalan sekitar rumah sakit. Kamu perlu melatih kakimu.” kata Pak Dokter.

“Kaki saya baik-baik saja. Memang agak nyeri, tapi tidak masalah.” Bajag berkata meyakinkan.

“Akan aku diskusikan dulu dengan tim dokter. Permisi,” dokter itu berbalik, pamit untuk meninggalkan ruangan.

Murti membantu Bajag berdiri dan memapahnya ke kamar mandi. Ia tidak malu menelanjangi Bajag dan memandikan pria itu. Bukankah sudah sering mereka telanjang berdua seperti ini?!

“Aku ingat masa-masa saat kita sering mandi bareng, Jag.” kata Murti dengan wajah bersemu merah. Ia ikut-ikutan basah tersiram air. Tubuhnya yang sintal tampak begitu menggoda di pandangan Bajag.

“Tapi kita bukan anak kecil lagi, Mur.” sela Bajag sambil berusaha menutupi tonjolan rudalnya yang sudah mulai menegang panjang.

“Yah, setidaknya masa itu masih bisa kukenang bersamamu, Jag.” Murti berbisik lirih, lalu mendekatkan mulutnya ke bibir Bajag. “Ada masa yang lebih penting untuk kamu kenang, Mur. Pernikahanmu dan rumah tanggamu.” Bajag berusaha untuk mengelak saat Murti ingin mencium bibirnya. “Apalah arti pernikahan tanpa ada lagi kesetiaan.” Murti mengalihkan wajah, kecewa. “Kamu yang tidak setia pada suamimu. Kamu mencintai lelaki lain selain suamimu. Bahkan kamu telah berzinah.” kata Bajag mengenang kebersamaan mereka yang sudah sangat kebablasan. “Mas Joko lah yang memulai. Aku hanya mengikuti alur, Jag. Perselingkuhan harus dibalas dengan perselingkuhan juga.” balas Murti penuh tekad. “Darimana kamu tahu kalau suamimu selingkuh?” tanya Bajag. “Tidak ada yang tertinggal, Mbak Murti?” tanya Dewi tanpa merasa bersalah sedikitpun. “Tidak ada, Dewi. Langsung saja ke rumah.” jawab Murti sedikit ketus, masih marah dengan peristiwa barusan.

“Rumah yang mana? Rumah Pak Camat atau rumah Bajag?” lagi-lagi Dewi bertanya menggoda. “Ke rumahku saja, Mbak Dewi.” potong Bajag sebelum Murti sempat membuka suara. “Baiklah, Jag. Biar aku yang nyetir. Mbak Murti kan belum bisa bawa mobil.” sambut Dewi.

Murti ingin menampar mulut Dewi yang terkesan menyepelekannya. Ia memang belum bisa nyetir, tapi tak selayaknya Dewi bicara begitu, terlebih dengan nada yang angkuh. Murti kini duduk bersebelahan dengan Bajag di dalam mobil, tetapi ada dinding yang seakan memisahkan mereka berdua. Dinding itu berupa tatapan mata Dewi yang membuat Murti tidak berani melakukan apapun terhadap Bajag. Ia tidak berani walau sekedar tersenyum pada Bajag. Tatapan mata Dewi terlalu berbahaya.

“Memangnya tidak ada sopir lelaki di kantor ya, Dewi?” tanya Murti memecah keheningan. “Ada sih, Mbak. Tapi Pak Camat nyuruh aku, ya kuterima.” sahut Dewi tanpa menoleh. “Bagaimana dengan rencanamu ke depan? Maksudku, kapan kamu mau nikah?” tanya Murti.

“Waduh, Mbak Murti ini ada-ada saja.” Dewi tertawa.

“Bukannya mengada-ada, Dewi. Usiamu kan sudah cukup. Masa depanmu juga sudah mapan. Tunggu apa lagi?” kejar Murti.

“Saya nunggu jodoh, Mbak. Nikah itu kan nggak bisa dipaksa-paksa. Nikah karena terpaksa itu rawan bencana, Mbak Murti.” jawab Dewi seperti menyindir.

Murti manggut-manggut, namun dalam hati sebenarnya merengut kalang kabut. Perkataan Dewi telah menohoknya dari belakang. Entah disengaja atau tidak, tetapi Dewi telah mengingatkan Murti pada kisah hidupnya sendiri. Ia memang menikah karena terpaksa, bukan atas dasar cinta. Mahligai perkawinannya dengan Pak Camat tak lebih demi untuk menyenangkan hati orangtua. Ia belum puas menikmati masa muda ketika Pak Camat datang melamar. Belum pernah pacaran sampai Pak Camat mengajaknya kencan.

Sampai akhirnya benar-benar menikah, ia sama sekali masih buta arti rumah tangga. Kini ia mengerti betul bahwa berumah tangga sangatlah susah. Ada banyak hal yang membuat hati tersiksa. Seperti yang dikatakan oleh Dewi bahwa menikah karena terpaksa rawan bencana. Kini Murti sadar bencana itu sudah membayang di pelupuk mata. Pak Camat suaminya ada tanda-tanda punya daun muda. Tetapi itu masih sebatas prasangka Murti, belum benar-benar jadi nyata.

“Sudah sampai, Mbak. Saya cuma disuruh nganter saja oleh Pak Camat. Setelah ini saya harus balik ke kantor,” kata Dewi.

“Ya sudah, balik saja sekarang. Biar Bajag saya yang menangani. Terima kasih ya, Dewi.” Murti tersenyum malas.

“Sama-sama, Mbak. Mungkin nanti malam saya kesini,” kata Dewi. Habis berkata begitu, dia langsung pergi berlalu.

Murti bersyukur Dewi tidak ikut masuk ke dalam rumah Bajag. Justru Bajag yang terheran-heran karena rumahnya sangat bersih. Dan ia semakin heran saja karena bukan hanya bersih, namun juga tertata rapi. Sama sekali tidak ada yang berserakan. Ia menoleh pada Murti, tapi Murti cuma mengangkat bahu dan sibuk sendiri. Bajag jadi tak tahan untuk bertanya.

“Kamu yang membersihkan rumahku ya?”

“Bukan. Bersihkan rumahku sendiri saja malas, apalagi bersihkan rumahmu.” kata Murti.

“Lalu siapa yang merawat rumahku ini?” tanya Bajag bingung.

“Aisyah. Dia tiap hari sepulang mengajar mampir kesini, membersihkan rumahmu.” jawab Murti.

“Aisyah? Kok mau dia bersusah payah membersihkan rumahku?” Bajag semakin tak mengerti.

“Karena dia ada maunya.” Murti tersenyum menyeringai. ”Sudahlah, Jag. Kasihan juga Aisyah tiap hari bolak-balik ke Cemorosewu. Terima saja dia tinggal di rumahmu.”

“Apa Pak Camat sudah kamu beritahu soal itu?” tanyanya.

“Sudah berkali-kali dan Mas Joko sepertinya tidak mempermasalahkannya. Bahkan Pak RT juga memberi lampu hijau.” jawab Murti.

“Baiklah, Mur. Mungkin memang ada baiknya Aisyah tinggal disini.” Bajag mengangguk.

“Dia pasti kesini. Aku pulang dulu ya, kalau ada apa-apa panggil saja dari belakang.” Murti pamit.

“Iya, Mur. Aku juga mau istirahat. Kangen sama kasurku sendiri” Bajag tersenyum.

“Dasar kamu,” kata Murti sambil mengantar Bajag ke kamarnya.

Setelah itu Murti pulang lewat pintu belakang. Sekarang ia sudah ada di rumahnya sendiri. Murti meringis menahan sesuatu yang sangat mengganggu. Perutnya terasa mual dan ingin muntah. Iapun pergi ke kamar mandi, mencoba mengeluarkan isi perut, tetapi tidak ada yang keluar. Murti ingat bahwa ia belum makan apapun sejak pagi tadi. Ah, mungkin sakit mag-nya kambuh, pikirnya. Ia menghabiskan siang dengan tidur sepuas-puasnya.

Namun baru satu jam terlelap, Murti terkesiap karena merasakan seseorang menyelinap masuk ke dalam rumah. Tapi setelah tahu yang datang adalah Pak Camat, Murti melanjutkan tidurnya. Pak Camat menyusul tidur di sampingnya.

“Kok sudah pulang, Mas?” tanya Murti.

“Iya, Mur. Aku pusing,” sahut Pak Camat.

“Sudah minum obat?” tanya Murti lagi.

“Sudah, tapi tetap nggak ada efeknya. Makanya aku ijin pulang,” Pak Camat menyahut malas.

“Ya istirahat saja, Mas. Mungkin Mas Joko juga perlu mengajukan cuti.” Murti membelai bahu suaminya.

“Pembangunan di desa-desa semakin meningkat, Mur. Tidak mungkin aku cuti.” kata Pak Camat.

“Bagaimana dengan pembangunan rumah tangga kita, Mas?” kejar Murti.

“Maksudmu apa, Mur?” Pak Camat mendelik.

“Tidak ada maksud apa-apa, Mas. Sudah, tidur saja.”

Murti ingin suaminya langsung tanggap dengan pembangunan rumah tangga yang ia maksudkan. Sayangnya Pak Camat tidak paham atau pura pura tidak mengerti maksud hati istrinya. Ini adalah siang pertama Murti tidur bersama suaminya setelah siang-siang sebelumnya yang lebih sering tidur bersama Bajag. Seharusnya ada usaha memperbaiki bangunan rumah tangga yang mulai lapuk digerus berbagai macam praduga dan rasa curiga. Namun Murti tidak mendapati suaminya punya keinginan untuk itu. Murti pun meneruskan tidurnya dan tidak bertanya ataupun ‘meminta’ pada suaminya. Ia tidur dengan hati kosong.

Ketika bangun jam lima sore, Murti sudah tidak mendapati suaminya. Ia mencari-cari ke sudut rumah tapi Pak Camat tidak ada. Yang ada malah selembar undangan yang tergeletak diatas meja. Murti membaca undangan itu. Bukan untuknya, tapi untuk Pak Camat. Kini Murti tahu kemana suaminya itu menghilang. Di undangan itu tercantum acara resepsi hari ini jam lima sore. Yang ia tak mengerti, kenapa suaminya tidak memberitahu dan bahkan tidak mengajaknya ke acara resepsi itu padahal selama ini mereka selalu berpasangan bila menghadiri acara-acara pernikahan. Apakah Pak Camat sudah punya pasangan lain? Murti cuma bisa menduga-duga saja.

Bajag juga baru saja terbangun dari tidurnya. Saking nyenyaknya tidur, ia sama sekali tidak merasakan apapun. Seluruh panca indranya ikutan tertidur. Ia mengucek mata dan menajamkan telinga, mencoba mendengar lebih jelas suara-suara berisik yang bersumber dari dapur. Bajag sudah sangat yakin bahwa yang ada di dapurnya adalah Murti karena hanya Murti yang bisa keluar masuk rumahnya dengan bebas. Bajag menerawang memikirkan hari-harinya bersama Murti yang juga semakin bebas, semakin tak ada batas. Ia ingin semua berakhir, namun sudah terlalu sulit untuk menghindari Murti. Ada nuansa hati bila ia bersama Murti, nuansa yang tidak pernah ia rasakan bila bersama wanita lain.

Bajag teringat saat-saat terakhir dirinya sebelum kecelakaan terjadi. Ia curiga jangan-jangan susu yang ia minum di rumah Mbak Ayu telah dicampur sesuatu yang membuatnya pening. Tingkah laku Mbak Ayu juga bikin kepalanya pusing tujuh keliling. Sepengetahuan Bajag, istri simpanan Pak Camat itu memang bukan wanita baik-baik. Sebagai orang yang lama berkecimpung di dunia hitam, ia tahu dan mengenal hampir semua wanita penghuni lembah hitam. Mbak Ayu pernah ia lihat di salah satu lokalisasi paling elit di kota ini. Berarti Pak Camat juga pernah mengunjungi lokalisasi itu, lalu bertemu dengan Mbak Ayu, kesengsem berat pada wanita cantik itu, sampai akhirnya menjadikan Mbak Ayu sebagai istri simpanan.

”Sungguh malang nasibmu, Murti,” kata Bajag dalam hati. Selanjutnya ia bangkit menuju pintu dapur. “Murti, kamukah itu?” tanyanya dengan setengah berteriak.

Tidak ada jawaban, tapi Bajag bisa mendengar langkah-langkah kaki mendekat. Dan ketika seseorang berdiri diambang pintu kamar, iapun langsung terperanjat kaget.

“Aisyah?”

“Assalamualaikum, Mas. Maaf kalau mengejutkan.” sapa Aisyah dengan tersenyum ringan.

“Berapa lama kamu disini, Aisyah?” Bajag bertanya.

“Dua jam yang lalu. Saya dengar Mas Bajag sudah pulang, jadi saya kesini.” jawab Aisyah.

“Terima kasih, Aisyah. Kamu sudah banyak membantuku.”

“Semoga bantuan ini ada hikmahnya, Mas.” Aisyah mengangguk. “Mas Bajag makan dulu ya. Habis itu minum obat.”

“Aisyah, tinggallah disini kalau memang kamu mau. Ada satu kamar kosong yang bisa kamu tempati.”

“Syukurlah, Mas. Besok saya akan boyongan kesini. Makan saja dulu, Mas.” Aisyah mempersilahkan.

Seluruh jiwa Bajag bergetar hebat. Aisyah berada begitu dekat, membelenggu jiwanya dengan senyuman tulus yang menghangatkan aliran darah, sehangat bubur yang disuapkan Aisyah ke mulutnya. Aisyah telah membuat Bajag teringat pada mantan istrinya, Zulaikha. Begitu banyak kemiripan antara keduanya. Aisyah sangat lugu dan murni. Memang Aisyah tidak secantik Murti, tapi punya daya tarik tersendiri. Dibalik kerudung lebarnya, Bajag seakan melihat Zulaikha yang sedang tersenyum.

“Saya ganti perbannya ya, Mas.” Tawar Aisyah.

Bajag luluh. Jemari itu teramat halus. Bajag segera menghapus imajinasinya dan ikut membantu Aisyah melilitkan perban di kakinya. Setelah semua selesai, Aisyah membantunya berdiri, menggamit perutnya dan memapahnya keluar kamar.

“Sampai sini saja, Aisyah.” Bajag duduk di dapur, memperhatikan kesibukan Aisyah. Disinilah ia mendapati betapa berbedanya Aisyah dengan wanita-wanita lain, termasuk Murti. Bila wanita lain suka membuka diri dan memamerkan diri, maka tidak demikian halnya dengan Aisyah. Gadis itu menutup rapat dirinya, tidak membiarkan mata usil memelototi tubuhnya yang sintal menggoda. Aisyah hampir selalu mengenakan pakaian panjang yang longgar sehingga lekuk-lekuk raganya tidak mencolok mata. Bajag sempat melihat punggung Aisyah tersingkap, tapi gadis itu segera menarik pakaiannya ke bawah dan punggung itupun tertutup lagi tanpa menimbulkan pikiran-pikiran buruk di kepala Bajag.

“Kapan kamu mulai tinggal disini, Aisyah?” tanya Bajag.

“Mungkin besok, Mas.” jawab Aisyah. ”kebetulan saya libur dua minggu. Ada waktu buat membersihkan kamar itu.”

“Itu kamar almarhum ibuku, Aisyah. Tapi jangan takut.” hibur Bajag.

“Kita ini hanya perlu takut pada Tuhan, Mas. Manusia dan setan memang menakutkan, tetapi kekuasaan dan kebesaran Tuhan lah yang paling menakutkan.” jawab Aisyah bijak.

“Tidakkah kamu takut padaku, Aisyah?” tanya Bajag sedikit menyelidik.

“Sama sekali tidak, Mas.” Aisyah tersenyum.

“Itu karena kamu belum tahu siapa saya,” sela Bajag.

“Saya sedikit banyak tahu tentang Mas Bajag. Tapi saya harap Mas Bajag tetap seperti yang saya kenal sekarang.” Aisyah menyahut ringan.

“Kamu baik dan tulus, Aisyah.” Bajag tersenyum. ”Jadi kamu mau kembali ke cemorosewu malam ini?” tanyanya kemudian.

“Saya takut kalau malam-malam pulang, Mas. Cemorosewu kan jauh dan gelap. Saya mau menginap saja disini. Anggaplah ini hari pertama saya kos disini.” jawab Aisyah.

“Saya tidak keberatan, Aisyah. Silahkan kamu tinggal sesuka hati.”

“Terima kasih, Mas. Bagaimana pembayaran uang kosnya? Mas Bajag mau sekarang atau dibayar bulanan saja?”

“Tidak perlu ada pembayaran apapun, Aisyah. Saya ikhlas.” jawab Bajag.

“Tapi, Mas…” Aisyah tampak ragu.

“Sudahlah. Simpan saja uangmu.” Bajag mengangguk tulus.

”Saya sangat berterima kasih, Mas.” sambut Aisyah dengan mata berbinar. ”Saya mau ke kamar mandi dulu.” pamitnya kemudian.

“Silahkan, Aisyah.” Bajag mempersilahkan.

Sejak itulah, Bajag tinggal serumah bersama Aisyah. Kamarnya berdampingan. Bajag merenovasi beberapa bagian kamar yang ditempati oleh Aisyah. Aisyah cukup pintar. Karena Bajag menolak uang sewa, maka Aisyah memanfaatkan uang itu untuk membeli dua buah kasur baru, satu untuk Bajag dan satu buat dirinya sendiri. Aisyah juga melengkapi peralatan dapur, membeli televisi. Kini Bajag punya listrik sendiri, tidak lagi menumpang di rumah Murti. Pun demikian dengan air, tidak lagi jadi masalah karena Aisyah memasang pompa air baru.

Tapi Bajag masih tetap mengabdi di rumah Pak Camat, masih tetap mengantar Pak Camat dan Murti berangkat kerja, juga masih tetap berjaga malam di rumah Pak Camat. Yang beda adalah sekarang Bajag tidak terus- terusan ada di rumah Murti. Bajag sekarang lebih suka beristirahat di rumah sendiri. Ia sudah pulih seratus persen pasca kecelakaan hebat itu. Bajag juga mulai mengambil jatah libur di hari minggu yang diberikan oleh Pak Camat. Jadi setiap hari minggu, Bajag selalu ada di rumahnya dari pagi sampai pagi esoknya lagi.

Dan di suatu malam yang diselingi rinai hujan, Bajag duduk berdua bersama Aisyah menonton televisi, dengan ditemani segelas kopi dan setoples kacang kapri. Aisyah baru saja selesai mandi sehingga rambut basahnya dibiarkan tanpa lindungan kerudung, tergerai sebatas leher dan sangat wangi.

“Bagaimana kopinya, Mas?” tanya gadis manis itu.

“Nikmat sekali, Aisyah. Terima kasih ya,” Bajag tersenyum.

“Kalau kurang, nanti saya buatkan lagi, Mas.”

“Ini sudah cukup, Aisyah. Oh ya, kamu nggak pulang ke Cemorosewu? Ingat, besok kamu mulai kerja.”

“Tidak, Mas. Saya malas ke Cemorosewu. Ummi juga sudah tidak tinggal di sana.”

“Sebelumnya saya mohon maaf, Aisyah. Benarkah ibumu sudah kawin lagi?” tanya Bajag.

“Benar, Mas. Ummi kawin lagi, tapi nikahnya siri, tidak resmi.” jawab Aisyah.

“Jadi ibumu tinggal dengan suaminya yang baru?”

“Iya. Makanya saya sekarang jadi jarang pulang. Malah Ummi mau menjual rumah warisan abah.”

“Kamu sendiri bagaimana?”

“Saya ini hanya seorang anak, Mas. Sebenarnya saya ingin marah, tetapi saya sadar, berani melawan orangtua -terlebih ibu- adalah dosa besar.”

Bajag mengangguk mengerti. “Sudah dua minggu kamu tinggal disini, Aisyah. Sampaikan saja kalau ada yang tidak berkenan di hatimu.”

“Tidak ada, Mas. Saya malah senang bisa hidup mandiri seperti ini. Mumpung masih bujang, harus banyak belajar kan, Mas?”

“Kapan kamu akhiri masa bujangmu itu? Jangan sampai jadi perawan tua, Aisyah.” kata Bajag tanpa berniat untuk menggoda.

“Mas Bajag ini ada-ada saja,” tapi Aisyah malah tertawa mendengarnya.

Bajag mendengar tawa nan renyah itu serenyah kacang kapri yang sedang ia kunyah. Bajag sempat melihat wajah Aisyah membias merah jambu dan tampak malu-malu. Bajag ikut membalas tawa itu lalu menyimak acara televisi. Kadang-kadang saling lirik dan saling lempar senyum.

“Berbaring saja di kamarmu, Aisyah.” kata Bajag saat melihat Aisyah mulai menguap.

“Saya masih ingin nonton sinetron, Mas.” jawab Aisyah.

“Pindah ke berita saja ya?” tawar Bajag.

“Boleh,” Aisyah mengangguk.

Bajag memang sengaja menyuruh Aisyah berbaring di kamar daripada wanita itu berbaring di hadapannya. Selain merusak pandangan mata, juga merusak konsentrasi, terlebih lagi imannya. Itu karena Aisyah sama seperti Murti, tidak pernah pakai baju muslimah kalau lagi berada di rumah. Malam ini Aisyah hanya memakai baju terusan panjang tapi berkerah rendah, agak tipis pula sehingga isi tubuhnya membayang saat tersorot lampu neon.

Sampai jam sebelas malam, Bajag masih nongkrong di depan televisi, sedangkan Aisyah juga masih berbaring di karpet tapi sudah pasti terlelap dalam mimpi. Dengkur halusnya terdengar seperti lenguhan di telinga Bajag. Dada gadis itu bergerak turun naik secara teratur seirama dengan tarikan napasnya. Bajag menghela napas, lalu mematikan televisi dan membopong tubuh molek Aisyah ke dalam kamar.

Sejenak ia terdiam setelah menaruh tubuh Aisyah ke atas ranjang, tertegun Bajag menatapnya, jantungnya berdegup kencang menyaksikan pemandangan yang baru pertama kali ini ia lihat. Kini di depannya, berbaring sesosok tubuh perempuan cantik dengan kulit putih mulus dan kaki jenjang menggiurkan, menantinya untuk melakukan sesuatu yang sangat-sangat dilarang oleh agama.

Dada Bajag semakin berdetak kencang saat memperhatikan bahwa daster tidur yang dikenakan oleh Aisyah telah tertarik ke atas, hanya menutupi sebatas pinggulnya saja, memperlihatkan area kemaluannya yang meski dilapisi oleh celana dalam, tapi jelas menunjukkan rambut hitam yang tumbuh cukup lebat disana. Mata Bajag beralih ke atas, menatap ke arah dada Aisyah yang berpotongan rendah. Disana terlihat sebagian besar gunung kembarnya, membuat puting Aisyah yang mungil hampir menyembul keluar.

Bajag gugup melihat semua itu, gemetar ia menyaksikan indahnya pemandangan ini. Takut kalo seandainya Aisyah tiba-tiba sadar dan terbangun, serta menyaksikan ia berada di sampingnya sambil menatap takjub pada dirinya. Sadarkah Aisyah dengan keadaan dirinya ? Apakah dia memang benar-benar tertidur pulas sehingga tidak menyadari bahwa kehormatannya sedang terancam sekarang?

Ada keinginan yang bertolak belakang di hati Bajag. Keinginan yang pertama adalah segera pergi dan keluar dari kamar itu, meninggalkan Aisyah tidur sendirian. Namun disisi lain ada keinginan untuk tetap berada disitu, menikmati apa yang disuguhkan Aisyah kepadanya, dengan alasan bahwa ini adalah pengalaman pertama dan satu-satunya bagi dirinya dan mungkin tidak ada kesempatan lain untuk menikmatinya di lain waktu.

Bajag tertegun sejenak, melihat sekeliling, memastikan bahwa keadaan telah benar-benar aman. Entah apa yang membuat keberaniannya meningkat, tahu-tahu ia sudah memegang kaki Aisyah dan menariknya menjauh, membuat posisi kaki Aisyah sekarang terbuka lebar. Bajag lalu beringsut duduk diantara celah paha Aisyah, mengambil posisi senyaman mungkin disana.

Pelan ia mulai menelusuri bagian dalam paha Aisyah yang putih mulus, mulai dari lutut, dan terus naik dan semakin naik hingga jari-jarinya mencapai pangkal paha Aisyah dan berujung di pinggiran bukit kemaluan gadis cantik itu. Menggunakan jari telunjuk, ia geser kain celana dalam Aisyah agak ke tepi hingga bisa menyentuh daging lunak berbelahan sempit yang ada di baliknya. Gemetar Bajag menggerakkan ibu jarinya untuk menggesek bibir kemaluan Aisyah, mengetes reaksinya, sebelum menarik lagi tangannya saat didengarnya Aisyah sedikit mengeluh.

Tapi saat dilihatnya Aisyah masih tetap tertidur pulas, Bajag pun mengulang lagi aksi bejatnya. Ia urut belahan sempit yang terasa lengket itu hingga bibir kemaluan Aisyah jadi semakin terbuka lebar sekarang. Bentuknya sungguh sangat menggoda; tidak seperti milik Murti yang sudah menghitam karena sudah sering dipakai, serambi lempit Aisyah masih tampak utuh dan sempurna. Dengan warna merah menyala dan belahan yang masih sangat sempit, Bajag yakin kalau Aisyah benar-benar masih perawan. Membuat Bajag jadi ragu, haruskah ia meneruskan perbuatan ini?

Tapi setan terus berbisik dan merayu imannya, hingga Bajag yang pada dasarnya masih labil, dengan mudah terbujuk. Tanpa bisa membantah, iapun menerus aksinya, tapi kali ini sambil memperlihatkan sikap waspada. Diperhatikannya wajah Aisyah yang masih terpejam rapat, suara dengkuran gadis itu terdengar halus dengan dada naik turun tak beraturan. Aisyah tersenyum dalam tidurnya, seolah ikut menikmati sensasi yang diberikan oleh Bajag. Sementara di bawah, serambi lempitnya yang semula kering, kini mulai menjadi sedikit basah, seolah ada yang menyiramnya dengan cairan licin tak berwarna.

Tak tahan melihat semua itu, cepat Bajag melepas celana. Ia biarkan batang rudalnya yang sudah menegang dahsyat mengacung tegak ke depan hingga bisa menyentuh belahan kewanitaan Aisyah. Terasa sangat geli sekali saat ia mulai menggesek-gesekkan ujung rudalnya dengan bagian luar kewanitaan Aisyah. Bajag juga memberanikan diri dengan menjulurkan tangannya ke depan, menyentuh halus bagian atas dada Aisyah yang tidak tertutup oleh baju tidurnya. Hanya menyentuh, tidak lebih. Bajag tidak ingin membuat Aisyah terbangun.

Tapi entah bagaimana, mungkin akibat gesekan atau akibat dari nafsu Bajag yang sudah meledak-ledak, rudalnya yang semakin keras dan tegang mulai mencari jalan untuk mencari kenikmatan lebih. Tanpa sadar -meski dari awal tidak berniat untuk menyetubuhi Aisyah- perlahan Bajag menggeser lutut dan paha Aisyah untuk semakin melebarkan celah mungil yang ada di selangkangannya. Tanpa disuruh dan diminta, rudal Bajag yang semula hanya menggesek-gesek bagian luar kewanitaan Aisyah, kini mulai menyeruduk masuk menuju lubang kenikmatan perempuan cantik itu.

”Ups,” Bajag tercekat atas meluncurnya sang rudal di luar kendalinya, menelusuri jalan licin dan sempit di belahan kewanitaan Aisyah. Ingin ia menarik kembali, namun Bajag takut kalau gerakannya yang tiba-tiba malah akan membuat Aisyah terbangun. Bisa celaka dia kalau dipergoki dalam keadaan seperti ini.

Maka Bajag menahan diri, sambil menahan nafas juga, menunggu reaksi dari Aisyah. Namun ternyata gadis itu diam saja, tidurnya masih terus berlanjut, membiarkan Bajag bertarung sendirian melawan hawa nafsunya. Dan tentu saja setan selalu menang; bukannya mencabut batang rudalnya, Bajag malah mendorongnya semakin jauh ke dalam. Perlahan-perlahan ia terus menusukkannya hingga tiba-tiba saja Bajag merasakan ada sebuah dinding tebal yang menghalangi jalannya.

”Ok, cukup!” Bajag berkata dalam hati. Ia tidak ingin mengambil keperawanan Aisyah. Baginya begini sudah cukup. Bajag sudah merasa nikmat. Tanpa perlu merusak kehormatan Aisyah, Bajag merasa sudah bisa menyalurkan hasrat seksualnya.

Pelan Bajag mulai menggoyangkan pantatnya, menarik dan mendorong rudalnya di sekitar bibir kewanitaan Aisyah. Hanya ujung rudalnya yang masuk, namun sudah sanggup membuat Bajag melenguh nikmat. Ia terus melakukannya sambil berusaha mencari sensasi lebih. Dia arahkan tangan ke dada Aisyah yang masih tertutup baju tidur dan menyentuhnya perlahan. Bajag mulai meraba dan mengelus-elusnya lebih kuat saat dilihatnya Aisyah masih tetap tertidur dengan begitu pulasnya. Wajah cantiknya tampak damai, tidak ada perubahan apapun.

Semakin berani, Bajag segera menyingkap bagian baju tidur Aisyah yang menutupi sebagian kecil area payudaranya. Ia menarik dan menurunkannya, memaksanya agar jadi sedikit mengendur. Dengan begitu bisa memperlihatkan semua bagian yang tadi tersembunyi disana. Tampak puting mungil Aisyah yang berwarna merah muda, dengan dikelilingi lingkaran sewarna yang berdiameter sekitar dua cm.

Bajag segera mencium dan mengulumnya sambil terus memaju-mundurkan pantatnya, mendorong agar batang rudalnya mendapatkan kenikmatan lebih. Ia juga mulai meremas-remas bulatan payudara Aisyah saat dilihatnya gadis itu masih tetap tertidur pulas. Terasa puting Aisyah mulai sedikit mengeras di dalam mulutnya.

Memandangi wajah cantik dan bibir indah Aisyah, membuat Bajag jadi penasaran ingin mengecupnya. Sambil terus melakukan dorongan-dorongan lembut ke serambi lempit Aisyah, ia pun mendekatkan mulutnya kesana. Bajag memajukan bibir untuk mengecup bibir indah Aisyah.

”Hmm…” sensasinya sungguh luar biasa. Apalagi dalam tidurnya, Aisyah ternyata juga membalas kecupan itu. Bajag terus mempertahankan posisi sebelum akhirnya ia mulai turun untuk beralih ke arah payudara Aisyah yang padat dan indah. Ia kecup dengan lembut kedua puting Aisyah secara bergantian, lalu mulai menghisap-hisapnya secara rakus saat dilihatnya Aisyah masih tetap tertidur pulas dalam balutan mimpi indah.

Waktu terus berlalu. Entah berapa menit kemudian -mungkin karena rudal Bajag sudah sangat terangsang- penetrasi yang ia lakukan nampaknya akan segera berakhir. Bajag merasakan seperti ada sesuatu yang akan meledak di ujung rudalnya. Secara otomatis ia pun mempercepat gerakan, namun juga sedikit ia tahan karena takut Aisyah akan terbangun nantinya. Maka begitulah, tanpa dapat ditahan lagi, Bajag menyemburkan spermanya ke perut Aisyah.

Sengaja ia tidak mengeluarkan di dalam rahim Aisyah karena tidak ingin membuat gadis itu hamil. Tampak lelehan spermanya berceceran di perut Aisyah yang mulus dan ramping. Bajag segera melepas kaos yang dikenakannya untuk dipakai membersihkan cairan putih kental itu sebelum jatuh ke atas sprei. Sisa-sisanya yang masih menempel di ujung rudalnya, juga ia lap pelan pelan. Baru kemudian Bajag bisa terduduk lemas.

Ada perasaan menyesal setelah melakukan ini, tapi juga lega karena tidak sampai merusak selaput dara Aisyah. Gadis itu masih tetap perawan! Ia perhatikan wajah cantik Aisyah yang masih tersenyum tipis dalam tidur pulasnya, gadis itu diam terpejam seolah tak menyadari apa yang telah terjadi. Menghela nafas puas, pelan Bajag beringsut turun dari ranjang. Setelah merapikan kembali baju Aisyah, tanpa bersuara ia berjalan ke arah pintu dan balik ke dalam kamarnya.

Bajag menghempaskan badan ke atas tempat tidur, ia merebahkan diri sambil mendengarkan suara rintik hujan yang tiba-tiba datang, membuat suasana yang hening jadi bertambah sepi. Sepi yang membungkus kedamaian hati.

Bersambung… Adzan subuh membangunkan Bajag dari mimpi. Ia keluar kamar dan menuju belakang untuk mengambil wudlu. Tapi ia heran karena tidak biasanya Aisyah masih tertidur. Ia tidak berani membangunkan. Selesai sholat subuh, Bajag bersiap-siap untuk menuju rumah Murti. Hari mulai beranjak pagi tapi Aisyah masih dilanda mimpi. Bajag ingat hari ini merupakan hari pertama Aisyah mengajar setelah dua minggu lamanya libur. Jangan-jangan Aisyah masih merasa libur. Mau tak mau Bajag membangunkan Aisyah juga karena jarum jam sudah menunjuk angka enam.

“Aisyah bangun, sudah jam enam pagi.” kata Bajag.

“Huaaahm, aku masih ngantuk.” bukannya bangun, Aisyah malah semakin melipat tubuhnya dan menarik selimut.

“Ayo bangun, Aisyah. Kamu kan harus ngajar.” kata Bajag lagi.

Aisyah menggeliat dan mengucek-ngucek mata, dan sejurus kemudian mata itu terbelalak kaget. “Mas!!” pekik Aisyah tertahan sambil mengamati tubuhnya sendiri.

Bajag mengerti apa yang ada di kepala Aisyah. “Aku hanya membangunkanmu, Aisyah. Tidak ada maksud lain.” ia berusaha menjelaskan.

“Jam berapa ini, Mas?” tanya Aisyah.

“Jam enam. Hampir setengah tujuh.” jawab Bajag.

Aisyah langsung melompat dan hampir terjerembab. Untung Bajag cukup sigap menahan tubuh Aisyah agar tidak terjatuh meski dengan begitu ia harus memeluk Aisyah. Bajag segera melepaskan Aisyah dan membiarkannya berlarian ke kamar mandi dengan panik. Bajag pun meninggalkan kamar Aisyah dan langsung menuju rumah Pak Camat.

Murti sudah siap tapi Bajag belum melihat Pak Camat. Yang terlihat cuma Murti dengan penampilan baru. Tidak ada lagi baju muslimah yang biasanya dikenakan Murti. Juga tidak ada kerudung yang membingkai wajah cantik Murti. Semua yang dilihat Bajag benar-benar serba baru, sama seperti ia melihat Murti puluhan tahun lalu.

“Jangan memandangku seperti itu, Jag. Ayo berangkat,” kata Murti.

“Tidak nunggu Pak Camat?” tanya Bajag.

“Mas Joko sudah berangkat jam lima pagi. Tapi dia pesan agar kamu ke kantor kecamatan saja.”

“Oh begitu. Baiklah.” Bajag mengangguk.

Bajag mengantar Murti ke tempat kerjanya yang baru. Sebenarnya satu tujuan dengan Aisyah tapi Aisyah lebih suka naik motor. Sebenarnya baik Bajag maupun Murti selalu menawari Aisyah agar berangkat bersama-sama tapi Aisyah selalu menolak dengan halus. Merekapun tidak bisa memaksa.

Dengan penampilan baru Murti, maka Bajag juga dilanda suasana hati baru. Sama seperti yang ia rasakan puluhan tahun lalu. Dan Murti tidak berubah tingkahnya dengan masa-masa sekolah dulu. Tetap duduk sesuka hati dan bergerak kesana kemari, menunjukkan apapun yang disukai Bajag pada tubuh sintalnya. Perjalanan masih jauh.

“Penampilanmu mengingatkanku pada masa SMA kamu yang dulu, Mur.” kata Bajag.

“Mana yang paling kamu ingat? Kenakalanmu itu kan?” sela Murti.

“Iya. Aku ingat bila mengantarmu ke sekolah, aku selalu menjahilimu.”

“Sekarang kamu juga mengantarku, Jag. Kamu juga bisa menjahiliku seperti yang sering kamu lakukan dulu.” goda Murti.

“Benarkah?” Bajag melirik suka.

“Benar. Lakukan saja sesukamu. Aku rela menjadi pelacurmu, Jag.” Murti meyakinkan.

“Jangan bicara begitu, Mur.” Bajag menggeleng tak setuju. ”Kamu bukan pelacur. Berhentilah merutuki dirimu sendiri.” katanya.

Murti balas menggelengkan kepala dan melabuhkan diri di pangkuan Bajag. Ia memejamkan mata dan membiarkan tangis kecilnya tumpah membasahi celana Bajag. “Takdir hidupku sungguh buruk, Jag.” bisik Murti pilu.

“Jangan menyalahkan takdirmu, Mur. Kita sudah sampai. Jam berapa nanti kujemput?” tanya Bajag.

“Jam satu. Hati-hati di jalan, Jag.” Murti merapikan seragam kerjanya yang awut-awutan lalu keluar dari mobil dan berjalan memasuki gerbang SMA 3. Ia tidak menoleh lagi ke belakang dan langsung menuju ruang kantor. Ia harus memperkenalkan diri kepada semua orang yang belum mengenalnya. Sebagai guru baru, ia perlu menyesuaikan diri dengan tugas mengajar yang jauh berbeda dan materi pelajaran. Sekolah negeri tentu tidak sama dengan sekolah swasta, terlebih dengan madrasah. Semalam saja ia bekerja keras untuk kembali belajar dan membuka buku-buku.

“Bu Murti sudah sampai?” tanya Aisyah.

“Baru saja, Ais. Kok aku tidak ketemu kamu di jalan tadi?” balas Murti.

“Iya, Bu. Saya masih ngisi bensin. Bu Murti pulangnya nanti juga dijemput?” tanyanya balik.

“Begitulah, Ais.” Murti mengangguk. ”Bagaimana suasana di rumah Bajag, apa kamu kerasan?”

“Sangat nyaman, Bu. Mas Bajag juga tidak macam-macam.” jawab Aisyah tanpa curiga, sama sekali tidak mengetahui perbuatan Bajag beberapa malam yang lalu.

Murti bersyukur dalam hati. Bahaya kalau sampai Bajag berani macam-macam pada Aisyah. Ia sangat tidak menginginkan ada apa-apa antara Bajag dan Aisyah. Ia berharap tidak ada hubungan spesial antara Bajag dan Aisyah. Bajag adalah segalanya baginya saat ini, saat kehidupan rumah tangganya semakin tidak harmonis. Sedangkan perselingkuhannya dengan Bajag berjalan dengan manis. Ia serahkan semua pada sang waktu.

Bajag juga sedang memburu waktu untuk bisa segera sampai di kantor kecamatan. Jangan sampai ia terlambat gara-gara keluyuran di jalan memakai mobil dinas. Bisa-bisa Pak Camat marah. Pak Camat sendiri yang mengingatkan agar kalau membawa mobil dinas jangan sampai jauh-jauh dari kantor. Untung ia datang tepat waktu, jam setengah delapan sudah sampai di kantor kecamatan. Dan seperti biasa ia langsung duduk santai menunggu perintah. Siapa saja siap ia antar kemana saja.

“Bajag, dipanggil Pak Camat tuh.” seru seorang wanita.

“Saya segera kesana, Mbak Dewi.” balas Bajag tanggap.

“Oh ya, Jag, jam istirahat nanti antar aku ya?” pinta Dewi.

“Mbak Dewi mau kemana?” tanya Bajag.

“Pokoknya antar saja.” balas Dewi sambil tersenyum manis. ”Sudah pergi sana, Pak Camat sudah nunggu kamu.”

Bajag lekas menuju ruang kerja Pak Camat dan duduk di hadapan majikannya itu. Belum ada yang disampaikan Pak Camat dan Bajag menunggu. Panggilan Pak Camat pasti ada sebabnya. Dan melihat wajah Pak Camat yang masam, Bajag pun paham ada yang salah dengan dirinya.

“Begini, Jag, saya mau mengurangi beban kerjamu.” akhirnya Pak Camat berkata.

“Maksud Pak Camat?” tanya Bajag belum mengerti.

“Mulai sekarang, kamu tidak perlu berjaga malam di rumahku. Tugasmu kembali seperti dulu, mengantar aku dan Murti kerja.” kata Pak Camat.

“Apakah ada kesalahan yang saya perbuat, Pak?” tanya Bajag penasaran.

“Sama sekali tidak ada, Jag. Ini juga demi kamu. Apalagi sekarang di rumahmu ada Aisyah. Dia yang lebih penting untuk kamu jaga.” Pak Camat tersenyum.

“Saya bisa terima keputusan Pak Camat.” Bajag mengangguk.

“Satu hal lagi, Jag. Entah dari mana Murti bisa tahu perumahan residence.” pancing Pak Camat.

“Demi Tuhan, saya tidak pernah melanggar kesepakatan kita, Pak. Mungkin Murti tahu dari orang lain. Yang pasti saya sama sekali tidak memberitahu Murti apapun.” Bajag berusaha meyakinkan.

“Aku percaya padamu, Jag. Cuma lain kali lebih berhati-hatilah.” pesan Pak Camat.

“Baik, Pak.” Bajag mengangguk.

“Kembalilah ke tempatmu.”

Bajag kembali ke tempat semula, di paseban kantor kecamatan. Ia duduk termenung menelaah segala yang telah disampaikan oleh Pak Camat. Mulai hari ini tugasnya kembali seperti dulu, sebatas mengantar jemput Pak Camat dan Murti kerja. Pasti ada pertimbangan lain yang membuat Pak Camat tidak lagi mempercayainya sebagai petugas jaga malam. Selain itu ia juga agak marah karena Pak Camat seolah olah telah menuduhnya membocorkan rahasia. Padahal ia sama sekali tidak pernah menyampaikan hal itu pada Murti. Ia bertanya-tanya dalam hati siapa orang yang telah mempersulit posisinya. Siapa orang yang memberitahu Murti tentang keberadaannya di perumahan residance. Pasti ada mata-mata yang berniat membuat kacau hubungannya dengan Pak Camat.

Jam dua belas siang pas, Dewi minta dijemput. Bajag memenuhi permintaan itu dengan setengah hati, sedangkan setengah hati yang lain masih memikirkan hasil pembicaraannya dengan Pak Camat. Kediamannya membuat Dewi gigit jari. Padahal Dewi berharap bisa bercakap-cakap dengan Bajag. Daripada menunggu Bajag yang pasif, Dewi memilih untuk lebih aktif dan berinisiatif memecah kebisuan.

“Mikir apaan sih, Jag?” tanyanya memulai pembicaraan.

“Tidak ada apa-apa kok, Mbak.” Bajag berusaha untuk tersenyum. ”Jadi Mbak Dewi ini mau kemana?” tanya Bajag kemudian.

“Pulang. Aku sudah ijin ke Pak Camat untuk kerja setengah hari saja.” jawab Dewi.

“Enak ya, Mbak, jadi pegawai negeri. Kerja nggak kerja tetap dapat gaji.” kata Bajag.

“Tapi lebih banyak nggak enaknya, Jag. Apalagi kalau dapat pimpinan kayak Pak Camat.” seru Dewi.

“Memangnya kenapa dengan Pak Camat, Mbak?” tanya Bajag penasaran.

“Jangan bilang-bilang ya. Pak Camat itu genit, suka ngintip.” bisik Dewi

“Masa sih?” tanya Bajag tak percaya.

“Semua pegawai wanita sudah tahu keburukan Pak Camat itu. Aku ini pernah jadi korbannya lho.” mata Dewi mendelik.

“Maaf, Mbak. Tapi saya kok tidak percaya dengan kata-kata Mbak Dewi ini,” sahut Bajag.

“Ya terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang pasti Pak Camat itu bukan contoh pemimpin yang baik.” tegas Dewi.

Nah, untuk yang terakhir itu Bajag sangat setuju dan seratus persen percaya bahwa Pak Camat memang bukanlah contoh pemimpin yang baik. Bajag juga sepakat kalau Pak Camat itu orang yang genit, suka lirik-lirik daun muda, terlebih pada paha-paha mulus. Bajag yakin pasti Dewi pernah diintip Pak Camat. Apalagi dengan kebiasaan Dewi yang sembarangan dan semau gue. Pasti Pak Camat sudah sering melihat-lihat paha mulus Dewi dan sering mencuri-curi ke belahan dada Dewi. Jangankan Pak Camat, ia sendiri juga sering menyaksikan kemulusan dan kehalusan kulit Dewi.

“Makanya Mbak Dewi harus hati-hati.” kata Bajag pada akhirnya.

“Saya sudah hati-hati, tapi kebiasaan sulit diubah, Jag. Tak apalah, toh Pak Camat cuma melihat, nggak sampai menjilat.” Dewi tertawa terkikik.

“Kalau itu terjadi, gimana?” pancing Bajag.

“Kamu mulai nakal juga ya?” Dewi memukul pundak Bajag. Mereka telah sampai di tempat kosnya Dewi. Setelah memarkir mobil, mereka masuk. Dewi sendiri yang mengajak Bajag.

“Istirahat disini aja, Jag. Kalau kamu kembali ke kantor sekarang pasti banyak kerjaan disana.” seru Dewi.

“Apa dibolehkan seorang pria masuk ke kamar wanita?” tanya Bajag.

“Tempat kos ini bebas. Siapa saja boleh membawa tamunya sampai kamar, wanita ataupun pria.” Dewi menerangkan.

Bajag masuk ke kamar kos Dewi yang tidak begitu luas, kira-kira berukuran tiga kali tiga meter. Hanya ada satu tempat tidur dan satu almari, itupun sudah membuat kamar terasa sesak. “Kalau Mbak Dewi mau ganti baju, biar saya keluar dulu.” kata Bajag, merasa tidak nyaman dengan keberadaannya sendiri.

Tapi Dewi tak ambil peduli. “Duduk aja, atau kamu bisa berbaring.” katanya sambil membuka dan melepasi satu persatu seragam kerjanya lalu berjalan di hadapan Bajag hanya dengan mengenakan cawat dan bh.

Bahaya, Bajag segera membuang muka dan menunggu sampai Dewi selesai berganti busana. Tapi busana yang dikenakan Dewi tetap saja mengundang bahaya.

“Aku mau pindah ke komplek, Jag.” kata Dewi memulai obrolan, ia duduk di sebelah Bajag.

“Mbak Dewi mau kos di komplek? Tinggal di mana, Mbak?” tanya Bajag sedikit rikuh.

“Di rumah yang paling ujung. Memang lumayan jauh dari rumahmu, Jag.” Dewi menjelaskan.

“Kalau tidak salah rumah yang di ujung itu dulunya milik Mbah Surti.” Bajag mengingat-ingat.

“Benar. Kebetulan cucunya Mbah Surti itu teman kuliahku. Aku akan tinggal bersamanya.” sahut Murti.

“Mbak Dewi mau tinggal bersama Karmila yang janda itu?” tanya Bajag memastikan.

“Iya.” Dewi mengangguk. ”Aku boleh kan sewaktu-waktu main ke rumahmu?” tanyanya kemudian.

“Boleh, Mbak. Apalagi Aisyah belum punya teman. Mbak Dewi bisa berteman dengannya,” jawab Bajag ringan.

“Aisyah yang guru itu? Jadi dia tinggal bersamamu ya?” ada sedikit nada cemburu di suara Dewi.

“Iya. Kok Mbak Dewi kenal?” tanya Bajag heran.

“Kebetulan saja kami bertemu di rumah sakit pas kamu koma. Dia juga salah satu pendonor buatmu, Jag!” jawab Dewi.

“Pendonor? Maksud Mbak Dewi?” tanya Bajag tak mengerti.

“Memangnya Mbak Murti belum cerita ke kamu?” tanya Dewi bingung.

“Belum,” Bajag menggeleng.

“Baiklah. Kuberitahu sekarang. Kamu waktu itu butuh banyak darah. Jadi kami berempat yang kebetulan cocok dengan darahmu mendonorkan darah buatmu.” terang Dewi.

“Siapa saja empat orang yang menyelamatkan nyawa saya, Mbak?” tanya Bajag penasaran.

“Aku, Mbak Murti, si Aisyah itu, dan yang satu lagi kalau tidak salah namanya Ningsih. Kami adalah penyumbang darah.” jelas Dewi.

“Astaga, bagaimana saya harus berterima kasih pada mereka? Pada Mbak Dewi?” tanya Bajag rikuh, malu karena baru mengetahui kenyataan ini sekarang.

“Tidak usah berterima kasih. Cukuplah kamu mengerti saja.” Dewi tersenyum.

Bajag sangat mengerti dan khusus terhadap Dewi, ia memberi tanda terima kasih sesuai yang diinginkan oleh perempuan cantik itu. Waktu yang singkat tidak disia-siakan untuk menjalankan sebuah niat. Dalam panasnya udara siang, Dewi berhasil membuat Bajag mabuk kepayang. Itulah kelemahan paling mendasar yang dimiliki Bajag. Ia belum sanggup meninggalkan dunia hitam sepenuhnya. Ia tidak bisa mengabaikan wujud indah seorang wanita.

Bajag memang sedikit kaget saat bibir Dewi mulai menyentuh bibirnya, namun itu cuma di awal saja, karena begitu Dewi memasukkan lidahnya, Bajag dengan pintar segera mengimbangi dengan ikut menghisap dan menjelajahi setiap rongga mulut perempuan cantik itu. Ia bahkan menahan kepala Dewi agar ciuman mereka tidak sampai terlepas.

Lama mereka saling berpagutan, sebelum akhirnya Bajag mengalihkan ciumannya ke pangkal telinga Dewi dan menjelajahinya turun hingga ke leher. Dewi mengerang dan menarik tangan Bajag agar berpindah ke tonjolan buah dadanya. Dengan mesra Bajag segera meremas-remasnya.

”Ohh… akhh…” Dewi mulai mengerang dan semakin membusungkan dadanya ke depan.

Bajag menurunkan ciumannya sampai ke belahan buah dada Dewi, ia berusaha memasuki dada gadis itu tanpa membuka pakaiannya. Lidahnya menari-nari di dada Dewi yang membusung indah, tapi yang dapat dijangkau lidahnya hanya setengah dari gundukan buah dada itu.

Tak sabar menerima perlakuan Bajag, Dewi lekas membuka kancing bajunya sendiri dengan satu tangan, sementara yang satunya masih menekan kepala Bajag ke arah buah dadanya. Baju itupun terbuka, kini tinggal beha warna krem yang masih menutupi. Mata Bajag terbelalak menyaksikan semua itu. Mulusnya buah dada Dewi dan ukurannnya yang begitu besar sungguh melebihi perkiraannya. Tampak beha 36B yang dikenakan oleh Dewi seperti tidak muat menampung tonjolan buah dadanya. Sedikit terburu-buru, ia segera menyingkap beha itu ke atas. Muncullah puting susu Dewi yang sebesar jari kelingking. Masih rapi bentuknya, dengan aerola yang berukuran mungil. Mulut Bajag langsung turun untuk menyambutnya dengan sedotan dan hisapan yang begitu kuat dan ketat.

”Auuwww… akhh,” erang Dewi sambil tangannya semakin kuat menekan kepala Bajag.

Dengan rakus Bajag terus menghisap puting susu Dewi yang sebelah kanan, sementara tangan kirinya memilin-milin puting susu yang satunya. Bergantian ia menjilat dan menghisapnya, dengan lincah lidahnya terus menari-nari di gundukan payudara Dewi hingga membuat benda bulat padat itu jadi begitu basah dan lengket oleh air liurnya.

“Ohh… terus… yang lama… aku mau yang lama…” kata Dewi mengerang penuh kenikmatan. ”Ayo, Jag… ahh… ambil semuanya… sekarang ini milikmu… ayo ambil…” Dewi meracau dengan dada semakin membusung ke depan, sementara pinggulnya ia angkat tinggi-tinggi menyambut remasan tangan Bajag di belahan serambi lempitnya. Batang zakar Bajag yang tegang juga ikut menekan tonjolan serambi lempitnya dari luar. Dewi membalas dengan menjulurkan tangan ke bawah dan dengan gemas segera meremas-remas batang zakar Bajag dengan begitu kuatnya.

Puas bermain di dada, jilatan Bajag kini turun ke bawah. Ia gelitik pusar dan perut Dewi yang masih tampak langsing dan rata dengan mulutnya. Dewi serambi lempitik dan menggelinjang, terdengar semakin kegelian, apalagi saat jilatan Bajag terus merambat ke bawah sambil berusaha membuka rok kerjanya. Setelah terbuka, tampaklah gundukan serambi lempitnya yang tebal dan basah. Dewi tersipu malu, namun tak urung tetap membuka kakinya juga.

Bajag tak berkedip menatap dua paha putih mulus milik Dewi, juga belahan serambi lempitnya yang masih tertutup celana dalam. Pelan ia menyelipkan lidah, berusaha memasuki bagian atas serambi lempit Dewi tanpa membuka celana dalamnya. Tentu saja ini membuat Dewi jadi tak sabar.

“Ayo, Jag… jilat semua… cepatan… ahh…” erangnya dengan pinggul mulai bergerak berputar dan menghentak-hentak ke mulut Bajag.

Perlahan Bajag mengintip sedikit serambi lempit Dewi dengan membuka bagian atas celana dalam gadis itu. Samar-samar ia bisa melihat bentuk serambi lempit Dewi yang mengembang tebal dengan bulu-bulu tipis yang tumbuh rapi dan teratur, rupanya Dewi rajin mencukurnya. Bajag memandanginya sejenak sebelum akhirnya dengan tak sabar memelorotkan celana dalam itu hingga terbukalah belahan serambi lempit Dewi secara utuh di depan matanya.

”Ooohh,” erang Bajag manakala menyaksikan serambi lempit Dewi yang ternyata jauh lebih indah dari yang ia bayangkan sebelumnya. Lama Bajag memandanginya. Karena Dewi terus mengangkat-angkat pinggulnya ke atas hingga membuat gundukan serambi lempitnya jadi tampak semakin cembung dan menantang dengan klitoris yang menonjol indah melewati kedua bibir serambi lempitnya.

Perlahan Bajag menjulurkan lidah, ia sentuh klitoris Dewi pelan-pelan, diusapnya dari bawah ke atas. Reaksinya sungguh spontan, pinggul Dewi langsung menghentak kuat, bahkan sampai berbenturan dengan mulut Bajag. Melihat yang seperti itu, Bajag jadi suka. Dengan juluran lidah yang lebih panjang, ia segera menyerbu serambi lempit Dewi. Dijilatnya benda sempit itu, diusapkannya lidahnya berulang-ulang, bahkan hingga sampai ke lubang anus Dewi. Perbuatannya itu membuat Dewi semakin cepat menghentakkan pinggul, bibir serambi lempitnya juga jadi semakin terkuak dan mengembang lebar, menampakkan lorongnya yang begitu hangat dan basah.

”Oohh… terus, Jag… jilat semuanya… ayo jilat… lebih kuat…” erang Dewi sambil tangannya berusaha membuka celana panjang Bajag. Begitu sudah terlepas, dengan gemas ia meremas-remas batang rudal Bajag kuat-kuat hingga membuat laki-laki itu jadi sedikit kaget. Namun Bajag membiarkannya saja karena setelah mengocok-ngocok, Dewi tiba-tiba memutar tubuhnya hingga mereka jadi berposisi 69 sekarang.

Dengan rakus Dewi memasukkan rudal Bajag ke dalam mulutnya dan mulai menghisapnya, membuat Bajag jadi merasa nyaman dan nikmat. Bajag mengimbangi dengan kembali mengulum dan mencucup bibir kemaluan Dewi. Ia masukkan lidahnya ke lubang serambi lempit Dewi yang sudah sangat licin dan basah, juga ia hisap biji klitoris Dewi yang kini tampak semakin membusung dan menonjol indah. Terus diperlakukan seperti itu membuat Dewi semakin cepat menaik-turunkan pantatnya.

”Ooh Jag… enak banget… ahh… aku nggak tahan lagi…” dia semakin meracau dengan hentakan pantatnya yang semakin liar dan kulumannya di batang zakar Bajag yang semakin kuat.

Tiba-tiba paha Dewi menjepit kepala Bajag dan berkontraksi keras. Lubang serambi lempitnya yang masih disantap oleh Bajag berdenyut-denyut cepat sebelum akhirnya menyemprotkan cairan kental yang banyak sekali, membasahi lidah dan bibir Bajag yang tidak sempat menjauh. Bajag ikut merintih karena sambil orgasme, Dewi juga menyedot rudalnya dengan begitu kuat, menahannya di dalam mulut.

Bersama-sama mereka saling merintih dan menggelinjang sampai akhinya Dewi melepaskan jepitan pahanya, juga kulumannya di batang rudal Bajag. Gadis itu telentang lemas di bawah tubuh Bajag dengan mata masih tertutup rapat. Dewi nampak lelah, namun juga puas. Pahanya yang masih terbuka membuat Bajag bisa melihat dengan jelas liang serambi lempitnya yang begitu basah dan lengket. Bajag kembali menjilatinya hingga Dewi jadi kembali merintih dibuatnya.

”S-sudah, Jag…” desah Dewi setelah nafasnya sedikit agak tenang.

Bajag segera memutar tubuh. Masih tetap saling bertindihan, mereka kini saling berpandangan. Bajag menekan pinggulnya, membiarkan batang rudalnya yang masih tegang mengganjal di bibir kemaluan Dewi yang licin dan hangat. Bajag hanya menggesek-gesekkannya, masih belum ingin memasukkan.

”Enak, Mbak?” tanya Bajag dengan senyum.

Dewi mengangguk, ”Enak banget, Jag. Sentuhanmu begitu indah dan nakal,” sahutnya

”Masih ada yang lebih indah, Mbak.” goda Bajag.

”Iya, Jag. Aku mau lebih lagi, berikan padaku ya,” balas Dewi dengan senyum juga.

”Berapa yang Mbak Dewi mau?” tantang Bajag penuh percaya diri.

”Sampai aku nggak bisa bangun, apa kamu kuat?” tantang Dewi balik.

”Jangan kuatir, Mbak. Saya akan berusaha memuaskan Mbak, sebagai ungkapan terimakasih karena Mbak Dewi sudah nolong saya.” kata Bajag menyanggupi.

”Kupegang kata-katamu, Jag,” Dewi tersenyum.

Kembali mereka saling melumat. Tangan Bajag yang nakal kembali memijit dan meremas-remas buah dada Dewi yang membusung indah, sementara kakinya dijepitkan ke pinggang Dewi yang kurus dan ramping. Puas dengan itu, ia beranjak dan berjongkok diantara paha Dewi yang putih mulus dan merentangkannya lebar-lebar. Dengan menatap mata Dewi yang pasrah, pelan Bajag memegang batang zakarnya dan mengarahkan menuju ke lubang serambi lempit Dewi yang sudah menganga lebar, menunggu penetrasinya.

”Aku masukkan ya, Mbak?” tanya Bajag. Dewi menjawab dengan satu anggukan ringan.

Pelan Bajag menempelkan kepala rudalnya ke bibir serambi lempit Dewi, menggesek-gesekkannya sebentar sebelum akhirnya mulai menusuk tak lama kemudian.

”Akhh…!!!” Dewi langsung mengerang ketika kepala rudal Bajag mulai memasuki lubang serambi lempitnya. Tangannya langsung menangkap pantat Bajag.

”Sakit, Mbak?” Bajag bertanya, dorongan pinggulnya spontan berhenti.

”E-enggak… t-terus aja… m-masukkan semua… ahh.. e-enak kok…” erang Dewi dengan bibir serambi lempit terkuak lebar oleh batang rudal Bajag yang sudah masuk setengahnya.

”S-saya juga enak, Mbak.” Bajag merintih merasakan jepitan serambi lempit Dewi yang sangat ketat, seolah tidak mengijinkannya untuk masuk lebih dalam. Ia membiarkannya sejenak, berharap agar serambi lempit Dewi bisa menyesuaikan diri dengan ukuran rudalnya yang besarnya diatas rata-rata laki-laki Indonesia.

Kembali Bajag melumat bibir tipis Dewi yang mendesah-desah. Dewi membalas dengan mengangkat kakinya dan menempatkannya di atas pantat Bajag. Ia tekan pinggul laki-laki itu untuk semakin memperdalam masuknya rudal Bajag ke belahan serambi lempitnya.

”Ayo tekan lagi, Jag… ahh…” bisik Dewi tak sabar. serambi lempitnya mengempot seperti menyedot rudal Bajag.

Mengangguk mengerti, Bajag segera menekan pantatnya. Dengan sekali hentakan, batang rudalnya yang besar dan panjang meluncur masuk membelah lorong serambi lempit Dewi yang licin dan hangat, memenuhinya hingga sampai ke rongganya yang terdalam.

”Auwww… Jag… ahh…” jerit Dewi sambil mendekap tubuh kurus Bajag kuat-kuat. ”Ohh enaknya… sungguh luar biasa… ayo, Jag, ambil… ambil semua… puaskan aku dengan tubuhmu… jangan sisakan sedikitpun… sampai nggak bisa bangun… ahh…” erang Dewi dengan pinggul mulai berputar pelan.

Bajag pun ikut menggoyang. Pelan ia mulai menggerakkan pantatnya naik turun, menyetubuhi Dewi. Dengan kemalauan saling menjepit dan bergesekan ringan, bisa ia rasakan beapa sempit dan hangatnya lorong serambi lempit Dewi yang melingkupi batang rudalnya. Meski sudah tidak perawan lagi, namun rasanya masih tetap nikmat. Apalagi ditambah body tubuh Dewi yang begitu menggairahkan, membuat semua urat syaraf yang ada di tubuh Bajag seperti terbangkitkan.

Dengan kedua tangan terjulur ia membetot gundukan payudara Dewi yang bergoyang-goyang indah dan lantas memijitnya dengan penuh nafsu, merasakan betapa empuk dan kenyalnya benda bulat padat itu. Putingnya yang mungil kemerahan juga ia pilin-pilin ringan sebelum dicucupnya secara bergantian tak lama kemudian dengan pinggul terus menghentak semakin cepat menggenjot tubuh langsing Dewi.

”Enak banget, Jag… aku kamu apain sih?” tanya Dewi sambil mengerang.

Bajag bisa merasakan siraman hangat di kepala rudalnya. rupanya Dewi sudah orgasme lagi dengan jurus pembuka ini. Ia yang masih belum apa-apa lekas mempercepat goyangan pinggulnya. Seperti piston, rudalnya terus keluar masuk di lorong serambi lempit Dewi. Begitu keras dan cepatnya hingga mengeluarkan suara decakan-decakan yang memenuhi seluruh dinding-dinding kamar.

Dewi yang masih lemas hanya bisa pasrah dengan tubuh terlonjak-lonjak menerima segala serangan Bajag. Kedua tangannya mencengkeram kasur sambil berusaha menegakkan kepala untuk melihat keluar masuknya rudal Bajag di lorong serambi lempitnya. Dewi tampak seperti mau menangis padahal itu adalah ekspresi rasa nikmat yang belum pernah ia dapatkan dari laki-laki lain selain Bajag. Inilah persetubuhan terindah yang pernah ia alami.

Tak berapa lama, kembali Bajag merasakan kepala rudalnya disiram oleh cairan hangat. ”Ahh… aku keluar lagi, Jag… kamu memang hebat…” kata Dewi memuji dengan tubuh semakin lemas.

Sebenarnya saat itu Bajag juga telah berada di puncak gairah, namun karena melihat Dewi yang masih terus memburu kenikmatan, ia jadi tidak sampai hati untuk menumpahkan spermanya. Bajag bertekad akan memuaskan perempuan cantik itu sekuat tenaga sebagai wujud rasa terima kasihnya. Biarlah ia ejakulasi di saat berikutnya, saat Dewi mendapatkan kembali orgasmenya. Mereka akan keluar secara bersama-sama.

Dengan tekad seperti itu, Bajag terus menggerakkan rudalnya. bahkan ia membalik tubuh Dewi sehingga gadis itu sekarang menungging dengan kaki tertekuk ke bawah, sementara buah dadanya yang besar tergencet hingga melesak pipih ke tempat tidur.

”Auhh… enak, Jag!” erang Dewi saat Bajag semakin kuat menghentak-hentakkan pantatnya sambil memeluk tubuhnya dengan begitu erat. ”Ohh… Jag, kamu pintar sekali… nyaman bangat posisi gini…” erang Dewi mendesah-desah.

Bajag terus mempercepat kocokan rudalnya di serambi lempit sempit Dewi yang terasa semakin membanjir. Sepertinya gadis itu kembali mendekati puncak permainannya, terlihat dari pantatnya yang semakin menungging menyambut setiap sodokan rudal Bajag pada lubang serambi lempitnya.

”Ayo, Jag… tekan yang kuat… ayo puaskan aku…” rintih Dewi penuh gairah.

Bajag yang merasakan waktunya juga semakin mendekat, lekas mempercepat kocokan rudalnya. Semakin lama menjadi semakin cepat, cepat, dan semakin kuat hingga tiba-tiba Bajag mendekap dan memeluk tubuh telanjang Dewi erat-erat. Dengan satu sodokan akhir yang menghunjam begitu dalam, Bajag melepaskan cairan spermanya. Cairan putih kental itu muncrat berhamburan memenuhi liang rahim Dewi yang jadi begitu basah karena di saat yang sama, Dewi sendiri juga melepaskan orgasmenya.

”Ahh… a-aku keluar, Jag… ahh… ahh…” Erang Dewi dengan tubuh terhentak-hentak dan pantat semakin menungging ke atas.

Bajag memeluknya semakin erat. ”Ah… enak sekali, Mbak.” bisiknya mengakhiri sisa-sisa orgasmenya yang masih mengucur pelan.

”Kamu sungguh luar biasa, Jag… aku puas… beneran nggak bisa jalan ini,” kata Dewi dengan ekspresi geli di wajahnya yang cantik. Sementara rudal Bajag masih tertancap di liang serambi lempitnya dan tubuh laki-laki itu masih menindih tubuhnya yang tengkurap lemas.

Setelah sedikit tenang, barulah Bajag mencoba mencabut rudalnya dari jepitan serambi lempit Dewi yang terus berkedut-kedut ringan. Mereka saling tersenyum dan merubah posisi rebahan di tempat tidur dengan kepala Dewi bersandar di dada Bajag yang bidang.

”Makasih, Jag, aku belum pernah merasa sepuas ini,” kata Dewi bahagia.

“Saya tidak bisa mempertanggung jawabkan semua ini, Mbak.” kata Bajag saat Dewi mulai memeluk tubuhnya.

“Aku tidak butuh itu. ini kehendakku, Jag. Aku sendiri yang akan mempertanggung-jawabkannya.” bisik Dewi lirih.

Bajag mengangguk. Sebenarnya ia masih lapar, tubuh telanjang Dewi begitu menggodanya. Namun jam di dinding sudah berdentang satu kali, menandakan ia harus segera kembali ke kantor kecamatan.

“Terima kasih, Mbak.” kata Bajag pada akhirnya.

“Akulah yang harus berterima kasih. Jangan bilang siapa-siapa ya,” pesan Dewi sebelum Bajag pergi.

Bajag kembali mengangguk dan lekas pamit. Dewi tersenyum sendiri. Ada arti di balik senyuman itu yang Bajag tidak mengerti. Yang Bajag mengerti ialah ini; saatnya ia menjemput Murti. Bajag segera mengarahkan mobil ke SMA 3. Belum sampai di tujuan, di tengah jalan ia melihat Aisyah dan motornya melaju sambil membonceng Murti. Ia segera memutar dan berbalik arah mengejar Aisyah sampai akhirnya bisa menjajari motor itu. Ia bunyikan klakson dan membuka kaca mobil. Aisyah juga berhenti dan Murti turun. Bajag sempat berbagi senyum dengan Aisyah sebelum gadis itu melanjutkan perjalanan pulang seorang diri sementara Murti sudah berada bersama Bajag untuk meneruskan perjalanan juga.

“Tumben kamu lambat, Jag?” tanya Murti agak sedikit curiga.

“Maaf, Mur. Aku banyak kerjaan. Disuruh ini dan diminta itu oleh suamimu.” jawab Bajag berbohong.

“Kalau memang sibuk jangan dipaksakan menjemput. Tuh wajahmu seperti nggak ikhlas.” Murti menunjuk.

“Ikhlas kok. Ini kan sudah kewajibanku.” Bajag tersenyum. Ini karena capek habis menyetubuhi, Mur, bukan karena nggak ikhlas, terangnya dalam hati.

“Mas Joko ada di kantor? Ada acara apa lagi dia hari ini?” tanya Murti menyelidik.

“Pak camat ada. Menurut Mbak Dewi, bapak mau ada pertemuan dengan anggota dewan. Bisa jadi sampai malam.” jawab Bajag.

“Sampai malam tapi kalau masih bisa pulang nggak masalah, Jag. Yang kutakutkan Mas Joko kerja sampai malam tapi nyantol di rumah orang.” ketus Murti.

“Curiga terus bawaanmu.” Bajag mencoba menengahi. ”Bagaimana dengan tempat barumu?” tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan.

“Sama saja. Yang namanya mengajar ya begitulah. Ada murid yang pintar ada juga murid yang kurang ajar.” jawab Murti kaku.

“Kurang ajar gimana?” tanya Bajag tak mengerti.

“Ya itu, ada segelintir murid yang suka menggoda guru, suka ngintip guru.” terang Murti.

“Kalau yang digoda dan diintip adalah guru seksi sepertimu, ya wajar dong.” Bajag tersenyum.

“Kamu mulai kurang ajar ya. Nih rasakan!”

Cubitan-cubitan Murti mulai menyerang bertubi-tubi dan Bajag segera memperlambat mobil. Satu tangannya memegang setir, satu tangan lagi menghadang cubitan Murti. Cubitan berhenti tapi kenakalan Murti tidak kunjung mati dan terus menggoda Bajag bahkan sampai tiba di rumah.

“Sudah ah, Mur, aku mau balik ke kantor.” kata Bajag mencoba berkilah.

“Sebentar saja, Jag.” tapi Murti terus memaksa.

Maka, meski masih berada di dalam mobil, terjadilah hubungan kilat. Murti sendiri yang nekad memaksa Bajag agar mau melayaninya. Bajag yang masih belum puas main dengan Dewi, melampiaskan sisa nafsunya pada Murti. Dan hasilnya, biar hanya hubungan kilat, tapi yang terjadi malah lebih dahsyat. Bajag sangat puas, begitu juga dengan Murti.

Begitulah kalau kebiasaan kemudian tumbuh subur menjadi perselingkuhan. Tiada hari yang terlewat tanpa maksiat. Entah berapa kali sudah Murti dan Bajag melakukan seks sebebas-bebasnya tanpa halangan apapun. Yang pasti mereka sadar sepenuhnya itu sangatlah beresiko. Tapi Murti siap menanggung resiko apapun dan juga siap mempertaruhkan rumah tangganya.

“Sudah cukup, Jag,” Murti mendorong dan menyingkirkan Bajag, lalu memasang lagi seragam kerjanya tanpa memasang pakaian dalam karena ia sudah ada di dalam rumah. Sebuah ciuman panjang mengakhiri pertarungan di hari siang itu.

Bajag kembali pada rutinitas, kembali ke kantor kecamatan dengan hati puas. Hari ini dua wanita dengan sangat mudahnya menggoda iman, menuntunnya kembali ke lembah hitam. Baginya lebih baik berjudi dan mabuk berat daripada meniduri wanita. Ia dulu memang bejat tapi sekarang ia mencoba tobat dari segala jenis maksiat.

Apalah daya, setan berwujud wanita mulus seksi sungguh lebih kuat dan membelenggu jiwanya dengan erat. Ia di kelilingi wanita wanita pembelenggu, wanita-wanita yang lapar akan kasih sayang, para wanita yang serba mau dan tak punya malu. Bajag sampai hapal seperti apa dan bagaimana memperlakukan wanita-wanita itu. Ada satu wanita lagi tapi Bajag sangat berharap wanita yang ia pikirkan bukanlah budak setan. Ia berharap wanita yang satu ini bisa memberinya jalan terang.

Bersambung… Jam lima sore, Bajag pulang tanpa bersama Pak Camat. Ia pulang bersama seorang pegawai kantor, sementara Pak Camat entah kemana. Ia tidak menuju rumah Murti, tapi langsung ke rumahnya sendiri. Bajag melihat ada keramaian di depan rumahnya, tepatnya di rumah yang sudah seminggu ini kosong tak berpenghuni. Ah, mungkin ada orang baru yang menempati rumah itu. Bajag melihat banyak warga membantu menurunkan perkakas dari empat truk.

“Ada penduduk baru, Pak?” ia bertanya pada seorang warga yang kebetulan melintas.

“Penduduk baru tapi muka lama, Jag. Keluarganya si Ningsih.” jelas si tetangga. “Ayo ikut bantu, Jag.” ajak tetangga itu lagi.

Bajag urung masuk rumah dan bersama para waRga beramai-ramai membantu. Bajag sempat melihat Ningsih tapi sangat sibuk. Begitupula si Bejo yang cuma tersenyum kepadanya. Bajag senang karena Bejo dan keluarganya telah kembali ke komplek. Ia jadi punya teman sebaya.

menjelang maghrib, semua perkakas sudah selesai diturunkan dan empat buah truk itu juga sudah pergi. Barulah Bajag bisa menghampiri Bejo. “Hei, Jo, kenapa nggak bilang kalau mau balik ke komplek?” tanyanya.

“Kejutan. Ayo ikut aku, Jag. Kukenalkan ke istriku.” ajak Bejo.

Bajag ikut Bejo masuk ke dalam rumah yang masih berantakan. Di dalam, ia langsung disambut dengan akrab oleh keluarga Bejo. Bajag bersyukur semua masih ingat padanya, masih bersikap baik padanya seperti dulu. Beberapa tahun silam, mereka memang bertetangga, jadi wajar kalau kemudian jadi akrab. Memang ada tambahan orang baru yaitu istrinya Bejo.

Namun karena sudah maghrib, Bajag lekas mohon diri. “Mainlah ke rumah, Jo. Aku pulang dulu ya,”

“Itu pasti, Jag. Ini dari Mbak Ningsih buat kamu.” kata Bejo memberikan sebuah bungkusan.

“Mana Ningsih?” Bajag bertanya.

“Masih mandi. Nanti juga pasti ke rumahmu,” Bejo tersenyum.

“Terima kasih ya,” Bajag melambaikan tangan.

“Sama-sama, Jag.” Bejo mengangguk.

Bajag kembali pulang. Sesampainya di dalam rumah, ia mendapati Aisyah sedang sibuk di dapur. Bajag segera membuka baju yang penuh keringat lalu mendekati Aisyah, namun tidak terlalu dekat karena khawatir Aisyah akan terganggu oleh bau badannya. Aisyah menoleh dan tersenyum sebentar lalu kembali sibuk dengan masakannya.

“Masak apa, Aisyah?” tanya Bajag.

“Ini, sayur lodeh, Mas. Kok baru pulang?” tanya Aisyah.

“Iya, Aisyah, tuh masih membantu orang baru pindah. Gantian pakai kompornya ya? Aku mau masak juga.” kata Bajag.

“Tidak usah, Mas. Ini saya masak juga buat Mas Bajag.” jawab Aisyah. ”Mending mas mandi saja. Sebentar lagi maghrib lho,” ia mengingatkan.

“Kamu sudah mandi?” tanya Bajag.

“Belum, Mas.” jawab Aisyah.

“Pantas kamu bau,” canda Bajag.

“Mas Bajag yang bau,” balas Aisyah sambil tersipu malu. Bajag paling suka melihat wajah Aisyah seperti itu. “Mas Bajag pergi sana. Nanti merusak rasa masakanku.”

“Nanti malam jalan-jalan yuk, Aisyah.” Bajag berkata.

“Tapi habis makan malam ya?” Aisyah menyanggupi.

“Iya, aku kan belum ngerasain masakanmu enak apa tidak. Aku mandi dulu ya,”

Aisyah memukul Bajag dengan gagang sutil. Bajag ingin balas memukul tapi urung setelah teringat bahwa Aisyah terlalu murni untuk disakiti. Aisyah tidak sama dengan wanita-wanita lain. Cukuplah kekhilafannya dulu saat Aisyah tertidur pulas. Bajag tidak akan mengulanginya lagi sebelum Aisyah benar-benar resmi menjadi miliknya. Gadis itu terlalu suci untuk dicemari.

Selesai mandi dan sholat maghrib, Bajag duduk menunggu Aisyah sambil menonton tv. Telinganya menangkap suara-suara halus bersenandung dari kamar mandi. Terdengar sangat merdu, membuat Bajag mengecilkan volume tv dan menajamkan telinga untuk mendengar senandung itu lebih jelas lagi, senandung merdu yang menyejukkan hati. Sayang sekali senandung itu berhenti dan pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.

“Mas Bajag, kesini sebentar.” panggil Aisyah.

“Ada apa, Aisyah?” Bajag berjalan menghampiri.

“Gotnya buntu ya, Mas. Airnya nggak jalan tuh,” kata Asiyah menunjuk selokan kamar mandi.

“Biar saya perbaiki. Kamu pergi saja,” sahut Bajag.

“Saya bantu, Mas, biar cepat. Saya juga belum selesai mandi.” kata Aisyah.

Bajag memang melihat Aisyah belum menyelesaikan mandinya karena air di lantai kamar mandi penuh akibat saluran pembuangan yang buntu. Ia membungkuk untuk memeriksa, Aisyah juga ikut jongkok untuk membantunya. Bajag menahan hasrat hati demi melihat bagian-bagian tubuh Aisyah yang tidak cukup terlindungi. Handuk yang membungkus tubuh Aisyah terlalu pendek. Dan Aisyah jongkok tepat dihadapannya, sama sekali tidak berusaha untuk menutupi sebagian buah dadanya.

“Aisyah! Berdiri!” Bajag memberi perintah demi menjaga kemurnian gadis itu. Ia tidak tega melihat dan menyaksikan seluruh bagian bawah tubuh Aisyah yang terpamoang jelas di hadapannya. Bajag tidak ingin tergoda kembali.

“Maaf, Mas!” kata Aisyah sambil berdiri dan pindah ke belakang Bajag, membuat Bajag jadi sedikit lega. Dan lebih lega lagi karena got selesai di perbaiki.

“Beres. Kamu bisa lanjutkan mandimu, Aisyah. Oh ya, nyanyi yang agak keras ya?” kata tersenyum menggoda.

Aisyah mengancam Bajag dengan segayung air, membuat Bajag lari terbirit-birit sebelum Aisyah menjalankan aksinya. Senandung suara Aisyah kembali terdengar dan terus terdengar meski Aisyah sudah selesai mandi dan kini ada di dalam kamarnya. Bajag menyimak senandung itu dengan hati ragu.

Sebelum keraguan hatinya terjawab, Aisyah sudah muncul. Mereka makan bersama dengan cepat karena ada acara yang akan mereka adakan. Malam ini Bajag dan Aisyah akan jalan-jalan. Memang masih jalan-jalan biasa, tapi siapa tahu itu akan jadi awal dari sesuatu yang luar biasa.

“Sudah siap, Aisyah?” tanya Bajag.

“Sudah, Mas. Ayo berangkat. Mumpung belum terlalu malam.” Aisyah mengangguk.

“Kamu cantik sekali, Aisyah.” Bajag menatap gadis itu tak berkedip.

“Mas Bajag bisa saja. Gombal ah.” Aisyah langsung tersipu malu. ”Ini kontak motornya.” ia memberikannya pada Bajag tanpa menoleh. Bajag hanya tersenyum saja melihatnya.

Mereka pun pergi meninggalkan komplek naik motor. Malam yang mendung tidak menyurutkan keinginan dua insan itu untuk mencoba mendekatkan hati. Walaupun tidak ada tujuan pasti mana yang harus mereka datangi. Mereka hanya ingin jalan-jalan, bukanlah untuk kencan. Bajag merasa sudah terlalu tua untuk kencan layaknya anak-anak muda. Ia bukan lagi anak remaja. Pun demikian Aisyah yang juga seorang wanita dewasa. Keinginan untuk bersenang-senang mungkin sudah tidak ada. Makanya mereka berputar-putar saja keliling pusat kota.

“Kemana enaknya, Aisyah?” tanya Bajag di tengah perjalanan.

“Ke stadion saja yuk, Mas. Sepertinya enak duduk santai disana.” kata Aisyah.

“Kamu tidak takut? Disana sangat sepi, Aisyah.” sahut Bajag.

“Kan saya bersama Mas Bajag. Pasti aman,” yakin Aisyah.

Bajag bukannya takut untuk datang dan nongkrong malam-malam di stadion. Daerah sepanjang stadion memang sangat sepi dan paling sering terjadi kejahatan. Mulai dari pemalakan, pemerasan, perampokan, sampai pemerkosaan, sudah berkali-kali terjadi di sana. Dan sampai sekarang tempat itu masih gelap, lampu-lampu banyak yang hilang dicuri orang yang butuh uang. Dulu Bajag juga sering mencuri apa saja dari stadion. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Ia sudah kapok dan tobat.

Sampai juga di stadion. Bajag membantu Aisyah turun dari motor lalu berjalan beriringan menuju sebuah bangku panjang. Disanalah mereka duduk berdua. Angin malam yang dingin langsung menerpa. Bajag membuka jaketnya dan mengenakan ke tubuh Aisyah untuk memberi rasa hangat.

“Saya belum tahu banyak tentangmu, Aisyah.” kata Bajag membuka pembicaraan.

“Saya ini hanya wanita desa, Mas. Tidak ada apa-apanya dibanding wanita-wanita kota.” jawab Aisyah.

”Ceritakan tentang keluargamu, Aisyah.” Bajag meminta.

Ia menyimak cerita Aisyah. Bajag sudah tahu kalau Aisyah adalah anak Pak Asnawi. Yang ia baru tahu adalah tentang Pak Asnawi itu sendiri. Menurut cerita Aisyah, Pak Asnawi dulunya juga pria yang bergelimang dosa. Dari Aisyah masih kecil sampai Aisyah beranjak remaja, Pak Asnawi masih seorang penjahat terkenal. Tapi menjelang Aisyah masuk SMA, Pak Asnawi berubah menjadi sosok yang pendiam dan semakin alim setelah menunaikan ibadah haji.

Sejak itu orang tidak lagi mengingat Pak Asnawi sebagai penjahat. Orang-orang kemudian lebih mengenang kedermawanan Pak Asnawi. Sampai akhirnya menjadi kepala desa Cemorosewu. Aisyah sama sekali tidak menceritakan atau memang tidak tahu cerita kalau ayahnya juga seorang pembunuh dan pemerkosa. Ironisnya korban pemerkosaan dan pembunuhan Pak Asnawi adalah ibu kandung Bajag. Dan kini Pak Asnawi mungkin sudah menerima hukuman setimpal di alam kubur setelah anak dari si korban menuntut balas dendam. Hutang nyawa dibayar nyawa dan hutang itu kini terbayar lunas.

“Itulah cerita keluargaku, Mas. Selanjutnya Mas Bajag tahu sendiri kalau ummiku kawin lagi.” kata Aisyah mengakhiri ceritanya.

“Saya kagum dengan ayahmu, Aisyah. Dari penjahat kemudian tobat. Sedangkan ayahku entah dia tobat atau belum.” gumam Bajag.

“Mas Bajag yang sabar saja. Setiap rencana Tuhan pasti ada hikmahnya.” balas Aisyah bijak.

“Kamu benar, Aisyah.” Bajag mengangguk. ”Dingin ya?” ia bertanya.

“Iya, Mas. Tapi tak apa,” Aisyah tersenyum karena hatinya terasa hangat bisa bersama orang yang dikasihi.

Bajag merengkuh bahu Aisyah dan gadis itu tidak menolak. Bajag merasakan getar yang tak biasa, bukan nafsu, tapi lebih kepada rasa sayang. Ia ingin memberi perlindungan kepada Aisyah. Dan bersama dengan Aisyah, Bajag seakan sedang bersama Zulaikha, mantan istrinya. Ia mengelus kepala Aisyah yang terbalut kerudung. Sangat terasa sekali hempasan napas Aisyah, hingga membuat Bajag jadi merinding.

“Sudah lama aku tidak merasakan suasana seperti ini, Aisyah.” Bajag berbisik.

“Maksud Mas Bajag?” tanya Aisyah tak mengerti.

“Kamu mengingatkanku pada Zulaikha, mantan istriku. Dia sama sepertimu, Aisyah.” jawab Bajag.

“Selagi Mas Bajag masih ingat mantan istri, berarti ada harapan suatu saat Mas pasti bertemu lagi dengannya.” sahut Aisyah.

“Aku selalu berharap seperti itu, Aisyah.” Bajag mengaku. ”Sepertinya gerimis. Mau pulang sekarang?” tanyanya kemudian sambil melihat langit.

“Iya. Ayo pulang, Mas.” angguk Aisyah.

Namun mereka tidak benar-benar pulang, lebih tepatnya mereka hanya meninggalkan stadion. Hujan sudah terlalu deras dengan disertai angin kencang.

“Berteduh di loket itu saja, Mas.” kata Aisyah sambil menunjuk sebuah bangunan loket di pintu masuk stadion.

Karena cukup jauh, praktis mereka harus berlari untuk bisa sampai, otomatis pula mereka basah kuyup. Bajag sudah biasa, tapi tidak demikian dengan Aisyah; gadis itu menggigil dengan wajah pucat.

“Pasti nanti kamu masuk angin, Aisyah.” kata Bajag kuatir.

“Sekarang saja perutku sudah mual, Mas.” Aisyah berkata lirih.

“Jadi bagaimana, mau memaksa pulang?” tanya Bajag.

“Sudah kepalang basah, mandi sekalian, Mas. Pulang saja.” Aisyah memutuskan.

Bajag tidak punya pilihan selain membonceng Aisyah pulang. Jalanan benar-benar sepi. Tidak ada satupun kendaraan ataupun manusia yang berani menantang hujan selain mereka berdua.

“Pegangan yang erat, Aisyah.” Bajag memberi perintah.

Ketika dirasakan lengan Aisyah sudah melingkar erat di pinggangnya serta tubuh gadis itu melekat di punggungnya, ia menggeber gas kuat-kuat untuk melesat kencang menembus tajamnya rinai-rinai hujan. Di tengah jalan, Bajag merasa menabrak sesuatu. Namun karena terlalu gelap, ia tidak bisa melihat apa itu. Terlalu riskan untuk mengerem disaat laju motor seperti jet. Aisyah sendiri semakin merapatkan tubuhnya.

Sesampainya di rumah, Bajag segera membopong tubuh Aisyah yang semakin lemah tak berdaya. Celakanya lagi, kamar Aisyah ternyata bocor. Bajag pun terpaksa membawa Aisyah ke kamarnya sendiri.

“Kupanggilkan dokter ya, Aisyah.” kata Bajag panik. Setelah membaringkan Aisyah, ia bermaksud keluar untuk mencari dokter.

Tapi Aisyah mencekal lengannya, menahan langkahnya. “Tidak usah, Mas. Saya minta tolong dikerokin saja.” kata gadis cantik itu.

“Tapi, Aisyah…” seru Bajag bimbang.

“Saya percaya Mas Bajag tidak akan menyakiti saya. Tolong ya, Mas,” pinta Aisyah pelan dan melas.

“Baiklah, Aisyah.” Bajag akhirnya mengangguk setuju. ”terima kasih kamu percaya padaku.”

Aisyah pun berbalik tengkurap, memasrahkan punggungnya untuk dikerok oleh Bajag. Anehnya, Bajag sama sekali tidak merasakan birahi kali ini. Padahal ia bebas memandangi tubuh mulus Aisyah dengan begitu rupa. Mungkin ini karena pengaruh benih kasih yang mulai tumbuh. Hingga membuat Bajag hanya merasa iba hati melihat Aisyah yang pasrah sedemikian rupa kepada dirinya.

Bajag bersumpah tidak akan menyakiti Aisyah. Aisyah juga sadar sepenuhnya membuka bajunya yang basah dan menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut, sementara bagian atas dari kepala sampai pinggul dibiarkan telanjang. Bajag mulai mengerok punggung Aisyah sementara Aisyah hanya bisa meronta-ronta kecil. Untuk pertama kalinya, Bajag menang saat berperang melawan setan. Setan jahanam yang menggoda imannya ia berantas sampai tuntas, sampai tidak ada lagi setan yang berani mengganggunya.

“Jangan meronta terlalu keras, Aisyah. Nanti selimutmu jatuh.” kata Bajag.

Aisyah menahan selimut dengan kedua tangannya agar tidak jatuh, agar tidak mengundang nafsu Bajag. punggung yang awalnya putih mulus semurni susu, kini berubah warna menjadi garis-garis merah. Belum selesai dikerok, Aisyah sudah lebih dulu muntah, mengeluarkan isi perutnya.

“Kerok sampai bawah, Mas. Anginnya mulai keluar.” kata Aisyah dengan tubuh gemetar.

Bajag mengikuti alur punggung Aisyah sampai bawah, terpaksa menyingkap sedikit selimut gadis itu agar bisa mengeroki hingga pangkal paha. Hingga selesai sudah.

Aisyah berbalik telentang dengan keringat bercucuran. Bajag membetulkan tali kutang Aisyah tanpa sedikitpun menyentuh buah dada yang membuncah indah itu. Namun ia perlu meminta ijin untuk memasangkan celana panjang. Aisyah sudah memasang sendiri celana dalamnya dari balik selimut. Aisyah tersenyum mengangguk.

“Sekarang tidurlah, Aisyah. Biar panasmu turun.” kata Bajag penuh rasa lega.

“Mas Bajag tidur saja disini. Saya ikhlas, Mas.” balas Aisyah.

“Baiklah, Aisyah. Selamat tidur ya,” Bajag berbisik lirih.

Ia pun membaringkan diri disamping Aisyah dan membiarkan gadis itu membenamkan kepala ke dadanya. “Aisyah, ya, Aisyah… sungguh sempurna dirimu!” batin Bajag dalam hening. Aisyah mungkin sudah terlarut dalam mimpi karena tidak bergerak sama sekali saat Bajag mencium keningnya. Ciuman yang menjadi penghantar tidur malam itu.

***

Pagi-pagi sekali Bajag sudah menghadap Pak Camat. Ia hendak membicarakan keputusan maha penting yang telah dipertimbangkan masak-masak sejak semalam. Tapi Pak Camat sudah berangkat kerja ke kantor shubuh tadi, begitu yang disampaikan Murti kepadanya.

“Lho, kupikir Mas Joko berangkat bareng kamu, Jag?” kata Murti heran.

“Tidak, Mur. Ini malah aku ingin ketemu dan bicara dengan Pak Camat.” sahut Bajag.

“Mas joko sudah pergi. Aku saja yang istrinya tidak tahu jam berapa suamiku berangkat,” ketus Murti seperti biasa.

Semakin bulat saja keputusan Bajag. Pak Camat semakin sering berangkat kerja sendiri, semakin tidak membutuhkannya lagi. Terhitung sudah sebulan ini Pak Camat tidak menggunakan tenaganya lagi. Bajag yakin Pak Camat memang punya maksud tersembunyi.

“Mungkin kamu bisa sampaikan padaku, Jag. Nanti kuteruskan ke Mas Joko.” kata Murti.

“Tidak, Mur. Biar aku bicara langsung dengan Pak Camat.” kata Bajag.

“Ada masalah apa antara kamu dengan Mas Joko? Ayo ceritakan saja,” Murti mendesak.

“Sama sekali tidak ada masalah, Mur.” Bajag menggeleng. ”Kamu bersiap saja. Kutunggu di mobil ya,” iapun pergi keluar.

“Jag!” Murti memanggil.

Bajag tidak mempedulikan panggilan itu. Tentu saja sikapnya ini membuat Murti jadi kelabakan dan berpikir ada apa gerangan. Murti gelisah dan takut kalau-kalau suaminya membuat masalah yang menyebabkan Bajag marah. Murti khawatir karena bisa saja suaminya celaka. Bagaimanapun, Bajag adalah mantan bajingan dulu. Dengan hati gamang, Murti meneruskan tugas sebagai ibu rumah tangga sebelum mandi. Setengah jam kemudian, iapun sudah siap dan menyambar tasnya lalu menghampiri Bajag.

“Ayo jujurlah, Jag. Jangan membuatku takut,” desak Murti di dalam mobil.

“Mur, sudah kubilang berkali-kali, masa kamu tidak dengar? Tidak ada apa-apa antara aku dan suamimu. Titik!!!” hardik Bajag tiba-tiba.

Murti langsung mengkerut dibentak begitu oleh Bajag. Ia sama sekali tidak menduga Bajag akan begini emosi. Tidak seperti hari-hari biasanya. Tidak ada tawa dan canda, malah suasana mencekam yang terasa. Murti dicekam berbagai rasa yang membuatnya tidak sanggup lagi berkata-kata. Sampai tiba di tempatnya kerja, Bajag tak kunjung menunjukkan tanda-tanda membaik. Wajah Bajag dilihatnya murung dan bingung. Yakinlah Murti bahwa memang ada yang tidak beres.

“Tunggu sebentar, Jag. Aku mau ikut kamu ke kantor kecamatan.” kata Murti tiba-tiba.

Barulah saat itu Bajag menoleh agak kaget. Tapi Murti keburu keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju gedung sekolah. Bajag terpaksa menunggu sesuai perintah Murti. Belum sempat Bajag menenangkan diri, Murti telah kembali lagi.

“Ayo berangkat, Jag.” kata istri Pak Camat itu.

“Tapi, Mur…” Bajag terlihat bimbang.

“Berangkat!!!” potong Murti cepat.

Kini giliran Bajag yang kaget dibentak oleh Murti. Namun ia harus segera berangkat sebelum Murti bertindak nekad. Perjalanan terasa lama dan membosankan. Bajag merutuk dalam hati kenapa ia harus membuat Murti sakit hati. Pasti Murti marah oleh sikapnya hari ini yang serba kaku.

“Maafkan aku, Mur.” kata Bajag sambil terus menyetir.

“Sudah kumaafkan,” balas Murti ketus.

“Belum. Kamu masih marah kan?” tanya Bajag.

“Aku memang marah. Tapi bukan padamu, Jag.” terang Murti.

“Syukurlah. Senyum dong,” Bajag berusaha mencairkan suasana.

Murti tersenyum sekedar menyenangkan hati Bajag. Lalu pandangannya kembali lurus ke depan dan tidak menoleh kemana-mana sampai tiba di kantor kecamatan.

“Perlu kuantar sampai dalam?” tawar Bajag.

“Tidak usah. Biar aku sendiri saja.” Murti melangkah memasuki paseban kantor dan terus menyusuri koridor hingga berhenti di depan ruang kerja suaminya. Ia mengetuk pintu tiga kali lalu mendorong perlahan pintu sampai terbuka. Murti masuk dan berdiri terpaku. Tidak ada nampak suaminya. Tentu kedatangannya yang mendadak membuat kalang kabut pegawai yang ada di ruangan itu.

“Selamat pagi, Bu Camat,” kata beberapa pegawai menyambut kedatangannya. Sementara sebagian pegawai yang lain berbisik-bisik.

Murti tidak peduli bisik-bisik itu. “Selamat pagi juga. Mana Pak Camat?” tanyanya kaku.

“Waduh, Bu. Pak Camat malah belum datang,” kata salah seorang pegawai.

“Jadi Pak Camat belum ngantor?” tanya Murti mulai was-was.

“Pas Kami datang, Pak Camat tidak ada, Bu. Tapi coba ibu tanyakan ke Dewi.” kata pegawai itu.

“Baiklah. Terima kasih.” Murti mengangguk. ”Dewi, kumohon ikut aku sebentar saja.” ia memanggil gadis itu.

“Baik, Mbak Murti.” jawab Dewi penuh kebingungan.

Murti membawa Dewi menuju mobil dan disanalah ia menginterogasi Dewi dengan beragam pertanyaan yang berfokus pada seputar kegiatan Pak Camat. Bajag hendak keluar tapi Murti memintanya tetap di dalam. Jadilah Bajag ikut mendengar perbincangan antara Murti dan Dewi.

“Benarkah suamiku belum ke kantor?” tanya Murti.

“Benar, Mbak.” Dewi mengangguk.

“Aneh, padahal Pak Camat sudah berangkat sejak shubuh tadi.” Murti tampak berpikir keras.

“Saya sungguh-sungguh tidak tahu, Mbak.” kata Dewi.

“Kamu pernah bilang memergoki mobil suamiku di perumahan residence. Bisakah kamu jelaskan lebih detil?” tuntut Murti.

“Oh itu. Memang benar. Seingat saya waktu itu mobil Pak Camat ada di rumah paling ujung blok A.” jawab Dewi.

“Kamu kenal pemilik rumah itu?” tanya Murti.

“Tidak, Mbak. Mungkin Bajag tahu karena pasti dia pernah ngantar Pak Camat kesana.” Dewi menoleh pada Bajag.

“Percuma minta informasi ke Bajag. Dia sudah kongkalikong dengan suamiku.” ketus Murti sengit. Bajag hanya diam saja disindir seperti itu.

Bersambung… Bajag kaget bukan kepalang mendengar pintu rumahnya diketuk berkali-kali oleh seseorang. Semakin keras saja ketukan itu membuat Bajag merasa marah. Ia melompat dari tempat tidur dan menerjang pintu bermaksud hendak mengumpat tamu yang menurutnya tidak sopan. Tapi setelah tahu siapa yang bertamu di siang bolong begini, ia urung mengumpat.

“Pak Camat. Silahkan masuk, Pak.” katanya kemudian.

Pak Camat masuk dan langsung duduk. Sempat memandangi Bajag cukup lama lalu menghela napas dan membuang muka keluar. “Kenapa semua bisa terbongkar, Jag?” tanyanya tiba-tiba.

“Maksud Pak Camat?” Bajag tak mengerti.

“Murti sudah tahu. Murti sudah memergoki aku.” kata laki-laki itu.

“Demi Tuhan! Saya tidak membocorkan rahasia itu, Pak.” sumpah Bajag.

“Lalu dari siapa lagi Murti sampai bisa tahu?” Pak Camat tampaknya tak percaya.

“Jadi Pak Camat menuduh saya?” tanya Bajag. ”Dimana Murti?” tanyanya lagi.

“Masih pingsan.” kata Pak Camat. ”Saya sama sekali tidak menuduhmu, Jag. Jangan marah.”elaknya.

“Terus terang saya kecewa dengan Pak Camat. Sebenarnya tadi pagi ada yang ingin saya bicarakan dengan bapak. Saya sudah mengambil keputusan untuk berhenti, Pak.” kata Bajag.

“Jangan, Jag. Saya masih membutuhkanmu.” cegah Pak Camat.

“Saya sudah tidak diperlukan lagi, Pak. Dan dengan tuduhan bapak terhadap saya, semakin bulat niat saya.” kata Bajag dingin.

“Sabar, Jag. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin.” Pak Camat masih berusaha membujuk.

Bajag terdiam, lalu kemudian mengangguk. “Kita tunggu sampai Murti siuman biar semua jelas.” katanya lagi.

Bajag ikut ke rumah Pak Camat dan bersama-sama Pak Camat menunggu Murti siuman. Bajag sangat terpukul. Kekhawatirannya terbukti. Murti telah sampai pada puncak penderitaan sehingga nekad menyatroni Pak Camat di rumah Mbak Ayu. Murti tidak bisa disalahkan. Bajag juga tidak mau disalahkan. Yang patut disalahkan adalah Pak Camat dan teringat tuduhan Pak Camat terhadapnya, Bajag menahan tinju dengan geram. Ingin sekali ia menghajar wajah lelaki tua itu biar tahu rasa, biar tahu akibatnya kalau mempermainkan hati sahabat kecilnya.

Murti mulai menunjukkan tanda-tanda siuman. Tubuhnya bergerak-gerak dan matanya setengah terbuka. Murti sempat bengong sesaat dan memperhatikan keadaan sekitar. Sadarlah ia dimana kini berada. Ia segera membuka mata lebar-lebar dan spontan berteriak histeris begitu melihat wajah-wajah yang ada di sekitarnya.

“Kita cerai, Mas! Ceraaaiiiii!!!” teriaknya kencang sambil melempar apa saja ke arah Pak Camat. Bantal, guling, selimut, cermin, dan semua isi kamar beterbangan dan berserakan, pecah berkeping-keping di lantai kamar.

Murti menerjang Pak Camat dengan pecahan kaca di tangannya. Untung Pak Camat sigap menghindar dan Bajag menghadang Murti, memegangi Murti yang terus meronta liar. “Aku benci kamu, Mas. Kejam!” teriaknya terus-terusan mengumpat Pak Camat dengan seribu caci maki.

Pak Camat menampar wajah Murti, membuat Murti semakin beringas. Bajag tidak mau ikut campur dengan apa yang terjadi antara suami istri itu. Bajag sempat menatap geram ke arah Pak Camat, membuat Pak Camat keder dan ciut nyali. Pak Camat segera sadar kalau Bajag bisa ikut beringas bila melihat Murti disakiti. Bajag segera keluar kamar dan begitu ia keluar, pintu kamar tertutup. Entah apa yang kemudian terjadi di dalam kamar itu, ia tidak mau tahu.

Murti semakin menderita sepeninggal Bajag. Pak Camat tiada henti menampar wajahnya berkali-kali, memukuli tubuhnya sampai jatuh bangun, menghajarnya hingga tersungkur. Tapi Murti menerima semua dengan tegar. Badan memang terasa sakit, tetapi hati lebih sakit lagi.

“Jahanam kamu, Mas!” ia mengumpat sekali lagi.

“Katakan siapa yang memberitahumu!” Pak Camat menjambak rambut Murti dan mengancam.

“Tidak akan saya katakan.” jerit Murti.

“Siapa dia, Murti?!” tanya Pak Camat lagi.

“Tidak akan, Mas. Sekalipun Mas membunuhku, tidak akan pernah.” ancam Murti.

“Keras kepala!” maki Pak Camat.

Murti menjerit-jerit ketika Pak Camat mengguntingi rambutnya. Tak cukup sampai situ, Pak Camat juga merobek celana dalam Murti dan mencabuti bulu-bulu kemaluannya, membuat Murti berlinang air mata perih. Sakit. Namun penderitaan belum berakhir. Pak Camat dengan cepat menelanjanginya, lalu mengikat kedua tangan dan kaki Murti. Dalam keadaan tak berdaya, Pak Camat membabi buta menggumuli Murti bagai binatang.

”Ahh…” Murti hanya bisa menjerit dalam hati karena mulutnya telah dikunci dengan ciuman liar. Pak Camat berubah menjadi binatang. Ia rasakan rudal Pak Camat masuk ke dalam liang serambi lempitnya secara paksa, dan mengoyak-ngoyak dengan brutal disana, tidak membiarkan Murti menikmati karena dirinya diselimuti rasa kesal yang mendalam terhadap perempuan cantik itu.

”Auw! Ahh… s-sakit!” rintih Murti sementara Pak Camat terus memperkosanya secara membabi buta. Laki-laki itu tanpa ampun menggerakkan batang rudalnya mundur maju berkali-kali hingga membuat tubuh Murti mulai menegang. Ia merasakan wajah Pak Camat mendekat untuk mencumbunya, segera Murti menghindar dengan menggerakkan kepalanya menyamping, menggeleng-geleng.

Plak! Pak Camat langsung memukulnya dan mengancam, ”Diam! Atau kubunuh kamu!”

Tak terhindarkan, karena sakit dan juga ketakutan, Murti membiarkan Pak Camat kembali mengulum bibirnya, namun ia tak sudi bereaksi terhadap ciuman laki-laki tua itu. ”Auw!” Murti juga menjerit begitu merasakan tangan-tangan Pak Camat yang meraba-raba dan meremas payudaranya dengan kasar, sebelum kemudian tangan itu bergerak ke arah lehernya.

Tamatlah aku, dia ingin mencekikku sampai mati, batin Murti dalam hati. ”Aah… jangan, Mas, jangan bunuh aku!” ia menangis menghiba.

”Bwahaha!” Pak Camat tertawa mengejek, dan bersamaan dengan itu menghunjamkan rudalnya semakin cepat.

”Arghh…!!” teriak Murti penuh kesakitan. Tubuh mulusnya tampak membilur-bilur memerah karena siksaan Pak Camat, sementara liang serambi lempitnya mengeluarkan darah segar karena lecet. Sungguh sangat sakit sekali.

Setelah merasakan siksaan lahir batin berkali-kali, Murtipun jatuh lagi dalam dunia ilusi. Ia pingsan kembali sementara Pak Camat terus menyetubuhinya sampai puas. Sampai spermanya muncrat memenuhi liang rahim Murti.

***

Bajag gelisah di rumahnya. Kedatangan Aisyah tidak sanggup mengusir sedihnya. Ia sedih membayangkan kehidupan Murti. Sayup-sayup ia mendengar teriakan dan ratapan Murti yang kini telah berhenti. Hatinya bagai tersayat belati. Ia ikut membenci Pak Camat. Sempat terbersir keinginan di hati untuk melenyapkan Pak Camat agar Murti bebas dari derita. Tanpa sadar ia menggebrak meja, membuat Aisyah kaget.

“Ada apa, Mas Bajag?” tanya gadis cantik itu.

“Maaf, Aisyah. Aku hanya kesal.” jawab Bajag.

“Kesal pasti ada sebabnya.” balas Aisyah.

Bajag tersenyum menerima secangkir kopi dari Aisyah. Kegelisahannya sedikit berkurang meski tidak sepenuhnya hilang. Ia menyeruput sedikit kopi yang masih panas itu. “Aisyah mau tahu sebabnya?” katanya kemudian.

“Kalau Mas Bajag tidak keberatan cerita pada saya.” kata Aisyah.

“Saya keberatan,” sahut Bajag.

“Ya nggak usah cerita,” tutur Aisyah dengan wajah kecut.

“Aisyah, bagaimana kalau kamu yang membuatku kesal?” pancing Bajag.

“Saya hanya bisa katakan maaf dan janji tidak akan lagi membuat Mas Bajag kesal.” jawab Aisyah kalem.

“Cuma itu?” kejar Bajag.

“Mas Bajag maunya apa?” ganti Aisyah yang menantang.

“Kena juga kamu. Aku cuma bercanda kok,” Bajag tersenyum.

Ia mendapat hadiah dari Aisyah berupa cubitan berbisa. Kebetulan sinema siang di televisi menampilkan adegan cinta. Aisyah menunduk malu. Bajag tersenyum mau. Tapi belum saatnya adegan cinta itu ditiru. Bajag merubah saluran ke berita tanpa mempedulikan raut wajah Aisyah yang merengut kecewa. Mereka berebut remote control tapi demi keamanan, maka Bajag mengalah.

“Berita di negeri ini cuma korupsi, Mas. Bosan.” kata Aisyah mengomentari acara di tv.

“Saya juga bosan nonton sinetron yang isinya rebutan harta, rebutan wanita, dan perselingkuhan.” balas Bajag.

“Tergantung selera dong,” Aisyah tampak tak mau kalah.

Bajag menggelitik telapak kaki Aisyah, membuat Aisyah tertawa geli dan melipat kakinya menjauh dari jari-jari usil Bajag. Dengan kaki terlipat, maka paha Aisyah terlihat mengkilat. Bajag silau dan tak tahan untuk tidak menjahili paha itu. Tapi belum sempat niat itu terlaksana, Aisyah sudah lebih dulu menutup pahanya dan mencibir kenakalan Bajag.

“Baru boleh kalau sudah nikah, Mas.” katanya menjelaskan.

“Kamu mau nikah dengan duda sepertiku?” tanya Bajag tak percaya.

“Kalau memang cinta, apa hendak dikata.” jawab Aisyah sambil tersenyum.

“Berarti kamu cinta aku ya?” tanya Bajag meyakinkan.

Aisyah menghela napas dan memandang Bajag. “Sejujurnya tujuan utamaku tinggal disini adalah untuk bisa mengenal Mas Bajag lebih dekat.” terangnya.

“Aku suka kejujuranmu, Aisyah. Aku juga sebenarnya ingin dekat denganmu.” balas Bajag.

“Gombal,” Aisyah kembali mencibir.

Biar di bibir bilang gombal, tapi dalam hati sesungguhnya Aisyah menganggap semua itu benar karena secara fisik Aisyah sadar ia telah dekat dengan Bajag. Tinggal meyakinkan batin. Belenggu jiwa telah terpasang diantara hati mereka berdua.

“Aisyah?” bisik Bajag di telinga gadis cantik itu sambil berupaya memeluknya.

Gadis itu tertunduk malu, dan segera menutup mata saat Bajag mengangkat dagunya dan menciumnya tepat di bibir. Terasa lidah Bajag yang kasar mencoba mendesak masuk ke dalam mulut Aisyah. Sebenarnya Aisyah ingin menolak, tapi dorongan dari dalam hatinya tidak dapat berbohong. Iapun balas melumat bibir Bajag dan malahan tangannya meraih pundak laki-laki itu agar tubuh mereka semakin menempel hingga ciuman mereka menjadi terasa nikmat.

”Hmph… hmm…” Ciuman Bajag kini menjadi semakin buas. Dari bibir, Bajag turun ke leher dan menggerakkan lidahnya disana, berupaya menjelajahi leher Aisyah yang jenjang. Sambil berciuman, tangannya meraih kancing baju gadis itu dan mulai melepaskannya satu persatu. Lembut Bajag menelusuri gundukan dada Aisyah yang bulat padat, terasa sangat halus dan mulus sekali benda kembar itu. Melenguh dalam hati, Bajag tak menyangka kalau akan begitu menyukainya.

“Cukup disitu saja, Mas,” bisik Aisyah lemah dan pasrah ketika Bajag mulai menjajah di sekitar wilayah perutnya.

Bajag menurut, sama sekali tidak keberatan hanya diberi jatah sampai di situ saja. Sudah merupakan suatu keberuntungan baginya bisa diijinkan menikmati dada Aisyah yang ranum, yang tidak sembarang lelaki bisa mendapatkannya. ”Kamu cantik, Aisyah.” ujar Bajag lembut sambil menatap mata lentik Aisyah.

”Ahh…” tidak menjawab, Aisyah malah mengerang saat Bajag meremas-remas gundukan payudaranya semakin gemas. Ia melenguh agak keras dan Bajag pun semakin giat meremas-remas dadanya yang montok itu.

Perlahan Bajag melepaskan ciumannya dan memandangi Aisyah yang kini duduk hanya dengan mengenakan bra hitam dan rok panjang selutut. Ia memandanginya tanpa berkedip, terlihat begitu mengagumi kecantikan dan pesona tubuh sintal gadis itu. Aisyah yang malu dipandangi seperti itu segera menunduk dan berupaya menyilangkan tangan di depan dada untuk sekedar menutupi apa yang ada.

Bajag yang tak ingin kesempatannya menghilang, segera bergerak cepat dengan kembali memeluk tubuh mungil Aisyah dan melumat bibirnya dengan begitu rakus. Sambil ber-french kiss ria, tangannya dengan cekatan melepas kaitan bra Aisyah yang sudah melonggar. Kini dada Aisyah benar-benar telanjang bulat. Bajag langsung mengarahkan tangan kesana dan mulai meremasi kedua payudara Aisyah secara bergantian. Aisyah memilih untuk memejamkan mata saja menikmatinya.

”Auw! Mas!” rintih Aisyah saat merasa putingnya yang sudah tegang akibat nafsu tiba-tiba menjadi basah.

Ternyata Bajag sudah asyik menaruh mulut disana, menjilatinya dengan lidahnya yang panjang dan tebal, menghisapnya begitu rakus bagai anak kecil yang haus akan sentuhan air susu ibu. ”Uhh…” tentu saja perbuatan itu membuat Aisyah jadi menggelinjang geli karenanya. Tanpa terasa ia mengeluarkan erangan yang lumayan keras, yang mana itu malah membuat Bajag jadi semakin bernafsu.

”Aisyah, kamu seksi sekali. Badan kamu bagus, terutama yang ini…” bisik Bajag sambil memelintir puting Aisyah yang semakin mencuat dan menegang. Berkali-kali pula ia melumat, mencium, menarik dan menghisap-hisapnya secara bergantian, kiri dan kanan.

”Ahh… Mas… gelii…!” balas Aisyah manja. Ia hanya dapat mengelus dan menjambak rambut Bajag dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya berusaha berpegangan pada sandaran kursi untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh ke depan.

Aisyah merasa badannya mulai mengejang serta cairan serambi lempitnya terasa mulai meleleh keluar, sementara Bajag terus mengerjai bagian depan tubuhnya hingga mereka sama-sama mendesah lemah tak lama kemudian. Tampak noda hitam membekas di depan celana Bajag yang menggembung besar, yang dipandangi oleh Aisyah dengan penuh rasa jengah sekaligus penasaran. Sementara Aisyah sendiri juga merasa celana dalamnya menjadi begitu basah, namun tentu saja Bajag tidak bisa mengetahuinya karena itu tersembunyi di balik gaun.

Terengah-engah, mereka sama-sama puas meski tidak sampai saling memasukkan. Cuma meraba-raba dan saling bersentuhan, itu sudah cukup bagi keduanya untuk saat ini. Aisyah memejamkan mata dan memeluk Bajag dengan tubuh setengah telanjang. Dibiarkannya Bajag terus membelai dan meremas-remas gundukan payudaranya yang besar, sampai Bajag puas dan lelah hati datang melanda beberapa saat kemudian.

“Tok-tok-tok!!” terdengar ketukan pelan di pintu depan.

Bajag dan Aisyah terperanjat dan segera mengenakan pakaian masing-masing. Mereka berpandangan sejenak sebelum Aisyah lari masuk ke dalam kamarnya, sedang Bajag bergegas ke depan untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang. Ternyata Ningsih.

“Selamat sore, Jag.” sapa tetangga sekaligus teman Bajag itu.

“Ningsih, kukira siapa. Ayo masuk.” balas Bajag.

“Tidak usah. Ngobrol di teras saja lebih enak.” kata Ningsih.

“Baiklah. Kupanggil Aisyah dulu ya.” sahut Bajag.

“Tidak perlu. Aisyah pasti masih istirahat. Kita ngobrol berdua saja.” sela Ningsih.

“Ya sudah. Bagaimana kesanmu dengan suasana komplek?” tanya Bajag membuka obrolan saat mereka sudah duduk di teras.

“Memang tidak seperti dulu saat kita masih kecil. Tapi aku sungguh senang bisa kembali kesini, Jag. Kembali ke tanah kelahiranku.” jawab Ningsih.

“Jadi nostalgia nih,” Bajag tersenyum.

“Mauku sih begitu. Tapi rupanya anak-anak sebaya kita sudah pada kawin semua. Jadi malas mau main ke rumah mereka.” kata Ningsih.

“Makanya buruan kawin juga. Kita seusia, Ningsih. Aku saja sudah jadi duda.” balas Bajag.

“Hahaha, biar duda tapi kamu masih keren, Jag. Pria idamanku ya yang seperti kamu.” kata Ningsih dengan muka bersemu merah.

”Tidak baik membanding-bandingkan orang. Kesibukanmu apa, Ningsih?” Bajag berupaya mengalihkan topik.

“Macam-macam.” jawab Ningsih. ”Tapi aku paling sibuk kalau sudah memikirkan seseorang.”

“Siapa itu?” tanya Bajag penasaran.

“Kamu,” jawab Ningsih pendek.

Bajag tertawa mendengar kata-kata Ningsih yang dianggapnya lelucon belaka. Tawanya sampai terdengar ke dalam rumah, memancing aisyah untuk keluar dari kamarnya dan mengintai apa gerangan yang membuat Bajag tertawa. Demi melihat Bajag berdua dengan Ningsih, Aisyah seakan tidak rela. Tapi ia tidak cemburu buta. Ia biarkan saja Bajag bersama Ningsih sementara ia sendiri mencari kesibukan di dapur.

Aisyah merasa aneh melihat rumah Pak Camat yang sepi. Aisyah juga aneh dengan ketidak-munculan Murti sejak tadi pagi. Rekan sesama gurunya itu tidak mengajar, malah meminjam motornya dan pergi entah kemana. Sampai sekarang motornya belum kembali. Aisyah coba menghubungi handphone Murti tapi tidak aktif. Maka ketika Bajag datang menghampirinya, Aisyah langsung bertanya.

“Sudah selesai ngobrolnya dengan Mbak Ningsih?” tanyanya dengan nada sedikit ketus.

“Sudah. Ningsih sudah pulang.” jawab Bajag tanpa merasa bersalah.

“Apa Mas Bajag tahu apakah Bu Murti juga sudah pulang?” tanya Aisyah lagi.

“Aisyah, kamu belum tahu apa yang menimpa Murti?” bukannya menjawab, Bajag malah balik bertanya.

“Belum, Mas. Cuma Bu Murti tadi pagi tidak mengajar dan meminjam motorku. Eh sampai sekarang motorku belum balik.” seru Aisyah.

“Murti sedang susah, Aisyah. Dia bertengkar hebat dengan Pak Camat.” jelas Bajag.

“Lho, masalahnya apa, Mas? Bukankah mereka rukun-rukun saja?” tanya Aisyah tak percaya.

“Murti memergoki Pak Camat selingkuh dengan istri mudanya. Makanya mereka bertengkar dan Murti minta cerai.” jawab Bajag.

“Benarkah begitu, Mas?” Aisyah melongo.

“Benar. Dan motormu masih ada di perumahan Residence. Nanti kuambil ya?” tawar Bajag.

“Sungguh menyesal kalau mereka sampai cerai ya, Mas.” Aisyah menggeleng-gelengkan kepala.

Bajag mengangguk. “Oh ya, Aisyah, aku juga sudah berhenti kerja di rumah Pak Camat.” Ia memberi tahu.

“Apa ada kerjaan lain, Mas? Bagaimana dengan hutang Mas Bajag ke Pak Camat?” tanya Aisyah.

“Akan kuusahakan, Aisyah. Apalagi hutang itu juga menyangkut rumah ini.” kata Bajag penuh tekad.

“Mas Bajag, saya ada sedikit tabungan yang bisa mas pakai. Saya ikhlas, Mas.” kata Aisyah.

“Kamu sudah terlalu banyak berkorban, Aisyah. Simpan saja uangmu ya,” tolak Bajag.

“Saya hanya tidak ingin rumah ini jatuh ke tangan orang lain, Mas. Aku sudah anggap ini rumahku sendiri.” sahut Aisyah.

“Tidak akan pernah, Aisyah. Rumah ini akan tetap milikku, dan jika Tuhan mengijinkan, akan jadi milikmu juga. Milik kita.” kata Bajag sambil tersenyum dan memandang Aisyah penuh cinta.

“Makanya kubantu bayar ya hutang Mas Bajag ke Pak Camat.” Aisyah membalas senyum itu.

Bajag mengacak rambut Aisyah dengan gemas. Ia memeluk Aisyah dari belakang, mencium kepala gadis itu. “Adakah perasaan itu di hatimu, Aisyah?” tanya Bajag.

Aisyah berbalik dan balas memeluk Bajag, menyembunyikan wajah ayunya di balik ketiak Bajag. “Rasa itu sudah tumbuh sejak kali pertama saya melihat Mas Bajag. Dan kengototan saya pindah kemari semata demi rasa itu, Mas.” terang Aisyah.

Mereka berpelukan semakin erat seakan tidak memberi ruang bagi makhluk apapun menghalangi hangatnya pelukan itu. Mereka tidak peduli pada bau gosong ikan teri. Mereka hanya peduli pada perasaan hati.

“Apakah aku masih layak dan pantas, Aisyah?” kata gatot bertanya.

“Bagiku lebih dari pantas, Mas. Menjalani hidup bersama Mas Bajag adalah impianku.” jawab Aisyah lugas.

“Bagaimana jika mimpimu itu tidak terwujud?” tanya Bajag.

“Saya akan sangat membenci Mas Bajag. Aku kan sudah memberikan apapun, Mas.” yakin Aisyah.

“Aku akan mewujudkan mimpimu, Aisyah, tapi tidak sekarang. Sabar ya?” jawab Bajag.

Dua hati telah bicara. Maka lebih mudah untuk meneruskan semua yang tertunda. Bajag memagut bibir Aisyah dan lebur dalam ciuman membara. Hanya sekedar berciuman karena Bajag sudah bersumpah untuk tidak merusak kesucian Aisyah sampai pada saatnya nanti tiba. Setelah puas, merekapun melepaskan pelukan. Aisyah mengangkat ikan teri yang hangus sementara Bajag mengisi air di bak mandi.

***

Kekhusyukan sholat maghrib Bajag yang berjamaah dengan Aisyah buyar ketika dikejutkan oleh teriakan dan raungan sangat keras dari rumah Pak Camat. Bajag sangat hapal itu adalah suara Murti. Ternyata bukan hanya Bajag saja yang mendengar, tetapi hampir semua tetangga yang berdekatan dengan rumah Pak Camat juga mendengar. Bajag mengajak Aisyah untuk melihat apa yang terjadi. Ia berkerumun bersama puluhan warga komplek yang memenuhi halaman rumah Pak Camat. Beberapa orang mencoba membuka pintu rumah yang terkunci, sementara raungan Murti dari dalam rumah tidak kunjung berhenti. Orang-orang semakin panik dan berpikir macam-macam, menduga-duga apa yang terjadi dalam rumah itu.

Bajag mendekat dan orang-orang memberinya jalan. “Dobrak saja pintunya, Jag!” beberapa warga memberi usul.

“Sabar, Pak. Siapa tahu Murti dengar suara saya,” Bajag mengetuk pintu berkali-kali sambil berteriak-teriak memanggil Murti. Tapi sampai suaranya serak, pintu tak kunjung terkuak. Sementara orang-orang mulai tidak sabar.

Bajag juga hilang kesabaran karena di dalam sana murti makin histeris. Lima orang pemuda coba mendobrak pintu tapi tidak berhasil. Cuma Bajag yang tahu seberapa kuat dan tebalnya daun pintu rumah Pak Camat, juga cuma Bajag seorang yang tahu kunci bagian dalam dari pintu rumah Pak Camat. Ia meminta lima orang pemuda itu menyingkir. Ia mundur jauh ke belakang dan mengumpulkan tenaga lalu berlari cepat menerjang pintu itu. Sukses, daun pintu itu bukan cuma terbuka, tapi sampai patah jadi dua bagai di gergaji. Orang-orangpun percaya bahwa Bajag masih punya kekuatan yang hebat meski sudah tobat.

Beberapa orang tua bergegas masuk dan langsung menuju kamar dimana sumber suara Murti. Sekali lagi Bajag mendobrak pintu dan semuanya berdiri terpaku menyaksikan apa yang terjadi di dalam kamar. Murti langsung menghambur memeluk Bajag dan Bajag langsung membawa Murti ke rumahnya dengan ditemani oleh Aisyah dan Ningsih.

“Aisyah, Ningsih, tolong jaga Murti ya. Usahakan agar dia tenang,” kata Bajag lalu kembali lagi ke rumah Pak Camat.

“Pak Camat gantung diri! Pak Camat bunuh diri!!”

Berita itu langsung menyebar luas. Bukan hanya warga sekitar komplek, tapi sudah merambah hingga penjuru kota. Siapa yang tidak kenal Pak Camat, salah satu pejabat yang digadang-gadang bakal jadi bupati. Dari abang tukang becak sampai mbah-mbah juru pijat, semua kenal Pak Camat. Maka ketika berita hangat itu menyeruak di malam yang baru mulai, berduyun-duyunlah orang-orang berdatangan.

Bajag menyebar-luaskan berita tragis itu ke pegawai kantor kecamatan yang dikenalnya. Kini jalan menuju komplek telah macet total dan terpaksa ditutup. Ratusan mobil berjajar di sepanjang jalan mulai dari mobil plat merah milik pemerintah sampai mobil pickup yang mengangkut warga dari pelosok desa. Dan sebagian warga komplek memanfaatkan momen yang tidak bakal datang dua kali itu untuk mencari keuntungan.

Banyak warung dadakan di tepian jalan komplek. Banyak areal parkir beragam tarif yang ditawarkan pemuda-pemuda desa. Sebagian pemuda bahkan nekad menjadikan halaman rumah Bajag sebagai areal parkir. Untung Bajag mengijinkan. Suara sirene meraung-raung dari jauh dan satu ambulans masuk halaman rumah Pak Camat. Suara sirene terdengar lagi dan mobil mewah Pak Bupati melesat dikawal tiga motor petugas polisi. Bajag menemani Pak RT menerima setiap tamu di rumah duka.

Murti masih belum bisa diajak bicara. Masih menangis dan meraung lirih. Aisyah melihat beberapa bagian tubuh Murti memar dan lebam seperti bekas mengalami siksaan. Yang lebih membuat Aisyah miris adalah rambut Murti yang sudah tak berbentuk lagi. Ningsih juga dilanda kesedihan. Bagaimanapun Murti adalah sahabat kecilnya. Ningsih merengkuhnya penuh penyesalan.

“Istighfar, Mur. Ingat pada Allah,” bisik Ningsih di telinga Murti.

“Iya, Bu Murti. Serahkan semua pada kekuasaanNYA.” kata Aisyah memberi nasehat.

Murti terkulai lesu. Dua orang petugas kepolisian yang ingin meminta keterangan darinya mengurungkan niat karena Murti masih shock, masih terguncang dan pucat pasi. Wajah Murti datar tanpa ekspresi dan tatapan matanya kosong, hampa.

“Maaf ya, bapak-bapak. Bu Murti masih shock.” kata Aisyah.

“Tidak apa, Mbak. Kami hanya ingin meminta ijin untuk mengotopsi jenasah Pak Camat.” jawab salah satu dari mereka.

“Tidak perlu. Langsung kubur saja!” kata Murti pelan tapi tegas.

Maka malam itu juga pemakaman segera disiapkan. Polisi sudah selesai melakukan investigasi dan identifikasi. Hasilnya Pak Camat memang murni bunuh diri. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dan tanda-tanda keracunan pada diri Pak Camat. Murti juga sedikit memberi informasi bahwa ia sama sekali tidak tahu yang menimpa suaminya karena sedang pingsan. Murti juga menunjukkan bekas-bekas penyiksaan yang ia alami, membuat polisi tidak lagi memaksanya ikut ke kantor. Murti dinyatakan tidak bersalah. Jelas sudah Pak Camat murni bunuh diri dengan cara gantung diri. Tidak ada unsur-unsur kriminal, begitu penjelasan dari Pak Kapolres.

Setengah jam kemudian pemakaman dilaksanakan. Murti bersikeras tidak mau hadir ke pemakaman suaminya meski Aisyah dan Ningsih memaksa. Hati Murti telah beku. Pintu maafnya telah tertutup. Bahkan Murti tidak bersedia menerima karangan bunga dari Pak Bupati. Cintanya pada Pak Camat telah lama mati. Pengkhianatan suaminya tak termaafkan lagi. Biar saja Pak Camat mati, sekalipun nanti suaminya itu menjadi hantu yang membayanginya tiap hari.

Bajag datang bersama Dewi. Setelah pemakaman selesai, Bajag mengajak Dewi bicara empat mata di rumah Pak Camat. Ia mengajak Dewi ke garasi yang menjadi tempat paling aman tanpa gangguan orang-orang yang banyak berlalu lalang.

“Ini semua salah Mbak Dewi,” kata Bajag terus terang.

Karuan saja Dewi kaget disalahkan seperti itu. “Apa maksudmu, Jag? Apa hubunganku dengan kejadian ini?”

“Mbak Dewi bicara terlalu banyak bicara pada Murti. Mbak telah membuat kehidupan dan rahasia Pak Camat terbongkar.” jelas Bajag.

“Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu, Jag. Bicara langsung saja ke intinya.” tegas Dewi.

“Mbak Dewi kan yang bilang ke Murti tentang perumahan residence?” tanya Bajag.

“Itu memang benar,” Dewi mengangguk.

“Mbak Dewi tahu itu rumah istri muda Pak Camat?” tanya Bajag lagi.

“Tidak. Aku malah baru tahu malam ini kalau Pak Camat punya istri muda.” terang Dewi jujur.

“Itulah, Mbak. Tadi pagi Murti langsung ke perumahan residence dan memergoki suaminya disana. Bisa mbak bayangkan apa yang terjadi?” tanya Bajag.

Dewi menyandarkan diri ke tembok garasi. Wajahnya pias dan serba tak tahu harus berkata apa lagi setelah mendengar cerita Bajag. Dewi menyesal setengah mati karena secara tidak sadar dirinyalah yang membuka jalan bagi terbongkarnya perselingkuhan Pak Camat yang berujung maut.

“Aku menyesal sekali, Jag. Aku yang menyebabkan Mbak Murti kehilangan suaminya.” kata Dewi lirih.

“Sudah tidak ada gunanya, Mbak. Pak Camat sudah mati dan Murti terlanjur sakit hati.” sahut Bajag.

Memang sudah tidak ada gunanya menyesali yang telah terlanjur terjadi. Pak Camat tidak mungkin hidup lagi. Seandainya Pak Camat hidup sekalipun, Murti sudah pasti tidak akan sudi melanjutkan hidup bersama Pak Camat.

Bajag mengajak Dewi ke rumahnya. Kini Bajag berada di tengah-tengah para wanita pembelenggu. Tapi Bajag sadar hanya ada dua dari keempat wanita itu yang benar-benar kuat menanamkan belenggu dalam jiwanya. Murti dan Aisyah, dua wanita yang sama-sama ia cintai. Selebihnya hanya sesaat numpang lewat saja, seperti Dewi dan Ningsih.

Bersambung… Murti menjanda. Sudah genap seratus hari sejak kematian Pak Camat, Murti menyandang status barunya. Bahkan orang-orang menambahi embel-embel di belakang status barunya sehingga lengkap sudah; Murti si janda kembang. Sudah menjanda, kaya pula.

Tidak heran kalau banyak lelaki yang antri, baik yang terang-terangan ataupun yang sembunyi-sembunyi. Tapi Murti tetap setia bersama Bajag dan orang-orang komplek mulai yakin kalau Murti dan Bajag memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan dewa-dewi. Sang dewa seorang duda, sang dewi baru saja menjanda. Cocok sekali.

Sekarang Murti sudah mau belajar nyetir dan gurunya adalah Bajag. Tiap hari sepulang dari mengajar, Murti langsung memanggil Bajag lewat dapur rumahnya. Kadang yang muncul adalah Bajag sendiri, tetapi kadang pula Aisyah. Seperti sore ini, ketika ia memanggil Bajag, yang nongol malah Aisyah.

“Mana Bajag, Aisyah?” tanya Murti penuh harap.

“Masih sholat, Bu Murti.” jawab Aisyah.

“Kalau sudah suruh ke rumah ya.” pesan Murti.

“Baik, Bu.” Aisyah mengangguk, lalu masuk ke dalam dan menuju kamar Bajag. Perlahan ia membuka pintu dan duduk di tepi tempat tidur dimana Bajag sedang berbaring. Bajag tidak sedang sholat seperti yang Aisyah katakan pada Murti, laki-laki itu masih tidur.

“Mas Bajag, bangun!” panggil Aisyah dengan suara merdu.

Bajag menggeliat malas dan entah sengaja atau tidak, tangannya hinggap di paha Aisyah. Bajag mengelusnya pelan sambil bergerak bangun. “Ada apa, Aisyah?” tanyanya dengan suara serak.

“Mas dipanggil Bu Murti di rumahnya.” kata Aisyah.

“Baiklah. Aku kesana ya,” sahut Bajag.

“Mas…” Aisyah memanggil.

“Apa lagi, Aisyah?” tanya Bajag penuh rasa sayang.

“Ah, tidak apa-apa. Hati-hati saja di jalan ya, Mas.” pesan Aisyah menyembunyikan maksud yang sebenarnya.

“Hati-hati di jalan atau hati-hati bersama Murti?” goda Bajag seperti mengetahui isi batin Aisyah.

“Mas Bajag ini…” Aisyah tersenyum merajuk. ”Sudah pergi sana. Kasihan Bu Murti lama menunggu.”

Bajag mencium kening Aisyah sebelum pergi, tangannya juga sempat mampir ke dada Aisyah dan meremasnya pelan satu persatu, merasakan betapa empuk dan padatnya benda bulat itu. Ukurannya juga menjadi semakin besar karena keseringan dipegangi oleh Bajag. Memang belum ada ikatan resmi diantara mereka, tapi hal-hal semacam tadi sudah menjadi rutinitas yang Bajag dan Aisyah lakukan setiap hari.

“Hati-hati di rumah ya, Aisyah. Kunci saja pintunya.” pesan Bajag sebelum pergi.

“Baik, Mas.” Aisyah mengangguk, dan sekali lagi membiarkan Bajag meremas gundukan payudaranya.

Bajag meninggalkan Aisyah dan menuju rumah Murti. Tinggallah Aisyah seorang diri, duduk termenung di depan cermin sambil memperhatikan dirinya sendiri. Aisyah membandingkan keadaannya sebelum dan sesudah tinggal di rumah Bajag. Aisyah merasakan perubahan besar yang terjadi. Dulu sewaktu masih menetap di Cemorosewu, ia adalah sosok yang taat beribadah, tidak pernah melakukan hal-hal tabu yang melanggar norma agama dan norma susila. Ia dulu adalah sosok wanita yang benar-benar bersih dan suci, tanpa pernah tersentuh sedikitpun oleh tangan lelaki.

Tapi tidak dengan sekarang. Ia memang masih taat menjalankan sholat lima waktu, namun juga rajin melakukan hal-hal yang dulunya ia anggap tabu. Norma susila dan agama telah ia langgar. Tubuhnya telah tersentuh oleh tangan seorang lelaki. Kebersihan dan kesucian dirinya telah luntur digerus sensasi yang sangat menggoda hati.

“Masih pantaskah aku mengenakan kerudung ini?” pikirnya seorang diri.

Sementara Bajag sudah bersama Murti. Sejenak Bajag teringat Aisyah, tapi terganggu oleh suara Murti yang mendesah. Bajag berpaling dan mendapati seraut wajah Murti yang semakin bening. Ia kembali memfokuskan diri ke jalan raya.

“Apa yang kamu rasakan saat ini, Murti?” tanya Bajag membuka obrolan.

”Aku merasa bebas, Jag. Benar-benar sangat bebas.” kata Murti sambil merentangkan kedua tangannya, seperti berusaha memamerkan tonjolan buah dadanya yang besar kepada Bajag.

“Kamu memang bebas, tapi harus kamu ingat jangan sampai kebebasan itu membuatmu bablas.” pesan Bajag.

“Jangan mengajariku, Jag. Bukankah kebebasanku ini menguntungkanmu juga, menguntungkan kita?” sahut Murti tidak terima.

“Aku tidak berharap keuntungan apapun dari keadaanmu ini, Mur.” tegas Bajag.

“Munafik.” Murti mencibir. ”berapa kali kamu tidur denganku selama Pak Camat masih hidup? Sekarang Pak Camat sontoloyo itu sudah mati dan kamu bebas meniduriku kapan saja, berapa kalipun yang kamu inginkan. Bukankah begitu?” tuduh Murti.

“Pikiranmu tidak sama dengan pikiranku, Mur.” Bajag menggeleng. ”Aku malah ingin kebobrokan ini berhenti.” katanya kemudian.

“Oh, jadi begitu ya?” Murti berkata ketus. ”Setelah kamu puas mencabik-cabik hati dan tubuhku ini, kamu mau meninggalkanku begitu saja? Jangan sampai aku menganggapmu pengkhianat, Jag!” ancamnya.

“Aku tidak berkhianat, Mur. Ini demi mengakhiri jalan kita yang sesat.” jelas Bajag.

Murti mendengus. Ia pindah posisi dan duduk di depan Bajag, masih dalam satu jok. Ia mengambil alih kemudi dari kekuasaan Bajag sementara pantatnya ia tancapkan di pangkuan Bajag. Pantaslah kalau Aisyah khawatir bila Bajag sudah bersama Murti karena setelah menjadi janda, Murti semakin terang-terangan dan semakin berani. Contohnya ya kali ini.

“Pegangi pahaku, Jag!” pinta Murti tegas.

“Kamu nggak bakalan jatuh, Mur. Ini belajar mobil, bukan belajar motor.” jelas Bajag santai.

“Apa sih susahnya membantu aku?” sungut Murti ngambek.

“Kamu sudah mulai mahir, Mur. Cobalah berani nyetir sendiri.” kata Bajag.

Murti mendorong Bajag kesal. Bajag jadi tidak punya ruang untuk sekedar melonggarkan badan. Mau tidak mau ia harus memegangi pinggul Murti agar tidak merosot ke bawah. Pinggul yang semakin bulat bagai biola. Murti memang telah tampil beda dan bergaya anak muda. Rambutnya dipotong pendek. Bulu matanya dibikin lentik. Bajunya model tank top tanpa lengan. Bawahnya dipadu dengan rok mini. Murti yang cantik jadi makin menarik. Tidak ada sama sekali kerut kerut di wajah dan kulitnya. Semua sama seperti puluhan tahun silam. Masih sangat kencang.

“Semakin muda saja kamu, Mur.” bisik Bajag.

“Semakin membuatmu tergoda kan?” Murti tersenyum.

Wanita pembelenggu memang punya seribu cara dan seribu pesona untuk membuat pria terjatuh. Itulah Murti, wanita pembelenggu paling berani yang membuat Bajag tak kuat hati. Kalau sudah begitu, Bajag langsung membayangkan wajah Aisyah. Ia harus bertahan demi cintanya pada Aisyah.

“Sudah cukup untuk hari ini, Mur. Dan kamu sudah bisa kemana-mana tanpa sopir lagi. Kamu bisa jadi sopir buat dirimu sendiri.” kata Bajag sambil menjauhkan tubuhnya.

“Bagaimana kalau kamu kuberi gaji tiga kali lipat?” tantang Murti.

“Aku menghargai jasa dan pengorbananmu padaku, Mur. Tapi aku harus mulai memikirkan diriku sendiri, hidupku sendiri.” tampik Bajag.

“Kita bisa hidup bersama sampai mati, Jag. Aku mencintaimu.” Murti memandang Bajag penuh rasa sayang.

“Akupun pernah mencintaimu, Mur. Tapi itu sudah lama sekali. Dan sekarang aku mencintai orang lain.” kata Bajag terus terang.

“Siapa dia, Jag! Siapa yang berani merenggut hatimu dariku?” seru Murti tak terima.

“Kelak kamu akan tahu siapa dia.” Bajag berkilah, tidak ingin menyeret Aisyah dalam masalah ini.

“Aku tidak sabar untuk tahu siapa dia. Biar aku cari sendiri.” tekad Murti. Ia mengantar Bajag sampai depan rumahnya. Murti berbasa-basi sejenak dengan Aisyah lalu pergi lagi entah kemana, sama sekali tidak curiga kalau gadis di depannya inilah yang sudah merebut hati pujaan hatinya..

Bajag senang karena Murti sudah pintar menyetir. Tapi melihat wajah Aisyah yang mendung, kesedihannya langsung menggantung. Bajag merangkul bahu Aisyah dan membawanya masuk ke dalam rumah. Mendung di wajah Aisyah masih belum sirna. Senyum di bibir merah itu tak kunjung merekah. Dan mata bening itu seakan menahan airmata agar tidak tumpah. Tapi itu gagal. Airmata Aisyah jatuh di dada Bajag.

“Menangislah sepuasmu, Aisyah. Habiskan kesedihanmu,” kata Bajag sabar.

“Mas Bajag jahat,” lirih suara Aisyah tersendat-sendat di sela tangis.

“Aku memang jahat, Aisyah. Aku membuatmu cemburu kan?” tebak Bajag.

“Bu Murti, Mas. Kenapa Mas Bajag tidak bisa lepas darinya?” tanya Aisyah.

“Aku ingin seperti itu, Aisyah. Tapi kebaikan Murti belum sempat kubalas.” sahut Bajag.

“Tidak adakah cara lain yang bisa mengurangi cemburu ini, Mas?” Aisyah semakin masuk ke dalam rengkuhan Bajag, menumpahkan cemburu yang serasa menghanguskan jiwa. Dihelanya napas lalu mendongak, sesaat diam begitu keningnya dikucup oleh Bajag.

“Bu Murti semakin cantik ya, Mas?” tanya Aisyah dengan suara lebih jelas.

“Itu penilaianmu?” Bajag bertanya balik.

“Juga semakin berani berpakaian, Mas.” tambah Aisyah.

“Kamu iri?” Bajag tersenyum sambil membelai wajah cantik Aisyah.

“Aah, Mas Bajag ini. Aku serius, Mas.” Aisyah merajuk.

Murti memang semakin berani, bukan hanya dalam hal penampilan, juga sudah semakin berani pergi sendiri. Masa-masa bebas ia nikmati dengan puas. Kini Murti sudah berada di dalam ruang karaoke salah satu kafe. Ia menyanyi sampai puas dengan ditemani sebotol minuman kelas atas. Pengunjung bersorak dan sebagian ikut berkaraoke dan berjoget bersamanya. Murti bagai bintang baru yang menyihir pecinta karaoke. Sampai larut malam Murti berada di kafe.

Murti bukan lagi seorang guru dan bukan pegawai negeri. Seisi kota sudah tahu kabar itu. Murti dipecat karena sering mangkir dari tugasnya mengajar. Dipecat karena murid-muridnya sering memergoki gurunya tiap malam keluyuran di kafe-kafe. Murtipun dipecat karena dianggap merusak citra pegawai negeri sipil. Tapi Murti tidak serta merta melarat. Malah kini menjadi salah satu konglomerat.

Rumahnya yang di komplek sudah dijual pada Aisyah. Murti kini tinggal di pusat kota, di perumahan residence dan menempati rumah super mewah bertingkat tiga. Hanya untuk dirinya sendiri. Apa pekerjaan Murti setelah dipecat tidak ada yang tahu dengan jelas. Yang pasti Murti sering didatangi orang dan wartawan. Sampai seisi komplek akhirnya tahu kalau Murti jadi bintang film dan penyanyi. Itu setelah warga komplek menonton sinetron yang dibintangi oleh Murti.

“Itu kan Bu Murti ya, Mas?” kata Aisyah pada Bajag saat nonton tv berdua. Seperti biasa, pakaian atasnya terbuka, menampakkan gundukan payudaranya yang besar, yang selalu jadi mainan favorit Bajag dikala senggang.

“Iya. Dia sudah merubah nasibnya, Aisyah.” kata Bajag sambil terus meremas dan mengusap-usapnya pelan. Putingnya yang mungil ia pilin-pilin ringan sambil sesekali menjilat dan mengecupnya lembut kalau sudah merasa tak tahan.

“Uhh… juga sikapnya ya, Mas. Ikut berubah,” lirih Aisyah diantara rintihannya. Hisapan Bajag pada ujung buah dadanya terasa geli sekali, namun Aisyah sama sekali tidak berniat untuk menghentikannya karena terus terang ia juga menikmatinya.

”Iya,” Bajag membenarkan perkataan Aisyah. Sikap Murti memang berubah seiring perubahan nasibnya. Setiap kali bertemu di jalan atau di pusat perbelanjaan, Murti hanya mau melambaikan tangan tanpa mau bertegur sapa, apalagi berbagi senyuman. Bajag sadar senyum Murti kini mahal dan berharga puluhan juta. Murti hanya mau tersenyum di televisi, tersenyum kepada orang-orang yang telah membayarnya berjuta-juta.

Seperti kacang lupa akan kulitnya, lupa pada komplek dan tanah kelahirannya, tempat nenek buyut dan orangtua serta suaminya dikubur. Murti tidak sekalipun mengunjungi komplek sejak namanya melejit. Lebih suka mengunjungi tempat dimana banyak orang mengagumi dan mengelu-elukan namanya. Bajag tentu makin senang karena perubahan nasib dan sikap Murti berimbas sangat besar pada diri dan kehidupannya. Ia kini bisa lebih mendekatkan diri dan memadukan hati bersama Aisyah.

“Apa kita perlu mengundang Bu Murti, Mas?” tanya Aisyah sambil mengusap mesra puncak kepala Bajag yang masih asyik menyusu.

“Tidak usah, Aisyah. Kita gelar resepsi sederhana saja. Cukup orang-orang komplek dan kerabatmu dari Cemorosewu.” jawab Bajag dengan mulut penuh bongkahan payudara Aisyah. Ia terus mencucup dan mengulumnya tanpa pernah merasa bosan.

“Saya sudah pesan dua ratus undangan, Mas. Semoga memberi restu pada pernikahan kita nanti.” wajah Aisyah memerah, tampak sangat menikmati sekali apa yang dilakukan Bajag pada tubuh sintalnya.

“Puji syukur, Aisyah. Sudah mantapkah hatimu?” tanya Bajag sambil mencucup puting susu kiri Aisyah kuat-kuat.

“Auw!” Aisyah menggelinjang geli, namun segera meminta Bajag agar melakukan juga pada yang kanan. ”Ehm… sudah, Mas. Saya ikhlas lahir batin menjadi istri Mas Bajag.” bisiknya dengan paras berbinar.

“Terima kasih, Aisyah. Aku akan berjuang menjadi suami yang baik buatmu.” Setelah mengangguk, Bajag melanjutkan kembali jilatan dan hisapannya di buah dada Aisyah.

“Saya percaya mas pasti bisa.” Yakin Aisyah. “Sudah ashar, Mas. Bukankah setelah ini Mas ada undangan ke musholla?” ingatnya sambil menarik kepala Bajag menjauh.

“Hampir aku lupa.” Bajag tersenyum, ”Terima kasih sudah mengingatkan.” katanya sambil kembali mencium puting Aisyah untuk yang terakhir kali.

Itulah Bajag yang sekarang. Ia telah menjelma kembali seperti saat masih kanak-kanak dulu. Ia kembali bahkan semakin rajin ke musholla untuk ikut pengajian dan sholat berjamaah. Suara merdu Bajag kembali terdengar lima kali dalam sehari mengumandangkan adzan. Dan di hari minggu seperti ini, Bajag punya aktivitas membantu Pak Ustadz mengajar anak-anak komplek mengaji dan qiroah.

Penduduk komplek sangat senang dan menaruh hormat padanya. Orang-orang mulai suka membandingkan Bajag dan Murti. Kata orang-orang komplek, lebih baik sesat terlebih dahulu lalu sungguh-sungguh tobat daripada sebaliknya. Kata orang-orang, Murti adalah contoh yang tidak baik. Kalau ingin jadi anak baik, tirulah Bajag, kata orang-orang tua pada anaknya. Tapi Bajag selalu meluruskan. Yang paling patut ditiru adalah hal-hal yang membawa kebaikan, jangan meniru jalan sesat yang pernah ia jalani. Itu selalu dikatakan Bajag.

Kebaikan itulah yang kini menulari komplek. Orang-orang tua pula yang menganjurkan Bajag agar segera menikahi Aisyah agar terhindar dari fitnah. Bajag tidak marah dan langsung memenuhi anjuran itu. Secara agama ia telah sah menjadi suami Aisyah disaksikan penghulu desa. Tinggal mengesahkan lewat jalur resmi. Dan resepsi pernikahan itu sudah dirancang, tinggal tunggu sebar undangan.

Lain ladang lain pula belalang. Lain Bajag tentu lain pula Murti. Sekarang Murti ada di salah satu pantai terkenal untuk menjalani sesi pemotretan. Ia dijadikan model sebuah majalah dewasa. Murti sudah siap dengan kostumnya berupa bikini merah hati. Gambarnya diambil beberapa kali dalam berbagai pose dan gaya yang berani nan menantang. Berlatar belakang pantai biru dan pantulan jingga mentari yang hampir tenggelam, lekukan tubuhnya sungguh indah dan mempesona, membuat fotografer tidak sedetikpun memicingkan mata.

“Lebih lebar, cut!” teriak sang pengarah gaya.

“Kakiku sakit,” rintih Murti.

“Sekali lagi. Setelah ini selesai.” kata laki-laki berkaca mata itu.

Murti kembali berpose, kali ini berbaring telentang di hamparan pasir putih. Tangan dan kakinya terentang lebar-lebar, membuat dadanya menghujam tajam dan menjulang ke langit. Kakinya membentang sangat lebar dan sudut-sudut selangkangannya sangat jelas membayang. Sang pengarah gaya tertawa puas, fotografer juga puas.

“Mbak Murti adalah model paling berani yang kami kontrak,” kata pengarah gaya.

“Saya hanya berusaha profesional, Mas. Sesuai perjanjian dalam kontrak.” kata Murti sambil membersihkan punggungnya dari pasir.

“Kami yakin edisi terbaru kami nanti laku keras. Silahkan kalau Mbak Murti mau mandi.”

“Terima kasih. Saya mau langsung pulang saja.” sahut Murti.

Selesai pemotretan, Murti langsung meninggalkan pantai. Entah kenapa ada sebuah kerinduan menyelinap. Ia rindu pada orang-orang yang telah terlupakan, terutama sekali rindu pada Bajag. Ingin sekali berkunjung ke komplek, tapi takut dan ragu. Takut akan dihujat oleh warga komplek yang telah membencinya. Ragu apakah Bajag masih mau menerimanya seperti dulu atau sudah berubah. Bagaimana pula dengan Aisyah, masihkah Aisyah menganggapnya seorang ibu dan kakak. Murti terbayang-bayang semua itu dan matanya berlinang. Ia memutar mobil dan mengurungkan niat berkunjung ke komplek.

Ditolehnya jam yang melingkar di lengan lalu menggumam pelan, “Aku harus syuting film.”

Syuting dan syuting terus, itulah kesibukan sehari-hari Murti. Tak peduli siang malam ia harus menjalani semuanya demi mendapatkan uang. Dengan cepat uang bisa ia dapat, namun secepat itu pula uang itu lenyap. Murti selalu merasa serba kurang. Kurang cantik, kurang seksi, dan kurang yang lain yang membuatnya rajin ke salon, rajin ke pusat-pusat senam demi menjaga tubuh.

“Mbak Murti,” sebuah suara memanggil.

Murti terhenyak. Ia membuka kaca mobil dan mendapati wajah yang sangat dikenalnya. Sayang sekali ia berada di lampu merah. “Hai, Dewi.” balasnya sambil melambaikan tangan.

“Mbak, ini undangan buat mbak. Datang ya,” kata Dewi.

“Kamu mau nikah?” tanya Murti.

“Iya. Maaf, saya buru buru. Ayo, Mbak.” Dewi pamit permisi.

Murti menyimpan undangan dari Dewi dan kembali menjalankan mobil karena lampu telah berubah hijau. Masih ada kawan lama yang tidak membencinya. Dewi masih sudi mengundangnya ke pesta pernikahan. Apakah Dewi juga mengundang Bajag? pertanyaan itu berseliweran di kepala Murti.

Tentu saja Dewi juga mengundang Bajag karena kini mereka bertetangga. Dewi telah membeli rumah di komplek, rumah milik almarhum Mbah Surti. Bahkan kini telah sampai di depan rumah Bajag. Kemudian memarkir mobilnya dan berjalan ke pintu rumah Bajag.

“Assalamualaikum,” teriaknya memberi salam dan mengetuk pintu.

“Waalaikum salam,” terdengar suara renyah menjawab salam. Tak lama kemudian pintu terbuka bersama seraut wajah cantik. “Mbak Dewi, silahkan masuk, Mbak.” kata Aisyah ramah

“Mana Bajag, Aisyah?” tanya Dewi.

“Tadi diajak Pak RT. Mbak Dewi ada perlu apa?” tanya Aisyah.

“Nih undangan buat kalian. Jangan sampai nggak datang ya?” Dewi mengancam sambil tersenyum.

“Mbak Dewi nikah? Kenapa nggak bilang-bilang, Mbak?” Aisyah terlihat ikut senang.

“Sengaja kubuat surprise buat kamu dan Bajag.” jawab Dewi.

“Selamat ya, Mbak. Kami pasti hadir.” janji Aisyah.

“Oh ya, Aisyah. Baru saja aku bertemu, Murti. Jadi sekalian kuundang dia.” terang Dewi.

“Bagaimana kabar Bu Murti, Mbak?” tanya Aisyah penasaran.

“Sepertinya baik baik saja. Murti semakin sering ada di tv ya,” kata Dewi.

“Iya, Mbak.” Aisyah mengangguk. ”Karirnya semakin maju. Saya ikut bersyukur.”

“Tapi Murti juga berubah, Aisyah. Aku sekarang jadi asing dengannya.” Dewi menggumam.

“Itulah, Mbak. Bukan cuma Mbak Dewi saja yang merasakan perubahan itu, saya dan Mas Bajag juga.” dukung Aisyah.

“Sangat disayangkan ya, Aisyah. Padahal kalian, terutama Bajag, adalah orang-orang terdekat Murti.” sahut Dewi. ”Sudah ah. Aku pulang dulu. Sampaikan salam ke Bajag. Assalamualaikum,” wanita itu kemudian pamit. “Waalaikumsalam,” jawab Aisyah sambil mengantar ke depan pintu.

Cerita Sex Nafsu Syahwat Ustadz

Sepeninggal Dewi, tak sampai sepuluh menit kemudian, Bajag pulang. Bahkan Aisyah masih belum menyimpan undangan yang tergeletak di atas meja. Aisyah segera membawa undangan itu dan menyusul Bajag ke dalam ruang tengah. Ia menggelar karpet dan memberi Bajag bantal.

“Ada undangan dari Mbak Dewi, Mas.” bisiknya mesra.

“Undangan apa, Aisyah. Biar jelas, bicara dekat sini.” kata Bajag.

Aisyah menggeser duduknya dan merapat ke telinga Bajag, membisikkan sesuatu yang membuat Bajag terkejut. Bajag segera menyambar undangan dari tangan Aisyah, tapi Aisyah mempermainkan undangan itu hingga Bajag jadi gemas. Sekali tubruk, Aisyah terguling-guling di karpet dan Bajag memungut undangan yang terlepas dari tangan Aisyah.

“Akhirnya menikah juga si Dewi.” kata Bajag gembira.

“Mas kenal calon suaminya?” tanya Aisyah.

“Tidak terlalu kenal, tapi aku tahu Aldo adalah pegawai kecamatan juga.” jawab Bajag.

“Berarti cinta lokasi dong. Enak ya, Mas, mereka sama-sama pegawai negeri.”