
Cerita Sex Budak Anak Orang Kaya – Selamat malam sobat Ngocokers. Perkenalkan namaku Davira, seorang ibu rumah tangga yang sudah berumur 38 tahun. Secara fisik, aku masih merawat diriku sendiri. Jadi tubuhku tidak kurus dan tidak gemuk. Suamiku, mas Abbas ia lebih tua dua tahun dari diriku sendiri.
Ia bekerja di sebuah instansi swasta yang cukup besar. Suamiku jarang berada di rumah, karena sering dinas keluar kota. Bahkan dalam sebulan hanya bisa sekali pulang. Mau tak mau itu harus dilakukan olehnya untuk menafkahi keluarga.
Aku yang hanya tamatan SMA memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Bagaimanapun mas Abbas setuju dengan keputusanku untuk mengurus rumah dan anak wayang kami semata.
Kamu berdua sudah dikaruniai anak satu, Ardika. Ia masih berumur 16 tahun. Ia kelas 2 SMA, di sekolah negeri yang berada di dekat rumah. Anaknya lemah lembut, tidak punya hati untuk menyakiti. Dan cukup berprestasi di sekolahnya.
Cerita Sex Budak Anak Orang Kaya Ngocoks Aku bersyukur mempunyai anak seperti dia, yang berbakti kepada orang tuanya, jadi dia cukup meringankan beban tugasku di rumah. Dan Ia juga mengerti dan tidak mempermasalahkan kenapa ayahnya jarang di rumah. Sore ini aku sedang menjalankan rutinitasku sebagai ibu rumah tangga yaitu menyapu halaman rumah.
Keadaan ekonomi yang pas-pasan, kami sekeluarga belum mampu mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga. Tentu saja, semua pekerjaan rumah harus saya kerjakan. Namun terkadang bila ada waktu senggang, Ardika akan membantu saya.
Ketika aku sedang menyapu, pada saat yang sama Ardika pulang dari sekolah. Anakku itu sedang di rangkul oleh seseorang. Aku lihat dia pulang bersama kakak kelasnya, Davin. Dia anak dari pejabat yang kaya raya, sehingga warga sekitar sungkan bahkan cenderung takut sama anak itu.
Ketika mereka berdua berjalan mendekat, aku terperangah melihat perbedaan fisik mereka. Ardika anakku, bertubuh kurus dengan tinggi badan standar orang indonesia. Berbanding terbalik dengan Davin sangatlah tinggi dan gagah. Jadi perbedaan mereka sangatlah mencolok, bahkan jika dilihat dari jauh sekalipun.
Kuperhatikan mereka terus yang semakin dekat. Saat hendak menyapa mereka, aku menyadari sesuatu “Hmm….” ada yang aneh dengan putraku itu. Kalau di teliiti, kenapa baju Ardika acak-acakan begitu ya. Astaga…..tubuh Ardika penuh dengan memar-memar, seperti habis di pukul. Lalu aku berlari mendekati mereka yang masih berjalan.
“Loh kamu kenapa nak? kok kamu memar gitu sih” tanyaku panik.
“Ehm…oh….i-ni aku tad…”. Ardika mencoba menjawabku namun dia malah tergagap. Ada gerangan apa ini?
“Tadi dia jatuh dari tangga tante” tiba-tiba Davin memotong anakku, berhenti untuk berbicara lebih jauh.
“Beneran kamu tadi jatuh dari tangga?” tanyaku ke Ardika memastikan.
“Iya gak Bro? Iya kan?” ucap Davin seraya meremas meremas Ardika dengan keras sampai anakku mengernyit seperti menahan sakit. Kayaknya kakak kelas Ardika itu terkesan menekan Ardika. Aku heran dengan perlakuan Davin, tapi sayang aku tak berani menegurnya.
“I-iya” jawab anakku sambil menggangguk. Gelagat anakku terlihat seperti ketakutan terhadap Davin ini. Sebagai seorang ibu, saya tahu ada yang disembunyikan oleh Ardika.
“Ada-ada saja kamu Don. Yauda sini Ibu obatin dulu biar tidak membuat lukamu parah” ucapku khawatir. Yang menjadi perhatianku sekarang adalah mengobati luka-lukanya dulu, baru saya bertanya mengapa dia bisa begini.
“Tahu ni tan, masa si Ardika jatuh dari tangga. Hahahaha” ucap Davin yang langsung mengikuti tawa tertawa-bahak.
Aku tidak tanggapi Davin, kubiarkan saja dia tertawa-tawa.
“Yauda tante, saya izin dulu. Sampai ketemu besok lagi Bro” pamit Davin, lalu ia pergi meninggalkan aku dan Ardika. Sedari tadi Davin selalu memandangiku dengan aneh. Ah sudahlah mungkin cuma perasaanku saja.
Setelah Davin pergi, aku langsung bertanya kepada anakku “Ibu mau kamu jujur. Kamu sebenarnya kenapa bisa memar dan luka ini?”.
“Ehmmm A-anu Bu..
“Ardika Jujur sama Ibu!” ucapku dengan tegas, supaya dia jujur.
“T-tadi aku sekolah spa-sparringan sama teman-teman”
“Sparingan itu apa sayang?” tanyaku tidak mengerti istilah itu.
“yaaa…jadi aku berantem gitu sama teman”.
“Aduhh sayang kamu kok mainnya begituan sih?” Kenapa pula Ardika bermain seperti itu, ada-ada saja kelakuan anak zaman sekarang pikirku.
“Ha-ha-habisnya aku di paksa sama Davin”.
“Davin? tadi dia bilang kamu bilang jatuh dari tangga loh”.
“Iya bu, Aku Bohong sama ibu”.
“Kenapa kamu tadi bohong sama Ibu?”
“Soalnya aku takut sama Davin Bu. Kan ibu tahu kalau dia kakak kelas aku” jawab di sambil menunduk menatap ke bawah. Sudah kuduga dia ditekan oleh Davin.
“Kok takut sama teman kamu sendiri sih” tanyaku kembali. Sebenarnya aku tidak heran, orang yang lebih tua saja sungkan sama pemuda itu.
“Habisnya kalau nggak nurut sama dia, nanti aku dikeroyok sama yang lain Bu”
“Aduhhh Ardikaii…memangnya kamu tidak mencoba untuk melapor ke guru kamu?”
“Bakal percuma bu. Kan ibu dia tahu anak orang berpengaruh, guru-guru mana yang berani bu. Dan diakan juga anak emas di sekolah Bu” jawab anakku tertunduk lesu. Aku menghela nafas mendengar penuturan Ardika.“ Ya sudah deh, yuk masuk rumah. Kita obatin dulu lukamu ini” ajakku.
“Ad-duh bu……sakittt” erang anakku kesakitan saat aku mengoleskan krim di bagian tubuhnya yang memar-memar.
“Sebenernya Davin itu sering ngebuli aku Bu” ucap Ardika dengan pelan. Aku kaget dengan fakta ini.
“Terus kamu kenapa malah mainnya sama Davin sih” tanyaku tidak mengerti, sambil terus mengolesi Ardika.
“Soalnya…aduh… perihhh“
“Soalnya dia anak yang populer di sekolah bu, jadi kalau berteman sama dia kan keren bu…..”
“Ah kamu Don, ada-ada saja” ucapku jengkel mendengar alasan anakku. Bisa-bisanya dia bermain dengan orang seperti Davin demi populer di sekolah.
“Kamu mending cari teman yang lebih baik Don, masa kamu rela di buli gini sih” saranku.
“Tapi kalau aku tidak berteman sama Davin, nanti makin parah perlakuannya ke Ardika bu” jelas Ardika yang tetap ngotot untuk berteman dengan orang seperti itu.
“Aduh Don, kamu nyari penyakit saja deh. Ya sudah, terserah kamu bagaimana, tapi setidaknya kamu harus berani melawan ya Don” ucapku.
“I-ya Bu” jawabnya singkat.
Sambil memasang perban untuk Ardika, aku teringat kejadian saat bertemu Davin tadi. Menatap anak itu terasa menelanjangi tubuhku. Walaupun jengkel di pandangi mesum begitu, namun ada rasa senang dan bangga juga. Di umur yang sudah tidak muda lagi, tubuhku masih di lirik oleh anak muda.
Keesokan harinya.
Sekarang aku sedang bersantai sambil menonton TV. Diriku hanya memakai kaos dan rok panjang. Selesai sudah pekerajaan rumah ini, saat merehatkan tubuh ini. Sesekali aku mencoba chattingan suami, menanyakan kapan dia pulang. Karena seharusnya sebentar lagi dia pulang dari dinasnya. Tapi pesan chat ku belum di balas juga dari pagi. ‘Haaahhh mas kamu dimana? Aku kangen’ gundahku dalam hati.
*Tring Tring Tring
Sontak aku terkaget dengan bunyi dering dari handphone-ku. Saya tidak mengenal nomor ini. Ah lebih baik aku angkat saja pikirku, siapa yang tahu genting.
“Lingkaran cahaya?” ucapku menyapa duluan.
“Tante, tante, tante Ana” teriak seseorang dari sana. Kalau tidak salah ini suara Davin.
“Tante ini Davin, si Ardika kecelakaan. Tante kesini sekarang” ujar Davin dengan panik.
“Hah?!” pedikku kaget.
“Ardika Kecelakaan dimana?”.
“Di xxx, saya sharelok sekarang ya tan”.
“Ok-ok ditunggu nak”
Berdetik-detik kemudian aku terima sharelok dari Davin. Lalu saya langsung memesan ojek online. Saya meminta kepada kang ojek untuk ke tempat tujuan secepat mungkin.
Keadaan darurat seperti ini tidak bisa lagi berpikir Keadaan jernih. Aduh nak, kamu kecelakaan apa sih, gusarku. Mudah-mudahan kamu tidak kenapa-kenapa Don.
Perlu pembaca Ngocokers tahu. Selama Perjalanan aku merasa gundah. Khawatir dengan keadaan anak-ku. Tak lupa aku kirim pesan ke suamiku, berharap dia membaca dan segera pulang ke rumah.
Ketika aku sampai sana. Setelah membayar kang ojeknya, saya langsung menjadi binggung saat melihat tempat yang dikatakan Davin. Apa benar ini tempatnya ya pikirku binggung. Padahal ini hanya terlihat seperti rumah kosong saja. Tapi lokasi ini sudah sesuai dengan apa yang Davin kirimkan tadi. Aneh pikirku, kenapa Ardika tidak di bawa ke puskemas atau rumah sakit ya, malah ke rumah ini.
*Clek….. Pintu rumah itu terbuka. Terlihat Davin keluar dari rumah itu. Ah ini benar tempatnya, dadaku menjadi lega rasanya.
“Tan, ayo masuk. Ardika di dalem sini” ajak Davin tidur. Tanpa bertanya, aku segera lari ke rumah itu, tak sabar menemui anakku. Ketika aku masuk ke dalam, aneh, kulihat tidak ada siapa-siapa di situ. Hanya ada perabotan rumah yang terlihat.
“Vin, Ardikanya mana?” tanyaku binggung sambil terus mencari keberadaan anak kandungku.
Tatkala aku hendak menoleh ke Davin, tiba-tiba tubuhku terdorong dengan kuat hingga aku terhempas di sofa.
“Apaan-apaan ini Davin” tanyaku kepada Davin. Namun seketika aku bergidik ketakutan melihat perangai Davin yang dingin menyeramkan. Ia terlihat bengis dan seperti dalam keadaan birahi tinggi, terasa dia akan memangsaku.
Menyadari apa yang akan terjadi, mataku terbuka lebar dan jantungku berdetak semakin cepat. Oh tidak….. apakah aku akan diperkosa olehnya.
“Hehehehe” tawa Davin lalu tersenyum bahagia. Hal itu membuat semakin takut.
“Ka-kamu mau ngapain?” tanyaku ketakutan. Dia semakin mendekati dirinya yang berada di sofa. Aku pun menjauh terus, hingga mentok di ujung sofa. Aku tak bisa lari-lari kemana-kemana lagi. Diriku bagaikan mangsa yang terperangkap.
“Aku mau entotin tante Ana” jawab dia. Terlihat raut mukanya seperti seekor predator yang menatap mangsanya.
“Jangan Vin, jangan. Saya ini ibu teman kamu, jangan apa-apain ibu” ibaku kepadanya.
Tanpa bicara lagi dia menyergap tubuhku. Mulutnya mencoba menciumi mulutku. Aku gerakan kepalaku kekiri dan kekanan, menghindari ciumannya. Tapi aku kalah tenaga dengan pemuda ini.
“Ohhhh….” desah keluar dari mulutku saat Davin meremas payudara kiriku dengan keras. Tak ayal mulutku terbuka, ia menyergap mulutku.
Aku mendorong tubuh ABG itu dengan jagoan tenaga yang kupunya, hingga dia tersungkur. Belum aku bisa berdiri dengan sempurna, dia kembali mendorong tubuhku ke sofa. Lalu ia menahan tubuhku dengan sempurna, sehingga aku tidak bisa bergerak lagi.
“Dengar ya percuma tante teriak, nggak bakal nolongin!” dan Davin. Ia mencekik leherku dengan kencang hingga aku kesakitan.
“Dan lapor polisi juga percuma, tante tahu kan siapa ayah saya!” lanjut dia mengancam diriku sendiri. Pemandangannya sangat mengerikan.
“Tante nggak maukan kalau Ardika kenapa-kenapa?” kali ini dia mengancam dengan membawa-bawa Ardika anakku. Aku menggeleng.
“Tante pasti sudah tahukan kalau Ardika kemarin sebenarnya bukan jatuh dari tangga” lanjut Davin. Aku mengganggu pelan-pelan. Aku mengerti kemana arah ucapannya.
“Nah tante nggak mau kan, kalau Ardika merasakan sakit lebih parah dari yang kemarin” ucap dia mengancam kesalamatan Ardika.
“Jadi nurut sama Davin ya”.
“Tolong Vin, apapun yang kamu minta tante akan sanggunpin. Tapi jangan perkos@ tante ya. Please ya, tante nggak bakal bilang siapa-siapa kok” ibaku berusaha mengubah pikiran Davin.
“Ok kalau begitu, apa tante siap kasih nyawa anak tante buat Davin!” kata dia dengan wajah datar disertai dinginnya. Aku tercekat dengan ucapan Davin. Dia berani membunuh anakku demi tubuhku.
Tetap dalam tumpang tindih Davin, Aku membalas seribu bahasa, binggung dengan keadaan ini. Namun sebagai seorang ibu, aku harus berkorban demi anakku. Aku harus merelakan tubuh ini untuk melindungi Ardika. Maafkan aku mas Abbas, tubuh ini akan di nodai oleh orang lain.
“Gimana? Nyawa atau tante tubuh?” kembali Davin bertanya dengan dingin, membuyarkan pikiranku yang sedang kalut.
“Ba-baik tante akan menyerahkan tubuh tante. Tapi kamu jangan pernah lagi menyakiti Ardika!” ucapku dengan tegas.
Davin tersenyum mendengar permintaanku “Ok itu hal mudah. Saya tidak akan menyakiti Ardika lagi”. Lalu ia mendekatkan kepalanya ke dalam.
“Dan cukup sekali ini saja” kembali aku mengucapkan, sebelum bibirku ini dilumat. Namun hanya di jawab dengan senyuman oleh Davin. Harapanku, pemuda ini menepati janjinya.
Davin tempelkan ciuman di bibirku. Di kecupi bibirku, Sekarang ia berusaha memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Namun aku tetap bertahan, tetap mingkem. Dia menarik kepalanya menjauh, hingga aku bisa melihat mukanya yang dingin.
“Tan” ucap dia singkat dengan mata melotot marah, terasa sangat menakutkan. Aku pasrah.
Kembali ia menciumi bibirku, kali ini aku membiarkan lidahnya masuk ke dalam mulutku. Tak ayal lidahku sekarang dibeli oleh lidah Davin. Lama mulut kami bermain, saya didikte oleh Davin. Pemuda suka membuli anakku. Belum pernah aku bercumbu seperti ini. Rupanya anak muda ini sangat jago permainan lidahnya. Mas Abbas saja tidak seperti ini.
Davin juga meramas kedua buah dadaku. Tubuhku pun bereaksi, karena lama tidak disentuh oleh suamiku. Permainan Davin di mulut dan di dadaku membuatku hayut, lupa dengan segalanya. Kupejamkan mataku.
Terasa satu tangan mencium turun ke bagian bawah tubuhku. Aku merasakan rok panjangku di singkap. Udara dingin menerpa pahaku yang terekspos.
“Ahhh…..Davin” lirihku, ketika telapak Davin mengusap celana dalamku. Terasa telapak tangan dengan usapan lembut-ngusap permukaan serambi lempitku yang masih tertutup celana dalam. Saya terbuai dengan perlakukaanya, terasa serambi lempitku mengeluarkan lendirnya Diriku tidak bisa berbohong lagi, ada rasa nikmat yang muncul. Astaga apa yang dipikirkan. Tidak-tidak, saya tidak boleh menikmati ini. Aku hanya melakukan ini demi Ardika.
“Lembab tan, ceritanya nikmatin nih?” sindir Davin, yang membuat wajahku memerah.
Sekarang aku terus dicumbui dengan teman anakku, selagi serambi lempitku yang masih tertutup celana dalam itu di rangsang olehnya.
Davin melepaskan ciumannya. Aku pasrah ketika ia mengubah posisiku menjadi bersandar di sofa ini. Saya hanya bisa menatap Davin dengan sayu. Aku ingin Davin menghentikan perbuatannya, namun hati kecilku berkata lain. Tak bisa kupungkiri ada rasa birahi sudah tak tahan ingin di puaskan.
Ia singkirkan meja ruang tamu, lalu berlutut di depanku. Ia menyingkap rokku hingga tersangkut di pinggulku. Terpampanglah kedua pahaku yang berisi dan celana dalamku yang sudah basah.
Kembali Davin merangsang diriku dengan mengelus-elus pelan lembut paha-pahaku. Bulu kudukku pun berdiri karena rasa geli hinggap di kedua pahaku.
“Paha tante benar-benar mulus. Sejak kenal sama tante, aku jadi penasaran dengan tubuh tante” ucap Davin.
Ia lebarkan kedua kakiku. Hingga semakin terlihat celana dalamku yang sudah basah. Ia menutup kepalanya ke selangkanganku. Ia mengendus-ngendus celana dalamku. Mencoba menghirup bau serambi lempitku.
“Hmmm….wangi tan, aku suka” puji Davin. Tentu saja wangi dan bersih, aku selalu merawatnya. Apapula kata mas Abbas nanti ketika dia pulang dinas mendapati serambi lempitku jorok dan bau.
“Ohhhh…Davinn” erangku ketika hidung Davin menyentuh celana dalamku. Terasa batang hidungnya menusuk bagian serambi lempitku. Ia naik turunkan kepalanya, lalu ayal batang hidungnya membelah bibir serambi lempitku yang masih tertutup celana dalamku. Sehingga celana dalamku tercetak membentuk bibir serambi lempitku.
“Davinnnn….” terus aku mendesah-desah, merasakan rangsangan yang terasa nikmat di serambi lempitku. Kemaluanku semakin banjir mengeluarkan lendir nikmatnya yang lengket. Masih tertutup celana dalam saja sudah senikmat ini, apalagi jika bersentuhan langsung. Astaga apa yang dipikirkan lagi, padahal saya sedang mau perkosa tapi malah memikirkan kemungkinan kenikmatan yang kudapat di masa depan. Nampaknya aku malah semakin lupa diri karena rasa enak yang kurasakan sekarang.
Tanpa memlepasnya, ia menyingkap celana dalamku ke samping. Sehingga lubang serambi lempitku yang sudah basah serta jembut lebatnya terpampang dengan jelas di hadapan Davin.
Dengan punggungku yang tetap bersandar di sofa, ia menarik tubuhku turun sehingga pantatku pas di ujung dudukan sofa. Ia tatap nafsu lubang cintaku.
“Ahhhh……Daviiinnnn” desahku lepas dari mulutku saat Davin memasukan satu jari telunjuknya ke dalam serambi lempitku.
“Gilaaaaa tan, ini serambi lempit masih sempit banget” ucap Davin memujiku liang peranakanku. Kini ia memaju-mundurkan lehernya dengan cepat ke dalam lubang serambi lempitku. Aku harus menjaga wibawaku, tak ingin melihat menikmati tusukan durian. Maka dari itu aku berusaha keras untuk tidak mendesah-desah.
“Sudahlah, nggak usah di tahan-tahan. Lepasin saja tan”. Ternyata Davin sadar dengan upayaku yang menahan desah-desahan agar tidak keluar dari mulutku. Jadi percuma saja aku pura-pura lagi.
“Ahhhh……” desahku lepas kencang dari mulutku. Ia senang tersenyum mendengar senangnya nikmatku. Diriku berhasil ditaklukkan oleh pembuli anakku.
“Enak kan tan? Ini baru jari lho, belum titit aku yang masuk ke sini” ucap Davin. Aku tidak tanggapi ucapannya. Ia terus mengerjaiku, bahkan dia menambahkan satu jari lagi. Akupun terpejam memahami rasa yang nikmat ini. Maafkan mas, aku sedang diperkos@ tapi aku malah mulai menikmati ini.
Hmmm……apa ini…. kini ada benda lunak basah yang sedang menyentuh serambi lempitku. Kubuka mataku, ternyata lidah Davin sedang menjilati bibir serambi lempitku. Ohhhh ini nikmat sekali ucapku dalam batin. Mas Abbas tidak melakukan ini sambil berbaring.
“Ohhhh…Davin” erangku keenakan ketika lidah Davin menekan-nekan itilku yang sudah keras. Mulutnya pun mengecupi, menyedoti, menggigiti itilku. Rasa nikmat pun semakin menguasai tubuhku. Mas Abbas kenapa kamu tidak pernah melakukan ini padaku. Ohhhh….ini sangat nikmattttttt.
Bersambung… Kini aku seorang ibu rumah tangga mendesah-desah nikmat karena jari-jari teman anakku keluar masuk ke lubang serambi lempitku dengan cepat. Jangan lupa mulutnya juga hingga ke serambi lempitku. Tak ayal rasa orgasme gelitik pun datang mendekati diriku.
Tak lama….
“Davinn……tante…dapeettt…..ohhhhhhh” Aku melolong panjang merasakan kenikmatan orgasme. Ini sungguh-sungguh nikmat.
Aku mendapatkan orgasme hanya dengan mulut dan jari-jari Davin. Duniaku berasa berputar merasakan puncak kenikmatan ini. Tubuhku bergetar-getar tidak karuan. serambi lempitku juga mengeluarkan cairan orgasme dengan derasnya, membasahi sela-sela pantatku.
“Hh….hh…hh….” deru nafasku berat.
“Enak tan jilmeknya?” tanya Davin vulgar sambil terus mengecupi pahaku yang mulus.
“……” Aku hanya diam.
“TAN!” galak Davin tidur.
“He-eh” singkatku
“HE-EH APA! JAWAB!” teriak Davin menggeleggar.
“I-ya enak Davin” jawabku dengan takut. Tapi memang benar enak kok.
“Apanya yang enak?” lanjut Davin bertanya. Kali ini dia sudah tenang.
“serambi lempit tante Vin, tante belum pernah ngerasain di jilat-jilat gitu” jawabku jujur, tak ingin lagi di bentak olehnya.
“Hahaha, masa sih tan? Oh iya ini serambi lempit namanya. Coba ngomong tan” pinta Davin
“serambi lempit” ucapku geli. Tentu sajaku malu berbicara seperti itu dengan orang lain. Sebenarnya aku sudah biasa berbicara vulgar dan jorok bersama mas Abbas, biasa berkata seperti itu untuk menambah panas permainan kasur. Namun kali ini aku melakukannya dengan paksa.
“Hahahaha biasa-in ya tan” perintahnya berbaring.
Rasa diterima saat mendekatiku, karena mendapatkan orgasme bukan dari suamiku. Batinku berkecamuk tidak karuan. Batinku berkata ‘Maafkan aku mas, semua kulakukan ini demi Ardika. Ardika maafkan ibumu nak, ibu lakukan ini agar kamu tidak kenapa-kenapa’.
Davin menegakkan tubuhnya, sehingga aku melihat celana abu-abunya yang mengelembung besar. Aku menelan ludahku membayangkan besar kemaluan Davin. Lagi-lagi aku berpikir yang tidak-tidak. Walau begitu rasa keinginan tahuan terus hinggap dalam otakku. Nampaknya karena orgasme terhenti, membuatku ingin segera di setebuhi.
“Davin, Please, sudah ya Vin, kamu sudah bikin tante bisa orgasme. Jangan setubuhi ibu temanmu ini, jangan perkos@ tante“ mohonku kepada Davin. Meski penasaran dengan ukuran kemaluan Davin, tetap saja ini salah. Aku tidak boleh menjejali janji suciku dengan mas Abbas.
Davin tidak mempedulikan permohonanku. Dengan menghilangkan ia melepas seluruh celana abu-abunya serta celana dalam. Lalu terpampanglah kemaluannya….
Astaga……
Besar sekali……..
Panjang pula…..
Berurat……
Terbelalak tidak percaya, anak seumurannya memiliki kemaluan sebesar itu. Milik mas Abbas hanya setengah dari itu. Dan besarnya juga sangat jauh. Kepala rudalnya sudah banjir dengan air mazi, hingga tetesan jatuh ke serambi lempitku yang berada tepat di bawahnya.
Kemudian ia berlutut di depan selangkanganku, lalu ia meletakkan rudal besar di atas permukaan serambi lempitku. *Buk…. Bunyinya, terasa berat dan keras ketika rudal itu jatuh di atas serambi lempitku.
Aku bisa merasakan betapa keras dan panasnya rudal Davin yang berada di atas serambi lempitku Berbeda dengan milik mas Abbas yang tidak sekeras ini.
“Kenapa tan? rudal aku besar kan” tanya Davin dengan bangganya. Ia mengumpulkan mataku yang memandang takjub kemaluannya. Harus kuakui, kemaluan dia memang jauh lebih besar daripada yang dimilikinya mas Abbas. Namun tak kujawab pertanyaan Davin, aku tidak ingin dia besar kepala.
“JAWAB!” geram Davin marah karena aku hanya diam.
“I-ya besar” jawabku takut.
“Apanya yang besar?!” lanjut Davin.
“Pe-rudal kamu” jawabku.
“Bukan rudal, tapi rudal!” kembali Davin mengucapkan dengan geram marah.
“I-ya titit kamu besar Vin” lirihku.
“Hahaha begitu dong. Jangan dilawan lagi, nanti ada tante bakal sakit hati. Sekarang nikmatin saja ya” anjur Davin saya. Tidak, tidak, Aku sedang dalam perkosa!. Aku tidak boleh terbuai dengan kenikmatan ini.
Davin gesekkan kepala rudal di bagian serambi lempitku, sesekali kepala rudalnya menyyundul klitorisku yang sudah keras. Ia juga menggesekan batang tititnya di klitorisku, dengan begitu aku merasakan urat-urat besarnya yang berdenyut-denyut kuat. Diriku mengerang-erang nikmat.
Dirasa cukup basah Davin melesakan kepala titit ke dalam lubang serambi lempitku. “Sempit bangetttt ini serambi lempitkkk…..” erang Davin. Berkali-kali ia selipkan dan keluarkan kepala rudal di lubangku. Sepertinya dia ingin memancing birahiku.
Aku mengerang keras merasakan lubang serambi lempitku yang saat ini ditembusi oleh kepala kon…rudal Davin. Dengan perlahan rudal Davin semakin masuk ke dalam serambi lempitku. Selama itu aku menutup mukaku dengan kedua telapak tangan
*Bless…. Aku dan Davin mendesah bersamaan saat pertemuan umum kami sudah sempurna.
Saya dapat merasakan denyut urat-urat yang rudal Davin yang sekarang tertancap dengan sempurna. Tak hanya itu, aku bisa merasakan rudal Davin menyentuh bagian liang serambi lempitku yang belum pernah disentuh oleh mas Abbas. rudal Davin memang luar biasa menurutku.
Sudah menguasai diri, kusingkirkan kedua telapak tangan yang menutupi wajahku. Kulihat Davin terpejam sambil menganga. Nampaknya dia sedang menikmati liang serambi lempitku yang masih sempit ini.
Sekilas aku melihat cincin perkawinanku di jari manisku. Setitik air mata keluar dari mataku. Aku menangis karena aku baru saja mengkhinati mas Abbas, dengan membiarkan orang lain masuk.
“Sudahlah jangan nangis tan. Anggap saja tante melakukan ini demi Ardika” ucap Davin mencoba menenangkanku.
Ya……
Aku melakukan ini semua demi Anakku.
Ini semua demi Ardika. Aku sebagai ibunya, harus melindungi anakku.
Ya….Itulah alasan pembenarku.
Melihatku sudah tenang, dengan tangannya, Davin memegang kedua pahaku. Lalu ia menggerakan pinggulnya dengan pelan. Merojoki pelan liang nikmatku dengan tititnya. Hasilnya desahku membahana di ruang tamu ini, merasakan batang berurat Davin menggesek nikmatnya dinding serambi lempitku. Pintu rahimku di sundul-sundul oleh kepala rudalnya.
“Ah….ah…..ah….” desahku di setiap tumbukan kemaluan besar Davin di serambi lempitku.
Semakin lama genjotan rudal Davin semakin cepat, memuaskan. Rasa nikmat yang timbul pun semakin tidak terkira, tak pernah saya merasakan rasa enak seperti ini.
Dengan mas Abbas saja tidak pernah seenak ini. Maaf mas aku sudah berusaha, tapi diriku malah mulai menikmati hujaman titit orang lain di serambi lempitku, yang harusnya hanyak milikmu. Rasa bersalah mulai memudar dalam benakku.
Sambil terus menggenjot diriku, pembuli Ardika ini menyingkap kaos lebar yang kupakai. Lalu ia meremas kedua buah dadaku yang masih terutup oleh BH. Kemudian ia turunkan kedua cup bh-ku, sehingga payudaraku bebas tanpa dihalangi apapun lagi. Kini kedua buah dadaku bergerak tidak karuan akibat gempuran Davin di tubuhku.
“Davinnn….pelannn….ah..ah…sakit” Ia remas kedua payudaraku dengan keras hingga aku kesakitan.
Kira-kira sudah 20 menitan dia menggumuliku, terasa aku bisa mencapai orgasme untuk kedua kalinya untuk hari ini. Kali ini kugapai puncak nikmat dengan disetebuhi sempurna oleh orang yang membuli anakku.
“Davin…pelannn….tanteeee…mau..orgasmeeee….akhhhh” desahku panjang ketika orgasme mencapai diriku. Punggungku melengkung ke atas.
“Ardikaii….. lihattt gw bikin nyokap lu ngecrit sama titit gw…..” racau Davin. Mendengar nama anakku, sekilas rasa bersalah kembali hadir. Namun rasa puas itu kalah dengan rasa nikmat orgasme yang dirasakan ini.
“Davinn…. awhhhhhh” aku orgasme.
“Ohhh…. ngejepitttt… bangsatttt…” desahh Davin karena liang serambi lempitku meremas batang rudalnya ketika aku sedang orgasme hebat. Aku pejamkan mataku, merasakanpi orgasme yang luar biasa ini. Ini adalah orgasme terbaik yang pernah kurasakan. Anak ini benar-benar hebat.
Davin menarik diri dari tubuhku, hingga rudal besarnya terlepas dari jepitan lubang serambi lempitku. Aku merasakan diriku kosong menjadi melompong ketika rudal Davin tercabut dari tubuhku.
“Lihat tan, titit saya jadi lengket sama lendir tante nih” kubuka mataku, melihat sekujur rudal Davin terbalur cairan putih yang merupakan lendir orgasmeku.
“Hh…..hh….hh…..hh…..” nafasku berat.
Nikmat orgasme pun berkelanjutan-angsur memudar. Pikiran rasionalku pun kembali. Tersadar apa yang baru saja terjadi. Baru saja aku mendapatkan orgasme dengan orang lain, yang bukan suamiku.
Kulihat kakak kelas sekaligus tukang buli anakku itu bersiap kembali untuk memacu birahi menggunakan tubuhku itu. “Davin….sudah ya….cukup ya….plissss” ucapku pelan memohon, berharap dia menghentikan kegilaan ini.
“Belum, saya saja belum keluar”
“Inget dengan janji tante, kalau tidak……” ucap Davin menggantungkan ucapannya. Tanpa diberitahu aku tahu maksudnya.
Harapanku untuk menyudahi ini semua pun sirna. Percuma aku melawan lagi, yang malah membahayakan Ardika, bahkan suamiku. Mau tak mau aku pasrah dengan nasibku ini, membiarkan tubuhku dinikmati oleh Davin.
“Pelan Daviiinnnn…..okhhh….gedeeee….” desahku ketika rudal besar Davin kembali memasuki diriku.
Tanpa ancang-ancang, Davin langsung menyetubuhi dengan beringas. Desahan aku dan Davin saling bersahutan, suaranya memenuhi ruangan ini, bahkan seluruh rumah ini.
Bermenit-menit lamanya, akhirnya Davin mendapatkan orgasmenya. “Okhnnnn……tante sayaaaa…mauuuu…..keluarrr….” teriak Davin kencang. Mendengar itu aku sadar akan konsekuensinya kalau anak ini berejakulasi di dalam serambi lempitku. Ya Hamil, aku bisa hamil oleh pemuda ini.
“Pleaseeee…okhhhh…..ja-jangannn….di….dalammmm…nhghhh….…nantii…..tan-teeee….nghhh-hamilll……” mohonku di sela-sela genjotan ganas Davin. Aku tak mau mengandung anak dari orang yang sering menyakiti anakku.
Tapi teman anakku ini tidak menghiraukan permohonanku. Ia malah semakin beringas menggenjoti dirinya sendiri. Hasilnya aku sendiri akan kembali mendapatkan orgasme lagi. Tiba-tiba Davin melolong hebat “Fuckkk….. Gwww….hamilinnnnn…..luuu….”.
Tubuhnya bergetar-hebat. Aku merasakan liang rahimku di semprotan cairan panas. Pada saat yang sama aku juga mendapat orgasmeku. Kembali aku merasakan kenikmatan puncat. “Davinn…..sialannnn….kamuuuu…..” hardikku keras bersamaan dengan orgasmeku.
Oh tidakkkk……aku dibuahi oleh teman anakku. Terasa liang rahimku disembur berkali-kali lahar panas Davin. Rahimku terasa penuh dan hangat.
Davin ambruk menindih tubuhku, tanpa melepaskan kemaluan besarnya yang masih berdenyut-denyut. Saking banyaknya, aku merasakan sperma Davin keluar mengalir dan turun membasahi lubang anusku.
Hanya deru nafas yang terdengar di ruangan ini. Aku terpejam lelah, dengan rudal Davin masih tertancap sempurna dalam serambi lempitku.
Handphone-ku berbunyi. Kulihat mas Abbas menelponku. Astaga…..kupersiapkan diriku untuk mengangkat telepon dari suamiku.
“Dek…dek..” terdengar suara suamiku dari handphone ini. Mendengar suara mas Abbas, rasa bersyukur karena kondisinya semakin memuncak. Terasa pipiku kembali basah karena air mata.
“I-ya mas” ucapku berusaha tenang, agar suamiku tidak tahu kalau aku sedang menangis.
“Ardika kecelekaaan Dek?” tanyanya panik. “Oh nggak pak, tadi cuma candaan teman Ardika saja” bohongku ke mas Abbas. Dalam hati berkali-kali aku meminta maaf kepada suamiku.
“Ya ampun, masa candaan sampai bilang kecelakaan lain gitu sih. Bikin jantungan saja” ujar suamiku heran. Rupanya dia percaya dengan kata-kataku.
“Iya mas, namanya candaan anak zaman sekarang, sudah aneh-aneh”.
“Sudah ya mas, adek mau bersih-bersih rumah dulu” lanjutku ucapku berbohong. Padahal mas, istrimu ini mau membersihkan tubuhnya karena habis di perkos@ oleh teman anakmu.
Selesai menutup telpon, aku berdiri merapikan diri seala kadarnya saja. Ingin segera meninggalkan tempat terkutuk ini.
“Davin, kamu harus pegang janji kamu” ucapku masih tersedu-sedu.
* DERAJAT. Jantungku berdegup kencang mendengarnya. Apakah aku baru saja membiarkan diriku diperkos@ olehnya dengan tujuan yang fana.
“Kamukan tadi janji tidak akan membuli Ardika lagi! Tidak menyakiti Ardika lagi!” sergahku marah sambil tetap tersedu-sedu.
“Ya aku janji gak bakal nyakitin Ardika lagi, tapi ada syaratnya”.
“Apa syaratnya?” Pikiranku menebak, kalau dia pasti akan meminta diriku menjadi pemuas hasratnya.
“Aku ingin tante Ana memuaskan Davin. Kapanpun Davin mau, tante harus mau” ucap dia. Benar dugaanku.
“Kamu kenapa tega melakukan ini Vin?”
“Nggak ada alasan khusus sih, aku cuma mau punya budak seks saja” ucap Davin dengan biasanya, seolah tidak ada yang salah akan hal itu.
Lalu aku teringat akan sesuatu. “Polisi….” lirihku.
“Apa?” singkatnya Davin seakan malas mendengar rengekku.
“Kalau tante hamil bagaimana?” ucapku bingung sambil memegang perutku.
“Yauda rawat anak Davin” ujar Davin biasa. Mendengarnya aku menjadi pucat menjadi pasi. Tapi daripada aku benar hamil olehnya, lebih baik aku segera pulang dan membeli obat anti-hamil.
“Tapi tunggu sebentar” ujar Davin sambil memasang celananya kembali. Dia melihat ke dalam-dalam. Hal itu membuat diri Anda bergidik ngeri.
“Apa Davin?” tanyaku pelan, berharap dia tidak meminta yang aneh-aneh lagi.
“Saya pengen tante Hamil anak saya” mendengar permintaan itu aku bagai tersambar petir. Anak muda ini ingin aku hamil olehnya.
“Dan itu bukan permintaan, tapi perintah. Kalau tidak…….” ucap Davin gantung.
“Kalau tidak kenapa?” tanyaku penuh cemas.
“Ya tahu lah nanti kenapa kalau tante tidak patuh sama Davin” ujar Davin dengan misteriusnya. Kuduga pasti ada ada secara teknis dengan Ardika. Mengetahui siapa yang mengambil ayah Davin, saya tidak mau mengambil risiko. Aku tidak ingin Ardika dan Mas herman celaka.
“Terus suami tante gimana?” tanyaku binggung.
“Itu urusan tante, bukan urusanku!” galak Davin. Aku kembali menangis sejadi-jadinya, dipaksa hamil oleh pemuda ini.
Hari sudah sore menjelang malam, aku pulang di antarkan oleh Davin menggunakan mobilnya. Selama perjalanan aku hanya diam seribu bahasa. Davin kubiarkan mengelus pahaku. Pikiran berkecamuk binggung bagaimana menyiasati keadaan ini.
Sebelum turun dari mobil, saya pastikan diri saya sudah rapih dan tidak terlihat sedih lagi. Tak ingin Ardika curiga dengan apa yang telah kulakukan selama ini.
Sebelum aku turun dari mobil, Davin berpesan padaku “Inget ya Tan, ikuti perintah Davin. Kalau ngelanggar, nanti orang-orang tercinta tante yang akan menanggung akibatnya”.
Aku terhuyung lemah berjalan menuju rumahku sendiri. Pesan Davin terngiang-ngiang dalam pikiranku. Hamil, aku akan hamil lagi. Di usia segini aku akan hamil anak orang lain. Ketika masuk, saya dapati Ardika sedang makan di meja makan. Dia berwajah dengan wajahnya yang binggung.
“Ibu dari mana? Tumben pulang jam segini” tanya anakku heran.
“Tadi ibu habis ada hajatan dadakan Don” bohongku.
“Dimana Bu?” lagi anakku bertanya.
“Ya ada lah, dah ya, ibu capek, mau istirahat” kataku, ingin segera pergi dari hadapan Ardika.
“Baru jam segini Bu, tapi kalau ibu memang capek lebih baik istirahat saja”.
“Biar Ardika yang beres-beres malam ini” ucap Ardika dengan penuh perhatian. Aku jadi terharu. Kamu memang anak yang berbakti Don. Maka dari itu ibu merelakan segalanya untuk melindungimu.
Di dalam kamar aku merenung. Aku baru saja berbicara dengan anakku ketika sperma temannya masih tertanam di dalam rahim. Ku yakin benih benih teman ini sedang berusaha memberikan dia seorang adik. Hatiku semakin terasa sakit dengan kenyataan ini.
“Mas…mas kapan pulang?” tanyaku sambii berusaha menahan tangis.
“Maaf dek… ..mas dinasnya diperpanjang” ucap mas Abbas pelan.
Mendengar itu batinku berteriak ‘Oh….mas aku membutuhkan dirimu mas, anakmu juga membutuhkanmu’.
Tapi aku harus mengerti, kalau saat ini suamiku membanting tulang demi menafkahi keluarga. Biarlah tubuhku dinikmati oleh Davin demi melindungi Ardika.
Dengan suara bergetar “Begitu ya mas, baiklah mas kalau begitu. Mas hati-hati ya disanam jangan lupa makan dan istirahat yang cukup”.
“Sekali lagi Mas minta maaf ya dek. MAS janji nanti akan langsung pulang kalau ada kesempatan”ucap dia berjanji kepada saya.
“Iya mas, adek tunggu ya” ucapku dengan pipi di aliri air mata.
“Iya dek, sudah ya. Sudah malam, titip salam ke Ardika”.
“Iya mas, adek sayang bapak”.
“Mas juga sayang adek” ucap suamiku mesra.
*Clek
Aku pun tersungkur memeluk diriku sendiri, di atas kasur miliku dan mas Abbas. Menangis meratapi nasibku. Padahal saat ini aku membutuhkan dia, namun takdir berkata lain.
Lama aku menangis, di kasur kawinku dengan mas Abbas.
Tapi aku harus kuat. Aku harus kuat demi Ardika. Biarlah mas Abbas berjibaku disana demi mencari nafkah untukku dan Ardika.
Hari-hari selanjutnya aku jalani dengan murung. Termasuk di minggu pagi yang cerah ini. Hanya dengan memakai daster pendek selutut, aku mengelap kaca jendela rumah dengan lemah. Ardika menangkap keadaanku yang terlihat murung.
“Ibu kenapa? Ada masalah ya? Ardika lihat dari kemarin ibu seperti tidak bersemangat, kayak ada sesuatu” tanya Ardika saya. ‘Kamu tahu nggak sih nak, kalau belum lama ini, ibu dipaksa bersetubuh oleh temanmu’ ucapku dalam hati. Tidak mungkin aku berkata seperti itu.
“Ibu nggak apa-apa kok sayang, cuma lagi capek aja”.
“Bener Bu?” tanya Ardika memastikan. Melihat dia memperhatikan dengan dirinya sendiri, aku menjadi iba. Tidak mungkin aku memberitahu dia kalau aku menjadi budak seks temannya. Oh….aku tahu….
“Ng…..sebenarnya bapak nggak jadi pulang minggu ini. Bapak di perpanjang dinasnya” jawabku dengan lesu. Ya ini adalah jawaban yang tepat
“Wah Kenapa bu?” tanya Ardika kembali. Terlihat ada rasa kecewa dari wajahnya. Sama nak, ibu juga kecewa, tapi mau bilang apa lagi.
“Nggak tahu Don, ya namanya juga pekerjaan pasti ada risikonya”.
“Iya sih, tapi ibu tenang saja jangan khawatir. Kan ada Ardika yang nemenin ibu disini” ucap Ardika yang membuatku tenang dan bahagia. Demi dia aku harus kuat menghadapi cobaan ini.
“Iya sayang, makasih ya sudah perhatian sama Ibu” ucapku terharu. Lalu aku peluk anakku, Ardika pun membalas pelukannya dengan erat.
“Oh iya Bu, nanti Davin mau main kesini” Mendengar kabar buruk itu aku langsung melepaskan pelukanku dan menatap dekat Ardika.
“Mm-mau ngapain dia kesini?”.
“Katanya mau main saja sih bu”.
“Ohhh, kamu kenapa masih main sama dia sih? Kan dia jahat sama kamu” sergahku kecewa dengan Ardika yang masih berteman dengan Davin.
“Dia sudah minta maaf bu, lagi pula dia entah kenapa berubah jadi baik sama Ardika”.
“Serius dia minta maaf sama kamu?” kagetku.
“Iya Bu, kemarin di sekolah. Tiba-tiba dia kencan minta maaf sama Ardika. Terus dia juga traktir aku banyak Bu”. Ternyata Davin benar-benar memegang janjinya denganku. Kalau begini aku memang harus hamil juga olehnya.
“Kamu yakin masih mau berteman sama dia?” tanyaku memastikan.
“Iya bu. Gak apa-apa ya bu, lagipula Ardika kan gak punya banyak teman. Apalagi dia kan kakak kelas, terus di hormati sama orang-orang lagi” jelas Ardika.
Seandainya dia tahu kalau perubahan Davin adalah karena pengorbanan ibunya.
“Baiklah, Nak. Kalau memang sekarang Davin jadi berteman baik dengan kamu, ibu tidak ada masalah kalau dia main ke rumah” ucapku dengan berat, tidak ingin mengecewakan anak semata wayangku.
“Makasih bu. Ibu cantik deh” gombal anakku karena mendapat keinginannya.
“Dasar gombal…. “
“Ya sudah sana, ibu mau bersih-bersih lagi”.
Hari ini terasa berjalan sangat lamban. Rasa hatiku sangat gundah, sejuk sebentar lagi teman Ardika akan utama ke rumah. Ya teman Ardika yang telah memperkos@ku dan memaksaku hamil.
Ketika aku sedang mencuci pakaian di halaman belakang, kulihat Ardika mendekatiku.
“Bu, ini si Davin sudah datang” ucap anakku. Lalu orang yang kubenci itu muncul dari dalam rumah.
“Halo tante” ucap Davin seraya bersenyum mengulangi. Karena dia berdiri di belakang Ardika, dia mengelus sengkangnya di depanku. Seolah-olah meniruku atau……menggodaku. Aku Teringat dengan kemaluan besarnya yang sudah memberikan aku kenikmatan. Kubuang pikir
“I-ya, a-anggap saja rumah sendiri ya, jangan sungkan ya Davin” ucapku mencoba seramah mungkin kepada orang yang kubenci ini. Aku harus tenang dan tegar, agar Ardika tidak curiga.
Kemudian mereka berdua pergi ke dalam rumah. Sebelum mereka masuk, kudapati Davin menoleh ke belakang melihat aku yang masih mencuci pakaian. Lalu Ia tersenyum iblis padaku, hal itu membuatku bergidik takut.
Dengan adanya Davin di rumahku, aku menjadi tidak tenang untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Diriku was-was akan melakukan sesuatu. Namun setidaknya, aku bisa tenang karena Ardika tidak kenapa-kenapa lagi. Dan juga menurutku, Davin tidak senekat itu melakukan hal yang gila ketika ada Ardika.
Namun sayang dugaanku itu salah. Ya saat ini, aku sedang di peluk Davin dari belakang. Dia menyergapku ketika aku sedang mencuci piring. Dari belakang, ia meremas kedua dadaku yang masih terutup daster.
“Nghhhh….Vin….byyyy….” erangku ketika Davin mengendus tengkukku. Geli rasanya.
“Byyyy….tante mohon….jangan disini, ada Ardika, nanti ketahuan” ucapku sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Davin. Tapi anak muda ini terlalu kuat.
“Davin pernah bilang apa…..” ucap Davin dingin di telingaku. Terasa hembusan nafasnya di tengkuk leherku. Aku langsung mengendurkan rontaanku.
“Tante mohon, jangan disini Vin. Tante takut Ardika nanti tahu” desakku kepada Davin.
“Sudah tidak apa-apa, percaya sama Davin ya” ucap Davin dengan tenang, namun tetap membuat takut diriku sendiri.
Sekilas aku memikirkan keselamatan Ardika. Mau takut mau aku ikuti kemauan dia. Ia pun menuntunku ke kamar mandi ruang tengahku. Davin langsung menyuruhku bersimpuh di depannya. Aku mengerti apa yang dia mau. Ia mau aku memberikan oral seks.
“Buka Tan” perintah Davin.
Kupandangi selangkangan Davin. Seperti kemarin, gundukan di celana jeans itu terlihat besar. Aku buka celana jeansnya serta celana dalamnya.
Kini wajahku hanya berjarak beberapa centi dari batang rudal Davin yang masih terbaring, namun tetap lebih besar dari milik mas Abbas ketika sudah ereksi. Diriku masih penasaran mengapa anak seumurnya memiliki kemaluan sebesar ini. Dan juga uratnya bertebaran di sekujur batang rudalnya, dan terlihat besar-besar, seperti berotot. Aku tidak yakin apakah aku bisa memasukan semuanya ke dalam mulutku.
Aku mendongak, menatap Davin dengan iba, berharap belas kasihan.
“Ayo, isep” singkat Davin. Nampaknya percuma kalau aku menolak. Teringat dengan ucapan Davin kemarin, lebih baik aku melayani dia. Tanpa membuang waktu lagi, kuraih batang rudal Davin. Terasa panas dan keras, meski masih belum ereksi dengan sempurna. Satu telapak tangan tidak bisa menutupi lingkaran rudal Davin. Saya ingin segera menuntaskan ini semua dengan cepat, agar Ardika tidak curiga.
*Cuuh……Kuludahi batang rudalnya. *Clek Cleek Cleeek lalu aku naik turun kedua direkam mengocoks rudal Davin. Sekali aku sertai kocokan dengan gerakan memutar. Urat-urat yang besar itu sangat terasa di telapak tangan.
Lama kelamaan rudal semakin tegang. Davin pun mendesah-desah akibat kocokan.
“Di isep dong tan” pinta Davin.
Aku sudah sering memberikan suamiku oral seks. Dan dia selalu memuji kemampuanku dalam memberi BJ. Jadi sudah tidak ada lagi masalah untuk urusan ini, namun kali ini, rudal yang akan dimasukkan ke dalam mulutku sangatlah besar.
Kujulurkan lidahku menjilati batang keras ini. Urat-urat besarnya kutelusuri dengan lidahku yang basah. Tak ayal Davin mengerang enak. Mendengar itu aku malah senang, membuktikan aku bisa memuaskan pria.
Aneh pikirku, harus aku tak menikmati melakukan ini. Namun aku ketagihan menjilat urat-urat besar disekujur titit Davin. Lidahku terus mejilati sisi-sisi batang rudalnya.
“Ishhh….rudalmu besar sekali sih Vin” ucapku memujinya, agar dia senang.
“rudal tan, rudal” ucap Davin sedikit marah.
“Iya, iya rudal deh. rudal kamu besar banget” ucapku sambil terus mengurutkan pena…rudalnya dengan kedua diterima.
“Hehehe suka ya?”
“Iya suka, Eh!” astaga aku secara tidak sadar menjawab seperti itu. Mukaku terasa panas dan merah, malu.
“Kalau begitu, di sepong dong” pintanya.
Tak segan lagi kubuka mulutku lebar-lebar untuk menampung tititnya. *Happ….mulutku hanya menampung seperempat. Dengan kepala rudalnya berada di dalam mulutku, kututap sayu mata Davin. Lidahku menjilat kepala tititnya besarnya, mengilik lubang kencingnya. Pre-cum Davin pindah ke lidahku, dan kutelan.
“Ohhh….tante seksi banget sih” ucapku. Upayaku untuk terlihat sensual berhasil. Harus kupertahankan agar dia cepat ejakulasi.
Kumaju mundurkan kepalaku mengocok kemaluan besarnya dengan mulutku. Dengan kepala rudalnya berada di dalam mulutku, kutatap sayu mata Davin. Sedangkan yang kedua diperoleh mengocoks batangnya yang tidak masuk ke dalam mulutku.
Selama menghisap titit Davin, aku berkonsentrasi untuk tidak memikirkan Ardika dan Mas Abbas. Aku tidak ingin rasa puas hinggap di pikiranku. Yang ada di dalam pikiranku adalah memuaskan titit Davin dengan cepat.
Tapi aku penasaran, apa yang terjadi kalau Ardika tahu, bila mulut ibunya disumpal oleh titit temannya di rumah sendiri. Membayangkan itu aku bergidik. Entah bergidik ngeri atau terangsang. sepertinya aku merasakan kedua-duanya. Harus kuakui, selama menghisap titit besar ini, celana dalamku terasa lembab. serambi lempitku mengeluarkan cairannya, kembali ingin dijejali oleh kemaluan besar ini. Aku terlanjur menikmati ini.
Bermenit-menit sudah lewat aku mengoral titit Ini, terasa semakin besar dan berdenyut kuat. Berarti sebentar lagi titit ini akan berisi isinya.
“Oghhh aku mau keluaarrr, telen tan, telan pejukuuuu” erang Davin keras. Lalu kutahan kepala rudalnya di dalam mulutku.
“Gila, enak bangetttt…. tannnn… aku keluarrrrr……Oghhhh”.
Terasa dinding tenggorakanku berkali-kali terpa cairan panas. Aku mengernyit di setiap semburan sperma Davin di dalam mulutku, menghatam dinding atas mulut. Saking banyaknya, aku harus menelannya. Karena terlalu derasnya sperma Davin yang keluar, tak ayal ada yang keluar dari mulutku membasahi bibir dan daguku.
Aku tidak menyangka, spermanya menjadi sangat banyak dan begitu kental. Apalagi……Enak. Aku sebenernya jarang menelan sperma mas Abbas, bahkan aku terkadang menolaknya. Seumur-umur sperma mas Abbas tidak sekental dan tidak sepekat Davin.
Davin menarik tititnya dari mulutku. Dengan membuang aku membersihkan sisa sperma yang tertinggal di sekujur titit.
“Kamu memang pinter muasin laki-laki tan” ucapnya seraya membekukan kepalaku. Aku tersipu mendengar pujiannya.
“Aku nggak nyangka, tante enak juga nyepongnya” ucap Davin sambil merapikan celananya. Sejujurnya aku senang mendengar pujian itu. Maaf mas Abbas, ada lelaki lain yang memuji kehebatan istrimu ini dalam menghisap kelamin.
“Hari ini aku mejuhin mulut tante saja, lain kali aku ngecrot di serambi lempit tante lagi ya” ucap Davin. Aku hanya manggut-manggut saja yang mendengarnya. Aku sudah pasrah menerima keadaanku ini. Selama Ardika tidak kenapa-kenapa, aku serahkan raga ini untuk Davin. Sampai hamil pun aku terima.
“Oh iya, nanti tolong WA-in nomor rekening tante ya” ucap Davin.
“Untuk apa?” tanyaku tidak mengerti.
Dia tidak menjawab pertanyaanku, hanya senyuman yang kuterima. Apa dia akan melakukan sesuatu….
Setelah bersih-bersih, Aku dan Davin keluar secara bersamaan dari kamar mandi. Dan sialnya, aku melihat Ardika yang terbelalak kaget melihat kami.
“Loh Ibu sama Davin habis ngapain di kamar mandi?” ucap Ardika yang memergoki kami.
“Eh anu tad-tadi….” aku terbata-bata, tidak tahu harus menjawab apa-apa. Tidak menyangka akan menjadi begini.
“Tadi kloset kamar mandi loe mampet Don, jadi gw minta tolong sama nyokap lu” jawab Davin mengelabui temannya. Pintar juga Davin, menurutku itu alasan yang masuk akal.
“Oalah begitu toh, pantes timpang banget gw tungguin dari tadi” ucap anakku kepada Ardika. Melihat Ardika percaya, aku menjadi tenang.
“Bu, itu di bibir ibu ada cairan putih, itu apaan?” seketika jantungku berhenti. Ternyata sperma Davin ada yang tertinggal di sela-sela bibirku.
“Oh ini, tadi ibu habis makan kue isi krim” kujawab sambil kuseka sperma Davin dengan jari. Lalu kumasukan jari tersebut ke dalam mulutku. Kuemut bibirku seolah menggoda anakku kalau aku menghabiskan makan sesuatu yang enak.
“Hmmm…. Enakkkkk…tapi sudah habis Don” godaku. Ini terpaksa kulakukan, agar Ardika percaya.
“Aku h…. Ibu gak bagi-bagi Ardika deh, pelit!” rengek anakku.
“Hihihi kapan-kapan ibu beliin deh” ucapku. Kalau saja dia tahu, krim putih ini adalah sperma temannya. Seandainya dia tahu yang kumaksud dengan kue isi krim adalah titit teman, lebih tepatnya pembulinya. Dan seandainya dia tahu, saat ini lambung ibunya penuh dengan peju kental temannya. Tapi kalau dia tahu, dia juga harus mengerti, alasan sperma orang yang membulinya ada di dalam tubuhku, yaitu demi melindungi dirinya.
“Dah yuk Don, kita main lagi” ajak Davin ke Ardika. Lalu mereka pergi meninggalkan diriku. Aku sadar, sejak dari kamar mandi aku selalu menyebut titit, bukan rudal. Nampaknya aku mulai terbiasa berbicara vulgar di depan orang lain selain dengan mas Abbas.
Ada apa dengan diriku sendiri. Harus kembali mengingatkan diriku, semua ini kulakukan demi Ardika. Aku tidak boleh terbuai. Kembali aku melanjutkan rutinitasku dengan lambung penuh dengan spe…peju kental Davin.
Bersambung… Sejak itu aku menjadi pemuas nafsu pribadi untuk Davin. Berkali-kali aku sudah di setebuhi olehnya. Berkali-kali juga aku membohongi Ardika. Berbagai alasan kugunakan untuk bertemu dengan Davin. Awalnya aku merasa bersalah karena terus membohongi anakku, namun kelamaan rasa itu terkikis karena kenikmatan yang diberikan Ardika. Akupun sudah tidak merasakan sentuhan mas Abbas, karena sudah ada Davin yang memberikan.
Di berbagai tempat aku telah menyerahkan tubuhku kepada Ardika. Bahkan dia pernah bolos sekolah hanya untuk menyetubuhiku di rumahku sendiri. Seluruh penjuru rumahku menjadi saksi bisu medan tempur aku dengan orang yang membuli anakku. Gilanya aku pernah berada disetubuhi di kamar anakku dan juga kamarku sendiri, tempat aku dan mas Abbas tidur.
Sperma berliter-liter sudah kutelan. Dan juga sudah berkali-kali rahimku diisi oleh sperma yang banyak dan kental itu. Masalah hamil tinggal hanya menunggu waktu saja. Tapi aku masih bingung, bagaimana cara aku mengelabui Ardika dan Mas Abbas terkait kehamilanku kelak.
Bersama Davin, aku marasakan menikmati persetubuhan yang sesungguhnya. Aku mengutuk diriku sendiri kenapa aku malah menikmatinya, bahkan kadang menanti kehadiran Davin. Apalagi saking hayut dalam persetubuhan, berkali-kali aku telah melewatkan banyak nomor telpon dari Ardika dan Mas Abbas.
Kalau begini terus, lama kelamaan aku semakin lupa tujuanku melakukan ini. Apalagi Mas Abbas di sepanjang dinasnya, aku masih tidak mengerti kenapa dia masih tidak bisa pulang.
Tak hanya menyotor sperma kentalnya ke rahim hangatku, Davin juga memberikan aku uang dalm jumlah banyak. Itu adalah alasan kenapa dia kemarin meminta rekening saya. Ketika aku bertanya kenapa dia memberikan aku uang, padahal aku bukan prostitusi, dia bilang ini untuk keperluanku sehari-hari dan untuk anaknya kelak.
Ardika pun menjadi heran, darimana aku mendapat uang tambahan di luar dari pemberian ayahnya. Aku pun berbohong kepada Ardika, kubilang aku mendapatkan uang tambahan dari arisan dengan ibu-ibu yang lain. Dan aku meminta kepada Ardika untuk merahasiakan ini dari ayahnya. Awalnya Ardika tidak mau, tapi ia nurut setelah aku iming-iming dengan uang jajan-jajan lebih.
Minggu pagi, ini aku kembali dipanggil oleh Davin. Tanpa banyak bertanya, aku segera bersiap diri. Hanya dengan memakai kemeja dan celana jeans. Aku bersyukur Davin tidak pernah memintaku untuk berpakaian yang aneh-aneh, sehingga Ardika tidak pernah curiga.
“Ibu mau pergi lagi?” tanya Ardika yang terlihat bertanya-tanya. Ia melihatku dengan penuh kecurigaan saat aku hendak pergi di pagi hari.
“Iya sayang, ibu ada arisan” ucapku berbohong.
“Arisan? Arisan lagi bu?”.
“Iya Ardika, ibu ada arisan lagi”.
“Kok belakangan ini ibu sering pergi arisan deh” ujar Ardika. Anakku sudah mulai curiga dengan alasanku. Hmmm…. Aku harus mencari alasan lain kali.
“Ya mau bagaimana lagi, kan biar ibu bisa bersosial dengan orang-orang”.
“Lagipula hidup ibu kan bukan hanya untuk ngurusin kamu doang” Aku tidak mengerti, kenapa aku berkata seperti itu. Padahal apa yang kulakukan nanti adalah untuk melindungi Ardika. Tapi entah kenapa aku menjadi tidak suka kalau di halangi untuk pergi bertemu Davin, si pembuli anakku sendiri.
Ardika pun juga kaget dengan kalimat yang keluar dari mulutku.
“Maaf bu, bukan maksud Ardika untuk ngelarang ibu pergi. Tapi sekarang aku jadi kesepian di rumah” Ardika terlihat sedih. Rasa sedihpun juga hinggap dalam diri saya. Seandainya aku bisa menjelaskan alasan sebenarnya. Meski begitu, tujuanku tidak hanya memenuhi janjiku, tapi juga meraih kenikmatan seksual bersama Davin.
“Terus kalau begitu kenapa kamu tidak pergi saja sama si Rizki, Bambang, dan Adit“ anjurku . Mereka adalah teman-teman Ardika sejak SD dan kini mereka semua satu SMA dengan anakku. Aku sengaja tidak menyebutkan Davin, karena aku tahu dia akan bertemu denganku nanti untuk memulai birahi.
“Bisa saja sih Bu….. tapi semuanya pada sibuk” ucap anakku sedih.
“Ohhh begitulah…. Ya sudah kamu main saja di rumah ya nak”.
“Iya bu, hati-hati di jalan ya bu” katanya khawatir padaku.
“Iya nak….. Ibu pergi dulu” *Cup…kucium pipi anakku, lalu mengelusnya. ‘Tunggu di rumah ya nak, biar ibu mengarungi kenikmatan duniawi dulu demi kamu’ ucapku dalam hati seraya mengelus kedua pipi Ardika.
Dengan rasa berat aku meninggalkan Ardika di rumah. Maaf nak, ibu terpaksa pergi, ini semua demi kamu. Awalnya aku berpikir begitu, tapi benarkah aku melakukan semua ini demi Ardika saja? Belakangan rasa ini terpaksa hanya dibuat-buat olehku. Yang ada rasa bersalah kepada orang-orang kusayangi semakin pudar.
Dengan ojek online, sampailah aku di rumah kosong tua yang menjadi tempat pertama kali aku di perkos@ oleh Davin. Masuk ke dalam, disana aku melihat Davin yang sudah menunggu.
“Tumben lama” tanya Davin dingin. Aku takut dia marah.
“Ohhh begitu….. Kenapa? Dia mulai curiga ya?”.
“He-eh” singkatku.
“Saya pikir dia anak yang bodoh” ucap Davin dengan santainya. Aku jengah mendengar Ardika di ejek.
“Davin ingat janjimu. Kamu tidak boleh menyakiti Ardika lagi, termasuk menghina dia” ucapku dengan tegas. Meski terkadang lupa dengan tujuanku menyerahkan tubuhku, setidaknya aku masih bisa mempertahankan harga diri Ardika.
“Ya-ya” jawab dia dengan nada menyebalkan. Pemuda itu mendekatiku, langsung menciumku. Dia mencumbuiku dengan buas, akupun juga membalasnya. Sekarang aku dan pembuli anakku terlibat cumbuan yang panas. Aku baru saja masuk ke dalam permainan ini.
“Oh ya tan, hari ini bukan cuma muasin aku ya” ucap dia setelah melepaskan tawaran dari bibirku.
“Hah? Maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.
“Ayo masuk sini semuanya” teriak Davin.
Lalu pintu rumah ini terbuka, lalu tiga orang pemuda masuk. Aku kenal dengan mereka semua. Mereka berempat adalah teman sekolah anakku. Mereka adalah Rizki, Bambang, dan Adit. Dia bertiga sering main kerumahku.
Merekapun masuk mendekati aku dan Davin, menatap tubuhku dengan lapar. Kini ada empat pria dan satu wanita dalam ruangan ini.
“Halo tante Ana” sapa Rizki sambil cenggesan. Aku bergidik ngeri, tahu apa yang akan terjadi nanti.
“Hehehe, halo tan lama gak ketemu nih kita” aapa Adit seraya cengesan yang membuat diriku meremehkan. Yang lain pun juga sama, tersenyum menjijikan.
“Ka-kalian…..”
“Kenapa ada disini?!” pertanyaan yang bodoh menurutku.
“Masa tante pakai nanya sih hehehe” kali ini Bambang yang berbicara.
“Apa-apaan ini? Perjanjiannya kan tante cuma hanya melayani kamu, Davin” ucapku dengan nada tinggi, tidak senang dengan kehadiran orang-orang itu.
Mendengar aku ngomel, raut muka Davin langsung berubah menjadi dingin. Terasa aura yang sangat mengerikan keluar dari pembuli anakku. Tatkala rasa takut hinggap pada diriku. Perawakannya terus mengingatkan diriku, bahwa ini kulakukan demi Ardika. Aku tidak berani lagi protes. Kukubur dalam-dalam niat melawankku.
Rupanya hari ini akan menjadi pertama kalinya melakukan seks dengan lebih dari satu pria. Tak kusangka masalahku menjadi runyam begini. Melakukannya dengan Davin saja sudah salah, sekarang menambah beberapa orang lagi yang akan menyetubuhiku. Parahnya orang-orang itu adalah teman-teman anakku sendiri.
“Silahkan dinikmati” ucap Davin dengan santainya mempersilahkan bocah-bocah ini untuk menyetubuhiku.
Mendengar lampu hijau dari Davin, teman-teman Ardika mendatangi saya. Teman? Celanakah mereka disebut sebagai seorang teman. Semuanya memutari diriku, dengan menguraikan mereka menelanjangi diriku. Pemuda-pemuda ini bagai sekelompok serigala yang mengitari mangsanya. Dan aku adalah mangsanya yang akan segera ditangkap mereka.
Salah satu dari membuka suara. “Sudah dari dulu gw penasaran sama body tante Ana” ujar Rizki sambil terus memutari tubuhkuku.
“Sama Bro, sejak SD malahan” ujar Adit.
“Gw juga” seru Bambang tidak mau kalah dengan yang lain.
“Kenapa kalian tega melakukan ini semua? Tante ini ibu teman kalianlah loh” ucapku dengan suara parau.
“bukankah kalian temannya Ardika?” lanjutku dengan wajah yang sedih dan kecewa.
“Ya memang kami teman, tentunya kami bukan manusia bodoh untuk menolak tubuhmu tante” kali ini Bambang yang menjawab, dari mereka berempat dia yang paling gemuk.
“Jadi kamu memilih untuk memerankan Ardika, temanmu sendiri demi tubuh tante?”
“Apapun akan kami lakukan demi meniduri tante” ujar Adit dengan yakin.
Ohhh Ardika, kamu memang salah memilih teman. Akibatnya, sekarang teman-temanmu ini akan merasakan tubuh ibu kandungmu.
Mereka semua berhenti memutar diriku. Dan kini mereka memepet diriku, sehingga aku tepat di tengah-tengah mereka. Kulihat Davin hanya duduk di kursi sambil menonton diriku di lecehkan.
Dalam hatiku berpikir, lebih baik menikmati ini daripada terus dipaksakan. Setidaknya aku akan merasakan nikmat dan tidak tersiksa. Dan tidak lupa, sekaligus melindungi Ardika. Maaf mas Abbas, istrimu akan menjajakan tubuhnya kepada para ABG ini. Maaf mas, aku akan bersenang-senang dulu, kamu sih nggak pulang-pulang.
*Plak…..”Akhhhh….sakittt” peikku kaget sekaligus kesakitan, ketika seseorang menampar pantatku.
“Gila ni pantat semok bet” ucap Rizki. Ternyata dia yang baru saja menamparku. Setelah itu seluruh bagian tubuhku menjadi bulan-bulanan mereka. Seluruh bagian sensitifku di raba-raba oleh mereka. Buah dadaku, di remas-remas gemas oleh mereka. Pantatku di remas dan di tampar gemas oleh mereka.
“Kalau gw sih dari dulu penasaran sama tokednya” ucap Bambang yang dengan kedua mengulurkan tangan sedang meremas kedua bongkahan dadaku yang masih berada di balik kemeja.
Walau terkadang aku suka lupa diri jika bersenggama dengan Davin, kali ini aku belum siap di garap beramai-ramai. Namun dirangsang terus oleh teman-teman anakku, lama kelamaan malah membuat jadi terangsang hebat. Meski enggan menolak, tapi tubuh tak bisa berbohong. Cairan wanitaku merembes ke celana dalam, membuat area selangkanganku lembab.
“Ayo tante, buka dong bajunya. Tapi yang seksi ya” pinta salah satu dari mereka. Mendengar itu aku hanya bisa menghela nafas. Sesuai dengan permintaan mereka, kubuka kemejaku yang sudah acak-acakan akibat ulah mereka.
Secara perlahan kulepaskan kancing-kancing bajuku. Sambil melakukan itu, kutatap mereka dengan menggoda. Kugigit bibir bawahku, memancing birahi mereka. Wajah para ABG itu terihat sumringah kala aku berlagak sensual.
“Ohhhhh tanteeee, dari dulu saya mengagumi tanteee” ucap Adit yang semakin bernafsu saat melihat membuka kemaja dengan pelan.
“Tahu gak tan? Tante Ana kan sering jadi bacol kami loh, Hehehe” tawa bambang.
“Engghh….Bacol?” aku tidak mengerti dengan kata itu.
“Bahan coli tan” jawab Rizki. Mendengar jawabanya, aku hanya bisa menghela nafas. Tapi aku tersanjung, ternyata masih banyak yang tertarik denganku.
Kini terpampanglah bongkahan dadaku yang masih berada dibalik BH-ku. Kuturunkan cup Bh-ku, memperlihat buah dadaku dengan putingnya yang sudah tegak ngacung. Para ABG itu terlihat semakin mupeng. Teman-teman Ardika memuji payudaraku yang masih kencang meski aku sudah tidak muda lagi. Senang aku mendengarnya. Aku meremas kedua payudaraku dengan lemas, sambil terus menggigit bibir bawahku dengan sensual.
Ketika mereka ingin maju, aku langsung berkata “Eits tunggu dulu….”. Ucapanku itu menghentikan mereka. Kuturun melepas kembali rok-ku yang ada dibelakang. Lalu kuturunkan rok-ku dengan perlahan. Pelan namun pasti celana dalamku yang basah memanjang-angur terpampang. Begitu juga dengan pahaku yang montok.
Aku sekarang hanya memakai pakaian dalam saja. Empat pria di dalam ruangan ini menatap tubuh dengan sangat bernafsu.
“Ohhh gila…tante seksi banget” puji Rizki.
“Don, maaf nyokap lu bakal gw entot sepuasnya” ucap Mambang. Sedangkan Adit hanya diam saja.
“Nah silahkan nikmatin tubuh tante, terima kasih tante kenikmatan yaaaa” ucapku sensual. Aku sendiri tak sabar merengkuh nikmatnya dengan para ABG ini.
Rizki langsung maju dan melumat bibirku dengan nafsu, lidahnya bermain di dalam mulutku. Meski tidak sehebat Davin, saya cukup menikmati cumbuanku dengan Rizki. Air liur berhamburan keluar dari mulut, membasahi dadaku yang terpampang bebas dan masih disangga oleh Cup bh-ku.
Terasa telapak besar meremas dadaku. Pasti si Bambang pikirku. Si gemuk memelukku dari belakang dan meremas dadaku dari belakang. Ia memainkan kedua puting kerasku, ditarik, dicubit, dan dipelintir nikmat. Ia juga menciumi tengkuk, terasa geli dan nikmat.
Sedangkan Adit kesamping tubuhku dan menggapai selangkanganku dengan tangan. Ia raba-raba serambi lempitku yang masih tertutup celana dalam, namun sudah basah. Kulihat Davin hanya menonton teman-temannya sambil ngelus-elus selangkangan sendiri. Siapapun pasti terheran melihat seorang wanita berumur sedang digumuli oleh abg-abg. Tak hanya dia, tapi juga pasti terangsang.
Desahan merdu nan seksi keluar dari mulutku, menikmati perbuatan mereka pada tubuhku. Tubuhku dirangsang sedemikian rupa, aku menjadi lupa daratan. Habis sudah milikku, tak lagi punya harga diri.
“Perasaan tadi tante ogah-ogahan loh, kok sekarang mendesah-desah keenakan hehehe” ucap teman Ardika yang menyadari dengan perubuhanku, sekaligus menyindirku.
“Dia memang pada dasarnya binal, lama gak di belai sama suaminya hahahaha” tawa Davin yang masih duduk. Aku tidak peduli dengan omongannya, karena dia benar. Meski diriku tetap yakin jika semua ini terjadi demi melindungi Ardika, namun sayangnya kini tidak begitu lagi. Sekarang aku mengejar kenikmatan duniawi.
“Hihihi iyah ni….suami tante lama nggak pulang-pulang” ucapku centil.
“Suaminya kerja, ini tante malah selingkuh sama teman-teman anaknya, hahaha” ujar Rizki.
“Hihihihi” aku hanya tertawa mendengar turunnya.
“Ok,kalau begitu saatnya tante sepongin titit-rudal kita” ucap Adit.
Aku menghilangkan sisa pakaian dalam yang masih menempel di tubuhku. Setelah itu aku berlutut di depan mereka. Aku sendiri sudah tidak sabar untuk menghisap titit-rudal abg ini. Diriku penasaran dengan ukuran dan bentuk titit mereka. Kuperhatikan selangkangan mereka sudah mengelembung semua.
Kudekati diriku ke selangkangan Rizki. “Bukain dong tante Ana” perintahnya kepada. Aku manis tersenyum mendengar permintaan itu.
Kubuka celana jeans Rizki, sekaligus celana dalam. Kini kepala titit Rizki hanya beberapa centi dari mulutku. Lalu kukecup kepala titit itu, lalu aku tersenyum hangat kepada empunya.
Lalu aku berpindah ke teman Ardika yang lain. Sehingga yang lainnya juga menerima perlakuan yang sama dengan Rizki. Sekarang aku dikelilingi oleh titit remaja yang sudah ereksi dengan kerasnya. Kuamati dengan penuh perhatian, tak ada yang sehebat kepunyaan Davin. Namun semuanya berukuran lebih besar dari milik mas Abbas. Maaf mas, kamu kalah hebat dengan abg-abg ini.
Kututapi dengan lekat titit-rudal yang mengelilingi diriku, kubasahi bibirku lidah tanda sabar menyepong. Ternyata Davin sadar dengan hal itu “Sudah gak sabar nyepong ya tan?”.
Kuraih titit bambang yang gemuk, dan langsung menyala rakus. Seperti orangnya, tititnya paling lebar diameternya bukan milik teman. Kedua terjadi kuletakan di kedua paha Bambang yang besar. Pahanya kugunakan sebagai tumpuan.
*Slurp Slurp Slurp Slurp
“Oshs…***k nyangka gw, kita bagal nge-gangbang nyokap Ardika” erang bambang ketika aku menghisapi tititnya dengan rakus. Aku nikmati titit yang berada di dalam mulutku ini.
“Tan titit aku jangan di anggurin dong” protes Rizki.
“Ehhmm…hiya(iya)…*Slrup…swihih(sini)….” jawabku dengan mulut masih penuh dengan titit bambang.
“Punyaku juga tan, kocokin dong” Adit juga protes, karena aku terlalu asin dengan satu titit saja.
Mereka mengarahkan aku untuk mengocoki titit yang sedang nganggur. Maklum ini kali pertama aku melakukan seks dengan 3 laki-laki sekaligus. Ketika mulutku menghisap satu titit, maka dirasakan akan mengocoki kedua titit yang lain. Dengan rakus aku sepong titit teman-teman Ardika.
Cukup lama aku menghisap ketiga titit teman Ardika ini. Semua kemaluan mereka sudah sangat basah karena air liurku. Tubuhku juga tetap sama oleh mereka.
“Gw gak sabar pengen entotin ni lonte” ucap Bambang tidak sabar.
“Sama Bro” ucap Rizki.
“Jangan ada yang crot di dalam serambi lempit lonte satu ini” sergah Davin.
“Kenapa memangnya Vin?” tanya Adit.
“Tanya saja sama lonte ini” ucap Davin.
“Tante pengen hamil anak Davin” lirihku. Bukan pengen tapi aku terpaksa harus hamil oleh benih-benih Davin. Walau menikmati seks ini, tapi kalau hamil aku masih belum siap.
*Klontang….tang….Bruk…
Kami semua terkejut dengan bunyi barang jatuh yang terdengar sangat nyaring. sepertinya sumber bunyinya berada di balik jendela ruangan ini. Pengintipkah?.
“Rizki, Bambang coba cek keluar, ada siapa disana” perintah Davin. Dan kedua ABG itu menurutnya, layaknya mereka adalah kacung dan Davin adalah rajanya.
“Bos Bos, lihat nih ada siapa” kulihat mereka berdua sedang menyeret seseorang. Ternyata benar dugaanku, ada yang mengintip dari tadi.
Ketika aku melihat orang itu, aku menutup mulutku dengan kedua diterima dan kedua mataku terbelalak lebar….
Ardika…
Itu Ardika anakku…..
Kenapa dia disini.
“La-Ardika…. Kamu ngapain disini?”
“A-aku tadi ngikutin ibu……” lirih Ardika menjawabku. Aku langsung berdiri dan mengambil pakainku untuk menutupi diriku dari Ardika.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku penasaran ibu selama ini pergi kemana, jadi Ardika diem-diem ikut Ibu” jawab Ardika sambil menunduk, tidak berani menatap diriku sendiri.
“Lihat bos, dia nganceng loh hahahahah” ucap Rizki. Kulihat ada gundukan di balik celana Ardika. Ternyata dia terangsang melihat aku, ibunya sendiri.
“Hmmmm, menarik. Gw nggak nyangka bakal ada Ardika. Oke, iket dia di kursi” perintah Davin. Rizki dan Bambang mengikat doni di kursi kantor yang sudah usang.
“Davin tante mohon, jangan sakiti Ardika. Kamu sudah janji sama tante”. Aku memohon sambil memeluk kaki Davin. Tapi si pembuli tidak bergeming mendengar ucapanku.
“Ja-janji apa bu?” Ardika tergagap bertanya padaku.
“Ibu…..” ucapku menggantung, tidak yakin apakah harus memberitahu Ardika yang sebenarnya.
“Jawab anakmu LONTE!” hardik Davin dengan keras.
“Demi melindungi kamu……. Ibu harus menjadi budak seks untuk Davin dan juga hamil olehnya” ucapku pelan. Ardika kaget dengan ucapan yang keluar dari mulutku. Ia melihat dengan pemandangan yang menandakan tidak percaya.
“Ibu kenapa mau melakukan itu semua? Ibu tidak perlu melakukan hal seperti untuk Ardika” panjang Ardika dengan tidak percaya.
“Saya tidak mau kamu kenapa-kenapa nak, jadinya kuserahkan tubuh ibu untuk Davin”. Ardika hanya terdiam mendengar jawabanku. Aku yakin saat ini pikirannya sangatlah kacau.
“Denger tuh nyokap lu bilang apa, ibu lu berkorban demi lu. Dan sekarang lu harus nonton nyokap lu di entotin sama kita-kita” ucap Davin yang membuat terperangah kaget. Astaga….. Aku akan melakukan seks di depan anakku sendiri.
“Plis Davin, ini juga bukan dari perjanjian, tante gak mau disetubuhi di depan Ardika” mohonku.
“Kalau begitu…..” Davin mendekati Ardika yang terikat di atas kursi, Ia mengepalkan tangannya.
*Bugh….”Arghhhh……” Ardika mengerang sakit. Davin memukul keras anakku tepat di kedalaman.
“Stopppp….plisss jangan pukul Ardika….” teriakku, setitik air mata mengalir kepipiku. Tak tega melihat anak kandungku kesakitan.
“Aku bisa melakukan lebih dari sekedar pukulan….” ancam Davin sambil memandang dengan amarah. Aku tahu maksudnya, Davin tak segan-segan untuk membunuh Ardika. Saya tidak mengerti mengapa ada orang sejahat itu dunia ini.
“Ba-baik tante akan melakukannya…..” lirihku.
“Bagus….. Ok lanjutkan lagi” perintah Davin kepada yang lain.
Adit menyodorkan rudalnya ke mulutku. Kulirik anak semata-mata wayangku yang terikat “Maaf nak, ini semua demi kamu”
*Hap…..
Kuhisap rudal Adit dengan pelan. Seperti tadi diterima mengocok rudal yang tidak ada di dalam mulutku.
“Bu-Buuu hentikan, jangan lagiii” mohon Ardika saya untuk tidak lagi mengoral rudal teman. Aku tidak hiraukan permohonan Ardika. Maaf nak, ibu harus tetap melakukannya. Lalu aku terus memaju mundurkan kepalaku, mengocok rudal Rizki dalam mulutku.
“Buuuuu….Ibuuu…..stop…..plissss” teriak Ardika berharapaku berhenti.
“Elah ni bocah berisik banget sih, gw sumpel aja ya mulut” usul Rizki. Davin mengangguk setuju. Ia mencabut rudalnya dari mulutku dan berjalan menuju Ardika.
“Lihat nih Don, titit gw basah sama ludah nyokap loe”.
Kulihat Rizki memamerkan rudalnya yang basah dengan air liurku, ke muka Ardika. Teman macam apa sih dia, menghina temannya sendiri.
“Rizki…. Lu kenapa tega sama gw? Itu nyokap gw Riz, itu nyokap gw….” untuk Ardika ke temannya.
“Maaf sob, tubuhnya nyokap lu terlalu istimewa untuk dilewatkan, lagipula gw gak berani ngelawan Davin Don” ujar Rizki ke anakku.
“Mengatur….” Ardika tidak mampu menyelesaikan ucapannya, karena keburu tersumpal dengan baju bekas. Ia meronta-ronta, namun sia-sia saja.
Aku tidak tega melihat keadaan Ardika, tapi apalah daya yang bisa kulakukan. Saat ini yang bisa kulakukan adalah menuntaskan hasrat para bajingan yang disebut teman oleh Ardika. Kini aku fokus untuk memuaskan rudal-rudal yang ada dengan mulutku. Suara basah pun menggema di ruangan ini, terdengar menggairakan dan merdu bagi siapapin yang mendengarnya.
“Ohhhh….Donnn….sepongan nyokap loe enakkkk bangettt” erang Bambang ketika memutar rudal dia yang kulumat. Dengan begitu, rudal Rizki dan Adit yang aku urutkan dengan berlangganan.
Di depan Ardika, aku Silih menambah memanjakan rudal teman-temannya. Aku merasa bersalah sekaligus terangsang. serambi lempitku menesteskan lendir lengketnya ke lantai dimana aku sedang berada disimpuh.
Dengan rudal yang masih di dalam mulutku, kulirik Ardika. Tak lagi meronta, ia hanya melihat dengan nafas berburu. Kulihat tersirat ada rasa marah sekaligus cemburu.
“Su-sudah tan, gw gak mau keluar sekarang” pinta Rizki. Ia memimpin tubuhku untuk berdiri tidak jauh dari Ardika sekaligus menghadap anakku. Kemudian Rizki barangkan dirinya sendiri di lantai.
“Tan, duduk di muka aku sini” pintanya.
Aku kangkangi kepalanya, lalu aku turun ke tubuhku. Dengan sesekali menatap ke arah Ardika, aku memposisikan mulut serambi lempitku, di atas mulut Rizki bertahan.
Ketika sudah berada dalam jangkauannya, lidah Rizki langsung menjilat kemaluanku. “Ohhhh…..” desahku panjang, merasakan nikmat jilatan Rizki. Agar tidak terjungkal, kugunakan rudal Bambang dan Adit sebagai pegangan. Aku terus mendesah-desah disetiap jilatan dan lumatan Rizki di lubang cintaku. Mataku merem-melek nikmat karena jilatan Rizki di kemaluanku.
“Hahahaha liat dong, nyokap lu keenaakan di jilmet sama Rizki” ledek Bambang.
Payudaraku diremas oleh Adit dan Bambang. Kedua putingku juga tidak luput dari kejahilan mereka. Sekuat apapun aku menahan rasa birahi, tubuhku tidak bisa diajak kerjasama. Terus menerus cairan serambi lempitku keluar tumpah meruah yang langsung diminum Rizki.
Kulihat Ardika ereksi melihatku di kerjai oleh temannya. Kullihat cairan mazinya merembes keluar celananya. Anakku sendiri, terangsang ketika ibunya sedang di cabuli oleh temannya. Terlintas dalam pikiranku, apakah aku lepas saja dari perasaan bersalah ini, dan menikmati ini semua. Toh aku berbuat ini demi dia juga kok.
Yah…..aku akan membebaskan diriku….
“Ardika…..okhhh….sayangggg” desahku manja, panas-manasi Ardika.
“Tan sepongin lagi dong” minta Adit. Kembali titit Adit kumasukan ke mulutku. Kini dengan perlahan kuhisap rudal Adit. Sesekali lidahku menjulurkan keluar menjilat kepala rudal dan lubang kencing Adit. Benang cairan precum menjuntai dari lubang kecing adit dan lidahku.
Puas memanjakan Adit, giliran Bambang. Teman Ardika yang gemuk ini, mendesah-mendesah keenakan saat aku melayani dirinya.
Sekarang aku bergantian menghisap rudal-rudal anak muda ini, dengan Rizki dibawah sana, menikmati serambi lempitku. Berkali-kali aku berpandangan kepada Ardika, menggodanya.
Rizki mendorong pinggungku mundur, membuatku melepaskan hisapan dan kocokan terjadi pada titit bambang dan Rizki. Sekarang selangkanganku bertahan di atas titit Rizki yang mengacung keras. Aku menduduki rudal Rizki. Dengan inisiatif sendiri, aku meggesek rudal rizki yang terhimpit di antara bibir serambi lempitku yang basah.
“Ohhhh….tante” erang Rizki.
Tak tahan lagi, ku angkat tubuhku sedikit dan meraih rudal Rizki. Kemudian aku posisikan kepala rudal Rizki di gerbang nikmatku yang sudah basah bagai banjur. Ketika sudah pas, aku turun dari tubuhku. rudal Rizki melesak masuk, memenuhi lerung nikmatku.
“Ahhhhh…..enakkk” desahku.
“Nghh….menyetubuhittt” erang Rizki.
Aku dan pemuda ini mendesah bersamaan, ketika kemaluan kami bertemu. Kudiam sendiri merasakanpi rasa rudal yang baru pertama kali masuk ke dalam tubuhku.Dalam hati kuberkata ‘Maaf mas Abbas, sekarang nambah titit lagi yang sudah masuk ke dalam tubuhku’.
Sambil menatap Ardika, aku berkata “Ardika…. titit rizki didalam serambi lempit Ibu…..nhghhh”. Ardika menggeliat di kursinya.
Dengan bertumbu pada Dada Rizki, aku menaik turunkan tubuhku. Rasa nikmatnya menjalar keseluruh tubuhku.
“Ah…Ah…Ah…rudal kamu enak”.
“serambi lempit tante juga enak….Oghhh” balas Rizki.
Bambang di kanan dan Adit dikiri, kembali menyodorkan rudal mereka ke wajahku. Tanpa perintah aku hisap kedua rudal remaja ini, sambil terus menaik turunkan tubuhku di atas Rizki.
“Don…Donnnii….mama….menyetubuhi samaa temannn kamu….” Ucapku di sela-sela menghisap rudal Bambang dan Adit.
Tiba-tiba aku melihat tubuh Ardika yang terikat itu bergetar hebat, ada cairan putih merembes keluar dari dalam celananya. Astaga, anakku mengeluarkan spermanya……
“Hahahaha” tawa teman-teman Ardika melihat dia klimaks tanpa disentuh rudalnya.
“Haha dia malah ngecrot” ucap Bambang sambil terus tertawa sambil memegangi perut besarnya.
“Masa ibu lo di perkosa lu ngecrot sih” sindir Adit. Bambang dan Adit terus menonton Ardika yang masih terkulai lemas. Ardika hanya bisa memejamkan mata. Nafasnya berat.
“Sayangku, Ardika kamu suka ya mama di perkos@sama teman-temanmu” tanyaku yang tetap memegang titit Bambang dan Adit, dan rudal Rizki yang masih berada dalam diriku.
Ardika membuka matanya, melihat ke arahku. Dia menggeleng tanda tidak setuju dengan kata-kataku.
“Terussss sayang…..ahhhh…., kenapa kamu keluarin peju?” aku bertanya lagi di sela-sela menaik turunkan tubuhku. Ardika hanya diam, tak bisa mengelak. Ia membuang muka, tidak berani melihatku.
Karena tak ada jawaban dari Ardika, aku menggenjot rudal Rizki yang masih ada di serambi lempitku dengan buas. Mengejar puncak kenikmatan tersendiri. Desahan kembali keluar dari mulutku. Diriku tak lagi malu untuk mengekspresikan kenikmatan yang kurasakan.
“Eh tante Ana mah sudah nggak di perkosa lagi kali, wong nih lonte aja mendesah-desah keenakan terus” ucap Bambang yang sadar dengan perubahanku.
“Iyaahhh, ahh…. habis kalian…..ah….. menyetubuhiin tante enak bangeettt”.
Sensasi disetubuhi sambil di tonton oleh anakku sendiri, membuat birahi semakin tak-tertahankan. Tak lama, aku mendapatkan orgasme perdanaku bersama teman anakku, dan gilanya aku meraihnya di depan anakku sendiri .
“Ouhhh…iyahhhh…aku…dapettt” jeritku merasakan orgasme. serambi lempitku menyemprotkan cairan hangatnya, mengguyur rudal Rizki.
“Gilaaaa bro titit gw disemprot…Ohhhh…Fuckkkk gw mau keluarrr” erang Rizki. Mendengar itu aku langsung berdiri, melepaskan tautan rudal Rizki di liang cintaku. Rizki langsung berdiri, sambil mengocoki rudalnya yang basah karena cairan orgasmeku dengan cepat.
“Hh…hh…hh….” nafasku berat setelah mendapatkan orgasme.
“Tannnnn bukaaa mulutaa….Oghhhh” perintah Rizki. Aku langsung berlutut dan membuka mulutku lebar-lebar untuk menampung lahar panasnya. Jangan lupa kujulurkan lidahku.
*Jatuh,Jatuh,Jalan…. Rizki menembaki mulutku dengan peju remajanya. Beberapa semprotan masuk ke dalam mulutku, ada yang jatuh kelidah dan ada yang juga tumpah ke bibirku. Dengan jari kuseka peju di bibirku dan kumasukan ke dalam mulutku, menambah peju yang sudah tertampung. Kumasukan titit Rizki ke dalam mulutku, aku mengempotkan mulutku untuk menyedot sisa peju yang ada.
Di depan Ardika, Aku mengenyam-enyam kental sperma milik temannya, Lalu menelannya habis tanpa. Kubuka mulutku lebar, bagai memberitahu Ardika kalau aku menelan habis sperma temannya.
“Phuahhh……hmmmm…..enakkk” godaku ke Ardika.
Aku pegang kedua paha Ardika “Anakku sayang….kamu tonton mama main sama temen-teman kamu ya……”
“Nikmatin ya sayang……. ini semua juga demi kamu” ucapku pelan, berharap dia mengerti.
“Ayo tan sekarang giliran aku yang menyetubuhiin tante” ucap Bambang tak sabar. Tanpa memberi aku jeda untuk istirahat. Bambang memintaku menungging di lantai dengan posisi miring, pemuda gemuk memegang kedua pinggulku.
“Nghhhh….Bambangggg….” aku mengeram ketika kepala rudal bambang melesak masuk. Terasa batangnya yang lebar menyeruak masuk melebarkan lubang serambi lempitku. Punya dia memang tidak sepanjang dan berurat seperti milik Davin.
Namun rasanya cukup enak, bahkan lebih enak dari punyanya mas Abbas. Dari semua rudal yang telah kucoba, semuanya lebih enak dari mas Abbas. Maafkan aku mas, aku berperikiran seperti itu. Tapi kenyataannya, rudal para anak muda ini lebih enak dan hebat dari milikmu.
“Oghhh… gila serambi lempit tante Ana sempit banget, becek-becek anget ohhh” ucap Bambang, yang langsung mengempur diriku. Pantatku diremas-remasnya gemas, bahkan di tampar-tamparnya hingga meraj.
“Bersihin dong Tan” pinta Rizki menyodorkan rudal setengah ereksinya yang basah dengan lendir orgasmeku. Tidak jelek, kubersihkan rudalnya. Aku sudah sering melakukanya dengan Davin. Dalam mulutku terasa rudalnya Rizki kembali meminumnya.
“Eh tot!, gantian napa” hardik Adit kepada Rizki yang sedang menikmati proses pembersihan kelaminnya.
“Iye-iye sabar tengkuk, nih titit gw lagi di bersihin dulu” Ucap Rizki.
Rizki kemudian menyingkir, memberikan kesempatan kepada Adit. Dengan tak sabar, Adit menghujam mulutku dengan brutal. Hingga kini kedua lubangku dihujam oleh dua rudal remaja yang merupakan teman-teman anakku. Ardika kembali memperhatikan diriku bersubuh dengan temannya.
Tak lagi kupedulikan perasaan Ardika, kini isi kepalaku hanya memuaskan mereka dan juga diriku. Lalu aku mengerang-mengerang keenakan akibat hentakan rudal Bambang di dalam serambi lempitku.
Beberapa menit, aku merasakan rudal bambang berkedut-kedut dalam lubang serambi lempitku. Kemudian Bambang mengerang hebat “Ohh tanteeee….”. Bambang mencabut rudal dari jepitan lubang serambi lempitku. Ia menembakan spermanya panas di pantatku.
“Ohhhh…shhhhh” desisku merasakan sperma yang tumpah di pantatku, terasa panas dan banyak sekali. Kuseka ceceran sperma yang berada di pantatku, lalu seperti tadi, aku habiskan sperma Bambang.
Aku sedikit kecewa karena tidak dapat orgasme dari genjotan Bambang. Namun tak apa pikirku, masih ada Adit dan Davin yang belum menyetubuhiku.
“Aku nggak nyangka, ternyata tante demen peju hak…hak…hak….” ucap Rizki yang melihatku terus menyeka sperma Bambang yang tercecer di pantatku.
“Hihihi soalnya kata orang-orang, peju anak muda katanya bikin awet muda” ujarku centil, sambil terus mengemuti sperma yang terseka dengan jariku. Sejak menjadi budak seks Davin, aku jadi terbiasa meminum peju. Jadi tak hanya serambi lempitku yang menampung benih pembuat anak, tapi juga lambungku melalui kerongkongan.
“Lihat don, nyokap elu suka peju gw hahaha” ledek Bambang sambil memegangi perut yang besar. Hah, nih anak banyak gaya, tapi mainnya bentar doang.
Ardika menggeliat di kursinya, terlihat raut wajahnya yang penuh amarah kepada Bambang. Maaf sayang, kamu harus bersabar ya. Biarkanlah ibumu ini disenggamai sama temanmu.
“Sini Bambang, tante bersihiin titit kamu“ tawarku kepada Bambang, yang pasti tak akan di tolaknya. Lalu aku membersihkan rudal yang gemuk dengan mulutku.
“Ayo tan, sekarang sama aku” ajak Adit yang terus mengocoki tititnya sendiri agar tidak berbaring.
“Tapi di kasur itu aja ya, tante sudah agak capek” tunjuk ke kasur yang sudah usang itu. Ia mengganguk. Lalu mereka menyiapkan kasur yang akan menjadi medan tempur selanjutnya.
Kulihat Davin masih hanya duduk di kursi santainya, ia terlihat mengusap-ngusap selangkangannya. Sejujurnya, aku tak sabar untuk kembali merasakan titahnya yang perkasa itu. Ia lebar tersenyum, ketika melihatku mengamatinya. Aku pun membuang mukaku, malu karena ketahuan memuat selangkannya.
Ketika kasur sudah siap, aku berbaring disana. Dengan tergesa-gesa Adit memposisikan dirinya di antara kedua kakiku. Ia tekuk kedua kakiku dan di dorongkan ke dadaku. Hingga serambi lempitku yang basah merekah terpampang, menggodanya.
“Okhhh…Dit” desahku geli, ketika Adit menggesekan kepala rudal di bagian serambi lempitku yang basah. Teman Ardika ini juga memukul klitorisku dengan kepala rudalnya.
“Sempit bangat tan” ucap Adit. Dengan susah payah ia terus mendorong masuk rudal yang berukuran lumayan itu ke celah sempitku. Dari temannya, kepala tititnya paling besar.
“Ohhh…..ditttt….pala titit kamu gedeee bangettt” erangku enak, ketika liang serambi lempitku kembali disesaki dengan batang rudal yang keras. Ini adalah rudal kelima yang berhasil masuk ke dalam serambi lempitu, yang seharusnya hanya rudal mas Abbas yang boleh memasukinya.
Bersambung… Tanpa membuang waktu lagi, Adit langsung menggerakan pinggulnya, menghujam dirinya dengan cepat. Ia memainkan kedua payudaraku. Kujulurkan menyentuh klitorisku. Kumain biji kelentitku sendiri dengan jari-jariku, menambah rasa nikmat.
Bambang dan Rizki tergeletak di sebelah kepalaku. Mereka kembali menjejalkan mulutku dengan rudal mereka. Rizki menepis tangan Adit yang sedang menggengam buah dadaku yang kiri. Kemudian ia menunduk, memasukan seluruh permukaan payudara kiriku ke dalam mulut. Aku mengerang geli ketika puting kiri dan areolaku dijilatnya. Putingku dimainkan oleh lidahnya.
“Nghhh….ahhh….ngh….” Mulutku yang disumpal oleh Bambang, maka hanya desahan-desahan yang tertahan terdengar.
Selama 10 menit aku digempur oleh Adit, diriku merasakan orgasme untuk kedua kalinya hari ini. Tubuhku bergetar-hebat, serambi lempitku berkedut-keduut mengeluarkan cairan orgasmenya. Adit semakin beringas menyetubuhiku.
“Anjinggg…..gw…. Ngecrottt!” teriak Adit saat meraih puncaknya.
“DIT, jangan masuk ke dalam!” teriak Davin mengingatkan Adit. Lalu Adit menarik keluar rudalnya dari serambi lempitku. Lalu ia dengan buas mengocok kemaluannya sendiri. Aku melihat cairan putih keluar dari lubang kecilnya dengan derasnya.
Kali ini aku merasakan semburan hangat mendarat di perutku yang mulus itu. Seperti tadi, aku bersihkan ceceran sperma itu dengan jari-jariku lalu aku habiskan. Ketika sudah tidak ada sisa sperma Adit yang tersisa, aku menutup mataku, beristirahat sejenak.
Setelah aku cukup bertenaga, aku hampiri Ardika yang masih terikat. Kondisinya sangat mengenaskan. Aku berlutut di depan, dengan lembut ku elus pipinya.
Kuingin melepaskan kaos yang menyumpal mulut. Tapi aku belum siap mendengarnya. Dengan pelan kuucapkan “Maafkan Ibu Don”. Ia hanya memberikan yang kosong.
“Tante Ana” panggil Davin yang sedang berjalan mendekatiku. Aku merasakan aura yang sangat jantan terpancar dari Davin. Mengingat rasa nikmat yang diberikan pemuda ini, membuat darahku kembali berdesir panas. Birahi seksual kembali muncul dalam diriku. Melupakan rasa bersalahku kepada anakku yang berada di depanku.
Davin melepas celananya, sehingga rudal besar yang telah memberikanku kenikmatan itu terpampang. Meski masih setengah ereksi, ukurannya tetap lebih besar dari mas Abbas ketika sudah tegang maksimal.
Pembuli Ardika ini menyodorkan titit besarnya ke wajahku. *Cuuh….Cuuh….Cuuh…. Saking besarnya aku harus meludahi titit ini berkali-kali. Serasa cukup basah, lantas aku urut mesra dengan kedua membacanya.
Dengan tersenyum ke Ardika, kucium kepala titit Davin. Lalu kumasukan rudal besar itu ke mulutku.
*Happ…
Di depan anakku, aku melumati dan menghisap kemaluan milik orang yang selalu menyiksa dirinya. *Slurp….Slurp….Slick…slick….slrup….Kubuat sepelan mungkin, se-erotis mungkin, memancing birahi Ardika. Dan usahaku berhasil, meski masih terbalut celana aku yakin rudal anakku itu kembali tegang. Setidaknya ia akan kembali menikmati adegan yang tidak pantas ini.
Tak lama mengoral rudalnya, Davin mengarahkanku untuk kembali berbaring di kasur yang usang itu. Punggungku sekarang kembali berbaring di kasur yang subur ini.
Davin mendekatkan kemaluan yang besar itu ke bibir serambi lempitku. Ia menusukkan kepala tititnya di bagian serambi lempitku. Aku menggeliat nikmat, merasakan titit yang keras itu membekukan-belai serambi lempitku. Tak ayal cairan pelumasku kembali membanjiri serambi lempitku. Dengan begitu Davin akan memudahkan penetrasi olehnya.
“Ardika gw akan bikin nyokap lo hamil, gw kasih adik buat lo” ucap Davin pada Ardika.
“Oughhhh…..Davinnn” erangku nyaring saat orang yang sering membuli anakku ini menghujam lubang serambi lempitku dalam-dalam dengan titit besarnya. Rasa sakit dan nikmat bercampur menjadi satu. Terasa dinding rahimku disentuh oleh kepala rudal yang besar itu. Mas Abbas saja tidak pernah, tapi Davin sudah berkali-kali.
*Plok Plook Plookk
Davin langsung menggerakan pinggulnya dengan cepat dan bertenaga. Aku merasakan hujaman yang memberikan aku nikmat tiada tara.
*Plokk Plokk Plokkk
“Aahhhh….Davinnnn…..terusssssss…..ahhhhh….enakkkkk”.
“Lihat Donnn nyokap lu ke enakan gw entotin” ucap Davin memanasi Dino. Karena sedang mengerang ke enaakan, aku tak berani menatap Ardika, tak mau melukai hati anakku lebih jauh.
Kini aku dan Davin berciuman dengan buasnya. Lidahku bertautan dengan lidahnya, saling membelit nikmat. Bunyi kecipak basah pun terdengar nyaring. Sambil digenjot, mulutku dan Davin tetap saling mengunci.
Davin mekepaskan lumatanya, dan membisikan sesuatu ke telingaku. “Tapi Vin….” protesku ketika mendengar permintaannya. Namun ku urungkan niat untuk membantahnya.
*Plok Plokk Plokkk
Ku alihkan pandanganku ke Ardika yang terikat tidak berdaya “Lihattt…ahhhhh…..Ardikai……lihat….Ibu….sayanggg…eughh” ucapku di sela desahan-desahan akibat pompaan titit Davin di liang cintaku yang sempit.
Ardika memandang dengan rudal yang ngaceng di baliknya.
“Ibu… ahhhh…. lagi di entot sayangggg….ahhhh”.
“Sa-sama Davin yang perkasaaaa…..oghhhh….yang….suka buli kamuuuu….ahhhhh” ucapku memanasi Ardika. Ya, Davin memintaku untuk melakukanya. Dengan berat hati aku melakukannya.
“rudal Davinn…besarrr……Donnnn…..rudalll…Davinnn….besarrrrr” racauku gila.
“Ahhhh….enakkkk….bikin hamil tante Vinbbbb, bikin tanteeee…hamill….ohhhhh” lanjutku meracau, yang sambil terus di gempur oleh titit Davin.
“Ahhhh…..aku….dapettt sayangggg…akuuu….dapetttt…..” erangku mendapatkan orgasme pertama dengan Davin.
Davin mencabut rudalnya dari dalam tubuhku. Lubang serambi lempitku menyemburkan cairannya dengan derasnya membasahi kasur dan tubuh Davin. Tubuhku bergetar di setiap semburan yang keluar.
“Wuih….. gokil sampe muncrat gitu” komentar salah satu teman Ardika.
“Hh….hh…hh…hh” deru nafasku berat setelah klimakks. Orgasme kali ini terasa sangat enak dan Hebat. Mungkin salah satu yang terbaik yang pernah kurasakan. Penonton oleh titit berukuran super ditambah ditonton oleh anak sendiri membuat menggapai puncak yang sangat nikmat.
“Oghhh….pelan Davinn”.
Kembali Davin memasukan tititnya ke dalam serambi lempitku yang sudah menganga lebar. Tanpa basa-basi ia keluar masukan rudal besarnya dengan kecepatan tinggi. Lagi dinding serambi lempitku berbergesekan dengan guratan rudalnya, terasa nikmat. Urat-urat rudalnya yang besar memberikan kenikmatan yang luar biasa. Hasilnya dengan cepat, saya mencapai orgasme lagi.
“Davin…..tanteeee…keluarrr…lageeehee” beda dengan tadi, Davin diamkan rudalnya di dalam tubuhku. Tak ayal, cairan orgasmeku menyirami rudal besarnya.
“Enggg…” erangku ketika Davin menarik keluar rudal besarnya. Ia tergeletak di sampingku, menyodorkan rudal besarnya yang berlumuran cairan putih, cairan nikmatku. Tanpa di suruh aku masukan ke mulut, tititnya yang basah itu.
Lidahku bermain didalam mulutku, memanjakan rudal Davin. Mengecapi cairan orgasmeku sendiri. Setelah sudah bersih dari cairanku, ia tarik rudal dari mulutku.
“Ayo tante, sekarang di atas” ucap Davin. Entah kenapa aku yang sudah berkali-kali orgasme, masih memiliki tenaga. Tampakya karena rasa nikmat yang kuterima dari Davin, memberikan diriku tenaga untuk terus meraih kenikmatan puncak seksual.
Kulihat titit Davin yang tegak mengacuk basah karena air liurku. serambi lempitku berkedut-kedut, tanda meminta kembali pada jejal barang yang keras dan perkasa itu. Kugenggam batangnya, lalu keberikan kecupan di kepala rudalnya, tepatnya lubang kencingnya. Benang pre-cum pun terjalin dari ujung kepala rudal hingga bibirku, ketikaku menarik kepalaku menjauh.
Aku kangkangani, tubuh Davin. Meraih rudal tegaknya yang keras bak baja. Kugesekan kemaluannya di gerbang cintaku. Membalarinya perkakas Davin dengan cairan orgasmeku yang terus banjir. Kebiasaan itu, dengan sendirinya aku mendorong tubuhku turun. Dengan perlahan namun pasti, batang titit Davin tenggelam dalam liangku yang hangat dan basah. Erangan nikmat keluar dari mulutku di setiap inci batang Davin memasuki kembali diriku.
“Ohhh…mentok Vin” ucapku. Dibantu gravitasi, rudal Davin menyentuh bagian paling dalam serambi lempitku, pintu rahimku. Kudiamkan diriku, merasakan denyutan dari urat-urat tebal di sekujur titit Davin.
Aku naik turunkan tubuhku dengan pembohong. Selagi berpacu dalam birahi, aku menangkap Ardika sedang memperhatikanku tanpa berkedip. Jangan sampai muncul dengan yang tidak kumengerti. Apakah dia marah padaku, atau malah nafsu padaku. Atau malah keduanya. Yang pasti nafsu, karena dia ereksi.
“Ah…..ahhh….ahhhh…..Davinnn” erangku.
“Brengsek Don, serambi lempit nyokap lu sempit bangettt” ucap Davin.
“Ini serambi lempit punya gw…oghhhh” erang Davin keenakan dengan himpitan dinding serambi lempitku yang basah dan mencengkeram erat.
“Iyahhh Davin…. serambi lempit tante punya kamuhhhh” ucapku.
Tak hanya menaik turunkan tubuhku, terkadang aku menggoyangkan pinggulku, mengulek rudal Davin yang tertancap sempurna dalam tubuhku. Penjantan pembuli ini, meremas kedua dadaku. Menambah rasa nikmat. Aku menambahkan kedua diterimanya sendiri, membantu dia meremas-remas payudaraku.
Puas meremasi, ia letakkan kedua tangan di pinggulku. Lekas ia menggenjotku dari bawah, membawa tubuhku yang naik turun di atas tubuhnya. Aku mengerang nikmat. Dengan ini aku bakal mencapai klimaks lagi.
“Ah….ah…ah…”.
Benar, sensasi orgasme pun kembali hadir. Kalau begini, bersama Davin di setiap posisi aku selalu mendapatkan klimaks. Saat akan orgasme, aku berdiri dari tubuh Davin, hingga rudalnya terlepas dari cengkraman serambi lempitku. Kuusap-usap serambi lempitku dengan cepat, klitorisku yang keras dan menonjol tak lupat dari telapak tangan diterima.
“Daviiiiiiiiiiiiinnnnnn!” teriakku saat orgasme.
*Cret Cret Cret……serambi lempitku menyemburkan cairan orgasme dengan deras, membasahi Davin yang berada di bawahku. Ohhhh…gilaaa….aku muncrat lagi….. Aku terus saja mengusap dengan cepat memancing cairanku keluar. Terasa tidak keluar lagi, aku mengepaskan tubuhku di atas Davin. Kuletakaan kepalaku, di samping kepala Davin.
“Gile-gile, gw gak nyangak tante Ana bisa seliar ini” ucap Adit menyampaikanku.
“Hahaha, nyokap lu ngesquirt lagi, sampai basah begini gw” ujar Davin sambil mengelus punggungku mesra.
“Tante pernah muncrat gak sama suami tante?” tanya Davin. “Hh…ng-nggak…hh…pernah…Vin….hh, cuma sama…hh…kamu…doang….” jawabku jujur dengan sengal-sengal. Walaupun mas Abbas tidak gagal dalam urusan kematian, tapi ia kalah jauh dengan pembuli anakku ini. Maaf mas, kamu sibuk kerja tapi aku malah memuji kenikmatan yang kuterima darimu selama ini dengan nikmat yang di berikan Davin.
“Hahahah denger tuh Don, bokap lu payah gak pernah bikin nyokap lu kencing enak kayak gini” kata Davin bangga sekaligus meledek Ardika. Tak hanya membuli anakku, dia juga menertawakan suamiku. Aku hanya diam saja, terlalu capek untuk membela mas Abbas dan Ardika. Atau terlalu malas? entahlah.
Bermenit-menit kami diam saja, memulihkan tenaga. Nafasku sudah tidak lagi berburu. Davin kembali menusuk dirinya sendiri dengan rudalnya yang masih keras. Ia rangkul punggungku dengan kedua tanganya, lalu ia berdiri.
Ohhh…. Ternyata aku akan disengamai dengan di gendong olehnya. Takut jatuh, kedua kaki mengapit pinggulnya, dan kedua diterimanya.
“Ahhhh….Daviiinnnn…kamu kuat bangett…ahhhhh” pujiku terkesima dengan kekuatannya. Mas Abbas tidak pernah menyetubuhiku dengan gaya ini. Mungkin karena dia tidak menyetujui Davin. Kuberi dia mencium hangat sebagai tanda kagumku. Davin pun membalas menciumku. Kini aku dan Davin bercumbu hebat.
“Ah…ah….ah…..Daviiinnn!”
“Fuckkk…..nih serambi lempit legitt bangetttt” erang Davin.
*Plok Plook Plookkk
Baru pertama kali disetubuhi dengan gaya ini, sebentar saja aku akan meraih orgasme.
“Lagiii…..Davin….lagiii….tanteeee…keluarrrr….owhhhh” erangku keras ketika serambi lempitku kembali menyemburkan cairannya keluar dengan deras. Membasahi lantai di bawahku, dan juga kaki Davin.
Davin menurunkan tubuhku, hingga rudal terlepas dari serambi lempitku. Kakiku terasa sangat lemas. Hingga aku harus berpegangan pada badan Davin yang kekar ini.
“Hh…..He-hebat kamu Vin…hh…”pujiku.
“Makasih tante Ante”.
“Kamu belum keluar juga Vin? Tante sudah capeek bangettt” ucapku.
“Sebentar lagi aku mau keluar tan” ucap Davin. Ia membawa tubuhku ke depan Ardika yang masih duduk dan terikat, dengan mulut tersumpal kaos.
Davin memposisikan aku untuk berbaring di depan Ardika. Untuk menjaga keseimbangan tubuh, mau tak mau kamu kedua memegangi sandaran tangan kursi yang di duduki Ardika.
“Ardikai…..” panggilku lirih kepada anakku.
“Gw pengen Ardika lihat ibu keenakan gw entot” ujar Davin.
Kini jarak antara wajahku dengan wajah Ardika tidaklah jauh. Ardika bakal bisa melihat wajahku saat keenakan saat di sodok titit milik orang yang sering membulinya. Aku tidak bisa membayangkan perasaannya.
“Ssst….Davinn…nghhhh….okhhhhh” desisku tatkala rudal besarnya kembali memenuhi liang serambi lempit tanpa ada lagi ruangan tersisa. Davin langsung tancap gas menghujam serambi lempitku dengan kuat dan cepat. Aku mencoba menggigit bibirku agar tidak ada desahan yang keluar. Tapi usahaku sia-sia, genjotan Davin terlalu enak dan nikmat.
“Ma-maaf sayanggg…..iniiii…enakkk bangetttt….ahhhhhh” erangku di depan Ardika. Aku tidak bisa menahan eranganku lagi. Mataku merem melek.
“Ahh…ahh…ahh….Ardikaii….Davinnn”.
“Oghhh…..lihat Don……nyokap lu gw entotttt” ucap Davin seraya mengaduk-aduk serambi lempitku dengan titit keras dan besarnya.
“Ardikaiii…ah…lihatttt…Ibuuu….sayangggg”.
Ardika memelotot kearahku, ia menatap wajahku dengan penuh perhatian.
“I-bu…ahh..keenakan…ahhh..dientottt…. samaaaaa….. yang suka buli kamu….ohhhhh” tubuhku mulai bergetar dengan hebatnya. Mataku mendelik keatas, hanya putihnya saja yang terlihat. Orgasme hebat
“Maafkaann…ibuuu nakkk” lanjutku meracau nikmat di ambang orgasme akan memancing Ardika.
“I-ni semuaaaa…. demiiiii kamuuuu…aku keluar lagii Daviiinnnnn….ohhhhhhh” erangku dengan luar biasa saat mencapai puncak seksi. Aku meraih orgasme yang luar biasa dan sangat nikmat!
*Cret Cret Cret serambi lempitku memuncratkan cairan orgasmenya. Meski masih disumpal oleh titit Davin, lendir nikmatku tetap keluar dari sela-sela himpitan kemaluan kami.
Tubuhku yang lunglai, langsung di peluk oleh Davin. Dalam dekapan Davin, sesekali tubuhku masih bergetar kecil. Aku terpejam dengan nafas yang terasa sangat berat. Mendapatkan orgasme di depan anakku sangatlah luar biasa.
“Hosh….Hosh…Hosh….aku dikit keluar lagi tan….”
“Hosh…..Aku mau menghamili tante di depan Ardika sekarang” ucap Davin sambil mengelusi perutku. Yang nanti akan tumbuh janinnya di dalam.
Terlalu lelah, aku tidak tanggapi ucapannya. Ia bungkukan tubuh ke arah Ardika, namun kali Davin menarik kedua ke belakang. Dengan membabi buta, Davin menghujam serambi lempitku.
*Plok Plokkk Plookkk
“Ah….ah…ah….ah…” aku hanya bisa mendesah sambil menatap sayu ke Ardika yang sedang menangis. Dengan sisa tenaga aku mengucapkan “Ini demi kamu Ardika”.
rudal Davin terasa semakin besar dalam liang peranakanku. Urat-uratnya berdenyut-denyut kuat. Davin akan segera melihat benih-benih suburnya di rahimku.
“Oghhhh….. Ardikai….gw kasih lu adekkk”
“Tanteeee….terimaa pejuku…okhhhhh” teriak Davin. Lalu terasa ia berkali-kali menyemprotkan pejunya ke dalam tubuhku. Rasanya sangat nikmat, lantas aku kembali klimaks.
“Ardikaiii….ibuu….hamilll…Donnn..iiibuuuuu…hamillll…ohhhh” erangku saat kembali orgasme karena semprotan merasakan peju yang kuat di dalam liang cintaku, memenuhi seluruh lerung rahimku. Terasa sangat hangat rahimku, dan aku bisa merasakan betapa banyaknya sperma Davin yang tersimpan di dalam tubuhku. Dengan ini aku pasti hamil.
Pada saat yang sama, Ardika bergetar sangat hebat, ia sedang berejakulasi. Saking kuat orgasmenya, sperma muncrat keluar dari balik celananya dan mendarat di wajahku. Ohhh….aku dipejuhin anakku sendiri.
“Hh…..hhh….hhhh….”
“Hosh….Hoshh….Hoshhh…..”
Seketika ruangan hening, hanya ada deru nafas yang berat. Teman-teman Ardika hanya bisa terbenggong melihat adegan yang luar biasa ini.
Davin mencabut tititnya dari liang senggamaku. Langsung peju kentalnya tumpah ke lantai dan mengalir juga ke pahaku.
Davin menarik tubuhku, memelukku dari belakang, dengan begini aku bisa bersandar ke tubuhnya. Ia mengangkat kaki kiriku untuk berpjiak di paha Ardika. Dengan begini Ardika bisa melihat dengan jelas serambi lempitku yang merupakan tempat dia keluar dulu penuh dengan cairan putih kental, sperma subur pembulinya sendiri. Namun anakku masih menutup matanya.
Davin melebarkan bibir serambi lempitku, seketika setetes benihnya jatuh ke paha Ardika.
“Buka mata lu Don” perintah Davin. Namun Ardika hanya diam tetap terpejam, tidak mau menuruti permintaan si tukang buli.
“Tan” singkat Davin saya, memberi kode. Aku pun mengerti.
“Ardika sayang, buka mata kamu sayang, lihat ibu sayang” pintaku dengan lembut.
Kemudian ia membuka matanya, seketika ia langsung terbelalak.
“Bro serambi lempit nyokap penuh sama peju gw” Ucap Davin.
Ardika hanya bisa menatap serambi lempitku merekahh merah dan penuh sperma Davin. Ia tatap tanpa berkedip, dan nafasnya memburu.
“Coba tante Ana korek serambi lempit tante pake jari, terus kasih lihat ke Ardika” perintah Davin saya. Meski aku tahu itu akan menyakiti Ardika, tapi aku tidak berani membantah. Masukkan jari tengahku ke dalam lubang cintaku, terasa hangat dan lengket. Aku mengais-ngais sperma Davin.
Kutunjukan sperma Davin kepada Ardika, lalu aku berucap “Ardika Anakku sayang, lihat nih peju Davin kentel banget lohh”.
“Ibu pasti bakal hamil anaknya, kamu bakal punya adik Don” ucapku dengan lembut.
“Jaga anak gw ya Don” ucap Davin. Ardika teringat, lalu pingsan karena shock dengan kejadian yang terjadi di depannya. Naluri sebagai ibu pun langsung bekerja. “Vin, Vin tolong…. Ardika pingsan, tolong lepasin dia Vin, tante mohon” Aku khawatir dengan keadaan anakku.
“Ok-ok, woi tuh sana lepasan Ardika sekarang” perintah Davin kepada Rizki, Adit, dan Bambang. Mereka melepaskan Ardika, dan menidurkannya di kasur usang yang sudah basah dengan cairan orgasmeku. Masih pingsan, aku mengelusi kepalanya yang bersandar di pahaku. Setitik air mataku jatuh ke dahi.
“Hari ini masih panjang tan, Pejuku masih banyak nih” ucap Davin di telingaku membuat bergidik.
Nampaknya hari ini masih panjang. Dengan rela aku harus menyerahkan tubuh kepada teman-teman Ardika lagi. Namun ada pikiranku yang membayangkan kenikmantan yang aku raih nanti. Dan tenju saja Ardika harus menonton ibunya sampai tuntas.
Hari itu aku melakukan seks beramai-ramai sampai malam. Tentu saja di saksikan oleh Ardika terus. Berbagai posisi seks yang saya lakukan bersama teman-teman Ardika. Jumlah Orgasme pun tidak lagi bisa dihitung lagi. Tubuhku berkeringat dan penuh sperma yang sudah berkerak kering. Rizki, Adit, dan Bambang selalu menumpahkan sperma kental mereka di seluruh tubuhku. Mereka juga tak lupa menyetor sperma mereka ke lambungku melalui mulutku dan kerongkonganku.
Hanya Davin yang menyuntikan benih suburnya dalam ke dalam rahimku. Aku yakin sekarang sel telurku sedang di gempur habis-habisan, agar hamil.
Aku dan Ardika di antar pulang Davin menggunakan mobilnya. Tak ada ucapan katapun terucap keluar di mobil itu. Hanya desahanku yang terdengar. Aku yang berada di samping Davin yang sedang menyetir, tidak luput dari ulah jailnya. Karena sudah capek, kubiarkan saja si Davin.
Sesekali aku menoleh ke belakang, khawatir dengan anakku. Ardika hanya menatap keluar, memandangi daratan. Aku yang lelah juga mengerti, Ardika pasti terpukul dengan kejadian yang terungkap di lihat olehnya. Sebagai ibu aku mengerti bahwa dia sangat terluka, melihat ibu orang yang melahirkannya dan mencintainya di jadikan budak seks oleh teman-temannya.
Sampai di rumah pun, Ardika tetap diam, bahkan terkesan menyebutkan diriku sendiri. Rasa bersalah dalam diri saya kembali hadir. Padahal aku melakukan ini semua demi keselamatannya. Aku harap dia mengerti.
Keesokan harinya.*Tok….tok…Tok….“Donnnn, bangun sayang, sudah siang” karena kejadian kemarin aku membiarkan Ardika tidak sekolah. Agar ia bisa menenangkan dirinya, memulihkan mentalnya.*Clek….pintu dalam ruangan terbuka. Ardika terlihat tidak karuan.
Wajahnya sangatlah kusut. Tak ada suara yang keluar dari kami berdua. “Don, ibu minta maaf atas perbuatan ibu semalam ya” ucapku membuka suara, memecahkan kenyamanan.Ia memeluk dengan sangat erat. Akupun membalas pelukannya.*Hiks…hiks…hiks….
Terdengar tangisannya keluar, aku pun ikut menangis. Cukup lama kami berpelukan. “I-tapi nggak salah kok, D-Ardika mengerti kenapa ibu melakukan itu. De-demi Ardika kan Bu?” tanyanya sambil sesenggukan. “Iya nak, ibu mau menjadi budak seksnya Davin, karena untuk melindungi kamu” jawabku sambil juga terisak. “Terima kasih Bu” ucapnya pelan.
“Maaf ya Bu…. kemarin Ardika berejakulasi sampai kena muka Ibu” ucapnya meminta maaf perihal dia mengotori mukaku dengan “Ngak apa-apa kok sayang, ibu mengerti” “Tapi Kamu nikmatin kan Don? Hayooo kemarin sampe berkali-kali loh kamu muncratnya” lanjutku “Hehehe I-iya Bu, maaf” jawabnya dengan malu-malu.
“Oh iya Bu, terus gimana kalau ibu hamil beneran? Nanti ayah gimana?” tanyanya cemas.”Ibu akan menyusul ayahmu, untuk sementara waktu kamu tinggal sendiri ya”.“Loh, ibu mau ngapain pergi ke tempat ayah?” tanyanya binggung. “Ibu sudah yakin pasti hamil Don, meski belum ibu cek. Tapi ibu yakin anak Davin sudah tumbuh di perut ibu sekarang” ucapku.
“Begita ya Bu….” jawab Ardika lalu menatap perutku.”Makanya ibu mau mengikuti ayahmu. Ibu ingin disetubuhi ayahmu, biar dia percaya kalau anak ada dalam perut ibu adalah anaknya” jelasku kepada Ardika mengenai rencanaku untuk mengelabui mas Abbas.”Ardika, minta maaf bu. Jadi ada yang tidak berguna bagi ibu dan ayah”.Mendengar itu aku kembali memeluk anakku.
Kutatap matanya dalam-dalam “nggak nak, kamu bukan anak tidak berguna, tapi kamu anak yang sudah berbakti kepada orangtuanya”.”Oleh karena itu, ibu rela berkorban demi kamu nak”.”Terima kasih Bu, sudah berkorban demi aku.”. “Iya nak.
Dan ingat ya nak, ini hanya rahasia kita ya”. “I-ya Bu”.Jadilah aku menyusul ke tempat suamiku kerja yang berada di luar kota. Suamiku kaget melihat kedatanganku. Tak menyangka akan melihat istrinya jauh dari rumah.
Aku melepas rindu dengan suamiku, cinta sahku. Ada rasa bersalah saat itu, tapi aku harus tetap menjalankan rencanaku.Malamnya di hotel, dengan akal-bulusku, kurayu mas Abbas untuk bersetubuh denganku. Kupaksa dia untuk mengeluarkan benihnya ke dalam tubuhku.
Meski aku yakin bakal percuma, pasti sperma encer mas Abbas tidak bisa membuahiku. Toh pasti sekarang sudah ada janin dari benih Davin. Tiga hari berlalu sejak saya bertemu dengan mas Abbas, saya mengalami gejala-gejala kehamilan. Nyatanya aku dinyatakan hamil oleh testpack yang kubeli dari apotik.
Dengan demikian aku yakin janin dalam perutku adalah milik Davin, bukan milik suami sahku. Orang yang menghamiliku itu dengan baik hati mengantarkan aku ke dokter kandungan. Saya juga memberi tahu mas Abbas mengenai kehamilanku. Ia senang mendengarnya namun juga khawatir perihal keuangan kita.
Namun aku menenangkan mas Abbas, dengan bercerita bahwa aku di rumah mulai berjualan online, jadi dia tidak perlu khawatir. Jadi aku tidak lagi kekurangan. Padahal aku saat ini dihibur juga oleh Davin.Empat bulan Kemudian. “Gimana Don, kamu bakal punya adik loh” tanyaku lembut kepada Ardika yang duduk di sampingku.
Aku pegang tangan dan kuletakan di atas perutku yang sudah membuncit. Ardika hanya diam menatap perutku dan mengelus-elus perutku yang sudah terisi adiknya, yang dalam waktu lima bulan kurang akan lahir ke dunia ini. “Ardika, inget ya, meski ini bukan anak ayahmu, tapi ini tetap adik kamu ya Don.
Karena darah ibu, yang juga darah kamu, mengalir dalam adikku kamu ini. Jadi ibu minta kamu jaga dan sayangi adikmu ya” pintaku dengan lembut. “I-ya Bu, anak di dalam kandungan ibu akan Ardika dianggap sebagai adik, jadi pasti akan bersama Ardika sayangi” ucapnya yang membuat tersenyum.Hari-hari berikutnya, kujalankan dengan Ardika. Meski hamil pun aku tetap menjalankan tugasku sebagai budak seks.
Sekarang anakku ikut ketika aku ditelepon untuk memuaskan hasrat orang yang suka membulinya, Davin. Tapi Davin menepati janjinya, kini dia dan Ardika berteman baik.Secera terang-terang Ardika menikmati aku, ibunya di gumuli oleh teman-temannya sendiri. Aku pun juga senang, sensasi bersenggama sambil ditonton oleh anak sendiri menghasilkan kenikmatan yang berlipat-lipat.
Pernah dia memintaku untuk memberikan apa yang kuberikan kepada teman-temannya. Namun kutolak mentah-mentah permintaannya. Kujelaskan kepada Ardika, bahwa kita adalah ibu dan anak, tidak sepatutnya berhubungan seks. Dan aku mengingatkan Ardika bahwa ini semua terjadi karena demi melindungi dia dari Davin, jadi aku harap dia mengerti.
Aku kira tugasku sebagai budak seks pribadi untuk Davin berhenti ketika aku melahirkan anaknya. Nyatanya sampai anak keduaku lahirpun aku tetap menjadi budak seks Davin. Hingga kini aku masih tidak percaya semua ini terjadi karena demi anakku… Ardika…..Tamat….. tapi ini tetap adik kamu ya Don.
Karena darah ibu, yang juga darah kamu, mengalir dalam adikku kamu ini. Jadi ibu minta kamu jaga dan sayangi adikmu ya” pintaku dengan lembut. “I-ya Bu, anak di dalam kandungan ibu akan Ardika dianggap sebagai adik, jadi pasti akan bersama Ardika sayangi” ucapnya yang membuat tersenyum.
Hari-hari berikutnya, kujalankan dengan Ardika. Meski hamil pun aku tetap menjalankan tugasku sebagai budak seks. Sekarang anakku ikut ketika aku ditelepon untuk memuaskan hasrat orang yang suka membulinya, Davin. Tapi Davin menepati janjinya, kini dia dan Ardika berteman baik.
Secera terang-terang Ardika menikmati aku, ibunya di gumuli oleh teman-temannya sendiri. Aku pun juga senang, Sensasi bersenggama sambil ditonton oleh anak sendiri menghasilkan kenikmatan yang berlipat-lipat. Pernah dia memintaku untuk memberikan apa yang kuberikan kepada teman-temannya.
Namun kutolak mentah-mentah permintaannya. Kujelaskan kepada Ardika, bahwa kita adalah ibu dan anak, tidak sepatutnya berhubungan seks. Dan aku mengingatkan Ardika bahwa ini semua terjadi karena demi melindungi dia dari Davin, jadi aku harap dia mengerti.
Aku kira tugasku sebagai budak seks pribadi untuk Davin berhenti ketika aku melahirkan anaknya. Nyatanya sampai anak keduaku lahirpun aku tetap menjadi budak seks Davin. Hingga kini aku masih tidak percaya semua ini terjadi karena demi anakku… Ardika…..Tamat….. tapi ini tetap adik kamu ya Don.
Karena darah ibu, yang juga darah kamu, mengalir dalam adikku kamu ini. Jadi ibu minta kamu jaga dan sayangi adikmu ya” pintaku dengan lembut. “I-ya Bu, anak di dalam kandungan ibu akan Ardika dianggap sebagai adik, jadi pasti akan bersama Ardika sayangi” ucapnya yang membuat tersenyum.
Hari-hari berikutnya, kujalankan dengan Ardika. Meski hamil pun aku tetap menjalankan tugasku sebagai budak seks. Sekarang anakku ikut ketika aku ditelepon untuk memuaskan hasrat orang yang suka membulinya, Davin. Tapi Davin menepati janjinya, kini dia dan Ardika berteman baik.
Secera terang-terang Ardika menikmati aku, ibunya di gumuli oleh teman-temannya sendiri. Aku pun juga senang, sensasi bersenggama sambil ditonton oleh anak sendiri menghasilkan kenikmatan yang berlipat-lipat. Pernah dia memintaku untuk memberikan apa yang kuberikan kepada teman-temannya.
Namun kutolak mentah-mentah permintaannya. Kujelaskan kepada Ardika, bahwa kita adalah ibu dan anak, tidak sepatutnya berhubungan seks. Dan aku mengingatkan Ardika bahwa ini semua terjadi karena demi melindungi dia dari Davin, jadi aku harap dia mengerti.
Aku kira tugasku sebagai budak seks pribadi untuk Davin berhenti ketika aku melahirkan anaknya. Nyatanya sampai anak keduaku lahirpun aku tetap menjadi budak seks Davin. Hingga kini aku masih tidak percaya semua ini terjadi karena demi anakku… Ardika….. jadi pasti akan bersama Ardika sayangi” ucapnya yang membuat tersenyum.
Hari-hari berikutnya, kujalankan dengan Ardika. Meski hamil pun aku tetap menjalankan tugasku sebagai budak seks. Sekarang anakku ikut ketika aku ditelepon untuk memuaskan hasrat orang yang suka membulinya, Davin. Tapi Davin menepati janjinya, kini dia dan Ardika teman baik.
Secera terang-terang Ardika menikmati aku, ibu di gumuli oleh teman-temannya sendiri. Aku pun juga senang, sensasi bersenggama sambil ditonton oleh anak sendiri menghasilkan kenikmatan yang berlipat-lipat. Pernah dia memintaku untuk memberikan apa yang kuberikan kepada teman-temannya.
Namun kutolak mentah-mentah permintaannya. Kujelaskan kepada Ardika, bahwa kita adalah ibu dan anak, tidak sepatutnya berhubungan seks. Dan aku mengingatkan Ardika bahwa ini semua terjadi karena demi melindungi dia dari Davin, jadi aku harap dia mengerti. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com
Aku kira tugasku sebagai budak seks pribadi untuk Davin berhenti ketika aku melahirkan anaknya.Nyatanya sampai anak keduaku lahirpun aku tetap menjadi budak seks Davin. Hingga kini aku masih tidak percaya semua ini terjadi karena demi anakku… Ardika….. jadi pasti akan bersama Ardika sayangi” ucapnya yang membuat tersenyum.
Hari-hari berikutnya, kujalankan dengan Ardika. Meski hamil pun aku tetap menjalankan tugasku sebagai budak seks. Sekarang anakku ikut ketika aku ditelepon untuk memuaskan hasrat orang yang suka membulinya, Davin. Tapi Davin menepati janjinya, kini dia dan Ardika teman baik.
Secera terang-terang Ardika menikmati aku, ibu di gumuli oleh teman-temannya sendiri. Aku pun juga senang, sensasi bersenggama sambil ditonton oleh anak sendiri menghasilkan kenikmatan yang berlipat-lipat. Pernah dia memintaku untuk memberikan apa yang kuberikan kepada teman-temannya.
Cerita Sex Mengkonsumsi Jamu Awet Muda
Namun kutolak mentah-mentah permintaannya. Kujelaskan kepada Ardika, bahwa kita adalah ibu dan anak, tidak sepatutnya berhubungan seks. Dan aku mengingatkan Ardika bahwa ini semua terjadi karena demi melindungi dia dari Davin, jadi aku harap dia mengerti.
Aku kira tugasku sebagai budak seks pribadi untuk Davin berhenti ketika aku melahirkan anaknya. Nyatanya sampai anak keduaku lahirpun aku tetap menjadi budak seks Davin. Hingga kini aku masih tidak percaya semua ini terjadi karena demi anakku… Ardika