
Cerita Sex Surga Dunia – Halo sobat Ngocokers. Selama 2 tahun aku menikmati segala kenikmatan sex dengan Mbak Isti. Sejauh itu aku dan Mbak Isti bisa merahasiakannya. Papa dan ibu tiriku tidak tahu bahwa diam-diam Mbak Isti suka menyelinap ke dalam kamarku, setelah janjian dulu siangnya secara rahasia.
Tetapi semuanya harus berakhir setelah Mbak Isti pamitan untuk pulang ke kampungnya, karena mau menikah dengan pria sekampungnya. Sebelum dia pulang, masih sempat ia memberikan sepucuk surat padaku yang isinya,
“Den Toni yang baik”. Maafkan saya ya, karena saya diam-diam merahasiakan bahwa selama ini saya sering gelisah sendiri. Saya sering takut kalau hubungan kita diketahui oleh Bapak dan Ibu. Selain daripada itu, saya juga takut hamil, Den. Karena itu lamaran laki-laki di kampung saya terpaksa saya terima. Karena kita tidak mungkin terus-terusan begini.
Terimakasih buat semua yang sudah saya dapatkan. Saya akan tetap mengenang Den Toni dan segala kisah yang pernah terjadi di antara kita. Saya doakan Den Toni tetap jadi anak pandai di sekolah. Doakan juga saya agar bisa berbakti kepada suami saya nanti. Setelah dibaca, bakar saja surat ini ya Den. Nanti ketahuan Bapak atau Ibu, pasti Den Toni dimarahi. Hormat saya, Istikharoh.
Cerita Sex Surga Dunia Ngocoks Batinku terpukul sekali setelah membaca surat itu. Mbak Isti hanya seorang pembantu, yang dengan setia mengabdi di rumahku selama 3 tahun. Tapi ia telah meninggalkan kesan khusus di hatiku. Lebih dari sekadar tempat pelampiasan nafsuku. Karena aku rasakan sendiri, setelah aku memiliki hubungan rahasia dengannya, aku diperlakukan semakin baik olehnya.
Waktu ia meninggalkanku, aku sudah duduk di kelas 1 SMA. Aku merasa sedih sekali dengan kepergiannya. Tapi aku tak pernah curhat kepada siapa pun. Karena aku tak ingin membuka rahasiaku sendiri.
Walaupun cuma seorang pembantu, Mbak Isti meninggalkan kesan yang mendalam di hatiku. Dari dialah aku jadi tahu apa yang sering disebut “surga dunia”. Bahkan aku sangsi apakah kepuasan dan kenikmatan yang sering kudapatkan darinya bisa kudapatkan dari wanita lain.
Entahlah. Yang jelas, sejak Mbak Isti gak ada, aku jadi pemurung, baik di rumah maupun di sekolah. Teman-teman seangkatanku mulai nyari pacar masing-masing. Tapi aku tak punya gairah untuk mencari pacar. Lalu pura-pura serius ke pelajaran. Tak mau peduli soal cewek.
Padahal aku seperti kehilangan gairah dengan teman-teman cewek sebayaku. Karena aku yakin mereka tidak akan bisa diperlakukan semaunya seperti Mbak Isti. Kalau pun ada yang mau berhubungan sex, bagaimana kalau hamil nanti? Itulah sebabnya aku menjaga jarak terus dengan teman-teman cewek.
Tapi tahukah mereka bahwa aku sebenarnya sangat membutuhkan lawan jenis untuk menyalurkan nafsuku yang sering timbul dan sulit dikendalikan?
Keadaan seperti itu berlangsung terus sampai aku duduk di kelas 3 SMA. Untungnya aku berhasil konsentrasi sepenuhnya ke pelajaran di sekolah, sehingga rankingku tetap berada di 3 besar.
Tapi entah kenapa, pada suatu malam aku bermimpi yang terasa aneh sekali. Aneh, karena aku tak pernah berpikir sejauh itu. Tapi dalam mimpi itu aaah…aku mimpi bersetubuh dengan ibu tiriku! Padahal selama ini aku tak pernah berpikir yang bukan-bukan terhadap beliau.
Aku bahkan harus berterimakasih, karena mama (demikian aku memanggil kepada ibu tiriku) memperlakukanku seperti kepada anaknya sendiri. Tidak seperti dalam dongeng-dongeng yang sering menceritakan kejamnya ibu tiri, ooo tidak… ibu tiriku tidak pernah memukulku, bahkan menyentil telinga pun belum pernah.
Ibu tiriku seorang guruu. Mama selalu bilang, “Kalau kepada murid aku bisa sayang, kenapa kepada anak suamiku tidak bisa sayang?”
Lagipula dari perkawinannya dengan ayahku, Mama tidak dikaruniai keturunan. Entah siapa yang bermasalah. Tapi yang jelas ia memperlakukanku sebagai anaknya sendiri. Dia sering bilang, “Buat apa aku punya anak? Kan aku sudah punya Toni.”
Lalu kenapa aku bisa bermimpi demikian aneh dan merangsangnya sehingga pagi-pagi aku terbangun dengan celana basah oleh air maniku sendiri?
Seharusnya aku mengutuk diriku sendiri. Sebagai anak yang tak tahu diri. Tapi, sungguh, mimpi itu datang tanpa diundang, bukan hasil dari lamunanku !
Celakanya, sejak mengalami mimpi itu, aku sering mencuri-curi pandang, memperhatikan gerak-gerik Mama dengan sudut mataku.
Mama memang tidak semuda Mbak Isti. Usianya sudah 30 tahun. Tapi kalau kubanding-bandingkan, Mama jauh lebih mulus. Langsing, berkulit putih bersih dan memiliki deretan gigi yang rapi. Mama seorang wanita yang cantik. Ayahku boleh berbangga memiliki istri secantik dan semuda itu.
Oke, taruhlah Mama wanita yang tercantik di dunia, tapi apa alasanku jadi sering berpikiran kotor padanya? Bukankah ia milik ayah kandungku?
Entahlah. Aku sering berusaha menindas perasaan yang bukan-bukan ini dengan mencurahkan perhatian kepada pelajaran sekolah. Apalagi kalau mengingat bahwa beberapa bulan lagi aku akan menempuh ujian.
Tapi gilanya, pikiran ini makin lama malah makin menjadi-jadi. Lalu kalau ibu tiriku tahu bahwa aku terus-terusan membayangkan tubuhnya dalam gumulanku, seperti dalam mimpi itu, apakah dia takkan marah Entahlah. Di masa ujian yang semakin dekat, aku malah terus-terusan mikirin tubuh ibu tiriku.
Bahkan pada suatu sore, kegilaanku datang tak terkendali. Saat itu ayahku sedang di luar Jawa untuk mengurus bisnisnya. Kudengar langkah ibu tiriku menuju kamar mandi. Lalu entah dari mana datangnya keinginan gila ini. Keinginan untuk mengintip ibu tiriku waktu mandi!
Kamar mandi itu ada dua pintu. Yang satu untuk dibuka dari kamar ortu, yang satu lagi bisa dibuka dari kamarku. Itu adalah kamar mandi keluarga. Tapi di antara kamar mandiku dengan kamar mandi ortu dibatasi oleh dinding yang tidak tertutup penuh. Dinding itu hanya setinggi 2 meter. Aku tidak tahu kenapa kamar mandi itu dibuat begitu. Tapi dasar sial, di dinding pembatas kamar mandiku dengan kamar mandi orang tuaku gak ada lubang buat mengintip. Bisa saja aku memanjat ke atas bak mandi, tapi kepalaku akan kelihatan dari sebrang sana, takut malah Mama marah nanti.
Aku jadi seperti orang linglung. Mondar-mandir di dalam kamar mandi, kemudian keluar dengan hati kecewa.
Beberapa saat kemudian ibu tiriku muncul dalam daster biru mudanya. Mengambil air minum dari dispenser, lalu membawanya ke meja kerjanya. Saat itu aku duduk di depan TV, pura-pura menonton TV. Padahal sudut mataku mengintai dia terus.
Kulihat Mama menghadapi setumpuk kertas ulangan murid-muridnya. Aku mulai nekad. Menghampiri meja kerja ibu tiriku dan berdiri di belakang kursinya.
“Perlu bantuan, Mam?” tanyaku menawarkan jasa.
Mama menengok ke belakang, tersenyum dan menyahut, “Gak usah.Kerjaan gampang. Seperempat jam juga selesai.”
Pada saat itulah kenekadanku timbul. Kupeluk leher Mama dari belakang. Dia terkejut, menoleh ke belakang, ke arahku, “Kenapa Ton?”
“Gak kenapa-kenapa. Pengen meluk Mama aja. Boleh kan?” sahutku sambil berusaha menenangkan diri.
Anehnya Mama diam saja. Padahal tadinya aku sudah siap untuk dimarahi sekalipun.
Dan karena Mama tidak berontak, aku jadi merasa mendapat angin baik. Tanganku yang masih melingkar di lehernya, mulai turun ke bawah… memegang buah dadanya dari luar dasternya. Wow, terasa Mama tidak mengenakan beha! Terasa sekali bedanya!
“Ton…” Mama menoleh lagi ke arahku, “Kamu kok lain dari biasanya?”
Aku tidak menjawab. Tapi jelas benar di mataku bahwa bibir Mama itu menyunggingkan senyum. Hal itu membuatku merasa semakin dikasih hati. Kuselinapkan tangan kananku ke dalam daster Mama di bagian dadanya. Dan oh…ternyata Mama tidak berontak waktu aku memegang payudaranya yang ternyata masih sangat kencang (maklum Mama belum pernah melahirkan anak).
Mama diam saja ketika aku meremas payudaranya dengan lembut. Bahkan suhu badannya mulai menghangat. Terlebih ketika aku mulai memainkan pentil buah dadanya, dengan pengalaman yang sudah cukup banyak dari kisahku bersama Mbak Isti.
“Ton…” terdengar suara Mama tersendat.
“Iya Mam?”
“Kamu kok jadi aneh begini Ton?”
“Gak tau kenapa…belakangan ini aku mikirin Mama terus…” sahutku sambil memasukkan tangan kiriku ke arah buah dada Mama yang sebelah kiri pula. Sehingga kini kedua buah dada Mama berada di dalam genggamanku.
“Kamu anak nakal. Masa mama diginiin?” Mama protes. Tapi bibirnya itu… tersenyum lagi… !
“Sudah lama aku ingin mendapat kesempatan ini, Mam.”
“Ntar…mama pengen pipis dulu,” kata ibu tiriku sambil mengeluarkan tanganku dari dasternya, kemudian bangkit dari kursi kerjanya dan melangkah ke arah toilet.
Aku jadi dag-dig-dug menantikan detik-detik mendebarkan ini.
Keluar dari toilet, Mama tidak duduk di belakang meja kerjanya lagi. Padahal aku tau dia belum menyelesaikan pekerjaannya.
Mama malah duduk di sofa panjang. Sambil memandangku dengan senyum manis. Oh, aku sudah agak berpengalaman, senyum itu bisa kuartikan “mengijinkan”.
Dan senyum itu membuatku seperti robot, menghampirinya dengan hati penuh harap dan hasrat.
Mama masih tersenyum, dengan sorot pandang yang lain dari biasanya. Apakah dia juga mengharapkanku? Mengharapkan anak muda yang sedang segar-segarnya?
Aku pun lalu duduk merapat di samping kiri ibu tiriku yang jelita itu.
“Kamu kok tiba-tiba begini…” suara Mama terdengar bergetar di pendengaranku. Mungkin dia juga sedang mengharapkan sesuatu dariku.
Aku menjawabnya dengan mengulang perbuatanku di belakang kursi kerja Mama. Melingkarkan lengan kananku di lehernya, lalu menyelusup lagi ke arah buah dadanya yang tak berbeha itu. Terjamah lagi gumpalan daging kenyal dan masih kencang itu. Buah dada Mama tidak sebesar buah dada Mbak Isti. Tapi rasanya buah dada Mama lebih kencang dan padat.
Mama diam saja. Seperti ingin tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya. Maka ketika tangan kananku masih meremas buah dada kanan Mama, tangan kiriku mulai merayapi lutut Mama….merayap ke atas, ke pahanya yang terasa licin dan hangat. Mama masih diam juga. Bahkan ketika tangan kiriku merayap terus ke arah pangkal pahanya, dia malah tersenyum sambil menatapku dengan bola-bola mata bergoyang. Aku jadi semakin berani. Dan…suatu kenyataan mendebarkan kutemukan. Ibu tiriku tidak mengenakan celana dalam, sehingga tanganku mulai menyentuh rambut lebat di selangkangan Mama. Mungkinkah diam-diam Mama sudah mengatur untuk “mempermudah” agar aku bisa langsung menyentuh kemaluannya? Apakah tadi dia hanya pura-pura pengen pipis padahal sebenarnya mau melepaskan celana dalamnya di toilet? Entahlah, yang jelas napasku semakin tak teratur. Dengan batang kemaluan yang semakin tegang.
Terlebih ketika aku sudah menyentuh bibir kemaluan Mama… oooh… Mama malah merenggangkan kedua pahanya, seolah ingin memberi keleluasaan untuk tanganku yang mulai menjelajahi bagian yang paling merangsang ini!
Maka dengan napas yang semakin sulit kuatur, aku pun mulai mengelus bibir kemaluan ibu tiriku. Terkadang kuselusupkan jari tengahku ke dalam liang serambi lempitnya yang hangat dan mulai basah.
Ah…sungguh tak kuduga bahwa aku akan mendapatkan kesempatan seperti ini.
Gilanya, disaat aku asyik memainkan serambi lempit ibu tiriku, tampaknya ia pun tidak mau berdiam pasif. Tangannya menyelinap ke balik celana trainingku. Menyelinap ke balik celana dalamku. Dan mulai memegang batang kemaluanku.
“Iih…punyamu kok besar sekali Ton?! Sudah keras pula…” Mama melotot tapi lalu tersenyum penuh arti. Lalu katanya lagi, “Kamu punya jauh lebih besar daripada punya papamu, Ton…oh iya…almarhum ibumu kan orang Pakistan ya?”
Aku tidak menyahut. Kata-kata senada dengan itu pernah diucapkan oleh Mbak Isti dahulu. Bahkan setahuku, batang kemaluanku ini makin membesar dan memanjang setelah aku duduk di SMA.
Dan kini batang kemaluanku yang masih tersembunyi di balik celana training dan celana dalamku, terus-terusan mendapat remasan lembut ibu tiriku, sehingga aku merasa hampir tak kuat lagi, ingin segera menyetubuhi wanita 30 tahunan berkulit kuning langsat, berperawakan tinggi semampai dan berwajah cantik itu. Aku tetap menyembunyikan rahasia masa laluku dengan Mbak Isti. Maka ketika Mama membisiki aku, “Kamu pernah begituan sama cewek?” dengan tegas kujawab, “Belum. Kalau ngocok sih pernah..mimpi bersetubuh sama Mama juga pernah, sampai paginya celanaku basah.”
“Jadi kamu pernah mimpi begituan sama mama? Pantesan…” ibu tiriku melepaskan zakarku dari genggamannya, lalu merebahkan diri sambil menyingkapkan dasternya sampai ke bagian perutnya. Sehingga mulai dari pusar perut sampai ujung kakinya terbuka jelas di mataku.
Oh, ini luar biasa bagiku! Memang aku sudah sering melihat Mbak Nining telanjang. Tapi yang sedang kuhadapi ini ibu tiriku sendiri, sehingga ia benar-benar memiliki nilai plus bagi jiwaku. Maka kunikmati pemandangan indah itu, tentang sepasang kaki yang mulus dan putih, tentang kemaluan wanita yang berbulu sangat lebat dan…ah…aku tak sabar lagi…langsung saja kuserudukkan wajahku ke bawah perut ibu tiriku. Kuciumi serambi lempit berbulu lebat itu. Tidak ada bau yang tak sedap, bahkan wangi sabun masih tertinggal, karena belum lama ia habis mandi tadi.
Seperti anak menemukan mainan, kubuka bibir kemaluan Mama, tampak merah bagian dalamnya. Mama diam saja, hanya elahan napasnya yang terdengar.
Aku mulai menjilati bibir kemaluan yang seolah menantangku ini. Lalu kujilati juga kelentitnya, sehingga ibu tiriku mulai menggeliat, “Ton…kamu kok sudah pandai main jilat segala? Sering nonton film porno ya?”
“Iya Mam,” sahutku sambil menghentikan jilatanku sesaat, lalu kujilati lagi serambi lempit yang belum pernah melahirkan anak itu.
“Pantesan…iiih…enak sekali Ton…ta…tapi mending di kamar yuk. Takut mendadak ada tamu. Lampu-lampu matiin aja semua, biar disangka kita sudah pada tidur, biar jangan ada gangguan.” Ibu tiriku bangkit dari sofa.
“Iya Mam,” aku mengangguk. Lalu semua lampu di ruang depan kumatikan. Demikian juga lampu di pavilyun. Lalu bergegas menuju kamar ibu tiriku.
Kulihat Mama sudah bertelanjang bulat sambil memeluk bantal guling di atas tempat tidurnya. Ia menyambutku dengan senyum ketika aku menghampiri tempat tidur dan melompat ke atasnya…menerkam tubuh bugil ibu tiriku dengan birahi meluap-luap.
“Buka dulu dong baju dan celanamu, sayang,” bisik Mama sambil mencolek hidungku. Oh, inilah perlakuan ibu tiriku yang terasa baru. Karena biasanya ia jauh-jauh saja dariku. Paling hebat cuma memegang pergelangan tanganku.
Aku tak mau buang-buang waktu lagi. Kutanggalkan semua yang melekat di tubuhku. Kemudian menerkam ibu tiriku lagi dalam keadaan sudah sama-sama telanjang bulat.
Bersambung… Terawangan masa laluku buyar ketika Mama sudah menghidangkan nasi goreng untukku. Mama sudah tahu benar nasi goreng seperti apa yang kusukai. Dan malam ini Mama lain dari biasanya. Ada 2 sendok dan 2 garpu di piringku. Nasi gorengnya pun lebih banyak dari biasanya.
“Mau sepiring berdua, Sayang ?” Mama mengecup pipiku. Aneh… ada getaran khusus di hatiku. Senang rasanya diperlakukan mesra seperti itu oleh ibu tiriku. Dia memang ibu tiri yang baik. Tapi malam ini dia jauh lebih baik lagi.
Layaknya sepasang kekasih, kami lalu makan di piring yang sama. Terkadang saling pandang dan tersenyum.
“Nanti aku tidur sama Mama ya,” kataku setelah nasi goreng dilahap habis oleh kami berdua.
“Iya,” Mama mengangguk, “Tapi kalau ayahmu sudah pulang, jangan memperlihatkan sikap yang mencurigakan ya.”
“Tentu aja dong,” sahutku sambil menyeka mulut dengan kertas tisue, “Mama juga jangan memperlihatkan sikap yang bisa membuat papa cemburu.”
Ibu tiriku tertawa kecil. Lalu katanya, “Sebenarnya ayahmu cemburuan lho.”
“Mungkin karena perbedaan usia yang terlalu jauh,” lanjut Mama, “Makanya kita harus hati-hati. Harus rapi.”
Aku cuma mengangguk perlahan. Ibu tiriku tidak tahu bahwa aku sudah 2 tahun bisa memegang rahasia, bisa menjaga sikap, sehingga tiada orang tahu apa yang sudah kulakukan bersama Mbak Isti selama 2 tahun.
Dan yang jelas, aku merasa rumah orang tuaku ini seolah telah menjadi istana birahiku…
MALAM itu seolah jadi malam surgawi bagiku. Karena mimpiku telah menjadi kenyataan. Bukan hanya bisa menyetubuhi Mama, bahkan Mama tampak ketagihan. Dalam hal ini ada perasaan bersalah juga di hatiku, karena aku telah menghianati ayahku sendiri. Tapi semuanya sudah telanjur terjadi. Aku dan ibu tiriku pasti sulit menghentikannya.
Selesai makan nasi goreng, untuk pertama kalinya aku tidur bersama ibu tiriku. Tentu bukan cuma tidur. Kami lakukan lagi persetubuhan yang ketiga kalinya. Yang ketiga ini lebih edan-edanan. Kami bergulingan, saling remas, saling lumat dan kembali mengatur supaya mencapai titik kepuasan dalam waktu berbarengan. Bahwa ketika batang kemaluanku sedang menyemprot-nyemprotkan air mani di dalam liang kemaluan Mama, terasa benar liang kemaluan itu pun berkedut-kedut, sebagai pertanda bahwa Mama pun sedang merasakan nikmatnya orgasme.
Lalu kami sama-sama terkapar dalam kepuasan. AKhirnya kami tertidur sambil saling berpelukan dalam keadaan sama-sama telanjang bulat. Begitu nyenyaknya aku tidur, sehingga tak peduli lagi pada tubuhku yang tidak ditutupi sehelai benang pun. Bahkan selimut pun masih terlipat dengan rapi, tidak kami pakai untuk menyelimuti tubuh bugil kami.
Tapi pagi-pagi sekali, ketika hari masih gelap, aku rasakan yang lain pada batang kemaluanku. Ada elusan yang luar biasa enaknya, sehingga aku membuka mataku perlahan. Ternyata Mama sedang menyelomoti batang kemaluanku!
Aku terdiam dan berpura-pura tetap tidur. Tapi batang kemaluanku mulai menegang lagi. Ah, gila…permainan bibir dan lidah Mama terasa begini enaknya…sehingga nafsu birahiku bergejolak lagi dengan hebatnya.
Kemudian Mama berjongkok dengan kakinya berada di kanan kiri pinggulku. Rupanya Mama sedang berusaha memasukkan batang kemaluanku ke dalam serambi lempitnya.
Blesss….batang kemaluanku membenam lagi ke dalam liang serambi lempit Mama, disusul dengan penjatuhan dada Mama ke atas dadaku, sehingga aku pun membuka mataku.
“Katanya gak mau main di atas,” kataku sambil memeluk pinggang Mama.
“Demi kamu, mama lakukan semuanya,” sahut Mama sambil menggerak-gerakkan pantatnya naik turun, sehingga batang kemaluanku jadi keluar masuk di dalam mliang kemaluan Mama yang terasa hangat ini.
Dinginnya udara pagi tak terasa lagi. Kehangatan dan kenikmatan membuatku mulai berkeringat. Dan diam-diam aku teringat ucapan Mbak Isti beberapa bulan yang lalu, “Bersetubuh menjelang pagi begini enak lho Den.”
Kini aku makin membenarkan kata-kata Mbak Isti itu. Bahwa pada saat tubuh sedang segar-segarnya, setelah semalaman istirahat, aku mendapat “santapan pagi” yang sungguh lezat rasanya.
Mama tambah merangsangku dengan kata-katanya yng mulai agak jorok buat seorang wanita yang selama ini kusegani, “Enak ya menyetubuhi subuh-subuh gini?” desisnya sambil mempergila ayuna pinggulnya. Sehingga batang kemaluanku seperti dibesot-besot ke atas ke bawah ke kanan ke kiri.
“Iya Mam,” sahutku mengimbangi, “ternyata serambi lempit Mama enak sekali….”
“rudal kamu juga enak, sayang. Papamu kalah jauh….dudududuuuuuuhhhhh…enak sekali sayang…..iiiih….aku bisa jadi tambah sayang sama kamu Ton….”
“I…iii…iya Mam…mmm…mmmh…..enak Mam….ooooh…oooh…”
Tiba-tiba Mama menghentikan ayunan pinggulnya, “Wah, kalau posisi gini aku bisa cepat orga, Ton…ganti posisi ya.”
“Mama mau di bawah?” tanyaku sambil merebahkan tubuh ke samping ibu tiriku, sehingga batang kemaluanku terlepas dari liang kemaluan ibu tiriku.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Mama terlentang sambil mengganjal pinggulnya dengan bantal. Lalu kedua kakinya direntangkan lebar-lebar. Sehingga kemaluan Mama tampak merekah, tampak kemerahan bagian dalamnya.
“Supaya apa diganjal bantal gitu Mam?” tanyaku polos.
“Biar bisa masuk semuanya,” Mama tersenyum sambil mengelus kemaluannya sendiri.
“Oya? Masukin lagi?”
“Iya sayang…cobalah…pasti beda rasanya.”
Aku tersenyum, lalu mengikuti petunjuk Mama, memasukkan batang kemaluanku ke dalam serambi lempit Mama yang sudah agak basah. Kemudian aku menahan tubuhku dengan kedua tangan tertekan di kanan kiri Mama, seperti tukang becak yang sedang memegang stang becaknya. Gila, Mama benar. Rasanya batang kemaluanku amblas sepenuhnya ke dalam liang kemaluan Mama yang mencuat ke atas.
“Wah…lebih mantap Mam…”cetusku sambil mengayun batang kemaluanku.
Mama pun mengangkat kakinya sampai melewati bahuku, sehingga kakinya menggantung di bahuku, sehingga makin leluasa aku membenamkan batang kemaluanku sedalam-dalamnya.
Sampai fajar menyingsing, aku masih mengayun batang kemaluanku. Keringat pun mulai bercucuran, berjatuhan ke perut dan dada Mama. O, sungguh pagi yang indah sekali.
Aku merasa bangga, karena dalam senggama di pagi ini aku berhasil membuat Mama dua kali orgasme. Aku memang jadi tangguh sekali. Karena dalam semalaman sampai pagi ini aku telah bersetubuh empat kali dengan ibu tiriku.
Seperti kata orang, “lama tidak begituan, begituan tidak lama”. Dan aku sebaliknya, “sebentar tidak begituan, begituan tidak sebentar”.
Tapi aku kasihan melihat Mama yang seperti sudah kepayahan disetubuhi olehku. Maka dengan berkonsentrasi agar cepat ejakulasi, akhirnya aku membenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin, sampai menyeruduk ujung liang kemaluan Mama. Dan…bersemburanlah air mani dari zakarku, memancar-mancar di dalam liang kemaluan Mama.
Aku pun lalu ambruk ke dalam dekapan ibu tiriku.
“Aduuh…gila kamu…lama sekali, sayang….” kata Mama sambil mencium pipiku.
“Tadi masih bisa bertahan, tapi kasihan Mama kayak yang sudah ngos-ngosan gitu,” kataku sambil mempermainkan payudara Mama yang masih dibasahi keringat.
Tak lama kemudian Mama bangkit dari tempat tidur, “Mandi dulu Ton, biar seger badannya di sekolah nanti.”
“Iya Mam. Hari ini mau ngajar?”
“Iyalah. Ini kan bukan hari libur. Kamu juga mau sekolah kan?”
“Iya Mam.”
“Awas Ton…kejadian yang kita alami ini jangan sampai membuat kamu nggak lulus nanti.”
“Iya Mam. Justru kalau Mama nggak ngasih…mungkin jadi ingatan terus…bisa ngelamunin Mama terus, lalu lupa sama pelajaran.”
Ibu tiriku tersenyum. Lalu mencubit perutku sambil mengajak, “Mau mandi bareng?”
“Mau Mam. Kalau papa sudah datang kan gak bisa,” sahutku sambil mengikuti langkah Mama ke kamar mandi.
Begitulah, seperti sepasang pengantin baru, aku dan ibu tiriku mandi bersama. Menyenangkan sekali. Bisa saling sabuni di bawah semburan shower air hangat. Semuanya kami lakukan dengan mesra sekali. Semuanya indah, membuat kami lupa siapa kami.
Sejak peristiwa indah itu ibu tiriku semakin baik kepadaku. Selama Papa tidak ada, aku dan Mama habis-habisan melampiaskan nafsu birahi kami. Kapan saja aku mau, Mama selalu meladeniku. Padahal ujian tinggal sebentar lagi. Tapi aku tidak gentar. Aku bukan anak bodoh kok.
Namun setelah Papa datang, terpaksa kutindas-tindas kalau nafsuku sedang timbul. Karena tentu saja aku tidak berani berbuat yang aneh-aneh setelah Papa ada di rumah. Maka kucurahkan perhatianku kepada mata pelajaran, karena ujian semakin dekat dan semakin dekat saja.
Masa ujian pun tiba. Aku berhasil melaluinya tanpa kesulitan. Aku yakin, aku pasti lulus. Dan setelah ujian selesai, aku bisa bernafas lega.
Yang membuatku sulit bernafas, adalah kesempatanku untuk menyetubuhi ibu tiriku seolah sudah tertutup. Karena setelah Papa ada, aku jadi tak berkutik. Anehnya, ada desir cemburu di dalam hatiku. Karena mungkin ibu tiriku bisa meluipakan aku, karena ada ayahku yang bisa dijadikan pelampiasan hasrat seksualnya.
Memangnya gak ada perempuan lain? Mengapa aku harus membayangkan ibu tiriku terus? Bukankah ia milik ayahku?
Sebenarnya ada cewek yang mulai kudekati. Dia adik kelasku. Sinta namanya. Cantik orangnya. Tapi sedikit pun aku tak punya niat untuk memperlakukannya seperti kepada Mbak Isti ataupun ibu tiriku. Aku malah bermaksud ingin menikahinya, kalau sudah punya kerja nanti.
Aku dinyatakan lulus tapi aku gagal dalam UMPTN, sehingga aku pilih program D2 saja, biar cepat dapat kerja, cepat menikah dengan Sinta, karena diam-diam aku sudah sama-sama berjanji untuk menjadi pasangan hidup.
Pada masa aku mulai kuliah inilah, terjadi suatu perubahan di dalam rumahku, di dalam istana birahiku.
Adik ibu tiriku jadi tinggal di rumahku.Tante Fara namanya.
Aku tidak tahu apa yang menyebabkan Tante Fara jadi janda. Padahal umurnya baru 24 tahun. Tapi sepintas lalu kudengar cerita dari Papa, bahwa adik ibu tiriku itu tidak pernah menikah secara resmi. Ia hanya menikah siri dengan seorang pengusaha. Dan setelah ketahuan oleh istri resmi pengusaha itu, Tante Fara harus diceraikan, tiada ampun lagi.
Cerita yang sebenarnya aku juga tidak tahu. Yang aku tahu, sejak bercerai dengan pengusaha itu, Tante Fara jadi tinggal di rumahku.
Pada awalnya aku merasa kehadiran Tante Fara sebagai gangguan. Karena hubungan rahasia dengan ibu tiriku jadi ada penghalang. Tentu saja aku tidak berani bersikap mesra kepada ibu tiriku di hadapan adik kandungnya itu.
Lalu kalau nafsu birahi sedang menggodaku, terpaksa kutindas-tindas, karena takut ketahuan oleh Tante Fara.
Tapi Tante Fara rajin sekali. Sejak ada dia, segala pekerjaan rumah Mama diambil alih. Dari mulai menyapu dan mengepel lantai sampai memasak di dapur, Tante Fara yg mengerjakannya. Bahkan pakaianku juga dicuci dan disetrika oleh Tante Fara. Padahal sudah sering aku melarangnya, agar pakaianku dicuci olehku sendiri. Tapi setiap pulang kuliah, pakaianku selalu sudah dicuci atau disetrika.
Lama-lama aku jadi kasihan juga kepada adik ibu tiriku itu. Aku selalu berusaha membantu pekerjaannya, tapi dia melarangku. Dia bilang, “Tante biasa sibuk. Kalau gak ada kerjaan malah bisa melamun ke mana-mana.”
Sampai pada suatu pagi….
Kebetulan hari itu aku libur, gak ada kuliah. Papa sudah berangkat ke kantornya, Mama pun pergi ngajar. Agak kesiangan aku bangun. Di belakang kulihat Tante Fara sedang mencuci kain seprai. Pada saat itulah mendadak saja ada yang berdesir di darahku. Karena Tante Fara sedang berjongkok begitu, menyuguhkan pemandangan yang luar biasa asyiknya. Pahanya, mak! Putih dan mulus sekali. Celana dalamnya berwarna pink. Oooh…kenapa aku jadi berdebar-debar begini?
Tapi aku menyumpahi diriku sendiri, “Gila! Pikiran ini harus kuusir! Sudah ibu tiriku diembat, adiknya pula membuatku nafsu?! Sudah gilakah aku?”
Lalu bergegas aku masuk ke dapur, karena tujuanku saat itu hanya mau mengambil air minum.
Tapi, sambil minum teh manis panas di dalam kamarku, “si Jhoni” gak mau kompromi. Ngaceng terus. Pemandangan indah tadi betul-betul merangsang. Terlebih kalau kubanding-bandingkan antara Tante Fara dengan ibu tiriku, memang Tante Fara sedikit di atas ibu tiriku. Wajah ibu tiriku dengan adiknya itu tidak mirip sedikit pun. Mata ibu tiriku agak sipit, sementara mata Tante Fara bundar belo. Body Tante Fara lebih tinggi dan tegap. Dari luar pakaiannya pun bisa dibayangkan, toketnya jauh lebih montok daripada toket ibu tiriku. Dan yang jelas, usia Tante Fara baru 24 tahun, berarti 6 tahun lebih muda daripaada ibu tiriku.
Kalau aku menilai secara jujur, ibu tiriku layak mendapat nilai 7, sementara Tante Fara layak mendapat nilai 7,5 !
Tapi apa sebenarnya yang sedang terjadi pada diriku ini? Mengapa aku seperti cowok kuper dan lalu memikirkan wanita-wanita di dalam rumahku sendiri?
Entahlah. Yang jelas waktu aku mandi di pagi itu, aku ingin bermasturbasi di dalam kamar mandi. Karena rasanya batang kemaluanku tegang terus. Biar jangan “naik ke otak” mending dikocok saja. Tapi saat itu ada yang tidak kupedulikan. Pintu kamar mandi tidak dikunci. Memang biasanya juga tak pernah dikunci, karena kamar mandiku bersatu dengan kamarku.
Aku tuangkan sabun cair ke tanganku, untuk ngocok !
Tapi sebelum niatku terlaksana, pintu kamar mandi terbuka tanpa kusadari, karena suaranya kalah oleh suara semburan air hangat dari shower. Tahu-tahu terdengar suara perempuan di ambang pintu kamar mandi, “Mana pakaian kotornya yang mau dicuci, Ton? Aawww…. kamu…. !”
Perempuan itu, yang tak lain dari Tante Fara, terbelalak melihatku sedang memegang batang kemaluanku yang sedang ngaceng berat ini.
Aku terkejut karena menyadari bahwa diriku sedang bertelanjang bulat dan memegang batang kemaluanku yang sedang ngaceng berat ini….
Lalu pintu kamar mandi ditutupkan lagi oleh Tante Fara. Kusangka takkan ada kelanjutannya. Karena itu selesai mandi aku santai saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh cuma dililiti handuk. Dan kulihat sesuatu yang tidak seperti biasanya. Kulihat Tante Fara sedang menelungkup di atas tempat tidurku, sambil memijat-mijat punggungnya.
“Kenapa Tante?” tanyaku, lupa bahwa hanya lilitan handuk yang menutupi tubuhkuku dari perut ke bawah lutut.
“Nggak tau Ton…mendadak sakit perut,” sahut adik ibu tiriku.
Terdorong oleh rasa solidaritas, karena kusangka ada sesuatu yang darurat, aku menghampiri Tante Fara. “Sakit perut kok mijitin punggung?” tanyaku heran.
“Sakitnya emang sampai ke punggung-punggung….tolong dong pijitin tante Ton.”
“I…iya…” sahutku tergagap, karena pergelangan tanganku digenggam oleh Tante Fara. Tangannya terasa hangat, mungkin karena tubuhku dingin lantaran habis mandi.
“Pijitin apanya Tante?” tanyaku sambil melirik ke arah pahanya yang tidak tertutup dasternya. Kurasa daster Tante Fara terlalu pendek, karena mempertontonkan sebagian besar pahanya.
“Punggungnya aja dulu, tapi tolong ambilin lotion di kamar tante. Mijitnya harus pake lotion. Bisa kan?”
“I…iya Tante.”
Karena kupikir keadaannya darurat, aku agak panik dan bergegas menuju kamar Tante Fara. Hanya dengan badan berlilitkan handuk. Setelah mengambil lotion di meja rias, aku kembali ke kamarku, di mana Tante Fara masih menelungkup di atas tempat tidurku.
Sesaat aku terpana menyaksikan kemulusan paha Tante Fara. “Mmm…ka kalau ma… mau pake lotion, berarti ha… ha… harus dibuka dasternya, Tante…” kataku agak tergagap.
“Iya,” sahut Tante Fara dalam keadaan tetap telungkup, “singkapin aja sama kamu, Ton.”
Tanpa berpikir panjang lagi kupegang ujung bawah daster adik ibu tiriku itu. Lalu kusingkapkan ke atas, sampai punggungnya terbuka. Dan…o my God! Apakah aku tak salah lihat?? Punggung Tante Fara putih mulus. Tapi ada satu hal yang membuatku benar-benar terkejut….jelas sekali….Tante Fara tidak mengenakan celana dalam ! O My God !!!
Tentu saja ini mendebarkan, terlalu mendebarkan. Karena dalam keadaan telungkup seperti itu, aku bisa melihat tubuh Tante Fara dari ujung kaki sampai punggungnya. Dan buah pinggulnya yang besar itu… ah…. aku mulai sulit bernapas nih.
Aku jadi malu sendiri, karena pikiranku mulai ke mana-mana lagi. Tapi cepat kutindas pikiran tak menentu ini dengan mengalirkan lotion ke telapak tanganku, kemudian mulai mengusap-usapkannya ke punggung Tante Fara, sambil memejamkan mata.
Aku mengerti apa yang sedang terjadi dalam jiwaku ini. Bahwa aku mulai diamuk oleh napsu. Tapi seandainya Tante Fara tahu isi hatiku, apakah ia takkan marah atau menertawakanku? Ah, entahlah. Yang jelas aku berusaha melakukan pemijatan sebaik mungkin. Keahlianku ini memang boleh diandalkan. Karena sejak masih di SD aku sering disuruh memijati ayahku, kemudian beliau sering memberi pengarahan tentang cara memijat yang benar.
Keahlian terpendam ini mengundang reaksi dari Tante Fara : “Ooooh… .pijatanmu kok enak sekali, Ton… gak nyangka kamu pintar mijat…. belajar dari mana?” tanyanya sambil tetap menelungkup.
“Gak belajar dari mana-mana,” sahutku, “cuma sering disuruh mijatin Papa… dan Papa sering ngasih petunjuk supaya benar mijatnya…”
“Enak Ton,” kata Tante Fara lagi, “Rasanya kena semua urat pentingnya… tolong sampai ke kakinya juga ya… biar badanku seger lagi.”
“I… iya tante,” sahutku tersendat, karena diam-diam pandanganku berkali-kali tertuju ke arah buah pantatnya yang belum berani kusentuh. Tapi tanganku memang mulai bergerak ke situ…. ke buah pantat yang besar dan menggiurkan itu…
Kutuangkan lagi lotion banyak-banyak ke telapak tanganku. Lalu kuusap-usapkan ke buah pinggul Tante Fara dengan jantung semakin berdegup-degup dan perasaan tak keruan. Semakin degdegan ketika aku memijat-mijat buah pinggul Tante Fara, karena kaki adik ibu tiriku itu malah direnggangkan, sehingga….oooh…ini pemandangan yang luar biasa mendebarkan….bukan hanya mulut anus Tante Fara yang tampak jelas, tapi juga belahan kemaluan Tante Fara itu….dududuhh….rasanya rudalku sudah ngaceng berat !
Ketika aku melanjutkan pijatanku di buah pinggul yang besar ini, Tante Fara memujiku terus, “Enak Ton…pijatanmu enak Ton….iya ke situ terus Ton…enak….”
Ah, tahukah Tante Fara bahwa aku sedang seperti edan-eling, karena tanganku sedang meluncur ke arah pangkal pahanya, berarti akan melewati bibir kemaluan yang agak terbuka itu… yang memperlihatkan bagian berwarna merah jambu di dalamnya itu !
Namun aku lalu jadi nekad. Tanganku mulai mengelus bibir kemaluan Tante Fara, sambil menunggu reaksi. Mungkin dia akan marah. Ah, biarin aja. Aku mau pura-pura bego aja.
Tapi apa yang terjadi? Ketika aku mulai memijat pangkal paha dan sekali-sekali mengelus bibir kemaluan yang terbuka itu… Tante Fara malah barkata, “Ih… enak sekali elusanmu Ton…iya di situ…terusin Ton… oooh… enak….. enak Ton… ”
Ini membuatku jadi berani. Jariku bukan hanya mengelus bibir kemaluan Tante Fara di antara kerimbunan rambut kemaluannya yang semakin tampak lebat itu… jariku bahkan mulai merasakan ada yang basah dan hangat dan licin…. kuelus terus… sementara Tante Fara mendesah-desah sambil terus-terusan memujiku… kamu pandai, Ton, oooh… enak sekali Ton… iya.. .elus terus Ton… “
Dan tiba-tiba saja Tante Fara berbalik jadi menelentang, sambil menyingkapkan dasternya tinggi-tinggi, sampai memperlihatkan sepasang payudara montoknya itu.
“Lanjutin Ton… sambil celentang gini pasti lebih enak… ” kata Tante Fara sambil memejamkan matanya. Sehingga aku semakin kebingungan. Tapi aku mulai juga memijit-mijit paha Tante Fara, dengan perasaan semakin tak menentu.
“Naik terus Ton…bagian yang tadi kamu elus itu…enak sekali,” kata Tante Fara tanpa membuka matanya. Apakah dia sengaja memejamkan matanya supaya aku tidak merasa canggung? Entahlah. Yang pasti, tanganku mulai berkeliaran di pangkal paha Tante Fara. Dan mulai menyibakkan rambut kemaluan yang lebat itu.
Lalu tanganku mulai menyentuh bibir kemaluan Tante Fara lagi. Dan Tante Fara malah semakin merenggangkan kakiny, seolah sengaja memberi keleluasaan padaku untuk “mengurus” kemaluannya yang berbulu lebat hitam itu.
Aku mulai memperhitungkan semua kemungkinan. Mungkin Tante Fara memang membutuhkan belaian dan cumbuan lelaki. Bukankah dia sudah menjadi seorang janda sekarang? Tapi aku takut dugaanku salah. Maka kulakukan semuanya dengan halus. Aku tak mau kelihatan bahwa sebenarnya aku sudah bernapsu sekali.
Aku mulai memusatkan kegiatan jari jemariku di sekitar kemaluan Tante Fara. Mengelus bibirnya, terkadang menyodok sedikit ke dalam….hangat dan licin…paha Tante Fara bergetar.
Tiba-tiba aku tak kuasa lagi bertahan. Wajahku mendekati kemaluan berbulu lebat itu. Lalu…kuciumi kemaluan Tante Fara yang hangat dan merangsang itu. Dan terasa kepalaku dipegang oleh Tante Fara. Kudengar pula suaranya, “Iya Ton…oooh…tante sudah lama tidak merasakan dibeginiin….iya Ton….jilati sekalian Ton… dududuhhh… enak sekali Ton…”
Pucuk dicinta ulam tiba. Aku benar-benar merasa dikasih lampu hijau. Maka dengan ganas kujilati kemaluan Tante Fara, sehingga terasa tubuh adik ibu tiriku itu mengejang-ngejang….napasnya pun tertahan-tahan….
“Ton…” desis Tante Fara terengah.
“Iya Tante?” kuhentikan dulu jilatanku.
Tante Fara menarik handuk yang melilit di tubuhku, sehingga aku tinggal bercelana dalam saja. Lalu dengan ganas Tante Fara menerkamku. Menciumiku sambil meremas-remas rambutku.
Tidak cuma itu. Sambil menggumuliku, diam-diam tangan Tante Fara mulai merayap ke balik celana dalamku. Dan mulai menggenggam batang kemaluanku !
“Ton!” seru Tante Fara tertahan, “Punya kamu kok gede gini? Waaaah…. gak nyangka…. sudah ngaceng pula…. yok kita mainkan aja Ton… ”
“Main apa Tante?” tanyaku pura-pura bodoh.
Tante Fara membisiki telingaku, “menyetubuhi, sayang…. wah… rudal panjang gede gini sih pasti enak…”
Aku cuma terdiam ketika celana dalamku direnggut oleh Tante Fara. Juga pura-pura bodoh saja ketika ia menimang-nimang batang kemaluanku, seperti menemukan sesuatu yang sangat didambakannya. Lalu dengan binalnya Tante Fara menelentang sambil meraih tubuhku, merentangkan kaki sambil menggenggam batang kemaluanku. Bahkan lalu mencolek-colekkan puncak zakarku ke kemaluannya yang terasa makin hangat dan membasah.
Tak tahan dengan semuanya ini, aku tak mau menunggu komando lagi. Kudorong rudalku kuat-kuat… dan… blesssssssss… terasa melesak masuk ke dalam liang kemaluan Tante Fara, sedikit demi sedikit. Waktu baru masuk setengahnya, kutarik lagi batang kemaluanku, kemudian kudorong lagi lebih dalam dari tadi. Saat itulah Tante Fara mendekapku erat-erat sambil berbisik terengah, “Duuuh… sudah masuk, Ton… iya… oooh… punyamu gede sekali, Ton… sampai seret begini…. enak sekali… oooh…”
Tanpa menunggu komando lagi, aku mulai mantap mengayun batang kemaluanku, sambil mempermainkan payudara Tante Fara yang montok dan masih sangat kencang itu. Tante Fara seperti wanita yang sangat haus, lalu menikmati semuanya dengan ganasnya. Pinggulnya bergoyang-goyang erotis sekali, meliuk-liuk dengan gerakan seperti angka 8, membuat batang kemaluanku seperti dibesot-besot dengan edannya. Wah, aku pun mulai terpejam-pejam saking enaknya.
Pada satu saat Tante Fara merengkuh leherku, kemudian menciumi bibirku, bahkan lalu melumatnya dengan penuh gairah. Aku pun tak tinggal diam. Kulumat juga bibir dan lidah Tante Fara yang terasa hangat ini. Sementara gerakan batang kemaluanku semakin ganas bergerak-gerak seperti pompa manual, maju mundur dan keluar masuk di dalam jepitan liang serambi lempit Tante Fara.
Semua ini memang tidak direncanakan. Sehingga aku seolah mendapatkan durian runtuh…. malah jauh lebih enak daripada durian!
Maka ketika Tante Fara semakin “ribut” merengek-rengek histeris, oooh Ton… oooh…. enak Ton… oooh… oooh…, maka aku pun mulai “mengimbanginya” dengan cetusan-cetusan jujurku, “Duuuh, Tanteee…. serambi lempit Tante kok enak sekali, Tan… oooh… oooh … oooh…. oooh….”
Cukup lama kami melakukan semuanya ini. Sehingga keringatku pun mulai bercucuran. Sementara Tante Fara merintih-rintih terus.
Sampai pada suatu saat :
“Ini terlalu enak Ton… duuuh tante sudah mau keluar nih…. emut tetek tante, sayang,” desah Tante Fara sambil merengkuh leherku, mengarahkan wajahku ke payudaranya yang sebelah kiri.
Kuikuti keinginan Tante Fara. Kusedot sambil kujilat-jilat pentil payudara kiri Tanbte Fara, sementara tangan kiriku meremas-remas payudara kanannya.
Tiba-tiba sekujur tubuh Tante Fara terasa mengejang. Pelukannya pun jadi erat sekali, seolah ingin meremukkan tubuhku. Lalu terdengar rengekan lirihnya, “Oooh…Tooon…tante keluar Tooon…..”
Lalu terasa liang kemaluan Tante Fara membasah dan menghangat. Bahkan terasa ada yang mengejut-ngejut di dalam liang serambi lempitnya.
Maka gerakan batang kemaluanku jadi semakin lancar memompa liang serambi lempit yang sudah terasa becek itu, sehingga terdengar bunyi crek…crak…crek…crak…dari gesekan antara rudalku dengan liang serambi lempit Tante Fara.
Tapi tak lama kemudian aku pun tak kuasa lagi menahan semua kenikmatan di pagi yang hangat ini. Lalu kubisiki telinga Tante Fara, “Tante…aku mau keluar…lepasin di dalam boleh?”
“Iya,” sahut Tante Fara sambil menggoyang-goyang kembali pinggulnya dengan gerakan yang gila-gilaan, mungkin sebagai sambutan pada ejakulasi yang akan kualami.
Belakangan aku tahu, bahwa ternyata Tante Fara mau orgasme lagi untuk kedua kalinya.
“Aduuh Ton…aduuuh Ton…tante juga mau lepas lagi Ton….aduuuh tahan dikit, sayang….iya…jangan dilepasin dulu…iya…dudududuuuuhhh….Toooniiiii.”
Tante Fara menggelepar lagi, sementara aku pun sudah membenamkan batang kemaluanku sedalam-dalamnya, sambil menyemprot-nyemprotkan air maniku di dalam liang serambi lempit Tante Fara yang sedang berkedut-kedut. Oooh, ini benar-benar nikmat !
Kami lalu terkapar, berpelukan dengan keringat membanjir.
“Mmm…” Tante Fara mencubit pipiku sambil tersenyum, “Kalau bisa tiap hari beginian sama kamu, tante gak usah nikah lagi.”
Aku cuma tersenyum.
“Kamu sudah pernah sama cewek lain ya?” tanya Tante Fara waktu kami sudah duduk di atas tempat tidurku.
Aku tak mau munafik lagi. “Iya Tante,” sahutku sambil mengangguk, “Tapi sudah lama sekali.”
Tetap saja ucapanku berbaur dusta. Dan pasti aku tak mau mengaku bahwa perempuan yang pernah kusetubuhi itu adalah kakak Tante Fara alias ibu tiriku dan pembantu yang baik hati bernama Isti itu.
Ternyata Tante Fara tidak mempersoalkan masalah itu. Mungkin untuk zaman sekarang lumrah saja cowok sebaya aku sudah mengalami nikmatya serambi lempit cewek.
“Nanti malam pintu kamar ini jangan dikunci,” kata Tante Fara sambil mengenakan kembali dasternya, “Tante pasti pengen lagi.”
“Jangan di sini, Tante,” cegahku, “Kamar ini kan berdampingan dengan kamar Papa dan Mama. Biar aku saja yang ke kamar Tante.”
“Janji ya.”
“Iya. Kalau Papa dan Mama sudah tidur, nanti aku ke kamar Tante.”
Tante Fara tersenyum. Lalu mencium bibirku dengan mesra. “Sebentar lagi mamamu pulang. Semua ini harus kita rahasiakan ya Ton.”
“Iya Tante. Percaya deh. Aku juga kan takut dimarahi Papa.”
Lalu Tante Fara meninggalkan kamarku, dengan senyum manis. Senyum seorang wanita muda yang sudah mengalami kepuasan.
Bersambung… Malam itu membuatku resah. Karena aku sudah berjanji untuk “melanjutkan” kejadian yang tadi pagi. Sudah berjanji bahwa kalau Papa dan Mama sudah tertidur, aku akan menyelundup ke dalam kamar Tante Fara.
Aku harus yakin benar bahwa Papa dan Mama sudah tidur, baru kemudian menyelundup ke dalam kamar Tante Fara yang letaknya cukup jauh dari kamar orang tuaku. Sebenarnya kamar yang dipakai oleh Tante Fara itu pavilyun dari rumah ini. Tadinya suka dipakai sebagai ruang kerja oleh Mama. Tapi setelah Tante Fara tinggal di rumah ini, maka pavilyun itu dijadikan kamar Tante Fara.
Lewat tengah malam, sekitar jam 01.15 barulah aku berani keluar dari kamarku. Pintu kamarku sengaja kukunci dulu pelan-pelan, supaya kalau tiba-tiba Papa atau Mama terbangun, mereka akan mengiraku sedang tidur pulas. Padahal aku mulai berjalan mengendap-endap seperti pencuri, menuju pintu pavilyun.
Pintu kamar Tante Fara tidak dikunci. Kubuka perlahan-lahan, lalu masuk ke dalam. Ternyata Tante Fara belum tidur. Tampak gembira setelah aku masuk ke dalam kamarnya. Dan berkata perlahan, “Kuncikan dulu pintunya Ton.”
Aku mengangguk. Lalu kukuncikan pintu kamar Tante Fara perlahan sekali supaya tidak menimbulkan suara.
Tante Fara memelukku dari belakang. Lalu terdengar bisikannya, “Tante bisa benar-benar ketagihan sama kamu Ton. Soalnya kamu hebat sekali. Gak nyangka.”
“Aku juga,” sahutku setengah berbisik pula, “Mudah-mudahan Papa dan Mama jangan sampai tau, ya Tante.”
“Iya dong,” Tante Fara mencium pipiku, “Kita harus rapi, Ton.”
Saat itu Tante Fara mengenakan kimono pink dengan corak bunga sakura putih. Tampak serasi dengan tubuhnya yang berkulit putih kekuning-kuningan. Aku sendiri mengenakan baju piyama. Sengaja saat itu aku tidak mengenakan celana dalam, supaya “mudah”.
Tante Fara seperti tak sabar lagi. Tangannya menyelinap ke balik celana piyamaku, lalu memegang batang kemaluanku yang sudah mulai agak menegang. Remasan-remasan lembut tangan Tante Fara membuat batang kemaluanku makin menegang. Lalu ia tersenyum dan berbisik, “Anak muda sih gampang dihidupkan. Nggak seperti suami tante dulu…harus lama sekali tante rangsang supaya ngaceng.”
Aku cuma tersenyum. Lalu melirik ke arah kasur Tante Fara yang sudah dihamparkan di lantai. “Kasurnya digelar di lantai?”
“Iya,” sahut Tante Fara sambil duduk di kasur, “Tempat tidurnya berisik…nanti derat deritnya terdengar ke kamar papamu.”
Aku pun duduk di samping Tante Fara.
Celana piyamaku terlepas. Tante Fara berbisik, “rudalmu bikin tante gila, Ton.”
Kemudian dengan binalnya Tente Fara menciumi moncong rudalku, membuatku semakin bernapsu. Dan ketika Tante Fara memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya, aku pun mulai melepaskan ikatan tali kimono adik ibu tiriku itu. Tanganku juga mulai beraksi. Mengelus kemaluan Tante Fara yang sudah terasa hangat, bahkan lalu memasukkan jariku ke dalam serambi lempitnya. Dalam tempo singkat saja terasa liang kemaluan Tante Fara mulai membasah. Terlebih setelah aku mulai intensif mengelus kelentitnya.
Hanya sebentar Tante Fara menyelomoti rudalku, kemudian berkata perlahan dan terengah, “Tante sudah kepengen dari tadi. Ayo masukkan aja Ton.”
Tante Fara menanggalkan kimononya, kemudian menelentang dalam keadaan yang sudah bugil total. Aku pun menanggalkan baju piyamaku, kemudian merayap ke atas tubuh Tante Fara.
Kubiarkan Tante Fara memegang batang kemaluanku yang diarahkan ke serambi lempitnya. Lalu terasa puncak rudalku sudah bertempelan dengan mulut serambi lempit Tante Fara. Tanpa menunggu komando lagi, kudesakkan batang kemaluanku sekuatnya, sehingga terasa mulai melesak, membenam ke dalam liang serambi lempit adik ibu tiriku.
Tante Fara memelukku erat-erat sambil mendesah perlahan, “Ooooh….sudah masuk, sayang…”
Permainan surgawi pun kumulai. Kutarik batang kemaluanku perlahan-lahan, kemudian kudorong lagi sampai membenam sepenuhnya….kutarik lagi, kudorong lagi dan begitu seterusnya, laksana gerakan pompa, batang kemaluanku maju-mundur di dalam jepitan liang kemaluan adik ibu tiriku.
Seperti tadi pagi, Tante Fara tak mau tinggal diam waktu kusetubuhi begini. Tangannya menggapai-gapai dan meremas-remas ke sana sini. Terkadang membelai rambutku, terkadang juga meremasnya sampai acak-acakan. Sementara pinggulnya pun mulai lagi bergoyang-goyang dengan gerakan yang membuatku semakin nikmat, karena liang kemaluan Tante Fara seolah memilin-milin batang kemaluanku, ooo…ini benar-benar nikmat !
Ketika mulut Tante Fara ternganga, seperti mau melontarkan erangan histeris, cepat kupagut bibirnya, lalu kulumat dengan ganas. Selain saling lumat begini terasa nikmat, sengaja aku lakukan ini supaya tidak ada “bunyi aneh” yang terlontar tanpa kendali dari mulut Tante Fara. Soalnya aku takut kalau semuanya ini ketahuan oleh Papa atau Mama.
Kembali batinku serasa melayang-layang di langit kenikmatan. Enak sekali memaju-mundurkan batang kemaluan di dalam liang kemaluan Tante Fara yang terasa menjepit dengan kehangatan dan kelicinannya, terlebih dengan ayunan pinggulnya yang begitu erotis membuatku sulit mengendalikan napasku sendiri.
“Iiih…enak sekali Ton…” bisik Tante Fara di satu saat, sambil menedekapku erat-erat, tanpa menghentikan goyangan pinggulnya.
Aku menjawabnya dengan bisikan pula, “serambi lempit Tante juga enak sekali, iih….bener-bener enak, Tante….”
Tapi tak lama kemudian terdengar bisikan Tante Fara di telingaku, terengah-engah, “Oooh…tante sudah mau keluar, Ton…oooh…enak sekali…..oooohhhhhhh….”
Lalu Tante Fara mengelojot, mengejang dan napasnya pun tertahan. Disusul dengan terasanya kedutan-kedutan di dalam liang serambi lempitnya, sebagai pertanda bahwa dia sedang mengalami orgasme.
“Ntar…berhenti dulu….” kata Tante Fara yang sudah mencapai orgasmenya. Aku heran, kenapa harus berhenti dulu? Tapi kemudian Tante Fara berkata perlahan, “Sekarang tante yang di atas.”
Aku pernah melakukan posisi di bawah dan Mama di atas. Karena itu aku pun dengan cepat mengerti apa yang diinginkan oleh Tante Fara. Kemudian aku menggulingkan diri sambil memeluk badan Tante Fara, tanpa mencabut batang kemaluanku dari serambi lempit Tante Fara yang sudah agak becek itu.
Posisi ini ternyata lebih nikmat rasanya. Karena aku bisa sepuasnya memainkan buah dada Tante Fara yang bergelantungan di atas dadaku. Sementara Tante Fara dengan binalnya mulai mengayun pinggul, membuat batang kemaluanku seperti dipelintir-pelintir oleh liang serambi lempit Tante Fara…ooo, sulit aku melukiskannya dengan kata-kata. Betapa nikmatnya persetubuhan di kamar Tante Fara ini.
Tapi aku tak kuasa menahan-nahan lagi. Baru 10 menitan kemi bersetubuh dengan posisi terbalik ini, tiba-tiba aku mengejang, batang kemaluanku pun ngecrot, crot,crot, tanpa bisa ditahan-tahan lagi.
“Iiih…kamu…kok cepet-cepet dilepasin?” bisik Tante Fara sambil mencubit hidungku.
“Ooooh….” aku menghela napas panjang, “Terlalu enak sih….”
Tante Fara berguling ke sampingku. Berbisik lagi,“Kalau cuma ada kita berdua di rumah ini, jauh lebih enak lagi Ton.”
Kujawab dengan suara perlahan sekali, “Iya Tante. Atau mungkin kita harus mencari tempat di mana kita bebas melakukannya.”
“Hmm…” gumam Tante Fara pada saat tangannya memainkan batang kemaluanku yang sudah lemas.
Begitulah. Tante Fara berusaha merangsangku, memainkan batang kemaluanku dengan remasan tangannya, bahkan lalu dengan mulutnya. Dan ketika batang kemaluanku sudah keras lagi, ia mengajakku bersetubuh dengan posisi doggy. Ia menungging, sementara aku memenyetubuhinya sambil berlutut di depan pantatnya. Kali ini sangat lama aku bisa bertahan. Sehingga Tante Fara mengajak untuk memilih posisi lain.
Jam 4 pagi, aku keluar dari kamar Tante Fara, dengan langkah mengendap-endap seperti pencuri. Tak lama kemudian aku terkapar di kamarku, tidur nyenyak sekali.
Aku mulai dapat menilai bahwa Tante Fara seorang wanita yang bernapsu besar. Apakah ia tergolong hyper sex atau apalah namanya, aku tidak tahu. Yang jelas, Tante Fara selalu mencari kesempatan untuk bersetubuh denganku. Kadang-kadang ia minta sampai 3 kali disetubuhi olehku dalam semalam. Tentu saja aku masih bisa melayaninya, meski terkadang aku merasa kepayahan. Karena jika sudah 3 kali bersetubuh dengan Tante Fara, besoknya aku jadi ngantuk waktu kuliah.
Semua ini kuceritakan kepada Aldi, teman kuliah yang sudah jadi sahabat dekatku. Di antara aku dan Aldi sudah tiada rahasia lagi. Kalau dia mengalami suatu masalah, pasti dia curhat padaku. Demikian juga sebaliknya, aku selalu curhat padanya, meski mengenai masalah yang sangat pribadi, seperti masalah Tante Fara itu misalnya.
“Kalau gitu, kenapa gua gak diajak buat muasin tante lu, Ton ?” kata Aldi setelah selesai mendengarkan penuturanku.
“Maksud lu?” aku agak tercengang.
Aldi membisikkan sesuatu ke telingaku. Pada mulanya aku enggan menanggapi bisikannya. Tapi setelah berpikir lama, aku merasa ide Aldi itu bagus. Lalu tanyaku, “Siapa yang nanggung biaya hotelnya?” tanyaku ragu.
“Hotel ?! Ngapain pake hotel ? Papa gua kan punya villa. Kita pesta di sana aja. Deal ?” Aldi menepuk bahuku.
Aku tercengang. Serasa diingatkan bahwa Aldi punya villa di luar kota (tempatnya takkan kusebutkan, untuk menjaga privasi orang yang terlibat dalam kisah nyata ini).
“Gua belum bisa janji,” kataku, “Soalnya gua harus berunding dulu sama tante gua. Belum tentu dia mau juga. “
“Hehehe…yang penting lu usahain dia mau dong. Gua yang sediakan villa dan biaya selama di sana nanti.”
Kemudian kami berunding, tentang taktik yang harus kujalankan pada Tante Fara nanti. Sorenya, ketika aku sudah pulang, kebetulan Papa dan Mama sedang tidur siang. Ada kesempatan untuk menghampiri Tante Fara yang sedang nonton TV di ruang depan.
Tanpa banyak basa basi, aku langsung berkata setengah berbisik, “Ada kabar bagus, Tante.”
“Kabar apa?” Tante Fara menoleh dengan senyum di bibir.
“Kita bisa pake villa punya temanku.”
“Oya?!” Tante Fara tampak jadi serius.
“Temanku itu anak dokter, villanya jarang dipakai. Cuma lebaran atau tahun baru dipakainya.”
“Terus?”
“Dia sahabat yang paling dekat denganku. Dia izinkan kita memakai villanya, tapi dengan syarat…” aku ragu untuk menyelesaikan kata-kataku.
“Apaan syaratnya? Harus bayar?”
“Bukan,” aku menggeleng, “Dia… dia… mmm… dia pengen nonton kita… gakpapa kan ?”
“Nonton kita ?! ” Tante Fara melotot, “Maksudmu… nonton kita begituan?!” suara Tante Fara terdengar ditahan, supaya jangan sampai terdengar orang tuaku.
“Iya,” aku mengangguk, “Dia anak baik Tante. Gak akan kurang ajar deh. Dijamin. Lagian dia itu sahabat yang paling dekat denganku di kampus.”
“Emang kamu ceritain rahasia kita sama dia ?” Tante Fara menatapku tajam.
“Iya. Antara aku dan dia sudah nggak ada rahasia lagi, Tante.”
“Gila, kamu bikin tante malu aja.”
“Dia juga kalau ada rahasia suka diceritakan padaku. Tapi kami tidak pernah saling bocorkan rahasia.”
Tante Fara tertunduk, seperti ada yang dipikirkan.
“Gimana, Tante? Kan kita pengen suasana yang bebas. Di villa itu kita bisa sebebas-bebasnya tanpa takut ketahuan Papa dan Mama.”
“Tapi teman kamu itu…. masa mau kita biarkan melihat perbuatan kita?”
“Gakpapa Tante. Dia sahabatku, dia bisa pegang rahasia. Dijamin.”
“Bukan masalah itu. Yang tante pikirkan, bagaimana kalau dia tergiur… lalu kepengen juga?”
“Kita bikin pesta aja sekalian, Tante. Tapi itu juga kalau Tante gak keberatan. Anaknya tampan kok. Terus terang, dia lebih tampan daripada aku…”
“Hihihi… kamu gila, Ton…” Tante Fara mencubit lenganku.
“Kan mumpung Tante belum punya suami lagi… apa salahnya?”
Tante Fara gigit bibir. Memejamkan matanya. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Tak lama kemudian Tante Fara berkata dengan suara hampir tak terdengar, “Emang kapan rencananya?”
“Terserah Tante.”
“Kan harus cari alasan dulu sama Papa dan Mama…apalagi kalau kita pergi bareng-bareng…takut mereka curiga nanti.”
“Perginya jangan bareng-bareng. Tante pergi duluan, atau saya yang pergi duluan, terus kita ketemu di mana gitu. Jadi seolah-olah kita gak pergi bareng-bareng. Pulangnya juga jangan bareng-bareng, biar Papa dan Mama gak curiga.”
“Villanya jauh?”
“Nggak. Cuma duapuluh kiloan gitu. Nanti Tante dibonceng di motorku aja.”
“Hmm…nanti deh tante pikirin dulu.”
Esoknya sahabatku menanyakan rencana itu, “Bagaimana? Tante lu mau?” tanyanya.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Good !!! ” Aldi menepuk bahuku, tampak bersemangat sekali, “Kapan mau kita laksanakan?”
“Malam Minggu gimana?”
“Maksud lu malam Minggu yang akan datang ini ?”
“Iya,” aku mengangguk, “Kalau kelamaan takut keburu berubah lagi pikirannya.”
“Oke… ” Aldi mengangguk sambil tersenyum, “Lalu bagaimana rencananya? Apakah kita mau pergi bareng-bareng atau gua pergi duluan?”
“Harusnya malah gua yang duluan,” sahutku, “Soalnya kalau lu duluan ada di sana, tante gua jadi canggung nanti. Kalau gua sama dia sudah setengah jalan, terus lu datang, lebih enak suasananya.”
“Boleh, lu duluan yang ke sana juga gakpapa. Besok gua kasihin kuncinya. Pokoknya villa gua ada tulisan Purple Roses dengan lambang bunga rose ungu tiga tangkai. Gak bakal nyasar deh.”
“Emang villa lu gak ada yang nunggu?”
“Ada, dua hari sekali dia bersih-bersih. Cuma pagi doang. Siangnya udah pulang. Dia juga pegang kunci duplikat.”
Kemudian kami berunding, mematangkan rencana untuk malam Minggu nanti.
“Yang penting jangan kasar nanti,” kataku setelah selesai merundingkan “skenario” untuk malam Minggu itu, “Soalnya dia tante gua sendiri… walaupun tante tiri, tapi gua sendiri gak berani main kasar sama dia.”
“Gak lah. Kayak belum tau gua aja. Gua kan selalu menjaga etika, Ton.”
“Gua percaya. Makanya gua mau sama lu. Kalau orang lain gua gak mau.”
Menunggu datangnya hari Sabtu terasa lama sekali. Tapi akhirnya hari yang kutunggu datang juga. Hari itu aku dan Aldi kuliah seperti biasa. Jam dua siang kami sudah keluar dari kampus. Kami berunding lagi untuk terakhir kalinya. Kemudian berpisah. Aku tidak pulang ke rumah, melainkan menuju tempat yang sudah dijanjikan dengan Tante Fara. Sebuah rumah makan yang Tante Fara sudah tahu, tak jauh dari kampusku.
Tepat jam 14.30 Tante Fara tampak turun dari taksi. Lalu masuk ke dalam rumah makan itu, menghampiriku dengan senyum manis. Saat itu Tante Fara mengenakan kaus putih dengan celana panjang biru tua yang ketat, sehingga pinggulnya yang besar tampak demonstratif di balik celana ketatnya. Ia menjinjing tas traveling, mungkin berisi pakaian untuk ganti, karena rencana kami mau menginap di villa itu.
“Sudah lama nunggu?” tanyanya sambil duduk di depanku.
“Ada setengah jam, tapi udah makan siang segala,” sahutku, “Tante mau makan dulu?”
“Nggak ah,” Tante Fara menggeleng, “Tadi udah makan dulu di rumah.”
“Kalau gitu kita langsung berangkat aja ya,” kataku sambil bangkit dari kursiku.
Tante Fara mengangguk. Aku menghampiri kasir dan membayar makan siangku.
Beberapa saat kemudian aku sudah berada di atas motorku, dengan Tante Fara di belakangku, meluncur dengan kecepatan sedang menuju ke luar kota.
“Teman kamu itu mana?” tanya Tante Fara waktu kami sudah melewati batas kota.
“Nanti dia datang belakangan, Tante,” sahutku, “Kunci villanya sudah dikasihkan sejak hari Kamis.”
“Ih, kamu bikin aku deg-degan,” kata Tante Fara.
“Deg-degan kenapa?”
“Gara-gara akan hadirnya temanmu itu.”
“Santai aja, Tante. Temanku itu baik kok. Kalau tante suruh pergi, dia bakal nurut aja.”
“Ngaco kamu, masa mau mengusir pemilik villa itu sendiri?”
“Maksudnya, sahabatku itu akan memegang etika. Apa yang Tante gak suka, takkan dia lakukan. Nah… itu dia villanya….”
Aku sudah menemukan villa Purple Roses, yang letaknya agak ke dalam, tapi ada jalan khusus menuju villa itu.
Setelah motorku berhenti di depan villa itu, Tante Fara turun duluan dari belakangku, sambil berkomentar, “Wah, megah sekali villanya. Ayah teman kamu itu pasti orang kaya.”
“Iya, ayah Aldi seorang ahli bedah jantung yang sangat terkenal,” sahutku sambil mematikan mesin motor dan memasang standardnya. Kukeluarkan kunci villa yang Aldi titipkan, kemudian melangkah ke pintu depan villa itu.
Begitu masuk ke ruang depan, Tante Fara tampak kagum dengan keadaan di dalam villa itu. Segala furniture dan asesori di ruang depan itu tampak mewah dan artistik, ditata secara apik pula.
“Kalau kita boleh sering-sering pake villa ini, asyik juga Ton,” kata Tante Fara sambil meletakkan tas travelingnya di lantai berkarpet merah hati, kemudian duduk di sofa panjang.
Aku pun lalu duduk di sampingnya, “Asal kita bisa beli hatinya Aldi, gampang saja, Tante. Kita bisa pakai villa ini sesuka hati. Orangtuanya hanya pakai setahun sekali kok. Paling juga malem tahun baru doang. Kan baik ayah maupun ibu si Aldi sama-sama dokter. Ayahnya spesialis bedah jantung, ibunya spesialis anak.”
“Tapi kalau pakai tempat ini berarti temanmu itu harus diajak juga kan?” Tante Fara mencubit lenganku.
“Iya sih,” sahutku, “Tapi kalau Tante sudah lihat anaknya, pasti suka deh…nah..itu mobilnya datang…”
Aku bangkit karena mendengar suara mesin mobil memasuki pekarangan villa. Aku berdiri di ambang pintu depan. Memang Grand Cherokee Aldi yang datang.
“Sudah lama lu di sini?” tanya Aldi setelah keluar dari mobilnya.
“Baru aja nyampe,” sahutku, “Dia telat datangnya. Gua nunggu di rumah makan langganan kita itu sampe setengah jam tadi.”
“Wah, belum ngapa-ngapain dong,” bisik Aldi sambil menepuk bahuku.
“Belum,” aku menggeleng sambil tersenyum.
“Eh, sorry, aku bawa makanan dan minuman di mobil. Bantuin angkat Ton,” kata Aldi sambil melangkah kembali ke mobilnya.
Aku mengikuti langkah Aldi. Membuka pintu belakang. “Wah, perbekalannya banyak bener. Lu bawa apa aja Al?”
“Buat bekal sampai besok malam. Atau siapa tahu kita kerasan di sini, bisa Senin pagi kita pulangnya. Sampai air minum juga aku beli sekarton tuh.”
Dengan sigap kuangkut semua makanan dan minuman yang Aldi bekal. Kemudian Aldi kukenalkan kepada Tante Fara, “Kenalan dulu dong…”
Tante Fara tersenyum malu-malu waktu berjabatan tangan dengan Aldi. Tapi waktu Aldi masuk ke dalam, Tante Fara berbisik padaku, “Gile… temanmu itu tampan banget, Ton.”
Aku ketawa kecil, “Makanya Tante takkan kecewa deh…” kataku sambil mencolek pipi adik ibu tiriku yang cantik dan seksi itu.
Tak lama kemudian Aldi sudah muncul lagi di ruang depan. Memandang Tante Fara dengan senyum, lalu berkata setengah berbisik padaku, “You’re right, friend. She was very pretty and sexy.”
Tante Fara tidak mendengar ucapan pujian Aldi itu, karena aku dan Aldi sedang agak jauh dari Tante Fara.
“Bagaimana tempatnya nyaman nggak Mbak… eh… tante… ah… rasanya belum pantes dipanggil tante,” kata Aldi sambil duduk di samping kanan Tante Fara.
“Emang,” kataku sambil duduk di samping kiri Tante Fara, “Tanteku ini masih muda banget. Tapi karena dia adik mamaku, ya aku tetap harus manggil tante.”
Tante Fara cuma tersenyum-senyum canggung. Tapi aku melihat dia berkali-kali melayangkan lirikan ke arah Aldi.
“Toilet di sebelah mana?” tanya Tante Fara tiba-tiba.
“Itu…” sahut Aldi sambil menunjuk ke salah satu pintu.
Tante Fara bergidik, “Iiih… kedinginan… pengen pipis dulu ah… ” Tante Fara bangkit dari sofa. Kemudian melangkah ke arah pintu yang Aldi tunjukkan tadi.
Setelah Tante Fara masuk ke toilet, Aldi berbisik, “Tantemu emang keren abissss…. tapi kita lanjutkan ngobrolnya di sana, biar asyik.” Aldi menunjuk ke pintu lain.
Aku cuma mengiyakan. Lalu bangkit dan melangkah ke arah pintu yang ditunjukkan oleh Aldi. Kubuka pin tu itu, karena ingin tahu keadaannya. Wah, memang bagus penataannya. Ruangan yang cukup luas, mungkin berukuran 6 X 5 meter. Tapi sekujur lantainya ditutupi kasur semua.
Kasur itu ditilami seprai yang terbuat dari kain beludru. Mungkin untuk mengurangi hawa dingin di daerah villa ini. Dindingnya juga dilapisi busa berbalut plastik jok (oscar). Ada dua meja kecil yang muncul dari dinding, tanpa kaki. Di tiap meja sudah terhidang bir hitam kalengan dan beberapa jenis minuman keras.
Puluhan bantal dan guling serta selimut ditata sangat rapi. Ruangan ini jelas sangat pribadi, karena tiada jendela satu pun. Hanya ada ventilasi di dinding bagian atasnya. Sound system pun terpasang menembus dinding, sehingga tiada benda-benda yang menghalangi langkah di dalam ruangan ini, kecuali dua meja kecil itu.
Ada pintu lain di dalam kamar ini, yang ternyata menuju kamar mandi dengan peralatan yang serba import. Hebat villa ini, pikirku.
Aku menoleh ke arah Aldi sambil mengacungkan jempol. Aldi cuma tersenyum. Dan Tante Fara pun muncul lagi dari dalam pintu toilet.
“Tante, kita ngobrolnya di sini aja yok,” ajakku sambil membuka pintu ruangan khusus itu lebar-lebar.
Tante Fara menurut saja. Menghampiriku dan melongok ke dalam kamar luas itu.
Begitu melihat keadaan ruangan itu, terutama melihat lantainya yang ditutupi kasur sekujurnya, Tante Fara tersenyum sambil mencubit lenganku. “Ini sih benar-benar kamar buat perang…” cetusnya sambil melepaskan sepatunya, kemudian melangkah ke ruangan berlantai kasur itu. Aku dan Aldi pun mengikuti langkah Tante Fara.
Tante Fara duduk di lantai berkasur sambil menjulurkan kakinya. Aldi rebah, menelungkup di samping kanan Tante Fara, sementara aku tergiur oleh minuman yang tersedia di atas meja kecil itu. Kutuangkan ke gelas kecil yang tersedia.
Tante Fara tidak mempedulikanku. Malah tampak saling pandang dengan Aldi dengan senyum di bibir. Hmm…kelihatannya rencana kami takkan mengalami kendala. Kelihatannya Tante Fara suka pada Aldi. Masa dia tak suka pada cowok setampan Aldi?
“Tante mau minum apa?” tanyaku setelah meneguk isi gelas kecilku, kemudian mengisinya lagi.
“Ada martini gak?” Tante Fara balik bertanya.
“Gak ada,” Aldi yang menyahut, “Tapi ada yang lebih enak. White French Wine itu.”
“Boleh, asal jangan terlalu keras,” kata Tante Fara sambil menyibakkan rambutnya yang sebahu.
Waktu aku menuangkan wine ke gelas kecil untuk Tante Fara, kudengar adik ibu tiriku itu mulai berbincang dengan Aldi.
“Kenapa kamu mau lihat kami begituan?” tanya Tante Fara.
“Pengen aja Mbak, eh Tante…sudah kebayang bakal hot sekali nanti,” sahut Aldi.
“Terus… kalau kamu terangsang nanti gimana?” tanya Tante Fara waktu aku menyerahkan gelas berisi wine putih itu padanya.
“Bagusnya bagaimana?” Aldi balik bertanya, sambil menerima gelas berisi minuman dariku.
“Nggak tau…. hihihi…” Tante Fara tertawa kecil setelah meneguk winenya. Dan diam-diam Tante Fara mulai menanggalkan baju kausnya, disusul dengan pelepasan celana panjangnya. Aku suka melihatnya, karena hal itu berarti bahwa Tante Fara sudah mengusir kecanggungannya. Mungkin akibat wine yang sudah diteguknya.
“Tubuhku bagus nggak?” tanya Tante Fara kepada Aldi yang sedang ternganga seperti sedang mengagumi Tante Fara yang tinggal mengenakan beha dan celana dalam yang sama-sama berwarna pink.
“Wah… bukan main… luar biasa seksinya Tante !!!” seru Aldi yang seakan tak mau berkedip menyaksikan kemulusan tubuh Tante Fara. Aku tertawa di dalam hati. Membayangkan apa yang akan terjadi setelah Tante Fara bertelanjang bulat nanti.
“Kamu ingin lihat aku telanjang bulat kan?” tanya Tante Fara dengan pandangan dan senyum menggoda ke arah Aldi.
“I… iya…” sahut Aldi tampak canggung.
“Tapi kalian gak boleh curang dong. Kalau aku telanjang, kalian juga harus telanjang,” kata Tante Fara sambil melepaskan behanya, sehingga payudaranya yang montok itu terbuka penuh di depan mataku dan mata Aldi.
Aldi melotot. Tante Fara tersenyum padanya. Aku merasa sukses “ngerjain” mereka. Dan aku tidak sungkan-sungkan menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhku, karena aku sudah terbiasa bertelanjang di depan Tante Fara. Tapi Aldi masih tampak ragu. Ia tanggalkan baju dan celana jeansnya. Tapi ia tidak menanggalkan celana dalamnya.
Tante Fara melirik ke arah rudalku yang memang masih lemas. Kemudian memandang ke bawah perut Aldi sambil tersenyum. Kemudian merangkak ke arah Aldi, “Jangan licik dong…kalau kamu nggak buka semua, aku juga nggak mau buka semua,” kata Tante Fara sambil menarik celana dalam Aldi sampai terlepas dari kakinya. Tampak jelas batang kemaluan Aldi sudah ngaceng !
“Hihihi,” Tante Fara ketawa kecil sambil memegang batang kemaluan Aldi, lalu menoleh padaku sambil berkata, “Punya temanmu malah sudah duluan ngaceng, Ton…”
Aku mengangguk dengan senyum. Lalu menghampiri mereka. Aldi dengan canggung duduk di atas kasur, sementara Tante Fara masih memegang batang kemaluan sahabatku itu.
“Duh…Tante…” terdengar suara Aldi ketika kulihat batang kemaluannya mulai diremas-remas oleh Tante Fara. Ini di luar dugaanku. Bahwa Tante Fara langsung “lancar” merangsang Aldi. Tadinya kupikir Tante Fara akan sulit mengikuti skenario yang telah kurencanakan bersama Aldi.
“Ton,” Tante Fara menoleh padaku, “Kayaknya Aldi harus dikasih duluan nih. Kasihan, rudalnya udah ngaceng berat gini. Gakpapa?”
“Iya Tante, gak apa-apa. Kita kan emang mau senang-senang di sini semalam suntuk. Yang udah kebelet mending didahulukan. Hihihi…” sahutku sambil memainkan payudara Tante Fara yang salalu saja enak buat diremas-remas.
Pandangan Tante Fara tertuju ke Aldi, “Mau duluan?”
“Ma…mau Tante…” sahut Aldi tampak polos.
“Jadinya bukan mau nonton doang dong. Apalagi dikasih duluan,” kata Tante Fara tanpa melepaskan genggamannya di batang kemaluan Aldi yang tampak benar-benar siap tempur.
“Boleh gua duluan Ton?” Aldi menoleh padaku.
“Oke…demi persahabatan kita, gua ngalah,” sahutku sambil melepaskan tanganku dari payudara Tante Fara.
Kubiarkan mereka berbuat apa yang mereka kehendaki. Aku malah lebih bersemangat untuk menambah minumanku. Lalu aku duduk bersandar ke dinding yang empuk ini, sambil meneguk minumanku sedikit demi sedikit.
Kulihat Aldi mulai asyik memainkan payudara montok Tante Fara, sementara adik ibu tiriku itu makin asyik memainkan batang kemaluan Aldi yang besar dan panjangnya hampir sama dengan rudalku.
Lalu kulihat Aldi mulai agresif. Ia menarik celana dalam Tante Fara, sebagai satu-satunya benda yang masih melekat di tubuh adik ibu tiriku itu.
Aldi semakin berani. Menyerudukkan wajahnya ke kemaluan Tante Fara yang bulunya sangat lebat itu. Tante Fara mulai menggelinjang-gelinjang keenakan.
Aku pun merasa makin asyik menyaksikan perbuatan mereka. Kuletakkan gelas minuman yang sudah kosong. Dengan pandangan agak bergoyang, karena mulai dipengaruhi alkohol, aku mendekati mereka. Aldi masih asyik menjilati serambi lempit Tante Fara, sementara aku pun mulai menciumi buah dada Tante Fara, lalu mengemut pentil payudaranya yang sebelah kiri.
Terasa benar Tante Fara sangat menikmati tindakan aku dan Aldi. Terasa tubuhnya bergetar-getar, terkadang ia meremas rambutku, terkadang meremas rambut Aldi yang berada di bawah perutnya.
Sampai akhirnya Tante Fara menarik kepala Aldi agar naik ke atas. Mungkin Tante Fara sudah ingin segera memulai persetubuhan yang sebenarnya. Aku pun melepaskan kulumanku di payudara Tante Fara, karena takut mengganggu pergerakan Aldi.
Aku bangkit dan bergerak ke arah sound system yang dipasang tembus dinding itu. Kuaktifkan MP3nya. Dan mulai terdengar suara Mick Jaggger dalam lagu Party Doll (yang saat itu sedang ngetop).
Aldi dan Tante Fara jadi tambah asyik dengan berkumandangnya musik di ruangan itu.
Kulihat batang kemaluan Aldi memang sudah membenam ke dalam serambi lempit Tante Fara, bahkan mulai diayun, mulai digeser-geserkan maju mundur…membuat Tante Fara mulai meraung-raung histeris, “Ooooh….oooh….iya….oooh…iya…yessss….fuck me Al…yesss…yesss….”
Sepasang paha Tante Fara menjulur ke atas, sehingga kakinya mulai melingkari pinggang Aldi. Aku sudah tahu bahwa dengan cara seperti itu batang kemaluan Aldi bisa terbenam seluruhnya pada waktu didorong. Pemandangan yang sangat mengasyikkan, ketika sahabatku sedang memenyetubuhi serambi lempit Tante Fara, aku malah menuangkan lagi minuman ke gelasku yang sudah kosong. Lalu meneguknya lagi sedikit demi sedikit, sambil mendekati mereka yang sedang asyik bersetubuh.
Memang menyaksikan “pertunjukan live” begini jauh lebih merangsang daripada nonton bokep. Soalnya aku bisa menyentuh Tante Fara kapan saja aku mau. Dan diam-diam batang kemaluanku sudah tegang sekali. Tapi aku harus bersabar menunggu Aldi “selesai”.
Maka aku pun lalu duduk di samping Tante Fara sambil menggoda Aldi yang sedang ngos-ngosan mengayun batang kemaluannya. Tampaknya Tante Fara menyadari bahwa batang kemaluanku sudah ngaceng berat. Mungkin dia merasa kasihan juga padaku, karena tangan kanannya merayap ke arah batang kemaluanku, kemudian menggenggamnya, meremasnya dengan lembut, sementara Aldi makin ganas mengayun batang kemaluannya, sehingga terkadang genggaman Tante Fara terasa kencang sekali, tapi tidak membuatku sakit. Malah enak.
Aldi tak peduli dengan semuanya itu. Ia tetap asyik mengayun batang kemaluannya sambil memejamkan matanya, dengan napas berdengus-dengus. Geli juga aku menyaksikan semuanya ini. Karena memang ini untuk pertama kalinya aku melihat sahabatku dalam keadaan sedang bersetubuh dengan perempuan. Tapi batang kemaluanku makin ngaceng, rasanya tak sabar lagi, ingin secepatnya dientotkan ke dalam liang serambi lempit Tante Fara.
Maka kusentuh bahu Aldi sambil berkata, “Mau gantian dulu? Lu bisa istirahat dulu, Al.”
Aldi menoleh padaku. Lalu mengangguk dan mencabut batang kemaluannya dari serambi lempit Tante Fara. Kemudian bergerak menuju meja kecil yang ada beberapa botol minuman keras itu.
Tante Fara diam saja, malah tersenyum padaku yang sudah siap menyetubuhinya.
Dengan agak mudah kubenamkan batang kemaluanku ke dalam liang serambi lempit Tante Fara.
“Sudah gak tahan ya?” bisik Tante Fara waktu aku belum mengayun batang kemaluanku.
“Iya….” sahutku sambil mulai menggerak-gerakkan zakarku, maju mundur di dalam jepitan liang kemaluan Tante Fara.
Tante Fara menyambut entotanku dengan goyang pinggul dan pelukan hangatnya.
Tapi tak lama kemudian Tante Fara membisikiku, “Mau posisi doggy lagi?”
“Mau,” sahutku senang.
Lalu kucabut dulu batang kemaluanku, membiarkan Tante Fara bergerak jadi menungging. Aku pun berlutut di depan pantatnya dan meletakkan moncong batang kemaluanku pada belahan serambi lempit Tante Fara yang tampak agak ternganga dalam posisi seperti itu.
Blesss….batang kemaluanku membenam ke dalam liang kemaluan Tante Fara dari arah belakang. Kemudian aku pun mulai memenyetubuhinya sambil berpegangan ke buah pinggulnya.
Aldi membawa gelas berisi minuman ke dekatku. Tante Fara melirik ke arah temanku, kemudian berkata, “Kamu celentang di sini…kakinya rentangkan.” Tante Fara menepuk kasur di depannya.
Tampaknya Aldi mengerti apa yang diinginkan oleh Tante Fara. Setelah menghabiskan minumannya, ia melemparkan gelas ke kasur agak jauh dari tempat kami, kemudian rebah terlentang di depan Tante Fara yang sedang menungging.
Aku tetap asyik mengayun batang rudalku di dalam jepitan liang serambi lempit Tante Fara, sementara Tante Fara mulai memegang batang kemaluan Aldi…dan mulai mengulumnya.
Aldi melenguh-lenguh, “Duuuh… enak Tante….”
Tante Fara trampil sekali. Ia bisa menerima entotanku sambil menyelomoti batang kemaluan sahabatku.
Rasanya meriah sekali persetubuhan yang kami lakukan ini. Bahkan setelah aku dan Aldi sama-sama ngecrot, nafsuku bangkit lagi, karena melihat Aldi sudah menyetubuhi Tante Fara lagi…… !
Bersambung… Pulang dari villa itu, kubonceng lagi Tante Fara di motorku. Dalam perjalanan pulang itu sempat aku bertanya, “Gimana Tante ?”
“Apanya yang gimana ?”
“Yang telah terjadi di villa itu, asyik gak ?”
“Sangat asyik Ton. Baru sekali ini tante merasakan dithreesome seperti tadi.”
“Yang penting Tante puas, kami pun puas. Tante puas kan ?”
“Sangat puas Ton. Tante malah takut ketagihan… ”
“Gampang Tante. Nanti kalau Tante sudah menginginkan, tinggal kuatur lagi aja bersama Aldi. Bahkan kita bisa bikin acara yang lebih seru lagi. Aldi itu punya teman orang bule. Robert namanya.”
“Terus ?”
Tante siap kalau threesomenya jadi foursome ? Maksudku cowoknya jadi tiga orang. Aku, Aldi dan Robert itu.”
“Gila. Bisa jebol serambi lempitku nanti kalau dikeroyok sama tiga orang sih.”
“Wah… masa jebol segala, Tante ?! Emangnya serambi lempit Tante terbuat dari kertas ?!”
“Hihihiii… mmm… tapi… jujur aja… tante pengen juga ngerasain cowok bule. Ganteng gak orangnya ?”
“Ganteng lah. Sama Aldi juga gantengan Robert.”
Dia terdiam. Lalu tanyaku, “Gimana ? Mau diatur sama aku, Tan ?”
“Kalau cowoknya tiga orang, pasti harus nginap,” kata Tante Fara seperti sedang berpikir. Mungkin sedang mempertimbangkan penawaranku.
“Iya… biar semalam suntuk tante digilir sama aku dan kedua teman itu. Hai… Papa dan Mama mau ke Surabaya kan minggu depan ? Jadi kita bebas mau nginap juga. Atau bisa aja kita ajak mereka main ke rumah aja. “
“Jadi mainnya di rumah aja ?”
“Iya. Biar gak usah buang-buang enerji di jalan gini. “
Tante Fara terdiam.
“Gimana Tante ?”
“Sekarang sih gak bisa mutusin. Badan tante aja masih lemas gini. “
“Masih terasa kekenyangan ya ?”
“Iya. Hihihiii… “
Sebenarnya aku tidak main-main. Tadi di villa aku sempat berunding dengan Aldi, bahwa temannya yang bernama Robert itu bisa diajak untuk menciptakan suasana lebih seru lagi. Robert itu cowok Belanda tapi lahir dan besar di Indonesia. Orang tuanya sudah menjadi WNI sejak Robert belum lahir. Maka dengan sendirinya Robert pun WNI.
Yang aku tahu, Robert itu calm orangnya. Selalu banyak duit pula, karena orang tuanya menjadi direktur sebuah perusahaan asing.
Maka dengan bersemangat aku menyatakan setuju. Tinggal menunggu keputusan Tante Fara saja.
Begitulah… beberapa hari kemudian Tante Fara menyetujui rencana yang sudah kumatangkan dengan Aldi dan Robert.
Bahkan sebulan kemudian, ketika Tante Fara sedang pergi ke pasar, aku menemukan sebuah buku tebal dari bawah tempat tidurnya. Ternyata buku tebal itu berisi catatan pribadinya.
Tante Fara kalau pergi ke pasar, pasti lama sekali. Bisa berjam-jam baru pulang.
Karena itu aku merasa leluasa untuk membaca catatan pribadinya itu. Peristiwa-peristiwa yang melibatkan diriku dan sudah kubuka di sini, akan kusingkat saja ya. Kecuali peristiwa terakhir, akan kusalin seutuhnya. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com
*****
Aku memang sakit hati pada Darman yang baru setahun mengawiniku, lalu ulahnya macam-macam. Semuanya memalukan. Ngutang rokok ke warung-warung lah, godain cewek lah… dan banyak lagi. Yang paling menyakitkan, dia sering menamparku. Sakit kalau ingat semuanya itu.
Karena itu aku tak mau mempertahankan rumah tanggaku dengan lelaki brengsek itu. Aku menuntut cerai ke pengadilan. Tuntutan itu dikabulkan. Aku pun menjadi janda muda, di usia yang baru 25 tahunan.
Lalu salahkah kalau aku memanfaatkan masa jandaku dengan menikmati masa mudaku sepuas mungkin ?
Dengan anak tiri kakakku yang bernama Toni itu, misalnya, kureguk kejantanan dan kemudaannya tanpa merasa ragu sedikit pun. Begitu pula waktu Toni mengajakku ke villa dan menghadirkan temannya yang bernama Aldi itu.
Cerita Sex Pijatan Terselubung
Lalu… Toni punya ide baru lagi. Dia akan mengajak dua orang temannya untuk bertamasya ke surga dunia…. hihihiiii… jujur, aku tidak takut dikeroyok oleh 3 orang cowok. Bahkan ingin merasakan seperti apa nikmatnya disetubuhi oleh tiga cowok seperti itu.
Bukankah di dalam film-film bokep ada gangbang segala, yang cowoknya lebih dari 3 orang ? Kepalangan gila. Aku ingin merasakan semuanya, mumpung belum punya suami lagi.
Tapi terus terang saja, sebenarnya aku degdegan juga waktu tiba di villa punya orang tua Aldi itu. Karena aku dikenalkan dengan seorang cowok bule yang bernama Robert itu.