
Cerita Sex Kontroversi Pesantren (Session 2) – Selamat malam sobat Ngocokers yang setia. Sebelum mambaca cerita dibawah ini ada baiknya untuk membaca session pertama dulu biar tau alurnya dengan judul Kontroversi Pesantren (Session 1). Terima kasih bagi para pembaca ngocokers yang setia!
Rayhan, Nico, Azril dan Doni kini tengah berkumpul di kantin pesantren setelah hampir dua Minggu Rayhan tidak sekolah. Mereka mengulang kembali cerita keberhasilan mereka meringkus kolor ijo yang hampir merenggut nyawa Rayhan. Kalau di pikir-pikir Rayhan merasa sangat bersyukur karena masih di biarkan hidup.
Untuk merayakan kembalinya Rayhan, Azril mentraktir teman-temannya di kantin. Tentu saja tawaran Azril di sambut gembira oleh ketiga temannya.
Cerita Sex Kontroversi Pesantren (Session 2) Ngocoks Rayhan merasa sangat bersyukur karena memiliki ketiga sahabat yang begitu baik kepadanya. Yang selalu ada dan siap membantunya ketika dalam masalah. Bahkan Rayhan masih ingat ketika Doni dan Nico berteriak histeris melihat Rayhan yang dalam keadaan sekarat.
“Gue punya rencana?” Usul Doni.
Nico yang tengah menguyah pentol bakso langsung menyahut. “Rhenchana hapha?” Tanya Nico tak jelas, alhasil potongan bakso itu mengenai sahabatnya yang duduk di depannya.
Bletaaak…
“Bangke habisin dulu tuh bakso di mulut baru ngomong.” Protes Doni setelah menjitak kepala Nico sahabatnya.
“Sorry mas bro, hehehe…” Cengir Nico.
“Lo punya rencana apa?” Azril mengulang pertanyaan Nico.
Doni tersenyum sumringah sembari menatap ketiga wajah sahabatnya yang tampak serius menunggunya. “Kalian lagi nunggu ya?” Candanya, wajah ketiga sahabatnya yang tadi terlihat serius, berubah meringis. Doni tertawa terbahak-bahak puas mengerjai ketiga sahabatnya.
“Bangke.” Umpat Rayhan yang sedari tadi hanya diam.
“Anjing lah.” Sahut Nico.
Doni semakin tertawa puas sembari memegangi perutnya yang terasa keram. “Oke… Oke… Oke… Gue serius.” Doni menarik nafas perlahan, meredahkan tawanya. “Gini, gue punya rencana untuk menyambut kembali sohib kita. Sebuah rencana yang sangat menyenangkan sekaligus menegangkan, dan gue yakin kalian pasti suka.” Ujar Doni antusias.
“Langsung aja.” Potong Azril tanpa melihat kearah Doni.
“Hhmm… gini-gini kemarin gue gak sengaja menemukan spot yang bagus buat ngintipin Ustadza Risty mandi.” Ujar Doni berbisik. Wajah ketiga sahabatnya mendadak tegang mendengar penuturan Doni.
“Serius?” Tanya Nico bersemangat.
Doni menganggukkan kepalanya, lalu mengalihkan pandangannya kearah kedua sahabatnya yang sepertinya sama sekali tidak tertarik dengan ide gila Doni. Ustadza Risty memang salah satu Ustadza favorit di pesantren, tapi untuk mengintip Ustadza mandi, tentu itu ide yang gila.
Kalau sampai mereka ketahuan, maka tamatlah sudah nasib mereka di pesantren.
Azril memang dari dulu tidak begitu tertarik dengan kegiatan yang bisa melunturkan hafalannya. Sementara Rayhan, ia takut kalau sampai ketahuan dan membuat Kakaknya mengamuk. Bisa-bisa ia akan di coret sebagai Adik Kakaknya.
“Kalian kenapa?” Tanya Doni heran.
Nico mendesah pelan. “Cemen!” Ejek Nico.
“Kalian udah pada sinting ya? Gue gak mau ikut-ikutan ide gila kalian.” Ujar Rayhan sembari menggelengkan kepalanya. Sementara Azril memilih diam karena sudah merasa di wakilkan oleh Rayhan.
“Semenjak kapan Lo jadi penakut kayak gini?”
“Lawan mahluk aneh aja berani, masak ngintip doang takut.” Ejek Nico, sembari menyeruput es jeruknya yang tersisa seperempat. Harga diri Rayhan berontak mendengar komentar Nico yang menyentil harga dirinya.
“Yang takut siapa?” Tantang Rayhan.
Doni dan Nico saling pandang. “Oke, kalau begitu besok pagi kita kumpul jam enam pagi di belakang rumah Ustadza Risty.” Tantang Doni, membuat Rayhan dengan terpaksa menyanggupinya dengan menganggukkan kepalanya.
“Deal!” Seloroh Nico semangat. Azril mendesah pelan.
Dan pada saat bersamaan segerombolan anak pesantren memasuki kantin. Mata salah satu dari mereka menatap tajam kearah Rayhan. Kemudian ia memberi aba-aba kepada temannya yang lain untuk mengikutinya. Dari gerak-gerik nya ia terlihat sangat mencurigakan.
Mereka berjalan petantang petenteng kearah Rayhan and gang. Nico melihat gelagat yang tidak baik dari mereka.
“Ada Dedy, pura-pura tidak tau.” Bisik Nico.
Rayhan mengangkat alisnya, sejak pertama kali tinggal di pesantren ia sudah tidak suka dengan Dedy dan kawan-kawannya yang suka sekali menindas orang lemah. Tapi sejauh ini, Rayhan tidak berfikir untuk mencari masalah dengan Dedy, walaupun ia sangat tidak menyukai Dedy.
Seperti yang di katakan Nico, mereka pura-pura tidak melihat kedatangan Dedy yang menghampiri mereka.
“Wah… Wah… Wah… Pahlawan kita lagi santai ni.” Ujar Dedy memprovokasi Rayhan. Tetapi pemuda itu tidak menanggapinya. Tidak ada untungnya bagi Rayhan untuk menanggapi provokasi dari Dedy.
“Cie… Pahlawan kesiangan.” Celetuk anak buah Dedy.
Mereka berlima tertawa terbahak-bahak mengejek Rayhan yang tetap memilih diam. Hanya saja cengkraman di sendoknya semakin erat.
Kemudian dia menepuk pundak Rayhan, sembari menatap tajam kearah Rayhan, seakan menantang Rayhan untuk menjawab tantangannya. Tapi pemuda itu tetap berusaha tenang, walaupun kepalan tangannya sudah gatal ingin memukul wajah Dedy.
Dedy mengendus kesal sembari membuang muka kearah teman-temannya yang lain. Kemudian ia mengambil gelas Rayhan dan menumpahkan es teh diatas kepala Rayhan. Doni, Nico dan Azril terlihat kaget dengan aksi Dedy.
“Cukup bangsat.” Umpat Doni sembari berdiri.
Nico ikut berdiri di samping Doni, ia menatap marah kearah Dedy. Walaupun Dedy di kenal sebagai sosok menakutkan, tetapi mereka sama sekali tidak gentar.
Dedy membalas tatapan Doni dan Nico, sembari tersenyum meremehkan kearah mereka berdua.
Keributan kecil tersebut memancing pusat perhatian para santri yang tengah menikmati jajanan kantin. Sadar kalau kondisi saat ini mulai tidak kondusip Rayhan segera melerai kedua sahabatnya agar tidak terbawa emosi.
“Sudah-sudah, kita pergi saja.” Ajak Rayhan.
Ia menarik Nico untuk menjauh, sementara Azril menarik Doni yang masih beradu tatapan dengan Dedy dkk.
Dedy meludah ke tanah sembari mengacungkan jari tengah kearah mereka berempat. “Pergi jauh-jauh sana, bila perlu keneraka sekalian!” Umpat Dedy.
“Hahaha…” Tawa anak buah Dedy.
Tapi Rayhan tidak memperdulikan ejekan Dedy walaupun ia sangat marah, ia lebih memilih membawa teman-temannya untuk menjauh. Bagi Rayhan tidak ada gunanya ribut hanya karena masalah sepele.
*****
Semalaman Ustadza Dwi tidak bisa tidur, terus terbayang akan kejantanan Pak Imbron. Bahkan setelah subuh ia bermimpi Pak Imbron mendatanginya dan memperkosanya hingga menjerit-jerit keenakan. Alhasil Aziza mendatangi kamarnya karena khawatir mendengar ibunya berteriak.
Sisi liar di dalam diri Ustadza bukan tanpa sebab. Sebelum ia menikah, Ustadza Dwi adalah seorang hiperseks, ia memiliki kisah kelam pada saat remaja dulu. Pergaulan bebas yang tidak terkendali, membuatnya sering melakukan zina dengan berbagai pria dari kalangan bawah hingga atas.
Tapi itu dulu, saat ia masih duduk di bangku SMA. Setelah tamat SMA ia kuliah di universitas Islam XXX. Pertemuannya dengan Mbak Yuni membuatnya perlahan mulai bertaubat, bahkan Mbak Yuni lah yang menjodohkannya dengan anak KH Hasan hingga akhirnya ia menikah.
Tapi peristiwa dua Minggu yang lalu, ketika ia di perkosa oleh kolor ijo, membangunkan sisi liarnya yang telah lama tertidur. Ia sangat merindukan rudal-rudal besar dan perkasa untuk memenuhi relung serambi lempitnya yang gatal.
Dan sosok Pak Imbron di anggap layak, untuk menutupi kekosongan serambi lempitnya selama ini.
Hari ini Ustadza Dwi bertekad akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Beberapa rencana sudah tersusun di otaknya untuk membawa Pak Imbron ke dalam pelukannya.
Satu rencana telah berhasil ia jalankan dengan mendatangkan Pak Imbron ke rumahnya dengan alasan kalau lampu kamarnya rusak dan butuh di ganti dengan yang baru. Tentu Pak Imbron dengan senang hati membantunya. Dan di sinilah Pak Imbron sekarang, tengah mengganti bola lampu kamar Ustadza Dwi.
Selagi Pak Imbron sibuk di dalam kamarnya. Ustadza Dwi membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Ia ingin terlihat fresh di hadapan Pak Imbron. Selesai mandi, ia mengambil handuk dan melilit tubuhnya dengan handuk. Tidak lupa ia memakai jilbab instannya yang berwarna biru Dongker dengan bahan kaos.
Deg… Deeg… Deeggg…
Detak jantung jantung Dwi tak beraturan, sanking tegangnya ia sampai lupa bernafas.
Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam kamarnya hanya memakai handuk, lalu menutup pintu kamarnya. Pak Imbron yang baru selesai mengganti lampu kamar Ustadza Dwi tampak terperangah melihat penampilan Ustadza Dwi yang sangat menggoda.
“Eh…” Ustadza pura-pura kaget. “Maaf Pak, saya lupa kalau ada Bapak di kamar.” Ujar Ustadza Dwi dengan suara yang di buat tergagap.
Mata Pak Imbron melotot, memandangi lekuk tubuh Ustadza Dwi yang begitu menggoda, membangunkan rudalnya yang tengah tertidur.
Seakan kehilangan akal sehatnya, Pak Imbron turun dari tangga dan berjalan mendekatinya. Wajah cantik Ustadza Dwi mengisyaratkan rasa takut, dan hal tersebut membuat Pak Imbron makin bergairah. Tubuhnya menegang seakan tidak sabar mendekap dan mencumbu wanita yang ada di hadapannya saat ini.
Ketika Ustadza Dwi hendak kabur, pergelangan tangannya dengan cepat di cekal oleh Pak Imbron, dan di tarik hingga jatuh ke dalam pelukannya.
“Hehehehe… Mau kemana Ustadza?”
Wajah Ustadza terlihat panik. “Pak Imbron! Maaf saya lupa ada Bapak di kamar.” Ucap Ustadza Dwi terbata-bata. Ia dapat melihat pancaran birahi di mata Pak Imbron.
“Gak apa-apa Bu Ustadza!” Seringai mesum Pak Imbron.
Tubuh Ustadza Dwi lunglai di dalam pelukan Pak Imbron, walaupun ia meronta di dalam dekapan Pak Imbron, tapi hatinya menjerit senang, karena umpannya berhasil di makan oleh Pak Imbron.
Dengan beringas Pak Imbron menciumi sekujur wajah cantik Ustadza Dwi. Dia memanggut kasar bibir merah Ustadza Dwi yang menggoda.
“Eehmmppss… Eehhmmppss… Pak Imbron, jangaaaaan… Eehmmppss…” Rintih Ustadza Dwi di sela-sela ciuman panas Pak Imbron terhadap bibirnya.
Kedua tangan Pak Imbron menamkup daging empuk di bawah pinggang Ustadza Dwi, dia meremasnya dengan kasar hingga menimbulkan bekas merah.
Untuk menambah suasana semakin panas, Ustadza Dwi mendorong tubuh Pak Imbron, kemudian ia berbalik sembari melepas ikatan handuknya, hingga jatuh ke lantai. Mata Pak Imbron makin membeliak menatap punggung dan pantat Ustadza Dwi yang putih mulus itu.
Tidak mau kehilangan mangsanya begitu saja, Pak Imbron segera menangkap Ustadza Dwi di depan pintu pintu kamar. Dan menarik tubuh tubuh Ustadza Dwi lalu membanting tubuh Ustadza Dwi keatas tempat tidur.
“Jangan Pak… Jangan…” Lirih Ustadza Dwi.
Pak Imbron tersenyum sumbringah sembari mendekati Ustadza Dwi. Dia menjambak jilbab Ustadza Dwi dan memaksa wanita berhijab itu berlutut di hadapannya. “Hayo buka celana saya!” Perintah Pak Imbron sembari menarik kebawah jilbab yang di kenakan Ustadza Dwi hingga mendongak keatas.
“Astaghfirullah! Jangan Pak…” Melas Ustadza Dwi.
“Buka.” Bentak Pak Imbron.
Kedua tangan Ustadza Dwi meraih celana lusuh Pak Imbron, dan melepas celana panjang tersebut. Ustadza Dwi menggigit bibirnya sembari menatap rudal Pak Imbron yang berukuran monster terlihat begitu menggoda.
Tanpa di minta telapak tangan Ustadza Dwi menggenggam rudal Pak Imbron yang berotot.
“Ternyata dugaan saya benar, gelar doang Ustadza, tapi doyan rudal. Hahahaha…” Tawa Pak Imbron pecah. Tapi Dwi yang sudah sangat terangsang tidak memperdulikannya, bahkan ia tanpa segan mengulum rudal Pak Imbron yang terasa keras dan kaku di dalam mulutnya. “Wow… Belum di suruh sudah main nyosor aja ni lonte.” Umpat Pak Imbron kasar.
Umpatan-umpatan Pak Imbron malah membuat Dwi semakin bergairah. Ia menghisap dan menjilati rudal Pak Imbron, hingga pria berusia 56 tahun itu merem melek keenakan ketika rudalnya di servis menggunakan mulut seorang Ustadza yang tingkat keimanannya seharusnya tidak di ragukan lagi.
Pak Imbron kembali menjambak jilbab Ustadza Dwi, dan ia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur ke dalam tenggorokan Ustadza Dwi.
Setelah merasa cukup, dia kembali mendorong tubuh Ustadza Dwi hingga terlentang diatas tempat tidur. Tubuhnya yang kekar menindih tubuh putih mulus Ustadza Dwi sembari memposisikan rudalnya di depan lipatan serambi lempit Ustadza Dwi yang telah basah.
“Sudah siapkan ustadza?” Goda Pak Imbron.
Wanita berhijab biru dongker itu menggelengkan kepalanya. “Jangan Pak, saya sudah bersuami.” Melas Ustadza Dwi, ketika merasakan kepala rudal Pak Imbron menggesek-gesek bibir serambi lempitnya.
“Bagus dong Bu, saya malah semakin semangat menggenjot serambi lempit Istri orang!” Ujar Pak Imbron sembari menyelipkan rudalnya di sela-sela serambi lempit Ustadza Dwi. Tangan kirinya memegang betis Ustadza Dwi, sementara tangan kanannya meremas payudara Ustadza Dwi yang berukuran 34D.
Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk…
Suara benturan kelamin mereka terdengar begitu merdu, bagaikan suara nyanyian erotis yang semakin membangkitkan birahi keduanya.
“Aaghkk… Aaaahkk… Aahkk…” Desah Ustadza Dwi.
Setelah beberapa menit dan semakin yakin kalau Ustadza Dwi menikmatinya, Pak Imbron meminta wanita cantik itu untuk menungging. Pak Imbron membenamkan wajahnya di selangkangan Ustadza Dwi dan menjilati serambi lempitnya. Kemudian ia kembali menyetubuhi Ustadza Dwi dari belakang sembari memegangi pinggulnya.
Wajah Ustadza Dwi meringis, merasa ngilu di lobang peranakannya sekaligus menggelinjang nikmat merasakan otot-otot rudal Pak Imbron di dinding serambi lempitnya.
Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk…
Suara tubrukan selangkangan mereka terdengar semakin keras ketika Pak Imbron semakin gencar mengaduk-aduk lobang serambi lempit Ustadza Dwi yang semakin banyak mengeluarkan pelumas. Sembari menikmati jepitan serambi lempit Ustadza Dwi, tak lupa Pak Imbron meremas-remas payudara Ustadza Dwi yang menggantung bebas.
“Pak… Saya keluar!” Erang Ustadza Dwi.
“Bareng Bu.” Wajah Pak Imbron mengeras ketika ia merasakan desakan di kepala rudalnya.
Secara bersamaan mereka berdua menumpahkan hasrat birahi mereka secara bersamaan. “Oughkk… Enak sekali Bu Ustadza.” Erang Pak Imbron.
Setelah puas menyiram rahim Ustadza Dwi, Pak Imbron mencabut rudalnya. Dan tampak lelehan sperma Pak Imbron jatuh keatas tempat tidur Ustadza Dwi. Sementara tubuh Ustadza Dwi terkulai lemas diatas tempat tidurnya. Wajahnya terlihat begitu puas dengan bibir tersenyum.
Pak Imbron segera turun dari tempat tidur Ustadza Dwi yang berantakan. Ia mengenakan kembali celananya, dan duduk di tepian tempat tidur Ustadza Dwi.
“Maafkan saya Ustadza!” Lirih Pak Imbron.
Ustadza Dwi hanya diam tidak menanggapi permohonan maaf dari Pak Imbron.
Setelah menghabiskan rokok sebatang, Pak Imbron segera meninggalkan Ustadza Dwi yang masih terlihat berantakan dengan sperma Pak Imbron yang terlihat mulai mengering. Tidak ada penyesalan sama sekali di hati Ustadza Dwi, bahkan ia ingin kembali mengulanginya.
*****
Pulang sekolah.
“Mana duit loh?”
Dengan tangan gemetar Azril merogoh kantong celananya, ia hendak memberikan uang lima ribu kepada mereka. Tapi tiba-tiba pemuda tersebut mengambil semua uang Azril. “Eh… Jangan semua dong.” Protes Azril.
Mata Juned memicing. “Berani loh sama kita.” Ancam Juned dengan mata melotot.
“Kayaknya perlu di hajar ni anak.” Ujar Roby.
Pemuda itu menarik kerah baju Azril, reflek Azril menangkup tangannya di dada. “A-ampun Rob, sudah ambil aja semuanya.” Mohon Azril ketakutan.
Bukkk…
Tanpa aba-aba dia memukul wajah Azril hingga lebam. Kemudian ia menekuk lututnya, dan menghajar perut Azril dengan lututnya sembari melepaskan pegangannya sehingga Azril sempoyongan.
Tanpa ampun Juned menerjang wajah Azril hingga terjengkang ke tanah.
“Aduh sakit.” Jerit Azril.
Robby menarik kembali kerah Azril. “Banyak bacot.” Azril memejamkan matanya ketika kepalan tangan Robby hendak kembali memukul wajahnya.
Tab…
“Auww…” Jerit seseorang sembari meringkuk ke tanah.
Azril sedikit membuka matanya, dan melihat ada sebuah tangan di depan wajahnya. Ia sangat kaget ketika melihat Rayhan berdiri di sampingnya sembari meremas kepalan tangan Robby, hingga Robby mengerang kesakitan.
“Jangan ganggu sohib gue.” Ucap Rayhan pelan.
Juned yang berdiri tak jauh dari Robby terlihat shok melihat tangkapan tangan Roby yang hampir mengenai wajah dari anak pemimpin ponpes Al-tauhid.
Dengan tendangan udara Juned hendak mengincar wajah Rayhan. Buuuuk… Kaki Juned tepat mengenai wajah Rayhan, tapi Rayhan terlihat biasa-biasa saja, walaupun wajahnya sempat terhentak kesamping. Tubuh Juned gemetaran melihat Rayhan yang tengah tersenyum kearahnya. Dengan menggunakan lengannya Rayhan mendorong kaki Juned dari wajahnya.
“Pergilah… Atau?”
“Bangsaaaaat!” Pekik Robby yang kesal. Kepalan tangan kirinya terarah ke dada Rayhan.
Sebelum pukulan Robby mengenai dada Rayhan, siku Rayhan lebih dulu menghantam wajah Robby. Buuuuk… tubuh Robby terjengkang kebelakang dengan wajah memar, ia langsung jatuh pingsan.
Kemudian dengan cepat kilat, Rayhan melancarkan dua kali pukulan kearah wajah Juned yang langsung terhuyung kebelakang hingga punggungnya menabrak tembok bangunan asrama.
“Anjiiiing sakit!” Jerit Juned sembari memegangi wajahnya.
Rayhan belum selesai, ia mecekik leher Juned hingga pemuda itu kesulitan bernafas.
Buukk… Buuuk…
“Hoeegh… Hoeegh…” Erang Juned.
Dua pukulan lagi kearah perut Juned hingga mengenai ulu hatinya. Matanya memerah karena sempat tidak bisa bernafas setelah menerima pukulan Rayhan di perutnya yang terasa sangat menyakitkan.
“Ini peringatan terakhir. Bawak teman Lo pergi dari sini, dan jangan pernah ganggu sohib gue lagi.” Geram Rayhan dengan tatapan tajam.
“I-iya Ray!” Jawab Juned gemetar.
Rayhan segera melepas cengkeramannya dan mengajak Azril untuk segera pulang. Di samping Rayhan, Azril lebih banyak diam. Ia tidak menyangkah kalau Rayhan akan senekat itu melawan dua orang sekaligus.
Sadar kalau sedang di perhatikan, Rayhan menoleh kearah Azril yang tergagap.
“Lo kenapa?”
Azril menggaruk-garuk kepala. “Ngeri juga Lo, tapi terimakasih ya sudah nolongin gue.” Ujar Azril memaksa untuk tersenyum di hadapan Rayhan.
“Santai aja, itulah gunanya sahabat.”
“Gue senang bisa punya sahabat kayak Lo.” Azril merangkul pundak Rayhan. “Sumpah gue puas banget lihat mereka Lo hajar, soalnya sudah satu semester ini gue di palakin Mulu sama mereka.” Wajah Azril mendadak murung sembari memukul telapak tangannya sendiri.
Rayhan menggelengkan kepalanya. “Kenapa gak Lo lawan?” Kesal Rayhan. Ia tidak bisa terima kalau ada sahabatnya yang di aniaya.
“Gue gak sekuat Lo Ray.”
“Sama-sama makan nasi ini, apa yang perlu di takutkan. Lain kali kalau mereka masih gangguin elo, kasih tau gue, bakalan gue habisin mereka semua.” Geram Rayhan, entah kenapa Rayhan merasa menyesal karena melepaskan mereka, seharusnya ia memberi pelajaran untuk mereka lebih dari itu atas perlakuan mereka kepada Azril.
“Terimakasih Ray, Lo memang sahabat terbaik gue.”
“Santai aja.” Ujar Rayhan senang melihat sahabatnya senang. “Gue balik dulu.” Ujar Rayhan setibanya di persimpangan, Rayhan mengajak tos Azril yang di sambut Azril dengan kepalan tangannya bertemu dengan kepalan tangan Rayhan.
*****
Rayhan tidak langsung menuju rumahnya, melainkan ke rumah Ustadza Dewi. Rasanya sudah lama sekali ia tidak berbagi kehangatan bersama Ustadza Dewi. Terakhir ia bertemu ketika Ustadza Dewi menjenguknya yang sedang sakit. Dan itupun mereka tidak bisa saling mengumbar syahwat.
Setibanya di rumah Ustadza Dewi, ia langsung di sambut pelukan hangat oleh Ustadza Dewi.
Mereka berciuman sangat panas melepas rindu yang membuncah di hati mereka. Sembari melumat bibir merah Ustadza Dewi, telapak tangan Rayhan bergerilya diatas payudara Ustadza Dewi yang di bungkus oleh kaos berwarna cream lengan panjang.
“Ustadza kangen kamu Ray!” Bisik Ustadza Dewi.
Kedua tangan Rayhan melelas kaos yang yang di kenakan Ustadza Dewi, lalu di susul dengan melepas branya. “Sama Ustadza, aku juga kangen Ustadza, kangen tetek dan serambi lempit Ustadza.” Goda Rayhan, sembari melahap payudara Ustadza Dewi.
“Oughkk Ray! Lepaskan kerinduanmu sayang.” Desah Ustadza Dewi sembari mendekap kepala Rayhan.
Kemudian Rayhan mendudukan Ustadza Dewi diatas sofa, sembari mencumbu kedua pasang payudara kembar milik Ustadza Dewi, setelah puas mengulum payudara Ustadza Dewi, Rayhan kembali memanggut bibir Ustadza Dewi, sementara tangannya merogoh ke dalam celana training yang di kenakan Ustadza Dewi.
“Ray… Ehmmpsss…” Desah Ustadza Dewi.
Kedua jari Rayhan menggosok-gosok clitoris Ustadza Dewi, membuat serambi lempit Ustadza Dewi semakin basah.
Rayhan melepas pagutannya dan berlutut di hadapan Ustadza Dewi. Kedua tangan Rayhan menarik celana training sekaligus celana dalam yang di kenakan Ustadza Dewi dengan perlahan. Reflek Ustadza Dewi mengangkang kan kakinya di hadapan Rayhan sembari membuka cela bibir serambi lempitnya.
Sruuupss… Sruuupss… Sruuupss… Sruuupss… Sruuupss… Sruuupss… Sruuupss….
Rayhan membenamkan wajahnya di selangkangan Ustadza Dewi, menjilati serambi lempit Ustadza Dewi. Tubuh sang Ustadza menegang sembari mendekap kepala Rayhan.
Lidah Rayhan menusuk masuk ke dalam lobang serambi lempit Ustadza Dewi, mengocok lobang serambi lempit Ustadza Dewi dengan lidahnya. Sementara jari telunjuk Rayhan mencolok lobang anus Ustadza Dewi dengan muda.
“Oughkk… Ray! Aaaahkk… Ustadza dapat… Aaaahkk…” Desahnya panjang, sembari menyambut orgasme pertamanya dari Rayhan.
Setelah menyapu bersih lendir serambi lempit Ustadza Dewi, Rayhan menanggalkan celananya. Kemudian ia menindih Ustadza Dewi yang tengah duduk bersandar di sofa rumahnya. Dengan perlahan rudal Rayhan menembus lobang serambi lempit Ustadza Dewi yang terasa licin karena lendir cintanya.
Dengan intonasi perlahan, Rayhan menggerakan pinggulnya maju mundur menyodok serambi lempit Ustadza Dewi yang tengah meremas-remas payudaranya sendiri.
“Terus Ray! Aaaahkk… Enak.” Erang Ustadza Dewi.
Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk…
Kedua telapak tangan Rayhan mengangkat kedua lutut Ustadza Dewi hingga makin terkangkang. “serambi lempit Ustadza nikmat sekali! Aahkk… Rasanya legit Ustadza.” Desah Rayhan, yang semakin mempercepat tempo permainannya.
“Enak banget Ray! Ouhk… rudal kamu masuk semua, serambi lempit Ustadza jadi penuh.” Racau Ustadza Dewi.
Rayhan membelai wajah Ustadza Dewi, menyentuh bibir merahnya dan memasukan jarinya ke dalam mulut Ustadza Dewi yang di sambut dengan hisapan oleh Ustadza Dewi.
Tubuh Ustadza Dewi kembali melejang-lejang ketika ia kembali orgasme. Rayhan mencabut rudalnya, kemudian ia mengarahkan rudalnya diatas payudaranya yang membusung besar. Rayhan mengocok rudalnya, dan beberapa detik kemudian wajah Rayhan mengeras dengan nafas memburu.
“Oughkk…”
Croooottss… Croooottss… Croooottss… Croooottss… Croooottss… Croooottss…
Rayhan menumpahkan spermanya diatas payudara Ustadza Dewi. Setelah tidak ada lagi sperma yang keluar, Ustadza Dewi melahap rudal Rayhan hingga bersih
“Terimakasih Ustadza!” Bisik Rayhan sembari mengecup kening Ustadza Dewi.
Ustadza Dewi tersenyum tipis. “Sama-sama sayang.” Jawab Ustadza Dewi, sembari membelai perut kotak-kotak milik Rayhan yang terasa keras.
Masih tanpa mengenakan celana Rayhan duduk di samping Ustadza Dewi. Reflek Ustadza Dewi memeluk pinggang Rayhan sembari membenamkan wajahnya di dada bidang Rayhan sembari menikmati aroma keringat Rayhan yang memabukkan Indra penciumannya.
Tangan Rayhan membelai kepala Ustadz Dewi sembari sesekali mengecup kening Ustadza Dewi.
“Gimana kabar kamu Nak? Maaf Ustadza baru tanya sekarang?” Ujar Ustadza Dewi. Rayhan meraih dagu Ustadza Dewi sembari mengecup lembut bibir Ustadza Dewi.
Ustadza Dewi memejamkan matanya, membiarkan muridnya menikmati bibir merahnya.
“Kabar saya sangat baik, apa lagi kalau sudah ketemu Ustadza!” Goda Rayhan, tangannya membelai payudara Ustadza Dewi, memelintir putingnya.
“Ughkk… Kamu bikin Ustadza gatal sayang.”
Rayhan mengecup pipi Ustadza Dewi. “Apa yang gatal Ustadzah?” Wajah Ustadza Dewi bersemu merah mendengar pertanyaan Rayhan.
“serambi lempit!”
“Apa? Saya gak dengar.” Tangannya turun kebawah membelai rambut kemaluan Ustadza Dewi. Jari telunjuknya membelai clitoris Ustadza Dewi.
Tangan Ustadza Dewi membelai rudal Rayhan. “Kamu bikin Ustadza gemas sayang.” Jemari lembut Ustadza Dewi membelai kepala rudal Rayhan. “serambi lempit Ustadza gatal banget, pengen di garuk-garuk sama rudal kamu.” Desah Ustadza Dewi di dekat telinga Rayhan.
“Tapi sayakan murid Ustadza?”
“Bagaimana caranya agar status kita bisa berubah sayang?” Tanya Ustadza Dewi, ia sudah kembali bergairah dan ingin cepat merasakan rudal Rayhan di dalam serambi lempitnya.
“Ada satu cara Ustadza?”
“Apa?”
Rayhan tidak langsung menjawab, dia membelai bibir serambi lempit Ustadza Dewi, lalu memasukan kedua jarinya ke dalam serambi lempit Ustadza Dewi. “Ustadza jadi budak saya! Dengan begitu kita bisa bebas menyetubuhi kapanpun Ustadza mau.” Bisik Rayhan, membuat punggung Ustadza Dewi merinding.
“A-akuu mau sayang.” Jawab Ustadza Dewi terbata-bata.
Rayhan tersenyum kemudian ia merogoh saku celananya sembari mengambil uang kertas dua ribuan. “Ini mahar untuk Ustadza.” Ujar Rayhan menyerahkan uang dua ribu kepada Ustadza Dewi.
“Terimakasih sayang.”
“Sebagai bentuk kepatuhan Ustadza kepada saya, Ustadza harus bersedia saya tato.” Rayhan mengeluarkan alat tato di dalam tasnya.
Ustadza Dewi terlihat sangat terkejut dengan keinginan Rayhan yang ingin mentato tubuhnya. Sedikitpun tidak terbesit di benak Ustadza Dewi untuk mentato sebagian tubuhnya. Selain karena ia tidak suka tato, Ustadza Dewi juga merasa tato tidak mencerminkan dirinya sebagai Ustadza.
Tapi yang meminta kali ini adalah Rayhan, murid sekaligus Tuannya yang harus ia patuhi.
“Kita ke kamar Ustadza sekarang.” Ajak Rayhan.
Walaupun ia ragu tapi Ustadza Dewi menurut saja ketika di ajak ke kamarnya. Ia seakan terhipnotis oleh karisma yang di miliki Rayhan. “Ray….” Lirih Ustadza Dewi.
“Panggil saya Tuan.”
Ustadza Dewi tampak terkejut ketika mendengar ucapan Rayhan. Walaupun Rayhan mengatakannya dengan pelan, tapi ia merasa kalau ucapan Rayhan sungguh-sungguh. Sikap Rayhan yang lembut tapi tegas membuat Ustadza Dewi semakin menaruh respek terhadap Rayhan.
“Iya Tuan Ray!” Ujar Ustadza Dewi patuh.
Rayhan tersenyum lalu menyuruhnya untuk berbaring diatas tempat tidur dengan posisi telungkup. Kemudian Rayhan mencolokkan mesin tato miliknya. Setelah mesin tato di isi tinta berwarna hitam, Rayhan mulai menggambar sebuah kupu-kupu di atas pinggul Ustadza Dewi.
Beberapa kali Ustadza Dewi meringis, ketika mesin tato milik Rayhan menusuk kulitnya. Setelah kerangka tato kupu-kupu selesai di buat, Rayhan mengganti tinta tato berwarna merah terang, dan mewarnai gambar kupu-kupu yang baru saja ia buat. Selama proses pembuatan tato, berulang kali Ustadza Dewi menjerit kesakitan.
Setelah hampir satu jam, barulah proses pembuatan tato milik Ustadza Dewi selesai.
Rayhan tersenyum melihat hasil karya yang baru ia buat. Diatas gambar kupu-kupu terdapat tulisan lonte berwarna hitam, dan di bawah gambar tersebut terdapat tanda tangan Rayhan, sebagai bentuk penegasan kalau Ustadza Dewi telah resmi menjadi budak seks miliknya.
“Indah sekali Ustadza.” Bisik Rayhan.
Ustadza Dewi bangkit dari tempat tidur, lalu dia membelakangi kaca besar yang ada di kamarnya. Ia menatap takjub kearah tato yang baru saja di buat oleh Rayhan.
Setelah merapikan alat tatonya, Rayhan menghampiri Ustadza Dewi, dia memeluk erat tubuh Ustadza Dewi sembari melumat bibir budak sex barunya. Lidahnya bergerilya di dalam mulut Ustadza Dewi, sementara tangannya membelai tato Ustadza Dewi hingga meringis menahan pedih.
“Berbalik Ustadza!” Perintah Rayhan.
Ustadza Dewi memutar tubuhnya sembari menungging di hadapan Rayhan. “Masukan sekarang Tuan! Hamba sudah siap untuk di nikmati.” Manja Ustadza Dewi, sembari membuka lipatan serambi lempitnya.
“Ahkkk… Lonte!” Desah Rayhan.
rudal Rayhan perlahan menjelajahi lobang serambi lempit Ustadza Dewi yang terasa seret.
Dengan gerakan pelan Rayhan kembali menyodok-nyodok serambi lempit Ustadza Dewi. Tangannya mencengkram payudara Ustadza Dewi. Perlakuan lembut Rayhan, membuat Ustadza Dewi merinding keenakan.
Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk…
Tubuh kekar Rayhan menyentak-nyentak kedepan dengan ritme perlahan. Plaaakk… Plaaakk… Plaaakk… Rayhan menampar berulang kali pantat Ustadza Dewi hingga bergetar dan memerah.
Kemudian Rayhan memutar tubuh Ustadza Dewi menghadap kearah dirinya. Kembali Rayhan membenamkan rudalnya. Setelah beberapa menit, Rayhan merasa ingin keluar.
“Saya keluaaar Ustadza.”
“Saya juga tuan…” Jerit Ustadza Dewi.
Sembari berpelukan mereka menuntaskan hasrat syahwat mereka secara bersamaan.
*****
“Astaghfirullah Azril.”
“Eh, Umi.” Azril nyengir kuda sembari menggaruk-garuk kepalanya.
Ustadza Laras mendesah pelan sembari menghampiri putranya yang pulang dalam keadaan berantakan. “Duduk sini.” Suruhnya, meminta Azril duduk di sofa, di samping dirinya. Dengan patuh Azril duduk di samping Ibunya.
Ia memegangi wajah putranya yang tampak memerah, dan mata kiri Azril sedikit bengkak. Terakhir kali ia melihat Azril bonyok seperti saat ini ialah dua bulan yang lalu, dan kali ini kembali terulang lagi. Sebagai seorang Ibu tentu saja ia merasa sangat khawatir.
Setelah memeriksa luka di wajah Azril, Laras berlalu ke kamarnya untuk mengambil kotak p3k, dan air hangat untuk mengompres luka Azril.
“Kamu berantem lagi.” Tanya Laras.
Azril memilih diam, ia tidak tau harus mengatakan apa kepada Ibu tirinya. Ia tidak mungkin berbohong, tapi ia juga tidak berani untuk berkata jujur.
Dengan menggunakan kain kasa, Laras mengompres wajah memar Azril membuat pemuda itu meringis kesakitan menahan pedih di wajahnya. “Aduh sakit Mi.” Rintih Azril meringis menahan pedih.
“Tahan ya sayang! Sini peluk Umi.” Ujar Laras.
Azril memeluk pinggang Laras, sembari membenamkan wajahnya diatas payudara Ibu tirinya yang terasa empuk. “Maafin Azril ya Mi.” Lirih Azril, ia merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan Laras, apa lagi ia bisa merasakan tekstur empuk payudara Laras.
“Sudah umi katakan berulang kali, jangan berkelahi.” Ujar Laras, sembari membersihkan luka di wajah Azril.
“Iya Umi.”
“Kali ini Umi akan adukan kamu sama Abi.” Ancam Laras. Membuat wajah Azril mendadak pucat pasi.
Dia menatap Ibunya sembari menggelengkan kepalanya. “Ja-jangan Umi. Nanti Abi marah sama Azril.” Mohon Azril kepada Ibunya yang baru saja selesai mengompres luka di wajahnya yang memar.
“Biar kamu jera.” Cetus Laras.
Wajah Azril berubah memelas di hadapan Laras. “Umi tega lihat Azril di pukul Abi?” Melas Azril, dengan tatapan sedih. Bukannya merasa kasihan, Laras malah terlihat gemas melihat tingkah putranya yang begitu inoncent.
“Siapa suruh kamu bandel.”
“Azril janji tidak akan mengulanginya lagi.” Azril membentuk huruf V dengan kedua jarinya.
Laras menggelengkan kepalanya. “Kemarin kamu juga bilang begitu! Sudah-sudah sana kamu mandi dulu, habis itu makan bareng Umi.” Titah Laras, Azril hanya pasrah menuruti perintah Ibunya. Ia berjalan gontai menuju kamarnya dengan raut wajah yang tidak bersemangat.
Setelah Azril kembali ke kamarnya, Laras merubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum.
Sebenarnya ia juga tidak ingin mengadukan kelakuanku Azril kepada Suaminya. Tapi Azril memang harus di kasih hukuman agar ia jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya. Laras menyenderkan punggungnya di sofa sembari terus berfikir mencari solusi yang lebih baik dari pada harus mengadukan perbuatan Azril hari ini kepada suaminya.
Setelah berfikir cukup lama, akhirnya Laras menemukan solusi yang tepat untuk membuat Azril jera tanpa harus memberi tau kan Suaminya.
Ia segera menyusul Azril ke kamarnya, tanpa mengetuk pintu Laras membuka kamar Azril. Pemuda berwajah inoncent tersebut tampak kaget melihat Ibunya masuk ke dalam kamarnya.
“Sini kamu Nak.” Panggil Laras.
Azril yang mengenakan handuk menghampiri Laras yang tengah duduk di tepian tempat tidurnya. “Ada apa Umi?” Tanya Azril keheranan.
“Telungkup di pangkuan Umi.” Suruh Laras.
Walaupun ia tidak mengerti tapi Azril tetap menuruti perintah Laras. Ia tidur terlungkup diatas paha Laras.
Laras menarik nafas dalam, ia merasa tak tega untuk melakukannya. Tapi demi kebaikan putranya, ia harus melakukannya. Bukankah lebih baik dirinya yang menghukum Azril dari pada Abinya.
Plaaakk…
“Aaauuww…” Jerit Azril.
Sebuah pukulan keras mendarat di pantat Azril, hingga terasa pedih di pantat Azril. Dalam keadaan bingung, berulang kali Laras memukul pantat Azril hingga handuk Azril terlepas dari pinggangnya.
Laras dapat melihat bekas merah di pantat putranya, tapi itu tidak mengendurkan pukulannya dari pantat putranya. Ceritasex.site
“Aduh Umi… Sakit!” Mohon Azril.
Plaaakk… Plaaakk… Plaaakk…
“Ini hukuman buat anak Umi yang gak mau nurut apa kata Umi.” Ujar Laras.
Plak… Plaakk… Plaaakk…
“Auww… Uhkk… Ampun Umi.” Mohon Azril.
Jeritan manja Azril malah membuat Laras semakin gemas terhadap putranya. Yang awalnya tidak begitu keras, kini ia melakukannya sekuat tenaga seakan ia lupa kalau yang ia pukul saat ini adalah anak kesayangannya.
Hal yang sama juga di rasakan Azril. Rasa sakit dari pukulan Laras, malah membuat pemuda itu terangsang. Sadar atau tidak rudal Azril kini telah tegang maksimal.
Puluhan pukulan di layangkan Laras ke pantat putranya, sampai ia merasa capek sendiri, barulah Laras berhenti memukuli pantat putranya yang kini memar memerah akibat kerasnya pukulan Laras. Tapi anehnya Laras malah tersenyum melihat pantat putih putranya kini berwarna merah.
“Ayo duduk!” Perintah Laras. Ketika Azril hendak kembali memakai handuknya, Laras mencegahnya. “Tidak usah di pakai, toh Umi juga sudah lihat.” Ujar Laras sembari memandangi rudal Azril yang tidak berbulu, karena Azril sangat rajin mencukur habis rambut kemaluannya.
Laras tersenyum geli melihat selangkangan putranya. Sudah botak ukuran rudal Azril juga sangat kecil, seukuran jari kelingkingnya, padahal saat ini Azril sudah tegang maksimal.
“Sakit Mi.” Rengek manja Azril.
Sanking gemasnya dengan Azril, Laras memeluk putranya yang tengah merengek. “Habis kamu bandel si Dek, makanya Umi pukul.” Ujar Laras enteng.
“Iya Umi!” Lirih Azril. “Azril sayang Umi.” Sambungnya.
“Umi juga sayang Azril.”
Bersambung… Jam di dinding kamar Rayhan sudah menunjukan pukul satu dini hari, tapi entah kenapa Rayhan tetap terjaga, walaupun ia sudah berusaha agar segera tidur. Segala posisi tidur yang paling nyaman sudah ia lakukan, tapi tetap saja mata Rayhan terjaga di tengah kesunyian malam.
Ia bangun dari tempat tidurnya, dengan langkah gontai ia keluar dari dalam kamarnya.
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Zaskia yang tengah tertidur di sofa dalam keadaan tv menyalah. Rayhan mendesah pelan dan hendak membangunkan Kakaknya.
“Cantik.” Gumam Rayhan.
Ia tersenyum menatap wajah polos Kakaknya yang tengah terlelap. Perlahan Rayhan berlutut di samping wajah Zaskia, sembari menatap lembut wajah cantik Kakaknya yang membuat hatinya bergetar.
Bibir merah Zaskia yang alami, seakan mengundang pemuda itu untuk menyentuhnya. Sadar atau tidak, kesanalah perginya jari Rayhan. Ia membelai bibir Zaskia yang terasa lembut.
Deeg… Deegg… Deeggg…
Adrenalin Rayhan berpacu ketika ia memberanikan dirinya untuk menyentuh bibir Kakaknya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya. Cup… Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Zaskia, dan tampaknya Zaskia sama sekali tidak terganggu oleh aksi nakal Rayhan.
Tidak bisa di bayangkan, apa yang akan terjadi kalau seandainya Zaskia terbangun oleh tindakan nekat Rayhan yang mencium kening Kakaknya.
Mata Rayhan menjelajahi lekuk tubuh Zaskia yang malam ini mengenakan piyama motif lebah berbahan katun jepang dengan warna kuning. Rayhan menyipitkan matanya ketika melihat salah satu kancing piyama Zaskia yang tidak terkancing. Rayhan bisa menyimpulkan kalau Kakaknya malam ini tidak memakai beha.
Menyadari hal tersebut membuat kelakian Rayhan memberontak. Rasa penasaran mendorongnya untuk bertindak lebih jauh tanpa memperdulikan status mereka.
Kedua jari Rayhan, jempol dan telunjuknya mengapit sedikit kain piyama Zaskia agar lebih terbuka. Dan hasilnya seperti yang di harapkan Rayhan, ia bisa melihat puting payudara Zaskia yang mengintip malu-malu di balik kemeja yang di kenakan Kakaknya.
Gleeek…
Dengan bersusah paya Rayhan menelan air liurnya, menatap nanar kearah puting Zaskia yang berwarna merah muda. Terlihat segar dan menggoda.
“Eehmm…” Zaskia menggeliat merubah posisinya hingga terlentang.
Rayhan sempat mundur satu langkah, sembari mengamati tingkah Kakaknya, takut kalau Zaskia sampai terjaga dan menemukan dirinya tengah bertindak kurang ajar. Bisa-bisa namanya akan di coret dari dalam Kartu keluarga kalau sampai aksinya ketahuan.
Setelah yakin kalau Kakaknya masih tertidur lelap, Rayhan kembali mendekati Zaskia. Ia meraih satu kancing lagi untuk di buka agar bisa leluasa mengamati payudara Zaskia.
Besar, kencang, putih mulus tanpa cacat. Ketiga Kalimat itu sangat pantas untuk di sematkan kepada payudara Zaskia setelah ia amati dengan teliti. Tangannya terjulur ke depan menggapai payudara Kakaknya, dengan sedikit gerakan ia memberanikan diri meremas payudara Kakaknya.
“Engkk….” Desah Zaskia.
Rayhan kembali terdiam, setelah merasa aman Rayhan menyentuh puting Kakaknya yang mungil, membelai puting mungil itu dengan gemas.
Lagi Zaskia menggeliat, seakan ia bisa merasakan kalau bagian sensitif nya tengah di rangsang oleh seseorang. Mungkin saat ini Zaskia tengah bermimpi sedang bercumbu dengan seorang pria idamannya.
Kembali ke Rayhan. Pemuda itu semakin nekat saja, ia mendekatkan bibirnya dan mencomot salah satu payudara Zaskia. Ia menghisap pelan payudara Kakaknya di dalam mulutnya yang terasa hangat. Sementara tangannya masih sibuk meremas payudara Zaskia yang menganggur.
Plaaaaak….
Tangan Zaskia tiba-tiba memukul wajah Rayhan, membuat Rayhan terkejut setengah mati.
Rayhan menghela nafas, sembari mengusap wajahnya. “Apa yang kulakukan barusan?” Lirih Rayhan, ia menatap wajah Kakaknya yang masih terlelap. Ada rasa bersalah yang membuncah di hatinya, tidak seharusnya ia melecehkan Kakak kandungnya.
“Maafkan Ray Kak.” Bisik Rayhan sembari menunduk.
Kedua tangan Rayhan mengangkat tubuh Zaskia, lalu dia membawa Zaskia menuju kamarnya.
Setelah meletakan kakaknya diatas kasur, Rayhan mematikan lampu kamar kakaknya sebelum ia keluar dari dalam kamar Zaskia. Lagi Rayhan menghembuskan nafasnya, kemudian ia menutup pintu kamar Kakaknya.
*****
Keesokan paginya… Rayhan nyaris saja terlambat, setibanya di lokasi yang sudah di janjikan, tampak ketiga sahabatnya tengah menunggunya. Mereka bertiga menatap Rayhan sembari menggelengkan kepala melihat kebiasaan Rayhan yang selalu saja terlambat. Rayhan nyengir sembari menyapa ketiga temannya.
“Sory bro, telat.”
“Uda biasa.” Celetuk Nico.
Rayhan hanya terkekeh tanpa merasa bersalah sedikitpun terhadap teman-teman nya yang sudah lama menunggu kedatangannya.
“Kalian ikuti gue.” Instruksi Doni.
Mereka berempat menuju ke kediaman Ustadza Risty melalui jalan memutar. Sekitar sepuluh menit mereka berjalan menelusuri jalan setapak yang tidak muda untuk di lewati karena banyak di tumbuhi ilalang dan ranting-ranting kering yang tumbuh liar di dekat danau.
Setibanya di belakang rumah Ustadza Risty, Doni mengomandoi ketiga sahabatnya untuk memanjat pohon jambu yang ada di belakang rumah Ustadza Risty.
“Hati-hati.” Bisik Doni.
Pook… Pook… Pook…
Berulang kali Nico memukul lengan, kaki dan lehernya. “Anjing, semutnya banyak banget, bangke…” Umpat Nico kesal, karena di kerubungi semut.
“Hahahaha…” Rayhan tertawa geli.
“Sssstttt… Jangan berisik bego.” Geram Doni was-was.
“Woy, bantuan gue.” Teriak Azril dari bawah.
“Sssstttt…” Kompak mereka bertiga menegur Azril, sementara Azril yang tengah berusaha naik keatas pohon jambu tampak kesal dengan ketiga sahabatnya.
“Sini pegang tangan gue.” Rayhan menyodorkan tangannya.
Azril dengan sigap menangkap tangan Rayhan, dengan bantuan Rayhan akhirnya ia bisa naik juga.
Doni menjulurkan tangannya untuk membuka sedikit atap seng kamar mandi Ustadza Risty yang ternyata tidak begitu sulit. Dengan adanya cela yang terbuka, membuat mereka berempat bisa melihat jelas isi di dalam kamar mandi Ustadza Risty yang terbilang sederhana, seperti kamar mandi di lingkungan pesantren pada umumnya.
Ukurannya tidak begitu besar sekitar 2X1,5 meter, di dalam kamar mandi terdapat bak mandi berukuran setengah meter, closet jongkok dan ember berwarna hitam.
Selagi menunggu kedatangan Ustadza Risty, berulang kali mereka harus memukul badan mereka sendiri untuk mengusir semut hitam ataupun nyamuk yang berulang kali hinggap di kulit mereka.
Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, akhirnya sang pemeran utama datang juga. Ustadza Risty mengenakan daster berwarna merah tanpa motif, di pundaknya tersampir handuk berwarna coklat muda dengan tulis Gucci. Keempat pemuda tanggung yang tadinya sibuk mengusir serangga di kulit mereka mendadak diam tanpa suara
Bagaikan gerakan slow motion Ustadza Risty meloloskan daster miliknya dan menggantungkannya di belakang daun pintu kamar mandinya, menyisakan bra berwarna putih dan celana dalam berwarna hitam.
Ia berbalik menghadap bak mandi, melepas pengait behanya hingga payudaranya yang berukuran 34D terpampang di hadapan mereka. Dengan kompaknya, mereka berempat menelan air liur, memandangi payudara Ustadza Risty yang berukuran jumbo walaupun agak turun.
Pemandangan selanjutnya, membuat jantung mereka nyaris berhenti, ketika Ustadza Risty meletakan kedua tangannya di bagian elastis celana dalamnya. Dengan sedikit menggoyang pinggulnya, ia menarik turun celana dalamnya, melewati tungkai kakinya yang putih mulus.
Sejenak Ustadza Risty membelai tubuhnya, mengusap sepasang payudaranya dan pubik serambi lempitnya yang di tumbuhi rambut keriting yang tidak begitu lebat.
Mata Ustadza Risty terpejam ketika jari tangan kirinya menyentuh clitorisnya, sementara telapak tangan kanannya meremas-remas payudara bagian kiri. Rayhan dan teman-teman nya seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Seorang Ustadza yang kealimannya tidak di ragukan lagi, tengah bermasturbasi di dalam kamar mandi
“Aahkk… Sssttt… Aaaahkk…” Desah Ustadza Risty.
Jarinya menusuk lobang serambi lempitnya dengan mudah, kemudian jari itu bekerja mengorek-ngorek lobang kenikmatannya, hingga kedua pahanya bergetar.
“Aaaahkk… Aaaahkk… Aahkk…” Desah Ustadza Risty.
Semakin lama kocokan jarinya semakin cepat, sementara tangan kanannya memelintir putingnya yang berukuran cukup besar, berwarna coklat tua.
Beberapa detik kemudian, Ustadza Risty melolong panjang menyambut orgasmenya.
“Oouuughhkk….”
Creeettsss…. Creeettsss… Creeettsss…
Keempat pasang mata yang tadi melihat aktivitas Ustadza Risty di dalam kamar mandi, tampak terbelalak tak percaya, kalau barusan salah satu guru pavorit mereka orgasme.
Pemandangan tersebut membuat keempat santri ponpes Al-tauhid menjadi gerasa-gerusu. Doni menaikan satu kakinya ke salah satu cabang pohon jambu yang lebih tinggi, agar leluasa mengintip Ustadza Risty mandi.
Setelah puas, Ustadza Risty mulai mengguyur tubuhnya dengan menggunakan gayung.
Tiba-tiba…
Kreaaak… Kraaaaak… Kraaak…
Mereka berempat saling pandang, sedetik kemudian Bruaaaakk… dahan pohon yang menopang kaki mereka tidak kuat menahan berat badan tubuh mereka, tanpa bisa berbuat apa-apa mereka jatuh bersamaan menghujam tanah cukup keras.
“Anjiiiing!” Pekik Doni.
Rayhan dengan setengah melompat menggapai dahan yang lebih tinggi, hingga ia selamat. Sementara ketiga temannya yang jatuh ke tanah merintih kesakitan.
Dan pada saat bersamaan, mendengar suara ribut di luar membuat Ustadza Risty melihat ke atas, dan mendapatkan Rayhan yang tengah bergantung di dahan pohon jambu. Mata indahnya membeliak menyadari kalau salah satu muridnya tengah mengintipnya mandi.
Saat Rayhan kembali melihat ke dalam kamar mandi, mereka berdua sempat beradu tatapan.
Kretaaaak….
“Anjiiiing…” Geram Rayhan, ketika menyadari kalau dahan pohon yang ia gantungi patah.
Tubuh Rayhan ikut terjatuh menyusul teman-teman nya yang lebih dulu terjatuh dari atas pohon.
“Siapa itu?” Panggil Ustadza Risty.
Mereka berempat saling pandang. “Kita ketahuan, kabuuur…” Ujar Nico dengan cepat bangkit dan berlari sempoyongan, melupakan rasa sakit di tubuhnya setelah terjatuh dari jarak hampir dua meter.
Tanpa di komando, yang lain ikut berlari mengejar Nico. Menerobos ilalang dan ranting-ranting pohon yang menghalangi jalan mereka. Berulang kali mereka terjatuh, tapi kembali bangun dan berlari menjauh dari rumah Ustadza Risty, hingga akhirnya mereka tiba di jalan besar.
Sejenak mereka berempat mengatur nafas mereka yang memburu, mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Mereka kembali saling pandang.
“Hahahaha….” Tawa mereka bersamaan.
*****
Teng… Teng… Teng…
Lonceng tanda berakhirnya istirahat kedua berbunyi nyaring, membuat para santri Al-tauhid berbondong-bondong masuk ke kelas mereka masing-masing. Azril, Rayhan, Doni, dan Nico telah duduk di kursi mereka, sembari menunggu Ustadza Risty masuk ke kelas mereka.
Alhasil, Ustadza Risty menjadi perbincangan hangat diantara mereka berempat.
Bruaaaakk…
Seseorang menggebrak meja Rayhan membuat mereka berempat kaget bukan main, karena tiba-tiba seseorang menghampiri mereka berempat.
“Lo cari masalah sama gue?” Hamka menatap Rayhan tajam.
Rayhan mendesah pelan. “Tenang bos, ada masalah apa ini?” Tanya Rayhan berusaha tetap kalem, walaupun emosinya sudah di ubun-ubun.
“Lo gak tau masalahnya apa? KEMARIN LO UDAH MUKULIN KEDUA ANAK BUA GUE BANGSAT.” Teriak Hamka keras, membuat suasana kelas yang tadinya ramai kini mendadak sunyi dan mencekam.
Doni dan Nico sudah bersiap menyerang Hamka kalau anak itu berani menyentuh Rayhan.
“Oh… Jadi itu anak buah Lo! Bilang sama mereka, jangan ganggu sahabat gue lagi, atau….” Rayhan tidak melanjutkan kalimatnya, ia hanya menatap sembari mendongakkan wajahnya dengan ekspresi menantang. Sikap Rayhan, membuat Hamka semakin murka.
“Bangsat.”
Syuuuttttt….
Tangan Kanan Hamka hendak memukul wajah Rayhan. Tapi reflek Rayhan sangat cepat hingga pukulannya mengenai sandaran kursi Rayhan. Dengan satu terjangan, tubuh Hamka terdorong kebelakang hingga menabrak meja yang ada di belakangnya.
Braaakkk….
Rayhan segera berdiri dan di susul oleh Doni maupun Nico. Di bantu oleh kedua temannya Hamka kembali berdiri, Hamka mengibaskan tangannya hingga kedua tangan temannya yang tengah memeganginya terlepas.
“Kalau Lo mau berantem, jangan di sini.” Ujar Rayhan pelan tapi tajam bagaikan mata pisau.
Hamka menyeringai. “Gue tunggu Lo lusa habis jumad di lapangan dekat danau.” Ujar Hamka, matanya memerah menahan ledakan amarahnya.
“Tapi dengan satu syarat. Kalau Lo kalah, jangan perna mengusik Azril lagi.”
“Deal.” Ujar Hamka.
Dia berjalan keluar kelas Rayhan sembari menabrak beberapa orang yang menghalangi jalannya.
Selepas kepergian Hamka, Doni dan Nico terduduk lemas di kursi mereka. Beberapa kali Nico mengusap wajahnya yang bermandikan keringat sanking tegangnya.
“Lo tau dia siapa?” Tanya Doni.
Rayhan ikut duduk di kursinya. “Tau, dia anak kelas sebelah namanya Hamka.” Jawab Rayhan singkat.
“Anjing….” Umpat Nico. “Dia itu jagoan dari asrama Hamza! Lo sadar gak si, kalau elo itu salah nantang orang.” Ucap Nico berapi-api, ia tampak kesal terhadap sahabatnya yang telah mencari gara-gara dengan orang yang tidak tepat
“Lo ada masalah apa sama Hamka?” Tanya Doni lebih kalem.
Rayhan mendesah pelan, ia hendak menjawab pertanyaan Doni, tapi di potong oleh Azril. “Gue yang salah, Rayhan hanya ngebelain gue.” Ujar Azril tak bersemangat, ia merasa bersalah, karena dirinya Rayhan terlibat masalah dengan Hamka.
“Mereka yang salah bukan Lo.” Lirih Rayhan.
“Ini apaan si, pake saling salah segala, emang ada masalah apa si.” Ujar Nico yang semakin kesal.
Doni menepuk pundak Nico. “Lo bisa lebih santai kan?” Ucap Doni pelan, tapi aura yang ia keluarkan sangat mengerikan, membuat bulu kuduk Nico berdiri.
“Sory…” Ujar Nico meredah.
“Jadi gini, kemarin Juned dan Robby malakin Azril, karena gak terima jadi gue hajar. Dan gue yakin, kalian berdua kalau berada di posisi gue juga pasti melakukan hal yang sama.” Jawab Rayhan, sembari merangkul pundak Azril yang hanya diam saja karena merasa bersalah.
Nico mendengus kesal. “Bangsat mereka berdua.” Umpat Nico yang tampak kesal.
“Apa yang Lo lakukan itu sudah benar.” Kata Doni tersenyum bangga dengan apa yang di lakukan Rayhan, berani mengambil resiko demi sahabatnya.
“Masalah Hamka gimana?” Tanya Azril yang sedari tadi diam.
“Bagaimanapun juga Hamka bukan sosok orang sembarangan, dia tidak mungkin menjadi jagoan di asrama Hamza kalau dia lemah.” Tutur Nico.
“Selain itu yang gue takutkan ia akan main keroyokan, seperti yang dia lakukan kepada Dedy.” Ucap Nico.
Rayhan agak kaget mendengarnya. “Dedy pernah lawan Hamka? Siapa yang menang?” Tanya Rayhan penasaran.
“Tentu saja Dedy, bahkan sekarang asrama Kholid yang di pimpin Dedy menjadi asrama yang paling kuat di pesantren kita. Dia tidak terkalahkan.” Jawab Nico, tubuhnya merinding mengingat cara Dedy memukul lawan-lawannya. Sejenak ia teringat dengan kejadian kemarin ketika mereka hampir terlibat perkelahian dengan Dedy dkk.
“Tadi kata Lo Dedy di keroyok?”
“Dedy memang di keroyok, tapi teman-teman asrama Dedy balik meyerang mereka, dan berhasil mengalahkan Hamka dan seluruh asrama Hamza, bahkan sampe ke santri pengabdian yang ada di asrama Hamza.” Jelas Doni, ia terlihat biasa-biasa saja.
“Habislah kita.” Keluh Azril.
“Hamka cuman ada masalah sama gue, kita berharap saja dia main adil, satu lawan satu sama gue.” Ujar Rayhan, menenangkan Azril yang tampak pucat.
“Gue akan ajak anak-anak dari asrama gue.” Ujar Doni.
Nico melihat Doni. “Apa mungkin Heru mau bantuin Lo?” Ujar Doni pesimis.
“Kalau dia tidak mau, ini gue yang bicara.” Doni mengepalkan tinjunya di hadapan teman-temannya.
Plok… Plok… Plok…
Nico bertepuk tangan. “Akhirnya teman gue mau juga menguasai asrama Al Fatih. Gue dukung Lo sob.” Ujar Nico bersemangat. Dulu ia sempat berambisi merebut kekuasaan asrama Al Fatih, tapi kalah dari Heru. Berbeda dengan Doni yang sama sekali tidak tertarik untuk merebutkan orang nomor satu di asrama Al Fati.
Obrolan seru mereka harus terputus ketika seorang Ustadza yang mengajar hari ini masuk ke kelas mereka.
*****
Rayhan, Doni, Nico, dan Azril tampak pucat pasi selama proses ngajar mengajar bersama Ustadza Risty. Terutama Rayhan, ia masih ingat jelas kalau Ustadza Risty sempat melihat keberadaannya ketika bergantungan di dahan pohon jambu belakang rumah Ustadza Risty.
Tetapi selama proses mengajar, Ustadza Risty terlihat biasa-biasa saja, tidak ada hal yang aneh dari cara Ustadza Risty mengajar mereka.
“Hari ini kita akan membahas tentang salah satu dosa besar. Siapa yang bisa menebaknya.” Unjuk Ustadza Risty kepada murid-muridnya.
“Menyembah berhala.”
“Musrik.”
“Maling.”
“ZINA.”
Deg…
Mata Ustadza Risty melirik kearah Rayhan yang baru saja menyebutkan salah satu dosa besar yang di lakukan manusia di dunia ini. Yaitu Zina. Hari ini, Ustadza Risty akan membahas tentang zina yang akhir-akhir ini merajalelah di kalangan anak remaja pada umumnya.
Tapi entah kenapa ketika kalimat itu keluar dari Rayhan, Risty merasa tubuhnya gemetar, ada sesuatu yang aneh yang membuncah di hati Risty.
Masih ingat jelas mata pemuda itu ketika menatapnya dalam keadaan telanjang. Tatapan yang tajam, seakan pemuda itu mengisyaratkan kalau pemuda itu menginginkan dirinya. Tentu saja ia sangat marah, tapi anehnya ia tidak bisa mengekspresikan kemarahannya kepada Rayhan.
“Benar… Ustadza hari ini akan membahas tentang zina. Apa itu zina?” Ujar Ustadza Risty sembari menuliskannya di papan tulis. “Pengertian zina, macam-macam zina, dampak zina, dan hukum zina.” Lanjut Ustadza Risty, sementara dari belakang Rayhan menatap nanar kearah Ustadza Risty.
“Kita mulai dari pengertian zina. Ada yang tau?” Ustadza Risty melihat satu persatu kearah muridnya. Dan ia melihat Rayhan mengangkat tangannya. “Iya Ray, coba kamu jelaskan.” Walaupun ia tersenyum tapi hatinya bergejolak.
Rayhan berdiri. “Zina adalah perbuatan bersanggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan atau perkawinan. Secara umum, zina bukan hanya di saat manusia telah melakukan hubungan seksual, tapi segala aktivitas-aktivitas seksual yang dapat merusak kehormatan manusia termasuk dikategorikan zina.” Ucap Rayhan lantang tanpa gagu.
“Benar sekali! Zina tidak selalu berhubungan dengan bersenggama.” Ujar Ustadza Risty. “Segala bentuk seksualitas bisa masuk dalam katagori zina, seperti onani, menonton video porno, terangsang melihat lawan jenis dan…” Ustadz Risty menatap Rayhan. “Mengintip.” Tutur Ustadza Risty pelan, tapi bisa di dengar jelas oleh Rayhan.
Pemuda itu menelan air liurnya, wajah tampak pucat pasi. Kini ia semakin yakin kalau aksinya tadi pagi telah ketahuan. Berulang kali Rayhan mengusap keringat di wajahnya yang sebesar biji jagung, sanking tegangnya.
Ustadza Risty kembali melanjutkan penjelasannya tentang zina, baik itu pengertian zina, akibat buruk dari perbuatan zina dan jenis-jenis zina yang sering di lakukan tanpa di sadari. Tak lupa Ustadza Risty juga memberi tau tentang hukum zina dan dalil-dalil yang mendukung tentang perzinahan.
Ia juga memberikan tips untuk murid-murid nya bagaimana cara menghindari zina, dan secara tidak langsung ia menyentil Rayhan yang kini lebih banyak diam.
Tidak terasa waktu berjalan cepat, walaupun Rayhan merasa waktu berjalan sangat lambat ketika Ustadza Risty menjelaskan tentang zina. Ada rasa takut yang luar biasa di rasakan Rayhan, tapi rasa takut tersebut malah membuat adrenalin Rayhan terpacu menanti apa yang akan di lakukan Ustadza Risty kepada dirinya.
“Baiklah anak-anak, bab zina untuk hari ini, Ustadz rasa sudah cukup. Kita tutup pelajaran hari ini dengan melapaskan alhamdalah.”
“Alhamdulillah hirobbilalamin.”
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu.” Ucap Ustadza Risty yang di jawab serentak oleh murid-muridnya. “Oh ya, Rayhan nanti sore kamu ke rumah Ustadza.” Ustadza menatap Rayhan sebentar kemudian berlalu pergi.
“Tamat Ray!” Celetuk Nico.
Rayhan mendesah pelan sembari membereskan barang-barang miliknya ke dalam tas.
*****
Di ruangan berbeda…
Ketika seluruh santri berhamburan keluar kelas ketika mendengar suara lonceng tanda berakhirnya sekolah, tidak dengan gadis cantik bernama Fei, berusia 18 tahun. Ia tertahan di dalam kelas bersama seorang Ustadzah yang di kenal killer di pesantren karena sikap tegasnya.
Ia berdiri di depan kelas tidak jauh dari kursi sang Ustadza, sementara bibirnya komat Kamit menghafal pelajaran mahfuzod yang di ajarkan oleh Ustadza Wanda.
“Gimana udah hafal?” Tanya Ustadza Wanda.
Fei tertunduk, kedua kakinya gemetar entah karena rasa takut berlebih, atau di karenakan kakinya kesemutan karena terlalu lama berdiri. “Be-be-belum Ustadza.” Jawab Fei yang terlihat sangat gugup, ia tidak berani memandang Ustadza Wanda.
“Kenapa kamu tidak hafal.” Ustadza Wanda berdiri dari kursinya.
Ia merangkul pundak muridnya yang masih berdiri kaku di depan kelas. “Ana lupa kalau ada hafalan Ustadza.” Tubuhnya merinding ketika Ustadza Wanda membelai punggungnya.
“Alasan kamu, bilang aja males.” Jari lentik Ustadza Wanda turun menuju pinggangnya.
Bulu kuduk Fei rasanya berdiri ketika ia merasakan ada belaian lembut di bongkahan pantatnya. “Hehehe… Iya Ustadza.” Jawab Fei yang kini terlihat mulai rileks, instingnya berkata kalau Ustadza Wanda tidak akan memberikannya sebuah hukuman yang berat.
Gosip tentang Ustadza Wanda yang seorang lesbi memang sudah tersebar di kalangan para santri, hanya saja, tidak semua santri yang mengetahui kebenaran sosok Ustadza Wanda yang di kenal sangat tegas.
Tapi hari ini, gosip tentang Ustadza Wanda yang seorang LGBT memang benar adanya.
Fei kini menyaksikan sendiri kalau Ustadza Wanda memang seorang lesbi. Tetapi walaupun begitu Fey tidak perduli, baginya yang terpenting selamat dari hukuman Ustadza Wanda, walaupun itu artinya ia harus telah di jamah oleh Ustadza Wanda kepada dirinya.
“Ngaku sekarang kan.” Ucap Ustadza Wanda berbarengan dengan mencolek selangkangan muridnya.
“Maaf ya Ustadza!” Melas Fei.
Ia memasang wajah imut yang membuat Ustadza gemas. Alhasil Ustadza Wanda mencubit pipi Fei yang agak tembem.
Kemudian ia meminta Fei duduk di kursi bagian pojok belakang, kemudian Ustadza Wanda duduk di samping muridnya dan meminta muridnya untuk kembali menghafal, dia mengancam tidak akan mengizinkan muridnya pulang kalau Fei tetap bisa menghafalnya.
Selagi Fei mengulang hafalan, Ustadza Wanda kembali merangsang muridnya. Ia meletakan tangan diatas paha muridnya sembari mengelusnya.
Fei sempat melirik kearah Ustadza Wanda sembari menggigit bibir merahnya. Jujur ia mulai terangsang, tubuhnya seakan kesemutan dan bibir serambi lempitnya di rasakan berdenyut-denyut bagaikan detak nadi.
“Kamu tuh sebenarnya cantik, tapi sayang kamu tuh males.” Ucap Ustadza Wanda.
Fei terdiam mendengarnya, ia membiarkan rok hijau yang di kenakannya di singkap keatas. Fei sedikit tenang karena ia memakai dalaman piyama. Kemudian ia kembali merasakan pijitan di selangkangannya. Mata Fei sayu menatap Ustadza Wanda yang tengah tersenyum kepadanya.
Tangan Wanda turun ke lengan muridnya, lalu menyusup diantara ketiak muridnya, menyentuh payudara Fey yang membulat sempurna.
“Eenghkk…” Desah Fei.
Remasan-remasan kecil telapak tangan Wanda membelai payudara Fei. Sementara di bawah sama jarinya memijit selangkangan muridnya.
Walaupun agak kecewa karena Fei memakai celana training, tetapi Wanda berusaha mengabaikan kekecewaan nya, dan fokus merangsang tubuh muridnya yang sepertinya makin hanyut akan sentuhannya. Jari Wanda naik keatas, ia menyusup kedalam celana tidur Fei.
Reflek Fei menahan pergelangan tangan Gurunya, ia belum siap kalau harus sampai sejauh itu.
Tapi Wanda sudah berpengalaman menghadapi penolakan seperti yang di lakukan muridnya. Ia hanya perlu sedikit bersabar agar bisa menaklukkan muridnya.
“Sekarang kamu boleh pulang, tapi nanti malam kamu ke kamar Ustadza.” Perintah Wanda, ia segera menarik diri dari muridnya. Bagianya saat ini sudah lebih cukup.
Fei terdiam di tempatnya, dengan perasaan berkecamuk saat ini. Ia sendiri merasa sangat normal, tapi entah kenapa ia sangat terangsang ketika Ustadza Wanda menyentuhnya. Bahkan seandainya saja Ustadza Wanda mau sedikit memaksanya, mungkin ia akan membiarkan jari-jari Ustadza Wanda bermain dengan selangkangannya.
Ada rasa penyesalan di dalam diri Fei ketika melihat sosok Ustadza Wanda yang menghilang di balik pintu kelasnya. Tapi kekecewaan nya memudar mengingat nanti malam ia akan kembali menghadap Ustadza Wanda.
Entah apa yang akan terjadi nanti malam, yang pasti saat ini ia sangat tegang menanti pertemuannya dengan Ustadza Wanda.
*****
“Kak, aku keluar dulu ya.” Rayhan mencomot kue kering yang baru saja di angkat dari oven. Ia buru-buru meninggalkan dapur sebelum Kakaknya menyadari kalau kue nya baru saja hilang satu.
“Mau kemana kamu Dek?”
Rayhan menatap Kakaknya yang berada di balik pemisah dapur. “Mau main bola, seperti biasa Kak.” Ujar Rayhan, sembari mengenakan sandal Eiger miliknya.
“Pulangnya jangan terlalu sore.” Teriak Zaskia dari dapur.
“Iya Kak! Assalamualaikum…” Rayhan melambaikan tangannya kearah Zaskia.
“Waalaikumsalam.”
Rayhan bergegas berjalan menuju kediaman Ustadza Risty. Selama di perjalanan Rayhan terus berfikir bagaimana cara memberi alasan kepada Ustadza Risty, agar ia tidak mengadukan perbuatannya kepada Kakaknya Zaskia. Dan akan lebih bahaya lagi kalau Ustadza Risty membawa kasusnya ke mahkamah pesantren, bisa-bisa ia akan di keluarkan dari pesantren, itu artinya Kak Zaskia akan sangat kecewa terhadap dirinya.
Tapi kalaupun Ustadza Risty berniat membawanya ke mahkamah pesantren, kenapa ia tidak langsung menyeretnya, bukankah itu lebih mudah?.
Rayhan menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin terlalu banyak berfikir. Masalah Hamka belum juga selesai, sekarang ia malah di hadapi sebuah masalah yang lebih pelik lagi, yang mengancam masa depannya di pesantren.
Setibanya di rumah Ustadza Risty, suasana rumah Ustadza Risty terlihat sepi. Seakan tidak ada aktivitas di dalam rumah. Rayhan mendekati pintu rumah Ustadza Risty, dengan satu tarikan nafas, Rayhan hendak mengetuk daun pintu rumah Ustadza Risty. Tapi tiba-tiba…
Praaaang….
Rayhan mendengar ada suara gaduh di dalam rumah Ustadza Risty. Kemudian terdengar suara teriakan Ustadza Risty dari dalam rumahnya.
“Apa kurangnya aku Abi? Kenapa Abi mau nikah lagi.” Isak tangis Ustadza Risty.
“Apa Umi mau melawan perintah agama?”
“Tapi Umi gak ridho Bi! Selama ini Umi sudah melakukan apapun yang Abi inginkan. Tapi kenapa Abi sekarang mau ninggalin Umi.”
“Capek ngomong sama Umi.”
Rayhan tersentak kaget mendengar keributan yang ada di dalam rumah Ustadza Risty. Ketika ia mendengar langkah kaki yang menuju kearahnya, Rayhan segera bersembunyi di balik dinding samping rumah Ustadza Risty. Ia sempat melihat Ustad Fuad keluar dari rumah mereka.
Dari wajahnya terlihat jelas kalau Ustad Fuad sangat emosi. Ia menghentakkan kakinya meninggalkan rumah mereka. Selepas kepergian Ustad Fuad, Rayhan keluar dari persembunyiannya.
Sejenak Rayhan menghela nafas. Sekarang ia di buat bingung, antara ingin tetap menghadap Ustadza Risty atau kembali pulang ke rumahnya, mengingat kondisi ustadzah Risty saat ini yang tengah bersedih.
“Ray!”
Rayhan menoleh ke belakang. “Eh iya Ustadza.” Jawab Rayhan tergagap saat melihat Ustadza Risty berdiri di ambang pintu sembari mengusap air matanya.
“Ayo masuk.” Perintahnya.
Walaupun Rayhan merasa ini bukan waktu yang tepat ia menemui Ustadza Risty, tapi seruan Ustadza Risty tentu tak bisa ia abaikan. Toh kalau memang Ustadza Risty butuh waktu sendiri, rasanya tidak mungkin ia memintanya untuk masuk.
Rayhan duduk di sofa milik Ustadza Risty, sementara Ustadza Risty duduk di sampingnya.
“Ustadza!” Rayhan menyodorkan tisu.
Ustadza Risty tersenyum tipis. “Terimakasih Ray!” Ia menyeka air matanya dengan tisu. Dari ekspresi wajahnya, Rayhan bisa merasakan kesedihan yang di rasakan ustadza Risty.
“Kamu tadi denger Ustadza ribut sama Ustad Fuad?”
Rayhan menganggukkan kepalanya. “Iya, tapi tidak begitu jelas.” Jawab Rayhan sedikit berbohong.
“Tolong jangan kasih tau siapa-siapa, apa yang kamu dengar barusan ya.” Pinta Ustadza Risty, Rayhan menganggukkan kepalanya. Walaupun Ustadza Risty tidak memintanya, Rayhan akan tetap menjaga aib keluarga gurunya itu.
“Terimakasih ya Nak! Ustadza sangat malu kalau sampai ada orang lain yang tau.” Aku Ustadza Risty.
Rayhan tentu saja mengerti. “Rahasia Ustadza aman sama saya, hehehe…” Canda Rayhan sembari menepuk dadanya, tingkah konyol Rayhan, membuat Ustadza Risty tertawa.
“Bisa aja kamu Ray.”
“Hehehe…”
Mereka terdiam sejenak, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Rayhan sibuk memikirkan masalahnya karena ketahuan mengintip pagi tadi. Sementara Ustadza Risty memikirkan nasib keluarganya. Ia tentu tak ingin bercerai, tapi ia juga tidak ingin di madu oleh suaminya.
Ustadza Risty menghela nafas cukup keras, menyadarkan lamunan Rayhan.
“Oh iya Ustadza! Ehmm… Soal Ustadza memanggil saya ke sini ada apa ya?” Tanya Rayhan, ia berharap apa yang ia duga salah, walaupun kemungkinan itu sangat kecil.
Ustadza Risty mengangkat alisnya, sembari menatap Rayhan dengan tatapan menyelidik. “Yakin kamu gak tau? Apa pura-pura gak tau?” Selidik Ustadza Risty, Rayhan tersenyum kecut sembari menggaruk-garuk kepalanya.
“Soal tadi pagi ya Ustadza.”
“Tuh tau…” Ujar Ustadza Risty yang terlihat lebih santai. “Sebenarnya Ustadza berencana ingin mengintrogasi kamu dan menghukum kamu seberat-beratnya. Tapi karena masalah tadi, lebih baik Ustadza tunda dulu.” Ujar Risty, membawa kabar gembira bagi Rayhan.
“Alhamdulillah.” Rayhan mengusap wajahnya penuh syukur.
“Jangan senang dulu, ini hanya sementara.”
Rayhan kembali tersenyum. “Gak apa-apa Ustadza! Setidaknya untuk saat ini saya aman. Hehehe….” Girang Rayhan, yang membuat Ustadza Risty tertawa makin keras.
“Ustadza kok jadi berubah pikiran ya.” Risty mengetuk-ngetuk dagunya.
Wajah Rayhan mendadak panik. “Ya… Jangan dong Ustadza!” Melas Rayhan. “Sembari menatap wajah cantik Ustadza Risty, yang membuat wajah Ustadza Risty merona merah.
“Hihihi… Makanya jangan senang dulu.” Goda Ustadza Risty. “Tapi terimakasih ya Ray! Karena kamu sekarang beban Ustadza jadi sedikit berkurang.” Terang Ustadza Risty, sembari merapikan jilbab pashmina yang di kenakannya.
“Saya siap kok jadi pendengar yang baik untuk Ustadza.”
Kening Ustadza Risty berkerut. “Curhat sama kamu maksudnya?” Tanya Ustadza Risty tak yakin, Rayhan menganggukkan kepalanya.
“Ya mau sama siapa lagi? Bukannya Ustadza tidak mau orang lain tau masalah Ustafza? Satu-satunya orang yang bisa Ustadza ajak bicara ya cuma sama saya.” Analogi yang di sampaikan Rayhan sangat tepat bagi Ustadza Risty, satu-satunya orang yang bisa di ajaknya berbagi hanya Rayhan.
Tapi yang jadi masalah, apa pemuda itu mengerti dengan problematika rumah tangga yang di hadapinya saat ini? Mengingat Rayhan di matanya, hanyalah anak kemarin sore.
*****
Suara adzan magrib berkumandang dari manara masjid yang tidak begitu jauh dari rumah Haja Laras. Wanita berparas cantik itu baru saja selesai mandi, tepatnya mandi wajib, setelah hampir tiga jam lamanya ia di perkosa oleh Daniel. Walaupun Laras ragu kalau dirinya masih pantas di sebut sebagai korban pemerkosaan oleh keponakan nya.
Setibanya di dalam kamar, Laras berdiri di depan sebuah cermin besar, ia menatap dirinya yang kini berlumur dosa. Entah, apakah kubangan dosa yang ada di dalam dirinya masih bisa di bersihkan atau tidak.
Laras menanggalkan handuknya, membiarkan tubuh telanjangnya yang sempurna. Sepasang payudaranya terlihat semakin ranum dan kencang semenjak di pegang Daniel. Sementara rambut kemaluannya terlihat semakin subur, karena ia tidak pernah lagi mencukurnya.
Sudah tidak terhitung berapa kali rudal jumbo Daniel menyeruak masuk ke dalam serambi lempitnya. Sudah tidak terhitung lagi berapa liter sperma Daniel bersemayam di dalam rahimnya. Ceritasex.site
Sejauh ini Laras cukup bersyukur, karena ia tidak juga mengandung anak dari hubungan terlarang mereka berdua, mengingat ia tidak pernah lagi mengonsumsi pil KB yang biasa ia beli di apotik seperti yang di minta Daniel kepadanya.
Ia segera mengambil satu stel pakaian dalam berwarna hitam, dan sebuah daster santai lengan panjang berwarna putih dengan motif bunga.
Saat ia tengah memakai jilbab simple yang berbahan kaos, tanpa di sengaja ia melihat siluet bayangan seseorang yang menghilang dari depan pintu kamar tidurnya yang sedikit terbuka. Walaupun hanya beberapa detik, Laras yakin kalau seseorang baru saja mengintipnya.
Tapi siapa?
Daniel? Tidak mungkin…. Kalau pemuda itu mau, ia hanya perlu masuk dan menyergapnya. Kemungkinan satu-satunya yang ada di benak Laras ada satu nama, yaitu Azril putranya.
Laras tersenyum misterius, ia meremas kedua tangannya sembari membayangkan hukuman apa yang pantas untuk putranya nanti. Dengan menghukum Azril, rasa kesalnya dengan Daniel bisa sedikit terobati.
Bersambung… Di dalam kamarnya, Laras menanggalkan piyama tidurnya, ia mengambil kimono sutra berwarna putih dengan motif bunga anggrek berwarna ungu. Ia mengikat tali kimono ke pinggangnya dengan simpul pita. Ia tersenyum melihat pantulan dirinya yang begitu seksi.
Langkah kaki mulusnya berjalan dengan perlahan keluar dari kamarnya, dan menuju kamar putranya.
Suara alunan ayat suci menjelang subuh seakan menjadi pengantar langkah kakinya menuju kamar Azril. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar Azril, dan tampak putranya masih terlelap tidur dengan damai. Ia tersenyum sembari menekan saklar, hingga suasana kamar Azril yang tadinya remang kini terang benderang.
Mata Azril menyipit karena merasa silau oleh cahaya lampu kamarnya. Ia melihat sosok Umi Laras berjalan kearahnya, dengan hanya memakai pakaian yang begitu seksi.
Deg… Deg… Deg…
Adrenalin Azril terpacu melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Dengan hijab santai yang tak begitu lebar, membuat Azril bisa melihat sebagian payudara Laras yang menyembul keluar di balik lipatan komono yang di kenakan Ibu Tirinya.
“Bangun sayang! Udah subuh.” Panggil Laras dengan suara yang di buat semerdu mungkin.
Dengan bersusah paya Azril menelan air liurnya. “I-iya Mi, ini Azril sudah bangun.” Jawab Azril terbata-bata. Bagaimana tidak, kimono yang di kenakan Laras begitu pendek dan terbuka. Ia dapat menjelajahi paha mulus Ibu Tirinya.
“Kamu kok kelihatannya masih ngantuk?”
Laras duduk di samping Azril yang tengah duduk bersandar diatas tempat tidurnya. “I-iya Mi, semalam Azril sibuk ngafal.” Jawab Azril jujur, ia memang baru bisa tidur sekitar jam dua dini hari setelah menghafal pelajaran hari ini.
“Beneran kamu menghafal.”
“Masak Umi gak percaya.” Ujar Azril.
Laras tersenyum manis. “Umi percaya kok sama kamu. Masak iya anak Umi yang polos ini bohong.” Laras membelai rambut Azril, dan pada saat bersamaan mata Azril mengintip dari celah kimono yang di kenakan Laras hingga ia bisa melihat payudara Ibu Tirinya.
Gleeek…
Mata Azril membeliak ketika bisa melihat puting Ibu Tirinya yang mengintip malu-malu di balik kimono.
Reaksi wajah Azril ketika melihat payudara Haja Laras terlihat sangat jelas di mata Haja Laras. Entah kenapa Haja Laras jadi geli melihat cara Azril mengintip payudaranya. “Polos sekali kamu sayang.” Bisik hati Haja Laras melihat reaksi anaknya.
Tapi ia sangat senang melihat ketertarikan Azril kepadanya begitu nyata sekali. Setelah membiarkan Azril melihat putingnya selama beberapa saat. Barulah Laras ber-akting seakan-akan ia memergoki Azril.
“Azril!” Laras menarik sedikit kimononyo.
Wajah Azril yang memang pada dasarnya putih mendadak merah padam karena ketahuan mengintip. “Anu… Eehmm…” Ia mendadak tergagap, membuat Laras geli melihatnya.
“Barusan kamu lihat apa sayang?”
“Anu Mi…”
Laras memeluk lengan Azril, dan ia sengaja menekan payudaranya ke lengan Azril. “Umi gak suka kalau kamu sampai bohong.” Ujar Laras, sembari menatap putranya yang semakin salah tingkah.
“Ma-maaf Mi.”
“Kamu belum jawab pertanyaan Umi? Tadi kamu lihat apa sayang? Ayo jujur sama Umi.” Desak Laras, dan dengan sengaja ia menonjolkan payudaranya agar Azril bisa melihat putingnya dari cela kimononya yang terbuka cukup lebar.
“Lihat itu Umi.” Jawab Azril gemetar.
“Itu apa? Umi gak ngerti.”
Azril menarik nafas perlahan. “Itu… Pa-payudara Umi.” Jawab Azril sambil memejamkan matanya karena takut kalau Laras akan memarahi dirinya, atau bahkan memandangnya jijik karena ulahnya yang sangat memalukan sekali.
“Kalau kamu jujur Umi gak akan marah! Karena Umi sayang Azril.” Jawaban Laras membuat Azril terhenyak. “Tapi… Kamu tetap salah dan seharusnya tidak kamu lakukan.” Lanjut Laras, ia tidak ingin anaknya jadi besar kepala karena merasa kalau dirinya mengizinkan putranya melihat tubuh telanjangnya.
“Maafkan Azril Mi. Jangan benci Azril.” Pinta Azril jujur.
Laras mendekap kepala Azril lalu mencium kepala Azril. “Maafin gak ya….” Ujar Laras.
“Kok gitu?” Rajuk Azril.
“Soalnya kamu gak jujur.” Singgung Laras.
Azril memeluk pinggang Laras dengan erat. “Azril udah jujur kok Mi?” Ujar Azril yakin.
“Bener kamu cuman liat tetek Umi doang?” Laras menekankan kata tetek bukan payudara. Ia masih membelai rambut Azril. “Sekarang Umi tanya lagi? Kamu sekarang liat apa?” Bisik Laras di telinga Azril. Membuat Azril merinding mendengarnya.
Sejenak Azril terdiam, ia menatap nanar kearah sepasang bongkahan payudara Ibu tirinya yang ada di balik kimono yang di kenakannya. Tampak sepasang puting yang terlihat indah dan menggemaskan, membuat pekakas Azril menegang.
Nafasnya memburu, hingga Laras dapat merasakan hembusan nafas hangat Azril di kulit payudaranya.
“Azril… Lihat… Te… Tetek… umi.” Jawab Azril tergagap.
“Terus?”
Gleeek…
“Azril… Lihat… Pu-put… Puting Umi.”
Deg… Deg… Deg…
“Apa sayang?” Jemari halus Laras membelai wajah imut Azril yang begitu tegang. Terus bergerak menuju bibir Azril. “Coba ulangi, Umi gak dengar.” Desah Laras.
“Az-r-i-l L-i-h-a-t Pu-Pu-ting U-U-Umii…” Gugup Azril.
Kedua jari Laras masuk kedalam mulut Azril, dia menarik lidah Azril keluar, hingga air liur putranya menetas. “Ulangi sayang!” Pinta Laras, sementara tangan kirinya menyusup masuk ke dalam celana piyama Azril, ia membelai rudal mungil Azril.
“Aaauuww…” Jerit Azril kesakitan.
“Ulangi.”
Deg… Deg… Deg…
Azril menyadari kalau ada yang salah dari pengakuannya. “Azrlil… Ngintip… Tehtek Umhi… Nghintip puthing Umhi.” Ucap Azril bersusah paya karena lidahnya di tarik keluar.
“Bandel kamu ya Nak.”
Laras semakin keras meremas rudal Azril sebagai hukuman kepada Azril yang berani ngintip putingnya. Dan Azril hanya pasrah menerima hukumannya karena lancang mengintip puting Ibu Tirinya.
Remasan Laras tentu saja tidak main-main. Rasanya sangat sakit sekali, bahkan air mata Azril sampai keluar sanking sakitnya. Ia merasa perutnya ikut keram, dan tubuhnya terasa lemas seakan tenaganya di hisap habis oleh remasan Ibu Tirinya.
“Sakiiit!” Rintih Azril.
Laras menarik sedikit kimononya agar Azril semakin leluasa melihat payudaranya yang berukuran 36D.
Antara terangsang dan tersiksa membuat sensasi yang di dapatkan Azril sulit untuk di jelaskan. Tapi yang pasti sensasi yang di dapatkan Azril menjadi candu yang membuat Azril tanpa sadar menikmati perlakukan Ibu Tirinya yang abnormal.
Dan itu terbukti setelah beberapa menit kemudian, ketika Azril tanpa sadar orgasme di tangan Ibunya.
“Oughkk…”
Tubuh Azril menegang beberapa detik, ia merasa seperti pipis, tapi pipisnya kali ini sangat nikmat. Setelah orgasmenya meredah, Azril melihat kearah wajah Ibu Tirinya yang tersenyum hangat, seakan tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
Laras menarik kembali tangannya, terlihat jelas di jarinya yang terkena tetesan sperma Azril.
“Apa yang kamu lakukan itu zina mata, dan itu salah. Kamu taukan hukumnya?” Azril mengangguk patuh. “Lain kali jangan kamu ulangi lagi ya. Atau Umi akan hukum kamu lebih berat lagi.” Ancam Laras, tapi entah kenapa tidak terlihat menakutkan di mata Azril.
“Iya Mi, Azril janji gak akan mengulanginya lagi.”
“Bagus…” Laras membuka mulut Azril, lalu memasukan kedua jarinya ke dalam mulut Anaknya. “Telan nak.” Bisik Laras, tanpa pikir panjang Azril menelan spermanya sendiri.
Perlakuan Laras terhadap Azril memang tidak membuat serambi lempitnya orgasme. Tapi ia mendapatkan orgasme lainnya, yaitu orgasme batin yang membuat dirinya merasa sangat puas dan legah. Setelah beberapa hari ini ia tersiksa oleh perlakuan Daniel kepada dirinya.
Ia merasa Azril memang tempat yang tepat untuk melepaskan semua emosinya kepada Daniel.
“Umi sayang Azril.”
Azril tersenyum kearah Ibu Tirinya. “Azril juga sayang banget sama Umi.” Jawab Azril dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat bahagia.
“Terimakasih sayang.”
*****
Pagi ini Azril terlihat begitu semangat. Rasa kantuk yang menyerangnya sama sekali tidak ia hiraukan. Kejadian tadi pagi, seakan menjadi cambuk baginya, membuatnya menjadi lebih fresh di bandingkan hari-hari sebelumnya. Saat ia bergabung di ruang makan, Laras terlihat biasa-biasa saja, seakan tidak pernah terjadi apapun tadi pagi.
Berbeda dengan Azril, ia tak bisa menganggap kalau kejadian tadi pagi hal yang biasa saja. Karena baginya itu sangat luar biasa sekali.
Tap… Tap… Tap…
Terdengar suara langkah kaki dari tangga rumahnya. Otomatis ia menoleh ke belakang dan melihat seorang anak gadis cantik dan seksi berjalan menuruni anak tangga. Ia menghampiri Laras dengan wajah cemberut.
Sementara Azril terdiam membisu menatap Clara, Kakak Tirinya yang tampil berbeda dari biasanya, walaupun dengan seragam yang sama.
“Ini kekecilan Mi!” Protesnya.
Laras tersenyum sembari memegang lengan putrinya. “Kecil gimana? Itu udah pas banget buat kamu sayang.” Puji Laras, sembari menatap tubuh putrinya.
“Pas gimana?”
“Tapi menurut Umi ini pas kok.” Laras menoleh kearah Azril. “Gimana menurut kamu Dek? Baju Kak Clara pas apa kekecilan?” Tanya Laras sembari mengedipkan mata kanannya kearah Azril.
Azril yang terlalu terpesona dengan penampilan Clara sempat tergagap. Tapi ia buru-buru menenangkan dirinya. “I-iya Kak! Itu pas banget kok Kak.” Jawab Azril, yang awalnya sedikit terbata-bata.
Kalau boleh jujur, pakaian yang di kenakan Clara sangat ngepres di tubuhnya. Ah tidak, lebih tepatnya kekecilan. Kemeja putih dengan lambang pesantren Al-tauhid di saku kanannya terlihat sesak ketika di kenakan Clara.
Bentuk bulat payudara Clara membuat kancing-kancing kemejanya seakan ingin putus sanking sesaknya. Tidak hanya itu, kemeja putih yang seharusnya cukup panjang hingga ke pinggul, kini terlihat pendek. Ketika Clara tegak lurus, atau ia membungkuk, maka sedikit kulit pinggangnya akan terlihat.
Dan yang membuat Azril tidak ingin berpaling, rok hijau yang di kenakan oleh Kakak Tirinya tidak kalah ngepres di bandingkan kemejanya. Bulatan pantat Kakaknya terlihat nyata dengan garis celana dalamnya.
Berulang kali Azril menelan air liurnya, menatap nanar kearah tubuh Clara yang tidak kalah seksi di bandingkan tubuh Laras.
“Tuh… Kamu denger sendirikan?” Ujar Laras.
Clara mendesah pelan. Walaupun ia merasa agak risih dengan seragam yang baru di berikan Ibunya, tapi ia memilih untuk mengalah. “Iya deh Mi.” Jawab Clara seraya duduk di sebuah kursi meja makan.
“Aurel!”
Azril bergegas menghampiri salah satu santri Wati yang hendak menuju kantor Aliya yang berada di zona santriwan. Ia menghentikan langkahnya ketika melihat sosok Azril yang menghampirinya.
Wajah cantiknya menebarkan senyuman, membuat detak jantung Azril menjadi tak beraturan.
“Mau ke kantor Aliya?” Tanya Azril.
Aurel menganggukan kepalanya. “Iya.” Jawabnya singkat.
“Bareng ya.”
Lagi Aurel hanya menganggukkan kepalanya. Akhir-akhir ini mereka berdua memang sering terlihat bersama. Tetapi walaupun begitu mereka tak banyak bicara satu sama lain. Hanya saja sesekali Azril melirik kearah Aurel. Wanita yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Tapi sayang, Azril bukannya pujangga ulung yang terbiasa menggombal. Jangankan menggombal, untuk mengajak Aurel bicara saja, bibir Azril terasa kakuh.
Tidak terasa waktu berjalan cepat bagi Azril. Dengan berat hati ia harus berpisah dengan Aurel.
“Aku duluan ya!”
“Eh, iya.” Jawab Azril kikuk.
Ia berdiri mematung sembari menatap Aurel yang masuk ke kantor Aliyah. Andai saja ia punya keberanian, ingin sekali Azril mengajak Aurel keluar pesantren, walaupun itu hanya pergi ke pasar kabupaten.
Tanpa di sadari Azril, sudah sejak tadi salah satu sahabatnya berdiri di belakangnya. Ketika ia memutar tubuhnya hendak ke kelas, ia sangat terkejut melihat sosok Rayhan yang tengah tersenyum mengejeknya, membuat wajah Azril pucat pasi karena ketahuan sedang bersama Aurel.
“Lo jangan salah paham.” Tembak Azril.
Rayhan menampilkan wajah iblisnya. “Salah paham gimana si? Ana gak ngerti.” Ucap Rayhan dengan nada mengejek, membuat Azril makin salah tingkah.
“Taiklah.” Umpat Azril.
“Hahahaha…” Tawa Rayhan pecah melihat sahabatnya yang tampak kesal. “Cie… Yang ada gebetan baru! Kenalin dong.” Goda Rayhan sembari merangkul sahabatnya.
“Gak, cuman teman.” Azril buru-buru melangkah ke kelasnya.
Rayhan bergegas mengejar sahabatnya. “Ayolah kawan, siapa putri cantik yang membuat wajah sahabat daku sampai memerah seperti telur rebus.” Celetuk Rayhan, dengan nada suara seorang pujangga.
Azril memilih untuk bungkam. Karena ia tidak ingin menjadi bulan-bulanan Rayhan. Walaupun ia tau, tidak lama lagi, ia akan di buly habis-habisan oleh ketiga sahabatnya.
Sementara itu di kejauhan, Aurel tampak tersenyum kearah seseorang yang tak jauh darinya.
****
Di dalam kelas
Di saat Aziza, Asyifa, dan Adinda tengah serius mendengarkan penjelasan Ustadza Kartika di depan kelas. Aurel malah mencuri-curi waktu membalas pesan WhatsApp dari seseorang Santri yang ia kagumi. Tindakan Aurel jelas sangat beresiko, mengingat pihak pesantren tidak mengizinkan para santri membawa hp. Apa lagi sampai berkirim pesan dengan seorang santri.
Ekspresi wajah Aurel berubah-ubah layaknya anak remaja yang tengah jatuh cinta. Sesekali ia tersenyum, sesekali wajah merah padam, dan sesekali ia tampak cemburut.
Drrrrtt…
Hp Aurel kembali bergetar. Ia bergegas membuka aplikasi WhatsApp untuk membaca sebuah pesan.
My Lovely Aku kangen sayang…
Bibir merah Aurel menyunggingkan senyuman. Buru-buru ia membalas pesan tersebut.
Aurel Aku juga kangen kamu beb
My Lovely Pulang sekolah, ketemu tempat biasa.
Aurel Lagi pengen ya, hihihi… Tapi jangan sampe keblabasan ya?
My Lovely Amaaan… Kayak kemarin aja yang. DP nya dulu dong yang, rudal aku ngaceng ni
Mata Aurel terkesiap ketika ia melihat sebuah foto rudal yang di kirimkan oleh kekasihnya.
Aurel Lagi di kelas beb, takut ketahuan.
My Lovely Sedikit aja.
Aurel mendesah pelan, ia melihat ke sisi kanan, Aziza tampak serius mencatat tulisan yang ada di papan tulis. Sementara Ustadza Kartika tampak sibuk menjelaskan beberapa poin penting tentang sejarah agama.
Diam-diam Aurel menarik sedikit rok hijaunya, lalu dari bawah ia memfoto selangkangannya. Ceklek
“Kamu ngapain Rel?” Tanya Aziza heran.
Aurel terlihat salah tingkah. “Eh, gak apa-apa kok.” Elak Aurel, seraya tersenyum menutupi kegugupannya saat ini. Tentu ia tidak ingin sahabatnya tau kalau barusan ia memfoto selangkangannya sendiri.
“Ya ampun Rel, itu sembunyikan.” Hardik Aziza ketika melihat handphone milik Aurel.
“I-iya.” Jawab Aurel tergagap.
Aziza mendesah pelan, lalu dia kembali mencatat tulisan yang ada di papan tulis. Sementara Aurel buru-buru mengirimkan foto selangkangannya sebelumnya yang lain curiga dengan aksi nekatnya di dalam kelas.
*****
Sore hari
Rayhan bertandang ke rumah Ustadza Risty. Ia tengah duduk di ruang tamu sembari menjelajahi seisi ruangan sederhana itu. Tidak ada yang istimewa di rumah Ustadza Risty, hanya ada sebuah sofa kecil dan meja. Sementara warna cat dinding rumah Ustadza terlihat sudah lusuh.
Tidak lama kemudian Ustadza Risty datang menghampiri Rayhan sembari membawakan teh hangat.
“Terimakasih Ustadza.”
Ustadza Risty tersenyum manis. “Sama-sama, di minum dulu.” Ujar Ustadza Risty.
Bukan tanpa alasan Rayhan berada di rumah Ustadza Risty. Sepulang sekolah tadi, ia memang di minta Ustadza Risty untuk mampir ke rumahnya, karena ada yang ingin di omongkan. Awalnya Rayhan pikir ini terkait masalah kemarin ketika ia ketahuan mengintip. Tapi melihat betapa baiknya Ustadza Risty menyambutnya, membuat Rayhan jadi ragu.
Ustadza Risty merapikan gamisnya di bagian pantat sebelum ia duduk di dekat Rayhan. Dari wajahnya terlihat sekali kalau saat ini ia sedang gugup.
“Ustadza, anu… Saya di suruh kemari ada apa ya.” Tanya Rayhan, ia sedikit bingung.
Ustadza Risty menghela nafas perlahan. “Tawaran kemarin masih ada gak?” Tanya Ustadza Risty, suara indahnya terdengar berat seakan ia ragu untuk mengatakannya.
“Tawaran apa?”
“Katanya Ustadza boleh curhat.”
Rayhan tergelak mendengar jawaban Ustadza Risty. “Oh itu… Ya masihlah Ustadza.” Jawab Rayhan, setelah di pelototi oleh Ustadza Risty. “Eh tapi gak gratis loh Ustadza.” Sambung Rayhan.
“Ustadza harus bayar berapa?”
“Oh bukan uang Ustadza. Sebagai gantinya, kesalahan saya kemarin di tangguhkan.” Usul Rayhan, membuat Ustadza Risty malah tertawa. Ia sama sekali sudah tidak berminat mempermasalahkan kesalahan Rayhan kemarin.
“Oke deal.” Jawab Ustadza Risty.
“Jadi mau curhat apa ni Ustadza?”
“Soal kemarin…”
“Soal Ustad Fuad yang mau menikah lagi?” Tanya Rayhan, Ustadza Risty menganggukan kepalanya.
Perlahan Ustadza Risty mendesah pelan. “Ehmm… Me-menurut kamu, hmm… Ustadza ca-cantik gak? Seksi? Ehmm… Masih terlihat menarik gak?” Ustadza Risty memberondong beberapa pertanyaan sekaligus kepada Rayhan yang masih dengan setia mendengarkannya.
“Eh kok tanya gitu Ustadza?”
“Kemarinkan kamu sudah lihat semuanya.” Jawab Ustadza Risty bersemu merah.
Rayhan menggaruk-garuk kepalanya karena merasa bersalah. Untuk menghilangkan perasaan gerogi, Rayhan kembali meminum tehnya.
“Jadi apa jawabannya?” Desak Ustadza Risty.
“Menurut saya Ustadza itu cantik, dan… Eehmm… Tubuh Ustadza Risty juga sangat bagus. Saya ehm… Sampe coli dua kali kemarin.” Jawab Rayhan jujur, dan di luar dugaan, Ustadza Risty malah tertawa renyah.
“Kamu tuh ada-ada aja.”
“Hehehe…”
“Kalau menurut kamu Ustadza masih menarik, lantas kenapa Ustadza Fuad mau berpoligami.” Jawab Ustadza Risty yang terlihat kembali murung.
“Sebenarnya banyak faktor Ustadza, mungkin selama ini Ustadza kurang perhatian.”
“Perhatian seperti apa? Setiap hari saya selalu menyiapkan semua keperluan keluarga saya, dan Ustadza rasa perhatian yang Ustadza berikan sudah lebih dari cukup.” Jelas Ustadza Risty berapi-api.
Rayhan menegakkan punggungnya. “Maaf Ustadza! Ehmmpsss… Kalau boleh tau, satu Minggu berapa kali Ustadza ehmm… Begituan.” Ujar Rayhan terbata-bata.
Jujur baru kali ini ada seseorang bertanya tentang hubungan ranjangnya, membuat dirinya jadi gerogi. “Anu… Ehmm… Sa-satu sampai dua kali sebulan.” Jawab Ustadza Risty membuat Rayhan tergelak mendengarnya.
“Serius?”
“Ih kamu tuh ya.” Rajuk Ustadza Laras.
“Maaf-maaf Ustadza… Ehmm… Kalau boleh saya tebak, saat main Ustadza selalu berada di bawah. Dan tidak pernah melakukan oral sex?” Tanya Rayhan berusaha bersikap lebih serius.
“I-iya, emang aneh?”
Rayhan mengangguk mantab. “Berarti Ustadza wanita konservatif. Emang Ustad Fuad tidak pernah minta yang macam-macam? Ehm… Seperti minta di kulum itunya?” Pertanyaan Rayhan semakin vulgar membuat wajah Ustadza Risty terasa panas karena malu.
“Per-nah… Tapi Ustadza tolak. Jijik.”
“Ya ampun Ustadza! Hahahaha… Padahal bagi kami pria sex itu bukan hanya sekedar buka baju terus menyetubuhi! Kalau kayak gitu gak ada seninya. Akan lebih menyenangkan kalau di mulai dengan foreplay terlebih dahulu. Dan saya yakin, suami Ustadza pasti bakalan ketagihan.” Jelas Rayhan, seakan ia sudah sangat berpengalaman soal berhubungan badan.
“Dan lagi Ustadza, pria itu suka sama wanita yang agresif di atas ranjang. Rasanya lebih nendang.” Sambung Rayhan.
“Pusing kepala Ustadza dengerin kamu.” Omel Ustadza Risty. “Jadi menurut kamu Ustadza harus melakukan itu agar suami Ustadza betah tinggal di rumah?” Rayhan menganggukan kepalanya.
“Selain itu… Coba rubah penampilan Ustadza agar lebih terlihat seksi, seperti memakai kimono atau lingerie.” Ujar Rayhan.
“Astaghfirullah Ray! Itu pakaian pelacur.”
“Jadi pelacur untuk pasangan sendiri tidak masalah.” Jawab Rayhan.
Ustadza Risty mendesah pelan. “Ya, kamu benar.” Ustadza Risty tersenyum tipis. “Tapi kalau untuk oral sex, kayaknya Ustadza harus belajar dulu.” Ujar Ustadza Risty dengan gestur tubuh yang terlihat salah tingkah.
“Kalau butuh guru, saya siap Ustadza.” Celetuk Rayhan.
Mata Ustadza Risty melebar, dengan tawa yang meledak. Ia tidak menyangkah bisa memiliki murid segila Rayhan. Tapi di dalam hati ia berterimakasih karena nasehat Rayhan memang benar adanya. Apa salahnya menjadi pelacur untuk pasangan sendiri.
Ustadza Risty berfikir kalau dirinya sepertinya harus belajar banyak dari pemuda bauk kencur yang ada di sampingnya saat ini.
*****
Teeeeng… Teeeeng… Teeeeeng…
Suara jam lonceng yang berada di ruang tengah berdentang keras, menandakan kalau saat ini sudah jam dua belas malam. Di sudut kamar, Haja Laras mendesah pelan, ia meremas-remas jarinya, ada rasa khawatir yang membuncah di hatinya, setiap kali jam itu berbunyi.
Ia menyeka keringat di dahinya, sembari melirik kearah pintu kamarnya, seakan ia tengah menunggu seseorang.
Tidak lama kemudian pintu kamarnya terbuka, sesosok pemuda tersenyum menyeringai kearahnya. Ia menampakkan wajah iblisnya. Bibir Haja Laras bergetar, tubuhnya menggigil, menatap sayu kearah sang predator.
Ia berjalan perlahan mendekatinya, setiap langkahnya bagaikan teror yang menakutkan bagi Laras. Tapi dirinya hanya kelinci kecil, bisa apa dia menghadapi srigala seperti Daniel. Ia tidak bisa lari, yang bisa ia lakukan hanyalah merintih dan merengek ketika sang srigala mencabik-cabik dirinya.
“Assalamualaikum Bu Haja?” Bisik Daniel sembari membungkukkan badannya.
Laras menggelengkan kepalanya. “Stop Dan! Aku tantemu, sudah cukup.” Klise… Mungkin itulah yang ada di benak Laras saat ini.
Selalu saja, dan selalu saja ia menggunakan alasan yang sama ketika sang predator menyapanya. Seakan-akan ia tak relah di jamah, tapi pada akhirnya ialah yang akan mengemis, meminta sang predator untuk menjamah tubuhnya.
Ia menggigit bibir merahnya ketika Daniel mulai menanggalkan pakaiannya. Nafasnya tercekat, tatkalah matanya menatap nanar kearah seonggok daging, yang sudah tidak terhitung berapa kali membawa nya ke surga iblis, membuatnya kecanduan ingin mengulangi lagi dan lagi, walaupun ia tau itu salah.
“Kok gak di jawab.” Daniel membelai wajah cantik Laras.
“Wa-waalaikumsalam Tuan!” Lirih Laras.
Daniel tersenyum tipis. “Bagus sekali!” Puji Daniel, ia membelai bibir merah Laras, menyusupkan jari telunjuknya untuk di hisap mesrah olehnya.
Hangat… Itulah yang di rasakan Daniel ketika sang budak sex tengah mengulum jarinya. Selagi jari tangan kanannya di hisap, jemari tangan kirinya sibuk membuka kancing piyama yang di kenakan sang Ustadza. Hingga tampak sepasang gunung kembar yang terlihat sangat indah.
Jemarinya membelai puncak payudara sang Ustadza, membuat tubuhnya terhenyak merasakan getaran syahwat yang di berikan Daniel kepadanya.
Ia menggelengkan kepalanya, dengan tatapan memohon agar Daniel berhenti menggodanya. Tapi permohonannya di tolak, Daniel malah semakin intens menjamah payudaranya, meremas dan memilin putingnya.
“Aahkk… Cukup! Aku mohon.” Melas Laras.
Daniel menarik leher Laras, dia melumat mesrah bibir merah sang Ustadza. “Ehmmpsss… Ehmmpsss… Ehmmpsss…” Dia menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Haja Laras, membelit lidah tersebut dengan mesrah.
“Ehmmpsss… Cukup… Eehmmppss…” Nafas Laras tersengal-sengal ketika ia harus meladeni ciuman ganas dari sang predator yang dengan perlahan mulai memakan kesadarannya, merenggut kenikmatan dari bibirnya.
Setelah puas melumat bibirnya, Daniel meminta Laras untuk mengoral rudalnya. Ia memaksa Laras untuk menunduk, mengarahkan rudalnya di bibir merah sang Ustadza yang tampak gemetar. Sedikit imannya bergejolak, tapi sang Iblis tak menyerah untuk membuat sang Ustadza takluk akan birahi syahwatnya.
Jemari halusnya membelai batang kemaluan Daniel, lidahnya terjulur menari-nari di kepala rudal Daniel yang berbentuk jamur. Lalu ia menghisapnya dengan perlahan.
Daniel membelai rambut Haja Laras, menikmati proses oral sek yang di berikan Haja Laras kepada dirinya.
Sluuuppss… Sluuuppss… Sluuuppss….
Kepala Laras naik turun menghisap rudal Daniel, ia terlihat sangat menikmati tekstur rudal Daniel yang memabukkan. Jemari tangan Laras membelai kantung telur Daniel, menambah rangsangan untuk sang predator. Hingga akhirnya, sang predator menyerah.
“Cukup.” Perintah Daniel.
Laras berhenti menghisap rudal Daniel. Walaupun tatapan matanya mengisyaratkan kebencian, tapi ia sangat mematuhi perintah Daniel.
Dengan rontahan kecil Laras berontak di dalam dekapan Daniel. Tapi ia pasrah ketika bibir Daniel kembali melumat bibirnya, sementara tangan kanannya menyusup ke dalam celana piyama yang di kenakan Laras, ia merogoh bibir kemaluan Laras yang telah membanjir, menandakan kalau dirinya saat ini tengah terbakar birahi.
Pinggul Laras tersentak ketika ia merasakan kedua jari Daniel dengan nakalnya menyusup masuk ke dalam lobang senggama miliknya. Mengorek-ngorek lobang serambi lempitnya hingga makin terasa banjir.
“Jangaaaaan… Eehmmppss… Cukup Dan! Istighfar.” Melas Laras.
Bibir Daniel menyunggingkan senyuman iblisnya. “Ini sangat menyenangkan sekali Bu Haja! Membuat serambi lempit seorang Istri Kiayi salah satu hobi saya. Apa lagi kalau sampai menghamilinya.” Bisik Daniel, sembari menghembuskan nafas birahi di telinga Laras hingga membuat sang Bu Haji merinding geli.
Haja Laras menggelengkan kepalanya sebagai bentuk protes. “Astaghfirullah… Danieeeell… Jangan tusuk serambi lempit Bu Haja, aahkk… Toloooong… Jangan di tambah lagi.” Jerit Haja Laras ketika Daniel memasukan jari manisnya ke dalam lobang serambi lempit Haja Laras, hingga ada tiga jari di dalam serambi lempit Haja Laras.
“Enak ya Bu Haja? Tapi malam ini Bu Haja tidak boleh orgasme.”
“Aahkk… Aaaahkk… Aaaahkk…” Erang Haja Laras.
Ia merasa sudah tidak sanggup lagi, lendir cintanya seakan sudah berada di ujung serambi lempitnya dan siap untuk di ledakan. Tapi ucapan Daniel membuat Laras mati-matian menahan orgasmenya. Alhasil ia semakin tersiksa karena sensasi yang ia buat sendiri.
Setelah berapa menit kemudian siksaan birahi yang di berikan Daniel akhirnya untuk sementara tidak lagi menyiksa dirinya, ketika Daniel mencabut jarinya. Tapi Laras tau ini hanya sementara saja.
Daniel memperlihat jarinya yang basah di hadapan Laras yang tersipu malu.
“Sekarang celananya di buka ya Ustadza.” Pinta Daniel.
Laras menggelengkan kepalanya. “Tidaaaak… Sudah cukup Dan! Saya tidak mau.” Mohon Laras, ia menatap Daniel dengan sungguh-sungguh.
Seakan tidak mengubris permohonan Laras, ia mengambil sebuah vibrator berbentuk kapsul, dan kedua penjepit kecil yang memiliki getaran halus. Melihat benda-benda aneh tersebut membuat Laras makin frustasi, ia tidak yakin kalau dirinya mampu untuk tidak orgasme. Tetapi hal tersebut malah membuat adrenalin nya terpacu.
Daniel tersenyum kembali menatap Laras, lalu melirik celana piyama Laras yang masih utuh. Laras kembali menggelengkan kepalanya, karena ia tau apa yang diinginkan Daniel kepadanya saat ini.
Hati kecilnya berteriak keras, menolak semua perintah Daniel. Tapi tubuhnya malah mengkhianati dirinya.
Dengan tatapan frustasi, Laras menarik kedua sisi celana piyamanya sedikit demi sedikit. Tampak rambut kemaluannya yang lebat begitu menggoda. Kedua kaki jenjang Laras mengais-ngais membantu melepaskan celana piyamanya. Hingga akhirnya ia benar-benar telanjang bulat di hadapan Daniel, yang notabene nya masuk di dalam list manusia yang paling ia benci saat ini.
Daniel merentangkan kedua kakinya, hingga bibir serambi lempitnya terkuak dihadapan Daniel. Wajah Daniel sumringah melihat lobang serambi lempit Haja Laras yang sudah siap di masuki oleh kejantanannya.
“Dan… Aahkk…” Lirih Laras ketika batang keras itu menyeruak masuk ke dalam serambi lempitnya.
Dengan gerakan konstan Daniel memompa serambi lempit Laras. Tangannya meraih payudara Laras dan meremasnya dengan perlahan tapi cukup bertenaga.
Tubuh Laras yang telah bermandikan keringat tampak pasrah menerima setiap hentakan selangkangan Daniel di serambi lempitnya. Sedikit air liurnya tampak mengalir di sela-sela bibirnya. Ia terlihat seperti orang yang terkena sakau. Mata indahnya mendelik menikmati setiap gesekan antara kedua kelamin mereka berdua.
Rasa nikmat itu kian bertambah tatkala ketika kedua jari Daniel memilin putingnya. Menarik, menggoda puting Laras yang telah ereksi maksimal.
“Dan… Bu Haja mau keluar.” Lirih Laras.
Daniel tersenyum tipis, ia menghentak cepat beberapa kali rudalnya di dalam serambi lempit Laras. Membuat wanita alim itu menggelengkan kepalanya karena tak tahan. Dan pada saat ia benar-benar tidak sanggup lagi bertahan. Daniel mencabut rudalnya dari dalam serambi lempit Laras, meninggalkan kehampaan di serambi lempit Laras.
Pinggul Laras terhentak-hentak mencari rudal Daniel, tapi sayang Daniel tidak memberikan rudalnya kepada Laras. Membuatnya semakin frustasi.
Laras nyaris menangis. Ia sangat tersiksa dengan orgasme menggantung yang di berikan Daniel kepadanya. Bagi Laras ini jauh lebih kejam dari pada Daniel mengambil nyawanya. Tapi bagi Daniel, ia sangat senang melihat Laras yang terus menerus gagal orgasme.
“Nungging.” Suruh Daniel.
Laras membisu sembari mengatur nafasnya yang memburu setelah ia gagal orgasme.
Kemudian ia memutar tubuhnya hingga ia menungging di hadapan Daniel. Plaaaaak… Plaaaaak… Plaaaaak… Berulang kali Daniel menampar pantat mulus Laras yang kini bercap merah.
“Auww… Sssttt…” Erang Laras.
Daniel membuka pipi pantat Laras, dan membenamkan jarinya ke dalam lobang anus Laras. “Sempit sekali.” Puji Daniel sembari mengorek lobang anus Haja Laras.
“Ughkk… Dan! Aaaahkk…” Desah Laras.
Wajahnya mendongak keatas dengan tatapan sayu. Ia merasa birahinya kembali meletup-letup. Itu artinya ia akan kembali di siksa oleh kenikmatan yang tak berujung.
Setelah puas membuat lobang pantat Haja Laras menganga. Daniel kembali memasukan rudalnya ke dalam serambi lempit Istri dari KH Umar. Sembari memegangi pinggul Haja Laras, ia menggerakkan pinggulnya maju mundur. Membuat liang serambi lempit Haja Laras kembali terasa penuh.
Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk…
Plak… Plaak… Plaaaakkkk…..
Berulang kali Daniel menampar pantat Haja Laras dengan keras, meninggalkan bekas merah di pipi pantatnya.
“Auww… Aaaahkk… Aaaahkk…”
“Gimana rasanya Bu Haja! Apa kamu menikmatinya? Menikmati rudal yang bukan milik KH Umar, suamimu.” Ucap Daniel sinis.
Haja Laras menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidaaaak… Aahkk.. Danieeeell… Bu Haja mohon hentikan! Oughkk… serambi lempit Bu Haja udah gak tahan lagi.” Melas Laras sembari menggerakan pinggulnya maju mundur, mencari puncak kenikmatan yang sudah ia idam-idamkan.
“Jadi maunya Bu Haja gimana?”
“Toloooong biarkan hambamu orgasme.” Mohon Laras kian frustasi. Walaupun ia merasa sangat hina ketika mengucapkannya, tapi ia benar-benar menginginkan orgasme tersebut yang di rasa sangat mahal.
“Belum… Belum saatnya.” Bisik Daniel.
Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk…
Daniel semakin gencar menyodok serambi lempit Haja Laras. Dan pada saat bersamaan Laras merasa ia sudah di ambang batas pertahannya. Saat ia merasa sudah tidak kuat lagi, Laras buru-buru menarik pinggulnya menjauh dari rudal Daniel, sembari mencubit putingnya sendiri untuk merendahkan rasa nikmat yang nyaris berhasil ia ledakan.
Tubuh indah Haja Laras yang bermandikan keringat, bergetar hebat. Ia mati-matian menahan orgasmenya agar tidak sampai orgasme. Ia mengerang tersiksa hingga akhirnya keinginan orgasmenya mulai meredah.
“Host… Host… Host…” Nafas Haja Laras memburu.
Wajah cantik nya merona merah, dan matanya berair. Sungguh ia merasa sangat tersiksa. Ingin ia mengakhiri penderitaan nya, tapi ia seakan tidak memiliki kuasa atas tubuhnya.
Daniel menindih tubuh Haja Laras yang tengah telungkup. Kemudian dia menyusupkan rudalnya di belahan serambi lempit Haja Laras. Dengan perlahan batang kemaluannya menelusuri dinding serambi lempit Haja Laras. Sembari menggerakan pinggulnya, ia menyibak rambut Laras.
“Eenghkk… Eenghkk… Eenghkk…”
“Apa Bu Haja ingin orgasme?” Bisik Daniel.
Laras menggigit bibirnya. Ia malu kalau harus mengatakannya, tapi ia membutuhkannya. “A-akuu mau… Toloooong Dan! Buat aku orgasme.” Lirih Laras di tengah derai rasa nikmat yang tak berujung menyiksa dirinya.
“Apa tugas yang kuberikan sudah kamu lakukan?” Tanya Daniel.
Laras terdiam sejenak. Ia teringat dengan kejadian tadi pagi di mana ia memperlakukan Azril dengan cara yang tidak manusiawi. Tapi ia terpaksa melakukannya, karena Daniel yang memintanya, menyuruhnya untuk membuat putranya terobsesi kepada dirinya.
Sebagai seorang Ibu tentu saja Laras merasa bersalah. Tapi perintah Daniel seakan tidak bisa bantah dan harus di patuhi walaupun bertentangan dengan hati nuraninya.
Dan jujur, dengan perlahan Laras mulai menikmati caranya untuk membuat Azril terobsesi kepada dirinya, dan ia merasa kalau Azril juga menikmatinya. Hanya menunggu waktu untuk menjadikan Azril seperti yang di inginkan Daniel.
“Sudah… Ughkk…! Sudah kulakukan kepada Azril.” Lirih Laras menikmati persenggamahannya. “Akan kujadikan Azril budak seks, seperti yang kamu minta.” Jawab Laras. Ceritasex.site
“Bagaimana dengan Putrimu Clara?”
Laras terdiam sejenak. “Aku belum menemukan caranya, tapi akan kupastikan, Clara juga akan menjadi budak sex, seperti aku Ibunya.” Laras memejamkan matanya, membayangkan putrinya di menjadi pemuas sex dan Azril yang tersiksa akan kenikmatan tanpa ujung seperti yang ia rasakan saat ini.
“Bagus! Sekarang kamu boleh orgasme.” Daniel mempercepat kocokan rudalnya, membuat tempat tidur Laras berderit-derit seakan mau roboh.
Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk…
“Aku dapaaaaaat…” Jerit Laras.
“Aku akan menghamili Istrimu bangsaaaat…” Geram Daniel.
Tubuh mereka menegang beberapa detik, dan pada saat bersamaan seprei tempat tidurnya menjadi basah kuyup.
Dengan perlahan Daniel menarik rudalnya, dan tampak lelehan spermanya di celah-celah bibir kemaluan Laras. Ia sangat senang, dan yakin cepat atau lambat ia pasti bisa menghamili Ustadza Laras.
“To-tolong maafkan Suamiku.” Lirih Laras.
Daniel menyunggingkan senyumnya. “Tidak… Tidak akan pernah! Kalau kamu ingin marah, marahlah terhadap Azril, karena anak itu yang membuatmu dan putrimu harus menanggung semuanya.” Ujar Daniel sembari menyulut Zippo di batang rokoknya.
Selepas kepergian Daniel. Laras menangis sembari memeluk bantalnya, ia merasa sangat bersalah dan lemah.
“Maafkan aku Mbak, Maafkan Umi Azril!”
Bersambung… Malam hari di sebuah asrama…
Kreaak…
Semua orang yang ada di dalam ruangan langsung berdiri ketika seseorang tiba-tiba membuka pintu kamar mereka. Heru memicingkan matanya, menatap tak suka kearah pria yang dengan sangat berani masuk ke dalam kamar kekuasaannya tanpa permisi terlebih dahulu.
Bagong langsung menghampiri anak tersebut sembari menarik kaos pemuda tersebut. “Eh anjing, siapa yang suruh Lo masuk bangsat.” Umpat Bagong, tangan kanannya sudah terkepal dan siap memukulnya.
“Santai bro, gue gak ada urusan sama Lo.” Doni mengalihkan pandangannya ke Heru.
Pemuda itu tersenyum tipis, sembari berdiri menghampiri Doni. “Lepasin.” Heru menepuk lengan Bagong.
“Anjing. Cuiiih…” Kesal Bagong.
“Ada apa Lo nyari gue?”
“Gue minta Lo ngerahin anak asrama kelapangan besok lusa! Teman gue ada ribut sama asrama Hamza.” Jelas Doni yang memang tidak suka berbasa-basi.
“Anjing ni bocah.”Umpat Pandi emosi, sembari membuang puntung rokok kearah Doni.
“Kalau gue gak mau?”
Doni tersenyum sinis. “Gue kesini bukan untuk mendengar kata tidak.” Doni menanggalkan kaosnya, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang kotak-kotak. Di atas perutnya terlihat ada bekas luka yang cukup besar.
Tentu saja Heru tidak bergidik melihat bekas luka di perut Doni. Yang ada adrenalin nya makin terpacu untuk menghadapi Doni. Apa lagi selama ini Doni di kenal anak yang tidak pernah terlibat perkelahian, bahkan beberapa kali ia mengalah ketika seseorang mencoba mengganggunya.
Diatas kertas jelas Heru yang menang, mengingat track record nya yang tidak terkalahkan di asrama al-Fatih.
“Lo taukan aturan mainnya?”
Doni menganggukkan kepalanya. Tidak lama kemudian tiga orang pria dewasa masuk ke dalam kamar. Mereka adalah santri pengabdian yang bertugas menjaga keamanan asrama. Bagi mereka yang ingin berkelahi, harus mendapat izin terlebih dahulu dari santri pengabdian. Kalau tetap nekat berkelahi di asrama tanpa izin dari santri pengabdian, mereka di pastikan akan di keluarkan dari pesantren.
Tradisi ini sudah ada sejak lama, hal ini di lakukan untuk meredam kenakalan anak remaja yang butuh di salurkan. Karena pada dasarnya, sebagian dari santri masuk ke pesantren bukan karena mereka ingin jadi ustad, melainkan karena orang tua yang sudah tidak sanggup lagi mendidik mereka.
Terlalu naif memang, menyerahkan anak mereka untuk di didik orang lain, agar menjadi anak yang lebih baik, berguna untuk masyarakat hingga membanggakan kedua orang tua mereka.
Pablo, Iyan, Dan Dery duduk diatas salah satu kasur santri sembari melihat Doni dan Heru.
“Kalian berdua mau ribut?” Tanya Yan. Ia menyulut api ke sebatang rokok. “Ada masalah apa?” Sambung Yan, ia menghembuskan asap rokok kearah Doni.
“Apa perlu ada alasan.” Jawab Doni.
“Songong juga ni anak.” Komentar Pablo.
Yan tertawa renyah mendengar jawaban Doni. “Iya, kamu benar… Tidak perlu ada alasan.” Yan berdiri sembari merangkul Doni.
Dan tanpa di duga-duga Yan memukul perut Doni dengan sangat keras. “Hooeek…” Rintih Doni, ia merasa perutnya sangat sakit sekali. Bahkan hanya dengan satu pukulan, sudah membuat lututnya gemetar.
“Lain kali kalau ngomong sama senior yang sopan.” Bisik Yan.
Doni mengeram sembari menatap seniornya. Ia tidak menyangka kalau pukulan dari seniornya bisa sekeras itu.
“Kalian berdua silahkan selesaikan masalah kalian, tapi dengan satu syarat. Tidak boleh menggunakan senjata.” Jelas Yan kemudian kembali duduk di dekat kedua sahabatnya yang dari tadi hanya diam saja.
Heru menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan, agar otot lehernya lebih rilex, sembari memasang kuda-kuda, dia mengangkat kedua tangannya yang terkepal, dengan pose siap melawan.
Doni tersenyum, akhirnya ia bisa berhadapan langsung dengan Heru yang katanya jagoan nomor satu di asrama Al Fatih. Mengalahkan Heru akan menjadi solusi terbaik untuk berhadapan dengan Hamka besok lusa. Ia yakin, pertempuran jumad nanti tidak akan muda.
Doni menyerang lebih dulu, dia melepaskan jeb kearah wajah Heru, tapi dengan muda Heru menangkisnya dengan tangan kiri. Satu kakinya mundur ke belakang untuk memperkuat kuda-kuda nya. Sementara tangannya dengan cepat mengincar perut Doni. Tab Doni berhasil menangkis pukulan Heru dengan mengangkat lututnya cukup tinggi.
“Lumayan.” Puji Heru.
Kaki Heru terangkat tinggi dan terarah kewajah Doni. Reflek Doni mundur kebelakang, tapi tetap tidak bisa menghindari tendangan Heru.
Pipi kanan Doni memerah akibat tendangan Heru walaupun tidak telak.
Heru maju ke depan, ia melakukan uppercut kearah dagu Doni, dengan cepat Doni mengangkat kedua tangannya sembari menurunkan dagunya. Buuk Tinju Heru tepat mengenai kedua lengan Doni. Walaupun pukulan Heru berhasil di tangkis tapi tetap saja menimbulkan efek di kedua lengannya.
Lalu kemudian di susul oleh pukulan tangan kirinya, dan kali ini Doni tidak sempat menghindar.
Kaki kanan Heru maju satu langkah, dan dengan gaya memutar ia melayangkan kaki kirinya kearah kepala Doni, beruntung kali ini Doni berhasil menghindarinya dengan sedikit menunduk. Andai saja ia telat menghindar, satu tendangan Heru barusan bisa saja menjadi akhir dari pertempuran malam ini.
“Hampir saja, sekarang giliran gue..” Gumam Doni.
Doni mundur satu langkah, kemudian tangan kanannya melakukan pukulan menyilang. Heru yang belum siap hanya pasrah ketika wajahnya terpaksa menerima pukulan Doni dari jarak yang ideal.
Tanpa membuang kesempatan, tangan kiri Doni menghantam wajah kanan Heru, dan di balas dengan satu pukulan telak di ulu hati Doni.
Mereka berdua mundur beberapa langkah sembari mengatur nafas mereka yang mulai tersengal-sengal.
Heru langsung menerjang Doni, beberapa pukulannya berhasil di tepis Doni. Kaki kanan Doni menerjang lengan Heru, lalu di susul pukulan tangan kirinya di wajah Doni.
Buuuuk…
“Bangsaaaaat…” Pekik Heru di dalam hati.
Tubuhnya langsung sempoyongan setelah menerima pukulan telak di wajahnya. Kemudian di susul beberapa pukulan kombinasi yang di lakukan Doni. Yang bisa Heru lakukan hanyalah menangkis setiap pukulan yang di lepaskan Doni ke wajahnya. Dan sesekali mencoba membalasnya.
Tapi balasan Heru sama sekali tidak terasa bagi Doni, itu terlihat dari senyuman Doni kearah Heru, membuat pemuda itu makin kalap, dan berusaha memukul Doni berulang kali yang dengan muda di tangkis.
Sanking kesalnya, Heru lupa untuk melindungi perutnya. Dan hal tersebut di manfaatkan Doni dengan memukul perut Heru sekuat tenaga.
“Hooeek…” Heru memuntahkan darah dari mulutnya.
“Selesai.” Ujar Doni, sembari mengalungkan tangannya di leher Heru, dan menariknya ke bawah. Pada saat bersamaan lututnya sudah siap menghantam wajah Heru.
“Anjing!” Umpat Heru.
Buuuk…
Tubuh Heru kehilangan tenaga, ia roboh kelantai dengan wajah bersimbah darah. Di perkirakan hidungnya patah, dan beberapa giginya tanggal.
Doni mencekik Heru, ia berniat ingin menghabisi Heru dengan satu pukulan lagi. Ketika tinjunya hampir mengenai wajah Heru, tiba-tiba seseorang menerjang pinggangnya hingga ia terjungkal ke samping.
Pablo berdiri tegak setelah menendang Doni yang tengah meringis kesakitan.
“Cukup!” Ucapnya tenang. “Kalian Bawak Heru ke klinik sekarang juga.” Perintah Pablo. Bagong dan beberapa temannya segera membopong tubuh Heru.
“Selamat Lo sekarang bos baru di sini.” Ucap Bang Yan sembari menepuk pundak Doni.
Doni tersenyum sinis. Ia mengambil kaosnya lalu pergi meninggalkan kamar Heru. Baginya menjadi yang terkuat di asrama Al Fatih tidaklah penting.
*****
“Astaghfirullah Rayhan…”
Zaskia menjerit ketika melihat Rayhan yang masih tidur di dalam kamarnya. Bukan karena adiknya telat bangun, tapi karena lagi-lagi ia mendapatkan celana adiknya basah karena terkena sperma. Dan itu artinya, ia lagi-lagi harus mencuci celana Rayhan yang penuh dengan lendir yang lengket.
Teriakan Zaskia tentu saja membangunkan Rayhan. Dengan ekspresi tanpa dosa, Rayhan menatap Zaskia dengan penuh heran.
“Kenapa si Kak, pagi-pagi udah teriak.” Gerutu Rayhan.
Zaskia mendesah pelan. “Lihat tuh celana kamu.” Tunjuk Zaskia. Rayhan buru-buru menarik selimutnya. “Setiap hari Kakak harus nyuci celana kamu yang bauk sperma itu. Bisa gak si, sehari saja kamu gak mimpi basah.” Omel Zaskia, dia mendekap dadanya dengan kedua tangannya yang terlipat.
“Eh anu Kak.”
“Anu-anu… Emangnya kamu tiap malam ngayalin siapa? Kok bisa setiap malam mimpi basah. Kalau sesekali Kakak bisa maklum, tapi kalau sampai setiap hari, ini sudah keterlaluan.” Cerocos Zaskia, yang tidak habis pikir dengan kelakuan Rayhan.
Rayhan menggaruk kepalanya. “Ini semua salah Kakak yang terlalu cantik. Setiap malam aku mimpiin Kakak! Dan berharap benar-benar bisa menyetubuhiin Kakak.” Ingin Rayhan mengatakan hal tersebut, tapi tentu saja ia tidak berani untuk berterus terang.
“Maaf Kak.” Akhirnya yang keluar hanya kalimat itu.
“Sudah sana, siap-siap mandi wajib. Habis itu shalat.” Suruh Zaskia. Habis memarahi adiknya ia segera keluar dari kamar Rayhan yang masih shock karena habis di marahi Kakaknya.
Zaskia benar-benar bingung dengan kelakuan Rayhan. Bagaimana mungkin ada orang yang mimpi basahnya setiap hari. Ini pasti karena pikiran adiknya yang telah rusak, karena terlalu sering membayangkan adegan tak senonoh. Entah bagaimana caranya untuk menghilangkan kebiasaan Rayhan, agar tidak mimpi basah lagi.
Ia membuka pintu kamar mandi, melepas bagian bawah mukenanya berikut dengan dalamannya dan menyisakan mukena bagian atas.
Zaskia berjongkok sembari sedikit mengangkat mukena bagian atas agar tidak terkena air urinenya ketika ia buang air kecil.
Seeeeeeeeeeeerrrrrrrr…
Ketika lagi asyik menikmati momen buang hajat, tiba-tiba pintu kamar mandinya terbuka. Sosok Rayhan masuk ke kamar mandi sembari menenteng handuk di pundaknya. Mata Zaskia membulat sempurna melihat adiknya yang baru masuk ke kamar mandi tanpa melihat kearahnya.
“Rayhan!” Tegur Zaskia.
Tubuh Rayhan mendadak kaku, ketika mendapati Kakak kandungnya yang tengah berjongkok hanya memakai bagian atas mukena, sementara bagian bawahnya terbuka lebar, memamerkan serambi lempitnya yang tembem tanpa rambut kemaluan yang menempel di pubiknya.
Gleeek…
Rayhan menelan air liurnya, sembari mengusap bibirnya dengan lengannya.
“Kakak ngapain?” Pertanyaan tolol itu meluncur dari bibir Rayhaan.
“Emang kamu gak liat Kakak ngapain?” Tanya Zaskia.
Tentu saja Rayhan lihat, dan ia melihat jelas ketika air urine Kakak kandungnya mengucur deras ke dalam closet hingga akhirnya berhenti. Proses buang air kecil Zaskia tentu terekam jelas di ingatan Rayhan.
“Eh iya, kakak lagi kencing ya, hehehe…” Sambil garuk-garuk bagian belakang kepalanya.
“Itu tau pake tanya lagi.” Omel Zaskia.
“Aku kan gak tau kalau Kakak lagi pipis! Lagian kebiasaan pintu kamar mandi gak di kunci.” Ucap Rayhan santai. Sembari melepas pakaiannya.
“Eh mau ngapain?”
“Mandi Kak.” Jawab Rayhan santai. “Kan tadi Kakak suruh aku mandi.” Sambung Rayhan, ia menarik turun celana pendeknya dan memamerkan rudalnya yang seukuran pisang ambon.
“Astaghfirullah Ray!” Protes Zaskia.
Rayhan melirik serambi lempit Kakaknya. “Apa lagi si Kak?”
“Kamu tuh ya, pake telanjang di depan Kakak! Gak sopan tau gak.” Lagi-lagi Zaskia mengomel, tapi matanya itu malah gak berpaling dari rudal Adiknya.
“Apaan si Kak! Kayak gak pernah lihat Ray telanjang aja.” Ucap Rayhan santai, sembari mengguyur tubuh telanjangnya dengan air di dalam bak mandi.
Zaskia kehabisan kata-kata, apa yang di katakan Rayhan memang benar. Dia sudah beberapa kali melihat Adiknya telanjang. Bahkan ia pernah memandikan Rayhan dalam keadaan telanjang bulat. Pengalaman tersebut tak akan pernah di lupakan Zaksia.
Sebagai wanita normal, ia sangat kagum dengan bentuk dan ukuran rudal Rayhan. Apa lagi rudal Rayhan, adalah rudal pria dewasa pertama yang ia lihat, sehingga meninggalkan kesan tersendiri baginya.
Wajah Zaskia merona merah ketika melihat Rayhan menggosok rudalnya dengan gerakan perlahan. Sanking tegangnya Zaskia sampai lupa bernafas. Ia merasakan suhu tubuhnya menjadi panas, walaupun kondisi kamar mandi yang cukup dingin, tapi Zaksia malah berkeringat.
Melihat Kakaknya yang setengah sadar dengan kondisi mereka saat ini membuat Rayhan semakin berani.
Ia berjalan kearah Kakaknya dengan rudal yang menggantung. “Maaf ya Kak, mau ambil sabun.” Ujar Rayhan, ia berdiri di depan Zaskia sembari menggapai sabun yang ada di dekat Kakaknya.
“Eh…” Kaget Zaskia.
Bayangkan saja, rudal Rayhan tepat di depan wajahnya. Dan hanya beberapa senti lagi rudal besar Rayhan akan menyentuh wajahnya.
Mata Zaksia tak berkedip menatap setiap jengkal rudal Rayhan yang berotot. Dengan sengaja Rayhan berlama-lama mengambil sabun yang ada dinding tepat di sampingnya yang sedang berjongkok diatas closed.
Kemudian Rayhan melumuri badannya dengan busah sabun. Ketika ia menyabuni tubuhnya tiba-tiba sabun di tangannya melompat kearah closed sampai masuk ke dalam closed.
“Waduh…” Kaget Rayhan.
Kemudian Rayhan berjongkok di depan Zaskia, tangannya terjulur diantara kedua kaki Zaskia yang terbuka untuk mengambil sabun.
“Mau ngapain kamu Dek?” Wajah Zaskia makin tegang.
“Ambil sabun Kak.” Jawab Rayhan enteng.
“Eh…” Zaskia tersentak kaget ketika merasakan lengan Rayhan menyentuh bibir serambi lempitnya.
“Angkat sedikit pantatnya Kak, susah ni.” Pinta Rayhan.
Zaskia berusaha mengangkat pantatnya, tapi tentu saja tidak muda, karena posisinya yang masih jongkok.
Tanpa sepengetahuan Zaskia, Rayhan dengan sengaja menggodanya. Ia menggerakkan tangannya maju mundur dengan perlahan, menggesek bibir serambi lempit Kakaknya yang terasa hangat karena lendir kewanitaannya. Mata Zaskia membeliak, merasakan sensasi geli-geli nikmat, ketika bibir serambi lempitnya bersentuhan dengan kulit lengan Rayhan yang kasar.
“Engg… Dek!”
“Iya Kak.”
Zaskia menggigit bibirnya, hingga terlihat sensual di mata Rayhan. “Sha… Sabhun-nya dah… Dhaapaaat…. Ughkk… Belum?” Tanya Zaskia terbata-bata. Pinggulnya turun naik kegelian.
“Belum kak.”
Zaskia membuang muka kearah bak mandi. Nafasnya memburu dan wajahnya memerah. Sementara di bawah sana Rayhan semakin intens menggerakan tangannya maju mundur, menggosok serambi lempit Zaskia.
Aneh… Memang sangat aneh, seharusnya ia tau apa yang di lakukan Adiknya saat ini kepada dirinya. Tapi anehnya, wanita Soleha itu malah diam, dan menganggap apa yang di lakukan Rayhan saat ini adalah benar, dan memang sudah seharusnya terjadi tanpa ia inginkan
Kesadaran Zaskia seakan di renggut. Sehingga iman dan logikanya tak sejalan dengan hatinya. Dan dengan mudahnya ia terjebak dengan permainan Adiknya.
Bahkan dia hanya diam ketika Rayhan dengan jelas membenamkan wajahnya di dekat selangkangannya. Sehingga ia dapat merasakan hembusan nafas Rayhan yang menerpa bibir serambi lempitnya.
“Engkk… ” Zaskia menarik nafas panjang, kedua matanya terpejam.
Tanpa sadar ia menjepit kepala Rayhan dengan kedua pahanya, sementara tangan Rayhan semakin cepat menggosok bibir kemaluannya. Beberapa detik kemudian, tubuh mulus Zaskia bergetar, dan pinggulnya tersentak-sentak menyambut datangnya orgasme.
Rasanya nikmat yang luar biasa di rasakan Zaskia, ketika cairan cintanya merembes keluar dari sela-sela bibir serambi lempitnya di lengan Rayhan.
“Oughkk…” Ia melolong panjang.
Dalam diam Rayhan tersenyum karena berhasil membuat Kakak kandungnya orgasme. “Dapet Kak!” Ujar Rayhan berat. Karena dirinya juga saat ini sangat bernafsu.
“Eh… Iya!”
Zaskia buru-buru merenggangkan kakinya agar kepala Adiknya terbebas dari dekapan pahanya. “Lain kali hati-hati dong Dek! Udah buang aja. Kotor itu.” Suruh Zaskia, Rayhan segera membuang sabun tersebut ketempat kotak sampah yang ada di dalam kamar mandi.
Rayhan segera membilas tubuhnya yang penuh sabun itu. Selesai mandi, ia segera mengambil handuk dan melilitkan handuk tersebut ke tubuhnya.
“Kakak belum selesai pipisnya? Lama juga ya Kakak kalau lagi pipis.” Ujar Rayhan, dengan wajah polos tapi penuh makna.
“I-ini baru selesai.” Jawab Zaskia gugup.
Zaskia baru sadar, kalau dirinya sudah lama selesai buang air kecil, bahkan tidak lama setelah Rayhan masuk ke kamar mandi, ia sudah selesai buang air kecil. Tapi anehnya ia masih jongkok di situ dan melihat Rayhan mandi, bahkan ia masih diam ketika Rayhan hendak mengambil sabun beberapa menit yang lalu.
Kenapa? Kenapa aku jadi bodoh seperti ini? Ya Tuhaaaan… Sebenarnya ada apa denganku, tadi itu… Ya Tuhan…
“Kakak sudah shalat?” Tanya Rayhan.
“Eh…”
Rayhan tersenyum tipis. “Jangan lupa mandi wajib.” Ucap Rayhan nyaris tidak terdengar. Zaskia hanya melongok melepas kepergian Rayhan.
“Ya Tuhaaaan…”
Zaskia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Baru kali ini ia merasa sangat malu di hadapan Adiknya. Ingat, malu bukan marah.
****
Jam istirahat di kantin santri…
Seperti biasanya kantin pesantren selalu ramai di kunjungi oleh beberapa santri Al-tauhid. Bahkan beberapa ustad dan staf ponpes Al-tauhid ikut membaur di sana, menghabiskan waktu mereka hingga jam istirahat berakhir.
Di pojokan kantin, Rayhan, Azril, Doni dan Nico tengah membahas rencana besok siang setelah shalat Jum’at.
“Muka Lo kenapa lebam gitu?” Tanya Rayhan heran.
Doni nyengir. “Biasa.” Jawab Doni, tidak begitu mengubris ke khawatiran ketiga temannya. Toh baginya luka yang di alaminya tidak begitu parah.
“Lo berantem? Sama siapa?” Tanya Azril.
“Heru…” Jawab singkat Doni.
“Hogk… Hogk… Hogk…” Nico sampai terbatuk mendengar jawaban Doni.
“Lo gak apa-apa?”
“Serius, Lo berantem dengan Heru?” Potong Nico mengabaikan pertanyaan Rayhan. “Gilaaa… Kenapa Lo gak bilang sama gue, pantesan semalam Lo ngilang.” Rutuk Nico, ia sudah lama sekali ingin melihat Doni berkelahi. Tapi pupus sudah harapan Nico. Ngehek…
“Gue baik-baik aja, cuman sedikit bonyok. Yang penting sekarang kita punya kekuatan, kalau seandainya saja pihak Hamka mau main keroyokan.” Jelas Doni.
“Lo udah ngomong sama anak-anak.”
Doni mengangguk. “Sudah, dan kebetulan ternyata mereka juga punya dendam lama sama anak-anak Hamza. Tapi sayangnya Heru terlalu pengecut.” Doni tersenyum sinis, mengingat pengakuan salah satu temannya di asrama.
“Bagus…” Ucap Nico senang.
Rayhan menyandarkan punggungnya di kursi kantin. “Sory ya bro, gara-gara gue Lo sampe repot kayak gini.” Ujar Rayhan tidak enak hati kepada sahabatnya. Doni menepuk pelan pundak sahabatnya.
“Itulah gunanya sahabat.” Ucap Doni.
“Yups, benar.” Timpal Nico.
Sementara Azril hanya diam, karena ia merasa pokok permasalahannya ada pada dirinya. Tapi sayangnya ia tidak bisa membantu apapun.
****
Di dalam kelas para santriwati terlihat begitu ramai, padahal sudah lima belas menit yang lalu jam pelajaran di mulai, tapi kelas tetap kosong, sehingga di manfaatkan oleh para santriwati untuk bercanda gurau, hingga menimbulkan kegaduhan di dalam kelas.
Sementara seorang Ustadza yang seharusnya mengajar siang ini, malah tengah bermesraan dengan seorang pria yang tak lain hanya seorang petugas kebersihan.
Ustadza Dwi, tampak lupa akan tanggung jawabnya untuk mendidik murid-muridnya, demi kesenangan sesaat yang bisa menjerumuskannya ke neraka. Ilmu agama yang ia miliki, seakan tidak bisa untuk menyadarkan perbuatannya saat ini.
“Masih mau lagi Ustadza?” Goda Imbron.
Ustadza Dwi tersipu malu sembari menganggukkan kepalanya. “Iya Pak, kalau Bapak gak sibuk.” Jawab Ustadza Dwi sembari membelai rudal Pak Imbron yang beberapa menit lalu mengantarkannya ke surga dunia.
“menyetubuhiin Ustadza lebih penting dari pada pekerjaan lain.” Jawab Pak Imbron.
“Bapak bisa aja.”
Pak Imbron mengangkat dagu Ustadza Dwi, dia melumat mesrah bibir Ustadza Dwi. Tangan kekarnya menyusuri bukit kecil yang di tumbuhi rambut hitam yang tak begitu lebat Daging kenyal itu dirasakan sudah sangat lembab.
Jari tengah Pak Imbron menggosok lembut clitoris Ustadza Dewi, sementara ciumannya semakin panas.
“Ganti gaya Pak.” Pinta Ustadza Dwi.
Dia naik keatas tubuh Pak Imbron dengan posisi 69. Ia mengangkangi wajah Pak Imbron, menyodorkan serambi lempitnya kepada Pak Imbron. Sementara jari lentik membelai rudal Pak Imbron yang hampir setiap hari menyinggahi serambi lempitnya yang haus akan rudal besar seperti Pak Imbron.
Lidahnya terjulur menyapu kepala rudal Pak Imbron. “Sluuuppss… Sluuuppss… Sluuuppss… rudal Bapak enak sekali, bikin saya ketagihan Pak.” Puji Ustadza Dwi, dia melahap rudal Pak Imbron dengan mulutnya.
“serambi lempit Bu Ustadza juga bikin nagih.” Jawab Pak Imbron. Dia menusukan satu jarinya ke dalam serambi lempit Ustadza Dwi. Semetara lidahnya menjilati daging mungil berwarna kemerah-merahan di sela-sela lipatan serambi lempit Ustadza Dwi. “Sruuupss… Sruuupss… Sruuupss…” Secara bersamaan lidah dan jarinya merangsang serambi lempit Ustadza Dwi.
Dengan mata merem melek keenakan, Ustadza Dwi tampak kesulitan berkonstrasi mengoral rudal Pak Imbron. Sembari menghisap rudal Pak Imbron, jemari Ustadza Dwi membelai kantung telurnya.
Selama beberapa menit mereka saling mengoral, hingga tiba akhirnya daging kenyal itu di masuki oleh rudal Pak Imbron yang sekeras besi.
Ustadza Dwi mengangkangi rudal Pak Imbron, di menuntun rudal Pak Imbron kearah serambi lempitnya.
“Sssttt…” Ustadza mendesis nikmat.
Kedua tangan Pak Imbron mencengkram payudara montok Ustadza Dwi. “Tekan lebih dalam Bu.” Pinta Pak Imbron, yang keenakan di jepit serambi lempit Ustadza Dwi.
“Aahkk… Enak sekali.” Suara Ustadza Dwi melengking, merasakan gesekan antara dinding kemaluannya dengan kulit rudal Pak Imbron yang memiliki tekstur kasar. Hingga akhirnya rudal Pak Imbron masuk seluruhnya ke dalam serambi lempitnya.
Dengan perlahan Ustadza Dwi mengangkat pinggulnya, lalu menurunkannya kembali. Ia melakukan gerakan tersebut berulang kali, dan semakin lama semakin cepat.
Rasa nikmat yang di berikan rudal Pak Imbron, membuat Nurul makin menggila. Dia menggerakkan pinggulnya dengan gaya ngebor, dan menghentak hingga kepala rudal Pak Imbron beberapa kali menyentuh dinding rahimnya.
Gerakan erotis Ustadza Dwi, membuat Pak Imbron harus berkerja lebih ekstra agar tidak sampai keluar lebih cepat. Belum lagi ulekan serambi lempit Ustadza Dwi yang selama meremas-remas rudal Pak Imbron. Untuk mengalihkan rasa nikmat yang di berikan Ustadza Dwi, Pak Imbron menggigit lidahnya, dan cara ini ternyata cukup berhasil.
“Ganti gaya Bu.” Pinta Pak Imbron.
Ustadza Dwi mengangkat pinggulnya, tampak rudal Pak Imbron kini bermandikan lendir cintanya. “Sodok serambi lempit saya dari belakang Pak.” Pinta Ustadza Dwi.
“Siap Bu Ustadza.” Kelakar Pak Imbron.
Ustadza Dwi menungging diatas tempat tidurnya yang spreinya sudah berantakan, dan basah karena keringat mereka yang bercampur dengan lendir.
Dari belakang Pak Imbron kembali memposisikan rudalnya di depan lipatan serambi lempit Ustadza Dwi. “Bleeess…” Dengan satu dorongan rudal Pak Imbron amblas ke dalam serambi lempit Ustadza Dwi yang memang sudah sangat licin.
rudal Pak Imbron kembali memompa serambi lempit Ustadza Dwi, sembari memegangi pinggulnya.
Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk….
Suara benturan kedua kelamin mereka terdengar menggema ke seluruh ruangan, di bumbui dengan suara erotis dari kedua mulut mereka.
“Pak Imbron… Aahkk… Ssstt….”
Plak… Plaak… Plaaak…
Berulang kali Pak Imbron menampar pantat Ustadza Dewi dengan kasar.
“Bu… Saya mau keluar.” Desah Pak Imbron.
Sang pejantan yang selama ini selalu berhasil membuat seorang Ustadza Dwi sampai terkencing-kencing kini harus menyerah. Ia melepaskan spermanya yang sudah berada di ujung rudalnya, menyiram rahim Ustadza Dwi hingga terasa penuh.
Tidak ingin kehilangan momen, Ustadza Dwi dengan liar menggerakan pinggulnya, mengejar kenikmatan yang ia damba-dambakan. Tapi apa daya, sang pejantan telah menyerah, sekeras apapun usahanya tidak membuahkan hasil. Yang ada rudal Pak Imbron semakin mengecil di dalam serambi lempitnya.
Ploppss…
rudal Pak Imbron terlepas dari dalam serambi lempit Ustadza Dwi, tampak sperma Pak Imbron mengalir di sela-sela kemaluan Ustadza Dwi.
“Ayo Pak lagi.” Pinta Ustadza Dwi.
Pak Imbron mendesah, ia telah kehilangan gairahnya. “Maaf Bu Ustadza, sudah tidak bisa lagi.” Ucap Pak Imbron dengan sangat terpaksa.
“Sebentar lagi Pak.”
Pak Imbron menggelengkan kepalanya. Ia tampak sangat kecewa karena Pak Imbron tidak bisa menuntaskan hasrat birahinya.
*****
“Mana si Imbron?”
“Mana aku tau! Sejak tadi pagi dia menghilang.” Jawab Jaja yang tengah menginjak tumpukan sampai di dalam gerobak sampah.
“Akhir-akhir ini Pak Imbron sering sekali menghilang.” Keluh Budi.
“Tuh orangnya.” Tunjuk Edi.
Dari kejauhan Pak Imbron berjalan santai sembari bersiul ringan. Dari wajahnya terpancar kebahagiaan yang sulit di mengerti oleh teman-temannya.
Sebagai teman seprofesi, mereka tentu sangat kesal, karena sikap Pak Imbron yang seenaknya saja. Tapi tidak ada satupun yang berani menegur Pak Imbron. Selain Pak Imbron yang di tuakan, mereka juga takut akan latar belakang Pak Imbron yang seorang preman pasar. Dapat di lihat dari tato yang ada di lengan tangannya.
*****
Zaskia menghampiri sahabatnya Julia yang sedang duduk di meja kerjanya. Ia tampak sibuk mengoreksi hasil ulangan harian yang ia berikan kepada murid-muridnya setiap satu bulan sekali. Saat melihat Zaksia, ia menghentikan sejenak pekerjaannya, sembari tersenyum menyapa Zaskia.
Zaskia dengan wajah lesu nya, duduk di kursi kosong yang ada di depan meja Julia.
“Kamu kenapa lagi say!”
Zaskia menghela nafas perlahan. “Kejadian kemarin terulang lagi.” Lirih Zaskia, ia membuang muka kearah sepasang bingkai foto presiden dan wakil presiden. Ceritasex.site
“Maksudnya?”
“Rayhan… Dia ngejerjain aku lagi, kayak waktu itu, saat aku mandikan dia.” Jujur Ustadza Zaskia sembari merucutkan bibirnya. “Nyebelin banget kan.” Keluh Zaskia, ia menatap dalam sahabatnya yang hanya tersenyum.
Julia mencondongkan badannya kedepan. “Entah Rayhan yang pintar, atau karena kamu sendiri yang suka di goda oleh adikmu.” Ujar Julia, dia mengambil gelas yang ada di atas mejanya, dan meminumnya.
“Maksudnya?”
“Mungkin Uhkti gak sadar. Sebenarnya Uhkti sendiri yang suka di godain Rayhan, atau jangan-jangan Uhkti mulai kecanduan di nakalin Rayhan.” Jelas Julia.
“Kenapa bisa begitu.”
Julia menghela nafas. “Coba Uhkti pikir lagi. Tidak mungkin Rayhan berani menggoda kamu berulang kali, kalau kamu sejak pertama sudah tegas kepada Rayhan. Misalkan kamu memarahinya atas perbuatannya.” Julia menggelengkan kepalanya dengan sikap Zaskia.
“A-aku gak bisa marah sama dia.” Aku Zaskia.
“Aku ngerti kok! Anggap saja apa yang di lakukan Rayhan, hanyalah kenakalan biasa, bukan suatu yang harus di pikirkan.” Ucap Julia, sembari menggenggam tangan Zaskia.
“Ya, kamu benar.” Zaskia tersenyum manis.
Bersambung… “Kalian ke asrama duluan aja ya, aku mau langsung ke pasar.” Ujar Aurel sembari merapikan kembali buku pelajarannya yang berserakan diatas meja.
“Ada perlu apa ke pasar?” Tanya Asyifa.
“Aku ikut dong!” Potong Adinda.
Wajah Aurel tampak salah tingkah. “Ehm… Ya adalah! Hehehe… Tapi maaf ya Nda, aku mau sendirian aja.” Jawab Aurel gugup, seakan ada yang ia sembunyikan dari sahabat-sahabatnya. Padahal selama ini mereka sangat saling terbuka satu sama lainnya.
Hanya Aziza yang tidak berkomentar, ia menaruh curiga terhadap sahabatnya. Mengingat kemarin ia sempat memergoki Aurel yang tengah mengirim pesan kepada seorang Santri. Ia berharap tebakannya salah, walaupun hati kecilnya mengatakan kalau Aurel ingin bertemu dengan santri tersebut.
Saat mata mereka bertemu, Aurel buru-buru memalingkan wajahnya seakan ia takut menatap mata Aziza.
“Aku duluan ya.” Ujar Aurel.
Kedua sahabatnya memandang heran kearah Aurel yang berjalan tergopoh-gopoh keluar dari kelas.
“Mencurigakan?” Ujar Asyifa.
“Dia kenapa si?” Timpal Adinda.
Aziza mendesah pelan. “Nanti gue ceritain, kalian habis makan langsung ke rumah gue ya.” Ujar Aziza. Ia merasa harus membahas masalah ini bersama kedua sahabatnya.
Sementara itu Aurel terlihat senyum-senyum sendiri sembari menatap ke keluar jendela mobil angkot yang ia tumpangi, berharap angkot tersebut dengan cepat tiba di pasar, karena ia sudah sangat ingin bertemu dengan sosok santri bernama Dedy. Pemuda yang telah membuatnya jatuh cinta.
Setibanya di pasar Aurel bergegas kearah warteg yang berada di terminal pasar. Di sana tampak Dedy telah menunggunya. Pemuda itu tersenyum melihat kehadiran Aurel.
“Makan dulu yuk sayang!” Ajak Dedy.
Aurel tersenyum sangat manis di balik jilbab putih yang ia kenakan. “Kamu sudah pesan?” Tanya Aurel. Sembari memesan nasi ayam goreng.
“Belum… Sekalian aja Mas nasi ayam gorengnya dua.” Ujar Dedy.
Sembari mengobrol ringan mereka berdua menyantap makan siang bersama. Bagi Aurel makan bersama dengan kekasih nya terasa sangat nikmat. Momen berharga yang sangat jarang sekali ia dapatkan.
Selesai membayar makan mereka berdua berkeliling pasar hanya sekedar melihat-lihat.
“Yang ke penginapan melati yuk.” Bisik Dedy.
Wajah Aurel merona merah mendengar ajakan Dedy. “Mau ngapain ke sana lagi? Aku takut ke bablasan Yang!” Tolak Aurel. Terakhir ketika mereka ke penginapan Dedy nyaris membobol perawannya.
“Aku lagi kepengen ni Yang!” Bujuk Dedy.
“Gak ah… Kita jalan-jalan aja di sini.”
Raut wajah Dedy tampak kecewa. “Ya sudah kalau gak mau, aku pulang aja ya.” Rajuk Dedy, ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju terminal pasar.
“Sayang…” Aurel mencoba mengejarnya.
“Katanya kamu sayang, tapi aku ajak ke penginapan aja kamu gak mau.” Ujar Dedy ia terlihat sangat kecewa, membuat Aurel menjadi serba salah.
Aurel hanya diam, ia jelas tidak ingin membuat kekasihnya marah. Tapi ia juga takut kalau sampai mereka ke bablasan, tentu saja Aurel tak ingin kehilangan mahkotanya sebagai seorang wanita.
Setibanya di pinggir jalan, ketika Dedy hendak naik angkot, Aurel buru-buru menarik tangan Dedy.
“Iya aku mau, tapi jangan sampai ke bablasan ya.” Mohon Aurel.
Dedy menyeringai sembari menganggukkan kepalanya. “Kamu tenang aja, gak akan sampai ke bablasan.” Jawab Dedy, pemuda itu terlihat sangat senang sekali.
Jarak dari pasar ke penginapan melati tidak begitu jauh, mereka hanya perlu berjalan beberapa meter, lalu masuk ke dalam sebuah gang kecil, di ujung gang terdapat bangunan dua lantai dengan tulisan Wisma Melati. Kesanalah mereka pergi, untuk memadu kasih layaknya sepasang kekasih.
Sang penjaga wisma tampak tersenyum melihat Dedy, pemuda yang memang telah menjadi langganan tetapnya. Sudah beberapa wanita berhijab yang ia ajak ke wisma, baik muda maupun tua, sehingga wajar saja kalau sang penjaga wisma di buat geleng-geleng kepala, apa lagi wanita yang di ajak Dedy semua berhijab.
Setibanya di dalam kamar Aurel meletakan tas sekolahnya di atas meja kecil. Jantungnya berdetak cepat mengingat kalau dirinya hanya berdua di dalam kamar bersama Dedy.
“Aku kangen banget sama kamu sayang.” Rayu Dedy sembari memeluk Aurel dari belakang.
Aurel tersipu malu mendengarnya. “Iya, aku juga kangen kamu sayang.” Jawab Aurel, ia menyerahkan bibirnya untuk di kulum kekasihnya dengan mesrah.
Sembari berciuman Dedy meremas kedua payudara Aurel yang mengkal itu. Membuat tubuh Aurel menggelinjang geli, menikmati remasan sang kekasih diatas payudaranya yang berukuran 34D. Cukup besar untuk anak seusia Aurel yang masih terbilang cukup muda.
Satu persatu kancing seragam Aurel di buka, hingga akhirnya di lepas dari tubuhnya, menyisakan tanktop berwarna putih yang juga tidak bertahan lama.
Tampak seragam, tanktop dan beha Aurel tergeletak di lantai, sementara sang pemilik tengah mengerang nikmat bersandar di tepian meja sembari mendekap kepala kekasihnya yang tengah mencaplok payudaranya secara bergantian. Matanya merem melek ketika puting mungilnya di hisap oleh sang Kekasih.
“Ughkk… Sayang! Aaaahkk…” Desah Aurel.
Dedy menyeringai senang mendengar erangan dari korbannya. Tangan kanannya ia arahkan ke selangkangan Aurel, ia memijit serambi lempit Aurel dari luar rok hijau yang di kenakan Aurel.
Nafas Aurel terasa semakin berat, ia merasakan ada yang keluar di bawah sana, dan rasanya itu sangat nikmat sekali, membuat Aurel merem melek keenakan. Ia mendesah kian keras tak perduli kalau nanti ada yang mendengar suara erangan manja yang keluar dari bibir manisnya.
“Duduk Yang!” Suruh Dedy.
Aurel mengangguk lalu duduk diatas meja. “Kamu mau jilatin itu aku?” Tanya Aurel agak malu, karena biasanya Dedy memang suka menjilati serambi lempitnya.
“Iya sayang. Kamu mau kan?” Tanya Dedy sembari menyingkap rok hijau yang di kenakan Aurel.
Kedua tangan Aurel menarik celana tidur sekaligus celana dalamnya hingga jatuh kelantai. “Aku mau Yang, rasanya enak.” Jawab Aurel, sembari membuka lebar kedua kakinya di hadapan Dedy.
“Indah sekali sayang.” Lirih Dedy.
Ia menatap gundukan serambi lempit Aurel yang terlihat indah, terdapat bulu-bulu yang berwarna kehitaman, cukup panjang tapi masih jarang-jarang. Ketika jarinya membuka cela bibir serambi lempit Aurel, ia dapat melihat lobang sempit yang ada diantara kedua bibir serambi lempit Aurel.
Berulang kali Dedy menelan air liurnya, menatap kagum kearah serambi lempit perawan Aurel. Sementara gadis cantik itu terlihat malu karena kelaminnya di tatap oleh kekasihnya.
“Aughkk…” Aurel menjerit saat merasakan lidah Dedy menyapu bibir serambi lempitnya.
Kedua tangannya mencengkram erat pinggiran meja, dan wajahnya sampai mendongak keatas. “Enak sekali serambi lempit kamu sayang! Sluuuppss… Sluuuppss… Sluuuppss…” Komentar Dedy sembari menjelajahi gundukan serambi lempit Aurel yang terasa asin tapi gurih.
Sapuan lidah Dedy di bibir kemaluannya membuat Aurel mencapai klimaksnya. Pantat Aurel bergetar, dengan suara erangan yang terputus-putus.
Dedy membantu Aurel untuk turun dari atas meja, lalu memberi isyarat agar Aurel berlutut di depannya. Aurel tentu mengerti apa yang di inginkan kekasihnya. Kedua tangannya dengan perlahan membuka celana Dedy berikut dengan dalamannya.
Dengan penuh kelembutan Aurel menggenggam kemaluan Dedy, ia menggerakkan tangannya maju mundur sembari menciumi kepala rudal Dedy.
“Ssstt…. Hisap rudalku sayang.” Desah Dedy sembari memegang kepala Aurel.
Gadis cantik itu membuka mulutnya, melahap batang kemaluan Dedy ke dalam mulutnya. Sembari menghisap rudal Dedy, telapak tangannya mengocok-ngocok rudal Dedy, sehingga pemuda itu mengerang nikmat, merasakan sensasi hangat dari dalam mulut Aurel.
Aroma khas rudal Dedy seakan bukan lagi jadi masalah bagi Aurel, karena ia telah familiar dengan aroma rudal Dedy yang memang cukup menyengat.
“Yaang… Aku mau keluar.” Dedy menekan kepala Aurel.
Tubuhnya menegang selama beberapa detik, kemudian dari ujung kepala rudalnya ia menembakkan spermanya ke dalam mulut Aurel.
Croooottss… Croooottss… Croooottss…
Setelah tidak ada lagi sperma yang keluar dari rudalnya, Dedy baru melepaskan rudalnya dari dalam mulut Aurel. Tampak gadis berusia belasan tahun itu mengap-mengap mengambil udara untuk mengisi paru-parunya yang terasa kempis.
“Nikmat banget Yang!” Puji Dedy yang tampak puas.
Aurel tersenyum manis. “Aku juga tadi enak banget… Jadi makin sayang sama kamu.” Ujar Aurel mengutarakan cintamu ke pada Dedy.
“Tidur diatas yuk.” Ajak Dedy.
Aurel mengangguk manja sembari melepas rok hijau dan kaos kaki yang melekat di tubuhnya. Yang tersisa hanya jilbab putih yang tampak aut-autan.
Diatas tempat tidur sembari berpelukan mereka saling merabah, tidak jarang bibir mereka berdua kembali bertemu untuk memberi kehangatan satu sama lain. Nafas Dedy kembali memburu, dan rudal nya kini telah kembali ireksi.
“Aku sayang kamu.” Bisik Dedy.
Pemuda itu menindih tubuh Aurel dengan posisi kaki yang mengangkang, sementara tubuh Dedy berada di tengah-tengah kedua tungkai kakinya.
Aurel menggigit bibirnya, ia dapat merasakan getaran-getaran syahwat yang luar biasa, menggelitik di setiap bagian sensitif tubuhnya. Apa lagi ketika ia merasakan ada benda tumpul yang menempel di bibir kemaluannya, seakan ingin memasuki lobang sempitnya.
“Yang…” Suara Aurel terdengar khawatir.
Telapak tangan Dedy membelai payudara Aurel, memainkan puting mungilnya. “Aku sayang kamu, aku janji gak akan ninggalin kamu…” Bisik Dedy, ia mencium kembali bibir Aurel, sementara rudalnya ia gesek-gesekan di bibir serambi lempit Aurel yang kembali basah.
“Aku takut…” Lirih Aurel.
“Kamu sayang aku kan?” Pertanyaan yang selalu membuat Aurel terjebak antara mengikuti hati nuraninya, atau kemauan sang kekasih.
Aurel mengangguk. “Iya aku sayang kamu… Tapi… ” Aurel meneteskan air matanya.
“Aku gak akan ninggalin kamu.” Dedy menyapu air mata Aurel. “Aku janji sayang…” Sambung Dedy meyakini Aurel, sementara kepala rudalnya telah masuk sedikit ke dalam serambi lempit Aurel.
“Aku percaya.” Bisik Aurel.
Dedy tersenyum, ia menekan pinggulnya hingga rudal Dedy menyeruak masuk semakin dalam ke dalam serambi lempit Aurel. Mata Aurel terpejam, keningnya berkerut ketika ia menahan rasa sakit ketika rudal Dedy mulai mengoyak selaput perawannya yang selama ini berhasil ia jaga.
Tapi bersama Dedy, ia tidak mampu mempertahankannya lagi, bukan karena ia kalah oleh nafsunya, tapi karena rasa sayangnya yang terlalu besar kepada Dedy.
Bleeess…
“Auuuww… Perih Yang.” Jerit Aurel.
Tangan kanan Dedy membelai kepala Aurel. “Tahan ya sayang, nanti juga enak…” Bujuk Dedy, sembari mendiamkan rudalnya yang baru saja merobek perawan Aurel.
“Ehmmpsss… Pelan-pelan.” Desah Aurel.
Dedy menganggukkan kepalanya, sembari menarik perlahan rudalnya lalu mendorongnya kembali. Gerakan tersebut ia lakukan berulang kali hingga Aurel mulai terbiasa dengan keberadaan rudalnya.
Seiring dengan waktu Aurel mulai tampak menikmati setiap gesekan kulit rudal Dedy dengan dinding serambi lempitnya.
Dedy mengangkat punggungnya sementara kedua tangannya bertumpu diatas kasur di sisi kanan dan kiri Aurel. Sembari menatap Aurel ia mulai meningkatkan tempo goyangan pinggulnya, menyodok serambi lempit Aurel yang terasa semakin licin karena lendir kewanitaan Aurel yang keluar semakin banyak, sehingga mempermudah laju rudal Dedy.
Wajah Dedy mengisyaratkan kebanggaan karena lagi-lagi ia berhasil memperdaya seorang santriwati. Baru satu bulan yang lalu dia berhasil merenggut perawan salah satu anak Kiyai di pesantren, dan hari ini ia kembali mendapatkan perawan segar, tentu sebuah prestasi yang membanggakan bagi Dedy.
“Enak sekali sayang serambi lempit kamu.” Desah Dedy.
Aurel melingkarkan tangannya di leher Dedy. “Yang… Aku dapat… Aku dapat…” Lirih Aurel, tubuhnya menegang ketika ia mencapai puncak klimaksnya.
“Enakkan sayang? Kamu mau lagi?” Tanya Dedy.
Aurel mengangguk. “Iya aku mau sayang.” Jawab Aurel dengan suara berat.
Dedy mencabut rudalnya, lalu meminta Aurel untuk menungging di depannya. Walaupun masih terlihat canggung, tapi Aurel menuruti permintaan kekasihnya. Toh… Tidak ada lagi yang harus ia pertahankan dari kekasihnya.
Sembari merabahi pantat Aurel, Dedy kembali menjejalkan rudalnya ke dalam serambi lempit Aurel. Kali ini rudal Dedy masuk lebih dalam.
Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk…
Suara benturan kelamin mereka terdengar cukup nyaring, di iringi dengan suara desahan-desahan syahwat muda mereka. Hingga akhirnya mereka berdua secara bersama-sama mencapai puncak klimaks secara bersamaan. Dedy tanpa ragu menyiram rahim Aurel dengan spermanya.
****
“Oughkk… Umi….”
Croooottss… Croooottss… Croooottss…
Tampak lelehan sperma Azril tumpah mengenai paha dan perutnya. Nafasnya terputus-putus setelah menuntaskan hasrat birahinya yang ia tahan sejak tadi pagi.
Azril merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, matanya menerawang menatap langit-langit kamarnya, mengingat setiap momen kebersamaannya bersama Umi Laras, terutama ketika Ibu Tirinya menghukum dirinya. Mengingat semua itu, membuat Azril menjadi tidak tenang.
Ia menghela nafas sembari mengidarkan matanya kearah jam dinding kamarnya yang telah menunjukan pukul lima sore. Biasanya jam segini Ibunya sedang mandi.
Deg… Deg… Deg…
Azril bangun dari tempat tidurnya, kedua tangannya terkepal seakan tengah melawan sesuatu.
“Siaaaal….” Gerutu Azril di dalam hatinya.
Ia berjalan keluar dari dalam kamarnya, dengan cara mengendap-endap ia memastikan kalau tidak ada orang di sekitarnya saat ini. Setelah merasa aman, ia menuju ke sebuah ruangan yang ada di paling ujung setelah kamar Kakak Tirinya Clara.
Dengan langkah berjinjit, ia berjalan menuju pintu kamar mandi yang tampak tertutup rapat, menandakan kalau sedang ada orang di dalamnya.
Sedikit membungkuk, ia memanfaatkan lobang kunci yang ada di pintu kamar mandi untuk melihat isi di dalam kamar mandi keluarganya. Ya… Azril mengakui kalau dirinya kalah oleh nafsu binatangnya.
Deg… Deg… Deg…
Detak jantung Azril tak beraturan, bahkan ia kesulitan untuk mengambil nafas, ketika matanya menangkap punggung putih mulus seseorang yang ada di dalam kamar mandi keluarganya. Saat pandangannya turun kebawah, ia dapat melihat bongkahan pantat seseorang wanita yang terlihat padat berisi.
Nafas Azril makin tercekat ketika wanita yang ada di dalam kamar mandi berbalik kearahnya.
Saat itulah Azril baru sadar kalau wanita yang ada di dalam kamar mandi bukanlah Ibunya, melainkan Kakak Tirinya yang bernama Clara. Azril sempat berhenti sejenak mengintip kamar mandi, ia kaget sekaligus tidak menyangkah kalau akan melihat Kakak Tirinya dalam keadaan telanjang bulat.
Seharusnya saat itu juga Azril mengurungkan niatnya untuk mengintip, tapi yang terjadi Azril malah kembali melanjutkan aksinya. Rasa penasarannya terhadap tubuh Clara mendorongnya untuk berbuat nekat.
Sementara itu Clara yang ada di dalam kamar mandi sama sekali tidak tau kalau ada seseorang yang tengah mengawasinya. Sehingga dengan santainya ia menyabuni setiap lekuk tubuhnya. Kedua tangannya yang lembut membelai payudaranya, membersihkan putingnya yang berwarna coklat muda.
Kemudian tangannya turun menuju gundukan kecil yang berada di bawah pusarnya. Ia membelai rambut kemaluannya yang tumbuh subur.
“Sssttt….” Clara mendesis nikmat.
Rasanya sudah beberapa Minggu ini kekasihnya tak lagi mengajaknya keluar untuk merenggut kenikmatan bersama-sama, seperti yang mereka lakukan belakangan ini. Membuat Clara merasa kalau kekasihnya kini telah berubah, tapi apa yang telah membuat kekasihnya berubah?
“Ehmm….” Erang Clara panjang.
Ia semakin intens menggosok clitorisnya, hingga akhirnya tubuhnya menegang beberapa saat ketika ia mencapai klimaksnya.
Azril yang berada di balik pintu kamar mandi tampak kaget dengan apa yang ia lihat barusan, ia tidak menyangkah kalau Kakaknya yang selama ini terlihat alim ternyata juga suka melakukan masturbasi sama seperti dirinya. Apa itu normal? Azril sendiri tidak bisa menjawabnya.
Setelah di rasa cukup mengintip Kakak Tirinya mandi, Azril kembali merapikan celananya yang sempat ia buka.
“Umi…” Suara Azril mendadak keluh.
Di belakangnya Laras berdiri sembari melipat tangannya, dari bibirnya tersungging sebuah senyuman penuh arti, membuat Azril ketakutan setengah mati.
*****
Zaskia menghabiskan waktu sorenya dengan membaca majalah wanita. Dengan kaki yang menyilang ia membolak-balik majalah yang ada di tangannya, sanking khusuknya membaca Zaskia sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Rayhan yang baru saja tiba di rumah.
Beruntung Zaskia cepat menyadari kehadiran Rayhan, sebelum Adiknya itu kabur darinya setelah tidak meminta izin kepadanya untuk main hingga sore hari.
“Rayhaaaan…”
Langkah Rayhan terhenti, padahal sedikit lagi ia masuk ke dalam kamarnya. “Iya Kak, hehehe…” Jawab Rayhan cengengesan.
“Kamu tuh ya… Kebiasaan, kalau main gak bilang-bilang dulu.” Semprot Zaskia.
Ia meletakan majalahnya diatas meja, lalu menghampiri Rayhan yang berdiri kaku sembari menggaruk-garuk kepalanya, seperti seorang pesakitan yang baru saja kepergok maling.
Dia menatap Rayhan dengan wajah bengis, tapi yang di tatap malah cengengesan tanpa merasa bersalah sama sekali walaupun sudah di marahi. Zaskia hanya bisa menghela nafas melihat tingkah adiknya.
“Dari mana saja kamu Muhammad Rayhan?” Tanya Zaskia dengan nada mencekik.
“Biasa Kak, main… Hehehe…”
“Kamu tuh ya… Kebiasaan, kalau main bilang dulu sama Kakak! Bagaimanapun juga kamu itu tanggung jawab Kakak.” Omel Zaskia seperti biasanya, Rayhan sudah sangat hafal dengan sikap Kakaknya.
“Iya Kak.”
“Lihat pakaian kamu, kotor banget… Bauk lagi.” Zaskia menjepit hidungnya sembari mengibaskan tangannya. “Ni handuk, lepas pakaian kamu baru masuk kamar, yang ada nanti kamar kamu ikuttan bauk.” Zaskia memberikan handuknya kepada Rayhan.
Karena tidak ingin berdebat yang ujung-ujungnya nanti akan membuat Kakaknya semakin ngomel gak jelas, Rayhan memutuskan untuk mengikuti perintah kakaknya. Ia melilitkan handuk yang di berikan Kakaknya, lalu melepaskan seluruh pakaiannya hingga yang tersisa hanya handuknya saja.
Rayhan menyerahkan pakaiannya kepada Zaskia. “Gak sekalian Kak, aku di mandiin.” Goda Rayhan, membuat wajah Zaskia merona merah.
“Ni…” Zaskia mengacungkan kepalan tangannya kepada Rayhan.
Sebelum Kakaknya mengamuk Rayhan buru-buru kabur dari hadapan Zaskia. Wanita cantik itu hanya bisa mengelus dada melihat tingkah Adiknya.
Selepas kepergian Rayhan, Zaskia mengangkat baju kotor Rayhan. “Kotor sekali.” Dia mendekatkan kehidungnya dan mencium aroma keringat Adiknya. “Bauk lagi.” Ucap Zaskia menggelengkan kepalanya.
Lalu dia mengangkat celana bola Rayhan dan juga menciumnya, kali ini bauknya lebih menyengat. “Iihkk… Jorok banget si dek-dek…” Racau Zaskia tak jelas.
Kemudian yang terakhir ia mengangkat celana dalam Rayhan yang berwarna hijau lumut. Wajahnya memerah ketika ia mendekatkan celana dalam Rayhan kehidungnya. Matanya terpejam menghirup aroma celana dalam adiknya.
“Ya ampun Ray, bauk banget.” Lirih Zaskia.
Ia menatap dalam celana dalam Adiknya, lalu kembali mencium aroma celana dalam Adiknya berulang-ulang, hingga ia mendengar suara pintu kamar mandi dan langkah kaki seseorang yang menuju kearahnya. Buru-buru ia membawa pakaian kotor adiknya ke belakang, ke tempat keranjang pakaian kotor yang terletak tidak jauh dari kamar mandi.
*****
Sudah beberapa malam ini Fei mendatangi kamar Ustadza Wanda untuk menyetorkan hafalan yang di minta oleh Ustadza Wanda kepadanya. Setibanya di dalam kamar Wanda, Fei sempat terdiam sebentar ketika melihat sosok Wanda yang tidak seperti biasanya.
Wanita berusia 26 tahun itu tidak memakai jilbab, membiarkan rambut pendeknya terekpose. Selain itu pakaian Wanda sama sekali tidak mencerminkan sosok wanita Soleha, ia memakai kaos super ketat tanpa lengan, dan celana jeans yang tidak kalah ketatnya, memeluk sepasang kaki jenjangnya.
Wanda tersenyum melihat Fei, ia meminta Fei duduk di atas ranjangnya, di samping dirinya.
“Malam ini kamu terlambat.” Ujar Wanda.
Fei menundukkan wajahnya. “Maaf Ustadza, soalnya malam ini jadwal saya piket untuk membereskan kamar.” Jawab Fei apa adanya.
“Iya Ustadza mengerti. Tapi tetap saja kamu tidak di siplin.” Ustadza Wanda tersenyum manis.
“Maaf Ustadza.”
“Berdiri di sana.” Wanda menunjuk kearah meja. Fei segera menuruti perintah gurunya. “Setiap kesalahan harus di ganjar dengan hukuman, agar kamu tidak mengulanginya lagi.” Ucap Wanda beralasan.
Wajah Fei mendadak tegang ketika ia merasakan belaian lembut di pantatnya.
Plaaakk…
Sebuah tamparan mendarat di pantatnya, membuat Fei tampak meringis menahan perih di pantatnya. Sementara Wanda terlihat sangat bersemangat menghukum murid kesayangannya itu. Berulang kali ia menampar pantat Fei, dan di akhiri dengan remasan lembut di pantat muridnya.
Kemudian Wanda menyingkap rok hitam yang di kenakan muridnya, menampakan bulatan pantat Fei yang di balut celana dalam berwarna biru langit.
Fei jelas sadar, apa yang di lakukan Wanda bukan hanya sekedar menghukumnya, tapi gurunya itu juga saat ini tengah melecehkan derajatnya sebagai seorang wanita. Tapi anehnya ia malah pasrah menerima perlakuan Wanda.
“Jadikan hukuman ini sebagai cambuk buat kamu agar menjadi santri yang lebih baik lagi.” Ucap Wanda menasehati muridnya.
“Iya Ustadza.” Jawab Fei.
Wanda tersenyum manis, sementara tangannya membelai bongkahan pantat murid kesayangannya. Dia menyusupkan jarinya ke bawah, menggesek-gesekan jarinya di bibir kemaluan Fei, yang di rasa sudah mulai basah.
Sentuhan-sentuhan Wanda tentu saja membangkitkan birahi muda Fei. Ia merasa serambi lempitnya mulai basah, menandakan kalau ia juga menikmatinya.
Wanda sadar betul kalau muridnya kini telah terangsang karena sentuhan-sentuhan yang ia berikan. Tapi Wanda tidak mau terburu-buru, ia ingin menikmati muridnya dengan cara perlahan-lahan tapi pasti. Ia ingin Fei menjadi miliknya selamanya, bukan hanya untuk malam ini.
“Eehmm… Ustadza!” Lirih Fei.
Gadis mungil itu mendekap mulutnya, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya ketika merasakan jari Wanda menggesek-gesek clitorisnya.
Wanda memeluknya dari belakang, tanpa melepas gesekan jarinya di bibir kemaluan muridnya. Tangannya naiknya keatas meremas-remas payudara Fei, sembari menghembuskan nafasnya di leher Fei, agar gadis muda itu makin terangsang karena sentuhannya.
“Anggap saja ini hukuman buat kamu.” Bisik Wanda.
Fei mengangguk patuh, dan membiarkan tangan gurunya masuk ke dalam kaos yang ia kenakan, dan meremasnya dengan sangat perlahan.
Hampir setengah jam ia di rangsang terus-menerus, akhirnya pertahanan Fei jebol juga. Tubuhnya bergetar ketika ia merasakan klimaks yang luar biasa. Fei merasa seperti buang air kecil, tapi kencingnya kali ini terasa sangat nikmat hingga pinggulnya bergetar.
Creeettsss… Creeettsss… Creeettsss…
Wanda menarik kedua tangannya dari dalam baju dan celana dalam muridnya. Dengan sengaja ia memperlihatkan tangan kanannya yang basah karena lendir cintanya Fei.
“Hari ini kamu tidak perlu menyetor hafalan! Tapi besok kamu ke sini lagi ya.” Pinta Wanda.
Fei mengangguk. “Iya Umi… Hmmmpss… Apakah aku boleh ke kamar sekarang?” Tanya Fei, ia ingin segera kembali ke kamarnya. Ia merasa sangat malu atas apa yang baru saja ia alami bersama gurunya.
“Boleh sayang.” Jawab Wanda.
“Assalamualaikum Mi!”
“Waalaikumsalam.”
*****
Di depan kamar Laras tampak seorang pemuda tengah berjalan mondar mandir di depan kamarnya. Dari wajahnya ia terlihat kebingungan antara ingin pergi atau mengetuk pintu kamar Laras. Pemuda tersebut adalah Azril, anak tiri Laras.
Kejadian tadi pagi membuat Azril tidak tenang, ia ingin bertemu Ibu Tirinya dan meminta maaf. Walaupun ia ragu kalau Laras akan memaafkan perbuatannya tadi pagi.
Tiba-tiba pintu kamar Laras terbuka, tampak Laras keluar dari dalam kamarnya dan melihat kearahnya. Azril hanya mampu tertunduk tanpa bisa membalas tatapan Ibu Tirinya. Tanpa banyak bicara Laras meninggalkan Azril yang masih tampak kebingungan, menatap punggung Laras yang malam ini mengenakan piyama tidur.
Azril mendesah pelan, ia merasa begitu bodoh karena takut untuk mengakui ke salahannya.
Saat Laras kembali dari dalam kamar mandi, Azril masih mematung di depan kamarnya. Dan lagi-lagi Laras hanya tersenyum sembari berlalu ke kamarnya.
“Aku tidak bisa seperti ini terus.” Bisik hati Azril.
Ia menguatkan hatinya untuk mengetuk pintu kamar Ibunya. Tidak lama kemudian pintu kamar Laras terbuka, dan Azril tampak kaget dengan penampilan Ibunya yang berbeda di bandingkan beberapa menit yang lalu.
Laras telah mengganti piyamanya dengan lingerie seksi berwarna hitam menerawang, hingga Azril dapat melihat payudara mulus Laras yang di bungkus bra berwarna hitam yang terlihat kekecilan, dan celana dalam sewarna dengan warna lingerie dan bra-nya. Laras melipat tangannya keatas dada membuat Azril tersadar.
“Ada apa sayang?” Tanya Laras.
Azril yang masih gugup tampak belum bisa menguasai dirinya. “Anu Mi… Itu… Ada yang mau Azril omongkan.” Ujar Azril terbata-bata sanking gugupnya.
“Masuk.” Suruh Laras.
Azril berjalan perlahan masuk ke dalam kamar Ibu Tirinya, Laras segera menutup pintu kamarnya dan mengunci pintu kamarnya, jaga-jaga kalau Clara tiba-tiba ke kamarnya. Tentu ia tidak ingin putrinya melihat dirinya dengan pakaian yang begitu seksi tengah menghukum adiknya.
Laras meminta Azril berdiri di depannya, sementara ia duduk di pinggiran tempat tidurnya dengan pose kaki menyilang dan kedua tangan yang bertumpu diatas tempat tidur.
Pose duduk Laras membuat mata Azril leluasa menatap keindahan tubuh Ibu Tirinya. Mata Azril menjelajahi wajah cantik Laras dengan mata yang lentik, pipi tirus, hidung mancung dan ukiran bibirnya yang tersenyum indah, dan dagu yang lancip.
Gleeek… Azril menelan air liurnya, ketika matanya mulai menjelajahi belahan payudara Laras yang sebagian menyembul keluar, terus turun menuju puncak payudara Laras yang di bungkus bra dan lingerie transparan.
rudal Azril menegang maksimal ketika menjelajahi selangkangan Laras yang di tutupi lingerie transparan itu, hingga ia dapat melihat celana dalam Ibunya yang tampak kekecilan, dan sepasang kaki jenjang Laras yang putih mulus membuat Azril enggan berpaling dari gundukan serambi lempit Laras yang sangat menggoda imannya.
“Ehem…” Tegur Laras. Azril segera tersadar dari lamunannya. “Katanya tadi mau ngomong, kok bengong.” Ucap Laras, ia menurunkan kakinya dan sedikit membuka kakinya.
Azril mengusap wajahnya. “Anu Mi… Azril mau minta maaf.” Lirih Azril masih dengan wajah tertunduk.
“Minta maaf soal apa sayang?”
“Soal tadi pagi Mi di kamar mandi.” Jawab Azril, ia sangat malu sekali mengingat bagaimana ia di pergoki Ibunya sendiri ketika sedang mengintip Clara mandi.
“Soal ngintip?”
Azril mengangguk. “Maafkan Azril Mi.” Ujar Azril penuh harap. Ia tau betul kalau dirinya salah.
“Duduk sini.” Suruh Laras sembari menepuk tempat kosong di sampingnya.
Azril duduk di samping Laras dengan perasaan tegang. Antara terangsang dan takut kalau Laras akan benar-benar marah kali ini karena perbuatannya yang sangat kurang ajar.
Laras mengusap-usap kepala Azril lalu turun ke punggungnya dan merangkul pundak putranya. Ia menarik tubuh Azril ke dalam pelukannya, sama seperti beberapa hari yang lalu. Wajah Azril merona merah, ketika wajahnya begitu dekat dengan belahan payudara Laras, membuat rasa takutnya berkurang.
“Umi sama sekali tidak marah.” Ucap Laras.
“Serius?” Kaget Azril.
Laras mengangguk. “Apa yang kamu lakukan pagi itu Umi anggap wajar kok sayang, anak remaja seperti kamu sudah sewajarnya kalau memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. Dan Umi bersyukur karena ketertarikan kamu terhadap wanita, itu artinya kamu normal.” Ucapan Laras memang sangat sulit di terima nalar Azril, tapi ia juga merasa lega karena itu artinya Laras tidak marah kepadanya.
“Terimakasi ya Mi.” Ujar Azril ia mulai bisa tersenyum.
Laras mengusap kepala Azril lalu mencium kening Azril. “Kamu jangan senang dulu. Bagaimanapun juga apa yang kamu lakukan itu salah sayang, kamu harus tetap di hukum.” Wajah Azril yang tadinya ceria kini tampak murung.
“Kok gitu Mi.”
“Iya dong sayang! Umi tidak membenarkan perbuatan kamu, tapi memaklumi apa yang kamu lakukan tadi pagi.” Ujar Laras.
Laras menarik keatas kaos yang di kenakan Azril hingga ia bertelanjang dada. Telapak tangan Laras membelai dada bidang Azril, menggosok-gosok puting Azril, membuat pemuda manis itu menggelinjang karena kegelian atas sentuhan Ibu Tirinya.
Tak sampai di situ saja, tangan kanan Laras mulai menjelajahi perut Azril, terus turun menuju gundukan kecil di selangkangan Azril yang malam ini memakai boxer.
“Oughkk…” Erang Azril.
Tangan Laras masuk ke dalam celana boxer Azril, ia menemukan rudal Azril yang telah berdiri keras. Dengan kedua jarinya telunjuk dan jempol Laras mengocok rudal Azril.
Azril menatap Laras dengan bingung, tapi di jawab dengan senyuman penuh arti dari Laras.
“Semenjak kapan kamu suka ngintipin Kakak kamu sayang?” Tanya Laras, ia terlihat sangat tenang, tapi tidak dengan Azril. Pemuda itu terlalu tegang dengan apa yang di lakukan Laras kepada kemaluannya.
“Ssstt… Umi! Aahkk…” Desah Azril.
Laras mendekap wajah Azril ke dadanya. “Jawab dong sayang. Kalau kamu jujur Umi tidak akan mengadukan perbuatan kamu sama Abi, tapi kalau bohong Umi pastiin besok Abi akan pulang untuk memarahi kamu.” Ancaman Laras membuat Azril tak berkutik.
“Ba-baru… Aahkk… Kemarin Mi, Aahkk… Azril tidak pernah ngintipin Kak Clara sebelumnya ” Jawab Azril jujur.
Laras merenyitkan dahinya, lalu dia melepas genggamannya di rudal Azril. “Umi gak suka kamu berbohong, sepertinya Umi memang harus mengadukan perbuatan kamu ke Abi.” Ujar Laras, ia terlihat bersungguh-sungguh, membuat Azril panik.
“Aku gak bohong.”
“Sekarang kamu boleh kembali ke kamar.” Suruh Laras, ia masih terlihat tenang, tapi menakutkan.
Azril buru-buru bersimpuh di kaki Laras, ia sangat ketakutan sekali. Bisa di bayangkan seperti apa murkanya KH Umar kalau sampai tau ia ketahuan mengintip Kakaknya sendiri.
“Azril gak bohong, pagi tadi itu pertama kalinya aku ngintipin Kakak, itupun juga gak sengaja Mi.” Ucap Azril, ia tampak menahan tangisnya sanking takutnya. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia merasa tenang, dan sekarang ia setengah mati ketakutan.
“Gak sengaja?” Laras tampak tidak mengerti.
Azril mengangguk cepat. “Awalnya Azril ingin ngintipin Umi, tapi gak taunya malah Kak upss…” Azril buru-buru mendekap mulutnya, ia tidak sengaja mengakui semua perbuatannya.
“Apa?” Kaget Laras tak percaya. “Ya Tuhan, Azril…”
Tubuh Azril gemetar, sanking takutnya ia sampai keceplosan kalau dirinya berniat mengintip Laras. Kini kesalahan besar Azril menjadi dua. Pertama ia ketahuan mengintip Kakaknya, dan kedua ia mengakui kalau dirinya berniat mengintip Ibu Tirinya.
Di saat ia sudah sangat ketakutan, tiba-tiba Laras tertawa renyah, membuat Azril tampak kebingungan.
Sembari membungkukkan badannya, dia mencubit hidung Azril. “Bandel banget si kamu sayang. Masak mau ngintipin Ibu kamu sendiri.” Ujar Laras yang kemudian tersenyum. Tidak ada tanda-tanda kalau Laras akan murka atas perlakuan anaknya terhadap dirinya.
“Maaf Mi.”
“Coba jelaskan ke Umi, kenapa kamu mau ngintipin Umi?” Laras membuka kedua kakinya agar Azril bisa melihat gundukan serambi lempitnya yang terbungkus celana dalam berwarna hitam.
Pemandangan yang ada di hadapannya membuat lidah Azril menjadi keluh. Dirinya yang tadi setengah mati ketakutan, kini malah sangat terangsang melihat pemandangan indah yang ada di depannya. Azril merasa kalau Ibunya sengaja memperlihatkan selangkangannya, dan karena alasan itu Azril menjadi lebih sedikit berani.
Dia memeluk kaki Laras dengan wajah memelas, sementara tatapannya lurus ke depan kearah selangkangan Laras.
“Anu Mi… Ehmm… Soalnya Umi cantik.” Jawab Azril gugup.
“Bohong…” Laras kembali menyentil hidung Azril. “Mana mungkin kamu mau mengintip Umi mandi, cuman karena Umi cantik. Pasti kamu ingin melihat Umi telanjangkan?” Ujar Laras, membuat Azril makin terangsang di buatnya.
Melihat reaksi Laras, membuat Azril semakin yakin kalau Ibunya tidak akan marah kalau ia berkata jujur. “Iya Mi… Soalnya Azril penasaran dengan tubuh Umi. Maafin Azril ya Mi.” Lirih Azril dengan wajah memelas.
Laras menjulurkan kakinya ke selangkangan Azril. Dengan wajah yang terukir senyuman indah, Laras memainkan rudal Azril dengan jari-jari kakinya. Membuat Azril mengaduh nikmat, karena gesekan jari kaki Laras di kemaluannya. “Buka celana kamu sayang.” Suruh Laras, tanpa di minta dua kali Azril menanggalkan celananya.
“Aduh Mi… Ampun…” Melas Azril ketika ia merasakan rudalnya di jepit oleh jari kaki Ibunya.
“Ini hukuman anak yang suka mengintip.” Ujar Laras sembari mengedipkan matanya, membuat Azril menjadi salah tingkah, ia tidak menyangkah kalau hukumannya akan senikmat ini.
Azril memejamkan matanya, seakan ia pasrah menerima hukuman dari Ibunya. Sementara dari bibirnya ia mengeluarkan suara desissan nikmat dan tubuhnya tampak gemetaran merasakan sensasi dari sentuhan kaki Ibunya.
Tidak butuh waktu lama, tubuh Azril menggelinjang beberapa saat ketika ia mencapai klimaksnya.
“Ooohkk…” Desah Azril.
Croooottss… Croooottss… Croooottss…
Spermanya tumpah mengenai jari-jari kaki Laras. Dengan perlahan Laras mengangkat kakinya dan menyodorkan kakinya di depan wajah Azril yang merah padam.
“Bersihkan kaki Umi sayang.” Suruhnya.
Azril memegangi pergelangan kaki Laras. “I-iya Mi.” Lidah Azril terjulur menyapu jari-jari Laras. Ia menghisap jari Laras dan menjilati spermanya yang ada di jari Laras hingga bersih.
Laras menatap wajah Azril yang tengah mengulum jarinya, membuat birahi Laras naik ke ubun-ubun. Mata Azril membeliak ketika melihat Laras menggosok-gosok serambi lempitnya dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat terangsang, membuat Azril makin bersemangat menjilati jari-jari Ibu Tirinya walaupun spermanya telah bersih.
Satu persatu jari Laras ia hisap dengan perlahan, bahkan sela-sela kaki Laraspun tak luput dari sapuan lidahnya, hingga membuat setiap inci kaki Laras basah oleh air liur.
“Az-r-i-l… Aahkk…” Erang Laras.
Tubuh indah Laras menegang beberapa saat, ia menyibak ke samping celana dalamnya dengan kondisi mengangkang. Sedetik kemudian dari dalam serambi lempit Laras mengucur deras air cintanya hingga mengenai wajah Azril yang merona merah, melihat momen di mana serambi lempit Laras yang menumpahkan cairan yang sangat banyak, bagaikan air mancur.
Dengan pasrah Azril menerima air cintanya Laras tanpa berusaha untuk menghindar, karena ia juga menikmatinya.
“Eenghkk… Hmmm….” Lenguh Laras.
Pinggulnya tersentak-sentak, menikmati orgasme yang baru saja ia dapatkan. Sungguh perasaan yang sulit ia gambarkan ketika ia mendapatkan orgasmenya hanya karena terangsang melihat Azril menjilati jari-jari kakinya.
Begitu juga dengan Azril, ada kepuasan tersendiri ketika ia menjilati jari kaki Ibu Tirinya.
Sejenak suasana menjadi hening, Azril dan Laras tampak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Laras yang awalnya hanya ingin mengerjai putranya malah ikut terbawa suasana, membuat dirinya semakin yakin kalau ia memiliki orientasi sex menyimpang, ia memiliki kepuasan tersendiri ketika melihat Azril begitu patuh menuruti semua perintah dirinya.
Begitu juga dengan perasaan Azril. Ketidak berdayaannya malah menimbulkan sensasi seks yang luar biasa, semakin ia tidak berdaya dengan keadaan, malah membuatnya makin terangsang.
Laras tersenyum tipis. “Sayang… Umi harap kamu tidak menceritakan apa yang terjadi barusan dengan orang lain.” Ujar Laras, ia terlihat gugup ketika mengatakannya. Tapi ia harus memastikan kalau Azril akan benar-benar tutup mulut.
“Iya Umi…” Jawab Azril patuh.
“Ini baru anak Umi.” Seloroh Laras sembari tersenyum, Azril ikut tersenyum senang.
“Pake pakaian kamu sayang! Udah malam, saatnya kamu tidur.” Ujar Laras, mengingat jam di dinding rumahnya sudah menunjukan pukul satu dini hari.
Buru-buru Azril memakai pakaiannya. Setelah meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi ke salahannya lagi, Azril pamit hendak ke kamarnya. Baru saja Azril membuka kamar Ibunya, tiba-tiba Laras kembali memanggilnya.
Wanita cantik itu berjalan anggun kearah Azril, yang tampak sulit sekali berpaling dari kemolekan tubuh Ibunya.
“Ingat ya sama janji kamu!” Ujar Laras.
Azril menganggukkan kepalanya. “Iya Mi, Azril janji gak akan ngintip lagi.” Ujar Azril bersungguh-sungguh.
“Yakin? Umi gak percaya.” Laras melipat tangannya di dada menonjolkan belahan payudaranya.
Gleeek…
Azril sampai menelan air liurnya. “I-iya Mi…” Jawab Azril.
“Ya udah, Umi percaya sama kamu. Tapi kalau sampe kamu ketahuan ngintip lagi, Umi akan hukum kamu lebih berat dari yang tadi.” Ancam Laras, seraya tersenyum sangat manis.
“Siap Mi.” Ujar Azril semangat.
Laras kembali tersenyum. “Bandel kamu ya.” Dengan gemas Laras mencubit hidung Azril. Kemudian mereka tertawa renyah bersama-sama seakan tidak pernah terjadi apapun diantara mereka.
Azril menganggukkan kepalanya, seraya berjalan menuju kamarnya, Azril tersenyum tipis. Ia sangat mengerti maksud dari arti dari ucapan Laras. Ia merasa sama sekali tidak keberatan kalau Laras menghukumnya seperti tadi kalau ia harus kembali ketahuan, bahkan ia malah berharap sampai ketahuan agar mendapatkan hukuman seperti tadi.
Membayangkannya membuat Azril tidak tahan menunggu esok hari, entah hukuman seperti apa lagi yang akan ia terima.
******
Rayhan tersenyum ketika melihat jam dinding kamarnya sudah menunjukan pukul 12 malam. Dengan perlahan ia keluar dari dalam kamarnya. Seperti yang sudah ia duga, Zaskia lagi-lagi ketiduran di sofa. Ia berjalan perlahan menghampiri Zaskia yang memakai piyama berwarna putih.
Dia berjongkok menatap wajah cantik sang Kakak, jemarinya membelai rambut Zaskia yang terurai panjang. Cantik, sungguh sangat cantik sekali Zaskia malam ini. Ceritasex.site
Jemari Rayhan mulai berani membuka kancing piyama Kakaknya dengan sangat hati-hati. Dia menelan air liurnya tatkalah matanya menatap gumpalan daging payudara Zaskia yang putih mulus dengan puting berwarna kemerah-merahan.
“Maaf Kak.” Bisik Rayhan. Telapak tangannya membelai gumpalan daging payudara Zaskia, jarinya menyentuh lembut puting Zaskia.
Sebenarnya ia ingin melakukan lebih dari ini, tapi ia takut sentuhannya akan membangunkan Zaskia. Dengan tangan gemetar ia membuka celananya dan mulai beronani di hadapan Kakak kandungnya.
Nafas Rayhan memburu seiring dengan batang kemaluannya yang terasa semakin kaku dan besar. Dia mendengus beberapa kali hingga akhirnya ia merasa sudah di ujung.
Dengan nekatnya Rayhan menumpahkan spermanya diatas belahan payudara Zaskia. Croooottss… Croooottss… Croooottss…
Bersambung… Jumat pagi, seperti biasanya anak-anak pesantren Al-tauhid memiliki jadwal rutin olahraga, biasanya di mulai dengan lari meraton mengelilingi pondok pesantren, baik itu para santri maupun santriwati. Biasanya mereka memanfaatkan lari pagi untuk cuci mata, menurut istilah yang biasa mereka gunakan untuk melihat lawan jenis.
Doni, Nico, Rayhan dan Azril lari beriringan, mereka tampak sibuk membahas persiapan mereka nanti sehabis shalat Jum’at. Ketegangan jelas sekali terlihat dari wajah mereka.
“Nanti kita berkumpul di lapangan jam 2 siang.” Ujar Rayhan.
Mereka bertiga mengangguk setuju. “Gue harap nanti tidak sampai terlambat, yang pasti gue harus ngajak anak-anak lainnya.” Ujar Doni.
“Gue percaya sama Lo.” Ujar Rayhan tersenyum.
“Gue udah gak sabar!” Nico mengepal tangannya dengan erat.
“Awas aja Lo kalau nanti sampai kabur.” Ujar Doni, sembari meninju pundak Nico.
“Eits… Jangan pernah meragukan gue kawan.” Kata Nico yakin.
Rayhan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. “Gue percaya sama kalian semua! Terimakasih sudah mendukung gue, dan maaf karena harus melibatkan kalian.” Rayhan menatap ketiga sahabatnya secara bersamaan.
“Santai aja mas Bro.”
“Kayak sama siapa aja Lo Anjing!” Nico menerjang paha Rayhan.
Rayhan meringis kesal. “Bangke, sakit bego.” Protes Rayhan, saat ia ingin hendak membalas, Nico sudah berlalu kabur dari ketiga temannya sembari tertawa.
Doni ikut terkekeh melihat tingkah laku kedua sahabatnya yang terkadang memang lucu.
Sementara Azril memilih diam, ia merasa sangat bersalah terhadap sahabatnya, sementara dirinya tidak bisa membantu apapun untuk perkelahian nanti. Ia ragu kalau tenaganya bisa berguna untuk teman-temannya nanti, yang ada ia hanya akan menjadi beban buat mereka bertiga.
Rayhan yang mengerti perasaan Azril, meminta Azril untuk tetap tenang, dan yakin kalau semuanya akan baik-baik saja.
Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat, Doni dan Nico kembali ke asrama, sementara Azril dan Rayhan memutuskan untuk pulang, padahal biasanya sehabis lari pagi mereka akan bermain bola sebentar sebelum pulang dan bersiap-siap untuk shalat Jum’at.
Setelah mereka berpisah, ternyata Rayhan tidak benar-benar pulang ke rumah, ia mampir terlebih dahulu ke rumah Ustadza Dewi. Ia mengetuk beberapa kali pintu rumah Ustadza Dewi, tapi tidak ada yang menjawab.
Ketika ia mulai berfikir untuk pulang, tiba-tiba rumah Ustadza Dewi terbuka.
“Kak Rayhan.” Sapa Nikita.
Rayhan tersenyum kearah gadis cantik yang masih memakai pakaian olahraga “Ustadza Dewi ada?” Tanya Rayhan kepada Nikita anaknya Ustadza Dewi.
“Belum pulang! Mungkin sebentar lagi pulang, masuk aja dulu Kak.” Ajak Nikita.
“Terimakasih.” Jawab Rayhan.
Nikita mempersilahkan Rayhan duduk, kemudian ia ke belakang untuk membuatkan minuman. Entah kenapa detak jantung Nikita berdetak lebih cepat dari biasanya, ia merasa ada getaran-getaran cinta yang tak terkendali. Entah semenjak kapan gadis lugu itu menyukai Rayhan. Tapi yang pasti gadis cantik itu tidak bisa mengendalikan perasaannya saat ini.
Selesai membuat minuman, ia kembali sembari membawa minuman tersebut kepada Rayhan.
Senyuman indah terukir di bibir Rayhan, membuat anak remaja berusia belasan tahun itu tampak semakin salah tingkah, bahkan gelas yang ada di tangannya tampak gemetar ketika ia hendak meletakkannya keatas meja.
“Terimakasih.” Lirih Rayhan, ia menyambut gelas di tangan Nikita sebelum tumpah.
Nikita menggigit bibirnya, menatap sayu kearah Rayhan. “Sama-sama Kak.” Jawab Nikita, ia duduk dengan tidak tenang di samping Rayhan.
“Ehmmpsss… Ini enak sekali, manis… Sama seperti Nikita.” Aku Rayhan setelah mencicipi teh buatan Nikita yang memang terasa pas manisnya di lidah Rayhan. Pujian Rayhan tertanyata membuat gadis lugu di hadapannya merona merah.
Sebagai anak gadis yang cantik, tentu Nikita sudah terbiasa mendapatkan pujian seperti itu. Hanya saja terasa berbeda ketika sosok Rayhan yang memuji dirinya.
Gelagat Nikita yang salah tingkah membuat Rayhan ingin menggoda anak Ustadza Dewi lebih jauh lagi. Ia menggeser duduknya agar bisa lebih dekat dengan Nikita, ia sengaja menempelkan lututnya ke lutut Nikita, membuat gadis itu tampak makin salah tingkah.
Berulang kali Nikita memperbaiki posisi jilbabnya, walaupun tidak ada yang salah dengan posisi jilbabnya.
“Ngomong-ngomong kamu sudah punya pacar belum?” Tanya Rayhan, ia sedikit membungkukkan badannya dan menatap wajah cantik Nikita yang bersemu merah.
Nikita meremas-remas jemarinya. “Be-belum Kak! Kan katanya gak boleh pacaran.” Ujar Nikita, walaupun di dalam hatinya kalau ia ingin sekali berpacaran dengan pemuda yang duduk di sampingnya saat ini.
“Yang bener… Alasan tuh.” Goda Rayhan.
Reflek Nikita memegang lengan Rayhan. “Ih… Beneran Kak! Nikita gak pernah pacaran.” Aku Nikita, ia memang berkata jujur apa adanya.
Rayhan meraih tangan Nikita, ia menggenggam tangan Nikita dengan erat. Getaran-getaran syahwat yang di timbulkan oleh sentuhan Rayhan, membuat gadis lugu itu makin bertambah salah tingkah. Sebagai santri tentu saja Nikita sadar, kalau hukumnya haram ketika seorang wanita bersentuhan dengan seorang pria.
Tapi kharisma Rayhan, membuat Nikita tak berdaya, ia membiarkan jemari halusnya berada di dalam genggaman seorang pria yang bukan muhrimnya.
Jantung Nikita rasanya mau meledak sanking kencangnya memompa darahnya. Adrenalin Nikita kian terpacu ketika Rayhan membelai wajah cantik Nikita yang kian merona merah, baru kali ini ada sosok pria yang menyentuh wajahnya, membuatnya makin salah tingkah.
Tapi saat ketika bibir mereka hampir bertemu, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam rumah.
“Loh ada Rayhan.” Kaget Ustadza Dewi.
Pemuda itu tersenyum kearah Ustadza Dewi. “Dari mana Ustadza?” Tanya Rayhan hanya sekedar berbasa-basi. Ia menghampiri Ustadza Dewi yang tengah menenteng beberapa kantong kresek di tangannya.
“Biasa, dari pasar.”
Rayhan mengambil kantong kresek yang ada di tangan Ustadza Dewi. “Sini biar aku bantuin Ustadza, mau di bawak kemana Ustadza?” Tanya Rayhan.
“Ke belakang, dapur.” Jawab Ustadza Dewi.
Nikita yang tadi sempat terbawa suasana kini telah benar-benar kembali ke dunianya. Ia menghampiri Rayhan dan Ibunya yang tengah mengobrol ringan. “Umi, aku ke asrama teman dulu ya.” Pamit Nikita.
“Sebelum Jumat sudah pulang ya.” Ujar Ustadza Dewi.
Nikita menyalimi Ustadza Dewi dan Rayhan. “Aku pergi dulu ya Mi, Kak… Assalamualaikum.” Salam Nikita sembari keluar dari dalam rumahnya.
“Waalaikumsalam!” Jawab mereka serempak.
Rayhan segera membawa beberapa kantong keresek tersebut ke dapur. Ia meletakan kantong tersebut diatas meja dapur. Sementara Ustadza Dewi menata barang belanjaannya.
Selagi Ustadza Dewi menata barang belanjaannya, mata Rayhan tak berkedip memandangi lekuk tubuh Ustadza Dewi yang terlihat semakin berisi dari hari ke hari, membuat rudalnya telah ireksi maksimal. Apa lagi tadi ia gagal menggoda Nikita anak dari Ustadza Dewi.
Rayhan memeluk tubuh sintal Ustadza Dewi dari belakang, hidungnya mengendus-endus leher Ustadza Dewi.
“Rayhan… Engkk… Geli ah…” Geliat manja Ustadza Dewi.
Tangan Rayhan turun ke selangkangan Ustadza Dewi. Ia memijit serambi lempit Ustadza Dewi dari luar gamisnya. “Aku kangen sama Ustadza.” Bisik Rayhan. Tangan satunya lagi meraih payudara Ustadza Dewi.
“Eehmpps… Ray! Aahkk… Kamu kangen sama Ustadza apa sama anak Ustadza.” Lirih Ustadza Dewi yang mulai terbakar api birahi.
“Ustadza tadi lihat?”
Wanita cantik itu memutar tubuhnya menghadap kearah Rayhan. “Tentu saja… Kamu hampir mencium bibirnya.” Rajuk Ustadza Dewi, sembari membelai rudal Rayhan yang tengah ireksi sempurna.
“Hisap rudalku Ustadza.” Perintah Rayhan.
Tubuh Ustadza Dewi merosot kebawah, ia menarik celana training yang di kenakan Rayhan berikut dengan celana dalamnya. “Gak dapat anaknya, ibunya yang di embat.” Rutuk Ustadza Dewi, tapi ia tidak bersungguh-sungguh dan Rayhan tentu menyadarinya.
Jemari lembut Ustadza Dewi membelai batang kemaluan Rayhan, ia mengocok rudalnya dengan perlahan sembari mengecup mesrah kepala rudal Rayhan.
Tubuh Rayhan menegang, merasakan desiran nikmat di kemaluannya. Apa lagi ketika Ustadza Dewi melahap habis rudalnya ke dalam mulutnya. Dengan gerakan teratur, kepala Ustadza Dewi maju mundur, di kombinasikan dengan jilatan di kepala rudalnya.
Rayhan membelai kepala Ustadza Dewi yang terbungkus jilbab syar’i berwarna coklat muda.
“Oughkk… Enak sekali Ustadza.” Racau Rayhan.
Lidah Ustadza Dewi menari-nari di lobang kencing Rayhan. “Mulut Nikita sepertinya lebih nikmat.” Goda Ustadza Dewi, dia mengarahkan mulutnya kearah kantung pelir Rayhan dan menghisapnya dengan lembut.
“Ssstt… Kalau begitu aku akan memintanya.” Lirih Rayhan.
“Coba saja, kalau kamu mampu.” Tantang Ustadza Dewi.
Dia menarik tangan Ustadza Dewi agar wanita cantik itu berdiri, ia memeluk mesrah Ustadza Dewi, seakan wanita yang harusnya ia hormati itu adalah kekasihnya. Bibirnya memanggut mesrah bibir Ustadza Dewi, lidahnya bermain bagaikan ular membelit lidah Ustadza Dewi.
Sembari berciuman tangannya menarik keatas bagian bawah gamis Ustadza Dewi. Kedua telapak tangannya meremas-remas pantat Ustadza Dewi.
Setelah puas menjamah pantat Ustadza Dewi, Rayhan mengangkat tubuh Ustadza Dewi dan mendudukinya di atas meja dapur. Rayhan membuka bagian atas gamis Ustadza Dewi berikut dengan bra-nya. Membiarkan payudaranya yang indah terbebas dari belenggu kain yang menutupinya.
“Wow… Indah sekali! Apa punya Nikita seindah ini?” Goda Rayhan, dia memilin puting Ustadza Dewi.
Ustadza mendesah nikmat. “Tentu saja… Aahkk… Payudara Nikita sangat ranum, walaupun tidak sebesar punya Ustadza, kamu mau? Hihihi….” Aku Ustadza Dewi. Dia mendekap kepala Rayhan, meminta pemuda itu menghisap payudaranya.
“Aku tidak sabar untuk melihatnya langsung.” Seloroh Rayhan.
Pemuda itu membenamkan wajahnya diantara payudara Ustadza Dewi. Secara bergantian ia menghisap payudara Ustadza Dewi, lidahnya mengitari aurola puting payudara Ustadza Dewi, menyentilnya dengan gemas, hingga menghisapnya dengan kuat.
Tubuh Ustadza Dewi menggelinjang, ia merasa seakan di sentrum oleh ribuan volt.
Jemari Rayhan menyusup masuk ke dalam gamis Ustadza Dewi, ia menemukan dalaman Ustadza Dewi yang sudah sangat basah karena precumnya.
“Sudah basah sekali.” Goda Rayhan.
Dewi menarik lepas gamisnya, lalu dia menaikan satu kakinya dan menyibakkan celana dalamnya.
Tampak bibir kemaluan Ustadza Dewi yang kemerah-merahan telah sangat basah, mengundang Rayhan untuk segera mencicipi lendir tersebut.
Rayhan berlutut di depan selangkangan Ustadza Dewi yang terbuka lebar. “Wow… Aku tidak pernah bosan melihatnya Ustadza!” Puji Rayhan, dia membelai bibir kemaluan Ustadza Dewi dengan seksama.
“Aku tau itu sayang.” Goda Ustadza Dewi.
Perlahan Rayhan menciumi sepasang paha mulus Ustadza Dewi secara bergantian. Perlahan mulai menuju bibir kemaluannya, lidahnya terjulur menjilati bibir kemaluan Ustadza Dewi yang mengeluarkan aroma yang memabukkan, membuat birahi Rayhan makin tinggi.
Rasa asin di ujung lidahnya membuat Rayhan makin bersemangat mengorek-ngorek serambi lempit Ustadza Dewi.
Sruuupss… Sruuupss… Sruuupss…
“Oughkk… Ray! Enak sekali.” Racau Ustadza Dewi.
Kedua pahanya menjepit wajah Rayhan, sementara kedua tangannya menekan wajah Rayhan agar semakin tenggelam ke dalam lembah serambi lempitnya.
Tidak lama kemudian tubuh Ustadza Dewi melejang-lejang menandakan kalau wanita cantik tersebut baru saja mencapai puncaknya. Ia merasa cairan cintanya keluar begitu banyak, dan tanpa rasa jijik Rayhan menelannya.
“Segar sekali rasanya.” Ujar Rayhan.
Ustadza Dewi menatap sayu kearah Rayhan, dia sedikit mengangkat pantatnya ketika Rayhan melepas celana dalamnya. Kedua tangannya dengan manja memeluk leher Rayhan, dan membiarkan pemuda itu kembali melumat bibirnya sembari meremas teteknya.
Tangan kanan Ustadza Dewi meraih batang kemaluan Rayhan, dia mengarahkan rudal Rayhan tepat di depan pintu masuk lobang serambi lempitnya.
Dengan satu kali dorongan rudal Rayhan amblas ke dalam serambi lempit Ustadza Dewi.
“Oughkk… Terus Ray! Aahkk… Entotin Ustadza.” Racau Ustadza Dewi, ketika Rayhan mulai menggerakan pinggulnya maju mundur menusuk lobang serambi lempitnya.
Sembari menopang kedua kaki jenjang Ustadza Dewi, Rayhan memacu rudalnya semakin lama semakin cepat, kian cepat dan makin cepat, hingga menimbulkan suara benturan kelamin mereka berdua yang terdengar bagaikan melodi erotis yang kian membangkitkan birahi mereka berdua.
Ploookkkss… Ploookkkss… Ploookkkss… Ploookkkss… Ploookkkss… Ploookkkss… Ploookkkss…
Lobang serambi lempit Ustadza Dewi yang sudah sangat licin memudahkan Rayhan memacu birahinya. Sembari menyodorkan rudalnya yang besar ke dalam serambi lempit Ustadza Dewi, mulut Rayhan sibuk menstimulasi payudara Ustadza Dewi yang sangat ranum.
Tubuh Ustadza tersentak-sentak, ketika ia hampir kembali mendapatkan orgasmenya Rayhan segera mencabut rudalnya dari dalam serambi lempit Ustadza Dewi.
“Ganti gaya Ustadza.” Pinta Rayhan.
Dia menurunkan Ustadza Dewi dan memposisikan Ustadza Dewi dengan pose membelakanginya. Plaaakk…. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pantat Ustadza Dewi yang tampak bergetar.
Jarinya membuka cela pipi pantat Ustadza Dewi, ia menggesekkan rudalnya di bibir serambi lempit Ustadza Dewi.
“Masukan lagi Ray!” Mohon Ustadza Dewi.
Untuk kedua kalinya batang kemaluan Rayhan menjelajahi rongga serambi lempit Ustadza Dewi. Kedua tangan Rayhan mencengkram erat pinggul Ustadza Dewi, selagi rudalnya bergerak maju mundur dengan cepat, menikmati jepitan hangat dan legit dari dalam serambi lempit Ustadza Dewi yang sudah berulang kali merenggut kenikmatan bersamanya.
*****
Sehabis shalat Jum’at, seperti yang sudah di janjikan Rayhan, Doni dan Azril sudah berada di lapangan kosong yang berada tak jauh dari danau. Gulungan debu berterbangan di tiup angin gersang yang membuat kulit terasa kering, belum lagi terik matahari yang begitu panas, seakan tidak menyurutkan langkah mereka.
Hamka berdiri dengan senyum culasnya bersama teman-teman dari asramanya yang berjumlah belasan orang. Ia sangat yakin bisa membuat Rayhan berlutut di hadapannya hari ini.
Sementara itu, di sekeliling lapangan puluhan santri berdiri tidak sabar melihat perkelahian antara Rayhan dan Hamka. Bahkan mereka tidak sabar untuk menantikan perkelahian mereka berdua, menjadi sebuah tawuran yang besar, bahkan beberapa dari mereka sampai memasang taruhan.
“Mulai dong.” Pekik salah satu Santri yang mulai tak sabar.
Hamka dengan kepercayaan tinggi maju ke tengah lapangan, ia mengepal dan mengurut-ngurut kepalan tangannya, tak sabar ingin meremukkan wajah Rayhan.
Sementara itu, Nico dan Azril tampak begitu khawatir, berbeda dengan Rayhan yang terlihat lebih tenang.
“Gue maju.” Ujar Rayhan.
Nico menggelengkan kepalanya sembari mendengus kesal. “Tai, kemana tuh orang.” Geram Nico, yang sedari tadi mencoba mencari sosok Doni.
“Takut mungkin.” Geram Azril tidak kalah kesalnya.
Nico menyeringai, ia berjanji di dalam hati akan menghajar Doni kalau anak itu tidak juga datang.
Ia mengalihkan pandangannya ketengah lapangan, Rayhan dan Hamka berdiri berhadap-hadapan. Mereka saling menatap, mengintimidasi satu sama lainnya. Terlihat sekali dari tatapan Hamka kalau ia ingin melumat habis Rayhan.
“Anjiiiing…” Teriak Hamka.
Kepalan tinjunya melesat kearah wajah Rayhan, yang tidak bisa di tangkis Rayhan sehingga pukulan Hamka telak mengenai wajahnya. Hamka menyeringai, ia kembali mendekat dan melayangkan pukulannya, tapi kali ini Rayhan berhasil menghindari pukulan Hamka di wajahnya, ia bergeser ke kiri kesamping Hamka.
Tidak mau kehilangan momen, Hamka melayangkan tendangan ke udara dan dengan cepat Rayhan menangkis menggunakan kedua lengannya.
Rayhan mulai terdesak, membuat penonton semakin kencang bersorak meminta Hamka segera menghajar Rayhan.
Pukulan kombinasi yang di lancarkan Hamka beberapa bisa di tangkis Rayhan, tapi beberapa kali juga Rayhan harus menerima bogem mentah di wajahnya. Rayhan mencoba membalas sesekali, tapi posisinya yang terpojok tidak bisa berbuat banyak.
Rayhan tersenyum sinis. “Cuman segitu doang?” Ledek Rayhan.
“Anjiiiing…” Tangan Hamka kembali melayang.
Rayhan maju masuk ke dalam pertarungan, tangan kirinya menangkis pukulan tangan kanan Hamka, sementara kepalan tangan kanannya menghantam perut Hamka, hingga membuat pemuda itu mundur beberapa langkah sembari menahan perutnya yang sakit.
Hamka mencoba membalas dengan membabi buta, tapi dengan muda di hindari maupun di tangkis Rayhan.
Jual beli pukulan terjadi, dan darah mulai tampak menutupi wajah mereka berdua, membuat penonton bersorak semakin keras menyemangati mereka berdua, berbeda dengan Nico dan Azril yang terlihat begitu khawatir.
Dengan menggunakan lututnya Rayhan menghantam uluh hati Hamka, hingga membuat pemuda itu terjerembab ke tanah dengan nafas terengah-engah. Rayhan tidak membuang ke sempatkan masnya, dengan tendangan memutar ia menghantam wajah Hamka dengan telapak kakinya.
Tubuh Hamka terlempar sejauh satu meter, sembari berguling-guling ia menahan rasa sakit di wajah dan perutnya.
“Hoek… Hoek… Hoek…” Hamka batuk darah.
Rayhan kembali menerjangnya, Hamka yang hendak berdiri dan membalas pukulan Rayhan sama sekali tidak berkutik. Satu tendangan Rayhan membuatnya kembali tersungkur.
Sembari menduduki tubuh Hamka yang sudah tidak berdaya, Rayhan menghujani pukulannya, membuat suasana yang tadi yang ramai dengan sorak Sorai penonton, kini malah tampak sepi menatap ngeri kearah Rayhan yang tanpa ampun menghajar Hamka yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri.
“INI AKIBATNYA KALAU LO BERANI GANGGU TEMAN GUE.” Pekik Rayhan dengan tatapan penuh amarah.
Niko dan Azril terdiam tak percaya dengan apa yang di lakukan Rayhan yang seakan ingin membunuh Hamka. Bahkan tubuh Azril sampai menggigil.
“Dia bisa mati Ko.” Lirih Azril menyadarkan Nico.
“Anjing tuh anak, mau jadi pembunuh dia.” Geram Nico, ia hendak masuk ke tengah lapangan karena ingin menghentikan kegilaan Rayhan. Tapi tiba-tiba.
“SERBUUU….”
Entah dari mana datangnya suara teriakan tersebut, tiba-tiba anak asrama Hamza yang di pimpin Hamka masuk ke tengah lapangan hendak mengeroyok Rayhan. Buru-buru Rayhan bersiap menerima serangan dadakan dari teman-teman Hamka.
“ANJIIIING.” Teriak Nico.
Ia berlarian mendatangi kerumunan yang dengan cepatnya sudah mengepung Rayhan. Tapi belum juga tiba di dekat Rayhan, ia sudah di jegal oleh tiga orang anak Asrama Hamza. Sebisa mungkin Nico menangkis dan membalas memukul mereka, beberapa dari mereka berhasil di buat babak belur oleh Nico, tapi kondisi Nico tidak kalah tragisnya, darah bercucuran dari bibir dan hidungnya.
Nasib Azril ternyata lebih tragis, ia meringkuk sembari memeluk tubuhnya sendiri, tak bisa berbuat apa-apa ketika beberapa orang menganiaya dirinya.
Di saat semuanya hampir sudah tidak berdaya, tiba-tiba dari arah selatan anak-anak Asrama Al Fatih menerobos masuk ke tengah lapangan, alhasil perkelahian menjadi seimbang untuk beberapa saat. Namun setelah mereka dengan cepat mendominasi pertarungan. Doni dengan beringasnya menghajar siapa saja yang berada di dekatnya, ia sungguh sangat marah.
Rayhan berdiri sempoyongan sembari tersenyum melihat bala bantuan yang telah datang.
Tawuran tersebut baru berhenti tepat ketika suara Adzan Ashar berkumandang. Tanpa ada yang memerintah, dua kelompok yang bersiteru memisahkan diri, mereka membawa teman-teman mereka yang terluka untuk kembali ke asrama masing-masing.
*****
Sore itu Zaskia marah besar terhadap Rayhan, melihat keadaan Rayhan yang berantakan. Luka lebam dan darah kering masih terlihat jelas di wajah Rayhan, belum lagi luka memar di sekujur tubuhnya. Sebenarnya Rayhan sudah berusaha menghindar dari Kakak kandungnya. Setibanya di rumah ia segera ke kamarnya, melihat tingkah Rayhan yang mencurigakan membuat Zaskia segera menyusul Adiknya.
Bukan main kagetnya Zaskia saat melihat wajah Rayhan yang nyaris tak berbentuk. Bibirnya pecah, begitu juga dengan pelipisnya. Rasa khawatir yang membuncah, membuat Zaskia meluapkan kekhawatirannya dengan amarah.
“Kalau kamu mau berantem, lebih baik kamu pulang Ray!” Omel Zaskia, nafasnya memburu menahan gejolak di hatinya.
“Maaf Kak! Sssttt…”
Rayhan meringis saat Zaskia mencoba mengobati luka di wajahnya. “Maaf saja gak cukup Ray! Kenapa kamu selalu saja membuat Kakak khawatir. Apa kamu belum puas dengan kejadian tempo hari? Kakak hampir saja kehilangan kamu.” Lirih Zaskia.
Sebagai seorang Kakak sudah sewajarnya saja, kalau Zaskia merasa sangat khawatir dengan keadaan Rayhan. Apa lagi Rayhan, satu-satunya keluarganya di pesantren.
Karena alasan itu juga Rayhan tidak berani membantah ucapan Zaskia, Kakak kandungnya.
Rayhan menggaruk-garuk kepalanya. “Iya Kak!” Jawab Rayhan pasrah, karena tidak ingin membuat kakaknya semakin marah.
Selepas kepergian Zaskia, Rayhan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya. Matanya menerawang menatap langit-langit kamarnya yang terdapat lampu LED.
Sejujurnya Rayhan juga tidak menyangka kalau dirinya tidak mengalami nasib yang lebih buruk lagi, mengingat bagaimana mereka di keroyok oleh belasan anak asrama Hamza. Beruntung walaupun terlambat, Doni membawa bala bantuan untuk menyelamatkan mereka, andai saja Doni tidak datang, entah bagaimana masih mereka.
*****
Nasib Azril ternyata tidak lebih baik dari Rayhan, ia habis di omeli Laras, Ibu Tirinya. Dengan wajah tertunduk ia tidak berani menatap balik Ibu Tirinya. Baru kali ini ia melihat Laras benar-benar marah kepadanya, membuat wajahnya pucat pasih.
Sembari menghela nafas, Laras meninggalkan Azril di ruang tamu yang masih terduduk lesu.
Setelah beberapa menit dengan keheningan, Azril segera menyusul Laras ke dalam kamarnya. Tampak Laras yang tengah duduk di depan meja riasnya hanya memakai handuk. Sepertinya Laras baru saja selesai mandi, melihat pundak dan punggungnya masih tampak basah.
“Umi.” Panggil Azril.
Laras menoleh sebentar. “Umi belum ganti baju! Apa kamu sengaja ingin melihat Umi telanjang?” Sindir Laras, ia tampak benar-benar kecewa dengan Azril.
Selama ini di mata Laras Azril adalah anak yang baik, patuh terhadap orang tua. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini Azril sering berulah, dan tidak lagi mendengarkan ucapannya. Terakhir kali ia melihat Azril babak belur, Laras sudah meminta anak itu untuk tidak mengulanginya lagi, tapi lagi-lagi Azril melanggarnya.
Mendapat ucapan menohok dari Ibu Tirinya Laras, membuat Azril merasa sangat sedih. Tidak pernah sekalipun Laras menegurnya dengan begitu keras seperti barusan.
“Mi, maafkan Azril!” Pemuda itu terisak penuh penyesalan.
Ia menatap Azril, ada rasa kasihan juga melihat Azril menangis seperti itu. “Kemarin Umi sudah bilang, jangan pernah berkelahi, tapi kamu mengabaikan peringatan Umi.” Ujar Laras, membuat Azril semakin merasa menyesal karena mengindahkan ucapan Laras beberapa waktu yang lalu.
“Tolong Mi! Azril janji ini yang terakhir.”
“Azril.” Bentak Laras mulai kesal.
Bukannya segera keluar dari kamar Laras, Azril malah berlutut di depan pintu Ibunya. Ia pikir dengan cara ini Ibu Tirinya akan memaafkan perbuatannya.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Laras semakin kesal dengan sikap Azril yang kekanak-kanakan.
“Tolong Mi, maafkan Azril… Tolong jangan beri tau Abi! Umi boleh menghukum Azril apa saja, asalkan Umi tidak memberi tau Abi.” Melas Azril, ia berharap Laras, Ibu tirinya merasa kasihan kepadanya.
Mendengar ucapan Azril, Laras malah semakin kesal dengan sikap Azril yang lebih takut kalau Abinya marah ketimbang dirinya yang marah. Dengan emosi yang memuncak, Laras menghampiri Azril, berdiri di depan putranya itu.
“Baiklah, Umi tidak akan memberi tau Abi, dan sebagai hukumannya, mulai hari ini Umi tidak akan mau bicara lagi sama kamu, dan mulai hari ini kamu bebas melakukan apapun, karena Umi akan tutup mata.” Ucap Laras membuat Azril terhenyak.
“Umi…”
“Keluar sekarang! Umi mau ganti baju.” Usir Laras dengan tatapan tajam kearah Azril.
Dengan wajah tertunduk dan berurai air mata, Azril meninggalkan kamar Laras. Baru beberapa langkah ia pergi, tiba-tiba Laras membanting pintu kamarnya, menandakan kalau dirinya benar-benar marah terhadap Azril.
*****
Malam begitu tenang mengiringi keindahan suasana rumah di malam hari. Sayup-sayup terdengar suara jangkrik memecah keheningan malam, sesekali terdengar suara burung malam terbang penuh harapan. Udara terasa dingin menyegarkan, langit cerah di hiasi bintang-bintang bertebaran menemani gagahnya raja malam yang bersinar terang menebar cahaya berkilauan.
Di dalam sebuah kamar, Zaskia tampak begitu gelisah, berulang kali ia mencoba memejamkan matanya, tapi tetap juga tak bisa tidur. Hatinya gundah gulana, ada rasa sesal atas sikapnya kepada Rayhan.
Haruskah ia bersikap sekeras itu kepada Rayhan? Bagaimanapun juga Rayhan sama seperti anak remaja pada umumnya, pasti pernah berkelahi dan itu adalah sebuah hal lumrah yang biasa di lakukan anak seusia Rayhan. Seharusnya ia bisa bersikap lebih baik, menasehati Adiknya agar tidak mengulanginya lagi.
“Gimana keadaan Rayhan sekarang?” Gumam Zaskia pelan.
Dengan gerakan perlahan ia turun dari atas tempat tidurnya, memakai jilbab instan miliknya, lalu berjalan gontai keluar dari kamarnya menuju kamar Rayhan.
Saat pintu kamar Rayhan terbuka, lampu kamar Rayhan masih menyalah, sepertinya ia ketiduran tanpa sempat mematikan lampunya terlebih dahulu. Dengan langkah berjinjit agar tidak membangunkan Rayhan, Zaskia menghampiri Adiknya.
Ia meletakan tangannya diatas dahi Rayhan. “Astaghfirullah…” Zaskia mendadak panik saat merasakan dahi Rayhan yang begitu panas.
Buru-buru Zaskia keluar kamar adiknya dan kembali ke kamarnya, dengan asal ia mengambil secarik kain lalu ia ke kamar mandi mengisi air ke dalam baskom kecil, dan kembali lagi ke kamar Rayhan.
Dengan wajah panik Zaskia mengompres kening Rayhan, untuk menurunkan panas di tubuh Rayhan.
Tak terasa air mata Zaskia jatuh ke wajah Rayhan, ia merasa sangat sedih karena gagal melindungi adik satu-satunya. Ia menjerit dalam diam sembari terus mengompres dahi dan luka lebam di wajah Adiknya yang tampak terlelap damai.
Tetesan demi tetesan air mata Zaskia, mau tidak mau mengganggu tidur Rayhan. Pemuda itu membuka matanya, memandang Kakaknya yang tengah menangis.
“Kak!” Lirih Rayhan.
Zaskia berusaha tersenyum, tapi ia tidak bisa menyembunyikan raut kekhawatiran nya. “Sssttt… Kamu tidur lagi ya.” Bisik Zaskia, sembari menahan isak tangisnya.
“Maafin aku Kak!”
“Sudah sayang, gak apa-apa kok, tapi jangan kamu ulangi lagi ya.” Mohon Zaskia.
Rayhan mengangguk sembari berusaha tersenyum. “Iya Kak! Janji gak akan bikin Kakak khawatir lagi.” Ucap Rayhan, ia berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan Zaskia.
Zaskia tersenyum sangat manis, sembari berbaring di samping Adiknya. Dengan perlahan ia melingkarkan tangannya di tubuh Rayhan, memeluknya dengan penuh kasih sayang. Rayhan membalas pelukan Kakaknya dengan erat sembari mengecup pelan kening Zaskia, Kakak kandungnya.
Kecupan lembut Rayhan membuat Zaskia merasa tenang, hingga akhirnya mereka berdua pun terlelap.
****
Kediaman KH Umar
Sementara itu di dalam sebuah kamar, di rumah yang berbeda, tampak seorang wanita dalam keadaan nyaris telanjang bulat tengah terlentang sembari di genjot-genjot oleh seorang pemuda yang tengah menindihnya dari atas. Dari raut wajah sang wanita yang masih memakai hijab itu, tampaknya ia merasa serba salah.
Jujur saja, sodokan rudal Daniel rasanya sangat nikmat, tapi ia masih memiliki sedikit harga diri untuk mengakui betapa nikmatnya rudal Daniel di dalam serambi lempitnya.
“Aahkk… Aahkk… Aahkk…” Desah Laras.
Jemari Daniel membelai buah dada Laras yang ranum itu, bermain dengan puting Laras yang berwarna coklat tua. Sentuhan-sentuhan Daniel membuat birahi Laras kian menggelegak.
Tanpa sadar ia melingkarkan kedua kakinya di pinggang Daniel, agar rudal pemuda itu masuk semakin dalam di dalam rongga serambi lempitnya. Ia merasa rudal Daniel menyentuh bagian dasar lobang peranakannya yang semakin basah dan licin itu.
“Ughkk… Enak sekali!” Racau Daniel. “Tadi sore, aku sempat mendengar Azril menangis, memangnya ada apa?” Tanya Daniel, tanpa menghentikan hentakan rudalnya di dalam serambi lempit Laras.
“Uhmmm… Aahkk… Tadi! Aaahkk… Azril mau meminta maaf… Dan… Please…” Terlihat sekali kalau Laras sudah benar-benar tidak tahan dan ingin sekali mendapatkan orgasmenya dari Daniel.
Daniel menurunkan tempo permainannya, sengaja ingin mempermainkan birahi Laras. “Apa masalahnya?” Cecar Daniel.
“Dia… Aahkk… Dia… Dia berkelahi, dan aku tidak mau memaafkannya.” Jawab Laras, ia benar-benar di buat Daniel tersiksa akan rasa nikmat yang menggantung.
Laras yang sudah berada di ujung kenikmatan, berusaha menggapai kenikmatan itu sendiri. Ia menggerakan pantatnya agar kocokan Daniel bisa mengantarkannya ke puncak kenikmatan. Tapi lagi-lagi Daniel mempermainkannya.
Ia menarik rudalnya dari dalam serambi lempit Laras, dan membiarkan makin tersiksa.
“Daniel! Tolong Tante…” Melas Laras.
Daniel tersenyum sembari merabahi rambut kemaluan Laras. “Dia menangis karena berkelahi, atau karena tidak mendapatkan maaf dari kamu.” Tanya Daniel, tidak mengubris permohonan Laras.
“Karena tidak mendapatkan maaf dari saya!” Jawab Laras cepat. “Dan… Ayo Dan, jangan siksa Tante.” Laras tampak nyaris menangis sanking frustasi karena tersiksa akan birahinya yang di buat menggantung oleh Daniel.
Daniel merenyitkan dahinya tanda tidak suka. “Bukankah saya sudah menyuruh Tante untuk membuat Azril terobsesi kepada Tante? Kenapa Tante malah berbuat seperti itu.” Kesal Daniel.
“Oke, aku minta maaf dan sekarang…”
Daniel memotong ucapan Laras. “Tidak untuk malam ini, lakukan tugasmu dengan benar, setelah itu aku akan memberikan kamu surga yang sebenarnya.” Ucap Daniel sembari menyeringai kearah Laras yang kian frustasi.
“Apa?”
Daniel tidak mengubrisnya, ia turun dari tempat tidurnya dan mengambil pakaian Laras yang berserakan. “Pergilah! Temui saya setelah kamu melaksanakan tugas yang saya berikan.” Usir Daniel. Ceritasex.site
Dengan perasaan campur aduk, Laras segera bangun dari tempat tidur Daniel dan mengenakan kembali pakaiannya. Tak terasa bulir-bulir air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Laras benar-benar merasa terhina atas perbuatan Daniel. Ia merasa seperti wanita murahan yang mengemis orgasme kepada pria yang memperkosanya.
“Apa salah saya Dan?” Lirih Laras.
Daniel menghidupkan sebatang rokok. “Tante tidak salah, tapi yang salah keluarga ini, keluarga saya. Mereka yang membuat saya melakukan semua ini, membuat Tante harus ikut merasakan penderitaan atas masa lalu keluarga saya.” Ia menyeringai, dadanya terasa sesak setiap kali mengingatnya.
“Aku pergi.” Ujar Laras. Ia tidak mengerti dan berfikir kalau itu hanyalah alasan Daniel untuk membenarkan apa yang Daniel lakukan.
Ia melangkah keluar dan berharap Daniel menariknya kembali, memperkosanya seperti dulu, membuat tubuhnya bermandikan keringat dan spermanya. Tapi sayang, hingga ia berada di dalam kamarnya Daniel tak juga memanggilnya kembali.
Bersambung… Kumandang Adzan dari masjid yang berada tidak jauh dari rumahnya, membangunkan Rayhan dari lelap tidurnya. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang menyentuh selangkangannya. Saat ia membuka matanya, Rayhan tidak dapat berkedip memandang sosok bidadari yang tengah tertidur di sampingnya, dengan tangannya yang menindih selangkangannya.
Ternyata tanpa sadar Zaskia malah tertidur di atas tempat tidur Rayhan yang tidak begitu besar sehingga jarak diantara mereka berdua sangat dekat sekali.
Sanking dekatnya Rayhan dapat merasakan hembusan hangat dari nafas Zaskia yang menerpa sebagian wajahnya.
Tentu saja kesempatan mas itu tidak di sia-sia kan Rayhan, dengan iseng ia memasukan tangan Zaskia ke dalam celana pendeknya dengan perlahan agar Zaskia tidak sampai bangun, hingga ia dapat merasakan betapa halus telapak tangan Zaskia yang kini menyentuh langsung batang kemaluannya yang hangat.
Cukup lama Rayhan menatap dan memandangi wajah cantik Zaskia. Hingga akhirnya dengan perlahan Zaskia membuka matanya. Reaksi pertama saat membuka matanya hampir sama dengan Rayhan, ia terdiam sejenak, menatap wajah Rayhan dengan tatapan penuh kegaguman dengan sosok Rayhan.
“Pagi Kak!” Sapa Rayhan serak.
Wanita cantik itu tersenyum. “Kakak ketiduran di sini ya!” Ucap Zaskia yang belum sepenuhnya sadar, ia menggeliat dan pada saat bersamaan tangan kanannya tidak sengaja malah meremas rudal Rayhan. “Eh…” Heran Zaskia.
Mata Zaskia turun kebawah menatap selangkangan Rayhan, dengan wajah merona merah. Tampak Zaskia terlihat kebingungan melihat tangannya yang entah kenapa bisa berada di dalam celana Rayhan, selain itu ia juga dapat merasakan dengan sangat jelas jemari tangannya menggenggam rudal Rayhan yang tengah ireksi, terasa hangat dan berkedut-kedut.
Saat ia hendak menarik tangannya, secara tiba-tiba Rayhan mengecup hangat bibir Zaskia.
Tubuh Zaskia mendadak kaku selama beberapa detik, jantungnya berdetak tak karuan, dan sekujur tubuhnya seakan merinding, hingga bulu kuduknya berdiri. Ya, walaupun kecupan itu hanya sekilas saja, tapi begitu membekas ke dalam dirinya. Seumur hidupnya baru kali ini ada seorang pria mengecup bibirnya.
“Ke-kenapa kamu nyium Kakak?” Sebuah pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ia tanyakan.
Normalnya, ia seharusnya marah dengan perbuatan adik kandungnya yang berani mencium bibirnya. Tapi entah kenapa hati kecilnya malah merasa sangat bahagia, sehingga ia lupa akan status keduanya sebagai Kakak dan Adik kandung.
“Soalnya Kakak cantik kalau lagi bangun tidur!” Jawab Rayhan santai. Seakan apa yang ia lakukan barusan bukanlah sesuatu yang salah.
“Gombal! Jijik tau.” Sungut Zaskia.
Rayhan tertawa sembari memonyongkan bibirnya. “Uhmmpps… Uhmmpps… Umppss…” Goda Rayhan seakan ia ingin kembali mencium bibir Kakaknya.
“Iiihk… Rayhan, ogah kakak di cium kamu. Hihihi…” Dengan tangan kirinya ia mendorong bibir Rayhan sembari terkikik.
Tanpa sadar Zaskia lupa kalau tangan kanannya masih berada di dalam celana Rayhan. Bahkan jemarinya malah meremas-remas batang rudal Rayhan yang makin terasa keras dan berkedut-kedut.
Tentu saja Rayhan sangat menikmati sentuhan telapak tangan Zaskia yang terasa halus dan lembut. Tapi ia berusaha menyembunyikannya dengan terus menggoda Zaskia, dengan tujuan agar Kakaknya lupa dengan keberadaan tangannya yang berada di dalam celana pendeknya.
“Sekali saja Kak.” Melas Rayhan.
Zaskia menggelengkan kepalanya. “Ogaaah… Mulut kamu bauk Ray…” Rengek Zaskia, sementara tangan kanannya malah semakin keras meremas batang kemaluan Rayhan.
Kedutan rudal Rayhan makin lama makin terasa keras, menandakan kalau pertahannannya Rayhan sudah hampir jebol. Bahkan wajah Rayhan mengeras ketika ia sudah tidak mampu lagi menahan ledakan spermanya.
Croooottss… Croooottss… Croooottss…
Hening….
Zaskia menelan air liurnya yang hambar ketika merasakan lelehan hangat sperma Rayhan di tangannya.
Kesempatan tersebut tidak di sia-siakan oleh Rayhan, pemuda itu dengan kurang ajarnya malah kembali menyosor bibirnya. Kali ini tidak hanya mengecup, Rayhan juga melumat bibir merah Zaskia dengan lembut selama beberapa detik. Zaskia yang tengah shock berat hanya diam membiarkan Adiknya melakukan apapun yang ia mau.
“Yeaaaa… Dapat! Hahaha…” Tawa Rayhan senang.
Sejenak Zaskia terpaku melihat Rayhan, yang sama sekali tidak terlihat kalau dirinya merasa aneh dengan apa yang barusan terjadi diantara mereka.
Rayhan tetap seperti Rayhan yang ia kenal, jahil dan kekanak-kanakan. Walaupun beberapa detik yang lalu, Rayhan terlihat sangat jantan ketika mencium bibirnya. Bahkan Adiknya yang saat ini tengah berteriak senang karena berhasil menjahilinya, beberapa waktu sebelumnya orgasme di tangannya.
Zaskia menarik tangannya dari dalam celana Rayhan sembari mengusap bibir merahnya. “Iihkk… Najis banget kamu Dek!” Rutuk Zaskia yang entah sadar atau tidak ia melepehkan sperma Rayhan di bibir merahnya.
“Siapa suruh lengah! Hahaha… Satu kosong Kak.” Ledek Rayhan.
Zaskia memasang wajah garangnya seperti biasanya. “Eehmm… Berani ya kamu.” Dengan gigi menggeratak Zaskia menyambar perut Rayhan dengan cubitan khasnya.
“Oughkk…” Lenguh Rayhan seketika menahan sakit.
“Masih berani?”
Rayhan menggeleng. “Ampun Kak… Aduh… Sakit ni Kak.” Melas Rayhan dengan raut wajah menyedihkan.
“Makanya jangan berani jahilin Kakak.” Omel Zaskia lagi.
“Iya Kak, janji gak lagi…”
“Benar ya.”
“Iya Kak.” Mohon Rayhan.
Sekilas dari raut wajah Zaskia tampak sangat puas melihat Adiknya tidak berkutik. Tapi pada kenyataannya Zaskia masih merasa shock atas apa yang barusan mereka berdua lakukan. Adik dan Kakak kandung berciuman bibir layaknya sepasang suami istri. Tidak sampai di situ saja, Rayhan orgasme di tangannya, dan ia masih bisa merasakan aroma sperma Rayhan yang rasanya cukup asin dan lengket di bibirnya.
Zaskia jelas sadar kalau yang mereka lakukan barusan adalah sebuah perbuatan yang tabu, yang di larang oleh Agama. Tapi entah kenapa, melihat tingkah Rayhan yang terlihat biasa-biasa saja, membuat Zaskia juga ingin menganggap kejadian barusan hanya sebagai angin lalu saja, seakan tidak pernah terjadi apapun diantara mereka berdua.
*****
Di kediaman Ustadza Dwi
Aziza yang baru selesai menyiapkan buku-buku pelajarannya, segera mendatangi Ibunya Ustadza Dwi. Ia pamit untuk segera berangkat ke sekolah. Dwi mengantarkan putrinya hingga ke ambang pintu rumahnya.
Selepas kepergian Aziza, Ustadza Dwi segera menutup dan mengunci pintu rumahnya. Setengah berlari ia menuju ke pintu belakang rumahnya.
Saat pintu terbuka, tampak seorang pria keluar dari persembunyiannya. Dengan penampilan lusuhnya ia menghampiri Ustadza Dwi yang menyambut kedatangannya dengan senyuman hangat. Di depan pintu belakang, tanpa ada rasa malu Dwi yang sudah diketahui telah bersuami memeluk erat Pak Imbron.
“Kangen ya! Hahaha…” Tawa Pak Imbron.
Pria beruntung itu meraih dagu Ustadza Dwi dan melumat bibir merah Ustadza Dwi.
Tanpa merasa segan Dwi bertukar lidah dan air liur dengan Pak Imbron. Rasa tembakau yang begitu menyengat seakan tidak menjadi penghalang bagi keduanya.
Sembari melangkah masuk ke dalam rumah, mereka tidak melepas pagutan bibir mereka berdua, bahkan tangan kanan Pak Imbron menjamah pantat berisi Dwi yang terasa kenyal seperti agar. Sentuhan-sentuhan Pak Imbron dalam sekejap menenggelamkan Dwi ke dalam kubangan birahi.
Tapi tiba-tiba…
Pook… Pook… Poop…
Beberapa bapak-bapak berjalan mendekati mereka sembari bertepuk tangan dengan senyuman menyeringai menatap keduanya yang kepergok berbuat asusila.
Wajah Dwi tampak pucat pasih, ia tidak menyangkah kalau aksi gila mereka dengan cepat ketahuan oleh orang lain. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau seandainya aksi gila mereka di laporkan oleh mereka.
Berbeda dengan Pak Imbron, ia terlihat tenang bahkan dengan santainya ia mengambil besi palang pintu untuk memukul bahkan membunuh bapak-bapak tersebut yang tak lain adalah rekan kerjanya sendiri. Gerombolan bapak-bapak tersebut yang tadi petantang petenteng kini dengan serempak mengangkat tangan mereka.
“Majulah.” Seringai Imbron.
“Tenang Pak… Kita ke sini cuman mau berdamai.” Ujar Pak Budi.
Imbron menyeringai. “Damai? Berdamailah dengan besi ini.” Ancam Pak Imbron. Ia benar-benar akan mengamuk karena kesenangannya yang terganggu, beruntung Ustadza Dwi buru-buru menghentikannya.
“Kita dengarkan saja dulu apa mau mereka.” Pinta Dwi.
“Baiklah, katakan apa yang kalian mau.” Ucap Pak Imbron dengan nada ancaman.
Mereka berempat tampak menelan air liur sanking takutnya. “Sabar Pak… Sebenarnya kami ke sini cuman karena penasaran kenapa Bapak selalu menghilang! Bukan karena apa-apa.” Ucap Lukman ketakutan.
“Dan jujur saja Pak, sebenarnya ehmm… Melihat tadi Bapak cipokan dengan Ustadza Dwi, kita jadi…” Pak Edi tak berani menlanjutkan ucapannya, malah menyenggol temannya.
“Apa si!” Protes Pak Pak Lukman.
“Maaf Pak Imbron, kita jadi ikut nafsu terhadap Ustadza Dwi.” Ucap Jaja. Tubuhnya sampai merinding sanking takutnya kalau Pak Imbron melayangkan besi tersebut kearahnya.
Pria berambut panjang yang tak terurus itu mencoba memberanikan diri. “Ustadza Dwi sangat cantik, siapapun juga pasti suka… Ya… Siapa tau Pak Imbron mau berbagi.” Ujar Pak Budi takut-takut menatap Pak Imbron.
Pak Imbron manggut-manggut sambil memukul pelan gagang besi yang ada di tangannya ke lantai. “Ooo… Jadi itu niat kalian.” Geram Pak Imron.
“Sabar Pak! Kami tidak akan memaksa.” Mohon Pak Lukman.
Lagi-lagi Dwi harus menghentikan Pak Imbron sebelum ia benar-benar membuat mereka berempat sekarat terkena hantaman palang besi pintu rumahnya. Ia menggelengkan kepalanya, meminta Pak Imbron untuk bersabar.
Jujur saja Dwi sedikit merinding mengetahui niat mereka, sekaligus merasa tertantang.
“Jadi… Bapak sekalian juga mau begituan saya?” Suara Dwi gemetar, menatap satu persatu bapak-bapak petugas kebersihan pesantren Al Tauhid.
“I-iya Bu Ustadza.”
Dwi menatap Pak Imbron. “Saya pikir lebih baik kita ambil amannya saja Pak Imbron.” Dwi kembali menatap keempat bapak-bapak lainnya. “Saya tidak mau ada keributan, jadi…” Dwi menggantung kalimatnya.
Imbron tersenyum. “Sepertinya itu solusi yang baik.” Ujar Pak Imbron lalu melumat kembali bibir Ustadza Dwi.
“Kalian buruan masuk, dan kunci pintunya.” Ucap Dwi kemudian.
Setelah memastikan kondisi aman, mereka segera menyusul Pak Imbron dan Dwi yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Mereka berempat menatap sebentar kamar Ustadza Dwi yang terlihat begitu rapi dan wangi. Dinding kamarnya terdapat sebuah foto Ustad Furqon yang terlihat gagah dengan jas hitamnya.
Pandangan mereka beralih ke Dwi yang kini berdiri di hadapannya. Seraya tersenyum Dwi mulai menanggalkan gamis syar’i yang ia kenakan, menyisakan pakaian dalam serba ungu dengan hijab sewarna dengan pakaian dalamnya.
“Tunggu apa lagi Pak!” Ujar Dwi.
Pak Edi maju lebih dulu, ia memeluk tubuh ramping Ustadza Dwi sembari melumat bibir Ustadza Dwi. Ada sensasi geli di bibir Ustadza Dwi ketika kumis panjang Pak Edi menusuk-nusuk kulit bibirnya.
Tanpa di komando mereka segera menghampiri Ustadza Dwi. Pak Jaja bertubuh pendek, segera berlutut di belakang Dwi, ia menciumi sekujur pantat mulus Dwi dan sepasang paha mulus Dwi yang terpampang halus dan lembut. Dalam sekejap pipi pantat dan paha Dwi menjadi sangat basah karena air liur Pak Jaja.
“Bawak ke kasur aja.” Seru Lukman.
Mereka segera membawa Ustadza Dwi naik keatas pembaringan, di kelilingi keempat pria dewasa yang menatapnya penuh birahi. Hanya Pak Imbron yang terlihat tidak begitu tertarik dan membiarkan teman-teman nya untuk lebih dulu menikmati tubuh Dwi. Sementara dirinya untuk sementara waktu cukup untuk melihat saja.
Jemari-jemari mereka mulai menjelajahi setiap inci kulit mulus Ustadza Dwi. Sementara sang Ustadza tampak begitu pasrah.
Dalam sekejap pakaian dalamnya sudah di lepas oleh mereka dan hanya menyisakan hijabnya saja. Ketika Pak Jaja hendak melepas hijabnya, Dwi sempat menolaknya.
“Jangan Pak! Ini identitas saya.” Ujar Dwi.
“Tidak masalah Bu Ustadza, hehehe…” Ujar Pak Jaja, yang kemudian mencium bibir Dwi.
Tiba-tiba kedua kaki Ustadza Dwi di rentangkan oleh seseorang dan ternyata yang melakukannya adalah Pak Lukman. Mata Pak Lukman menatap nanar kearah bibir serambi lempit Dwi yang kemerah-merahan, sungguh sangat mengundang birahi.
Dwi menggeliat manja, menatap Pak Lukman dengan gestur malu-malu. Membuat Pak Lukman gemas. Ia membenamkan wajahnya di selangkangan Dwi.
“Oughkk… Pak! Aahkk…” Lenguh Ustadza Dwi.
Lidah Lukman bermain-main dengan bibir kemaluan Dwi, menghisap clitorisnya dan sesekali menusuk-nusuk lobang serambi lempit Dwi dengan lidahnya. “Sluuuppss… Sluuuppss… serambi lempit Ustadza Dwi bersih, enak…” Racau Pak Lukman.
“Pak… Aahkk… Aahkk…” Erang Dwi makin keras.
Pantatnya sedikit terangkat ketika jari Pak Lukman menerobos masuk ke dalam rongga serambi lempitnya. Dengan gerakan perlahan Pak Lukman mengocok serambi lempit Ustadza Dwi.
Budi dan Jaja secara bersama-sama merangsang buah dada Dwi yang berukuran 34D itu. Mereka melumat payudara Dwi, menghisap putingnya yang terasa makin keras dan sensitif. Tubuh Dwi menggelinjang nikmat, ia tanpa henti mengeluarkan suara erangan manja dari mulutnya.
Pak Edi segera melepas celananya, ia meraih tangan Ustadza Dwi untuk mengoralnya.
Jemari halus Dwi menggenggam rudal Pak Lukman, ia mengocoknya sembari sesekali mencium dan menjilati batang rudal Pak Lukman, hingga membuat Pak Lukman mendesis nikmat.
Sentuhan dan rangsangan yang terus-menerus ia terima, akhirnya membuat pertahanan Dwi jebol juga. Tubuhnya menggelinjang beberapa saat ketika ia mengalami sebuah orgasme dengan sensasi yang sungguh luar biasa ia dapatkan dari mereka berempat. Dengan mata terpejam ia melepaskan lendir cintanya.
Creeettsss…. Creeettsss…. Creeettsss…
“Oughkk….” Lenguh panjang Ustadza Dwi.
Pak Lukman membelai bibir serambi lempit Ustadza Dwi. “Gimana rasanya Bu Ustadza? Enak?” Goda Pak Lukman, tampak bibir hitamnya berlepotan lendir cinta Dwi.
“Iya Pak enak banget.” Jawab Ustadza Dwi.
“Saya masukan sekarang ya Bu?” Izin Pak Lukman sembari melepas pakaiannya.
Dwi mengguk setuju. “Pelan-pelan ya Pak!” Pinta Dwi, ia menggenggam rudal Pak Lukman dan mengarahkannya di lobang serambi lempitnya yang sudah sangat basah.
“Di jamin Ibu bakalan puas, hahaha…” Tawa Lukman senang.
Dwi hanya tersenyum menatap Pak Lukman, dan membiarkan rudal Pak Lukman menyeruak masuk ke dalam lobang peranakannya. Perlahan tapi pasti, rudal Pak Lukman terbenam ke dalam lobang sempit Ustadza Dwi.
Tubuh Dwi menegang sesaat menikmati sensasi sodokan rudal Lukman di dalam serambi lempitnya.
Dengan gerakan perlahan Pak Lukman mulai memaju mundurkan rudalnya, menjelajahi relung serambi lempit Ustadza Dwi yang terasa pas, memeluk rudalnya.
“Kayak mimpi bisa menyetubuhiin Ustadza hari ini.” Gumam Lukman.
Ustadza Dwi melingkarkan kakinya memeluk pinggang Pak Lukman. “Aahkk… Terus Pak! Enaaak Pak… Aaahkk… Aahkk…” Desah Ustadza Dwi yang kembali hanyut akan permainan terlarang yang tengah mereka lakukan saat ini.
“Ayo Bu Ustadza hisap lagi.” Pinta Pak Eddi.
Ustadza Dwi yang sudah sangat terangsang segera melahap rudal Pak Eddi. Ia mengulumnya, membuat rudal Pak Eddi basah sepenuhnya oleh air liurnya. Tidak hanya batang rudalnya, Ustadza Dwi juga menjilati kantung telur Pak Eddi, dan sesekali menghisapnya penuh nikmat.
Sementara Pak Jaja dan Pak Budi masih sibuk bermain-main dengan buah dadanya yang ranum. Kadang di remas, dan kadang di jilat dan di hisap. “Auww…” Jerit kecil Dwi ketika mereka mulai berani menggigit putingnya.
“Enak banget Bu Ustadza! Apa Ustadza Dwi suka dengan rudal saya.” Tanya Pak Edi.
“Suka… Suka sekali Pak.” Jawab Dwi cepat.
Mendengar ucapan Ustadza Dwi, Pak Edi jadi semakin bersemangat, ia menahan kepala Dwi sembari menggerakan pinggulnya maju mundur menyodok mulut Ustadza Dwi. Sensasi yang di dapatkan di luar ekspektasi Dwi, ternyata jauh lebih nikmat ketika tubuhnya di keroyok banyak pria sekaligus.
Tidak mau tinggal diam, Ustadza Dwi ikut menggerakan pinggulnya menyambut rudal Pak Lukman yang terpaku di dalam serambi lempitnya. Creeettsss… Creeettsss… Creeettsss…. Tiba-tiba Dwi kembali orgasme dan rasanya sungguh nikmat.
“Eenghkk….” Lenguh Dwi karena mulutnya tersumpal rudal Eddy.
Kedutan serambi lempit Dwi yang cukup kuat ketika ia orgasme membuat pertahan Pak Lukman akhirnya jebol juga. Dengan satu hentakan kasar ia membenamkan rudalnya dan menyiram rahim Dwi dengan spermanya. “Enaaaaknyaaaa…” Erang Pak Lukman.
“Ughkk…” Desah Dwi nikmat.
“Maaf Bu, tadi di dalam.” Ucap Pak Lukman.
“Saya juga mau keluar Bu.” Ujar Pak Eddi.
Ia mencabut rudalnya lalu mengarahkan rudalnya keatas kepala Ustadza Dwi. Croooottss… Croooottss… Croooottss… Spermanya berhamburan diatas jilbab ungu yang di kenakan Dwi. “Gila puas banget….” Komentar Pak Eddi.
Tubuh Ustadza Dwi tampak kelelahan, ia tidak menyangkah kalau melayani mereka bisa sangat menguras tenaganya. Tetapi ia merasa sangat puas.
Dengan tubuh yang bermandikan keringat, ia menatap Pak Jaja dan Pak Budi, seakan menantang mereka berdua untuk segera meladeninya. Pak Jaja dan Pak Budi saling pandang, kemudian Pak Budi tiduran diatas tempat tidur Ustadza Dwi yang tampak sudah lecek dan bermandikan keringat.
Dwi segera merangkak naik keatas selangkangan Pak Budi, dengan tangannya ia menuntun rudal Pak Budi memasuki serambi lempitnya yang sudah sangat licin.
Bleeess…
“Ough…” Lenguh Dwi.
Tubuh Pak Budi mendadak kaku ketika rudalnya dalam sekejap tertelan ke dalam tubuh Ustadza Dwi. “Mantaaab…” Racau Pak Budi merasakan pijitan dinding serambi lempit Dwi.
“Ssstt…. Aahkk… Enak sekali Pak.” Racau Dwi sembari menggerakan pantatnya naik turun diatas rudal Pak Budi yang terasa menusuk hingga kebagian dalam serambi lempitnya. Dwi meletakan kedua tangannya di dada Pak Budi agar semakin leluasa menggerakan pantatnya.
Tubuh Dwi terhentak seiring dengan meningkatnya penetrasi kedua kelamin mereka. Ploooookkss… Ploooookkss… Ploooookkss… Wajah Dwi mendongak keatas sembari membuka mulutnya hingga berbentuk “O”
Pak Jaja menyodorkan rudalnya, dan dengan tangkas Dwi melahap rudal Pak Jaja.
Layaknya pelacur kelas tinggi, Dwi yang mulai terbiasa melayani dua pria sekaligus tampak sangat menikmatinya. Bahkan ia tak segan-segan meminta mereka untuk memuaskan dirinya.
“Saya keluar lagi Pak…” Jerit Dwi sembari melepaskan rudal Jaja dari dalam mulutnya. Sudah tidak terhitung berapa kali ia orgasme, tapi anehnya ia tidak pernah merasa puas, ia ingin dan ingin lagi mendapatkan orgasmenya.
Dari bawah Pak Budi meremas-remas susu Dwi yang berbentuk buah melon. Jemarinya memilin nakal puting Dwi, hingga birahi Dwi kembali naik.
Kini Dwi berkonsentrasi memuaskan hasrat Pak Budi, sembari mengocok-ngocok rudal Pak Jaja.
“Saya sudah gak kuat lagi Bu Ustadza…” Ujar Pak Budi.
Sembari memegangi kedua pinggul Ustadza Dwi, Pak Budi menghentak-hentakkan rudalnya keatas, meyodok serambi lempit Ustadza Dwi. Croooottss… Croooottss… Croooottss… Sperma Pak Budi menembak keras ke dalam rahim Dwi.
Masih dengan posisi menduduki rudal Pak Budi, Dwi menjepit rudal Pak Jaja dengan payudaranya.
“Oughkk…” Jerit Pak Jaja.
Sedetik kemudian payudara dan wajah Ustadza Dwi sudah di penuhi sperma Pak Jaja. Dengan gaya yang sangat menggoda Dwi menjilati sperma Pak Jaja yang ada di bibir dan payudaranya.
Nafas Ustadza Dwi makin terdengar berat, walaupun ia merasa lelah, tapi api birahi di dalam dirinya tak kunjung padam. Sehingga ketika Pak Edi memintanya menungging, Ustadza Dwi dengan pasrah menuruti keinginan Pak Edi.
“Aahkk…” Lenguh Pak Eddi ketika rudalnya bersemayam di dalam serambi lempit Ustadza Dwi.
Dengan gerakan perlahan Pak Eddi menggoyangkan pantatnya maju mundur, sembari membelai gemas pantat mulus Ustadza Dwi. Baginya ini seperti mimpi, ketika dirinya bisa meniduri salah satu seorang Ustadza di ponpes Al Tauhid. Apa lagi ia juga cukup mengenal baik Suami Ustadza Dwi, Ustad Furqon.
Ada rasa bersalah menyeruak di hati Pak Eddi mengingat betapa baiknya Ustad Furqon kepadanya. Tapi ia juga tidak munafik, kalau dirinya juga sangat menginginkan Ustadza Dwi.
Ustadza Dwi yang ingin segera kembali mencapai klimaksnya, segera menggerakan pantatnya maju mundur menyambut setiap sodokan rudal Pak Eddi dari belakang. Tangan kirinya ia jadikan tumpuan, sementara tangan kanannya meremas-remas payudaranya sendiri, merangsang bagian sensitif tubuhnya.
Pak Eddi yang seakan paham apa yang di inginkan Ustadza Dwi semakin mempercepat sodokannya. “Oughkk….” Erang Ustadza Dwi ketika ia kembali orgasme. ‘Creeettss…. Creeettsss… Creeettsss…’ Ustadza Dwi merasa rudal Pak Eddi terasa semakin licin di dalam serambi lempitnya.
Pak Eddi menyuruh Ustadza Dwi yang kelelahan untuk terlentang menghadapnya. Kedua tangan Pak Eddi mengangkat kedua tungkai kaki Ustadza Dwi di pundaknya dan kembali memasukan rudalnya ke dalam serambi lempit Ustadza Dwi.
Sembari menggenjot serambi lempit Ustadza Dwi, Pak Eddi melumat bibir merah Ustadza Dwi.
“Saya keluar Bu Ustadza!” Geram Pak Eddi, dengan terus menghentak rudalnya di dalam lobang serambi lempit Ustadza Dwi. Croooottss… Croooottss… Croooottss… Semburan sperma Pak Eddi memenuhi liang peranakan Ustadza Dwi.
Pak Eddi mencabut rudalnya yang tampak mulai mengkerut kecil. “Bu Ustadza memang luar biasa.” Puji Pak Eddi sangat puas, ia menyodorkan rudalnya ke wajah Ustadza Dwi.
“Pak Eddy juga hebat! Sluuuppss… Sluuuppss… Sluuuppss…” Balas Ustadza Dwi sembari mengulum rudal Pak Eddi.
Pak Imbron yang tadinya hanya menonton, mulai menanggalkan pakaiannya hingga telanjang bulat. Kemudian ia meminta Pak Eddi untuk menyingkir. Ustadza Dwi tersenyum menggoda, jemarinya menggenggam dan membasahi rudal Pak Imbron sebelum nantinya akan di pakai untuk menyodok-nyodok serambi lempitnya.
Selagi menikmati raut wajah Ustadza Dwi yang tengah mengoral rudalnya, Pak Imbron membelai kepala Ustadza Dwi.
“Bu Ustadza pernah main dari belakang?” Tanya Pak Imbron.
Ustadza Dwi menggelengkan kepalanya. Ia mengerti maksud dari ucapan Pak Imbron adalah anal sex. “Belum pernah Pak, apa Bapak mau mencobanya.” Tawar Ustadza Dwi, karena ia juga penasaran bagaimana rasanya ketika lobang pantatnya juga terisi rudal.
“Tentu saja, hehehe…” Jawab Pak Imbron, yang kemudian meminta Ustadza Dwi menungging.
Ustadza Dwi merentangkan kedua kakinya selebar mungkin, sembari membuka pipi pantatnya. Mula-mula Pak Imbron bermain dengan lobang anus Dwi menggunakan jarinya, hingga membuat Ustadza Dwi meringis karena rasa nikmat sentuhan jari Pak Imbron. Tapi itu tidak begitu lama, karena Pak Imbron yang kemudian menggantikan jarinya dengan rudalnya.
Dengan perlahan kepala jamur Pak Imbron membela lobang anus Ustadza Dwi. “Aduh… Uhkk… Perih Pak.” Lenguh Ustadza Dwi, kedua tangannya terkepal erat.
“Tahan Bu, nanti juga enak!” Ujar Pak Imbron.
Ia mencengkram pantat Ustadza Dwi sembari mendorong kasar rudalnya, hingga akhirnya rudalnya amblas ke dalam lobang anus Dwi yang secara otomatis mengalami kontraksi yang membuat jepitan dinding anusnya semakin erat memeluk rudal Pak Imbron yang berukuran raksasa itu.
Dwi menggigit bibirnya dengan erat ketika Pak Imbron mulai menggerakkan rudalnya maju mundur.
“Perih… Aahkk… Pelan-pelan Pak.” Mohon Dwi.
Pak Imbron yang terlalu bernafsu tidak mengindahkan ucapan Dwi. Ia semakin cepat menyodok-nyodok anus Dwi yang tampak berkerut pucat. “Oughkk… Nikmat sekali Bu Ustadza! Aaahkk… Aahkk…” Desah Pak Imbron.
“Auww… Ssstt…” Desah Ustadza Dwi.
Tiba-tiba Pak Jaja masuk ke bawah tubuh Ustadza Dwi. “Main bertiga Bu Ustadza!” Ajak Pak Jaja. “Turunkan pantatnya Bu.” Suruh Pak Jaja lagi.
Dengan perlahan Ustadza Dwi menurunkan pantatnya, dengan posisi rudal Pak Jaja yang dengan perlahan masuk ke dalam rongga kenikmatannya. “Ughkk…” Lenguh Dwi keenakan ketika serambi lempitnya kembali terisi penuh.
“Kita goyang bareng Pak Imbron.” Ajak Pak Jaja.
“Siap Pak! Hahahaha…” Tawa Pak Imbron.
Secara bersamaan mereka berdua memompa lobang anus dan serambi lempit Ustadza Dwi, seakan mereka lupa dengan pertikaian mereka sebelumnya. Sosok Ustadza Dwi tampaknya menjadi pemersatu bagi mereka yang bertikai.
Pak Budi menyodorkan rudalnya kembali untuk di kulumnya. Dengan senyum manisnya Ustadza Dwi menghisap rudal Pak Budi, sementara kedua tangannya mengoral rudal Pak Eddi dan Pak Lukman yang staminanya kembali pulih. Pertempuran panjang mereka berakhir tepat ketika suara adzan zhuhur berkumandang.
*****
Teng… Teng… Teng…
Para santriwati berhamburan keluar dari dalam kelas mereka ketika lonceng tanda jam istirahat di bunyikan. Wanda yang belum beranjak dari mejanya sempat melirik Fei yang juga masih duduk di bangkunya. Ia terlihat begitu lamban memasukan bukunya ke dalam tas ranselnya.
Setelah kelas sudah sepi, Wanda menuju pintu kelas dan menutupnya. Tubuh Fei sampai merinding ketika melihat Wanda berjalan mendekatinya.
“Gak ke kantin?” Tanya Wanda.
Fei menggelengkan kepalanya. “Masih kenyang Ustadza.” Jawab Fei seraya tersenyum kaku.
“Ustadza boleh duduk di sini?”
Fei mengangguk sembari menggeser duduknya. Wanda segera duduk di samping Fei. Ia meletakan tangannya diatas paha Fei dan memijitnya dengan sangat pelan.
Pijitan lembut Ustadza Wanda membangkitkan birahi muda Fei, bahkan gadis cantik itu tampak begitu tegang. Nafasnya terputus-putus sanking tegangnya. Ia menggigit bibirnya ketika Ustadza Wanda merangkul pundaknya sembari mendekatkan wajah mereka, hingga akhirnya bibir merah mereka bertemu.
Dengan lembut Ustadza Wanda mengulum bibir Fei, membimbing muridnya yang lugu itu untuk menikmati setiap sentuhan yang ia berikan. Perlahan tapi pasti, Fei yang semakin hanyut akan sentuhan Ustadza Wanda, mulai membalas pagutan sang Ustadza.
Fei menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Ustadza Wanda, membiarkan wanita cantik itu menghisap dan mengulum lidahnya.
“Ehmmpsss… Ehmmpsss… Ehmmpsss…”
Sembari berciuman tangan Wanda tidak tinggal diam, ia menggerayangi tubuh muridnya. Menarik keatas rok hijau yang di kenakan Fei, sembari membelai paha mulus Fei, hingga menyentuh selangkangan Fei yang di balut kain berwarna putih.
Nafas kedua kian memburu, seiring meningkatnya aktivitas seksual yang mereka lakukan. “Ustadza… Ehmmpsss… Eehmmpss…” Lenguh Fei ketika payudaranya juga di gerayangi Ustadza Wanda.
“Ustadza buka ya sayang!” Pinta Wanda sembari menanggalkan kancing seragam Fei.
“I-iya Ustadza.” Jawab lemah Fei.
Dalam sekejap kancing kemeja Fei sudah terbuka semua. “Indah sekali sayang!” Puji Wanda, ia menyingkap keatas bra yang menutupi gunung kembar Fei.
Gadis cantik itu memeluk erat Ustadza Wanda, membenamkan wajahnya di dalam pelukan Wanda. Sementara sang Ustadza makin intens menjamah bagian-bagian sensitif tubuh Fei, seperti menggosok-gosok kemaluan Fei, dan meremas-remas payudara Fei.
Dengan sedikit menunduk, Ustadza Wanda melumat payudara Fei, ia menghisap puting mungil Fei. ‘Sruuuppss…. Sruuupss… Sruuupss…’ Tanpa henti ia menyeruput puting muridnya.
“Aahkk… Engkk… Aahkk…” Desah Fei.
Ustadza Wanda meminta muridnya untuk duduk diatas meja, menghadap kearahnya dengan kaki mengangkang. “Buka celana dalam kamu sayang.” Suruh Wanda sembari mengusap-usap paha mulus Fei yang tampak bersih.
Kedua tangan Fei menarik turun celana dalamnya, melewati pantatnya hingga ujung kakinya. “Ustadza.” Lirih Fei, sembari membuka kembali kakinya.
“Wangi.” Puji Wanda.
Kemudian ia mendekatkan wajahnya di selangkangan Fei, menjilati paha mulus Fei secara bergantian. “Ough… Ustadza! Aahkk…” Erang Fei tak tahan.
Ujung lidah Wanda menggeletik bibir serambi lempit muridnya yang tampak masih begitu rapat. Ia menggosok-gosok clitoris muridnya, membuat Fei menggelinjang, dan tampak bibir kemaluannya yang semakin basah seiring dengan intensitas cairan lendirnya yang keluar semakin banyak.
Tangan kanan Fei mendekap kepala Ustadza Wanda, sementara tangan kiri Fei mencengkram pinggiran mejanya.
“Ustadza…. Fei pipis.” Jerit Fei.
Pantatnya terhentak beberapa saat ketika ia mengalami orgasme. ‘Screeeetss…. Creeettsss…. Creeettsss….’ Fei mendapatkan pipis enaknya dari sapuan lidah Ustadza Wanda.
Wanda mengangkat wajahnya kemudian menatap Fei yang tersenyum malu. “Enak sayang?” Goda Wanda, Fei mengangguk mengiyakan apa yang di katakan Ustadza.
“Terimakasih Ustadza.” Lirih Fei.
Ustadza Wanda merapikan kembali rok hijau yang di kenakan Fei, lalu mengantongi celana dalam Fei. “Nanti malam ke kamar Ustadza gak usah pake dalaman ya.” Bisik Wanda sembari mengedipkan matanya kearah Muridnya.
“Iya Ustadza.” Jawab Fei lemah.
Setelah itu Wanda meninggalkan Fei yang tampak masih menikmati sisa-sisa orgasmenya. Ia tidak menyangkah sentuhan sang guru sungguh membuatnya seakan melayang. Entah kenapa Fei menjadi tak sabar menunggu malam tiba, dan menantikan apa yang akan di lakukan Wanda kepada dirinya.
*****
Sepulang sekolah Rayhan, Doni, Nico segera menuju rumah Bu Surti yang kebetulan memiliki warung kecil di depan rumahnya. Tapi Rayhan dan yang lainnya bukannya duduk di warung Bu Surti, malahan mereka memasuki rumah Bu Surti menuju halaman belakang rumah Bu Surti. Di sana sudah ada Aziza, Aurel, Adinda dan Asyifa yang tengah mengobrol sembari menikmati gorengan Bu Surti.
Bu Surti sendiri sebenarnya memiliki ikatan dengan Pak Bahar. Kasus kolor ijo beberapa waktu yang lalu membuat Bu Surti berhutang Budi kepada Rayhan dan kawan-kawan karena telah membuat saudaranya Pak Bahar terlepas dari kutukan kolor ijo. Ia juga berhutang maaf kepada Rayhan dan kawan-kawan karena ulah saudaranya yang membuat heboh pesantren.
Sebagai bentuk balas Budinya, ia membiarkan halaman belakangnya menjadi tempat mereka berkumpul, atau bisa di bilang menjadi markasnya mereka. Beruntung Suaminya Bu Surti bukan tipe laki-laki cerewet sehingga ia juga memberi izin kepada mereka untuk menjadikan perkarangan belakang rumahnya sebagai tempat berkumpulnya mereka.
Aurel menatap kedatangan Rayhan dan yang lainnya. “Kalian juga mau menghakimiku?” Ketus Aurel. Ia sangat kesal karena teman-temannya yang ia anggap terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya.
“Maaf Rel! Bukan begitu, kami hanya tidak ingin kamu menjadi korban Dedy.” Jelas Rayhan, ia duduk di dekat Aziza sembari mengambil gorengan yang ada di dalam piring.
“Kayak kalian sudah jadi orang benar saja.” Sengit Aurel.
Adinda menghela nafas. “Maaf Rel, kami hanya mencoba mengingatkan kamu.” Nasehat Adinda, yang selama ini selalu di dengar oleh teman-temannya. Tapi kali ini nasehatnya tidak mampu membuat sahabatnya berfikiran jernih.
“Sudahlah, jangan sok ngurusin hidup orang.” Kesal Aurel.
“Astaghfirullah Rel!” Ucap Asyifa.
“Sebagai sahabat sudah sewajarnya kita mencoba mengingatkan kamu Rel.” Ujar Aziza mencoba membuat Aurel mengerti kenapa teman-temannya meminta ia menjauhi Dedy. “Lagian semua orang juga tau, seperti apa kelakuan pacarmu itu.” Sambungnya lagi.
Aurel mendengus. “Setiap orang bisa berubah.”
“Jadi kamu pikir bisa merubah Dedy? Terlalu naif kamu Rel.” Celetuk Doni.
“Aku pulang.” Ucap Aurel tiba-tiba.
“Sabar Rel.” Rayhan mencoba menahan Aurel.
Tapi Aurel yang keburu kesal segera pergi meninggalkan teman-temannya. Ia merasa sangat kecewa dengan sikap teman-temannya yang seakan ingin menghalangi kebahagiaan nya. Menurut Aurel, seharusnya mereka ikut senang bukannya malah mencoba menghasut dirinya untuk menjauhi orang yang di kasihinya.
Aziza hendak menyusul tapi di hentikan oleh Nico yang tampak tidak suka dengan sikap Aurel.
“Sudah biarkan saja! Toh dia sendiri nanti yang menyesal.” Kesal Nico sembari membuang mukanya, menatap Bu Surti yang tengah berjalan kearah mereka sembari membawa beberapa gelas minuman yang mereka pesan.
“Kejar Zril.” Bisik Rayhan.
Pemuda yang dari tadi hanya menyimak itu menganggukkan kepalanya. Ia segera pergi meninggalkan teman-temannya yang lain dan segera menyusul Aurel.
Pak Budi yang baru pulang dari rumah Ustadza Dwi, tanpa heran melihat Aurel yang menangis, lalu di susul oleh Azril.
*****
Zaskia yang tengah di landa kebimbangan akhirnya memutuskan untuk menceritakan kejadian tadi pagi kepada Julia. Tanpa ada yang ia tutupi sama sekali. Bahkan ia mengakui kalau dirinya pada saat itu tak kuasa menolak setiap sentuhan Rayhan. Ia merasa sangat kotor dan bersalah karena membiarkan adiknya berbuat sampai sejauh itu.
Dan untuk pertama kalinya Julia terlihat sangat serius mendengarkan cerita Zaskia. Sebagai sahabat ia tau, kalau Zaskia sebenarnya suka kepada Adiknya, hanya saja ada dinding tebal yang menghalangi perasaannya kepada Rayhan.
“Saya benar-benar bingung.” Lirih Zaskia, mengakhiri ceritanya.
Julia meraih tangan Zaskia. “Kenapa harus bingung? Mbak yakin kamu tau betul apa yang kamu inginkan saat ini.” Ujar Julia seraya tersenyum menguatkan hati Zaskia.
“Apa yang harus saya lakukan Mbak.”
“Mbak punya pertanyaan, sekaligus jawaban buat kamu, asalkan kamu mau jujur.” Ujar Julia pelan. Ia menatap ke dalam mata Zaskia untuk mencari kejujuran di sana.
Zaskia mengangguk. Ia merasa tidak ada gunanya ia berbohong. Selama ini hanya Julia yang mengerti dirinya.
“Apa kamu menikmatinya?” Tanya Julia.
Sejenak Zaskia terdiam. “Iya Mbak… Aku juga gak ngerti kenapa aku suka sekali setiap kali Rayhan iseng kepadaku. Semakin lama perasaan ini rasanya makin besar.” Jawab Zaskia sejelas-jelasnya kepada Julia.
“Apa kamu bahagia?”
“Sangat bahagia!” Jawab Zaskia yakin.
“Seandainya saja sikap Rayhan berubah sama kamu, ia mulai menjaga jarak sama kamu! Apa kamu bisa terima?” Kali ini pertanyaan Julia membuat Zaskia terdiam.
Benar apa yang di katakan sahabatnya, bisa saja ia menegur Rayhan dan meminta Rayhan untuk bersikap biasa-biasa saja, dan menceramahi Rayhan tentang sikap Rayhan yang selama ini kebablasan. Tapi itu artinya hubungan mereka akan menjadi sangat kaku, Rayhan pasti merasa bersalah, dan otomatis adiknya itu akan mencoba menjaga jarak darinya. Begitu juga dengan Zaskia, ia tentu akan merasa canggung saat berada di dekat adiknya.
Jawabannya sudah jelas, ia tidak akan sanggup kalau semua itu terjadi. Ia sudah terlanjur nyaman dengan sikap Rayhan yang berbeda dari yang lainnya.
“Tapi Mbak, apa ini di benarkan oleh Agama?” Lirih Zaskia.
Julia berdiri dan tegak di belakang Zaskia. Ia memeluk leher Zaskia dari belakang. “Coba untuk sementara, untuk tidak menyangkut pautkan dengan Agama! Mulai sekarang pikirkan saja perasaan kamu, pikirkan saja mana yang kamu suka dan mana yang tidak kamu suka Za!” Nasehat Julia terdengar sangat dalam.
Zaskia sampai meremas lengan Julia, ada senyuman yang terukir di bibirnya. Benar apa yang di katakan sahabatnya, kenapa ia selalu menduakan perasaannya? Seharusnya ia lebih mendahulukan perasaannya ketimbang yang lainnya.
“Pejamkan mata kamu.” Bisik Julia.
Zaskia memejamkan matanya, menuruti perinta Julia. “Sekarang bayangkan wajah seseorang paling ingin kamu lihat.” Suruh Julia. Yang terlintas di benak Zaskia malah wajah Rayhan. “Bayangkan senyumannya, bayangkan tawanya, bayangkan semua kenakalannya.” Lanjut Julia.
Zaskia membayangkan itu semua, ia membayangkan wajah Rayhan yang tertawa setelah berhasil menjahilinya, ia membayangkan bagaimana Rayhan tersenyum setelah mencium bibirnya. Lebih jauh lagi, ia membayangkan bagaimana rasanya ketika jemarinya menyentuh rudal Rayhan, hangatnya rudal Rayhan dan sperma Rayhan di tangannya.
Tubuh Zaskia merinding, ia merasa ada kebahagiaan yang luar biasa yang sulit untuk di jelaskan. Bahkan kebahagian yang ia rasakan membuat tubuhnya terasa sensitif.
“Engghk…” Lenguhan Zaskia.
Julia tersenyum mendengarnya. “Sepertinya kamu harus segera pulang deh Zaskia, di rumah ada yang kangen soalnya.” Goda Julia, membuat kedua pipi Zaskia merona merah.
“Apaan si Mbak.” Rajuk Zaskia sembari menggandeng tasnya.
******
Selepas dari rumahnya Bi Surti, Rayhan menuju rumah Ustadza Risty, untuk mengetahui perkembangan hubungan Ustadza Risty dengan Suaminya. Ia bersiul ringan sembari melewati jalan setapak yang hanya cukup di lalui satu kendaraan roda empat. Sementara di sekitarnya terdapat pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi.
Rayhan berfikir mungkin nanti ia akan mencoba memanjat salah satu pohon kelapa untuk mengambil buahnya.
“Ray!”
Pemuda itu tampak celingukan. “Ustadza… Baru saja aku mau ke rumah Ustadza.” Ucap Rayhan saat tau siapa yang memanggil dirinya. Wanita cantik berpakaian serba coklat itu tersenyum manis.
“Kangen kamu?” Goda Ustadza Risty.
“Bisa jadi! Hehehe…”
“Dasar… Ustadza yakin, kamu ini pasti playboy.” Tembak Ustadza Risty sembari mensejajarkan langkah mereka. “Hayo ngaku, sudah berapa banyak cewek yang kamu tipu.” Sambung Ustadza Risty, sembari terkikik pelan.
“Berapa ya….” Ucap Rayhan pura-pura berfikir.
Sanking gemasnya Ustadza Risty sampai memukul pundak Rayhan. “Memang buaya kamu Ray! Eh… Nanti kamu lewat sana aja ya, terus memutar ke belakang rumah Ustadza. Di sana di pinggir sungai, kamu tunggu aja di sana ya.” Pinta Ustadza Risty. Ia khawatir kalau nanti ada orang yang curiga melihat Rayhan sering ke rumahnya.
“Jangan lama-lama ya Ustadza!” Ujar Rayhan, lalu ia berbelok ke kiri menuju jalan yang di tunjuk Ustadza Risty.
Jalan yang di lalui Rayhan jelas tidak muda, ia harus menerobos ilalang yang cukup tinggi. Sejenak ia kembali teringat dengan aksi nakalnya bersama teman-temannya yang nekat mengintip Ustadza Risty. Tapi ia sama sekali tidak menyesal bahkan mensyukuri nya. Andai saja ia tidak menuruti ide gila teman-temannya, mungkin ia tidak akan bisa sedekat ini dengan Ustadza Risty.
Setibanya di tempat yang di janjikan, Rayhan tampak terkagum dengan keindahan alam yang belum tersentuh oleh tangan-tangan manusia jahil yang hanya bisa merusak keindahan alam. Tidak ada sampah, dan terlihat sangat asri.
Di depannya terdapat sebuah sungai mengalir yang tampak sangat jernih. Sementara di ujung danau terdapat sebuah hutan yang terlihat sangat lebat dengan pohon-pohon besar yang mencakar langit. Belum lagi udaranya yang segar membuat Rayhan tidak menyesal karena harus memalui ilalang untuk sampai ke sini.
Ia duduk beralaskan rumput, sembari sesekali melempar batu-batu kecil ke sungai.
“Lama ya nunggunya?” Sapa Ustadza Risty yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya. Ustadza Risty duduk di samping Rayhan. “Ngomong-ngomong wajah kamu kenapa? Kok memar gitu?” Tanya Ustadza Risty merasa heran.
“Biasa Ustadza, hehe…”
“Nakal kamu ya.” Sentil Ustadza Risty.
Rayhan kembali menatap sungai yang ada di depannya. “Gimana kabar suaminya Ustadza?” Tanya Rayhan. Ustadza Risty tampak tersipu malu sebelum menjawab pertanyaan Rayhan.
“Alhamdulillah… Sekarang Ustad lebih sering di rumah.” Jawab Ustadza Risty. “Ini semua berkat kamu Ray.” Lanjut Risty, sembari menghela nafas.
“Syukurlah, kalau begitu saya sudah di maafkan.” Lega Rayhan.
Ustadza Risty merenyitkan dahinya. “Siapa bilang? Sekarang malah timbul masalah baru.” Ujar Ustadza Risty sembari memainkan rumput yang ada di sampingnya.
“Masalah apa?”
“Susah ngejelasinnya… Memang si saran kamu buat Suami Ustadza jadi makin betah di rumah, tapi… Suami saya sering mengeluh karena setiap kali itunya di oral, ia merasa ngilu.” Jelas Ustadzah Risty tanpa melihat kearah Rayhan.
“Maksud Ustadza rudalnya Ustad suka ngilu pas lagi di kulum sama Ustadza?”
Ustadza Risty memeluk erat lututnya sembari mengangguk malu. “I-iya… Makanya Ustadza bingung, gimana caranya agar Ustad gak ngerasa ngilu lagi.” Ucap Ustadza Risty.
“Soal itu aku bisa bantu.” Rayhan berdiri lalu melempar batu ke sungai, hingga menimbulkan percikan kecil.
“Serius.” Mata Ustadza Risty berbinar.
Rayhan mengangguk. “Tapi kali ini agak sulit Ustadza, entah Ustadza mau atau tidak.” Ucap Rayhan ragu, kalau Ustadza Risty mau melakukannya.
“Apa yang harus Ustadza lakukan?”
Rayhan menatap mata Ustadza Risty. “Kali ini Ustadza harus peraktek, agar bisa lebih cepat menguasai oral sex yang benar menggunakan mulut.” Jelas Rayhan, sebenarnya ia ragu kalau Ustadza Risty akan menyanggupinya.
“Kalau itu bisa membuat hubungan kami kembali harmonis, Ustadza bersedia.” Lirih Ustadza Risty.
“Ustadza yakin?”
Risty menganggukkan kepalanya, sembari menatap sosok Rayhan yang tengah tersenyum memandangnya. Tiba-tiba Rayhan membungkukkan badannya, menyentuh pipi putihnya dengan lembut, hingga hatinya terasa bergetar.
Sedikit memejamkan mata, Ustadza Risty membiarkan muridnya itu mengecup bibirnya. Lembut dan hangat, hingga membuatnya merasa sangat nyaman. Bahkan Ustadza Risty tampak tak relah ketika Rayhan melepaskan pagutan singkat mereka, karena ia terlanjur menyukai cara Rayhan mengulum bibirnya.
“Ustadza sangat cantik.” Puji Rayhan.
Ustadza Risty mencubit pelan lengan Rayhan. “Gombal! Kamu jadi gak ngajarin Ustadza.” Rajuk Ustadza Risty, membuat wanita berusia 28 tahun itu makin menggemaskan.
“Jadi dong! Mula-mula Ustadza buka dulu celana saya.” Pinta Rayhan.
Ustadza Risty sejenak terdiam, entah kenapa adrenalinnya kian meningkat ketika anak itu memintanya untuk melepaskan celananya. Jujur ia tidak pernah membuka celana Suaminya saat mereka hendak melakukan hubungan intim. Tapi Rayhan malah memintanya untuk melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan.
Tapi pada akhirnya ia memberanikan diri membuka celana Rayhan, kedua tangannya hendak melepas celana hijau lumut yang di kenakan Rayhan saat ini.
“Buka resletingnya pake mulut Ustadza.” Ucap Rayhan tiba-tiba.
“Eh…”
Rayhan mengusap lembut kerudung Ustadza Risty yang berwarna coklat. “Lakukan dengan perlahan, dan nikmati prosesnya.” Tuntun Rayhan dengan tenang.
Seakan terhipnotis dengan tatapan Rayhan, Ustadza Risty mendekatkan wajahnya di selangkangan Rayhan. Kemudian ia menggigit resleting celana Rayhan. Dengan di Bantu kedua tangannya Ustadza Risty menarik turun celana sekolah Rayhan berikut dengan celana dalamnya.
Mata Ustadza Risty tak berkedip menatap nanar kemaluan Rayhan yang telah ereksi sempurna. Panjang dan besar, membuat tubuhnya merinding tak karuan. Nafas Ustadza Risty terdengar memburu dengan tatapan mata yang berbinar.
Tanpa di suruh jemari Ustadza Risty menyentuh kemaluan Rayhan yang jauh lebih besar di bandingkan milik suaminya. Jari jempolnya mengusap lembut kepala pion rudal Rayhan.
“Pelan-pelan Ustadza! Hirup aromanya.” Ujar Rayhan mengarahkan.
Ustadza Risty mendekatkan hidungnya di batang kemaluan Rayhan berwarna kemerahan. Aroma yang menyengat membuat Ustadza Risty seakan mabuk birahi. “Sa-saya suka aromanya…” Ujarnya gugup. “Apa Ustadza boleh menciumnya.” Pinta Ustadza Risty, menatap kagum rudal Rayhan.
“Tentu saja boleh.” Rayhan membelai kerudung Ustadza Risty.
Bibir merahnya mengecup lembut batang kemaluan Rayhan yang terasa hangat dan berkedut. Perlahan kecupannya semakin intens, tidak hanya batang kemaluan Rayhan saja, bahkan ia menciumi kepala rudal Rayhan.
“Nikmat sekali Ustadza.” Rayhan mulai meracau tak jelas. “Jilat rudal saya, kalau Ustadza suka.” Ujar Rayhan lagi dengan nafas yang mulai terasa berat.
Lidahnya menyapu perlahan permukaan rudal Rayhan. “rudal kamu enak Ray! Sluuuppss… Sluuuppss…” Ujar Ustadza Risty yang entah kenapa sangat menyukai rudal Rayhan.
Bahkan tanpa di minta Ustadza Risty membuka bibir merahnya, melahap rudal Rayhan ke dalam mulutnya.
Tubuh Rayhan menegang merasakan hisapan mulut Ustadza Risty, walaupun sesekali gigi Ustadza Risty menggaruk rudalnya hingga terasa ngilu. “Jangan kena gigi Ustadza!” Perintah Rayhan, Ustadza Risty berusaha menuruti ucapan Rayhan, dengan telaten ia mengulum rudal Rayhan.
Ternyata Ustadza Risty cepat belajar, terbukti dengan suara erangan Rayhan yang semakin intens terdengar ketika Ustadza Risty menggerakan kepalanya maju mundur. Ceritasex.site
Jemari Ustadza Risty membelai dan meremas lembut kantung telur Rayhan, dan secara naluri ia melahap sebanyak mungkin rudal Rayhan hingga masuk ke dalam tenggorokannya. Ia menghisap-hisap kuat rudal Rayhan hingga wajahnya memerah karena menahan nafasnya.
“Ustadza… Saya mau keluar.” Jerit Rayhan.
Ia menarik pinggulnya melepaskan hisapan Ustadza Risty. Dengan wajah mendongak kearah rudal Rayhan, ia menatap nanar rudal Rayhan yang tengah di urut-urut oleh Rayhan sendiri.
Croooottss… Croooottss… Croooottss…
Sperma Rayhan meledak, tumpah ruah di wajah cantik Ustadza Risty yang terlihat sangat menggoda. Dengan penuh kepasrahan, ia membiarkan sperma Rayhan yang najis menodai wajahnya yang selama ini selalu di basuh oleh air wudhu.
“Pinjang hp Ustadza.” Pinta Rayhan.
Ustadza Risty mengambil handphone nya dari dalam saku gamisnya. “Buat apa?”
“Buat kenang-kenangan.” Ucap Rayhan tersenyum.
Cekrekk…
Rayhan mengambil foto wajah Ustadza Risty yang berlepotan sperma Rayhan. Kemudian Rayhan memperlihatkan foto tersebut kepada Ustadza Risty yang tampak tidak percaya menatap dirinya sendiri di dalam hpnya.
Ia merasa sangat nakal, tapi ia juga merasa sangat bergairah dengan fotonya sendiri.
“Bandel kamu Ray!” Lirih Ustadza Risty.
Rayhan tersenyum hangat. “Tapi Ustadza suka kan?” Bisik Rayhan lembut di telinga Ustadza Risty.
“Sangat suka.”
Rayhan kembali menaikkan celananya, dan merapikan pakaiannya yang sedikit lecek. Entah kenapa Ustadza Risty merasa sangat kecewa ketika Rayhan yang sepertinya ingin mengakhiri kegilaan yang baru saja mereka mulai. Sebenar Ustadza Risty berharap, Rayhan mau menuntaskannya, sekarang dan saat ini juga.
“Ray!”
Rayhan duduk di samping Ustadzah Risty. “Pelajaran hari ini cukup sampai di sini Ustadza. Tapi saya punya pr buat Ustadza.” Ucap Rayhan seraya membelai wajah Ustadza Risty, ia meratakan sperma yang ada di wajah Ustadza Risty. “Jangan di cuci selama 24 jam.” Sambung Rayhan, membuat Ustadza Risty terhenyak.
“Akan Ustadza kerjakan!” Lirih Ustadza Risty. “Kapan kelas berikutnya akan di buka.” Bisiknya pelan penuh harap.
“Nanti akan saya kabarkan.”
Rayhan menghela nafas perlahan, lalu beranjak pergi meninggalkan Ustadza Risty yang tampak masih gelisah karena syahwat nya yang di buat menggantung oleh muridnya sendiri. Sejujurnya ia tidak menyangkah kalau hubungan mereka akan sampai sejauh ini. Ustadza Risty menatap sayu punggung Rayhan, yang akhirnya menghilang di balik ilalang.
Bersambung… Langit sore yang kaya akan warna menemani perjalanan langkah Rayhan menuju rumahnya. Sembari menenteng sebuah kelapa muda yang ia ambil di dekat rumah Ustadza Risty.
Saat Rayhan berada di jalan pulang, Zaskia tengah berada di dapur untuk menghangatkan kembali makanan yang sudah ia siapkan sejak siang tadi. Ia mendumel kesal dengan tingkah laku Rayhan yang di rasa semakin sulit untuk di atur, hampir setiap hari ia harus memanaskan kembali makan siang Rayhan yang memang sering pulang sore hari.
Ia sudah bertekad akan bersikap lebih tegas kalau Rayhan pulang nanti.
“Assalamualaikum!” Sapa Rayhan.
“Waalaikumsalam.”
Mendengar suara Rayhan, Zaskia bergegas menghampiri Adiknya yang lagi-lagi pulang kesorean.
“Astaghfirullah Ray! Dari mana kamu, jam segini baru pulang?” Omel Zaskia seperti biasanya, dan Rayhan yang sudah terbiasa mendengarkan Omelan Zaskia hanya tersenyum kecut sembari menggaruk-garuk kepalanya.
“Anu Kak.”
“Anu… Anu… Anu… Kamu tuh ya, kebiasaan banget deh! Emang gak bisa pulang sekolah langsung balik ke rumah?”
“Maaf Kak, soalnya…”
“Apa? Mau nyari-nyari alasan? Mau bohong lagi sama Kakak?” Zaskia berkacak pinggang dengan mata melotot. “Hayo jawab…”
“Astaghfirullah Kak! Istighfar…” Ucap pelan Rayhan sembari mengusap dadanya di iringi dengan gelengan kepalanya. “Aku habis dari rumah Ustadza Risty, soalnya beliau minta aku manjatin pohon kelapa yang ada di dekat rumahnya itu. Ini dia titip satu buat Kakak.” Rayhan mengangkat kelapa muda yang ada di tangannya.
Sejenak Zaskia terdiam menatap sebuah kelapa muda yang ada di tangan Rayhan. Mendengar jawaban Adiknya, Zaskia terlihat merasa bersalah.
Beruntung Rayhan tadi sempat memanjat kelapa muda yang berada di dekat rumah Ustadza Risty, kalau tidak, mungkin ia sudah di makan bulat-bulat oleh Kakak kandungnya. Masih berakting kesal terhadap Zaskia, Rayhan memasang wajah manyun menatap Kakaknya.
“Maaf Dek!” Ucap pelan Zaskia yang mulai melunak.
Masih dengan sikap pura-pura kesal, Rayhan membawa kelapa muda itu ke dapur untuk segera di buka. Zaskia segera mengekor di belakang Rayhan. Lalu duduk di dekat Rayhan yang tengah membuka kelapa muda untuknya.
“Maafin Kakak ya Dek?” Bujuk Zaskia.
Rayhan masih terlihat cuek. “Lain kali kalau mau marah tanya dulu! Jangan asal bentak-bentak.” Gerutu Rayhan sembari membuka bagian atas kelapa muda.
“Habisnya kamu si, pulang selalu sore.”
“Masih aja.” Kesal Rayhan.
Zaskia yang tidak tahan melihat Rayhan ngambek malah tersenyum geli menatap Rayhan. “Adeknya Kakak kalau lagi cemberut gitu jelek loh.” Goda Zaskia.
“Bodoh…”
“Hihihi… Cie ada yang ngambek.” Ledek Zaskia lagi.
Wanita Soleha yang sore ini mengenakan gamis berwarna abu-abu itu sedikit membuka kakinya ketika ia menggeser posisi duduknya.
Rayhan yang berada di depan Zaskia, tanpa sadar melihat bagian bawah gamis Zaskia yang terbuka lebar. Mata tajam Rayhan menatap nanar kearah selangkangan Zaskia yang sore ini mengenakan celana dalam berenda berwarna hijau muda, di padu dengan sepasang paha mulus Zaskia yang terlihat sangat menggoda keimanannya.
Darah muda Rayhan berdesir menatap betapa indahnya gundukan tebal yang ada di balik kain segitiga yang di kenakan sang Uhkti, membuat sang junior tampak mulai bangkit dari tidurnya.
“Jadi ceritanya Kakak gak di maafin ni?”
Rayhan mendesah pelan. “Makanya Kak lain kali jangan asal nuduh orang.” Ucap Rayhan, yang saat ini tengah merasa tegang karena pemandangan yang ada di hadapannya.
“Iya… Iya… kakak salah.”
“Emang salah…” Kata Rayhan sewot.
Zaskia hanya tertawa renyah memamerkan gigi putihnya yang tampak begitu bersih.
Walaupun Zaskia Kakak kandungnya, tapi tetap saja Rayhan selalu kesemsem setiap kali melihat Zaskia yang tengah tertawa renyah. Tapi itu hanya sebentar saja, karena setelahnya Rayhan kembali fokus mengamati selangkangan Kakaknya.
Setelah selesai membuka batok kelapa di bagian atasnya, Rayhan segera menyerahkan kelapa muda itu kepada Zaskia untuk segera di nikmati.
“Sruuupss… Ehmmpsss… Manis enak Dek.” Seloroh Zaskia.
Jemari lentiknya dengan gesit mengorek bagian dalam kelapa muda untuk di makan.
Dengan mata yang tak berkedip, Rayhan memandangi bibir merah Zaskia yang tengah mengunyah daging kelapa muda itu.
“Adek mau?”
Rayhan menggelengkan kepalanya. “Buat Kakak aja.” Ujar Rayhan sembari berdiri. “Aku mandi dulu Kak.”
“Ehmm… Habis mandi nanti langsung makan ya. Sudah Kakak panasin lauknya.”
“Siap bos, hehehe…”
*****
Satu Minggu kemudian
Hubungan Azril dengan Ibunya tak kunjung membaik, semenjak kejadian perkelahian kemarin, Laras tampak menjauhi dirinya. Walaupun beberapa kali mereka terlibat obrolan, tapi itu hanya sekedar basa-basi, membuat Azril merasa tidak tenang.
Seperti biasanya, Azril selalu bangun pagi walaupun di hari libur seperti saat ini.
Ia bergegas menuju kamar mandi, setibanya di kamar mandi ia tidak sengaja melihat tumpukan pakaian kotor yang ada di dalam keranjang plastik. Sejenak ia teringat dengan Ibu Tirinya, membuatnya menjadi sangat terangsang.
Dengan tergesa-gesa, Azril meobrak-abrik isi di dalam keranjang pakaian kotor, hingga akhirnya ia menemukan apa yang ia cari.
Di tangannya ada sebuah kain kecil berbentuk segitiga berwarna merah muda, yang di yakini Azril kalau itu adalah milik Ibu Tirinya. Tanpa ragu ia mencium, menghirup aroma serambi lempit Laras yang masih tersisa di celana dalam tersebut, dada Azril bergemuruh menikmati aroma serambi lempit Laras.
“Umi…” Desahnya.
Azril membelai kemaluannya yang telah ereksi maksimal, mengurut dan meremas-remas rudalnya. Ia membayangkan kalau sang Ibulah yang tengah menjamah rudalnya.
Setelah beberapa menit kemudian tubuh Azril menegang beberapa saat.
“Oughkk…” Lenguhnya panjang.
Croooottss… Croooottss… Croooottss…
Spermanya muncrat tumpah ruah diatas lantai kamar mandi yang tampak lembab. Ia tampak merasa sangat puas setelah sekian lama tidak di sentuh oleh Ibu tirinya.
Saat ia hendak mengembalikan celana dalam tersebut kembali ke dalam keranjang pakaian kotor, di situlah ia melihat Laras berdiri di depan pintu kamar mandi tanpa ekspresi, dan sedetik kemudian ia mendengar suara pintu kamar mandi yang di tutup dengan sangat kasar.
*****
Di Tempat Yang Berbeda
Di sebuah gubuk yang berada tidak jauh dari danau belakang pesantren, Clara bersama kedua sahabatnya melabrak Dedi dan kawan-kawan nya yang tengah nongkrong sembari menikmati sebatang rokok. Melihat Clara marah-marah membuat Dedi tampak terhenyak kaget.
“Gila Lo ya…” Bentak Clara.
Dedi berusaha menenangkan kekasihnya. “Sayang, kamu kenapa si?” Bujuk Dedi lembut.
“Kenapa?. Kamu masih bisa bertanya seperti itu?”
“Gimana aku bisa tau, kalau kamu tidak memberikan penjelasan apapun ke aku.” Ujar Dedi, ia mencoba memeluk erat Clara untuk menenangkannya.
“Lepasin gak… Lepasin.” Bentak Clara.
Tetapi Dedi tetap kekeuh memeluk tubuh sang Santriwati dengan erat. Bahkan ia mulai mencium pipi dan leher jenjang Clara di balik jilbab putihnya. Walaupun Clara terlihat meronta-ronta, tapi ia sebenarnya cukup menikmati pelukan hangat dan ciuman dari sang kekasih. Apa lagi ia sudah lama tidak merasakan cumbuan sang kekasih.
Andai saja ia tidak mengetahui perselingkuhan Dedi dengan Aurel, mungkin ia akan dengan senang hati melayani Dedi seperti biasanya.
“Bangsat… Lepasin anjing.” Bentak Clara.
Kedua tangan Dedi meremas-remas buah dada Clara, hingga menjadi tontonan keempat sahabat Dedi. “Kamu kenapa si sayang? Ehmm…” Goda Dedi, tidak mengubris rengekan sang Kekasih yang tengah di landa api cemburu.
“Kamu pikir aku tidak tau tentang hubungan kamu dengan Aurel?” Bentak Clara.
Dedi hanya menyeringai sembari menanggalkan kancing kemeja merah yang di kenakan Clara. “Oh ini masalah Aurel? Emangnya kenapa dengan gadis lugu itu? Kamu cemburu sama orang gak jelas itu?” Ujar Dedi, sembari menyingkap bra berwarna cream yang di kenakan Clara.
“Lepasin Ded.” Pinta Clara mulai tak tenang.
Sementara kedua sahabatnya Tiwi dan Ratu malah tertawa cekikikan melihat Clara yang tengah di gerayangi Dedi. “Kamu kenapa si sayang? Biasanya kamu paling doyan kalau aku ajakin menyetubuhi.” Ujar Dedi santai.
Dengan sedikit memaksa Dedi membaringkan Clara diatas dipan reot yang telah di makan usia. Kemudian ia menindih tubuh Clara sembari melepas pakaiannya.
Kembali Dedi berusaha mencium bibir kekasihnya di hadapan teman-temannya. Clara yang mulai terbawa suasana erotis tampak mulai pasrah ketika Dedi melumat bibirnya dengan rakus. Bahkan ia membiarkan lidah Dedi bermain-main di dalam mulutnya.
“Wow… Makin panas coy.” Teriak Ratu.
Gio yang diam-diam juga mulai terangsang mendekati Ratu, dan dengan senang hati Ratu membalas pagutan mesrah Gio sembari berpelukan.
Sementara Tiwi lebih parah lagi, ia di gerayangi oleh tiga pria sekaligus.
Melihat kedua temannya yang mulai panas, membuat adrenalin Clara kian terpacu. “Oughkk…” Desah panjang Clara ketika Dedi melahap payudaranya, mengemut kasar putingnya yang berwarna coklat muda.
Rontahan-rontahan kecil di lakukan Clara demi sedikit menjaga harga dirinya di hadapan kekasihnya. Tetapi Dedi tau betul kalau anak dari KH Kumar saat ini tengah di landa api birahi yang sulit untuk di padamkan. Telapak tangan Dedi menyusup masuk ke dalam rok hitam yang di kenakan Clara, dan menyentuh langsung gundukan serambi lempit Clara.
Clara makin gelisah, ia paling tidak tahan ketika serambi lempitnya di sentuh oleh Dedi. Ia merasa kalau serambi lempitnya sudah sangat basah saat ini.
“Aahkk… Dedi! Auhg… Aahkk… Aahkk…”
Kedua tangan Dedi dengan mudanya melepas celana dalam yang di kenakan Clara. “Enakkan sayang? Hehehe…” Goda Dedi sembari melempar celana dalam Clara yang di sambut Efran.
“Wangi cuy!” Komentar Efran membuat muka Clara bersemu merah.
Selanjutnya yang di rasakan Clara hanyalah sebuah kenikmatan dari setiap sentuhan yang di berikan Dedi kepada dirinya. Lidah Dedi seakan menari-nari di bibir kemaluannya, menghisap clitorisnya yang kian membengkak, sementara kedua payudaranya di remas-remas dengan kasar.
Tubuh Clara melengking hebat ketika badai orgasme itu tak bisa ia hentikan. Dengan lolongan panjang ia melepaskan dahaganya.
Creeettsss… Creeettsss… Creeettsss…
Pantat Clara terhentak-hentak menikmati sisa-sisa orgasme yang baru saja ia dapatkan.
“Host… Host… Host…” Deruh nafas Clara.
Melihat Clara yang sudah tidak berdaya membuat Dedi tersenyum penuh kemenangan. Ia melepas celananya berikut celana dalamnya. Tampak sang junior telah berdiri tegak sempurna mengancam Clara.
Tanpa ada perlawanan, Clara pasrah ketika ia merasakan ada benda hangat menggesek-gesek bibir kemaluannya.
“Oughkk… Dedi!” Lenguh Clara.
Inci demi inci rudal Dedi menyeruak masuk ke dalam lorong serambi lempit Clara yang sudah amat sangat becek. “Sempit sekali serambi lempit kamu sayang! Oughkk… Lebih sempit dan enak di bandingkan milik Aurel.” Seloroh Dedi, membuat hati Clara panas mendengarnya.
Tapi rasa nikmat dari kejantanan Dedi membuat Clara urung protes, ia lebih memilih menikmati kejantanan Dedi yang saat ini tengah mengaduk-aduk serambi lempitnya.
Sembari menggenjot serambi lempit Clara, Dedi tidak lupa untuk menjamah buah dada Clara. Jari-jari nya kasar memilin dan menggencet puting Clara, hingga membuat gadis muda itu kian mengerang panjang.
Ploooookkss… Ploooookkss… Ploooookkss… Ploooookkss… Ploooookkss… Ploooookkss… Ploooookkss….
“Sayang aku mau keluar!” Jerit Dedi.
Clara semakin erat memeluk pinggang Dedi. “Oughkk… Aku dapat sayang!” Jerit Clara dengan tubuh yang melejat-lejat tak karuan.
Dedi buru-buru mencabut rudalnya lalu mengocok rudalnya di depan wajah Clara.
Croooottss… Croooottss… Croooottss…
Sperma Dedi tumpah tepat diatas wajah cantik Clara, dan sebagian lagi tampak mengenai jilbab syar’i yang di kenakan oleh sang anak Kiayai.
*****
Di ruang tamu Laras tampak tengah menonton tv yang sedang menayangkan acara gosip. Tidak lama kemudian Clara pulang sambil terisak, membuat Laras kebingungan dengan tingkah anaknya, apa lagi Clara pulang sendirian tidak bersama dengan kedua sahabatnya.
Takut terjadi sesuatu terhadap anaknya, Laras bergegas hendak menyusul Clara ke kamarnya.
Tok… Tok… Tok…
“Sayang kamu kenapa?” Panggil Laras.
Clara berusaha menyembunyikan tangisnya. “Clara gak apa-apa Umi.” Jawab Clara masih terisak. Walaupun tadi ia bersedia di setubuhi Dedi, tapi hatinya tetap sakit setiap mengingat kalau Dedi telah berselingkuh dengan Aurel, bahkan menurut pengakuan Dedi, mereka berdua juga sudah tidur bareng.
“Buka dulu pintunya Nak! Umi mau bicara.” Pinta Laras dengan nada selembut mungkin agar hati Clara bisa luluh dengan bujuk rayunya.
Clara yang memang sangat nurut terhadap Ibunya segera beranjak dan membukakan pintu untuk Ibu kandungnya.
Saat pintu terbuka Laras tersenyum menyambut Putri satu-satunya itu, lalu dia memeluk erat Clara yang masih tampak terseduh-seduh di dalam pelukannya. Kemudian Laras menuntun Clara untuk duduk di tepian tempat tidur anaknya yang agak berantakan.
“Cerita sama Umi, siapa tau Umi bisa bantu.” Bujuk Laras sembari mengusap air mata Clara.
Selama ini Clara memang sangat terbuka terhadap Ibunya, kecuali masalah percintaan. Ia takut kalau Uminya akan marah kalau tau ia sudah berpacaran. Tapi Clara juga tidak ingin berbohong, sehingga ia memilih bungkam.
Laras tentu saja tidak menyerah begitu saja, ia membujuk putrinya agar mau cerita sembari membelai sayang kepala Clara, terkadang ia juga mencium ubun-ubun kepala anaknya.
“Umi janji gak akan marah.” Ucap Laras.
Clara mengangkat kepalanya menatap Laras. “Be-benaran Umi gak akan marah kalau Kakak cerita.” Mata bening Clara menatap mata indah Ibu kandungnya.
“Iya sayang… Sekarang Kakak cerita ada masalah apa?”
Clara mengusap kembali air matanya. “Pa-pacar Clara selingkuh Umi.” Lirih Clara pelan nyaris tidak terdengar.
“Jadi anak Umi udah mulai pacaran ni?”
“Ma-maaf Mi…”
Laras tersenyum hangat sembari mentoel hidung Clara yang mancung. “Kok minta maaf! Seumuran kamu wajar kalau sudah mulai suka sama lawan jenis. Umi malah khawatir kalau seusia kamu malah gak suka sama cowok.” Clara yang mendengar ucapan Laras tampak tidak menyangkah.
“Umi gak marah.”
“Gak dong Kak! Kakak sudah gede, wajar kalau Kakak sudah punya pacar.” Ucap pelan Laras. “Ehmm… Jadi ceritanya pacar kamu selingkuh.” Ulang Laras.
Clara yang tadi senang kini kembali tampak sedih. “Iya Umi… Padahal Clara sayang banget sama dia.” Ujar Clara sembari membenamkan wajahnya di dada Umi yang membusung padat.
“Yakin…”
“Maksud Umi…”
“Kamu beneran sayang, atau jangan-jangan kamu cuman tidak ingin kehilangan dia.”
“Apa bedanya Umi.”
“Beda dong sayang! Kalau kamu sayang dia, kamu pasti siap kehilangan dia, selama orang itu yang kamu sayangi bisa bahagia. Bukankah cinta itu tak bersyarat?” Laras memberi jeda sebentar. “Berbeda kalau hanya takut kehilangan dia! Biasanya karena kamu menginginkan sesuatu dari orang tersebut makanya kamu takut kehilangan dia.” Jelas Laras panjang lebar kepada Clara.
“Contohnya.” Kejar Clara.
“Misalkan, kamu gak mau kehilangan dia karena pacar kamu itu tampan. Jadi kamu takut kalau nanti dia di ambil orang lain. Atau bisa juga karena pacar kamu anak orang kaya? Atau jangan-jangan karena pacar kamu bisa memanjakan kamu diatas ranjang.” Kalimat terakhir di ucapkan Laras dengan sangat perlahan tapi bisa di dengar jelas oleh Clara.
Sejenak Clara terdiam mendengar ucapan kalimat terakhir dari ibunya. Entah kenapa ia merasa kalau Ibunya saat ini tengah mencoba menjebaknya.
“Umi… kakak gak gitu.” Protes Clara.
Laras pun tertawa renyah mendengar pembelaan Clara. “Ya sudah kalau begitu jangan sedih lagi! Ingat kamu masih muda, jangan terlalu serius menjalin hubungan dengan seorang pria.” Nasehat Laras.
“Iya Umi.”
“Janji…” Laras menyodorkan jari kelingkingnya.
Clara segera mengaitkan jari kelingkingnya. “Iya janji Umi…” Jawab Clara sembari tersenyum sangat manis.
“Ingat pesan Umi, boleh pacaran tapi gak boleh pake hati… Pacaran hanya untuk bersenang-senang, tidak lebih.” Laras mengakhiri ucapannya dengan memberikan kecupan hangat di kening Putrinya.
*****
Sehabis makan malam, tampak Laras tengah mengobrol ringan dengan Clara sembari menonton sinetron ke sukaan mereka. Biasanya Azril akan ikut bergabung dan mengomentari jalan ceritanya hingga terkadang sampai terjadi perdebatan antara dirinya dan Kakak Tirinya, alhasil, Laras harus bersusah paya untuk menengahi mereka berdua.
Tapi semenjak kejadian seminggu yang lalu, Azril seakan tidak memiliki keberanian untuk berada di dekat Ibu Tirinya. Ia takut hal tersebut akan membuat Laras semakin marah kepadanya.
Tidak terasa malam semakin larut, dan beberapa lampu utama telah di matikan, kecuali lampu kamar Azril yang tetap menyala.
“Aku gak bisa kayak gini terus.” Gumam Azril.
Ia bertekad bagaimanapun caranya, malam ini ia harus berbaikan dengan Ibu Tirinya, mumpung Abinya sedang tidak ada di rumah. Dengan segala resiko yang ada, Azril mendatangi kamar Laras. Ia mengetuk beberapa kali kamar Laras hingga akhirnya ia mendengar suara kunci pintu kamar yang di buka.
Laras menatap tak suka kearah Azril, menandakan kalau ia masih marah dengan anak tirinya itu.
“Ada apa Zril?”
“U-umi… Adek mau minta maaf soal kejadian waktu itu. Azril ngaku salah Mi… Tolong maafkan Adek.” Isak tangis Azril makin tak terbendung. “A-adek kangen sama Umi.” Lirih Azril dengan suara pelan.
Mendengar kalimat terakhir Azril, membuat hati Laras sedikit terhenyu. “Umi udah maafkan kamu, sudah dari dulu… Sekarang kamu tidur.” Suruh Laras.
Azril mematung sejenak, dan dengan gerakan perlahan tubuhnya merosot ke lantai dengan berurai air mata. Ia menangis karena sudah tidak tau lagi bagaimana caranya agar hubungannya dengan Ibu Tirinya kembali seperti dulu lagi, Azril sangat merindukan kedekatan mereka berdua.
Sementara Laras memang sengaja mempermainkan perasaan Azril. Tujuannya agar Azril makin ketergantungan dengan dirinya.
“Maafin Azril Umi… Hiks… Hiks… Hiks…”
Laras diam sejenak sembari menatap Azril, seakan ia tengah menimbang apakah ia harus memaafkan Azril, atau kembali tidak memperdulikan anak tirinya itu.
“Ehmm… Kamu masuk dulu.” Suruh Laras dengan nada suara ketus.
Laras duduk di tepian tempat tidurnya sementara Azril duduk di lantai. Ia bersimpuh di kaki Laras, memohon ampunan Laras, berharap Laras masih mau memaafkan kesalahannya tempo hari.
Dengan sengaja Laras mendiamkan Azril, melihat sejauh mana anak Tirinya akan memohon ampunan darinya. Walaupun sebenarnya ia juga sedikit merasa kasihan dengan Anak Tirinya, tapi mau bagaimana lagi, ia harus melakukannya demi memastikan kalau Azril memang semakin tidak bisa jauh dari dirinya.
Laras menyilangkan kakinya, membiarkan kimono berwarna putih yang ia kenakan sedikit tersingkap, memamerkan kulit pahanya yang putih mulus.
“Maafin Azril Mi… Hiks… Hiks… Hiks…” Isak tangis Azril.
Telapak tangan halus Laras membelai rambut Azril, lalu mengangkat dagu Azril agar bisa melihat wajahnya.
“Umi maafkan kamu, tapi dengan satu syarat?” Ujar Laras.
Azril menganggukkan kepalanya. “A-apa syaratnya Umi?” Tanya Azril gugup.
“Umi akan kasih tau Abi kalau kamu berkelahi dengan temanmu. Gimana?” Tantang Laras.
Azril tampak bingung, ini sama saja ia di beri dua pilihan, antara di hukum Abi, atau di musuhi oleh Ibu Tirinya. Kedua pilihan yang sangat sulit bagi Azril, karena KH Umar tentu tidak hanya sekedar memarahinya, tapi akan ada siksaan fisik kalau sampai Abinya tau dia berkelahi di pesantren.
Tapi di musuhi Laras jauh lebih menakutkan bagi Azril, karena ia sudah merasakannya satu Minggu belakangan ini. Dan rasanya sangat tidak enak.
“Ter-terserah Umi.” Jawab Azril pelan.
“Kamu tidak takut di pukul Abi kamu?”
“….” Azril menggelengkan kepalanya.
“Berdiri.”
Azril segera berdiri, kemudian Laras melangkah mendekati lemari pakaiannya. Ia mengambil kunci untuk membuka rak yang ada di dalam lemari pakaiannya. Tanpa sepengetahuan Azril, Laras sudah menyiapkan sebuah pemukul berbahan silikon untuk menghukum Azril.
Laras menatap Azril dengan senyuman khasnya di kalah ia ingin menghukum Azril. Tapi yang membuat Azril shock ketika Laras tiba-tiba melepas kimononya.
Gleekk…
Mata Azril tak berkedip menatap tubuh Laras yang di balut bikini berwarna putih.
“Umi kasih dua pilihan. Mau Umi yang hukum, apa Abi?” Tanya Laras.
Tanpa membuang waktu Azril sudah tau apa yang harus ia lakukan. Azril berbalik menuju pintu kamar Ibunya lalu mengunci pintu kamar Ibunya. Tak sampai di situ saja, Azril mulai menanggalkan pakaiannya hingga tak bersisa satu pakaian yang menempel di tubuhnya.
Laras tersenyum melihat kemaluan Azril yang telah tegang maksimal, menantikan hukuman darinya.
“U-umi gak pake jilbab dulu.” Tegur Azril.
“Hampir aja lupa.”
Laras segera mengenakan jilbabnya, lalu duduk di tepian tempat tidurnya. Tanpa di minta Azril segera telungkup diatas pangkuan Laras.
Perlahan Laras mengusap lembut pantat Azril, turun kebawah menuju selangkangan Azril. Sentuhan-sentuhan lembut tersebut tentu saja semakin membangkitkan birahi muda Azril yang sudah lama tidak di sentuh oleh Ibu Tirinya.
Cletaack…
“Oughkk…” Jerit Azril.
Secara tiba-tiba Laras menjentikkan jarinya tepat di kantung telur burung Azril.
“Umi tuh sayang sama Adek! Tapi Umi benar-benar akan marah kalau Adek sampe berantem lagi…” Nasehat Laras sembari membelai kantung telur Azril yang tampak memerah setelah di jentik olehnya.
“Maafin Adek Mi, janji gak akan nakal lagi.”
“Umi masih bisa maklum, kalau kenakalan Adek itu cuman sekedar suka ngintipin Umi dan Kakak kamu yang sedang mandi. Atau seperti kenakalan yang kamu lakukan tadi pagi.” Ucap Laras pelan, membuat wajah Azril merona merah.
Cletaack…
Kembali Laras menjentikkan jarinya di kantung telur rudal Azril. “Tapi kamu tetap harus di hukum.” Bisik Laras.
“Iya Umi.” Jawab Azril mendesis menahan ngilu di selangkangannya.
Setelah beberapa kali menjentikkan jarinya di selangkangan Azril. Laras mengambil alat pemukul yang di berikan Daniel kepadanya beberapa waktu yang lalu. Tanpa ampun Laras memukul pantat Azril dengan alat tersebut hingga pantat Azril yang tanpa cacat itu tampak memerah memar.
Tentu saja Azril tersiksa oleh pukulan Ibu Tirinya, tapi anehnya ia merasa ada sensasi yang berbeda ketika merasakan setiap siksaan yang di berikan Laras kepadanya.
Bahkan tanpa sepengetahuan Laras, Azril sempat ejakulasi tanpa ada penetrasi yang ia lakukan.
“Baring di lantai sayang.” Suruh Laras.
Azril segera berbaring di lantai, tampak rudal Azril masih berdiri tegak menandakan kalau ia sama sekali tidak tersiksa oleh siksaan Laras kepada dirinya.
Melihat rudal Azril yang berukuran mungil membuat Laras semakin gemas. Tapi sebelum melanjutkan siksaannya Laras mengambil sebuah dildo pemberian Daniel. Tanpa merasa canggung Laras melepas celana dalamnya, membiarkan Azril menatap bebas gundukan serambi lempitnya.
Kemudian Laras berjongkok, dengan menggunakan jarinya ia membuka mulut Azril dan menyumpalnya dengan celana dalam yang baru saja ia pakai.
“Ini hukuman karena kamu berani cium celana dalam Umi.” Bisik Laras seraya tersenyum membuat Azril makin tegang di buatnya.
Masih duduk di tepian tempat tidurnya, Laras menggunakan dildo tersebut untuk menusuk serambi lempitnya di depan Azril yang tampak bernafsu melihat Ibu Tirinya yang tengah bermasturbasi di hadapannya. Sementara Laras dengan menggunakan kakinya menggosok-gosok rudal Azril.
Pemandangan plus gosokan kaki Laras di rudalnya membuat Azril seakan melayang-layang.
“Ummhk… Aahkk… Aahkk…” Desah Azril nikmat dan sakit.
Laras tidak kalah keras mendesah. “Ssstt… Bandel kamu sayang… Nakal kamu…” Racau Laras tak karuan, sembari mencolok-colok serambi lempitnya dengan dildo.
Melakukan aktivitas masturbasi sembari melihat wajah polos Azril yang tengah meringis kesakitan, rasanya sangat luar biasa. Alhasil Laras semakin kejam terhadap Azril, ia tidak hanya menggesek-gesek kan kaki mulusnya di kemaluan Azril, tapi juga menjepit dan menginjak rudal mungil Azril.
Siksaan yang di terima Azril tentu sangat menyakitkan, bahkan ia sampai menitikan air mata.
Tapi bukannya kasihan, Laras malah semakin bernafsu menyiksa Anak Tirinya. Dengan sangat kejam, Laras menendang testis Azril hingga Azril mengeram kesakitan.
“Eenghkk…” Lenguh Azril.
Sementara Laras semakin cepat dan lebih cepat lagi mencolok-colok serambi lempitnya dengan sebuah dildo, hingga akhirnya ia mengeram panjang ketika orgasme itu tak lagi bisa ia bendung. Saat dildo itu ia tarik keluar, tampak cairan bening tumpah membasahi tubuh Azril.
Seeeeeeeeeeeerrrrrrrr….
*****
Sementara itu di tempat yang berbeda, tampak seorang pemuda yang sama-sama memiliki ketertarikan seksual terhadap keluarganya, diam-diam masuk ke dalam kamar saudari perempuannya. Di dalam kamar tampak seorang wanita Soleha tengah terlelap.
Rayhan dengan langkah perlahan mendekati Zaskia, menatap wajah cantik Zaskia yang damai di dalam tidurnya. Sungguh betapa cantiknya bidadari itu.
“Kakak cantik sekali.” Puji Rayhan gemetar.
Jemarinya membelai wajah wajah cantik Zaskia, dari kening, mata, hidung, pipi hingga bibir tipis merahnya. Dengan sangat berhati-hati ia membungkukkan tubuhnya. “Cup.” Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir merah Zaskia.
Tidak sampai di situ saja, Rayhan mulai mempreteli kancing daster babydol yang di kenakan Zaskia, hingga ia dapat melihat sepasang buah dada yang ranum dengan puting mungil berwarna merah muda, terlihat sangat menggiurkan hingga air liurnya mau menetes.
Sentuhan-sentuhan ringan tersebut membuat wanita Soleha itu menggeliat tapi cak cukup untuk membangunkannya dari tidur lelapnya..
“Ma-maaf Kak!” Lirih Rayhan.
Ia menyingkap keatas daster Zaskia hingga tampak gundukan tebal yang terbungkus kain segitiga berwarna biru muda semi transparan. Gleekk… Pemuda tanggung itu hanya dapat menelan air liurnya yang terasa hambar.
Kembali ia mengamati wajah Zaskia, memastikan kalau sang Kakak masih terlelap dengan damainya.
Dengan sangat hati-hati Rayhan menyibak ke samping celana dalam Zaskia, hingga sedikit demi sedikit ia dapat melihat bibir kemaluan sang Kakak.
“Kakak habis cukuran? Bersih…” Lirih Rayhan.
Ia berjongkok di dekat kaki Zaskia agar bisa melihat jelas lipatan merah serambi lempit Kakaknya yang terlihat polos karena memang sore tadi Zaskia sempat mencukur rambut kemaluannya. Ceritasex.site
Butiran-butiran keringat sebesar biji jagung mulai membasahi wajah tampannya, seiring dengan deruhan nafasnya yang mulai terasa berat.
Sedikit lidahnya mulai terjulur, mencoba mencicipi daging tebal kemerah-merahan tersebut.
Sluuuppss…
“Enggkk…” Lenguh Zaskia.
Sluuuppss…
Sluuuppss…
Dengan sangat hati-hati Rayhan menjilati permukaan bibir kemaluan Zaskia yang menyebarkan aroma khas serambi lempit seorang wanita muslimah.
Setelah puas membasahi daging mungil itu dengan air liurnya, Rayhan kembali menuju payudara Zaskia yang berukuran 34E. Gleekk… Lagi ia menelan air liurnya, menatap nanar kearah puting Kakak kandungnya.
“Ma-maaf Kak.” Bisik Rayhan.
Tangan kanannya membelai rambut kepala Zaskia sementara tangan kirinya membelai dan sedikit meremas payudara Zaskia yang terasa empuk.
Tidak puas hanya sekedar meremas-remas saja, Rayhan mulai mencoba mendekati bibirnya, ia mengecup mesrah puting Zaskia, dan kemudian menjulurkan lidahnya untuk merasakan pentil merah payudara Zaskia di lidahnya yang ternyata sudah mulai kaku.
Jemari Rayhan turun kebawah membelai bagian bawah perut Zaskia, terus turun menuju lembah merah surgawi Kakak kandungnya yang semakin basah.
“Kakak terangsang!” Batin Rayhan.
Jemarinya mencari clitoris Zaskia, saat menemukannya ia menggosok-gosok pelan clitoris Zaskia yang terasa semakin membengkak dari ukuran normalnya.
Sembari menjamah serambi lempit Zaskia, secara bergantian Rayhan mengulum payudara Kakaknya, sedikit menghisap putingnya yang terasa empuk saat di kenyot-kenyot ke dalam mulutnya. Rayhan yang sudah tidak tahan lagi, segera mengeluarkan senjata pamungkas nya.
Sembari menatap sekujur tubuh Kakaknya yang nyaris telanjang bulat, Rayhan mengocok rudalnya sembari sesekali menggeseknya batang kemaluannya di bibir merah Kakak kandungnya sendiri. Beruntung sentuhan tersebut tidak sampai kembangkan sang bidadari surga.
“Oughkk… Kakak!” Lenguh Rayhan.
Tek… Tek… Tek… Tek…
Jemari tangan kanannya semakin cepat mengocok rudalnya yang semakin memerah. Hingga akhirnya ia berada di ujung puncak kenikmatan.
Croooottss… Croooottss… Croooottss…
Sperma Rayhan muncrat hingga sebagian spermanya yang kental itu mengenai bibir merah Zaskia.
“Nikmat sekali Kak!” Racau Rayhan.
Setelah birahinya meredah, Rayhan buru-buru kembali merapihkan kembali daster Zaskia. Saat ia hendak membersihkan spermanya yang terkena di bibir dan pipi Zaskia, tiba-tiba…
“Rayhan!”
“…..”
Bersambung… Kejadian semalam membuat Zaskia benar-benar merasa ada yang tidak beres dengan kelakuan Adik kandungnya. Semakin kuat ia mencoba menepis anggapan negatif terhadap Rayhan, maka semakin kuat pula keyakinannya terhadap Rayhan yang telah melecehkannya semalam.
Masih teringat jelas di dalam ingatannya ketika ia memergoki adik kandungnya yang tampak salah tingkah tadi malam.
“Kamu kok ada di kamar Kakak?”
“Kakak tadi tidur di sofa, jadi aku gendong ke kamar.” Jawab Rayhan saat itu, dari raut wajahnya Zaskia merasa ada yang di sembunyikan Adiknya.
“Masak si.”
“I-iya beneran Kak.”
“Hmmm…” Dengung Zaskia merasa kalau ada yang aneh.
“Aku balik ke kamar dulu ya Kak, ngantuk ni…”
“Iya Dek.”
Selepas kepergian Rayhan dari kamarnya, di situlah ia menemukan sebuah kejanggalan yang membuatnya yakin kalau Rayhan baru saja melecehkannya, ia mulai menyadarinya saat ia tidak sengaja menjilati bibirnya yang entah kenapa terasa begitu asin dan lengket.
Tidak sampai di situ saja, ia juga menemukan bercak di pipi kanannya yang memang belum sempat Rayhan bersihkan seutuhnya, karena Zaskia keburu bangun.
“Tidak… Tidak… Tidak…” Zaskia menggelengkan kepalanya saat ia tersadar dari ingatannya semalam.
“Mana mungkin Rayhan kecilku melakukan perbuatan senekat itu. Senakal-nakalnya Rayhan dia adalah adik yang baik, bahkan paling baik sedunia.”
Ia berusaha mengabaikan bukti yang ada saat ini, menganggap kalau yang terjadi semalam hanyalah sebuah kebetulan belaka. Zaskia tidak yakin, kalau dirinya akan benar-benar siap menerima kenyataan kalau praduganya terhadap Rayhan memang benar.
Untuk menghilangkan kegelisahannya, ia menyibukkan diri dengan menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
Selama menyantap sarapan pagi, Zaskia berusaha bersikap senormal mungkin, begitu juga dengan Rayhan. Walaupun masih sedikit kerasa kalau ada kecanggungan diantara mereka berdua. Dan tentunya Rayhan dan Zaskia dapat merasakan kecanggungan yang terjadi diantara mereka berdua.
“Aku pergi dulu ya Kak!” Rayhan mengamit dan mencium punggung tangan Kakak kandungnya.
Zaskia tersenyum sangat manis. “Iya, hati-hati, pulang jangan kesorean.” Ujar Zaskia seperti biasanya, dan di sambut Rayhan dengan ancungan jempol.
Di jalan setapak yang biasa di lalui Rayhan, pemuda itu tampak melamun sembari sesekali mendesah pelan. Ada rasa cemas sekaligus lega karena Kakaknya Zaskia tidak mengungkit-ngungkit kejadian semalam. Andai saja Zaskia mendesaknya, mungkin ia tak akan bisa berkilah lagi.
Jujur, ada rasa sesal di hati Rayhan. Pemuda itu merasa sangat buruk karena telah berani melecehkan Kakak kandungnya. Tapi di sisi lain, ia juga tidak bisa membohongi dirinya akan ketertarikannya terhadap Zaskia.
“Apa aku bisa?” Gumamnya kecil.
Rayhan benar-benar di buat gelisah karena kejadian semalam, yang nyaris membuat namanya di coret sebagai saudara oleh Kakaknya.
Normalnya kejadian semalam seharusnya membuat dirinya kapok untuk kembali mencoba peruntungannya agar bisa sedikit menikmati tubuh Kakak kandungnya, tapi kenyataannya Rayhan malah semakin penasaran dengan lekuk tubuh Kakak kandungnya. Tapi yang menjadi masalah, Rayhan yakin kalau Kakaknya Zaskia akan lebih hati-hati lagi.
“Cuman ada satu cara.” Gumam Rayhan.
“Maksudnya.”
Deg….
Rayhan benar-benar terperanjat ketika ia melihat sosok gadis cantik yang entah kapan sudah berada di sampingnya. Asyifa tampak merenyitkan dahinya.
“Kamu lagi mikir apa si? Kamu gak dengar aku ngomong.” Omel Asyifa.
“Eh… Hehehe…”
“Jangan-jangan kamu juga gak tau kalau dari tadi aku ada di samping kamu?” Rayhan kembali cengengesan. “Astaghfirullah… Percuma dong aku ngomong panjang lebar tadi.” Asyifa merucutkan bibirnya hingga terlihat sangat menggemaskan.
“Maaf aku benar-benar gak tau.”
“Ehmm… Kamu lagi ada masalah?”
Rayhan menggelengkan kepalanya sembari menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa rambutnya. “Gak ada kok, cuman lagi mikirin sesuatu aja.” Jawab Rayhan, tidak sepenuhnya berbohong.
“Mikirin Aurel?”
“…..” Rayhan mengangguk.
Asyifa menunduk sebentar menatap ujung sepatunya yang berwarna putih. “Akhir-akhir ini Aurel semakin menghindari kami! Bahkan semalam waktu aku tegur ia terlihat gak perduli. Menurut kamu, apa yang kami lakukan salah ya?” Asyifa menatap teduh Rayhan.
“Wajar saja si! Soalnya dia sedang jatuh cinta.”
“Ternyata cinta itu mengerikan ya? Sampai membuat kita kehilangan akal sehat.”
“Tergantung.”
“Maksudnya?” Tanya Asyifa sembari memainkan ujung jilbab putihnya.
“Kalau kamu jatuh cintanya terhadap orang yang tepat, cinta itu tidak akan mengerikan, malah akan sangat menyenangkan.” Jelas Rayhan, membuat Asyifa manggut-manggut.
“Sepertinya begitu.” Jawab Asyifa tersenyum penuh arti. “Eh ngomong-ngomong, kayaknya Azril suka sama Aurel ya?” Tebak Asyifa.
Rayhan mengangguk. “Keliatan ya… Hahaha… Tapi diam-diam aja sama yang lain.”
“Gak usah di kasih tau, yang lain juga pasti pada tau.”
“Emang tuh bocah gak bisa sedikit misterius apa kalau suka sama orang.”
“Emang kamu sendiri bisa.”
“Harusnya si bisa.”
“Ehmm… Oh iya, kamu sendiri ada yang kamu suka di pesantren ini?” Tanya Asyifa menyelidik, entah kenapa ia merasa harus tau.
“Ada.”
“Siapa?”
“Emang kamu beneran pengen tau?”
“….” Asyifa menganggukkan kepalanya.
Tapi belum sempat Rayhan memberi tau dirinya siapa yang ia suka, tiba-tiba dari kejauhan ia mendengar suara sorakan dari beberapa santriwati yang amat ia kenal.
Aziza bahkan tanpa ragu bersiul menggoda Asyifa yang terlihat begitu akrab dengan Rayhan, sementara Adinda tampak tersenyum simpul, membuat wajah Asyifa bersemu merah karena malu.
“Aku duluan ya…”
“Eh tunggu…” Cegah Asyifa tak puas.
Tapi sudah terlambat karena Rayhan sudah terlebih dahulu berlari kecil sembari melambaikan tangannya kearah Asyifa yang tampak sangat kesal karena belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
Adinda dan Aziza segera menghampiri Asyifa, dan hasilnya ia harus terima ketika di interogasi oleh mereka berdua.
*****
Lima menit telah berlalu ketika suara lonceng tanda jam istirahat di bunyikan. Asyifa, Aziza dan Adinda memutuskan untuk segera ke kantin sekolah. Awalnya mereka juga mengajak Aurel, tapi sayang sahabatnya itu menolak ajakan mereka, karena rasa kecewanya terhadap ketiga sahabatnya itu.
Sementara itu di tempat yang berbeda, ketika beberapa santri lebih suka menghabiskan waktu istirahat mereka di kantin, taman, perpustakaan maupun pulang ke asrama. Fei malah menghabiskan jam istirahatnya di dalam kamar toilet di belakang bangunan kelasnya.
Bersama Ustadza Wanda mereka tampak tengah bermesraan layaknya sepasang kekasih.
“Ehmmpsss… Sluuuppss… Hmmppsss…”
Kedua bibir merah mereka bersatu, saling menghisap dan membelit mesrah. Berbeda dari biasanya, kini Fei tampak lebih berani membalas keintiman yang di berikan Ustadza Wanda kepada dirinya.
Bahkan tanpa ragu Fei ikut membelai tubuh Ustadza Wanda yang di balut gamis syar’i.
Satu persatu kancing kemeja yang di kenakan muridnya ia buka dan ia tanggalkan. Sembari tersenyum sangat manis, Ustadza Wanda melepas pengait bra yang di kenakan oleh muridnya hingga payudara Fei yang ranum terpampang bebas di hadapannya.
Fei yang juga tidak mau ketinggalan segera menanggalkan pakaian gamis yang di kenakan Ustadza Wanda, hingga mereka berdua sama-sama telanjang bulat.
“Kamu cantik sekali sayang!” Puji Ustadza Wanda.
Fei tersipu malu mendengarnya. “Ustadza juga sangat cantik.” Ujar Fei sembari menatap tubuh telanjang Ustadza kesayangannya.
Mereka kembali berciuman mesrah, sembari saling merabah menjamah tubuh lawan mereka masing-masing.
Desiran-desiran nikmat atas sentuhan tangan-tangan mereka membuat keduanya makin hanyut akan kenikmatan birahi yang seakan membakar tubuh mereka. Wanda menundukkan sedikit wajahnya, meraih payudara Fei dan menghisapnya dengan perlahan.
Fei tidak mau kalah, telapak tangannya yang tadinya berada diatas buah dada Ustadza Wanda, kini beralih menuju lembah syurga yang di penuhi rambut hitam pekat.
“Ssstt… Ustadza! Aahkk…” Erang Fei.
Dengan sangat rakus Ustadza Wanda menghisap puting Fei yang terasa makin membesar. “Sluuuppss… Sluuuppss… Masukan jari kamu sayang!” Pinta Wanda di sela-sela menyeruput puting anak didiknya.
Kedua jari Fei membelai bibir kemaluan Wanda yang sudah sangat basah. Dan dengan perlahan ia mendorong kedua jarinya masuk ke dalam cela serambi lempit Gurunya. Dengan gerakan perlahan ia mendorong, menarik, mendorong, menarik jarinya dari dalam serambi lempit Ustadza Wanda.
Tubuh Ustadza Wanda menegang hebat, ia merasakan kenikmatan yang sulit untuk ungkapkan dengan kata-kata. Tubuh indahnya tampak gemetar hebat.
“Sayaaaang… Ustadza dapat.” Jerit Wanda.
Creeettsss… Creeettsss… Creeettsss…
Tubuh sang Ustadza tampak bergetar hebat, dengan nafas yang menderu menikmati orgasme yang ia dapatkan dari anak didiknya. Orgasme barusan membuat nya sedikit kelelahan, tapi ia tidak ingin mengecewakan anak didiknya.
Ustadza Wanda meminta Fei untuk duduk di pinggiran bak kecil yang ada di dalam toilet. Fei yang mengerti apa yang di inginkan Ustadza Wanda segera membuka kakinya selebar mungkin, memperlihatkan bibir serambi lempitnya yang tampak masih sangat rapat.
Wanda berlutut di hadapan selangkangan muridnya, jemarinya yang halus membelai bibir kemaluan Fei yang tampak tidak kalah basah di bandingkan dirinya. Ia mengendus-endus aroma serambi lempit Fei, menikmati aroma memabukkan itu membuatnya makin bergairah.
“Ssstt…. Aahkk…” Fei mendesis nikmat ketika lidah Ustadza Wanda mulai menjelajahi selangkangannya.
Sluuuppss… Sluuuppss… Sluuuppss…
“Ustadza! Aahkk… Enggkk…” Fei berusaha meredam suaranya dengan menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.
“serambi lempit kamu nikmat sayang!” Racau Ustadza Wanda.
Lidahnya menari-nari, menggoda bibir kemaluan Fei yang terlihat kemerah-merahan. Sedikit ujung lidahnya menyentil clitoris Wanda, membuat tubuh gadis muda itu bergetar hebat seiring dengan cairan cintanya yang kian membanjir. Tanpa ragu Wanda menyeruput cairan serambi lempit muridnya.
Sembari menyedot-nyedot kecil clitoris Fei, jemari Wanda kembali membelai bibir kemaluan muridnya.
Ia menatap wajah muridnya yang tampak merem melek keenakan. Sebuah senyuman jahat tergambar di raut wajah Ustadza Wanda tanpa di sadari oleh Fei.
“Enggkk… Ustadza!” Jerit Fei sembari menggelengkan kepalanya dengan raut wajah ketakutan.
Wanita berusia dua puluhan itu tersenyum, dan sedetik kemudian ia mendorong kedua jarinya masuk ke dalam lobang serambi lempit Fei, hingga kedua jari dan kukunya merobek keperawanan Fei.
Breeet…
“Aaaaaaaaaarrrtttt…” Jerit Fei.
*****
“Kalian duluan aja ya, aku mau ke kamar mandi.”
“Oke… Jangan lama-lama.” Ujar Asyifa.
Aziza hanya mengancungkan jari jempolnya, sembari berlari kecil menuju toilet yang ada di belakang kelas mereka. Terdapat tiga bilik toilet yang ada di belakang bangunan kelas mereka, dan Aziza memilih bilik bagian tengah.
Karena sudah tidak tahan, Aziza bergegas menanggalkan legging dan celana dalamnya.
Seeeeeeeeeeeerrrrrrrr….
Aziza merasa sangat lega ketika cairan urine nya mengucur deras ke dalam closet. Setelah selesai buang air kecil, Aziza segera membasuh selangkangannya.
“Aaaaaaaaaarrrtttt….”
“Astaghfirullah!” Kaget Aziza ketika mendengar suara teriakan yang ada di samping billiknya.
Dengan perasaan takut sekaligus penasaran, Aziza memanjat bibir bak kecil yang ada di dalam toilet agar bisa melihat ke bilik sampingnya, sumber suara yang baru saja ia dengar dengan sangat jelas.
Dan apa yang ia lihat membuatnya nyaris jantungan, sungguh sulit untuk di percaya.
Fei tampak menangis di dalam pelukan Ustadza Wanda, tapi yang membuat Aziza tertegun adalah kondisi mereka yang sama-sama nyaris telanjang bulat, hanya menyisakan jilbab mereka, dan lagi Aziza dapat melihat jelas lengan Ustadza Wanda berada di antara kedua kaki mulus Fei yang tampak mengangkang.
“Gak apa-apa sayang! Nanti juga enak.” Bujuk Ustadza Wanda.
Jemarinya bergerak perlahan keluar masuk di dalam serambi lempit Fei yang baru saja selesai ia perawani. Tampak darah segar menyelimuti kedua jarinya.
Sembari mengocok-ngocok serambi lempit muridnya, Ustadza Wanda tanpa henti mencium sekujur wajah Fei. Agar gadis yang baru saja kehilangan kesuciannya itu bisa sedikit lebih tenang dan menikmati hubungan terlarang mereka.
“Ssstt… Ehmm… Aahkk…” Desah Fei.
“Gimana sayang, enak?” Goda Ustadza Wanda.
Fei mengangguk malu-malu. “Iya Ustadza! Eehmm… Aaahkk… Enak banget… Aahkk… Aahkk…” Desah Fei tertahan menikmati kocokan jemari Ustadza Wanda.
Sementara itu di balik dinding pembatas bilik toilet, Aziza dengan mata melotot tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia merasa seperti mimpi melihat adegan tak senonoh yang di perankan oleh seorang Ustadza kepada muridnya. Apa lagi mereka berdua sesama jenis.
Tapi di balik rasa jijik yang di rasakan Aziza, terselip letupan birahi yang membuatnya ikut terengah-engah.
Tidak lama kemudian, ia kembali mendengar jeritan kecil yang keluar dari bibir merah Fei. Saat Ustadza Wanda menjauhkan tangannya, Aziza dapat melihat pancuran air bening yang keluar dari sela-sela kemaluan Fei.
Aziza tidak dapat berkata-kata melihat adegan intim yang ada di hadapannya saat ini. Bahkan untuk pertama kalinya di dalam hidupnya ia melihat dua orang wanita berbeda generasi berciuman dengan mesrah.
“Aku harus segera pergi.” Gumam Aziza.
Ia segera keluar dari dalam toilet, bahkan sanking buru-buru nya ia tidak sempat memakai kembali legging dan celana dalamnya yang masih tergantung di balik dinding toilet.
Di dalam kelas Asyifa yang melihat Aziza terengah-engah tampak keheranan. Belum sempat ia bertanya, seorang Ustadza memasuki kelas mereka untuk memulai proses ngajar mengajar di kelas mereka.
*****
Julia mendesah pelan, sembari menatap meja sahabatnya yang tampak tidak bersemangat. Kondisi Zaskia yang seperti ini sudah sering ia lihat, sehingga tanpa di beri penjelasan Julia sudah tau kalau sahabatnya itu tengah bermasalah dengan Adik kandungnya.
Setelah menyelesaikan mengoreksi tugas muridnya, Julia menghampiri meja Zaskia.
“Gak ada kelas?” Tanya Julia.
Zaskia menggelengkan kepalanya. “Mbak mau pulang?” Tanya balik Zaskia.
“Rencananya si gitu, tapi melihat kamu yang sepertinya butuh teman curhat, terpaksa Mbak tunda dulu.” Ucap Julia dengan sedikit menggoda sahabatnya.
“Huh…”
“Kenapa lagi adik bandelmu itu?” Tembak Julia.
Zaskia tidak kaget kalau sahabatnya bisa menebak masalah yang ia hadapi saat ini. “Semalam… Rayhan ada di kamarku.” Bisik Zaskia, tentu ia tidak ingin ada orang lain yang mendengar, walaupun kantor Aliyah saat ini tengah sepi.
“Dia ngapain?”
Zaskia menggelengkan kepalanya. “Aku gak tau Mbak! Tapi aku curiga… Kalau dia sempat melecehkan aku.” Jawab Zaskia gugup.
“Kamu tau dari mana?”
“Dari gelagat dia Mbak, dan… Beberapa bukti yang aku temukan.” Lirih Zaskia pelan.
“……”
“Semalam saat aku tanya dia ngapain di kamar aku, Ray terlihat kaget Mbak… Gak biasanya. Dia bilang katanya aku ketiduran di sofa. Tapi seingatku semalam aku langsung tidur di kamarku.”
“Terus…”
“Saat dia keluar kamar, aku baru menyadari kalau, ehmm… Di bibir aku ada lendir gitu dan rasanya asin… Selain di bibir, ada juga di pipi.” Jawab Zaskia dengan suara gemetar.
“Apa lendir itu sangat lengket? Rasanya asin?” Selidik Julia.
Zaskia menganggukkan kepalanya. “I-iya Mbak!”
“Menurut kamu itu apa?”
“Sss… Sperma Ray Mbak!”
“Astaghfirullah…”
“Makanya aku bingung Mbak.”
Julia meraih dan meremas jemari sahabatnya. “Bingung kenapa?”
“Ehmm… Menurut Mbak Julia, kira-kira Rayhan benar-benar sudah melecehkan aku, atau cuman pikiran aku aja yang terlalu negatif terhadap Rayhan.” Ucap Zaskia, bibirnya gemetar, karena ia sendiri juga tau kalau dirinya saat ini tengah mencoba mencari pembenaran dari sahabatnya.
“Yang tau jawabannya cuman kamu Uhkti. Tapi Mbak cuman bisa kasih saran dan solusi untuk masalah yang kamu hadapi saat ini.”
“Apa saran dari Mbak.”
“Carilah jawaban yang bisa kamu terima, walaupun harus menipu diri kamu sendiri. Gak semua jawaban yang benar, bisa kita terima.” Nasehat Julia lagi-lagi membuat Zaskia bisa sedikit bernafas lega.
“Mbak benar!” Lirih Zaskia.
Julia tersenyum hangat menatap Zaskia. “Jadi… Jawabannya apa?” Pancing Julia.
“Semalam aku ketiduran di sofa pas lagi nonton tv, untungnya ada Rayhan.” Ujar Zaskia, senyumannya terlihat semakin mengembang.
“Terus.”
“Mbak kan tau, kalau Adik aku itu sangat baik dan sayang sama Kakaknya! Karena kasihan melihat Kakaknya tidur di sofa, jadi Rayhan menggendong aku ke kamar.” Lanjut Zaskia dan wajahnya terlihat semakin cerah.
“Hanya sebatas itu ceritanya.”
Zaskia menggelengkan kepalanya. “Tau gak Mbak, semalam aku tidurnya ngiler, hihihi… Dan Rayhan mau membersihkan Iler aku. Tapi karena aku keburu bangun, Rayhan gak bisa membersihkan semua iler aku. Jadinya bibir sama pipi aku masih ada ilernya.” Jawab Zaskia seraya tersenyum lepas.
“Ada-ada aja kamu Uhkti! Lain kali nonton tv jangan sambil tiduran.” Nasehat Julia. “Untung ada Adik kamu, kalau gak, bisa masuk angin kamu.”
“Iya Mbak.” Zaskia mengangguk.
“Ya sudah, Mbak mau pulang dulu ya! Ehmm… Kamu sendiri mau pulang?” Tanya Julia sudah bersiap-siap meninggalkan Zaskia.
“….” Zaskia menggelengkan kepalanya.
“Oh ya Mbak… Hmmm… Solusinya gimana?”
Julia kembali tersenyum. “Nanti kamu kerumah Mbak ya, nanti Mbak kasih tau solusinya di rumah. Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam.”
*****
Sepulang sekolah Clara langsung menuju kamarnya, tidak seperti biasanya di saat Abi tidak ada di rumah, biasanya Clara akan lebih memilih menghabiskan waktu bermain bersama kedua sahabatnya Ratu dan Tiwi. Atau berpacaran dengan kekasihnya Dedi.
Tapi untuk hari ini, Clara merasa lebih nyaman berada di dalam kamarnya, dari pada menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya, apa lagi untuk bertemu kekasihnya.
Ia masih merasa kesal terhadap Dedi yang berani menduakan dirinya.
Mungkin ia masih terima andai pemuda itu mau meminta maaf kepadanya, tapi sayangnya bukan kata maaf yang di dapat Clara, yang ada dia di gauli oleh Dedi.
“Sayang…”
Clara yang tengah tengkurap diatas tempat tidurnya, buru-buru berbalik melihat kearah pintu kamarnya. “Lo? Kok… Ngapain elo ke sini?” Ujar Clara panik saat melihat sosok Dedi yang tiba-tiba sudah di depan pintu kamarnya.
“Umi kamu yang nyuruh.”
“Bohong.”
“Benar kok Kak, Umi yang suruh.” Tiba-tiba Laras sudah berdiri di belakang Dedi. “Kalian sudah cukup dewasa, selesaikan masalah kalian dengan baik-baik.” Nasehat Laras kepada mereka berdua.
“Iya Umi.” Jawab Dedi.
“Ya sudah, Umi tinggal! Kalian ngobrol aja dulu.” Ujar Laras seraya tersenyum dan meninggalkan kedua anak remaja berbeda kelamin tersebut untuk menyelesaikan masalah mereka berdua.
Clara memeluk boneka Spongebob miliknya sembari menatap Dedi yang baru saja menutup pintu kamarnya. Jujur ini kali pertama ada seorang teman prianya masuk ke dalam kamarnya. Ia sendiri juga tidak mengerti kenapa Ibu kandungnya malah mengizinkan teman prianya masuk ke dalam kamarnya.
Dedi yang telah mendapat izin langsung dari Umi Laras, tentu semakin berani.
“Gila Lo ya…” Bentak Clara.
“Ceh… Kok gila? Gue ke sini karena Nyokap Lo…” Ucap Dedi tenang sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan Clara.
“Terus sekarang Lo mau ngapain?”
Dedi menggeser duduknya agar lebih dekat dengan kekasihnya yang tengah marah. “Gue ke sini cuman pengen bilang, kalau gue sayang sama Lo… Masalah Aurel? Gue gak munafik, sebagai cowok gue terangsang sama dia.” Ungkap Dedi jujur apa adanya.
“Penjahat kelamin Lo…”
“Kalau iya kenapa? Bukannya karena itu Lo suka sama gue…” Goda Dedi.
“Najis.”
“Hahahaha…”
Dedi tertawa renyah, membuat Clara tanpa sadar ikut tersenyum. Harus di akui kalau dirinya tertarik kepada Dedi karena sifatnya yang badboy di rasa sangat menantang.
Karena sifat Dedi tersebutlah, yang membuatnya relah menyerahkan keperawanannya.
“Jadi…”
“Apa?” Tanya Clara bingung.
Tangan Dedi merangkul pundak Clara, sedetik kemudian bibir mereka berdua menyatu menjadi satu. Bermula hanya sebuah kecupan, lalu berlanjut menjadi saling melumat satu sama lainnya.
“Lo masih maukan jadi pacar gue?” Bisik Dedi.
Telapak tangannya turun menuju buah dada Clara dan meremasnya dengan kasar. “Gue benci Lo… Tapi gue gak bisa nolak.” Lirih Clara pelan.
“Bagus…”
Jemari Dedi mulai mempreteli kancing kemeja berwarna putih yang di kenakan Clara, dengan perlahan ia melepas kemeja putih tersebut.
Clara yang sudah di landa gejolak birahi, hanya pasrah ketika Dedi membaringkannya. Ia memejamkan matanya ketika pemuda itu kembali memanggut bibirnya, membelit dan menjamah bagian dalam mulutnya.
“Hisap tetek ku Ded.” Pinta Clara.
Dedi melepas pengait bra yang ada di belakang punggung kekasihnya. “Kamu kangen sayang?” Goda Dedi, ia bermain-main dengan puting kekasihnya.
“Ehmm… Kangen berat.”
Hupsss…
Sluuuppss… Sluuuppss… Sluuuppss…
Secara bergantian Dedi melahap payudara Clara, menghisap dan menjilati puting Clara. Sementara tangan kanannya menarik keatas rok hijau yang di kenakan Clara, membelai paha mulus Clara, terus keatas menuju selangkangan Clara yang di balut kain segitiga berwarna cream.
Kedua jemari Dedi membelai serambi lempit Clara, menggosok-gosok serambi lempit Clara yang sudah sangat basah itu.
“Aahkk… Dedi! Aaahkk… Terus sayang…” Rintih Clara.
Perlahan sapuan lidah Dedi turun menuju perut rata Clara, ia melumuri perut putih Clara yang memang sudah basah karena bermandikan keringat, dan kini semakin basah karena sapuan lidah Dedi diatas perutnya, alhasil perut Clara merasa keram karena menahan rasa geli yang amat dahsyat.
Clara sedikit mengangkat pantatnya, mempermudah kekasihnya untuk menarik lepas celana dalam yang sudah lecek oleh lendir cintanya itu.
“Indah sekali.” Puji Dedi.
Ia membelai bibir kemaluan Clara yang tampak lengket karena cairan cintanya.
Clara yang sudah tidak tahan menjambak rambut Dedi, dan menarik kepala Dedi agar segera mencium dan menjamah kemaluannya yang sudah berkedut-kedut sejak tadi. Dedi yang mengerti keinginan Clara segera menyapukan lidahnya ke daging tembem yang sangat menggairahkan itu.
Sluuuppss… Sluuuppss… Sluuuppss….
“Oughkk… Sayang! Aaahkk… Nikmat sekali.” Rintih Clara, tubuhnya menggeliat-liat bagaikan cacing kepanasan.
Sembari menjilati clitoris Clara, kedua jemari Dedi menyeruak bibir kemaluan Clara, ia menusuk sedalam mungkin yang ia bisa dengan kedua jarinya.
Dengan gerakan perlahan, ia mulai menggerakan kedua jarinya keluar masuk di dalam serambi lempit Clara, di selingi dengan jilatan di clitoris Clara. Slookss… Slookss… Slookss… Semakin lama semakin cepat Dedi mengocok serambi lempit kekasihnya yang tampak sudah hampir mencapai puncaknya.
Beberapa detik kemudian, tubuh indah Clara melejat-lejat, pantatnya terangkat. “Oughkk….” Jerit Clara ketika ia mendapatkan orgasmenya.
Creeettsss… Creeettsss… Creeettsss…
Pantat Clara kembali terhempas ketika orgasme itu dengan perlahan mulai mereda.
Selagi membiarkan kekasihnya beristirahat, Dedi menanggalkan pakaiannya hingga ia telanjang bulat. rudalnya yang besar tampak mengacung di hadapan Clara yang tampak senang menatap rudal Dedi.
Tanpa di minta Clara meraih rudal Dedi, ia menggenggam dan mengusap kepala rudal Dedi. Dengan tatapan yang menggoda Clara menjulurkan lidahnya menjilati kepala rudal Dedi yang berbentuk jamur. Sapuan lidah Clara sukses membuat Dedi mendesah nikmat.
“Ughkk… Enak sekali sayang!” Puji Dedi.
Clara yang belum selesai segera melahap rudal Dedi, kepalanya bergerak maju mundur menghisap rudal Dedi yang terasa hangat di dalam mulutnya.
Tidak sampai di situ saja, Clara juga memanjakan kantung telur Dedi. Ia membelainya dengan seksama, membuat Dedi sampai tak sempat untuk bernafas sanking nikmatnya oral seks yang di lakukan Clara.
“Cukup sayang.” Pinta Dedi terengah-engah.
Clara tersenyum penuh kemenangan. “Masukan sekarang sayang.” Pinta Clara sembari memutar tubuhnya hingga menungging.
Plaak…
“Mantab ni pantatnya anaknya Kiayi.” Ujar Dedi.
Clara yang mulai gusar tampak tak sabar. “Ayo masukan Ded! Gue udah gak tahan.” Jerit kecil Clara yang tampak mulai tidak tenang.
“Oke sayang.” Seloroh Dedi.
Pemuda itu segera menghujamkan rudalnya ke dalam serambi lempit Clara. Menghentak membuat Clara menjerit. “Auww… Aahkk… Pelan-pelan.” Rintih Clara.
Kedua tangan Dedi mencengkram pinggul Clara sembari memacu rudalnya keluar masuk di dalam rongga surgawi milik anak yayasan pesantren. Ah… Betapa beruntungnya Dedi bisa merasakan serambi lempit dari anak Yayasan.
Ploooookkss… Ploooookkss… Ploooookkss…
Suara merdu perpaduan antara kedua kelamin mereka bagaikan melodi erotis yang menemani persenggamahan terlarang yang mereka berdua lakukan.
Hentakan-hentakan rudal Dedi yang tanpa ampun menjorok-jorok serambi lempit Clara, membuat tubuh gadis cantik itu ikut terhentak-hentak kedepan. Nafasnya kian terengah-engah seiring dengan rasa nikmat yang semakin menjadi-jadi menerpa tubuh indahnya yang telah bermandikan keringat.
“Enak sekali serambi lempitmu sayang.” Seloroh Dedi.
Telapak tangannya meraih buah dada Clara yang tampak ikut bergoyang.
Sodokan yang di padukan dengan remasan diatas payudaranya membuat Clara kian tak tahan. Dan benar saja, tidak lama kemudian Clara kembali mencapai puncak kenikmatannya.
“Oughkk… Auww… Sssttt…” Erang Clara.
Tubuhnya menegang hebat, dan tampak lelehan lendir cintanya menetes hingga ke seprei tempat tidurnya.
Dedi segera mencabut rudalnya, menatap nanar bibir serambi lempit Clara yang tampak kemerah-merahan setelah di hajar habis-habisan oleh rudalnya.
“Gimana enak?” Goda Dedi.
Clara memutar tubuhnya sembari mengangguk. “Kamu belum puaskan sayang?” Lirih Clara sembari tersenyum hangat kearah Dedi.
“Tentu saja.” Jawab Dedi sumringah.
Clara segera melepas rok hijau yang masih melekat di pinggulnya, hingga kini ia hanya menyisakan jilbab putih yang sudah tampak aut-autan karena pertempuran mereka barusan yang terasa begitu panas. Ceritasex.site
Ia menuntun batang rudalnya yang sudah tampak sangat basah untuk kembali menjelajahi lorong serambi lempit kekasihnya yang terasa sangat hangat dan nikmat itu. Dengan satu dorongan rudalnya amblas ke dalam serambi lempit Clara.
“Oughkk…” Lenguh keduanya.
Dedi kembali memacu birahinya, rudalnya menghentak-hentak menyodok serambi lempit Clara.
Dengan kecepatan penuh ia mengagahi anak dari seorang ketua yayasan. Sungguh beruntung bagi dirinya karena berhasil memperawani anak Kiayi Haji Umar.
“Aku dapat… Dapat…” Teriak Clara panik.
Kedua tangan Clara di tarik dan di minta untuk memeluk lehernya. Dengan gerakan cepat Dedi menggendong Clara dari depan sembari tanpa menghentikan pompoan rudalnya di dalam serambi lempit Clara yang terasa makin berkedut-kedut, membuat Dedi sudah hampir mencapai batas pertahanannya.
Bibir mereka kembali bersatu menikmati persenggamahan terlarang yang tengah mereka lakukan.
“Oughkk…” Lenguh mereka bersamaan.
Croooottss… Croooottss… Croooottss…
Seeeeeeeeeeeerrrrrrrr….
Masih di dalam gendongan Dedi, mereka berdua tampak menikmati sisa-sisa orgasme yang baru saja mereka dapatkan dari persetubuhan yang cukup melelahkan.
“Udah baikan?”
Dedi dan Clara tampak terbengong-bengong ketika melihat Laras yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar sembari meletakan nampan berisi minuman. Tentu saja kedua anak manusia itu sangat ketakutan, karena bagaimanapun juga Laras adalah Istri dari seorang Kiayi.
Tapi perkataan Laras selanjutnya membuat kedua anak manusia itu tampak keheranan. “Maaf Umi ganggu, silakan di lanjut, Umi mau masak buat makan malam.” Ujar Laras, lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Clara dan Dedi yang masih tampak shock saling melempar pandangan selama beberapa saat.
Bersambung… Jam menunjukan pukul satu dinihari, Zaskia baru saja selesai menunaikan shalat tahajud untuk menghilangkan perasaan galaunya. Sehabis shalat Zaskia merasa sedikit plong, setelah beberapa jam yang lalu ia di landa kegalauan yang sangat menyiksa dirinya.
Selesai shalat tahajud Zaskia menanggalkan mukenanya, dan seperti biasanya di balik mukena tersebut Zaskia hanya memakai dalaman.
Ia menarik nafas perlahan, lalu mengambil sebuah botol plastik berukuran kecil. Diatas tutup botol berwarna biru tersebut terdapat sebuah gambar siluet wanita telanjang, dan tepat di bawahnya ada tulisan perangsang khusus wanita.
Gleekk…
Zaskia menelan air liurnya menatap sayu botol yang ada di tangannya saat ini.
Kemarin siang sebelum ia pulang ke rumahnya Zaskia mampir sebentar ke rumah Julia sahabatnya untuk menagih solusi yang di janjikan Julia, dan siapa sangka kalau Julia malah memberinya obat perangsang berbentuk cairan sebagai solusi yang ia janjikan.
“Astaghfirullah Mbak, ini untuk apa?” Tanya Zaskia saat itu.
“Kalau kamu percaya sama Mbak, kamu pake itu nanti malam…” Jawab Julia.
“Tapi Mbak…”
“Bukannya kamu butuh solusi untuk masalah kamu saat ini? Obat ini akan menjadi solusinya. Percaya sama Mbak, obat ini akan membantu kamu untuk mengambil keputusan ataupun sikap kamu nanti malam terhadap Rayhan.” Julia menatap dalam mata Zaskia, membuat Zaskia sukar untuk menolak solusi yang di berikan Julia.
“…..”
“Mbak yakin, kamu pasti ingin taukan jawaban sebenarnya yang terjadi kemarin malam? Obat ini akan menjadi solusinya Uhkti! Percaya sama Mbak, kamu tidak akan menyesal.” Ucap Julia meyakinkan Zaskia.
“Terimakasih Mbak.” Ucap Zaskia saat itu.
Kembali ke masa sekarang, Zaskia masih mematung sembari membuka tutup obat tersebut. Berbeda dengan beberapa jam yang lalu, kini Zaskia tidak memiliki keraguan sedikitpun, ia meneteskan obat cair tersebut ke dalam gelas minumannya.
Walaupun merasa sedikit rancu dengan pemberian Julia, tapi Zaskia yakin dan percaya kalau apa yang di berikan oleh sahabatnya adalah yang terbaik untuk dirinya.
Ia segera meminum minumannya hingga tak bersisa. Kemudian ia mengambil daster santai tanpa lengan.
Sembari membaringkan tubuhnya, Zaskia memejamkan matanya. Awalnya obat tersebut tidak menimbulkan efek apapun, tapi setelah lima menit berlalu, barulah Zaskia merasakan efek dari obat yang ia minum. Tiba-tiba tubuhnya menggigil, dan ia merasa sangat gerah padahal cuaca malam ini terasa sejuk.
Semakin lama efek tersebut makin menjadi-jadi, ia merasa bagian sensitif nya seperti kedua putingnya, clitoris, bibir kemaluannya bahkan lobang duburnya terasa ada yang menggelitik, membuatnya makin tak tenang.
Di balik daster yang ia kenakan, tubuh indahnya mulai bercucuran keringat, sementara nafasnya mulai memburu, tersengal-sengal seakan ia baru saja habis maraton.
Zaskia menggigit bibirnya, ia benar-benar tidak tahan dengan efek yang ia dapatkan dari obat yang di berikan Julia kepada dirinya, bahkan ia sampai mengutuk obat pemberian sahabatnya itu yang terasa sangat menyiksa dirinya.
Di saat ia tengah berjuang melawan letupan birahinya, tiba-tiba ia mendengar suara deritan pintu kamarnya.
“Rayhan…” Gumamnya di dalam hati.
Pemuda itu berjalan mendekati Zaskia, dan duduk dengan tenang di sampingnya. Tampak Rayhan melambaikan tangannya untuk memastikan kalau dirinya benar-benar tengah terlelap saat ini.
“Kak!” Panggil Rayhan.
Zaskia bungkam, jangankan menjawab pertanyaan Rayhan, untuk membuka matanya saja terasa sulit.
Karena tidak ada reaksi dari Kakak kandungnya, Rayhan mulai Berani menyentuh wajah cantik Zaskia yang terlihat begitu damai, seakan ia tengah tertidur lelap.
“Kakak cantik sekali.” Puji Rayhan.
Secara tiba-tiba Rayhan mengecup lembut kening Kakaknya. “Ray, kamu ngapain!” Bisik hati Zaskia.
Entah kenapa kecupan Rayhan yang begitu lembut di keningnya membuat Zaskia merasa sedikit berkurang siksaan yang ia terima dari Julia. Tapi sebagai gantinya ia merasakan rasa nikmat yang sulit di gambarkan.
Jemari Rayhan turun menuju kearah gumpalan payudaranya. Adik kandungnya itu dengan jelas meremas-remas payudaranya.
“Sssttt…” Lenguh Zaskia.
Rayhan yang tampak percaya diri begitu berani meremas-remas susu Kakaknya. “Kenyal banget Kak! Aku suka tetek Kakak.” Bisik Rayhan.
“Ya Allah Ray! Istighfar Dek… Aku Kakak kamu.” Jerit Zaskia. Ia ingin sekali mencegah tangan Rayhan yang tengah menjamah buah dadanya, tapi ia seakan kehilangan tenaganya untuk menyingkirkan tangan Rayhan yang tengah leluasa menajamah buah dadanya.
Selain itu remasan telapak tangan Rayhan, entah kenapa bisa mengurangi rasa kesemutan di payudaranya, dan di gantikan dengan rasa nyaman yang membuat Zaskia keheranan dengan reaksi tubuhnya sendiri.
Puas meremas-remas buah dada Kakaknya yang ranum, Rayhan mulai membuka satu persatu kancing daster yang di kenakan Zaskia.
Karena Zaskia tidak memakai beha, alhasil Rayhan langsung menemukan buah dadanya.
“Stop Ray… Istighfar!”
Rayhan mendekatkan kembali bibirnya ke bibir merah Zaskia, lalu dia mengecup mesra bibir Zaskia dengan lembut. “Ehmmpsss… Ehmmpsss… Ehmmpsss…” Rayhan memanggut bibir Kakaknya.
Sementara jemarinya menjamah buah dada Zaskia yang putih bak pualam. Tak lupa kedua jarinya memberi stimulasi ringan di puting payudara Kakaknya.
Perlahan tapi pasti penderitaannya mulai berkurang, dan berganti dengan perasaan yang begitu nyaman. Ia merasa sentuhan Rayhan seakan menyelamatkan dirinya dari siksaan obat yang ia minum beberapa menit yang lalu. Bahkan Zaskia tanpa sadar membuka mulutnya ketika lidah Rayhan menyeruak masuk ke dalam mulutnya.
Ia merasa lidah Rayhan membelit lidahnya, menggelitik bagian atas dinding mulutnya.
“Ya Allah… Uhmmpps… Kenapa ini enak sekali.” Gumam Zaskia. Ia makin hanyut akan ciuman dari Rayhan, Adik kandungnya sendiri.
Beberapa kali ia terpaksa menelan air liur Rayhan, tapi anehnya ia sama sekali tidak merasa jijik.
Perlahan tapi pasti kesadaran Zaskia makin menepis akibat sentuhan nakal jemari Rayhan diatas payudaranya, rasa kesemutan di putingnya sedikit menghilang ketika kedua jari Rayhan memilinnya, di tambah dengan lumatan bibirnya Rayhan yang terasa begitu nikmat dan lembut.
Hampir satu menit lamanya mereka berciuman, hingga nafas Zaskia terdengar semakin berat, barulah Rayhan berhenti melumat bibir Kakaknya.
“Maafin Ray ya Kak! Ray sayang Kakak.” Bisik Rayhan.
Ingin sekali Zaskia menangis tapi ia tak berdaya. “Ini salah… Ini dosa Dek…” Jerit Zaskia, di tengah-tengah ketidak berdayaannya saat ini.
Rayhan beralih kearah buah dada Zaskia, ia menatap nanar gumpalan daging besar yang terlihat montok dan berisi. Perasaan Zaskia makin tidak tenang ketika Rayhan menundukan wajahnya dan mendekatkan mulutnya di puting Zaskia yang terasa kaku.
Lidah Rayhan terjulur menyapu aurola merah muda Zaskia, hingga menyentuh ujung putingnya.
“Oughkk…” Jerit Zaskia.
Rayhan sempat terhenyak mendengar jeritan Kakaknya, begitu juga dengan Zaskia. Seingatnya beberapa menit yang lalu ia tidak bisa mengeluarkan suaranya, jangankan bersuara, menggerakan mulutnya saja tidak bisa.
Kembali Rayhan memastikan kalau Zaskia masih dalam keadaan terlelap.
Ingin rasanya Zaskia melabrak Adiknya yang sudah sangat kurang ajar itu. Tapi anehnya lagi-lagi ia tak bisa bersuara, membuat Zaskia merasa heran.
Setelah Rayhan meyakini kalau kondisi masih aman, pemuda itu kembali menjamah buah dada Kakak kandungnya. Ia menghisap-hisap puting Kakaknya, menjilatinya layaknya tengah menjilati es cream.
“Stop… Dek! Aaahkk… Kakak gak kuat… Jangan di teruskan sayang.” Jerit frustasi Zaskia.
Sembari mencucupi payudara Zaskia secara bergantian, tangan kanan Rayhan turun kebawah menarik perlahan daster yang di kenakan Zaskia, hingga tampak sepasang kaki jenjangnya yang putih mulus.
Zaskia makin panik di tengah-tengah ketidak berdayaannya ketika melihat Rayhan berpindah posisi di dekat pahanya.
“Jangan Dek… Ya Allah… Jangan lihat Dek.” Andai Rayhan melihat wajah Zaskia saat ini, mungkin ia bisa mendapatkan wajah Zaskia yang saat ini tengah merona merah menahan rasa malu.
Telapak tangan Rayhan membelai betis mulus Kakaknya, sembari menyingkap sedikit demi sedikit bagian bawah daster yang di kenakan Zaskia. Jujur Zaskia merasa sangat panik, ketika daster itu terangkat semakin tinggi hingga tampak celana dalamnya yang berwarna ungu.
Rayhan berhenti sebentar sembari menatap nanar kearah gundukan serambi lempit Zaskia.
Ingin rasanya Zaskia menarik kembali dasternya kebawah, menyembunyikan selangkangannya dari tatapan nanar sang Adik, tapi sayangnya ia tak bisa menggerakan tubuhnya sehingga hanya bisa menahan rasa malu ketika menyadari kalau Adiknya tengah menikmati keindahan selangkangannya yang masih di balut celana dalam.
“Indah sekali Kak!” Puji Rayhan.
Pemuda itu mendekatkan wajahnya dan mulai mengendus aroma serambi lempit Zaskia.
“Enggkk… Aahk…” Lagi Zaskia mendesah.
Tapi kali ini Rayhan tidak terkejut seperti sebelumnya, karena ia pikir desahan Zaskia karena respon alam bawah sadar Kakak kandungnya.
Jemari Rayhan membelai paha mulus Zaskia, membuat bulu kuduk Zaskia terasa berdiri, dan nafasnya seakan tercekat sangking terangsangnya Zaskia. Tapi di sisi lain, Zaskia merasa kalau rasa yang tak nyaman ia dapatkan setelah meminum obat pemberian Julia, kini berganti dengan rasa nyaman yang membuatnya seakan melayang.
Ini gila… Ini benar-benar gila… Itulah kalimat yang bisa di gambarkan Zaskia saat ini.
Di sisi lain ia sangat marah atas perbuatan cabul Adiknya, tapi di sisi lainnya ia merasa Rayhan sangat membantunya untuk mengurangi siksaan dari obat perangsang yang ia minum beberapa menit yang lalu.
Kondisi tersebut membuat Zaskia dilema, antara ingin Adiknya terus menyentuh dirinya, dan rasa malu yang luar biasa ia rasakan saat ini.
“Wangi… Aku suka serambi lempit Kakak.” Lirih Rayhan.
Entah kenapa mendengar pujian Rayhan, membuat Zaskia makin tersipu malu. “Aahkkk… Dek! Ughkk… Kamu membuat Kakak malu sayang.” Bisik hati Zaskia.
Ia benar-benar tak berdaya saat merasakan sapuan lidah Rayhan di paha mulusnya. Hingga akhirnya lidah Rayhan berhenti di tengah-tengah celana dalamnya. Walaupun masih terlindungi oleh pakaian dalam, lidah Rayhan masih begitu terasa bagi Zaskia.
Sentuhan-sentuhan yang di berikan Rayhan, akhirnya membuat Zaskia benar-benar takluk. Ia menginginkan Rayhan terus menjelajahi selangkangannya dengan lidah adiknya.
“Aahkk… Enggkk… Aahkk…” Desah Zaskia.
Tanpa sadar kedua kaki mulusnya menjepit kepala Rayhan, seakan ia tak ingin Rayhan berhenti.
Setelah beberapa menit Rayhan menjilati serambi lempitnya yang masih di lapisi celana dalam, akhirnya Zaskia benar-benar menyerah. Ia merasakan ledakan dahsyat di dalam serambi lempitnya, seiring dengan cairan bening yang mengucur deras tanpa bisa ia tahan lagi.
Seeeeeeeeeeeerrrrrrrr…
“Ya Allah… Aku pipis.” Jerit Zaskia.
Orgasme barusan memang membuat tubuh Zaskia seakan kehabisan tenaga, tetapi efek dari orgasme tersebut membuat tubuh Zaskia rasanya lebih enteng.
Nafasnya yang memburu perlahan mulai teratur. Siksaan-siksaan akibat obat perangsang yang ia minum seakan hilang tanpa jejak, berbarengan dengan rasa nikmat yang luar bisa ketika ia orgasme barusan.
Tubuh Zaskia yang tadi tampak begitu tegang, kini terlihat lebih rileks.
“Manis, lendir Kakak enak.” Gumam Rayhan.
Ia mengangkat wajahnya keluar dari selangkangan Zaskia dengan wajah yang tampak basah dan lengket. Tapi wajah Rayhan tampak terlihat sangat senang.
Sebenarnya Rayhan ingin sekali menelanjangi Kakaknya seperti yang ia lakukan kemarin malam, hanya saja ia takut kalau terlalu jauh melakukan aksinya bisa membuat Zaskia terbangun dari tidurnya. Sehingga Rayhan memutuskan untuk sampai di sini saja, demi keselamatan nya.
Setelah mengancingkan kembali daster Zaskia, Rayhan kembali mengecup pipi Kakak kandungnya. “Maaf ya Kak! Rayhan khilaf.” Lirih Rayhan.
Zaskia yang sebenarnya sudah bisa berbicara malah memilih diam. Padahal dia bisa saja langsung melabrak adiknya, tapi entah kenapa ia merasa lebih baik tetap berpura-pura tidur daripada melabrak Adiknya.
Selepas kepergian Rayhan, Zaskia memeluk erat bantal gulingnya. Ingin rasanya ia menangis dan menyesali apa yang barusan terjadi, tetapi ia terlalu lelah untuk melakukannya setelah ia di buat orgasme. Hingga akhirnya Zaskia dapat tertidur dengan lelap.
*****
Pagi hari di ponpes Al-Tauhid, tampak para santri yang tengah bersantai di depan kelas, mendadak berhamburan masuk ke kelas mereka setelah melihat dari kejauhan Ustadza Kartika menuju kelas mereka.
Seperti biasanya, setelah membaca doa bersama, Ustadza Kartika mulai mengabsen satu persatu nama muridnya.
“Aurel kemana ya?” Tanya Aziza.
Adinda menggelengkan kepalanya. “Perasaan tadi waktu aku mau ke kelas, sempat lihat dia sudah pake seragam.” Ujar Adinda setengah berbisik.
“Apa mungkin dia terlambat?” Tebak Asyifa.
“Kayaknya! Diakan gak pernah bolos.” Ucap Adinda, Aziza dan Asyifa manggut-manggut.
Sementara itu di saat para santri tengah sibuk dengan kegiatan ngajar mengajar, tampak di sebuah gubuk sepi yang berada cukup jauh dari gedung kelas mereka tampak ada sepasang kekasih yang tengah mengadu kasih.
Mereka adalah Aurel, gadis cantik yang selama ini tidak pernah bolos walaupun sakit sekalipun, dan kali ini secara mengejutkan ia memilih untuk bolos hanya karena ingin bertemu kekasihnya yang bernama Dedi. Rasa cintanya benar-benar mengalahkan akal sehatnya.
Aurel duduk di pangkuan Dedi, sembari sesekali membiarkan kekasihnya itu melumat bibir merahnya.
“Kamu cantik sekali sayang!” Puji Dedi.
Aurel tersipu malu mendengarnya. “Bisa aja kamu sayang! Jadi makin cinta.” Ujar Aurel, sembari melingkarkan tangannya di leher Dedi.
“Hehehe… Gombal.”
Aurel hanya tersenyum manis ketika telapak tangan Dedi mulai menjamah buah dadanya. Bahkan ia membiarkan sang kekasih mempreteli kancing kemeja batik berwarna hijau yang ia kenakan saat ini.
Mata indah Aurel tampak terpejam, ketika Dedi menyingkap cup bra-nya keatas, dan menjamah buah dadanya dengan seksama.
“Sssttt… Aahkk…” Desis Aurel.
“Tetek kamu besar, aku suka…” Ungkap Dedi, setengah berbisik di telinga Aurel.
Pemuda itu sangat pintar untuk membuat sang bidadari tersipu malu. Rayuan mautnya membuat sang bidadari tanpa sayap itu kian bertekuk lutut di hadapannya.
Dengan suka rela, Aurel membantu Dedi untuk menanggalkan seluruh pakaiannya hingga ia telanjang bulat, memamerkan sepasang buah dadanya yang tengah ranum-ranumnya, dan sebuah bukit kecil yang tampak menggoda tepat di bawah perutnya.
Tidak sampai di situ saja, Aurel juga membantu Dedi untuk melepaskan pakaian pemuda berengsek itu, hingga mereka sama-sama telanjang bulat.
Perhatian pertama Aurel tertuju kearah rudal Dedi yang telah berdiri tegak dan keras seperti kayu jati.
“Aku suka.” Gumam Aurel.
Jemari halusnya membelai batang kemaluan Dedi dengan seksama. “Ssstt… Enak sayang! Aahkk…” Dedi mendesis nikmat merasakan sentuhan telapak tangan sang bidadari.
Sedikit menjulurkan lidahnya Aurel menyapu kepala rudal Dedi yang berbentuk jamur, ia mengusap bersih cairan bening yang sedikit keluar dari lobang kencing rudal Dedi, lalu kemudian ia melahap ataupun memakan rudal Dedi dengan sangat rakus.
Sluuuppss… Sluuuppss… Sluuuppss…
“Aahkk… Yes… Aahkk…” Jerit Dedi.
Aurel semakin bersemangat memaju mundurkan kepalanya menghisap-hisap batang kemaluan Dedi.
Tidak hanya sekedar menggunakan mulutnya, sesekali Aurel juga menggunakan kedua payudaranya untuk menjepit dan mengocok rudal Dedi, alhasil membuat sang pejantan terengah-engah.
“Sayaaaang… Aku keluar!” Jerit parau Dedi, menandakan kalau dirinya sudah berada di tepian puncaknya.
Croooottss… Croooottss… Croooottss…
Dedi menembakan spermanya tepat mengenai wajah cantik Aurel yang kini berlepotan sperma Dedi. Tapi anehnya sang bidadari malah tampak senang.
Dengan penuh kepasrahan Aurel menurut saja ketika Dedi membaringkannya diatas bale-bale bambu yang ada di dalam gubuk. Dengan kedua kaki mengangkang Aurel memamerkan keindahan kemaluannya di hadapan pria yang bukan mahram nya.
Sruuupss…
“Oughkk…” Jerit Aurel ketika Dedi mulai menjilati serambi lempitnya.
Kedua tangan Dedi mencengkram kedua paha Aurel sembari menjilati serambi lempit Aurel yang tampak sudah sangat basah dan licin lagi.
Naik turun, naik turun, naik turun, lidah Dedi bergerak menyapu bibir kemaluan Aurel, gadis cantik yang terperdaya oleh bujuk rayunya. Sesekali ia menusuk-nusuk lobang serambi lempit Aurel dengan ujung lidahnya, membuat sang Uhkti makin tak kuasa menahan gejolak birahi di dalam dirinya.
“Ampun… Aahkk… Enak!” Racau Aurel.
Kedua paha mulusnya menjepit erat kepala Dedi yang tengah tenggelam di selangkangannya.
Ketika Aurel nyaris mencapai puncaknya Dedi malah berhenti merangsang serambi lempitnya yang sudah tak karuan lagi sangking banyaknya cairan cintanya yang membanjir. Ia sedikit kecewa saat menatap mata Dedi.
Pemuda itu tersenyum, sembari memposisikan tubuhnya diantara kedua kaki jenjang Aurel. “Kamu sudah siap sayang?” Goda Dedi.
“Iya, masukan sekarang.” Melas Aurel.
Dedi menubruk rudalnya kearah bibir kemaluan Aurel yang tampak sudah sangat basah. “Bleeess…” Dengan satu hentakan kasar rudal Dedi bersemayam di dalam lobang serambi lempit Aurel.
“Oughkk…” Jerit Aurel.
Dengan gerakan perlahan Dedi menggerakan pinggulnya maju mundur, maju mundur, dan maju mundur berulang kali hingga membuat tubuh Aurel yang mulai bermandikan keringat tampak melejat-lejat keenakan merasakan tusukan rudal Dedi di dalam serambi lempitnya.
Sembari memompa serambi lempit Aurel Dedi kembali menjamah buah dada Aurel, jemarinya bermain-main dengan puting Aurel yang tampak kaku.
Ploooookkss… Ploooookkss… Ploooookkss…
“Sayaaaang… Aahkk… Aku mau sampe! Aku mau sampe….” Jerit Aurel tertahan.
Kedua kakinya melingkar di pinggang Dedi ketika ia merasakan sudah berada di ujung puncak kenikmatan yang siap memporak porandakan imannya.
“Bareng sayang.” Eram Dedi.
Rahang Dedi mengeras seiring dengan kocokan rudalnya yang semakin cepat, lebih cepat dan makin cepat lagi, hingga akhirnya spermanya meledak di dalam rahim Aurel yang kemudian di susul oleh Aurel.
Tubuh Dedi ambruk diatas tubuh Aurel, sementara Aurel memeluk tubuh Dedi dengan nafas yang terengah-engah.
Sekitar sepuluh menit mereka berdiam diri mengatur nafas mereka yang perlahan mulai tenang. Dedi mencabut rudalnya, dan tampak lelehan spermanya mengalir dari sela-sela liang surgawi Aurel.
Ia berjalan perlahan menuju tas sekolahnya, mengambil seutas kain dan lakban. Kemudian kembali menghampiri Aurel yang masih terlentang dalam keadaan telanjang.
“Buat apa itu sayang?” Tanya Aurel heran.
Dedi tersenyum penuh arti. “Biar makin seru.” Ucap Dedi.
“Ada-ada aja kamu sayang.”
Dedi menarik kedua tangan Aurel lalu melakban kedua tangan Aurel dan ia letakkan diatas kepala Aurel, kemudian Dedi melakban diantara betis dan paha Aurel hingga menempel, agar tetap tertekuk. Setelah kedua kakinya di lakban, Dedi menutup mata kekasihnya itu dengan kain slayer.
“Ya ampun sayang.” Heran Aurel.
Dedi membelai kepala Aurel. “Ini sangat menyenangkan, kamu pasti suka.” Bisik Dedi.
“Ya, sepertinya begitu.” Ucap Aurel semangat.
Hampir sekitar dua menit Aurel tidak merasakan kehadiran Dedi, dan tidak lama kemudian bale-bale tempat ia berbaring sedikit bergerak, bertanda kalau Dedi sudah kembali naik keatas bale-bale.
Aurel menggigit bibirnya ketika ia merasakan benda tumpul itu kembali menggesek-gesek bibir kemaluannya yang semakin basah karena sperma Dedi sebelumnya.
“Auww…” Jerit Aurel saat merasakan benda tumpul itu menerobos masuk ke dalam serambi lempitnya.
Sang pejantan mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur menyodok serambi lempit Aurel yang terasa hangat dan menjepit itu. Sementara Aurel sendiri mulai hanyut akan kenikmatan yang di berikan oleh sang pejantan terhadap kemaluannya.
Sedikit aneh! Mungkin itu yang di rasakan Aurel ketika sang pejantan semakin dalam menyodok serambi lempitnya.
Ia merasa rudal Dedi tidak sepanjang sebelumnya, mungkin ia pikir karena Dedi baru saja orgasme, sehingga ereksinya kurang maksimal.
Ploooookkss… Ploooookkss… Ploooookkss…
“Ehmm… Sayang enak!” Rintih Aurel.
Tubuhnya yang terikat membuatnya tak berdaya, tapi anehnya kondisi tersebut malah semakin membakar birahi sang betina. Sepertinya apa yang di katakan Dedi memang benar, melakukan hubungan intim dalam kondisi tak berdaya jauh lebih nikmat.
Hentakan-hentakan rudal sang pejantan terasa semakin keras, dan terasa makin keras ketika sang pejantan memeluk erat lututnya sehingga rudal sang pejantan terdorong semakin dalam ke dalam serambi lempit Aurel.
Kepala Aurel terbanting ke kiri dan kanan, ia merasa sudah hampir sampai.
“Aku keluaaar… Aku keluaaar…” Jerit Aurel tak tenang.
Tiba-tiba penutup matanya di buka pada saat bersamaan ia orgasme, Aurel baru sadar kalau pria yang tengah menggagahinya saat ini bukanlah kekasihnya Dedi, melainkan teman kekasihnya Efran yang tengah menyeringai menyodok-nyodok serambi lempitnya.
Aurel tidak sempat protes ketika badai orgasme keburu menggulung kesadarannya. Tubuhnya bergetar, seiring keluarnya cairan cintanya.
“Enak ya Lonte? Hahaha…” Ujar seorang wanita.
Aurel yang semakin lemas karena orgasme keduanya berusaha melihat ke belakang kepalanya. Ia melihat Tiwi tengah menyeringai sembari memegangi kedua tangannya agar tidak bisa berontak.
Kepanikan melanda Aurel ketika ia menyadari kalau saat ini ia di kelilingi oleh beberapa santri dan santriwati, salah satunya adalah kekasihnya sendiri.
“Lepaskan… Ada apa ini?” Ujar Aurel bingung.
Ia berusaha memberontak tapi tak bisa berbuat banyak karena Tiwi memegangi tangannya yang terikat, sementara di bawah sana Efran tanpa henti menyodok-nyodok serambi lempit Aurel yang terasa semakin menjepit.
Kepanikan Aurel semakin bertambah ketika melihat Ratu merekam adegan tak senonoh yang di lakukan olehnya bersama Efran.
Dan yang membuat Aurel merasa sangat sedih adalah ketika ia melihat kekasihnya tengah bersama seorang santriwati bernama Clara, Anak dari Haja Laras dan KH Umar, pemilik yayasan pondok pesantren Al-Tauhid.
“Oughkk… Gue keluar.” Jerit Efran.
Croooottss… Croooottss… Croooottss…
Aurel hanya dapat menangis ketika merasakan sperma Efran bersemayam di dalam rahimnya.
Sejenak suasana mendadak hening ketika Efran mencabut rudalnya dari dalam serambi lempit Aurel. Yang terdengar hanyalah isak tangis Aurel yang tidak menyangkah kalau kekasihnya akan menjebak dirinya. Ia sungguh sangat menyesal karena tidak pernah mau mendengar nasehat sahabatnya.
Clara berdiri dari pangkuan Dedi, ia berjalan mendekati Aurel yang masih terbaring lemas.
“Cih… Dasar pecun!” Umpat Clara.
Aurel menatap pilu kearah Clara. “Hiks… Hiks… Hiks… Kenapa? Kenapa?” Jerit pilu Aurel, ia benar-benar tidak menyangkah kalau nasibnya akan menjadi seperti ini.
“Gue udah bilang jangan dekati Dedi, dan Lo… Gak mau dengar.” Kecam Clara.
“Sayang!” Aurel menatap Dedi.
“Maaf Rel! Hehehe…” Dedi menggaruk-garuk kepalanya. “Gue gak berani ngelawan Nyonya besar.” Jawab Dedi, membuat Aurel sangat marah.
“Anjing… Bangsaaaat… Hiks… Hiks…” Tangis Aurel semakin pecah.
Clara melipat kedua tangannya diatas dada. “Sudah cukup basa-basinya.” Ujar Clara menatap sinis kearah Aurel yang ia anggap sudah berani mendekati kekasihnya. “Sekarang Lo harus terima akibat dari perbuatannya elo sendiri. Kalian berempat silakan bersenang-senang sama pelacur ini.” Ujar Clara sembari tertawa puas.
Aurel yang dalam keadaan tidak berdaya berusaha memberontak sekuat tenaga, tapi hasilnya percuma saja ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Ia menatap kearah kekasihnya Dedi dan berharap kalau pria itu mau menolongnya, tapi yang terjadi Dedi malah berpaling dan berciuman bibir dengan Clara. Sakit… Sungguh sakit sekali rasanya melihat seseorang yang kita cintainya malah tega mengkhianati cinta kita.
“Lepaskan ikatannya!” Suruh Clara. “Biar makin seruh! Hahaha…”
“Jahat kamu sayang! Tapi aku suka.” Ucap Dedi.
Tiwi segera melepas ikatannya selagi Boy, Gio dan Ferdi melepas celana mereka. Tubuh Aurel makin gemetar ketika matanya menatap ketiga rudal mereka di tambah rudal Efran yang baru saja menzinahinya.
Tepat setelah Tiwi melepas lakban di kedua kakinya, Aurel segera beranjak hendak melarikan diri. Ia tidak Sudi kalau harus menyerahkan tubuhnya untuk di gilir begitu saja, ia lebih memilih kabur dalam keadaan telanjang bulat dari pada harus menyerahkan tubuhnya kepada mereka.
Bagaimanapun caranya dan apapun resikonya Aurel akan berusaha agar bisa lepas dari cengkraman Clara dan teman-temannya.
Sedikit lagi… Sedikit lagi… Sedikit lagi…
Tapi tiba-tiba di depan keluar masuk gubuk, Efran dan Boy memblokir satu-satunya celah bagi Aurel agar bisa kabur dari cengkraman mereka. Dengan sisa tenaga yang ada Aurel berusaha memberontak melawan mereka berdua yang tengah menahan tubuhnya.
“Mau kemana Lo? Hehehe…” Ledek Boy.
Aurel yang dalam keadaan telanjang bulat hanya bisa pasrah menerima pelecehan dari mereka berdua. “Tolong lepaskan saya… Lepaskan…” Jerit frustasi Aurel, yang membuat mereka berdua tertawa.
Efran memutar tubuh Aurel hingga menghadap kearah Clara yang sudah setengah telanjang bulat. “Akan kita lepaskan, tapi nanti setelah kita puas bermain-main sama Lo. Hahaha…”
“Bangsat anjing… Toloooong…”
“Angkat bro!” Suruh Gio.
Kedua tangan Efran dan Boy mengangkat tubuh dan kedua kaki Aurel, lalu mereka membentangkannya di hadapan Gio, Ferdi, Tiwi dan Ratu yang tengah merekam pelecehan yang di alami Aurel saat ini. Gadis muda itu menjerit, ia merasa sangat di permalukan oleh mereka.
Ratu dengan sigap merekam kemaluan Aurel yang terbuka lebar, membuat Aurel makin histeris.
“Anjiiiiiing… Lepasiiiinn…” Teriak Aurel sampai suaranya habis.
Gio mendekat kearah kedua kaki Aurel, ia menatap Aurel dengan aura yang mengancam. Aurel menggelengkan kepalanya, saat melihat Gio mengarahkan rudalnya di depan selangkangannya.
“Tidak… Tidak… Jangaaaaan… Oughkk…”
Kedua paha Aurel mendadak kaku ketika rudal Gio menyeruduk paksa lobang serambi lempit Aurel. Wajah Gio tampak begitu bahagia karena akhirnya ia bisa mencicipi serambi lempit Aurel, salah satu anak berprestasi di sekolah. Kedua tangan Gio memegangi pinggul Aurel.
Dengan air mata berurai Aurel sangat marah, benci, dan rasanya ingin sekali membunuh mereka semua, terutama kekasihnya Dedi yang telah menjebaknya.
Ploooookkss… Ploooookkss… Ploooookkss…
“Shiit… Enak banget.” Racau Gio.
Aurel menggigit bibirnya, merasakan setiap hentakan rudal Gio di dalam serambi lempitnya.
Tiwi yang menganggur meremas-remas kedua payudara Aurel, ia mencoba merangsang Aurel agar wanita yang dulunya alim itu bisa menikmati pemerkosaan yang tengah di alaminya saat ini.
“Aahkk… Hentikan! Eenghkk…” Lenguh Aurel.
Semakin lama gadis cantik itu makin panik, ketika ia mulai merasakan rasa nikmat yang tidak ia inginkan dari pemerkosanya saat ini. Aurel sendiri tidak habis pikir dengan tubuhnya yang malah merespon pelecehan yang ia alami.
Sekuat tenaga Aurel mencoba melawan perasaan tersebut, sudah cukup baginya di lecehkan oleh mereka, ia tidak ingin kalau dirinya ikut melecehkan harga dirinya sendiri.
Sepuluh menit, Aurel di buat tersiksa oleh sodokan-sodokan rudal Gio di dalam serambi lempitnya. Dan selama itu juga ia mampu bertahan dari rangsangan yang bertubi-tubi menerpa tubuhnya saat ini. Hingga akhirnya Gio mengakhiri penderitaan Aurel dengan menembakan spermanya ke dalam rahim Aurel.
“Anjing! Enaaaak…” Desah Gio.
Croooottss… Croooottss… Croooottss…
Gio menekan sedalam mungkin rudalnya, membiarkan spermanya bersemayam di dalam rahim Aurel.
Efran dan Boy tersenyum sumringah, dengan perlahan ia melepaskan tubuh Aurel yang langsung meringkuk di lantai beralaskan tanah. Ia hanya bisa menangis, menangisi nasibnya yang begitu tragis.
Untuk pertama kalinya di dalam hidupnya, Aurel merasa begitu kotor. Kini tidak hanya Dedi yang pernah menodainya, tapi juga kedua sahabat Dedi juga telah menikmati tubuhnya.
Boy menarik pantat Aurel hingga gadis cantik itu menungging. Di sisa-sisa tenaganya Aurel masih berusaha memohon agar mereka mau berhenti, tapi usahanya sia-sia saja karena Boy tentu tidak akan melepaskan Aurel sebelum membenamkan benihnya di dalam rahim Aurel.
“Toloooong…” Melas Aurel.
Boy meremas bongkahan pantat Aurel. “Percuma kamu nangis! Mending kamu nikmati saja.” Saran Boy sembari menyibak rambut Aurel.
“Hiks… Hiks… Hiks…”
Boy menekan pantatnya dan membenamkan rudalnya ke dalam serambi lempit Aurel.
Lagi Aurel merasakan sengatan di dalam serambi lempitnya. Walaupun hatinya menolak, tapi harus di akui kalau tubuhnya semakin menikmati setiap rudal yang masuk ke dalam serambi lempitnya. Menggaruk-garuk serambi lempitnya yang terasa kian gatal dan nikmat.
“Hisap rudal gue.” Suruh Efran.
Pemuda itu menyodorkan rudalnya di depan wajah Aurel yang sempat menolak. Tapi ia lagi-lagi tidak berdaya ketika di paksa menghisap rudal Efran.
Ingin rasanya Aurel menggigit rudal Efran yang sebelumnya telah menodai dirinya, tapi ia takut kalau pemuda itu kalap dan malah semakin menyiksa dirinya. Sehingga di dalam kepasrahan nya Aurel hanya menerima saja ketika rudal busuk itu memompa mulutnya dengan sangat kasar hingga ia nyaris tersedak.
Ketika Aurel tengah berjuang mengulum rudal Efran yang membuatnya nyaris muntah, Boy dengan kurang ajarnya malah semakin gencar menggenjot serambi lempit Aurel dari belakang, sembari menampar pantatnya.
“Gurih coy…” Ledek Boy.
Aurel memejamkan matanya rasanya ia ingin mati saja. “Ehmmpsss… Hookss… Hookss… Hookss…” Rintih Aurel tak berdaya.
“Nikmatin saja Rel! Nanti Lo juga bakal ketagihan.” Ucap Ratu.
“Benar sayang! Dari pada kamu tersiksa.” Tambah Dedi.
Aurel menatap marah kearah Dedi yang tengah menggenjot Clara dari belakang.
Nikmati? Tidak… Tidak… Tidak…
Aurel menjerit di dalam hatinya ketika ia merasa kalau serambi lempitnya semakin kuat berkedut-kedut. Hingga akhirnya iapun menyerah dan melepaskan orgasmenya. Saat Boy mencabut rudalnya, tampak cairan serambi lempit Aurel menyembur deras.
Belum hilang rasa nikmat orgasme yang di dapatkan Aurel, tiba-tiba Boy menarik tubuh Aurel dan meminta gadis malang itu untuk mendudukinya.
Aurel yang merasa sudah tidak ada gunanya lagi melawan dengan sangat terpaksa menuntun rudal Boy untuk kembali bersarang di dalam lobang serambi lempitnya. “Bleeess…” Dengan satu tekanan rudal Boy kembali amblas ke dalam serambi lempit Aurel.
“Gue punya usul, dari pada satu lobang rame-rame, gimana kalau tiga lobang rame-rame?” Tanya Boy kepada yang lainnya.
“Sepakat.” Seru mereka, menyetujui usul Boy sembari tertawa-tawa.
Ferdi beralih kebelakang Aurel, kemudian ia meludahi lobang anusnya. Kengerian kembali melanda Aurel, membayangkan kalau dirinya akan di sandwich beramai-ramai oleh mereka.
“Jangan… Jangan di situ.” Desah Aurel ketakutan.
Tetapi seperti yang di duga Aurel, Ferdi tidak mungkin mendengarkan permohonannya. Wanita yang di cintai Azril itu tampak memejamkan matanya ketika merasakan benda asing menempel di lobang anusnya, sementara yang lain bersorak kegirangan dan memuji ide Boy.
“Aaarrgkk…” Aurel mengerang ketika rudal Ferdi melesat masuk ke dalam lobang anusnya.
Mata Aurel membelalak, kedua telapak tangannya mencengkram kuat pundak Boy dan menancapkan kuku jarinya di sana. Kedua paha Aurel bergetar hebat menahan rasa sakit yang teramat sangat, bahkan air matanya kembali menetes sanking sakitnya.
“Aaahkk… Sakiiit… Jangan… Ku mohon.” Erang Aurel tanpa daya ketika akhirnya rudal Ferdi menembus lobang anusnya yang masih perawan.
Disaat Aurel mengerang menahan rasa sakit di lobang duburnya, Efran mengambil kesempatan untuk membenamkan kembali rudalnya ke dalam mulutnya, membungkam suara erangan Aurel.
Kini tubuh Aurel bukan lagi miliknya, di jarah habis-habisan oleh mereka bertiga. Sementara Ratu tampak tertawa-tawa sembari merekam selangkangan Aurel yang di jejali oleh dua batang rudal sekaligus. Dan rasa sakit itu semakin tak tertahankan ketika dua rudal itu mulai menyodok-nyodok serambi lempit dan anusnya.
Setelah mencoba bertahan cukup lama, akhirnya penderitaan itu sedikit berkurang. Dan ketika rasa sakit itu mereda, Aurel kembali harus melayang dalam kenikmatan.
Hanya beberapa menit dalam posisi ini, Aurel kembali orgasme, tapi ia tidak bisa bergerak bebas untuk mengekspresikan orgasmenya, karena terpaku oleh ketiga rudal yang memenuhi ketiga lobangnya.
Dalam keadaan orgasme, mereka bertiga tanpa henti menyodok-nyodok ketiga lobang Aurel. Alhasil Aurel kian tersiksa karena orgasmenya yang tak kunjung reda, hingga akhirnya ia mengalami squirt, tubuhnya melejang-lejang hebat, dan cairan cintanya terus mengucur deras susul menyusul selama dua menit lebih.
Efran membelai kembali rambut Aurel, sementara Ferdi meremas-remas payudara Aurel dari belakang.
Mau tidak mau Aurel harus mengakui kalau kenikmatan yang ia dapatkan begitu dahsyat, bahkan jauh lebih nikmat ketimbang dirinya di genjot oleh Dedi seorang. Kondisi tersebut membuat Aurel kian pasrah berada di dalam cengkraman mereka bertiga.
Entah kenapa ia kehilangan semangat untuk melawan, dan lebih memilih pasrah melayani mereka dan menikmati apa yang terjadi saat ini.
Hingga akhirnya tubuh Boy bergetar hebat, seiring semakin kerasnya Boy menghujami serambi lempit Aurel dari bawah. Croooottss… Croooottss… Croooottss… Semburan hangat sperma kembali mengisi rahim Aurel, berbarengan dengan orgasme Aurel.
Aurel yang sudah sangat kelelahan ambruk diatas tubuh Boy, untunglah Efran dan Ferdi sedikit pengertian, sehingga mereka mencabut rudal mereka, memberi waktu Aurel untuk berisitirahat sejenak.
Sejenak mereka membiarkan Aurel beristirahat, setelah secara bertubi-tubi ia di buat orgasme oleh mereka berempat. Ceritasex.site
Dengan tatapan mata yang sayu Aurel melihat kearah Tiwi yang saat ini tengah di setubuhi oleh Gio dari belakang, sementara di samping Tiwi, Ratu tengah berlutut di depan Boy, sembari menghisap rudal Boy yang baru saja bersarang di dalam serambi lempitnya.
Clara… Ya, anak dari Ustadza Laras itu tengah terlentang dengan nafas memburu. Tampaknya Dedi baru saja selesai menggarap tubuh Clara. Tiba-tiba Efran menghampiri Clara dan meminta gadis yang masih mengenakan jilbab itu untuk mengoral rudalnya.
Melihat pesta sex yang ada di hadapannya, membuat birahi Aurel kembali bergejolak. Entah kenapa ia kembali ingin merasakan rudal di dalam serambi lempitnya.
“Rel…” Panggil Ferdi.
Aurel mengangguk lemah. “Sekarang saja.” Bisik Aurel, entah setan apa yang mendorongnya, hingga meminta Ferdi untuk segera mengeksekusi dirinya.
“Siap…” Girang Ferdi.
Ia memeluk tubuh Aurel dengan posisi menyamping, sembari mendekatkan rudalnya di bibir kemaluan Aurel yang berantakan.
“Ssstt….” Desis Aurel saat rudal Ferdi menyeruak masuk ke dalam serambi lempitnya.
Dengan gerakan perlahan Ferdi mulai memompa rudalnya di dalam serambi lempit Aurel. “Enak banget… Rel! Aahkk… Ssstt….” Desah Ferdi.
Sembari menyodok serambi lempit Aurel, tangan kanan Ferdi meraih buah dada Aurel, ia meremas-remas buah dada Aurel sembari menyetubuhi Aurel yang tampaknya sudah sangat pasrah dan menikmati setiap hentakan rudal Ferdi di dalam lobang serambi lempitnya.
Aurel meraih tangan Ferdi dan menggenggamnya. “Oughkk… Teruuuss… Aahkk… Lebih dalam.” Jerit Aurel dengan mata terpejam.
Dalam sekejap gubuk reyot yang sudah tidak berpenghuni itu kini terasa ramai dengan suara erangan-erangan para santri dan santriwati yang tengah berpesta, mengumbar hawa nafsu mereka tanpa perduli dengan dosa yang akan mereka pikul di akhirat nanti.
*****
Siapa yang bisa menjawab pertanyaan yang ada di bawah ini?
– Zaskia yang marah mendatangi Julia, meminta penjelasan Julia tentang obat yang di berikan Julia. Mampukah Julia meredam amarah Zaskia? Dan mungkinkah pertemanan mereka akan berakhir sampai di sini?
– Sepulang sekolah Rayhan menuju rumah Ustadza Risty. Mungkinkah Ustadza Risty akan mendapatkan pelajaran baru dari Rayhan? Pelajaran apa yang akan di berikan Rayhan kepada Ustadza Risty?
– Asyifa menghampiri Aurel yang tengah melamun di perpustakaan, dan di luar dugaan Aurel meminta maaf kepada Asyifa karena sikapnya selama ini. Apakah Aurel akan menceritakan kejadian yang ia alami saat berada di gubuk? Mungkinkah persahabatan mereka akan kembali lagi seperti dulu?
– Saat pulang kerumah Azril tidak sengaja melihat Dedi keluar dari rumahnya. Ia kaget saat Laras memberi tau Azril kalau Clara berpacaran dengan Dedi. Kira-kira tindakan apa yang akan di ambil Azril selanjutnya? Dan bagaimana respon Laras saat Azril menceritakan kalau Dedi berpacaran dengan temannya?
– Aziza tengah duduk di pinggir lapangan basket, sembari menonton para santri yang asyik bermain basket, tiba-tiba Ustadza Wanda mendatangi Aziza. Kira-kira ada keperluan apa Ustadza Wanda menemui Aziza? Apakah Aziza akan kabur saat melihat Ustadza Wanda, atau malah menerima kedatangan Ustadza Wanda?
Saya ucapkan terimakasih banyak atas respon teman-teman sekalian yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca jalan cerita Kontroversi Pesantren. Semoga situs Ngocoks selalu bisa menyajikan cerita yang menarik dan berkesan di hati kalian semua.
Bersambung… Bukannya belok ke kanan menuju kantor Aliyah, Zaskia malah terus melangkah menuju klinik pondok pesantren Al-Tauhid. Selain di percaya untuk mengajar, Julia juga mendapat kepercayaan di bagian kesehatan bersama beberapa santri senior kelas 3 Aliyah.
Tok… Tok… Tok…
“Assalamualaikum!”
Cukup lama Zaskia menunggu jawaban, tapi tidak ada satupun yang menjawab salamnya.
Karena dirinya yang tengah emosi, membuat Zaskia memutuskan untuk masuk ke dalam klinik yang memang biasanya kalau pagi seperti saat ini masih terlihat sepi, tapi Zaskia yakin kalau Julia ada di dalam.
Ia berjalan cepat menelusuri lorong klinik, menuju ruangan yang biasa di tempati Julia. Tanpa permisi lagi Zaskia membuka pintu klinik.
“Astaghfirullah!” Jerit Zaskia.
Ia melihat sahabatnya Julia tengah duduk di pangkuan seorang santri dalam keadaan telanjang bulat.
Tubuh sintal Julia tampak naik turun diatas pangkuan sang Santri, sembari mengerang-erang, melolong panjang, menikmati sodokan rudal sang Santri yang tengah sibuk bermain dengan buah dadanya.
“Mbak…” Lirih Zaskia.
Julia dan Santri itupun tersadar akan kedatangan Zaskia, buru-buru Julia turun dari atas tubuh sang Santri dengan raut wajah panik, melihat Zaskia yang tengah menatap dirinya dengan tatapan tidak percaya. Sang Santri dengan cepat mengenakan kembali pakaiannya.
Tanpa permisi pemuda itu buru-buru meninggalkan ruang praktek Julia.
“Apa-apaan ini Mbak! Astaghfirullah.” Zaskia sampai memegangi kepalanya, seakan kepalanya mau pecah melihat kelakuan orang yang begitu ia percayai.
Julia mendesah pelan sembari memakai gamisnya kembali, lalu duduk di kursi kebesarannya yang biasa ia gunakan untuk memeriksa pasiennya. “Duduk Uhkti! Aku bisa menjelaskan semuanya.” Ujar Julia berusaha bersikap tenang.
“Tidak perlu Mbak! Saya ke sini cuman mau menanyakan maksud Mbak memberikan obat ini?” Ketus Zaskia.
“Duduk dulu.”
Zaskia menghela nafas perlahan. “Apa maksud Mbak memberikan obat ini ke saya.” Zaskia meletakan obat perangsang tersebut ke atas meja.
“Karena kamu membutuhkannya?”
“Apa? Saya gak butuh obat ini Mbak.” Geram Zaskia. “Mbak tau apa yang terjadi gara-gara obat ini? Obat ini membuat saya sangat tersiksa Mbak. Dan… Dan… Rayhan, adik saya hampir meniduri saya.” Tubuh Zaskia gemetar mengingat kejadian semalam.
“Hampir? Itu berarti tidak terjadi kan?”
Zaskia makin geram. “Dan itu bisa saja terjadi Mbak.” Sinis Zaskia.
“Mbak pikir kamu ke sini karena mau berterimakasih.”
“Gila… Mbak semalam Rayhan melecehkan saya! Ia menyentuh tubuh saya Mbak.” Tubuh Zaskia terguncang, mata indahnya tampak berkaca-kaca.
“Bukankah itu yang kamu mau?”
“Apa?”
“Mau sampai kapan Uhkti? Mau sampai kapan kamu membohongi diri kamu sendiri?” Julia menggenggam erat jemari Zaskia. “Mbak perempuan, Mbak tau apa yang kamu rasakan! Hanya saja ada tembok besar yang membuat kamu tidak berani melangkah. Mbak hanya mencoba untuk membantu kamu, merobohkan tembok itu.” Jelas Julia, ia menatap dalam mata Zaskia.
“Mbak bohong.” Lirih Zaskia.
Julia tersenyum lalu berdiri, ia berjalan mengitari Zaskia dan berhenti di belakang Zaskia, dan memegang pundak Zaskia yang terguncang. “Ini memang sulit Uhkti! Tidak muda… Tapi percaya sama Mbak, obat ini perlahan tapi pasti akan merobohkan tembok itu.” Bisik Julia.
“Ta-tapi ini dosa Mbak!” Tak tahan dengan tekanan batin yang di alaminya, Zaskia mulai menitikan air matanya.
“Tapi kamu menginginkannya.”
Sejenak suasana menjadi hening, Zaskia tak lagi membantah ucapan sahabatnya. Memang benar Zaskia menginginkannya, hanya saja ia masih takut untuk mengakuinya. Selain karena perbuatan tersebut di larang oleh Agama, ia juga merasa kalau perasaannya terhadap Rayhan sangat tabu.
Sebagai seorang Kakak, tentu sudah menjadi tugasnya untuk menjadi seorang panutan adiknya. Bagiamana mungkin ia bisa menjadi panutan kalau dirinya sendiri tidak baik.
“Coba ceritakan sama Mbak! Apa yang terjadi semalam? Sekarang kamu duduk dulu.” Tanya Julia.
Zaskia yang melunak akhirnya menuruti ucapan Julia, ia duduk dengan wajah tertunduk. “Se… Semalam aku meminum obat yang Mbak berikan! Dan… Efeknya sangat mengerikan Mbak! Tubuhku rasanya panas dingin, gak bisa di gerakan, bahkan bicara saja aku gak bisa.” Lirih Zaskia.
“Terus.”
“Terus tidak lama kemudian Rayhan ke kamarku Mbak! Ia berusaha membangunkan aku! Tapi… Aku gak bisa.” Ucap Zaskia, ia menggigit bibirnya mengingat bagaimana pemuda itu mulai menyentuhnya.
“Setelah itu dia melecehkan kamu?”
“…..” Zaskia mengangguk.
“Apa kamu membenci Rayhan?” Tanya Julia.
“…..” Zaskia menggelengkan kepalanya.
“Kenapa? Bukannya dia sudah melecehkan kamu sayang?” Tanya Julia.
Zaskia menghela nafas. “Awalnya saya memang sangat marah Mbak! Tapi… Tapi… Sentuhan Rayhan membuat penderitaan saya berkurang!” Zaskia memejamkan matanya sembari menjambak rambutnya di balik jilbab yang ia kenakan.
“Seandainya Rayhan tidak datang dan melecehkan Uhkti, apa yang akan terjadi?”
“Se-sepanjang malam saya pasti akan merasa sangat tersiksa Mbak.” Jawab Zaskia, ia rasanya ingin menangis sejadi-jadinya walaupun ia tidak tau apa alasannya menangis.
Julia merangkul pundak Zaskia, dan dengan reflek Zaskia melingkarkan tangannya di pinggang Julia yang berdiri di sampingnya. Ia membenamkan wajahnya di perut Julia sembari menitikan air mata.
Perlahan Julia membelai, mengusap kepala Zaskia yang tengah menangis di pelukannya.
“Rayhan baik ya! Andai dia tidak datang kamu pasti sangat menderita! Seharusnya kamu berterimakasih sama Rayhan yang sudah membantu kamu.” Ucap lembut Julia.
“Saya merasa berdosa.”
“Tapi kamu bahagiakan, karena orang yang menolong kamu adalah orang yang sangat kamu sayangi.” Bisik Julia, membuat Zaskia semakin erat memeluk Julia.
“Mbak…” Zaskia menatap Julia.
Julia tersenyum dan menghapus air mata Zaskia. “Gak apa-apa Uhkti! Wajar kalau kamu menginginkan Adik kamu yang datang menolong kamu.” Ujar Julia menenangkan perasaan Zaskia yang kacau. “Dan setiap malam, dia akan selalu datang untuk melepaskan penderitaan kamu.” Sambung Julia.
“…..” Zaskia cemberut manja.
“Duh enaknya yang punya pangeran berkuda! Mbak jadi iri sama kamu.” Goda Julia.
“Iiihk… Mbak.” Gemas Zaskia mencubit Julia.
Wanita berusia 38 tahun itu tertawa melihat tingkah Zaskia yang seperti anak ABG yang tengah jatu cinta, begitu juga dengan Zaskia, ia tertawa mentertawakan dirinya sendiri yang entah kenapa selalu saja mendapatkan pembenaran dari tindakannya yang salah.
Cukup lama mereka mengobrol ringan, hingga akhirnya Zaskia memutuskan untuk pamit karena ia masih ada kelas sehabis istirahat siang.
Baru saja Zaskia hendak membuka pintu klinik, tiba-tiba Julia kembali memanggilnya. “Barang kamu ada yang ketinggalan Uhkti.” Ucap Julia sembari mengangkat obat perangsang yang tadi di bawak Zaskia.
“Itu…”
“Ambil.”
Zaskia kembali mendekat dan menerima obat perangsang tersebut dari Julia.
“Dosisinya di tambah satu tetes ya.” Ucap Julia seraya mengedipkan matanya.
Wajah Zaskia merona merah, ia merasa malu sekali di hadapan Julia. “I-iya Mbak! Terimakasih…” Jawab Zaskia dan menyimpan kembali obat perangsang tersebut.
*****
Langit tampak mendung mengiringi langkah Rayhan yang baru saja pulang sekolah. Ia berjalan menelusuri jalan setapak, tak jauh dari rumah Ustadza Risty, Rayhan berbelok menerobos semak belukar yang panjangnya hingga sepinggang.
Setelah hampir lima menit lamanya ia menerobos semak belukar, akhirnya Rayhan tiba di tepian danau yang berada tidak jauh dari belakang rumah Ustadza Risty.
“Lama banget.” Keluh Ustadza Risty setibanya Rayhan.
Pemuda itu tersenyum, lalu duduk di samping Ustadza Risty yang tengah duduk di atas tikar yang ia bentangkan diatas rerumputan. “Kangen ya…” Goda Rayhan, membuat wajah Ustadza Risty merona merah.
“Geer.”
“Hahahaha….”
“Kamu tau, semalam Ustad Fuad bilang ke Ustadza kalau dia gak jadi berpoligami.” Ujar Ustadza Risty dengan wajah berbinar.
“Oh ya…”
Ustadza Risty mengangguk. “Karena Ustad Fuad merasa puas dengan pelayanan Ustadza. Dan itu…. Berkat kamu Rayhan.” Bisik Ustadza Risty.
“Alhamdulillah kalau begitu.” Rayhan menggenggam tangan Ustadza Risty.
“Jadi…”
“Apa?”
“Ehmm… Kamu mau minta hadiah apa dari Ustadza?” Tanya Ustadza Risty.
“Hadiah?”
“Iya.”
“Apa ya…”
“Apa aja! Ustadza akan berusaha mengabulkan semua permintaan kamu.” Ucap Ustadza Risty.
“Kalau saya minta Ustadza gimana?” Tanya Rayhan, ia menatap dalam mata Ustadza Risty yang tampak tegang karena ucapannya barusan.
“Aapa.”
“Ya… Saya mau Ustadza! Saya mau memiliki Ustadza.” Bisik Rayhan, ia menggenggam jemari Ustadza yang terasa begitu halus dan lembut.
“Ustadza milik Ustad Fuad.” Lirih Ustadza Risty.
“Dan saya akan merebutnya dari Ustad Fuad.” Rayhan semakin berani, ia tidak hanya menggenggam tangan Ustadza Risty, tapi juga membelai jemari halus itu.
“Kamu berani?” Tantang Ustadza Risty.
Rayhan menarik wajah Ustadza Risty, dan sedetik kemudian Rayhan melumat bibir merah Ustadza Risty dengan perlahan. Walaupun sempat terkejut, tapi Ustadza Risty tidak melakukan perlawanan apapun, ia membalas pagutan mesrah dari Muridnya itu.
Ia membiarkan lidah muridnya bermain-main di dalam mulutnya, bahkan ia menelan air liur Rayhan yang masuk ke dalam mulutnya.
Telapak tangan Rayhan menggapai payudara Ustadza Risty yang berbentuk mirip lemon. Walaupun tidak begitu besar, tapi terasa begitu pas di telapak tangan Rayhan, hingga ia leluasa memeras susu Ustadza Risty.
“Ughkk… Hmmppsss… Hmmppsss…” Lenguh Ustadza Risty.
Hampir satu menit mereka berciuman, hingga akhirnya Rayhan melepas pagutannya setelah nafasnya di rasa hampir habis. Ia menatap dalam wajah cantik Ustadza Risty yang tampak tersipu malu setelah melakukan ciuman tabu antara murid dan guru.
Rayhan mendekap tubuh Ustadza Risty, kedua tangannya meremas-remas buah dada Ustadza Risty.
“Nakal kamu Ray! Ughkk… Ini punya Ustad.” Lirih Ustadza Risty sembari sesekali memejamkan matanya, menikmati remasan Rayhan.
“Sekarang milik saya Ustadza.”
Kedua tangan Rayhan membuka resleting gamis Ustadza Risty yang berada di balik punggungnya. Kemudian ia menurunkan gamis Ustadza Risty hingga sebatas perutnya. Rayhan agak kecewa karena di balik gamisnya Ustadza Risty masih mengenakan tank top.
Segera Rayhan menarik keatas tank top yang di kenakan Zaskia hingga tampak buah dada Zaskia yang berada di balik cup bra berwarna merah.
“Lain kali, Ustadza tidak boleh memakai pakaian apapun di balik gamis Ustadza.” Titah Rayhan, ia melepas penutup terakhir payudara Ustadza Risty.
Tangan mulus Ustadza Risty menggenggam tangan Rayhan yang tengah meremas buah dadanya. “Jadi sekarang kamu sudah berani memberi perintah sama gurumu?” Sindir Ustadza Risty menatap Rayhan.
“Tentu… Apa Ustadza mau membantahnya.”
“Ustadza tidak berani sayang! Karena Ustadza milik kamu sekarang.” Jawab Ustadza Risty, ia meraih dagu Rayhan dan mencium bibir Rayhan.
“Ehmmpps… Ehmmpsss… Ehmmpsss…”
Sembari melumat bibir Ustadza Risty, Rayhan membaringkan Ustadza Risty diatas tikar, ia melepas pagutannya dan mulai menelanjangi Ustadza Risty hingga tubuh tubuh Risty menjadi polos dan hanya menyisakan selembar kain yang menutupi kepalanya.
Telapak tangan Rayhan membelai kepala Ustadza Risty, menatap nanar tubuh telanjang Ustadzanya.
“Indah sekali Ustadza.” Bisik Rayhan.
Pemuda itu tidak mampu menyembunyikan kekagumannya terhadap gundukan kecil yang di tumbuhi rambut hitam yang di cukur rapi. Sadar kalau murid tengah menatap bagian terintim tubuhnya, membuat Ustadza Risty merinding. Rayhan pria pertama selain suaminya yang menatap keindahan tubuhnya secara langsung.
Rayhan kembali mencium bibir Ustadza Risty, mereka bertukar air liur, sementara telapak tangan Rayhan bermain dengan buah dada Ustadza Risty.
Ciuman Rayhan turun menuju leher Ustadza Risty, ia menyibak jilbab Ustadza Risty yang memang sudah berantakan. Lalu dia mulai menjilati leher jenjang Ustadza Risty, memberi beberapa cupangan di leher Ustadza Risty yang tengah mendesah nikmat.
Kemudian ciuman Rayhan kembali turun menuju dua buah gunung kembar yang terlihat menggemaskan itu. Secara bergantian ia menghisap dan meremas payudara Ustadza Risty, membuat wanita bersuami itu makin tak berdaya.
“Oughkk… Ray! Aaahkk… Aahkkk…” Desah Ustadza Risty.
Jemari Rayhan turun kebawah, menggelitik perut Ustadza Risty yang sedikit berlemak, lalu turun menuju lembah surga yang tampak sudah becek. “Wanita jalang!” Bisik Rayhan, membuat wajah Ustadza Risty merona merah.
“Itu karena kamu sayang! Ssstt… Kamu membuat Ustadza menjadi wanita jalang.”
“Bukan! Ini salah Ustad Fuad yang gak bisa membuat Ustadza menjadi wanita jalang.” Balas Rayhan, menatap mata Ustadza Risty yang tampak sayu.
“Terserah… Lakukan sekarang sayang.”
Rayhan tidak mengubris ucapan Ustadza Risty, ia menggeser tubuhnya kebelakang, membuka kedua paha Ustadza Risty hingga ia dapat melihat kemaluan Ustadza Risty yang terlihat begitu indah.
“Oughkk…” Jerit Ustadza Risty.
Lidah Rayhan bermain-main dengan kemaluan Ustadza Risty yang sudah basah dan semakin basah karena bercampur dengan air liur Rayhan.
Ia menyapu serambi lempit Ustadza Risty dengan seksama, sementara kedua jarinya terdorong masuk menjelajahi lorong serambi lempit Ustadza Risty yang terasa hangat dan berkedut-kedut meremas kedua jarinya. Perlahan Rayhan menggerakan jarinya maju mundur.
“Aahkkk… Ray! Oughkk…”
Semakin lama Rayhan semakin cepat mengocok serambi lempit Ustadza Risty, yang ia kombinasikan dengan jilatan di clitoris Ustadza Risty.
Tubuh Ustadza Risty bergetar hebat, ia sudah tidak tahan lagi akan gelombang nikmat yang di berikan Rayhan.
“Ustadza dapat Ray…” Lolongan Ustadza Risty terdengar sangat menggairahkan.
Creeettsss… Creeettsss… Creeettsss…
Seeeeeeeeeeeerrrrrrrr….
Air cinta Ustadza Risty tumpah mengenai wajah Rayhan yang masih berada di bawah selangkangannya. Dengan rakus Rayhan menyeruput cairan yang keluar dari dalam serambi lempit Ustadza Risty yang tampak kepayahan.
“Jorok!” Komentar Ustadza Risty.
Rayhan tersenyum. “Jadi seperti ini rasanya serambi lempit Istrinya Ustad Fuad?” Goda Rayhan.
“Jahat kamu Ray.” Rajuk Ustadza Risty.
Rayhan yang sudah sangat bernafsu segera menanggalkan pakaiannya hingga ia telanjang bulat.
“Hisap rudalku Ustadza jalang.” Ujar Rayhan.
“Setelah merasakan serambi lempitnya Istri Ustad Fuad, dan sekarang kamu meminta Istrinya Ustad Fuad untuk mengoral rudalmu.” Ejek Ustadza Risty.
“Lakukan.” Perintah Rayhan.
“Baik Tuan!”
Jemari Ustadza Risty menggenggam rudal Rayhan, ia menggerakan jemarinya turun naik. “Aku memintamu untuk menghisapnya, bukan mengocoknya.” Ucap Rayhan, dengan nada mengintimidasi.
“Bandel.” Ucap Ustadza Risty. Ia menjulurkan lidahnya menyapu kepala rudal Rayhan yang berbentuk jamur hingga ke batangnya. Dengan gerakan perlahan ia mulai menghisap rudal Rayhan dengan gerakan memutar, dan sesekali menggelitik lobang kencing Rayhan dengan ujung lidahnya.
Bibir merahnya tampak kesulitan mengoral rudal Rayhan, tapi ia ingin memberikan yang terbaik untuk Rayhan, pemuda yang telah berebut dirinya dari Suaminya.
Harus di akui kalau Ustadza Risty semakin pandai memanjakan rudalnya, membuat Rayhan mulai kewalahan. Karena tidak ingin segera orgasme, Rayhan meminta Ustadza Risty untuk berhenti mengoral rudalnya.
Kembali ke posisinya semula, Rayhan menindih tubuh Ustadza Risty, ia memposisikan rudalnya tepat di depan gerbang masuk bibir kemaluan Ustadza Risty.
“Masukan Ray! Miliki tubuh ini, tubuh yang seharusnya hanya di miliki Ustad Fuad.” Goda Ustadza Risty sembari mengelus wajah tampan Rayhan.
“Apa yang harus di masukan Ustadza?”
“rudal… Kamu sayang! Masukan rudal kamu ke dalam serambi lempit Ustadza jalang ini.” Ucap Ustadza Risty yang semakin tidak tahan ingin segera di masuki rudal Rayhan.
Rayhan tersenyum lalu ia menggesek-gesekkan batang kemaluannya di bibir kemaluan Ustadza Risty. Dengan satu hentakan kasar, Rayhan menancapkan rudalnya ke dalam serambi lempit Istri Ustad Fuad.
Duaaaar…
Tiba-tiba langit berteriak dengan keras, yang di sertai rintikan hujan yang jatuh ke bumi.
“Oughkk…” Jerit Ustadza Risty.
Tusukan rudal Rayhan di dalam serambi lempit Ustadza Risty semakin lama semakin cepat, seiring dengan guyuran hujan yang semakin deras menerpa tubuh mereka yang tengah bercinta diatas tikar.
Rayhan mendekap kepala Ustadza Risty dan melumat bibir Ustadza Risty dengan perlahan.
Di bawah guyuran hujan mereka berpacu dengan birahi, tidak perduli dengan suara gledek yang seakan memberi memperingatkan atas perbuatan mereka saat ini.
“Ray! Aaahkk… Enak…” Racau Ustadza Risty.
Jemari Rayhan kembali meremas-remas susu Ustadza Risty, dan memilin putingnya. “Ssstt… Aahkkk… Maaf Ustad Fuad, serambi lempit jalang Istrimu ku genjot.” Erang Rayhan, yang semakin gencar menyodok-nyodok serambi lempit Ustadza Risty yang terasa meremas-remas batang rudalnya.
Keluar masuk… Keluar masuk… Keluar masuk…
Genjotan Rayhan semakin lama semakin cepat, dengan hentakan yang kuat kuat menubruk serambi lempit Ustadza Risty yang terasa semakin licin.
Kedua tangan Ustadza Risty melingkar di leher Rayhan, dengan mata terpejam menikmati setiap hentakan rudal Rayhan di dalam serambi lempitnya. Tidak lama kemudian Rayhan mengangkat satu kaki Ustadza Risty, kaki jenjang itu ia silangkan ke samping sehingga serambi lempit Ustadza Risty terasa semakin seret.
Slookss… Slookss… Slookss… Slookss… Slookss… Slookss… Slookss… Slookss…. Slookss…
“Ray! Aahkkk… Ustadza dapat Nak!” Jerit Ustadza Risty.
Tubuhnya menggelepar seperti ikan kehabisan air. Bukannya berhenti Rayhan semakin gencar menyodok-nyodok serambi lempit Ustadza Risty yang kian ketat memeluk batang rudalnya yang tengah menyodok-nyodok serambi lempitnya.
Alhasil orgasme Ustadza Risty seakan tak pernah padam, membuat Ustadza Risty makin tersiksa.
Ploopss…
Rayhan mencabut rudalnya, dan tampak serambi lempit Ustadza Risty terlihat makin memerah karena sodokan kasar rudal Rayhan terhadap serambi lempitnya.
“Nungging.” Perintah Rayhan.
Pemuda itu mengusap wajahnya yang di guyur air hujan yang semakin lebat.
“Ughkk… Ayo sayang masukan lagi, serambi lempit ini milik kamu sekarang.” Goda Ustadza Risty, ia melebarkan kakinya dengan sedikit mengangkat pantatnya.
Plaaak…
Rayhan menampar pantat mulus Ustadza Risty hingga tampak memerah.
“Auww… Ray!”
Plaaak…
“Binal… Wanita jalang.” Umpat Rayhan.
“Masukan Ray… Masukan rudal kamu ke dalam serambi lempit Istrinya Fuad.” Desah Ustadza Risty, pantatnya tampak tersentak-sentak setiap kali di tampar Rayhan.
Tangan kanan Rayhan menuntun rudalnya untuk kembali melesat ke dalam serambi lempit Ustadza Risty. “Bleeess…” Dengan satu dorongan rudalnya kembali bersemayam di dalam serambi lempit Ustadza Risty. Sembari menggenjot Ustadza Risty dari belakang, Rayhan menarik jilbabnya.
Layaknya seorang joki kuda, Rayhan menyentak-nyentak pinggulnya, menyodok serambi lempit Ustadza Risty.
“Ray… Aahkkk… Aahkkk…”
“Aku mau keluar Ustadza…” Erang Rayhan, ia makin cepat mengocok rudalnya di dalam serambi lempit Ustadza Risty.
Wajah Ustadza Risty tampak panik, walaupun dirinya juga di landa rasa nikmat yang luar biasa, ia merasa kalau dirinya juga sebentar lagi akan sampai.
“Di luar Ray! Oughkk… Aku dapat.” Jerit Ustadza Risty.
Untuk ketiga kalinya Ustadza Risty melolong panjang melepaskan syahwatnya. Pantat Ustadza Risty bergetar hebat di bawah guyuran hujan, hingga tubuhnya ambruk dan dadanya menempel keatas tikar.
Rayhan makin gencar menyodok serambi lempit Ustadza Risty, hingga akhirnya ia merasakan aliran darahnya berkumpul di satu titik.
“Aku keluar…”
Rayhan mencabut rudalnya dan menumpahkan spermanya diatas pantat mulus Ustadza Risty.
Croooottss… Croooottss… Croooottss…
*****
Sehabis shalat ashar, Aurel menuju perpustakaan, ia mengambil sebuah buku lalu duduk di teras perpustakaan. Alih-alih membaca buku, Aurel malah lebih banyak melamun, meratapi nasibnya yang begitu kacau setelah mengenal kekasihnya Dedi.
Kini ia tidak hanya kehilangan harga dirinya sebagai seorang wanita muslimah, tapi juga harus kehilangan sahabat-sahabatnya yang selalu setia menemani dirinya di saat ia sedih seperti saat ini.
Andai saja ia mendengarkan ucapan teman-temannya, mungkin ia tidak akan kemakan jebakan Dedi, pemuda yang telah menjebaknya hingga ia harus melayani keempat teman Dedi bersamaan.
“Aurel.”
Aurel menoleh ke samping lalu dengan sigap mengusap air matanya. “Eh kamu Asyifa!” Ujar Aurel, ia berusaha tersenyum agar sahabatnya tidak curiga.
“Kamu kenapa?” Asyifa duduk di samping Aurel.
“Aku gak apa-apa kok!” Jawab Aurel.
Asyifa memegang lengan sahabatnya. “Bohong! Aku tau kalau sahabatku saat ini sedang sedih.” Ujar Asyifa, membuat Aurel terdiam.
Memang sukar rasanya menipu orang terdekat kita. Tanpa Aurel ceritapun, Asyifa pasti bisa menebak kalau dirinya saat ini tengah sedih. Tapi apakah mungkin ia harus menceritakan kejadian tadi pagi sama sahabatnya? Tidak… Tidak… Aurel tidak ingin melibatkan teman-temannya.
“Ayo cerita.”
“Maafin aku ya Asyifa! Aku sudah jahat sama kalian semua.” Lirih Aurel.
Asyifa tersenyum. “Minta maaf buat apa? Kamu gak salah kok…” Ujar Asyifa.
“Aku takut kehilangan kalian.”
Tiba-tiba Aurel memeluk sahabatnya itu, ia benar-benar menyesal karena tidak mau mendengarkan nasehat sahabatnya itu, sehingga ia harus kehilangan mereka demi seorang pemuda yang malah tega menyakiti nya.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, Aurel hanya berharap sahabat-sahabatnya mau memaafkan dirinya.
“Kamu tidak akan pernah kehilangan kami.” Tegas Asyifa.
“Apa kamu mau memaafkan aku?”
Asyifa mengangguk. “Tentu saja, Kitakan teman…” Ujar Asyifa kembali tersenyum.
“Terimakasih.”
Asyifa berdiri. “Ya sudah jangan sedih lagi, ayo kita belajar bersama, besok kan ada kuis.” Ajak Asyifa. Aurel mengangguk dan menyambut uluran tangan Asyifa.
Mereka berdua segera kembali masuk ke dalam perpustakaan untuk belajar bersama. Entah kenapa Aurel merasa sangat bahagia sekali, rasanya sudah lama ia tidak merasakan perasaan seperti saat ini. Terimakasih Tuhan, sudah memberikan sahabat terbaik.
*****
Di tempat yang berbeda, Aziza tampak duduk di tepian bangku penonton sembari melihat teman-teman asramanya yang tengah bermain basket, walaupun lapangan saat ini sedikit tergenang air karena hujan barusan, tapi mereka terlihat begitu bersemangat.
Saat sedang menikmati permainan teman-temannya, Aziza tidak sengaja melihat Ustadza Wanda bersama Fei yang tengah berjalan bersama-sama.
Kehadiran mereka membuat Aziza kembali teringat kejadian kemarin ketika ia memergoki Ustadza Wanda tengah berbuat mesum di dalam toilet bersama Fei. Rasanya sulit sekali untuk mempercayai apa yang ia lihat, mengingat Ustadza Wanda adalah seorang guru di ponpes Al-Tauhid.
Wanda terlihat berbisik kepada Fei, kemudian mereka berpisah. Fei segera menuju kosnya, sementara Ustadza Wanda menghampiri Aziza.
“Gak ikut main?” Tanya Wanda.
Aziza tampak gerogi. “Eh… Ehmm… Iya Ustadza, cuman mau lihat-lihat aja.” Jawab Aziza tampak terlihat salah tingkah karena di dekati Ustadza Wanda.
“Kenapa?”
Ustadza Wanda duduk di samping Aziza, lalu wanita cantik itu meletakan tangannya di paha Aziza.
Seandainya saja ia tidak melihat kejadian kemarin, mungkin Aziza akan bersikap biasa-biasa saja, tapi masalahnya ia sudah memergoki kelakuan menyimpang Ustadza Wanda, membuat Aziza menjadi risih.
“Eh… Gak apa-apa Ustadza.” Aziza menggeser kakinya.
Ustadza Wanda tersenyum melihat ketakutan dari tatapan Aziza. “Soal kemarin! Ustadza minta maaf ya.” Ucap Ustadza Wanda sembari mengamati anak didiknya yang tengah bermain basket di lapangan yang basah.
“Maksud Ustadza?”
“Ustadza tau kalau kemarin kamu melihat Ustadza sama temanmu Fei.” Ujar Ustadza Wanda, sukses membuat Aziza semakin salah tingkah.
“Jadi Ustadza tau.”
“Kamu bisa kan jaga rahasia Ustadza?” Tanya Ustadza Wanda, jemarinya naik keatas merabahi paha Aziza yang di balut celana panjang berwarna hitam.
“Eh… Ehmm… Iya Ustadza.” Ujar Aziza makin tak tenang.
Memang Aziza tidak berniat mengadukan perbuatan Ustadza Wanda, karena ia merasa itu bukan urusannya. Tapi kejadian kemarin membuat pandangan Aziza terhadap gurunya menjadi berubah.
Mendengar ucapan Aziza membuat Ustadza Wanda senang, ia semakin berani merabah semakin atas kaki Aziza, hingga nyaris menyentuh selangkangan Aziza.
“Astaghfirullah!” Hentak Aziza.
Gadis cantik itu langsung berdiri dan menatap tak suka kearah Ustadza Wanda yang ia anggap terlalu berani. “Kenapa sayang.” Ucap lembut Wanda.
“Maaf Ustadza! Saya bukan Fei.” Lirih Aziza.
“Ya, kamu bukan dia, karena kamu lebih cantik dari Fei.” Bisik Ustadza Wanda membuat tubuh Aziza merinding.
“Sepertinya saya harus pergi sekarang! Assalamualaikum.” Ucap Aziza cepat, lalu tanpa menunggu jawaban Ustadza Wanda, Aziza buru-buru pergi kembali ke rumahnya.
Ustadza Wanda menatap punggung Aziza yang pergi meninggalkannya begitu saja. Ia tersenyum penuh arti sembari menggigit bibirnya. “Lihat saja nanti sayang!” Gumam Ustadza Wanda, lalu beranjak pergi.
*****
Hujan yang tadi sudah reda, kini kembali mulai mengguyur pondok pesantren Al-Tauhid dengan perlahan. Azril yang baru saja pulang dari lapangan sepak bola bergegas menuju rumahnya sembari menenteng sepatu bola yang ada di tangannya.
Ketika ia hampir tiba di rumahnya, tiba-tiba ia melihat sosok santri yang amat ia kenal baru saja keluar dari rumahnya. Pemuda itu adalah Dedi.
“Ngapain dia ada di rumah?” Gumam Azril.
Pemuda itu bergegas menuju rumahnya setelah Dedi menghilang dari pandangannya. Setibanya di rumah ia melihat Laras yang tengah duduk di depan televisi. Wanita yang kini menjadi panutannya itu tampak tersenyum ketika melihat kehadirannya.
Azril segera menghampirinya dan mencium lembut punggung Laras, yang di balas dengan kecupan di keningnya. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com
“Mandi, terus ganti baju dulu sana.” Suruh Laras.
“Iya Umi.”
Baru saja berjalan beberapa langkah Azril menghentikan langkahnya. “Eh Umi… Hmmm… Tadi aku lihat ada teman sekolahku ke rumah kita, dia nyari siapa Umi?” Tanya Azril penasaran.
“Dedi maksud kamu?”
“Iya Umi.”
“Dia nyari Kakak kamu Clara! Sepertinya si dia pacarnya Clara.” Jawab Laras.
“Apa?”
“Kenapa?”
Azril yang tadi sudah merasakan kalau ada yang tidak beres semakin merasa khawatir. “Kok Kak Clara di bolehin pacaran Umi?”
“Emangnya kenapa kalau Kakak kamu pacaran?”
“Bukannya Abi melarang kami pacaran?” Ujar Azril, ia masih ingat dengan pesan KH Umar yang meminta anaknya untuk tidak coba-coba menjalin hubungan dengan lawan jenis sebelum menikah.
Laras tersenyum. “Itukan kalau Abi tau, kalau gak tau.” Ucap Laras pelan.
“Tapi Umi.”
“Kamu kenapa si sayang? Wajar dong kalau Kakak kamu mulai pacaran. Itu artinya Kakak kamu normal.” Bela Laras, membuat Azril benar-benar tidak mengerti.
“Setau Azril, Dedi itu pacaran sama Aurel Umi! Aku cuman takut kalau Kak Clara cuman di permainkan oleh Dedi.” Ungkap Azril tentang kekhawatirannya dengan sosok Dedi yang ternyata juga mendekati Kakak Tirinya.
“Astaghfirullah… Azril.”
“Azril gak bohong Umi.” Bela Azril.
Cerita Sex The Beloved Wife (Session 2)
Laras menatap marah kearah putranya. “Umi gak pernah ngajarin kamu nuduh orang sembarangan! Yang Umi lihat dia anak baik-baik.” Ujar Laras, membuat Azril benar-benar dilema saat ini.
“Azril gak bohong.” Azril tertunduk diam.
“Cukup.”
Azril segera bersimpuh di depan Laras. “Umi… Azril gak mau kalau nanti Kak Clara di permainkan sama Dedi, Azril sangat mengenal dia.” Ujar Azril tidak menyerah meyakinkan Ibu Sambungnya.
“Sepertinya Umi harus sedikit keras sama kamu.”
“Umi.”
Laras tidak mengubris ucapan Azril, ia berdiri dan menatap tajam kearah Azril. “Sekarang kamu mandi, ganti baju lalu ke kamar Umi.” Ucap Laras lantang, lalu meninggalkan Azril yang tampak masih bengong.