
The Beloved Wife (Session 3) – Selamat malam sobat Ngocokers yang setia. Sebelum mambaca cerita dibawah ada baiknya untuk membaca session 2 dengan judul The Beloved Wife (Session 2). Terima kasih bagi para pembaca ngocokers yang setia!
SUAMI & ISTRI MENERKA NERKA
“Tuan Portman bunuh diri.” Petugas polisi melanjutkan. “Kami menemukan botol obat yang kosong di genggaman tangannya. Dugaan kami, dia sudah menenggak seluruh pil obat di dalam botol tersebut.”
Tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut, Elliot segera bergegas untuk pergi ke kantor polisi. Awalnya dia tidak ingin membawa Charlotte, tapi wanita itu sudah bangun semenjak dia mengangkat teleponnya. Jadi mereka memutuskan untuk pergi bersama dengan Ian.
Di perjalanan menuju kantor polisi, Elliot tidak bisa berhenti merasa gelisah dan mempertanyakan perilaku Renold Portman yang tiba – tiba bunuh diri. “Apa mungkin dia merasa tertekan sampai ingin bunuh diri?” duga Charlotte.
Cerita Sex The Beloved Wife (Session 3) Ngocoks “Tidak mungkin.” Elliot berkata, “Hukuman bahkan belum dijatuhkan, dia seharusnya masih berharap akan ada yang membantunya keluar dari hukuman.”
“Johan. Dia pasti berharap Johan bisa membantunya. Bukankah seharusnya mereka bertemu di kantor polisi? Apa Johan tidak ingin membantunya?” Charlotte mulai bertanya – tanya dengan suara pelan.
Elliot, “Kita lihat dulu situasinya di kantor polisi. Setelah itu baru kita pikirkan lagi.”
Berselang setengah jam kemudian, mereka sampai di kantor polisi dengan wajah gusar. Polisi kemudian mengarahkan mereka ke rumah sakit yang ada di dekat kantor polisi untuk mengunjungi Renold yang sudah tidak bernyawa.
“Waktu kematiannya adalah pukul 4.26 pagi. Tidak ada indikasi pemaksaan, kami juga melihat kalau dia mengeluarkan botol obat dari kantungnya sendiri.”
Elliot menarik kain putih yang menutupi jasad Renold, dia bisa melihat permukaan kulit Renold yang begitu pucat, dan memiliki tanda livor mortis di bagian leher serta wajahnya. “Mengapa kalian membiarkan dia membawa obat?”
Petugas polisi menghela napas. “Saat diperiksa, itu adalah obat untuk penyakit jantung, jadi kami membiarkan Tuan Portman membawanya.”
Elliot menundukan kepalanya saat dia berkata, “Apa dia benar-benar memiliki penyakit jantung?”
Karena setahu Elliot, Renold tidak pernah mempunyai indikasi penyakit jantung. Dia juga selalu memakan makanan berminyak, dan tidak begitu memperhatikan pola hidupnya.
“Setelah pemeriksaan keseluruhan, dokter menyatakan dia sehat.”
“Lalu obat itu adalah?”
“Asetaminofen. Tuan Portman memasukkan obat Asetaminofen ke dalam botol obat jantung supaya kita tidak menyitanya,” jelas petugas polisi itu.
Asetaminofen biasanya digunakan untuk obat penghilang rasa sakit. Namun penggunaannya tidak bisa sembarangan, karena bila dosis yang dikonsumsi tidak tepat, maka konsumennya bisa mengalami kerusakan hati dan keracunan. Sebelum ini, Renold telah mengkonsumsi 30 butir Asetaminofen dalam satu kali minum, jelas saja tubuhnya tidak akan sanggup menampung dosis sebanyak itu.
Charlotte, “Apa Tuan Portman sempat bertemu dengan seseorang? Bertemu Johan misalnya.”
Petugas polisi itu mengangguk cepat. “Ya, Tuan Portman sempat bertemu dengan Tuan Ketiga Landegre. Mereka hanya berbicara selama sepuluh menit, dan kami tidak menemukan pembicaraan yang mencurigakan.”
“Biarkan kami mendengar rekaman percakapan mereka,” pinta Ian.
*****
Ketika mereka masuk ke ruang pemantau di sebelah ruang interograsi. Petugas polisi memutarkan rekaman percakapan antara Johan dan Renold tadi malam.
Dari rekaman, terlihat keduanya duduk saling berhadapan dan diam selama dua menit pertama. Renold terus menundukan kepalanya, dan Elliot bisa melihat peluh membasahi kening Renold. Sedangkan Johan hanya memandangi Renold dalam diam, kedua tangannya dilipat di depan dada, dan ia tampak seperti seorang hakim yang ingin menunggu pengakuan.
“Saya minta maaf karena sudah menyeret nama Anda,” kata Renold dengan suara gemetar.
“Pengacaraku akan datang besok pagi, dia pasti mampu mengeluarkanku dari tempat ini,” ujar Johan tanpa beban.
Renold menegang, “Apa … Apakah Anda juga bisa mengeluarkan saya?”
Johan menatap kedua mata Renold lekat-lekat, kemudian tersenyum tipis di hadapan pria itu. “Mengeluarkan kamu? Bukankah kamu sendiri sudah mengakui kejahatanmu? Tuan Portman, sejujurnya aku tidak mengerti alasan kamu membawa-bawa namaku dalam tindakan kriminalmu.”
Renold menggosok kedua tangannya di bawah meja, tampak seperti ingin menahan diri untuk bertindak impulsif. Dia juga akan membuka mulutnya selama beberapa detik, kemudian menutupnya lagi. Renold seolah ingin berbicara, tapi merasa takut untuk membuka suara.
“Tidak apa-apa jika tidak bisa menjawabnya. Mungkin kamu terlalu panik dan tidak mau disalahkan seorang diri. Bagaimana pun, jika ada nama besar yang ikut terseret, kamu pasti hanya akan dianggap sebagai kaki tangan sehingga hukumanmu tidak terlalu panjang,” kata Johan. “Namun, seharusnya kamu tidak perlu berbohong sampai ke taraf ini. Apa kamu sengaja merusak seluruh data di Departemen Infrastruktur III dan menjual data itu ke perusahaan lain?”
Renold membelalakan matanya, dia secara reflek hampir berdiri dari kursi. Segala ucapan yang tertahan di tenggorokannya akhirnya keluar begitu saja. “Tentu saja tidak! Bagaimana saya bisa seberani itu? Tuan, jika Anda tidak menyuruh saya untuk menghancurkan data itu, saya pasti tidak akan melakukannya!”
pandangan mata Johan turun, tatapannya menjadi sedikit tajam, dan tangannya mengepal kuat di bawah meja. Meski terlihat marah, intonasi suaranya masih terdengar lembut. “Tuan Portman, berhenti menjatuhkan kesalahan yang kamu perbuat kepadaku. Apa salahnya untuk mengakui kesalahanmu tanpa menyeret orang lain?”
Renold Portman tidak membalas lagi, dia tampak kehilangan arah dan tidak mampu memfokuskan matanya dengan benar.
Johan akhirnya berdiri, kemudian melangkah keluar dari ruangan tersebut. Dia menepuk bahu Renold beberapa kali dan berkata, “Kamu sepertinya butuh banyak istirahat agar pikiranmu jernih. Jika kita bisa keluar dari tempat ini, aku akan mengirimkan beberapa bungkus teh herbal kepadamu. Kau pasti akan menikmati teh itu.”
Renold sekali lagi menegang, dia mencengkram tangan Johan, kemudian berbicara dengan suara panik. “Tidak, tidak. Saya tidak membutuhkannya, tidak perlu mengirimkan apapun. Maaf, saya malah menyeret nama Anda ke dalam perbuatan kriminal saya sendiri. Maaf, maafkan saya.”
Johan menyentak tangannya untuk melepaskan cengkraman Renold. “Tidak apa-apa, anggap saja kirimanku itu adalah tanda pertemanan.”
Setelah itu Johan keluar dari ruangan, meninggalkan Renold sendirian di dalam ruangan tersebut selama beberapa jam. Pada pukul 4.15, Renold akhirnya menenggak 30 butir obat sekaligus dan mengalami kejang sampai pukul 4.26 pagi.
“Hanya ada satu percakapan aneh, ketika Tuan Ketiga Landegre membicarakan teh herbal, sikap Tuan Portman terlihat panik,” kata petugas polisi itu.
Elliot mengangguk, “Ya, memang terlihat aneh. Tapi memangnya apa korelasi dia dengan sebuah teh, terdengar tidak masuk akal.”
Charlotte menundukan kepalanya saat dia berpikir, tampaknya ia berusaha mengingat-ingat perilaku Renold selama Charlotte bekerja di perusahaan. “Sebelum kita berlibur, aku ingat Tuan Portman pernah membagikan kotak teh kepada setiap karyawan yang dekat dengannya. Aku bahkan juga dapat satu.”
Setelah mendengar ucapan Charlotte, Elliot tiba-tiba ingat Charlotte membawa satu kotak teh saat pulang. Saat itu dia tidak bertanya karena berpikir mungkin Charlotte membelinya di supermarket dekat kantor.
“Apa merknya?” tanya Elliot.
“Bukan merk besar,” Charlotte berkata, “Kurasa itu adalah teh produksi rumahan. Sepertinya pernah ada yang mengirimkan foto teh tersebut ke grup.”
Charlotte memeriksa grup chat kantor. Kemudian menemukan foto yang dia maksud. Elliot lantas memperhatikan kotak teh tersebut dengan seksama, kemasannya memang terlihat seperti produksi rumahan. Tulisan ‘Yolan’s Tea’ terpampang jelas di kemasannya, tampaknya itu adalah merk dari teh produksi rumah itu.
Elliot bertanya, “Apa pemilik dari produk teh ini adalah kenalan Tuan Portman?”
“Dia sempat bilang itu milik kenalan dekatnya,” jawab Charlotte.
“Mungkinkah kenalannya ini juga memiliki hubungan dengan Johan?”
Elliot benci menerka-nerka saat dia tidak mempunyai fakta. Jadi, dia berhenti berpikir lebih panjang dan memperlihatkan foto itu kepada petugas polisi. “Selidikilah pemilik dari produk teh ini, mungkin kita bisa menemukan petunjuk.”
“Dan untuk Johan ….”
Elliot menggantung ucapannya, karena tidak tahu harus mengatakan apa. Renold Portman yang menjadi juru bicara dalam kasus ini telah meninggal, sehingga ucapannya tidak bisa dinyatakan secara konkrit di pengadilan. Jika ingin memasukkan Johan ke penjara, maka dia memerlukan bukti lain yang bersifat mutlak di mata pengadilan.
Petugas polisi itu tampaknya mampu merasakan kefrustasian yang dirasakan oleh Elliot, sehingga dia kembali menghela napas. “Bila kita tidak mampu membuktikan keterlibatan Tuan Ketiga Landegre dalam waktu 48 jam, maka dia akan dibebaskan.”
Pertemuan antara asisten Johan dengan Renold dapat dikatakan sebagai pertemuan antar rekan kerja lama. Jadi mungkin bukti itu tidak begitu berguna.
Ian menepuk pundak Elliot. “Jangan khawatir, aku akan tetap menyelidiki Johan secara keseluruhan. Kamu hanya perlu menunggu selama beberapa waktu.”
Tepukan Ian membuat Elliot lebih tenang, dia sangat percaya bila Ian pasti mampu menyeret Johan ke dalam penjara. Dia hanya harus menunggu dengan sabar.
“Aku menantikannya.”
*****
Karena tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan di kantor polisi, Elliot akhirnya membawa Charlotte untuk pulang ke rumah, sementara Ian juga pulang menggunakan taxi.
Di sepanjang perjalanan pulang, Elliot tidak banyak bicara. Charlotte tahu bila suaminya sedang tidak dalam suasana hati yang bagus, sehingga dia juga tidak akan mengganggu untuk sementara waktu.
Charlotte baru berbicara saat mereka sudah sampai di rumah dan memasuki kamar. “Kamu ingin makan sesuatu? Mungkin saja setelah makan suasana hatimu jadi lebih baik.”
Elliot melepaskan dua kancing kemejanya, kemudian berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian santai. “Nanti saja, kamu bisa makan duluan bila lapar.”
Charlotte menghela napas dalam hati, membangkitkan suasana hati Elliot itu memang sulit, terlebih pria itu juga akan mengabaikan lingkungan sekitarnya, termasuk mengabaikan Charlotte.
Entah mengapa, rasanya sangat tidak nyaman bagi Charlotte saat Elliot mulai mengabaikannya, seolah-olah dia memang pernah menghadapi sikap Elliot yang seperti itu dalam jangka waktu yang panjang.
Perasaan tidak nyaman itu akan bertambah kuat saat Elliot tidak banyak bicara.
Tapi Charlotte berusaha menepis perasaan itu karena masih ada masalah penting yang perlu mereka bicarakan.
“Kita mungkin bisa menemukan alasan mengapa Tuan Portman begitu takut saat Johan membicarakan masalah teh,” kata Charlotte tiba-tiba.
Elliot yang baru saja duduk di kasur akhirnya mengangkat kepalanya untuk menatap Charlotte. “Bagaimana?”
“Menemui Yolan. Tuan Portman bilang jika pemilik teh itu adalah kenalan dekatnya, sehingga ada kemungkinan Yolan akan datang ke acara pemakaman Tuan Portman. Selama polisi mampu menemukan foto Yolan, kita bisa mencarinya di acara pemakaman.”
Saat mendengar hal itu, Elliot seperti mendapatkan pencerahan. Tapi dia segera mengerutkan keningnya saat menyadari sesuatu. “Bagaimana bila dia tidak mau berbicara kepada kita?”
“Dia pasti mau,” Charlotte berkata, “Jika dia memang sedekat itu, Yolan pasti ingin mencari tahu alasan dibalik kematian Tuan Portman yang tiba-tiba.”
“Kamu benar, mungkin aku saja yang terlalu khawatir,” kata Elliot seraya menghela napas. Dia secara spontan menarik pinggang Charlotte dan memeluk wanita itu dengan erat.
Elliot hanya khawatir jika masalah ini dibiarkan terus terombang-ambing. Sejarah tentang dirinya dan Charlotte yang mati di bawah salju akan terulang kembali. Bagaimana pun juga, Elliot ingin menghapus segala kemungkinan yang akan membawa mereka ke dalam bencana.
“Maaf, suasana hatiku tadi agak buruk, jadi aku mengabaikanmu sedikit. Apa kamu kesal?” tanya Elliot.
Charlotte membalas pelukan Elliot, lalu duduk di atas pangkuan pria itu. “Tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Tapi, rasanya memang agak menyebalkan.”
Bersambung… HUBUNGAN GELAP
Charlotte membenamkan wajahnya ke leher Elliot, menghirup aroma pria itu dalam-dalam, dan mencoba untuk meredakan kekesalannya. Sama seperti Elliot, Charlotte juga kesal karena Johan mampu bebas begitu saja. Namun, kekesalannya itu meningkat saat Elliot terus mengabaikannya.
“Haruskah kita makan sekarang?” tanya Elliot, berusaha untuk memperbaiki suasana di antara mereka.
“Jika kamu tidak ingin makan, maka aku juga tidak,” jawab Charlotte. Elliot tertawa saat mendengarnya. Ternyata, istrinya sedang marah, karena tadi Elliot menyuruhnya untuk makan sendirian.
“Aku juga akan makan. Jadi, jangan marah lagi.” Charlotte semakin menyandarkan kepalanya ke tubuh Elliot. “Aku tidak marah, hanya kesal.”
“Seberapa kesal?” tanya Elliot dengan nada main-main. Bukannya menjawab, Charlotte malah memukul pundak Elliot. “Menyebalkan.”
Elliot memegang kedua tangan Charlotte dan memeluk wanita itu, mengabaikan Charlotte yang sejak tadi ingin mendorongnya. “Baik, berhenti marah. Aku akan lebih memperhatikan kamu di masa depan.”
Elliot tidak tahu, apakah itu hanya imajinasinya atau Charlotte memang tampak begitu sedih saat dia mengabaikan Charlotte. Mungkinkah itu karena alam bawah sadarnya masih mengenang perbuatan biadab Elliot di kehidupan lampau?
Elliot sesungguhnya juga tidak begitu yakin, dia bahkan bingung kenapa hanya dirinya saja yang masih ingat kehidupan lampau, sementara Charlotte yang menjadi alasannya untuk mengulang waktu malah tidak mengingat apa-apa.
Tapi, sepertinya memang lebih baik terus seperti ini. Karena, Charlotte mungkin akan meninggalkannya apabila mengingat kehidupan lampau mereka.
Setelah mendapatkan pelukan serta dibawakan makan malam oleh Elliot, suasana hati Charlotte berangsur-angsur membaik. Bahkan, sepertinya wanita itu sudah melupakan tindakan Elliot sebelum ini.
Karena keduanya merasa begitu lelah usai memikirkan cara untuk menangani kasus Renold Portman. Mereka langsung pergi tidur setelah menghabiskan makan malam.
Tiga hari kemudian, upacara pemakaman Renold Portman diadakan di Gereja Manhattan. Seluruh rekan kerja dari Divisi Infrastruktur III datang ke upacara pemakaman itu. Kebanyakan dari mereka tidak percaya kalau Renold Portman yang mereka kenal telah melakukan tindakan kriminal dan mati akibat bunuh diri.
Walau kadang ada sifat Renold yang tidak menyenangkan di beberapa hati rekan kerjanya, tetap saja, mereka tidak pernah mengharapkan kematian Renold akan datang secepat ini. Keluarga besar dari pihak Portman tampaknya tidak datang.
Mungkin enggan menanggung malu karena tahu putra mereka melakukan bunuh diri setelah ketahuan ingin membuat rugi perusahaan. Sanak keluarga yang terlihat, hanyalah istri dan kedua putrinya. Mata istrinya tampak sembab karena terus menangis, sedangkan kedua putrinya juga tak lebih baik dari ibu mereka.
Ketika rentetan upacara hampir diselesaikan, Elliot mendapatkan pesan dari Ian. Itu hanyalah sebuah pesan singkat, berupa foto seorang wanita muda yang memiliki rambut sebahu, dengan mata hazel. Di bawah foto, Ian mengirimkan pesan baru yang bertuliskan ‘Yolanda Torres’. Sepertinya, Ian sudah berhasil menemukan pemiliki dari Yolan’s Tea.
Elliot kemudian berjalan keluar gereja untuk menghubungi Ian. “Hubungannya dengan Tuan Portman?”
“Terindikasi perselingkuhan.” Ian menambahkan, “Nona Torres memiliki sebuah akun sosial media privat, di dalamnya ada banyak foto-foto kemesraan dia dengan Tuan Portman.”
“Jadi, mungkinkah Johan tahu tentang masalah itu dan mengancam akan memberitahu istri Tuan Portman tentang perselingkuhannya dengan Nona Torres?”
“Kurasa. Tapi, mungkin tidak sesederhana itu,” kata Ian. Benar, tidak mungkin bisa sesederhana itu.
Jika hanya sekedar memberitahu perselingkuhan, Renold tidak harus sampai bunuh diri. Dia bisa saja mengelak dan menganggap Yolanda sebagai wanita yang mengejar-ngejar dia. Bila Elliot pikirkan lebih jauh, Johan pasti memegang sebuah rahasia yang dapat menghancurkan Renold bila sampai rahasia itu terbongkar.
“Aku akan bicara dengan Nona Torres,” ujar Elliot sebelum menutup teleponnya.
Saat dia kembali ke dalam gereja. Peti mati milik Renold akan segera diangkat dan dibawa ke tempat kremasi, sebelum abunya dibawa ke pemakaman gereja. Sebelum keluarga Portman mengikuti peti, Elliot lantas memberikan isyarat kepada Charlotte untuk menghampiri Becca Portman dan menyampaikan belasungkawa bersama.
“Nyonya Portman, saya turut menyesal atas kepergian Tuan Portman. Sungguh, saya tidak pernah berharap kejadiannya akan seperti ini,” kata Elliot seraya memegang tangan Becca.
Becca mengusap matanya yang tergenangi oleh air mata sebelum menjawab dengan tenang. “Saya sudah mendengar segalanya, Tuan Landegre. Sebagai istrinya, saya yang seharusnya memohon maaf kepada Anda. Ketika Renold mengirimkan jumlah uang yang sangat besar ke rekening saya, saya tahu kalau ada yang salah dengan dia. Namun, saya tidak melakukan apa-apa karena takut keluarga kecil saya terkena imbasnya.”
Tanpa disangka, Becca tidak menyimpan dendam kepada Elliot. Wanita itu mengakui kesalahan yang diperbuat oleh Robert, bahkan terus meminta maaf beberapa kali. Di mata Elliot, wanita ini tampaknya memiliki hati yang begitu murni.
“Anda tidak boleh meminta maaf. Semua sudah terjadi, tidak ada lagi yang bisa kita perbuat. Walaupun Tuan Portman pernah melakukan kesalahan, saya tidak bisa memungkiri kalau dia telah banyak memberikan kontribusi ke dalam perusahaan. Karena itu, Nyonya Portman, saya akan menanggung seluruh biaya sekolah anak-anak Anda dan membayarkan tunjangan pensiun Tuan Portman tanpa ada pemotongan.”
“Terima kasih, Tuan! Anda benar-benar murah hati, saya tidak tahu harus membalas seperti apa,” kata Becca seraya menangis haru.
“Anda tidak perlu membalas apapun, ini murni bantuan dari saya.”
Renold Portman tidaklah lebih dari sebuah pion yang digunakan oleh Johan, sebuah umpan yang berfungsi untuk dikorbankan supaya Johan mendapatkan kebebasan. Renold memang berbuat salah, tapi tak sepatutnya harus menanggung seluruh kesalahan. Jadi, setidaknya Elliot ingin memberikan belas kasih kepada istri dan anak-anaknya, supaya mereka bisa hidup dengan nyaman.
*****
Satu-persatu tamu yang hadir lantas meninggalkan gereja setelah peti mati Renold sedang dikremasi. Namun, ada seorang wanita muda yang masih duduk di atas kursi. Wajahnya terus menunduk sepanjang hari, terlihat memancarkan kesedihan yang begitu dalam. Dari ciri-ciri wajah serta rambutnya, Elliot bisa mengambil kesimpulan kalau dia adalah Yolanda Torres.
“Nona Torres.” Charlotte memanggilnya dengan suara lembut, berusaha untuk tidak membuatnya terkejut. Namun, Yolanda langsung merasa tersentak begitu ada seseorang yang mengenalinya di sini. Sebelum Yolanda membuka mulut, Charlotte segera menambahkan, “Bisakah kita berbicara, Nona Torres?”
Yolanda menyipitkan matanya, kemudian melihat Charlotte dan Elliot dari bawah ke atas. Dia jelas tahu kalau Elliot berasal dari Keluarga Landegre, tapi dia tidak mengenali Charlotte. “Apa kita saling mengenal?”
Charlotte tersenyum. “Sayangnya tidak, tapi Tuan Portman pernah memberikan produk teh Anda kepada saya. Jadi, bagaimana bila kita berbincang-bincang sebentar.”
Yolanda masih sangat berduka atas kepergian Renold, sehingga mereka berbicara di taman belakang gereja. Awalnya, mereka hanya berbasa-basi sedikit sampai akhirnya Charlotte memulai perbincangan. “Nona Torres, apa kamu sudah tahu penyebab kematian Tuan Portman?”
Yolanda mengangguk. “Aku tahu, dia bunuh diri. Aku hanya … masih tidak menyangka dia akan melakukan tindakan bodoh itu.”
Elliot akhirnya berkata, “Itulah hal yang ingin kami selidiki. Tuan Portman pasti memiliki alasan kuat untuk melakukan itu. Nona Torres, apa kamu mengetahui sesuatu?”
Yolanda mengangkat kepalanya, kemudian menatap Elliot dengan bingung. “Aku tidak tahu. Renold sudah jarang menghubungiku tiga bulan terakhir. Kadang, aku hanya akan mengirimkan dia produk teh beberapa kali. Namun, dia tidak pernah membalas pesanku.”
“Seolah-olah dia takut untuk melihatku,” tambah Yolanda.
Elliot lantas memperlihatkan foto kemesraan Renold dan Yolanda dari akun sosial medianya. “Nona Torres, rasanya kurang pantas untuk mengatakan ini. Tapi, apa kalian pernah merekam sesuatu yang memalukan sampai Tuan Portman lebih baik mati daripada rekaman itu tersebar?”
Yolanda tercekat, seluruh tubuhnya terasa kaku sampai kesulitan untuk mengucapkan kata. “Itu … dari mana kamu mendapatkan foto-foto itu?”
“Akunmu sendiri. Tolong jawab pertanyaanku Nona Torres, karena jawabanmu mungkin menjadi alasan mengapa Tuan Portman bunuh diri.”
Yolanda menggenggam kedua tangannya sendiri, tampak bergetar sekaligus takut. Ingatannya melayang-layang ke saat dia dan Renold melakukan hubungan penuh cinta di belakang Becca Portman. Keduanya tahu hubungan mereka salah, tapi tetap saja tidak ingin melepaskan dan melebur ke dalam dosa.
Mereka terlalu mabuk akan cinta sampai-sampai melakukan tindakan bodoh seperti merekam hubungan mereka yang sedang memadu kasih di atas tempat tidur. “Renold pernah kehilangan ponselnya. Dia sangat ketakutan saat ponsel itu tidak bisa ditemukan dimana pun. Setelah itu, dia menjauhiku, aku sempat tidak tahu alasan sikapnya. Tapi … tapi setelah kupikirkan, sepertinya karena di dalam ponsel itu ada ….”
Yolanda menggantung ucapannya, merasa sangat enggan untuk melanjutkan. Elliot juga tidak memaksa Yolanda untuk melanjutkan. “Cukup, aku mengerti. Terima kasih atas penjelasanmu, Nona Torres.”
Ponsel yang hilang itu mungkin sesungguhnya tidak hilang, melainkan diambil oleh suruhan Johan. Karena Johan mengetahui rahasia terdalam dari Renold Portman, maka Renold bersedia untuk melakukan seluruh perintahnya.
Karena, jika sampai rekaman menjijikan itu tersebar ke media massa. Maka, Renold akan menanggung rasa malu yang begitu besar dari rekan-rekan kerjanya, keluarga besarnya, serta Istri dan anak-anaknya.
Daripada dikenang sebagai pria busuk yang mencampakkan istrinya demi wanita lain. Renold lebih memilih dikenang sebagai pria bodoh yang bunuh diri.
Elliot dan Charlotte lantas meninggalkan Yolanda sendirian, membiarkan wanita itu menerka-nerka arah pembicaraannya dengan Elliot. Wanita itu mungkin baru sadar kalau pria yang ia cintai telah mati akibat dirinya, Renold takut menanggung malu karena ketahuan memiliki hubungan dengan wanita seperti dia.
“Apa tidak apa-apa meninggalkan dia seperti itu?” tanya Charlotte.
“Kita tidak mampu menghapus perasaan kotor yang dia rasakan. Semua perbuatan selalu meninggalkan noda, dan noda itu suatu saat bisa mendatangkan mala petaka.”
Sebelum pergi, Elliot sempat berhenti di ambang pintu masuk gereja. Kedua matanya memandang ke arah altar di penghujung ruangan, kemudian mengangkat pandangannya untuk melihat sang Yesus Kristus yang disalib.
Perlahan, benaknya membacakan sebuah kutipan dari alkitab.
“Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.”
[Ibrani 13 : 4]
Renold telah mencemari sumpah pernikahannya dengan Becca dan melakukan hubungan gelap dengan Yolanda. Pada akhirnya, Tuhan benar-benar menghakimi perbuatannya yang kotor.
Sama seperti Elliot di kehidupannya yang lampau. Dia mengabaikan istrinya sendiri dan malah bermain-main dengan Irene, membuat Tuhan murka sampai-sampai Elliot kehilangan segalanya.
Hal yang membedakan Elliot dengan Renold adalah, Elliot mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya, sementara Renold tidak.
Bersambung… SUAMI MEMUJI ISTRINYA
Dikarenakan kasus mengenai Johan mengalami jalan buntu. Elliot akhirnya berhenti mencari ribut dengan Johan, lalu menunggu Ian untuk mencari bukti-bukti lain terkait kejahatan Johan. Bukti-bukti itu pun terbilang sulit untuk ditemukan, mengingat Johan juga merupakan orang yang sangat hati-hati. Jadi, Elliot dan Ian sepakat untuk mencari secara sembunyi-sembunyi supaya Johan lengah.
Setelah tiga minggu, keadaan Divisi Infrastruktur III mulai tenang seperti biasanya. Para karyawan berhenti membicarakan Renold karena sudah lelah menggosipi pria itu selama berminggu-minggu. Lagi pula, sekarang ada karyawan baru yang menggantikan Renold. Jadi, rasanya tidak etis apabila karyawan baru sampai tahu masalah itu.
“Charlotte, berhenti kerja, sekarang sudah jam makan siang,” peringat Sean. Wanita itu kemudian meluruk jendela kantor. “Hari ini hujan, bagaimana kalau kita makan di kantin kantor saja hari ini.”
Charlotte mematikan komputernya dalam mode sleep, lalu membalas, “Kantin juga tidak masalah.”
Sean menghela napas. “Tapi makanan di kantin agak membosankan, aku jadi muak memakannya.”
“Bagaimana kalau delivery makanan?”
Sean semakin menghela napas. “Tak perlu, restoran pasti akan menunda pesanan kita karena hujan. Sudahlah, aku bisa makan di kantin untuk hari ini.”
Demi mempererat hubungannya dengan karyawan lain, Charlotte seringkali makan siang bersama Sean dan yang lainnya. Lagi pula, jika dia terlalu sering makan bersama Elliot, karyawan lain pasti akan mencurigai dia mempunyai hubungan gelap dengan atasan.
Namun, Charlotte tidak menduga Elliot akan selalu mencari kesempatan untuk ikut makan bersama para karyawan. Awalnya, para karyawan merasa tidak nyaman untuk makan bersama atasan mereka. Tapi, lama-kelamaan, mereka jadi terbiasa dan bahkan bisa mengobrol dengan santai.
Seperti sekarang, Elliot tiba-tiba datang ke kantin dan duduk di hadapannya. Meja kantin itu cukup luas, bisa menampung sekitar 10 karyawan sekaligus. Jadi, ada banyak orang yang kini dengan antusias mengajak ngobrol Elliot.
“Sir, tidak biasanya Anda makan di kantin. Kadang makanan di sini agak hambar, jadi mungkin tidak sesuai selera Anda.” kata Benedict Cooper.
Elliot, “Tidak masalah, aku tidak begitu pilih-pilih makanan.”
Charlotte memutar matanya diam-diam, pelayan di rumah padahal memiliki catatan makanan yang tidak disukai oleh Elliot, dan daftar itu cukup panjang sampai Charlotte pernah memarahi Elliot karena terlalu pilih-pilih makanan.
Elliot sempat tersenyum kepada Charlotte, kemudian melirik ke arah karyawan baru bernama Rico Hills, yang kini sedang membuka bekal makanannya. “Jarang sekali ada karyawan yang membawa bekal. Apa mungkin itu buatan istrimu?”
Rico tersenyum malu. “Iya, istriku sering memaksaku untuk membawa bekal. Dia bilang, makanan buatan rumah lebih sehat daripada makanan di luar.”
Pengakuan Rico sontak membuat para pria disekelilingnya ricuh, terutama para lajang seperti Lino. “Aku juga mau punya istri yang pandai memasak! Pasti rasanya menyenangkan saat pulang mencium aroma makanan harum, lalu besoknya pergi sambil membawa makanan khas rumah.”
“Maka carilah satu.”
Lino, “Kalau semudah itu, aku pasti sudah menikah sekarang!”
“Sir, bukankah kamu juga punya istri? Apa dia sering masak di rumah?” tanya seorang karyawan, yang langsung membuat semua orang memakukan pandangan mereka kepada Elliot.
Hingga hari ini, istri dari Elliot Landegre masih menjadi misteri. Mereka berusaha mencari informasi dari Erland, tapi asisten itu menutup mulutnya rapat seperti anjing patuh.
Elliot sempat bertemu pandang dengan Charlotte sebelum menjawab. “Masakan istriku juga enak. Tapi, dia begitu sibuk, jadi aku sering melarangnya untuk memasak apabila dia lelah.”
Kali ini, giliran karyawan wanita yang mulai ricuh. “Dengarlah itu baik-baik! Kalian para pria bahkan tidak pernah mau mengerti kelelahan istri! Walau para wanita juga bekerja, kalian masih memaksanya untuk memasak?!”
Sean ikut menimpali. “Siapapun istri Tuan Elliot, dia sangat beruntung.”
“Dia pasti sangat cantik sampai Anda jatuh cinta dengan istri Anda.”
“Tentu, dia sangat cantik. Istriku tidak pernah buruk sekali pun,” kata Elliot.
“Sir, kenapa Anda tidak pernah membawanya ke kantor? Kami pasti akan menjamu Nyonya Landegre dengan baik.”
Elliot tersenyum. “Istriku sangat pemalu. Dia masih belum siap tampil di hadapan umum, jadi mungkin butuh waktu untuk meyakinkan dia. Tapi, suatu hari nanti aku pasti akan mengenalkannya kepada kalian.”
Sepanjang pembicaraan, Charlotte hanya menunduk sambil memakan makanannya. Pipinya sedikit merah karena merasa malu setelah mendengar Elliot terus memujinya.
Karena Charlotte terlalu diam, Sean tiba-tiba berbicara dengannya. “Charlotte, apa kamu tidak sehat? Wajahmu terlihat agak merah.”
Elliot ikut memandangi Charlotte, dia tahu istrinya sangat berkulit tipis [1], karena itu dia sengaja memujinya di depan orang lain. “Nona Baxter, kalau kamu demam, kamu bisa pulang lebih dulu hari ini.”
[1] Berkulit tipis, artinya orang yang mudah malu.
Charlotte sempat menendang kaki Elliot di bawah meja sebelum membalas. “Aku tidak apa-apa, mungkin karena cuacanya dingin, wajahku jadi mudah merah.”
*****
Mereka menghabiskan waktu selama setengah jam untuk berbincang di kantin. Setelah semuanya selesai makan, satu-persatu karyawan mulai kembali ke ruangan mereka, begitu pun dengan Charlotte.
Saat kembali, Elliot dan Charlotte sengaja berjalan di paling belakang. Ketika tidak ada yang melihat, Elliot mencari kesempatan untuk mencubit pipi Charlotte karena gemas. “Nona Baxter, wajahmu masih merah.”
Charlotte menurunkan tangan Elliot dan berbisik, “Itu karena cuaca dingin, Sir.”
Elliot hanya menanggapi dengan tawa. Saat mereka menunggu elevator, Charlotte melihat Aria Moore baru saja turun dari elevator. Sontak keduanya bertegur sapa dan melemparkan senyuman.
Charlotte masih ingin berbincang dengan Aria, jadi dia meminta Elliot dan karyawan lainnya pergi lebih dahulu.
“Aria, sudah lama sekali aku tidak melihat kamu,” kata Charlotte.
Aria membawa Charlotte ke Coffe Shop di dekat kantin. “Kamu juga tidak pernah keliatan! Aku padahal ingin membicarakan banyak hal denganmu!”
“Masih ada waktu 30 menit sebelum masuk kerja lagi, kita bisa ngobrol sebentar,” balas Charlotte.
Setelah mereka duduk di café, Aria segera menarik Charlotte dan berbisik. “Tadi itu Tuan Elliot, kan?”
“Mhm, itu Elliot.”
“Kalian benar-benar bertingkah seperti atasan dan karyawan di kantor?” tanya Aria.
“Tentu saja, lebih baik memang begitu. Tapi, kadang-kadang aku sering ke ruangannya saat para karyawan sudah pulang.”
Aria tertawa. “Ohh … Charlotte sekarang pandai berkencan sembunyi-sembunyi. Apa kalian bahkan bermain di kantor?”
Charlotte jelas tahu maksud ‘bermain’ yang dikatakan oleh Aria. Dia jadi ingat, saat mereka bermain-main di dalam ruangan Elliot di hari pertamanya kerja.
Sungguh memalukan, Charlotte akan menutup itu sampai mati.
“Mana mungkin! Kami tidak seliar itu,” sanggah Charlotte.
Aria sangat paham sahabatnya itu sangat pemalu. Walau memang pernah pun, pasti tidak akan diberitahu kepada Aria. Jadi, Aria tidak lagi melanjutkan.
“Omong-omong, aku punya hadiah pernikahan untukmu dan Tuan Landegre. Sejak kemarin, kita belum sempat bertemu, jadi aku terus membawanya di mobil. Pulang kerja nanti, aku akan memberikannya kepadamu.”
“Hadiah apa?”
Aria tersenyum penuh arti, “Buka saja nanti. Hadiahku bisa mempererat kedekatan kalian.”
Charlotte menjadi curiga, tapi dia yakin teman dekatnya tidak akan memberikan sesuatu yang aneh.
Usai bercakap-cakap begitu lama, keduanya memutuskan untuk kembali bekerja. Charlotte melambaikan tangannya saat mereka berpisah di elevator. “Nanti sore aku akan menghubungi kamu.”
“Oke! Sampai jumpa lagi,” balas Aria.
Hari ini, kebetulan Elliot bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Jadi, dia bisa pulang bersama Charlotte. Keduanya menunggu para karyawan pergi lebih dahulu, sebelum berjalan ke parkiran bersama.
“Aria ingin memberikanku sesuatu, jadi kita harus menunggunya dulu.”
Elliot kembali menutup pintu mobil dan berdiri di samping Charlotte. “Memberikan apa?”
“Dia bilang hadiah pernikahan. Aku jadi merasa bersalah karena tidak mengundangnya ke pernikahan kita.”
Saat mendengar acara pernikahannya sendiri, ekspresi Elliot langsung muram. “Bagus dia tidak datang, pernikahan kita juga tidak begitu bagus.”
Elliot bahkan meninggalkan Charlotte begitu upacara pernikahan mereka selesai. Jadi, ada baiknya tidak perlu mengingat pernikahan yang dipenuhi tragedi itu.
Charlotte menanggapi dengan senyum, “Jangan dipikirkan lagi. Anggap saja kita menikah di Jembatan Brooklyn.”
Mereka sudah mengucapkan sumpah pernikahan ulang di Jembatan Brooklyn. Sumpah yang lebih tulus dan lebih membahagiakan.
Elliot lantas melingkarkan tangannya di pundak Charlotte. “Benar! Tidak perlu mengingat upacara pernikahan yang diatur para orang tua itu. Kita menikah di Jembatan Brooklyn, hanya berdua.”
Keduanya sontak tertawa bersama. Memang lebih baik mengingat hal-hal yang baik saja dan membuang segala sesuatu yang buruk.
Beberapa saat kemudian, Aria datang menemui mereka sambil membawa kotak yang lumayan besar. Ketika dia berdiri di depan Elliot, Aria segera menyapa dengan sopan. “Tuan Landegre, selamat sore.”
Elliot tersenyum. “Kamu teman istriku, jadi tidak perlu begitu sopan.”
Aria lantas memberikan kotak itu kepada Charlotte. “Ini, untuk kalian berdua. Semoga pernikahan kalian bisa bertahan sampai akhir!”
“Apa ini? Kenapa kotaknya begitu besar?” tanya Charlotte dengan heran.
“Jangan membukanya di sini. Kamu bisa membukanya di rumah. Aku jamin, kalian pasti akan menyukainya!”
Bersambung… ISTRIKU MENERIMA HADIAH
Di malam hari, setelah Elliot dan Charlotte makan dan membersihkan diri, keduanya sepakat untuk membuka hadiah dari Aria. Charlotte selalu tahu kalau temannya untuk memiliki banyak kejutan, dan kadang tidak terduga. Jadi, sebagai antisipasi kalau-kalau hadiah itu tidak berbobot, Charlotte membukanya lebih dahulu dan tidak memperbolehkan Elliot melihat.
Kotak itu tampak begitu besar, tapi sesungguhnya cukup ringan saat diangkat. Karena itu, Charlotte berasumsi kalau isinya hanyalah pakaian dan beberapa benda kecil, paling-paling juga benda seperti kosmetik.
Namun, pemikiran Charlotte langsung terhempas begitu melihat isinya.
Brak!
Charlotte sontak menutup kotak hadiah itu dengan keras, begitu dia melihat isinya sekilas. Elliot yang melihat dari jauh langsung terkejut dan bertanya dengan penasaran. “Apa isinya? Kenapa langsung ditutup?”
Pupil mata Charlotte bergerak tidak beraturan dan rona merah menyebar ke pipinya. “Bukan apa – apa! Hanya beberapa barang tidak penting!”
Elliot akhirnya berjalan mendekati Charlotte. “Lalu kenapa kamu terlihat kaget? Biarkan aku melihatnya.”
Elliot berusaha membuka kotak tersebut, tapi Charlotte sudah lebih dahulu merebutnya dan berdiri. Tampaknya Charlotte tidak mau Elliot melihat isi dari kotak walau hanya sebentar. Hal ini membuat Elliot semakin bingung dan berpikir sepertinya ada yang tidak wajar, apalagi ekspresi wajah istrinya seolah mengatakan, ‘Lebih baik aku mati daripada kamu melihatnya’.
“Apa benda di dalamnya berbahaya? Kemarikan kotaknya bila berbahaya,” ucap Elliot.
“Tidak! Tidak berbahaya, sudah kukatakan ini bukan apa – apa!”
Charlotte mempertahankan kotak tersebut di tangannya seolah itu merupakan nyawanya sendiri. Semakin Charlotte bertingkah aneh, semakin Elliot menjadi penasaran. Jika benda di dalamnya tidak berbahaya, lantas mengapa Charlotte tidak memperbolehkan Elliot melihatnya.
Mungkinkah isi dari kotak itu memalukan bagi Charlotte sehingga Elliot tidak boleh melihatnya?
Seketika Elliot mengingat ucapan Aria saat menyerahkan hadiah kepada Charlotte. “Gunakanlah hadiahku dengan baik, mungkin saja hadiah itu bisa mempererat hubungan kalian.”
Hadiah yang bisa mempererat hubungan suami istri?
Elliot tiba – tiba menjadi curiga.
Dengan cekatan, Elliot segera merebut kotak tersebut dari tangan Charlotte. Namun, Charlotte berusaha keras agak kotak itu tidak terlepas dari tangannya. Keduanya saling tarik-menarik, sampai akhirnya tanpa sengaja tutup dari kotak terlepas sehingga barang-barang yang ada di dalamnya berhamburan jatuh.
Pada saat itu, Charlotte merasa dia bisa mati karena malu.
Dari kotak, terdapat berbagai macam mainan dewasa untuk wanita yang sesungguhnya tidak ingin Charlotte ketahui, tapi sialnya dia tahu. Dan di antara benda-benda jahanam itu, terdapat pula tali dan sebuah lingerie menggoda berwarna merah.
Elliot bahkan sampai terdiam saat melihat ‘hadiah’ itu. Biasanya, seorang teman akan selalu menghadiahkan sesuatu yang disukai oleh temannya. Karena itulah, Elliot tidak bisa menahan diri untuk bertanya, “Charlotte, aku tidak tahu kalau kamu menyukai hal seperti ini. Kalau kamu bilang dari awal, mungkin ….”
“Tidak! Aku tidak menyukainya! Kamu salah paham! Ini hanya sekedar lelucon dari Aria sejak kita sekolah!” Charlotte dengan gesit segera memasukkan benda-benda itu ke dalam kotak dan melempar kotak itu ke bawah tempat tidur. Wajahnya merah padam, dan ia tidak lagi berani untuk menatap Elliot.
Elliot tidak mengatakan apa-apa, lebih seperti sengaja membiarkan istrinya salah tingkah dan kebingungan. Di dalam hatinya, Elliot diam-diam mengatakan, “Ya, kalau kau suka juga aku senang.”
“Itu benar-benar hanya lelucon! Sungguh!” seru Charlotte, berusaha meyakinkan Elliot.
Sesungguhnya, lelucon itu bermula saat Aria diam-diam membawa novel dewasa ke sekolah, dan memaksa Charlotte untuk membaca bersamanya. Jalan cerita novel itu sebenarnya tidak buruk, tapi hubungan dewasa yang diperlihatkan tampak asing bagi Charlotte.
“Kenapa tokoh wanitanya suka diikat?” tanya Charlotte kepada Aria.
Aria yang sudah tak asing dengan adegan seperti itu membalas. “Itu namanya bondage. Memang permainan diikat begitu. Kamu tidak akan tahu rasanya, kalau belum mencoba.”
Charlotte memandang Aria dengan pandangan ngeri. “Kenapa aku harus mencobanya?!”
“Charlotte, Charlotte-ku yang begitu polos. Ketika kamu menikah, kamu dan suamimu bisa mati bosan kalau hanya bermain secara normal seumur hidup.” Aria menambahkan sambil tertawa, “Kalau kamu melakukan ini, aku berani jamin kamu akan merasa sangat senang. Tapi, aku tahu kamu tidak akan pernah membeli barang seperti ini. Jadi, sebagai temanmu yang baik, aku akan memberikannya sebagai hadiah pernikahanmu nanti.”
“Aria! Aku akan membuang hadiahmu kalau sampai kamu benar-benar mengirimkanku itu!”
Tapi, sepertinya ancaman Charlotte di masa lalu tidak mempan untuk Aria.
“Jadi, kamu pernah penasaran untuk mencobanya?” tanya Elliot.
“Tidak! Astaga! Sudah kubilang berapa kali, aku hanya bertanya!”
Elliot menanggapi dengan tawa, “Pertanyaan berasal dari rasa penasaran, sayangku.”
Elliot akhirnya mengambil kotak yang dilempar oleh Charlotte kembali, lalu membukanya di atas tempat tidur. “Karena sudah diberikan, kenapa tidak sekalian mencobanya? Temanmu sudah rela mengeluarkan uang untuk membelikanmu semua ini, rasanya tidak enak kalau membuangnya.”
Persetan.
“Bilang saja kau diam-diam memang suka,” batin Charlotte di dalam hati.
Apalagi mereka sudah jarang berhubungan akhir-akhir ini karena Elliot begitu sibuk. Dapat dikatakan, kesempatan Charlotte untuk melarikan diri hari ini adalah nol besar.
Semua ini berkat Aria Moore yang begitu kreatif.
“Nah, Charlotte. Mana pakaian yang ingin kamu kenakan? Ayo cepat, pilih satu.” Elliot menyodorkan dua lingerie kepada Charlotte, satu berwarna merah dan yang satu berwarna berwarna hitam. Keduanya sama-sama terlihat begitu terbuka dan memiliki bahan yang tipis. Hal yang lebih menakutkan, bagian bawahnya bahkan sengaja berlubang untuk memudahkan permainan.
Saat melihat itu, Charlotte merasa ingin muntah darah.
“Aku tidak akan menggunakannya!” Charlotte mengalihkan pandangannya. “Lagi pula, kenapa kamu terlihat begitu bersemangat? Apa dulu juga pernah melakukannya dengan wanita lain dan sekarang ingin mencobanya denganku?!”
Elliot sudah begitu lama bermain-main dengan banyak wanita, jadi Charlotte berpikir pasti hal seperti ini tidak asing untuknya.
Namun, Elliot malah memberikan jawaban yang tidak terduga. “Aku belum pernah mencobanya, kamu adalah yang pertama.”
Seketika ada rasa senang yang besar di hati Charlotte begitu mendengar Elliot mengatakan itu.
Charlotte adalah pertama, artinya belum pernah ada wanita lain yang melakukan itu dengan Elliot.
Elliot menurunkan tangannya dan menghela napas. “Lupakan, aku tidak akan memaksamu lagi.”
“Merah keliatan bagus,” kata Charlotte tiba-tiba.
Elliot tertegun, tidak menyangka bila Charlotte akan memberikan respon yang baik. “Jadi, kamu ingin mencobanya?”
Charlotte membalas tanpa melihat ke arah Elliot. “Aria sudah memberikannya, tidak sopan bila dibuang.”
Senyuman sontak merekah lebar di wajah Elliot, tampak begitu senang akan balasan Charlotte. Pria itu bahkan langsung memeluk Charlotte dan berkata, “Aku akan membantumu berganti pakaian.”
“Tidak perlu! Aku bisa sendiri!”
Bersambung… MAINAN DEWASA
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Charlotte begitu menyesali keputusannya. Karena, ternyata melakukan hal yang belum pernah dia coba itu terasa memalukan, begitu memalukan sampai Charlotte ingin mengubur kepalanya di dalam tanah.
Saat ini, kedua tangannya diikat menggunakan sebuah tali merah yang terhubung dengan sudut ranjang. Kemudian, salah satu kaki Charlotte turut diikat ke ujung ranjang, sementara kaki yang satu sudah terikat dalam keadaan tertekuk hingga lututnya mencapai dada. Tubuh Charlotte yang hanya mengenakan lingerie tipis berwarna merah itu terlihat begitu menggoda dan membuat Elliot menahan napas.
Bagian bawah lingerie yang berlubang memperlihatkan inti Charlotte yang masih merekah malu-malu, seolah sedang menanti sentuhan hangat dari suaminya.
“Sayangku, Charlotte, kamu harusnya melihat dirimu sendiri sekarang,” kata Elliot, sengaja menggoda Charlotte yang kian malu.
Wanita itu mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap Elliot yang terus memandanginya seperti hidangan pembuka. “Jangan melihatku.”
Elliot tertawa, “Lalu aku harus melihat ke mana, selain ke arahmu?”
Sebelum Charlotte membalas, Elliot mengambil sebuah penutup mata dari dalam kotak, kemudian mengikatnya ke kepala Charlotte. “Jika kamu malu, lebih baik tidak perlu melihat.”
Begitu kegelapan menyambut indra penglihatan Charlotte, indra lainnya mulai menajam. Dari telinganya, Charlotte bisa mendengar Elliot tengah mengeluarkan beberapa mainan dari dalam kotak. Entah itu mainan apa, tapi Charlotte bisa mendengar ada suara getar yang mendengung.
Charlotte menahan napasnya. “Apa yang mau kamu lakukan?”
“Hmm … Coba kamu tebak sendiri,” balas Elliot sambil tertawa, dia sepertinya sangat menikmati ekspresi kebingungan yang ditampilkan oleh istrinya.
Secara tiba-tiba, Charlotte merasa ada cairan dingin yang jatuh ke atas intinya, meleleh turun hingga membasahi bagian bawahnya. Sontak Charlotte ingin menarik kakinya untuk melarikan diri, tetapi tali yang mengikat pergelangan kaki membuat Charlotte terkunci di tempat.
Ketika dia tak mampu melihat apa-apa, tubuh Charlotte tanpa sadar menjadi lebih sensitif, dan ada rasa kesenangan tersendiri di dalam hatinya. Charlotte tidak bisa menebak di mana Elliot akan menyentuhnya, sehingga setiap sentuhan Elliot akan membawa kejut yang mendebarkan di hati Charlotte.
Elliot meratakan pelumas dingin ke dalam bagian inti Charlotte, memastikan istrinya cukup basah sehingga dia tak akan tersakiti. Begitu Charlotte sudah siap, Elliot segera membawa masuk sebuah mainan seukuran kejantanan pria ke dalam inti Charlotte, membuat istrinya itu melenguh dan menengadahkan kepalanya ke atas.
“Charlotte, ternyata kamu memang menyukai hal seperti ini?” Elliot berbisik dengan suara rendah di samping telinga Charlotte, menghantarkan sensasi asing yang mampu menambah kesensitifan tubuh Charlotte.
Tanpa Charlotte duga, Elliot menekan tombol pada remot yang terhubung ke mainan itu. Hal itu membuat mainan tersebut bergetar dan berputar-putar di dalam tubuh Charlotte, terasa seolah sedang mengaduk bagian bawah Charlotte sampai tubuh wanita itu melengkung dan menggelinjang penuh kenikmatan.
Suara desahan yang keluar dari mulut Charlotte perlahan terdengar seperti teriakan parau tatkala Elliot sengaja menambah kecepatan dari mesin tersebut. Tali yang terikat pada tangan dan kaki Charlotte tertarik-tarik saat wanita itu terus menggeliatkan tubuhnya.
Elliot merasa dia bisa gila saat menyaksikan Charlotte bertingkah begitu. Pria itu meraih dagu Charlotte, kemudian mencium bibir istrinya yang sejak tadi terus terbuka. Ia melesakkan lidahnya masuk ke dalam seraya menghisap lembut lidah milik Charlotte. Tangan Elliot lantas menarik lingerie di tubuh Charlotte dengan kasar, sampai tali lingerie yang melingkari leher Charlotte putus dan membuat kedua dadanya terpampang jelas di hadapan Elliot.
Jari-jemari Elliot lantas mempermainkan puncak dada Charlotte, memilinnya sambil sesekali menarik-nariknya membuat kedua puncaknya mengeras.
Pada saat itu, Charlotte memiliki keinginan yang kuat untuk memeluk punggung Elliot atau ingin menjambak rambut suaminya hingga helaian rambut kecokelatan itu berantakan. Namun, tangan dan kakinya masih terikat kuat, sehingga dia tidak mampu memenuhi keinginan besarnya.
Permainan seperti ini memang menaikkan gairah Charlotte hingga ke taraf puncak, tetapi memeluk tubuh suaminya adalah sebuah keharusan yang ia sukai. Karena, ketika tubuh mereka saling melekat satu sama lain, Charlotte merasa seluruh tubuhnya dibanjiri oleh ribuan cinta dan kasih sayang dari Elliot, dan kini Charlotte mendambakan hal itu.
“Elliot, keluarkan itu … Aku hanya ingin kamu.”
Elliot tersenyum, dia mengecup lembut pipi dan sudut bibir Charlotte. “Apa milikku masih lebih menyenangkan daripada sebuah mainan?”
Charlotte mengangguk malu, pipinya dipenuhi semburat merah yang kontras dengan kulitnya yang pucat. “Aku juga ingin memelukmu, ingin mencium kamu lagi, dan bersatu dengan kamu.”
Sudah cukup, Elliot tidak tahan lagi.
Charlotte-nya terlalu manis, sehingga Elliot berpikir dia bisa mati karena diabetes apabila terus melihat wajah istrinya.
Elliot akhirnya melepaskan benda yang masih bergetar itu dari tubuh Charlotte, meninggalkan jejak cairan cinta yang mengalir deras hingga sedikit membasahi seprai tempat tidur. Begitu Elliot sudah melepaskan ikatan di tangan dan kaki Charlotte juga, dia segera menghujamkan kejantannya yang sudah mengeras ke dalam kelopak Charlotte yang merekah merah.
Charlotte sontak melingkarkan kakinya ke pinggul Elliot, membuat tubuh mereka terkunci dan tak bisa menjauh. Sementara kedua tangannya memeluk tubuh Elliot begitu erat, seolah mengharapkan perlindungan dari suaminya.
Napas keduanya memburu tatkala Elliot mempercepat tempo permainan mereka, sampai Charlotte tidak bisa berhenti mengerang dan meneriakkan nama Elliot tepat di samping telinga suaminya sendiri.
“Elliot, aku mencintaimu … sangat, sangat mencintai kamu.”
Elliot membenamkan wajahnya pada ceruk leher Charlotte, kemudian menggigitnya sampai meninggalkan beberapa jejak kemerahan. “Aku juga mencintai kamu, melebihi apapun.”
Bibir mereka kembali bersatu, keduanya saling melumat dan menggigit satu sama lain. Charlotte bahkan merasa bila bibirnya sudah sangat bengkak sekarang usai terus-menerus dihisap oleh Elliot.
Mereka terus mencurahkan cinta melalui sentuhan-sentuhan panas yang dipenuhi oleh gairah. Elliot terus menghujani tubuh Charlotte, setiap sentakannya menghantarkan kesenangan yang tak terhingga. Ketika hampir mencapai puncak, Charlotte mengangkat pinggulnya, membiarkan Elliot menghujaninya semakin dalam dan semakin kuat. Sampai akhirnya benih cinta Elliot memenuhi bagian dalamnya, menghangatkan setiap milimeter intinya, dan membuat Charlotte hampir berteriak.
Begitu seluruh cintanya terlepas, Elliot segera menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Charlotte, membiarkan permukaan kulit mereka yang dipenuhi oleh keringat menyatu. Napas keduanya memburu, terdengar putus-putus saat berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Sambil mengelus pipi Charlotte, Elliot kembali mencium bibir istrinya beberapa kali, berusaha menyesap rasa manis yang tak pernah hilang dari bibirnya.
“Bagaimana? Kamu masih ingin melakukannya lain kali?” tanya Elliot seraya mencolek hidung Charlotte.
Charlotte mendorong tubuh Elliot ke samping, lalu melesakkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat pria itu. “Sesekali tidak masalah, tapi aku lebih suka terus memelukmu.”
Dengan kata lain, Charlotte tidak suka diikat karena dia jadi tidak bisa menyentuh tubuh Elliot.
Tidakkah istrinya itu begitu manja sekarang?
Elliot, “Kalau begitu, kita bisa menggunakan mainannya tanpa perlu mengikatmu lain kali.”
Charlotte tidak menjawab, karena sudah terlalu malu untuk mengingat permainan tadi.
Malam sudah semakin larut, dan keduanya terlalu lelah untuk sekedar beranjak dari tempat tidur. Pada akhirnya, mereka segera terlelap usai Elliot mematikan lampu dan menyelimuti tubuh mereka yang tak berbusana.
“Bagaimana hadiahku? Kalian menyukainya?!” Aria bertanya dengan antusias dari seberang telepon. Hari ini libur, jadi mereka tidak akan bisa bertemu di kantor.
Charlotte yang masih dalam balutan jubah mandi segera meneriakkan protesnya kepada Aria. “Jangan memberikanku hal-hal yang aneh lagi!”
Mengabaikan protesan Charlotte, Aria kembali bertanya, “Apa kamu mencobanya?”
“Mhm,” jawab Charlotte singkat.
Sontak Aria tertawa. “Ha ha ha! Kau terus mengomel tapi ternyata sudah mencobanya! Charlotte, aku tidak bisa membayangkan ekspresimu saat mencoba mainan-mainan itu!”
Charlotte, “Aku tidak mencoba semuanya! Hanya beberapa!”
“Sungguh, kenapa kamu harus mengomel padahal merasa senang tadi malam. Katakan padaku, apa kamu terus digempur sampai pingsan oleh Tuan Elliot kemarin?”
“Tentu saja tidak! Elliot bukan maniak seperti itu,” elak Charlotte.
Obrolan mereka kian lama semakin rancu, sehingga Charlotte dengan paksa mengakhiri sambungan mereka. Temannya itu memang benar-benar tidak bisa disadarkan, Aria pasti sekarang sedang memikirkan hadiah memalukan apalagi yang bisa dia berikan kepada Charlotte.
“Sudah selesai menelepon?” tanya Elliot seraya membawa sarapan mereka ke kamar.
“Kenapa membawa makanan kemari? Kita bisa sarapan di ruang makan.”
Setelah meletakkan nampan berisikan sarapannya ke meja, Elliot segera memeluk tubuh Charlotte. “Kita jarang menikmati momen berdua akhir-akhir ini, jadi hari ini aku tidak ingin diganggu oleh orang lain.”
Charlotte membalas pelukan Elliot, “Pekerjaanmu sudah selesai sekarang?”
Elliot menghela napas. “Sejak kapan kerjaanku pernah selesai? Kerjaan-kerjaan itu terus menggunung setiap harinya meski aku sudah bekerja lembur sampai malam. Tapi, beruntung pekerjaanku minggu ini tidak begitu banyak, jadi aku tidak perlu ke kantor di hari libur.”
Setelah pergantian tahun, biasanya setiap departemen akan begitu sibuk karena harus menyiapkan proposal pembangunan proyek baru. Oleh karena itu, Elliot kadang kala harus bekerja lembur untuk mengecek laporan keuangan, data analisis perusahaan, dan pekerjaan lainnya. Bahkan dia juga harus pergi ke kantor atau ke lahan pembangunan di hari libur.
“Kalau tahu menjadi ketua departemen sesibuk ini, aku lebih baik menjadi pengangguran dan terus menghabiskan waktu bersamamu setiap hari.”
Charlotte menatap Elliot dengan pandangan penuh penghakiman. “Lalu setelah itu apa? Menjadi gelandangan bersama karena kamu berhenti bekerja?”
Elliot meringis, seolah tengah mengingat kenangan buruknya di kehidupan lampau. “Tidak. Tidak. Aku akan terus bekerja sampai mati! Sehingga istriku tidak perlu jatuh ke dalam jurang kemiskinan di kehidupan ini.”
Bersambung… ISTRIKU DAPAT KABAR HARU
Pada akhirnya, rencana untuk menghabiskan waktu berdua di hari libur melebur begitu saja. Karena secara mengejutkan, Ian beserta keluarga kecilnya datang berkunjung ke rumah Elliot. Ian juga sesungguhnya tidak mau mengganggu Elliot, tapi Izekiel mengaku sangat ingin melihat Elliot dan Charlotte sejak beberapa minggu yang lalu.
Karena hari ini semua orang memiliki waktu senggang, Ian akhirnya menyetujui permintaan Izekiel.
“Maaf, kami datang tiba-tiba,” kata Jessica seraya memberikan sekotak cokelat kepada Charlotte.
Saat melihat merk dari cokelat teraebut, Charlotte sadar kalau itu dari Swiss. “Kalian habis berlibur ke Swiss?”
“Hanya aku dan Izekiel, kami pergi minggu lalu.” Jessica sedikit menyindir, “Ian lebih mencintai pekerjaannya daripada kami.”
Ian menghela napas. “Jessica, aku sudah menebusnya dengan mengajak kalian ke taman bermain kemarin. Apa itu masih belum cukup?”
“Pergi ke taman bermain tidak bisa disamakan dengan liburan bersama.”
Ketika melihat pasangan itu hampir ribut, Charlotte merasa dia sudah mengangkat topik yang salah. Beruntung Elliot dengan cepat berusaha mencairkan suasana.
“Jangan ribut, jangan ribut. Jessica, Ian tentu saja lebih mencintai keluarganya daripada pekerjaan. Lihat, Ian bahkan tidak pergi ke kantor hari ini dan menemani kalian berkunjung,” ujar Elliot.
Jessica mendelik, “Salah dia sendiri, kenapa harus masuk kerja saat hari libur.”
“Jessica ….” Ian kembali menghela napas, mungkin sudah lelah untuk meladeni istrinya.
Elliot, “Sudahlah, jangan mengungkit masa lalu. Ayo, masuklah, Charlotte baru saja memasak pasta tadi. Kita bisa makan siang bersama.”
Begitu kata ‘Pasta’ terlontar dari mulut Elliot, Izekiel yang sejak tadi hanya diam di dalam gendongan Jessica akhirnya memberontak untuk turun dan berlari masuk ke dalam rumah. “Paman, aku lapar, aku ingin makan pasta sekarang.”
“Kiel! Mana sopan santunmu!” seru Jessica.
Charlotte tertawa. “Tidak apa, dia hanya terlalu senang. Kalian masuklah juga, jangan terus berdiri di ambang pintu.”
Kedua keluarga itu lantas memakan masakan milik Charlotte. Selama makan, Izekiel tidak bisa berhenti berbicara dengan Elliot, sehingga mulutnya jadi kotor oleh sisa-sisa makanan. Dengan sabar, Elliot menyeka mulut anak itu menggunakan tisu, sambil mendengarkan celotehan Izekiel.
“Paman pernah bilang kalau Paman punya banyak mainan mobil-mobilan. Bolehkah aku melihatnya?” tanya Izekiel dengan penuh harap.
“Habiskan makananmu dulu, setelah itu Paman akan membawamu ke rak koleksi mobil-mobilan Paman.”
“Wah! Paman punya banyak? Bolehkah aku meminta satu?!” tanya Izekiel dengan antusias.
Ian lebih dahulu menanggapi, “Jangan diberikan, kamu selalu membeli replika mobil edisi terbatas, pasti sulit untuk membelinya lagi.”
Ian selalu ingat kalau adiknya itu gemar mengoleksi banyak replika mobil, kebanyakan dari replikanya adalah edisi terbatas dengan harga selangit. Tentu saja, rasanya tidak etis apabila membiarkan putranya mengambil barang Elliot begitu saja.
Namun, Elliot hanya menanggapinya dengan santai. “Jangan khawatir, aku sudah tidak begitu suka mengoleksi mainan. Kalau Izekiel ingin, dia boleh mengambil beberapa.”
Sontak Izekiel menjawab dengan mata berbinar. “Sungguh? Aku benar-benar mobil membawanya pulang?”
“Mhm, tentu saja.”
Begitu Izekiel menyelesaikan makannya, dia dan Elliot segera pergi ke ruang kerja Elliot untuk melihat koleksi mobil-mobilannya. Karena tidak mau putranya berlaku semakin tidak sopan, Ian turut mengikuti mereka, meninggalkan Charlotte dan Jessica di ruang makan.
“Charlotte, sepertinya wajahmu semakin cerah sekarang,” puji Jessica tiba-tiba.
Charlotte secara reflek menyentuh kedua pipinya. “Aku terlihat sama saja.”
“Tentu saja tidak! Terakhir kali aku melihatmu di acara perjamuan makan, kamu selalu terlihat agak lesu dan tidak percaya diri. Tapi, sekarang kamu sudah berbeda, kamu terlihat lebih …”
Jessica menggantung ucapannya sebentar, berusaha mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan Charlotte. “… lebih dipenuhi semangat hidup. Apa menikah dengan Elliot membuatmu bahagia?”
Charlotte mengangguk begitu cepat. “Elliot selalu berusaha membahagiakanku dengan segala cara, jadi tentu saja aku akan bahagia.”
Jessica tersenyum. “Aku lega mendengarnya.”
Charlotte menatap Jessica dengan bingung, bertanya-tanya mengapa Jessica harus merasa lega karena melihat Charlotte bahagia. Seakan mengetehui isi pikiran Charlotte, Jessica segera menjawab.
“Sejak pertama kali aku menjalin hubungan dengan Ian, aku selalu berpikir kalau Elliot hanyalah anak berandalan yang sulit diatur. Karena itu, aku takut dia tidak akan becus dalam mengurus istrinya dan membuatmu menderita. Namun, kini aku bisa bernapas lega, karena ternyata dia berhasil mengurusmu dengan sangat baik.”
Charlotte tersenyum, bulu matanya jatuh saat dia menurunkan pandangan. “Elliot pernah bilang, kalau dia ingin memperbaiki kualitas hidupnya supaya bisa hidup dengan tenang dan dipenuhi kebahagiaan. Aku tidak berani berspekulasi kalau itu karena aku, tapi, setelah lama tinggal dengannya, sepertinya Elliot memang berubah karena ingin bertanggung jawab atas pernikahannya.”
“Kenapa kamu ragu? Tentu saja dia berubah karena kamu!” Jessica menggenggam tangan Charlotte. “Jangan selalu meragukan dirimu sendiri, Charlotte. Kamu jauh lebih berharga dari apa yang kamu bayangkan.”
Pandangan mata Charlotte semakin jatuh, seperti tetesan embun yang turun dari dedaunan. “Aku tidak seberharga itu.”
Dia bahkan tidak bisa menghasilkan keturunan, bagaimana bisa Charlotte berani meninggikan dirinya sendiri?
Tanpa diutarakan, Jessica juga mampu memahami kegelisahan Charlotte. Bagi seorang wanita yang ingin memiliki keturunan, mereka selalu berpikir kalau diri mereka adalah suatu kegagalan karena tak mampu melahirkan seorang anak.
“Charlotte, kudengar dari Ian, kamu ingin mencari ibu pengganti untuk memiliki anak.” Jessica menambahkan, “Kebetulan, aku tahu seorang ibu pengganti yang bisa kamu percaya untuk ditanamkan anakmu dan Elliot.”
Charlotte segera menaikkan kepalanya, kedua manik matanya berbinar laksana mutiara, hatinya dipenuhi pengharapan yang begitu besar. “Siapa dia? Bisakah aku bertemu dengannya.”
Jessica kembali tersenyum, kali ini lebih lebar dari sebelumnya. “Dia ada di depanmu. Charlotte, aku bisa menjadi ibu pengganti untukmu.”
Charlotte terkejut saat mendengarnya, “Kamu yang ingin menjadi ibu pengganti? Jessica, aku tidak mau membebani kamu. Kamu dan Ian bahkan belum memiliki anak kedua, tapi malah mau mengandung anak dariku dan Elliot. Ian mungkin tidak akan mengizinkan.”
“Aku mengizinkan,” suara Ian yang terdengar tiba-tiba mengejutkan Charlotte. Wanita itu memutar kepalanya dan mendapati Ian sedang berjalan ke arahnya, sementara di belakangnya ada Elliot yang tengah menggendong Izekiel, tangan anak itu membawa dua buah mobil replika. Tampaknya mereka baru saja datang saat mendengar obrolan Jessica dan Charlotte.
“Charlotte, aku mengizinkan Jessica,” ulang Ian saat dia berdiri di samping Charlotte. Pria itu tidak menampakkan ekspresi yang berarti, tapi Charlotte bisa tahu kalau ucapannya begitu tulus.
“Tapi, aku ….”
Ucapan Charlotte dipotong oleh Elliot. “Dia sudah berkata akan mengizinkan, kamu tidak boleh menolak lagi.”
Elliot mengelus kepala Charlotte dengan penuh kasih sayang. Bibirnya tersenyum lembut untuk meyakinkan istrinya bila Ian dan Jessica memang tidak keberatan.
“Terima kasih, aku pasti akan membalas kebaikan kalian suatu saat nanti.”
Saat Charlotte mengatakan itu, suaranya bergetar. Keharuan yang begitu dalam menyerang hatinya, membuat Charlotte tidak bisa menahan diri untuk menumpahkan air mata. Dia menutupi wajahnya menggunakan telapak tangan, berusaha menyembunyikan dirinya yang rapuh dari orang lain.
Elliot lantas menurunkan Izekiel, kemudian memeluk istrinya sambil berbisik. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menepuk punggung Charlotte dan membiarkan Charlotte menangis di dalam dekapannya. Elliot lalu menatap Ian dengan pandangan sendu, sama terharunya seperti Charlotte.
“Terima kasih, Ian.”
Di dalam hati, Elliot turun berkata, “Aku tidak menyesal telah mempercayai kamu di kehidupan ini.”
Selama hidup, Charlotte tidak pernah berani untuk mengharapkan kehidupan yang indah. Dia tak berani berharap memiliki suami yang akan mencintainya dengan tulus, dan tak pernah berpikir akan mampu menggendong anaknya sendiri.
Namun, sekarang dia mampu mendapatkan kemustahilan itu satu-persatu.
“Charlotte, haruskah aku meletakkan baskom di bawah matamu untuk melihat berapa banyak air mata yang bisa kamu keluarkan?” tanya Elliot dengan bercanda, yang langsung mengundang tawa dari Jessica dan Ian.
Charlotte yang masih berusaha menghapus air matanya dengan sapu tangan segera memukul pundak Elliot dengan ringan. “Elliot!”
Elliot tertawa dan kembali memeluk Charlotte. “Sudah. Sudah. Jangan menangis lagi, Izekiel bahkan sampai tertidur saat menunggumu berhenti menangis.”
Merasa malu sebab terus diperhatikan oleh orang-orang disekitarnya, Charlotte menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Elliot. Ia bahkan menghapus air matanya menggunakan kemeja Elliot.
“Charlotte, apa kamu sedang pamer kemesraan? Pergilah ke kamar kalau ingin bermesraan terus!” protes Jessica.
Mendengar protesan Jessica membuat Charlotte malu. Jadi, dia melepaskan pelukan Elliot dan duduk di sebelah suaminya dengan tenang. Tangisannya jiga sudah berhenti, sehingga Charlotte tak lagi mengusap air matanya.
“Maaf, aku terlalu bahagia,” kata Charlotte seraya membentuk senyuman sendu.
Jessica melepaskan tawa kecil. “Kalau bahagia, kamu harusnya lebih banyak tertawa daripada menangis! Sekarang berhentilah menangis dan diskusikan kapan kamu ingin mempunyai anak.”
Charlotte masih belum bisa berpikiran jernih. Jadi, Elliot membalas sebagai gantinya. “Mungkin tidak dalam waktu dekat, Charlotte masih harus menyelesaikan kuliahnya.”
“Elliot, kuliahku akan selesai sebentar lagi. Jadi, sepertinya tidak apa-apa kalau kita melakukannya dari sekarang.” Charlotte memandang Elliot dengan sungguh-sungguh, seolah tidak mau kalah dari pendapat Elliot.
“Charlotte, kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya,” tegas Elliot.
Waktu itu, Charlotte memang menyetujui ucapan Elliot. Namun, sekarang berbeda, kini sudah ada kandidat yang akan menjadi ibu pengganti untuk anaknya. Jadi, bagaimana mungkin Charlotte bisa menunggu lebih lama lagi.
“Kuliahku akan selesai sebentar lagi, paling lama 5 bulan. Karena itu, begitu bayinya lahir, aku sudah lulus kuliah. Elliot, aku ingin punya anak sekarang.” Charlotte terus mengguncang lengan Elliot, merengek seperti anak kecil yang ingin dibelikan boneka.
Elliot ingin menolak lagi. Tapi, tatapan Charlotte yang dipenuhi oleh pengharapan dan kebahagiaan membuat penolakannya tersangkut di tenggorokan.
“Baik, baiklah. Kita bisa mulai program IVF dari sekarang.” Elliot menambahkan, “Tapi, setelah kamu selesai magang. Aku tidak menerima bantahan lagi, mengerti?”
Charlotte mengangguk cepat, dia tersenyum penuh semangat dan melompat untuk memeluk Elliot. Kebahagiaan yang dikeluarkan oleh Charlotte menghantarkan perasaan hangat ke hati Elliot. Sehingga dia ikut merasa bahagia dan tak sabar menanti kehadiran anak mereka.
“Tanyakan juga ke Kakak Ipar, apa dia setuju kalau melakukannya bulan depan,” bisik Elliot ke telinga Charlotte.
Charlotte akhirnya sadar kalau orang yang akan menampung bayi mereka adalah Jessica. Jadi, seharusnya keputusan ada di tangan Jessica.
Buru-buru Charlotte mendekati Jessica dan bertanya, “Jessica, apa kamu keberatan kalau melakukan program IVF bulan depan?”
Jessica tampak memiringkan kepalanya, berpura-pura berpikir keras sehingga membuat Charlotte merasa cemas. Jessica kemudian menatap Ian, dan langsung dibalas dengan anggukan kepala dari pria itu.
Jessica akhirnya menjawab, “Kapan pun kamu ingin, aku tidak keberatan.”
Sekali lagi Charlotte menyelami euphoria. Angan-angannya tentang memiliki anak akhirnya bisa terwujud sebentar lagi.
“Jessica, aku sungguh-sungguh berterima kasih kepadamu.”
Jessica tersenyum. “Jangan sungkan. Lagi pula, anak kalian nanti juga bisa berteman dengan Izekiel.”
Memilih ibu pengganti itu sulit. Selain harus mempertimbangkan kesehatan dari sang ibu, mereka juga perlu mempertimbangkan keterikatan batin. Memilih Jessica sebagai ibu pengganti merupakan hal yang tepat. Wanita itu merupakan bagian dari keluarga Landegre, jadi bila anak mereka dilahirkan melalui Jessica, bayi itu tidak akan dianggap asing oleh keluarga besar. Selain itu, Charlotte dan Elliot juga bisa leluasa mengunjungi Jessica setiap saat dan memantaunya terus.
“Mama, apa aku akan punya adik?” tanya Izekiel yang baru saja bangun. Anak itu sejak tadi tidur di pangkuan Jessica, dan diam-diam menguping pembicaraan mereka.
Sebagai seorang anak tunggal, Izekiel jelas merasa senang saat mendengar akan mendapatkan teman.
Jessica mengelus rambut putranya dan membalas, “Mhm, adikmu nantinya akan tinggal bersama Paman dan Aunty. Tapi, nanti kita bisa sering-sering mengunjunginya bersama.”
Izekiel segera bangkit dan tertawa-tawa kegirangan. “Jadi, aku bisa terus main ke sini?”
Elliot menanggapi, “Tentu saja boleh! Kamu datang ke sini setiap hari juga tidak masalah!”
Dua keluarga itu lantas tertawa bersama, berbagi kebahagiaan yang terus membuat Charlotte tersenyum sepanjang hari.
Menjelang pukul delapan malam, Ian dan keluarganya pamit untuk pulang. Besok Ian akan melakukan perjalanan bisnis ke Yorkshire, jadi dia perlu memgepak barang-barangnya. Dari ambang pintu, Charlotte mampu mendengar suara Jessica yang terus-menerus mengomeli Ian yang akan pergi selama satu minggu.
“Sepertinya aku akan menolak kalau dipromosikan sebagai Wakil Direktur,” kata Elliot seraya menggelengkan kepalanya. “Setiap bulan, Ian setidaknya melakukan perjalanan bisnis sebanyak lima kali. Sungguh melelahkan, dan aku pasti akan merindukan istriku setengah mati.”
Charlotte, “Kamu juga sering pergi akhir-akhir ini.”
Elliot, “Aku paling lama hanya pergi tiga hari. Tapi, Ian bisa tidak pulang satu bulan. Coba bayangkan, Sayang. Bagaimana caranya kamu hidup tanpa aku selama sebulan?”
Charlotte meringis, merasa geli dengan tingkat kepercayaan diri Elliot yang begitu tinggi. “Hentikan, aku tidak mau meneruskan pembicaraan sesat ini.”
Charlotte lantas berjalan pergi ke kamar seraya menutup kedua telinganya agar tidak mendengarkan omong kosong Elliot lagi. Pria itu turut mengejar Charlotte, tapi langkahnya terhenti saat ponsel di kantungnya bergetar.
Charlotta juga berhenti berjalan dan menoleh. “Siapa?”
Elliot menatap layar ponsel. “Erland. Masuklah ke kamar duluan, aku mau menjawab panggilan Erland dulu.”
Dalam hitungan detik, Charlotte mencium pipi Elliot dan langsung berlari pergi sembari berkata, “Jangan lama-lama!”
Elliot hanya menanggapi dengan tawa, lalu mengangkat panggilan Erland. “Ada apa?”
“Sir, apa kamu masih ingat tentang insiden penusukan Nyonya Landegre?”
Elliot menegakkan punggungnya. “Tentu, aku ingat dengan sangat jelas. Apa kamu akhirnya mendapatkan petunjuk?”
“Ya, Sir. Setelah menyelidiki ulang kasus itu selama beberapa bulan, detektif swasta akhirnya menemukan orang yang telah menusuk Nyonya Landegre. Detektif berhasil mengetahui identitasnya karena melihat wajah orang itu dari CCTV mobil.”
“Siapa dia?”
Erland, “Orang itu adalah supir yang selalu mengantar jemput Nyonya Landegre ke sekolah. Setelah insiden penusukan, supir bernama Zack ini langsung mengundurkan diri dan tak lagi ada kabar.”
Elliot berpikir sebentar. Insiden yang menimpa Charlotte tidak bisa dikategorikan sebagai perampokan, karena tidak ada satu pun barang yang hilang. Pria bernama Zack itu hanya melukai Charlotte, seolah-olah memang niatnya dari awal adalah untuk membunuh Charlotte.
Charlotte bukanlah tipe wanita menyebalkan yang akan membuat orang lain kesal setengah mati. Jadi, Zack tak mungkin memiliki dendam ke Charlotte sampai ingin melenyapkan wanita itu. Kemungkinannya, Zack hanyalah sebuah pion yang digerakan oleh orang lain. Ada orang lain yang ingin mencelakai Charlotte melalui Zack.
Satu-satunya pelaku yang bisa selalu ingin mencelakai Charlotte dahulu hanyalah para anggota keluarga Baxter itu sendiri.
Antara ibu tirinya atau saudara tirinya. Siapa pun pelaku dari insiden itu, dia pasti adalah seorang keparat yang pantas untuk diinjak sampai mati.
“Erland, aku ingin bertemu dengan Zack. Apa kamu tahu di mana dia tinggal sekarang?”
Erland, “Sekarang dia tinggal di kampung halamannya. Tepatnya di Kota Nashville, Indiana.”
Elliot, “Erland, tolong kosongkan jadwalku di hari senin. Aku akan pergi ke Nasville bersama Charlotte.”
Elliot perlu menegakkan keadilan untuk Charlotte. Dia ingin membalas semua orang yang menyakiti Charlotte di masa lalu, menghancurkan mereka, atau bahkan menjatuhkan penderitaan kepada mereka. Karena di kehidupan ini, Elliot ingin menghapus seluruh penderitaan Charlotte.
Bersambung… ISTRIKU MENEMUI KENALAN LAMA
Senyuman di wajah Charlotte langsung luntur begitu mendengar kabar dari Elliot. Dia masih tidak menyangka kalau orang yang telah membuatnya kehilangan rahim adalah seseorang yang sudah mengenalkan sejak ia kecil, supirnya sendiri.
“Tapi, Tuan Zack tidak mungkin berbuat begitu,” bisik Charlotte.
Elliot, “Sayang, kamu tidak bisa melihat isi hati seseorang. Jadi, kamu harus mempercayai fakta yang terpampang nyata.”
Dada Charlotte terasa begitu nyeri, akibat merasakan pengkhianatan yang begitu dalam. “Tuan Zack sudah menemaniku sejak aku masuk ke Keluarga Baxter. Dia juga adalah orang yang selalu mendengarkan keluh kesahku saat kita ada di dalam mobil. Elliot, Tuan Zack yang kukenal itu sangat baik, dia juga selalu tampak ramah, dan sering bilang kalau aku mengingatkan dia dengan putrinya yang tinggal di kampung halaman.”
Kesenangan yang ia tumpuk hari ini melebur begitu saja. Tadinya juga Elliot belum mau menceritakan masalah itu hari ini, tetapi Charlotte terus bertanya kenapa ekspresi Elliot terlihat buruk usai mendapatkan telepon, sehingga Elliot terpaksa bercerita kepada Charlotte.
“Dia mungkin seperti Tuan Portman. Dijebak untuk melakukan kejahatan, sehingga orang yang sesungguhnya ingin mencelakaimu tidak perlu mengotori tangan mereka.”
Charlotte, “Kira-kira, siapa yang ingin mencelakaiku di masa lalu?”
Charlotte dan Elliot sesungguhnya memiliki pemahaman yang sama. Walau bertanya, Charlotte juga bisa menebak kalau keluarganya sendirilah yang ingin mencelakainya. Namun, dia belum mempersiapkan diri untuk mendengar itu dari mulut orang lain. Begitu pun dengan Elliot yang tidak mau istrinya sampai terluka lebih jauh hari ini.
“Kita akan mengetahuinya setelah bertemu dengan Tuan Zack. Aku sudah memesan pesawat untuk ke Nashville besok siang. Karena itu, lebih baik sekarang kita tidur agar besoknya tidak lelah.” Elliot menuntun Charlotte untuk berbaring di tempat tidur, kemudian mematikan lampu, dan menyelimuti istrinya.
Elliot mengelus pelipis Charlotte sebentar, sebelum akhirnya mencium kening wanita itu. “Siapapun orang yang mencelakaimu. Aku pasti akan membuat dia menebus kesalahannya.”
Charlotte menggenggam tangan Elliot, lalu mengeluarkan keluh kesahnya. “Bagaimana bila orang itu adalah keluargaku sendiri? Jika aku melawan mereka, aku mungkin benar-benar kehilangan keluargaku.”
Elliot, “Sejak kita menikah, keluargamu bukan lagi Baxter, melainkan aku. Karena itu, Charlotte, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Aku tidak akan meninggalkan kamu, sehingga kamu tidak akan kehilangan keluarga.”
Charlotte tidak bersuara lagi, tetapi bibirnya tersenyum saat mendengar kata-kata Elliot yang menenangkan hati. Sekarang, nama keluarganya adalah Landegre, bukan lagi Baxter. Oleh sebab itu, seharusnya Charlotte tak lagi memperdulikan Keluarga Baxter.
Kala rembulan menghiasi malam yang panjang, Charlotte tidur dalam kedamaian. Tangannya menggenggam erat tangan Elliot, seolah tidak ingin pria itu menjauh dari dirinya.
*****
Begitu matahari bersinar di atas kepala, Charlotte dan Elliot menginjakkan kaki di bandara Indiana. Kota kecil Nashville letaknya cukup terpencil, sehingga mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh menggunakan taxi.
Berdasarkan informasi dari Erland, sekarang ini Zack hanya tinggal bersama putrinya yang seumuran dengan Charlotte. Mereka membuka sebuah toko kue kecil yang sederhana, dan tak pernah lagi menginjakkan kaki di Kota New York.
“Jarang ada hotel di kota kecil seperti ini, dan jaraknya juga cukup jauh dari sini. Kalau kalian ingin menginap, lebih baik menyewa penginapan kecil yang dikelola penduduk setempat,” saran supir Taxi saat Elliot dan Charlotte ingin turun.
Elliot tersenyum dan memberikan upah untuk supir itu. “Terima kasih, aku akan mengingat saranmu.”
Sekarang ini, keduanya turun di lokasi pusat pertokoan kota. Populasi kota kecil ini tidak begitu banyak, sehingga orang-orang yang berlalu lalang di jalanan pun bisa dihitung menggunakan jari.
Berbeda dengan udara di New York yang dipenuhi oleh polusi, di Nashville udaranya sangat bersih dan terasa sejuk, sehingga suhu udaranya pun semakin dingin saat memasuki musim dingin.
“Di mana tokonya?” tanya Charlotte.
Elliot melihat foto yang dikirimkan oleh Erland. “Erland tidak bisa menemukan alamat pastinya, tapi dia mengirimkan foto tampak depan toko. Dinding tokonya terbuat dari bata merah, lalu ada papan nama toko yang digantung. Nama tokonya itu Wood’s Bakery.”
Charlotte ikut memperhatikan foto itu, lalu berkata, “Kita bisa mencari sekalian jalan-jalan.”
Elliot mengangguk, tangannya lantas merangkul pundak Charlotte. “Mhm, kita sudah lama tidak liburan.”
Elliot tidak mau Charlotte diliputi kesedihan yang mendalam nanti. Sehingga, ada baiknya menaikkan suasana hati Charlotte dengan mengajaknya mengelilingi kota kecil. Mereka akhirnya membeli beberapa camilan kecil di sepanjang perjalanan, tak lupa juga menanyakan keberadaan Wood’s Bakery kepada para penjual toko.
Semakin lama mereka melangkah, semakin dekat mereka dengan toko kue milik Zack. Hingga beberapa saat kemudian, sebuah toko dengan papan nama Wood’s Bakery terlihat tak jauh dari tempat Charlotte berdiri.
Kakinya seketika berhenti melangkah, dan hatinya menjadi ragu untuk menemui Zack.
Charlotte tidak tahu, apakah dia siap atau tidak untuk menghadapi seseorang yang pernah menyayangi dan melukainya di waktu bersamaan.
Rasa sakit kembali menjalari hati Charlotte, membuat wanita itu agak gemetar. Namun, seluruh kegundahan di dalam hatinya langsung luntur tatkala Elliot memegang tangannya seraya berkata, “Jangan takut, aku selalu menemani kamu.”
Charlotte mengukir seulas senyum. “Mhm, ayo kita pergi.”
Tring!
Lonceng yang ada di atas pintu berbunyi tatkala Charlotte membuka pintu toko. Seorang wanita berpakaian pelayan segera mendatangi pasangan itu sambil memberikan senyuman terbaiknya. “Selamat datang di Wood’s Bakery, silahkan duduk selagi kalian ingin memilih menu.”
Charlotte menerima menu yang disodorkan oleh pelayan itu. Tapi, dia tidak segera melangkah ke tempat duduk. “Apa Tuan Zack Wood ada?”
Pelayan di hadapan Charlotte terlihat kebingungan selama beberapa saat, lalu kembali memperlihatkan senyuman ramah yang lebih lebar. “Apa kalian adalah kenalan ayahku?”
Charlotte, “Bisa dibilang begitu. Apa Tuan Wood ada?”
“Ada! Tapi, dia baru saja pergi keluar untuk membeli tepung di toko. Dia mungkin akan kembali sebentar lagi. Kalau kalian mau, kalian boleh menunggu dulu di sini.”
Charlotte mengangguk. “Kalau begitu, kami akan menunggu.”
Setelah itu, Charlotte dan Elliot duduk di kursi dan memesan dua kopi latte serta kue. Saat tahu bila mereka adalah kenalan dari Zack, putrinya menjadi lebih bersemangat karena bisa menyambut tamu ayahnya.
“Tidak biasanya Ayah kedatangan tamu,” kata putri Zack seraya meletakkan dua gelas latte panas. “Kukira dia tidak punya kenalan di kota, tapi untungnya kalian datang.”
Charlotte tidak banyak berbicara, karena tak mau sampai wanita di hadapannya mengetahui alasan mereka datang menemui Zack. “Siapa nama kamu?”
“Namaku Dakota Wood. Kalian boleh memanggilku Dakota saja.”
Karena tidak nyaman mengobrol sambil berdiri, Charlotte mempersilahkan Dakota untuk duduk bersama mereka. Mungkin karena Charlotte dan Dakota seumuran, mereka jadi tidak begitu canggung saat mengobrol untuk pertama kalinya.
Kepribadian Dakota sangat mirip dengan Zack, mereka sama-sama gemar tersenyum dan selalu berbicara dengan begitu ramah. Siapapun pasti mengira pasangan ayah dan anak itu adalah orang baik yang tak mungkin melakukan kekejian di dunia. Akan tetapi, seperti kata Elliot, Charlotte tidak mampu mengukur kedalaman hati seseorang.
“Apa kalian baru membuka toko ini saat Tuan Zack kembali dari New York?”
Dakota mengangguk, “Ya, aku sangat senang saat dia berkata akan mencari nafkah di sini alih-alih di kota besar. Padahal, sebelumnya dia selalu bersikeras untuk bekerja di kota besar dengan alasan upah di sana lebih besar.”
Zack sudah menjadi supir Charlotte sejak wanita itu masih berada di sekolah dasar. Pria itu juga jarang pulang ke kampung halaman, sehingga Charlotte bisa menebak kalau dulu Dakota jarang melihat ayahnya.
“Tapi, tidak apa. Berkat kerja keras Ayah, aku bisa hidup sehat sekarang.”
Charlotte bertanya, “Kamu pernah sakit?”
“Mhm, aku punya penya—”
Tring!
Ucapan Dakota terpotong oleh suara lonceng, pertanda bahwa ada seseorang yang masuk. Dakota buru-buru berbalik, lalu tersenyum riang saat melihat Zack datang sambil membawa kantung belanjaan.
“Ayah! Akhirnya kamu datang.” Dakota berlari kecil menuju Zack. “Ada kenalanmu dari kota yang datang.”
Zack mengerutkan keningnya bingung. Ia lantas mengarahkan pandangan ke meja yang ada di belakang Dakota, dan dalam hitungan detik, Zack merasa lututnya begitu lemas sampai tidak mampu menopang bobot tubuhnya sendiri.
“Tuan Zack, kita bertemu lagi,” kata Charlotte dengan intonasi lembut.
Seketika Zack menjatuhkan seluruh kantung belanjaannya. Kedua pupilnya bergetar tatkala manik emerald Charlotte menatap lurus ke arahnya, seolah tengah menghakimi Zack atas kesalahan yang pernah ia perbuat.
Dakota tidak mengerti kenapa Zack bertingkah aneh begitu. “Ayah, ada apa? Apa kamu sakit?”
Napas Zack memburu, dengan suara gemetar, ia memanggil Charlotte. “No … Nona Charlotte.”
Bruk!
Zack menjatuhkan lututnya ke atas permukaan lantai, kemudian bersujud di amhang pintu. Di hadapan Charlotte ia mulai berteriak untuk meminta pengampunan. “Maafkan saya! Nona Charlotte, saya sungguh minta maaf.”
“Aku terpaksa melakukan itu, aku sungguh tak bermaksud menyakiti Anda!”
Zack tampak begitu ketakutan. Tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar, bahkan kepalanya tak berani untuk diangkat. “Anda boleh membunuh saya jika menyimpan dendam. Tapi, tolong … tolong biarkan Dakota hidup dengan tenang.”
Dakota sontak berteriak, “Ayah! Apa maksudmu?! Kenapa kamu rela dibunuh?”
Charlotte akhirnya berdiri, membuat Dakota menjadi waspada dan berdiri di hadapan Zack untuk menghalangi Charlotte. “Kalau kamu ingin menyakiti ayahku, maka aku tidak akan tinggal diam.”
“Aku tidak akan menyakitinya.” Charlotte menundukkan kepalanya. “Mari kita bicara, Tuan Zack.”
Suara Charlotte masih selembut kelopak mawar yang berterbangan di udara. Namun, Zack merasa suara itu turut mengandung duri yang menusuk hatinya sampai terasa sakit.
Melihat Zack tidak bereaksi, Elliot akhirnya menimpali. “Jika kamu memang merasa bersalah, maka setidaknya katakan kebenarannya kepada kami. Dengan begitu, kami bisa menghukum orang yang tepat alih-alih melampiaskan amarah kepada suruhan seperti kamu.”
Usai mendengar suara Elliot yang dipenuhi ultimatum tak terbantahkan. Zack akhirnya mengangkat kepalanya, lalu menarik Dakota dari hadapan Charlotte. “Dakota, tutup tokonya, lalu pulanglah ke rumah.”
“Aku akan tetap di sini dan memastikan Ayah tidak dilukai!” teriak Dakota.
“Dengarkan Ayah! Pergilah, Ayah perlu menyelesaikan masalah dengan mereka.”
Bentakan Zack membuat Dakota terkejut. Zack sangat jarang membentaknya dengan suara keras seperti itu, sehingga Dakota tidak bisa menahan diri untuk menangis. “Kenapa Ayah bersikap begitu? Aku hanya mengkhawatirkan Ayah.”
Zack terkesiap saat melihat putrinya menangis. “Maaf, maafkan Ayah. Ayah tidak bermaksud membentak kamu. Tapi, sungguh, kamu tidak boleh ada di sini. Pulanglah ke rumah dan temani Ibumu.”
Dakota masih bersikukuh tetap ada di sana, sehingga akhirnya Charlotte angkat bicara. “Jangan khawatir, kami tidak akan menyakiti ayahmu. Dakota, kamu bisa mempercayai kami.”
“Kenapa aku harus percaya?”
“Karena aku sudah menganggap Tuan Zack sebagai keluargaku sendiri.” Charlotte tersenyum getir. “Oleh karena itu, aku tidak mungkin menyakitinya.”
Bersambung… ISTRIKU TIDAK MEMBERI PENGAMPUNAN
Dengan berbagai paksaan, Dakota akhirnya pergi meninggalkan toko dengan wajah masam. Setelah kepergiannya, Zack kembali menundukkan kepala dan berkata, “Saya sungguh minta maaf, Nona Charlotte.”
Ketika mendengar perkataan Charlotte yang menganggapnya sebagai keluarga. Hati Zack terenyuh sakit dan rasa bersalah menggerogoti sekujur tubuhnya lebih dalam.
“Duduklah, Tuan Zack. Mari kita bicara dengan benar,” balas Charlotte.
Menghadapi orang yang telah menghilangkan kesempatan Charlotte untuk memiliki anak juga merupakan hal berat untuknya. Selama ini, dia terus menanamkan kebencian pada pelaku insiden itu, tapi kini hatinya tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Ketika mereka sudah duduk, Charlotte akhirnya mengutarakan hal yang sulit untuknya dan Zack. “Tuan Zack, kita sudah mengenal dalam kurun waktu bertahun-tahun. Kamu selalu mengantarkanku pergi ke sekolah, dan bahkan pernah membelikanku permen saat aku tidak membawa uang. Sungguh, tak pernah sekali pun aku melupakan kebaikan-kebaikanmu di masa lalu.
“Bahkan aku merasa sangat sedih saat tahu kamu telah berhenti kerja setelah aku membuka mata dari koma. Namun, aku tidak menyangka bahwa kenyataan begitu memilukan seperti ini. Tuan Zack, aku benar-benar tidak mengerti, mengapa kamu tega kepadaku? Apa aku pernah melakukan sesuatu yang menyakiti hatimu di masa lalu? Di antara banyak orang di dunia ini, mengapa harus kamu, Tuan Zack?”
Emosi marah menyelubungi hati Charlotte. Tapi, alih-alih melampiaskan amarah dengan berteriak, Charlotte malah merasa ingin menangis. Kenyataan ini begitu memilukan dan menyakitkan, sampai Charlotte tak berhenti merasakan sakit di dadanya.
Akan tetapi, hatinya kembali tenang tatkala Elliot memegang tangannya di bawah meja, mengelusnya pelan sebagai upaya untuk menenangkan istrinya.
“Anda tidak melakukan kesalahan, Nona Charlotte. Saya … saya hanya tidak punya pilihan.”
“Atas dasar apa?” tanya Charlotte.
“Saya seharusnya membunuh Anda, Nona Charlotte.” Zack menghela napas berat seraya mengusap wajahnya. “Tapi, saya tidak bisa! Saya tidak bisa membunuh Anda! Jadi, akhirnya saya … saya ….”
“Kamu menusuk perutku?”
“Ya,” balas Zack lesu.
Charlotte mengeratkan genggamannya pada tangan Elliot saat mendengar itu.
“Tuan Zack, apa kamu tahu akibat dari perbuatanmu?”
Zack tidak membalas, karena dia memang tidak tahu. Dia berpikir, melukai Charlotte bukan di bagian vital, akan lebih baik daripada membunuhnya.
“Karena kamu, aku tidak bisa memiliki anak lagi. Hal itu lebih buruk daripada kematian, Tuan Zack. Keluargaku bahkan semakin memperlakukan aku seperti sampah karena ketidakbergunaan itu. Jadi, pilihan apa yang membuatmu sampai bertindak seperti itu?”
Dalam seperkian detik, Zack tercekat. Dia tidak menyangka kalau perbuatannya akan membuat Charlotte mendapatkan dampak sebesar itu. Padahal, dahulu dia mengira masih ada kesempatan untuk sembuh saat ia hanya menikam perut.
“Beberapa tahun yang lalu, putri saya Dakota dalam keadaan kritis. Sejak lahir, dia memang memiliki kelainan jantung, sehingga perlu menjalani berbagai macam perawatan intensif. Namun, saat itu, Dakota tampaknya sudah tidak bisa bertahan, dokter mengatakan dia butuh transplantasi jantung, tetapi saya tidak mungkin punya uang untuk membayar operasi seharga satu juga dollar lebih.”
Ketika mengingat itu, Zack meremas kedua tangannya dan meratapi ketidakberdayaannya. “Akhirnya, saya pergi menemui Tuan Muda Ethan untuk meminjam uang, tapi alih-alih meminjamkan, ia malah ingin saya melakukan sesuatu dengan imbalan uang untuk pengobatan putri saya.”
Charlotte menahan napasnya, “Jadi, saudaraku memintamu untuk melukaiku?”
“Tadinya, iya. Tapi, Nona Muda Caitlyn ingin saya membunuh Anda dengan menusuk leher Anda.” Zack menggertakan giginya. “Tapi, saya tidak mungkin bisa membunuh Anda. Karena itu, saya melukai tubuh Anda yang lain.”
Dan Zack tanpa sengaja malah menambah penderitaan Charlotte.
Membuat wanita itu merasa hidupnya tidak lagi berguna karena tak mampu menghasilkan keturunan. Jika saja Charlotte tidak mengalami kejadian itu, Brianna Landegre pasti tidak akan menyetujui proposal pernikahan mereka karena yang ia butuhkan adalah seorang wanita yang bisa menjadi duri untuk menghalangi jalan Elliot untuk mendapatkan kekuasaan.
Satu-satunya wanita yang bisa menjadi penghalang adalah wanita mandul. Karena itu, Charlotte pasti bisa lepas dari perjodohan apabila dia normal.
Seandainya, Charlotte norma. Dia tak perlu menghadapi perlakuan buruk Elliot di kehidupan pertama, dan bertemu dengan pria lain yang lebih layak.
Elliot tiba-tiba saja merasa hatinya sakit saat memikirkan hal itu. Dia mencintai Charlotte, tapi bila Charlotte mampu menjalani kehidupan yang lebih baik tanpa menyertakan pria itu di dalam hidupnya, maka Elliot bisa menerimanya.
“Antara membunuh atau melukai, kurasa tak ada perbedaan di sana. Kamu sama-sama mematikan kehidupan Charlotte,” kata Elliot.
Elliot menahan amarah yang memuncak di hatinya, lalu kemabali berkata, “Tuan Zack, Charlotte pernah bilang kalau kamu sudah menganggap Charlotte seperti putrimu sendiri dan bahkan menyayanginya. Sejak tadi pun, kamu juga berbicara seolah sangat memperdulikan Charlotte. Namun, kalau kamu memang menyayangi Charlotte, seharusnya kamu tidak akan melukainya sama sekali.”
“Saya tidak punya pilihan!” seru Zack. Ia menggebrak meja cafe, matanya melotot akibat tersulut oleh emosi, dan bahkan napasnya mulai memburu.
“Pilihan?” Elliot tertawa. “Dari penjelasanmu, maka aku bisa menyimpulkan kalau kamu ingin mengorbankan nyawa Charlotte untuk menyelamatkan nyawa putrimu. Walau aku bisa mengerti alasanmu, tetap saja, membunuh seseorang bukanlah pilihan.”
Rasa cinta Zack kepada Dakota mungkin memang terlampau besar, sebagaimana seorang ayah yang akan selalu mengorbankan apa pun demi keselamatan Dakota. Meski begitu, di mata orang lain, Zack tidaklah lebih dari seorang manusia egois yang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada orang lain.
“Seandainya Dakota mengetahui kalau kehidupan bahagianya didasari oleh penderitaan orang lain. Apa menurutmu dia akan senang?” tanya Elliot.
Sontak Zack beranjak dari kursi dan berlutut di hadapan Elliot. “Saya mohon, jangan katakan hal ini kepada Dakota! Dia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri dan membenci saya seumur hidup! Tuan … saya mohon kepada Tuan ….”
Zack ingin menyebutkan nama Elliot, tapi sadar kalau Elliot belum memperkenalkan dirinya sejak tadi. Dia bahkan tidak mengetahui hubungan pria itu dengan Charlotte.
“Landegre.” Elliot berkata, “Namaku Elliot Landegre, suami dari Charlotte. Karena kamu sudah menyakiti istriku, aku tidak bisa hanya membiarkan kamu pergi begitu saja.”
Nama keluarga Landegre itu menghantam dada Zack begitu keras. Dia sudah bekerja untuk Keluarga Baxter selama bertahun-tahun, jelas saja ia juga tahu nama-nama keluarga konglomerat yang memiliki pengaruh besar. Dan Landegre adalah salah satu nama keluarga yang seharusnya Zack hindari.
Karena kekuasaan mereka terlalu kuat dan tidak terbantahkan. Orang kecil seperti Zack tidak akan mampu menang saat melawan mereka.
“Tuan Landegre, saya rela dipenjara untuk menebus kesalahan saya. Tapi, tolong, tolong jangan katakan kepada Dakota kalau kesalahan saya adalah melukai Nona Charlotte.” Zack dengan susah payah memohon di hadapan Elliot, bahkan berulang kali bersujud supaya mendapatkan pengampunan.
“Dakota bukan lagi anak-anak. Usianya sama dengan Charlotte. Karena itu, tidak ada alasan bagiku untuk menyembunyikan perilaku kamu dari dia,” balas Elliot.
Zack semakin merendahkan sujudnya, tubuhnya tak henti-henti bergetar karena merasa takut Elliot akan mengungkapkan kebenaran kepada Dakota.
Dakota sudah lama menderita penyakit jantung. Sejak kecil, ia tidak bisa bermain dengan bebas atau makan apapun yang dia suka. Putrinya itu baru bisa berlarian dengan bebas setelah mendapatkan transplantasi jantung baru.
Jika sampai kebenaran terungkap, mungkin Dakota tidak akan pernah tersenyum karena tahu ada orang lain yang terluka karena dia.
“Sudahlah,” Charlotte berkata dengan suara pelan, memecahkan ketegangan di antara Elliot dan Zack. “Tak ada gunanya juga menangkap kamu.”
“Charlotte!” seru Elliot, merasa tak percaya istrinya tidak ingin meneruskan kasus ini ke ranah hukum.
Charlotte lantas menatap Elliot. “Kamu ingat kejadian Tuan Portman?”
Seketika Elliot terdiam. Renold dan Zack itu sama-sama pion sekali pakai yang digunakan oleh orang berkuasa yang ada di belakang mereka. Keduanya itu akan langsung dibuang dan dibungkam begitu bisa membahayakan Johan atau Ethan.
Membawa Zack ke penjara, sama saja hanya akan menghantarkan mereka ke gerbang kematian, sedangkan orang-orang yang menyuruh mereka masih bisa tertawa dengan bebas di atas kekuasaannya.
Charlotte masih menghargai hubungan lamanya dengan Zack. Karena itu, dia tidak ingin Zack sampai dibunuh begitu saja di penjara.
“Lalu, apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Elliot.
“Membiarkan Tuan Zack tersiksa di dalam penyesalan selamanya di kota kecil ini.” Charlotte menegaskan kepada Zack, “Aku tidak mau kamu beranjak keluar dari Nashville sampai kamu mati. Jika kamu berani keluar dari kota ini, maka aku tidak segan memberitahu semua kejahatan yang kamu lakukan kepada putrimu.”
Zack, “Bagaimana dengan Dakota? Apa dia juga tidak boleh meninggalkan kota ini?”
“Dia boleh pergi semaunya. Karena, Dakota tidak mengetahui apa-apa, sehingga rasanya tidak tepat untuk menyalahkannya juga.”
Begitu Charlotte mengatakan itu, Zack langsung menangis haru dan berkata, “Terima kasih, Nona Charlotte. Terima kasih karena sudah memaafkan saya.”
Charlotte menundukkan kepalanya, menatap Zack dengan ekspresi dingin. “Siapa yang memaafkanmu? Aku bahkan membenci kamu, Tuan Zack. Aku membiarkan kamu bebas supaya kamu terus dilanda perasaan takut dan menyesal seumur hidup. Situasi seperti itu, pasti lebih menyakitkan daripada hanya dipenjara.”
Bersambung… SUAMI & ISTRI MENDAPATKAN UNDANGAN
Tak ada lagi prakata yang bisa diucapkan oleh Charlotte. Dia lantas meninggalkan Zack sendirian di dalam cafe, karena tidak ingin lagi melihat wajah pria itu dan mengenang segala memori di masa lalu.
Charlotte berjalan dalam diam, hatinya masih terlalu mendung untuk sekedar tersenyum kepada Elliot. Sementara Elliot juga tidak mengatakan apa-apa dan hanya menenangkan Charlotte dengan melingkari pundak istrinya saat mereka berjalan menuju penginapan.
Sesampainya di sebuah penginapan yang sederhana. Elliot meletakkan tas mereka di lantai, lalu menuntun Charlotte untuk duduk di atas tempat tidur. “Mau kubawakan teh panas?”
“Mhm, terima kasih.”
Elliot lekas meminta pemilik penginapan untuk membawakan mereka teh panas serta tambahan selimut, sehingga dia bisa membuat hati Charlotte menjadi lebih baik.
“Jangan memikirkannya lagi, istirahatlah untuk sekarang.” Elliot memberikan secangkir teh ke tangan Charlotte, lalu melingkupi tubuh wanita itu dengan selimut tebal.
“Elliot, mengapa saudaraku ingin membunuhku?” tanya Charlotte tiba-tiba. “Aku tidak pernah meminta harta mereka, bahkan juga tidak protes saat Ayah tidak memperdulikan aku.”
Tangan Charlotte yang memegang cangkir gemetar. Pandangan matanya mulai kabur saat air mata mulai menggenangi matanya. “Sungguh, aku tak pernah mengganggu mereka.”
Selama ini, Charlotte selalu bertingkah seperti manekin hidup di dalam keluarganya. Dia tidak pernah mengeluarkan pendapat, protes, atau pun meminta terlalu banyak. Jika dia ingin membeli sesuatu, maka dia akan mengumpulkan uang jajannya sendiri dan tidak memaksa Jacob Baxter—ayahnya—untuk lebih memperhatikan dia.
Bahkan saat Jacob dan Agnes memintanya menikah dengan Elliot yang reputasinya buruk, Charlotte juga tidak mengeluarkan protes.
Tapi, mengapa sebuah manekin hidup saja bisa dibenci sampai ke taraf yang mengerikan?
Rasanya, baik ibu tiri hingga saudara-saudara tiri Charlotte, mereka semua akan kesal saat Charlotte bahagia sedikit saja.
“Sayang, kamu memang tidak salah. Orang yang patut disalahkan itu adalah keluargamu yang telah membuat kamu menderita.”
Charlotte, “Mereka … mereka sepertinya bertingkah seperti itu karena aku merusak keharmonisan Keluarga Baxter.”
Charlotte lahir dari hasil hubungan gelap antara Jacob Baxter dengan seorang wanita malam—Belva Fletcher—. Ketika Charlotte masih sangat kecil, Belva mengalami sakit keras dari hasil pekerjaan malamnya. Sebab itulah, dia mengirimkan Charlotte kepada Jacob, membuat hubungan Jacob dengan Agnes meregang hingga ke tahap menuju perceraian. Meski pada akhirnya, Agnes tetap bertahan dengan alasan takut kekurangan uang.
“Karena aku adalah bukti perselingkuhan dari ayahku. Nyonya Baxter sangat membenciku sampai-sampai dia selalu marah setiap kali melihat wajahku. Mungkin, sikap Nyonya Baxter membuat anak-anaknya ikut membenciku dan selalu mencari cara untuk menyingkirkan aku dari hidup mereka.” Charlotte menghela napas. “Seandainya saja aku tidak lahir.”
Elliot sontak memeluk Charlotte seraya berbisik. “Kamu tidak salah apa-apa. Walau mereka tidak mengharapkan kelahiranmu, aku masih mengharapkan kelahiran kamu.”
“Jadi, jangan berandai-anda kamu tidak lahir. Karena itu membuatku sedih.”
Charlotte membalas pelukan Elliot dan meletakkan wajahnya pada pundak pria itu. “Maaf.”
“Jangan minta maaf,” kesal Elliot.
Charlotte tertawa. “Baiklah, aku mencintaimu.”
“Terdengar lebih baik.”
Mereka terus berpelukan dalam kurun waktu yang lama, bahkan sampai membuat Charlotte mengantuk. Beruntung suhu di luar sedang dingin, apabila mereka berpelukan seperti ini di musim panas, Charlotte mungkin akan langsung menendang Elliot karena kepanasan.
Sembari merebahkan tubuh mereka di tempat tidur, Elliot berkata, “Charlotte, bagaimana kalau kita membalas perbuatan saudara-saudaramu itu?”
Charlotte, “Kita bisa melakukannya?”
Elliot, “Tentu saja bisa. Dibandingkan dengan Johan, saudara-saudaramu itu hanyalah sekumpulan domba bodoh yang mudah disembelih.”
Elliot benci mengakui ini, tapi Johan lebih cerdik dan berkuasa daripada Ethan Baxter atau Caitlyn Baxter. Karena, di kehidupan lampau Elliot sering mendengar rumor kalau Ethan tidak pandai berbisnis, sedangkan Caitlyn terlalu sibuk bersolek sampai tidak memiliki kemampuan.
“Apa yang bisa kulakukan untuk membalas mereka? Membawa mereka ke pengadilan?” tanya Charlotte, merasa sedikit skeptis.
Elliot melambaikan tangannya. “Pengadilan tidak berlaku untuk orang-orang yang memiliki uang. Kita bisa membuat Ethan bangkrut.”
“Kamu tidak mau membunuh mereka, kan?”
“Hmm … kalau kamu ingin, aku juga bisa membunuh mereka,” kata Elliot.
Charlotte meringis. “Jangan, aku tidak mau kamu mengotori tanganmu dengan darah kotor mereka. Intinya, jangan bunuh siapapun demi aku.”
Elliot mengelus kepala Charlotte. “Jangan khawatir, caraku lebih buruk daripada kematian.”
Charlotte masih bertanya-tanya cara apa yang ingin Elliot gunakan, tapi suaminya itu bersikeras tidak mau memberitahu, sehingga Charlotte tak lagi bertanya lebih lanjut mengenai metodenya.
“Omong-omong, kudengar dari pelayan rumah ada undangan yang datang ke rumah pagi ini. Mereka bilang itu undangan pesta ulang tahun dari Keluarga Baxter,” lapor Elliot.
Tadinya dia tidak begitu perduli dengan undangan tersebut. Tapi, setelah Elliot pikirkan lebih jauh, sepertinya dia harus menghadiri pesta itu supaya bisa menjalankan rencananya.
Charlotte, “Oh … sepertinya itu undangan ulang tahun Elijah. Tidak biasanya aku diperbolehkan hadir di pesta Keluarga Baxter. Paling-paling, mereka hanya ingin mencari muka di depanmu.”
“Elijah itu adikmu yang seumuran dengan Noelle, kan? Apa dia juga mengganggumu?”
“Ya, dia sering menggangguku. Tapi, tak pernah sampai mencelakaiku seperti Ethan atau Caitlyn. Jika ingin membalas, usahakan jangan melukainya juga,” jelas Charlotte.
“Mhm, aku akan mengingatnya.”
Elliot pasti akan menghitung seberapa banyak keburukan yang pernah dilimpahkan Keluarga Baxter kepada istrinya, sehingga dia mampu membalas mereka dengan sepadan.
*****
Elliot dan Charlotte meninggalkan Nashville pada hari senin siang. Mereka tidak mengucapkan selamat tinggal kepada Zack atau Dakota, karena merasa tidak perlu lagi saling berhubungan.
Berselang satu minggu kemudian, akhirnya hari ulang tahun Elijah tiba. Hari ini, Charlotte merasa begitu gugup karena baru pertama kali menginjakkan kaki di pesta milik Keluarga Baxter. Walau itu hanyalah sebuah pesta ulang tahun, sesungguhnya pesta tersebut merupakan pesta besar yang mengundang banyak keluarga konglomerat. Karena itu, Charlotte takut menjadi bahan gunjingan mereka.
“Tidak perlu gugup, kamu datang bersamaku.” Elliot meyakinkan Charlotte di dalam mobil.
Sekarang, mereka sedang berada di parkiran salah satu hotel mewah di New York. Terdapat banyak mobil-mobil mewah yang terparkir di tempat VIP, sepertinya mereka semua juga tamu undangan pesta Elijah. Elliot mungkin bisa mengenali orang-orang dari lingkungan konglomerat itu, tetapi Charlotte sama sekali tidak mengenal mereka, sehingga takut akan mempermalukan Elliot.
“Bagaimana bila aku tidak hafal nama-nama mereka?” tanya Charlotte.
Elliot tertawa. “Mereka tidak begitu penting, tidak perlu mengingat nama mereka. Lagi pula, seharusnya mereka yang menghafalkan namamu.”
Karena secara runtutan kasta, Keluarga Landegre termasuk ke dalam perusahaan yang sangat berpengaruh dalam pergerakan ekonomi dan negara. Oleh sebab itu, tidak sepatutnya mereka mencari masalah dengan Elliot atau pun Charlotte.
“Ayo, keluar. Aku tidak akan jauh-jauh darimu.”
Setelah diyakinkan oleh Elliot, Charlotte akhirnya keluar dari mobil dan berjalan menuju aula hotel. Di depan pintu aula, mereka di sambut oleh beberapa pelayan. “Selamat datang, Tuan dan Nyonya Landegre. Semoga malam Anda menyenangkan.”
Bersambung… SUAMI & ISTRI MENGHADIRI PESTA
“Charlotte, aku kira kamu tidak datang.”
Begitu Charlotte dan Elliot memasuki aula, Agnes Baxter segera menghampiri mereka dengan senyum manis. Elliot meringis di dalam hati saat melihat Agnes Baxter, wanita separuh baya itu mengenakan gaun yang sangat berlebihan, rumbainya menjuntai-juntai hingga ke lantai sehingga dua pelayan harus membantunya berjalan. Selain itu, dia turut memakai begitu banyak aksesoris emas di bagian leher dan tangannya. Alih-alih terlihat seperti konglomerat, wanita itu malah tampak norak dan tidak elegan.
“Tentu, kami akan datang. Nyonya Baxter, terima kasih karena sudah mengundang kami,” kata Charlotte.
Agnes sontak tertawa. “Kenapa memanggilku begitu? Panggil aku Ibu. Kamu bahkan baru saja menikah selama beberapa bulan, tapi sudah memanggilku begitu.”
Charlotte, “Maaf, Ibu.”
Selama tinggal di kediaman Baxter, tak pernah sekali pun Agnes sudi dipanggil Ibu oleh Charlotte. Namun, kini dia malah bertingkah seolah-olah Charlotte adalah anak yang kurang ajar saat berada di hadapan Elliot dan para kaum borjuis lain.
Agnes tidak berbicara dengan Charlotte lagi setelah itu. Karena, dia lebih memilih untuk menarik perhatian dari Elliot. “Tuan Landegre, suatu kehormatan untuk melihat Anda hadir di pesta sederhana kami.”
Elliot mengukir senyum. “Anda terlalu merendah, Nyonya Baxter. Pesta ini sangat baik, saya menyukainya. Selain itu, saya minta maaf karena baru mengunjungi keluarga Baxter setelah lama menikah dengan Charlotte.”
Agnes mengibaskan tangannya. “Tak perlu dipikirkan, Anda pasti sangat sibuk bekerja. Omong-omong tentang Charlotte, apa dia berkelakuan baik selama menjadi istri Anda? Anak itu kadang sangat lamban dan kurang merawat diri. Jadi, saya harap Anda tidak begitu sering memarahi dia.”
Senyuman Elliot luntur begitu saja saat mendengar Charlotte dihina terang-terangan begitu. Pria itu akhirnya menjawab singkat, “Charlotte selalu menjadi istri yang baik.”
Seketika, Agnes merasa suasana di antara mereka jadi tidak nyaman. Karena itu, dia buru-buru meminta mereka masuk ke dalam aula dan menyambut tamu lain yang baru saja datang.
Di dalam aula, Elliot menyapa beberapa orang penting yang mengenal keluarga Landegre. Sesekali bertukar obrolan, tapi lebih sering hanya bertukar senyum karena Elliot malas meladeni orang-orang itu yang seringkali malah membicarakan bisnis di pesta orang.
Dibanding Elliot, Charlotte lebih diam lagi. Wanita itu belum pernah menghadiri pesta penting, jadi dia terus menempeli Elliot kemana pun pria itu pergi. Bahkan, Charlotte tidak berani melepaskan tangannya dari lengan Elliot.
“Keluargamu ini sangat luar biasa. Daripada mengundang teman-teman sekolah adikmu, mereka malah mengundang orang-orang penting kemari,” bisik Elliot di telinga Charlotte.
Charlotte, “Ayahku Senang Menjilat Para Konglomerat. Jadi, wajar saja dia akan mengundang mereka daripada anak-anak sekolah yang tak berguna.”
Dari kejauhan, Charlotte melihat Jacob Baxter sedang bersenda gurau bersama beberapa pejabat penting. Pria itu bahkan tak mau repot untuk menyambut kehadiran Charlotte.
Beberapa saat kemudian, Elijah Baxter hadir di dalam aula. Anak itu memiliki wajah muda yang sama dengan Noelle. Bedanya, Noelle selalu tersenyum dan memancarkan aura positif, sedangkan Elijah selalu berwajah masam dan memandang orang lain dengan rendah.
Elijah bahkan segera membuang wajah ketika bertatapan dengan Charlotte, seakan kehadiran Charlotte memang tidak diinginkan.
Tak lama kemudian, Jacob Baxter segera membuka acara ulang tahun itu. “Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya sekalian. Saya, selaku kepala keluarga dari keluarga Baxter ingin mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran kalian di pesta ulang tahun putra saya, Elijah Baxter.”
Jacob lantas mengutarakan pidato panjangnya yang berbelit-belit. Tapi, pada intinya dia sedang meninggikan Elijah agar orang-orang penting di pesta tertarik dengan Elijah dan bisa memudahkan karir anak itu di masa depan.
“Lihat wajah anak itu, daritadi terus menatap kamu dengan ekspresi buruk. Saat masih tinggal di rumah mereka, dia melakukan apa saja untuk mengganggumu?” tanya Elliot di tengah-temgah pidato membosankan Jacob.
“Mengganti tehku dengan air bekas cat air, merusak maket yang pernah kubuat dengan susah payah, menggunting pakaiank yang sedang dijemur. Lalu … entahlah, ada banyak sekali sampai aku tidak begitu ingat,” jawab Charlotte.
Dua alis Elliot hampir menyatu saat keningnya berkerut. “Kau bilang dia tidak pernah mencelakai kamu.”
“Ya, memang tidak. Dia hanya iseng, tapi tak pernah menjambak atau memukulku.”
Jika dibandingkan dengan Elijah, maka Caitlyn lebih buruk. Saudarinya itu seringkali menjambak rambut Charlotte setiap kali Charlotte mengenakan pakaian yang lebih bagus daripada Caitlyn. Oleh sebab itu, selama bertahun-tahun, Charlotte jarang membeli pakaian yang bagus meskipun ingin.
Sementara Ethan, dia sama buruknya dengan Caitlyn. Rasanya, sejak kecil Ethan selalu senang setiap kali melihat Charlotte jatuh atau dipukul. Jadi, sebisa mungkin Charlotte tidak akan keluar kamar saat Ethan sedang ada di rumah. Karena sungguh, Ethan tidak pernah menahan diri saat mendorong Charlotte.
Semakin Elliot mendengarkan perlakuan saudara-saudara Charlotte, semakin dia merasa darahnya mendidih dan ingin membakar rumah keluarga Baxter beserta seluruh penghuninya.
Padahal, ketika Elliot menikahi Charlotte di kehidupan sebelum ini. Pria itu hanya mengabaikan Charlotte atau sekedar mengomel beberapa kali. Tak pernah sekali pun Elliot memukul Charlotte atau melakukan sesuatu untuk melukainya.
“Charlotte, kamu yakin tidak mau membunuh mereka saja?”
Charlotte tersenyum. “Tak perlu mengotori tanganmu untuk melakukan tindakan kriminal seperti itu. Jangan khawatir, sekarang aku sudah baik-baik saja.”
Karena, kini ada Elliot yang selalu memperlakukannya dengan baik dan lembut.
Tatkala pidato panjang dari Jacob selesai, acara perjamuan makan di mulai. Masing-masing tamu di bawa ke meja-meja yang sudah disediakan. Sebagai formalitas, Jacob menempatkan Charlotte dan Elliot di meja yang sama dengan anggota keluarga Baxter.
Pada saat itulah, akhirnya Elliot bisa bertatapan dengan Ethan dan Caitlyn secara langsung. Akan tetapi, ada satu hal yang mengganggu Elliot saat pertama kali melihat Ethan, yaitu wanita yang kini duduk di sebelah Ethan.
“Irene,” sahut Elliot.
Bagaimana mungkin mantan kekasihnya itu tiba-tiba ada di pesta keluarga Baxter? Walau Irene juga berasal dari keluarga yang lumayan kaya, tetap saja seharusnya ia tidak memiliki hubungan dengan keluarga Baxter. Skenario seperti ini rasanya tidak pernah ada di kehidupan lampau.
Wanita yang mengenakan gaun dengan potongan rendah itu tersenyum saat melihat Elliot. “Ah, Elliot, sudah lama tak bertemu.”
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Ethan menjawab alih-alih Irene, “Dia adalah kekasihku.”
Elliot melongo heran. “Apa? Kamu … bagaimana bisa?”
Irene, “Aku bertemu dengan Ethan di bar beberapa bulan yang lalu. Setelah banyak mengobrol, kami merasa cocok dan memutuskan untuk berpacaran. Kenapa? Apa kamu keberatan?”
Suara Irene mendayu-dayu saat mengucapkan pertanyaan terakhir, seakan ingin menggoda Elliot untuk kembali ke pelukannya. Namun, Elliot hanya membalasnya dengan singkat. “Tidak.”
Jacob dan Agnes yang baru saja datang segera meminta mereka semua duduk. “Mari semuanya duduk, makanan akan segera dihidangkan.”
Irene tadinya mempersilahkan Elliot untuk duduk di sampingnya, tapi Charlotte segera menarik Elliot dan duduk di samping Irene. “Kamu tidak keberatan, kan, kalau aku duduk di sini?”
Irene memandang Charlotte dengan malas, tapi tetap tersenyum. “Ya, tentu. Kamu bisa duduk di mana saja.”
Kehadiran Irene Addison itu adalah sebuah anomali. Dia seharusnya memiliki kekasih lain dan tidak bersama Ethan. Tapi, setelah dipikir-pikir rasanya wajar mereka bisa bersama. Keduanya sama-sama tidak menyukai Charlotte jadi pasti memiliki kecocokan yang tak terbantahkan. Lagi pula, Irene pasti ingin mencari pria kaya lain yang bisa dia keruk hartanya hingga kering.
Sampah memang cocok dengan sampah.
Ketika makanan dihidangkan, semuanya menyantap makanan secara serentak. Semua yang hadir sangat memahami tata krama saat makan, jadi tidak ada yang berbicara sampai mereka menyelesaikan santapan mereka.
Keheningan itu baru dipecahkan oleh Ethan yang ingin mengajak Elliot bicara saat mereka menunggu hidangan penutup datang. “Tuan Landegre, rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu. Terakhir itu, saat acara pernikahan dengan Charlotte.”
Elliot membalas, “Ya, itu sudah lama sekali. Maaf, aku baru bisa mengunjungi kalian sekarang karena sedang sibuk akhir-akhir ini.”
Ethan, “Tidak perlu dipikirkan, aku juga salah karena tidak mengunjungimu dan Charlotte.”
“Kamu juga sepertinya sedang sibuk akhir-akhir ini. Kudengar, kamu sedang merintis perusahaan konstruksi baru,” kata Elliot.
Mata Ethan berbinar saat mendengar Elliot mengetahui perusahaan barunya. “Ya! Aku sedang mendirikan perusahaan baru di bidang konstruksi. Tapi, perusahaan itu masih memiliki banyak kekurangan karena aku harus banyak belajar. Bisakah Tuan Landegre memberikanku beberapa saran terkait perusahaan konstruksi?”
Senyuman di wajah Elliot kian melebar, rasa senang menyebar di hati pria itu karena Ethan mengambil umpan yang Elliot berikan.
“Tentu, bagaimana jika berbincang-bincang setelah ini? Aku mungkin bisa memberikanmu beberapa saran, dan jika tertarik, aku juga mungkin bisa menjadi investor untuk perusahaan rintisanmu.”
Bersambung… ISTRIKU DIGANGGU
Penawaran Elliot sungguh menggiurkan untuk Ethan. Jika Elliot benar-benar menjadi investornya, maka Ethan akan mendapatkan keuntungan besar dan mampu mendongkrak investor-investor lain untuk menanam modal di perusahaan Ethan.
“Suasana di aula ini tidak begitu kondusif. Jika Tuan Landegre tidak keberatan, bagaimana bila kita berbincang di lounge?” Ethan lantas melirik ke arah Charlotte. “Hanya berdua saja.”
Elliot menebak, sepertinya Ethan berpikir Charlotte terlalu bodoh untuk mengerti bisnis dan hanya akan menganggu mereka. Oleh sebab itu, ia secara halus meminta Elliot untuk meninggalkan Charlotte. Namun, Elliot jelas merasa ragu untuk meninggalkan Charlotte sendiri.
Suami dan istri itu lantas saling melemparkan pandangan, seakan tanpa mengucapkan kata pun, mereka sudah bisa mengerti maksud satu sama lain.
Charlotte berbisik kepada Elliot, “Kamu pergilah bersama Ethan, aku akan menunggu di sini. Tempat ini sangat ramai, jadi pasti aku akan baik-baik saja.”
Lagi pula, kalau Charlotte terlalu bergantung kepada Elliot. Wanita itu takut, dia malah menjadi beban tersendiri untuk suaminya di masa depan.
Elliot mengangguk paham. “Baiklah, hubungi aku kalau ada masalah.”
Eliot lantas pergi bersama Ethan ke lounge di lantai dasar, meninggalkan Charlotte sendirian bersama sanak keluarganya.
Sesampainya di lounge Elliot tidak mau berbasa-basi terlalu lama, karena semakin cepat dia selesai, maka semakin cepat pula dia kembali ke tempat Charlotte.
“Perusahaan keluarga Baxter itu merupakan perusahaan furniture. Jadi, kenapa kamu tiba-tiba ingin mendirikan perusahaan konstruksi?” tanya Elliot.
Selain tidak memiliki pengalaman bisnis yang kuat di bidang konstruksi. Elliot juga tahu kalau latar belakang pendidikan Ethan tidak berhubungan dengan pembangunan. Kemungkinan besarnya, Ethan hanya ingin meniru keluarga Landegre.
“Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Ayah juga bilang, akan lebih baik bila kita punya perusahaan di bidang yang sama dengan keluarga Landegre, sehingga hubungan kita semakin erat.”
Elliot tertawa dalam hati, sepertinya Jacob merasa harga dirinya terinjak-injak setelah bangkrut dan harus meminta bantuan dari keluarga Landegre.
“Sebenarnya, kita juga masih bisa bekerja walau kamu mendirikan perusahaan furnitur lagi,” kata Elliot, terdengar seolah sedang mengejek Ethan yang tak mampu memanfaatkan peluang bisnis yang sudah ia punya.
Dengan wajah yang sedikit malu, Ethan membalas, “Ya, tidak ada salahnya mencoba hal baru.”
Elliot, “Kamu memiliki proposal bisnismu? Boleh aku lihat?”
“Tentu! Tentu, boleh. Biar asistenku membawakannya untuk Tuan Landegre,” balas Ethan seraya berusaha menghubungi asistennya.
Berselang beberapa menit kemudian, asisten Ethan datang dan memberikan proposal bisnis barunya kepada Elliot. Secara singkat, Elliot menyibak lembaran demi lembaran kertas, membaca beberapa bagian yang dirasa penting.
Jika saja Elliot tidak menutupi wajahnya menggunakan kertas proposal, maka Ethan akan melihat ekspresi buruk Elliot. Proposal yang sedang ia baca benar-benar buruk, Elliot bahkan tidak bisa berhenti mengutuk di dalam hati. Dari segi perencanaan bisnisnya sangat tidak terarah dan rencana anggarannya pun sangat mentah.
Dalam sekali lihat, Elliot yakin kalau Ethan akan mengalami kegagalan.
“Cukup bagus,” bohong Elliot. “Apa sudah ada yang ingin memakai jasamu?”
“Aku baru saja mendirikan perusahaan ini selama beberapa bulan, bahkan kantornya pun belum selesai dibangun. Karena itu, aku belum memasarkan jasaku dalam skala besar.”
Elliot, “Sudah berapa persen bangunan kantornya terbangun?”
“Sekitar 80 %.”
Sontak Elliot tidak bisa menahan diri untuk tertawa. “Maka harusnya ruangan-ruangannya sudah jadi. Kalau hanya tinggal finishing, kantormu sudah bisa digunakan beberapa lantainya. Sehingga, para karyawanmu bisa mulai bekerja.”
Ethan mengetuk-ngetukan jarinya ke pegangan kursi. Dia merasa malu karena mendapatkan teguran dari Elliot. “Aku hanya ingin karyawanku merasa nyaman saat memakai kantor.”
“Selama listrik sudah bisa dinyalakan, maka tempatnya sudah bisa dikategorikan nyaman. Kamu sebaiknya segera mempromosikan jasamu, sehingga perusahaan ini bisa semakin berkembang dalam beberapa tahun ke depan.”
Elliot menambahkan, “Anggaplah aku sedang membantu kakak iparku sekarang, sehingga aku ingin memberikanmu dana investasi sebesar 500 juta USD.”
Mata Ethan seketika membulat, tubuhnya langsung condong ke depan dan hampir bersimpuh di hadapan Elliot. “Tuan Landegre, apa ini sungguh-sungguh?”
“Aku tidak pernah main-main soal bisnis.”
500 juta USD.
Ethan mengulangi jumlah uang itu berkali-kali di dalam benaknya. Sebuah penawaran tinggi itu membuat Ethan berpikir dia baru saja mendapatkan sebuah jackpot. Siapa yang menyangka, perusahaan rintisan barunya mampu mendapatkan suntikan dana sebesar itu, seluruh pebisnis baru di dunia pasti langsung kalang kabut apabila Ethan memamerkan uang tersebut.
“Tuan Landegre, aku pasti tidak akan mengecewakanmu!”
Setelah Elliot memasukan dana itu ke dalam perusahaannya, investor-investor lain pasti akan berdatangan seperti lalat. Latar belakang Elliot sebagai Landegre juga pastilah dapat dipercayai oleh banyak orang.
“Aku percayakan uangku kepadamu.”
*****
Sementara itu, di waktu yang sama, pesta Elijah sudah berganti acara dari makan malam menjadi acara bebas. Alunan musik lembut menyertai para tamu yang sedang bercengkrama di setiap sudut aula. Perlahan Suasana ramai yang ada di dalam aula itu membuat Charlotte merasa muak. Aroma anggur serta kue-kue manis menguar di dalam udara, merasuk ke dalam rongga hidungnya dan membuat kepala Charlotte terasa pusing.
Karena, Agnes atau Jacob tidak pernah memperkenalkan Charlotte ke khalayak umum sebagai putri mereka. Charlotte jadi merasa kikuk saat sendirian di pesta. Dia tidak tahu harus melakukan apa atau menyapa siapa, setiap orang yang berada di dalam pesta sudah sibuk berkerumun satu sama lain, sehingga Charlotte merasa tidak enak bila tiba-tiba hadir di antara mereka.
Jacob dan Agnes sejak tadi berkeliling untuk berbincang dengan para tamu. Charlotte tahu betul bahwa orang tuanya itu sedang berusaha mencari keuntungan dengan mendekati seseorang yang memiliki citra baik dalam bisnis.
Mereka terlalu palsu, dan hal itu membuat Charlotte muak.
“Charlotte, kan?” suara sapaan itu membuat Charlotte mengangkat kepalanya. Ia melihat Irene dan Caitlyn tengah berjalan menuju tempatnya berdiri, bahkan ada Elijah juga yang mengikuti mereka di belakang.
Padahal, Charlotte sengaja memilih tempat di sudut ruangan agar orang-orang ini mengabaikannya. Namun, tetap saja mereka akan datang tanpa diundang.
“Ya, kamu sudah mendengar namaku sejak kita makan tadi. Kenapa masih bertanya?” balas Charlotte kepada Irene.
Charlotte jelas tahu siapa Irene Addison, karena Elliot pernah membahas Irene satu kali. Pria itu bilang kalau Irene hanyalah wanita ular yang ingin mengeruk hartanya sebanyak mungkin, lalu memakai uang itu untuk berfoya-foya dengan pria lain.
“Kamu salah, Charlotte. Aku sudah mendengar namamu bahkan semenjak kamu belum menikah dengan Elliot. Kamu ingin tahu, di mana aku mendengar namamu disebutkan?” Irene tersenyum, tapi matanya tampak dipenuhi ejekan.
Charlotte tidak membalas, karena terlalu malas untuk meladeni.
Namun, Irene memang datang untuk memprovokasi Charlotte. Wanita itu mendekatkan bibirnya di samping telinga Charlotte dan berbisik, “Di tempat tidur, tepatnya saat aku dan Elliot sedang menghabiskan malam bersama. Kamu tahu apa yang sering dia katakan?”
“Aku tidak mau tahu,” balas Charlotte seraya menatap Irene dengan tajam.
Irene, “Saat kalian baru menikah, Elliot selalu bilang, Aku tidak sanggup ada di rumah, wanita sampah itu benar-benar membuatku muak. Lebih baik aku tidur denganmu daripada harus pulang. Bagaimana ini Charlotte, kamu sangat dibenci sejak awal?”
Charlotte mendorong Irene agar menjauh dari tempatnya berdiri, lalu membalasnya dengan acuh. “Irene, itu hanyalah masa lalu. Bukankah kini Elliot lebih memilihku daripada kamu? Dengar ini baik-baik, aku memang bukan yang pertama untuk Elliot, tapi setidaknya dia berjanji untuk menjadikanku yang terakhir.”
Sontak Irene tertawa. “Kamu percaya itu? Charlotte, Charlotte yang bodoh. Memangnya kamu tahu berapa banyak wanita yang pernah tidur dengan Elliot? Jika aku menuliskannya di atas kertas, maka itu akan terlihat seperti daftar belanjaan. Apa kamu pikir pria seperti dia sanggup terus bertahan dengan satu wanita selama bertahun-tahun? Paling lama juga dia akan meninggalkanmu dalam kurun waktu satu atau dua tahun lagi.”
“Aku sengaja datang hari ini untuk melihat seberapa bagus Charlotte Baxter itu, tapi ternyata dia tidak lebih dari gadis naif yang tidak mengetahui dunia luar. Menyedihkan, Caitlyn, adikmu menyedihkan,” lanjut Irene.
Sebelum Charlotte membalas penghinaan itu, Caitlyn lebih dahulu berbicara. “Sebenarnya aku penasaran. Charlotte, apa rumor itu benar.”
Charlotte mengerutkan keningnya. “Rumor tentang apa?”
“Suamimu, Elliot Landegre, semua orang berkata dia adalah pria yang kasar dan selalu mengamuk jika dinasihati. Jadi aku berpikir, orang luar saja ia perlakukan dengan kasar, apalagi dengan orang yang ia temui setiap hari,” kata Caitlyn.
Irene menambahkan Caitlyn, “Bahkan aku selalu takut mendekatinya saat dia marah. Karena, dia seringkali melemparkan banyak barang, bahkan tanpa memperhatikan orang disekitarnya.”
“Oh, aku jadi penasaran. Apa kamu sering dipukuli olehnya di rumah?” tanya Elijah dengan suara mengejek.
Charlotte menggertakan giginya, lalu mendengus kesal karena harus meladeni orang-orang yang ingin membuatnya naik darah ini. “Rumor hanyalah rumor, kalian tidak bisa berasumsi bila kelakuan asli Elliot benar-benar persis seperti rumor jika tidak mengenalnya secara langsung.”
Irene mencibir, “Tidak perlu berbohong hanya untuk menutupi rumah tanggamu yang hancur. Bagaimana mungkin orang kasar itu bisa berubah dengan cepat?”
Sebelum Charlotte menanggapi, Caitlyn sudah lebih dahulu menyahut. “Jika memang dipukuli, kamu tidak boleh melawan, bagaimana pun juga kamu itu adalah pagar penghalangnya untuk menjadi pewaris utama LNG Corporation. Wajar saja bila Tuan Kedua Landegre sangat ingin memukulimu setiap hari.”
Caitlyn lantas mendekat, kemudian berbisik dengan suara rendah, “Charlotte, kamu itu tidak ada gunanya. Jadi, tetaplah diam dan berkorban supaya keluarga kita bisa tetap mendapatkan suntikan dana dari Keluarga Landegre,”
Kedua tangan Charlotte bergetar karena menahan amarah. “Tujuan utama kalian menikahkanku dengan keluarga Landegre adalah untuk menjualku?”
Charlotte sudah mengetahui hal itu sejak lama. Namun, saat mendengar fakta itu keluar langsung dari mulut keluarganya, Charlotte merasa hatinya terenyuh sakit.
Kali ini, Elijah tertawa pelan, sorot matanya menatap Charlotte dengan pandangan rendah. “Memangnya apalagi? Mana mungkin kami menikahkanmu supaya kamu bisa hidup dengan nyaman. Jika Tuan Elliot merupakan pria yang bertanggung jawab dan dermawan, lebih baik kami menikahkan Caitlyn dengannya alih – alih kamu.”
Kali ini, Charlotte yang membalas dengan cibiran. “Sangat percaya diri, memangnya kalian pikir keluarga Landegre akan menerima lamaran keluarga Baxter apabila Ayah menawarkan Caitlyn alih-alih aku?rumor Caitlyn Baxter, kamu bahkan tak memiliki kemampuan kecuali bersolek di depan cermin.”
Brianna Landegre bahkan bisa menerima tawaran pernikahan karena tahu Charlotte tidak bisa memiliki anak. Jika Caitlyn yang ditawarkan, jelas mereka akan menolaknya mentah-mentah. Meski begitu, Charlotte ingin menumpahkan minyak ke dalam api dengan cara menghina kemampuan Caitlyn.
“Kau! Apa kau ingin berkata kalau dirimu lebih unggul dariku?! Lagipula, apa yang bisa kau banggakan dari pria kasar seperti dia?” pekik Caitlyn.
“Dia tidak pernah kasar kepadaku, Caitlyn. Seperti yang kukatakan, rumor hanyalah rumor.”
Caitlyn, “Omong kosong, kamu pasti berkata demikian karena ingin membuatku menyesal, kan? Walau Tuan Kedua Landegre memang tidak berlaku kasar, tetap saja dia adalah putra Landegre yang paling tidak berguna. Semua orang selalu bergunjing tentang betapa buruknya Tuan Kedua Landegre dalam menjalankan bisnis. Pria seperti itu, cepat atau lambat pasti akan membuatmu menderita.”
Sebelum Charlotte membalas lagi, tangan Caitlyn lebih dahulu menelusup masuk ke balik helaian rambut Charlotte dan menarik rambut bagian belakang Charlotte dengan kasar. “Pada akhirnya memang pecundang akan menikah dengan pecundang.”
Bersambung…
Akan dilanjutkan Session 4 jadi nantikan update selanjutnya ya!