Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Bersetubuh Dengan Kakak Berjilbab di Pesantren

Bersetubuh Dengan Kakak Berjilbab di Pesantren

Perlu diingat untuk para pembaca Ngocokers yang setia bahwasanya tulisan ini hanya sebatas hiburan semata. Cerita ini tidak ada tujuan untuk menjelekkan salah satu pergerakkan islam.

Saya harap para pembaca Ngocokers untuk bijak dalam cerita dewasa ini. Mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian ataupun cerita, maka itu semua hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan dari penulisnya.

Cerita Sex Kontroversi Pesantren – Dari belakang seorang pemuda berjalan mengendap. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping seorang wanita berusia 24 tahun. Gadis bermata indah itu tersenyum menyambut pelukan hangat dari seseorang yang amat ia sayangi. Ia memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.

Kedua mata mereka saling menatap, menimbulkan getaran-getaran syahwat yang semakin membakar birahi mereka berdua. Rayhan mendekatkan wajahnya, bibir tebalnya menyentuh lembut bibir Zaskia yang kemerah-merahan.

Zaskia memejamkan matanya, menikmati lumatan lembut dari sang Adik yang tengah mengulum bibirnya. Ia membuka sedikit bibirnya, membiarkan lidah adiknya masuk kedalam mulutnya, menjamah bagian dalam mulutnya, membelit lidahnya, dengan mesrah, seperti sepasang ular yang tengah memadu kasih.

Kedua tangan Rayhan kebawah, ia menyentuh dan membelai bongkahan pantat Zaskia yang terasa kenyal dan padat. “Eehmmpss…. Hmmmpss…”

Cerita Sex Kontroversi Pesantren Ngocoks Ciuman mereka semakin panas, ketika jemari Zaskia menyentuh kemaluan Rayhan yang ternyata sudah ereksi maksimal. Wanita berparas cantik itu melepas ciuman mereka, ia turun kebawah, berlutut di hadapan Rayhan. Jemari lembutnya kembali membelai tonjolan yang ada di celana Rayhan.

“Kakak buka ya Dek!” Pinta Zaskia. Rayhan menganggukan kepalanya, sembari membelai kepala Zaskia yang terbungkus jilbab segi empat berwarna biru muda.

Dengan perlahan jemari lentik itu membuka pengait celana Rayhan. Lalu ia menarik turun celana Rayhan bersama celana dalamnya yang berwarna coklat tua. Sedetik kemudian, batang kemaluan Rayhan yang berukuran 22Cm melompat keluar dari dalam sarangnya, terpampang di hadapannya.

“Eessstt…” Rayhan mendesis nikmat ketika jemari halus Zaskia menggenggam batang kemaluannya. Zaskia menatap Rayhan sembari tersenyum menggoda. “Enak Dek? Kamu suka?” Tanya Zaskia, sembari menggerakan tangannya maju mundur, mengocok kemaluan Adiknya.

“Enak banget Kak! Aaahkk… Hisap rudalku Kak.” Pinta Rayhan, dia kembali membelai kepala Kakak kandungnya.

Saat wajahnya semakin dekat dengan kemaluan Rayhan. Zaskia dapat mencium aroma menyengat dari batang kemaluan Rayhan yang membuatnya kian terbakar birahi. Perlahan Zaskia menyapu permukaan kepala rudal Rayhan dengan ujung lidahnya, lalu turun menelusuri batangnya yang panjang. Sementara jemarinya membelai lembut kantung pelirnya Rayhan.

Tidak ada satu incipun dari kemaluan Rayhan yang terlewat dari sapuan lidahnya. Setelah batang kemaluan Rayhan basah oleh air liurnya, Zaskia melahap rudal Rayhan. Wanita berhijab biru itu mengoral rudal Rayhan dengan mulutnya.

“Oughkk… Astaghfirullah! Enaaak Kak.” Keluh Rayhan. Sluuuppsss… Sluuuppsss… Sluuuppsss…

Zaskia mengombinasikan kulumannya dengan kocokan telapak tangannya di batang kemaluan Rayhan. Membuat pemuda berusia belasan tahun itu mengerang nikmat.

Permainan mulut, lidah dan telapak tangan Zaskia membuat Rayhan rasanya ingin meledak. Aliran darahnya memanas, berkumpul di satu titik dan siap untuk di tumpahkan kapan saja. Tetapi sebelum itu terjadi, Rayhan segera meminta Zaskia berhenti mengoral rudalnya.

Ia meminta Zaskia kembali berdiri. Lalu bibirnya mencium dan melumat bibir Zaskia yang telah memberikan servis yang luar biasa untuk Rayhan junior.

Sembari berciuman, Rayhan menarik turun resleting gamis Zaskia yang berada di punggungnya. Kemudian dari pundaknya, Rayhan menarik turun gamis Zaskia dengan perlahan. Tampak pundak Zaskia yang putih mulus terpampang di hadapannya. Cup… Rayhan mengecup mesrah pundaknya, sembari terus menarik turun gamis Zaskia hingga jatuh kelantai.

Di hadapannya saat ini seorang wanita dewasa berdiri di depannya hanya mengenakan bra berwarna hitam berukuran 34E, celana dalam jenis g-string yang menutupi pubik serambi lempitnya, dan kaos kaki sepanjang betis berwarna putih bersih.

Kedua jari tangan Rayhan menyusup masuk ke tali bra Zaskia. Lalu ia menurunkannya dengan perlahan. Tidak sampai disitu saja, Rayhan juga melipat kebawah cup branya, hingga meninggalkan sepasang gunung kembar yang terlihat sangat indah, dengan kedua puting mungil yang kemerah-merahan.

Rayhan menelan air liurnya, tak tahan dengan keindahan yang ada di hadapannya saat ini. “Hisap tetek Kakak Dek!” Pinta Zaskia.

Rayhan menangkup payudara Zaskia. “Cuman di hisap saja Kak?” Goda Rayhan, dia meremas lembut gumpalan daging gemuk yang berada di telapak tangannya.

“Oughkk… Enak! Lakukan sesuka kamu Dek. Tetek Kakak milik kamu sayang.” Ujar Zaskia dengan suara mendesah, membuat Rayhan semakin bersemangat mengerjai sepasang payudara Zaskia yang sempurna itu.

Anak remaja itu memposisikan Kakak kandungnya untuk duduk diatas meja rias. Lalu Rayhan membungkukkan tubuhnya, sembari mendekatkan wajahnya di hadapan payudara Zaskia. Mulutnya terbuka lebar, dan melahap payudara Zaskia. Sementara tangannya yang menganggur meremas payudara Zaskia.

“Oughkk…!” Desah Zaskia. Kedua tangan Zaskia mencengkram erat pinggiran meja hias miliknya dengan wajah cantiknya yang mendongak keatas, merasakan setiap sentuhan di payudaranya yang merangsang tubuh indahnya.

Secara bergantian Rayhan merangsang, menyentuh payudara Zaskia dengan bibir, lidah dan tangannya. Ia juga meninggalkan bekas merah di sana.

“Aahkkk… Ray! Aduh… Kakak gak tahan sayang!” Erang Zaskia. Rayhan menggigit puting Zaskia, sembari membelai paha mulus Kakak kandungnya yang selama ini selalu tersembunyi di balik gamisnya.

Jemari Rayhan terus naik, menuju gundukan tebal yang berada diantara kedua paha mulus Zaskia. Jari telunjuknya menyentuh lembut lembah terlarang tersebut, lalu bergerak mengikuti garis serambi lempit Zaskia.

“Aduh Dek! Enaaak.” Pinggul Zaskia tersentak-sentak. Telapak tangan kanannya meremas lengan kanan Rayhan yang jarinya tengah membelai, menjamah serambi lempitnya. “Apanya yang enak Kak?” Goda Rayhan.

Zaskia menggigit bibir bawahnya, membuatnya terlihat sensual. “Itu Kakak sayang, enak!” Desah Zaskia, wajahnya bersemu merah karena malu.

“Iya apa? Adek gak ngerti Kak.”

“serambi lempit Kakak?”

“Eh… Ini namanya serambi lempit Kakak!” Bisik Rayhan, ia menarik celana dalam Zaskia keatas, sehingga permukaan kain G-string Zaskia menggesek-gesek bibir kemaluannya.

Zaskia mendekap mulutnya, ia merasakan cairan cintanya keluar semakin banyak. “Aduh… Aahkkk… Enak! Eehmm…” Desah Zaskia, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha melawan rasa nikmat yang di berikan Rayhan kepada dirinya.

“Jawab Kak.” Desak Rayhan.

“I-iya serambi lempit Dek!” Jawab Zaskia terputus-putus. “Kakak mau pipis Dek.” Melas Zaskia, ia semakin menggelinjang tidak beraturan, ketika orgasme itu hampir tiba.

Rayhan tersenyum tipis. Ia ingin sedikit mengerjai Kakaknya sehingga ia menghentikan aksinya sejenak. Zaskia yang hampir saja klimaks mencoba menarik tangan Rayhan agar kembali menarik-narik celana dalamnya. Tetapi Rayhan menolaknya, ia malah meminta Zaskia untuk kembali turun dari atas meja hiasnya.

Zaskia hanya pasrah menuruti kemauan Rayhan, walaupun ia merasa kecewa.

Mereka kembali berciuman selama beberapa detik. Kemudian Rayhan meminta Zaskia untuk menghadap kearah cermin meja riasnya. Rayhan menarik pantat Zaskia agar sedikit menungging.

“Kamu mau apa Dek?” Tanya Zaskia. Kedua sikunya bertumpu diatas meja rias.

Anak remaja berusia belasan tahun itu tidak menggubrisnya. Ia membelai punggung telanjang Zaskia. Lalu melepas pengait bra Zaskia dengan perlahan dan melempar bra berwarna hitam itu ke sembarang tempat.

Belaian kuku Rayhan turun menuju pinggang ramping Zaskia, membuat wanita yang sampai detik ini masih menjaga kesuciannya itu menggelinjang geli.

Rayhan berlutut di belakang tubuh Zaskia. Sementara telapak tangannya membelai bongkahan pantat Zaskia yang besar tapi sangat kencang. Jari telunjuknya menyusup dan mengait tali G-string yang menyelip di dalam belahan pantatnya. Dengan satu tarikan, tali G-string tersebut membetot bibir kemaluan Zaskia yang telah berlendir.

“Auwww!” Pekik Zaskia manja. Mata mereka berusaha kembali bertemu, dan sedetik kemudian mereka berdua sama-sama tersenyum.

Kedua tangan Rayhan meraih pinggiran G-string yang di kenakan Kakaknya. Lalu dengan perlahan ia menarik turun kedua sisi celana dalam Zaskia, hingga melewati betisnya yang masih terbungkus kaos kaki berwarna putih. Dan lagi Rayhan membuang salah satu penutup tubuh Zaskia.

“Dek!” Lirih Zaskia malu.

Wanita cantik berusia 24 tahun itu menatap sayu kearah Rayhan, ketika anak remaja itu membuka pipi pantatnya, hingga anus dan lobang serambi lempitnya terlihat jelas oleh Adiknya. Sebagai wanita yang amat menjaga privasi nya itu, tentu apa yang di lakukan Rayhan sangat memalukan baginya. Tetapi di sisi lain, ia tertantang untuk melanjutkan kegilaannya.

Mula-mula Rayhan mencium bongkahan bokong Zaskia yang padat berisi itu. Lidahnya menjilati setiap inci pantatnya, terus turun menuju lubang sempit yang terlihat seperti kuncup bunga mawar yang belum mekar. Zaskia tersentak kaget saat merasakan lidah Rayhan menyapu lobang anusnya.

Dia menatap Adik kandungnya tak percaya sembari menggelengkan kepalanya. Tetapi ia juga tidak bisa menghentikan aksi Rayhan, karena sejujurnya ia menikmati sensasinya.

“Ahkk… Dek! Kamuuu… Aduh!” Pantat Zaskia terdorong ke depan ketika ujung lidah Rayhan menusuk anusnya.

Rasa asin di ujung lidah Rayhan, mengantarkan getaran nikmat ke sekujur tubuhnya. Membuat Rayhan semakin betah berlama-lama menjilati anus Kakak kandungnya. Sementara jemari Rayhan yang lainnya, membelai bibir kemaluan Zaskia. Ia menggosok-gosok clitoris Zaskia yang semakin membengkak.

Zaskia membenamkan wajahnya di atas meja. Wajah cantiknya meringis menahan rasa nikmat yang luar biasa. Bahkan jauh lebih nikmat dari sebelumnya.

Kombinasi lidah Rayhan yang bermain di anus dan jarinya yang menggosok clitoris Zaskia. Membuat wanita muda itu dengan cepat kembali di kuasai birahi. Tubuh menegang, dan keringat dingin mengucur deras, membasahi tubuh mulusnya. Ketika orgasme yang tadi tidak kunjung datang, kini sudah tidak bisa dihentikan lagi.

Tubuhnya bergetar hebat, matanya terbelalak lebar dengan wajah bersemu merah seperti kepiting rebus.

“Adeeeeeeeeeeekkkkkkkk….. Banguuuuuuunnn….”

Ngiiiiiiiiing…..

Tubuh Rayhan tersentak kaget, dan telinganya terdengar suara dengungan yang membuatnya harus mengusap-usap telinga bagian kanannya untuk menghilangkan efek dengungannya.

Rayhan menoleh ke samping, ia melihat seorang wanita cantik tengah berjongkok di samping tempat tidurnya dengan senyuman iblis tanpa dosa, setelah mengacaukan mimpin indahnya. Rayhan mengeram kesal, tapi tentu saja ia tidak akan pernah berani berteriak di depan Kakak kandungnya.

Zaskia mengangkat alisnya. “Masih mau tidur?” Ledek Zaskia. Rayhan mendesah pelan.

“Nyebelin!” Sungut Rayhan.

“Bodoh.” Zaskia tertawa tipis. “Kamu sih Dek, di bangunin baik-baik gak bangun. Ya udah Kakak pake cara terakhir buat membangunkan kebo kayak kamu.” Ujar Zaskia senang, karena berhasil mengerjai Adik kandungnya.

“Sakit ni.” Rengek Rayhan.

Zaskia mendekat, ia duduk di tepian tempat tidur Adiknya. “Sakit ya? Kaciaaan… Cini-cini biar Kakak tiup.” Ujar Zaskia dengan nada suara yang di buat menirukan anak kecil. Jemari halusnya menyentuh daun telinga Rayhan, sembari meniup kuping Rayhan.

Jantung Rayhan berdetak kian cepat saat ia dapat melihat jelas bibir merah Zaskia yang meruncing ke depan, seakan meminta untuk di lumat. Gleeek… Rayhan menelan air liurnya dengan bersusah paya, menahan birahinya yang di rasakan semakin membara. Andai saja yang ada di sampingnya saat ini bukan saudara kandungnya, mungkin Rayhan akan nekat memperkosanya.

“Udah sembuh!” Ujar Zaskia sembari mengucek rambut Adiknya.

“Terimakasih ya Kak!”

Zaskia menganggukkan kepalanya. “Sama-sama adikku sayang! Sekarang kamu ambil wudhu ya, waktu subuh sudah mau hampir habis.” Ujar Zaskia.

Rayhan menyingkap badcover yang menutupi sebagian tubuhnya, lalu turun dari atas tempat tidurnya. Ia berdiri sejenak di depan Kakaknya sembari merenggangkan otot-otot tubuhnya yang dirasa kaku. Sementara Zaskia yang berada di dekatnya tampak meringis ketika matanya tidak sengaja melihat tonjolan di celana Rayhan yang sangat besar.

Walaupun Rayhan Adik kandungnya, tetapi tetap saja sebagai seorang wanita dewasa, ia juga memiliki rasa penasaran dengan bentuk kelamin Rayhan yang sepertinya besar dan panjang.

“Tunggu Ray!” Cegah Zaskia ketika Rayhan hendak keluar kamar. “Mandi wajib dulu.” Bisik Zaskia nyaris tidak terdengar sembari menunjuk tonjolan di celana Rayhan menyisakan bercak sperma Rayhan di sana.

Mata Rayhan tertuju di celananya. “Eh… Iya, maaf Kak!” Lirih Rayhan, tapi ia tidak berusaha menutupinya.

“Kebiasaan!” Sungut Zaskia.

*****

Tidak terasa sudah setengah tahun Rayhan tinggal di pesantren. Awalnya ia menolak keras ketika Ibunya meminta dirinya untuk tinggal di pesantren, karena Rayhan merasa pesantren bukanlah tempatnya. Tetapi setelah di bujuk oleh Zaskia, akhirnya Rayhan bersedia mondok di pesantren. Dan ternyata pesantren tidak seburuk yang ia pikirkan dulu.

Tata cara mengajar mereka kini lebih modern dan tentunya di padu dengan pelajaran agama yang memang lebih dominan dari pada pelajaran umum. Awalnya Rayhan memang sedikit ke sulitan untuk beradaptasi, tetapi Kak Zaskia dengan sabar menyemangati dan membimbingnya hingga akhirnya ia mulai terbiasa dengan lingkungan barunya yang ternyata sangat menyenangkan.

Ya… Menjadi santri bukan hal yang menyedihkan, bahkan sangat menyenangkan. Apa lagi Rayhan kini tinggal berdua dengan Kakak kandungnya yang sudah sejak dulu ia kagumi. Bahkan mimpi basah pertamanya bersama Zaskia.

Mereka baru saja selesai sarapan. Rayhan membantu Zaskia membawakan piring kotor menuju wastafel. Seperti biasanya mereka berbagi tugas. Zaskia mencucinya, sementara Rayhan membilas piring maupun gelas minuman mereka. Karena peralatan makan mereka yang tidak begitu banyak membuat pekerjaan mereka cepat selesai

“Kak, aku pamit dulu ya!” Ujar Rayhan.

Zaskia menganggukan kepalanya. “Rajin-rajin sekolahnya jangan bandel.” Nasehat Zaskia, sembari memberikan tangannya untuk di cium Rayhan.

Zaskia dapat merasakan betapa hangatnya bibir Rayhan ketika menyentuh punggung tangannya.

“Iya Kak!” Jawab Rayhan.

“Ini baru adik Kakak!” Ujar Zaskia senang.

Wanita berusia 24 tahun tersebut, sempat mangantar Rayhan sampai ke depan pintu rumah mereka. Zaskia kembali masuk ketika bayangan Rayhan benar-benar menghilang dari dalam pandangannya.

Di jalan setapak, yang di lapisi krikil Rayhan melangkah gontai menuju rumah sahabatnya. Sesekali matanya berkeliaran memandangi beberapa santri wati yang tengah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Sungguh Rayhan merasa begitu beruntung, karena rumah Kakaknya berada di kompleks putri, sehingga ia bisa setiap hari mencuci mata.

Ketika lagi asyik-asyiknya memandangi santri wati, tiba-tiba seseorang menegur Rayhan membuatnya terpaksa menghentikan langkah kakinya.

“Kamu bisa bantu Ustadza Ray?” Tanya seorang wanita yang tengah berdiri sembari meluruskan pinggangnya. Tampak di hadapannya ada sebuah baskom yang berukuran besar, dan di dalamnya terdapat pakaian yang baru saja selesai di cuci.

Rayhan menghampiri wanita berhijab ungu tersebut. “Apa yang bisa ana bantu Ustadza?” Tanya Rayhan.

“Bantu Ustadza membawa baskom ini ke sana.” Dewi menunjuk tiang jemuran yang berada tidak jauh dari Rayhan.

Tanpa banyak bicara, Rayhan segera mengambil baskom tersebut, dan harus di akui baskom tersebut cukup berat. Rayhan yakin, kalau Ustadza Dewi sudah cukup lama tidak mencuci pakaiannya hingga bisa sebanyak ini.

Rayhan membawa baskom tersebut dan meletakkannya di dekat tiang jemuran.

“Syukraan Ray!”

“Syukraan lak maratan uhkraa.” Jawab Rayhan sembari tersenyum manis kearah Dewi.

“Boleh minta tolong lagi?”

Rayhan mengangguk cepat. “Tentu saja boleh Ustadza! Apa yang bisa ana bantu?” Tanya Rayhan, yang diam-diam tengah mengamati gamis Ustadza Dewi yang sedikit ngejiplak karena terkena percikan air.

“Tolong temani Ustadza menjemur pakaian! Kamu bisa lihat sendiri kan? Banyak sekali yang harus di jemur.” Keluh Dewi, ia menyeka keringat yang membasahi dahinya. Ya… Sudah satu Minggu ini pesantren Tauhid di guyur hujan deras, sehingga ia tidak ada satupun pakaian yang bisa ia jemur.

Beruntung pagi ini cuaca cukup bersahabat. Dan Dewi berharap hari ini hujan tidak turun agar pakaiannya bisa cepat kering.

Rayhan mengerti, ia segera mengambil yang berat-berat terlebih dahulu seperti gamis milik Ustadza Dewi dan anaknya. Setelah memeras pakaian tersebut Rayhan menggantungkannya di tali jemuran yang terbuat dari kawat yang cukup tebal.

“Kamu yang jemur, Ustadza yang memerasnya.” Saran Ustadza Dewi.

Rayhan menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu Ustadza! Biar ana saja yang melakukannya.” Ujar Rayhan, tapi Dewi tentu saja tidak tega kalau semuanya di lakukan Rayhan seorang diri.

“Tidak apa-apa Ray! Biar cepat selesai.”

Ustadza Dewi menyampirkan jilbab lebarnya kebelakang, agar tidak menganggu. Lalu ia membungkuk untuk memeras pakaian miliknya. Dan pada saat bersamaan, Rayhan tengah melihat kearahnya. Mata Rayhan terbelalak, ketika ia tidak sengaja melihat belahan payudara Ustadza Dewi dari kancing gamis yang terbuka.

Pemandangan indah tersebut tentu saja membuat Rayhan menjadi gugup. Tapi ia dengan cepat berhasil menenangkan dirinya. Tapi diam-diam Rayhan tetap mencuri pandang kearah belahan payudara Ustadza Dewi yang cukup menggoda kelakiannya.

“Terimakasih ya Ray! Kamu baik sekali.” Puji Dewi, ia kembali memamerkan senyuman indahnya.

Pundak Rayhan sedikit naik mendapat pujian dari salah satu Ustadza idolanya itu. “Bukankah Ustadza yang pernah mengajarkan ana kalau kita sesama muslim harus saling membantu satu sama lainnya.” Jelas Rayhan, membuat Dewi merasa bangga akan perbuatan terpuji muridnya.

“Antum benar Ray! Orang yang suka membantu sesamanya akan mendapatkan pahala yang besar dari Tuhan.” Tambah Dewi. Tapi Rayhan tidak begitu mendengarnya, ia terlalu fokus kearah payudara Ustadza Dewi.

Wajar saja kalau Rayhan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan matanya. Mengingat wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang Ustadza yang selama ini selalu menjaga penampilannya dengan berpakaian yang sangat tertutup. Tetapi siapa yang menyangkah, ia malah mendapatkan kesempatan bisa melihat sepasang gunung kembar milik Ustadza Dewi.

Seperti pepatah yang mengatakan, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Dan itu terjadi kepada Rayhan. Aksinya yang suka mencuri pandang kearah belahan payudara Ustadza Dewi, akhirnya ketahuan juga.

Dewi menangkap basah mata Rayhan yang tengah melirik kearah belahan payudaranya. Tetapi bukannya menegur apa lagi marah, Dewi malah berfikir ingin memberi sedikit hadiah untuk Rayhan, karena pemuda tersebut sudah membantunya dengan tulus. Bagi Dewi tidak ada salahnya kalau dirinya sedikit berbagi.

“Capek Ray!” Keluh Dewi, ia kembali merenggangkan pinggang.

Kemudian ia duduk beralaskan tanah, kedua lututnya ia lipat keatas sehingga bagian bawah gamisnya terbuka. Mata Rayhan terbelalak lebar ketika melihat isi yang ada di dalam gamis Ustadza Dewi.

Terlihat sepasang paha mulus Dewi yang tanpa cacat, dan kain segitiga berwarna hitam yang membalut selangkangannya. Keindahan yang terpampang di hadapannya, membuat tubuh pemuda itu menegang. Raut wajah Rayhan mendadak berubah, sementara nafasnya mulai terasa berat. “Gleeek…” Dengan bersusa paya Rayhan menelan air liurnya yang terasa hambar.

Gila… Benar-benar gila apa yang dilakukan Dewi. Sebagai seorang Ustadza seharusnya ia tidak menggoda muridnya, apa lagi dengan cara memamerkan auratnya di depan pria yang bukan muhrimnya. Tapi Dewi malah melakukannya, seakan ia tidak takut akan azab yang menimpa dirinya atas perbuatannya.

Janganlah sesekali kalian mengumbar aurat, karena sesungguhnya, itu bagian dari syetan.

“Kok bengong?” Tegur Dewi.

Rayhan tersentak sadar atas kekhilafannya. “Eh… Iya Ustadza, biar ana saja yang menyelesaikannya. Ustadza istirahat saja dulu.” Saran Rayhan, Ustadza Dewi tersenyum sembari menyebarkan kedua kakinya hingga semakin terbuka.

Rayhan berjongkok di depan Dewi sembari memeras pakaian Dewi yang masih basah. Tetapi matanya sesekali mengintip kearah selangkangan Ustadza Dewi yang terlihat gemuk.

Satu persatu Rayhan menjemur pakaian Dewi, dan selama itu juga Rayhan merasa sangat tersiksa. Belum lagi ketika ia harus memegang dalaman Ustadza Dewi dan putrinya Nikita, dengan berbagai warna dan bentuknya yang terkadang aneh. Ada yang berenda, ada yang berbentuk seperti tali, kupu-kupu, dan ada juga yang di bagian bawahnya terbuka.

“Akhirnya selesai juga.” Rayhan mendesah puas.

Dewi tersenyum lalu ia berdiri. Sekali lagi Rayhan melihat celana dalam Dewi untuk terakhir kalinya. “Terimakasih banyak Ray! Ustadza gak tau deh kalau gak ada kamu.” Ujar Dewi, ia merasa puas atas pekerjaan Rayhan yang cukup rapi dalam menjemur pakaiannya di tiang jemuran.

“Sama-sama Ustadza, saya senang bisa membantu Ustadza! Kalau nanti ada lagi yang bisa ana bantu, Ustadza bilang aja. Insyaallah ana akan bantu.” Ujar Rayhan.

“Tentu, Ustadza akan memanggil kamu.”

“Kalau begitu ana pergi dulu Ustadza!” Pamit Rayhan.

Dewi mengangguk. “Ya, hati-hati di jalan. Sekolah yang rajin biar bisa jadi orang besar.” Nasehat Dewi.

“Insyaallah Ustadza.”

Setelah kepergian Rayhan, Dewi memasukan tangannya kedalam gamisnya. Ia mendapatkan selangkangannya yang sudah terlalu basah. “Anak itu membuatku terangsang.” Gumam Dewi. Ia tersenyum nakal.

*****

3 jam sebelumnya di tempat yang berbeda…

Di dalam kamar berukuran 5X6 itu terdapat sepasang Suami Istri yang baru saja selesai beribadah. Laras melepas mukenanya, dan tidak lupa ia melipatnya agar rapi. Lalu meletakkan kembali mukena miliknya di gantungan khusus yang beradah di samping lemari besar pakaian miliknya.

KH Umar tersenyum memandang Istrinya. Wanita yang telah menemaninya selama sepuluh tahun terakhir, setelah mendiang Istri pertamanya meninggal dunia.

“Kenapa Bi?” Tanya Laras, setelah menangkap basah mata Suaminya yang tengah memandangi lekuk tubuh indahnya.

KH Umar mendekati Istrinya, lalu memeluknya dari belakang. “Apakah Abi sudah tidak boleh memandang tubuh indah Umi.” Bisik KH Umar di dekat telinga Istrinya.

“Boleh dong Bi! Kan Umi milik Abi.” Laras memutar tubuhnya hingga mereka berhadap-hadapan.

Kedua tangan Laras membelai wajah keriput KH Umar yang di tumbuhi jenggot panjang yang mulai memutih di makan usia. Ya… Sekilas mereka berdua seperti anak dan orang tua, mengingat jauhnya perbedaan usia mereka berdua. Saat ini KH Umar sudah berusia 76 tahun, sementara Laras baru berusia 42 tahun.

KH Umar mendekatkan bibir hitamnya ke bibir merah Istrinya. Ia mengecup mesrah bibir Laras, dan Laras mencoba membalas lumatan bibir Suaminya.

Mereka berciuman selama beberapa detik. Kemudian KH Umar membawa Laras menuju ke pembaringan. Pria berusia 76 tahun itu menanggalkan sarungnya, sementara Laras menanggalkan celana tidurnya sekaligus dalamannya.

“Ayo Bi!” Ajak Laras.

KH Umar menindih tubuh Laras yang telah membuka kedua kakinya selebar mungkin. Tampak bibir KH Umar komat-kamit membaca doa. Selesai berdoa KH Umar menusukan kemaluannya yang sudah ereksi.

Laras dapat merasakan sedikit geli di kemaluannya ketika rudal KH Umar masuk kedalam rongga kemaluannya.

“Aahkk…!” Desah KH Umar, ketika merasakan jepitan serambi lempit Istrinya yang terasa begitu sempit. Maklum saja, Laras belum pernah melahirkan, sehingga serambi lempitnya masih terasa seret walaupun di masuki rudal KH Umar yang tergolong kecil dan agak lembek.

Laras memejamkan matanya, berusaha menikmati setiap gesekan kemaluan mereka berdua. Seiring dengan waktu wanita yang telah memasuki kepala empat itu akhirnya mulai terbakar birahi, membuat serambi lempitnya menjadi semakin licin karena lendir kewanitaannya yang mulai basah.

Tapi sayangnya rasa nikmat itu tidak bertahan lama. Baru beberapa menit KH Umar sudah tidak mampu mempertahankan permainannya. Tubuh tua itu menegang sesaat hingga akhirnya menumpahkan spermanya kedalam rahim Istrinya.

“Terimakasih Umi.” Ujar KH Umar sembari rebahan di samping Laras.

Walaupun merasa kecewa, Laras tetap berusaha tersenyum semanis mungkin. Karena bagaimanapun juga, kepuasan suaminya menjadi prioritas baginya. “Sama-sama Abi.” Jawab Laras sembari turun dari tempat tidurnya.

“Oh iya Umi, hari ini keponakan Abi mau ke rumah kita.” Ujar KH Umar sembari memandang bulatan pantat Istrinya yang sedikit bergoyang ketika ia mengenakan kembali celana dalamnya. “Mungkin dia akan tinggal beberapa hari di rumah kita.” Lanjut KH Umar.

“Siapa Bi?”

KH Umar tampak mendesah. “Daniel Umi.” Jawabnya.

“Ooo!” Bibir Laras membulat, sembari melepas baju piyama miliknya yang tampak basah karena keringat. “Aku bangunin Azril dulu ya Bi.” Laras mengambil kimono miliknya dan memakainya. Tidak lupa ia juga mengenakan jilbab santai yang tidak begitu besar.

Selepas kepergian Istrinya, KH Umar masih terlihat melamun. Sebenarnya ia tidak yakin untuk membiarkan Daniel tinggal bersama mereka untuk sementara waktu, mengingat Daniel adalah aib bagi keluarga besar KH Umar.

Karena perselingkuhan Daniel dengan Ibu Tirinya, membuat saudara KH Umar meninggal dunia karena stres. Tetapi KH Umar juga tidak bisa menolak keponakannya tersebut, karena bagaimanapun juga Daniel masih keluarganya, apa lagi saat ini tidak ada satupun keluarga besarnya mau menampung Daniel yang baru keluar dari hotel prodeo.

KH Umar berharap keponakannya itu mau berubah. Dan ia pikir Daniel berhak untuk mendapatkan kesempatan ke dua dalam memperbaiki dirinya. Semoga saja dengan Daniel tinggal di pesantren ia bisa menjadi pemuda yang lebih baik lagi.

Sementara itu di kamar sebelah, Laras tengah duduk di pinggiran tempat tidur putranya yang tengah terlelap. Dengan perlahan ia mengusap lembut kening Azril.

Walaupun anak remaja yang tengah tertidur di dekatnya bukanlah anak kandungnya. Tetap saja Laras sangat menyayangi dirinya seperti anak kandungnya sendiri. Dulu saat Azril masih kecil, Laras ikut merawat dan membesarkannya. Sehingga tidak heran, ketika Kakak nya meninggal, ia di minta untuk menggantikan posisinya menjadi Ibu Azril.

Laras menyandarkan punggungnya, sembari menatap kamar Azril yang selalu rapi. Di pojokan kamarnya terdapat meja belajar, dan rak buku yang tersusun sangat rapi.

Sungguh Laras merasa bangga memiliki anak seperti Azril. Selain patuh terhadap orang tua, Azril juga anak yang berprestasi. Satu bulan yang lalu, mereka merayakan keberhasilan Azril yang telah berhasil menghafal tiga puluh Juzz. Rasanya sangat jarang menemukan anak seusia Azril bisa menghafal 30 juz.

“Bangun Nak! Subuh dulu.” Panggil Laras lembut.

Tubuh Azril menggeliat, dan sedetik kemudian ia membuka matanya. Laras menyambut pagi Azril dengan senyuman terbaiknya. Dan tanpa di sadari Laras, senyumannya membuat anak remaja tersebut menjadi salah tingkah.

Azril segera bangun, ia duduk di atas tempat tidurnya sembari melihat kearah jam dinding kamarnya dengan motif Spiderman. “Astaghfirullah! Sudah setengah enam.” Gumam Azril.

“Masih ada waktu!” Laras membelai anak rambut Azril.

Laras mengerti kenapa Azril akhir-akhir ini sering bangun terlambat. Sehingga ia memakluminya.

Azril melihat kearah Ibu Tirinya. Dalam diam ia menelan air liurnya yang terasa hambar, ketika matanya menangkap siluet belahan payudara Laras diantara lipatan kimono yang di kenakan Laras. Sebagai anak remaja, sudah sewajarnya kalau Azril terangsang melihat pemandangan indah tersebut.

Tetapi karena Azril anak yang baik, ia cepat sadar akan kesalahannya. Buru-buru Azril membuang mukanya, ia menatap kaligrafi yang ada dinding kamarnya yang bercat putih.

“Kalau ngantuk tidur lagi aja sebentar.” Suruh Laras. Ia merasa tidak tega melihat Azril menahan kantuk.

Azril tersenyum. “Takut kebablasan Umi.” Sahut Azril, tanpa melihat kearah Ibu Tirinya. Ia takut kembali khilaf, walaupun setan sudah berusaha membujuk dirinya untuk melihat kearah Laras yang pagi ini tampil seksi.

Tiba-tiba Laras menarik tangan Azril, membuat tubuh Azril limbung dan jatuh kedalam pelukan Laras. Dan beruntungnya atau sialnya bagi Azril, wajahnya bersandar tepat diatas payudara Ibu Tirinya, benda empuk yang menjanjikan sejuta kenikmatan. Dari jarak yang begitu dekat Azril dapat mencium aroma tubuh Ibunya.

Laras yang tidak mengerti akan penderitaan Azril, malah mendekap kepala Azril, membuat nafas Azril menjadi tersengal-sengal. Seumur hidupnya, baru kali ini wajahnya menyentuh payudara Laras.

Azril membuka matanya, dengan tatapan tidak percaya, ia dapat melihat jelas belahan bongkahan payudara Laras yang memang tidak mengenakan bra untuk melindungi payudaranya yang berukuran 36E. Bahkan ia bisa melihat puting Laras yang berwarna kecoklatan sebesar biji kacang.

Buru-buru Azril menurunkan pandangannya, dan kali ini ia di suguhi pemandangan yang tidak kalah indahnya. Sepasang paha mulus beserta gundukan serambi lempit Laras yang masih tersimpan di balik kain segitiga berwarna hitam yang telah lecek. Lagi Azril menelan air liurnya. Sungguh ia tidak menyangkah, kalau sepagi ini akan di suguhi pemandangan yang begitu indah, sekaligus menyesatkan.

“Hafalan… Hafalan… Hafalan…” Azril bergumam pelan. Ia percaya salah satu yang merontokkan hafalan salah satunya adalah hawa nafsu.

Laras mengecup lembut ubun-ubun kepala Azril. “Gimana hafalan kamu sayang?” Tanya Ashanty, ia sama sekali tidak sadar, kalau sikapnya yang bermaksud ingin membuat Azril merasa nyaman, malah membuat anak remaja itu menderita.

“Al-alhamdulillah U-Umii, masih lancar!” Jawab Azril gugup.

“Yang sulit dari menghafal itu, bukan waktu menghafalnya, melainkan menjaganya sayang! Karena itu kamu harus menjaga hafalan kamu dengan baik.” Jemari Laras membelai wajah Azril, sembari menatapnya.

“Iya Umi, insyaallah Azril akan menjaganya.” Jawab Azril ragu. Ia tidak yakin bisa mempertahankan hafalannya, kalau Ibu Tirinya tidak juga melepaskan dirinya.

Sebenarnya Azril ingin sekali meminta Laras untuk berhenti memeluknya. Tetapi ia takut Ibunya akan tersinggung. Tetapi kalau dia hanya diam saja, ia juga tidak yakin bisa menjaga pandangannya lebih lama lagi, karena penampilan Laras yang seksi seakan menari-nari di kelopak matanya, walaupun ia sudah memejamkan matanya.

*****

“Aurel, jangan lari…”

Di koridor asrama tampak dua anak remaja putri tengah berlarian, saling kejar-kejaran, membuat salah satu dari mereka bertiga hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan kedua sahabatnya yang seakan tidak pernah lelah bercanda satu sama lainnya. Dinda menutup kitabnya.

Ia menghampiri Aurel dan Asyifa yang tengah bergulat di lantai koridor asrama. Mereka berdua saling menggelitik satu sama lainnya.

“Astaghfirullah! Kalian berdua ini sudah keterlaluan, tidak mencerminkan akhlak seorang muslimah.” Ujar Dinda, menceramahi kedua sahabatnya yang malah cengengesan.

“Eh Ustadza.” Ujar Asyifa. Ia memperbaiki roknya yang tersingkap.

Aurel berdiri, lalu dengan gerakan cepat ia meremas payudara Asyifa, membuat gadis cantik itu terpekik kaget. “Aurel… Sini aku mau balas.” Panggil Asyifa, tetapi gadis yang di panggilnya itu sudah cukup jauh darinya.

“Astaghfirullah! Bisa stres aku melihat kalian berdua.” Omel Adinda.

Melihat Adinda yang mulai serius, mereka berdua kompak berhenti untuk saling mengganggu. Ya… Bagaimanapun juga mereka menganggap Adinda seperti Kakak, mengingat Adinda memang lebih tua setahun dari mereka. Selain itu sikap Adinda lebih dewasa di bandingkan mereka berdua.

Aurel mendekat, ia berdiri di samping Adinda yang sesekali menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka berdua, yang tidak jarang membuatnya setres.

“Kalian sudah besar, tidak baik bercanda seperti itu.” Nasehat Adinda. Walaupun apa yang mereka lakukan hanya sebatas bercanda, tetapi tetap saja bagi Adinda yang mereka lakukan sebuah perbuatan tabu.

“Iya Umi!” Jawab mereka serempak.

“Sudah hampir jam tujuh, mau sekolah gak?” Tegas Adinda. Aurel dan Asyifa saling pandang.

“Iya Umi.”

“Yuk.” Ajak Adinda sembari menghela nafas.

*****

Teng… Teng… Teng…

Bertepatan dengan suara bel tanda masuk sekolah, Rayhan, Doni, Azril, Nico dan santri lainnya bergegas masuk kedalam kelas mereka masing-masing. Rayhan dan Azril duduk di depan sementara Doni dan Nico duduk di belakang.

Tidak lama kemudian seorang wanita cantik dengan kaca mata minusnya masuk kedalam kelas. Tidak lupa ia mengucapkan salam, yang di jawab kompak oleh murid-muridnya. Ia duduk di kursinya sembari membuka daftar absen. Satu persatu nama yang di absensi ia panggil. Sebagian besar muridnya hadir, tetapi ada sebagian kecil yang tidak bisa mengikuti kelas.

Setelah agenda formal itu selesai, suasana kelas mendadak hening dan mencekam. Beberapa Santri terlihat tertunduk lesu, dengan keringat dingin yang membasahi tubuh mereka, dan beberapa lagi terlihat sibuk membuka kitab mereka.

Ustadza Anita turun dari kursinya, ia mengedarkan pandangannya kearah muridnya yang terlihat pucat pasi. Hanya ada beberapa santri saja yang terlihat tenang.

“Woi!” Bisik Doni.

Rayhan menoleh ke belakang. “Apa?” Jawab Rayhan dengan berbisik juga.

“Lo udah hafal?”

“Belum, Lo?” Doni menggelengkan kepalanya.

Rayhan bernafas lega, setidaknya ia punya teman berdiri nanti dan menerima hukuman bersama-sama. Sementara Azril, rasanya tidak mungkin ia tidak hafal, mengingat sahabatnya yang satu itu sangat rajin dan ia juga cepat menghafal.

Ustadza Anita menghela nafas, sebelum mengucapkan kalimat pamungkasnya. “Bagi yang belum hafal, silakan berdiri di depan kelas.” Suara Ustadza memang terdengar pelan, tetapi sangat tajam menusuk bagaikan pedang di hati para Santri yang belum hafal.

Satu persatu Santri maju ke depan kelas, tak ketinggalan Doni dan Rayhan, memang selalu menjadi langganan.

Ustadza Anita menggelengkan kepalanya, melihat murid-muridnya yang berjumlah delapan orang telah siap menerima hukuman darinya. Ia kembali melihat kearah santri lainnya yang masih duduk bangku mereka masing-masing. Anita tersenyum tipis, melihat sisa muridnya yang kurang lebih dua puluh orang.

“Jadi yang masih duduk sudah hafal semua?” Tanya Anita.

“Sudah Bu!” Jawab mereka kompak.

Ustadza Anita kembali duduk di kursinya. “Kalau ada yang tidak hafal, maka hukumannya akan semakin berat! Ustadza tanya sekali lagi.” Hening sejenak. “Bagi yang belum hafal, silakan berdiri di depan kelas.” Ulangnya, sembari menatap satu persatu wajah muridnya yang terlihat tegang.

Sekitar lima menit berlalu, belum ada satupun santri yang beranjak dari kursinya. Itu artinya sudah tidak ada lagi Santri yang belum hafal. Tetapi ketika Ustadza Anita hendak mengetes mereka, tiba-tiba seorang santri menggeser kursinya, lalu berjalan dengan wajah tertunduk menuju depan kelas.

Rayhan dan Doni kompak saling pandang, lalu pandangan mereka tertuju kearah Azril yang tengah melangkah gontai menuju barisan para pesakitan.

“Azril!” Lirih Ustadza Anita.

Ternyata bukan hanya Rayhan dan Doni saja yang sulit percaya kalau sahabat karib mereka yang semester lalu juara kelas bisa berada di barisan pesakitan. Ustadza Anita pun sulit untuk percaya, mengingat Azril selama ini di kenal sebagai anak yang pintar, dan selalu bisa menghafal setiap hafalan yang di berikan kepadanya.

Azril sadar kalau dirinya saat ini mendadak menjadi pusat perhatian teman-temannya, tetapi ia tidak mengubrisnya.

Sebenarnya semalam Azril telah menghafal hafalan yang di berikan Ustadza Anita. Tetapi entah kenapa, tiba-tiba ia sulit mengingat hafalannya. Mungkinkah karena kejadian tadi? Bisa jadi… Karena Azril sendiri berfikir seperti itu. Setiap kali ia ingin fokus mengingat hafalannya, secara tiba-tiba kemolekan tubuh Ibunya terbayang di dalam benaknya.

*****

Ketika jam menunjukan pukul sembilan pagi, lonceng kembali berdentang, menandakan jam istirahat pertama. Beberapa siswa berhamburan keluar kelas, ada yang ke asrama, duduk di taman, perpustakaan dan ada juga ke tempat pavorit mereka, kantin sekolah.

Pesantren Al Tauhid memiliki dua kantin, satu khusus santri perempuan dan satunya lagi di khususkan untuk santri laki-laki. Kantin mereka memang di pisah, sama halnya dengan kelas maupun asrama mereka. Sehingga sulit bagi mereka untuk berinteraksi secara langsung ketika berada di dalam lingkungan pesantren.

Dan di sanalah Zaskia bersama dua rekannya sesama Ustadza menghabiskan waktu istirahat. Sembari menikmati sepiring bakso Mang Solihin, mereka bercengkrama ringan, membaur dengan para santri wanita dan beberapa Ustadza.

“Mau sampai kapan Uhkti melajang?” Pertanyaan menohok itu meluncur deras dari sahabat baiknya Julia. Zaskia yang tengah mengunyah pentol bakso miliknya, nyaris saja memuntahkan kembali makanannya.

Nabila yang merasa kasihan menyikut lengan Julia. Ia merasa pertanyaan frontal seperti itu bisa di sampaikan dengan cara yang lebih tepat. Walaupun sebenarnya ia juga ingin menanyakan hal yang sama, mengingat usia Zaskia yang sudah 24 tahun, sangat layak bagi wanita berhijab merah muda itu untuk segera menikah.9

Zaskia tidak langsung menjawab pertanyaan yang sering sekali mampir kepadanya. Karena pada dasarnya, ia sendiri juga tidak mengerti kenapa dirinya masih ingin melajang.

Wanita secantik Zaskia, tentu tidak sulit baginya untuk mencari pasangan. Sudah banyak para Ikhwan yang datang kepadanya dan mengajukan proposal ta’aruf, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang di terima Zaskia. Selalu saja ada alasan, bagi Zaskia untuk menolak mereka.

“Jodohnya belum ada!” Jawab Zaskia singkat.

Julia menghela nafas, sembari mengaduk kopi cappucino yang ada di depannya. “Jodoh juga harus di usahakan Uhkti. Ingat, Allah tidak akan merubah nasib kaumnya, kecuali kaumnya yang mau berubah.” Nasehat Julia, ia mengangkat gelas dan menyeruput kopinya.

“Benar Za! Junior kita aja sudah banyak yang menikah.” Jelas Nabila, yang setahun lalu melepas masa lajangnya

“Bukannya ana belum mau menikah Uhkti, hanya saja, belum menemukan sosok yang layak untuk menjadi pemimpin rumah tanggaku nanti.”

“Laki-laki yang seperti apa yang Uhkti inginkan untuk menjadi pendamping Uhkti?” Tanya Julia heran, dengan sikap sahabatnya. Selama ini yang mencoba mendekati Zaskia bukan pria sembarangan, mereka adalah pria-pria pilihan yang keislamannya tidak bisa di ragukan lagi.

Zaskia diam sejenak, ia mengedarkan pandangannya kearah sepasang kucing yang tengah kawin di pojokan kantin. Tanpa sadar, sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.

Sebenarnya Zaskia sadar betul, kalau manusia di ciptakan berpasang-pasangan untuk melengkapi iman mereka. Hanya saja, untuk saat ini Zaskia merasa belum siap untuk membuat komitmen dengan seseorang pria. Ia ingin melihat Adik kandungnya sukses terlebih dahulu, sebelum membuat komitmen. Karena dirinya takut, kalau ia memiliki pasangan hidup, perhatiannya terhadap Rayhan akan berkurang.

“Kucing aja ada pasangannya? Kamu kapan?” Ledek Julia. “Mau sampai kapan serambi lempit kamu menganggur!” Lanjut Julia, kali ini ia berbicara dengan nada yang sebenarnya tidak layak di ucapkan oleh Ustadza seperti Julia.

Nabila yang duduk di sampingnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Keluar dah sifat asli.” Celetuk Nabila, sembari melirik kearah sahabatnya.

“Astaghfirullah Mbak! Gak ada kalimat yang lebih bagus.” Singgung Zaskia, ia benar-benar tidak mengerti dengan sahabatnya yang satu itu. “Seperti bukan seorang muslimah.” Nyinyir Zaskia.

“Habis aku sebel sama kamu Za!”

Zaskia meletakan kedua tangannya diatas meja kantin. “Sebel kenapa? Ana belum menikah, karena memang belum bertemu sosok yang tepat. Ana yakin, uhkti pasti tidak ingin melihat Ana menyesal nantinya, karena terburu-buru mencari pasangan hidup.” Jelas Zaskia, membuat Julia tidak bisa berkata-kata lagi.

“Sudah-sudah, kita ngobrolin yang lain aja.” Lerai Nabila.

Julia menghela nafas perlahan, sembari menegakan punggungnya. “Uhkti benar, bagaimanapun juga kita tidak boleh terburu-buru mencari pasangan hidup!” Getir Julia, wajah cantiknya menggambarkan kesedihan yang mendalam.

“Alhamdulillah kalau Uhkti mengerti.” Zaskia tersenyum manis. Membuat pria manapun pasti akan oleng imannya kalau melihat senyuman Zaskia.

Mereka kembali melanjutkan makan siang mereka, sembari mengobrol ringan. Sementara Julia lebih banyak diam. Wanita berusia 33 tahun itu sangat menyesal karena sempat memaksa sahabatnya untuk segera menikah, dan melupakan masa lalunya yang penuh penyesalan. Andai saja dulu ia tidak terburu-buru memilih pasangan, mungkin ia tidak perlu merasakan penyesalan sampai detik ini.

Obrolan mereka terhenti, ketika suara dentang lonceng kembali berkumandang. Habis ini Zaskia dan Nabilla masih ada kelas. Sementara Julia memutuskan pulang ke rumahnya. Karena jadwal mengajarnya kosong.

*****

Suara azan berkumandang melalui Manara masjid yang menjulang tinggi. Suara sang Muazin yang begitu merdu, mampu menggetarkan hati siapapun yang mendengarkannya dengan khusuk. Tidak lama kemudian, beberapa santri dan ustadz-ustadza berbondong-bondong menuju masjid. Dalam sekejap masjid di penuhi oleh orang-orang yang ingin melaksanakan ibadah.

Di tempat yang berbeda, terlihat seorang pemuda berdiri di depan sebuah rumah. Sesekali wajahnya meringis menahan hawa panas matahari yang menerpa wajahnya.

Sudah hampir setengah jam lamanya ia berdiri di depan pintu seorang diri. Menahan hawa panas yang membakar kulitnya, membuatnya mendumel kesal. Ingin rasanya ia segera meninggalkan rumah tersebut, tetapi sayangnya ia tidak memiliki tujuan lain.

Tok… Tok… Tok…

“Assalamualaikum!” Panggilnya untuk ke sekian kali.

Lima menit kemudian pintu itu akhirnya terbuka. Tampak seorang wanita paruh baya berparas cantik keluar dari dalam rumahnya. Wanita tersebut adalah Laras, istri dari pimpinan Ma’had Al Tauhid. Di usianya yang sudah berkepala empat, ia masih terlihat begitu cantik. Dan kecantikannya mampu menghipnotis pemuda yang ada dihadapannya saat ini.

Butuh waktu beberapa detik untuk mengembalikan kesadaran Daniel.

“Waalaikumsalam! Daniel?” Ujar Laras.

Pemuda itu tersenyum lega. “Iya Tante, ini saya Daniel.” Ujar Daniel sembari menyalami tangan Laras. Bibir tebalnya mencium hangat punggung tangan Laras.

“Subhanallah, sekarang kamu terlihat semakin tampan, terakhir kita ketemu kamu masih terlihat kudel.” Laras tertawa renyah, ia tidak menyangkah kalau Daniel akan tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan.

Daniel tersenyum senang mendengarnya. “Tante juga masih terlihat sangat cantik!” Balas Daniel.

“Bisa saja kamu Dan!”

“Bener kok Tante, tadi saya kira anaknya Tante yang keluar menyambut saya, eh… Gak taunya Tante sendiri.”

Laras tertawa semakin keras, ia tidak menyangkah kalau dirinya ternyata masih begitu cantik. Sebagai seorang wanita sudah sewajarnya kalau ia merasa senang karena di sejajarkan dengan anak remaja.

“Uda ah ngegombalnya, nanti Tante malah terbang lagi.” Ujar Laras sembari tersenyum manis. “Gimana kabar kamu Dan?” Tanya Laras, mengalihkan pembicaraan.

“Alhamdulillah, baik Tante, kabar Tante sendiri bagaimana?” Tanya Daniel sopan. Tapi sayang, matanya tidak sesopan mulutnya. Diam-diam mengamati wajah cantik Istri dari KH Umar yang berseri indah, bagaikan bunga mawar yang tengah mekar. Ia berfikir betapa beruntungnya kalau dirinya bisa meniduri wanita yang ada di hadapannya saat ini.

Matanya turun menuju sepasang gunung kembar yang terbungkus rapi di balik hijab hitam yang di padu dengan gamis berwarna coklat muda.

Laras sama sekali tidak menyadari kenakalan Daniel yang berani memandangi kemolekan sepasang gunung kembar miliknya yang amat ia banggakan.

“Alhamdulillah, Tante juga baik! Ayo masuk dulu Dan. Gak enak ngobrol di luar.” Ajak Laras.

“Iya Tan.”

*****

Amanda

Rika

Gita

Langit yang tadinya berwarna biru cerah kini telah berganti warna menjadi warna jingga. Angin bertiup pelan, menggulung debu-debu jalanan, dan beberapa plastik bekas ikut tertiup perlahan.

Di sebuah lapangan yang tidak begitu besar, tampak dua orang santri wati yang tengah bermain badminton. Seorang lagi duduk di pinggir lapangan sembari menjadi wasit dadakan.

“Tadi masukkan?” Protes Gita.

Rika ikut menghampiri Amanda yang menjadi wasit dadakan. “Tadi melewati garis line kok.” Sengit Rika tidak mau kalah, Amanda hanya melongok bingung.

“Buta ya mata kamu.”

“Enak aja! Tadi benaran gak masuk.” Jawab Rika berkacak pinggang sembari mengembungkan pipinya, hingga ia terlihat sangat menggemaskan.

Amanda segera berdiri sembari menepuk-nepuk pantatnya yang kotor terkena debu. “Di sini gue wasitnya, kalian gak usah ribut.” Lerai Amanda, seakan dirinya memang seorang wasit proposional.

“Jadi keputusannya apa?” Tanya Rika.

“Masuklah…” Ujar Gita semangat.

Rika menyikut Gita kesal, Amanda yang melihat kedua sahabatnya hanya mendesah pelan sembari menggelengkan kepalanya. “Hmmm… Ini agak sulit, soalnya tadi kurang jelas masuk apa gak.” Ujar Amanda.

“Tadi tuh gak masuk, bolanya keluar line.”

Gita memeluk dan menarik lengan Amanda. “Tadi itu masuk! Kalau masuk makan malam nanti aku teraktir lauk ikan.” Ujar Gita menyogok Amanda sang Wasit.

“Oke! Sebagai wasit saya putuskan kalau bola barusan di hitung masuk….” Jawab Amanda.

Rika melongok, sementara Gita berjingkrak senang karena bisa mengalahkan sahabatnya. Karena tidak terima Rika mencoba memaksa sahabatnya untuk merubah keputusannya, alhasil keributan kecil kembali terjadi di antara mereka bertiga

Tanpa mereka sadari, dari jarak 20 meter seseorang diam-diam tengah mengamati mereka.

Pria paruh baya itu tersenyum menjijikan, sembari memamerkan gigi kuningnya yang seakan sudah bertahun-tahun tidak ia bersihkan.

Sembari menyeka air liurnya yang sedikit menetes, ia memasukan tangannya ke dalam celananya, merogoh batang kemaluannya yang telah mengeras. Tanpa berkedip ia memandangi mereka bertiga.

*****

Di tempat yang berbeda, terlihat dari kejauhan seorang pemuda sembari menenteng sepatu berjalan menelusuri jalan berdebu. Sementara langit terlihat mulai tampak gelap, menandakan kalau sebentar lagi langit akan menumpahkan rahmatnya untuk umat manusia.

Duaaarrr…

Sekilas cahaya terang lewat di depan wajah sang pemuda, ia meringis sembari menatap langit.

“Ray… Ray…”

Rayhan celingukan mencari sumber suara yang tengah berteriak memanggilnya.

Tampak seorang wanita berjilbab hitam tengah menggapai kan tangannya ke pada Rayhan. Buru-buru pemuda itu menghampiri sang Ustadza.

“Ada apa Ustadza?”

“Kamu dari mana, buruan pulang, mau hujan tuh.” Tegur Ustadza Dewi. Tampak angin nakal meniup-niup ujung jilbab lebarnya.

Rayhan mengangkat sepatu bolanya. “Habis main bola Ustadza! Hehehe… Jemurannya sudah di angkat ya Ustadza?” Tanya Rayhan, sembari melirik kearah jemuran milik Ustadza Dewi yang terlihat kosong.

“Baru aja selesai! Kamu telat… Hihihi…” Tawa Ustadza Dewi.

Rayhan menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal. “Lain kali harus lebih cepat pulang ni.” Gumam Rayhan, Ustadza Dewi mengangkat alisnya, lalu kembali tertawa renyah mendengar gumaman Rayahan.

“Lain kali kamu harus lebih cepat.”

“Siap Ustadza! Hehehe…”

Dewi melipat tangannya diatas dada, membuat payudaranya kini lebih membusung. “Ya sudah, sana kamu pulang, nanti di cariin sama Ustadza Zaskia.” Suruh Dewi, yang terkesan mengusir Rayhan.

“Assalamualaikum Ustadza.”

“Waalaikumsalam!” Jawab Ustadza Dewi.

Dia memandangi punggung Rayhan yang perlahan menghilang dari pandangannya. Satu tangan Ustadza Dewi turun kebawah, mengurut pelan serambi lempitnya, yang entah kenapa terasa gatal.

*****

Clara

Laras

Selepas shalat isya hujan turun sangat lebat beserta angin kencang. Pohon-pohon besar yang berjejer di tepian sungai tampak bergoyang mengikuti alunan angin yang seakan ingin menerbangkan mereka, akibatnya banyak daun-daun pohon tersebut yang berguguran.

Di jalanan tampak beberapa santri berlindung di balik kain sarung yang mereka kenakan. Berlari secepat mungkin agar bisa tiba lebih cepat di asrama. Hal yang sama juga di lakukan oleh santriwati, mereka bergegas untuk kembali ke asrama agar bisa segera berlindung di balik selimut tebal.

Berulang kali langit berteriak, seakan ingin meruntuhkan seisi dunia. Membuat beberapa santri Wati terlihat ketakutan. Mereka yang tidak bisa tidur, memutuskan untuk mengobrol di dalam kamar sembari menanti hujan reda.

Sementara itu di kediaman KH Umar, Laras bersama anak-anaknya tengah menikmati siaran televisi. Mereka tengah menonton sinetron di ruang keluarga.

“Mi! Clara ke kamar dulu ya.” Pamit Clara. Gadis berusia 18 tahun itu berulang kali menguap, mencoba menahan kantuk.

Laras tersenyum sembari menganggukan kepalanya. “Iya sayang! Jangan lupa cuci tangan dan kakinya sebelum tidur.” Nasehat Laras kepada Putrinya.

“Siap Mi.”

Kaki mungil Clara menghentak lantai, meninggalkan Laras dan Adiknya Azril yang diam-diam memperhatikan garis celana dalam saudara tirinya, yang menjiplak di celana tidur yang di kenakan Clara.

Tapi Azril buru-buru sadar akan kesalahannya, sehingga ia dengan cepat beristighfar di dalam hatinya. Ia sangat menyesal karena sempat mencuri pandang pantat Saudaranya. Padahal dulu, ia tidak pernah memiliki pikiran kotor tentang keluarganya, tapi entah kenapa akhir-akhir ini ia sering berfikiran kotor tentang keluarganya.

“Kamu belum tidur?” Tegur Laras.

Wanita anggun itu meluruskan kakinya di sofa, sembari menopang kepalanya dengan tangan. Ia menekuk satu kakinya sehingga gaun tidur berwarna putih yang ia kenakan sedikit tersingkap memamerkan betisnya yang putih mulus seperti pualam.

Sejenak Azriel terpaku menatap betis Laras yang terlihat seperti padi bunting. Alhasil pemandangan tersebut membuat sang junior terbangun.

Laras menggeser kakinya hingga semakin terbuka. “Di tanya kok diam?” Tegur Laras, dia melirik kearah putranya.

Deg… Deg… Deg…

Jantung Azril berdetak tidak beraturan, bahkan ia tampak kesulitan mengambil nafas sanking tegangnya. “Eh… Ke-kenapa Mi?” Tanya Azril, sembari melihat kearah Ibu Tirinya, dan sialnya matanya malah tertuju kearah selangkangan Laras yang terbuka.

Gleeek…

Azril menelan air liurnya yang hambar ketika melihat celana dalam Laras yang berwarna cream.

“Kamu gak ada hafalan?” Tanya Laras.

Azril menggelengkan kepalanya. “Gak ada Mi! Eehmm… Azril ke kamar dulu ya Mi?” Ujar Azril gugup. Ia tidak ingin Ibu Tirinya menyadari perubahan yang ada di dalam dirinya.

“Iya, kamu tidur sana.” Suruh Laras.

Ia tersenyum tipis sembari menghela nafas. Sebagai seorang Ibu ia merasa sangat bersyukur karena memiliki dua orang anak yang begitu baik dan penurut. Apa lagi keduanya bisa di bilang cukup berprestasi, terutama Azril. Laras merasa sangat bangga terhadap Azril.

Perlahan Laras memejamkan matanya, mengistirahatkan matanya yang terasa lelah.

Tanpa di sadari Laras, seseorang tengah berjalan mendekat kearahnya. Pria tersebut tentu dapat melihat isi dalam gaun tidur Laras yang kebetulan menghadap kearahnya.

“Tan…” Panggilnya.

Laras mengerjapkan matanya. “Daniel? Astaghfirullah…” Laras tersadar dari lelapnya. Ia buru-buru duduk di sofa, sembari mengambil jilbab miliknya yang kebetulan tadi sempat ia lepas.

“Maaf Tante! Tadi saya liat Tante ketiduran, jadi saya berinisiatif ingin membangunkan Tante.” Ujar Daniel, sembari tersenyum hangat.

“Iya tidak apa-apa.” Jawab Laras tampak canggung.

“Mau saya buatkan kopi?” Tawar Daniel.

“Serius?”

“Ya tentu saja. Buatan kopi saya sangat enak, Tante harus mencobanya.” Usul Daniel, sembari mengangkat satu alisnya. Laras tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

“Boleh juga.” Jawab Laras.

Suasana canggung yang sempat terjadi diantara mereka berdua dengan cepat kembali normal. Laras sangat tersanjung dengan sikap Daniel yang menurutnya sangat baik. Sayang, pemuda baik itu punya masa lalu yang membuat keluarga besarnya sangat membenci dirinya.

Tapi tidak bagi Laras, ia sama sekali tidak membenci Daniel, baginya setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki diri mereka.

Tidak lama kemudian Daniel kembali menghampiri Laras, ia membawa dua gelas kopi hangat.

“Silakan di minum Tante!” Ujar Daniel.

Laras mengangkat gelasnya. “Terimakasih Dan! Kamu tau, Tante itu paling suka kopi.” Jujur Laras, dia menghirup aroma kopi yang terasa nikmat.

“Oh ya, sama dong Tante.”

“Sepertinya kita memiliki banyak kesamaan ya!” Laras melirik Daniel yang tengah menyeruput kopi.

Daniel tersenyum tipis, sembari meletakan kembali gelas miliknya keatas meja. Daniel menemani Laras yang terlihat sangat antusias ketika sedang bercerita. Entah kenapa Laras merasa ada kecocokan ketika tengah mengobrol dengan Daniel keponakannya.

*****

Jam sudah menunjukan pukul satu malam, tapi hujan tak kunjung reda di sertai petir yang sesekali membuat seisi pesantren mendadak menjadi terang benderang di tengah kegelapan malam yang mencekam. Seakan-akan langit tengah marah.

Di asrama putri, sebagian besar para Santri telah terlelap tidur, sehingga mereka tidak menyadari bahaya yang tengah mengintai mereka.

Duaaaarrr….

Kembali petir menyambar, tampak bayangan seorang pria bertubuh besar berdiri di depan pintu kamar asrama. Ia menyeringai memamerkan giginya yang kehitaman, dengan air liurnya yang menetes bagaikan anjing. Matanya yang tajam seperti serigala yang tengah mengintai mangsanya.

Dia berjalan perlahan memasuki asrama, menatap para santri yang tengah tertidur diatas tempat tidur mereka.

“Rrrrtttt…” Dia mengeram dengan tatapan mata yang membara, menatap seorang gadis yang tengah terlelap diatas tempat tidurnya.

Dia menghampiri gadis tersebut, tersenyum menyeringai bagaikan hewan buas yang siap memangsa.

Jemarinya yang besar berwarna kehijauan membelai wajah cantik sang Santriwati yang bernama Amanda. Kuku-kukunya yang panjang membelai pipi putih Amanda hingga ke dagunya yang runcing. Dia mengangkat dagu Amanda, kemudian bibir merah darah mahluk tersebut memanggut bibir tipis Amanda.

Lumatan sang kolor Ijo yang membuat Amanda merasa sesak. Sehingga ia terbangun dari tidurnya, dan mendapatkan seorang mahluk mengerikan tengah menindih tubuhnya.

“Aaaaaaarrrttt…” Amanda berteriak sekencang mungkin tapi anehnya suaranya sama sekali tidak keluar.

Sang kolor Ijo menatapnya dengan sinis. “Percuma saja!” Geramnya, sembari mempereteli kancing piyama yang di kenakan Amanda.

Gadis berusia belasan tahun itu meronta-ronta, ia berusaha melepaskan diri dari dekapan sang predator. Tetapi anehnya ia seakan kehilangan tenaganya. Ia hanya bisa menangis, berharap ada seseorang yang terbangun dan segera menolong dirinya.

Breeet… Breeet… Breeet…

Sang kolor Ijo merobek pakaian yang di kenakan Amanda, hingga gadis itu telanjang bulat.

Di tengah kegelapan malam, sang Kolor Ijo masih dapat melihat keindahan tubuh Amanda khas anak remaja pada umumnya. Payudaranya yang tidak begitu besar, tetapi terlihat begitu ranum dengan putingnya yang kecoklatan menghiasi aurolanya.

Kuku-kuku panjang sang Kolor Ijo membelai payudara Amanda, menyentuh putingnya yang tengah mekar. Tentu saja hal tersebut membuat Amanda sangat ketakutan.

“Tolooong…. Tolooong… Tolooong…” Amanda berteriak tanpa suara. Yang terdengar hanya suara lolongan petir yang saling sahut menyahut di luar sana. Ceritasex.site

Dengan kuku tajamnya, sang Kolor Ijo menyentil puting Amanda, membuat gadis berusia belasan tahun itu merintih kesakitan. Apa lagi ketika kuku tajam itu menusuk puting mungilnya yang menggoda.

“Aahkk… Tolooong! Aduuuuh sakiiiit.” Histerisnya.

Sang Kolor Ijo mendekap kepala Amanda, lalu dia mengulum kasar bibir merah Amanda, memaksa gadis belia itu membalas pagutan liarnya. Sementara kuku-kukunya memelintir puting Amanda.

Belaian tangan sang Kolor Ijo terun menuju perut rata Amanda, kemudian… “Breeaaattt…” Sang Kolor Ijo menyobek celana tidur yang di kenakan Amanda.

Tangis Amanda semakin pecah, ketika celana dalamnya ikut di sobek. Tampak bukit kecil yang di tumbuhi rambut tipis, terpampang di hadapan sang Kolor Ijo.

Kedua kaki Amanda di rentangkan selebar mungkin, hingga bibir serambi lempitnya yang mungil sedikit terkuak, memperlihatkan lobang perawannya. Sang Kolor Ijo berlutut di depan serambi lempit Amanda, lalu dia mengecup kedua paha mulus Amanda secara bergantian, dan terakhir ia menjilati bibir merekah serambi lempit Amanda.

Sluuuppsss… Sluuuppsss…. Sluuuppsss…

“Oughkk…” Amanda mendesah nikmat.

Walaupun ia tidak ingin mengakuinya, tapi kenyataannya Amanda menikmati sapuan lidah mahluk aneh tersebut di sekitaran serambi lempitnya. Si kolor Ijo mencucup lendir yang keluar dari dalam serambi lempit Amanda, mengorek bagian dalam serambi lempit Amanda yang masih perawan.

Di tengah keputusasaan nya tiba-tiba Amanda merasakan gelombang birahi yang luar biasa. Sekali lagi ia histeris, tapi kali ini di karenakan rasa nikmat yang luar biasa yang belum pernah ia dapatkan.

“Aaarrttt…”

Seeeeeeeeeerrrr…..

Lendir kewanitaannya menyembur deras, tanpa bisa di tahan. Sang Kolor Ijo dengan rakus menyeruput lendir kewanitaannya hingga tidak bersisa.

Rasa nikmat yang di dapatkan oleh Amanda sejenak membuat gadis tersebut lupa akan nasib tragis yang tengah menimpa dirinya saat ini. Tubuh indahnya, tampak melejang-lejang, menikmati sisa orgasmenya.

Belum hilang rasa nikmat itu, si Kolor Ijo kembali beraksi. Mahluk berwarna hijau itu menindih tubuh Amanda. Tubuh besarnya masuk diantara kedua kaki Amanda yang masih mengangkang. Sadar akan bahaya yang kembali mengintai dirinya, Amanda berusaha sekuat tenaga untuk meronta, tapi lagi-lagi ia gagal.

Hanya air mata yang terus mengalir tanpa henti mengaliri pipinya. Rasa takut, frustasi, dan depresi menjadi satu di dalam diri Amanda. Apa lagi ketika ia merasakan benda besar yang tengah menggesek bibir serambi lempitnya.

“Jangaaaaan! Tolooong…” Jerit hati Amanda.

Perlahan rudal besar milik Kolor Ijo membelai bibir serambi lempit Amanda, memaksa serambi lempit perawan itu melahap rudalnya yang berukuran besar. “Jleeebss…” Untuk kesekian kalinya rudal Kolor Ijo meleset.

Tetapi sang predator tidak menyerah, dia kembali berusaha menembus perawan Amanda.

“Sakiiiit… Sakiiiit…” Histeris Amanda.

Inci demi inci kepala rudal Kolor Ijo berhasil masuk kedalam serambi lempit Amanda. Wajah garang Kolor Ijo tampak meringis menahan jepitan serambi lempit Amanda.

Dia terus mendorong rudalnya, menembus serambi lempit Amanda yang terasa semakin mencekik rudalnya. “Bleeeess…” Dengan satu dorongan keras, akhirnya sang Kolor Ijo berhasil mengoyak perawan Amanda. Gadis remaja itu berteriak tanpa suara dengan kedua bola mata yang melotot.

Sekujur tubuh Amanda terasa sakit ketika sang Kolor Ijo mengoyak perawannya.

“Eehmmss… Eehmmss… Eehmmss…”

Dengus nafas Kolor Ijo semakin memburu, seiring dengan kocokan rudalnya di dalam serambi lempit Amanda. Ia memompa serambi lempit Amanda dengan penuh semangat sembari kembali bermain dengan payudara Amanda.

Berbeda dengan sang Korban yang terlihat sangat tersiksa. Ia merasa serambi lempitnya seakan robek oleh rudal besar Kolor Ijo yang memaksa masuk kedalam lobang serambi lempitnya yang sempit itu. Walaupun pada akhirnya, Amanda dapat merasakan sedikit nikmat dari sodokan rudal si Kolor Ijo di dalam serambi lempitnya.

Ploookkss… Ploookkss… Ploookkss…. Ploookkss… Ploookkss… Ploookkss….

Dengan gencarnya si Kolor Ijo memacu birahinya, menggagahi gadis perawan tersebut. Hingga pada akhirnya, di iringi oleh suara petir yang menggelegar, sang Kolor Ijo membenamkan spermanya ke dalam rahim Amanda.

Croooootss…. Croooootss… Croooootss…

Sperma Kolor Ijo menembus rahim Amanda, dan sisanya tampak mengalir dari sela-sela bibir serambi lempit Amanda.

Bersambung… Suasana pagi ini terlihat lebih cerah setelah semalaman di guyur hujan lebat yang di iringi dengan suara petir yang serambi lempitakkan telinga. Tetapi keceriaan pagi ini ternodai oleh kejadian tadi malam, di mana pesantren Altauhid menjadi gempar setelah seorang santri di kabarkan telah mengalami pemerkosaan.

Semalam di tengah hujan lebat, pesantren tauhid yang biasanya tenang, berubah menjadi sangat sibuk. Beberapa santri, Satpam dan Ustadz mencari sang pelaku, bahkan pihak berwajib pun sudah di terjunkan, tapi hingga pagi ini belum juga ada kabar.

Zaskia mendesah, tampak payudaranya sedikit naik, mengikuti alunan nafasnya. Ia menyeka keringat yang sedikit membasahi dahinya.

“Assalamualaikum!” Sapa seseorang dari luar.

Zaskia buru-buru kearah pintu rumahnya. “Waalaikumsalam! Gimana Ray? Pelakunya dapat? Siapa pelakunya?” Zaskia memberondong beberapa pertanyaan sekaligus.

Rayhan menggelengkan kepalanya sembari masuk kedalam rumah. Ia menggeser kursi makan dan duduk dengan perlahan. “Gak dapat Kak, sepertinya ia sudah keburu kabur jauh.” Jelas Rayhan, ia mengambil segelas air mineral untuk melegakan tenggorokannya.

“Astaghfirullah!” Desah Zaskia.

Wanita itu duduk di samping Rayhan, raut wajahnya memancarkan kesedihan. Sebagai seorang wanita tentu saja Zaskia paham apa yang di rasakan santri tersebut. Selain itu Zaskia juga takut kalau peristiwa semalam kembali terulang, dan dia bisa saja menjadi korban selanjutnya, kalau si pelaku tidak berhasil di tangkap.

Rayhan kembali meletakan gelas minumannya, dia menatap dalam wajah cantik Kakaknya yang tidak bersemangat seperti biasanya.

“Kakak jangan takut! Pelakunya pasti akan segera di tangkap.” Rayhan meraih tangan Zaskia, ia menggenggam erat tangan Zaskia, seakan ia tidak akan pernah melepaskan tangan Kakaknya.

Zaskia tersenyum tipis. “Terimakasih ya Dek! Jagain Kakak ya Dek?” Ujar Zaskia terdengar lembut.

Rayhan mengangguk mantab. “Pasti Kak!” Jawab Rayhan, walaupun tanpa di minta, tentu saja Rayhan akan tetap menjaga Kakaknya apapun yang terjadi.

“Ayo makan dulu, kamu pasti laparkan?” Zaskia melirik Rayhan, sembari menuangkan nasi kedalam piring.

Pagi ini mereka menyantap sarapan dengan suasana yang berbeda. Zaskia terlihat begitu bahagia, walaupun sebelumnya ia terlihat sangat khawatir. Ucapan Rayhan berhasil memenangkan hatinya. Berbeda dengan Rayhan, ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya di wajahnya tentang sosok pemerkosa yang kini terasa sangat misterius.

*****

Laras

Di bawah pancuran shower, tampak seorang wanita cantik yang tengah menikmati mandi paginya. Ia menggosok perlahan tubuh indahnya dengan kedua telapak tangannya yang di penuhi sabun. Dia membelai payudaranya yang besar, bermain dengan kedua putingnya yang telah mengeras.

Perlahan telapak tangannya turun kebawah menuju perut ratanya. Dia membelai lembut perutnya, dan terus turun menuju sebuah tebing lendir yang menjanjikan sejuta kenikmatan.

Kedua jarinya membelai tonjolan kecil yang terdapat di antara bibir kemaluan. “Eehmm…” Ia mendesis pelan, dengan mata terpejam ia bersandar di dinding kamar mandi.

Sementara itu clitorisnya terasa semakin membengkak karena terus-terusan ia gosok dengan kasar. Semakin keras ia menggosok clitorisnya, maka terasa semakin nikmat yang ia rasakan.

Semakin lama ia makin hanyut akan kenikmatan semu yang ia ciptakan sendiri. Tanpa perduli dosa yang tengah membayangi dirinya.

“Aahkk… Aahkk… Aahkk…” Erangannya semakin tidak terkendali, seiring dengan lendir kewanitaannya yang keluar semakin banyak.

Ia memasukan kedua jarinya ke dalam lobang kemaluannya yang merekah indah seperti bunga mawar. Dengan perlahan ia mendorong dan menarik jarinya. Ia melakukan gerakan tersebut berulang kali, membuat serambi lempitnya memproduksi lendir kewanitaannya semakin banyak.

Tubuhnya bergetar tatkalah rasa nikmat itu menggores kesadarannya. Dengan mata terpejam, dan nafas menderuh ia menyambut datangnya orgasme.

“Oughkk…”

Pinggul indahnya tersentak-sentak seiring dengan lendir kewanitaannya menyembur keluar.

Setelah hasrat birahinya tertuntaskan, barulah Laras membasuh tubuhnya dengan benar, dengan perasaan yang sulit untuk di gambarkan. Selesai mandi, Laras segera keluar dari dalam kamar mandi. Tapi baru beberapa langkah ia keluar kamar, ia melihat sosok pemuda yang berada di tidak jauh darinya.

“Astaghfirullah!” Lirih Laras.

Saat ini Laras hanya mengenakan handuk yang tidak sepenuhnya bisa menutupi kemolekan tubuhnya. Sebagian payudaranya memyembul keluar, begitu juga dengan sebagian paha mulusnya yang terpampang bebas. Siapapun yang melihatnya, pasti akan merasa sangat beruntung dapat melihat kemolekan tubuhnya yang selama ini dibungkus pakaian syar’i.

Sebagai seorang muslimah, Laras merasa memiliki kewajiban untuk menyembunyikan kemolekan tubuhnya dari pria lain yang bukan suaminya.

Sejenak Laras berfikir keras agar bisa menghindari Daniel. Tapi bagaimana caranya? Diam-diam ia mengutuk kebodohannya sendiri, karena lupa membawa pakaian ganti untuk ia kenakan.

“Lari…” Gumam Laras.

Dia mengepal kedua tangannya, sembari menggigit bibir bawahnya. Adrenalin nya terpacu dengan nafas yang mulai terdengar memburu.

Tanpa aba-aba, Ustadza Laras dengan secepat kilat melangkah keluar dari dalam kamarnya. Ia berlari secepat yang ia bisa, dan tidak perduli kalaupun nanti Daniel melihat dirinya yang tengah berlari. Setidaknya ia telah berusaha untuk menghindar dari Daniel.

Tapi tiba-tiba ia terpeleset, dan terjatuh di lantai. Kakinya yang basah, membuat lantai rumahnya menjadi licin.

“Aduuuuh!” Laras meringis kesakitan.

Dan pada saat bersamaan, Daniel melihat kearah Laras yang tengah mengadu sakit, sembari memegangi pantatnya yang terbentur cukup keras.

Mata Daniel terbelalak melihat tubuh telanjang Laras, yang kebetulan handuk yang ia kenakan terlepas akibat terjatuh barusan. Tentu saja sebagai seorang pria normal, ia terangsang melihat tubuh telanjang Laras, tapi ia buru-buru menyingkirkan perasaan itu untuk sementara waktu dan segera menolong Ustadza Laras.

Ia menghampiri Ustadza Laras yang kesakitan, dan membantunya untuk berdiri.

“Aduh… Aduh… Sakit.” Lirih Laras.

Ternyata tidak hanya pantatnya yang sakit, pergelangan kaki Laras juga terasa sakit. Dengan hati-hati Daniel memapah tubuh sintal Laras.

“Ustadza gak apa-apa?” Tanya Daniel ia tampak khawatir.

Laras menggelengkan kepalanya. “I-iya gak apa-apa!” Jawab Laras terbata-bata menahan sakit ditubuhnya.

Dan pada saat bersamaan Azril keluar dari dalam kamarnya, setelah mendengar teriakan Ibunya. Ia kaget melihat Ibu Tirinya dalam keadaan telanjang bulat di rangkul oleh Daniel saudara sepupunya.

Bukannya buru-buru menolong Ibunya, Azril malah terdiam membisu, menatap tubuh telanjang Ibu Tirinya yang memang sangat menggoda. Sepasang payudara berbentuk pepaya matang menggantung indah, dengan kedua puting yang berwarna kecoklatan.

Ketika matanya turun kebawah, ia mendapatkan bukit kecil yang di tumbuhi rambut lebat yang terlihat begitu indah. Berulang kali, pemuda berusia belasan tahun itu menelan air liurnya yang terasa hambar.

“Biar saya bantu!” Ujar Daniel.

Pemuda itu membantu Umi Laras berjalan menuju kamarnya. Sebagai seorang wanita Umi Laras merasa risih, dan ia sempat berharap kepada Azril anak tirinya. Tapi sayang Azril malah bengong melihat tubuh telanjangnya, membuat Laras sedikit kesal dengan tingkah Anak Tirinya. Walaupun harus ia akui, tubuhnya memang sangat menarik bagi kaum Adam.

Karena tidak ada pilihan Laras diam saja dan menerima bantuan Daniel untuk membawanya ke kamar.

Saat mereka melewati Azril, barulah pemuda itu tersadar dari lamunannya. Ia bergegas menyusul mereka berdua, tapi matanya tidak berkedip memandangi bongkahan pantat Ibu tirinya yang terlihat begitu empuk. Sementara handuk yang tadi di kenakan Laras di biarkan saja tergeletak tak berdaya di lantai rumah mereka.

Setibanya di dalam kamar Laras berbaring di atas tempat tidurnya masih dalam keadaan telanjang bulat, di hadapan kedua pemuda berbeda generasi.

“Sepertinya kaki Ustadza keseleo.” Ujar Daniel datar.

Pemuda itu berusaha mati-matian menahan gejolak birahinya di hadapan Laras. Membuat Laras merasa salut dengan Daniel yang terlihat datar-datar saja, walaupun saat ini dirinya dalam keadaan telanjang bulat, berbeda dengan anaknya yang begitu ketara kalau terangsang melihatnya telanjang.

Tapi sikap santai Daniel, malah membuat Laras menjadi salah tingkah. Ia dapat mendengar suara detak jantungnya yang tak beraturan, sanking tegangnya.

Sebagai seorang wanita muslimah, sangat tabu baginya di lihat orang lain dalam keadaan telanjang bulat.

“Aduh!” Rintih Laras, ketika Daniel menyentuh pergelangan kakinya. “Pelan-pelan Dan!” Pinta Laras sembari meringis menahan sakit di kakinya.

Dani menganggukkan kepalanya. “Tahan ya Tan! Ini hanya sebentar.” Ujar Daniel.

Kedua tangannya mengusap-usap kaki kanan Laras. Di saat Laras terlihat mulai nyaman, tiba-tiba Daniel menarik kaki Laras, memperbaiki posisi urat Laras dengan gerakan yang sangat cepat, tapi menyakitkan.

“Auuww… Sakiiiit!” Jerit Laras.

Daniel kembali mengurut pelan kaki Laras. “Gak apa-apa Tante! Ini sudah selesai kok.” Kata Daniel menenangkan Laras, sembari melakukan pijitan ringan di betis Laras yang terasa begitu halus.

“Aduh… Sakit sekali Dan!” Lirih Laras.

Telapak tangan Daniel naik keatas, ke bagian belakang lutut Laras. Rasa geli yang dirasakan Laras sedikit mengurangi rasa sakit di kakinya. Dan perasaan geli itu perlahan mulai menimbulkan perasaan erotis didalam diri Laras, apa lagi ketika telapak tangan Daniel naik menuju paha mulus.

Dia memijit pelan kaki Laras menyentuh bagian-bagian sensitif seorang wanita yang ia dapatkan dari teman lamanya. Dan ternyata cara itu berhasil membangkitkan birahi Laras yang memang sudah lama tidak tersalurkan dengan benar.

“Azril, tolong ambilkan lotion.” Suruh Daniel.

Dengan patuhnya Azril mengambil lotion milik Ibunya yang berada di atas meja rias. “I-ini Mas.” Ujar Azril tergagap, sanking tegangnya.

Mata indahnya menatap nanar kearah sepasang payudara Laras yang naik turun mengikuti irama nafasnya. Putingnya yang kecoklatan terlihat mengeras hingga mancung ke depan. Betapa nikmatnya, kalau dirinya bisa meremas dan menghisap puting Laras.

Sadar akan tatapan Azril terhadap payudaranya, malah membuat Laras salah tingkah. Laras merasakan serambi lempitnya berdenyut-denyut.

Seandainya saja ia sendirian di kamar ini, tentu ia sudah sedari tadi melakukan masturbasi.

“Maaf ya Tante.” Ujar Daniel sopan, sebelum tangannya masuk lebih dalam. Ia menyentuh bagian bawah paha Laras, dengan sedikit mengangkat kaki Laras.

“Oughkk…” Desah Laras tanpa sadar.

Daniel tersenyum tipis, ia tau kalau wanita dewasa yang ada di hadapannya saat ini tengah di landa birahi. “Sakit ya Tante?” Tanya Daniel, jemarinya memijit lembut paha belakang Laras.

“Eng-eng-enggak terlalu.” Jawab Laras terbata, wajahnya bersemu merah karena menahan birahi syahwatnya.

Daniel kembali melanjutkan pijatannya di kedua kaki Laras. Ia memijatnya secara bergantian kiri dan kanan. Dan selama itu juga Laras sangat tersiksa. Bukan karena rasa sakit, melainkan karena syahwatnya yang menggebu-gebu, menuntut untuk di lampiaskan.

Sementara Azril masih diam membisu, sembari menatap nanar kearah gundukan kecil yang di tumbuhi rambut hitam yang cukup lebat.

*****

Ustadza Dwi

Teng… Teng… Teng…

Ketika lonceng di bunyikan, para santri berhamburan masuk kedalam kelas mereka masing-masing. Rayhan, Azril duduk di bangku paling depan, tepat di depan meja guru. Sementara di belakang mereka ada Doni dan Rico. Suasana kelas masih terlihat ramai, ada yang sibuk menghafal, ada juga yang tengah mengobrol sesama mereka.

Suasana yang tadinya ramai seperti pasar, mendadak menjadi hening ketika seorang wanita berparas cantik dengan gamis berwarna hitam di padu dengan jilbab lebar yang melambai-lambai berwarna cream memasuki kelas mereka.

Wajah cantiknya ternyata tidak mampu membuat para santri menjadi lebih rileks.

“Assalamualaikum!” Sapa Ustadza Dwi.

“Waalaikumsalam salam Ustdza!” Jawab mereka serempak.

Ustadza Dwi duduk di kursinya yang berukuran lebih tinggi di bandingkan murid-muridnya. Ia meletakan tas dan buku absensi diatas meja.

Satu persatu nama mereka di sibut. Dan ada beberapa yang tidak hadir.

“Hari ini kita akan membahas tentang Ilmu fiqih! Pengertian Ilmu fiqih dan pembagian ilmu fiqih.” Ujar Ustadza Dwi.

Ia berdiri di depan kelas, menghadap kearah white board membelakangi murid-muridnya. Jemarinya dengan lincah menari-nari diatas papan tulis. Selagi ia sibuk menulis materi di papan tulis. Rayhan, Azril, Doni dan Rico mulai saling berbisik.

Mereka sibuk mengamati bongkahan pantat Ustadza Dwi yang tampak bergetar ketika ia tengah sibuk menulis materi di papan tulis.

“Apa pendapat kalian?” Celetuk Rico.

“Aku yes…” Kata Doni cepat.

“Aku juga!” Timpal Azril.

Rayhan mengetuk dagunya. “Ehmm… Aku yes!” Ujar Rayhan bersemangat sembari menjelajahi bongkahan pantat Ustadza Dwi. Tampak garis celana dalam Ustadza Dwi yang ngejiplak di gamisnya.

“Aku kasih nilai 9” Komentar Rico.

“Dari dulu selalu 9, kapan 8 dan 7 nya?” Sungut Azril. Selama ini Rico selalu memberi angka sembilan setiap Ustadza yang mereka anggap layak untuk di beri nilai.

“Suka-suka akulah.” Geram Rico.

“Menurut aku Ustadza Dwi 8,5.” Rayhan melihat kearah Azril.

“Yang layak mendapat nilai 10 hanya ada satu Ustadza.” Ujar Rico.

Mereka bertiga kompak melihat kearah Rico. “Siapa?” Tanya Doni penasaran, mewakili rasa penasaran teman-temannya yang lain.

“Ustadza Laras.”

Bletaaak…

“Anjing sakit ******.” Protes Rico ketika Azril tiba-tiba memukul kepalanya. Tetapi diam-diam Azril membenarkan apa yang di katakan Rico, karena dirinya sudah melihat tubuh telanjang Ibu Tirinya, yang layak di beri nilai sepuluh.

Ustadza Dwi yang tengah sibuk menulis di papan tulis, mulai merasa terganggu oleh suara yang ada di belakangnya. Ia mendesah pelan, lalu berbalik melihat kearah mereka berempat yang mendadak diam.

“Apa yang kalian ributkan?” Tanya Ustadza Dwi.

Mereka berempat tertunduk tidak berani menjawab. Tetapi diam-diam mereka saling menatap satu sama lain.

“Kalian berempat berdiri di depan!”

Dengan langkah gontai mereka beranjak dari tempat duduk mereka. Lalu berbaris berdiri di depan kelas. Sementara Ustadza Dwi kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia menjelaskan tentang istilah fiqih dan bagian-bagian dalam ilmu Fiqih.

“Fiqih dalam bahasa Arab artinya pengertian, dan dalam istilah ulama artinya ilmu yang membahas hukum-hukum agama Islam diambil dari dalil-dalil tafsili atau dalil dalil yang terperinci.” Jelas Ustadza Dwi, ia berjalan maju beberapa langkah, hingga tepat berada di depan Rayhan.

Tiba-tiba spidol yang ada di tangannya mendadak terlepas dan jatuh kelantai.

Ustadza Dwi membungkuk untuk mengambil spidol tersebut, dan tanpa di sengaja pantat bulatnya malah menubruk selangkangan Rayhan. Ustadza Dwi terperanjat saat merasakan benda keras yang ada di belakang pantatnya. Rayhan tidak kalah terkejutnya.

“Astaghfirullah! Maaf.” Ujar Ustadza Dwi malu.

Ketiga sahabatnya serempak melihat kearah Rayhan. Dari raut wajah mereka menggambarkan ketidak sukaan atas keberuntungan Rayhan.

Anak remaja berusia belasan tahun itu menyeringai tidak perduli dengan tatapan ketiga sahabatnya.

Kecelakaan tersebut membuat Ustadza Dwi sempat kehilangan fokus. Apa lagi ia dapat merasakan dengan nyata betapa keras dan besarnya kemaluan muridnya, membuatnya sepintas berfikiran yang tidak-tidak. Tetapi Ustadza Dwi dengan cepat berhasil mengendalikan dirinya, yang sempat di landa birahi.

“Hukum Agama dibagi menjadi lima bagian. Yang pertama wajib, yang ke dua Sunnah, ke tiga haram, ke empat makruh dan yang kelima mubah.” Jelas Ustadza Dwi, suaranya terdengar gemetar karena ia harus menekan birahinya.

Tidak terasa 45 menit berlalu, dan itu artinya, penderitaan mereka berempat akan segera berakhir. Bukan hanya mereka, Ustadza Dwi juga merasa lega.

“Besok kalian cari tau tentang penjelasan ke lima hukum Agama, kalau ada yang tidak bisa menjawab, kalian akan di hukum seperti mereka berempat.” Ujar Ustadza Dwi sembari melihat kearah mereka. “Dan untuk kalian berempat, jangan di ulangi lagi. Sekarang kalian berempat boleh duduk.” Suruh Ustadza Dwi.

Wanita berusia 39 tahun itu menutup pelajaran hari ini dengan memberi sedikit nasehat kepada murid-muridnya tentang perlunya keseriusan dalam menuntut ilmu. Rayhan, Doni, Asril dan Rico hanya tertunduk mendengar nasehat Ustadza Dwi.

******

Julia

“Ray!”

Rayhan celingak-celinguk mencari sumber suara yang baru saja memanggilnya. Tidak jauh dari kantor sekolah, seorang wanita cantik mengenakan gamis berwarna biru muda melambaikan tangannya.

“Duluan ya.” Ujar Rayhan.

“Ketemu di tempat biasa Ray!” Teriak Rico ketika Rayhan mulai menjauh.

“Ok.” Pekik Rayhan sembari membentuk jarinya berbentuk huruf ‘O’

Dia segera menghampiri Zaskia yang tengah bersama sahabatnya. Bagi Rayhan mereka berdua sama cantiknya, tapi di hatinya tetap Kak Zaskia yang paling cantik. Sayangnya, Rayhan tidak bisa memiliki Zaskia, karena wanita itu adalah Kakak Kandungnya. Tetapi walaupun begitu Rayhan merasa masih berhak untuk mengaguminya.

“Ada apa Kak?” Tanya Rayhan.

Zaskia memasukan tangannya ke dalam saku gamisnya. “Ini uang jajan kamu, kakak lupa ngasi tadi.” Ujar Zaskia. Rasa takut atas kejadian tadi malam membuatnya lupa memberikan uang jajan Rayhan.

“Terimakasih Kak!” Rayhan tampak senang saat mengambil uang tersebut dari tangan Kakak kandungnya. “Aku ke sana dulu ya Kak.” Pamit Rayhan.

Zaskia menganggukkan kepalanya. Mata indah Zaskia tidak melepaskan bayangan Rayhan yang semakin menjauh. Entah kenapa Zaskia merasa sangat nyaman setiap kali berada didekat Adiknya. Dan sebaliknya, ketika Rayhan tidak ada di sampingnya, ia merasa kosong.

Sikap Zaskia tidak luput dari perhatian Julia, ia merasa tatapan Zaskia bukan seperti seorang Kakak melihat Adiknya, melainkan seperti seorang kekasih yang melepas kepergian pacarnya.

“Rayhan terlihat semakin ganteng ya.” Bisik Julia.

Muka Zaskia mendadak merona merah. “Iya dong, gak kalah sama Kakaknya yang cantik.” Canda Zaskia, sembari memuji dirinya sendiri.

“Pantes kamu betah jomblo.”

“Maksudnya?” Zaskia merenyitkan dahinya.

“Punya adik setampan itu, siapapun pasti betah menjomblo.” Goda Julia, membuat Zaskia semakin salah tingkah.

“Astaghfirullah!! Dia adikku Mbak.”

“Ya tetap saja kan, Rayhan cowok dan kamu cewek, tinggal satu rumah berdua lagi.” Ujar Julia. “Wajar kalau benih-benih cinta itu mulai tumbuh. Mungkin sekarang kamu tidak mau mengakuinya, tapi cepat atau lambat kamu pasti akan mengakuinya.” Tambah Julia membuat Zaskia sempat terdiam.

“Astaghfirullah! Mbak ngelantur.” Rajuk Zaskia.

Tapi diam-diam ia membenarkan apa yang di katakan sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri. Akhir-akhir ini ia merasakan ada yang berbeda dari cara ia melihat Rayhan, dan semakin hari, perasaan itu terasa semakin kuat, walaupun ia berusaha menepisnya.

“Kita lihat aja nanti.” Tantang Julia.

Zaskia menggelengkan kepalanya, lalu melangkah pergi menuju kantin, yang di susul oleh Ustadza Julia.

*****

Jam baru menunjukan pukul 9 pagi. Ustadza Dwi memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Ia bergegas menuju rumahnya. Di jalan ia bertemu beberapa Ustadza dan santri yang menyapanya. Karena ia terburu-buru Dwi hanya membalas alakadarnya saja.

Ustadza Dwi baru menghentikan langkahnya ketika salah seorang petugas kebersihan menegurnya.

“Mau kemana Ustadza? Kok buru-buru sekali!” Tegur Imbron. Pria berusia 47 tahun itu menyeringai, memamerkan gigi kuningnya yang tidak rata.

Ustadza Dwi berusaha tersenyum. “Mau pulang, ada urusan mendadak.” Jawab Dwi. “Oh iya Pak, di belakang rumah ada bekas karton yang sudah tidak terpakai, tolong di ambil ya Pak.” Pinta Ustadza Dwi.

“Beres Ustadza.”

“Kalau begitu saya permisi dulu ya Pak.” Pamit Ustadza Dwi.

Ia kembali melanjutkan perjalannya ke rumah. Rumahnya yang bercat putih itu terlihat sepi. Harap maklum saja, karena putrinya Aziza masih di kelas, sementara Suaminya sibuk membantu pengembangan pesantren baru cabang Al Tauhid.

Setibanya di rumah, Ustadza Dwi langsung menuju kamar mandi miliknya. Setelah memastikan pintu kamar mandinya tertutup rapat. Ustadza Dwi berdiri di depan cermin yang menempel di dinding kamarnya. Cukup lama ia memandangi wajah cantiknya yang bersemu merah.

“Hmmmpss…” Dwi menggigit bibirnya.

Tangannya naik keatas payudaranya, meremas kasar payudara miliknya yang berada di balik gamis hitam yang ia kenakan. Mata indahnya terpejam menikmati remasan di payudaranya yang berukuran 34D. Insiden di kelas tadi, sukses membangkitkan birahinya.

Ustadza Dwi tau betul apa yang ia lakukan saat ini sebuah perbuatan yang salah, dan di haramkan oleh Agama. Tetapi ketika gejolak birahi datang, Dwi selalu tidak mampu mengontrol dirinya agar bisa menekan birahinya.

Seperti saat ini. Ketika birahinya datang, yang di inginkan Dwi hanyalah mencari kepuasan tanpa perduli dosa yang akan ia pertanggung jawabkan di akhirat nanti.

Jemari indahnya pergi kearah kancing gamisnya, lalu dengan perlahan ia membuka kancing gamis miliknya. Menurunkan gamis bagian atasnya, hingga tampak payudaranya yang di balut bra berwarna cream. Ustadza Dwi menyingkap branya keatas, lalu kembali meremas payudaranya dengan kasar.

“Aahkk… Enak! Remas lebih keras.” Desah Ustadza Dwi.

Ia mengerang nikmat merasakan sensasi sakit di payudaranya. Kedua jarinya tidak tinggal diam, mereka bertugas menstimulasi putingnya yang kemerah-merahan.

Tangan kanan Dwi turun kebawah, menyingkap keatas bagian ujung gamisnya. Dia membelai paha bagian dalamnya. Terus naik keatas menuju selangkangannya yang masih mengenakan legging ketat berwarna coklat. Tangannya menyusup masuk kedalam celana legging dan dalamannya. Ia mendapatkan bibir kemaluannya telah basah.

“Oughkk… Jangaaaaan… Aaahkk… Aahkk…”

Ustadza Dwi memejamkan matanya, ia membayangkan seseorang tengah menjamah serambi lempitnya.

Kepalanya mendongak keatas, ketika jemarinya bermain diatas clitorisnya yang semakin membengkak. Pantat Ustadza Dwi gemetar, merasakan sensasi yang luar biasa. Yang tidak akan pernah ia dapatkan ketika ia bercinta dengan Suaminya.

Tidak butuh waktu lama bagi dirinya untuk segera mencapai puncaknya. Ia mendapatkan orgasme kecil dari sentuhan jemari halusnya.

Wajah cantik Dwi merah pandam, dan nafasnya tersengal-sengal mengikuti irama dadanya yang naik turun. “Astaghfirullah! Maafkan aku Tuhan.” Lirih Dwi menyesal. Rasa penyesalan yang selalu ia dapatkan setiap kali habis melakukan masturbasi. Tapi anehnya, ia malah selalu mengulanginya lagi dan lagi.

Setelah merasa puas, Ustadza Dwi kembali merapikan pakaiannya yang berantakan.

Tanpa ia sadari seseorang melihat apa yang barusan ia lakukan. Pria tersebut menyeringai, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Seorang Ustadza melakukan Masturbasi.

*****

Asyifa

Aurel

Adinda

Aziza

Dedaunan dan ranting dari pohon cemara itu berguguran tertiup angin hingga jatuh ke tanah, dan sebagian lagi tertiup hingga ke jalan trotoar. Beberapa burung kecil turun dari pohon, mengambil daun dan ranting kecil yang jatuh untuk di jadikan sangkar. Tak jauh dari situ, tampak beberapa anak remaja perempuan tengah duduk santai di teras perpustakaan.

Kedua tangan mereka sibuk memegang buku, hanya saja tidak satupun dari mereka yang sedang membaca buku. Mereka malah sibuk mengobrol, menceritakan kejadian naas yang di alami salah satu santriwati tadi malam.

“Jadi gimana kabar Amanda?” Tanya Aurel.

Asyifa menggelengkan kepalanya. “Gak tau, katanya sekarang ia lagi di rawat di rumah sakit.” Jawab Asyifa. Ia sangat marah atas kejadian tadi malam.

“Kasihan Amanda!” Lirih Aziza.

“Semoga saja pelakunya cepat di temukan dan di hukum seberat-berat.” Lirih Asyifa, ia memandang jauh kearah segerombolan Santri yang tengah tidur-tiduran di bawah pohon besar.

Aurel mendesah pelan. “Dengar-dengar katanya itu mahluk halus yang memperkosa Amanda.” Ucap Aurel, membuat suasana menjadi semakin mencekam.

“Astaghfirullah! Kalian ngomong apa?” Tegur Adinda. Ia terlihat sibuk memperbaiki ujung jilbabnya karena tertiup angin yang cukup kencang.

“Menurut kabar burung memang seperti itu kok.” Jelas Aurel tidak mau dianggap berbohong. Tadi pagi ia tidak sengaja mendengar obrolan teman kelas Amanda, tentang kejadian yang menimpa Amanda.

“Aku dengar juga seperti itu.” Bela Aziza.

Adinda menghela nafas pelan. “Tetap saja kita tidak boleh begitu saja mengambil kesimpulan seperti itu. Apa lagi itu baru kabar burung, belum jelas kebenarannya seperti apa.” Nasehat Adinda.

“Benar apa kata Adinda, lebih baik kita tunggu hingga pelakunya di tangkap.” Ujar Asyifa menambahkan. Mereka bertiga kompak menganggukan kepala.

“Sudah-sudah, kok jadi membahas kejadian semalam! Ingat habis ini kita ada hafalan.” Ujar Aziza mengingatkan.

Suasana pun kembali hening, yang terdengar hanyalah suara gumaman mereka yang tengah menghafal. Tepatnya, mengulangi hafalan, agar nanti mereka tidak merasa gugup ketika menyetor hafalan.

Berbeda dengan santri, bagi Santriwati sangat memalukan bagi mereka kalau harus menerima hukuman karena tidak hafal.

******

Tepat berakhirnya jam pelajaran hari ini, anak-anak pesantren berhamburan keluar kelas. Seakan mereka baru saja keluar dari penjara. Wajah-wajah yang tadinya tidak bersemangat, kini terlihat begitu cerah, pancaran kebahagian terlihat jelas di wajah mereka.

Asyifa tampak membawa setumpuk buku di tangannya, yang harus ia serahkan kepada Ustadza Anita. Tadi sebelum keluar kelas, Ustadza Anita sempat memberi amanah Asyifa untuk mengumpulkan tugas teman-temannya. Walaupun ia merasa enggan, tapi Asyifa tidak bisa menolak perintah dari gurunya.

Setelah mengenakan sepatu, Asyifa bergegas menuju kantor Aliya yang berada di wilayah santri. Ia tidak ingin terlambat mengantri makanan. Bisa-bisa ia kehabisan lauk kalau terlambat sedikit saja.

“Mau kemana?” Tegur Aziza, sembari mengusap matanya yang kemasukan debu.

Asyifa menunjukan tumpukan buku di tangannya. “Mau ke kantor Aliyah. Mau ikut?” Ajak Asyifa penuh harap. Ia selalu merasa tidak nyaman setiap berada dilingkungan santri. Mengingat para Santri yang suka sekali menggoda para santriwati ketika mereka memasuki wilayah santri.

Aziza menggelengkan kepalanya. “Sendiri aja, aku mau cepat pulang bantu Umi masak.” Tolak Aziza. Asyifa menghempaskan nafasnya kecewa.

Tidak semua santri tinggal di asrama, ada beberapa dari mereka yang pulang kerumah, seperti Aziza. Ia memang tidak mondok, tapi rumahnya berada di lingkungan pesantren. Maklum saja, orang tua Aziza salah satu staf mengajar di pesantren Al-tauhid. Sehingga keluarga mereka berhak menempati salah satu rumah di pondok pesantren Al-tauhid.

Selepas kepergian Aziza. Asyifa bergegas menuju kantor Aliya. Dan benar saja, sepanjang jalan menuju kantor beberapa santri menggoda dirinya. Ada yang bersiul, mengajak kenalan dan ada juga yang mengatainya sombong karena tidak mengubris panggilannya mereka.

Godaan itu barulah berhenti ketika ia memasuki kantor Aliya. Kaki mungilnya melangkah cepat menaiki anak tangga kantor Aliya. Tapi tiba-tiba dari atas muncul anak remaja yang tengah menuruni anak tangga dengan cepat.

“Eh…” Kaget Asyifa. Tapi ia tidak sempat untuk menghindari tabrakan.

Bruaaak…

Buku tulis yang ada di tangan Asyifa berhamburan jatuh. Sebagian masih di anak tangga tapi sebagian besar jatuh kelantai satu. Beruntung Asyifa tidak sampai terjatuh, karena dengan sigap pemuda itu memegangi tubuh Asyifa sehingga ia terhindar dari jatuh.

Tapi sialnya tangan pemuda itu berada di tempat yang salah. Asyifa yang menyadarinya sempat terdiam selama beberapa detik.

“Astaghfirullah!” Dia menepis tangan Rayhan dari atas payudaranya.

Buru-buru Rayhan menarik dirinya agar sedikit menjauh dari Asyifa. “Maaf gak sengaja!” Bela Rayhan, sebelum dirinya di sembur.

“Kurang ajar kamu!” Kesal Asyifa.

Ia merasa sudah di lecehkan oleh Rayhan, walaupun sebenarnya ia baru saja di tolong Rayhan.

Kekesalan Asyifa semakin memuncak ketika melihat Rayhan yang acuh tak acuh setelah menyentuh bagian sensitifnya. Bahkan tanpa berkata-kata, Rayhan bergegas menuruni anak tangga.

Wajah putih Asyifa mendadak merah padam. Ingin ia berteriak memanggil pemuda sombong tersebut. Tapi ia takut malah membuat kegaduhan, bagaimanapun juga saat ini ia sedang berada di kantor Aliyah. Sembari mendumel kesal, Asyifa memungut kembali buku yang berserakan.

Dari kejauhan, pemuda itu diam-diam memperhatikan Asyifa. Bibirnya sedikit membentuk sebuah senyuman.

*****

“Kamu kok pulangnya sore banget Ray!” Omel Zaskia ketika Rayhan baru saja pulang.

Pemuda itu duduk di kursi sembari memperhatikan Kakak Iparnya yang tengah membuat kue kering. Aroma kue yang menyengat sedikit menggunggah selera.

Zaskia menghampiri Rayhan sembari membawa cetakan kue yang baru saja ia ambil dari dalam oven. Ia letakan di atas meja, lalu membuka sarung tangan khusus agar kulit tangannya tidak sampai terbakar ketika memegang cetakan kue yang masih sangat panas.

Dengan menggunakan penjepit, Zaskia mengeluarkan kue kering dari dalam cetakan untuk di masukan ke dalam toples kue yang ada diatas meja.

“Sore ini kamu jangan main dulu!” Perintah Zaskia.

“Yaaaa… Kakak, padahal hari ini kelas aku tanding bola.” Protes Rayhan.

Zaskia meliriknya dengan tatapan tajam, seakan ia tidak ingin di bantah. “Bantu kakak kasiin kue ini ke Ustadza Dewi ya.” Suruh Zaskia. Tanpa perduli dengan penolakan adiknya yang ia ingin ikut bertanding bola.

“Emang Ustadza Dewi minta bikinin kue buat apa Kak?” Tanya Rayhan hendak mencomot satu kue, tapi keburu di tepis oleh Zaskia. Rayhan tersenyum nyengir dengan tatapan memelas.

“Jangan banyak tanya, kamu kasikan saja.”

Rayhan beranjak dari tempat duduknya. “Iya deh Kak! Tapi aku mandi dulu ya Kak.” Ujar Rayhan. Tanpa di sadari Zaskia, ada perubahan ekspresi di wajah Rayhan yang tadinya kecewa kini terlihat girang.

Zaskia yang tidak melihat perubahan raut wajah Rayhan hanya bisa menghela nafas perlahan, ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap adiknya itu, yang taunya cuman main aja.

*****

Ust Dewi

Nikita

Sembari bersiul ringan, Rayhan berjalan melewati jalan setapak menuju rumah Ustadza Dewi. Baru kali ini Rayhan terlihat begitu bersemangat ketika di suruh Kakaknya. Bahkan Zaskia sempat bingung melihat tingkah Rayhan yang tidak protes sama sekali ketika di minta mengantarkan kue ke rumah Ustadza Dewi.

Bayangan kecantikan dan keseksian tubuh Ustadza Dewi membayangi setiap langkahnya, membuat Rayhan semakin bersemangat.

Setiba di rumah Ustadza Dewi, ia di sambut cukup hangat oleh sang Ustadza, bahkan Rayhan di persilahkan masuk terlebih dahulu. Tapi ketika ia hendak duduk di sebuah sofa empuk berwarna coklat tua, tanpa di sengaja mata Rayhan melihat sesosok gadis remaja yang tengah tertidur di dalam kamar yang pintunya terbuka lebar, tepat menghadap kearahnya.

Mata pemuda itu terbelalak karena pakaian yang di kenakan Nikita begitu menggoda. Gadis cantik itu hanya mengenakan tanktop tanpa lengan dan celana dalam berwarna merah muda bergaris garis putih.

“Mau minum apa Ray?” Tanya Ustadza Dewi.

Rayhan sedikit tergagap. “Anu Ustadza! Apa aja.” Ia buru-buru memalingkan wajahnya menghadap Ustadza Dewi.

“Ustadza ambilkan dulu ya.”

Selepas kepergian Ustadza Dewi, Rayhan kembali melihat ke dalam kamar Nikita yang bernuansa hello Kitty. Tampak gadis remaja itu tertidur lelap tanpa menyadari kalau seseorang tengah menatap nanar kearahnya.

Glek… Glek… Glek…

Berulang kali jakun Rayhan naik turun, wajahnya yang tegang terlihat bersemu merah. Dan nafasnya mulai terdengar sedikit memburu. Sementara celana kain berwarna hitam yang ia kenakan saat ini tampak membentuk sebuah tenda yang cukup besar.

Tangan Rayhan turun kebawah, memperbaiki posisi kemaluannya yang terasa mengganjal.

Harus di akui, gadis remaja berusia belasan tahun itu mewarisi bentuk tubuh Ibunya yang berisi. Kulitnya yang sawo matang terlihat eksotis. Sanking asyiknya melihat tubuh indah Nikita, Rayhan sampai tidak menyadari kehadiran Ustadza Dewi yang tengah membawa nampan.

“Hei!”

Untuk kedua kalinya Rayhan terperanjat oleh teguran Ustadza Dewi yang tampak heran dengan keterkejutan Rayhan. “U-ustadza! Bikin kaget aja.” Protes Rayhan, sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Jemari halus Ustadza meletakan segelas teh di atas meja. “Kamu kenapa Rayhan? Kok ngeliat Ustadza kayak ngeliat hantu.” Ujar Ustadza Dewi heran.

“Eng-enggak apa-apa Ustadza.”

“Dasar aneh kamu Ray!” Celetuk Ustadza Dewi seraya tersenyum manis. Ia duduk di sofa yang ada di depan Rayhan sembari menyilangkan kakinya. Alhasil gamis berwarna merah muda bermotif bunga yang di kenakannya sedikit tersingkap.

Kembali pemuda berusia belasan tahun itu menggaruk kepalanya. “Aneh gimana Ustadza? Hehehe…”

“Udahlah gak usah di bahas! Tapi terimakasih ya. Sudah mau capek-capek nganterin kue ke rumah Ustadza.”

“Biasa aja Ustadza, Ana malah merasa senang bisa membantu Ustadza.” Ujar Rayhan kalem. Walaupun kali ini ia tidak bisa melihat ketelanjangan anak Ustadza Dewi, tapi Rayhan cukup senang bisa melihat senyuman Ustadza Dewi yang menggoda.

“Yang bener?” Goda Ustadza Dewi sembari sedikit mencondongkan tubuhnya.

“Bener dong Ustadza! Kapan lagi bisa ngebantu wanita secantik Ustadza Dewi. Hehehe…” Balas Rayhan, entah kenapa Rayhan sedikit memiliki keberanian menggoda balik Ustadza Dewi. Mungkin karena kedekatan mereka akhir-akhir ini.

Mendengar ucapan Rayhan, Ustadza Dewi tertawa sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang halus, layaknya adab seorang muslimah yang sedang tertawa. Sungguh tawa Ustadza Dewi terdengar renyah di telinga Rayhan. Apa lagi kedua gunung Ustadza Dewi ikut terguncang ketika ia sedang tertawa, membuat Rayhan semakin bergairah.

Tetapi obrolan mereka sedikit terputus ketika seseorang memanggil putrinya Nikita.

“Bentar ya!” Ujar Ustadza Dewi hendak memanggil putrinya.

Ia beranjak dari sofa, tapi saat berbalik, barulah Ustadza Dewi mengerti kenapa Rayhan tadi sempat salah tingkah. Ternyata pelakunya adalah putrinya sendiri yang tengah tertidur lelap dengan hanya memakai tanktop dan celana dalam. Ustadza Dewi tersenyum tipis menyadari betapa nakalnya Rayhan.

Sejenak Ustadza Dewi sempat melirik Rayhan, membuat pemuda tanggung itu kembali salah tingkah. “Nakal sekali kamu Ray!” Bisik hati Ustadza Dewi.

Dia menghampiri kamar putrinya, sembari menutup pintu kamar putrinya, membuat Rayhan merasa tidak enak hati.

Tidak lama kemudian Ustadza Dewi kembali keluar. Tapi kali ini Rayhan memilih diam, ia tertunduk tanpa berani menatap mata Ustadza Dewi yang sedang memandangnya. Hingga akhirnya Nikita pamit keluar bersama temannya.

“Pantesan tadi ada yang tegang!” Ledek Ustadza Dewi.

Rayhan yang sudah ketahuan mengintip Nikita tidur berusaha memberikan jawaban yang tepat. “Maaf Ustadza! Tadi itu gak sengaja.” Jujur Rayhan, yang awalnya ia memang tidak sengaja melihat putri Ustadza Dewi yang tengah tertidur.

“Gak sengaja tapi keterusan.” Singgungnya.

“Habis anak Ustadza cantik sekali sama seperti Ustadza.” Ujar Rayhan, entah kenapa ia merasa Ustadza Dewi tidak benar-benar marah kepadanya, walaupun ia sendiri tidak mengerti.

“Gombal!”

Rayhan tidak mau kehabisan akal. Ia menghampiri Ustadza Dewi dan berdiri di samping Ustadza Dewi. “Ana mana berani gombalin Ustadza!” Rayhan meletakan kedua tangannya di pundak Ustadza Dewi. “Ana tidak bohong, Ustadza memang sangat cantik.” Ujar Rayhan dengan suara perlahan.

Sebagai wanita yang sudah mendekati kepala empat, Ustadza Dewi merasa tersanjung atas pujian Rayhan. Mata indahnya terlihat berbinar dan kedua pipinya merona merah seperti bunga yang baru saja bermekaran.

Rayhan jongkok di samping Ustadza Dewi, ia menatap wajah cantik Ustadza Dewi dengan tatapan layaknya seorang pejantan terhadap betinanya, membuat tubuh Ustadza Dewi merinding di buatnya. Ia tidak menyangkah kalau Rayhan bisa memiliki kharisma yang kuat.

“Astaghfirullah! Antum berani sekali menggoda Ustadza! Emang kamu pikir saya ini pacar kamu apa?” Kata Ustadza Dewi, seakan-akan ia sedang marah, tapi nada dan gestur tubuhnya tidak bisa bohong kalau saat ini ia sangat gembira karena mendapat pujian dari anak remaja berusia 18 tahun.

Telapak tangan Rayhan meraih tangan Ustadza Dewi, membuat jantung Ustadza Dewi berdetak tak karuan.

“Loh, bukannya kita sedang pacaran Ustadza!” Goda Rayhan.

Wajah cantik Ustadza Dewi bersemu merah. Sembari mengulum senyum wanita berusia 39 tahun itu memalingkan wajahnya. Rayhan kembali berdiri dan duduk di sandaran tangan sofa. Tangan kanan Rayhan kembali merangkul pundak Ustadza Dewi, yang lagi-lagi hanya diam saja.

Saat Ustadza Dewi melihat kearah Rayhan, pemuda tanggung itu memberanikan diri menyentuh wajahnya. Mata mereka bertemu, membuat getaran-getaran syahwat yang perlahan semakin memabukkan kedua insan berlainan generasi itu.

Rayhan mendekatkan wajahnya, dan memberi kecupan lembut di bibir Ustadza Dewi.

Deg… Deg… Deg…

Jantung mereka berpacu semakin cepat, memompa darah mereka hingga tubuh mereka seakan terbakar. Bagi Rayhan, bukanlah hal baru ia mencium bibir seorang wanita, hanya saja baru kali ini ia mencium bibir wanita yang usianya jauh diatas dirinya, apa lagi wanita tersebut adalah seorang Ustadza. Hingga menimbulkan sensasi yang berbeda.

Begitu juga dengan Ustadza Dewi. Setidaknya ada tiga pria yang pernah mengecup bibirnya sebelum Rayhan. Dari pacar pertamanya, mendiang suami, hingga pacar terakhirnya yang sekarang entah di mana keberadaannya.

Hanya saja berciuman dengan seorang pemuda berusia belasan tahun membuatnya merasa kembali muda.

Mereka berciuman layaknya sepasang kekasih. Saling mengulum bibir masing-masing. Lidah Rayhan masuk kedalam rongga mulut Ustadza Dewi, dia membelit liar lidah Ustadza Dewi, membuat Ustadza Dewi merinding. Hampir satu menit mereka berciuman, Rayhan akhirnya menarik diri sebelum ia kehabisan nafas.

Jari jempol Rayhan mengusap bibir merah Ustadza Dewi yang tampak basah karena lelehan air liur mereka.

“Berani sekali kamu mencium bibir Ustadza?” Geram Ustadza Dewi.

Rayhan tersenyum tipis. “Tapi Ustadza sukakan?” Bisik Rayhan, telapak tangan kirinya menyentuh payudara Ustadza Dewi yang berukuran 36E itu.

Ustadza Dewi membalasnya dengan senyuman, dan membiarkan telapak tangan Rayhan meremas payudaranya. Toh tidak ada gunanya lagi ia bersikap jaim di hadapan Rayhan, karena pada dasarnya ia juga menginginkan Rayhan menyentuh tubuhnya. Sebagai wanita yang sudah lama hidup sendirian ia merindukan sentuhan seorang pria.

Untuk kedua kalinya mereka kembali berciuman, tapi kali ini mereka melakukannya dengan lebih santai, di iringi dengan remasan kecil telapak tangan Rayhan diatas payudaranya.

Tapi tiba-tiba….

“Assalamualaikum!”

Tanpa di beri komando, kedua insan yang tengah di mabuk birahi itu buru-buru memisahkan diri dan kembali ke posisi masing-masing. Nikita yang ternyata pulang lebih cepat, terheran-heran melihat kedua insan tersebut yang tampak tegang. Terutama wajah Ibu kandungnya yang bermandikan keringat.

Selepas Nikita masuk ke dalam kamarnya, kedua insan berbeda generasi itu saling pandang. Lalu tertawa pelan sembari saling menggoda satu sama lainnya.

******

Malam harinya…

Bersama Azril, Laras tampak santai sembari menonton sinetron ke sukaannya, sembari sesekali memijit kakinya yang masih terasa sakit akibat terjatuh tadi pagi. Azril yang duduk di samping Laras tidak bisa fokus, sesekali ia memperhatikan Laras yang malam ini mengenakan daster motif batik Pekalongan.

Bayangan tubuh telanjang Laras, seakan tidak mau lari dari dalam benaknya, membelenggu dirinya. Walaupun sejujurnya, ada rasa bersalah di dalam hati Azril karena saat Laras terjatuh Azril hanya diam saja tanpa membantu Ibu Tirinya.

Azril mendesah pelan, berulang kali ia beristighfar berusaha melupakan kejadian tadi pagi.

“Boleh ikut gabung!”

Laras tersenyum menyambut Daniel. “Boleh dong Dan! Sini duduk Dan…” Ajak Laras. Pemuda tersebut duduk di samping Laras.

“Gimana kakinya Tan?” Tanya Daniel sopan.

“Udah agak mendingan tapi masih sedikit sakit.” Aku Laras sambil sedikit mengurut kakinya. “Oh iya Dan, terimakasih ya kalau gak ada kamu gak tau deh jadinya gimana.” Ujar Laras, mengingat bagaimana Daniel begitu cepat membantu dirinya ketika ia terjatuh tadi pagi.

“Sama-sama Tante!” Saya juga berterimakasih karena bisa melihat tubuh telanjang Tante. Bisik hati Daniel. “Boleh saya liat kaki Tante.” Izin Daniel.

Sejujurnya Laras sedikit ragu, mengingat kejadian tadi pagi, bagaimana Daniel berhasil membangkitkan birahinya hanya dengan pijitan ringan di kakinya. Tapi di sisi lain, Laras mengakui kalau pijitan Daniel memang membuat rasa sakit dikakinya lebih mendingan dan sentuhan Daniel membuat tubuhnya terasa lebih rileks dari biasanya.

Setelah berpikir sejenak, Laras akhirnya mengizinkan Daniel melihat kakinya yang terkilir.

Setelah mendapat izin, Daniel berjongkok di depan Laras. Dia sedikit mengangkat kaki Laras sembari melihat pergelangan kaki Laras yang sedikit bengkak. Wajah Daniel terlihat serius ketika memeriksa pergelangan kaki Laras.

“Bagaimana Dan?” Tanya Laras.

Daniel mendesah pelan. “Bengkaknya sudah mulai kempes. Tapi sepertinya harus di urut lagi.” Ujar Daniel, ia menatap Laras meminta izin untuk memijit kakinya.

Karena sudah kepalang tanggung, Laras menganggukkan kepalanya, memberi izin Daniel kembali menyentuh kakinya. Dengan perlahan Daniel mengurut kaki Ustadza Laras. Sementara Azril hanya diam sembari memperhatikan Daniel memijit kaki Ibu tirinya yang masih sedikit bengkak.

Sedikit rasa nyeri di kakinya membuat Laras memejamkan matanya. Daniel yang melihat hal tersebut sedikit merasa kasihan. Sabar ya Tan, ini hanya sebentar. Bisik hati Daniel.

Setelah merasa cukup, jemari Daniel naik sedikit keatas menyingkap ujung daster Ustadza Laras.

“Tahan sedikit ya Tan!”

Laras menganggukan kepalanya. Ia mengepal kedua tangannya hendak menahan rasa sakit. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, ketika Daniel memijit bagian belakang betisnya, Laras malah merasa nyaman dan sedikit geli.

Geli-geli nyaman yang di rasakan Laras, perlahan membuat birahi Laras naik ke ubun-ubun kepalanya. Nafasnya mulai tersengal-sengal, dan ia mulai tidak bisa fokus. Ya Tuhan… Kenapa aku kembali terangsang! Padahal saat ini Daniel hanya memijit kakiku. Lirih Laras di dalam hati.

Telapak tangan Daniel naik keatas, memijit bagian belakang lutut Laras. “Aduh, aahkk…” Desah Laras tanpa bisa menahannya lagi.

“Sakit ya Tan?” Wajah Daniel tampak khawatir.

Laras mengangguk lemah. Syukurlah Daniel tidak tau. Ucap Laras di dalam hati. Ia merasa sangat malu kalau sampai Daniel tau kalau dirinya saat ini tengah di landa birahi. Sentuhan Daniel semakin naik keatas, menyingkap lebih banyak daster yang ia kenakan hingga sebatas lututnya.

Hati Laras mulai merasa bimbang. Sentuhan Daniel memang enak sekali, bahkan bisa membuatnya terbuai. Tetapi sebagai seorang wanita ia merasa malu, karena auratnya yang terbuka. Ceritasex.site

Oh Tuhan… Apa yang harus kulakukan sekarang? Laras melihat kearah Azril. Astaga, Azril… Pekik Laras di dalam hati. Raut wajah Azril terlihat begitu tegang. Matanya melotot menatap nanar kearah lututnya yang terbuka, seakan berharap bisa melihat lebih jauh auratnya. Entah kenapa bukannya marah Laras malah semakin terangsang.

“Maaf Tan, uratnya gak dapet! Boleh saya urut lebih keatas.” Lagi Daniel meminta izin.

Kali ini Laras benar-benar bingung. Di sisi lain ia merasa berdosa kalau terus membiarkan pria lain yang bukan mahramnya melihat auratnya. Tapi di sisi lainnya, Laras merasa tanggung dan diam-diam ia berharap bisa terpuaskan.

“Gimana sayang?” Tanya Laras kepada Azril.

Azril terlihat gugup. “Gak apa-apa Ma, yang penting Mama sembuh.” Jawab Azril. Ia mengutuk ucapannya barusan, karena tanpa sadar membiarkan pria lain melihat aurat Ibu Tirinya.

“Boleh Dan! Tapi pelan-pelan.” Pinta Laras.

Daniel menganggukkan kepalanya. Lengannya menyibak daster yang di kenakan Laras hingga berada diatas lutut. Sementara tangannya berada dibalik daster yang di pakai Laras. Jemari kasar Daniel memijit dan membelai paha bagian dalam Laras, hingga tubuh Laras sedikit gemetar.

Sedikit senyuman terukir di bibir Daniel, setelah menyadari kalau Ustadza Laras sudah benar-benar di kuasai oleh birahinya, sehingga ia semakin berani berbuat lebih jauh.

Dengan satu tarikan, tangan Daniel masuk jauh lebih dalam mendekati selangkangan Laras, hingga daster yang di kenakan Laras tertarik makin keatas bahkan sedikit memperlihatkan celana dalam Laras yang berwarna ungu.

Azril yang berada tepat di samping Ibunya tampak tegang, ia tidak menyangkah bisa kembali melihat gundukan gemuk milik Ibunya, walaupun kali ini masih tertutup kain segitiga.

“Sakit?” Tanya Daniel.

Laras mengangguk pelan. Ia terpaksa berbohong agar tidak sampai ketahuan kalau dirinya saat ini dalam keadaan sangat terangsang. Bahkan celana dalamnya sudah sangat basah karena lendir cintanya yang keluar cukup banyak. Daniel yang tengah berjongkok di depannya jelas dapat melihat bercak basah di celana dalamnya.

Kedua jempol Daniel menekan pinggiran selangkangan Laras, membuat wanita berkerudung putih itu sampai menggeliat. Dia membenamkan wajahnya di lengan Azriel.

“Ughk… Hmmm… Eenggkkk…” Desah Laras.

Tidak… Aku tidak boleh mendesah. Jerit hati Laras, yang di buat frustasi oleh Daniel.

Rasa nikmat itu perlahan pulai memudar ketika kedua jari Daniel tidak lagi menekan pinggiran selangkangannya. Perlahan nafas Laras mulai kembali teratur. Ia sedikit membuka matanya. Ya Tuhan, serambi lempitku. Laras sangat gugup saat tau kalau celana dalamnya telah basah seutuhnya. Dan posisi duduknya kini lebih condong ke depan, kearah Daniel.

Dia mengangkat wajahnya melihat kearah putranya Azril yang tidak berkedip melihat selangkangannya. Bahkan ia dapat mendengar suara Azril yang tengah menelan air liurnya.

Dengan sedikit kesadaran Laras menarik kebawah ujung dasternya untuk menutupi selangkangannya dari tatapan Azril yang seakan ingin menelannya bulat-bulat. Tapi ia tidak menyingkirkan ataupun menghalangi tangan Daniel yang berada di dalam dasternya.

“Tahan sedikit ya Tan!” Bisik Daniel.

Laras mengangguk sembari kembali membenamkan wajahnya di pundak Azril. Ia dapat merasakan pijitan lembut Daniel yang kembali naik mendekati pinggiran celana dalamnya.

Nakal kamu Dan…. Gumam Laras.

Dengan sengaja Daniel menyentuh bibir kemaluan Laras dari luar celana dalam yang dikenakan Laras. Menggelitik libido Laras hingga ke batas akhir. Setengah mati Laras berusaha bertahan, tapi tetap saja ia tidak bisa menghentikan orgasme kecilnya, hingga celana dalamnya menjadi semakin basah.

Tidak sampai di situ saja. Aksi Daniel semakin berani, tatkalah Laras merasakan jari Daniel menyelinap masuk ke dalam celana dalamnya melalu cela samping kain segitiga tersebut.

Mata Laras membeliak menatap Daniel tak percaya. Tapi dengan tenang Daniel malah tersenyum tipis.

Azril yang berada diantara mereka seakan hanya menjadi pelengkap saja. Ia terlihat bingung sekaligus penasaran dengan apa yang di lakukan Daniel terhadap Ibu Tirinya. Tapi sayangnya, ia tidak bisa melihat tangan Daniel yang berada di balik daster yang dikenakan Laras.

“Oughkk…” Laras melenguh panjang ketika jari tengah Daniel menusuk lobang serambi lempitnya.

“Tahan Mi.” Bisik Azril pelan.

Laras meremas lengan putranya dengan sangat kuat, seakan kuku-kukunya menancap di lengan Azril. Sementara kedua pahanya tampak gemetaran, dan tangannya yang tengah menahan ujung dasternya terlihat menegang.

Dengan satu jari, Daniel mengorek-ngorek lobang serambi lempit Laras. Ia dapat merasakan jepitan serambi lempit Laras di jari tengahnya. Hari ini Tante akan saya buat lemas. Bisik hati Daniel.

Setelah hampir sepuluh menit jari Daniel berada didalam serambi lempit Laras. Akhirnya, Istri dari ustad KH Umar tidak mampu lagi membendung badai orgasme yang di dapatkan dari seorang pemuda yang tak lain adalah keponakannya sendiri. Dan parahnya, ia mendapatkan klimaksnya tepat di samping Putranya.

Ploppps…

Daniel menarik jemarinya dari dalam serambi lempit Laras, ia tersenyum tipis melihat jarinya yang bermandikan lendir kewanitaan Laras. Wanita Soleha, Istri dari pemimpin pondok pesantren Al-tauhid.

“Sudah selesai Tan!” Ujar Daniel tenang.

Laras melepas dekapannya di lengan Azril, sembari memperbaiki posisi dasternya. “Alhamdulillah! Terimakasih ya Dan.” Lirih Laras.

“Sama-sama Tante.” Daniel kembali berdiri. “Kalau begitu saya kembali ke kamar ya Tan.” Pamit Daniel, Laras hanya menganggukkan kepalanya.

Selepas kepergian Daniel, tanpa mengatakan apapun ke pada putranya, Laras beranjak kembali ke kamarnya. Dari belakang Azril dapat melihat jelas bagian bawah daster Laras yang basah kuyup akibat orgasme nya barusan. Azril berfikir kalau Ibunya, baru saja di buat ngompol oleh sepupunya. Bersambung… Selepas shalat isya berjamaah, para santri berhamburan keluar dari dalam masjid. Tak terkecuali para ustad dan Ustadza, hanya ada beberapa Ustad maupun Ustadza yang absen ke masjid malam ini. Sehingga tidak heran kalau masjid Al-tauhid selalu ramai dan terlihat penuh.

Sembari menuruni anak tangga, Ustadza Anita bersama kedua sahabatnya tampak terlibat obrolan yang cukup serius. Sembari sedikit mengangkat bagian bawah mukenanya, Ustadza Anita sangat khusuk mendengar cerita Ustadza Winda.

“Astaghfirullah, kasihan sekali ya.” Lirih Ustadza Syafitri.

Anita mendesah pelan. “Jadi anaknya sudah dibawak pulang oleh orang tuanya?” Tanya Anita. Ia menatap segerombolan santriwati yang terlihat girang sembari menuruni tangga masjid. Anita sangat marah karena keceriaan salah satu muridnya telah direnggut paksa.

“Iya! Tapi orang tuanya tetap menuntut pertanggungjawaban pihak pesantren.” Jelas Winda.

“Perkembangan kasusnya saat ini bagaimana?” Tanya Anita.

“Polisi belum menemukan jejak sang pelaku.” Syafitri menjawab pertanyaan Anita, sembari mengenakan sandalnya.

“Afwan, Ana duluan ya.” Pamit Winda, yang kebetulan masih tinggal di asrama karena statusnya yang masih gadis, hanya beberapa Ustadza yang tinggal di rumah dengan status belum menikah, berbeda dengan mereka yang telah menikah, selain itu asrama dan kediaman para staf yang telah menikah memang tidak berada di satu komplek. “Assalamualaikum!” Sambung Winda. Yang di jawab oleh kedua Ustadza tersebut.

Sembari berjalan menuju rumah masing-masing, kedua Ustadza tersebut tampak serius membahas permasalahan kolor ijo yang hingga saat ini belum juga menemukan titik temu, mereka tentu sangat berharap kasus kolor ijo segera dapat terungkap, sehingga nama pesantren tidak sampai tercoreng.

Setibanya di rumah Ustadza Anita segera menuju kamarnya. Ia menanggalkan mukena sutra pemberian mertuanya beberapa bulan yang lalu.

“Assalamualaikum!” Sapa Ustad Afif.

Anita tersenyum melihat Suaminya yang berdiri di ambang pintu kamar mereka. “Buya, ngagetin Umi aja.” Protes Anita manja. Membuat Ustad Afif gemas melihat Istrinya.

“Umi kangen ya!” Godanya sembari mencubit pipi Anita.

Ustadza Anita membalasnya dengan memeluk tubuh Suaminya. Dengan kecupan mesrah Ustad Afif mencium kening Istrinya. Kemudian tangannya bergerilya diatas payudara Ustadza Anita yang berukuran 34B. Sangat pas di tangan Ustad Afif.

Sembari menikmati remasan suaminya, Ustadza Anita membuka satu persatu pakaian Suaminya hingga telanjang bulat. Ustad Afif juga tidak mau kalah. Dia bergegas menanggalkan pakaian sang Istri hingga mereka berdua sama-sama telanjang bulat. Lalu mereka segera menaiki ranjang.

Ustadza Anita berbaring dengan kedua kaki mengangkang, sementara Ustad Afif menindihnya.

“Oughkk…” Lenguh Ustadza Anita ketika kemaluan Ustad Afif menerobos masuk liang senggamanya. Dengan gerakan perlahan Ustad Afif memompa serambi lempit Istrinya.

Kedua insan berlainan jenis tersebut memang bisa di bilang cukup kolot dalam melakukan ritual Suami Istri. Yang mereka tau, wanita di bawah sementara pria di atas sembari memompa serambi lempitnya hingga sang pria orgasme. Walaupun Ustadza Anita tidak pernah puas, tapi ia tetap terlihat bahagia.

Sama seperti malam ini, walaupun ia tidak mendapatkan orgasmenya. Tapi ia merasa bahagia karena telah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Istri muslimah.

Tapi sayangnya kebahagiaan malam ini tidak seindah malam-malam sebelumnya. Tanpa mereka sadari sosok mahluk mengerikan tengah mengintai keluarga mereka. Senyum sinis terukir di bibir merahnya.

*****

Di tempat yang berbeda, Rayhan baru saja tiba di rumahnya. Ia bergegas menuju kamar Kakak kandungnya, karena perutnya sudah berteriak untuk meminta di isi makanan. Setibanya di kamar Zaskia, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Rayhan langsung membuka pintu kamar Zaskia.

Di dalam kamar Zaskia tengah membuka mukenanya. Dengan sedikit membungkuk ia menuruni mukena bagian bawahnya, dan pada saat bersamaan pintu kamarnya terbuka.

Rayhan terdiam membisu dengan mulut mengangah, ketika matanya menangkap bulatan pantat Zaskia yang dibalut celana dalam berenda, berwarna biru laut yang terlihat padat dan berisi. Sungguh Rayhan tidak menyangkah akan disuguhi sebuah pemandangan eroits dari Kakak kandungnya.

Zaskia buru-buru berbalik menghadap Adiknya. “Rayhan, kamu ngapain di situ.” Bentak Zaskia tidak kalah kagetnya melihat Adik kandungnya berada di depan pintu kamarnya.

“Maaf Kak, aku gak tau Kakak lagi ganti baju.” Ujar Rayhan beralasan. Tapi matanya menatap nanar kearah belahan serambi lempit Kakak kandungnya yang tercetak di celana dalamnya. Sadar mata Adiknya tengah melihat kearah gundukan serambi lempitnya, buru-buru Zaskia menutupinya dengan tangan.

“Sana keluar dulu.” Usir Zaskia.

Rayhan terlihat manyun, sembari melangkah gontai meninggalkan Kakaknya yang berada di dalam kamarnya.

Setelah mendengar suara pintu kamar Kakaknya tertutup, Rayhan merogoh celananya dan mendapatkan rudalnya yang telah berdiri maksimal. Sial… Kakak benar-benar seksi. Gumam Rayhan, tak tahan dengan bentuk pantat dan serambi lempit Kakak kandungnya. Walaupun sempat di marahi, tapi Rayhan bersyukur karena sempat melihat kemolekan tubuh Kakaknya.

Sementara itu di dalam kamar, Zaskia merasa menyesal karena telah membentak Adik kandungnya. Ia merasa terlalu berlebihan terhadap Adik kandungnya. Padahal sebenarnya apa yang dilakukan Zaskia sudah benar. Walaupun Rayhan Adik kandungnya, tetap saja apa yang di lakukan Rayhan salah.

Zaskia berdiri di depan cermin, ia menatap gundukan kecil yang ada di bawah perutnya.

“Tadi, Rayhan sempat melihat ini.” Gumam Zaskia.

Ia menggigit bibirnya, menahan gejolak syahwat yang seakan membakar tubuhnya. Astaghfirullah… Apa yang aku pikirkan, Rayhan adik kandungku. Zaskia mendesah pelan, ia merasa perasaannya saat ini sangat tidak pantas.

Sejenak ia teringat dengan obrolannya bersama sahabatnya Julia. Jangan-jangan benar apa yang dikatakan Mbak Julia, aku menyukai adikku sendiri. Astaghfirullah… Tidak mungkin, tidak mungkin. Lirih Zaskia, ia membuang jauh pemikiran gilanya terhadap Adik kandungnya. Mana mungkin ia jatuh cinta terhadap adik kandungnya sendiri.

*****

Zaskia Zaskia mengganti pakaiannya dengan gaun tidur berbahan katun. Sebelum keluar dari dalam kamarnya ia sempat memperhatikan pakaiannya yang sedikit ketat hingga menonjolkan bentuk payudara dan pantatnya. Ia merenyitkan dahinya, melihat penampilannya yang agak seksi.

Ini terlalu seksi… Gumam Zaskia.

Ia sendiri tidak habis pikir kenapa ia membeli gaun tidur tersebut. Dan sialnya, ia malah memilih ukuran S bukan ukuran M yang biasa ia kenakan.

Setelah berfikir sejenak akhirnya Zaskia memutuskan tetap memakai gaun tidur tersebut. Tidak lupa, ia juga memakai jilbab simpel yang cukup panjang, sehingga menutupi bagian dadanya agar tidak terlihat begitu menonjol di hadapan Adiknya nanti.

Setelah ia yakin dengan penampilannya, Zaskia bergegas menuju dapur rumahnya. Di sana Rayhan dengan setia menunggu dirinya.

“Ayo makan dek.” Ajak Zaskia.

“Dari tadi Kak, lapar banget ni.” Protes Rayhan sembari menyerahkan piringnya kepada Zaskia.

Zaskia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Adiknya. Saat hendak menuangkan nasi ke piring Rayhan. Zaskia menyingkap jilbabnya yang sedikit mengganggu, sehingga Rayhan dapat melihat tonjolan payudaranya yang besar hingga membuat sesak piyama yang di kenakan Zaskia.

Rayhan menelan air liurnya, melihat gumpalan daging payudara Zaskia yang berukuran 34E.

“Kok bengong! Ni ambil.” Suruh Zaskia yang tidak menyadari tatapan Rayhan. “Soal tadi, Kakak minta maaf ya, sudah membentak kamu.” Ujar Zaskia, ia merasa harus membahas masalah barusan.

“Hmmm… Aku juga salah Kak.”

Zaskia tersenyum manis. “Kamu sih, main buka aja pintu kamar Kakak.” Protes Zaskia, sembari memasukan sesendok nasi ke dalam mulutnya.

“Kakak juga yang salah kenapa gak di kunci.”

“Ye… Ngapain juga Kakak kunci, kan di rumah ini cuman ada kita berdua Dek.” Ujar Zaskia membela diri. Selama ini ia tidak pernah berfikir kalau akan terjadi seperti barusan, sehingga ia tidak pernah mengunci pintu kamarnya.

Rayhan mengambil gelasnya sembari meneguk air mineral. Sementara mata elangnya kembali mengamati payudara Zaskia yang begitu besar. “Kalau gitu jangan salahkan aku dong Kak!” Bela Rayhan, tanpa melepas pandangannya dari tonjolan payudara Zaskia. Semoga saja, Kakak tidak sadar. Gumam Rayhan.

“Oh jadi kamu tidak merasa bersalah Dek?”

“Iyalah, kan aku gak tau kalau Kakak lagi ganti pakaian.” Rayhan kembali melanjutkan makannya. “Lagian Kakak aneh juga, pake mukena tapi cuman pake daleman.” Kalimat terakhir terdengar sedikit pelan.

Tapi kamu sukakan? Ujar Zaskia di dalam hati. “Biar bersih dek! Siapa tau pakaian Kakak kotor.” Jelas Zaskia.

Rayhan mengangkat wajahnya. “Jadi Kakak pikir celana dalam Kakak bersih gitu.” Tembak Rayhan. Zaskia terdiam sejenak, ia tidak pernah memikirkan sampai sejauh itu. Tapi apa yang di katakan Rayhan ada benarnya juga.

“Kamu tuh ya, baru aja tadi bilang mengaku salah! Sekarang malah nyolot.” Mata indah Zaskia molotot kearah Rayhan. Kalau sudah begini biasanya Rayhan tidak lagi berani membantah Kakak kandungnya.

“Maaf Kak!” Lirih Rayhan mengakhiri perdebatan yang sama sekali tidak penting.

******

Sekitar jam 12 malam, sosok mengerikan itu mulai beraksi di saat sang penghuni rumah tengah terlelap tidur. Ia berjalan masuk ke dalam kamar sang pengantin. Tampak sepasang suami istri tengah terlelap dengan damai. Tanpa menyadari kalau bahaya tengah mengintai mereka

Si Kolor ijo mendekati Ustadza Anita yang malam ini mengenakan piyama kemeja di padu dengan celana panjang berwarna putih.

Wajah cantiknya terpancar begitu indah, dengan rambut panjang terurai. Nafasnya yang teratur membuat payudaranya naik turun mengikuti irama nafasnya.

“Gggrrr….” Kolor ijo mengeram, melihat mangsanya yang sempurna.

Gigi si kolor Ijo menggeratak, dan air liurnya tampak menetes dari sela-sela bibir tebalnya. Dengan perlahan dia membelai paha Ustadza Anita. Terus naik menuju selangkangan Ustadza Anita. Wanita berusia 27 tahun itu menggeliat di dalam tidurnya. Sesekali ia menepis tangan sang kolor ijo.

Tetapi mahkluk buas itu sama sekali tidak merasa terganggu. Dia menarik perlahan celana piyama yang di kenakan Anita, hingga tampak celana dalam Anita yang berwarna putih.

Jemari besar kolor ijo membelai serambi lempit Anita dari luar, membuat tubuhnya menggelinjang. Ia mulai terganggu oleh setiap sentuhan yang di lakukan sang mahluk kepadanya. Hingga akhirnya ia terbangun dari tidurnya.

“Astaghfirullah!” Anita tersentak kaget.

Tapi terlambat karena sang kolor ijo telah berhasil menelanjangi dirinya dengan cepat. Ia menyobek pakaian Anita hingga tak bersisa. Kedua telapak tangan kolor ijo yang besar mengepal kedua payudara Anita. Ia meremasnya dengan sangat kasar.

Wajah cantik Anita tampak ketakutan, ia terus meronta dan melawan si kolor Ijo. Kakinya mengais dan menendang kolor ijo, tapi usahanya sia-sia saja, ia tidak bisa menghentikan setiap aksi si kolor ijo terhadap tubuhnya. Bahkan dia hanya bisa bergumam ketika si kolor Ijo melumat bibirnya.

Sementara itu sang suami yang tengah tertidur di sampingnya sama sekali tidak merasa terganggu. Membuat Anita semakin furstasi.

“Hmmmpss… Hmmmpss… Hmmmppss…

Anita meronta-ronta, kedua kaki jenjangnya berusaha melawan si Kolor Ijo. Tapi pada akhirnya ia tetap tak berdaya, ketika si kolor ijo menindih tubuhnya, menekan kepala helm besarnya diantara lipatan bibir serambi lempit Ustadza Anita.

“Aoughkk…” Jerit Ustadza Anita.

Ia merasakan serambi lempitnya seakan di robek oleh rudal si kolor ijo yang berukuran sangat besar.

Sembari terus melumat bibir Ustadza Anita pinggul si kolor ijo terus menyodok serambi lempit Ustadza Anita, yang perlahan mulai terasa licin karena cairan pelumasnya yang telah memberikan kemudahan bagi batang kemaluan kolor ijo keluar masuk di dalam lobang serambi lempitnya yang sempit itu.

Ploookkss…. Ploookkss… Ploookkss….

Setelah hampir lima menit kolor ijo memompa serambi lempit Ustadza Anita. Akhirnya si kolor ijo menuntaskan hasrat birahinya. Ia menembakkan spermanya ke dalam rahim Ustadza Anita.

Tubuh Anita menegang ketika merasakan sperma kolor ijo yang masuk ke dalam rahimnya.

Plooopss…

Kolor ijo mencabut rudalnya. Lalu beralih ke sisi wajah Anita yang kini tengah menangis. Ia tidak menyangkah kalau nasibnya akan berakhir dengan teragis.

“Hisap!” Perintah Kolor Ijo.

Anita menggelengkan kepalanya, ia menolak perintah tersebut. Tapi Kolor Ijo terus memaksanya, dia menekan batang kemaluannya yang besar agar masuk ke dalam mulut Anita. Karena terus menerus di desak, akhirnya Anita menyerah, ia membiarkan rudal kolor Ijo bersemayam di dalam mulutnya.

Selagi menikmati mulut mangsanya, si Kolor ijo mulai merangsang tubuh Ustadza Anita. Kuku panjang nya membelai puting Ustadza Anita.

“Eehmmpss…. Emmppss…. Ehmmppsss…” Desah Anita.

Tubuh Anita menegang, ia merasakan puting semakin mengeras apa lagi ketika si Kolor Ijo memilin putingnya. Selama ia menikah baru kali ini ia menikmati sentuhan seorang pria di tubuhnya. Oh enak sekali… Gumam Anita, tanpa sadar menikmati perkosaan yang ia alami.

Jemari kolor ijo turun kebawah, membelai perut mulus Anita, alhasil perut rata Anita bergetar menerima rangsangan dari belaian kuku kolor ijo. Tidak sampai di situ saja, jemari kolor ijo bergerak semakin turun menuju sebuah lembah yang menjanjikan sejuta kenikmatan, yang seharusnya hanya di miliki oleh Ustad Afif.

“Oughkk…” Lenguh Anita ketika jari tengah kolor ijo menembus serambi lempitnya. Ia memejamkan matanya menikmati jari kolor ijo yang tengah mengorek-ngorek serambi lempitnya.

Selagi kolor ijo menjamah serambi lempitnya, Ustadza Anita tanpa sadar mengocok rudal kolor ijo yang berukuran sangat besar. Ia mengecup lembut rudal kolor ijo yang barusan telah memasuki ruang serambi lempitnya. Dia memberi ludah yang cukup banyak di bagian kepala pion kolor ijo, membuat kolor ijo terlihat sangat menikmati hisapan mulut Ustadza Anita.

Sungguh tidak di sangka-sangka, Ustadza Anita yang tadinya mati-matian menolak, kini terlihat pasrah.

rudalnya besar dan enak… Bisik Anita.

Karena tidak ingin buru-buru ejakulasi, Kolor ijo meminta Ustadza Anita untuk berhenti mengoral rudalnya. Ia memutar tubuh Anita hingga menungging, kemudian Plaaaak… Plaaaak… Plaaak… Berulang kali kolor ijo menampar pantat semok Ustadza Anita, hingga meninggalkan bekas merah di pantat.

“Aahkkk… Sakiiiit… Ampuuun!” Jerit Ustadza Anita.

Wanita hijaber itu membenamkan wajahnya ke dalam bantal, sembari menggoyangkan pantatnya yang tengah di tampar oleh Kolor ijo dengan sangat kasar.

Setelah puas menyiksa Anita, kolor ijo kembali memposisikan rudalnya di depan bibir serambi lempit Anita yang kini lebih banyak mengeluarkan precum. Dia menggosok-gosok kepala rudalnya dengan bibir kemaluan Ustadza Anita. Tanpa berkedip Ustadza Anita menatap rudal kolor ijo.

Ya Tuhan… Itu terlalu besar.

Anita memejamkan matanya, ketika ia merasakan kepala rudal kolor ijo menyeruak masuk ke dalam lobang serambi lempitnya. Inci demi inci rudal kolor ijo menembus lobang serambi lempit Anita yang selama ini hanya di masuki oleh rudal kecil milik suaminya.

Dengan sekuat tenaga Anita mengepalkan kedua tangannya, ketika kolor ijo mulai memompa serambi lempitnya.

Tuhaaaaan… Ini terlalu nikmat. “Aaahkk… Aaahkk… Aahkk… Aahkk… Aahkkk… Aaahkk…” Desah Anita terputus menikmati penetrasi batang kemaluan kolor ijo.

Ploookkss…. Ploookkss…. Ploookkss…

Tubuh indahnya tersentak-sentak kedepan setiap rudal kolor ijo menusuk serambi lempitnya.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Ustadza Anita sangat menikmati sodokan rudal kolor ijo di dalam serambi lempitnya. Mungkin karena serambi lempitnya yang mulai terbiasa dengan ukuran rudal kolor ijo, apa lagi, serambi lempitnya secara konsisten mengeluarkan pelumas untuk mempermudah laju rudal kolor ijo.

Tubuh Ustadza Anita menegang beberapa saat, sebelum akhirnya ia kembali mencapai klimaksnya. Seeeeeeeeeerrrr….. Seeeeeeeeeerrrr…. Seeeeeeeeeerrrr…. “Oughkk….” Desah Anita menikmati orgasmenya.

Kolor ijo kembali mencabut rudalnya, ia duduk bersandar diatas tempat tidur dan meminta Ustadza Anita duduk di pangkuannya. Dengan setengah terpaksa Ustadza Anita menuruti kemauan kolor ijo. Dia menduduki rudal kolor ijo tepat di samping Suaminya yang masih tertidur pulas.

Sembari melihat kearah suaminya, ia berbisik di dalam hati. “Maafkan aku Abi…” Dia menekan pinggulnya ke bawah, membawa rudal kolor ijo memasuki tubuhnya.

Ploks…. Plookkss…. Ploookkss….

Pinggul Ustadza Anita bergerak naik turun diatas pangkuan kolor ijo yang tengah mengaduk-aduk serambi lempitnya. Tampak lelehan cairan cinta Anita merembes keluar.

“Grrrr… Grrrr… Grrrr…” Geram Kolor ijo.

Kedua tangan kolor ijo menangkup payudara Ustadza Anita, ia meremas dan memilin puting Anita.

Stimulasi-stimulasi yang di lakukan kolor ijo, membuat Ustadza Anita kembali mencapai puncaknya. Dengan wajah mendongak keatas Ustadza Anita menyambut klimaksnya.

“Oughkkrrrr….” Erang kolor ijo.

Sedetik kemudian Anita merasakan rahimnya panas, karena untuk kedua kalinya, ia menerima semburan sperma kolor ijo di dalam rahimnya.

Crootss… Croootss… Croooootss…

******

Ustad Afif terbangun ketika mendengar Isak tangis Istrinya. Ia sangat kaget melihat keadaan Ustadza Anita yang dalam keadaan telanjang bulat. Dan tak jauh dari tubuh Istrinya ia melihat pakaian tidur sang Istri yang sobek di mana-mana. Wajahnya memucat, ia sadar kalau ada yang tidak beres.

Baru saja ia hendak bertanya kepada Istrinya, tiba-tiba ia melihat seorang mahluk besar berwarna hijau di balik kaca jendela rumahnya.

“Innalillahi…” Teriak Ustad Afif.

Buru-buru ia keluar dari dalam kamarnya meninggalkan Istrinya, hendak mengejar sang mahluk yang telah menodai Istrinya. Ia berteriak memanggil siapapun yang bisa mendengar suaranya.

“Kolooor ijooo… Ada kolooor ijooo…”

Dalam sekejap para santri, Ustad dan Ustadza keluar dari kediaman mereka masing-masing. Bersama Ustad Afif, mereka mengejar sang kolor ijo. Tapi sayangnya, sang kolor ijo dengan cepat menghilang di balik kegelapan malam.

******

Keesokan harinya… Ponpes Al-tauhid kembali gempar setelah semalam ponpes kembali di datangi oleh kolor ijo dan kali ini korbannya adalah seorang Ustadza. Pihak berwajib kembali mendatangi pondok pesantren untuk mencari jejak kolor ijo yang seakan sangat sulit di temukan.

Di jam istirahat sekolah, Rayhan, Azril, Nico dan Doni berkumpul di bawah menara masjid. Mereka tengah membahas isu panas yang terjadi di pesantren.

“Mahkluk jadi-jadian tuh!” Celetuk Doni.

Rayhan mengangkat wajahnya melihat kearah Doni. “Gue yakin, pelakunya pasti orang dalam.” Ujar Rayhan, dia menatap wajah temannya satu persatu.

Azril berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya. “Tapi siapa?” Resah Azril.

“Kita harus cari tau.” Usul Doni semangat.

“Mulai sekarang, siapapun dari kita melihat ada yang mencurigakan harus segera memberi tau satu sama lain, dan kita selidiki bersama-sama.” Timpal Nico sembari membuang potongan rumput yang tadi ia cabut.

“Sepakat.”

Mereka berempat menyatukan tangan mereka di bawah menara masjid. Dan berjanji akan mencari tau pelaku yang beberapa mingggu terakhir telah meresahkan pesantren Al-tauhid. Teror ponpes Al-tauhid harus segera di akhiri.

*****

Dwi Kartika Shireen Alisha Sore hari di kediaman KH Hasan…

Suasana kediaman KH Hasan hari ini terlihat begitu ramai. Anak, cucu beserta para menantunya berkumpul di rumahnya untuk makan malam bersama. Sudah menjadi rutinitas keluarga KH Hasan untuk berkumpul satu kali dalam satu bulan, untuk menjaga silaturahmi keluarga mereka.

Para suami berkumpul di halaman depan rumah, bercengkrama bersama KH Hasan sembari menikmati udara sore yang menyegarkan. Sementara para Istri sibuk menyiapkan makan malam di dapur

Ada yang sedang mengiris bawang, memotong daging ayam menjadi beberapa bagian dan sebagainya.

“Kalian sudah dengar kejadian tadi malam?” Tanya Ustadza Dwi yang tengah mengulek cabe. Ia duduk di bawah dengan kursi plastik berukuran kecil. Karena posisi pantatnya lebih rendah, membuat gamisnya tersingkap. Tapi tidak jadi masalah, karena mereka semua perempuan.

“Soal Ustadza Anita?” Tanya Ustadza Kartika.

“Iya.” Jawab Ustadza Dwi singkat.

Ustadza Shiren tampak menghela nafas. “Kasihan mereka!! Ana benar-benar gak nyangka kalau mahluk aneh itu akan kembali ke pesantren.” Ujar Shiren, ia kembali mengaduk-aduk kopi agar gulanya tercampur dengan baik.

“Musibah siapa yang bisa menebak.” Timpal Ustadza Alisha. Mereka bertiga sepakat dengan apa yang di katakan Istadza Alisha, saudara ipar termuda mereka.

“Aku antar kopi ke depan dulu ya.” Shiren hendak membawa teko ke depan, tapi di cegah oleh Ustadza Kartika.

“Biar Mbak saja ya bawak.” Pinta Ustadza Kartika.

“Terimakasih Mbak.” Ujar Shiren.

Kartika segera mengambil alih nampan yang ada di tangan Shiren. Ia berjalan santai keluar dari dapur dan menuju halaman rumah. Di sana tampak suami, ipar dan mertuanya tengah bercengkrama, entah apa yang sedang mereka obrolkan.

KH Hasan selaku orang tua sempat terdiam ketika melihat menantu keduanya membawa nampan berisi teko kearah mereka. Cantik… Pikir KH Hasan saat melihat menantunya tersebut yang mengenakan pakaian serba ungu, dari jilbab hingga gamis yang di kenakan Kartika. Hanya kaos kaki yang di kenakan Kartika yang berwarna coklat kulit.

Dengan perlahan Kartika meletakan nampan tersebut diatas meja, di dekat asbak rokok yang terlihat sudah penuh.

“Kalau bisa ngerokoknya di kurangin Abi.” Celetuk Kartika.

KH Hasan tersenyum masam. Untuk kesekian kalinya, Kartika menegur kebiasaan buruknya. “Ini juga sudah ngurangin! Gak terlalu banyak.” Ujar KH Hasan beralasan.

“Alhamdulillah kalau begitu Abi.” Kartika tersenyum manis.

“Bagus sayang! Sesekali Abi memang harus di gituin agar ngerokoknya di kurangin. Hahahaha…” Tawa Ustad Zulkifli, anak kedua KH Hasan. Sang Bapak hanya geleng-geleng kepala, kalau soal rokok ia tak bisa banyak bicara.

Di usianya yang ke 67 tahun, Ustad Hasan merasa bersyukur karena memiliki empat orang anak yang sangat akur. Tiga anak laki-lakinya sudah menikah, sementara satu orang anak perempuannya memang hingga kini belum juga menikah. Sebenarnya sudah banyak ustad muda yang ingin melamarnya, tapi memang Alisha belum ingin menikah.

Setelah meletakan minuman, Kartika kembali ke dapur untuk membantu saudara-saudaranya yang tengah menyiapkan makan malam.

Ketika ia berjalan kembali ke dalam rumah, mata KH Hasan tidak berkedip memandangi bulatan pantat menantunya yang memang padat berisi. Bahkan sekilas ia bisa melihat garis celana dalam milik menantunya. Tentu saja pemandangan tersebut membuat kemaluan KH Hasan mendadak berdiri.

Sebagai pria normal, sudah sewajarnya kalau KH Hasan sering memperhatikan Ustadza Kartika. Mengingat mereka memang tinggal satu rumah dan lagi statusnya sebagai duda terkadang merasa kesepian. Tetapi sebagai orang tua, KH Hasan menyadari kalau ketertarikan terhadap menantunya adalah salah. Hanya saja, terkadang ia lupa kalau Ustadza Kartika adalah Istri dari anak keduanya.

Setibanya di dapur Kartika kembali ikut hanyut menyiapkan makan malam keluarga besar mereka.

*****

Malam ini hujan kembali turun dengan sangat deras, di sertai angin kencang dan suara petir yang menggelegar di santero langit pondok pesantren Al-tauhid. Membuat penghuninya sedikit khawatir kalau kejadian kemarin malam akan kembali terulang.

Di kediaman Ustadza Zaskia. Tampak sang pemilik rumah mondar-mandir di ruang keluarga, sesekali ia melihat kearah jam dinding rumahnya yang telah menunjukkan pukul sembilan malam.

Tidak lama kemudian orang yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga.

“Tunggu ya Dek.” Ujar Zaskia.

Ia kembali ke kamar untuk mengambilkan handuk karena pakaian Rayhan yang basah kuyup. Sekembalinya, Ia segera memberikan handuk tersebut kepada Rayhan.

“Terimakasih Kak!” Ujar Rayhan sembari melepas kaosnya. Tampak dada bidang Rayhan yang terlihat kekar. “Aku ke kamar sebentar ya Kak.” Pamit Rayhan, ia berjalan gontai menuju kamarnya.

Zaskia hendak mengatakan sesuatu, tapi ia ragu mengatakannya, sehingga Zaskia hanya diam sembari melihat punggung Rayhan yang menghilang di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat. Zaskia mendesah pelan lalu berjalan menuju dapurnya untuk membuatkan segelas teh hangat untuk sang Adik.

Selesai membuat teh hangat, Zaskia menunju kamar adiknya. Dan tanpa mengetuk pintu kamar Rayhan, ia membuka kamar Rayhan.

“ASTAGHFIRULLAH… ” Zaskia menjerit dan segelas teh yang ada di tangannya nyaris terjatuh.

Rayhan yang tengah mengeringkan rambutnya sempat terkejut dan melihat Kakaknya yang berdiri di depan pintu kamarnya sembari menghalangi pandangan dengan telapak tangannya. Sedetik kemudian Rayhan tersadar kalau dirinya dalam keadaan telanjang bulat.

Ketika Zaskia membuka pintu kamar Adiknya, ia tidak sengaja melihat kemaluan Rayhan yang berukuran jumbo itu menggantung bebas di antara kedua pahanya.

Buru-buru Zaskia memalingkan wajahnya dan menghalangi tatapannya dengan tangan kanannya. Jantung Zaskia rasanya mau copot, ia tidak menyangkah akan melihat pentungan milik adik kandungnya yang ternyata sangat besar.

Walaupun sekilas, tapi otak Zaskia telah merekam jelas bentuk rudal Adiknya. Kepala rudalnya yang berbentuk jamur terlihat besar dan lebar, sementara batang kemaluannya sangat panjang, memiliki tonjolan disekelilingnya dan sedikit bengkok keatas.

“Kakak, bikin kaget aja.” Protes Rayhan.

Awalnya, Rayhan sempat hendak menutupi kemaluannya, tapi entah kenapa hati kecilnya meminta ia tetap diam memamerkan kejantananya. Ah gila, dan ni benar-benar gila. Pikir Rayhan.

“Buruan pake celana!” Suruh Zaskia gemas.

Tapi Rayhan malah terlihat anteng. “Apaan si Kak! Lagian Kakak main buka kamar aja.” Protes Rayhan, seakan ia menganggap apa yang terjadi barusan bukan hal yang serius baginya. Padahal saat ini ia sangat terangsang karena dilihat kakaknya dalam keadaan telanjang.

“Astaghfirullah! Bandel banget si Dek.” Geram Zaskia.

Walaupun ia kesal dengan sikap Rayhan yang terlihat biasa-biasa saja, tapi ia tidak bisa marah.

Rayhan menggeser kursi belajarnya, lalu duduk dengan santai menghadap kearah Kakaknya yang masih terlihat shock melihat kejantanannya. Diam-diam Rayhan berharap Zaskia kembali melihat rudalnya.

“Ada apa Kak?” Tanya Rayhan.

Zaskia menghela nafas pertahan. “Kakak cuman mau ngasih teh hangat biar gak masuk angin.” Ujar Zaskia, tak berani melihat kearah adiknya yang masih dalam keadaan telanjang bulat.

“Emang Kak Zaskia, Kakak yang paling baik.” Puji Rayhan, ia beranjak dari kursinya.

Tatapan Zaskia yang sedikit menunduk dan terhalang telapak tangannya hanya dapat melihat lantai kamar Adiknya, perlahan ia mulai bisa melihat kaki Adiknya yang melangkah kearahnya. Mula-mula hanya jari kakinya saja yang terlihat, lalu betisnya, paha dan terakhir batang kemaluan Rayhan kembali terlihat jelas di mata Zaskia.

Dengan bersusah paya Zaskia menelan air liurnya ketika melihat kejantanan adiknya yang manggut-manggut, membuat tubuhnya terasa panas.

“Besar… Besar sekali! Jadi ini yang namanya rudal? Eh… Kemaluan pria.” Lirih Zaskia di dalam hati. Ceritasex.site

“Terimakasih ya Kak!” Rayhan mengambil cangkir di tangan Zaskia dan meminumnya. “Manis, enak.” Komentar Rayhan terlihat santai, berbeda dengan Zaskia yang sangat gugup.

Tapi sedetik kemudian Zaskia sadar kalau apa yang ia lakukan saat ini adalah salah. Walaupun Rayhan adik kandungnya, tapi tetap saja apa yang di lakukan Zaskia sangat salah. Sehingga Zaskia memutuskan untuk mengakhiri ketegangan yang ia rasakan saat ini. Perasaan berdosa kini menghantuinya.

“Astaghfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullah…” Zaskia beristighfar di dalam hati. Memohon ampun atas khilafnya barusan.

Tanpa banyak bicara Zaskia memutar tubuhnya hendak pergi dari kamar adiknya.

Tapi tiba-tiba…

“Kak!” Panggil Rayhan.

Dan bodohnya, Zaskia malah kembali menghadap Adiknya, dan kali ini Zaskia dapat melihat tubuh utuh adiknya yang berotot. Dia terhenyak kagum dengan ketelanjangan Rayhan yang sempurna. Adiknya yang dulu sangat menggemaskan, kini tumbuh menjadi pria sejati.

Sadar kalau Kakak Kandungnya tengah mengagumi bentuk tubuhnya, Rayhan masih berusaha terlihat santai, seakan apa yang di lihat Zaskia bukan hal yang serius.

“Nanti aku keluar sebentar ya Kak.” Ujar Rayhan.

Zaskia tidak menjawab, dengan mulut sedikit terbuka dan tatapan nanar kearah rudal Rayhan.

“Kak…”

Tetap hening.

“Kak Zaskia.” Panggil Rayhan cukup keras.

“Eh iya…” Zaskia tergagap, sadar dari lamunannya. Buru-buru ia kembali memalingkan wajahnya. “Kenapa Dek?” Tanya Zaskia gugup.

“Aku mau keluar, pulang agak malam.” Izin Rayhan.

Zaskia merenyitkan dahinya. “Apa? Gak… Kakak gak izinkan kamu keluar lagi.” Katanya tegas, lalu buru-buru pergi meninggalkan Rayhan.

“Kak!” Panggil Rayhan.

Tapi Zaskia tidak memperdulikannya. Sedikit senyuman tipis tergambar di bibir Rayhan. Ia merasa lucu melihat reaksi Kakak kandungnya yang tampak sangat shock dengan penampilan telanjangnya. Rayhan yakin ini adalah kali pertama Kakak kandungnya melihat kejantanan pria.

Sebagai lelaki normal. Rayhan merasa bangga karena kejantanannya menjadi yang pertama di lihat oleh Kakak kandungnya

*****

Sehabis makan malam, Zaskia kembali ke kamarnya. Cukup lama ia merenung di kamarnya, sementara itu di luar rumah hujan terus turun seakan tidak mau berhenti. Mengingatkan Zaskia dengan kisah nabi Nuh dengan kapal besarnya, di mana tuhan memberi azab pada kaum Nabi Nuh dengan membuat dataran bumi menjadi lautan.

Ia menghela nafas perlahan, sembari menutup jendela kamarnya. Ada perasaan tak tenang yang sulit ia gambarkan.

“Apa ini tentang kolor ijo?” Gumam Zaskia.

Dia memejamkan matanya, sembari menggigit bibir bawahnya. Sepintas banyangan rudal Rayhan kembali muncul di dalam benaknya. Membuatnya terhenyak, saat menyadari ada yang basah di bawah sana.

Sekuat tenaga Zaskia menggelengkan kepalanya, mengusir bayangan tubuh telanjang adiknya.

“Kak!” Panggil Rayhan.

Zaskia tersentak kaget melihat Rayhan yang berdiri di depan pintu kamarnya sembari mengunya kue kering buatannya. Dengan malas Zaskia mengambil jilbab lebar yang ia letakan diatas sandaran kursi. Lalu naik keatas tempat tidur sembari membaca buku karangan Habiburrahman.

Rayhan segera masuk ke kamar Zaskia, dan duduk di tepian tempat tidur kakaknya, di dekat kaki kakaknya. Diam-diam Rayhan memperhatikan Kakaknya yang lebih banyak diam. Mungkinkah Kak Zaskia marah? Pikir Rayhan.

“Kenapa Dek?” Tanya Zaskia.

Rayhan menghela nafas, sembari mengedarkan pandangannya ke sisi kanan ruangan Kakak kandungnya. Tepat di bawah kaligrafi Rayhan melihat bingkai foto dirinya yang tengah bersama Zaskia. “Kakak marah?” Tanya singkat Rayhan, membuat Zaskia terhenyak mendengar pertanyaan Adiknya.

“Iya!” Jawab Zaskia singkat.

Rayhan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Kenapa?” Tanya Rayhan heran, sembari menggeser duduk dan memijat betis Kakak kandungnya.

“Soalnya kamu bandel.” Zaskia melirik Rayhan, rasanya ia ingin tertawa melihat wajah adiknya yang tertekuk.

“Maaf Kak!” Lirih Rayhan. “Janji gak akan ngebantah lagi.” Lanjut Rayhan sembari membuat huruf v dengan kedua jarinya.

Zaskia menegakkan punggungnya, lalu menggeser duduknya agar bisa dekat dengan adiknya. “Janji?” Zaskia menyodorkan jari kelingkingnya yang disambut oleh Rayhan dengan melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Kakaknya.

“Janji.” Jawab Rayhan mantab.

Zaskia tertawa renyah sembari mengucek-ngucek rambut adiknya, lalu di akhirnya dengan pelukan kasih sayang untuk adiknya tercinta. Rayhan membalas pelukan tersebut dengan mengecup kening Kakak kandungnya. Diam-diam Rayhan menikmati tonjolan payudara Zaskia di lengannya.

Berbeda dengan Zaskia, ia tidak berfikir sampai sejauh itu. Hanya saja ia merasa nyaman memeluk tubuh Rayhan. Perasaan hangat yang seakan ia tengah di lindungi.

“Sebenarnya Kakak tidak marah!” Ujar Zaskia ia melepas pelukannya. “Hanya agak kesal sama kamu Ray.” Jujur Zaskia.

“Kesal kenapa Kak!”

Zaskia menghela nafas. Lalu berdiri di depan cermin besar yang ada di dalam kamarnya. “Di rumah ini cuman ada kita berdua, tapi kamu malah ninggalin Kakak! Gimana kalau kolor ijo datang saat kamu tidak ada di rumah?” Sindir Zaskia, ia melihat Adiknya yang tengah membisu.

“Maaf Kak!” Sadar Rayhan. Ia menghampiri Zaskia lalu memeluk Kakaknya dari belakang. “Aku gak bermaksud meninggalkan Kakak, tapi sebaliknya aku ingin kakak aman, makanya aku sering keluar dan mencari mahluk aneh itu.” Jujur Rayhan, dia semakin erat memeluk perut Zaskia, seakan ia tidak ingin kehilangan Kakaknya.

“Kakak mengerti! Tapi Kakak lebih merasa aman kalau kamu ada di rumah.” Lirih Zaskia, sembari melihat pantulan banyangan dirinya bersama Rayhan.

Rayhan meletakan dagunya di pundak Zaskia. “Aku janji, tidak akan kemana-mana dan selalu ada disisi Kakak.” Bisik Rayhan, tepat di telinga Zaskia, membuat Zaskia sedikit merinding merasakan hembusan nafas Rayhan. Entah kenapa Zaskia merasa sangat bahagia, ia menyunggingkan senyuman indahnya.

Bersambung… Suara burung gereja menyambut pagi hari ini. Para santri dan Ustad-ustadza mulai sibuk beraktivitas seperti biasanya. Kejadian dua hari yang lalu tidak menyurutkan semangat mereka untuk menuntut ilmu, walaupun ada kekhawatiran terutama bagi Santriwati, kalau-kalau mahluk aneh itu kembali meneror pesantren.

Di ujung gerbang pesantren, tanpa sebuah mobil Toyota Avanza berwarna hitam melaju perlahan memasuki wilayah pesantren. Para satpam penjaga gerbang dengan penuh hormat menyambut orang yang ada di dalam mobil tersebut.

Hingga akhirnya mobil itu berhenti tepat di depan rumah Ustadza Laras. Sang sopir buru-buru membukakan pintu mobil bagian belakang.

“Alhamdulillah, Abi pulang juga.” Ujar Laras sembari mencium punggung tangan KH Umar.

Wajah KH Umar tampak sumringah, melihat sang Istri sendiri yang menyambut kepulangannya. “Umi udah kangen ya?” Goda KH Umar, membuat wajah Laras bersemu merah.

“Yuk Bi masuk!” Ujar Ustadza Laras manja.

Di dalam rumah, Daniel ikut menyambut kedatangan orang nomor satu di pesantren itu. Mereka mengobrol sebentar, hingga akhirnya, KH Umar meninggalkannya karena ia ingin segera beristirahat didalam kamarnya. Sementara Daniel menghampiri Ustadza Laras yang tengah membuat segelas kopi untuk Suaminya.

Laras terhenyak ketika melihat Daniel masuk ke dapur rumahnya. Sejenak ia teringat kejadian semalam, di mana Daniel berhasil membuatnya orgasme.

Tidak sampai di situ saja, pemuda itu berhasil membuatnya tak bisa tidur semalaman, selalu terbayang senyummannya yang telah membuat dirinya sampai terkencing-kencing hanya dengan jarinya saja.

“Gimana kaki Tante?” Tanya Daniel.

Laras tampak gerogi berada di dekat pemuda tampan itu. “Anu… Sudah agak mendingan Dan.” Jawab Laras dengan suara gemetar.

“Alhamdulillah!” Lirih Daniel pelan.

Setelah selesai membuat kopi, Laras hendak pergi, tapi tiba-tiba tubuhnya limbung dan hampir saja terjatuh. Beruntung Daniel dengan sigap menahan tubuhnya.

“Tante gak apa-apa?” Tanya Daniel, ia terlihat khawatir.

Laras menggelengkan kepalanya. “Tante gak apa-apa kok Dan! Saya ke kamar dulu ya.” Ujar Laras permisi hendak meninggalkan Daniel.

“Nanti biar Daniel pijitin lagi ya Tan!” Tawar Daniel.

Tanpa mengatakan apapun Laras berlalu meninggalkan Daniel. Ia merasa sangat malu kalau harus bertatap mata dengan Daniel. Sesampainya di kamar Laras melihat suuaminya tengah melakukan ibadah sunah, shalat duha. Dengan hati-hati ia meletakan segelas kopi untuk suaminya diatas meja.

“Terimakasih Umi.” Tegur KH Umar membuat Laras terperanjat.

Sembari mengelus dada Laras menatap manja suaminya. “Abi bikin kaget Umi aja.” Protes Laras. Tapi di jawab dengan kecupan lembut di pipinya.

“Gimana kabar di rumah selepas Abi pergi.”

“Alhamdulillah, gak ada masalah Abi, tapi…” Laras menggantungkan kalimatnya, lalu duduk di tepian tempat tidurnya. KH Umar ikut duduk di samping Istrinya, tak sabar mendengarkan kelanjutan cerita Istrinya.

“Beberapa hari ini pesantren kita di teror oleh mahluk aneh! Sudah dua orang yang telah menjadi korbannya.” Jujur Laras.

KH Umar manggut-manggut, ia mengerti kekhawatiran Istrinya. “Abi sudah tau cerita itu dari KH Hasan. Abi juga sangat marah.” Jelas KH Umar, ia merangkul pundak Istrinya untuk menenangkannya.

“Lantas apa yang harus kita lakukan.”

“Untuk sementara ini serahkan saja sama pihak berwajib, dan jangan lupa berdoa agar pelakunya cepat tertangkap.” Ujar KH Umar kepada Istrinya.

Laras sedikit kecewa mendengar perkataan suaminya, padahal ia berharap Suaminya memiliki ide berlian agar bisa meringkus mahluk aneh tersebut. Laras menghela nafas pelan, teringat dengan Isak tangis Ustadza Anita ketika ia datang untuk menjenguk sang Ustadza yang terlihat begitu depresi.

KH Umar mempererat pelukannya, dengan lembut dia mengecup bibir merah Istrinya. Darahnya mendidih merasakan kehangatan bibir sang Istri.

Hampir satu Minggu mereka tidak bertemu, membuat rindu KH Umar membuncah terhadap sang Istri. Pagi ini juga ia ingin menuntaskan rasa rindunya. Melepaskan syahwatnya yang terbelenggu cukup lama.

Laras yang mengerti segera membantu KH Umar untuk menanggalkan pakaiannya. Lalu di susul dengan melepaskan pakaiannya sendiri. Sehingga kini mereka dalam keadaan telanjang bulat, sama seperti ketika mereka baru di lahiran ke dunia ini. Kembali bersih tanpa pakaian.

Dia tidur terlentang dengan kedua kaki mengangkang, sementara KH Umar menindih tubuhnya.

“Semoga berkah ya Umi.” Bisik KH Umar.

Laras mengganggukan kepalanya. “Amin.” Balas Laras, sembari mengarahkan kemaluan KH Umar tepat di depan pintu masuk liang senggama miliknya.

Perlahan KH Umar menekan burungnya, menembus lipatan bibir serambi lempit Istrinya.

Dengan ritme perlahan KH Umar mulai menggerakan pinggulnya maju mundur, menyodok serambi lempit sang Istri yang terasa seret. Dari wajahnya, KH Umar terlihat sangat menikmati jepitan serambi lempit sang Istri. Berbeda dengan Ustadza Laras yang terlihat datar, bahkan lebih datar dari biasanya.

Entah kenapa Laras merasa rudal KH Umar tidak ada apa-apanya di bandingkan jari Daniel yang terasa lebih besar di bandingkan kemaluan Suaminya.

“Astaghfirullah… Apa yang kupikirkan.” Ucap Laras di dalam hati.

Sebagai seorang Istri muslimah tidak seharusnya ia memikirkan pria lain, apa lagi ketika ia tengah menjalankan tugasnya sebagai seorang Istri. Tapi rasa penyesalannya, tetap tidak bisa memungkiri kalau ia merindukan sentuhan Daniel.

Tidak butuh waktu lama, KH Umar menuntaskan hasratnya. Ia menumpahkan rasa cintanya dengan bentuk sperma ke dalam rahim sang Istri.

*****

Di tempat berbeda di waktu yang sama…

“Kak aku ke sekolah dulu.” Pamit Rayhan.

Zaskia mencuci tangannya yang di penuhi gelembung sabun di wastafel, kemudian ia menyodorkan tangannya untuk di cium. Dengan hikmat Rayhan mencium punggung tangan Zaskia yang terasa halus. Kumis tipis Rayhan yang menggesek kulitnya membuat Zaskia merinding.

Iseng Rayhan mencium punggung Zaskia dengan bibirnya, hingga meninggalkan sedikit bekas noda air liurnya.

“Adeek!” Histeris Zaskia. Buru-buru wanita berhijab hitam itu mengelap bekas air liur Rayhan dengan ujung jilbabnya yang lebar, seakan ia sangat jijik.

Rayhan merenyitkan dahinya. “Ih, kayak najis aja Kak!” Protes Rayhan.

“Emang najis! Wekss…” Ujar Zaskia sembari meleletkan lidahnya kearah Rayhan. Hal tersebut membuat Rayhan ingin menggigit lidah Kakaknya.

Rayhan berkacak pinggang. “Oh jadi gitu? Adiknya yang ganteng ini sekarang najis ya Kak.” Rayhan mengangguk-anggukkan kepalanya seakan mengerti maksud dari ucapan Kakak kandungnya.

“Apaan si Dek.”

“Habisnya Kakak gitu amat sama Adik sendiri.” Omel Rayhan.

Zaskia menghela nafas. “Iya Maaf! Kamu si jorok banget, sampe ngelepehin air liur di tangan Kakak.” Protes Zaskia kepada Rayhan yang memang sedang ingin menjahili dirinya.

“Baru air liur, gimana kalau yang lain.” Ujar Rayhan dengan nada yang semakin rendah.

Mata indah Zaskia menyipit, menatap curiga kearah Adiknya. “Maksud kamu apa Dek?” Tanya Zaskia penasaran. Rayhan mengetuk-ngetuk dagunya seakan sedang berfikir.

“Rahasia.” Jawab Rayhan kemudian.

Dengan satu tarikan nafas, Zaskia berteriak kencang. “Rayhaaaaan….” Pekik Zaskia tapi sang Adik sudah keburu kabur dari hadapannya.

Sembari bersiul ringan, Rayhan sesekali menendang kerikil yang ada di depannya. Sementara matanya berkeliaran mengawasi setiap santriwati yang berada tidak jauh darinya. Hingga akhirnya ia melewati rumah Ustadzah Dewi.

Tampak sang Ustadza tengah menyapu halaman, membuat Rayhan berfikir ingin mampir sebentar.

“Assalamualaikum Ustadza!” Sapa Rayhan.

Ustadza Dewi tersenyum melihat murid kesayangannya. “Waalaikumsalam Ray! Semangat benar pagi ini?” Goda Ustadza Dewi sembari menatap Rayhan dengan tatapan yang sangat menggoda.

“Bisa aja Ustadza, hehehe…”

“Sana buruan sekolah, nanti telat.” Ujar Dewi, dia kembali menyapu dedaunan yang memenuhi halaman depan rumahnya. Maklum saja akhir-akhir ini hujan di sertai angin kencang, membuat beberapa daun pohon yang ada di sekitar rumahnya berterbangan hingga kehalaman depan rumahnya.

Rayhan menggaruk kepalanya seperti orang yang sedang kebingungan. “Maunya si gitu Ustadza, tapi ana gak tega liat Ustadza nyapu sendirian.” Jawab Rayhan memberi alasan yang cukup masuk akal.

“Jadi ceritanya mau bantuin Ustadza ni.”

“Kalau boleh!”

Ustadza Dewi kembali tersenyum. “Tentu boleh dong.” Rayhan hendak mengambil alih sapu yang ada di tangan Ustadza Dewi, tapi ditolak.

“Kenapa Ustadza?” Tanya Rayhan bingung.

“Bukan yang di depan, tapi yang di belakang rumah!” Jelas Ustadza Dewi.

Rayhan mengerti dan setuju membantu Ustadza Dewi membersihkan halaman belakang rumahnya. Bersama Ustadza Dewi mereka pergi kebelakang rumah Ustadza Dewi. Di sana ternyata memang banyak dedaunan yang berguguran.

Selagi Rayhan menyapu halaman belakang rumahnya, Ustadza Dewi hanya berdiri menonton apa yang di lakukan Rayhan. Pemuda itu mengumpulkan daun-daun tersebut di satu tempat, setelah semuanya terkumpul Rayhan membakar daun kering tersebut.

Ustadza Dewi berdecak kagum melihat hasil pekerjaan Rayhan yang dengan cepat membersihkan halaman belakang rumahnya.

“Terimakasih ya Ray!” Ujar Ustadza Dewi senang.

Rayhan mengangkat alisnya. “Cuman terimakasih doang Ustadza?” Tanya Rayhan. “Gak ada bonus gitu buat saya.” Pinta Rayhan tanpa malu.

“Bonus apa?” Tanyanya keheranan.

Rayhan melingkarkan tangannya di pinggul Ustadza Dewi, lalu dengan lembut telapak tangan Rayhan meremas bongkahan pantat Ustadza Dewi yang berisi itu, membuat Ustadza Dewi tersentak kaget.

“Astaghfirullah! Sudah berani nakal kamu ya Ray!” Protes Dewi.

Rayhan nyengir kuda. “Sedikit aja Ustadza! Boleh ya.” Pinta Rayhan, dia terus meremas bongkahan pantat gurunya itu tanpa ada rasa takut.

Bagaimanapun juga kejadian kemarin membuat pemuda tengil itu yakin, kalau Ustadza Dewi juga menginginkan dirinya. Jadi tidak ada alasan baginya untuk takut melakukan perbuatan mesum terhadap sang Ustadza, walaupun Ustadza berucap melarang dirinya.

Sedikit demi sedikit Rayhan menarik bagian bawah gamis yang di kenakan Ustadza Dewi, hingga akhirnya gamis itu terangkat setinggi pinggangnya, memperlihatkan celana dalam putih berenda.

“Astaghfirullah Ray! Bandel banget si kamu, nanti kalau di liat orang bagaimana?” Cemas Ustadza Dewi.

Rayhan mengedarkan pandangannya di sekitar rumah Ustadza Dewi. Yang terlihat hanyalah beberapa pohon besar dan ilalang. Memang sangat jarang ada orang yang lewat di belakang rumah Ustadza Dewi, tapi tetap saja apa yang dilakukan Rayhan terbilang nekat.

“Aman Ustadza!” Bisik Rayhan.

Telapak tangan Rayhan kembali meremas bongkahan pantat Ustadza Dewi. Jemari tengahnya menggosok-gosok serambi lempit Ustadza Dewi.

Wajah Ustadza Dewi menegang, ia merasakan desiran nikmat dari gesekan jari Muridnya. Jemari Rayhan berusaha masuk, menyelip ke dalam celana dalam Ustadza Dewi hingga jemarinya menyentuh daging kenyal serambi lempit Ustadza Dewi.

“Oughkk… Ray!” Desah Ustadza Dewi.

Jemari Rayhan masuk menembus ruang serambi lempit Ustadza Dewi yang telah basah. Sloookss… Sloookss… Sloookss… Dengan gerakan perlahan jemari Rayhan menyodok serambi lempit Ustadza Dewi.

Ustadza Dewi mendekap mulutnya, agar suara desahannya bisa di redam.

“A-aahk… Rayhan! Aahkk… Aaahkk…”

“Enakkan Ustadza! Hehehe…” Goda Rayhan senang, melihat wajah Ustadza Dewi yang tampak sekali kalau keenakan.

Ustadza Dewi menggigit bibirnya, ia sudah mendekati puncaknya. “Ray! Ustadza mau keluar sayang.” Erang Ustadza Dewi, kedua kakinya gemetar ketika orgasme itu datang tanpa bisa ia tahan.

“Oughkk…” Jerit Ustadza Dewi.

Creeets… Creeetss… Creeetsss…

Tubuh Ustadza Dewi melemas, hingga bersujud dihadapan Rayhan. Ia merasa tulang-tulangnya seakan di lolosi.

Di hadapan Ustadza Dewi, Rayhan membuka celananya, mempertontonkan terpedo miliknya di hadapan Ustadza Dewi yang masih tersengal-sengal. Tampak Ustadza Dewi terkejut melihat ukuran rudal Rayhan yang panjang dan besar itu.

Dengan kurang ajarnya Rayhan menggosokkan rudalnya di pipi Ustadza Dewi. Ia menyelinapkan rudalnya diantara pipi dan kerudung Ustadza Dewi.

“Kurang ajar kamu Ray! Eehmmss…” Lirih Ustadza Dewi yang kembali terbakar birahi.

Gairah Rayhan meletup-letup, melihat kemaluannya yang terselip diantara pipi mulus Ustadza Dewi dan kerudungnya yang berwarna cream. Begitu juga dengan Ustadza Dewi, ia merasa sangat nakal karena ulah Rayhan yang secara terang-terangan melecehkan dirinya.

Setelah hampir satu menit Rayhan menyodok jilbab Ustadza Dewi, akhirnya Rayhan menghentikan aksinya, karena ia mengingkan lebih dari Ustadza Dewi.

“Hisap rudalku Ustadza!” Pinta Rayhan.

Jemari halus Ustadza Dewi menggenggam rudal Rayhan, lalu dia mengocoknya dengan perlahan. “Besar sekali rudal kamu Ray!” Puji Ustadza Dewi. Dia meludah di bagian kepala rudal Rayhan, lalu dia memasukan rudal itu ke dalam mulutnya.

“Aaahkk…” Desah Rayhan.

Kepala Ustadza Dewi bergerak maju mundur menghisap rudal Rayhan. Sementara tangannya membelai manja kantung telurnya.

Isapan yang di kombinasikan dengan jilatan membuat Rayhan melayang nikmat. Apa lagi yang mengoral rudalnya saat ini bukanlah orang sembarangan, wanita itu adalah seorang Ustadza yang terhormat. Wanita muslimah yang kesehariannya selalu memakai hijab lebar.

Telapak tangan Rayhan membelai hijab cream yang di kenakan Ustadza Dewi. “Ustadza aku mau keluar.” Lirih Rayhan.

Ustadza Dewi memasukan rudal Rayhan semakin dalam di dalam mulutnya. Croooootss…. Croooootss… Croooootss… Rayhan menembakan spermanya di dalam mulut Ustadza Dewi, wajah tampannya terlihat begitu puas setelah amunisinya ia tembakan.

“Ughkk… Nikmat sekali Ustadza!” Puji Rayhan.

Ustadza Dewi mengusap bibirnya dengan lengan tangannya. “Nakal kamu Ray! Berani ngontolin mulut Ustadzanya sendiri.” Umpat Ustadza Dewi manja.

“Maaf Ustadza! Habis mulut Ustadza memang layak di rudalin, hehehe…” Jawab Rayhan sembari mengenakan kembali celananya.

“Sembarangan kamu ngomong.”

Rayhan tersenyum tipis. “Kalau begitu Ana ke sekolah dulu ya Ustadza, udah telat soalnya.” Ujar Rayhan, Ustadza Dewi menganggukkan kepalanya.

Dengan langkah penuh semangat Rayhan meninggalkan Ustadza Dewi yang masih terlihat lemas. Ia tidak menyangkah mereka akan melakukan perbuatan yang di larang agama sampai sejauh ini. Dan Ustadza Dewi berkeyakinan kalau semua ini belum berakhir.

******

Sekitar jam sembilan pagi, Zaskia terlihat santai di mejanya. Ia lebih banyak melamun sembari memainkan layar handphone miliknya. Bayangan kejadian tadi malam seakan tidak mau hilang dari ingatannya. Sampai detik ini, ia masih ingat betul bentuk kemaluan adiknya. Dan sialnya, ia merasa di bawah sana selalu saja basah.

Ia mendesah perlahan, berusaha mengalihkan pikiran ke handphone yang ada di tangannya. Tapi sayangnya ia gagal untuk tidak mengulang rekaman bentuk kemaluan Adiknya yang besar itu.

Dari kejauhan Julia yang melihat sahabatnya lebih banyak diam, memutuskan untuk menghampirinya. Sanking khusuknya Zaskia sama sekali tidak menyadari sosok Julia sahabatnya.

“Za… Halo!” Julia melambaikan tangannya di depan Zaskia.

“Astaghfirullah!” Zaskia terhenyak kaget. “Mbak Julia, bikin kaget aja.” Protes Zaskia, ia menghela nafas sembari meletakan handphone miliknya diatas meja.

“Kamu kenapa Za? Ada masalah?” Tanya Julia.

Zaskia menggelengkan kepalanya. “Gak ada apa-apa kok Mbak.” Elak Zaskia, ia ragu untuk menceritakan masalahnya kepada seniornya. Ia takut Julia akan memandang rendah dirinya, kalau seandainya ia tau permasalahannya.

“Ayolah!” Paksa Julia.

“Beneran gak ada Mbak.”

Julia diam sejenak sembari menatap dalam wajah sahabatnya hingga membuat Zaskia merasa risih. “Tentang Rayhan?” Tembak Julia, Zaskia tampak terkejut mendengarnya.

“Kok Mbak tau? Eh…” Zaskia menutup mulutnya karena barusan ia keceplosan.

Julia tersenyum senang karena dugaannya sama sekali tidak meleset. Berbeda dengan Zaskia yang menjadi salah tingkah di hadapan sahabatnya.

“Cerita sama Mbak!”

“Tapi Mbak?”

“Mbak akan bantu kamu cari jalan keluarnya.” Ujar Julia meyakinkan.

Zaskia menghela nafas, tampak payudaranya sedikit bergoyang di balik gamis yang ia kenakan. “Iya Mbak, ini masalah Rayhan!” Ujar Zaskia menyerah, ia tidak bisa menutupi masalahnya di depan sahabatnya.

“Kenapa lagi dengan dia.”

“Jujur Mbak, ana merasa bingung dengan perasaan ana saat ini Mbak. Apa lagi akhir-akhir ini ana merasa Rayhan sengaja mencari kesempatan mengintip ana.” Ujar Zaskia pelan. “Dan puncaknya semalam.” Lirih Zaskia, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Memastikan kalau tidak ada orang lain yang mendengar obrolan mereka.

“Kenapa semalam?” Kejar Julia.

“Se-semalam habis shalat ana mau ganti mukena, dan saat itu Rayhan melihat ana yang cuman memakai celana dalam.” Lirih Zaskia, wajahnya memerah menahan malu mengingat kejadian semalam.

“Astaghfirullah!” Kaget Julia.

“Parahnya lagi, semalam ana juga tidak sengaja melihat itunya Rayhan.” Suara Zaskia terdengar serak.

Julia tampak serius mendengarkan cerita Zaskia. “Maksud Uhkti, rudal!” Ujar Julia sedikit mencondongkan badannya kearah Zaskia.

“Astaghfirullah!”

“Benar gak?”

Zaskia mengangguk lemah. “Ana merasa Rayhan sengaja mempertontonkan itunya.” Raut wajah Zaskia penuh penyesalan. Ia merasa sangat berdosa karena semalam tanpa sadar ia telah melakukan zina mata.

“Kamu serius Za!” Potong Julia. Zaskia menganggukkan kepalanya dengan malas. “Besar gak?” Canda Julia, di selimuti rasa penasaran yang tinggi.

Zaskia tampak membuang nafas. “Ana serius Mbak!” Kesal Zaskia. Tetapi di dalam hatinya ia menjawab pertanyaan Ustadza Julia tentang ukuran rudal Rayhan yang sangat besar.

“Hahaha… Aduh! Sakit perut Mbak.”

“Tuhkan, Mbak malah ketawa.” Sungut Zaskia.

Setengah mati Julia berusaha untuk tidak tertawa, hingga wajahnya bersemu merah. “Maaf Zaskia! Aduuuuh… Maaf… Maaf ya Uhkti.” Pinta Julia, ia berusaha mengatur nafasnya agar tidak tertawa lagi, tentu Julia tidak ingin kehilangan bagian penting dari cerita Zaskia. “Lanjutkan lagi ceritamu.” Kata Julia setelah berhasil menenangkan dirinya.

Dengan perlahan Zaskia menceritakan semua kejadian semalam berikut dengan perasaannya. Sesekali Julia kembali tertawa, membuat Zaskia berulang kali mengancam tidak akan cerita. Tapi pada akhirnya Zaskia menceritakan semuanya.

Sebagai sahabat Julia memberikan sedikit nasehat kepada Zaskia, agar wanita cantik itu tidak terlalu khawatir tentang sosok adiknya.

******

Kasus kolor ijo masih menjadi trending topik di kalangan pesantren. Baik Ustad-ustadza maupun para santri masih membicarakan kasus kolor ijo yang telah memakan dua korban. Rasa penasaran tentang sosok kolor ijo membuat mereka merasa cemas.

Di sudut kantin Santriwati, tampak beberapa santri dengan seragam yang sama tengah mengobrol serius tentang sosok mengerikan yang telah meneror pondok pesantren Al-tauhid. Kedamaian yang dulu selalu mereka rasakan, kini berubah menjadi sangat mencekam. Tak jarang mereka terjaga di tengah malam, mewaspadai kedatangan mahluk aneh tersebut.

Bahkan keamanan pondok pesantren semakin di perketat. Jumblah piket malampun di tambah, terutama di wilayah santriwati dan di sekitaran rumah Ustad-ustadza yang telah menikah.

“Semalam aku gak bisa tidur!” Keluh Aurel.

Asyifa mendesah pelan, sembari menyeruput jus alpukat kesukaannya. “Aku juga! Ini sangat mengganggu.” Tambah Asyifa, bibir merahnya tampak manyun.

“Istighfar! Ini semua cobaan tuhan.” Ujar Adinda mencoba menenangkan sahabatnya. “Insyaallah, secepatnya mahluk itu akan tertangkap.” Sambungnya, dia menatap yakin kearah sahabatnya.

“Semoga saja!” Ujar Asyifa frustasi.

“Gimana kalau mahluk itu datang? Apa yang harus kita lakukan.” Aziza yang dari tadi diam kini ikut angkat bicara. Tubuhnya gemetar membayangkan sosok mengerikan tersebut. “Di rumah kami hanya tinggal berdua, soalnya Abi sedang tidak ada di rumah.” Lirih Aziza, wajahnya pucat sanking takutnya.

“Aku ada ide.” Celetuk Dinda.

Mereka bertiga fokus melihat kearah Adinda. “Apa?” Kejar Aurel tak sabar.

“Bagaimana kalau malam ini kita menginap di rumah Aziza.” Usul Adinda, membuat wajah-wajah lesu itu kembali terlihat bercahaya.

“Setuju!” Teriak mereka serempak.

Alhasil dalam sekejap mereka berempat menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di kantin. Beberapa Ustadza tanpa menggelengkan kepala melihat tingkah konyol mereka. Dan sebagian lagi ada yang memberi isyarat agar mereka tidak berisik.

Sementara itu, di dalam kantin Mang Soleh tengah mengurut batang kemaluannya, sembari menatap nanar kearah ke empat anak remaja itu.

*****

Angkot tua itu berjalan dengan perlahan, sesekali ia terguncang tatkalah salah satu bannya masuk ke dalam lobang yang cukup besar. Ibu-ibu yang berada di dalam angkot tampak menjerit, ada rasa khawatir kalau mobil tersebut akan terbalik.

“Bang, pelan-pelan saja!” Protes salah satu penumpang yang tengah menggendong seorang anak.

Tetapi sang sopir seakan tidak perduli. Sembari menghisap rokok kretek, ia menghajar setiap lobang yang ada di hadapannya tanpa ada rasa takut. Rayhan yang juga menjadi salah satu penumpang angkutan umum tersebut tanpa menghela nafas.

Perutnya terasa mual karena goncangan di dalam angkot yang tidak beraturan. Belum lagi bauk amis yang menyengat dari penumpang yang duduk di sampingnya. Ceritasex.site

Hal yang sama juga di rasakan Asyifa dan Aziza, mereka berdua kompak menutup hidung, untuk mengurangi bauk amis yang menyengat. Sesekali Asyifa melirik kearah Rayhan, tetapi ia buru-buru membuang mukanya ketika Rayhan balas menatapnya.

“Kalian mau kemana?” Sapa Rayhan kemudian.

Aziza tersenyum manis. “Kami mau ke pasar Akhi! Kalau Akhi sendiri mau kemana?” Tanya Aziza sopan, membuat Asyifa geram. Dia mencubit paha Aziza sembari memberi kode untuk diam.

“Gak usah di ajak ngomong!” Bisik Asyifa.

Gadis berjilbab merah muda itu menatap Rayhan tak suka. Ia masih teringat kejadian di kantor Aliya beberapa hari yang lalu. Ia masih sangat marah kepada Rayhan, apa lagi sampai hari ini pemuda itu tidak meminta maaf atas kejadian waktu itu.

Rayhan yang mengerti amarah Asyifa, memilih diam. Sesekali ia tersenyum tipis mengingat kejadian waktu itu.

Sementara Aziza tampak tidak mengerti dengan sikap sahabatnya. Karena Asyifa yang ia kenal adalah sosok wanita yang ramah pada siapa saja. Tapi di hadapan Rayhan, Asyifa malah terlihat berbeda.

“Kamu kenapa Asyifa?” Tanya Aziza pelan.

Asyifa membuang muka kearah jendela angkot, seraya menggelengkan kepalanya. “Aku gak apa-apa.” Jawab Asyifa singkat.

Aziza menghela nafas dalam, lalu diam sembari menikmati perjalanan mereka. Hingga akhirnya angkot yang mereka tumpangi akhirnya tiba di terminal pasar kabupaten. Para penumpang berbondong-bondong keluar dari dalam angkot, begitu juga dengan Asyifa dan Aziza.

Ketika hendak menyebrang jalan, dari arah berlawanan tampak sebuah motor 2tak melaju dengan kencangnya. Asyifa yang tak menyadarinya dengan santai hendak menyebrang.

Rayhan dengan cepat menarik tangan Asyifa, hingga tubuh Asyifa jatuh di dalam pelukannya. “Ngeeeeeeeng….” Dengan kecepatan maksimal, motor Yamaha RX-King melaju cepat, tepat didepannya. Asyifa yang melihat kejadian tersebut tanpa pucat pasi.

Cukup lama bagi Asyifa untuk mengembalikan kesadarannya. Dan ketika ia sadar, Asyifa sangat terkejut ketika tau berada di dalam pelukan Rayhan.

“Astaghfirullah! Kamu…” Asyifa mengarahkan tunjuknya kearah Rayhan. Rahangnya mengeras dan wajahnya memerah.

“Cie… Cie… Cie…” Goda Aziza.

Asyifa yang tadinya hendak marah, berubah menjadi sangat malu setelah di goda oleh sahabatnya. Ia bergegas menarik tangan Aziza untuk segera memasuki pasar tanpa memperdulikan pemuda yang baru saja menyelamatkan nyawanya.

Rayhan yang melihat hal tersebut hanya diam, sembari menyunggingkan senyumnya. “Cantik juga.” Gumam Rayhan, sembari ikut menyebrang jalan.

Bersambung… Cuaca malam ini terasa lebih bersahabat di bandingkan malam-malam sebelumnya, yang selalu di guyur hujan lebat dan di sertai angin kencang. Tampak bintang-bintang kecil menghiasi langit malam ini, menemani sang rembulan yang muncul dengan bentuk sempurna.

Seperti yang sudah mereka sepakati, Asyifa, Adinda dan Aurel menginap di rumah Aziza. Melihat keakraban mereka, Ustadza Dwi terlihat sangat senang.

Di dalam kamar Aziza. Tampak mereka tengah menggoda Asyifa. Bermula ketika Aziza menceritakan kejadian kemarin sore ketika mereka bertemu dengan Adiknya Ustadza Zaskia.

“Cie… Cie…” Ledek Aurel.

Wajah Asyifa bersemu merah. “Ih, apaan si kalian.” Celoteh Asyifa, ia tampak kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa ketika teman-temannya membully dirinya.

“Enaknya yang di peluk.” Goda Aziza.

Adinda yang tengah duduk di kursi belajar sembari memegang buku untuk mengulangi pelajaran tadi siang, hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku ketiga sahabatnya. Ada perasaan bahagia yang menyeruak ke dalam hatinya, ketika melihat kedekatan yang terjalin diantara mereka.

Sungguh Adinda merasa bersyukur bisa memiliki sahabat seperti mereka bertiga.

Aurel tiba-tiba memeluk Asyifa. “Mau dong ikut di peluk.” Ujar Aurel dengan sedikit mendesah, membuat Asyifa bergidik geli. Ketika hendak melepaskan pelukan Aurel, tiba-tiba Aurel meremas payudaranya.

“Aureeeeel!” Jerit Asyifa.

Sekuat tenaga Asyifa berusaha memberontak, tapi Aurel tidak melepaskannya. Tanpa ampun Aurel meremas payudara Asyifa.

Adinda menghela nafas pelan, ia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya yang di rasa semakin jauh dari norma-norma agama. Sementara Aziza hanya tertawa renyah melihat Asyifa yang terus-terusan meronta dari pelukan Aurel.

Dan tanpa merasa berdosa, Aurel meremas kedua payudara Asyifa hingga gadis berusia belasan tahun itu menjerit, membuat isi kamar menjadi ramai.

*****

Sekitar jam 10 malam, Rayhan keluar dari dalam kamarnya. Ia memasuki ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Tampak Zaskia tengah tertidur lelap diatas sofa. Wajah cantiknya terlihat begitu damai, membuat siapapun yang melihatnya pasti ingin menciumnya.

Rayhan menghampiri Kakak kandungnya, ia menatap Zaskia dengan tatapan yang tidak biasanya. Hatinya bergetar melihat Zaskia yang tengah tertidur.

Malam ini tidak ada yang spesial dari Zaskia, ia hanya mengenakan piyama tidur dengan model celana. Hanya saja, bagian perutnya terbuka, memamerkan perut rata dan kulitnya yang putih bak pualam.

“Kak!” Panggil Rayhan.

Zaskia menggeliat pelan, lalu kembali tidur, seakan tidak terganggu dengan panggilan sang Adik.

Rayhan menggaruk-garuk kepalanya, seraya mendesah pelan. Dia mengambil remote tv dan mematikan tvnya yang masih menyala. Kemudian dengan sangat hati-hati Rayhan mengangkat tubuh Kakaknya, menggendongnya dengan perlahan.

Deg… Deg… Deg…

Detak jantung Rayhan berdetak lebih cepat dari biasanya. Wajahnya memanas tatkalah ia menatap wajah Zaskia yang begitu cantik.

“Astaghfirullah! Apa yang kupikirkan!” Bisik hati Rayhan. Sembari menggendong Kakaknya, ia membawa Zaskia menuju kamar sang Kakak. Dengan sangat hati-hati Rayhan membaringkan Zaskia, agar Kakak kandungnya itu tidak terjaga dari lelapnya.

Sejenak ia terpaku menatap Kakaknya. Payudara Zaskia yang berukuran 34D tampak turun naik, mengikuti irama nafas Zaskia yang teratur.

“Cantik!” Ujar Rayhan.

Tapi buru-buru Rayhan menggelengkan kepalanya. Zaskia memang cantik, tapi ia masih punya moral untuk tidak mengambil kesempatan di saat Kakaknya tengah tertidur lelap dengan damai. Dia menarik selimut Zaskia hingga menutupi sebagian tubuhnya. Lalu dengan perlahan ia mengecup kening Zaskia.

Untuk terakhir kalinya, sebelum meninggalkan kamar Kakaknya, Rayhan melihat kearah Zaskia yang terbaring pasrah. Tampak pemuda itu menghela nafas, lalu pergi meninggalkan kamar Zaskia.

Tepat ketika pintu kamarnya tertutup, Zaskia bergumam pelan. “Ray!!” Lirihnya.

*****

Keadaan di luar rumah terasa tidak mencekam seperti biasanya. Bahkan terasa terlalu damai bagi Rayhan, tetapi walaupun begitu ia tetap memeriksa sekeliling rumahnya, memastikan tidak ada mahluk aneh yang mendekati rumah mereka.

Ada alasan kenapa Rayhan memilih memantau rumahnya dari jauh, ketimbang tetap berada di dalam rumah menjaga Kakak kandungnya.

Seingatnya, setiap kali mahluk itu hadir, tidak ada satupun orang yang berada di dekat korban akan menyadari kehadiran mahluk tersebut. Mereka semua akan tertidur lelap, selagi mahluk aneh itu memperkosa korbannya. Dengan alasan itulah Rayhan menjaga jarak dari Kakaknya, agar bisa tetap terjaga dan melindungi orang yang sangat berharga di dalam hidupnya..

Untuk kedua kalinya ia mengitari rumahnya, dan Rayhan tidak menemukan jejak si kolor ijo berada di dekat rumahnya. Sembari menghela nafas ia duduk di potongan pohon kelapa yang telah di tebang.

“Huaam.” Dia menutup mulut sembari menguap.

Matanya yang biasanya tajam seperti elang, kini terlihat begitu sayu dan lelah. Maklum saja, karena akhir-akhir ini Rayhan tertidur tidak lebih dari dua jam. Rayhan baru tidur setelah menunaikan shalat subuh. Dan bangun lagi sekitar jam enam pagi.

Dia melipat tangannya di dada, untuk mengurangi hawa dingin yang membuat tubuhnya menggigil.

“Ray!”

Tubuh Rayhan terlonjak kaget ketika seseorang menepuk pundaknya. Saat ia berbalik, ia mendesah pelan ketika menyadari kehadiran Ustadza Dewi. “Astaghfirullah! Ana pikir tadi siapa?” Rayhan berujar sembari menggelengkan kepalanya.

“Antum pikir Ustadza hantu?” Singgung Ustadza Dewi sembari mengangkat alisnya.

Rayhan menggaruk kepalanya sembari tersenyum kecut. “Ya habisnya Ustadza ngagetin!” Jawab Rayhan, tidak memungkiri apa yang di katakan Ustadza Dewi.

“Dasar kamu.”

“Kok Ustadza malam-malam ke luar rumah! Ada perlu apa Ustadza?” Tanya Rayhan keheranan.

Ustadza Dewi duduk di potongan pohon kelapa yang tadi di duduki Rayhan. “Dari jendela Ustadza lihat kamu mondar-mandir kayak orang kebingungan.” Jelas Ustadza Dewi, dia merapatkan kardigan miliknya untuk mengurangi hawa dingin. “Kamu lagi berantem sama Uhkti Zaskia?” Tanya Ustadza Dewi penasaran.

“Eh…”

“Berantem dengan saudara itu hal biasa, nanti juga baikan, jangan terlalu di pikirkan.” Potong Ustadza Dewi.

Rayhan yang tadinya hendak menjelaskan kenapa dirinya berada di luar menjadi urung. “Iya Ustadza!” Jawab Rayhan mengamini ucapan Ustadza Dewi.

“Malam ini kamu tidur di rumah Ustadza! Besok pagi Kakak kamu pasti sudah baikan.” Jelas Ustadza Dewi seraya tersenyum manis.

“Gak apa-apa Ustadza, saya di sini saja! Gak enak sama Nikita.” Tolak halus Rayhan.

Ustadza Dewi berdiri sembari merapikan gaun tidurnya yang berwarna putih. “Di rumah lagi gak ada orang! Nikita malam ini menginap di asrama temannya.” Ujar Ustadza Dewi setengah berbisik.

Ucapan Ustadza Dewi sukses membuat Rayhan terdiam seribu bahasa. Pemuda itu sadar, kalau ucapan Ustadza Dewi adalah sebuah undangan khusus untuknya.

Tanpa menunggu jawaban Rayhan, Ustadza Dewi berlalu pergi menuju rumahnya. Sedetik kemudian Rayhan bergegas menyusul Ustadza Dewi. Sejenak ia lupa, akan niatnya yang ingin menjaga Kakak kandungnya.

*****

Di ruangan tamu minimalis itu, tampak kedua insan berbeda generasi tengah bercumbu mesrah. Kedua bibir mereka bertautan, saling hisap dan melumat satu sama lainnya. Telapak tangan Rayhan membelai punggung Ustadza Dewi membuat tubuh Ustadza Dewi merinding.

Dengan perlahan Rayhan membuka cardigan yang di kenakan Ustadza Dewi, hingga sang Ustadza hanya mengenakan gaun tidur tanpa lengan.

Rayhan mengecup mesrah pundak telanjang Ustadza Dewi, merangsang wanita paruh baya itu.

“Ahkk, Ray! Aaahkk…”

Sembari menurunkan gaun tidur tersebut, Rayhan mengecup dada Ustadza Dewi. Dan seperti yang sudah di duga Rayhan. Ustadza Dewi sudah tidak memakai bra untuk melindungi payudaranya.

Tepat ketika gaun tidur itu merosot kelantai, Rayhan mencomot payudara Ustadza Dewi. Dia menghisap payudara Ustadza Dewi secara bergantian, memainkan lidahnya di sekitar puting Ustadza Dewi yang cukup besar. Sementara telapak tangannya meremas pantat sebelah kiri Ustadza Dewi.

“Aahkk… Ray! Terus sayang.” Racau Ustadza Dewi.

Dia mendekap kepala Rayhan yang tengah bermain dengan kedua payudaranya yang berukuran 36D.

Tubuhnya yang sudah lama tidak di sentuh, menggeliat tak terkendali, menikmati hisapan mulut Rayhan di kedua payudaranya yang besar.

Rayhan membantu Ustadza Dewi duduk di sofa, dia mendekap pundak Ustadza Dewi sembari melumat bibirnya. Sementara tangan Rayhan bergerilya di paha mulus Ustadza Dewi, terus naik menuju selangkangan Ustadza Dewi yang terbungkus kain segitiga berwarna putih yang telah basah.

Jemari telunjuknya menggosok clitoris Ustadza Dewi dari luar celana dalam.

Setelah puas berciuman, Rayhan berlutut dihadapan Ustadza Dewi. Dia menaikan kedua kaki Ustadza Dewi keatas sofa dengan posisi mengangkang.

“Saya buka ya Uatadza!” Izin Rayhan.

Ustadza Dewi mengangguk lemah. “Buka aja sayang! Ini milikmu.” Lirih Ustadza Dewi.

Dengan perlahan Rayhan menarik turun celana dalam Ustadza Dewi. Dengan sedikit mengangkat pinggulnya, Ustadza Dewi membantu Rayhan melepas celana dalamnya. Tampak rambut kemaluan Ustadza Dewi yang tumbuh subur.

Rayhan berdecak kagum melihat keindahan serambi lempit Ustadza Dewi. “Indah sekali.” Gumam Rayhan, sembari menghirup aroma serambi lempit Ustadza Dewi yang menyeruak masuk ke hidungnya.

Sluppss… Sluuppss… Sluuuppss…

Lidah Rayhan menari-nari di bibir kemaluan Ustadza Dewi. Menyentil clitorisnya dengan ujung lidahnya. Sesekali lidahnya menusuk masuk ke dalam serambi lempit Ustadza Dewi.

“Ray! Aahkk… Terus sayang!” Mohonnya..

Sruuuppss… Sruuuppss… Sruuuppss…

Rayhan menyeruput lendir kewanitaan Ustadza Dewi yang keluar cukup banyak. Rasanya asin dan gurih.

Sembari menjilati clitoris Ustadza Dewi, jari tengah Rayhan mengocok serambi lempit Ustadza Dewi. Sloookss… Sloookss… Sloookss… Semakin lama, Rayhan semakin cepat mengocok serambi lempit Ustadza Dewi, membuat tubuh Ustadza Dewi belingsatan.

“RAY, USTADZA KELUAAAAR!” Jerit Ustadza Dewi.

Seeeeeeeeeerrrr…

Pinggulnya tersentak-sentak beberapa kali sembari menyemburkan cairan bening dari dalam serambi lempitnya dengan jumblah yang cukup banyak.

Rayhan tersenyum tipis. Ia mendesah puas karena berhasil membuat Ustadza Dewi orgasme.

“Aku masukan sekarang ya Ustadza!” Rayhan membuka pakaiannya hingga telanjang bulat, tampak rudal besarnya menggantung diantara kedua pahanya yang di tumbuhi bulu halus.

“Besar sekali Ray!” Lirih Ustadza Dewi.

Masih dengan posisi sebelumnya, Rayhan memepet tubuh Ustadza Dewi sembari mengarahkan rudalnya di lipatan bibir kemaluan Ustadza Dewi. “Ustadza tidak akan kecewa.” Ujar Rayhan sombong.

“Ustadza tidak sabar lagi sayang! Masukan sekarang.” Pinta Ustadza Dewi menggoda.

Rayhan menggesekkan kemaluannya ke bibir serambi lempit Ustadza Dewi. Lalu dengan perlahan kepala rudalnya yang berbentuk helm tentara itu membela bibir serambi lempit Ustadza Dewi. Wajah Rayhan meringis, merasakan jepitan serambi lempit Ustadza Dewi.

Wajah cantik Ustadza Dewi mendongak keatas, sembari mengepal kedua tangannya, meresapi setiap inci batang kemaluan Rayhan yang masuk ke dalam serambi lempitnya. Panjang dan keras, itu yang di rasakan Ustadza Dewi saat ini ketika rudal Rayhan menggesek dinding kemaluannya.

Setelah beberapa kali dorongan, akhirnya rudal Rayhan bersemayam di dalam serambi lempitnya. “Gilaaaaaa… Ini besar sekali.” Bisik hati Ustadza Dewi.

“Nikmat sekali jepitan serambi lempit Ustadza.” Racau Rayhan.

Pinggul Rayhan mulai bergoyang maju mundur menyodok serambi lempit Ustadza Dewi. “OUGHKK… rudal KAMU BESAR SEKALI…” Jerit Ustadza Dewi, ia merasa rudal Rayhan begitu penuh di dalam serambi lempitnya.

Dengan gerakan perlahan tapi konsisten Rayhan menyodok serambi lempit Ustadza Dewi.

Ploks… Plooks… Ploooks… Plookss… Plookss… Ploooksss… Ploooks… Ploookss… Plooooksss…

“Lebih cepat Ray! Lebih cepat.” Pinta Ustadza Dewi.

Nafas Rayhan mendengus, menahan gejolak birahinya. Sementara di bawah sana, kemaluannya bergerak semakin cepat menubruk daging empuk milik seorang Ustadza yang di kenal cukup alim.

Sembari menyodok serambi lempit Ustadz Dewi, Rayhan meremas payudaranya yang besar.

“USTADZA KELUAAAAR RAY!” Pekik Dewi.

Buru-buru Rayhan mencabut rudalnya, dan tampak cairan bening kembali menyembur keluar. Dengan mulut mengangah, Ustadza Dewi menyambut orgasmenya.

******

Rayhan duduk di sofa sembari memeluk tubuh Ustadza Dewi yang tampak kelelahan. Tubuh telanjangnya yang indah, tampak semakin indah karena peluh yang membasahi tubuh mulusnya.

Telapak tangan Rayhan yang tak bisa diam bermain dengan puting Ustadza Dewi yang telah mengeras. Sementara Ustadza Dewi lebih banyak diam.

“Bawak Ustadza ke kamar.” Pintanya kemudian.

Rayhan tersenyum. Lalu dia menggendong tubuh telanjang Ustadza Dewi ke kamarnya.

Setibanya di dalam kamar Rayhan menurunkannya kembali. Ustadza Dewi meminta Rayhan tiduran, dan pemuda tanggung itu menuruti keinginan Ustadza Dewi. Ia berbaring dengan kedua kaki menjuntai di ujung tempat tidur Ustadza Dewi.

Ustadza Dewi ikut naik keatas, dia mencium sekujur wajah Rayhan. Dari mata, hidung, pipi, hingga bibirnya. Lalu terus turun menuju dada Rayhan.

“Ughkk…” Lenguh Rayhan nikmat.

Ustadza Dewi bermain dengan dengan dada bidang Rayhan, sementara telapak tangannya menggapai batang kemaluan Rayhan. Dia menggenggam dan mengocok rudal Rayhan.

“Hisap rudal ana Ustadza!” Pinta Rayhan.

Ustadza Dewi segera menuruti permintaan tuannya, dia beralih ke rudal Rayhan. Dia jilati setiap inci batang kemaluan Rayhan hingga basah kuyup. Tak lupa ia mencucup kepala rudal Rayhan.

“Aahkk… Enak! Eehmm…” Desah Rayhan ketika Ustadza Dewi memasukan rudal Rayhan kedalam mulutnya.

Cerita Dewasa Ngentot - Bersetubuh Dengan Kakak Berjilbab di Pesantren
Tangan Rayhan membelai rambut Ustadza Dewi yang tergerai indah. “Terus Ustadza! Aahkk… Enak, Oughkk…” Mata Rayhan terpejam meresapi kuluman Ustadza Dewi.

Karena tidak ingin Rayhan segera keluar, Ustadza Dewi segera mengakhiri kulumannya. Ia naik keatas tempat tidur. Dengan posisi memunggungi Rayhan, Ustadza Dewi mengarahkan kemaluan Rayhan di depan bibir serambi lempitnya yang merekah indah.

Dengan perlahan Ustadza Dewi memasukan rudal Rayhan di dalam serambi lempitnya.

Bleeesss…

“Oughkk…” Erang Ustadza Dewi.

Rayhan meletakan tangannya di bawah kepalanya sebagai bantalan. Sementara Ustadza Dewi bekerja ekstra menggoyangkan pinggulnya naik turun.

Dari posisinya Rayhan dapat melihat jelas serambi lempit Ustadza Dewi yang tengah memakan rudalnya. Tampak bibir kemaluan Ustadza Dewi ikut ketarik keluar ketika ia mengangkat pinggulnya, dan sebaliknya, ketika Ustadza Dewi menekan pinggulnya, bibir kemaluan Ustadza Dewi tampak masuk ke dalam.

“Aahkk… Aaahkk… Aaahk…” Ustadza Dewi tampak terengah-engah.

Setelah hampir lima menit dengan posisi tersebut. Ustadza Dewi kembali merasakan getaran nikmat di sekujur tubuhnya. Tepat ketika ia menarik lepas rudal Rayhan dari dalam serambi lempitnya, ia menggapai puncak kenikmatannya.

Seeeeeeeeeerrrr….

Sembaran cairan cintanya membuat sepasang kaki dan selangkangan Rayhan menjadi basah.

*****

Rayhan yang terlalu sibuk bercinta dengan gurunya, tidak menyadari perubahan cuaca di luar rumah. Angin yang tadinya tenang, mendadak bertiup kencang, menggoyang pohon besar yang telah berusia puluhan bahkan ada yang telah berusia ratusan tahun.

Burung-burung kecil yang tengah beristirahat di dalam sarangnya, berusaha mati-matian menjaga anak-anaknya yang terus berteriak ketakutan.

Sementara rembulan yang tadinya terang benderang kini telah tertutup awan dengan sempurna. Tidak ada lagi keindahan, yang ada hanyalah suasana mencekam. Andai Rayhan menyadari perubahan cuaca malam ini, tentu Rayhan akan bergegas pulang untuk melindungi saudaranya. Tapi sayang, kenikmatan dunia membutakan indranya.

Duaaarrr…. Duaaaarrrr… Duaaaaarrrr…

Suara petir sahut-menyahut serambi lempitakkan telinga, perlahan hujan mulai turun membasahi tanah pesantren Al-tauhid.

Entah dari mana asalnya, mahluk aneh itu tiba-tiba saja sudah berada di dalam rumah seorang Ustadza. Ia menyelinap masuk hingga ke dapur.

“Astaghfirullah!” Gelas yang ada di tangan Ustadza Dwi terlepas hingga jatuh ke lantai. Matanya membeliak tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.

Tepat dihadapannya, seorang mahluk menyeramkan berdiri di depannya. Tubuhnya berwarna hijau pekat dengan mata melotot yang seakan ingin keluar dari kelopak matanya. Giginya runcing, menambah keseraman mahluk tersebut.

Mahluk aneh itu menyeringai melihat mangsanya yang terdiam kaku sanking takutnya.

“TO… TOLOOOOOOONG!” Teriak Ustadza Dwi.

Dengan cekatan sang mahluk menangkap tubuh Ustadza Dwi yang terus meronta-ronta. Dia dengan mudahnya merobek pakaian tidur yang dikenakan Ustadza Dwi, berikut dengan pakaian dalamnya.

Dalam sekejap, mahluk aneh itu berhasil membuat Ustadza Dwi telanjang bulat. Mata merah sang kolor ijo menatap nanar kearah tubuh telanjangnya.

“Jangaaaaan! Hentikan.” Histeris Ustadza Dwi.

Tubuhnya terdorong hingga jatuh kelantai. Dengan gerakan cepat sang kolor ijo menindih tubuh Ustadza Dwi, dia segera memposisikan kemaluannya diantara lipatan serambi lempit Ustadza Dwi. Mata Ustadza Dewi membeliak merasakan desakan rudal kolor ijo yang begitu besar.

Kepala rudalnya menyeruak masuk dengan paksa serambi lempit Ustadza Dwi. Membuat tubuh Ustadza Dwi terasa kakuh sanking tegangnya. Perlahan tapi pasti, kepala rudal kolor ijo menyentuh dasar serambi lempitnya.

“Oughkk…” Lenguh Ustadza Dewi.

Walaupun telah melahirkan seorang anak, tapi tetap saja serambi lempit Ustadza Dwi terasa legit dan nikmat. Dengan gerakan menghentak kolor ijo mengaduk serambi lempit Ustadza Dwi. Sementara kedua tangannya mencengkram kedua payudara Ustadza Dwi yang berukuran 34D.

Dia meremasnya dengan kasar, meninggalkan bekas merah di kedua payudara Ustadza Dwi. Wanita berusia 38 tahun tersebut mulai menghayati pemerkosaan yang di alaminya. Ceritasex.site

Jujur saja selama ini ia selalu membayangkan dirinya di perkosa dan di lecehkan oleh seorang pria. Dan malam ini, tanpa ia duga, apa yang ia khayalkan selama ini akhirnya terjadi juga, sehingga tidak heran, kalau dengan cepat Istri dari Ustad Furqon tersebut tampak sangat menikmati pemerkosaan yang ia alami.

“To… Tolooong! Aahkk… Hentikan!” Jerit Ustadza Dwi.

Tapi tubuhnya hanya diam saja, dan menerima setiap hentakan rudal kolor ijo di dalam serambi lempitnya. Bahkan sepasang kaki jenjangnya melingkar di pinggang kolor ijo, sehingga rudal kolor ijo semakin dalam masuk ke dalam serambi lempitnya.

Tubuh Ustadza Dwi yang bermandikan keringat tampak gelajotan menerima hentakan rudal kolor ijo.

“Aahkk… Aahkk.. aahkk…” Desahnya.

Setelah beberapa menit kemudian, Ustadza Dwi mengerang panjang seiring dengan orgasmenya. Buru-buru kolor ijo mencabut rudalnya, membiarkan Ustadza Dwi menikmati orgasmenya. Creeetsss… Creeetsss… Creeetsss… Beberapa kali Ustadza Dwi menyemburkan cairan cintanya.

Setelah merasa reda, tubuh indah Ustadza Dwi terkulai lemas tak berdaya. Kolor ijo yang belum puas memaksa Ustadza Dwi berdiri dan duduk di atas meja makan.

“Tidaaak… Jangaaaaan!” Melas Ustadza Dwi.

Tapi tubuhnya, lagi-lagi mengkhianati dirinya. Tanpa perlawanan berarti, ia membiarkan sang kolor ijo menjilati serambi lempitnya yang berbulu tipis.

Sruppss…. Sruuppss… Sruuuppss…

Sang kolor ijo menyeruput lendir kewanitaan Ustadza Dwi yang membanjir cukup banyak. Menelan dan menjilati clitoris Ustadza Dwi yang mulai tampak terengah-engah.

Setelah di rasa cukup kolor ijo kembali mengarahkan kemaluannya di depan serambi lempit Ustadza Dwi. Dengan satu dorongan ia kembali menusuk serambi lempit Ustadza Dwi. “Oughkk… Tuhan!” Lenguh Ustadza Dwi, ia mencengkram erat pinggiran meja makannya.

Driit… Driit… Driit…

Meja makannya tampak berderit-derit ketika pinggul kolor ijo menghentak serambi lempit Ustadza Dwi.

Tidak butuh waktu lama bagi Ustadza Dwi untuk kembali mendapatkan orgasmenya. Ia melolong panjang menyambut orgasmenya dari seorang mahluk yang tidak jelas asal usulnya. Tapi karena itu Ustadza Dwi menjadi sangat bergairah. Sungguh ia mengutuk dirinya sendiri, karena menikmati pemerkosaan yang ia alami malam ini.

Tanpa di ketahui dua orang tersebut. Tampak dari balik pintu seorang gadis muda tengah menatap tak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat.

*****

Suara Muazin menggema dari menara masjid yang menjulang tinggi, membangunkan para penghuni pondok pesantren Al-tauhid yang terlelap tidur, tanpa mengetahui apa yang telah terjadi menimpa salah satu staf pengajar di ponpes Al-tauhid. Sementara sang kolor ijo telah lama menghilang jauh sebelum sang Muazin mengumandangkan azan subuh.

Sementara itu di kediaman Ustadza Dewi. Wanita berusia 39 tahun itu baru saja selesai mengambil wudhu dan berniat membangunkan Rayhan yang masih terlelap.

“Bangun Ray!” Panggil Ustadza Dewi.

Rayhan duduk di tempat tidur sembari mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk. “Ustadza!” Lirih Rayhan, ia terlihat takjub melihat kecantikan Ustadza Dewi yang memakai mukena berwarna putih bersih.

“Sudah azan! Shalat dulu.” Pinta Ustadza Dewi.

Rayhan tersentak kaget. Ia baru sadar kalau dirinya telah melupakan sesuatu yang penting. Dengan perasaan cemas ia bergegas keluar dari rumah Ustadza Dewi.

Mata Rayhan terpaku diam memandangi tanah yang basah karena di guyur hujan. Perasaannya menjadi tak tenang, ada kekhawatiran yang membuncah dihatinya. Berulang kali ia mengutuk kebodohannya yang sampai melupakan tujuan awalnya berada di luar rumahnya.

Rayhan berkeyakinan, sang kolor ijo semalam kembali beraksi. Entah siapa lagi yang menjadi korban kolor ijo.

Pemuda itu tampak menghela nafas. Ada rasa sesak di dadanya saat bayangan wajah Zaskia melintas di kelopak matanya. “Oh Tuhan, apa yang kulakukan, bukankah aku sudah berjanji akan menjaganya? Tuhan tolong lindungi Kakak.” Bisik hatinya, ia menangis marah terhadap dirinya sendiri.

Ustadza Dewi yang melihat Rayhan berulang kali menghela nafas, tak berani mengganggunya, bahkan ketika Rayhan pergi tanpa pamit, Ustadza Dewi hanya menatapnya kecewa.

Ya… Tidak ada ucapan mesra yang keluar dari bibir Rayhan, setelah apa yang mereka lakukan semalaman.

Bersambung… Rayhan terduduk lesu di depan meja makan. Sesekali ia melihat Zaskia yang tengah mencuci piring di wastafel. Semenjak subuh tadi Zaskia tidak juga menegurnya, membuat Rayhan merasa semakin bersalah. Ia tau kalau Kakaknya saat ini tengah marah kepadanya.

Untuk ke sekian kalinya Rayhan menghela nafas. Ia bingung bagaimana caranya untuk mencairkan suasana yang terjadi diantara mereka berdua.

Andai saja ia tidak menerima undangan dari Ustadza Dewi, mungkin ia bisa pulang tepat waktu. Tapi apa mungkin dia bisa menolaknya? “Arrrttt… Sial!” Gerutu Rayhan di dalam hati, ia merasa ajakan Ustadza Dewi semalam sangat tidak tepat. Walaupun ia juga sangat menginginkannya.

Sadar kalau tidak ada gunanya menunggu Zaskia menegurnya, Rayhan mengambil inisiatif untuk menegur lebih dulu.

Ia beranjak menghampiri Kakaknya yang tengah mencuci piring, sisa sarapan mereka beberapa menit yang lalu. Sesekali Zaskia menyeka keringat yang ada di keningnya, tanpa menyadari sosok Rayhan yang menghampirinya dari belakang.

“Biar aku bantu ya Kak!” Ujar Rayhan.

Zaskia sempat melihatnya, lalu kembali acuh. “Gak perlu, Kakak bisa sendiri.” Tolak Zaskia ketus.

Kedua tangan mulusnya tampak sibuk mencuci piring kotor. Sementara raut wajahnya memancarkan atmosfer negatif yang membuat Rayhan bergidik ngeri. Ia takut kalau nanti sampe salah ngomong.

Zaskia sendiri juga tidak mengerti kenapa ia bisa se-emosi seperti ini. Ada rasa sakit yang menyeruak di hati kecilnya yang sulit ia sembuhkan.

“Aku pamit dulu ya Kak!” Rayhan hendak menyaliminya tapi lagi-lagi Zaskia memilih diam.

Karena tidak ada perubahan dari sikap Zaskia, Rayhan segera meninggalkan Kakaknya dengan langkah gontai. Hatinya menjerit sedih karena merasa di campakkan oleh Kakaknya sendiri. Tidak biasanya Zaskia semarah itu kepada dirinya.

Tanpa di ketahui Rayhan, di sudut matanya, Zaskia melihat kearah punggung adiknya yang perlahan menghilang di balik pintu rumahnya.

“Kamu jahat Dek!” Lirih Zaskia sembari menyapu air matanya yang mengalir dari kelopak matanya.

******

Sementara itu di tempat yang berbeda….

Aziza, Aurel, Adinda dan Asyifa tampak tengah bersiap-siap berangkat ke sekolah. Sembari mengobrol ringan, mereka sibuk merapikan pakaian mereka di dalam kamar Aziza. Tetapi diantara mereka tampak Adinda lebih banyak diam. Kejadian semalam sangat mengganggunya.

Ingin rasanya ia memberi tau teman-temannya apa yang terjadi barusan, tapi ia takut akan membuat sahabatnya Aziza merasa sedih.

Anak mana yang tidak sedih, kalau tau Ibunya sudah menjadi korban pemerkosaan. Pikir Adinda.

Adinda menghela nafas perlahan, sembari memasukan satu buah buku pelajaran ke dalam tasnya.

“Aku ke toilet dulu ya!” Izin Adinda.

Ia segera keluar dari dalam kamar sahabatnya. Setibanya di dapur ia sempat melihat Ustadza Dwi yang tengah menyiapkan sarapan pagi.

Kembali ia teringat dengan kejadian semalam, di mana Ustadza Dwi di perkosa oleh kolor ijo. Tapi anehnya, tadi malam Adinda merasa Ustadza Dwi seperti orang yang tidak sedang di perkosa tapi melainkan seperti seorang yang tengah memadu kasih.

“Dinda, kemari sebentar.” Panggil Ustadza Dwi.

Adinda segera menghampiri Ustadza Dwi. “Ada apa Ustadza?” Tanya Adinda heran, entah kenapa ia merasa ada beban ketika berada di dekat Ustadza Dwi.

Wanita berkerudung hitam itu tersenyum tipis. “Duduk dulu, ada yang ingin Ustadza omongkan.” Pinta Dwi.

Di dalam hati, Adinda bertanya-tanya tentang apa yang akan di bicarakan oleh Ustadza Dwi kepadanya. Ia segera duduk di kursi makan bersebrangan dengan Ustadza Dwi yang terlihat santai. Adinda dapat merasakan aura Ustadza Dwi yang begitu anggun Dengan balutan gamis berwarna hitam.

“Ada apa Ustadza?” Tanya Adinda tidak sabar.

Ustadza Dwi tersenyum tipis. “Ini soal semalam!” Ucap Ustadza Dwi memulai pembicaraan. Wajah Adinda mendadak pucat pasi, perasaannya semakin tak enak ketika melihat Ustadza Dwi yang mulai serius.

“Maksudnya?”

“Ustadza tau, kalau kamu sudah melihat semuanya.” Ustadza Dewi meraih tangan Adinda. “Tolong kejadian semalam untuk di rahasiakan.” Pinta Ustadza Dwi, bukan tanpa alasan kenapa ia ingin kejadian semalam di rahasiakan.

“Ja-jadi Ustadza tau kalau aku melihat semuanya?” Kaget Adinda. Ia merasa bersalah karena semalam ia tidak mencoba menolong Ustadza Dwi.

Ustadza Dwi mengangguk pelan. “Iya, dan Ustadza berharap kamu bisa melupakan kejadian semalam.” Ujar Ustadza Dwi.

“Maafkan aku Ustadza!”

Ustadza Dwi kembali tersenyum. “Ustadza mengerti, kamu tidak perlu merasa bersalah.” Kata Ustadza Dwi, ia menggenggam tangan muridnya semakin erat.

“Terimakasih Ustadza.”

“Kamu maukan, menjaga rahasia semalam.” Ulang Ustadza Dwi.

Adinda menghela nafas perlahan. “Iya Ustadza, ana mengerti!” Jujur Adinda, walaupun ia tidak tau pasti di balik alasan Ustadza Dwi memintanya untuk merahasiakan kejadian semalam. Tapi ia yakin, Ustadza Dwi pasti punya alasan yang kuat.

“Alhamdulillah! Ustadza senang kalau kamu mau menjaga rahasia semalam.”

Setelah itu Ustadza Dwi tidak lagi membahas tentang kejadian semalam, ia lebih banyak menanyakan tentang sekolah mereka. Dan sedikit memberi nasehat kepada muridnya agar rajin belajar. Dan Adinda mengaminkan setiap nasehat yang di berikan Ustadza Dwi.

Setelah mengobrol cukup lama, Adinda permisi untuk pergi ke toilet. Ada sedikit rasa lega yang di rasakan Adinda, setelah obrolan mereka barusan.

*****

Sementara itu di kediaman KH Umar, tampak pemilik yayasan tersebut terlihat begitu sibuk. Ia memakai pakaian terbaiknya, membuat Ustadza Laras sedikit heran dengan Suaminya yang terlihat begitu rapi, seakan ingin berpergian jauh.

“Abi mau kemana?” Tanya Ustadza Laras.

KH Umar merapikan kemejanya. “Mau ke kantor polisi bareng KH Hasan.” Jawab KH Umar, selaku pemilik pesantren, ia di minta pihak berwajib untuk memberikan keterangan prihal kejadian yang akhir-akhir terjadi di pesantren.

“Apa pelakunya sudah di temukan Abi?” Tanya Laras penasaran. Ia sangat berharap, pelaku yang menyamar menjadi kolor ijo itu segera di tangkap.

“Belum Mi!” Desah KH Umar. “Umi gak perlu takut, insyaallah keluarga kita akan aman.” Sambung KH Umar menenangkan Istrinya.

“Nanti hasilnya kasih tau Umi ya.”

KH Umar mengangguk, sembari melangkah keluar dari dalam kamar mereka. Sementara Ustadza Laras mengekor di belakangnya. Di ruang tamu, tanpa Daniel terlihat santai, ia buru-buru bangun saat melihat KH Umar terlihat begitu rapi.

KH Umar tersenyum melihat keponakan yang kini terlihat berbeda dari yang ia kenal dulu.

Daniel kini lebih sopan, dan caranya berbicara juga terkesan sangat dewasa, membuat kepercayaan KH Umar terhadap Daniel semakin besar.

“Mau kemana Kiai?” Tegur Daniel.

“Saya mau ke kantor polisi dulu, mau ngurus masalah pemerkosaan kemarin.” Jelas KH Umar.

“Mau saya temani.” Tawar Daniel.

KH Umar menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu biar saya sendiri saja! Tapi kiayi titip rumah ya, tolong jaga Tante dan sepupumu selagi kiayi pergi.” Ujar KH Umar, yang di sambut anggukan oleh Daniel.

Sungguh salah besar jika KH Umar mempercayakan keluarganya kepada Daniel. Karena pada dasarnya Daniel punya rencana jahat untuk keluarganya. Pemuda tidak tau di untung itu berencana ingin merebut Istrinya.

Kepergian KH Umar tentu saja di sambut gembira oleh Daniel, karena dengan begitu ia hanya tinggal berdua saja dengan Ustadza Laras.

“Insyaallah akan saya jaga amanah Kiayi.” Ujar Daniel.

KH Umar tersenyum senang mendengarnya. Ia merasa lega karena ada Daniel yang akan menjaga Istri dan kedua anaknya ketika ia sedang tidak ada di rumah.

Setelah pamit kepada Daniel, KH Umar segera pergi untuk bertemu dengan KH Hasan. Selanjutnya mereka akan kantor polisi untuk memberikan keterangan yang di butuhkan oleh pihak berwajib, agar lebih muda menangkap sang pelaku pemerkosaan.

*****

Rayhan berjalan gontai menuju kelasnya yang ada di wilayah santri. Saat melihat rumah Ustadza Dewi, ia kembali teringat dengan sikapnya semalam yang begitu saja meninggalkan Ustadza Dewi. Ia merasa, kalau dirinya harus meminta maaf.

Langkah kakinya berbelok ke rumah Ustadza Dewi, dan sempat berlintasan dengan Nikita yang baru saja keluar dari rumah.

Tok… Took… Tookkk…

“Assalamualaikum!” Sapa Rayhan.

“Waalaikumsalam! Siapa…”

“Ini aku Ustadza, Rayhan!” Jawab Rayhan.

Tidak lama kemudian Ustadza Dewi keluar menyambut Rayhan. “Oh kamu Ray!” Ujarnya terlihat tidak begitu senang dengan kehadiran Rayhan. “Ada perlu apa?” Tanya Ustadza Dewi sedikit ketus.

Rayhan mendesah pelan. “Cuman mau ngobrol! Kalau Ustadza Dewi tidak keberatan.” Ujar Rayhan, entah kenapa Rayhan merasa canggung di hadapan Ustadza Dewi.

“Masuk!” Ajak Ustadza Dewi.

Walaupun ia marah dengan sikap Rayhan semalam, tapi ia tidak bisa mengabaikan sosok Rayhan yang semalam telah memberinya sebuah kenikmatan dunia yang belum pernah ia dapatkan.

Rayhan duduk di sofa, di mana ia semalam sempat menelanjangi Ustadza Dewi.

“Ustadza buatkan minum dulu ya.” Ujar Ustadza Dewi.

Tapi Rayhan buru-buru menghentikannya, ia menarik tangan Ustadza Dewi. “Tidak usah Ustadza! Sebenarnya aku ke sini cuman mau meminta maaf soal semalam.” Jujur Rayhan.

“Minta maaf karena kamu sudah meniduri Ustadza?” Tembak Dewi.

Rayhan berdiri, ia mengerti kenapa Ustadza Dewi marah kepada dirinya. Bagaimanapun juga Ustadza Dewi pasti merasa kalau ia telah mencampakkannya, setelah ia merenggut kenikmatan tubuh Ustadza Dewi.

Perlahan Rayhan memeluk Ustadza Dewi dari belakang, tangannya melingkar di atas perut Ustadza Dewi.

“Bukan! Saya mau meminta maaf karena semalam pergi begitu saja dari rumah Ustadza Dewi.” Ujar Rayhan jujur, dan berharap Ustadza Dewi mau memaafkan kesalahannya semalam.

Ustadza Dewi mendesah pelan. “Kenapa?” Lirihnya.

Dengan perlahan Rayhan menjelaskan alasannya kenapa ia harus segera pulang, bahkan sampai lupa berpamitan dengan Ustadza Dewi.

Sebagai seorang wanita dewasa, Ustadza Dewi sangat mengerti dengan kekhawatiran Rayhan terhadap keselamatan Kakak kandungnya, dan ia merasa sangat egois karena sempat berfikiran negatif tentang Rayhan yang semalam telah menidurinya.

Ustadza Dewi memutar tubuhnya menghadap Rayhan, dia menyentuh kedua pipi Rayhan.

“Hmmmpss…. Slllppsss…. Srruupsss…” Entah siapa yang memulai duluan, bibir mereka berdua telah menyatu satu sama lain.

Rayhan memanggut bibir merah Ustadza Dewi, menghisap lidahnya, dan menelan air liurnya. Setelah beberapa menit mereka melepas ciuman panas tersebut. Cukup lama mereka saling pandang satu sama lainnya.

“Ustadza maafkan kamu, tapi dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Setubuhi Ustadza sekarang juga! Hari ini kamu tidak usah sekolah, temani Ustadza sebagai penebus kesalahan kamu kemarin.” Pinta Ustadza Dewi.

Rayhan tersenyum tipis. “Oke!” Jawab Rayhan singkat.

******

Kediaman KH Umar.

Selepas kepergian KH Umar, Laras lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bersantai. Ia meletakan kedua kakinya diatas meja, sementara tangannya berulang kali mengganti channel televisi berukuran 41 inc. Entah kenapa, ia merasa kosong.

Melihat mangsanya kini sendirian, tentu saja Daniel tidak akan membuang kesempatan yang ada. Ia membuatkan segelas jus jeruk yang sudah ia campur dengan obat perangsang yang baru ia beli dari online shop.

Daniel segera menghampiri Laras dan meletakan segelas jus di samping kaki Laras.

Laras yang baru sadar dengan kehadiran Daniel, buru-buru menurunkan kakinya. Ia merasa tidak sopan, menaikan kedua kakinya diatas meja, sementara di dekatnya ada seorang pria. Apa lagi dirinya adalah seorang Ahkwat yang harus menjaga sopan santunnya.

“Silakan di minum Tante.” Ujar Daniel.

Laras melihat senang kearah jus yang baru saja di berikan Daniel untuknya. “Tau aja kamu Dan, kalau Tante lagi haus.” Ujar Laras.

Laras mengambil gelas tersebut dan tanpa merasa curiga ia meminum jus tersebut cukup banyak.

“Ahkk… Lega sekali rasanya.” Gumam Laras.

Daniel cukup senang melihatnya. “Oh ya Tante, gimana kakinya? Apa masih sakit?” Tanya Daniel, membuat Laras terdiam sejenak

Wanita berusia 39 tahun tersebut sempat melupakan kejadian kemarin, di mana ia di buat orgasme oleh pemuda yang ada di sampingnya. Sebagai seorang wanita, ia merasa malu setiap kali mengingat kejadian malam itu, untunglah Azril tidak menyaksikannya secara langsung.

Tetapi ia juga tidak bisa memungkiri kalau beberapa kali ia terangsang setiap kali mengingatnya. Bahkan jauh di dalam dirinya ia ingin kembali mengulanginya.

“Sepertinya sudah agak mendingan Dan!” Jawab Laras pelan, ia sangat malu sekali.

Daniel mengangguk pelan. “Biar aku periksa Tan!” Daniel berlutut di depan Laras, lalu memegangi pergelangan kaki Laras yang memang sudah tidak bengkak lagi seperti saat pertama kali ia terjatuh.

“Eh…” Laras tersentak kaget.

“Iya, ini sudah agak mendingan Tan!” Lirih Daniel, sembari memijit lembut pergelangan kaki Laras.

Sentuhan jemari Daniel, membuat tubuh Laras merinding. Ia merasakan sensasi yang sebelumnya juga pernah ia rasakan, hanya saja kali ini terasa berkali-kali lipat dari sebelumnya. Bahkan belum apa-apa, serambi lempitnya sudah terasa basah.

Laras yang tadinya hendak menghentikan aksi Daniel, mendadak diam seribu bahasa, ia membiarkan pemuda itu menyentuh pergelangan kakinya.

]”Astaghfirullah! Ada apa denganku?”Gumam Laras di dalam hati, sembari menggigit bibir bawahnya.

Pijitan Daniel naik keatas, sedikit menyingkap gamis Laras hingga ke betisnya. Dengan lincahnya, jemari Daniel yang kasar memijit betis Laras, sembari melirik wajah Laras, melihat perubahan ekspresi wajah Laras yang mulai tidak tenang, karena obat perangsang yang mulai bekerja, membangkitkan birahi Istri dari pemilik pesantren.

Daniel semakin berani, ia menyingkap labih banyak gamis berwarna merah yang di kenakan oleh Laras hingga melewati lututnya.

“Dan!”

“Tahan ya Tan! Biar kakinya sembuh total.” Ujar Daniel beralasan, sementara tangannya masuk semakin dalam menyentuh paha mulusnya.

Tubuh Laras menggeliat, merasakan geli di sekujur tubuhnya. “Daniel! Aaahkk… Tante gak tahan!” Lirih Laras, ia sudah tidak sanggup menahan gejolak birahinya yang semakin terbakar.

“Nanti juga enak kok Tan!” Ujar Daniel penuh arti.

Laras menatap sayu kearah Daniel, dan nafasnya terdengar makin memburu ketika jemari Daniel menyentuh selangkangannya. Ia yakin sekali, kalau Daniel juga menyadari kalau dirinya saat ini sudah sangat terangsang karena sentuhan Daniel.

Dadanya naik turun mengikuti irama nafasnya, tatkala jari Daniel menyentuh tepat di bagian gundukan serambi lempitnya. Tidak ingin hanyut akan kenikmatan semu yang di berikan keponakannya, Laras berusaha menahan pergelangan tangan Daniel.

Bukannya berhenti, Daniel malah menyingkap gamis Laras lebih tinggi lagi, dan tampaklah kain segitiga berwarna putih berenda yang di kenakan Laras.

“Daniel! Kamu…” Lirih Laras.

Daniel tersenyum tipis, ia dengan sengaja membelai gundukan serambi lempit Laras. “Saya tau, kalau Bu Haja juga menginginkannya.” Ujar Daniel, sembari membuka kedua kaki Laras.

“Jangaaaaan Dan! Astaghfirullah.”

Daniel menangkap tangan Laras yang mencoba menghalangi aksinya. Sementara tangan kirinya, mengusap-usap kemaluan Laras.

Tubuh Laras menggelinjang, seiring dengan celana dalamnya semakin membanjir. Pinggulnya tersentak-sentak seiring dengan orgasme yang tiba-tiba saja datang tanpa di harapkan.

“Oughkk…” Lenguh Daniel.

Seeeeeeeeeerrrr….

Daniel tersenyum puas melihat tubuh Laras yang terkulai lemas setelah orgasmenya barusan.

Ia berdiri dan membuka celananya, mengeluarkan senjata andalannya di hadapan Laras, Istri dari seorang Kiayi yang sangat di hormati di lingkungan pesantren itu. Laras bergidik ngeri melihat rudal Daniel yang berukuran sangat besar. Kepala rudalnya yang berbentuk jamur terlihat sangat lebar sekali.

“A-apa-apaan kamu Dan!” Protes Laras.

Daniel naik keatas sofa, dia menyodorkan rudalnya kearah Laras. “Hisap rudal saya Nyonya Haja Laras Umar.” Ujar Daniel, menyebut gelar dan nama suami Laras.

“Jangan gila kamu Daniel.” Bentak Laras.

Daniel memegangi kepala Laras, dan memaksanya menghisap rudalnya. Laras menggerakan kepalanya, menghindari kemaluan Daniel yang berulang kali menempel di bibir merahnya.

Tidak kehabisan akal, Daniel memencet hidung Laras hingga Istri dari KH Umar itu tak bisa bernafas.

Dengan satu dorongan, rudal Daniel masuk kedalam mulut Laras. “Hmmmpss…” Daniel menekan kepala Laras hingga rudalnya masuk hingga ke dalam tenggorokan Laras.

Wajah cantik Ustadza Laras memerah, karena kesulitan bernafas. Apa lagi rambut kemaluan Daniel menusuk hidungnya. Tapi anehnya, Laras malah merasakan sensasi nikmat didalam dirinya.

Setelah yakin kalau mangsanya semakin tidak berdaya, barulah Daniel menggerakan pinggulnya maju mundur menyodok mulut Ustadza Laras, yang biasanya selalu mengucapkan Kalam Tuhan. Tapi kali ini di gunakan untuk memuaskan hasrat birahinya.

“Nikmat sekali Haja Laras! Oughkk… Terus.” Erang Daniel.

Dia membelai kepala Laras yang tertutup jilbab berwarna merah, sewarna dengan gamisnya.

Semakin lama, Laras mulai melemah, ia semakin pasrah menerima kemaluan Daniel di dalam mulutnya. Laras sendiri juga tidak mengerti kenapa ia begitu mudah menyerah menghadapi syahwatnya. Dan jujur saja, wanita alim itu mulai menikmati rudal Daniel.

Daging kemaluan Daniel terasa begitu keras dan asin. Ada sensasi yang sulit di gambarkan ketika kepala rudal Daniel menyodok tenggorokannya.

Plooopss…

Daniel mencabut kemaluannya dari dalam mulut Laras. “Oughkk… Nikmat sekali!” Racau Daniel.

“Houks… Houks… Houks…” Berulang kali Laras batuk.

“Buka pakaiannya Bu Haja!” Suruh Daniel.

Laras menggelengkan kepalanya ketika Daniel memaksa membuka pakaiannya. Dengan sedikit harga diri yang masih menempel di hatinya, ia berusaha meronta minta di lepaskan.

Tetapi Daniel tidak kalah cekatannya, ia merobek gamis yang di kenakan Laras, hingga bagian depan gamisnya terbuka dan memperlihatkan sepasang gunung kembar yang berukuran 36E. Sangat besar untuk ukuran wanita normal pada umumnya.

“Besar sekali Bu Haja!” Ujar Daniel.

Laras menggelengkan kepala. “Jangan Dan! Tante mohooon.” Melas Laras. Ia merasa malu di lihat Daniel dalam keadaan setengah telanjang, apa lagi Daniel berulang kali memanggilnya dengan nama gelarnya

“Ternyata masih ada rasa malu, setelah di buat orgasme kemarin!” Ejek Daniel.

Wajah Laras merona merah, ia merasa sangat terhina, tapi ia mengakui apa yang di katakan Daniel memang benar. Apa dia masih punya rasa malu? Laras menggigit bibirnya, menahan gemuruh di dadanya.

Daniel menangkap payudara Laras, dan merobek behanya hingga putus.

“Auuuww…” Laras terpekik kencang.

Kedua tangan Daniel mengepal payudara Laras. Dia meremasnya dengan sangat kasar, hingga meninggalkan bekas merah di kedua payudara Laras.

Sembari mendekap tubuh Laras, dia melumat bibir Laras. Memaksa wanita berusia 39 tahun itu untuk membalas lumatan bibirnya. Dengan setengah terpaksa Laras membalas lumatan Daniel, dan harus diakui, ciuman Daniel membuat Laras terasa melayang.

Sejenak Laras lupa kalau dirinya saat ini tengah di perkosa oleh keponakannya sendiri. Sentuhan Daniel terlalu nikmat untuk di abaikan.

“Gimana Bu Haja, enak?” Goda Daniel.

Laras diam sejenak tak tau harus mengatakan apa. “Ini dosa Dan! Oughkk…” Tubuh Laras tersentak ketika ia merasakan jari tengah Daniel menyeruak masuk ke dalam serambi lempitnya.

“Apa Bu Haja, saya tidak dengar.” Ledek Daniel.

“Danieeeel…. Aahkk… Ini dosa…” Jerit Laras ketika Daniel semakin cepat mengocok serambi lempitnya

Tubuh indah Laras melinting seperti ikan yang kehabisan air. Nafasnya tersengal-sengal, sembari mengeluarkan suara erangan erotis dari bibir seksinya.

Sementara di bawah sana, Tidak hanya satu jari, melainkan ada dua jari yang tengah mengobok-obok serambi lempitnya, dan tampak cairan pelumas milik Laras keluar semakin tidak terbendung.

“Ulangi Bu Haja! Saya tidak dengar.”

Pinggul Laras tersentak-sentak menyambut kedua jari Daniel. “Ini dosa Dan… Dosaaa… Aahkk… Aaahkk… Daniel! Hentikaaaan…” Melas Laras, kepalanya terbanting ke kiri dan kanan.

Sloookss…

“Aaaarrrttt….” Jerit Laras.

Creeetsss… creeeeettsss…. creeeeeeetttsssss…..

Daniel mencabut jarinya dari dalam selangkangan Laras. Lalu mengangkatnya dan memperlihatkannya kepada Laras yang menatap sayu kearah jari Daniel yang bermandikan lendir cintanya. Ia tidak menyangkah, kalau rasanya akan senikmat itu.

“Ulangi lagi.” Bisik Daniel.

Dengan nafas terengah-engah Laras berucap. “Ini dosa Dan! Dosa.” Bisik Laras, nafasnya terputus-putus, seakan ia saat ini tengah terjebak oleh kepulan asap yang membuatnya sulit bernafas. Ceritasex.site

Daniel tersenyum puas mendengarnya. Dia kembali turun dari atas sofa, lalu menarik lepas celana dalam yang di kenakan Laras. Tanpa sadar Laras mengangkat pinggulnya, membantu Daniel melepas celana dalamnya yang telah sangat basah. Daniel sempat menjilati kemaluan Laras selama beberapa detik.

Setelah di rasa cukup, Daniel kembali mengangkangkan kedua kaki Laras. Dia memposisikan kemaluannya di depan bibir kemaluan Laras yang telah becek.

“Dan!” Lirih Laras.

Daniel menggesek-gesek kemaluannya di bibir serambi lempit Laras. “Nikmati saja Bu Haja! Buang jauh-jauh iman Bu Haja untuk beberapa waktu kedepan.” Ujar Daniel, seraya tersenyum manis yang memabukan.

“Pelan-pelan.” Kata Laras pasrah.

Daniel sangat senang mendengarnya, dia menekan rudalnya menerobos masuk ke dalam senggama milik Istri KH Umar, pemilik ponpes Al-tauhid. Wajah Daniel mengeras, merasakan jepitan dinding serambi lempit Laras yang memeluk ketat batang kemaluannya yang berukuran jumbo.

Hal yang hampir sama juga di rasakan Laras. Ia merasa, kemaluan Danial sangat keras dan hangat.

“Oughkk… Dan! Aaahkk…”

“serambi lempit Bu Haja nikmat sekali! Sempit…” Komentar Daniel.

Dengan gerakan perlahan Daniel menggerakan pinggulnya maju mundur, menyodok serambi lempit Laras. Wajah cantik Laras yang merona merah, menambah suasana menjadi lebih erotis. Daniel menundukkan wajahnya, dan menjilati payudara Laras yang membusung ke depan.

Gesekan kedua kelamin mereka, di tambah dengan hisapan di payudaranya, membuat Laras kembali bergairah. Ia mendesah-desah random, menikmati perzinahannya.

Sejenak Laras benar-benar melepaskan imannya, melupakan pelajaran agama yang pernah ia pelajari, demi mendapatkan kenikmatan duniawi yang hanya sementara, kenikmatan sesat yang hanya akan mengantarkan dirinya menuju jurang neraka.

“Bu Haja keluaaaar Dasan….” Teriak Laras, tanpa sadar memanggil dirinya sendiri dengan gelar yang ia dapat beberapa tahun yang lalu.

Seeeeeeeeeerrrrr…

Bersambung… Mereka berpelukan sangat erat sembari bertukar air liur. Tangan kiri Rayhan mendekap kepala Ustadza Dewi, agar leluasa mengemut bibir merah Ustadza Dewi, sementara tangan kanannya membelai dan meremas bongkahan pantat Ustadza Dewi yang semok itu.

Wanita berusia 39 tahun itu hanya pasrah mengikuti permainan muridnya. Sesekali ia membalas, dengan mengait lidah Rayhan yang tengah menjamah langit-langit mulutnya.

Dengan satu tarikan cepat Rayhan menggendong tubuh sintal Ustadza Dewi. Reflek wanita paruh baya itu melingkarkan kedua tangannya di leher Rayhan. Sejenak mereka saling pandang, membuat hati Ustadza Dewi bergetar.

Rayhan segera membawa Ustadza Dewi ke dalam kamar Ustadza Dewi. Ia membaringkannya dengan perlahan.

“Ustadza cantik sekali!” Goda Rayhan. Ia ikut berbaring di samping Ustadza Dewi dengan posisi miring menghadap kearah Ustadza Dewi.

Ustadza Dewi tersipu malu. “Gombal!” Ujar Ustadza Dewi sambil mencubit hidung Rayhan.

Rayhan membelai kepala Ustadza Dewi yang tertutup hijab syiria berwarna putih dengan motif bunga anggrek. “Suer, Ustadza memang sangat cantik.” Tegas Rayhan, dia mengecup kening Ustadza Dewi dengan mesrah.

Wanita berparas cantik itu hanya diam seraya tersenyum senang. Hatinya di buat berbunga-bunga oleh pujian dan sentuhan Rayhan kepada dirinya.

Ciuman Rayhan turun kebawah menuju sepasang kelopak mata indah Ustadza Dewi, terus hidung, kedua pipi Ustadza, lalu kemudian kembali melumat bibir merah Ustadza Dewi selama beberapa detik. Sembari menikmati bibir Ustadza Dewi, Rayhan membelai payudara Ustadza Dewi.

“Eenghkk…” Desah Ustadza Dewi.

Dia membiarkan pemuda tanggung itu menanggalkan kancing gamisnya. Dia dapat merasakan telapak tangan Rayhan yang hangat menyusup masuk ke dalam bra yang di kenakannya.

Matanya terpejam ketika jemari Rayhan mulai meremasi payudaranya yang ranum. Dan rasa itu kian nikmat tatkalah Rayhan memencet putingnya, memilin dan memelintir putingnya yang telah menegang.

“Ray! Aaahk… Aahkk…” Erang Ustadza Dewi.

Kedua tangan Rayhan melepas gamis yang di kenakan Ustadza Dewi, hingga yang tersisa hanya jilbab putih dengan motif bunga anggrek dan pakaian dalamnya yang berwarna cream.

Rayhan menyingkap keatas beha Ustadza Dewi, dia kembali menjamah payudara Ustadza.

“Oughkk… Ray! Enak sekali!” Erang Ustadza Dewi.

Dia menunduk dan mulai mencucupi payudara Ustadza Dewi, dia menghisap puting Ustadza Dewi secara bergantian, membuat wanita cantik itu menggelinjang nikmat, dan tampak celana dalamnya semakin basah, membentuk peta dunia.

Tangan Rayhan turun ke bawah, ia membelai serambi lempit Ustadza Dewi dari luar celana dalam.

“Basah!” Bisik Rayhan.

Ustadza Dewi mentoel hidung Rayhan. “Gara-gara kamu.” Omel Ustadza Dewi. “Kamu harus bertanggung jawab sayang.” Lanjut Ustadza Dewi.

Rayhan mengangkat satu alisnya. “Apa yang harus hamba lakukan wahai bidadari surga.” Ujar Rayhan sok puitis, tapi cukup ampuh untuk membuat wanita cantik yang ada di hadapannya saat ini tersipu malu

“Puaskan Ustadza.” Lirih Ustadza Dewi.

Rayhan melanjutkan aksinya dengan menelanjangi Ustadza Dewi. Ia melepas beha yang di kenakan Ustadza Dewi, lalu kedua tangannya beralih ke sisi kiri dan kanan celana dalam Ustadza Dewi. Dengan perlahan ia menarik celana dalam Ustadza Dewi.

Rayhan mengambil posisi bersujud, dia mengangkangi kaki Ustadza Dewi.

“Ini sungguh indah!” Gumam Rayhan.

“Jilat sayang.”

Rayhan tersenyum tipis. Lalu dia membenamkan wajahnya diantara kedua kaki Ustadza Dewi. Lidahnya terjulur menyapu permukaan serambi lempit Ustadza Dewi, menyentil clitorisnya dengan gemas. Sementara tangan kanannya membelai pubik serambi lempit Ustadza yang di tumbuhi rambut yang cukup lebat.

Lendir kewanitaan Ustadza Dewi keluar semakin banyak, dan Rayhan tanpa merasa jijik menyeruput lendir kewanitaan milik Ustadza Dewi.

Sluuupss…. Sluuuppss… Sluuuppsss….

Rayhan kembali menghisap clitoris Ustadza Dewi, sementara kedua jarinya menusuk lobang serambi lempit Ustadza Dewi. Dia menggerakkan tangan kanannya, menusuk serambi lempit Ustadza Dewi. Sesekali jari tengah berputar, mengorek dan menusuknya kembali dengan gerakan yang berubah-rubah.

Alhasil tubuh Ustadzah Dewi menggelinjang tak beraturan, sementara di bawah sana terasa semakin basah.

“Ray! Ustadza KELUAAAR…” Teriak Ustadza Dewi.

Punggungnya terangkat cukup tinggi, dan tampak semburan cairan cintanya keluar cukup deras. Dengan mata terpejam, Ustadza Dewi menikmati orgasmenya.

Rayhan segera menanggalkan seragam sekolahnya, hingga ia telanjang bulat. Kedua kaki Ustadza Dewi ia letakan diatas pundaknya, sementara batang kemaluannya, ia arahkan tepat di depan bibir kemaluan Ustadza Dewi yang telah basah.

“Masukan sekarang sayang!!” Pinta Ustadza Dewi.

Rayhan tersenyum tipis, dia membekap kepala Ustadza Dewi, dan bibirnya kembali melumat bibir merah Ustadza Dewi. Perlahan kepala rudal Rayhan membelai bibir serambi lempit Ustadza Dewi. “Bleeess…” Dengan satu dorongan, rudal Rayhan bersemayam di dalam serambi lempit Ustadza Dewi.

“Eehmmppss…” Erang Ustadza Dewi.

Dengan gerakan perlahan Rayhan menggoyangkan pinggulnya maju mundur menusuk lobang serambi lempit Ustadza Dewi.

Rayhan melepas ciumannya, tanpa menghentikan genjotannya. Dia menatap dalam wajah cantik Ustadza Dewi yang merah padam, sementara telapak tangannya meremas payudara Ustadza Dewi.

Ploooks…. Ploookkss…. Ploookkksss….

“Aahkk… Aahkk… Aaahk…” Erang Ustadza Dewi.

Rayhan meningkatkan ritme permainannya, sementara jarinya sibuk menstimulasi puting Ustadza Dewi.

Tubuh kekar Rayhan mulai bersimbah keringat, otot-otot pinggulnya mengeras, dengan wajah menadah keatas ia menikmati setiap gesekan batang kemaluannya dengan dinding serambi lempit Ustadza Dewi yang seakan balik menghisap rudalnya. Rasa nikmat itu sulit untuk di gambarkan dengan sebuah kalimat.

Hal yang sama juga di rasakan Ustadza Dewi, wanita paruh baya yang masih mengenakan hijab itu sangat menikmati hentakan batang kemaluan Rayhan di dalam liang surgawinya.

“Ray! Aaahk… Ustadza keluar sayang!” Jerit Ustadza Dewi.

Tubuh sintal bermandikan keringat itu menggeletar menyambut badai orgasme. Rayhan mendiamkan sejenak batang kemaluannya di dalam serambi lempit Ustadza Dewi, hingga orgasme sang Ustadza mulai mereda, barulah Rayhan mencabut rudalnya.

Pemuda itu berbaring di samping Ustadza Dewi, lengan kekarnya mengangkat satu kaki kanan Ustadza Dewi hingga menggantung, sementara satu kakinya tetap terjulur.

“Aku masukan ya Ustadza.” Bisik Rayhan di dekat telinga Ustadza Dewi yang tertutup hijab yang mulai berantakan.

Ustadza Dewi mengangguk lemah, dia meraih batang kemaluan Rayhan dan mengarahkannya ke lobang serambi lempitnya yang telah menganga, sehingga memudahkan rudal Rayhan untuk kembali menjamah dinding serambi lempitnya. “Oughkk…” Lenguh Ustadza Dewi ketika rudal Rayhan kembali memasuki liang senggamanya.

Dengan gerakan menghentak tapi teratur Rayhan menyetubuhi Ustadza Dewi. Dia mencium dan menjilati pundak telanjang Ustadza Dewi.

Sementara kedua tangannya kembali menjamah payudara Ustadza Dewi yang terasa kenyal di telapak tangannya. Ia menjepit puting Ustadza Dewi, membuat wanita berhijab itu makin menggelinjang nikmat.

“Enak ya Ustadza?” Tanya Rayhan di sela-sela menyetubuhi gurunya.

“Iya Ray! Aahkk… Enak sekali, rudal kamu sangat besar, Ustadza suka.” Jawab Ustadza Dewi terengah-engah.

Tangan kanan Rayhan turun kebawah, ia menyibak libiya majora Ustadza Dewi, dengan jari telunjuknya ia menggesek clitoris Ustadza Dewi.

Sementara pinggulnya semakin kuat menghujami serambi lempit Ustadza Dewi dengan rudalnya.

“Ray! Ustadza keluaaar lagiiii!” Tubuhnya melejang-lejang walaupun tidak sedahsyat sebelumnya. Rayhan yang belum puas meminta Ustadza Dewi untuk menungging, dan dengan patuhnya Ustadza Dewi menuruti keinginan muridnya.

Dari belakang Rayhan kembali melakukan penetrasi di dalam serambi lempit Ustadza Dewi yang terasa semakin licin.

“Kamu belum keluar juga Ray?” Tanya Ustadza Dewi.

Rayhan menggelengkan kepalanya. “Belum Ustadza!” Ujar Rayhan, sembari meremas kedua bongkahan pantat Ustadza Dewi yang dulu sering ia pelototi, tapi siapa yang menduga, sekarang ia dengan bebas menyentuhnya.

Bagi Ustadza Dewi rudal Rayhan memang sangat nikmat, tapi kalau pemuda itu terus-menerus menyetubuhinya ia juga merasa tidak akan sanggup, bagaimanapun juga usia tidak bisa bohong walaupun birahinya masih menginginkan Rayhan mengaduk serambi lempitnya lebih lama lagi.

Sepintas Ustadza Dewi memiliki sebuah ide berlian, agar Rayhan cepat menuntaskan hasrat birahinya. Walaupun ia belum pernah melakukannya, tapi tidak ada salahnya kalau ia mencobanya.

Dia melihat kearah Rayhan yang masih bersemangat menggenjot serambi lempitnya, padahal tubuhnya sudah tidak sanggup lagi kalau harus kembali orgasme.

“Ray, istirahat sebentar.” Pinta Ustadza Dewi.

Rayhan menghentikan genjotannya. “Kenapa Ustadza, saya belum keluar.” Protes Rayhan.

“Sebentar saja.” Ulang Ustadza Dewi.

Dengan sangat terpaksa Rayhan mencabut batang kemaluannya dari lobang serambi lempit Ustadza Dewi. Saat rudal Rayhan terlepas, Ustadza Dewi merasa serambi lempitnya begitu plong tidak seperti sebelumnya yang terasa begitu penuh saat rudal Rayhan berada di dalam serambi lempitnya.

Ustadza Dewi turun dari atas tempat tidurnya, lalu dia mengambil sebuah lotion yang berada diatas meja riasnya. Kemudian ia kembali menghampiri Rayhan yang tengah duduk di tepian tempat tidurnya sembari mengocok kemaluannya.

Mata Ustadza Dewi membeliak ngeri melihat kemaluan Rayhan yang berukuran sangat besar.

“Kamu pernah main anal sex?” Tanya Ustadza Dewi.

Rayhan menggelengkan kepalanya. “Belum pernah, apa Ustadza mau mencobanya?” Tebak Rayhan penuh tanda tanya kepada Ustadza Dewi.

“Kalau kamu mau!” Ujar Ustadza Dewi malu.

Rayhan tersenyum tipis. “Tentu saja aku mau Ustadza! Pasti sangat menyenangkan bisa menjebol perawan seorang Ustadza.” Kelakar Rayhan.

“Dasar kamu.”Ustadza Dewi kembali naik keatas tempat tidur dengan posisi menungging. “Pake lotion itu, biar lebih muda.” Suruh Ustadza Dewi sembari membuka pipi pantatnya selebar mungkin.

Rayhan meneguk air liurnya yang terasa hambar melihat anus Ustadza Dewi yang kemerah-merahan, merucut seperti bunga mawar yang hendak mekar.

Segera Rayhan menuangkan isi body lotion ke lobang anus Ustadza Dewi. Dengan jarinya ia meratakan lotion tersebut. Setelah cukup rata Rayhan segera mengambil posisi yang pas untuk merobek anus Ustadza Dewi. Mula-mula ia menggesek batang kemaluannya di lobang anus Ustadza Dewi.

“Aku masukan sekarang ya Ustadza.” Izin Rayhan.

Ustadza Dewi menganggukan kepalanya. “Pelan-pelan Ray! Anus Ustadza masih perawan.” Ujar Ustadza Dewi mengingatkan Rayhan.

“Tahan sedikit.” Bisik Rayhan.

Dia mendorong rudalnya untuk membuka lobang anus Ustadza Dewi, tapi percobaan pertamanya ia mengalami kegagalan, karena kepala rudalnya meleset berulang kali setiap kali ia ingin mencobanya. Tidak kehabisan akal, Rayhan meludahi rudalnya agar lebih licin.

Tangan kanan Rayhan memegangi batang kemaluannya, sembari mendorong pinggulnya. Kini usahanya mulai membuahkan hasil, karena kepala rudalnya berhasil membuka lobang anus Ustadza Dewi.

Dan pada saat bersamaan wajah Ustadza Dewi meringis menahan rasa sakit di lobang anusnya.

“Eenghkk… Ray! Teruuuus.” Perintah Ustadza Dewi.

Rayhan membelai pantat Ustadza Dewi, dia kembali menekan kemaluannya hingga kepala rudalnya benar-benar masuk ke dalam lobang anus Ustadza Dewi. “Oughkk… Sempit sekali Ustadza! Ini enak.” Desah Rayhan, ia tidak menyangka kalau akan senikmat ini.

“Aduh Ray! rudal kamu besar sekali… Aahkk…”

Plaaakk…

Rayhan menampar pantat Ustadza Dewi. “Tapi enakkan Ustadza, hehehe… Aahkk… Tuhan.” Lenguh Rayhan ketika batang kemaluannya juga ikut masuk ke dalam lobang anus Ustadza Dewi hingga mentok.

“Yeaaaaa…” Jerit kecil Ustadza Dewi.

Pinggulnya tersentak-sentak ketika Rayhan menarik rudalnya hingga kepala rudalnya berada di bibir anusnya. Lalu dengan dorongan pelan Rayhan kembali membenamkan rudalnya ke dalam anus Ustadza Dewi. Secara konsisten Rayhan melakukan gerakan tersebut dengan perlahan.

Ustadza Dewi setengah mati menahan pedih di lobang anusnya, tetspi ia tidak meminta Rayhan untuk berhenti, karena ia percaya rasa sakit itu tidak akan lama.

Dan benar saja, seiring dengan waktu Ustadza Dewi mulai menikmati penetrasi rudal Rayhan di dalam lobang anusnya, seiring dengan anusnya yang mulai bisa beradaptasi dengan ukuran rudal Rayhan yang sangat besar itu.

“Aahkk… Aahkk… Terus sayang! Oughkk… Sodok anus Ustadza Ray. Aaahk…” Jerit Ustadza Dewi.

Ploks… Plooks… Plookkksss…

Rayhan semakin cepat menyodok lobang Anus Ustadza Dewi, jepitan anus Ustadza Dewi di batang kemaluamnya membuat Rayhan merasa sudah hampir berada di puncaknya.

“Ustadza saya mau keluar.” Ujar Rayhan, ia meremas kuat bongkahan pantat Ustadza Dewi.

Tidak mau kalah dari muridnya, Ustadza Dewi ikut menggerakkan pantatnya, sementara jarinya menggosok clitorisnya dari bawah. “Bareng sayang… Ustadza juga mau KELUAAAR.” Jerit Ustadza Dewi.

Beberapa detik kemudian, dengan cara bersamaan mereka berdua menumpahkan hasrat birahi mereka.

Rayhan membenamkan rudalnya semakin dalam di lobang anus Ustadza Dewi. Giginya menggertak sembari memuntahkan spermanya ke dalam lobang anus Ustadza Dewi. “Croooottss… Croooottss… Croooottss…” Pinggul Rayhan tersentak-sentak memuntahkan spermanya.

Seeeeeeeeeeeerrrrrrrr….

Kali ini Ustadza Dewi tidak hanya orgasme, tapi ia juga sampai terkencing-kencing. Hingga air urinnya menggenang diatas tempat tidurnya.

Perlahan rudal Rayhan mulai mengecil dan terlepas dari lobang anus Ustadza Dewi. Saat rudal itu terlepas, tampak lelehan sperma Rayhan yang tak tertampung keluar meleleh mengaliri paha Ustadza Dewi yang gemetar.

“Nikmat sekali Ustadza.” Lirih Rayhan.

Ia rebahan di samping Ustadza Dewi yang langsung memeluk tubuh kekarnya. “Kamu puas sayang, dengan lobang anus Ustadza?” Goda Ustadza Dewi yang kembali merasakan linu di lobang anusnya.

“Iya sangat puas.” Jawab Rayhan pelan sembari mencium kening Ustadza Dewi.

Ustadza Dewi memejamkan matanya, dan perlahan rasa kantuk mulai menguasai dirinya dan iapun tertidur lelap di dalam pelukan muridnya.

*****

Akhir-akhir ini Julia sering melihat sahabatnya Zaskia lebih banyak melamun di kantor ketimbang pulang kerumah ataupun ke kantin ketika jam istirahat sekolah, atau ketika ia tidak ada jam mengajar. Seperti pagi ini, Zaskia tidak memiliki jam mengajar, tetapi ia memilih diam di kantor sembari bengong. Dan sesekali jemarinya tampak bermain dengan pulpen.

Julia sangat paham apa yang tengah terjadi dengan sahabatnya saat ini. Ia tau kalau sahabatnya saat ini sedang jatuh cinta, tapi masalahnya Zaskia malah jatuh cinta dengan Adik kandungnya sendiri tanpa ia sadari.

Sebagai sahabat seharusnya Julia mengingatkan bahayanya perasaan yang ada di dalam hati sahabatnya. Tetapi Julia malah melakukan sebaliknya, ia dengan sengaja membuat perasaan Zaskia kian berkembang, seakan ia mendukung cinta terlarang sahabatnya dengan adiknya.

“Bengong lagi.” Tegur Julia.

Zaskia menghela nafas. “Ana lagi bingung uhkti.” Jujur Zaskia. Toh tidak ada gunanya ia menutupi perasaannya saat ini.

“Coba cerita.”

“Ana gak ngerti dengan perasaan ana saat ini, kenapa ana bisa sangat marah kepada Rayhan, padahal kalau di pikir-pikir ana terlalu berlebihan.” Ujar Zaskia, dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

Julia menganggukkan kepalanya. “Emang apa masalahnya Uhkti?” Tanya Julia.

“Semalam Rayhan pulang subuh, padahal sebelum dia sudah berjanji kalau ia akan menjaga Ana, tapi nyatanya dia malah keluyuran hingga subuh.” Bibirnya merucut ke depan, mengingat kejadian semalam yang membuatnya sangat kesal terhadap adik kandungnya.

“Jadi kamu marah gara-gara itu?”

Zaskia menganggukan kepalanya. “Dia tidak bisa memegang omongannya.” Zaskia diam sejenak, sembari menatap keluar jendela kantor. “Tapi… Kalau di pikir-pikir anak seusia Rayhan sangat wajar kalau dia belum bisa memegang ucapannya.” Lirih Zaskia pelan.

“Ana mengerti perasaan Uhkti Zaskia! Tapi menurut Ana Rayhan bukan tipe anak seperti itu. Walaupun ia masih muda, tapi ia berpandangan luas.”

“Kalau begitu kenapa ia mengabaikan janjinya.” Sengit Zaskia.

Julia kembali tersenyum. “Ana yakin Rayhan pasti memiliki alasan kuat kenapa semalam ia menghilang.” Jelas Julia kepada Zaskia.

“Mungkin. ” Jawab Zaskia acuh.

Gadis cantik itu kembali hanyut dalam lamunannya, ia sangat tidak mengerti dengan perasaannya saat ini kepada Rayhan. Terkadang ia melihat sosok Rayhan seperti bukan Adik kandungnya, melainkan sosok pemuda tampan yang selalu ada untuknya.

*****

Di tempat berbeda, di kediaman Ustadza Dwi…

Wanita berusia 38 tahun itu tengah sibuk mencuci piring ketika seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ia bergegas membasuh kedua tangannya yang di penuhi busa sabun. Buru-buru ia mengelap tangannya dengan gamis yang ia kenakan tanpa perduli gamisnya menjadi kotor.

Setibanya di depan pintu rumahnya, ia bergegas membuka pintu rumahnya dan ternyata yang datang adalah petugas kebersihan bernama Imbron.

Sejenak Ustadza Dwi terdiam melihat sosok Imbron yang bertubuh besar. Kedua tangan Imbron yang berada di depan terlihat begitu kekar mengingatkannya dengan sosok kolor ijo yang semalam telah menodainya.

“Maaf, katanya Ustadza memanggil saya.” Sapa Imbron.

Ustadza Dwi tersentak sadar dari lamunannya. “Eh iya, saya mau minta tolong sama bapak.” Ujar Ustadza Dwi yang sempat gugup karena pikiran yang menerawang.

“Apa yang bisa saya bantu Ustadza.”

“Genteng rumah saya ada yang pecah, Bapak bisa bantu menggantikannya?” Tanya Ustadza Dwi. Yang diam-diam tengah mengagumi bentuk tubuh Pak Imbron.

“Bisa Bu, boleh saya lihat?”

Ustadza Dwi mengangguk. “Boleh, ayo masuk.” Ujar Ustadza Dwi mempersilahkan Imbron masuk ke dalam rumahnya. Padahal saat ini di rumahnya sedang tidak ada orang lain kecuali dirinya.

Dengan senang hati Imbron mengikuti langkah kecil Ustadza Dwi. Saat matanya melirik kearah bongkahan pantat Ustadza Dwi yang di balut gamis berwarna hijau lumut, membuat Imbron kembali teringat ketika ia tidak sengaja mengintip Ustadza Dwi yang tengah bermasturbasi di dalam kamar mandi. Membayangkan kejadian waktu itu, membuat rudal Imbron menggeliat di dalam celana lusuhnya.

Tanpa merasa khawatir, Ustadza Dwi memperlihatkan genteng dapurnya yang pecah karena ketimpa ranting pohon semalam. Dan gara-gara suara genteng tersebut, ia di pertemukan dengan si Kolor Ijo. Entah itu sebuah keberuntungan atau musibah bagi Ustadza Dwi.

“Ada dua yang pecah!” Gumam Imbron sembari melihat langit-langit dapur rumah Ustadza Dwi. “Ada tangga?” Imbron kembali melihat Ustadza Dwi yang tengah bengong.

Diam-diam Ustadza Dwi tengah melihat kearah tonjolan besar di selangkangan Imbron, pikiran kotornya mengembara membuatnya kehilangan fokus. Imbron yang menyadari kemana arah tatapan mata Ustadza Dwi hanya terkekeh di dalam hati, ia tidak menyangka kalau seorang Ustadza bisa kehilangan kontrol hanya karena melihat selangkangannya.

Tetapi walaupun begitu Imbron tidak berani mengambil tindakan yang beresiko, bagaimanapun juga Ustadza Dwi adalah wanita terhormat. Bisa berbahaya kalau ia nekat melakukan tindakan asusila terhadap Ustadza Dwi.

“Ustadza!” Panggil Imbron.

Dwi segera tersadar dari lamunannya. Wajahnya yang putih mendadak berubah menjadi merah padam. “Astaghfirullah Maaf! Tadi bilang apa?” Tanya Ustadza Dwi salah tingkah.

“Ada tangga?” Ulang Imbron.

“Oh iya ada di belakang.”

Ustadza Dwi menemani Imbron kebelakang rumahnya untuk mengambil tangga dan dua keping genteng untuk menggantikan genteng yang jebol. Ia kembali ke dapur, selagi Imbron sibuk memposisikan tangga, lagi-lagi Ustadza Dwi ketangkap basah tengah melihat selangkangan Imbron.

Wanita berhijab merah muda itu juga tidak mengerti kenapa ia selalu saja fokus kearah selangkangan Pak Imbron.

Pria berusia 56 tahun itu tampak menyeringai bangga saat mengetahui ketertarikan Ustadza Dwi terhadap selangkangannya. Mengingat dirinya dari golongan rendah, tentu saja ia menjadi senang karena di lirik oleh wanita sekelas Ustadza Dwi.

Dengan perasaan yang tidak menentu Ustadza Dwi membantu memegangi anak tangga ketika Pak Imbron menaiki anak tangga yang berbentuk huruf A. Diam-diam Ustadza Dwi menelan air liurnya setiap kali melihat tonjolan di celana hitam yang di kenakan Imbron. Diam-diam ia mulai menerka-nerka ukuran rudal Pak Imbron.

“Bisa gak Pak?” Tanya Ustadza Dwi.

Dari atas Imbron melihat kebawah, wajah cantik Ustadza Dwi terlihat begitu indah di lihat dari atas. “Insyaallah bisa Ustadza! Ini tinggal di ganti aja.” Jawab Imbron.

“Tolong ya Pak.”

Imbron segera mengambil genteng yang telah rusak dan menggantikannya dengan yang baru.

Tidak butuh waktu lama bagi Imbron yang memang cukup berpengalaman. Dalam hitungan menit, ia telah selesai mengganti genteng rumah Ustadza Dwi yang jebol dengan genteng yang baru. Ustadza Dwi tampak puas dengan hasil pekerjaan Imbron.

Saat Imbron ingin turun, lagi-lagi Ustadza Dwi memegangi tangga. Posisi Imbron yang turun menghadap kearahnya, membuat Ustadza Dwi dapat melihat jelas tonjolan besar yang ada di celana lusuh Imbron.

“Ya Tuhan, besar sekali.” Gumam Ustadza Dwi.

Jantung Ustadza Dwi berdetak cepat, dan nafasnya memburu melihat tonjolan di celana Pak Imbron.

Sementara Imbron dengan sengaja berlama-lama, seakan ingin memperlihatkan tonjolan di celana lusuhnya. Tentu saja apa yang di lakukan Imbron membuat Ustadza Dwi panas dingin. Ia sangat yakin sekali, kalau di balik celana itu ada benda besar yang bisa membuatnya ketagihan.

“Sudah selesai Bu.” Ujar Imbron.

Ustadza Dwi tersenyum senang. “Terimakasih banyak ya Pak! Gak kebayang kalau gak ada Bapak.” Ujar Ustadza Dwi jujur, mengingat curah hujan yang akhir-akhir ini cukup tinggi.

“Sama-sama Ustadza! Kalau tidak ada lagi yang perlu di bantu, saya mau pamit pulang.” Ujar Pak Imbron.

Entah kenapa Ustadza Dwi malah mencegahnya. “Kok buru-buru sekali Pak, biar saya buatkan minuman dulu ya Pak.” Usul Ustadza Dwi, ia merasa tidak ada salahnya kalau ia sedikit melayani Pak Imbron mengingat pria paru baya itu baru saja membantunya.

“Wah saya jadi merepotkan Ustadza.”

“Gak repot kok Pak!” Ujar Ustadza Dwi tersenyum manis. “Sebentar ya Pak.” Ustadza Dwi segera menghangatkan air untuk membuatkan segelas kopi.

Sementara Imbron duduk di kursi makan sembari menunggu Ustadza Dwi yang tengah membuat kopi.

Sesekali wajah Imbron menegang, membayang kemolekan tubuh Ustadza Dwi. Ingin rasanya ia mendekap dan memperkosa Ustadza Dwi, tapi sayangnya ia tidak memiliki keberanian sebesar itu, walaupun ia tau kalau Ustadza Dwi juga memiliki ketertarikan kepada dirinya.

Tidak lama kemudian Ustadza Dwi menyajikan dua gelas kopi untuk mereka nikmati bersama. Sembari menikmati segelas white kopi mereka mengobrol ringan, dari kehidupan Imbron yang di tinggal Istrinya, hingga keputusan Pak Imbron yang tidak ingin menikah lagi.

“Maaf Pak! Sebagai orang dewasa apa Bapak tidak butuh seorang wanita untuk itu…” Tanya Ustadza Dwi agak canggung karena pertanyaannya sedikit pribadi.

Pak Imbron tersenyum tipis. “Masuk Bu Ustadza menyetubuhi?” Ujar Pak Imbron santai.

“Hmmm… Iya, kira-kira begitu.” Lirih Ustadza Dwi agak jengah.

Imbron mengalihkan pandangannya sejenak, lalu kembali menatap Ustadza Dwi. “Terkadang saya merasa kesepian, tapi biasanya saya melakukan onani sebagai gantinya.” Jelas Pak Imron gamblang.

“Onani?” Heran Ustadza Dwi.

“Ngocok rudal Ustadza.” Tembak Imbron gamblang.

Wajah putih Ustadza Dwi mendadak merah merona mendengar pengakuan Imbron yang terlalu ceplas-ceplos. Rasanya tidak pantas pria paru baya itu berkata kotor, apa lagi di hadapannya saat ini adalah seorang Ustadza.

Beruntung ia berhadapan dengan Ustadza Dwi yang memahami pemilihan kata yang di gunakan Imbron.

*****

Pulang sekolah…

“Rayhan hari ini gak masuk ya?” Tanya Doni

Azril yang berjalan beriringan dengan Doni hanya mengangguk pelan. “Mungkin lagi sakit!” Tebak Azril.

“Gimana kalau kita ke rumahnya aja.” Usul Nico.

“Liat besok aja! Kalau dia gak masuk baru kita jinguk rame-rame.” Ujar Azril, entah kenapa hari ini ia ingin segera pulang kerumah. “Aku duluan ya.” Lanjut Azril bergegas meninggalkan kedua sahabatnya.

Ia melangkah cepat menuju rumahnya. Ada rasa rindu yang luar biasa membunca di hatinya. Keinginannya melihat Ibu Tirinya, membuatnya menolak ajakan kedua sahabatnya untuk menjenguk Rayhan yang hari ini membolos sekolah tanpa ada pemberitahuan.

Setibanya di rumah Azril segera mencari sosok Ibu Tirinya, ia menuju kamar Ibu Tirinya.

Baru saja sedikit daun pintu yang terbuka, Azril mengurungkan niatnya memanggil Ustadza Laras ketika ia melihat wanita cantik itu berdiri di depan cermin hanya memakai selembar handuk untuk menutupi tubuh telanjangnya. Ia dapat melihat seperempat punggung mulus Laras, dan rambutnya yang terurai panjang.

Azril dapat merasakan geliat burungnya yang ada di balik seragam sekolah ia kenakan. Bayangan tubuh molek Ustadza Laras kembali terngiang-ngiang di benaknya.

“Umi!” Lirih Azril.

Laras yang tidak menyadari kehadiran Azril hanya diam terpaku di depan cermin. Sesekali tubuhnya terguncang, mengingat satu jam yang lalu ia di paksa melayani nafsu bejat keponakannya sendiri. Ia tidak menyangka kalau Daniel akan tega melakukannya.

Tapi harus di akui kalau persetubuhan beberapa waktu yang lalu memang menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa. Baru kali ini ia merasakan nikmatnya bercinta. Ceritasex.site

Sampai detik ini, Laras masih bisa merasakan rudal Daniel berada di dalam rongga serambi lempitnya. Bahkan tadi ia sempat memeriksa lobang serambi lempitnya yang kini mengangah di bandingkan sebelumnya.

“Astaghfirullah!” Desah Laras pelan.

Ia berusaha membuang bayangan tubuh Daniel yang telah mendekapnya dengan erat.

Setelah merasa cukup tenang, Laras melepas pengikat handuk yang menempel di tubuhnya. Dengan perlahan handuk putih tersebut merosot kelantai kamarnya, meninggalkan tubuh telanjangnya yang di penuhi bekas perzinahaannya bersama keponakannya sendiri.

Ada beberapa bekas cupangan di bagian leher dan dadanya, sementara di selangkangannya tampak memerah karena benturan selangkangan mereka berdua. Dan di bagian pantatnya, terdapat cap lima jari yang tertinggal.

Azril yang berada tidak jauh dari belakangnya, dapat melihat jelas bekas merah yang menempel di pantat mulusnya.

Tetapi pemuda itu tak begitu perduli, ia terlalu menikmati pemandangan indah yang ada di hadapannya saat ini. Bahkan kini tangannya sudah berada di dalam celananya.

Laras membuka lemari pakaiannya, ia mengambil satu set pakaian dalam yang terbilang seksi. Ia memakai bra jenis bikini yang hanya menutupi seperempat payudaranya, di padu dengan celana dalam berenda transparan merek erlanlee berwarna merah terang.

Mata Azril sampai melotot ketika Laras membungkuk dan memakai celana dalamnya. Seksi… Sungguh sangat seksi sekali pakaian dalam yang di kenakan Laras.

Kemudian Laras mengambil gamis berwarna hijau lumut di padu dengan warna coklat. Di bagian atasnya terdapat tiga kancing dan di bagian rok bawahnya terdapat motif bunga berwarna emas timbul. Dengan gamis tersebut, Ustadza Laras terlihat sangat anggun.

“Azril!” Kaget Laras saat ia berbalik menghadap pintu kamarnya yang sedikit terbuka.

Azril mendadak kagok. “U-umi.”

“Kamu sudah lama di sana?” Tanya Laras curiga, melihat reaksi anaknya. Ia sempat berfikir kalau putranya sudah cukup lama berada di sana, tapi ia buru-buru menepisnya.

“Baru aja Mi.” Jawab Azril.

Laras tersenyum manis, rasanya memang tidak mungkin Azril mengintipnya berganti pakaian mengingat putranya seorang pemuda beriman.

Laras menghampiri anaknya dan kemudian ia meminta Azril untuk segera berganti pakaian, sementara dirinya menyiapkan makan siang untuk keluarga kecilnya. Sejenak ia melupakan kejadian tadi pagi.

Bersambung… Di kediaman KH Umar, tampak Laras tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk keluarga kecil mereka. Ia memasak sop sapi kesukaan Suaminya. Ketika ia sedang sibuk memasak, Laras sama sekali tidak menyadari kedatangan Daniel yang tiba-tiba sudah berada di dalam dapurnya.

Daniel menatap nanar kearah Ustadza Laras yang malam ini mengenakan gamis syar’i berbahan diamond crepe dengan resleting di depan bagian dada berwarna hitam, di padu dengan jilbab syiria berwarna abu-abu.

Secara perlahan ia mendekati Laras, tepat di belakang Laras Daniel dengan kurang ajarnya meremas pantat Laras dari belakang, membuat Laras tersentak kaget.

“Astaghfirullah!” Histeris Laras.

Mata Laras membulat ketika melihat senyuman Daniel yang menjijikan. “Malam Bu Haja, lagi masak apa?” Ujar Daniel tanpa dosa sembari meremas-remas pantat Ustadza Laras yang terlihat jengah.

“Lepaskan Tante Dan!” Protes Laras.

“Sssstttt… Jangan berisik Bu Haja, nanti kedengaran Kiayi.” Ujar Daniel memperingatkan Laras. “Saya kangen sama Bu Haja!” Bisik Daniel, membuat Laras benar-benar muak.

“Cukup Dan! Jangan panggil saya dengan sebutan itu.” Pinta Ustadza Laras, ia merasa pemuda itu tidak pantas memanggilnya dengan sebutan tersebut.

Tapi Daniel seakan tidak perduli, dia memeluk tubuh Laras dari belakang sembari mencoba mencium wajah Laras. Istri dari KH Umar berusaha menghindari ciuman Daniel. Tapi usahanya sia-sia saja, karena dengan mudanya Daniel meraih bibir merah Laras yang menggoda.

Sambil mendekap tubuh Ustadza Laras dari belakang, Daniel melumat bibirnya. Ia mendesak lidahnya masuk ke dalam mulut Ustadza Laras.

Walaupun Ustadza Laras berusaha menolak, tapi pada dasarnya ia tetaplah wanita biasa. Sentuhan Daniel dengan perlahan membangkitkan birahinya, hingga tanpa sadar ia membuka jalan bagi lidah Daniel masuk ke dalam mulutnya, hingga lidah mereka bertemu.

“Eehmmppss…. Eehmmppss… Ehmmpsss…”

Sembari berciuman, telapak tangan Daniel meraih payudara Laras. Dia menggenggam dan meremas payudara Laras yang berukuran 36E, sangat besar sekali. Bahkan gamis yang ia kenakan tidak bisa menutupi bentuk payudaranya.

Dengan perlahan Daniel menarik resleting gamis Ustadza Laras, tangannya menyusup ke dalam, dan mengangkat cup bra yang di kenakan Laras. Jemari kasarnya meremas payudara Laras, membuat wanita berusia 39 tahun itu melenguh nikmat merasakan sentuhan nakal dari keponakannya.

Tidak sampai di situ saja, tangan Daniel yang lainnya turun menuju selangkangannya. Dia meremas dan memijit selangkangan Ustadza Laras.

“Oughkk…” Erang Ustadza Laras.

Daniel melepas ciumannya sembari tersenyum tipis. “Gimana rasanya, enakkan?” Goda Daniel.

“Tolong hentikan Dan!”

Daniel menekan punggung Ustadza Laras, lalu dia menyingkap bagian bawah gamis yang di kenakan Laras hingga sebatas pinggangnya. Tampak celana dalam Laras berwarna merah muda di hiasi renda-renda berwarna hitam di sekelilingnya. Celana dalam berbahan nilon itu terasa begitu lembut ketika Daniel menyentuhnya.

Mata Laras terbeliak merasakan gesekan jari Daniel di selangkangannya. Tanpa sadar kedua pahanya merapat menjepit jari Daniel.

“Aahkk… Aaahk… Aahkk…” Erang Laras, dia mendekap mulutnya untuk mengurangi suara desahannya.

Ustadza Laras menggelengkan kepalanya tatkala jari Daniel memilin puttingnya. “serambi lempit Bu Haja sudah basah ni, hehehe… Enak ya Bu Haja.” Ejek Daniel, pemuda itu tau kalau wanita yang ada di hadapannya saat ini sangat menikmati sentuhan kedua jarinya.

“Cu-cukup Dan!” Pinta Laras frustasi.

“Apa? Saya tidak dengar Bu Haja.” Jawab Daniel.

Pemuda itu menyusupkan tangannya masuk ke dalam celana dalam Laras dari belakang. Lalu jarinya menyusup ke bibir kemaluan Laras yang telah becek. Sentuhan jari Daniel, membuat tubuh Laras menggelinjang.

Ia menggigit kuat bibirnya, tatkala ia merasakan jari tengah Daniel menusuk serambi lempitnya.

“Tuhaaaan… Aku gak kuat.”” Adu Laras.

Kedua kaki jenjangnya gemetar, dan ia merasakan kalau dirinya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Sedikit demi sedikit Cairan cintanya merembes semakin banyak dan pada akhirnya ia mengerang panjang seiring dengan orgasmenya. Tubuhnya menegang hebat selama beberapa saat.

Seeeeeeeeeeeerrrrrrrr…

“Oughkk…. Aku pipis!” Lolongan Laras.

Daniel menekan jarinya semakin dalam, dan merasakan kedutan serambi lempit Laras yang seakan memijit jarinya.

Setelah orgasme meredah, barulah Daniel mencabut jarinya dari dalam selangkangan Laras. Dan tampak lendir kewanitaan Laras menetes dari jari tengahnya. Kemudian Daniel meminta Laras membersihkan jarinya.

Laras membuka mulutnya dan menghisap jari tengah Daniel yang kotor karena lendir kewanitaannya. Ia menatap keponakannya dengan tatapan penuh arti.

Setelah di rasa bersih Daniel memaksa Ustadza Laras berlutut di hadapannya. Berulang kali Laras menggelengkan kepalanya, memohon agar Daniel tidak memaksanya melakukan sebuah perbuatan tercela. Apa lagi saat ini anak dan suaminya ada di rumah sedang menunggu masakannya.

“Tante mohon Dan, jangan lakukan itu.” Melas Ustadza Laras.

Daniel membelai wajah Ustadza Laras. “Kita tidak punya banyak waktu, kecuali Bu Haja mau kiyai melihat apa yang kita lakukan saat ini? Saya yakin, Bu Haja pasti tidak ingin itu sampai terjadi.” Ujar Daniel setengah mengancam.

Sadar kalau dirinya berada di kondisi yang tidak memungkinkan, Ustadza Laras menuruti kemauan keponakannya.

Kedua tangannya membuka celana jeans yang di kenakan Daniel berikut dengan dalamannya. Tampak batang kemaluan Daniel yang begitu besar, terpampang di hadapannya saat ini. Sejenak ia tertegun melihat rudal Daniel, yang ternyata bisa muat di dalam serambi lempitnya.

Sekali lagi ia melihat kearah Daniel, tetapi pemuda itu tidak bergeming. Perlahan ia memegang kemaluan Daniel dan memasukannya ke dalam mulutnya.

Untuk kedua kalinya ia memblowjob rudal Daniel. Kepalanya maju mundur menghisap rudal Daniel. Sementara tangannya yang menganggur ia gunakan untuk mengocok rudal Daniel yang begitu panjang. Sesekali ia membelai kantung telur Daniel yang menggantung indah.

“Yeaaaaa… Ini nikmat sekali Bu Haja. Oughkk… Hisap lebih dalam.” Racau Daniel.

Dengan setengah terpaksa Laras berusaha memasukan rudal Daniel lebih dalam lagi ke dalam mulutnya, hingga mentok ke tenggorokannya.

Wajah Laras bersemu merah karena menahan nafas ketika ia memasukan nyaris seluruh rudal Daniel ke dalam mulutnya. Dan tampak Daniel begitu menikmati rudalnya yang berada di dalam mulut Laras.

Hampir selama lima belas menit Daniel menyetubuhi mulut Ustadza Laras. Hingga akhirnya yang di tunggu-tunggu tiba juga. Tubuh Daniel bergetar, ia merasakan hangat di kemaluannya, dan beberapa detik kemudian ia mengerang sembari menembakan spermanya ke dalam mulut Ustadza Laras.

Croooots…. Croooottss…. Croooottsss…

*****

Di kediaman Ustadza Zaskia…

Sudah seharian ini Ustadza Zaskia mendiamkan adiknya. Membuat Rayhan merasa tidak tenang, karena selama ini Zaskia tidak pernah mendiamkannya lebih dari tiga jam, tapi kali ini Zaskia sama sekali tidak menegur dirinya.

Sekitar jam sepuluh malam Rayhan hendak kembali berpatroli untuk menjaga Kakak Kandungnya. Kali ini ia bertekad tidak akan melepaskan pandangannya dari rumah mereka.

Saat hendak keluar rumah lagi-lagi Rayhan melihat Zaskia tertidur lelap di atas sofa.

Sejenak Rayhan tersenyum melihat wajah polos Zaskia yang terlihat begitu cantik walaupun sedang tertidur pulas. Matanya turun kearah sepasang gunung kembar milik Kakaknya yang bergerak naik turun mengikuti irama nafasnya.

“Astaghfirullah!” Rayhan mengusap wajahnya.

Ia bergegas mendekati Kakak Iparnya yang malam ini mengenakan gaun tidur berwarna ungu yang panjangnya hanya sekitar 95cm, hingga betisnya tidak tertutup sempurna.

Seperti malam sebelumnya, dengan sangat hati-hati Rayhan menggendong tubuh Kakaknya untuk ia tidurkan di tempat tidur Kakaknya. Dengan perlahan ia membaringkan tubuh Zaskia diatas tempat tidurnya. Reflek Zaskia memutar tubuhnya hingga memunggungi Rayhan.

“Kak! Maafin aku ya, aku tidak bisa jaga Kakak kalau tetap di sini, aku akan menjaga Kakak di luar rumah, biar tidur Kakak nyaman. Dan aku pastikan, satu langkahpun tidak akan aku biarkan kolor ijo mendekati Kakak.” Bisik Rayhan, dia mendekatkan wajahnya dan mengecup mesrah kening Zaskia.

Setelah berpamitan Rayhan segera keluar dari dalam kamar Zaskia. Wanita cantik tersebut tampak mengerutkan keningnya, kemudian bibirnya membentuk sebuah senyuman manis.

Dia mengambil bantal guling miliknya dan memelukny dengan sangat erat sekali.

“Maafin Kakak Ray! Selama ini Kakak salah paham sama kamu.” Gumam Zaskia, yang ternyata mendengar semua yang di katakan Rayhan. “Kakak sayang kamu Ray.” Bisiknya lagi, dengan perasaan yang sangat bahagia.

*****

Kembali ke kediaman KH Umar. Laras terbangun tengah malam ketika suara Guntur saling sahut menyahut. Sementara itu di sampingnya KH Umar tengah tertidur lelap dengan suara dengkuran yang cukup keras, seakan ia tidak terganggu oleh suara petir yang menggelegar di luar sana. Laras mendesah pelan, sembari menyibak selimutnya.

Dengan perlahan ia turun dari tempat tidurnya, lalu memakai jilbab syar’i yang berlengan. Jilbab instan dengan menambahkan lengan yang menyambung langsung dengan jilbab, sehingga jilbab tersebut memiliki dua fungsi sebagai jilbab sekaligus baju, sangat cocok untuk di kenakan Ustadza Laras, mengingat di balik jilbabnya ia mengenakan gaun v-neck berwarna putih semi transparan.

Dia berjalan keluar kamar, sembari sesekali ia tampak menguap menahan rasa kantuk.

Setibanya di dapurnya ia mengambil sebotol mineral dan gelas kosong. Sejenak ia membasahi kerongkongannya yang terasa kering karena kekurangan cairan.

“Haus Bu Haja?”

Deg…

Mata Laras melebar, ia mencari sumber suara yang barusan memanggilnya. Tampak Daniel tengah berdiri sembari melipat kedua tangannya diatas dada seraya tersenyum kearah dirinya.

Sadar kalau bahaya tengah menanti dirinya, Laras berusaha kabur dari pemuda yang berulang kali telah melecehkannya. Tapi usahanya sia-sia saja karena Daniel menangkap tubuh sintalnya. Dengan sekuat tenaga Laras berusaha melepaskan diri dari dekapan Daniel, tapi usahanya tidak membuahkan hasil yang positif.

“Lepaskaaaan…. Daniel! Toloooong jangan lakukan lagi!” Melas Ustadza Laras.

Tentu saja Daniel tidak mengubris permintaan Laras. Dia memanggul tubuh Laras di pundaknya, sementara lengannya mendekap paha Laras. “Malam ini, Bu Haja milik saya.” Seloroh Daniel membuat Laras makin putus asa.

“Tidak… Jangan Daniel! Aku tantemu.” Mohon Laras sembari memukul punggung Danel, sementara kakinya mengais-ngais di udara berharap pegangan Daniel terlepas.

“Ckckck… Liar sekali Bu Haja satu ini.” Goda Daniel. Sembari membawa Ustadza Laras ke dalam kamarnya. “Sabar ya Bu Haja, nanti akan saya bikin enak. ” Seloroh Daniel membuat Laras sempat terdiam.

Ia menatap sayu kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya. Saat ini Suaminya tengah tertidur lelap, sementara dirinya di culik oleh keponakannya sendiri untuk di nikmati. Sejenak ia kembali teringat bagaimana rudal Daniel yang besar mengaduk-aduk liang senggamanya.

Setibanya di dalam kamar Daniel meletakan tubuh Laras diatas matras tempat ia tidur.

“Bangsat kamu Dan! Jangaaaaan… Eehmmppss… Lepaskan…. Eehmmppss…. Danieeeell…. Eehmmppss… Ehmmpsss….” Kedua tangan Laras memukul pundak Daniel yang tengah melumat bibirnya.

Mata Laras terpejam ketika merasakan lidah Daniel masuk ke dalam mulutnya. Menjamah rongga mulutnya, dan lidahnya. Berulang kali Laras terpaksa menelan air liur Daniel.

Perlahan tapi pasti rontahan Laras semakin melemah, dan pada saat bersamaan, Daniel merabahi payudara Laras, ia meremas susu Ustadza Laras dengan konstan, tidak terlalu kuat tapi juga tidak terlalu lemah, hingga dengan perlahan memancing birahi sang Ustadza.

Tangan Daniel menyusup masuk ke dalam gaun tidur yang di kenakan Laras. Dan ternyata sang Ustadza sudah tidak lagi memakai beha, sehingga dengan leluasa Daniel menjamah payudara Ustadza Laras.

“Pakaiannya di buka ya Bu Haja.” Ujar Daniel.

Laras menggeleng kuat. “Jangaaaaan… Tolong Dan! Jangan telanjangi saya lagi.” Histeris Ustadza Laras ketika Daniel berusaha melepas gaun tidurnya tanpa membuka jilbab yang ia kenakan.

Walaupun agak sulit, tapi Daniel akhirnya berhasil melepas gaun tidur Laras.

Dia menatap dalam wajah cantik Ustadza Laras, sementara telapak tangannya membelai paha mulus Ustadza Laras yang putih mulus.

“Bu Haja memang wanita yang sangat sempurna.” Kagum Daniel sembari meremas selangkangannya. “Saya merasa sangat beruntung bisa di temani Bu Haja malam ini.” Sambung Daniel, membuat Laras merasa sangat muak dengan sikap Daniel yang begitu kurang ajar.

Tak terasa air matanya meleleh keluar, ia sangat terpukul atas kejadian yang menimpah dirinya.

Sebagai seorang istri Solehah, apa yang di lakukan Daniel adalah bentuk pelecehan bagi dirinya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia takut membuat KH Umar kecewa kepada dirinya, kalau seandainya KH Umar tau kalau dirinya telah di nodai oleh keponakan mereka.

Laras merapatkan kedua pahanya ketika jari tangan Daniel hendak menyusup masuk diantara kedua pahanya. Sementara tangannya berusaha mencegah apa yang akan di lakukan Daniel terhadap dirinya.

Tapi penolakan Ustadza Laras, malah membuat Daniel semakin bergairah. Dia mencaplok payudara Istri KH Umar dengan mulutnya, menghisapnya dengan perlahan membuat Laras melenguh nikmat.

“Oughkk… Hentikan!” Jerit Laras.

Perlahan tapi pasti jemari Daniel berhasil menyusup lebih dalam hingga menyentuh selangkangannya. Daniel tersenyum tipis saat menyadari celana dalam Laras yang telah basah.

Pemuda itu tau betul kalau wanita yang ada di hadapannya saat ini juga sangat menginginkannya, hanya saja Laras bukan wanita sembarangan, walaupun ia telah terbakar api birahi, sedikit iman yang tersisa membuat wanita alim tersebut berusaha mati-matian menolaknya.

Dengan perlahan Daniel memijit bukit kecil serambi lempit Laras, merangsang terus menerus Ustadza Laras.

“Tidaaaak… Cukup Dan! Aaahk… Tante gak kuat.” Melas Laras, ia merasa serambi lempitnya begitu gatal, karena di garuk-garuk oleh tangan Daniel.

“Kita buka ya Ustadza.” Bisik Daniel.

Laras mendekap mulutnya, ketika Daniel menarik perlahan celana dalamnya. Sedikit demi sedikit celana dalam miliknya di tarik turun, hingga tampak rambut kemaluan Laras yang tumbuh subur tapi tertata sangat rapi. Hingga terlihat sangat indah di mata Daniel.

Kedua tungkai kaki Laras di buka selebar mungkin hingga kini bibir kemaluannya yang terlihat. Buru-buru Laras menutupi bibir kemaluannya dengan telapak tangannya.

Tapi lagi-lagi Daniel tidak mengubrisnya, dia membenamkan wajahnya di selangkangan Laras, mengendus aroma lendir kewanitaan Laras yang menyengat.

“Eehmm… Wangi sekali Bu Haja.” Goda Daniel.

Laras menggigit bibirnya dengan tatapan memohon. “Toloooong… Daniel! Sudah cukup.” Melas Laras. Tapi yang terjadi Daniel malah menjilati jari Laras yang berusaha menutupi selangkangannya. Lidahnya bahkan tak segan menjilati cincin mas perkawinannya.

“Ya Tuhan! Astaghfirullah… Daniel udah.” Rengek Laras.

Tapi lagi-lagi Daniel tidak mengubrisnya, ia terus saja menjilati jari-jari Laras, hingga akhirnya dengan perlahan Laras menarik tangannya, membuat lidah Daniel mulai menyentuh bibir kemaluannya.

Pinggul Laras tersentak merasakan desiran nikmat lidah Daniel. Tanpa sadar, ia semakin jauh menarik tangannya hingga ke pahanya, sehingga Daniel semakin leluasa mencucup bibir kemaluannya yang semakin banyak mengeluarkan pelumas yang terasa asin di lidah Daniel.

Bibir Daniel menghisap clitoris Laras, sementara jari tengah dan jari manisnya membuka lobang serambi lempit Ustadza Laras, menusuk jauh ke dalam serambi lempitnya.

“Oughkk…” Jerit Laras.

Tanpa sadar Laras malah mendekap kepala Daniel, ia meremas rambut Daniel sembari menikmati sapuan lidah Daniel di clitorisnya dan kedua jari Daniel yang tengah mengocok kemaluannya.

Sloookkss… Sloookkss… Sloookkss…

“Danieeeell…” Jerit Laras.

Wajahnya mendongak keatas menyambut orgasme yang baru ia dapatkan dari sentuhan Daniel.

Tampak lendir kewanitaan Laras menyembur keluar tanpa bisa ia bendung. Bahkan wajah Daniel sempat terkena cipratan ciaran cintanya yang memang cukup banyak. Daniel terkekeh melihat geliat tubuh Ustadza Laras ketika sedang orgasme.

Setelah orgasmenya meredah, Daniel segera membuka celananya dan dengan cepat masuk ke celah-celah kedua kaki indah Ustadza Laras. Ia mempersiapkan senjatanya untuk mengaduk-aduk liang senggama Ustadza Laras yang sudah siap untuk menerima rudal Daniel yang berukuran jumbo itu.

“Kita mulai ya Bu Haja.” Bisik Daniel.

Sadar kalau Daniel ingin kembali menggagahinya, Laras berusaha mati-matian melepaskan diri. “Tidaaaak… Hentikan, jangan lakukan itu. Oh Tuhaaaan….” Jerit Laras ketika kepala rudal Daniel menerobos masuk ke dalam liang senggamanya yang telah becek.

“Aahkk… serambi lempit Bu Haja sempit sekali.” Racau Daniel.

“Aahkk… Daniel, cabuuuut…” Jerit Laras.

Tapi Daniel tidak mengubrisnya, dia menggerakkan pinggulnya maju mundur memompa serambi lempit Ustadza Laras yang terasa begitu legit.

Mata Daniel merem melek menikmati jepitan dinding serambi lempit Ustadza Laras. Ia merasa rudalnya seakan di peras-peras di dalam sana, dan rasanya sungguh sangat nikmat sekali, membuat pemuda itu semakin bersemangat menggagahi Istri dari pemimpin ponpes Al-tauhid.

Ploks…. Plokss…. Ploooksss… Plookkss…. Plookksss… Plookkksss… Plloookkksss….

Semakin lama Daniel semakin cepat memompa serambi lempit Ustadza Laras. Bahkan ia tak sadar kalau saat ini peluh telah membasahi sekujur tubuh telanjangnya. Hal yang sama juga di rasakan Ustadza Laras, seakan kipas angin yang menyala di dalam kamar Daniel tidak ada apa-apanya.

Daniel meraih bibir Ustadza Laras, dia menghisap bibir Laras dengan perlahan, membuat wanita cantik itu sampai lupa untuk bernafas selama beberapa detik. Ceritasex.site

Pllookkss…. Pllookksss…. Plloookksss… Plloookkksss…. Plloookkkssss… Plloookkksssss…

“Bagaimana rasanya Bu Haja?” Tanya Daniel, dengan nafas yang memburu.

Harus di akui setiap hentakan rudal Daniel di dalam serambi lempitnya sedikit demi sedikit mengikis imannya. “Aahkk… Daniel! Aaahk… Cukuuup… Aduh…” Erang Laras dengan mata setengah terpejam menikmati setiap hentakan rudal Daniel di dalam liang senggamanya.

“Oughkk… serambi lempit Bu Haja sangat nikmat.” Racau Daniel.

Kedua tangannya meraih payudara Laras, dia meremasnya dengan intens. Dan sesekali ia mencubit puting Laras yang sangat menggemaskan itu.

Rangsangan demi rangsangan yang di berikan Daniel sangat memabukkan. Bahkan ia sempat lupa kalau dirinya adalah Istri seorang Kiayi yang seharusnya tidak muda tergoda oleh sentuhan pria yang bukan suaminya. Tapi yang menjadi masalah, rudal Daniel menjanjikan sejuta kenikmatan.

Laras membuang muka ke samping, ia melihat dirinya sendiri yang tengah di setubuhi oleh keponakannya melalu pantulan cermin yang ada di kamar Daniel. Di sana terlihat jelas wajah dirinya yang tengah menikmati di setubuhi oleh keponakannya sendiri.

Apakah itu aku… Gumam Laras tak percaya kalau wanita yang ada di cermin itu adalah dirinya.

“Seksi sekali!” Ujar Daniel.

Laras balik menatap Daniel dengan tatapan serba salah, antara benci dan rasa nikmat. “Dan… Aku Istri Kiayi!” Lirih Laras, ia merasa rudal pemuda itu semakin dalam memasuki lobang faraznya.

Daniel meraih kedua tangan Laras dan mengalungkannya di lehernya. “Apa yang akan di katakan Kiayi Umar kalau tau Istrinya tengah di setubuhi oleh keponakannya sendiri.” Ujar Daniel sembari menatap wajah cantik Ustadza Laras yang begitu menggairahkan.

“Dia akan sangat terpukul! Oughkk… Dan! Bu Haja mau pipis.” Erang Ustadza Laras.

Pada saat bersamaan Daniel mencabut rudalnya dari dalam serambi lempit Ustadza Laras, berbarengan dengan squirt yang di dapatkan oleh Laras.

Seeeeeeeeeeeerrrrrrrr….

Pantat Laras tersentak-sentak, ia tidak pernah mendapatkan sex senikmat ini.

Daniel kembali tersenyum, lalu dia meraih kepala Laras dan membelainya. Dengan perlahan Daniel kembali melumat rakus bibir merah Ustadza Laras. “Malam ini, Bu Haja milik saya.” Ujarnya, yang membuat Ustadza Laras semakin merasa berdosa terhadap suaminya tercinta.

*****

Sementara itu di tempat yang berbeda, tampak pria paruh baya dalam keadaan telanjang bulat tengah bersemedi. Setelah membaca mantra, dia mengeluarkan sebuah foto seorang santri wati berwajah inoncent dengan payudara yang berukuran cukup besar.

Pria tersebut menyapu bibirnya dengan lidahnya, kemudian ia membakar foto siswa tersebut dan ia letakan di dalam mangkuk bersih.

Lalu ia mengambil ayam hitam yang sudah ia siapkan. Lagi mulutnya bergerak melapaskan mantra, dan setelah mantra itu di baca, ia menggorok ayam tersebut dan darahnya ia teteskan ke dalam mangkok yang terdapat foto siswa yang tengah di bakar habis.

Seutas senyuman iblis terukir di wajahnya. Dan ia kembali memejamkan mata sembari membaca mantra. Beberapa detik kemudian ia mengerang bagaikan hewan buas, pada saat bersamaan tubuhnya berubah warna menjadi hijau gelap, dan tampak taringnya tumbuh melewati bibir merahnya.

Dalam sekejap pria yang meyerahkan dirinya kepada sang kegelapan melesat pergi dari kediamannya, di iringi hujan petir yang sangat mencekam, ia menuju tempat di mana mangsanya yang tengah terlelap tidur

Bersambung… Gulungan awan hitam tampak menutupi langit malam ini. Di iringi dengan suara gemuruh petir, hujan turun dengan lebatnya membasahi ponpes Al-tauhid. Cuaca yang begitu mendukung, membuat para penghuni ponpes Al-tauhid memilih untuk pergi ke dunia kapuk di bandingkan untuk tetap terjaga mengingat satu bulan terakhir ini ponpes selalu di teror oleh mahkluk asing.

Sementara dua orang satpam yang berjaga malam ini yang seharusnya berkeliling komplek pesantren dan memastikan kalau penghuni pesantren tetap aman, malah tertidur pulas di dalam pos mereka.

Sosok mahluk berwarna hijau melintas di tengah hujan deras, matanya yang tajam kemerah-merahan tampak melotot sangat menyeramkan.

Dalam waktu singkat ia tiba di sebuah asrama putri, sebuah seringaian mesum terukir di bibirnya.

Dan seperti yang sudah bisa di tebak, seluruh penghuni asrama telah tertidur lelap, padahal setengah jam yang lalu, beberapa santri masih terlihat sibuk mengerjakan tugas maupun menghafal kitab.

“Grrrrrr….” Sang mahluk mengeram sembari menatap seorang gadis cantik yang tengah terlelap.

Ujung daster dengan motif Doraemon yang ia kenakan tersingkap hingga memamerkan sepasang betis putih mulus miliknya yang sangat menggiurkan. Bahkan sang kolor ijo sampai meneteskan air liurnya.

Tangan kanan sang kolor ijo turun kebawah, dia meremas-remas batang kemaluan yang telah berdiri tegak, melihat mangsanya yang sangat menggoda.

Dia berjalan perlahan menghampiri mangsanya, menatap dalam wajah cantik Neni yang tengah terlelap. Bibir tipisnya sedikit terbuka, dan terdengar suara dengkuran halus dari bibirnya, ia tertidur dengan tenang, tanpa menyadari bahaya yang saat ini tengah mengintai dirinya.

“Hahahaha… Kamu pintar sekali memilih mangsa.” Gumam sang mahluk menjijikan terhadap tubuh yang saat ini tengah ia pinjam.

Telapak tangannya yang lebar membelai wajah cantik sang santri, terus turun membelai bibir merahnya. Reflek gadis bernama Neni itu menepis tangan sang kolor ijo yang tengah mengganggu tidurnya. Ia sama sekali tidak sadar kalau ada mahluk aneh berada di dekatnya.

Kembali sang kolor ijo menyentuh sang Santri, kali ini jauh lebih vulgar, dia membelai payudara Neni yang kebetulan sedang tidak memakai bra, sehingga sang kolor ijo dapat merasakan tekstur empuk payudara Neni yang berukuran 36C. Sang Kolor Ijo menyeringai senang, mengetahui ukuran payudara Neni yang sangat besar.

Remasan kasar tersebut membuat Neni kembali hendak menyingkirkan tangan yang tengah meremas payudaranya.

“Uhkti… Ngantuk ni.” Rutuk Neni.

Tapi tidak ada respon dari sang pemilik tangan yang tengah meremas payudaranya. Neni yang kesal meraih tangan tersebut dan hendak membuang tangan tersebut. Tapi ia terhenyak kaget saat merasakan tangan yang tengah menjamah payudaranya. Punggung tangan tersebut terasa sangat lebar dan berbulu.

Reflek Neni membuka matanya, jantungnya berdegup cepat ada rasa takut yang sulit ia gambarkan saat ini.

Belum sempat Neni mencerna apa yang terjadi kepada dirinya saat ini, tiba-tiba ia merasakan tetesan air liur jatuh ke atas pipinya, dan rasanya begitu lengket.

Deg… Deeg… Deeeg…

Detak jantung Neni tak beraturan, perasaan cemas kini melanda hatinya. Ia memutar kepalanya dan dalam sekian detik ia terdiam menatap tak percaya kearah wajah kolor ijo yang berwarna hijau, dan taring yang keluar dari mulutnya sungguh sangat menyeramkan.

Sang Kolor Ijo menyeringai, dia memegangi kera daster milik sang Santri. Sreeek…. Sreeeek… Sreeek… Dalam dalam hitungan detik, daster yang ia kenakan tercabik-cabik, dan hanya menyisakan kain segitiga berwarna merah muda.

“Toloooong…. Jerit Neni.

Tapi teriakannya tidak ada artinya, karena dengan jarak radius seratus meter telah di lumpuhkan oleh ilmu kolor ijo dengan membuat mereka semua tertidur.

Mata merah kolor ijo melotot seakan ingin keluar dari kelopak matanya ketika menatap nanar kearah payudara Neni yang tumbuh dengan bentuk sempurna. Putingnya yang mungil berwarna kemerah-merahan terlihat sangat menggemaskan, dan ukurannya juga sangat menggugah selera.

Tangan kanan kolor ijo mengepal salah satu payudara sang Santri, sementara payudara yang lainnya ia hisap dengan rakus, lidahnya menari-nari di sekitaran aurola milik Neni.

“Tidaaaak… Tolong, lepaskan saya!” Jerit Neni.

Tapi usahanya meminta tolong hanya menguras tenaganya saja, karena sekeras apapun ia berteriak tidak akan bisa membangunkan orang yang berada di sekitarnya. Sementara di luar hujan sangat deras, hingga menelan suara teriakannya.

Secara bergantian kolor ijo menghisap payudara Neni, sementara tangannya yang menganggur menggapai gundukan kecil yang berada di kedua paha mulusnya.

Jemari Kolor ijo memijit serambi lempit Neni dari luar celana dalam yang di kenakan Neni. Dan seiring dengan waktu, celana dalam tersebut mulai terasa basah, dan kolor ijo dapat merasakan lendir Neni di kulit jarinya yang kasar dan berwarna hijau.

“Hahahaha…” Tawa Kolor ijo puas.

Neni menggelengkan kepalanya, ia sangat ketakutan walaupun harus di akui kalau Neni juga mulai terangsang. “Hentikaaaan… Jangan sentuh itu!” Histeris Neni, ketika merasakan jari kolor ijo menyusup kedalam celana dalamnya.

Tubuh Neni menegang merasakan belaian kasar jari Kolor ijo di bibir kemaluannya. Dan sedetik kemudian bola matanya melebar ketika merasakan salah satu jari kolor ijo menerobos masuk ke dalam lobang serambi lempitnya. Ia merasakan jari itu begitu besar di dalam serambi lempitnya.

Sang kolor ijo menatap Neni tidak percaya, ia merasa jarinya masuk dengan begitu mudanya ke dalam serambi lempit sang Santri yang notabene nya adalah wanita muslimah yang alim.

Tapi pada kenyataannya, sang kolor ijo merasa kalau Neni sudah tidak perawan lagi.

“Oughkk… Toloooong! Aahkk…” Histeris Neni.

Sloookkss…. Sloookkss…. Sloookkss….

Jari tengah kolor ijo mengocok serambi lempit Neni dengan cepat membuat kepala gadis itu terbantiing ke kiri dan kanan. Jujur ia sangat menikmati permainan tangan sang kolor ijo di dalam serambi lempitnya. Andai saja mahluk itu tidak menyeramkan, mungkin Neni akan dengan senang hati melayani mahluk yang tengah menjamah tubuhnya saat ini. Karena bagaimanapun juga ia sudah sering melakukan perzinahaan dengan pacar dan mantan pacarnya.

Sang kolor ijo tampak geram dengan aksi Neni yang sok alim, membuat kolor ijo memasukan satu jarinya lagi ke dalam serambi lempit Neni, hingga serambi lempit Neni terasa penuh.

“Aahkk… Aahkk… Ahkkk…”

Si kolor ijo menyeringai. “Kamu menyukai nya cucuku? Hahaha…” Tawa Kolor ijo menggema di tengah suara guyuran hujan yang begitu lebat.

“Eehmm… Aduh! Aaaahkk… Enaaaak…” Erang Neni.

Sloookkss… Sloookkss… Sloookkss…

Sang kolor ijo semakin cepat mengocok rongga serambi lempit Neni, hingga ia merasa jarinya seakan sedang di pijat oleh dinding serambi lempit Neni.

Tidak butuh waktu lama bagi kolor ijo untuk membuat Neni mencapai klimaksnya. Wajah Neni menegang merasakan rasa nikmat yang luar biasa dari sentuhan jari kolor ijo ke dalam rongga serambi lempitnya.

Creetss… Creetsss… Creetssss…

Sang kolor ijo memberi waktu bagi sang santri untuk memulihkan tenaganya.

“Hahahaha… Ternyata kamu lonte juga cucuku.” Ujarnya.

Neni menatap takut kearah kolor ijo. “Toloooong jangan sakiti saya!” Dia menatap kolor ijo dengan tatapan memelas, ia takut kalau sang kolor ijo akan membunuhnya.

“Jangan takut cucuku, saya tidak akan menyakitimu asalkan, kamu mau menuruti semua permintaan saya.” Dia membelai wajah cantik Neni yang pucat pasi. “Tapi… Saya akan memperkosa dan membunuhmu kalau kamu berani melawan.” Katanya dengan suara serak menggema.

Neni menggelengkan kepalanya. “Jangan… Jangan bunuh saya.” Melas Neni.

“Hisap rudal Mbah cu!” Suruhnya.

Sejenak Neni terdiam, ia sadar posisinya saat ini tidak memungkinkan untuk menolak permintaan sang kolor ijo. Sehingga ia memutuskan untuk meneruti permintaan mahluk ghaib itu dari pada menentangnya.

Tangannya gemetaran saat menggenggam rudal Kolor ijo yang berukuran jauh lebih besar.

Dia mengocok lembut rudal kolor ijo, dan dengan perlahan dia menjilati rudal kepala rudal kolor ijo, terus turun menuju batang rudalnya. Sluuuppss… Sluuuppss… Sluuuppss… Neni memasukan benda besar itu kedalam mulutnya, menghisapnya dengan penuh perasaan.

Wajah kolor ijo menegang nikmat, merasakan sensasi oral sex dari seorang santri yang notabene nya seorang gadis lugu, tapi nyatanya sang Santri sangat pandai memainkan kejantannya. Sejenak ia teringat dengan korban yang sebelumnya yang cukup pandai memanjakan rudalnya dengan mulutnya.

Tidak hanya sekedar menggunakan mulutnya, Neni juga memakai payudaranya untuk memuaskan hasrat birahi sang kolor ijo.

“Aarrtt…. Terus cucuku… Oughkk…”

Sloks… Slokss… Sloksss… Slookkss… Slookksss… Sloookkss… Sloookksss… Sloookkssss…

Neni menjulurkan lidahnya, menggelitik lobang kencing rudal kolor ijo yang tengah mengeluarkan cairan pelumas, sementara payudaranya ia gunakan mengocok rudal kolor ijo.

“Oughkk…” Sang kolor ijo melolong panjang.

Croottss… Crooottss… Croooottss…

Sang kolor ijo menembakan spermanya tepat mengenai wajah Neni yang terhenyak kaget.

Setelah orgasmenya meredah, sang Kolor ijo meminta Neni menungging. Karena merasa sudah kepalang tanggung Neni menuruti kemauan mahluk aneh itu. Ia menungging di hadapan sang kolor ijo yang tampak menjilati bibir merahnya.

Kedua tangan kolor ijo membuka pipi pantat Neni, kemudian ia membenamkan wajahnya di selangkangan Neni. Sruuupss… Sruuupss… Sruuupss… lidahnya menari-nari di lobang surgawi milik sang Santri. Menjilati lendir yang keluar dari dalam serambi lempit Neni.

“Aahkk… Aaaahk… Aaaawhkk…” Erang Neni.

Kedua tangannya mengepal, merasakan nikmatnya sapuan lidah mahluk aneh tersebut, membuat pelumasnya keluar semakin banyak.

Setelah puas mencicipi serambi lempit Neni, sang kolor ijo segera memposisikan rudalnya di depan bibir serambi lempit Neni. Dengan satu dorongan rudal kolor ijo menembus lubang serambi lempit Neni yang memang sudah tidak perawan lagi. Blessss… rudal kolor ijo masuk hingga ke dasarnya.

Plok… Ploks…. Plokss… Plookkss… Plookksss… Plookkksss… Ploookkksss…

Pinggul kolor ijo maju mundur menyodok serambi lempit Neni yang terasa sangat menjepit. Sementara Neni dengan perlahan mulai menikmati setiap dorongan rudal kolor ijo di dalam serambi lempitnya. Bahkan tanpa sadar, Neni ikut menggoyangkan pantatnya, menyambut rudal kolor ijo.

“Aawhkk… Aaaawhkk… Aaaaawhkk…” Erang Neni.

Kedua tangan Kolor ijo mencengkram pantat Neni, ia semakin kuat mendorong rudalnya.

Untuk kedua kalinya Neni kembali orgasme, tubuh mulusnya terkulai lemah diatas tempat tidurnya. Kolor ijo yang merasa belum puas segera menindih tubuh Neni, dia mengarahkan rudalnya ke lobang serambi lempit Neni.

Ploks… Plokss…. Ploksss… Plookkss… Plookksss… Plookkksss… Ploookkksss…

Kembali kolor ijo menggerakkan rudalnya maju mundur memompa serambi lempit Neni, hingga akhirnya ia mengeram panjang dan pada saat bersamaan ia membenamkan rudalnya semakin dalam seiring dengan spermanya masuk ke dalam rahim Neni. Wajah Neni meringis merasakan sperma kolor ijo di dalam rahimnya.

*****

Di tempat yang berbeda, di kediaman KH Umar, tampak Istrinya Laras tengah menungging, sementara di belakangnya ada sang keponakannya yang tengah mengayu kenikmatan bersama Istrinya, yang notabene nya adalah Istri dari sang pemimpin pesantren dan seorang Ustadza.

Kedua tangan Daniel mencengkram pantat Laras, sembari menggoyangkan pantatnya maju mundur menyentak lobang serambi lempit Laras dari belakang.

Ploks… Plokss…. Ploksss… Plookkss… Plookksss… Plookkksss… Ploookkksss…

Mata Laras sayu menatap dirinya yang ada di dalam pantulan cermin. Di sana ia terlihat seperti wanita murahan yang terbalut jilbab lebar, bukan seorang muslimah yang telah bersuami. Payudaranya yang menggantung besar, bergoyang-goyang mengikuti irama hentakan rudal Daniel di lorong surgawinya.

Ini bukan aku… Ini bukan aku… Gumam Laras.

Plak… Plaak… Plaakk…

Berulang kali Daniel menampar pantat semok Ustadza Laras, ia sangat senang melihat Istri dari seorang Kiayi yang kini telah bertekuk lutut di hadapannya.

Ploks… Plokss…. Ploksss… Plookkss… Plookksss… Plookkksss… Ploookkksss…

“Oughkk… Gimana rasanya Bu Haja? Apa Bu Haja suka dengan rudal saya?” Pertanyaan vulgar itu membuat telinganya Laras terasa panas. Ia sangat berharap Daniel diam, tanpa mengatakan apapun saat ini.

“Tidaaaak… Aaahk… Daniel! Oughkk… Hentikan Dan, aahkk… ini… Ini… Tidak boleh di teruskan.” Melas Laras, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Daniel dengan jujur saat ini.

Daniel mencengkram pantat Laras, sembari meremas gemas bongkahan pantat Laras. “Sssstttt… Tapi serambi lempit Bu Haja berkata berbeda! Ia terus saja meremas rudalku, seakan tidak ingin rudalku buru-buru keluar dari serambi lempit Bu Haja.” Ujar Daniel percaya diri.

“Danieeeell… Aaaahkk…” Jerit Laras.

Kedua tangannya mengepal erat ketika ia merasakan ada gelombang besar yang hendak menghempas kesadarannya. Tapi pada saat bersamaan, tiba-tiba Daniel menarik rudalnya dari dalam serambi lempit Laras, membuat orgasmenya yang berada di ujung mendadak buyar.

Pantat besar Laras tersentak-sentak seakan mencari benda besar yang tadinya berada di dalam tubuhnya.

Daniel meraih bibir Laras, dia melumatnya dengan perlahan dan Laras hanya diam saja. Setelah getaran di tubuh Laras telah mereda, Daniel kembali menghujami serambi lempit Laras dengan rudal besarnya.

Ploks… Plokss…. Ploksss… Plookkss… Plookksss… Plookkksss… Ploookkksss…

Suara benturan dua kelamin mereka menggema, tertutupi oleh suara petir dan hujan yang ada di luar sana, sehingga tidak akan ada orang yang mendengar suara erangan mereka berdua.

Beberapa menit kemudian Laras kembali mengerang panjang menandakan kalau ia akan kembali orgasme, tapi lagi dan lagi Daniel menarik rudalnya, menggagalkan orgasme Laras yang sudah berada di ujung. Dia memang sengaja mempermainkan birahi Istri dari KH Umar tersebut.

“Toloooong, jangan permainkan saya Dan!” Melas Laras.

Daniel tersenyum tipis. “Apa yang Ustadza inginkan? Mungkin saya bisa membantu Ustadza.” Ujar Daniel, yang terkesan sangat merendahkan Ustadza Laras.

Ustadza Laras mendekap mulutnya, ia menggelengkan kepalanya sembari menitikkan air matanya. Sungguh ia merasa sangat berdosa, tapi ia merasa sudah tidak kuat lagi. Sebagai seorang wanita normal, ia menginginkan Daniel menuntaskan apa yang sedang mereka lakukan saat ini.

Daniel menyentuh pundak Laras, dan memijitnya dengan perlahan. Sentuhan Daniel ternyata sedikit menenangkan keraguan yang ada di hati Laras.

Daniel berucap pelan. “Katakan apa yang Bu Haja inginkan dari saya?” Jemari Daniel menelusuri punggung telanjang Laras yang basah oleh peluhnya.

“To… Toloooong biarkan saya orgasme.”

*****

Di tempat yang berbeda…

Hujan turun semakin deras, di sertai angin kencang yang seakan siap menggulung siapa saja yang ada di dekatnya. Sementara itu seorang pemuda tanpa rasa takut terus mengawasi di sekitaran rumahnya, memastikan kalau tidak ada satupun mahluk yang mendekati rumahnya.

Di jalan setapak yang becek, kakinya terus melangkah memutari rumahnya, tidak perduli sandalnya yang telah putus dan tubuhnya yang kini basah kuyup.

Hingga akhirnya dari kejauhan seorang wanita cantik berlari kecil menelusuri hujan tanpa memakai apapun untuk melindungi tubuhnya dari derasnya hujan yang mengguyur tubuh indahnya.

“Adek… Adek… Kamu di mana?” Ia terus berteriak memanggil adiknya.

Rayhan menghentikan langkahnya ketika ia mendengar suara sayup-sayup dari wanita yang amat ia kenal. Matanya memicing di tengah kegelapan mencari sumber suara yang tidak henti-hentinya terus memanggil dirinya.

Hingga akhirnya ia bisa melihat sosok wanita cantik dengan gaun tidur berwarna ungu tengah berlari kecil sembari memanggil dirinya.

“Kakaaak!” Sahut Rayhan.

“Aarrtt…” Jerit Zaskia.

Tanah yang licin di tambah suasana yang cukup gelap membuat Zaskia tidak sadar menginjak akar hingga membuatnya terpeleset dan jatuh ke tanah yang telah menjadi lumpur. Melihat sang Kakak terjatuh, Rayhan bergegas menghampiri Zaskia. Wajah pucatnya karena menahan hawa dingin, tampak sangat panik.

Setibanya di dekat Kakaknya ia buru-buru menggendong Kakaknya tanpa banyak bicara.

Rayhan sangat menyayangi Kakaknya, apapun yang terjadi dia akan menolong Kakaknya, walaupun nyawa yang akan menjadi taruhan, Rayhan tidak perduli.

Reflek Zaskia melingkarkan tangannya di leher Rayhan. Ia tersenyum senang karena pada akhirnya ia bisa menemukan adiknya. Dan di sisi lain, tanpa di sadari Zaskia, ia melihat Rayhan bukan seperti sedang melihat Adiknya tapi seperti melihat kekasihnya.

Untuk kali pertama di dalam hidupnya, Zaskia merasa sangat bahagia dan beruntung memiliki Rayhan berada di sampingnya. Bukan sebagai saudara, tapi sebagai pria yang siap melindungi dirinya.

“Tuhan, maafkan hamba mu ini.” Bisik Zaskia di dalam hati.

*****

Kediaman KH Umar…

Sembari berdiri mereka berdua berpelukan dengan erat, bibir mereka berdua bertemu, saling melumat. Tapi kali ini tidak ada tanda-tanda kalau Ustadza Laras terpaksa untuk melakukannya. Ia terlihat sangat menikmatinya setiap sentuhan Daniel di tubuh indahnya.

Daniel menarik bibirnya seraya tersenyum, sementara Laras menundukkan wajahnya karena merasa kalau saat ini apa yang ia lakukan sangat memalukan.

Menyerah terhadap seorang pria yang usianya jauh lebih muda darinya, dan lagi sebagai seorang Istri Kiayi seharusnya ia tidak mudah jatuh kedalam pelukan pria lain, tapi kenyataannya sekarang ia malah meminta Daniel untuk menuntaskan apa yang sudah ia mulai.

Daniel mendorong tubuh Laras hingga bersandar di dinding, lengan kekarnya mengait satu kaki Laras hingga menggantung di udara, sementara rudalnya yang besar berada di diantara lipatan serambi lempit Ustadza Laras.

“Masukan Bu Haja.” Pinta Daniel.

Laras menggenggam rudal Daniel, lalu dia mengarahkan rudal besar itu ke dalam serambi lempitnya. “Oughkk… Sssttt…” Laras mendesah pelan, ketika merasakan rudal Daniel menyeruak masuk ke dalam lobang serambi lempitnya.

“Nikmat sekali serambi lempit Bu Haja! Oughkk…”

Daniel menggerakkan pinggulnya dengan perlahan memompa serambi lempit Ustadza Laras.

Kedua tangan Laras merangkul leher kekar Daniel ketika pemuda itu menundukan kepalanya untuk menggapai payudaranya yang menganggur. Dia merasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya ketika Daniel menghisap payudaranya, dan menggigit putingnya.

Tubuhnya gelajotan menikmati setiap hentakan rudal Daniel yang semakin lama semakin cepat menghujami serambi lempitnya yang haus akan sentuhan.

Bahkan lendir kewanitaannya mengalir melewati kedua kaki jenjangnya yang putih mulus.

“Aahkk… Dan! Aahkk… Aaaahkk…” Erang Ustadza Laras.

Ploks… Plokss…. Ploksss… Plookkss… Plookksss… Plookkksss… Ploookkksss…

Daniel membelai bibir Laras, dan reflek Laras mengulum jari Daniel sembari menatap Daniel dengan tatapan manja. “Yesss…. Aaaahkk… Ini enak sekali Bu Haja! Aaaahkk… serambi lempit Bu Haja memang luar biasa.” Racau Daniel, yang semakin gencar menyodok serambi lempit Laras.

“Danieeeell… Aaahk… Jangan katakan itu lagi.” Erang Laras.

“Kenapa? serambi lempit Bu Haja memang enak sekali, ngejepit dan sangat legit.” Ujar Daniel terus memuji betapa nikmatnya lobang kewanitaan dari Istri sang Kiayi.

Laras menatap sayu Daniel. “Aaaahkk… Daniel! Ini haram, kita… Aahkk… Tidak boleh mengulanginya lagi.” Nasehat Laras, dia merasa serambi lempitnya semakin berdenyut-denyut menandakan kalau dirinya sudah hampir tiba.

“Hehehe… Saya tidak yakin!” Jawab Daniel.

Kemudian Daniel mencabut rudalnya dan memutar tubuh Laras hingga menungging. “Eehmmppss… Dan!” Laras menatap Daniel penuh harap.

“Mau di lanjutkan?” Tanya Daniel.

Laras menganggukan kepalanya dengan malu. “Hanya untuk malam ini saja.” Lirih Laras, ia sendiri tidak yakin dengan ucapannya barusan.

Blessss… Dengan satu dorongan, rudal Daniel kembali bersemayam di dalam serambi lempit Laras.

“Saya tidak yakin Bu Haja.” Bisik Daniel sembari memompa serambi lempit Ustadza Laras. Pinggulnya bergerak maju mundur menyodok serambi lempit Ustadza Laras.

Tubuh Ustadza Laras mengejat hebat, ia merasa serambi lempitnya begitu penuh di masuki oleh rudal Daniel, berbeda ketika rudal suaminya yang masuk ke dalam serambi lempitnya, ia selalu merasa ada ruang yang kosong.

Ploks… Plokss…. Ploksss… Plookkss… Plookksss… Plookkksss… Ploookkksss…

Suara benturan selangkangan mereka berdua terdengar begitu nyaring, menandakan kalau keduanya kini sama-sama ingin segera mencapai puncak kenikmatan surgawi yang telah di janjikan syetan untuk mereka yang mau melakukan sebuah perbuatan yang di larang oleh Tuhan.

Desahan Laras kini berubah menjadi sebuah erangan manja dari seorang wanita yang alim.

“Daaaan… Aku keluar!” Jerit Laras.

“Bareng Bu Haja…”

Seeeeeeeeeeeerrrrrrrr….

Croottss… Crooottsss… Croooottssss…

*****

Di rumah Zaskia…

“Mau sampai kapan kamu gendong Kakak?” Tegur Zaskia.

Rayhan yang tengah terhipnotis oleh kecantikan Zaskia segera sadar dari lamunannya. “Eh, iya Kak!” Jawab Rayhan terbata-bata, dia membaringkan tubuh Zaskia diatas sofa. “Kaki Kakak sakit gak?” Tanya Rayhan, pemuda itu berlutut di lantai sembari melihat kearah pergelangan kaki Laras.

“Gak apa-apa kok Dek! Udah gak sakit?” Ujar Zaskia.

“Serius?” Tanya Rayhan ragu.

Dia meraih kaki Kakaknya, memeriksa kaki Kakaknya kalau-kalau keseleo atau patah. Matanya keatas memeriksa betis mulus Zaskia, hingga akhirnya matanya tidak sengaja melihat secarik kain yang melekat di selangkangan Kakak kandungnya. Sejenak Rayhan terdiam.

Kain segitiga berwarna ungu itu terlihat begitu gemuk, dan berisi. Siapapun yang melihatnya pasti akan memperlihatkan ekspresi yang sama seperti yang di perlihatkan Rayhan saat ini. Ceritasex.site

Tanpa di sadari Rayhan, Zaskia melihat perubahan raut wajah Rayhan yang berbeda dari biasanya. Pemuda itu terlihat begitu tegang dan matanya melebar menatap nanar kearah satu arah, yaitu selangkangannya.

“Ehem… Ray!” Tegur Zaskia. Ia buru-buru memperbaiki posisi gaun tidurnya yang tersingkap.

Wajah Rayhan bersemu merah, ia merasa sangat malu karena baru saja ketahuan tengah mengintip celana dalam Kakaknya. “Eh… Ehmmpsss… Iya ini gak apa-apa kak, gak ada yang cedera kok Kak.” Ujar Rayhan terbata.

“Kan Kakak udah bilang, gak ada yang luka, kamu aja lebay sampe gendong Kakak!” Ujar Zaskia sembari menahan tawa. Ia menurunkan kakinya dari atas sofa. “Tapi terimakasih ya Dek, kamu sudah mau menolong kakak.” Ujar Zaskia seraya tersenyum tulus kearah adiknya.

“Iya Kak, sama-sama.” Jawab Rayhan, sembari berdiri.

Suasana kembali hening, bukan karena apa-apa, melainkan karena pemandangan yang ada di hadapan mereka masing-masing saat ini.

Zaskia tertegun melihat tonjolan yang ada di celana Rayhan yang basah kuyup. Membuat rudal Rayhan tercetak jelas di balik celana hitam yang di kenakan Rayhan. Sekilas Zaskia melupakan posisinya sebagai seorang wanita muslimah dan Kakak bagi Rayhan. Ia terlalu terkesima dengan bentuk rudal Rayhan yang tercetak di celananya.

Ia yakin sangat yakin kalau saat ini Rayhan tengah terangsang hebat. Tapi apa penyebab adiknya bisa terangsang? Apa karena melihat dalamannya barusan.

Mata Zaskia naik keatas, melihat mata Rayhan yang tengah menatap nanar kearah dadanya. Reflek Zaskia menutupi dadanya dengan satu tangan, sembari membuang muka kearah pintu rumah mereka yang telah tertutup rapat.

Rayhan yang tengah menikmati belahan payudara Kakaknya, kembali sadar kalau aksinya kembali ketahuan.

Deegg… Deeggg… Deeeggg…

Jantung Rayhan berdetak cepat, ia sangat malu dan merasa kalau dirinya begitu rendah, bagaimana mungkin ia sampai ketahuan sebanyak dua kali.

Hal yang sama juga di rasakan Zaskia. Seharusnya dia marah seharusnya ia menegur Rayhan dengan cukup keras atas apa yang di lakukan Rayhan saat ini, mengingat dirinya adalah saudara kandungnya. Tapi anehnya, bibirnya keluh dan yang terjadi malah sebaliknya, ia malu karena senang Adiknya mengagumi bentuk tubuhnya.

Cukup lama mereka berdiam diri, tanpa mengatakan apapun, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Kak” “Dek”

Secara bersamaan mereka memanggil satu sama lain sembari saling menatap.

“Kakak duluan.”

“Adek duluan.” Ucap mereka bersamaan lagi.

Sikap kaku mereka membuat kedua malah tertawa dan mencairkan suasana yang tadi sempat tegang. Rayhan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sementara Zaskia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.

“Adek mau ngomong apa?” Tanya Zaskia setelah tawanya reda.

Rayhan menarik nafas perlahan dan menghembuskannya lagi. “Maaf soal tadi Kak.” Ujar Rayhan pelan.

“Gak apa-apa, Kakak maklum.” Jawab Zaskia seraya berdiri. “Hanya saja kakak kaget, Kakak gak nyangkah ternyata kamu cepat gede.” Ujar Zaskia sembari mengucek rambut Rayhan yang basah, membuat sepasang payudaranya terguncang.

Mata Rayhan tidak bisa menahan diri untuk tidak kembali melihat kearah payudaranya.

Setelah puas mengacak-acak rambut Adiknya, Zaskia segera berlalu meninggalkan Rayhan menuju kamarnya. Dan Rayhan masih diam seribu bahasa sembari menatap nanar kearah pantat Kakaknya yang melonggok-lenggok bagaikan model yang tengah berjalan diatas karpet merah.

“Kak Zaskia!” Lirih Rayhan sembari meremas selangkangannya.

Kemudian Rayhan berbalik kearah berlawanan dari Kakaknya. Ia menuju pintu luar rumahnya.

*****

Di dalam asrama…

“Aaaarrrttt….”

Tubuh kolor ijo melejang-lejang sembari menembakan spermanya ke dalam rahim korbannya.

Hal yang sama juga di rasakan Neni, tubuhnya bergetar hebat menyambut orgasmenya. Mulutnya terbuka lebar menyudahi pertahanannya. Pinggulnya sampai terangkat cukup tinggi menyambut datangnya orgasme.

Seeeeeeeeeeeerrrrrrrr…. Plops…

Kolor ijo mencabut rudalnya dari dalam serambi lempit Neni. Dari wajah sangarnya ia terlihat begitu puas setelah berhasil ejakulasi di dalam tubuh sang Santri.

Setelah puas memperkosa korbannya, si kolor ijo segera meninggalkan asrama santriwati. Ia berlari cepat meninggalkan lokasi, dan pada saat bersamaan seseorang tengah melihat dirinya yang menghilang ke dalam rumah seorang penjaga ternak.

“Jangan-jangan!” Lirih pemuda tersebut.

Bersambung… Suasana pesantren pagi ini terlihat begitu tenang, seakan tidak pernah terjadi apapun semalam. Tetapi walaupun begitu, sebagian besar penduduk ponpes Al-tauhid masih sangat khawatir dengan teror mahluk aneh satu bulan belakangan ini. Salah satunya Zaskia.

Ia tengah membahas mahluk aneh itu dengan Rayhan yang tengah menunggu sarapan pagi.

Zaskia menyiapkan sarapan pagi ini dengan telur orak arik yang di padu dengan bermacam jenis sayuran agar tetap sehat untuk di santap. Tidak lupa ia juga menyiapkan nasi kuning sebagai pelengkapnya.

“Mahluk aneh itu belum ada kabarnya?” Tanya Zaskia.

Dia menggeser kursi yang ada di hadapan Rayhan dan duduk dengan perlahan.

Rayhan sempat melihat kearahnya yang pagi ini mengenakan jilbab hoodie berwarna coklat tua, di padu dengan gamis syar’i berbahan arabian crap berwarna abu-abu.

Rayhan mendesah pelan. “Belum ada kabar Kak! Tapi kalau dia muncul lagi akan aku pastikan kali ini ia tidak akan bisa lolos lagi.” Geram Rayhan, seraya tersenyum kearah Kakak kandungnya yang pagi ini terlihat begitu cantik.

“Jangan macam-macam Dek?” Tegas Zaskia.

“Kakak gak perlu khawatir, gini-gini aku juga jago berkelahi.” Kelakar Rayhan, tapi tetap tidak bisa membuat Kakaknya merasa tenang.

Zaskia memotong telur orak-arik menjadi dua kemudian ia berikan keatas piring adiknya. “Dia itu mahluk jadi-jadian. Kakak gak mau kamu sampai kenapa-napa.” Jelas Zaskia, sembari melototi Adiknya, berharap Rayhan mengerti akan kegelisahan hatinya saat ini.

“Apa yang perlu Kakak khawatirkan?” Ujar Rayhan sembari memasukan satu sendok nasi penuh ke dalam mulutnya. “Kita punya Tuhan Kak, dan aku yakin Tuhan pasti akan membantu kita untuk menangkap mahluk aneh itu.” Zaskia mendesah pelan. Ia tau betul sifat Adiknya yang keras kepala itu.

Sejenak ia teringat dengan kejadian semalam, di mana Rayhan yang tak kunjung pulang walaupun hujan turun sangat deras hingga membuatnya sangat khawatir. Bahkan Zaskia nekat keluar rumah demi mencari adiknya.

Tapi kejadian semalam kalau di ingat-ingat sangat memalukan sekali, karena potongan adegan semalam, membuat Zaskia tidak bisa tidur.

“Tapi kamu harus tetap hati-hati!” Ujar Zaskia mengalah.

“Siap Kak.”

Zaskia merenyitkan dahinya sembari melihat kearah piring Rayhan. “Kok sayurnya gak di makan Ray?” Protes Zaskia saat melihat Rayhan menyingkirkan potongan sayur dari telurnya.

Rayhan nyengir. “Kakak kan tau, kalau aku gak suka sayuran!” Jawab Rayhan malas sembari menikmati telur otak arik di dalam mulutnya.

“Sayuran itu sehat! Pokoknya harus di habiskan.” Titah Zaskia tidak mengubris ucapan Rayhan.

Walaupun Rayhan tidak suka sayuran, tapi kalau Kakaknya sudah mengeluarkan titah, Rayhan tidak bisa apa-apa, dia harus menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Sembari menikmati sarapan pagi, Rayhan terus berpikir bagaimana cara menangkap mahluk aneh tersebut.

*****

Sehabis pamit dari Zaskia, Rayhan tidak langsung ke sekolah, melainkan mampir ke rumah Ustadza Dewi yang pagi ini terlihat sibuk membakar daun-daun kering yang semalam berjatuhan di halaman depan rumahnya. Saat melihat Rayhan mendatanginya, Ustadza Dewi tersenyum senang.

Walaupun baru kemarin mereka bertemu dan bercinta habis-habisan, tetap saja Ustadza Dewi selalu merindukan sosok Rayhan yang akhir-akhir ini mengisi cerita hidupnya.

“Loh kok ke sini?” Tegur Ustadza Dewi sembari menyampirkan jilbab segitiga berwarna putih dengan bahan ceruti yang memiliki tekstur yang lembut dan elastis sehingga nyaman untuk di kenakan sehari-hari.

Rayhan berdiri tidak jauh dari Ustadza Dewi. “Jadi aku udah gak boleh ketemu Ustadza lagi nih.” Rajuk Rayhan sembari menendang beberapa daun kering yang ada di dekat kakinya.

“Gitu aja ngambek!” Ustadza Dewi mentoel hidung Rayhan.

Dan pada saat bersamaan Nikita yang telah siap berangkat ke sekolah menghampiri Ustadza Dewi.

Sejenak mereka berdua terdiam, ada rasa takut kalau anak satu-satunya Ustadza Dewi mencurigai kedekatan mereka. Entah apa yang harus di katakan Ustadza Dewi kepada Nikita kalau sampai itu terjadi.

“Mi, Niki berangkat dulu, assalamualaikum!” Gadis cantik berhijab putih itu mencium punggung tangan Ibunya. Lalu ia beralih kearah Rayhan seraya tersenyum. “Ana berangkat dulu ya Kak.” Ujar Nikita sopan.

“Eh iya!” Jawab Rayhan kagok.

Selepas kepergian Nikita, Dewi menatap Rayhan dengan tatapan curiga sembari melipat kedua tangannya diatas dada. Sadar dengan tatapan Ustadza Dewi, membuat Rayhan menjadi salah tingkah.

Ya… Bagaimanapun juga Nikita adalah anak yang cantik sama seperti Ibu kandungnya.

“Duh ngeliatnya sampe segitunya.” Kini Ustadza Dewi yang terlihat merajuk.

Rayhan meriah tangan Ustadza Dewi. “Ada yang cemburu ni.” Goda Rayhan, kemudian ia menggandeng tangan Ustadza Dewi untuk masuk ke dalam rumah Ustadza Dewi.

Setelah berada di dalam rumah, Ustadza Dewi bergegas mengunci rumahnya. Cleek… Dari belakang Rayhan memeluk erat pinggang ramping Ustadza Dewi, sembari menyandarkan dagunya di pundak Ustadza Dewi.

“Ray kangen!” Bisik Rayhan. Tangan kanannya naik keatas membelai payudara Ustadza Dewi.

Mata Dewi terpejam, meresapi sentuhan tangan Rayhan di atas payudaranya. “Nakal…” Umpat Dewi manja, tapi hatinya berbunga-bunga ketika Rayhan mengatakan kalau dirinya sangat merindukannya.

“Aroma tubuh Ustadza selalu membuat Ray gak bisa tidur! Apa boleh Rayhan mencium aroma tubuh Ustadza?” Bisik Rayhan, sembari menghembuskan nafasnya kearah leher Ustadza Dewi.

Ustadza Dewi tersenyum simpul, harus di akui, pemuda yang saat ini tengah memeluknya sangat pintar menyusun kata-kata yang membuatnya melayang. Ustadza Dewi mengayunkan tubuhnya. “Bohong.” Lirih Ustadza Dewi sembari memutar tubuhnya menghadap kearah Rayhan. “Ustadza belum mandi, masak di bilang wangi.” Ujarnya pelan.

Rayhan menyentil hidup Ustadza Dewi. “Yang bilang wangi siapa? Geer. Tadikan aku bilang kalau suka sama aroma tubuh Ustadza, gak bilang wangi.” Goda Rayhan.

Mata Ustadza Dewi melotot, dan pada saat bersamaan Rayhan melepas pelukannya dan lari menuju salah satu kamar yang ada di dalam rumah Ustadza Dewi secara random.

Secepat mungkin Ustadza Dewi mengejar Rayhan hingga ke kamar tersebut.

“Mau lari kemana kamu?” Tanya Ustadza Dewi sembari berkacak pinggang.

Rayhan tersenyum penuh arti, kemudian ia menanggalkan pakaiannya hingga ia telanjang bulat. Mata indah Ustadza Dewi melotot menatap rudal Rayhan yang telah kakuh. Walaupun sudah beberapa kali ia melihat rudal Rayhan, tapi tetap saja Ustadza Dewi mengagumi rudal Rayhan.

Walaupun sudah berusia 39 tahun, tapi jiwa mudanya tetap bergairah, apa lagi kini di hadapannya ada seorang anak yang tampan tengah berdiri di depannya tanpa memakai sehelai benangpun di tubuhnya.

“Ray, kamu…” Ustadza Dewi menggigit bibirnya.

Rayhan berjalan perlahan mendekati Ustadza Dewi, dalam hitungan detik bibir mereka telah menyatu. Kedua tangan Ustadza Dewi memeluk erat pinggang kekar Rayhan, sembari membalas lumatan Rayhan.

Hmmmpss… Hmmppsss… Hmmppsss…

Ustadza Dewi dan Rayhan saling bertukar air liur, tanpa merasa jijik karena harus menelan air liur satu sama lainnya. Kedua tangan Rayhan turun kebawah menangkap pantat Ustadza Dewi yang semok.

Remasan kecil di pantatnya, membuat setetes precum mulai keluar dari lobang surgawinya.

“Aku ingin mencobanya lagi.” Bisik Rayhan.

Ustadza Dewi mengangguk pelan. “Lakukan apa yang kamu mau terhadap tubuh Ustadza, tapi…” Ustadza Dewi mengidarkan pandangannya ke sekitar ruangan kamar. Tampak ada lemari belajar beserta kursinya dan lemari besar kaca berada di pojokan kamarnya.

“Kenapa Ustadza?” Tanya Rayhan.

“Ini kamar Niki, kita pindah ke kamar Ustadza aja ya.” Ustadza Dewi membelai wajah Rayhan.

Mengetahui kalau ini adalah kamar putrinya, membuat Rayhan malah semakin bergairah. Ia membayangkan betapa menyenangkan sekali kalau Nikita tidur diatas sisa-sisa keringat dan spermanya.

Rayhan kembali melumat bibir Ustadza Dewi, sembari mempereteli pakaian Ustadza Dewi hingga ia telanjang bulat, sama seperti dirinya.

“Ray…” Erang Ustadza Dewi.

Tapi Rayhan tidak mengubrisnya, ia menundukkan wajahnya kearah payudara Ustadza Dewi, melahap dan menjilati daging empuk milik Ustadza Dewi. Dia mencucup lembut puting Ustadza Dewi yang kemerah-merahan, membuat sang pemilik tubuh menggelinjang nikmat.

Secara bergantian Rayhan mengekploitasi payudara Ustadza Dewi, sementara telapak tangannya menjelajahi paha mulus Ustadza Dewi.

Mata Ustadza Dewi terpejam, sembari mendengus berat. Ia sadar betul apa yang di lakukan Rayhan saat ini adalah sebuah dosa besar, tetapi ketika hawa nafsu datang, maka akal sehatnya pergi.

Ustadza Dewi menekuk kaki kanannya ketika jari Rayhan membelai pubik serambi lempitnya, turun menuju bibir serambi lempitnya yang telah merekah.

“Oughkk Rayhaaaan…” Desah Ustadza Dewi ketika jari Rayhan menembus lobang serambi lempitnya yang telah basah.

Kedua tangannya meremas kuat seprei tempat tidur anaknya, sembari membanting kepalanya ke kiri dan kanan, meresapi rasa nikmat ketika jari Rayhan mengaduk-aduk lobang serambi lempitnya yang semakin membanjir.

Tidak lama kemudian iapun melolong panjang menyambut orgasme pertamanya.

Creetss… Creetsss… Creetssss…

“Oughkk Ray, ini enak sekali.” Puji Ustadza Dewi.

Setelah nafasnya kembali teratur, kini giliran Ustadza Dewi yang beraksi. Ia menarik tubuh Rayhan hingga berbaring, sementara dirinya menindih tubuh Rayhan.

Sejenak ia menatap wajah tampan Rayhan yang seakan tidak pernah bosan untuk di lihat. Kemudian ia menciumi sekujur wajah Rayhan, dari kening, mata, hidung, bibir dan dagunya. Lalu turun memberi kecupan dan jilatan di leher Rayhan, membuat pemuda itu menggelinjang nikmat.

“Oughkk… Geli.” Rintih Rayhan.

Sembari menjilati puting Rayhan, telapak tangan Ustadza Dewi mengocok rudal Rayhan. Hingga akhirnya yang di nanti-nantikan tiba. Ustadza Dwi melahap rudal Rayhan sembari memainkan buah zakarnya.

Tubuh Rayhan melejang-lejang tak beraturan, sesekali ia mendesis dan sesekali ia melolong nikmat, membuat Ustadza Dewi semakin bersemangat.

“Cukup Ustadza! Aku tidak mau keluar lebih dulu.” Melas Rayhan menyerah.

Ustadza Dewi cekikikan melihat Rayhan yang memelas sanking gak kuatnya. Ustadza Dewi menganggkangi selangkangan Rayhan sembari menuntun rudal Rayhan berada diantara lobang serambi lempitnya.

Dengan sedikit menurunkan pantatnya, ia membiarkan rudal Rayhan menjelajahi lobang syurganya.

“Oughkk…” Lenguh Ustadza Dewi.

“Hangat sekali Ustadza! Oughkk… Enaaaak.” Erang Rayhan merasakan jepitan dinding serambi lempit Ustadza Dewi.

Seraya menggoyangkan pinggulnya Ustadza Dewi menatap Rayhan. “Uhmmss… Enak! Aaahk… rudal kamu memang juara sayang.” Desah Ustadza Dewi, sembari terus menggerakkan pinggulnya naik turun.

Rayhan tidak mau kalah, ia menyambut selangkangan Ustadza Dewi ketika wanita itu menurunkan selangkangannya hingga rudal Rayhan terbenam semakin dalam hingga menyentuh bibir rahimnya. Tubuh Ustadza Dewi telonjak sanking nikmatnya.

Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk…

Suara benturan kedua kelamin mereka menggema ke seluruh ruangan sanking panasnya ketika mereka sedang bercinta, seakan mereka lupa dengan status mereka sebagai seorang guru dan murid. Bahkan demi kenikmatan surgawi, mereka sampai melakukan sebuah perbuatan yang melebihi batas normal antara guru dan murid.

Rayhan sedikit menggeser posisinya hingga ia bisa duduk sempurna. Kini Ustadza Dewi terlihat seakan sedang duduk di pangkuan muridnya.

Wajah cantik Ustadza Dewi yang bermandikan keringat, membuat Rayhan semakin bernafsu, ia meremas-remas payudara Ustadza Dewi yang bergerak tak beraturan mengikuti irama goyangannya.

“Oughkk… Rayhaaaan…” Jerit Ustadza Dewi kesetanan.

Kedua jari Rayhan mencubit puting Ustadza Dewi dan menariknya. “Apakah Ustadza menyukai rudalku?” Tanya Rayhan, sembari memainkan payudara Ustadza Dewi.

“Ya… Ustadza suka sayang! Aahkk… Terus entotin Ustadza sayang, Aahkk… Aaaahkk… Ini enak sekali! rudal kamu besar dan panjang.” Erang Ustadza Dewi, ia melingkarkan tangannya di leher Rayhan.

Bibir Rayhan segera melumat bibir Ustadza Dewi, ia menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Ustadza Dewi dan mencari-cari lidahnya.

Setelah hampir 10 menit mereka bercinta, akhirnya pertahanan Ustadza Dewi jebol. Tubuh indahnya menelikung kebelakang, dengan wajah yang menadah keatas hingga dadanya membusung semakin kedepan.

“Ray? Ustadza sampai.” Jerit Ustadza Dewi.

Rayhan dapat merasakan cairan cinta Ustadza Dewi yang menyelimuti rudalnya yang kini teras lebih hangat. Sebagiannya lagi mengalir keluar.

Pemuda itu memutar tubuhnya masih memangku Ustadza Dewi, dengan perlahan ia merebahkan Ustadza Dewi hingga berbaring. Dengan gaya konvensional Rayhan kembali memompa rudalnya, menubruk serambi lempit Ustadza Dewi yang terasa semakin licin sehingga mempermudah penetrasi rudal Rayhan di dalam serambi lempitnya.

“Oughkk Ray! Aaahk… Kuat sekali kamu sayang.” Rintih Ustadza Dewi yang kembali keenakan.

Rayhan menyeringai sembari mengait satu kaki Ustadza Dewi dengan lengannya, dan menekannya hingga lutut Ustadza Dewi menyentuh payudaranya. Dengan posisi ini, Rayhan merasa rudalnya masuk lebih dalam.

Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk… Ploookkk…

Saat Rayhan merasa ingin sampai, pemuda itu mencabut rudalnya, lalu meminta Ustadza Dewi berganti gaya. Dengan sisa tenaga yang di milikinya, Ustadza Dewi segera merangkak menungging di hadapan Rayhan.

Telapak tangan Rayhan mencengkram pantat Ustadza Dewi hingga tampak lobang anusnya yang mengintip malu-malu.

“Ustadza.” Panggil Rayhan.

Ustadza mendesah pelan. “Lakukan apa yang kamu mau sayang, tubuh ini milik kamu seutuhnya.” Seloroh Ustadza Dewi, sembari membuka lebar kakinya.

“Tahan ya Ustadza.” Bisik Rayhan.

Dia segera memposisikan rudalnya di lobang anus Ustadza Dewi. Dengan perlahan kepala jamurnya menyeruak masuk ke dalam lobang anus Ustadza Dewi yang sebelumnya sudah ia perawani tapi tetap saja terasa legit.

Wajah cantik Ustadza Dewi meringis menahan pedih di lobang anusnya. Kedua tangannya terkepal dengan nafas menderu-deru. Inci demi inci rudal Rayhan mengekploitasi lobang anus Ustadza Dewi.

Dengan gerakan perlahan Rayhan mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur.

“Oughkk… Ray! Terus sayang.” Desah Ustadza Dewi.

Rayhan semakin mempercepat tempo sedokannya ketika ia sudah hampir tiba. “Ustadza… Ouhk… Lobang pantat Ustadza enak bangeeet… Aaahk…. Aaaahkk… Aku mau keluar Ustadza.” Jerit Rayhan keenakan. Ia merasa rudalnya di remas-remas di dalam lobang anus Ustadza Dewi.

“Keluarin sayang! Aaaahkk… Pejuhin pantat Ustadza sayang…”

Croooottss… Croooottss… Croooottss…

Seeeeeeeeeeeerrrrrrrr…

“Oughkk…” Lolong Rayhaan.

Secara bersamaan mereka menggapai menikmatan yang sempurna. Menumpahkan segala kerinduan di hati mereka dengan bentuk kepuasan Duniawi.

*****

Jam istirahat sekolah, Nico, Rayhan, Azril dan Doni berkumpul di salah satu meja kantin yang memang selalu ramai di isi oleh para santri. Terutama ketika awal bulan seperti saat ini, biasanya para santri baru saja mendapatkan kiriman uang jajan dari orang tua mereka.

Tidak lama setelah memesan, seorang pria yang menjaga stand mie ayam mengantarkan pesanan mereka.

“Terimakasih Paklek.” Ujar Azril.

Pria berusia 40 tahunan itu menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan mereka.

“Lo kok tadi telat Ray? Gak biasanya.” Tanya Doni yang tengah mengaduk mie ayamnya.

Rayhan menatap sahabatnya. “Biasa, gue kesiangan, soalnya setiap malam gue begadang.” Jelas Rayhan berbohong, ia tidak mungkin menceritakan kejadian tadi pagi bersama Ustadza Dewi, bisa-bisa ia di bunuh oleh ketiga temannya.

“Begadang mulu Lo, ingat kata Pak Haji Roma irama, begadang itu gak baik.” Seloroh Nico.

“Oh ya, katanya tadi ada yang ingin lo omongin serius?” Tanya Doni, sembari menikmati mie ayam Pakle yang di kenal memang sangat enak.

“Ini soal kolor ijo.”

Azril yang tadi terlalu sibuk mengulangi hafalannya kini terlihat lebih fokus mendengarkan Rayhan. “Apa dia muncul lagi?” Tanya Azril yang tampak penasaran.

Rayhan menganggukkan kepalanya. “Semalam gue lihat mahluk jadi-jadian itu.” Jelas Rayhan, ia menegakkan punggungnya sembari mengedarkan pandangannya, seakan ia sedang memasang sikap waspada.

“Kenapa gak Lo tangkap?” Kejar Azril.

“Tunggu tunggu tunggu.” Lerai Doni. “Kalau memang semalam dia muncul, seharusnya pagi ini pesantren menjadi heboh, tapi nyatanya sekarang adem ayem.” Ujarnya, merasa kalau ada yang janggal dari cerita Rayhan.

Setiap ada korban baru, ponpes Al-tauhid selalu heboh membicarakan kejadian tersebut. Tetapi hari ini, tidak ada tanda-tanda kalau mahluk aneh itu kembali mendatangi ponpes Al-tauhid untuk mendapatkan korban barunya. Dan rasanya juga Rayhan tidak mungkin berbohong.

Rayhan mendesah pelan, ia sendiri juga tidak mengerti kenapa sampai saat ini belum terdengar kabar kalau ada korban baru semalam. Padahal jelas-jelas ia melihat si kolor ijo keluar dari asrama putri.

“Mungkin korbannya tidak mau ada orang lain tau.” Jawab Rayhan deplomatis.

“Lo yakin dengan yang Lo lihat?” Tanya Nico.

Rayhan menganggukan kepalanya, ia sangat yakin sekali kalau semalam aksi kolor ijo kembali memakan korban. “Dan gue juga tau siapa pelakunya.” Lirih Rayhan sembari mengambil gelas es teh miliknya.

“Siapa?” Kejar mereka serempak.

Rayhan menatap satu persatu wajah sahabatnya yang terlihat tegang. Kemudian bibirnya bergerak perlahan menyebut satu nama yang membuat ketiga sahabatnya terhenyak. Seakan ia tidak percaya kalau orang tersebut adalah pelaku utama dari teror kolor ijo selama ini.

*****

Malam harinya cuaca kembali tidak bersahabat, dan tampak mahluk aneh berwarna hijau kembali beraksi. Ia mendatangi asrama putri, dan kali ini targetnya adalah seorang santriwati bernama Asyifa. Gadis cantik bermata coklat itu tengah terlelap di samping sahabatnya Aurel.

Suasana malam yang begitu mencekam, dan di penuhi aura mistis membuat tubuh Rayhan menggigil. Ia berjalan perlahan menuju asrama putri setelah hujan mulai mengguyur pesantren Al-tauhid.

Seperti yang sudah ia duga, dari kejauhan ia dapat melihat sosok mahluk aneh yang baru saja masuk ke dalam asrama putri.

Deg… Deeg… Deegg…

Pemuda itu tau kalau ini tidaklah mudah, tapi ia harus melakukannya demi melindungi Kakak kandungnya dan menjaga nama baik pesantren. Ia yakin cepat atau lambat, mahluk aneh itu akan mengincar Kakaknya.

Sementara di dalam asrama, sang kolor ijo mulai beraksi. Dia meremas kasar gumpalan payudara Asyifa yang berukuran 34D, sangat ranum untuk anak seusianya. Remasan kasarnya, tentu saja membangunkan Asyifa. Gadis cantik itu terperanjat dengan bola matanya yang melotot.

“Astaghfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullah… Ya Tuhan.” Jerit Asyifa ketakutan.

Sang kolor ijo menyeringai dan kemudian dengan kasar ia mencabik-cabik pakaian piyama yang di kenakan Asyifa hingga sobek dan memperlihatkan sepasang payudaranya yang indah, putih mulus dengan puting kemerah-merahan.

Pemandangan itu tersebut membuat air liur sang kolor ijo sampai menetes, bahkan di ujung rudalnya tampak percumnya yang telah keluar setetes.

“Toloong… Tolooong… Toloooong…”

Sayup-sayup dari luar asrama Rayhan dapat mendengar teriakan Asyifa. Tapi anehnya ia merasa kakinya terasa berat, seakan kakinya terpaku diatas tanah.

Dengan nafas memburu dan tubuhnya mulai menggigil, Rayhan memejamkan matanya menenangkan dirinya yang mulai panik dan rasa takut yang luar biasa melandanya. Bagaimanapun caranya mahluk aneh itu harus segera berhasil ia ringkus.

Setelah merasa tenang, dengan melapaskan basmalah Rayhan kembali melangkah dan kakinya kini terasa lebih ringan.

Bruaaak…

Dengan satu kali terjangan, pintu asrama berhasil di dobrak Rayhan, hingga mengagetkan sang kolor ijo dan Asyifa yang terus meronta-ronta.

Ada secercah harapan di wajah Asyifa, dan Rayhan sangat mengerti apa yang di ingin Asyifa darinya. Bibir Rayhan sedikit mengukir senyuman untuk Asyifa, agar gadis muda itu bisa sedikit merasa tenang, kemudian Rayhan mengalihkan pandangannya kearah mahluk aneh tersebut.

Kedua mata mereka bertemu, saling mengintimidasi satu sama lainnya. Jujur saja, kedua kaki Rayhan gemetaran, dan tubuhnya tampak menggigil. Bukan karena hawa dingin, tapi karena tatapan sang kolor ijo yang seakan menusuk hingga ke ulu hatinya.

Aku tidak takut….

Rayhan berusaha sekuat tenaga melawan rasa takut yang secara tiba-tiba menyerangnya. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau manusia jauh lebih kuat di bandingkan mahluk ghaib. Dan usahanya mulai membuahkan hasil, ia mulai mengatur nafasnya kembali yang sebelumnya terasa sesak.

Sementara sang kolor ijo tampak keheranan, melihat wajah Rayhan yang terlihat tidak takut sama sekali.

“Grrrrr….” Sang kolor ijo mengeram.

Kedua tangan Rayhan terkepal erat, kuku-kukunya menancap di kulit telapak tangannya hingga memutih, lalu dengan satu hentakan ia menyerang sang kolor ijo, tapi dengan kibasan tangan kolor ijo tubuh Rayhan terpental hingga keluar asrama.

Asyifa yang melihat kejadian tersebut menjerit ketakutan, ia memeluk tubuhnya dengan sangat erat sembari meneteskan air mata. Entah kenapa, untuk pertamanya kalinya ia takut kalau terjadi apa-apa terhadap Rayhan, pemuda yang beberapa waktu yang lalu pernah mempermalukannya.

“Aarrtt…” Rintih Rayhan.

Di luar asrama Rayhan berusaha berdiri sembari memegang dadanya yang terasa terbakar. Masih dengan tatapan tajam, Rayhan memandang mahluk itu.

Sang kolor ijo melompat keluar, di bawah guyuran hujan deras dia menatap Rayhan, seakan ia ingin memakannya bulat-bulat, membuat siapapun yang melihat mata merahnya akan mati ketakutan. Sebenarnya Rayhan juga merasakan hal yang sama, tapi ia menahannya.

“Dasar manusia bodoh!” Umpat Kolor ijo.

Rayhan menyunggingkan senyumannya. “Mahluk aneh keparat.” Teriak Rayhan ke udara. Ia dengan tangkas menyerang kembali kolor ijo.

Kaki kanannya hendak menerjang kepala kolor ijo, tapi dengan tangkas mahluk aneh itu menepisnya dengan lengannya yang besar. Kemudian tangan kirinya ia dorong ke depan hingga kepalan tangannya masuk ke dalam perut Rayhan. Pemuda itu mundur beberapa langkah sembari memegangi perutnya.

Pukulan sang kolor ijo terasa seperti di hantam pentungan sanking kerasnya. Rayhan meringis menahan sakit di perutnya, bahkan ia nyaris mengeluarkan isi perutnya.

Belum hilang rasa sakit yang di rasakan Rayham, tiba-tiba sang Kolor ijo menendang kepala Rayhan. Tubuh Rayhan berputar sebanyak tiga kali di udara sebelum terhempas jatuh ketanah yang telah menjadi lumpur. Kejadian tersebut tak luput dari penglihatan Asyifa.

“Aaaaasaaaarrrrttttt…” Jerit Asyifa ngeri.

Tangan Rayhan menapak diatas tanah, dan tampak tetesan darah segar mengalir dari hidung dan bibirnya. Tangannya mengusap darah yang keluar dari mulut dan hidungnya sembari menatap tajam kolor ijo yang berjalan mendekatinya, Rayhan berusaha berdiri tapi gagal.

Sang Kolor Ijo mencengkram leher Rayhan, seakan ia ingin meremasnya seperti tengah meremas jeruk nipis. Wajah Rayhan memerah karena kekurangan oksigen.

“Oh Tuhan, apa aku akan mati di sini.” Bisik hati Rayhan.

Saat kesadarannya mulai menipis, tiba-tiba dari belakang seseorang menerjang kolor ijo hingga mahluk aneh itu terpaksa melepaskan cengkeramannya dari leher Rayhan.

Sang kolor ijo yang masih berdiri tegap, membalik tubuhnya ke belakang, sembari menatap marah kearah seorang pemuda yang tak lain adalah Doni. Tidak lama kemudian Nicopun menyusul sembari memegang balok kayu yang besar dan siap menghantam kolor ijo.

“Anak-anak kurang ajar.” Umpat Kolor ijo.

Nico dan Doni saling pandang. “Hei mahluk doyan serambi lempit!” Umpat Doni.

“Mahluk menjijikan.” Timpal Nico.

“Grrrrr….” Kembali sang kolor ijo mengeram.

Dengan secepat kilat ia menghantam tubuh Doni dan dalam sekejap tubuh Doni terpental sejauh dua meter. “Bangsaaaaat….” Pekik Doni ke sakitan sebelum tubuhnya terhempas ke tanah.

“Hiyaaaaa….” Jerit Nico sembari memukulkan balok kayu ke punggung kolor ijo.

Kraaaak…

Tubuh Nico mematung, menatap tidak percaya kearah balok kayu yang ia pegang kini telah patah.

Sang Kolor ijo menatap Nico dengan tatapan dingin, dan sedikit seringaian tajam yang membuat bulu kuduk Nico berdiri hingga kedua kakinya gemetaran. Tanpa bisa berbuat apa-apa, Nico pasrah ketika kolor ijo mengangkat tubuhnya, lalu membantingnya ke tanah.

“Aaghkk…” Jerit Nico pilu.

Rayhan segera berdiri dan menghampiri Nico yang tengah berguling-guling di lumpur.

Sang mahluk hijau itu berjalan menghampiri mereka berdua. Rayhan segera berdiri di depan Nico yang masih mengerang ke sakitan. “Anjing bangsat.” Teriak Rayhan, sembari melayangkan tinjunya ke arah wajah kolor ijo.

Tanpa bergerak sesentipun sang kolor ijo menerima pukulan Rayhan yang sama sekali tidak berasa baginya.

“Auww…” Rayhan meringis menahan sakit.

Sang Kolor ijo menyeringai, kemudian ia mengangkat tubuh Rayhan dan hendak menghempaskan tubuh Rayhan sama seperti yang di lakukan kepada Niko. Tapi dengan cepat Rayhan meraih leher kolor ijo dan menggigitnya sekuat tenaga.

“Grrrrr….” Sang Kolor ijo mengeram marah.

Tubuh besar itu sempoyongan sembari melepaskan Rayhan dari cengkeramannya. Pada saat bersamaan dari belakang, Doni memukul leher bagian belakang kolor ijo dengan balok yang tadi di pegang Nico.

Buuuk…

Sang kolor ijo di luar dugaan berhasil di jatuhkan, ia terjerembab diatas tanah.

Doni dan Rayhan saling pandang, dan kini mereka telah mengetahui kelemahan sang kolor ijo, tapi apakah akan semudah itu bagi mereka mengalahkan mahluk aneh tersebut? Tentu saja tidak, Rayhan dan Nico menyadari hal tersebut, mereka tidak mungkin menang.

Tugas mereka saat ini hanyalah menahan pergerakan sang Kolor ijo selama mungkin yang mereka bisa.

“Grrrrr… Kalian benar-benar mau mati ternyata.” Umpat Kolor ijo kepada mereka berdua.

“Cuih…” Doni meludah darah ke tanah. “Hei mahluk busuk, Lo pikir kita takut.” Ancam Doni sembari menunjuk batang hidung kolor ijo.

“Kemarilah bangsat.” Timpal Rayhan sembari memasang kuda-kuda.

Perbuatan mereka berdua benar-benar membuat kolor ijo marah. Mahluk mengerikan itu segera mendatangi mereka dengan cepat. Doni mengibaskan balok tersebut kearah leher kolor ijo, tapi berhasil di tepis, dan pada saat bersamaan Rayhan menjerjang leher kolor ijo sebelah kanan.

Lagi-lagi tubuh sang kolor ijo di buat sempoyongan tapi kali ini ia tidak sampai jatuh.

Doni kembali maju dan hendak memukul kolor Ijo, dan dengan cekatan Kolor ijo menendang Doni hingga terpental. Melihat temannya yang kembali terkena pukulan, Rayhan segera melayangkan tinjunya, tapi di tangkis oleh kolor ijo dengan mudah, lalu dengan satu pukulan di perut, Rayhan langsung roboh di hadapan kolor Ijo.

“Rayhaaaan.” Jerit Nico.

Hujan turun semakin deras dan tampak kilatan-kilatan petir menghiasi langit malam ini. Ke sanalah mata Rayhan tertuju ketika Kolor Ijo mencekik dan mengangkat tubuhnya ke udara sehingga kakinya tidak lagi menapak.

Kolor ijo mengangkat tangannya dengan jari terhunus kearah perut Rayhan.

Nico dan Doni terkesima melihat kuku panjang Kolor ijo yang seakan siap merobek perut Rayhan dan mengeluarkan seluruh isi dalam perutnya.

“Lariiiii Ray….” Jerit Doni tak berdaya di tengah guyuran hujan lebat.

Sementara Nico memukul-mukul lumpur sembari berteriak tidak jelas. “Bangsaaaaat… Bangsaaaaat… Bangsaaaaat…” Isak tangis Nico pecah melihat nyawa sahabatnya kini berada di ujung tanduk.

Rayhan tersenyum tipis menyambut ajalnya yang seakan sangat dekat sekali. “Gue mati…” Lirih Rayhan nyaris tidak terdengar oleh siapapun.

Sepersekian detik sebelum kuku-kuku panjang itu menusuk perut Rayhan, tiba-tiba tubuh sang Kolor Ijo terpental jauh hingga beberapa meter, dan pada saat bersamaan tubuh Rayhan jatuh keatas tanah dengan mata setengah terpejam, karena kesadarannya yang telah menipis.

Kini di hadapannya Rayhan dapat melihat sekali lagi wajah orang yang amat ia sayangi tengah merangkulnya.

“A-apa aku sudah mati?” Lirih Rayhan.

Wanita itu tersenyum manis. “Gak sayang! Kakak gak akan biarkan kamu celaka.” Bisik Zaskia lembut di telinga Rayhan. “Sekarang istirahatlah, tugas kamu sudah selesai, terimakasih sayang! Kakak sayang Adek…” Ujar Zaskia sembari mendekap erat tubuh Rayhan.

“Aku juga sayang kakak.” Lirih Rayhan yang kemudian tidak sadarkan diri.

Sang kolor ijo menyeringai menatap Zaskia yang malam ini mengenakan gamis berwarna biru muda, senada dengan warna hijabnya. Ia menatap benci kearah kolor yang telah berani melukai adiknya.

Wanita berwajah cantik itu melakukan gerakan yang sangat cepat hingga mahluk aneh itu tidak sempat menyadari datangnya serangan dari Zaskia. Ia melepaskan tapak suci kearah dada kolor ijo dan ajaibnya, serangan Zaskia berhasil membuat kolor ijo terpental bahkan sampai muntah darah.

Sang kolor ijo mengeram marah, saat ia hendak berdiri tiba-tiba segerombolan santri dan para Ustad telah mengepung dirinya yang di pimpin langsung oleh KH Umar yang di dampingi oleh Putranya Azril.

Ya… Tugas Azril adalah mengumpulkan Santri dan para Ustad yang di anggap memiliki kemampuan untuk mengalahkan kolor ijo, sementara Rayhan, Doni, dan Nico bertugas menyergap dan menahan Kolor ijo selama mungkin, sampai bala bantuan datang untuk menangkap mahluk aneh tersebut.

Sadar kalau kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk melawan, mahluk aneh itu mencoba kabur tapi para santri dan Ustad dengan cekatan mengepung mahluk aneh tersebut sehingga tidak ada cela baginya untuk kabur. Kini kolor ijo benar-benar dalam keadaan terjepit.

KH Umar baru saja selesai membaca ayat-ayat suci, lalu dia melemparkan tasbih kearah kolor ijo.

Duaaaarrrr…

Terdengar suara ledekan cukup keras dan di iringi oleh percikan api di bagian dada kolor ijo, yang membuatnya terpental sejauh tiga meter. Ia berguling-guling diatas tanah sembari meronta-ronta tak karuan.

KH Umar dengan santainya berjalan mendekati kolor ijo sembari membaca ayat-ayat suci.

Telapak tangan KH Umar yang telah di makan usia, ia letakan diatas kening mahluk aneh tersebut, membuat mahluk itu merintih kesakitan.

Perlahan tapi pasti, mahluk tersebut kembali ke bentuk asalnya yaitu manusia biasa. Saat pengaruh mahluk aneh itu menghilang, semua santri dan Ustad tampak terkejut mengetahui sosok di balik teror ponpes Al-tauhid satu bulan belakangan ini.

“Mang Burhan!” Jerit mereka.

Pria yang selama ini telah bersekutu dengan kolor ijo itu dalam keadaan sekarat. Dan pada saat bersamaan hujanpun mulai berhenti, menandakan selesai sudah perualangan sang kolor ijo dalam mencari mangsa.

“Astaghfirullah Burhan, kenapa kamu jadi seperti ini.”

Burhan tampak menitikkan air matanya ketika melihat wajah teduh KH Umar. “Maafkan saya Kiayi.” Lirih Burhan, ia mulai terisak.

“Minta maaflah ke pada Tuhan Burhan. Dan bertaubatlah.” Nasehat KH Umar.

“Saya salah, ya Tuhan… Maafkan saya, maafkan hamba mu yang hina ini.!” Jerit Burhan penuh penyesalan.

“Alhamdulillah.” Lirih KH Umar. “Kalian tolong bantu Mang Burhan dan ketiga anak itu, Ustad Yahya, tolong kamu telepon polisi.” Titah sang Kiayi yang langsung mereka patuhi.

Burhan mencengkram lengan KH Umar. “Kiayi…” Lirih Burhan, dari kilatan matanya ia terlihat sangat menyesal. “Te… Terimakasih sudah mau membimbing saya dan menerima saya sebagai murid.” Bisik Burhan, perlahan kesadaran Burhan mulai menghilang, berikut dengan nafasnya yang sudah berhenti.

*****

Enam bulan yang lalu

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak. Keadaan ternyata berkembang jadi semakin sulit setelah usaha rumah makan yang ia bangun bertahun-tahun mengalami kebangkrutan. Ia di tipu oleh sahabatnya sendiri, membuatnya terpaksa menutup bisnisnya.

Dalam keadaan frustasi, ia bertemu dengan gurunya semasa mondok dulu. Atas tawaran KH Umar Burhan bisa tinggal dan bekerja di ponpes Al-tauhid sebagai peternak.

Tentu saja Burham sangat bersyukur atas bantuan dari gurunya yang telah memberi ke sempatkan untuk kembali mengabdi di pondok pesantren Al-tauhid. Hanya saja masalah baru pun kembali muncul.

Istrinya Tari pergi meninggalkan dirinya bersama pria lain yang cukup mapan, membuat Burhan sangat terpukul, ia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mampu memberikan apa yang di minta oleh Istrinya. Andai saja ia masih kaya seperti dulu, ia yakin Tari tidak akan meninggalkannya seperti saat ini.

Burhan bertekad akan kembali menggapai kejayaanmya dan merebut Istrinya kembali dengan cara apapun. Burhan yang telah kehilangan akal sehatnya, memilih persugihan atas saran sahabatnya untuk mengatasi masalah yang ia hadapi saat ini.

Dengan alasan ingin bertemu dengan teman lamanya yang ingin memberinya modal untuk memulai kembali usaha rumah makannya, Burhan pamit kepada KH Umar dan Haja Laras untuk pergi ke kota selama beberapa hari. Dan tentu saja KH Umar sangat mendukung rencana Burhan.

Ternyata tidak muda untuk menemukan gua tersebut, menurut sumber yang di percaya, hanya orang-orang pilihan yang dapat menemukannya, membuat Burhan nyaris putus asa, tapi keinginan yang kuat, membuatnya terus mencari dan mencari, hingga akhirnya ia bisa menemukan gua tersebut.

Cobaan-demi cobaan di lalui Burhan, selama bersemedi ia merasa tubuhnya seakan terbakar bara api, lalu berganti diterpa hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam tulangnya.

Belum lagi gangguan-gangguan hewan kecil yang beracun, yang kapan saja siap membunuhnya.

Tetapi keteguhan hati Burhan, berhasil membuatnya bertahan walaupun harus di akui kalau dirinya sangat tersiksa selama bersemedi di dalam gua.

Sudah hampir dua minggu Burhan bersemedi di dalam gua, dan selama itu juga Burhan tidak meminum dan memakan apapun, membuat bobot tubuhnya turun drastis, sekilas ia terlihat seperti mayat hidup. Tetapi walaupun begitu ia tetap bersabar dan terus bersabar, hingga memasuki Minggu ke kelima barulah sosok Mbah Sugeng menampakan dirinya di hadapan Burhan.

Bentuk tubuh Mbah Sugeng sangat mengerikan, tubuhnya memang berbentuk manusia, hanya saja tubuhnya dua kali lipat lebih besar di bandingkan dengan manusia pada umumnya, perutnya membuncit, dan kulitnya berwarna hijau terang dan bersisik, dan matanya yang tajam berwarna merah darah. Penampakan Mbah Sugeng membuat Burhan ketakutan setengah mati, tubuhnya bergetar hebat, dengan peluh yang kini membanjiri tubuhnya.

“HAI ANAK MANUSIA, KENAPA KAMU MEMANGGILKU? APA KAMU SUDAH BOSAN HIDUP?” Suara Mbah Sugeng penunggu gua Ambar menggemah, menggetarkan dinding gua, membuat beberapa potongan batu kecil berjatuhan, membuat Burhan makin ketakutan. Ceritasex.site

Mendengar suaranya saja sudah membuat tubuh Burhan menggigil ketakutan. “Mohon ampun Mbah Sugeng! Kedatangan saya kemari ingin meminta petunjuk dari Mbah Sugeng.” Dengan kedua tangan yang di tungkup di depan dadanya, Burhan membungkukkan tubuhnya.

“HAHAHA… BERANI SEKALI KAMU MEMINTA PETUNJUK DARIKU, APA KAMU TIDAK TAKUT DENGANKU?”

“Mohon ampun Mbah, hamba tidak berani Mbah!”

“HMMM… PENTUNJUK APA YANG KAMU INGINKAN WAHAI ANAK MANUSIA?”

“Mohon ampun sebesar-besarnya Mbah, Ananda hanya ingin meminta petunjuk agar cepat menjadi orang kaya! Sekiranya Mbah Sugeng mau memberi petunjuk untuk Hambamu yang hina ini.” Ujar Burhan dengan bibir gemetar ketakutan.

“HAHAHA… DASAR MANUSIA HINA.” Umpat Mbah Sugeng, seraya memamerkan gigi taringnya yang panjang dan kehitaman. “AKU AKAN MEMBANTUMU, HANYA SAJA ADA BEBERAPA SYARAT YANG HARUS KAMU LAKUKAN? APAKAH KAMU SANGGUP MEMENUHI SYARATNYA?” Jelas Mbah Sugeng, Burhan menganggukkan kepalanya.

“Apa yang harus Hamba lakukan Mbah?”

“KAMU HARUS MENDAPATKAN SEORANG WANITA CANTIK DAN SEGAR UNTUK AKU TIDURI, KALAU KAMU GAGAL… SAYA AKAN MENGAMBIL SEMUA YANG KAMU MILIKI, TERMASUK NYAWAMU.” Ujar Mbah Sugeng.

“Saya siap melaksanakannya, hanya saja bagaimana caranya agar saya bisa mendapatkannya.”

“HAHAHAHA…” Tawa Mbah Sugeng kembali bergemah. “SAYA TAU APA YANG KAMU KHAWATIRKAN WAHAI HAMBAKU, MASALAH ITU KAMU TIDAK PERLU KHAWATIR, TUGASMU HANYA MENCARI SOSOK WANITA YANG PANTAS UNTUKKU, DAN MEMBAKAR FOTONYA DI CAMPUR DENGAN DARAH AYAM HITAM.” Jelas Mbah Sugeng membuat hati Burhan sedikit tenang.

“Terimakasih Mbah!”

“HHMM… APA KAMU SANGGUP MELAKUKANNYA?” Mbah Sugeng kembali bertanya.

“Tentu Mbah, saya sanggup.” Lirih Burhan.

“SEKARANG PULANGLAH, DAN PERSIAPKAN TUMBAL PERTAMAMU UNTUKKU.” Perintah Mbah Sugeng, dan dalam sekejap Mbak Sugeng menghilang dari hadapan Burhan.

Sepenghilangnya Mbah Sugeng, Burhan bergegas meninggalkan tempat di mana ia bersemedi selama beberapa hari ini. Ia sangat senang, karena akhirnya ia menemukan solusi dari masalahnya, walaupun ia nyaris mati berdiri sanking takutnya.

Bersambung… Tiga hari berlalu begitu saja, sementara Rayhan masih terbaring di rumahnya. Sejenak Rayhan kembali teringat dengan kejadian malam terkutuk yang nyaris merenggut nyawanya. Andai saja saat itu Kakaknya tidak datang menolongnya, mungkin saat ini Rayhan menjadi salah satu penghuni neraka.

Pemuda itu tertawa di dalam hatinya, mengingat dirinya yang berencana menjaga Kakaknya, malah sekarang menjadi kebalikannya. Rayhan lupa, kalau Kakaknya pernah bergabung di salah satu perguruan tapak suci, dan pernah juara nasional antar kabupaten.

Rayhan mendesah bosan. Sudah tiga hari ia tidak kemana-mana hingga ia nyaris mati bosan. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Zaskia yang memintanya untuk beristirahat total.

Ketika ia sedang sibuk melamun tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan tampak Zaskia masuk sembari membawa sepiring bubur untuknya. Baru melihatnya saja Rayhan sudah merasa eneg. Ia merasa bosan karena sudah tiga hari ini ia di suguhi bubur dan sop.

“Makan dulu Ray!” Ujar Zaskia sembari meletakan makanan diatas meja belajar Rayhan.

Dari belakang Rayhan dapat melihat jelas cetakan celana dalam Zaskia di balik gamis syar’i yang di kenakannya, ketika ia sedikit membungkuk. “Nanti aja Kak!” Jawab Rayhan singkat, ia menggeser posisi tidurnya.

“Kalau kamu gak makan, kapan bisa sembuhnya.” Protes Zaskia.

Ia duduk di samping kepala Rayhan sembari menyilangkan kakinya. Telapak tangannya yang halus menyentuh kening Rayhan, memastikan kondisi Rayhan saat ini. Ia sedikit merasa lega karena panas Rayhan kini telah turun.

Masih teringat jelas di ingatan Zaskia ketika Rayhan di cekik dalam kondisi menggantung. Saat itu ia sangat ketakutan hingga kalap. Bahkan ia menangis sepanjang malam, ketika Rayhan harus menginap di rumah sakit. Tapi untunglah, tidak ada luka dalam yang cukup serius.

Sebagai Kakak Zaskia merasa gagal menjaga adiknya, membuatnya sangat menyesal, karena keegoisan nya, ia menempatkan Rayhan dalam bahaya.

“Ya nanti aku makan.” Ujar Rayhan malas.

Zaskia mengambil piring diatas meja. “Makan sekarang.” Perintahnya kepada Rayhan.

“Masih kenyang Kak.”

“Sedikit saja.” Paksa Zaskia.

Kalau sudah seperti ini, Rayhan hanya pasrah menuruti kemauan Kakaknya. Ia menegakkan punggungnya. Zaskia segera menyuapi Rayhan, sesuap demi sesuap.

Melihat perhatian Zaskia kepadanya, tentu saja ada getaran-getaran halus yang merasuki hatinya. Sembari menyabut suapan Zaskia, Rayhan menatap mata bening Zaskia yang begitu teduh, lalu hidungnya, dan tak luput Rayhan memandangi bibir merah Zaskia.

Tidak terasa piring yang di pegang Zaskia telah kosong. Ia meletakan kembali piringnya di atas meja makan.

“Terimakasih ya Kak.” Bisik Rayhan.

Zaskia masih dapat mendengar bisikan Rayhan. “Sama-sama sayang, jangan buat Kakak khawatir lagi.” Ujar Zaskia sembari mengucek-ucek rambut adiknya, lalu ia menundukan wajahnya untuk mencium kening Rayhan.

Zaskia merenyitkan dahinya ketika mencium aroma tidak sedap dari rambut adiknya.

“Kamu sudah berapa hari gak mandi?” Tanya Zaskia menyelidik.

Rayhan menyeringai masam. “Baru tiga hari Kak.” Jawab Rayhan polos, sementara Zaskia tampak terkejut mendengar ucapan Adiknya. Pantas saja Zaskia mencium bauk apek. Ternyata itu aroma tubuh Rayhan.

“Astaghfirullah Ray!”

“Kakak kan tau, kaki Ray masih sakit.” Ujar Rayhan.

Zaskia yang tadinya ingin marah kini ia malah tertawa kasihan melihat Adiknya. Bahkan hanya sekedar untuk mandi saja Rayhan tidak bisa.

“Biar Kakak yang mandikan kamu.” Usul Zaskia.

“Eh…”

“Gak usah membantah.” Ucap Zaskia memasang wajah galak.

Sebenarnya Rayhan malu kalau harus di mandikan oleh Kakaknya. Mengingat usia Rayhan saat ini yang sudah dewasa, tapi karena tidak ingin membuat Kakaknya mengamuk, akhirnya Rayhan memilih pasrah.

Zaskia segera membantu adiknya untuk berdiri. Dengan bersusah paya akhirnya Rayhan bisa berdiri dengan merangkul pundak Kakaknya. Sebenarnya Rayhan merasa kasihan, mengingat tubuhnya lebih besar dari pada Kakaknya. Tapi Zaskia tetap memaksa.

Setibanya di dalam kamar mandi, Zaskia segera menutup pintu kamar mandi seakan takut kalau ada orang lain yang melihat. Tentu saja dengan tertutupnya pintu kamar mandi, membuat mereka terlihat semakin intim.

Di dalam kamar mandi Rayhan duduk di bangku plastik berukuran kecil.

“Bajunya kok gak di lepas.” Ujar Zaskia melihat Rayhan yang memakai pakaian lengkap. “Sini biar Kakak yang buka.” Zaskia menarik kaos yang di kenakan Rayhan hingga tampak dada bidang Rayhan.

Saat Zaskia hendak menarik celana pendeknya, Rayhan sempat menahan tangan Kakaknya. Tapi tidak berapa lama karena Zaskia buru-buru melototinya.

Dengan perlahan celana pendek Rayhan ketarik kebawah, dan pada saat bersamaan Zaskia tersadar dari apa yang ia lakukan saat ini, ketika matanya melihat rudal Rayhan yang berukuran jumbo keluar dari sangkarnya. Untuk beberapa detik tangan Zaskia berhenti menarik celana adiknya.

Deg… Deg… Deg…

Jantung Zaskia berdebar-debar sanking tegangnya, ia lupa kalau Rayhan kini telah tumbuh menjadi sosok pemuda dewasa. Beberapa detik yang lalu Zaskia masih memandang Rayhan masih seperti anak kecil, tapi kali ini daya tarik seksual yang di miliki Rayhan membuatnya sadar.

“Kok diam Kak?” Tanya Rayhan memasang wajah polos.

“Eh iya…” Zaskia tersadar dari lamunannya. “Kok susah sekali buka celana kamu Dek.” Ujar Zaskia, dengan suara yang terdengar gemetaran, menandakan kalau saat ini ia tengah gerogi.

Di dalam hati Rayhan tersenyum senang, ia berfikir ingin sedikit menggoda Kakak Kandungnya.

Setelah sedikit bersusah paya akhirnya Zaskia berhasil melepas celana adiknya. Ia segera meletakan celana adiknya di dalam keranjang pakaian kotor bersama baju Rayhan. Sejenak Zaskia terdiam membelakangi Rayhan.

Astaghfirullah… Zaskia memejamkan matanya, menenangkan dirinya yang mendadak gelisah.

Walaupun Rayhan adalah adik kandungnya, tapi tetap saja Rayhan seorang pria dan dia seorang wanita. Seharusnya Zaskia menyadarinya sejak awal sebelum memaksa Rayhan untuk mandi. Tapi sekarang sudah terlambat, ia tidak mungkin meminta Rayhan mandi sendiri, karena kondisi tubuh Rayhan yang masih lemah.

“Dia adikku, apa yang salah kalau aku memandikannya? Apa lagi saat ini ia sedang sakit, bukankah sudah menjadi tugasku untuk membantunya? Benar… Kamu tidak salah Zaskia.” Lirih Zaskia di dalam hati.

Setelah merasa tenang, Zaskia kembali berbalik menghadap kearah Rayhan. Dan pada saat bersamaan, matanya kembali tertuju kearah rudal Rayhan.

Deg… Deeg… Deegg…

Ya Tuhan… Itu rudal Rayhan? Serius itu rudal adikku? Ya Tuhan… Besar… Besar sekali… Gemuk… Issstt… Ehmmpsss… Kenapa nafasku jadi sesak. Bisik hati Zaskia sembari melihat rudal Rayhan yang manggut-manggut.

“Kak… Kakak…” Panggil Rayhan.

“Eh, iya dek.” Zaskia tergagap.

Ia buru-buru mendekati adiknya, dan sebisa mungkin ia tidak melihat kearah tubuh telanjang Rayhan. Ia mendekati bak mandi dari samping tubuh Rayhan sembari mengambil gayung yang ada di dalam bak mandi.

“Kak.”

“I-i-iya Dek.”

Rayhan mengulum senyum melihat Kak Zaskia yang terlihat sangat tegang. “Anu Kak! Itu bajunya gak di lepas aja Kak, takut nanti basah.” Ujar Rayhan mengingatkan Kakaknya. Zaskia menunduk melihat pakaiannya, ujung gamisnya sedikit basah karena menyentuh lantai kamar mandi.

Zaskia yang tengah kalut karena keputusannya ingin memandikan adiknya, tanpa sadar menanggalkan gamisnya dan menyisakan tank top berserta celana legging yang membalut sepasang kaki jenjangnya. Bagi Rayhan bisa milihat Zaskia memakai pakaian saat ini saja sudah cukup, tapi di luar dugaan, Zaskia malah membuka tanktopnya.

Zaskia berjalan santai melewati Rayhan yang terdiam seribu bahasa melihat penampilan Kakaknya yang kini memakai bra berwarna biru muda berbahan spandek.

Ia menggantungkan gamisnya di belakang daun pintu kamar mandi, berikut dengan tanktop miliknya. Dan pemandangan selanjutnya, membuat Rayhan nyaris mati berdiri ketika Zaskia sedikit membungkuk di depannya sembari menarik perlahan celana legging yang ia kenakan.

Deeg… Deegg… Deeegg…

Detak jantung Rayhan menjadi tak beraturan, dan nafasnya tampak tersengal-sengal seakan ia baru saja lari meraton. Sedikit demi sedikit celana legging berwarna hitam yang di kenakan Zaskia di tarik lepas, melewati paha mulusnya, lutut, betis hingga akhirnya celana legging itu benar-benar lepas dari kedua kaki jenjangnya.

Kini di hadapannya Zaskia berdiri membelakanginya hanya memakai satu set dalaman berwarna biru muda yang sedikit menerawang.

Mata Rayhan menjelajahi punggung Zaskia yang putih mulus dan terdapat tali pengait bra. Terus turun menatap pinggang ramping Kakaknya, di bawahnya terlihat sedikit belahan pantat Zaskia yang putih mulus, karena celana dalamnya sedikit ketarik kebawah ketika ia melepas celana legingnya.

Tanpa sadar Rayhan menggenggam kemaluannya, sembari menatap nanar kearah pantat itik Kakaknya yang terlihat sangat kencang dan besar, sungguh sebuah pemandangan terindah yang pernah di lihat Rayhan.

Baru beberapa detik Rayhan menatap pantat Kakaknya, tiba-tiba Zaskia memutar tubuhnya.

“Ray.” Lirih Zaskia.

Matanya tertuju kearah rudal Rayhan yang kini telah berdiri sempurna mengancung menghadap kearahnya. Sama seperti Rayhan, yang menatap nanar kearah serambi lempit Zaskia yang terlihat gemuk dan menjiplak di celana dalamnya.

Rayhan mengangkat wajahnya, hingga mata mereka saling menatap selama beberapa detik. Tangan kanan Zaskia mendekap mulutnya, sementara tangan kirinya mengepal tepat diatas gundukan serambi lempitnya.

“Rayhaaaaaaaaaaaaaaaan…..”

*****

Mengingat kejadian tadi pagi, tak henti-hentinya Rayhan ingin tertawa. Ia tidak menyangka kalau Kakaknya sepolos itu. Tetapi walaupun Kakaknya kesal karena termakan omongannya, Zaskia tetap memandikannya, hanya saja Zaskia memakai kembali pakaiannya secara utuh. Alhasil pakaian Zaskia menjadi basah kuyup. Dan selama memandikan Rayhan, Zaskia terlihat sangat gerogi, karena beberapa kali ia harus melihat rudal Rayhan.

Rayhan mendesah pelan, rasa bosan kembali menyelimutinya. Ia ingin sekali bisa keluar rumah, berkumpul bersama teman-temannya, bermain sepak bola dan sebagainya., tapi kondisinya saat ini belum memungkinkan.

“Ray!”

Rayhan melirik kearah pintu kamarnya. “Iya Kak, ada apa?” Tanya Rayhan.

“Ada teman kamu.”

“Suruh masuk aja Kak.”

Zaskia melihat kebelakang. “Masuk aja, Rayhan belum bisa banyak gerak.” Ujar Zaskia memberi tau kepada teman Adiknya.

Saat tamunya masuk ke dalam kamarnya, Rayhan tampak sangat terkejut melihat sosok wanita cantik memakai kemeja putih di padu dengan rok berwarna hijau. Ia tersenyum manis menyapa Rayhan.

Selama ia tinggal di pesantren, baru kali ini ia di kunjungi teman wanita. Dan sialnya, ia keburu memberi izin wanita tersebut untuk masuk kedalam kamarnya yang berantakan.

“Cifa?”

“Apa kabar kamu Ray? Udah mendingan?” Tanya Asyifa sembari duduk di kursi belajar Rayhan .

Dengan bersusah paya Rayhan menegakkan tubuhnya. “Alhamdulillah, udah mulai baikan. Tumben kamu ke sini, ada apa?” Tanya Rayhan penasaran, karena selama ini Asyifa selalu terlihat cuek kepadanya, bahkan beberapa kali Asyifa menatapnya dengan tatapan benci.

“Jadi aku gak boleh jenguk kamu?”

“Bukannya begitu, tentu aku senang kamu mau datang ke sini, itu artinya kamu sudah gak marah lagi sama aku.” Ujar Rayhan.

Asyifa tersenyum manis. “Yang bilang aku gak marah siapa? Geer…” Celetuk Asyifa, merubah wajah Rayhan yang tadi cerah kini berubah masam.

“Kirain…”

“Hihihi…” Tawa renyah Asyifa. “Aku gak akan marah lagi, tapi dengan satu syarat.” Ujar Asyifa.

“Apa?”

“Kamu harus cepat sembuh.”

Rayhan kembali tersenyum, ia menyodorkan jari kelingkingnya, Asyifa mengaitkan jari kelingking Rayhan dengan jari kelingkingnya sebagai simbol ikrar janji yang mereka ucapkan. Selagi jari kelingking mereka menyatu, mata mereka saling menatap seraya tersenyum.

Baik Rayhan maupun Asyifa, mereka berdua dapat merasakan getaran-getaran lembut yang menggetarkan hati mereka. Dan tanpa mereka sadari, virus merah jambu telah menyebar ke hati mereka.

“Terimakasih ya Ray!” Lirih Asyifa.

Rayhan tersenyum lembut. “Sama-sama, oh ya mau sampai kapan jari kita nyatu kayak gini? Bukan muhrim loh.” Goda Rayhan, sembari mengedipkan matanya.

Wajah Asyifa mendadak merah merona setelah menyadari kalau jarinya sejak tadi mengikat jari Rayhan, seakan ia tidak rela kalau jari Rayhan terlepas dari jari kelingkingnya. Buru-buru Asyifa membuang jari Rayhan hingga tangan Rayhan terhempas di atas tempat tidur.

“Auww…” Rayhan menjerit kecil.

“Eh… Ma-maaf!” Asyifa reflek berlutut di samping Rayhan, sembari memegangi tangan Rayhan. “Mana yang sakit Ray?” Tanya Asyifa, ia terlihat begitu panik. Wajah panik Asyifa malah membuat Rayhan tertawa.

“Hahaha… Kamu lucu sekali Cifa.” Ledek Rayhan.

Wajah Asyifa terlihat sangat sebal, reflek ia mencubit lengan Rayhan membuat pemuda itu mengasuh kesakitan di selingi tawanya yang terlihat puas setelah berhasil menggoda Asyifa. Begitu juga dengan Asyifa, tanpa ia sadari dirinya pun ikut tertawa lepas. Seakan ia telah lupa kejadian di mana ia hampir kehilangan kesuciannya.

*****

“Burhan sudah di makamkan Bi?” Tanya Laras yang tengah sibuk melipat pakaian di dalam kamarnya.

KH Umar yang baru saja tiba di rumah setelah dua hari ia terpaksa meninggalkan Istrinya dan tinggal di kediaman Mang Burhan sebagai bentuk rasa tanggung jawab dan penghormatan terakhirnya kepada beliau. “Sudah Mi, sehabis di otopsi Burhan langsung di makamkan.” Jelas KH Umar.

“Umi benar-benar tidak menyangkah kalau Burhan bisa bertindak sejauh itu.” Ujar Hj Laras mengingat betapa baiknya Burhan selama ini terhadap keluarga mereka.

“Begitulah manusia Umi.” KH Umar duduk di samping Istrinya. “Tidak pernah puas dengan apa yang di miliki, selalu saja menginginkan lebih dan lebih. Padahal Tuhan sudah memberikan kita yang terbaik yang kita butuhkan saat ini. Andai saja Burhan memiliki harta yang banyak dan Istri cantik, belum tentu Burhan bahagia.” Nasehat KH Umar sungguh mengena di hati Laras.

Kalau di pikir-pikir, apa yang di katakan KH Umar membuat Laras ikut tersentil. Selama ini ia memiliki kehidupan yang normal, memiliki putra dan putri yang membanggakan. Tetapi semenjak hadirnya Daniel, kehidupan nya berubah derastis. Walaupun di bawah ancaman dan pemerkosaan, tetapi Laras tidak memungkiri kalau dirinya juga menikmati ketika Daniel memperkosa dirinya, bahkan dua malam belakangan ini, ia terus memohon kepada Daniel akan menuntaskan birahinya.

Mengingat semua itu membuat Laras sangat menyesal. Dari awal dirinya memang salah, seharusnya saat pertama kali Daniel menyentuhnya, ia telah melaporkan perbuatan Daniel. Tapi Laras malah memilih diam.

Dan sekarang Laras seakan kehabisan alasan untuk melaporkan Daniel ke pihak berwajib atas pemerkosaan yang di lakukan Daniel kepadanya.

“Intinya kita harus selalu mensyukuri apa yang kita miliki saat ini, dengan begitu insyaallah kita tidak akan tersesat.” KH Umar meriah tangan Istrinya, ia menggenggam tangan Istrinya penuh cinta.

Laras tersenyum tipis, ia tau apa yang di inginkan Suaminya saat ini setelah dua hari tidak bertemu dengannya.

Tanpa di minta Laras menanggalkan pakaiannya hingga ia telanjang bulat. Kemudian ia berbaring diatas tempat tidur dengan posisi terlentang. KH Umar yang juga telah telanjang bulat naik keatas tubuh Istrinya. Tidak lupa ia melapaskan doa sebelum meniduri Istirnya.

Saat proses penetrasi di lakukan KH Umar. Laras merasa sangat hambar. Berulang kali ia teringat bagaimana ketika Daniel yang mengaduk-aduk serambi lempitnya, rasanya sangat nikmat dan bikin ketagihan. Berbeda ketika Suaminya yang melakukannya, ia merasa sangat hambar.

Maafkan Umi Abi, mungkin Umi salah satu manusia yang tak pandai bersyukur, dan selalu menginginkan lebih dan lebih. Hingga Umi tersesat seperti saat ini.

****

Siang hari di kediaman Ustadza Dwi.

Ustadza Dwi terlihat sibuk menyapu teras rumahnya. Dan pada saat bersamaan Pak Imbron yang baru saja selesai membuang sampah lewat di depan rumah Ustadza Dwi. Pria berwajah buruk rupa itu tersenyum menyapa Ustadza Dwi, yang di balas dengan senyuman juga.

Masih lekat di ingatan Ustadza Dwi bentuk celana Pak Imbron ketika membantu dirinya memperbaiki atap rumahnya yang bocor. Semenjak hari itu Ustadza Dwi tak pernah bisa melupakannya, ia selalu terbayang-bayang dengan ukuran rudal Pak Imbron.

“Assalamualaikum!” Sapa Ustadza Dwi.

Pak Imbron menghentikan langkahnya sejenak. “Waalaikumsalam Bu Ustadza.” Balas Pak Imbron, seraya memamerkan gigi kuningnya.

“Dari mana Pak?”

“Biasa Bu Ustadza habis buang sampah.” Jawab Pak Imbron, yang tak pernah bosan memandangi wajah cantik Ustadza Dwi yang siang ini mengenakan gamis syar’i berbahan Balotelli. Di bagian depan gamis berwarna ungu tersebut terdapat resleting, dan ada tali pita berwarna putih di bagian pinggangnya.

“Mau mampir dulu Pak.” Ajak Ustadza Dwi.

“Gak usah Bu Ustadza, takut merepotkan.”

“Kok repot, saya malahan merasa sangat senang kalau Bapak mau mampir ke rumah saya.” Bujuk Ustadza Dwi, seakan ia lupa kalau dirinya adalah seorang wanita muslimah yang sangat tidak pantas mengundang pria yang bukan muhrimnya masuk ke dalam rumahnya, ketika suaminya tak berada di rumah.

“Bu Ustadza bisa aja ni.”

Ustadza Dwi tersenyum simpul. “Bener ni gak mau mampir? Padahal baru mau di bikinin kopi spesial loh.” Pancing Ustada Dwi sembari tersenyum penuh arti.

“Serius ni Bu Ustadza? Wa… Saya udah kangen sekali mencicipi kopi Bu Ustadza.” Kelakar Pak Imbron, membuat Ustadza Dwii tertawa renyah mendengarnya. Tapi ia cukup senang karena Pak Imbron akhirnya mau main ke rumahnya.

“Hihihi… Pak Imbron bisa aja! Tapi maaf Pak, masuknya lewat belakang aja ya.”

“Emangnya kenapa Bu Ustadza?”

“Nanti Bapak juga akan tau.” Jawab Ustadza Dwi seraya tersenyum.

Walaupun tidak begitu mengerti maksud Ustadza Dwi, Pak Imbron cukup senang bisa bertandang kembali ke rumah Ustadza Dwi. Ia bersiul ringan sembari mengitari rumah Ustadza Dwi. Setibanya di depan pintu belakang rumah Ustadza Dwi, Imbron hendak mengetuk pintu tersebut, tapi baru sekali ketuk, pintu itu terdorong ke dalam.

Ternyata pintu rumah Ustadza Dwi tidak terkunci, dengan begitu Pak Imbron bisa masuk tanpa menunggu Ustadza Dwi membukakannya.

Baru satu langkah masuk ke dalam rumah, Pak Imbron melihat Ustadza Dwi yang tengah membuat kopi.

“Tunggu di depan ya Pak, saya buatkan dulu.”

“Oh iya Bu Ustadza.” Jawab Pak Imbron.

Ia segera menuju bagian depan rumah Ustadza Dwi, dan duduk di sofa sembari menunggu Ustadza Dwi.

Tidak lama kemudian wanita berparas cantik itu datang sembari membawakan segelas kopi untuknya. Dengan sedikit membungkuk kan badannya, Ustadza Dwi meletakan segelas kopi diatas meja.

“Di minum Pak.” Pinta Ustadza Dwi.

Pak Imbron kembali tersenyum. “Terimakasih banyak Bu Ustadza, saya jadi merepotkan ni.” Seloroh Pak Imbron, sembari mencicipi kopi buatan Ustadza Dwi. “Hmm… Ini nikmat sekali Bu Ustadza.” Puji Pak Imbron, membuat Ustadza Dwi sangat senang mendengarnya.

“Aduh Bapak bisa aja ni!” Ustadza Dwi tersenyum renyah sembari menutup mulutnya. “Suami saya aja gak pernah loh Pak, muji kopi buatan saya.” Ujar Ustadza Dwi tersenyum malu.

“Serius Bu Ustadza? Wa… Berarti Pak Ustad tidak ngerti seninya kopi.”

“Ya, sepertinya memang begitu.”

“Ini kopinya enak banget loh Bu, sumpah.” Pak Imbron kembali menyeruput kopi buatan Ustadza Dwi. “Pahitnya pas, manisnya pas, rasa susunya juga pas.” Sambung Pak Imbron sembari mengacungkan jari jempolnya.

“Yang pas memang selalu enak ya Pak.”

“Hahaha, memang benar Bu.”Gelak tawa Pak Imbron.

Ustadza Dwi tersenyum manis, sembari memperhatikan sosok pria paru baya yang ada di hadapannya saat ini. Setiap kali berada di dekat Pak Imbron, Ustadza Dwi selalu terbayang akan pemerkosaan yang di lakukan kolor ijo kepadanya. Bayangan tersebut selalu membuatnya basah.

Diam-diam Ustadza Dwi menyukai sosok Pak Imbron, andai saja Pak Imbron menginginkannya tentu Ustadza Dwi akan dengan senang hati berbagi kehangatan dengan Pak Imbron.

Mata indah Ustadza Dwi turun kebawah, menuju selangkangan Pak Imbron. Mata Ustadza Dwi membeliak ketika melihat kearah resleting Pak Imbron yang terbuka. Ia dapat melihat jelas rudal Pak Imbron yang berbulu lebat, dan seperti yang sudah ia duga, Pak Imbron memang memiliki rudal berukuran sangat besar.

“Ehmmpsss…” Ustadza Dwi mulai gelisah.

Dia memainkan cincin perkawinannya yang melingkar di jari manisnya. Sembari sesekali melihat rudal Pak Imbron yang sangat menggoda imannya.

Pak Imbron yang baru saja kembali mencicipi kopi buatan Ustadza Dwi, tampak heran melihat tingkah Ustadza Dwi yang tampak tidak tenang, berulang kali Ustadza Dwi mengganti posisi duduknya, sembari melirik kearah selangkangannya.

“Bu Ustadza gak apa-apa?” Tanya Pak Imbron.

Ustadza Dwi makin terlihat salah tingkah. “Anu Pak, itunya kebuka!” Jawab Ustadza Dwi. Pak Imbron baru sadar ketika ia melihat resletingnya terbuka dan memperlihatkan kejantanannya.

Buru-buru Pak Imbron menutup selangkangannya dengan kedua tangannya. “Ma-maaf Bu Ustadza, saya lupa kalau resleting saya rusak.” Ujar Pak Imbron merasa bersalah.

“Ehmmpsss… Gak apa-apa kok Pak? Saya yang salah sudah lancang melihat itu Bapak.”

Pak Imbron menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sembari nyengir memamerkan giginya yang tidak rata. Tangannya yang tidak lagi menutupi selangkangannya, membuat Ustadza Dwi bisa kembali melihat rudal Pak Imbron yang berukuran jumbo.

Tapi kali ini Pak Imbron membiarkannya, ia sangat yakin kalau Bu Ustadza menyukai rudalnya.

“Saya malah senang di liatin Bu Ustadza.” Pancing Pak Imbron.

Ustadza Dwi tersipu malu sembari memperbaiki jilbabnya, tapi matanya tak berpaling dari rudal Pak Imbron yang terlihat kaku dan keras. “Bapak bisa aja.” Lirih Ustadza Dwi nyaris tak terdengar sanking geroginya. “Itu aurat Pak, dosa loh kalau di kasih liat ke orang lain.” Sambung Ustadza Dwi.

“Masak si Bu?” Tangan Pak Imbron menarik keluar kemaluannya.

“Astaghfirullah!” Jerit kecil Ustadza Dwi.

Ia mendekap mulutnya, tapi matanya menatap kearah rudal sang petugas kebersihan itu. Ia sangat mengagumi rudal Pak Imbron yang berukuran sangat besar, ia membayangkan betapa nikmatnya kalau rudal besar itu mengaduk-aduk lobang serambi lempitnya.

Tanpa merasa bersalah, Pak Imbron mengocok rudalnya di hadapan Ustadza Dwi.

“Kalau Bu Ustadza mau.” Pak Imbron meraih tangan Ustadza Dwi. “Bu Ustadza boleh pegang.” Dia menarik tangan Ustadza Dwi dan meletakannya di atas rudalnya.

“Astaghfirullah!” Ustadza Dwi menggelengkan kepalanya.

Walaupun masih malu-malu Ustadza Dwi menggenggam rudal Pak Imbron. Dengan gerakan perlahan Ustadza Dwi mengocok rudal Pak Imbron.

Jemarinya yang halus mengusap kepala rudal sang petugas kebersihan. Wajah cantik Ustadza Dwi meringis ketika kulit telapak tangannya menyapu air mazi yang keluar dari ujung lobang kencing rudal Pak Imbron yang terasa hangat, hingga menjalar ke seluruh tubuhnya.

Berulang kali Ustadza Dwi menelan air liurnya, ingin rasanya ia merasakan rudal Pak Imbron di mulutnya. Tapi sedikit harga diri, membuatnya memilih bertahan.

“Besar gak Bu Ustadza?” Tanya Pak Imbron.

Ustadza Dwi menggigit bibir bawahnya. “Be-be-besar sekali Pak! Ehmmpsss…” Ustadza Dwi mendesah pelan.

“Sini Bu dekatan lagi.” Pak Imbron merangkul pundak Ustadza Dwi agar lebih mendekat. “Besar mana di bandingkan milik Pak Ustad?” Goda Pak Imbron, sembari menatap bibir merah Ustadza Dwi.

“Be… Be… Besar pu… Punya… Punya… bapak.” Lirih Ustadza Dwi.

Pak Imbron mendekatkan wajah Ustadza Dwi ke wajahnya. Reflek Ustadza Dwi memejamkan matanya, dan sedikit membuka bibir sensualnya. Nafas Ustadza Dwi mulai tersengal-sengal ketika ia mencium aroma tembakau dari dalam bibir Pak Imbron. Ketika bibir mereka hampir bertemu, tiba-tiba gangguan datang tanpa di undang.

Tok… Took… Tookk…

“Assalamualaikum, Umi.”

Buru-buru Ustadza Dwi mendorong dada Pak Imbron agar menjauh darinya.

Wajah mereka berdua yang tadinya merah padam karena birahi kini mendadak pucat pasi. Tanpa di suruh, Pak Imbron bergegas menuju pintu belakang. Sementara Ustadza Dwi bergegas menuju pintu depan.

Setelah yakin Pak Imbron sudah meninggalkan rumahnya, Ustadz Dwi baru membukakan pintu untuk anak gadisnya, setelah beberapa kali memanggilnya.

“Kok lama Mi?” Tanya Aziza.

“Tadi Umi ketiduran.”

Aziza manggut-manggut, sembari hendak ke kamarnya. Tapi matanya sempat melihat kearah segelas kopi milik Pak Imbron yang tertinggal di meja tamu.

“Ada tamu ya Mi?” Aziza merenyitkan dahinya.

“Oh, itu punya Umi.”

Aziza sempat merasa heran mendengar pengakuan Ibunya, karena setau dirinya Ustadza Dwi tidak suka kopi. Entah semenjak kapan Ibunya jadi suka kopi? Aziza tidak mau ambil pusing, ia segera menuju kamarnya. Sementara Ustadza Dwi tampak menghela nafas lega.

Ia tersenyum tipis sembari menghabiskan kopi sisa Pak Imbron yang baginya terasa nikmat.

*****

Sementara itu, di dalam kamar asrama yang di khususkan untuk seorang Ustadza yang belum menikah. Tampak dua anak manusia berbeda generasi tengah bercumbu mesra layaknya sepasang kekasih. Mereka berciuman sangat panas sembari saling merebah.

Ustadza Wanda dengan perlahan mempreteli kancing kemeja berwarna putih yang di kenakan oleh Muridnya, dia melepas seragam tersebut menyisakan bra berwarna putih.

Telapak tangannya yang halus membelai payudara muridnya yang berukuran 36c, kemudian ia melepas bra tersebut, dan membebaskan payudara Lala dari belenggu bra yang sudah sejak tadi pagi membungkusnya.

“Sssttt… Ustadza!” Desah Lala.

Ustadza Wanda membungkukkan badannya, mencomot salah satu payudara Lala. Sluuuppss… Sluuuppss… Sluuuppss… dia menghisap lembut putingnya.

Mata Lala merem melek keenakan sembari mendekap kepala Ustadza Wanda yang secara bergantian menghisap payudaranya yang ranum. Wajahnya menadah keatas meresapi setiap hisapan putingnya di mulut Ustadza Wanda.

“Sssstttt… Aahkk… Aaahk…” Desah Lala.

“Sayang, kamu duduk di meja Ustadza ya.” Suruh Ustadza Wanda, dan tanpa penolakan Lala duduk diatas meja Ustadza Wanda.

Kedua tangan Ustadza Wanda masuk ke dalam rok hijau yang di kenakan muridnya, lalu dengan perlahan ia menarik celana dalam muridnya dan membuangnya secara sembarangan. Lala mengangkat satu kakinya keatas meja, mempertontonkan serambi lempitnya di hadapan sang Ustadza.

Jemari Ustadza Wanda membelai serambi lempit muridnya yang ternyata telah basah.

Kedua tangannya melingkar di leher Ustadza Wanda, dan tanpa merasa canggung mereka bertukar bibirnya. Saling melumat dan menghisap satu sama lain. Sementara jemari Ustadza Wanda bermain-main dengan bibir serambi lempit Lala yang semakin banyak mengeluarkan pelumas.

“Hmmmps… Hmmmpss… Hmmmmpss…”

Sembari berciuman, jari tengah Ustadza Wanda menerobos masuk ke dalam serambi lempit muridnya. Dengan gerakan perlahan, jemari Ustadza Wanda keluar masuk dengan perlahan.

Sloookkss… Sloookkss… Sloookkss… Sloookkss… Sloookkss… Sloookkss… Sloookkss… Sloookkss…

“Aahkk… Ustadza! Aaaahkk…” Desah Lala keenakan.

Ciuman Ustadza Wanda mendarat di dada bagian atas kanan Lala, terus turun menuju gumpalan daging payudara Muridnya. Lidahnya menari-nari di bagian aurola Lala yang kehitaman, sedikit menyentil puting Lala yang perlahan mulai mengeras, merespon rasa nikmat yang di berikan gurunya.

Bibir tipisnya mencomot puting Lala, menghisapnya dengan lembut, menstimulasi putingnya. Lala mendongakkan kepalanya, sembari menggigit bibirnya. Cerita dewasa ini di upload oleh situs ngocoks.com

“Saya keluar Ustadza!” Jerit Lala.

Pinggulnya tersentak-sentak menyambut orgasme kecilnya, tampak lelehan lendir kewanitaannya mengalir di sela-sela pangkal pahanya.

Mata Lala menatap sayu sang Ustadza, dan kemudian giliran dirinya menanggalkan gamis yang di kenakan Ustadza Wanda hingga sang Ustadza nyaris telanjang bulat dan hanya menyisakan kaos kaki dan jilbab segiempat dengan motif abstrak berwarna merah.

Ustadza Wanda mendekap kepala muridnya yang tengah menyusu diatas payudaranya. Sembari mendesis nikmat, dengan nafas memburu.

“Jilat serambi lempit Ustadza sayang!” Pinta Wanda.

Ia berbaring diatas matras miliknya yang di selimuti seprei berwarna putih. Kemudian ia tiduran terlentang dengan memamerkan serambi lempitnya yang berbulu lebat.

Lala segera bersimpuh di bawah kaki Ustadza Wanda, sembari menciumi paha mulus gurunya. Lidahnya menyapu lembut bibir kemaluan Wanda, menyentil clitorisnya, dan sesekali menusuk lobang serambi lempit Wanda dengan ujung lidahnya, membuat tubuh Wanda menggelinjang nikmat.

Cerita Sex The Beloved Wife Sesion 1

“Oughkk… Yesss… Terus sayang! Aaaahkk…” Erang Wanda. Kedua paha gemuknya menjepit kepala muridnya yang tengah menjelajahi bibir serambi lempit Wanda.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk segera mendapatkan puncak kenikmatannya. Creetss… Creetss… Creetss… Lendir kewanitaannya muncrat hingga membasahi wajah cantik Lala yang tersenyum sumringah.

“Terimakasih sayang!” Bisik Wanda.

Lala tiduran di samping Ustadza Wanda sembari memeluk guru kesayangannya itu. “Sama-sama Ustadza.” Jawab Lala, sembari memejamkan matanya.

Bersambung…

Untuk session 2 akan segera di publish, pastikan tetap kunjungi halaman ini ya. Terima kasih sobat Ngocokers!