
The Beloved Wife (Session 2) – Selamat malam sobat Ngocokers yang setia. Sebelum mambaca cerita dibawah ada baiknya untuk membaca session 1 dengan judul The Beloved Wife (Session 1). Terima kasih bagi para pembaca ngocokers yang setia!
BERMAIN DIKANTOR
Suara Charlotte lantas dibungkam oleh ciuman Elliot. Jenis ciuman memabukkan yang mampu mengacaukan pikiran Charlotte dan membuatnya tak lagi memikirkan hal lain.
Bagi Charlotte, tindakan yang mereka lakukan sekarang ini sangat tidak bermoral. Hari ini adalah hari pertama Charlotte bekerja sebagai anak magang, tetapi dia sudah membiarkan atasannya menyentuh tubuh Charlotte sesuka hati di dalam ruang kantor.
Seandainya ada karyawan yang mengetahui tindakan itu, mereka mungkin akan menganggap Charlotte sebagai wanita murahan yang rela menyerahkan tubuhnya demi mendapatkan posisi tinggi di perusahaan.
Cerita Sex The Beloved Wife (Session 2) Ngocoks Namun Charlotte tidak mempunyai waktu untuk memikirkan hal tersebut. Otaknya terlalu sibuk menerima rangsangan dan mengolah rangsangan itu menjadi sebuah kenikmatan.
Penampilan Charlotte sekarang ini sudah terlihat begitu kacau. Kancing pada kemejanya sudah terlepas semua, beberapa bahkan rusak akibat menerima tarikan kuat dari Elliot, bra yang dikenakan oleh Charlotte ditarik ke atas sehingga dadanya terekspos.
Rok hitam milik Charlotte sudah dibuang entah kemana dan celana dalamnya sudah lama dilucuti oleh Elliot. Satu – satunya pakaian yang masih melekat sempurna di tubuh Charlotte hanyalah stocking hitam selutut yang malah membuat penampilan Charlotte terlihat semakin menggoda.
Perlahan jari – jari Elliot menerobos masuk ke dalam inti Charlotte yang sudah terasa basah dan lembut. “Charlotte, kamu bilang takut ketahuan tapi kenapa sudah sebasah ini?”
Elliot tersenyum, lalu mendekatkan bibirnya di samping telinga Charlotte. “Apa mungkin kamu senang melakukannya di publik?”
“Aku tidak …” ucapan Charlotte terpotong oleh suara desahan tatkala jari Elliot menekan bagian sensitif yang ada di dalam intinya.
Tanpa sadar, Charlotte melebarkan pahanya sehingga ia duduk di antara kaki Elliot. Rangsangan yang diberikan Elliot terus – menerus membuat Charlotte sedikit menggerakan pinggulnya, berharap agar jari – jari itu terus membelai bagian dalamnya dengan cepat.
Begitu Charlotte hampir mencapai puncak, Elliot mengeluarkan jarinya, sehingga Charlotte mengerang frustasi. “Elliot … kenapa berhenti? Kumohon jangan berhenti ..”
Charlotte berusaha menarik lengan kokoh Elliot supaya pria itu kembali menyentuhnya, tapi Elliot tidak memenuhi permintaan Charlotte dan malah berkata, “Kamu ingin aku memenuhi hasratmu?”
Charlotte tidak menjawab, karena terlalu malu untuk mengucapkan kata.
Elliot akhirnya menggoda Charlotte dengan memainkan dada Charlotte. Menjilatnya secara perlahan sampai membuat wanita itu tidak tahan dan memaksakan diri untuk menjawab, “Ya, kumohon …”
“Memohonlah lagi,” ujar Elliot yang ingin mempermainkan Charlotte supaya istrinya berusaha menggoda Elliot.
Charlotte menangkup pipi Elliot, lalu mencium bibir Elliot sambil sesekali melumatnya pelan. Tangannya yang sedari tadi menganggur mulai menurunkan risleting celana Elliot, merasakan adanya benda keras tegak dan menantang.
Tangan Charlotte meremas – remas kecil benda tersebut, membuat Elliot sedikit meringis. Charlotte lantas melepaskan bibirnya dari bibir Elliot, dengan mata yang dipenuhi oleh gairah wanita itu berkata, “Aku mohon penuhi aku, sayang ..”
“Kenapa tidak kau lakukan sendiri bila seingin itu?”
Charlotte menatap Elliot dengan bingung.
Elliot kemudian menuntun Charlotte agar berada di atas bagian selatannya. “Hari ini, bagaimana bila kamu yang berusaha keras sedangkan aku hanya duduk?”
Ucapan Elliot membawa rona merah ke seluruh wajah Charlotte. Pipinya terasa panas dan kepalanya tak mampu mencerna permintaan itu dengan baik.
Elliot menurunkan pinggang Charlotte sehingga kedua inti mereka hampir bersatu. “Apa yang kamu tunggu? Kamu harus bekerja keras untuk mendapatkan kepuasan.”
Pada kenyataannya, Elliot memang bukanlah pria yang lembut saat berurusan dengan masalah ranjang. Dia biasanya senang menggoda wanitanya sampai wanita itu merasa frustasi dan memohon kepada Elliot. Tampaknya, kebiasaan itu tidak kunjung hilang meski sudah bersama dengan Charlotte.
Dengan ragu – ragu dan diselimuti rasa malu, Charlotte perlahan menurunkan pinggungnya, menyatukan bagian inti mereka sedikit demi sedikit. Tiba – tiba saja, Elliot menarik pinggungnya ke bawah dengan kuat, menyebabkan Charlotte terpekik kaget.
Ketika berada di posisi atas, Charlotte merasa bila kejantanan Elliot mampu mencapai bagian terdalam dari diri Charlotte, amenimbulkan rasa sesak sekaligus nikmat yang tak mampu dilukiskan dengan sekedar kata.
Lambat laun, Charlotte mulai menggerakan pinggulnya ke atas dan ke bawah, berusaha menyelubungi bagian selatan dari Elliot dan memuaskan dirinya sendiri.
“Lihat ini, bertingkah malu – malu tapi berakhir bersenang – senang seorang diri. Charlortte apa rasa malumu sudah hilang?”
Charlotte tidak menanggapi, terlalu sibuk bergerak sampai mengabaikan segala hal yang ada di sekelilingnya. Kedua tangannya bertumpu pada pundak Elliot, jari – jari kakinya menekuk setiap kali dia bergerak turun. Napas Charlotte memanas, terdengar putus – putus akibat tak kuasa menahan rangsangan yang diberikan oleh Elliot.
Setelah beberapa saat membiarkan Charlotte bergerak sendiri. Elliot akhirnya menahan kedua paha istrinya dan melebarkan kaki Charlotte sehingga membuat cairan cinta mereka mengalir turun ke paha Charlotte.
“Kamu bisa beristirahat, biarkan aku yang memuaskanmu.”
Charlotte terlonjak tatkala Elliot menghujami bagian dalamnya dengan cepat, membuat Charlotte mencengkram bahu Elliot dengan kuat.
Elliot lantas mencium bibir Charlotte, mengecapnya lembut sampai Charlotte merasa mabuk dan kecanduan. Bagian dalam dari Charlotte terasa penuh, sesak, dan basah, suatu perpaduan yang mampu menerbangkan pikiran Charlotte entah kemana.
Beberapa saat kemudian keduanya sama – sama berada di puncak dan berakhir melepaskan hasrat yang tidak bisa lagi terbendung. Charlotte menyandarkan kepalanya ke bahu Elliot, merasa lemas setelah bergerak terlalu banyak. Kemejanya yang masih melekat di tubuh telah basah oleh keringat sehingga membuat kainnya tampak transparan.
“Elliot, lain kali aku tidak akan menunggumu di kantor,” bisik Charlotte.
Elliot berusaha mengatur napasnya sebelum tertawa pelan. “Jangan salahkan aku, kamu yang mengundang, aku hanya memenuhi undangan.”
Charlotte menggerutu, “Sekarang pakaianku kotor, apa yang harus kukenakan untuk pulang nanti?”
Lembaran pakaiannya telah berceceran di atas lantai, terkotori oleh debu serta jejak – jejak cairan cinta mereka. Melihat pakaiannya yang seperti itu, jelas Charlotte enggan untuk memakainya untuk pulang.
“Aku punya kemeja cadangan di kantor, jadi kamu bisa menggunakannya. Oh, kamu juga bisa memakai mantelku yang panjang sehingga tidak perlu memakai rok lagi.”
Charlotte, “Bagaimana dengan pakaian dalamku?”
Elliot tersenyum saat menanggapi hal itu, “Tidak memakai pakaian dalam juga tidak masalah. Lagipula, hanya aku yang tahu kamu tidak mengenakan apa – apa dibalik mantel.”
“Elliot, aku benar – benar tidak akan menunggumu lagi di kantor!”
Pada akhirnya, Charlotte mengenakan pakaian dalamnya lagi yang sudah kotor karena Elliot kerap mengutarakan pikiran tak senonoh saat mengetahui istrinya tidak mengenakan pakaian dalam.
Bersambung… RAPAT AKHIR TAHUN
Tatkala matahari belum terbit sepenuhnya, Elliot sudah bersiap – siap untuk pergi ke kantor. Dia membaca beberapa catatan penting yang dia tulis di tablet, kemudian memastikan materi presentasi nanti tidak ada yang kurang sedikit pun.
Sebelum berangkat, Elliot menyempatkan diri untuk mencium kening Charlotte yang masih tidur dan meletakkan piring berisikan bagel ke meja di samping tempat tidur. Usai membenarkan selimut Charlotte, Elliot segera berangkat ke kantor.
Sesampainya di kantor, Elliot tanpa sengaja bertemu dengan Johan yang juga baru datang di pagi hari. Mereka biasanya tidak pernah berpapasan karena Johan datang lebih siang dari Elliot, tapi sekarang bisa bertemu karena sama – sama tidak ingin terlambat menghadiri rapat.
Keduanya menyunggingkan senyuman di wajah mereka, meski pada kenyataannya hati mereka saling mencibir satu sama lain. Di kehidupan lampau, Elliot meyakini kalau Johan dan Brianna merupakan orang yang menyuruh pembunuh bayaran untuk memburunya dan Charlotte. Ibu dan anak itu kerap kali menunjukkan bibir permusuhan kepada Elliot sejak dahulu dan selalu senang apabila melihat Elliot jatuh.
Johan dan Brianna pasti sengaja melengserkan Elliot dari ahli waris karena tidak mampu melengserkan Ian yang tidak pernah mempunyai catatan hitam dalam hidupnya. Meski Elliot juga skeptis bila mereka tidak mencelakai Ian setelah dia mati di kehidupan sebelumnya.
“Elliot, aku tidak menyangka kamu akan datang. Ternyata rumor tentang kamu yang menjadi rajin adalah sebuah kebenaran,” kata Johan seraya mengikuti langkah Elliot.
Elliot melirik Johan melalui sudut matanya, kemudian berkata, “Ya, seseorang harus berubah apabila ingin mendapatkan hidup yang layak.”
“Memangnya hidupmu tidak layak sebelum ini? Kamu bahkan hanya perlu meminta Ayah untuk membayar tagihan belanjamu jika tidak punya uang. Elliot, tidakkah lebih menyenangkan mengabaikan pekerjaan dan membiarkan orang lain yang mengurus pekerjaanmu?”
Dibandingkan dengan pertanyaan, perkataan Johan itu terdengar seperti sindiran di pendengaran Elliot.
“Sekarang aku sudah menikah, tidak mungkin masih mengandalkan Ayah. Lagipula Johan, bukankah kamu akan bekerja dengan lebih nyaman apabila tidak merangkap dua departemen sekaligus. Mulai sekarang, mengapa kamu tidak fokus saja terhadap Departemen Infrastruktur I dan membiarkan aku mengurus Departemen Infrastruktur III secara keseluruhan.”
Johan tertawa, “Semua itu tergantung dari keputusan Ayah. Jika dia mempercayaimu, Ayah pasti akan memberikan tanggung jawab penuh kepadamu. Sesungguhnya aku masih tidak mengerti mengapa kamu tiba – tiba merasa perduli dengan perusahaan?”
Keduanya berhenti di depan elevator, sama – sama diam sejenak karena merasa lelah berpura – pura ramah.
Tatkala pintu elevator terbuka, Elliot membalas, “Singkatnya, aku bisa seperti ini karena Ibumu. Jika saja dia tidak memaksaku menikahi Charlotte, mungkin aku tidak akan berubah hingga hari ini. Johan, terkadang musibah bisa menjadi anugrah asal kau menerimanya dengan baik.”
Usai mendengar itu, Johan menekuk wajahnya dan hanya berdiri di depan pintu elevator.
Elliot menahan pintu untuknya, “Kamu tidak akan masuk?”
Johan tersenyum, “Kurasa aku meninggalkan sesuatu di mobil, jadi kamu bisa naik lebih dahulu.”
“Baiklah. Oh ya, jika kamu bertemu dengan Ibumu, sampaikan rasa terima kasihku untuknya. Dia pasti begitu menyayangiku sampai bisa menikahkan aku dengan seorang wanita yang sangat manis.”
Sebelum pintu elevator tertutup, Elliot bisa melihat ekspresi Johan semakin buruk. Saudara tirinya itu pasti sangat kesal saat mendengar musibah yang ia datangkan ke kehidupan Elliot malah membuat kehidupan Elliot lebih baik.
Di masa depan, mungkin Johan dan Brianna akan melakukan hal lain untuk menjatuhkannya.
Dua jam kemudian, seluruh karyawan yang berkepentingan hadir di dalam ruang rapat. Mereka semua terdiri atas para pemegang saham, jajaran direksi perusahaan, dan para ketua departemen. Di dalm LNG Corporation, setidaknya ada 10 departemen, terbagi atas 7 departemen konstruksi – konsultan dan 3 departemen perencanaan kota.
Elliot perlu menempati peringkat 3 teratas jika ingin menstabilkan jabatannya sekarang. Departemen perencanaan kota tidak begitu masuk perhitungan Elliot karena mereka mengerjakan proyek dalam skala luas, sehingga seringkali tidak memenuhi target tahunan sebab memiliki banyak kendala. Persaingan jauh lebih ketat di antara departemen konstruksi karena menangani proyek yang mirip sehingga seringkali dibandingkan satu sama lain.
Dari kejauhan, Elliot melihat Ian baru saja datang dan duduk di kursi wakil direktur utama. Pria itu sempat mengangguk kepada Elliot untuk menyapa dan Elliot membalasnya dengan senyuman. Ceritasex.site
Ketika seluruh orang yang berkepentingan telah hadir, Arthur akhirnya membuka rapat. “Selamat pagi semuanya, hari ini kita akan melakukan evaluasi terkait perkembangan dari masing – masing departemen.
Setiap departemen akan dinilai berdasarkan capaian target, kekompakan divisi di dalam departemen, dan kemampuan kepala departemen dalam menangani masalah. Departemen yang berada di dua peringkat akhir akan menjalani pelatihan selama tiga kali. Jika sudah dimengerti, maka setiap kepala departemen bisa memulai presentasi secara bergantian.”
Kemudian setiap kepala departemen mulai melakukan presentasi satu demi satu. Mereka menjelaskan segalanya dengan rinci dan penuh kehati – hatian, karena ingin menjaga reputasi departemennya di hadapan para petinggi dan pemegang saham besar.
Sejak awal memasuki ruangan, Elliot tidak bisa berhenti minum air karena merasa gugup. Dia terus membaca materinya berulang kali, memastikan tidak ada satu pun kekurangan agar tidak membuat Arthur kesal kepadanya.
Bisa dibilang, ini adalah kali pertama Elliot mempresentasikan perkembangan departemennya dengan serius. Dahulu, dia kerap kali asal – asalan saat berada di rapat atau bahkan tidak datang sama sekali karena malas. Jadi wajar bila para petinggi tidak pernah mengharapkan hal baik datang dari Elliot hingga saat ini.
Setelah menunggu selama beberapa jam, akhirnya tiba waktunya bagi Elliot untuk maju ke depan ruangan. Dia menghela napas sejenak dan berusaha menenangkan hatinya sebelum mulai mengarahkan laser ke layar proyektor.
“Saya selaku kepala Departemen Infrastrukrur III akan mulai memaparkan segala kendala dan perkembangan yang kami hadapi selama satu tahun terakhir,”
Pertama – tama, Elliot lebih dahulu menyebutkan seluruh masalah yang dia hadapi di dalam Departemen Infrastruktur III. Masalah paling berat yang dihadapi oleh departemen tersebut adalah masalah korupsi dari tiga ketua divisi di pembangunan proyek Hotel Arvi.
“Setelah memindai banyak data dan mengecek keadaan lapangan. Saya menemukan kecurangan dilakukan oleh manajer lapangan, ketua divisi keuangan, dan ketua divisi quality control dalam proyek Hotel Arvi. Setidaknya mereka bertanggung jawab atas penggelapan dana sebesar tiga juta dollar.”
Ungkapan Elliot membuat beberapa petinggi yang belum mengetahui hal itu terkejut dan berpikir bahwa Elliot tidak becus dalam mengawasi karyawan di bawah naungannya dengan baik.
Karena melihat adanya kericuhan, Elliot segera menambahkan. “Sekarang ini mereka sudah menjalani sidang pengadilan dan seluruh aset kekayaan mereka telah disita untuk membayar ganti rugi kepada perusahaan. Dari hasil penyitaan properti merekalah, kita bisa mendapatkan kembali dana sebesar dua juta dollar. Memang tidak sepadan, tapi setidaknya lumayan banyak untuk dikembalikan.”
Perkataan Elliot ada benarnya. Meski dana yang kembali tidak sepadan dengan kerugian, setidaknya dia mampu mengembalikan hampir 70 persen dana ke kantung perusahaan.
Citra buruk Elliot perlahan mulai melebur dan para petinggi tidak lagi memandangnya seburuk itu.
Setelah membicarakan seluruh permasalahan yang dihadapi oleh Departemen Infrastruktur III beserta solusinya. Elliot mulai menjabarkan satu – persatu pencapaian yang telah ia dapatkan belakangan ini.
“Dari 5 proyek yang departemen tangani. Tiga diantaranya sudah mencapai tahap finishing, sehingga bisa mulai buka secara resmi pada awal – awal tahun. Satu proyek baru masuk ke tahap finishing dan satu proyek lain mengalami kendala dalam pembangunannya.”
Elliot lantas menjelaskan perkembangan semua proyek itu secara menyeluruh. Di anrara departemen lain, Departemen Infrastruktur III adalah departemen yang menangani proyek paling sedikit. Hal ini karena Elliot selalu saja tidak bisa mendapatkan tanda tangan dari Johan dan Johan juga seringkali tidak dapat ditemui.
Namun, ternyata karena proyek yang ditangani oleh Elliot hanya sedikit, dia jadi tidak mempunyai banyak kendala seperti departemen lain. Dan dari situlah, para petinggi menganggap Elliot sangat kompeten karena tidak mempunyai banyak masalah terkait proyek.
Sampai akhir presentasi, Elliot bisa melihat wajah Johan berangsung – angsur menghitam karena merasa marah dan kesal atas pencapaian yang telah dia peroleh.
Diam – diam Johan merutuki Brianna yang tanpa sengaja telah mengubah kepribadian Elliot menjadi lebih baik, sehingga dia bisa bersaing bersama Johan.
Bersambung… SUAMI MENOLAK PEKERJAAN
Di akhir rapat Arthur mengumumkan peringkat dari seluruh departemen. Pria itu melangkah maju ke depan ruangan dengan wajah tersenyum, mungkin terlalu senang karena putra liarnya benar – benar telah berubah.
“Hasil rapat hari ini cukup memuaskan, ada banyak departemen yang mempunyai banyak kemajuan dibanding dengan rapat tahun lalu. Aku akan mengumumkan 3 peringkat teratas, 3 departemen ini berhak untuk menerima bonus tambahan dari perusahaan. Peringkat pertama di duduki oleh Departemen Infrastruktur I, Peringkat kedua di tempati oleh Departemen Infrastruktur V.”
Arthur memberikan jeda sebentar untuk mengumkan peringkat ketiga dan hal itu cukup membuat Elliot menjadi gugup. Jika dia gagal mendapatkan tiga peringkat besar, maka dia tidak akan mampu mengusir Johan dari urusan departemennya dan hal itu akan membuat kinerja Elliot menurun.
Tapi, dia bisa bernapas lega tatkala Arthur berkata, “Peringkat ketiga diduduki oleh Departemen Infrastruktur III. Selamat untuk ketiga departemen, bonus perusahaan akan segera dimasukkan ke dalam kas departemen kalian besok.”
Suara tepukan tangan yang meriah membanjiri ruang rapat. Kebanyakan dari mereka tidak merasa heran dengan prestasi dua departemen teratas, tapi mereka begitu terkesan dengan kenaikan departemen naungan Elliot yang meroket tinggi.
Euforia itu berlangsung selama beberapa saat sebelum Arthur kembali mengumumkan sesuatu. “Sebelum meninggalkan rapat, aku mempunyai sesuatu yang ingin di sampaikan. Satu minggu yang lalu, perusahaan ini mendapatkan tawaran untuk mengelola proyek Mixed Use Building yang berada di wilayah pusat Kota New York.
Lahan dari proyek ini luasnya sekitar 6 hektar, bisa dibilang lahan tersebut sangat luas dan tentunya memerlukan keterampilan khusus untuk menangani proyek ini. Oleh karena itu, aku ingin menawarkan proyek ini kepada tiga peringkat teratas, siapa yang sekiranya ingin mengambil proyek ini?”
Secara reflek, Johan dan Kepala Departemen V sama – sama mengangkat tangannya secara bersamaan. Perilaku mereka sudah sewajarnya begitu, karena proyek ini bisa menjadi batu loncatan mereka untuk mendapatkan kepercayaan Arthur serta para petinggi lain.
Hanya Elliot yang tidak mengangkat tangannya, wajahnya juga tampak tidak berminat untuk mengambil proyek tersebut.
Arthur menatap Elliot dengan heran, lalu bertanya, “Elliot, apa kamu tidak menginginkan proyek ini sehingga tidak mengangkat tangan?”
Elliot membalas dengan sopan, “Saya bukannya tidak menginginkan proyek ini. Tapi saya merasa belum layak untuk menanganinya, saya telah membuat banyak kekacauan di masa lalu dan sekarang sedang sibuk untuk membereskan semua kekacauan itu. Jadi, saya memutuskan untuk fokus terhadap proyek yang sedang saya tangani selama beberapa bulan ke depan sebelum mengambil proyek besar.”
Arthur mengerutkan keningnya. “Sebagai seorang kepala departemen, seharusnya kamu tidak menyia – nyiakan kesempatan seperti ini. Bukankah proyek besar ini bisa menjadi batu loncatanmu untuk menaikkan peringkat departemen kamu?”
“Saya tidak terburu – buru dalam menaikkan peringkat, sehingga tidak masalah bila kepala dari departemen I atau V yang mendapatkannya.”
Jawaban dari Elliot sudah benar, tapi terdengar sangat tidak memuaskan di pendengaran Arthur. Dia merasa putranya itu terlalu pesimistik dan tidak percaya diri, dua sifat yang seharusmya tidak dimiliki oleh ketua departemen. Padahal Arthur berharap Elliot bisa mengambil proyek ini agar namanya semakin bersih di hadapan para petinggi.
Walau sesungguhnya Elliot menolak bukan karena karena dia merasa tidak layak, tapi karena dia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain
Di kehidupan sebelumnya, dia pernah bersikeras untuk mengambil alih proyek ini karena ingin membuat Arthur percaya terhadap kemampuannya dan kembali memasukkannya ke daftar ahli waris. Meski banyak dari pemegang saham yang tidak setuju dengan Elliot, Arthur masih memberikan kesempatan kepada Elliot untuk menangani proyek tersebut karena berpikir mungkin putranya sudah berubah.
Tanpa Elliot duga, ternyata proyek ini menjadi awal dari kehancurannya. Tanah dari lahan yang akan dibangun begitu keras dan tidak dapat di bor dengan mudah, sehingga membuat pemasangan pondasi menjadi terkendala.
Karena proyek ini juga dekat dengan pemukiman warga, ada banyak warga yang protes dan meminta ganti rugi atas kebisingan serta puing yang proyek buat. Hal ini menyebabkan Elliot harus mengeluarkan biaya yang sangat besar dan membuat Arthur murka. Alih – alih membuat ayahnya terkesan, Elliot malah membuat Arthur mencabut jabatannya sebagai kepala departemen.
Oleh sebab itu, Elliot memutuskan untuk menyerahkan proyek ini kepada orang lain daripada dia harus menanggung kemarahan Arthur di masa depan. Ceritasex.site
“Baiklah, karena Departemen Infrastruktur III menolak untuk menangani proyek ini. Maka hanya ada dua departemen yang mengajukkan diri. Jika dilihat dari rekaman jejak Departemen I dan V, kalian sama – sama mempunyai kinerja yang sangat baik.
Tapi Departemen V masih mempunyai banyak kekurangan terkait proyek yang sedang dia tangani sekatang, sehingga aku memutuskan untuk menyerahkannya kepada Departemen I. Selamat kepada Johan, kamu bisa segera menemuiku di kantor untuk membicarakan proyek ini secara detail.”
Johan tersenyum senang, dia segera berdiri dari kursi dan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Arthur. Dia sempat melirik Elliot dari sudut matanya dan berpikir bila saudara laki – lakinya itu sangat bodoh sampai menolak proyek ini.
Beberapa saat kemudian, akhirnya rapat secara resmi telah selesai dan semua orang mulai meninggalkan ruangan. Tapi, ketika Elliot ingin pergi, Ian menahan Elliot untuk tetap di dalam ruangan karena ayah mereka ingin menyampaikan sesuatu.
“Elliot, aku masih tidak mengerti kenapa kamu harus menolak kesempatan itu?! Padahal Ayah ingin memberikan proyek ini kepadamu supaya namamu semakin dikagumi oleh para petinggi dan pemegang saham perusahaan.”
Ian turut menimpali, “Kamu yakin alasanmu hanya karena merasa tidak layak?”
Karena percakapan ini tidaklah lebih dari percakapan ayah dan anak, Elliot menjadi lebih santai saat dia menjawab. “Ya, hanya itu. Aku takut tidak mampu menangani proyek itu dengan baik karena masih harus memperbaiki sistem di dalam departemenku.”
Arthur, “Seharusnya kamu bisa lebih percaya diri seperti Johan! Ayah bahkan tidak ingat pernah mendidik kalian menjadi orang yang pesimis!”
Elliot tertawa pelan, “Ayah, selama satu bulan terakhir aku sangat kerepotan untuk membereskan kekacauan yang sudah kubuat. Jadi sejujurnya aku sedang lelah dan berpikir tidak ingin mengambil proyek besar dalam beberapa bulan kw depan.”
BRAK!
Arthur memukul meja di hadapannya. “Jika kamu memang merasa lelah, sekalian saja mengambil cuti!”
“Oh, kebetulan sekali aku memang ingin mengajukan cuti untuk berlibur selama lima hari. Setelah menikah, aku belum pernah pergi honeymoon bersama Charlotte, jadi aku ingin berlibur dengannya di Pulau Maldives. Ayah sebaiknya tidak menolak permintaan cutiku, karena Ayah pasti akan membuat menantu Ayah yang manis menangis karena tidak jadi berlibur.”
Alis Arthur berkedut setelah mendengar perkataan Elliot. Dia berpikir putranya ini sangat kurang ajar kepadanya, “Elliot! Jangan memanfaatkan nama Charlotte untuk mengambil cutimu!”
Pada akhirnya, Arthur menyetujui permintaan cuti Elliot meski dengan kekesalan di hatinya. Karena merasa tidak tahan melihat Elliot, Arthur segera meninggalkan ruangan sehingga hanya menyisakkan Ian dan Elliot di dalam ruang rapat.
Ian menghela napas dan berkata, “Kamu sebaiknya jangan membuat Ayah marah, jantungnya sedang tidak sehat akhir – akhir ini.”
Elliot meringis, “Sifat Ayah itu pemarah, walau aku hanya diam sekalipun dia tetap saja akan berteriak.”
Ian tertawa saat mendengarnya, kemudian mengalihkan topik. “Kamu benar – benar ingin pergi liburan bersama Charlotte?”
“Mhm, aku sudah memesan penginapannya. Aku hanya merasa bersalah bila belum pernah mengajaknya untuk pergi berlibur setelah menikah.”
“Bagaimana dengan kehidupan pernikahanmu sekarang? Apa kamu memperlakukan adik iparku dengan baik?”
Elliot, “Pernikahanku baik – baik saja. Tapi, suasana hati Charlotte sempat buruk karena dia tidak bisa mempunyai anak, meski aku sudah berulang kali berkata tidak apa – apa jika tidak mempunyai anak.”
“Tapi tetap saja dia merasa bersalah. Karena itu, aku mungkin akan mencari ibu pengganti dan melakukan IVF untuk mendapatkan anak.”
Setelah itu, Ian mendengarkan banyak cerita dari adiknya secara seksama, tidak menyela saat Elliot menceritakan beberapa keluh kesahnya selama sebulan terakhir.
“Kamu sudah mendapatkan ibu penggantinya?”
“Belum,” Elliot berkata, “Aku tidak mau memilih sembarangan wanita, setidaknya dia harus bisa kupercaya untuk merawat kehamilannya dengan baik.”
“Jessica pernah mencarikan ibu pengganti untuk temannya yang juga mempunyai masalah dengan rahimnya. Mungkin dia juga bisa membantu kalian.”
Elliot tersenyum dengan senang, “Benarkah? Kalau begitu aku akan mempercayakan hal ini kepada kaka ipar, dia pasti mampu mencarikan ibu yang terbaik.”
“Ya, kami pasti akan membantu kalian sebisa kami.”
Setelah berbincang cukup lama, Ian akhirnya berdiri dan menepuk kepala Elliot dua kali. “Gunakan hidupmu dengan sebaik mungkin, jaga rumah tanggamu dan jangan sampai kembali ke kehidupanmu yang lama.”
Elliot tertegun, Intonasi Ian saat mengatakan hal itu seolah sedang menasihati Elliot untuk menjaga hewan peliharaannya supaya tidak mati. Saudaranya itu benar – benar memperdulikan Elliot dan hal itu membuat hati Elliot menghangat.
“Tentu aku tidak akan kembali bermain – main seperti dulu. Rasanya lebih menyenangkan untuk bermain dengan Charlotte saja.”
Ian tersenyum, kemudian menyerahkan paper bag kepada Elliot. “Untuk Charlotte, Izekiel kemarin memilihkan banyak jepit rambut yang cantik untuk Charlotte. Dia juga meminta kalian untuk main ke rumah kami sesekali.”
Bersambung… SUAMI DAN ISTRI PERGI BERLIBUR
Begitu Elliot sampai di lantai 15, dia berhenti di hadapan meja Sean Thompson. “Sean, besok aku akan melakukan perjalanan bisnis untuk mendatangi pameran arsitektur di Swiss. Aku berpikir akan membawa satu anak magang agar dia bisa mempelajari bidang arsitektur dengan lebih baik.”
Elliot tidak benar – benar berbohong karena di Swiss memang ada pameran arsitektur besar yang biasa didatangi oleh banyak orang dari segala penjuru dunia.
Sean sedikit terkejut, tidak menyangka bila Elliot akan mengajak seorang anak magang untuk pergi ke pameran. “Siapa yang ingin Anda ajak? Bagaimana dengan Morgan Peterson?”
Sean mengira mungkin Elliot akan lebih nyaman pergi bersama pria juga. Tapi ternyata tebakannya salah karena Elliot berkata, “Aku ingin mengajak Nona Baxter. Setelah melihat portofolio Nona Baxter, aku berpikir dia memiliki banyak potensi di masa depan, jadi aku ingin mengajaknya pergi.”
“Anda tidak keberatan membawa wanita?” tanya Sean memastikan. Sejujurnya dia juga enggan membiarkan Charlotte pergi begitu jauh dengan Elliot, apalagi dia pernah mendengar reputasi Elliot yang sering bermain dengan banyak wanita di masa lalu.
“Kenapa harus keberatan?” Elliot berkata, “Nona Thompson tidak perlu khawatir, aku akan memastikan keselamatan Nona Baxter di luar negeri.”
Sean tentu tidak bisa menolak, lagipula dia juga tidak mungkin menyuarakan keraguannya terhadap Elliot.
Setelah berbicara dengan Sean, Elliot juga berbicara dengan Erland untuk melakukan perjalanan bisnis ke Swiss sementara dia pergi ke Maldives. Di saat itulah, Erland berpikir ingin meminta kenaikan gaji karena harus memainkan peran untuk menutupi hubungan atasannya.
*****
Semenjak bangun tidur, Charlotte tidak bisa berhenti tersenyum saat ingat bila dirinya dan Elliot akan pergi jauh ke luar negeri. Seumur hidupnya, Charlotte bahkan belum pernah naik pesawat karena tidak pernah diikut sertakan setiap kali Keluarga Baxter berlibur ke luar negeri.
Ketika Elliot dan Charlotte menunggu kedatangan pesawat di ruang tunggu VIP. Charlotte tidak mampu mengalihkan pandangannya dari tempat parkir pesawat yang berada di balik jendela besar, pesawat – pesawat itu terlihat begitu besar sehingga membuat Charlotte merasa kagum.
“Apa kita akan naik itu?” tanya Charlotte entah untuk keberapa kali.
Elliot tertawa kecil seraya membuka bungkusan kue kering di tangannya. “Bukan, pesawat kita akan datang 20 menit lagi.”
Kue kering tersebut lantas disodorkan ke depan mulut Charlotte, “Makan ini, rasanya manis.”
Charlotte membuka mulutnya, tidak menolak saat Elliot berusaha menyuapinya dengan kue kering. Rasa manis seketika menguar di dalam rongga mulut Charlotte, tekstur kue yang lembut juga membuat Charlotte tidak kesulitan saat memakannya.
“Apa dulu kamu sering pergi menggunakan pesawat?” tanya Charlotte.
Elliot mengangguk sembari membukakan kue kering yang baru. “Ya, kadang untuk perjalanan bisnis, kadang hanya untuk berlibur.”
Jika diingat, sepertinya Elliot juga sering pergi berlibur dengan Irene di masa lalu. Saat mengingat wanita itu, Elliot sedikit merinding karena tidak habis pikir dengan kebodohannya sendiri yang mau memadu kasih dengan wanita penuh tipu daya itu.
Charlotte, “Pasti menyenangkan. Aku belum pernah pergi jauh sebelumnya.”
Elliot terhenyak saat mendengar hal itu, kemudian berpikir bila Keluarga Baxter memang bajingan sampai tidak pernah mengajak salah satu anaknya untuk berlibur.
Pria itu mengusap kepala Charlotte, jepit rambut yang terbuat dari mutiara bergoyang setiap kali Elliot menyisirkan jarinya ke helaian rambut Charlotte. “Sekarang kamu bisa sering pergi jauh denganku mulai hari ini.”
Charlotte memejamkan matanya, merasa hatinya berdesir setiap kali Elliot mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
Beberapa saat kemudian, pesawat yang akan mereka tumpangi datang. Elliot lantas menarik koper dengan tangan kiri, sedangkan tangan kananya ia gunakan untuk menggandeng Charlotte. Setelah melalui pengecekan tiket, keduanya melangkah masuk ke dalam tangga belalai yang terhubung dengan koridor pesawat.
“Selamat datang di penerbangan XX, Tuan dan Nyonya Landegre. Semoga perjalanan kalian menyenangkan,” ucap seorang pramugari yang khusus melayani penumpang first class.
Pramugari itu kemudian mengarahkan Elliot dan Charlotte ke area first class yang berbentuk ruangan – ruangan yang saling bersebelahan.
Pramugari menarik pintu geser dari salah satu ruangan, lalu mempersilahkan Elliot dan Charlotte untuk masuk. Kedua mata Charlotte berbinar tatkala melihat interior dari ruangan tersebut. Permukaan lantainya ditutupi oleh karpet berwarna abu – abu, bagian kabin serta meja di dalam ruangan itu terbuat dari kayu yang mengkilap, sehingga menimbulkan kesan hangat untuk penumpang.
Di hadapan pintu masuk, terdapat dua buah kursi pesawat yang harus mereka gunakan saat pesawat sedang take off dan landing. Di samping kursi – kursi itu, ada sebuah lorong panjang yang ternyata menghubungkan ruang depan dengan sebuah kamar tidur yang dilengkapi dengan satu tempat tidur besar, satu televisi, dan sebuah kamar mandi kecil.
Alih – alih merasa naik pesawat, Charlotte malah berpikir dia sedang berkunjung ke sebuah kamar hotel mewah.
“Tuan dan Nyonya bisa memanggil kami apabila membutuhkan sesuatu, kami pasti dengan cepat akan langsung datang dan berusaha memenuhi permintaan Tuan dan Nyonya.”
Elliot tersenyum dan mengangguk, “Kami mengerti.”
Setelah pramugari itu meninggalkan ruangan, Charlotte segera melompat untuk memeluk Elliot dengan erat. Senyumannya terangkat begitu tinggi sampai deretan giginya terlihat. “Elliot, tempat ini sangat bagus. Bahkan kita bisa berbaring di tempat tidur saat sedang terbang.”
Elliot membalas pelukan Charlotte, lalu tertawa. “Kamu senang?”
“Tentu saja senang,” Charlotte mencium leher Elliot yang ada di samping wajahnya, kemudian berbisik. “Aku pasti pernah melakukan sesuatu yang sangat baik di kehidupan lalu sampai bisa menikah dengan kamu.”
Elliot tertegun, matanya sedikit meredup saat mendengar ucapan Charlotte. “Ya, kamu sangat baik di kehidupan lampau.”
Terlalu baik sampai Elliot masih tidak mampu melunturkan rasa bersalahnya hingga sekarang.
Karena merasa intonasi suara Elliot agak aneh, Charlotte akhirnya melepaskan pelukan mereka dan bertanya. “Ada apa?”
Buru – buru Elliot tersenyum dan mencium bibir Charlotte. “Tidak apa – apa. Sekarang duduklah di kursi, pesawatnya akan segera terbang sebentar lagi.”
Sekitar 15 menit kemudian, pesawat yang mereka tumpangi meninggalkan landasan bandara, terbang melintasi gumpalan awan putih dan bergerak secara konstan tatkala sudah mencapai ketinggian 36.000 kaki dari permukaan tanah.
Karena langit sedang cerah, Charlotte bisa melihat hamparan langit biru dengan sangat jelas. Matanya lantas mengarah ke bawah, memperhatikan gedung – gedung di kota yang sekarang terlihat begitu kecil.
“Kupikir kamu akan takut saat pertama kali naik pesawat,” kata Elliot seraya melepaskan seat belt miliknya dan milik Charlotte, sehingga dia bisa memeluk Charlotte dari belakang.
Elliot meletakkan dagunya di atas bahu Charlotte, matanya turut memperhatikan langit biru yang ada di luar jendela. Suasana hati Elliot sekarang ini sedang tidak menentu semenjak dia mengingat kenangannya di masa lalu dan mengingat segala perilaku buruknya terhadap Charlotte.
Elliot memang tidak pernah melakukan kekerasan fisik seperti memukul ataupun memaksa Charlotte untuk melayaninya di tempat tidur. Tapi dia selalu mengabaikan Charlotte selama bertahun – tahun di masa lalu, bertingkah seolah istrinya hanyalah sebuah bunga pajangan yang tidak penting untuk dilihat.
Dan pada dasarnya, manusia tidak akan sanggup diabaikan selama bertahun – tahun. Tindakan yang dilakukan oleh Elliot pastinya membuat Charlotte merasa sangat tidak dihargai dan terus menyalahkan dirinya sendiri yang tak mampu mempunyai anak.
Charlotte tidak pernah kabur bukan karena dia tidak bisa, tetapi karena Charlotte tidak mempunyai keluarga lain yang mau menampungnya di rumah mereka.
Ketika Elliot tersandung kasus pegelapan dana di kehidupan lalu, semua pelayan serta teman – temannya meninggalkan Elliot. Mereka semua keluar dari ambang pintu rumah dan tidak pernah kembali.
Akan tetapi, Charlotte tidak mengikuti mereka. Wanita itu tidak keluar dari rumah dan meninggalkan Elliot.
Ketika Elliot bertanya, “Kenapa kau tidak pergi?”
Charlotte langsung menjawab dengan pandangan kosong. “Kemana lagi aku bisa pergi selain mengikuti kamu?”
“Elliot,” panggilan dari Charlotte membuat Elliot tersadar dari lamunannya. “Kamu terlihat tidak baik. Apa kamu merasa lelah?”
Elliot tidak lekas membalas, dia menguburkan wajahnya di pundak Charlotte dan berbisik begitu pelan. “Charlotte, apa kamu pernah membenciku saat aku pergi meninggalkan rumah dan mengabaikan kamu?”
Bersambung… ISTRIKU SEBAIK MALAIKAT
Charlotte terkejut, “Kenapa bertanya begitu?” “Hanya ingin tahu sudah sejauh mana aku menyakiti perasaan kamu.”
Charlotte memperhatikan arakan awan di balik jendela, tangannya mengetuk – ngetuk pegangan kursi saat dia berkata. “Aku tidak pernah membencimu.”
Elliot membeku, kedua tangannya yang sedang memeluk pinggang Charlotte bergetar ketika mendengar jawaban dari Charlotte. “Kenapa kamu tidak membenciku?”
Harusnya Charlotte membenci Elliot, begitu benci sampai ingin membakar tulangnya hingga menjadi abu. Harusnya Charlotte merasa kesal setengah mati dengan perbuatan Elliot. Tapi, kenapa wanita itu tidak pernah membencinya?
“Aku bisa mengerti alasanmu membenci pernikahan kita. Bagaimanapun juga, aku adalah duri yang menghalangi langkahmu untuk menjadi ahli waris utama. Aku tidak bisa mempunyai anak, jadi aku memang tidak berharap kamu akan mencintaiku setelah menikah. Semua tingkah lakumu di masa lalu sesuai dengan perkiraanku, jadi aku tidak begitu kecewa.”
Seketika Elliot mengingat kata – kata yang pernah dilontarkan oleh Charlotte sebelum wanita itu meninggal. Ucapannya hampir mirip, baik Charlotte di masa lalu dan di masa sekarang sama – sama lebih memilih untuk menyalahkan kekurangannya sendiri daripada orang lain.
“Tidak apa – apa, aku bisa mengerti alasanmu membenciku selama bertahun – tahun. Bagaimana pun juga, aku tidak mampu memberikan kamu keturunan sehingga kamu tidak bisa mendapatkan ahli waris penuh.”
Charlotte sudah terlalu lama hidup dalam sebuah keluarga yang tak pernah memujinya dan kerap membenci eksistensinya di dunia. Sehingga tak heran apabila dia selalu mempunyai kepercayaan diri yang rendah.
Charlotte tidak pernah membenci Elliot bukan karena dia berhati malaikat, tetapi karena dia lebih memilih untuk membenci ketidakmampuannya sendiri alih – alih membenci sikap buruk orang lain.
“Maaf, Charlotte,” Elliot berkata pelan, “Aku benar – benar minta maaf.”
Charlotte perlahan mengusap kepala Elliot. “Kenapa meminta maaf terus? Kamu hanya mengabaikanku selama satu minggu, bukan sepuluh tahun. Jadi tidak perlu begitu merasa bersalah. Lagipula, tinggal di rumahmu juga tidak buruk, aku bisa makan dengan lebih layak dan mendapatkan kamar tidur pribadi.”
Tapi, Elliot memang pernah mengabaikannya selama sepuluh tahun.
“Bagaimana jika aku mengabaikanku selama sepuluh tahun?”
“Entahlah, sesungguhnya aku berpikir untuk mengajukan cerai apabila kamu terus mengabaikanku sampai tahun depan.”
Secara reflek Elliot membalikkan tubuh Charlotte sehingga mereka saling bertatapan. “Kamu ingin menggugat cerai?”
Tatapan mata Elliot dipenuhi oleh kebingungan dan hal itu membuat Charlotte merasa heran. “Itu hanyalah pemikiran masa lalu, kenapa kamu begitu kaget?”
Tentu Elliot terkejut.
Jika Charlotte di kehidupan sekarang pernah berpikir untuk meminta cerai, maka Charlotte di kehidupan lampau juga menginginkan hal yang sama. Namun, Charlotte di masa lalu tidak bisa mengajukan perceraian karena tidak dapat berbicara dengan Elliot.
Jika seandainya Elliot dan Charlotte bercerai di masa lalu, bukankah artinya penderitaan Charlotte tidak begitu panjang?
Tapi itu hanyalah masa lalu, tidak bisa berubah dan seharusnya tidak perlu berandai – andai.
Charlotte kembali berbicara saat melihat Elliot yang diam. “Sekarang aku tidak pernah berpikir untuk bercerai, jadi tidak perlu khawatir.”
Elliot memeluk Charlotte, menghirup aroma parfum beraroma citrus yang menguar dari tengkuk dan pakaiannya. “Aku juga akan menolak jika kamu mengajukan cerai sekarang.”
*****
Usai terbang menggunakan pesawat selama 17 jam lebih, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mendarat di bandara. Karena lokasi bandara dan pulau maldives berada di dua pulau terpisah, maka Elliot dan Charlotte harus menumpangi kapal terlebih dahulu untuk sampai ke penginapan yang mereka tuju.
Hembusan angin laut menerpa wajah Charlotte, menerbangkan helaian rambutnya yang dibiarkan tergerai begitu saja. Dia tidak bisa berhenti merasa kagum dengan hamparan laut berwarna hijau kebiruan di hadapannya. Laut di dekat Pulau Maldives sangat tenang, ombaknya tidaklah kencang sehingga para pengunjung pulau bisa berenang tanpa takut akan terbawa oleh arus laut.
Setidaknya butuh waktu sekitar satu jam bagi Charlotte dan Elliot sampai di pelabuhan dan sampai di resort penginapan mereka. Charlotte segera berlari kecil ke dalam resort tatkala seorang pegawai membukakan pintu untuknya.
Bagian dalam resort itu sangat luas, terdapat sebuah meja dan sofa berbentuk bundar yang diletakkan di tengah ruangan. Kebanyakan dinding dari bangunan resort menggunakan jendela – jendela besar yang membuat pengguna dapat melihat ke arah laut dengan jelas. Area kamar tidur mengarah ke kolam renang dan pemandangan laut yang paling jelas, sehingga mereka bisa memandangi lautan meski hendak beranjak tidur.
Charlotte berlarian ke sana dan ke mari, menelusuri setiap ruangan yang ada di dalam resort. Ia sempat berhenti tatkala melihat permukaan lantai yang terbuat dari kaca. “Elliot, lihatlah! Kita bisa melihat laut yang ada di bawah lantai kaca ini.”
Elliot meletakkan koper – koper mereka ke ruang penyimpanan, kemudian berjalan mendekati Charlotte yang sedang berlutut di dekat lantai kaca. “Sepertinya ada beberapa area di resort ini yang lantainya menggunakan kaca. Seperti di bawah meja dan di dekat kolam renang.”
Charlotte mendongakkan kepalanya dan tersenyum kepada Elliot, “Biasanya aku hanya mendesain lantai yang seperti ini menggunakan 3d model. Aku tidak menyangka bisa melihatnya secara langsung.”
Elliot kemudian membantu Charlotte untuk berdiri dan berkata, “Apa kamu lapar? Kamu hanya makan snack tadi di pesawat.”
Charlotte memegang perutnya, “Lumayan.”
Mereka sampai di Pulau Maldives begitu pagi, sehingga mereka belum sempat sarapan sebelum ini.
Elliot, “Bagaimana bila kita makan di restoran dekat pantai? Atau kamu ingin memesan makanannya ke resort?”
“Di pantai! Aku ingin berjalan di atas pasir pantai.”
*****
Suara deburan ombak mengalun di telinga Charlotte, hembusan angin laut bertiup cukup kencang sampai membuat meja makan bergoyang sedikit. Suasana pantai yang seperti ini benar – benar membawa ketenangan untuk Charlotte, melunturkan seluruh pikiran negatif yang sebelumnya berkerak di benaknya.
Charlotte membenamkan telapak kakinya ke dalam pasir putih yang hangat, merasakan tekstur butiran – butiran pasir yang tidak terlalu kasar tapi juga tak lembut.
Tss..
Charlotte terlonjak kaget saat gelas berisikan jus dingin menempel di pipinya. “Nona Baxter, tampaknya kamu begitu terlena dengan laut sampai mengabaikan panggilan suamimu.”
“Kamu memanggilku?”
Elliot duduk di hadapan Charlotte. “Tadi aku bertanya, kamu lebih suka jus mangga atau strawberry?”
Charlotte menatap gelas berisikan jus mangga di tangannya, “Mangga juga tidak apa – apa.”
“Tadi aku sudah memesan lobster dan makanan laut lainnya. Tapi pelayan bilang kita harus menunggu sekitar 20 menit, apa kamu ingin memesan sesuatu yang bisa langsung dimakan? Aku bisa membatalkan pesanan kita.”
“Jangan! Aku mau makan lobster, jadi jangan dibatalkan.”
Elliot tersenyum, “Baiklah.”
Selama beberapa saat, Charlotte mengaduk – aduk jus di gelas menggunakan sedotan, sedangkan Elliot sedang memainkan ponselnya untuk melihat pesan dari Erland.
“Elliot,” panggil Charlotte.
“Mhm, kenapa?” balas Elliot.
“Jangan memanggilku Nona Baxter lagi saat kita sedang berdua. Rasanya sangat asing, aku tidak menyukainya.”
Charlotte juga merasa seolah dia bukan istri Elliot jika nama gadisnya dipanggil oleh Elliot.
Elliot akhirnya mematikan ponselnya dan menaruh perhatian kepada Charlotte. Perlahan dia memegang tangan Charlotte sambil sesekali mengelusnya. “Benar, kamu adalah Nyonya Landegre. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman.”
“Ah, tidak perlu meminta maaf. Aku tahu kamu hanya bercanda, mungkin aku saja yang berlebihan dalam menanggapinya.”
“Kamu tidak berlebihan,” Elliot berkata, “Bila tidak suka, kamu memang harus bilang tidak suka. Jadi, panggilan apa yang sebaiknya aku gunakan saat kita hanya berdua?”
Charlotte menatap Elliot dengan bingung, “Panggilan seperti apa? Tentu kamu bisa memanggil namaku seperti biasa.”
Elliot, “Semua orang juga memanggilmu Charlotte, apa bedanya aku dengan orang lain?”
“Nah, bagaimana bila aku memanggilmu baby? Honey? Ma cherie? Mi amor?”
Telinga Charlotte langsung memerah saat mendengarnya. Dia belum pernah dipanggil seintim itu oleh orang lain, jadi wajar bila Charlotte merasa malu. “Jangan aneh – aneh.”
Elliot bangkit dari kursinya, lalu mendekatkan bibirnya di samping telinga Charlotte. “My .. Love.”
Seketika jantung Charlotte berdetak dengan sangat cepat sebagai respon dari panggilan itu. Entah mengapa, rasanya dia begitu dicintai saat mendengar Elliot memanggilnya dengan sebutan itu.
“Mana yang kau inginkan?”
Charlotte menggigit bibirnya, dia menundukan kepala seraya berbisik. “Hmm … panggilan terakhir sepertinya tidak apa.”
“Panggilan yang mana?” goda Elliot.
“Yang terakhir.”
“Aku tidak akan tahu jika kamu tak menyebutkannya.”
Charlotte akhirnya berkata dengan ragu. “My .. My Love.”
Elliot tersenyum puas saat mendengar jawaban Charlotte. “Baiklah, aku akan sering – sering memanggilmu itu.”
Sebelum Charlotte membalas, Elliot sudah berbicara lagi. “My Love, bagaimana bila kita mandi bersama setelah kembali?”
“Elliot! Jangan membicarakan hal yang memalukan di depan umum.”
Bersambung… SUAMI DAN ISTRI BERBULAN MADU
Setelah menghabiskan makanan di atas meja, Elliot mengajak Charlotte untuk berjalan – jalan di pesisir pantai. Karena tidak ingin pasir masuk ke dalam sepatu, keduanya menenteng sepatu di tangan dan berjalan tanpa alas kaki. Matahari yang mulai menampakkan diri di atas kepala membuat pasir pantai terasa hangat di kaki.
Charlotte memejamkan matanya seraya menghela napas lega. “Aku masih tidak menyangka bisa mendapatkan libur saat baru mulai kerja.”
Elliot tertawa, “Semua orang berhak untuk pergi berlibur. Jika karyawan lain ingin mengajukan cuti, tentu aku juga akan menyetujuinya.”
Ketika sudah berjalan hampir setengah jam, Charlotte mengeluh haus sehingga Elliot pergi ke salah satu kios yang menjual minuman dingin, meninggalkan Charlotte seorang diri di pinggir pantai.
Angin pantai bertiup cukup kencang sehingga rok selutut Charlotte seringkali terangkat dan memperlihatkan pahanya yang mulus. Beberapa pria yang berada di pantai lumayan antusias saat melihat angin menerbangkan rok Charlotte, beberapa dari mereka bahkan ada yang bersiul dan meminta Charlotte untuk menggunakan bikini.
Jujur saja hal itu.membuat Charlotte merasa risih sehingga dia memutuskan untuk menunggu Elliot kembali sebelum berjalan – jalan lagi.
Untunglah Elliot cepat kembali saat sadar bila istrinya sedang diganggu oleh banyak pria cabul. Sedari tadi bahkan Elliot sudah ingin mencolok mata para pria yang memandang Charlotte dengan tatapan predator.
“Tidak ada yang mengganggumu, kan?” tanya Elliot dengan khawatir.
Elliot kemudian berdiri di belakang Charlotte, berusaha menutup pandangan para pria yang ingin melihat kaki Charlotte dari belakang.
“Untungnya mereka tidak mempunyai nyali untuk mendekatiku,” Charlotte berbalik dan menatap Elliot, “Sepertinya aku harus menggunakan rok yang lebih panjang saat ingin berjalan – jalan di pantai.”
“Jika kamu suka menggunakan rok pendek, maka kamu bisa memakainya.”
Charlotte mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum berkata, “Kamu tidak melarangku?”
“Kenapa aku harus melarangmu?”
“Aku sering melihat teman – temanku dimarahi oleh kekasih mereka saat menggunakan pakaian terbuka. Kupikir kamu akan marah …”
Elliot meletakkan tangannya di belakang rok Charlotte agar angin tidak bisa lagi menerbangkan kainnya. “Tentu aku marah. Tapi bukan kepadamu, melainkan kepada para pria yang sedari tadi terus menggodamu seolah – olah kamu adalah barang yang dipertontonkan.”
“My Love, rasanya tidak logis apabila aku memarahi kamu karena tingkah laku para bedebah itu.”
Elliot berpikir, istrinya sudah terkena pelecehan secara verbail, sehingga kenapa dia malah memperkeruh suasana hati Charlotte dengan memarahinya.
“Gunakan saja pakaian yang kamu suka, aku bisa memukul orang – orang yang ingin melecehkan kamu. Lagipula, istrikuku terlihat lebih manis saat menggunakan rok pendek.”
Sejak dahulu, Elliot memang tidak pernah ambil pusing dengan pakaian yang dikenakan oleh seorang wanita. Menurutnya, jika dia saja mampu tidak menggoda sembarangan wanita asing di jalan, kenapa pria lain tidak mampu melakukan hal yang sama.
Charlotte lantas memeluk Elliot, “Elliot, aku mencintaimu.”
Ujung bibir Elliot terangkat, dia kemudian membalas pelukan Charlotte dan berkata. “Aku juga mencintaimu. Bagaimana jika kita kembali ke resort saja? Sepertinya melihat matahari terbenam di resort lebih menarik.”
“Mhm, kita kembali saja.”
Lagipula, keduanya sama – sama ingin menghabiskan waktu berdua saja tanpa ada gangguan dari orang lain.
Alih – alih melihat matahari terbenam, Elliot dan Charlotte malah sama – sama tertidur ketika menunggu waktu sore datang. Mereka sepertinya kelelahan setelah melakukan perjalanan ke Pulau Maldives selama berjam – jam.
Keduanya tidur begitu pulas sampai akhirnya Elliot tanpa sengaja terbangun di tengah malam karena merasa lapar. Awalnya Elliot ingin mengambil makanan yang sempat dia beli di dapur, tapi niatnya diurungkan begitu melihat pemandangan langit yang terpampang di balik jendela kamar.
“Charlotte,” Elliot mengguncang tubuh Charlotte beberapa kali, membuat Charlotte menggeliat pelan dan menarik selimut.
Melihat istrinya belum merespon, Elliot kembali memanggil. “Charlotte, sayang bangunlah sebentar. Kamu pasti tidak akan menyesal bila membuka mata sekarang.”
Setelah berkali – kali dipanggil, Charlotte akhirnya mulai bangun. Bulu matanya bergetar tatkala kelopak mata Charlotte terbuka, ia perlahan mengusap matanya karena masih merasa ngantuk, lalu berusaha menyesuaikan pandangan matanya yang masih terlihat buram.
“Ada apa?” tanya Charlotte dengan suara serak.
Elliot dengan cekatan membantu Charlotte agar duduk, kemudian mengarahkan kepala Charlotte menuju jendela. “Lihatlah.”
Dalam seperkian detik, Charlotte membuka matanya lebar – lebar. Seluruh kesadarannya langsung pulih dan rasa kantuknya hilang begitu saja tatkala melihat pemandangan yang ada di luar.
“Indah.”
Hanya satu kata itu saja yang mampu dideskripsikan oleh Charlotte.
Karena Pulau Maldives tidak mempunyai pencahayaan sebanyak di kota, Charlotte bisa melihat hamparan bintang – bintang di langit dengan sangat jelas. Bintang – bintang itu terletak saling berdekatan, sehingga terlihat bagaikan illustrasi galaksi yang biasanya Charlotte lihat di internet.
“Kamu ingin melihatnya di luar?”
Charlotte mengangguk cepat, “Kita bisa melihatnya di kolam renang.”
Elliot, “Aku punya rekomendasi tempat yang lebih baik dari kolam renang.”
“Di mana?”
“Di bathup yang ada di area luar, bukankah kita berdua belum mandi sejak pagi?”
“Jangan aneh – aneh!”
Meski sempat menolak karena malu, pada akhirnya Charlotte mengikuti keinginan Elliot yang ingin mandi bersama.
Bathup yang Elliot maksud terletak di bagian samping resort, sengaja diletakkan di luar bangunan supaya pengunjung dapat melihat pemandangan langit dengan lebih jelas. Meski berada di luar, untungnya kamar mandi itu mempunyai sekat berupa dinding kayu yang menjadi pembatas antara bagian dalam resort dengan bagian luar resort.
Elliot dengan gembira meneteskan sabun beraroma vanilla ke dalam bathup dan mengetes suhu air. Ketika yakin suhu di dalam bathup sudah pas, Elliot segera masuk menggandeng Charlotte untuk masuk.
“Kemarilah, kenapa kamu masih malu dengan suamimu sendiri?”
“Rasanya hanya aneh mandi di luar bangunan,” balas Charlotte yang masih ragu untuk masuk atau tidak.
“Ada dinding pembatasnya, Charlotte. Kita tidak akan terlihat dari luar resort.”
Dengan sedikit paksaan, Elliot akhirnya berhasil membawa Charlotte masuk.
Begitu seluruh tubuhnya berendam di dalam air hangat, seluruh otot – otot Charlotte mulai merasa lebih rileks dan dia sudah melupakan rasa malunya. Charlotte kemudian menyandarkan punggungnya ke dada Elliot, sedangkan kepalanya mendongak ke atas untuk melihat taburan bintang.
“Bagaimana? Apa suhunya nyaman?”
“Lumayan,” balas Charlotte dengan malu.
Karena masih tidak nyaman dengan suasana luar saat mandi, Charlotte tanpa sadar menekuk lututnya sampai ke dada, terlihat meringkuk seperti bola.
Elliot tertawa saat melihatnya bertingkah begitu, “Kita hanya mandi, Charlotte. Bukan berhubungan badan di depan umum, tapi kita bisa melakukannya jika kamu ingin.”
“Elliot!”
“Kenapa? Kita bahkan pernah melakukannya di dalam kantor.”
Charlotte berusaha mencubit perut Elliot. Tapi karena Elliot memiliki otot perut yang keras, cubitan Charlotte hanya terasa seperti sentilan kecil untuknya.
“Daripada memusingkan hal yang tidak berguna, lebih baik kamu menikmati pemandangan sekitar saja,” Elliot melanjutkan setelah meraih shampo, “Biarkan aku membersihkan rambutmu.”
Elliot pertama menyiramkan air hangat ke atas kepala Charlotte, mengusap – ngusapnya pelan supaya wanita itu merasa semakin rileks. Charlotte bahkan sampai menutup mata saat Elliot memijat kepalanya dan menuangkan shampo.
“Tidak begitu buruk kan setelah kamu lebih rileks?”
“Mhm,” gumam Charlotte.
Selesai membersihkan rambut Charlotte, Elliot mulai menuangkan sabun ke tangannya dan membaluri tubuh Charlotte dengan sabun. Pada saat inilah, Charlotte tahu bahwa Elliot sedang mencari – cari kesempatan.
Sedari tadi, Elliot sengaja mengusap kulit tubuh Charlotte secara perlahan, membuat wanita itu merasa sedikit geli. Tangan Elliot yang awalnya hanya menyabuni punggung Charlotte mulai meraba – raba pinggang dan perut Charlotte.
Charlotte menoleh ke belakang, “Elliot, kamu sepertinya senang mencari kesempatan.”
“Kalau kamu menolak, tentu aku tidak akan meneruskan,” balas Elliot seraya melingkarkan lengannya pada pinggang Charlotte.
“Aku tidak begitu keberatan,” bisik Charlotte, matanya bergerak ke arah lain supaya tidak bertemu pandang dengan Elliot.
Setelah mendapatkan izin, Elliot memiringkan kepalanya supaya berhadapan dengan Charlotte, kemudian mencium bibir istrinya dengan lumatan yang sedikit kasar. Elliot lantas memutar tubuh Charlotte sehingga kini mereka berhadapan, tangannya bergerak dengan lincah menelusuri tubuh istrinya dan membuat Charlotte meliukkan tubuhnya karena merasa geli.
Charlotte setidaknya sudah berhubungan dengan Elliot berkali – kali, sehingga dia tidak sekaku dahulu dan mampu mengimbangi permainan Elliot yang dipenuhi oleh hasrat.
Suara deburan ombak dan tetesan air yang meluap dari bak mandi menyertai permainan mereka, menenggelamkan suara desahan yang keluar dari bibir Charlotte. Keduanya lantas tenggelam dalam permainan yang dipenuhi oleh cinta, saling berusaha menyatukan bagian inti mereka dan melupakan seluruh dunia yang ada disekeliling mereka.
Charlotte duduk di atas pangkuan Elliot, dia mengalungkan tangannya di belakang leher pria itu. Aroma sabun menguar dari tengkuk Elliot dan hal itu membuat Charlotte menjadi lebih bersemangat.
Malam itu akhirnya resmi menjadi malam pertama bulan madu mereka.
Ketika Charlotte mulai menggigil, Elliot membawanya masuk ke dalam kamar tidur dan melanjutkan penyatuan mereka yang tertunda.
“Elliot …”
Entah sudah berapa kali Charlotte memanggil Elliot, yang pasti dia akan selalu memanggil nama suaminya tatkala Elliot mempercepat gerakannya dan membuat Charlotte lupa akan daratan.
Bersambung… SUAMI YANG MERASA FRUSTASI
Selama lima hari di Pulau Maldives, Elliot dan Charlotte tak pernah sekalipun lelah bermesraan dimanapun mereka berada. Bahkan keduanya melakukan hubungan intim di setiap ruangan resort, seperti di kamar, dapur, ruang tamu, dan kolam renang.
Mereka saling memadu kasih seolah tidak ada lagi hari esok. Di hari terakhir menginap di Pulau Maldives, Charlotte bangun begitu pagi karena mencium aroma roti panggang yang baru saja keluar dari pemanggang roti.
Matahari baru saja terbit, membiaskan sinar hangat ke dalam kamar sehingga Charlotte merasa semakin enggan untuk turun dari tempat tidur. Apalagi sekarang bagian pinggang dan pahanya agak pegal akibat terus melebarkan kaki sepanjang malam di hadapan Elliot.
“Elliot … ambilkan aku air,” pinta Charlotte dengan suara serak.
Usai mendengar suara Charlotte, Elliot segera datang ke kamar sembari membawa nampan berisikan segelas air mineral, segelas susu hangat, dan beberapa potong roti panggang yang diolesi selai blueberry manis.
“Kamu memanggang roti sendiri?” tanya Charlotte seraya berusaha bangun untuk duduk di tempat tidur. Dia belum mengenakan pakaian, sehingga Charlotte menutupi tubuhnya menggunakan selimut.
“Mhm, tidak sulit. Aku sengaja membuatnya karena sudah mengira kamu akan segera bangun.”
Charlotte tersenyum saat tahu bila suaminya begitu memperhatikan dia dengan baik. Walau makanan yang disiapkan oleh Elliot sederhana, setidaknya makanan tersebut disiapkan dengan penuh perhatian. Charlotte lantas menenggak air mineral yang diberikan oleh Elliot dan mulai memakan roti panggang di piring.
“Rotinya enak, terima kasih karena sudah membuatnya,” kata Charlotte.
Elliot lalu duduk di sebelah Charlotte, sebelah tangannya merangkul pundak Charlotte sedangkan tangan satunya menyuapi potongan roti panggang ke mulut Charlotte.
“Siang ini kita akan pulang, sayang sekali.”
Charlotte menimpali. “Ya, sayang sekali kita harus pulang.” Jika boleh memilih, maka tentu mereka tidak akan pulang begitu cepat. Namun, sayangnya mereka tidak dapat meninggalkan pekerjaan dalam kurun waktu lama.
Elliot memeluk Charlotte, tangannya mengelus punggung Charlotte yang kini dipenuhi oleh tanda cinta. “Lain kali, aku akan mengajakmu berlibur di tempat yang bagus lagi.”
Charlotte tertawa, “Mhm, aku menantikannya.”
Usai makan sarapan dan membersihkan diri, keduanya lantas merapihkan barang – barang mereka sebelum akhirnya meninggalkan resort. Penerbangan mereka akan berangkat pada pukul 1 siang, sehingga mereka pergi ke bandara sejak jam 10 pagi supaya tidak terlambat.
Ketika baru memasuki bandara, Elliot baru menyalakan ponselnya lagi setelah sengaja mematikan ponsel itu selama berlibur dengan Charlotte.
Dalam waktu singkat, notifikasi pesan beruntun dari Erland terlihat. Berdasarkan tanggalnya, Erland baru saja mengirim banyak pesan hari ini, sehingga Elliot berpikir mungkin ada masalah hari ini sampai Erland terus mengiriminya pesan.
Baru saja Elliot ingin menghubungi Erland, dia sudah lebih dahulu mendapatkan panggilan dari Erland.
“Sir, saya tidak bermaksud mengganggu liburan Anda dengan Nyonya Landegre. Tapi, Anda harus cepat kembali ke kantor sekarang.” Elliot menghentikan langkahnya agar bisa berbicara lebih serius. “Apa ada masalah di kantor?”
“Sangat bermasalah, sir. Pagi ini, ketika para karyawan membuka komputer, mereka mendapati komputer perusahaan sedang error. Layarnya terkunci dan ketika dipulihkan, ternyata data – data perusahaan telah terhapus oleh Malware.”
Seketika Elliot merasa tegang. “Malware? Apa Malware ini menyerang komputer utama yang terhubung ke komputer seluruh karyawan?”
“Ya, sir. Malware ini berasal dari komputer utana. Semua dokumen serta data – data penting terkait Departemen Infrastruktur III hilang dalam satu malam.”
Elliot memegangi keningnya yang kini terasa sakit, dia akhirnya duduk di ruang tunggu dengan raut wajah frustasi. “Putuskan dulu sambungan seluruh komputer karyawan dari komputer utama sehingga terputus dengan sumber Malware. Jika ada data – data penting yang masih tersisa, segera pindahkan ke tempat penyimpanan yang lebih aman.”
“Pinta divisi IT untuk berusaha memulihkan data dengan mengambil back up data dari sistem databese pusat. Untuk sementara, kamu bisa menggunakan stempel tanda tanganku untuk mendapatkan izin dari pusat. Aku baru saja ingin naik pesawat, mungkin baru bisa ke kantor besok pagi.”
“Saya mengerti, sir. Saya akan memberi kabar lagi begitu Anda turun dari pesawat.”
Setelah mengucapkan beberapa kata, Elliot mematikan sambungan telepon dan menghela napas panjang. Wajahnya menunduk, merasa terlalu lelah untuk sekedar mengangkat kepalanya.
Dari hasil perbincangan Elliot dengan Erland, Charlotte bisa menarik kesimpulan bahwa departemen mereka tengah mengalami kekacauan akibat terkena Malware.
Karena tidak mau membebani pikiran Elliot, Charlotte tidak bertanya mengenai masalah itu lebih lanjut dan lebih memilih untuk menenangkan suaminya. Dia membeli segelas kopi hangat dan memberikannya kepada Elliot, “Minum ini dulu, mungkin bisa membuat pikiranmu menjadi lebih jernih.”
Elliot mengangkat kepalanya, kegundahan di hatinya sedikit terangkat tatkala mendapatkan perhatian kecil dari Charlotte. “Terima kasih, sayang.”
Charlotte lantas menepuk punggung suaminya. “Jangan khawatir, semua masalah pasti bisa diselesaikan.”
“Entahlah, Charlotte. Aku sesungguhnya hanya merasa kesal, kenapa aku harus mendapatkan masalah sekarang? Padahal Ayah baru saja mempercayaiku. Jika dia mendengar masalah ini, mungkinkah dia kembali merasa kecewa terhadapku?”
“Malware merupakan sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan, sehingga aku yakin Tuan Besar Landegre pasti bisa mengerti.”
Elliot masih bergeming di tempatnya, sehingga Charlotte berinisiatif untuk memberikan pelukan. “Elliot sangat hebat, pasti mampu menyelesaikan masalah ini.”
Elliot meletakkan kepalanya di pundak Charlotte, kemudian merasa lebih tenang setelah mencium aroma citrus dari kulit Charlotte. “Aku akan berisaha. Lagipula, terlalu frustasi juga tidak akan menyelesaikan masalah.”
*****
Sesampainya di New York. Elliot dan Charlotte langsung pergi ke kantor tanpa pulang terlebih dahulu. Seluruh barang bawaan mereka dititipkan kepada Samael, sehingga mereka tidak perlu membawa koper ke dalam kantor.
Sebelum ini, Elliot sudah memaksa Charlotte untuk beristirahat saja di rumah dan kembali bekerja besok. Namun, istrinya itu bersikeras ingin datang karena merasa perlu membantu rekan kerjanya yang lain.
“Kamu yakin tidak lelah?” tanya Elliot saat mereka sedang berada di elevator.
“Aku sudah tidur seharian di pesawat, tentu saja tidak lelah.”
“Istirahat di pesawat dan di kamar itu berbeda, sayang. Kamu mungkin tidak bisa tidur nyenyak di pesawat karena merasakan guncangan.”
“Aku tidak apa – apa, Elliot. Jangan terlalu khawatir.”
Sebelum pintu elevator terbuka, Elliot sempat mencium bibir Charlotte dan berkata. “Jika lelah, kamu bisa tidur di kantorku.”
“Iya, aku mengerti.”
Sesampainya di lantai 15, lampu – lampu di ruang karyawan sudah menyala terang meski waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi. Elliot curiga bila para karyawannya itu bukan datang terlalu pagi, tetapi menginap di perusahaan sejak kemarin.
“Kalian tidak pulang semalaman?” tanya Elliot seraya berjalan mendekati meja kerja para karyawan.
Seluruh karyawan mengangkat kepalanya, ada lingkaran hitam yang ketara di bawah mata mereka dan raut wajah mereka juga tampak begitu lelah. Mereka sudah merasa sangat frustasi sejak kemarin, tapi merasa lebih tenang saat melihat Elliot sudah datang.
“Sir, senang melihat Anda sudah kembali!”
Satu – persatu karyawan mulai menyerukan hal yang sama. Dengan keantusiasan mereka dalam menyambut Elliot, pria itu jadi yakin bila para karyawannya sudah bisa mempercayakan posisi Kepala Departemen kepada Elliot.
“Kalin belum menjawab pertanyaanku.”
Sean yang duduk paling dekat dengan Elliot akhirnya menjawab. “Kami tidak punya pilihan, Sir. Seluruh sisa data yang masih ada di komputer telah teracak, sehingga kami perlu menyusunnya ulang dan memindahkan penyimpanan data ke sistem database yang lebih aman. Kami sengaja belum pulang karena takut akan mendapatkan serangan Malware lagi saat kami pulang.”
“Bagaimana dengan sistem database utama? Apa kalian berhasil melakukan back up data.”
Sean menggeleng, “Kami tidak bisa mendapatkan akses ke sistem databese utama sebelum Anda datang, Sir.”
“Mengapa begitu? Bukankah aku sudah memperbolehkan Erland untuk memakai stempel tanda tanganku?”
“Tuan Davis berkata bahwa ada pihak perusahaan yang menghalanginya untuk mendapatkan izin ke Presiden Utama. Menurutnya, akan lebih baik bila Kepala Departemen sendiri yang datang untuk meminta izin.”
“Siapa pihak yang berani – beraninya melarang itu?”
“Pihak yang melarang itu adalah Tuan Ketiga Landegre. Dia terus menghalangi saya untuk menghubungi Presiden Utama,” kata Erland yang baru saja keluar dari ruangannya sendiri.
Elliot menoleh, “Johan melarangmu? Atas dasar apa dia berani mencampuri urusan departemenku lagi? Kenapa adikku yang satu ini sangat senang menyusahkanku? Haruskah aku memukulnya sekarang?”
Erland hampir saja menyetujui Elliot jika saja dia kehilangan rasa sabarnya. “Kekerasan bukan satu – satunya jalan untuk menyelesaikan masalah, Sir.”
“Bagaimana bila dia tetap menghalangi departemen kita setelah aku datang?” Erland menghela napas lelah, “Mungkin kekerasan diperlukan, Sir.”
Bersambung… SUAMI BERTENGKAR DENGAN SAUDARA
Karena hari masih terlalu pagi, para petinggi belum datang ke perusahaan, sehingga Elliot memutuskan untuk membantu karyawannya dalam menyusun ulang data – data.
Pria itu juga memesankan kopi dan sarapan untuk semua karyawan di departemennya karena tidak mau sampai karyawan – karyawannya itu pingsan saat bekerja.
Karena semua karyawan dipaksa untuk beristirahat dan sarapan terlebih dahulu. Charlotte berinisiatif untuk membantu para seniornya. “Senior Sean, biarkan aku membantu.”
Sean, “Kamu baru saja pulang dari perjalanan jauh, sebaiknya istirahat saja lebih dahulu.”
“Aku baik – baik saja. Hal apa yang harus aku kerjakan?” tanya Charlotte, tidak mengindahkan saran dari Sean. Karena Charlotte bersikeras, akhirnya Sean tidak menghentikkan Charlotte dan memberitahu beberapa pekerjaan yang bisa ia lakukan.
“Kamu belajar banyak saat pergi ke pameran bersama Tuan Elliot?”
Butuh waktu beberapa saat bagi Charlotte untuk menjawab. “Lumayan, pameran arsitektur di Swiss memamerkan desain – desain perkotaan yang dibuat oleh banyak Arsitek profesional. Dari pameran itu juga, aku banyak mempelajari implementasi desain kota yang sesuai dengan standar internasional.”
Beruntung Erland mengirimkan foto – foto di dalam pameran dan memberikan banyak catatan kepada Elliot dan Charlotte agar mereka berdua bisa mengetahui isi pameran tersebut.
Sean tersenyum, “Tuan Elliot sudah bermurah hati untuk mengajak anak magang pergi, jadi kamu harus mengingat seluruh pelajaran yang kamu lihat selama melakukan perjalanan bersama Tuan Elliot.”
Charlotte tertawa samar seraya berkata, “Ya, aku pasti akan mengingatnya dengan baik.”
Mengingat seluruh kegiatan panas yang ia lakukan bersama Elliot selama berlibur di Pulau Maldives.
Tatkala hari mulai menjelang siang, Elliot mengajukan permohonan untuk mengakses ruang penyimpanan pusat. Akan tetapi, permohonannya langsung ditolak oleh pihak divisi manajemen data pusat.
“Saya juga mendapatkan surat penolakan yang sama kemarin,” kata Erland.
Elliot membuang napas kasar, “Apa ini ulah Johan juga?”
“Bisa dibilang begitu. Karena kepemimpinan Departemen Infrastruktur III secara tertulis masih berada di bawah tanggung jawab Tuan Johan. Jadi kita memerlukan tanda tangannya sebelum mengajukan surat permohonan ke pusat.”
“Omong kosong! Bukankah Presiden Direktur sudah mempercayakan Departemen Infrastruktur III kepadaku secara utuh?”
“Anda baru mendapatkan kepercayaan secara lisan, tapi belum menanda tangani surat peralihan kekuasaan secara resmi.”
“Lantas mengapa kamu tidak mengirimkan surat itu ke surelku sejak kemarin?”
Erland diam selama beberapa saat, lalu menjawab. “Karena saya memang belum menerima surat apapun dari Presiden Direktur.”
Tidak mungkin.
Arthur Landegre tidak mungkin mengingkari janjinya sendiri.
Jika dia berjanji akan mengizinkan Elliot mengambil alih kekuasaan penuh selama berada di peringkat tiga, maka Arthur pasti akan memenuhinya.
Tapi sejak kemarin Arthur belum mengirimkan surat apapun dan hal itu membuat Elliot merasa ada hal yang salah di sini.
Setelah berpikir selama beberapa menit, akhirnya Elliot mendapatkan pencerahan. “Bila surat itu tentang peralihan kekuasaan dari Johan kepadaku, bukankah artinya surat itu juga memerlukan tanda tangan Johan?”
BRAK!
Elliot membuka pintu Kepala Departemen Infrastruktur I dengan keras, menyebabkan daun pintu menghantam dinding dan menimbulkan suara nyaring yang mengagetkan seluruh karyawan serta kepala dari Departemen Infrastruktur I.
“Mana surat peralihannya?!” seru Elliot begitu dia masuk ke dalam ruangan Johan.
Johan yang tengah membaca dokumen langsung meletakkan dokumen tersebut di atas meja dan menatap saudaranya yang baru saja datang dengan keributan besar.
“Tidakkah kamu tahu cara mengetuk pintu?”
Elliot mendecih, “Jangan mengalihkan pembicaraan, cepat tanda tangani surat pemindahan kekuasaan dan berikan dokumennya kepadaku.”
Johan mengetuk – ngetukkan ujung bolpoinnya ke atas permukaan meja kayu. “Kenapa aku harus melakukannya? Bukankah lebih nyaman menjadi kepala departemen bayangan saja?”
“Kau ..” Elliot menggeram marah, “Ayah sudah berjanji akan memberikan tanggung jawab penuh kepadaku asal departemenku mampu menduduki peringkat tiga teratas di rapat akhir perusahaan. Jadi, sebaiknya kamu jangan bertingkah seenaknya!”
“Ayah bahkan tidak pernah menyuruhku untuk cepat – cepat menanda tanganinya. Lantas, mengapa kamu harus terburu – buru?”
“Johan! Departemenku sedang dalam krisis, kalau kamu tidak mau menanda tangani surat peralihan sekarang, maka cepat tanda tangani surat permohonan untuk mengakses penyimpanan data pusat!”
“Elliot, perusahaan tidak bisa memberikan akses penyimpanan data pusat tanpa ada kepentingan yang jelas.”
“Karena aku punya kepentinganlah, makanya aku ingin mengakses penyimpanan data! Jadi berhentilah bertele – tele dan cepat tanda tangani surat ini!”
Elliot lantas menghempaskan selembar dokumen berisikan permohonan izin akses ke hadapan Johan. Tapi bukannya menanda tangani, Johan malah meletakkan surat tersebut ke dalam mejanya, terlihat tidak berminat dengan dokumen itu.
BRAK!
Sekali lagi Elliot menggebrak meja, kesabaran yang telah ia pupuk sedemikian rupa akhirnya merangkak keluar dan membuat Elliot kesulitan untuk menahan emosinya.
“JOHAN! AKU SERIUS!”
Elliot menambahkan, “Apa yang sebenarnya kamu inginkan sampai terus mengganggu hidupku?”
Johan tersenyum ramah, “Mengganggu hidupmu? Elliot, aku hanya menjalankan pekerjaan.”
“Apa kamu mengerti seberapa genting keadaan Departemen Infrastruktur III sekarang? Komputer kami sedang diserang oleh Malware dan seluruh data – data penting menghilang! Kalau sampai seluruh data ini tidak bisa dipulihkan dalam waktu dekat, maka kamu harus menanggung akibatnya di masa depan! Apakah alasan itu masih belum cukup bagimu untuk memberikanku izin?!”
Alih – alih merasa takut, Johan malah tertawa, “Elliot, kamu keliru. Walau aku adalah orang yang bertanggung jawab atas Departemen Infrastruktur III secara tertulis, kamu tetaplah orang yang akan kerepotan jika masalah ini terus berlanjut.”
“Karena Departemen Infrastruktur III mendapatkan masalah tepat setelah kamu diberikan tanggung jawab penuh oleh Ayah.”
Benar.
Elliot baru saja dipuji dan diberikan tanggung jawab lebih di rapat akhir tahun. Secara teknik, para petinggi tentu saja menaruh harapan yang besar untuknya. Jika sampai Elliot tidak mampu membereskan masalah ini, maka para petinggi itu akan kembali kehilangan banyak kepercayaan kepada Elliot.
“Tidak perlu merasa takut, Elliot. Image-mu sudah sangat buruk sejak awal. Jadi kamu pasti sudah terbiasa bila mendengar penghinaan para petinggi nanti.”
Elliot menggeram marah saat mendengar jawaban Johan yang sangat menyebalkan. Pada akhirnya, pembicaraan mereka hanya sebatas omong kosong belaka yang tak memiliki akhir.
“Persetan! Johan, aku pasti akan membuat perhitungan atas seluruh perbuatan menyebalkanmu ini!”
Merasa bila berbicara dengan Johan tidak ada gunanya dan hanya membuang – buang waktu. Elliot akhirnya keluar dari ruangan Johan dengan wajah masam. Johan tampaknya memang tidak mau Elliot mendapatkan kesenangan walau hanya sejenak.
Saudaranya itu pasti akan memanfaatkan setiap kesempatan yang bisa membuat Elliot sengsara.
Jika keadaan sudah separah ini, maka satu – satunya jalan untuk mendapatkan akses tanpa melalui pemeriksaan administrasi adalah dengan menghubungi Ian Landegre.
Sejak tadi Elliot bersikeras tidak ingin menghubungi Ian karena tidak mau Ian mendengar ketidakbecusan Elliot dalam mengepalai sebuah departemen.
Bersambung… SUAMI MENGHADAPI MASALAH
“Kenapa tidak memberitahu sejak awal?” tanya Ian dari telepon, terdengar sedikit mengomel karena Elliot baru melaporkan keadaan krusial sekarang.
“Karena kupikir prosesnya akan mudah. Tapi ternyata Johan dengan kurang ajarnya selalu menghalangi jalanku. Ian, kamu harusnya mengajari kesopanan kepada adikmu itu.”
“Dia adikmu juga, Elliot.”
“Berbeda Ibu.”
“Ibuku juga tidak sama dengan Johan.”
Singkatnya, mereka berdua sama – sama tidak ingin menganggap Johan sebagai adik mereka.
“Bagaimana situasi departemenmu sekarang?”
“Tidak begitu baik, perusahaan mungkin akan mendapatkan masalah bila data – data di Departemen Infrastruktur III tidak bisa dipulihkan hari ini. Kamu ada di kantor? Aku bisa melapor secara langsung.”
“Sayangnya tidak. Aku sedang melakukan perjalanan bisnis ke Jepang, sedangkan kesehatan Ayah tidak begitu baik sehingga sedang beristirahat di rumah.”
Elliot mengernyitkan keningnya, “Ayah tidak pernah bilang kalau dia sakit.”
“Karena kamu tidak pernah menanyakan keadaannya,” Ian lanjut berkata, “Aku sudah meminta asistenku untuk menghubungi kepala Divisi Manajemen Data Pusat, seharusnya kamu sudah bisa mengakses data sekarang.”
Elliot menghela napas lega, tahu pasti bila Ian mampu membantunya keluar dari masa – masa kritis. “Terima kasih.”
“Sebagai Wakil Presdir, aku akan meminta Johan untuk menanda tangani surat peralihat siang ini, sehingga kamu bisa mengendalikan Departemen Infrastruktur III sepenuhnya.”
Walau nada suara Ian terkesan datar, Elliot mampu menangkap adanya keperdulian yang tinggi terhadap Elliot. “Jika lain kali ada masalah, kamu harus segera menghubungiku. Kamu tidak boleh merasa sungkan karena masalahmu juga masalah dari perusahaan.”
“Aku mengerti, aku pasti akan segera menghubungi kamu jika ada masalah lagi.”
Keduanya lantas mengucapkan salam perpisahan dan menutup sambungan telepon. Elliot kemudian pergi ke kantor Divisi Manajemen Data dan kembali memgajukan permintaan yang sama. Kali ini permintaannya diproses lebih cepat dan dia akhirnya mendapatkan izin untuk mengakses penyimpanan data utama dari pusat.
Lain kali, memang ada baiknya tidak perlu mengomel ke Johan dan langsung saja mengadu pada Ian.
Begitu izin untuk mengakses data utama telah didapatkan, para karyawan IT di departemen Elliot mulai berusaha memulihkan data – data yang sempat hilang. Mereka biasanya akan memback up data setiap tiga hari sekali, jadi kemungkinan data yang tersimpan di penyimpanan utama tidak mencangkup data di dua hari terakhir.
Tapi tidak apa – apa, asalkan ada banyak data yang kembali, maka itu sudah baik.
Elliot menundukkan kepalanya, memperhatikan salah satu layar milik karyawannya yang berusaha memulihkan data. Sederetan rumus – rumus komputer yang tidak Elliot mengerti muncul di dalam layar, terlihat begitu rumit dan membingungkan. Beberapa menit kemudian, karyawan itu tampaknya berhasil mengunduh data ulang. Prosesnya agak lama, sehingga semua orang memandang layar komputer itu dengan perasaan tegang.
Garis bar di komputer masih menunjukkan 68 %, gerakan majunya begitu lamban tapi setidaknya itu bergerak.
“Apa data yang hilang bisa benar – benar dipulihkan?” tanya Elliot.
Karyawan bernama Renold itu membalas, “Sejauh ini progressnya bagus, jadi kemungkinan besarnya bisa.”
“Bagaimana dengan Malware yang menyerang data kita?”
“Lino sudah membersihkan Malware itu tadi, jadi kita bisa mengunduh data dengan aman.”
Bagus.
Semuanya tampak baik – baik saja, namun entah mengapa perasaan Elliot masih belum tenang.
DING! DING! DING!
Progress bar di layar komputer mendadak menghilang dan tergantikan oleh belasan pop-up error yang tidak bisa hilang meski sudah di tutup berulang kali. Wajah Renold tidak begitu baik, dia berusaha keras untuk mengatasi masalah itu, tetapi akhirnya berhenti saat menyadari sesuatu.
“Tuan, sepertinya data milik Departemen Infrastruktur III yang tersimpan di databese utama error.”
“Terkena malware juga?”
Lino yang duduk disebelah Renold menimpali. “Bukan, tapi filenya tidak berfungsi karena sudah rusak. Keliatannya … ada seseorang yang merusaknya.”
Elliot terkejut, “Ada yang merusaknya?”
“Ya, karena filenya tidak terkena malware atau virus. File – file ini lebih terlihat seperti sengaja dihapus dan diisi dengan file – file corrupt yang kosong.”
Ucapan Lino tentu saja mengandung konspirasi di dalamnya, membuat para karyawan di departemen itu mulai berbisik satu sama lain dan bergosip tanpa henti.
Charlotte bahkan ikut menggosip karena Sean lebih dahulu berbisik. “Sepertinya Tuan Elliot mempunyai musuh di dalam perusahaan.”
Setelah mengingat tingkah laku Elliot di masa lalu, Charlotte menyetujui. “Mungkin karena Tuan Elliot berubah menjadi lebih baik tiba – tiba, ada beberapa pihak yang merasa dirugikan. Apalagi peringkat departemen kita naik dengan drastis.”
Sean, “Oh, mungkinkah ada departemen lain yang iri dan merusak file kita supaya Tuan Elliot terkena masalah.”
“Jika diperhatikan dengan baik, sepertinya Tuan Johan yang melakukannya.”
Itu sangat masuk akal. Johan adalah orang yang menghalangi Elliot untuk mengakses data, jadi ada kemungkinan besar dia pula yang merusak data departemen untuk membuat Elliot jatuh.
Namun Sean segera menyikut lengannya. “Sstt … jangan menyebarkan konspirasi tentang Keluarga Landegre. Meskipun benar, tapi sebaiknya kamu tidak boleh mengatakan hal ini kepada orang lain. Jangan sampai kamu terlibat masalah dengan Keluarga Landegre, karena mereka pasti mampu meremukkan karyawan kecil seperti kita dengan mudah.”
Charlotte mengulas senyuman tipis. “Aku akan mengingatnya.”
Charlotte tidak mungkin diremukkan oleh Keluarga Landegre, karena Elliot pasti akan membanting meja bila hal itu sampai terjadi.
Di lain sisi, Elliot terlihat agak frustasi. “Lalu apa yang bisa kalian lakukan untuk sekarang?”
Renold, “Karena data perusahaan di pusat rusak, maka kita hanya mampu berusaha mengembalikan data yang hilang akibat malware.”
Lino menghela napas, “Tapi sepertinya akan memakan waktu yang lama. Mungkin butuh sekitar lima atau tujuh hari untuk memulihkannya.”
Tidak ada pilihan lain, mereka memang hanya bisa menempuh jalan itu.
Elliot sudah menghubungi pihak Manajemen Data, tetapi kepala manajemen berkata bahwa mereka tidak mungkin berani merusak data penting perusahaan. Karena data utama merupakan back up, maka mereka tidak mempunyai cadangan data lagi.
Seluruh karyawan terlihat lesuh setelah mendengar penjelasan Renold dan Lino, bahkan anggota divisi IT pun juga terlihat agak tertekan.
Jika data tidak mampu dipulihkan, maka apa yang harus mereka lakukan?
Membuat data ulang?
Gila! Mereka lebih baik mati daripada harus membuat data ulang!
Walaupun Elliot sama tertekannya seperti para karyawannya, dia berusaha keras untuk tidak begitu memperlihatkan perasaannya dan berusaha tampak tenang.
“Dengarkan aku, untuk saat ini tetaplah berusaha untuk menyusun data – data yang masih tersisa dan kerjakan pekerjaan kalian seperti biasanya. Jangan terlalu memikirkan data yang hilang, divisi IT pasti mampu memulihkannya setelah lima atau tujuh hari, kita hanya perlu mempercayai mereka.”
Benedict dari seberang ruangan mengangkat tangannya saat berkata, “Bagaimana bila tidak bisa dipulihkan?”
Elliot menghembuskan napas panjang. “Maka dengan terpaksa kita harus bekerja lembur.”
Elliot memijat keningnya yang terasa sakit, dia sudah duduk di hadapan komputer selama kurang lebih satu jam. Hal yang ia lakukan hanyalah memandang layar itu dengan penuh rasa frustasi, ingin bekerja pun juga dia tidak berminat.
Entah mengapa dia merasa kepalanya sangat sakit dan perutnya terasa mual.
Perasaannya tidak nyaman, sehingga Elliot akhirnya membenamkan kepalanya di permukaan meja. Dalam diam menatap keyboardnya yang sedikit berdebu.
Tok … Tok …
Suara ketukan lembut membuat Elliot kembali menegakkan kepalanya. “Masuk.”
Elliot berpikir bila itu adalah karyawan yang ingin mengeluh atau Erland. Tapi ternyata sosok Charlotte yang masuk sebagai gantinya. Di tangan wanita itu terdapat sebuah nampan berisikan segelas cangkir teh yang masih panas dan beberapa kue kering.
Elliot kembali melemaskan ototnya dan meletakkan kepalanya di atas meja dengan tidak semangat. Jika dihadapan Charlotte, maka dia tidak perlu berpura – pura tenang dan tampaknya Charlotte juga tidak terganggu dengan sikap Elliot.
“Aku membuatkanmu teh lemon untuk menyegarkan pikiran. Minumlah sedikit supaya kamu lebih tenang,” kata Charlotte.
Wanita itu meletakkan nampan tersebut di atas meja kerja, lalu perlahan mengelus rambut halus milik Elliot. “Kalau lelah, kenapa tidak tidur saja dulu di sofa? Kamu sepertinya tidak banyak tidur di pesawat tadi pagi.”
Saat mendengar ada masalah di kantor, bagaimana mungkin Elliot bisa tidur dengan nyenyak di pesawat?
Elliot mengambil tangan Charlotte, kemudian mencium telapak tangan wanita itu. “Tidak bisa tidur.”
“Bagaimana kamu bisa menyelesaikan masalah bila kamu kelelahan? Cobalah untuk tidur selama beberapa saat, aku bisa menemanimu sebentar di sini.”
Elliot akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Charlotte. “Kamu ingin menemaniku di sini? Bagaimana bila para karyawan bertanya – tanya tentang keberadaanmu yang terlalu lama tinggal di ruanganku?”
Pupil mata Charlotte bergerak dengan tidak menentu saat dia berkata, “Mungkin aku bisa bilang kamu membutuhkan bantuan saat aku sedang mengantarkan teh ke ruanganmu.”
Elliot tertawa, “Kebetulan aku memang sedang membutuhkan cinta dari istriku.”
“Jangan menggodaku. Ayo cepat berbaring di sofa.”
Elliot tidak membantah permintaan Charlotte, dia dengan cepat berjalan ke sofa dan tidur di sana dengan kepala yang bertumpu pada paha Charlotte.
Setelah terdiam selama beberapa saat, akhirnya Elliot mengeluarkan suara. “Charlotte, bagaimana bila Ayah kembali tidak mempercayaiku lagi? Ya, walaupun aku sudah biasa tidak dipercaya, tetap saja rasanya tidak enak.”
Charlotte mengelus kepala Elliot sambil sesekali memainkan helaian rambutnya. “Selama kamu menjelaskan masalahnya dengan baik, mungkin dia bisa mengerti.”
“Jika data di departemenku tidak bisa dipulihkan, maka perusahaan bisa benar – benar dirugikan. Sepertinya memang aku tidak becus dalam memimpin.”
“Masalah ini bukanlah salah kamu. Data perusahaan hilang karena ada faktor eksternal, jadi jangan menyalahkan diri sendiri.”
Elliot lantas mengubur wajahnya ke paha Charlotte. “Jika aku dipecat oleh ayahku dan jatuh miskin, apa kamu masih mau menemaniku?”
Charlotte berpikir bila pemikiran Elliot terlalu jauh. Tentu dia tidak akan dipecat begitu saja, tapi Charlotte tetap membalasnya dengan tulus. “Aku menikah dengan Elliot, bukan uangmu. Jadi walau kamu jatuh miskin, aku tetap akan menemani kamu.”
“Aku mungkin tidak akan bisa membelikanmu banyak barang – barang mewah lagi atau makanan enak di restoran.”
“Tidak masalah.”
“Kita mungkin akan tidur di rumah tua yang dindingnya sudah retak. Atapnya terkadang bocor dan keran wastafelnya selalu saja rusak. Pada musim panas kita tidak bisa memakai AC, lalu di musim dingin tidak mampu menyalakan pemanas ruangan sehingga hanya bisa tidur menggunakan selimut bekas yang sudah ditambal di sana – sini.”
“Itu … imajinasimu terlalu nyata. Kamu yakin belum pernah hidup miskin sebelum ini?” tanya Chatlotte.
Elliot tidak menjawab, lebih memilih untuk memejamkan matanya dan berpura – pura tidur.
Hal yang ia ucapkan bukanlah sekedar imajinasi, melainkan ingatan tentang kehidupan susahnya bersama Charlotte di kehidupan sebelum ini. Mereka hidup dengan penuh kemiskinan sampai Elliot terkadang harus bekerja serabutan sebagai tukang angkat barang untuk mendapatkan uang.
Mengingat kehidupan yang dipenuhi kesulitan itu benar – benar membuat Elliot merinding.
Baru lima menit memejamkan mata, Elliot sudah mendengar suara ketukan di pintu. Dia berdecak kesal sebentar, kemudian bangkit untuk duduk di samping Charlotte. “Masuklah.”
Ketika melihat orang yang masuk adalah Erland, Elliot kembali berbaring di atas paha Charlotte. “Ada apa?”
Erland sedikit ragu saat berkata, “Adik Anda datang ke kantor dan bersikeras ingin menemui Anda.”
Elliot mengernyitkan keningnya, “Johan tidak mungkin mengunjungiku.”
“Bukan Tuan Ketiga Landegre yang datang, tetapi adik Anda yang lain.”
“Noelle?”
“Iya, orang yang datang adalah Tuan Muda Noelle.”
“Kenapa dia tiba – tiba datang kepadaku?”
“Tuan Muda Noelle berkata ingin pergi ke konser minggu depan,” ujar Erland.
“Lalu?”
“Tapi kartu kreditnya diblokir oleh Tuan Besar dan sekarang ingin meminta uang kepada Anda.”
“Kenapa tidak meminta kepada Johan.”
“Tuan Muda Noelle berkata mereka tidak begitu dekat.”
“Ian?”
“…”
Lalu apakah Elliot terlihat seperti saudara yang akan memberikannya uang dengan mudah?!
Bersambung… SUAMI BERTEMU ADIK
Elliot memperhatikan sosok Noelle yang tengah duduk di sofa tamu. Anak laki – laki itu sedari tadi hanya fokus terhadap ponsel yang ada di tangannya, bermain sebuah games yang bahkan Elliot tidak tahu.
“Noelle,” panggil Elliot.
“Mhm.”
“Cepat katakan keperluanmu, aku sibuk,” kata Elliot.
Noelle mengangkat kepalanya sebentar. “Aku sudah bilang, aku butuh uang.”
Elliot menghela napas. “Tidak akan kuberikan. Ayah pasti memblokir kartu kreditmu karena kamu boros.”
“Aku tidak boros! Ayah saja yang berlebihan!”
Jika diperhatikan lebih baik, sifat Noelle mengingatkan Elliot akan sifatnya sendiri yang boros dan pembangkang. Bahkan Noelle juga tidak mempunyai rasa bersalah sama sekali.
“Pulang saja sana dan bermain dengan anjingmu.”
“Tidak mau! Kenapa kalian semua pelit sekali? Aku bahkan hanya minta uang untuk konser!”
“Aku hanya tidak mau terseret masalahmu dengan Ayah. Pekerjaanku sudah cukup membuatku pusing, jadi jangan menambah bebanku,” kata Elliot seraya memijat keningnya yang sakit.
Beberapa saat kemudian, Charlotte masuk ke ruangan dan menyuguhkan teh hangat kepada Noelle, membuat Elliot berdecak dan berkata. “Tidak perlu membuatkan minuman untuknya, sebentar lagi akan pergi.”
Noelle menatap Elliot dengan kesal, tapi tersenyum saat berbicara dengan Charlotte. “Kakak Ipar, bisakah kamu memberikanku uang? Aku janji akan membayarnya kembali saat aku kaya.”
“Jangan coba – coba menghasut Charlotte, dia terlalu baik.”
Charlotte menanggapi dengan tawa. “Maaf, tapi aku juga mendapatkan uang dari Elliot. Kalau dia tidak mau memberikannya padamu, maka aku juga tidak bisa.”
“Elliot kau jahat sekali! Kenapa tidak memberikan Kakak Ipar sepersen pun uang?”
Sebelum Elliot membalas, Charlotte sudah lebih dahulu menjawab. “Bukan begitu, Elliot biasanya akan langsung memberikanku uang jika aku minta, jadi biasanya aku memegang kartu kreditnya.”
Merasa tidak sanggup meladeni Noelle, Elliot akhirnya berdiri dan mengambil ponsel Noelle. “Pulang sana, jangan menggangguku di kantor.”
Noelle berdecak, berusaha keras mengambil ponselnya yang dipegang oleh Elliot. Namun, Elliot terlalu tinggi sehingga meski Noelle melompat, dia tetap tidak mampu menggapai ponselnya sendiri.
Karena tidak mampu mengambil ponselnya, Noelle akhirnya memberikan sebuah penawaran. “Bagaimana bila aku membantumu?”
“Membantu apa? Aku tidak membutuhkan bantuan anak – anak.”
Noelle menendang betis Elliot, sehingga pria itu membungkuk dan Noelle bisa merebut ponselnya kembali.
“Kurang ajar! Jangan menggangguku!”
“Data di departemenmu kena malware kan?”
“Bagaimana kamu bisa tahu?”
Noelle tersenyum, “Tadi aku tanpa sengaja menguping pembicaraan karyawan kalian. Nah, Elliot, kebetulan sekali aku mampu memperbaikinya.”
“Jangan berbicara omong kosong. Anak berusia 18 tahun sepertimu mana bisa memperbaiki sesuatu yang bahkan orang dewasa tidak bisa perbaiki.”
“Jangan meremehkanku! Aku bahkan sudah mengikuti komunitas pencinta komputer sejak usia 15 tahun! Di dalam komunitas, aku adalah yang terbaik. Sayangnya tidak ada yang mau memperkerjakanku karena aku belum dewasa.”
Elliot tertawa, “Mereka tidak memperkerjakanmu tentu saja karena kamu tidak mampu. Lagipula untuk apa kamu bekerja sejak dini? Fokus saja terhadap sekolahmu.”
“Pelajaran sekolah itu membosankan, jika bisa langsung bekerja secara langsung, kenapa pula aku harus sekolah?”
“Noelle, jangan bertingkah seenaknya. Ayah akan marah kepadamu.”
“Aku tidak perduli. Lagipula aku juga tidak tertarik dengan perusahaan. Jadi bagaimana Elliot, apa kamu mau menggunakan jasaku?”
Elliot sesungguhnya juga tahu kalau Noelle sudah menyukai komputer sejak dia berusia 12 tahun. Anak itu biasanya akan merengek pada Arthur untuk diperbolehkan bermain komputer, tapi tidak ada yang menggubrisnya karena Arthur ingin Noelle belajar dengan serius.
Dan kini, Elliot baru tahu jika Noelle diam – diam mempelajari komputer di belakang punggung Arthur. Walau benci mengakuinya, tapi sebenarnya Noelle itu memang cerdas dan Elliot tahu akan itu.
“Noelle, kamu tidak boleh melakukan uji coba dengan mengutak – ngatik data perusahaanku. Jika datanya berakhir hilang semua, maka Ayah pasti akan membunuhku besok.”
“Jangan khawatir, aku pasti tidak akan menyeretmu ke dalam masalah. Kamu hanya perlu percaya kepadaku.”
Selama beberapa saat, Elliot tidak menanggapi. Dia memperhatikan sosok adiknya itu secara menyeluruh, menimbang – nimbang haruskah dia mencoba saja atau mengusir Noelle dari kantor.
Karena Elliot tidak kunjung menggubris perkataan Noell, Charlotte akhirnya berjanji kepada Noell akan memberikannya uang apabila Noell bisa memulihkan data perusahaan. “Elliot, kita bisa mencobanya dahulu di data yang kecil, jika dia memang bisa, maka baru berikan dia tanggung jawab untuk mengatasi databese utama.”
Elliot mengetuk – ngetukkan jarinya di atas meja, diam – diam juga Elliot ingin mempercayai ucapan Noelle karena sudah menemukan jalan buntu.
“Baiklah, coba saja dulu mengembalikan data di komputerku.”
Setelah mendapatkan kepercayaan dari Elliot, Noelle dengan sigap langsung duduk di hadapan komputer Elliot dan menggerakan jari – jemarinya di atas keyboard.
“Jika aku berhasil mengembalikan datamu. Berapa upah yang akan aku terima?”
Elliot, “Sebanyak yang kamu mau.”
Mendengar hal itu, senyuman merekah di wajah Noelle yang masih muda. Elliot berdiri di samping Noelle, memperhatikan setiap upaya anak itu dalam mencari malware dan data – data yang hilang. Satu – satunya suara yang terdengar di ruangan itu hnyalah suara ketikan keyboard yang membuat semua orang yang ada di ruangan itu menjadi tegang.
Pasalnya apabila Noelle berhasil, maka dia telah memberikan harapan baru kepada Elliot yang sempat frustasi.
Menit demi menit telah terlewati, layar komputer kini sudah dipenuhi oleh banyak rumus – rumus software yang tidak Elliot mengerti, tetapi sangat dipahami oleh Noelle.
“Bagaimana?” tanya Elliot penasaran.
“Sebentar lagi,” balas Noelle.
Gerakan mata Noelle begitu cepat, sedangkan jari – jarinya tak kunjung terangkat dari atas keyboard.
DING!
Sebuah progress bar muncul di layar komputer, membuat Noelle tersenyum senang dan berkata. “Kita hanya perlu menunggu sampai 100 %, setelah itu malware akan terhapus dan data – data di dalam komputermu akan kembali.”
Ucapan Noelle membuat Elliot sedikit tegang. Pasalnya Renold dan Lino juga sebelum ini gagal saat tinggal menunggu progress bar. Tapi dia sedikit lega, saat melihat wajah Noelle tampak begitu percaya diri, seolah benar – benar tidak akan membuat kesalahan.
Bersambung… SUAMI MENDAPATKAN BANTUAN
“Prosesnya agak lama. Kita hanya perlu bersabar,” kata Noelle.
Angka persen di layar bergerak begitu lamban, tapi setidaknya tidak mengalami error. Elliot lantas mengambil tempat duduk lain dan duduk di sebelah Noelle. Charlotte dan Erland tengah melakukan pekerjaan mereka sendiri di luar, jadi hanya ada Elliot dan Noelle saja di dalam ruangan itu.
“Noelle, kenapa kamu meminta uang kepadaku alih – alih Johan?”
Noelle mengambil permen dari dalam saku bajunya. “Aku sudah bilang ke sekretarismu, kami berdua tidak dekat.”
Elliot melipat kedua tangannya di depan dada. “Kita juga tidak dekat.”
“Setidaknya kamu tidak semenyebalkan Johan.”
“Kita bahkan jarang berkomunikasi, bagaimana kamu tahu aku tidak semenysbalkan dia?”
Noelle, “Saat di perjamuan makan malam terakhir, kulihat kamu begitu baik dengan Charlotte. Jadi kupikir mungkin kamu tidak seburuk itu.”
Elliot akhirnya mengerti kenapa Noelle tiba – tiba mendatanginya padahal di kehidupan lampau mereka jarang sekali berkomunikasi. Tampaknya perubahan sifat yang Elliot tunjukkan di hadapan keluarganya telah membuat Noelle berpikir bila Elliot bukan orang yang jahat.
“Lagipula, memangnya aku tidak boleh menemuimu karena Ibu kita berbeda?” Noelle sedikit menundukkan kepalanya saat dia berkata, “Walau satu ibu pun, Johan dan aku juga tidak pernah berbicara. Kalian semua terlalu sibuk meributkan ahli waris perusahaan, aku jadi membenci perusahaan.”
Elliot tiba – tiba merasa bila dia salah bicara. Bagaimana pun juga Noelle masih anak – anak, sehingga wajar bila dia mudah tersinggung. Elliot sudah biasa menyindir Johan karena mereka berbeda ibu, tapi Noelle pasti tidak terbiasa.
Setelah dipikir – pikir, di rumah juga jarang ada yang berbicara dengan Noelle karena terlalu sibuk berdebat satu sama lain. Noelle masih terlalu belia sehingga dia mudah tersingkir setiap kali seluruh anggota keluarga berbicara.
Anak ini mungkin kesepian.
“Bukan begitu,” Elliot berkata, “Meski berbeda ibu, setidaknya kita satu ayah. Jadi, kita masih bisa disebut sebagai saudara.”
Noelle lantas tertawa. “Aku jamin kamu pasti tidak akan mengucapkan kalimat yang sama untuk Johan.”
“Ya, sepertinya itu agak sulit,” balas Elliot seraya tertawa.
Setelah itu keduanya tidak saling berbicara lagi, mungkin masih sama – sama canggung satu sama lain. Angka di layar sudah mencapai hampir 80 %, kemungkinan besar akan mendapatkan hasil usai menunggu selama 15 menit lagi.
Karena Elliot tidak tahan dengan suasana yang sunyi, akhirnya dia mulai berbicara lagi. “Bagaimana nilaimu di sekolah?”
Noelle berdecak, “Jangan seperti Ayah, dia selalu menanyakan hal yang sama saat bertemu denganku. Omong – omong nilaiku bagus.”
“Tahun ini kamu akan lulus, apa Ayah memaksamu untuk masuk ke bidang pembangunan atau manajemen bisnis?”
“Ya, seperti biasa. Dia ingin Putranya meneruskan bisnis, tapi aku tidak berminat, aku ingin masuk ke jurusan IT. Lagipula, kamu yang sudah susah payah kuliah di Teknik Sipil dan Bisnis saja masih bisa di depak dari ahli waris.”
Noelle memukul mulutnya sendiri karena sudah salah bicara. “Maaf, tidak sengaja.”
Elliot tertawa. “Tidak apa, hidupku jauh lebih tenang setelah keluar dari ahli waris utama. Jika kamu ingin masuk ke jurusan lain, aku bisa membantumu bicara dengan Ayah. Mungkin dia akan mengerti, bila melihat pencapaian kamu.”
“Sungguh? Kamu benar – benar akan membantuku bicara dengan Ayah?” tanya Noelle dengan antusias.
“Mhm, asal kamu mengurangi obsesimu terhadap game.”
Noell, “Itu kesenanganku! Aku bahkan tidak bodoh meski banyak bermain game.”
DING!
Progress bar di layar komputer akhirnya berubah menjadi 100 %, membuat keduanya segera menatap komputer secara bersamaan. Noelle lantas membuka beberapa folder, ia menggeser layar komputernya sedikit agar Elliot bisa melihat isi dari folder itu juga.
“Bagaimana? Apakah sudah kembali?”
Elliot lekas setengah berdiri saat melihat folder – folder yang sempat menghilang sudah kembali. Dia merebut mouse dari tangan Noelle, kemudian mengecek isi dari folder itu satu – persatu, memastikan bila memang semuanya sudah kembali.
“Keajaiban, ini benar – benar keajaiban! Bagaimana kamu bisa melakukannya?”
Noelle, “Bukan keajaiban, itu namanya keahlian. Sulit menjelaskannya, kamu tidak akan mengerti.”
“Kamu juga bisa memperbaiki data yang rusak di komputer utama?”
“Tentu, tapi sepertinya agak memakan waktu, mungkin sekitar 5 jam untuk mengembalikan semua data. Malware yang masuk ke dalam softwaremu ini cukup ganas, sulit untuk membasminya dalam waktu singkat.”
Elliot berkata, “Tidak apa – apa. Asal kamu bisa membetulkannya, selama apapun juga tidak masalah.”
Noelle mengambil secarik kertas note dari meja Elliot, kemudian menuliskan sederet angka. “Sebelum itu, bisakah kamu mengirimkan uang muka dulu ke rekeningku? Aku tidak mau bekerja dengan cuma – cuma.”
Elliot menghela napas, “Dasar perhitungan.”
• • •
Seluruh karyawan di kantor Departemen Infrastruktur III digemparkan oleh kemunculan anak berusia 18 tahun yang kini tengah mengotak – atik komputer utama. Beberapa karyawan IT merasa bila harga diri mereka tercoreng akibat membiarkan anak itu membersihkan malware dan mengembalikan data utama yang hilang.
“Apa Tuan Elliot yakin ingin memberikan tugas seberat itu kepada anak kecil?” bisik Renold kepada rekannya.
“Sstt … jangan keras – keras, dia mungkin merasa begitu frustasi sampai membiarkan anak – anak berusaha mengembalikan data.”
Lino berdecak, “Kalian terlalu banyak bergosip. Tuan Elliot tidak mungkin memperkerjakan seseorang secara sembarangan. Omong – omong, anak itu Noelle Landegre, jadi perhatikan ucapanmu bila tidak mau terkena masalah.”
Meski ada banyak orang yang membicarakannya, Noelle tampaknya tidak begitu perduli. Dia dengan santai menggerakan jarinya di atas keyboard dan berusaha memecahkan rumus – rumus komputer yang terlihat sulit. Terdapat segelas susu hangat yang tinggal setengah dan beberapa kue kering di sampingnya. Mau dilihat berapa kali pun, dia memang masih anak – anak.
Elliot yang duduk di samping Noelle akhirnya mengangkat kepalanya. Dia lantas menatap para karyawannya itu dan berkata, “Apa kalian sudah tidak mempunyai pekerjaan? Cepat lanjutkan pekerjaan kalian dan berhenti melihat ke arah sini.”
Di tengah – tengah pekerjaannya, Noelle sempat berbisik. “Apa kamu dan Charlotte pura – pura tidak saling mengenal di perusahaan?”
Elliot, “Dia yang minta, jadi jangan memanggil dia sembarangan.”
Noelle mengangguk sebagai tanda mengerti. Padahal diam – diam dia berpikir, akan lebih baik bila semua orang tahu mengenai hubungan mereka sehingga Charlotte tidak akan mudah diremehkan oleh orang lain.
Seperti halnya saat ini, Noelle melihat ada seorang karyawan pria yang sedari tadi berusaha mengajak Charlotte berbicara meski dari raut wajahnya saja Charlotte sudah tampak tidak nyaman.
“Senior Ben, sebelum ini Senior Sean sudah mengajari saya. Jadi Anda tidak perlu repot – repot mengajari saya lagi.”
Benedict mengibaskan tangannya di udara dan tertawa. “Kamu sempat tidak masuk selama satu minggu, tidak ada salahnya bila aku ikut membantumu.”
Benedict meletakkan telapak tangannya di atas tangan Charlotte yang berada di mouse, kemudian menggerakan tangan mereka bersama. “Untuk pekerjaan ini, kamu bisa melakukannya begini.”
Tangan Charlotte bergetar, merasa sangat tidak nyaman disentuh tanpa seizinnya. Dia baru saja hendak protes, tapi suara Elliot dari seberang ruangan terdengar. “Tuan Cooper, apa kamu ingin dilaporkan atas tindakan pelecehan seksual? Sependengaranku, Nona Baxter sudah bilang tidak perlu bantuan.”
Tatkala Benedict menoleh, dia bertemu pandang dengan kedua mata Elliot yang terlihat marah, alisnya berkerut, dan kulitnya memerah. Entah mengapa, Benedict memiliki firasat buruk apabila dia tetap meneruskan aksinya untuk menganggu Charlotte. Jadi dia diam – diam melepaskan tangannya dari tangan Charlotte dan beralih duduk ke kursinya.
“Nona Baxter, apa kamu baik – baik saja?”
Charlotte tersenyum. “Tidak apa – apa, Sir.”
Merasa bila Charlotte merupakan tanggung jawab dari Sean Thompson. Wanita itu buru – buru berdiri dari kursinya dan membungkuk sedikit di hadapan Elliot. “Mohon maaf, Sir. Saya harusnya lebih memperhatikan anak magang agar tidak menerima perlakuan buruk.”
Elliot menghela napas dan mengangguk. “Kembali bekerja.”
Ruangan lantas menjadi hening karena para karyawan merasa suasana hati Elliot sedang buruk. Sampai akhirnya Noelle berseru dua jam kemudian. “Berhasil! Kita hanya perlu menunggu prosesnya selesai, mungkin menunggu selama tiga jam.”
Elliot secara reflek bertepuk tangan sekali. “Tidak kusangka akan begitu cepat! Jika kemampuanmu seperti ini, aku pasti akan berbicara kepada Ayah untuk membiarkan kamu memilih jurusan yang kau inginkan.”
Noelle menyesap susunya yang sudah dingin, lalu menjawab. “Kamu benar – benar harus membantuku atau datamu akan kuhilangkan lagi.”
Ketika sedang menunggu satu jam pertama, Elliot melirik ke arah arlojinya dan menemukan waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Wajah – wajah karyawannya yang sudah bekerja dari kemarin tampak begitu lelah dan beberapa hampir tertidur saat mereka sedang bekerja.
Karena tidak ingin mengeksploitasi para karyawannya. Akhirnya Elliot menyuruh mereka untuk membereskan barang bawaan mereka dan pulang. “Kalian sudah bekerja keras selama dua hari terakhir. Sebaiknya kalian pulang hari ini dan kembali besok pagi, biarkan aku yang mengurus sisanya.”
Walau merasa senang, para karyawan itu juga agak enggan. “Tapi, bukankah lebih baik apabila kita menunggu sampai datanya benar – benar pulih? Mungkin saja Anda membutuhkan bantuan kami lagi.”
Elliot menggeleng. “Sudah cukup, aku tidak mau seluruh karyawannya jatuh sakit karena Overwork. Karena itu, cepat pulang dan beristirahat di rumah. Aku tidak menerima penolakan kalian.”
Mau tidak mau, seluruh karyawan akhirnya mengemasi barang – barang mereka dan berpamitan kepada Elliot. “Kami pulang dulu, Sir. Sebaiknya hubungi kami jika Anda memerlukan bantuan.”
“Jangan khawatirkan perusahaan lagi, tidur saja yang nyenyak. Oh, omong – omong aku akan memberikan kalian bonus karena sudah lembur selama satu harian penuh. Bonus masing – masing bisa di cek dua hari lagi di rekening kalian.”
Suara sorakan kegirangan lantas membanjiri ruang kantor itu, mereka tidak henti – hentinya mengucapkan terima kasih saat meninggalkan ruangan. Berbeda dengan para karyawan yang langsung pulang, Erland malah terlihat sangat enggan untuk meninggalkan ruangan.
“Saya akan menunggu Anda sampai selesai.”
Elliot menghembuskan napas, lalu berdiri dan menyeret Erland untuk pergi keluar. “Pulanglah, anjing – anjingmu mungkin bisa mati jika kamu tidak segera memberi mereka makan.”
Erland berjuang keras supaya tidak diusir. “Tidak apa – apa, seorang tetangga sudah memberi mereka makan saat saya pergi.”
“Tapi aku benar – benar memaksamu untuk pulang atau aku akan mencari sekretaris lain yang lebih penurut.”
Merasa berdebat dengan Elliot adalah hal yang melelahkan, Erland akhirnya menyetujui dengan berat hati. “Baiklah, saya akan pulang. Segera pulang jika pekerjaan Anda sudah selesai.”
Setelah susah payah mengusir para karyawan, ruangan itu akhirnya menjadi kosong, menyisakan Elliot dan Noelle berdua. Ketika Elliot hendak duduk, dia mendengar suara pintu yang terbuka lagi dan menampakkan Charlotte yang kembali naik ke atas usai karyawan lain pulang.
“Charlotte, kamu juga harus pulang.”
“Tidak seperti karyawan lain, aku belum lembur kemarin. Jadi aku memutuskan untuk lembur hari ini agar mendapatkan bonus.”
Noelle lantas berseru. “Elliot, kamu benar – benar kejam! Kenapa kakak ipar sampai harus bersusah payah untuk lembur agar mendapatkan uang tambahan?! Aku akan melaporkannya ke Ayah!”
Bersambung… SUAMI MEMBERI PELAJARAN HIDUP
Elliot segera merebut ponsel milik Noelle dari tangannya. “Jangan mendramatisir keadaan, memangnya bonus hanya uang!”
“Kalau bukan uang, lalu apa?”
Elliot hendak membuka mulutnya, tapi diurungkan. Dia kembali berbicara setelah diam selama beberapa saat. “Anak kecil tahu apa?! Fokus saja pada pekerjaanmu itu.”
Sesaat kemudian, Charlotte menarik kursi untuk duduk di samping Elliot, lalu mengeluarkan beberapa snack dari tasnya yang sempat ia beli saat jam istirahat. “Noelle, kamu bisa makan ini dulu jika lapar.”
Noelle dengan senang hati langsung mengambil beberapa bungkus snack dan membukanya. Sedari tadi camilan yang disuguhkan oleh kantor hanyalah kue – kue kering, padahal dia lebih suka snack yang dijual di supermarket. “Kamu sangat perhatian. Charlotte, bukankah perbedaan usia kita tidak begitu jauh? Bagaimana bila kamu menceraikan saudaraku dan menikah denganku saja?”
Sontak Elliot memukul kepala belakang Noelle. Tidak begitu keras, tapi cukup membuat Noelle mengaduh sakit.
“Kamu ingin mengajakku bertengkar? Bisa – bisanya mengajar Charlotte menikah di depan suaminya.”
“Jadi kalau aku mengajak Charlotte menikah di belakangmu, kau akan setuju?”
Elliot mengangkat tangannya sehingga Noelle beringsut mundur. “Ulangi ucapanmu lagi, aku akan pastikan kamu melajang seumur hidup.”
Noelle mendesis. “Orang tua memang tidak bisa nyambung dengan humor anak muda.”
Charlotte akhirnya melepaskan tawa setelah melihat pertengkaran kecil mereka. “Elliot, jangan terlalu marah. Noelle hanya bercanda, dia tidak mungkin berminat dengan janda.”
“Siapa yang bilang? Kalau jandanya secantik kamu, kenapa aku tidak mau?”
“Noelle!” seru Elliot.
Charlotte menahan kursi Elliot supaya pria itu tidak mendekati Noelle dan memulai keributan. “Sudah, sudah, berhenti bertengkar. Apa kalian lapar? Haruskah kita memesan makanan di sini atau makan malam saja di rumah?”
Elliot menoleh ke Charlotte, “Kalau kamu lapar, kita bisa memesan makanan sekarang. Tapi kalau belum, makan di rumah juga tidak masalah.”
“Tsk,” Noelle yang mendengar percakapan mereka mendecih, seolah memperolok keduanya yang menebarkan cinta tepat di sebelahnya.
Sayangnya, ketika sedang berbicara berdua. Baik Elliot atau Charlotte selalu merasa dunia hanya berputar disekeliling mereka dan cenderung mengabaikan orang lain.
Charlotte, “Aku belum terlalu lapar, sepertinya makan malam di rumah tidak masalah.”
“Kalau begitu aku akan meminta pelayan di rumah untuk menyiapkan makan malam, jadi kita bisa langsung makan begitu pulang,” balas Elliot.
Kemudian Charlotte bertanya kepada Noelle. “Noelle, apa kamu mau mampir ke rumah? Pekerjaanmu mungkin baru selesai saat malam, bagaimana bila menginap di rumah kami hari ini?”
Noelle diam – diam melirik Elliot seperti sedang meminta persetujuan dari Tuan rumah. Saat melihat Elliot mengangguk, dia baru menjawab dengan antusias. “Tentu! Aku juga bosan tinggal di rumah.”
Karena dia masih sekolah, Noelle tentu saja tinggal bersama kedua orang tuanya. Ayahnya terlalu kaku, sedangkan Ibunya terlalu sibuk bergaul dengan para sosialita, sehingga wajar saja bila Noelle tidak mempunyai siapapun yang bisa ia ajak bicara dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan bermain game.
Sesungguhnya dia pergi menemui Elliot hari ini juga karena ingin mencoba peruntungan saja. Dia sudah biasa dianggap pengganggu oleh saudara – saudaranya yang lain, jadi menerima penolakan lagi bukanlah masalah bagi Noelle. Tapi siapa yang menyangka bila dia bisa mendapatkan upah tinggi dari Elliot.
Setelah berbicara dengan Elliot selama beberapa jam, Noelle akhirnya menarik kesimpulan bahwa Elliot bukanlah orang yang buruk sehingga tidak ada salahnya membantu lebih banyak.
“Apa kamu tahu kalau malware jenis ini jarang menyerang komputer tanpa sengaja?” tanya Noelle.
Elliot, “Jadi maksudmu malware ini sengaja dimasukkan oleh seseorang ke dalam komputer kantor?”
“Bisa iya bisa juga tidak. Maksudku, program antivirus yang telah dibuat oleh karyawanmu sudah sangat bagus, tidak mungkin bisa didobrak oleh malware yang berasal dari internet. Kecuali bila ada seseorang yang dengan sengaja mematikan antivirus di komputer utama dan memasukkan malware secara manual?”
“Misalnya?”
“Malware ditransfer dari flashdisk ke komputer. Karena ini komputer utama, tentu bisa dengan mudah mengirimkan malware ke komputer lain.”
Ekspresi Elliot menjadi sangat serius saat mendengar ucapan Noelle. “Tidak ada yang bisa mengakses komputer utama selain karyawan di Departemen Infrastruktur III. Sembarangan tamu juga tidak diperkenankan berkeliaran dengan bebas di dalam ruang karyawan tanpa seizinku. Jadi, mungkinkah ini perbuatan dari karyawanku sendiri?”
Noelle, “Kemungkinan besar iya.”
“Kita bisa mengecek CCTV untuk mencari orang yang mencurigakan. Selama satu minggu terakhir, kamu tidak ada di kantor, jadi pasti orang ini merasa lebih aman,” kata Charlotte.
Elliot, “Kamu benar, sebaiknya kita melihat CCTV kantor dulu.”
Elliot dan Charlotte lantas melihat rekaman CCTV dari komputer lain. Keduanya berbagi tugas dengan mengecek rekaman di hari yang berbeda. Pada awalnya mereka tidak menemukan ada suatu keanehan, semua tampak normal seperti biasa dan orang – orang yang menggunakan komputer utama juga kebanyakan karyawan IT yang dipercayai oleh Elliot.
Sampai tiba – tiba Charlotte menemukan sebuah rekaman CCTV yang error tepat satu hari sebelum kepulangan mereka ke New York. Rekaman itu juga baru mati saat para karyawan sudah pulang, tepatnya 15 menit usai jam kerja selesai dan anehnya kembali berfungsi normal setengah jam kemudian.
“Elliot, lihatlah. Bukankah ini aneh? Kenapa CCTV nya tiba – tiba rusak.”
Elliot memperhatikan rekaman itu dengan lebih seksama dan berkata. “CCTV nya tidak rusak, tapi ada seseorang yang mematikan sistemnya untuk sementara.”
“Apa kamu tahu siapa orang yang bisa dicurigai?”
“Sistem CCTV sepenuhnya dikendalikan oleh pihak keamanan. Aku rasa, kita bisa mencari tahu siapa staff yang bertanggung jawab untuk menjaga CCTV di hari itu.”
Elliot melanjutkan, “Karena mungkin saja ada beberapa orang yang bekerja sama untuk menjatuhkanku.”
Charlotte memegang tangan Elliot dan berusaha menenangkannya. “Kita pasti mampu menemukan dalang yang telah membuat kamu terancam. Siapapun orang itu, dia pantas untuk mengganti rugi atas kerusakan yang telah ia timbulkan.”
Elliot menghela napas, “Padahal aku baru saja berusaha untuk bekerja dengan baik, tapi selalu ada saja orang – orang yang ingin membuatku terlihat buruk. Menyebalkan.”
Charlotte memberikan Elliot sebuah pelukan hangat seraya berkata. “Elliot sudah banyak memiliki pencapaian setelah bekerja keras, wajar saja bila ada banyak orang yang merasa iri. Tapi tenang saja, rasa iri mereka pada akhirnya hanya akan menjadi bumerang yang melukai mereka sendiri.”
Tatlala Elliot dan Charlotte sedang terlarut ke dalam percakapan mereka sendiri. Noelle tiba – tiba menimpali. “Dia mendapat kebencian bukan karena rasa iri, tapi karena mempunyai banyak kesialan. Bagaimana bila kamu membeli jimat keberuntungan? Kebetulan aku sempat membeli banyak saat sedang berlibur ke London.”
Elliot sedikit mendorong kursi Noelle menggunakan kakinya karena kesal. “Ini sudah zaman modern, siapa juga manusia gila yang masih menjual jimat keberuntungan. Dia mungkin saja hanya pengemis jalanan yang ingin mendapatkan uang dengan menjual jimat palsu.”
“Siapa bilang? Buktinya hari ini aku mendapatkan banyak uang darimu setelah membawa jimat keberuntungan!”
Saat jam menunjukkan pukul 9 malam, Noelle akhirnya berhasil menghapus seluruh malware dan mengembalikan data – data perusahaan yang sempat hilang. Padahal dia memperkirakan akan selesai jam 7, tapi ternyata sistemnya sempat error karena dia melakukan kesalahan kecil.
Karena Noelle akan menginap di rumah Elliot hari ini, anak itu turut masuk ke mobil yang sama dengan Elliot dan Charlotte. Mungkin karena terlalu lama menatap komputer, Noelle jadi merasa matanya terasa berat dan terus menguap di sepanjang jalan. Begitupun dengan Charlotte yang belum beristirahat setelah turun dari pesawat.
Wanita itu menyandarkan kepalanya ke pundak Elliot dan diam – diam mulai memejamkan mata. Karena melihat Charlotte memeluk dirinya sendiri, Elliot jadi menurunkan suhu AC di kursi belakang dan menggunakan mantelnya sebagai selimut untuk Charlotte.
Noelle yang melihat perilaku Elliot melalui kaca di kursi depan kembali mendecih. “Tsk, pengantin baru memang menyebalkan.”
Elliot menendang bagian belakang dari kursi Noelle sehingga Noelle sedikit terlonjak ke depan, kemudian membalas. “Jangan terlalu iri, rasa iri bisa membunuhmu.”
“Aku tidak iri. Dibandingkan kamu, aku bahkan lebih populer dan ada banyak wanita yang mengantri untuk menjadi kekasihku.”
Elliot tertawa, “Paling – paling mereka ingin memacarimu karena kamu sering mentraktir mereka. Pantas saja Ayah memblokir kartu kreditmu.”
“Dengarkan aku, Noelle,” Elliot berkata, “Orang – orang yang sekarang ingin dekat denganmu hanyalah sekumpulan lebah yang ingin menghisap uangmu sampai habis. Jika kamu sudah tidak memiliki uang, mereka pasti akan langsung meninggalkan kamu, membuangmu, dan bahkan tidak menganggap kamu ada.”
“Mereka tidak seperti itu! Aku dan teman – temanku sudah sangat dekat. Kami bahkan hampir setiap hari makan bersama, bermain games bersama, dan akan pergi ke konser bersama. Aku sering mentraktir mereka karena ingin saja.”
“Kalau memang sedekat itu, kenapa kamu malah meminta uang kepadaku untuk membeli tiket konser alih – alih meminjam uang kepada mereka? Kamu sering mentraktir mereka, lalu kemana mereka saat kamu sedang tidak memiliki uang.”
“Tiket konser lumayan mahal, wajar bila mereka tidak bisa membelikanku satu!”
“Baik, jika memang tiket konser itu mahal. Bagaimana bila sekarang kamu menghubungi teman – temanmu dan bilang ingin meminjam uang. Tidak perlu banyak, pinjam saja 50$.”
Noelle yang tidak terima bila hubungan pertemanannya dipertanyakan segera menghubungi seluruh teman dekatnya dan berusaha meminjam uang. Awalnya dia masih berfikiran positif bila semua temannya pasti bisa meminjamkan dia uang jika hanya 50$, tapi lambat laun ekspresinya semakin gelap saat menerima balasan dari teman – temannya.
[Maaf, Noelle. Tapi kartu ATM ku hilang tadi siang, jadi tidak bisa meminjamkanmu]
[Aduh, maaf. Motorku baru saja diservis, karena itu uangku tidak begitu banyak]
[Maafkan aku, ibuku sedang sakit jadi aku harus membelikannya obat]
Balasan dari teman – temannya yang lain turut diawali dengan kata maaf, yang artinya mereka tidak bisa meminjamkan uang kepada Noelle.
Elliot tersenyum puas saat melihat ekspresi Noelle. “Bagaimana? Ada yang ingin meminjamkanmu?”
Noelle menjawab dengan lesu. “Tidak ada.”
“Satupun tidak ada?”
“Tidak ada. Bahkan para anak perempuan yang biasanya sering mengirimiku pesan mendadak tidak membalas pesanku.”
“Seperti yang kukatakan, mereka hanyalah lebah.”
Noelle masih murung, tampaknya tidak percaya bila teman – temannya hanya mendekatinya karena uang semata. “Bagaimana kamu bisa tahu mereka hanya lebah?”
Elliot menumpukkan kepalanya di atas kepala Charlotte, lalu menjawab dengan sedikit lesu juga. “Pengalaman pribadi.”
[Theater Mini]
Lagi – lagi kedatangan tamu dari novel sebelah (REFLECTION OF DEATH).
Elliot : Hanya orang gila atau pengemis jalanan yang menjual jimat keberuntungan.
Zenon : Siapa yang kau sebut pengemis jalanan?! Bajingan, jangan sampai aku membeli saham perusahaanmu dan membagikan jimat kesialan ke seluruh karyawanmu!
Elliot : Seperti dugaanku, orang gila.
Zenon : Kemari kau! Aku benar – benar akan memukulmu hari ini
Bersambung… ISTRIKU MENCURIGAI SESEORANG
Malam sudah larut saat mereka tiba di rumah, sehingga mereka hanya makan malam sebentar sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar, kemudian berganti pakaian menjadi piyama.
Charlotte menguap beberapa kali, matanya yang sudah mengantuk menatap pantulan wajahnya di hadapan cermin, tangannya menuangkan pembersih makeup ke atas kapas lalu mengusapkannya ke wajah. Di lain sisi, Elliot baru saja keluar dari kamar mandi dan melemparkan dirinya ke atas tempat tidur, lehernya terasa agak sakit setelah merasa tegang seharian.
“Jika mengantuk, kenapa tidak dibersihkan besok saja?” tanya Elliot.
“Kulitku bisa rusak kalau malas membersihkan riasan. Sudah mendapatkan jadwal satpam yang bertanggung jawab saat CCTV mati?”
Elliot meraih ponselnya dari atas nakas, lalu membuka pesan pribadinya yang belum terbaca. “Sudah, kepala penjaga baru saja mengirimkannya. Hmm .. di sore hari ada sekitar empat satpam yang menjaga ruang CCTV. Ada Bobby, Chad, Jeff, dan Adam.”
“Kepala penjaga bilang kalau di dalam ruang keamanan terdapat banyak monitor CCTV, biasanya akan ada bunyi peringatan jika ada monitor CCTV yang mati, tapi peringatan itu tidak akan bunyi apabila sengaja dimatikkan.”
Charlotte akhirnya berbaring di sebelah Elliot setelah membersihkan wajah. “Lalu apa ada suara peringatan pada waktu itu?”
“Tidak ada.”
“Maka artinya CCTV memang sengaja dimatikan,” Charlotte melanjutkan, “Karena ada banyak monitor CCTV, penjaga lain mungkin tidak akan sadar kalau ada satu monitor yang mati. Tapi di antara empat satpam, siapa yang kira – kira mematikan CCTV?”
Elliot menggendikan bahu, “Entahlah, aku bahkan tidak familier dengan nama mereka, sama sekali tidak tahu harus curiga kepada siapa.”
Charlotte meletakkan kedua tangannya di atas perut saat dia berbaring telentang. Kedua matanya menatap langit – langit kamar seraya memikirkan sesuatu. Tatkala dia menemukan secercah pikiran, Charlotte langsung memiringkan tubuhnya dan melihat Elliot. “Jika menebak siapa penjaga yang mematikan CCTV terlalu sulit, bagaimana bila mencari tahu siapa saja yang bisa mengakses komputer utama selama kamu pergi.”
“Sesungguhnya komputer utama tidak begitu sering digunakan. Hal ini karena fungsinya hanya untuk menyimpan seluruh data yang ada di komputer masing – masing karyawan. Komputer itu sangat penting, sehingga butuh sidik jari untuk membukanya.”
Elliot tampak berusaha mengingat sesuatu. “Orang yang bisa membukanya adalah aku, Erland, dan ketua di setiap divisi. Jika ditotal, mungkin hanya ada lima belas orang yang bisa membukanya.”
“Ada yang mencurigakan dari lima belas orang itu?” tanya Charlotte.
Elliot berusaha menjawab, tapi otaknya terasa buntu sehingga dia mengacak – ngacak rambutnya dan menjawab dengan frustasi. “Aku tidak tahu, ada terlalu banyak orang mencurigakan di dunia ini.”
Charlotte lantas mendekap Elliot dan menepuk punggungnya. “Kita bisa memikirkannya pelan – pelan. Bagaimana bila mengecek latar belakang dari masing – masing karyawan yang punya akses terlebih dahulu? Mungkin kita bisa menemukan petunjuk, aku juga bisa membantumu.”
“Kamu benar. Besok aku akan mengecek kembali latar belakang lengkap mereka.”
“Kenapa tidak sekarang?”
Elliot menarik selimut dan mematikan lampu. “Sudah larut, kamu pasti mengantuk.”
“Oh, kupikir kamu ingin memberiku bonus,” kata Charlotte dengan intonasi polos meski sesungguhnya tidak.
“Jangan memancing, Charlotte. Besok kita masih kerja, bisa – bisa besok kamu kelelahan.”
Charlotte tertawa sebentar, lalu mencium bibir Elliot sekali. “Bercanda, aku juga ingin tidur. Selamat tidur.”
Wanita itu bersandar di lengan Elliot, lalu menenggelamkan wajahnya ke dalam ceruk leher Elliot. Elliot turut tersenyum, dia membelai kepala Charlotte beberapa kali sebelum akhirnya ikut memejamkan mata. “Selama tidur juga.”
Keesokan harinya, Noelle pulang ke rumah orang tuanya pagi – pagi buta karena harus mengambil buku sekolahnya sebelum dia berangkat sekolah. Karena keributan yang ditimbulkan oleh anak itu juga, Elliot dan Charlotte ikut terbangun meski matahari belum terbit.
Karena tidak bisa tidur lagi, mereka memutuskan untuk bersiap – siap pergi ke kantor dan sarapan di ruang makan. Seraya menggigit roti panggangnya, Elliot melihat – lihat dokumen berisikan data diri lengkap dari para karyawan yang bisa mengakses komputer utama. Dia memperhatikan setiap detail yang tertera di dalam dokumen, mulai dari latar belakang pendidikan, runtutan pekerjaan yang pernah mereka jalani, dan sebagainya.
Charlotte mengangkat kepalanya, dan bertanya, “Boleh aku lihat?”
“Tentu, lagipula aku juga sudah pernah membaca data mereka, hanya ingin memastikan saja.”
Charlotte menerima tab dari Elliot, kemudian bertanya lagi, “Lalu kamu mendapatkan petunjuk?”
“Tidak.” Elliot menghela napas. “Semuanya terlihat tidak ada masalah.”
“Kamu harus mempersempit lingkupnya dulu. Sebaiknya singkirkan ketua – ketua divisi yang tidak begitu mahil dalam menggunakan komputer. Divisi ini tidak perlu, ini juga …”
Charlotte mengambil sebuah buku catatan kecil dari tasnya, kemudian menuliskan setiap nama yang bisa mendapatkan akses ke komputer utama. Setelah memilah – milah, dia akan mencoret beberapa nama yang dirasa tidak diperlukan sehingga ada makin sedikit nama di catatannya.
“Sisanya ada enam orang, sehingga kita bisa menargetkan dalangnya dengan lebih mudah.”
Elliot, “Meski hanya sedikit, tetap saja sulit untuk mencari dalangnya.”
Charlotte tidak lekas menjawab, dia membaca latar belakang dari masing – masing karyawan secara singkat dan lebih serius saat membaca riwayat pekerjaan mereka.
“Permasalahan yang kita hadapi itu berkaitan dengan program komputer, jadi sepertinya kita perlu memeriksa ketua divisi IT dengan lebih seksama,” kata Charlotte.
“Kamu mencurigai Renold?”
Tanpa menatap Elliot, Charlotte membalas, “Kita bisa mencurigai siapapun selagi tersangka belum ada.”
Charlotte membaca data milik Renold Portman beberapa kali, sebelum akhirnya fokus ke salah satu riwayat pekerjaan yang pernah ia lakukan. “Berdasarkan riwayat pekerjaannya, Tuan Portman pernah bekerja di Departemen Infrastruktur I selama 10 tahun, lalu pindah Departemen Infrastruktur III tiga tahun yang lalu. Kenapa dia tiba – tiba bisa dipindahkan?”
Elliot, “Renold Portman dipindahkan ke Departemen Infrastruktur III bertepatan saat Johan baru menjabat di Departemen Infrastruktur I. Mungkin Renold dipindahkan karena Departemen III masih kekurangan banyak orang waktu itu dan Johan juga seringkali mengambil alih departemenku sebelumnya.”
Charlotte mengerutkan keningnya, “Maka artinya Tuan Portman lebih dekat dengan Johan daripada kamu?”
“Ya, bisa dibilang begitu. Selama tiga tahun terakhir yang terus mengurus Departemen Infrastruktur III adalah Johan, bukan aku.”
“Maka ada kemungkinan mereka bekerja sama.” Charlotte menatap Elliot dengan sangat serius. “Kamu harus menyelidiki Tuan Portman, cari tahu seluruh kegiatannya di dalam kantor atau luar kantor. Lihat apakah dia sering bertemu dengan Johan atau tidak, sebaiknya juga cek riwayat bank dia.”
Elliot, “Karena Johan bisa saja mengiriminya uang banyak setelah menyabotase data departemenku?”
“Ya, dia pasti menerima imbalan besar jika memang dia yang memasukan malware ke dalam komputer.”
Setelah berdiskusi banyak dengan Charlotte, Elliot akhirnya bisa tersenyum lega setelah melalui banyak hal yang memusingkan. “Charlotte, kamu memang benar – benar cerdas! Jika kamu tidak membantuku, aku mungkin tidak akan pernah tahu siapa tersangka yang cocok dalam masalah ini.”
“Jangan terlalu bersemangat.” Charlotte tertawa kecil. “Tuan Portman belum tentu tersangkanya.”
“Tidak. Tidak. Tebakanmu pasti tidak akan meleset jauh. Tapi, aku sangat kecewa bila memang Renold tersangkanya. Karena aku selalu mempercayainya untuk memperbaiki program komputer selama ini, rasanya sangat menyedihkan telah dicelakai oleh seseorang yang sangat kupercaya.”
“Terkadang apa yang kamu lihat di permukaan belum tentu sama dengan isi yang ada di dalamnya. Walau Tuan Portman terlihat baik, dia tetap saja mampu menjadi seseorang yang bisa menusuk punggungmu dari belakang.”
“Elliot, sebaiknya kamu tidak boleh terlalu mempercayai orang lain.”
Charlotte bisa berkata demikian karena dia seringkali mendapatkan perlakuan buruk dari keluarga yang dahulu pernah ia percayai tidak akan pernah menyakitinya. Pola asuh yang buruk itulah, yang menyebabkan Charlotte jadi sulit mempercayai orang lain dalam waktu singkat.
Di awal – awal Elliot berubah baik pun, Charlotte seringkali curiga kepada Elliot.
Elliot meletakkan tangannya di atas tangan Charlotte, kemudian tersenyum begitu lembut. “Charlotte, di antara semua orang. Kamu adalah satu – satunya orang yang paling kupercaya dan aku tidak akan pernah meragukanmu.”
Charlotte tertegun, tapi segera tersenyum seraya memelankan intonasi suaranya. “Aku juga tidak akan pernah meragukan kamu.”
*****
Sesampainya di kantor, Elliot segera meminta Erland untuk menyelidiki Renold Portman secara keseluruhan. Dia juga meminta tim keamanan untuk memberikan seluruh rekaman CCTV yang memuat Renold di dalamnya selama satu minggu terakhir.
Penyelidikan itu bersifat rahasia, sehingga hanya ada segelintir orang saja yang tahu. Mata Elliot sempat memperhatikan tingkah Renold dari balik jendela kantor pribadinya, pria itu terlihat begitu dekat dengan rekan kerjanya di Departemen Infrastruktur III. Jika boleh jujur, Renold sama sekali tidak terlihat seperti pengkhianat, tapi Elliot juga tidak yakin.
Karena ada banyak sekali manusia di dunia ini yang menggunakan topeng untuk menyembunyikan sifat asli mereka dari dunia.
Hari itu, Elliot tidak bisa fokus bekerja karena lebih memilih untuk menelisik latar belakang Renold lebih jauh. Pada saat jam makan siang, Erland membawakan beberapa rekaman CCTV dari tim keamanan, mereka juga sudah memastikan bila Renold ada di setiap rekaman CCTV itu.
Ketika semua karyawan sedang pergi makan siang, Elliot tetap duduk di dalam ruangannya tanpa berniat untuk beranjak pergi. Charlotte juga sepertinya makan bersama dengan rekan – rekan kerjanya hari ini sehingga Elliot ada di kantor sendirian.
Namun, ternyata Charlotte turun ke bawah bukan untuk makan bersama rekan kantornya, melainkan ingin membeli makanan untuknya dan Elliot.
Ketika Charlotte masuk ke dalam ruangan Elliot, dia melihat suaminya masih berkutat dengan rekaman CCTV tanpa ada niatan untuk beristirahat. Elliot bahkan tidak sadar bila Charlotte masuk ke dalam ruangannya dan berdiri di depan mejanya sekarang.
“Elliot, bagaimana kamu bisa fokus jika makan siang saja belum? Cepat matikan rekamannya dan makan dulu.”
Elliot terlonjak kaget saat mendengar suara Charlotte. Dia segera menoleh dan mendapati istrinya sudah membawa dua bungkusan makanan untuk mereka berdua.
“Aku membeli fish and chips di kantin kantor. Dari aromanya enak, tapi aku belum tahu rasanya.”
Elliot mematikan komputernya dan membuka kotak makanan yang dibeli Charlotte. “Kupikir kamu akan makan siang dengan rekanmu, makanya aku tidak memesan makanan. Kalau tahu kamu ingin makan denganku, aku pasti akan memesan sesuatu.”
Charlotte tertawa kecil, “Aku tidak mungkin makan, sementara kamu kelaparan sendirian di sini. Lain kali, ketika sudah jam makan siang, kamu harus mematikan komputermu dan segera makan.”
Elliot turut membalasnya dengan tawa. “Aku atasanmu di kantor, tapi kenapa kamu yang malah menasihatiku tentang etos kerja?”
“Elliot,” tegur Charlotte, pertanda kalau dia memang serius dan tidak main – main dengan ucapannya.
“Iya, tidak akan kuulangi.”
Mereka lantas menyantap makanan masing – masing sambil mengobrol singkat perihal Renold.
“Kamu sudah menyelidikinya?” tanya Charlotte.
“Mhm, aku juga sedang meminta detektif swasta untuk memeriksa riwayat rekening Renold secara diam – diam.”
Bersambung… SUAMIKU MENAHAN SESEORANG
Setidaknya butuh tujuh hari bagi detektif swasta untuk menyelidiki Renold Portman secara keseluruhan. Selama satu minggu itu, Elliot masih bersikap normal kepada Renold, dia juga masih meminta bantuan ketika ada masalah terkait program yang sedang mereka jalankan.
Akan tetapi, tujuh hari yang dipenuhi kedamaian itu akhirnya selesai begitu detektif swasta mengirimkan hasil penyelidikannya kepada Elliot. Hasil penyelidikannya berupa video rekaman Renold di luar kantor beserta beberapa lembar foto lain, catatan rekening Renold Portman, dan juga riwayat panggilan Renold di ponselnya yang lain.
Elliot lantas menganalisa hasil penyelidikan itu di rumah, supaya Charlotte bisa dengan leluasa ikut menganalisanya juga.
“Siapa orang yang dia temui ini?” tanya Charlotte seraya menunjuk beberapa foto.
Hampir seluruh foto itu memuat Renold bersama seorang pria yang sama. Mereka juga biasanya bertemu di area sekitar kantor atau tempat makan di dekat kantor.
“Itu salah satu asisten Johan,” kata Elliot.
Charlotte, “Kamu tidak terlihat kaget.”
“Aku sudah bisa menebak jika semua ini adalah ulah Johan.”
Di kehidupan lampau, Johan adalah orang yang paling senang saat melihat Elliot menderita. Maka tak heran apabila di kehidupan sekarang juga dia melakukan segala cara untuk menjatuhkan Elliot.
“Tapi memang masuk akal.” Charlotte berkata, “Departemen Infrastruktur III langsung terkena masalah begitu kamu berhasil menempati tiga peringkat atas. Johan mungkin merasa kesal dan ingin menjatuhkan kamu. Terlebih lagi, dia juga tidak memberikan reaksi yang serius saat kamu mendapatkan masalah, seolah – olah dia memang sudah tahu.”
Elliot lalu mengeluarkan lembaran bukti dari riwayat transaksi milik Renold. “Tuan Portman mempunyai 3 akun bank yang berbeda, dan ada kiriman uang yang sangat besar masuk ke tiga akunnya.”
“Berapa banyak?”
“Masing – masing dikirimi 40.000 $.”
Charlotte mengangkat kepalanya, dan ia berkata dengan sangat serius. “Maka dia mendapatkan uang sebesar 120.000 $ untuk menyabotase datamu.”
“Kita harus melaporkan perbuatannya kepada polisi,” tambah Charlotte.
“Tidak secepat itu.” Elliot berkata, “Johan bisa membeli polisi dan membebaskannya. Aku memerlukan bukti yang valid supaya Johan tidak dapat mengelak.”
“Seperti apa?”
“Kesaksian langsung dari Renold Portman.”
Keesokan paginya, Elliot memanggil Renold Portman ke ruangannya. Supaya tidak menimbulkan kecurigaan, Elliot berusaha bersika senormal mungkin di hadapan Renold.
“Duduklah,” pinta Elliot.
Dia menunjuk kursi di hadapannya dan tersenyum kepada Renold. Renold juga membalas senyum Elliot dan segera duduk di hadapannya. Entah mengapa, pria itu cenderung tampak gugup setiap kali berhadapan dengan Elliot. Mungkin rasa bersalah telah menggerogoti hatinya dan membuat Renold merasa tidak nyaman berada di sekitar Elliot.
“Apa yang bisa saya bantu, Sir?” tanya Renold.
“Begini, akhir – akhir ini aku merasa khawatir data departemen kita akan rusak lagi. Jadi, aku berpikir untuk memperkuat sistem antivirus kita.” Elliot mengambil sebuah berkas dari dalam laci kerjanya dan menyerahkan berkas itu kepada Renold. “Tuan Portman, sebagai orang yang sangat ahli di bidang ini, Anda mungkin bisa menilai kelayakan dari proposal antivirus yang baru.”
Renold diam – diam menghela napas lega saat dia mengambil berkas dari tangan Elliot. “Anda terlalu memuji, Sir. Saya tidak seahli itu, antivirus yang saya kembangkan bersama anggota IT bahkan tidak mampu mencegah Malware datang.”
“kamu tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Kejadian itu sama sekali bukan kesalahan Divisi IT…”
Perlahan, Renold mulai membuka berkas yang ada di tangannya. Namun gerakan tangannya langsung berhenti di udara tatkala melihat isi dari berkas tersebut. Kedua pupil matanya mengecil karena terkejut, dan tangannya tiba – tiba mengeluarkan keringat dingin.
“… Melainkan kesalahanmu,” lanjut Elliot.
Sontak Renold memandang Elliot dengan ekspresi yang dipenuhi oleh ketakutan. Di dalam berkas tersebut, berisi bukti – bukti pertemuannya dengan asisten Johan beserta riwayat transaksi yang mereka lakukan.
“Ini .. Saya tidak mengerti, Sir.”
Elliot tersenyum, pandangan matanya jatuh kepada berkas di atas meja. “Tuan Portman, apa kamu masih menyimpan flashdisk yang Anda gunakan untuk menyebarkan Malware?”
“Tidak. Tidak. Saya tidak mungkin melakukan hal itu. Anda pasti salah paham.”
Renold berdiri dari kursinya dan beringsut mundur. Kepalanya beberapa kali menggeleng dan satu – satunya hal yang ada di dalam benaknya hanyalah melarikan diri secepat mungkin.
Akan tetapi, banyak petugas keamanan berbondong – bondong masuk ke dalam ruangan Elliot. Mereka mulai memegangi tangan Renold dan mengunci pintu, mereka juga bahkan menutup gorden supaya karyawan di luar tidak dapat mengintip masuk ke dalam ruangan.
Seorang petugas keamanan melangkah maju ke hadapan Elliot, kemudian meletakkan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam ke atas meja. “Kami menemukan ini di dalam tong sampah kecil yang ada di meja Tuan Portman.”
Elliot mengambil flashdisk tersebut, sesekali dia akan memutar benda tersebut di antara jemarinya. Dia kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi dan menghela napas. “Tuan Portman, jika ingin menghilangkan bukti, seharusnya kamu membakar benda ini.”
Renold berusaha keras melepaskan tangannya dari cengkraman para petugas keamanan. Tapi dia tidak mampu melakukannya dan memilih untuk bersimpuh di atas lantai. “Anda pasti membuat kesalahan, itu bukan milik saya!”
“Lantas milik siapa?”
“Mana saya tahu! Bisa saja milik orang lain! Saya tidak mungkin melakukan cara keji seperti itu!”
Elliot tertawa pelan, lalu berjalan mendekati Renold. “Tidak apa – apa bila tidak ingin mengaku sekarang, aku punya banyak waktu untuk bicara denganmu.”
Usai mengatakan hal itu, Elliot benar – benar menghabiskan waktu seharian untuk mendapatkan pengakuan dari Renold. Namun pria itu sama sekali tidak ingin mengaku dan lebih memilih diam sampai waktu menjelang sore.
Elliot bersandar pada dinding kaca, matanya mengintip para karyawan yang mulai pulang satu – persatu. Banyak dari karyawan itu yang juga melihat ke ruangan Elliot, merasa begitu penasaran dengan hal yang menimpa Renold Portman. Tapi rasa penasaran mereka tidak terpenuhi karena petugas keamanan yang berjaga di depan pintu sama sekali tidak mau membuka mulut mereka.
“Tuan Portman, apa Anda tidak lelah? Jika kau mengaku, maka kita bisa pulang lebih cepat,” kata Elliot seraya berbalik.
Renold mendengus, “Berapa kali harus saya ucapan, saya tidak melakukannya! Seharusnya saya yang menuntut Anda ke polisi karena sudah mengikuti saya diam – diam selama satu minggu penuh!”
Elliot tertawa sebagai balasannya. “Bukti sudah ada di depan mata, kenapa masih mengelak? Sidik jarimu bahkan juga ditemukan di flashdisk itu.”
“Kalau memang ada bukti, kenapa Anda tidak menyerahkan saya saja ke polisi biar mereka yang membuktikan?!”
“Karena aku ingin mendengar pengakuanmu sendiri.”
Karena sebuah pengakuan dari seorang kriminal lebih berharga dari bukti apapun. Selama Renold mengakui kejahatannya, maka dia akan langsung dijebloskan ke dalam penjara dan Johan tidak mampu menolongnya.
Elliot juga ingin nama Johan Landegre keluar dari mulut Renold secara langsung, supaya dia juga bisa menyeret Johan ke penjara.
Klik!
Suara pintu yang terbuka datang dari jalur VIP, Charlotte lantas masuk ke dalam ruangan seraya bertanya. “Dia masih belum membuka mulutnya?”
Bersambung… ISTRIKU PANDAI MENGINTEROGRASI
“Dia masih belum membuka mulutnya?”
Renold mengarahkan kepalanya ke arah pintu. Sontak dia merasa begitu bingung dengan kehadiran wanita itu yang tiba – tiba, apalagi Charlotte datang dari pintu VIP yang hanya bisa diakses oleh Elliot dan Erland saja.
“Charlotte, kenapa kamu di sini? Apa kamu datang sebagai saksi? Charlotte, katakan kepada Tuan Elliot kalau aku benar – benar tidak melakukan apapun! Kamu duduk tepat di seberang mejaku, tentu saja bisa melihatku dengan jelas setiap hari, kan?”
“Karena itu, kamu pasti tahu aku tidak pernah melakukan hal yang mencurigakan!”
Charlotte melirik Renold sebentar, lalu berjalan menuju Elliot tanpa mengindahkan ucapan dari pria itu. “Sejak tadi dia tidak mau mengaku?”
Elliot mengangguk, “Mhm, dia bersikeras berkata tidak melakukan apapun.”
Elliot membuka tutup kaleng soda, kemudian memberikannya kepada Charlotte. “Minum dulu, apa kamu berlari saat kembali naik?”
Charlotte mengambil soda tersebut, lalu berkata. “Aku hanya merasa bersemangat.”
Elliot tertawa. “Jangan buru – buru, waktu kita masih panjang.”
Renold menatap Elliot dan Charlotte secara bergantian. Setelah beberapa menit berdiam diri, akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya. “Kalian saling mengenal?”
Elliot melingkarkan lengannya di pundak Charlotte. “Apa itu penting?”
Kedua mata Renold membulat, dia sontak berseru. “Bukankah Anda sudah memiliki istri?! Kenapa Anda malah selingkuh dengan seorang anak magang?”
Renold lantas melihat Charlotte seolah dia adalah wanita penggoda yang ingin menghancurkan rumah tangga atasannya. Bahkan sebelum Charlotte memberikan reaksi, Elliot sudah lebih dahulu menjelaskan. “Bagaimana mungkin aku selingkuh dengan istriku sendiri? Tuan Portman, Charlotte ini adalah istriku sendiri.”
Charlotte menurunkan lengan Elliot dari bahunya, kemudian tersenyum. “Maaf bila membuat Anda terkejut. Nama saya sekarang adalah Charlotte Landegre, saya adalah istri dari Elliot Landegre.”
“Apa – apaan ini?! Apa kalian menipuku? Nona Baxter, jangan berpura – pura menjadi orang lain. Kamu masih terlalu muda untuk dikenal sebagai wanita penggoda,” kata Renold tidak percaya.
Elliot berdecak, “Sekali lagi kamu menghina Charlotte sebagai wanita penggoda, aku akan memotong lidahmu.”
Charlotte, “Sudahlah, hubungan kami tidaklah penting di sini. Tuan Portman, hal paling penting di sini adalah mengungkapkan kejahatan Anda. Jika Anda mengaku, lama hukuman Anda pasti bisa berkurang.”
Suasana ruangan yang sempat mencair tiba – tiba berubah dingin lagi. Renold mendengus tidak senang, dia bahkan sempat menggebrak meja saat berkata, “Harus berapa kali aku katakan! Aku tidak melakukannya!”
Matahari sudah hampir tenggelam, dan Elliot masih belum menemukan jawaban yang dia cari. Sejujurnya dia merasa sedikit putus asa dan berpikir untuk langsung menyerahkan Renold ke pihak berwajib saja. Namun keinginan Elliot untuk menjatuhkan Johan terlalu tinggi, sehingga dia berulang kali menahan diri.
Charlotte menepuk punggung Elliot sebagai bentuk penenang. Dia lantas mendekati Renold dan duduk di hadapan pria itu. “Tuan Portman mungkin merasa tegang karena ada banyak orang di ruangan ini. Bagaimana bila kita berbicara hanya bertiga saja?”
Elliot, “Kamu yakin?”
“Ya, aku yakin.”
Elliot akhirnya meminta seluruh petugas keamanan untuk meninggalkan mereka di ruangan. Lagipula Renold Portman juga bukan orang yang berbahaya, mereka tidak perlu begitu waspada.
Elliot menarik satu kursi lagi dan duduk di samping Charlotte. Wanita itu terlihat sedang menggulir layar ponselnya, membaca deretan pesan yang terkirim ke sebuah grup.
“Tuan Portman, tampaknya Anda tidak begitu disukai oleh karyawan kantor. Baru sehari di interograsi oleh Elliot, mereka sudah membuat grup dan menyebarkan gosip – gosip tentang kamu,” kata Charlotte. Dia memperlihatkan layar ponselnya sebentar kepada Renold, kemudian memberikannya kepada Elliot.
Elliot, “Hmm .. Kamu sepertinya senang memberi tugas tambahan kepada anak baru, mereka banyak sekali mengeluh tentang kamu. Bahkan Lino berharap kamu segera dipecat saja agar hidupnya bisa tenang.”
“Kurang ajar! Aku hanya memberi mereka tugas tambahan untuk belajar, tapi mereka malah menyerangku seperti itu!”
Charlotte mulai membacakan pesan ulang. “Tuan Portman itu benar – benar sialan, dia tidak membuatku lembur di kantor tapi membuatku harus lembur di rumah! Dia mengirimkan banyak tugas kerja ke surelku setelah pulang kerja!”
BRAK!
Elliot memukul permukaan meja sekali, “Aku meminta para karyawan untuk tidak lembur di kantor, tapi kamu malah membawakan pekerjaan tambahan ke rumah juniormu? Tuan Portman, aku akan menghitung setiap pelanggaranmu ini.”
Renold Portman tidak bisa lagi mengelak saat rumor – rumor tentangnya tersebar melalui grup chat. Meski rumor kadang berlebihan, tapi setidaknya itu akan dianggap benar apabila ada banyak orang yang mengiyakan.
Charlotte menggulir rentetan pesan itu lagi, memilah mana topik yang dianggap penting sampai jarinya berhenti saat mendapatkan topik yang menarik. “Ternyata istri dan anakmu sekarang tinggal di Australia. Kenapa mereka pergi begitu jauh darimu? Lino bahkan mengatakan kalau mereka baru saja pindah minggu lalu. Apa kamu diam – diam ingin pindah ke Australia setelah melakukan tindak kriminal?”
Wajah Renold sedikit pucat saat mendengar penuturan Charlotte. Dia sudah susah payah menyembunyikan keberadaan keluarganya dari orang seperti Elliot, tapi siapa yang menyangka bila sebuah grup gosip telah memhuat rahasianya terbongkar.
“Putri sulungku sebentar lagi akan masuk Universitas! Dia selalu bilang ingin berkuliah di Australia, sebab itu aku sekeluarga memutuskan untuk pindah ke Australia karena istriku terus mengkhawatirkannya.”
Charlotte sedikit tertawa saat mendengarnya. “Semester baru di universitas baru dimulai pada bulan agustus atau september. Sekarang baru bulan januari, dan kamu akan menjadi ayah yang buruk jika tiba – tiba membuat putrimu pindah sekolah saat dia sudah ada di kelas 3.”
Elliot diam – diam mengeluarkan secarik kertas identitas karyawan. “Dari data keluarga yang pernah kamu isi, kamu mempunyai dua putri. Masing – masing baru berusia 15 dan 10 tahun. Apa putrimu begitu cerdas sampai bisa masuk ke universitas di usia 15 tahun?”
Renold menundukkan kepalanya semakin rendah setiap kali mendengar Elliot dan Charlotte berbicara. Dia berusaha keras mengelak, tapi pada akhirnya dipaksa untuk mengakui kebohongannya.
“Tuan Portman, jangan mengelak lagi jika kamu ingin keluargamu bisa menjalani hari – hari yang tenang setelah ini.”
Tubuh Renold menegang, dia mengangkat kepalanya dan menatap Charlotte dengan penuh khawatir. “Apa kamu berniat untuk mencelakai keluargaku?!”
Charlotte membalas pandangannya dengan tenang, kedua mata emeraldnya tampak menyeramkan di pandangan Renold. “Tergantung situasi.”
Jawaban Charlotte tidak membantu, sehingga Renold semakin tegang seiring berjalannya waktu. Bagaimana pun juga, Elliot berasal dari keluarga kaya yang terpandang. Pertikaian antar keluarga kaya bukanlah masalah yang sepele, Renold takut Elliot bahkan bisa membunuh mereka apabila dia tidak merasa senang.
Keheningan di dalam ruangan itu bagaikan titik beku yang menyakitkan. Renold merasa ujung jari kaki dan tangannya menggigil dan jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat.
Dia tidak punya pilihan lain.
Jika dia tidak mengaku sekarang, mungkin keluarganya akan terbunuh.
Paling buruk, dia yang akan terbunuh.
“Keluargaku tidak melakukan kesalahan apapun. Jadi jangan libatkan mereka!”
Charlotte tersenyum. “Jadi kamu mengaku telah berbuat kesalahan?”
Renold menggertakan giginya, lalu dalam hitungan detik dia segera membalas. “Orang yang menyabotase data perusahaan dan memasukkan malware ke dalam komputer utama adalah aku.”
Pasangan suami istri di hadapannya tidak tampak terkejut, lagipula mereka memang hanya butuh pengakuan Renold.
Elliot, “Apa kamu dibayar oleh seseorang untuk melakukannya?”
“Ya.”
“Siapa orang itu?”
“Johan Landegre.”
*****
Elliot memasukkan alat perekam ke dalam sebuah kotak, kemudian memberikat benda tersebut kepada pihak polisi. Setelah berhasil mendapatkan pengakuan dari Renold, dia segera memanggil polisi dan melaporkan tindakannya.
Tidak butuh waktu lama bagi para polisi untuk memenuhi panggilannya. Mereka segera memborgol kedua tangan Renold dan menyeretnya keluar dari ruangan. Namun, sebelum polisi bisa membawanya pergi, Renold berusaha keras berpengangan pada ambang pintu dan berteriak. “Aku sudah melaporkan perbuatanku, jadi aku harap kamu tidak akan menyentuh keluargaku!”
“Putri – putriku masih terlalu muda untuk dicelakai, dan istriku juga tidak mengetahui apa – apa!”
Charlotte berdiri dari kursinya, dengan memperlihatkan senyuman tanpa dosa, Charlotte berkata. “Aku memang tidak pernah berniat untuk melukai keluargamu.”
Renold terkejut, “Lalu tadi kamu …”
“Aku hanya bilang jika kamu ingin mereka hidup dengan tenang. Maksudku, hidup mereka mungkin tidak akan tenang apabila mendengar rumor – rumor buruk tentangmu ini. Tapi, sepertinya sekarang hidup mereka tidak akan begitu tenang juga setelah tahu kamu akan dipenjara.”
Kedua mata Renold berangsur – angsur memerah, amarahnya langsung naik dan ia tiba – tiba saja menjadi agresif. “Bajingan! Bisa – bisanya kamu menggunakan keluargaku untuk menggertak! Sialan! Kamu benar – benar sialan!”
Renold berusaha keras melepaskan cengkraman tangan dua polisi yang memegangnya. Lalu begitu lepas, dia berlari dengan cepat menuju Charlotte, berniat untuk mendorong tubuh wanita itu sekeras yang ia mampu.
BRUK!
Kaki Renold tersandung sebuah kaki yang tiba – tiba muncul di hadapannya, membuat dia terjerembat jatuh ke lantai sebelum bisa mendekati Charlotte.
Ketika ingin bangkit, sebuah kaki menginjak bahu Renold dan membuatnya kesulitan untuk bangun.
Orang yang menginjaknya itu adalah Elliot.
“Jangan menambah panjang catatan kriminalmu dengan menyerang orang lain.”
Elliot menambahkan, “Kamu beruntung aku menghentikanmu. Karena kalau sampai kamu menyakiti Charlottte, aku mungkin akan meminta seseorang untuk memotong satu kakimu.”
Bersambung… SUAMI DAN KELUARGANYA
Malam itu, setelah Renold Portman di bawa pergi oleh polisi. Elliot segera menghubungi Arthur untuk membicarakan masalah Johan yang sudah menjadi dalang atas sabotase data departemennya. Ian juga baru saja pulang dari Jepang dan memutuskan untuk menemui Elliot di rumah orang tuanya.
Karena perkara ini, Arthur yang belum pulih total dari penyakit tuanya segera memanggil ketiga putranya untuk menjelaskan masalah yang mereka hadapi secara langsung.
“Ayah bisa mendengar pengakuan Tuan Portman sendiri, dia jelas – jelas berkata bahwa Johan adalah orang yang menyuruhnya.”
Rekaman suara diputar beberapa kali, dan Arthur memang bisa mendengar nama Johan disebutkan oleh Renold.
Arthur yang masih setengah berbaring di atas tempat tidur merasa begitu marah dan kecewa terhadap putra ketiganya. Dia bahkan menatap Johan seolah bola matanya akan keluar. “Kamu bisa – bisanya melakukan tindakan keji untuk menjatuhkan saudaramu! Johan Landegre, kamu pasti sudah kehilangan akal!”
Elliot mengangguk, kemudian berusaha memprovokasi ayahnya. “Dia bahkan juga menghalang – halangiku saat aku dan Erland ingin mengakses penyimpanan data. Ayah, Johan pasti benar – benar menaruh dendam kepadaku.”
Di lain sisi, pihak yang dituduh tidak tampak terganggu. Johan malah bersikap begitu tenang, seolah – olah keributan yang ditimbulkan oleh Elliot sama sekali tidak mempengaruhinya. Dia bahkan cukup tenang sampai masih bisa menyesap tehnya yang masih hangat.
“Sebenarnya, itu hanyalah sebuah salah paham,” kata Johan.
Elliot mengerutkan keningnya tidak suka. “Salah paham? Bagaimana mungkin hal itu hanyalah salah paham?! Kamu bahkan ingin menjatuhkanku berulang kali!”
“Kamu harus tenang dulu sebelum berbicara lagi. Kamu mungkin menganggapku begitu busuk karena pernah memiliki dendam pribadi.”
Omong kosong!
Orang yang paling menyimpan dendam itu seharusnya Johan. Namun pria itu malah memutar balik keadaan dan bertingkah seolah Elliot adalah seorang pendendam besar.
Johan, “Aku punya beberapa penjelasan atas setiap tuduhan yang diberikan oleh Elliot.”
Arthur yang kulitnya masih tampak pucat tetap berusaha menangani masalah yang dihadapi keluarganya. “Kamu boleh jelaskan.”
Johan kemudian menarik napas dalam – dalam sebelum akhirnya berkata. “Pertama, aku tidak segera menanda tangani surat peralihan jabatan karena berpikir akan merepotkan jika melakukan perubahan secara mendadak. Segala bentuk administrasi perlu diatur ulang sehingga ada baiknya mengubah secara perlahan – lahan dan secara resmi berubah setelah satu bulan. Seandainya saudaraku cukup sabar, dia pasti akan mendapatkan jabatannya secara mutlak tanpa perlu menimbulkan keributan.”
Persetan! Johan bahkan merupakan seseorang yang mencari ribut dengan Elliot. Sebagai orang yang bersumbu pendek dan mudah diprovokasi, jelas saja Elliot menjadi tidak sabar dan akan memarahi Johan dengan keras.
“Lalu ada juga alasan kenapa aku menolak permintaan Elliot untuk mengakses data utama karena pemegang wewenang tertinggi, yaitu Ian dan Ayah sedang tidak ada di kantor. Jadi aku juga tidak berani memberikan izin tanpa pengawasan dari pihak atas. Aku berencana ingin menghubungi Ayah terlebih dahulu sebelum memberikan izin, tapi saudaraku ini benar – benar tidak sabaran. Dia memaksa masuk ke dalam kantorku, berteriak seperti orang tidak waras, dan bahkan menggebrak meja beberapa kali.”
Johan menghela napas. “Benar – benar sebuah kekacauan.”
Kali ini Elliot kehabisan kesabarannya, dia bangkit dari kursinya dan segera menghampiri Johan dengan marah. Dia bahkan tidak segan untuk menarik kerah pakaian Johan mulai berteriak. “Aku tidak akan melakukan itu jika kamu membantuku keluar dari masalah genting!”
Johan tertawa, “Kamu hanya perlu menunggu sebentar, kamu saja yang tidak sabar. Padahal jika kamu bersabar sedikit lagi, mungkin aku bisa membantumu di siang hari.”
Elliot menggeram, saudara bajingannya ini sangat pintar bermain kata – kata. Bahkan setiap alasan yang terlontar dari mulutnya bisa dianggap masuk akal, sampai Arthur tidak menyela penjelasan Johan.
Saat ini, Elliot malah terlihat seperti seorang saudara yang memiliki banyak kebencian dan bermaksud untuk menjatuhkan saudaranya dengan memprovokasi ayah mereka.
Bersambung… ISTRI MENJALIN PERSAUDARAAN
Setelah lama hanya berdiam diri, Ian yang berdiri di sudut ruangan akhirnya angkat bicara. “Tidak ada jika atau seandainya. Kamu memang tidak berniat untuk membantu Elliot. Tadi kamu berkata kalau perubahan secara mendadak akan menimbulkan kekacauan, tapi sebenarnya meski proses pemindahan administrasi memakan waktu, kepemimpinan bisa tetap dialihkan.”
“Selama dua pimpinan ini saling mengerti, mereka pasti mampu memindahkan administrasi dengan tenang. Namun kamu malah memindahkan administrasi tanpa melibatkan Elliot, membuatku berpikir kalau kamu memang tidak menghargai dia sebagai pemimpin baru,” lanjut Ian.
Perlahan Ian menegakkan punggungnya yang sedari tadi bersandar pada dinding, kemudian melangkahkan kaki untuk berdiri di samping Arthur. “Kita di sini bukan untuk berdiskusi, tetapi untuk menjatuhkan tuduhan berdasarkan bukti yang sudah ditetapkan. Ayah sudah mendengar rekaman itu, jadi sebaiknya segera menyerahkan Johan kepada polisi untuk diperiksa.”
Johan berdecak, “Kamu ingin menjatuhkan tuduhan karena mendengar rekaman itu? Hei Ian, pengakuan seseorang bisa dipalsukan. Bahkan seorang pendeta yang sudah bersumpah di hadapan kitab juga bisa berbohong. Bagaimana kamu bisa membuktikan kalau kata – kata Tuan Portman sepenuhnya benar?”
“Mungkin saja Elliot membayar Tuan Portman untuk membuat pengakuan tentangku. Tunggu, mungkin juga dia tidak membayarnya, tetapi mengancam Tuan Portman sampai Tuan Portman membuat pengakuan palsu. Dari pengakuan polisi, Tuan Portman sempat meminta kamu untuk tidak menyentuh keluarganya.”
Ketika berhadapan dengan Ian dan Johan. Elliot selalu berpikir kalau mereka hampir serupa. Keduanya sama – sama pandai berbicara dan memutar balikan logika supaya mampu memojokkan lawan. Sejak dahulu mereka selalu seperti itu, alih – alih berteriak dan memukul satu sama lain, mereka berdua akan selalu mendiskusikan sesuatu dalam waktu yang panjang dan tidak mau mengalah.
Tapi sekarang Elliot akhirnya sadar, kalau keduanya selalu bertengkar karena Elliot. Setiap kali Elliot membuat kesalahan, Ian akan selalu ada di sampingnya dan membela dia sehingga Arthur tidak bisa melunak. Namun, Johan juga akan berdiri di samping Elliot dan berusaha menuangkan minyak ke dalam api, berharap agar Arthur bisa lebih keras kepada Elliot.
Elliot sudah terlalu lama bertengkar menggunakan kekerasan dan berpikir kalau diskusi itu adalah hal yang membuang – buang waktu. Namun kini dia sadar bila diskusi yang membosankan ini memang diperlukan supaya tidak menambah panjang masalah.
“Apa gunanya aku memojokkan Tuan Portman untuk membuat pengakuan palsu? Johan, tidak ada hal yang menarik darimu sampai aku ingin menjatuhkan kamu. Sekarang kamu memegang jabatan sebagai Kepala Departemen, tapi memangnya Kepala Departemen setara dengan Presiden Direktur dan Wakilnya? Aku juga sekarang mempunyai jabatan Kepala Departemen, sehingga berusaha menjatuhkanmu hanyalah sesuatu yang sia – sia.”
Elliot melirik Ian, “Jika aku mau menjatuhkan seseorang, bukankah lebih baik menjatuhkan Ian dan mengambil posisinya sebagai Wakil Direktur?”
Pada saat ini, Johan mulai merasa gelisah, tapi wajahnya tetap terlihat tenang. “Aku juga tidak mempunyai alasan untuk menjatuhkanmu, kamu bahkan tidak mempunyai apa – apa sebelum ini.”
Elliot hendak menjawab, tetapi Ian sudah mendahului. “Kamu punya satu alasan, yaitu untuk mempertahankan posisimu sebagai kepala dari dua departemen. Sebelum ini, kamu telah menjadi Kepala Departemen I sekaligus III secara tidak langsung. Walau secara lapangan Elliot adalah Kepala Departemen III, tetap saja kamu adalah orang yang memimpin secara tertulis. Tapi tiba – tiba saja Elliot ingin menjadi Kepala Departemen III secara utuh, dan kamu pasti akan kehilangan wewenang atas dua departemen jika sampai Elliot menjadi Kepala Departemen III secara utuh.”
Setelah mendengar penjelasan Ian, Elliot diam – diam tersenyum. Ekspresinya menjadi lebih menyebalkan di hadapan Johan, apalagi saat dia berkata. “Kamu ingin membantah apalagi? Kalau tidak ada, aku akan segera meminta petugas polisi untuk membawamu.”
Suasana di dalam ruangan itu semakin memanas. Ketiga saudara itu hanya diam, tapi aura permusuhan jelas tersebar dan membuat mereka tercekik. Arthur yang masih sakit akhirnya merasa tidak tahan melihat putra – putranya terlibat perselisihan, dan segera angkat bicara. “Cukup! Kalian semua tumbuh bersama di rumah ini, tapi sekarang bertingkah seperti orang asing! Aku tidak mau lagi mendengar ucapan kalian. Sekarang lebih baik melakukan penyelidikan menyeluruh untuk membuktikan siapa yang benar dan salah.”
Johan tampak tidak puas. “Apa artinya Ayah ingin aku diseret ke kantor polisi sekarang?”
Arthur, “Kamu jelas harus pergi ke sana untuk membuktikan ketidakbersalahanmu. Ikuti prosedur hukum terlebih dahulu, jika kamu memang merasa tidak melakukan kesalahan, maka tidak perlu khawatir akan terkena hukuman.”
“Tapi—”
Ucapan Johan terhenti karena dia mendengar Arthur tiba – tiba batuk, jenis batuk yang parah dan tidak kunjung berhenti meski sudah beberapa menit. Ketiga saudara yang tadinya saling menyimpan dendam itu pada akhirnya menampakkan kekhawatiran di wajah mereka.
“Ayah baik – baik saja? Haruskah aku memanggil dokter sekarang?” tanya Elliot seraya menyentuh pundak Arthur.
“Uhuk .. Uhuk .. Aku tidak apa – apa, ambilkan saja obat di meja.”
Elliot melihat ada beberapa botol obat di atas meja, dia tidak harus mengambil yang mana sehingga ingin bertanya lagi. Namun suaranya tertahan karena mendengar suara pintu dibuka cukup keras, dan menampakkan sosok Brianna yang datang dengan wajah agak marah.
“Kalian semua benar – benar keterlaluan! Ayah kalian bahkan belum sembuh total tapi sudah melibatkannya dalam masalah besar! Cepat keluar dari ruangan ini sebelum sakitnya bertambah parah karena melihat tingkah kalian!”
Walau tidak menyukai Brianna, Elliot tetap menuruti permintaannya karena merasa lebih baik membiarkan ayahnya untuk istirahat dahulu.
Ketika dia melewati Brianna, wanita separuh baya itu melirik Elliot dengan tajam dan diam – diam berbisik. “Kamu selalu membuat masalah, Ayahmu pasti bisa cepat mati karena ulahmu.”
Kelopak mata Elliot sedikit berkedut saat mendengarnya, dia berbalik untuk melihat Brianna tapi malah dihadapkan dengan pintu yang sudah tertutup.
Dia berdecak di dalam hati, tidak menyangka bila Brianna akan membicarakan kematian seolah sudah menyumpahi Arthur akan cepat mati sebentar lagi.
Hatinya jadi tidak nyaman, tapi dengan cepat diabaikan karena masih harus mengurus masalah Johan.
“Aku sudah memanggil polisi untukmu, mereka mungkin akan datang beberapa menit lagi,” kata Elliot.
Elliot berpikir Johan akan merasa marah atau kesal, tapi pria itu hanya tersenyum seolah ingin mengejek Elliot. “Tidak masalah, bermalam satu hari di kantor polisi mungkin tidak begitu buruk.”
“Kamu sangat percaya diri besok akan keluar?”
“Tentu saja.” Johan berkata, “Orang yang tidak bersalah pasti akan bebas. Elliot, mengapa sekarang kamu ingin menyerangku? Padahal sebelumnya kamu begitu tenang dan membiarkan aku untuk mengambil alih pekerjaanmu.”
“Oh, apa ini karena pengaruh buruk Charlotte? Apa dia yang memaksamu untuk bertindak sejauh ini? Siapa yang mengira bahwa wanita yang terlihat lembut itu sebenarnya adalah wanita racun yang ingin menghancurkan persaudaraan kita.”
“Jaga ucapanmu, Charlotte tidak ada hubungannya dengan masalah kita.”
Usai mengucapkan itu, Elliot tidak mengatakan apa – apa lagi karena Johan juga tidak membalas sampai akhirnya dia dibawa pergi oleh beberapa pihak polisi.
Ketika mereka pergi menuju pintu depan, Johan sempat menatap Noelle dengan pandangan tidak suka saat mereka berpapasan di ruang makan. Anak itu bahkan tidak berbicara dan hanya mengunyah apel yang diberikan oleh Charlotte sejak tadi, tapi malah harus berpapasan dengan tatapan semengerikan itu.
Secara tidak sadar, Noelle bahkan bersembunyi di belakang punggung Charlotte sampai saudaranya itu benar – benar keluar dari rumah.
“Apa dia marah karena aku membantu kalian?” bisik Noelle.
Charlotte mengangguk, “Mungkin. Apa kamu memang tidak akur dengannya?”
“Kami memang jarang berbicara, tapi juga tidak pernah bertengkar. Ini adalah kali pertama dia terlihat membenciku. Charlotte, mungkinkah aku sudah terseret ke dalam pertikaian mereka?”
Charlotte tertawa pelan. “Kamu memang sudah terseret semenjak memihak Elliot. Di mata Johan, kamu pasti dianggap sebagai pengkhianat karena sudah memihak lawan.”
Noelle akhirnya duduk kembali di kursi makan, dia membuang apel yang sudah habis dan mengambil apel baru dari piring buah. Dia lantas memandangi punggung saudara – saudaranya.
“Kita adalah keluarga, tapi mengapa rasanya seperti orang asing. Kakak Ipar, apa kamu dan saudara – saudaramu akur?”
Charlotte mengambil apel di tangan Noelle, kemudian mengupas kulitnya secara perlahan. “Tidak juga, hubunganku dengan saudara – saudaraku mungkin lebih buruk daripada kamu.”
Karena setidaknya masing – masing dari saudara Landegre itu tidak akan saling menyerang secara terang – terangan. Meski kebencian terukir di dalam hati mereka, setidaknya mereka tetap berusaha bersandiwara menjadi saudara yang baik.
Berbeda halnya dengan saudara – saudara Charlotte. Ketiga saudaranya bahkan tidak mau repot – repot bersandiwara menjadi saudara yang baik, mereka biasanya akan menunjukkan rasa benci mereka dengan begitu jelas.
“Aku bahkan pernah didorong dari tangga oleh kakak perempuanku.”
Noelle yang ingin mengambil potongan apel langsung tidak lagi berselera makan. “Kenapa dia melakukan itu?”
Charlotte menghela napas, “Karena aku tanpa sengaja menjatuhkan kue miliknya. Saat itu aku masih berusia 7 tahun, sedangkan Caitlyn 11 tahun. Jadi mungkin dia juga tidak sengaja.”
Noelle berpikir dalam hati, Tidak akan ada anak kecil normal yang mendorong adiknya dari tangga!
Noelle tiba – tiba saja memegang kedua tangan Charlotte dan berkata dengan sungguh – sungguh. “Karena kita tidak pernah punya saudara yang baik, bagaimana kalau melupakan mereka dan menjalin hubungan saudara yang baru. Aku akan menganggapmu sebagai kakak perempuanku.”
Charlotte tersenyum, “Lalu bagaimana dengan Elliot? Kalau aku kakak perempuanmu, maka dia adalah kakak iparmu?”
“Terserah dia ingin menjadi apa, sepertinya Elliot juga tidak begitu keberatan apabila tidak dianggap.”
*****
Elliot yang sekarang dianggap sebagai kakak ipar oleh Noelle akhirnya datang ke ruang makan setelah dia mengantarkan para polisi ke gerbang. Di belakangnya, Ian turut berjalan mengikuti Elliot tanpa menunjukkan ekspresi yang berarti.
“Sudah selesai?” tanya Charlotte.
Elliot mengangguk, “Mhm, tapi mungkin Johan tidak akan bisa dihukum dengan mudah. Pengacaranya mungkin akan datang malam ini, dan membebaskan dia besok.”
Charlotte berusaha menghibur Elliot. “Tidak masalah, asal pengakuan Tuan Portman tidak terbukti palsu, Johan pasti akan kesulitan untuk melepaskan diri dari jeratan hukum.”
“Ya, mari menunggu kabarnya besok.”
Setelah melihat jam dinding menunjukkan angka 11, Charlotte segera berdiri dari kursi dan bertanya. “Kamu masih mempunyai urusan di sini?”
Elliot berpikir sejenak, “Tidak ada, kita bisa pulang.”
Begitu Elliot mengatakan hal itu, suara petir yang menyambar terdengar dari luar. Beberapa saat kemudian, hujan deras turun membasahi bumi yang disertai dengan angin kencang.
Noelle yang melihat betapa derasnya air hujan di luar akhirnya mengangkat suara. “Berbahaya bila berkendara di saat badai seperti ini, mengapa kalian tidak menginap saja? Lagipula besok hari sabtu.”
Charlotte menoleh ke arah Elliot. “Aku tidak masalah, bagaimana menurutmu?”
Elliot menghela napas, “Menginap juga tidak apa, pulang di saat badai sepertinya terlalu beresiko. Ian, kamu juga menginap?”
“Mhm, Jessica melarangku pulang karena cuaca.”
Noelle mengembangkan senyuman di wajahnya, diam – diam merasa senang karena rumah yang selalu sepi akhirnya mempunyai penghuni lain.
Bersambung… SUAMI BERDISKUSI
Pada waktu tengah malam, ketiga saudara Landegre itu berkumpul di ruang makan. Mereka tidak mampu beristirahat di kamar setelah Brianna berkata bahwa kondisi Arthur mulai memburuk. Pria tua itu tiada henti batuk, sampai akhirnya baru tertidur setelah Brianna memberikannya obat.
Ian sempat ingin memanggilkan dokter, tetapi cuaca semakin buruk dan tidak memungkinkan dokter pribadi mereka untuk datang. Arthur sebelumnya juga menegaskan mereka tidak perlu memanggil dokter selama kondisinya belum darurat.
Pada akhirnya, Ian tidak jadi memanggil dokter dan membiarkan Arthur beristirahat saja untuk malam ini. Apabila besok kondisinya bertambah parah, maka dia akan memaksa Arthur untuk pergi ke rumah sakit.
“Ayah memang selalu keras kepala, setiap hari terus bilang kalau dia tidak apa – apa tapi daging di tulangnya mulai rontok dan membuat dia terlihat kurus kering. Apa dia harus sekarat dulu baru mau mengakui dirinya sakit?!” seru Noelle.
Ian mengangkat kepalanya, kemudian memberikan Noelle tatapan tajam. “Jangan berbicara sembarangan, kamu seperti menyumpahi Ayah.”
Noelle, “Aku tidak menyumpahi!”
Ding!
Suara microwave yang baru saja selesai memanaskan lasagna terdengar, sehingga membuyarkan topik pembahasan mengenai Arthur. Charlotte yang sejak tadi duduk di pantry akhirnya berdiri dan mengambil loyang lasagna menggunakan sarung tangan anti panas.
Charlotte tentu saja tidak memasak di tengah malam, dia hanya memanaskan makanan yang ada karena Noelle mengeluh lapar. Meski pada akhirnya mereka semua mengaku lapar.
“Hati – hati, jangan sampai terkena kulitmu,” kata Elliot seraya mengambil beberapa piring dari rak piring.
Charlotte mengangguk, dia buru – buru meletakkan loyang panas ke meja pantry, sebelum akhirnya memotong lasagna tersebut dan membagikannya ke atas piring.
Elliot melihat lasagnanya secara seksama. “Siapa yang membuat ini? Aromanya familier.”
Noelle menjawab dengan antusias. “Ini buatan Ibuku! Tentu saja kamu mengenalinya, kamu pasti pernah memakan masakannya ketika kecil.”
Saat mendengar jawaban Noelle, Elliot menjadi tidak begitu antusias untuk makan. Bukan karena masakan Brianna tidak enak, tetapi karena Elliot selalu ingat akan kematian ibu kandungnya -Daisy Landegre- setiap kali melihat Brianna yang memasak alih – alih Daisy.
Oleh karena alasan itu, Elliot jadi jarang menyantap masakan yang dibuat oleh Brianna dan lebih memilih untuk makan di luar rumah. Tentu saja perilakunya ini membuat Arthur begitu marah, sehingga Elliot memutuskan untuk makan di rumah sesekali.
Charlotte bisa melihat wajah suaminya terlihat tidak begitu baik, sehingga dia segera berbisik di samping telinga Elliot. “Apa kamu tidak suka lasagna? Aku bisa membuatkan makanan yang lain.”
Elliot tersentak saat mendengar suara Charlotte, dia segera memperbaiki ekspresinya dan membalas. “Tidak perlu, makanannya enak.”
Elliot mungkin tidak begitu senang saat memakan masakan Brianna, tetapi karena masakan kali ini dipanaskan oleh Charlotte, Elliot tentu saja bisa memakannya dengan senang hati.
Ketika makanan di atas piring sudah habis seluruhnya, mereka akhirnya mulai membicarakan topik mengenai Johan lagi. Elliot menumpukkan kepalanya di tangan saat dia berkata dengan malas. “Ian, apa menurutmu besok Johan bisa bebas dengan mudah?”
“Sepertinya begitu,” jawab Ian seraya menyeka bibirnya menggunakan tisu.
“Dia selalu saja mampu memutar balikan fakta, takutnya Ayah malah akan memarahiku apabila Johan dinyatakan tidak bersalah.”
“Ayah tidak sebuta itu.” Ian berkata, “Selama kamu memegang bukti dan saksi, Ayah pasti tidak akan sepenuhnya mempercayai Johan.”
“Tetap saja, rasanya hukuman yang akan dia terima tidak akan begitu berat.”
Ian berkata, “Kamu tidak perlu khawatir, aku akan mengusut Johan secara keseluruhan. Dia sangat bersikeras ingin mempertahankan posisinya di Departemen Infrastruktur III, aku jadi curiga kepadanya.”
Saat mendengar ucapan Ian, Charlotte akhirnya menimpali. “Kamu benar. Dia mungkin mempunyai suatu alasan sehingga tidak mau buru – buru melepaskan Departemen Infrastruktur III.”
“Mungkinkah Johan juga terlibat di penggelapan dana beberapa proyek yang departemenku jalani? Ian, kamu tentu ingat bukan tentang penggelapan dana di Hotel Arvi? Aku selalu berpikir, sepertinya ada seseorang dengan jabatan tinggi yang membantu mereka sehingga tidak tersandung masalah sampai akhirnya aku yang turun tangan.”
“Bisa juga proyek lainnya terkena kasus penggelapan dana, aku hanya belum memeriksanya secara menyeluruh saja,” tambah Elliot.
Ian, “Semua memiliki kemungkinan, aku akan membantumu untuk menyelidikinya nanti. Jika memang Johan terbukti melakukan penggelapan dana, maka dia memang pantas untuk dijebloskan ke penjara.”
“Bagaimana jika dia tidak melakukannya?” Noelle tiba – tiba saja angkat bicara.
Sedari tadi dia hanya mendengarkan kedua saudaranya membahas keburukan Johan. Noelle memang tidak dekat dengan Johan, tapi mendengar saudara kandungnya direndahkan sedemikian rupa juga membuat Noelle agak gelisah.
Ian melirik Noelle, matanya terlihat dingin tapi sesungguhnya memancarkan keperdulian terhadap Noelle. “Maka tentu saja dia akan bebas dari segala hukuman.”
Merasa bila pembahasan ini terlalu berat untuk remaja yang baru saja beranjak dewasa. Charlotte akhirnya mencari alasan untuk mengusir Noelle. “Hari sudah sangat larut, kenapa kamu tidak tidur sekarang?”
“Belum mengantuk.”
Charlotte tersenyum, “Noelle, jika remaja seusiamu tidak tidur tepat waktu, maka kamu akan kesulitan bertumbuh tinggi.”
Setelah dipaksa sedemikian rupa oleh Charlotte untuk tidur, akhirnya Noelle juga tidak membantah lagi dan segera pergi ke kamar tidurnya. Ruangan sekali lagi sepi, sampai Charlotte membuka suaranya. “Kalian harus lebih memperhatikan Noelle. Dia masih membutuhkan bimbingan kalian supaya tidak salah arah dalam mengambil langkah.”
Anak seusia Noelle masih mudah untuk dipengaruhi pikirannya. Jika Elliot dan Ian tidak memperhatikan dia sejak kini, Noelle mungkin saja akan berdiri di lain sisi suatu saat.
Elliot membalas, “Mhm, besok aku akan membelikannya sesuatu.”
Charlotte menghela napas. “Kamu tidak bisa hanya membelikannya sesuatu. Hal yang paling dia butuhkan adalah perhatian, kamu bisa sesekali mengajaknya pergi bersama atau mengobrol ringan bersama.”
Di sepanjang malam, bukan hanya Elliot yang mendapatkan ceramah dari Charlotte, Ian juga ikut terkena ceramah karena sikapnya yang terlalu dingin kepada Noelle sehingga mudah menimbulkan salah paham.
“Ya, kamu terlalu dingin! Aku bahkan juga pernah berpikir kalau kamu membenciku!” aku Elliot kepada Ian.
Ian sedikit terkejut saat mendengarnya. “Kamu pernah berpikir begitu?”
Elliot sadar bila dia salah bicara, sehingga langsung memperbaiki kata – katanya. “Hanya kesalahpahaman, tidak perlu dipikirkan lagi.”
Mereka terus berbincang dan akhirnya berhenti saat waktu menunjukkan pukul 2 malam.
Keesokan harinya, Elliot sudah membuka mata meski matahari belum terbit. Hal ini karena ponselnya terus – menerus berbunyi, sehingga memaksanya untuk bangun.
Nama salah satu polisi yang bertanggung jawab atas pemeriksaan Renold Portman muncul di layar ponselnya, membuat Elliot segera bangkit dari tempat tidur dan mengangkat panggilan tersebut.
“Tuan Landegre, kami mempunyai kabar buruk mengenai Tuan Portman.”
Suara derasnya hujan masih terdengar dari luar, airnya terus mengetuk jendela sehingga menimbulkan suara bising yang mengganggu.
Situasi seperti itu, entah mengapa membuat hati Elliot menjadi tidak tenang. “Apa yang terjadi?”
“Tuan Portman ditemukan meninggal di ruang interograsi pagi ini.”
Mata Elliot menggelap, dia lantas membalas dengan intonasi terlampau dingin. “Bagaimana bisa?”
“Tuan Portman bunuh diri.”
Bersambung…
Akan dilanjutkan Session 3 jadi nantikan update selanjutnya ya!