Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Aku Kembali Dari Kematian Demi Istriku Yang Terlupakan

Aku Kembali Dari Kematian Demi Istriku Yang Terlupakan

Elliot Landegre merasa menikah dengan Charlotte Baxter adalah sebuah kesialan, karena dia tidak mampu mengandung anak, sehingga Elliot tidak akan mempunyai ahli waris.

Karena terlalu memikirkan diri sendiri, Elliot jadi mengabaikan istrinya dan lebih memilih untuk bermain bersaman teman serta wanita lain.

Akan tetapi, ternyata Elliot membuat kesalahan besar. Ketika roda nasibnya berputar ke bawah, semua orang membuang pria itu dan bahkan merasa enggan menjalin hubungan lagi dengannya. Pada akhirnya, satu – satunya orang yang menemani Elliot dalam kesusahan adalah Charlotte, istri yang telah ia abaikan selama 10 tahun.

Ketika sang istri telah terbujur kaku akibat melindungi Elliot dari senjata api, pria itu memohon kepada Tuhan agar ia diberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya.

Tanpa disangka, permohonannya ternyata dikabulkan dan Elliot kembali ke kehidupannya di 10 tahun silam.

Setelah mendapatkan kesempatan yang kedua, Elliot bersumpah kepada langit dan Tuhan bahwa dia akan melakukan segalanya demi membahagiakan istrinya, Charlotte.

PROLOG THE BELOVED WIFE

Cerita Sex Istriku Tercinta Ngocoks Pada akhir desember, cuaca di Kota New York mencapai minus derajat, membuat semua orang merasa enggan untuk melangkahkan kaki keluar dari rumah. Dibandingkan dengan tahun – tahun sebelumnya, musim salju tahun ini lebih dingin dan lebih mencekam. Badai salju menghantam kota sedari pagi hingga malam, membuat setiap sudut – sudut kota menjadi beku.

Meskipun begitu, masih ada beberapa orang yang terpaksa berlarian di antara badai salju. Elliot mendekap tubuh Charlotte dengan begitu erat, berusaha keras supaya suhu tubuh istrinya itu tidak membeku. Ia berlari dengan cepat, menembus badai, dan menapaki salju yang tinggi. Kedua kakinya tenggelam setiap kali melangkah maju, bahkan beberapa kali sempat terjatuh akibat tidak kuat menarik kakinya dari dalam salju.

Napas Elliot putus – putus, kakinya sudah gemetar akibat tak kuat berlari lagi dan ujung – ujung jari tangannya mulai membeku.

“Elliot, aku sudah tidak kuat lagi, tinggalkan saja aku di sini supaya kamu bisa kabur lebih cepat,” pinta Charlotte dengan suara pelan.

Elliot menggertakan giginya, “Tidak mau, aku tidak akan meninggalkan kamu lagi.”

Selama sepuluh tahun terakhir, Charlotte Baxter telah banyak menderita. Dia yang seorang anak haram dari Keluarga Baxter harus rela dinikahkan dengan Elliot Landegre, putra kedua dari Keluarga Landegre yang memiliki sebuah perusahaan besar di bidang konstruksi.

Keduanya dijodohkan melalui sebuah perjodohan sepihak, di mana Charlotte tidak mampu menolak dan Elliot diancam harus hengkang dari garis keturunan Landegre apabila tidak mau menurut. Perjodohan mereka diatur oleh Ibu tiri Elliot —Brianna Landegre—, wanita itu sengaja memberikan saran kepada Ayah Elliot —Arthur Landegre— untuk menikahkan Elliot dengan seorang wanita, supaya Elliot bisa hidup dengan lebih teratur dan meninggalkan kehidupannya yang dipenuhi oleh alkohol dan klub malam.

Akan tetapi, Elliot jelas – jelas bukanlah seseorang yang akan menurut dengan mudah. Ia tidak sudi menikah dengan Charlotte, terutama setelah mengetahui kondisi medis Charlotte yang menyatakan bila wanita itu tidak lagi bisa hamil karena pernah menjalani pengangkatan rahim. Saat berada di rapat keluarga, Brianna menuturkan bila Elliot memang seharusnya tidak perlu diberikan keturunan supaya obsesinya untuk mengambil alih perusahaan LNG Corporation dapat ditekan.

Karena merasa bila Charlotte hanyalah duri yang menghalangi jalan Elliot untuk menggapai kekuasaan, pria itu merasa enggan untuk mengakui Charlotte sebagai istrinya, dia bahkan tak pernah menganggap Charlotte sebagai bagian dari Keluarga Landegre.

Bagi Elliot, Charlotte hanyalah orang luar yang menumpang di rumahnya.

Sejak awal pernikahan, Elliot kerap memandang Charlotte dengan dingin, seolah menjadi tanda bahwa dia tidak mau Charlotte berdiri di sampingnya. Lebih parah lagi, Elliot juga tidak segan untuk membentak Charlotte hanya karena masalah sepele.

Pria itu bahkan belum pernah menyentuh tubuh Charlotte sejak malam pertama mereka, dengan alasan bahwa percuma saja berhubungan apabila Charlotte tidak mampu menghasilkan keturunan.

Alih – alih memperhatikan istrinya di rumah, Elliot malah lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di luar sepanjang malam, ia akan pergi ke klub malam bersama teman – temannya, dan bahkan menjalani hubungan rahasia dengan seorang teman wanitanya —Irene Addison—. Elliot bahkan tidak segan untuk membawa pulang Irene dan bermesraan di hadapan Charlotte, mengukir luka yang begitu dalam di hati wanita itu.

Tapi, Elliot tidak pernah menyangka bila Charlotte akan menjadi satu – satunya orang yang tinggal disisinya saat kehidupannya hancur dan remuk hingga tidak menyisakkan apa – apa lagi.

“Berhenti! Jangan melarikan diri lagi!”

“Dasar koruptor siallan!”

Teriakan – teriakan itu menggaung di belakang Elliot, menerjangnya laksana panah yang mampu menembus jantungnya. Para pria berbadan besar terus berusaha mengejar Elliot, mereka bahkan sesekali menembakkan peluru ke udara sebagai peringatan agar Elliot berhenti berlari.

“Jika kamu meninggalkanku, aku tidak akan terkena masalah. Tapi, kalau kamu sampai tertangkap karena aku, kamu akan mendapatkan masalah. Jadi, pergilah, Elliot,” Charlotte memandang rahang pria itu dari bawah, “Pergilah yang jauh supaya kamu bisa hidup dengan layak.”

“Omong kosong! Apa luka tembakan di punggungmu tidak cukup untuk menjadi bukti bahwa mereka bukanlah polisi?! Charlotte, mereka itu adalah pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk membunuh kita berdua. Jika aku meninggalkan kamu, maka kamu bisa mati!”

Sebelum ini, ada seseorang yang ingin menembak Elliot dari belakang ketika mereka tengah melarikan diri, tetapi Charlotte malah mendorong Elliot sehingga punggungnya sendiri yang terkena tembakan, membuat wanita itu berada di kondisi kritis.

Charlotte tertawa kecil, “Sedari dulu, kamu ingin menyingkirkan aku dari hidupmu. Namun, kenapa sekarang malah bersikeras untuk bersamaku?”

Elliot menggertakan giginya, “Charlotte, sekarang aku menyesali seluruh perbuatanku. Aku berjanji, apabila kita selamat, maka aku akan memperlakukan kamu dengan baik.”

“Tidak apa – apa, aku bisa mengerti alasanmu membenciku selama bertahun – tahun. Bagaimana pun juga, aku tidak mampu memberikan kamu keturunan sehingga kamu tidak bisa mendapatkan ahli waris penuh.”

“Persetan dengan ahli waris! Aku tidak lagi membutuhkannya! Charlotte, sekarang ini, aku hanya ingin melihatmu sehat dan bahagia.”

Setelah mendapatkan tuduhan melakukan penggelapan dana perusahaan, Elliot tidak lagi mengharapkan apa – apa dari keluarganya. Dia sudah berusaha membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, tetapi semua bukti mengarah kepada Elliot dan sialnya Elliot tidak bisa menyangkal bukti – bukti itu.

Sejak remaja, semua keluarganya tahu jika Elliot adalah seseorang yang senang menghamburkan uang untuk barang – barang mewah atau kegiatan yang tidak berguna. Selain itu, dia juga selalu memiliki obsesi untuk menjadi ahli waris utama sehingga Ayahnya berpikir bila Elliot ingin menghancurkan perusahaan karena dipaksa untuk keluar dari daftar ahli waris utama.

Tidak ada yang percaya dengan kata – kata Elliot.

Tidak pula ada yang membelanya kala ia dituding dengan fitnah – fitnah palsu.

Semua orang meninggalkannya, melangkah pergi dari ambang pintu rumah dan tidak pernah sekali pun menoleh ke belakang.

Namun, Charlotte tidak pergi.

Alasan wanita itu sederhana, karena dia tidak mempunyai kerabat lain yang bisa menampungnya selain Elliot.

Meski begitu, Charlotte juga berkata bila dia percaya Elliot tidak melakukan penggelapan dana itu.

Charlotte percaya bahwa meskipun suaminya tidak becus mengurus keuangan, dia bukanlah seseorang yang ingin mengeruk keuntungan dengan merugikan orang lain.

DOR!

Sebuah tembakan dilesatkan ke kaki kanan Elliot, membuat pria itu terjerambat jatuh di atas tumpukan salju sehingga tubuh Charlotte Charlotte terlempar dari dekapannya.

“Elliot! Elliot, kakimu terluka!” Charlotte tampak pucat saat melihat ada darah mengalir deras dari bagian paha Elliot. Wanita itu berusaha keras untuk menghampiri Elliot, tetapi luka di punggungnya membuat Charlotte tidak mampu bergerak lebih jauh.

“Sialan! Sialan! Sialan!”

Elliot memukul permukaan salju berulang kali. Dia merasa sangat marah, bukan kepada para pria yang mengejarnya, bukan pula kepada takdir, melainkan dirinya sendiri.

Seandainya saja Elliot tidak menyia – nyiakan kehidupannya, dia pasti mampu terhindar dari masalah seperti ini.

Pria itu meringis, berusaha menahan rasa perih yang mendera paha dan pergelangan kakinya yang terkilir. Tanpa memperdulikan rasa sakitnya, Elliot berjuang untuk bangkit, tapi baru berdiri sebentar ia sudah tersungkur lagi akibat tidak kuasa berdiri menggunakan kakinya.

“Charlotte, ini salahku, semua ini salahku,” Elliot perlahan menyeret tubuhnya untuk menghampiri Charlotte, kedua bola matanya berair tatkala melihat permukaan kulit Charlotte yang sudah pucat hampir membiru.

Luka di punggung wanita itu bertambah parah akibat terjatuh, sehingga membuat Charlotte hampir tidak mampu mempertahankan kesadarannya.

“Elliot … aku mengantuk, mataku tidak kuat lagi …”

Elliot berseru, “Charlotte jangan tidur! Kalau kamu tidur, kamu mungkin tidak bisa bangun lagi! Bertahanlah, aku pasti akan membawamu pergi dari tempat ini!”

Charlotte tersenyum kecil, “Elliot … tidak perlu membawaku lagi .. Hidupku mungkin cukup sampai di sini …”

“Tidak! Tidak! Charlotte! Aku belum pernah membahagiakan kamu satu kali pun, belum pernah juga memperlakukan kamu dengan baik. Kumohon, kamu harus tetap hidup supaya aku bisa menebus seluruh kesalahanku.” Aliran air mata berjatuhan dari pelupuk mata Elliot, menetes ke atas permukaan salju yang dingin dan membeku.

Kedua kelopak mata Charlotte terasa semakin berat, ia bahkan tidak mampu melihat sosok Elliot lagi dengan jelas. “Tidak apa – apa … kamu sudah baik kepadaku selama satu bulan terakhir ini … Aku tidak mungkin meminta lebih …”

“Charlotte … kumohon Charlotte ..”

“Elliot …” Charlotte menatap Elliot dengan lirih, “Seandainya kehidupan setelah kematian itu nyata … mari bertemu lagi …”

Setelah menyelesaikan kalimat itu, uap dingin tidak lagi keluar dari hidung dan mulut Charlotte, pertanda bahwa wanita itu sudah berhenti bernapas.

Elliot membuka mulutnya, berusaha berteriak tapi suaranya tertahan di tengah tenggorokan. Buliran air mata berjatuhan semakin banyak, menetes bagaikan embun yang terjatuh dari daun.

Charlotte telah meninggal.

Istri yang selalu ia abaikan itu telah tiada dan ternyata mengukir luka paling dalam di hati Elliot.

“Charlotte, maaf .. maafkan aku …”

Elliot menyeret tubuhnya untuk berbaring di sebelah Charlotte, kemudian meletakkan tangannya di atas tangan Charlotte yang terasa dingin. Ketika ia memperhatikan tangan Charlotte, Elliot mampu melihat cincin pernikahan mereka masih tersemat di jari manis wanita itu, terlihat sedikit kotor akibat terlalu banyak mengerjakan pekerjaan rumah selama satu bulan terakhir.

Di atas lapisan emas yang berkilau, ada bercak noda darah yang tampak kontras, seolah memberitahu bahwa pernikahan mereka telah berakhir di atas genangan darah, di bawah langit malam yang gulita, dan di antara hamparan salju yang dingin.

“MEREKA DI SANA!! CEPAT BUNUH KEDUANYA!”

“ORANG YANG MEMBUNUH ELLIOT LANDEGRE AKAN MENDAPATKAN IMBALAN BESAR DARI TUAN!”

Suara belasan langkah kaki yang berat terdengar dari kejauhan, orang – orang yang ditugaskan untuk melenyapkan nyawa Elliot telah datang, tetapi Elliot sudah tidak lagi mempunyai tenaga untuk melarikan diri.

Elliot memejamkan matanya, kemudian berbisik pelan, “Seandainya waktu dapat berputar ulang, aku pasti akan melakukan segala hal untuk membahagiakan kamu, Charlotte. Aku tidak akan lagi menginginkan kekuasaan atau pun kekayaan, selama bisa melihatmu tersenyum, segalanya pasti akan baik – baik saja.”

“Tidak masalah jika kamu ingin pergi dariku, tidak masalah juga bila kamu tidak mencintaiku. Asalkan kamu hidup, asalkan kamu bernapas, aku pasti akan menerimanya …”

Sesaat kemudian, hal terakhir yang Elliot dengar adalah suara lesatan peluru yang bergerak lurus dan menembus punggungnya beberapa kali. Genangan darah tercipta di bawah tubuhnya yang terbujur kaku, kedua mata Elliot perlahan mulai terasa berat dan tangannya tidak lagi mempunyai tenaga untuk menggenggam tangan Charlotte.

Di penghujung napasnya, Elliot berbisik teramat pelan, “Charlotte … selamat tidur …”

Bersambung… KELAHIRAN KEMBALI

“Elliot! Elliot bangun! Cepat belikan aku makanan, aku lapar!”

Suara nyaring seorang wanita menembus telinga Elliot berulang kali, membuat pria itu akhirnya membuka mata. Kepalanya terasa sakit begitu menghirup aroma alkohol yang kuat di dalam ruangan, ia lantas memijat pelipisnya menggunakan tangan dan melirik sosok wanita yang tengah mengguncang tubuhnya.

Awalnya penglihatan Elliot agak kabur, sehingga dia menyipitkan matanya untuk melihat wanita yang sedari tadi berisik itu. Begitu penglihatan Elliot menjadi jelas, ia langsung membulatkan matanya dan mendorong wanita itu supaya menjauh darinya.

“Irene?!” pekik Elliot tidak percaya.

Ia langsung bangkit, kemudian memperhatikan lingkungan disekitarnya. Elliot sadar bahwa sekarang dia berada di dalam ruangan hotel, terdapat botol – botol alkohol yang berserakan di lantai, sehingga membuat lantai hotel menjadi kotor dan aroma alkohol menguar dengan sangat pekat.

Ketika Elliot menoleh, ia mendapati beberapa kondom habis pakai tergeletak di atas nakas, tampak menjijikan dan membuat Elliot mengernyitkan keningnya.

Bukankah dia sudah mati?

Sekelebat ingatan akan wajah Charlotte yang membeku masih terukir jelas di dalam kepala Elliot, ingatan – ingatan tentang kehidupan akhirnya juga mulai berdatangan sehingga membuat kepala Elliot terasa semakin sakit.

Tapi, kenapa sekarang dia malah berada di hotel bersama dengan Irene, seorang wanita yang jelas – jelas sudah mencampakkannya setelah Elliot jatuh miskin.

“Elliot, ada apa denganmu? Kenapa kamu mendorongku?!” Irene Addison menatap Elliot dengan pandangan bingung.

Elliot mengalihkan pandangannya ke tubuh Irene, kemudian ke tubuhnya sendiri dan baru sadar bahwa mereka berdua sama – sama tidak berbusana. Bahu dan leher Irene penuh dengan bercak – bercak merah bekas gigitan, menandakan bila keduanya habis melalui malam yang panas kemarin.

Elliot seketika sadar, sepertinya dia pernah melewati kejadian seperti ini sebelumnya.

“Tanggal berapa sekarang?” tanya Elliot.

“Kenapa kamu menanyakan tanggal? Memangnya ada meeting penting yang harus kamu hadiri?” Irene tertawa, “Sayangku Elliot, sejak kapan kamu perduli dengan pekerjaanmu?”

Elliot bergidik jijik saat mendengar ucapan Irene. Tanpa membalas Irene, dia mengambil ponselnya yang terjatuh ke lantai untuk melihat tanggal.

18 November 2020

Elliot membeku.

Hari ini adalah tepat satu minggu setelah pernikahannya dengan Charlotte.

Pria itu masih ingat dengan jelas tentang dirinya yang langsung pergi keluar rumah seusai pesta pernikahannya dan Charlotte selesai. Kala itu, Elliot merasa bila wajah Charlotte tidak enak untuk dipandang dan memutuskan untuk berpesta pora bersama teman – temannya di klub malam. Tak hanya itu, Elliot bahkan lebih memilih tinggal di hotel bersama Irene selama dua minggu penuh karena tidak mau tidur satu atap dengan Charlotte.

Saat di sisa terakhir hidupnya, Elliot selalu menyesali waktu – waktu ini. Namun, sekarang dia tidak percaya kalau dia telah kembali ke masa kini, tepatnya 10 tahun sebelum dirinya mati di antara salju.

Apakah permohonannya benar – benar dikabulkan?

Tuhan ternyata masih berbelas kasih kepadanya! Dia bahkan tidak membiarkan Elliot meninggal dalam penyesalan!

Seulas senyuman lebar terukir di wajah Elliot, kemudian dia tertawa begitu keras sampai membuat Irene merasa takut.

“Elliot, apa kamu tidak waras setelah menikah dengan wanita sampah itu?!”

Sontak Elliot menoleh kepada Irene, tatapan matanya begitu tajam seolah ingin membakar Irene dengan timah panas. “Perhatikan ucapanmu, Charlotte itu istriku.”

Semakin Elliot melihat wajah Irene, semakin rasa jijik dihatinya kian memuncak. Di kehidupannya yang lalu, Elliot sangat tergila – gila dengan wanita ini, bahkan ia rela memberikan apa saja selama Irene merasa bahagia. Akan tetapi, ternyata Elliot hanyalah sebatas bank berjalan untuk Irene, wanita itu sengaja menjadi kekasih gelap Elliot hanya untuk mengeruk harta kekayaannya.

Irene Addison bahkan sebenarnya mempunyai kekasih lain di belakang Elliot. Pasangan sampah itu telah lama berfoya – foya menggunakan uang serta properti yang Elliot berikan kepada Irene.

“Elliot kamu …”

“Aku harus pergi,” potong Elliot.

Tanpa mengindahkan kehadiran Irene lagi, Elliot segera memakai pakaiannya yang berserakan di atas lantai, kemudian mengirimkan pesan kepada supir pribadinya untuk menjemput Elliot di hotel.

“Elliot, apa kamu marah denganku karena aku menghina Charlotte? Bukankah selama ini kamu yang memanggil dia dengan sebutan sampah, kenapa sekarang malah marah kepadaku?”

Elliot masih tidak menanggapi. Setelah ia berpakaian dan memakai sepatu, Elliot mengeluarkan belasan lembar 100 USD dan melemparkannya ke wajah Irene. “Untukmu. Setelah ini jangan menghubungi atau mendatangiku lagi.”

Elliot memang merasa marah dengan Irene karena sudah mengkhianatinya di kehidupan lampau. Namun, jika dia memukul wanita itu untuk melampiaskan emosi sekarang, pasti dia akan terlihat seperti pria tidak waras yang kasar.

“Elliot Landegre! Kamu keterlaluan! Kesalahan apa yang pernah kuperbuat sampai membuatmu bersikap kasar kepadaku!!”

Elliot menunduk, kemudian berkata lirih. “Aku ingin bertobat dan menjadi hamba Tuhan yang patuh. Karena itu, mulai hari ini aku tidak ingin menyakiti hati istriku.”

“Omong kosong! Kamu bahkan tidak pernah perduli dengannya sampai kemarin malam, kenapa sekarang malah berkata seperti itu?”

Elliot menghela napas, “Singkatnya, aku tidak ingin masuk neraka setelah mati.”

Dia sudah diberikan kesempatan satu kali oleh Tuhan untuk memperbaiki masa lalu, jika dia masih mengulangi kesalahan yang sama, maka Elliot pasti akan langsung dilemparkan ke kuali panas begitu ia mati.

Sebelum Irene membalas ucapannya, Elliot sudah lebih dahulu keluar dari kamar hotel. Tapi, baru beberapa langkah pergi, Elliot masuk lagi ke dalam kamar sehingga membuat Irene tersenyum puas. “Apa sekarang kamu berubah pikiran?”

Elliot memasang wajah datar saat dia berkata. “Tidak. Kembalikan kartu kreditku, aku malas mengurus pemblokirannya di bank.”

Irene mendengus dan melemparkan kartu kredit milik Elliot. “Pria siallan! Mati saja sana!”

Secara teknis, dia memang sudah mati.

Setelah mendapatkan kartu kreditnya, Elliot buru – buru turun ke lobby hotel dan menemukan supir pribadinya sudah menunggu di area drop off. Matanya sedikit menyipit tatkala melihat cahaya matahari siang yang menyilaukan.

Samael Clark segera turun dari mobil dan membukakan pintu penumpang untuk Elliot. “Tuan, apa hari ini Anda akan pulang?”

“Ya, aku akan pulang, tidur terlalu lama di luar rumah juga tidak menyenangkan.”

Samael ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya tetap tutup mulut. Bagaimana pun juga, dia sudah terbiasa melihat Elliot menghabiskan waktu di rumah bordil atau pun klub malam. Tapi hari ini tiba – tiba saja Tuannya berkata tidur di luar tidaklah nyaman.

Mungkinkah Tuannya sedang dirasuki oleh hantu?

“Samael, kenapa kamu belum masuk?” tegur Elliot.

Samael terkesiap, kemudian langsung masuk ke kursi pengemudi.

Di dalam hati, Samael diam – diam berdoa supaya Elliot tidak lagi menyukai hiburan malam dan menjalani kehidupan dengan layak.

*****

Sesampainya di rumah, Elliot langsung berjalan masuk ke dalam rumah dan mengamati tempat tinggalnya itu.

Elliot menghela napas lega saat melihat semua perabotan mahalnya masih tertata dengan rapih, terpoles sampai tampak berkilauan. Di kehidupan lampau, seluruh hartanya telah disita oleh pihak bank atas tuduhan kasus korupsi dan tentu saja Elliot masih merasa tidak rela karena seluruh harta ini sesungguhnya dibeli menggunakan uangnya sendiri.

Siallan! Sekarang bukan saatnya untuk mengatamati harta bendanya.

Sesuatu yang sangat ingin Elliot cari adalah Charlotte.

Dia memang bersyukur Tuhan telah membiarkannya kembali ke masa lalu, tapi alangkah lebih baik lagi bila Tuhan mengembalikan Elliot ke hari sebelum pernikahannya dengan Charlotte.

Karena seingat Elliot, dia sepertinya sudah berkata kasar kepada Charlotte sebelum pergi bersama teman – temannya di malam pernikahan mereka.

“Kamu itu tidak bisa mempunyai anak, untuk apa melakukan hubungan suami istri denganmu! Kamu boleh tinggal di rumah ini, tapi segalanya tidaklah gratis! Terkecuali saat orang tuaku datang berkunjung, kamu hanyalah pelayan di sini! Aku akan langsung mengusirmu apabila menemukan setitik debu begitu aku pulang ke rumah!”

Saat mengingat kata – katanya sendiri, Elliot merasa ingin memukul kepalanya menggunakan palu dan membiarkan orang lain menguburnya di liang lahat.

Hal apa yang harus ia katakan begitu bertemu dengan Charlotte?

Haruskah ia benar – benar mengecek debu di rumah dan berpura – pura tidak melihat satu pun debu?

Di kehidupan lampau, sepertinya Elliot melupakan perkataannya sendiri dan malah mengacuhkan Charlotte selama bertahun – tahun.

Demi Tuhan! Sepertinya Elliot memang lebih baik mati daripada menghadapi pergulatan batin seperti ini!

Selagi Elliot berjalan mondar – mandir di ruang tamu, seorang wanita bersurai kecoklatan datang seraya menundukkan pandangannya. “Tuan Landegre, selamat datang.”

Elliot terdiam, kedua manik sapphirenya memandangi sosok wanita yang berdiri di hadapannya. Di bawah pantulan cahaya matahari, wanita itu tampak secantik yang ada di ingatan Elliot. Fitur wajahnya begitu lembut dengan permukaan kulit yang begitu halus, kedua manik mata Emeraldnya selalu terlihat indah setiap kali bertemu pandang dengan Elliot.

Alis Elliot berkedut, mulai mempertanyakan kewarasannya di masa lalu karena telah mencampakkan wanita yang keindahannya bagaikan pahatan dewi ini.

“Tuan Landegre?” tegur Charlotte.

Kelopak mata Charlotte mulai berkedip beberapa kali karena merasa khawatir kehadirannya telah mengganggu Elliot. Mungkin seharusnya Charlotte memang tidak perlu menyambut kedatangan Elliot dan menunggu saja di dapur sampai pria itu memanggilnya.

Akan tetapi, kekhawatiran di hati Charlotte tergantikan oleh rasa terkejut tatkala Elliot tiba – tiba saja berjalan ke arahnya dengan cepat dan memeluk tubuhnya begitu erat.

“Charlotte, maafkan aku.”

Kedua bola mata Charlotte membulat dan ia membalas dengan ragu. “Kenapa Tuan meminta maaf?”

Elliot tidak menjawab, tetapi malah menenggelamkan wajahnya ke dalam ceruk leher Charlotte, berusaha menghirup aroma manis yang ada di tubuh wanita itu.

“Tuan Landegre, maaf, tapi tubuh Anda bau alkohol.”

Secara mengejutkan, Elliot melepaskan pelukan mereka dan menatap Charlotte dengan mata yang kesal. “Bisakah kamu berhenti mengatakan itu?!”

Di tatap seperti itu membuat punggung Charlotte terasa dingin, apa sekarang dia telah mengucapkan kalimat yang salah lagi?

“Apa ada kalimat saya yang tidak mengenakan hati?” tanya Charlotte dengan sorot mata yang dipenuhi oleh ketakutan dan kekhawatiran.

“Coba ulangi kalimatmu sebelum ini.”

“Tuan Lande—”

“Itu! Berhenti memanggilku dengan honorifik Tuan dan nama belakangku. Kamu itu kan istriku bukan pelayanku, jika kamu memanggilku Tuan Landegre, haruskah aku memanggilmu Nyonya Landegre?”

Elliot meringis di dalam hati saat melihat ada sorot kebingungan di mata Charlotte. Wanita itu pasti merasa heran dengan tingkah lakunya. Di masa lalu, Elliot tidak ingin ada pelayan memanggil Charlotte dengan nama belakang Landegre, dia berkata bila itu terdengar memuakkan, sehingga para pelayan tetap memanggil Charlotte dengan panggilan ‘Nona Baxter’.

“Saya … saya tidak pantas menyandang nama itu,” bisik Charlotte.

“Apanya yang tidak pantas? Namamu sudah terdaftar di catatan sipil sebagai istriku, jadi nama belakangmu sudah bukan lagi Baxter, melainkan Landegre.”

Elliot menambahkan, “Mulai hari ini, kamu harus memanggilku dengan nama depanku dan juga berhenti berkata dengan formal.”

Kepala Charlotte mulai terasa pening saat menerima permintaan yang asing itu. “Tapi, And .. kamu sendiri yang memintaku untuk memakai kalimat formal saat berbicara denganmu.”

Elliot menahan napasnya sejenak sebelum berkata. “Charlotte, dengarkan aku baik – baik.”

Charlotte mengangkat kepalanya dan terkejut saat menemukan kedua mata Elliot tampak begitu lembut ketika pria itu berkata. “Aku minta maaf atas seluruh perlakuan kasarku kepadamu satu minggu yang lalu. Saat itu, pikiranku masih terlalu sempit sampai – sampai menumpahkan amarah ke kamu. Charlotte, selama satu minggu terakhir, aku mulai merenungkan seluruh kelakuanku selama ini dan akhirnya sadar bahwa tidak sepatutnya aku terus menjalani kehidupan yang tidak teratur dan menyia – nyiakan seorang wanita yang telah resmi menjadi istriku.”

“Charlotte, mulai detik ini, aku bersumpah akan membuatmu bahagia dan tidak membiarkan kamu mencicipi segala kesusahan di dunia lagi.”

Perkataan yang dilontarkan oleh Elliot terdengar begitu tulus dan tidak mengandung kepura – puraan. Charlotte bahkan tidak mampu melihat adanya jejak kebohongan di mata Elliot. Kelembutan yang dipancarkan oleh tatapan Elliot tanpa sadar membuat Charlotte merasa begitu nyaman dan tidak lagi tegang saat bertemu pandang dengan pria itu.

“Tapi, seperti yang kamu tahu, aku tidak bisa lagi memberikan kamu keturunan, sehingga kamu pasti akan kecewa denganku di kemudian hari.”

“Aku tidak perduli dengan keturunan! Jika seandainya kita tidak mempunyai anak sampai mati pun aku tidak lagi perduli!”

Charlotte terkejut, ia tidak menyangka bahwa kalimat seperti itu akan keluar dari mulut Elliot.

Sebelum dia menikah dengan Elliot, semua orang di keluarganya selalu bergosip bahwa Tuan Muda Kedua Landegre sangat terobsesi untuk menjadi ahli waris utama dan mereka mulai menanamkan ketakutan kepada Charlotte bila Elliot pasti akan membenci Charlotte seumur hidup karena tidak mampu memberikannya keturunan.

“Kamu perlu keturunan supaya bisa menjadi ahli waris utama.”

“Aku tidak ingin menjadi ahli waris utama! Bukankah tanggung jawabnya terlalu besar? Separuh waktuku juga pasti akan dihabiskan untuk bekerja dan banyak meninggalkan kamu di rumah seorang diri,” Elliot menghela napas, “Terlalu merepotkan, aku tidak ingin menghabiskan waktu untuk bekerja sampai mati.”

“Tapi …”

Sebelum Charlotte menyelesaikan kalimatnya, Elliot lebih dahulu menggenggam kedua tangan Charlotte dan mengalihkan topik pembicaraan. “Astaga, kenapa tanganmu bisa memiliki banyak luka seperti ini? Apa saja yang kamu lakukan selagi aku pergi?”

Charlotte menggigit bibir bawahnya dan kembali menunduk. “Kamu bilang akan mengusirku jika ada setitik debu di rumah ini. Selain rumah ini, aku tidak punya tempat tinggal lain. Karena itu, aku membersihkan seluruh rumah saat pagi dan malam supaya kamu tidak marah.”

Elliot merasa bila kepalanya telah ditimpa oleh besi panas seusai mendengar penuturan Charlotte.

Benar, luka di tangan Charlotte adalah hasil dari kesalahannya yang pertama.

Meski Charlotte hanyalah anak haram dari Keluarga Baxter, setidaknya dia masih tidak perlu melakukan pekerjaan rumah selama ia tinggal dengan Keluarga Baxter. Akan tetapi, Elliot malah meminta Charlotte untuk melakukan pekerjaan rumah setelah menikah dengannya.

Seandainya Elliot bisa bertemu dengan dirinya sendiri di masa lalu, dia pasti akan mencekik dirinya sendiri sampai mati.

“Pelayan! Kemarilah!”

Teriakkan Elliot yang menggelegar membuat seluruh pelayan di dalam rumah segera berhamburan dan berbaris di hadapan Elliot. Semuanya memasang wajah waspada dan beberapa ada yang tampak masam saat melirik ke arah Charlotte, berpikir bahwa Charlotte pasti telah memancing amarah Elliot sampai Tuan mereka berteriak seperti itu.

“Selama seminggu ini, apa kalian tidak bekerja dengan baik! Bagaimana mungkin masih ada debu yang tersisa di rumah ini sampai Charlotte harus terus membersihkan rumah dari pagi hingga malam?! Oh, atau kalian malah memanfaatkan Charlotte untuk membersihkan rumah sedangkan kalian hanya bersantai – santai?!”

Keheningan lantas menyambut ruangan itu, tidak ada satu pun pelayan yang berani menjawab pertanyaan Elliot karena tebakan Elliot sepenuhnya tepat.

Mereka mengira bila Elliot tidak menyukai Charlotte, sehingga mereka memanfaatkan wanita itu untuk melakukan berbagai macam pekerjaan rumah dari membersihkan lantai, mencuci pakaian, hingga memasak.

“Kenapa hanya diam?! Charlotte, apa mereka pernah menyuruh – nyuruh kamu?”

Charlotte melirik para pelayan di hadapannya satu – persatu, ingatan akan intonasi kasar yang diberikan oleh mereka kepada Charlotte masih terpatri kuat di dalam kepalanya.

Wanita itu mungkin selalu bersikap lembut dan bertutur kata halus, tetapi sesungguhnya Charlotte tidaklah sebaik yang mereka kira.

“Ya, mereka melimpahkan pekerjaan mereka kepadaku.”

Habislah sudah, para pelayan itu akhirnya sadar bahwa mereka telah menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak mereka sentuh.

Bersambung… ISTRIKU SEMURNI MUTIARA

Elliot memandangi wajah para pelayan di rumahnya dengan ekspresi marah, tidak menyangka bila para pelayan itu bersikap semena – mena terhadap Charlotte. Di kehidupan lalu, pria itu seringkali mendapati Charlotte tengah membereskan rumah ketika ia pulang, tetapi Elliot selalu berpikir bahwa Charlotte hanya ingin mencari perhatiannya dengan pura – pura menjadi istri yang rajin.

Akan tetapi, dia tidak menyangka bahwa selama sepuluh tahun tinggal di dalam rumahnya, Charlotte harus menghadapi penghinaan dari para pelayan.

Jika di masa lalu Elliot tidak memperdulikan sikap mereka kepada Charlotte, maka kali ini dia tidak akan pernah membiarkan Charlotte melakukan pekerjaan berat seperti membersihkan rumah.

“Kemasi barang – barang kalian semua sekarang! Mulai hari ini, kalian semua tidak perlu lagi bekerja di rumahku. Besok aku akan memberikan gaji serta bonus terakhir, lalu kalian boleh pergi dari tempat ini.”

“Tuan! Tolong, maafkan kami!” seorang pelayan menjatuhkan lututnya ke permukaan lantai. Wajahnya tampak memelas dan bahkan hampir menitikkan air mata. “Saya masih memiliki seorang anak di desa yang harus saya berikan nafkah. Jika Tuan memecat saya tiba – tiba, bagaimana anak saya bisa makan nanti?”

“Aku memberikanmu gaji dan bonus terakhir, tidakkah uang itu cukup sampai kamu menemukan pekerjaan lain?” balas Elliot. Ceritasex.site

Pelayan itu lalu menggeleng pelan. “Mencari pekerjaan di kota besar seperti ini sangat sulit, apalagi saya tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi. Tuan, saya pasti akan menjaga perilaku saya di hadapan Nyonya nanti. Karena itu, saya mohon jangan pecat saya.”

Pelayan yang lain pun turut meminta belas kasih Elliot secara bersamaan. Ada yang beralasan ibunya sedang sakit, keluarganya sedang krisis moneter, bahkan ada yang mengatakan bila dia masih mempunyai kredit barang – barang mewah dan tidak akan mampu melunasinya apabila Elliot memecat dia.

“Kalian ini benar – benar! Jika sebutuh itu dengan pekerjaan ini, kenapa malah bermalas – malasan dan menyuruh Nyonya rumah untuk membersihkan rumah ini?”

“Tuan! Kami sungguh menyesal telah memperlakukan Nyonya Landegre dengan buruk, maafkan kami. Tolong, maafkan kami.”

Elliot lantas mendengus saat memperhatikan wajah – wajah yang dipenuhi air mata palsu itu. “Baiklah, karena kalian begitu menyesal, maka keputusan akhir akan kuserahkan kepada Charlotte. Charlotte, apakah kamu ingin memecat mereka dan mengganti seluruh pelayan dengan yang baru?”

Charlottepun merenungkan pertanyaan Elliot dengan seksama, masih tidak menyangka bila suami yang bersikeras tidak ingin melihat wajahnya setelah malam pernikahan itu, kini malah membela harga dirinya habis – habisan.

Charlotte memang sempat merasa kesal dengan para pelayan itu, tetapi dia tak mempunyai niatan untuk memecat mereka sekarang juga.

“Pada awalnya, kamu memang berkata aku adalah pelayan di rumah ini selama kedua orang tuamu tidak datang. Jadi, perbuatan mereka juga tidak bisa dikategorikan sebagai kesalahan besar,” Charlotte menambahkan, “Rasanya memecat mereka terlalu berlebihan.”

Intonasi suara Charlotte begitu lembut, terdengar seperti tetesan air yang jatuh ke genangan air. Akan tetapi, isi dari perkataannya mampu membuat hati Elliot terasa dicengkram dan diremukkan secara bersamaan.

Ucapan Charlotte tidak salah.

Para pelayan itu mampu menindas Charlotte karena Elliot yang memberikan mereka akses untuk melakukan hal itu. Seandainya saja Elliot membawa Charlotte ke rumahnya dengan penuh penghormatan, seluruh pelayan pasti tidak akan berani menyinggung hati wanita itu.

“Seperti yang kalian dengar, Charlotte mengampuni perbuatan kalian, jadi aku tidak akan memecat kalian semua.”

“Terima kasih, Tuan! Terima kasih, Nyonya! Kami pasti akan memperhatikan segala perbuatan kami di masa depan.”

Ketika para pelayan itu tengah menyelami euforia, Elliot tiba – tiba saja berkata, “Tapi sebagai pembelajaran, aku akan memotong gaji kalian bulan ini sebanyak 30%.”

Ekspresi wajah pelayan – pelayan itu lantas menggelap, mereka ingin mengatakan sesuatu tapi suara mereka tercekat di tenggorokan. Apalah arti pemotongan biaya 30 % selama mereka masih bisa bekerja di rumah ini.

Lebih baik mereka tidak memprotes apa pun daripada Elliot berubah pikiran.

Karena permasalahan sudah selesai, maka Elliot meminta para pelayannya untuk kembali bekerja dan merenungkan kesalahan mereka.

Usai para pelayan pergi meninggalkan Elliot dan Charlotte berdua di ruang tamu. Keduanya tidak mengatakan apa pun akibat merasa canggung. Elliot lantas melirik ke arah Charlotte dari sudut matanya dan mendapati wanita itu tengah menundukkan kepala seraya memilin jari – jari kecilnya.

“Charlotte, ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu.”

Charlotte mengangkat wajahnya. “Tentang apa?”

Alih – alih menjawab, Elliot malah menarik tangan Charlotte dan membawa wanita itu ke kamar utama. Sebelum Elliot menarik kenop pintu, Charlotte lebih dahulu menahan tangan pria itu, dia bahkan turut berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman Elliot.

“Kenapa kita pergi ke kamar?” tanya Charlotte dengan panik.

“Aku tidak ingin perbincangan kita didengar oleh orang luar, jadi lebih baik mengobrol di dalam kamar saja.”

Charlotte lantas semakin berusaha untuk menarik tangannya dari Elliot. “Kita .. Kita bisa berbicara di ruang kerjamu. Bukankah ruangan itu juga kedap suara?”

“Ruang kerjaku ada di lantai tiga, bukankah lebih cepat bila kita pergi ke kamar saja?”

“Tapi … tapi itu tidak pantas.”

Elliot menatap Charlotte dengan bingung. “Apanya yang tidak pantas?”

“Jika kita hanya berada di kamar berdua saja, apa yang akan dikatakan oleh orang lain?”

“Charlotte, apa kamu lupa?” Elliot menambahkan, “Kita sudah menikah. Aku suamimu dan kamu adalah istriku. Walaupun kita menghabiskan waktu satu harian penuh di dalam kamar, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang protes.”

Charlotte terdiam, akhirnya baru sadar kalau pemikirannya sempat keliru. Dia dan Elliot belum pernah tidur di kamar utama sejak hari pernikahan mereka, karena Elliot selalu menginap di luar dan Charlotte tidur sendirian di kamar tamu. Sebab itulah, Charlotte jadi melupakan status mereka sebagai suami istri.

Meski begitu, Charlotte tetap saja merasa enggan untuk masuk ke kamar bersama Elliot. Seumur hidupnya, Charlotte belum pernah tidur bersama dengan pria mana pun di dalam satu kamar. Jadi wajar saja apabila Charlotte merasa malu saat Elliot membawanya masuk ke dalam kamar utama.

Selain itu, Charlotte juga tidak mampu menebak isi hati Elliot, sehingga takut jika pria itu menagih malam pertama mereka hari ini.

Bagaimana pun juga, Charlotte adalah seorang istri dan ia berkewajiban untuk melayani suaminya di tempat tidur. Akan tetapi, Charlotte merasa hati dan tubuhnya belum siap untuk menerima Elliot seutuhnya.

Melihat Charlotte yang ragu – ragu, akhirnya Elliot berkata dengan serius. “Charlotte, aku berjanji hanya akan mengajakmu bicara di dalam kamar, sehingga kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.”

Kedua mata yang menyerupai buah persik itu tampak berbinar, tidak lagi memperlihatkan rasa takut seperti sebelumnya. “Kita hanya mengobrol?”

“Mhm, hanya mengobrol,” Elliot berkata, “Aku pasti tidak akan menyentuhmu jika kamu menolak.”

Keduanya menikah atas dasar perjodohan sepihak, sehingga Elliot juga sadar bahwa Charlotte pasti tidak menaruh cinta kepada Elliot di awal pernikahan mereka. Bila ingin mendapatkan hati serta raga Charlotte seutuhnya, Elliot harus berusaha keras untuk memanjakkan dan memberikan banyak cinta kepada istrinya itu.

Setelah meyakinkan Charlotte, Elliot akhirnya membawa istrinya masuk ke dalam kamar. Begitu melangkah masuk, Charlotte langsung terkejut ketika melihat kamar utama yang biasa ditempati oleh Elliot. Selama tinggal di rumah ini, seluruh pelayan berkata bahwa Elliot tidak senang ada yang memasuki kamar pribadinya tanpa izin, sehingga Charlotte belum pernah memasuki kamar utama hingga sekarang.

Dibandingkan dengan kamar lainnya, kamar utama di rumah ini terlihat paling luas. Pada bagian tengah ruangan, terdapat sebuah tempat tidur super king size yang sepertinya bisa ditiduri oleh empat orang dalam satu waktu. Kemudian di bagian samping kanan, ada jendela – jendela besar yang menjadi sumber pencahayaan utama dari kamar tersebut.

Kursi serta meja santai diletakkan di depan jendela dan di dekat sebuah rak buku yang cukup besar. Pada bagian sebelah kiri, terdapat kamar mandi yang menyatu dengan walk in closet.

Nuansa kamar ini didominasi oleh gradasi warna abu – abu sehingga menimbulkan kesan elegan serta minimalis.

“Kamu tidur di kamar seluas ini sendirian?” tanya Charlotte tanpa sadar.

“Tentu saja. Kenapa kamu begitu terkejut? Bukankah keluarga Baxter juga cukup kaya? Kamar milikmu di rumah Keluarga Baxter pasti juga lumayan luas.”

Charlotte terdiam, kemudian berbicara dengan suara kecil. “Selama tinggal bersama keluargaku, Nyonya Baxter menyuruhku tidur dengan para pelayan, jadi kamarku tidak mungkin seluas ini.”

Sebelum menikahi Charlotte, Elliot pernah mendengar desas desus mengenai Charlotte yang hanyalah seorang anak haram dari hasil hubungan gelap Jacob Baxter dengan seorang wanita pela-cur. Kehadiran Charlotte di keluarga Baxter tentu saja menjadi noda bagi Jacob dan menjadi alasan atas retaknya hubungan Jacob dengan istri sahnya —Agnes Baxter—.

Namun, Elliot tidak tahu bila Charlotte juga diperlakukan semena – mena oleh keluarga Baxter sampai harus tidur di kamar pelayan.

Dia bahkan harus memanggil Agnes dengan sebutan Nyonya Baxter alih – alih Ibu.

Semakin Elliot memikirkan hal itu, semakin pula ia tenggelam di dalam kubangan penuh rasa bersalah.

Istrinya itu sudah begitu menderita saat masih tinggal bersama keluarganya dan Elliot malah menaburkan garam di atas luka dengan membuat Charlotte sengsara di kehidupan lampau.

“Mulai hari ini, kamu akan pindah ke kamar utama dan tidur bersamaku.”

Penuturan Elliot membuat Charlotte kaget. “Tidur bersamamu?”

“Charlotte, apakah kamu juga enggan untuk tidur di satu ruangan yang sama denganku?”

Di pikiran Charlotte, ucapan Elliot seolah tengah menyindirnya. Dia sudah enggan melakukan hubungan suami istri dengan Elliot, apabila ia juga menolak untuk tidur di satu ruangan yang sama dengan pria itu, maka Charlotte tidak pantas disebut sebagai istri.

Jika seandainya Charlotte tidak bisa menyenangkan hati Elliot, mungkinkah pria itu akan kembali mengabaikannya?

“Tidak masalah jika hanya sekadar tidur,” kata Charlotte.

Elliot tersenyum, kemudian mengelus rambut Charlotte yang terasa halus. “Mhm, kalau begitu aku meminta para pelayan untuk memindahkan pakaian dan barang – barangmu ke kamar ini.”

Charlotte hanya mengangguk tanpa melontarkan bantahan. Setidaknya untuk saat ini, Charlotte lebih baik berusaha menyenangkan Elliot daripada pria itu berubah pikiran. Sebelum ini, Charlotte pernah mendapatkan bentakan kasar dari Elliot hanya karena ia berdiri di depan matanya, tapi sekarang dia malah bersikap lembut seperti ini.

Apa pria ini hanya berpura – pura baik karena menganggap Charlotte sebagai mainan baru yang bisa diperalat?

Entahlah, Charlotte juga tidak mengerti.

“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Charlotte.

Elliot kemudian mengajaknya duduk di tempat tidur dan bertanya balik, “Kamu masih kuliah sekarang?”

“Mhm. Apa kamu juga ingin aku berhenti?”

Sebelum menikah dengan Elliot, Jacob Baxter sudah menyuruh Charlotte untuk berhenti kuliah dan fokus saja menjadi istri yang baik, tetapi Charlotte tidak mau meninggalkan universitasnya begitu saja karena ia sudah berada di semester akhir.

Secara mengejutkan, Elliot malah menjawab. “Sebaliknya, aku mau kamu meneruskan kuliah.”

“Hah?” Charlotte berkata, “Benarkah?”

Elliot mengangguk, “Menikah bukan berarti pendidikanmu harus berhenti. Aku dengar kamu mengambil jurusan Arsitektur di Universitas X, sudah semester berapa sekarang?”

Charlotte bergumam. “Tujuh.”

“Kamu sudah mahasiswa tingkat akhir, akan sangat sayang apabila tidak meneruskan kuliah. Bukankah Desember kamu akan ujian juga?”

“Aku belum membayar tunggakan di semester ini, sepertinya tidak bisa ikut ujian,” kata Charlotte pelan.

Elliot tertawa, “Kamu mempunyai aku, kenapa masih takut tidak dapat membayar tunggakan? Beritahu totalnya, aku akan melunasi tunggakan kuliahmu.”

“Kamu tidak perlu melakukan itu, aku tidak mau merepotkan kamu,” ujar Charlotte dengan sopan.

Perkataan Charlotte membuat Elliot geram. “Apanya yang merepotkan?! Sebagai suami, tentu saja aku harus bertanggung jawab penuh atas kehidupan kamu!”

Di kehidupan lampau, Charlotte tidak lagi mendapatkan sokongan biaya dari Jacob dan Elliot juga tidak mau membuang uang untuk Charlotte. Karena itulah, wanita itu tidak meneruskan kuliah dan menjadi tahanan rumah selama kurun 10 tahun.

Sekarang, Elliot tentu saja akan melakukan yang terbaik untuk Charlotte.

Akhirnya setelah diyakinkan oleh Elliot, Charlotte memberitahu jumlah tunggakannya dan membiarkan Elliot membayar tunggakan tersebut.

“Aku sudah membayarnya, sekarang kamu bisa ikut ujian di bulan desember. Bukankah biasanya mahasiswa Arsitektur akan merancang sesuatu untuk ujian mereka? Apa tema rancanganmu sekarang? Sudah sampai mana progressnya? Apakah kamu butuh bantuanku untuk mengerjakan tugas?”

Pertanyaan yang dilontarkan Elliot terlalu banyak, sampai membuat Charlotte berpikir bila Elliot adalah dosennya yang selalu menanyakan progress setiap kali bertemu Charlotte.

“Semester ini aku merancang bangunan Transite Oriented Development (TOD), selama dua minggu terakhir aku tidak masuk kuliah, jadi tugasku agak terbengkalai. Aku bahkan belum menyelesaikan rencana denahnya. Apa sebaiknya aku mengulang mata kuliah saja tahun depan?”

Seminggu sebelum pernikahan, Charlotte disibukkan dengan berbagai macam persiapan untuk menikah dan seminggu setelah pernikahan, Charlotte disibukkan dengan segudang pekerjaan rumah yang tiada habisnya.

“Mata kuliah perancanganmu ada di hari apa?”

“Kamis.”

“Kalau begitu masih ada waktu satu minggu, aku bisa membantu kamu mengerjakan tugas di hari sabtu dan minggu. Jadi, kamu tidak perlu mengulang tahun depan.”

Charlotte tertegun. “Tapi, kamu juga harus bekerja di hari biasa. Tidakkah melelahkan untuk membantuku di hari libur?”

Elliot mengelus pipi Charlotte saat dia membalas. “Tidak apa – apa, memastikan kamu lulus tepat waktu juga merupakan tanggung jawabku.”

Kata – kata manis Elliot akhirnya membuat Charlotte menyunggingkan seulas senyuman. “Terima kasih, Elliot.”

Aku tidak tahu kamu bisa sebaik ini. Pikir Charlotte di dalam hati.

“Kalau begitu, bisakah aku mendapatkan ciuman sebagai hadiah?” tanya Elliot seraya tersenyum penuh pengharapan.

Sontak Charlotte segera menundukkan kepalanya dan rona merah perlahan mulai menjalari pipinya. “Kamu bilang kita hanya akan mengobrol.”

“Charlotte, sedikit ciuman tidak akan menyakitimu,” bujuk Elliot.

Charlotte menggigit bibir bawahnya sejenak, sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Hanya sedikit?”

“Mhm, hanya sedikit.”

Dengan ragu – ragu, Charlotte akhirnya melayangkan satu ciuman singkat di pipi kanan Elliot, sehingga membuat hati Elliot menghangat. Seumur hidupnya, Elliot sudah biasa mencium para wanita dan tidur dengan mereka, tapi siapa yang menyangka bahwa kecupan ringan dari istrinya itu terasa jauh lebih membahagiakan daripada tidur dengan wanita lain.

Sebelum Charlotte memundurkan kepalanya, Elliot sudah lebih dahulu menahan dagu Charlotte dan mencuri satu ciuman di bibir wanita itu. Ngocoks.com

Kedua mata Charlotte lantas membulat, merasa terlalu kaget dengan tindakan Elliot. Namun walau begitu, dia sama sekali tidak berontak saat Elliot mencium bibirnya dengan lembut. Setelah Elliot melepaskan ciuman mereka, Charlotte merasa respon tubuhnya agak aneh.

Aliran darahnya bergerak dengan cepat menuju wajah dan ujung telinga Charlotte, meninggalkan semburat merah yang terlihat semerah apel matang. Detak jantungnya turut berdentum kuat dan ia merasa seolah ada kupu – kupu yang bergerak di dalam perutnya.

Responnya aneh, tapi juga nyaman dalam waktu yang bersamaan.

“Itu hanya satu ciuman kecil, kenapa kamu sudah semerah ini? Saat masih sekolah, kamu pasti sudah pernah mencium bibir seorang pria, kan?”

“Tidak,” Charlotte berkata lirih, “Kamu adalah yang pertama.”

Elliot tidak menyangka bahwa istrinya akan semurni ini.

Bersambung… ISTRIKU SEMANIS GULA

Elliot tidak bisa menahan diri untuk melemparkan dirinya ke tubuh Charlotte dan memberikannya pelukan hangat. Begitu bobot tubuhnya yang berat menimpa tubuh Charlotte, mereka berdua langsung terjatuh ke atas kasur. “Charlotte, kamu memang istriku yang paling manis.”

“Elliot, tubuhmu masih bau alkohol,” peringat Charlotte. Dia mempunyai hidung yang sensitif, jadi selalu tidak tahan apabila mencium aroma alkohol yang kuat.

Elliot tertawa, “Haha, aku akan mandi setelah tidur siang.”

Dalam waktu singkat, Elliot sudah membungkus mereka berdua ke dalam selimut. Ia bahkan menahan tubuh Charlotte sehingga wanita itu tidak bisa berkutik selain menyandarkan kepalanya pada da-da Elliot.

Aroma alkohol masih dapat tercium dengan jelas di hidung Charlotte, tapi pelukan hangat Elliot membuat Charlotte merasa nyaman sehingga dia tidak lagi protes. Pria ini memang benar – benar memiliki banyak kejutan.

“Charlotte, aku janji akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu dan tidak akan pernah membiarkan kamu menderita. Oleh karena itu, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita dan jangan pergi meninggalkanku.” Ceritasex.site

Charlotte merasa permintaan Elliot agak aneh. Pria itu baru membentaknya satu kali dan meninggalkan Charlotte selama satu minggu, tapi Elliot malah berbicara seolah – olah dia telah membut Charlotte menderita selama bertahun – tahun.

“Kita sudah menikah … maka aku tidak mempunyai alasan untuk meninggalkan kamu,” kata Charlotte.

Elliot mencium pucuk kepala Charlotte dan bergumam. “Benar, kita sudah menikah. Tidak perlu memikirkan hal yang tidak perlu.”

Keduanya lantas tidak lagi berbicara dan mulai memejamkan mata. Perpaduan antara suhu ruangan yang dingin dan selimut tebal membuat Charlotte merasa nyaman sehingga tidak sampai lima menit, wanita itu sudah tertidur di dalam pelukan Elliot.

Setelah tidur siang selama tiga jam, Elliot akhirnya membuka mata usai mendengar suara notifikasi ponselnya yang beruntun. Sebelah tangannya meraba permukaan nakas, berusaha untuk mematikan ponsel itu. Akan tetapi, keningnya berkerut saat nama ‘Ayah’ muncul di layar ponsel.

Ketika Elliot membuka pesan dari Arthur, ia mendapati ayahnya telah mengirimi ratusan pesan sejak ia tidak masuk kantor sejak satu minggu yang lalu.

[Elliot, berhentilah bertingkah kekanak – kanakan dan cepat kembali bekerja!!]

[Ayah menikahkan kamu dengan putri keluarga Baxter supaya kamu bisa menjadi orang yang lebih bertanggung jawab, tapi kenapa sekarang kamu malah lari dari tanggung jawab?]

Elliot terus menggulir ratusan pesan tersebut sampai matanya tertuju pada pesan yang baru saja dikirim.

[Bawalah Charlotte untuk makan malam hari ini di rumah. Jika kamu masih saja tidak datang dan tak mau pergi ke kantor besok, maka Ayah akan memotong gajimu bulan ini.]

Ancaman dari Arthur bukanlah sekadar omongan belaka. Ayahnya itu benar – benar memotong gaji Elliot hingga 70% di kehidupan lampau, tetapi saat itu Elliot tidak merenungkan perbuatannya dan malah semakin menaruh kebencian kepada Charlotte serta Arthur.

Elliot menghela napas, sekarang dia tidak mungkin membiarkan Arthur memotong upahnya bulan ini. Kredibilitasnya sebagai penanggung jawab di Departemen Infrastruktur III pasti akan dipertanyakan di rapat laporan akhir perusahaan.

Di kehidupan ini, Elliot sudah bertekad untuk membenahi kehidupannya supaya ia dan Charlotte bisa hidup dengan damai hingga tua. Jika Elliot mempunyai citra yang buruk di mata para petinggi perusahaan, maka dia akan kesulitan untuk mendapatkan kepercayaan mereka di masa depan.

Dia harus bekerja dengan sangat keras, supaya Arthur tidak lagi meragukan dirinya.

Pertama – pertama, dia harus membereskan semua kekacauan yang sudah ia perbuat selama ini. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, Elliot perlu datang ke rumah Arthur malam ini untuk mendapatkan kepercayaan. Setelah itu, Elliot juga perlu menstabilkan posisinya di perusahaan.

Usai menyusun rencananya, Elliot lantas mengirimkan pesan singkat kepada Arthur.

[Aku akan datang.]

Begitu pesan terkirim, Elliot segera melempar ponsel tersebut ke atas nakas kemudian memperhatikan wajah Charlotte yang masih tertidur pulas di dekapannya.

Charlotte meletakkan satu tangannya di atas Elliot, sedangkan yang satunya tertekuk di depan bibirnya yang sedikit terbuka. Bulu matanya yang lentik tetap membuat mata Charlotte tampak indah meski sedang tertutup rapat.

Elliot perlahan menyentuh bulu mata Charlotte, kemudian mengelus pelipis Charlotte dengan lembut. Akibat dari sentuhan – sentuhannya, Charlotte jadi merasa terusik sehingga bulu matanya bergetar.

“Charlotte …” bisik Elliot.

“Mhm,” Charlotte bergumam singkat dan matanya masih enggan untuk membuka.

“Ayah meminta kita untuk makan malam di rumahnya hari ini, kita sebaiknya bersiap – siap agar tidak terlambat.”

“Makan malam?” kata Charlotte, masih setengah sadar.

“Iya, setelah menikah, kita belum pernah berkunjung ke rumah orang tuaku. Karena itu, Ayah memintaku untuk mengajakmu hari ini ke rumahnya.”

Setelah mencerna perkataan Elliot dengan seksama, Charlotte akhirnya membuka mata dan sadar sepenuhnya. Dia buru – buru melihat ke arah jam dinding dan berkata dengan panik. “Tapi sekarang sudah jam 4 sore, makan malam biasanya diselenggarakan jam 7 malam. Perjalanan dari Manhattan ke Brooklyn itu sekitar 1 jam, maka kita harus segera pergi sebelum jam 6 sore.”

Charlotte akhirnya melepaskan pelukan Elliot dan duduk di tempat tidur, wajahnya tampak gusar dan ia menggigit ujung jarinya saat merasa panik. “Bagaimana bila kita terlambat datang? Apakah Tuan Besar Landegre akan marah?”

Karena merasa heran dengan Charlotte yang tiba – tiba saja sangat panik, Elliot turut bangkit dan menepuk tangan Charlotte beberapa kali. “Kenapa kamu begitu panik? Itu hanyalah undangan makan malam keluarga, datang sedikit terlambat pun juga Ayah akan mengerti.”

Tatkala manik emerald dan sapphire bertemu pandang, kegugupan di hati Charlotte mulai menguap dan tergantikan oleh perasaan tenang. “Aku hanya takut Ayahmu akan memandang buruk Keluarga Baxter apabila aku tidak datang tepat waktu.”

Elliot menaikkan satu alisnya, “Aku tidak menyangka kamu seperduli itu dengan keluargamu.”

Charlotte tertegun, “Perduli mungkin bukanlah kata yang tepat. Dibandingkan perduli, aku lebih merasa takut akan disalahkan jika Keluargamu sampai tidak menyukai keluargaku.”

Penuturan Charlotte membuat Elliot terdiam. Dia baru ingat bila Keluarga Baxter rela menikahkan Charlotte dengan Elliot karena perusahaan yang dirintis oleh Jacob Baxter —Baxter Furniture— tengah mengalami krisis moneter, akibat kesalahan manajemen perusahaan serta pengeluaran yang tidak terkendali.

Di tengah krisis seperti itu, Arthur datang membawa proposal pernikahan, ia berjanji akan memberikan bantuan modal ke perusahaan Jacob asalkan ia menikahkan salah satu putrinya dengan Elliot. Awalnya, putri Jacob yang seharusnya menikah dengan Elliot adalah Caitlyn Baxter.

Akan tetapi, Jacob sangat menyayangi Caitlyn dan tidak mau putrinya menikah dengan seorang pria pemarah dan tidak teratur seperti Elliot. Istrinya, Agnes pun juga sangat menentang perjodohan itu sehingga Jacob akhirnya menyerahkan Charlotte kepada Keluarga Landegre. Wanita itu hanyalah sebuah noda, kehilangan Charlotte sama sekali tidak ada artinya untuk Keluarga Baxter.

“Charlotte, dengarkan aku baik – baik,” pinta Elliot, ia mengangkat dagu Charlotte sehingga mata mereka kembali bertemu.

“Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Aku pasti tidak akan membiarkan ada orang lain menyalahkanmu atas sesuatu yang tak bisa kamu kontrol.”

Intonasi suara Elliot seolah mempunyai magnet tersendiri yang mampu membuat hati Charlotte menjadi lebih tenang.

“Selain itu, jika keluargamu ingin melimpahkan kesalahan kepadamu, aku pasti akan menyuruh seseorang untuk mematahkan kaki mereka.”

Charlotte tertawa. “Kamu tidak perlu melakukan tindakan kriminal hanya untuk membelaku.”

“Charlotte, istriku yang manis, terkadang ada beberapa manusia di dunia ini yang perlu dipukul dahulu agar ia sadar.”

Contohnya adalah Elliot sendiri.

Dia harus mati terlebih dahulu supaya bisa sadar bahwa ia telah mengambil langkah yang salah seumur hidupnya.

*****

Butuh waktu setidaknya satu jam bagi Charlotte menyiapkan diri untuk menghadiri makan malam. Walaupun Elliot berkata bila undangan itu hanyalah sekadar makan malam keluarga, tetap saja mereka tidak bisa terlihat buruk di hadapan sanak keluarga lain.

Karena menjadi bagian dari keluarga konglomerat itu merepotkan.

Semua anggota keluarga saling bersaing dan mencari kesalaan dari anggota keluarga lainnya demi menjatuhkan mereka.

Jika seandainya Charlotte mengenakan pakaian yang buruk, maka seluruh anggota keluarga mungkin akan menuding Elliot menelantarkan istrinya dan hal itu bisa menjadi bahan gunjingan di masa depan.

“Charlotte, apa kamu sudah siap?” tanya Elliot seraya mengetuk pintu kamar istrinya.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka, menampakkan sosok Charlotte yang mengenakan gaun selutut berwarna abu – abu muda. Kain pada bagian pundak serta lengannya tampak transparan sehingga memperlihatkan permukaan kulitnya yang cerah. Rambutnya yang bergelombang dibiarkan tergerai dan dihias menggunakan jepit rambut mutiara di dekat telinganya.

Wajahnya dipoles menggunakan riasan yang lembut, tidak terlihat berlebihan atau terlalu pucat.

Elliot terpaku selama sesaat, lalu tanpa sadar menyampirkan anak rambut Charlotte ke belakang telingnya. “Kamu terlihat cantik.”

Charlotte tersenyum dan sedikit menunduk. “Aku tidak mau membuat kamu malu.”

“Kamu tidak akan pernah membuatku malu.”

Charlotte akhirnya melihat penampilan Elliot dengan seksama. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang dipadukan dengan mantel berwarna cokelat tua. Poni rambut Elliot ditata ke belakang sehingga membuat dia tampak lebih menawan dibandingkan dengan penampilannya siang ini.

“Kamu juga terlihat tampan.”

Elliot tertawa, lalu menggenggam tangan Charlotte. “Tentu saja, jika aku berpenampilan buruk, pesonaku bisa terbanting oleh kamu. Ayo, kita harus segera pergi.”

Charlotte tidak menjawab lagi dan hanya mengikuti langkah Elliot menuju ke luar rumah dan masuk ke mobil.

Mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan Manhattan dengan kecepatan konstan. Arus lalu lintas pada saat sore hari cukup padat karena bertepatan dengan jam pulang kerja.

“Charlotte, jika Ibu tiriku mengatakan sesuatu, kamu hanya perlu mendengarkan tapi tidak harus dimasukkan ke dalam hati. Dia itu adalah wanita tua bermuka dua, sejak dahulu dia tidak pernah menyukaiku karena aku tidak pernah menuruti perkataannya. Oleh sebab itu, Ibu tiriku sering melakukan apa saja untuk membuatku jatuh atau bahkan mempermalukan aku.”

Elliot menambahkan, “Takutnya hari ini dia juga ingin mempermalukan kamu. Saat di awal pernikahan, aku sempat menolak keras perjodohan kita, jadi Ibu pasti berpikir aku sangat membenci kamu. Mungkin saja dia ingin menghina kamu di hadapan keluarga besar supaya aku merasa malu dan murka kepadamu di depan mereka.”

Tatkala mendengar penuturan Elliot, Charlotte jadi merasa iba kepada pria itu. “Kenapa Nyonya Landegre berbuat demikian?” Ngocoks.com

Elliot tertawa, “Tentu saja karena dia tidak ingin aku terlihat baik di depan Ayah. Saat ini, saudara kandungku, Ian sudah mengambil posisi sebagai wakil direktur di LNG Corporation, sehingga Ibu tiriku merasa sangat dengki karena kedua putra kandungnya jauh tertinggal dari Ian.”

Sejak pertama kali Brianna menikah dengan Arthur, wanita itu memang selalu bermuka dua. Jika Arthur sedang ada di rumah, maka Brianna akan memberikan perhatian penuh kepada Ian dan Elliot, tetapi saat Arthur sudah pergi, Brianna akan kembali menjadi sosok wanita yang dingin dan cenderung mengabaikan kedua putra tirinya itu.

Ketika Brianna berhasil melahirkan keturunan untuk Keluarga Landegre, dia menjadi semakin serakah dan berusaha keras untuk menyingkirkan Ian dan Elliot dari garis pewaris utama.

“Bagaimana denganmu? Apa kamu juga merasa dengki dengan Tuan Ian?” sebagai seseorang yang lahir di keluarga konglomerat, Charlotte yakin bila Elliot mempunyai daya saing yang tinggi dan tak mau kalah dari yang lain.

Namun, ternyata pemikiran Charlotte salah ketika mendengar jawaban Elliot. “Seperti yang sudah kukatakan tadi siang, aku sudah tidak berminat menjadi pewaris utama. Selama aku bisa hidup bahagia bersamamu, maka itu sudah lebih dari cukup.”

Karena Elliot sudah pernah mengecap keserakahan sekali dan berakhir terjatuh hingga ke jurang kehancuran, sehingga kini ia bersumpah akan membuang keserakahannya dan mundur dari persaingan ahli waris

Bersambung… ISTRIKU BERTEMU DENGAN MERTUA

Berselang beberapa saat kemudian, mobil yang ditumpangi Elliot dan Charlotte berhasil sampai di kediaman Arthur Landegre di Brooklyn. Karena ada perbaikan jalan, mereka jadi terlambat hampir setengah jam, sehingga membuat Charlotte merasa sangat cemas.

Ketika mereka melangkahkan kaki menuju teras rumah, Elliot sempat memberikan tepukan ringan di punggung Charlotte supaya wanita itu bisa lebih tenang. “Jangan khawatir, kita hanya telat sebentar.”

“Aku hanya takut Tuan Besar Landegre marah.”

Elliot tertawa kecil. “Walau wataknya memang keras, Ayah bukanlah seseorang yang mudah marah karena alasan sepele, jadi kamu tidak perlu cemas.”

Elliot lantas menautkan jari mereka agar Charlotte tidak lagi merasa gugup. Secara mengejutkan, Elliot merasa istrinya meremas tangannya dengan kuat sebagai bentuk penenangan diri.

Rumah milik Arthur Landegre merupakan kediamam utama dari Keluarga Landegre, sehingga tak ayal apabila rumah ini berdiri di atas lahan yang sangat luas. Rasio antara luas halaman dan bangunan utamanya itu hampir setara, membuat Charlotte berpikir mungkin lahan rumah milik Keluarga Landegre mampu menampung sepuluh rumah di dalamnya.

Sesampainya di depan pintu, Elliot segera menekan bel sebanyak tiga kali, tak lama kemudian seorang pelayan membukakan pintu untuk Elliot dan menggiring mereka ke ruang makan yang berada di dekat kolam renang halaman belakang. Ceritasex.site

Manik mata emerald milik Charlotte berbinar tatkala melihat ruang interior rumah Landegre yang didomminasi oleh marmer serta ukiran kayu mahal. Perabotan – perabotan yang bernilai tinggi pun juga sangat mudah Charlotte temukan, membuatnya kagum dengan keluarga Landegre yang mengoleksi banyak barang mahal.

Elliot hanya tersenyum saat memperhatikan Charlotte yang terlihat bersemangat. Setidaknya, Charlotte sudah tidak lagi gugup dan lebih rileks. Namun, ketenangan Charlotte luntur tatkala mereka sudah berjalan semakin dekat ke ruang makan.

Hari ini, tampaknya Arthur Landegre mengundang seluruh keluarga untuk hadir di perjamuan makan. Di ruang makan, setidaknya sudah ada tujuh orang yang duduk di kursi makan. Begitu memasuki ruang makan, pandangan semua orang langsung jatuh ke arah Elliot dan Charlotte.

Sebelum Arthur melayangkan protes, Elliot sudah lebih dahulu menjelaskan keterlambatan mereka. “Maaf, kami datang terlambat karena tadi ada perbaikan jalan saat kami sedang kemari.”

Seperti yang telah Elliot katakan kepada Charlotte, Arthur tidak marah. Pria separuh baya itu hanya mengangguk tanda mengerti dan berkata, “Cepat duduklah agar kita semua bisa segera makan.”

Tampaknya Arthur berpikir, selama Elliot ingin datang menemuinya, maka dia tidak perlu berharap lebih. Di mata Arthur, Elliot itu merupakan putranya yang paling sering membangkang. Jika dia tidak mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, maka Elliot seringkali kabur dari rumah dan mengabaikan Arthur selama satu bulan penuh.

Mendapati Elliot hanya kabur selama satu minggu itu adalah sebuah kemajuan.

Elliot berjalan lebih dahulu menuju meja makan, sedangkan Charlotte mengikuti. Mereka lantas duduk di dua kursi kosong yang letaknya bersebelahan dengan saudara tertua Elliot, Ian Landegre dan istrinya, Jessica. Di antara Ian dan Jessica, Charlotte bisa melihat seorang anak kecil yang sepertinya merupakan putra mereka.

Begitu Charlotte duduk, Jessica yang berada di sebelahnya langsung melemparkan senyuman ramah kepada Charlotte. Wanita itu bahkan sempat berbisik di samping telinga Charlotte, “Tatanan rambutmu terlihat cantik.”

Charlotte turut tersenyum sebagai balasan. “Terima kasih, kamu juga terlihat cantik malam ini.”

Pandangan Charlotte kemudian beralih ke depan, ia melihat Brianna Landegre duduk tepat di seberangnya. Di sebelah kanan Brianna, terdapat Johan yang merupakan adik tiri Elliot, pasangan ibu dan anak itu tampak sedikit angkuh saat melihat Charlotte datang.

Lain halnya dengan adik tiri Elliot yang duduk di sebelah kiri Brianna, setahu Charlotte namanya adalah Noelle Landegre. Di antara para orang dewasa, dia terlihat masih segar selayaknya remaja pada umumnya. Remaja berusia 18 tahun itu tidak memperhatikan sekeliling dan hanya fokus pada games yang sedang ia mainkan di ponsel.

Elliot yang duduk di sebelah Charlotte turut memperhatikan ekspresi semua orang yang duduk di ruang makan. Namun, pandangan Elliot hanya terpaku kepada Ian yang duduk di dekat Arthur. Ada pancaran penyesalan di kedua mata Elliot tatkala memperhatikan saudaranya itu.

Di kehidupan lampau, Elliot selalu berpikir bila saudaranya itu ikut senang dengan lengsernya Elliot dari pewaris utama. Tak hanya itu, Elliot juga sempat menuduh Ian sebagai orang yang menjebak Elliot sehingga dia terkena kasus penggelapan dana. Namun, ternyata seluruh dugaannya itu salah saat Ian malah membantu Elliot untuk melakukan pelarian.

Saudaranya itu juga bahkan berusaha keras membela Elliot di hadapan keluarga besarnya, meski Arthur tetap saja hanya percaya kepada bukti yang tertera di matanya.

Karena itulah, Elliot memantapkan hati untuk selalu percaya kepada saudaranya itu dan akan membantu Ian untuk meraih jabatan tertinggi di LNG Corporation.

“Elliot, kemana saja kamu selama ini sampai tidak pernah masuk kerja? Apa kamu tidak tahu betapa sibuknya perusahaan kita di akhir bulan seperti ini? Usiamu sudah tidak lagi muda, berhentilah bersikap kekanak – kanakan.” omel Arthur ketika para pelayan mulai meletakkan hidangan – hidangan ke atas meja.

Semua orang sontak menatap Elliot, berpikir bila Elliot akan memulai keributan seperti biasanya saat Arthur memberikannya ceramah. Namun, tanpa disangka Elliot dengan tenang menanggapi, “Sebelumnya, aku ingin meminta maaf kepada Ayah karena aku sudah bertindak kekanak – kanakan. Ayah dan Ibu pasti mempunyai alasan yang baik saat ingin menjodohkanku dengan Charlotte. Karena itu, mulai hari ini aku akan berusaha memperbaiki perilakuku dan tidak akan lagi mengecewakan Ayah.”

“…”

Keheningan lantas menyambut ruang makan. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka Elliot akan merespon seperti itu. Pasalnya, di pertemuan keluarga yang terakhir, Elliot sempat membanting meja karena tidak terima akan dinikahkan dengan Charlotte.

Arthur batuk sekali untuk menghilangkan rasa canggung. “Bagus jika kamu sudah mengerti. Sekarang kamu sudah menikah dan memiliki istri, perlakukan Charlotte dengan baik, jangan sampai kamu membuatnya menderita karena tingkahmu.”

“Mhm, aku pasti tidak akan membuatnya susah,” tegas Elliot.

Kali ini Brianna ikut menimpali. “Charlotte, padahal baru seminggu tidak melihatmu. Tapi, kenapa sekarang tubuhmu jadi semakin kurus? Lihatlah, bahkan pipimu begitu tirus. Apa kamu tidak mendapatkan makanan yang layak selama tinggal bersama Elliot?”

Charlotte tertegun. Sesungguhnya dia memang mengalami penurunan berat badan akibat terlalu banyak mengerjakan pekerjaan rumah, tapi tentu saja turunnya tidaklah drastis sampai bisa terlihat. Tampaknya, Brianna memang ingin menyindir Elliot dan membuatnya marah.

“Ah, bukan begitu. Makanan di rumah Elliot sangat layak dan sehat. Namun, aku memang seringkali lupa makan, sehingga mungkin mengalami penurunan berat badan.”

Ucapan Charlotte bukanlah kebohongan. Wanita itu memang selalu melupakan jadwal makan saat melakukan sesuatu, sehingga tubuhnya sangat jarang mengalami kenaikan berat badan.

Brianna tertawa kecil, “Kalau begitu makanlah yang banyak, jangan sampai Elliot pergi ke pelukan wanita lain karena berpikir istrinya tidak lagi menarik.”

Charlotte, “Aku pasti akan lebih memperhatikan jadwal makanku lain kali.”

Diam – diam, Charlotte mengepalkan tangannya di bawah meja. Perkataan dari Brianna tanpa sadar menggerayangi isi kepalanya tanpa henti.

Jika penampilanku buruk, apakah Elliot akan memilih wanita lain? Pikir Charlotte di dalam hati.

Belum selesai memikirkan hal itu, Brianna kembali menuangkan minyak ke dalam api. “Sejak Elliot masih remaja, dia sudah sering membawa pulang wanita. Hampir semua dari wanita itu begitu cantik dan memiliki tubuh yang bagus. Ibu tidak mengatakan ini karena meragukan Elliot, tapi bukankan lebih baik berdandan lebih baik daripada suamimu akan diambil oleh wanita yang lebih cantik di masa depan?”

Charlotte kehabisan kata – kata, sehingga dia tidak tahu harus membalas apa. Sebelum menikah, Charlotte juga sering mendengar tabiat buruk Elliot yang sering berkencan dengan banyak wanita. Awalnya Charlotte tidak begitu memikirkannya, tapi sekarang dia jadi khawatir Elliot akan tidak puas dengan dirinya.

Apalagi, Elliot dan dirinya juga belum pernah melakukan hubungan selayaknya suami istri. Mungkinkah Elliot akan mencari wanita lain jika Charlotte tak kunjung memberikannya lampu hijau untuk berhubungan dengannya?

Ketika pikiran Charlotte semakin kusut, dia tiba – tiba mendengar Elliot berkata. “Aku sudah menikah, tidak akan lagi bermain – main dengan wanita. Jadi, seburuk apapun Charlotte, aku tidak akan pernah meninggalkannya.”

Senyuman di wajah Brianna membeku, dia tidak menyangka bahwa Elliot akan membalas seperti itu. Padahal Brianna mengira Elliot akan mendukung ucapannya dan turut menghina Charlotte. “Sepertinya Ibu terlalu meremehkan kamu.”

Sudut bibir Charlotte terangkat sedikit kala mendengar ucapan Elliot. Ada bagian dari hatinya yang merasa senang, karena tahu suaminya telah membela Charlotte di hadapan mertuanya.

“Benar, Elliot pasti tidak akan lagi bertingkah seliar dahulu. Jadi berhenti membicarakan omong kosong, lebih baik sekarang kita mulai menyantap makanannya sebelum makanan di meja menjadi dingin,” kata Arthur sembari mengambil peralatan makannya.

Semuanya kemudian mengikuti Arthur yang mulai makan. Seperti biasa, makan malam berlangsung dengan dingin tanpa ada satu orang pun yang berbicara. Masing – masing dari mereka bahkan terlihat tidak berminat untuk bertegur sapa.

Walau Elliot sudah dilahirkan kembali, suasana keluarganya memang tidak pernah berubah. Embel – embel keluarga pada akhirnya hanyalah sebuah catatan di akta keluarga, karena sesungguhnya mereka selalu bertingkah seperti orang asing yang saling tidak perduli.

Selain dengan Ian, Elliot sangat jarang berbicara dengan yang lainnya.

Pria itu mengintip ke arah Charlotte, memperhatikan istrinya yang tengah berusaha memotong daging di piring. Tanpa mengatakan apa – apa, Elliot segera menukar piring miliknya dengan Charlotte, membuat wanita itu ingin protes tapi diurungkan saat melihat piring yang diberikan oleh Elliot berisikan daging yang seluruhnya sudah dipotong.

Charlotte tersenyum, kemudian berbisik. “Terima kasih.”

“Mhm,” gumam Elliot.

Sekitar empat puluh menit kemudian, mereka sudah selesai makan malam. Elliot yang sedari awal ingin membicarakan sesuatu dengan Arthur segera berkata. “Ayah, ada hal yang ingin kubicarakan. Apa Ayah mempunyai waktu senggang?”

Arthur, “Ya, kita bisa bicara di ruang kerja.”

Setelah mengatakan itu, Arthur bangkit dari kursi makan dan berjalan pergi menuju ruang kerjanya. Tidak ingin ayahnya menunggu lama, Elliot juga segera bangkit dan mengikuti Arthur.

Tapi sebelum dia pergi, Elliot sempat menepuk kepala Charlotte dan berbisik. “Aku akan segera kembali,”

Charlotte hanya mengangguk sebagai balasan, pertanda bahwa dia tidak memiliki masalah jika Elliot pergi.

*****

Sesampainya di ruang kerja, Arthur langsung menodong Elliot dengan kata. “Jika kamu ingin kembali meminta kenaikan jabatan, maka Ayah tidak akan memberikannya. Memimpin satu divisi saja kamu belum becus, bagaimana mungkin mampu naik jabatan?”

Elliot tertegun sebentar sebelum menjawab. “Aku kemari bukan untuk meminta itu.”

Arthur yang baru saja duduk segera menaikkan matanya untuk menatap Elliot. Tidak menyangka bila putranya itu tidak membahas kenaikan jabatan lagi saat bertemu dengannya.

“Lalu apa yang kau mau?”

Elliot dengan serius berkata. “Selama ini, Johan selalu saja ikut campur dalam pengelolaan Divisi Infrastruktur III. Hal ini bisa membuat administrasi berantakan karena adanya campur tangan pimpinan lain. Karena itu, aku ingin Ayah meminta dia untuk berhenti mengurus divisiku dan berfokus kepada divisinya sendiri.”

Arthur mengetukkan jarinya ke atas meja. “Kamu tahu alasan Johan ikut mengatur divisimu?”

Tahu, tentu saja Elliot tahu.

Arthur dahulu menyuruh Johan mengatur Divisi Infrastruktur III karena Elliot selalu saja melarikan diri dan menghabiskan waktu bersama teman – temannya. Dia juga sangat jarang datang ke kantor dan membuat laporan, sehingga Divisi Infrastruktur III akan hancur apabila Johan tidak turun tangan. Ngocoks.com

“Selama satu minggu terakhir, aku sudah merenungkan segala kesalahanku. Setelah renungan itu, aku mulai sadar bila aku tidak bisa terus bertingkah seperti berandalan dan harus mulai memikul tanggung jawab supaya dapat hidup dengan nyaman di masa depan. Sebab itu, bisakah Ayah memberikan kepercayaan kepadaku satu kali ini? Aku berjanji tidak akan mengecewakan Ayah.”

Sebagai seorang Ayah, tentu hati Arthur cukup tersentuh karena mendengar putranya mulai ingin membenahi kehidupannya yang buruk. Namun, dia juga tidak bisa mengambil resiko. Terkadang Arthur tidak bisa menebak Elliot, anak itu bisa saja tiba – tiba melarikan diri lagi jika pekerjaannya terlalu berat.

“Satu bulan,” Arthur berkata, “Ayah akan memberikanmu waktu sampai rapat laporan akhir bulan perusahaan. Jika Divisi Infrastruktur III mampu berada di tingkat tiga teratas, maka Ayah akan sepenuhnya memberikan tanggung jawab divisi itu kepadamu.”

Elliot lantas tersenyum usai berhasil mendapatkan hal yang ia inginkan. “Tidak masalah, Aku pasti mampu melakukannya, Ayah tidak perlu khawatir.”

Bersambung… ISTRIKU TIDAK MEMILIKI PERHIASAN

Ketika Elliot keluar dari ruangan Arthur, dia mendapati Charlotte tengah duduk bersama Jessica dan Ian di kursi santai yang ada di samping kolam renang. Wanita itu tampak tersenyum setiap kali Jessica mengajaknya berbicara dan akan tertawa saat putra kakanya —Izekiel— menggelayuti kaki Charlotte karena ingin bermain.

“Charlotte,” panggil Elliot.

Charlotte lantas menoleh dan tersenyum manis, “Urusanmu sudah selesai?”

“Mhm, ayo kita pulang,” ajak Elliot.

Ian yang sedari tadi hanya diam akhirnya berbicara. “Kenapa tidak menginap saja malam ini? Sangat tidak etis hanya menumpang makan di rumah orang tua.”

Elliot menoleh kepada Ian, senyuman di wajahnya merekah saat mendengar suara dari saudaranya itu. Ian bukanlah orang gemar berbicara, dia juga selalu tampak dingin di hadapan Elliot. Sejak mereka kecil, hal – hal yang sering diucapkan oleh Ian hanyalah seputar omelan dan perkataan ‘Ini tidak etis’ atau ‘Itu tidak baik’. Dahulu Elliot pasti akan menutup telinganya rapat – rapat dan segera kabur dari rumah apabila saudaranya sudah mengomel.

Namun, sekarang Elliot malah merasa omelan Ian terdengar menyenangkan di telinganya. Karena dia akhirnya sadar bila saudaranya itu hanya sedang mengkhawatirkan Elliot.

“Apa kamu akan menginap?” tanya Elliot.

“Ya, aku akan menginap. Hari sudah larut, sebentar lagi Izekiel pasti akan mengantuk sehingga lebih baik menginap,” kata Ian seraya mengelus kepala putranya itu.

“Kalau kamu menginap, maka aku juga akan menginap.”

Ian terkejut saat mendengar ucapan adiknya. Ketika Elliot menikah dengan Charlotte dan terbuang dari daftar pewaris utama, Ian berpikir bila Elliot mungkin akan membencinya atau mengabaikannya. Namun, sekarang adiknya itu malah menuruti ucapannya tanpa bantahan.

“kamu bisa menggunakan kamar lamamu. Minta saja pelayan untuk membersihkannya.”

“Aku bisa menyampaikannya,” kata Jessica.

Elliot melambaikan tangannya. “Tidak perlu, biar aku saja.”

Jessica tertawa. “Tidak apa, aku sekalian ingin membuatkan su-su untuk Izekiel, kamu mengobrol lah dengan Ian di sini.”

“Baiklah, terima kasih Jessica.”

Jessica tersenyum kepada Charlotte. “Tolong jaga Izekiel sebentar.”

Charlotte mengangguk, “Mhm, jangan khawatir.”

Jessica lantas masuk ke dalam rumah dan pergi ke dapur. Ketika Izekiel ingin menyusul Jessica, Charlotte segera menggendong anak itu dan menggoyangkan tubuhnya supaya Izekiel merasa nyaman. “Mama hanya ingin membuat su-su, Izekiel bermain saja dulu dengan auntie, oke?”

Izekiel mengangkat tangannya, kemudian berusaha menarik jepit mutiara yang ada di kepala Charlotte. “Auntie, aku mau itu … terlihat cantik.” Ceritasex.site

Berdasarkan keterangan Jessica, Izekiel baru berusia 3 tahun, tahun ini. Sehingga wajar bila anak itu selalu tertarik dengan benda – benda berkilauan seperti jepit rambut Charlotte. Jika Charlotte tidak memberikannya, maka anak itu akan berusaha keras untuk menariknya. Namun, tatkala Izekiel hampir berhasil menarik jepit rambut Charlotte, Ian lebih dahulu melepaskan tangan Izekiel dari kepala Charlotte dan menggendong anaknya.

“Kamu tidak boleh bersikap seperti itu, sangat tidak sopan,” kata Ian.

Izekiel yang belum mengerti norma kesopanan mulai mengerutkan wajahnya karena berpikir Ian sedang memarahinya dan memisahkan anak itu dari Charlotte. “Tapi … tapi aku mau itu. Auntie juga tidak keberatan.”

“Walaupun dia tidak keberatan, tetap saja kamu tidak boleh merebut barang milik orang lain.”

Karena Charlotte merasa tidak tega saat melihat wajah Izekiel yang hampir menangis, ia segera melepaskan jepit rambutnya dan memberikan benda berkilau tersebut ke hadapan Izekiel. “Ini, Izekiel boleh memilikinya.”

Ian, “Charlotte, kamu tidak perlu melakukan itu. Nanti dia jadi terbiasa merebut barang orang lain.”

Charlotte tersenyum kepada Ian. “Izekiel tidak merebutnya, tapi aku yang memberikannya. Maka seharusnya tidak apa – apa, ini ambilah.”

Izekiel menatap Ian terlebih dahulu, setelah Ian mengangguk, anak itu baru berani mengambil jepit rambut pemberian Charlotte. “Auntie, terima kasih.”

Ian menghela napas. “Aku akan membelikanmu perhiasan yang baru nanti.”

“Tidak perlu,” Charlotte berkata, “Itu hanyalah jepit rambut biasa, tidak terlalu berharga.”

Ketika Charlotte mengatakan ‘biasa’, Elliot memandang wajah istrinya dengan hati yang terenyuh. Ia jadi ingat bila Charlotte tidak pernah mempunyai perhiasan seumur hidupnya di kehidupan lalu. Kedua orang tuanya tidak memberikan Charlotte uang saku lebih dan Elliot juga tidak pernah memperdulikan kesenangan istrinya. Jadi semua barang – barang milik Charlotte tidak pernah berasal dari brand tertentu. Perhiasan yang ia punya pun kebanyakan imitasi.

Elliot lantas melingkarkan tangannya di bahu Charlotte dan menepuk bagian samping kepalanya. “Benar, kamu tidak perlu mengembalikannya. Aku cukup mampu untuk membelikan perhiasan baru untuk istriku.”

Elliot kembali berkata untuk mencairkan suasana. “Lagipula, kenapa Izekiel senang sekali dengan perhiasan? Apa kamu juga ingin memakainya?”

Ian membalas. “Sejak kecil dia selalu saja senang mengambil perhiasan mamanya. Tapi bukan untuk digunakan, melainkan untuk dipreteli dan dikoleksi dalam sebuah kotak. Jessica bahkan harus meletakkan kotak perhiasannya di tempat yang tinggi supaya Izekiel tidak bisa menggapainya.”

“Oh, rupanya kamu mempunyai penglihatan yang bagus! Ketika sudah besar, mungkin kamu bisa menjadi kolektor berlian,” Elliot kemudian merebut Izekiel dari tangan Ian. “Jika Paman ingin membeli perhiasan, aku pasti akan meminta saranmu supaya tidak memilih perhiasan yang salah. Bagaimana?”

“Aku tidak melakukannya dengan gratis! Paman juga harus membelikanku satu!”

Elliot tertawa, “Baiklah, Paman akan membelikanmu sekotak penuh! Selain perhiasan, apalagi yang kamu sukai? Bagaimana dengan mobil – mobilan? Paman punya banyak koleksi mainan mobil – mobilan di rumah Paman. Kamu bisa mengambil satu jika berkunjung.”

Elliot dan Izekiel lantas terlarut pada pembicaraan mereka. Pria itu bahkan tidak sadar melangkah jauh dari tempat Charlotte dan Ian berdiri.

Meskipun Elliot selalu membenci keluarganya dahulu, ia sama sekali tidak menaruh kebencian pada Izekiel. Selain karena anak itu memang tidak mempunyai kesalahan, Elliot juga secara pribadi menyukai anak – anak, sehingga selalu berkeinginan untuk memanjakan Izekiel setiap kali mereka bertemu.

Di lain sisi, Charlotte memandang Elliot dengan tatapan sendu. Jika saja dia bisa memberikan keturunan, keluarga mereka pasti bisa lebih sempurna, dan Charlotte tidak akan menjadi batu sandungan untuk Elliot.

Sayangnya angan – angan hanyalah sebatas mimpi, karena dia langsung terhempas oleh kenyataan pahit.

“Charlotte,” Ian menepuk pundak wanita itu. “Aku tidak menyangka bila kehadiranmu mampu merubah Elliot hingga ke titik ini.”

Charlotte, “Aku tidak melakukan apapun, perubahannya pasti karena dirinya sendiri.”

“Tidak,” Ian berkata, “Dia itu adalah anak yang keras kepala. Sangat sulit diatur dan akan marah apabila keinginannya tidak tercapai. Secara logika, dia pasti tidak akan berubah tanpa alasan.”

“Dan sepertinya kamu adalah alasannya untuk berubah. Karena itu, kamu tidak perlu mengkhawatirkan masa depan. Sebab Elliot tidak akan pernah melepaskan sesuatu yang ia sayang,” lanjut Ian.

Saat mereka masih kecil, Elliot selalu mempunyai kebiasaan untuk membawa pulang hewan – hewan kecil. Walau anak itu selalu bertingkah sembrono, setidaknya dia selalu berusaha untuk merawat hewan yang ia sayang, apabila hewan itu mati, maka adiknya itu akan menangis dan mengurung diri selama tiga hari. Oleh karena itu, ketika Elliot berkata akan menjaga Charlotte, Ian tahu betul bahwa adiknya tidak main – main dengan ucapannya.

Mulut mungkin bisa berdusta, tetapi mata tidak bisa. Dan Ian bisa melihat pancaran penuh kasih sayang selalu keluar dari mata Elliot setiap kali dia memandang Charlotte.

“Elliot menyayangimu Charlotte, kamu harus percaya dengan fakta itu,” ujar Ian.

*****

Pada tengah malam, Charlotte tidak mampu memejamkan mata meski dia sudah berusaha untuk mengubah posisinya beberapa kali. Ucapan Ian masih terngiang – ngiang dengan jelas di dalam benaknya, berputar bagaikan kaset rusak yang mengulang di satu bagian.

“Elliot menyayangimu Charlotte, kamu harus percaya dengan fakta itu.”

Elliot menyayanginya.

Menyayanginya.

Rasanya terlalu dini untuk beranggapan pria itu sudah menaruh perasaan sayang kepada Charlotte. Pasalnya, Elliot bahkan baru memperlakukannya dengan baik siang tadi. Jadi Charlotte selalu beranggapan mungkin pria itu hanya ingin menata kehidupannya dan menjalani pernikahan yang sudah diatur oleh keluarganya.

Ingin menjalankan pernikahan yang baik, bukan berarti Elliot harus mencintainya dengan sepenuh hati.

Tapi jika boleh jujur, ada sebagian kecil di hati Charlotte yang ingin Elliot menaruh cinta kepadanya. Dia belum pernah merasakan kasih sayang atau cinta secara penuh sejak kecil, karena itu wajar bagi Charlotte mengharapkan seseorang yang berbuat baik kepadanya untuk mencintai wanita itu.

Tiba – tiba saja wajah Charlotte memanas saat memikirkan hal itu, bahkan pendingin ruangan terasa tak mampu mendinginkan suhu wajahnya yang terus meninggi.

Charlotte mulai berguling – guling di atas tempat tidur, berusaha keras untuk melupakan pemikirannya itu.

Selama Elliot baik kepadanya, maka itu sudah cukup. Dia tidak berhak untuk meminta lebih.

Elliot yang tengah duduk di hadapan komputer segera menoleh ke samping saat mendengar tempat tidurnya terus berderit selama beberapa saat. Matanya lalu menangkap sosok Charlotte yang sedang merubah – rubah posisinya sejak tadi, bahkan selimut yang ia gunakan mulai terlihat kusut.

“Kamu tidak bisa tidur?” suara Elliot sontak membuat Charlotte berhenti bergerak.

Charlotte menyembunyikan sebagian wajahnya di bawah selimut dan berkata pelan. “Apa suara tempat tidur membuatmu terganggu? Aku tidak akan bergerak lagi.”

Elliot tertawa, “Aku bertanya kepadamu, kenapa malah balik bertanya?”

“Mhm, aku tidak bisa tidur,” jawab Charlotte.

“Kenapa? Apa karena lampunya masih menyala? Jika mau, aku bisa menggunakan komputer di ruang tengah supaya kamu tidak terganggu.”

“Tidak, kamu sama sekali tidak menggangguku,” Charlotte berkata, “Aku hanya punya kebiasaan tidur larut malam.”

“Kamu insomnia?”

“Bukan begitu. Biasanya aku sering begadang karena mengerjakan tugas kuliah. Setelah terus begadang selama tiga tahun, sekarang aku jadi sulit tidur sebelum jam 3 walau sudah mengantuk.”

Elliot, “Tapi tadi siang kamu bisa tidur dengan cepat.”

Charlotte menjawab dengan malu. “Itu … karena kamu memaksaku tidur.”

Dan juga karena kamu memelukku.

“Haruskah aku memaksamu tidur sekarang?” kata Elliot seraya tertawa kecil.

“Aku masih belum mengantuk, tidak perlu tidur sekarang,” Charlotte mengalihkan topik. “Apa yang sedang kamu kerjakan?”

Sejak dua jam yang lalu, Elliot sudah duduk di hadapan komputer tanpa bergeming. Pria itu terlihat begitu serius dan menuliskan beberapa hal di buku catatan. Sesekali pria itu akan menaikkan kacamatanya sebelum kembali menggulir layar, membuat Charlotte merasa bila Elliot juga menawan saat sedang serius.

“Aku sedang memeriksa laporan perkembangan proyek yang sedang di jalani oleh Departemen Infrastruktur III. Administrasinya agak kacau, jadi sepertinya aku perlu mengatur ulang beberapa divisi di bawah naunganku,” Elliot menghela napas. “Seandainya saja aku serius bekerja sejak dulu, mungkin departemen di bawah pimpinanku tidak akan sekacau ini.”

“Pantas saja Erland selalu terlihat masam setiap kali melihatku datang ke kantor.”

“Erland?”

Elliot, “Asistenku.”

“Tidak perlu memikirkan hal yang sudah lewat. Lebih baik terlambat memperbaikinya daripada tidak sama sekali.”

Elliot kembali menghadap ke layar komputernya. “Kamu benar, tidak perlu lagi memikirkan masa lalu.”

Karena sekarang Elliot akan berusaha untuk memperbaiki masa depannya.

“Omong – omong, apa kamu sudah magang?”

Charlotte, “Belum, mungkin setelah semester ini berakhir aku baru mencari tempat magang.”

“Kemana kamu ingin magang? Di konsultan arsitektur atau kontraktor?”

“Entahlah, aku belum memikirkannya,” kali ini Charlotte yang menghela napas. “Kebanyakan temanku sudah menemukan tempat magang untuk semester depan, tapi aku masih mencarinya.”

Elliot, “Tidak perlu membandingkan dengan orang lain, pikirkan diri kamu sendiri saja. Kamu lebih tertarik pada apa? Merancang desain bangunan atau memperhatikan strukturnya?”

Charlotte tahu bila Elliot sedang membantunya untuk menentukan pilihan, jadi wanita itu tentu saja akan menjawabnya setelah berpikir lama. “Merancang desain lebih menyenangkan. Aku tidak begitu suka menghitung struktur, sangat merepotkan.”

Elliot kembali tertawa. “Tidak apa, kamu tidak akan bekerja sendirian jika berada di bidang arsitektur. Jika tidak mengerti tentang struktur, ada pihak kontraktor yang akan membantumu.”

Sebelum Charlotte membalas, Elliot lebih dahulu berkata, “Kirimkan cv dan portofoliomu kepadaku, aku bisa memperkerjakan kamu di departemenku. Bagian konsultan sempat kekurangan orang, mungkin kamu bisa mengisinya.”

“Tidakkah itu curang?” tanya Charlotte dengan terkejut.

Elliot melirik Charlotte, merasa bingung dengan pertanyaan wanita itu. Bukankah seharusnya seseorang merasa senang karena bisa masuk perusahaan dengan mudah? Kenapa harus mempertanyakan curang atau tidak? Ngocoks.com

Tapi karena tidak mau membuat hati Charlotte menjadi berat, Elliot membalas, “Kamu tetap akan masuk lewat prosedur resmi perusahaan. Jika merasa khawatir diberikan perlakuan khusus, kamu juga boleh mendaftar sebagai Charlotte Baxter.”

Jika Charlotte menggunakan nama Baxter, maka orang – orang di perusahaan tidak akan tahu tentang identitasnya sebagai istri Elliot. Setelah dipikir lebih lanjut, sepertinya memang lebih baik merahasiakan hal itu supaya tidak terjadi kesenjangan sosial saat dia bekerja.

“Kalau begitu, aku akan mengirimkan cv dan portofolioku kepadamu minggu depan.”

“Mhm, nanti akan kuingatkan.”

Setelah itu Elliot tidak lagi berbicara dengan Charlotte, pandangan matanya sepenuhnya fokus terhadap layar komputer. Dari hanya mengecek laporan perkembangan minggu ini, Elliot mulai mengecek laporan setiap minggunya, kemudian membandingkan dan menghitung keuangan secara teliti.

Sesungguhnya, sejak dahulu Elliot merupakan anak yang cerdas. Bahkan Elliot sempat mengambil dua jurusan sekaligus saat masih kuliah, yaitu Teknik Sipil dan Manajemen Bisnis. Ketika masih dewasa awal, dia memang sangat berambisi untuk menjadi yang terbaik, bahkan lebih baik dari Ian. Namun, lambat laun dia sadar bahwa sekeras apapun dia berusaha, Brianna selalu membuat penghalang yang menghambat langkah Elliot untuk menjadi pewaris utama.

Karena itulah, setelah lulus kuliah dia sadar bahwa ambisinya tidak akan menghasilkan apapun. Alih – alih tetap bekerja keras, Elliot malah bersenang – senang karena merasa ambisinya tidak penting lagi. Meski begitu, dulu dia tetap saja menuntut Arthur untuk menjadikannya pewaris utama.

Ketika Arthur tidak menurutinya, maka Elliot akan berulah semakin parah.

Dan pikirannya itu semakin buruk usai menikahi Charlotte.

Sekarang, karena dia sudah tidak mempunyai obsesi berlebih, Elliot mulai mampu merjenihkan pikirannya sehingga bekerja dengan lebih baik.

“Kamu akan bekerja hingga kapan?” tanya Charlotte. Mata wanita itu mulai menutup setengah dan ia sesekali menguap.

Elliot balik melemparkan pertanyaan. “Apa kamu mengantuk?”

Charlotte bergumam. “Sedikit.”

Tahu bila Charlotte mempunyai masalah tidur. Elliot segera menyimpan datanya di dalam flashdisk, kemudian mematikan komputer serta lampu kamar.

Setelah merapihkan peralatan tulisnya, Elliot langsung masuk ke dalam selimut dan memeluk Charlotte. “Kalau begitu tidurlah.”

“Tidak bekerja lagi?”

Elliot, “Pekerjaanku bisa menunggu besok.”

Sedangkan istriku tidak boleh menunggu. Pikir Elliot.

Begitu Elliot memeluk Charlotte, wanita itu langsung tertidur. Suara deru napas halusnya menjadi satu – satunya suara yang terdengar di telinga Elliot.

Usai memastikan Charlotte sudah tertidur pulas, Elliot turut memejamkan mata dan tidur bersama Charlotte.

Bersambung… SUAMI & ISTRI YANG MENIKAH ULANG

Keesokan paginya, Elliot segera pulang bersama Charlotte karena tidak mau berlama – lama bertatapan muka dengan Brianna ataupun Johan. Ia bahkan membawa pergi Charlotte di pagi buta dan hanya berpamitan kepada Arthur, agar Ian tidak mencarinya, Elliot juga mengirimkan pesan kepada Ian dan bilang bahwa dia harus segera pulang karena ada urusan.

Meski alasan sesungguhnya hanyalah supaya bisa kabur dari rumah lamanya itu.

Saat Elliot membawa Charlotte keluar dari rumah, wanita itu merasa bila kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya. Bahkan Charlotte lebih sering menutup matanya ketika Elliot menarik lengannya untuk berjalan ke mobil.

Begitu masuk ke dalam mobil, Charlotte tidak bisa menahan kantuknya lagi dan menjatuhkan kepalanya ke permukaan jendela. Takut istrinya akan terhantuk benda keras saat mobil berjalan, Elliot segera menempatkan kepala Charlotte di pundaknya.

“Charlotte, makanlah ini dulu sebelum kita sarapan di rumah,” kata Elliot seraya memberikan bungkus roti yang sudah dibuka.

Charlotte berusaha untuk meraih roti itu, tetapi meleset karena dia tidak membuka mata. Pada akhirnya, Elliot merobek roti tersebut menjadi beberapa bagian kecil, kemudian menyuapi Charlotte yang setengah sadar.

Setelah menelan sekali, Charlotte mulai bertanya. “Kenapa kita pulang pagi sekali? Apa kamu punya pekerjaan?”

“Aku ingin membawamu melihat matahari terbit di suatu tempat.”

“Matahari terbit?”

“Mhm, kamu selalu berada di rumah selama satu minggu terakhir, sehingga hari ini aku ingin membawamu ke tempat yang bagus supaya pikiranmu menjadi jernih kembali.” Ceritasex.site

Tanpa Elliot katakan, Charlotte juga mengerti bila pria itu merasa bersalah kepada Charlotte. Karena Charlotte ingin menghargai usaha Elliot yang mau menghiburnya, Charlotte tidak menolak saat dibawa pergi.

Mobil yang mereka tumpangi lantas berhenti di Brooklyn Bridge, sebuah jembatan penghubung antara borough Brooklyn dengan Manhattan. Di jembatan itu terdapat tiga jalur, jalur di paling kanan dan kiri bisa dilewati oleh kendaraan pribadi atau umum, sedangkan bagian tengah jembatan diperuntukan untuk pejalan kaki.

Elliot meminta Samael untuk memarkirkan mobil di salah satu ruko dekat jembatan, lalu dia menuntun Charlotte berjalan ke jembatan itu.

Matahari belum menampakkan cahayanya, sehingga jalanan masih gelap dan dipenuhi oleh kemerlap lampu. Udara di waktu dini hari begitu dingin, membuat Charlotte langsung sadar sepenuhnya akibat sedikit menggigil.

Sebelum ini, dia tidak tahu jika Elliot akan membawanya keluar, sehingga dia tidak membawa mantel tebal dan hanya menggunakan blazzer tipis sebagai pakaian luarnya. Elliot yang sadar bila istrinya tengah berusaha menghalau dingin, lekas menanggalkan mantelnya lalu membungkus tubuh Charlotte menggunakan mantel tersebut.

Charlotte tertegun saat menerima perhatian Elliot. Dalam beberapa saat dia hanya diam, sebelum akhirnya tersenyum tipis dan bertanya. “Bagaimana denganmu? Kamu tidak kedinginan?”

Elliot meletakkan tangannya di belakang punggung Charlotte saat dia berjalan. “Suhu dingin tidak akan mampu membuatku sakit! Ketika masih muda, aku dan teman – temanku seringkali melakukan tantangan untuk berdiri di antara salju dengan hanya menggunakan kaus dan celana tipis. Orang yang kalah harus mentraktir yang menang.”

Charlotte tertawa saat mendengar tingkah Elliot yang kacau. “Lalu, apa kamu menang?”

“Tentu saja menang,” Elliot tersenyum bangga. “Aku selalu menang saat melawan mereka.”

Ketika Elliot melihat sebuah kursi, ia segera membawa Charlotte untuk duduk. Matanya lalu melirik ke arah beberapa pasangan yang berdiri jauh dari mereka, tampaknya para pasangan itu juga menunggu matahari terbit sepertinya dan Charlotte.

“Tapi sekarang kamu sudah tidak semuda dahulu. Jadi bisa saja demam setelah terpapar udara dingin terlalu lama.”

“Charlotte,” Elliot berkata, “Kamu baru saja mengataiku tua.”

Charlotte tertawa, kemudian meletakkan mantel milik Elliot di antara mereka berdua. Mantel itu cukup lebar, sehingga mampu melingkupi tubuh Elliot dan Charlotte bersamaan. “Aku hanya membicarakan fakta.”

Elliot ingin protes, tetapi ia urungkan saat melihat senyuman Charlotte yang indah. Pada akhirnya, dia hanya menjepit hidung Charlotte dengan jari, kemudian menarik tubuh wanita itu supaya duduk lebih dekat dengannya. “Baiklah, aku memang sudah tua. Karena itu, kuharap Nona muda tidak membuat Tuan yang tua ini marah hingga terkena serangan jantung.”

Keduanya lantas tertawa bersama, menikmati udara pagi yang perlahan mulai menghangat. Beberapa saat kemudian, bintik – bintik cahaya kemerahan mulai muncul dari arah timur. Gradasi pergantian warna dari langit malam ke pagi tampak begitu indah, warna merah dari matahari lambat laun berubah kekuningan, menyebar hingga ke sudut – sudut kota dan mulai merasuki retina setiap manusia yang berasa di jembatan.

Cahaya dari lampu – lampu jalan meredup, kemudian mati tatkala sinar matahari sudah menggantikan tugas mereka.

Charlotte memandangi cahaya matahari di depannya seraya merasakan kehangatan yang mulai menyelimuti tubuhnya. Seumur hidup, Charlotte belum pernah melihat matahari terbit secara langsung. Hal itu karena kamar yang ia tempati dahulu tidak memiliki jendela yang mengarah keluar, sehingga dia tak pernah dibangunkan oleh matahari pagi.

Kehangatan itu turut menyelimuti hati Charlotte, membuat segala kekalutan yang kemarin terus menghinggapi hatinya pergi begitu saja.

Elliot memperhatikan kekaguman yang terpancar dari kedua manik Charlotte. Pria itu turut merasa senang tatkala istrinya menikmati pemandangan di hadapan mereka.

“Ketika aku masih remaja, aku sering melihat matahari terbit dari tempat ini. Dalam seminggu, mungkin aku bisa melihatnya sebanyak tiga kali,” tukas Elliot.

Charlotte lantas menoleh. “Kenapa kamu selalu keluar rumah sedini itu? Apa jam masuk sekolahmu lebih pagi dari sekolah lain?”

Elliot tertawa pelan, kemudian mengelus rambut Charlotte dengan lembut. “Aku tidak melihat matahari terbit karena aku selalu pergi ke rumah sangat pagi, tetapi karena aku memang belum pulang ke rumah hingga pagi.”

Bocah berandal. Pikir Charlotte di dalam hati. Namun, tidak ia suarakan.

“Kenapa kamu belum pulang hingga pagi?”

Elliot menghela napas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah matahari terbit. “Kenapa ya? Mungkin karena aku tidak suka tinggal di rumah.”

“Semenjak Ibuku meninggal, rumah sudah tidak lagi sehangat dahulu. Setiap hari, aku dan Ayah akan selalu bertengkar, saling berteriak dan memaki satu sama lain. Entah itu karena masalah sepele hingga besar. Ayahku keras kepala, dan aku sama keras kepalanya dengan dia.”

“Pertengkaran kami semakin buruk saat aku beranjak remaja. Di mataku dulu, Ayah selalu saja memandangku sebagai bocah kurang ajar dan berandalan. Walau aku mempunyai belasan piala olimpiade, nilai tinggi, dan prestasi non akademik yang bagus, Ayah tetap saja selalu memarahiku karena aku seringkali bermain dan tampak tidak memperdulikan keluarga dan sekolah.”

“Padahal, aku terus bermain karena keluargaku tidak bisa memberikan kesenangan. Aku terus bermain, karena teman – temanku selalu memujiku sebagai anak yang cerdas meski jarang belajar. Aku terus bermain, karena lelah mendengarkan ocehan Ayah yang selalu membanding – bandingkan setiap putra – putranya, membuat saudara kandung saling mengubur benci hingga beranjak dewasa.”

Arthur memang bukanlah seseorang yang mudah marah karena alasan kecil. Namun, Elliot adalah kasus khusus di mana Arthur tidak akan mampu membendung emosinya setiap kali melihat putranya itu membuat ulah. Karena itulah, Arthur seringkali membandingkan Elliot dengan Ian atau pun Johan, membuat Elliot jadi merasa kesal kepada saudara – saudaranya.

Di kehidupan lampau, Elliot dan Ian juga bisa melalui kesalah pahaman karena kebencian Elliot tersebut.

Ketika matahari sudah naik sepenuhnya, Elliot kembali berkata, “Tapi, sepertinya sikapku di masa lalu memang keterlaluan. Bagaimana menurutmu?”

Charlotte, “Kamu masih muda saat itu, jadi tidak bisa menyalahkan sikapmu.”

Elliot tidak menyangka istrinya akan berkata demikian. “Ya, saat itu aku masih sangat muda. Sekarang aku akan lebih berhati – hati saat berbicara dengan Ayahku. Bagaimana pun juga dia sudah tua, terlalu banyak marah tidak akan bagus untuk kesehatannya.”

“Mhm, kamu harus lebih memperhatikan ayahmu sekarang,” Charlotte berpikir sebentar, sebelum berkata lagi, “Ketika kamu melihat matahari terbit di masa lalu, apa kamu melihatnya dengan teman – temanmu?”

“Tidak. Walau menyebut mereka sebagai teman, sesungguhnya mereka hanyalah sekumpulan orang – orang yang ingin mendekatiku karena uang, sehingga mereka tidak memperdulikan masalah pribadiku.”

Charlotte tidak bisa menahan iba untuk Elliot. Suaminya itu pasti selalu merasa kesepian walaupun selalu bermain dengan teman – temannya. “Jadi kamu selalu ke sini sendirian?”

Elliot mengangguk. “Sendirian juga tidak begitu buruk. Namun, suatu hari aku berpikir mungkin akan menyenangkan jika aku membawa orang yang kusayang ke tempat ini juga. Sayangnya, selama bertahun – tahun tidak ada orang yang layak untuk kubawa kemari, sampai akhirnya aku bertemu denganmu.”

Kebanyakan wanita yang berada di sekitar Elliot hanya perduli kepada diri mereka sendiri. Mereka bahkan tidak pernah menanyakan kabar Elliot atau menenangkannya saat dia kesal. Di kehidupan lampau, Elliot paling lama menjalin kasih dengan Irene Addison, tapi wanita itu selalu menolak ajakan Elliot jika pria itu ingin mengunjungi tempat yang tidak mewah.

Sebab itu, Charlotte adalah satu – satunya wanita yang mau mendengarkan keluh kesah Elliot, juga satu – satunya wanita yang tidak menolak ajakan Elliot untuk pergi ke tempat yang tak dilingkupi kemewahan.

“Charlotte, aku menyayangimu,” ungkap Elliot. Cahaya matahari pagi yang mengenai wajah Elliot, membuat wajah pria itu semakin bersinar.

Charlotte membeku saat mendengar hal itu, dia sama sekali tidak menyangka bila ucapan seperti itu akan keluar dari mulut Elliot. Pasalnya perubahan pria itu terlalu cepat, seminggu yang lalu dia memperlakukan Charlotte seperti hama, kemarin dia tampak menyesal, dan sekarang berkata dia menyayangi Charlotte.

Apa Elliot hanya ingin bermain – main dengannya?

Elliot mampu melihat keraguan di manik mata Charlotte, sehingga dia memegang tangan Charlotte dan mengarahkan tangan wanita itu ke da-da Elliot. “Apakah kamu merasakannya? Detak jantungku berdetak cepat sekali setiap melihat kamu. Apa respon dari tubuhku ini sudah cukup untuk membuatmu percaya bahwa aku memang menyayangimu dengan sepenuh hati?”

Charlotte merasakannya.

Telapak tangan Charlotte mampu merasakan detak jantung Elliot yang berdetak begitu cepat, seolah pria itu habis berlari jauh.

Ucapan mungkin bisa berdusta, tetapi tubuh tidak akan pernah berbohong.

Elliot telah mengarungi dua kehidupan. Pada kehidupan pertama, Elliot terlalu bodoh dan buta sampai bisa membenci Charlotte sedemikian besar. Namun, kebencian itu perlahan luntur usai melihat Charlotte yang tetap berada di sisinya meski kehidupan Elliot telah hancur menjadi puing. Di detik – detik akhir kematian mereka, Elliot akhirnya sadar bila dia juga menyayangi Charlotte.

Akan tetapi, dia terlambat untuk menyadari perasaannya itu.

Oleh karena itu, di kehidupan sekarang dia tidak lagi mau memiliki kesalah pahaman dengan Charlotte. Dia ingin wanita itu tahu bahwa Elliot memang menyayanginya dan tidak menjadi baik hanya karena belas kasihan.

“Charlotte, apa kamu mau mengulang segalanya dari awal dan menganggap hari ini adalah hari pertama pernikahan kita?”

Lambat laun, detak jantung Charlotte sama cepatnya dengan milik Elliot. Entah mengapa, hatinya tidak lagi ragu tatkala melihat manik mata Elliot yang dipenuhi oleh penyesalan dan kasih sayang.

Pria itu tampaknya tidak berdusta.

Elliot memang menyayangi Charlotte.

Dan Charlotte tanpa sadar mulai menumbuhkan rasa sayang juga kepada suaminya itu.

“Aku tidak keberatan,” Charlotte tersenyum, “Kita bisa menganggap hari ini sebagai hari pertama pernikahan kita.”

Elliot menundukkan kepalanya, kemudian ia mengelus pipi Charlotte, menimbulkan sensasi hangat akibat jemarinya yang dingin menyentuh permukaan kulit Charlotte yang juga dingin. “Kalau begitu, aku akan mengucapkan sumpah pernikahan ulang.”

“Charlotte Baxter, aku sudah memilih kamu untuk menjadi istriku. Karena itu, aku berjanji akan setia kepadamu dalam susah ataupun senang, di waktu sehat atau sakit, dan aku ingin mencintai dan menghormati kamu seumur hidup,” Elliot menambahkan. “Tidak, aku akan mencintai kamu meski sudah mati sekalipun.”

Suara Elliot yang lembut membuat Charlotte tidak bisa menahan senyumannya. Sebuah senyuman lebar yang menampakkan deretan gigi putihnya. Ngocoks.com

“Elliot Landegre, aku juga sudah memilih kamu untuk menjadi suamiku. Sebab itu, aku berjanji akan selalu setia kepadamu dalam keadaan susah atau senang, di waktu sehat atau sakit, dan aku juga akan mencintai dan menghormati kamu selamanya.”

Elliot turut tersenyum, kemudian menautkan jari – jemari mereka. Sesekali ia akan menyentuh cincin pernikahan yang tersemat di jari manis mereka. Kali ini, kedua cincin itu masih bersih dan berkilauan, tak ada noda debu ataupun darah yang mengotori.

Dan selamanya, Elliot tidak akan pernah membiarkan cincin mereka terkotori oleh darah serta debu.

Elliot mendekatkan wajahnya ke wajah Charlotte, membuat Charlotte mampu merasakan deru napas hangat dari Elliot.

Di pernikahan resmi mereka, Elliot menolak untuk mencium Charlotte. Dia sempat menutupi sisi samping wajah mereka, sehingga kedua orang tuanya tidak tahu bahwa Elliot sama sekali tidak menyentuh Charlotte.

Karena saat itu ia merasa Charlotte terlalu menjijikan untuknya. Namun, saat ini Elliot merasa bila bibir merah Charlotte tampak seperti manisan yang terus menggoda Elliot untuk menyentuhnya.

Seolah mengetahui jalan pikiran Elliot, Charlotte menutup matanya, karena merasa terlalu malu untuk melihat wajah Elliot yang begitu dekat.

Tidak ingin menyia – nyiakan kesempatan. Elliot lantas menempelkan kedua bibir mereka yang dingin, tidak perduli jika ada orang lain yang mungkin akan melihat perbuatan mereka.

Ciuman itu terasa selembut kapas, juga begitu ringan dan hanyalah bentuk dari sebuah cinta yang murni.

Bersambung… SUAMI YANG BEKERJA

Ketika Elliot melepaskan ciuman mereka, ia mampu melihat rona merah menghiasi pipi dan ujung telinga Charlotte, tampak seolah ada endapan darah yang tidak mengalir. Wanita itu menundukkan kepalanya dan ingin sedikit menjauh dari Elliot, tetapi Elliot dengan cepat menahan punggung Charlotte dan memeluknya.

“Charlotte, di kehidupan ini, aku pasti akan membuatmu bahagia.”

Charlotte hanya menyandarkan tubuhnya di pelukan Elliot dan bergumam. “Mhm.”

Mereka kemudian menghabiskan waktu selama hampir setengah jam untuk saling berpelukan dan memadu kasih. Tatkala matahari semakin naik, Elliot akhirnya melepaskan pelukan mereka dan mengajak Charlotte untuk pulang.

Ia memang masih ingin berlama – lama duduk bersama Charlotte di tempat itu, tetapi Elliot tidak mau Charlotte terpapar oleh udara dingin terlalu lama, apalagi Charlotte juga belum sarapan sehingga Elliot takut istrinya akan sakit.

“Lain waktu, aku akan mengajakmu pergi ke tempat yang lebih indah dari ini,” kata Elliot saat mereka sedang berada di dalam mobil.

Charlotte tersenyum hangat. “Tempat ini juga sudah cukup bagus. Tapi kalau mau, kita bisa mencari tempat bagus lainnya bersama.” ceritasex.site

Charlotte tidak mau Elliot merasa tertekan untuk mencari tempat yang bagus sendirian. Karena itu dia menawarkan untuk mencarinya bersama – sama.

“Baiklah, tempat kencan kita yang berikutnya akan kita tentukan bersama.”

Kencan.

Charlotte tersenyum di dalam hati saat mendengar kata itu. Mereka padahal sudah menikah, tapi Charlotte selalu merasa hubungan mereka seperti hubungan anak kuliah yang dipenuhi oleh rasa manis dan kencan.

“Aku akan berusaha mencari tempat yang bagus,” kata Charlotte.

*****

Berkat waktu yang masih sangat pagi, jalanan dari Brooklyn ke Manhattan terlihat lenggang, sehingga mobil yang Elliot tumpangi bisa sampai di rumah dalam waktu singkat.

“Kamu tidak keluar?” tanya Charlotte begitu melihat Elliot yang tidak ikut turun bersamanya.

Elliot, “Ada beberapa hal yang harus kuatur di kantor, karena itu aku tidak akan pulang sekarang.”

Charlotte merasa sedikit kecewa, “Kapan kamu akan pulang?”

“Nanti malam,” Elliot melanjutkan, “Jangan menungguku untuk makan malam, mungkin aku bisa pulang larut.”

“Baiklah, kabari aku jika kamu ingin pulang.”

Elliot bisa mendengar nada kecewa dari Charlotte, mungkin wanita itu ingin menghabiskan waktu bersama Elliot hari ini, tapi sayangnya Elliot harus pergi.

Elliot menarik tangan Charlotte, kemudian mencium bibir wanita itu sekilas. “Besok aku tidak akan pergi, kita bisa menghabiskan waktu seharian di rumah.”

Senyuman langsung merekah di wajah Charlotte saat mendengar hal itu. “Aku mengerti. Berhati – hatilah saat pergi ke kantor, kabari aku jika sudah sampai.”

“Ya, sampai jumpa nanti malam,” kata Elliot seraya melambaikan tangan dari balik jendela mobil.

Mobil lantas kembali melaju dengan kecepatan konstan. Lokasi kantor LNG Corporation terletak di pusat Kota New York, membutuhkan waktu setidaknya setengah jam untuk sampai ke sana.

Di tengah perjalanan, Elliot menghubungi sekretarisnya, Erland Davis. “Erland, aku akan ke kantor hari ini. Bisakah kamu memberikanku data lengkap dari setiap karyawan di bawah departemenku nanti? Letakkan saja di mejaku.”

Butuh waktu beberapa saat bagi Erland untuk mencerna kata – kata Elliot. “Tuan, Anda ingin ke kantor hari ini?”

“Ya, apa ada masalah?”

“Tidak, Tuan, sama sekali tidak ada masalah. Saya akan meletakkan data para karyawan di meja Anda.”

Setelah itu, Elliot langsung menutup panggilan mereka dan membuka tabletnya untuk melihat catatan yang sudah dia buat kemarin malam

Ada lima proyek yang sekarang sedang dikerjakan oleh Departemen Infrastruktur III, tiga merupakan proyek kecil dan duanya lagi adalah proyek besar. Ketika memeriksa laporan di proyek kecil, kendalanya tidak terlalu banyak, paling hanya masalah susunan struktur divisinya saja yang agak berantakan. Jumlah dari setiap divisinya terlihat tidak sesuai dengan kebutuhan, untuk divisi yang tugasnya sedikit malah mempunyai banyak anggota tapi divisi yang berat malah tidak begitu banyak anggotanya.

Sedangkan masalah di proyek besar cukup rumit, meliputi susunan struktur divisi, laporan keuangan, dan bahkan jadwal pengerjaannya sangat buruk. Salah satu proyek bahkan ada yang sempat mangkrak selama satu tahun karena kehabisan dana, sebuah alasan yang bisa mencoreng nama baik LNG Corporation.

Sepertinya dia perlu memeriksa para karyawannya dengan seksama, supaya bisa menyingkirkan orang – orang yang tak becus dalam bekerja.

Samael menghentikkan laju mobil tepat di hadapan sebuah kantor berlantai tiga puluh yang hampir keseluruhan fasadnya ditutupi oleh kaca. Elliot lantas turun dan membawa tas berisikan laptop dan tabletnya. Ketika Elliot melangkah di lobby utama, ada banyak karyawan yang menyapanya.

“Selamat pagi, Tuan Kedua Landegre.”

“Selamat pagi, Tuan.”

“Tuan Kedua Landegre, saya tidak menyangka akan melihat Anda hari ini.”

Elliot hanya mengangguk sebagai balasan, tidak begitu mengindahkan sapaan mereka. Di sepanjang jalan menuju elevator, samar – samar Elliot mendengar bisikan para karyawan yang bingung saat melihatnya datang ke kantor.

“Apa hari ini dunia akan kiamat? Kenapa tadi aku bertemu Tuan Kedua Landegre?”

“Mungkinkah itu orang lain?”

“Bagaimana bisa? Wajahnya benar – benar Tuan Kedua Landegre.”

“Tapi, bukankah auranya terasa berbeda? Dia tidak terlihat seperti orang tak bertanggung jawab yang biasa kita lihat.”

“Tidak salah lagi, dia pasti adalah orang lain!”

Elliot tertawa dalam hati saat mendengar perkataan mereka. Dia tidak bisa menyalahkan mereka karena memang dirinya sangat jarang ke kantor, sekalinya pergi ke kantor pun, dia tidak melakukan pekerjaan apa – apa dan hanya membuat kekacauan.

Dirinya di masa lalu, ternyata memang pantas untuk mati.

Elliot menekan angka 15 saat berada di dalam elevator. Begitu pintu elevator terbuka, Elliot segera melangkah ke ruangan pribadinya yang terletak di sebelah ruang karyawan. Di atas meja, sudah ada tumpukan file berisikan dokumen mengenai data diri karyawan.

Tok .. Tok ..

Baru saja Elliot duduk di atas kursi, dia sudah mendengar suara ketukan pintu. “Masuk.”

Erland Davis kemudian masuk ke dalam ruangan Elliot, dia membawa tiga file baru saat berjalan ke hadapan Elliot. “Tuan, ini adalah tambahan file yang tadi belum sempat saya bawa.”

Elliot mengambil kacamatanya dari kotak kacamata, kemudian berkata, “Ya, taruh saja di meja.”

Erland, “Apa yang ingin Anda lakukan?”

“Tentu saja mengecek para karyawan, sepertinya sikapku yang santai selama ini telah membuat para karyawan juga bekerja dengan terlalu santai.”

Elliot memberikan catatan di tabletnya kepada Erland, lalu kembali berkata. “Sebutkan nama – nama karyawan yang menjadi ketua divisi di lima proyek itu.”

Erland masih merasa bingung dengan sikap Elliot yang tiba – tiba saja berubah, tapi dia tidak bertanya karena juga merasa senang Elliot bisa bekerja dengan serius hari ini. Pasalnya, pekerjaan Erland selama ini sangat berat akibat Elliot tidak becus dalam bekerja.

Saat mempunyai niat untuk bekerja, Elliot mampu melakukan pekerjaannya dengan sangat efisien. Setelah Erland menyebutkan nama – nama karyawan yang bertanggung jawab sebagai ketua divisi, Elliot segera mengecek latar belakang mereka di dokumen perusahaan.

Dia mengeceknya dengan begitu rinci, mulai dari latar belakang pendidikan, informasi mengenai keluarganya saat ini, dan gaji yang setiap bulannya diperoleh mereka.

Usai memeriksa semuanya, Elliot langsung berkata. “Di antara lima proyek, proyek pembangunan Hotel Arvi adalah yang terburuk. Pembangunannya sempat terhenti selama satu tahun karena kekurangan dana, tapi setelah aku cek beberapa kali, perhitungan kasar dana sudah dicatat sebelum pembangunan terjadi.”

“Berdasarkan laporan yang dibuat, dana perusahaan juga selalu turun tepat waktu dan pembelian bahannya sesuai dengan rencana anggaran awal. Jadi, bagaimana mungkin proyek yang perhitungan dananya sudah diatur sedemikian rinci bisa mengalami penundaan?”

Erland, “Manajer lapangan dari Hotel Arvi bilang kalau bahan yang dibeli ternyata tidak cukup, sehingga dananya bisa membengkak.”

“Apa jumlah barang yang dibeli sesuai dengan jumlah yang tertera di laporan?” tanya Elliot.

“Kepala divisi Quality Control melaporkan sudah sesuai.”

“Lalu kamu percaya begitu saja?”

“Tidak,” Erland membuka sebuah dokumen di tabletnya dan memperlihatkan dokumen itu kepada Elliot, “Saya pernah meminta setiap karyawan dari divisi Quality Control untuk menghitung ulang secara diam – diam, dan hasil dari hitungan mereka tidaklah sama. Ada yang melaporkan lebih sedikit, ada juga yang melaporkan lebih banyak.”

Elliot, “Kenapa tidak kau laporkan?”

“Saya sudah pernah melaporkannya kepada Tuan Ketiga Landegre, tapi belum ada tanggapan hingga saat ini.”

Elliot ingin bertanya kenapa Erland malah melapor kepada Johan alih – alih dirinya, tapi ia urungkan karena tahu Elliot sangat tidak kompeten di masa lalu.

“Panggil semua kepala divisi ke kantorku sekarang, jangan sampai ada yang tidak datang,” perintah Elliot.

“Baik, Tuan.”

*****

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Erland untuk mengumpulkan orang – orang yang terindikasi melakukan kecurangan. Mereka semua berdiri di depan meja kerja Elliot dengan benak yang dipenuhi oleh pertanyaan. Mereka sudah sering mendengar rumor bahwa Elliot bukanlah kepala departemen yang bertanggung jawab, sehingga mereka berpikir mungkin Elliot hanya ingin bertemu dengan mereka karena formalitas belaka.

Namun, ternyata dugaan mereka salah.

Elliot menatap mereka dengan pandangan tegas, aura yang terpancar dari tubuhnya sangat berbeda jauh dengan kepala departemen yang tidak bertanggung jawab. Sebelum ada yang berbicara, Elliot sudah lebih dahulu meletakkan lembaran laporan keuangan dan jumlah barang ke hadapan mereka.

“Tuan Walker, Anda adalah ketua dari Divisi Quality Control, bisakah Anda jelaskan kenapa jumlah barang di lapangan dengan laporan bisa berbeda?”

Tuan Walker terkejut saat mendengar pertanyaan Elliot, dia tidak menyangka bila kebohongannya mampu terendus oleh atasan yang tidak kompeten seperti Elliot.

“Jumlah yang tertera di laporan sudah sesuai, Anda mungkin melakukan kesalahan.”

Elliot tersenyum mengejek, “Benarkah? Tapi rasanya sangat tidak mungkin aku membuat kesalahan. Erland sudah meminta anak buahmu untuk menghitung ulang dan hasilnya berbeda – beda. Jadi, kenapa kau bilang sudah sesuai padahal jumlahnya tidak sama?”

Elliot tidak membiarkan Tuan Walker menjawab. “Apa kamu sudah mencurangi dana perusahaan?”

“Mana mungkin! Saya tidak mungkin melakukan itu.”

“Sayangnya bukti sudah tampak di depan mata, Tuan Walker.”

Tuan Walker ingin melakukan pembelaan, tetapi dia bingung harus menjelaskan seperti apa karena memang dia telah memalsukan data.

“Selain Tuan Walker, Tuan Robert dan Tuan Howard yang merupakan manajer lapangan dan ketua divisi keuangan juga tampaknya melakukan kecurangan.” Ngocoks.com

Dua pria yang namanya dipanggil merasa kaget. Tuan Robert langsung berdalih, “Kecurangan apa yang saya lakukan? Kenapa Tuan bisa menuduh begitu saja?!”

“Tuan Jason Robert, saya lihat putri Anda sekarang sedang kuliah di Universitas M. Bukankah itu universitas elit dengan bayaran yang sangat tinggi, jika ditinjau dari pendapatan normal Anda, rasanya tidak mungkin untuk membiayai putri Anda di Universitas M.”

“Apa Anda baru saja mengataiku tidak mampu?! Walau saya tidak sekaya keluarga Anda, bukan berarti saya tidak mampu menyekolahkan anak saya hingga ke jenjang tinggi!”

“Ya, memang harusnya tidak masalah,” Elliot berkata, “Tapi, putri dan istri Anda selalu membeli barang – barang dengan brand ternama setiap minggunya. Biaya kuliah putri Anda sudah cukup tinggi dan sekarang ada banyak barang – barang dengan harga fantastis. Wow, Tuan Robert, tampaknya kekayaanmu sudah setara dengan Keluarga Konglomerat.”

Wajah Jason Robert langsung memucat begitu Elliot membawa gaya hidup istri serta putrinya. Kali ini dia tidak mampu mengelak karena pasti riwayat pembelian yang mereka lakukan telah tercantum di kartu kreditnya.

Bersambung… ISTRI YANG MENUNGGU

“Sedangkan untuk Tuan Howard. Anda juga terindikasi melakukan kecurangan dengan memalsukan data, sehingga dana perusahaan bisa terlokasi ke kantung kalian dengan mudah.”

Elliot bertepuk tangan beberapa kali. “Hebat! Kalian bertiga memang hebat! Kalkulasi dana yang kalian ambil sekitar 30 miliar. Erland, kumpulkan bukti – bukti ini dan serahkan ke polisi.”

Ketiga pria itu langsung berlutut di hadapan Elliot, “Kami tidak bermaksud untuk melakukan penggelapan dana! Sungguh, kami menyesal melakukan itu. Tuan, saya masih mempunyai keluarga di rumah, jika saya dipenjara, siapa yang akan memberikan mereka makan?!”

Elliot menjawab dengan acuh, “Sudah tahu mempunyai keluarga tapi malah melakukan tindakan sembrono. Keluargamu bukan tanggung jawabku.”

Tuan Howard mendesis dan berseru dengan marah. “Bukankah kecurangan ini bisa terjadi juga karena Anda yang tidak becus menjalankan perusahaan?! Kami pasti tidak berbuat seperti ini jika saja beban kerja kami sesuai! Kita kekurangan karyawan, administrasi kita berantakan, tapi Anda selama ini hanya diam! Sekalinya bertanggung jawab malah ingin memenjarakan kami!”

“Jangan menumpahkan kesalahan kalian kepadaku,” Elliot menekan dial telepon lalu memanggil resepsionis. “Cepat panggil satpam ke ruanganku.” Ceritasex.site

“Elliot Landegre! Selama ini kamu selalu menjadikan perusahaan ini sebagai taman bermainmu dan mengabaikan pekerjaan! Harusnya kamu berterima kasih kepada kami karena sudah berusaha keras menjalankan proyek dari naungan departemenmu yang berantakan.”

Lima orang satpam lantas masuk ke dalam ruangan Elliot dengan cepat, mereka segera menarik ketiga pria yang mengamuk itu. Namun, meski sudah ditarik paksa, Tuan Walker masih berteriak. “Departemenmu pasti akan hancur sebentar lagi! Lihat saja nanti! Kamu pasti sedang berpura – pura serius hanya untuk mengambil hati Tuan Besar! Tapi, sampai mati pun kau tidak akan mampu mengambil tempat Presdir!”

Elliot mendecih, “Lagipula siapa juga yang ingin menjadi presdir, aku tidak tertarik.”

Tuan Walker langsung diam saat mendengar hal itu, dia sudah sering mendengar rumor kalau Elliot merupakan seseorang yang sangat berambisi untuk menjadi yang teratas. Tapi sekarang orang di hadapannya malah terlihat tidak tertarik dengan kekuasaan.

Begitu tiga orang itu berhasil dikeluarkan dari ruangannya, Elliot segera menghela napas lega. “Kenapa mereka terus menyumpahiku? Padahal mereka sendiri yang berbuat salah.”

“Manusia memang mempunyai kecenderungan untuk tidak mau mengalah,” kata Erland.

Elliot menghela napas lelah, ia memijat pelipisnya yang terasa sakit setelah membaca begitu banyak laporan hanya dalam waktu dua jam. Sesungguhnya Elliot juga merasa sangat tertekan karena harus mengatur ulang sebuah sistem yang telah lama berantakan, meski itu semua diakibatkan oleh ketidakbecusannya sendiri.

“Erland, setelah jam makan siang, minta seluruh karyawan untuk menghadiri ruang rapat. Aku akan melakukan rapat darurat hari ini.”

Erland, “Baik, saya akan mengirimkan pesan ke seluruh karyawan.”

Hari ini Elliot sudah banyak melakukan kejutan, sehingga Erland tidak lagi mempertanyakan kelakuan Elliot.

“Tuan, apa ada hal baik yang menimpa Anda?” tanya Erland.

Elliot menegakkan punggungnya dan membetulkan bingkai kacamata yang turun. “Kenapa bertanya begitu?”

Erland terlihat ragu – ragu saat dia berkata. “Anda terlihat lebih bersemangat hari ini. Jadi, saya menyimpulkan Anda baru saja menemui hal yang membahagiakan.”

Elliot lantas tertawa. “Sepertinya memang begitu, dua hari ini aku cukup bahagia. Omong – omong, apa kau tahu toko pakaian wanita yang bagus?”

Seketika Erland tertegun. Padahal dia baru saja berpikir Elliot sudah banyak berubah, tapi ternyata masih saja sering bermain – main dengan wanita.

“Tipe busana wanita yang akan mengenakannya seperti apa?”

Elliot berpikir sejenak, kemudian membayangkan penampilan Charlotte yang selalu tampak hangat setiap hari. “Gaya busana yang membuat wanita itu terlihat hangat, manis, sekaligus cantik setiap saat.”

Setahu Erland, wanita yang sekarang sedang berhubungan dengan Elliot hanyalah Irene Addison, dia bisa tahu karena Elliot pernah membawa wanita itu ke kantor. Ketika melihat Irene, Erland selalu merasa wanita itu merusak pemandangan karena dia selalu saja memakai busana ketat dan memperlihatkan terlalu banyak kulit.

Oleh sebab itu, sekarang Erland merasa bingung dengan Elliot yang tiba – tiba saja ingin membeli pakaian yang manis.

Mau dilihat dari segi mana pun, Irene Addison sama sekali tidak manis.

“Apa pakaian itu untuk Nona Addison?”

Elliot mengernyit, “Kenapa tiba – tiba membicarakan wanita ular itu? Tentu saja aku ingin membeli pakaian untuk istriku.”

Erland tanpa sadar menjatuhkan rahangnya. “Hah?”

“Oh, aku lupa kalau kamu belum tahu. Tapi aku sudah menikah minggu lalu, nama istriku adalah Charlotte.”

Semakin dipikirkan, semakin Erland merasa bila ucapan Elliot itu sangat tidak masuk akal!

Rasanya baru bulan lalu ia memergoki Elliot sedang bercumbu dengan Irene Addison di ruangan ini, tapi sekarang malah sudah menikah dengan wanita lain.

Pernikahan Elliot dan Charlotte sengaja dirahasiakan dari umum atas permintaan Elliot karena dahulu dia merasa malu. Di masa lalu, para karyawan perusahaan malah hanya mendengar desas – desus tentang pernikahan Elliot tapi tak pernah sekali pun mengetahui pengantin wanitanya.

Di kehidupan sekarang, Elliot juga belum mau mendeklarasikan hubungannya dengan Charlotte kepada umum, karena mengingat Charlotte yang ingin magang di kantornya. Akan lebih baik bila para karyawan tidak mengetahui identitas Charlotte untuk sementara agar wanita itu bisa bekerja dengan nyaman.

Namun, Elliot tetap akan memastikan bahwa hubungan mereka disebarkan ke publik sesegera mungkin.

“Jadi, tempat apa yang bagus untuk membeli pakaian wanita?”

Erland segera sadar dari keterkejutannya. “Kebanyakan wanita sekarang membeli pakaian di toko online. Ada toko dengan brand terkenal, ada juga toko dengan brand biasa.”

Elliot ingat bila hampir seluruh pakaian dan barang – barang Charlotte bukanlah brand ternama, sehingga dia ingin memanjakan istrinya dengan membeli pakaian dan barang dengan kualitas terbaik. “Brand apa saja yang biasanya disenangi wanita?”

Sebagai sekretaris yang berpengalaman, Erland tentu harus mampu menyelesaikan seluruh permasalahan yang di hadapi oleh bosnya, termasuk urusan keluarga sekali pun. Sebab itu, Erland lumayan tahu tentang beberapa brand ternama karena harus bisa mengetahui gaya hidup bosnya.

“Ada beberapa, Anda mungkin bisa melihat – lihat dahulu di website.”

Elliot menggulir piranti di layar komputer, berusaha memilah – milah pakaian dari website yang disebutkan oleh Erland. Biasanya Elliot hanya memberikan para wanita kartu kreditnya dan membiarkan mereka yang berbelanja, sehingga dia sama sekali tidak mengerti tentang fashion wanita.

Namun, jika sekarang dia hanya memberikan Charlotte kartu kreditnya, Elliot ragu wanita itu akan membelanjakan uangnya. Karena seingat Elliot, Charlotte bukanlah wanita yang boros dan akan selalu menghemat jika diberikan uang.

Cerita Dewasa Ngentot - Aku Kembali Dari Kematian Demi Istriku Yang Terlupakan
Akhirnya, Elliot memilih hampir tiga puluh potong pakaian yang ia rasa akan terlihat indah saat dipakai oleh Charlotte.

Setelah itu, Elliot menghabiskan waktunya dengan mengerjakan beberapa pekerjaan yang sempat terbengkalai. Saking banyaknya hal yang Elliot kerjakan, ia sampai makan sangat sedikit di ruang kantornya.

Begitu jam makan siang usai, Elliot segera pergi ke ruang rapat dan menemukan para karyawannya sudah hadir di sana dengan pandangan bingung. Mereka mengira Elliot mengadakan rapat atas suruhan Presdir mereka dan hanya akan berbasa – basi di sepanjang rapat.

Akan tetapi, mereka semua terkejut saat rapat yang dipimpin oleh Elliot benar – benar mempunyai isi!

Pria itu memaparkan materi rapat di layar proyektor, kemudian berkata. “Aku ingin mengadakan beberapa perombakan supaya departemen ini lebih tersusun.”

“Saat ini, ada banyak divisi yang jumlah anggotanya tidak merata. Karena itu, supaya setiap orang mampu melakukan pekerjaan dengan baik, aku akan mengatur jumlah anggota berdasarkan kebutuhannya.”

“Untuk divisi yang tidak memerlukan terlalu banyak orang, aku akan memindahkan beberapa anggotanya ke divisi lain yang membutuhkan banyak anggota. Selain itu, aku minta tolong kepada divisi public relation untuk segera menyiarkan lowongan kerja, nanti Erland akan memberitahumu divisi apa saja yang membutuhkan tambahan karyawan.”

Elliot mengganti slide powerpoint di hadapannya. “Setelah melihat CCTV kantor, aku melihat ada banyak karyawan baru yang lembur, sedangkan karyawan lama selalu cepat pulang. Apa di departemenku telah terjadi pembullyan?”

Elliot memandangi wajah karyawannya satu – persatu. Kebanyakan karyawan yang masih muda diam – diam mengangguk, sedangkan yang lebih tua tampak berkeringat dingin.

Siapa yang menyangka bila ketua departemen mereka akan mengurus hal tak penting seperti pembullyan!

Sejujurnya, Elliot sudah sering melihat senioritas seperti ini di dalam kantor. Biasanya dia akan mengabaikan hal itu, tetapi jika senioritas dibiarkan, maka Charlotte bisa mendapatkan pengalaman buruk ketika bekerja di kantornya nanti sebagai anak magang.

“Mulai hari ini, semua karyawan harus pulang tepat waktu. Jika ada yang melakukan lembur, beritahu terlebih dahulu kepada Erland supaya kalian mendapatkan bonus lembur.”

“Segala bentuk senioritas yang tertangkap oleh CCTV ataupun laporan, si pelaku akan dikenakan sanksi, dari hanya pemotongan gaji hingga pemecatan. Kalian mengerti?”

“Mengerti! Kami mengerti!”

Jika Elliot sudah memberikan ancaman seperti itu, bagaimana mungkin mereka bisa membantah.

Saat para karyawan keluar dari ruang rapat, para karyawan baru keluar dengan wajah yang lebih cerah, sedangkan karyawan lama tampak masam karena sekarang tidak bisa lagi menyuruh anak baru untuk mengerjakan pekerjaannya.

Hari itu, Elliot baru memutuskan untuk pulang saat matanya terasa sakit. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Erland sudah pulang lebih dahulu satu jam yang lalu dan para karyawan di kantor juga telah pulang saat pukul 5 sore.

Dia merasa punggungnya terasa remuk setelah duduk dalam kurun waktu yang begitu panjang. Bagaimana pun juga, hari ini adalah kali pertama Elliot bekerja dengan serius, sehingga pikiran serta raganya masih menyesuaikan diri.

Elliot baru tiba di rumah pada pukul 11 malam. Lampu – lampu yang ada di pekarangan rumah sudah redup, dan Elliot juga melihat ada banyak ruangan yang pencahayaannya telah mati.

Awalnya dia berpikir, mungkin Charlotte sudah tidur terlebih dahulu. Namun, pemikirannya itu salah karena dia melihat Charlotte masih duduk di sofa ruang tengah. Televisi di hadapan Charlotte menyala terang, memperlihatkan siaran drama series yang Elliot tidak tahu namanya. Ketika memutari sofa, Elliot baru sadar bila Charlotte sudah memejamkan matanya dan menyandarkan kepala pada bantal.

Elliot lantas mematikan televisi, kemudian menepuk pipi Charlotte pelan. “Charlotte, jangan tidur di sini. Nanti tubuhmu bisa sakit.”

Perlahan kedua mata Charlotte terbuka, lalu dia tersenyum kecil saat melihat Elliot. “Kamu baru pulang?”

“Mhm, ada banyak pekerjaan tadi makanya aku pulang terlambat,” Elliot melanjutkan. “Kenapa kamu malah tidur di sini?”

Charlotte menguap sebelum berkata. “Tadi aku sedang menonton, tapi ternyata filmnya agak membosankan. Jadi tanpa sadar malah tertidur.”

“Di kamar juga ada televisi, kenapa tidak menonton di sana saja saat malam?”

Walau ukuran televisi di ruang tengah lebih besar, setidaknya Charlotte bisa menonton di kamar apabila hari sudah larut supaya dia tidak ketiduran di sofa.

“Aku menunggumu pulang,” bisik Charlotte pelan.

Elliot tertegun, “Kamu menungguku pulang?”

“Mhm, kupikir kamu akan pulang jam 8 atau 9, jadi aku ingin menunggumu di sini.”

Elliot mendecih dalam hati, baru sadar kalau dia lupa mengabari Charlotte bila dia pulang larut hari ini. “Lain kali, jika aku tidak mengabari, kamu sebaiknya langsung tidur saja.” Ngocoks.com Charlotte, “Tidak apa, aku juga biasanya tidur larut.”

Lagipula Charlotte juga kesulitan tidur bila tidak ditemani oleh orang lain. Ketika masih tinggal di keluarga Baxter, dia biasanya tidur sekamar dengan pelayan, jadi Charlotte akan merasa aneh bila tidur sendirian.

Elliot menghela napas, lalu mengelus rambut halus Charlotte. “Kalau begitu, seterusnya lebih baik kamu menungguku di kamar saja. Penghangat ruangan di ruang tengah tidak sebagus di kamar, nanti kamu bisa sakit jika tidur di ruang tengah.”

Charlotte, “Aku mengerti, lain kali aku akan menunggumu di kamar.”

Setelah itu, Elliot mengajak Charlotte untuk pergi ke kamar mereka. Tapi istrinya terlihat sangat mengantuk sehingga perlu duduk cukup lama untuk bisa berdiri. Karena tak mau Charlotte merasa pusing akibat langsung berdiri setelah tertidur di sofa, Elliot akhirnya mengangkat Charlotte dan membawanya ke kamar.

Charlotte yang tiba – tiba saja di angkat secara reflek mengalungkan kedua tangannya ke leher Elliot. Dia begitu malu sampai tidak berani menatap Elliot. “Aku bisa jalan sendiri.”

Elliot tertawa, “Aku tahu. Tapi aku hanya ingin mengangkatmu.”

“Tidakkah aku berat?”

“Berat, tentu saja berat.”

Usai mendengar hal itu, Charlotte langsung menarik wajahnya dan menatap Elliot dengan pandangan kesal. Pipinya sedikit menggembung dan bibirnya tampak cemberut. “Aku seberat itu?”

Elliot merasa ekspresi Charlotte sangat menggemaskan, sehingga dia mencium bibir istrinya beberapa kali. “Bercanda, jangan cemberut begitu. Tubuhmu seringan kapas, mana mungkin terasa berat.”

Perkataan Elliot memang benar, tubuh Charlotte terasa begitu ringan. Pria itu bahkan bisa merasakan tulang Charlotte dengan sangat jelas, membuatnya khawatir Charlotte tidak mendapatkan asupan yang layak selama tinggal di rumah Keluarga Baxter.

“Charlotte, kali ini aku tidak bercanda. Kamu benar – benar harus makan banyak mulai besok!”

Bersambung… SUAMI YANG PERFEKSIONIS

Di akhir pekan, Elliot menepati janjinya untuk berada di rumah selama satu harian penuh dan turut membantu Charlotte menyelesaikan tugas kuliahnya untuk minggu depan.

Charlotte tidak bisa berhenti memandang kagum ke arah komputer keluaran terbaru di hadapannya. Tadi malam Charlotte mengeluh kepada Elliot, dia bilang bahwa laptop lamanya seringkali error setiap Charlotte membuka software gambar seperti sketchup atau autocad. Hal ini membuat kinerja Charlotte merasa malas dan terhambat dalam menyelesaikan tugas.

Tanpa Charlotte sangka, Elliot membiarkan Charlotte untuk menggunakan komputernya yang ada di ruang kerja. Komputer itu memiliki spesifikasi tinggi, sehingga Charlotte tidak perlu menghadapi error setiap kali membuka software.

“Aku belum pernah memakai komputer secepat ini. Lihat! Lihat! bahkan dalam hitungan detik filenya bisa terbuka!” Kedua manik mata Charlotte tampak berbinar tatkala ia merasa gembira.

Di samping Charlotte, Elliot tengah memeriksa laptop milik istrinya dan sesekali mengernyit saat laptop itu terlalu lama loading. “Charlotte, bagaimana kamu bisa bertahan dengan laptop seperti ini? Ayahmu tidak pernah membelikan yang baru?”

Charlotte menoleh. “Mau tidak mau aku harus bertahan menggunakan itu. Ayahku selalu bilang finansial keluarga sedang tidak bagus, jadi dia selalu menunda – nunda setiap kali aku minta.”

Beberapa saat kemudian, Charlotte berbisik. “Tapi saat Caitlyn menginginkan mobil sport baru, Ayah langsung membelikannya.” Ceritasex.site

Charlotte sudah biasa menghadapi ketidakadilan dari ayahnya, tapi tetap saja hati Charlotte masih terasa sakit setiap kali melihat Jacob Baxter tidak bisa membagikan kasih sayangnya secara rata kepada Caitlyn dan Charlotte.

Padahal barang yang diinginkan oleh Charlotte jauh lebih penting dari sekedar mobil sport keluaran terbaru. Dia bahkan seringkali harus meminjam laptop temannya di detik – detik ujian akhir karena laptopnya sering bermasalah.

Begitu melihat wajah murung Charlotte, Elliot segera menepuk punggung wanita itu dan berkata. “Tidak usah perdulikan ayahmu yang bajjingan itu lagi. Sekarang kamu sudah menjadi istriku, apapun yang kau minta pasti akan kubelikan.”

Charlotte akhirnya tersenyum setelah mendengar ucapan Elliot. “Aku tentu saja tidak akan meminta terlalu banyak.”

“Kamu boleh meminta banyak hal! Jangan memikirkan uang! Aku pasti akan bekerja keras sampai jari – jariku putus untuk memenuhi keinginanmu!”

Keduanya sontak tertawa. Saat melihat Charlotte mampu tersenyum lebar, Elliot menghembuskan napas lega di dalam hati. Dia sudah berjanji untuk selalu membahagiakan Charlotte, maka tentu saja dia akan melakukan apa saja agar senyuman itu tidak luntur.

Usai memindahkan file – file tugasnya dari laptop lama ke komputer Elliot, Charlotte mulai membuka gambar kerjanya satu – persatu, kemudian menjelaskannya kepada Elliot supaya pria itu bisa menilai pekerjaannya.

“Kamu membuat TOD, kan?” tanya Elliot.

“Ya, aku membuat itu.”

“Desainmu tidak buruk, tapi masih ada banyak kekurangannya. Konsep dari TOD sendiri adalah kawasan yang menggabungkan transit kendaraan umum dengan kawasan hunian, perdagangan, dan jasa. Supaya bisa mencapai konsep itu, jalur pengguna kendaraan pribadi harus dikurangi, sehingga masyarakat akan menggunakan kendaraan umum.”

Elliot menggambar ulang secara kasar denah Charlotte di atas kertas, kemudian mulai melingkari bagian – bagian yang dirasa tidak sesuai. “Area jalur kendaraan di dalam lahanmu ini terlalu besar, sebaiknya kurangi saja atau jadikan sebagai area plaza. Lalu, pada area hotel dan mall ini seharusnya mempunyai area peralihan, sehingga pengunjung hotel bisa melihat – lihat mall terlebih dahulu sebelum datang.”

“Bagian tamanmu terlalu besar, sebaiknya sebagian lahannya kau jadikan area bazzar.”

“Berapa jarak antar kolom yang kamu gunakan?”

Charlotte, “lima meter.”

“Terlalu sempit, jadikan delapan meter. Tinggi plafon di lantai tiga dan seterusnya tidak perlu terlalu tinggi, 4 meter saja sudah cukup.”

Berselang beberapa saat kemudian, Elliot sudah selesai mengoreksi tugas Charlotte, meninggalkan banyak coretan yang saling menumpuk di atas kertas. Ketika melihat hal itu, Charlotte berpikir sepertinya Elliot meminta Charlotte untuk membuat ulang dari awal.

Dia menggigit bibirnya, merasa seolah ingin menangis karena Elliot bahkan lebih perfeksionis dibanding dengan proffesornya. Pria itu bahkan mampu mengetahui kesalahan yang diperbuat Charlotte walau sedikit.

“Elliot … jika aku mengulang dari awal, apakah waktunya akan cukup? Apa lebih baik aku mengulang di semester depan saja?”

Seketika Elliot terdiam, baru sadar bila sepertinya dia terlalu terbawa suasana dan mengoreksi pekerjaan Charlotte seperti sedang mengoreksi pekerjaan dari konsultan perusahaannya.

“Jangan khawatir, aku akan membantumu. Kamu pasti bisa menyelesaikannya tepat waktu.” kata Elliot, berusaha menenangkan Charlotte.

Sepanjang hari itu, Elliot menemani Charlotte mengerjakan tugasnya di ruang kerja. Terkadang Elliot akan mengajari Charlotte cara cepat untuk menggunakan software gambarnya sehingga pekerjaan Charlotte bisa lebih cepat diselesaikan. Elliot juga membantu Charlotte menyelesaikan tugasnya dengan menggambar di laptop lain.

Keduanya baru berhenti saat waktu sudah menunjukkan 10 malam, pertanda bahwa mereka sudah duduk di hadapan komputer selama setengah hari. Meski begitu, rasa lelah mereka terbayarkan karena berhasil menyelesaikan hampir keseluruhan gambar kerja Charlotte. Dalam urusan memakai software, kemampuan Elliot memang tidak perlu diragukan lagi. Pria itu bahkan mampu menyelesaikan 7 gambar kerja, sedangkan Charlotte hanya mampu menyelesaikan 3.

“Lanjutkan besok, matamu pasti sakit setelah melihat layar komputer terus,” peringat Elliot.

Charlotte memukul lehernya yang terasa kebas, kemudian menjawab. “Gambar denahnya belum selesai semua, lalu aku juga belum menggambar tampak dan potongan. Aku harus cepat mengejar ketertinggalanku kalau mau lulus.”

Elliot juga paham kalau jam tidur mahasiswa Arsitektur selalu berantakan, bahkan dia dulu punya teman yang pernah tak tidur selama tiga hari. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan Charlotte begadang hingga berhari – hari.

Istrinya itu pasti bisa jatuh sakit setelah menyelesaikan tugas – tugasnya.

“Setidaknya tidur dulu selama beberapa jam, nanti baru teruskan lagi,” kata Elliot.

“Tapi tidur hanya membuang waktuku.”

“Charlotte, kalau kamu tidak tidur, tubuhmu akan cepat lelah dan kerjaanmu jadi berantakan. Ujian akhirmu itu masih akhir bulan depan, kamu masih mempunyai banyak waktu.”

Charlotte masih bersikeras untuk melanjutkan pekerjaannya, tapi Elliot merebut mouse dari tangan Charlotte. Jika dilihat secara seksama, Elliot mampu melihat tangan Charlotte sedikit gemetar karena terlalu lama berada di posisi yang sama.

“Tanganmu bahkan sudah gemetar seperti itu, sudah istirahat dulu! Besok pagi aku akan membantumu lagi!”

Charlotte berusaha meraih mouse dari tangan Elliot, tetapi pria menahan pundaknya supaya tidak bisa bangkit dari kursi.

“Besok kamu tidak perlu membantuku lagi, kemarin kamu sudah bekerja sampai larut malam, pasti akan lelah jika terus membantuku di hari libur.”

Charlotte hanya merasa tidak enak hati apabila Elliot membantunya terus, padahal pria itu juga mempunyai pekerjaannya sendiri dan membutuhkan istirahat.

“Mana mungkin aku beristirahat di saat istriku sedang kesulitan!”

Charlotte bisa mengalami ketertinggalan seperti ini juga karena Elliot yang membuat Charlotte tertekan selama satu minggu pernikahan awal mereka. Sebab itu, Charlotte tidak mau membiarkan Charlotte kesulitan sendirian.

“Tenang saja, aku juga mampu tidak tidur seharian kok!”

Lagipula, dulu Elliot sering menghabiskan malamnya di klub malam, sehingga dia sudah biasa tidak tidur selama berhari – hari.

Charlotte menghela napas, merasa kalau melarang Elliot itu adalah hal yang mustahil. “Baiklah, kamu boleh membantuku besok. Tapi minggu depan tidak perlu lagi, karena aku tinggal membuat 3D nya saja.”

“Tidak masalah. Namun kalau kamu mengalami kesulitan, kamu harus langsung meminta bantuanku, mengerti?”

“Aku mengerti.”

Elliot lantas tersenyum. “Ya sudah, sekarang istirahat dulu. Nanti lanjutkan lagi saat fajar.”

Pada akhirnya, Charlotte menuruti keinginan Elliot. Tapi baru saja ia ingin bangkit dari kursi, perutnya berbunyi yang menjadi tanda bila dia sedang lapar.

Elliot sedikit tertawa. “Kamu ingin makan lagi?”

Charlotte merasa malu sampai pipinya memerah. Padahal mereka sudah makan malam jam 7 tadi, tapi dia merasa lapar karena energinya telah banyak terkuras untuk mengerjakan tugas.

Tahu bila istrinya bermuka tipis, Elliot segera menambahkan. “Aku juga lapar. Bagaimana kalau kita makan lagi? Aku bisa meminta pelayan untuk membuatkan makanan.”

Charlotte menggeleng, “Sudah terlalu malam. Mereka mungkin juga sudah tidur, aku tidak tega bila harus membangunkan mereka.”

Elliot ingin menyarankan untuk memesan makanan di luar, tapi pasti restoran juga sudah tutup sekarang.

“Tapi aku bisa memasak,” Charlotte berkata, “Kalau kamu lapar, aku bisa memasak untukmu.”

Mendengar hal itu, Elliot langsung tersenyum senang namun senyumannya segera luntur tatkala mengingat sesuatu. “Kamu sudah mengerjakan tugas selama berjam – jam, nanti kamu malah kelelahan jika ingin memasak sekarang.”

Charlotte berpikir sejenak. “Bagaimana bila memasak mie instan saja? Membuatnya tidak sulit, hanya perlu merebus air.”

“Mie instan? Aku belum pernah memakan itu, memangnya enak?”

Selama hidup, Elliot selalu makan masakan yang sudah dihidangkan di atas meja makan, sedangkan saat pergi keluar dia akan membeli makanan di restoran. Tak pernah sekali pun Elliot menyicipi mie instan, meski terkadang dia sering melihat para pelayannya menyantap makanan itu di dapur.

Charlotte tampak terkejut saat mendengar penuturan Elliot. “Kamu belum pernah makan itu? Sungguh? Tuan yang terhormat, sepertinya kamu ketinggalan satu kesenangan dunia.”

Sebagai seseorang yang lebih sering makan di dapur daripada di meja makan keluarga, Charlotte sepertinya lebih sering memakan mie instan bersama para pelayan daripada makanan sehat.

“Aku benar – benar belum pernah makan itu.”

“Kamu ingin mencobanya? Aku jamin rasanya enak.” tanya Charlotte.

“Jika menurutmu enak, maka aku percaya rasanya memang enak.”

*****

Charlotte berakhir memasak mie instan di dapur untuk mereka berdua. Dia memasukkan dua mie ke dalam rebusan air, kemudian mencampurkan rebusan mie itu dengan bumbu instan. Tak lupa Charlotte menambahkan makanan pendamping seperti telur, sayuran, serta udang yang ia temukan di kulkas.

Setelah masakannya matang, Charlotte segera mematikkan kompor dan membawa panci berisikkan mie itu ke meja makan. Ia hendak memberikan alat makan kepada Elliot, tapi seketika sadar bahwa dia telah membuat kesalahan.

Biasanya Charlotte akan memasak mie di dalam panci besar supaya dia bisa makan bersama – sama dengan para pelayan. Namun, sekarang dia akan makan dengan Elliot, seorang tuan muda yang mungkin merasa enggan jika makan di wadah yang sama dengan orang lain.

“Elliot, apa sebaiknya aku membuatkan yang baru untukmu?”

Elliot menaikkan alisnya saat dia berkata, “Memangnya masakanmu yang ini kenapa?”

“Ah, tidak apa – apa. Tapi, aku mencampur dua porsi di dalam satu wadah, kamu mungkin akan merasa aneh jika makan di wadah yang sama denganku.”

Tanpa mengindahkan ucapan Charlotte, Elliot segera meraih garpu yang dipegang oleh Charotte. “Kenapa bisa aneh? Berbagi makanan denganmu tidak akan aneh.” Ngocoks.com

Karena Elliot berkata tidak masalah, maka Charlotte juga tidak mempermasalahkannya lagi. Mereka akhirnya segera makan bersama, sesekali Elliot akan meniupkan uap panas dan menyuapi Charlotte. Tingkahnya itu terasa begitu alami, sampai Charlotte tidak sadar bila dirinya lebih banyak makan daripada Elliot.

Usai selesai makan, keduanya segera beranjak ke kamar untuk bersiap – siap tidur. Elliot bisa melihat kelelahan tercetak jelas di wajah istrinya, sehingga dia langsung mematikan lampu dan menutupi tubuh Charlotte dengan selimut hangat.

“Cepat tidur, nanti aku akan membangunkanmu saat sudah pagi,” kata Elliot.

Charlotte mengangguk sebagai jawaban, ia berbalik menghadap Elliot, kemudian memejamkan mata. Sedangkan Elliot masih terjaga, dia memperhatikan lekukan wajah istrinya itu dengan seksama. Melihat garis – garis wajah yang tampak lembut dan menawan.

Bulu mata Charlotte bergerak setiap kali dia bernapas, bibirnya yang merah terbuka sedikit dan menampilkan dua gigi kelinci yang tampak lucu di pandangan Elliot.

Pria itu lantas mengelus pipi Charlotte yang kemerahan, merasakan kulitnya yang begitu halus dan tanpa celah.

Pada saat itu, Elliot sadar bila cintanya kepada Charlotte sangat berbeda dengan cintanya kepada wanita lain yang pernah hadir di kehidupannya.

Ketika ia menaruh hati pada wanita lain, Elliot cenderung mempunyai nafsu yang menggebu – gebu dan tidak bisa menahan diri untuk menyentuh mereka. Namun, cintanya untuk Charlotte tidaklah dipenuhi oleh nafsu semata, melainkan juga ketulusan yang belum pernah ia berikan kepada siapapun.

Jika Charlotte tidak membiarkan dia menyentuhnya, maka Elliot juga tidak akan memaksa.

Karena Elliot ingin memberikan cinta yang mampu membuat Charlotte merasa bahagia dan disayangi. Jenis cinta yang tidak akan pernah ia bagi kepada siapapun, kecuali Charlotte.

Elliot mendekatkan tubuhnya ke Charlotte, kemudian memberikan wanita itu sebuah ciuman lembut yang terasa hangat. “Mimpi yang indah, Charlotte.”

Informasi tentang Istilah di Arsitektur :

Autocad : Aplikasi untuk menggambar 2D (Denah, tampak, dan potongan) Sketchup : Aplikasi untuk membuat replika 3d bangunan TOD singkatan dari Transit Oriented Development Kolom : Tiang penopang dari bangunan. Denah : Penataan ruang – ruang di bangunan. Tampak : Wujud bangunan secara 2D yang bisa dilihat dari luar bangunan (Depan, belakang, samping kanan dan kiri). Potongan : Gambar bangunan yang dipotong vertikal sehingga bisa memperlihatkan struktur dan ruang di dalam bangunan.

Bersambung… ISTRIKU YANG BERTINGKAH ANEH

Pada minggu sore, Charlotte berseru. “Akhirnya selesai!”

Berkat bantuan Elliot, Charlotte bisa dengan cepat menyelesaikan semua gambar kerja utamanya. Paling dia hanya tinggal menggambar gambar – gambar detail nanti, tapi itu tidak terlalu sulit, jadi Charlotte bisa mengerjakannya dengan agak santai.

Elliot melihat Charlotte merenggangkan tangannya ke atas, berusaha untuk merilekskan otot punggungnya yang terasa kaku. Begitu Charlotte mendengar tulangnya berbunyi, ia langsung menurunkan tangannya dan menghela napas lega.

“Baru kali ini aku bisa menyelesaikannya dengan cepat.”

Elliot menarik kursi Charlotte supaya mereka bisa duduk lebih dekat. “Memangnya berapa lama biasanya kamu mengerjakan tugas?”

“Berhari – hari, sampai akhirnya mendekati deadline dan aku harus begadang sampai pagi.”

Elliot memijat leher belakang Charlotte yang terasa kaku, membuat Charlotte sedikit menggigil akibat merasakan tangan Elliot yang dingin. Selain itu, Charlotte juga merasakan sensasi yang aneh begitu Elliot menyentuh kulit lehernya. Rasanya agak menggelikan tapi juga nyaman di saat yang bersamaan.

“Lehermu terasa sangat kaku, apa sakit?”

Tanpa sadar pipi Charlotte bersemu merah. “Sedikit.”

Tangan Elliot bergerak dengan lembut di belakang leher Charlotte, dia menekan bagian yang terasa nyeri menggunakan jari – jarinya. Sesekali, Elliot tanpa sengaja menyentuh kulit punggung Charlotte yang mengenakan pakaian longgar.

Ketika menyentuh punggung Charlotte, Elliot mampu merasakan permukaan kulit punggungnya yang lembut, terlalu lembut sampai Elliot penasaran untuk menggerakan tangannya semakin ke bawah. Namun, ketika tangannya tanpa sengaja menyentuh tali bra milik Charlotte, wanita itu segera menahan tangan Elliot supaya berhenti bergerak.

Keduanya saling bertatapan, sama – sama terkejut dengan tindakan mereka. Buru – buru Elliot menarik tangannya dan berkata, “Maaf, aku tidak sengaja.” ceritasex.site

Seketika kepala Charlotte terasa panas, ia tidak mampu memikirkan apapun karena terlalu terkejut. Charlotte belum pernah disentuh oleh orang lain sebelumnya, jadi dia merasa aneh bila ada orang yang tiba – tiba menyentuhnya.

Kemudian secara spontan malah menahan tangan Elliot, seolah pria itu telah melakukan tindakan asusila. Padahal Elliot sebenarnya sangat berhak untuk menyentuh Charlotte jika ingin.

Karena merasa begitu malu, Charlotte akhirnya bangkit dari kursi dan berkata dengan cepat. “Aku ingin mengambil buah di dapur, nanti aku akan segera kembali.”

Elliot hendak mengatakan sesuatu, tapi Charlotte lebih dahulu berlari keluar dari ruangan. Diam – diam Elliot merutuki dirinya sendiri karena berpikir telah membuat kesalahan fatal. Padahal Charlotte belum memberikannya izin untuk melangkah lebih jauh, tapi dia malah tanpa sengaja ingin melampaui batas.

Di lain tempat, Charlotte dengan wajah yang sepenuhnya merah berlari menuju dapur untuk mengambil air dingin dan potongan buah. Namun Charlotte berhenti berjalan saat mendengar suara isakan tangis dari arah dapur, membuat dia langsung bersembunyi di balik tembok untuk melihat orang itu.

Di dalam dapur, Charlotte melihat tiga pelayannya tengah berusaha menenangkan seorang pelayan yang menangis keras. Air matanya terus mengalir meski sudah berkali – kali diusap menggunakan tisu.

“Sudahlah, berhenti menangis. Untuk apa kamu menangisi suamimu yang bajingan itu?” kata seorang pelayan seraya memberikan kotak tisu baru.

Bukannya berhenti, pelayan itu malah tambah menangis. “Ini adalah salahku, dia selingkuh pasti gara – gara aku!”

“Kenapa itu jadi salahmu?!”

“Aku selalu saja menolak saat dia ingin mengajakku untuk berhubungan intim. Mungkin saja karena itu dia jadi mencari wanita lain untuk memuaskan nafsunya,” tangisannya kian keras, bahkan sampai keluar dari area dapur.

“Omong kosong! Kau menolak karena lelah setelah bekerja seharian, seharusnya dia yang memahami kamu!”

“Tapi … tapi pria memang seperti itu, mereka selalu saja tidak puas dengan satu wanita.”

Charlotte merasa napasnya terhenti saat mendengar percakapan mereka. Dia dan Elliot sudah menikah lebih dari satu minggu, tapi Charlotte masih belum membiarkan Elliot menyentuhnya.

Mungkin Elliot mampu bertahan hingga sekarang, tapi bagaimana bila Charlotte tak kunjung memberikan izin selepas satu bulan atau satu tahun?

Mungkinkah dia akan mencari wanita lain?

Apa Charlotte akan diselingkuhi bila dia tidak mampu menjadi istri yang baik?

Tiba – tiba saja Charlotte merasa panik. Ketakutan memasuki hatinya, kemudian memenuhi pikirannya. Elliot sekarang sedang berusaha untuk menjauhi masa lalunya yang dipenuhi oleh wanita dan hura – hura, tapi tetap saja keliaran yang pernah ia lakukan di masa lalu tidak akan terhapus begitu saja.

Elliot yang biasanya bermain dengan banyak wanita, bagaimana mungkin bisa tahan jika istrinya terus menolak?

Padahal Charlotte baru saja mendapatkan hati serta perhatian Elliot. Sekarang bahkan cinta di dalam hati Charlotte mulai tumbuh untuk pria itu. Apabila Elliot kembali mengabaikannya lagi di masa depan, Charlotte pasti akan mengutuki dirinya sendiri yang tak becus dalam menjalankan kewajiban seorang istri.

Charlotte akhirnya tidak jadi pergi ke dapur, dia memutuskan untuk kembali ke ruang kerja dan menemui Elliot.

Elliot yang tengah membereskan meja kerjanya merasa bingung saat melihat Charlotte datang tanpa membawa apapun. “Tidak jadi mengambil buah?”

Charlotte menggeleng, “Buahnya habis.”

Elliot semakin bingung, sepertinya tadi pagi dia masih melihat ada sekeranjang buah segar di dalam kulkas. Apa mungkin buah – buah itu telah dimakan oleh pelayannya?

“Kamu mau makan buah? Aku bisa menyuruh seseorang untuk membelinya.”

“Tidak perlu, aku tidak begitu ingin.”

Charlotte melangkahkan kakinya dan berhenti di depan meja. “Elliot.”

“Mhm?”

Charlotte ingin membicarakan perihal peristiwa yang ia dengar dari para pelayan. Namun, bibirnya terasa keluh setiap kali ia hendak membuka suara. Tampaknya Charlotte merasa begitu malu untuk membicarakan hal seperti itu.

“Tidak jadi,” bisik Charlotte.

Elliot menaikkan satu alisnya, tidak mengerti alasan Charlotte bertingkah gugup seperti itu. Akan tetapi, Elliot sadar mungkin Charlotte bertingkah begitu karena terlalu terkejut dengan tindakan Elliot.

Dia harus meminta maaf dengan benar nanti atau Charlotte mungkin akan membencinya.

Tapi sepanjang hari itu, Charlotte selalu saja menghindar setiap kali Elliot ingin membicarakan masalah tadi, seolah – olah wanita itu tidak ingin mendengar penjelasan Elliot.

Istrinya itu pasti sangat marah kepadanya.

Ketika menjelang malam, Elliot dan Charlotte pergi ke kamar tidur. Namun Elliot melihat Charlotte hanya berdiri diam di depan pintu tanpa mempunyai keinginan untuk mendekati tempat tidur.

Elliot tiba – tiba merasa sangat menyesal. Dia hanya menyentuh kulit punggung Charlotte, tapi Charlotte sudah bertingkah seolah dia adalah benda kotor yang tak patut di dekati.

“Charlotte, aku minta maaf atas kejadian tadi,” Elliot menelan ludahnya sendiri, “Aku benar – benar tidak akan menyentuhmu sembarangan lagi.”

Usai mendengar kata – kata Elliot, Charlotte akhirnya mengangkat kepalanya dan bertemu pandang dengan suaminya itu. Manik emeraldnya memancarkan keterkejutan sekaligus ketakutan.

Jika Elliot benar – benar tidak akan menyentuhnya lagi, maka Charlotte akan menganggap dirinya sangat gagal sebagai istri.

“Elliot,” Charlotte akhirnya bersuara. Dia berjalan mendekati Elliot dan menarik ujung pakaian Elliot. Wajahnya tertunduk dan telinganya tampak semerah apel. “Ayo tidur bersama …”

Elliot tertegun, butuh waktu agak lama untuk memproses kata – kata Charlotte menjadi sesuatu yang positif. “Kita memang selalu tidur bersama, kan?”

“Maksudku bukan itu!” Charlotte mengangkat kepalanya, “Aku ingin kita tidur bersama .. tidur seperti suami istri … tidur … tidur yang orang dewasa lakukan.”

Pikiran Charlotte tidak mampu memproses susunan kata yang benar. Dia merasa kepalanya begitu pusing karena bingung ingin berbicara seperti apa di hadapan Elliot.

Elliot tentu tahu arah pembicaraan Charlotte, tapi dia lebih memilih untuk tidak memanfaatkan Charlotte yang mungkin sedang merasa bersalah karena sudah menolak suaminya mentah – mentah tadi sore. Ngocoks.com

Elliot berkata seraya mengusak pucuk kepala istrinya, “Charlotte, masalah yang tadi tidak perlu dipikirkan. Aka hanya tidak sengaja menyentuhmu, bukannya ingin tidur bersama kamu. Tenang saja, jika memang kamu belum siap, aku tidak akan memaksa.

“Tidak!” Charlotte memegang tangan Elliot menggunakan kedua tangannya. “Elliot, pernikahan kita sudah berjalan lebih dari seminggu. Tapi kita belum pernah melakukan hubungan suami istri. Aku … aku takut kamu akan kecewa denganku.”

“Aku tidak akan kecewa. Jangan terburu – buru, aku akan memberikanmu waktu untuk mempersiapkan hati.”

“Jangan bersikap seperti itu.”

Elliot menatap Charlotte dengan lembut. “Kenapa?”

“Orang lain sering berkata kalau seorang istri tidak mampu memenuhi kewajibannya dengan baik, nanti suaminya bisa mencari wanita lain. Elliot, aku tidak mau kamu tidur dengan wanita lain. Karena itu, aku ingin memenuhi kewajibanku sebagai istri!”

Elliot membulatkan matanya, seluruh panca indra di tubuhnya terasa mati rasa sehingga Elliot hanya bisa diam membisu. Otaknya berusaha memproses kata – kata Charlotte dengan sebaik mungkin, tapi meskipun dia berusaha mencari celah untuk berpikiran baik, tetap saja otaknya memberikan satu kesimpulan mutlak.

Charlotte ingin tidur dengannya.

Bukan jenis tidur pada umumnya, melainkan tidur yang melibatkan pergerakan dan rasa panas disekujur tubuh.

Setelah beberapa saat berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak tidak karuan, Elliot akhirnya berkata dengan suara yang bergetar. “Charlotte, kamu tidak perlu memaksakan diri.”

“Aku tidak akan tidur dengan wanita lain meski kamu tidak membiarkanku menyentuh kamu.”

Benar, Elliot tidak akan pernah meninggalkan Charlotte.

Karena cintanya untuk Charlotte bukan didasari oleh nafsu yang menggebu.

Tapi, kenapa Charlotte harus memancing nafsunya disaat Elliot sudah berusaha mati – matian untuk menekannya?!

“Aku tidak memaksakan diri! Aku benar – benar ingin melakukannya supaya hatiku bisa merasa tenang.”

Kali ini Charlotte menggenggam kedua tangan Elliot. Tatapan matanya dipenuhi oleh tekad besar seolah dia ingin menghadapi pertarungan. “Elliot, kumohon tiduri aku!”

Bersambung… ISTRIKU INGIN KUTIDURI

Kali ini Charlotte menggenggam kedua tangan Elliot. Tatapan matanya dipenuhi oleh tekad besar seolah dia ingin menghadapi pertarungan. “Elliot, kumohon tiduri aku!”

“…”

Pernyataan berani yang dilontarkan Charlotte itu mampu meluluh lantahkan hati Elliot. Dia tidak bisa mencerna ucapan istrinya itu dengan baik sehingga kilatan kebingungan tampak begitu jelas di matanya. Ini bukanlah kali pertama ada seorang wanita yang mengajaknya tidur bersama, Elliot juga biasanya akan menanggapi mereka dengan santai, tapi Charlotte adalah pengecualian.

Di mata Elliot, Charlotte selalu tampak semurni kertas putih. Wanita itu tidak ternoda dan Elliot juga tidak mau menodainya. Selama ini dia berpikir sangat mustahil bagi Charlotte untuk mengajaknya tidur bersama.

Namun ternyata perkiraannya itu telah dipatahkan oleh Charlotte sendiri. “Charlotte, kamu …” Kamu telah menyalakan sumbu api yang sebelumnya padam.

Dalam seperkian detik, kekangan tali yang mengikat nafsu Elliot terputus, membuat pria itu tak dapat lagi menahan diri untuk menyambar bibir Charlotte. Tangan kanannya menarik pinggang Charlotte supaya mendekat, sementara tangan kirinya mendorong kepala bagian belakang Charlotte supaya ciuman mereka tidak terlepas.

Charlotte terkejut, tidak menyangka bila ciuman Elliot yang biasanya lembut dan ringan kini menjadi dipenuhi oleh nafsu dan sedikit kasar. Elliot melumat bibir bagian atas dan bawah Charlotte secara bergantian, seolah ingin memakan bibirnya yang lembut.

Charlotte mengernyitkan keningnya, merasa bila pasokan oksigennya telah menipis. Elliot yang menyadari hal itu akhirnya melepaskan ciuman mereka, meninggalkan bekas salliva yang mengotori bibir Charlotte. Keduanya terengah, berusaha mengambil oksigen sebanyak – banyaknya seraya menatap satu sama lain.

Begitu mata mereka berpandangan, pipi Charlotte bersemu merah. Detak jantung di dalam dadanya terus bergemuruh cepat seolah dia habis melakukan lari marathon. Dunia disekeliling Charlotte tampak menghilang, sehingga pandangannya hanya tertuju kepada Elliot.

Manik matanya turun ke bibir Elliot, mengingat setiap lumatan yang diberikan oleh Elliot beberapa saat lalu. Tanpa sadar, Charlotte menginginkan ciuman itu lagi, ciuman bertempo kasar dan radikal.Ceritasex.site

“Charlotte,” Elliot berbisik disebelah Charlotte, “Aku akan bertanya sekali lagi, apa kamu yakin dengan keputusanmu? Karena bila kamu berkata ‘iya’, maka aku tidak akan menahan diri lagi.”

Telinga Charlotte terasa panas, ada sengatan kecil di tubuhnya yang membuat ia merinding tatkala mendengar suara Elliot. Namun anehnya, dia menyukai perasaan itu. “Ya, aku yakin.”

Elliot tersenyum, “Jangan menyesali ucapanmu sendiri nanti.”

“Tidak akan.”

Elliot kembali mencium bibir Charlotte, menjilat permukaan bibir wanita itu yang sudah lembab. Perlahan Elliot menarik dagu Charlotte sampai bibirnya terbuka sedikit, sehingga ia bisa melesakkan lidahnya ke dalam mulut wanita itu. Permainan lidah Elliot bisa terbilang sangat handal, ia mampu membuat Charlotte melenguh pelan setiap kali lidahnya dihisap oleh Elliot.

Berbanding terbalik dengan Elliot, Charlotte sama sekali tidak tahu cara untuk mencium seseorang. Sehingga terkadang ia akan melakukan tindakan ceroboh seperti menggigit bibir Elliot, kadang kala giginya juga akan bersentuhan dengan gigi Elliot.

Elliot tertawa di dalam hati, berpikir bila istrinya sangat menggemaskan karena belum pernah berciuman hingga berusia 21 tahun.

Beberapa saat kemudian, Elliot kembali melepaskan ciuman mereka. Kali ini, ada guratan kekecewaan di mata Charlotte saat Elliot tidak lagi menciumnya.

Elliot lantas tersenyum, lalu mencium pipi serta ujung bibir Charlotte selama beberapa kali. “Tidak perlu kecewa, ada hal yang lebih menarik dari sekedar berciuman.”

Charlotte bahkan belum membalas, tapi Elliot sudah lebih dahulu menunduk dan menjelajahi leher Charlotte yang jenjang. Dia menjilat permukaan kulit istrinya yang cerah, sehingga membuat seluruh bulu di tubuh Charlotte merinding. Jilatan itu lambat laun berubah menjadi gigitan – gigitan kecil, terasa sedikit menyakitkan tapi juga memabukkan di saat yang bersamaan.

Tangan Elliot bergerak untuk melepas satu – persatu kancing di piama milik Charlotte dan menjatuhkan pakaian itu ke atas lantai. Sontak Charlotte menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang hanya tertutupi oleh bra.

“Biarkan aku melihatnya,” pinta Elliot seraya menarik tangan Charlotte.

“Aku … malu,” bisik Charlotte.

“Setelah ini, kamu tidak akan lagi memperdulikan rasa malu.”

Sekali lagi, Elliot melumat bibir Charlotte, berupaya agar wanita itu mengendurkan cengkraman kedua tangannya. Dengan cepat, Elliot mengunci tangan Charlotte di belakang punggungnya dengan satu tangan, sedang tangan lain melepaskan pengait pakaian dalamnya hingga kedua dada Charlotte terekspos tanpa sehelai benang pun.

Charlotte berusaha melepaskan cengkraman tangan Elliot, tetapi otot di tubuhnya langsung melemas begitu telapak tangan Elliot yang dingin menyentuh salah satu dadanya. Pikiran Charlotte semakin terasa melayang begitu Elliot menunduk dan mulai menjilat dua bulatan kecil di dadanya.

“Elliot …” Charlotte melenguh pelan. Sentuhan Elliot di titik sensitifnya itu lantas mengobarkan gairah Charlotte yang selama ini terkubur.

Kedua kakinya terasa lemah, sehingga ia berpegangan pada pundak Elliot. Ketika suara desahan Charlotte semakin mengeras, Elliot akhirnya mengangkat tubuh Charlotte dan meletakkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.

Napas Charlotte memburu, aliran darah di dalam tubuhnya mengalir begitu cepat setiap kali mendapatkan sentuhan Elliot.

Sampai di titik ini, Charlotte sudah melupakan rasa malunya dan hanya berbaring pasrah di hadapan Elliot.

Ketika Elliot melepaskan celana piama Charlotte, ia melihat dalaman Charlotte yang sudah basah dan tampak transparan. Tanpa menunggu lebih lama, pria itu segera melepaskan kain terakhir di tubuh Charlotte sehingga seluruh tubuh istrinya itu tak lagi tertutupi oleh sehelai benang pun.

“Charlotte, aku baru menyentuhmu sedikit dan kamu sudah sebasah ini. My Darling, apa kamu sangat menikmati sentuhan dariku?”

Kedua mata Charlotte setengah terpejam, ia menggigit bibirnya sendiri dan mengangguk pelan.

Elliot tersenyum puas saat melihat reaksi istrinya, “Kamu akan merasa semakin puas setelah ini.”

Charlotte hendak membalas, tetapi berakhir mengeluarkan pekikan halus tatkala ia merasakan jari Elliot menyentuh titik sensitif yang ada di inti Charlotte. Pria itu mengelusnya pelan, lalu menekan – nekan titik itu dengan lembut sebelum akhirnya berubah menjadi gesekan cepat yang membuat Charlotte tak mampu lagi berpikir selain meneriakkan nama Elliot.

Charlotte mengerang keras, tangannya meremas seprai di sampingnya dan punggungnya melengkung naik hingga kedua dadanya membusung tinggi.

Tiba – tiba, Charlotte mendapatkan sensasi aneh yang terasa seperti sebuah ledakkan. Tubuhnya mengenjang kuat dan berusaha menekan titik sensitifnya ke jari Elliot.

Begitu ledakan itu berhasil dilepaskan, Charlotte merasa begitu lemas dengan napas yang teremgah – engah. Elliot kemudian mengangkat tangannya, memperlihatkan cairan cinta Charlotte yang menempel di beberapa jarinya.

Charlotte berusaha berbicara di antara napasnya yang terengah. “Maaf, aku terlihat memalukkan.”

Beberapa saat yang lalu, Charlotte merasa bila dia bukan lagi dirinya sendiri dan tanpa sadar malah bertingkah seperti wanita penggoda di hadapan Elliot.

“Kenapa bisa memalukkan, Charlotte sama sekali tidak memalukan. Itu hanyalah reaksi alami dari tubuh, jadi wajar apabila kamu bertingkah seperti tadi,” balas Elliot seraya melepaskan pakaiannya sendiri.

“Kamu ingin apa?”

Elliot menurunkan celananya, memperlihatkan bagian selatan tubuhnya yang sudah mengeras sedari tadi. Tatkala melihat bagian bawah Elliot yang tidak tertutupi celana, Charlotte langsung menutupi wajahnya menggunakan jari, tapi tanpa sadar malah mengintip melalui celah jari – jemarinya.

“Charlotte, tadi hanyalah pembukaan. Sekarang, mari kita masuk ke permainan yang sesungguhnya.”

Sebelum menyatukan inti mereka berdua, Elliot memastikan bila bagian bawah Charlotte sudah basah sepenuhnya sehingga tidak akan terasa sakit saat mereka melakukan penyatuan.

“E .. Elliot .. Itu tidak akan muat,” kata Charlotte dengan ngeri. Dia memang pernah melihat film dewasa bersama temannya karena penasaran, tetapi saat ia mempraktekannya secara langsung, Charlotte merasa bila itu mengerikan.

Elliot tertawa pelan, dia menyisirkan rambut ke belakang dan berkata, “Jangan khawatir, tubuh manusia sudah dirancang sedemikian rupa untuk bisa menyatu sehingga kamu tidak perlu takut.”

Sejak dahulu, Elliot tidak pernah suka berhubungan dengan seorang perawan. Selain karena mereka terlalu sentimental, para perawan juga cenderung dipenuhi oleh rasa takut yang tidak masuk akal. Akan tetapi, sekarang perawan itu adalah istrinya sendiri, sehingga Elliot tidak melihat Charlotte sebagai wanita yang menyebalkan.

Supaya Charlotte merasa lebih nyaman, Elliot memberikannya beberapa kecupan ringan di bibir serta wajah. Ia kemudian menatap kedua mata Charlotte dengan pandangan yang dipenuhi oleh kasih sayang. “Jangan memikirkan apapun dan fokus saja terhadapku. Apabila terasa menyakitkan, aku akan langsung berhenti. Charlotte tidak perlu khawatir, aku pasti tidak akan melukaimu.”

Hati Charlotte perlahan menghangat, kata – kata Elliot berhasil menyelimuti Charlotte dengan ketenangan sehingga rasa takutnya mulai menurun. “Kalau begitu lakukan pelan – pelan.”

“Mhm, aku akan melakukannya pelan – pelan,” jawab Elliot.

Perlahan Elliot mulai menyatukan inti mereka berdua. Awalnya, dinding dalam Charlotte terasa begitu sempit, mencengkram benda asing yang baru saja masuk dengan begitu kuat.

Elliot menghela napas, kemudian mengelus untaian rambut Charlotte yang berantakan. “Rilekskan tubuhmu, kamu akan sakit jika terlalu tegang.”

Elliot lantas menstimulasi tubuh Charlotte dengan menyentuh beberapa titik sensitifnya supaya membuat wanita itu merasa lebih nyaman. Perlahan dinding bagian dalam Charlotte mulai melunak, sehingga Elliot bisa memperdalam penyatuan mereka.

Namun, begitu ia bergerak lebih dalam, Charlotte langsung mencengkram tangan Elliot dengan kuat. Ada setitik air mata yang jatuh di sudut matanya dan ia merintih kecil. “Sakit … Elliot ..”

Walaupun Elliot sudah memastikan bagian bawah Charlotte telah siap, tetap saja penyatuan pertama akan terasa sakit untuk Charlotte.

Melihat wajah istrinya tampak menyedihkan, Elliot jadi tidak tega. “Kita bisa berhenti kalau kamu tidak ingin melanjutkan, aku tidak keberatan jika harus menunggu lebih lama.”

“Tidak!” Charlotte menggeleng cepat, ia menahan lengan Elliot untuk bergerak mundur. “Aku tidak mau berhenti, aku ingin bersatu dengan kamu.”

Elliot sontak memeluk Charlotte dengan erat seraya berbisik pelan. “Kalau begitu tahan sebentar, gigit pundakku jika tidak tahan.” Ngocoks.com

Dalam satu kali hentakan, Elliot menenggelamkan seluruh intinya ke dalam Charlotte. Cengkraman tangan Charlotte kian mengeras, wanita itu juga menggigit pundak Elliot karena merasa sakit.

Elliot tidak bergerak, menunggu sampai istrinya merasa nyaman. Selama beberapa saat, Elliot hanya memeluk tubuh Charlotte seraya membisikkan kata – kata penuh cinta.

“Aku mencintaimu, Charlotte. Karena itu aku ingin memiliki kami seutuhnya, baik fisik maupun hatimu.”

“Jangan takut, rasa sakit itu tidak akan bertahan lama.”

Seoerti kata Elliot, lambat laun rasa sakit itu mulai sirna dan tergantikan oleh sengatan – sengatan yang membawa kenikmatan. Begitu Charlotte mengeluarkan erangan kecil, Elliot mulai menggerakan tubuhnya secara perlahan.

Charlotte mengalungkan lengannya di belakang leher Elliot. Napas Charlotte putus – putus dan detak jantungnya berdetak selayaknya tabuhan genderang. Ia tanpa sadar melebarkan kakinya supaya Elliot bisa memperdalam penyatuan mereka.

Setiap kali Elliot menghentakkan tubuh bagian bawah mereka dengan kuat, Charlotte secara reflek akan meneriakkan nama Elliot seolah nama pria itu adalah satu – satunya kosa kata yang ada di dalam benaknya.

Peluh membasahi seluruh tubuh mereka meskipun pendingin ruangan sudah dinyalakan dengan suhu rendah. Suara derit tempat tidur bersatu dengan erangan serta desahan keras dari Charlotte, membuat Elliot semakin bersemangat untuk menekan tubuh Charlotte.

Tempo permainan mereka lantas berubah semakin cepat dan tak beraturan, Charlotte merasa bila pikirannya sudah sepenuhnya kacau tatkala ia berada di ujung puncak. Beberapa saat kemudian, keduanya sama – sama melepaskan gairah mereka yang tertahan.

Cerita Sex Kerajaan Perempuan Mamberamo

Elliot tersenyum lembut, ia perlahan menundukkan kepalanya dan kembali mencium bibir Charlotte yang sudah bengkak dan memerah. “Aku benar – benar mencintaimu, Charlotte.”

Charlotte berusaha mengatur napasnya sebelum berkata. “Apa aku sudah menjadi istri yang baik untukmu?”

“Kenapa bertanya seperti itu?” Elliot mengelus pipi Charlotte, “Kamu selalu menjadi istri yang baik untukku.” Setidaknya di kehidupan sekarang, Charlotte tidak akan pernah buruk di mata Elliot.

Beberapa saat kemudian, Elliot akhirnya melepaskan penyatuan mereka. Matanya menatap ke arah inti Charlotte yang kini tampak berantakan dengan cairan cinta miliknya sendiri dan milik Elliot. Selain itu, terdapat pula beberapa tetes noda darah yang keluar, pertanda bahwa Charlotte telah menyerahkan pengalaman pertamanya untuk Elliot.

#Bersambung… ISTRIKU TAKUT DISELINGKUHI

Beranjak tidur dengan kondisi tubuh yang lengket bisa membuat Charlotte merasa tidak nyaman, sehingga Elliot menyiapkan air hangat di bathup untuk mereka mandi.

Dia lantas membawa tubuh Charlotte ke kamar mandi, wanita itu juga tidak protes dan hanya memeluk Elliot dengan erat tanpa ingin melepaskan. Begitu Elliot memasukkan Charlotte ke dalam bathup, dia mulai melebarkan bagian bawah Charlotte dan mengeluarkan cairan yang mengotori bagian dalam Charlotte.

Wanita itu bersandar pada bathup, menunduk malu dan tidak berani untuk menatap Elliot yang berdiri di hadapannya.

“Apa masih terasa sakit?” tanya Elliot.

“Mhm,” Charlotte berkata, “Rasanya sedikit perih.”

Setelah membersihkan bagian dalam Charlotte, Elliot akhirnya turut masuk ke dalam bathup dan mulai menyabuni tubuh Charlotte. “Di permainan berikutnya pasti tidak akan perih lagi.”

Charlotte lantas mengangkat kepalanya dan memandang Elliot dengan mata berbinar. “Benarkah?”

Elliot mengangguk, “Tubuhmu pasti akan terbiasa setelah melakukannya sekali. Selanjutnya, aku berjanji kamu sama sekali tidak akan merasakan sakit.”

“Tapi Charlotte, sejujurnya aku tidak begitu senang dengan tindakanmu sebelum ini,” tambah Elliot.

Hati Charlotte perlahan dipenuhi oleh ketakutan. Mungkinkah permainan Charlotte begitu buruk sampai membuat Elliot kecewa?

“Aku tidak cukup baik di ranjang?”

“Bukan begitu, sayang,” Elliot mengelus pelipis Charlotte dengan lembut. “Aku tidak kecewa dengan tindakanmu di ranjang, tapi aku kecewa dengan ucapanmu sebelum ini.” Ceritasex.site

“Charlotte, jangan pernah berpikir aku akan meninggalkan kamu dan mencari wanita lain karena kamu tidak bisa memuaskanku. Aku sudah menyebutkan ulang sumpah pernikahan kita dan berkata kalau aku mencintaimu. Apa itu tidak cukup untuk membuatmu yakin kalau aku tidak akan pergi dari sisimu?”

Seketika Charlotte terkesiap, otaknya tidak mampu memproses jawaban yang benar sehingga dia sedikit terbata saat membalas. “Aku percaya … tentu aku percaya. Tapi .. tapi aku hanya merasa khawatir.”

“Apa yang kamu khawatirkan?”

“Banyak orang yang meninggalkanku karena merasa aku tidak cukup baik. Karena itu, aku pikir kamu juga akan melakukan hal yang sama bila aku tidak cukup baik untukmu.”

Elliot membeku saat mendengar ucapan Charlotte. Wanita itu telah lama mendapatkan perlakuan buruk dari keluarganya, ibu kandungnya berpikir bila Charlotte hanyalah beban jika terus mengekorinya, sedangkan ayah kandungnya juga berpikir bahwa Charlotte adalah beban yang membuat kekacauan di rumah tangganya.

Seumur hidup, Charlotte tidak pernah baik di mata keluarga yang ia kasihi.

Bahkan di kehidupan sebelumnya, Elliot turut memberikan perlakuan buruk kepada Charlotte karena merasa wanita itu tidak cukup baik di hidupnya.

Elliot segera memeluk Charlotte dengan erat, segala penyesalan di dalam dadanya bergejolak dan menggerogoti hati Elliot, menuntut pria itu untuk memberikan kasih sayang yang lebih banyak kepada Charlotte supaya istrinya itu tidak lagi merasa tidak berharga.

“Aku tidak akan melakukannya. Sampai aku mati, aku pasti akan selalu bersama Charlotte. Tidak akan membuangmu atau bahkan mencampakkanmu.”

Tubuh Charlotte bergetar saat mendengar hal itu, ia lantas membalas pelukan Elliot dan bersuara lirih. “Benarkah? Walau aku tidak bisa menjadi istri yang baik, kamu tidak akan meninggalkanku?”

“Selama Charlotte tidak meninggalkanku, maka aku tidak akan meninggalkan Charlotte.”

Pada akhirnya, Charlotte tak mampu menahan tangis. “Aku juga tidak akan pernah meninggalkan Elliot. Selamanya aku akan menjadi istrimu.”

*****

Keesokan harinya, Elliot bangun lebih dahulu karena merasa terganggu dengan sinar matahari yang menyeruak masuk ke dalam ruangan. Meski ingin menghabiskan waktu lebih lama untuk tidur bersama Charlotte, tetap saja Elliot harus beranjak dari tempat tidur untuk bersiap pergi ke kantor.

Matanya melirik ke arah wajah istrinya yang masih terlelap. Deru napas Charlotte terdengar konstan, bibirnya yang masih sedikit bengkak terbuka sedikit dan memperlihatkan gigi kelincinya yang manis. Elliot perlahan membelai untaian rambut Charlotte, kemudian menyampirkan helaian rambut yang menutupi wajah Charlotte.

Sentuhan kecil itu akhirnya membangunkan Charlotte. Wanita itu sedikit menggeliat dan membuka setengah kelopak matanya. “Elliot ..”

“Ada apa?” tanya Elliot dengan lembut.

Charlotte memeluk Elliot lalu membenamkan wajahnya ke ceruk leher suaminya. Tindakan tersebut membuat Elliot tidak mampu beranjak dari tempat tidur dan kembali membalas pelukan Charlotte.

“Kamu akan berangkat kerja sepagi ini?” tanya Charlotte.

“Jika aku berangkat lebih pagi, maka aku juga bisa pulang lebih cepat,” Elliot melanjutkan, “Kamu ada kelas hari ini?”

“Tidak ada, besok aku baru ada kelas pagi.”

Elliot, “Kalau begitu, besok kita bisa berangkat bersama.”

Setelah menahan tubuh Elliot selama beberapa saat, Charlotte akhirnya melepaskan pelukannya dan membiarkan Elliot untuk bersiap – siap. Kedua mata Charlotte mengikuti pergerakan Elliot yang tengah memakai kemeja. Charlotte enggan bangkit dari tempat tidur karena bagian bawahnya masih terasa tidak nyaman, sehingga dia ingin berbaring lebih lama lagi.

“Hari ini beristirahat saja di kamar. Aku akan meminta pelayan untuk membawakanmu makan ke kamar nanti,” kata Elliot.

“Mhm,” Charlotte berkata, “Kamu akan pulang jam berapa?”

Elliot menjawab seraya merapihkan dasinya, “Aku akan pulang sebelum makan malam.”

“Benar pulang sebelum makan malam?”

“Iya,”

“Janji?”

“Janji,” Elliot tertawa saat merasa istrinya agak manja hari ini, mungkin ucapan Elliot semalam telah melunturkan keraguan di hati Charlotte.

Sebelum keluar dari kamar, Elliot sempat mencium bibir serta pipi Charlotte. “Aku berangkat ya,”

Charlotte membalas dengan anggukan karena merasa kembali mengantuk. Tatkala Elliot berdiri di ambang pintu, dia berbicara lagi. “Beberapa hari lalu aku sempat membelikanmu pakaian secara online. Mungkin pakaiannya akan datang hari ini, semoga kamu suka.”

Manik mata Charlotte berbinar, merasa senang karena suaminya telah membelikan Charlotte hadiah. “Aku pasti menyukainya!”

Elliot tertawa pelan, “Tidak apa jika tidak suka, nanti aku akan membelikan yang baru.”

Sebelum menutup pintu, Elliot kembali mendengar suara Charlotte. “Elliot, aku mencintaimu.”

Elliot melambaikan tangannya beberapa kali, “Aku juga sangat sangat mencintaimu.”

*****

Sesampainya di kantor, Elliot segera meminta Erland untuk mengatur jadwal rapat sebelum makan siang. Rapat tersebut harus diadakan secepat mungkin karena Elliot ingin menentukan karyawan yang bisa menggantikan posisi Walker, Robert, dan Howard. Posisi ketiganya cukup krusial, tanpa pengganti, maka proyek Hotel Arvi tidak akan bisa dilanjutkan.

Di lain sisi, para karyawan mulai menggerutu saat tahu rapatnya akan dilaksanakan satu jam sebelum makan siang. Mereka memang senang jika Elliot mampu bekerja dengan benar, tapi juga tidak terima apabila jam istirahat mereka akan dieksploitasi seperti ini!

Pada akhirnya, mereka tetap menghadiri rapat karena tak mampu mengajukan protes.

Elliot memberikan penjelasan mengenai kekosongan posisi penting dan turut menjelaskan tugas dan wewenang dari posisi tersebut.

Di akhir penjelasan, Elliot akhirnya memberikan kesempatan bagi para karyawan untuk mengajukan diri. Meski nantinya ia akan wawancara terlebih dahulu untuk memastikan tidak memilih orang yang salah.

Kesempatan emas untuk mendapatkan jabatan tinggi seperti ini sangat jarang, sehingga ada banyak karyawan yang langsung mengangkat tangan mereka. Elliot lantas memberikan kode kepada Erland untuk mencatat nama – nama mereka semua.

“Kalian cukup antusias dalam mengambil posisi ini,” Elliot tersenyum, “Karena ada banyak yang menginginkan posisi ini, maka aku akan membuat seleksi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah dengan seleksi seluruh laporan kinerja kalian selama ini, setelah itu tahap keduanya adalah wawancara. Ada yang keberatan?”

“Saya rasa tidak, Sir.” Jawab salah satu karyawan.

Elliot menutup layar laptopnya kemudian berkata. “Baiklah, karena tidak ada yang protes maka rapat kali ini akan aku tutup. Terima kasih karena sudah menyempatkan diri untuk hadir.”

Sebelum berdiri dari kursi, Elliot sempat melirik jam tangannya. Baru sadar kalau dia telah memakai jam makan siang untuk rapat. “Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku akan mentraktir kalian.”

Para karyawan saling memandang satu sama lain, tidak lekas menjawab karena tidak percaya dengan ucapan Elliot. Padahal biasanya Elliot merupakan atasan yang tak pernah ingin berbaur dengan karyawannya, tapi sekarang malah mengajak mereka makan siang bersama.

Elliot menaikkan alisnya, kemudian bertanya lagi. “Tidak mau? Baiklah ..”

“Kami mau, Sir!” seru salah seorang karyawan.

Karyawan lain turut bersuara, “Ya, tentu mau!”

“Kami tidak mungkin menolak. Maaf bila merepotkan!”

Walau merasa aneh, tetap saja mereka tidak mau menyia – nyiakan kesempatan untuk makan bersama Elliot. Selain mendekatkan diri kepada Elliot, mereka juga bisa makan di restoran mewah dengan gratis!

Elliot tersenyum saat melihat karyawannya antusias. “Tidak perlu sungkan, anggap saja ini permintaan maafku karena sudah mengambil jam istirahat kalian.”

Makanan merupakan senjata terbaik untuk mengambil hati manusia secara cuma – cuma. Jika Elliot memberikan kesan yang bagus dengan mentraktir mereka makanan, maka para karyawannya ini tidak akan lagi menganggapnya sebagai atasan yang buruk dan tidak ramah.

Hal ini Elliot lakukan supaya tidak ada kesalahpahaman di masa depan dan juga untuk mendapatkan nilai baik di evaluasi ketua departemen nanti.

Elliot akhirnya mentraktir mereka di restoran steak berkualitas tinggi yang ada di dekat kantor. Senyuman penuh kebahagiaan tercetak di wajah – wajah karyawannya tatkala makanan diantarkan ke meja mereka.

“Tuan, saya pasti tidak akan melupakan kebaikan Anda hari ini!”

“Walau sudah sering melihat restoran ini saat pergi ke kantor, saya belum pernah makan di sini.”

“Semua ini berkat Tuan Landegre kita bisa makan di tempat seperti ini!”

“Kalian berlebihan,” Elliot tertawa, “Apa gaji kalian terlalu sedikit?”

Salah seorang karyawan yang sedang minum air hampir tersedak saat mendengar perkataan Elliot. “Bukan! Bukan begitu! Gaji yang diberikan perusahaan sudah sesuai dengan standar. Meski begitu, kami selalu berpikir dua kali untuk makan di tempat mewah seperti ini.”

Elliot, “Jika kinerja kalian meningkat, aku akan memberikan kalian bonus di akhir tahun.”

Suara sorakan langsung menggema dari para karyawan. Beruntung Elliot menyewa satu ruangan pribadi, sehingga suara mereka tidak akan mengganggu pengunjung lain.

“Kami pasti akan bekerja keras supaya Departemen Infrastruktur III menjadi departemen terbaik di perusahaan!”

Mereka semua akhirnya tertawa, melunturkan kekakuan yang biasanya mereka hadapi setiap kali bertemu dengan Elliot.

Ketika Elliot hendak menyuapkan daging ke mulutnya, ponsel Elliot bergetar dari dalam sakunya. Dia mengeluarkan ponsel tersebut dan melihat Charlotte tengah mengirimkan panggilan video. Elliot segera keluar dari ruangan dengan senyuman lebar dan mengangkat panggilan Charlotte.

Hal pertama yang Elliot lihat adalah wajah Charlotte yang menampakkan senyuman cerah. Dari raut wajahnya, Elliot bisa menebak bila istrinya sedang bahagia.

“Elliot, Elliot, pakaian yang kamu belikan sudah datang!” kata Charlotte dengan antusias.

Wanita itu menyanggah belakang ponselnya menggunakan kotak tisu, kemudian memperlihatkan tumpukkan pakaian yang menggunung di atas tempat tidur.

“Ini semua benar – benar untukku?” tanya Charlotte memastikan.

Elliot tertawa, “Tentu saja untukmu, mana mungkin aku membelikannya untuk wanita lain!”

“Kamu suka?” lanjut Elliot.

Charlotte mengangguk cepat, “Suka, tentu saja suka. Tapi Elliot, tidakkah kamu membeli terlalu banyak? Aku jadi merasa tidak enak karena sudah menghabiskan uangmu, apalagi pakaian – pakaian ini juga berasal dari brand ternama.”

Sebagai seorang wanita sekaligus istri, Charlotte tentu saja senang apabila suaminya membelikan dia banyak pakaian indah yang menarik mata. Namun, Charlotte belum pernah mendapatkan hadiah semahal ini dari orang lain, sehingga dia merasa tidak enak hati kepada Elliot.

“Apanya yang menghabiskan uangku?! Kamu itu adalah istriku, jadi tentu saja aku wajib membelikanmu barang dengan kualitas terbaik!” Ngocoks.com

Elliot sedikit merasa sebal, bukan karena merasa pemberiannya tidak dihargai, tapi karena Charlotte selalu saja merasa rendah diri, sehingga berpikir dirinya tak pantas menerima perlakuan baik dari suaminya sendiri.

Charlotte yang mengetahui kekesalan Elliot itu buru – buru memperbaiki ucapannya. “Tapi setelah dipikir – pikir lagi, uang suami adalah uang istri juga. Jadi tentu saja aku boleh menggunakan uangmu.”

Elliot tersenyum puas saat mendengarnya. Matanya melirik ke arah pakaian di belakang Charlotte, lalu berkata, “Kenapa tidak mencoba satu? Aku ingin lihat.”

Charlotte lantas memperhatikan pakaiannya satu – persatu dan memutuskan untuk mengambil sebuah dress hitam dengan panjang selutut, pada bagian tengah serta kerahnya terdapat garis berwarna putih yang turut dihiasi oleh kancing kecil berwarna emas.

“Bagaimana dengan ini?”

“Apapun tak masalah, cobalah.”

Charlotte kemudian berjalan keluar dari pandangan kamara, sehingga membuat Elliot bingung. “Kamu ingin ke mana?”

Suara Charlotte terdengar dari samping kamera. “Mau ganti baju.”

“Kenapa tidak lakukan di depan kamera?”

“Kenapa masih bertanya? Tentu karena ada kamu.”

Elliot sontak tertawa. “Charlotte, My Sweetheart, aku bahkan sudah melihat seluruh tubuhmu kemarin malam. Kenapa masih malu?”

Bersambung… ISTRIKU MELAKUKAN WAWANCARA

Pada akhirnya, Charlotte tetap tidak mau berganti pakaian di depan kamera. Dia baru muncul lagi di hadapan Elliot usai memakai pakaiannya dengan rapih.

Dari pandangan mata Elliot, Charlotte tampak begitu elegan dengan dress yang ia kenakan. Perpaduan warna hitam dan putih tidak membuat kesan mencolok, tetapi membuat Charlotte memiliki kesan yang lembut.

“Bagaimana?” tanya Charlotte seraya berputar beberapa kali.

“Cantik,” Elliot memuji, “Istriku sangat cantik, aku jadi ingin segera pulang dan memelukmu.”

Charlotte tertawa, kemudian dia memperhatikan latar belakang Elliot yang tak terlihat seperti sedang di kantor. “Kamu sedang di luar? Apa aku mengganggumu?”

“Tidak, tidak. Kamu tidak menggangguku. Aku hanya sedang mengajak karyawanku makan siang di restoran,” Elliot mendekatkan bibirnya ke ponsel dan berbisik. “Jangan katakan ini kepada orang lain, tapi aku mentraktir mereka supaya mereka berhenti bergosip buruk tentangku.”

“Manusia pada dasarnya senang menggosip. Mereka pasti tetap akan bergosip tentangmu nanti meski hal yang digosipkan tidak lagi buruk,” balas Charlotte. Ceritasex.site

Keduanya berbicara selama beberapa menit, sebelum akhirnya Charlotte menutup panggilan lebih dahulu karena ingin merapihkan pakaian – pakaian itu ke dalam lemari. Elliot tidak menahan, karena waktu untuk istirahat juga tidak banyak.

Ketika Elliot kembali masuk ke ruangan, wajahnya terlihat lebih cerah dari sebelumnya. Para karyawan diam – diam saling memandang satu sama lain, sampai akhirnya ada yang membuka suara. “Sir, sepertinya Anda baru saja mendapatkan telepon dari orang yang spesial, sampai – sampai terlihat begitu bahagia.”

Elliot menenggak air putih lebih dahulu, kemudian membalas dengan santai. “Ya, istriku baru saja menghubungiku.”

Ucapan Elliot sontak membuat para karyawan berhenti bergerak dan berbicara. Ruangan itu bahkan menjadi hening sampai – sampai suara sendok yang terjatuh ke lantai dapat terdengar dengan begitu jelas.

Elliot mengangkat kepalanya, kemudian bertanya dengan bingung. “Ada apa?”

“Kami … kami tidak tahu kalau Anda sudah mempunyai istri.”

“Dia agak pemalu, jadi aku belum bisa memperkenalkannya kepada kalian sekarang. Tapi, suatu saat aku pasti akan membawanya ke kantor,” kata Elliot dengan santai.

Pada kenyataannya memang Charlotte agak pemalu, dia bahkan tidak mau datang ke kantor sebagai istri Elliot.

Para karyawan juga tidak lagi bertanya karena mereka tidak mau mengorek privasi Elliot terlalu dalam.

Mereka kemudian kembali ke kantor usai selesai makan. Diam – diam para karyawan mulai menyebarkan gosip pernikahan Elliot ke karyawan di Departemen lain. Mereka juga bahkan berusaha mencari informasi tentang identitas istri Elliot, tapi tidak menemukan apa – apa karena Elliot sudah tidak lagi mempunyai sosial media.

*****

Sesuai dengan janjinya kepada Charlotte, Elliot sudah pulang ke rumah sebelum makan malam sehingga mereka bisa makan bersama.

Ketika duduk di ruang makan, Elliot merasa bila aroma makanan yang disajikan lebih menggugah selera dari biasanya. Mungkin karena menu hari ini kebetulan adalah makanan kesukaannya, yaitu Pasta Fettucini yang dibalur oleh saus Carbonara. Di atas pasta, terdapat banyak irisan daging panggang serta parutan keju yang tampak lezat.

Elliot lantas mengaduk pasta tersebut sampai seluruh bahannya tercampur rata, kemudian baru memakannya. Begitu pasta itu masuk ke dalam mulutnya, sebuah cita rasa yang sulit untuk dideskripsikan. Pasta itu tidak terasa terlalu berlemak, tapi juga mempunyai cita rasa yang kuat sehingga tidak terasa hambar.

“Rasanya enak?”

Elliot mengangguk, “Mhm, pelayan mana yang memasaknya? Aku baru pertama kali mencicipi rasa ini.”

Charlotte tersenyum senang. “Aku yang memasaknya.”

Setelah mendengar penuturan Charlotte, Elliot langsung tersenyum begitu tinggi. “Rasanya sangat enak! Charlotte, kamu benar – benar berbakat dalam memasak!”

“Aku bisa memasak setiap hari kalau kamu suka.”

Elliot, “Tidak perlu dipaksakan, memasak saja saat kamu senggang. Aku tidak mau kamu kelelahan.”

Charlotte tidak membantah, tahu betul bila Elliot hanya merasa khawatir dengannya. Setelah selesai makan dan membersihkan diri, keduanya beranjak ke ranjang untuk tidur.

*****

Tanpa terasa, Elliot sudah menghabiskan waktu bersama Charlotte selama satu bulan lebih. Selama satu bulan terakhir pula, Elliot berusaha untuk membantu Charlotte dalam menyelesaikan tugas kuliahnya. Dia juga selalu menyempatkan waktu untuk mengantarkan Charlotte ke universitas dan menjemput istrinya bila memang senggang.

Di akhir tahun, Charlotte akhirnya menyelesaikan ujian akhir semester dan akan melamar magang di perusahaan Elliot. Beberapa hari sebelumnya, dia sudah mengirimkan CV ke bagian HRD melalui surel, dan ternyata langsung mendapatkan panggilan wawancara dua hari kemudian.

“Kamu yakin tidak mau ikut denganku?” tanya Elliot sekali lagi untuk memastikan.

Charlotte mengaitkan tali sepatunya dan berkata, “Yakin. Aku tidak mau ada yang melihat kita datang bersama ke kantor.”

Elliot menghela napas, “Baiklah, kamu pergilah bersama Samael. Aku akan pergi dengan Austin.”

“Mhm, sampai jumpa di sana.”

Sebelum beranjak pergi, Elliot mencium bibir Charlotte dan menepuk kepalanya pelan. “Saat siang datanglah ke kantorku, ada pintu private yang tidak harus melewati ruang karyawan. Nanti Erland akan menjemputmu.”

Charlotte mengangguk, kali ini tidak menolak. “Aku mengerti.”

Keduanya lantas pergi dengan mobil yang berbeda. Elliot pergi dahulu, kemudian Charlotte menyusul beberapa menit setelahnya. Sesampainya di perusahaan, Charlotte segera naik ke lantai 13 untuk ke ruang wawancara.

Ketika tiba, Charlotte melihat ada tiga orang pria yang juga sedang menunggu giliran untuk di wawancara. Mereka semua terlihat rapi dengan mengenakan jas dan rambut yang ditata. Ketiganya menoleh ke arah Charlotte dan tersenyum singkat.

“Kamu juga ingin melakukan wawancara?” tanya salah seorang pria saat Charlotte duduk di sebelahnya.

Charlotte tersenyum ramah. “Iya, aku juga ingin melakukan wawancara.”

“Posisi apa yang ingin kamu ambil?”

“Aku ingin magang sebagai Junior Arsitek.”

Pria itu sedikit terkejut. “Aku dan temanku juga akan mengambil posisi yang sama. Kudengar hanya ada 2 orang saja yang bisa mendapatkan posisi ini.”

“Begitukah?”

Pria yang lain menimpali. “Iya, tapi jangan khawatir selama kamu mempunyai kemampuan, mungkin kamu juga bisa diterima.”

Mereka berdua berkata seolah – olah akan mendapatkan posisi tersebut dengan mudah. Beruntung Charlotte tidak mudah tersinggung, sehingga hanya membalas sekenanya. “Aku masih banyak belajar, tapi mungkin cukup memenuhi kualifikasi untuk bekerja di sini.”

Pria di sebelah Charlotte tertawa. “Omong – omong, kenapa kamu harus mengambil jurusan Arsitektur? Pekerjaan ini membutuhkan pemikiran yang kompleks dan kerja keras. Bukankah kebanyakan wanita tidak mampu kuliah di jurusan ini dengan baik? Teman wanitaku selalu mengeluh ketika harus begadang dan sering tidak mampu menggunakan software dengan baik.”

Charlotte, “Mungkin itu karena temanmu saja yang tidak belajar dengan baik. Selama ini aku dan teman – teman wanitaku bisa mencerna pelajaran dengan baik.”

“Tapi bekerja di kantor itu berbeda dengan kuliah. Kamu mungkin harus sering lembur. Nona, tidakkah sebaiknya kamu magang di perusahaan kecil saja agar tidak lelah?”

“Kenapa aku harus melamar di perusahaan kecil ketika bisa melamar di perusahaan besar? Lagipula, kenapa kalian seyakin itu akan diterima?” Charlotte menampakkan senyum, tetapi ucapannya membuat mereka terdiam.

Mereka seharusnya tidak boleh sepercaya diri itu hanya karena mereka berdua pria. Charlotte sudah biasa direndahkan oleh keluarganya, jadi dia tidak begitu marah ketika ada orang lain yang merendahkannya. Namun kalau sampai kedua orang ini juga merendahkan wanita lain, mungkin mereka akan terkena kesialan di masa depan.

Satu – persatu dari mereka pun masuk ke dalam ruang wawancara secara bergantian. Karena Charlotte datang paling akhir, maka dia juga masuk terakhir. Ketika keluar dari ruangan, para pria itu tampak tersenyum dan semakin percaya diri mereka akan masuk ke perusahaan dengan mudah. Mungkin mereka berpikir demikian karena menganggap Charlotte bukanlah saingan yang patut untuk dipikirkan.

Setelah menunggu lama, akhirnya Charlotte bisa masuk ke dalam ruang wawancara. Ia merapihkan setelan kemejanya sebelum membuka pintu, kemudian tersenyum dan menyapa. “Selamat pagi.”

Seorang wanita yang duduk di kursi kerja segera mengangkat wajahnya usai menulis nilai dari calon karyawan sebelum Charlotte. Ketika dia dan Charlotte saling berpandangan, wanita itu langsung membulatkan mata dan berdiri dari kursinya. “Charlotte! Kamu benar – benar Charlotte?!”

Ketika membaca nama ‘Charlotte Baxter’ di file pelamar kerja, dia tidak menyangka bahwa itu memang benar – benar Charlotte yang dia kenal.

Charlotte tertegun, memperhatikan wanita di hadapannya dengan lebih seksama sebelum menyadari sesuatu. “Aria?”

“Ya, aku Aria. Charlotte, kemana saja kamu selama ini? Aku sudah mencarimu sejak dahulu.”

Wanita itu adalah Aria Moore, sahabat dekat Charlotte di sekolah menengah atas. Aria juga merupakan satu – satunya orang yang selalu menampung keluh kesah Charlotte dahulu. Sayangnya, karena alasan tertentu mereka jadi berpisah dan tak bertemu selama bertahun – tahun.

Aria buru – buru mempersilahkan Charlotte untuk duduk di kursi dan mempersiapkan teh untuk Charlotte.

“Kamu sepertinya lulus kuliah lebih awal ya?” tanya Charlotte kepada Aria.

Aria meletakkan cangkir teh di hadapan Charlotte. “Benar, aku sudah lulus tahun ini. Sesungguhnya aku bisa langsung bekerja sebagai HRD di perusahaan ini karena pernah magang saat kuliah dan mendapatkan citra yang baik di mata senior. Lupakan cerita tentangku, kamu bahkan belum menjawab pertanyaanku.”

“Charlotte, sejak insiden dahulu, aku tidak pernah bisa hidup dengan tenang karena takut kamu tidak selamat. Aku tidak mengetahui alamat rumahmu dan juga tidak bisa menghubungi sanak keluargamu. Ketika aku bertanya kepada guru pun mereka enggan untuk memberikan alamat rumahmu karena menyangkut privasi Keluarga Baxter.”

Charlotte tersenyum, kemudian menundukan kepalanya sebentar. “Aku sempat koma selama tiga bulan. Jadi aku tidak bisa menghubungi kamu selama itu.”

Aria terkejut, kemudian segera memegang tangan Charlotte. “Bagaimana setelah kamu bangun? Kamu harusnya bisa menghubungiku.”

“Maaf Aria, saat itu pikiranku sedang kacau. Jadi aku tidak kepikiran untuk menghubungi kamu. Aku juga tidak mau mengganggu kamu yang sedang mempersiapkan diri mengikuti ujian untuk mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi.”

Mendengar intonasi suara Charlotte kian melemah, Aria sadar bahwa ada yang salah dengan sahabatnya itu. Jadi dia bertanya dengan lembut, “Apa yang terjadi Charlotte? Kamu bisa mengatakannya kepadaku.”

“Aria,” Charlotte menghela napas dalam – dalam, dia tidak menyangka bisa mengeluarkan keluh kesahnya kepada Aria setelah lama tidak berjumpa. “Setelah mendapatkan luka tusuk di perut, dokter berkata bahwa rahimku terluka parah sehingga aku harus menjalani operasi pengangkatan rahim.

Aria, saat masih sekolah, kamu pasti tahu kalau aku sangat menyukai anak – anak dan berharap melahirkan beberapa saat menikah nanti. Tapi, ternyata Tuhan tidak mengizinkanku untuk melahirkan seorang anak.” Ngocoks.com

Charlotte akhirnya tidak mampu membendung air mata yang telah ia tahan selama beberapa tahun belakangan. Dia selalu ingin menceritakan keluh kesahnya kepada orang lain, tetapi dia tak mempunyai teman selain Aria dan rasanya Charlotte tidak sanggup untuk menceritakan kesedihannya ini kepada Elliot.

Aria dengan sigap menghampiri Charlotte dan memeluk wanita itu dengan erat. Dia membiarkan Charlotte menangis sejadi – jadinya, karena paham bahwa mempunyai anak merupakan sebuah harapan yang selalu Charlotte miliki sejak lama.

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya tiga bulan sebelum ujian kelulusan mereka. Ada seorang pria yang menusuk perut Charlotte menggunakan pisau saat dia baru saja melangkah keluar dari gerbang sekolah. Pada saat itu, Aria bahkan bisa melihat sahabatnya bermandikan darah dan berbaring tidak berdaya di tanah.

Setelah insiden itu, sekolah menghubungi pihak kepolisian untuk menyelidiki pria tersebut. Namun, pihak kepolisian malah menyatakan sulit untuk menemukan pelaku karena pelaku menggunakan masker dan kacamata hitam sehingga wajahnya tak nampak dari CCTV.

Keluarga Baxter juga tidak mengusut lebih lanjut karena mereka merasa sia – sia menghabiskan waktu untuk menangani kasus seorang anak haram. Pada akhirnya, Charlotte tidak mendapatkan keadilan dan harus menanggung kondisi fisiknya yang sudah tidak lagi mempunyai rahim.

Charlotte juga berpikir lebih baik tidak perlu menikah daripada harus mengecewakan suaminya. Namun, ayahnya memaksa Charlotte untuk menikah dengan Elliot untuk menyelamatkan perusahaan keluarga mereka.

“Tidak apa – apa Charlotte, Tuhan pasti mempunyai rencana lain. Aku yakin kamu akan baik – baik saja.”

Bersambung… ISTRIKU BERKATA JUJUR

Setelah menangis selama beberapa menit, Charlotte akhirnya menjadi lebih tenang. Aria lekas meminumkan teh kepada Charlotte dan menepuk tangan wanita itu. “Kamu pasti sudah menderita sendirian begitu lama.”

Charlotte menyesap tehnya pelan – pelan, kemudian membalas. “Untungnya sekarang aku sudah keluar dari rumah Keluarga Baxter.”

Aria terkejut, “Kamu diusir?”

“Bukan begitu,” Charlotte tertawa kecil. “Aku sudah menikah sekarang, sehingga kini aku tinggal bersama suamiku.”

Bukannya merasa tenang, Aria malah semakin terkejut dan setengah berteriak. “Dengan siapa kamu menikah?! Bukankah namamu masih Baxter?!”

Charlotte, “Aku sengaja tetap menggunakan nama keluargaku untuk sementara karena ingin magang dengan nyaman.”

“Siapa suamimu?! Kenapa kamu harus menggunakan nama sendiri supaya lebih nyaman? Apa dia salah satu karyawan di LNG Corporation juga? Katakan namanya, aku janji akan merahasiakan hubungan kalian sampai mati!”

Walau Charlotte ingin merahasiakan hubungan pernikahannya dengan Elliot kepada karyawan kantor, dia tidak mampu merahasiakan kebenaran itu dari Aria. “Aku sudah menikah dengan Elliot.” Ceritasex.site

“E .. Elliot?” Aria meneguk ludahnya sendiri, “Elliot mana yang kau maksud?”

“Elliot Landegre,” jawab Charlotte.

“Bercanda, kamu pasti bercanda, kan? Apa Elliot Landegre yang kau maksud berbeda dengan Elliot Landegre yang aku pikirkan?”

Charlotte tertawa, “Elliot Landegre yang kumaksud adalah Elliot Landegre yang sedang kamu pikirkan. Aku dijodohkan dengan Elliot karena perusahaan keluargaku sempat mengalami krisis moneter.”

Sontak Aria menepuk kedua pipi Charlotte dan menatap wanita itu dengan pandangan takut. “Apa dia jahat kepadamu saat di rumah? Maksudku, kalian mungkin tidak menikah karena cinta sehingga dia malah kesal setiap kali melihat kamu. Charlotte, Charlotte ku yang malang, kamu bisa tinggal di rumahku untuk sementara apabila Tuan Landegre bersikap kasar kepadamu.”

“Jangan khawatir,” Charlotte tersenyum, “Elliot sangat baik kepadaku. Dia juga menyayangiku sebagai istrinya. Jika boleh jujur, Elliot telah membuat aku mengerti rasanya memiliki rumah yang hangat.”

Penuturan Charlotte membuat Aria merasa lega. Jika memang Elliot dapat membuat Charlotte bahagia, maka Aria juga akan bahagia dengan pernikahan mereka. Akan tetapi, Aria juga merasa takut kalau pernikahan mereka akan terhantam oleh badai suatu saat nanti.

Karena bagaimana pun juga, Elliot Landegre tidak pernah mempunyai citra yang baik di mata Aria. Pria itu memang sudah banyak berubah dan meninggalkan kehidupannya yang lama, tapi siapa yang bisa menjamin Elliot tidak akan kembali ke kehidupannya yang lama suatu saat nanti.

Meski khawatir, Aria sengaja tidak menyuarakan pendapatnya kepada Charlotte karena tidak ingin menghancurkan kebahagiaan sahabatnya itu.

“Aku turut bahagia mendengarnya. Charlotte, semoga pernikahan kalian bisa terus bertahan hingga kematian datang.”

Aria melirik ke arah jam dinding, baru sadar kalau Charlotte sudah berada di dalam kantornya selama hampir 30 menit. Dia memang sudag mewawancarai seluruh calon karyawan, tapi Aria masih mempunyai pekerjaan yang harus dia selesaikan.

“Charlotte, aku masih ada pekerjaan sekarang. Seniorku mungkin akan datang mengecek sebentar lagi, jadi sepertinya kamu harus pergi sekarang.”

Charlotte terkejut, “Ah? Tapi aku belum melakukan wawancara.”

Aria tertawa, “Jangan khawatir, sebelumnya aku sudah melihat portofolio para calon karyawan sebelum ini dan portofolio kamu adalah yang terbaik di antara yang lain. Jadi tanpa wawancara pun aku pasti akan memilih kamu.”

“Tetap saja aku merasa tidak enak,” kata Charlotte.

“Sesi wawancara sesungguhnya hanya formalitas belaka untuk mengetahui karakter dari calon karyawan yang melamar. Karena aku sudah sangat mengerti watak dan karaktermu, kita tidak perlu melakukan wawancara lagi.”

Setelah Aria berkata demikian, Charlotte tidak lagi merasa tidak enak karena takut dianggap lolos wawancara karena bantuan kerabat di perusahaan.

“Bagaimana bila kita makan siang bersama supaya bisa mengobrol lebih banyak?” tanya Aria.

Charlotte ingin menyetujui, tapi diurungkan karena ingat sesuatu. “Maaf, tapi sepertinya Elliot juga ingin mengajakku makan siang bersama. Mungkin kita bisa mengobrol lagi melalui ponsel saat kamu senggang.”

Aria, “Tidak masalah, nanti aku akan menghubungi kamu setelah pulang kerja.”

Charlotte akhirnya keluar dari kantor Aria setelah mengucapkan salam perpisahan. Ketika keluar, tiga calon karyawan sebelumnya sudah pergi dari tempat tunggu.

Namun Charlotte melihat ada pria lain yang duduk di kursi tunggu. Charlotte bisa menebak kalau pria itu adalah karyawan di perusahaan ini karena dia mengenakan name tag karyawan. Ketika Charlotte melangkah maju, pria itu segera berdiri dari kursinya dan tersenyum dengan ramah kepada Charlotte.

“Nyonya Landegre, jika Anda sudah selesai dengan wawancara Anda, saya akan mengantarkan Anda ke ruangan Tuan Landegre.”

Charlotte langsung menyadari identitas pria di hadapannya. “Anda Tuan Erland Davis?”

“Benar, saya Erland Davis, selaku sekretaris pribadi dari Tuan Elliot Landegre. Panggil saja saya Erland.”

“Tuan Davis lebih tua dari saya, jadi saya merasa tidak nyaman kalau memanggil nama.”

Erland tersanjung karena ternyata Charlotte memiliki tata krama yang baik, tidak seperti wanita – wanita angkuh yang biasanya sering berkeliaran di sekitar Elliot. Dia jadi berpikir bila Charlotte memang tepat untuk menjadi istri dari Keluarga Landegre.

“Kalau begitu, panggil saja saya dengan panggilan yang membuat Anda nyaman.”

Erland lantas mengantarkan Charlotte ke ruangan Elliot menggunakan elevator VIP. Ketika berada di dalam elevator, Charlotte mengingatkan Erland. “Tuan Davis, hubungan saya dengan Elliot masih dirahasiakan, jadi ada baiknya bila Anda memanggil saya dengan Baxter.”

“Saya mengerti, Nona Baxter,” kata Erland seraya mengangguk.

Selama berada di elevatoe, Erland tidak bisa berhenti memperhatikan Charlotte. Seperti yang pernah Elliot sebutkan, Charlotte mempunyai kesan yang hangat dan manis sehingga pakaian yang ia kenakan pun kebanyakan mempunyai warna teduh seperti cokelat muda atau warna muda lainnya.

Ting!

Pintu elevator terbuka, menampakkan pintu privat dari ruangan Elliot. Ketika Charlotte memasuki ruangan, dia melihat Elliot tengah sibuk menyusun berkas – berkas yang berceceran di atas meja. Sepertinya dia sesibuk itu karena rapat laporan akhir perusahaan akan diselenggarakan tiga hari lagi.

“Elliot, kamu sedang sibuk?”

Elliot mengangkat kepalanya sebentar dan menyempatkan diri untuk tersenyum. “Duduk saja dulu di sofa, masih ada beberapa laporan yang harus cek.”

Charlotte, “Jika kamu memang sibuk, aku bisa pulang dan menunggu kamu di rumah.”

“Jangan! Aku sudah memesankan makan siang untukmu, Charlotte sama sekali tidak menganggu.”

Karena tidak mau mengganggu Elliot lebih lanjut, Charlotte akhirnya duduk di sofa dan menunggu Elliot.

“Erland, ada empat proyek pembangunan berjalan sesuai dengan perkiraan jadwal. Tapi kenapa proyek Mall Uptown lebih lambat tiga minggu dari jadwal? Bukankah seluruh divisi di proyek ini cukup baik?”

Erland, “Kemarin manajer lapangan dari Mall Uptown menghubungi, katanya musim dingin di daerah pembangunan sedang ekstrim sehingga membekukan kabel listrik dan membuat listrik terganggu untuk sementara. Karena itu, alat – alat pembangunan yang membutuhkan tenaga listrik jadi tidak bisa digunakan.”

“Berapa estimasi listriknya dapat lancar kembali?”

“Perkiraannya minggu depan, Sir.”

Elliot mengetukkan jarinya ke meja, satu proyek yang terkendala ini bisa digunakan oleh Johan untuk menyerang Elliot di rapat akhir tahun nanti. Saudara tirinya itu memang selalu mencari – cari kesalahan sekecil apapun dari Elliot dan akan membahasnya seolah – olah Elliot telah membuat kesalahan besar.

“Beritahu manajer lapangan untuk mengirimkan foto buktinya nanti. Lalu, peringatkan para pekerja di proyek Mall Uptown untuk tetap mengerjakan pekerjaan yang tak membutuhkan listrik sehingga jadwalnya tidak mundur lebih jauh lagi.”

“Saya mengerti, Sir.”

Ketika sudah mendekati tengah hari, Elliot memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dia merenggangkan otot – ototnya yang kaku dan berjalan menghampiri Charlotte.

“Charlotte … aku lelah,” Elliot merebahkan dirinya ke pangkuan Charlotte. Setelah lama memandang layar laptop dan kertas terus – menerus, mata Elliot terasa sakit. Dia juga merasa punggungnya terasa sangat pegal akibat duduk terlalu lama selama beberapa hari belakangan.

Charlotte meletakkan ponsel yang ia pegang ke atas meja, kemudian menepuk bagian belakang kepala Elliot. “Apa terkendalanya proyek Mall Uptown tadi bisa membuatmu kesulitan di rapat akhir tahun nanti?” Ngocoks.com

“Mhm, Johan pasti membuatku tampak buruk di rapat akhir tahun nanti. Jika aku tidak mendapatkan peringkat yang bagus, bisa – bisa Departemen Infrastruktur III akan selalu diambil alih oleh Johan. Bahkan sekarang aku tidak bisa menambah proyek karena otoritas utama dipegang oleh Johan dan dia tidak pernah mau memberikan tanda tangannya hingga sekarang.”

Charlotte, “Sebelum Johan membeberkan kesalahanmu. Kamu bisa memberitahu kesalahanmu lebih dahulu ke hadapan dewan direksi.”

Elliot membalikkan tubuhnya sehingga menghadap ke arah Charlotte. “Memangnya ada perbedaannya?”

“Tentu ada,” Charlotte berkata, “Jika kamu sendiri yang melaporkan kesalahan yang kamu lakukan, kamu bisa langsung menjabarkan masalah yang sedang di hadapi beserta solusi akhirnya. Di mata jajaran direksi, kamu tidak akan terlihat dipermalukan, tetapi malah tampak sangat memperhatikan pekerjaanmu dengan baik.”

“Charlotte! Kamu jenius! Aku bahkan tidak sempat memikirkan hal itu.”

Charlotte tertawa, “Kamu hanya sedang merasa tertekan sehingga tidak bisa berpikir jernih.”

Elliot akhirnya bangkit untuk duduk di sebelah Charlotte. “Bagaimana wawancaramu? Apa berjalan dengan baik?”

Charlotte mengangguk senang. “Ternyata HRD yang mewawancaraiku adalah sahabat lamaku. Jadi, aku bisa melakukan wawancara dengan baik.”

Elliot hendak mengatakan sesuatu, tapi berhenti tatkala melihat mata Charlotte terlihat agak bengkak dan memerah. “Charlotte, kamu habis menangis?”

Charlotte terkejut karena Elliot bisa menyadari hal seperti itu. Belum sempat Charlotte mengatakan sesuatu, Elliot sudah menatapnya dengan serius. “Apa ada yang mengganggu kamu tadi? Katakan siapa orangnya? Aku pasti akan memukulnya karena sudah membuat kamu menangis!”

Bersambung… ISTRIKU MENGINGINKAN ANAK

Charlotte buru – buru menenangkan Elliot, “Tidak ada yang menggangguku! Kamu salah paham!”

“Bohong, kalau tidak ada yang mengganggumu, kenapa kamu menangis?”

Charlotte akhirnya terdiam, merasa enggan untuk menceritakan masalah yang menimpanya kepada Elliot. Dia hanya tidak mau menambah beban masalah Elliot dengan membagi keluh kesahnya selama ini.

“Charlotte, katakan kepadaku ada apa,” Elliot menahan kepala Charlotte sehingga wanita itu tidak dapat mengalihkan pandangannya. “Aku akan terus bertanya sampai kamu mengatakannya.”

Elliot menatap Charlotte dengan lekat, membuat wanita itu semakin tidak nyaman. Pada akhirnya, Charlotte menghela napas dan memutuskan untuk memberitahu Elliot kejadian di ruangan Aria.

“Ketika bertemu dengan Aria, aku dan dia sempat membicarakan masa lalu. Ingatan itu terlalu emosional buatku, sehingga aku menangis bersama Aria.”

“Elliot, aku tidak mau menambah beban pikiranmu. Jadi, aku ragu untuk menceritakan masa laluku sekarang,” tambah Charlotte.

Tatapan mata Elliot melembut, “Charlotte, berapa kali harus kukatakan, kamu bukanlah beban dan aku sama sekali tidak terganggu meski kamu membagikan seluruh keluh kesah kamu kepadaku. Aku malah lebih senang apabila kamu bisa terbuka denganku alih – alih lebih terbuka dengan orang lain.”

Sesungguhnya, Elliot tidak mengetahui apa – apa tentang Charlotte karena memang Charlotte jarang membuka diri dan berbagi cerita. Ketika tahu Charlotte bisa menangis di hadapan Aria, Elliot baru sadar kalau Charlotte mungkin masih tidak nyaman bercerita dengan Elliot.

Mereka masih mempunyai jarak tersendiri dan hal itu sangat mengganggu Elliot.

“Charlotte, aku harap kamu lebih mempercayai aku sebagai suami kamu.”

Ucapan Elliot langsung menyadarkan Charlotte. Mereka sekarang sudah menikah, sudah sepatutnya saling berbagi kebahagiaan dan penderitaan bersama. Bila Charlotte selalu menyembunyikan penderitaannya sendirian, maka dia tidak dapat disebut sebagai istri yang baik.

“Elliot, tadi aku bercerita tentang insiden di masa lalu yang membuat aku tidak lagi mempunyai rahim.”

Charlotte menundukkan kepalanya, rasanya terlalu berat untuk menceritakan kisah tentang ketidakmampuannya dalam mengandung anak kepada suaminya sendiri. Perlahan cerita itu mengalir begitu saja dari mulut Charlotte, hatinya kembali terasa sakit dan intonasi suaranya semakin melemah seiring cerita.

Tatkala Charlotte kembali menangis, Elliot segera menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Dia tidak lagi meminta Charlotte untuk bercerita karena tidak mau menyakiti hati istrinya lebih dalam. Ketika berada di dalam rengkuhan Elliot, Charlotte merasa pelukan itu lebih hangat dan menenangkan dibanding dengan pelukan Aria.

Bagi Charlotte, pelukan hangat yang diberikan oleh Elliot membuatnya merasa begitu aman, seolah wanita itu tidak akan merasa sakit selama dia berada di dalam rengkuhan Elliot.

“Charlotte, apa kamu enggan bercerita kepadaku karena takut membuatku kecewa?”

Charlotte mengusapkan air matanya ke kemeja Elliot, lalu menjawab. “Walau kamu pernah bilang kalau kamu tidak perduli bisa mempunyai anak atau tidak. Aku tetap saja merasa gagal sebagai istri karena tidak mampu mengandung anak.”

“Charlotte! Berhenti berkata seperti itu! Nilaimu sebagai seorang istri tidak akan pernah turun di mataku meski kamu tidak bisa mengandung anak.”

“Tapi tanpa anak kehidupan rumah tangga kita tidak akan lengkap,” balas Charlotte.

“Pemikiranmu itu keliru, Charlotte. Rumah tangga itu sudah lengkap asalkan ada suami dan istri, sedangkan anak hanyalah sebuah tambahan. Jadi dengan atau tanpa anak seharusnya sebuah rumah tangga tetap lengkap,” jelas Elliot.

Elliot mencium kening Charlotte sebelum berbisik. “Selama kita selalu bersama, rumah tangga kita tidak akan pernah terasa kurang.”

Charlotte tidak mengatakan apapun, tetapi dia mengeratkan pelukannya kepada Elliot seakan sedang mencari tempat perlindungan. Namun Charlotte terlonjak tatkala mendengar Elliot yang tiba – tiba berkata, “Asal kamu tahu, kita tetap bisa memiliki anak kandung selama kamu masih mempunyai sel telur.”

“Bagaimana mungkin? Tanpa rahim, aku tidak akan bisa membuahi janin.”

Elliot tertawa, kemudian memperlihatkan hasil pencarian ponselnya pada Charlotte. “Kita bisa menggunakan metode IVF untuk melakukan pembuahan di luar rahim, kemudian embrio tersebut akan diletakkan di dalam rahim ibu pengganti sampai dia melahirkan. Cara seperti ini sudah banyak dilakukan oleh pasangan yang juga kesulitan melakukan pembuahan embrio secara tradisional. Kalau kamu mau, kita bisa—”

“Aku mau!” Charlotte menarik kemeja Elliot sampai pria itu harus menunduk. “Aku ingin melakukan itu, Elliot.”

Elliot segera memulihkan keterkejutannya dari tindakan reflek Charlotte, kemudian memberi pengertian kepada Charlotte. “Baiklah, kita bisa melakukan itu. Tapi kita tidak bisa melakukannya sekarang, kamu masih kuliah dan akan kerepotan apabila harus menjalani operasi pengambilan sel telur. Lebih baik kita melakukannya setelah kamu lulus kuliah, saat itu juga usiamu sudah cukup dewasa untuk mengurus anak bayi.”

“Aku pernah menjadi baby sitter saat masih sekolah, jadi seharusnya aku mampu mengurus bayi,” kata Charlotte, berusaha meyakinkan Elliot bahwa dia siap untuk mempunyai bayi di usia sekarang.

“Saat menjadi baby sitter kamu hanya mengurus bayi selama beberapa jam, tapi saat kamu menjadi seorang ibu, kamu akan mengurus bayi sampai dia beranjak dewasa. Tidak hanya mengurus, kita pun harus mendidiknya baik secara pengetahuan ataupun moralitas. Jadi lebih baik mengurus bayi saat kamu sudah lebih dewasa, oke?”

Charlotte menekuk wajahnya, perkataan Elliot memang ada benarnya namun tetap saja Charlotte merasa sedikit kesal karena harus menunggu lebih lama lagi. “Baiklah.”

Melihat istrinya menampakkan ekspresi kesal, Elliot segera mencubit pipi Charlotte. “Lihat ini, kamu masih suka merajuk tapi sudah ingin mempunyai anak. Jika anakmu cemberut, apa kamu juga akan cemberut bersamanya?”

Charlotte menggerutu, “Aku tidak merajuk!”

Elliot melepaskan tawa, merasa senang karena akhirnya Charlotte bisa lebih mengekspresikan dirinya di hadapan Elliot meski dengan merajuk.

Karena tidak tahan, akhirnya Elliot mencium pipi Charlotte beberapa kali akibat gemas. Membuat senyuman Charlotte berangsur – angsur muncul karena merasa geli.

“Berhenti, nanti bedakku bisa luntur,” kata Charlotte seraya tertawa.

“Bagaimana kalau aku merusak liptickmu saja?”

Bahkan tanpa menunggu jawaban Charlotte, Elliot sudah lebih dahulu menempelkan bibir mereka berdua. Aroma lipstik Charlotte yang berbau seperti kue menguar ke dalam rongga hidung Elliot, membuat pria itu berpikir tengah menyantap kue alih – alih bibir Charlotte.

Perlahan Elliot menjilat bibir Charlotte dan melesakkan lidahnya ke dalam rongga mulut Charlotte. Suhu tubuh mereka memanas sehingga Elliot melepaskan dasi yang melekat di kemejanya. Ceritasex.site

Tangan Elliot juga dengan cekatan melepas blazzer milik Charlotte dan berusaha melepaskan kancing pada bagian kerah istrinya. Namun gerakan tangannya terhenti tatkala mendengar suara ketukan pintu.

“Tuan, pesanan makan siang Anda sudah datang,” kata Erland dari luar ruangan.

Elliot mendecih, kemudian mengusap noda lipstik yang berantakan di sekitar bibir Charlotte. “Ya, masuklah.”

Elliot sengaja memesan makanan ke dalam kantor agar mereka tidak perlu makan di luar dan dilihat oleh beberapa karyawan. Setelah makanan diletakkan di meja, mereka segera menyantapnya bersama. Namun sepertinya Charlotte sedang tidak berselera makan hari ini karena habis menangis. Dia hanya makan setengah dari makanannya, kemudian meletakkan alat makannya ke pinggir.

“Kenapa tidak dihabiskan? Rasanya tidak enak?”

Charlotte, “Aku hanya sedang tidak berselera.”

Sejak dahulu Charlotte memang sering tidak berselera makan ketika suasana hatinya sedang kacau, oleh karena itu dia selalu mempunyai tubuh kurus sebelum menikah dengan Elliot.

“Jangan seperti itu, kamu bisa sakit kalau hanya makan sedikit,” Elliot mengarahkan sesendok makanan ke depan mulut Charlotte, tapi Charlotte mendorong sendok itu perlahan. “Aku benar – benar tidak mau makan lagi.”

Elliot menghela napas, lalu mengambil roti bagel dengan krim serta blueberry di atasnya. “Bagaimana jika makan sesuatu yang manis?”

Charlotte berpikir sejenak dan memutuskan untuk memakan snack manis saja daripada menghabiskan makanan utama.

“Habiskan snacknya.”

“Mhm,” Charlotte kemudian bertanya, “Kamu akan pulang jam berapa?”

“Hari ini sepertinya akan pulang malam. Kamu tidak perlu menungguku, setelah makan siang pulang saja terlebih dahulu.”

Charlotte sedikit kecewa karena mereka tidak bisa makan malam bersama, tapi dia berusaha mengerti. “Kapan aku bisa mulai magang?”

“Sesuka hati kamu.”

“Elliot, aku serius,” kesal Charlotte.

Elliot tertawa, kemudian mengelus rambut Charlotte. “Nanti malam HRD akan menghubungi kamu, jadi besok kamu boleh langsung masuk.”

Ketika mendengar hal itu, Charlotte mulai gugup. “Apa saja yang harus kupersiapkan untuk besok?”

“Tidak perlu menyiapkan apa – apa, kamu hanya harus datang. Nanti akan ada karyawan senior yang membimbing kamu.”

“Charlotte, jika ada yang bersikap tidak baik kepadamu, kamu harus segera beritahu aku,” lanjut Elliot.

Charlotte mengangguk, kemudian tersenyum, “Aku akan melaporkan kegiatanku setiap hari.”

Ketika jam makan siang berakhir, Charlotte memutuskan untuk pulang ke rumah karena tidak mau mengganggu Elliot yang sedang bekerja.

Begitu Charlotte menutup pintu, Elliot segera berbicara serius dengan Erland. “Erland, apa kasus kekerasan yang sudah ditutup beberapa tahun lalu bisa diusut lagi?”

Erland, “Tentu bisa, kita bisa mengajukan penyidikan ulang kepada pihak kepolisian.”

“Jangan libatkan polisi,” Elliot berkata, “Sewa saja detektif swasta dan usut secara tuntas. Aku ingin mereka menyelidiki dalang dari insiden penusukan Charlotte beberapa tahun silam.”

Jika Elliot melibatkan polisi, pihak kepolisian pasti akan mengadu kepada Keluarga Baxter dan Elliot tidak mau berurusan dengan Keluarga Baxter yang kerap memperlakukan Charlotte dengan buruk.

Erland mengangguk, “Akan segera saya lakukan.”

Elliot bersumpah, dia tidak akan membiarkan orang – orang yang pernah menyakiti Charlotte hidup dengan tenang.

Bersambung… ISTRIKU MULAI BEKERJA

Keesokan harinya, Charlotte mendapatkan panggilan untuk memulai magangnya. Wanita itu dengan senang hati bangun lebih pagi dan berangkat ke perusahaan sebelum Elliot pergi. Dia hanya tidak mau terlambat di hari pertama bekerja dan memberikan kesan buruk kepada para senior.

Karyawan di Departemen Infrastruktur III menempati 2 lantai gedung kantor, yaitu lantai 14 dan 15. Kebetulan divisi konsultan arsitek berada di lantai 15 sehingga Charlotte bisa melihat ruangan Elliot yang terletak di paling pinggir ruangan. Ruangan tersebut ditutupi oleh jendela – jendela kaca, sehingga Charlotte bisa melihat orang yang ada di dalamnya selama Elliot membuka kisi penutup jendela.

Biasanya, Elliot tidak pernah membuka kisi penutup karena tidak suka diperhatikan oleh orang lain. Namun hari ini berbeda, para karyawan melihat Elliot datang dan membuka kisi penutup. Dia tersenyum tatkala para karyawannya memperhatikan dia, meski sesungguhnya Elliot sedang tersenyum kepada Charlotte yang berdiri di samping meja senior dan menunggu instruksi.

Saat melihat Charlotte ikut tersenyum kepadanya, hati Elliot menghangat, dia merasa senang karena bisa melihat istrinya meski sedang bekerja.

Elliot memandangi Charlotte selama beberapa detik, kemudian duduk di mejanya dan menyalakan komputer seperti biasa.

Senior wanita yang duduk di hadapan Charlotte akhirnya berdiri dari kursinya setelah memilah – milah kertas kerja. Dia tersenyum ramah kepada Charlotte dan mulai memperkenalkan diri. “Sebelum membicarakan pekerjaan, mari berkenalan dahulu. Namaku Sean Thompson, aku baru bekerja di sini selama dua tahun, jadi kamu tidak perlu terlalu formal kepadaku karena sepertinya usia kita juga tidak jauh.”

“Selama magang, aku yang akan menjadi pembina kamu. Kalau ada hal yang tidak kamu mengerti terkait pekerjaan, jangan ragu untuk bertanya kepadaku.”

Charlotte turut memberikan senyuman manis, lalu memperkenalkan diri. “Namaku Charlotte Baxter, aku harap senior tidak akan lelah membimbingku.”

Sean tertawa, “Omong kosong, aku sudah mendapatkan rekap nilai kuliah dan portofoliomu dari HRD. Kamu mempunyai GPA yang hampir sempurna di setiap semesternya, jadi kurasa kamu bukanlah orang yang lambat.”

Kesan Charlotte terhadap Sean semakin baik. Intonasi suara dari Sean selalu terdengar halus dan tidak sombong, pertanda bila dia bukanlah seorang senior yang senang menindas juniornya. Wanita dengan rambut sepundak itu juga selalu tersenyum ramah kepada Charlotte setiap kali berbicara.

“Sean, apa dia karyawan magang baru?” tanya seorang pria yang baru saja datang. Pria itu terlihat lebih tua dari Sean, mungkin usianya sepantaran dengan Elliot.

“Ya, namanya Charlotte Baxter,” Sean menoleh ke Charlotte. “Charlotte, perkenalkan ini adalah Tuan Benedict Cooper. Dia sudah bekerja di sini selama kurang lebih 5 tahun.”

Benedict mendekati Charlotte, lalu memperhatikan wanita itu dari atas ke bawah, menatap Charlotte seolah wanita itu merupakan barang antik yang indah. “Kamu bisa memanggilku Ben jika ingin. Hmm … sepertinya kita punya tambahan bunga di divisi ini.”

Ungkapan seperti itu seringkali dilontarkan para karyawan pria kepada karyawan wanita, terutama kepada wanita cantik. Mereka kerap kali dipanggil sebagai ‘Bunga’ yang tumbuh di padang rumput, atau bisa di artikan sebagai wanita cantik yang berdiri di antara pria.

Di dalam divisi konsultan, setidaknya ada 40 karyawan yang terdiri atas 34 pria dan 6 wanita. Jadi wajar saja bila para pria di divisi ini selalu senang apabila ada tambahan wanita yang bisa menyegarkan mata mereka.

“Ben, jangan mengganggu anak baru! Bukankah kamu juga menjadi pembimbing anak magang yang lain?” seru seorang karyawan wanita yang duduk tidak jauh dari mereka.

Benedict menghela napas, “Anak magang di bawah bimbinganku juga pria, pasti merepotkan. Sean, tidak bisakah kita bertukar?”

Sean menanggapi dengan senyuman sopan. “Pengaturan ini di buat oleh Tuan Elliot. Kalau mau bertukar, senior harus berbicara dengannya.”

“Lupakan,” Benedict berkata, “Tuan Elliot mungkin akan melihatku sebagai karyawan yang pilih – pilih rekan kerja.”

Setelah menggoda Charlotte beberapa kali, Benedict akhirnya pergi meninggalkan mereka dan duduk di kursinya sendiri. Sean menghela napas lelah, tampaknya sudah menduga bila Charlotte akan menarik banyak lebah jantan untuk datang. “Maaf, terkadang memang ada beberapa karyawan pria yang senang menggoda karyawan baru. Setelah bekerja satu atau dua minggu, mereka pasti akan melupakanmu. Segera laporkan saja kepadaku kalau ada karyawan pria yang mengganggu kamu.”

Charlotte mengangguk paham, meski sejujurnya juga tidak begitu khawatir karena Elliot sedari tadi terus memperhatikannya dari kejauhan. Jika ada karyawan pria yang mengganggunya, mungkin Elliot akan langsung mendobrak pintu ruangannya dan berlari ke tempat Charlotte.

“Karena ini hari pertama kamu bekerja, aku tidak akan memberikanmu terlalu banyak pekerjaan.”

Sean lantas memberikan Charlotte lima lembar gambar kerja yang masih menggunakan coretan tangan. “Ubah sketsa ini menjadi gambar For Con menggunakan Autocad. Kamu bisa menggunakan komputer yang ada di sebelah Leonard.”

Sean menunjuk ke arah sebuah meja kosong di samping seorang pria bernama Leonard. Diam – diam Charlotte menghela napas lega saat melihat Leonard tidak menatapnya dengan tatapan menggoda seperti Benedict.

“Nanti kirimkan ke emailku jika sudah selesai,” Sean menuliskan alamat emailnya di secarik kertas note, lalu menyerahkannya kepada Charlotte.

Charlotte mengangguk, “Aku mengerti.”

Ketika Charlotte baru saja menyalakan komputer, seorang pria yang terlihat familier datang dengan tergesa – gesa. Mungkin karena dia telat beberapa menit, dia jadi berlari dan terlihat agak berantakan.

Sean yang berada di dekat pria itu menunduk untuk melihat name tag pria itu. “Kamu anak magang baru juga? Namamu Morgan Peterson?”

Morgan mengangguk cepat. “Maaf, saya terlambat. Di jalan ada kemacetan parah, makanya bus saya terkendala.”

Sean tidak begitu menanggapi alasannya, lalu berbalik untuk menghadap Benedict. “Tuan Cooper, sepertinya ini adalah anak magang Anda.”

Tatkala Morgan berjalan menuju meja Benedict, Charlotte baru sadar kalau pria itu adalah pria yang mengobrol dengannya di depan ruangan HRD kemarin. Morgan juga tampak terkejut saat melihat Charlotte sudah duduk di meja kerja.

Tiba – tiba saja Morgan berpikir sepertinya dia terlalu meremehkan kemampuan Charlotte kemarin.

*****

Meski berkata tidak akan memberikan banyak pekerjaan di hari pertama. Sesungguhnya pekerjaan yang diberikan oleh Sean cukup banyak. Gambar sketsa yang diberikan pun juga tidak begitu jelas, sehingga Charlotte harus beberapa kali bertanya kepada Sean agar tidak salah memahami gambar.

Beruntung Sean merupakan orang yang sabar, sehingga dia tidak marah walau Charlotte terus bolak – balik ke mejanya untuk bertanya. Akan tetapi, terkadang ada beberapa karyawan yang menganggap Charlotte sebagai seseorang yang bodoh karena terus bertanya.

“Senior, maaf karena menyusahkanmu,” bisik Charlotte.

Berbeda dengan Charlotte, Morgan mengerjakan tugasnya dengan lebih tenang. Dia hanya bertanya sesekali dan mampu memahami gambar lebih baik dari Charlotte. Pemandangan ini membuat keduanya tampak kontras, bahkan Morgan mulai bertanya – tanya kenapa Charlotte bisa diterima sedangkan temannya tidak.

Sean menjawab dengan lembut, “Jangan khawatirkan tatapan karyawan lain. Ketika masih baru, mereka semua juga lamban.”

Ucapan Sean berhasil menyejukkan hati Charlotte. Dia tidak lagi merasa begitu tertekan dan bisa menegakkan kepalanya. Ceritasex.site

“Kamu kesulitan membaca gambar karena memang sketsanya tidak terlalu jelas. Aku juga beberapa kali perlu mengkonfirmasi gambar ke Arsitek yang bersangkutan. Haruskah aku merubah tugasmu ke tugas yang lebih ringan?”

Charlotte menggeleng cepat, “Tidak, aku bisa mengerjakannya. Aku hanya perlu mengkonfirmasi beberapa hal lagi, setelah itu aku sudah bisa memproyeksikan gambarnya dengan jelas.”

Sean tersenyum, tangannya menegaskan beberapa garis di atas kertas sketsa. “Ikuti saja garis yang kutebalkan. Kamu tidak perlu takut salah, nanti aku akan mengoreksinya terlebih dahulu sebelum kuserahkan kepada ketua divisi.”

Usai mendapatkan gambar sketsa yang lebih jelas, Charlotte mulai bekerja dengan serius. Matanya begitu fokus ke layar komputer sampai jarang berkedip. Kedua tangannya sibuk mengoperasikan mouse dan keyboard secara bersamaan, berusaha bekerja secepat dan seefisien mungkin.

Drtt… Drtt ..

Charlotte melirik ke arah ponselnya yang bergetar di atas meja. Layar ponsel lantas menampilkan sebuah pesan singkat dari seseorang yang kini duduk di ruangan lain.

[Semangat! Beritahu aku jika ada yang menindas kamu.]

Charlotte tersenyum saat membacanya, lalu dia dengan cepat memberikan balasan.

[Tidak ada yang menindasku.]

Elliot: [Kamu ingin makan siang apa?]

Charlotte tertawa kecil, jam makan siang bahkan masih empat jam lagi. Namun Elliot sudah bertanya dengan antusias. Meki merasa itu lucu, Charlotte tetap memberikannya sederetan menu.

[Pasta dan Croffle. Aku juga mau Ice Green Tea Latte.]

Setelah itu tidak ada balasan lagi dari Elliot, Charlotte berpikir mungkin pria itu sudah kembali bekerja. Tapi baru saja Charlotte menaruh ponselnya, Elliot sudah mengirimkannya pesan lagi. Kali ini ada pesan berupa screenshoot delivery yang akan datang nanti siang.

[Doned.]

*****

Begitu jam makan siang datang, Charlotte buru – buru turun bersama para senior ke bawah. Namun, dia tidak ikut sampai ke lantai dasar dengan alasan ingin pergi ke toilet terlebih dahulu. Setelah para senior pergi, Charlotte segera naik lagi menggunakan elevator VIP, kali ini Charlotte tidak perlu dijemput oleh Erland karena Elliot memberikan dia kartu pass miliknya kepada Charlotte.

Ketika Charlotte datang, dia melihat Elliot menutup tirai jendela. Makanan yang sebelumnya dipesan sudah diletakkan di atas meja, masih tampak hangat dan juga lezat. Tapi pandangan Charlotte langsung beralih ke minuman dingin yang berembun. Tanpa mengatakan apa – apa, Charlotte lekas meminum Green Tea Latte yang dia inginkan sejak tadi. Minuman dingin yang menyegarkan itu pun akhirnya masuk ke tenggorokan Charlotte dan turut mendinginkan kepala Charlotte.

Elliot tertawa saat melihat Charlotte sudah minum hampir setengahnya. “Pelan – pelan, memangnya kamu tidak minum sejak pagi?”

Charlotte menghembuskan napas setelah minum. “Aku sangat takut membuat kesalahan tadi, sehingga tidak punya pikiran untuk minum.”

Elliot membuka laci meja kerjanya, kemudian mengambil sebotol air mineral dan memberikannya kepada Charlotte. “Minum air mineral juga supaya lambungmu tidak sakit.”

Charlotte mengangguk patuh dan langsung meminum air mineral tersebut.

“Apa pembimbing yang kupilihkan untukmu tidak baik sampai kamu tertekan?”

“Tidak! Senior Sean sangat baik kepadaku, dia juga selalu menjelaskan detail pekerjaan dengan sabar. Aku tertekan karena berpikir tidak akan bisa memenuhi ekspektasi mereka.”

“Kenapa kamu perlu memenuhi ekspektasi mereka?” tanya Elliot.

“Karena mereka seniorku.”

“Tapi yang memberi penilaian kerja akhir adalah aku. Jadi, kenapa kamu harus memperdulikan ekspektasi mereka?”

Pertanyaan Elliot membuat Charlotte tertegun. Kenapa dia ingin memenuhi ekspektasi para seniornya?

Karena takut akan dipecat? Tapi yang bisa memecatnya hanya Elliot.

Takut dinilai buruk? Tapi Elliot yang akan menilai kinerjanya setiap bulan.

Jadi, kenapa dia harus takut kepada senior – seniornya?

Charlotte menggigit bibirnya. “Kalau begitu, aku takut tidak bisa memenuhi ekspektasi kamu.”

“Apa yang perlu kamu takutkan? Walau kamu istriku, aku tidak pernah merekrut karyawan sembarangan. Kalau kamu sudah ada di sini, artinya aku mengakui kemampuanmu. Jadi tidak perlu takut dianggap buruk.”

“Tapi aku bekerja dengan lamban tadi, bahkan terus bertanya kepada Senior Sean.”

Elliot menepuk kepala Charlotte dan berkata dengan lembut. “Kamu tidak bisa langsung mahir saat baru bekerja kurang dari sehari. Segalanya membutuhkan proses, saat ini kamu masih menyesuaikan diri, setelah beberapa minggu kemudian pasti mampu bekerja dengan lebih baik. Tenang saja, kamu itu sedang magang dan belajar, jadi jangan takut membuat kesalahan.”

“Ayo makan dulu agar pikiranmu tidak lagi kacau dan bisa bekerja dengan baik.”

Bersambung… SUAMI INGIN BERLIBUR

Tatkala jam makan siang selesai, Charlotte kembali ke meja kerjanya dengan suasana hati yang lebih baik. Pada akhirnya, dia mengabaikan tatapan orang lain dan hanya fokus dengan pekerjaannya saja.

Pada pukul lima sore, hampir seluruh karyawan telah bersiap – siap untuk pulang. Sean berjalan menuju meja kerja Charlotte, kemudian memperhatikan Charlotte yang masih berkutat dengan pekerjaannya meski hari sudah sore.

“Charlotte, kamu bisa pulang sekarang,”

Charlotte mengangkat kepalanya dan tersenyum. “Aku akan pulang setelah kerjaanku selesai.”

Sean mengerutkan keningnya, “Jangan memaksakan diri, lanjutkan saja besok jika belum selesai. Tuan Elliot tidak senang bila ada karyawan yang pulang terlambat.”

“Jangan khawatir, Senior. Aku hanya perlu menambahkan beberapa hal, mungkin akan pulang lima belas menit lagi.”

“Baiklah, pokoknya kamu harus cepat pulang. Aku tidak mau dikira menindas anak magang karena membiarkanmu pulang larut.”

Charlotte mengangguk, “Aku pasti akan cepat pulang.”

Setelah mengucapkan salam perpisahan, Sean pulang terlebih dahulu bersama karyawan lain. Dalam waktu beberapa menit, ruang kantor sudah kosong sepenuhnya, beberapa karyawan yang ingin lembur juga turun sebentar untuk membeli makan malam.

Sesungguhnya Charlotte sengaja pulang paling terakhir supaya bisa masuk ke ruangan Elliot tanpa perlu melalui pintu belakang.

Dengan cepat Charlotte membereskan barang – barangnya di meja dan mematikan komputer. Lalu dia berjalan ke ruangan Elliot dan masuk tanpa mengetuk pintu.

Elliot baru saja ingin marah saat mendengar suara pintu terbuka tanpa ketukan. Namun amarahnya langsung ditekan tatkala melihat Charlotte yang masuk ke dalam ruangan.

“Elliot, apa kamu akan pulang larut?”

“Kurasa tidak, semua pekerjaanku sudah selesai, aku hanya perlu membuat Power Point untuk presentasi besok. Mungkin akan pulang jam 7 malam.”

Charlotte melangkah masuk, kali ini dia tidak duduk di sofa tamu, melainkan di kursi yang berada di hadapan meja Elliot. “Kalau begitu, mari pulang bersama.”

“Jangan menungguku,” Elliot berbicara tanpa melihat Charlotte. “Lebih baik pulang dan istirahat.”

Charlotte tidak menanggapi ucapan Elliot selama beberapa saat. Dia meletakkan sikunya di atas meja dan menumpukkan kepalanya ke telapak tangannya. Charlotte lantas memperhatikan wajah Elliot dari samping, mata Elliot mengarah lurus ke layar komputer sedangkan kedua tangannya bermain di atas keyboard.

Tanpa berpikir banyak, Charlotte berkata, “Kamu sangat sibuk bekerja akhir – akhir ini, aku jadi kesepian.”

Gerakan tangan Elliot seketika berhenti. Penuturan Charlotte itu terdengar seperti godaan untuk Elliot, membuat darahnya berdesir dan tak lagi berminat untuk melanjutkan pekerjaan.

“Aku mengabaikanmu?” tanya Elliot dengan khawatir.

“Kamu tidak mengabaikanku,” Charlotte mengetukkan jarinya ke atas meja, dia sedikit memalingkan wajahnya ketika berkata, “Hanya saja … kamu sudah jarang menyentuhku.

“Oh.”

“Oh?” Charlotte sedikit menekuk wajahnya saat mendengar balasan singkat Elliot, dia merasa bila suaminya itu tidak memperdulikan perkataannya dan membuat Charlotte berakhir malu.

Meski sebenarnya, Elliot bukan mengabaikannya, tapi terlalu bingung untuk menghadapi situasi seperti ini. Dia hanya bertanya – tanya di dalam hati, bukankah Charlotte yang dia kenal merupakan wanita yang begitu polos dan manis?

Tapi kenapa Charlotte seringkali menggoda Elliot di beberapa waktu.

Apa pikiran Charlotte sudah terkotori semenjak menikah dengan Elliot? Apa sesunggugnya Elliot merupakan pengaruh buruk untuk istrinya itu?

Elliot merasa bingung, tapi sesungguhnya juga merasa senang.

Pada akhirnya, Elliot tidak mampu lagi memikirkan pekerjaan karena ucapan Charlotte terus mengganggu benaknya.

“Kemarilah,” kata Elliot seraya merentangkan tangannya di hadapan Charlotte.

“Tidak bekerja lagi?” tanya Charlotte.

Elliot mendorong kursinya ke belakang, kemudian tersenyum kepada Charlotte. “Istriku bilang dia kekurangan kasih sayang, jadi aku akan menaruh lebih banyak perhatian kepada istriku sekarang.”

Charlotte tiba – tiba merasa bersalah. “Itu .. Itu hanya sekedar keluh kesah, bukan berarti kamu harus berhenti bekerja.”

“Tidak apa – apa, aku bisa melanjutkan pekerjaanku besok pagi sebelum rapat. Kemarilah, aku juga sepertinya kekurangan kasih sayang istriku.”

Tanpa membalas lagi, Charlotte segera berjalan memutari meja dan melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan Elliot. Elliot lantas mengangkat kaki Charlotte, sehingga istrinya kini duduk di atas pangkuannya.

“Sudah berapa lama kamu merindukanku?” tanya Elliot seraya mencium pipi Charlotte.

Charlotte, “Setiap hari aku merindukanmu. Kamu sering pulang malam akhir – akhir ini, kita jadi tidak bisa menghabiskan waktu bersama karena biasanya aku sudah tidur sebelum kamu pulang.”

Mungkin karena hidupnya terasa lebih nyaman sekarang, insomnia Charlotte perlahan berkurang sehingga dia tidur lebih cepat dari biasanya. Namun karena dia tak lagi tidur larut, Charlotte jadi kehilangan waktu untuk berbicara dengan Elliot di malam hari.

Elliot melingkarkan tangannya di pinggang ramping Charlotte dan menarik tubuh Charlotte supaya lebih dekat dengannya. “Aku juga merindukan Charlotte. Bagaimana bila setelah rapat akhir tahun ini aku mengajukan cuti sehingga kita bisa liburan bersama?”

“Tapi aku baru saja magang, mereka mungkin akan menganggapku malas karena sudah cuti di minggu pertama.”

Elliot berpikir sejenak, kemudian tersenyum saat mendapatkan sebuah ide. “Aku bisa bilang akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri dan ingin membawa satu anak magang supaya dia bisa belajar dengan lebih banyak dari Departemen Infrastruktur III.”

“Terdengar curang,” Charlotte tertawa kecil, “Tapi aku menyukainya.”

“Tempat apa yang ingin kamu datangi? Kita bisa memesan penginapan dari sekarang?”

“Aku tidak begitu yakin. Sebelumnya aku tidak pernah diperbolehkan untuk liburan jauh karena dianggap menghabiskan uang, jadi aku tidak banyak tahu tentang tempat – tempat liburan.” Ceritasex.site

Ketika tinggal bersama Keluarga Baxter, uang jajan Charlotte selalu terbatas dan keinginannya jarang dikabulkan oleh Ayahnya sendir. Hal ini karena Agnes Baxter selalu melarang suaminya untuk memberikan uang lebih kepada Charlotte.

Elliot mengelus kepala Charlotte dengan penuh kasih sayang, lalu berkata, “Bagaimana jika kita mengecek tempat – tempat liburan di internet lalu tentukan bersama?”

Charlotte mengangguk senang, “Terdengar bagus.”

Elliot lantas membuka situs internet di komputernya. Dia mengetikkan beberapa kata kunci yang berhubungan dengan tempat wisata. Matanya memperhatikan gambar – gambar yang tertera di layar, berusaha memilah tempat yang terlihat paling menarik.

Tatkala layar menunjukkan gambar dari resort yang ada di Pulau Maldives, Charlotte menghentikkan tangan Elliot dan berkata. “Tempat ini terlihat indah, di mana ini?”

“Namanya Pulau Maldives,” Elliot meng-klik gambar lain dari pulau tersebut, “Lihat, sangat cantik, kan?”

Charlotte memajukkan kepalanya ke arah layar, merasa kagum dengan pemandangan yang disuguhkan dari tempat wisata itu. Terdapat hamparan pasir putih yang berdampingan dengan lautan jernih berwarna kehijauan. Ketika siang hari, cahaya matahari akan dipantulkan oleh air laut sehingga permukaan laut terlihat berkilauan.

“Elliot, bisakah kita ke sini?” tanya Charlotte dengan antusias.

“Tentu saja bisa, mari kita lihat tanggal yang kosong dahulu.”

Elliot melihat – lihat beberapa resort yang terdapat di Pulau Maldives, sebelum akhirnya memilih sebuah resort bernama Saneva Jani yang terkenal akan kemewahannya. Resort tersebut menyuguhkan pemandangan langsung ke laut serta mempunyai kolam renang pribadi yang luas, sepertinya cocok untuk dijadikan tempat bulan madu.

Ketika Elliot hendak memilih tanggal, Charlotte menahan tangan Elliot lalu berkata. “Resort ini terlalu mahal, bukankah masih ada resort lain yang lebih murah?”

Setelah mendengar ucapan Charlotte, Elliot baru melihat harga yang tertera di bagian paling bawah website.

3000 $

Mahal untuk Charlotte, tapi biasa saja untuk Elliot.

“Oh, memangnya perlu melihat harga?”

Charlotte terkejut, “Kamu membeli sesuatu tanpa melihat harga?”

“Tidak,” Elliot berkata, “Jika bagus, maka aku akan membelinya.”

Kebiasaan seperti itu tentulah karena sedari kecil Elliot tidak pernah kekurangan apapun dan selalu membeli semua barang yang ia inginkan. Oleh karena itu, di kehidupan lalu Arthur Landegre seringkali marah kepada Elliot karena menghabiskan banyak uang tanpa bekerja keras.

Dan sepertinya kebiasaan itu tidak bisa dihilangkan sampai sekarang.

“Jangan mengkhawatirkan harga. Aku bekerja keras tentu untuk membahagiakan istriku, jadi bolehkan aku memesannya?”

Charlotte merasa hatinya agak enggan karena melihat harga yang tertera di layar, tapi jika Elliot tidak keberatan maka dia juga tidak perlu menolak. “Hmm … baiklah.”

Akhirnya Elliot menyewa resort tersebut selama lima hari. Dia berpikir sepertinya mereka membutuhkan banyak waktu untuk dihabiskan berdua sebelum kembali ke dunia kerja.

“Senang?” tanya Elliot seraya mendongakkan kepalanya ke atas supaya bisa melihat wajah Charlotte yang lebih tinggi darinya, karena sedang berada di atas pangkuan Elliot.

Charlotte melingkarkan tangannya di belakang leher Elliot, kemudian meletakkan wajahnya di ceruk leher Elliot. “Senang.”

Tangan Elliot yang sedari tadi ada di atas mouse kini berpindah ke atas lutut Charlotte. Jemarinya yang panjang mulai menelusup masuk ke dalam rok Charlotte sehingga bisa merasakan kulit paha Charlotte secara langsung.

“Elliot! Tanganmu,” Charlotte menarik wajahnya seraya menahan tangan Elliot.

Elliot tersenyum, dia lantas mencium bibir Charlotte sekali. “Katanya kamu rindu dengan sentuhanku?”

“Kamu … Kamu salah paham! Maksudku adalah sentuhan seperti pelukan atau ciuman, bukan menjurus ke hal yang kamu pikirkan!”

“Ke mana? Memangnya aku memikirkan hal apa?” Elliot mendekatkan hidungnya ke leher Charlotte, menghirup aroma parfum yang masih melekat meski sudah seharian bekerja. “Charlotte, ternyata kamu senang memikirkan hal kotor.”

“Aku tidak memikirkan itu!”

Elliot menarik tangan Charlotte sehingga wajah wanita itu semakin dekat dengan Elliot. Sebelum Charlotte mengucapkan kata, Elliot sudah lebih dahulu mencium bibirnya, membungkam seluruh protes yang tertahan di tenggorokan Charlotte.

Walau tak mau dianggap mempunyai pikiran kotor, pada akhirnya Charlotte tidak menolak ciuman dari Elliot. Dia berusaha mengimbangi, namun tetap saja tak mampu semahir Elliot yang lebih berpengalaman.

Elliot melumat bibir Charlotte tanpa jeda, menghalangi oksigen yang hendak masuk ke dalam paru – paru Charlotte. Keduanya merasa sedikit sesak, tapi tak ada satu pun dari mereka yang mempunyai niatan untuk berhenti.

Elliot merasa begitu haus akan rasa bibir Charlotte yang memabukkan. Layaknya menemukan oasis di padang pasir, Elliot tak ingin melepaskan oasis tersebut ketika berhasil mendapatkannya.

Tangan kanan Elliot bergerak bebas menelusuri garis paha Charlotte, merabanya seolah ingin mempelajari susunan tulang dari kaki istrinya.

Di sela – sela ciuman mereka, keduanya sempat membuka kelopak mata dan saling menatap satu sama lain. Bola mata Charlotte yang indah tampak berair, terlihat sedikit merah karena menahan hasrat yang ditarik keluar oleh Elliot sedikit demi sedikit.

Tatkala Elliot melepaskan ciuman mereka, tangannya dengan cekatan menurunkan risleting rok Charlotte, sedangkan tangan yang lain bergerak masuk ke celah kemeja Charlotte sehingga dia bisa meraba kulit punggung istrinya secara langsung.

“Elliot … ini .. masih di kantor,” peringat Charlotte dengan napas yang terengah – engah.

“Lantas kenapa? Para karyawan sudah pulang sejak sore.”

“Masih ada Tuan Davis .. ada juga karyawan yang lembur,” bisik Charlotte.

Elliot mengabaikan kekhawatiran Charlotte, dia melepaskan kancing kemeja Charlotte satu – persatu, kemudian mengecup leher jenjang istrinya yang terekspos dengan jelas. “Mereka tidak akan tahu, ruangan ini kedap suara.”

“Tapi bagaimana …”

Elliot meraih dagu Charlotte, kemudian menatap kedua mata emerald itu dengan lekat. “Jangan memikirkan hal lain, kamu hanya perlu memikirkanku.”

Bersambung…

Untuk session 2 sudah di publish dengan judul The Beloved Wife (Session 2), terima kasih sobat Ngocokers!