
Cerita Sex Surga Gangbang Selebriti – Sebelum membaca cerita ini tolong bedakan antara fiksi dan kenyataan, yang bedanya Jauhhhhhhhh… Bangetttt, tul nggak Ngocokers ^^
Cerita ini hanyalah fiksi belaka Cerita ini cuma hasil imajinasi & buat bermupeng ria aja loh. Kalo ada yang suka silahkan dibaca ^^ Tapi…., Kalo ada yang nggak suka/bosen atau setelah membaca nantinya bakal merasa tersinggung, ngambek karena nama idolanya, dll, dst, ada dicerita ini, sangat dianjurkan untuk tidak membaca cerita ini, karena cerita ini mungkin tidak cocok untuk Anda ^^. “Say No” To Rape & Drugs in The Real World
Surga Gangbang Selebriti High Voltage Power Up ! Dzzzinggggggg…!!
Ngocoks Seorang gadis cantik sedang curhat pada seorang temannya di sebuah café di kota Jakarta. Tubuhnya putih mulus, ramping dengan body bertipe slim, rambutnya berwarna kecoklatan-coklatan, senyumannya sangat menggoda dan dapat membuat terbang hati para laki-laki yang menatapnya.
“Gue sebel banget deh…! pasti kerjaan salah seorang dari mereka” Nia menggerutu kesal
“Lagian salah loe juga sih.. ngapain difoto berbikini segala, dikerubungi oleh para laki-laki dikolam renang..pula ! bener-bener gila loe!”teman Nia memberikan nasihat-nasihat dan beberapa petuah.
Nia cuman bisa tersenyum pahit, menyesali perbuatannya yang ceroboh dan cenderung bodoh.
“Udah.. Ahh…,Gue nggaku Emang gua yang salah.., Nah sekarang loe mau makan apa gue ntar yang traktir…” Nia menyogok temannya agar berhenti memberikan kuliah.
“He he he Asekkk… Gitu donggg… wa udah lapar nehh… mana menunya..” teman Nia membolak-balik daftar menu ditangannya, tidak begitu lama daftar pesanan mereka sudah siap tersaji diatas meja itu.
“Ngomong-ngomong loe jadi jalan-jalan ke LA” teman Nia mengingatkan gadis itu.
“Jadi lahhh…, besok gua berangkat… itung-itung ngehindarin para wartawan Ha Ha HA” Nia tertawa lepas.
“Nyamm.. nyammm.. Emm Sssttt Nia, liat tuh cowo naksir loe kali…, dari tadi ngeliatin melulu…” teman Nia berbisik.
Nia menolehkan kepalanya,
“Gila..loe!! tuh Cowo udah tua…!! Nggak mau gua..!!”kaki gadis itu menendang tulang kering sahabatnya di bawah meja, kemudian sambil sesekali bercanda tawa kedua gadis itu meneruskan makan siang mereka.
*************************
Keesokan harinya di bandara
“Udah… nggak usah sedih gitu, gue cuma jalan-jalan bentar koq…” Nia tersenyum sambil mendorong kopernya.
“Bukan gitu..! tar selama sebulan ini siapa yang bayarin makan gue..! he he he” teman Nia bercanda.
“Yeee… dikira loe sedih gua tinggal… nggak taunya..!!” dengan kesal Nia mencubit pangkal lengan sahabatnya.
Setelah cipika-cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri), Nia melangkahkan kakinya sambil menarik koper dorongnya, singkat cerita, Nia Ramadhani menginjakkan kakinya di negri Paman Sam. Seorang pemandu wisata bernama Ben menyambut gadis cantik itu, kemudian ben membantu membawakan koper Nia, hari itu Nia beristirahat disebuah hotel berbintang lima.
**********************
Keesokan harinya
Setelah berjalan-jalan menikmati keglamoran kota itu, dengan sebuah mobil sewaan mereka berdua kembali ke hotel berbintang lima. Hari itu Nia mengenakan baju kaos berwarna merah dengan bawahan celana jeans berwarna biru.
“Are You Happy…” Ben bertanya dengan ramah.
“Yess.. Ammmhhhh , Thank a lot Ben…” Nia menjawab sambil menggeliatkan tubuhnya.
“It’s my pleasure…” Ben agak menelan ludah ketika Nia menggeliatkan tubuhnya.
“Have a good rest….” Ben tersenyum ramah,
Nia membalas senyuman Ben dan menutup pintu kamarnya. Setelah meminum segelas susu hangat kemudian gadis itu merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang empuk, entah kenapa Nia merasa gerah dan panas, tubuhnya menyentak-nyentak, ada sesuatu yang bergelora, mengamuk didalam dirinya.
“Klik..” pintu kamar Nia terbuka, seorang laki-laki negro bertubuh besar masuk ke dalam kamar itu, entah dari mana si negro mendapatkan kunci duplikat kamar hotel Nia Rhamadani
Si negro segera melepaskan pakaiannya sendiri, tangannya mengusap-ngusap benda besar di selangkangannya yang semakin mengeras dan membesar. Ngocoks.com
“Bennn…., ” Nia menatap laki-laki itu, ia mengenali laki-laki negro bertubuh besar itu, Ben tersenyum kemudian naik keatas ranjang dan membaringkan dirinya disamping Nia.
Tangan Ben membelai-belai rambut Nia, hidung ben mengendus-ngendus wangi rambut gadis itu, kemudian lidahnya terjulur menjilati dan mengecupi daun telinga Nia, sampai Nia Ramadhani berkali-kali merinding kegelian. Ben melepaskan pakaian Nia, kini dikamar itu Nia Ramadhani berbaring pasrah bersama seorang pria Negro yang tersenyum-senyum sambil sesekali mengecupi bibir mungil gadis itu.
“You’re So Hot Nia, I see your picture when I surf the net, dammm, with four guys in the pool Ehhhh….? You naughty little bitch…..” Ben menggigit kecil leher Nia.
Ciuman Ben semakin liar menjelajahi leher gadis itu, jilatan-jilatan kasar menyelingi kecupan-kecupan dan gigitan-gigitan Ben dileher Nia yang putih dan lembut.
“Ahhhh, Bennn… Ahhhhh enakkkkk….” Nia mengalungkan tangannya ke leher Ben.
“Hemmm… Mmmmmmmmhhh… Mmmmmmmm” suara mulut gadis itu ketika bibir Ben menyumpal mulutnya, “Ckkkk… ckkkkk… Shhhh Ckkkkk” suara berdecak-decak mulai terdengar semakin lama semakin sering dan keras.
Lidah Ben terjulur, mengulas-ngulas sela bibir Nia kemudian terjulur lebih dalam mengait-ngait langit-langit mulut gadis itu, lidah Nia bereaksi ketika lidah Ben mengait-ngait lidahnya, saling kait, saling lumat dan saling menghisap lidah membuat birahi Nia dan Ben semakin tinggi. Gadis itu menjerit keras ketika mulut Ben menghisap puncak payudaranya., mulut si negro tampak lahap menghisap-hisap putingnya.
“Ahhhhh… Bennn Sakitttt…!! ” Nia kembali menjerit keras ketika merasakan sebuah gigitan keras dipuncak payudaranya, rupanya si negro merasa gemas dengan keindahan buah dada Nia.
Berkali-kali hisapan dan gigitan lembut datang silih berganti, tangan si negro berkali-kali meremas-remas induk buah dada gadis itu sampai-sampai dada gadis itu berwarna kemerahan dengan beberapa bekas hisapan-hisapan kuat. Mulut si negro mengecup-ngecup semakin kebawah, keperut dan kini wajah si negro berhadapan dengan permukaan serambi lempit Nia.
“Cuppp… Cuppppp…., Nice serambi lempit… Ha Ha Ha” si negro tertawa gembira sambil beberapa kali mengecupi permukaan serambi lempit Nia. Hidung Ben mengendus-ngendus, lidahnya terjulur menjilati permukaan bibir serambi lempit gadis itu, sesekali dilumatnya bibir serambi lempit itu yang mengeluarkan wangi harum yang sangat khas.
“Let’s see…, “setelah mengganjal pinggul Nia dengan sebuah bantal, Ben menekan pinggiran bibir serambi lempit gadis itu, lidah ben menjilati sela-sela serambi lempit Nia yang mulai merekah dengan indah..
“Dammmmm !!, I love it !! ” Ben melahap serambi lempit Nia dengan rakus, Nia semakin mengangkangkan kedua kakinya melebar, matanya terpejam-pejam rapat.
“Acccchhh… Ouhhhh…. Bennn… Akkkkkkhhhhh…”Nia merengek-rengek keenakan ketika lidah si negro melingkari klitorisnya, sesekali tubuh Nia melenting keatas ketika mulut si negro mengemut lubang serambi lempitnya.
Nia mengangkat pinggulnya keatas, kedua tangannya yang mungil semakin kuat menekan kepala si negro, Nia menjerit-jerit semakin liar
“Ahhhhh…, Bennnnn, hisappppp Bennnn…. terussssssshhhh” butiran-butiran keringat mulai membasahi tubuh Nia Ramadhani yang halus dan mulus.
“Ahhhh…, Ouhhhhhh, Auhhhhhh…. Crttttt…. Crrrrrrtttt… Crrrtttt” nafas Nia Ramadhani tersendat-sendat, tangannya mengusap-ngusap kepala Ben yang botak mirip telur raksasa berwarna hitam legam.
Lidah si negro menjilati cairan-cairan gurih yang meleleh dari sela-sela bibir serambi lempit Nia sampai kering. Tangannya mengangkangkan kaki Nia melebar kemudian ia menggeser posisi tubuhnya agar berada ditengah-tengah diantara kedua kaki Nia yang mulus.
Beberapa kali ia memukul-mukulkan batang kemaluannya pada permukaan serambi lempit Nia, entahlah apa maksudnya dengan memukul-mukulkan batang rudalnya. Ben kini menggenggam batang rudalnya kemudian mulai menggesek-gesekan kepalanya pada bibir serambi lempit Nia yang sudah merekah dengan pasrah siap untuk diperawani oleh Ben.
Batang kemaluan si negro mulai melakukan gerakan menekan. Gerakan pinggul Nia membuat kepala rudal si negro terpeleset menggesek keatas dan membentur klitoris gadis itu.
“Hennnhhh… Aaaaa….” Nia memejamkan matanya rapat-rapat ketika kepala rudal Ben yang berukuran besar mulai mendongkrak sela-sela serambi lempitnya.
“Ouhhhhhh……. Ohhhhhhhh” Nia Ramadhani mengeluh panjang ketika merasakan sentakan-sentakan kepala rudal si negro yang mulai kasar melakukan penerobosan memasuki lubang naginanya yang masih kesulitan menerima rudal berukuran raksasa milik pria negro yang tengah menindih tubuh gadis itu.
“Haa Akkhhhhhhh…..” mata Nia melotot ketika merasakan satu tusukan yang kuat dan kasar membuahkan rasa perih dan nyeri diselangkangannya. Jeritan Nia kembali terdengar ketika si negro dengan semakin kasar menjejal-jejalkan kemaluannya, tangan Nia berpegangan pada pinggang si negro yang tengah asik menindih tubuh mungil gadis itu, pinggul si negro tampak asik berkutat berkali-kali dalam gerakan menekan, tubuh Nia Ramadhani yang putih mulus tampak kontras dengan tubuh besarnya yang besar dan hitam.
“Ahhh.. Ahhhh… Bennn…, sakittt… benn sakittt” Nia menjerit setinggi langit, rasa sakit dan perih semakin hebat mendera selangkangannya ketika Ben mulai menarik dan menusukkan kemaluannya dengan kuat dan kasar.
“Dammm, I don’t believe it…!! You are a virgin.., ” Ben terkejut , ia pikir Nia sudah tidak perawan lagi.
“Whoaaaa, lucky me… Ehe he he he he” Ben terkekeh-kekeh sambil terus memacu batang kemaluannya menggasak lubang serambi lempit Nia Ramadhani yang peret dan sempit.
“Essshhhh… Oooo…. Benn.. Pelannnhhh… Awwww…..” Nia menggeliat-geliat kesakitan
“Stop it !! Bennn Stoppp Ittt!!! Whaaaww!!” tubuh Nia terguncang-guncang dengan hebat seirama dengan sodokan-sodokan ben ang semakin liar, gadis itu berusaha menggeliatkan dirinya keluar dari himpitan Ben.
“Take thiss you bitch!!! Yeahhh” tangan Ben mencengkram bahu Nia sehingga gerakan Nia terbatasi dan si negro semakin kuat dan kasar mengocok-ngocok lubang serambi lempitnya, ada bercak-becak merah yang terpecik ketika kemaluan hitam itu menghantam lubang serambi lempitnya dengan keras.
“Achh… Ahhhh Aaaa Crrrtttt… Crrrrttttt….” Nia mengejang , gadis itu menelan ludah merasakan kenikmatan yang menyembur dari lubang serambi lempitnya yang baru diperawani oleh si negro.
“Do yo like it ehhhh ? ” si negro bertanya dengan nada mengejek, Ben mengangkangi wajah Nia,
Tangannya sedikit menjambak rambut Nia sambil menggesek-gesekkan kepala rudalnya ke bibir dan ke pipi gadis itu.
“Nowww…open your mouth….” Ben memerintahkan Nia Ramadhani agar membuka mulutnya.
“Open it bitch….!!and suck it!!” Ben membentak kemudian dengan kasar dan menjejalkan kepala rudalnya ke mulut gadis itu.
“Hoommmmmhh, Ummmmmmmhhh… Mmmmmmmm” suara mulut Nia yang sedang mengulum rudal si negro.
“Herrrmmmmmmhhh……” mata Nia tiba-tiba mendelik ketika si negro dengan kasar menusukkan rudalnya semakin dalam dalam mulut gadis itu.
Kepala rudal itu menyumpal kerongkongan Nia sampai gadis itu kesulitan mengambil nafas. Nia Ramadhani meronta dengan kuat sampai akhirnya si negro merasa kasihan dan menarik rudalnya dari mulut gadis itu.
“Jangannnhh Bennn…..!!”telapak tangan Nia menghalangi kepala rudal Ben dengan telapak tangannya ketika kemaluan hitam itu kembali tersodor untuk mulut gadis itu, Nia Ramadhani memohon-mohon agar Ben tidak melanjutkan keinginannya untuk mendeepthroat mulutnya.
“Well, It depend !! how good you.re..!?” Ben berdiri kemudian duduk mengangkang di atas kursi sofa.
Nia Ramadhani merangkak di antara selangkangan si negro, mulut gadis itu terbuka lebar dan menciumi biji kemaluan si negro yang bergelayutan di selangkangannya.
Si negro menengokkan kepalanya kebawah, tangannya membelai-belai rambut Nia Ramadhani yang acak-acakkan, disibakkannya rabut gadis itu kebelakang, Bibirnya tersenyum memandangi Nia yang tengah melakukan jilatan dan ciuman-ciuman lembut pada biji kemaluannya. Ia menggenggam kemaluannya kemudian menyodorkan kepala rudalnya kearah mulut Nia, gadis itu membuka mulutnya dan
“Hmmmfffh…, mmmmmhhhh…, Hmmmmmmm, Mmmmmmmhhh”
Tangannya mendekap kepala gadis itu disisi kiri dan kanan, kemudian Ben memaju mundurkan kepala Nia.
“Yesss, That’s It.. Ouhhhh Yeahhhh…, suck it bitch, damm you!! Harder bitchhh!!! ” Ben kini bersandar ke belakang, kedua kakinya semakin lebar mengangkang.
Nia tampak semakin rakus menghisapi dan menjilati batang kemaluan Ben, negro berkepala botak itu. “Slllcckkkkk…, slllllcccckkkkk… Cupkkhh.. cupkkhh….”
“Nowww…, He he he” Ben meraih tubuh Nia dan menarik agar gadis itu mengangkangi kemaluannya dalam posisi saling berhadapan, kemudian tangan Ben menekan bokong gadis itu agar turun dan perlahan-lahan kemaluan Ben menggeliat-geliat sedikit demi sedikit memasuki sela-sela serambi lempit Nia Ramadhani.
“Uhhhhhhhhhhhhhhhh….” Nia Ramadhani melenguh panjang ketika kemaluan Si Negro perlahan-lahan menyesaki selangkangannya.
Kedua tangan Ben melingkar dan mendekap pinggang gadis itu, sementara mulutnya mengejar puting Nia Ramadhani kemudian sambil menyentakkan kemaluannya keatas. Ben menggigit puncak payudara Nia sampai gadis itu menjerit keras, jeritan gadis itu seolah-olah menjadi pemacu agar Ben segera menghujam-hujamkan kemaluannya keatas.
“Ahhh.. Aaaaa” Nia menjerit-jerit ketika Ben menyodok-nyodokan rudalnya dengan kasar, mulut si negro melahap bulatan buah dada Nia yang ranum. Biarpun buah dada gadis itu tidak besar namun tampak proporsional dan indah menggantung di dada gadis itu.
“Owwww… Crrrtttt… Crrrttttt……” tangan Nia mencengkram bahu Ben kuat-kuat ketika merasakan semburan kenikmatan diselangkangannya, belum juga Nia sempat mengambil nafas, Ben mendekap bokong gadis itu dan berdiri
“Auuhcccchhhhh…..” Nia memeluk erat-erat leher Ben karena takut terjatuh, posisi itu membuat rasa tidak nyaman , was-was dan kwatir,namun selain itu ada rasa nikmat yang semakin membuat jantung Nia berdetak dengan lebih kencang.
“Ahhhhhh, Bennnn hati-hati, ohhhh Shhhhh Shhhh” tubuh Nia terayun-ayun mengikuti irama sodokan si negro.
Ben hanya tersenyum sinis ketika Nia menjerit semakin keras, tubuh gadis itu semakin basah, keringat bercucuran dengan deras dari tubuh mulus gadis itu dan menetes-netes keatas lantai. Si negro menunggingkan tubuh Nia diatas lantai di dekat jendela
“Tidakkk…jangannnn Bennnn !! Nooooo…” Nia menolak ketika si negro hendak menyodominya.
“Shuuuutttt… Upppp!!! Sret….!!” tangan si negro menyobek kain gorden dan kemudian mengikat kuat-kuat tangan Nia kebelakang.
“Arrrrhhhhhhh….!! Sakitttt Bennnnnn!!! Sakitttt sekaliiiii….” Nia menjerit-jerit ketika dengan kasar kepala rudal si negro mulai memasuki lubang anusnya. Nia menangis merasakan rasa panas dan nyeri di lubang anusnya,
“Ahhhhhhh..!!! ” Nia menjerit keras ketika si negro menjebloskan rudalnya sekaligus kedalam lubang anus gadis itu.
Ben mulai memacu rudalnya keluar masuk menggasak lubang dubur Nia, sementara Nia menjerit-jerit sambil menangis memohon agar Ben menghentikan kompaan ke lubang anusnya yang semakin kasar dan kuat sehingga gadis itu tersentak-sentak maju kedepan.
“Croooootttt…Keccrrrotttttt…….” gerakan si negro tiba-tiba berhenti tangannya meremas – remas pinggul Nia. Batang rudalnya yang panjang masih tertancap di lubang anus gadis itu, untuk sesaat Nia merasa lega karena gerakan-gerakan si negro yang kasar berhenti, namun Nia mulai kembali resah ketika merasakan sesuatu mulai kembali membesar di dalam lubang anusnya.
“Bennnnn, Please Bennnnnn!! Slowlyyyy… I Beg Youu… Hkkk Hkkk” Nia tampak cemas ketika Ben mulai kembali melakukan gerakan memompa, gadis itu mulai terisak-isak menangis ketakutan.
Tanpa melepaskan cengkramannya Ben menjatuhkan dirinya kebelakang , tubuh Nia ikut terbetot dan kini gadis itu menduduki rudal si negro yang tampak melengkung ketika akan masuk semakin dalam.
“Slowly…? Like thiss memmmm?” si negro bertanya sambil meremas-remas buah dada Nia dengan lembut, Nia terdiam.
“Heeeyyyy!! I’m Asking !!” Ben tampak tersinggung sambil meremas kuat-kuat buah dada Nia sebelah kiri.
“Yesss Bennn, Yesssss…..” Nia segera menjawab untuk menenangkan emosi Ben.
Si negro berbisik lembut menyuruh agar Nia segera melakukan tugasnya, Nia mengangguk kemudian Nia mulai belajar untuk menaik turunkan pinggulnya, sesekali gadis itu meringis merasakan rasa ngilu di lingkaran duburnya.
“Good Girl, Gooooddd Girl…” tangan si negro mencengkram pinggul gadis itu dan membantunya agar Nia tidak terlalu capai ketika menaik turunkan pinggulnya.
Tubuh Nia menggeliat kekiri dan kekanan ketika perlahan-lahan rudal si negro menyodominya, Nia Merintih-rintih dalam keadaan duduk mengangkang diatas tubuh besar dan hitam yang tersenyum-senyum keenakan. Tangan Ben menjambak rambut Nia ke belakang sambil memacu rudalnya dengan lembut.
“Yesss , That’s it roll it, Up and Down, Perfect!!”
Si negro mengajari Nia agar menaik turunkan pinggulnya dengan sebuah kombinasi menggerakkan pinggulnya dalam gerakan memutar, sesekali tangan si negro memukul pinggul Nia Ramadhani agar gadis itu lebih giat lagi mengerjakan tugasnya.
****************************
Keesokan paginya
“Hahhhhh….” Nia tiba-tiba terbangun, gadis itu merasakan sakit disekujur tubuhnya, pegal, dan rasa pedih di selangkangan dan juga di lubang anusnya, seorang pria negro membelai rambutnya kemudian mengecup keningnya.
Di pagi hari itu si negro kembali melahap gadis itu kembali sampai Nia terengah-engah kehabisan nafas, Ben mengecupi bibir Nia, tubuh keduanya sudah basah kuyup bercucuran keringat. Sinar matahari bersinar dengan terik.
Seorang pria negro menuntun seorang gadis berkulit putih, mulus, berwajah cantik, Nia tertunduk lesu, tubuh gadis itu kadang-kadang tertarik oleh tubuh besar yang menuntunnya entah kemana. Si negro berhenti di depan sebuah rumah besar yang tidak terawatt penuh dengan coretan-coretan disana sini.
“klikk…” Ben membuka pintu rumah itu dan menarik Nia masuk kedalam
“Blammmm..!!” Pintu rumah itu terbanting dengan kasar.
Beberapa orang pria negro segera menghampiri Ben dan Nia
“I love you baby…”Seorang diantara mereka meremas buah pantat Nia, gadis itu menepiskan tangan si negro yang kurang ajar, Nia membalikkan tubuh hendak mendamprat orang itu namun dirinya tertarik dengan keras oleh Ben.
Ben hanya tersenyum kemudian kembali menarik Nia kelantai atas, sayup-sayup terdengar suara teriakan memaki.
” Klikkkk….” Ben membuka pintu kamar itu, suara makian terdengar semakin keras.
“ahhhh…” Nia terkejut setengah mati, melihat didalam kamar itu ada beberapa orang Pria Negro dengan kemaluannya yang mengacung keras, bahkan beberapa kemaluan yang hitam legam itu jauh lebih besar dari milik Ben.
****************************
Sementara di atas ranjang, Ivan Gunawan tengah meronta-ronta, kedua tangannya terikat keatas, disebelah kanan dan kirinya tampak………!!!!
( Red: Whaduhhhhh..!! Salahhhhh….!! Pasti Para Mupenger’s Pada Ngeri deh , kalo Ivan Gunawan yang terikat mah…… he he he ^^ )
Sementara di atas ranjang seorang gadis tengah meronta-ronta, kedua tangannya terikat keatas, disebelah kanan dan kirinya tampak Julie Estelle dan Marshanda tengah asik mengelus-ngelus buah dada Nikita Willy.
“Keparat… Lepaskan…!!! Julie…!! ChaCha !! brengsek kalian…” Nikita Willy berteriak-teriak, memaki dan mendamprat Chacha dan Julie Estelle.
“Ehhh… Julie…, susunya loe nggak apa- apa kan?” tanya Chacha Pada Julie sambil mencubiti putting susu Nikita, sampai Nikita Willy meringis kesakitan.
“Maksud loe, nggak apa – apa gimana ?” Julie Estelle balik bertanya sambil membelai rambut Chacha.
“Yaaaaa, waktu dicomot orang itu dijalan,… ha ha ha… Cuphh”
Marshanda tertawa lepas sambil mencium bibir Julie Estelle.
“Sialan Loe Cha…, Gue jadi inget lagi kejadian itu… sebel banget deh sama orang negro kemaren itu …., yang rada-rada sangar itu loh.” Julie Estelle mengumpat kemudian ikut tertawa cekikikan.
“Ya…, maksud gua sihhh , kalo mau pegang jangan cuma sebelah dongg !! Kan Jadi berat sebelah, gimana gitu rasanya…..,sekalian dua-duanya, coba kalo susu gue dua-duanya yang dipegang pasti deh gue nggak akan marah! Paling cuma gua gampar!!!! ” Kata Julie kemudian ia mengulum bibir Chacha tanpa mempedulikan Nikita Willy yang masih berteriak-teriak sambil meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya.
“Udah.., lagian salah loe juga kan pake kaos bertulisan U Can’T Touch ”
“Yeee, Salah dimananya, jelas-jelas nggak boleh dipegang…”
“Yaa, tapikan hurup T nya ketutupan lelehan ice cream… Ha Ha HA HA” Marshanda tertawa nggakak, Julie Estelle cuma tersenyum pahit…..
“Ehhhhhhmm…. Julieee Hemmmmh Cupphhh” Marshanda mengigit kecil bibir Julie kemudian bibirnya menciumi lembut bahunya.
“Chacha…. Shhhhh Arrhhhhhhhhhh” Julie semakin liar menjerit-jerit ketika Marshanda menciumi lehernya.
“Plakkkkk..!! ” tiba – tiba Julie Estelle menampar mulut Nikita.
“Berisik amat sih loee, ngeganggu gua ama Chacha tau !!” Julie Estelle tampak berang.
“Sabar Julieiiii…, Nikita belon tau enaknya bercinta, ketimbang dihajar, lebih baik dia diajarin He he he….” Chacha membelai-belai pinggul Julie Estelle.
Kini Julie menggeser tubuhnya menindih tubuh Nikita, kemudian Julie menggesek-gesekkan buah dadanya pada buah dada Nikita, sesekali Julie menekan-nekan dadanya yang membuntal padat menekan buah dada Nikita Willy.
“Brengsekkk…, dasarrrr binal..!! Keparammmmmhhh Emmmmmhh…”Umpatan Nikita terputus ketika Marshanda menjambak rambut gadis itu sambil mengulum bibirnya.
“Heemmmm, Hemmm, Emmmm” Suara mulut Nikita yang sedang dilumat – lumat oleh Marshanda.
Sementara Julie semakin bernafsu menggesek-gesekan buah dadanya pada buah dada Nikita. Julie menciumi bulatan dada Nikita, ciumannya semakin turun kebawah dan…..
“Emmmmmhhhhh” Nikita mengejang ketika merasakan lidah Julie menjilati permukaan serambi lempitnya, lidah Julie tampak begitu professional menyentil-nyentil klitoris Nikita Willy, sesekali lidahnya bergerak dalam gerakan memutar mengitari klitoris Nikita yang semakin mengkilap dengan indah, satu gigitan lembut kadang-kadang mampir di klitoris Nikita sampai gadis itu tersentak keenakan.
Sementara Chacha melepaskan kulumannya pada bibir Nikita, dengan lembut Chacha membelai rambut Nikita, sesekali dikecupnya kening gadis itu, suara makian tidak terdengar lagi dari bibir Nikita, mata Nikita tampak sayu menatap Chacha yang tersenyum memandanginya sambil mempermainkan dan meremasi buah dada gadis itu, tangan Marshanda mengelusi buah dada Nikita dengan lembut, kemudian ditarik-tariknya putting Susu Nikita dengan agak kuat sampai Nikita willy meringis – ringis.
“Ahhhhhhh…..,” mulut Nikita terbuka lebar, tubuhnya tampak bergetar dengan hebat “Crrrtttttttttt… Crrrtttttttttttttt” kemudian gadis itu terhempas tanpa daya, jempol Julie Estelle mengurut-ngurut klitoris Nikita dengan lembut, kadang-kadang dengan gerakan mengucek-ngucek kasar, sampai tubuh Nikita menggeliat-geliat sambil menjepitkan kedua pahanya rapat-rapat.
Julie Estelle tidak kehilangan akal ia menggigit paha Nikita sampai ia menjerit kesakitan sambil mengangkangkan kedua pahanya berusaha menghindari gigitan Julie Estelle, Nikita mencoba menahan kedua pahanya dalam posisi mengangkang ketika jari tengah Julie Estelle bergerak teratur dalam gerakan mengesek-gesek belahan di selangkangan gadis itu, Nikita mengigit bibirnya agar dapat menahan rintihan yang hampir keluar dari bibirnya.
“Hemmmm…, he he he…, enakkkk ?” Chacha terkekeh ia bertanya sambil mengecup bibir Nikita, Nikita mengangguk perlahan, tubuhnya tampak pasrah seolah-olah sedang menanti permainan selanjutnya.
“Ha Ha Ha.. Ayolah Nikita…, nggak usah tegang gito koq, rileks ajaa..”Marshanda membelai-belai sambil menyibakkan rambut Nikita yang acak-acakan menutupi wajah gadis itu, kemudian ia merundukkan kepalanya menciumi ketiak Nikita dengan lembut, sesekali lidahnya bergerak seperti sedang mengulas-ngulas sambil dilanjutkan dengan mengigit ketiak gadis itu.
Jari tangan Marshanda menjepit putting Susu Nikita Willy kemudian memilin-milin puting Susu gadis itu.
“Ohhhhhh… Chachaaaaaa…., Julie….. Ennnnnhhhhh” Nikita Willy memejamkan matanya rapat-rapat, jantung Nikita Willy berdetak dengan irama yang tidak beraturan air keringat sudah sedari tadi mengucur membasahi tubuhnya yang mulus..
Julie Estelle menjentikkan jarinya kearah tiga orang pria negro yang sudah sedari tadi menunggu untuk segera memulai aksi mereka. Tiga pria negro naik ke atas ranjang, yang dua menarik pinggul Chacha dan Julie Estelle agar sedikit menungging sedangkan yang satu menggesek-gesekkan kepala rudalnya pada bibir serambi lempit Nikita.
“Nggakkk… Nggakkkk mauuuu!! Ahhhhh…. Jangannnn Julie!!!!… Chacha !!! Gue nggak mauuu !!!” Nikita tampak panik ketika tangan Chacha dan Julie menarik dan merentangkan kedua kaki Nikita keatas, keduanya hanya saling berpandangan dan tersenyum kecil.
Tubuh Nikita tampak kejang menahan tekanan kepala kemaluan si negro yang terus menekan berusaha memasuki lubang serambi lempitnya, si negro terus berkutat untuk melakukan penetrasi pada belahan serambi lempit Nikita Willy.
“Ennnnnhhhhh………!! Jangan, aaaahhh !!” Nikita mengerang keras ketika rudal si negro yang hitam dan besar menekan semakin dalam, kepala rudal yang besar itu tampak kesulitan ketika ingin memasuki sela-sela serambi lempit diselangkangan Nikita yang bentuknya seperti sebuah cincin yang elastis. Tubuh Nikita kejang – kejang ketika merasakan serambi lempitnya seperti melar dan sesak, disumpal oleh kepala rudal si negro yang besar.
“Awwwww…….!! ” Nikita menjerit keras ketika satu sodokan yang kuat merojok lubang serambi lempitnya, ada sesuatu yang terobek-robek ketika kepala rudal si negro menusuk semakin dalam.
Bersamaan dengan itu terdengar rintihan keras dari mulut Marshanda dan Julie ketika lubang serambi lempit mereka juga disodok oleh dua orang pria negro, selanjutnya mereka tersentak-sentak oleh rudal hitam yang besar dan panjang yang terbenam dalam kemaluan mereka yang sempit dan peret.
Tubuh Nikita Willy terguncang-guncang dengan hebat di atas ranjang, berkali-kali mulutnya mengerang kesakitan ketika si negro memompai lubang serambi lempitnya. Nikita mengerang-ngerang ketika si negro melakukan penetrasi yang dalam dan kuat, batang rudal itu bergerak keluar masuk. rudal yang panjang dan hitam itu menekan dan terbenam dalam-dalam. Nikita mendesah-desah setiap kali batang rudal itu merojoki lubang serambi lempitnya dengan kuat dan kasar.
“Deep and Hard Baby.., he he he” mulut si negro menceracau
Ia tidak mempedulikan Nikita yang kewalahan menerima genjotan rudal besar itu di lubang serambi lempitnya, nafas nikita tersendat-sendat setiap kali rudal besar itu menekan kasar.
“Ahhhhhhhhhh….! ” Nikita menjerit keras-keras ketika batang rudal si negro mengaduki lubang serambi lempitnya, ia ingin mencabut rudal si negro yang tertancap di lubang serambi lempitnya kemudian melarikan diri dari atas ranjang itu namun tenaganya hilang entah kemana, jangankan untuk berlari untuk menggerakkan tangan saja rasanya berat sekali.
Marshanda dan Julie Estelle saling berpandangan sebelum sama-sama memperhatikan buah dada Nikita Willy yang terguncang-gucang. Buah dada yang ranum itu menjadi mainan bagi Marshanda dan Julie, sesekali Chacha dan Julie bergantian menggigit-gigit kecil puting susu Nikita Willy sampai pemiliknya menjerit antara sakit dan nikmat, mulut Marshanda dan Julie agak meruncing ketika menghisap kuat-kuat puncak payudara Nikita.
“Ahhhhhhhhhhh…. Crrrrrrrrtttt…. Crut” Nikita menahan nafas, tubuhnya mengejang merasakan nikmatnya rasa klimaks, Marshanda dan Julie mengelus-ngelus rambut Nikita, Chacha melepaskan ikatan di tangan Nikita, Julie tersenyum sambil terus disetubuhi oleh tiga orang negro bertubuh besar, ketiga artis muda itu berciuman satu sama lain
“Aduh, Chaaa…, serambi lempit gue…. ” Julie meringis ketika merasakan sodokan kasar dilubang serambi lempitnya, isi serambi lempitnya terasa terbetot ketika rudal itu ditarik dan dijejalkan kembali kedepan ketika si negro membetot dan menghujamkan rudalnya kuat-kuat.
“Aduh.., Aduhhhh, Julieee, mampus gue dahhhhh…., AWWWWWWW!!” Marshanda mengerang kuat ketika si negro menggerakan rudalnya semakin cepat.
Mata Marshanda medelik-delik, mulutnya ternganga-nganga tanpa dapat berkata-kata, hanya erangan dan ringisan yang dapat keluar dari mulutnya.
“Arhhhh…, Jangan, Tolonggggg,,,!! Owwwwwwwww……!!!” Jeritan Nikita terdengar keras, lubang serambi lempitnya terasa dirobek-robek dan ditumbuk hingga hancur oleh batang rudal yang hitam, besar dan panjang, yang semakin keras menghantam lubang serambi lempitnya.
“They’re good ehhhh?”
“Yeahhhh…, I like Asian girl”
“Smooth skin, cute face, hot &sexy, ”
“and don’t you dare to forget their tight little serambi lempit He he he”
Ketiga pria negro itu berbincang-bincang sambil terus mengayunkan kemaluan mereka tanpa mempedulikan Nikita , Marshanda dan Julie Estelle yang kewalahan menghadapi rudal mereka yang besar, hitam dan panjang.
“Chacha…, My Girl !! Come here….!!” Ben berteriak memanggil Marshanda yang masih sibuk melayani nafsu seorang pria negro berambut poni, Marshanda menggeliat tubuhnya berusaha melepaskan dirinya dari dekapan tangan si negro kemudian menghampiri Ben.
“Do You Know Her ? ” Ben bertanya pada Marshanda
Marshanda tersenyum nakal dan mengangguk
“Ok, teach her how to play….”
“Sini Nia, gue ajarin…., loe pasti ketagihan” Marshanda menelanjangi Nia Ramadhani dengan dibantu oleh Ben.
“Nggak mau Cha…! gue wanita normal…!!” Nia membentak sambil memalingkan wajahnya ketika Marshanda hendak mengulum bibirnya.
“Gue tau loe normal Nia, tapi gue juga normal koq…” Marshanda tersenyum nakal sambil memeluk pinggang Nia, Nia Ramadhani meronta-ronta, tanpa disengaja buah dada Nia Ramadhani yang terus bergesekan dengan buah dada Marshanda membuat percikan-percikan api birahi yang semakin lama semakin berkobar-kobar dengan dahsyat.
“Ohhhhhhhhhhhhh…….” Nia Ramadhani hanya dapat mendesah panjang ketika tangan Marshanda meremas buah pantatnya dengan lembut, Chacha terenyum ia tahu kalau Nia sudah mulai terrangsang..
“Julurin lidah loe Nia….” Marshanda mendesah sambil mengecup bibir Nia Ramadhani, Nia menelan ludahnya berkali-kali sebelum mulutnya terbuka dan menjulurkan lidahnya keluar. Ngocoks.com
Lidah Marshanda mengait lidah Nia kemudian menghisapi lidah Nia yang terjulur keluar. Si negro berambut poni menghampiri tempat pertarungan, ia mengambil posisi dibelakang tubuh Nia Ramadhani, sementara Ben mengambil posisi dibelakang tubuh Marshanda, tanpa disuruh Marshanda agak menunggingkan bokongnya kebelakang sambil merentangkan kedua kakinya melebar, Marshanda agak meringis ketika Ben menyodok lubang anusnya dengan kasar.
“Uchhh…, Bennnnn, It’s hurt,…., Please, Ben Pleaseeee” tubuh Marshanda menggigil menahan rasa sakit dilubang Anusnya yang sedang dirojoki dengan kasar.
“Slowly Ben Slowlyyy, Pleaseee, Oahhh!! ” Marshanda memohon agar Ben menyodominya dengan perlahan-lahan. Marshanda melolong keras karena Ben malah semakin kasar dan kuat menyodomi lubang anus artis muda yang cantik itu. Ben memacu seluruh tenaganya dan dilampiaskannya nafsu bejatnya pada tubuh Marshanda yang terguncang dengan hebat, butir keringat bercucuran membasahi tubuh Marshanda.
“Esshhhhh, ” Marshanda mendesah kecil ketika irama rudal Ben bergerak melambat dan bertambah lambat, rudal yang hitam dan panjang itu tampak begitu mesra merojoki lubang anusnya.
Si negro berambut poni menepuk-nepuk pinggul Nia, Nia Hanya menoleh kebelakang, ia tidak mengerti apa maksud si negro berambut poni.
“Nungging dikit Nia…, terus buka kaki loe lebar-lebar…” Marshanda mendesah sambil berbisik ditelinga Nia Ramadhani, Nia mengikuti bisikan marshanda ditelinganya.
“Ahhhhh……!! ” Nia menjerit keras ketika si negro berambut poni dengan kasar menjebloskan rudalnya dengan kasar memasuki serambi lempitnya yang seret dan peret, Marshanda dengan sigap memeluk erat-erat tubuh Nia Ramadhani ketika gadis itu hendak berontak
Bibir Marshanda berkali-kali mengecupi bibir Nia Ramadhani, lidah Marshanda terjulur keluar menjilati dagu dan bibir Nia.
Selanjutnya terdengar suara desahan dan pekikan kenikmatan dari bibir Nia Ramadhani dan Marshanda, tubuh mereka terdorong saling tekan dan saling himpit akibat tusukan-tusukan yang kuat di lubang serambi lempit Nia Ramadhani dan Marshanda, dua buah gundukan payudara di dada mereka saling bergesekan dan saling menekan, sehingga membuahkan rasa nikmat tersendiri. Chacha dan Nia serambi lempitik bersamaan ketika sebuah gelombang kenikmatan menderu-deru menghantam tubuh mereka yang mulus
“Cruuutttt… Cruuuttttt…. Ahhhh !! Chachaaaa….”
“Ehhhsssshhhhh Niaaaaaa”
“Hmmmm Hmmmmmm” Marshanda melumat bibir Nia Ramadhani, sementara tusukan-tusukan kasar masih menghantam lubang serambi lempit mereka dari belakang.
“You’re so cute…, ” bisik si negro berambut poni sambil menjilati belakang telinga Nia Ramadhani, ciumannya semakin liar, lidahnya menjilati tengkuk Nia Ramadhani, kemudian turun menciumi bahu Nia, sesekali ia mengigit leher Nia sampai membekas kemerahan.
“C’mon Baby , It’s okay to scream….” si negro menekankan batang rudalnya semakin dalam ke lubang serambi lempitnya.
“Arrhhhhhhhhhhhh….., Oooooohhhhh, Yeahhhhhhhhh…” Nia tidak mampu lagi untuk menjerit merasakan rasa nikmat akibat pompaan si negro di lubang serambi lempitnya. Si negro semakin kuat menghentak-hentakkan batang rudalnya sampai tubuh Nia tersungkur-sungkur dengan keras kedepan..
“Plokkk,, Plokkk.. Plokkkk.. Plokkkk.. Plokkk” suara itu terdengar semakin keras dan gencar, Nia pun semakin keras menjerit – jerit dengan liar.
rudal Ben kini tertancap di lubang serambi lempit Marshanda, sambil tersenyum Marshanda mengalungkan kedua tangannya keleher Ben, beberapa kali bibir Mereka berkecupan, dan saling mengulum dan melumat-lumat. Marshanda melompat dan Ben segera mendekap buah pantat Marshanda, kedua kaki Marshanda menjepit pinggang ben kuat-kuat ketika tangan Ben yang kekar mencengkram dan mengangkat pinggul Marshanda.
“Plepp.. Pleppp… Clepppp.. Klepppphhhh” Suara Batang rudal Ben yang terayun-ayun memacu lubang serambi lempit Marshanda.
“yeshhh, That’s it, Fuck me Bennnn, fuck meeeeeee!!!” Marshanda mendesah-desah dengan liar.
“Ahhhhhh….!! ” terdengar Jeritan Nikita yang sedang menungging, gadis itu menjerit keras ketika merasakan sebuah benda mengebor lubang anusnya, sementara itu seorang pria negro menekan punggung Nikita sehingga gadis itu tidak dapat berbuat banyak.
Tangisan Nikita berbaur dengan rintihan dan erangannya, dan akhirnya berhenti ketika rasa nikmat mulai menjalari tubuhnya. Si negro tidur terlentang sambil membetot pinggul Nikita, gadis itu duduk mengangkang dengan posisi membelakangi si negro yang terlentang dibawahnya.
rudal si negro menancap dengan kokoh di lubang anusnya, tangannya mengusap – ngusap punggung Nikita yang sudah basah oleh keringat yang mengucur dengan deras. Sesekali tubuh Nikita tersentak kuat keatas ketika si negro dengan kasar menyentakkan rudalnya semakin dalam merojok lubang anus Nikita.
“Ahhhhh… Ahhhhhhh….” Nikita merintih dan mendesah-desah dengan keras, keringat bercucuran membasahi tubuhnya, payudara Nikita tampak basah oleh keringat yang terus meleleh mambasuh tubuhnya yang mulus.
“Hahhhhh….!? Nikita terkejut ketika kedua kakinya diangkat keatas dan tubuhnya ambruk kebelakang jatuh dalam pelukan si negro yang sedang tidur terlentang, tangan negro itu meremas dan mengelusi buah dada Nikita, sesekali tangannya mencubiti puting Nikita sambil berbisik di telinga gadis itu
“Nice.. Boob…, Hemmm Cute little Tit’s”Tangan Sinegro menggerayangi buah dada Nikita dan mulai memilin-milin puttingnya
“Awwww…….! Jangannnnnn!” Nikita serambi lempitik ketika lubang serambi lempitnya ditancap dengan kasar oleh sebatang rudal, kemudian dua batang rudal yang besar dan hitam itu menyerang lubang serambi lempit dan lubang anusnya dengan bertubi-tubi, liar dan kasar.
“Arrrhhhhhhh… Crrrrr Crrrrrrrrrrrrr” Nikita mengerang panjang ketika hantaman demi hantaman kasar akhirnya menjebol pertahanannya, tubuhnya mengejang dan merinding dengan hebat, Nikita mengerang dengan keras ketika tubuhnya terus terguncang-guncang semakin hebat, ada rasa ngilu yang menyelingi rasa nikmat
“I got you, little bitchhh….”
“Yeahhhh… Yeahhhhhh…., Do you like it bitch?”
Dua orang pria negro yang sedang memompai lubang anus dan serambi lempit Nikita berteriak-teriak dengan liar.
“Ohhhhh, Ahhhhhh, Jangannnn, Pleaseeee, Stopppp… Awwww” Nikita menggeleng-gelengkan kepalanya sehingga rambutnya acak-acakan, gadis itu benar-benar tidak kuat menahan kompaan-kompaan kasar dua batang rudal yang hitam dan besar di lubang serambi lempit dan lubang kemaluannya, tubuh gadis itu terguncang-guncang diantara rasa nikmat dan rasa sakit.
“Aaaaaa… Uwwwww….. Crrrrrttt Crrrrrrtttt” Nikita mengepalkan kedua tangannya didada ketika dinding serambi lempitnya berdenyut-denyut dengan nikmat.
“Bluk… Blukkkkkkkk” kedua kaki Nikita terhempas dengan lemas keatas ranjang, sesekali wajah Nikita mengernyit menahan sodokan-sodokan kedua orang negro yang masih betah menyodokkan batang rudal mereka menghujami lubang anus dan lubang serambi lempitnya.
Mata Nikita terbuka sedikit untuk melihat pria negro yang begitu kuat sedang memompa lubang serambi lempitnya kemudian Nikita menolehkan kepalanya kekiri belakang berusaha menatap yang seorang lagi yang tengah ditindih oleh punggung gadis itu, terasa sekali sodokan-sodokan kuat yang menghantam lubang duburnya dari bawah.
“Crrrrtttt….., Crrrrrrr…., “Nikita hanya sanggup memejamkan mata rapat-rapat sambil membuka mulutnya lebar-lebar tanpa ada suara sedikitpun yang keluar ketika kenikmatan itu kembali berdenyut-denyut diselangkangannya.
Nikita menahan nafasnya merasakan semburan-semburan hangat dari rudal kedua pria negro itu menyiram lubang anus dan lubang duburnya.
“Sudahhhh…, jangannn…, No, Please…” Nikita berusaha menolak ketika seorang negro berambut tipis menarik tubuhnya, negro itu meletakkan tubuh Nikita dalam posisi menyamping diatas lantai beralaskan permadani, kemudian kaki kiri gadis itu diangkatnya keatas. Tampaknya tubuh Nikita yang sudah basah kuyup oleh keringat malah membuat si negro semakin bernafsu.
“Crebbbbb Ahhhhhhh…., Aaaaaa….” Nikita mendelikkan matanya ketika merasakan Batang rudal Sinegro menusuk lubang anusnya kuat-kuat. Nikita Willy kembali mengerang sekuat tenaga merasakan Batang rudal yang Panjang itu merojok-rojok lubang anusnya, Nikita Merasakan lubang anusnya semakin Panas, ada sedikit rasa perih dan gatal yang menyelingi.
“Ohhhhh….” Nikita hanya dapat mendesah sambil membuka mulutnya ketika sebatang rudal yang panjang memaksa masuk kedalam mulutnya.
“He…ommhhhhh… Emmmm” mulut Nikita tampak sedikit menggembung, penuh sesak oleh rudal si negro.
Tubuh Nikita tersentak-sentak dengan kuat, sementara buah dadanya menjadi mainan bagi tangan-tangan hitam yang nakal, mengelus, merayap, terkadang meremas sambil sesekali mencubit dan menarik putingnya.
“Hhhhhhh………Crrrrrr… Crrrrrrr…..” hanya satu helaan nafas panjang yang tertahan saja yang dapat keluar dari mulut Nikita ketika merasakan denyutan-denyutan nikmat itu kembali menghempaskan tubuhnya yang sudah berpeluh.
Terdengar jeritan liar Julie, gerakan tubuhnya terlihat binal dan liar. Julie menaik turunkan pinggulnya di atas kemaluan si negro sambil menunggangi seorang negro yang terlentang dibawahnya, Julie berteriak “Youuuu…! Come Here……”
Tiga orang negro terkekeh-kekeh , melangkah mendekati Julie
“C’mon fuck me, fuck me deep and hard” Julie tersenyum nakal sambil meleletkan lidahnya, menatapi tiga batang kemaluan yang tampak kokoh dan kuat diselangkangan ketiga orang negro itu, jauh lebih kokoh daripada milik pacarnya, si pembalap karbitan, Moreno, yang cuma lima centi itu.
Batang kemaluan si negro menghujam keatas menyodok-nyodok lubang serambi lempit Julie sehingga ia semakin liar menjerit-jerit.dan kembali bergoyang dengan liar. Julie menghentikan gerakan liarnya, ketika merasakan sebatang rudal menggeliat, berusaha menyelinap di sela-sela pantatnya. Ia mengerang keras ketika rudal si negro mulai berusaha menyodomi lubang anusnya,
“Arrrrrrhhhhhhhhhh…” tubuh Julie tersentak keras ketika lubang anusnya dijebol oleh si negro.
“Uaaahhhhhh….!! Yeahhhhh!! Fuck me !!Arrrrrhhhhhhh” tubuh Julie terguncang-gucang ketika lubang anus dan serambi lempitnya dihantam berkali-kali oleh kemaluan negro yang besar dan panjang.
“Hmmmm, Hssshhhh Yeahhh!! EMmmmmhhhh…Ckkk” mulut Julie sibuk mengenyot – ngenyot sedotan hitam yang besar dan panjang, sesekali lidahnya menjilati lendir-lendir yang keluar dari “kepala sedotan” itu.
“You naughty little bitch !! ” seorang pria negro meremas-remas buah dada Julie dari samping, sambil mengecup dan menjilati bahu dan lehernya sehingga tubuh wanita cantik itu semakin liar menggeliat-geliat dengan indah.
“Arhhhhhhh…. Crrrrrr…. Crrrrrrrrrrr” Julie terengah-engah, tubuhnya melenting dengan indah sebelum ambruk tanpa daya kedada pria negro yang sedang ditunggangi olehnya yang semakin binal.
“Uhhhhhhhhhh…..” Julie mengeluh merasakan rambutnya dijambak ke belakang, Kemudian ia mengerang ketika merasakan kembali sodokan keras di lubang anus dan lubang serambi lempitnya.
“Crooottttt….” ” Kecrotttttttt” sperma si negro menyemprot di dalam lubang anus dan lubang serambi lempit Julie.
Marshanda terlentang di atas ranjang, sementara Nia dan Nikita Willy berbaring disampingnya, tampaknya Marshanda sedang mengajari mereka.
“Nahhhh, gue udah ajarin semua yang gue tau, sekarang coba kalian praktekkan…” Marshanda mengangkangkan kedua kakinya melebar.
Nikita dan Nia yang masih merasa canggung hanya saling berpandangan, Marshanda tertawa kecil kemudian menekan kepala Nia kearah payudaranya. Perlahan-lahan Nia Ramadhani membuka mulutnya kemudian mengecup puncak payudara Marshanda. Mulut Nia berusaha mengecupi bulatan payudara Marshanda. Semakin lama Nia semakin rakus mengecupi dan mengenyoti puting susu Marshanda yang tertawa kecil keenakan sambil membelai lembut rambut Nia.
“Nikitaaaa….” Marshanda mendesah manja sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah payudaranya sendiri.
“C’mon, try to Suck it,!!” seorang negro menekan kepala Nikita dengan paksa ke arah payudara Marshanda. Hidung Nikita kembang kempis, mengendusi harumnya payudara Marshanda, lidah Nikita perlahan-lahan keluar memolesi bulatan payudara Marshanda sesekali ia menggigit kecil putting susu Marshanda.
Marshanda memejamkan kedua matanya, sesekali merintih kecil. Ada sinar kepuasan di ekspresi wajahnya.
“Ahhhhhhhh, Ahhhhh….” Marshanda menggeliatkan tubuhnya dengan erotis.
Setelah menekuk lututnya Marshanda semakin mengangkangkan kedua pahanya melebar. Marshanda mendesah panjang merasakan sebatang lidah menjilat lembut belahan serambi lempitnya yang disusul dengan kecupan-kecupan lembut yang menjelajari permukaan serambi lempitnya. Ia membuka matanya sedikit ketika merasakan kecupan lembut di bibirnya, Marshanda tersenyum memandangi wajah Nia. Bibirnya pun menyongsong datangnya bibir Nia.
“Cuppp…, cuppphhhhh….”Bibir kedua gadis itu melekat erat dan saling mengulum, daerah bibir Marshanda dan Nia Ramadhani tampak basah oleh ceceran air liur mereka yang sudah tercampur. (Air liur Mix he he he ^^)
“Niaaaa…..”
“Ohhhhh.. Chacha…….”
Kedua bintang muda itu saling memanggil, kemudian berpelukan erat dan melanjutkan dengan kuluman-kuluman dan belitan-belitan lidah mereka yang semakin lama semakin liar.
“Ooccchhhh…., Ahhhhhh Crrrrrr….” kaki Marshanda menjepit kuat-kuat kepala Nikita Willy, cairan kenikmatan Marshanda muncrat dalam denyuta-denyutan kenikmatan. Kedua kaki Marshanda kemudian terkulai dengan lemas di atas ranjang.
Marshanda menatap sayu wajah Nikita, disuruhnya Nikita agar menungging. Sementara kedua tangan Marshanda menekan kepala Nia agar menunduk mendekati lubang anus Nikita, namun Nia menolak ketika Marshanda memerintahkan Nia untuk menjilati lubang anus Nikita.
“Ayooo…..” Marshanda tersenyum sambil menekan kepala Nia
“Ayo sayang lakukan…Hssshhhhh…..” bisik Marshanda ditelinga Nia, ia kembali membujuk Nia agar menjulurkan lidahnya, Marshanda tersenyum ketika melihat mulut Nia mulai terbuka dan lidah gadis itu terjulur keluar.
“Emm, Cuppphhh, Cuppphhhh… Slssckkk Slllcccckk” Mata Nia mendadak berubah sayu, bibirnya mencumi bulatan pantat Nikita, lidah Nia sesekali menjilati belahan pantat Nikita. Lidah Marshanda perlahan-lahan ikut memolesi sela-sela pantat Nikita.
“Ahhhhhhh…., Niaaaaaaa….., Chaaaaaa…..” Nikita mendesah merasakan dua batang lidah yang terasa hangat dan basah itu seolah-olah seperti sedang bekerja sama mempermainkan sela-sela buah pantat dan lubang anusnya.
“Ehhhh….” Nikita Willy sedikit menarik pinggulnya ketika merasakan ada sesuatu yang menusuk belahan serambi lempitnya, Nikita mengangkat pinggulnya sedikit keatas sambil menengokkan kepalanya ke belakang, tampaknya Nia mempunyai inisiatif untuk mencolok belahan serambi lempit Nikita, bahkan kini perlahan-lahan Nia mulai memasukkan sebuah jari lagi dan lagi, jari tengah , jari telunjuk dan jari manis Nia kini terjepit dibelahan serambi lempit Nikita.
Marshanda menggeser posisi tubuhnya dan kemudian menindih punggung Nikita dengan buah dadanya, sementara kedua tangan Marshanda menggerayangi dan meremas-remas buah dada Nikita.
Nikita menolehkan kepalanya kearah kepala Marshanda yang mendekat, “Ckkkk.. Cheeeccckkk…..”decak-decakan itu semakin keras terdengar, akibat semakin bernafsunya ciuman dan kuluman Nikita dan Marshanda, tubuh Nikita bergerak maju mundur dengan lembut ketika Nia menusuk-nusukkan ketiga jarinya dengan perlahan.
“Ennnhhh…, Ennhhhhhh…..” Entah kenapa Nikita merengek-rengek
“Ahhhhhh….! Crrrrrrrrrr Crrrrrrrrrrrrrrrr” mulut Nikita mirip huruf O, sedangkan kedua matanya semakin sayu dan nafasnya tersendat-sendat ketika mencapai puncak klimaks, beberapa saat lamanya Marshanda dan Nia Ramadhani menggeluti tubuh Nikita Willy sampai akhirnya Nikita kembali serambi lempitik kecil mencapai puncak kenikmatannya kembali.
Marshanda membalikkan tubuh Nikita Willy kemudian menyuruh Nia naik keatas tubuh Nikita dalam posisi 69. Kedua tangan Marshanda mendorong bahu Nia sambil mengambil posisi mengangkangi perut Nikita.
“Giliranmu Niaaaaa….” Marshanda mengalungkan kedua tangannya pada leher Nia Ramadhani semetara Nia membalas dengan mengalungkan kedua tangannya membelit pinggang Marshanda.
“Slllccc. Sclllkkkk.. Ckkk… Sllccck”Nikita menjilati dan mengemut serambi lempit nia Ramadhani, Nia tidak dapat menahan rintihannya, gadis itu semakin keras menjerit karena luapan nafsu birahi yang semakin hebat meledak-ledak didalam dirinya.
Mulut Nia dan Mulut Marshanda saling mengulum , lidah – lidah mereka terjulur saling membelit dan mengait.
“Ohhhhh…..,” Marshanda mendesah kemudian tersenyum sambil menekankan serambi lempitnya ke depan, tangan Nia merayap dan meremasi selangkangan Marshanda sementara kepala Nia bersandar di bahu Marshanda, bibir gadis itu tidak pernah berhenti mengucapkan kata….
“Chaaa… enakkkk, Chachaaaa…., enakkkkkkk”
Marshanda hanya tersenyum nakal , kedua tangannya memeluk erat-erat tubuh Nia Ramadhani sambil menggesek-gesekkan payudaranya menggeseki payudara Nia Ramadhani.
“Heemmmm…, emmmmhhhhh…..” Bibir Nia dan Bibir Marshanda kembali saling mengulum dengan sangat bernafsu.
Tubuh Nia tiba-tiba bergetar Hebat…..
“Emmmmmm……… Hfffhhhhh Hfffffhhhhh…Crrrrrr Crrrrrr”suara nafas Nia semakin meburu kencang menerpa kulit pipi Marshanda, setelah melumat-lumat bibir Nia dengan mesra barulah Marshanda melepaskan kulumannya, dibelainya wajah Nia
“Yie, gimana sih koq gue nggak diajakin ? ” Julie berkacak pinggang di pinggiran ranjang, tubuhnya tampak basah berceceran keringat dan sperma.
“Ha Ha ha, Mau sama sapa ? Ama Nikita atau Ama Nia ?” Marshanda menawarkan dua pilihan kenikmatan diatas ranjang.
“Emmmmm, Gue ama Nia aja deh….”
Marshanda menarik tangan Nikita dan duduk dipinggiran ranjang. Sementara Julie langsung naik keatas ranjang dan menindih tubuh Nia. Dua tubuh mulus yang basah dan hangat itu saling serang, Nia dan Julie Estelle bergulingan, Jeritan-jeritan liar terdengar dari mulut kedua wanita itu yang tidak mau saling mengalah. Nia berusaha menaklukkan kebinalan Julie, demikian juga Julie berusaha menaklukkan Nia yang berubah nakal dan liar.
“Wawww…” “Ihhhhh” Hanya suara itu yang terdengar dari mulut Marshanda dan Nikita Willy ketika menyaksikan pergumulan yang sangat liar.
“Ennggghhhh….”sekuat tenaga Nia membalikkan tubuhnya yang ada di bawah, Nia mengangkang menduduki perut Julie, kedua tangan Nia mencekal pergelangan tangan tangan Julie yang terus berontak dan melawan, perlawanan Julie Estelle semakin lemah dan akhirnya pasrah, pasrah pada kebuasan Nia yang tidak terduga.
Nia menatap tajam wajah Julie Estelle sebelum menundukkan wajahnya semakin dekat kewajah gadis itu. Nia melekatkan bibirnya ke bibir Julie Estelle, kemudian dengan lembut bibir Nia dan Julie Estelle saling memangut dengan mesra, saling mengulum dan saling melumat dengan lembut. Tangan Nia membelit punggung dan pinggang Julie kemudian dengan liar Nia melumati bibir Julie. Tubuh Julie merinding, nafasnya terasa sesak, ketika Nia memangut-mangut , begitu liar dan nakal.
“Ehhhhh, Essshhhh, Ahhhhhhhhh!!” Julie Estelle tidak sanggup lagi menahan jeritannya ketika Nia mengenyot-ngenyot kuat puncak payudaranya dan menggigit kuat-kuat puttingnya.
“, aduhhhh.. !! Nia, jangan digigit gitu dong.. ” Julie protes karena Nia kembali menggigit putting susunya”HA Ha Ha… Sorry, Sorry, Gua gemes…” kemudian Nia menundukkan kepalanya , lidah Nia terjulur keluar, mengulasi buntalan payudara Julie yang terlihat membengkak mengeras kenyal. Mulut nia semakin rakus menghisap, mengemut dan mengecupi buah dada Julie.
Ciuman-ciuman Nia yang kasar dan liar menjalar semakin lama semakin turun kebawah “Aaaaaaaaaaaaaaa……” kedua kaki Julie Estelle menjepit kepala Nia Ramadhani, semakin lama kaki Julie semakin mengangkang, berkali-kali Julie Estelle mengangkat-angkat pinggulnya, menyajikan serambi lempitnya untuk Nia. Desahan-desahan keras terdengar dari mulut Julie “Ahhhhh…,, Ahhhhhhh,, Niaaaaaaa…, Ahhhhhhhhhh”
Punggung Julie Estelle sedikit terangkat dan Blukkkkk “Ennhhhhhhhhh…, Crrrrrrr…., Crrrrrrrrrr……”, Nia tersenyum puas dirinya sudah memenangkan pertarungan, ditepuk-tepuknya klitoris Julie kemudian diusapinya bibir serambi lempit Julie yang merekah untuk membangkitkan kembali nafsunya.
Nia menggeserkan tubuhnya keatas sambil menekankan payudaranya kuat-kuat, susu Nia yang lembut dan basah menggesek paha Julie terus naik bergesekan dengan permukaan serambi lempit, perut dan akhirnya menekan kuat-kuat gundukan payudara Julie.
Julie lalu membalikkan tubuhnya menindih tubuh Nia, kedua tangan Julie mencekal pergelangan tangan Nia dan meletakkan kedua tangan Nia terentang keatas. Marshanda berbisik di telinga Nikita Willy, mereka berdua naik keatas ranjang dan membantu Julie memegangi tangan Nia yang sedikit meronta sambil tersenyum nakal.
Julie menundukkan kepalanya menciumi telapak tangan Nia dan terus turun mengecupi lengan Nia. Nia mendesah ketika merasakan hembusan nafas Julie di permukaan payudaranya.
“Ahhhh…, Julieee….Shhhhhhhh ” Nia mendesis ketika jari Julie mempermainkan putting susunya, memilin-milin dan menarik-narik puttingnya, mulut Julie mengecupi puncak putingnya yang semakin keras.
Setelah puas memainkan buntalan susu Nia perlahan-lahan Julie terus menggeser posisi tubuhnya semakin turun kebawah, mulut dan lidah Julie terus mencumbu semakin turun. Nia mengangkangkan kedua kakinya melebar memberi jalan bagi kepala Julie.
“Ahhhhhhh…..!! ” Nia menjerit keras ketika jari tengah Julie menusuk lubang serambi lempitnya dan melakukan gerakan-gerakan liar seperti sedang mengucek-ngucek lubang itu.
Julie menambah jarinya, kini jari tengah, jari telunjuk dan jari manisnya terbenam ke dalam belahan serambi lempit Nia,
“Arrrrrhhhh…, Arhhhhhhh….!!” Nia Semakin keras menjerit ketika Julie menggerakkan ketiga jarinya dengan kasar, sambil terus menusuki belahan serambi lempit Nia, lidah Julie mengait-ngait klitoris Nia yang semakin membengkak.
“Ahhhhh, Shhhh Shhhh, Akhhhh Crrr Crrrrrrrr” Nia Ramadhani terkulai, Julie Estelle menusuk-nusukkan ketiga jarinya dengan perlahan-lahan, kemudian mencabut ketiga jarinya dari belahan serambi lempit Nia, ketiga jari Julie tampak basah oleh cairan kewanitaan Nia.
Marshanda menatap nakal pada Julie Estelle kemudian berbisik
“Sekarang waktunya kita dientot lagi ”
Julie Estelle membaringkan tubuhnya disamping Nikita Willy. Ia saling berpandangan dengan Nikita, kedua artis cantik itu saling melemparkan senyuman nakal mereka, hampir bersamaan kedua kaki mereka merekah mengangkang.
“C’mon, fuck us, all night long, (Hmm, kaya judul lagu ^^)”, setelah berbaring di sisi Julie, Marshanda mengangkangkan kedua pahanya melebar, ketika seorang negro masing mulai menggesek-gesekkan kepala rudalnya ke belahan serambi lempit Marshanda dan Julie. Ngocoks.com
Ben dan seorang negro lainnya menggesek-gesekkan rudal mereka pada belahan serambi lempit Nia Ramadhani dan Nikita Willy. Ketiga gadis itu berjajar di atas ranjang siap untuk menerima sodokan batang kemaluan tiga orang negro yang terkekeh-kekeh sambil mengambil ancang-ancang.
“Ahhhhhhhhhhh…..! ” Jeritan panjang yang pertama terdengar dari mulut Nia Ramadhani, tubuhnya tergucang-guncang ketika sebatang rudal yang besar dan hitam itu kembali mengocok-ngocok lubang serambi lempitnya.
“Pelannnnhhhhh, Arrrrhhhhhhh, jangannnnn, Nooooooo!! ” Nia memohon agar si pria negro memperlambat tempo sodokannya, namun sepertinya percuma saja memohon pada si hitam yang sedang keasikan memompakan rudalnya pada belahan serambi lempit Nia yang seret dan sempit.
“Heee heeee…, you’re on the top of the world, baby!” Sihitam mencengkram pinggul Nia Ramadhani kemudian merubah posisinya, kini si hitam duduk di atas ranjang sementara Nia menduduki batang rudal si hitam yang menancap di selangkangannya.
“Please, Pleeeaaaseeee…, Arrrrhhhh Pleaseeeee…, ” Nia terus merintih minta dikasihani oleh si negro yang terus menghujam-hujamkan rudalnya dengan kasar sampai tubuh Nia berkali-kali tersentak-sentak keatas diertai jeritan panjangnya yang melengking.
“Ohhhhh…, Nooooo, Pleaseeee…, Nooooooooo” Nia menggeleng-gelengkan kepalanya ketika merasakan sebatang rudal berusaha menjebol lubang anusnya.
“Arrrhhhhhh… Haaaaahhhh….” tubuh Nia tampak kejang menahan sesuatu yang besar itu menyeruak masuk dengan kasar menerobos lubang duburnya.
“Please, Arrrhhhh… Arhhhhhhhhhhh…” Nia mengerang ketika dua batang rudal itu bergerak keluar-masuk dengan cepat dan kasar.
“Please no more…, no moreeeee. Enngggg” Nia kewalahan.
“Hahhhh…?? Want moreeeee…, Oke Baby, take thisssss….” Si negro menghantamkan batang rudalnya kuat-kuat menyodok-nyodok lubang anus Nia sampai ia menjerit panjang. “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
“No More !!!!, Budegggggg!!! ” Si negro yang tengah mengocok lubang serambi lempit Nia berteriak keras dengan emosi. (Red : HAAAHHHHH ? LOHHHH ? ADA YANG DENGER NGGAK SI NEGRO BILANG APA TADI ? )
“Ennnnhhhh…. Ahhhhhhh” kepala Nia terangkat ke atas ketika tangan kanan si negro yang agak budek itu menarik rambutnya ke belakang sedangkan tangan kiri si negro merayap menggerayangi bulatan payudara gadis itu. “Plefffhhh… Ploooppp… Plakkkk… Clepppp… Cleppppphhhhh” suara lubang anus Nia dan lubang serambi lempitnya semakin keras berdemo ketika batang-batang rudal yang hitam dan panjang itu semakin kasar dan kuat merojoki lubang anus dan serambi lempitnya.
Bersambung… Nikita tampak cemas ketika Ben menarik tubuhnya turun dari atas ranjang, “Ennnnhhhh…. Ahhhhhhhhhhhh” Nikita menjerit ketika lubang serambi lempitnya menggigit batang kemaluan Ben yang besar dan panjang, kedua lututnya terasa goyah ketika kemaluan Ben semakin dalam tenggelam dengan perlahan memasuki lubang serambi lempitnya.
Gadis itu menekuk wajahnya sambil memperhatikan kemaluan Ben, baru masuk sampai sebatas leher rudal, namun Nikita sudah merasa kewalahan, perlahan-lahan batang rudal itu terus menekan
“Ahhhhhhhhh…, Ahhhhh…..”Nikita merintih ketika rudal Ben semakin tenggelam, kemudian mendesah-desah dalam siksaan yang sangat nikmat ketika rudal Ben mulai bergerak memompa lubang serambi lempitnya.
Tangan Ben bergerak mendekap pinggul Nikita dan mengangkat tubuh mungilnya, Nikita mengalungkan kedua tangannya berpegangan pada leher Ben. Untuk sesaat tubuh Nikita Willy terayun-ayun dengan bebas, terkadang ia meringis ketika merasakan ada rasa ngilu yang menyelingi rasa nikmat. Ben menghentikan gerakannya, Nikita mendesah panjang, lega karena serangan Ben terhenti.
“Ohhhh… !! ” Nikita menolehkan kepalanya kebelakang ketika merasakan benda besar dan hangat menggesek sela-sela pantatnya.
“Hegkkkk… Ahhhhhhhhhhhhhhhh….” Nikita melotot merasakan lubang anusnya kembali merekah dijebol dengan kasar olehl rudal si negro yang berdiri di belakang tubuhnya.
“Awwwwww……!! Nggghh , Nghhhgg Aaaaaaaaaaaaaaaa !! ” Nikita menjerit keras kemudian merengek-rengek ketika merasakan dua batang rudal itu mengocok-ngocok lubang serambi lempit dan lubang anusnya dengan kasar dan brutal sampai-sampai Nikita melolong dalam kenikmatan api birahi yang membakar tubuhnya sampai kepanasan dan semakin bercucuran keringat.
“Ihhhhhh…..! Crrrrr… Crrrrrr….” Kenikmatan itu mengangkat dan menghempaskan Nikita kuat-kuat.
Tubuh Nikita pasrah dalam tusukan-tusukan rudal si negro di lubang anus dan serambi lempitnya, matanya terpejam-pejam, merasakan kenikmatan yang begitu hebat meluluh lantakkan tubuhnya yang berpeluh, halus dan mulus.
“Kecrottttt….” “Crooooottttt”, dua batang rudal itu menghentak sedalam mungkin, semburan-semburan sperma menyemprot kedua lubangnya. Seorang negro dengan hidung kelewat pesek merebut dan membopong tubuh Nikita yang sudah basah kuyup berceceran air keringat yang membanjir. Ia duduk di atas kursi kemudian menarik pinggul Nikita turun.
“Hssssaaaaahhhhhhhhh…. “Nikita mendesis ketika merasakan rudal si negro mengganjal lubang serambi lempitnya dan kemudian perlahan-lahan memaksa masuk lebih dalam dan semakin dalam.
serambi lempit Nikita yang sudah habis-habisan digempur tampak memar kemerahan, namun sepertinya si negro itu tidak peduli dengan kondisi serambi lempit Nikita yang sudah “Knock Out”, tanpa daya lubang serambi lempit Nikita kembali menerima sodokan-sodokan kasar rudal si negro yang hitam dan panjang.
Kedua tangan Nikita berusaha meraih dua batang rudal yang masih segar, kemudian mulutnya terbuka lebar sambil menarik batang rudal ditangan kirinya. “Heppphhhhh…, Mmmmmm, Mmmmmmm “, Nikita mengoral dua batang rudal negro yang berada dalam genggaman tangannya
“Ahhhhhhh…..!! Ohhhhh…, Enak sekali Sichh.. Crrrr Crrrrr ” jebollah sudah cairan kenikmatan itu dalam beberapa kali denyutan. Nikita hanya dapat mengerang lemah ketika tubuhnya tersodok-sodok keatas mengikuti sodokan rudal si negro yang sedang asik mengocok-ngocok serambi lempitnya.
“Ahhhhh…! Jangan Disitu…, No Please….” Tiba-tiba si negro mendorong bokong Nikita, rudalnya yang besar dan panjang dijejal-jejalkan dengan paksa pada lubang anus Nikita Willy
“Achhhhhhh….! Heggghhh…, Ahhhhhhhhhhh!! ” Nikita tidak dapat lagi menahan jeritannya ketika merasakan lubang anusnya dipaksa melar ketika kepala rudal itu menerobos masuk dengan kasar.
“Aaaaaa…, Uuunnnhhhh,,, Aaaaaaaaaannnnhhhhhh….” Nikita meringis antara sakit dan nikmat ketika rudal si negro tanpa ampun menyodomi lubang duburnya.
“Ahhhhh….!! ” Belum Juga Nikita sempat menyesuaikan diri tiba-tiba seorang negro lainnya mencekal pergelangan kakinya dan dengan kasar ia menancapkan rudalnya, beberapakali rudal yang besar itu menekan-nekan dengan kasar sebelum akhirnya amblas memasuki lubang serambi lempit Nikita yang peret.
“Ohhhhhh, Ahhhhhhhhh, Ohhhhhhhhhh, Awwwwwwww…..” Nikita menjerit-jerit ketika dua batang rudal itu berlomba mengaduk-ngaduk lubang serambi lempit dan lubang anusnya. Ngocoks.com
Wajah Nikita tampak memerah, seksi, sensual dan mengasikkan untuk dipandang ketika dirinya kembali mengalami puncak klimaks yang hebat “Crrrrrr…., Crrrrrrrrrrrrr…..”, tubuh Nikita yang basah semakin indah ketika menggeliat-geliat dengan nikmat, bibirnya selalu mendesis dan mendesah merasakan persetubuhan yang terasa semakin nikmat.
“He he he…, Yeahhhh, Oooo, Yeahhhhh….” Marshanda sedang mengangkangi wajah si negro sambil menekan-nekankan serambi lempitnya pada mulut si negro yang rakus memangut-mangut serambi lempit gadis itu yang semakin basah oleh air liur yang bercampur dengan cairan serambi lempitnya yang gurih dan lezat.
“Unnnhhh, Ohhhhhhhh, Esshhhhhssssshhh… Hahaha…”Marshanda menengokkan kepalanya kebelakang kemudian tertawa keenakan ketika merasakan buah pantatnya digigit-gigit dengan lembut, apalagi lidah itu mengeliat-geliat dengan lembut menggelitiki himpitan pantatnya, sesekali dengan nakal lidah yang hangat dan basah itu mengait lubang anusnya.
Mulut Marshanda sibuk mengoral tiga batang rudal yang teracung di hadapan wajahnya , panjang dan hitam, dikecupinya ketiga batang rudal itu bergantian kemudian dijilatinya secara bergiliran. Marshanda tampak sangat rakus mengoral batang-batang rudal itu, mulutnya berdecakan dan tampak belepotan oleh air ludah bercampur dengan lendir-lendir yang semakin banyak meleleh dari lubang rudal ketiga pria negro itu.
“Ahhhhh….! Crrrr Crrrrr…” Marshanda menekankan serambi lempitnya kuat-kuat pada mulut si negro yang mengemut serambi lempitnya, jakun si negro terlihat bergerak turun naik ketika menelan cairan serambi lempitnya yang gurih dan lezat.
Marshanda menggeser posisi tubuhnya kini ia hendak menduduki rudal si negro, perlahan-lahan Marshanda menekankan kepala rudal si negro namun terpeleset.
Tangan si negro memegangi batang rudalnya sementara tangan yang satunya lagi menekan pinggul Marshanda untuk segera turun “Ahhhhhhhhhhh……” Wajah Marshanda terangkat keatas ketika rudal Si negro tenggelam semakin dalam,
“Nikmattttt….ssshh…., Akhhhhhhh…, Owwwww,Hssshhhh ” Marshanda menopangkan kedua lengannya pada dada si negro dan dengan hebatnya Marshanda menaik turunkan pinggulnya, “Clepp.., Clepppp… Cleppppp, Cleppp” Suara-suara pertempuran itu semakin lama terdengar semakin nyaring diiringi oleh suara Marshanda yang menjerit-jerit liar.
“Damn, you’re so wild, Bitch…”Si negro yang tengah diperkosa oleh Marshanda tersenyum sambil meremasi buah dada Marshanda yang terguncang-guncang mengikuti gerakan tubuhnya yang liar.
Marshanda menghentikan gerakannya, ketika merasakan seorang negro mulai bergerak merapatkan selangkangannya pada buah pantatnya. Si negro menggesek-gesek belahan pantat Marshanda dengan batang rudalnya sebelum bergerak menekan lubang dubur Marshanda dengan kepala rudalnya.
“Ennggghhhhh…., ” kepala Marshanda terangkat keatas sambil mendesah panjang ketika merasakan sesuatu yang besar terasa mengait lubang duburnya yang mungil.
“Arhhhhhhhhhhhhhhhh….! ” nafas Marshanda terputus-putus ketika si negro menyodokkan batang rudalnya yang hitam dan panjang hingga terbenam sekaligus dengan sekali sodokan yang kasar dan kuat.
“Ahhhhh, Ahhhhhh, Ahhhhhhh, ” keliaran artis yang terkenal akan perannya sebagai Lala dalam ‘Bidadari’ itu terlibas oleh kegarangan dan kekasaran dua orang pria negro yang sedang menyodoki lubang anus dan serambi lempitnya , begitu kasar, liar, dan brutal.
“Ufffhhhhhhhhhhhh…., Crooootttttttttttttttttt…..” Marshanda pasrah pada denyutan-denyutan kenikmatan di serambi lempitnya yang seakan-akan menyedot habis tenaganya, tubuhnya semakin basah, berpeluh dalam kenikmatan birahi yang mengombang-ambingkannya dalam lautan yang penuh dengan desahan-desahan kenikmatan.
“Ouuhhhhhh…! Arrrhhhhhh….! ” Marshanda meringis karena kedua negro itu semakin kasar dan brutal menyetubuhinya.
Dua batang rudal itu semakin merajalela, seenaknya menjebol kedua lubang gadis itu, menghantam serambi lempit dan lubang duburnya yang sempit, menusuk-nusuk dengan kejam dan mereguk kenikmatan tubuh Marshanda yang halus mulus dalam keliaran binatang buas yang lapar dan haus, tubuh Marshanda yang mungil tersentak keenakan ketika dua batang rudal yang perkasa itu menghujami kedua lubangnya yang seret.
Buah dadanya yang bergerak – gerak dengan indah menjadi mainan bagi dua negro yang asik menyusu di puncak payudaranya yang semakin kenyal membuntal dengan padat tanda gadis itu sedang diamuk kenikmatan yang dashyat.
“Arrrrhhhh…..”sesekali Marshanda menjerit kecil ketika merasakan gigitan-gigitan gemas kedua negro yang sedang menggeluti buah susunya. Hisapan-hisap kuat mulut kedua orang negro itu meninggalkan bekas kemerahan, kecupan-kecupan dan jilatan-jilatan lidah yang basah dan hangat membuat Marshanda berulang kali mendesah dan merintih, sementara tubuhnya tersentak-sentak dalam irama yang liar dan brutal disetubuhi oleh dua batang kemaluan di lubang serambi lempit dan anusnya yang terasa seperti melar tanpa daya menerima rudal yang begitu besar dan panjang.
“Heghhhh…. Oooooohhhhhhhhhh….Crrrrttttt…” Marshanda terkulai dalam kenikmatan puncak klimaks, bersamaan dengan itu gadis itu serambi lempitik keras ketika merasakan sodokan keras di lubang anus dan lubang serambi lempitnya “Kecrottttt…” “Crooooooootttt”
“Uhhhhh, “Marshanda mengeluh kecapaian, tubuhnya yang sudah lemah ditarik dengan kasar kemudian gadis itu dipaksa berdiri, kedua tangannya diikat kebelakang, sementara seseorang menarik pinggul gadis itu agar menungging dan
“Jrebbbbbbbbb…. Arrrrhhhhhh….” Marshanda kembali mengerang merasakan sebatang rudal kembali membobol lubang anusnya.
“Ohhhh, Please stop it, Ohhh it hurttttt…, Arrrrggghhhh”
Erangan kesakitan Marshanda bercampur dengan desahan nikmat ketika si negro yang berada dibelakang tubuhnya menghujam-hujamkan rudalnya sedalam mungkin ke dalam anusnya. Marshanda menatap nakal pada dua orang negro yang menarik-narik putting susunya, sesekali mulut Chacha diemut dan dikulum dengan mesra oleh- bibir si negro yang tebal.
Marshanda membalas setiap kuluman yang jatuh dibibirnya. Tangan Marshanda bergerak menyambar batang rudal yang terhunus di selangkangan kedua orang negro itu, gadis itu melakukan remasan yang dikombinasikan dengan sesekali menarik-narik rudal kedua orang negro itu yang meringis-ringis keenakan, memasrahkan batang rudal mereka dalam genggaman tangan Marshanda, kedua negro itu menatap Marshanda dengan tatapan gelisah, Marshanda tersenyum sambil mendesah nakal
“I know U can’t wait to fuck me , BIG BOYYY…, Assshhhhhhh, Hesssshhhh”
Setelah puas menyodomi Marshanda , si negro yang berada di belakang Marshanda mencabut rudalnya dengan kasar kemudian menjejalkan rudalnya kelubang serambi lempit gadis itu
“Aaaaa, Aaaaaaa, Arrhhhhhhh….! ” Marshanda serambi lempitik-mekik kecil ketika tubuhnya terayun semakin kuat,
“Plokkkk… Plopppp, plopppp,,, plokkkk… Keplokkkkkk….”
Suara hantaman selangkangan si negro terdengar dengan keras beradu dengan buah pantat Marshanda.
“Arrrrhhhhhhhhhhhhhh….! Crrrr Crrrrrrrrrrrr” Marshanda menjerit dengan liar ketika merasakan lubang serambi lempitnya berdenyut-denyut nikmat, tidak berapa lama Chacha merasakan semburan dashyat di dalamnya.
“Uhhhhh…..” Marshanda mengeluh merasakan dirinya ditarik oleh kedua orang negro yang sudah tidak sabaran ingin segera menggenjot tubuhnya.
Dengan kasar tubuh dirinya didorong hingga jatuh duduk di atas sofa,
“Auhhhhh….., ” Marshanda serambi lempitik kaget ketika tubuhnya diterkam dan digeluti dengan kasar.
Bibirnya dikulum habis-habisan sampai gadis itu terengah-engah kehabisan nafas. Kedua negro itu menyusu di payudara Marshanda yang sudah basah berlapiskan peluh gadis itu, kedua kaki Marshanda mengangkang lebar-lebar ketika kedua negro itu mengelusi permukaan pahanya.
“Uhhhhh…., Ahhhhhhhhh” Marshanda memegangi tangan yang kekar itu ketika si negro mengocok-ngocokkan jari telunjuknya dengan kasar, cairan serambi lempitnya semakin banyak meleleh, suara – suara berkecipak semakin keras terdengar.
“Awwwww….” Marshanda menjerit ketika si negro menggigit permukaan serambi lempitnya dengan gemas, lidah si negro yang kasar bergerak menjilati permukaan serambi lempitnya sampai tampak semakin basah oleh air liur bercampur dengan cairan kewanitaanya.
Tubuh Marshanda mengejang ketika merasakan sedotan sedotan rakus di lubang serambi lempitnya, begitu kasar dan liar.
“Ecchhhhhh……, ” tubuh Marshanda menggigil ketika merasakan bibir serambi lempitnya ditarik dengan kasar.
Si negro tersenyum memandangi bagian dalam serambi lempit Marshanda, lubang itu tampak seperti sedang mengambil nafas, kadang merapat kadang merekah. Ia lalu menjulurkan lidahnya kemudian dengan lembut lidahnya mengulas-ngulas bagian dalam serambi lempit Marshanda, sesekali bibirnya yang tebal melumat klitoris Marshanda yang mungil.
Marshanda menggeliat – geliatan ketika merasakan cumbuan-cumbuan lembut di buah dadanya, mulut Si negro mengemut lembut puncak payudara Marshanda, tampaknya cumbuan-cumbuan lembut kedua pria negro itu membuat Marshanda semakin pasrah dalam pelukan nafsu birahi yang perlahan-lahan melahap kehangatan dan kemulusan tubuh artis muda itu.
“Unnnghhhhh……,Crrrrrrooottttt……” Marshanda merasakan pandangan matanya berkunang-kunang untuk sesaat, cumbuan-cumbuan lembut si negro membuahkan sebuah kenikmatan yang berdenyut-denyut di lubang serambi lempitnya.
Si negro duduk di atas sofa dengan santai, batang rudalnya terhunus ke atas seperti sebuah tumbak tumpul yang siap untuk memberikan kenikmatan bagi Marshanda.
“C’mon…..!! ” Si negro mengocok-ngocok rudalnya sambil menoleh ke arah Marshanda.
Seolah-olah sudah mengerti, pantat Marshanda naik ke atas rudal si negro, sebenarnya Marshanda ingin memasukkan rudal si negro pada lubang serambi lempitnya, namun apa daya keinginan si negro berbeda…..
“Emmmmhhhhhhhhhh…” Marshanda menggigit bibir bawahnya ketika berusaha memasukkan batang rudal si negro kedalam lubang anusnya.
“Uhhhhhhhhhhhhh, ” Kepala Marshanda terangkat keatas, mulutnya membentuk huruf “O” disertai desahan panjangnya yang menggairahkan ketika perlahan-lahan batang rudal yang besar dan panjang itu memasuki lubang anusnya. “Arrrhhhhhhhhhhhh….!! ” gadis itu menjerit ketika Si negro dengan tidak sabaran menarik pinggul Marshanda turun sambil menghentakkan tombak hitamnya keatas.
“Ennhh, Ennhhh, Akkkhhhhhh….” Tubuh Marshanda terloncat-loncat keatas ketika batang rudal si negro mencecar lubang anusnya
“Hemmmm, Emmmmmmmmmhhhhh…” Mulut Marshanda yang sedang sibuk mendesah dan merintih itu mendadak disumpal oleh sebatang rudal, Marshanda agak kebingungan ketika kedua tangannya ditarik ke belakang, namun tiba-tiba ia tersentak ketika merasakan batang rudal si negro menekan semakin dalam ke dalam rongga mulutnya.
”Ehekkk… Heeeekkkkkkkkssss….” Marshanda hanya dapat mendelikkan kepalanya ketika mulutnya di deepthroat oleh si negro. Marshanda tampak sangat menderita, wajahnya sering mengernyit.
“Emmmhhh, N.n.. Noo, Please Don’t ” Marshanda menolak ketika si negro menyodorkan kembali rudalnya.
Si negro memukul mukulkan batang rudalnya ke wajah Marshanda, seolah-olah sedang memberikan hukuman atas penolakan gadis itu. Marshanda menangkap rudal si negro ketika si pria negro itu hendak menjejalkan rudalnya dengan paksa kedalam mulutnya.
Mulut Marshanda terbuka lidahnya terjulur keluar memberikan jilatan-jilatan lidahnya yang hangat dan basah pada rudal si negro, kemudian sambil mengulum kepala rudal itu kedua tangan Marshanda bergerak meremas dan mengocok-ngocok batangnya. Marshanda menarik kepalanya ketika merasakan batang rudal si negro terbenam semakin dalam kedalam rongga mulutnya dan menyodok kerongkongannya.
“Plakkk…!! Plakkkkkkkkk!!!! ” Si negro yang sedang asik menyodomi Marshanda semakin keras memukuli buah pantat Marshanda.
“Ouhhhhh….” Marshanda semakin kesakitan, ia terpaksa membuka mulutnya lebar-lebar, rudal di hadapan wajahnya mulai mendekati mulut artis muda itu yang sedang menganga.
Kening Marshanda berkerut merasakan batang rudal yang hitam itu kembali mendeepthroat rongga mulutnya, bahkan kepala rudal itu mulai menyodoki kerongkorangannya dengan kasar.
“Uhukkk.., Uhukkkk…., ” Marshanda terbatuk-batuk ketika tersedak cairan sperma si negro yang meledak di kerongkongannya. Marshanda meludahkan cairan sperma si negro.
“Nhhooooo…, Pleaseeeee…. Noooooo….” Marshanda menangis ketika sebatang rudal lain yang lebih besar kembali tersodor di hadapan wajahnya.
“Don’t cry…, ” Si negro mengusap air mata Marshanda, kemudian tangannya meremasi buah dadanya dengan lembut, untuk sesaat Marshanda menyangka kalau pria negro di hadapannya adalah seorang yang lembut, namun harapan tinggallah harapan ketika kemaluan si negro yang besar itu tanpa ampun merojoki lubang serambi lempitnya yang sempit dan peret, begitu liar, kasar dan brutal.
“Cleppp.. Cleeppppp… Clepppp” “Plokkk…Plokkkk.. Plokkkkk”
“Ahh… Cruuuuuttttt…..” Marshanda menggelepar-gelepar, tubuhnya masih terus tersentak-sentak dipacu dalam kenikmatan yang semakin rakus melahap tubuh Marshanda, batang-batang kemaluan yang hitam dan panjang tidak pernah lengah sedikitpun untuk memberikan kenikmatan untuknya.
Sementara itu Julie Estelle tengah menggeliat-geliat, berkali-kali kepala dua negro itu menunduk bergantian untuk mencumbui payudaranya, tangan mereka yang hitam mengelusi tubuh Julie yang putih dan mulus. Walaupun susu Julie tidak begitu besar tapi kedua negro itu terlihat sangat menikmatinya. Julie menunggingkan bokongnya ketika kedua negro itu merubah posisi, yang satu berdiri dibelakangnya, yang satu berdiri dihadapannya.
“Essshhhhh…., ” tubuh Julie mengejang ketika merasakan sebuah kepala rudal berusaha kembali membobol lubang anusnya, ia merasakan lubang anusnya merekah dan terasa sesak.
“Awwww….” Julie mengernyit kesakitan ketika rudal itu menyentak-nyentak
Batang rudal yang hitam dan panjang itu tenggelam Semakin dalam dan dalam. “Awwww.. Aduhhh Duhhhhhhh….!!”
“Emmmhhh…” Si negro dihadapannya menjambak rambut Julie dan menekan kepalanya ke bawah, sedangkan tangan kiri si negro menjejalkan kepala rudalnya ke mulut Julie.
“Emmmrrrrhhhhh……” mata Julie mendelik ketika rudal si negro menekan dalam merojok kerongkongannya, tubuhnya sampai bergetar hebat ketika dideepthroat oleh rudal si negro.
Pinggul Julie didekap erat oleh sepasang tangan yang kekar kemudian rudal yang besar itu semakin kasar dan kuat menggenjoti lubang anusnya. Kedua tangan Julie ditarik ke belakang dan kemudian kedua negro itu semakin kasar mendeeptroat dan menyodominya. Air mata menetes dari sudut mata Julie, agak lama barulah si negro mencabut rudalnya dari dalam mulut Julie. Begitu rudal itu dicabut, Julie langsung mengambil nafas panjang,
“Whaaaaaw!! Noo Nooo Please…..” Julie langsung menjerit sambil menggeleng-gelangkan kepalanya, si negro terkekeh-kekeh sambil menjilat pipinya.
Si negro merendahkan tubuhnya, tangan kanannya membimbing rudalnya ke belahan serambi lempit Julie. Benar-benar tragis, lubang anus Julie ditancap oleh sebatang rudal, dan kini sebatang rudal lain menghunus dan menghujam belahan serambi lempitnya.
Si negro yang berdiri dihadapannya mengangkat dan meletakkan kaki Julie melingkari pinggangnya. Mau tidak mau Julie terpaksa mengalungkan kedua lengannya pada leher si negro di hadapannya.
Julie mendesah-desah ketika merasakan dua rudal itu mulai menyetubuhinya dengan lembut, tampaknya kedua negro itu sedang keasikan menikmati kehangatan Julie, begitu lembut dan lembut, pergesekan rudal yang besar dan panjang itu terasa semakin nikmat membuat Julie menengadahkan kepalanya keatas dan mendesah panjang.
“Dasar kunyuk lu Moreno, emangnya gua ga bisa apa main ama negro juga apa!” umpat Julie dalam hati mengingat perselingkuhan ex-pacarnya, Moreno, si pembalap karbitan itu, dengan seorang gadis Nigeria beberapa waktu sebelumnya, ingin rasanya ia mempertontonkan dirinya sedang dalam keadaan sekarang ini di depan Moreno untuk memanas-manasinya, tapi sayangnya pembalap karbitan itu sedang jauh di tanah air dan entah sedang ngapain.
“Ennnhhhhh…, Crrrr Crrrrrr” tidak begitu lama, Julie merasakan lubang serambi lempitnya berdenyut dalam sebuah ritme yang terasa nikmat.
Yang paling pertama si negro di hadapannya tiba-tiba menyentakkan rudalnya kuat-kuat sampai ia berteriak keras, kemudian digantikan si negro yang dibelakang tubuhnya menyentakkan rudalnya dengan kasar “Ahhhh..! ” Julie kembali menjerit keras.
“Ahhhh…! Ahhhhhhh!! ARRRHHHH !!!! ” Julie semakin keras menjerit liar, ketika dua rudal itu kini memacu lubang anus dan serambi lempitnya, tubuh Julie yang putih dihimpit oleh tubuh dua orang negro yang hitam legam.
Tubuh Julie tampak indah ketika terangkat-angkat keatas kemudian menghempas-hempas ke bawah dalam sebuah irama yang teratur, sesekali ia mengerang keras
“Ahhhhh… Crrrr Crrrrrr…..” Satu pekikan keras Julie menggakhiri pertempuran yang sengit itu, tapi hanya untuk Julie, sedangkan bagi dua orang negro yang masih menghimpit tubuhnya pertarungan masih dianggap sebagai tester.
“Shhhh…. ” Julie mendesis ketika dua batang rudal itu terlepas dari lubang anus dan lubang serambi lempitnya, Tubuhnya melorot turun, Julie menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal.
Si negro membaringkan tubuhnya diatas lantai berselimutkan kain permadani, sedangkan si negro yang satunya lagi membimbingnya agar segera menaiki tubuh rekannya yang sedang berbaring sambil mengacung-ngacungkan rudalnya. Julie menurunkan serambi lempitnya.
Artis cantik itu merasa ada sesuatu yang mengganjal selangkangannya dan menusuk dengan perlahan-lahan terbenam ke dalam serambi lempitnya sehingga ia kini dapat semakin merapatkan serambi lempitnya ke selangkangan si negro.
Tubuh Julie bergerak erotis ketika rudal itu bergerak semakin dalam tertancap di lubang serambi lempitnya. Tangan si negro mengelusi pinggul Julie ketika ia menaik turunkan pinggulnya dalam sebuah gerakan yang berirama, rudal yang besar dan hitam itu terkadang tertekuk ketika memasuki belahan lubang serambi lempit Julie.
Tangan si negro menampar-nampar pinggul Julie sehingga artis muda itu mempercepat gerakan pinggulnya yang naik turun.
“Ahhh, Ahhhh. Ahhh.. Ahhhhhh” suara dari mulut kembali terdengar semakin keras, gerakannya tertahan ketika sepasang tangan menekan buah pantatnya “Arrrrhhhhhh” Julie mengerang sambil merayapkan tangannya memegangi buah pantatnya. Sebatang rudal sudah asik menancap di lubang anusnya dan kini si negro semakin kuat menekankan rudalnya ke dalam anus Julie.
“Ennhhh… Enhhhh…!! Awwww” Julie merintih-rintih ketika kedua rudal itu berlomba memacu kedua lubangnya, ia merengek – rengek dengan manja dalam himpitan tubuh dua orang negro yang terus menyetubuhinya dengan kasar dan brutal.
******************************
Sementara itu ditaman belakang
Ratu Felisha & Shandy Aulia
“Brakkkk…” terdengar suara pintu yang terbanting dengan keras
“Gila loe, emangnya gua apaan…, nggak mau gua!!” Shandy menolak dengan keras.
“Ya udah…, kalo cuma maen sama gua kan nggak apa – apa ” Ratu Felisha menarik tangan Shandy Aulia kemudian berusaha melepaskan baju gadis itu.
“loe sinting kali ya !!.., mereka…” Shandy protes, sambil menepiskan tangan Feli.
“Mereka di dalam……, kita bedua di luar…” Ratu Felisha memotong ucapan Shandy
“Kamu, liar…Banget sih….”Shandy Aulia mendesis lirih
“Kamu Juga nakal…” Ratu Felisha mencium bibir Shandy Aulia dengan lembut, sudah lama Shandy tidak merasakan kenikmatan bercumbu dengan Ratu Felisha yang liar dan seksi. Sedikit demi sedikit Shandy mulai pasrah dalam dekapan Feli.
Tangan Shandy membelai payudara Feli yang membusung padat dan kencang, tangannya Shandy meremasi payudara Feli, semakin lama Shandy semakin bernafsu meremasi payudara itu. Dengan gemulai Feli merentangkan kedua tangannya keatas ketika Shandy menarik lepas baju kaos ketat yang dikenakannya agar Shandy dengan leluasa menelanjanginya.
“Nggak Ahh…” Shandy Aulia mendadak marah sambil menepiskan tangan Feli.
Ratu Felisha hanya tersenyum sambil memeluk erat-erat tubuh Shandy, nafasnya berdesahan, mengundang Shandy untuk segera pasrah dalam arena kenikmatan. Setelah meredakan kemarahan Shandy, Feli menutup mata Shandy dengan sehelai sapu tangan dan berbisik di telinga Shandy.
“Body loe bohay amat sichh” kemudian Feli kembali meneruskan niatnya menelanjangi gadis itu, tangan Feli menarik tubuh Shandy agar berbaring di atas rumput,
Ratu Felisha mengikat tangan Shandy dengan tali Bh gadis itu. “Ahhhhh, kenapa tangan gue diiket segala sihh” Shandy berusaha melepaskan tangannya, akhirnya karena kesakitan ia pasrah, gadis itu semakin sering mendesah-desah karena tangan Feli semakin aktif mengelus dan menggerayangi payudaranya.
“Gue jamin loe pasti puas…” Ratu Felisha mendesah dalam hati, gadis itu tersenyum karena berhasil mengelabui Shandy, beberapa pria negro melangkah mendekati Shandy yang sedang berbaring di atas rumput dalam keadaan mata tertutup dan tangannya terikat kuat oleh tali bra.
Ratu Felisha memberi tanda agar mereka mendekat dan segera melakukan lumatan-lumatannya pada bibir Shandy,
“Cuphhh.. Ckkkk… Ckkkk… Cpppphhhh…” bibir si negro semakin rakus mengecupi bibir Shandy yang berdesahan kemudian ciuman dan lumatan si negro terus turun ke arah dada Shandy.
“Ahhhhhh…., Ohhhhhh Fel…..” Shandy mendesah sambil memanggil nama temannya
Ia tidak tahu kalau yang menggeluti buah dadanya dengan kasar adalah seorang pria negro dengan bibir sumbingnya yang tampak kehausan mengenyot-ngenyot puting susunya yang mungil.
“Hemmmmppp..Fel…, Ohhhhhhh” Shandy merintih, ketika merasakan gesekan-gesekan jari seseorang di selangkangannya.
“Buka kaki loe yang lebar, gua mau ngejilatin serambi lempit loe ” Feli kembali mengelabui Shandy. Shandy Aulia tertawa kecil sambil berkata…
“Ingettt…, jangan keras-keras ya..”..
“Iya….” Ratu Felisha menjawab dengan pasti, Shandy pun mengangkangkan kedua kakinya melebar, ia mendesah-desah merasakan elusan-elusan tangan di permukaan pahanya sebelah dalam.
“Hahhh…!! Heiiii apaan nihhhh…” Shandy kaget merasakan sebuah benda memaksa memasuki serambi lempitnya, ia hendak merapatkan kedua kakinya namun tiba-tiba pergelangan kakinya ditangkap dan direntangkan melebar dengan kasar.
“Aduhhh… duhhh, Arhhhhh ,Abis dahhh….” Shandy menggigit bibir bawahnya ketika merasakan rasa pedih di selangkangannya.
“Ha Ha Ha….Sippp!!, He he he he” Ratu Felisha tertawa terkekeh-kekeh sambil membuka sehelai saputangan yang menutup mata Shandy
Feli mengecup kening Shandy dan bibirnya yang meringis ringis kesakitan diperawani oleh si negro, kedua tangan Feli meremas-remas buah dada Shandy.
“Sialan loe…, kegadisan gue!! Aww Aduhhh Awwww pelan dong massss…Ahssssshh sakittt!!” tangan Shandy berusaha menahan gerakan pinggul si negro,sambil memohon-mohon.
“Norak loe , dia nggak ngertiii…,he he he ” Feli memeluk punggung si pria negro yang sedang mengangkangi tubuh Shandy sambil berbisik
“Slow down honey, …”
Si negro mengangguk kemudian dengan hati-hati menarik dan mendorong rudalnya perlahan-lahan. Ditariknya pinggang Shandy yang ramping kemudian ia menjatuhkan dirinya ke belakang, tubuh Shandy pun tertarik dan menduduki rudal si negro.
“Ahhhhhhh….” Ratu Felisha terkejut ketika sepasang tangan yang kekar meraih pinggangnya dengan kasar dan tak lama kemudian pakaiannya sudah terlempar kesana kemari. Ngocoks.com
“Auhhhhhhh…. , ” Feli meringis ketika sebuah rudal yang besar menyodok lubang serambi lempitnya. Ia menolehkan kepalanya ke belakang hendak protes karena diperlakukan dengan kasar namun…
“Hemmmmm… Hemmmmmm” bibir Feli disumpal dan dilumat oleh seorang pria negro bermata picak, ia mengernyit kesakitan ketika tangan si negro meremas-remas buah dadanya dengan kasar.
Genjotan-genjotan si negro tiba-tiba membuat Feli menjerit keras
“Awwwwww…. Kecroootttttt…. Croooottttttt” tubuh gadis itu masih terayun-ayun dengan keras walaupun dirinya sudah mencapai klimaks, nampaknya pria negro yang sedang menyetubuhi Feli tidak sudi membiarkan gadis itu untuk berisitirahat walaupun untuk sejenak.
Payudara Feli yang membuntal padat mejadi mainan favourite bagi mulut para negro yang berebutan mengecupi dan menjilatinya. Tubuh Feli meronta-ronta dan mengejang ketika empat orang negro sekaligus merejang tubuhnya yang menolak untuk disodomi. Mereka memaksanya berdiri sambil menungging.
“Unnggghhh, Nooooo, Arrrrhhhhhhhhh” tubuh Feli serasa lemas ketika lubang duburnya disodok dan dibongkar dengan paksa oleh rudal si negro yang hitam dan panjang.
“Ouhhhh, Ouuuuggghhhhhhh…..” Feli mengerang, kedua tangannya ditarik ke belakang, sementara kedua kakinya dikangkangkan lebar, tubuhnya berkali-kali terdorong dan terhempas oleh keganasan sebatang rudal yang tengah menyodominya dengan kasar.
Kenikmatan? Apakah ini yang disebut dengan kenikmatan disodomi untuk sesaat Feli membatin, perasaan-perasaan aneh menggodanya untuk segera menyerah dalam kenikmatan birahi
“Arrrhhh, Auuuhhhh.. Crrrr Crrr..” tubuh Feli tersungkur-sungkur ke depan ketika lubang anusnya dihantam dengan keras oleh sebatang rudal yang besar dan panjang.
Seorang negro tersenyum sinis sambil mengelusi buah dadanya, sesekali telapak tangan si negro meremasi payudara yang bergoyang-goyang menggantung di dadanya. Kedua lutut Feli semakin lemah, si negro mengikuti gerakannya yang terjatuh lemas di atas kedua lututnya.
Tubuh Feli kini berlutut dengan kedua lututnya yang mengangkang, punggungnya bersandar pada dada si negro yang asik terus menyodominya, tangan si negro mendekap tubuhnya dengan erat.
Tusukan di lubang anusnya tiba-tiba berhenti, ia mempergunakan kesempatan ini untuk mengatur nafasnya. Seorang negro merendahkan selangkangannya sambil menarik kepala Feli, lalu menjejalkan batang rudalnya ke dalam mulutnya, dengan rakus Feli mengenyot-ngenyot kepala rudal si negro yang menyesaki rongga mulutnya.
Tubuh Feli kembali terdorong lembut kemudian kembali tersentak-sentak dengan keras, mengikuti sodokan-sodokan liar dilubang duburnya “Arhhhh…, Ennnhhh…..”
“Hemmmrrrrhhhhhh…, Mmmmmrrrrhhhhhh” tubuh Feli lemas karena kesulitan bernafas, sebelum ia pingsan si negro menarik batang rudalnya Si negro cengengesan sambil kembali mendeepthroatnya berulang-ulang. Semprotan yang amat hangat tiba-tiba menyiram lubang anus Feli. Tubuh Feli direngut oleh si negro yang tadi mendeepthroatnya. Wajah Feli kemerahan ketika si negro melecehkannya
“you slut, I’ll fuck you and make you screamm !!” Si negro duduk mengangkang sambil mendudukkan Feli di pangkuannya.
“Uhhhhh…. ! Arrrhhhhhh…..! ” Ratu Felisha mengangkang sambil meregang ketika batang rudal yang besar itu menancap di lubang serambi lempitnya.
Feli mengerang ketika batang rudal si negro menghentak-hentak dengan kasar.
“That’s all you got, you’re nothingggg… Arrrrhhhhh” Feli mengejek si negro untuk memanas-manasinya
Ejekan Feli segera dibalas oleh si negro dengan menghentakkan rudalnya sekasar mungkin sampai ia terkulai lemah. “Utsssss… Crrrr Crrrrrrr…..”
“N.. No Noo.., please I give up….” Feli akhirnya menggakui kekalahannya setelah disodok berulang kali dengan tenaga ekstra.
“He he he, you’re not strong enough , but you’ll learn…soon…” Feli tiba-tiba tercekat ketika merasakan ada sesuatu yang menghujam lubang anusnya “Efffffffhhhhh, Arrrrrrrrrrrrrrrrrrrr….” ia menjerit kesakitan ketika lubang anusnya ditembus dengan kasar oleh sebatang rudal yang hitam.
Ratu Felisha hanya dapat merintih, lubang anus dan lubang serambi lempitnya terasa pedih diselingi oleh kenikmatan-kenikmatan yang semakinya menenggelamkannya ke sebuah dunia yang lain, dunia yang penuh dengan nafsu dan keliarannya yang terekspose dengan sejelas-jelasnya.
“Ohhhh, Fuck me, Fuck meeeee, yeahhhhhhh….” Feli berteriak sejadi-jadinya untuk melepaskan tegangan nafsu birahinya yang semakin tinggi.
“Kecrooottttt,” “Kecrooootttt” “Cruuttttt” gerakan ketiga orang itu perlahan-lahan berhenti, desahan-desahan nafas yang memburu kini hanya tinggal helaan nafas penuh yang penuh dengan kepuasan.
Tubuh Feli ditarik dan digusur berdiri, kini ia berdiri dengan kedua tangannya bertumpu pada dinding, sementara seorang negro menarik pinggulnya ke belakang. Suara desahan Feli kembali terdengar diiringi jeritan kecilnya ketika sebatang rudal menerobos masuk dengan kasar kedalam lubang serambi lempitnya..
“Plokkk.. Plokkkk.. Plokkkkk… plokkkkk” suara selangkangan si negro yang beradu dengan buah pantat Feli terdengar menggemaskan. Sesekali Feli memegangi pinggulnya karena merasa pegal, si negro rupanya memahami penderitaannya. Dibaringkannya tubuh Feli di atas kursi panjang di taman itu, tangan si negro mencengkram bahu Feli kemudian bibirnya yang tebal mengejar bibir Feli yang sensual dan
“Ceeeppp.. Ckkkk Ckkkkk… Cehhhhppppp….” dengan bernafsu si negro melumati bibir Feli. Tangan si negro yang hitam membelit pinggang Felisha, sedangkan kepalanya menyusup diantara belahan payudaranya. Si negro tampak senang memainkan payudara yang kenyal dan putih itu, sesekali ia menggigit gundukan payudara tersebut.
Kedua tangan si negro yang kekar mencekal pergelangan kaki Feli kemudian dengan satu sentakan yang kuat si negro merojokkan rudalnya hingga amblas kedalam lubang serambi lempit artis cantik dan seksi itu.
Feli menjerit panjang ketika rudal si negro merojok-rojok lubang serambi lempitnya dengan kasar dan kuat. Jeritannya malah semakin mengundang beberapa negro lain untuk segera merayapkan tangan – tangan mereka menggerayangi tubuhnya yang menggelinjang-gelinjang dalam lautan birahi.
“Uhhhhhhhhhhhhhh…! ” terdengar jeritan keras Shandy, mulutnya seperti sedang menyebut huruf “U” sambil memegangi bokongnya yang terasa perih ketika sebatang rudal menancap di lubang duburnya.
“Aduhh jangannn tolonggg jangannnn aduhhh…! Owwwwww! “gadis itu kewalahan ketika lubang anus dan lubang serambi lempitnya dikocok-kocok oleh dua batang rudal besar yang hitam dan panjang. Shandy serambi lempitik panjang kemudian menjerit melengking keras.
“Nooo, Nhoooo.. Please…” Shandy terus memohon
Akhirnya kedua negro itu mengabulkan permohonannya dengan syarat gadis itu mau belajar untuk bergoyang dan memuaskan keduanya yang tengah menyodomi dan mengocok-ngocok serambi lempitnya. Shandy mulai belajar menggoyang-goyangkan pinggulnya, terkadang pinggul gadis itu bergerak naik turun dengan cepat dan kuat.
Sesekali si negro yang tengah menyodomi Shandy menjambak rambut gadis itu, kadang-kadang menampar pinggulnya ketika gadis itu berhenti menggoyangkan pinggulnya.
“Crrrrrr Crrrrrrr…. Crrrttttttt” tubuh gadis itu pun tergeletak di atas dada si negro.
Tubuh Shandy tersentak-sentak dengan kuat, gadis cantik itu hanya dapat mengerang dan merintih.
“Ohhhhhhhhhhh…..” Shandy mengeluh merasakan semprotan sperma panas di dalam lubang anus dan lubang serambi lempitnya. Belum juga ia sempat menarik nafas, tubuhnya digusur seorang pria negro, negro itu duduk kursi dan memaksa agar Shandy menduduki rudalnya yang besar.
“Ahhhh… Auchhhhhhh…. Jrebbbbbbbb” tubuh Shandy menggeliat-geliat resah merasakan rudal si negro yang tenggelam semakin dalam ke dalam serambi lempitnya, mulut si negro mengemut – ngemut buah dadanya yang mungil.
“Krekett.. Krekettt… Crebbbbb Creeeeeeeebbbb” suara kursi tua itu bernyanyi diiringi oleh suara kecipak basah yang semakin keras terdengar, suara-suara itu semakin indah terdengar karena dihiasi oleh rintihan dan erangannya “Ahhhhh…Ahhhhhh… Annnhhhhhhh”
Shandy melingkarkan kedua tangannya pada leher si negro kemudian gadis itu mulai menggoyang pinggulnya. Mulut Si negro tidak pernah berhenti untuk mengecupi bibir Shandy yang mendesah-desah dengan lirih.
“Utsssss….” Shandy menghentikan gerakannya, nafas gadis itu berdengusan , “Cuphh,,, Cupphhhh, do you like it?” si negro bertanya sambil mengelusi pinggang Shandy, gadis itu mendesah sebelum menganggukkan kepalanya.
Tangan si negro membantu mengangkat-angkat pinggul Shandy “Clepp.. Cleppp.. Cleeeppppp… Plepppppp” suara serambi lempit Shandy yang sedang bekerja keras naik turun demi memuaskan sebatang rudal di lubang serambi lempitnya. Shandy menekuk wajahnya, entah kenapa ia tiba-tiba merasa was-was. Sebatang rudal yang begitu besar dan panjang dengan asik menggasak lubang serambi lempitnya yang mungil.
“Hesssshhhh,, Hsssssshhhh, Shhhhhh…, Crrrrrrrr Crrrrrrrrrr” Shandy mungkin sudah mencapai puncak kenikmatannya tapi tidak bagi si negro, tangannya mencengkram bokong Shandy kuat-kuat, kemudian si negro berdiri, Shandy mengalungkan kedua tangannya pada lehernya. Tubuh Shandy pun terayun-ayun semakin lama semakin cepat,
“Unnnggghh, Unnnhhhh, Unggghhhhh… ” hanya suara itu saja yang sanggup dikeluarkan oleh Shandy ketika rudal si negro berkali-kali menghantam lubang serambi lempitnya.
“Pelan-pelan dong , ngewenya… Shhhh….” Shandy Aulia secara tidak sengaja memohon ketika merasakan dirinya tidak sanggup lagi menghadapi hantaman-hantaman si negro.
“What do you say ?? ” si negro malah bengong,
“No., No Thinggg Ennnhhhhh… Uhhhh” Shandy mengibaskan rambut panjangnya, kedua kakinya yang mulus melingkari pinggang si negro, bibirnya yang semula meringis- ringis kini perlahan-lahan tersenyum. Sesekali ia mendesah nikmat, ya kenikmatan yang tidak mungkin dapat ditolak kini menggodanya tunduk dalam “Hukum kenikmatan seks Interracial”.
“Ahhhhh, Ahhhhhhhhhhhhhh, ” Shandy semakin kuat mendesah ketika merasakan sesuatu mulai mendesak dengan paksa memasuki lubang anusnya, walaupun ia tidak menengok kebelakang namun gadis itu tahu pasti sebatang rudal yang besar dan hitam ingin segera menyodominya dan menikmati lubang anusnya yang seret.
” Arrrhhhh..! ” Shandy pasrah ketika batang rudal itu menjebol masuk dengan kasar, kasar dan brutal merojok dan menyentak-nyentak dengan kuat tanpa mempedulikan erangannya.
Dua batang rudal yang hitam segera berlomba, berusaha menundukkannya, tidak !! bukan hanya menundukkan, namun lebih cocok membenamkan gadis itu dalam puncak kenikmatannya.
“Sssshhhhh, Sssssshhhhh, ” desahan-desahan nikmat, erangan-erangan lirih, dan jeritan-jeritan liar semakin sering terdengar dari bibir Shandy, dua batang rudal negro terus memacu nafsunya semakin tinggi dan tiba-tiba gadis itu seperti dijatuhkan bersama-sama dengan sejuta kenikmatan yang berdenyut-denyut di serambi lempitnya. “Crrrrrr.. Crrrrrr… Crrrrrr…”
Dua negro itu tidak pernah mau mengerti, batang-batang rudal mereka terus memompa lubang anus dan lubang serambi lempit Shandy, mereka tersenyum-senyum kecil sambil sesekali menjulurkan lidah mereka keluar, entah untuk mengejek shandy Aulia atau mereka sedang mengekspresikan kenikmatan yang mereka dapatkan ketika mengerjai tubuh artis muda itu.
Air keringat mengucur deras membasahi tubuh Shandy, suara celupan-celupan kasar terdengar semakin panas dan panas. Terdengar pekikan Shandy beserta erangan kuat dua orang negro yang sedang menyetubuhinya. Tubuh Shandy diletakkan dalam posisi menungging, mulutnya ingin memohon untuk berhenti tapi tenaganya sudah terkuras,
“Ohhhhhhhh!” entah kenapa Shandy membatalkan niatnya ketika merasakan sebatang rudal menyodominya dengan kasar, tubuhnya kembali terdorong-dorong dengan kasar.
Enakkah ? Ya memang enak, asik ?? tentu sangat asik, nikmattt ??? Apalagi.. sangat Nikmatt, begitulah yang dirasakan oleh Shandy dan Feli yang sedang berpesta seks di taman itu. Shandy menggeleng-gelengkan kepalanya ketika sebatang rudal tersodor kehadapan wajahnya, namun karena kepala rudal itu terus menerus memohon, Shandy terpaksa meluluskan permintaannya,
“Hemmpphh…” ia melahap rudal di rongga mulutnya, diemut, dihisap , wah service excellent deh pokoknya sampai si negro melotot keenakan. Kenikmatan membuat tenaga Shandy menjadi berlipat ganda, gadis itu menggoyangkan pinggulnya dengan liar, “Ayo Shandy, terus Shandy!”, bisikan-bisikan kenikmatan yang terus berusaha menyemangati gadis itu.
Semangat Shandy belum cukup untuk merobohkan sebatang rudal yang tertancap-tancap dengan kuat di lubang anusnya,
“Heggghhhhh….. Ahhhhh… Crrrr Crrrrrrrr” tubuh Shandy tidak dapat lagi menahan kenikmatan yang kali ini datang begitu tiba-tiba, begitu nikmat berdenyut-denyut di lubang serambi lempitnya.
*************************
Di sebuah kamar lain
Lenna Tan & Chelsea Olivia
“Ayo buka kakinya sayangg….” Lenna Tan, aktris dan presenter cantik itu sedang membujuk seorang artis muda,
“Nggak mau… takutt…Ci” Chelsea Olivia malah merapatkan kedua kakinya, kedua tangannya memegangi celana dalamnya kuat-kuat agar tidak terlepas dari tempatnya.
Lenna tersenyum sambil meremas-remas buah dada Chelsea yang masih tersimpan dengan rapi di balik baju kaos yang dikenakan gadis itu, sementara seorang pria negro mengecupi sambil berusaha menarik celana dalam Chelsea.
“Nggak apa-apa koqq, Ayo dibuka sayanggg….” Lenna menarik paksa tangan Chelsea.
“Ahhhhhh…. Jangannn…..” teriakan putus asa Chelsea tidak dapat menahan gerakan si negro yang kasar, celana dalamnya melorot sampai kebatas lutut.
Tubuh Chelsea tersentak ketika merasakan hembusan dan jilatan-jilatan hangat di permukaan serambi lempitnya, artis muda itu tampak gelisah ketika lidah si negro bergerak mengulas-ngulas kesana kemari, bahkan menggelitiki sela-sela serambi lempitnya.
Tangan Lenna menahan bahu gadis itu, Lenna menengokkan kepalanya ketika merasakan ada sesuatu yang hangat melumat bibir serambi lempitnya. Lenna mengangkat sebelah kakinya ke atas kemudian sebuah kemaluan yang besar menyeruak sampai tubuh wanita cantik itu tersentak dengan kuat terdorong oleh rudal si negro yang memaksa memasuki lubang serambi lempitnya.
Si negro menarik pinggul Lenna kemudian menjatuhkan dirinya ke belakang, tidur terlentang, Lenna tersenyum sambil menoleh kebelakang kemudian wanita cantik itu mulai mengangkat dan menurunkan pinggulnya
“Hennhhh rasanya enak Ahhhhhhhhhhhh… banget sayang, kamu juga harus mencobanya..Ohhhhhhhh” Lenna terbata-bata mulutnya tidak dapat berkata-kata lagi, hanya suara desahan diiringi pekikan kecil saja yang dapat keluar dari mulutnya itu, kemaluan si negro meliuk ke kiri dan kanan ketika Lenna menaik dan menurunkan pinggulnya. Walaupun sudah pernah melahirkan sekali, namun tampaknya Lenna masih kesulitan menerima kehadiran daging panjang, besar, berwarna hitam dan tampak kasar pada serambi lempitnya.
Dua pria negro, merejang Chelsea, sementara yang seorang lagi terkekeh-kekeh.
“You’ll like it, and beg for more…”Si negro menggesek-gesekkan kepala kemaluannya pada bibir serambi lempit Chelsea.
“Ahhhhhhhh!!! Brrrtttt Breettttttt” sebuah teriakan keras menggakhiri perlawanan gadis itu.
Butir-butir keringat mendadak mengucur deras dari tubuh mulusnya, air mata mengalir dari sudut mata artis muda itu. Tubuh Chelsea terguncang dengan keras di atas ranjang, kedua tangannya masih dipegangi oleh dua orang pria negro karena gadis itu sesekali masih berusaha meronta – ronta melepaskan dirinya.
“Ahhhhhhhhhhhhhhh….. Crrrrrrrrr Crrrrrrrrrttttt” wajah Chelsea tampak semakin merona merah, apakah ini yang dinamakan klimaks, rasa nikmat yang tiada duanya ?
Pada saat si negro menusukkan kemaluannya, pinggul Chelsea bergoyang bahkan sesekali gadis itu mengangkat-angkat pinggulnya menyongsong datangnya rudal si negro. “Pleppp… Plepppppppp…” suara itu terdengar dengan keras. Goyangan-goyangan yang begitu indah, rintihan-rintihan yang memabukkan birahi terdengar dari bibir kekasih Glenn Alinskie itu.
Chelsea meringis merasakan lubang serambi lempitnya diaduk-aduk dengan kasar, serambi lempit gadis itu memar kemerahan, perih, nikmat bercampur menjadi satu. Chelsea tampak bingung, haruskah dirinya menangis ditengah-tengah kenikmatan yang begitu menggodanya, membisikkan desahan-desahan nafas birahi.
“Tolongggg….!! Ohhh Tolooongggggg…..!! Nikmat sekali , Ahhhhhh,” kata hati gadis itu, Chelsea memejamkan matanya rapat-rapat menikmati sodokan-sodokan liar yang terus mencecar lubang serambi lempitnya, bahkan dari Glenn pun ia tak pernah mendapat kenikmatan seperti sekarang ini. Sesekali tangan Chelsea bergerak menahan pinggul si negro ketika merasakan sodokan-sodokan itu terlalu kuat memompa lubang serambi lempitnya yang mungil.
Si negro mengangkangkan kedua kaki Chelsea kemudian meletakkan kedua kaki gadis itu di bahunya “Arrrhhhhhhhhh…….” Chelsea terkejut ketika tiba-tiba si negro memompakan rudalnya sedalam dan sekuat mungkin.
Kepala Chelsea tergeleng ke kiri dan kanan, sungguh tidak sanggup artis muda ini untuk menahan siksaan birahi yang begitu kejam merajam tubuhnya yang halus. Tusukan-tusukan si negro terlampau cepat dan kuat, di luar batas ketahanan tubuh gadis itu,
“Awwwwwwww……” Chelsea menjerit keras, lubang serambi lempitnya kembali berdenyut-denyut membuahkan kenikmatan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. “Crrrruuuuuttttt……Crrrrrrrr”
Hampir bersamaan sesuatu menembur dengan panas di dalam serambi lempitnya, sebuah ledakan sperma dari rudal si negro. Gadis itu mendesah ketika si negro mencabut batang kemaluannya.
Kedua kaki Chelsea terkulai lemas ketika dua orang negro lainnya memeluknya dari kiri dan kanan. Chelsea mengeluh ketika merasakan remasan-remasan kuat di buah dadanya, Putting susunya ditarik-tarik dengan agak kasar, kedua orang negro itu berusaha membangkitkan kembali nafsu birahinya.
Bibir gadis itu yang mendesah-desah menjadi rebutan dicumbui oleh bibir-bibir yang tebal hitam dan kasar, mengecupi dan mengulum bibirnya. Chelsea agak kebingungan ketika kedua orang negro itu membuatnya menungging , kedua tangannya dipiting kebelakang.oleh dua orang negro sekaligus, sementara sebatang rudal yang hitam menggesek-gesek belahan pantatnya. Ohh tidak Anussss…!!
“Hahhhhhh…….” Kini gadis itu baru mengerti apa keinginan kedua negro itu, mereka berusaha menyodomi lubang anusnya.
“Adhuuuuhhhhh…, Adhuuhhhhhhh, Awwwwwww…..” gadis itu menjerit kuat-kuat ketika merasakan rasa pedih di lubang anusnya.
“Damnnn, fuck, What the…. , ” Si negro menceracau panjang lebar merasakan gigitan lubang anus Chelsea di leher rudalnya, berdenyut – denyut dengan nikmat, perlahan-lahan batang rudal itu menekan masuk, si negro menjilat bibirnya merasakan remasan-remasan dinding anus Chelsea.
“Arhhhhhhhhh….” Chelsea menjerit, wajahnya mengernyit kesakitan ketika si negro menjejalkan batang rudalnya sekuat tenaga. “Arrrrggghhhh” Matanya mendelik, lubang anusnya terasa panas dan pedih.
“Ahaaaakkkk…, Akkkkkkkk…,,, ” Chelsea hanya dapat menangis terisak-isak merasakan rasa sakit ketika si negro menyodominya dengan kasar.
Entah kapan dan bagaimana perubahan itu terjadi, Chelsea merasakan sebuah sensasi kenikmatan yang berbeda ketika lubang anusnya disodomi dengan kasar. rudal si negro serasa menembus sampai keulu hatinya, membuat jantungnya berdetak-detak dengan lebih kencang.
Chelsea mendesah panjang, mulutnya terbuka lebar bagi sebatang rudal yang mengacung keras, matanya bertambah sayu ketika mulutnya terasa sesak disumpal oleh kepala rudal si negro, dengan nafsu yang semakin menggelegak Chelsea melumat dan menciumi rudal itu, lidah Chelsea terjulur kemudian menari-nari dengan liar menelusuri batang rudal yang panjang dan hitam.
“Ahhhhhhh…., Enakkkkkkkkk…. Ahhhhhhhhh” gairah Chelsea meledak-ledak , mendadak tubuhnya seperti meriang, panas dingin.
“Awwwwwwww…. Crrrrr… Crrrrrrrrrrrrrrrtttt” gadis itu mencapai klimaksnya kembali.
“Ennhhhh…. Blukk….” tubuh Chelsea dibalikkan dengan kasar, kedua kakinya diangkat ke atas dan sebatang rudal segera menghujam, menusuk belahan serambi lempitnya. Kedua tangan Chelsea dipegangi keatas oleh dua negro berotot kekar, sementara si negro kurus dengan batang kemaluannya yang panjang terus menusuki serambi lempitnya.
Tenaga Chelsea serasa disedot dengan rakus oleh para pria negro yang sedang asik menyetubuhinya. Chelsea pasrah dalam kenikmatan genjotan-genjotan rudal si negro yang besar, rudal yang besar itu berkali-kali tertekuk ketika melakukan tusukan-tusukannya, terus, terus dan terus, semakin cepat, cepat dan lebih cepat. “Cleppp.., clepppp, Clllpppppp…”
Sementara itu, Lenna Tan menolehkan kepalanya ketika mendengar pekikan Chelsea, janda cantik beranak satu itu tersenyum menyaksikan Chelsea yang terengah-engah diamuk birahi. Lenna menghentikan gerakanya untuk sesaat menyaksikan pertarungan antara Chelsea Olivia Vs empat orang negro sekaligus kemudian barulah ia kembali asik dengan pertarungannya sendiri.
“Your name is Lenna Tan, Right ?” si negro yang berada di belakang tubuhnya itu bertanya sambil menyibakkan rambutnya kebelakang.
Lenna Tan mengangguk perlahan,
“I love your little ass Lenna ” kemudian terdengar suara rintihan dan erangan dari mulut Lenna seperti sedang berperang dengan sengit, tubuh Lenna terdesak-desak dalam himpitan dua negro yang memacu rudal mereka yang hitam dan besar dari dua arah yang berlawanan.
Nafas Lenna semakin sesak, buah dadanya semakin membengkak dan membuntal semakin keras seiring dengan memuncaknya birahi wanita cantik itu sehingga desah kenikmatan Lenna pun terdengar dengan keras.
“Arrrhhhhh….. Crrrrrr Crrrrrrr Crrrrrrrr” Lenna mencapai klimaksnya, namun itu semua bukan menjadi alasan untuk berhenti walaupun untuk sesaat.
Pinggul Lenna bergoyang seperti sedang mengayak pasir sampai dua orang negro yang menyerang lubang anus dan lubang serambi lempitnya mengerang karena merasakan nikmat, hampir bersamaan keduanya memuntahkan spremanya di dalam lubang anus dan lubang serambi lempit Lenna.
Mereka melepaskan tubuh Lenna ketika wanita cantik itu meronta, Lenna lalu menghampiri Chelsea yang tengah digarap, bibirnya tersenyum melihat seorang pria negro tengah berkutat untuk kembali membobol lubang anus artis muda itu.
“Ahhhhhhhh…..” terdengar jeritan panjang ketika si negro berhasil menjebol lubang dubur gadis itu.
Kini giliran Chelsea Olivia yang kembali disodok dari depan dan belakang oleh dua batang rudal yang besar dan panjang. Tubuh gadis itu terguncang-guncang dengan hebat, nafasnya terengah-engah, suara yang keluar dari bibirnya mirip seperti orang sedang merengek-rengek, hampir bersamaan Chelsea dan dua laki-laki negro yang tengah menyetubuhinya berteriak keras.
“Crottttttt….” “Cruuuuutttt….” “Kecrotttttttttttt”
Lenna buru – buru merebut tubuh Chelsea. Dilumatnya serambi lempit Chelsea yang memar kemerahan, mulut Lenna menghisap dan menyeruput cairan gurih yang meleleh sangat banyak di sekangkangan Chelsea, bahkan bukan cuma itu
“Blukkkk” Lenna membalikkan tubuh gadis itu dan mengenyot lubang anusnya kuat-kuat. Chelsea hanya dapat memejamkan matanya, kecapaian, tubuhnya serasa lemas tidak bertenaga. Ngocoks.com
Lenna menggesek-gesekkan buah dadanya pada punggung Chelsea, rasanya hangat, basah dan lembut ketika buah dada Lenna bergerak menekan dan memijat-mijat pinggung gadis itu yang basah oleh keringat “kamu puas sayangg…? ” Lenna berbisik sambil menyibakkan rambut gadis itu kebelakang.
Dengan lembut Lenna membalikkan tubuh Chelsea, lalu mencium bibir artis muda itu dengan lembut. Untuk beberapa saat Chelsea hanya terdiam ketika bibirnya dilumat dan dikulum oleh Lenna. Dua batang lidah terjulur untuk saling membelit dan mengait. Sebuah pelajaran baru bagi Chelsea, tubuhnya menggeliat seiring dengan geliatan Lenna, geliatan yang lembut, diiringi desahan-desahan nafas yang menggebu-gebu.
“Uhhhh…” “Ennhhhhh” Lenna dan Chelsea mengeluh, sama-sama mendesah nikmat ketika tubuh mereka yang halus dan lembut saling bergesekan.
Kedua artis berdarah oriental itu menggerakkan tubuh mereka, berbaring berdampingan dengan kedua kaki mereka yang terbuka lebar.
“Ahhhhhh….” terdengar jeritan kecil Lenna yang disambut dengan erangan lirih Chelsea “Ennnnnnnhhhhhh”
Dua batang rudal tertancap di lubang serambi lempit mereka, tubuh Lenna dan Chelsea terguncang dengan hebat ketika rudal negro-negro itu bergerak semakin liar. Lenna menolehkan kepalanya menatap Chelsea, desahan Chelsea mengundangnya untuk melumat bibir gadis itu, sambil terus disodok-sodok oleh batang rudal yang besar dan panjang. Lenna dan Chelsea semakin asik berciuman, saling melumat dan mengulum dan saling berpelukan dengan erat.
“Ihhhh…., ” tubuh Chelsea tiba-tiba dibetot dengan kasar sampai pelukan yang hangat itu terpisah.
Lenna hanya dapat memandangi Chelsea yang dibopong oleh seorang negro. Si negro meletakkan tubuh Chelsea diatas tumpukan kain sutra ditengah-tengah ruangan. Empat orang negro mengerumuni tubuh Chelsea.
Chelsea hanya dapat memandangi si negro yang mencekal pergelangan kakinya kemudian merentangkan kedua kakinya melebar, ia memejamkan matanya tidak sanggup menatap pandangan si negro yang melecehkannya. Kuping Chelsea seolah-olah mendengar suara orang sedang menertawakannya “Ha.. Ha pelacur kecil…!! ”
“Ahhhhhhhhhh…..” satu desahan keras terdengar dari mulut Chelsea.
Batang rudal itu sudah tertancap di lubang serambi lempitnya dan kini si negro mulai melakukan genjotan-genjotan yang semakin lama semakin kasar, tubuh Chelsea terguncang semakin keras, buah dadanya dirayapi oleh tangan-tangan yang kekar dan hitam.
“Ohhhhh…! Oahhhhhh….!! Shhhhh….Aoww” Chelsea serambi lempitik, berkali-kali mulutnya mengerang, merintih keras ketika lubang serambi lempitnya digenjoti oleh rudal yang besar dan panjang. Chelsea sesekali meringis ketika ada rasa ngilu di lubang serambi lempitnya akibat digenjot dengan terlalu kasar.
Mulut Chelsea terbuka lebar, lidahnya terjulur ketika merasakan denyutan-denyutan kenikmatan meledak-ledak dengan nikmat dari dalam lubang serambi lempitnya. Setelah melakukan genjotan yang lama dan kuat si negro membenamkan rudalnya dalam dalam.
Chelsea menatap sayu pada si negro yang baru saja selesai menikmati tubuhnya. Tangan-tangan hitam itu membalikkan tubuhnya dalam posisi dogy style. Sebatang rudal dengan tidak sabar segera dibenamkan pemiliknya kedalam lubang anusnya yang serambi lempitik kesakitan ketika lubang duburnya kembali dipaksa untuk merekah.
“Arhhhh, Arhhhhh Arhhhhhh…” Suara-suara keras itulah yang keluar dari mulut Chelsea, tubuhnya berkali-kali tersentak dengan kasar “Plokkk..Plokkkk… Plokkkkk…” Bunyi suara beradunya buah pantat Chelsea terdengar semakin keras dengan ritme yang semakin cepat.
Berkali-kali kepala Chelsea yang tertunduk terangkat keatas ketika sodokan – sodokan itu semakin gencar. Mulut Chelsea bergantian mengulumi dua batang rudal dihadapan wajahnya. Malam semakin larut, teriakan-teriakan liar, disertai rintihan-rintihan kecil terdengar semakin menggairahkan, panas, menggoda.
Hingga akhirnya baik Lenna maupun Chelsea, juga para negro di ruangan itu tergeletak lemas setelah puas mengarungi lautan birahi. Dengan lemas Lenna meraih tasnya yang di sofa dan mengeluarkan ponselnya.
Beberapa SMS telah masuk sejak tadi, salah satunya dari putra semata wayangnya, Jonathan. Ia membuka SMS itu paling awal, isinya, “Mama gimana kabarnya di Amerika? jangan lupa oleh-olehnya ya, I luv u – Jo”. Ia tersenyum sambil menyeka ceceran sperma di dagunya dengan jarinya lalu mengemut mengemutnya.
Next issue:
Denger-denger nih, episode selanjutnya akan ada pertarungan antara Omas melawan Ian Kasela, lalu ada Okky Lukman melawan Bertrand (weisss…bukannya dia senengnya batangan? Lagian bisa penyok dia ditindih si Okky mah), juga ada Mpok Atik digangbang oleh Kangen Band. Wakakaka….kita liat aja beneran gak mereka bakal nongol.
Bersambung… Di ruangan tempat main billiard
Okky Lukman tengah berdiri di tengah ruangan, seorang pria negro menjulurkan tangannya, menyibakkan pakaiannya yang bentuknya mirip baju kimono tipis sehingga tersingkaplah pahanya yang gemuk. Okky tersenyum nakal menatap Tika Pangabean yang tengah menjerit-jerit sambil meronta-ronta, bahkan pakaiannya tersobek-sobek dibeberapa tempat memperlihatkan lipatan perutnya yang berlemak, ranjang pun sampai terguncang hebat karena rontaan wanita bertubuh gempal itu.
“Brettttt… Brekkkkk… Brrrrtttt” suara pakaian Tika yang disobek dengan kasar oleh sepasang tangan yang kekar.
Okky pun mendekati Tika, lalu keduanya menatap kamera dan berkata,
“Sorry ya mupengers…kita salah tempat nih, kacian deh luu!!”
“Ky lepasin gua…buru kita pergi aja, syuting kita bukan disini tau!” omel Tika
“Iya-iya yuk cabut, kalau ngga nanti mupengers bisa shock semua!” kata Okky sambil melepas ikatan Tika.
“Cut-cut-cut…mana pemain yang benernyaaaa?!! Eh…siapa sih lo!!” teriak sutradara pada seorang pria lain yang baru masuk
“Gua sutradara baru, lebih punya taste, ok deh…mupengers dah pada ga sabar tuh, kamera….action!!”
*********************************
Di ruangan tempat main billiard
Sandra Dewi, Asmirandah & Magdalena
Sandra Dewi tengah berdiri di tengah ruangan, seorang pria negro menjulurkan tangannya menyibakkan pakaian Sandra yang bentuknya mirip baju kimono tipis sehingga terlihatlah pahanya yang putih mulus. Sandra tersenyum nakal menatap Asmirandah yang tengah menjerit-jerit sambil meronta-ronta, bahkan pakaiannya tersobek-sobek di beberapa tempat
“Brettttt… Brekkkkk… Brrrrtttt” suara pakaian Asmirandah yang disobek dengan kasar oleh sepasang tangan yang kekar.
Sandra mendekati Asmirandah.
“Tenang Dah, nggak usah menjerit-jerit begitu….” ia membelai-belai pipi Asmirandah.
Aktris muda itu menatap Sandra dengan tatapan putus asa
“Lepaskannnn… Lepasssss…. Ohhhhhhhh” air mata mengalir dari mata Asmirandah.
“Tolong jangan…, saya masih perawan….” Asmirandah memelas menyadari apa yang akan menimpa dirinya.
“Justru disitulah letaknya kenikmatan…Andah, setelah diperawani kamu pasti ketagihan , minta terus, terus dan terussss… Hssshhh Ohhhh Andahhh, kamu pasti bakal ketagihan….” Sandra mengecup kening Asmirandah dengan lembut.
Sandra lalu berjalan mendekati meja billiard. Para negro itu seakan-akan sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan, tubuh Asmirandah diseret dan dinaikkan ke atas meja billiard itu.
“Lepaskan… Bajingan….!!” Asmirandah membentak marah ketika mereka dengan paksa membuatnya berlutut diatas meja billiard dengan posisi lutut mengangkang lebar, kedua tangannya dipiting ke belakang kemudian diikat.
Sandra meraih sebuah tongkat billiard, kemudian diselipkannya tongkat itu pada selangkangan Asmirandah, Sandra membungkuk mengambil posisi seperti orang yang akan menyodok bola billiard, kemudian tongkat itu bergerak maju mundur menggesek-gesek selangkangan Asmirandah.
“Hssshhhhhh….jangannnh Hssssshh….jangannnn Ahhhhhhh.” Asmirandah mendesah-desah.
Payudara Asmirandah yang semakin membusung dengan indah menjadi mainan yang mengasikkan bagi tangan-tangan nakal yang merayapi dan menggerayangi permukaan payudara gadis itu yang halus dan lembut. Penolakan Asmirandah tidak dapat membohongi reaksi tubuhnya yang sedang terangsang hebat.
“Ngangkang, sayangggg….”si negro berbisik ditelinga Sandra.
“Hahhhhh…..!! ” Sandra tampak terkejut menolehkan kepalanya matanya menatap wajah si negro yang tampak serius.
“What’s up babe, c’mon, spread your legs…” si negro mengelusi bulatan buah pantat Sandra.
Sandra menghela nafas lega, mungkin dirinya salah dengar akibat terlalu nafsu. Tangan Sandra berpegangan pada pinggiran meja billiard, sedangkan kedua kakinya mengangkang sambil menaikkan pinggul sedikit ke atas. Nafasnya semakin menggebu-gebu merasakan hembusan-hembusan nafas hangat di permukaan buah pantatnya.
“Ahhhhhhhhhhhhh…….” Sandra mendesah merasakan jilatan lembut disela-sela buah pantatnya, lidah yang basah dan hangat itu menggeliat resah, menggelitik, dan berusaha mengoreki lubang anusnya
“UTTTTSSSSSHHH……” Sandra menggeliat resah ketika mulut si negro mengemut lubang anusnya dengan kuat, “Slapp, Slapppphh, Slapppphhhh” suara lidah si negro menyapu pantat Sandra. Ngocoks.com
“Cklekkkk….” tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, Lena Magdalena, si presenter dan model sexy itu muncul di ambang pintu. Dari bibirnya yang sensual tergurat sebuah senyum kecil, ia hanya memakai handuk putih yang melilit tubuhnya yang ramping itu, buah dadanya yang montok itu seperti mau meloncat keluar saja dari balik handuk, juga pahanya yang jenjang dan mulus begitu menggugah selera.
“Haiiii…” Magdalena menyapa Sandra.
“Haiiiii…darimana? Keringatan gitu?” tanya Sandra memperhatikan tubuh Magdalena yang nampak agak basah-basah itu.
“Saunaan, wuihh panas…tapi kayanya bakal ada yang lebih panas nih” katanya sambil menyapukan ke ruang itu.
Sandra menggeliat melepaskan diri dari dekapan si negro untuk menghampiri Magdalena. Mereka berdiri saling berhadapan, Sandra menarik ujung handuk yang terselip di wilayah dada Lena hingga handuk itu jatuh ke lantai.
Terlihatlah tubuh indah Magdalena yang menggiurkan dengan perut rata dan payudara membulat indah, dibanding Sandra dan Andah payudaranya adalah yang terbesar. Kedua artis cantik itu saling merangkul, bibir mereka saling mengulum dengan lembut namun lama-lama semakin liar.
Suara decakan ludah dan gumaman mereka mengundang dua orang negro untuk segera bersujud di belakang bokong keduanya. Lidah si negro menjilati buah pantat Sandra dan Lena serta mengorek-ngorek lubang anus mereka.
“Ehhhh, nggakkk, jangan disitu…” Magdalena ketakutan ketika lubang anusnya disentuh oleh kepala rudal si negro, Sandra tersenyum sambil memeluk erat-erat tubuh Lena.
“C’mon fuck her ass….” Sandra menyemangati si negro agar segera melampiaskan keinginannya menyodomi Magdalena
“Arrrhhhhhhhhhhhhhhhhh….! ” terdengar erangan Magdalena, ia mengerjap-ngerjapkan matanya, kesakitan itu membuatnya terbata-bata.
“Arrh, shak.. shakit…, Aww, duuhhh, jangan , Heggg” mata Magdalena membeliak lebar-lebar ketika sebuah hentakan menjebol lubang duburnya, mulutnya terbentuk seperti hendak mengucapkan huruf “A” ketika merasakan batang rudal yang hitam dan panjang itu menerobos memasuki lubang duburnya dengan paksa, terus masuk dan masuk ke dalam.
Sandra tertawa kecil sambil mengecupi bibir Magdalena. Gerakan – gerakan kasar si negro yang sedang menyodomi dubur Magdalena membuat tubuhnya terdorong-dorong ke depan sehingga buah dadanya bergesekan dan menekan-nekan payudara Sandra, putting Lena pun bersentuhan dengan puting Sandra.
Si negro menarik pinggul Magdalena agar lebih menungging sehingga rudalnya dapat keluar masuk dengan lebih leluasa. rudal yang hitam dan besar itu memacu lubang anus Magdalena. Magdalena meringis ketika lubang anusnya yang masih seret kering dimasuki oleh rudal si negro yang besar. Rasanya panas dan pedih, ketika anusnya dipaksa menerima rudal sebesar itu
“Awwwwwwhhhhhhh !!! ” Lena menjerit panjang ketika si negro mulai memaju mundurkan rudalnya dengan kasar. Matanya melotot, erangannya terdengar keras “Arrrrhhhhhhhhhhhhhhh!!!”, Magdalena seolah-olah merasakan lubang anusnya sedang dibelah begitu kasar dan brutal “Plokkkkkk… Plokkkkkk… Plokkkkkkk….Plokkkk” suara benturan buah pantat Magdalena yang sedang dihajar oleh rudal si negro terdengar dengan semakin keras.
“Unnnggghhh, Unngggghhhhh… Ahhhhh… cuphh Cuppppp” bibir Magdalena yang sedang mengeluh kesakitan dikecupi dengan lembut oleh Sandra, kedua tangannya berpegangan pada bahu Sandra, matanya menatap mata Sandra seolah sedang meminta pertolongan menghadapi tusukan-tusukan kuat di lubang anusnya.
Ekspresi kesakitan di wajah Magdalena perlahan-lahan digantikan oleh ekspresi kenikmatan, desahan-desahan dan rintihan kenikmatan bersenandung penuh dengan gairah seksual Magdalena. Lidah presenter seksi itu terjulur keluar menjilati bibir Sandra, dengan lahap Sandra menghisapi lidah Magdalena, lidah mereka saling membelit, saling kait, dan saling jilat.
“Ahhhhh, Uhhhhh,…” Sandra hendak meronta ketika merasakan benda tumpul itu menekan lubang anusnya namun Magdalena memeluknya dengan semakin erat.
“Len, aduhh, lepaskan, Lenaaa Akkkhhhhhh!! ” Sandra melolong panjang “Hegghhhhhhhh……” Gigi Sandra terkatup rapat, wajahnya mengernyit kesakitan, benda besar itu memaksa lubang duburnya untuk melar dan terkuak menerima bulatan kepala rudal si negro.
“Ngahhhhhhh….. Shhhhh…, Shhhhhhhhhhhh” Sandra mendesah kesakitan, tubuhnya terasa mengejang. “Arhhhhhhhhhhhhhhh……! ” Sandra mengerang panjang dan keras, ada sesuatu yang mengganjal dan terus masuk merojok lubang duburnya, begitu dalam, sakit, sakit sekali.
Ia terengah-engah berusaha membiasakan diri dengan benda asing yang panjang dan besar mengait lubang duburnya, buah pantatnya yang lembut bergesekan dengan selangkangan si negro.
“Ennhhhhh….” tubuh Sandra terdorong ke depan dengan kuat, lagi dan lagi, begitu pula tubuh Lena, tubuh mereka yang halus dan mulus semakin berhimpitan karena si negro terus mendesak dan mendesak dengan sodokan-sodokannya.
Desahan dan erangan terdengar silih berganti dari bibir Sandra dan Magdalena. Pacuan rudal di lubang anus mereka semakin membuahkan rasa nikmat yang berkepanjangan,
“Unnnhhhhhhh… Ohhhhhh, Sandraaaaaa…..”
“Essshhhhh…, Ouhhhhhhh Lenaaaaa….”
Crrrruu….. Creeetttttttt……, pekikan Sandra disusul oleh pekikan kecil Magdalena. Kedua orang negro itu lalu mencabut batang rudalnya dari lubang anus Sandra dan Magdalena.
Sandra dipeluk oleh dua orang negro sekaligus yang mendekapnya dari depan dan belakang. Bibir tebal si negro menciumi bibirnya, tengkuknya dijelajahi oleh bibir tebal yang terkadang mencumbu dengan kasar penuh dengan nafsu birahi yang hendak dilampiaskan. Sandra didudukkan di atas sebuah kursi, tangan-tangan yang hitam menggerayangi sepasang pahanya, bibirnya menjadi rebutan untuk dua negro yang terus berlomba mencumbui bibirnya. Tubuh artis muda itu menggelepar keenakan ketika buah dadanya diemut-emut oleh bibir-bibir yang tebal dan kasar.
“Ohhhhhhhhhhhh…..” desahan itu terdengar ketika kedua kakinya dibuka melebar kesamping oleh sepasang tangan yang kekar, jilatan-jilatan lidah yang hangat dan basah menerpa permukaan serambi lempitnya, pemukaan lidah yang kasar bersentuhan dengan bibir serambi lempitnya, membuahkan sensasi kenikmatan yang membuat Sandra semakin terbuai dalam persetubuhan yang semakin nikmat.
“Arrrhhhhhhhh……” secara otomatis kedua tangan Sandra memegangi permukaan serambi lempitnya ketika merasakan rasa sakit di sana. Nafasnya berdesahan ketika batang rudal yang hitam dan panjang itu menerobos semakin dalam memasuki lubang serambi lempitnya.
“Eerrrrhhhh, Arrrrrrhhhhh!!! ” Sandra mengerang keras kemudian terkulai ketika si negro menjebloskan batang kemaluannya sekaligus.
“Ohhhh… Heeemmmm… Mmmhhhh Cupphhh.. Emmmm” bibir Sandra dilumat dengan kasar oleh negro berhidung pesek, tangan si negro menggerayangi payudaranya yang semakin kenyal mengeras. Tubuh Sandra tersentak-sentak ketika lubang serambi lempitnya dikocok-kocok dengan kasar oleh sebatang rudal yang berulang kali menancapi serambi lempitnya.
“Crrrrr… Crrrrrr…..” kenikmatan itu kembali datang dan menerkam tubuh Sandra hingga luluh dalam pelukannya yang membiusnya hingga lupa diri “Ahhhhhhh, Ahhhhhhh, Ahhhhhhhhhh” jeritan Sandra terdengar liar dan sangat menggairahkan.
Si negro berhidung pesek berdiri kemudian menyodorkan rudalnya ke mulut Sandra.
“Oggghhhhhhh… Hufffhhhh… Emmmmm” Sandra kesulitan menolak ketika tangan si negro menjambak rambutnya dan menekankan rudalnya dalam-dalam. Wajah Sandra mengernyit ketika kepala rudal itu menekan kerongkongannya,
“Orrrrrrhhhhh, uhukkk nooo.., No please… Hmmmmmm” Untuk sesaat si negro mengeluarkan batang rudalnya memberi kesempatan bagi Sandra untuk mengambil nafas, kemudian dengan kasar ia kembali menjejalkan rudalnya dalam-dalam ke mulut Sandra, dikeluarkan lagi terus dimasukkan lagi semakin dalam.
“Ouhhhhhhhh, Shhhhhh, Ha….shhhhhh… Please, Pleaseeeee….” Sandra memohon dengan memelas tapi si hidung pesek terkekeh-kekeh dan menampari wajah artis muda itu dengan batang rudalnya, ia memaksanya untuk membuka mulutnya kembali
“Noo, I’ll do it myself, pleasee….” Sandra memohon-mohon
“All right babe, do it good or I’ll teach you more….” Si negro mengeluarkan ancamannya.
Sandra mengocok-ngocok rudal si negro, kemudian menjilati buah pelirnya yang menggantung, diemutnya buah pelir hitam itu bergantian, kemudian lidahnya menjilati sepanjang batang rudal si negro yang hitam berurat, berulang-ulang dari bawah keatas seperti sedang menjilati es cream stick yang panjang. Sandra mendengus ketika hidungnya mengendus bau khas rudal yang menyengat. Ia membuka mulutnya selebar mungkin agar dapat menerima kepala rudal itu, dengan hati-jati ia menekan kepalanya agar rudal si negro tenggelam masuk ke dalam kerongkongannya,
“Uhhhh…. Ahhhhhhhh…Crrrr Crrrrrrrrrrrrr” Sandra mengeluarkan rudal itu dari mulutnya kemudian menarik nafas kuat-kuat mengisi rongga dadanya yang terasa sesak, dipenuhi oleh hawa nafsu yang sulit untuk ditahan ketika lubang serambi lempitnya berdenyut-denyut dengan nikmat.
“Yesss, I know you can do it, good girl…Damn, I like it…” si negro menekan belakang kepala Sandra agar batang rudalnya semakin dalam tenggelam. Kepala Sandra bergerak maju mundur, sebatang rudal yang besar dan panjang keluar masuk menyesaki kerongkongannya.
Belajar? Ya Sandra sedang belajar untuk tunduk pada keinginan si negro, melakukan perintah tanpa membantah, ia ketika tangan si negro mendekap kepalanya dan menjejalkan batang rudalnya sedalam mungkin, tubuhnya terus terguncang dengan kuat digenjot-genjot oleh sebatang rudal yang masih sulit untuk menemukan kenikmatannya padahal sudah beberapa kali ia menyemprotkan cairan klimaksnya.
“C’mon baby, you must learn….” Si negro duduk mengangkang dengan batang kemaluannya yang besar terhunus seperti sebuah tombak hitam. Si pesek membimbing dan mengajari Sandra, perlahan-lahan serambi lempit Sandra kembali tertembus tanpa daya, tanpa dapat menolak, ketika rudal yang besar itu kembali mengoyak lubang serambi lempitnya.
“Awwwwwww…” Hanya serambi lempitik, itulah satu-satunya yang dapat dilakukan oleh Sandra. Si pesek merangkul Sandra dari belakang, kedua tangannya meremasi buah dadanya, entah apa yang dibisikan oleh si pesek ditelinga Sandra yang pasti Sandra hanya mengangguk sambil menaik-turunkan pinggulnya.
“Ahhhhh, Ahhhhhhh, Ahhhhhhhh” semakin lama Sandra semakin ahli melakukan pekerjaan barunya, begitu pandai dan lincah pinggulnya bergerak naik turun “Cleppp.., Cleppp.. Clepppp” Suara itu terdengar keras ketika Sandra menurunkan pinggulnya yang disambut oleh hentakan batang rudal si negro keatas, gerakan ketiga orang itu sungguh serasi, erotis dan penuh dengan rintihan dan erangan nafsu birahi.
Tangan si pesek mengelusi buah pantat Sandra sebelum menjejalkan kepala rudalnya kesela-sela pantatnya yang basah dan lembut. Tangannya menekan buah pantat Sandra yang membulat indah, satu sentakan kuat gagal ketika menghantam lubang dubur Sandra namun tidak dengan sentakan yang kedua “Arrrhhhhhhhhhhhhhh….” kepala Sandra terangkat keatas ketika lubang anusnya dibobol oleh rudal si pesek yang hitam dan panjang.
Sandra merengek – rengek ketika dua batang rudal mulai bergerak dengan semakin kasar, sentakan-sentakan kasar membuatnya menjerit semakin keras antara sakit dan nikmat, sungguh kejam dua batang rudal yang besar itu seperti hendak merobek-robek anus dan lubang serambi lempitnya, merobek-robek kesadarannya, memacunya agar lebih liar dan semakin liar.
“Fuck me, Yeahhh.., Fuck me.., Arrrhhh harderrr, harderrrrrr….”Sandra melupakan rasa malunya, melupakan segalanya, yang ada hanyalah teriakan-teriakan binalnya yang terdengar semakin keras, dua orang negro itu semakin kuat mendorong dan menarik batang rudal mereka menghujam, mencecar, menusuk kasar tanpa belas kasihan, tanpa peduli apakah ia serambi lempitik karena sakit atau nikmat, ataupun sakit sekaligus nikmat ?
“Unnnhhh, Arrrrhhhhhhhhh….” Sandra menggeram binal, kemudian membelai wajah si negro yang baru saja memuntahkan cairan klimaksnya.
Sandra menolehkan kepalanya kearah jeritan Magdalena, kemudian tersenyum nakal ketika melihat temannya itu sedang asik dipacu oleh nafsu birahi. Magdalena sedang asik duduk di atas rudal hitam yang tertancap di lubang anusnya, dua tangannya sibuk mengocok dua batang rudal yang besar dan hitam dalam genggaman tangannya, sesekali mulutnya mengemut dan menjilati kepala rudal yang semakin membengkak itu.
“Ussshhhhh…. Kecrooottt Crrrotttt…..” rudal itu menyemprot wajah Magdalena. Tampaknya Magdalena berhasil mengalahkan sebatang rudal yang besar dan panjang. Tapi yang sebatang lagi mengincar lubang serambi lempitnya. Sepasang tangan mencekal pergelangan kakinya kemudian melebarkan kakinya mengangkang,
“Awwwwwww…..” Lidah Magdalena sedikit terjulur keluar ketika sebatang rudal itu meluncur dengan kasar, celupan-celupan kasar yang semakin membuatnya mendesah nikmat, tepatnya dua tusukan kasar yang terus menggenjoti lubang anus dan lubang serambi lempitnya, memacu nafsu birahinya sampai meledak dalam kenikmatan seksual.
“Auhhhhhhh……. Crrrrr…, Crrrrrrrr,” Magdalena terengah-engah didera puncak klimaks, kedua negro itu memacu rudalnya dengan perlahan-lahan agar ia dapat lebih meresapi puncak klimaksnya.
Magdalena tersenyum puas sambil menatap si negro dengan rambut jabrik, ia menggeliatkan tubuhnya ketika tangan-tangan nakal menggerayangi lekuk liku tubuhnya yang sudah basah kuyup berceceran keringat. Pinggulnya pun bergoyang dengan lembut,
“Fuck me Again……” Magdalena mendesah sambil terus menggerakkan pinggulnya dengan lembut, tusukan-tusukan rudal yang tadinya bergerak dengan perlahan semakin lama bergerak semakin cepat.
“Ohhhhh…,Ohhhhhh… Harderrrr…, deeper please….” Magdalena tidak peduli jika dirinya sekarang tidak ubahnya menjadi budak nafsu kedua orang negro itu yang terus memberinya kenikmatan, menggerayangi tubuhnya yang mulus dan basah. “Crrrotttt…..” “Croooottttttt”, setelah membuat Lena mencapai klimaksnya kembali barulah kepala rudal itu menyemburkan spermanya.
“Cmon stand up….” Magdalena dibantu berdiri oleh si kurus, kemudian ditarik ke sudut ruangan, disini sudah menanti negro bertubuh gemuk luar biasa, dengan kemaluannya yang sudah mengacung keras, begitu besar batang itu sampai membuat Lena bergidik ngeri, namun ia tetap berusaha menaiki tubuh si negro.
Madalena merasa seperti sedang menaiki seonggok kemak ,
“Uhhhhhhhhh……” sebuah kecupan lembut mampir di payudaranya. Mulut si gemuk melumat puncak payudaranya dengan lembut.
Magdalena berusaha menerima rudal yang bulatannya lebih besar sambil mengangkangkan kedua lututnya menekan pinggulnya ke bawah.
“sshhhhh.., Shhhhhhh…. Ahhhhhhhhhhhhh” Magdalena mendesah merasakan kepala rudal si negro mulai terbenam “Klepp….” kepala rudal itu mencelat masuk sehingga tubuh Lena sseperti terkena sengatan listrik.
Ada sebuah kata yang terpikirkan oleh Magdalena saat itu “menyetubuhi”, Ya, kata itulah yang membuat pinggulnya bergerak naik turun, menjerit dengan nikmat, mendesah, merintih, dan berteriak dengan liar. Si gemuk terkekeh-kekeh sambil mengelusi permukaan pahanya yang mulus.
“Wow…! You’re so wild, O shittt, Eearrrhh, I can’t stand it..!! ” Si gemuk tampak kewalahan menghadapi keliaran Magdalena, apakah benar si gemuk kewalahan, tentu saja tidak !!, si gemuk hanya bersandiwara agar Magdalena merasa di atas angin dan mengeluarkan seluruh kemampuannya.
“Ha Ha Ha…, You’re so weak…….,Heyyyyy” Magdalena terkejut ketika keadaan tiba-tiba berbalik dengan drastis. Si gemuk mendekap kuat-kuat pinggulnya dan mengocokkan batang rudalnya begitu kuat, liar dan brutal , memaksa Magdalena yang kewalahan untuk segera menyerah.
“Ouhhhh, Unnnhhhhh…, Crrrrr Crrrrrr…..” Magdalena ambruk di atas setumpukan lemak.
Si negro mengedusi rambut Magdalena, tumpukan lemak itu tiba-tiba berdiri, Magdalena mengalungkan kedua tangannya pada leher si gemuk.
“Arhhhhhhhh…….” ia berteriak keras ketika tubuhnya terayun-ayun dengan sangat kasar dan kuat, bahkan kesulitan untuk mengambil nafas ketika sodokan-sodokan itu dengan gencar memompa serambi lempitnya. Arrrrhhhhh.., Arrrrrhhhhhh, Arhhhhhhhh, kata-kata itu semakin keras terdengar, sepotong otot yang keras dan besar dengan kasar menghujam-hujam lubang serambi lempitnya, terdengar suara celupan-celupan keras di selangkangan presenter seksi itu “Deebbb,,, Cleppp Blepppp… Beppphh ”
“Ahhhhhhh, Ahhhhhhhhh, Ahhhhhhhhhhhh” mulut Magdalena ternganga lebar, jeritannya terdengar keras mirip seperti sedang melolong ketika seorang negro yang gemuk ikut menjejalkan batang rudalnya yang besar mengoyak lubang serambi lempitnya.
Magdalena kini terhimpit oleh dua tumpukan lemak yang ingin mereguk kenikmatan dari tubuhnya yang mulus dan halus.
“Plokkk.. Plokkkk… Plokkkkk”
“Blepppp.. Bleppppppp… Blepppppp”
Magdalena tampaknya sudah tidak kuat untuk melawan, ia hanya dapat meringis dan medesah panjang, menghadapi tusukan-tusukan kasar di kedua lubangnya, terkadang ia mengerang dengan keras. Sisi binal Magdalena kembali terkuak, gadis itu menjerit liar
“Arrrrr, Yeahhhhh, Ooooooo Yeahhhhhhh, Ha Ha Ha, Urrrhhhh”
Magdalena merasakan tubuhnya terjepit diantara buntalan lemak yang hangat, buntalan lemak itu menghimpitnya dan memberinya kehangatan dan kenikmatan. Tubuhnya menggeliat dalam himpitan dua buntalan lemak itu, “Crrrrrr Cruuuuutttttt…..” Magdalena mendesah panjang ketika kembali mencapai klimaks.
Dua tumpukan lemak itu mencabut rudal besarnya, kemudian seonggok lemak berbaring diatas lantai, Magdalena mengambil nafas kemudian menerkam tumpukan lemak itu, bibirnya mengejar bibir si negro dan melumat-lumat dengan liar.
“Ha ha ha…, Emmmm, Cuphhh, Ehhhhh, cuppphhhh Ahhhhhhh” dada Magdalena yang halus mengelusi dada si gemuk. Ia mengangkat pinggulnya sedikit ketika si gemuk mengarahkan kepala rudalnya kearah lubang serambi lempitnya.
Magdalena menekan kuat-kuat serambi lempitnya agar rudal si gemuk dapat memasuki lubang serambi lempitnya yang sudah memar kemerahan akibat persetubuhan interrasial yang semakin memanas itu.
Pinggul Lena bergerak turun naik dengan cepat terkadang sambil menekankan serambi lempitnya pinggulnya bergoyang dengan liar, sepertinya sih lebih hot goyangan Magdalena ketimbang goyangan Julie Estelle, jauh beda deh kalau yang goyangin pinggulnya Magdalena, so hot and tasty, nyam.
Magdalena menolehkan kepalanya ke belakang ketika seseorang menekan pinggulnya, duh lagi ? Disodok dari dua arah ? Magdalena tersenyum, bibirnya mendesah ketika sebatang rudal mengoreki lubang anusnya berusaha mencari jalan kenikmatan.di lubanng duburnya.
“Uhhhhh…, “Magdalena bertumpu pada bahu sigemuk, tubuhnya terdorong maju mundur ketika dua batang rudal itu merojoki lubang anus dan lubang serambi lempitnya.
“Hekk…, hekkk, Hekkkkk,, Hekkkk… Emmmpphhhh, Errrhhhhhhhh” Magdalena menggeram liar menahan serbuan rudal yang merojok-rojok dengan kasar sampai tubuhnya tersentak berulang kali dengan kuat.
“Damn you two, Arrrhhhhhhh, Gilaaaa……” mulut Magdalena menceracau panjang lebar ketika lubang anus dan lubang serambi lempitnya diaduk-aduk dengan kasar, kemudian mendadak berhenti seperti sedang menggodanya agar merengek-rengek memohon pada kedua negro bertubuh gemuk berlemak itu agar mereka segera melanjutkan persetubuhan interrasial itu.
“Ohhhh, Ahhhhh, Ohhhhhhh, Arrrhhhhhh, Yahhh..” mulut Magdalena kembali bersuara, begitu menggemaskan, ketika ia mengucapkan kata Ahhhhhhhhhhhhhhh…!! yang diakhiri pekikan kecilnya “Awww… Crrrrrr. Crrrrrrrrrrrrr……”
Sandra yang juga baru dihajar habis-habisan mendekati Magdalena, kedua gadis itu tidur berpelukan, beristirahat untuk pertarungan berikutnya …..!! sebab masih banyak batang-batang rudal diruangan itu yang masih belum terpuaskan.
************************
Dua jam kemudian
Sandra merasakan tubuhnya terangkat dan melayang kemudian dibaringkan dengan lembut, samar-samar ia mendengar makian Asmirandah, Sandra pun membuka matanya perlahan.
“Andahhhh…, Ohhh Andahhhh indah sekali….” Magdalena sedang memeluk tubuh Amirandah dari belakang, tangan Lena mengusapi payudara Andah, Sandra tersenyum kemudian ikut berlutut di hadapan Asmirandah yang serambi lempitik kesal sebagai pelampiasan penolakannya atas perlakuan Magdalena yang meremasi payudaranya.
Asmirandah mendengus kesal sambil memalingkan kepalanya ketika Sandra hendak mengecup bibirnya, Sandra tersenyum nakal sambil mengecup lembut leher Amirandah.
Lidah Sandra terjulur keluar dan dengan lembut mengulasi leher Amirandah, “Cuphhh.. Cuppphh..” berkali-kali kecupan-kecupan lembut mendarat di leher Asmirandah, kalau saja kedua tangannya tidak diikat ke belakang pastilah Andah akan mendorong kuat-kuat tubuh Sandra dan Magdalena.
Asmirandah berusaha mengusir jauh-jauh sebuah perasaan aneh dihatinya, ia bukan seorang lesbian, Bukan !! berkali-kali ia berusaha meneguhkan hatinya, Tapi kenapa ? Ahhhhhhh… ?! Perasaan aneh itu kembali muncul dan menggeluti keteguhan hati Asmirandah dan MENANG !!!!!!!!!! Nafas Asmirandah berdesahan ketika kecupan-kecupan lembut Sandra kembali mendarat dilehernya.
Asmirandah juga mendesah ketika Magdalena mencium bahunya dan menggigit kecil bahunya dengan lembut. Ia menolehkan kepalanya menghadap wajah Sandra, desah nafas Sandra yang hangat menerpa pipinya. Asmirandah memejamkan matanya ketika bibir Sandra mengecup lembut bibirnya, bibir Sandra memangut-mangut dan terus memanguti bibirnya.
Untuk sesaat Sandra Dewi memandangi Asmirandah, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengulum Bibir Andah, suara mulut Andah dan Sandra dewi berdecakan, Andah menghisapi lidah Sandra Dewi yang terjulur, begitu pula sebaliknya Sandra Dewi menghisapi lidah Andah ketika Asmirandah menjulurkan lidahnya keluar. Dengan nakal Sandra Dewi menggigit bibir Bawah Andah dengan lembut kemudian melumat mesra bibir Andah yang merekah.
Andah membalas lumatan bibir Sandra dewi, Asmirandah menolehkan kepalanya ketika merasakan kecupan dipipi kanannya, Bibir Lena mengejar Bibir Andah sementara kedua tangan Lena Magdalena menjepit dan memilin-milin putting Susu Asmirandah, Sandra Dewi menempelkan Jari tengahnya pada belahan Bibir serambi lempit Andah, kemudian dengan teratur Sandra dewi menggerakkan jarinya menggeseki Belahan serambi lempit Asmirandah yang semakin basah oleh cairan nafsu.
“Ahhhhhhhh… Crrrrr… Crrrrrrr……” Asmirandah menengadahkan kepalanya keatas, Denyutan-denyutan nikmat yang membuatnya terhanyut biarpun Asmirandah mencoba untuk berpegangan namun gelombang kenikmatan itu terlampau kuat menghempaskan jati dirinya.
Ikatan ditangan Andah sudah terlepas, Asmirandah terkulai pasrah ketika Sandra dan Magdalena membuatnya berbaring diatas meja billiard.
“Give me nine ball….” Sandra meminta bola bertuliskan angka 9, perlahan-lahan bola itu digesek-gesekkannya pada putting susu Asmirandah. Kedua kaki Andah dikangkangkan lebar-lebar oleh Magdalena sehingga Andahpun mendesah kegelian ketika bola billiard itu menggesek bibir serambi lempitnya, dengan lembut Sandra menguakkan bibir serambi lempit Andah.
“Ennhhhh… Shhhhhhhhh” Andah mendesah ketika klitorisnya bersentuhan dengan bola billiard di tangan Sandra. Sandra menggesek-gesekkan bola billiard di tangannya pada klitoris Andah yang semakin mengkilap. Klitoris Andah Vs nine ball, Andah mendesah, dan terus mendesah, permukaan bola billiard itu nampak semakin basah oleh cairan kewanitaannya.
Andah tersenyum sambil memejamkan matanya letika wajah Magdalena mendekati wajahnya, ia membuka bibirnya ketika merasakan lidah Magdalena mengeliat-geliat dan mengulasi sela-sela bibirnya. Dengan lahap Andah menghisap-hisap lidah Mangdalena.
Andah merasakan sedikit rasa lengket di permukaan bibirnya ketika bibir Magdalana melumat-lumat bibirnya, desahan-desahan kenikmatan semakin keras dari bibir Andah dan Magdalena, sementara Sandra memanaskan situasi dengan memperkuat gesekan bola billiard ditangannya pada klitoris Andah.
Asmirandah akhirnya berteriak “Uhhhhhhhhhhhhhhhh….! Cretttttt… Crrruuuuutttt” cairan kenikmatan itu berdenyut-denyut keluar dari lubang serambi lempitnya. Andah menelan ludahnya berkali-kali, matanya terpejam rapat.
Sepasang tangan mencekal pergelangan kaki Andah, ia menyentak-nyentakkan kedua kaki agar terlepas dari cekalan seorang negro. Asmirandah bergidik ngeri ketika si negro menumpangkan batang rudalnya di permukaan serambi lempitnya, begitu besar, hitam dan panjang. Berbagai macam kekhawatiran dan pertanyaan berkecamuk didalam benak Andah,
“Seperti apa rasanya ya ?” “Ahhh besar amat”,” bisa masuk nggak ?” “Mampus Gue….!! ”
“Affffhhhhh….. Ohhhhhhhhh” Sandra dan Magdalena menahan bahu Andah, mereka berusaha menenangkan Andah yang terlihat resah, dan gelisah , ketika rudal si negro menggeseki belahan serambi lempitnya.
“Heeehhhhhhh…, Ngaaaahhhhhhhh…!! ” Andah menjerit keras ketika lubang serambi lempitnya terasa pedih. rudal yang besar itu membongkar paksa serambi lempit Andah dan merobek-robek selaput keperawanannya.
“Uhhhhhhhhhhhhh…., Aaaaaaaaaaawwhh…..!” Andah menjerit keras kesakitan ketika batang rudal si negro mulai bergerak maju mundur, melakukan gerakan memompa, menggenjoti dan mengaduk lubang serambi lempitnya.
Tangan si negro mengangkat-angkat pinggul Andah sambil menjejal-jejalkan rudalnya, Andah terkulai tanpa daya, rasa sakit itu terlalu sakit untuk dilawan, tenaganya mendadak lenyap entah kemana seiring dengan bobolnya selaput keperawanannya.
Si negro menekan kemaluannya sambil mengoyang-goyangkan rudalnya mengaduk lubang serambi lempit Andah. Mata gadis itu terpejam rapat, lubang serambi lempitnya serasa dibelah dengan kasar, dikoyak dan dirobek-robek. Inikah rasa nikmat itu ? tidak !! bukannn !! Ouhhh begitu menyiksa,
“Tollllloooonggggggggg……” Asmirandah menatap dengan tatapan mata yang memelas pada Sandra dan Magdalena, Asmirandah tidak mengerti kenapa mereka selalu membisikkan kata enaknya diijut, asiknya dientot, ditelinga Andah kalau ternyata rasanya jauh berbeda dari apa yang dibisikkan oleh Sandra dan Magdalena.
“Ahhhhhhhhhhh, Ahhhhhhhh…” Andah mendesah-desah panjang. Apakah karena sakit ? Bukan ! rasa nikmat itu mulai berkobar-kobar, melahap tubuh Andah, memeras keringatnya sampai bercucuran dengan deras.
Andah mulai mengerti, inilah yang disebut nikmatnya bersetubuh, ya memang enak, membuat Andah seolah berenang dalam lautan kenikmatan, membuat Andah selalu mendesah-desah , merintih dan mengerang keras-keras ketika rudal yang panjang dan besar itu memompa lubang serambi lempitnya. Asmirandah menjerit-jerit keenakan, apalagi ditambah dua orang negro yang menundukkan kepala mereka untuk melumati buah dadanya, menjilati, menciumi bulatannya dan mengemut kuat-kuat puttngnya.
“Esshhhhhh…, Ahhhhh, Owwwww… Crrrtttt. Crrrrtttttt” Asmirandah menggelepar-gelepar, serambi lempitnya yang sedang digenjot tiba-tiba berdenyut-denyut dengan nikmat.
Asmirandah mendesah ketika si negro membalikkan tubuhnya, ia berdiri sambil sedikit menungging dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pinggiran meja billiard.
“Emm.. Plokkk… plokkkk.plokkkkk… plokkk” suara beradunya buah pantat Andah dengan selangkangan si negro.
“Ennhhhhh… Enhhhhhh… ennhhhhhh….” Rengekan-rengekan manja Andah menambah panas suasana diruangan itu, jeritan-jeritan liar Andah membuat si negro bertambah bersemangat memacu rudalnya yang hitam dan besar.
Sesekali si negro menjambak rambut Andah sambil mengoceki lubang serambi lempitnya sampai suara – suara becek itu terdengar dengan keras, setelah puas mengoceki lubang serambi lempit Andah, si negro menarik pinggulnya. Ia duduk dengan santai bersandar pada meja billiard, tangannya mengelus-ngelus tubuh Asmirandah yang duduk bersandar di pangkuannya.
Batang rudal si negro yang hitam besar masih tertancap di lubang serambi lempit Andah. Tangan si negro membelit pinggang Andah kemudian tubuh Andah tersentak-sentak ke atas dengan kuat. Batang rudal itu meliuk-liuk ketika berusaha mengocoki lubang serambi lempit Andah yang peret. “Ahhhh.. Ahhhhhhh….” Mulut Andah ternganga, sesekali Andah mendesis keras. Buah dadanya melompat-lompat dengan indah, terguncang -guncang sekeras sodokan-sodokan batang rudal si negro.
“Clepp.. Clepp.. Plokkkk… Cleppp… Plokkkk Pllokkkk”
“Ahhhhhhhhh, Ahhhhhh. Awwhhhhhh, Annnghhhhhhhh”
Mulut Andah terbuka lebar menyongsong sebatang rudal yang tersodor kearah mulutnya, wajah Andah mengernyit ketika si negro mendekap kepalanya sambil menyorongkan rudalnya dalam-dalam ke mulutnya.
“Ehhhhhhhhhh, crrrrrrrrrrtt Crrrrrrrrrrrrrrrrrrr”
“Arhhhhhh, Shitttttt….. Croooooottttttt” si negro menghentakan rudalnya sambil menarik pinggul Andah.
Tubuh Andah ditarik kemudian seorang negro, memposisikan Andah dalam posisi doggy style. rudal si negro menggeseki belahan pantat Asmirandah yang sudah basah oleh keringat.”I love wet pussy..”
“Hennggghhhh…!! Akkkhhhhhhhh….” tubuh Andah mengejang ketika rudal itu merojok kuat-kuat lubang duburnya, tubuhnya sudah terlalu lemah untuk melawan.
“Arrrrggghhhhhhhhhhhhhh……” Andah mengerang keras ketika lubang anusnya seperti dipaksa menguak melebar dengan tiba-tiba, ketika kepala rudal si negro berhasil membongkar lubang kenikmatan dubur Andah.
“Hekkkk, Hekkkkss, Hekkssss…..Errrhhhhhh” Asmirandah mengerang, tubuhnya terdorong-dorong “plokkk… Plokkkkk… Plokkkkkk” suara buah pantat Andah kembali terdengar semerdu rintihan-rintihan Andah.
Si negro menjatuhkan dirinya kebelakang sambil menarik Andah, posisi andah duduk memunggungi si negro, dengan sebatang rudal yang hitam dan besar terbenam di lubang anusnya.
“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhh…! ” Andah kembali serambi lempitik keras ketika sebatang rudal kembali mengoyak lubang serambi lempitnya.
Aduh…, Ampunnn… Ampunnnnn, Stoppppp, Nn.. Nooooo” Asmirandah “mencoba meredakan nafsu kedua pria negro itu yang menyerang lubang anus dan lubang serambi lempitnya dengan terlalu brutal dan kasar.
“Harrrrrggghhhhhhhhhh, Arrrrrrrrrrrrrrrrrhhhhh…..” Semakin kuat Andah mengerang , semakin kuat pula lubang anus dan lubang serambi lempitnya digenjot.
“Haaaaaaaaaaaaaaaa, Auhhhhhhhhhhh…..” mata Andah mendelik-delik, seperti ini kah rasanya double penetration? ketika rasa nikmat menyerang lubang serambi lempit dan lubang anusnya sekaligus, “Unnnnnhhhhh…. Unnnggghh” Andah melenguh diiringi desahan-desahan panjang, rasa nikmat itu menghanyutkannya entah kemana.
“Ahhhhh, Yes, Ahhhhhh, Ohhhhh Yesssss, Emmm Crrrrrrrrr.. Crrrrrrr” Andah mendesah-desah semakin liar kemudian mencapai puncak klimaks.
Crrrooooot, Crrroottt, Andah merasakan ada semburan -semburan hangat di lubang anus dan lubang serambi lempitnya.
“Come on Baby….” seorang negro dengan tubuhnya yang berotot menarik tubuh Andah, ditariknya bahu Andah agar gadis itu berdiri
Si negro menariknya ke dekat dinding berlapiskan cermin di ruangan itu, Andah mengalungkan kedua tangannya pada leher si negro, kakinya berjingjit sambil menyongsong bibir si negro yang mengejar bibirnya.
Andah mengangkangkan kedua kakinya ketika merasakan sebatang rudal menekan belahan serambi lempitnya, tangan si negro mengangkat pinggulnya, betapa kuatnya si negro, Andah melingkarkan kedua kakinya pada pinggang si negro, tubuhnya terayun dipacu dengan kuat oleh sebatang rudal yang besar dan panjang.
Tubuhnya kembali mengejang ketika lubang duburnya disodomi, kini Andah terayun-ayun, tersentak-sentak dalam kenikmatan sodokan dua rudal yang hitam, besar dan panjang , jeritan-jeritan andah terdengar liar dan semakin liar, kenikmatan itu membuatnya melupakan rasa malunya, yang ada hanya keinginan untuk mengejar kembali kenikmatan itu. Kedua negro dengan tubuh berotot dengan sukarela merengkuh tubuh Andah dan menelan bulat-bulat kehangatan dan kemulusan gadis itu ketika ia memohon “Fuck me please”
“Ohhhh, Ahhhhh, Ohhhhhh, Ahhhhhhhhhhh…” suara Andah terdengar dengan jelas dan keras, suara seorang gadis yang tengah diamuk oleh nafsu birahi yang menggebu-gebu.
Andah tidak berdaya ketika kehangatan dan kenikmatan tubuhnya dilahap oleh dua orang negro dengan tubuh berotot, tubuhnya yang lembut dan halus bergesekan dengan tubuh si negro yang hitam dan kasar. Ia menolehkan kepalanya ke arah cermin, ia tidak dapat mengenali bayangan siapa yang terpantul didalam cermin, apakah itu dirinya, dirinya yang menjerit-jerit kenikmatan, dirinya yang sedang keenakan dirojok – rojok oleh dua batang rudal yang besar dan hitam ??
Bukan !! Itu bukan Aku, Asmirandah berusaha menyangkal,
“Ya itu kamu !!”
“Bukannn…!!”
“Itu kamu Andah, Itu kamu!! kamu!! kamuuu!! ” suara itu semakin keras berteriak didalam hati Asmirandah.
“Crrrrttt Crrrrrr… Crrrrr…….” Rasa nikmat yang berdenyut-denyut membuat Andah tersadar, Ya itu dirinya, dirinya yang tengah mengarungi kenikmatan yang tanpa batas. Bayangan wajah gadis yang terpantul dicermin itu tiba-tiba tersenyum nakal, ada sorot mata liar di tatapan matanya.
Jeritan-jeritan Andah terdengar semakin keras dan keras, jeritan yang merdu sangat membangkitkan birahi. Dua orang negro yang sedang menyetubuhinya menghujamkan batang kemaluan mereka masing-masing “Crooottttt.. ” Crooootttttt” Setelah saling melumat, dan saling kulum untuk sesaat Asmirandah menarik lepas batang-batang rudal yang terkulai lemas dari lubang anus dan lubang serambi lempitnya.
Asmirandah mencari batang-batang rudal yang masih segar megacung menunggu giliran untuk menikmati tubuh Andah. Tangan Andah menekan bahu si negro agar si negro berbaring, Andah mendesah panjang ketika batang rudal itu kembali menggelusur menyesaki lubang serambi lempitnya, pinggul Andah bergoyang dengan indah, bergerak naik turun dalam irama yang teratur.
Andah mendesis – desis liar ketika lubang anusnya dihantam dengan kasar, sebatang rudal tertancap di lubang anusnya dan menyodominya. Mulut Andah sibuk mengoral sebatang rudal, sedangkan kedua tangannya menggenggam 2 batang kemaluan dan melakukan mengocok-ngocok. Buah dadanya diremasi oleh tangan-tangan yang hitam dan kasar, berkali-kali putting susunya ditarik dan payudaranya diremas-remas.
Andah menggerakkan kepalanya maju mundur mengoral batang rudal si negro, Andah menyerang rudal si negro dengan hisapan-hisapan kuat. Mulutnya menggembung ketika sperma si negro meledak di dalam rongga mulutnya. Ia tampak menelan sesuatu, batang rudal si negro tertunduk menggakui keampuhan mulut Andah, tidak berapa lama dua batang rudal dalam genggaman tangannya memuncratkan cairan sprema.
Sayang daya tahan Andah sudah semakin lemah, matanya berkunang-kunang, tubuhnya serasa lemah, dan letih, tiba-tiba ia Ambruk sambil mendesah lemah “Ennnhhhhh… Crrrrrrrrr. Crrrrrrrrrrr” Ngocoks.com
Matanya menatap sayu pada pantulan dirinya di cermin, tubuhnya masih tersentak-sentak dengan kuat digenjoti oleh batang kemaluan yang tertancap di lubang anus dan lubang serambi lempitnya. Andah tersenyum sambil mendesah panjang ketika denyutan-denyutan kenikmatan kembali berdenyut di lubang serambi lempitnya.
Mata Andah menatap cermin, menatap pantulan dirinya yang sedang menikmati hubungan sex interracial menatap pantulan dirinya yang sedang serambi lempitik keenakan, mendesah dan merintih dalam kenikmatan digenjot dengan kasar oleh dua batang rudal yang panjang, hitam dan besar.
Andah menutup matanya, menikmati dentuman cairan sperma di lubang anus dan lubang serambi lempitnya, bibirnya mendesah kemudian tersenyum dengan puas. Andah membuka matanya sedikit ketika seseorang menarik tangannya, Sandra dan Magdalena meletakkan jari telunjuk di bibir mereka yang meruncing.
Perlahan-lahan Andah menggeliat melepaskan diri dari himpitan dua orang negro yang menjepit tubuhnya. Ketiga wanita cantik itu perlahan-lahan membuka pintu, mereka melangkahkan kakinya
“Mau kemana ?” Andah bertanya
Sandra dan Magdalena hanya tersenyum sambil menarik tangan Andah, menuruni.anak tangga.
“Lena….” Andah menarik tangannya ketika menyadari Sandra dan Magdalena hendak menariknya keluar dari dalam rumah itu dalam keadaan bugil.
“Udah…, ikut Aja….” Sandra tersenyum nakal sambil mendorong pinggul Andah.
“Klikkk…” pintu rumah itu terbuka lebar, dinginnnya angin malam mengelus tubuh Andah, Magdalena dan Sandra yang masih telanjang bulat, berjalan di jalanan yang terlihat sepi. Kedua tangan Andah ditarik oleh Sandra dan Magdalena. Magdalena dan Sandra menariknya dengan paksa mendekati gerombolan negro dengan baju lusuh mereka yang sedang menghangatkan diri di sekeliling tong besi yang menyala.
“Haiiiii….” suara Sandra terdengar merdu
Segerombolan negro itu berdiri dan mengurung ketiganya. Entah berapa helai baju lusuh yang terhampar, dijatuhkan oleh pemiliknya. Sepertinya pertarungan “Outdoor” akan segera dimulai di malam yang dingin ini.
Batang-batang kemaluan yang besar dan hitam mengelilingi ketiga wanita cantik itu, Sandra dan Magdalena berlutut masing-masing sedang asik dengan tiga batang rudal, dua di tangan dan satu di mulut mereka. Dua orang negro menarik tubuh Andah, mereka menghimpit tubuh artis muda itu, memberikan rasa hangat untuknya. Andah tampak khawatir menengokkan kepalanya ke kiri dan kanan dengan was-was.
“Don’t worry.., no one dare to pass here at night…” si negro berusaha menenangkan Andah, tangannya merayap mengelusi buah dadanya yang kembali mengeras.
Magdalena berdiri mengangkang seorang negro tengah mencumbui permukaan serambi lempitnya, jembut tipisnya terlihat semakin basah terbasuh oleh air liur si negro.
“Ahh, Ennnnhh….” Magdalena mendesah keras ketika lidah si negro yang runcing dan kasar mengulasi kelentitnya, kedua tangan si negro tidak pernah merasa bosan untuk merayapi permukaan pahanya, bibir si negro yang tebal dan kasar mengecupi permukaan serambi lempitnya kemudian mengulum belahannya.
“Ahhhhhhhh….” Magdalena semakin kuat mendesah panjang merasakan sebatang lidah yang kasar , basah dan hangat, menggeliat-geliat menjilati sela-sela pantatnya. Rasa geli menerpa lubang anusnya yang digelitiki oleh lidah si negro yang runcing.
Lena tersenyum nakal setelah memasukkan rudal si negro hingga tertancap di belahan serambi lempitnya. Ia kemudian melompat sambil mengalungkan kedua kakinya pada si negro, kakinya menjepit kuat-kuat pinggang si negro. rudal si negro semakin dalam menancap di belahan serambi lempitnya ketika pinggul Lena bergerak turun kemudian terangkat naik kemudian ia kembali menghempaskan pinggulnya kuat.
“Essshhh Eshhhhhh…, Hssshhhhhssss… Ahhhh,”
Desahan dan rintihan Lena mengundang sebatang rudal mengacung ke arah anusnya membuatnya mendesis ketika rudal yang besar dan panjang itu menekan memaksa memasukinya.
“Arhhhhh…!! ” satu jeritan kesakitan Lena menjadi pertanda kalau rudal yang besar dan hitam itu sudah berhasil membongkar lubang duburnya dengan paksa.
“Ennnhhh., Ennnhhh. Awwww…, Awwwww….” jeritan keras Lena membuat kedua batang rudal itu semakin cepat bergerak, memaksa nafsu birahinya untuk terus naik semakin tinggi dan akhirnya meledak dengan tiba-tiba dalam denyutan-denyutan nikmat di selangkangannya.
Lena memejamkan matanya meresapi tusukan-tusukan kasar di lubang anus dan lubang serambi lempitnya, tubuhnya terdorong-dorong ke atas mengikuti tusukan-tusukan dua batang rudal besar yang menancap di kedua lubangnya.
Berkali kali mulut Lena mengucapkan hurup “U” dengan bibirnya yang meruncing, kadang wajahnya mengernyit dengan bibir terkatup rapat ketika disetubuhi dengan kasar. Magdalena merengek bahkan hampir menangis ketika para negro itu terus menyetubuhi dirinya dalam berbagai macam gaya. Magdalena, sebuah perpaduan yang sulit untuk ditandingi antara kecantikan dan ukuran susunya yang putih dan besar. Para negro itu tidak pernah bosan untuk mempermainkan gumpalan susu montoknya yang putih besar dan semakin kenyal, enak banget untuk diremasi atau dikenyot..
“Arrhhh…., ” terdengar suara jeritan kecil Sandra yang sedang berjongkok memunggungi si negro di bawahnya. Negro itu menyodoki anusnya dengan kasar, tubuh Sandra terdorong-dorong keatas ketika rudal yang besar dan hitam itu terayun keatas, kepalanya kadang menengok ke kiri sambil mulutnya mengejar kepala rudal dalam genggaman tangan kirinya. Terkadang menengok kekanan sambil menjilati kepala rudal si negro dalam genggaman telapak tangan kanannya.
“ahhh. Aaaa Ahhhh Aaaaaa….!! ERrrhhhhhhhh” Sandra menjilat kepala rudal si negro sambil menggeram dengan penuh nafsu.
Sebatang rudal mendekati serambi lempitnya yang menganggur, sayang bangetkan kalau belahan serambi lempit itu tidak dimanfaatkan.
“Uhhh…. Essshhhhhh” Sandra mendesis keras ketika si negro menjejalkan batang rudalnya, karena kedua kakinya diangkat secara otomatis Sandra melepaskan genggamannya pada batang rudal di tangannya. Kedua tangan Sandra kini bergerak ke belakang untuk menopang tubuhnya..
Dua negro yang tadinya dioral olehnya kini berlutut di samping kiri dan kanan. Tangan mereka yang hitam dan berbulu menggerayangi dan mengelusi payudaranya yang bergerak-gerak. Buntalan dada Sandra bergerak mirip seperti hendak melompat namun terbetot kembali ke bawah ketika tubuhnya digenjot dengan semakin keras oleh dua batang rudal yang menancap di lubang anus dan serambi lempitnya.
Sandra menolehkan kepalanya ke kanan dan langsung mengulum sebatang rudal besar yang panjang. Jeritan – jeritannya yang keras terdengar semakin menggairahkan. Keringatnya kembali bercucuran. Si negro yang berada di bawah memegangi pinggangnya agar artis cantik itu dapat sedikit menghemat tenaganya. Sandra semakin mengangkangkan kedua kakinya ketika merasakan sodokan-sodokan di lubang anus dan serambi lempitnya bertambah gencar.
“Yes fuck me !, Oooo…, YEahhhh, YEahhhhhh….”
“Harderr.., Harderrrrr…. Annhhhhhhh ” Sandra berteriak keras, sesekali pekikan kecil terdengar dari mulutnya, kadang menjerit keras sekeras-kerasnya ketika merasakan sodokan-sodokan kasar yang semakin liar memompa dirinya.
“Enhhhh… Crrr Crrrrr… Crrrrr…” Sandra pun mengejang dengan bergelimang kenikmatan yang berdenyut-denyut di lubang serambi lempitnya.
Tangan si negro buru-buru menopang punggungnya yang hendak terjatuh ke belakang, Disibakkannya rambut Sandra yang acak-acakan kemudian sesekali bibir si negro mengulumi bibir Sandra. Sandra mendesah keras ketika seorang negro menundukkan kepalanya dan menghisap kuat-kuat puncak payudaranya.
“Arrrhhhhhh…, Emmhhhhhh…. ” suara itu keluar dari mulutnya ketika mulut si negro semakin rakus mengemuti dan menjilati puncak payudaranya sampai meninggalkan bekas-bekas gigitan memerah pada kulit payudaranya
“Ahhh Ahhhh Owwwww….” Sandra kembali berorgasme, kepalanya terangkat ke atas dengan matanya merem-melek , Ouhh !! Gila Nikmat sekali , pikiran itulah yang berkali – kali terlintas dalam benaknya ketika lubang anus dan lubang serambi lempitnya dihantam-hantam dengan kasar dan kuat.
Mulut Sandra meruncing, tubuhnya terguncang dengan hebat, nafas artis cantik itu tersendat-sendat mengikuti pacuan di lubang serambi lempit dan anusnya.
“Aa.. Crrrr Crrrr….” wajah Sandra tampak semakin bersemu merah ketika mengucapkan kata “A” , agak lama barulah kedua batang rudal di anus dan di serambi lempitnya menyemprotkan cairan spermanya.
Sementara itu, langkah Asmirandah terseret-seret oleh dua negro bertubuh tinggi besar yang menarik tangannya masuk ke dalam mobil sedan tua, di bangku belakang. Tangan Andah yang satu menyilang menutupi dadanya sedangkan telapak tangannya yang satu lagi berusaha menutupi derah intimnya.
Sebenarnya Andah ingin kabur ketika mencuri pandang pada selangkangan si negro, dua batang rudal yang jauh lebih besar dan panjang dari rudal-rudal yang pernah merasakan kenikmatan serambi lempit Andah? Tapi kabur kemana ?
Posisi Andah berada ditengah-tengah, kedua orang negro itu seolah-olah menjaga pintu di belakang tubuh mereka. Bibir-bibir tebal itu mulai mengecupi leher Andah, gadis itu merasakan dirinya sedang dilahap perlahan-lahan oleh kedua orang negro yang terkadang menggigit kecil lehernya.
“Ohhhh, Andah nggak mau!!, Tolongggg…..” suara hati kecil Andah berteriak untuk menyadarkannya.
Dengan kejamnya “si kenikmatan sex interracial” menerkam dan melahap habis suara hati kecil itu hingga tidak dapat bersuara untuk mengingatkan Andah lagi. Si kenikmatan interracial menyerbu dan mengotori benaknya dengan kata-kata mesum dan terus berbisik di telinganya.
“Andah…, menyetubuhi lagi yukkk….”
“Ayo Andah, minta diijut gih…!!,”
Nafas Andah terasa berat, dadanya sesak oleh luapan birahinya, ia diam ketika tangan yang hitam dan besar itu menepiskan tangannya, kedua tangannya mengepal kuat-kuat ketika kepala kedua orang negro itu merunduk dan menciumi payudaranya.
Bibir mereka yang tebal mengemut dan mengenyot kuat-kuat putingnya yang semakin mengeras. Tubuh Andah menggeliat sambil mendesah lirih, sesekali ia memejamkan matanya rapat-rapat. Puncak dadanya terasa nikmat sekali ketika dihisapi oleh mulut si negro.
Mulut Andah kadang meruncing, kadang terbuka lebar tanpa ada suara apapun yang keluar dari mulutnya, kadang berteriak keras untuk mengeluarkan luapan Nafsunya yang sudah tidak tertahankan. Sepasang Tangan Sinegro menarik pinggul Andah dan memaksa Andah untuk menduduki selangkangannya, dalam posisi memunggungi
“Ahhhhhhhhhh…..! ” Andah menjerit keras, mulutnya terbuka lebar dan matanya mendelik merasakan kepala rudal si negro menguakkan belahan serambi lempitnya dan menyentak dengan kuat sampai tubuhnya tersentak ke atas.
“Please.., Ahhhh, Pleaseee, It’s hurt…!!Jangan, Aduhhh Awwwwww”
Batang besar itu sama sekali tidak mempedulikan Andah yang semakin kewalahan, air keringat kembali mengucur dengan deras.
“Arhhhhhhhhhhhh…….! ” Andah berteriak panjang ketika batang rudal itu dijebloskan dengan kuat-kuat, tubuhnya menggeliat antara rasa ngilu dan nikmat ketika serambi lempitnya dipaksa terkuak untuk menerima rudal si negro yang besar.
Putting susu Andah dihisapi dengan lahap, bulatan dadanya terasa hangat ketika lidah si negro memolesinya dengan merata, lidah kasar itu menggesek permukaan payudara Andah sampai ia mendesah karena nikmat. Tubuh Andah mulai tersentak-sentak keatas, mula-mula sih lembut banget, semakin lama semakin kasar dan kuat. Andah hanya dapat menjerit kecil dan mengerang ketika batang rudal itu menusuk-nusuk dengan semakin keras
“Ahhh.., Ouhhhh, !! Assshhhhh…. Crrr Crrrrr”
Si negro mengangkat dan mendorong bokong Andah sampai rudalnya terlepas, kemudian diarahkannya batang rudal yang berlumuran cairan kewanitaan Andah pada lubang anusnya.
“Aaaaaaa….!! ” Andah menjerit panjang dengan tubuhnya yang mengejang merasakan lubang anusnya dibongkar dan sesuatu yang besar dan panjang merojokinya semakin dalam, belum sempat ia mengambil nafas ketika kedua kakinya dipaksa mengangkang dan kini serambi lempitnya kembali disesaki oleh batang rudal yang besar, Andah meringis keras ketika belahan serambi lempitnya dikuakkan oleh batang rudal yang hitam dan besar. Genjotan-genjotan rudal yang besar dan panjang mulai memompa lubang anus dan serambi lempitnya dalam sebuah irama yang teratur.
“Erhhhhh…, Erhhhhh…, Erhhhhh, Arrrrhhhhhhh….” Suara erangan Andah terdengar keras, berkali-kali bibirnya mendesah dan berkali-kali pula ia mencapai puncak kenikmatan.
Andah merintih, kadang mejerit keras dan panjang, ketika dua batang rudal itu semakin kuat menggenjoti kedua lubangnya. Matanya mengerjap-ngerjap, mulutnya sedikit terbuka ketika merasakan denyutan-denyutan nikmat di lubang serambi lempitnya,
“Enggghhhhhhhhhhh………..”
Andah melenguh panjang sebelum akhirnya jatuh pingsan tidak sadarkan diri.
Mobil sedan tua itu masih terus terguncang dengan hebat sehebat dua batang rudal negro yang terus menggenjoti lubang anus dan lubang serambi lempitnya. Entah berapa lama Andah tidak sadarkan diri, ia membuka matanya perlahan-lahan dan merasakan tubuhnya masih digenjoti dalam posisi berbaring mengangkang di jok belakang.
Ia memegangi tangan si negro yang meremasi payudaranya. Tubuhnya terasa sangat lemas, letih, dan pegal. Si negro mengangkangi kepala Andah sambil menjejalkan kepala rudalnya ke mulut gadis itu.
Asmirandah hanya dapat mendelikkan matanya ketika rudal si negro menekan kerongkongannya, kemudian rudal itu dicabut pemiliknya dan kemudian dibenamkannya kembali ke dalam mulutnya.
Andah merasakan dua semprotan panas, satu di lubang serambi lempitnya dan satu di dalam rongga mulut “Uhukkk…, uhukkkk…, uhukkkk” Asmirandah terbatuk-batuk tersedak sperma si negro, sebagian sperma tersebut meleleh di sudut bibirnya.
“Tok… Tokkk Tokkkk….” pintu mobil diketuk oleh seseorang
Si negro membuka pintu mobil
“Are you finish?” si gemuk bertanya.
“Yeah… we finished nge he he he…, take her….” tubuh Asmirandah pun langsung berpindah tangan.
Asmirandah mulai kedinginan apalagi hujan sudah mulai turun, sementara tubuh Sandra diseret oleh seorang negro, demikian juga tubuh Magdalena.
Ketiganya kini duduk berdampingan di atas sebuah kursi panjang, mereka hanya dapat bersandar lemas ke belakang menatap tiga orang negro bertubuh gemuk luar biasa berdiri di hadapan mereka dengan batang rudal mereka yang hitam, besar dan panjang, mungkin batang rudal merekalah yang terbesar dan terpanjang diantara para negro lainnya.
Ketiga artis cantik itu menggigil kedinginan. Hujan bertambah deras membuat tubuh keenam orang itu basah kuyup. Ketiga orang negro bertubuh gemuk bergerak, berlutut di hadapan mereka masing-masing.
“Arhhhhhhhh…..” jeritan pertama keluar dari mulut Sandra, rudal yang besar itu serasa mengoyak lubang serambi lempitnya
“Auhhhhh, Akhhhhhhhhhhhhhhhh ” Jeritan kedua terdengar dari mulut Andah, tubuhnya tersentak kesakitan.
“Ohhhhhh, Awwwwwhhhhhhhh ” Jeritan Magdalena menyusul jeritan Asmirandah.
Trio negro bertubuh gemuk itu membiarkan Andah, Sandra dan Magdalena untuk membiasakan diri terlebih dahulu ditancap oleh batang rudal mereka yang kokoh dan panjang. Ketiga artis cantik itu bergantian mendesah-desah, mengerang dan merintih lirih pokoknya nyanyian mereka bertiga kalau sampai diterbitkan pasti laku keras di pasaran.
“Arhhh, Arhhhhh Arrrrrhh, Awwwwwww….!! ” Asmirandah semakin gelisah dan akhirnya menjerit keras ketika serambi lempitnya mulai disodoki begitu cepat, kuat dan kasar.
Mulutnya ternganga-nganga, kadang melolong keras “Aowwwhhhh….!! ” tampak eskpresi kesakitan yang amat sangat tergambar di wajahnya, erangan – erangan Andah membuat Sandra dan Magdalena merinding, mata Sandra dan Magdalena melotot ke arah selangkangan Andah. Bibir serambi lempit Andah seperti tertekan amblas ketika rudal itu menekan dengan kasar dan tertarik mayun ketika rudal hitam itu dibetot oleh pemiliknya.
“Ennnnhhhhhhhhhh……., Crrr Crrrrr” nafas Asmirandah tiba-tiba tersendat-sendat, sesekali tubuhnya tersentak ketika si negro merojok kuat lubang serambi lempitnya.
rudal hitam itu bergerak perlahan menghantarkan Asmirandah yang baru saja meraih puncak kenikmatannya sebelum akhirnya kembali memacu menggenjot dengan semakin cepat dan kuat sampai ia kembali serambi lempitik dan mengerang keras dengan tubuhnya yang terguncang-guncang hebat.
Sementara Magdalena mulai resah ketika kedua pergelangan kakinya dicekal dan diletakkan mengangkang di bahu si negro. Si gemuk terkekeh-kekeh menatap wajahnya yang tampak ketakutan. Si negro menusukkan rudalnya perlahan-lahan sedalam mungkin kemudian dengan tiba-tiba si negro mencabut batang rudalnya “Plopp”
“Plakkk.., Plakkkk,, plakkkkk” si negro memukulkan rudalnya pada bibir serambi lempit Magdalena sebelum kemudian perlahan-lahan kembali mencelupkan rudalnya yang hitam, berkali-kali si negro melakukan hal seperti itu sehingga Magdalena sedikit lengah, matanya terpejam dengan mulut sedikit terbuka.
Si negro tersenyum, pancingannya berhasil, si cantik bersusu besar tampak rileks di bawah kucuran air hujan. Dengan kuat dan cepat tiba-tiba si negro mengocoki lubang serambi lempitnya “Arrrrhhhhhhhhh….!!” Magdalena pun membeliakkan matanya, kemudian mengerang-ngerang kesakitan ketika rudal si negro mengompa lubang serambi lempitnya kuat-kuat.
Magdalena mengerang keras ketika rudal si negro mengaduki lubang serambi lempitnya “Pleppp Pleppp Plepppph…..” suara rudal itu terdengar keras ketika mengaduk dan melakukan genjotan-genjotan yang kuat.
“Mampus dah…, giliran gue nih….glekk.” Sandra membatin sambil menelan ludah ketika pergelangan kedua kakinya didorong sampai lututnya tertekuk
Sandra mencoba melemparkan senyuan pada wajah si negro yang begitu dingin menatap wajahnya, bahkan tanpa ekspresi sedikitpun.
“Ooo, I love your smile.., C’mon smile again…” wajah si negro berubah ramah, Sandra menghela nafas lega kemudian mencoba melemparkan senyuman termanis yang ia miliki.
“Arrrhhhhhhh….!! Arrrhhhhhhhhh….!!” Sandra berulang kali menjerit keras, tangannya menahan bahu si negro yang merapat menghimpit tubuhnya, serambi lempitnya ditusuki dengan kuat, wajah si gemuk berubah bengis.
“Smile !! Smileee !! Smileee!!… , that all you can do bahhh !! ” si negro menjulur-julurkan lidahnya keluar sambil menggenjot-genjotkan batang rudalnya ke belahan serambi lempitnya, semakin dalam rudal besar itu terbenam semakin keras pulalah lolongan Sandra.
Si negro menggeram keras kemudian menghentak-hentakkan rudalnya dengan kasar, “Oahaaahhh…!! Aaarrrhhhhhhh….., Errrrrrrrrhhhhh” Sandra kembali mengerang-ngerang, bibir serambi lempitnya terlipat-lipat ketika rudal si negro bergerak keluar masuk dengan kasar dan kuat.
Si negro memacu rudal besarnya begitu cepat dan kuat rudalnya bergerak di belahan serambi lempit artis cantik itu hingga melampaui daya tahannya untuk menerima sodokan. “Unnnhhhhhh… Cruuuttt… Cruutttt ” serambi lempit Sandra berdenyut nikmat, ia menggerakkan tangannya berusaha menahan sodokan si negro yang terus memompanya, dengan kasar si negro menepiskan tangannya dan semakin kuat menggecak-gecak serambi lempitnya.
Sandra mengikuti jejak Asmirandah yang memeluk tubuh Magdalena, sementara trio negro bertubuh gemuk meleletkan lidah ketika menyaksikan ketiga gadis itu saling berpelukan satu sama lain, wajah Asmirandah, Magdalena dan Sandra tampak begitu menggairahkan ketika berkali kali mulut mereka mengerang, merintih dan serambi lempitik keras.
“Ahhhhhhhh…..!! ” hampir bersamaan suara keras itu terdengar dari mulut Asmirandah, Sandra dan Magdalena.
Ketiga artis cantik itu saling menyusul berorgasme, kadang Sandra serambi lempitik kecil ketika mencapai klimaks, kadang Andah menjerit panjang ketika serambi lempitnya berdenyut-denyut dengan nikmat, kadang terdengar erangan keras Lena ketika serambi lempitnya berkali-kali menyemprotkan cairan kenikmatan.
Hampir bersamaan trio negro bertubuh gemuk itu mencabut rudalnya dengan kasar dari belahan serambi lempit Andah, Magdalena dan Sandra. Ketiga negro gendut itu masing-masing memangku tubuh Andah, Sandra, dan Magdalena. Tangan kasar si negro merengut tubuh Magdalena dan menunggingkannya tepat di hadapan kaki Asmirandah.
“Jangan, Nggakk, jangannn, disituu….,” Magdalena berusaha berontak ketika si negro menempelkan kepala rudalnya pada duburnya.
“Aduhhhhh” ia kesakitan ketika tangannya diikat ke belakang.
“Nghaaakkkkssss, Andahhhhhh tolonggggggg…..” Magdalena menatap Asmirandah dengan tatapan memelas meminta pertolongan. Sebelum akhirnya melolong keras ketika lubang anusnya dijebol oleh kepala rudal si negro yang terus menggeliat memasuki lubang anusnya lebih dalam. Tubuh Lena tersentak-sentak kuat ke depan ketika si negro bertubuh gemuk mulai menyodominya, jeritan kesakitannya terdengar di tengah hujan yang semakin deras.
Sandra dan Asmirandah saling berpandangan, mereka khawatir mengalami nasib yang sama dengan Magdalena, walaupun kini tubuh mereka hanya dirayapi dari belakang, diremasi susunya dan dikecup-kecup oleh bibir tebal si negro yang memangku tubuh mereka. Sandra menolehkan kepalanya menatap Asmirandah dengan tatapan memelas ketika bokongnya didorong agar berdiri, bahu Sandra dicengkram oleh sepasang tangan hitam yang kekar dan memaksanya untuk berlutut dan menungging di samping Magdalena.
“Heiii !!! ” tiba-tiba Sandra meronta keras dan melepaskan tubuhnya dari dekapan si negro bertubuh gemuk, si gemuk mengejarnya, dengan cekatan tangan si negro menyambar pinggangnya
“Jangannn, Tolonggg, Jangannnn…, Pleaseeee…, ” Sandra memohon-mohon, suaranya begitu memelas.
Si negro menggeram marah, hampir saja santapannya yang lezat ini kabur, dengan kasar diikatnya tangan Sandra ke belakang, seperti tangan Magdalena. Dengan paksa si negro membuat Sandra menungging di samping Magdalena yang masih mengerang kesakitan.
“Arhhhhhh…. !! ” suara jeritan Sandra terdengar panjang berbaur dengan erangan Magdalena. Pekikannya terdengar keras ketika lubang anusnya tiba-tiba melebar dengan paksa dan sebatang rudal besar meluncur mengoyak duburnya.
“Hegghhh.., Heggghhh Heggghhhh….” gigi Sandra terkatup rapat menahan rasa sakit yang semakin mendera lubang duburnya sebelum akhirnya melolong keras sekeras lolongan Magdalena di sampingnya.
“Plakkkk… Plakkkk… plakkkkk Plokkkk Plakkkk Plokkkkk Plakkkk”
suara benturan antara buah pantat diiringi dengan tamparan-tamparan keras terdengar silih berganti dibawah guyuran air hujan diselingi erangan kesakitan yang terus keluar dari mulut keduanya. Tubuh mereka tersungkur-sungkur ke depan dalam posisi menungging dan kedua tangan terikat ke belakang.
“So, want to do it yourself or I’ll rape your ass?” si negro bertubuh gemuk menjilat sambil berbisik ditelinga Asmirandah. Karena Asmirandah tidak menjawab pertanyaanya si negro bertubuh gemuk pun semakin beringas.
“No, Please , I do it myself….” Asmirandah berdiri kemudian perlahan-lahan Andah menurunkan pinggulnya seperti orang hendak berjongkok dan kemudian berusaha menduduki kepala rudal si negro dengan duburnya.
Sambil menahan Nafas Asmirandah menekankan duburna, mulut Asmirandah membentuk Huruf “O” yang semakin besar ketika lubang duburnya melar menerima kehadiran kepala rudal si negro, tangan si negro bergerak menarik pinggang Asmirandah untuk terus turun dan turun, dengan tiba-tiba tangannya menarik pinggang Andah kuat-kuat sambil menghentakkan batang rudalnya ke atas.
“Heggghhhhh…” Asmirandah mendelik menahan rasa sakit yang tidak tertahankan ketika sebatang rudal yang besar tertancap semakin dalam dilubang duburnya. Tangan si negro menarik kaki Asmirandah dan mengangkangkannya melebar, selanjutnya tubuh Andah terdorong-dorong kuat keatas, ketika lubang anusnya disodoki oleh rudal si negro.
“Arrhhh…, Ahhhhh, Ahhhhhh, Arrrhhhh….” erangan Asmirandah menyatu berbaur dengan erangan Sandra dan Magdalena.
“Jangann, Aduh.., sakittt, jangann, pleasee !!”
“Awww.. Arhhhhh, Arrrrhhhhh”
“Tidakkkk, Owwwwhhhh”
Asmirandah menangis keras kesakitan, ketika tubuhnya ditunggingkan di samping Sandra dan digenjot kuat-kuat oleh si negro gemuk yang semakin asik mengaduki lubang anusnya. Suara guyuran hujan deras terdengar mengasikkan berbaur dengan rintihan – rintihan mereka.
“They’re Soo Cute… Nge He he he!!”
“Yeahhh…, ! Cute little slut”
“Shut up, just fuck them all!! Deep and hard”
Sesuai dengan komando yang diberikan ketiga rudal itu bergerak semakin kencang merojoki dan mengaduk kemudian keluar masuk dengan cepat di belahan serambi lempit ketiga artis itu. Jeritan dan suara erangan keras semakin sering terdengar dari mulut ketiganya yang sedang disodomi di bawah guyuran hujan lebat.
****************************
Kamar tempat Nia, Julie, Nikita, dan Marshanda
Tubuh-tubuh telanjang bergelimpangan di kamar penthouse itu setelah pesta seks yang liar dan melelahkan beberapa waktu sebelumnya. Nikita Willy telah tertidur di ranjang dalam dekapan seorang negro yang terahir menyetubuhinya, demikian pula Nia Ramadhani, tubuh telanjangnya tergeletak di sebelah Nikita.
Rambut panjangnya sudah acak-acakan, ceceran sperma nampak di sekujur wajah dan tubuhnya. Dari kamar mandi terdengar suara shower, rupanya Julie tengah membasuh diri di dalam sana.
Sementara Marshanda nampak di sofa sedang ngobrol-ngobrol ringan dengan tiga pria negro yang merokok dan minum bir, ia nampaknya enjoy terlibat obrolan nakal dengan mereka, sesekali tangan-tangan hitam nakal itu singgah di bagian-bagian sensitifnya. Tiba-tiba terdengar suara bel tanda ada orang datang.
“Just relax, Chacha!” Ben bangkit sambil meraih celana pendeknya, ia memakai celana itu lalu berjalan ke arah pintu dengan bertelanjang dada. Ngocoks.com
Chacha meneruskan bercengkrama dengan kedua negro lainnya hingga mendengar sepertinya Ben sedang ada masalah dengan tamu yang datang. Iapun menyambar selimut dan membelitkannya ke tubuh untuk menutupi ketelanjangannya lalu menyusul Ben ke pintu masuk.
“What’s up? Any problem Ben?” Chacha melihat tamu itu ternyata dua orang negro lain, bedanya kalau Ben dan teman-temannya berpenampilan cuek seperti rapper, kalau mereka berdua berpenampilan necis, bahkan yang satu gaya bicaranya kemayu.
“You see man, I said party, but not gay party!” kata Ben agak sewot, “we’re all straight here man”
Oooohh… selidik punya selidik ternyata mereka berdua itu teman Ben yang penyuka sesama jenis. Mereka mengira di kamar itu ada gay party dan ingin ikutan, karena kemarin Ben berkata pada salah satunya dia mau pesta hari ini dengan orang Asia tapi Ben tidak bilang kalau pestanya ternyata bukan pesta gay. Tentu mereka jadi jengkel karena sudah datang jauh-jauh ternyata salah dan Ben yang bukan gay tentu tidak mau homoan dengan mereka dong.
“Oke…enough…enough…please BE QUIET!!!” Marshanda meninggikan suara karena pusing mendengar mereka berdebat sampai seperti ngerap.
“All right guys so you want Asian one right?” ia bertanya pelan-pelan setelah mereka diam.
“Yea…it make me horny, I luv to fuck Asian boy hihihi” jawab yang berbody kekar memakai kaos hitam tanpa lengan itu tapi gerak-geriknya seperti bencong.
“I know the right one, you must be like him and he is also in this hotel” sebuah senyum nakal tergurat di wajah Marshanda.
Saat itu Julie juga baru saja keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk, ia juga ingin tahu apa yang terjadi sampai membuat Marshanda berteriak barusan. Kedua gay negro itu nampaknya tidak tertarik melihat Julie maupun Marshanda yang hanya memakai penutup tubuh seadanya, malah mereka lebih sering melirik ke Ben yang masih sewot.
“Oooww…in this hotel too…cool…cool, I love it” sahut temannya yang memakai anting gede di telinga kanan.
“Yess here in this hotel, a sexy bearded guy without moustache” kata Marshanda sambil mengelus dagu si negro kekar tapi kemayu itu, “also with hairy chest” lanjutnya genit, elusannya turun mengelus dada bidang negro itu.
“My gosh…it make me horny…come on get him man!” ajak yang satunya sambil menarik lengan temannya.
“Tell us, where’re he, baby?”
“Not far from here, room number 1269 there” Marshanda menunjukkan arah di lorong hotel tersebut.
Mereka pun akhirnya pamitan dengan gayanya yang khas seperti Ivan Gunawan atau species sejenisnya lalu menuju ke kamar yang ditunjukkan Marshanda itu.
“Loh…lohh…Cha…itu kan kamarnya Bang…?” kata Julie namun Marshanda menempelkan telunjuk di depan bibirnya sambil tersenyum nakal, mereka berdua tertawa cekikikan membayangkan apa yang akan terjadi.
Cerita Sex Kunjungan ke Desa
Sementara kedua gay negro itu sampai ke kamar 1269 yang ditunjukkan Chacha tadi. Terdengar suara alunan musik dangdut dari dalam kamar itu.
“Begadang jangan begadang…kalau tiada artinya…begadang boleh saja…aaahh…kalau….”
‘Ning…nong!’ suara bel membuat penghuni kamar itu menghentikan nyanyian dan permainan gitarnya untuk membukakan pintu.
“Who’s there?” tanya suara dari dalam dengan gaya sok berwibawa yang khas.
Kedua negro itu tersenyum-senyum melihat orang yang membuka pintu itu ternyata memang benar-benar sesuai selera mereka. Mereka langsung masuk tanpa babibu lagi dan pintu ditutup. Alunan musik dangdut sudah tidak terdengar lagi dari dalam kamar itu, sebagai gantinya terdengar bunyi gaduh sejenak brak…duk…gubrak…buk!!
Tak lama kemudian kegaduhan itu makin berkurang hingga akhirnya musik yang mengganggu kamar-kamar di dekatnya itu pun berhenti, namun bila seseorang menempelkan telinga pada pintu kamar itu akan terdengar sayup-sayup.
“Ooohh…oohh…benar-benar…ter….la….luuhh…uuhhh!”
TAMAT