
“Berapa lama kalian saling mengenal?”
“Satu tahun,” jawab Sabda tanpa harus berpikir. “Sekarang menginjak dua tahun.”
Pria tua itu menarik napas dan tetap saja terasa berat. Ditatapnya Sabda dengan ekspresi penuh kecurigaan. Pria itu tidak lain adalah ayah Rania. Ya, Sabda datang menemui orang tua kekasihnya.
Sepulang dari Bali, Sabda sudah mengatur penerbangan selanjutnya menuju Jakarta untuk menemui ayah Rania. Awalnya, Rania tidak percaya bahwa Sabda benar-benar menepati janjinya untuk menemui sang ayah.
“Jadi, kamu adalah seorang pengusaha?”
Alam – Ayah Rania – masih terus bertanya, tapi suaranya tetap terdengar mantap dan kokoh. Tidak menunjukkan kalau beliau mengintimidasi Sabda, dia ingin pria itu tidak tegang saat berhadapan dengannya. Lagipula Alam tidak akan bertindak gegabah.
Neglected Paradise (End) Ngocoks Justru jantung Rania yang berdebar. Dia takut sang ayah akan bertanya macam-macam dan menolak Sabda, apalagi melihat raut wajah ayahnya yang penuh keraguan.
Tadinya Rania masih betah berada di Bali. Namun, Sabda sudah mengatakan bahwa sudah saatnya dia menemui orang tua Rania yang saat itu hanya tinggal ayahnya seorang. Rania tidak punya ibu.
Wajar saja kalau Alam sedikit over protektif pada putrinya. Dia hanya ingin Rania tidak salah pilih, tapi melihat siapa pria yang duduk di hadapannya saat ini, tampaknya pilihan Rania sekarang tidak begitu buruk.
“Pantas saja, kamu pasti sibuk belakangan ini, putriku sudah sering cerita bahwa kamu nyaris tak punya waktu untuk berada di rumah,” kata Alam.
“Iya, benar. Om. Sebenarnya tidak banyak juga, hanya saja itu sudah menjadi kewajibanku untuk menyelesaikannya.”
Satu tahun lima bulan. Rania merapal dalam hati. Rasanya sudah selama itu mereka bersama. Rania masih tetap bertahan bersama Sabda.
Bahkan selama itu pula, Sabda berhasil menutup identitasnya rapat-rapat. Beruntung Rania bukan tipe perempuan yang egois dan gampang kepo seperti Shanum, begitu katanya. Semua kenyamanan yang Sabda cari bisa dia temukan dalam diri Rania.
Sabda jelas lebih banyak hidup dalam bayangan Rania dibanding dengan Shanum.
Walaupun ketika Sabda jatuh sakit yang repot merawat pria itu sampai sembuh adalah istrinya sendiri, bukan Rania.
“Bagaimana kehidupan kalian?”
Sebenarnya Sabda malas membahas hal ini, tapi karena tidak mau membuat ayah Rania curiga. Lebih baik Sabda mengalah dan menjawab apa pun yang pria itu tanyakan.
“Seperti halnya pasangan kebanyakan, Om. Kami juga sering ribut karena hal-hal kecil, tapi saya berusaha untuk selalu memahami Rania.”
Rania mulai tertawa pelan hubungan mereka memang sungguh menarik. Perbedaan usia yang cukup jauh juga menjadi penunjang keunikan tersebut. Rania seperti mengencani sugar daddy.
“Papa, ini sudah satu jam lebih, kenapa Papa masih bertanya-tanya ke Mas Sabda terus? Kasihan dia sudah jauh-jauh datang ke sini, harusnya biarkan dia istirahat.”
Alam menghela napas mendengar ucapan putrinya. Wajar kalau Alam bertanya terus, tujuan Sabda datang memang untuk menemuinya, tapi sepertinya Rania benar, setidaknya Alam harus membiarkan pria itu beristirahat sebentar.
Mereka sudah jauh-jauh datang, bahkan membawa banyak buah tangan untuk Alam. Itu pun Rania yang memilihkan, anaknya jelas lebih tahu apa yang ayahnya sukai. Tapi, bukankah tujuan Sabda datang ke rumah Rania memang untuk bertemu ayahnya? Jadi, wajar saja kalau Alam menginterogasi pria itu terus.
“Papa hanya menanyakan hal-hal dasar saja kok, Sabda pasti tidak keberatan dengan pertanyaan papa, iya ‘kan?” Kali ini Alam menatap Sabda lagi.
Sabda mengangguk dan tersenyum, dia tidak keberatan dengan itu. Justru Rania yang tidak enak hati pada kekasihnya karena merasa sedang diinterogasi oleh ayahnya.
“Jangan cemas begitu, Papa tidak akan mengusirnya dari rumah.”
Alam bangkit dari duduknya, membiarkan mereka berdua mengobrol. Sebelum Alam pergi, pria itu berbalik ke arah Rania dan menyahut.
“Nanti malam kita bicarakan ini lagi, pasti Sabda juga ingin mengatakan sesuatu pada Papa.”
Rania dan Sabda mengangguk mendengar hal itu, kemudian Alam pergi dari ruang tengah meninggalkan mereka berdua.
***
Pagi ini suasana di rumah tampak hening. Shanum sebenarnya benci berada dalam situasi ini. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Sabda masih sulit dihubungi sejak kemarin. Ini hari ketiganya terbaring lemah di kasur.
“Sampai kapan aku harus memijat kakimu seperti ini terus, Kak? Bukankah kakak harus minum obat sekarang?”
Suara Khalil bergema, membuat Shanum menarik napas sekejap dan menaikkan bahunya acuh.
Hari ini Shanum menyuruh adiknya datang untuk menjaga Shanum karena dia sendirian di rumah. Tadinya dia ingin meminta ibunya untuk datang. Namun, beliau sedang ada urusan mendesak. Jadi Khalil yang diutus untuk menemani Shanum sementara.
“Nanti. Pijat yang itu, lebih keras lagi!” titahnya seraya menunjuk kaki kiri Shanum dan Khalil dengan malas memijat bagian itu.
“Makanya jangan suka begadang, jadinya sakit, ‘kan? Apalagi Mas Sabda jarang di rumah. Siapa yang merawat? Ah, tapi sekarang aku akan menjaga kakak dengan baik, tenang saja.”
“Ya ampun anak ini. Kamu pasti sedang ada maunya, ya?”
Khalil meringis. “Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku, Kak. Aku tidak mau badanmu yang berisi itu menyusut dalam semalam.”
Khalil menunjuk tangan Shanum yang putih dan gempal, merasa tidak berdosa sama sekali karena secara tidak langsung dia mengatai kakaknya gendut.
Padahal Shanum sudah rajin olahraga dan diet seimbang, kenapa anak itu masih saja mengatainya gendut? Shanum mendesis, dia menyenderkan punggungnya di sandaran ranjang.
“Enak saja, sudah beberapa hari ini kakak sakit, berat badanku sudah turun sampai beberapa kilo, tapi kamu malah mengataiku gendut.”
“Memangnya kakak belum makan apa pun pagi ini?”
Shanum tertawa sumbang. “Gak selera, tapi kakak mau makan ramen pedas dengan es jeruk. Gimana, kamu mau buatkan itu?”
“Makanan apa itu? Orang sakit tidak boleh makan sembarangan. Bagaimana jika kakak ipar marah?!”
“Hei, aku yang sedang sakit kenapa suamiku yang harus marah? Dia sibuk kerja dan aku tidak berselera makan bubur dan makanan lembek lainnya. Aku hanya mau makan makanan pedas.”
Khalil terdiam beberapa saat. Dia sudah kebal menghadapi segala tingkah cerewet kakaknya. Kadang Khalil bersyukur ada pria yang mau menikahi Shanum. Dulu Khalil berpikir tak akan ada pria yang mampu bertahan dengan perempuan cerewet seperti kakaknya.
Kini tatapannya mengarah pada wajah Shanum yang sedikit bengkak dan memerah, dia tahu ada yang tidak beres di sana.
“Kakak habis menangis?”
“Memangnya kenapa kalau aku nangis?”
“Kalau kakak habis menangis, wajahmu jelek sekali seperti—“
Shanum berdecak. “Mulutmu macam tak pernah sekolah saja. Kakak baik-baik saja. Hanya sakit kepala, makanya ekspresiku begini. Nanti juga sembuh lagi, ini semua karena Mas Sabda terlalu sering memberi kejutan.”
“Kejutan? Kejutan apa?” Khalil tampak tertarik dengan itu.
Padahal kejutan yang Shanum maksud bukan sesuatu yang spesial, tapi menyakiti. Sabda membuat pernikahan itu layaknya neraka tanpa jalan keluar. Setiap kali Shanum hendak pergi, Sabda selalu punya ribuan cara untuk menahannya.
Sebenarnya Shanum juga berat jika harus berpisah dengan Sabda. Terlebih dia memikirkan perasaan mama Diana. Sungguh ironis, jika Shanum harus bercerai dalam keadaan masih suci tanpa pernah disentuh.
Mau tahu apa yang lebih menyedihkan daripada tidak kunjung menikah di usia sangat dewasa? Menikah, tapi hidup seperti di neraka.
Tidak mungkin dia mengatakan itu pada Khalil.
Shanum meringis dan menatap sekeliling kamar yang luas. Mencari jawaban atas pertanyaan sang adik.
“Sudah lama, sih. Dia membelikanku mobil baru, dia juga membelikanku tas mahal yang harganya di atas tiga puluh juta,” katanya mengiming-imingi. Lihat saja sekarang mata Khalil seperti hendak keluar dari tempatnya.
“Ah, sial!” keluhnya menggerutu. “Harusnya aku yang menikah dengan kakak ipar!”
Shanum tertawa lepas mendengarnya. Khalil memang penghibur di setiap suasana.
“Tapi, apa karena itu kakak menangis?”
“Tentu saja, kakak sangat terharu. Ngomong-ngomong, kakak sudah punya mobil, bagaimana jika mobil yang satu lagi kakak berikan untukmu?”
“BENARKAH?!”
Pijatannya pada kaki Shanum makin mengencang membuat wanita itu harus menggeplak tangan Khalil karena sakit.
“Mobil yang berwarna merah mengkilap itu?” Khalil tampak berbinar. “Ah, sudahlah. Jangan pikirkan dulu mobil itu. Lebih baik kakak istirahat. Jangan membuatku merasa bersalah. Mulai sekarang berhenti ngasih aku barang mahal. Kelak aku bakal lebih kaya raya dari ayah. Jangan khawatir aku bisa beli mobil lebih bagus dari itu,” cerocos Khalil kalang kabut.
“Ya ampun, adikku sudah dewasa.” Shanum tertawa lagi melihat ekspresi adiknya. Kadang dia bisa menyebalkan dan menyenangkan di waktu bersamaan.
“Memangnya kapan aku tidak dewasa?” tanyanya dengan suara kesal. “Sebaiknya orang sakit jangan banyak menangis dan bekerja, nanti kakak bisa dehidrasi. Kalau sampai kakak berubah jadi jelek, Mas Sabda pasti akan marah.”
“Aku mengerti, adik bungsu.”
Shanum geleng-geleng kepala. Adik laki-lakinya memang cerewet tidak jauh berbeda dengannya.
“Apa kakak sudah menelepon Mas Sabda? Dia masih susah dihubungi?”
“Begitulah, mungkin dia sedang banyak urusan di luar sana. Tidak apa-apa, semoga saja dia cepat mengabari setelah tiga hari ini hilang tanpa kabar.”
Bohong kalau Shanum tidak sedih, suaminya menghilang begitu saja. Shanum cemas pada Sabda, apakah pria itu baik-baik saja?
Ketika sedang asyik bercerita. Suara bel pintu depan membuat keduanya terkejut. Shanum menatap adiknya. Dia menyuruh Khalil untuk memeriksa siapa yang bertamu ke rumah.
“Kan ada bibi pelayan yang membuka pintu, Kak.”
“Mereka sedang sibuk, kamu lihatlah siapa yang datang.”
“Apakah itu Mas Sabda? Kakak ipar cepat sekali pulang. Bukankah dia sedang ada di luar kota?” tanya Khalil seraya bangkit dari duduknya.
Shanum melirik jam dinding. Suaminya tidak mungkin pulang di jam seperti itu. Jadi, siapa yang bertamu?
Khalil membuka pintu rumah dan menyapa siapa tamu yang datang, pemuda itu tersenyum ramah. “Siapa? Ada yang bisa kubantu?”
Sosok yang berada di hadapan Khalil tersenyum penuh wibawa. “Aku mau mengantar kue sekaligus menjenguk Shanum.”
MINTA RESTU
“Bagaimana kondisimu, apakah membaik?”
Arsa menatap Shanum yang tengah duduk menyender di sandaran ranjang. Gadis itu tampak pucat, hal yang membuat Arsa benar-benar iba. Biasanya Shanum datang ke toko di jam-jam seperti sekarang. Namun, sekarang dia harus melihat pelanggan setia Jun’s Bakery tampak tak berdaya.
“Alhamdulillah, aku baik. Kenapa kamu datang? Siapa yang memberi tahu alamat rumahku?” tanya Shanum.
“Aku hanya penasaran kenapa kamu tidak datang ke toko. Setelah kutanya pada ibu, katanya kamu sakit dan aku disuruh mengantar roti.”
Rupanya Arsa mengetahui hal ini dari ibunya, beliau juga yang memberitahu Arsa alamat rumahnya. Sudah beberapa hari Shanum tak datang ke toko, hal itu membuat Arsa penasaran. Makanya dia datang dengan membawa roti kesukaan Shanum dan berharap wanita itu cepat sembuh.
“Sudah pergi ke dokter belum?”
“Sudah, ada adikku yang merawat. Tidak perlu mencemaskan apa pun. Terima kasih atas perhatianmu, Sa.”
Arsa tersenyum mendengar hal itu. Dia berharap Shanum lekas sehat. Shanum yang biasanya selalu terlihat anggun kini tampak tak berdaya dengan wajah dan bibir yang memucat. Shanum bilang dia tak selera makan karena mulutnya pahit.
“Suamimu tak ada di rumah?”
Shanum menggeleng. “Dia sedang ada urusan bisnis di luar kota, jadi belum pulang sampai sekarang.”
“Padahal istrinya sedang sakit, seharusnya dia segera pulang begitu tahu kamu sakit begini.”
Arsa menganggap Sabda bukanlah tipe suami yang peka. Bagaimana bisa pria itu pergi meninggalkan Shanum seorang diri dalam keadaan sakit seperti ini?
Arsa termasuk pria yang peka, meskipun Shanum tidak pernah menceritakan apa pun tentang rumah tangganya pada orang lain, tapi binar di dalam mata gadis itu tidak pernah bisa dibohongi. Ada luka tak kasat mata di sana.
Sekasar apa pun Shanum pada suaminya, dia tetap sosok perempuan yang butuh dilindungi dan diperhatikan. Justru kalau orang lain tahu dirinya rapuh, mereka punya celah untuk menyakiti Shanum.
Maka dari itu, dia mengatur sendiri hal apa saja yang bisa membuatnya sakit hati. Siapa yang harus Shanum tanggapi dan tidak. Sekalipun mendapat omongan tidak enak dari orang lain, entah itu saudara atau tetangga, Shanum tidak terlalu sakit hati, karena omongan mereka tidak perlu diingat apalagi ditanggapi.
“Aku bisa menjaga diriku sendiri, Arsa. Justru kalau Mas Sabda libur untuk mengurusku di rumah, pekerjaannya akan semakin banyak dan dia bisa keteteran nanti.”
Shanum sedang tidak mau membahas Sabda lebih jauh. Akan semakin terlihat kentara kalau mereka kurang akur. Meskipun Shanum benci perlakuan pria itu, tapi Shanum tidak mungkin sampai membuka aib suaminya sendiri di depan orang lain.
Mau bagaimana pun, Sabda tetaplah suaminya.
“Ah benar, kuharap suamimu segera pulang. Kamu harus segera ke dokter, Shanum.”
“Suamiku akan pulang sebentar lagi. Mungkin hari ini, Sa. Jangan cemas.” Shanum tersenyum ramah.
***
Sabda masih berada di kota kelahiran Rania, mereka makan malam di luar bertiga. Sabda sengaja membawa dua orang itu ke sebuah restoran mewah.
Tak hanya untuk membuat sang ayah terkesan, Sabda juga ingin menciptakan obrolan yang hangat dan menyenangkan. Karena itu, restoran mewah menjadi pilihan terbaik. Alam dan Rania tidak perlu memikirkan berapa biaya yang harus keluar, sebab Sabda yang menanggung semuanya.
Mereka memesan berbagai hidangan. Mulai dari steik, pasta, sup, salad, dan hidangan penutup lain. Semua sajian itu terlihat mewah dan menggiurkan, Rania senang ketika melihat ayahnya begitu antusias menlihat banyak hidangan lezat di hadapannya.
“Apa tidak masalah kalau kamu memesan makanan sebanyak ini?” tanya Alam pada Sabda.
“Tidak apa-apa. Om bebas untuk memesan apa pun, kalau butuh sesuatu bilang saja. Tidak perlu sungkan.” Sabda bersikap seramah mungkin.
Mereka makan malam dengan tenang. Suasana hangat diiringi alunan musik yang dibawakan oleh restoran tersebut cukup membuat suasana menjadi syahdu.
“Jadi, kamu sudah punya niatan untuk serius dengan putriku?” tanya Alam setelah dia menghabiskan makanan penutup, berupa kue tiramisu.
Sabda mengangguk, dia menoleh ke arah Rania dan tersenyum hangat. Seolah Sabda sedang melakukan pendekatan dengan calon mertua.
Sabda sudah sangat terlatih dengan hal ini, sebab dia sudah terbiasa melakukannya dengan ayah Shanum. Jadi, itu bukan lagi hal yang sulit. Sabda tentu lebih ahli dalam hal ini.
“Tentu saja, jika Om mengizinkan. Saya akan menikahi Rania.”
Mendengar ucapan penuh rasa percaya diri itu Alam menatap Rania, putrinya tersenyum bahagia, seolah dia tak salah pilih.
Sabda bisa bersikap sesantai itu tanpa memikirkan kondisi Shanum yang sedang kesulitan. Salah satu alasan yang membuat Sabda nekat untuk menikahi Rania adalah; dia berencana untuk menceraikan Shanum suatu hari nanti.
Awalnya, Sabda memang tidak bisa melepaskan Shanum. Sebab wanita itu adalah harapan keluarganya. Salah satu alasan sang ibu bisa menerimanya, tapi entah kapan Sabda berani menceraikan Shanum. Dia akan menunggu waktu yang tepat, mungkin.
Sabda menikahi Shanum pun bukan atas keinginannya, seharusnya Sabda hari itu menolak jika memang tak ingin, tapi dia sadar bahwa hal itu hanya akan membuat keluarganya sedih, akhirnya Sabda terpaksa menerima.
Shanum jelas bukan perempuan biasa. Dia mandiri, pekerja keras, bahkan cantik. Siapa yang tidak suka perempuan seperti Shanum? Meskipun begitu, Sabda tetap saja tidak terbuka hatinya selama lima tahun ini. Entah kenapa, meskipun sulit untuk mencintainya, Sabda tidak bisa melepaskan Shanum.
***
“Sayang, kenapa?”
Rania menyadarkan bayangan Shanum dalam benak Sabda. Pria itu tersentak ketika dia mulai sadar, Sabda menoleh ke arah kekasihnya lantas tersenyum hangat.
Mereka sudah pulang dari acara makan malam. Kini Sabda dan Rania sedang duduk di teras depan berdua, menatap langit yang sama. Alam sudah lebih dulu masuk ke dalam dan beristirahat, meninggalkan dua orang itu untuk mengobrol.
“Maaf kalau papa terlalu keras sama kamu,” kata Rania tulus. Dia cemas kalau Sabda tidak enak hati karena pertanyaan ayahnya.
“Tidak apa-apa, lagipula tidak ada yang perlu aku takutkan dari beliau. Kalau pun beliau marah, sudah pasti itu demi kebaikan kamu bukan?”
Rania menggeleng, enggan membuat Sabda berpikiran yang tidak-tidak tentang apa yang sudah terjadi. Dia juga takut kalau Sabda meninggalkannya.
Satu tahun jelas bukan waktu yang sebentar bagi mereka untuk memadu kasih, Rania memang sangat mencintai Sabda. Meski dia kerap dibuat curiga tentang banyak hal. Namun, Sabda selalu sukses membuatnya kembali percaya, seolah hal buruk yang ada di kepala Rania hanyalah prasangka semata.
Mereka berdua saling mencintai, sama seperti pasangan kebanyakan. Hanya saja, seandainya Rania tahu kebohongan fatal apa yang sudah disembunyikan oleh Sabda selama ini. Apakah wanita itu masih mau menerima?
“Kakimu masih sakit? Seharian kuajak pergi terus,” tanya Sabda mengalihkan topik.
Rania menggeleng, justru dia senang berjalan-jalan dengan Sabda. Mereka selalu berjalan beriringan, pria itu terlalu tinggi untuk Rania, meski Rania sudah mengenakan heels, tingginya tetap sangat keterlaluan.
“Kamu senang ada di sini?” tanya Rania.
“Karena bersamamu, semua tak seburuk yang kubayangkan.”
Rania tersenyum mendengar nada suara kekasihnya yang serak. Kemudian tatapan Sabda berkelana memerhatikan tulang selangka, bahu, lengan, dan apa pun pada tubuh Rania yang tak tertutup kain.
“Kemarilah.” Dia menjangkau tangan Rania dan membawanya dalam pelukan erat. Serat pakaiannya mengirimkan kehangatan. “Mulai hangat?”
Rania mendongak. “Kenapa memelukku?”
“Aku hanya ingin.”
Hening sepersekian detik, Rania tidak menyadari bahwa ada banyak hal yang sedang Sabda pikirkan. Lebih dari itu, Sabda mencemaskan banyak hal, tapi dia tidak ingin Rania menyadarinya.
“Aku berjanji akan menikahimu, aku sudah meminta restu pada ayahmu. Kita akan segera menikah.”
***
Ada kalanya, satu-satunya tempat yang paling kau ingin adalah di sisi seseorang. Tempat di mana kau ingin didengar, dipahami, dihargai, dan leluasa untuk menyampaikan segala hal di dalam dada yang selama ini membuat sesak.
Kau tak ingin apa-apa. Kau hanya ingin berada di sisi seseorang yang satu kalimat darinya mampu membuat segala gelisahmu runtuh. Kau hanya ingin berada di sisi seseorang yang di dalam peluknya kau menemukan tempat paling aman. Kau hanya ingin berada di sisi seseorang yang tawanya dapat memancing tawamu juga.
Kau hanya ingin berada di sisi seseorang yang membuatmu mampu menghadapi dunia sebab kau sadar kau tak akan dibiarkan sendiri. Karena sebesar apa pun dunia memberimu cobaan, cukup hanya satu dukungan kecil yang mampu menguatkanmu agar tak karam.
Kau hanya ingin berada di sisi seseorang yang menggenggam tangannya sama dengan kau menggenggam dunia dan isinya.
Namun, kembali pada kenyataan. Hidup tak melulu harus bergantung pada orang lain. Bahagia tak harus menjadi tanggung jawab orang lain. Seharusnya dirimu sendiri sudah cukup. Seharusnya kau tak perlu berharap apa-apa pada orang lain. Sebab sumber kecewa terbesar berasal dari pembawa bahagia terhebat dalam hidupmu.
Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Shanum baru bangun dengan tubuh yang setengah remuk karena rasa sakit yang masih melanda. Dia sudah minum obat, panasnya sedikit turun, tapi badannya masih begitu hangat.
Shanum terbangun karena dering ponsel yang tidak juga berhenti. Dia heran, siapa orang yang menghubunginya di jam-jam seperti ini? Tidak bisakah orang itu mengerti kalau Shanum juga butuh istirahat.
Beranjak dari posisi dengan tangan memegang selimut sebagai penutup dada, dia menjangkau nakas dan meraih ponselnya yang berbunyi, tanda sebuah panggilan masuk.
“Halo, siapa?” Shanum menyahut ketika ponsel itu sudah menempel di telinganya.
Tidak ada sahutan, yang ada hanyalah kesunyian. Shanum kembali menatap nomor yang tertera, dia tidak tahu siapa orang tersebut.
Tidak berapa lama, terdengar suara dari seberang sana, suara yang sangat Shanum kenali.
“Ini aku, maaf tidak menghubungi lebih dulu. Ponselku sedang rusak. Jadi, aku meminjam ponsel rekan.”
Shanum terkejut, matanya langsung membuka sempurna saat suara Sabda terdengar jelas meminta maaf dan beralasan kalau ponselnya rusak.
“Kapan kamu pulang?”
Sabda menghubungi Shanum, dia juga terpaksa berbohong supaya istrinya tidak curiga.
“Mungkin dua hari lagi, masih banyak urusan di sini. Kenapa?”
“Aku sakit, Mas. Tidak ada yang membantuku di sini. Pulanglah secepatnya. Aku malu jika harus merepotkan mama terus!”
Sabda masih diam menyimak, Shanum terus saja mengomel di telepon. Bahkan meski terpisah ribuan kilometer, hubungan mereka tetap tidak akur. Itu yang kadang membuat Sabda sakit kepala. Dia pikir, hubungannya dengan Shanum sudah membaik setelah dia meminta maaf.
“Baiklah, maafkan aku. Sekarang tidurlah. Ini sudah malam, aku akan pulang tak lama lagi. Pastikan kamu minum obat dengan teratur dan jangan membantah.”
“Kapan kamu pulang?”
“Mungkin besok. Pokoknya jangan menungguku.”
Sabda tidak berkata apa pun lagi. Dia mematikan ponsel setelah mengatakan hal itu, seolah tidak mau mendengar penjelasan Shanum tentang sakitnya.
Bukannya Shanum manja, dia wanita yang mandiri. Hanya saja, suasana rumah yang sepi dan kondisinya yang sakit cukup merepotkan. Dia tidak bisa terus bergantung pada sang ibu.
Shanum menghela napas, lagi-lagi dia harus melalui semuanya sendirian. Memang benar, meskipun inginmu hanya sesederhana bersandar pada dada yang mampu membuatmu kuat dan lega, tetap saja dia bisa memilih untuk tak ada dan kau tak boleh kecewa.
Baiklah, akan Shanum beri perhitungan jika nanti pria itu pulang ke rumah.
Bersambung… AYO BERCERAI
“Aku mau tinggal di rumah Ibu.” Pergerakan Sabda mengancingkan kemejanya terhenti ketika Shanum tiba-tiba berkata demikian. Pria itu membalik tubuhnya menghadap sang istri. Sebelah alisnya terangkat.
“Kenapa? Apakah kamu tidak nyaman tinggal di rumah ini?”
Jelas tidak nyaman. Sabda pulang tengah malam tadi. Meskipun pria itu sudah berada di rumah, hatinya mendadak dipenuhi kegelisahan. Belum lagi Shanum mencium bau parfum lain dari kemeja sang suami. Shanum tidak setenang biasanya, selalu ada perdebatan kecil di antara mereka.
Entah ini salah Shanum yang terlalu takut menghadapi kenyataan, atau salah Sabda sendiri yang tak tahu malu. Intinya, wanita itu sudah tidak nyaman lagi berada di sana.
Dia harus memikirkan alasan yang bagus supaya Sabda mengizinkannya pergi. Shanum bisa saja pergi tanpa izin dari pria itu. Hanya saja, Sabda masih seorang suami yang harus dihormati. Jadi, Shanum tidak punya pilihan.
“Aku hanya ingin tinggal dengan ibu. Tidak apa-apa kalau kamu tidak mengizinkanku menetap di sana, setidaknya biarkan aku tinggal di sana sementara.”
“Nggak bisa. Kalau kamu pergi, siapa yang akan merawatku di sini? Ibu juga sudah sering mewanti-wanti kita untuk pergi ke rumahnya bersama, bukan sendiri. Apa karena kemarin aku pulang terlambat makanya kamu kesal?”
“Sudahlah.”
“Padahal aku sudah sukarela pulang ke rumah setelah mendengar rengekanmu sepanjang hari di telepon. Apa lagi yang kamu inginkan?”
Sabda mengatakannya tanpa merasa bersalah. Dia pulang karena pusing mendengar ocehan Shanum yang terus memintanya kembali. Rencana Sabda untuk pulang esok hari dimajukan karena Shanum terus marah-marah di telepon.
Sabda kembali memutar tubuh menghadap cermin. Pria itu menyelesaikan kegiatannya mengancingkan kemeja. Dia masih semangat untuk pergi bekerja setelah kemarin berjalan-jalan dengan Rania selama seminggu.
Shanum berusaha untuk memupuk sabar. Jika dia tahu menikah dengan pria seperti Sabda hanya akan menambah beban pikiran dan masalah yang tak kunjung selesai. Sejak awal dia tak seharusnya mengikuti kata hatinya untuk menjadikan pria itu sebagai suami.
Untuk apa menikah dan punya suami jika pada akhirnya dia tetap memikirkan dirinya sendiri tanpa peduli perasaan Shanum sebagai seorang istri? Bahkan sekarang pria itu seolah melupakan janjinya. Apa yang harus Shanum harapkan dari pria itu?
So, apakah sekarang Shanum menyerah?
Jawaban Shanum, iya, karena memiliki suami seperti Sabda seperti tak ada gunanya. Selama ini dia sudah berupaya untuk sabar dan mempercayai Sabda kembali, tapi respons lelaki itu masih sama. Seolah menarik ulur perasaannya. Entah apa yang Sabda inginkan, tapi tampaknya Shanum sekarang mulai hilang kesabaran.
Shanum memejamkan matanya, lalu menghela napas berat. “Kamu yakin nggak mau mendengarkan perkataanku? Aku ingin tinggal di rumahku sendiri dan aku mau menengok butik hari ini.”
“Nggak. Tetap pada keputusanku. Kamu sendiri tahu kalau istri harus nurut apa kata suami, ‘kan?”
“Kapan aku tidak pernah nurut kata-kata kamu? Kalau kamu emang gak suka sama istri yang suka membantah sepertiku, lebih baik kita cerai aja.”
Terjadi keheningan sepersekian detik. Hanya deru napas penuh luapan emosi Shanum yang terdengar. Wanita itu tampak berusaha untuk tak kembali meledak setelah melihat respons biasa suaminya. Pria itu menoleh ke arah sang istri. Entah mendapat keberanian dari mana Shanum bisa mengatakan hal tersebut, Shanum sudah benar-benar di puncak kesabaran.
“Kamu terlalu emosi. Jangan pernah keluarkan kata-kata seperti itu dalam keadaan marah. Apa kamu tidak takut menyesal suatu saat nanti?” tanya Sabda sembari menatap istrinya penuh penekanan, seolah Shanum baru saja membuat kesalahan yang sungguh fatal.
Usai memastikan penampilannya rapi, Sabda beranjak meninggalkan cermin. Dia berjalan mendekati Shanum yang duduk di atas ranjang dengan wajah kesal.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi semudah itu, Sha. Tidak akan. Bukankah kamu pernah berjanji tidak akan meninggalkanku kecuali aku yang memintanya?”
Seiring meluncurnya kalimat serupa pertanyaan itu, Shanum menghela napas, lalu meraup wajahnya menggunakan telapak tangan.
Saat dia telah mantap untuk bercerai, Sabda malah membuat pikirannya berkecamuk. Wanita itu meragukan keputusannya sendiri. Kata cerai yang sempat terucap mantap, perlahan memudar.
“Astaga!” Shanum mengacak rambutnya sendiri. “Semua ini membuat kepalaku sakit.”
“Jangan pernah ngomong aneh-aneh saat lagi sakit. Mama udah bikinin kamu bubur ayam. Tadi pagi beliau datang dan memberi pesan untuk menghabiskannya, jangan manja dan makanlah.”
Oh, lihatlah bagaimana telaten dan baiknya sang mertua dalam memperlakukan menantunya. Bahkan Shanum bisa bertaruh, bahwa mama mertuanya lebih perhatian pada sang menantu daripada putranya sendiri.
“Kamu saja yang makan, aku mau makan di rumah ibu,” ujarnya ketus.
Shanum tetap pada pendiriannya untuk pergi, Sabda menghela napas berusaha untuk sabar. Menghadapi Shanum di saat dirinya sedang emosi memang cukup sulit. Terlebih Sabda tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan sesuatu padanya.
“Mas, kamu bisa tinggal di rumah Mama Diana jika tidak ada yang merawat. Aku tidak suka di sini, rumah ini membuatku stres, Mas. Biarkan aku bernapas sebentar.”
Ucapan Shanum sama sekali bukan ide bagus. Rasanya sangat mustahil untuk tinggal di rumah ibunya dan alasan macam apa yang harus Sabda berikan untuk menjawab pertanyaan orang tuanya nanti? Sabda tidak habis pikir, kenapa Shanum setega itu mengajaknya bercerai.
“Jangan membahas tentang penceraian. Kamu pikir bercerai semudah itu? Kita akan cari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini bersama-sama. Bukankah kamu pun sudah berjanji bah-”
“Aku tahu, tapi aku ingin menarik kata-kataku yang dulu. Apa yang harus kuharapkan dari pernikahan yang rusak ini, Mas? Setiap harinya hanya memberi luka saja. Kupikir kamu sudah cukup pintar untuk memahami perasaan istrimu. Kenyataannya tidak.”
Shanum menghela napas lagi. Dalam kondisinya saat ini, lagi-lagi suaminya tak berhenti membuatnya berada dalam masalah. Belum reda rasa pusing yang menderanya selama masa sakit ini. Suaminya malah menambah rasa pusing itu.
“Sebaiknya bicarakan masalah ini lain waktu saja. Hormonmu sedang naik turun makanya gampang emosi. Ayo makan, atau buburnya akan dingin nanti.”
Sabda berusaha menenangkan, tapi kalimat itu sama sekali tidak membantu, malah semakin memperkeruh suasana. Shanum ingin tetap pergi ke rumah ibu, dan Sabda yang enggan melepaskannya walau sebentar saja.
“Cukup. Baiklah, aku tidak akan menuntut cerai, tapi aku tetap ingin pergi.” Shanum bangkit dari ranjangnya dan membuka lemari, mengeluarkan koper dari sana. Wanita itu mulai nekat sekarang.
Sabda berusaha menghentikan. Namun, Shanum menyentak kasar tangannya. Pria itu sadar jika istrinya sedang marah besar. Namun, dia masih tidak mengerti apa inti permasalahannya.
“Seharusnya dulu kamu pilih-pilih kalau mau cari calon istri. Jangan memilih perempuan yang banyak menuntut sepertiku. Ditambah, kamu sudah membohongiku selama ini. Aku nggak akan sekecewa ini kalau dari awal kamu sudah jujur. Aku benar-benar capek menghadapi rumah tangga penuh drama ini, Mas!”
Di sela kegiatannya, mata Shanum sedikit berkaca-kaca. Sabda tak berani beranjak mendekat. Dia hanya terdiam di belakang istrinya tanpa berani mencegah.
“Aku nggak habis pikir sama kamu. Apa yang kurang dariku selama ini? Masa lalumu, aku sudah menerimanya dengan baik.” Shanum menghentikan aktivitasnya sejenak, tapi dia enggan untuk menghadap Sabda.
“Jika memang kamu tidak mencintaiku, seharusnya katakan itu pada orang tuaku mungkin mereka akan memakluminya. Jika memang sudah lelah bicaralah, toh aku takkan mengemis agar kamu tetap di sini. Jangan berbohong demi membahagiakanku. Kebohongan itu meskipun manis, dia selalu meninggalkan akhir yang pahit.
Aku tidak peduli apa alasanmu begitu mencintainya. Hanya saja … mengapa kamu tidak bisa menghargai perasaan seorang wanita? Kalau memang kamu sudah tak bisa bertanggung jawab atas kebahagiaanku, lebih baik kamu pulangkan saja aku pada ayah dan ibu.”
Lagi-lagi Sabda tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia ingin bilang bahwa semuanya tak sepenuhnya benar, tapi Sabda tahu wanita itu takkan percaya. Mau sebanyak apa pun Sabda berterus terang. Justru semua kebenaran itu hanya melukai perasaannya.
“Cukup lama aku mencoba berdamai dengan hatiku, tapi kembali kudengar kau pergi ke luar dengan wanita yang tak lain adalah selingkuhanmu itu. Kau pikir aku sekuat apa?”
Sabda terbelalak, istrinya tahu? “Shanum!”
Shanum berbalik ketika mendengar suara Sabda yang sedikit keras itu. Dia tersenyum gamang. “Aku tahu, sudah kubilang jangan membohongiku, Mas. Ternyata benar kalian selama ini pergi liburan bersama.”
Sebuah perkataan yang menohok, membuat Sabda diam mematung. Ucapan Shanum seolah sukses membuat Sabda tak bisa membantah. Sebab pada kenyataannya apa yang Shanum katakan benar adanya.
“Baiklah semoga kamu bahagia dengan kehidupanmu, nikmatilah jalanmu. Maaf, mulai sekarang, sekarang aku akan tinggal di rumah ibu sampai waktu yang tidak ditentukan. Maaf karena telah menyusahkanmu selama ini.”
Sabda sontak membulatkan mata, dia tidak menyangka bahwa Shanum akan benar-benar nekat seperti itu.
“Sha! Apa-apaan kamu?” Sabda tampak kesal.
“Jaga kesehatanmu, aku sudah siapkan obat yang harus kamu minum tiga kali sehari. Jangan lupa makan, tenang saja … aku bisa mengurus diriku sendiri.”
Shanum langsung berbalik. Koper besar dan tas miliknya turut dibawa. Sabda terlalu lamban untuk bertindak dengan mencegah istrinya pergi. Sehingga, ketika mobil Shanum telah berlalu jauh, baru Sabda sadar dan bergegas mengejar.
“Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan?”
Sabda menyalahkan dirinya dalam kasus ini. Istrinya yang berada dalam keadaan emosi memang begitu susah dimengerti. Apakah kesalahannya cukup fatal sehingga wanita itu ingin pergi?
TAK LAGI UTUH
“Kenapa dia bisa tahu aku pergi dengan Rania kemarin? Apakah dia menggunakan orang suruhannya untuk memata-mataiku? Keterlaluan!”
Tak berhasil mengejar mobil yang dikendarai oleh istrinya. Sabda akhirnya mengikuti wanita itu ke rumah orang tuanya. Sifat Sabda yang selalu merasa benar, lagi-lagi menyalahkan Shanum dalam perihal masalah yang saat ini mereka hadapi.
Mereka bertengkar di rumah orang tuanya, Shanum yang sudah muak meladeni Sabda terus berusaha untuk menghindar. Namun, Sabda tetap pada pendiriannya. Dia tidak mau Shanum pergi begitu saja.
Shanum berusaha menutup pintu rumah rapat-rapat, tidak memberikan akses untuk Sabda masuk ke dalam. Sabda menahan pintu tersebut, berusaha untuk mencegah istrinya agar mereka bicara baik-baik. Sayangnya, kepercayaan Shanum serupa gelas kaca, sekali pecah dia tidak akan kembali utuh.
“Keluar! Ayo kita bicarakan masalah ini. Ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Bukankah kamu juga tahu kalau selama ini Rania adalah kekasihku, kenapa sekarang kamu malah marah padaku?”
Tentu saja limpahan kesalahan yang Sabda bebankan padanya membuat Shanum geram. Tanpa sadar Shanum melempari pria itu menggunakan kunci mobil yang kebetulan sedang dipegangnya.
Akibat lemparan itu, Sabda sampai serambi lempitik tak menyangka Shanum bisa sekasar itu pada suaminya sendiri. Beruntung hari ini orang rumah sedang tidak ada, jadi pertengkaran itu hanya mereka berdua yang tahu.
Juga tetangga. Mungkin.
“Kenapa kamu kasar sekali, Sha. Gimana kalo keningku berdarah?” Sabda mengusap pelipisnya yang berdenyut. Tidak menyangka Shanum akan semarah ini bahkan bertindak di luar dugaan.
Shanum memberinya pelototan tajam. Kedua tangannya berkacak pinggang. “Siapa yang kasar? Aku hanya mengusirmu. Ngapain kamu ngikutin aku kembali ke sini? Pulang sana, nikahi saja wanita simpananmu itu!”
“Oke, aku pulang, tapi kamu juga harus ikut aku.”
“Siapa bilang aku mau ikut pulang ke sana? Pergi sendiri!” tolak Shanum penuh amarah. “Kalau saja dari dulu aku tahu kau akan mencintai seorang pelakor. Aku gak akan menerima pinanganmu. Aku menerimamu dengan baik, keluargaku memperlakukanmu dengan baik. Namun, kau? Semaumu saja memperlakukanku!”
Napas Shanum menderu. Kepalang emosi, dia akan melimpahkan semuanya pada Sabda saat itu juga. Kondisi Shanum yang masih lemah pasca sakit ditambah kelelahannya menghadapi Sabda membuat kesabaran Shanum serupa bom waktu yang kapan saja bisa meledak.
“Setidaknya dengarkan aku dulu, Sha!” Sabda tetap ngotot.
“Apa? Apa yang mau kau jelaskan? Kau sendiri yang bilang akan berusaha menjauh darinya, tapi sampai saat ini kalian masih intens berdekatan, dan yang paling tidak bisa kutolerir adalah … bagaimana bisa kau pergi liburan berdua dengan wanita tak tahu malu itu di belakang istrimu yang sedang sakit? Bajingan Sabda, kau memang bajingan!”
Shanum benar-benar emosi. Dia ingin sekali menyiksa Sabda yang tidak tahu diri. Bagaimana bisa Shanum menikah dengan pria bajingan? Apa dosa yang sudah dia perbuat di masa lalu?
Shanum mengetahui fakta ini setelah menerima panggilan staf kantor Sabda. Staf itu tak sengaja mengatakan bahwa atasannya pergi berlibur ke luar kota, dari situ Shanum tahu bahwa Sabda tidak pergi sendiri. Sakit … perasaannya amat sakit.
“Kalau sejak awal kamu merasa pernikahan ini hanya kebetulan, kenapa marah di saat aku pergi liburan dengannya? Kamu sendiri juga tahu seperti apa hubungan rumah tangga kita akhir-akhir ini. Aku gak bahagia, Sha. Aku juga butuh seseorang yang bisa menghilangkan kejenuhan itu. Emang kamu gak capek terus bersandiwara di depan keluarga seperti ini?”
Sabda mengatakan hal itu tanpa rasa bersalah, juga tanpa perasaan. Sukses membuat hati Shanum semakin remuk redam.
“Begitu? Bukankah itu alasan yang bagus? Kita bisa bercerai karena kenyataannya kamu gak bahagia saat bersamaku. Selama ini aku gak becus jadi istri. Baiklah, kembali kuajukan. Aku minta cerai!”
Telapak tangan Sabda mengepal. Bukan ini yang dia inginkan. Meskipun benar bahwa Sabda telah merencanakan pernikahan dengan Rania. Tetap saja, Sabda tidak bisa berjauhan dari istrinya. Shanum memang wanita yang keras kepala, tapi Sabda tidak bisa melepaskannya begitu saja.
Shanum adalah istri yang sempurna bagi laki-laki yang telah menyuntingnya, tapi laki-laki itu bukan dirinya. Sesungguhnya Sabda juga menyadari bahwa dia bukan suami yang baik untuk Shanum, tapi kenapa wanita itu mengatakan bahwa dialah yang selama ini tidak becus menjadi istri?
Apa pun itu, Sabda tetap butuh Shanum. Hanya dia yang boleh memintanya untuk pergi. Shanum tidak boleh memutuskan hubungan tanpa seizinnya. Entahlah, Sabda tak mau orang tuanya kehilangan sosok Shanum, atau mungkin Sabda sudah mulai jatuh cinta padanya.
Sabda terlalu bodoh untuk memahami apa arti cinta yang sebenarnya. Sepanjang pernikahan mereka, dia terlalu sibuk bekerja dan melupakan perasaan Shanum. Kini wanita itu sudah meminta cerai. Apakah Sabda bisa menerima keputusannya begitu saja?
Desahan napas pria itu terdengar. Kepalan telapak tangannya mengendur. Wanita yang merupakan istrinya itu ditatap dengan wajah penuh permohonan.
“Aku gak bermaksud untuk bohong sama kamu, Sha. Sejak awal aku ingin menjelaskan padamu, tapi kamu telanjur emosi. Berhenti mengada-ada. Ayo kita pulang dan selesaikan semuanya dengan kepala dingin.”
Shanum mendengkus. “Kamu yang menceraikanku atau aku yang maju lebih dulu untuk menggugat cerai?”
“Shanum ….” Sabda memelas.
“Oke. Tunggu saja surat panggilan dari pengadilan. Apa pun yang berusaha kamu jelaskan, aku tetap ingin berpisah sama kamu. Tenang saja, kita masih bisa bertemu. Entah dengan kamu yang kusemogakan hari ini, atau dengan kamu yang membuatku bersyukur karena doa-doaku dikabulkan dengan jawaban yang lain.”
Shanum sama sekali tak memberi kesempatan pada Sabda. Stok kesabarannya telah habis. Hatinya hancur berkeping-keping saat mengatakan hal ini, tapi mau bagaimana lagi. Bertahan pun tidak membuat semuanya membaik, kondisi hatinya tak lagi sama.
Dia merasa sudah cukup bersandiwara sampai di sini saja. Orang tuanya mungkin tidak akan menerima perpisahan mereka, karena setahu keluarganya Shanum dan Sabda tampak baik-baik saja. Mereka selayaknya keluarga yang utuh.
“Aku mau istirahat. Jadi, silakan pergi dari rumahku sekarang!”
“Sha, ayo kita bicarakan baik-baik sekali lagi, ya?”
“KELUAR SEKARANG!!”
Napas Shanum naik turun dan terdengar menderu. Matanya melotot tajam berubah kemerahan. Pertanda bahwa Shanum benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapa pun, keputusannya sudah final. Shanum tetap ingin bercerai dengan Sabda.
“Apa yang akan kamu katakan pada ibu dan ayah kalau kamu pergi dengan keadaan kayak gini? Kamu pikir ini mudah untuk kita?”
“Lebih baik begitu, ‘kan? Mereka pasti akan mengerti kalau kita berpisah karena sudah tak ada kecocokan lagi.” Shanum berkata final.
Melihat respons istrinya yang tetap ingin berpisah, Sabda memilih mengalah. Mau bagaimana pun, dia tidak akan bisa menenangkan Shanum yang tengah marah. Shanum selalu kehilangan kendali saat emosi, seperti hari ini. Sabda tak diberi kesempatan sedikit pun untuk menjelaskan semuanya pada Shanum.
“Baik, aku akan pulang, tapi jangan membuat keputusan saat sedang marah, Sha. Tenangkan dirimu dulu, baru kita bicara lagi.”
“Apakah wajar kalau seorang istri tidak marah saat dibohongi oleh suaminya? Aku juga punya hati, Mas. Mama dan papa memintaku dengan cara baik-baik untuk menjadikanku sebagai menantu mereka. Aku hanya menerima, bukan meminta. Justru kau yang tidak waras! Ke mana otak cerdasmu yang selalu kau banggakan itu? Kau buang ke tempat sampah?”
Mendengar ucapan Shanum yang merendahkan, Sabda melotot. “Sha, jangan kurang ajar!”
Shanum memutar bola matanya. Begitu Sabda mundur melewati batas pintu rumahnya, Shanum langsung menutup pintu dengan kasar.
Brakk!
“Shanum, kumohon jangan seperti ini!” Sabda menggedor pintu yang tertutup di hadapannya.
Usai menutup pintu dengan kasar, Shanum bersandar di pintu, lalu merosot begitu saja. Sesak yang tadi ditahan akhirnya tumpah bersama dengan tangisan.
Shanum benci jika harus terlihat lemah di hadapan pria yang selalu menginjak-injak harga dirinya. Dia tidak mau terlihat menyedihkan. Apa yang akan orang katakan nanti tentangnya? Wanita dengan kekayaan dan karier sempurna memiliki rumah tangga yang hancur.
“Mengapa harus ada aku yang sangat jatuh cinta kepadamu? Padahal aku punya pilihan. Sialnya, cinta tidak membiarkan aku memilih.”
Apakah Shanum betah? Tidak. Berkali-kali dia ingin menyerah. Namun, entah apa yang membuatnya bertahan, entah kekuatan apa yang memampukannya berjuang. Saat Shanum sendiri tidak tahu apa yang sedang dia perjuangkan. Kenyataannya, Shanum tetap di sana, tidak pernah benar-benar ingin pergi.
“Sha, nanti aku kan menjemputmu. Jangan macam-macam. Tenangkan dulu pikiranmu.”
Itulah ucapan sabda sebelum melangkah pergi dari sana. Membawa pergi patahan hatinya yang berhamburan. Entah sampai kapan perpisahan itu akan berlangsung. Sabda tidak mau mereka berakhir, tapi dia juga tidak bisa memaksa Shanum untuk menarik kembali ucapannya.
Setiap kali dia hendak memperbaiki semuanya, permasalahan itu selalu muncul kembali ke permukaan. Mungkin benar dia bukan suami yang baik.
“Bagaimana pun, aku akan membawamu kembali.”
Bersambung… SABDA MABUK
Sabda memasukkan nomor sandi pada pintu apartemen sebelum membukanya, begitu masuk dia melihat teman-temannya tengah duduk bersila di atas karpet bulu di ruang tengah. Mereka sudah lebih dulu tiba di apartemen.
Sabda tak lantas menghampiri. Pria itu melepas sepatunya terlebih dahulu, lalu meletakkan tas kantor di atas meja, baru bergabung dengan kedua temannya yang ada di sana.
“Maaf aku terlambat. Di kantor sedang banyak urusan,” ujar Sabda seraya duduk di seberang Andi dan Kara. “Maaf juga karena tak membawa apa pun ke sini. Rasanya terlalu mendadak.”
“Tak perlu membawa apa pun karena aku sudah memesan banyak makanan untuk menemani minum kita malam ini,” kata Andi. Sang pemilik acara segera menuangkan whiskey ke dalam gelas.
Sabda menerima uluran gelas kecil berisi minuman keras dari Andi, dia bersulang dengan kedua sahabatnya tersebut. Isi gelas tersebut ditenggaknya sampai habis, rasa panas dan kecut menyapa kerongkongannya yang kering. Sabda pikir keputusannya untuk minum-minum bersama dua orang ini adalah rencana yang tepat.
“Kenapa tiba-tiba mengajak kami minum?” Kara mengajukan pertanyaan setelah meneguk habis whiskey dalam gelas, pria itu mengambil kentang goreng dan segera melahapnya.
Sabda memang tak terbiasa berkumpul dengan teman-temannya setelah menikah, dia hanya keluar sesekali itu pun karena urusan pekerjaan. Mereka heran ketika Sabda mengajak untuk minum bersama. Padahal mereka pun tahu, Sabda tidak kuat minum. Pria itu sudah lama menghilangkan kebiasaan minumnya semenjak menikah dengan Shanum.
Tapi hari ini dia mengajak Andi dan Kara untuk minum bersama. Sabda tidak peduli kalau dia harus mabuk malam ini, sebab yang pria itu inginkan hanya melupakan problem rumah tangganya yang tak juga selesai. Sabda kembali menuangkan cairan beralkohol tersebut ke masing-masing gelas kosong.
“Aku merindukan kalian. Sudah dua bulan lamanya kita tidak bertemu dan jarang bertukar kabar. Aku ingin kita berkumpul lagi. Akhir-akhir ini banyak masalah menimpaku, tidak ada salahnya ‘kan kalau aku menghabiskan waktu dengan kalian?”
Kara dan Andi terkekeh, mereka mengerti dengan maksud Sabda. Padahal pria itu sedang ingin melepas kepenatannya karena masalah rumah tangga yang semakin retak akibat kata cerai yang dilontarkan Shanum. Meskipun begitu, Sabda tidak mau menyerah.
Ini sudah gelas keempat yang Sabda teguk. Bohong jika masalah akan terlupakan setelah dia memilih untuk minum-minum dengan sahabatnya. Bahkan dalam kondisi setengah mabuk saat ini, Sabda tak bisa melupakan masalah rumah tangganya bersama Shanum.
Rasa sakitnya seakan semakin menyesakkan menghunus dada, lalu merambat ke kepalanya. Sabda sudah berjanji akan menikahi Rania, tapi dia juga bimbang, haruskah menceraikan Shanum? Terdengar egois, tapi dia memang tidak akan semudah itu melepaskan Shanum dari hidupnya.
“Pasti ada masalah besar yang mengganggumu, jangan terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan. Jadi, cepat ceritakan masalahmu. Jangan membuatku dan Andi menduga yang tidak-tidak.” Kara memulai obrolan.
Sabda mengulum bibir bawahnya. Menuangkan whiskey dan meneguknya sekali lagi. Memejamkan mata saat rasa pahit menyapa kerongkongan untuk yang ke sekian kali, lantas pria itu mengembuskan napas dalam.
“Kalian tahu, aku dan Shanum sudah lama bersama bukan?”
Andi dan Kara mengangguk mendengar pertanyaan Sabda. Tentu saja mereka tahu pria itu sudah menikah.
“Aku bahkan iri dengan pasangan yang satu ini.” Andi terkekeh dengan ucapannya sendiri. “Kalian sangat serasi. Sepertinya Tuhan sangat baik padamu, kau menikah dengan perempuan yang sangat cantik dan cerdas.”
Sontak Sabda tertawa hambar. Seperti biasa, semua orang selalu menyangka bahwa mereka pasangan serasi, rumah tangganya terlihat utuh dan harmonis, padahal di dalamnya sangat rapuh. Sekali sentuh bisa langsung hancur dan luruh.
Sabda menjatuhkan tatapan pada gelas kosong yang kembali diisi oleh Kara, lalu mereka segera meminumnya dalam sekali teguk.
Sabda menepuk dada saat napasnya tersengal.
“Dulu, kupikir dengan menikah lebih cepat akan membuat hidupku bahagia. Namun, seiring berjalannya waktu… kami mulai paham bahwa menikah bukan lagi soal cinta. Menjalani pernikahan ternyata tidak mudah. Menyatukan dua orang dengan sifat dan isi kepala yang berbeda justru sulit. Kadang rasa itu terasa hambar dalam beberapa keadaan.”
Tangan Sabda memainkan cincin pernikahannya. Memandang benda itu dengan tatapan sayu sembari mengingat kembali masa-masa penuh perdebatan yang dilaluinya bersama Shanum di tahun-tahun mereka hidup bersama.
“Masalah akan selalu ada dalam pernikahan, kalian tidak salah,” kata Kara.
“Kau tidak ingin bilang bahwa salah satu dari kalian sedang memutuskan untuk berpisah, bukan?” ucap Andi perlahan.
Sabda sontak menggeleng. Andi dan Kara mengembuskan napas lega ketika melihat respons Sabda, mereka juga menyadari kalau rumah tangga sahabatnya itu berjalan dengan baik. Namun, mereka tersentak setelah mendengar jawaban Sabda yang tiba-tiba.
“Kami saling melukai. Sampai saat ini orang tuaku terus mengeluh karena selama lima tahun hidup bersama, aku dan Shanum belum mendapatkan keturunan. Kalian tahu rasanya mendapatkan tekanan tersebut, ‘kan?”
Sabda mulai menyimpulkan bahwa kebahagiaan pasangan berkeluarga tak lagi terletak pada saling menerima dan terbuka satu sama lain. Namun, kebahagiaan diukur dari kapan kau bisa mendapatkan keturunan.
“Apa Shanum menyalahkanmu hanya karena dia belum juga hamil?”
Sabda menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Kara. Kesalahan besarnya bukan pada Shanum, melainkan dirinya sendiri. Bagaimana wanita itu bisa hamil jika sang istri tidak pernah disentuh oleh suaminya?
“Tidak, Shanum bukan wanita seperti itu. Hanya saja, masalahnya ada wanita lain yang lebih bisa menuruti kebahagiaanku, sementara aku tidak bisa melepaskan Shanum, yang kulakukan hanyalah diam karena tak bisa melakukan apa-apa.”
Andi dan Kara mendadak marah mendengar Sabda mengatakan hal itu. Mereka tidak menyangka Sabda dengan tega menduakan Shanum. Hanya saja, mereka berdua juga tak bisa bertindak apa-apa untuk hubungan rumah tangga Sabda, sebab itu bukan ranah mereka untuk ikut campur. Jadi yang dapat keduanya lakukan hanyalah menemani Sabda yang terus meracau di bawah pengaruh alkohol.
“Ini sangat berat,” tutur Kara. Tangannya menepuk punggung Sabda. “Aku bahkan tidak tahu lagi harus berbuat apa untukmu. Ini pasti sangat sulit.”
“Sikap manusia memang tidak pernah berubah. Seseorang akan memilih barang baru yang jauh lebih unggul dari barang yang telah dia miliki sebelumnya. Memandangnya seolah hanya barang baru itu yang membuatnya puas, tapi ketika semua tak sesuai dengan ekpektasi, dia akan melepasnya dan kembali pada barang lamanya.”
Kalimat bernada sindiran itu keluar dari mulut Andi. Sabda sempat menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. Dia sadar kalau dirinya memang berengsek, beberapa detik kemudian Sabda terkekeh miris.
“Aku tidak mengerti kenapa Shanum masih bertahan di sisiku.”
“Maksudmu?” tanya Andi bingung.
“Kami tidak bercerai saat dia tahu aku mencintai wanita lain.”
Andi dan Kara saling pandang, lantas berdecak kaget. “Kau bercanda, ‘kan?” tanya Kara memastikan.
Sabda menggelengkan kepala dan menertawakan dirinya sendiri. “Aku tidak ingin melepasnya untuk pria lain yang belum tentu bisa menjadi rumahnya. Bukankah aku begitu menyedihkan dan pengecut?”
“Kau sudah mengkhianatinya, apa yang kau pikirkan, Sabda? Pergilah. Minta maaf pada istrimu, seharusnya kau temukan kebahagiaan bersamanya,” kata Andi. Pria itu menuangkan minuman keras lagi, Sabda dengan cepat meneguknya.
Berdesis saat rasa pahit kembali menyapa rongga mulutnya. “Bukan bahagiaku sendiri yang kupermasalahkan … tapi Shanum. Aku bisa saja pergi meskipun aku tidak benar-benar sanggup meninggalkannya. Lima tahun dia menjadikanku sebagai tempat persinggahan terakhirnya, dan dia yang telah membawa kuncinya. Jadi, seluruh kebahagiaanku ada di dalam sana.”
***
Sabda benar-benar mabuk saat jarum jam menunjuk angka satu dini hari. Shanum mendatangi apartemen Andi dengan tatapan kesal yang ia lemparkan kepada dua pria yang terus membuat Sabda meneguk cairan beralkohol tersebut.
“Apa yang kalian lakukan pada suamiku?”
Sabda sudah tak lagi sadar akibat pengaruh alkohol. Andi dan Kara hanya meringis ketika melihat wanita itu datang dan memijat kepalanya setelah mengetahui lelaki yang masih menjadi suaminya tengah mabuk berat.
“Aku dan Kara juga sedang mabuk, jadi tidak bisa mengantar Sabda pulang. Makanya kami menghubungimu.” Andi menjelaskan.
“Aku tidak mabuk!” Sabda mengoceh.
Shanum dihubungi oleh Andi kalau suaminya tidak bisa pulang. Shanum sebenarnya ogah menjemput pria itu karena merasa tidak ada urusan apa pun lagi. Namun, Andi terus meneleponnya dan mengatakan kalau Sabda tengah mabuk berat, mendengar hal itu, Shanum ingin marah sekaligus penasaran. Kenapa tiba-tiba Sabda kembali minum alkohol?
Setelah dibujuk beberapa kali, akhirnya Shanum berkenan menyusul Sabda ke apartemen milik Andi.
Shanum menarik tangan Sabda dan membantunya berdiri. Shanum mendadak pening ketika mencium bau alkohol yang menyengat dari tubuh pria itu. Sabda benar-benar menyedihkan.
“Aku pulang, nanti kita bertemu lagi,” kata Sabda pada dua sahabatnya.
Pria itu meraih tas jinjing di atas meja lalu berjalan keluar dari apartemen dengan langkah sempoyongan. Shanum mengikuti Sabda dari belakang.
“Bagaimana bisa kamu menyetir dalam keadaan mabuk begini?”
Sabda mendengkus lirih. “Sudah kubilang, aku tidak mabuk. Aku masih sadar dan masih bisa berjalan dengan benar. Sedang apa kamu di sini?”
Shanum mendengkus kesal, dia segera mengambil alih kunci mobil Sabda. “Biarkan mobilmu di sini. Besok aku yang akan mengambilnya.”
Keluar dari lift, mereka berjalan menuju tempat parkir. Gadis itu kemudian menyuruh Sabda untuk masuk ke dalam mobil SUV berwarna hitam milik Shanum. Sabda dengan langkah gontainya hanya bisa menuruti ucapan Shanum.
“Itulah kenapa aku selalu melarangmu untuk minum-minum. Kamu tidak kuat minum dan ini merepotkan!”
Shanum membantu Sabda untuk masuk ke dalam mobil. Meskipun kesal, tapi Shanum tetap saja melakukannya.
“Kamu masih sayang padaku, ya?” tanya Sabda dengan kedua tangan terlipat di atas perut. Menyandarkan kepala pada jendela mobil, tapi tatapan matanya tetap ia berikan ke arah sang istri.
“Ya, aku mencintaimu.” Shanum menyahut datar.
“Tapi juga membenciku?”
Shanum tidak menjawab apa pun, dia fokus menilik jalanan malam yang mulai sepi. Mobil tersebut melaju meninggalkan apartemen menuju rumah mereka.
“Kalau kamu mencintaiku … kamu pasti akan setia di sampingku, tidak peduli aku sedang bersama siapa.” Sabda masih sibuk mengoceh. “Aku paham. Kamu pasti membenciku karena aku pergi liburan bersama wanita lain.”
“Jangan bicara omong kosong, aku malas berdebat denganmu!”
Sabda kini menyandarkan kepala pada sandaran kursi. Memejamkan mata saat ia mulai merasakan pening.
“Ini bukan kali pertama kamu menyakitiku, tapi sekarang kamu berhasil menghancurkan nyaris seluruh hatiku,” kata Shanum.
Tak berapa lama mobil itu memasuki kawasan rumah, sontak Sabda menyingkap mata dan sadar jika Shanum telah memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Shanum melirik ke arah suaminya yang tampak menyedihkan, sekarang dia harus memapahnya ke dalam.
“Diamlah, aku akan memapahmu. Kamu sudah mulai mabuk.”
Pria itu keluar dari mobil dipapah oleh istrinya sendiri. Melepas sepatu sembarangan ke atas lantai garasi, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah menuju kamar utama. Shanum sedikit kewalahan karena tubuh Sabda cukup berat. Shanum mendorong Sabda hingga pria itu terbaring di ranjang. Setelahnya, Shanum melangkah mundur sembari menghela napas kelelahan.
“Kamu memang menyedihkan!” Shanum memutuskan untuk pergi. Namun, belum sempat pria itu meraih gagang pintu. Suara serak Sabda memanggilnya.
“Sha ….”
Langkah Shanum terhenti mendadak, dia menoleh pada Sabda yang telah bangun dengan posisi duduk.
“Haus.” Sabda bergumam seraya menatap Shanum dengan mata sayu.
Menghela napas berat tanpa banyak berkata, Shanum melangkah ke arah nakas samping ranjang dan menuangkan secangkir air putih lalu menyodorkannya pada Sabda.
Sabda meminum air putih yang Shanum berikan, setelah isinya tandas dia menyerahkan kembali gelas tersebut pada Shanum.
“Rania … kamu di sini?”
Mendengar nama itu, Shanum membulatkan matanya kaget. “Aku bukan Rania!”
Sabda tiba-tiba mencengkeram tangan Shanum kuat, membuat wanita itu mengaduh.
“Lepaskan aku, aku bukan perempuan murahan itu!”
Masih dalam kondisi mabuk, Sabda tak menuruti apa yang Shanum katakan. Pria itu tiba-tiba membanting tubuh istrinya ke atas kasur.
5 TAHUN YANG SINGKAT
“Rania ….”
Ucapan Sabda terdengar sangat berat di telinganya. Sesaat Shanum meneguk ludahnya. Dari dasar diri gadis itu, muncul sebuah kehangatan yang meledak. Lagi-lagi jantung Shanum berdetak di luar kendali.
Shanum berusaha untuk meloloskan diri dari Sabda yang berada dalam pengaruh alkohol, tapi tenaga pria itu cukup kuat untuk Shanum. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Shanum beberapa kali meronta berusaha untuk melepaskan diri.
Panas. Panas sekali.
Sabda sudah berpindah posisi menjadi di atas tubuh istrinya. Secara lambat, wajah Sabda terdorong ke wajah Shanum. Akal gadis itu seketika kosong, bahkan dia nyaris kehabisan oksigen.
Tatapan matanya semakin intens dan diselubungi gairah mendamba.
“Rania.”
Darah Shanum mulai berdesir sekaligus marah karena yang diucapkan Sabda berkali-kali adalah nama wanita lain. Shanum muak sekali mendengar nama itu. Shanum sakit hati karena merasa diperlakukan dengan tidak adil.
“Aku bukan Rania, lepaskan aku!”
“Maafkan aku, Rania.”
Entah kenapa mata Shanum memanas, air mata mengenang di sana. Seolah ada rasa sakit yang menyelusup ke dalam dada. Tatapan Sabda begitu sayu, bisa Shanum rasakan napasnya yang memburu, membuat jantung gadis itu kian bertalu.
Bibir itu mulai mendekat dan terjatuh di atas bibirnya. Butuh beberapa detik bagi Shanum untuk menyadari hal itu. Dia bahkan tidak mengerti maksud ucapan Sabda yang tadi.
Ini adalah ciuman pertama yang Shanum dapatkan di usia lima tahun pernikahan. Hangat dan mendamba. Mereka bertautan dengan cukup intens, berpagutan tanpa tuntutan. Shanum tidak bisa mengendalikan Sabda, dia hanya bisa terdiam ketika pria itu mencium bibirnya untuk pertama kali.
Sabda semakin menekan tangannya pada tengkuk Shanum, membuat ciuman itu semakin dalam. Sabda semakin tak terkendali dan Shanum mulai kehabisan oksigen. Perempuan itu terkejut saat tangan kekar Sabda mengangkat badannya dengan mudah lalu menempatkan kepala gadis itu di bantal dan membetulkan posisi mereka di ranjang.
Shanum masih terkejut dengan apa yang Sabda lakukan. Sebelah tangan Sabda mengunci tangannya di samping. Sampai sesuatu membuatnya tersadar. Pipi Shanum menghangat. Ada cairan bening yang mengalir. Wajah Shanum menjadi basah karena salah satu dari mereka menangis.
Sabda menangis, entah karena apa. Ini pertama kalinya dalam lima tahun mereka bersama, Shanum melihat Sabda menangis dengan mudahnya.
***
Shanum duduk dengan wajah ditekuk. Sisa air mata membias di wajahnya yang memucat. Dia berusaha menutupi tubuhnya dengan jubah yang semalam dipakai, tapi tetap terbuka di bagian paha. Di sebelahnya ada Sabda yang baru saja terbangun.
Shanum masih terlalu shock dengan apa yang terjadi. Memori menegangkan tadi malam masih terekam jelas dalam otaknya. Shanum masih tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi juga.
Sabda menggeliat dari tidurnya, matanya mengerjap enggan terbuka. Saat kesadaran Sabda sudah pulih, barulah dia terkejut melihat keadaan kamar yang begitu berantakan dengan baju yang tercecer di mana-mana.
Sabda menoleh ke arah samping, keterkejutannya tak sampai di situ. Sang istri yang tengah duduk di sampingnya jauh lebih kacau daripada dirinya. Mata Sabda membelalak, dia nyaris tak mengingat apa yang sudah terjadi semalam?
Sabda tidak ingin menebak kalau semalam mereka habis melakukan sesuatu.
“Apa yang terjadi?” tanya Sabda dengan bodohnya. Dia bangun sambil bertelanjang dada, menatap Shanum tak yakin. “Jangan bilang kalau semalam kita sudah melakukannya.”
Shanum menoleh ke hadapan Sabda, pria itu tidak mengingat kejadian semalam. Padahal Shanum sudah menyuruhnya untuk berhenti.
“Kenapa masih bertanya padaku? Apa kamu benar-benar tidak ingat kejadian semalam?”
Sabda menggeleng. Dia sudah berusaha mengingat kejadian tadi malam. Seingatnya, dia mabuk dan akhirnya tertidur. Sabda hanya bisa mengingat sampai ke sana.
Shanum menghela napas, percuma saja membuat Sabda mengerti. Mau bagaimana lagi, mereka berdua sudah melakukannya.
“Sudahlah, ini sudah terjadi. Lagipula yang kau pikirkan saat meniduri istrimu adalah wanita lain.”
Sabda membenci intonasi wanita itu saat menyebut namanya. Dia masih linglung dan tidak bisa membaca situasi. Benarkah yang dikatakan Shanum? Atau justru wanita itulah yang memancingnya untuk ditiduri?
“Kenapa kamu menerima begitu saja, saat ada pria me ….” Sabda menghela napas lalu melanjutkan ucapannya. “Menyodorkan diri padamu.”
“Bagaimana caraku melepaskan diri? Kamulah yang terus menahanku, kamu pikir aku tak kesakitan karena kamu terus melakukannya sambil menyebut nama wanita lain?”
Jawaban Shanum membungkam mulut Sabda dan membuatnya makin merasa gugup. Cahaya matahari yang terbias dari jendela kaca di belakang Shanum, membuat wajah wanita itu terlihat bersinar. Entah kenapa aura Shanum tampak berbeda sekali pagi ini.
“Mas—“
Sabda mengangkat tangan. “Stop! Kita nggak usah bahas ini lagi. Jika bisa, aku mohon padamu untuk lupakan.”
“Kamu berkata begitu seolah menyesal sudah meniduriku. Apa bagimu aku ini orang asing?”
Sabda memijat kepalanya pening. Bagaimana bisa dia kebablasan membayangkan Rania yang semalam dia tiduri, padahal wanita itu adalah Shanum, bukan Rania si selingkuhan.
Sabda masih berusaha mengumpulkan setiap keping ingatannya semalam, yang dia tahu malam itu, dia dibawa pulang oleh Shanum, kemudian dibaringkan di kasur dan akhirnya … Sabda tak bisa menyangkal bahwa dia benar-benar sudah meniduri wanita itu.
Sabda tidak mengerti, kenapa dia harus gelisah. Padahal yang dia tiduri adalah istrinya sendiri, bukan orang lain. Justru seharusnya Sabda gelisah jika yang dia rusak kehormatannya adalah Rania yang jelas-jelas tidak sah di mata negara dan agama.
Tidak ada yang lebih canggung dari keadaan sekarang. Saat Shanum harus berhadapan dengan laki-laki yang mencumbunya tadi malam. Mereka duduk berhadapan dan membahas sex seolah-olah bukan hal besar. Sedangkan jauh di lubuk hati mereka tahu, apa yang mereka lakukan tadi malam itu tabu.
“Aku harus kerja.”
Bangkit dari ranjang, Sabda berusaha menghindari Shanum. Pikirannya buntu, kepalanya pusing sehingga harus berpegangan pada sandaran ranjang. Shanum memperhatikan penggerakan pria itu tanpa berani menginterupsi.
Sabda tak mau mengungkit hal ini lagi. Bahkan ada satu hal yang membuat Sabda benar-benar takut. Dia lebih dulu memunguti pakaian yang tercecer di lantai. Sebelum melangkah menuju kamar mandi, Sabda berbalik menghadap istrinya yang masih setia duduk di ranjang.
“Kamu masih perawan, ‘kan?” ucap Sabda tiba-tiba.
Shanum tak menjawab, dia hanya berpaling pada seprai di ranjangnya. Ada sedikit noda darah di sana, melihat arah tatapan wanita itu, Sabda langsung terbungkam.
“Lalu, bagaimana kalau terjadi hal yang tidak diinginkan?”
Shanum tahu ke mana arah pembicaraan Sabda. Dia pun bukan tidak memikirkannya. Bagaimana kalau dengan kejadian ini dia hamil. Tapi, bukankah itu kabar yang bagus? Inilah yang dinantikan oleh keluarganya. Apa yang harus Shanum cemaskan?
Tentu saja Shanum mencemaskan nasib anak dalam kandungannya nanti. Dia tidak akan memiliki figur ayah yang utuh.
“Aku berharap itu tidak terjadi.” Sabda menjawab pelan.
Shanum menghela napas, dadanya terasa berat. Dia menatap pria itu yang kembali lanjutkan langkahnya memasuki kamar mandi. Tidak ada percakapan lagi di antara mereka.
“Tapi seandainya terjadi sesuatu, bisakah kamu memberitahuku?” kata Sabda tiba-tiba.
Berat rasanya untuk menjawab ‘iya’ karena membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi sudah membuatnya takut. Bagaimana kalau Sabda berencana menggugurkan bayinya hanya karena dia tidak menyukai Shanum hamil?
Sejak awal sebelum menikah, Sabda sempat menolak. Dia berdalih tak akan bisa memberikan keturunan untuk Shanum terlebih dia tak mencintainya. Namun, Shanum selalu mengatakan baiklah.
Bahkan dia tak pernah sekalipun menuntut Sabda untuk memberinya keturunan. Shanum sadar, Sabda tak akan bisa menjadi sosok ayah yang baik.
***
Suara ketel adalah penanda pertama kekosongan pagi ini. Ditemani seduhan kopi hitam, juga sayur sop sebagai pengisi perut, Shanum melangkah perlahan menuju ruang makan.
Tidak ada yang spesial. Sabda baru saja berangkat ke kantor karena sibuk dengan pekerjaan. Sementara yang membuat Shanum asing dengan pagi ini adalah rasa sakit yang mendera pusat tubuhnya. Dia harus berjalan perlahan karena rasa perih yang ditimbulkan oleh pria itu semalam.
“Apakah memang begini rasanya baru pertama kali melakukannya?”
Shanum berusaha untuk menahan rasa sakit dengan cara duduk merapatkan kaki, dia kesulitan untuk sekadar buang air kecil karena ini adalah pertama kali dalam hidupnya selama Shanum menikah dengan Sabda, wanita itu tidak menyangka rasanya akan seperti ini.
Sementara itu, Sabda pergi begitu saja tanpa rasa bersalah, dia tidak memikirkan perasaan Shanum. Setelah membuat istrinya kesakitan karena kesalahan tak disengaja itu, Sabda masih saja bersikap ketus padanya.
Sejenak menggesekkan kedua telapak tangan untuk mencari kehangatan, netranya lekas jatuh pada pintu kaca bening di halaman belakang yang tengah menunjukkan suasana pagi yang damai. Shanum jadi ingin keluar rumah hari ini demi menetralkan pikiran.
***
Sabda mengacak rambutnya frustrasi. Dia beberapa kali mendengkus kesal dan menyalahkan diri karena kecerobohannya yang tak termaafkan.
Bagaimana bisa semalam dia mabuk berat dan meniduri Shanum? Sabda tak bisa mengingat kejadian itu dengan cukup jelas. Melihat kondisinya tadi pagi, mana mungkin Shanum berbohong.
“Kenapa semalam aku mabuk berat? Dan kenapa Shanum menjemputku?”
Sabda yang uring-uringan terus meracau, dia memikirkan hal buruk yang akan terjadi ke depannya nanti. Bagaimana kalau Shanum hamil?
Sabda memang pria paling buruk di dunia. Bagaimana bisa dia takut Shanum hamil, padahal yang dia tiduri jelas adalah istrinya sendiri. Bukankah itu bagus? Sabda jadi bisa membungkam mulut orang tuanya supaya berhenti merecokinya tentang anak.
Kekalutan Sabda tidak kunjung selesai sampai di situ, dia teringat pada Rania yang hendak dia nikahi, haruskah Sabda benar-benar menikah dengan gadis itu setelah dia berhasil meniduri Shanum?
“Ah, berengsek!”
Sabda melempar berkas yang ada di hadapannya. Kepala pria itu benar-benar sakit karena dipaksa untuk bekerja pasca mabuk semalam. Belum lagi dengan masalah Shanum yang membuatnya antara percaya dan tidak.
Entah langkah mana yang harus diambilnya sekarang, Sabda jadi gelisah. Haruskah malam ini dia pulang ke rumah? Jika dia pulang, Sabda pasti akan bertemu dengan istrinya dan dia bingung harus bersikap bagaimana nanti.
Bersambung… BERTEMU SHANUM
Rania baru saja pulang dari kafe tempatnya bekerja lebih awal hari ini. Dia ingin beristirahat dan mengerjakan tugas kuliah sebelum pergi makan.
Dia sudah menghubungi Sabda. Namun, ponsel pria itu kembali tidak aktif. Lagi-lagi Rania cemas, ke mana pria itu pergi, sejak dua hari yang lalu Sabda tak menemuinya. Apakah mungkin dia sedang sibuk?
Rania kembali melanjutkan langkah, dia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang letih. Tak berapa lama langkahnya langsung terhenti ketika melihat wanita yang pernah memakai mobil milik kekasihnya turun dari dalam mobil. Wanita itu berpakaian elegan. Outer coklat dipadu inner dan celana kain berwarna senada.
Satu tangannya menempelkan ponsel ke telinga sementara tangan lainnya menenteng kantong belanjaan.
Melihat sosok tersebut suasana hati Rania langsung berubah. Rania memperhatikannya dari jauh, wanita itu tidak pergi dengan memakai mobil milik Sabda.
Dia sempat mencurigai Shanum adalah salah satu simpanan kekasihnya.
Jika seandainya hal itu benar, Rania akan meminta penjelasan pada Sabda. Dia takut kekasihnya bermain api di belakang.
“Aku habis membeli roti, kamu sudah makan? Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu. Banyak yang ingin kuceritakan sama kamu.”
Rania masih mengawasi wanita itu, dia tidak tahu siapa yang tengah bicara dengannya di telepon. Apakah Sabda, atau orang lain.
“Mau minum kopi? Kalau lambungmu bermasalah lagi, aku tidak mau tahu.”
Rania yakin bahwa sosok yang sedang ditelepon oleh Shanum bukanlah Sabda. Tapi, Rania ingin memastikan sendiri selagi wanita itu tidak menyadarinya sebagai kekasih Sabda.
“Lebih baik kita makan ramen saja, ditambah bubuk cabe lebih oke. Tidak perlu repot-repot membeli bahan. Aku sudah belanja banyak.”
Rania tidak kehilangan kesempatan. Dia sangat ingin menghentikan segala kecurigaannya pada Sabda, karena itulah dia seperti penguntit. Berjalan diam-diam mengikuti langkah wanita itu.
Shanum menutup teleponnya dan memasukkan ponsel ke dalam tas selempang. Mulai melanjutkan langkah. Dia tersenyum semringah menuju salah satu tempat, tanpa menyadari ada sosok Rania yang mengikuti di belakangnya.
Rania masih kesal bila mengingat kejadian waktu itu. Tak salah lagi wanita itulah yang membuat Sabda berbohong padanya. Bila memang tidak ada hubungan yang ditutup-tutupi, kenapa Sabda harus berdusta?
Rania mengekori Shanum yang berbelok menuju gang lebar. Dia tak mengetahui ke mana tujuan Shanum. Langkahnya berhenti di jalan utama mengarah pada distrik perumahan. Rania terus membuntuti dan bersembunyi tak jauh dari sana.
Tak berapa lama Shanum tiba di depan sebuah rumah sederhana bercat biru. Rania bersembunyi di samping mobil yang terparkir tepat di depan rumah itu. Memperhatikan Shanum dalam diam yang tengah menekan passcode gerbang, tidak butuh waktu lama, seorang perempuan berambut sebahu membuka pintu rumah dan tersenyum semringah.
“Sudah kuduga, kamu akan jauh-jauh datang ke sini, Sha,” kata wanita itu semangat. “Mana Sabda? Kamu gak ngajak dia?”
Mata Rania melotot saat gadis tersebut mengucapkan nama kekasihnya. Dia jadi tambah curiga dengan apa yang sedang terjadi. Apakah Sabda dan wanita itu benar-benar ada hubungan lain?
“Dia sedang bekerja, Sinar. Aku datang sendiri agar kita bisa leluasa bercerita.”
Sinar terkekeh. “Ya sudah, ayo masuk.”
Rania menatap kedua wanita itu yang kemudian menghilang dari hadapannya, kedua wanita itu masuk ke dalam rumah. Rania menatap nanar. Dia tidak percaya apa yang barusan didengarnya. Apakah Rania salah mendengar?
Rania jadi bimbang harus mengambil tindakan bagaimana. Apakah dia harus bertanya langsung kepada Sabda mengenai hal ini? *** “Mukamu makin lama makin pucat.” Sinar menatap prihati pada sahabatnya. “Makan kagak, sih?”
Shanum tergelak. “Makanlah, emang lagi berasa capek aja.”
“Dua hari lalu aku datang ke rumah, kamu nggak ada. Ke mana?” tanya Sinar memastikan.
“Oh, ke rumah orang tua.”
Sinar mengernyit, menatap Shanum yang sedang meneguk teh-nya. Mereka duduk di bagian belakang rumah yang teduh. Menikmati teh hijau hangat yang dibuat Sinar.
“Ada masalah lagi sama suamimu?” Bahkan tanpa Shanum jelaskan pun, Sinar sudah mampu menebak sendiri.
“Biasa.”
Shanum kembali terdiam, malas untuk menjelaskan. Dia menunduk, menghela napas panjang. Satu-satunya orang yang mengetahui keretakan rumah tangganya hanyalah Sinar seorang. Wanita itu juga sering menjadi tempat Shanum meminta saran atas semua kegundahan hatinya.
“Serius, mukamu pucat Shanum. Kelihatan lelah. Apa yang terjadi di rumah?”
Shanum memejamkan mata, menyandarkan kepala pada punggung kursi. Benar yang dikatakan Sinar, ia memang cenderung mudah lelah akhir-akhir ini. Dia mengkhawatirkan sesuatu dan berharap itu benar. Mendadak ia membuka mata dan bertanya serius pada sahabatnya.
“Sin, kamu dulu berapa kali bercinta sampai hamil anak pertama?”
Sinar mengernyit, kenapa tiba-tiba Shanum mengatakan hal itu? “Kami dulu bulan madu tiga hari, bercinta bagai sepasang orang gila. Tapi, hamil enam bulan kemudian. Kenapa?”
Ah, masih ada harapan. Shanum mulai parno sendiri, ketakutannya tidak beralasan. Shanum menyimpan harapan tersebut di dada. Belakangan ini dirinya mudah lelah, hal itu membuat Shanum berpikiran yang tidak-tidak. Terlebih malam itu dia memang sedang berada dalam masa subur.
“Kenapa mendadak tanya soal hamil? Bukannya kalian sepakat untuk tidak saling bersentuhan? Atau jangan-jangan, kalian benar-benar sudah melakukannya?”
Menggigit bibir, Shanum menimbang perkataan. Dia bingung, apakah harus berterus terang pada Sinar atau tidak. Namun, dia tidak sanggup menahan sendiri. Shanum sudah cukup stres dengan berbagai konflik dalam rumah tangganya.
“Sebenarnya, ada satu cerita penting yang kamu nggak tahu.”
Sinar mengernyit. “Ada apa? Hal penting apa?”
Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati tersirat rasa malu. Namun, Shanum berusaha mengabaikannya. Dia menoleh ke belakang. Sekadar mencari tahu tidak ada yang mendengar mereka bicara. Terdiam sesaat, menatap wajah Sinar yang tidak sabaran, akhirnya Shanum mulai bercerita.
“Malam itu, Sabda meniduriku.”
Selanjutnya, kata per kata dia ucapkan dengan hati-hati. Berusaha untuk mengesampingkan resah dan malu yang menggelayut di hati. Saat kalimat terakhir selesai dia ucapkan, Sinar melongo dan tak mampu berkata-kata. Dia terkejut bukan main.
“Serius? Sabda benar-benar menidurimu kemarin? Setelah lima tahun hubungan antara kalian berjalan?”
“Ssst!” Shanum menempelkan jari di bibir. “Iyaa, jangan kenceng-kenceng ngomongnya.”
“Kok bisa, sih? Sabda dapet hidayah?”
“Huft, mau bagaimana lagi? Waktu itu Sabda tidak sengaja melakukannya. Nasi udah jadi bubur, ’kan?”
“Bubur sih enak kalau pakai ayam dan sate, tapi dalam hal ini kok aku kasihan sama kamu, ya? Aduh, gimana ini?”
Sinar memiliki pikiran yang sama dengan Shanum, hanya karena masalah itu dia menjadi resah dengan kondisi mental sahabatnya. Sebenarnya Sinar senang saat mendengar Sabda akhirnya bisa menyentuh Shanum, tapi ternyata pria itu tak sengaja karena semalam mabuk berat.
“Aku nggak tahu,” ucap Shanum pasrah. “Yang aku pikirkan sekarang adalah, gimana nanti ke depannya kalau sampai aku—“
“Hamil!”
Keduanya berpandangan dalam satu pemahaman yang sama. Memikirkan tentang kemungkinan yang akan terjadi. Entah harus bahagia atau sedih. Shanum memegang pelipis, memikirkan jalan keluar tentang ketakutannya. Di berharap Sinar akan membantunya mencari jalan keluar, nyatanya sahabatnya malah ikut bingung sepertinya.
“Semoga saja kamu hamil sesuai harapan kamu. Bagaimana tanggapan Sabda? Apa kalian sudah bertemu?”
Shanum menggeleng, ini sudah hari kedua dia tidak bertemu Sabda. Pria itu tidak kunjung pulang atau mengabarinya. Sekadar bicara empat mata pun dia seolah enggan. Sabda seperti sedang menghindar.
“Dia … Kamu tahu sendiri, kan, suamiku itu kayak apa, Sin.”
Sinar mengangguk. “Suami laknat!”
***
Sudah seminggu berlalu semenjak Shanum terakhir kali bertemu Sabda. Hubungan yang mereka bina selama lima tahun lamanya, kini kembali renggang. Shanum berusaha untuk tidak menyesali diri, meski hatinya remuk redam.
Selama ini, meski bisa dibilang hubungan mereka tidak terlalu harmonis, tapi harus diakui Sabda laki-laki yang baik. Dia bisa memahami, kenapa Sabda menolak jika Shanum mengandung anaknya. Pria itu merasa belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik.
Beberapa kali Sabda menelepon, Shanum tidak pernah mengangkat. Pesan pun tidak dibalas. Bahkan pernah satu kali Sabda datang mencarinya ke rumah sang ibu, dengan tegas Shanum menolak bertemu. Setelah itu, laki-laki itu tidak datang lagi. Hingga siang ini, kedatangan mama mertua membuat Shanum susah untuk menolak.
Wanita setengah baya itu mengamati rumah Shanum yang lumayan asri. Shanum meletakkan segelas teh hangat di meja setelah itu dia duduk di hadapan ibu mertuanya dengan canggung.
Diana mengamati Shanum dari atas ke bawah. “Kamu kurus, pucat pula. Apa kamu sakit, Shanum?”
Shanum menggeleng, dia tersenyum canggung, berusaha untuk tidak membuat beliau curiga.
“Kamu kena anemia, Sayang?”
“Bisa jadi, Ma.”
“Makanya jaga kesehatan. Jangan sampai sakit lagi. Baru kemarin kan kamu sembuh, masa habis ini sakit lagi. Sayangi diri kamu.”
“Iya, Ma.” Shanum tak bisa menolak perhatian dari ibu mertuanya.
Sesaat mereka terdiam, Diana melirik Shanum sesaat. “Sayang, kenapa kamu memutuskan untuk pindah ke rumah orang tua kamu? Mama berkunjung ke rumah kalian dan di sana tidak ada siapa-siapa. Apa yang terjadi dengan kalian?”
Shanum menahan napas, dugaannya benar kalau Diana datang demi memastikan hubungannya dengan Sabda. Menggigit bibir bawah, dia menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan sebelum menjawab pelan.
“Nggak ada apa-apa, Ma. Memang aku sedang butuh suasana baru. Aku lagi kangen keluarga aja.”
“Jujur sama mama!” sergah Diana. “Bisa-bisanya kamu memendam semuanya sendiri. Ada apa? Apa Sabda kurang memperhatikan kamu saat sakit? Dia memang kayak gitu. Nanti mama bakal bilang sama dia untuk mengurangi kesibukannya di kantor.”
Shanum menggeleng. Bagaimana mungkin ia jujur tentang selingkuhan suaminya. Dalam hal ini, dia tidak mungkin menyalahkan Sabda. Apalagi jika sampai sang ibu tahu bahwa Sabda baru menyentuhnya kemarin malam.
“Shanum! Apa kamu dengar?”
Mengangguk dengan berat hati, Shanum berucap pelan. “Iya, Ma.”
“Jawab, kenapa kamu malah diam? Ada apa sama kalian? Kenapa?”
KENYATAAN PAHIT
Rania tengah melamun sejak tadi pikirannya tidak tenang. Ini sudah hari kelima, Sabda lagi-lagi tak ada kabar. Dia bimbang, haruskah dia menelepon pria itu? Tapi, Rania takut akan mengganggunya.
Pikirannya kembali berkelana pada wanita yang dia ingat hari itu, wanita cantik yang pergi ke toko roti menggunakan mobil Sabda. Juga menyebut nama kekasihnya ketika bertemu dengan seorang teman. Dia masih penasaran ada hubungan apa di antara mereka.
“Apa aku memang harus mencari tahu semuanya sendiri?” gumam Rania penuh kebimbangan.
Pada akhirnya Rania memberanikan diri untuk pergi ke luar. Tak ingin dihantui perasaan bersalah terus menerus, dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika Sabda tak mau mengatakannya, maka Rania yang akan mencari tahu semuanya.
Rania berbelok gang lebar mengarah pada distrik perumahan. Dia ingat Shanum sempat ke rumah ini hari itu. Rania masih mengingat dengan jelas lokasinya. Ya, Rania ingin bertanya pada seseorang. Siapa tahu orang tersebut bisa memberi Rania informasi.
Gadis itu menekan bel dan langsung berseru, “permisi.”
Rania menekan bel itu kembali, dan pemilik rumah tersebut keluar dari dalam. Ekspresinya langsung terkejut saat melihat siapa orang yang datang ke rumahnya.
“Ya?”
Rania melihat perempuan berambut pendek membuka pintu rumah. Awalnya, dia ragu untuk bertanya, tapi Rania tidak punya pilihan. Rasa ingin tahunya terlalu mendominasi. Jadi, lebih baik dia menahan rasa malu ketimbang terus merasa bimbang.
“Maaf, kalau saya lancang, tapi ngomong-ngomong apakah Anda punya waktu? Bisa kita bicara sebentar?” pinta Rania tulus.
“Siapa, ya?” Nada Sinar terdengar ragu. Namun, sopan.
“Mungkin kita bisa bicara dulu,” tawar Rania sedikit tergesa.
Sinar menimbang dan mengangkat sebelah tangannya yang dibelit arloji, lalu kembali menatap Rania.
“Tapi saat ini aku tidak punya banyak waktu. Ada urusan penting yang harus kukerjakan. Mungkin kita bisa bertemu lagi kapan-kapan.”
Sinar menolak permintaan Rania secara halus, wanita itu hendak kembali menutup pintu rumahnya. Namun, sebelum dia benar-benar masuk, suara Rania membuat penggerakannya berhenti.
“Sebentar saja. Mbak kenal Mas Sabda, kan? Aku ingin bertanya soal itu, Mas Sabda adalah kekasihku.”
Kata-kata itu tanpa bisa Rania cegah langsung menyeruak ke permukaan.
***
“Kamu tunggu di sini, aku ke dapur dulu untuk membuat minuman.”
Rania hanya membalas ucapan Sinar dengan seulas senyum kikuk. Sejak Rania mengakui bahwa dirinya adalah kekasih Sabda, wanita itu tidak punya pilihan lain selain membiarkannya masuk.
Entah apa yang ingin Rania sampaikan. Namun, Sinar punya firasat lain. Sinar merasa bahwa kedatangan Rania ke rumah ini karena suatu hal, dia tidak bermaksud jahat.
Dia mengizinkan Rania duduk di sofa sementara dirinya pergi ke dapur untuk membuat teh dan camilan. Sementara itu, Rania melihat-lihat semua perabotan di rumah ini kurang dari dua puluh detik.
Rania bisa melihat dari balik pintu geser dua sisi yang terbuka dan menampilkan kebun asri yang terurus, berdiri satu pohon rindang, usianya mungkin sudah puluhan tahun. Ada pot-pot bonsai berjajar di lantai kayu serta empat tiang jemuran. Rumputnya terawat, mirip artifisial, tapi Rania tahu itu asli. Percikan sinar matahari pagi yang masih muncul malu-malu membuat segalanya lebih cantik seperti ilustrasi buku dongeng.
Selagi menunggu wanita itu kembali, pandangannya berkeliaran lagi. Banyak barang seperti kursi, meja, jam antik sudut, dan rak ukuran delapan puluh senti penuh buku. Dari deretan buku itu dia mampu menemukan beberapa judul dongeng anak-anak.
Bertepatan ketika Rania tengah memandangi foto-foto keluarga kecil Sinar yang menyebar di dinding, pemilik rumah tersebut membuka pintu dengan membawa nampan kecil. Rania hendak berdiri membantunya.
“Tidak apa-apa, duduk saja.” Sinar menahan lebih dulu saat pantat Rania baru menjauhi sofa beberapa senti.
Sinar mengambil tempat di depannya. Hanya ada satu minuman yang dia bawa. Artinya, Sinar hanya menyediakan minuman untuk Rania.
“Minumlah dulu.”
Meskipun sedikit segan, tapi Rania memilih menurut, dia meminumnya seteguk. Tidak menampik.
Sinar memperhatikan penampilan Rania, cukup menarik. Pantas saja Sabda bisa jatuh cinta padanya. Rania tidak berlebihan, Sinar tahu itu.
“Jadi, kamu Rania?”
Sinar membuka obrolan, lantas tersenyum dan menempatkan sebelah kaki jenjangnya ke atas paha kiri sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Rania meletakkan kembali gelas itu ke atas meja sebelum menjawab pertanyaan Sinar.
“Ya. Benar.” Rania terkejut karena Sinar mengetahui namanya lebih dulu. Dia bahkan belum memperkenalkan diri. Apakah wanita ini sahabat Sabda atau siapa?
Rania ikut diam ketika Sinar diam. Sesungguhnya Sinar menunggunya mengatakan sesuatu. Ada banyak sekali hal yang ingin Rania tanyakan. Namun, entah kenapa semua pertanyaan itu seperti tercekat di kerongkongan.
“Jadi, kamu tidak ingin tanya siapa namaku? Apakah kita harus mengobrol tanpa saling mengenal?” tanya Sinar.
Pertanyaan menjebak. Rania tidak tahu harus bagaimana bereaksi ketika melupakan etika berkenalan. Dia merasa sangat gegabah untuk pertemuan pertama.
“Maafkan aku. Iya, namaku Rania. Nama Mbak siapa, ya?”
“Tidak masalah. Aku Sinar.” Dia menarik napas lega. “Senang akhirnya kita bisa bertemu. Aku sering dengar banyak hal tentangmu.”
“Ah, benarkah? Terima kasih.”
Walaupun Rania tidak tahu apa yang harus dia terima kasihkan dari semua itu dan dia tidak tahu siapa orang yang sudah sering menceritakan tentangnya pada Sinar.
“Kamu masih kuliah, benar?”
Rania hanya mengangguk. Dia sedikit jengkel karena Sinar malah berbasa-basi. Rasa penasarannya sudah di ujung tombak sekarang.
“Sebetulnya kedatanganku ke sini karena suatu hal, aku ingin bertanya tentang sesuatu,” celetuknya. “Ini mungkin terdengar sangat tidak sopan tetapi aku pernah melihat sahabatmu memakai mobil kekasihku. Aku hanya penasaran ada hubungan apa mereka? Karena ini selalu mengusikku.”
Rania berkata to the point. Dia benar-benar tidak bisa terus mengulur waktu, dia ingin tahu kebenarannya. Apakah benar Sabda berselingkuh darinya?
“Jadi maksud kamu menemuiku hanya untuk menanyakan hubungan wanita itu sama Sabda?”
“Ya, begitulah.” Rania terlihat sedikit putus asa.
Sinar terus tersenyum. “Aku tidak tahu harus jawab gimana, ya. Soalnya, ini hal yang cukup sensitif dan rumit.”
“Kenapa?” Rania semakin penasaran.
“Nanti kamu akan sangat terluka. Aku tak bisa bertanggung jawab.”
“Ada apa? Paling tidak berikan aku jawaban logis.”
Sinar menggeleng. “Sebaiknya kamu tanyakan langsung pada kekasihmu.”
Sinar tidak mau ikut campur dalam masalah rumah tangga sahabatnya. Meskipun dia sendiri gemas ingin membongkar semua kebusukan Sabda, tapi dia tak bisa melakukan apa-apa tanpa seizin Shanum.
“Aku hanya ingin jawabannya dari Mbak Sinar. Kenapa? Karena ada sesuatu di antara mereka? Tolong aku, Mbak. Aku bingung dengan semua ini, aku hanya butuh kejujuranmu. Mas Sabda akan menikahiku tak lama lagi. Jadi, tolong katakan yang sejujurnya padaku.”
Sinar terkejut mendengar ucapan Rania barusan. Apa tadi katanya? Sabda akan menikah? Apa Sinar salah dengar? Jantung wanita itu berdebar tak keruan. Apakah Shanum tahu hal ini?
“Apa maksud kamu? Sabda mau nikahin kamu?”
Rania mengangguk. “Ya, begitulah. Cuma … akhir-akhir ini ada yang gak beres, aku jadi sering kepikiran.”
Sinar menghela napas cukup berat, matanya terpejam seolah tengah menahan rasa kesal yang membara. Sinar ingin sekali membunuh Sabda dan memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian. Kenapa ada suami sekejam itu? Dia berniat menikahi selingkuhannya di belakang istri sah? Apa tidak gila namanya?
Sinar sempat sesak napas dibuatnya. Belum reda keterkejutannya tentang Shanum yang pertama kali disentuh oleh suaminya, sekarang dia kembali mendengar kabar buruk tentang suami Shanum yang ingin menikah lagi.
Sinar tidak mengerti rumah tangga macam apa yang tengah dijalani oleh dua orang tersebut.
“Mbak, tolong aku, ya. Aku janji gak akan bilang apa-apa ke Mas Sabda atau siapa pun kalau memang tak boleh.”
Rania masih terus memaksa, dia hanya ingin tahu kebenarannya. Nurani Sinar langsung goyah, mendengar hal ini jelas dia tak bisa diam saja. Shanum pasti akan sangat terluka.
“Baiklah, karena kamu yang meminta, aku akan menjelaskan semuanya padamu, tapi aku mohon apa pun kalimat yang aku ucapkan, kamu harus percaya. Kumohon, aku tak bermaksud membuatmu terluka, karena memang sudah banyak yang terlukai di sini.”
Sinar berusaha untuk meyakinkan Rania terlebih dahulu, dia sebenarnya kesulitan untuk menjelaskan hal rumit seperti ini.
“Pertama-tama, Rania kamu harus mengerti bahwa kekasihmu ….”
Rania menyimak dengan serius ucapan Sinar, dia tidak sempat menyiapkan hati terlebih dahulu, tapi semoga saja dirinya kuat.
“Kekasihmu bukan pria lajang, dia pria beristri.”
DOUBLE KILL!
Kepala Rania refleks terangkat, mulutnya tersingkap dan Rania bisa merasakan ada getaran dalam tenggorokannya. Sakit, apakah wanita ini sedang bercanda?
“Jangan bohong padaku!”
Rania menatap Sinar dengan sorot tidak percaya. Entah kenapa dia tidak bisa mempercayai apa yang wanita itu katakan, sekalipun benar, tidak mungkin Sabda bisa berbohong sekeji itu padanya.
Rania berusaha mencari celah kebohongan pada diri Sinar. Dia harap apa yang didengarnya barusan hanyalah gurauan semata, meskipun benar tidak dia temukan satu keraguan di diri Sinar. Wanita di depannya justru tersenyum. Dia sudah bisa menebak kalau gadis itu akan menyangkal kenyataan yang ada.
“Kenapa tidak percaya? Begitulah kenyataannya, Sabda dan Shanum sudah menikah selama lima tahun. Mereka sah di mata negara dan agama. Namun, seperti yang kamu lihat, dia malah berselingkuh.”
TRIPLE KILL!
Rania masih diam, tidak tahu harus menjawab apa. Seandainya benar apa yang Sinar katakan, ini semua terasa menyakitkan baginya. Rania bahkan sempat beberapa kali meminta pria itu untuk segera memberi kepastian. Dia tak tahu kalau Sabda sudah memiliki istri.
Ternyata keraguannya selama ini adalah bukti bahwa dia benar-benar tidak pernah serius pada Rania. Pantas saja Sabda selalu banyak alasan. Terlalu banyak kejanggalan yang dia rasakan. Namun, kemarin Sabda datang ke rumah dan merencanakan pernikahan pada sang ayah. Apakah ini artinya Rania akan dijadikan istri kedua?
“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa pria itu sudah lama menikah, tapi malah berselingkuh denganku?”
Sinar menaikkan bahunya acuh. Dia sendiri tidak mengerti isi kepala pria itu, padahal Shanum jelas lebih cantik. Dia wanita mandiri dan cerdas, tapi kenapa takdir hidupnya begitu menyedihkan.
“Ya, aku sendiri pun tak bisa menyalahkanmu sebab kamu sendiri saja baru tahu kalau Sabda selingkuh. Shanum menyuruhku untuk diam saja saat itu karena mereka sudah bersepakat untuk tidak bercerai, tapi mendengar dia akan menikahimu. Sepertinya tak lama lagi mereka akan bercerai.”
Rania terdiam mendengar ucapan Sinar. Apa benar yang dia katakan tadi? Apakah dia tanpa sadar sudah menjadi penghancur kebahagiaan orang lain? Apakah semua ini sepenuhnya salah Rania?
“Tapi jika kamu pun sangat mencintai Sabda, aku tak bisa memaksamu untuk meninggalkannya. Justru aku senang, setidaknya Shanum bisa lepas dari suami laknat seperti dia!” Sinar mulai gusar.
Rania tak banyak bicara, dia masih sibuk mencerna apa yang terjadi. Hatinya begitu sakit. Dia seperti hilang pijakan. Bagaimana Sabda bisa membohonginya selama itu?
Melihat Rania yang terus diam, Sinar lama-lama merasa serba salah juga. Dia yakin gadis itu pun terkejut mendengar kenyataan ini. Dia hanya korban dari keegoisan Sabda. Tidak sepantasnya Sinar marah padanya.
“Bicaralah pada Sabda. Katakan yang sebenarnya, aku yakin jika kamu yang bicara, dia tak akan mengelak lagi,” putus Sinar akhirnya.
Bersambung… CINTA ITU LUKA
Sepulang dari dokter, Shanum tidak dapat menahan perasaan kalutnya. Bagaimana bisa tenang jika saat ini dia sedang mengandung anak dari laki-laki yang tidak menginginkannya? Kehamilan ini membuat Shanum senang sekaligus sedih. Tadinya, dia sudah memutuskan untuk berpisah dengan Sabda. Namun, Tuhan sepertinya punya rencana lain.
“Kapan kamu berencana mengatakan semua pada Sabda?” tanya Sinar padanya.
Shanum menggeleng. “Aku belum tahu.”
“Setidaknya, Sabda harus tahu lebih dulu. Anakmu itu anaknya.”
“Sekarang aku belum bisa mikir apa pun. Tolonglah, Sinar.”
Shanum menahan tangis. Sementara tangan kanannya mengelus perut yang masih rata. Ada kehidupan baru di sana, dan dia sama sekali tidak tahu harus bersikap bagaimana. Terjebak dalam situasi yang di luar kendalinya.
Sinar sengaja pergi ke rumah Shanum untuk mengajak perempuan itu bicara. Namun, begitu sampai di sana dia melihat sahabatnya sedang muntah-muntah di kamar mandi, dengan lemas Sinar memapah Shanum yang pucat pasi ke kamarnya. Naluri Sinar sebagai seorang wanita langsung muncul, tentu saja dia sudah menduga kalau hal ini akan terjadi.
Setelah mendesak Shanum untuk pergi ke dokter, akhirnya wanita itu mau pergi juga. Hasil diagnosa dokter sungguh membuat kebingungan Shanum makin menjadi.
Shanum hamil.
Menatap sahabatnya dengan prihatin, Sinar meraba dahi Shanum. “Aku buatkan teh hangat. Kamu istirahat dulu.”
Shanum tidak menjawab perkataan sahabatnya. Dia memilih untuk berbaring dengan pikiran tak menentu. Kepalanya terasa berat, Shanum memejam. Berharap tidur dapat menghapus kegalauannya. Dia butuh menenangkan diri saat ini.
Shanum berharap dia tidak menangis. Namun apa daya, air mata tidak dapat dibendung. Terlalu banyak lika-liku perjalanan rumah tangganya. Bukan berarti Shanum tidak bahagia dengan kehadiran bayi di perutnya. Shanum benar-benar bahagia, sebab itulah yang dia inginkan sejak lama.
Pikirannya tertuju pada Sabda, apa yang akan dia katakan nanti pada pria itu? Apakah Sabda akan menerimanya?
***
Hujan telah berhenti turun sejak se-jam yang lalu. Shanum tengah menatap bayangan dirinya di depan cermin, memandangi kondisi wajahnya yang memucat dan sedikit tirus. Kantung matanya tampak terlihat karena dia kurang tidur.
Shanum bukan tipe perempuan yang cengeng. Dia pantang menunjukkan sisi lemahnya, tapi sepertinya tembok ketangguhan itu perlahan retak dan roboh. Terlalu banyak kejadian tak terduga yang menimpa pernikahan mereka.
Ah, memang persis sinetron.
Saat Shanum sibuk bercermin, Sabda masuk ke dalam kamarnya, dia terkejut saat melihat keberadaan Shanum di rumahnya.
“Sha, kapan kamu datang?” tanya Sabda. Dia terkejut antara percaya dan tidak.
Shanum pulang ke rumah mereka, tujuannya tak lain dan tak bukan untuk membicarakan hal serius dengan pria itu. Dia merasa sudah cukup lama diam dan menghindar. Entah sampai kapan Shanum harus menghindari Sabda, jujur dia lelah.
“Satu jam yang lalu.” Shanum menjawab singkat.
Canggung. Satu kata yang bisa menggambarkan kondisi mereka sekarang.
“Maaf, aku pulang terlambat hari ini, aku tidak tahu kamu ada di rumah. Kamu tak menelepon lebih dulu,” kata Sabda seraya melepas dasinya.
“Tidak apa-apa, aku tahu kamu sibuk.”
“Tidak juga, hanya sedang banyak urusan.”
Shanum mendesah. Dia menatap Sabda dengan pandangan prihatin, tidak heran melihat pria itu pulang dengan kondisi kacau seperti ini. Dia tampak tidak bisa mengurus diri.
“Kerja atau pergi jalan-jalan dengan kekasihmu?”
“Shanum, jangan mulai!”
Shanum menarik napas sangat panjang, menghentikan ledakan emosi sekejap. Dia kembali menarik napas untuk meyakinkan diri sebelum menegakkan tubuh.
“Boleh aku menanyakan sesuatu padamu?”
Sabda mengangguk mendengar pertanyaan tersebut. Melihat wajah istrinya yang sendu, Shanum tampak berbeda dari biasanya. Meski Sabda tahu bahwa istrinya pasti akan mengajak ribut lagi seperti biasa.
Shanum menghela napas dalam-dalam. Ada perasaan dingin di sudut hatinya.
“Kau ….” Suara Shanum terdengar sayup-sayup. “Masih mencintainya?”
Rasa sakit mulai menjalar di sekujur tubuh Shanum. Entah kenapa dia sedikit menyesali pertanyaan tersebut. Sebab dia terlalu lemah untuk menerima kenyataan yang keluar dari mulut Sabda.
Shanum menggigit bibirnya selagi menunggu Sabda menjawab. Sejujurnya masih ada begitu banyak pertanyaan dan dugaan. Namun, penjelasan untuk pertanyaan tadi saja sudah mahal harganya.
“Kalau kamu bertanya, maka jawabannya tentu saja.”
“Jadi kamu masih mencintai kekasihmu itu, ya. Bagaimana kalau sekarang kamu memilih.”
Sabda terdiam, dia tidak mengerti apa yang Shanum katakan dan apa maksud wanita itu mengatakannya.
“Jujur saja. Aku hanya ingin tahu dan memastikan hal ini …” Shanum menelan ludah saat pandangannya kembali mengabur, hanya berani menatap dada bidangnya.
“Kamu akan menikah dengannya, kan? Kenapa tak bilang? Bukankah sudah kubilang, tak ada yang harus kita sembunyikan. Kalau memang memilih dia, ceraikan saja aku.”
Sabda mengepalkan tangan. Tinju di samping tubuhnya mengeras. Dia tidak menyangka Shanum mengetahui hal ini, dari mana wanita itu tahu?
Sabda semakin serba salah menghadapi Shanum, rahasianya sudah lebih dulu diketahui oleh wanita tersebut. Dia sadar tak akan bisa beralasan apa pun. Sabda jelas salah.
“Mas Sabda.” Shanum menginterupsi karena hanya ada kekosongan yang menyergap ruangan tersebut. “Tak ada lagi alasan untukku bertahan di rumah ini. Jadi untuk apa ada aku?”
“Aku mohon jangan membahas hal ini, sudah cukup orang tuaku bertanya tentang kondisi rumah tangga kita. Aku tidak mau mengecewakan semuanya. Biarkan aku bernapas sebentar.”
Sabda kali ini memohon dengan sangat, Shanum bergeming. Darah di sekitar kepalanya terasa menguap. Jiwanya hampa mendengar pengakuan Sabda, karena rasanya masih terlalu takut mendengar hal yang sudah dia duga sebelumnya.
Jadi benarkah kenyataan ini? Apakah Shanum sedang bermimpi?
Shanum kehilangan keseimbangan. Di saat dia bahagia dengan kehadiran calon bayi dalam perutnya, sebuah kabar menyakitkan tentang Sabda yang hendak menikah lagi dengan Rania membuat pertahanan Shanum runtuh.
Dia datang demi memastikan hal tersebut. Namun, respons Sabda yang seperti ini membuatnya semakin yakin bahwa Shanum memang tak salah dengar. Hal ini memang terjadi. Semua terasa tidak begitu adil untuknya.
Apa yang lebih menyakitkan ketika mendengar suami sendiri ingin menikah lagi wanita lain tanpa sepengetahuannya?
Mungkin benar, dia tidak akan pernah sebanding dengan wanita itu, tapi apa yang Sabda harapkan dari selingkuhannya? Wanita yang itu bahkan tidak melakukan apa pun untuknya. Selama ini hanya Shanum yang setia menemani Sabda sejak pertama kali mereka berdua tak saling menginginkan.
Pria yang selama ini dia pikir tak akan pernah menyakiti sampai sejauh ini, baru saja menyakiti dengan cara yang tak pernah Shanum duga sebelumnya.
Sejujurnya Shanum sangat benci pria itu sekarang.
“Sha, apakah ak—“
“Nanti, biar kupikir dulu.”
Shanum menyela ucapan Sabda, padahal pria itu belum menyelesaikan bicaranya. Shanum tidak bisa menolak kemungkinan terburuk dalam hubungan mereka. Kemungkinan terburuk akan selalu muncul dalam pernikahan. Sabda mencintainya. Masih mencintai sang kekasih dan ingin menikahinya.
Shanum sendiri berusaha menerima kenyataan tersebut dengan lapang dada. Dia paham, sisa cinta itu pasti selalu membekas dalam hati setiap pria pada pasangan yang dia suka. Shanum mencoba tegar dengan kenyataan semacam itu.
“Pembohong.” Shanum tak bisa menahan sesak di dada.
“Shanum ….”
“Dasar pembohong! Bagaimana bisa kau hendak menikahi wanita lain saat masih memiliki istri dan tidak mau menceraikannya? Kau anggap pernikahan itu apa? Oh, iya aku lupa. Kamu kan tidak tahu cara menghargai sebuah kesakralan pernikahan.”
Shanum marah pada Sabda, dia marah kenapa laki-laki itu tega menyakitinya sampai sejauh ini. Padahal mereka sudah sepakat tak akan ada yang disembunyikan.
“Aku sangat kaget melihat betapa beraninya dirimu. Aku sedikit tidak percaya bahwa kau memanipulasi pernikahan ini, bahkan kau bertingkah di depan gadis itu seolah-olah belum pernah menikah. Itu jahat sekali, Mas.”
Apa kau tahu rasanya sakit? Sakit yang tak berupa, tak berdarah, tak tampak lukanya. Sesak seperti tenggelam. Untuk berenang dan bernapas ke tepian pun rasanya tak sanggup lagi.
Itu yang Shanum rasakan sekarang.
“Aku tidak percaya dengan kejujuranmu itu, Mas. Sudah berapa lama kita bersama? Semua yang kulakukan untukmu, kasih sayangku, hidupku, untukmu, semuanya. Tidak berarti apa-apa bagimu.”
Shanum menatapnya dengan air mata yang perlahan mengalir. Tidak tahu harus apa, tidak tahu harus bagaimana. Untuk pergi pun rasanya sangat sulit.
Shanum sangat kecewa. Tidak ada wanita yang benar-benar kuat, dia hanya terbiasa, terbiasa dengan berbagai kejutan yang Sabda suguhkan. Bahkan terbiasa dengan kenyataan yang selalu siap menohok kapan saja.
“Aku kecewa padamu. Tidak cukupkah untukmu semua itu? Aku begitu terluka, Mas. Terluka karena ternyata sampai saat ini aku tidak mampu memenangkan hatimu, tapi aku pun tak bisa meninggalkanmu.”
Shanum terlalu lemah untuk menjalani hidup tanpa Sabda. Ya, dia memang mulai mencintai pria itu. Hari ini Shanum meminta untuk diizinkan agar tetap mencintai Sabda meski harus jatuh dan mencintai sendirian.
“Nyatanya, meskipun bisa bersama, aku tak sanggup membagi cinta, tapi di sisi lain aku tak punya kemampuan membersamaimu. Di saat hatimu telah terisi oleh selainku. Aku begitu terluka karena yang kita rangkai bersama harus berantakan karena dia yang ketiga!”
Shanum pikir dia sudah berhenti membuat Sabda mencari. Namun ternyata, Shanum saja yang merasa terlalu percaya diri. Sehingga apa yang dia beri justru membuatnya tersakiti.
Sabda masih diam mematung tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, matanya menatap lurus sang istri. Ingin mengatakan sesuatu, tapi sayangnya suara tersebut tertahan di kerongkongan.
“Aku akan baik-baik saja,” kata Shanum meyakinkan seraya mengangguk. “Sudah pernah kukatakan padamu, Mas. Buatlah pernikahan kita setara. Bukan hanya tentang perasaanmu saja yang harus dijaga. Aku juga, aku juga bisa sakit!”
“Berhenti menangis!” Sabda menegur Shanum yang mulai menangis.
Hanya itu? Sabda tidak ada kemampuan untuk menjelaskan atau menenangkan istrinya yang mulai menangis. Sabda sendiri masih mencintai Rania, mencintainya.
Tidak ada yang mudah dari yang namanya kehilangan.
Sabda terus menatap Shanum dengan perasaan bersalah. Dia terlalu lemah jika harus melepas wanita itu pergi. Sungguh, Sabda tidak pernah menginginkan wanita itu meninggalkannya.
“Sekali saja, tolong jangan menyakitiku,” kata Shanum pelan. Dia meraba perutnya sendiri. “Di sini, ada anakmu yang harus kamu lindungi juga, Mas. Aku hamil.”
Mendengar ucapan Shanum, mata Sabda membulat seketika.
BOLEH KITA BICARA
Mengetahui bahwa sang istri hamil, Sabda tidak bisa menahan rasa keterkejutannya. Dia berjalan mendekati Shanum yang mulai tidak acuh. Perasaan wanita itu sakit. Sabda berusaha memastikan sekali lagi, tapi tampaknya wanita itu tidak peduli.
“Aku kehilangan setengah harapan darimu,” kata Shanum berterus terang. “Kamu tahu ‘kan apa akibatnya bila berbohong di pengadilan?”
Sabda tiba-tiba meremas tangan Shanum dan meminta wanita itu untuk menjelaskan apa yang terjadi.
“Kumohon jelaskan padaku, apa maksud kata-kata kamu tadi?”
Shanum melepaskan pegangan tangan Sabda, alih-alih mengulang kalimatnya, wanita itu justru marah.
“Kenapa harus berbohong sejak awal, Mas?” Shanum mencoba tidak goyah. “Kenapa terus menambal satu kebohonganmu dengan kebohongan lain? Kamu bilang akan menjauhi wanita itu, tapi ternyata kamu masih saja bertemu dengannya. Kalau masih mencintainya kenapa tak ajak dia hidup bersama kembali?”
Sungguh, Sabda bukan ingin mendengar kalimat itu, tapi kalimat Shanum tadi tentang kehamilan. Apakah wanita itu benar-benar mengandung anaknya? Apakah Sabda sedang bermimpi? Atau Shanum salah bicara?
“Aku telah bekerja sepanjang hidupku. Aku bisa menghasilkan uangku sendiri. Aku punya cukup tabungan. Bahkan jika malam ini aku harus melarikan diri, aku tahu ke mana harus pergi.”
Mata Sabda kembali tertuju pada Shanum, wanita itu benar-benar sudah menyerah. Dia merasa rumah tangganya bukan lagi di ambang kehancuran, tapi memang sudah retak luar dalam.
Keinginan Shanum untuk berpisah semakin kuat, tapi saat hal itu terjadi dirinya malah hamil. Shanum sendiri bingung harus bagaimana, terlebih dia malah mengetahui kabar bahwa suaminya akan menikah lagi.
“Aku bukan jenis wanita yang menumpang hidup pada pria kaya sepertimu. Aku bisa saja pergi jika terus menerus disakiti begini, tapi ….” Shanum tersendat oleh kata-katanya, dia menutup mulut dengan gemetar. Tak mau menangis, tapi dia terlalu cengeng.
“Mengapa aku dibohongi? Kenapa tidak katakan sejak awal tentang pernikahanmu? Kenapa tidak ada yang satu pun yang mengatakan padaku? Bukankah kita sudah sepakat tidak akan ada yang disembunyikan?”
“Kamu harus percaya ….” Sabda nyaris frustrasi dalam kalimatnya. “Semua kulakukan untuk menjaga hubungan rumah tangga ini, termasuk perasaan orang tuaku. Aku tidak bisa berterus-terang karena hal lain.”
Shanum terkekeh mendengar jawaban Sabda. Lucu sekali. Sesaat kemudian Shanum mengangkat wajahnya menengadah dengan kedua tangan, lalu menatap sang suami dengan datar.
“Jangan seperti ini. Alasanmu sangat tidak jelas, Mas. Adakah alasan lain yang bisa kauberikan? Pernikahan ini … apa kau memang menginginkan pernikahan ini? Bukan soal penyesalan, Mas. Melainkan semua yang kau lakukan. Ucapanmu, tindakanmu, pesan-pesan manismu, pujianmu, kau melakukan itu hanya pada kekasihmu.”
Shanum menelisik ke dalam matanya dan nyaris menjerit. Namun, yang keluar justru nada serak yang semakin menipis. “Aku tak berharap diperlakukan sama dengan kekasih simpananmu itu. Aku hanya tidak bisa menerima jika kita harus berpisah seperti ini!”
Tangannya gemetaran. Shanum terdiam dan menyimak tatapannya dengan sungguh-sungguh. Dia sudah cukup lelah menghadapi semua hal sendiri. Benar-benar tak bisa dipercaya.
“Apakah kamu berniat untuk mengajaknya menikah kembali?” Shanum tampak bergetar mengatakannya.
“Shanum.” Sabda langsung menepis tegas. “Kubilang hentikan!”
“Jujurlah.” Suara Shanum mulai melambat dan pelan. “Katakan saja yang sejujurnya.”
“Aku sedang tak ingin membahas ini. Kita sudah berjanji untuk tak membahasnya.”
“Kamu akan jadi orang pertama yang dibunuh ayahku jika dia tahu apa yang telah kau perbuat pada putrinya selama ini.”
Sabda ingin membawa Shanum pada pelukannya. Namun, wanita itu telanjur mati rasa. Dia menghindari Sabda, Shanum tidak butuh pria dalam hidup jika hanya membuatnya menderita lebih banyak.
“Aku sakit,” Shanum masih histeris. “Aku tidak suka sakit!”
Shanum memukul dada bidang Sabda berulang kali, melampiaskan amarah dan kesedihan yang meruntuhkan pertahanannya. Shanum selalu berpikir bahwa dirinya kuat dan mampu melewati semuanya sendirian. Namun, ternyata sulit.
***
Shanum meminum banyak air untuk membantunya kembali bernapas lega. Kemudian berdiri diam menatap keran wastafel setelah meletakkan gelas.
Dia meremas ujung jari mengingat pengakuan Sabda. Shanum ingin melupakan suara pria itu dalam kepalanya. Dia ingin mengganti kata-katanya dengan tangisan. Rasa marah, bingung, sedih, dan kalut. Kenapa Sabda tidak pernah mengerti?
Untuk saat ini Shanum membencinya. Dia marah pada Sabda, tetapi Shanum lebih marah pada dirinya sendiri saat menyadari betapa besar rasa sayang itu padanya.
Shanum kesal karena pada kenyataannya hati kecilnya menyimpan ruang untuk mencintai suami pembohong.
Malam itu dia memutuskan untuk pergi dari rumah naik taksi meninggalkan Sabda dan semua kenangan yang ada di rumah itu. Tidak ada kenangan manis yang tertinggal, selama mereka hidup berdua, hanya ada amarah dan air mata.
“Sha, setidaknya tunggulah besok. Kenapa kamu gak mau denger penjelasanku sedikit saja?”
Sabda membuntuti Shanum sampai ke luar, pria itu berusaha mencegahnya untuk pergi.
“Mas, tolong. Jangan membuatku semakin membenci calon ayah dari anakku. Mulai sekarang biarkan aku sendiri. Kita urus urusan kita masing-masing. Aku yakin kamu bisa jaga diri, tolong biarkan aku pergi.”
Shanum tidak boleh menyesal, keputusannya sudah bulat. Mulai sekarang dia akan putus komunikasi dengan Sabda, entah sampai kapan. Shanum tidak ingin memikirkan hal itu, sekarang ada hal lain yang harus lebih dia perhatikan. Menghindari Sabda adalah satu-satunya cara untuk lepas dari penderitaan.
Namun, entah sampai kapan.
***
Tiga hari berlalu setelah insiden perdebatan yang terjadi antara Shanum dengan Sabda. Wanita itu benar-benar pergi meninggalkannya begitu saja. Terlalu menyakitkan untuk bertahan. Namun, tak sedikit pun dihargai.
Shanum berusaha menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Seperti saat ini, dia tengah menatap lurus ke arah jajaran mie aneka merk dan varian rasa dengan tatapan sedikit enggan. Meskipun begitu, semua keriuhan di tempat tersebut tampak tidak menarik untuknya.
Shanum rasanya ingin makan mie goreng dengan cabai yang banyak ditemani segelas es jeruk dengan separuh kesadaran. Dia stres dan butuh pelarian sekarang.
Pelariannya pada makanan pedas.
Suasana minimarket siang itu lumayan penuh. Namun, Shanum merasa benar-benar kesepian. Dia mencoba tidak melirik betapa ramainya orang-orang berbincang. Hanya berdebat dalam hati dan melamun.
Bahkan dia mencoba abai pada sepasang suami istri yang tengah berbelanja bersama. Terlihat bahagia dengan bayi di tengah-tengah mereka. Sungguh jauh dengan kehidupan Shanum yang sunyi, sekarang dia hanya tinggal berdua saja bersama janin dalam perutnya.
Shanum mengalihkan tatapannya dari keluarga bahagia itu, mencoba menepuk kedua pipinya sendiri seraya memasukkan beberapa barang kebutuhannya dalam keranjang belanjaan.
“Sejak kapan Nyonya direktur suka makan mie instan?”
Celetukan itu membuat Shanum menoleh ke arah samping. Di sana sudah ada Sinar dengan tatapan datarnya menatap lurus keranjang belanjaan milik Shanum.
“Kenapa kamu belanja makanan tak sehat semua? Apa jangan-jangan kamu sedang ngidam?”
Shanum menghela napasnya. Dia memang tidak pergi sendiri, ada Sinar yang setia menemani ke mana saja. Namun, hal itu membuat Shanum kesulitan untuk leluasa belanja. Dia terlalu banyak aturan dan cerewet seperti ibunya.
“Hentikan, Sinar!”
Sang lawan bicara spontan tergelak sembari terus memegang kendali pada keranjang miliknya sendiri, mencoba mengamati raut datar yang tengah berusaha mengabaikannya.
“Aku tahu ibu hamil pasti punya banyak pikiran, tapi gak makan pedes juga dong,” guraunya bersama dengan nada prihatin yang dibuat-buat.
“Aku cuma kangen makan mie instan. Aku tidak akan mati atau sakit perut hanya makan satu piring mie go—“
“Belum. Pokoknya ini tidak sehat. Jangan cari penyakit.” Sinar memotong ucapan Shanum dan mengambil mie dalam keranjang tadi dan menyusunnya kembali ke dalam rak. Shanum sangat kecewa.
“Sebaiknya kamu makan makanan lain saja. Beli sayur atau apa pun, asal jangan micin.” Sinar menambahkan, Shanum semakin kesal.
“Kamu juga pernah hamil, kenapa seperti ini? Kamu pasti lupa rasan—“
Kalimatnya terhenti manakala Shanum melihat sosok perempuan yang tampak tak asing di ingatannya. Perempuan itu berdiri tepat di antara rak roti dan makanan ringan.
Emosi Shanum jadi tidak terkontrol ketika melihat perempuan yang sejak tadi menatapnya datang mendekat. Menyadari bahwa Shanum tiba-tiba terdiam, Sinar ikut menoleh ke arah pandang Shanum dan dia pun terkejut melihat siapa yang datang.
Perempuan itu mendekati mereka dengan senyum mengembang, hal yang membuat Shanum kebingungan karena ini pertama kalinya mereka bertemu seperti sudah saling mengenal.
“Permisi, kamu pasti Mbak Shanum. Aku Rania, bisa kita bicara sebentar?”
Bersambung… MEMUTUSKAN UNTUK PUTUS
Duduk bersama seorang wanita yang tidak pernah Shanum inginkan keberadaannya.
Shanum sudah mengirimkan pesan pada Sinar dan mengatakan bahwa dia akan bicara sebentar dengan Rania, wanita itu mengerti dan memberikan mereka ruang untuk saling bicara.
Wajah wanita yang duduk di kafe bersama Shanum saat ini belum berubah dari yang pernah Shanum lihat. Perbedaan besar yang dia sadari hanyalah kantung matanya yang menghitam, kentara sekali dia kurang tidur.
Sampai pramusaji mengantarkan minuman, belum ada satu pun dari mereka yang bicara. Shanum yakin wanita tersebut egois, sama sepertinya. Melihat wanita ini sekarang, seakan melihat masa lalu Shanum yang penuh masalah.
“Kamu cantik, terlihat lebih muda dariku. Berapa usiamu?” tanya Shanum memulai pembicaraan.
“24 tahun.” Mata Rania yang gelap menyorot tajam. Suaranya dalam, parau, dan tegas.
Sedikit demi sedikit Shanum bisa menilai seperti apa dia sebenarnya. Rania tampak sangat gugup berhadapan dengan Shanum. Dilihat dari gerak-geriknya yang terus merunduk. Shanum tak bisa hanya diam saja menunggu perempuan di depannya bicara.
“Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Omong-omong ada apa mengajakku bertemu?”
Perlahan Rania mendongak, Shanum tidak suka basa-basi. Terlebih sudah sepuluh menit berlalu semenjak mereka duduk di kafe. Shanum masih tak bisa mencari letak hal yang ingin Rania bicarakan.
Entah kenapa Rania merasa ingin kembali ke bekerja. Sepertinya dia salah memilih timing yang pas untuk bertemu. Kenapa harus ke sini? Kenapa harus bertemu Shanum?
“Ada apa? Kenapa tiba-tiba mengajakku bertemu? Ada hal lain yang ingin kamu katakan?” Shanum mengulang pertanyaan.
Beberapa detik berlangsung dalam keheningan, Rania akhirnya membuka suara. Suaranya terdengar pahit dan pilu.
“Aku hanya ingin minta maaf … a-aku … aku berpacaran dengan suamimu.”
Saat mengatakan itu, matanya tak lepas dari cincin Shanum. Wanita itu masih memakai cincin pernikahannya. Hal yang membuat Rania sadar bahwa dia bukan siapa-siapa di hidup Sabda. Setelah itu mata mereka kembali beradu. Seolah Rania benar-benar putus asa dan bingung harus bagaimana.
Shanum berusaha untuk mengerti apa yang gadis itu katakan, semua ini memang terdengar pahit dan Shanum masih setia mendengarkan kelanjutan ceritanya.
“Aku tidak bisa hidup tanpa pria itu, aku tidak tahu sebelumnya kalau dia sudah menikah. Lebih dari itu, dia bahkan sudah datang ke rumahku dan menghadap papa.”
Shanum menekuk kesepuluh jarinya di atas paha, meremat dalam tinjunya saat mendengar Rania mengucapkan seluruh rangkaian kalimat yang rasanya bekerja seperti kail pencungkil organ.
“Mas Sabda menemui ayahmu? Untuk apa?” Dia bertanya lagi.
“Hubungan kami sudah berjalan dua tahun, aku tidak tahu kalau kalian adalah suami istri. Waktu itu aku sudah meminta Mas Sabda untuk segera menemui papa dan menikahiku.”
Mendengar ucapan Rania, emosinya naik turun. Ternyata benar, apa yang Shanum dengar waktu itu mereka tak hanya sebatas liburan saja. Hati Shanum benar-benar sakit mengetahui fakta itu.
Rania juga tersakiti, dia masih tidak percaya kalau Sabda bisa sejahat itu padanya. Di sini bukan hanya Shanum yang merasakan sakit, Rania pun merasakannya. Bahkan dia tak tahu apa-apa.
Rania mengulum senyum. “Aku mencintainya. Sangat, tapi sekarang aku mulai berpikir, rasanya aku tidak bisa bertahan dengan pria itu lebih lama. Sekarang aku punya alasan kenapa aku harus meninggalkannya.”
Rania menengadahkan kepalanya dan tertawa tanpa suara. Dia mengambil napas sekali tarikan dan menatap Shanum. Seolah dia lega sudah mengatakan hal itu.
Kejujuran yang dipendam selama ini akhirnya bisa diluapkan pada seseorang.
“Kamu tidak mau menemani Mas Sabda lebih lama?” tanya Shanum memastikan. Dia terkejut mendengar gadis itu berkata ingin meninggalkan Sabda.
Sama seperti Shanum yang berkali-kali berniat meninggalkan Sabda dan menggugat cerai. Setiap malam Shanum selalu berpikir ‘apakah sampai akhir hubungan kami akan tetap seperti ini?’ tapi seperti yang semua orang lihat hari ini. Mereka masih bersama. Hubungan mereka belum masuk ke proses penceraian.
Rania menarik dua sudut bibirnya. Kali ini Shanum gagal menebak apa arti senyuman itu.
“Kamu wanita hebat, Mbak Shanum.”
“Begitukah?”
“Aku bahkan tak bisa membayangkan rasanya hidup bersama orang yang hanya bisa menyakiti,” tambahnya.
Shanum tidak tersanjung, baginya itu bukan hal yang pantas mendapat pujian. Shanum justru merasa menjadi perempuan bodoh karena sudah bertahan dengan pria yang sama sekali tak ada kemajuan apa pun selama menikah dengannya.
“Rania, bukankah sebelum berhubungan seharusnya kau tahu, siapa pasanganmu, seperti apa kondisinya, dan apa masa lalunya, kamu harus mengerti, ikatan pernikahan berbeda dengan pacaran yang bisa diputuskan seenaknya ketika bosan.”
“Jadi, ini salah satu alasan Mbak tetap bertahan, meskipun tak bahagia?”
Shanum menahan diri sejenak. “Jika hanya mencari bahagia, hidup saja melajang. Tujuan pernikahan bukan hanya tentang mencari bahagia. Pernikahan bukan hanya tentang cinta. Ada masa depan di dalamnya.”
Shanum tidak marah dengan Rania, dia bisa paham kenapa gadis itu bertanya demikian padanya. Shanum berusaha untuk menjelaskan.
“Pernikahan bukan tentang dua hati saja, tapi juga dua keluarga, dua kepala yang berbeda,” katanya, lalu dilanjutkan dengan nada setengah merenung ke dalam gelas milik Rania yang isinya hampir habis.
“Ayahku pernah mengatakan pernikahan itu berat. Hampir setiap hari dia terpikir, apakah dia bisa memperjuangkan pernikahannya sampai akhir, apakah kelak mereka bisa memiliki anak, apakah dia sanggup menjaga keluarganya, apakah mereka akan tinggal sehidup-semati, belum lagi memikirkan sumber pendapatan atau jaminan untuk keluarga. Terdengar mudah, tapi sulit dijalani. Sampai saat itu kamu takkan pernah menemukan seseorang yang cocok selain menerima mereka dengan tangan terbuka.”
Rania masih bungkam, Shanum terus melanjutkan kalimatnya.
“Rania, orang yang kau miliki sekarang, dia adalah suami orang lain. Dia orang yang pernah mengikrarkan janji suci di depan ayahku lima tahun yang lalu. Dia tidak sempurna, tentu saja. Namun, semua yang ada padanya sudah sesuai kriteria. Orang tuanya baik, mereka bahkan menyimpan harapan yang besar terhadapku, kiranya apa yang akan terjadi jika mereka tahu kami bercerai?”
Shanum hanya ingin memberi pengertian bahwa makna pernikahan tak sesederhana yang biasa dia lihat di FTV atau drama. Lebih dari itu dan memutuskan sesuatu tak semudah kelihatannya. Seharusnya Rania mengerti.
“Menurutmu, seperti apa pria itu? Suamiku, pria yang berselingkuh denganmu?”
Ketika Shanum bertanya mengenai hal itu, Rania menarik napas seolah tak mengerti kenapa Shanum bertanya. Bukankah dia istrinya, sudah pasti Shanum mengetahui jawabannya.
“Haruskah aku mengatakan hal ini, Mbak? Aku hanya takut menyakitimu.”
“Tidak akan.” Shanum tersenyum kecil. “Jelaskan saja.”
Rania menggigit bibir, tapi pada akhirnya dia menuruti perintah Shanum.
“Pria yang menjadi suamimu, adalah seseorang yang melihat bukan dari nilai. Namun, menjadikanku di atas standar. Seseorang yang peduli dengan kondisiku. Seseorang yang benar-benar mendengarkanku ketika berbicara, yang mampu mengingat hal-hal kecil yang kusebutkan dalam percakapan.
Seseorang yang akan memelukmu hangat ketika sedih. Seorang pria yang sanggup menahan rindunya agar dia tidak mengganggumu ketika istirahat, yang lebih senang meluruskan bukan selalu membenarkan, yang bersedia menghubungi ketika dia akan datang terlambat.”
Shanum tampak terperangah mendengar ucapan Rania. Sebaik itu Sabda memperlakukan gadis tersebut sehingga hanya kebaikan yang keluar dari mulutnya, mata Shanum memerah, entah kenapa Rania sedikit iba melihatnya.
“Mbak, dia tak pernah pernah meninggalkan seseorang kecuali seseorang itu memintanya. Sekarang dia layak mendapat seseorang yang ingin tinggal bersamanya dan mencintainya sepanjang waktu. Kurasa dia sangat mencintaimu, karena itu dia tak ingin kalian bercerai.”
Usai mengatakan hal itu, Shanum dan Rania kembali terdiam. Mereka benar-benar tidak bersuara. Entah sampai kapan keduanya akan terjebak dalam kehampaan seperti ini. Shanum pun tak menyangka akan benar-benar bicara dengan gadis yang Sabda cintai.
Segala aliran darahnya seperti berhenti di satu titik hingga membuat Rania menahan napas selama beberapa detik. Meski begitu, dia berpura-pura terlihat biasa saja saat wanita di depannya tersenyum dengan sorot tidak biasa.
Kini suara bising pengunjung kafe yang kerap menjadi penyebab kepalanya pusing tak lagi begitu terdengar. Satu-satunya suara yang paling berisik dan bergaung di telinga Rania hanya dari pikirannya sendiri.
Shanum tak bisa bergerak barang sedikit pun. Tubuhnya mirip kertas yang diremas dan dilempar ke lantai. Shanum terus memperhatikan wanita itu yang sedang tersenyum padanya.
Dia memang Rania. Duduk di depannya dengan senyuman manis dan anggun seperti biasa. Pantas saja Sabda jatuh cinta padanya.
“Kamu benar-benar mau mengakhirinya? Bukankah kalian saling mencintai. Jangan cemas, lagipula aku mungkin akan selesai dengannya tak lama lagi. Aku bisa hidup sendiri dengan bayiku nanti.” Shanum memulai obrolan karena Rania hanya terdiam sejak tadi.
Senyum Rania berubah begitu dia mendengar Shanum menyebutkan kata bayi. Pertahanan Rania semakin runtuh, hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Shanum hamil?
“Mbak, kamu hamil?”
“Iya, masuk usia tiga minggu.”
Perkataan Shanum membuat senyum Rania sirna beberapa detik. Serumit ini berhadapan dengan istri sah Sabda. Entah kenapa Rania merasa begitu jahat karena sudah membuat Shanum menderita, tapi dia pun tidak tahu apa-apa. Haruskah Rania merasa begitu bersalah padanya?
“Minumlah, barangkali bisa membuat perasaanmu membaik.” Shanum menyuruh Rania untuk minum karena wajah gadis itu tiba-tiba saja memucat.
Rania menyentuh minumannya. Dia benar-benar tak habis pikir dengan apa yang terjadi, kenapa hal ini bisa terjadi padanya. Sabda mau menikahinya di saat istrinya sendiri tengah hamil.
“Aku hanya menawarimu untuk minum. Tidak ada apa-apa di dalam kopinya. Aku tidak akan melukaimu, Rania. Tidak akan pernah bisa.”
“Mbak Shanum, kamu tentu masih ingat apa yang kukatakan, kan? Aku memang memintanya untuk memberi kepastian, tapi itu sebelum aku menyadari kalian sudah menikah.”
Shanum menghela napasnya sejenak. “Tapi sekarang kamu sudah tahu, kan? Dan aku juga tahu kalau kalian belum putus. Lantas, kamu pikir aku percaya begitu saja?”
“Aku tahu, aku cuma belum menemukan waktu yang pas untuk mengajaknya bicara. Aku terlalu takut,” katanya. “Tetapi yang temanmu katakan hari itu terus mengusikku. Semua tuduhanmu, perkataan bahwa aku mengencaninya karena harta semata, itu semua tak benar. Semuanya salah. Tuduhanmu salah, Mbak Shanum, jangan pernah mengecapku sudah berlaku jahat pada Sabda. Aku mencintainya karena suatu alasan, dan dia memahaminya.”
Shanum mengerti dengan keresahan Rania, dia akan menarik praduganya tentang hal ini. Rania memang tidak berharap apa pun kepada Sabda selain cinta. Namun, apakah cinta saja cukup?
“Bukankah kamu seolah-seolah mengatakan dia bisa memberimu apa saja?”
Rania menarik napas. Kelihatan tak berdaya dengan ucapan Shanum. Percuma saja dia mengubah suaranya semanis madu, atau membuat ekspresi selembut mentega. Shanum tidak akan terpengaruh.
“Jujur saja, aku mencintai semua tentangnya. Semua yang ada padanya. Bau citrus-nya, kehadirannya, mata polos berwarna cokelatnya. Perhatiannya yang selalu melimpah dengan kasih sayang.”
Mata Shanum berembun seketika. Bohong kalau dia tidak cemburu, segala hal yang Rania ceritakan. Itu sama … sama seperti dia melihat Sabda.
“Caranya bersenandung hingga aku terlelap, membelai rambutku dengan jarinya yang indah, berbaring di tempat tidur yang sama denganku, kami sering bercerita mengenai pernikahan.”
Rania tidak bermaksud melukai Shanum, tapi dia hanya menjelaskan alasan lain kenapa dirinya mencintai Sabda, sama seperti istrinya sendiri.
Bolehkah Shanum menangis sekarang?
“Namun, pada kenyataannya kami harus sama-sama terluka. Mas Sabda sakit. Mbak Shanum, dan aku juga sakit. Ada yang tidak bisa kuterima dari hubungan ini. Aku akan memutuskan pergi darinya.”
Shanum menghapus air matanya dan menatap Rania lekat. Dia baru saja bersikap cengeng di hadapan kekasih Sabda. Ada jeda beberapa detik yang menyertai ucapan Shanum.
“Kamu mencintai suamiku?” tanya Shanum dengan berani, berusaha tegar dengan segala hal yang akan didengarnya. Meskipun agak menyakitkan.
Rania tampak terkejut dengan pertanyaan Shanum. Butuh waktu dua detik menunggu Rania menjawab ucapan wanita itu.
“Semua orang pasti mencintai kekasihnya, Mbak, tapi kurasa kami tidak bisa terus bersama, dan—“
“Tidak, aku bertanya apa kamu masih mencintai suamiku?” potong Shanum sekali lagi, sebab Rania menjawab tak sesuai keinginannya.
Rania hanya bisa terdiam sebentar, tak lama dia mengangguk.
“Masih. Itu yang selalu aku rasakan. Selalu sama.”
CINTA YANG BERAKHIR
Ada bagian yang hilang dari semesta.
Sejujurnya, semua pasti membaik. Orang bilang, waktu adalah obat terbaik untuk hati yang terluka.
Barangkali benar adanya jika ditilik dari mereka yang telah berhasil bangkit mati-matian menyeret langkah bahkan merangkak hanya untuk kembali mendapati seberkas cahaya yang muncul dari kegelapan, setelah merelakan sisa hidupnya untuk bergulat, dihajar habis-habisan oleh jalan hidup yang mengerikan.
Itu juga yang tengah dirasakan Rania. Baginya, yang menyembuhkan luka hanya dua. Waktu atau kedatangan sosok baru. Sayangnya, yang datang padanya saat ini adalah pria itu.
“Mas Sabda, kamu sudah pulang?” Rania berusaha bersikap ramah dan biasa. Ya, biasa.
Sabda tersenyum lantas berjalan mendekati Rania yang sedang duduk di sofa. Rania menunggu Sabda pulang dari kantor sekaligus berusaha untuk tetap bersikap tenang dan melupakan segala pemikiran buruknya.
Dia harus memutuskan segalanya sekarang.
“Iya, kamu menungguku? Tumben kamu di sini. Skripsimu sudah selesai?” tanya Sabda dengan tenang. Sangat tenang hingga mampu membuat kilasan-kilasan memori dalam kepala Rania melesak ke luar.
“Iya, aku menunggumu pulang.”
Rania tak pernah lupa dan tak akan pernah lupa bagaimana kedua iris cokelat itu menatapnya dengan penuh cinta dan hangat. Tidak pernah mengizinkan Rania untuk pergi. Sekarang dirinya yang harus memaksa pergi.
Rania berusaha untuk menahan rasa sakit yang tercipta dari mulut manis sosok yang dia cintai. Rania pikir semua yang Sabda katakan adalah ketulusan, tapi ternyata dia hanya sosok figuran dalam hidup Sabda.
Bagaimana tubuh kurus itu dipaksa untuk menjejalkan makanan setidaknya dua sendok setiap harinya untuk bertahan hidup, mati-matian menahan mual di pangkal tenggorokan ketika kilatan menyakitkan itu datang dan Sabda tidak ada di sana untuk merangkulnya.
Menyedihkan. Tapi kini, Rania pikir dia memang harus bicara dengan Sabda, dia tidak bisa selamanya terus berada dalam rantai ketidakpastian seperti ini. Rania selalu berharap wanita itu bahagia dengan pasangan yang seharusnya.
“Bukankah kamu bekerja? Sudah pulang atau bagaimana? Kenapa tak menghubungi?”
“Iya, aku meminta untuk pulang cepat hari ini karena ada sedikit urusan. Bagaimana kalau kita bicara empat mata?” tawar Rania.
“Ada apa memangnya?”
“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin bicara saja denganmu, Mas.”
Jelas Rania ingin memastikan kalau pria itu benar-benar sudah menikah dengan perempuan cantik seperti Shanum. Rania akan merindukan semua hal yang ada di diri pria itu.
Aroma citrus yang menguar, senyum manisnya, dan iris cokelat yang penuh kehangatan saat menatap. Pria sedingin es dan kaku, tapi penuh dengan kasih sayang. Kadang Rania sering berpikir kenapa pria itu tidak menceraikan Shanum saja jika dia benar-benar mencintainya.
“Duduklah di sini, ayo kita bicara dari hati ke hati, ya.” Rania menepuk sofa di sebelahnya. “Mumpung kamu sudah pulang. Bagaimana jika kubuatkan teh dulu?”
Sabda terkekeh mendengar ucapan kekasihnya itu. Sebuah pujian yang biasa membawa Sabda terbang menuju langit kebahagiaan, bahkan pujian Shanum tidak sampai membuatnya seperti demikian.
“Baiklah, ayo kita bicara. Apa yang mau kamu bahas? Teman-temanmu bersikap buruk lagi? Atau skripsimu tak kunjung selesai?”
Sabda seolah mengerti nyaris sebagian kehidupan Rania tanpa perlu gadis itu jelaskan. Pria itu menatap kekasihnya lekat. Sama saja bagi Sabda, wanita itu tidak berubah.
Butuh beberapa menit bagi Rania untuk membuka suara, sejak tadi dia hanya terdiam saja. Hal itu membuat Sabda heran.
“Kamu masih tidak mau bicara?” tegur Sabda karena sejak tadi gadis di depannya hanya diam.
Rania menggeleng. Masalahnya, dia tidak mungkin mengatakan tentang keputusannya untuk mengakhiri hubungan begitu saja. Dia harus memilih kata-kata yang tepat agar Sabda tidak marah.
“Perasaanmu sudah membaik? Oke kalau tidak mau cerita,” kata Sabda mulai menyerah.
“Bagaimana kalau kita putus saja? Aku merasa kita memang tidak cocok.”
Bagi Sabda, itu bukan pertanyaan, tapi lebih pada keraguan karena gadis itu terlihat tidak begitu niat mengatakannya.
Rania melipat bibirnya ke dalam. Tersenyum samar memikirkan bagaimana Sabda tampak santai menikmati hidup tanpa memikirkan pernikahannya yang sekarang.
Kalau kebanyakan orang memilih untuk menangis saat sedang tertekan atau merasa sedih. Rania justru memilih diam. Tidak ada air mata barang setetes pun. Namun, rasa sakitnya jelas membawa dampak besar.
“Ada apa, Rania? Jangan bercanda. Aku tidak suka!” Sabda mulai tersinggung.
“Aku sedang tidak bercanda.”
Sabda mulai menyadari kondisi mulai berbalik, mereka tengah serius sekarang. “Apa yang terjadi?”
“Tidak tahu.”
Sejujurnya, Rania terus mengulang pertanyaan itu sebanyak yang dia bisa. Terlebih setelah ia sadar bahwa sosok yang mengucap pertanyaan itu bukanlah siapa-siapa untuknya, tapi Sabda pun tidak pernah bertanya demikian.
“Kumohon Rania, jangan pernah mengatakan hal ini. Kita sudah berjanji akan menikah.”
“Lalu mengabaikan istrimu? Apakah seperti itu sifat asli pria yang nanti kunikahi?”
Sabda membulatkan mata, dia terkejut saat Rania berkata demikian. Apakah Rania memang benar-benar sudah mengetahui tentang statusnya yang merupakan suami Shanum? Perasaannya tak tenang, Sabda berusaha untuk menenangkan diri dan meminta penjelasan pada gadis itu. Dia yakin hanya salah dengar.
Pandangan Rania terpatri pada rintikan air hujan yang perlahan turun. Terkutuklah ramalan cuaca pada ponsel wanita itu yang tak berguna. Dia jadi tidak bisa menyiapkan baju tebal atau bahkan sekedar payung untuk pulang dari apartemen setelah mengatakan kata putus pada kekasihnya.
“Mungkin akan lebih baik kalau kita putus saja. Keadaannya menjadi semakin rumit ketika aku mengetahui semuanya. Aku tak mau merebut apa yang sudah istrimu pertahankan. Lagipula, aku kecewa padamu. Kenapa baru mengetahuinya sekarang. Kau pikir aku ini wanita macam apa?”
“Maafkan aku, Rania.”
“Tidak, lupakan!”
“Aku benar-benar minta maaf, Rania. Sebenarnya aku ingin menceraikannya saat aku sudah resmi akan menikahimu.”
Alasan yang cukup bodoh. Justru membuat Rania semakin tersakiti, tidak hanya Rania, tapi juga Shanum. Tidak ada yang tak tersakiti atas semua pilihan yang Sabda ambil. Semuanya menyakitkan.
“Maaf, aku sudah lelah dengan semuanya, Mas. Aku sudah memutuskan semuanya. Biarkan aku pergi.”
“Aku tak akan membiarkanmu pergi.”
Rania menghela napas berat, memejamkan mata sembari menahan hawa yang terus bergelayut pada tubuhnya. Beberapa detik setelahnya ia kembali menatap Sabda.
“Lalu, bagaimana dengan istrimu? Aku sudah bilang pada papa kalau rencana kita untuk menikah dibatalkan. Tenang saja, aku tidak mengatakan apa pun, aku hanya bilang kita ternyata tidak cocok. Aku yakin papa akan memakluminya.”
Rania tidak menatap Sabda sedikit pun. Tatapannya terus menjurus pada gelas berisi jus di atas meja. Berusaha menguatkan diri bahwa ini adalah jalan terbaik yang harus diambilnya.
“Aku benar-benar tak bisa melanjutkan hubungan ini.”
“Kenapa? Apa kamu sudah tidak memiliki perasaan lagi padaku, Rania? Sampai-sampai kamu tega meninggalkan Mas seperti ini?”
Rania meminum jus dalam gelas di depannya, tatapannya kini beralih pada pria di hadapannya yang tampak sangat kacau. Perasaan Sabda menjadi tak keruan. Dia kerap ketakutan dan tak bisa melepaskan Rania begitu saja. Padahal dirinya sebentar lagi akan menjadi ayah.
Kehilangan yang paling parah adalah kehilangan Rania, Sabda merasa tak siap untuk itu. Meski dia memang sedang berusaha untuk berbaikan dengan sang istri.
“Mau sampai kapan seperti ini terus? Pikirkan dirimu sendiri, pikirkan istri dan anakmu. Tolonglah ….”
Rania nyaris menangis melihat keadaan kekasihnya sekarang. Jauh dalam lubuk hatinya dia merasakan cemburu melihat pria itu hidup bahagia bersama wanita lain.
“Kenapa tiba-tiba kamu ingin selesai, kamu pikir aku bisa menerima begitu saja?” tanya Sabda gusar.
“Dengar, aku sudah benar-benar berdamai dengan semuanya. Aku tidak mempermasalahkan kalau Mas Sabda kembali pada Mbak Shanum lagi. Aku baik-baik saja.”
Tatapan pria itu kini tertuju pada Rania, sudah satu jam lebih mereka duduk hanya untuk membicarakan hal ini. Setidaknya Rania cukup lega karena Sabda hidup dengan baik, dia juga sudah sembuh dari sakitnya.
Setahunya, Sabda dan Shanum tidak tinggal satu rumah. Mereka tinggal di tempat berbeda. Itu yang Shanum ceritakan kemarin.
“Aku nggak suka lihat kamu terpuruk lama-lama kayak gini.” Rania langsung menyampaikan rasa tidak relanya atas keadaan yang tengah Sabda lewati.
Sebelah alis Sabda terangkat, Rania ditatap meminta penjelasan. “Kalau begitu, coba jelaskan bagaimana caranya membuat dirimu kembali dan tidak pergi?”
“Kamu kira aku ini biro jodoh yang bisa menyatukan orang yang sempat terpisah? Tidak, Mas Sabda. Jika itu sudah takdir Tuhan, jangan memaksanya untuk kembali. Aku tidak ingin menjadi batu sandungan untuk kehidupan kalian.”
“Tapi aku masih mencintaimu.”
“Aku tahu, tapi … saat ini dia sedang mengandung anakmu. Tidak mungkin aku membiarkannya begitu saja lahir tanpa ayah. Tolong mengertilah, Aku nggak suka jika kamu bersikap seperti ini.”
Sabda menghela napas. Dulu Rania bilang akan tetap bertahan di samping Sabda apa pun yang terjadi, sekarang gadis itu malah ingin pergi dan membiarkan Sabda terpuruk seorang diri.
“Kamu adalah calon ayah, Mas. Bukannya aku tidak peduli pada perasaanmu. Hanya saja, aku tak bisa membiarkan kalian hidup terpisah hanya karena masalah ini. Aku juga punya hati, aku bukan perempuan simpanan!”
“Beri tahu aku, kenapa kamu semudah itu meminta pisah dariku? Kita bisa menikah sebagaimana rencana awal kita.”
Sabda bersikeras pada pendiriannya untuk menjadikan Rania sebagai istri. Padahal gadis itu sudah tak lagi mau. Harga dirinya seperti jatuh berkeping-keping saat Sabda tetap memintanya untuk melanjutkan pernikahan.
Sabda mendekat, dia menatap lekat mantan kekasihnya meminta penjelasan. Bukannya menjawab, mata Rania malah berlinang mendengar pertanyaan itu. Dia tertunduk beberapa saat dengan suara yang mulai serak.
“Maafkan aku, Mas Sabda. Maafkan.”
Rania mulai terisak. Sabda bingung harus bagaimana, wanita itu menangis hanya karena sebuah pertanyaan yang Sabda berikan.
Sejujurnya Rania masih tidak percaya kalau dia sudah menjadi duri di kehidupan rumah tangga orang lain. Dia mencintai Sabda, selamanya selalu sama, tapi apa yang harus dia perbuat di posisinya yang serba salah seperti ini?
Rania tidak mau menjadi batu sandungan bagi Shanum. Menyakitkan sekali mengetahui fakta bahwa dia mengandung anak Sabda, dan tidak mungkin Rania sejahat itu menjauhkan mereka.
Secara perlahan, dia membawa wanita itu dalam pelukan, berusaha menenangkannya dengan tepukan lembut di punggung. Meskipun kerap jahat pada Sabda, Rania tetap saja punya sisi rapuh.
“Ada apa? Kenapa kamu menangis? Apakah benar aku menyakitimu sehingga kita akhirnya berpisah. Kalau memang benar. Tolong beri tahu aku semuanya,” kata Sabda masih berusaha menenangkan.
Rania melepaskan pelukan Sabda, tatapannya beralih pada pria itu. Dia menatapnya dengan sorot penuh kesakitan.
“A-aku … aku ….” Rania sedikit terbata. Sabda tetap sabar menunggu penjelasan Rania selanjutnya.
“Aku tak mau menjadi duri dalam pernikahanmu. Mungkin dulu aku memang ingin menikah denganmu, tapi itu sebelum aku mengetahui semuanya.”
Sabda terdiam, kali ini dia benar-benar bingung harus bagaimana. Hatinya tidak bisa bohong kalau dia merindukan Shanum, tapi di sisi lain dia juga tak mau Rania pergi.
Rania tidak bisa bertahan dalam sandiwara seperti ini, dia sudah tahu semuanya. Menyakitkan memang, dia sudah berpikir ribuan kali sebelum bertemu Sabda. Hal apa yang akan dia katakan nanti kalau mereka bertemu. Pada akhirnya putus menjadi pilihan terbaik agar mereka tak terlalu berharap.
“Aku bertemu dengan Mbak Shanum hari itu, kulihat dia perempuan yang sempurna. Aku penasaran kenapa Mas bisa tega berselingkuh terang-terangan di depannya. Padahal Mbak Shanum baik.”
Sabda ingin sekali menghentikan ucapan Rania tentang Shanum, wanita itu tidak tahu apa pun tentang istrinya. Kenapa tiba-tiba dia membahas hal ini?
“Berhenti bersikap seolah kamu mengenalnya, Rania.”
“Aku mengenalnya, Mas. Mungkin aku hanya mengenalnya secara kebetulan. Kami hanya bicara satu jam saja, tapi dari situ aku bisa tahu seperti apa dia.”
Rania berusaha untuk terlihat tegar. Dia bahkan mengabaikan tatapan Sabda yang begitu tajam dan menusuk. Sabda tidak suka ada nama Shanum yang hinggap di tengah pembicaraan mereka.
“Aku melihatnya sebagai perempuan yang baik, dia tidak pernah membicarakan hal buruk tentang siapa dirimu. Dia yang cukup dewasa menghormati keputusanmu, yang mau merelakan cintanya atas kehendakmu meskipun hatinya menderita dan seseorang yang berbesar hati melepaskanmu meskipun dia terluka, itu yang kulihat dari diri Mbak Shanum, Mas.”
Bersambung… AMARAH ORANG TUA
“Sabda!!”
Tiba di rumahnya sendiri, Wiratama tak dapat menahan gelegak emosi yang sejak tadi berusaha dipendam. Begitu mobil yang dikendarai sang sopir tiba di parkiran halaman rumah beliau, Pak Wira turun sembari membanting pintu. Diana hanya menggelengkan kepalanya. Beliau juga marah, tapi amarah beliau tidak ditunjukkan seperti apa yang suaminya lakukan.
Meskipun Shanum sudah berusaha untuk menutupi keretakan rumah tangganya dari keluarga suaminya, tapi tetap saja badai itu berembus sampai ke telinga mereka. Kabar Shanum yang ingin bercerai, secepat kilat menyebar ke telinga setiap keluarganya. Termasuk orang tua Sabda.
Pak Wira yang mengetahui lebih awal hal itu bergegas memanggil anak dan menantunya ke rumah untuk melakukan pembicaraan. Semua akibat ulah yang dilakukan Sabda. Lelaki itu tidak menyangka putranya akan memperlakukan sang menantu seperti ini.
Betapa inginnya Pak Wira mengamuk dan memukul Sabda habis-habisan jika beliau tak ingat bahwa putranya itu bukan lagi anak kecil yang pantas diperlakukan demikian. Pak Wira ingat, bahwa Sabda sudah memiliki istri, dan Pak Wira tak ingin membuat Sabda malu atau merasa rendahan di mata istrinya sendiri.
Melihat kemarahan sang Papa mertua yang sangat menyeramkan, Shanum memucat. Baru sekarang Shanum melihat mertuanya tersebut dalam mode paling menyeramkan ketika sedang marah. Diana meremas tangan menantunya supaya tetap tenang. Anehnya, meskipun Pak Wira tengah emosi, Sabda tetap menunjukkan riak santai. Mungkin dia sudah terbiasa melihat papanya marah semenyeramkan itu.
Brak!
Kali ini Pak Wira melemparkan tas kerjanya ke atas meja ruang keluarga hingga menimbulkan suara derakan keras. Semua orang tak ada yang berani bersuara.
“Kamu pikir apa yang kamu lakukan, Sabda! Mau sampai kapan kamu mempermalukan keluarga ini? Papa tidak pernah menyangka kamu bisa melakukan hal kotor seperti ini pada istrimu sendiri. Kamu sudah bosan jadi anak kami? Jika iya, kamu bisa pergi dari rumah ini dan jangan pernah memunculkan diri di hadapan kami lagi!” marah Pak Wira.
Wajah lelaki paruh baya itu memerah akibat ledakan emosi. Susah payah dia mempertahankan harga diri keluarganya di mata publik, ketika putranya sendiri membuat skandal perselingkuhan. Hal itu tak bisa ditolerir lagi.
“Pa.”
Sabda tidak percaya jika papanya tega berkata demikian terhadapnya. Akibat teriakan dan amarah Pak Wira yang tak terkontrol, para pelayan rumah saling bersembunyi dan berhenti menguping dari arah dapur. Mereka semua takut akan terkena imbas kemarahan tuan besar yang sedang tak terkendali.
“Papa memberimu jabatan dan kepercayaan di perusahaan karena kamu anak sulung di keluarga ini. Kami sudah menaruh harapan besar padamu, Sabda. Tapi lihat sekarang, gara-gara kebodohan yang kamu lakukan, perusahaan dan keluarga kita terkena imbasnya. Apakah seperti ini caramu membalas budi pada orang tua?”
“Bukan begitu, Pa. Papa dengerin alasan Sabda dulu.”
“Halah, alasan!” Pak Wira berdecih.
Sabda berusaha menjelaskan, tapi sang papa sama sekali tak memberikannya kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Apa yang pria itu lakukan sudah sangat fatal. Pak Wira sudah kehabisan kesabaran menghadapi skandal memalukan tersebut.
“Papa nggak butuh penjelasan busukmu lagi. Sudah cukup kamu bikin keluarga dan perusahaan kita dipandang buruk oleh orang-orang di luar sana. Sebenarnya apa yang kau cari? Apakah satu istri tidak cukup untukmu, sampai hati kau berselingkuh? Mau ditaruh di mana muka Mama dan Papa, Sabda?” Napas Pak Wira naik-turun.
Shanum tak bisa menengahi pertengkaran antara ayah mertua dan suaminya sendiri. Mereka memiliki kemiripan yang sama. Sama-sama tidak mau mengalah dan keras kepala. Shanum pun tidak tega melihat Sabda dimarahi habis-habisan seperti itu oleh ayahnya sendiri. Meskipun Sabda bukan suami yang baik untuknya, tapi Shanum tidak bisa melihatnya diperlakukan serendah ini oleh orang tua pria itu.
“Papa menjodohkan kamu dengan Shanum bukan hanya untuk memperkuat hubungan kekeluargaan dengan Tirta saja. Lebih dari itu, kami ingin kalian bisa belajar satu sama lain. Papa sudah sangat yakin kalau Shanum bisa membimbing kamu sebagai pria yang sukses dan bertanggungjawab, tapi apa yang terjadi sekarang? Kamu melakukan hal murahan di belakang istrimu? Apa yang kamu pikirkan, Sabda?”
Sabda terdiam, dia tahu dirinya salah karena sudah menyakiti Shanum dan itulah salah satu alasannya tak bisa menceraikan Shanum. Lebih karena dia adalah harapan keluarganya, tapi haruskah Sabda terus memaksakan diri untuk menerima di saat hatinya tak saling menginginkan?
“Sekarang dia sudah meminta cerai, kamu pikir kami akan menerima begitu saja keputusan kalian untuk bercerai? Kalau sejak awal kalian bilang tidak saling mencintai, papa dan mama tidak akan memaksa kalian untuk bertahan sampai sejauh ini!”
Pak Wira masih dengan emosinya yang meledak-ledak. Shanum menenangkan Diana yang menangis, beliau sedih karena kehidupan rumah tangga putranya ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Lebih dari itu, dia sedih melihat nasib Shanum yang begitu menderita selama menikah dengan putranya. Namun, wanita itu seakan bersikap seolah tak terjadi apa pun.
“Pa. Apa yang Papa lakukan padaku itu sudah kelewatan, Pa. Aku ini anak kalian, bukan boneka mainan yang bisa kalian atur begini-begitu. Kalian yang tetap berkeinginan menjadikan Shanum sebagai istriku. Bahkan kalian mengatur perjodohan itu tanpa membicarakan lebih dulu denganku. Sekarang, saat semuanya sudah memanas, kalian tetap mau menyalahkanku juga? Aku menikahi dia karena Papa. Aku bahkan tak pernah mau menyentuh Shanum sama sekali, tapi begitu aku teringat bahwa kalian menginginkan kehadiran seorang cucu. Aku menyanggupinya. Semua yang aku lakukan pada Shanum itu karena ulah kalian. Semua karena permintaan konyol kalian. Aku nggak pernah berkeinginan menyakiti Shanum. Papa yang telah membuat Shanum tersakiti.”
Sabda meninggikan suara di hadapan orang tuanya. Napas pria itu naik-turun tak beraturan. Segala emosinya tercurah pada orang tuanya yang terlalu banyak menuntut. Cukup lama mereka bersandiwara tentang rumah tangga yang bahagia hanya demi kebahagiaan orang tuanya terpenuhi, meskipun harus mengorbankan banyak hati.
Semua orang terdiam mendengar ucapan Sabda, air mata Shanum juga menetes begitu saja. Kenapa rumah tangganya serumit ini? Apakah benar berpisah adalah salah satu jalan terbaik untuk mereka?
Shanum ingin sekali menampar Sabda dan berhenti berkata demikian pada orang tuanya. Dia ingin waktu berhenti begitu saja, dia ingin Sabda menarik lagi ucapannya. Bahwa semua itu tidak benar, bahwa meskipun Shanum menderita. Dia tetap pernah dibahagiakan oleh suaminya.
Diana dan Pak Wira seolah tersadarkan oleh segala perkataan penuh amarah dari Sabda. Selama ini beliau tidak pernah memikirkan dampak dari perbuatannya. Segala paksaan yang harus Sabda jalankan telah membuat putranya tersebut tersakiti. Tak hanya sang putra, bahkan Shanum juga turut menerima kesakitan itu.
Apakah salah jika selama ini beliau menginginkan sesuatu yang terbaik untuk putranya tersebut?
Cairan bening menggenang di pelupuk mata Diana. Beliau menghela napas, lantas mengusap air matanya sebelum bergulir jatuh membasahi kedua pipinya yang mulai berkerut.
Shanum menatap Diana dengan iba. Dia tidak menginginkan hal ini terjadi, tapi mau bagaimana lagi, Sabda sudah membuat orang tuanya terluka.
“Sudah cukup, Pa. Berhenti mendebat putramu,” kata Diana tiba-tiba. Wanita itu menghela napas sebelum berkata.
“Jika itu inginmu, mama dan papa akan berhenti ikut campur. Jika kamu ingin melanjutkan hubunganmu dengan wanita lain, silakan. Jika dulu kami yang pertama kali mempertemukanmu dengan Shanum, maka kali ini kami juga akan mengakhirinya. Kami setuju jika kalian bercerai. Setelah ini, jangan berharap bisa menemui Shanum lagi. Jika kamu nggak bisa bersikap baik pada Shanum, ceraikan dia. Ingat satu hal, menantu perempuan Mama hanya satu orang, yaitu Shanum. Tidak ada yang lain.”
Shanum dan Sabda terkejut mendengar suara Diana. Wanita itu memilih untuk bangun dari sofa dan berjalan menuju kamar. Kepergiannya menjadi akhir dari segalanya. Sabda berpikir, apakah keputusan yang diambil adalah jalan terbaik?
PERKELAHIAN
Semenjak mengetahui kenyataan bahwa orang tua Sabda mendukung keinginan Shanum untuk cerai, Shanum tak pernah mengharapkan kembalinya sang suami ke dalam hidupnya. Dua bulan kembali berlalu, kata ‘cerai’ juga belum ia terima dari Sabda. Kehidupan pernikahannya tengah digantung.
Akhir-akhir ini pula, Shanum selalu mengkhawatirkan Sabda. Jangan kira dia tak pernah peduli dengan pria yang selalu menyakitinya itu.
Shanum bahkan selalu memikirkan Sabda setiap saat meskipun dia yakin pria itu tidak memikirkannya atau mungkin saja sedang berusaha membujuk Rania agar kembali bersamanya.
Kadang Shanum juga cemas dengan kesehatan pria itu. “Apa Sabda sudah makan? Apa dia makan dengan baik? Apa dia menjaga kesehatan dengan baik?”
Terlepas dari Sabda yang selalu bersikap kurang ajar dan tipikal lelaki brengsek, Shanum masih sah menjadi istrinya dan tentu saja wanita itu selalu mengkhawatirkan Sabda. Sebuah nama yang selalu membuat Arsa cemburu.
“Sebaiknya kamu berhenti mencemaskan suami tidak tahu diri itu, cemaslah pada kondisi anakmu sekarang. Ibunya terlalu sering banyak pikiran,” kata Arsa seraya memotong buah apel di tangannya.
Alasan Arsa bisa berada di rumah Shanum karena beberapa saat yang lalu dia berkunjung ke rumah untuk mengantarkan roti pesanannya. Pria itu mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak ada jawaban. Mengingat Shanum sedang hamil, pria itu memaksakan diri untuk masuk ke dalam begitu saja.
Saat pria itu masuk ke rumah, dia melihat Shanum tampak kesusahan berdiri dan butuh bantuan karena perutnya yang sudah tampak membesar. Saat itu di rumah sedang tidak ada orang. Akhirnya Arsa turun tangan untuk membantu.
“Aku tahu, kayaknya ini bawaan hamil, aja, ya.” Shanum beralasan.
Arsa hanya bisa tersenyum getir. Pria itu sudah tahu tentang Sabda. Semua yang pernah pria itu lakukan, Arsa tahu. Dia juga bilang pada Shanum bahwa, Arsa akan memukul Sabda jika suatu saat mereka bertemu.
Ada rasa tidak rela saat melihat wanitanya disakiti dan parahnya lagi, orang yang menyakiti tersebut adalah suami wanita itu sendiri.
“Tak ada yang boleh menyakitimu. Kalau saja aku tahu perlakuannya padamu memang seburuk ini, aku sudah memukulnya dari dulu.”
Tentu saja Shanum tak akan mengizinkan Arsa untuk membuat Sabda babak belur. Seburuk apa pun pria itu, Sabda tetaplah suaminya. Terlebih gugatan cerai itu tak kunjung didapatkan. Dua bulan tanpa kepastian, selama itu pula Shanum tak mengetahui kabar Sabda, dia seolah hilang ditelan bumi.
Shanum justru bersyukur karena masih ada yang peduli padanya. Di tengah keadaan rumit seperti sekarang, Shanum dikelilingi orang-orang baik.
“Makan buah ini, ingat. Kamu harus sehat dan kuat. Kamu tidak boleh sedih terus, katanya anak dalam perut bisa merasakan kesedihan ibunya juga.”
Arsa menyodorkan buah yang sudah dipotong sedemikian rupa ke hadapan Shanum. Dia ingin sekali menggantikan posisi Sabda di hati wanita itu. Andai bisa, pria itu akan menjaganya sepenuh hati.
“Terima kasih, bukankah kamu harus pergi bekerja, Sa? Kenapa masih repot-repot menjagaku di sini?”
“Aku Cuma sedikit khawatir ngeliat keadaan kamu, kalau aku pergi nanti kamu jatuh, gimana?”
“Ayolah, pergi kerja sana. Aku masih punya adik laki-laki yang bisa kujadikan babu.” Shanum mengusir.
“Baiklah, tapi habiskan dulu ini biar bayimu sehat. Atau kamu mau kubelikan yang lain? Bilang saja, ya? Aku akan mencarikannya untukmu.”
Arsa dan seribu perhatiannya. Sebenarnya Shanum tidak mau makan buah, dia ingin yang lain. Lebih tepatnya wanita hamil itu sedang mengidam dan hal paling menyebalkan yang tengah Shanum alami sekarang adalah; dia mengidam sesuatu yang tak mungkin didapatkan.
Sialnya, dia malah mengidam melihat Sabda sekarang. Dia ingin bertemu pria itu.
Bukankah itu tidak mungkin?
Shanum bisa saja meminta Arsa untuk membelikannya sesuatu, tapi jika dia meminta Sabda? Memangnya Arsa akan menurutinya?
“Ayo Sha, sedikit saja.”
“Nanti saja. Aku pasti habiskan.”
“Selalu saja seperti itu, ayo, Sha. Nanti aku-”
Dengan posisi mereka yang masih berada di ruang tamu, Arsa menghentikan ucapannya saat mendengar bel rumah Shanum yang berbunyi. Sepertinya ada tamu, mereka saling pandang sejenak.
“Sepertinya ada tamu,” kata Shanum.
“Biar aku yang memeriksa. Susu dan buah itu harus sudah habis saat aku kembali, ya?” ancam Arsa yang langsung berdiri dan pergi ke depan untuk membuka pintu.
Shanum tidak mau, dia masih mengidam ingin melihat Sabda. Meskipun rasanya akan sangat mustahil, dia benci pria itu, tapi Shanum tidak bohong kalau dia merindukannya.
Arsa berjalan menuju pintu dan membukanya, pria itu terkejut saat mendapati seseorang yang tengah berdiri tepat di hadapannya saat ini, bukannya menyambut tamu itu dengan senyuman, Arsa justru menatapnya tajam.
Meskipun baru bertemu sekali di toko saat itu, tapi Arsa masih ingat jelas wajah pria yang ada di depannya saat ini. Itu pria tak tahu diri yang selalu menyakiti Shanum. Sabda datang ke rumah wanita itu saat Arsa juga sedang berada di sana.
“Kau siapa? Mana Shanum?”
Sabda merasa asing dengan pria di hadapannya, padahal mereka sudah pernah bertemu sebelumnya, tapi Sabda tidak ingat sama sekali, dia terlalu acuh. Dia memang mudah lupa dengan hal kecil seperti itu.
“Kenapa kamu mencari Shanum?”
Sebelah alis Sabda terangkat. “Kenapa? Aku suaminya dan dia istriku.”
“Istrimu? Kamu yakin? Sepertinya kau salah alamat, Bung. Pergilah. Dia tak ada di sini.”
Ucapan Arsa yang barusan sukses membuat pria yang mengaku sebagai suami Shanum menatapnya tajam. Sabda sangat yakin, dia tidak salah rumah. Shanum tinggal di rumah ini semenjak pergi dari rumah Sabda. Dia ingin menemui istrinya bukan ribut dengan pria di hadapannya. Lagi pula ini bukanlah urusannya.
“Memangnya apa urusanmu?” tanya Sabda dingin.
“Jelas ini urusanku. Jika kamu datang ke sini untuk menyakiti Shanum lagi, kau pikir aku akan diam saja? Mau kau suaminya atau siapa pun aku tak peduli. Kau menyakitinya dan kau berurusan denganku.”
Mata Sabda memanas, tangannya mengepal. Mendengar ucapan Arsa yang cukup menantang emosinya menggelegak. Siapa pria ini? Berani-beraninya dia mendekati Shanum.
“Tak usah banyak bicara, di mana istriku?!”
“Kau salah rumah, Bung. Pergilah.”
“Ini rumah Shanum, brengsek!”
“Dia tak ada-”
Sebelum Arsa menuntaskan ucapannya, tiba-tiba saja Sabda mendorong pria itu lumayan keras. Sabda mencoba masuk tapi tentu saja pria itu kembali menahan Sabda untuk tetap di sana.
“Minggir!”
“Aku tak akan membiarkanmu bertemu dengannya!”
Shanum yang berada di dalam langsung terenyak mendengar suara gaduh dari pintu depan. Arsa belum kembali dari tadi. Shanum mulai berpikir, apa yang terjadi di depan kenapa terdengar suara keributan.
Hal itu membuat Shanum beranjak dari kursi untuk melihat siapa yang sedang Arsa temui. Begitu sampai di depan pintu, Shanum terkejut menyaksikan apa yang terjadi. Arsa dan Sabda saling dorong satu sama lain.
Melihat itu juga Shanum sedikit tak percaya karena ternyata di sana ada suaminya. Sabda, pria itu benar-benar datang.
“Hey, berhenti! Apa yang sedang kalian lakukan?”
Suara keras Shanum membuat kedua pria yang saling dorong itu otomatis berhenti dan menatap pada satu titik. Pandangan mereka tertuju pada Shanum.
Saat Sabda lengah, Arsa mendorong pria itu sampai terhuyung ke belakang. Sabda marah karena Arsa mendorongnya secara tiba-tiba.
“Kenapa kalian ribut-ribut di sini?”
“Shanum, apa yang kamu lakukan dengan pria ini!”
Sabda berteriak penuh emosi sambil menunjuk Arsa dengan jarinya. Hal itu membuat Shanum ketakutan.
Sabda memang sering berteriak pada Shanum setiap kali mereka bertengkar, tapi kali ini Shanum ketakutan saat mendengar suara itu. Seolah-olah yang berada di hadapannya sekarang bukanlah Sabda.
Tentu saja Sabda marah karena melihat sosok Arsa berada di rumah wanita itu saat dirinya masih berstatus sebagai suami Shanum. Dia bersikeras memperbaiki semuanya, tapi yang pria itu lihat sungguh di luar dugaan. Apakah Shanum tengah membalas rasa sakit hatinya pada Sabda dengan cara seperti ini?
“Bisakah kau tak berteriak? Istrimu tidak tuli. Dia ketakutan mendengarmu berteriak seperti itu.”
Seolah tak menghiraukan Arsa, kini Sabda melangkah masuk menghampiri Shanum, dan detik itu juga dia langsung menarik kasar tangan sang istri.
“Mas, sakit!”
“Ayo kita pergi, Sha. Kita harus bicara!”
Melihat Shanum yang kesakitan karena tangannya ditarik paksa oleh Sabda, Arsa merasa tak terima, dia pun langsung menahan bahu Sabda.
“Kau pikir kau mau ke mana, huh?”
“Ini bukan urusanmu!” Sabda kembali menarik Shanum, tapi Arsa juga kembali menahannya.
“Setidaknya tak usah menariknya seperti itu!”
Arsa sebenarnya tak masalah jika Sabda membawa Shanum karena dia tahu bahwa pria itu adalah suaminya, tapi bisakah dia tak menarik tangan sang istri sekasar ini?
Terlebih kondisi Shanum tengah hamil dan lemas, apakah pantas pria seperti Sabda disebut sebagai calon ayah bagi bayi yang dikandung Shanum?
“Kenapa? Kau keberatan?”
“Ya, aku keberatan. Kau tak bisa memperlakukannya seperti itu! Dia sedang hamil!”
Jantung Sabda terasa diremas, dia lupa dengan keadaan Shanum saat ini dan Arsa baru saja menyadarkan pria itu. Mengingat Shanum tengah hamil, hatinya sedikit tertohok.
Shanum menarik tangannya dari cengkeraman tangan Sabda. Dia mulai bersembunyi di belakang tubuh Arsa. Sabda tampak sangat mengerikan ketika marah. Shanum yang biasanya sering membalas sikap temperamen Sabda, mendadak tak punya nyali sedikit pun untuk melawan yang dia lihat hari ini sepertinya orang lain.
“Pergi, aku tak mengenalmu. Kamu bukan Sabda. Keluar!” Shanum mengusir dengan wajah ketakutan.
“Sha, jadi begini maumu? Berpisah denganku agar kau bisa bersama dengan pria ini. Itu yang kamu mau?” tanya Sabda berusaha menahan rasa kesal di hatinya.
Sabda mulai berpikir, selama Shanum tak bersamanya, dia bermain dengan pria ini? Atau bahkan jangan-jangan sudah dari lama?
Apakah ini artinya Shanum juga sudah lama selingkuh di belakangnya?
“Kau dengar ucapan Shanum? Sebaiknya kau pergi. Atau kami akan panggil satpam untuk menyeretmu keluar?” usir Arsa dengan tatapan tajam dan menusuk.
Rahang Sabda tiba-tiba mengeras, pria di depannya seolah tak berhenti ikut campur. Sabda heran, apa urusannya dengan mereka. Shanum masih istrinya, dia berhak bicara dengan wanita itu, tapi Arsa bersikap seolah dia memiliki hubungan dengan wanita ini.
“Berhenti ikut campur!”
Suaranya benar-benar menakutkan. Salah satu alasan Shanum meminta Arsa pergi karena hal ini, dia takut akan ada banyak orang yang salah paham. Sekarang pun demikian, Sabda menganggap kedekatan mereka itu lain.
Perlakuan Sabda selanjutnya membuat Shanum maupun Arsa terkejut, pria itu mencengkeram kerah baju Arsa dengan kuat dan kasar.
“Hey, lepaskan!” Arsa berteriak lantang.
Shanum bisa melihat kilatan amarah dari sorot mata pria itu. Sabda menyeret Arsa keluar dari rumah, seolah bersiap untuk menghajarnya sampai babak belur.
“Kau! Kau mau berurusan denganku?”
Sabda diliputi kemarahan, dia menatap Arsa dengan tatapan tajam dan penuh amarah, seolah siap menghabisinya.
“Mas Sabda, hentikan! Apa yang kau lakukan?”
Arsa pun sama saja, dia tak bisa menahan emosinya, tapi dia menahan diri agar tak membuat keributan, Arsa takut Shanum panik atau ikut terluka karena keributan ini. Cukup lama Arsa terdiam sampai akhirnya Sabda memukulnya sampai tersungkur ke lantai.
“Kau berselingkuh di belakangku sejak lama dengan pria ini? Jadi ini maumu, Shanum? Kau mengkhianatiku, tapi bersikap seolah aku yang salah. Apa maumu ha?!”
Shanum mengalami hal ini lagi. Sabda kembali menyakiti tanpa mengetahui kebenarannya. Apa dia pernah mengatakan jika Arsa adalah selingkuhannya? Shanum merasa tidak pernah berselingkuh, pikiran Sabda sendiri yang terlalu berlebihan sehingga menuduhnya telah berselingkuh dengan Arsa.
“Hentikan, Mas! Berhenti bicara omong kosong!”
Ucapan Shanum tak digubris, selanjutnya kedua pria itu malah saling terlibat adu jotos. Terlebih Sabda yang merasa tak terima jika Arsa mengusirnya.
Shanum hanya bisa menangis dan berusaha melerai Sabda karena terus memukuli Arsa yang sulit melawan.
“Mas Sabda, hentikan!” Shanum susah payah menahan tubuh pria itu. “Mas!” Pria itu masih tak mau mendengar.
“Mas Sabda hentikan! Kau menyakitinya!”
“AKU AKAN MEMBUNUHMU!”
Shanum yang tak tahan melihat Arsa terus dipukuli oleh Sabda masih terlihat panik. Dia tak tahu bagaimana cara menghentikan suaminya yang membabi buta dan terus memukuli Arsa tanpa ampun.
Dia tak pernah berpikir untuk selingkuh dari Sabda, Arsa bahkan tak pernah melakukan apa pun padanya. Bagaimana bisa Sabda menuduh istrinya berselingkuh dengan lelaki lain?
“Mas Sabda, kumohon hentikan!”
Sabda yang emosi melihat istrinya dekat dengan lelaki lain dan Arsa yang tidak terima melihat Shanum diperlakukan secara kasar. Kedua pria itu seolah bertarung memperebutkan sesuatu yang memang tidak seharusnya menjadi bahan rebutan.
“KALIAN BERDUA, TOLONG BERHENTI!” jerit Shanum murka. Tatapan tajamnya kini mengarah pada Sabda. “Bagaimana bisa kau menuduhku berselingkuh sedangkan anak yang sedang kukandung ini adalah darah dagingmu!”
Napas Shanum tersengal, dia memberanikan diri untuk berteriak pada Sabda. Teriakan nyaring Shanum berhasil membuat Sabda teralihkan, dia yang tadinya akan memukul Arsa kembali, otomatis berhenti.
“Kenapa kamu tak bertanya pada dirimu sendiri apa yang sudah kamu lakukan padaku? Kamu yang terang-terangan masih mencintai kekasih simpananmu itu. Arsa bahkan tak pernah melakukan apa pun padaku! Kenapa kamu menuduhku berselingkuh?!”
Shanum tak tahu apa yang ada di pikiran Sabda sampai hati dia menuduh istrinya berselingkuh dengan Arsa. Padahal pria itu tak pernah macam-macam padanya.
“Dia selalu menjagaku, Mas, dan bayi yang aku kandung bukan anaknya! Tapi anakmu!”
Bersambung… PRE-EKLAMSI
Aku tidak mengerti apa masalahmu sampai tega menuduhku berselingkuh. Kami hanya teman biasa, dia datang karena aku memesan sesuatu darinya, itu tidak seburuk pikiranmu, Mas!”
Shanum mulai membentak Sabda karena amarahnya sudah tak bisa ditahan lagi. Sejak tadi dia ketakutan melihat pria itu terus memukuli Arsa tanpa ampun. Seolah Shanum sudah kepergok berselingkuh di belakangnya.
Shanum tidak pernah kepikiran untuk berselingkuh di belakang suaminya. Meskipun sebenarnya dia bisa, tapi Shanum bukan wanita yang akan membalas rasa sakit hati dengan cara murahan seperti itu.
“Berhenti menuduhku berselingkuh. Katakan saja mau apa kamu kemari? Kamu mau membuat keributan? Kamu ini gak pernah bosan bikin aku sakit, ya? Setelah apa yang kamu lakukan tempo hari, kamu masih gak puas liat aku menderita?”
Shanum marah, emosinya tersulut. Matanya memerah dan berkaca-kaca, susah payah dia menahan diri untuk tak menangis di hadapan pria yang sudah berkali-kali menghancurkan harga dirinya. Shanum benci Sabda, tapi entah kenapa dia selalu merindukannya.
“Ada hal yang mau kubahas sama kamu, Sha. Ayo kita bicara baik-baik dan selesaikan berdua!” Sabda melepaskan Arsa begitu saja dan mendekati Shanum.
“Jangan menyentuhku!” Shanum mundur beberapa langkah. “Justru kamu yang gak bisa diajak bicara baik-baik sejak tadi, sekarang kamu mau ngajak aku bicara baik-baik? Lebih baik kamu pulang aja, aku gak mau ngomong sama kamu!”
Sabda kembali kehilangan kesempatan untuk bicara dengan Shanum karena pertikaiannya dengan Arsa. Shanum sudah telanjur marah melihat keributan yang terjadi. Wanita itu langsung mengusirnya tanpa memberikan Sabda kesempatan.
“Sha—“
“Tolong, mulai sekarang jangan ganggu aku dulu, Mas. Aku sedang sakit. Jika kamu gak bisa bikin aku tenang, setidaknya tolong jangan nambah rasa sakitku, Mas. Aku lelah menghadapi pernikahan yang rusak ini. Semuanya gak pernah bener buat kita. Atau mungkin benar apa yang mama katakan, sebaiknya kita cerai aja.”
Tangan Sabda mengepal, bukan ini yang dia inginkan. Tujuannya datang ke rumah Shanum tak lebih untuk mengajak wanita itu berdamai, tapi kehadiran Arsa telanjur membuat emosinya tersulut. Untuk ke sekian kalinya Sabda kehilangan kesempatan lagi.
***
“Ibu sering marah, ya?”
“Eh, memangnya kenapa, Dok?”
Pertanyaan dari dokter kandungan itu cukup membuat Shanum salah tingkah. Dia sempat melirik Sinar, menebak jika wanita itu yang menceritakan segala kebiasaannya pada dokter tersebut.
Sinar menggeleng ketika dia merasa ditodong oleh sahabatnya, dia merasa tak mengatakan apa pun pada dokter di depannya. Mengerti maksud tatapan bingung si pasien, dokter tersebut tersenyum.
“Saya bertanya karena tekanan darah ibu cukup tinggi. Dari awal, saya sudah mengatakan pada ibu untuk menjaga emosi dan juga pola makan. Hal itu dikakukan untuk menghindari pre-eklamsia. Ini komplikasi yang berpotensi cukup berbahaya bagi kehamilan. Jika terus dibiarkan bisa bahaya bagi ibu maupun si bayi dalam perut ibu.”
Penjelasan sang dokter membuat Shanum sesak napas. Niatnya pergi ke dokter untuk periksa kehamilan malah mendapat kabar yang kurang baik. Memang benar, selama kehamilan Shanum sulit mengontrol emosi. Hal itu membuatnya sering jatuh sakit dan kelelahan.
Shanum spontan memegang perutnya. Mendengar pernyataan dokter, dia jadi cemas.
“Ciri-ciri selain tekanan darah tinggi, apa lagi, Dok? Saya takut mengalaminya sekarang.”
Dokter hanya tersenyum. Beliau kemudian menjelaskan pada wanita hamil tersebut mengenai gejala yang ditimbulkan.
“Ciri-ciri selain tekanan darah tinggi, juga bisa dilihat ketika si ibu sering mengalami sesak napas, sakit kepala berkepanjangan, berkurangnya volume urine, gangguan penglihatan, mual, dan muntah meski usia kehamilan sudah melewati trisemester pertama, nyeri pada perut bagian atas, pembengkakan pada telapak kaki, pergelangan kaki, wajah, dan tangan.”
Mendengar penjelasan Bu dokter, Shanum kembali menghela napas, beberapa hal yang disebutkan dokter sedang dialaminya saat ini. Shanum jadi benar-benar khawatir.
“Beberapa yang dokter sebutkan, saya sedang mengalaminya saat ini.”
“Maka dari itu, turuti semua saran yang saya berikan. Bila perlu, Ibu jangan melakukan aktivitas apa pun. Karena jika ibu sempat menderita pre-eklamsia, akan menghambat laju pertumbuhan janin dan komplikasi lainnya.
Untuk mengetahui lebih dalam, saya akan melakukan beberapa pemeriksaan. Pertama kita akan USG, habis itu periksa darah, analisis urine, dan NST. NST dilakukan untuk mengukur detak jantung janin saat bergerak dalam kandungan.”
Dokter memberikan saran pada Shanum, wanita itu hanya bisa menuruti semua yang dokter jelaskan.
“Lakukan saja apa yang terbaik menurut dokter.”
Shanum menyanggupi tanpa pikir panjang. Demi bayinya, dia akan melakukan apa pun. Shanum tentu saja tidak mau kehilangan anak yang tengah dikandungnya susah payah dan sudah menemani sang mama dalam keadaan sulit sekali pun.
***
“Setelah ini diam saja, Sha. Jangan mondar-mandir apalagi kelelahan. Kamu bisa minta bantuanku kalau perlu.”
Sinar memulai tausiahnya usai keluar dari ruangan sang dokter. Sahabatnya itu dipapah menuju mobil karena kakinya masih terasa sakit, tapi sebelum itu mereka harus menebus obat terlebih dahulu.
“Aku bosan rebahan terus.”
“Itu demi keponakanku, Sha. Lakukan apa yang dokter suruh.”
Shanum merasa benar-benar tersiksa di kehamilan pertamanya ini. Suami pergi entah ke mana, kondisi kesehatan yang menurun, pre-eklamsia, dan segala hal-hal rumit lainnya benar-benar membuat Shanum kewalahan.
Meski janin dalam perutnya telah memberikan izin untuk beraktivitas seperti biasa, tapi tetap saja ada hal yang tak bisa wanita itu lakukan. Seperti mencium aroma bumbu dapur yang menyengat, parfum, wangi sabun, sampo, dan aroma mencolok lainnya.
Ibunya bilang, anak yang dikandung Shanum pasti laki-laki. Yah, Shanum tidak begitu memikirkan hal tersebut. Harapan Shanum sekarang adalah anak yang tengah dikandungnya lahir dan tumbuh dengan sehat.
Meski tanpa ayah.
“Apa nggak sebaiknya kamu dirawat aja dulu di rumah sakit, Sha?” Sinar mencoba bernegosiasi dengan Shanum.
Dia melakukannya demi kebaikan wanita itu sendiri dan juga bayinya. Namun, ketika melihat penolakan Shanum, wanita itu mengalah. Sebaiknya dia harus menjaga perasaan Shanum demi kesehatan wanita itu juga.
“Aku tidak berselera jika harus menghabiskan waktu di rumah sakit dan hanya rebahan setiap hari. Kita pulang saja.”
Padahal Sinar tidak memaksa Shanum untuk rawat inap, tapi jawaban wanita itu disertai gelegak emosi. Seolah Sinar baru saja berbuat kesalahan.
“Dokter ‘kan Cuma pesan tetap harus bed rest. Nggak boleh capek-capek. Istirahat total, tapi nggak harus baring terus. Perawatan dilakukan seperti keinginan aja. Tapi, tetap harus dijaga dengan baik. Soal makanan dan minuman bernutrisi seperti biasa, katanya kamu juga gak perlu diet ini dan itu.”
Shanum tampak mengeluh di akhir. Bukannya Shanum tidak bersyukur dengan kehamilannya sekarang ini, tapi kondisinya yang mengkhawatirkan membuat Shanum selalu ingin menyerah.
“Nggak usah mikirin berat badan kalo lagi hamil. Jangan lupa minum vitamin, itu harus diminum secara teratur, ya. Eh, darah tinggi biasanya identik dengan garam, ya? Tapi, kata dokter, kamu nggak perlu mengurangi konsumsi garam, kok. Takaran seperti biasa, tapi jangan sampai terlalu asin, dan yang terpenting, tiap minggu harus periksa ke rumah sakit untuk memantau perkembangan kehamilannya. Itu aja.”
Sinar mengulang segala penjelasan dokter dengan lancar. Sama sekali tidak melewatkan satu saran pun, dia pun berupaya mengingatkan Shanum untuk menjaga emosi dan asupan makanan.
“Oh, ya, Sha. Di rumah ada alat tensi darah, nggak? Kalo enggak ada, kita beli sekarang aja, ya? Alat itu nanti bisa digunakan untuk memeriksa tekanan darah kamu setiap harinya.” Sinar menambahkan.
“Tapi—“
Shanum tidak melanjutkan kalimatnya sesaat ketika matanya tidak sengaja tertuju pada sosok yang tidak ingin dia temui. Sosok itu berdiri di lobi rumah sakit dan secara kebetulan balik menatapnya, mereka bertemu. Shanum berusaha untuk menahan rasa sesak di dada.
KECELAKAAN
Sabtu, 06 Juli.
Malam jam dua belas, Sabda mengendarai mobil warna silver miliknya bertolak dari perusahaan setelah selesai merampungkan pekerjaan, menuju kediamannya sendiri.
Dia sudah sering pulang larut dan lembur di kantor. Sabda sangat jarang pulang ke rumah, kendati penampilannya tampak tak terurus, tapi Sabda tidak peduli. Dia tetap menyibukkan diri.
Suasana jalanan mulai sedikit sepi di jam segini. Kendaraan Sabda melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan. Rasa gelisahnya begitu kentara saat mendapati pesan masuk dari Rania tadi siang yang belum sempat dibacanya.
Sabda baru akan melihat pesan yang dikirimkan oleh Rania. Namun, suara klakson dari arah depan serambi lempitik keras dibarengi sinar lampu yang menyilaukan. Sabda membanting setir ke kiri dan me-manuver kemudinya ke kanan demi menghindari pembatas jalan dan juga ekor truk.
Mobil silver itu melintang di tengah jalan, kemudian terseret, Sabda tak bisa merekam dengan jelas apa yang terjadi saat suara decitan ban mobil terdengar, diiringi klakson mobil saling bersahutan, yang dia tahu, dirinya dengan sigap menghalangi wajahnya dengan lengan sebelum mobil yang kendarainya menghantam tiang papan reklame di tepian jalan.
***
“Rania, sedang apa kamu di sini?”
Shanum bertanya ketika dua orang itu tak sengaja bertemu di rumah sakit. Shanum memberanikan diri untuk menyapa duluan ketika melihat gadis itu di sana.
Sebenarnya ada rasa sesak yang mengganjal, melihat Rania seperti melihat duri baginya. Agak menyakitkan melihat wanita yang begitu dicintai oleh sang suami.
Rania tampak tak baik-baik saja, matanya sayu seperti kurang tidur, dia juga terlihat sangat cemas. Shanum tidak mau berprasangka buruk atas kehadirannya di rumah sakit, dia menunggu Rania menjawab ucapannya.
“Mbak Shanum gak tahu kabar ini?” tanya Rania sedikit hati-hati. Shanum menaikkan alisnya bingung. “Kabar apa?”
Shanum merasa tidak mendapat kabar apa pun, dan dia juga tidak mengerti maksud ucapan Rania. Entah apa yang gadis itu maksud.
Rania mengerti, sepertinya Shanum juga baru mengetahui hal ini. Dengan sekuat tenaga, Rania akhirnya menjawab.
“Mas Sabda dilarikan ke UGD, Mbak. Mas Sabda kecelakaan.”
***
Jangan tanyakan bagaimana kondisi Shanum sekarang, wanita itu mendadak lemas ketika dirinya dikabari oleh Rania bahwa Sabda mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit.
Shanum tidak menyangka suaminya kecelakaan, tapi lebih menyakitkan lagi bahwa orang pertama yang mengetahui kabar tersebut adalah Rania. Alih-alih Shanum, istri sahnya.
Sejak awal, Shanum sudah menyimpan perasaan tak enak hati sejak bertemu dengan Rania di rumah sakit. Beberapa saat kemudian, perutnya tiba-tiba sakit, padahal dokter sudah bilang kondisinya akan membaik meski agak rentan. Shanum terus memikirkan Sabda sampai sebuah panggilan benar-benar meruntuhkan dunianya sendiri. Shanum tidak percaya bahwa Sabda mengalami kecelakaan.
“Sha, kalau kayak gini kamu bisa sakit beneran, ke dokter lagi aja, ya. Kamu harus dirawat,” bujuk Sinar kepada Shanum yang tak berhenti mencemaskan Sabda.
“Tidak, aku gak apa-apa, Sin.” Shanum berusaha untuk menolak.
“Keluarga Sabdatama?”
Shanum dan Sinar segera berdiri tatkala nama lelaki itu disebut oleh dokter yang menangani korban kecelakaan tadi.
“Saya istrinya. Gimana keadaan suami saya, Dok?”
Shanum lebih dulu bertanya, Rania hanya bisa terdiam tatkala Shanum mengatakan itu, yang jelas dirinya di situ bukan siapa-siapa.
Dokter paruh baya tersebut menghela napas sejenak, sebelum tersenyum menatap wanita hamil di hapannya tersebut.
“Lengan pasien dan kepalanya kami perban sedikit untuk menghindari infeksi. Selain itu, pasien mengalami benturan ketika kecelakaan ada memar yang terletak pada bagian kepala,” jelas sang dokter. Shanum mendengarkan vonis dokter dengan jantung berdebar. Dia tak percaya Sabda akan mengalami kejadian tragis seperti ini.
“Tetapi, kemungkinan pasien akan mengalami trauma dengan kejadian ini. Saya berharap keluarga mampu membantu pasien untuk tak mengingatkan kejadian tadi, karena cukup berbahaya untuk pasien itu sendiri,” tambahnya.
Shanum mengangguk, setidaknya dia bisa sedikit bernapas lega mendengar vonis dokter mengenai suaminya tadi.
“Lalu, apa dia sudah sadar, Dok? Apa kami sudah boleh melihatnya?” Sinar kini bersuara, membuat sang dokter menoleh ke arahnya.
“Rekan saya masih berusaha menyelamatkannya. Masih ada dua korban yang belum selesai kami rawat. Kami akan terus memberikan kabar mengenai kondisi pasien. Harap bersabar dan banyak berdoa, ya.”
Dokter tersebut beranjak pergi dari hadapan tiga perempuan tersebut setelah dia selesai menjelaskan semua apa yang perlu beliau jelaskan.
Isak tangis Shanum menyadarkan dua perempuan yang berada di sana, hal yang membuat Rania sadar bahwa ada istri Sabda yang harus dia tenangkan selain kegundahan hatinya sendiri. Setidaknya dengan diamnya mereka, mampu memberikan sedikit ketenangan.
Insting seorang istri biasanya sangat sensitif jika mengenai orang yang mereka cintai. Jika Sabda masih terus tidak sadarkan diri, dia takut terjadi sesuatu yang parah terhadap Sabda.
Bersambung… SELINTAS KENANGAN
Cahaya putih berseri memancarkan keindahannya. Menerangi seisi ruangan besar tanpa tiang penyangga. terdengar deru-deru angin membawa pergi awan yang saling berarak teratur menciptakan lukisan terindah-Nya.
Tempat itu terasa sepi dan sunyi. Hanya suara alat-alat di sana yang berbunyi mengisi kekosongan yang tercipta. Seolah mereka adalah satu-satunya penghuni yang menempati tempat tersebut.
Di salah satu ranjang rumah sakit, seorang pria tengah terbaring tak sadarkan diri. Meskipun lukanya sudah diobati. Namun, kondisinya tak kunjung mengalami kemajuan. Rafalan doa tak henti keluar dari mulut seorang perempuan yang duduk tepat di sampingnya.
“Kamu gak lelah tidur selama dua hari ini?”
Shanum bertanya dengan nada putus asa. Menatap lekat pria yang masih terpejam dengan beberapa luka di wajahnya.
“Aku janji setelah ini gak akan memarahimu lagi hanya karena Rania. Maafkan aku. Tolong bangun, Mas Sabda.”
Kondisi Sabda yang sangat jauh dari kata baik-baik saja membuat air mata Shanum terus berjatuhan, dia menatap Sabda yang terbaring lemas dengan penuh kekhawatiran.
Meskipun Shanum sudah terbiasa merawat Sabda di kala sakit, tapi kondisi kali ini lebih menyakitkan lagi. Shanum masih tak menyangka Sabda akan mengalami sebuah kecelakaan tragis.
Sudah dua hari Sabda tertidur, dia belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Dokter bilang kepalanya mengalami benturan cukup keras sehingga hal tersebut menyebabkan Sabda belum sadar sampai saat ini. Shanum tetap setia menunggu.
Bayi dalam perut Shanum tampaknya memahami kondisi sang ibu, Shanum tidak merasa kesakitan atau lemas ketika berada di rumah sakit menjaga Sabda selama dua hari.
Setelah cukup lama menjaga suaminya, Shanum memilih untuk keluar dari ruangan di mana Sabda berada. Tepat saat Shanum keluar, seorang gadis duduk seorang diri di salah satu kursi tunggu rumah sakit. Dia mendongak saat mendengar pintu ruangan tersebut ditutup.
Shanum terkejut melihat keberadaan Rania di sana. Shanum bertanya-tanya sejak kapan gadis itu berada di sini. Apakah Rania menunggu Sabda seperti dirinya?
Rania bangkit dari duduknya lantas menghampiri Shanum dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Mata Rania tertuju pada perut wanita itu yang mulai membesar, melihatnya saja sudah cukup membuat hati Rania tersayat.
“Mbak, sepertinya Mbak butuh istirahat. Sebaiknya Mbak Shanum makan dulu, biar aku yang berjaga di sini. Mertua Mbak Shanum masih belum datang, kan?”
Rania berkata tanpa beban. Shanum mengernyit mendengar ucapan gadis itu. Entah kenapa Rania begitu berani mendatangi rumah sakit. Bagaimana kalau keluarganya bertemu dengan Rania? Wanita itu tak habis pikir.
“Tidak apa-apa, Rania. Kamu sedang apa di sini? Sebaiknya kamu pulang. Justru lebih berbahaya kalau kamu ada di sini berduaan dengan Mas Sabda.”
“Kemarin aku sudah pulang, tapi aku tak bisa tidur karena terus mencemaskan kondisi Mas Sabda. Setidaknya izinkan aku untuk melihat Mas Sabda sadar kembali, Mbak.”
Sungguh pengakuan yang sangat di luar dugaan. Mungkinkan Rania masih mencintai Sabda, karena itu dia sangat cemas padanya. Shanum paham itu, tapi dia malas untuk membuat keributan di rumah sakit.
“Istirahatlah. Jangan lupa, Mbak. Kamu sedang hamil.”
Bukannya Shanum tidak peduli pada janin di dalam perutnya, tapi bagaimana dia bisa tenang karena keberadaan Rania? Rumah tangga yang berantakan, orang ketiga, dan kondisi Sabda yang belum sepenuhnya sadar membuat Shanum benar-benar kewalahan.
Seharusnya Rania mengerti untuk tidak menambah beban Shanum.
“Aku tidak bermaksud mengganggu hubungan rumah tangga kalian. Aku terlalu cemas dengan kondisi Mas Sabda. Begitu pihak rumah sakit menghubungiku kalau dia kecelakaan. Dunia seakan runtuh tepat menimpa kepalaku.”
Rania menjelaskan kegelisahan yang tengah menimpanya kini, meskipun benar mereka sudah berpisah, tapi perasaan Rania tak seutuhnya pergi. Ada ruang khusus di hatinya meskipun dia tahu Sabda tidak mungkin bisa dimiliki.
“Aku berterima kasih padamu karena sudah bergegas ke sini ketika tahu Mas Sabda kecelakaan.” Shanum berkata penuh ketulusan.
Meskipun sakit karena bukan dirinya atau pihak keluarga yang dikabari lebih dulu tentang hal ini. Shanum tetap bersikap tegar seolah dirinya tak merasakan sakit sama sekali.
Shanum malah kesal sendiri, kenapa ada perempuan yang begitu menginginkan Sabda? Padahal orang itu tahu Sabda sudah beristri. Dulu mungkin Shanum bisa memaklumi alasan Rania sangat mencintai Sabda. Namun, sekarang dia sudah tahu bahwa Shanum adalah istrinya.
Kenapa Rania masih terus menempel pada Sabda, bukankah dia bilang ingin mengakhiri hubungan mereka?
Mereka berbincang sebentar. Shanum bersikeras menyuruh Rania untuk pulang saja karena tak lama lagi keluarga suaminya akan datang. Meski kerap sebal dengan perselingkuhan kotor antara suaminya dan wanita ini. Namun, Shanum masih punya nurani. Dia tak ingin Rania menjadi bulan-bulanan amarah ayah Sabda.
“Baiklah aku akan pergi, tapi kabari aku kalau Mas Sabda sudah sadar, Mbak. Aku mohon.”
Rania memohon dengan sangat, seolah kesadaran Sabda adalah satu-satunya hal yang paling berharga untuknya. Tidak hanya bagi Shanum.
“Tentu, mungkin dia akan sadar sebentar lagi. Dokter bilang begitu.”
Rania menghela napas, tersenyum pahit mendengar jawaban Shanum yang kelewat dingin. Dia sadar dirinya sangat tak tahu diri, tapi Rania tidak punya pilihan. Hatinya terus gelisah menunggu Sabda.
“Rania, pulanglah lebih dulu. Aku akan memastikan Mas Sabda sehat kembali. Jangan khawatir, kamu juga butuh istirahat.”
Secuil perhatian dari Shanum membuat Rania mendongak. Shanum tak bermaksud untuk berbaik hati pada selingkuhan suaminya, dia hanya mengusir Rania secara halus.
“Baiklah, tapi tolong kabar aku, ya, Mbak.”
Shanum hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Perlahan Rania berbalik meninggalkan Shanum dengan langkah gontai. Setelah Rania pergi dari hadapannya, Shanum kembali masuk ke ruangan di mana Sabda masih terbaring.
Helaan napas keluar dari mulutnya. Shanum merasa seperti sedang berdiri di medan perang dan menghadapi musuh yang sangat sulit ditaklukkan. Semua kekuatannya seperti terkuras.
Shanum duduk kembali di samping ranjang, memperhatikan wajah suaminya yang tertidur. Sabda adalah pria yang baik, tapi buruk saat menjadi suami. Kenangan mereka saat hidup bersama kembali berputar seperti kaset rusak yang terus dipaksa menampilkan memori.
Tak ada kebahagiaan, Shanum tahu itu. Selama lima tahun hubungan mereka berjalan, kedamaian hanya bisa dihitung jari, sementara pertikaian hampir setiap hari mendominasi.
“Sabda, seandainya dulu kita tidak bertemu, mungkin kamu sudah menikah dengan wanita yang benar-benar kamu cintai. Bukan aku.”
Shanum paham betul bahwa sejak awal mereka tak saling mencintai, hubungan mereka berdasarkan perjodohan antar keluarga untuk memperkuat ikatan bisnis.
Kendati punya kuasa untuk menolak. Namun, Sabda tidak bisa begitu saja mengecewakan orang tuanya. Sementara Shanum, sejak awal dia tidak tertarik dengan pernikahan. Namun, begitu melihat Sabda, entah kenapa dia bisa menerima.
Shanum tidak kaget ketika di malam pertama pernikahan Sabda lebih memilih untuk tidur di sofa ketimbang menyentuh istrinya. Dia tidak pernah bersikap manis layaknya pasangan pengantin baru, dia bicara seperlunya pada sang istri.
Perlakuan-perlakuan dingin itu Shanum terima. Awalnya, dia memaklumi mungkin karena baru pertama kali saling mengenal. Shanum juga tak terlalu mempermasalahkan. Namun, siapa sangka. Ketidakwajaran itu berlangsung cukup lama.
Tahun demi tahun berganti, Shanum tak pernah sedikit pun mendapat cinta dari suaminya. Dia memendam semuanya sendiri. Puncaknya hal itu membuat Shanum lelah dan emosi bagaikan bom waktu yang suatu saat bisa meledak. Shanum menjadi lebih sering marah dan ribut.
Shanum benar-benar dibuat mati rasa.
Kata orang, wanita dengan basic yang terlalu independen atau mandiri akan lebih sulit untuk diarahkan, bahkan cenderung egois, ambisius, dan keras kepala. Perlu digaris bawahi bahwa ….
Tidak ada wanita yang terlahir dari basic seperti itu. Keadaanlah yang menuntunnya keluar dari fitrahnya sebagai seorang wanita.
Ruangan kembali menjadi senyap seperti semula. Tidak ada lagi suara gaduh yang terdengar. Shanum sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri.
Di saat tengah merenung, jari jemari Sabda tiba-tiba bergerak. Meski pelan, Shanum bisa menangkap penggerakan tersebut. Perempuan itu langsung bangun dari kursinya. Matanya membulat, dia menatap Sabda yang perlahan sudah siuman.
KESADARAN SABDA
Setelah sadar dari tidur panjangnya, Sabda menjadi sedikit pendiam dan tidak banyak bicara. Dia lebih banyak merenung, ketika orang lain bertanya, dia hanya menjawab dengan anggukan atau gelengan kepala.
Dokter bilang kondisi Sabda dan organ vitalnya stabil. Hanya saja, Sabda akan merasakan efek trauma setelah kecelakaan yang sempat menimpa. Shanum mengerti, dia akan menjaga Sabda selama pria itu dalam masa pemulihan.
Wajahnya masih pucat pasi. Setidaknya perkembangan ini yang dinanti Shanum. Mereka sedang berada di ruang perawatan. Diana pamit pulang untuk mengurus keperluan lain, membiarkan menantunya yang mengurus. Shanum mengerti dia menjaga Sabda sendirian sekarang.
Sebagai seorang istri dia diharuskan tetap berada di samping suami apa pun kondisinya. Baginya, keluarga tetap nomor satu. Karena kesibukan bekerja tidak mampu membayar kenikmatan bersama keluarga tercinta. Begitu prinsipnya.
Shanum belum mengabari Rania mengenai Sabda yang mulai siuman. Dia ingin mengabarinya nanti saja. Pasalnya, Shanum tak ingin berhadapan lagi dengan perempuan itu.
Shanum tengah menyuapi suaminya dengan bubur, setelah beberapa jam berkutat dengan berbagai pemeriksaan. Akhirnya Sabda sudah diperbolehkan makan. Semoga saja kedua pasangan itu bisa akur kembali, meskipun sebelumnya tidak pernah ada kedamaian dalam rumah tangga mereka.
“Satu suap lagi, ya?”
Shanum menyodorkan sesendok bubur ke hadapan suaminya. Hanya gelengan lemah yang dijawab oleh Sabda setelah beberapa kali Shanum menawarkan bubur itu padanya. Hingga akhirnya Shanum menyerah. Ditaruhnya mangkuk berisi sisa bubur di atas nakas. Lalu mengambil segelas air mineral untuk diminumkan pada pria yang sedari tadi hanya duduk bersandar di atas ranjang.
Mata pria itu menatap kosong sang istri yang sibuk membujuknya untuk makan dan minum. Sabda tak bisa mengingat dengan jelas kejadian waktu itu. Meskipun demikian, bayang-bayang kecelakaan tragis hari itu masih sering masuk ke alam bawah sadarnya. Seakan memancing trauma pria itu untuk datang lagi.
“Ayo sekarang berbaringlah.”
Shanum menuntun Sabda untuk segera mengubah posisinya. Sabda menahan tubuhnya. Menolak perlakuan itu. tak peduli bagaimana rasa sakit yang menimpa. Dia merasa tidak tenang setelah sadarkan diri.
“Kenapa? Apa tubuh Mas sakit? Kalau sakit akan kupanggilkan dokter.”
Shanum tidak tahu harus bersikap bagaimana pada Sabda. Di sisi lain dia kesal pada pria itu yang masih saja dekat dengan Rania, tetapi di sisi lain pun dia masih mencintainya. Kadang Shanum ragu dengan perasaan cinta yang muncul di hatinya. Entah kenapa Shanum bertahan sejauh ini, apakah itu selaras dengan perasaannya?
“Aku baik-baik saja.”
Ucapan Sabda begitu datar dan dingin, seperti es. Shanum tak bisa berbuat banyak. Sabda memang terbiasa sedingin ini padanya. Namun, setelah semua hal yang terjadi, baru sekarang dia benar-benar terluka karena pria itu acuh padanya.
“Baiklah, kalau sakit akan kupanggilkan dokter.” Shanum menjawab sekenanya. “Sebaiknya kamu beristirahat. Mama sedang ada urusan. Mungkin dia akan datang nanti sore.”
Sepasang iris cokelat itu menatap Sabda teduh dengan tulus. Sabda masih saja terdiam, kondisi ini membuat mereka menjadi sangat canggung. Shanum ingin bersikap biasa saja, tentu saja itu suatu hal yang sulit bagi Shanum.
Apalagi setelah Rania datang tadi. Ada sesuatu yang mengganggu perasaannya sejak melihat gadis itu berada di sana, tetapi dia selalu mencoba menepis perasaan tidak masuk akal itu.
“Apakah kamu sudah mengurus proses penceraian kita?”
Sabda bertanya tiba-tiba. Namun, pertanyaannya seolah merobek paksa hati Shanum. Mereka sekarang sedang berada di rumah sakit, tidak seharusnya Sabda bertanya tentang hal itu.
“Ke-kenapa kamu membahas soal penceraian sekarang?” tanya Shanum hati-hati.
Sabda terdiam, dia tak menjawab apa pun. Hal itu membuat Shanum ikut terdiam. Sepertinya Sabda memang butuh istirahat. Mungkin benturan keras di kepalanya membuat jalan pikir pria itu terganggu sehingga dia memikirkan hal yang tidak-tidak.
“Kenapa harus membahas penceraian di saat kamu baru siuman? Jangan memikirkan hal itu dulu.”
Shanum bertanya balik dengan tenang. Sabda tak menjawab semua ucapan Shanum. Dia sebenarnya tidak mau membahas hal ini, haruskah Sabda membahas Rania di saat keadaannya belum sepenuhnya pulih?
Sabda mengatupkan bibirnya. Seperti menahan segurat rasa gelisah yang menjalar. Dia gelisah bukan karena sisa-sisa perasaan yang lalu belum mau pergi, tapi pada keadaan rumah tangganya kini yang seperti di ujung tanduk.
Tidakkah dia tahu bahwa sangat sulit membuang perasaan itu? Dia bahkan sudah berusaha menjauh dari Rania. Sabda bukannya ingin kembali pada gadis itu, dia hanya memikirkan ucapan ayahnya tempo hari tentang dirinya yang sebaiknya bercerai saja dengan Shanum daripada membuat wanita itu semakin tersakiti.
Sabda merasa apa yang dia alami sekarang adalah sebuah teguran akibat semua kesalahan yang dia lakukan pada Shanum.
Shanum sendiri tak mengerti apa yang ada di pikiran Sabda. Apakah pria itu mau melayangkan gugatan di saat dirinya tengah terbaring sakit? Seharusnya izinkan Shanum merawatnya terlebih dahulu.
“Pergilah istirahat atau makan. Aku sudah baikan,” kata Sabda sekaligus berusaha mengalihkan topik yang terasa tidak menyenangkan.
“Aku makan nanti saja, aku masih kenyang” tolak Shanum.
“Kenyang makan apa?”
Alih-alih menjawab, Shanum malah mengarahkan pandangannya ke arah suaminya. “Dengan melihatmu sudah sadar, rasa lapar dan lelah pun seakan enyah begitu saja, tapi alasanku tidak mau makan pun sebenarnya bukan hanya itu, Mas. Aku tak terbiasa makan makanan rumah sakit, anak ini menolaknya.”
Sabda terhenyak, di saat dirinya sibuk memikirkan masalah penceraian, Sabda lupa bahwa Shanum tengah berbadan dua. Ada kehidupan baru dalam perutnya, dan itu adalah hasil dari perbuatan Sabda.
Rasa canggung kembali terasa, Shanum mengerti kalau pria itu pasti tak nyaman dengan kondisi seperti ini.
“Oh iya, tadi Rania ke sini. Dia ingin tahu keadaanmu. Dia juga yang pertama dihubungi pihak rumah sakit saat kamu kecelakaan.”
Shanum memasang ekspresi tenang ketika mengatakan hal itu, Sabda mendongak. Dia jadi merasa tak enak pada istrinya. Untuk ke sekian kalinya, Sabda menyesal karena sudah membuat Shanum lagi-lagi berurusan dengan Rania.
“Tolong makan,” kata Sabda akhirnya. Suaranya terdengar berat. Sabda ingin Shanum berhenti mengungkit hal itu.
“Nanti saja, aku benar-benar tidak lapar.”
Shanum kembali merebahkan tubuh Sabda di ranjang, kali ini tanpa penolakan apa pun. Dia seolah-olah melupakan kondisinya yang juga butuh istirahat. Shanum tidak terbiasa makan makanan rumah sakit, di rumah pun dia mual terus, apalagi di tempat ini.
Keadaan semakin canggung ketika Sabda berhenti memaksa Shanum untuk pergi makan. Dia tak bisa mengatakan apa pun ketika istrinya sudah kekeuh pada pendiriannya.
Rasanya seperti ditarik kembali pada dimensi lain, saat-saat di mana Sabda terbaring sakit karena demam berdarah yang menyiksa. Shanum adalah orang pertama yang harus merawat dan menjaganya selama seharian di rumah sakit. Bahkan Shanum sering kedapatan tengah tertidur di sisi Sabda seraya merebahkan kepalanya di sisi ranjang.
Meski terkesan kasar dan dingin, tapi Shanum juga seorang wanita. Dia seorang istri yang mengerti dengan kewajibannya sendiri.
“Aku mau pergi ke luar menemui mama Diana, kayaknya beliau sudah tiba. Nanti aku kasih tahu kalau kamu sudah makan.”
Shanum pamit pada suaminya yang masih terbaring lemah. Sabda tak menahan, dia membiarkan Shanum pergi. Sabda juga menyadari perubahan pada badan Shanum, dia yang dulu berisi, sekarang tampak sedikit kurus, ditambah perutnya yang sudah mulai terlihat membesar.
Sabda benar-benar menyayangkan hal ini, kenapa Shanum harus hamil di saat keadaan rumah tangganya tengah retak dan nyaris hancur.
Sabda jadi penasaran, apakah dia makan dengan baik? Apakah Shanum tidur dengan baik?
Sepeninggal Shanum dari dalam ruangan, Sabda termenung menatap langit-langit dalam ruangan tersebut. Dia bingung harus bersikap bagaimana. Sejujurnya, Sabda tak bisa terus mempertahankan Shanum, wanita itu layak bahagia. Dia tak ingin terus menyakiti perempuan yang selama lima tahun ini menemaninya.
Tapi … Sabda juga masih berat untuk menerima keputusan tersebut. Mungkin benar apa yang Shanum katakan tempo hari. Sepertinya Sabda mulai jatuh cinta padanya.
Bersambung… DEBAR MASA LALU
Setiap orang di dunia ini pasti ingin menikah hanya sekali seumur hidup. Tidak ada orang yang menikah hanya untuk menciptakan perpisahan. Jika ada problem dalam rumah tangga, semestinya mereka harus bisa mencoba untuk meluruskan, bukan membiarkan.
Sama dengan Shanum. Dia ingin menikah hanya sekali seumur hidup bersama pria yang sama. Namun, Shanum tidak bisa mengharapkan apa-apa dari pria yang sekarang menjadi suaminya.
Kadang dia berpikir apakah perpisahan adalah ending terbaik untuk kisah mereka. Mungkin benar sejak awal mereka memang tidak berjodoh.
“Shanum.”
Oh, ternyata mama mertuanya. Shanum menoleh ke arah wanita tersebut yang melambai di depan pintu. Posisi Shanum sekarang tengah berada di bangku halaman rumah orang tua Sabda.
“Ada apa, Ma?”
Diana tersenyum. “Sini, ikut Mama.”
Dahi Shanum berkerut ketika sang mama menariknya pergi tanpa mengatakan maksud dan tujuan beliau.
Tiba di ruang tengah, mama mertuanya itu menyuruh Shanum duduk di sebelah beliau. “Coba liat ini.” Diana membuka ponselnya, kemudian memperlihatkan beberapa foto padanya.
Foto perhiasan.
Kembali Shanum mengerutkan dahinya, bingung. “Maksudnya apa, Ma?”
“Ah, kamu. Tadi pagi ‘kan Mama sudah bilang, perusahaan suamimu mengeluarkan beberapa produk baru. Salah satunya cincin ini.”
Diana kembali menunjukkan cincin mewah yang terbuat dari platinum dengan pilinan bunga melingkar berhiaskan safir biru.
Shanum tersenyum, lembut. “Kalau Mama yang pakai pasti semakin bertambah cantik. Cincin serta kalung ini pas untuk dipakai ke pesta iya, ‘kan, Ma? Biasanya Mas Sabda sering menyarankanku pergi ke pesta memakai cincin atau kalung seperti ini, tapi aku kurang cocok memakainya.”
“Ih, kamu.” Diana menepuk pelan lengan sang menantu. “Kata siapa kamu tidak cocok pakai ini? Mama lihat kamu selalu cocok pakai perhiasan apa pun, tubuhmu juga mungil. Sangat cantik.” Pujinya berlebihan.
“Waktu itu Mas Sabda membelikan kalung paling mahal untukku. Aku kaget dengan harganya.”
Diana tertawa menanggapinya. “Tentu saja harus mahal. Lagipula Sabda tidak mungkin memberimu perhiasan murahan. Mama juga akan marah jika dia memberimu barang-barang murahan atau palsu.” Mertuanya kembali teringat sesuatu. “Mama punya beberapa perhiasan, siapa tahu cocok untukmu. Tunggu sebentar.”
Diana segera bangkit dari kursinya meninggalkan Shanum sebentar. Wanita itu tak sempat mencegah karena beliau sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.
Di sisi lain, Shanum merasa sangat beruntung. Memiliki mertua yang baik adalah impian semua wanita. Meskipun Diana bukan ibu kandungnya, tapi dia yakin Diana tidak akan memberikan kesakitan padanya.
Tidak berapa lama, Diana keluar dari kamar seraya membawa kotak perhiasan. Di sana ada kalung, cincin, sampai gelang. Semuanya berbahan platinum. Shanum yakin harganya sangat fantastis.
Shanum mengambil sebuah gelang kecil yang sangat lucu. Perempuan itu segera beralih pada mertuanya.
“Lucu sekali. Ini gelang bayi, ‘kan, Ma? Mama punya anak perempuan?” tanya Shanum seraya memainkan gelang berukuran mungil di tangannya.
“Dulu mama berharap punya anak perempuan, tapi dua anak mama laki-laki. Jadi, gelang itu mama simpan. Kamu suka? Ambilah, siapa tahu nanti anakmu lahir perempuan.”
Shanum menatap mama mertuanya dengan ragu. Dia belum tahu jenis kelamin anaknya secara jelas.
“Benarkah? Boleh aku menyimpan ini, Ma? Tapi, bagaimana kalau yang lahir ternyata anak laki-laki?”
Diana menggeleng. “Laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting dia tumbuh sehat.”
Shanum mengangguk, dia menatap kembali gelang itu, seolah tertarik. Jika benar anak yang dikandungnya perempuan, dia akan sangat senang.
Diana menatap menantunya dengan ekspresi penuh iba. Meskipun beliau tampak baik-baik saja. Namun, perasaan seorang ibu tidak bisa dibohongi. Jujur saja dia sedih.
“Bagaimana hubungan kalian, apakah sudah membaik?”
Pertanyaan Diana tiba-tiba menjurus pada kondisi rumah tangganya. Entahlah, Shanum bingung menjawabnya. Mereka memang sudah tidak bertengkar lagi, tapi hubungan mereka pun tidak sebaik itu. Keadaannya terasa dingin jika mereka berada di satu ruangan yang sama.
Melihat keterdiaman Shanum, Diana mengerti. Beliau lekas menggenggam erat tangan menantunya.
“Mama bahagia punya menantu baik seperti kamu, tapi jangan terlalu baik saat suamimu berbuat kesalahan, kamu harus bisa menegurnya.”
‘Itu bukan kesalahan biasa lagi, Ma. Aku tidak tahan setiap kali melihat Rania di sekitarku. Aku masih tidak mengerti dengan pernikahan ini … apa dia benar-benar menginginkan pernikahan ini?’
Kalimat itu hanya terucap dalam hati Shanum. Seandainya dia bisa berkata demikian secara langsung pada sang mama, mungkin sudah sejak awal pernikahan dia mengatakannya, tapi Shanum tidak ingin membuat orang tua dan mertuanya merasa bersalah karena pria itu sudah melukai hati Shanum dengan banyak kebohongan.
***
Tidak buruk bagi Shanum jika harus menjalani aktifitasnya selama kurang lebih tujuh hari di rumah sakit. Selama dia menikmati rutinitasnya, tentu tidak akan ada beban yang menyiksa.
Rumah tangganya sedang dalam ambang keretakan. Tak lupa ujian tambahan lainnya yakni kondisi sang suami. Belum lagi mengenai kondisi tubuhnya yang mudah lelah selama masa kehamilan. Dokter sudah memperingatkan dari jauh hari supaya Shanum menjaga emosi dan kesehatan. Penyakit yang dialaminya jelas bukan penyakit sepele.
Shanum tidak diperbolehkan kelelahan, atau bahkan menginap terlalu lama di rumah sakit. Diana mewanti-wanti itu. Dia tidak memperbolehkan Shanum merawat Sabda lebih lama karena Diana tahu Shanum perlu menjaga emosinya.
Sabda ingin bilang bahwa dia merindukan senyum dan suara Shanum. Meskipun sering bertengkar, tapi Sabda rindu. Kapan keindahan itu akan tiba?
“Tadi pagi dokter bilang kamu sudah boleh pulang,” kata Shanum di hadapan Sabda yang seolah enggan memandangnya.
Shanum lega dengan kabar itu, Sabda bisa menjalani proses pemulihan di rumah. Suasana tenang dan damai, itulah yang dibutuhkannya. Tentu itu suatu kabar baik bagi mereka. Setidaknya, Shanum tak harus mendengarkan ocehan ibu mertua ketika dia memaksakan diri ingin merawat sang suami yang terbaring sakit.
“Aku sudah hubungi Papa, nanti beliau yang akan menjemput kita,” ucap Shanum di sela kegiatannya melipat dan memisahkan pakaian Sabda ke dalam tas.
Sedari tadi, wanita itu sudah sibuk menyiapkan barang barang yang harus dibawa pulang. Mulai dari selimut, baju ganti, handuk, dan lain-lain.
“Oh, ya, katanya ayahku mau bicara empat mata denganmu. Kamu sudah merasa baikan? Kurasa ayah akan datang tak lama lagi.”
Shanum baru ingat bahwa ayahnya bilang ingin bicara dengan menantunya sebentar. Shanum tak keberatan. Sejak Sabda sakit beliau hanya dua kali menjenguk. Bukannya tak ingin, tapi terlalu banyak pekerjaan yang harus beliau selesaikan.
Sabda hanya mengangguk, dia tidak keberatan untuk bicara empat mata dengan ayah mertuanya. Sebab mungkin saja ada hal penting yang ingin beliau sampaikan.
“Setelah ini jangan dulu kerja. Kamu lupa dengan janjimu ketika sakit dulu? Sebaiknya memulihkan diri dulu di rumah.”
Shanum begitu telaten merawat Sabda, meskipun aura dinginnya masih terasa. Kadang Shanum tak mengerti, di lain waktu dia akan sangat merindukan suaminya dan tak lama kemudian kerinduan itu berubah menjadi kebencian.
Shanum berusaha mengenyahkan pikiran buruk tersebut. Dia tidak boleh bersikap egois sekarang. Sabda baru saja sembuh, dan dia tidak mau memperumit keadaan yang sudah sangat rumit ini.
“Kau baik-baik saja?” tanya Sabda begitu melihat penggerakan dan raut wajah sang istri yang mulai tak biasa.
Shanum menoleh sebentar dan kembali pada pekerjaannya merapikan pakaian.
“Kepalaku sakit.”
“Bukankah mama sudah bilang padamu untuk diam di rumah dan jangan kelelahan. Kenapa kamu keras kepala?” Sabda akhirnya bersuara, kali ini kalimatnya terdengar lebih panjang.
Jika yang mengatakan itu orang lain, Shanum mungkin sudah marah besar, tapi berbeda jika Sabda yang mengatakannya. Shanum sudah sangat terbiasa dengan pertengkaran. Dia bahkan tak terlalu ambil pusing dengan ucapan suaminya, meskipun niat Sabda baik untuk kesehatan wanita itu sendiri.
“Kalau aku berada di sini, artinya kondisiku sudah baik-baik saja. Aku bisa pulang kalau memang benar-benar capek.”
“Lihat, sekarang kau sangat pintar melawan perkataan suami.”
Kalimat dari Sabda membuat Shanum yang sedang memandangi sebuah tas besar di sampingnya menghela napas panjang.
“Aku harus bersikap bagaimana? Diam salah, bicara pun salah juga. Aku yang sedang hamil, kenapa kau yang sensitif?” kesal Shanum dengan manik yang menusuk.
“Memangnya aku begitu sensitif terhadapmu?” Sabda berucap dingin seraya menatap sang istri yang juga tengah menatapnya dengan ekspresi kesal.
“Kamu protes tentang semua hal yang kulakukan. Padahal aku sudah sukarela menjagamu seharian, tapi malah dimarahi. Kalau bukan sensitif, apa namanya?” tanya Shanum lagi.
Sabda diam kali ini, dia sadar ucapannya hanya akan semakin membuat Shanum tersakiti. Dia berusaha untuk tidak mendebat wanita itu seperti yang sudah-sudah. Sabda berusaha berbaikan dengan istrinya, meskipun Shanum tampak begitu acuh.
Ruangan tersebut kembali hening, Shanum tidak mau mempermasalahkan ucapan Sabda tadi. Dia juga sedang tak ingin bertengkar di hari pertama Sabda sembuh.
Sabda menatap Shanum yang kembali memunggunginya karena sibuk melipat selimut yang lain. Sejenak Sabda melihat ada yang berbeda dari wanita itu, bukan karena badannya yang sedikit berisi di bagian tertentu. Namun, penampilannya yang membuat Sabda teringat akan sesuatu.
Shanum mengenakan dress abu-abu dengan jilbab berwarna senada. Sesuatu yang membuat Sabda seakan terdorong ke masa-masa di mana mereka saling bertemu untuk pertama kalinya.
Kenangan itu tiba-tiba berputar, ketika dua keluarga datang dengan maksud tertentu, yakni menguatkan ikatan kekeluargaan dengan pernikahan, di sanalah Sabda bertemu Shanum. Sebelumnya Sabda tak pernah bertemu perempuan itu, dia hanya mendengar namanya saja dari sang papa.
Ini juga kali pertama Shanum bertemu langsung dengan Sabda, pria yang akan menjadi tunangannya secara resmi hari itu. Pria dalam setelan jas navy itu berdiri tepat di hadapannya, menatap Shanum dengan begitu intens.
Shanum memiliki kulit putih yang begitu kontras dengan warna pakaiannya yang berwarna abu-abu. Sementara itu, Sabda memiliki postur tubuh yang tinggi terlihat begitu sempurna dalam balutan jas. Sabda benar-benar terlihat seperti adonis yang tak nyata. Pria itu seperti pangeran dalam dongeng.
Jika Shanum perempuan lain mungkin dia akan langsung jatuh cinta kepada Sabda, atau Shanum akan menjerit ketika pria itu memasangkan cincin pada jari manis tangan kirinya. Tetapi semua itu tidak berlaku untuknya.
Kembali ke tempat di mana Shanum dan Sabda berada, kini wanita itu sudah selesai merapikan pakaian. Dia sempat teringat sesuatu, jadilah wanita itu menghadap Sabda terlebih dahulu.
“Mas, aku harus menelepon ayah, hari ini aku ada janji dengan beliau. Tidak apa-apa kalau aku tinggal sebentar?”
Sabda mengangguk sebagai jawaban, Shanum segera keluar dari ruangan untuk bicara dengan ayahnya. Alhasil, hanya ada Sabda sendirian di sana. Pria itu duduk di ranjang dengan pakaian lengkap. Dia tak memakai baju pasien lagi seperti kemarin.
Kepalanya masih diperban, tubrukan keras yang melukai kepalanya jelas membuat Sabda trauma.
“Mas Sabda!”
Suara yang familier itu membuat Sabda menoleh ke arah pintu. Matanya membulat ketika melihat siapa yang memanggil.
Bagaimana tidak kaget, di ambang pintu ada Rania tengah berdiri di sana. Gadis itu mendekat ke arahnya, seperti mimpi. Apakah Sabda tengah melamun? Kenapa Rania tiba-tiba datang? Untung saja suasana ruangan tempatnya dirawat sedang sepi, Shanum juga tengah keluar.
“Bagaimana kondisimu? Apakah membaik? Katanya kamu sudah boleh pulang, tapi apa kamu benar-benar sudah pulih?” Rania langsung memberondong dengan banyak pertanyaan.
“Aku sudah membaik, tapi sedang apa kamu di sini?”
Rania menatap Sabda dengan ekspresi khawatir. Bisa Sabda lihat dari pancaran matanya, sekuat apa pun Rania berusaha untuk pergi, dia tetap tidak bisa menjauhi pria itu. Dua tahun juga bukan waktu yang singkat. Wajar kalau Rania khawatir.
“Kamu dengan siapa ke sini?
Pertanyaan Sabda seolah tak digubris. Sabda cemas jika ada orang yang melihat kedekatan mereka, dia juga tak bisa menduga kalau gadis itu akan datang menemuinya. Semoga saja Shanum tidak memergoki mereka yang sedang berduaan seperti ini.
“Aku mau bicara sekaligus melihat kondisi kamu, Mas. Aku tidak tahan setiap kali aku datang, Mbak Shanum selalu mengusirku dengan banyak alasan. Aku hanya ingin tahu keadaanmu. Apakah tindakanku salah?”
Rania menatap Sabda dengan mata berkaca-kaca, pria itu kini dibuat bimbang. Di sisi lain dia takut Shanum melihatnya dan Sabda takut akan kembali terjadi keributan. Namun, dia juga tak bisa melihat Rania seperti ini. Jujur, dia ingin pergi dari hidup gadis itu. Namun, tak semudah itu menghilangkan sisa-sisa perasaan yang sudah tertanam cukup lama.
“Terakhir kali, aku bilang kalau aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku benar-benar tersiksa, Mas. Aku pikir dengan selesai, kalian bisa hidup bahagia, tapi ternyata aku belum rela. Jujur, apa aku salah kalau aku merindukanmu? Aku hanya tak ingin perasaan ini menjadi luka untukmu.”
Kejujuran yang cukup menohok, tadinya Sabda sudah yakin kalau Rania benar-benar mengakhiri hubungan mereka. Namun, ternyata Sabda salah. Dia dibuat bergeming dengan kejujuran itu.
“Aku hanya ingin memastikan kalau Mas Sabda sudah bahagia, tapi justru kamu sakit. Maaf aku terlalu cemas.”
“Rania, aku mengerti kalau kamu khawatir, tapi aku baik-baik saja sekarang. Tolong jangan bersedih lagi.”
Mereka seolah sedang mencurahkan perasaan satu sama lain. Rania mulai menangis, sebab sulit merelakan perasaannya. Sabda juga bingung, dia tidak bisa terus-terusan seperti ini.
Di saat keduanya tengah saling mengungkap rasa, Shanum tiba-tiba masuk ke dalam. Dia terpana melihat Rania sedang berduaan dengan suaminya. Entah kenapa, nyeri itu kembali menusuk hati.
Rania dan Sabda menoleh aecara bersamaan, di ambang pintu sudah ada Shanum yang baru saja selesai menelepon. Wanita itu tidak menyangka kalau Rania akan satang menemui suaminya.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” Shanum berusaha menahan diri untuk tak marah.
Sabda mewanti-wanti Rania untuk segera keluar dari ruangannya. Namun, Rania justru menghadap Shanum, kali ini ekspresi wajahnya tak sesendu kemarin. Seolah dia memiliki keberanian untuk berhadapan langsung dengan wanita yang tak lain adalah istri sah Sabda.
“Mbak, maafkan aku. Ternyata aku tidak bisa menahan diri untuk tak datang ke sini.”
Shanum menghela napas. “Kamu tahu sendiri kondisinya, Rania. Aku tidak bermaksud melarang, tapi aku tidak bisa membiarkan kalian berduaan seperti ini. Terlebih sebentar lagi orang tua Sabda akan datang. Dia hanya diperbolehkan dirawat oleh istrinya, bukan orang lain.”
Shanum tengah memberikan ancaman. Dia memperingatkan Rania tentang statusnya yang tabu itu. Rania bukanlah siapa-siapa.
“Aku tahu,” kata Rania, seolah tanpa diberitahu pun dia sudah mengerti. “Kalau Mas Sabda hanya boleh dirawat oleh istrinya, kalau begitu … bolehkah aku menawarkan diri untuk menjadi istri kedua?”
Bak mendengar petir di siang bolong, Sabda dan Shanum melotot mendengar ucapan Rania.
AKHIR SEBUAH PERJALANAN
“Bagaimana perjalanan liburan kalian di Turki, kalian berdua bahagia, kan?”
Sinar menyuguhkan teh hangat di atas meja tidak lupa disusul setoples kue kering buatannya. Wanita itu duduk di hadapan Shanum.
Shanum tersenyum sembari mengangguk. “Alhamdulillah, aku gak merasa kesulitan sama sekali, Sin. Kapan-kapan kita main bareng, yuk. Lama kita gak ketemu. Aku kangen.”
Sinar tersenyum mendengar ucapan Shanum, memang sudah tiga bulan lamanya mereka tidak bertemu. Setelah melewati banyak sekali tikungan tajam, Shanum memutuskan untuk kembali meniti karirnya. Dia memulai usaha baru dengan membuka sebuah toko butik di pusat kota.
Shanum membuka lembaran baru, semua rasa sakit yang dia dapatkan di masa lalu ditutupnya rapat-rapat. Shanum sekarang lebih fokus dengan kehidupannya. Semua orang menghormati keputusan Shanum. Termasuk Sabda.
“Boleh aja kalau kamu gak sibuk, nanti kita ajak yang lain, ya.”
“Iya, barengan kan lebih asyik!”
Sinar sangat senang karena Shanum bertandang ke rumahnya siang ini. Matanya kemudian beralih pada halaman depan yang dihiasi rumput hijau.
“Shaka, jangain adeknya. Jangan sampai jatuh, ya!” seru Sinar pada Shaka anak pertamanya yang berusia lima tahun.
“Iya, Ibu!” jawab Shaka ceria.
Sinar dan Shanum tengah memperhatikan kegiatan dua anak kecil beda usia yang sibuk bermain-main di sana. Beruntung siang ini tak terlalu terik, jadi anak-anak bebas bermain tanpa kepanasan.
“Kenapa dia gak mirip sama kamu aja, ya,” kata Sinar pelan.
Pandangan Sinar tertuju pada anak berusia dua tahun yang sedang lucu-lucunya. Gadis kecil itu memiliki wajah mirip ayahnya. Dari ibunya dia hanya mewarisi kulit putih yang indah. Perpaduan yang sangat pas, membuat anak itu tampak menggemaskan.
“Di mana-mana anak perempuan itu selalu mirip bapaknya, yang penting sifatnya kayak aku, Sin.” Shanum berkilah.
“Iya, sih. Arumi sudah besar, ya. Aku masih inget perjuangan kamu saat ngelahirin dia tuh gimana. Aku bangga sama kamu, Sha. Kamu sanggup melewati semua ini sendirian, padahal itu bukan hal yang mudah buat kamu.” Sinar prihatin.
Shanum berhasil melahirkan seorang anak perempuan yang cantik lewat operasi caesar. Kondisi Shanum yang kritis kala itu nyaris membuatnya kehilangan Arumi, tekanan hebat semasa hamil membuat bayi itu lahir dalam kondisi prematur. Namun, berkat kegigihan dan dukungan dari banyak orang, Shanum mampu merawat Arumi dengan baik.
Arumi Nisa Nayaka.
Nama itu Sabda berikan padanya tepat ketika si bayi lahir ke dunia. Sabda tak lagi berstatus sebagai suami Shanum. Namun, Sabda ingin menyematkan nama indah itu untuk anaknya, nama yang sudah dia siapkan jauh-jauh hari sejak Shanum hamil.
“Arumi memiliki makna keturunan yang baik dan harum namanya. Aku ingin kelak dia tumbuh menjadi perempuan dengan akhlak yang baik, meskipun aku bukan suami yang baik untukmu, aku ingin menjadi ayah terbaik untuknya. Aku tahu, aku tak pantas berkata begini, anggap saja ini permintaan terakhirku.”
Sabda mengatakan itu ketika Shanum berada di rumah sakit dan sedang dalam masa pemulihan.
Sabda tidak masalah jika Shanum menolak nama itu. Dia sadar bahwa selama ini Shanum tak mendapatkan satu pun peran suami dari dirinya.
“Namanya cantik. Terima kasih sudah memberikannya nama itu.” Shanum tersenyum.
Shanum memilih untuk menyerah pada pernikahannya. Sabda tetaplah ayah Arumi, dia tidak memisahkan anak dari ayahnya sendiri. Shanum hanya memilih jalan untuk tak lagi tersakiti. Tak ada manusia yang menikah hanya untuk saling menyakiti. Untuk apa melanjutkan perjalanan jika dua orang dalam satu bahtera pernikahan tak lagi sejalan?
Mungkin di luar sana ada beberapa orang yang bertahan, tapi Shanum tak bisa. Dia memilih menyerah sebab tak mau terluka lebih parah.
Kenangan itu berputar begitu saja, Shanum tersenyum lagi. Menurut kabar yang Shanum dengar, Sabda sekarang tengah sibuk membangun perusahaan baru. Dia banyak bergabung dengan perusahaan lain dan memajukan bisnisnya sendiri.
Permintaan Rania untuk menjadi istri kedua jelas tak diterima oleh keluarga Sabda, pada akhirnya hubungan mereka berakhir secara bersamaan dengan Shanum yang memilih mundur.
“Arumi belum bertemu sama Sabda lagi sejak beberapa bulan yang lalu. Kami sudah sepakat untuk berdamai dengan cara baik-baik demi Arumi.”
Sinar mengangguk mendengar ucapan Shanum. “Apa pun itu, kudoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Semoga kalian menemukan kebahagiaan masing-masing, dengan apa pun atau siapa pun.”
“Jangan dulu, aku gak kepikiran buat nikah dulu. Aku cuma mau fokus membesarkan Arumi saja. Sumber kekuatanku adalah dia.”
Sinar mengangguk mengerti. “Setiap anak adalah pelita bagi orang tuanya. Ngomong-ngomong, dia pasti merindukan ayahnya, Sha. Apakah Sabda belum mengabarimu lagi?”
Shanum menggeleng mendengar pertanyaan itu.
***
“Tumben kamu datang, memangnya kamu tidak sibuk?”
Shanum duduk di atas karpet tebal di ruang tengah, tepat di hadapannya Arumi asyik bermain-main dalam pangkuan ayahnya sendiri.
Anak itu sangat lengket dengan ayahnya. Setiap anak perempuan memang selalu butuh figur ayah.
“Meskipun aku jarang datang ke sini, bukan berarti aku nggak melihat perkembangan Arumi. Aku selalu memikirkan anak ini. Hanya saja, aku nggak berani jika terus menerus datang dan menemuimu, aku nggak ingin membuat kamu berang dengan kemunculanku.”
Shanum masih terdiam.
“Maka dari itu, aku sangat berterima kasih sama kamu, Sha, karena mengijinkanku bertemu Arumi lagi hari ini. Maaf jika aku jarang berkunjung dan terlalu sibuk dengan pekerjaan.”
Kedua bola mata Sabda berkaca-kaca. Suaranya bergetar. Shanum memerhatikannya dengan mata memicing. Hanya sekedar memastikan jika saat itu Sabda sedang tidak bermain peran.
Namun, ketika getaran suara itu berubah menjadi isakan kecil yang berusaha ditahan, Shanum menjadi yakin jika Sabda sedang tidak bermain peran sekarang.
Shanum bersyukur jika Sabda benar-benar telah berubah menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Tapi, untuk menerimanya kembali sebagai suami, Shanum masih pada keputusan lama. Ia tak siap. Entah sampai kapan.
Shanum hanya ingin fokus membesarkan Arumi. Lagipula gadis kecil itu masih bisa bertemu dengan ayahnya. Shanum tidak memisahkan mereka, hanya saja keduanya tak lagi bersama dalam status pernikahan.
Sabda biasanya akan menemui Arumi dua Minggu sekali, dia akan mengajak Arumi ke tempat bermain anak-anak dan menghabiskan waktu berdua. Shanum tidak keberatan, setidaknya dia merasa terbantu dengan kehadiran Sabda.
Tapi beberapa bulan ini pria itu tak bisa datang karena banyak sekali urusan yang harus dia kerjakan. Shanum memaklumi itu, tapi Arumi merasa kesepian.
“Iya aku tahu, hanya saja belakangan ini Arumi sering nanyain kamu. Gak apa-apa kalau kamu datang kalau hanya untuk menengok dia.”
“Terima kasih, Sha.”
Shanum mengangguk. Di hadapan Arumi mereka harus tampak baik-baik saja. Meski dalam hati Shanum masih tersimpan kekecewaan yang mendalam. Pada akhirnya pernikahan yang diharapkan oleh semua orang itu kandas.
Orang tua Sabda sudah pasti menerima keputusan itu dengan lapang dada meskipun mereka juga merasa bersalah karena sudah membuat Shanum tersakiti.
“Apa kabar Rania? Kudengar dia sudah lulus kuliah.”
Topik pembicaraan Shanum kini beralih pada Rania, hal itu membuat Sabda mendongak. Entah kenapa mendengar nama Rania membuatnya merasa begitu bersalah pada Shanum.
Tapi dia sadar, sebesar apa pun rasa bersalahnya tidak bisa membuat Shanum kembali. “Iya, dia pulang ke kota kelahirannya. Aku tidak tahu lagi kabarnya setelah itu.”
Cerita Sex Rahasia Pribadi Suami
Shanum mengangguk mengerti, Sabda yang dulu sudah berubah. Setidaknya itu cukup bagi Shanum. Mereka memilih berdamai dengan takdir masing-masing.
Di balik semua kehancurannya, kebahagiaan yang tidak diduga akhirnya datang dan mampu membawa perubahan baik dalam kehidupan Sabda.
Shanum tak butuh cinta jika pada akhirnya hanya akan membawa kesakitan. Biarlah cinta itu tumbuh dan menjadi fitrah di hati masing-masing. Shanum, Sabda, dan Rania. Masing-masing memiliki cinta pada dia yang dipilih sang hati.
TAMAT