Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Kakek Tua

Kakek Tua

Cerita Sex Kakek Tua – Cerita original, bukan hasil salin-tempel atau adaptasi platform mana pun. Belum pernah dipublikasikan. Plot dan ending-nya liar, tak mudah ditebak, dan bikin nagih.”

Hujan kembali deras malam itu, seperti hampir setiap malam sejak Eva menikah dengan Ustadz Kholil setengah tahun lalu. Rumah besar bergaya kolonial di pinggir kampung itu sunyi sekali setelah jam sepuluh malam. Lampu kristal di ruang tamu redup, hanya menyisakan cahaya kuning samar dari lampu tidur di kamar utama.

Ustadz Kholil sudah tertidur lelap di kamarnya, atau lebih tepatnya, terbaring tak sadar setelah minum obat tidur yang dokter resepkan untuk “kesehatan jantungnya”. Usia 70 tahun memang tak bisa dibohongi; tenaga lelaki itu sudah lama habis, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya menjadi hak istri mudanya.

Eva atau yang biasa orang panggil Ustadzah Eva, duduk di teras belakang, gamis panjang berwarna hitam yang ia pakai malam itu terasa terlalu panas di kulitnya yang lembab.

Cerita Sex Kakek Tua Ngocoks Rambut panjangnya yang biasa ia ikat rapi saat tampil di panggung dangdut dulu, kini terurai bebas, sedikit basah karena gerimis yang menyusup dari atap. Ia menatap ponselnya, jari mengetik pesan singkat yang sudah jadi rutinitas.

“Listrik mati lagi. Gentong air bocor. Bisa tolong?”

Tak sampai dua menit, balasan datang:

“Sudah di jalan. Bawa senter.”

Eva tersenyum kecil, meletakkan ponsel di meja kayu jati. Ia bangun, berjalan pelan ke dapur belakang, memastikan pintu samping terkunci dari dalam tapi tak terlalu rapat—cukup untuk didorong pelan tanpa suara.

Tak lama kemudian, pintu itu berderit. Pak Bahar masuk, tubuhnya yang masih tegap meski usia 55 tahun basah kuyup oleh hujan. Jaket kulit lusuh yang ia pakai sejak masa preman dulu meneteskan air di lantai keramik.

Rambutnya yang mulai beruban di pelipis basah menempel di dahi, tapi matanya—mata yang pernah menakutkan preman kampung lain—kini penuh api yang berbeda saat menatap Eva.

“Bu Ustadzah,” sapanya pelan, suara seraknya hampir tertutup gemuruh hujan. “Ustadz Kholil…gimana?”

“Sudah tidur. Obatnya kuat malam ini,” jawab Eva singkat, lalu melangkah mendekat. Tangannya langsung menyentuh dada Pak Bahar, merasakan kaos basah yang menempel ketat di otot-otot yang masih keras, bukti bahwa lelaki ini tak pernah benar-benar berhenti berlatih meski sudah insyaf dan tobat.

Pak Bahar tak bicara lagi. Tangannya yang besar dan kasar langsung meraih pinggang Eva, menariknya rapat sampai tubuh mereka menempel. Ngocoks.com

Bau hujan bercampur aroma sabun colek murah dari tubuh Pak Bahar, kontras dengan parfum mahal yang Eva semprotkan tadi sore. Bibir mereka bertemu ganas, tanpa basa-basi. Lidah Pak Bahar menyusup masuk, mengeksplorasi mulut Eva seperti lelaki yang sudah lama menahan lapar.

Eva mengerang pelan di antara ciuman, tangannya merayap ke bawah, membuka resleting jaket lalu kaos Pak Bahar. Kulit dada lelaki itu hangat, berbulu halus, dan masih berotot meski usia tak muda lagi. “Pak Bahar… cepat,” bisiknya, suaranya serak penuh kebutuhan.

Mereka tak perlu ke kamar. Dapur belakang cukup gelap, hanya diterangi cahaya samar dari luar yang menembus jendela. Pak Bahar mengangkat Eva dengan mudah, meletakkannya di atas meja marmer dingin yang biasa dipakai memotong daging. Gamis Eva tersingkap cepat, kain itu naik sampai pinggang. Seperti biasa, ia tak mengenakan apa-apa di bawahnya—sudah jadi kebiasaan sejak mengetahui suaminya tak akan pernah “bangun” lagi di malam hari.

Pak Bahar berlutut, wajahnya tenggelam di antara paha Eva. Lidahnya langsung bekerja, menjilat dan menyedot dengan gerakan yang kasar tapi penuh pengalaman. Eva menggigit bibirnya keras, tangannya mencengkeram rambut lelaki itu, menariknya lebih dalam. “Ah… Pak… lebih dalam lagi…” desahnya, suaranya tertahan agar tak terdengar ke kamar depan.

Tak lama, Pak Bahar berdiri. Celananya sudah turun, memperlihatkan bukti bahwa usia 55 tahun tak membuatnya loyo seperti suami Eva. Ia besar, keras, dan berdenyut penuh tenaga. Eva menatapnya dengan mata lapar, lalu meraih dan menggenggamnya, mengusap pelan sambil menatap mata Pak Bahar.

“Masukin sekarang, Pak. Aku sudah nggak tahan,” katanya, kakinya membuka lebar di atas meja.

Pak Bahar tak menunggu lagi. Ia memasuki Eva dengan satu dorongan kuat, membuat meja marmer bergoyang pelan. Eva mendesah panjang, kepalanya terdongak, rambutnya menjuntai ke belakang. Gerakan Pak Bahar cepat dan dalam, setiap dorongan membuat tubuh Eva berguncang. Tangannya meremas payudara Eva melalui gamis, jarinya mencubit puting yang sudah mengeras sampai Eva menggelinjang.

“Lebih keras, Pak… aku mau lebih keras…” bisik Eva, kakinya melingkar di pinggang lelaki itu, menariknya lebih dalam setiap kali ia mendorong.

Pak Bahar menurut. Ia mempercepat ritme, tangannya mencengkeram pinggul Eva, menariknya rapat sampai tak ada jarak lagi. Suara hujan di luar menutupi derit meja dan desahan mereka yang semakin tak terkendali. Eva mencakar punggung Pak Bahar melalui kaos basahnya, meninggalkan bekas merah yang akan ia sembunyikan besok pagi.

Saat klimaks mendekat, Eva menarik wajah Pak Bahar mendekat, menciumnya ganas sambil menggigit bibir bawah lelaki itu. “Di dalam, Pak… keluarin di dalam aku…” pintanya, suaranya parau.

Pak Bahar menggeram pelan, dorongannya semakin kuat beberapa kali lagi, lalu melepaskan segalanya di dalam Eva dengan desahan panjang yang tertahan. Tubuh mereka bergetar bersama, napas tersengal, keringat bercampur hujan yang menetes dari tubuh Pak Bahar.

Mereka terdiam beberapa saat, masih saling menempel. Pak Bahar mundur pelan, membantu Eva turun dari meja. Gamisnya ia rapikan kembali, meski kusut dan sedikit basah. Eva menyentuh pipi lelaki itu, tersenyum tipis.

“Besok malam hujan lagi katanya,” katanya pelan.

Pak Bahar mengangguk, mencium kening Eva sekali sebelum berbalik pergi melalui pintu belakang, meninggalkan aroma hujan, keringat, dan rahasia yang semakin dalam.

Eva kembali ke kamarnya, berbaring di samping Ustadz Kholil yang masih terlelap tak sadar. Ia menatap langit-langit gelap, tangannya menyentuh perutnya sendiri, merasakan hangat yang masih tersisa.

Dan ia tahu, besok malam, ketika hujan kembali turun, pintu belakang akan berderit lagi. Mungkin Pak Bahar atau yang lainnya….

^*^

Pagi di sungai Cikupa selalu ramai sebelum matahari benar-benar bangun. Ember warna-warni berjejer, kain dipukul ke batu, dan cerita mengalir lebih deras dari arus.

“Eh, Mak Uun,” kata Bu Rina sambil mengucek baju, “kemarin aku papasan sama Eva.”

Mak Uun tidak langsung menjawab. Ia menepuk-nepuk sarung basah, lalu mendengus pelan. “Lewat depan rumahku juga. Senyumnya itu lho.”

“Senyum gimana?” sela Bu Yayah, tangannya cekatan tapi telinganya lebih cekatan.

“Bukan senyum orang salam,” jawab Bu Uun. “Senyum orang ngerti dirinya dilihat.”

Bu Rina terkekeh kecil. “Padahal bajunya panjang semua. Kerudungnya rapih. Tapi entah kenapa ya… kok rasanya beda.”

Air sungai bergolak pelan, seperti ikut menyetujui.

Bu Yayah mencondongkan badan. “Kata suamiku, kalau disapa sama dia, suaranya lembut banget. Bukan lembut biasa. Lembut yang bikin orang mikir dua kali.”

“Lho, Ustadzah kok gitu?” Bu Rina pura-pura heran, padahal matanya berbinar.

“Makanya,” sahut Bu Uun. “Dulu katanya penyanyi dangdut, ya? Pantesan. Bawaan panggung itu susah ilang.”

Bu Rina menepuk air. “Tapi sama Ustadz Kholil kelihatannya nurut. Duduknya sopan, ngomongnya pelan.”

“Di depan suami,” kata Bu Yayah cepat. “Kalau suaminya ada, semua orang juga bisa jadi malaikat.”

Mereka terdiam sebentar. Hanya suara kain diperas dan air menetes. Lalu Mak Uun bicara lagi, lebih pelan, seolah takut didengar batu sungai.

“Bukan iri, ya. Umur beda jauh begitu, orang-orang juga maklum. Ustadz Kholil kan orang berada.”

“Iya,” Bu Rina mengangguk. “Anak-anaknya juga sudah sukses. Mau nikah lagi juga urusan dia.”

“Tapi istrinya itu,” Bu Yayah mengangkat alis, “kok kayak senang dites pandangannya orang.”

Bu Rina tersenyum miring. “Mungkin kebiasaan lama. Kalau dulu nyanyi, kan memang hidup dari tatapan.”

Air sungai kembali berisik. Seekor ayam lewat di tepi, mencari sisa nasi.

“Yang penting jangan sampai bikin kampung panas,” kata Mak Uun sambil berdiri, mengangkat ember. “Kita ini hidup cari tenang, bukan cari cerita.”

Bu Yayah tertawa kecil. “Tenang itu mahal, Mak. Apalagi kalau ada yang jalannya halus tapi bekasnya terasa.”

Mereka beranjak pulang, cucian bersih, gosip setengah kering. Di Cikupa, cerita memang begitu. Tidak pernah selesai, hanya pindah tangan.

Di bawah pohon waru, tiga lelaki paruh baya duduk memandang air sungai yang membawa daun dan rahasia.

Bah Karta menarik napas panjang, lalu menghembuskannya seperti orang melepas beban hidup. “Jaman sekarang itu aneh, Bun.”

Bah Bubun mengangguk sambil mengetuk-ngetuk pipa rokoknya. “Aneh gimana, Bah?”

“Bukan nikah mudanya,” jawab Bah Karta. “Itu mah urusan dapur orang. Yang bikin orang kampung ribut itu… caranya.”

Pak Ending yang dari tadi diam akhirnya nimbrung. “Caranya apa, Bah?”

Bah Karta melirik kiri kanan, lalu mendekat sedikit. “Cara Eva itu lho. Halus. Terlalu halus buat ukuran orang pesantren.”

Bah Bubun terkekeh, suaranya serak. “Heh, kamu mah kebanyakan mikir, Bah. Orang Eva bajunya rapih, ngomongnya sopan.”

“Iya sopan,” sahut Bah Karta cepat, “tapi sopannya kayak ada nadanya. Kalau nyapa, ‘Mang Karta…’ itu panjang di akhirnya. Bikin orang nengok.”

Pak Ending menggaruk kepala. “Aku juga pernah disapa. Biasa aja sih.”

Bah Bubun melirik tajam. “Biasa buat kamu. Tapi coba tanya jantung kamu, Ending.”

Pak Ending terdiam. Lalu tersenyum kecut. “Ya… agak beda dikit lah.”

Bah Karta menepuk lutut. “Nah, kan. Itu yang aku maksud. Bukan salah, tapi bikin orang salah mikir.”

Bah Bubun menghela napas. “Katanya dulu dia penyanyi dangdut?”

“Cerita warung kopi begitu,” jawab Bah Karta. “Entah benar entah tidak. Tapi kalau benar, ya wajar. Orang panggung itu biasa hidup dari perhatian.”

Pak Ending menatap sungai. “Kasihan juga Ustadz Kholil. Umurnya segitu, mungkin cuma pengen ada yang nemenin.”

“Iya,” Bah Bubun mengangguk. “Ustadz Kholil mah alim. Orangnya lurus.”

“Justru itu,” Bah Karta mengecilkan suara. “Kalau istrinya main halus di belakang, orang-orang kampung yang jadi panas. Bukan dia.”

Pak Ending mengangguk pelan. “Di kampung itu, yang berbahaya bukan yang terang-terangan. Tapi yang kelihatannya baik.”

Bah Bubun tertawa pendek. “Kamu ngomong kayak kiai aja.”

“Bukan,” jawab Pak Ending. “Aku ngomong kayak orang kampung yang nggak mau ribut.”

Angin sungai bertiup, membawa bau tanah basah.

Bah Karta berdiri, menepuk celana. “Sudahlah. Kita cuma bisa jaga mata, jaga pikiran. Orang lain mah biar urusannya sama Gusti.”

Bah Bubun ikut berdiri. “Betul. Tapi cerita tetap jalan.”

Pak Ending tersenyum tipis. “Namanya juga Cikupa. Air sungainya aja nggak pernah berhenti ngomong.”

Mereka pergi satu per satu, meninggalkan bangku bambu dan sungai yang terus mengalir, membawa gosip ke hilir, perlahan tapi pasti.

Lain di sung, lain di bawah pohon waru, lain pula obrolan di samping warung, walau themanya tak jauh-jauh amat.

Di samping warung Bu Wati, Rini dan Siti duduk saling berhadapan. Plastik es teh berembun, tapi mulut mereka kering karena terlalu sibuk bicara.

“Nin, ngomong-ngomong soal Eva,” kata Rini sambil mengaduk sedotan, “kamu sadar nggak, sejak dia ada di kampung, dua orang itu makin sering kelihatan mondar-mandir?”

Nina langsung mengangkat alis. “Yang kamu maksud… Pak Jaya sama Mang Udin?”

Rini nyengir. “Lah iya. Emang siapa lagi?”

Nina tertawa kecil, menutup mulut. “Dari dulu juga mereka bahan omongan. Bedanya sekarang kayak dapat panggung baru.”

Rini melirik ke arah jalan. “Pak Jaya itu kalau lewat rumah Ustadz Kholil, jalannya pelan banget. Padahal biasanya ngebut kayak dikejar setan.”

“Kalau Mang Udin,” sambung Nina, “tiap sore ada aja urusannya ke warung ini. Beli rokok sebatang, beli gula seperempat. Padahal di rumahnya lengkap.”

Rini menyandarkan badan. “Katanya sih cuma pengen ngobrol.”

Nina mendengus. “Ngobrol kok matanya keluyuran.”

Mereka terdiam sejenak ketika Bu Wati lewat membawa piring gorengan. Setelah Bu Wati menjauh, Rini kembali berbisik namun obrolannya langsung melenceng jauh.

“Eh, Rin, kamu denger nggak? katanya terong Pak Darsa itu gede dan panjang kaya blak mamba, bisa bikin klepek-klepek wanita sampe lupa jalan ke sawah!” kata Nina sambil mengedipkan mata, suaranya dibuat pelan tapi penuh nada nakal.

Rini menahan tawa sambil melirik ke sekitar, takut ada yang denger. “Iya sih! Tapi Bah Mardi beda lagi. Katanya dia tuh polos di luar, tapi dalemnya galak, bisa ngegas sampe pagi tanpa capek.”

Nina terkikik sampai hampir jatuh dari bangku. “Aduh, jangan sampe kita ketahuan gosipin mereka, nanti disulap jadi katak! Tapi serius, Rin, kalau boleh milih, mending Pak Darsa, setidaknya dia nggak bikin kita takut kalau sampai hamil, secara dia duda kaya raya bisa kasih biaya, hahahaha!”

“Nin, Pak Darsa kan udah lama sendiri, kamu bisa bayangin gak, gimana kalau dia begituan, hihihi….” Rini kemabli terkikik.

“Pastinya banjir bandang dong, hahahaha…” timpal Nina, tak kuasa menahan tawa.

“Tapi Rin, aku pernah gak sengaja liat punya Pak Darsa. Beliau lagi mandi berdiri di pancuran belakang rumahnya. Ya Tuhan, terongnya panjang dan gede banget. Aku langsung sembunyi di balik pohon, jantung berdegup kencang, tapi penasaran nggak bisa berhenti ngintip,” cerita Nina dengan suara bergetar campur malu, pipinya memerah seperti buah delima matang.

Rini mencondongkan badan, tangannya memegang lengan Nina erat-erat.

“Aku sih waktu itu lagi bawa teh buat suamiku yang lagi dipijit sama Bah Mardi. Beliau cuma pake kolor, jongkok sambil urut punggung suamiku. Ya Tuhan kolornya tersingkap. Wah, ternyata dalemnya emang galak bener! kayak siap ngegas kapan aja. Aku hampir aja numpahin tehnya saking klepek-klepek diajak main mata sama dia.”

Nina tertawa pelan, tapi buru-buru menutup mulutnya saat mendengar suara langkah kaki dari kejauhan. “Hihihi, untung suamimu nggak curiga istrinya main mata.”

“Aman, suamiku kan ketiduran karena keenakan dipija Bah Mardit, hehehe.”

“Tapi Rin. Kita mesti jujur, Pak Darsa itu memang beda. Duda kharismatik, kaya raya, udah mateng banget. Kalau dia ngajak selingkuh kamu mau gak?” Nina kembali bicara serius.

Rini mengipas wajahnya lebih kencang. “Aduh, jangan bikin godaan deh! Aku aman kok, masih puas sama suamiku, meski kadang dia sakit pinggang. Tapi kalau dipaksa milih, aku sih mending Bah Mardi. Udah ketahuan polos luarannya, tapi dalemnya masih bisa ngegas sampe pagi, hahaha. Kamu mau coba deketin Pak Darsa ya?”

“Ih, kamu ini!” Nina pura-pura cemberut, tapi ikut tertawa sampai bahunya bergoyang. “Suamiku masih aman juga sih, hanya kadang penasaran juga sama terong tua yang besar, panjang dan masih perkasa, hahaha.”

“Udah ah jangan ngegosip aja. Yuk, pulang, nanti Mak Sati lewat, cemburu lagi sama kita gara-gara ngegosipin Bah Mardi.”

“Oke, tapi besok cerita lagi ya, ada gosip baru soal Eva yang katanya obsessed banget sama Pak Darsa, gak tahu kenapa, padahal katanya punya suaminya juga gede dan panjang, hihihi.”

“Gede dan panjang mungkin saja, tapi masih bisa berdiri gak? Aku denger-denger sih Ustadz Kholil udah gak berdaya.”

“Hah, terus ngapain nikah lagi sama mantan penyanyi dangdut yang bahkan usianya di bawah anak bungsunya?”

“Iya sih, seharunya Ustadz Kholil itu menikah lagi sama yang sebaya, biar seimbang dan bisa ngurus dia yang sudah mulai sering masuk angin, hihihi.”

Mereka bangun sambil saling dorong-dorongan kecil, meninggalkan warung dengan tawa yang masih bergema pelan di antara deru angin sawah. Langit masih terang, seperti rahasia Kampung Cikupa yang semakin terang benderang.

^*^

Di Cikupa, gosip tidak pernah datang dengan pintu depan. Ia masuk lewat warung kopi, melompat ke teras mushola, lalu bermalam di grup WhatsApp RT. Beberapa bulan terakhir, satu nama jadi langganan bisik-bisik. Ustadz Kholil.

Usianya 72 tahun, langkahnya pelan, tapi hartanya berlari kencang. Juragan tanah, anak-anaknya sudah mapan, dan sejak lama menduda. Ketika kabar menikah lagi muncul, warga hanya mengangguk pendek. Bukan hal aneh. Rezeki orang, jodoh orang.

Yang membuat alis terangkat bukan pengantinnya yang muda, tapi siapa dia.

Namanya Eva. Kini dipanggil Eva. Tapi di warung kopi, cerita punya versi lain. Katanya dulu ia bukan ustadzah, bahkan jauh. Ngocoks.com

Ada yang bersumpah pernah melihatnya bernyanyi dangdut di kecamatan sebelah, dengan lampu panggung dan suara yang bisa melunakkan lutut. Benar atau tidak, tak ada yang bisa membuktikan. Tapi gosip tak butuh bukti, ia hanya perlu mulut.

Setelah menikah, Eva berubah total. Kerudung rapi, gamis panjang, langkah tenang. Duduk di samping Ustadz Kholil seperti bayangan yang patuh. Banyak yang memuji. “MasyaAllah, hidayah,” kata mereka.

Namun waktu punya kebiasaan mengelupas cat.

Pelan-pelan, kegelisahan tumbuh. Bukan karena pakaian terbuka. Justru sebaliknya. Semuanya tertutup, terlalu rapi, terlalu pas. Cara bicara Eva lembut, manja, seperti nada akhir lagu dangdut yang sengaja ditahan. Jika menyapa lelaki, senyumnya tidak berlama-lama, tapi cukup untuk diingat. Matanya tidak nakal, hanya tahu caranya singgah.

“Dia itu halus,” bisik seorang bapak di pos ronda.

“Halus tapi bikin gelisah,” jawab yang lain.

Di belakang Ustadz Kholil, cerita-cerita kecil bermunculan. Tak ada yang kasar, tak ada yang bisa dituduh. Hanya rasa tidak nyaman yang menggantung, seperti bau parfum manis di udara malam. Tidak terlihat, tapi semua tahu itu ada.

Dan di Cikupa, itu sudah cukup untuk membuat kehebohan hidup sendiri. Dan Eva, sejatinya hanya sebuah titik diantara seliwean gosip kampung dan titik-titik krusial lainnya yang masih menyimpan sejuta misteri dan butuh dipecahkan.

Bersambung… Di tengah hamparan sawah yang luas, padi hijau bergoyang lembut ditiup angin sore. Langit mulai berwarna jingga, memantulkan cahaya hangat ke permukaan air irigasi yang mengalir pelan di antara petak-petak sawah. Dua lelaki sepuh duduk bersandar di pematang, mengaso setelah seharian mengawasi para pekerja memperbaiki saluran air yang sempat tersumbat lumpur.

Pak Darsa, pemilik sebagian besar sawah di hamparan itu, mengisap rokok kreteknya dalam-dalam. Asap putihnya mengepul, membentuk lingkaran samar sebelum lenyap di udara senja.

Di sebelahnya, Bah Mardi, tetangga sekaligus sahabat lamanya, duduk termangu menatap bentangan padi yang berkilau keemasan. Rokok di bibirnya sudah lama mati, tapi tetap dibiarkan menempel tanpa niat dibuang.

Beberapa menit mereka hanya diam. Heningnya sawah sore itu hanya dipecah oleh suara gemerisik padi dan kicau burung pipit yang pulang ke sarang. Ngocoks.com Hening yang bukan canggung, tapi nyaman, seperti dua orang yang sudah terlalu lama saling memahami tanpa perlu banyak bicara.

Sampai akhirnya Bah Mardi berdehem pelan. “Pak…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.

“Hmm?” sahut Pak Darsa tanpa menoleh, matanya masih menatap langit yang perlahan memerah.

“Saya… masih sering kepikiran,” ucap Bah Madi ragu.

Pak Darsa menoleh sedikit, keningnya berkerut. “Kepikiran apa?”

Bah Mardi menarik napas panjang. “Ya itu… masih ada rasa pingin sama kenikmatan perempuan, tapi Mak Siti sekarang udah nggak mau lagi. Katanya kita ini udah tua, nggak pantas begitu-begituan.”

Pak Darsa terkekeh kecil, suara tawanya berat namun tak mengejek. “Lha, kita umur udah segini, masa masih mikirin urusan ranjang terus, Bah.”

Bah Mardi ikut tertawa hambar. “Namanya juga manusia, Pak. Birahi ini masih suka muncul. Tapi itu tadi, istri kalau dipaksa malah marah. Bilang saya nggak tahu diri, lah. Saya kan jadi bingung, harus gimana, Pak.”

Pak Darsa menghela napas pelan, menepuk bahu sahabatnya. “Sabar, Bah. Kadang kita memang harus ngalah sama waktu. Kalau istrimu udah nggak mau, ya diterima. Hidup ini memang ada masanya masing-masing. Saya udah lima tahun sendiri, sejak almarhumah meninggal. Nggak pernah lagi mikirin yang begituan.”

Bah Mardi menunduk. Langit di atas sawah kini jingga kemerahan, angin sore membawa aroma tanah basah. “Hidup ini aneh ya, Pak,” ujarnya pelan. “Udah tua, bukannya makin tenang, malah makin banyak yang dipikirin.”

Pak Darsa tersenyum tipis. “Begitulah, Bah. Hidup nggak pernah kehabisan cara buat nguji kita.” Ia menatap sahabatnya, lalu dengan nada bercanda menambahkan, “Ya kalau gitu, coba aja rayu Neng Fitri.”

“Hah?” Bah Mardi langsung menoleh, kaget bukan main.

Pak Darsa tertawa lebar. “Lho, siapa tahu cocok. Kan dia sering main ke rumahmu. Lagian suaminya jarang pulang, kadang cuma sebulan sekali kan?”

“Edan kamu, Pak!” seru Bah Mardi, separuh malu separuh marah. “Fitri itu istri anak saya!”

Pak Darsa masih tertawa geli. “Hehehe, becanda, Bah. Tapi ya, jangan sampai beneran kejadian. Dosa besar itu.”

Bah Mardi menggeleng kuat-kuat, wajahnya merah. “Kalau beneran sampai ada yang begitu, artinya dunia ini memang udah rusak, Pak.”

Pak Darsa menatap sahabatnya sejenak, masih tersenyum samar. Ia tak benar-benar bercanda, gosip di kampung Cikupa memang sedang ramai. Saat ini sedang marak gosip perselingkuhan antar tetangga malah masih punya ikatan saudara.

Dan dari warung kopi beberapa hari lalu, telinganya sempat menangkap kabar, kalau Bah Mardi justru pelaku utamanya dalam semua perselingkuhan itu, termasuk dengan Eva yang sedang trending.

Obrolan siang itu pun berakhir menggantung. Tak ada kesimpulan, tak ada nasihat yang benar-benar menenangkan. Hanya dua lelaki tua yang tiba-tiba merasa lebih muda dari biasanya. Mereka kemudian beralih membicarakan harga gabah, buruh panen, dan irigasi yang mulai bocor lagi. Sampai akhirnya berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.

Tapi di hati kecil Pak Darsa, masih menyimpan rasa yang janggal.

Tadi, ketika ia menyebut nama Neng Fitri, matanya sempat menangkap perubahan di wajah Bah Mardi, sekilas, tapi jelas. Ada sesuatu di sana, entah malu, entah terkejut, atau justru sesuatu yang lain.

“Jangan-jangan Bah Mardi beneran kepikiran sama menantunya,” gumam Pak Darsa dalam hati.

Senja hampir turun ketika Pak Darsa tiba di rumah besarnya. Halamannya luas, dikelilingi pohon mangga tua dan lumbung besar tempat menyimpan hasil panen. Ia menaruh topi caping dan cangkul yang tadi cuma ia bawa untuk gaya, sebab pekerjanya yang mengurus semua urusan kebun dan sawah.

Lalu mencuci kaki di pancuran belakang, kemudian duduk di kursi bambu di teras, dan menyalakan rokok. Asapnya melingkar-lingkar di udara yang mulai lembap. Di depan sana, kebun-kebun yang menjadi sumber rezeki banyak orang mulai gelap perlahan.

Pak Darsa mengembuskan asap terakhir, menatap jauh ke cakrawala. “Hidup ini lucu,” gumamnya pelan. “Semakin banyak yang kita punya, semakin sedikit yang bisa benar-benar kita nikmati.”

Pak Darsa, berusia 65 tahun, pensiun PNS yang kini merambah dunia bisnis bidang pertanian. Dengan rambut sebagian sudah memutih, tubuh tegap, dan sorot mata tajam, Pak Darsa adalah sosok yang paling disegani dan dihormati oleh semua warga Cikupa.

Walau telah lama menduda, kesetiaan pada mendiang istrinya tak tergoyahkan. Senantiasa menolak semua upaya banyak wanita yang mendekat. Dia merasa tak pernah kesepian karena hari-harinya diisi dengan olahraga, mengurus kebun, sawah, mengelola usaha, serta bersilaturahmi dengan sanak saudara baik yang dekat maupun jauh. Bahkan masih rajin mengunjungi anak dan cucunya yang tinggal di tempat lain.

Pak Darsa juga dikenal dermawan, tulus, tutur katanya lembut dan bijaksana, tak heran jika membuat banyak orang meminta nasihat darinya. Namun di balik ketenangannya, ia menyimpan banyak rahasia besar yang tak pernah diceritakan pada siapapun.

Sementara Bah Mardi setahun lebih muda dari Pak Darsa dan memang lebih terbuka, lebih gaul dan lebih mesum dalam kesehariannya.

^*^

Ketika Pak Darsa melangkah pulang dan menutup hari dengan rokok serta renungan, Bah Mardi justru membelokkan langkahnya.

Ia tidak langsung menuju rumah. Kakinya membawa tubuhnya ke arah kebun singkong di ujung kampung, tempat Mak Uun biasa memetik daun menjelang magrib. Matahari sudah rendah, sinarnya menembus sela daun singkong yang lebar, menciptakan bayang-bayang seperti jaring.

Mak Uun berdiri membungkuk, keranjang anyam di pinggangnya sudah setengah penuh. Kerudungnya sedikit longgar karena keringat, tapi gerakannya cekatan, terlatih.

“Assalamu’alaikum, Mak Uun,” suara Bah Mardi muncul dari balik batang singkong.

Mak Uun menoleh, agak terkejut. “Wa’alaikum salam. Eh, Bah Mardi. Kok sore-sore ke sini?”

Cerita Dewasa Ngentot - Kakek Tua
Bah Mardi tersenyum, senyum orang yang seolah tidak punya maksud apa-apa. “Nengokin saja. Tadi dari sawah. Kepikiran cucu. Anak-anak sehat semua, Mak?”

Mak Uun kembali memetik daun. “Alhamdulillah. Cucu juga sehat. Paling bikin capek ya yang kecil, lari terus.”

Bah Mardi tertawa kecil. “Namanya juga cucu. Bikin capek, tapi kalau nggak ada, malah kangen.”

Ia mendekat sedikit, menjaga jarak yang masih pantas, tapi cukup dekat untuk membuat Mak Uun sadar akan kehadirannya.

“Pak Ukar gimana sekarang?” tanya Bah Mardi, nadanya berubah lebih lembut. “Masih sering pusing?”

Mak Uun menghela napas. “Masih. Tangan kanannya suka lemas. Kalau jalan juga nggak bisa jauh. Saya ya gini, Bah. Kebun, dapur, semua sendiri.”

Bah Mardi mengangguk-angguk, ekspresinya penuh simpati. “Kasihan, Mak. Istri setia memang berat bebannya.”

Mak Uun tersenyum tipis. “Sudah kewajiban.”

Bah Mardi melirik tangan Mak Uun yang memetik daun tanpa henti. “Mak Uun kuat, ya. Perempuan zaman sekarang jarang yang kuat begitu.” Ngocoks.com

Mak Uun tertawa kecil, agak kikuk. “Ah, Bah Mardi bisa saja.”

“Bener,” lanjut Bah Mardi. “Kalau perempuan kuat begitu, laki-laki jadi… ya kadang merasa kecil.”

Mak Uun berhenti memetik sebentar. “Maksudnya?”

Bah Mardi pura-pura berpikir. “Maksudnya, kadang laki-laki pengen berguna. Pengennya masih dibutuhin.”

Mak Uun menunduk, merapikan daun di keranjang. “Kalau sudah tua mah, yang penting saling ngertiin.”

“Iya,” sahut Bah Mardi cepat. “Tapi ngerti itu kan luas. Bukan cuma soal makan sama obat.”

Nada suaranya turun, hampir berbisik. Angin sore lewat, menggerakkan daun singkong, membuat suasana terasa lebih sempit.

Mak Uun berdehem. “Bah Mardi, ngomongnya kok jadi aneh.”

Bah Mardi langsung tertawa kecil, mengangkat kedua tangan. “Lho, jangan salah paham, Mak. Saya cuma kasihan sama orang-orang yang hidupnya sepi tapi nggak berani bilang.”

Mak Uun mengikat keranjang di pinggang, berdiri tegak. “Sepi itu urusan hati. Nggak semua perlu ditemani orang.”

Bah Mardi mengangguk, tapi matanya tidak sepenuhnya mundur. “Betul. Tapi kadang, ditemani ngobrol saja juga sudah cukup menghangatkan.”

Mak Uun menatapnya lama, lalu berkata tegas tapi pelan, “Bah Mardi, kita ini sama-sama sudah tua. Jangan bikin orang salah sangka.”

Bah Mardi tersenyum, kali ini lebih tipis. “Mak Uun benar. Saya kebablasan. Mungkin karena lihat Mak Uun masih segar, jadi lupa umur sendiri.”

Mak Uun menghela napas, lalu memalingkan wajah. “Saya pulang dulu. Magrib sebentar lagi.”

“Ati-ati, Mak,” kata Bah Mardi. “Salam buat Pak Ukar.”

Mak Uun melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Bah Mardi berdiri sendiri di kebun singkong, senyum di wajahnya perlahan pudar. Ia menghela napas panjang, lalu meludah kecil ke tanah.

“Dunia ini memang kejam,” gumamnya. “Yang dilarang justru sering kelihatan paling dekat.”

Senja turun perlahan, menutup kebun, menutup obrolan yang tidak selesai. Tapi seperti gosip lain di Cikupa, yang tidak selesai justru biasanya baru akan mulai.

Bersambung… Pagi itu, Pak Darsa sedang menyesap kopi hangatnya di teras depan. Uap tipis mengepul dari cangkir seng kesayangannya, sementara matanya mengawasi kebun mangganya yang rimbun dan terawat. Daun-daun bergoyang pelan ditiup angin pagi, seperti sedang berbisik tentang rahasia kampung yang tak pernah benar-benar sepi.

Langkah kaki yang sudah dikenalnya sejak puluhan tahun lalu terdengar mendekat.

Suara batuk kecil mengiringi kedatangan Bah Juni, tetangga jauhnya yang memang terbiasa mampir tanpa janji. Bah Juni, pensiunan satpam sebuah bank swasta yang dulu dikenal galak tapi rapi, kini rambutnya sudah memutih, namun tubuhnya masih tegap.

Ada sisa-sisa wibawa seragam satpam yang belum sepenuhnya tanggal dari caranya berjalan dan memandang sekitar. Ia duduk bersila di bangku bambu di samping Pak Darsa, wajahnya penuh rahasia yang seolah sudah tak sabar untuk dikeluarkan.

Pak Darsa melirik sekilas. Dalam hati, ada sesuatu yang mengganjal. Entah kenapa, akhir-akhir ini Bah Juni sering terdengar menyebut nama Pak Rosid dengan nada yang berbeda. Bukan sekadar cerita kampung biasa. Ada getar lain, seperti rasa iri yang disamarkan.

Pak Darsa melirik sekilas. Ia menangkap gelagat aneh dari Bah Juni pagi itu. Ada sorot mata yang terlalu bersemangat, seperti orang yang membawa kabar besar. Entah kenapa, di benaknya terlintas pikiran bahwa Bah Juni seolah menyimpan rasa iri pada Pak Rosid. Bukan iri yang diucapkan, tapi terasa di sela nada dan bahasa tubuhnya.

“Selamat pagi, Pak Darsa. Sudah lama tak ngopi bareng,” sapa Bah Juni, mengambil cangkir kopi yang disodorkan Pak Darsa.

“Pagi juga, Bah. Ada kabar apa pagi ini? Kok wajahnya berseri-seri begitu,” balas Pak Darsa, tersenyum tipis, tapi dalam hati ia sudah menduga akan ada berita hangat yang datang.

Bah Juni mendekatkan badannya, suaranya dibuat pelan, nyaris berbisik. “Ini Pak… saya kok punya firasat nggak enak ya sama Pak Rosid. Pemilik warung besar itu lho.”

Pak Darsa mengangkat alis, berusaha tetap tenang. “Pak Rosid? Ada apa dengan dia? Setahu saya dia orang baik, rajin sedekah juga.” Ngocoks.com

“Betul Pak, orangnya baik memang. Tapi… kok akhir-akhir ini saya sering lihat dia terlalu akrab sama Eva,” kata Bah Juni, matanya melirik ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang mendengar. “Padahal kan… istrinya Pak Rosid juga masih seger, lagian Eva kan punya suami.”

Pak Darsa menyeruput kopinya, ekspresinya tetap tenang, namun otaknya mulai bekerja cepat. Ia tidak langsung percaya, tapi juga tidak menolak mentah-mentah. Di kampung kecil seperti Cikupa, cerita seperti ini jarang muncul tanpa jejak.

Kecurigaan Bah Juni terhadap Pak Rosid menambah daftar panjang benang kusut di Kampung Cikupa. Pak Darsa teringat pada Bah Mardi, Pak Bakar, dan Bah Danu, nama-nama yang belakangan ini sering muncul dalam percakapan setengah berbisik. Kini, nama Pak Rosid ikut masuk ke pusaran itu.

“Memang kalau urusan hati, bisa bikin mata gelap ya,” tambahnya, lebih sebagai komentar untuk dirinya sendiri daripada pertanyaan pada Bah Juni.

Bah Juni mengangguk-angguk setuju. “Iya, Pak. Makanya saya jadi curiga. Apa jangan-jangan… mereka ada main mata di belakang layar ya? Makanya saya sampaikan ke Bapak, Bapak kan masih saudaranya dengan Pak, suapaya dinasihatin.”

Pak Darsa tersenyum ramah. Senyum orang yang tahu, mendengar adalah bagian dari menjaga kampung, tapi menelan mentah-mentah cerita adalah hal yang berbeda.

“Terima kasih infonya, Bah. Saya akan perhatikan. Memang kita harus saling mengingatkan kalau ada yang tidak beres di kampung.”

Kopi di cangkirnya tinggal setengah. Pak Darsa menatap kebun mangganya lagi. Ia tahu, pagi itu bukan sekadar tentang kopi dan obrolan tetangga. Ada cerita panjang yang baru saja mulai ditarik benangnya, dan siapa pun yang salah menarik, bisa membuat semuanya kusut.

Di balik senyum itu, Pak Darsa tahu satu hal. Di Kampung Cikupa, bukan hanya rahasia yang beredar. Rasa iri pun bisa berjalan pelan, menyamar sebagai kepedulian.

Setelah Bah Juni pamit, Pak Darsa kembali duduk sendirian. Daftar orang yang patut dicurigai kini bertambah. Jika tadinya ia berencana menyelidiki tiga teman dekatnya kini bertambah lagi, Pak Rosid yang tak lain adalah sepupunya sendiri.

Sebenarnya tidak terlalu aneh, Rosid muda terkenal agak nakal. Namun setelah anaknya menikah tidak terdengar lagi, mungkin sadar karena sudah pnuya cucu atau perkakasanya sudah tidak maksimal berukuran cenderung kecil. Atau keuangannya seret karena dikendalikan oleh Bu Rosid, istrinya.

“Kalau bener ada main. Apa yang diincar Eva dari Rosid? Kurang apa Ustadz Kholil? Kurang perkasa? Si Rosid juga sama. Lagian kenapa Eva nikah sama Ustadz Kholil dari fsisiknya aja udah keliatan aki-aki’ gumannya dalam hati.

Pak Darsa baru saja berganti pakaian hendak pergi ke sawah, kemeja lengan panjangnya sudah rapi terselip di balik celana kain. Topi caping tergeletak di meja samping pintu, siap dikenakan. Namun, belum sempat ia melangkah keluar, tiba-tiba terdengar suara salam dari pintu depan.

“Assalamualaikum, Pak Darsa…”

Pak Darsa menoleh, senyum tipisnya mengembang melihat Mak Siti berdiri di ambang pintu, membawa piring yang ditutupi tudung saji kecil. Aroma gurih goreng singkong renyah langsung menyebar di udara.

“Waalaikumussalam, Mak Siti. Wah, bawa apa ini?” sambut Pak Darsa ramah, meskipun dalam hati ia sudah sedikit curiga. Biasanya, jika Mak Siti datang dengan membawa sesuatu, ada udang di balik batu, atau lebih tepatnya, ada permintaan pinjaman uang di balik makanan.

Mak Siti melangkah masuk, meletakkan piring berisi goreng singkong di meja. Wajahnya terlihat agak gelisah, senyumnya pun dipaksakan. “Ini Pak, sedikit oleh-oleh. Tadi saya goreng singkong, kebetulan renyah. Jadi saya bawakan untuk Bapak,” ucapnya, matanya menatap lantai, menghindari pandangan Pak Darsa.

Pak Darsa mempersilakan Mak Siti duduk. “Terima kasih banyak, Mak. Jadi merepotkan. Ada apa ini, kok tumben pagi-pagi sudah ke rumah saya?” tanyanya, langsung ke inti, tahu bahwa Mak Siti tidak akan datang hanya untuk mengantar goreng singkong.

Mak Siti menghela napas panjang. Wajahnya kini berubah murung, sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Ia memainkan ujung jilbabnya, lalu dengan agak malu-malu dia mengutarakan maksud kedatangannya.

“Begini, Pak. Saya mau minta tolong sama Bapak. Tolong nasihati Bah Mardi, suami saya.”

Pak Darsa terdiam sesaat, menyeruput kopi sisa. Ia menduga masalah rumah tangga, tapi tidak menyangka akan secepat ini. “Nasihati bagaimana, Mak? Memangnya Bah Mardi kenapa?” tanyanya lembut, mempersiapkan diri mendengar keluh kesah.

Air mata Mak Siti mulai menggenang di pelupuk matanya. “Saya sudah lama, Pak, merasa Bah Mardi itu kurang peduli lagi sama saya. Sudah tidak seperti dulu. Malam-malam sering keluar, dengan alasan macam-macam. Tapi pulangnya… ah, sudahlah Pak. Pokoknya saya merasa dia sudah jauh berubah.”

“Saya ini cuma mau suami saya kembali peduli lagi sama saya, Pak. Bapak kan panutan di kampung ini, Bah Mardi juga pasti dengar nasihat Bapak.” Ia mengusap air mata yang kini mulai menetes di pipinya.

Pak Darsa mendengarkan dengan saksama.

“Saya mengerti, Mak. Sabar ya. Saya akan coba bicara dengan Bah Mardi. Tapi saya juga minta Mak Siti untuk lebih bersabar dan terus berdoa. Semoga hati Bah Mardi bisa kembali terang,” kata Pak Darsa menenangkan, meski dalam benaknya, ia tahu ini bukan masalah sederhana yang bisa diselesaikan hanya dengan nasihat.

Mak Siti mengangguk, merasa sedikit lega. “Terima kasih banyak, Pak Darsa. Saya percaya sama Bapak.”

Setelah Mak Siti pamit pulang, Pak Darsa kembali duduk, pandangannya kosong menatap piring goreng singkong di depannya. Kepalanya pusing. Ngocoks.com Tiba-tiba sebuah ingatan lama melintas di benaknya seperti hembusan angin sepoi dari masa lalu.

Ia teringat pesan mendiang istrinya, yang disampaikan dengan suara lembut tapi tegas saat ia masih sehat, sebelum sakitnya merenggutnya lima tahun lalu.

“Pak, jangan ikut campur urusan orang lain, apalagi masalah rumah tangga. Itu bisa jadi bumerang. Bisa menimbulkan salah paham yang tak terduga, dan akhirnya kita sendiri yang terluka,” kata istrinya waktu itu, sambil memegang tangannya erat, matanya penuh kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman hidup panjang.

Pak Darsa menghela napas panjang, tangannya meraih cangkir kopi yang sudah kosong, seolah mencari pegangan. Pesan itu terngiang jelas, seperti bisikan yang tak pernah pudar. Ia sadar, kecurigaannya terhadap Bah Mardi, gosip Pak Rosid, atau siapapun bisa saja membawanya ke jurang yang dalam jika ia terlalu mendalami.

Kampung Cikupa memang penuh rahasia, tapi apakah tugasnya untuk mengungkap semuanya?

Sebagai duda sepuh yang dihormati, ia tahu reputasinya bisa tercoreng jika salah langkah, terutama jika nasihatnya untuk Bah Mardi justru memicu konflik lebih besar, seperti yang dikhawatirkan istrinya.

“Benar juga kata almarhumah,” gumamnya pelan, matanya menatap ke kebun mangga yang hijau, mencoba menimbang antara rasa tanggung jawab dan kehati-hatian.

Akhirnya, Pak Darsa memutuskan untuk menarik diri sementara. Ia akan tetap mengawasi dari jauh, tapi tak akan campur tangan langsung. Mungkin, waktu yang akan mengungkap kebenaran, tanpa ia harus menjadi pusat badai.

Bersambung… Langit senja semakin pekat, mewarnai sawah dengan nuansa ungu dan oranye. Bah Mardi berjalan pulang menyusuri pematang, langkahnya agak gontai.

Pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Pak Darsa. Rayuan Pak Darsa tentang Fitri, menantunya sendiri, terngiang-ngiang. Walaupun ia menyangkal keras, ada gejolak aneh di dadanya setiap kali nama Fitri disebut.

Dari kejauhan, sosok seorang wanita sedang berjongkok di tepi saluran irigasi. Rambutnya yang panjang terurai, punggungnya melengkung indah saat membilas beras di dalam baskom. Bah Mardi menyipitkan mata. ‘Ah, itu pasti Ratna, istrinya Badri.’

Feeling Bah Mardi benar, dia memang Ratna, yang suaminya sedang pergi merantau, kerja memabngun IKN di Kalimatan. Badri jarang pulang, sama seperti Herman, suami Fitri. Bahkan hingga berbulan-bulan.

Bibir Bah Mardi terusngging, dia pikir ini kesempatan emas.

Ia melangkah mendekat dengan santai, seolah tak sengaja berpapasan. “Lho, Neng Ratna? Kok sore-sore begini masih di sawah sendirian?” sapa Bah Mardi, nadanya dibuat ramah dan sedikit genit.

Ratna sedikit terkejut, mendongak. Wajahnya yang masih muda dan ayu terlihat memerah tipis.

“Eh, Bah Mardi. Iya ini, berasnya kotor kena pasir sedikit, jadi saya cuci ulang di sini biar bersih,” jawabnya lembut sambil menunduk lagi, melanjutkan cuciannya. Ngocoks.com

Bah Mardi berdiri di dekatnya, pura-pura melihat air irigasi yang mengalir. “Memang rajin sekali ya, Neng Ratna ini. Pantas saja Badri sangat sayang dan bangga sama istrinya. Pasti masakannya juga enak,” pujinya, sengaja mengaitkan dengan Badri yang sedang tidak ada.

“Neng sering sendirian begini, apa tidak takut? Banyak tikus sawah berkeliaran, loh. Atau… jangan-jangan takut ada yang nyulik?” Kali ini, nada suara Bah Mardi lebih dalam, diselingi kekehan kecil yang disengaja.

Ratna mengangkat wajahnya lagi, tatapan matanya bertemu pandang dengan Bah Mardi. Ada sedikit kegugupan di sana, tapi juga sebersit rasa penasaran. “Ah, Abah ini ada-ada aja. Saya sudah biasa kok,” katanya, mencoba menutupi kegugupannya dengan senyum tipis.

Bah Mardi semakin mendekat, satu tangannya bersandar di pohon pisang yang tumbuh di tepi pematang.

“Biasa apanya, Neng? Abah yakin, kalau ada Abah di sini, hati Neng Ratna pasti lebih tenang?” ucapnya, memamerkan senyum termanis yang ia punya. Mata tuanya tak lepas dari wajah Ratna yang kini semakin memerah.

Ratna buru-buru berdiri, jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba mencari alasan untuk pergi. “Sa-saya sudah selesai, Bah. Maaf mau cepat-cepat pulang, takut keburu gelap.”

Bah Mardi tidak mudah menyerah. Ia malah melangkah sedikit lebih maju, menghalangi jalan Ratna.

“Buru-buru kenapa, Neng? Justru kalau gelap begini, obrolan kita akan semakin hangat, tidak ada yang mendengar,” bisiknya, suaranya kini terdengar begitu dekat di telinga Ratna, membuat bulu kuduk wanita alim itu berdiri. Tangannya bergerak pelan, seolah ingin meraih sesuatu.

Ratna terkesiap, mundur selangkah. Ia menatap Bah Mardi, matanya mencari tanda bahaya. Namun, yang ia lihat hanya sorot mata tua yang penuh ‘rayuan’, ditambah senyum mengembang yang membuatnya semakin cemas.

“Bah… Abah ini kenapa?” ucap Ratna, suaranya tercekat. Ia mencoba melangkah ke samping, namun Bah Mardi dengan sigap kembali menghalangi.

“Kenapa? Abah kan cuma pengen ngobrol sama Neng Ratna. Kan jarang-jarang kita bisa berduaan begini,” ujar Bah Mardi, suaranya melunak, namun tangannya kini perlahan terangkat. Jari-jari keriput itu hampir menyentuh lengan Ratna, namun Ratna buru-buru menepis.

“Maaf, Bah. Saya benar-benar harus pulang. Anak saya sendirian di rumah…” Ratna berbohong. Ia ingat betul anaknya, Ari, sedang bermain di rumah neneknya di ujung kampung.

Bah Mardi terkekeh pelan. “Oh, anak Neng Ratna? Bukannya lagi main di rumah neneknya? Abah tadi lewat sana, lihat kok.”

Mata Ratna membulat. Ia tak menyangka Bah Mardi tahu. Rasa malu dan takut bercampur aduk. Ia mencoba berpikir cepat. “T-tapi… saya harus masak, Bah. Suami saya nanti pulang…”

“Suami Neng kan di Kalimantan. Pulangnya juga masih lama, kan?” potong Bah Mardi dengan cepat, matanya berbinar licik.

“Sudahlah, Neng. Tidak usah buru-buru. Kalau Abah temani jalan pulang, bagaimana? Sekalian Abah mampir sebentar ke rumah Neng, mau minta air minum, haus sekali Abah habis dari sawah.”

Ratna berdiri mematung. Pikirannya kalut. Ia ingin menolak, namun takut Bah Mardi akan berbuat lebih nekat di tempat sepi seperti ini. Lagipula, ia tidak punya alasan kuat lagi untuk menolak. Dengan terpaksa, ia mengangguk pelan. “Ba-baik, Bah.”

Bah Mardi tersenyum lebar penuh kemenangan. Ia menyingkir dari jalan Ratna, lalu berjalan di sampingnya dengan langkah yang kini terasa lebih ringan.

Sepanjang jalan pulang, Bah Mardi tak henti-hentinya melontarkan pujian dan candaan genit, membuat Ratna semakin tidak nyaman. Sesekali ia mencoba mencuri pandang, mengamati lekuk tubuh Ratna yang berjalan di sampingnya.

Ketika sampai di depan rumah Ratna, Bah Mardi langsung masuk tanpa diminta. Rumah itu terasa sepi, hanya ada suara jangkrik dari pekarangan. Ratna melangkah masuk dengan perasaan campur aduk. “Bah. Saya ambilkan minum dulu.”

“Tidak perlu buru-buru, Neng. Pelan-pelan saja,” kata Bah Mardi, matanya menelusuri setiap sudut ruangan.

Ia duduk di kursi tamu yang terbuat dari bambu, merasa nyaman seolah rumah itu miliknya sendiri. Pandangannya terpaku pada bingkai foto Badri dan Ratna yang terpajang di dinding.

“Sayang sekali Badri tidak ada, ya, Neng? Neng Ratna pasti sering kesepian di rumah sebesar ini sendirian,” ujarnya, nadanya kini lebih mendayu.

Ratna datang dengan segelas air putih. Tangannya sedikit gemetar saat menyodorkannya. “Iya, Bah. Lumayan sepi,” jawabnya lirih, ia enggan menatap mata Bah Mardi.

“Nah, kalau begitu… mungkin Abah bisa menemani Neng Ratna sesekali, biar tidak terlalu sepi,” ucap Bah Mardi, menerima gelas itu. Matanya tak lepas dari Ratna, seolah sedang menelanjangi setiap ketakutan dan kegelisahan wanita muda itu.

Ratna meneguk ludah. Matanya tanpa sengaja menangkap pandangan ke arah selangknagan Bah Mardi. Sebuah tonjolan yang jelas, mengintip dari balik kain celana Bah Mardi yang sudah lusuh.

Otaknya seketika berkelebat pada semua gosip miring yang beredar di antara ibu-ibu kampung. Bah Mardi, si tua-tua keladi, yang katanya ‘jago’ di ranjang, bahkan melebihi pria-pria muda. Desas-desus tentang bagaimana ia bisa “ngegas sampai pagi” tanpa lelah, dan bagaimana beberapa wanita yang pernah dekat dengannya berakhir klepek-klepek.

Perasaan Ratna campur aduk. Ketakutan, rasa tidak nyaman, namun juga… sebersit rasa penasaran yang memalukan. Sudah berbulan-bulan suaminya merantau. Rumah terasa begitu kosong dan sunyi, dan kebutuhan seorang wanita muda sepertinya terpendam begitu dalam. Tonjolan di celana Bah Mardi itu seolah menjadi simbol dari semua gosip yang selama ini ia dengar, menggerogoti pertahanannya.

“Jadi, Neng Ratna bagaimana? Mau Abah temani, biar tidak sepi?” suara Bah Mardi kembali memecah keheningan, nadanya kini lebih berani, seolah tahu apa yang sedang berkecamuk di benak Ratna. Matanya menatap Ratna lekat, penuh arti, seakan menantang. Senyum liciknya semakin melebar.

Ratna memalingkan wajah, pipinya terasa terbakar. Ia berpegangan erat pada sisi meja, mencoba menenangkan detak jantungnya yang semakin menggila.

“A-Abah… jangan begitu,” katanya lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Ia berusaha mencari kekuatan, mencari alasan untuk menolak, untuk mengusir pria tua itu. Namun, di antara ketakutan yang mencekam, ada bisikan lain dalam dirinya, bisikan dari naluri yang sudah lama terabaikan.

Bah Mardi, melihat reaksi Ratna, semakin yakin. Ia perlahan beranjak dari duduknya, mendekati Ratna yang masih berdiri kaku di samping meja. Ngocoks.com

“Kenapa, Neng? Abah kan cuma mau bantu Neng biar tidak kesepian. Abah tahu kok, bagaimana rasanya ditinggal suami lama-lama,” bisiknya, iai berdiri begitu dekat hingga Ratna bisa merasakan napas hangat Bah Mardi di rambutnya. Tangannya terulur, mencoba meraih lengan Ratna.

Ratna memejamkan mata. Pertarungan antara moralitas dan hasrat, antara rasa takut dan rasa penasaran, sedang berkecamuk hebat dalam dirinya.

“Mamaaaaa…” Tiba-tiba suara seorang anak berteriak dari kejauhan, dia baru kembali dari main di rumah neneknya.

Suara cempreng Ari itu memecah ketegangan seperti pecahan kaca. Bah Mardi kaget setengah mati. Matanya melotot, seringainya luntur seketika. Tanpa pikir panjang, ia bergegas membalikkan badan, melewati Ratna, lalu melesat keluar lewat pintu dapur, kabur secepat kilat.

Ratna membuka mata. Tubuhnya lunglai, bersandar pada meja. Ia menarik napas dalam-dalam, lega yang teramat sangat membanjiri relung hatinya. Air mata nyaris menetes. Ia berucap syukur, terlepas dari godaan buaya darat itu.

“Tapi…. sepertinya gede dan panjang juga anunya…,” pikir Ratna penasaran juga kagum.

Bersambung… Suara Ustadz Asep yang lantang membacakan ayat-ayat Al-Quran bergema di mushola kecil itu, diikuti hembusan angin malam yang membawa aroma tanah basah dari sawah di sekitar.

Para bapak-bapak duduk bersila di atas karpet, wajah-wajah mereka tenang, mata tertuju pada ustadz yang sedang menjelaskan tentang kesabaran menghadapi godaan dunia. Bah Mardi duduk di baris belakang, tangannya memegang tasbih, tapi jari-jarinya tak bergerak. Matanya kosong, menatap pola karpet mushola tanpa benar-benar melihat.

Bayangan Ratna terus menghantui. Wajah ayu itu, pipi memerah saat ia mendekat, lekuk punggungnya saat berjongkok di tepi irigasi, dan… tonjolan celananya yang sempat ia pamerkan dengan sengaja.

Bah Mardi menelan ludah, merasa panas di dada. Ia ingat betul bagaimana Ratna memalingkan muka, tapi matanya sempat melirik ke selangkangannya. Sebuah tatapan yang penuh kegugupan, tapi juga seolah terpikat.

“Kenapa harus terganggu anaknya sih?” gumamnya dalam hati. Ia mencoba fokus pada pengajian. Tapi semakin ia usir, semakin jelas gambar Ratna di rumahnya tadi sore, saat tangannya hampir menyentuh lengan wanita itu.

Ustadz Asep tiba-tiba menoleh ke arahnya, seolah merasakan kegelisahan. “Bah Mardi, bagaimana? Ada yang ingin ditanyakan tentang godaan syaitan yang sering mengganggu hati?” tanya sang ustadz dengan suara lembut tapi tegas.

Bah Mardi tersentak, wajahnya memerah. Ia buru-buru menggeleng. “Tidak, Ustadz. Saya… cuma lagi mikirin urusan sawah,” bohongnya, suaranya pelan.

Para bapak di sekitar tersenyum simpati, tapi Bah Mardi merasa seperti tertangkap basah. Ia menunduk, memutar tasbih lebih cepat, tapi pikirannya kembali melayang. Ratna… suaminya jauh di Kalimantan, rumah sepi, dan ia hampir saja… Astaghfirullah.

Rasa bersalah bercampur dengan hasrat yang tak kunjung padam, membuat dada sesak. Malam itu, pengajian terasa begitu panjang baginya.

Bah Mardi pulang dari mushola dengan langkah gontai, malam sudah gelap pekat, hanya diterangi cahaya lampu di teras rumah-rumah tetangga. Suara azan Isya masih samar-samar bergema dari masjid jauh, tapi pikirannya tak kunjung tenang.

Bayangan Ratna terus menempel seperti bayang-bayang panjang di bawah bulan sabit, membuat dadanya sesak. Ngocoks.com Ia membuka pintu kayu rumah sederhana itu, aroma masakan sederhana, sayur lodeh dan ikan asin, menyambutnya, tapi tak mampu mengusir kegelisahan.

Mak Siti sudah menunggu di ruang tengah, berdandan lebih rapi dari biasanya. Rambutnya disanggul sederhana, dasternya diganti dengan yang lebih baru, warna merah muda yang jarang ia pakai. Ada sentuhan bedak tipis di wajahnya yang mulai keriput, dan senyumnya agak genit saat melihat suaminya masuk.

Malam Jumat ini, ia pikir, mungkin kesempatan untuk mendekatkan diri lagi. Sudah lama mereka tak berbagi ranjang dengan mesra, dan Mak Siti merasa kesepian di balik rutinitas harian. “Bah, sudah pulang? Aku sudah siapkan makan malam,” katanya lembut, suaranya dibuat manja, sambil mendekat dan menyentuh lengan suaminya pelan.

Bah Mardi mengangguk singkat, tapi matanya menghindar. Ia duduk di bangku kayu, tangannya memainkan ujung kain sarung. “Capek hari ini, Siti. Sawahnya lagi rewel, irigasinya macet lagi,” gumamnya, alasan lama yang sudah sering ia lontarkan. Padahal, badannya tak benar-benar lelah; yang lelah adalah hatinya, terbelah antara rasa bersalah dari pengajian tadi dan hasrat yang membara pada Ratna.

Mak Siti tersenyum kecut, menyembunyikan kekecewaan di balik gerakan menyendok nasi. Ia duduk di sebelah suaminya, mencoba menyentuh tangannya lagi. “Bah, udaah lama kita nggak… deket-deketan.” Nadanya genit, tapi ada nada memohon di sana.

Namun Bah Mardi hanya menggeleng pelan, bangkit dan berjalan ke kamar tanpa sepatah kata lagi. Di balik pintu, ia berbaring menatap langit-langit gelap, pikirannya kembali ke Ratna, wajah memerah, bulu kuduk berdiri.

Bah Mardi gelisah sendiri berguling-guling di atas kasur tipis, bayangan Ratna masih menghantui seperti kabut pagi yang tak mau hilang. Akhirnya, ia bangkit pelan, mengenakan sarung dan kaus lusuh, lalu berjalan ke ruang tengah di mana Mak Siti masih duduk sendirian.

“Mak, Abah keluar sebentar ya. Mau ke rumah Pak Bahar, dia minta dipijat. Pinggangnya lagi pegel katanya. Sekalian ngobrol soal rencana penanaman padi bibit unggul, program desa yang katanya besok ada rapat,” kata Bah Mardi, suaranya dibuat biasa saja, tapi matanya menghindar.

Mak Siti menoleh, alisnya berkerut. Ia tahu betul itu hanya dalih. Sudah berapa kali suaminya ke Pak Bahar di malam-malam seperti ini, pulangnya pagi buta dengan bau kretek dan alasan capek yang tak masuk akal.

Cemberutnya semakin dalam, bibirnya mengerucut, tapi ia tak bisa mencegah. “Hati-hati di jalan, Bah. Jangan lama-lama,” gumamnya pelan, suaranya penuh kekecewaan yang tertahan. Ia bangkit, lalu mematikan saklar dengan keras mematikan lampu, seolah ingin memadamkan amarahnya sendiri. Di hati, Mak Siti bertanya-tanya, apa yang sebenarnya disembunyikan suaminya malam demi malam.

Bah Mardi mengangguk singkat, lalu melangkah keluar, pintu bambu berderit pelan di belakangnya. Udara malam dingin menyapa kulitnya, tapi hatinya justru panas. Bukan ke rumah Pak Bahar ia menuju, tapi pikirannya melayang ke arah lain, ke rumah Ratna.

Malam semakin sunyi, hanya suara jangkrik dan angin yang menggoyangkan daun-daun sawah. Bah Mardi menyeka keringat dingin di dahinya, tangannya gemetar saat hendak keluar dari persembunyiannya dan melangkah mendekat rumah Ratna.

Namun, saat ia hampir melangkah keluar dari balik pohon, sebuah cahaya senter tiba-tiba membelah kegelapan dari arah jalan setapak. Bah Mardi tersentak, cepat-cepat menarik tubuhnya lebih dalam ke balik rimbunnya dedaunan. Dari balik celah daun mangga, ia melihat Pak Bahar, mertua Ratna, berjalan mendekat dengan langkah tegap, membawa senter kecil.

Bah Mardi menahan napas. “Sial! Kenapa Pak Bahar datang malam-malam begini?” pikirnya kesal. Ia terpaksa tetap bersembunyi, mengawasi Pak Bahar yang kini sudah berada tepat di depan rumah Ratna, mengetuk pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan terlihat Ratna menyambutnya dengan senyum.

Bah Mardi melihat Pak Bahar masuk ke rumah Ratna. Pintu rumah tertutup kembali. Seketika, pikiran Bah Mardi mulai berputar liar. Ada kecurigaan aneh yang timbul di benaknya. Mengapa mertuanya datang malam-malam begini? Dan mengapa Ratna masih menyalakan semua lampu? Ini tidak biasa.

Dengan rasa penasaran yang membuncah dan kecurigaan yang semakin menguet, Bah Mardi memutuskan untuk tidak pergi. Dia justru semakin merapatkan diri ke balik pohon mangga, mencoba mengintip ke dalam rumah Ratna dari celah gordeng jendela yang sedikit terbuka.

Dari balik kaca jendela, Bah Mardi melihat Ratna dan Pak Bahar sedang duduk berdua di ruang tamu, wajah Pak Bahar tampak merah padam seperti sedang marah.

“Pokoknya kalau si Mardi, datang lagi ganggu kamu. Langsung bilang sama Bapak. Kurang ajar tua bangka itu berani-beraninya mau ganggu menantuku.”

Wajah Bah Mardi seketika memucat, dengan perasaan yang tak menentu, dia mundur perlahan setelah itu kabur dengan tergesa-gesa. Tak menduga Ratna menceritakan semua yang terjadi tadi sore pada mertuanya. Bah Mardi sangat tahu siapa Pak Bahar, mantan jawara yang sudah tiga kali masuk penjara kasus penganiRian yang dua diantaranya hingga korban cacat permanen.

Bah Mardi berlari pulang, napasnya tersengal, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia membuka pintu rumah dengan tangan gemetar, lalu langsung menuju kamar. Di sana, Mak Siti sudah terbaring di ranjang, sepertinya sudah tertidur lelap setelah penantian panjang.

Ia melangkah mendekat ranjang, hatinya masih berdegup kencang karena ketakutan. Tanpa sepatah kata, ia merebahkan diri di samping istrinya, lalu menarik tubuh Mak Siti ke dalam pelukannya. Kepalanya menyembunyikan wajah pucatnya di bahu Mak Siti, seolah mencari perlindungan dari ancaman yang membayanginya.

Tubuh Mak Siti yang hangat, dan aroma minyak telon yang samar-samar, sedikit menenangkan gejolak ketakutan dalam dirinya. Ngocoks.com

Mak Siti tersentak, terkejut dengan pelukan mendadak itu. Ia mengerjapkan mata, mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan. Tidak biasanya Bah Mardi memeluknya seperti ini, apalagi setelah pergi dengan segala alasan. Ia merasakan tubuh suaminya bergetar dan napasnya yang tidak beraturan.

Cerita Sex Dinda Kirana

Ada keanehan yang kuat, tapi di sisi lain, ia juga merasakan kehangatan yang sudah lama hilang. Perlahan, Mak Siti membalikkan tubuh, menghadap suaminya. “Mau malam jumtan ya, Bah?” tanyanya parau.

“Iya, Mak,” balas Bah Mardi pelan.

Bah Mardi berusaha fokus, sekuat tenaga mencoba membangkitkan gairah yang sudah pudar, tapi pikirannya masih terpecah, antara ketakutan akan amarah Pak Bahar dan rasa bersalah yang menggerogoti, juga memenuhi keinginan istrinya untuk mengulang kembali kebersamaan yang sudah lama ia tinggalkan.

Namun, untuk malam ini, ia biarkan alur mengalir, seolah pelukan itu adalah benteng terakhirnya dari badai gosip kampung yang mungkin akan segera menderanya. Sambil menyusun kembali strategi jitu untuk petualangan selanjutnya.

Sementara di rumah Ratna ada pemandangan yang berbeda.

Bersambung…

Cerita ini kurang lebih ada 20 episode, nantikan kelanjutannya yang akan di update hanya di situs Ngocoks.