
Shanum dan Sabda menikah karena keterpaksaan, tak ada cinta di sana. Mereka sepakat untuk tidak bercerai. Namun, Shanum merelakan suaminya untuk berhubungan dengan perempuan lain yang tak lain adalah Rania.
Shanum juga terpaksa mendapatkan tudingan mandul dari pihak keluarga, padahal dirinya tidak pernah disentuh oleh suaminya.
Suatu hari sebuah kejadian mengejutkan terjadi, Shanum hamil dan Sabda malah ingin menikahi wanita lain. Bagaimana reaksi Shanum saat Sabda mengutarakan niatnya untuk menikah lagi?
Neglected Paradise Neglected Paradise Rania menggosok-gosokkan kedua tangan ketika dirasanya udara malam itu mulai mendingin. Lengan kemeja yang awalnya dia gulung tadi, sudah dia panjangkan kembali agar udara dingin malam itu tak masuk lebih dalam menembus kulitnya.
Netra coklatnya melirik arloji di tangan kiri. Pukul sepuluh malam. Itu berarti sudah hampir satu jam lamanya Rania berdiri di depan kafe, menunggu seseorang datang. Tapi, sosok yang ditunggunya sejak tadi masih belum menampakkan diri.
Rania menghela napas panjang, dia melakukannya bukan tanpa alasan. Dia rela menghabiskan waktu hampir satu jam lamanya hanya untuk menanti seorang pria yang berjanji akan menjemput dan pulang bersama.
“Rania!”
Suara berat itu membuat si gadis menoleh. Dia agak menengadah dan mendapati sesosok lelaki yang sejak tadi ditunggunya keluar dari mobil dengan terburu-buru.
“Sorry, aku terlambat.”
Lelaki itu tersenyum sedikit, menciptakan dua lesung pipi di wajahnya. Dia mengenakan setelan yang sederhana, tapi entah kenapa membuat aura ketampanannya makin terasa. Hanya kemeja dibalut jas hitam, celana kain dan rambut yang sedikit berantakan.
“Ayo kita pulang, hujannya semakin deras nanti,” ajak pria itu yang langsung membuat senyuman Rania merekah sempurna.
***
“Di kantor lagi sibuk, ya? Lama banget jemputnya.”
Rania bertanya di tengah keheningan yang menyelimuti. Pria di sebelahnya langsung mengangguk, fokus menyetir. Malam ini Bandung tengah diguyur hujan lebat, untung saja Rania pulang tepat waktu.
Mendengar tanggapan singkat lelaki itu, Rania mengangguk mengerti. “Tidak apa-apa, aku mengerti kok.”
“Kalau begitu Mas akan sering ngajak kamu jalan.”
“Aku harus kerja, Mas.”
Pria itu terkekeh mendengar jawaban Rania, sementara itu si gadis menatap ke luar kaca mobil. Hujan mulai turun semakin deras saja.
Sebenarnya Rania ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan pria itu. Namun, obrolan mereka tidak berlanjut karena suara ponsel miliknya terdengar, bersaing dengan keramaian jalan raya di jam sepuluh malam.
Rania mengecek ponselnya lalu beralih menatap pria di sampingnya. “Papaku telepon.” Rania memberitahu.
“Angkat saja dulu.”
Rania langsung menjawab telepon yang masuk. “Halo, Pa? Iya, aku lagi di perjalanan pulang. Tidak kok, langsung pulang, iya … tidak apa-apa sih.”
Sabdatama Zuhairi Nayaka, atau biasa dipanggil Sabda hanya bisa mendengarkan sekilas percakapan antara ayah dan anak tersebut. Semoga saja Rania tidak dimarahi karena malam-malam begini dia baru bisa mengangkat telepon ayahnya.
“Baik, Pa. Nanti aku langsung pulang.”
Begitu pembicaraan mereka selesai, Sabda langsung memburu dengan tanya seusai telepon pendek itu terselesaikan dalam waktu yang amat singkat.
“Apa kata papa tadi?”
“Cuma nanya sudah sampai mana. Papa suka wanti-wanti buat jangan pulang kemaleman. Padahal, ya, aku juga udah gede gitu loh? Dari mana rumusannya jam sepuluh malam tuh udah kemaleman?”
Sabda terkekeh mendengar ucapan Rania. “Namanya juga orang tua. Papa kayak gitu karena dia sayang kamu.”
Ngocoks Rania merasa apa yang Sabda katakan memang benar adanya. Mereka lanjut bercerita. Namanya juga perempuan, pasti selalu ingin didengarkan, meski tak selalu menggunjingkan orang lain secara negatif, ya, tetap saja kalau ngobrol, lebih banyak membicarakan orang lain. Mau itu temannya yang baru didaulat sebagai asisten bos di tempat bekerja. Sampai perkara pemotongan gaji akibat teledor menulis pesanan.
Sabda menanggapinya dengan senyum. Rania adalah wanita mandiri yang selalu bersemangat dan rajin bekerja. Mungkin itulah salah satu alasannya enggan putus, sekalipun ada wanita lain yang tengah menunggu kepulangannya di rumah.
“Kamu udah makan? Sebelum pulang mau makan dulu, gak? Mampir ke restoran apa gitu biar kamu bisa istirahat nanti lanjut pulang?”
Sabda menawari Rania mampir ke salah satu restoran untuk makan malam. Tapi, Rania dengan cepat menolak.
“Nggak dulu, deh. Ini udah malem, kan? Aku juga butuh istirahat karena besok ada mata kuliah yang tak bisa ditinggalkan.”
“Ya udah, tapi kamu sudah makan?”
Rania mengangguk, dia masih kenyang. Sekarang suasana di dalam mobil itu kembali hening. Entah kenapa, merasa ada secercah perasaan tidak enak yang menyusupi batinnya.
“Mas Sabda, kapan mau ketemu papa? Aku pengen banget ngenalin Mas sama papaku.”
Kalimat Rania yang tiba-tiba membuat fokus Sabda mendadak ambyar. Sabda sempat menoleh sekilas pada gadis itu, tapi dia buru-buru menepis keterkejutannya. Ingat, dia sedang menyetir. Jangan sampai oleng!
Kalau dipikir-pikir, setahun hubungan mereka berjalan, Sabda belum pernah bertemu dengan orang tua Rania secara langsung. Gadis itu sering sekali mengajak Sabda untuk bertemu.
Kadang pria itu hanya menjawab seadanya jika Rania melontarkan pertanyaan itu, paling tidak Sabda akan menjawab belum sempat karena masih banyak pekerjaan di kantor, tapi sekarang dia bingung harus menjawab apa. Terlalu sering dirinya menjawab nanti, sekarang pun Rania sudah pasti bosan dengan jawaban itu.
Bukannya Sabda tidak peduli pada Rania, dia hanya bingung dengan posisinya sekarang, dia juga harus memikirkan segala kemungkinan. Tapi, setelah Sabda pikir lagi, selama setahun belakangan ini, dia lebih sibuk dari tahun-tahun sebelumnya. Ada banyak urusan di kantor yang mesti dibereskan, terutama karena Sabda yang memegang perusahaan.
Hal itu yang membuatnya belum bisa memikirkan tentang kepastian. Dia hanya bisa meminta Rania untuk menunggu.
“Tenang saja. Nanti akan kuatur waktu agar kami bisa bertemu.”
Sabda tersenyum pada gadis itu. Mungkin ada setitik rasa kecewa di hati Rania karena jawaban Sabda masih sama, tapi pria itu benar-benar akan mengusahakan supaya Rania tidak lagi bertanya tentang hal itu.
***
Shanum sedang duduk santai di ruang tengah seraya menonton televisi, dia langsung menoleh ketika mendengar suara denting khas dari pintu depan yang terbuka, disusul bunyi langkah yang berat. Samar, tapi masih bisa dia dengar. Sontak, perempuan itu mengangkat alis.
“Mas Sabda?” Shanum memanggil, tapi sama sekali tak ada jawaban.
Perempuan itu berdecak, berniat beranjak untuk mengambil ponselnya yang berada di meja. Namun, belum sampai Shanum memainkan ponselnya, Sabda tiba-tiba saja masuk ke ruang tengah dengan ekspresi yang bisa Shanum tebak; bermasalah.
Kali ini masalah apa lagi yang sedang dialami oleh pria itu?
Sabda berdiri di sana, terlihat lelah, juga agak marah. Shanum batal untuk memainkan ponselnya, dia lanjut duduk seraya meluruskan kakinya di bawah meja dan menatap Sabda dengan tatapan bertanya.
“Udah pulang?”
“Jelas, kan aku udah di rumah.”
Shanum tertawa menanggapi jawaban ketus itu, dia meraih gelas berisi jus buah. Sabda mendekat, lantas duduk begitu saja di samping Shanum. Perempuan itu tidak protes meskipun bau yang tercium dari badan suaminya terasa berbeda dari pertama kali Sabda ke luar.
“Kayaknya kamu capek banget, kenapa gak langsung mandi aja? Berendam di bathtub gitu. Biar rileks,” kata Shanum seraya mencomot brownies yang terhidang di depannya.
“Jangan banyak tanya, aku capek.” Sabda memejamkan mata. Punggungnya menempel pada sandaran sofa. “Kalau kamu nyuruh aku mandi sekarang, siapkan air panas untukku.”
“Gak sekalian minta mandiin?” tanya Shanum sarkastik.
Sabda tidak banyak tanya, dia membiarkannya. Tidak protes ataupun melarang. Mereka telah menyandang status sebagai suami-istri selama hampir empat tahun, jadi melihat satu sama lain telanjang bukan sesuatu yang baru.
PERTENGKARAN
“Kalau marah sama pacar kamu, jangan dilampiasin ke aku.”
Shanum memainkan gelas berisi jus buah di tangannya. Dia melirik sang suami lewat sudut mata. Sabda tampak mengembuskan napas panjang, kemudian meraih gelas dari tangan Shanum. Dia menyesap isinya.
“Ini jus dari buah-buahan yang kubeli waktu itu?”
“Yang mana lagi?”
“Suka nggak?”
Shanum mengernyitkan dahi. Sejak kapan apa yang Shanum suka atau tidak suka jadi penting untuk Sabda? Shanum tidak mengerti, dia pikir suaminya tidak akan pulang malam ini seperti malam-malam sebelumnya.
Sabda melepas jas hitam miliknya. Seluruh tubuhnya pegal seharian ini, ditambah harus menjemput Rania yang notabenenya adalah kekasih Sabda. Lalu Shanum? Dia istri sah, tapi keduanya sama sekali tak saling menginginkan.
Mereka menikah karena perjodohan semata. Meskipun begitu, mereka sepakat untuk tidak bercerai, saling membebaskan satu sama lain. Sejauh ini, hanya Sabda yang membagi hatinya dengan wanita lain, Shanum? Tentu saja tidak.
“Kenapa menatapku begitu? Kamu jangan ikut-ikutan rese. Aku lagi gak minat buat ribut sama kamu. Hari ini aku bener-bener capek.”
Bukan hal baru kalau Sabda dan Shanum bertengkar. Empat tahun hidup bersama, hanya pertengkaran dan amarah yang mendominasi rumah tersebut. Tak ada cinta dan kebahagiaan, tapi anehnya, Shanum masih tetap bertahan.
Sabda sempat berpikir kalau Shanum bertahan dengannya karena menginginkan harta semata. Padahal tanpa menikahi Sabda pun, Shanum sudah kaya raya sejak lahir.
Benar, pernikahan itu butuh ilmu. Ilmu untuk memahami, ilmu untuk mengelola ego, ilmu untuk tidak banyak menuntut, tapi bagaimana jika dia yang kamu nikahi enggan untuk berjalan bersamamu?
“Kenapa lagi? Kamu berantem sama dia? Bukankah ini bukan pertama kalinya? Kalo dia ngajak kamu berantem mendadak pasti ada sebabnya.”
“Dia nyuruh aku ketemu orang tuanya. Kamu sendiri juga tahu, Sha. Posisiku sekarang gimana, aku cuma belum bisa ngebuktiin aja. Terus kayaknya dia kecewa.”
Shanum menganggukkan kepala, seolah mengerti ke mana arah pembicaraan pria itu. Sabda dan Shanum tidak terlihat seperti suami istri, tapi teman yang menumpang hidup.
“Dia bilang, kalau aku gak mau datengin orang tuanya, berarti aku gak peduli sama hubungan ini. Apakah aku peduli atau nggak sama perasaan dia. Coba kamu pikir, ya, kalau aku nggak peduli sama dia, aku nggak akan bertahan satu tahun ini sama dia?”
Sabda bercerita tanpa merasa bersalah ataupun risih. Shanum pun sudah begitu terbiasa mendengar suaminya membahas hubungannya dengan wanita lain.
“Kalau aku jadi dia, sih, sudah dari lama aku buang kamu,” kata wanita itu cepat.
“Shanum!”
“Aku mau nyiapin air buat kamu mandi dulu.” Shanum memotong ucapan Sabda seraya bangun sofa yang sejak tadi dia tempati. Padahal kalau bisa memilih, lebih baik Shanum bersantai saja ketimbang melayani Sabda.
Dia santai saja melangkah menuju kamar mandi, di sana dia menghidupkan kran air panas dan menampungnya pada bathtub. Hanya sekejap, tidak sampai dua menit, bathtub tersebut sudah terisi oleh air hangat. Tidak lupa Shanum menambahkan busa khusus dan menyalakan lilin aromaterapi.
“Maksud kata-kata kamu tadi apa?” Sabda akhirnya bertanya, pria itu membuntuti istrinya ke kamar mandi.
“Menurutmu apa?”
Sabda tak tahan lagi. Setiap kali berdebat dengan Shanum, wanita itu akan dengan cepat membalikkan ucapannya. Dia sama sekali tak merasa bersalah sudah menyinggung perasaan Sabda.
“Menurutku, wajar kalau dia ngerasa kamu nggak peduli sama perasaannya.” Shanum meraih handuk di gantungan khusus dan menyodorkannya pada Sabda. “Kalau kamu peduli sama perasaannya, kamu nggak akan menempatkan dia dalam posisinya yang sekarang.”
Sabda tidak menjawab pun tidak menerima uluran handuk Shanum, akhirnya Shanum melipat tangan di dada, memandang dengan sorot mata menusuk.
“Tumben nggak jawab. Baru sadar kalau kata-kataku benar?” Shanum mulai menyudutkan Sabda. “Kamu ngerti nggak, posisinya yang sekarang yang kumaksud tuh apa?”
“Kurasa aku nggak mau ngomongin ini lebih jauh sama kamu.”
“Posisi yang kumaksud ya itu, jadi orang ketiga dalam pernikahan orang lain. Kalau mau diibaratin pake kasta, buat sebagian besar perempuan, dia ada di kasta terendah, kasta paling hina. Sebab mana ada perempuan baik-baik yang pacaran sama suami orang?”
Emosi Sabda jelas tersulut saat Shanum dengan lantang mengatai kekasihnya sebagai orang paling hina. Pria itu jelas tidak terima jika ada orang yang menghina kekasihnya, sekalipun itu istrinya sendiri.
“Kamu jelas tau gimana situasinya buat kita. Semuanya rumit. Makanya kita sepakat soal ini kan? Aku bebas mau jalan sama siapa pun sesukaku, dan kamu juga bebas mau jalan sama siapa pun sesukamu. Selama ini nggak pernah ada masalah. Kenapa sekarang tiba-tiba kamu ikut marah sama aku?” Sabda menaikkan oktaf.
“Dulu memang aku percaya sama kata-kata kamu itu, tapi sekarang, kayaknya tidak lagi masuk akal.”
Shanum berdecih, menatap suaminya dengan tatapan tajam. Mansion ini mulai terasa bagai neraka. Sang Nyonya tak lagi merasa betah tinggal di dalam bangunan yang hampir menyerupai penjara, tempat di mana ia mesti menahan diri dan berpura-pura terlihat baik dalam kondisi hati yang berantakan.
Mahira Shanum, nyonya sekaligus istri Sabdatama Dzuhairi Nayaka yang menjadi satu-satunya ratu di mansion itu nyaris ingin melarikan diri. Empat tahun usia pernikahannya sama sekali tidak meninggalkan kesan yang baik. Dia harus menghadapi suatu kerumitan yang mau tidak mau harus dilewati sendirian.
Shanum dan Sabda memang sepakat untuk tidak melibatkan perasaan apa pun. Jangankan memiliki anak, berpelukan saja mereka tak pernah. Sabda begitu menjaga jarak darinya, tidak seperti Rania yang bebas memeluk pria itu kapan saja.
Sebagai seorang istri, sebenarnya Shanum bisa saja membeberkan fakta busuk yang selama ini Sabda lakukan di belakangnya. Namun saat ini, wanita itu memilih untuk diam sejenak sambil menikmati permainan.
“Kamu masih sepengecut itu, karenanya kamu nggak punya cukup keberanian buat memperjuangkan orang yang kamu sayang, nggak punya cukup keberanian untuk nemuin orang tuaku dan orang tuamu, terus bilang kalau selama ini kita nggak pernah hidup dalam rumah tangga yang normal, dan karenanya aku ngerasa lebih baik kalau kita pisah aja.”
Sabda meminta Shanum untuk berhenti mempermasalahkan hal ini, sampai kapan pun Sabda tidak akan pernah menceraikan Shanum. Dia juga yakin bahwa wanita itu tidak akan berani mengatakan keretakan rumah tangga mereka pada orang tuanya, tapi Mahira Shanum, tidak semudah itu mengalah untuk sesuatu yang menurutnya tidak adil.
Melihat keterdiaman Sabda. Akhirnya Shanum menghela napas. “Oke, kamu gak mau pisah sama aku, berarti selama ini kamu mulai jatuh cinta padaku. Makanya kamu tidak bisa memaksa dirimu untuk melepaskanku.”
Shanum menatap Sabda dengan tatapan mengintimidasi. Empat tahun jelas bukan waktu yang sebentar bagi keduanya membangun rumah tangga. Setidaknya Shanum berharap ada setitik rasa di hati Sabda, meskipun hanya sedikit saja.
Spontan, Sabda langsung terbungkam. Shanum mendekat, kali ini tubuh mereka saling berhadapan.
“Jadi yang mana kemungkinan yang benar, Mas Sabda?”
Bersambung… SUARA SHANUM
Shanum mengerjap sedikit kaget ketika sebuah lagu mengalun dari atas nakas tempat tidur. Ia sedang menyisir rambutnya di depan kaca rias, sedangkan si empunya ponsel masih melakukan ritual mandi.
“Mas Sabda, ponselmu bunyi!”
Tak ada sahutan apa pun dari arah kamar mandi. Shanum mengedikkan bahu, tidak mau ikut campur dengan urusan suaminya, tapi semakin lama bunyi dering ponsel itu semakin mengganggu. Shanum tidak tahan lagi dan meraih ponsel milik Sabda yang terus-menerus berbunyi.
‘Summer’ tertulis di sana. Wow, ini pasti Rania yang menelepon, pikir Shanum. Nama kontaknya sendiri di ponsel Sabda saja tidak semanis ini.
Shanum menggeser tanda hijau di layar ponsel sebelum mendekatkannya ke telinga kiri. Terdengar suara manja begitu telepon diangkat.
“Mas Sabda, kenapa lama sekali menjawabnya? Aku kangen. Kamu udah sampai di rumah?”
Shanum mengerjap dua kali ketika suara melengking seorang perempuan terdengar dari seberang sana. Begitu manja, begitu manis.
Jantung Shanum berpacu dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Lidahnya kelu, otaknya gagal memproses informasi. Selama beberapa saat ia mematung sebelum berdehem singkat mengenyahkan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan.
Rania tidak mengenal Shanum, gadis itu sama sekali tidak tahu bahwa Sabda sudah beristri, yang gadis itu tahu; Sabda dijodohkan oleh orang tuanya, tapi dia menolak.
Sebenarnya Shanum ingin sekali melabrak perempuan itu, tapi rasanya percuma saja. Suaminya akan marah besar.
Shanum jelas tahu sesayang apa Sabda pada perempuan simpanannya.
“Sabda sedang mandi,” kata Shanum akhirnya diiringi nada ketus.
Bisa Shanum tebak, gadis yang sedang meneleponnya saat ini pasti terkejut setelah mendengar suaranya. Shanum tidak peduli kalau Sabda akan marah karena gadis itu sudah lancang menyentuh ponselnya.
Terdengar lagi suara Rania dari seberang sana. Sedikit gugupm “Ma-maaf, i-ini siapa, ya?”
“Saya adalah–”
Satu sentakkan kasar membuat ponsel yang menempel di telinga Shanum beralih tangan. Wanita itu terkejut saat melihat Sabda berdiri di belakangnya dengan mengenakan sehelai handuk yang menutupi pinggang sampai lutut. Tetes-tetes air yang mengucur dari badannya mengindikasikan kalau ia keluar kamar mandi dengan terburu tanpa mengeringkan tubuh dengan benar.
“Maafkan aku, tadi itu bibiku.”
Shanum membulatkan mata saat Sabda mengatakan hal itu pada wanita di seberang sana. Bisa-bisanya pria itu menganggapnya sebagai bibi.
Sabda berbalik menatap istrinya lembut tapi menusuk. Tatapan matanya lebih dingin dari yang Shanum biasa lihat. Pria itu kesal padanya.
“Ya aku juga kangen. Aku sudah sampai rumah tadi. Oke sekarang tidurlah, kamu pasti lelah karena sudah bekerja seharian ini.”
Shanum muak sekali melihat tingkah sok perhatian Sabda. Selalu, Sabda selalu saja begini. Dingin pada dirinya, tapi hangat ke wanita lain, tak ingin membahas lebih lanjut. Wanita itu memilih untuk kembali duduk di kursi rias, melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
Tak dihiraukannya suara dengkusan Sabda di belakang. Tidak lama lagi mereka akan bertengkar. Shanum sudah kebal dengan teriakan Sabda yang seperti orang kesetanan.
“Sha, berhenti ikut campur!”
Sudah Shanum duga, Sabda bersuara lantang saat panggilannya dengan Rania berakhir.
Shanum menoleh pada Sabda yang masih memaku dirinya di dekat nakas tempat tidur. Ekspresi pria itu sudah tak sedingin tadi, tapi tetap saja. Aura mengintimidasi itu masih terasa.
“Aku sudah manggil Mas sejak tadi, tapi gak ada jawaban. Cewekmu berisik banget, Mas. Lain kali bawa saja ponsel itu ke kamar mandi.”
Shanum ikut menatap Sabda dengan tajam, menantang, dia menarik napas panjang ketika mendadak oksigen terasa menyusut di sekitarnya.
“Kita udah sepakat. Kamu juga bilang gak akan ikut campur, kan? Jadi jangan coba-coba memberitahu dia soal apa pun.”
“Tentu.”
Keadaan kembali hening. Shanum memilih untuk menghiraukan Sabda. Sampai kapan pun, berdebat dengan pria itu tidak akan ada ujungnya. Sabda tidak akan mudah mengalah secepat itu.
Biarlah Shanum yang mengalah kali ini, pria pengecut memang cocok dengan wanita murahan, begitu katanya.
“Terus, apa yang kamu lakukan tadi gak keterlaluan? Aku udah memperingatkan kamu dari awal untuk gak menyentuh ponselku.”
“Kalau begitu, bawa saja ponselmu itu ke mana-mana. Aku tidak peduli dengan perempuan yang kau namai Summer itu, aku lebih terganggu dengan suara berisik di kamar ini!”
Bagi sebagian orang, pernikahan adalah hal sakral yang keutuhannya harus dipertahankan. Jangan membiarkan orang lain masuk dengan mudah dan menghancurkan ikatan itu.
Rumah tangganya dengan Sabda adalah salah satu hal yang sempurna di mata banyak orang. Terlebih di mata keluarga besarnya, semuanya selalu membanggakan mereka adalah pasangan serasi yang sudah berjodoh sejak lahir.
Mungkin begitulah yang orang lain lihat, terlihat utuh dan harmonis, tapi kenyataannya mereka hanyalah dua orang asing yang hidup satu atap selama bertahun-tahun.
***
Waktu mendengar suara perempuan lain di seberang sana. Ekspresi wajah Rania langsung berubah, dia terus kepikiran sampai telepon singkat dari Sabda berakhir, dia sudah menebak pasti ada yang tidak beres.
Rania langsung mengenyahkan pikiran aneh itu. Meskipun Rania sudah berusaha untuk berpikir positif, tetap saja dia takut kalau sabda menyembunyikan sesuatu di belakangnya. Tapi, selama ini perasaan Sabda pada gadis itu cukup besar. Mustahil dia bermain-main di belakangnya.
Karena ia percaya kalau hubungannya dengan Sabdatama baik-baik saja. Lagipula kalaupun pria itu benar-benar punya perempuan lain di luar sana, bukankah sekarang ia harusnya sudah meninggalkan Rania untuk perempuan itu?
Tidak, Rania menggeleng. Ia adalah satu-satunya perempuan yang Sabda cintai, dan itu adalah mutlak. Terlihat dari bagaimana Sabda memperlakukannya, dia memperlakukan Rania seperti ratu. Membelikan apa pun barang kesukaannya, sama seperti waktu mereka pacaran dulu.
“Aku menyukaimu.”
Itu adalah kalimat yang diucapkan Sabda setahun yang lalu saat mereka bertemu di salah satu taman kota untuk pertama kalinya.
Waktu itu Sabda sedang ada urusan bisnis ke luar kota, mereka bertemu karena suatu insiden. Sabda tersesat dan justru Rania yang menjadi penolongnya. Dia membantu pria itu dan menghantarkannya sampai ke hotel di mana Sabda menginap.
Rania pun dengan polosnya menerima setelah melihat segala ketulusan Sabda. Awalnya dia tidak tahu bahwa pria yang menembaknya itu ternyata adalah sosok pria kaya raya. Berbeda dari dirinya.
Kekayaan Sabda yang tinggal diumpamakan uangnya cukup untuk membeli tiga gedung, itu juga masih kembalian kayaknya. Rania masih tidak menyangka. Bahkan untuk urusan beli saham mall besar di ibukota adalah hal kecil untuk seorang Sabda.
Dia merantau ke kota ini untuk kuliah sekaligus mendapatkan pekerjaan demi membantu perekonomian keluarga. Siapa sangka Sabda justru membantunya. Sempat pria itu menawari Rania untuk bekerja di salah satu cabang perusahaan miliknya yang ada di kota kelahiran Rania. Namun, gadis itu menolak.
Rania diberi supir sendiri juga kartu ATM dari berbagai bank berikut black card sakti, tapi Rania jarang memakai semua fasilitas yang diberi Sabda. Dia lebih sering naik taksi online atau bus. Setiap hendak berangkat kerja maupun ke kampus. Bukannya tak menghargai, kadang dia tahu diri untuk tidak terlalu bergantung pada pria itu.
Karena itulah Rania langsung down ketika mendengar suara wanita lain di rumah kekasihnya, meski Sabda berdalih bahwa itu adalah suara bibinya. Tetap saja … Rania jadi kepikiran.
PERANG DINGIN
Sabda duduk di tepi ranjang, berkali-kali pria itu melirik jam dinding. Menunggu sang istri pulang. Kalau bukan karena hal mendesak, pria itu tidak sudi menghabiskan waktunya untuk duduk diam dan mengabaikan tumpukan dokumen yang harus dikerjakan dalam waktu singkat.
Tak berapa lama telinganya mulai mendengar suara ketukan sepatu semakin mendekat menuju kamar. Begitu pintu kamar dibuka, wanita berjilbab marun itu tersentak kaget.
“Apa yang kamu lakukan, Sha?” tanya Sabda to the point nadanya dingin, membuat Shanum mengerutkan keningnya bingung.
Ekspresi Shanum berubah drastis. Netranya mendapati raut tak menyenangkan dari Sabda yang terlihat marah sambil bergumam tak jelas, enggan menatapnya sedikit pun.
“Sebutkan kesalahan apa lagi yang telah kuperbuat?”
Dengan santainya Shanum berjalan menuju nakas dan meletakkan tas di sana, melepas jilbabnya, seolah tidak peduli dengan kemarahan Sabda. Ya, dia sudah sangat terbiasa.
“Jelaskan padaku apa ini? Apa maksudmu?”
Sabda langsung berdiri dan tiba-tiba melempar sebuah amplop cokelat berisikan beberapa lembar kertas tepat di wajah Shanum.
Sabda mencoba bertanya dengan nada tenang sekalipun wajahnya menunjukkan kemarahan yang tertahan.
Alis Shanum bertaut saat mendengar kalimat Sabda. Dia mulai mengambil amplop cokelat yang jatuh ke lantai. Wanita itu langsung duduk di tepi ranjang. Ia jelas tahu amplop tersebut berisi apa.
“Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?” tanya Sabda lagi, penuh penekanan. “Apa sebenarnya yang lagi kamu rencanakan di belakangku.”
“Kupikir kamu gak akan peduli dengan hubungan ini, Mas,” kata Shanum berusaha tenang meski sedikit tak mengerti.
Dia baru saja pulang dan langsung disambut amarah. Ini memang bukan pertama kalinya Sabda bersikap emosian padanya, tapi hari ini pria itu tampak sedikit berbeda. Shanum seolah telah melakukan hal yang sungguh fatal sampai memancing emosinya.
Kali ini Sabda memijat kepalanya yang terasa pening. Pria itu sangat ingin meremas wajah istrinya sampai puas. Namun, faktanya, ia tidak mampu melakukan tindakan kasar pada wanita itu.
“Ada apa denganmu, Mas? Katamu aku bisa melakukan apa pun yang aku suka.”
“Tapi tidak dengan surat penceraian ini! Untuk apa kamu melakukannya?!” Matanya melotot seperti siap keluar dan Shanum bersaksi kemarahan Sabda lebih mengerikan dari senyum Annabelle.
“Karena aku butuh,” sahut Shanum jengkel, bisa-bisanya hal seperti ini saja diributkan.
“Lalu kita berpisah, dan kamu bebas mengencani pria mana saja, begitu?” Sabda memotong, kali ini dia kembali menyulut kekesalan sang istri.
“Astaga! Aku sama sekali gak berniat demikian!” kilah wanita itu dengan mata melotot tak terima. “Aku bahkan gak peduli kamu melakukan hal-hal kotor di belakangku. Terserah kamu mau ngapain, aku gak peduli. Kamu marah saat menemukan surat ini, tapi kamu … istri macam apa yang kamu perlakukan jahat begini?!”
Sabda benar-benar sosok suami yang egois. Dia bebas berkencan dengan wanita mana pun, Shanum bahkan tak pernah mempermasalahkannya, tapi kenapa untuk masalah dokumen penceraian saja pria itu marah besar? Bukankah seharusnya dia senang karena bisa terbebas dari belenggu pernikahan yang rusak ini?
Kadang Shanum tidak mengerti dengan jalan pikiran Sabda, kenapa pria itu tetap kekeuh mempertahankan pernikahan mereka. Padahal sudah jelas tak ada cinta di sana.
“Aku hanya menyimpannya. Aku bahkan sudah lupa telah menyimpan surat ini.” Shanum kembali menatap Sabda dengan ekspresi tak kalah dingin.
Sabda mendekat dan meraih dagu istrinya cepat, menyorot ke dalam manik cokelat itu untuk menemukan kebohongan kemudian melipat bibir rapat-rapat sebab tak mendapati kelicikan apa pun di dalamnya.
“Jika kamu berani macam-macam, aku pastikan akan menguburmu ke dalam tanah secara hidup-hidup!” kata pria itu, langsung memberi ancaman telak yang membuat Shanum merasa agak ngeri. “Aku juga akan membunuhmu. Aku tidak peduli jika tanganku harus kotor dengan darah.”
Apakah pria ini memang sakit jiwa, berhati dingin, dan tak tahu belas kasih? Shanum bahkan sempat berpikir kalau dia bukan menikahi manusia, melainkan malaikat maut.
“Baiklah. Jika memang itu keinginanmu. Mulai sekarang perlakukan aku seperti istrimu. Kita memang menikah karena perjodohan, tapi bukan berarti kamu bisa memperlakukanku seenak jidatmu, Mas!” serang Shanum lebih bergemuruh. Suaranya bahkan mulai serak karena dehidrasi ditambah teriakan seperti orang kerasukan arwah.
Anehnya, meski diserang kemarahan sang istri, Sabda masih sanggup mempertahankan sikap normal. Tidak gentar, tidak pula mencekik istrinya.
“Kalau begitu, aku juga berhak menuntut lebih. Singkirkan surat penceraian itu, dan jangan mengadu apa pun pada papa,” kata Sabda membangkitkan perkara baru sekaligus memancing keributan.
Sejak dulu Sabda paling malas jika harus berurusan dengan papanya sendiri. Beliau lah yang menjodohkan mereka berdua. Wiratama sangat menyayangi menantunya melebihi anak sendiri. Jika saja beliau tahu seperti apa perlakuan Sabda pada Shanum selama ini, mungkin pria itu sudah mati terpenggal.
Tak hanya kehilangan jabatan sebagai pemilik perusahaan, Sabda juga bisa mati tanpa kepala. Begitu dahsyat amarah dari sang ayah, karena itu dia paling malas jika harus membuat keributan dengan ayahnya sendiri.
Shanum benar-benar kesal dengan sikap Sabda yang selalu semaunya sendiri. Pria itu hanya memikirkan harga dirinya, tapi tidak pernah mau mengerti dengan kondisi Shanum yang memiliki banyak tekanan dari dalam.
“Apa maksudmu? Aku bahkan tidak berniat memberitahu orang tua kita.”
“Yakin kamu bisa dipercaya? Jangan-jangan kamu lagi menyusun rencana supaya semua orang termasuk keluargaku tahu kalau aku ini adalah pria bajingan yang tak bisa menghargai istri.”
Mendengar ucapan Sabda, Shanum terkekeh. “Memang benar kamu itu bajingan. Aku bisa saja mengatakannya, Mas. Tapi maaf, aku tidak setega itu untuk membuatmu jatuh miskin dalam waktu cepat.”
Perdebatan seolah sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Shanum yang menyedihkan, dan Sabda yang egois. Sampai kapan pun keduanya tak akan pernah cocok, tapi anehnya Sabda masih saja mempertahankan Shanum di sisinya.
“Bagus kalau begitu.” Sabda menghela napas, mereka sudah berada di puncak perdebatan. Pria itu mulai mengalah, dia pun mengatakan pada sang istri untuk bersiap-siap, karena malam ini mereka akan pergi ke suatu tempat.
Tidak mengerti siapa yang Sabda maksud, sebelah alis Shanum terangkat. Penasaran.
“Kamu gak baca pesan? Keluargaku mengadakan acara makan malam. Papa bilang ingin bertemu dengan kita malam ini, di rumahnya.”
“Itu saja?”
Sabda mengangguk. “Kita sudah terlatih bersandiwara di depan mereka bukan? Jadi, jangan pernah mengungkit benda menjijikkan ini di depan mereka,” kata Sabda. Pria itu membalik badannya seraya menghela napas.
Belakangan ini, Sabda memang paling susah jika diminta bertemu dengan ayah-ibunya dan Shanum tentu tahu alasannya adalah karena orang tuanya yang terus mendesak mereka untuk segera punya anak.
Siapa yang tidak mau punya anak? Shanum bukannya tidak mau. Hanya saja, jika melihat kondisi rumah tangganya yang bak kapal karam, terlalu mustahil untuk diharapkan.
Jangankan punya anak, bahkan Sabda tidak pernah menyentuh istrinya selama empat tahun ini. Benar, Shanum masih perawan. Anehnya perempuan itu masih sanggup bertahan.
Hanya gumaman ambigu yang bisa Shanum dengar, sebelum Sabda benar-benar menghilang dari kamar menuju dapur setelah mengakhiri perdebatan panjang mereka.
Shanum berdecak, dia menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu.
“Mari bermain, Sabdatama. Mari kita lihat, siapa yang akan merangkak lalu bertekuk lutut dan memohon lebih dulu.”
Bersambung… KAPAN PUNYA ANAK
Selain pintar memasak, Shanum juga pintar berakting. Di hadapan orang lain dia bisa memerankan sosok istri dan menantu yang baik. Orang lain akan mengira rumah tangganya sempurna dan utuh. Namun, hal itu hanya untuk menyembunyikan sisi lain dirinya sendiri.
Tak hanya Shanum. Di luar sana masih banyak orang yang berpura-pura baik. Kadang kita melihat seseorang yang ramah dan ceria malah sebenarnya merupakan seseorang yang paling menyedihkan di dunia.
Kadang orang yang terlihat baik-baik saja dari luar belum tentu bisa dikatakan baik-baik saja di dalam.
Begitu pun dengan Shanum. Meskipun dia seorang wanita sempurna dari keluarga terpandang, orang tuanya adalah pendiri perusahaan properti, pengembang real estate yang berbasis di Hong Kong. Hartanya lima kali lipat lebih banyak dari Sabda.
Tapi sayang di balik itu, dia juga menyimpan hal lain. Menikah dengan Sabda baginya merupakan sebuah bencana yang perlahan menghancurkan hidupnya.
***
Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika Sabda dan sang istri sampai di kediaman orang tuanya. Anggota keluarga itu berkumpul di ruang makan termasuk Sabda dan Shanum.
“Ingat, bersikap senatural mungkin. Jangan bersikap mencurigakan di hadapan orang tuaku,” kata Sabda sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam ruangan besar yang sudah diisi separuh keluarga Sabda.
Sebenarnya tanpa diberitahu begitu pun Shanum sudah mengerti apa saja tugasnya. Tapi, lama-lama dia muak juga dengan semua skenario busuk Sabda.
Kedua orang tua pria itu tampaknya akan membicarakan suatu hal. Sabda yang duduk berdampingan dengan sang istri tampak acuh tak acuh, begitu pula sebaliknya.
“Mama seneng kalau kita semua berkumpul gini. Rumah Mama jadi ramai, biasanya ‘kan sepi.”
Sabda dan Shanum memenuhi undangan makan malam ini dan berkumpul di rumah atas permintaan mama mertuanya–Diana–beliau membuka obrolan sembari menyantap makan malam.
“Kalau ada si kecil di sini, mungkin rumah kita akan lebih lengkap lagi. Sudah empat tahun sejak kalian menikah, tapi belum ada tanda-tanda, ya? Jadi, kapan kamu akan memberi keluarga ini keturunan?”
Diana menatap Shanum, ada makna lain yang tersirat di wajah wanita itu. Diana adalah sosok ibu mertua yang baik, berbeda dengan anaknya yang seperti titisan Firaun. Shanum hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan mama mertuanya, dia juga bingung harus menjawab apa.
Tidak mungkin Shanum menjelaskan pada mereka kalau sampai saat ini dirinya masih perawan dan tidak pernah disentuh oleh Sabda.
“Tidak terasa pernikahan kalian sudah empat tahun, ya.” Wiratama memalingkan wajahnya pada Sabda. “Dia yang menerimamu dalam kesederhanaan, layak dimuliakan dalam kebahagiaan. Dia yang menerimamu apa adanya, layak kau pertahankan selamanya. Dia yang sabar dengan kekuranganmu, layak mendapatkan semua keutamaan dari kelebihanmu.”
Suara berat sang kepala keluarga bergema di ruangan tersebut. Sabda terdiam, pria itu hanya memandangi ayahnya dengan tatapan penolakan.
Shanum juga terdiam, menatap hidangan yang menumpuk di atas piringnya. Ucapan ayah mertuanya sangat lembut dan berwibawa, tapi tidak sesuai dengan kondisi rumah tangga yang sesungguhnya. Entah kenapa Shanum merasa begitu sedih.
Selera makan itu juga mendadak lenyap saat topik obrolan mulai menjurus pada masalah cucu.
“Sabda, apa selama ini kamu memperlakukan Mahira dengan baik?”
Baru saja Shanum membatin, suara papa mertuanya langsung terdengar, Mahira adalah panggilan khusus mereka pada menantunya.
Sejak pertama kali masuk ke dalam keluarga ini, mereka sekali pun tak pernah memperlakukan Shanum dengan buruk. Seperti seorang anak, begitu perasaannya saat berada di tengah keluarga Sabda. Perhatiannya sama seperti orang tua kandung.
“Tentu saja, dia kan istriku,” jawab Sabda tenang.
“Sudah empat tahun kalian menikah. Kamu tahu sendiri, kalau Aksa Group perlu penerus, dan kamu itu putra sulung keluarga ini. Satu-satunya yang bisa papa andalkan,” katanya.
Sabda menghela napas sudah dia duga, obrolan ini pasti tidak akan jauh-jauh dari masalah anak dan keturunan.
Sabda menjilat bibirnya sebelum akhirnya bersuara, “aku masih mampu mengurus perusahaan ini tanpa penerus, Pa. Kalau memang sangat perlu, suruh saja Prama pulang dan meneruskan perusahaan kita.”
“Tapi kamu itu putra sulung di keluarga ini, Sabda!” potong sang Ayah. Nadanya naik sekitar dua oktaf. Ia marah ketika putranya lagi-lagi menyepelekan perintahnya.
“Memangnya kenapa jika aku putra sulung? Memindahtangankan perusahaan ke putra kedua dan seterusnya tak akan membuat perusahaan hancur, Pa.”
“Sabda, jangan bersikap kasar pada papamu.” Ibunya berusaha menjadi penengah.
Mata Sabda berkeliaran memandangi sekelilingnya seraya menghela napas, sebelum berhenti sejenak pada Shanum yang terlihat menunduk sembari memainkan jari tangannya yang lentik.
Diana menatap Shanum yang sedari tadi terdiam, beliau mengulurkan tangan untuk mengelus punggung tangan wanita itu dan berucap pelan.
“Kamu jangan anggapan ucapan orang-orang di rumah ini, ya.”
Shanum tersenyum. Dirinya yang tidak kunjung memiliki anak, membuatnya merasa gagal sebagai seorang istri. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Sabda soal pernikahan ini, dia tidak pernah merasa khawatir tentang apa pun.
Shanum hanya berpikir, meskipun sangat ingin memiliki anak. Dia tak ingin anak itu terlahir tanpa ayah. Sabda memang ada. Namun, hatinya mati. Di hatinya tak ada Shanum di sana.
“Sudah-sudah, ini kan lagi makan malam, jangan ribut di depan rezeki,” kata Diana. “Kapan rencananya mau berangkat liburan berdua?” tanya mama pada Shanum dan Sabda seraya mengaduk teh dalam cangkirnya.
Beliau berusaha untuk mengalihkan topik agar perdebatan antara ayah dan anak itu tidak terus berlanjut dan merusak acara makan malam mereka. Pembahasan lama itu mengambang lagi. Shanum menggigit bibir. Enggan bersuara.
“Jangan bikin alesan lagi banyak kerjaan. Mama ini gak mau dengernya.”
Shanum melirik teh dalam cangkirnya. Sebelumnya, ia memang sudah merencanakan untuk pergi liburan sendiri. Namun, entah pastinya kapan, yang jelas Sabda tidak boleh ikut dengannya.
“Mama gak akan nyerah buat doain kalian, semoga kali ini Mahira hamil.”
“Aamiin, makasih banyak, Mama.”
Shanum menyunggingkan senyum, dia mengusap punggung tangan mamanya dengan lembut, mengaminkan harapan wanita yang sudah empat tahun ini dianggap sebagai ibu.
“Jangan lupa atur jadwal liburanmu, ya,” kata beliau lagi.
“Baik, Ma. Mahira akan bicarakan ini dengan Mas Sabda.” Shanum tersenyum getir, untuk saat ini mengalah adalah jalan terbaik. Mereka tidak tahu sebegitu sulitnya membicarkan hal tersebut bersama sang suami.
“Itu tidak akan terjadi.”
Baru saja Diana hendak membuka suara, jawaban dari Sabda membuat seisi meja sontak menoleh ke arahnya.
Shanum sudah menduga bahwa Sabda pasti akan menolak usul sang ibu. Namun, telinganya langsung berdesing ketika Sabda mengatakan hal yang membuatnya terkejut.
“Aku tidak terlalu memikirkan keturunan. Bukankah sudah kubilang kalau Shanum belum juga hamil kita bisa adopsi anak?”
KERIBUTAN SUAMI ISTRI
Bunyi peralatan masak di dapur terdengar amat serambi lempitakkan telinga pagi ini. Sabda menutup telinganya dengan kedua tangan dan berkali-kali mengeluh kesal. Ingin rasanya dia datang ke dapur dan mengoceh pada sang istri yang sibuk memasak. Namun, seperti tak pernah beres.
Sepulangnya dari acara makan malam bersama orang tuanya, Sabda dan Shanum kembali ribut. Bagaimana tidak? Sabda dengan entengnya meminta Shanum untuk mengadopsi anak saja. Apa pria itu sudah sakit jiwa?
Shanum sehat, dia berkesempatan memiliki anak, tapi tanggapan Sabda malah begitu, seolah dia adalah wanita mandul yang susah mendapat keturunan. Padahal ini salah pria itu sendiri yang terlalu menjaga jarak.
Kekesalan Shanum jelas belum mereda. Karena itu, pagi ini dia melampiaskannya pada barang-barang yang ada di dapur.
Sabda semakin tak tahan mendengar suara barang-barang dapur yang saling menghantam bak rudal yang dijatuhkan ke tengah kota. Dia lekas keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju dapur.
Tak disangka-sangka, dia malah menemukan keadaan dapur yang sudah berantakan. Potongan sayur, botol saus, kecap, minyak, dan beberapa panci lainnya memenuhi permukaan lantai dapur. Pria itu membulatkan mata.
“Apa-apaan ini, Sha. Kamu gak bisa masak atau gimana? Kamu mau menghancurkan rumah ini?!”
Sabda mulai mengoceh. Dia mendekati Shanum yang masih sibuk dengan masakannya. Melihat ekspresi sang istri yang tampak menyeramkan, Sabda menebak dia tidak akan menemukan makanan enak di sana.
Mengabaikan kehadiran suaminya di dapur. Shanum fokus memotong sayuran secara asal-asalan. Sabda mengalah, dia tak mau ribut dengan Shanum pagi ini, banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Jika mereka ribut, sudah pasti Sabda akan terlambat.
Pria itu menduduki kursi makan, Shanum dengan wajah kusutnya berjalan mendekat dan menghidangkan sup yang-entah apa-berkuah bening dengan potongan wortel berukuran besar, sebesar jempol orang dewasa.
Sabda mulai mencicipi kuah masakannya dengan sendok kecil. Jika biasanya Shanum akan membuat masakan dengan cita rasa lezat bak koki terkenal dunia sekelas Gordon Ramsay. Kali ini tidak.
“Astaga apa ini?!” katanya dengan ekspresi yang benar-benar jelek, seolah menggambarkan penderitaan. “Kamu mau memberiku makanan beracun hari ini? Hei, cukup! Kemarin malam aku sudah meminta maaf padamu,” oceh Sabda kesal.
“Masih untung aku mau memasak makanan untukmu! Memangnya kenapa? Kau bisa makan di luar kalau tak suka. Apa selingkuhanmu itu tak bisa masak?!”
Shanum tak kalah garang, dia mematikan api kompor kemudian duduk di kursi sambil memegangi dahinya dengan kedua tangan.
Shanum benar-benar tak bisa melupakan ucapan Sabda tadi malam di depan mertuanya. Pria itu memang sudah kehilangan otak.
Sabda menghela napas, dia ikut duduk di samping wanita itu. “Aku sudah minta maaf padamu. Orang tuaku juga tak terlalu memusingkan hal ini. Ada apa denganmu, Shanum!” katanya tampak frustrasi. Shanum mendesah malas.
“Kamu masih selalu bersikap kayak gitu. Emang kamu gak pernah mikirin apa kesalahan kamu selama ini? Mulutmu itu memang minta dilakban, ya? Pokoknya kalau keluargamu tiba-tiba menuduhku mandul, semua ini salahmu!”
Shanum kembali mengungkit keributan tadi malam. Shanum masih tidak terima ketika Sabda mengatakan pada orang tuanya kalau mereka tidak bisa memiliki anak dan akan memilih untuk adopsi anak saja.
Istri mana yang tidak terluka mendengar ucapan seperti itu dari mulut suami sendiri? Shanum rasanya ingin sekali mencincang suaminya bak psikopat yang memutilasi tubuh korbannya.
“Astaga, Sha! Kamu pikir keluargaku sepicik itu? Aku yakin mereka tidak akan setega itu untuk membenarkan semua ucapanku. Jangan berlebihan, kita baru menikah empat tahun. Masih banyak perempuan di luar sana yang belum punya anak dan usia pernikahannya lebih lama dari kita!”
Ucapan Sabda terdengar menyakitkan di telinga Shanum. Pria itu memang tidak tahu cara menghargai perempuan, sampai sekarang Shanum penasaran apa yang sudah merasuki pria ini sampai dengan entengnya berkata demikian.
“Dasar sinting! Dua hal itu tidak bisa dijadikan perbandingan. Apa otakmu itu sudah kau buang ke tempat sampah sampai-sampai dengan entengnya kau bicara omong kosong? Dasar gila!”
Pagi yang cerah di kediaman Tuan Sabdatama diawali dengan perdebatan antar suami istri. Para pelayan di rumah itu seolah sudah paham dengan sifat masing-masing majikannya. Mereka semua hanya bisa diam, bersembunyi di tembok pembatas, atau justru kembali bekerja.
Tidak ada yang mau ikut campur atau sekadar menengahi pertikaian dua pasangan tersebut.
“Aku salah apa lagi, Sha? Bukankah kenyataannya memang begitu? Lagipula apa yang diharapkan dari pernikahan ini? Kamu berharap punya anak dariku? Mimpi!”
Shanum mendengkus, Sabda kembali bersikap congkak. Wanita itu sudah sangat lelah menghadapi sikap egois Sabda yang sudah kelewat batas, entah harus dengan cara apa lagi Shanum menyadarkannya.
“Kau masih bertanya apa salahmu? Banyak! Mau kusebutkan dari mana? Atau mau kuungkit kesalahan-kesalahanmu dari awal kita menikah sampai sekarang?” Shanum menantang Sabda, kedua matanya melotot garang.
Shanum bukan tipikal perempuan yang hanya bisa menangis ketika disakiti suaminya. Sebisa mungkin dia akan mempertahankan harga dirinya supaya tidak terlihat lemah di hadapan orang lain. Shanum benci terlihat lemah. Dia benci dikasihani.
“Kenapa menatapku begitu? Baru sadar kalau ucapanku benar? Kau memang lelaki bajingan. Suami tak bertanggung jawab!”
Sabda ikut melotot mendengar ucapan Shanum yang begitu keterlaluan. Bisa-bisanya dia merendahkan suaminya sendiri.
“Jaga ucapanmu, Sha!”
Sabda masih saja belum menyadari apa kekesalan Shanum. Sudah cukup. Wanita itu tidak tahan lagi. Dia melepas apron yang melekat di tubuhnya.
“Makan saja di luar. Aku lelah berdebat denganmu. Kau tidak pernah mengerti apa pun. Mas! Sekarang berhenti bersikap peduli,” kata Shanum malas. “Terserah mau pulang atau tidak. Aku tidak mau lagi berdebat denganmu. Pacaran saja dengan wanita yang kau anggap istimewa itu. Siapa tahu selama ini kalian memang berjodoh dan aku bisa pergi dari rumah ini.”
Dia lekas beranjak hendak meninggalkan Sabda. Namun, pria itu dengan cepat menahan pergelangan tangan sang istri.
“Hey. Apa maksudmu tadi?”
Shanum yang sudah habis kesabaran hanya bisa menatap Sabda dengan ekspresi seolah ingin menghajar pria itu sampai babak belur. Paling tidak, sampai Sabda mati kalau bisa.
“Lepaskan aku!”
“Jelaskan dulu maksud dari kata-katamu tadi.” Sabda bersikeras meminta Shanum untuk tidak pergi dari sana. Sementara itu sang istri sudah sangat pusing dan butuh tidur untuk menjernihkan pikiran.
“Lepaskan! Pergi saja ke mana pun, kalau perlu, hamili saja selingkuhanmu itu. Jadi, kau tak harus repot-repot mengadopsi anak!”
Sabda tidak sempat membalas ucapan Shanum karena wanita itu sudah lebih dulu melepas cengkeraman Sabda pada tangannya.
Sabda tersentak kaget mendengar ucapan Shanum yang benar-benar dipenuhi kemarahan. Masalah anak selalu menjadi topik yang sangat sensitif untuknya. Setelah cengkeraman itu terlepas, Shanum kemudian beranjak pergi dari sana. Benar-benar memuakkan.
Bersambung… LEPASKAN AKU
“Kok malah diam?”
Lamunan Sabda disentak sampai bubar jalan oleh pertanyaan kekasihnya setelah beberapa detik dia habiskan tanpa jawaban.
Sabda lupa kalau saat ini dia sedang makan berdua dengan Rania di salah satu restoran. Imbas dari keributan yang terjadi tadi pagi benar-benar membuat mood Sabda memburuk, terlebih ketika Shanum meminta Sabda untuk menghamili Rania saja supaya dirinya senang.
Shanum memang selalu tampak mengerikan dan nekat saat marah. Mungkin itulah kenapa mereka berdua bisa berjodoh.
“Di kantor sedang ada masalah, ya? Tumben Ma—“
“Nggak juga, Rania.” Sabda memotong ucapan Rania, dia merubah ekspresinya sebelum Rania berpikiran macam-macam.
“Terus gimana? Tumben ngajak sarapan bareng, biasanya Mas Sabda kan ngajak makan siang di jam istirahat.”
Yah, kalau saja istrinya yang keras kepala sejagat raya itu tidak membuat masalah pagi-pagi, dia tidak akan makan di luar seperti ini. Sabda hanya ingin menenangkan pikiran sebelum dia kembali bekerja. Bekerja dengan mood yang baik jelas tidak akan membuat semuanya selesai.
Belum lagi masalah dengan orang tua, mereka berharap Sabda segera memberikan keturunan, tapi mana mungkin bisa. Dia dan Shanum kelakuannya sudah seperti dua kucing liar yang memperebutkan wilayah.
Pria berusia 30 tahun itu meraih cangkir kopi di depannya dan menyeruputnya pelan. Enggan memikirkan hal yang sudah terjadi dalam rumah tangganya pagi ini.
Dulu, sebelum kenal Shanum dan Rania, Sabda suka berpikir, sepertinya dia ingin hidup sendirian saja. Bukan apa-apa. Dia sudah terlalu sering melihat orang-orang yang mengaku saling sayang sehingga merasa tidak bisa hidup tanpa satu sama lain, perasaan mereka berubah seiring dengan waktu yang berjalan.
Kemudian, kata-kata sayang itu mulai terganti oleh hubungan yang renggang, konflik, ucapan-ucapan kasar, lalu tindakan yang saling menyakiti.
Mungkin benar, dia baru saja mengalaminya sekarang.
“Mau aja, emang gak boleh, ya, kita makan berdua kayak gini? Nanti kalo Mas sudah sibuk, kamu kangen.”
Mendengar jawaban Sabda, Rania langsung terkekeh malu. “Bukan gak boleh, Mas. Mas belum mau pergi ke kantor? Nanti telat loh kalo masih nongkrong di sini.”
“Nanti saja, Rania. Emangnya kamu gak kangen sama Mas?” tanya Sabda sok perhatian.
“Ya, kangen.”
Mereka berdua saling bercanda, perlahan Sabda mulai lupa dengan pertengkarannya tadi pagi bersama sang istri. Mungkin benar, pria itu hanya butuh dihibur, dan Rania adalah gadis yang selalu bisa membuat mood-nya kembali membaik.
Pukul sebelas malam, Shanum baru saja bangun. Kerongkongannya kering menahan haus. Dia berjalan dengan tangan meraba sepanjang dinding mencari panel lampu, dan keluar setelah lampu menyala.
Shanum tidak kembali ke kamar begitu menyadari di luar hujan turun cukup deras. Sabda sudah menghubungi istrinya jam tujuh tadi bahwa dia akan pulang telat. Sebenarnya Sabda mau pulang seminggu kemudian pun, Shanum tidak peduli.
Usai mengambil minum di dapur, sekitar enam-tujuh langkah beranjak ke ruang tengah, langkahnya terhenti. Tatapan wanita itu tertuju pada siluet seseorang yang terlelap di sofa. Meringkuk serta menyembunyikan kepala di antara siku dan lengan. Shanum terkejut.
“Kapan pria ini pulang? Dia tidur di sofa semalaman?” Shanum bergumam seraya geleng-geleng kepala melihat wajah pulas suaminya.
Tertidur di sofa tanpa bantal, selimut, dan lupa menyalakan pemanas ruangan. Kulitnya pucat. Tubuhnya menggeliat karena menggigil. Alih-alih membangunkannya, Shanum membiarkan Sabda menetap di sana.
Kertas dokumen berceceran di sekitar laptop yang terbuka. Laptopnya dalam keadaan hibernasi, hanya lampu LED-nya yang menyala. Mungkin Sabda meresetnya sebagai efisiensi waktu. Karena jika dimatikan dia harus menunggu laptop menyala, membuka folder, dan mengeklik dua kali file. Sungguh merepotkan untuk orang sesibuk Sabda.
Layar ponselnya berkedip. Menandakan pesan baru masuk dari salah staf divisi perusahaan, serta terdapat notifikasi puluhan pesan dan belasan panggilan tak terjawab.
Beberapa hari terakhir Shanum memang melihat suaminya lebih sibuk. Sabda akan mengerjakan tugasnya di mana pun. Kadang wanita itu mulai bosan.
“Kamu bekerja cukup keras. Apa kamu gak lelah, Mas?” Seperti mendapat pukulan telak yang seolah bisa menghancurkan rongga dada. “Aku membencimu. Jangan membahas perihal anak lagi.”
Shanum segera beranjak ke kamar mengambil bantal dan selimut. Dia membetulkan letak posisi kepala Sabda, menyusupkan batal, lalu menyampirkan selimut di tubuhnya. Pria itu tidur lelap sekali tidak merasa terusik olehnya.
Jelas saja, setiap hari Sabda hanya tidur kurang dari empat jam. Shanum sering berpikir bahwa suaminya itu robot perusahaan. Enggan berhenti sampai baterainya habis. Entahlah, Shanum tidak tahu apakah pria itu benar-benar sibuk dengan perusahaan atau dengan Rania.
Selang beberapa detik kemudian irama napasnya berangsur-angsur teratur. Kemudian Shanum berjongkok di depan Sabda dan mengamati wajahnya. Sabda yang tengah tertidur begitu polos dan lucu, berbeda saat dia bangun dan mencari keributan.
Mengingat pertemuan pertama dengan pria itu membuat sudut bibirnya terangkat.
Suatu hari, ketika Shanum ikut pertemuan antar keluarga dengan rekan bisnis ayahnya, dia agak kepayahan mengambil buku bersampul biru yang letaknya ada di bagian atas rak. Menyadari bahwa tubuhnya pendek dan tidak mampu menjangkau buku tersebut, Sabda tiba-tiba datang dan mengambil buku di atas sana.
“Kenapa tidak minta bantuan seseorang untuk membantumu?”
Dalam berbagai kesempatan, dia adalah pria baik seperti tokoh negeri dongeng. Terdengar mustahil, tetapi 1000:1 akan selalu ada pria seperti itu.
Shanum sempat mengira Sabda adalah playboy yang suka mempermainkan hati perempuan. Tak bisa Shanum duga, orang tua mereka malah setuju untuk menjodohkan keduanya agar menciptakan hubungan bisnis yang kuat.
Hingga tibalah hari itu. Di malam hari, dua keluarga yang sudah cukup dekat karena ikatan bisnis tengah makan malam di salah satu restoran, ayah Sabda mengulangi pertanyaannya terdahulu.
“Kalian sangat dekat, menikahlah.”
Pernikahan ini untuk memperkuat ikatan bisnis, atau karena mereka memang saling cinta? Shanum sebenarnya tidak yakin. Dia mencari tahu tentang Sabda lebih dulu. Mereka berkenalan lebih dekat selama dua minggu. Selama itu dia berhasil menilai Sabda pria dewasa, kaku, dan tidak peka.
Meskipun begitu, Shanum menemukan apa yang dia inginkan darinya. Dia bertanggung jawab, bukan hanya pada istri, melainkan keluarga, pekerjaannya, bahkan lingkungannya. Shanum percaya jika teori jodoh memang sulit ditebak. Dia bisa datang di waktu yang tidak menguntungkan sekalipun.
Pokoknya bagi Shanum hari itu, Sabda seperti malaikat yang dikirim Tuhan.
Mengingat itu semua membuat Shanum tersenyum hingga matanya sedikit berkaca. Diangkatnya tangan itu mengelus rambut Sabda yang halus. Wajah damainya membuat hati tentram.
Shanum ingin sekali menangis begitu menatap wajah suaminya yang tertidur pulas tanpa beban. Terlihat lebih tenang daripada saat mereka berdebat. Sabda tidak merasa terusik dengan isakan lirih istrinya.
Akan tetapi, semua kenangan indah itu perlahan surut. Berganti dengan rasa sakit dan amarah yang sulit sekali dijelaskan. Apalagi untuk sekadar bertanya langsung pada Sabda.
Shanum kembali mengingat dustanya hari itu, hari di mana dia berkata bahwa telah menjalin hubungan dengan wanita lain, kembali batinnya dirundung perasaan kecewa. Lagi-lagi pertanyaan itulah yang muncul.
“Kenapa? Kenapa kau tidak mau melepaskanku?”
ULANG TAHUN PERNIKAHAN
Sabda keluar dari kamar mandi dengan bathrobe hitam yang menutupi tubuhnya. Dia menatap setelan jas kerja yang disiapkan Shanum di atas tempat tidur lalu menghela napas panjang.
Sabda tidak pernah meminta Shanum untuk melakukan hal seperti ini untuknya. Tapi, wanita itu tetap melakukannya setiap hari walaupun sudah mendapat penolakan. Sabda kembali menyimpan setelan jas yang disiapkan Shanum kemudian memilih jas lain sesuai keinginannya di ruang pakaian. Dia tidak pernah memakai jas yang disiapkan sang istri untuknya karena ia tidak ingin.
Setelah selesai bersiap-siap, Sabda berjalan menuju ruang makan dan melihat Shanum sudah duduk di sana dengan setelan tak kalah rapi. Wanita itu duduk membelakanginya dengan tangan kanan sibuk menyendokkan makanan ke dalam mulut, sementara tangan kiri memegang ponsel.
“Kamu sudah siap? Aku sudah menyiapkan kopi dan sarapan untukmu, Mas. Makanlah,” ucap Shanum ketika menyadari Sabda berjalan mendekat.
Sabda duduk di meja makan lalu meminum kopinya tanpa mengatakan apa pun. Usai bertengkaran mereka kemarin, pasangan itu semakin membatasi jarak dan jarang bicara. Shanum masih begitu kesal pada suaminya karena masalah tempo hari di hadapan sang mertua. Sabda memang benar-benar tidak bisa diandalkan.
Setelah Sabda duduk, kini gantian Shanum yang berdiri dari kursi kemudian mengambil tas selempang miliknya yang diletakkan di atas meja makan.
Shanum tidak mengatakan apa pun, dia hanya melirik Sabda sebentar dan kembali berkemas. Hari ini ada salah satu tempat yang ingin dia tuju untuk sekadar memastikan sesuatu.
“Mau ke mana?” tanya Sabda tiba-tiba, setelah cukup lama saling diam satu sama lain, akhirnya pria itu berani untuk bertanya.
Sang istri melirik sekilas kemudian berujar ketus. “Pergi.”
“Mau ke mana?” Sabda kembali mengulang, tidak puas dengan jawaban Shanum yang tidak spesifik.
Padahal Sabda hanya takut Shanum pergi dari rumah dan tidak kembali pulang. Sabda tahu seperti apa sifat Shanum jika sudah temperamental. Dia bisa membuat kekacauan di hadapan khalayak ramai, tentu saja Sabda tidak mau, dia yang akan malu nanti.
Shanum memang pemarah, tapi itu semua karena Sabda yang selalu memicu kemarahannya. Tidak ada satu pun hari tanpa bertengkar dengannya. Mereka tidak tampak seperti suami istri, malah lebih persis idol dan haters yang tinggal dalam satu rumah.
“Sejak kapan kamu peduli aku mau ke mana dan ngapain?”
“Aku masih suamimu, aku berhak mengetahui ke mana kau akan pergi.”
Shanum tidak ingin menghabiskan separuh paginya yang damai dengan pertengkaran seperti yang lalu-lalu. Itu hanya akan membuat mood-nya semakin buruk.
Tanpa menjawab ucapan pria itu dia langsung berlalu pergi, meninggalkan Sabda di dapur seorang diri.
Sabda menghela napas dalam melihat Shanum yang menghilang di ambang ruang makan. Dia sudah terbiasa dengan sikap tidak sopan wanita itu.
“Wanita itu lagi-lagi mengabaikanku, dasar istri pemarah,” gumamnya menatap isi piringnya yang masih penuh. Dengan rasa bersalah kemudian melanjutkan sarapannya karena dia harus segera pergi ke kantor.
Tanpa sepengetahuan Sabda, Shanum pergi ke kafe tempat Rania bekerja. Wanita itu selalu memperhatikan gerak-gerik selingkuhan suaminya dari jauh. Padahal Shanum tidak perlu melakukannya. Toh, Rania saja tidak kenal siapa dia.
Shanum tidak mengerti kenapa harus melakukan hal ini. Kenapa dia harus peduli pada wanita simpanan suaminya. Meskipun begitu, Shanum selalu saja menyempatkan diri untuk datang ke kafe hanya untuk memperhatikan Rania.
Hari ini suasana kafe tidak terlalu ramai, Shanum duduk di salah satu kursi dekat jendela. Tak jauh dari sana, Rania sedang sibuk melayani pelanggan dari satu meja ke meja lain. Harus Shanum akui, gadis itu cukup cekatan, manis dan ramah, tidak seperti dirinya yang dingin dan pemarah.
Sekarang langkah Rania mendekat ke meja Shanum. Gadis dengan apron khas pelayan Cafe tempatnya bekerja itu memasang senyum seramah mungkin.
“Selamat siang, Bu. Mau pesan apa?”
Shanum melirik wanita itu lewat sudut mata, kemudian membuka buku menu yang tersedia di meja. Telunjuknya mengarah pada salah satu gambar minuman.
“Terima kasih, pesanan akan disiapkan sebentar lagi.”
Gadis itu pun undur diri dari sana. Hati Shanum sedikit memanas, dia bertanya-tanya, sudah sejauh apa hubungan gadis itu dengan Sabda. Apakah Sabda sudah pernah tidur dengan Rania?
Mata Shanum terus memperhatikan gerak-gerik Rania, seakan tengah mengamati mangsa buruannya. Rania menyadari itu. Namun, saat berbalik, Shanum pasti mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Harus Shanum akui, Rania memang cantik, pantas saja Sabda tidak bisa melepaskan gadis itu. Shanum kadang selalu berkata tidak peduli pada hubungan mereka, tapi wanita itu pun selalu penasaran seperti apa sosok gadis yang sudah membuat suaminya seperti orang sinting belakangan ini.
“Pesanan Anda sudah siap.”
Suara Rania membuyarkan lamunan Shanum tentang gadis itu. Diletakkannya segelas espresso ke hadapan Shanum, dia selalu memesan minuman itu setiap kali berkunjung ke kafe. Pahitnya espresso tidak sebanding dengan pahitnya melihat kenyataan bahwa sang suami bermain mata bersama wanita lain.
“Terima kasih,” kata Shanum.
“Sama-sama, selamat menikmati.”
Rania tersenyum ramah dan kembali undur diri dari hadapan Shanum. Wanita itu tidak tahu apakah keramahan Rania hanya semacam formalitas belaka atau memang tulus dari hati.
Malam semakin larut, suasana rumah besar milik Sabda sangat hening. Lampu ruang tengah sengaja dipadamkan.
Sabda baru saja pulang, dia terlihat sangat lelah karena seabrek pekerjaan di kantornya. Pulang larut seakan sudah menjadi rutinitas setiap hari selama hidupnya. Bahkan Shanum sering mempermasalahkan pekerjaan pria itu. Shanum mengatainya gila kerja dan sempat membuat hubungannya dengan sang istri merenggang.
Sabda bukannya tidak ingin menghabiskan waktu dengan Shanum, tapi setiap kali Sabda mendekati perempuan itu, pasti pertengkaran yang akan terjadi. Hal tersebut tak hanya terjadi sekali, tapi sudah berkali-kali. Itu yang membuat Sabda malas untuk sekadar mengajak sang istri bicara.
Jadi, sebagian waktunya memang habis untuk Rania. Entah itu sebatas mengabari, atau mengobrol berdua setiap kali ada waktu luang. Rania jauh lebih bisa membuat Sabda nyaman dalam hal apa pun.
“Tuan baru pulang?”
Sabda terlonjak saat asisten rumah tangganya itu menegur. Sabda mengusap dadanya pelan. Rasa kantuk dan lelah membuatnya sulit berkonsentrasi.
“Iya, kenapa Bibi belum tidur? Istriku sudah tidur, kan?” Sabda mendekat untuk menggapai air putih yang berada di atas meja dapur.
“Saya sedang memasukkan kue dan puding ke kulkas. Nyonya sudah tidur sejak tadi,” tuturnya. Wanita itu sibuk memasukkan beberapa kue ke dalam kulkas empat pintu.
Mata Sabda sedikit membulat melihat banyaknya menu makanan yang terhidang. Shanum masak banyak untuknya hari ini? Tumben sekali dia membuat kue segala.
Biasanya wanita itu susah sekali jika disuruh membuat kue kesukaannya. Mereka akan berdebat dan berakhir dengan Sabda membeli kue itu sendiri ke toko terdekat.
“Kenapa istriku memasak banyak sekali menu makanan begini? Tapi ujungnya tetap tidak dimakan.” Sabda menunjuk tart red velvet dan brownies yang berada di atas meja. Semuanya utuh, beberapa yang lainnya tersisa sepotong.
Sabda sangat paham dengan kebiasaan Shanum. Dia tidak pernah bisa menghabiskan kue buatannya dan selalu menyuruh orang rumah untuk menghabiskan. Memasak sekaligus memotret dan diunggah ke sosial media sudah cukup membuat wanita itu kenyang.
Sabda memang harus membuat perhitungan dengan istrinya, uang yang sudah dicari susah payah dia hambur-hamburkan dengan percuma untuk makanan yang selalu berujung basi karena tidak dimakan sama sekali.
“Nyonya bilang, ini hari ulang tahun pernikahan, makanya Nyonya membuat banyak menu spesial hari ini,” terang Bi Asih pada Sabda yang seketika membuat pria itu tersentak.
“Ulang tahun pernikahan?” Sabda mengulang, “ini tanggal berapa?”
“Tanggal 20, Nyonya juga membagikan makanan ke anak yatim dan para tetangga tadi malam.”
Sabda benar-benar tidak ingat kalau hari ini adalah ulang tahun pernikahan. Selain karena pekerjaannya benar-benar menyita waktu, dia juga merasa Shanum tidak peduli pada makna pernikahan.
Wanita itu membencinya, Sabda sangat tahu. Tapi, untuk apa dia membuat perayaan seperti ini? Padahal Shanum sudah tahu, Sabda tidak akan repot-repot membuatkannya kejutan romantis seperti pasangan harmonis di luar sana.
“Ya sudah, bibi pergilah tidur. Besok bawa kue-kue ini.” Sabda berkata final dan bersiap untuk angkat kaki dari dapur.
“Nyonya bilang, Tuan akan pulang larut. Jadi, kalau masih mau makan dagingnya harus dihangatkan lagi. Tuan mau makan?”
Sabda menggelengkan kepala, dia bergegas keluar dari dapur dan masuk kamar untuk menemui Shanum. Sesampainya di sana, sang istri sedang tertidur pulas dengan posisi menyamping. Bahkan meski dalam keadaan tidak akur sekali pun, mereka masih betah berbagi ranjang berdua.
Sungguh, Sabda benar-benar tidak ingat. Lagipula pernikahan ini tidak berarti apa-apa. Shanum membencinya, bahkan Sabda sudah tega menduakan wanita itu. Entah apa yang ada di pikiran Shanum sekarang, sampai menyambutnya dengan banyak kue dan hidangan yang ujungnya berakhir di tempat sampah.
Tidak, tidak semuanya berakhir di tempat sampah. Sebagian memang Shanum bagikan. Tapi, untuk apa? Apa yang gadis itu syukuri dari pernikahan yang rusak ini?
Bersambung… SUAMI VS ISTRI
“Mau sampai kapan menatapku dengan dingin begitu?”
Sabda menatap wanita di hadapannya lalu mengedikkan bahu merespon pertanyaan wanita itu.
“Memangnya kenapa? Aku juga punya mata.”
Pagi ini di meja makan, Sabda tampak tidak biasa, dia menatap Shanum terus menerus, bahkan pertanyaan Shanum ditanggapi dengan ketus oleh pria itu. Sang istri heran, apa lagi kesalahannya hari ini.
Sabda pulang pukul satu dini hari dan langsung tidur. Shanum tahu itu karena dia langsung terjaga saat mendengar pintu kamar mandi terdengar berdecit. Pria itu terlalu lelah untuk membahas maksud istrinya semalam, jadi dia memilih bicara esok hari.
“Sha, ayo kita bicara!”
“Tidak usah. Sebentar lagi kamu telat ke kantor!”
Ucapan Shanum benar-benar terdengar ketus, tidak peduli jika itu menyakiti perasan Sabda. Shanum tahu, pasti Sabda akan membahas maksud perbuatannya kemarin. Sebenarnya dia geli kalau harus mendengar ucapan Sabda tentang ulang tahun pernikahan.
Bahkan Sabda sendiri tidak ingat tanggal berapa dia melantunkan ijab sakral itu di hadapan penghulu. Hanya Shanum saja yang ingat.
“Kau ingat pesan mama tempo hari? Kita harus ke luar. Aku mau mengajakmu ke luar … ayo kita jalan-jalan.” Sabda tampak sedikit ragu mengatakannya, tapi demi membuat Shanum bicara, Sabda rela menyingkirkan sedikit egonya.
Shanum menoleh ke arah suaminya, masih dengan tatapan yang sama. Wanita itu memilih untuk menyesap kopi hangat miliknya. Tidak peduli dengan ucapan Sabda sedikit pun.
“Aku sedang tak mau ke luar. Ini musim hujan.”
Sebuah penolakan yang membuat harga diri Sabda terluka, selama ini tidak ada satu pun orang yang berani menolak tawaran Sabda, hanyalah Shanum seorang.
“Kita harus membahas ini.”
“Bahas apa? Kalau begitu, bahas di sini saja. Kenapa harus repot-repot ke luar?”
Sabda menghela napas lagi, Shanum sungguh keras kepala melebihi batu. Sekarang dia bersikap seolah tidak ada apa pun yang terjadi.
Memilih untuk menuruti keinginan istrinya, Sabda mengajak Shanum untuk bicara empat mata.
“Kamu pernah bilang padaku jika pernikahan ini tidak ada artinya. Kamu juga bilang tak bahagia setelah menikah denganku. Lalu, untuk apa kamu melakukan perayaan konyol seperti kemarin?”
Perayaan konyol katanya? Shanum tertawa, bahkan meski tidak bahagia dengan Sabda, dia harus berakting di hadapan banyak orang agar terlihat seperti istri yang beruntung karena memiliki suami setampan dan sekaya Sabdatama Dzuhairi Nayaka.
Usahanya memang tidak pernah dihargai oleh Sabda. Dia hanya bertindak sewajarnya orang-orang melakukannya. Sabda hanya peduli pada Rania, bahkan saat gadis itu berulang tahun, Sabda memberinya kado satu unit sepeda motor. Berbeda dengan Shanum, pria itu malah sering lupa kapan perempuan itu dilahirkan.
“Anggap saja aku sedang merayakan hari di mana kita resmi hidup satu atap. Jangan terlalu memikirkan makna pernikahan. Kamu juga gak suka, kan?” Shanum menjawab ketus. “Aku gak mau ngapa-ngapain sekarang. Kalau kamu mau kerja, pergi saja. Aku tahu kamu sibuk. Tidak perlu memaksakan diri untuk bicara denganku. Itu buang-buang waktu.”
“Baiklah, aku tidak akan membahas ini, tapi kumohon berhentilah membuang-buang uang jika pada akhirnya makanan-makanan itu akan kau buang ke tempat sampah!”
Shanum mendongak menatap Sabda, ada kilatan bahaya yang terpancar di sana. Pria itu lagi-lagi mengajaknya ribut. Apa uang selalu lebih penting daripada perasaannya? Benar, Sabda hanya perhitungan kepadanya, tapi tidak pada Rania. Seandainya gadis itu meminta satu gedung megah sebagai tempat tinggal, Sabda sudah pasti akan mengabulkannya.
Hal tersebut membuat Shanum muak, kentara sekali kalau pria itu pilih kasih.
“Berhentilah mengurus uangku. Ini uangku, bukan uangmu. Mau sampai kapan kamu di sini? Pergilah ke kantor!”
Shanum mengusir, ia bangkit dari kursinya lalu melangkah pergi meninggalkan dapur. Hal yang membuat Sabda benar-benar tersinggung, istrinya selalu seperti ini. Tidak sopan.
“Kamu memang susah diajak bicara baik-baik. Aku masih tidak mengerti kenapa orang tuaku bisa menjodohkanku dengan wanita keras kepala sepertimu. Sehari saja, bisakah kita tidak bertengkar dan memperpanjang masalah?”
Sabda seperti habis kesabaran, dia ingin sekali mencekik wanita itu. Sayangnya, Sabda masih punya nurani. Lagipula Shanum bukan wanita biasa, dia bisa balik menuntut Sabda jika pria itu melakukan kekerasan.
“Kamu yang mulai, kenapa malah aku yang disalahkan? Kamu tidak pernah sadar, ya, kalau kamu juga salah? Mau sampai kapan bersikap egois?”
Shanum menjawab dengan tak kalah marahnya. Lihat! Bahkan Sabda hanya mengatakan hal itu, tapi Shanum sudah balik menyerangnya. Shanum bukan tipikal perempuan yang mudah menangis hanya karena berdebat dengan suami.
Dia sudah kebal hidup dalam neraka bernama rumah tangga. Awal-awal dia memang banyak menangis karena Sabda tak bisa memahami perasaannya, tapi semakin ke sini, Shanum mulai bersikap abai pada semua rasa sakitnya.
“Baik, terserah padamu. Aku lelah setiap kali kita bicara pasti berujung perdebatan.”
Sabda menyerah. Meskipun dia kesal dengan sikap Shanum. Akan tetapi, Sabda memilih untuk mengalah saja selagi hal itu bisa membuat keduanya berdamai dan tidak memperpanjang masalah.
Padahal sesungguhnya, Shanum hanya ingin didengar dan ditenangkan perasaannya. Mereka sudah masuk lima tahun pernikahan, masa Sabda masih saja tidak peka pada keinginan sang istri.
Ah, pada kenyataannya Sabda memang tidak peduli, bukan tidak peka lagi.
BERKUNJUNG KE RUMAH IBU
Selepas kepergian Sabda yang super cerewet dan menyebalkan, Shanum mulai berfokus di dapur, dia mengeluarkan kue tart dari kulkas yang akan jadi buah tangan untuk mertuanya. Ya, Shanum memutuskan untuk berkunjung ke rumah orang tua Sabda hari ini.
Kue itu dihias krim putih serupa salju. Bagian atasnya diberi pemanis berupa serbuk oranye sepintas seperti serutan kulit jeruk, dan diberi sedikit warna cerah dengan potongan raspberry yang dicacah menyerupai permen kenyal.
Tart adalah kue kesukaan ibunya Sabda. Kalau dipikir-pikir, sudah lama Shanum tidak mengirimkan kue pada ibu mertua. Shanum terlalu sibuk sampai-sampai tidak sempat mengirim oleh-oleh.
Shanum pintar membuat kue, ibu mertuanya sempat meminta perempuan itu untuk membuka toko aneka cake sebagai pekerjaan sampingan. Namun, Shanum menolak dengan alasan bahwa membuat kue hanyalah sebatas hobi biasa.
“Selesai.”
Shanum bertepuk tangan melihat hasil jerih payahnya pagi ini. “Kelihatannya enak, haruskah aku membuat bolu kukus juga?”
Shanum langsung mengurungkan niatnya begitu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Dia memasukkan kue tersebut ke dalam kotak, kemudian melepas apron yang tengah dipakainya. Dia harus segera bersiap-siap. Tentu saja Shanum pergi sendirian. Sabda tidak mungkin mengantarnya dan itu bukan sesuatu yang harus dibesar-besarkan.
Ketika Shanum berjalan melewati kamar mereka, aroma bunga peony, geranium, mawar Turki, dan freesia, dengan sentuhan raspberry dan musk menguar di seluruh penjuru ruangan. Aromanya masih terasa kuat dari dalam sana, meskipun pria itu sudah berangkat ke kantor sejak pukul tujuh pagi.
Shanum tahu bahwa sang suami sangat sempurna. Kemudian buruknya barangkali ketika menyadari yang menikah dengan pria itu adalah wanita konyol dan pemarah sepertinya.
“Lihatlah, rumah kita kedatangan si cantik.” Ibu Diana membuka pintu setelah Shanum membunyikan bel ke-empat.
Shanum tersenyum cerah, wanita itu berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan ibu mertua.
“Maaf sudah mengganggu Mama. Aku sudah kirim pesan, tapi Mama tak kunjung membalas.” Shanum mencium tangan ibu mertuanya dengan takzim, disusul sebuah pelukan hangat.
Senyum beliau mirip sekali dengan Sabda. Di badannya masih tersemat apron berwarna biru pilihan Shanum saat mereka berdua berbelanja ke mall untuk membeli perlengkapan rumah minggu lalu. Perempuan itu bisa menebak kalau beliau sedang kerepotan memasak.
“Mama sedang masak?”
Diana mengangguk ceria. Beliau terlihat awet muda dan hanya ada titik-titik kerut di bagian mata dan garis senyum. Benar-benar mirip dengan sosok Sabda saat sedang bersemangat. Lagi-lagi Shanum melihat bayangan menyebalkan pria itu dalam diri ibu mertuanya.
Pandangan beliau langsung tertuju pada bungkusan yang dibawa Shanum. “Hey Sayang, apa itu yang kau bawa?”
Shanum tersenyum dan mengangkat kotak berisi kue tart buatannya dengan senyum merekah.
“Aku membuatkan Mama kue tart dengan hiasan raspberry. Mungkin bisa menjadi teman minum teh.” Seperti dugaan Shanum, mata Diana langsung berbinar menatap kotak berisi kue tersebut.
Inilah yang membuat Sabda berbeda dengan orang tuanya. Mereka begitu sangat terbuka pada Shanum. Tetapi Sabda … entahlah. Kadang Shanum berpikir dia seperti menikah dengan psikopat atau pria gila.
Diana bilang pada menantunya tidak perlu repot-repot untuk membawa buah tangan, tapi Shanum sendiri bersikukuh bahwa dia senang membuat kue dan memberikan mamanya kejutan.
“Ayo masuk, kita makan rendang buatan mama.”
Kini gantian mata Shanum yang membesar mendengar kalimat itu. “Mama masak rendang?”
Mama mengangguk dan mengambil kotak di tangan Shanum, lalu menyerahkannya kepada salah seorang pelayan rumah.
“Letakkan kue ini di meja ruang tengah, siapkan beberapa piring kecil.”
Pelayan wanita berseragam itu mengangguk dan membungkuk pada mereka seraya tersenyum sebelum menjalankan tugasnya.
Shanum selalu suka dengan suasana hangat dan menyenangkan di rumah mertuanya. Berbeda dengan rumah sendiri, begitu sepi dan dingin, tidak ada satu pun kehangatan di sana. Apalagi suaminya lebih nyaman berada di kantor atau di rumah kekasih simpanan.
Mengingat hal itu, hati Shanum bergemuruh. Seharusnya dia tidak memikirkan hal itu saat sedang berada di rumah mertuanya. Tujuan Shanum bertandang untuk menenangkan hati usai perdebatannya dengan Sabda yang seperti tiada akhir.
Shanum meletakkan tas di sofa sebelum berjalan ke dapur. Rumah itu tak banyak berubah. Banyak perabotan tersusun rapi dalam lemari kaca. Warna catnya diperbarui beberapa bulan lalu menjadi beige perpaduan limestone.
Di dinding terdapat beberapa lukisan serta pigura berisi foto keluarga besar Diana. Tidak lupa dengan foto masa kecil Sabda, tampak menggemaskan dengan setelan jas yang rapi dan senyum menawan.
Di sudut lain juga ada foto pernikahan mereka. Shanum tersenyum melihatnya, tampak manis dan dan baik-baik saja. Namun, di dalamnya begitu rapuh sekali sentuh bisa langsung hancur dan luruh.
“Akhir-akhir ini mama rindu sekali dengan kalian, terutama putraku. Dia tidak menyulitkanmu, kan?”
Mama membuka pintu kulkas dan mengeluarkan seledri serta daun bawang. “Apakah Sabda masih pemilih kalau soal makanan? Kuharap kamu tidak keberatan dengan sifatnya yang seperti itu,” ucap beliau murung.
Shanum yang baru selesai minum segera meletakkan gelas dan menatap mama dengan bibir tertekuk ke bawah. “Mas Sabda baik-baik saja. Dia memakan apa pun yang kumasak untuknya. Jadi Mama jangan khawatir.”
Lalu dia berjalan ke belakangnya. Memberikan pelukan demi membuat perasaan beliau membaik. Shanum menyandarkan dagunya di bahu Diana sambil mengusap-usap lengannya.
“Mama senang kamu datang ke sini, kamu tampak berisi sekarang. Kamu bahagia bersamanya, ‘kan?”
Shanum langsung mengurai pelukan. Dia tersenyum mendengar ucapan itu, syukurlah Shanum terlihat bahagia, jadi dia tidak harus mengkhawatirkan perasaan mertuanya.
“Terakhir kali Sabda cerita pada mama, dia bersyukur bahwa dia bisa memilikimu.”
Mama mengambil pisau dan mulai memotong bawang. Shanum sempat terkejut mendengarnya.
Keputusan mereka untuk menikahkan Shanum dan Sabda memang tidak salah. Sejak awal, orang tuanya sibuk mengatur ingin calon menantu yang setara saja, yang pandai ini itu, yang sederajat, atau bahkan yang lebih tinggi untuk menaikkan pamor keluarga. Shanum adalah salah satu menantu yang masuk ke dalam kriteria itu.
Kebaikan Diana dan ayah mertua yang membuat Shanum bimbang untuk berpisah dengan Sabda. Diana bukan hanya ibu mertua, tapi sudah seperti ibu sendiri. Bukankah memiliki mertua yang baik juga sebuah anugerah?
Shanum menyingsingkan lengan pakaiannya dan mengambil pisau baru di laci, ikut membantu memotong bahan masakan lain.
“Mama mulai menyadarinya, Shanum.”
Kepala Shanum berpaling padanya sebelum berpaling kembali pada wortel yang tengah dipotong.
“Tentang?”
“Sabda yang lebih bahagia hidup bersamamu,” ucap Diana. “Kalau kalian dikaruniai anak, mungkin kehidupan kita jauh lebih lengkap sekarang.”
Pembahasan tentang anak kembali mencuat. Dan itu membuat Shanum sedikit tidak nyaman, tapi dia tak berani menginterupsi dan lebih memilih untuk menyimak cerita selanjutnya.
“Semalam Papa marah pada suamimu karena masalah anak. Papa menentang keras kalau kalian mengadopsi anak.”
Menilai ekspresi serius bercampur sedih di wajah Diana, semua jelas tidak baik-baik saja.
Kalimat itu mengingatkannya pada kilas balik kejadian semalam, Sabda bertingkah seperti orang linglung bahkan emosional. Shanum tidak tahu apa penyebab pria itu stres.
Shanum mengerti. Jadi, selama ini Papa mertuanya terus menekan Sabda agar memberikan mereka keturunan.
Bersambung… SABDA JATUH SAKIT
Shanum menguap lebar. Kepalanya ia sandarkan di kaca mobil, matanya dengan sayu menatap jalanan yang sedang dihujani oleh air. Dia sedang dalam perjalanan pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Diana sudah meminta Shanum agar tidak pulang dulu karena hari sedang hujan. Namun, Shanum beralasan harus segera pulang karena Sabda sudah menunggunya.
“Apa mertuaku begitu ingin memiliki seorang cucu?”
Shanum menggelengkan kepalanya ketika teringat dengan hal-hal konyol. Sejak tadi pikirannya berkelana memikirkan perkataan Diana tentang Sabda yang dimarahi papa mertuanya hanya karena masalah anak. Hal itu sedikit mengusik dirinya hingga kini.
Apakah dia harus bertanya pada Sabda secara langsung?
Tepat saat itu ponsel Shanum berbunyi, dia segera mengambil benda pipih tersebut dalam tas dan melihat satu pesan masuk, dari Sabda.
[Kau di mana? Cepat pulang!]
Kalimat bernada suruhan itu dibacanya dengan helaan napas pendek. Shanum lelah, dia memang ingin segera pulang. Namun, lampu lalu lintas masih berwarna merah, hujan pun turun begitu lebat sore ini.
Tumben sekali Sabda pulang di sore hari. Biasanya pria itu betah berlama-lama di kantor dan tidak pulang ke rumah lebih dulu, melainkan bertemu dengan pujaan hatinya. Ya, siapa lagi kalau bukan Rania.
***
“Sabda bangun, ayo minum obat.”
Shanum menyodorkan sebutir obat ke hadapan Sabda sedangkan tangan kirinya memegang segelas air putih untuk diminum oleh pria itu.
Shanum pulang ketika waktu menunjukkan pukul 17.08 Sabda sudah tepar di atas kasur, suhu tubuhnya meningkat drastis, Shanum kelabakan dan mengajak Sabda untuk pergi ke dokter. Namun, pria itu menolak dan memilih tidur.
Shanum sudah berusaha membujuknya untuk minum obat. Setidaknya cukup sebutir saja agar panas pria itu sedikit menurun. Namun, bukan Sabda namanya kalau tidak membuat Shanum kesal dan naik darah.
“Aku tidak suka minum obat!” Sabda melirik sinis istrinya. “Kita sudah menikah berapa lama? Apa kau lupa kalau aku benci minum obat itu?”
Ya, ya, ya. Shanum sangat tahu Sabda membenci obat. Dia bahkan tidak bisa meminum obat dengan baik dan benar, kalau dipaksakan, Sabda bisa muntah dan berakhir lemas di atas kasur berhari-hari.
“Baiklah, akan kuganti dengan obat sirup. Kamu sakit jadi minum obat dulu, ini tidak pahit,” bujuk Shanum sabar dan segera mengganti tablet penurun panas menjadi sirup rasa strawberry.
Shanum menyodorkan sendok berisi sirup merah ke hadapan suaminya, meminta Sabda untuk membuka mulut. Tapi, lagi-lagi Sabda menggeleng dan menjauhkan sendok berisi obat tersebut.
“Sudah kubilang, aku tidak mau minum itu!”
“Ini tidak pahit, Mas Sabda!”
“Aku tidak mau minum obat. Jangan memaksa!”
“Apa kamu mau selamanya tidur di kasur ini?” tanya Shanum emosi.
“Kubilang tidak!!”
“Mas!”
“OGAH!!”
Shanum menghela napas begitu usahanya memberikan obat pada Sabda tidak membuahkan hasil. Drama suami istri itu tidak kunjung berakhir. Itulah kenapa Shanum benci sekali melihat Sabda sakit. Jika sakit, dia sangat begitu merepotkan dan keras kepala.
“Tubuhmu panas, sudah seharusnya minum obat.” Shanum tetap sabar membujuk, pria itu tetap pada pendiriannya. Enggan meminum obat yang sudah disediakan oleh Shanum.
“Aku mesti bilang berapa kali kalau aku tidak suka obat!?” teriaknya dengan suara serak karena tengah flu. Pria itu berbalik lalu berbaring memunggungi Shanum, tidak peduli akan kekesalan gadis itu.
Sabda memilih untuk tidur, mengabaikan bujukan istrinya agar meminum obat cair yang menurutnya sangat menjijikan. Dia benci aroma obat.
Shanum menghela napas melihat sifat manja suaminya. Sabda yang terkenal cerdas dan sempurna sangat takut minum obat. Shanum menyimpan sendok di atas nakas, kemudian beralih menyentuh kening pria itu yang terpejam.
Masih panas, pantas saja Sabda terburu-buru pulang ke rumah sore ini. Dia bahkan tidak mampir ke rumah sakit. Sebenarnya Sabda jarang sakit, hanya satu kali dia terpaksa opname karena sakit DBD beberapa bulan yang lalu.
Jangan membayangkan bagaimana repotnya Shanum karena wanita itu harus mengurus semuanya sendirian. Sabda tidak mau dirawat oleh suster atau pelayan rumah ibunya, dia hanya ingin merepotkan Shanum seorang.
Sabda tidak menyahut setelahnya karena pria itu sudah kembali tertidur. Shanum mengalah, dia menaikan selimut sampai sebatas lekuk leher Sabda, kemudian membawa botol obat tadi ke dapur. Dia berniat membuat teh herbal untuk pria itu.
Tidak butuh waktu lama bagi Shanum membuat teh herbal. Hanya sebuah resep sederhana dari jahe, sereh, dan berbagai rempah lainnya. Sebenci apa pun Shanum pada sikap Sabda, tetap saja gadis itu ingin suaminya cepat sehat karena Sabda yang sedang sakit jauh lebih merepotkan.
Jika Sabda masih bersikeras menolak teh herbal buatannya, Shanum bertekad akan mencekoki pria itu dengan sebotol tablet obat penurun panas.
***
“Mas Sabda gak suka minum obat, karena itu demamnya belum juga turun. Untuk sementara aku hanya bisa mengompresnya dengan handuk basah … baiklah, nanti akan kusampaikan.”
Shanum menutup telepon ketika panggilan tersebut berakhir. Dia baru saja bicara dengan asisten Sabda di kantor, orang itu menelepon ke ponsel Sabda untuk melaporkan sesuatu terkait pekerjaan. Namun, karena suaminya belum juga bangun terpaksa Shanum yang menjawab.
Di kondisi seperti ini, dia tidak punya pilihan. Persetan dengan perintah mutlak pria itu yang melarang Shanum menyentuh ponsel pribadinya. Toh, Shanum sudah mengetahui semuanya, jadi tidak ada yang perlu disembunyikan.
Shanum tidak perlu menjelaskan betapa bencinya dia pada pria itu saat melihatnya menghabiskan waktu dengan ponsel setiap pulang kerja atau menjelang tidur.
Ponsel Sabda kali ini berbunyi lagi, ada sebuah pesan masuk dari sosok yang Shanum kenali. Sosok yang sudah beberapa tahun ini sukses membuat perasaannya naik turun karena kesal dan marah. Tentu, siapa lagi kalau bukan Rania.
[Mas, kamu pulang cepat? Mau menjemputku gak?]
Shanum sempat berpikir, sebenarnya Rania mengetahui kabar tentang Sabda sekarang tidak, ya? Apakah dia tahu bahwa Sabda sudah seperti orang sekarat?
Gadis itu sempat-sempatnya meminta dijemput oleh suaminya. Apa baginya pria itu adalah seorang ojek atau supir taksi? Shanum mendengkus kasar.
Dia tahu Sabda sering mengantar gadis itu ke mana pun. Tak terhitung berapa banyak kebersamaan mereka. Shanum bertaruh, seluruh waktu Sabda jauh lebih banyak dihabiskan untuk Rania. Ketimbang dirinya, Shanum hanyalah pajangan di rumah itu, dia hanya sebatas figuran yang mengisi status kehidupan Sabda, tidak lebih.
Sabda si pria egois, dan Shanum si wanita keras kepala. Tidak ada yang lebih buruk dalam hubungan mereka selain sifat keduanya.
Suara batuk memecah ketegangan yang terjadi di dalam kamar. Sabda terbangun, demamnya belum juga turun, wajahnya sampai memerah karena panas tinggi. Shanum mendekati pria itu dan mengganti handuk basah di atas keningnya.
Sebenarnya Shanum iba, seburuk apa pun perangai pria ini, tetap saja Sabda adalah suami yang sah di mata agama dan negara. Meski kadang sering terbersit keinginan untuk bercerai. Pada akhirnya Shanum harus kembali mengubur pemikiran itu jika mengingat harapan orang tua Sabda terhadapnya.
“Ke dokter saja, ya?” bujuk Shanum sembari menenangkan pria itu.
“Tidak.”
“Aku sudah menghubungi dokter. Diam dan jangan membantah ucapanku!”
Sabda kembali memejamkan mata, tidak punya tenaga untuk sekadar berdebat dengan sang istri. Shanum menyeka keringat di dahinya, sejak pulang dari rumah mertua, dia tak sempat beristirahat karena Sabda terus mengingau gara-gara suhu tubuhnya naik.
Kalau sekedar merawat Sabda, Shanum sanggup, masalah membujuknya minum obat itu yang membuat Shanum ingin melambaikan tangan pada kamera.
KELANA ARSALAIS
Mobil Pak Haris baru saja meninggalkan halaman rumah. Pak Haris merupakan dokter pribadi keluarga Sabda selama belasan tahun. Beliau bersedia datang malam-malam setelah Shanum menghubunginya.
Saat kembali masuk ke kamar, Shanum melihat Sabda sedang duduk tenang sambil menyandarkan punggung di kepala ranjang. Tatapannya mengarah pada jendela kamar, entah sedang merenungi apa.
Shanum berinisiatif membereskan meja nakas yang berantakan oleh piring dan gelas kotor. Dokter sudah meresepkan beberapa vitamin dan obat khusus, mau tidak mau Sabda harus bisa meminumnya. PR yang cukup berat untuk Shanum.
“Apakah tadi ada telepon dari kantor?” Sabda tiba-tiba bersuara, membuat penggerakan Shanum berhenti.
“Ya, ada. Asistenmu menanyakan dokumen akuisisi. Dia kerepotan karena dokumen itu tidak ada di kantor,” kata Shanum usai membersihkan meja nakas.
“Ya, karena dokumennya ada di rumah, dan itu harus diantar ke kantor.”
Seketika Shanum menghela napas tanpa mengatakan apa-apa, kemudian beranjak mendatanginya. Telapak tangan Shanum menyentuh kening Sabda. Untunglah panasnya berkurang setelah minum obat. Kondisinya beberapa jam lalu lebih buruk dari ini. Keringat dingin tak henti-hentinya mengalir.
“Berbaringlah.” Shanum berkata ketus, membuat Sabda mendongak ke arahnya. “Aku sudah menghubungi asistenmu. Kalau ada yang kau butuhkan dia pasti datang.”
“Sejak kapan kau peduli pada pekerjaanku? Bukankah sejak awal kaulah yang sering marah jika aku terlalu peduli pada pekerjaan?”
Bahkan dalam keadaan sakit sekali pun, pria itu sempat-sempatnya membantah perintah mutlak Shanum. Apakah Sabda tidak takut dicekoki obat oleh istrinya?
“Aku marah karena kau selalu sibuk kerja. Aku kesal karena kau selalu mengutamakan pekerjaan dibandingkan dirimu. Pada akhirnya aku sulit membujukmu istirahat.”
Sabda memijat pelipisnya, ucapan Shanum tidak salah. Dia memang terlalu gila kerja. Pria itu tidak pernah berpikir saat dirinya sakit, yang ikut susah adalah Shanum, bukan Rania. Selingkuhannya itu hanya bisa memberi ucapan cepat sehat lewat pesan, tidak bisa merawatnya secara langsung.
“Pada kesempatan-kesempatan tertentu aku jadi berpikir kau sedang menikahi pekerjaanmu.”
“Semua fasilitas yang kamu nikmati adalah hasil kerja kerasku, kamu gak akan menetap di sini kalau bukan karena aku. Ingat itu.”
Shanum menghela napas dengan kasar, menahan emosinya agar tidak tersulut lebih parah. Sabda benar-benar membunyikan genderang perang. Bagaimana bisa dia mengklaim semua fasilitas di rumah itu adalah hasil kerja kerasnya? Shanum juga berperan menaikkan ekonomi rumah tangganya, tidak hanya Sabda saja.
Sebelum egonya membengkak Shanum memilih untuk mengalah. Tidak mau memperpanjang masalah.
“Istirahatlah. Lupakan pekerjaanmu sampai sembuh.” Ketimbang memohon, suara Shanum barusan lebih terdengar seperti keluhan. “Aku sudah kehabisan akal, Mas. Aku tidak tahu bagaimana lagi caranya membuatmu diam di kasur atau bersantai melupakan berkas-berkas yang kau maksud.”
“Kau khawatir padaku? Tumben kau peduli,” kata Sabda lebih kepada sindiran.
Haruskah Shanum menjawabnya? Kalau dia tidak peduli, dia bisa saja membiarkan Sabda sekarat di rumah tersebut sampai mayat pria itu ditemukan keesokan harinya. Kadang Shanum berpikir, kenapa dia harus bersusah-susah merawat Sabda, padahal pria itu tidak pernah menghargai usahanya sedikit pun.
“Apa kau masih pusing?” Shanum mengalihkan topik.
“Sedikit.”
“Mualnya juga sudah berkurang, kan?”
Shanum bergegas menjauh dari hadapan Sabda, membawa piring dan gelas kotor yang ada di meja nakas untuk ditaruh di bak cuci piring.
“Istirahat saja. Kau merepotkan saat sakit.”
Sabda melotot, Shanum berlalu dari kamar. Sempat-sempatnya wanita itu mengeluarkan kalimat sarkas pada suaminya yang sedang lemah tak berdaya.
“Dasar wanita gila.”
***
Sudah tiga hari Sabda menghilang, Rania cemas karena pria itu tidak mengirimkan pesan atau meneleponnya. Setiap kali Rania menghubungi pria itu, nomornya selalu tidak aktif.
Dia juga jarang berkunjung ke kafe, entah apa yang sedang dilakukan Sabda, yang jelas Rania khawatir. Biasanya pria itu akan mengirimkan pesan untuk sekadar memberi tahu bahwa dirinya baik-baik saja.
Rania sampai tidak fokus bekerja karena terus dihantui kegelisahan. Kemarin Sabda sempat mengajaknya untuk makan malam di salah satu restoran ternama, tapi sekarang pria itu malah hilang selama tiga hari.
Rania sempat berpikir kalau Sabda bosan padanya, tapi dia segera menepis pemikiran tersebut. Rania percaya bahwa Sabda adalah sosok lelaki yang baik dan bertanggung jawab.
“Rania, apa kamu baik-baik saja?” Teguran Arya membuat gadis itu terlonjak kemudian menoleh ke arahnya, Rania tersenyum seraya mengangguk.
Arya bukannya tidak peka dengan perasaan gadis itu, dia tahu kalau Rania sedang tidak baik-baik saja. Hanya saja, Rania enggan untuk bercerita, jadi Arya memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.
“Masih menunggu dia, ya?” tanya Arya akhirnya, mencoba memberanikan diri.
Rania tersenyum, itu semua sudah mewakili jawabannya. Dia sedang tidak mau membahas Sabda, entah kenapa perasaannya selalu tidak tenang setiap kali mengingat pria itu.
“Kamu sudah menghubunginya?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Rania mengangkat bahu, dia memang sudah menghubungi Sabda, tapi sama sekali tak ada jawaban. Jadi, daripada harus kembali menghubunginya, lebih baik Rania menunggu pria itu mengabarinya duluan.
Tidak tega melihat raut gelisah yang terpancar dari wajah gadis itu, Arya akhirnya berinisiatif untuk menghiburnya.
“Mau pergi makan denganku usai istirahat?” tawar Arya, yang pada akhirnya dibalas dengan anggukan oleh Rania.
***
Waktu menunjukkan pukul 12 siang, Shanum memutuskan untuk mampir ke toko roti kesukaannya yang terletak tak begitu jauh dari rumah hanya dipisah oleh dua toko bunga.
Karena suaminya masih terbaring tanpa daya di kasur, dan tidak berselera untuk memakan apa pun jenis makanan yang Shanum masak, maka gadis itu memilih untuk membeli roti saja. Ditambah Jun’s Bakery sedang mempromosikan salah satu menu terbarunya.
Hanya butuh waktu satu menit bagi Shanum melangkah memasuki toko roti tersebut. Penghidunya segera disapa oleh aroma khas roti sebelum ucapan selamat sore dari bibi pemilik toko membuat gadis itu lantas melebarkan senyum.
“Selamat sore juga, Bibi! Aku mau roti cokelat seperti biasa.” Shanum melihat-lihat beberapa menu roti di sana. Kemudian maniknya tergiur dengan salah satu Snowy Blueberry dan Cheese Bun. “Bibi, kurasa roti ini bisa menemaniku malam ini. Aku mau dua untuk dibawa pulang,” katanya sekali lagi membuat Bibi Hana terkekeh.
Wanita setengah baya itu menyerahkan pesanan Shanum. “Bonus Taro Blossom, Rocky Matcha, dan satu gelas es cokelat untuk pelanggan setia Jun’s Bakery!” Mata Shanum berbinar senang. Kata bonus dan gratis memang selalu diharapkan semua orang.
“Apa ini tidak terlalu banyak? Pesananku saja tak seberapa.”
Bibi Hana mengibaskan tangannya. “Tidak apa, suamimu juga sangat suka dengan Rocky Matcha ini. Dia sering datang setiap minggu. Apakah suamimu masih sibuk seperti biasa?”
Shanum menggeleng dan tersenyum manis. “Dia sedang sakit, kemarin suhu tubuhnya cukup tinggi.”
Shanum dan Sabda memang langganan toko tersebut, ditambah Sabda yang sangat baik selalu membagi-bagi bonus berupa uang setiap hari raya atau tahun baru.
Shanum menerima pesanannya, lantas duduk di salah satu bangku di dalam toko yang telah disediakan. Dia belum mau pulang karena di luar hujan turun cukup deras, lebih baik dia menunggu di toko seraya menyantap pesanannya.
“Kau sedikit berisi, Shanum. Suamimu pasti menjagamu dengan baik.”
Shanum tersenyum mendengar komentar tersebut, memangnya kebahagiaan dan berat badan saling berhubungan? Dirinya memang merasa agak gemuk. Mungkin karena pola makan yang tidak dijaga. Sial, Shanum harus diet.
“Tentu, aku selalu baik-baik saja, Bibi.”
Obrolan mereka terhenti manakala pintu toko roti terbuka. Muncul sosok pria tinggi dan kelihatan kekar di mata Shanum, mereka saling pandang beberapa saat, pria itu langsung tersenyum ke arah Shanum.
“Bu ….”
Bibi Hana segera berdiri dan menghampiri pria itu.
“Astaga, kenapa tidak bilang akan ke sini, Sa?!” Wanita setengah baya itu memukul bahu pria tadi sambil menunjukkan air muka terkejut. Shanum bisa melihat pancar mata kebahagiaan di sana. “Kemarilah. Kenalkan, ini teman Ibu.”
Shanum refleks berdiri dan tersenyum ramah padanya dengan sopan, lantas mengulurkan tangan hingga pria tersebut menerima uluran tangannya. “Saya Shanum.”
Ada jeda setidaknya satu menit setelah Shanum mencoba untuk mengenalkan dirinya kepada pria asing yang tak lain adalah seorang putra dari pemilik toko roti kesukaannya. Maniknya mengamati paras cantik wanita di hadapannya seolah tengah terbius. Kemudian pria itu berdeham ketika Bibi Hana menepuk pundaknya.
“A-ah, Kelana Arsalais. Panggil saja Arsa,” jawabnya mempersingkat. Tautan tangan mereka terlepas, lantas membuat Shanum kembali duduk. “Kita pernah bertemu, ‘kan? Bukankah kau wanita yang ada di toko kue waktu itu?”
“Maaf?” Pikiran Shanum menerawang, apakah dia pernah bertemu dengan sosok Arsa sebelumnya. Ketika pria itu hendak angkat bicara Shanum tiba-tiba saja menyadarinya.
“Oh, kita pernah tabrakan sebelumnya.”
Shanum ingat, waktu membeli kue di toko langganan untuk merayakan ulang tahun pernikahan, dia tak sengaja bertabrakan dengan Arsa. Shanum tidak mempermasalahkan karena dia juga sedang buru-buru dan tidak melihat keadaan.
Bibi Hana langsung membelalak dan menatap pria itu dengan tegas. “Kenapa kau menabraknya?”
Pria itu lekas terkekeh melihat ekspresi kesal sang ibu. Dia menaikkan bahu seraya menyeringai sampai gigi gingsulnya terlihat.
“Gak sengaja, Bu.”
Shanum ikut mengiyakan melihat drama yang tengah berlangsung di depannya. “Salahku juga terlalu buru-buru.”
“Apa kue milikmu baik-baik saja? Tidak rusak atau semacamnya, ‘kan?”
Shanum menggeleng, sedangkan bibi Hana menghela napas panjang. “Lain kali jangan terburu-buru saat masuk ke toko.”
Obrolan hangat langsung mengalir sampai Shanum tidak menyadari bahwa hujan sudah mulai reda. Perempuan itu melirik arloji di tangannya, sebentar lagi malam menjelang. Dia mulai berpamitan pada dua orang tersebut, dan berterima kasih pada bibi Hana atas roti yang dia berikan.
Arsa mengulas senyum manakala Berselang enam langkah Shanum menjauh, bibi pemilik toko itu bicara lagi. “Haduh, orang-orang zaman sekarang itu cantik dan tampan atau bagaimana? Hasil operasi atau bukan?”
“Dia secantik itu, ya?” tanya Arsa, matanya masih menatap kepergian Shanum menuju mobilnya.
Arsa tersenyum maklum. Dia mulai beranjak untuk memesan roti hangat yang terhidang, sedangkan bibi Hana menggosok-gosokkan bagian depan apronnya dan berjalan ke balik etalase.
Bersambung… SIAPA WANITA ITU
Rania baru akan menarik pintu swalayan, dia melihat mobil milik Sabda terparkir di depan toko roti Jun’s Bakery. Sesaat dia berpikir kalau Sabda sedang menyimpang ke toko tersebut.
Rania sangat mengenal pelat nomor mobil Sabda. Sebab mereka beberapa kali ke luar menaiki mobil tersebut. Pikirnya Sdia bertemu Sabda secara tidak sengaja hari ini. Jadi, dia menunggu Sabda keluar dari sana.
Tidak berapa lama, seorang perempuan dengan kemeja putih, lengkap dengan celana kulot keluar dari toko tersebut. Satu tangannya menempelkan ponsel ke telinga sementara tangan lainnya menenteng kantong belanjaan.
Suasana hati Rania langsung berubah. Gadis itu baru menyadari bahwa perempuan yang dilihatnya barusan adalah pelanggan di kafe tempatnya bekerja. Pantas saja Rania merasa tidak asing dengan wajahnya. Wanita itu cukup sering datang ke kafe dan memesan espresso, Rania tidak salah lihat.
Rania terus mengawasi wanita itu dari kejauhan. Dia tengah bicara dengan seseorang. Matanya tidak lepas mengawasi wanita itu, Rania tidak tahu siapa yang tengah bicara dengannya. Namun, yang membuat Rania semakin terkejut adalah penggerakan wanita itu saat berjalan menuju mobil milik Sabda.
Apakah wanita itu adalah selingkuhan Sabda?
Dada Rania terasa sakit membayangkan hal itu, dia masih belum percaya apa yang baru saja dilihatnya. Tapi Rania ingin memastikan sendiri selagi wanita itu tidak menyadarinya sebagai kekasih Sabda.
“Lebih baik kita makan roti saja, aku barusan ke Jun’s, mereka juga memberi bonus lebih. Aku belum bisa masak daging dan semacamnya sekarang.”
Shanum tampak sibuk bicara dengan Sabda di telepon. Dia tidak menyadari bahwa Rania sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya.
Rania tidak kehilangan kesempatan. Dia sangat ingin menghentikan segala kecurigaannya pada Sabda, karena itulah dia seperti penguntit. Berjalan diam-diam mengikuti langkah wanita itu.
Wanita itu menutup teleponnya dan kembali memasukkan ponsel ke tas selempang. Mulai berjalan menuju mobil tanpa menyadari Ada sosok Rania yang memperhatikan di belakangnya.
Rania sendiri tengah mencoba mengalihkan pikiran agar tidak terlalu mendengar ucapan-ucapan wanita itu tadi di telepon yang entah dengan siapa.
Dalam hati Rania masih kesal bila mengingat begitu mudahnya Sabda menghindari panggilan telepon darinya. Apakah wanita itu yang membuat Sabda berbohong padanya? Bila memang tidak ada hubungan yang ditutup-tutupi, kenapa Sabda harus berdusta?
Shanum masuk ke dalam mobil milik Sabda, mulai menyalakan mesin dan berlalu. Dia tidak sedikit pun merasa diawasi oleh Rania. Sementara itu, Rania terus memperhatikan Shanum dengan tatapan terluka. Shanum pergi meninggalkan seribu tanda tanya di benak Rania.
“Rania, kau sedang apa di situ?”
Arya berlari menyusul Rania yang tengah mematung di parkiran.
Sejak tadi Arya menunggunya di swalayan karena sudah janjian untuk makan siang bersama. Namun, sampai beberapa menit berlalu, gadis itu tidak juga datang. Alhasil, dia keluar untuk mencari gadis itu lebih dulu.
Ternyata Rania sedang berdiri di seberang toko, melihat hal itu Arya segera berlari menghampirinya. Wajah Rania begitu pucat, Arya heran.
“Kenapa wajahmu pucat?”
Rania menggeleng, dia tidak ingin menjelaskan apa yang baru dia lihat barusan.
“Ayo kita kembali, ini sudah siang. Nanti keburu masuk kerja dan tidak sempat makan dulu.” Arya membujuk.
Perasaan Rania masih belum sepenuhnya tenang, tapi dia berusaha untuk berpikir optimis. Ditatapnya wajah pria itu dengan ekspresi gelisah yang kentara.
“Baiklah, ayo kita makan.”
Arya tersenyum kemudian membawa Rania masuk ke dalam swalayan untuk membeli beberapa stok camilan yang akan menjadi teman makan siang mereka.
Arya sudah memutuskan untuk membeli seafood. Rania tidak banyak protes, dia menuruti keinginan Arya. Rania tak bisa berpikir, pikirannya sedang kacau sekarang.
Rania berharap apa yang tadi dilihatnya tidak benar. Rania harus memastikan sesuatu, kalau tidak … sampai kapan pun sosok perempuan tadi akan terus menghantui pikirannya.
***
Tiga hari kemudian.
Pertanyaan seputar Sabda tidak pernah putus mengelilingi kepala Rania.
Sebagai wanita yang tidak berpengalaman dengan percintaan, hubungan asmara, apalagi pria, masalah ini jelas membuatnya resah.
Sedari tadi pikirannya terus berkecamuk, membayangkan berbagai macam hal terburuk yang paling dia hindari, dan sekarang hal itu menghampiri hubungannya sendiri.
Perselingkuhan.
Selagi merenungi segala kejanggalan yang Sabda tampilkan, suara ketukan pintu terdengar. Sabda bertanya apakah Rania sudah tidur atau belum? Jika belum, dia ingin membicarakan sesuatu dengan perempuan itu.
Mereka sedang berada di apartemen, Sabda memang memberi Rania fasilitas mewah. Hal itu dia lakukan agar kekasihnya tidak perlu tinggal di kontrakan dan membayar uang sewa setiap bulan. Untuk rania, Sabda adalah sosok pria perhatian.
Sabda kembali menghubungi kekasihnya ketika tubuhnya sudah benar-benar sehat. Dia juga meminta maaf pada Rania karena lama tak memberi kabar. Rania memaklumi sekaligus cemas karena Sabda tidak mengatakan apa pun soal penyakitnya dan malah menghilang.
Sejujurnya Rania merasa lelah dan tak ounya tenaga untuk sekadar membuka pintu, tapi akhirnya dia membuka pintu kamar dan tersenyum begitu melihat wajah Sabda yang tampak bersemangat seperti sebelumnya.
“Kamu baik-baik saja? Kenapa kayak lagi banyak pikiran gitu?”
Rania mengatupkan bibirnya sesaat. “Aku tidak apa-apa. Di tempat kerja sedang banyak masalah, jadi hal itu sedikit menggangguku, tapi tenang saja. Aku baik-baik saja.”
Rania mempersilakan Sabda memasuki kamarnya. Mereka memang sudah sering tidur bersama, tapi tidak aneh-aneh. Sabda cukup tahu diri untuk tidak meniduri gadis itu sebelum waktunya.
“Benarkah? Aku khawatir. Suaramu di telepon kedengarannya sedang tidak baik-baik saja.”
Ada rasa menggelitik ketika Sabda mengatakan hal itu. Terdengar aneh memang. Pasalnya, Sabda sangat peka dengan perasaan Rania, tapi dia masih tidak menyadari pemicu utama Rania bersikap demikian.
Lebih dari itu, Rania mulai meragukan hubungan mereka yang tidak ada perkembangan. Kenapa harus dengan cara seperti ini? Rahasia apa yang sebetulnya Sabda sembunyikan?
Rania menggigit bibir karena bimbang dan menjawab agak tercekat. “Kamu tidak langsung pulang ke rumah, Mas? Ini sudah malam. Katanya banyak pekerjaan kantor yang harus diselesaikan malam ini.”
“Iya sih ada, tapi aku merindukanmu. Memangnya tidak boleh? Maaf karena beberapa hari terakhir aku tak menghubungi. Aku jatuh sakit dan harus beristirahat.”
Rania terkekeh mendengar pertanyaan itu. Dia sudah mengerti alasan Sabda tidak menghubunginya. Raut wajah yang pucat dengan kantung mata yang Sabda tampilkan sudah cukup memberikan bukti bahwa dia baru saja sembuh dari sakit.
Rania sejujurnya ingin menanyakan setiap kali mereka makan di kafe dan makan malam bersama, tetapi dia tidak bisa menyampaikan dan belum menemukan situasi serta momen yang pas.
Mungkin nanti saat makan malam ke dua, Rania akan bertanya langsung pada Sabda. Untuk sekarang dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama pria itu, setelah cukup lama tidak berjumpa dan bertukar kabar.
PERNIKAHAN PALSU
Malam sudah larut tetapi Sabda tidak kunjung pulang. Untuk ke sekian kalinya Shanum melihat ke arah jam dinding yang kini menunjukkan pukul sepuluh malam.
Sabda sudah kembali bekerja setelah sembuh dari sakitnya. Shanum sebenarnya ingin mencegah, dia takut Sabda belum kuat. Namun, bukan Sabda namanya kalau tidak keras kepala. Pria itu mengabaikan permintaan istrinya dan kembali pulang larut malam.
Padahal pria itu sudah berjanji akan pulang tepat waktu. Namun, sampai jarum jam menunjuk angka sepuluh, dia belum juga menginjakkan kaki di rumah.
Makanan yang disiapkan Shanum untuk makan malam sudah berubah menjadi dingin. Shanum melirik ponselnya yang disimpan di atas meja, merasa ragu untuk menghubungi Sabda karena pria itu pasti akan mengabaikannya.
Shanum langsung beranjak dari sofa ketika mendengar deru mesin mobil mendekat dan berhenti di halaman rumah. Beberapa saat kemudian, dia melihat Sabda masuk ke dalam dengan jas dan dasi yang sudah dilepas, sementara lengan kemejanya digulung hingga siku dengan dua kancing atas yang dibiarkan terbuka.
Sabda tidak melihat ke arah istrinya, sementara Shanum bersiap-siap dengan ribuan pertanyaan yang ingin dilontarkan pada pria itu.
“Apa ada pekerjaan yang harus kamu kerjakan? Kenapa pulangnya selarut ini?” tanya Shanum berjalan mendekat.
Bukannya menjawab, Sabda justru melewati Shanum dan mengabaikan pertanyaan wanita itu.
“Tadi di jalan macet,” jawabnya singkat.
Shanum tak ingin marah jika Sabda sudah mengeluarkan nada seperti itu, tapi Shanum tidak puas dengan jawaban Sabda yang seolah menganggap sepele kesehatannya.
“Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu. Pergilah mandi, aku akan menunggumu di meja makan.”
“Aku sudah makan. Kamu makan sendiri saja.”
Shanum berusaha untuk tidak tersulut emosi setelah mendengar ucapan Sabda, dia menghela napas panjang. Shanum sengaja menunggu Sabda pulang supaya mereka bisa makan malam bersama, tetapi sepertinya pria itu memang sudah makan di luar mengingat sekarang sudah sangat larut.
“Kenapa tidak bilang kalau sudah makan di luar?” tanya Shanum tegas.
Sabda menoleh ke arahnya. “Memangnya kenapa? Kamu yang selalu mengeluh capek dengan pekerjaan rumah. Apa salah kalau aku makan di luar?”
Tak mau memperpanjang keributan, Shanum terpaksa memakan semua hidangan itu sendirian, mustahil kalau dibuang. Shanum sudah lelah memasak, dia juga tak mengizinkan para pelayan untuk membantunya. Setelah selesai makan dan mencuci piring kotor, ia kembali ke kamar bersiap-siap untuk tidur.
Shanum mendengar suara langkah kaki mendekat dan melihat Sabda berjalan melewatinya menuju lemari pakaian. Sabda baru selesai mandi karena Shanum melihat rambut pria itu masih basah dengan handuk kecil yang menempel di kepalanya.
“Kenapa? Ada yang ingin kau katakan?” tanya Sabda ketika merasakan tatapan Shanum padanya.
“Tidak,” jawab Shanum, lalu membaringkan tubuhnya di kasur bersiap untuk tidur. Dia benar-benar lelah dan kesal seharian ini.
Sejak Sabda sakit, Shanum tidak tidur dengan cukup. Pria itu terus membuatnya repot dengan berbagai keluhan. Sekarang setelah dirinya sembuh, sifat menyebalkan itu tak kunjung pergi, malah semakin menjadi.
Shanum berniat untuk tidur tanpa memedulikan Sabda yang sibuk sendiri. Tapi, saat Shanum mulai memejamkan mata, ponsel milik Sabda yang berada di atas nakas berbunyi membuat Sabda berjalan mendekat.
“Halo sayang. Ya, aku sudah di rumah.”
Dahi Shanum mengerut mendengar suara lembut Sabda saat menerima telepon. Shanum sudah bisa menebak kalau suaminya sedang menelepon Rania. Apakah wanita itu tidak bisa melihat jam berapa sekarang? Kenapa dia suka sekali mengganggu jam tidur orang lain?
Shanum dapat menebak kalau pria itu akan tidur larut malam karena menghabiskan waktunya untuk mengobrol dengan selingkuhan. Dia selalu berlagak manis kepada wanita lain, tapi wanita berstatus istri di sampingnya malah diabaikan.
Shanum menghela napas panjang beberapa kali untuk meredakan rasa kesalnya yang tiba-tiba meluap. Ia memejamkan mata dan bersiap untuk menyelami alam mimpi setelah berdoa agar besok ada keajaiban dalam kehidupannya. Seperti Sabda musnah dari muka bumi, misalnya.
***
Sabda kembali melihat setelan jas di atas tempat tidurnya begitu dia selesai mandi. Pria itu menghela napas panjang dan melakukan semuanya seperti biasa. Menyimpan jas pilihan Shanum dan memakai jas sesuai keinginannya.
Dia berjalan keluar dari kamar dengan membawa tas kerja dan mendapati Shanum tidak berada di meja makan.
Ada sandwich di atas piring dan segelas kopi yang asapnya masih mengepul. Tumben Shanum tidak memasak hari ini. Biasanya wanita itu akan membuat makanan berat dan memaksa Sabda untuk menghabiskannya sebelum pergi.
Sabda meminum kopinya setelah duduk lalu memakan sandwich buatan Shanum dalam diam. Rasanya tidak buruk, istrinya memang pandai masak.
Sabda tidak juga menemukan Shanum, perempuan itu tidak kembali ke dapur. Biasanya dia akan menemani Sabda sarapan walau harus dihiasi dengan perdebatan kecil. Hubungan mereka lebih dari sekadar suami istri, tapi juga seperti musuh bebuyutan.
Tidak berapa lama, Shanum memasuki dapur. Penampilan gadis itu selalu cantik dan anggun seperti biasa, tapi anehnya Sabda sama sekali tidak menaruh rasa.
Sabda bahkan tidak melirik perempuan itu saat Shanum mendekatinya. Dia merasa tidak ada yang harus dilihat dari Shanum, penampilannya selalu sama setiap hari. Akan tetapi, kali ini berbeda, sang istri dengan sorot dingin tiba-tiba berdiri di depannya.
“Ini apa? Cantik sekali.”
Shanum menunjukkan sebuah benda berkilauan di tangannya, benda tersebut disodorkan ke hadapan Sabda, membuat pria itu refleks merebutnya dari tangan Shanum.
“Apa yang kau lakukan? Kau menemukan ini di mana? Jangan mengacak-acak meja kerjaku sembarangan!”
Sesuai dugaan, Sabda sangat marah pada Shanum. Tangan Shanum memerah karena tarikan kasar dari tangan Sabda. Perempuan itu tak sengaja menemukannya saat sedang membereskan ruang kerja sang suami.
Shanum menemukan sesuatu yang berkilau dan mampu membuatnya membulatkan mata antara tidak percaya dan terkejut di waktu bersamaan. Dia memegang sebuah kalung dengan batu safir hijau dan safir biru yang dibentuk seperti kelopak mawar.
“Shanum, sudah kubilang, jangan mencampuri urusanku!” bentak Sabda kesal.
Tidak salah lagi, kalung yang ada di tangan Sabda adalah salah satu perhiasan di katalog yang pernah Shanum lihat. Harganya pun selangit lebih dari enam belas juta.
Shanum tidak paham kenapa Sabda begitu mudahnya menghamburkan uang jutaan rupiah demi membeli barang yang sedemikian mahal. Sabda selalu melarangnya buang-buang uang untuk barang yang tidak bermanfaat, tapi dirinya malah bebas membeli apa pun tanpa sepengetahuan sang istri.
Shanum tidak berharap apa pun kepada pria itu karena sudah jelas kalung tersebut bukan untuk dirinya. Tanpa Sabda jelaskan, dia tahu kalung bernilai belasan juta itu untuk Rania seorang. Apakah ada wanita lain yang lebih penting selain gadis pelayan kafe itu?
Bukannya menjawab, Shanum mendengkus keras mendengar ucapan Sabda. Dia terkekeh dan melipat kedua tangan di depan dada.
“Kenapa kau sangat terkejut melihatku menemukannya? Memangnya apa yang harus kau sembunyikan dariku? Aku sudah mengetahui semuanya, Mas, tidak ada yang harus kau tutupi.”
Ini pertama kalinya Shanum membalas ucapan Sabda dengan cara seperti ini. Biasanya Shanum hanya mengiyakan apa pun yang dikatakan Sabda soal barang pribadinya karena dia terlalu malas untuk meladeni pria tersebut, tapi kali ini kesabarannya sudah habis dan akhirnya meledak tanpa bisa dia tahan.
Sabda menatap Shanum tajam karena wanita itu sudah berani membalas perkataannya. “Inilah alasanku lebih memilih Rania. Kehadiranmu dalam hidupku adalah hal yang membuatku membencimu. Kau terlalu sering membesarkan masalah, kau pikir aku tak lelah menghadapimu!” bentak Sabda marah. Dia berjalan meninggalkan Shanum yang mematung di tempatnya.
Shanum menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri kemudian duduk di salah satu kursi. Kedua tangannya tanpa sadar mengepal kuat dengan mata terpejam.
Sabda berhasil membuatnya merasakan sakit hati untuk yang ke sekian kali karena ucapan pria itu. Ternyata bukan keajaiban yang dia dapat hari ini, melainkan bencana.
Shanum benar-benar menyesali keputusannya menerima perjodohan. Jika tahu kehidupannya akan begini, Shanum lebih memilih untuk tidak patuh pada kedua orang tuanya daripada harus hidup dengan suami tak berperasaan.
Semuanya mulai menjadi tidak benar untuk dirinya sendiri. Pernikahan yang sebelumnya didambakan mulai terasa palsu. Sejak awal, yang mereka bangun bukanlah rumah tangga, tapi kebohongan dan rahasia.
Shanum pikir menerima Sabda adalah keputusan terbaik dalam hidupnya. Namun, ternyata semua itu salah, Shanum malah terus dihancurkan berkali-kali.
Bersambung… SABDA MENGHILANG
Shanum duduk di tepi ranjang, kepalanya pusing luar biasa memikirkan nasib rumah tangganya yang sama sekali tak ada kemajuan.
Shanum yang mudah marah, dan Sabda yang keras kepala. Mereka ibarat api yang disiram bensin. Begitu api emosi tersulut, tidak akan ada yang sukarela untuk memadamkan.
Terhitung dua jam lebih setelah Sabda pergi. Pria itu hanya memakan sandwich buatannya dengan satu gigitan, kopi dalam gelas yang Shanum buatkan pun tidak habis, pria itu lebih dulu terbakar emosi sampai tidak menghabiskan sarapan paginya.
Shanum menghela napas, tak tahu harus bersabar seperti apa lagi.
“Padahal dia bisa jujur padaku sejak awal. Kalung itu sudah kuincar sejak lama, setelah tahu Sabda membelinya untuk Rania, aku malas untuk melihat kalung itu lagi.”
Shanum masih marah karena masalah kalung yang tak kunjung selesai. Dia hanya ingin Sabda jujur padanya. Sayang, komunikasi mereka semakin hari, semakin memburuk.
Dia dan pria itu memang tidak pernah cocok. Shanum masih tidak mengerti kenapa orang tuanya begitu menginginkan Sabda sebagai menantu, padahal tanpa bantuan Sabda pun mereka sudah kaya raya.
Saat sedang sibuk mengomel sendiri, telepon dari Calvin—asisten Sabda—membuat perhatiannya teralihkan. Shanum penasaran kenapa asisten suaminya menelepon pagi-pagi begini.
Dengan cepat Shanum langsung menjawab panggilan telepon tersebut. Dia pikir Sabda ketinggalan berkas di rumah dan menyuruh Calvin untuk menghubunginya.
“Maaf mengganggu waktu Anda, Nyonya. Tapi, apakah saat ini direktur sedang bersama Anda?” tanya Calvin. Tipe suaranya terdengar tak normal.
Shanum mengerutkan keningnya. “Tidak. Dia berangkat ke kantor sejak dua jam yang lalu, apakah dia belum sampai juga?”
“Benar, direktur belum datang ke kantor.”
“Benarkah?” Shanum mengecek arloji. “Apakah kamu tidak menghubunginya secara langsung, mungkinkah dia masih di perjalanan?”
“Sudah, tapi ponselnya tidak aktif, Nyonya. Meeting akan diadakan beberapa jam lagi. Ah, bagaimana ini?”
Shanum mendengar Calvin berbisik frustrasi. “Pagi ini direktur belum muncul di kantor. Belum lagi ada prosedur kerja yang harus segera direktur setujui.”
Aneh sekali. Shanum ikut kebingungan. “Ponselnya benar-benar tidak aktif?”
“Sejak beberapa jam lalu saya dan rekan lain kesulitan menghubunginya. Nomornya belum aktif.”
Sekilas Shanum menatap ke luar kaca dapur. Sabda sudah berangkat dua jam yang lalu, dan Shanum pikir pria itu benar-benar pergi ke kantor. Dia tidak pernah meninggalkan urusan kantor yang sangat penting.
Shanum sangat paham bahwa pekerjaan adalah bagian dari hidup seorang Sabda. Tidak ada yang lebih penting dari itu, kalaupun ada yang lain, Rania berada di urutan ke dua.
“Baiklah, aku akan mencarinya. Aku akan mengabarimu jika sudah bertemu dengannya.”
“Ya, saya mengerti. Saya sangat menghargai bantuan Anda.”
Shanum menghela napas, memikirkan sesuatu. Firasatnya sering lebih kuat ketimbang apa yang muncul di pikiran. Rasanya tidak mungkin Sabda menemui wanita itu. Apakah pertengkaran pagi ini membuat mood Sabda benar-benar hancur total sampai parahnya tidak pergi ke kantor?
Shanum langsung bergegas berganti pakaian, bersiap pergi ke luar untuk mencari sang suami. Terserah dia sedang berada di mana. Shanum akan mencarinya.
Di tengah perjalanan, Shanum menghubungi ibu mertuanya dengan bantuan bluetooth handsfree dia ingin menanyakan keberadaan Sabda.
“Halo, Ma. Apakah Mas Sabda ke rumah pagi ini?”
“Ah, tidak. Bukankah jam segini dia sudah berada di kantor?”
Shanum masih memajukan mobilnya dengan perasaan cemas yang menjalar. “Asistennya baru saja menghubungiku kalau Mas Sabda menghilang.”
Tiba di lampu merah, Shanum mendengar suara lain dari seberang telepon disusul gelak tawa. Shanum sadar suaranya barusan terdengar tidak biasa. Sepertinya itulah yang menarik minat ibu mertuanya tertawa.
“Apa? Kenapa mama tertawa?” tanya Shanum berhati-hati dan menjaga suaranya.
“Masa Sabda kabur? Kalian bertengkar?” tanya Diana.
Shanum terdiam sesaat. Tidak mungkin dia menjelaskan hal ini pada mertuanya.
“Tentu saja tidak, Ma,” kata Shanum berbohong. “Aku sedang di jalan mencari Mas Sabda.”
“Mungkin dia sedang berjalan-jalan sebentar. Coba cari ke tempat dia biasa pergi.”
“Aku tidak yakin di mana itu.”
Diana terdengar menghela napas. “Kamu istrinya, kan? Kamu lebih tahu putraku, Mama ingin membantu, tapi sekarang sedang banyak urusan. Kabari Mama begitu kamu menemukan suamimu.”
Sambungan telepon terputus, Shanum frustrasi sendiri, bagaimana bisa dia pergi ke tempat-tempat tertentu. Shanum saja tidak tahu Sabda sering pergi ke mana. Pria itu jarang bicara dan mengobrol panjang dengannya.
“Kenapa dia menyebalkan sekali, sepertinya dia tidak pernah bosan merepotkanku setiap saat.” Shanum mulai lelah.
Apakah benar Sabda pergi karena dia kesal pada Shanum? Bukankah mereka sudah terbiasa bertengkar? Lantas, untuk apa Sabda bersikap konyol begini, biasanya dia akan mengabaikan begitu istrinya meledak-ledak.
Shanum mengingat-ingat tempat yang biasa Sabda singgahi. Mall, perusahaan, kafe, restoran? Ah, Shanum tidak sudi jika harus pergi lagi ke kafe tempat Rania bekerja. Kalaupun seandainya Sabda berada di sana, dia malas melihat pria itu bermesraan dengan wanita lain di hadapannya.
Bukan cemburu, Shanum hanya jijik melihat pria arogan itu bersikap sok romantis.
Shanum kembali menelepon Sabda. Namun, ponsel pria itu masih tidak aktif. Shanum menghela napas untuk yang ke sekian kali. Suaminya benar-benar merepotkan banyak orang hari ini. Apakah dia marah karena Shanum menemukan kalung mahal di laci kerjanya? Lagipula, kenapa pria itu harus marah? Tidak ada yang harus dia tutupi karena Shanum sudah telanjur mengetahui segalanya.
Shanum tiba-tiba teringat sesuatu, dia lekas mencari sesuatu di laci mobil dan menemukannya. Dengan cepat Shanum menghubunginya.
“Halo, aku Shanum istri Sabda. Apakah Sabda sedang bersamamu?”
Shanum berbicara to the point ketika sambungan telepon baru saja terhubung pada seseorang di seberang sana.
“Tidak. Apakah ada masalah?”
Shanum menggigit bibirnya. Dia tengah menelepon salah satu rekan Sabda, gadis itu mendapatkan nomor ponselnya dari kartu nama yang sempat diberikan, katanya untuk berjaga-jaga jika suatu saat butuh sesuatu. Pada akhirnya dia menghubunginya juga.
“Ya, Sabda menghilang.” Shanum menghela napas. “Bisakah Anda membantuku? Apakah ada tempat biasa dia datangi?”
Tidak terdengar suara apa pun dari seberang sana, Shanum menebak orang tersebut tengah sibuk berpikir. Perempuan itu dengan sabar menunggu jawaban.
“Oh ya, aku sepertinya tahu.” Suaranya kembali terdengar. “Selain pergi ke tempat golf, biasanya dia menginap di hotel.”
“Hotel?”
“Ya, dia menyewa tempat itu sebagai tempat peristirahatan.”
“Bisa beri aku alamatnya?”
“Aku tidak yakin dia berada di sana, biasanya jam-jam seperti ini Sabda berada di kantor.”
“Tidak apa-apa, berikan saja alamat hotel dan nomor kamarnya.”
Shanum kembali menggigit bibir, dia sebenarnya terkejut karena Sabda sering pergi ke hotel. Dengan siapa dia di sana? Apakah Sabda tidur bersama wanita-wanita murahan seperti yang ada dalam pikiran Shanum?
Kalaupun iya, seumur hidup dia tidak akan pernah sudi disentuh oleh Sabda barang se-inchi pun. Perselingkuhan suaminya dengan seorang gadis pelayan kafe saja sudah cukup membuatnya muak, apalagi kalau sampai mengetahui pria itu tidur dengan wanita lain.
Pria di telepon tadi menyebutkan salah satu hotel berikut alamat lengkapnya. Shanum mengucapkan terima kasih setelah itu memutuskan panggilan, kembali menancap gas menuju tempat tujuan.
Perusahaan suaminya harus memberi Shanum imbalan berlipat kali ini karena mereka sudah membuat wanita itu kepayahan mencari keberadaan suami yang tak tahu diri.
MAUKAH PERGI?
Shanum berdiri di depan sebuah pintu kamar, pikirannya terus berkelana antara mengetuk pintu atau justru pergi saja dan membiarkan Sabda pulang sendiri.
Dia baru saja sampai di salah satu hotel yang rekan suaminya sebutkan. Pantas saja suaminya betah berlama-lama di tempat seperti ini. Hotel bintang lima dengan fasilitas mewah dan lengkap.
Pikirannya mendadak liar, Shanum jadi membayangkan kenyataan macam apa yang berada di balik pintu tersebut. Apakah dia akan mendapati sosok wanita tanpa busana yang hanya dibalut oleh selimut tebal seperti di sinetron-sinetron pelakor?
“Menjijikkan!” Shanum berdecak.
Pada akhirnya, Shanum memencet bel kamar, dia berdebar membayangkan siapa sosok yang akan membuka pintu tersebut. Semoga saja Shanum bisa menahan diri untuk tidak melayangkan tinjunya jika suatu saat yang membuka pintu tersebut adalah wanita lain.
Namun, pemikiran gila itu langsung pupus saat Shanum mendapati sosok yang membuka pintu adalah suaminya. Sabdatama Nayaka.
Sabda terkejut melihat istrinya berdiri di depan pintu, dia berpikir dari mana wanita itu mengetahui hotel tempatnya tinggal? Merasa sudah terpergok, pria itu langsung memasang wajah datar.
“Kenapa kau ke sini?”
Shanum ingin sekali menumpahkan kekesalannya. Dia sudah jauh-jauh datang mencari Sabda ke sana ke mari, tapi pria itu malah bertanya santai tanpa beban.
“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan di tempat ini dan kenapa ponselmu mati? Apa kau tidak tahu betapa pusingnya aku karena terus dihubungi oleh orang-orang di perusahaanmu itu?”
Shanum mendengkus marah, tidak di rumah, tidak di mana pun. Mereka selalu bertengkar. Shanum heran, kenapa di dunia ini ada manusia menyebalkan seperti Sabda? Kenapa juga pria itu ditakdirkan menjadi suaminya?
Sabda membuka pintu hotel lebar-lebar, seolah memberi kode agar Sabda masuk ke dalam kamarnya.
“Masuk. Aku tak mau melihatmu diusir security hotel karena sudah membuat keributan.”
***
Atmosfer di ruang tengah sekarang terasa begitu panas dan pengap. Pikiran Shanum tengah berkelana sekarang memikirkan ucapan dan pikirannya sendiri. Tentang keraguannya pada pria itu, juga pada beberapa hal yang selalu ingin dia tanyakan sejak dulu.
Perasaan ingin menyerah selalu muncul dalam benak ketika keadaan mereka sedang berantakan seperti ini.
Sekarang sudah lima tahun Shanum tinggal bersama Sabda, jika pun mereka berpisah setidaknya Shanum bangga pada dirinya sendiri karena telah melakukan banyak hal baik untuk kehidupan mereka dan selalu berusaha mengerti Sabda.
Meski pada kenyataannya usaha Shanum tak pernah sekali pun dihargai.
Saat memperhatikan Sabda dengan saksama, perempuan itu tersadar bahwa pria di hadapannya cukup mirip dengan dirinya sendiri.
Workholic. Sebutan yang sangat cocok bagi mereka berdua. Keduanya sangat amat menggilai pekerjaan.
Menghela rendah, menggigit bibir ragu, Shanum memperhatikan Sabda yang duduk santai dan sangat tenang. Sedangkan di sini, dirinya bahkan nyaris tak bisa melakukan apa-apa.
“Apa kamu mengerti sesuatu, Mas?”
Shanum ingin sekali menepuk bibirnya sekarang. Kenapa bibirnya tidak bisa diam saja dan malah mengucapkan kalimat konyol seperti itu. Ya ampun!
Pertanyaan itu membuat Sabda mendongak menatap istrinya. “Mengerti soal apa?”
Shanum terdiam dirinya sendiri bahkan tidak tahu apa yang baru saja dia katakan. Melihat respon istrinya yang kembali diam ketika Sabda bertanya, pria itu kembali menegur.
“Bagian mana yang tidak kau mengerti?”
Kini obrolan semakin serius, padahal Shanum berniat untuk membawa pria itu pulang, tapi Sabda bersikeras untuk tetap tinggal sebentar karena dia lelah dengan urusan kantor dan ingin istirahat. Shanum kesal, jika Sabda memang selelah itu, kenapa dia tidak pulang saja ke rumah?
Untuk apa Sabda membangun rumah besar di salah satu perumahan elite jika pada akhirnya dianlebih betah tinggal di hotel?
Shanum paham, mungkin karena di rumah ada Shanum yang membuatnya sakit kepala. Sarusnya semesta membiarkan Sabda bahagia dengan seseorang yang dia cintai dan mencintainya pula. Hidup dengan tenang dan bahagia. Menurut Shanum, Sabda pantas mendapatkan itu.
“Tidak apa-apa, lupakan saja.”
Shanum berusaha bersikap biasa saja, tapi di mata Sabda itu semua tampak tak biasa.
“Bicaralah, sebelum aku berubah pikiran dan melemparmu ke luar.”
Sisi sangar Sabda keluar lagi, membuat Shanum jengkel. Bicara secara baik-baik pun salah.
“Baik, aku hanya mau bilang … maaf kalau membuatmu tidak nyaman. Aku hanya tak mengerti alasan kau menikahiku.”
Oh, ayolah, kenapa dia malah membuatnya semakin runyam. “Pernikahan ini … apa kau benar-benar menginginkan pernikahan ini?”
Demi Neptunus, Shanum ingin sekali menjatuhkan diri ke jurang, menutup mata rapat-rapat, menghilang dari peredaran bumi dan berharap bahwa semua yang baru saja dia ucapkan tidak pernah terlontar.
Ruangan itu mendadak hening, Sabda masih menatapnya dengan sorot mengintimidasi, padahal niat Shanum murni bertanya, tidak ada alasan lain. Justru tatapan Sabda lah yang tampak menakutkan. Sorotnya memancarkan banyak keluguan, kemarahan, dan … sebuah rahasia.
Jika diperhatikan sekali lagi, Sabda itu mirip seperti seorang bocah polos yang inginnya hanya dimengerti tanpa harus menjelaskan apa pun.
Dia berharap untuk terus dimengerti, tapi tak bisa memahami. Sabda ingin selalu menerima, tetapi lupa memberi.
Saat Shanum takut dengan tatapannya yang menusuk itu, Sabda tiba-tiba saja tertawa pelan, menatap kalem sepasang iris seterang sirius milik Shanum sebelum menjawab pertanyaan sang istri. Tumben sekali istrinya itu menanyakan hal demikian.
“Kau tidak ingat dengan perjanjian yang kita ucapkan sehari setelah pernikahan? Bahwa kita hanya akan menjalankan sandiwara, bukan pernikahan sungguhan. Kita berjanji tidak akan bercerai sampai saat itu tiba, dan … aku tak mencintaimu,” kata Sabda penuh percaya diri.
Shanum mengatupkan mulutnya ragu.
“Bagaimana jika suatu saat kau jatuh cinta padaku?”
“Apa?”
Shanum terkesiap menyadari kalimatnya barusan. Perempuan itu menghela napasnya seraya menggeleng, menjelaskan bahwa yang tadi itu dia cuma asal bicara.
“Aku hanya tidak mengerti dengan dirimu. Pernikahan ini … untuk apa pernikahan ini?” Shanum melanjutkan. “Padahal kau bisa menikahi wanita itu dan menceraikanku.”
Sabda membuang pandangannya dari Shanum dan menggeleng-geleng. Istrinya mulai membahas hal sensitif yang memicu perdebatan. Shanum bahkan melihat sebelah tangan Sabda di atas meja mengepal erat.
“Kenapa, Mas?”
Shanum hanya ingin Sabda lebih terbuka padanya. Selama ini Shanum berpikir bisa bertahan dalam pernikahan yang tak lagi utuh. Dia pikir suatu saat bisa mengubah sifat Sabda dan membuat satu sama lain belajar untuk saling mencintai.
Semakin lama, Shanum merasa pertahanannya sia-sia. Dia merasa tak pernah dihargai sedikit pun oleh Sabda. Shanum bertahan demi orang tuanya, meski saat itu dia sudah tak lagi mau.
Karena menurut Shanum, jodoh adalah seseorang yang membuat kita semakin mencintai diri sendiri, seseorang yang tidak menilai kekuranganmu, yang membuat hidupmu berarti, yang datang untuk membantumu berdamai dengan kenyataan, seseorang yang mengingatkanmu bahwa kau kuat di luar dugaan.
“Katakan padaku mengapa kau memperlakukan aku seburuk ini? Kenapa aku selalu didiamkan sementara aku bisa mendengarkanmu?”
Sabda diam tak ingin membalas ucapan Shanum lebih jauh. Hal itu hanya akan membuat mereka kembali bertengkar.
“Apa kau mencariku hanya untuk mengatakan omong kosong seperti ini?” Sabda menatap tajam istrinya.
***
Mata Shanum sembab lantaran menangis terlalu lama. Beberapa saat yang lalu Shanum keluar dari kamar Sabda dan bergegas membawa pergi mobilnya. Jujur saja, obrolan tadi tidak menyelesaikan apa-apa.
Sakit mendengar Sabda yang masih tidak pernah berubah. Selalu saja marah dengan segala sifat keras kepalanya. Namun, setelah sepanjang jalan menghabiskan luapan tangis dan ungkapan luka, dia mencoba untuk berhenti mengingatnya.
Bosan karena terus dilanda rasa sedih dan kesal, Shanum memilih untuk pergi ke luar. Menghabiskan waktu dengan bersenang-senang mungkin bisa sedikit meringankan sakit kepalanya.
Shanum berkunjung ke salah satu swalayan untuk berbelanja. Di depannya ada banyak sekali merk coklat dengan berbagai ukuran. Ada banyak sekali negara penghasil biji kakao yang lezat. Namun, Shanum menjatuhkan pilihannya pada Swiss.
Meski sebetulnya Shanum lebih suka coklat Belgia. Hanya saja … terlalu mahal untuk jadi pertimbangan. Padahal Shanum bisa memborong seisi toko dengan uangnya, tapi dia masih saja perhitungan.
Selain itu, hari ini dia memutuskan untuk tidak pulang dan bertemu Sabda. Shanum yakin pria itu sedang kehilangan kewarasan.
Shanum menoleh ke arah lain dan melihat pasangan suami-istri sedang sibuk bercanda sembari memilah bahan belanjaan.
Shanum tersenyum melihatnya, dia selalu suka pemandangan manis seperti itu. Rumah tangga yang utuh, dan suami istri yang saling mencintai. Selama pernikahannya dengan Sabda, hal-hal manis seperti itu tidak pernah dia rasakan.
“Kamu juga berbelanja di sini?”
Ketika sedang asyik melamun, suara berat itu membuat Shanum terlonjak kaget, seorang pemuda berdiri di belakangnya dengan sebuah keranjang berisi beberapa mie instan, roti, dan keju. Itu Arsa.
“Kamu … sedang apa di sini?” tanyanya. Pertanyaan yang cukup bodoh memang, sudah jelas dia berada di tempat itu untuk berbelanja.
“Belanja, sama sepertimu.” Arsa melirik troli yang didorong oleh wanita itu. “Kamu mau membuat kue?”
Shanum mengangguk, dia mengambil sebuah merk cokelat di salah satu rak dan membaca bungkusannya sebelum dimasukkan ke dalam troli.
“Kalau kamu mau membuat isian untuk roti, sebaiknya jangan cokelat yang itu. Cokelat batang merk ini lebih baik.” Arsa mengambil salah satu coklat batang dengan merk berbeda.
Selama hampir dua belas tahun Shanum menguasai dapur, dia merasa sosoknya bukanlah apa-apa di hadapan Arsa yang tak lain adalah anak seorang pemilik toko roti. Shanum hanya memiliki keterampilan primitif. Dia membuat coklat dengan resep turunan kakeknya.
“Aku baru tahu kamu suka memanggang. Sudah berapa lama kamu membuat kue?” tanya Arsa membuka percakapan.
Shanum mendongak. “Sejak kakekku masih ada. Hampir setengah abad. Atau memang sudah setengah abad. Entahlah.”
Arsa tertawa pelan. “Aku juga mau mencicipi kue buatanmu, bolehkan?”
Arsa menawarkan diri untuk mencicipi setidaknya satu saja kue buatan perempuan itu. Dia penasaran kenapa perempuan berkelas seperti Shanum lebih memilih memainkan tepung di dapur, daripada menghabiskan waktu belanja di mall besar.
“Tidak.”
“Ayolah, nanti kita barter, bagaimana?”
“Tentu saja pemenangnya adalah roti buatan ibumu. Aku tak mau bertanggung jawab jika nanti kamu masuk RS hanya karena makan kue beracun.”
Arsa hampir tertawa. Menertawakan jawaban jujur wanita itu. Artinya Shanum mencemaskan keadaan Arsa.
“Tidak akan. Lagipula, aku memang suka makan kue. Jika enak, nanti aku akan ikut menjualkannya di toko ibuku.”
Bukannya menjawab, perempuan itu mendekati Arsa. Memasang ekspresi sebal karena merasa diledek olehnya.
“Apa kamu sudah selesai belanja? Pergilah ke kasir. Ibumu pasti marah lagi kalau kamu terlambat.”
Arsa justru tertawa renyah. “Tampaknya suasana hatimu sedang buruk. Mau pergi ke toko ibuku?
Bersambung… KEGELISAHAN RANIA
“Bagaimana, apakah makan roti membuat perasaanmu membaik?” tanya Arsa dengan nada yang sengaja direndahkan saat Shanum menggigit roti kedua miliknya.
Shanum hanya manggut-manggut mengiyakan semua ucapan Arsa. Perasaannya sudah tidak sesedih tadi, dia bahkan bisa menikmati makanannya dengan tenang.
Kedua orang itu masih mengobrol bersama, mereka berada di Jun’s Bakery dan membahas banyak hal tentang roti.
“Kalau perasaanmu kembali tidak nyaman, pergi ke sini saja, ya. Aku jamin. Roti buatan ibuku akan membuatmu bahagia.”
Shanum terkekeh mendengar ucapan Arsa, ucapannya tidak salah. Lagipula Shanum sudah sering memuji roti buatan Bibi Hana yang selalu pas di lidahnya.
Tak hanya rasanya yang lezat, bahkan bentuknya sangat cantik. Shanum selalu memotret terlebih dahulu roti tersebut sebelum dia menyantapnya sampai habis.
“Setidaknya kamu kamu harus mencoba varian lain. Setidaknya cobalah salah satu, atau karirmu sebentar lagi akan tamat kalau tidak mencobanya.” Arsa malah menakut-nakuti.
“Kamu pikir roti ini mengandung kutukan?”
Tentu tidak. Aku hanya mengancam saja.”
Shanum memutar bola matanya malas, apakah bicara dengan Arsa memang setidak nyambung ini? Tapi kalau dipikir-pikir, dia masih lebih baik daripada Sabda.
Tentu saja, tidak ada yang lebih buruk di dunia ini selain komunikasi dua pasangan suami istri tersebut.
“Dulu cokelat juga rasa favoritku, tapi setelah varian lainnya keluar, aku lebih suka rasa matcha. Meskipun begitu, rasa cokelat tetap menjadi primadona di toko ini.” Arsa berkomentar.
Shanum mengangguk, dia juga setuju bahwa rasa cokelat memang tidak ada tandingannya. Bahkan meski varian lain sudah naik daun menyaingi rasa kesukaannya.
“Kalau begitu, kamu bukan tipe laki-laki yang setia, bagaimana mungkin kamu dengan cepat berpaling?”
Arsa mendengkus pendek. “Kalau kamu tidak mau mencoba rasa yang lain dan hanya bertahan dengan rasa yang ada, kamu tidak akan tahu bahwa perbedaan itu indah.”
Shanum mendongak saat Arsa mengatakan hal itu. Entah kenapa seperti ada makna lain yang tersirat di sana. Shanum hanya bisa meringis dan mengangguk sebagai jawaban.
Selagi mereka makan, Arsa terus memperhatikan Shanum tanpa gadis itu sadari. Shanum terlalu fokus dengan makanannya sampai tidak sadar kalau Arsa menatapnya sejak tadi, mungkin karena Shanum kelaparan setelah menangis.
“Ngomong-ngomong, apa benar kamu sudah baik-baik saja?” tanya Arsa, membuat Shanum menoleh padanya.
“Ya, aku baik-baik saja, kenapa?”
Entah hanya perasaannya atau bukan, tapi Arsa melihat ada ekspresi lain di wajah Shanum. Lebih tepatnya gadis itu tengah berbohong.
“Sepertinya kamu habis menangis.”
Shanum terkesiap, kunyahan dalam mulutnya mendadak berhenti. Dia sedikit salah tingkah ketika Arsa mengatakannya. Kepekaan pria itu jauh lebih kuat dibanding dugaannya.
Bukan apa-apa, Shanum hanya benci ketika orang lain mengetahui sisi lemahnya.
Shanum yang dikenal tegas dan berjiwa independen, mendadak terlihat lemah hanya karena Arsa seolah bisa membaca semua kebohongan yang selama ini selalu Shanum sembunyikan. Tidak, Shanum tidak akan pernah membiarkan seorang pun tahu mengenai kondisi hatinya sekarang.
“Ah, kamu ini sok perhatian sekali, mungkin hanya perasaanmu saja.” Shanum berusaha mengubah topik.
“Sedang ada masalah, ya, dengan suamimu?”
“Kenapa menyimpulkan seperti itu?”
“Karena ….” Arsa menjeda sejenak kalimatnya. “Karena kamu perempuan yang sudah menikah.”
Shanum menghela napas. “Kupikir masalah dalam rumah tangga itu lumrah, tentu saja setiap pasangan punya masalah dan wajar kalau mereka berbuat salah, tapi bukan karena itu dan aku baik-baik saja.”
Shanum berusaha untuk menghentikan Arsa bertanya lebih jauh mengenai masalahnya sebelum Shanum benar-benar risih. Arsa seolah mengerti. Dia kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
Shanum lega karena Arsa tidak bertanya lebih jauh mengenai masalah rumah tangganya. Itu berbahaya, tak boleh ada seorang pun yang tahu kondisi rumah tangganya yang rusak sejak lama.
“Benar, setiap pasangan pasti pernah melakukan kesalahan. Hanya saja, tidak semua kesalahan dari pasangan harus dinormalisasi. Ada jenis kesalahan yang tidak boleh dimaafkan karena itu bisa menjadi penyakit dalam pernikahan,” kata Arsa tiba-tiba.
“Seperti apa?”
Arsa tersenyum simpul. “Perselingkuhan.”
***
[Mas Sabda, kamu sedang di mana? Kenapa tidak membalas pesanku?]
Rania mengirimkan pesan pada Sabda. Tumben sekali hari ini pria itu tidak menghubunginya, bahkan nomornya tidak aktif sejak pagi.
Rania tahu bahwa Sabda jarang menonaktifkan ponselnya. Dia hanya sering mengaktifkan mode silent. Makanya terasa janggal ketika Sabda menghilang dari peredaran seperti sekarang.
Meski Rania tidak tahu pesan tersebut akan dibaca atau tidak, yang penting Rania sudah mengirimnya demi memastikan sesuatu.
Tidak berapa lama setelah Rania mengirim pesan itu pada kekasihnya. Sebuah panggilan telepon tiba-tiba masuk. Rania sempat terkejut saat melihat nama si penelepon yang tertera di sana.
Kenapa baru sekarang Sabda menelepon, kenapa tidak sejak pagi? Sebenarnya apa yang sedang pria itu lakukan di luar sana?
Rania lekas mengangkat panggilan tersebut dan menginterogasi Sabda.
“Kenapa baru menghubungiku?” tanya Rania sebelum Sabda membuka suara dan sepertinya dia memang takkan memulai.
“Maaf.”
“Apakah aku mengganggumu?” tanya Rania lagi.
“Tidak.” Terdengar suara serak Sabda dari seberang sana.
Rania sempat ragu mengatakan ini, dia hanya ingin bertanya sesuatu dan memastikan kalau kekasihnya tidak sedang berbohong. Hanya itu cara membuat Rania tenang.
Entah kenapa dia masih saja kepikiran dengan wanita yang waktu itu memakai mobil Sabda. Instingnya mengatakan bahwa ada hal lain yang sedang terjadi di antara mereka.
“Kapan kamu mau menemuiku?” Rania menggigit bibirnya. “Apakah kamu akan menjemputku nanti malam.”
Dua detik Sabda baru menjawab. “Maaf, aku sedang tidak bisa pergi ke mana pun. Pekerjaan di kantorku cukup banyak, untuk sekarang aku tak bisa pergi menjemputmu. Maaf, ya.”
Hancur.
Nyeri.
Bagai ada beban besar menghimpit dada. Sebelah tangan Rania yang mencengkeram ujung pakaiannya langsung terkulai lemas, tidak menyangka Sabda baru saja mengabaikannya.
Hubungan mereka bahkan tidak bisa dikatakan sebentar lagi. Rania mendadak diliputi perasaan tak enak. Dia ingin sekali menemui Sabda, mengeluarkan unek-unek atau menangis meminta penjelasan.
Mata Rania mulai berkaca-kaca. Namun, mencoba tak menangis dalam situasi tersebut. Rania meneguk ludahnya dengan perasaan sesak mencoba tenang. “Begitukah?”
“Ya. Maaf.”
“Baiklah. Kalau begitu. Katamu kita akan pergi makan malam. Apakah kamu sudah melupakan janji itu, Mas?”
Sabda berdehem lagi. “Ya. Terima kasih, nanti akan kukabari lagi, ya. Aku tidak akan bohong, untuk sekarang waktunya tidak pas saja.”
Rania bisa menangkap suara Sabda lebih mudah ketimbang suaranya sendiri. Baru kali ini dia mendengar pria itu menanggapi kalimatnya dengan nada datar, biasanya Sabda akan sangat antusias saat bersamanya.
Rania merasa hancur. Dia benar-benar tidak bisa berpikir, prasangka buruk bergentayangan di kepalanya. Dia ingin sekali menanyakan Sabda tentang sosok wanita yang dilihatnya waktu itu.
Barangkali ini hanya perasaannya saja, mungkin wanita itu adalah saudara Sabda, bukan selingkuhan atau kekasih. Rania berusaha untuk tetap optimis. Dia tidak ingin terlalu terbawa emosi.
Hal berikutnya yang mereka lakukan adalah kembali bekerja dan tidak banyak bicara. Lambat laun, sejak kejadian siang tadi Rania mulai menyalahkan keadaan. Kenapa dia merasa tidak mengetahui apapun tentang Sabda?
HADIAH SABDA
“Jadi bagaimana, Sha? Apa kamu mulai sering muntah atau sensitif terhadap bau yang menyengat?”
Shanum mengernyit menatap sang ibu yang duduk di hadapannya. Benar-benar tidak mengerti sehingga yang dia lakukan justru menatap Sabda balik dengan pandangan tak paham. Alisnya terangkat tinggi, berusaha mengirim sinyal pada sang suami untuk menjelaskan apa maksud ibunya.
Sabda berdeham kikuk. “Shanum selalu sehat, Bu. Dia tidak mabuk atau semacamnya. Justru aku yang sakit waktu itu.”
Sabda terlihat berwibawa meski sedang berada di dalam rumah sekali pun. Caranya berbicara; suara serak yang berat, pakaiannya yang selalu rapi, juga ketampanan yang tak pernah berhenti terpancar. Shanum yakin, keluarganya akan mengatakan hal yang sama, Sabda itu sempurna.
Ah, tapi di mata Shanum tetap saja pria itu punya perangai buruk seperti psikopat. Tidak. Mungkin lebih buruk lagi.
“Jadi belum ada kemajuan juga?”
“Kemajuan apa yang Ibu maksud?” tanya Shanum tidak peka.
Ibunya menghela napas. “Ibu hanya tidak sabar menunggu, kapan anak kalian akan keluar?”
“Bu, ayolah.” Shanum berusaha menyela lagi. Tidak sopan rasanya membicarakan hal tersebut saat sedang makan.
Shanum sempat terkesiap setelah kalimat Ibu mengudara, dia sudah pernah menduga kalau pertanyaan semacam ini akan terjadi jika dia bertamu ke rumah orang tuanya.
Apa yang harus Shanum katakan? Bahkan melakukannya dengan Sabda saja tidak pernah, mereka hanya sering bertengkar dan berdebat selama lima tahun ini. Bahkan hal kecil pun selalu dipermasalahkan.
Faktanya, mereka belum pernah melakukan hal lumrah yang biasa suami istri lakukan. Tidur saja dipisahkan dengan guling. Ya ampun, itu konyol!
“Kalian sudah berusaha dengan keras ‘kan?” Ibu menatap Shanum tegas, tajam. Membuat gadis itu risi karena suaminya sedang berada di sampingnya sekarang.
Baru ingin menjawab, teriakan nyaring dari Khalil-adiknya Shanum-sukses membuat beberapa orang di meja makan itu menoleh. Dia mengangguk mantap, dan Shanum bisa menebak kalau adiknya itu akan berbicara macam-macam.
“Tentu, tentu saja mereka pasti melakukannya dengan sangat baik. Kakakku perempuan yang seksi, tidak mungkin kakak ipar tidak tertarik.”
Khalil terdengar seperti pembual ulung. Sungguh! Dari mana bocah itu tahu hal-hal privasi seperti tadi? Dan dari mana dia tahu apa yang selama ini Shanum lakukan? Sok tahu sekali, gerutu gadis itu dalam hati.
Shanum hanya bisa mendengkus kesal merasa dipermalukan, terlebih saat suaminya tidak merespons apa pun. Dia seolah menikmati bualan adik iparnya.
“Ibu dan Ayah jangan khawatir. Aku akan berusaha memberikan kalian cucu yang lucu.”
Shanum tersedak kuah sup iga yang tengah diseruputnya. Gadis itu tidak percaya bahwa Sabda ikut mengisi drama yang tengah berlangsung. Apa-apaan ini?
Shanum langsung memukul lutut Sabda dari bawah meja. Dia merasa begitu malu sekarang, pria itu bersikap seperti orang paling bertanggung jawab di dunia, dan Shanum benci melihatnya seperti itu karena tidak sesuai dengan sifat aslinya.
“Bukankah kita sudah mengatur jadwal untuk pergi bulan madu ke luar negeri?” tanya Sabda, meski rasanya terdengar seperti kebohongan.
“Ah, ya. Mama juga sudah beberapa kali meminta kita untuk sering-sering berkencan sekarang.”
Shanum benar-benar sudah gila. Di mana kira-kira isi kepalanya berceceran? Sangat mudah sekali berakting menjadi pasangan suami istri yang romantis.
Sejurus kemudian, ibu tertawa terbahak-bahak bersamaan dengan Khalil dan ayahnya.
Tampaknya acara makan bersama hari ini berubah menjadi tempat stand up comedy. Sejak tadi mereka hanya menertawakan sesuatu yang bahkan Shanum risi mendengarnya. Begitu pun dengan Sabda, pria itu sangat jago sandiwara.
Meskipun Sabda terkesan dingin dan kaku di depannya, tapi bagi Shanum, Sabda lebih baik dari dirinya. Caranya menyayangi keluarga, caranya bersikap di depan ibu, bercanda dengan wanita paruh baya itu, dan semua perlakuan manisnya pada keluarga Shanum.
Dia sempurna bagi sebagian orang, tapi sangat kejam pada istrinya sendiri.
“Ayah akan menaikkan gaji karyawan di perusahaan dua kali lipat jika benar putriku hamil,” celetukan Tirta memecah suasana.
Itulah perbedaan orang tua Shanum dan orang tua Sabda. Ayah Sabda lebih sering menekan dan memaksa Sabda agar segera memberinya cucu. Sedangkan Tirta lebih santai dan tidak terlalu mempermasalahkan itu.
Dia sadar bahwa Shanum tidak boleh terlalu stres, semenjak putrinya mengabari mereka berdua sedang mengikuti program kehamilan, Tirta jadi begitu over protektif pada putrinya. Tentu saja program kehamilan itu hanyalah kebohongan semata agar mereka tidak terlalu menekan Shanum untuk segera hamil.
Keluarga Shanum begitu menyenangkan ketika berkumpul dan mereka selalu memiliki secuil topik pembicaraan hangat. Shanum lahir dari keluarga yang bahagia dan harmonis. Namun, dia tidak menemukan kebahagiaan dalam rumah tangganya sendiri.
“Jangan terlalu memikirkan ucapanku.”
Sabda berbicara pada istrinya setengah berbisik. Dia hanya tidak mau istrinya tertekan dengan ucapan sang ibu, yang terus memaksanya segera memiliki anak.
Gadis itu melirik ke arah sang suami, tak bohong bahwa hal itu mengirim perasaan hangat yang membuat Shanum cukup merasa terlindungi. Merasa aman. Merasakan sensasi bahwa semuanya mungkin akan baik-baik saja kendati dirinya tetap merasa kesal.
Sejujurnya, kalimat ibu masih terngiang jelas di dalam kepala. Seharusnya mereka sudah melakukan hubungan fisik supaya dirinya bisa memiliki keturunan seperti yang ibu inginkan, dia jadi tidak perlu merasa malu pada keluarga yang lain. Sabda juga jadi tidak perlu terus-menerus melindunginya seperti ini.
Tapi apa mereka bisa melakukan hubungan seksual tanpa melibatkan perasaan cinta satu sama lain?
***
Shanum mengantar suaminya sampai gerbang depan. Sabda harus berangkat ke kantor hari ini. Bersikap manis di depan keluarga memang melelahkan. Apalagi mereka tidak begitu terbiasa melakukannya.
Sebelum pergi, Sabda mengajak Shanum bicara. Dia sadar selama ini komunikasi mereka buruk. Mumpung sedang di rumah mertua, Sabda berusaha untuk mengajak Shanum bicara.
“Aku membelikan sesuatu untukmu.”
Shanum terkejut mendengar ucapan Sabda, pasalnya pria itu tidak pernah memberinya hadiah apa pun. Sabda hanya selalu memberi uang, membiarkan istrinya membeli apa pun dengan uang pemberiannya.
“Apa itu? Bukan perhiasan yang sempat kau beri pada gadis itu, kan?” tebak Shanum sinis.
SabdA menggeleng, berusaha agar tidak terpancing. Dia memang sudah berniat untuk berbaikan dengan sang istri.
“Jam tangan edisi terbatas, microwafe baru, tas branded baru, dan masih banyak lagi. Aku juga mau membelikanmu mobil baru tadinya.”
Mata Shanum membola mendengar penjelasan Sabda yang serba baru. Dia belum pernah membayangkan suaminya membeli barang sedemikian banyak, dan itu semua pasti memiliki harga yang cukup fantastis.
“Apa maksudmu? Kenapa membelikanku barang sebanyak itu? Lagipula aku sedang tidak ulang tahun. Microwafe-nya juga masih bagus.”
Shanum heran melihat Sabda hari ini. Dia tidak pernah habis pikir dengan suaminya. Pria itu tidak pernah memikirkan berapa uang yang harus keluar demi membeli semua barang-barang mewah.
Tak peduli seperti apa bentuk barang yang dia beli walau harganya sekitar 16 juta atau tiga milyar sekalipun.
“Benar. Semuanya masih bagus.”
Shanum masih tidak percaya dengan penjelasan Sabda tadi. Tumben suaminya membelikan banyak barang. Padahal pria itu selalu protes setiap kali Shanum berbelanja.
Shanum masih belum menyerah. “Itu semuanya mahal. Aku sudah punya satu. Kenapa harus membeli dua?”
“Hadiah pernikahan.”
Jawaban Sabda sukses membuat Shanum terbungkam beberapa saat, keajaiban dari mana lagi ini? Kenapa Sabda tiba-tiba peduli pada pernikahan? Apakah sup iga buatan ibu yang tadi dimakannya mengandung racun sehingga membuat sikap Sabda berbeda dari biasanya?
Bukankah menurut Sabda, pernikahan ini tidak berarti.
Shanum tahu sifat Sabda, dia tidak suka pamer. Orang sepertinya memiliki benda mahal bukan untuk dipamerkan. Pria itu punya banyak mobil bagus berjejer di garasi, tapi dia tidak pernah sekali pun membicarakan berapa banyak harta bendanya pada rekan atau keluarga sendiri.
Karena tanpa diceritakan pun, pria itu sudah terlihat benar-benar jutawan. Ah tidak, miliader.
Harus bagaimana Shanum berekspresi? Ini baru pertama kalinya Sabda memberikan hadiah.
Seharusnya beberapa saat lalu dia bilang ‘Ya ampun, ya ampun. Aku benar-benar terharu mendengarnya!’ atau juga ‘Suami tampanku ini memang sangat-sangat pengertian. Saranghae!’
Jangankan Sabda, Shanum saja risi kalau bersikap centil seperti itu dan sangat jauh dari kepribadian aslinya. Akhirnya yang keluar dari mulut Shanum adalah kalimat ….
“Terima kasih.” Nada suaranya terdengar lembut. Sangat lembut bahkan, berbeda dari biasanya. “Terima kasih.”
Shanum tahu suaranya terdengar payah dan sedih. Dia tidak sanggup bicara sambil menahan air mata. Melihat mata Shanum yang dipenuhi cairan bening, Sabda berdehem singkat.
“Jangan menangis, aku tidak sedang bersikap manis padamu. Aku hanya ingin memberi hadiah sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah mau bertahan sejauh ini denganku.”
Entah Sabda sedang gengsi atau malu untuk sekadar mengucapkan kata maaf pada perempuan itu. Sebab belakangan ini dia menyadari sifatnya begitu keterlaluan. Bahkan menyebalkan. Sabda tahu, Shanum kelelahan menghadapinya.
Mengusap sudut matanya yang berair, Shanum langsung menghela napas dan mengungkapkan pengakuan paling jujur.
“Terima kasih karena sudah mau seterbuka ini.”
Bukan terima kasih atas hadiahnya. Tetapi yang membuat Shanum begitu bersyukur sekarang adalah, Sabda menyadari kesalahannya.
Bersambung… QUALITY TIME
“Hari ini kudengar papa akan datang ke rumah.”
Sabda berujar di sela-sela mengancingkan kemeja miliknya. Sementara itu, Shanum di belakang sedang sibuk mengemasi barang. Sabda tampak frustrasi. Sesuatu yang membuat Shanum heran, tidak biasanya Sabda secemas itu.
“Memangnya kenapa kalau papa akan berkunjung ke sini?”
“Masalahnya, aku tidak punya waktu untuk bicara dengan papa.”
Tentu saja Sabda cemas. Hari ini, Sabda akan berangkat ke luar kota karena urusan pekerjaan, tapi barusan papanya memberi kabar bahwa beliau akan bertandang ke rumah untuk membahas hal penting terkait saham yang mereka bicarakan tempo hari.
Sabda yang saat itu tengah terburu-buru terpaksa membatalkan niat papanya untuk datang. Dia bilang akan menemui beliau begitu pekerjaannya di luar kota sudah selesai.
Sabda harus berangkat hari ini, beberapa pakaian dan barang lainnya sudah Shanum masukkan ke dalam koper. Wanita itu tampak repot memastikan tak ada satu pun barang penting yang tertinggal.
“Aku tidak bisa menemui papa sekarang karena jadwalku bentrok.”
“Oh begitu,” jawab Shanum. “Kalau ini memang sangat mendesak, lebih baik kamu segera pergi saja, biar aku yang bilang ke papa kalau kamu sedang ada urusan bisnis.”
Mantel tebal berwarna cokelat yang Shanum temukan di rak gantung menjadi pilihan. Wanita itu membawanya pada Sabda, tidak peduli dengan pekikan protes dari pria itu.
“Bisakah kamu tidak memilihkan pakaian yang warnanya norak? Itu alasanku tidak pernah suka memakai pakaian yang kamu siapkan,” protes Sabda.
“Aku lebih mementingkan kegunaannya ketimbang warna. Lagipula kota tempatmu bekerja itu cuacanya sangat dingin saat malam hari. Kamu juga butuh kehangatan.”
Shanum tetap berdalih, dia tidak peduli dengan pekikan protes dari Sabda. Memangnya kapan Shanum peduli dengan itu? Dia akan melakukan apa pun yang dia mau tanpa mempedulikan Sabda suka atau tidak.
Sebenarnya Sabda tak terlalu menyukai warna cokelat. Namun, karena mantel tersebut adalah pilihan istrinya, tak ada salahnya ia mencoba, bukan?
Ayah mertuanya pernah berkata, “terkadang, pilihan istri adalah pilihan terbaik yang sebenarnya jarang para suami sadari. Nanti, kalau kamu sudah menikah, dengarkan saja apa kata istri. Jangan kata-katamu saja yang harus didengarkan. Sama-sama membina rumah tangga, sama-sama memahami pasangan kita. Itu salah satu resep dari Ayah, agar pernikahan kita kekal sepanjang hayat.”
Teringat dengan pesan tersebut, mau tak mau Sabda menerima pilihan istrinya. Lagipula dia tidak punya waktu untuk berdebat lebih lama.
“Terima kasih,” kata Sabda datar. Namun, hal itu tidak mengurangi rasa bahagia Shanum.
Bahagia sebab semakin ke sini Sabda tak sekeras biasanya, meski terkadang Shanum masih suka kesal setiap kali Sabda membantah semua ucapannya. Untung saja Shanum sudah terlatih menghadapi itu.
Sabda menarik kopernya sambil melangkah keluar dari kamar. Persiapan perjalanan beberapa minggu sudah Shanum taruh di dalam koper besar itu.
Shanum benar-benar sudah terbiasa dengan kepergian Sabda. Pekerjaan suaminya cukup menguras waktu dan tenaga, Shanum selalu bersikeras ingin ikut ke mana pun Sabda pergi. Namun, pria itu tidak pernah mengizinkan.
“Bagaimana, apakah ada yang tertinggal?” tanya Shanum memastikan.
Sabda memeriksa jas yang dia kenakan. Dia pikir semuanya sudah lengkap dan tak ada barang penting yang tertinggal.
“Haruskah aku ikut saja denganmu seperti usul Mama?” tanya Shanum begitu melihat Sabda keluar dari kamar.
“Sudah kubilang jangan suka membantah ucapanku. Aku bisa jaga diri.”
Sabda menanggapinya dengan sinis, padahal Shanum hanya bercanda. Pria itu sangat kaku dan Shanum memahaminya. Entah Shanum yang salah bicara, atau Sabda yang tak bisa diajak bercanda. Setiap kali Shanum menyinggung hal remeh, pria itu selalu menanggapinya dengan emosi. Untung saja dia sudah benar-benar terbiasa.
Lagipula yang selalu menyarankan Sabda agar pergi ke luar membawa istri adalah ibunya sendiri. Kenapa pria itu marah hanya karena ditemani?
“Bisakah kamu menjawab dengan lemah lembut? Aku cuma bertanya saja. Kenapa responsmu selalu menyebalkan sekali, Mas? Lagipula aku tidak peduli dengan hal-hal bodoh yang kamu lakukan di luar sana!”
“Untuk apa kamu ikut? Bukankah kita memiliki kesibukan masing-masing? Baiklah, untuk seminggu ini kamu bisa melakukan apa pun yang kamu suka selama aku tak ada. Aku pergi sekarang. Hati-hati di rumah.”
Bagi Shanum, ini adalah pesan termanis yang suaminya ucapkan setelah lima tahun mereka hidup bersama. Hal itu sukses membuatnya melebarkan senyum.
“Kamu juga hati-hati di jalan. Jangan lupa mengabariku kalau sudah sampai.”
***
“Kita pergi ke tempat lain dulu, bagaimana?”
“Ke mana? Jangan bilang kamu mau mengajakku naik ke puncak gunung.”
Sabda menarik dagu Rania kemudian tersenyum. “Aku ngajak kamu seneng-seneng kok,” ucap Sabda kemudian melepaskan tangannya dari dagu sang kekasih.
Sabda dan Rania kini sedang dalam perjalanan menuju bandara, mereka berdua hendak pergi ke suatu tempat. Tempat yang tentunya jauh dan bebas dari teror Shanum.
Ya, Sabda bohong soal kepergiannya ke luar kota untuk bekerja. Dia pergi ke luar kota untuk liburan bersama Rania. Hal itu dilakukannya agar Shanum tidak mengamuk seperti biasa. Terlebih dia sudah berjanji pada kekasihnya untuk pergi jalan-jalan.
“Aku ingin memperlihatkanmu sesuatu. Sesuatu yang belum pernah kamu lihat sebelumnya.” Sabda tersenyum penuh arti.
“Apa itu? Jangan bilang kamu mau bawa aku ke hutan,” kata Rania sedikit khawatir.
Sabda tertawa mendengar kecemasan Rania, kepala gadis itu dipenuhi tanda tanya tentang rencana Sabda kini. Dia senang bisa menghabiskan waktu bersama pria itu setelah cukup lama dibuat overthinking mengenai siapa wanita di belakang Sabda.
Sebenarnya Rania masih suka kepikiran tentang perempuan cantik yang dia temui tempo hari dan perempuan itu menyebutkan nama Sabda. Rania selalu berharap dia hanya salah dengar, ada banyak sekali nama Sabdatama di dunia ini.
“Setelah satu bulan ini terlewati, aku sadar belum pernah ngajak kamu ke luar pulau menikmati keindahan di sana. Aku sadar kalau kamu butuh refreshing juga.”
“Tumben kamu ngajak aku refreshing, biasanya kamu lebih ngutamain pekerjaan daripada aku.” Rania sedikit cemberut ketika mengatakan hal itu.
“Iya, karena itu aku minta maaf. Mulai sekarang, aku tidak akan mengabaikan kamu dan aku akan membawa kamu ke mana pun kamu mau. Jangan memikirkan soal biaya.”
Rania sedikit tertegun. Setiap hari libur tiba, biasanya dia lebih senang menghabiskan waktu dengan tidur atau nonton drama Korea.
“Jadi, aku tak menerima penolakan sekarang,” ucap Sabda. “Karena pesona pariwisata negara kita itu, bukan Cuma indah. Tapi … bikin nagih.”
Rania hanya mengernyitkan dahinya. Sebagai seorang introvert, dia tidak terlalu peduli dengan alam atau apa pun. Bisa tidur di rumah, nonton TV, dan baca novel tanpa gangguan adalah kebahagiaan yang hakiki untuknya.
Akan tetapi, usul Sabda tidak terlalu buruk. Liburan sesekali juga perlu, mereka belum pernah jalan-jalan di luar kota sebelumnya. Mungkin akan menyenangkan jika menghabiskan waktu sejenak bersama Sabda seharian.
“Tapi serius, ‘kan, kamu gak ada pekerjaan penting dari kantor? Atau kamu sengaja ambil cuti?”
Sabda tertawa. “Tidak, aku memang sudah menyelesaikan semuanya, makanya bisa ngajak kamu liburan. Jangan cemaskan soal pekerjaanku, kamu hanya perlu menerima saja.”
Mendenga jawaban Sabda, Rania mulai tersenyum antusias. Akhirnya hari indah itu tiba. Dia bisa melakukan quality time bersama kekasihnya. Bahkan lebih membahagiakan lagi, Sabda hendak membawanya ke tempat yang sangat jauh.
“Kalau bohong lagi, aku gak mau diajak jalan-jalan sama kamu,” kata Rania sedikit mengancam.
“Oke, Nyonya Nayaka. Aku akan memastikan liburan kali ini kondusif. Jangan cemas.”
Rania tertawa mendengar ucapan Sabda, dan tanpa diduga Sabda mengecup pipi Rania. Membuat wanita itu terkejut.
SHANUM SAKIT
Sabda dan Rania sampai di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, pada pukul empat sore waktu setempat. Di mana Sabda membawa Rania untuk menginap di sebuah hotel yang tidak terlalu jauh dari kawasan pantai.
Keduanya beristirahat sejenak di hotel sekaligus berbenah diri. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan karena hari semakin malam. Sabda hanya mengajaknya melihat pantai, kemudian mengajak sang kekasih makan malam di sebuah resto hotel tempat mereka menginap.
Malamnya, mereka kembali beristirahat. Untuk melepaskan kepenatan dari perjalanan yang cukup panjang yang sudah mereka lalui.
“Tidak apa-apa kalau kita liburan jauh begini? Tapi, bukankah seharusnya kita tidur beda ranjang.”
Sabda yang tengah melepas penat langsung menoleh pada Rania yang telentang di kasur. Dia kelelahan karena perjalanan panjang dan tidak sesuai rute. Rania sendiri tidak menyangka bahwa dirinya akan dibawa liburan sampai ke luar kota oleh kekasihnya.
Sabda terkekeh mendengarnya kemudian beringsut naik ke ranjang. Kali ini debaran jantung Rania makin terpacu di dalam sana, terlebih Sabda yang seenaknya mendekat tanpa memakai pakaian.
“Hey, Mas Sabda. Pakai dulu pakaianmu. Jangan tidur dengan bertelanjang dada seperti itu!” omelnya.
Bukannya mendengarkan perintah Rania, Sabda justru semakin mendekat sehingga membuat Rania bingkas duduk di atas ranjang.
“Aku mau minta maaf,” katanya pelan. “Maaf sudah membuatmu kecewa. Ingatkan aku untuk tak lagi mengulanginya “
Rania tertegun mendengar kalimat itu, bersamaan dengan tatapan teduh yang Sabda berikan. Rania seperti dihipnotis. Pesona sang kekasih memang terlalu meluap-luap.
Shanum yang merupakan istri sah saja mengakui kharisma seorang Sabda, apalagi Rania yang hanya sebatas kekasih simpanan.
“Maaf untuk apa?” pancing Rania.
“Untuk semua hal yang membuatmu kesal dan sedih belakangan ini.”
Rania tertegun, dia memang sedih dan kesal pada Sabda. Namun, dia sendiri tidak pernah membayangkan bahwa pria itu akan melakukan hal di luar dugaan demi bisa dimaafkan.
“Aku sudah memaafkanmu.”
“Jangan marah lagi, kadang aku lebih suka cemburumu. Daripada senyum yang mewakili kepergianmu.”
Rania tersenyum geli mendengar kalimat tersebut. Dari mana Sabda punya kosa kata hiperbola macam itu? Rania hanya bisa menatapnya dengan wajah sayu karena lelah.
“Tidur saja, ya, besok perjalanan kita akan lebih panjang. Pasti banyak juga tempat yang mau kamu tuju, ‘kan?
Rania tidak tahu apa rencana mereka esok pagi, mungkin hanya sebatas jalan-jalan saja di pantai. Lagipula dia belum tahu mau pergi ke mana karena diajak secara mendadak oleh Sabda.
“Mas, hentikan!”
Rania mendorong tubuh Sabda saat pria itu dengan nakal mencubit hidungnya sampai sesak napas. Rania tidak mau mengambil risiko dengan hubungan mereka yang saat ini terlalu dekat.
“Habisnya kamu menggemaskan saat sedang bingung. Apa yang kamu cemaskan, hm?”
“Tidak ada, katamu kita harus segera tidur sekarang. Cepat sana pergi, lebih baik kamu tidur di sofa!”
Mengabaikan ucapan Rania, tanpa aba-aba Sabda justru menggelitiki pinggang Rania sampai gadis itu terpingkal karena geli.
“Mas Sabda, hentikan. Ini geli!”
***
Shanum menengok ke arah jam dinding, pukul delapan malam. Sudah lebih tiga jam dia terbaring di ranjang tanpa bisa melakukan apa-apa, sekujur tubuhnya pegal, suhunya cukup panas. Shanum demam.
Dia berniat untuk menelepon Sabda dan memberitahu kondisinya. Namun, sampai panggilan yang kelima, ponsel pria itu masih tidak aktif. Shanum menghela napas. Untuk sebatas membuka mata pun rasanya cukup berat.
“Kenapa aku harus sakit di saat Mas Sabda tak ada? Apakah aku masuk angin karena kemarin pulang malam?” Shanum bermonolog sendirian.
Gadis itu berusaha untuk bangkit dari tidurnya. Namun, setiap kali memaksakan diri untuk bangun, kepalanya mendadak sakit luar biasa. Hal itu membuatnya mengurungkan niat dan memilih untuk merebahkan diri kembali.
Di rumah ini hanya ada dirinya dan beberapa pelayan. Bukannya Shanum tidak mau dirawat oleh pembantu di rumahnya. Hanya saja, setidaknya Sabda harus tahu kabar istrinya kalau dia sedang jatuh sakit dan demam tinggi.
“Kayaknya Mas Sabda memang benar-benar sedang sibuk dengan urusan kantornya, sampai-sampai nomornya tidak aktif.”
Shanum memilih untuk beristirahat kembali. Selimut tebalnya dia tarik sampai leher, guna mengusir rasa dingin yang mendera. Shanum harap besok dirinya sudah membaik.
***
Ada satu hal yang paling membuat Rania malas ke luar dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan menonton drama Korea di dalam kamar. Salah satu hal itu adalah, cuaca panas. Matahari yang membuat silau pandangan dan membuat kulit terancam gelap.
“Mau ke mana sih, Mas? Panas sekali di sini,” tanya Rania sedikit menggerutu dan memasang wajah cemberutnya. Dia melangkahkan kaki mengikuti langkah Sabda dengan berat hati.
Sabda menggenggam tangan Rania dan tersenyum pada wanita itu. Membuat Rania mencebikkan bibir menatap tingkah aneh sang kekasih.
Sayang, Sabda tak menanggapinya. Dia menarik tangan Rania dan melanjutkan langkah.
“Mas, kamu denger aku, kan?” tegur Rania sekali lagi karena Sabda tak kunjung menggubris perkataan Rania.
Rania mengernyitkan dahinya dan meneguk saliva saat matanya mendapati sebuah tempat yang sangat indah melebihi perkiraannya. Langit yang cerah dengan hamparan pasir dan laut biru, benar-benar memanjakan mata. Sabda membawa Rania ke sebuah pantai yang sepi.
“Kamu suka tempat ini gak?” tanya Sabda tiba-tiba.
Sekali pun Sabda tak cukup baik untuk Rania. Akan tetapi, rasa ingin membuat Rania bahagia berhasil menepis segala ketakutan tersebut. Tanpa Sabda sadari, Rania menjadi salah satu alasannya untuk kuat dan mampu melewati semuanya sampai di titik ini.
“Nggak mau foto?” tanya Sabda ketika mereka berdiri tepat di depan lautan.
Sabda menoleh ke arah Rania yang tak menjawab. Wanita sibuk sedang menatap lautan luas yang ada di hadapannya ini. Pesona pantai yang berada di hadapannya sungguh indah dan jernih.
“Hei!” seru Sabda membuat Rania terkejut.
Rania menoleh ke arah Sabda, sepasang matanya membola tak percaya. “Kita bener-bener lagi di Bali, Mas?” tanyanya terkejut dengan pertanyaannya sendiri.
“Menurut kamu ini di mana?”
Rania tak bisa menahan senyum bahagianya. “Aku gak nyangka bisa ke sini. Di sini indah banget, Mas. Aku suka!”
Sabda tersenyum sambil mengangguk. “Mau foto denganku?” tanya Sabda sekali lagi.
Rania langsung mengangguk antusias. Dia segera maju mendekati laut dan meminta Sabda untuk memotretnya sedemikian rupa. Sabda layaknya fotografer yang sibuk mengarahkan gaya, sementara Rania hanya manut saja.
“Cantik sekali,” kata Sabda dengan senyum merekah ketika melihat hasil jepretannya.
“Lautnya?”
“Bukan, tapi kamu.”
Jawaban Sabda membuat Rania tersenyum malu-malu. Dia berusaha menahan diri untuk tidak salah tingkah, meskipun sikapnya terlihat menggambarkan itu.
Mereka pun berfoto bersama, mengabadikan momen dengan hasil foto berdua yang tampak lucu, Rania tertawa melihat hasilnya. Sabda benar-benar romantis.
“Rania.”
Sabda menatap Rania dengan teduh, matanya seolah memancarkan kebahagiaan di sana. Pria itu tak hentinya terpesona oleh sosok Rania. Sesekali dia merasa takut dengan posisinya sekarang.
Rania menoleh dari kamera milik Sabda kemudian menaikkan alisnya. “Ada apa?”
“Maaf untuk keterbatasan waktuku. Kalau seandainya aku tidak bisa mengajakmu keliling dunia. Aku mungkin bisa mengajakmu keliling Indonesia.”
Rania tertawa menanggapi ucapan manis tersebut. Baginya, menghabiskan waktu bersama Sabda di hotel pun tidak masalah. Asal bersama Sabda, itu sudah cukup.
Rania sudah sedikit melupakan prasangkanya kepada Sabda, melihat sebesar apa cinta pria itu padanya Rania merasa tidak seharusnya dia berpikiran buruk tentangnya.
Sabda tersenyum simpul. Dia kemudian mengangkat kedua tangan Rania yang ada di genggamannya. Mengecupnya dengan tulus, hingga matanya terpejam.
Rania menggulum bibirnya menahan senyuman. Sepertinya dia mulai terbawa perasaan akan perlakuan Sabda yang sungguh manis.
“Mulai dari sini. Aku, Sabdatama Nayaka, akan menjadi pendamping seorang Rania mengarungi puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan kilometer jalan kehidupan bersama. Mulai dari sini bahkan di setiap kilometer yang kita jalani.”
Sabda mengecup kembali kedua tangan Rania dan meremasnya lembut. Seolah meyakinkan gadis itu bahwa sebesar apa pun cobaan dan rintangan dalam hubungan mereka Sabda tidak akan pernah meninggalkan kekasihnya.
“Secepatnya aku akan memberikanmu kepastian. Jadi, jangan pergi dariku, ya. Kamu mengerti? Bukankah kita berjanji untuk tetap bersama apa pun alasannya?”
Jantung Rania berdetak kencang mendengar kata-kata manis sang kekasih. Dia tidak menyangka, pria dingin dan kaku seperti Sabda bisa bersikap sangat romantis.
“Tidak akan!” jawab Rania menganggukkan kepalanya penuh semangat.
Sabda menarik pelan kepala Rania dan mengecup dahinya. Mereka berpelukan, wanita itu langsung memejamkan mata dengan erat.
Untuk sementara, Sabda ingin melupakan segala problemnya dengan Shanum. Dia ingin menghabiskan waktu bersama Rania. Berada di rumah hanya membuat kepalanya sakit karena perdebatan yang tak pernah selesai.
Padahal Shanum di rumah jatuh sakit, Sabda pun sengaja menonaktifkan ponselnya dan memakai ponsel cadangan selama berjalan-jalan dengan Rania. Dia tidak ingin kehadiran Shanum menghancurkan acara liburannya bersama si gadis pujaan.
Bersambung…