Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Enemies the Same Bed

Enemies the Same Bed

Enemies the Same Bed – Nolan terlihat bergembira, menari dengan para wanita yang seksi dan nakal. Dia biarkan tubuhnya di sentuh atau bergesekan dengan mereka. Wajah tampan Nolan dengan kesan bad boy handsome itu anehnya begitu diminati wanita-wanita di dalam club.

Padahal sudah banyak gosip beredar, betapa nakal, playboy dan banyaknya hati wanita yang dipatahkan olehnya. Tapi, sepertinya semua gosip itu tidak menjauhkannya. Nolan melepas kaca mata gayanya lalu berkedip pada wanita cantik yang terus memepetnya itu.

Tanda dia tertarik untuk bercumbu dengannya. Wanita itu terlihat senang, pasrah saja saat Nolan tarik menuju tempat yang lebih privat. Keduanya terus bercumbu, saling tumpang tindih di sofa.

Hanya sebatas itu. Membuat wanitanya pelepasan tanpa penyatuan. Kenapa? Nolan itu pilih-pilih jika akan bercinta. Hanya wanita yang menurutnya tidak jijik maka akan dia perlakukan bagai ratu hingga pagi menyapa.

Enemies the Same Bed Ngocoks Wanita itu terengah di atas sofa dengan tanpa penghalang apapun. Nolan tersenyum manis nan memikat. “Sayangnya, kamu belum beruntung malam ini, baby..” lalu beranjak dari atasnya.

“Nolan, serius?” wanita itu menatap sayu, sudah sangat ingin.

Nolan tidak merespon, dia meneguk segelas alkohol lalu pergi untuk mencari kesenangan lagi namun langkahnya terhenti saat mendapat panggilan suara dari seseorang.

“Serius? Oke.” Nolan bergegas pergi dari club itu, membayar seseorang untuk mengantarkannya ke tempat tujuan. Nolan meneguk air putih, mencoba sadar dari pengaruh alkohol.

“Dia ga mau gue paksa pun,” Adit terlihat kesal menatap sahabat perempuannya yang kini terisak dengan memar di beberapa bagian tubuhnya yang terlihat.

“Ayah lo gila!” Nolan meraih lengan Azura dan memotretnya dengan paksa. “Lo bawa dia, Dit!” perintahnya.

“Kalau lo mau kita bertiga temenan, nurut! Semua demi kebaikan lo! Ayah lo udah candu alkohol, gila!” tambah Nolan.

Azura tidak bisa lagi menolak jika itu urusannya dengan Nolan. Jiwanya selalu tunduk pada satu sahabatnya itu.

“Kita—”

“Lo masih mabuk, tunggu di sini, temen adik gue mau bawa baju, kasihin di meja. Abis itu lo nyusul ke kantor polisi. Bawa kuncinya,” Adit menggendong Azura yang kacau.

Nolan tidak membantah. Dia menurut saja. Dia menunggu sambil menghilangkan bau alkohol dan menyadarkan diri juga.

Nolan tak perlu izin, dia masuk ke kamar Adit untuk meminjam pakaianya.

***

“Meresahkan, pak. Dosanya bukan buat mereka tapi satu kampung. Lebih baik anak kota itu terus di kota,” Yeti berseru kesal.

“Iya, sabar bu. Kita akan usut,” pak Lukman terlihat sabar.

“Ga sekali dua kali, ada perempuan datang dan lama di dalam bahkan nginep, banyak saksinya kok pak,” Hartuti menyahut, dia juga salah satu saksi itu.

“Kita pastikan dengan baik-baik, jangan dengan emosi,” Lukman terus menenangkan warganya dengan sabar.

“Mereka hanya anak pindahan, orang tua tidak jelas karena ga pulang-pulang..” seru Fadla kesal karena kampungnya jadi tercemar.

“Di sini bukan negara bebas!” seru yang lain membuat keadaan kembali bising dan saling mengompori. Mereka sudah tidak bisa sabar lagi. Terlalu banyak saksi.

“Dasar Caca! Pelupa! Udah tahu besok wawancara, mana nyuruh lagi, untung sahabat dari SMP ketemu lagi kuliah, udah 6 tahunan!” dumelnya sambil membuka gerbang rumah.

Adhya menelan ludah gugup. Apa di dalam ada Adit? Dia berdebar tak sabar, dia kagum pada kakak dari temannya itu.

Adit kakak yang begitu baik di matanya.

Adhya menekan bel. Dia menunggu dengan mengulum senyum.

“Apa ini cara Caca deketin gue sama kak Adit ya?” gumamnya pelan. “Cih! Bisa aja caranya,” gumamnya salah tingkah.

Pintu terbuka.

“Ha— Ck! Pa’aya,” decaknya malas, bukan Adit yang membukanya. Ternyata buaya jadi-jadian.

Nolan tersenyum manis dengan menatap Adhya genit. “Hai, manis.” sapanya. “Silahkan masuk,” lanjutnya.

“Dikira keren apa, pake baju sana!” Adhya mendorong sebal Nolan. Buaya yang terkenal.

Nolan tertawa pelan, menatap Adhya gemas. Marahnya malah lucu. Dia pun memakai kaos Adit sambil berjalan mengekori Adhya.

“Sugar, mana Caca?” biasanya mereka itu berdua bagai anak kembar.

“Ga usah kepo!” Adhya meraih paper bag yang dia yakini itu pakaiannya dan Caca. “Dia jadinya nginep di rumah ga akan pulang, bilangin ke kak Adit juga, katanya telepon dari dia ga diangkat,” jelasnya malas.

“Ga minum dulu?” Nolan tersenyum manis, mencoba memikat namun sayangnya Adhya tidak pernah terpikat. Bahkan dari jaman mereka satu kampus.

“Ga, ogah berdua sama pa’aya di tempat tertutup gini,” rempongnya dengan kedua tangan tidak bisa diam.

Terkesan centil, tapi jutek nan lucu.

Nolan kembali tertawa dengan manisnya. “Enak tahu, banyak yang bisa kita lakuin kalau berdua di tempat kayak gini,” lalu mengedipkan sebelah mata genit.

Adhya mendengus dan mengayunkan langkah lalu membuka pintu. Tubuhnya membeku kaget.

Sudah banyak ibu-ibu dan bapak-bapak di depan rumah tanpa ada suara, hanya memasang wajah marah.

“Sinilah, kita berduaan dul—” Nolan sama kaget.

“Nahkan, pak!” seru bu Yeti nyaring.

Sekitar menjadi keos tak terkendali.

Nolan dan Adhya mengerjap tidak paham.

***

“Ha?” Adit berdiri dari duduknya dan pamit meninggalkan Azura dengan polisi yang tengah mengintrogasinya.

Adit terus berbicara dengan Nolan lewat panggilan suara itu. Nolan terdengar emosi karena tersudutkan oleh semua warga.

“Lo tunggu di sana, tapi Azura—”

Nolan menghela nafas kesal di balik telepon. Dia menyuruh Adit untuk membereskan Azura terlebih dahulu. Dia tidak akan bisa menemani mereka di kantor polisi.

Adit terlihat cemas. Nolan dan Adhya seperti tersangka saat ini. Padahal yang sering ada di rumahnya itu Azura.

Adit menatap ponselnya yang penuh dengan panggilan dari adiknya Caca.

***

“Dad! Kita oh astaga!” Nolan meninju angin dengan teramat marah.

Warga tidak bisa diajak kerja sama. Terus mendahulukan emosinya. Padahal dia dan Adhya tidak melakukan apapun.

Mungkin saja mereka salah paham juga terhadap Adit dan Azura.

Nolan merasa apes.

“Kamu mau digiring keliling kampung dengan tuduhan itu? Kamu juga kenapa ngomong gitu, mereka salah paham!”

Mina hanya diam hanyut dalam pikirannya. Bibirnya tersungging, padahal sekitarnya penuh emosi dan keos.

“Ekhem!” dia melepaskan kaca mata gayanya. “Oke, mommy putuskan. Lebih baik kamu nikahi Adhya.. Hanya itu jalan agar emosi warga reda,” putusnya dengan ringan.

Adhya yang menangis di pelukan Caca yang sama kesal plus merasa bersalah menatap kaget ibu-ibu nyentrik itu.

Mina menatap Adhya dengan senyum manis nan cantik. Mirip sekali seperti senyum pemikat Nolan. Ternyata turun dari ibunya.

“Maukan jadi mantu mommy?”

Adhya kenal Mina karena dia sahabat arisan bundanya.

“Biar mommy yang obrolin ke bunda, gimana?” tanyanya bahagia.

Nolan mendatarkan wajahnya. Dia rasanya akan meledak. Mommynya itu memang benar-benar!

“Viral!” seru Caca saat ponselnya ramai dipenuhi kiriman video Adhya dan Nolan yang duduk dikelilingi warga tantrum.

Semua menoleh ke arah Caca. Sekitar semakin menekan untuk menikahkan keduanya karena sudah membuat kampung itu kian tercemar.

***

“Tidak, mereka sudah kita nikahkan. Ke depannya harapan kita tidak ada lagi yang kumpul kebo, di mana pun tempatnya. Mengingat dosa yang menanggung itu bukan hanya pelaku, tapi seluruh warga desa..” pak Lukman terlihat tenang menjawab wartawan yang turun langsung mencari kebenaran.

“Pihak keluarganya bagaimana pak? Kata kabar yang beredar mereka dari keluarga mampu, hanya terjebak di rumah sahabat..”

“Untuk pihak keluarga mereka menerima. Kedua keluarga ternyata juga berhubungan baik, membuat semua mudah. Benar, ini rumah teman keduanya.”

Adhya mematikan televisi yang masih membahasnya dan Nolan. Padahal semua salah paham. Tapi para orang tua malah mengambil kesempatan.

Wawancara kerja gagal, dia malah menikah. Namun dia tetap akan mencari pekerjaan setelah semua berita tentangnya reda.

Adhya merasa menjadi artis dadakan karena diburu. Bahkan dia kini nyangkut di apartemen Nolan sebagai istrinya.

“ARGGHHH!” teriak Adhya frustasi. Dia sampai marah pada orang tuanya karena malah setuju dan bahagia menikahkannya dan Nolan.

Apa mereka tidak tahu predikat buruk Nolan di kota ini?

“Wah.. Followers gue naik, nama gue makin keendus,”

Adhya menatap kesal Nolan yang begitu santai setelah seminggu berlalu. Memang laki-laki dan perempuan itu berbeda.

“Jangan sentuh mie gue!” Adhya kebelet ingin buang air.

Nolan tersenyum. “Mau kemana, manis? Baru juga gue duduk.” coleknya pada lengan Adhya.

Adhya mengusapnya jijik sambil terus menuju kamar mandi. Semua masih terasa tidak adil. Kenapa juga orang tuanya tidak membujuknya yang marah.

Menyebalkan.

***

“HABIS?!” mata Adhya rasanya akan lompat dari tempatnya. Ada api emosi membara di dalam dua mata indah itu.

Adhya menoleh dengan perlahan penuh ancaman. Dia tatap Nolan yang anteng dengan ponsel yang dipenuhi perempuan itu.

“Dihabisin!” suaranya menggeram penuh penekanan. Nafasnya mulai terengah.

Nolan melirikan matanya lalu tersenyum manis. Adhya merasa dagunya dimainkan. Dia akan meledak!

“AGH!” jerit Nolan terus menerus saat Adhya ganas menyerangnya dengan gigitan, pukulan dan tendangan membabi buta tanpa arah itu.

Keduanya terlihat seperti serigala penakut yang di serang kucing liar pemberani.

Beberapa saat kemudian…

Nolan berada di ujung sofa, meringis menatap semua luka gigitan di beberapa tubuhnya. Sampai ada yang membiru, sungguh ganas.

Adhya juga di ujung sofa satunya tengah mengendalikan diri. Dia masih ingin melampiaskan itu tapi takutnya dia berlebihan.

Dia tidak ingin menciptakan tragedi lain.

“Ashh..” Nolan merasa seluruh badannya nyut-nyutan. Adhya kecil-kecil ternyata kuat juga.

Atau mungkin karena dia tidak menangkis dengan tenaga. Jika terjadi, mungkin Adhya akan terpental.

“Hiks..”

Nolan menoleh. “Yah, cengeng.” oloknya sambil mengintip wajah Adhya yang kedua lengannya sibuk menyeka air mata.

“Hiks..”

Adhya kesal. Dia sungguh merasa tidak adil. Menikah impiannya bukan begitu. Bukan dengan Nolan yang bagai musuh!

“Gue masakin lagi, ck!”

“UDAH GA MAU!” teriak Adhya dengan menatap Nolan kesal dan berkaca-kaca.

Nolan menghela nafas panjang. Dia mengacak rambut Adhya hingga kembali garang lalu kabur secepat mungkin.

“Makasih mienya, gue ke club bentar— ck! Bego!” Nolan putar balik. “Gue masih belum bisa KELUAR!” kesalnya sambil berteriak frustasi.

Adhya menatap marah dan memilih mengambil ice cream di kulkas.

Nolan kembali duduk di sofa. Dia tidak biasa ada di rumah. Rasanya tersiksa bagai di kurung. Dia ingin segera bebas.

Nolan melirik Adhya yang datang dengan ice cream.

“Minta dong, sugar..”

Adhya tidak merespon, ceritanya masih marah karena mienya di rebut.

“Pelit nanti giginya sempit,”

“KUBURAN!” kesal Adhya.

Nolan yang sengaja hanya terkikik geli lalu meraih sendok di tangan Adhya, mengabaikan lengan satunya di gigit Adhya lagi karena merasa di rebut lagi.

Nolan hanya mendesis lalu terkekeh dengan mulut penuh ice cream. Nolan meraih lagi lalu menarik lengannya hingga gigitan terlepas kemudian menjejalkan sesendok ice cream agak kasar ke mulut Adhya hingga gigi dan sendok terdengar bertabrakan.

“Iiihhh!” Adhya membenarkan ice cream yang meluber.

Nolan mengecup pipi Adhya lalu berlari kabur ke kamar dan menguncinya. Dia ingin melakukan panggilan dengan beberapa incarannya.

NOLAN K.O

Nolan membuka mata, melirik sampingnya yang kosong dan pastinya si manis berada di sofa lagi. Mungkin.

Nolan mendudukan tubuhnya agak kesal. Sudah dia bilang untuk tidur di sampingnya, dasar penakut.

Pengendalian dirinya itu kuat. Sudah sering berurusan dengan perempuan membuatnya tidak akan mudah berdiri.

“Dimana lagi?” Nolan meregangkan leher sambil berjalan mencari keberadaan Adhya yang tidak kunjung dia temukan.

Nolan melirik jam di dinding. Ternyata masih pukul 8 malam. Berarti dia tertidur satu jam kurang lebih.

Nolan menguap sambil mengedarkan pandangannya. Mengabaikan rambut yang berantakan dan wajah tampannya yang tetap tampan sekali pun baru bangun tidur.

Nolan terlihat sangat percaya diri. Dilihat oleh siapa pun dia tidak akan malu.

“Sugar?” Nolan terus mengayunkan langkah kesana-kemari. “Tu anak nekad keluar apart apa giman—”

“Aaaaaaaggghhhh!”

Nolan terpejam bukan karena agar tidak melihat milik Adhya, tapi karena suaranya yang nyaring.

Belum membuka mata wajahnya sudah tertimpuk botol samphoo. Membuat Nolan urung membuka mata dan meringis sakit.

“Aaggghhh.. Mesum aaaaaghhh!” terus saja heboh sendiri dengan melempar apapun dan Nolan juga sibuk merasakan sakit di wajahnya sambil menghindar dari benda melayang lainnya.

Mendengar teriakan nyaring tak kunjung berhenti dia membuka matanya cepat, melangkah pun tak kalah cepat dan menghimpit Adhya kesal di tembok kamar mandi yang dingin.

Adhya bergetar namun mengangkat wajahnya berani. Memeluk handuknya dengan kuat. “A-apa, HA?!” nafasnya memburu panik.

Nolan menatap lurus. Hanya begitu. Teng! Entah kemana emosinya lenyap. Dia tidak fokus setelah melihat Adhya yang mendongak, lehernya basah dengan rambut sama basah.

Nolan menelan ludah. “Indah..” lalu tersenyum manis andalannya. Tatapan kesalnya berubah usil.

“A-A-Apa?!” Adhya semakin memeluk erat dirinya yang terus terpojokan.

Dengan usil Nolan menggerakan telunjuk tangan kanannya menyentuh garis leher lalu berhenti dibelahan dada yang mengintip di balik handuk.

Adhya terengah menahan amarahnya.

BUG!

“ARGH!” Nolan ambruk.

Dia K.O saat miliknya ditendang kaki pendek Adhya. Wah, dia tidak bisa berkata-kata selain merasa kesal dan sakit.

Adhya melotot panik. Nolan terlihat seperti sekarat. “Astaga! Aduh, astaga..” gumamnya panik.

***

“Iya, sayang.. Nanti kita ketemu ya,”

Adhya menyedot minuman susu bercampur jelly di dalamnya itu. Memakai gaun tidur bermotif strawberry bagai bocah.

Adhya memicing sebal. Baru beberapa puluh menit yang lalu kena batunya karena menggodanya kini sudah menggoda yang lain.

“Iya, cantikku.. Kamu seksi gemoy, jangan diet, ga bagus..”

“Hueekk!” Adhya duduk dengan kesal sambil menyambar remot untuk menyalakan televisi.

Nolan hanya melirik Adhya dengan senyum geli. “Udah dulu ya, istri aku lagi morning sickness..” lalu mematikan panggilan begitu saja tanpa peduli pasti wanita itu akan ada drama cemburu.

Adhya menganga kesal. “Wah! Gila, cewek-cewek itu juga gila!” serunya tak habis pikir.

Nolan tertawa pelan dengan tampannya. Dia menghadap Adhya dengan tatapan gemasnya. “Mereka kesepian, cuma butuh temen buat denger keluhannya,” jelasnya dengan mengulum senyum geli mendengar penjelasannya sendiri.

“Lo buka jasa sikolog apa gimana, cih! Alesan aja!” Adhya menyedot lagi minuman kesukaannya, mengangkat kedua kakinya ke atas sofa dan duduk dengan memeluk kakinya.

Nolan kembali tertawa pelan, menatap bibir yang menyedot lubang botol ukuran kecil itu. Lucu.

“Sugar.”

“Yes, pa’aya..” sahut Adhya malas.

Nolan tertawa pelan, celetukan Adhya baginya selalu saja lucu.

“Lo ga kepikiran kasih jatah?”

Adhya sontak terbatuk-batuk lalu menendang Nolan, dia mulai tantrum. Dan anehnya lagi, Nolan malah terbahak menerima reaksi itu.

Dia menangkis lalu menarik kedua kaki Adhya hingga Adhya terlentang dengan minuman kesukaannya tumpah di seluruh wajah.

Nolan melotot kaget. “Astaga! Pffffttt.. Sorry,” lalu kabur dan terbahak..

***

“Ga sopan banget. Ke suami lo-gue, ga ada embel-embel kakak.. Ke Adit aja kakak,” Nolan memiting leher Adhya.

Adhya melotot ngamuk, dia menggigit lengannya sampai Nolan melepaskan jeratan dengan meringis. Lagi dan lagi.

“Banyak banget gigitan bu’aya ditubuh pa’aya,” kekehnya.

Adhya kesal. Moodnya baik hanya saat Adit berkunjung ke apartemen Nolan dan memberinya makan siang.

Nolan dan Adhya memang masih belum bisa kaluar dari apartemen. Malu juga jika ada yang kenal.

“Lo pengangguran?” Adhya baru ngeh soal itu. Nolan bisanya mabuk, main ke club.

“Ga.”

Adhya memicing. “Terus lo mau kasih gue makan uang darimana?” tanyanya serius namun terdengar kesal.

“Gue punya beberapa kontrakan, bisnis kuliner. Adit yang bantu urus,” jawab Nolan sekenanya.

“Kontrakan?”

“Sebelum itu gue mau tanya. Terus gue dapet apa dari pernikahan ini?” Nolan tersenyum manis.

Dia penasaran apa Adhya tidak pernah tertarik padanya. Kenapa? Aneh sekali.

“Pembantu!” ketus Adhya.

Nolan mengulum senyum. “Pembantu? Mana ada! Tuh liat, dapur berantakan bekas masak ga tahu siapa,” godanya.

Adhya mendengus. “Kita sama-sama dirugiin di sini!” balasnya.

“Ga tuh, kok gue merasa beruntung dapet istri cantik agak jutek ini,” Nolan tersenyum manis sekali.

Adhya menatap dengan jijik. “Iuhh.. Biasa aja senyumnya!” sebalnya.

“Kenapa? Bikin deg-degan ya?” Nolan condong mendekati Adhya, menatap wajah itu dengan tatapan usil.

“GUE LAPER!” bentak Adhya galak, dia tahu Nolan sedang usil padanya.

Adhya memilih memakan makanan yang diantarkan Adit dengan perasaan senang lagi. Mengabaikan celotehan tidak penting Nolan.

***

“Kesel banget, tokoh utamanya tolol!” amuk Adhya dengan wajah cemberut lucu. Dia merangkak naik ke atas kasur dan kembali menatap televisi.

Nolan yang asyik dengan selir-selirnya hanya melirik sekilas Adhya lalu mengabaikan segala keluhan dan protes tidak penting itu.

“Cowok bajingan kayak babi tahi anj*ng—”

Nolan menepuk mulut Adhya sampai tersentak kaget di duduknya merasakan tamparan ringan di bibirnya.

“Masih kecil difilter ngomongnya!” tegur Nolan so serius dan paling dewasa lalu mengulum senyum geli. “Oke, maaf-maaf. Jangan gigit,” kekehnya.

Adhya tetap melompat dan menyerang Nolan dengan gigitan maupun pukulan random. Bukan masalah sakit di bibirnya, tapi di jantungnya.

Adhya sangat amat terkejut tadi. Rasanya jantung copot.

“Berhenti!” Bahaya, Nolan menjauhkan wajah Adhya dari bahu yang kini gigitannya jadi seperti vampire. “Leher jangan!”

Adhya melotot kaget saat kepalanya dijauhkan kasar sampai tubuhnya setengah terpental ke kasur, Nolan juga melotot kaget. Tadi itu refleksnya.

“Kepala gue di lempar, lo PIKIR BOLA!”

Nolan tertawa pelan, menatap Adhya geli dengan terus menahan tawanya.

“Lo selalu ngeselin!” Adhya memukulkan keningnya ke kening Nolan.

Keduanya sontak serambi lempitik kaget dan sama sakit. Mereka meringis, mengusap kening masing-masing.

Mereka pun debat sesaat, Adhya melanjutkan marahnya hingga terlelap di samping Nolan yang mencari hiburan di ponselnya.

Kepalanya jadi pening. Dia melirik Adhya yang menggeliat mengubah posisi tanpa terjaga. Terdengar mendengkur halus.

Nolan menusuk pipi Adhya sekali. “Kenapa ya dulu sering berantem? Apa karena reaksi Adhya lucu? Iya, dia lucu kalau ngamuk.” kekehnya.

Nolan menghela nafas berat. Menikah dengan Adhya memang tidak sepenuhnya buruk. Tapi, menikah dengan cara begitu rasanya buruk.

Keluarganya dan keluarga Adhya sebelas dua belas. Seenaknya dan aneh. Kena skandal malah dimanfaatkan dengan riang gembira.

“Apa mommy pikir gue, g*y? Dih, bau t*i!” gumam Nolan bergidik jijik.

Nolan mematikan ponselnya. Dia menarik selimut, membenarkan selimut Adhya lalu terhenyak saat Adhya bergerak berbalik dan berakhir merapat padanya.

Apa dingin? Nolan meraih remot AC dan mengatur suhunya agar lebih hangat.

“Malam ini gue izinin lo meluk gue,” Nolan mendekat dan menarik Adhya ke dalam pelukannya. Rasanya nyaman ternyata tidur dengan guling hidup.

Bersambung… PERKARA MASUK MEMASUKKAN

“Dateng pagi-pagi, muka kusut pula..” Adit terlihat fokus pada sarapannya.

“Iya, masih kesel Caca tuh sama kak Nolan! Bisa-bisanya nikahin sahabatku!” gerutu Caca di samping Adit.

Sudah tahu Caca ingin Adit dengan Adhya bukan malah teman kakaknya. Sungguh diluar prediksi.

“Emang kakak kenapa sih, Ca? Sama keren kok kayak Adit,” Nolan tersenyum manis menggoda adik temannya. Sama lucu, tapi lebih lucu Adhya kalau soal ngamuk.

Kok bisa ya ngamuk lucu bukannya serem. Kayaknya dia ga akan bisa merasakan suami takut istri, Adhya marah malah bawaanya ingin ketawa.

“Ck! Tahu ah, sebelnya ga ilang-ilang! Mana pelit, ga bisa ajak main Adhya malem-malem!”

“Haruslah, kalau kenapa-napa bisa dipenggal kepala sama daddy,” Nolan tersenyum lagi, memang murah senyum. “Kalau orang tua kita ga deket, dia pasti kakak bebasin..” lanjutnya.

“Kalau mau main, main aja.. Jangan banyak keluar,” pesan Nolan.

“Tapi kak Nolan keluar dengan bebas! Ga adil banget,”

Adit tersenyum tipis. “Ajak aja Adhya ke club, dek. Biar dia ga bebas.” timbalnya.

“Bener banget! Ide bagus, kak.” Caca menepuk bahu kakaknya sekilas.

“Ga! Jangan,” sambar Nolan dengan melirik Adit sebal.

“Terus Adhya diem aja di rumah sekarang?” Caca sudah terlihat siap untuk berangkat wawancara kerja.

“Hm,”

“Tapi diizinin kerjakan?”

“Engga.”

“Ihhh! Kok jadi ga bebas, kasihan Adhya!”

Nolan terdiam memainkan ponsel. Dia tengah berpikir. Bagusnya Adhya bagaimana. Membatasinya hanya akan membuatnya semakin tidak terkendali.

“Tenang aja. Kita belum ngobrol banyak, bilangin sama dia, jangan ngegas duluan,” keluh Nolan.

Adit terkekeh geli, sudah bisa dia bayangkan. Nolan yang gemas namun juga frustasi secara bersamaan.

***

Adhya masuk ke dalam mobil Nolan. Wajahnya ditekuk tidak ramah. Mungkin karena sangat kebosanan seharian ini.

“Caca ikut.”

Adhya tidak merespon. Dia juga masih marah soal yang pagi. Nolan memeluknya. Membuat peperangan kecil tentu saja terjadi sampai Nolan memilih sarapan di rumah Adit.

“Masih marah nih ceritanya,” Nolan mencolek dagu Adhya yang langsung menatap jutek. “Pelit banget jadi istri,” godanya dengan mengulum senyum.

Adhya memalingkan wajahnya menatap jalanan.

“Kata Caca, mau kerja?” Nolan terus fokus mengendarai mobilnya.

Adhya mengerjap tertarik. Jelas dia ingin, lulus kuliah terus tidak jadi apa-apa sungguh sia-sia. Minimal dapat gajih dari hasil kerja kerasnya sendiri tidak mengandalkan suami.

“Mau.” singkat Adhya.

Nolan melirik sekilas membuat keduanya saling bertatapan sesaat. Akhirnya dia bisa mencuri perhatian Adhya.

“Di mana?” Nolan membelokan mobilnya ke sebuah gedung tinggi. Mall yang cukup terkenal di kota ini.

“Rencana gagal waktu itu ke perusahaan X, terus maunya sih di perkantoran aja,” Adhya jadi urung marah deh.

“Daftar lagi aja,”

“Belum ada lowongan, Caca enak di masukin kenalan,” Adhya juga mau jika ada jalan mudah seperti itu.

Tidak adil memang. Tapi, kebanyakan sudah begitu di dunia pekerjaan sekarang.

“Mau masuk? gue masukin?”

Adhya memicingkan matanya penuh selidik dan galak. Nolan yang langsung konek seketika terbahak.

“Astaga, ga ke sana arahnya!” Nolan terus terbahak. Di sini sudah terlihat, Adhya yang suka berpikiran yang iya-iya.

***

“Gimana kak Nolan? Dia udah masukin burungnya?” Caca bertanya lempeng seolah bukan apa-apa.

Adit melotot samar lalu menimpuk belakang kepala adiknya hingga serambi lempitik kaget agak sakit juga.

“Kakak apa-apaan sih!” Caca mengusap bekas tampolan itu lalu kembali melepas jas kerja yang dia pakai hari ini saat bekerja.

“Pertanyaannya dijaga!” omel Adit dengan begitu dewasanya.

Adhya menahan bibirnya yang berkedut ingin tersenyum melihat pesona Adit. Dia semakin kagum saja pada kakak sahabatnya.

“Ga, belum.” Nolan tersenyum manis pada mereka lalu mengedipkan sebelah matanya pada Adhya.

Adhya mendatarkan ekspresinya dengan tangan terkepal. Dia sungguh menikah dengan buaya darat!

“Ini daftar menunya,” pelayan perempuan mendekat dengan ramah nan cantik.

Adhya meraih itu, mengabaikan Nolan dengan 1001 tingkah buayanya yang norak di mata Adhya itu.

“Menurut mbanya, yang paling enak yang mana?” Nolan tersenyum dengan begitu manis memikat.

Pelayan itu mencoba tidak goyah walau wajahnya bereaksi lain. Memerah sepertinya akan bawa perasaan.

Caca menajamkan tatapannya setajam silet, telunjuknya bergerak mengetuk-ngetuk meja seolah menghitung waktu yang tepat untuk dia menebas leher Nolan.

“Abaiin, mba. Ada istrinya tuh, biar dia aja. Genit emang cowok satu ini,” Caca pun terus bawel menegur Nolan demi sahabatnya yang terlihat bodo amat itu.

***

“Jadi kapan?”

Adhya melepas jaketnya, akhirnya bisa sampai di rumah lagi. “Apanya?” tanyanya jengkel, padahal Nolan bertanya santai.

Memang begitu ya? Kadang kesel tiba-tiba padahal orang itu tidak banyak tingkah.

“Masukin,”

“APA?!” beo Adhya terdengar bersiap menyerang. Tubuhnya berbalik, Nolan terkekeh geli.

“Masukinnya, kapan?”

“Wah.. Cari mati,” Adhya menarik lengan pakaian atasnya hingga sikut.

“Tuhkan, pikirannya traveling,” Nolan menarik lalu memiting Adhya dan mengecupi pipinya usil. Agar semakin ngamuk.

“LO! Ihhh!” Adhya memukuli wajah Nolan walau terus memiting dan menghindari itu.

“Maksudnya masukin belanjaan ke kulkas! Fokus makanya! Minum air putih yang banyak sana,” Nolan melepaskannya agak mendorong Adhya.

Adhya bergerak cepat namun berakhir melotot saat kakinya belibet dengan kakinya sendiri lalu jatuh sampai tidak sengaja mendorong Nolan hingga sama jatuh ke atas lantai.

Nolan dan Adhya melotot kaku. Jatuhnya bukan saling tindih lalu berpandangan dalam jarak dekat.

Tapi..

Wajah Adhya berada di tengah pusatnya. Nolan baru sadar belum menarik resletingnya setelah dari kamar mandi.

Adhya menatap itu. Dalaman berwarna biru navy. Menonjol di depan wajahnya, sangat dekat!

Nolan yang tersadar tersenyum manis. Sungguh membuatnya tampan sekali. “Gimana? Mau coba masukin?” tanyanya dengan tatapan menggoda bagai predator.

Adhya melotot dan repleks memukul pusat Nolan dengan kepalanya. Sontak Nolan meringkuk dan menjerit lalu meringis.

Dia kembali sekarat rasanya.

Adhya merutuki dirinya seketika. Tidak kapok-kapok melukai anu Nolan.

KEPERGOK MENGINTIP

“Dasar, pa aya!” dumel Adhya dengan menekuk wajah kesal. Istrinya dibiarkan kesusahan sedangkan dia sibuk dengan para betina!

Adhya melirik Nolan yang tengah haha hihi dengan pelayan toko yang semok itu. Memang buaya, mencari betina pun yang banyak dagingnya.

Adhya yang kesal melempar semua belanjaan hingga berserakan di lantai lalu pergi begitu saja tanpa peduli dengan semua itu. Tangannya sakit mengangkat semua belanjaan mingguan itu.

Nolan menatap tingkah Adhya lalu segera meninggalkan pelayan itu dan meraih semua belanjaan yang tercecer di lantai.

“Dasar emosian,” kekeh Nolan dengan santai mengangkat semua belanjaan dan pergi tanpa menoleh pada pelayan yang sempat dia goda itu.

Nolan hanya main-main seperti biasa.

Sesampainya di mobil, Adhya bersandar pada pintu mobil dengan santai. Menunggu Nolan membuka pintu.

“Rusak telurnya, lo lempar gitu aja,”

Adhya tidak peduli.

***

“Sugar,” panggil Nolan seraya mendekati Adhya yang telungkup di sofa dan sebelah tangannya sibuk menuliskan sesuatu pada buku.

Nolan dengan tidak sadar diri telungkup di atas tubuh Adhya yang langsung mengerang kesal karena keberatan.

“Modus ya lo!” protes Adhya dengan kesulitan karena Nolan sungguh berat.

“Hm, gue modus.” Nolan mengecupi tengkuk Adhya.

Adhya terus protes hingga wajahnya memerah karena kesal. Dia menjambak Nolan namun Nolan malah cekikikan.

“Lepas! Berhenti cium-cium! Ihh! Berhenti!” Adhya mencoba berbalik walau kesulitan hingga pada akhirnya posisi terasa lebih buruk.

Dia di bawah Nolan. Tubuh keduanya merapat sampai Adhya bisa merasakan sesuatu yang menonjol menusuk pahanya.

Sejenak Keduanya terdiam melihat jarak yang begitu tipis. Nolan meniup wajah Adhya sampai terpejam sekilas plus kaget.

“Ck! Minggir!”

Nolan malah menggerakan pinggulnya seolah tengah berc*nta. “Kita latihan dulu, nanti tuh kayak gini..” kekehnya.

“Iiihhh! C*bul! Lo ngapain sih?!” teriaknya panik merasakan sesuatu itu.

Adhya ingin menendang anu Nolan tapi tidak bisa karena kakinya kini berada di setiap sisi tubuh Nolan.

Mereka terlihat seperti tengah berc*nta sungguhan..

“Lepas! Gila ya lo!” amuk Adhya dengan wajah begitu merah antara malu dan merinding merasakannya.

Apalagi bibir Nolan menyerang lehernya.

Adhya kian melotot merasakan sesuatu yang kian mengeras itu, menggesek di bawah sana walau terlahang kain. Nafas Adhya sampai pendek-pendek.

“Gue nangis ya! Gue benci sama lo!” Adhya kian panik merasakan desir nikmat itu. Dia takut, dia belum siap.

Nolan cekikikan usil lalu berhenti. Dia tatap wajah Adhya yang memerah dengan kedua mata berlinang air mata.

“Cengeng! Masa takut sih, bukannya pemberani?” ledeknya.

Adhya terengah emosi. Hal begini tidak bagus jadi bahan candaan.

“Minggir!” bentak Adhya kesal.

“Ga mau.”

Adhya pun menangis saking kesal. Dia merasa dilecehkan tapikan Nolan suaminya. Membuat Adhya semakin menangis jengkel.

Nolan malah tersenyum melihat Adhya menangis sambil memukulinya. Memang menyebalkan dan usil.

***

Nolan membuka mata saat melihat Adhya masih terlelap dan mendengkur halus di sampingnya.

Nolan melepaskan belitannya di perut Adhya lalu menggeliat, menguap dan mendudukan tubuhnya.

Hari ini dia akan bertemu dengan teman, salah satu temannya yang memang pewaris di salah satu perusahaan.

Dia akan meminta satu tempat untuk Adhya.

“Bangun,” Nolan mengecup pipi Adhya dengan gemas.

Adhya sontak mengernyit dan membuka matanya. “Ck! Apa sih! Ga usah cium-cium!” amuknya dengan suara serak khas bangun tidur.

Nolan malah menarik perut Adhya agar mendekatinya yang kini bergerak mengukung. “Serahlah, kan suami- Agh!” Nolan terpejam sejenak saat Adhya bangun dan membuat keningnya membentur ke bibirnya.

Nolan tahu Adhya pasti sengaja. Nolan segera menyingkir dan menyentuh bibirnya yang agak berdarah.

“Sengajakan?”

“Aduh, sorry ga sengaja.” santai Adhya dengan masih agak ngantuk.

“KDRT!”

“Oh ya? Kalau gitu laporin ya, biar kita bisa- agh!” Adhya terhenyak saat tubuhnya kembali terlentang dan Nolan gelitiki.

“AMPUUUNN! Maaf, udah maaf! Argh ampun, haahaha!” Adhya sungguh kewalahan.

Nolan pun berhenti, menatap Adhya yang memelankan tawanya seraya terengah lalu tak lama menatapnya kesal.

“Apa? Mau lagi?”

Adhya segera kabur setelah meninju perut Nolan sampai mengaduh.

***

Nolan menghentikan langkahnya saat melihat Adhya melepaskan handuknya dan asyik memakai pakaian.

Nolan tidak bisa bergerak. Maju akan habis oleh Adhya dan mundur terlalu sayang untuk dilewatkan.

Nolan terdiam di ambang pintu kamar mandi. Adhya masih belum sadar dan berpikir Nolan akan lama di kamar mandi seperti biasanya.

Adhya memakai br* lalu celana dalam yang membuat Nolan menelan ludah kasar. Adhya indah sekali.

Hingga tak lama Adhya selesai dan berbalik. Tubuhnya membeku. Keduanya saling berpandangan. Sama kaget.

Cukup lama hingga pada akhirnya Nolan yang kepergok memilih melangkah maju, meraih wajah kaku Adhya dan melahap bibirnya rakus.

Adhya melotot dan kian membeku kaku. Bibirnya terus di lumat. Apa Nolan mengintipnya? Sejak kapan?

Bersambung… PAGI PERTAMA

“L-Lo nga-ngapain?” Adhya menahan nafas saat tubuhnya diangkat lalu direbahkan di atas kasur. “Lo ngintipkan?!” teriaknya agak tergagap.

Nolan terlihat aneh. Tatapannya terlalu menyeramkan namun juga mendebarkan.

“Apa gue salah minta hak sebagai suami?” suara Nolan memberat serak.

Adhya terdiam membeku. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Otaknya blank. Dia masih terkejut oleh beberapa hal. Dari mulai Nolan menatapnya yang sedang berpakaian.

“Gue mau. Apa boleh?”

Adhya semakin bungkam. Kenapa harus bertanya? Diakan jadi susah menjawab. Apa semua orang bertanya dulu saat malam pertama?

“Hm?”

“A-apa sih!” cicit Adhya.

“Ga boleh?”

Adhya menelan ludah, meliarkan tatapannya salah tingkah dengan muka memerah. Dia sungguh tidak tahu harus bagaimana.

Nolan tersenyum samar lalu pada akhirnya mendekat, dia kembali meciumnya dengan lembut.

Adhya mengerjap gugup lalu pada akhirnya terpejam tanpa membalas. Dia tidak tahu caranya.

Dulu saat pacaran pun dia hanya mengecup, tidak sampai seperti saat ini.

“Buka mulutnya,” bisik Nolan serak.

Adhya tidak tahu kenapa begitu patuh, membiarkan giginya di absen lalu lidahnya diajak main.

“Engh..” lirih Adhya tanpa sadar.

Nolan semakin semangat, menciumnya kian rakus sampai suara decap ciumannya terdengar nyaring.

***

“Sa-sakit.. Hh..” Adhya meremas lengan bisep Nolan dengan wajah mengernyit dan meringis kesakitan.

Nolan mengecup bahu kiri Adhya lalu mendudukan tubuhnya untuk mencari jalan dengan jelas.

Adhya menatap sayu nan malu. Mencoba merapatkan kaki namun Nolan tahan dan perlahan memulainya.

“Malu..”

“Ga papa, cantik kok.” Nolan tersenyum manis menenangkan, kembali memeluk Adhya dengan perlahan menembus pertahanan.

“Hh.. Sakit, gue ga bohong.. Hh..” Adhya memukul bahu Nolan.

“Tahan bentar,” Nolan terus berusaha dengan bibir mulai berkelana, mencoba agar Adhya teralihkan.

“Hh.. Engga.. Itu oh engga.. Hh udah,” Adhya terdongak dan mencoba mendorong bahu Nolan yang tidak bergeming.

Nolan berhenti sejenak, membiarkannya hanya masuk sedikit. Dia manjakan bibir Adhya dengan ciumannya yang lembut tanpa tergesa.

Adhya mengernyit, meremas setiap sisi bahu Nolan dan mencakarnya lalu serambi lempitik sampai ciuman Nolan terlepas.

“Hh.. Hiks.. Lo jahat!” Adhya terisak dan terengah pelan. “Sakit!” lirihnya dengan bibir bergetar lalu memukul bahu Nolan sekilas.

Nolan mendesis halus. Di bawah sana begitu mencengkramnya kuat. Dia seka sudut mata Adhya lalu mengecup bibirnya sekilas.

Nolan terus menatapnya hingga berhenti memangis dan kembali tenang. Dia akan menunggu sampai Adhya rileks.

Nolan tersenyum, mengusap kaki Adhya yang berada di sisi pinggangnya. Dia peluk Adhya.

“Keren banget, sugar. gue yang pertama.” Nolan mengecupi wajah dan puncak kepala Adhya.

Adhya hanya meringis ngilu saat Nolan bergerak halus tanpa sadar.

***

Nolan mencabutnya dengan terengah lega lalu rebahan di samping Adhya yang sama terengah dan lemas penuh keringat.

Adhya bisa merasakan sesuatu mengalir keluar dari pusatnya yang berkedut.

Apa dia dan Nolan melakukannya? Sungguh?

Nolan tersenyum lalu menyamping menopang kepala menghadap Adhya. Menyelimutinya hingga sedada.

“Enak ga? Sakitnya ga lamakan?”

Adhya memilih terpejam malas merespon senyum yang begitu cerah. Nolan terlihat senang setelah semuanya terjadi.

“Ada tissue basah ga? Jangan tidur dulu,” Nolan meraih boxer.

“Buat apa?” lirih Adhya lemas agak malu.

“Buat bersihin bawah lo-”

“Ga usah! Mau ke kamar mandi aja,” potong Adhya. Dia malu jika harus Nolan yang membantu membersihkannya.

Adhya baru merasakan malu setelah semua terjadi.

“Sialan! Badan j*lang banget sih!” Adhya menampol keningnya sendiri sambil berjalan tertatih ke dalam kamar mandi.

Adhya menghela nafas panjang. Memilih berhenti mengeluh dan merutuki dirinya sendiri. Dia harus membersihkan badan dari jejak Nolan.

Sedangkan Nolan terus rebahan, menatap kepergian Adhya setelah pagi pertamanya bersama Adhya yang hebat.

***

“Hai, sugar.” Nolan menghampiri Adhya yang sepertinya akan keluar. “Kemana?” tanyanya lalu duduk di samping Adhya yang memasukan barangnya ke dalam tas.

Adhya memalingkan tatapannya, terlihat masih canggung dengan apa yang terjadi tadi pagi.

“Eu.. Ke Caca,” jawabnya cepat lalu beranjak. “Izin ke sana, ga lama kok.. Soalnya hari ini Caca-”

“Iya tahu,” potong Nolan dengan senyuman manis.

Adhya kembali memalingkan wajahnya. Dia berdehem pelan. “Oke.” lalu beranjak namun lengannya di cekal Nolan.

“Tunggu, gue ambil kunci dulu.”

Adhya menatap kepergian Nolan agak kesal. Pantas boleh ternyata dia mau ikut. Padahal dia pergi untuk menghindari Nolan.

Adhya masih sangat malu dengan apa yang terjadi di atas ranjang.

“Ayo,” Nolan mencubit pipi Adhya gemas sambil berjalan lebih dulu.

“Sakit!” kesal Adhya.

Nolan terus melangkah. Seharusnya hari ini bertemu dengan temannya untuk memasukan Adhya ke perusahaannya tapi semua rencana gagal.

Nolan akan bertemu Adit saja, katanya Azura juga ada ditempatnya. Tempat Adit yang baru. Rumah itu dijual karena hal viral yang memalukan.

“Caca ikut pindah? Katanya mau ikut ke tantenya,”

Adhya memainkan tali tasnya Tanpa ingin menatap Nolan. “Ga, dia mau bebas jadi milih ikut Adit,” jawabnya datar.

Nolan melirik Adhya. Apa dia marah soal kejadian tadi pagi? Tapi Adhya tidak menolak, menerima semua perlakuannya.

MANA BISA SEKALIAN

“SERIUS? GEDE GA?” Caca terlihat penasaran nan riang.

Adhya sontak merasakan wajahnya panas. Dasar Caca! Si polos m*sum!

“Gu-gue itu apa.. Sakit tahu,” cicit Adhya agak salah tingkah.

“Serius? Aduh, Caca jadi takut begituan,” ringisnya ngeri.

“Ta-tapi ada enaknya kok,” balas Adhya dengan cepat dan semakin salah tingkah.

“Jadi, kak Nolan sama—”

“Ga ya! Dia tetep ngeselin, masa tadi cubit-cubit, sakit tahu!” potong Adhya kesal sekali. Dia pikir setelah pagi pertama akan berubah lebih lembut.

“Kak Nolan buaya, kok mau sih? Katanya ga akan pernah—”

“Ya tahu. Lagi gila aja makanya gitu. Jangan bahas lagi!” potong Adhya.

“Ihh asyik tahu, bahas lagi aja. Kak Nolan desah ga? Seksi ga?”

“No komen!” Adhya memilih beranjak keluar dari kamar Caca untuk mengambil minum di dapur.

Caca hanya terbahak melihat wajah Adhya yang memerah dan kini kabur itu. Sahabatnya benar-benar jadi istri sekarang.

Adhya mengibaskan tangannya, mukanya terasa panas. Langkahnya terhenti melihat tawa Nolan dan Azura.

Keduanya seperti sepasang kekasih yang menikmati waktunya memasak di dapur. Nolan dan Azura terlihat serasi.

“Misi,” Adhya melanjutkan tujuannya.

“Eh, sugar.” Nolan berhenti mengganggu Azura lalu nemplok memeluk Adhya dari belakang.

Adhya menepisnya dengan kesal dan juga risih, ada orang lain juga di dapur. Tak hanya itu, mereka tidak biasa begitu.

“Mau ambil apa?” Nolan menuruti mau Adhya, tidak memeluknya lagi.

“Minum.” singkat Adhya, meraih dua botol air minum lalu tersenyum tipis pada Azura dan pergi tanpa pamit pada Nolan.

Adhya kesal. Entah soal Azura mencuri fokus Adit, dan sekarang akrab juga dengan suaminya. Bukan cemburu. Azura terlalu serakah di matanya.

***

“Ada, lagi tidur. Nonton film malah ketiduran,” Caca duduk di samping Adit, mulai memalak kakaknya untuk membeli cemilan.

Dia dan Adhya akan maraton drama.

“Kak Nolan, Adhya nginep ya hari ini?” pintanya tetap fokus menerima uang yang diangsurkan kakaknya.

“Engga, kita pulang agak malem aja.” Nolan ingin berduaan seperti tadi pagi. Mana cukup sekali. Mereka pengantin baru.

“Kan, pelit!”

“Jangan ganggu pengantin baru, nih cepet pesen makannya, ntar makin gendut kalian,”

“Nyumpahin, kita ga akan gendut!” Caca pun pergi meninggalkan dua laki-laki yang akan bermain game itu.

“Lan, tengkuk lo merah-merah di cakar kucing?”

Nolan mengulum senyum sambil memilih karakter gamenya.

“Keliatan?”

“Hm, jangan bilang Adhya KDRT?” kekeh Adit yang kini tersenyum pada Azura yang datang dengan dua minuman untuk para sahabat.

“Ra, bisa mainin bentar, mau ke Adhya dulu.” Nolan tiba-tiba ingin melihat istrinya. Sudah berjam-jam dari pertemuannya di dapur tidak bertemu lagi.

***

“Dia sih tokoh utamnya, Caca yakin,”

Adhya membuka matanya perlahan, menatap Caca yang rebahan santai di sampingnya. Adhya yang menyamping menghadap Caca mengernyit agak ngantuk.

Caca berbicara dengan siapa?

Adhya menoleh, Nolan tersenyum. Adhya baru sadar dia berbantalkan lengan Nolan dan sedang di peluk.

“Ck! Ga usah peluk-peluk,” gumam Adhya setengah mengantuk.

Adhya memilih ke posisi semula, mengabaikan Nolan yang malah mempererat pelukannya. Mengendus rambutnya.

“Di sini Caca jomblo ya!” tegur Caca menatap keromantisan itu.

Adhya memilih memejamkan mata lagi. Dia kelelahan. Mungkin karena melayani Nolan saat pagi hari.

Nolan tidak merespon Caca, dia menonton sambil memeluk Adhya yang tidak bergerak lagi, mendengkur halus.

“Jangan mainin Adhya ya! Apalagi udah kak Nolan tidurin,” Caca menatap Nolan sungguh-sungguh.

“Adhya cerita?” Nolan menatap Caca.

“Jelas, kita sahabatan, Adhya tipe yang susah mendem sendiri.”

“Enak ga katanya?”

“Ga, kak Nolan kecil,” jawab Caca mengejeknya, bercanda namun Nolan sepertinya menganggap serius.

Nolan terkekeh memeluk gemas Adhya. Dia akan membuktikan lagi nanti. Miliknya tidaklah kecil.

***

“Udah jam 1 pagi, kenapa ga nginep aja sih?! Bisakan tidur sekamar sama kak Adit,” dumel Adhya dengan wajah berpaling kesal ke arah jendela mobil.

Nolan mengulum senyum, mencolek dagu Adhya sekilas dengan usilnya. “Ga peka jadi istri.” lalu mencubit lengannya gemas.

Adhya serambi lempitik kesal, memang tidak terlalu sakit tapi tetap saja menyebalkan. Dari dulu pasti ada momen dia di cubit.

“Gue tahu gue gemesin tapi—”

“Ke Adit kakak, ke suami sendiri kok engga.” potong Nolan.

Adhya berdecak kesal dan kembali berpaling. “Adit emang pantes dihormatin, lo engga! Nyebelin! Dari dulu selalu nyebelin!” cerocosnya tak berjeda.

Nolan tertawa pelan lalu mengulum senyum. “Ga akan nyebelin lagi kok,” bujuknya sambil mencolek paha Adhya yang tidak tertutup roknya.

Adhya memukul tangan nakal itu.

“Kita ga bisa nginep.” Nolan mulai menjelaskan dan menjedanya sebentar. “Kita itu pengantin baru, masa cuma sekali,” lalu mengulum senyum melirik wajah Adhya yang berbalik menatapnya kaget.

“Ngelakuin lagi?” pekiknya.

“Emangnya ada yang cuma sekali seumur hidup?” Nolan pura-pura kaget lalu tertawa pelan, begitu menyebalkan.

“Ishh! Nanti aja tahun depan!” ketusnya.

Nolan terbahak. “Kita pulang kan ada alasannya, ga mungkin tahun depan, tapi kalau 20 menit ke depan, pasti bisa.” lalu berkedip genit.

Ingin sekali Adhya menggetok kepala buaya satu itu.

Bersambung… PAGI KEDUA

“Loh, kok lo kabur,” Nolan terbahak pelan melihat Adhya yang turun dari mobil dan lari seperti dikejar orang.

Adhya dan Nolan sebelumnya berdebat di mobil, Adhya tidak mau sekarang, tapi Nolan membujuknya sekarang.

“Lucu banget,” gumam Nolan sambil menutup pintu mobil lalu bermain ponsel.

Banyak sekali pesan masuk, dia lewati semua perempuan yang haus perhatiannya lalu berhenti pada pesan Caca.

Caca: Kak Nolan, Adhya tadi tangan kirinya keseleo, pasti ga akan cerita, obatin ya.. Hampir Caca lupa,

Nolan tersenyum tipis. Jadi Adhya hanya percaya Caca? Kelak Nolan akan membuat Adhya sangat terbuka padanya, tak hanya soal tubuhnya.

“Astaga.. Kayaknya malam ini harus libur. Besok pagi aja lagi,” kekehnya seraya mengayunkan langkah untuk menyusul Adhya.

Nolan melepas kemeja hingga menyisakan kaos polos hitamnya, melempar asal ke sofa beserta kunci mobil.

“Loh, dikunci?” Nolan terus mengetuk pintu. “Janji, ga akan ngapa-ngapain kalau itunya beneran sakit, serius cuma tidur,” lanjutnya.

Pintu pun terbuka dengan Adhya yang berlari dan bersembunyi di selimut.

“Janji ya! Jangan malam ini. Masih sakit.” cicit Adhya di akhir.

“Iya bawel!” Nolan mencari salep agar tidak bengkak dan juga pegal. Dia harus segera mengoleskan itu pada tangan Adhya.

***

Adhya mengerjap, menatap tangannya yang sedang diolesi obat dan dipijat pelan. “L-lo tahu dari mana?” tanyanya agak sewot padahal salah tingkah.

Nolan tersenyum manis. “Caca.” jawabnya lalu mengusap kepala Adhya sekilas. “Dah beres, lanjut tidur.” perintahnya.

Nolan membereskan semuanya lalu melepas kaos untuk bersiap tidur. Dia akan cuci tangan, dan bersih-bersih.

“Jorok, ga bersih-bersih?” tanya Nolan sebelum masuk kamar mandi.

“Ga, emang jorok! Kenapa mau ceraiin? Gue sih seneng,” lalu menjulurkan lidah.

Nolan tidak membalas, dia masuk ke kamar mandi.

Adhya mulai sayup-sayup akan terlelap namun pergerakan disampingnya membuat matanya kembali terbuka.

Nolan mendorong lembut bahu Adhya hingga terlentang lalu menindihkan setengah tubuhnya dengan bibir mulai menyesap manisnya bibir Adhya.

Adhya meremas lengan Nolan dan memukulinya hingga ciuman paksa itu terlepas.

“Gue tahu lo benci gue atau pernikahan ini, tapi jangan jadiin Cerai candaan atau celetukan kayak tadi. Kita ga tahu ke depannya gimana, dan ucapan itu bisa jadi do’a.”

Adhya kicep didepan wajah Nolan yang begitu dekat.

“Bibir lo lebih enak dari cewek lain,” jujur Nolan sambil menyeka bibir bawah Adhya dengan jempol tangannya.

Adhya sontak mendorong Nolan hingga terlentang di sampingnya.

“Hahaha.. Sekarang tidur, kalau ga mau gue serang!”

Adhya sontak berbalik, menutup dirinya dengan semilut namun melotot saat Nolan memeluknya dari belakang, membelit perutnya.

“Ihhh!” Adhya mulai memukuli Nolan.

Keduanya berakhir saling menyerang dan terbahak puas. Terus saja begitu. Hingga Adhya menyerah karena ngantuk.

Adhya tidak peduli lagi dengan pergerakan Nolan yang memeluknya lagi. Kedua matanya sungguh berat.

***

Adhya menggeliat geli dalam tidurnya. Mencoba menepis hewan di lehernya. Begitu basah dan menjilatnya geli.

Adhya mulai kesal, perasaan dia tidak tidur di rumah. Apa kucingnya itu pindah.

“Ihh!” kesal Adhya lalu membuka matanya.

Nolan dengan rambut acak-acakan, muka bantal dan senyum manisnya menyambut. Begitu tampan, membuat Adhya terpaku beberapa saat.

“Ck! Ganggu, lo jilat-jilat?” Adhya mengusap lehernya sendiri.

“Susah dibangunin sih,” Nolan tetap tersenyum, sepertinya memang sudah bawaan dari lahir murah senyum.

Adhya memalingkan wajahnya. “Jam berapa sih ini!” kesalnya lalu menatap jam di nakas.

“Udah jam 8 pagi, ga mau liat usaha suami lo?” Nolan menopang kepala dengan sebelah tangannya.

“Ga, gue butuh uangnya aja!” ketus Adhya sambil diam mencoba mengumpulkan nyawa sepenuhnya.

“Kalau dari jual obat gimana?” Nolan mengusap sesuatu yang mengering di sudut bibir Adhya.

Adhya menepis pelan dan menggantikan jemari Nolan. Astaga! Itu ilernya lalu menatap Nolan yang santai saja.

“Ck! Terserah!”

“Galak amat sih,” Nolan mendekat, membelit perut Adhya yang membuatnya urung bangun. “Minta jatah dong, galak amat,” Nolan kembali tersenyum manis.

“Ga ngaruh ya! Ga usah senyum-senyum!” cerocos Adhya agak salah tingkah dan juga berusaha menghindar dari jatah.

Apa serius Nolan ingin meminta jatah?

“Pagi kedua boleh lah,” Nolan menarik Adhya agar semakin merapat lalu dia tindih tanpa membebaninya.

Adhya menelan ludah lalu tak bisa menghindar lagi. Nolan mulai melumat bibirnya dengan perlahan.

Adhya berdebar menerima itu. Nolan yang begitu lembut. Tidak terlalu buru-buru seolah paham kalau dia belum berpengalaman.

Ciuman Nolan yang lama di mulutnya kini mulai merambat ke rahang, leher Adhya dengan begitu dihayati.

Adhya menggigit bibir bawahnya, dia gengsi jika mendesah. Rasanya dia sama menikmati walau pada nyatanya memang menikmati.

“Shh.. ” Adhya kelepasan saat jemari Nolan masuk ke dalam pakaiannya lalu memijat sebelah dadanya lembut.

Adhya menelan ludah merasakan lehernya disasar tak terlewatkan bersamaan dengan buaian jemarinya.

Nafas Adhya kian memberat. Senyum Nolan di leher Adhya terbit. Akhirnya pancingannya berhasil.

Pagi kedua pasti akan sukses. Nolan janji akan pelan-pelan.

“Engh.. Ah..” Adhya meringis, dia masih belum terbiasa. “Gede banget sih!” keluh Adhya seraya meremas lengan Nolan kuat.

“Sstt.. Pelan kok, masih sempit.” Nolan meringis pelan, dia terus berusaha menekan miliknya. “Punya lo cantik, sugar.” pujinya dengan terus menekan pelahan.

Adhya merona dan meringis samar disertai desah halus saat jempol tangan Nolan membelai bulatan kecilnya yang begitu sensitif.

“Biar makin basah,” Nolan tersenyum, terus berusaha sambil mengulum bibir Adhya lalu berhasil.

“Agh!” Adhya memalingkan wajahnya hingga pagutan terlepas.

“Shh.. Rileks,” Nolan mengusap wajah Adhya. “Cengkraman lo astaga, enak banget. Hisap gue ah..” bisiknya dengan mengerang seksi.

“Berhenti ngomong jorok!” Adhya malu, tapi juga meremang. Membuatnya merasa kupu-kupu menggeliat begitu banyak.

MEMBELI DAN MEMASANG KONDOM

“Biasa aja dong jalannya, jangan kayak kingkong gitu,” Nolan terbahak pelan sambil ngemil dan selonjoran di sofa.

Sungguh santai hidupnya. Membiarkan uang yang mengejarnya bukan dia yang mengejar uang.

Adhy terpejam kesal, terus berjalan ke dapur tanpa bisa mengubah jalannya yang agak ngangkang itu.

Jika dirapatkan rasanya aneh, mana masih agak merasa mengganjal. Akibat pagi kedua setelah pagi pertama.

“Lo yang bikin gue gini!” semprot Adhya dengan membawa dua botol minuman atas perintah Nolan.

“Iya, sugar. Maaf ya,” Nolan menyambut botol di tangan Adhya sambil memiting leher Adhya tanpa tenaga lalu menyedot pipinya sekilas.

“Jorok! Ihh! Jijik tahu!” amuk Adhya semakin kesal. “Tahu ah! Mau ke Caca aja!” putusnya seraya beranjak marah.

“Caca kerja, emang lo pengangguran,” ledek Nolan dengan kekehan.

Lihat perubahan sikap itu! Saat minta jatah begitu lembut tapi setelah semua terjadi menyebalkan lagi.

“Aduh-aduh!” pekik Nolan.

Adhya memukulinya membabi buta lalu pergi dengan teramat kesal sampai mata berair. Kebiasaan. Marah pasti nangis.

Nolan menyimpan minumannya. Dia mengejar Adhya ke kamar.

“Ayo, kita ke perusahaan Caca,” ajak Nolan.

Adhya tetap tidak merespon.

“Ga mau?”

“Lo rese! Gue capek, jangan diajak bercanda dulu,” kesalnya dengan bibir bergetar menahan tangis namun air mata tetap berjatuhan.

“Ululuh, cengengnya..” Nolan menarik Adhya ke pelukannya dengan paksa.

“Gue serius!” pekik Adhya kesal. “Dari selesai mandi, lo terus aja usil! Gue tuh lagi banyak pikiran!” amuknya.

Nolan mulai serius. “Apa? Lo mikirin apa?” tanyanya.

Adhya memilih melepaskan pelukan Nolan yang awalnya susah menjadi mudah karena Nolan mengalah.

“Mau tidur. Nanti sore anterin ke Caca,” lalu melangkah lagi sambil menyeka air matanya.

Nolan menghela nafas sabar karena Adhya masih tidak terbuka lalu melirik kaki Adhya yang banyak jejak merah. Benar, yang membuat Adhya berjalan seperti kingkong dirinya.

“Ck! Lo enak sih, mana sah di mata hukum.” gumamnya.

***

Nolan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil menikmati senja dan Adhya juga tidak buru-buru.

“Beli makanan buat Caca, mampir dulu.”

Nolan tidak menjawab.

“Denger ga?” Adhya menatap Nolan agak kesal karena merasa diabaikan. Biasanya juga akan sangat berisik mengusilinya.

“Pake pertanyaan dong, boleh beli makanan dulu buat Caca? Jangan kayak preman, gue suami lo sekarang.” Nolan menaik turunkan alisnya usil.

Adhya menghembuskan nafasnya kesal. “Boleh mampir?” tanyanya setenang mungkin bukan selembut mungkin.

“Boleh, sugar.”

Adhya berpaling ke jendela. “Sugar-sugar! Gue bukan sugar!” dumelnya pelan. Biasanya juga bodo amat, mungkin karena kesal jadi terdengar menyebalkan.

“Beli apa?” Nolan mengusap-usap paha Adhya.

Adhya menatap itu. “Apa ke semua perempuan lo gini?” tanyanya lalu menatap Nolan tanpa menepis.

Dia takut dosa, sungguh. Temannya yang selingkuh dari suaminya kini hidup sangat apes yang dulunya hedon.

Nolan menggeleng. “Mana berani, mereka bisa aja lapor polisi terus minta nikahin. Makanya lo beruntung dapet gue,” kekehnya.

Adhya menghela nafas sabar. “Gue mau beli es krim, cemilan.” jawabnya.

Nolan pun sudah tahu harus kemana. Dia tersenyum geli, penasaran juga. Kenapa Adhya selalu tidak menolaknya walau tatapan menunjukan kekesalan.

Tapi jangan dulu di bahas.

“Ke sini aja,” Nolan membelokan mobilnya ke minimarket sejuta umat.

Adhya tidak menolak. Dia pun turun tanpa menunggu Nolan yang langsung mengekor santai.

“Lo minum?” tanya Adhya melihat bir dalam kaleng.

“Ga sering, sesekali buat angetin badan.” jawabnya yang tentu saja bohong. Dia buaya yang biasa nongkrong di club malam sambil minum-minum saking pengangguran.

Adhya pun memilih cemilan.

“Lebihin es krimnya, siapa tahu ada Azura,”

Adhya pun patuh. Nolan terlihat sayang sekali pada Azura, sama seperti Adit. Beruntung sekali Azura bisa disayang keduanya sebesar itu.

“Cemburu ya?”

Adhya melotot. “Dih, apa sih! Geer banget jadi orang!” kesalnya lalu segera ke kasir.

“Mba, istri saya cemburu, harus diapain ya?” Nolan mulai deh! Ramah dengan kaum perempuan.

“Gue ga cemburu!”

“Eh, lo istri gue? Cakep ya mba,”

Adhya menatap Nolan kesal. Mana banyak orang di belakangnya. Memalukan.

“Eh kemana? Tuhkan, cemburu,” kekeh Nolan.

“Mba, beli kondomnya, yang banyak, buat bujuk istri,” ujarnya sungguh tidak tahu malu.

***

“Dasar pengantin baru, beli banyak banget,” Azura tertawa geli, menatap Adhya yang kini mukanya begitu merah.

Mana sebelumnya Adhya menyerahkan itu sambil bilang dia membelikannya untuk mereka.

“Pamer banget,” Adit melirik Nolan yang pasti dia yang beli.

“Simpen di tas, sugar.” Nolan mengulum senyum geli melihat kepanikan Adhya yang plus malu itu.

Adhya hanya diam pasrah saat Nolan memasukan itu ke dalam tasnya. Dia sungguh malu lalu dengan kesal meraih dua es krim, menginjak kaki Nolan dan mengajak Caca.

Dosa menginjak suami sekali ga papa, dia kesal soalnya. Adhya tidak menoleh saat Nolan memanggilnya dengan tawa usil.

***

“Jadi apa yang mau diceritain? Kak Nolan selingkuh? Maksa atau?”

Adhya menggeleng. “Bukan itu.” lalu menunduk sesaat. “Takut hamil, kak Nolan selalu di-di da-dalem, baru sekarang beli pengaman,” jelasnya agak tergagap.

Caca mengangguk paham sambil menjilati es krimnya. “Kan ada suami, kenapa takut? Ga siap hamil atau ada alasan lain?” tanyanya.

Keduanya tengah duduk di ayunan yang ada di taman sambil menikmati senja. Bahkan Caca masih memakai setelan kerja karena baru pulang.

Untung mereka sahabatan. Tidak masalah soal lelah atau tidaknya selagi mereka membutuhkan satu sama lain.

“Kan pernikahan kita itu karena viral atau bisa dibilang paksaan, takutnya kalau hamil, dia selingkuh terus anak jadi korban, ga mau.” jujurnya dengan tulus.

“Iya sih, kak Nolankan buaya, frendly juga. Tapi tetep harus di obrolin, Adhya. Sekarang gini deh, kalau kalian terpaksa, pernikahan kalian ga ada harapan, saat kalian gituan bisakan? Kalau engga bisa, pisah kamar atau drama lain yang intinya kalian ga mau barengan itu baru ada kemungkinan cerai,”

Adhya diam saja, mendengarkan Caca dengan suara anak kecil itu berbicara serius dan dewasa.

Penampilan memang agak bocah, tapi dibanding Adhya. Caca lebih dewasa.

“Obrolin, Adhya.”

“Nanti Kesinggung dosa gimana? Temen kita si Ayu lo tahu sendiri hukuman dosa ke suaminya,”

“Jangan-Jangan waktu begituan ga nolak takut dosa?”

Adhya mengangguk, padahal dia belum siap. Tapi enak kok.

“Lucu banget sih musuh seranjang satu ini!” Caca memeluk Adhya gemas. “Adhya, obrolin sama Kak Nolan apapun itu, kalian nikah sah dimata hukum dan agama. Kalau masih bisa dijalanin lebih bagus dari pada cerai, mau emang jadi janda?” goda Caca.

“Ga lah!” Adhya agak salah tingkah.

Nolan di balik pohon tersenyum manis. Benar dugaannya. Adhya takut hamil. Pantas saat pelepasan di dalam, Adhya selalu diam termenung.

Makanya Nolan beli Ko*dom karena itu. Untuk jaga-jaga juga.

***

“Hh.. Hh.. Pakein k*ndomnya,” pinta Nolan sambil memberikan satu pada Adhya.

Adhya yang terengah lemas mengerjap. Dia memasangnya? Apa Nolan tahu kegelisahannya?

Nolan tersenyum. “Kita banyakin berduaan dulu, baru nanti pikirin anak. Orang tua pasti maklum,” yakinnya.

Adhya tersenyum tipis. Apa Caca memberitahu Nolan? Atau memang Nolan peka seperti pada tangannya yang keseleo?

Adhya menghangat. Dia mengangguk sambil membuka bungkusan itu.

Nolan menatap wajah Adhya yang lebih tenang itu. “Akhirnya kita malam pertama,” kekeh Nolan sambil memijat gemas sebelah dada Adhya.

Nolan membantu Adhya untuk duduk.

“A-Apa ga bisa sendiri?” Adhya menelan ludah, malu karena ini pertama kali melihatnya dengan jelas.

“Ga mau. Ga akan pake kalau lo yang ga pasangin,” Nolan tersenyum manis khasnya lalu mengusap pipi Adhya sekilas.

Kan, jika sedang menerima Jatah begitu tingkahnya. Besok pasti akan usil dan menyebalkan lagi.

Dengan gemetar Adhya memegang itu, mulai memasukannya ke dalam balon karet itu. “Gi-ginikan?” tanyanya dengan wajah memerah malu.

Nolan terpaku dengan wajah gugup Adhya, begitu cantik hanya terbias cahaya lampu tidur.

“Gini?” Adhya melepaskan tangannya setelah berhasil.

Nolan menatap miliknya, membenarkannya lalu rebahan di kasur. “Naik,” pintanya.

Adhya semakin bersemu. Dia akan liar di atas Nolan lagi?

“Nolak suami dosa.” ucap Nolan dengan menahan geli karena mengingat saat menguping di rumah Adit.

Dan lucunya Adhya naik dan seperti saat itu. Dia memasukannya sendiri.

Nolan membingkai wajah Adhya setelah keduanya melenguh saling mengisi. Nolan mulai bergerak tanpa berhenti menciumnya.

Bersambung… MAIN CEPAT DAN JANGAN SELINGKUH

“Jalur belakangkan? Udah zamannya kok, asal bertanggung jawab sama kerjaan,” Caca mengusap sekilas bahu sahabatnya.

Adhya dan Caca baru selesai membeli pakaian kerja untuk Adhya mulai bekerja besok di tempat yang sama dengan Caca.

“Akhirnya ya, Ca. Mimpi kita kerja bareng setelah lulus kuliah terkabul, dipikir gagal gara-gara diseret nikah sampe viral,”

Caca mengangguk, dia senang jadi ada teman nanti. Bahkan pulang juga searah bisa bareng dan Caca nebeng pada Nolan yang katanya akan sering menjemput Adhya.

“Lama banget ibu-ibu belanja, bikin apa beli?” Nolan berhenti melangkah di depan keduanya.

“Dih, siapa suruh nungguin, udah dibilang bisa pakai taksi kalau pulang,” oceh Adhya dengan setenang mungkin walau tetap agak sewot.

Nolan menarik pinggang Adhya gemas. “Iya, gue salah karena mau nunggu istri,” lalu tersenyum manis.

Adhya mendengus, memilih mengabaikan senyum buaya itu.

“Romantisnya, tapi kali ini cuma ke Adhya kan?” Caca tersenyum dengan tatapan menyipit penuh selidik.

Nolan mengulum senyum. “Kayaknya,” jawabnya usil.

“Apa?!” pekik Caca.

“Udah, sekarang masuk aja, Ca. Jangan urus buaya,” Adhya menarik pelan lengan Caca agar segera masuk ke dalam mobil.

Nolan mengangkat pinggang Adhya sampai serambi lempitik kaget, padahal Adhya akan menyusul Caca duduk di jok belakang.

“Dikata supir? Sebagai istri harus peka, duduk di samping suami kalau ga mau durhaka, ga usah manyun.” Dengan modus Nolan mengecup bibir Adhya sampai terdengar suara kecupan nyaring.

Keduanya pun masuk dengan Adhya cemberut menahan kesal.

“Jadi Kak Nolan masih main cewek walau udah nikah? Woaahh.. Enak aja sakitin sahabat Caca,”

“Gue ga sakit, Ca. Kalau pun kena karma kan dia, tenang aja,” balas Adhya.

Nolan terkekeh geli. “Ga lah, Ca. Dia enak, udah cukup.” lalu mengedipkan sebelah mata pada Adhya sekilas dan fokus mengendarai lagi.

Adhya menganga sesaat dengan kesal plus jijik. Maksudnya enak pasti kearah sanakan? Ga tahu malu emang!

“Caca ragu, awas ya! Jangan cuma mau enaknya aja!”

“Mau orangnya juga kok,” Nolan melirik genit sekilas.

Adhya memilih berpaling ke jendela dari pada membalas tingkah menyebalkan Nolan yang tidak bisa diajak serius.

“Apa Adhya boleh cek ponsel?”

“Boleh kalau dia mau,” santai Nolan.

“Tuh, Adhya! Cek ponselnya, potong aja anunya kalau selingkuh,”

“Aduh ngilu, Ca!” kekeh Nolan.

“Ga, udah gue bilangkan, ada karma, dia yang ngerasain kok,” Adhya masih menatap pemandangan lewat jendela.

Nolan mengulum senyum, Adhya tipe kesukaannya. Tidak rewel, patuh.

Adhya menatap jemari Nolan yang menautkan jemari dengannya. Begitu erat dan saling mengisi dalam genggaman itu.

“Nanti ada hadiah, di lemari kiri, semoga suka,”

Adhya mengernyit, tumben sekali. Apa nanti malam dia akan digempur lagi?

“Gue ga ulang tahun,”

“Kan besok mulai kerja,” Nolan mengusap jemari yang dia genggam itu dengan fokus pada jalanan, menyetir dengan satu tangan begitu ahli.

“Aciee.. Kok jadi baik kasih-kasih kado,”

“Kan udah jadi istri, makanya Caca cari suami sana,”

“Nyebelin, udah tahu belum ada jodoh!” semprotnya.

***

“Di lemari kirikan?” Adhya membuka itu dan tidak ada apapun. “Ngibul pasti si pa’aya!” kesalnya.

“Apa sih bu’aya,” sambar Nolan terkekeh. “Salah sebut aja, langsung manyun gitu, jelek tahu.” godanya sambil membuka lemari lain.

Dengan dengusan kesal Adhya meraih kotak yang cukup besar dan bermerk. “Sombong amat beliin merk ini,” ledeknya.

Nolan hanya terkekeh tanpa tersinggung. Menatap Adhya yang membuka satu persatu penghalang itu.

“Tas?” Adhya masih berusaha membuka semuanya. “Woah.” refleksnya.

Tas putih dengan desain simple yang pernah dia tandai. Bagaimana bisa Nolan tahu?

“Caca?” tanya Adhya sambil menatap Nolan yang menjulang tinggi.

Nolan mengangkat pinggang Adhya hingga terduduk di meja rias yang untungnya skincarenya tidak ada di sana lagi karena tingkah berc*nta Nolan.

“Bukan, ngintip aja waktu lo main Insta, lo ngomong bagus, mau..”

Adhya yakin, saat itu sangat pelan mengucapkannya. Apa Nolan dekat sampai bisa mendengar jelas?

“Ekhem.. Oke, makasih. Gue ga akan bahas soal lo yang ngintip gue lagi main ponsel,” Adhya setenang mungkin walau berdebar.

Senang menerima tas keinginannya dan juga merasa aneh mendapat perhatian dari musuhnya dulu.

“Hm, mana ciumnya?”

“Apasih, biasanya jug—m?” kagetnya saat bibir di tabrak begitu saja.

“Mau di sini sambil duduk? Di kasur? Di bathtub atau?”

“Kasur tapi pelan.” jawab Adhya dengan cepat agak malu.

Nolan pun menggendong Adhya, membuat Adhya membelitkan lengan ke lehernya takut Nolan jahil menjatuhkannya.

“Pelan lama, ga masalah? Besok kerja,” Nolan melucuti pakaiannya sendiri lalu merangkak mengukung Adhya.

“Ya-yaudah, cepet tapi kalau udah bilang sakit pelanin,”

Nolan tersenyum di lekukan leher Adhya. Kini di antara mereka ada pembahasan soal berc*nta. Bukan perdebatan yang tidak penting.

“Mau gaya apa aja?” Nolan mengulum senyum geli.

“Asal jangan diiket-iket kayak waktu—” Adhya memilih berhenti.

Nolan tertawa pelan di depan wajah Adhya yang memerah. “Diiket karena cakar-cakar, masih basah luka sebelumnya, bukan mau di BD—”

Adhya menutup cepat mulut Nolan. “Jangan dibahas, pokoknya cepet.” tegasnya.

***

Wajah Adhya terbenam di bantal. Mendesah tertahan dengan tubuh meliuk, pinggulnya diangkat naik dan dikuasai Nolan.

Nolan bergerak cepat, menusuknya dalam hingga ke titik terujung.

Adhya terus terpejam merasakan itu. Ngilu-ngilu sedap. Untungnya dia mulai beradaptasi dengan berbagai gaya.

Nolan tidurkan Adhya sampai menyamping lalu kembali menarik dorongkan miliknya, menatap Adhya yang meremas bantal dengan wajah panasnya yang cantik.

“Hh.. Hh..” Adhya merem melek, mengusap lengan Nolan yang jemarinya meremas sebelah dadanya yang terguncang.

“Hh.. Adhya..” Nolan terdongak sekilas lalu mengangkat sebelah kaki Adhya.

Adhya kian merem melek. Kakinya Nolan kecupi dengan gerak yang temponya kian cepat dan dalam.

Suara percintaan begitu menggema, membuat keduanya meremang kian tak bisa membendung rasa yang nikmat.

Nolan menindih Adhya, mengajaknya berciuman sambil beristirahat sejenak, membiarkan Adhya merasakan pelepasannya yang entah keberapa.

Adhya mulai melenguh dan mendesah lagi saat Nolan bergerak dalam pelukannya. Kedua kaki pun membelit ke pinggang Nolan.

Nolan berhenti menciumnya, beralih saling menatap dan mendesah.

“Kalau panas gini Hh.. Menggiurkan, sugar.”

***

“Udah siap?” Nolan memainkan kunci mobil lalu mengintip wajah Adhya yang dirias.

“Udah.” Adhya merapihkan semuanya, memastikan tidak ada yang tertinggal dan penampilannya rapih.

“Mana cincin nikahnya?”

“Harus?”

“Oh mau keliatan jomblo gitu?” Nolan tersenyum usil lagi.

“Ck! Berliannya kegedean! Makanya cari yang simple!”

“Itu cincin nyokap! Kita buru-buru nikahnya, sugar,” lalu terkekeh geli.

Adhya memilih tidak berdebat lagi, memasang cincin nikahnya. Pasrah juga saat Nolan memeluknya dari samping.

“Ga boleh selingkuh kalau ga mau gue selingkuh.” bisik Nolan dengan mencuri ciuman panjang di bibir Adhya.

Yang berakhir membuat Adhya ngamuk karena lipstiknya rusak.

BULAN MADU DUA HARI

Adhya berjalan beriringan dengan Caca dan Mba Dela, menuju kantin untuk makan siang. Adhya terlihat berbinar senang.

Mungkin karena bisa bekerja di bidangnya, dengan mudah tanpa harus melewati sesi wawancara dan sebagainya.

Sungguh zaman yang tidak adil. Adhya tahu itu tapi dia tidak bisa berhenti, ini mimpi dari lama. Dia hanya akan bekerja dengan baik sebagai gantinya.

“Dah nikah ya, udah cukup umurnya kok,” Dela tersenyum ramah. Dia rekan kerja paling ramah yang Adhya sukai.

Semoga semua orang di sini tidak ada yang mengenalinya yang sempat viral. Semoga setiap harinya setenang ini walau pekerjaan kian menumpuk.

“Nanti kalau ada yang ga ngerti bilang ke Caca, atau mba Dela.. Dulu Caca juga di bantu sama mba Dela..” terang Caca.

Adhya mengangguk. Mereka pun mulai meraih piring, mengambil beberapa sendok nasi dan lauk pauk yang berjajar.

“Hari ini banyak yang enak,” ujar Caca. “Oh, mungkin hari senin,” kekehnya.

Adhya tidak terlalu peduli, makan apapun dia suka. Dari pagi dia gugup, membuatnya banyak berpikir sampai selapar ini.

***

Adhya terus makan, semua orang juga sama sambil berbincang membahas apapun.

“Boleh duduk?” izin Andi dengan tersenyum ramah.

“O-oh silahkan,” Adhya balas tersenyum. Dia kenal juga pada sosok maskulin namun ramah itu.

Entah kenapa, Adhya merasa melihat tingkah Nolan dari diri Andi dan Caca pun memberitahu kalau Andi memang versi Nolan di sini.

“Enak ya makanan hari ini,” ujar Andi basa-basi.

“Iya, mas An..” sahut Caca lalu tersenyum, dia ingin diperhatikan juga. Dan menjaga Adhya dari pria sejenis Nolan lagi. Untuk Nolan dia kecolongan. Tapi tak apa, mereka sudah sah menikah.

“Gimana hari ini kerjaan, Ca? Udah biasakan?” Andi mengaduk makanannya.

“Berat, mas An.. Makin banyak kesalahan, tapi udah bisa aku atasi.” jawabnya.

“Kamu gimana? Hari pertama kerjanya? Nyaman?” Andi beralih pada Adhya.

“Nyaman, mas.” lalu tersenyum. “Ada Caca dan Mba Dela yang bantu,” lanjutnya.

Dela hanya makan, menatap ketiganya sesekali lalu membalas dengan senyuman tipis saat namanya terpanggil.

“Bagus, kalau butuh bantuan aku siap bantu,”

“Makas—sebentar,” Adhya merogoh jas kerjanya saat ponselnya berdering.

Nama Nolan tertera, dia lupa jika istirahat akan melakukan panggilan telepon. Memang dasar Nolan, kok jadi aneh dan ingin berperan sebagai suami sungguhan, mana membahas soal selingkuh yang membuat Adhya merinding pagi-pagi.

“Hallo,” Adhya tidak beranjak, dia hanya keluar dari obrolan.

Caca, Dela dan Andi terus berbincang tentang apapun.

“Kenapa ga telepon?”

“Emang harus?”

Hening sesaat di sebrang sana. “Lo mau di pecat ya karena udah durhaka sama suami,” kekeh Nolan. “Gue gabut di rumah, uang bulanan semua bisnis udah masuk, mau jalan nanti?” tawarnya.

Adhya mendengus dalam hati, siapa suruh bergaya pengangguran. “Boleh,” jawabnya.

“Gimana kerjanya?” Nolan rebahan dengan hanya menggunakan boxer.

“Berjalan baik, banyak di bantu Caca sama mba Dela..” jawabnya sambil melanjutkan makannya.

“Lembut banget ya suara lo kalau di ponsel, bikin ngaceng aja,” kekeh Nolan sambil mengintip celananya yang mengembung.

“Ck!” Adhya melirik sekitar refleks. “Jangan mulai! Tutup ya?” ancamnya walau bernada lembut.

“Ck! Jangan dulu, gue denger suara cowok, deket banget, nyebut-nyebut nama Caca,”

“Iya, nanti di jelasin di rumah aja,” Adhya tak enak, kenapa juga Nolan bertingkah kepo begitu.

“Yaudah lanjut makan sana, gue mau tidurin dia yang bangun gara-gara lo. Yang betah ya, sugar. Kalau ga kuat kerja bilang,”

Adhya terdiam sejenak menerima perhatian yang terdengar tulus itu.

“Biar gue yang kerja di atas lo aja, sugar..”

Adhya langsung tersadar dari debaran sebelumnya. Dia segera menutup panggilan itu.

“Suami?” tanya Andi.

Adhya tersenyum tipis dan mengangguk lalu memulai makan.

“Adhya baru masuk kerja harus berhenti dua hari ya, besok sama lusa tanggal merah,” kekeh Dela. “Mau liburan kemana? Kalian ada rencana ga?” tanyanya.

Adhya menggeleng. “Belum ada,” jawabnya.

“Gimana kalau kita pergi liburan?” Caca begitu riang semangat. Bodo amat dengan tingkah buaya Andi yang menyingkirkan nasi di sudut bibirnya.

“Ga tahu, Nolan apa kasih izin atau engga.” jawab Adhya. Menyebalkan memang harus serba izin tapi dia tidak mau ambil resiko seperti Ayu yang menjadi istri durhaka.

***

“Hai, istriku..” Nolan menyambut sambil memeluk Adhya yang hanya datar. Merinding juga.

“Lo kerasukan?” bisik Adhya di pelukan Nolan yang kini melepaskan pelukan dan mengajaknya masuk mobil.

“Caca mana?” Nolan mengabaikan pertanyaan Adhya.

“Sama Andi dan mba Dela pulangnya,” jawab Adhya yang kini masuk ke dalam mobil Nolan.

Adhya agak terheran, kenapa Nolan banyak tersenyum, membukakan pintu. Pasti sedang ada maunya.

Tebak Adhya.

“Dua hari libur,” Nolan bersuara setelah setengah perjalanan. Adhya hanya rebahan menahan ngantuk saking lelah. Kerja memang tidak mudah walau di kantoran.

Atau mungkin karena pertama kali.

“Iya tahu, terus?” Adhya terlihat tak bertenaga di serang ngantuk.

“Honeymoonlah, kita ke hotel,”

“Apa? Gue belum siap-siap!” raung Adhya. “Pakaian gue gimana?” semprotnya.

Nolan tersenyum manis dengan menyebalkannya. “Kan polosan terus, pake jubah mandi udah cukup, orang cuma dua hari,” jawabnya santai.

“Ga mau!” amuk Adhya.

“Nanti bisa beli online, pokoknya soal itu gampang,”

Adhya langsung tidak ngantuk saat mobil Nolan benar-benar masuk ke bandara, dengan koper sudah siap dan mobil dibawa sopir panggilan. Hingga perjalanan dilalui, mereka pun berada dalam hotel bintang lima.

***

Nolan merangkul Adhya yang menekuk wajahnya, dia masih kesal karena terlalu mendadak. Padahal siap-siap dulu tidak akan lama.

Walau kesal, Adhya tetap menikmati dan menyukai isi hotel bintang lima ini. Begitu mewah, pelayanannya begitu baik selama berjalan melewati lobi.

“Gabut banget gue, liburan jauh lo ga akan mau apalagi baru pertama kerja,”

Adhya mengangguk. “Bagus deh lo paham,” balasnya agak sebal.

Nolan mengulum senyum geli, Adhya kalau marah rasanya ingin dia gigit.

Keduanya pun sampai di dalam kamar hotel yang berbau pengantin itu. Banyak bunga bertebaran, dengan dua angsa terbuat dari handuk di atas kasur.

Kamar yang begitu luas, ada ruang tamu, dapur, pokoknya seperti rumah. Nyaman sekali.

“Suka?” Nolan memepet, membelit tubuh Adhya.

Adhya mengangguk tidak bohong. Dinding kaca di sebelah sana menunjukan indahnya kota yang terbias senja.

***

Adhya pasrah tubuhnya terguncang hebat, Nolan terlalu bersemangat.

Nolan kecupi kaki Adhya yang memanjang disetiap sisi bahunya.

Adhya merasa pelepasan, namun Nolan tidak berhenti lama membuatnya kembali pelepasan lagi.

Astaga..

“Aghh.. Sugar..” Nolan mengecupi kaki Adhya, meninggalkan banyak jejak di keduanya tanpa berhenti membuat guncangan yang hebat.

“Nolan.. Istirahat dulu,” Adhya menggeliat gelisah, meremas bantal.

Nolan pun berhent.

“Kecepetan!” amuk Adhya lemas.

Nolan tersenyum dengan gantengnya. Menindih Adhya lalu mengusap kepalanya. “Sakit?” tanyanya serak.

“Udah engga terlalu,” jujur Adhya.

Nolan pun kembali bergerak, kali ini lebih pelan. Membuat keduanya kembali melenguh dan mendesah.

“Abis ini makan malam,” bisiknya.

Bersambung… DIBAKAR PAGI BUTA

“Kenyang?” Nolan bersandar di punggung kursi restoran dengan santai, menatap Adhya yang bersandar ke kursi, membuat kepalanya bersantai di lengan Nolan yang merangkul kursi yang di duduki Adhya.

Adhya tidak peduli, kursi berbahan kayu itu jadi empuk akibat ada lengan Nolan.

“Mau jajan?” tanya Nolan saat Adhya tidak menjawab pertanyaan sebelumnya dan sibuk sendiri.

“Engga, kenyang.” singkat Adhya lalu terdiam menatap orang lalu lalang.

Nolan juga memilih diam, menatap Adhya yang terlihat menarik.

“Malem lebih ramai ya, ga panas mungkin.” celetuk Adhya setelah cukup lama diam.

“Hm.” Nolan hanya merespon begitu, masih asyik mengamati bahkan menghitung tahi lalat di wajah Adhya dan di lehernya yang memanjang karena kepalanya bersandar di lengan.

Ada jejak merah yang muncul, mungkin karena lupa atau terlalu tipis Adhya menutupinya dengan entah apa itu, Nolan tidak tahu.

Jemari tangan Nolan terulur mengusap leher Adhya, memudarkan hasil riasannya hingga tanda merah satu nampak.

“Ngapain?” Adhya melirik galak karena ini tempat umum.

“Noda,” jawabnya asal lalu menjauhkan lagi tangannya.

Adhya tidak membahas lagi, dia beralih menatap langit malam. Makan malam ditempat terbuka memang dingin tapi indah, apalagi malam ini langit cerah bertabur bintang.

“Dingin banget, lo ga dingin?” Nolan membenarkan jaket Adhya yang terbuka asal menjadi tertutup rapat dengan sebelah tangan.

Adhya mengambil alih, membenarkannya. Nolan pun menarik tangan yang dijadikan bantal oleh Adhya.

“Kita beli yang anget-anget.” Nolan beranjak untuk membayar.

Adhya menatap Nolan yang begitu ramah, perempuan yang sedang diajak bicara oleh Nolan terlihat tertarik. Nolan memang memikat.

Adhya menghela nafas panjang. Memiliki Nolan pasti akan berat. Banyak sekali saingan secara tidak langsung. Untung dia tidak peduli.

“Iya, istri.” Nolan tersenyum manis khasnya, kasir cantik itu terpesona dibuatnya. “Cantikan, mba. Baik banget dia. Eh, makasih ya.. Makanannya di sini mantap,” Nolan acungi jempol lalu pergi meninggalkan kesan baik.

“Sayangnya udah ada pawang, gue perempuan berkelas, ogah jadi selingkuhan,”

“Ayo, sugar.” Nolan mencolek dagu Adhya dengan gemas kebiasaan dulu mulai tampak lagi membuat Adhya mendelik kesal dan beranjak.

***

“Biar anget, diem!” Nolan memaksa merangkul Adhya.

Keduanya berjalan menyusuri pedagang kaki lima yang begitu ramai pembeli. Kepulan asap dari makanan terlihat dari beberapa tempat, membuat wangi di sekitar menjadi enak menggiurkan.

Adhya menelan ludah. “Kenyang tapi mau sate,” Adhya menepuk perut Nolan sambil mendongak menatapnya. “Lokan perut karet, gue mau 10 tusuk, lo juga beli biar ga malu makan di sini, mau ga? Wanginya enak banget.” terangnya hampir ngeces saking ingin.

Tanpa menjawab Nolan membawa Adhya ke tempat keinginannya dan mulai memesan sate. Bagi Nolan itu tidak ada apa-apanya karena hanya daging kecil yang dibakar. Kalau nasi, Nolan juga tidak akan sanggup.

“Bukannya ga bisa ada asap?” Nolan memperhatikan wajah Adhya yang mengernyit saat asap menyapa wajahnya beberapa kali.

“Henak.. Hh…” sesak juga. Memang ada-ada saja Adhya itu.

“Kenapa, mba?” tanya pelayan pria yang menyimpan beberapa gelas berisi air. “Anginnya sedang besar, biasanya tidak begini,” terangnya.

Nolan melebarkan jaket, menarik Adhya agar bernafas di dadanya. Jangan terlalu menghirupnya langsung.

“Iya, pak. Ga papa,” balas Nolan ramah. “Katanya enak, wangi, tapi malah susah nafas, emang ga suka asap aja dari dulu.” terangnya.

Keduanya berbincang tanpa canggung.

Adhya terdiam, lumayan enak pernafasannya. Dia jadi malah sibuk mendengar detak jantung Nolan.

Nolan begitu gampang bergaul, apakah banyak hati yang terluka karena ramahnya dan sukanya Nolan terhadap sentuhan?

Nolan sungguh sangat suka menyentuh bahkan dari dulu. Dia tidak ragu memegang tangan membantu untuk bangun atau usil apapun itu, mengusap kepala jika gemas, banyak lagi.

Adhya tidak heran jika setelah menikah, Nolan tidak bisa untuk tidak menyentuh. Dan setelah terjadi, Nolan semakin lengket.

Adhya tidak mendengar Nolan berbincang lagi.

“Betah bener di dalem,” kekeh Nolan.

Panjang umur.

Adhya terdiam sejenak lalu tersenyum usil. Dia jilati dada Nolan sebisa mungkin tidak menimbulkan gerakan agar yang melihat di sekitarnya tidak ambigu.

Ada rambutnya juga yang menghalangi.

Nolan sontak tersentak samar, menunduk lalu kembali menatap lurus sambil menggigit bibir bawahnya menahan gelitikan dan juga senyuman.

Usil mereka kini berbeda. Dulu adu fisik atau saling mengejek jika bertemu. Sekarang menjurus ke hal dewasa.

Seru juga.

“Pesanan datang,” Nolan menepuk punggung Adhya, agar berhenti menjilati kaosnya yang terasa lembab.

Adhya menjauh, menegakan duduknya seolah tidak terjadi apa-apa. Nolan menatap sambil mengulum senyum.

“Nakal ya, sugar?” bisik Nolan setelah pelayan pergi sambil mengintip wajah Adhya yang datar dan fokus pada sate.

Nolan meremas paha Adhya gemas sekilas, membuat Adhya melotot samar dan kaget.

“Makan!” Nolan berseru sambil menampar pelan paha Adhya.

“Iya!”

Keduanya asyik makan, Nolan juga menikmatinya. Pilihan Adhya tidak salah. Memang enak. Bahkan sate Adhya sisa dua dia habiskan.

“Kenyang, puas banget!” Adhya menepuk pelan perutnya lalu meraih tissue dan menyeka mulutnya.

Nolan menyeka mulutnya lalu membayar. Keduanya kembali berjalan, Nolan merangkul lagi dan Adhya sudah tidak peduli.

Keduanya hanya melihat-lihat karena perut tidak bisa menampung itu semua. Mungkin besok, malam terakhir mereka akan kembali.

“Beres makan yang di bakar-bakar, saatnya gue bakar lo nanti jam 1 pagi, sekarang kita bersih-bersih terus tidur.” Nolan mencubit gemas sebelah pipi Adhya. “Lo lusuh, ngantukan?”

Adhya tidak menjawab, dia malah meraih dan menggigit lengan terbalut jaket yang jemarinya mencubitnya tadi itu.

Nolan hanya tertawa pelan, yang Adhya gigit itu jaketnya.

“Jauh amat kita jalan!” jengkel Adhya setelah melepas gigitannya dan menghempas lengan Nolan.

“Gendong?”

Adhya menatap Nolan tertarik. “Di punggung,” jawabnya.

“Oke, silahkan tuan putri,” Nolan langsung menyiapkan posisi.

Adhya melompat, memeluk leher Nolan dan tubuhnya pun terangkat. Enaknya, kakinya sudah lumayan berkedut.

Keduanya diam beberapa saat, menikmati suasana di jalan, lobi hingga keluar dari lift menuju kamar hotel yang mereka tempati.

“Jadi, siap di bakar nanti?”

Adhya mendengus, menatap wajah Nolan dari samping. “Ga mau durhaka, jadi siap aja.” jawabnya.

Nolan terkekeh dengan tampannya. “Jadi, ga dari hati gitu?” tanyanya.

“Ck! Nyari topik biar berantemkan? Ga! Males!” Adhya memilih mengalihkan dan diam.

Dia suka kok, di tambah Nolan sudah suaminya. Mau setidak nyaman apapun, pasti akan terbiasa.

“Gue akan berusaha, pernikahan ini harus sampai gue ga ada di dunia ini. Lo gimana? Mau ikut bantu atau ngejar Adit?”

1

Adhya melotot samar, kenapa membawa Adit?

“A-Apa sih!” Adhya segera lompat dari gendongan dan masuk ke dalam kamar.

Nolan tersenyum geli. Padahal dia sedang serius.

***

Adhya pasrah saja. Nolan benar-benar membakarnya di pagi buta. Adhya telungkup di kasur, membiarkan pipi kirinya penyek di bantal.

Adhya terdongak, membuat Nolan meraih lehernya, mengusapnya lalu menabrakan bibirnya dengan rakus.

Nolan terus menggerakan pinggulnya maju mundur menghantam pantat Adhya yang bergetar karena ulahnya.

Adhya menelan ludah, merem melek setelah ciuman Nolan berpindah ke bahu dan punggungnya.

Posisi ini baru. Rasanya memang belum terbiasa tapi menggetarkan. Rasanya Nolan memuja bagian tubuh belakangnya.

Keduanya membakar pagi buta menjadi panas hingga matahari mulai mengintip barulah selesai. Nolan dengan ronde yang tak cukup satu itu.

Nolan mengambil minum, tanpa mengganggu Adhya yang terlelap pulas diatas kasur yang seperti kapal pecah.

HARI TERAKHIR DAN KEMBALI BEKERJA

“Menurut gue sih, jangan ya..”

Adhya menoleh dan mengikuti gerak Nolan yang berdiri di sampingnya yang tengah membereskan semua barang yang dia bawa atau dia beli di sini.

“Jangan berharap sama Adit lagi,” ujar Nolan di depan wajah Adhya dengan menyebalkannya. Mulai kumat.

“Ck! Ga jelas,” dumel Adhya dan memilih mengabaikannya.

“Adit cuma fokus sama Azura, jangan tutup mata soal itu. Fokus pertama Caca, kedua Azura. Jadi, lo ketiga kalau jadi,”

“Apa sih! So tahu!” Adhya memukuli Nolan yang hanya tertawa dan ndusel padanya dengan menyebalkannya. “Jauh-jauh sana!” kesalnya.

“Adit loyo, kerenan gue.. Percaya deh,” Nolan malah kian memepet, membuat Adhya menipiskan bibir saking jengkel.

“Terus? Ga pe.du.li!” Adhya berpaling jutek dan mulai melipat lagi.

“Yang sampe kelojotan, Aghh.. Nolaann”

Adhya sontak menoleh tajam. Emang hanya ingin usil saja dia, Adhya yakin. Nolan ingin membuatnya marah.

“Canda,” Nolan mencolek puncak dada Adhya dari luar pakaiannya. “Apa sih natapnya gitu amat,” godanya.

Memang ingin ditinju.

“ADUH!” pekik Nolan yang gagal menangkis tinjuan Adhya di perutnya, tidak terlalu kuat memang tapi lumayan lah.

“Lo beresin sendiri sana!” Adhya merajuk, dia tidak mau melanjutkannya. Dia BETE!

“Ga bisa, sugar.” Nolan membelit perut Adhya lalu menggendongnya agar kembali ke tempat. “Lanjut, gue makan duluan.”

“Nah, gitu dong,” gumamnya.

Nolan tersenyum, menggigit pelan pipi Adhya lalu berlari kabur.

***

“E-engga,” Adhya menggeleng, menatap Nolan agak salah tingkah. Dia duduk di pangkuan Nolan setelah selesai bercinta untuk yang terakhir kalinya. “Gue ga suka kak Adit,” lanjutnya dengan agak gugup.

Nolan tahu itu kebohongan. Dia bersandar santai pada sofa dengan menatap Adhya di pangkuannya polosan.

Adhya memeluk dadanya agak malu. “Ga usah bahas kak Adit, mau suka atau engga emang bisa sama-sama? Kak Adit terlalu baik buat jadi pembinor,” sambungnya begitu penuh bela.

“Kan, suka berarti!” tunjuk Nolan sambil tertawa puas lalu meremas sisi pinggul Adhya gemas dan mengusap pahanya.

“Ih! Ga gitu! Ck! Nyebelin! Beres bercinta pasti nyebelinnya kumat lagi!” celoteh Adhya dengan begitu kesal.

“Yaudah, ga mau nyebelin caranya bercinta lagi,” Nolan menggerakan miliknya lagi yang memang masih tertancap dalam kehangatan itu.

“A-Apa? Hh..” Adhya meremas bahu Nolan, apa sungguh akan melakukannya lagi?

“Bentar kok, sugar. Rileks,” Nolan merebahkan Adhya di sofa. Dia sasar tubuh atasnya dengan terus menumbuknya.

Adhya merem melek dalam desahnya yang panjang tak berjeda.

“Sugar,”

“Kenapa manggilnya gula mulu sih, Ogh..” Adhya mengernyit gelisah, meremas punggung Nolan dan mencakarnya, untung tidak ada kuku.

“Karena manis, segalanya manis, shhh.. Enaknya, sugar,” bisik Nolan menggeram rendah tepat di samping telinga Adhya.

“Pelan,” rintih Adhya saat Nolan terlalu liar.

Nolan menurutinya, mengangkat wajah lalu mengulum bibir Adhya yang selalu manis. Tidak salah dia menamainya sugar.

Adhya bergetar. Nolan berhenti sejenak, mengangkat Adhya menjadi duduk di pangkuannya. Mereka kembali bergerak pelan.

Wajah panas Adhya begitu candu. Terlihat sangat menggairahkan. Begitu memerah cantik dengan kedua matanya yang sayu.

Adhya tak tahan, tapi tidak bisa berhenti naik turun di pangkuan Nolan tanpa malu seperti biasa.

Nanti akan malu jika semua selesai. Mungkin belum terbiasa. Mereka masih dibilang pengantin baru.

Nolan merebahkan Adhya lagi, dia ingin bergerak cepat dengan bebas.

Keduanya terus bergelung dalam sofa, begitu romantis ditemani senja. Penerbangan mereka memang Penerbangan malam dengan harapan pagi sampai dan Adhya langsung pergi bekerja.

Adhya terengah, tubuhnya yang bergesekan dengan tubuh kekar Nolan begitu menggelitik membuatnya semakin bergairah.

Apalagi di bawah sana, Nolan yang kian hari kian menunjukan taringnya. Dia yang suka cepat dengan miliknya yang di atas rata-rata.

Benar kata Nolan. Walau dia belum pernah dengan Adit, tapi sepertinya Nolan yang terbaik.

***

“Hai, gimana bulan madunya?” tanya Adit sambil membantu membawa koper yang Adhya bawa.

Adhya menelan ludah. “Gitu, rame.” jawabnya pelan agak gugup, mungkin karena tatapan usil Nolan saat ini yang membuat Adhya canggung.

“Dia kangen sama lo,” Nolan melirik. “Eh maksudnya kita kangen sama lo, terutama gue,” Nolan merangkul Adit usil bagai banci.

“Jijik banget, terlalu banyak asupan ya, Adhya, jadi kaya orang gila,” kekeh Adit sambil menyingkirkan Nolan.

Nolan melirik Adhya yang menatapnya tajam nan kesal. Nolan tersenyum sambil merangkulnya.

Nolan membungkuk. “Apa, sugar?” bisiknya di telinga Adhya.

“Lo rese!” geramnya lalu mendatarkan wajahnya.

“Langsung kerja?” tanya Adit setelah selesai memasukan semua koper.

“Iya, masa baru sehari masuk langsung izin,”

“Bolehlah, selagi ada Nolan,”

“Tuhkan,” sambar Nolan.

“Ga, udah cukup dimasukinnya pake koneksi, ga mau!” tolak Adhya agak bete.

“Iya, oke.” Nolan menggiring Adhya untuk segera masuk ke dalam mobil.

“Nanti hari minggu kalau ga salah, kita nginep di rumah, rumah orang tua gue,” Nolan baru ingat soal itu.

“A-apa? Engga mau, malu!”

“Masa sama mertua malu, Ya.. Ada-ada aja,” kekeh Adit yang baru masuk dan menyalakan mobilnya.

“Makanya biasain, masa sama orang tua kedua malu.” tambah Nolan.

Adhya pun mengabaikannya. Dia duduk dengan tenang. Agak pening tapi tetap harus bekerja. Baru sehari masuk juga.

Selama perjalanan hening, Adhya memutuskan untuk tidur juga.

“Sampe, sugar.” bisik Nolan sambil mengecup gemas sebelah pipi Adhya.

Adhya bangun, perlahan menyingkirkan wajah Nolan lalu merapihkan penampilan. “Makasih kak Adit,” ujarnya agak serak.

“Hm..”

“Sama gue?”

Adhya menoleh menatap Nolan. Dengan masih mengumpulkan nyawa dia bergerak mendekat mengecup bibir Nolan sekilas tanpa kata dan turun.

Nolan tersenyum. Ini pertama kali Adhya menciumnya duluan.

“Jangan terlalu keras kerjanya sayangku sugar,” teriak Nolan dengan senyum cerah. Bahkan melempar senyum pada perempuan yang melintas.

Adhya menggeleng samar. “Dasar buaya, manis banget! Kesemua cewek disenyumin!” dumelnya.

“Jadi musibah waktu itu pembawa berkah? Lo keliatan lebih bercahaya, Lan.” kekeh Adit yang mulai melajukan mobilnya lagi.

“Hm, mungkin. Seru aja, bangun tidur ada dia, setiap hari terus usilin dia, biasanya jarang ketemu, usil kalau ketemu,” terangnya.

“Malam ini ke club?”

“Libur dulu,”

“Merinding gue, tumben libur. Gue sebenernya ga mau, tapi Azura selalu ke sana, jadi harus ke sana..”

“Lo sayang banget, lebih dari gue. Bahkan semenjak ada Adhya gue jarang ketemu Azura,”

“Makanya dateng, dia jangan sendirian, dia ga baik-baik aja, Lan.”

Nolan memilih diam. Dia akan memikirkannya nanti.

Bersambung… SEBELUM BERANGKAT JATAH DULU

“Di gempur 2 hari langsung kerja,” celetuk Caca.

Sontak Adhya menimpuk lengan Caca. “Caca! Ih!” serunya. Masalahnya ada mba Dela dan mas Andi.

“Di suruh kak Nolan,” balasnya polos.

“A-apa?” Adhya salah tingkah. “Sebentar ya mba, mas.. Duluan aja nanti kita nyusul,” lanjutnya.

Caca pasrah saja mengikuti tarikan Adhya.

“Dia nyuruh buat apa?”

“Ca, kakak akan selingkuh kalau Adhya deket cowok juga, jadi awasi sahabatnya, kalau ga mau sakit hati jangan deket cowok,”

“Terus?”

“Dia bilang, kalau ada cowok bilang aja 2 hari di gempur langsung kerja biar cowok itu sadar kalau sahabat kamu bersuami..”

“Terus?”

“Udah.”

“Dasar! Kalau mau selingkuh ya selingkuh aja! Malah ngerecokin orang!” gerutu Adhya.

“Emang ga masalah punya suami banyak jajan di luar? Nanti bawa penyakit loh, Adhya.”

“Iya sih, udah ah.. Laper, jadi emosi, kita makan! Mana kerjaan numpuk,” keluhnya terus misuh-misuh.

Caca menggeleng samar dan mengekori sahabatnya yang terus saja bergumam tidak jelas itu.

“Kak Nolan udah ada niat ga main perempuan lagi aja udah bagus, Adhya. Dukung dia, selagi ke hal baik.”

“Iya.” balas Adhya malas.

“Biasanya kalau buaya tobat itu jadi bucin, gemes banget,” Caca gemas sendiri. “Jangan lupa, jangan sampai kak Nolan nempel lagi sama kak Azura.” tegasnya.

“Kenapa?”

“Kak Adit udah terbius bisanya, takutnya dia serakah mau kak Nolan juga, feeling aja sih,” jawab Caca acuh tak acuh, dia fokus pada makanan.

Adhya termenung sejenak. Haruskah dia mencoba posesif? Benar kata Caca, Nolan bisa saja membawa penyakit dan menularkannya. Anggap saja karena itu.

“Pulang nebeng ya? Mau beli makanan ga? Dah lama kita ga jajan,” ujar Adhya.

“Kuy!”

Andi yang tidak jauh dari mereka hendak membawa air minum tersenyum mendengar seruan kuy dari Caca. Menggemaskan.

***

“Lelah, hm?” Nolan menepuk-nepuk pantat kiri Adhya sambil mengecup sekilas pipinya lalu memeluknya sekilas.

“Ck! Apa sih, ini di depan kantor!” bisik Adhya kesal lalu segera masuk ke dalam mobil.

Nolan terkekeh lalu mengkode Caca untuk segera masuk juga.

“Kan, bau kebucinan terdeteksi.” gumamnya lalu masuk di jok belakang sendirian.

“Mau kemana dulu nih?” Nolan melirik keduanya bergantian. “Rebahan aja,” Nolan membenarkan jok agar Adhya lebih rileks.

Adhya tidak mendebat karena membutuhkan itu. Letih sekali tubuhnya.

“Kasihan banget istri gue, Ca..” Nolan usap kepala Adhya yang langsung Adhya tepis kesal.

Nolan cekikikan. Dasar usil.

“Cepetin! Biarin Adhya tidur, kak Nolan! Digempur 2 hari langsung kerja,” omel Caca menggemaskan padahal serius mengomel.

Nolan terbatuk sambil tertawa pelan. Adhya sudah mendelik galak namun memilih untuk tidak membahas itu.

“Namanya juga pengantin baru, Ca. Doyannya banget-banget, sampai lupa, apa itu rem,” lalu tersenyum manis saat Adhya menatapnya tajam.

***

“Cakep mbanya,” ujar Nolan menyenggol sedikit lengan Adhya.

“Terus? Gue normal ga suka cewek!” balasnya malas, dia lanjut memilih kaos-kaos untuk Nolan.

Mumpung ke mall, sekalian belanja pakaian katanya biar hari libur mereka full istirahat. Adhya sih tidak yakin, Nolankan sangat suka sekali meminta jatah.

“Deketin boleh ga? Buat temen makan,” Nolan menatap ekspresi Adhya.

“Boleh. Tapi gue juga boleh deket cowok di kan—”

“Jangan dong,” Nolan merangkul sambil mengecup pelipis Adhya. “Canda kok, malem ke club yuk?” ajaknya.

“Sorry, gue ga pernah ke sana dan kayaknya— tapi emm.. Ada siapa di sana?” Adhya mendongak menatap Nolan.

Astaga.. Nolan begitu tampan. Pantas saja banyak perempuan mengejarnya.

“Adit, Azura, yang lain mungkin dateng,”

“Tapi ga pernah ke sana, ga usah deh,”

“Ada suami lo, ikut aja biar ada tameng dari cewek-cewek, kecuali lo rela bagi-bagi,” kekeh Nolan.

“Gue cuma ga mau ke tular, mana lo minta jatah mulu,” lalu mendorong wajah tampan Nolan hingga rangkulannya terlepas.

Adhya fokus memilih pakaian lagi. “Eum, pake gaun atau pakaian biasa?” dia sungguh tidak tahu.

Nolan tersenyum cerah, mengunyel pipi Adhya gemas. “Baiknya istriku, Gue janji akan coba memperbaiki diri pelan-pelan,” gemasnya.

“Ih! Lepas!”

“Pake gaun, tapi bukan buat ke kondangan, gue tunjukin.”

***

“Jelek!” Caca menggeleng tak setuju. “Caca boleh ikut?” tanyanya pada Nolan.

“Tanya Adit, Ca.” Nolan sedang mencari gaun yang super tertutup namun tetap membuat Adhya bercahaya.

“Ga akan kasih izin, nanti kalau dah nikah katanya. Selalu gitu, padahal dia juga belum nikah,” dumel Caca yang tetap memilih gaun untuknya sendiri.

“No komen.” Nolan tidak tahu soal itu. Mungkin hanya tidak ingin adiknya jadi menyukai tempat itu.

Nolan juga agak ragu sekarang tapi jika tidak maka dia bisa saja rem blong.

“Nih, ini oke.”

“Tertutup amat!” protes Adhya. “Gue kayak lontong!” celetuknya.

Nolan terbahak pelan dan mencari warna lain. “Merah gimana? Ini oke, rok selutut, agak ketat tapi dada aman.” jelasnya.

“Nah, ini lumayan,” Adhya merasa terpincut, dibanding seperti lontong.

“Kak Nolan, traktir gaun ini ya?”

“Boleh, Ca. Ambil aja,”

“Ck! Baiknya suami orang,” kekeh Caca.

Nolan hanya tersenyum menyebalkan sambil mengangkat bahu sesaat. “Emang baik, beruntungkan Adhya,”

“Ya, lumayan beruntung.” balas Caca.

Nolan tertawa pelan.

***

Nolan mengecupi bahu Adhya, terus menggerakan pinggulnya cukup cepat.

Adhya mengernyit gelisah di atas meja kecantikan itu. Dia baru selesai berdandan untuk ke Club pertama kalinya malah di serang Nolan.

Nolan sasar leher Adhya, mengangkat kedua kakinya yang berada di setiap sisi tubuhnya yang berdiri.

“Hh.. Udah, Cepetan! Kalau gini caranya gagal pergi, Ah.. Cepet banget,”

“Serba salah ya! Katanya cepetin,” Nolan menggeram halus, kian liar.

Adhya memeluk leher Nolan, menahan pekikannya saat Nolan meliar lalu menghentaknya sekali dan segera mencabutnya.

Keduanya berpelukan dengan terengah lalu Nolan menatap ke bawah kakinya. Cairannya yang berceceran.

“Kapan ya bisa di dalem lagi, apa ga bisa di KB aja? K*ndom ribet, sugar..” keluh Nolan dengan nafas mulai kembali normal.

Adhya meraih tissue dengan lemas, rasanya lega dan nikmat. Jujur dia selalu puas dengan semua yang dilakukan Nolan.

“Takut,” jujur Adhya.

Nolan meraih wajah Adhya, mencium bibirnya yang sudah terlanjur belepotan itu. “Gue terlalu banyak ngeluh, abaiin aja.” lalu memeluk Adhya.

Adhya berhenti sejenak dari kegiatannya membersihkan bawah sana.

“Makasih, sugar. Selalu memenuhi kebutuhan tanpa mengeluh, gue yakin bisa sama satu cewek kalau gini caranya,” kekeh Nolan.

“Gue harap gitu.”

“Karena takut tertular?”

Adhya hanya mengangguk, diam nyaman di bahu Nolan. Ternyata tidak buruk menikah dengan Nolan.

Tanpa dia minta, Nolan ingin berubah dan mencoba menjauhi kebiasaannya.

“Gue ga akan sering jajan, serius. Pegang omongan gue.”

CLUB PANAS

Oh jadi begini dunia malam yang disukai Nolan. Katanya Nolan akan perlahan meninggalkannya, kalau Adhya tidak menyukainya.

Romantis, tapi Adhya bodo amat.

Nolan tersenyum melihat wajah Adhya, mengernyit mungkin karena musik DJ terlalu keras di pendengarannya.

Adhya terlihat bercahaya di bawah lampu remang-remang dengan dandanan dewasa. Terlihat kaku karena pertama kali masuk ke sini.

“Cakep banget,” gemas Nolan sambil menggiring Adhya ke ruangan yang selalu dia pesan di tempat ini.

Caca dengan Adit sibuk cekcok, dengan teriak-teriak karena suara musik terlalu kencang. Keduanya mengekori Nolan dengan masih saja debat.

Caca ingin ikutan ke tengah kumpulan manusia saat pertama kali melihatnya seperti seru. Tapi Adit jelas tidak akan mengizinkannya.

“Ha.. Ini enak, ga terlalu sakit,” Adhya mengusap kupingnya yang pasti sangat terkejut mendengar semuanya untuk pertama kali.

Nolan tertawa pelan mendengar celetukan Adhya. “Berisik ya? Tapi seru, kita joget nanti mau, sugar?” dia tarik pinggang Adhya hingga duduk di pahanya.

“Kursi luas,” Adhya menatapnya sebal.

Adhya malu karena ada Adit dan Caca. Masih tidak bisa terbiasa walau dia dan Nolan sudah menikah.

Nolan mengabaikannya. Dia menatap Adit yang masih saja cekcok. “Kenapa sih, Dit? Dia udah besar kali, lepas aja, pengen ikut joget apa gimana?” kekehnya.

“Engga!” seru Adhya. “Ca! Jangan ceroboh, banyak om-om loh tadi, mau di bungkus?” lanjutnya.

Nolan anteng menatap perubahan ekspresi dan bibir Adhya yang bergerak. Lucu sekali. Ingin dia gigit bibir bawahnya.

“Ga akan, kan bisa nolak,” Caca menekuk wajahnya. Sudah Dandan cetar masa harus terus di ketek kakaknya.

Caca ingin punya pacar!

Adit merogoh ponselnya. “Ya, Ra?” sahutnya pada sosok Azura di balik telepon. “Apa? Di jalan mana?” paniknya.

Caca mendelik sebal dengan wajah lucunya tetap ketara.

“Kenapa?” Nolan juga berseru khawatir. Tanpa di jelaskan pasti itu Azura. “Dia kenapa?” ulangnya.

Adhya menatap wajah Nolan, sama persis seperti Adit. Keduanya begitu perhatian.

“Mobil taksinya mogok, jalan sepi katanya. Suruh di jemput ngeyel,” kesalnya. “Jangan macem-macem!” Adit memperingati Caca.

“Lan, jagain—”

“Bawa pulang aja, takutnya gue fokus ke Adhya dia ilang di telen om-om,” potong Nolan.

“Kita jemput Az—”

“Kakak pergi aja! Caca udah besar!” kesalnya sambil mendorong Adit keluar.

Adit gelisah, di sini ada Nolan. Di sana Azura sendirian. Dengan terpaksa dia pergi tanpa membawa Caca.

***

Adhya tidak fokus, membiarkan tubuhnya di tindih tubuh Nolan yang babon itu di sofa yang ada di ruangan VVIP.

Banyak minuman yang disuguhkan, Adhya hanya cicip seteguk saking takut mabuk. Nolan sih sudah terbiasa, tidak bereaksi.

Kedua kaki yang berada di setiap sisi pinggang Nolan mulai gelisah saat pahanya Nolan belai lalu masuk ke dalam.

“Caca.. Jangan dulu,” Adhya menatap pintu ruangan yang tidak kunjung terbuka. “Katanya ciuman doang, ini udah rebahan!” gelisahnya.

“Main bentar ga boleh, sugar?”

“Apa lo jajan selama ini begini? Di sini?”

“Engga, ke hotel. Mana bisa gue siksa—” ups keceplosan. “Maksudnya gue siksa pake kenikmatan,” jelasnya cengengesan tampan.

Adhya tidak peduli. Dia menggeliat ingin berhenti tapi terlambat. Milik Nolan sudah tertancap dalam.

Ditarik keluar lalu hentak dalam. Membuat Adhya hilang akal seketika.

“Ga akan jajan lagi, gue janji. Lo cukup, sangat cukup.” Nolan serius, dia akan perlahan mengubah kebiasaannya yang ramah sampai banyak perempuan menyerah di bawah kuasanya.

Tidak untuk Adhya tentu saja. Dia terlalu cuek dengan apapun. Atau mungkin dia belum tahu saja sisi lain dari Adhya.

“Hh.. Ah.. Caca, Lan.” Adhya mengernyit gelisah.

“Caca bukan anak kecil, sugar.” Nolan merem melek, tubuhnya bergesekan nikmat tak lupa penyatuannya juga.

“Haa, ada orang masuk gimana?”

“Ga akan.”

“Caca, Lan..”

Nolan tidak membalas. Dia membungkam bibir Adhya dengan ciuman rakusnya yang membuat Adhya sedikit kewalahan.

Adhya bergetar dalam pelukan Nolan.

Nolan berhenti sejenak, mengubah posisi dan kembali mencari nikmat dunia.

“Berasa mimpi bisa bawa lo ke sini, sugar. Biasanya ga ada yang semanis lo di sini,” pujinya terdengar gombal.

Adhya hanya mengernyit gelisah, keenakan tanpa peduli ucapan buaya itu.

“Gue punya istri enak, gemesin,” kekeh Nolan sambil menatap wajah panas Adhya.

Tanpa melucuti pakaian keduanya bercinta di sofa. Tidak banyak mengubah posisi hingga Nolan keluar di dalam.

Keduanya sontak panik, dan mulai berdebat.

***

Tubuh Caca yang terkulai tidak sadarkan diri itu terus terguncang. Dua buah dadanya memantul cantik, begitu ranum seperti tidak pernah disentuhan laki-laki.

Pria itu begitu gagah berkuasa di atas tubuh lemah Caca. Perlahan menggerakan miliknya, berdesis agak ngilu karena Caca begitu rapat sekali.

Bercampur dengan darah perawan. Terus bergerak hingga suara percintaan mengisi ruangan yang samar suara DJ terdengar.

Di dalam ruangan, mejanya penuh bekas rokok, cemilan dan minuman berserakan. Mungkin sudah cukup lama Pria itu nongkrong bahkan teman-temannya sudah pergi mendapatkan mangsa.

Caca hanya mengernyit dalam ketidak sadarannya. Terlihat seperti mabuk yang sangat parah. Tubuh Caca kejang-kejang beberapa saat.

Pria itu berhenti sejenak, bermain di dada Caca dan lalu bergerak perlahan. Kembali mengguncang tubuh indah itu.

Meremas dua bulatan yang pas di tangannya. Terus dia raba dan kecup setiap tahi lalat di tubuhnya.

Pria itu bolak balik Caca dengan berbagai posisi, mungkin akan membuat Caca kesulitan berjalan setelahnya.

“Haa.. Akhirnya, tercapai.” bisiknya mendesis keenakan di samping wajah Caca.

Pria itu menatap penyatuan. Miliknya yang bersatu dengan cairan kental serta darah. Milik Caca yang indah dan sempit. Terjaga bersih.

Sesuai dugaan, Caca enak. Siapa suruh datang disaat dia naik, mana dia sangat penasaran dengan sosok manis di antara banyaknya perempuan seksi.

***

“Caca ga diangkat teleponnya,” Adhya dengan lutut agak bergetar menunggu di depan club, sedangkan Nolan, Adit dan Azura mencari di dalam. Saling berbagi tugas.

Adhya terlihat sangat gelisah hampir menangis. Sahabat terbaiknya itu di mana? Harusnya dia tidak membiarkan Caca pergi sendirian.

Adhya juga marah pada Nolan yang sebenarnya tetap salah Caca yang keras kepala. Sudah begini dia panik.

Adhya menunggu, siapa tahu Caca keluar. Entah bersama Adit, Nolan atau Azura.

“Adhya..” lirih Caca sambil berjalan merayap lemas bersandar ke tembok.

Adhya melotot kaget. Caca keluar dari belakang club. Adhya memastikan itu. Kenapa bisa di belakang?

“Darimana aja sih Ca!” Adhya pukul lengannya lalu memeluknya. “Kita cariin sampai kayak mau gila!” amuknya.

Caca terlihat linglung. Dia memilih diam karena takut terkena semprot jika menjelaskan semuanya.

Dia terbangun di ruangan dengan punggung pria bertatto yang dia lihat. Apa dia tidur dengan om-om?

Caca ingin nangis. Tapi tidak berani cerita. “Caca minum, Adhya. Sadar-sadar di toilet belakang, sendirian.. Takut…” lirihnya.

Adhya tidak melanjutkan omelannya. Dia lebih dulu mendial nomor Nolan, baru Adit dan terakhir Azura.

Adit jelas ngamuk. Biasa adem ayem jadi marah-marah membuat Adhya ikut kicep. Berasa ikut diomeli juga.

Bersambung… SEKALI LAGI, LAGII DAN LAGIII

“Caca ga papa, cuma kapok minum aja sampai tiduran di toilet,” Caca terlihat tenang, walau hati dan pikirannya takut.

Caca berpikir dia kotor karena di sentuh om-om. Dia merasa sakit sekali dibagian pusatnya. Suara bocil, tingkah agak bocil tapi dia paham soal begitu.

“Maafin ya, Ca. Sampe harus ngerasain minuman dan mabuk,” Adhya memeluk Caca.

Caca balas memeluk, dia tidak enak hati karena berbohong pada Adhya. Dia belum berani, takut Adhya semakin merasa bersalah padahal tidak salah.

“Salah Caca, Adhya. Kalian udah ancam, Caca ga dengerin,” tatapan Caca meredup. Dia menyesal, padahal menurut pada Adhya saja saat itu.

“Emang salah Caca!” Adit menyahut.

“Kak Adit juga salah, malah ke kak Azura bukan ke Caca.” ceplosnya jujur.

Azura terdiam tak enak hati. Cemas dan perasaan tidak bisa dijelaskan kembali muncul namun dengan cepat Azura kendalikan.

“Maaf, ya, Caca.” Azura tersenyum tipis menyesal.

Caca diam bingung, dia keceplosan. Semua gara-gara Adit.

Kini Adit juga cemas, Azura memang terlihat baik-baik saja. Tapi sungguh, dia begitu rapuh. Seperti akan pecah hanya dengan sekali sentuh.

“Mau makan?” Adit mengusap kepala Azura.

Adhya melihat interaksi hangat itu. Adit memang sangat perhatian, memperlakukan perempuan dengan baik.

“Jangan ngarep.” bisik Nolan sambil memasukan jemarinya ke jaket yang di pakai Adhya untuk mengusap punggungnya.

Adhya menatap Nolan kesal. Dia masih tidak percaya bisa bercinta di asal tempat. Di club lagi. Rasanya dia jadi nakal.

“Kita pamit, dah mau pagi..” Nolan mendekati Azura. “Pulang ya, ra. Kamu harus sehat, makan yang banyak.. Katanya semalem kalian gagal makan, jangan lupa makan,” lanjutnya sambil pamit.

***

“Nolan..”

“Ga usah cemburu,” Nolan tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Adhya.

Adhya refleks mundur sambil mendorong pipi Nolan agar menjauh. “Dih, apa sih!” kesalnya.

“Kenapa? Soal Azura, dia bener-bener sahabat kita, hidup dia berat, mental dia ga baik-baik aja,”

“Gue ga mau tahu! Gue ga cemburu! Gue mau tanya, bu-bukan itu,” padahal Adhya memang kepo soal Azura tapi sudah di tuduh cemburu membuatnya jadi mundur lagi.

“Terus?”

“Dah ga mood, minggir!” Adhya menyingkirkan Nolan yang condong padanya. Dia beranjak dari duduk walau kesulitan karena Nolan membelitnya.

“Kemana, sugar?” suaranya begitu lembut memikat, senyumnya begitu manis membuatnya tampan.

“Ha~ kencing,” jawabnya singkat dan malas.

“Kalau bohong itu yang bener,” Nolan tertawa pelan, membuatnya kian bersinar terang ketampanannya. “Beberapa menit yang lalu baru beres pipiskan,” Nolan menariknya kuat sampai punggung Adhya menabrak di dadanya.

Adhya menghela nafas pasrah, merutuki kebodohannya. Membiarkan Nolan cekikikan menyebalkan seraya beberapa kali mengecupi tengkuk, bahu dan cupingnya.

Adhya diam. Hanya beberapa kali suara kecupan terdengar yang beradu dengan suara televisi.

“Masih kepikiran soal Caca?” Nolan melepaskan Adhya yang langsung berpindah duduk dengan nyaman di sampingnya.

“Jelas. Ada bercak merah di sini,” Adhya menunjuk tulang selangkanya.

“Bisa aja nyamuk, dia di toilet club, biasanya banyak nyamuk,”

“Mungkin.” respon Adhya sekenanya. Mungkin perasaaannya saja. “AW!” pekik Adhya kesal saat Nolan meremas gemas lemak di betisnya.

Bugh! Bugh!

Adhya memukuli Nolan. Sungguh menyebalkan mana belum tidur karena semalam pulang kemalaman dan keadaan keos.

“Sarapan udah, perut kenyang tapi—”

“Apa?!” sewot Adhya.

“Bonus semalem mana? Satu kali? Rugi dong,” lalu Nolan tertawa geli mendengar tingkahnya sendiri.

Adhya menekuk wajahnya. “Capek tahu!” sebalnya. “Belum tidur,” lanjutnya.

“Mau gue bikin tidur?” Nolan tersenyum, menatap Adhya lekat. Membuat Adhya menelan ludah.

***

Nolan mencabut miliknya dengan terengah puas, dia seka keringat di rahangnya lalu menampar gemas bokong Adhya.

Adhya melenguh lemas dengan sama terengah. Dia pun mengubah posisi dari telungkup menjadi terlentang.

Nolan tersenyum, mendekatinya dan menindihnya lalu dia peluk kemudian cium bibirnya.

Adhya terpejam, balas memeluk Nolan dan balas menciumnya. Ciuman yang lembut tak tergesa.

“Ga malu lagi, sugar?” bisik Nolan di depan wajah Adhya.

Adhya melarikan tatapannya asal. “Malulah, kan manusia,” sewotnya salah tingkah. Kan, baru malu setelah selesai semuanya.

“Haha.. Gemes,” Nolan ndusel lalu menyusu gemas membuat Adhya kembali menggeliat gelisah disertai kekehan geli karena pinggang digelitik.

“Agh..” Adhya tertawa pelan dengan desah gelisah. Nolan tidak melepaskan mulutnya yang menyedot kuat sampai Adhya membusung.

Nolan tanpa berkedip menatap Adhya yang menggeliat panas, terdongak dan membusung untuknya.

Nolan memasukan jemarinya ke mulut terbuka Adhya lalu berhenti menyedotnya. Dia mendekatkan wajah pada Adhya..

“Suka?” tanyanya dengan menatap Adhya tidak berkedip. Ini perasaan yang pertama kali Nolan rasakan.

Begitu tertarik yang menggebu. Tak pernah puas.

Adhya mengangguk, mencoba menyingkirkan jemari Nolan namun susah sekali. Rasanya ingin muntah.

Nolan berhenti lalu menciumnya. Menautkan setiap jemari. Sepertinya Adhya tidak dia izinkan untuk tidur dulu. Sekali lagi saja.

Adhya merem melek, membalas ciumannya dan mengerang pelan saat Nolan menekannya masuk tanpa menghentikan ciumannya.

Nolan bergerak pelan, membuat tubuh yang merapat itu mulai terguncang dengan tempo yang sama.

Keduanya melenguh dan mendesah dalam kuluman lembut bibir satu sama lain.

Adhya begitu gelisah, terguncang dalam nikmat yang Nolan berikan.

Entah sejak kapan mereka bisa menormalkan kegiatan ini, seolah terbiasa saling mencumbu dan sebagainya.

“Jangan lagi, abis ini udah,” mohon Adhya dengan gelisah keenakan tak bisa dibendung.

“Ga janji, sugar.” Nolan tersenyum manis di depan wajah Adhya yang panas. Begitu usil menghentak kuat dan cepat sampai kepala Adhya hampir menyentuh kepala ranjang.

***

Nolan turun dari kasur, mereka tidur sampai sore. Makan siang terlewat begitu saja. Nolan meneguk air putih.

Tanpa melirik Adhya dan mengganggu tidurnya, dia pergi menyiapkan makan siang yang terlewat. Perutnya begitu keroncongan.

Nolan sibuk sendiri, memakai boxer ketatnya yang mempertontonkan tubuh tegap, kekar dan gagahnya.

Nolan begitu tinggi, tampan dan bercahaya.

“Dia lagi,” Nolan yang jengkel diteleponi memilih memblokirnya.

Semenjak Nolan terlibat dengan Adhya. Minat merespon mereka mulai menipis, mungkin kebutuhannya lebih terpenuhi dengan cara yang dia sukai tanpa banyak memikirkan kekhawatiran lain.

“Mauuu..” Adhya berjalan lesu dengan agak ngangkang, dia memang sudah tidak perawan lagi. Bodo amat, bahunya juga membungkuk saking pegal-pegal.

Nolan menatap Adhya yang hanya memakai bekas pakaian Nolan, tanpa dalaman karena Nolan bisa melihat tonjolan kecil dua.

Nolan tersenyum begitu manis. Mengecup kening Adhya walau si empunya menangkis pelan.

“Lapar,” wajah bantal Adhya terlihat lucu.

“Ini apa?” kekeh Nolan dengan usil mengusap tonjolan di balik kaosnya itu.

“Ishhh! Lapar, diem!” amuk Adhya.

Nolan pun menyiapkan semuanya. Keduanya makan terlihat fokus, saking lapar jadi tidak bisa beralih dari makanan.

“Besok kerja lagi,” Adhya menyandarkan punggungnya pada kursi.

“Ga mau?” Nolan menyeka mulutnya lalu mematikan ponselnya yang begitu berisik.

“Ck! Maulah, ngeluh bukan berarti ga mau,” Adhya terus berceloteh, menceritakan ini itu.

Nolan bersidekap, tersenyum menatap dan menjadi pendengar yang baik. Ternyata berdua, berbincang dengan Adhya lebih serius menyenangkan.

Bukan hanya sibuk berdebat seperti dulu.

BERBINCANG SAMBIL BERCINTA

“Ca? Caca?” Andi mengangsurkan satu botol susu kecil rasa Coklat kesukaan Caca. “Ca?” panggilnya lagi sambil duduk di sebelahnya.

Adhya menautkan alisnya juga, Caca hanya mengaduk makanan. Apakah selama sebulan ini Caca ada masalah?

“CA!” Adhya mencolek lengan Caca kesal namun juga cemas. “Kenapa?” tanya Adhya lalu menolak panggilan Nolan. Dia ingin tahu dulu Caca kenapa.

“Itu, bingung. Mau sewa apartemen yang di deket sini atau yang satunya lagi, harganya sih ga jauh beda,” Caca tersenyum. “Gimana ya?” lalu menatap Andi dan Adhya.

“Mau dibantu?” Andi tersenyum ramah.

Dela yang baru sampai duduk di samping Adhya.

“Bantu apa?” Dela menyahut penasaran.

“Ini mba, lagi cari apartemen, terus ada dua yang deket kantor, bingung gitu Caca..” jelas Caca sambil memulai makan walau tidak selera.

“Nanti mba bantu, jangan sampe mas Andi tahu,” kekehnya jenaka.

Andi tersenyum tanpa tersinggung. Cap buayanya sudah terlalu melekat. Jika pun berubah tidak akan bisa mereka percaya.

Andi tidak peduli juga soal itu.

***

“Kak, jauh.. Capek tahu! Caca ga sanggup bolak-balik ke sini, terlalu jauh.” Caca membereskan semua barang.

Adhya juga membantu, menyimpan beberapa barangnya di nakas, di lemari kecantikan. Adhya menarik sesuatu yang terselip di buku.

Garis dua? Ini apa?

Adhya menyembunyikan itu. Momennya tidak tepat. Nanti saja jika dia berdua dengan Caca. Apa Caca hamil gara-gara hilang di club? Apa Caca berbohong?

Adhya memucat. Jantungnya berdebar kencang. Sahabatnya hamil. Anak siapa? Caca baik, tidak pacaran. Lalu siapa? Atau ini test milik temannya?

Teman? Caca hanya memilikinya, Adhya belum hamil. Mba Dela juga ga mungkin rasanya.

“Malah bengong,” Nolan menampar manja bokong Adhya. “Bantuin Caca, sugar,” kekehnya sambil mengacak poni Adhya.

Anehnya Adhya tidak berseru kesal atau merespon apapun. Dia malah kembali bergerak membereskan barang Caca.

Nolan mengangkat satu alisnya heran. Tumben sekali langsung nurut tanpa ada perdebatan atau kekesalan.

“Ada salah? Hm? Gue ada salah, sugar?” Nolan mengintip wajah Adhya yang terlihat tegang, pucat juga.

“Ga.”

“Ada apa?” Nolan memaksa.

Adhya berkaca-kaca, apa karena di club saat itu? Adhya terisak.

“Kenapa?” tanya Adit.

Caca mendekat, menyingkirkan dua pria itu. “Ada apa, Adhya? Siapa yang jahatin, bilang sama Caca? Kak Nolan jahil?” tanyanya.

“Siapa, Ca?—” Adhya segera mengalihkan. “Ga, aku ga papa.. Mau datang bulan kayaknya,” Adhya menahannya. Kasihan Caca jika Adit sekarang tahu. Dia harus mendiskusikannya.

“Ha? Aneh banget,” ceplos Caca.

“Lanjut aja, agak kepikiran hal lain,” Adhya tersenyum menenangkan mereka dan kembali sibuk.

Hingga Adhya dan Nolan kembali pulang setelah mengantarkan Caca ke apartemen. Apa keinginan Caca itu sebagai pelariannya agar tidak ketahuan hamil?

Nolan melirik Adhya yang terus diam, terlihat memikirkan sesuatu yang begitu berat. Apakah ada masalah?

“Kenapa?” bisik Nolan lalu meniupkan udara ke telinga Adhya.

Adhya sontak tersentak dan menjauh, mengusap telinganya. “Ck! Bisa ga jangan dulu ganggu!” lalu beranjak memilih ke kamar.

Nolan menghela nafas sabar. Dia beranjak menyusul sambil bermain ponsel. Memblokir beberapa perempuan yang terlalu mengejarnya.

“Kenapa ikut sih?!” Adhya menatap kedatangan Nolan semakin kesal.

“Lo kenapa uring-uringan? Hm?” Nolan mematikan ponsel dan menyimpannya ke nakas.

“Gue cuma pusing kerjaan, emang apalagi!”

“Makanya jangan kerja,”

Adhya menatap Nolan marah, membuat Nolan tersenyum.

“Oke-oke, gue ga akan ngomong gitu lagi. Ada yang bisa gue bantu?” Nolan mendekat, duduk sambil menatap Adhya yang rebahan.

Wajah Adhya terlihat pucat dan layu. Nolan yakin, bukan soal pekerjaan Adhya begini.

“Ga ada.”

“Oke. Tidur, gue mau ke kontrakan dulu, ada kerusakan di sana,” Nolan mengecup sekilas bibir Adhya.

“Gue ikut. Gue mau cari angin.”

Tumben, Nolan tersenyum senang. Ini pertama kalinya Adhya mau melihat bisnisnya.

“Oke, nyonya Nolan..”

***

Adhya menatap kontrakan banyak pintu itu. Mulutnya agak menganga walau sedikit saking kaget. Ternyata banyak, dia kira hanya 3 kontrakan.

Suaminya itu banyak uang ternyata. Wow. Adhya tidak akan ragu lagi meminta ini itu di luar uang bulanan.

“Ini di sini, kalau di daerah kota agak lebih mewah, mahal juga,” jelas Nolan.

“Masih ada?” tanya Adhya terdengar agak kaget.

Nolan terkekeh. “Kerenkan?” lalu mengecup pelipis Adhya sekilas. “Di daerah Bandung, ada 5, daerah Bogor itu 10.. Daerah Surabaya yang terbanyak, 20 pintu, ada di pedesaan daerah Garut juga, lebih murah itu ada 15 kalau ga salah.. Daerah —..” jelasnya panjang lebar.

Adhya hanya melongo mendengarkannya. Bisa dibilang kontrakan 100 pintu Nolan memilikinya. Dia bukan pengangguran biasa.

“Makanya di bantu Adit, di bantu tenaga ahli lainnya,” Nolan menutup percakapan. Dia harus membahas dengan tukang bangunan dulu.

Adhya mengerjap, menatap Nolan yang lebih serius mengamati soal kerusakan.

“Berapa uang yang Nolan punya?” gumam Adhya penasaran. Di kartu yang diberikan Nolan banyak isinya, pasti itu bukan kartu satu-satunyakan?

Adhya menatap kontrakan kosong yang sepertinya baru ditinggalkan, ada satu orang yang sedang membersihkan semuanya.

Adhya melihat isinya, tidak buruk. Luas juga. Keren sekali. Nolan dia akui keren.

“Bagus ga?” Nolan merengkuh pinggang Adhya.

“Bagus.” Adhya tidak bohong.

Nolan tersenyum senang, dia kecup lagi pelipis Adhya. “Nanti kita jalan ke semua kontrakan yang gue punya..” ajaknya.

Adhya mengangguk saja sambil melihat seluruhnya.

Nolan kembali bersama pekerjanya, membicarakan biaya perbaikan dan sebagainya.

***

“Boleh banyak minta dong?” Adhya terlihat senang, tatapannya sayu merasakan Nolan yang memenuhinya dan bergerak pelan.

“Boleh, sugar.” Nolan menatap Adhya dengan senyuman, meremas dua boba yang naik turun akibat pergerakannya.

Adhya tersenyum dengan kedua mata terpejam merasakan nikmatnya tumbukan di bawah sana.

Berbincang sambil bercinta memang selalu enak. Apalagi Nolan jadi lebih pelan tidak buru-buru.

“Apa ya? Hmm..” Adhya terlihat melayang merasakan kenikmatan itu.

“Belanja apapun,” Nolan menyasar leher Adhya tanpa berhenti.

“Hm.. Apapun..” Adhya merem melek.

“Mau coba pegang uang gue?” Nolan kembali menatap Adhya tetap tanpa berhenti bergerak.

“Ha? Engga mau, tapi mau tahu.” Adhya sungguh penasaran, apa saja dan berapa yang Nolan punya.

“Jadi?”

“Maksudnya.. Mau tahu punya apa, berapa Hh.. Tapi ga mau coba pegang banyak, uang bulanan aja, sama uang jajan..” Adhya mengusap tengkuk Nolan gelisah.

Adhya mulai terengah, sepertinya akan pelepasan lagi. Nolan lebih mempercepatnya hingga Adhya bergetar lemas.

Adhya terengah lega, terpejam puas dan pasrah saat Nolan mengangkatnya menjadi diatasnya dan perlahan mulai bergerak sambil berbincang lagi.

“Ha.. Nolan,”

“Hm, sugar?”

“Apa bisa pegang rahasia?”

Nolan berhenti. “Rahasia apa?” dia usap wajah Adhya.

“Janji jangan bilang dulu?” Adhya terlihat gelisah.

“Hm? Janji.”

“Ga jadi. AGH!” Adhya tersentak kaget saat Nolan menghentaknya kuat sebagai kekesalannya.

“Apa?” Nolan menatapnya serius. Dia sudah penasaran.

“Itu.. Ha-hamil—”

“LO HAMIL?” potong Nolan kaget plus senang.

“Ck! Bukan!” ralat Adhya cepat agak salah tingkah, Nolan begitu bersemangat, membuatnya merasa bersalah karena ingin menunda.

“Terus?” Nolan mendatarkan wajahnya.

“Caca.. Gue liat test pack garis dua di kamarnya. Apa karena saat di club waktu itu? Caca pasti bohong, dia ga deket sama pria manapun, Nolan..”

Nolan terdiam. Caca? Caca hamil?

“Adit pasti ga tahu,”

“Makanya tutup mulut dulu, gue mau ke Caca besok, jadi sehari nginep ya?”

Nolan mengangguk mengizinkan.

Bersambung… SEBELUM DAN SESUDAH MENGINAP

“Gue berangkat sekarang, katanya Caca belum beli sarapan, lo mau sekalian di pesenin?” Adhya menatap Nolan yang masih telungkup dengan tubuh polos, membuat pipi Adhya samar merona.

Dasar Nolan tidak tahu malu! Tapi bagus sih, Nolan indah dipandang.

“Sini,” dengan suara serak Nolan mengkode Adhya untuk mendekat seraya membalik tubuhnya menjadi terlentang.

Adhya mencoba fokus walau tidak bisa untuk tidak menatap benda itu. Pipi Adhya bertambah merah.

“Apa?” Adhya duduk menyamping, membiarkan perutnya di belit Nolan. “Kalau gue tinggal lo ke club?” tanya Adhya yang langsung dia sesali.

“Gue maksudnya itu bukan cemburu, larang atau apapun. Kalau pun jajan ya terserah tapi gue ga akan mau lagi karena takut lo bawa penyakit,” tambah Adhya dengan agak salah tingkah.

Nolan tersenyum dengan masih terpejam. “Tenang aja, gue ga kepikiran ke sana. Gue cuma mau nemenin Adit, Azura di rawat lagi.” lalu membuka mata menatap Adhya.

“Apa? Jadi semalem kak Adit telepon soal itu? Kak Azura kenapa?”

“Gue juga mau di panggil kakak,”

“Fokus! Kak Azura kenapa?”

Senyum Nolan luntur, berganti cemas terhadap mental sahabatnya itu. “Dia coba bunuh diri lagi,” jawabnya.

“Apa? Lagi?”

“Makanya kita sebagai manusia normal ngalah aja ya, kalau pun lo sama Caca kurang suka, pura-pura suka aja, dia banyak luka dari kecil, dia sakit yang susah banget obatnya,”

Adhya merasa iba, dia tidak tahu soal itu. Dia dan Caca hanya kesal dengan tingkahnya yang bagai gadis polos yang memikat dua pria sahabatnya seperti di novel yang pernah Adhya baca. Betapa bermuka dua.

“Adit mau nikahin Azura karena hal ini, kita mau ngobrol hari ini, jadi lo jaga Caca sama bayinya, pelan-pelan tanya siapa ayahnya, gue akan bungkam.”

Adhya mengangguk.

“Dan satu lagi. Meskipun ga sibuk, gue ga akan jajan, Adhya. Cek aja ponsel. Gue ganti nomor, cuma lo, Azura sama Caca. Cewek-cewek yang gue kenal di club atau instagram udah ga ada.” Nolan mengecup pipi Adhya.

Hari ini Adhya cantik, mungkin karena akan keluar jadi sedikit dandan.

“Besok cepet pulangnya, gue jemput pagi,” Nolan ndusel di perut Adhya membuat Adhya menahannya karena geli.

“Gue kerja, sore aja.”

“Ck! Lama,” Nolan menyelinap masuk ke dalam rok yang di pakai Adhya.

“Caca belum sarapan, Nolan!” Adhya beranjak menghentikan. Semalam sudah banyak Nolan menerima jatahnya.

Dengan lesu Nolan pasrah. Adhya menarik selimut hingga seperut Nolan. Dia malu sendiri melihatnya.

“Jadi penting Caca dari gue?”

Adhya mengangguk.

“Ck! Jujur amat, sini cium lagi!” kesal Nolan.

Adhya menjulurkan lidah mengejek namun tetap patuh mendekat, membiarkan wajahnya di kecup.

“Eum.. Bau jigong!” kekeh Adhya padahal bohong.

***

“Uang nyimpen? Kartu gue liat di nakas,” ujar Nolan sebelum Adhya turun menuju apartemen Caca.

Apartemen kecil yang menurut Nolan lumayan. Ada penjaga di bawah.

“Ada, bawa 3 ratus, cukup kok. Kita bukan mau belanja,” jelasnya sambil melepaskan sabuk pengaman. “Gue turun,” pamitnya.

“Bentar.” Nolan melepas sabuk pengaman, meraih tengkuk Adhya dan melumat bibirnya cukup lama.

“Udah, kan jadi bibir lo cemong!” Adhya mengusap lisptik pinknya di bibir Nolan. “Kapan ya terakhir debat,” gumamnya.

Nolan terkekeh. “Udah beda, status kita juga beda.” dikecup sekilas lalu membiarkan Adhya turun dengan dua bungkus bubur.

Adhya menoleh sekilas. Kenapa rasanya seperti suami istri sungguhan. Membuat jantungnya berdebar. Bolehkah dia berharap pernikahannya langgeng?

Nolan pun membawa mobilnya ke rumah sakit. Rasanya kurang enak dia menyetir, mungkin karena mobilnya jarang di pakai dan baru dia pakai lagi.

“Caca hamil,” gumam Nolan masih sulit percaya. Dia mengetuk-ngetuk stir dengan telunjuk. “Adit pasti murka.” lanjutnya.

***

“Apa lo ga tahu sama sekali? Ciri-cirinya, Ca?” Adhya menyeka air matanya sendiri.

Caca menunduk menangis. Terlihat layu karena merasakan morning sickness. Kasihan, Caca menanggung sendirian kalau saja Adhya tidak menemukan bukti itu.

“Ga tahu, Adhya. Caca ga inget sama sekali, tattonya aja..” Caca menyeka air matanya yang terus berjatuhan deras.

“Ga papa. Gue temenin, Ca. Tenang aja,” hanya itu yang bisa Adhya lalukan.

“Harusnya Caca denger kata kalian malam itu, keras kepala banget emang!” kesalnya.

“Ga usah di bahas, Ca. Kita ga bisa ulang hari itu. Sekarang fokus ke kesehatan kalian, kita periksa yuk?” ajak Adhya.

Caca terdiam. “Takut, Adhya.” lirihnya.

“Ga papa, kita minta obat biar ga mual, lemes..”

Caca pun mengangguk. “Uangnya—”

“Tenang aja. Gue bawa, Ca. Kita sahabatan udah lama, ga usah sungkan.” Adhya merutuki dirinya yang tidak membawa kartu. Jika pun kurang tak apa, dia akan menelepon Nolan.

Yang penting Caca mau.

***

“Dia sehat.” Caca menyimpan hasil USG di laci nakas kamarnya lalu memeluk Adhya.

Keduanya bersila di atas kasur. Saling menguatkan, mencoba tegar dengan tawa yang tak sampai ke kedua mata.

“Ke depannya berat, Ca. Jangan merasa sendiri, semoga nanti lo inget siapa ayahnya. Kalau pun engga ketemu, kita besarin sama-sama. Gue akan anggap dia anak sendiri,”

Caca tersenyum, mengusap punggung Adhya. Bersyukur memiliki sahabat sepertinya.

“Tapi, Adhya.. Kak Adit pasti sadar. Hamil pasti ada perubahan.”

“Awal akhir kita tetep harus kasih tahu kak Adit, Caca.”

Caca terdiam pasrah. Entah apa yang akan terjadi kedepannya. Caca merasa hampir menyerah karena takut.

Kedua tangannya gemetar saking cemas, namun dia menahannya dengan baik.

“Malam ini gue nginep. Kita nonton drama biar nanti anaknya cakep,” kekeh Adhya.

Caca tertawa pelan. Dia mengangguk setuju. Setidaknya dia melupakan rasa cemasnya tentang ke depannya.

***

“Ga enak badan?” Dela menatap Caca yang pucat, terlihat letih.

“Iya, mba.” Caca membenarkan jasnya.

“Udah ke dokter?” Dela begitu perhatian.

“Udah, mba.” Adhya menyahut. “Kemarin sama aku,” jelasnya.

“Hm, oke. Cepet sembuh.”

“Makasih, mba.”

“Andi pindah ya, dia ke cabang di kota sebrang, mungkin karena udah lama ngantor di sini dan di percaya,” ujar Dela sambil merapihkan mejanya.

“Oh ya? Caca ga tahu, pantes ga kelihatan biasanya udah centil,” kekeh Caca.

“Kemarin pindahan, mendadak juga makanya ga bikin acara perpisahan dulu, di sana kekurangan pegawai dan katanya sih lagi ada sedikit masalah,” jelas Dela. “Andy cuma kirim pesan sama mba, nanti di kabari kalau ke kota ini lagi..” tambahnya.

“Diakan asli sana ya, kerja di tanah kelahiran lebih enak sih,” ujar Adhya.

“Hm, bener. Makanya ga tahu kapan dia ke sini,” jelasnya. “Oh iya, mungkin kita yang ke sana, soalnya Andy udah tunangan, dijodohin. Emang bagusnya begitu, biar ga nakal.” kekeh Dela.

Adhya dan Caca tersenyum senang bisa kenal Andy. Keduanya memang belum lama kenal dengan Andy, beda dengan Dela yang kenal lama.

***

“Mau jemput sekarang?” Nolan menjauh dari Adit dan Azura yang masih berdebat.

Azura merasa marah, sedih karena Nolan dan Adit seperti mengasihaninya. Dengan Adit yang mau menikahinya entah kenapa dia merasa semakin menyedihkan.

“Aku cinta kamu, udah berapa kali dari dulu dibilangin! Ini bukan tentang kasihan! Tapi aku mau jaga kamu 24 jam untuk kepentingan aku sendiri! Aku ga mau kehilangan kamu!” Adit sepertinya tersulut karena Azura terus berpikiran buruk.

“Iya, sekarang ke sana.” Nolan mematikan panggilan sepihak. “Gue jemput Adhya, mungkin ga ke sini lagi.” lanjutnya.

“Santai aja. Ada gue, Lan.”

Nolan menatap Azura yang terisak dengan tatapan yang layu. “Ra.. Di sini kita sayang kamu, Adit serius mau nikahin, dia mau jaga kamu dari semua orang yang mau nyakitin kamu, dengerin Adit ya, aku pulang..” pamitnya.

***

“Lama?” Nolan menghampiri Adhya, meraih paperbag yang dia bawa. “Mana Caca?” tanyanya.

Nolan menjemput Adhya yang ke apartemen Caca dulu, jadi tidak menjemput di kantor.

“Lagi bawa barang yang lupa, tunggu bentar.”

“Oke.” Nolan menuntun Adhya masuk ke dalam mobil, menunggunya mending di dalam.

“Dia gimana?”

“Kemarin diperiksa, bayinya sehat, Caca juga,”

***

“Serius?” Adhya menahan bahu Nolan, terpejam sejenak dengan desah halus lolos. “Ini mobil, bener-bener!” desisnya keenakan.

Nolan tersenyum, terus membantu Adhya naik turun di pangkuannya.

“Ga akan ketahuan.” Nolan menyasar dada Adhya dengan terpejam menikmatinya.

Adhya terasa menyedotnya di sana. Naik turun menggelitiknya hingga kian mengeras hampir meledak.

“Sekali aja.”

“Siap, sugar. Kita lanjut di kamar aja.” bisik Nolan.

“Apa? Maksudnya abis ini udah,”

“No. Lanjut lagi, sugar.”

OBSESI DAN PANIKNYA NOLAN ADIT

“Dit, dia udah balik lagi ke sini,” Azura terlihat cemas. “Zahra kasih ini,” ponselnya dia berikan pada Adit.

Adit lihat foto sosok laki-laki yang tak asing. Dulu mereka bersahabat. Tapi karena kesalah pahaman saat SMA membuat mereka tidak dekat lagi dan juga dia pergi meninggalkan negara ini untuk kuliah.

“Ciko ga akan sentuh kamu lagi, Azura. Makanya kita harus nikah,” Adit menyerahkan ponsel itu pada Azura lagi.

“Dit, aku ga sehat. Aku sakit, kamu pasti muak sama mood aku yang naik turun, aku gila, Adit.” lirihnya.

“Ra! Semua orang punya beban, punya tekanan, punya masalah yang bahkan lebih dari kamu. Terus mereka apa? Mereka semua itu gila? Aku juga gila? Aku juga punya masalah, kamu pasti sembuh, jangan terus berpikir buruk tentang apapun, Ra. Semua orang ga ada yang tahu pasti tentang masa depan.”

Azura terisak. “Semua orang sakitin aku, aku pasti hancur kalau kamu sakitin, Adit. Aku ga akan sanggup, lebih baik kita begini..” lirihnya.

“Aku ga bebas, Ra. Aku ga bisa jaga kamu 24 jam,”

Azura menerima pelukan Adit tanpa menolak. Dia selalu butuh itu agar tetap waras.

“Aku takut, tentang semua hal. Aku ga mau kamu kesulitan urus aku,” tangisnya semakin pecah.

“Mau kesulitan atau engga. Aku mau kamu, Ra. Aku mau jaga kamu selama aku hidup. Aku butuh kamu.” Adit terus berusaha meyakinkan Azura agar mau dia nikahi.

Cerita Dewasa Ngentot - Enemies the Same Bed
***

“And, lo inget cewek waktu di club itu?” tanya Rio yang baru saja duduk di samping Andi yang sedang merokok.

“Yang mana?”

“Yang bocil ketutup make up,”

“Oh hm, kenapa?”

“Gue liat dia di rumah sakit, periksa kandungan. Jangan-jangan dia—”

“Apapun itu bukan urusan. Jangan dibahas.” potong Andi. Dia malas jika memang terjadi, dia tidak ingin terlibat.

“Bajingan!” Rio terbahak. “Bantuin kek, dia—”

“Gue bilang jangan bahas!” Andi menatap Rio tajam penuh keseriusan. “Gue baru pindah lagi ke sini, jangan bikin gue pukul lo, yo..” lanjutnya.

“Ck! Sensitif amat,” Rio tidak membahas hal itu lagi. Dia mencoba membahas hal lain.

Andi menghabiskan rokoknya lalu pergi untuk turun ke lautan manusia yang tengah berpesta tanpa peduli apapun itu. Begitu bebas.

***

“Aduh, Maaf-maaf..” Caca menatap sosok yang menabraknya tidak sengaja.

Adhya yang di samping Caca membantunya berdiri. Untung tidak jatuh sampai membahayakan kandungannya.

Adhya menatap kesal pria angkuh menyeramkan itu. Sungguh tidak hati-hati.

“Apa? Dia yang nabrak!” pria itu menatap Adhya tajam. Di sini dia tidak salah, lebih tepatnya tidak akan mau minta maaf sekali pun salah.

Di sini dia orang penting.

“Iya, Adhya. Caca yang ceroboh, ayoo.. Maaf ya, pak.” Caca menyeret Adhya. “Bisa aja dia orang penting, Adhya! Orang penting itu ga mau ngalah, mending kita minta maaf terus pergi,” celoteh Caca.

Adhya menatap pria itu kesal. “Siapa sih dia, main ke kantor orang,” gumamnya.

“Bisa aja klien, makanya jangan di ladenin,” Caca menatap kakinya yang terasa berdenyut sakit. Sepertinya keseleo.

Mereka pergi ke kantin, tentu dengan Adhya yang mengomel karena kaki Caca jadi pincang. Mereka makan.

“Kita balik kerja, berisik banget,” keluh Caca pada Adhya.

“Khawatir, Ca. Lo hidup sendiri sekarang,”

“Iya, Adhya. Lain kali hati-hati, nanti juga sem—” Caca menatap obat di atas mejanya lalu celingukan. Siapa yang memberikan obat. Hanya Adhya yang tahu dia keseleo.

Apa pria itu? Mustahil.

“Udah ketemu belum?” Dela mendekati keduanya. “Pemimpin baru,” lanjutnya.

“Apa?” Adhya dan Caca menoleh. “Tiba-tiba, mba?” tanyanya.

“Kayaknya ada masalah di dalem, mba kurang tahu soal itu. Besok malem kita semua adain penyambutan..”

***

“Bukan Alxendra lagi? Terus siapa?” Nolan tidak tahu temannya bisa diganti tiba-tiba. Apakah ada masalah?

“Namanya tuh, Ciko.. Caca denger,” jawab Caca di jok belakang tengah sibuk dengan jeruk asam.

Nolan yang membelikan itu dan Caca tidak masalah Nolan tahu yang penting Adit jangan dulu. Caca takut katanya.

“Apa?!” Nolan menepikan mobilnya agak kaget untung sekitar tidak ramai.

Caca juga untung pakai sabuk pengaman.

“Apa sih!” amuk Adhya kaget. “Caca lagi hamil!” lanjutnya cemas.

“Maaf.” Nolan menoleh menatap Caca. “Ada yang sakit, Ca?” tanyanya.

Caca menggeleng. “Ga papa.” jawab Caca seadanya.

Adhya terlihat kesal namun juga merasa bersalah. “Maaf, bentak.” dia raih lengan Nolan dan mengusapnya sekilas.

Nolan tersenyum, mengusap pipi kiri Adhya. “Ga papa, sugar. Gue juga salah, ga hati-hati.” balasnya.

“Kenapa sampe kaget?” heran Adhya.

“Ciko, kayak temen aja. Lebih ke musuhnya kita, gue sama Adit,” jawabnya dengan tenang.

***

“Hallo, Dit.” Nolan menjauh dari Caca dan Adhya yang tengah berbincang di kamar Caca. “Lo tahu kabar Ciko sekarang?” tanyanya langsung pada intinya.

“Hm, tahu dari mana?”

“Adhya sama Caca, ganti boss.. Namanya Ciko,” Nolan akan menyelidiki. Apakah memang itu Ciko atau bukan. Jika pun iya apa tujuannya, siapa tahu memang hanya pekerjaannya saja.

“Si Al telepon, Lan.. Dia keluarga kaya raya, buat apa perusahaan kecil..”

“Gue juga akan cari tahu, Dit. Adhya kalau perlu keluar kalau bener dia Ciko dan niatnya buruk.”

“Caca juga gue suruh keluar, ga mau gue paksa!” tekad Adit.

“Gue tutup dulu.” Nolan menatap Adhya yang mendekat.

“Pulang sekarang, hm?” tanya Nolan menyambut barang bawaan yang di bawa Adhya.

“Iya. Caca ga papa katanya, nanti telepon kita,” Adhya tidak tega meninggalkan Caca sendiri tapi sepertinya harus.

Adhya tidak bisa meninggalkan rumah, dia juga sudah menjadi istri Nolan. Lain kali saja dan sesekali saja dia akan menginap.

“Ca, kita pulang.” Nolan menggenggam jemari Adhya untuk meninggalkan unit apartemen Caca.

“Iya, makasih ya kak Nolan, Adhya..”

***

“Obat apa?” Adhya melihat Nolan meminum obat. Apa sakit?

“Vitamin, mau?” tawar Nolan. “Biar kuat tiap malem, ga K.O.” kekehnya.

Adhya mendengus. “Lonya aja gila, ga pernah puas, gue pingsan kayaknya baru puas,” sindirnya.

Nolan tertawa geli, menarik Adhya gemas dan mengecupi lehernya. Adhya menggeliat menolak.

“Mau ambil minum dulu, katanya minum vitamin biar kuat! Lepas dulu,” Adhya kegelian dibuatnya.

***

Pemandangan indah membuatnya mengingat hal indah di mana Caca lemah di bawahnya. Menjadi miliknya, pengalaman pertama Caca bersamanya.

Rasa senang begitu membuncah di benaknya. Pandangannya lurus, mengingat bagaimana Caca bergetar hebat dalam ketidak sadarannya.

Tubuhnya miliknya. Caca miliknya.

Caca terguncang, dua dadanya semakin naik turun dengan cepat. Sungguh tidak ada rasa kasihan.

Semoga Caca tetap bisa berjalan setelahnya.

Ini yang kedua kali. Pria itu merasa tidak puas jika sekali. Apalagi ini Caca. Ternyata Caca sangat mudah mabuk. Menggemaskan.

Caca terkulai lemas, miliknya dipenuhi cairan putih yang kental disertai bercak darah. Pemandangan yang indah.

Pria itu beranjak dari atas Caca. Memotret semua itu untuk dirinya sendiri. Mengenang indahnya hari ini.

Setiap lekuk, dada atau bawah Caca dia potret bagai pria cabul. Saking senangnya, seolah tidak percaya hari ini datang setelah sekian lama menunggunya.

Caca dia benarkan lagi pakaiannya, tanpa membersihkan semua jejaknya agar Caca sadar dengan apa yang terjadi di sini.

Caca dia selimuti dengan kain tipis. Tak lupa dia perintah satu pengawalnya untuk berjaga hingga Caca bangun dan pergi dari sini.

Jangan sampai ketahuan. Permainannya masih panjang.

Tapi karena ingin lagi, dia yang kelelahan jadi tertidur yang untungnya dilihat dari CCTV yang berhasil dia beli, Caca langsung kabur, tidak melihatnya yang memunggunginya.

***

Adhya menatap sekeliling, sambil melakukan video call dengan Nolan yang memerintahnya untuk tidak mematikannya.

Nolan berjanji tidak akan bersuara. Hanya ingin melihat acara penyambutan pemimpin baru sekaligus ingin tahu apakah itu Ciko yang dia kenal atau bukan.

“Itu kayaknya,” bisik Caca yang asyik memakan jeruk asam agar tidak mual mengingat di sini banyak sekali daging dan makanan lainnya yang membuat mual.

Caca bersitatap cukup lama. Membuatnya merinding. Tatapannya tajam, bagai predator ganas. Caca memalingkan tatapannya setelah mangut dan tersenyum sebagai sopan santun.

Adhya yang kini menatapnya juga menelan ludah. Semalam dia melihat foto Ciko dari Nolan. Agar lebih jelas.

“Nolan, bener.” ujar Adhya membuat Nolan di sebrang sana menegang. Jelas dia dan Adit harus menemuinya.

“Coba arahin, pura-pura foto.”

Adhya merasa beruntung duduk paling ujung. Dia pun mengarahkannya dan video call pun berakhir. Pasti Nolan langsung menghubungi Adit.

“Musuh yang kayak apa ya, Nolan sampe kayak gitu.” bisiknya pada Caca.

“Caca juga penasaran,”

Bersambung… TUDUHAN DAN MENCARI

“Ke tempat Adit dulu,” Nolan mengecup sekilas bibir Adhya.

“Soal pak Ciko?”

“Nanti ceritanya.” Nolan membuka tutup botol air minum dan meminumnya beberapa teguk.

“Oke, hati-hati.” setelahnya Adhya malu sendiri dengan ucapannya.

Mendengar itu jelas Nolan menarik lengan Adhya hingga menghadapnya dan urung turun. “Apa? Hati-hati?” tanyanya mengulum senyum geli.

Adhya mendatarkan wajahnya. “Ga usah mulai, udah seneng belakangan ini ga nyebelin! kurangin jatah ya?” ancamnya.

Nolan malah cengengesan. “Jangan dong, nanti dede gemesnya ga terwujud,” kekehnya.

“Dasar si paling ngebet, udah sana!” Adhya menarik lengannya yang dicekal namun Nolan malah mengulum senyum tanpa ingin melepaskannya.

“Ck! Lepas ga?!” amuknya namun berakhir terkekeh geli plus kesal. “Nolan ih! Lepas,”

“Sini dulu, kasih hadiah dulu buat mulut yang perhatian itu.” Nolan melumatnya gemas.

Adhya hanya pasrah dan terpejam menerimanya dengan sesekali membalas.

“Udah, lanjut nanti. Hati-hati juga, jangan buka pintu sembarangan!”

Adhya mengangguk saja, buru-buru turun juga karena jantungnya berdebar dan membuatnya tersipu.

“Nyebelin banget! Kenapa juga harus deg-degan!” Adhya mencoba menepis itu. Menakutkan sekalis rasa yang baru dia rasakan itu.

***

“Caca pulang ya mba Dela, untung Adhya udah duluan. Kalau nunggu urusan Caca yang mendadak lembur di hari kerja gini bisa-bisa Adhya ketiduran.” kekehnya.

“Hati-hati ya, Ca. Mba pulang nunggu di jemput, sekalian anter Ina.. Jadi ga bisa anter kamu,”

“Kak Adit yang jemput, mba. Tenang aja,” Caca meraih tas dan barang-barangnya.

“Oke. Mba lanjut kerja,”

Beres makan malam penyambutan, tiba-tiba ada kabar kesalahan. Caca dan timnya jelas harus menyelesaikan semuanya karena besok akan di pakai presentasi.

Caca meminum air yang sisa sedikit. Tubuhnya lumayan kelelahan, untung mual tidak terlalu parah.

Caca masuk ke dalam lift, matanya menangkap pria berjas yang mendekat dan ikut masuk. Itu bossnya.

Caca menegang. Mundur hingga berdiri di pojokan.

“Lembur?” Ciko menoleh pada Caca.

Tatapannya membuat Caca susah sekali bernafas. “Anu.. Iya, pak. Ada sedikit kesalahan, ta-tapi sudah selesai.” jawabnya tergagap.

“Ceroboh!”

Caca melotot samar. “Mohon ma-maaf, ke depannya kami akan semakin—”

“Pulang naik apa?” tanya Ciko dingin sekali, membuat Caca menelan ludah ketakutan.

“Ka-kakak, di jemput kakak,” jawabnya mencicit gugup.

Tidak ada lagi suara. Hingga lampu lift mulai error. Guncangan juga terasa. Ciko refleks menangkap Caca agak panik.

“Ada apa ya?” Caca memucat gugup hingga lampu di dalam lift mati.

“Jongkok untuk jaga-jaga,” perintah Ciko.

Keduanya berjongkok saling berdekatan. Lift mulai berhenti terguncang.

Caca hanya terpejam, membiarkan Ciko bertindak meminta bantuan atau apapun itu. Jantungnya terlalu berdebar.

Anak di perutnya apa baik-baik saja?

Caca panik, nafasnya menjadi pendek di dalam gelapnya lift. Dia takut. Entah itu tentang hantu atau hal lainnya.

“Pak, bapak dimana? Caca— sa-saya ga bisa gelap,” lirihnya gemetar takut, Caca sudah duduk di lantai lift takut kedua kakinya menekan perut.

Caca tersentak kaget saat tubuhnya direngkuh. Wangi maskulin menyeruak, rasa tenang juga perlahan memeluknya.

Tanpa banyak bicara, Ciko menyalakan lampu ponsel. Tak lama dari itu lampu darurat menyala. Bantuan juga cepat datang.

Setelah semua selesai dan Caca maupun Ciko selamat hingga menginjak lantai satu, Caca melihat bagaimana bossnya itu mengamuk. Menghina perusahaannya sendiri.

Terlalu tua, dan sebagainya. Mungkin dia marah karena terganggu lift rusak.

“Serem.” gumam Caca.

Ciko menyuruh asistennya untuk memperbaiki lift dan mengubahnya menjadi lebih baik lagi. Sepertinya Ciko akan banyak mengubah yang tidak sesuai baginya.

Keduanya diikuti asisten Ciko berjalan meninggalkan gedung. Mobil sudah menunggu. mobil jemputan Caca pun.

Adit yang bersandar di mobil menatap keduanya dengan rahang mengetat. Kenapa keduanya keluar bersama?

Lembur macam apa cuma berdua, Adit menebak jika pria di belakang itu bukan pegawai melainkan asisten.

Ciko tersenyum miring menatap Adit yang mendekat.

“Pulang!” Adit menyambar lengan Caca cukup kasar. Pikirannya begitu negatif.

Apa Caca tidur dengan Ciko untuk naik jabatan atau lainnya? Caca pasti butuh dana lebih mengingat dia kini tinggal sendiri.

Jika Caca tahu pemikiran kakaknya begitu. Pasti Caca akan ngamuk.

Caca menoleh menatap Ciko yang begitu tenang tak berekspresi menatap kepergiannya dan Adit.

Caca tersenyum dan mangut sebagai sopan santun.

***

“Kakak bikin Caca buruk di depan boss, harusnya tadi pamit bukannya langsung di seret. Caca tahu dia musuh kakak sama kak Nolan tapi—”

“Ngapain kalian keluar berduaan?” potong Adit dingin. Adit melirik tas baru dia lihat itu. “Apa kamu tidur sama dia?” selidiknya dingin.

“A-apa?” Caca terkejut mendengarnya.

“Dari siapa tas itu? Jangan mau deket sama dia?! Kakak mau kamu re—”

“Stop! Caca mau naik taksi! Stop di sini!” potong Caca dengan suara bergetar. “Kakak tuduh Caca jual diri? Tega! Ini tas di kasih kak Nolan sama Adhya!” teriaknya dan terisak.

Adit mencengkram stir. Dia terlalu khawatir. Membuatnya tidak bisa berpikir jernih dan setenang biasanya.

“Caca baru ketemu sekali hari ini sama boss, sama dia yang katanya musuh kakak itu!” amuk Caca terdengar kecewa dalam isak tangisnya.

Caca tahu, dia dan Adit tidak bergelimang harta. Tapi Caca tidak sampai ingin kaya jalur begitu. Bahkan tidak pernah bermimpi jadi cinderella.

Caca hanya ingin hidup yang cukup.

***

“Caca pipis dulu,” rasanya lelah karena banyak buang air kecil. Di tambah agak sedikit mual dan kram perut.

Pokoknya tidak nyaman. Caca tidak tahu rasanya hamil begini.

“Aduh!” Caca meringis saat sebelah dadanya tersenggol. Rasanya seperti akan datang bulan, ngilu tak nyaman.

Caca mendongak menatap pria dengan tatapan tajamnya yang terlihat selalu lekat menatapnya. Seperti pemangsa yang mendapat target.

Caca menelan ludah. Apa dia dijadikan target karena adik Adit?

“Maaf, pak. Permisi.” Caca membungkuk sopan lalu melanjutkan langkahnya karena kebelet.

Ciko melanjutkan langkahnya diikuti asisten dan orang kepercayaan lainnya. Dia akan lebih mengembangkan perusahaan majalah ini.

Di dalam toilet Caca kembali melamun. Tempat yang membuat dirinya tidak perlu pura-pura lagi.

Siapa ayah bayi di perutnya? Caca begitu cemas. Tidak ada petunjuk satu pun. Apakah Nolan sudah mencari tahu?

Katanya dia akan berusaha soal itu.

Caca pun kembali bekerja. Tidak ada yang terjadi selain dia kelelahan setelahnya, membuatnya tidur lelap tanpa membuka sepatu dan setelan kerjanya.

***

Adhya merem melek dengan posisi telungkup. Pasrah saat Nolan menumbuknya dari belakang.

Kaki Adhya yang rapat jemarinya menggeliat gelisah nerasakan setiap desakannya yang kembali membuatnya bergetar lagi dan lagi.

“Ada Ha.. Panggilan telepon,” Adhya menoleh menatap Nolan. “Takutnya Caca.. Udah dulu, sebentar.” pintanya.

Nolan berhenti, membantu meraih ponsel Adhya dengan terengah. Sedang enak, siapa sih!

“Caca,” benar dugaan Adhya.

Adhya membalik tubuhnya dengan lemas, menjadi terlentang dan membiarkan Nolan menikmati kulitnya lagi.

“Ya, Ca?” Adhya menahan wajah Nolan yang hendak menjilati bawahnya. “Oh iya, nanti malem kita ke sana, tunggu ya.. ”

Perbincangan pun terhenti.

“Apa katanya?”

“Mau ditemenin, kasihan.” Adhya membiarkan Nolan melebarkan kakinya, menyatukannya lagi.

“Ayah dari bayi Caca kayaknya bukan orang biasa. Dia bisa beli CCTV hari itu,” bisik Nolan yang kini memeluk kepala Adhya.

***

“Gue ga akan ke sana! Tugas gue selesai!” Andi melempar ponselnya dengan kesal. Nafasnya memburu.

Dia tidak suka menjadi boneka seseoarang. Dia muak dianggap mudah di kendalikan. Dia akan membangkang kali ini.

“Ada apa, nak?”

Andi menatap bundanya. Dia peluk dan menceritakan semuanya. Dia lelah diatur-atur. Dia muak dengan semuanya.

“Anak bunda ga boleh lepas tanggung jawab,”

DIAWASI, HARAPAN, KEBERSAMAAN DAN SEKASUR

Adhya melirik bossnya yang menatap kearahnya? Tidak, tapi pada Caca? Adhya melirik Caca yang lesu tanpa melanjutkan makannya.

Adhya menelan ludah. Kenapa bossnya itu ikut makan di kantin? Apa sedang melihat aktivitas kantor ini? Dan bagaimana gizi yang di dapat pegawainya?

“Ca, kenapa? Lo diliatin boss tahu,” Adhya menyenggol lengan Caca.

Caca menoleh pada Adhya lalu celingukan mencari dimana bossnya berada.

“Jam 9, arah jam 9..” bisik Adhya yang pura-pura mengaduk makanannya. Hari ini semua hidangan lebih sehat dan enak.

Caca menoleh agak lemot. “Arah.. Oh, iya.” cicitnya terhenyak kaget. Caca tersenyum canggung lalu kembali mencoba makan.

“Mual ya?” bisik Adhya.

“Sedikit. Adhya, apa boss kita itu lagi bikin rencana buat culik Caca? Dia musuh kak Adit sama Kak Nolan,” bisiknya agak cemas.

Adhya menelan makanannya. “Ah masa, kayak di novel aja,” balasnya sebal namun juga cemas. “Apa karena gue istri Nolan?” bisiknya mendadak ikut panik.

“Bisa jadi, Caca terus diliatin kenapa ya?” dia risih plus takut salah.

“Ca, kayaknya kalau culik ga mungkin deh.. Dia pasti lagi bikin rencana buat kita kesulitan, udah mulai lemburkan beberapa hari ini,”

Caca mengangguk serius.

“Apa kita dengerin Nolan sama kak Adit? Kita pindah kerja,”

Caca menggeleng. “Udah nyaman di sini, belajarnya lama tahu sampai Caca bisa,” balasnya. “Kak Nolan kan kaya, kenapa kerja. Mending habisin uang dia,” lanjutnya.

“Nikah ga harus begitu, Ca. Kebosenan juga kalau terus di rumah, Nolan juga di rumah, takutnya nanti cepet bosen,”

Caca memilih diam saja saat mual kembali terasa. Dia akan berhenti makan dari pada muntah.

***

“Duluan, beneran ga papa?” Adhya menatap Caca yang tersenyum manis.

“Ga, Adhya. Udah ga mual, ada obat.” bisiknya.

“Oke, gue pulang duluan. Minta jemput kak Adit,”

Caca mengangguk, membiarkan Adhya pulang duluan dan dia mengerjakan tugasnya yang belum selesai.

Mba Dela tengah bersiap pulang dan tak lama pamit padanya. Apa dia akan lembur lagi hari ini?

Caca fokus menyelesaikan tugasnya agar cepat selesai. Hingga sebuah minuman hinggap di sampingnya.

Caca mendongak menatap si pemberi. Mata Caca membola sesaat saat tahu kalau itu bossnya Ciko.

“Lembur lagi? Lanjut besok.” Ciko berlalu dengan tenang namun beraura gelap. Caca merinding dibuatnya.

Sosoknya yang tinggi, besar dan tegap dengan otot membuatnya terlihat begitu menyeramkan.

Caca akan lewat jika bossnya banting. Bahkan dengan sekali banting.

Caca menggeleng menyingkirkan pemikiran itu. Dia menatap minuman kesukaannya dengan menelan ludah ragu.

Apa ini cara Ciko akan menculiknya? Apa permusuhannya dengan kakaknya tetap memanas?

Caca memilih tidak minum. Dia segera menyelesaikan tugasnya. Dia tidak ingin pulang bersama dengan bossnya lagi.

Namun akibat buru-buru membuatnya banyak melakukan kesalahan. Mungkin juga dia tidak fokus.

Caca berhenti sejenak, matanya berat. Terpejam sebentar mungkin tidak masalah. Letih sekali tubuhnya.

Apa mungkin karena sedang hamil juga?

Hanya 5 menit. Bahkan kurang dari itu tidak masalah. Caca tak kuat.

***

Adhya keluar dengan terlihat lebih segar karena baru selesai mandi dan disusul Nolan yang sama terlihat segar.

“Keringin rambutnya.” Nolan mencari alat pengering rambut yang mendadak hilang di tempatnya.

“Di sini, bekas tadi pagi.” Adhya mencari dan menemukannya.

Nolan pun duduk anteng rambutnya dikeringkan di bantu oleh Adhya yang telaten. Nolan asyik bermain ponsel. Melihat kontrakannya yang sedang di perbaiki.

“Libur lama bulan apa?” tanya Nolan dengan masih fokus pada ponsel setelah bunyi pengering mati dan rambutnya pun di sisir oleh Adhya.

“Kurang tahu, ga ngitung. Kenapa?” Adhya merapihkan dulu rambut yang agak sedikit basah itu.

“Kita jalan, sugar.” Nolan melirik Adhya lewat cermin di depannya sekilas.

“Kayaknya ga sekarang-sekarang deh. Kak Adit kapan nikahnya?”

Nolan melirik Adhya lalu menoleh dengan senyum usil. “Kenapa? Cemburu?” godanya.

“Ck! Masih aja ya! Dibilang cuma kagum aja dulu, diakan baik, ramah, ga kayak buaya jadi-jadian,” sindirnya.

Nolan tertawa pelan, kembali ke posisi awal dan Adhya pun mulai lagi mengeringkan rambut Nolan hingga kering.

“Udah? Giliran,” Nolan mematikan ponsel dan menyimpannya di meja kecantikan Adhya lalu berdiri.

Adhya tidak menolak dia membiarkan rambutnya di keringkan, pipinya atau bahu Nolan kecupi disela-sela mengeringkan rambut.

“Ck! Udah!” Adhya jadi jengkel karena Nolan tidak fokus mengeringkan rambutnya.

Nolan mematikan pengering rambut, menyisir rambut Adhya dengan perlahan. “Jangan lupa nanti pagi test, udah hamil apa belum. Tadi gue banyak keluar soalnya..” Nolan mengulum senyum menyebalkan saat Adhya menoleh.

“Iya, sekalikan cukup. Bilang aja mau bikin gue marahkan?” tebak Adhya.

Nolan malah menggesekan hidungnya ke hidung Adhya lalu mengedip genit.

Adhya menghembuskan nafas berat. Dia pun kembali menatap cermin. Meraih perawatan malam yang di simpan di laci.

“Kita kayak suami istri ya kalau gini, akur, romantis..” celetuk Nolan dengan senyum dan tatapan yang terlihat kian bucin.

Adhya memutar bola matanya. “Kita emang suami istri kali!” sebalnya.

“Ga sopan sama suami, katanya ga mau durhaka,” Nolan mengulum senyum geli setelah mendengar cicitan maaf.

“Tadi dikamar mandi cantik banget, kalau udah nungging rasanya mau makan lo terus,” bisik Nolan dan mengecup telinga Adhya.

“Dasar mesum! Berc*nta ga bisa diem,” dumelnya lucu.

“Haha.. Kita sambil jalan ya, bukannya enak, menggairahkan gitu..”

Adhya mendelik sebal. Nolan semakin terlihat jelas keliarannya. Imajinasinya sungguh luarbiasa.

“Sukanya cekik-cekik,” sindir Adhya.

“Engga serius dicekik, sugar. Gigit juga ga sampe gigitan yang bikin berdarah. Nen*n kamu tuh gemesin,”

“Ck! Stop bahas yang begitu!” Adhya jadi panas dingin ingat hal panas dengan Nolan.

“Kenapa? Gue suka ngobrol begituan. Tangan lo yang gue iket, astaga.. Sshh.. Jadi mau lagi bikin lo tersiksa saking nikmatnya,”

“Stop, Nolan!” rengek Adhya.

Nolan pun patuh. “Adit nikah sama Azura ga dirayain, Azura ga nyaman sama keramaian. Kalau ga ada halangan 3 minggu lagi.” jelas Nolan..

“Boleh tanya?” Adhya menoleh menatap Nolan. “Kali ini tolong jujur. Soal pak Ciko, musuh kalian..”

Wajah Nolan berubah serius. “Dia kenapa?” tanyanya.

***

Azura menatap Adit yang begitu telaten mengurusnya. Apa sungguh Adit bisa dia terus genggam sebagai pegangan hidupnya?

Apa kelak Adit tidak muak berurusan dengan perempuan sakit mental seperti dirinya?

Azura dengan pemikiran rumitnya.

“Adit,” Azura mendekat dan membelit lengan Adit. Membuat Adit berhenti menyiapkan makan malam itu.

“Hm? Apa, Ra?”

Suaranya selalu lembut batin Azura.

Selalu saja membuatnya nyaman dan percaya bahwa hanya mereka yang tidak menghargainya. Meninggikan suaranya.

“Makasih.”

Adit terdiam lalu tersenyum. Mengusap kepala Azura sekilas. “Makan ya, kita habisin malam ini sambil nonton. Kamu ga sendirian,” bisiknya lalu mengecup kening Azura.

Azura mengangguk. Menatap Adit yang mulai menyiapkan makanan lagi. Sungguh beruntung dia mengenalnya.

“Katanya kamu mau kerja kantoran ya? Kerja di Nolan sampingan,” Azura ikut membantu.

“Kayaknya, maunya gitu,”

Keduanya berbincang begitu nyaman. Azura merasa dia tenang dan aman. Semoga selamanya begini.

***

Ciko menatap Caca yang terlelap pulas di kasurnya. Terlihat lebih berwarna diantara hitam yang memenuhi kamarnya.

Ciko meraih ponsel Caca, sibuk mengirim balasan pesan pada Adhya bahwa dia sampai diapartemen dan akan tidur jadi tolong jangan mengganggu.

Ciko menyimpannya di nakas lalu kembali menatap Caca yang tidak terusik. Pasti sangat lelah.

Paginya Caca lebih dulu bangun, wangi asing menyapa hidungnya. Dia diam terlentang lalu mengamati sekitar dan terkejut saat melihat wajah bossnya di samping kiri.

Terlelap dengan tampan tanpa atasan.

Caca melotot sekaget-kagetnya. Apa yang telah mereka lakukan? Dengan panik Caca memeriksa tubuhnya.

Lega.. Tidak ada yang terjadi. Tapi kenapa bisa dia berada di sini? Apa ketidurannya masuk akal membuat dirinya tidur berjalan sampai ke sini?

Ciko tersenyum samar tanpa membuka mata. Ternyata dia lebih dulu bangun setelah mencium Caca dalam tidurnya.

Bibir yang manis. Dan pagi yang indah. Batin Ciko.

Bersambung… TERUNGKAP DAN PERTENGKARAN

“Gimana ini? Caca kabur atau harus berterima kasih? Aduh,” gumam Caca gelisah, masih duduk di atas kasur serba hitam itu.

Pantas aura bossnya itu gelap. Ternyata kamarnya pun sama gelap. Hanya tertolong lampu.

Caca menoleh untuk melihat Ciko sudah bangun atau belum. Tubuh Caca sontak membeku.

Ciko tengah menatapnya. Sejak kapan? Caca menelan ludah. Dia bergegas turun lalu berdiri di samping ranjang beriringan dengan Ciko yang kini duduk di atas kasurnya.

Mempertotonkan otot perut dan lengannya. Caca kembali menelan ludah sambil merapihkan setelan kerja yang kemarin dia pakai.

“Ma-Ma….” Caca berhenti. Dia harus mengucapkan maaf dulu ya? Astaga! Panik..

“Maaf, pak.” Caca menunduk merasa bersalah. Sebenarnya apa yang terjadi. Apa semalam dia terlalu pulas sampai Ciko kesulitan karena pegawainya kebo.

Ciko hanya menatapnya lurus, tak terbaca. Lagi-lagi Caca menelan ludah.

“A-Anu, Ca-saya kenapa bisa di sini? Maaf karena me-merepotkan mereka bapak,” bodo amatlah, rasanya Caca tidak bisa berpikir sampai apa yang keluar dari mulutnya tidak jelas.

Ciko tetap diam menatap.

Astaga Caca geram, mana gugup. “Bapak kenapa diam? Caca jadinya itu, apa..” Ha.. Sudahlah, tamat riwayatnya.

Dia akan dipecatkah? Kakaknya jika tahu semakin tamat riwayatnya.

“Saatnya berangkat kerja.” Ciko menyingkirkan selimut dan turun dari kasur.

Caca menganga, dia tidur dengan bossnya dengan keadaan bossnya hanya memakai celana dalam saja? Liat yang menonjol itu..

Caca segera membalik tubuhnya dengan syok, berdebar dan wajahnya sangat panas.

“Kenapa bapak tidak tidurkan Ca-saya di sofa? Di teras juga ga masalah!” Caca berseru saking syok dengan penampilan Ciko.

Gawat jika ada yang lihat. Mereka akan langsung berpikiran buruk.

“Hm, Lain kali gitu.”

Apa lain kali?

“Sa-sa-saya pamit,” Caca pergi begitu saja saat lihat jam di dinding. Bisa terlambat dia.

Ciko tidak menahan lalu melirik tas Caca. Dia hanya mendial nomor sopir untuk memaksa Caca diantarkan, jika gagal dia yang akan dipecat.

***

“Caca tumben banget,” Adhya mondar-mandir. “Apa ga ada taksi? Rasanya ga mungkin,” gumamnya.

Caca juga tidak kunjung mengangkat teleponnya. Apa dia baik-baik saja? Membuatnya panik.

“Makasih, pak..” Caca turun dari mobil yang tak asing namun Adhya belum ingat mobil siapa itu.

“Loh Ca, ga ganti—”

“Sttt.. Sini, ceritain di tempat sepi.” potong Caca lalu menyeret Adhya.

Caca begitu bawel, Adhya mendengarkannya dengan serius dan terkaget-kaget.

“Kita dalam bahaya, Ca. Apa nanti ada bukti kalian tidur sampai ke kak Adit?” panik Adhya.

Keduanya sungguh memiliki jiwa-jiwa drama.

“Bisa jadi!” balas Caca dengan begitu serius mengabaikan penampilannya yang acak-acakan.

“Lipstik, Ca! Kenapa bisa begini, apa pak Ciko cium lo?” bisik Adhya yang membuat keduanya menegang.

“Apa?” lirih Caca sambil menyentuh bibirnya.

“Terus kandungan, ga papa? Apa dia lakuin sesuatu sampai rasanya di bawah basah?” Adhya terlihat serius.

Caca menciut malu, wajah polos tapi tetap paham kok. “Engga, ih apa sih bahas itu, pakaian rapih ga ada jejak dibuka,” yakinnya.

“Haa.. Bagus lah, debay ga akan kenapa-kenapa,” Adhya mengusap perut Caca sekilas.

“Siapa ya, ayahnya..” gumam Caca sedih. Dia jadi ingat lagi masalah itu. Belakangan ini hidupnya begitu berat.

***

“Gue yakin, udah duga juga. Dia mau apain Caca? Ini jelas rumah dia!” Adit terlihat emosi.

Azura mengusap lengan Adit. Melihat Adit emosi baru pertama kali, mungkin karena Caca adiknya.

“Tenang, Dit.”

Mendengar suara Azura sontak wajah Adit luluh. Jangan sampai Azura takut, pernikahan mereka sebentar lagi.

Nolan juga merasa terganggu. Dia takut Adhya juga akan terkena dampaknya mengingat Ciko pasti tahu Adhya istrinya.

Apa Ciko masih kekanakan seperti dulu?

“Gue susul Ciko, jagain Azura.” Adit beranjak tidak tahan lagi. Masalahnya dengannya dan Nolan bukan Caca atau pun Adhya.

“Aku ikut, Dit.”

“Kamu ga bisa denger orang nadanya tinggi, aku pasti marah. Tunggu di sini ya, tuh ada Zahra, tunggu dulu ya.” Adit lega Zahra datang di waktu yang tepat.

“Nolan ikut, biar aku ga emosi. Tenang aja ya, dia ga akan ganggu kamu, Caca dan Adhya.” yakin Adit.

Azura hanya mengangguk, melepas Adit tidak rela. Dia masih ingin diyakinkan kalau Adit akan selalu ada untuknya. Egois memang. Semenjak ajakan menikah, egoisnya semakin menjadi.

“Ra, jangan terlalu kurung Adit, dia ga akan kemana-mana.. 24 jam bisa kamu liat, dia ga akan seperti mereka..” Zahra mengusap bahu Azura agar lebih tenang.

***

Adhya menoleh pada orang-orang yang berlarian ke satu titik. Di lobi gedung kantornya yang tak jauh dari kantin.

“Ada apa?” panik Adhya. Firasatnya buruk.

Caca juga mendekat, matanya melotot saat Adit terlihat emosi memukuli Ciko yang hanya diam tanpa melawan.

Nolan yang menahan Adit, berusaha menenangkannya. Nolan merasa, Ciko diam karena ada rencana lain.

Lihat saja jika Ciko memenjarakan Adit.

“Lo sentuh Caca, mati lo di tangan gue!” geram Adit.

“Kak Adit!” seru Caca panik, dia memeluk Adit yang dipeluk emosi sampai terengah begitu.

“Lo diapain sama dia?! Lo di kasih apa?” Adit begitu emosi.

“Gue cuma bawa ibu dari anak gue, apa salah?” Ciko memotong.

Semua orang kaget dan Adit semakin emosi. Ibu? Caca Hamil?

Nolan pun sama terkejut. Bayi itu— artinya malam itu Ciko yang. Kini Nolan yang meninju Ciko emosi.

Permainan Ciko sungguh menjijikan.

Andi melihat kejadian itu. Sepertinya dia tidak perlu tanggung jawab meluruskan semua yang terjadi pada Caca karena Ciko sudah membukanya sendiri.

Tugasnya untuk mengawasi Caca beberapa tahun ke belakang selesai karena Ciko tandanya sudah mengambil alih.

Dia sempat jatuh cinta pada wajah bayinya. Tapi Ciko bukan tandingannya. Dia akan sangat mudah membalik keluarganya menjadi sangat terpuruk.

Maaf, Ca. Udah bikin kamu hilang kesadaran. Kamu incaran serigala, aku ga bisa tolong.

Adhya memanggil Nolan panik, membuat Nolan berhenti. Ketiganya di amankan ke ruangan yang lebih tertutup. Caca maupun Adhya.

“Engga, kak Adit. Caca ga pernah berpikir jual diri, malam itu—” Caca tidak tahu harus menjelaskan apa. Dia tidak ingat.

“Caca ga inget, kak Adit. Caca cerita kayaknya dia mabuk,” Adhya membantu sahabatnya yang pucat merasa terus di pojokan sedangkan bajingan itu diam.

“Lo apain, Caca?” geram Nolan.

“Dia mabuk, gue jadi susah nahan godaan dia.” singkat Ciko seraya meregangkan rahangnya. Pukulan Nolan dan Adit lumayan juga.

Malam itu Caca terlalu imut sekaligus seksi, menari dilautan manusia bagai memancingnya.

“A-apa? Caca ga tahu, ga inget. Caca ga gitu, kak Adit.” tangis Caca pecah, takut Adit tidak percaya.

Lihat, tatapan Adit padanya penuh rasa kecewa.

“Engga, kak.. Kak Nolan, Adhya.. Engga,” lirihnya terisak gemetar.

“Ca, kita percaya.” Adhya memeluk Caca. Menatap Ciko kesal. Sungguh menjijikan caranya menjebak Caca hanya demi balas dendam.

Padahal arah Ciko tidak ke sana. Caranya memang sangat salah. Caca terlalu menguasai jiwanya dari saat mereka masih bersahabat.

Keadaan dan salah paham membuatnya menjadi rumit.

“Kita gugurin!” Adit beranjak, meraih lengan Caca.

Nolan, Adhya bahkan Caca terkejut mendengarnya. Resikonya sangat besar, lebih baik dia mengurus sendiri anaknya tanpa Ciko atau kakaknya.

Adhya juga akan selalu membantunya.

“Engga! Kakak tenang aja, Caca ga akan nikah sama dia, Caca akan rawat sendiri!” yakinnya.

Ciko sontak menatap Caca, tidak berpindah ke lain hal. Ucapan Caca sungguh mengganggunya. Dia akan berusaha membuat Caca menikah dengannya.

Obsesinya terlalu kuat, membuatnya susah untuk menyerah.

***

“Caca yang jadi korban, kalian kekanakan, cuma karena rebutin kak Azura?” Adhya terlihat emosi pada Nolan.

“Sugar, gue engga. Itu Adit sama Ciko, saat itu gue cuma salah ngomong aja seolah bela Adit yang lebih cocok buat Azura,” Nolan meraih lengan Adhya.

Adhya menepisnya. Dia tetap kesal. Kasihan Caca yang harus menanggungnya. Lagi-lagi gara-gara Azura.

Caca saat itu curhat, merasa perhatian Adit habis oleh Azura, bahkan kejadian sekarang gara-gara dia lagi alasannya. Orang yang paling harus di jaga perasaannya itu.

Adhya jadi kecewa pada Adit. Bahkan Nolan pun terkena imbasnya.

Malam ini Nolan merasa tidak tidur dengan Adhya karena terus merasa ditolak.

“Kalau gini namanya bener-bener musuh seranjang,” gumam Nolan kesal sendiri.

Kesalah pahaman yang harusnya sepele malah begini. Dia tidak tahu maksud Ciko menargetkan Caca karena apa.

Apa sebagai dendam Adit yang merebut Azura? Lumayan masuk akal. Ciko datang disaat Adit makin serius terhadap Azura.

“Sugar, sayangnya Nolan..” Nolan berusaha membujuk.

Adhya malah jadi jijik. “Berisik!” ketusnya.

***

Ciko menatap video ditelevisi besar yang ada di kamarnya. Suara percintaan, rintihannya saat menyetubuhi Caca sedang diputar.

Apakah video ini bagus untuk menjadi ancaman agar dia memiliki Caca dan menikahinya? Bayinya juga sedang tumbuh, harus tercukupi.

“Shh.. Aghh..” desahnya di dalam video itu.

Ciko menjilat bibir bawahnya, menatap tubuh Caca yang terguncang akibat hentakannya yang kuat dan cepat.

Di sini Caca masih sedikit membuka mata, masih meresponnya sesekali. Biusnya belum bekerja sempurna.

“Keliatan kita suka sama suka, hanya sebatas ini.” gumam Ciko. Durasinya hanya sebentar, seterusnya dia yang mencari kenikmatan itu.

Caca sudah terkulai tak sadarkan diri.

Ciko memainkan lidahnya saat melihat mulutnya sedang bermain di milik Caca yang indah.

“Mine.” gumam Ciko. Dia begitu menggebu ingin menggenggam Caca menjadi miliknya seorang.

BERTEMU, BERDAMAI DAN BERSEMBUNYI

Karena tidak kunjung hamil, mungkin karena Adhya tidak fokus dan kelelahan bekerja maka Nolan menyiapkan tiket honeymoon. Tapi semua batal.

Sudah dua hari Adhya masih marah tentang yang menimpa Caca. Dan Nolan tidak memaksanya untuk pulang.

Dia dan Adit memilih untuk menyelesaikan urusan dengan Ciko walau berakhir adu tinju lagi karena berani mengancam dengan video yang Ciko simpan.

Ciko sungguh matang mempersiapkan semuanya. Adit dan Nolan sampai kebobolan begini.

“Apa lo balas dendam lewat Caca? Dia ga salah apapun!” Adit mencoba duduk tenang walau tangan terkepal.

“Kalian salah paham,” Ciko meraih segelas air putih lalu meneguknya sedikit sampai amis darah sempat dia cecap sekilas.

Sudut bibirnya kembali berdarah.

“Kalau gitu jelasin!” Nolan terlihat kesal. “Demi apapun, Caca ga berhak—”

“Sekarang maupun dulu kalian salah!” potong Ciko dengan menatap keduanya tajam penuh amarah.

Dulu bukan masalah Azura. Ciko akui, dia tertarik dengan kecantikannya yang bagai bunga cantik walau rapuh. Rasanya ingin dia lindungi.

“Lo bilang, Azura cocok sama Adit. Dia akan lebih bisa jaga Azura agar tetap waras! Dan lo inget hari itu bilang apa lagi?” Ciko menatap Adit dengan tajam.

Adit dan Nolan menunggu dengan tangan terkepal. Ketiganya begitu penuh dengan kemarahan.

“Gue harus fokus ke Azura. Berhenti deketin Caca, adik gue ga akan gue kasih ke kalian. Ga cocok juga,”

Dari situ Adit dan Nolan ingat. Ciko yang berdiri dengan emosi. Dia meneriaki Nolan dan Adit seolah lebih baik darinya padahal Nolan yang terburuk.

Ciko tersinggung, apalagi dia juga menyukai Caca. Adik manis Adit yang selalu dia lihat berinteraksi dengan Adit.

“Lo tersinggung atau suka Caca?” Nolan menatapnya penuh selidik.

***

Caca terlihat diam, dia akan membuat surat mengundurkan diri. Ditemani Adhya di sampingnya.

“Tenang aja, uang Nolan ga akan habis kalau cuma bantu lo, Ca. Jangan dipaksa kerja, dia sendiri yang sebar gosip di kantor,”

Caca mengangguk pelan. “Iya, Adhya. Kelak uang pinjemnya pasti Caca ganti.” yakinnya.

“Iya terserah. Pokoknya jangan pergi kerja, dia gila. Gue yakin malam itu lo ga cuma mabuk,” Adhya jadi kesal plus sedih.

Caca menunduk layu. Dia sungguh tidak ingat sedikit pun. Saat terjaga hanya tubuh yang terasa remuk.

Musuh kakaknya memang jahat.

“Kamu gimana? Kok jadi ikut marah ke kak Nolan, dia ga salah loh, Adhya.” Caca menatap Adhya yang kini menghela nafas panjang.

“Kesel aja, Ca.”

“Baikan sana, Caca jadi ga enak karena bikin kalian gini. Bukannya kak Nolan nyiapin honeymoon ya? Pergi aja, jangan jadiin Caca alasan, Adhya.”

“Tapi, Ca..”

“Kalian lagi proses mau punya anakan? Pergi, Adhya.. Biar nanti anak Caca ada temen,” Caca tersenyum. “Serius, Caca dah gede, udah bisa jaga diri..” yakinnya walau dalam hati sedih.

Dia hanya memiliki Adit, dan kini Adit memiliki urusannya sendiri. Tapi tak apa, sudah waktunya dia jaga diri. Tuhan juga memberinya anak. Mungkin untuk jadi teman sepinya.

“Nih, pegang kartu ini.. Sandinya 100124,” Adhya akan menuruti mau Caca, jangan sampai Caca terbebani.

***

Nolan bergegas menghampiri Adhya yang berdiri di depan gedung apartemen agak lusuh yang Caca tempati itu.

“Udah lama nunggu, sugar?” tanyanya setelah mengecup kening Adhya sekilas.

Nolan pikir Adhya akan kembali menginap di tempat Caca hari ini. Saat Adhya menelpon dan memintanya untuk menjemput jelas saja Nolan pergi meninggalkan Adit dan Ciko.

Jangan sampai Adhya berubah pikiran.

“Ga. Dari mana?” tanya Adhya yang pasrah saat Nolan tuntun untuk segera masuk ke dalam mobil.

Nolan pun masuk dan barulah menjawab. “Tadi kita di tempat Ciko, kita lurusin semuanya.” jawabnya.

Adhya menatap Nolan penasaran. “Jadi gimana? Kak Adit kasih izin kalau pak Ciko mau nikahin Caca?” tanyanya.

“Engga, Adit ga bahas itu. Mungkin belum juga. Kita cuma bahas kesalah pahaman, ternyata dia pergi juga bukan karena masalah kita musuhan, dia memang pewaris, jadi harus sekolah di luar sampai bisa jadi kayak sekarang..” jelasnya.

“Harusnya kalian bahas Caca!” kesal Adhya. “Oh iya, kartu gue kasih ke Caca, dia mau resign.” lanjutnya.

“Pilihan bagus. Ga papa kasih aja, biaya hidup Caca ga akan besar, dia anak baik..” balas Nolan sungguh tidak keberatan karena Caca sudah dia anggap adik sendiri.

“Kok Caca ga kenal Ciko? Bukannya kalian bertiga sempet sahabatan?”

“Cacakan tinggal sama bibinya waktu itu. Jarang ketemu sama Adit,” jawab Nolan sambil fokus pada jalanan.

Adhya pun mangut-mangut.

“Kalau pun ketemu cuma sepintas, gue juga ga Terlalu kenal Caca saat itu. Beberapa tahun setelah Adit putusin buat berdua sama Caca baru kenal..”

“Nolan,”

“Hm?” Nolan menoleh sekilas.

“Boleh gue keluar kerja, cari di tempat lain?”

“Boleh banget, bahkan ga perlu ke tempat lain lebih boleh,” Nolan tersenyum seraya menoleh sekilas.

Adhya diam, dia ingin tetap kerja mencari penghasilan sendiri.

“Gue pisah kartunya.. Sebulan sekali gue kasih uang belanjaan, sama keperluan diri sendiri, uang itu udah jadi hak lo.. Kalo ke depannya ada sesuatu, gue ga akan ambil apa yang udah gue kasih..”

Adhya menatap Nolan, buaya satu itu ternyata baik sekali. Pantas banyak diincar oleh buaya betina.

“Kenapa?” Nolan menatap heran Adhya sekilas saat wajahnya ditekuk kesal. “Oke, kerja aja kalau mau ga papa.” Nolan mengalah dari pada marah lagi.

“Mau honeymoon lagi?” tawar Adhya.

Nolan sontak tersenyum cerah dan mengangguk. “Maulah!” jawabnya.

“Yaudah, besok mau resign juga.”

***

“Pelan aja,” Adhya menatap wajah Nolan yang sungguh dekat di depan wajahnya. “Rakus amat, sakit!” lirihnya gelisah.

Nolan mengabulkannya, kali ini mengulum dada Adhya lembih lembut. Mengusap kulitnya begitu perlahan menggelitik Adhya.

“Mau ke daerah mana? Atau keluar negeri aja?” tanya Nolan yang kini mendekatkan wajahnya ke wajah gelisah Adhya.

Adhya mengusap tengkuk dan rambut belakang Nolan. Dia menatap wajah tampan itu. Dulu mungkin suka bertengkar jika bertemu, jadi di pikirannya Nolan seperti beruang hitam.

Ternyata begitu tampan jika dengan sadar melihatnya tanpa kesal dan sebagainya. Apa lagi jika sedang enak begini. Begitu bercahaya.

“Cakep ya? Bukannya jawab malah anteng,” kekeh Nolan sambil mengecup pipi Adhya gemas.

“Hm..” jawab Adhya tidak bohong.

Nolan semakin melebarkan senyum lalu berdecak. “Bisa aja bikin gue degdegan!” lalu ndusel di leher Adhya.

Adhya tersenyum dan menggeliat kegelian. “Ke Korea boleh?” tanyanya.

“Ga.” Nolan menatap Adhya. “Di sana banyak cowok yang lo suka,” kekehnya.

Adhya ikut terkekeh. “Mereka ga akan bisa gue temuin, ets kok lo kayak cemburu?” ledeknya.

“Gue emang cemburu,” Nolan mendekatkan bibirnya namun Adhya bungkam.

“Ngeri banget cemburu!”

Nolan hanya diam menatap, membuat Adhya salah tingkah dan melepaskan bekapannya.

Adhya kaget saat tiba-tiba dua jemari masuk. “Kaget!” seru Adhya kesal plus malu juga. Mereka sedang serius berbincang tiba-tiba di sana mulai mengocoknya pelan.

“Kita fokus.” bisik Nolan sambil menatap Adhya yang menggeliat karena tingkah dua jemarinya.

Nolan hisap dadanya membuat Adhya kian tak karuan.

***

Adit turun dari mobil. Dia berlari menerobos hujan, menghampiri Azura yang kedinginan menunggu di luar.

“Kamu ngapain, Ra?” Adit terlihat khawatir.

Azura terlihat melemas lega. “Aku takut. Kalian pecah gara-gara akukan? Aku tahu semua dari Zahra,” isaknya pelan.

Azura begitu cemas. Dia merasa ingin pergi saja dari dunia ini jika jiwanya merasakan kegelisahan yang tidak bisa dia jabarkan.

“Jangan marah sama Zahra.. Aku yang paksa dia buat cerita soal dulu,”

Adit memeluk Azura. “Kita udah damai, aku udah selesaiin semuanya. Ciko udah tahu semuanya juga.. Dia ga ada alasan buat ganggu kamu, kita..” yakinnya.

“Jangan pergi, Dit. Kayaknya tanpa kamu aku ga yakin bisa terus bertahan..” lirihnya.

“Aku ga akan tinggalin kamu kayak mereka, ga akan, Ra.”

Azura mendongak, menatap Adit lalu berjinjit mengecup bibir Adit sekilas. Adit sontak membalas seraya menggiring Azura masuk.

Keduanya begitu memanas. Malam ini sepertinya menjadi malam yang entah keberapa kali mereka melewati batas.

***

Caca terhenyak kaget. Matanya membulat saat melihat ada Ciko yang basah di depan pintunya. Apa Ciko hujan-hujanan?

“Pa-pak Ciko?” Caca berdebar. Sosok di depannya orang yang merusaknya.

“Resign? Kenapa?” Ciko jelas tidak suka, dia tidak bisa melihat Caca berkeliaran di sekitarnya lagi.

Dia pindah ke negara ini lagi pun untuk bertemu Caca yang sudah dewasa bahkan kini hamil anaknya.

Caca melihat sekitar, takut ada yang melihat. Sadar soal itu. Ciko mendorong pelan Caca hingga keduanya berada di dalam dan pintu pun tertutup.

“Gimana keadaan kalian?” Ciko mengamati isi apartemen Caca. Ternyata tidak ada kemewahan, namun bersih dan nyaman.

“Pak Ciko kenapa masuk?!” panik Caca. Jika Adit datang bagaimana? Mana tadi Caca menelepon Adit untuk membawakan selimut lebih tebal.

Ting tong!

Caca melotot itu Adit? Dengan panik Caca menyeret Ciko menuju kamarnya. Memperingatinya untuk sembunyi.

Ciko tidak peduli. Dia melihat sekeliling kamar Caca. Ciko juga tahu, antara Nolan atau Adit yang datang.

Ciko mencoba kasur Caca yang begitu keras, tidak ada empuk-empuknya.

Bersambung… CANGGUNG DAN PANAS

“Hai, kak.” Caca terlihat canggung. Tersenyum kikuk.

Adit memicing, menatap sekitar.

“A-Awas licin, tadi mau pel lantai tapi kelupaan, malah asyik pegang ponsel.” jelas Caca yang segera meraih lap lantai, lantai basah bekas Ciko.

Adit menjelaskan semuanya, berharap Caca akan kembali tinggal bersamanya. Walau nanti Adit sudah menikah.

Tapi Caca menolak. Azura rentan, jika tidak sengaja Caca melukainya, Adit pasti akan ikut terluka.

Adit pun pamit pergi setelah mendapat jawaban pasti.

Caca menghela nafas lega, dia beranjak menuju kamar dengan cepat. Melihat Ciko yang telanjang bulat.

Caca menganga lalu berbalik. Tubuhnya menegang. “Pa-pa-pak Ciko kenapa,” dia tak bisa berkata-kata.

“Basah. Ada pakaian besar, Ca?” Ciko meraih handuk Caca, memakaikannya agar Caca bisa membawakannya pakaian.

Dengan segera Caca membuka lemari pakaian berbahan plastik itu. Dia mencari atasan yang dulu dia ambil dari Adit karena menyukainya.

Untuk celana ada training yang cukup besar, paling kependekan di Ciko.

“I-ini, pak.” Caca menyerahkan itu dengan canggung.

“Ciko atau kak Ciko, Ca.” Ciko menerima lalu melepaskan handuk begitu saja.

Caca sontak meninggalkan kamarnya dengan wajah memerah. Dia harus bagaimana memperlakukan Ciko. Apa dia menelpon Adhya saja? Jika Nolan tahu akan heboh dan masalah rumit nantinya.

Dan juga mereka akan sibuk mempersiapkan honeymoon lagi.

“Apa nyaman di sini, Ca?” Ciko mendekati Caca yang berdiri dekat sofa kecil yang hanya ada tiga itu.

Ciko duduk tanpa di suruh. Menatap Caca lekat. Caca mengeratkan jaket yang menutup piyamanya.

“Nyaman, kak.” jawabnya pelan dan memilih duduk.

Ciko terlihat lebih tenang, itu bagus dari pada semenyeramkan saat datang tadi.

Hening, membuat Caca gelisah diduduknya.

“Kak Ciko ga berhak bawa anak ini, Caca bisa urus sendiri,” yakinnya.

“Hm.”

Caca mengerjap, apa maksud dari gumaman itu. “Ja-jadi, kak Ciko ga usah ketemu atau ke sini, Caca ga akan lapor polisi karena ga ada bukti.” jelasnya terus terang.

“Hm.”

Caca menautkan alis. Kenapa hanya hm, hm saja. Membuatnya bingung..

“Kalau gitu kak Ciko pergi,”

“Hm,”

Caca menatapnya kesal. Sepertinya Ciko tidak fokus, bukti dari matanya yang tidak berkedip menatapnya lurus tak terbaca.

“Kak Ciko!” Caca berseru agak kesal, merasa dipermainkan. “Emang ya, jahat!” gumamnya kesal.

Caca terengah emosi, sedih dan campur aduk. Bisa-bisanya orang jahat itu duduk tenang di depannya.

Ciko beranjak, mendekat untuk mengusap puncak kepala Caca. “Kalau ga mau anak itu di rebut, lebih baik nurut.” lalu pergi.

Ciko akan tenang karena dia sudah berhasil memasang kamera tersembunyi untuk memantau Caca.

Caca berdebar cemas. Apa semuanya akan direbut darinya? Bahkan anak yang dikandung pun?

***

“Aku ke tempat Caca, Ra. Aku lupa pamit karena aku sebentar aja ke sana,” Adit mengusap sisi lengan Azura. Menenangkannya.

“Aku pikir hiks kamu ninggalin aku, aku cuma minta kamu izin biar aku ga panik,” isaknya.

Azura ingin normal, tapi tidak bisa. Mentalnya memang sudah terganggu.

“Aku salah, maaf.” Adit merengkuh Azura, membawanya masuk. “Ada dua minggu lagi waktu kita sebelum nikah, kamu jangan banyak keluar. Aku juga akan kurangin keluar kalau ga penting,” lanjutnya.

Azura mengangguk. Membalas pelukan Adit erat. Adit tidak marah, dia hanya harus bersabar. Ini keputusannya.

“Siapa Nala?” bisik Azura. “Aku ga sengaja liat pesan di ponsel kamu.” lalu mengurai pelukan.

“Dia orang baru yang urus bisnis lain Nolan, aku dipercaya buat bantu dia sampai bisa, lumayan uang tambahan,” Adit tersenyum.

Azura merasa gelisah namun memilih tersenyum dan mencoba percaya. Dia sebenarnya percaya pada Adit, tapi perempuan diluar sanalah yang tidak bisa dia percaya.

Adit kembali memeluk Azura. Dia begitu merasa serba salah. Pikirannya dipenuhi rasa khawatir terhadap Caca, tapi Azura juga membutuhkannya.

Adit tahu, dia salah karena mengutamakan Azura dibanding adiknya. Tapi jika diukur mental, mungkin Azura lebih parah dan harus lebih ditolong.

Adit percaya, Nolan dan Adhya akan membantu Caca.

“Apa Caca baik-baik aja?”

“Dia baik, ga layu. Dia mulai senyum lagi,”

***

Caca meringkuk di kasur. Baru saja selesai teleponan dengan Adhya. Dia memilih tidak menceritakan datangnya Ciko agar tidak cemas.

Dia tidak ingin mengganggu Adhya yang ingin memiliki momongan.

Caca mengusap perutnya. “Nanti kalian harus berteman ya,” lalu tersenyum. Perutnya belum buncit, tapi rasanya memang ada yang berbeda dengan tubuhnya.

Tidak menyangka akan merasakan hamil.

Namun sedih, dia hamil tanpa suami. Ayah bayinya malah musuh kakaknya. Dia mungkin hanya akan menjadi single mom.

Caca terisak pelan, hormon membuatnya gampang sekali menangis. Jika sendirian begini, rasanya menyedihkan.

Ciko mengetatkan rahangnya melihat itu. Harusnya memang tidak dengan cara begitu dia memiliki Caca.

Tapi jika tidak begitu, mana bisa dia terikat dengannya. Obsesinya sungguh besar terhadap Caca.

Ciko meraih sekantong plastik cemilan, dia keluar dari mobil yang terparkir di gedung apartemen Caca. Dia kembali masuk, menekan pintu bel walau tahu kunci sandi pintunya.

Dia takut Caca semakin takut dan tak nyaman lalu kabur. Begitu pikirnya.

Caca di atas kasur tersentak kaget, buru-buru menyeka air matanya. “Apa kakak ada yang ketinggalan? Astaga! Sembab ga ya,” paniknya lalu bersiap membuka pintu.

“Kenap—”

Ciko masuk lalu menutup pintu. “Kita ngobrol sambil makan cemilan sehat,” ujarnya dengan senyum tipis. Membujuk jiwa Caca agar tidak terlalu takut padanya.

“U-udah malem, ga enak—”

“Penjaga udah di bayar mahal, Ca. Tenang aja, kita disini bukan mau ngulang malam itu.” potong Ciko.

Dia menatap televisi cukup jadul itu. Dia tidak tahu harus bagaimana menyalakannya. Apa masih bisa di tonton.

Caca mencoba tenang, percaya. Dia masih tidak percaya sosok seperti Cikolah yang membuatnya hamil.

Caca mengunyah, agak takjub dengan rasa cemilan itu. Enak dan cocok dilidahnya.

“Malam itu, Caca mabuk?” Caca membuka suara, lebih baik memanfaatkan waktu selagi tidak menyeramkan di samping Ciko walau canggung.

“Hm..” awalnya, setelah itu dia bius.

Caca menghela nafas. Memang salahnya mungkin. Dia ingat duduk di kursi bar, melihat orang pesan. Dan dia ingat!

“Caca ga pesen minuman, dikasih..” serunya.

“Hal wajar, Ca. Aku yang kasih,” Ciko menatap wajah bayi Caca. Kini ada di depannya, begitu nyata.

Caca memilih membahas. Semua sudah terjadi. Anaknya juga sedang tumbuh. Ada Nolan dan Adhya yang membantu.

“Kasih aku waktu 3 bulan, aku akan bikin kamu jatuh cinta.” Ciko mendekat, menggenggam sebelah jemari Caca.

Caca menahan nafas kaget, jantungnya berdebar sampai wajahnya memerah.

“Tanpa Adit dan Nolan tahu. Kalau kamu sayang anak kita. Coba kamu pikir, saat dia besar. Dia ditanya siapa ayahnya, kamu bilang atau anak kita bilang ga punya ayah, kasihan dia, Ca.”

Caca menarik jemarinya hingga terlepas dari genggaman Ciko. Begitu canggung namun menebarkan.

“Aku cinta kamu dari lama, serius. Apa Andi ga bilang sesuatu?”

Caca mengerjap. Kenapa dengan Andi?

***

“Udah berapa kali ini?” Nolan terlentang dengan keringat membasahi leher dan otot di perutnya.

“Itung sendiri!” sebal Adhya. “Katanya istirahat, bentar banget! Lemes!” celotehnya.

Nolan tertawa pelan. Dia menggebu ingin bayi, Adhya juga enak dan pasrah saja. Bagaimana bisa Nolan menyia-nyiakan waktu.

“Oke, 5 menit lagi.” Nolan urung mengguncang Adhya dengan kenikmatan lagi. Dia akan menambah waktu istirahatnya.

Adhya pun terpejam sejenak, mengisi daya hingga merasakan bibir Nolan sudah menari di lehernya.

“Baru 3 menit deh kayaknya!” kesal Adhya.

“Sensi amat sih,” Kekeh Nolan sambil ndusel.

“Abis ga sesuai terus! Lebih baik jujur, lima kali lagi sayang, bukan sekali ini udah tapi lagi,” omelnya.

Nolan tertawa pelan. “Oke, lima kali lagi, sayangku sugar..” balasnya.

Adhya semakin kesal, dia menggigit bahu Nolan dan Nolan menghisap dada Adhya kuat setelahnya.

“Aduh!” Adhya mendesah gelisah. Balas dendamnya Nolan terlalu enak.

***

Adhya menatap dirinya di depan cermin.

Dia berdiri dengan Nolan merengkuhnya dari belakang, terus menggerakan pinggulnya.

Dua dadanya yang bergerak Nolan peluk dan remas-remas.

Pemandangan yang begitu panas.

Adhya melenguh halus saat Nolan mengangkat sebelah kakinya lalu Adhya setengah rebahan di meja itu.

Posisi ini atau apapun jika itu Nolan Adhya akan menggigil suka.

Nolan begitu liar sampai Adhya merebahkan tubuhnya di meja itu. Membiarkan berdiri dengan satu kaki karena satunya dipegang Nolan.

Panasss

KESEDIHAN DAN KEBAHAGIAAN

Adhya tersenyum menatap Caca yang cantik sekali hari ini. Hari di mana Adit dan Azura menikah, hanya keluarga, beberapa teman saja yang datang.

“Gue ga tahu pak Ciko akan datang, Lo ga papakan, Ca?” Adhya berubah cemas.

“Ga papa, Adhya. Caca ga mau banyak pikiran, kata pak dokter jangan banyak pikiran,” jawabnya.

Tersenyum memang tapi entah kenapa kedua mata Caca terlihat sedih.

“Kalau dia maksa, nyakitin, jangan ragu bilang ya, Ca..” ujar Nolan yang fokus di kemudi lalu menghentikan mobilnya di gedung apartemen agak lusuh itu.

“Apa ga mau pindah tempat?” tanya Nolan. Dia banyak kontrakan yang aman, tapi Caca selalu saja menolak.

“Ini tempat yang nyaman, kak Nolan.” Caca meraih semua barangnya. “Makasih ya udah antar Caca,”

“Jangan sungkan, Ca. Ada apa-apa telepon, kita pasti usahain datang,” balas Nolan.

“Iya, jangan takut. Bergantung aja sama kita,”

***

“Apa Caca beneran baik-baik aja?” Adhya menatap jemarinya yang di genggam Nolan.

Mereka masih di perjalanan menuju kediaman. Nolan terlihat santai melajukan mobilnya. Sambil jalan-jalan malam mungkin.

“Emang kenapa?”

Adhya menatap Nolan, apa ceritakan saja?

“Kak Azura..”

“Dia kenapa?” Nolan melirik sekilas.

“Dari dulu, Caca selalu ngerasa Adit direbut perhatiannya, selalu utamain Azura, kita ga tahu soal sakit mentalnya,”

Nolan terdiam sejenak.

“Seharusnya, maunya Caca.. Diakan adiknya, harus lebih diutamain, dia juga kesulitan, Nolan. Apa di dunia ini, cuma Kak Azura yang punya masalah mental?”

Nolan masih memilih diam.

“Caca juga punya, dia selalu merasa kesepian, ditinggal, wajahnya aja polos kayak bayi, dia aslinya sama rapuh kayak kak Azura.. Makanya apa Caca baik-baik aja liat kak Adit nikah sama Azura yang pastinya Caca akan merasa Adit sepenuhnya punya Azura sekarang..”

Nolan tiba-tiba merasa bersalah. Dia maupun Adit sama saja. Mengutamakan perasaan Azura, menyuruh orang disekitarnya mengerti tentang Azura tanpa peduli perasaan yang lain.

“Tapi Caca terus nolak gue nginep, apa sekarang dia lagi nangis sendirian?” Adhya tiba-tiba terisak.

Kenapa Caca cobaannya berat. Hamil sendirian, apa dia sungguh baik-baik aja?

***

Caca terisak sesak, terus mengayunkan langkah menuju pintu apartemennya. Dia memasukan pin lalu masuk tanpa bisa berhenti dengan tangisnya.

Mungkin karena hormon juga membuatnya begitu sensitif.

Caca senang melihat senyum bahagia di bibir Adit, mereka cocok. Ganteng dan cantik tapi entah kenapa dia begitu sedih.

Dia merasa semakin sendirian. Kakaknya, orang satu-satunya yang selalu ada kini memiliki kehidupan baru yang mungkin saja fokusnya tidak lagi padanya sepenuhnya.

Caca melepaskan tas di tangannya begitu saja. Tangisnya semakin kencang, dadanya sesak. Tangisnya begitu tergugu.

Caca tidak peduli dengan sekitarnya yang gelap. Masih ada bulan yang menerangi apartemennya lewat jendela besar itu.

Hingga siluet hitam terlihat, suara langkah terdengar. Tangis Caca agak terjeda saat melihat pria tinggi mendekat dan merengkuhnya.

Tanpa peduli siapa. Caca kembali menangis, tersedu-sedu. Yang dia tahan seharian ini pecah di pelukan orang yang harusnya dia benci.

“Ada aku, kamu ga akan sendirian.”

Caca mendengar itu semakin pecah, dia menangis sampai lemas dan terlelap. Ciko jelas menggendongnya dengan mudah, merebahkannya perlahan lalu memeluknya.

Di atas kasur keras itu Ciko memeluknya erat. Dia merasa terluka mendengar tangisnya. Rasa ingin memiliki dan menjaganya semakin menggebu.

***

Adhya memeluk Nolan, Nolan pun sebaliknya. Mereka hanya saling memeluk dan diam. Sibuk dengan pemikiran masing-masing.

“Nolan, kok udah honeymoon, kita juga sering begitu, kenapa ga kunjung hamil ya? Apa ada yang salah?”

Nolan tersenyum tipis, dia sudah menduga. Adhya pasti akan bertanya begitu. Merasa tidak kunjung hamil.

“Proses, sugar. Kita pasangan menikah, biasanya ga bisa sekali hamil, Tuhan mau kita menikmati setiap prosesnya..”

“Tapi kalau ga kunjung—” Adhya berhenti.

Nolan paham kemana arahnya. Dia peluk Adhya erat, mengecup rambutnya beberapa kali.

“Ga papa, gue ga kecewa kok, santai aja.. Suka banget gue sama prosesnya,”

“Ck! Hm.. Apa ini karma karena awal nolak—”

“Engga gitu, udah jangan dipikirin, kita yakin aja dan terus berproses,” potong Nolan.

“Lucu ya,” Adhya terkekeh pelan.

“Hm? Apanya?” Nolan mengurai pelukan, dia tatap wajah Adhya yang semakin bercahaya saja. Cantik.

“Kitakan musuh seranjang, tapi kok makin lengket,” kekeh Adhya.

Nolan mengecup dan menggigit gemas bibir bawah Adhya sekilas.

“Kita bukan musuh, cuma lawan debat aja, sugar..” kekehnya.

“Tetep aja, dulu setiap ketemu mana bisa akur, selalu aja berantem sampai kalau ketemu itu muak, mana lo buaya..” Adhya mencubit sekilas pipi Nolan.

“Bukan buaya yang suka sering jajan ya, sesekali aja, sugar. Gue nyesel, harusnya lebih jaga diri buat lo, tapi tenang aja.. Semua kebiasaan udah gue lepas perlahan.. Sekarang lumayan bisa ga terlalu ramah sama perempuan,”

Adhya menatap Nolan yang berceloteh menjelaskan ini itu. Bibir Adhya terangkat, mengukir senyum. Dia akan mencoba percaya, sejauh ini Nolan cukup menepati janjinya.

***

Adit terdiam di ujung kasur. Dia tidak bisa menyingkirkan wajah sedih adiknya dengan senyumnya yang terasa palsu.

Rasanya dia meninggalkan Caca sendirian. Padahal menikah atau tidak akan tetap sama. Jika pun Caca repotkan dia akan lakukan tanpa masalah.

Apa pilihannya ini tidak salah?

Satu sisi dia ingin menyelamatkan Azura agar tetap hidup di sampingnya. Menjadi sahabat, kekasih dan istrinya.

Satu sisi dia seperti meninggalkan adiknya yang tengah hamil sendirian.

Perasaan Adit menjadi tidak nyaman tanpa bisa dijelaskan.

Apa dia berdamai saja. Membiarkan Ciko bertanggung jawab terhadap adiknya. Tapi, apakah Ciko sungguh tulus.

Dulu saat bersahabat Ciko memang sangat baik walau sama buaya seperti Nolan, Adit juga tidak sepenuhnya baik, bermain perempuan pernah sebelum bertemu Azura, pecah pun persahabat mereka hanya karena kesalah pahaman.

Ciko menyakiti Azura karena emosinya yang tidak terima saat itu.

Sekarang… Apa bisa Ciko dia percaya?

“Kenapa? Lelah ya?” Azura tersenyum dan duduk di samping Adit.

Adit menatap Azura dengan gaun tipisnya. “Cantik, dari siapa?” tanyanya mencoba berhenti berpikir.

“Hadiah, Zahra..”

“Bagus, lebih bagus ga pake apa-apa sih,” Adit mengulum senyum melihat Azura tersipu.

***

“Siapin sarapan? Tumben,” Nolan membenarkan boxernya lalu menempel ke punggung Adhya yang mengaduk nasi goreng buatannya.

“Jangan bikin kita jadi musuh lagi, diem aja.” sensi Adhya.

Nolan tersenyum, memeluknya tanpa banyak berkata. Adhya mengulum senyum karena berhasil membuat Nolan menurutinya.

“Wangi ga?”

Nolan mengangguk. “Enak kayaknya.” jawabnya semakin membelit perut kecil Adhya.

“Pasti, jarang masak tapi sekali masak jago,” bangga Adhya begitu angkuh, menggemaskan. “Jangan grepe!” tegur Adhya sambil menoleh sekilas.

Nolan ndusel di bahu Adhya, tetap memasukan dua jemari tangannya ke dalam CD dan satunya br*.

Adhya menggigit bibirnya, terus mengaduk lalu mematikan kompor.

“Sebentar ya,” Nolan menarik dan merebahkan Adhya ke meja makan.

Adhya terlihat kesal walau berakhir tersenyum pasrah saja di makan Nolan di meja makan hingga nasi goreng mendingin.

***

Caca segera mendorong Ciko dengan marah. Mereka tidur semalaman? Gara-gara kesedihannya dia sampai melakukan hal itu.

Caca membencinya. Membenci semuanya. Keadaannya. Melihat sumber masalahnya jelas membuatnya kacau.

Moodnya sangat buruk pagi ini.

Caca menyeka air matanya. Dia merasa tidak bisa menahan kesedihannya.

Ciko menatap Caca dalam diam, mengabaikan pakaiannya kusut, rambutnya berantakan. Dia tidur nyenyak memeluk Caca semalaman.

“Apapun aku kasih. Kamu akan bahagia sama aku, Caca.” yakin Ciko.

“Pak maksudnya kak Ciko, pasti cuma balas dendamkan? Caca udah hancur, kak. Balas dendamnya udah berhasil,”

Tatapan Caca begitu layu, lelah, putus asa. Pengaruh hormon hamil juga. Nafsu makan hilang, apapun hilang sepertinya.

“Apa tawaran aku ga menarik. 3 bulan, Caca..” Ciko mendekat namun Caca mencegahnya.

“Caca mati rasa kayaknya, udah cukup kak. Ga akan sanggup lagi kalau terluka lagi,” lirihnya dengan bibir bergetar.

Ciko mengetatkan rahang dan kepalan tangannya.

“Cinta, ini cinta bukan dendam. Caraku salah, aku tahu. Tapi tanpa dia, kita ga terikat, Caca.” Ciko menatap perut Caca.

Caca mengusap perutnya dengan air mata kembali berjatuhan.

“Kamu benci aku, itu pasti. Tapi aku mohon, manfaatin aku, Ca. Bergantung sama aku, aku kasih semuanya buat kamu, aku secinta itu,”

Caca menatap Ciko. Dia merasa asing jelas, dia tidak akrab dengan Ciko, tiba-tiba hadir dan menawarkan cinta.

“3 bulan, coba aku. Aku bisa bikin kamu merasa hidup, ga sendirian, dan bahagia.”

Bersambung… MEJA MAKAN

“Mau makan apa?” Ciko begitu lunak, berubah bagai membujuk anak kecil. Wajah datar dan aura dinginnya entah kemana.

Caca mengerjap, menatap wajah Ciko yang mengintip wajahnya. Senyum tipisnya begitu menenangkan. Caca sejenak mengamati wajah tampannya yang bersih itu.

“Hm?” Ciko menunggu dengan sabar.

Caca mengalihkan pandangannya. Dia terlalu ketara mengamati Ciko sepertinya. Membuatnya malu sampai pipinya panas.

“Ga mau apa-apa,” jawab Caca pelan nan lirih. Dia sungguh tidak memiliki nafsu makan apapun.

Perasaannya tidak bisa dijelaskan.

Ciko menghela nafas pelan, dia beranjak dan duduk di depan Caca. Bersimpuh sambil menggenggam 2 jemarinya.

“Kamu boleh benci aku, tapi dia gimana? Dia lapar, Caca. Semalem kamu ga makan, di pernikahan Adit juga.”

Caca terdiam menatap Ciko lagi. Dia tahu sedetail itu.

“Serius, ga ada nafsu makan.” cicit Caca menunduk lesu. Mual untungnya tidak muncul pagi ini.

Ciko mengusap jemari dingin Caca. Membuatnya hangat. “Bubur ya?” bujuknya begitu lembut.

Caca sampai kembali diam menatap Ciko. Dia seperti melihat orang lain. Membuatnya tanpa sadar mengangguk.

Ciko tersenyum tipis. Mengusap sekilas pipi kiri Caca yang memerah lalu beranjak tanpa banyak kata.

Dia akan memesannya. Menyiapkan air hangat untuk Caca.

Caca mengerjap gugup, tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar.

***

Adhya terpejam lemas nan terengah di atas meja makan itu. Membiarkan Nolan yang berdiri merebahkan kepalanya di dada Adhya.

Nolan menyeka peluh di wajah dan lehernya lalu menegakan tubuh dan kembali bergerak perlahan lagi.

“Cuaca pagi ini panas banget Haa..” Adhya mengerang gelisah, meremas setiap lengan Nolan yang berada di setiap sisi tubuhnya yang terguncang cantik.

Nolan tidak berkedip, menatap pakaian Adhya yang compang-camping seksi. Di atas meja, di pagi hari.

Astaga.. Enaknya menikah.

Adhya menyambut wajah Nolan, membingkainya lalu menjulurkan lidahnya yang langsung saling membelit.

Panas sekali paginya. Entah kenapa Adhya juga sangat aktif dari biasanya.

Nolan kecupi rahang Adhya, telinga lalu merambat ke lehernya yang sudah penuh dengan jejak percintaan.

“Inih.. Ga sebentar, lama! Nolan,” lirihnya gelisah.

“Sekarang, sugar. Sekarang,” Nolan mulai mengeratkan pelukan, menggeram dan kian cepat.

“Nolan!” jerit Adhya tertahan, meremas punggung Nolan. Dia terlalu cepat dan liar.

Nolan mengerang rendah, dia menghentaknya dalam sampai bergetar bersama Adhya yang menggelinjang di pelukannya.

Adhya terpejam, merasakan hangat di sana. Semoga kali ini dia bisa mengandung.

Keduanya sama terengah lemas penuh nikmat dan kelegaan.

Nolan seka keringat di wajah Adhya, mengecupi wajah dan bibirnya.

***

Nolan tertawa pelan mendengar ocehan Adhya tentang nasi goreng yang mendingin.

“Kita lagi berproses, sugar. Angetin aja,” Nolan gigit pelan pipi Adhya lalu menyiapkan air di meja makan yang baru Nolan bersihkan.

“Ha.. Oke.” Adhya terdengar kesal, menghangatkannya sebentar. Menyajikannya.

“Makasih, cantikku.” Nolan mencubit bibir manyunnya sekilas.

“Ga tahu gimana rasanya,” Adhya memulai makan, di lidahnya tidak buruk lalu menatap Nolan.

“Hm.. Enak,” pujinya tidak bohong.

Keduanya menghabiskan sarapan tanpa sisa. Saking lapar dan banyak mengeluarkan tenaga sebelumnya.

“Caca belum bales pesan, dia mungkin masih tidur atau cari sarapan. Nanti siang makan bareng ya?”

“Hm, boleh.” Nolan meminum air sedikit. “Adit juga ajak makan bareng, tapi ga langsung di jawab,” lanjutnya.

“Boleh aja, kita makan bareng biar Caca ga merasa Adit jauh,” itu bukan ide buruk.

“Oke.” Nolan menyalakan ponsel, menjawab Adit bahwa dia bisa makan siang bersama, akan membawa Adhya dan Caca. Adit senang membalas pesannya.

“Gue yakin, posisi Adit juga berat,” Nolan mematikan ponselnya. “Yang penting kita adain aja pertemuan, sesingkat apapun. Biar Caca ga kesepian,”

Adhya menatap Nolan haru. Buaya satu itu ternyata baik. Sangat peka dengan perasaan orang lain. Saking pekanya jadi playboy mungkin ya. Kekeh Adhya geli sendiri memikirkannya.

***

“Ra, kita makan sama Nolan, Adhya, Caca, ya siang ini.” Adit mendekati Azura.

“Oke, seneng kalau banyakan.” walau Azura merasa tak nyaman sebenarnya. Caca terlalu ketara seperti tidak menyukainya.

Membuat Azura selalu merasa tak enak hati tanpa alasan pasti.

“Aku mau kamu sama Caca lebih akrab, kita keluarga sekarang,” Adit memeluk Azura penuh harap.

Azura mengangguk, membalas pelukan Adit.

“Gimana masih sakit? Aku terlalu semangat semalem,”

Azura bersemu malu. Semalam mereka lebih liar dari malam-malam biasanya.

“Udah engga terlalu.”

Adit mengecup kepala Azura. “Seneng banget bisa nikah sama kamu, Ra. Semoga selalu bahagia ya,” lalu dikecupi lagi.

Azura tersenyum. Adit begitu baik, dia hanya perlu bahagia dan lebih baik lagi agar bisa membalas kebaikan Adit.

Walau rasanya menyesakan, tidak nyaman. Azura harus berjuang. Dia tidak boleh berpikir ingin hilang di dunia ini.

Adit bisa saja kecewa padanya. Dia tidak ingin begitu.

***

Caca memakan buburnya sampai habis. Entah karena enak atau baru sadar dia lapar. Yang jelas habis tanpa mual.

Ciko begitu lega melihatnya. Dia juga selesai sarapan.

“Ca, boleh aku beliin kamu kasur, televisi?” Ciko akan selalu bertanya, dia ingin Caca nyaman.

“Engga mau.” Caca menggeleng dengan dua matanya yang meredup agak ngantuk. “Kak Adit bisa salah paham, kecuali Kak Ciko izin sama kak Adit,” lanjutnya.

Ciko mengangguk, akan dia pikirkan bagaimana caranya membicarakan itu pada Adit. Jelas Adit masih belum mau berdamai.

Ciko meregangkan tubuhnya. Dia merasa tidak enak badan. Kasur yang dipakai Caca begitu keras.

Caca melirik Ciko. “Apa kak Ciko ga kerja?” tanyanya mencicit.

“Siang berangkat, kamu sama Adhya udah diurus pengunduran dirinya, kamu istirahat yang banyak.” Ciko menunjuk kulkas. “Udah di isi makanan, banyak ngemil biar bayinya sehat,” jelasnya.

Caca mengangguk pelan dan menunduk. Dia masih tidak tahu harus bagaimana. Ingin marah-marah membencinya bukan tipenya dan juga lelah rasanya.

“Minta nomor, Adit.” Ciko tidak akan menunda dan banyak berpikir. Sekali pun berakhir debat. Kasur yang di pakai Caca sungguh tidak baik untuknya.

***

“Lo tidur sama Caca?” amuk Adit sampai menjauh dari Azura.

Mereka baru selesai bercinta di pagi hari menuju siang.

“Gue ga tidur, cuma cek semua yang ada di apartnya!” Ciko milih berbohong, membuat Caca lega di sampingnya.

Caca tidak menolak jika Ciko akan memberikannya kasur bagus. Dia juga sudah tidak kuat jujur saja. Tubuhnya selalu terasa rontok jika bangun tidur.

Adit mengepalkan tangan. Ingin mengamuk tapi dia memilih menelannya. “Apa seburuk itu kasurnya?” tanyanya mulai luluh.

Adit sedih. Bahkan soal itu dia tidak tahu. Kakak macam apa yang menyiksa adiknya tanpa dia sadari.

Di sini dia tidur di kasur empuk.

“Sehari aja bikin gue harus pergi ke tempat pijet. Pokoknya gue kasih semua buat Caca, tanpa Caca minta, tanpa hal buruk apapun. Ini niat baik gue buat dia yang gue cinta,”

Adit diam sejenak. “Jangan lewati batas lagi. Gue kasih kepercayaan sementara buat lo tanggung jawab. Kalau akhirnya gue tahu lo cuma dendam, lo habis sama gue!” lalu mematikan panggilan sepihak.

Adit terisak pelan. Azura jelas mendekat dan memeluknya.

“Aku gagal jadi kakak, Ra. Adik aku satu-satunya hidup susah tanpa aku tahu.”

***

Caca menatap semua barang mewah yang datang. Caca mendongak saat Ciko mengulurkan tangan.

“Kita tunggu di cafe sebrang. Tukang pasti cepet pasang wallpaper dinding, semua aku renov, jangan protes, Adit udah kasih izin!” tegasnya namun terdengar tetap lembut.

Caca hanya diam patuh. Dia masih bingung. Dia senang namun masih tetap sedih.

“Siang Caca harus ke tempat makan, kak Adit sama yang lain makan siang,”

“Aku ikut.”

“A-apa? Jangan.” Caca begitu lemah.

Ciko sampai menoleh, menatap wajah pucat Caca, tangannya terulur memeriksa keningnya.

“Demam.” segera dia gendong.

Caca berontak pelan, namun Ciko tidak kunjung menurunkannya hingga berakhir di dalam mobil dan di bawa ke rumah besar dengan banyak pelayan.

Tak lama ada dokter. Caca tidak bergerak, dia terlalu pening dan lemas.

JANJI, MASALAH DAN BERHASIL

Ciko menatap Caca yang mengigau di tidurnya. Demam memang belum turun tapi dokter sudah menanganinya. Demamnya muncul hanya karena banyak pikiran dan kelelahan.

Ciko sangat tahu, betapa berisiknya pikiran Caca walau wajahnya seperti bayi polos.

Ciko usap peluh yang muncul lalu mengompres lagi. Caca sudah ganti pakaian, dia menggantinya agar nyaman karena yang sebelumnya penuh keringat.

“Hiks..” Caca menangis dalam tidurnya lalu terdiam lagi. Entah apa yang sedang dia mimpikan saat ini.

Ciko menatapnya tak terbaca. Dia salah satu alasan kehancuran Caca. Dia menyesal namun semua sudah terjadi. Dia hanya akan bertanggung jawab.

Dia akan menjamin dan membahagiakan Caca.

“Ha.. Dingin,” lirih Caca dengan mata sedikit terbuka. “Kak Adit..” lirihnya begitu pelan dengan mata kembali terpejam.

Ciko masuk ke dalam selimut, menutupi Caca dan memeluknya agar hangat. Caca terus bergumam tidak jelas hingga suara nafasnya yang terdengar teratur.

“Tidur yang nyenyak, mimpi indah, Caca.” bisik Ciko lembut walau wajahnya tidak ada keramahan jika Caca tidak melihatnya.

Semalaman Ciko menjaganya, memastikan demamnya turun dan untungnya pagi tiba demam Caca turun.

Ciko akan mengubah dirinya sendiri untuk Caca. Dia akan mengubah dirinya lebih lembut dan perhatian agar Caca nyaman di dekatnya.

***

Adit pamit pada Azura, kemarin memang tidak jadi makan siang. Nolan dan Adhya juga membatalkannya karena ada urusan mendadak.

“Kemana?”

“Aku mau beli beberapa barang, Nolan suruh buat kontrakan yang kemarin di perbaiki,” jawabnya.

“Oh, oke. Hati-hati, makan malem di sini ya.. Aku mau siapin,” Azura terpejam sekilas menerima kecupan di bibirnya.

Adit mengangguk.

Adit pun pergi. Sebelum menjalankan tugasnya, dia ingin melihat apartemen Caca dulu. Mumpung masih cukup pagi.

Apa di sana ada Ciko? Bagus jika ada, dia ingin membicarakan semuanya. Dia tidak tenang, dan akan memilih mengalah jika itu baik untuk adiknya.

Sungguh dia akan berdamai walau berat mengingat Ciko pernah melukai Azura dan sekarang menargetkan Caca hingga adiknya harus mengandung sebelum menikah.

Adit pun sampai, dia turun dan menuju ke unit apartemen adiknya. Di sana hanya ada dua pegawai yang tengah membereskan sampah.

Adit tersenyum. “Saya kakak dari pemilik apartemen ini,” lalu tatapan Adit meliar, menatap sekeliling.

Dalam apartemen jadi nyaman dan bersih. Ada banyak hal baru, terlihat mahal. Jika begini Caca akan nyaman.

“Pak Ciko membawa bu Caca karena beliau sakit, jadi kami di percaya menyelesaikan semua ini,”

“Sakit?” Adit berdebar cemas. “Baik, Makasih pak.” Adit segera mendial nomor Caca.

Adit bergegas turun menuju mobil Nolan yang selalu dia pakai itu. Entah urusan pekerjaan atau sehari-hari.

“Ca, kamu dimana? Sakit apa?” todong Adit tanpa menyapa dulu.

“Dia masih tidur, demamnya udah turun, cuma perlu makan obat dan vitamin. Siang pulang ke apart,” jelas Ciko datar.

“Dimana Caca sekarang? Dia bisa di tempat gu—”

“Lo urus Azura! Caca ga akan nyaman ganggu kalian. Dia aman di sini,” potong Ciko.

“Gue perlu ngobrol hal penting sama lo. Biarin Caca tidur dan temuin gue di—”

“Lo datang ke alamat gue.” potong Ciko lalu menjelaskan alamatnya dan mematikan panggilan sepihak.

***

Nolan menatap Adhya yang sibuk membungkus makanan untuk sahabatnya. Nolan tidak masalah, dia juga anteng ngemil sambil menatapnya.

“Caca sakit, kasihan..” Adhya terlihat murung sedih, terus membungkus dengan bersih dan rapih.

“Aman, Ciko banyak uang, dia ga akan diem karena ada anaknya di rahim Caca.” Nolan menyimpan cemilan, mengecup pipi Adhya lalu berjalan untuk meraih minum.

“Lo udah percaya kalau Ciko ga akan macem-macem? Dengan dia bikin Caca hamil aja—”

“Ssstt.. Sugar, jangan emosi. Kasihan Caca kalau kita gini, Caca nanti merasa bersalah. Kita mending biasa aja, tanpa nolak atau terima Ciko. Kita fokus aja bantu Caca nyaman, pastiin dia ga sendirian, masalah Ciko biarin aja,” potong Nolan lalu meminum airnya.

Adhya terdiam. Benar, lebih baik fokus pada Caca.

“Ada yang dateng,” ujar Adhya saat mendengar bel berbunyi. “Bentar,” dia pun pergi dari dapur.

Nolan kembali meraih cemilan dan duduk anteng menunggu Adhya. Paling yang datang paket yang dipesan Adhya.

“Nolan.”

Nolan berhenti mengunyah dan menoleh pada suara yang memanggilnya. Itu bukan Adhya, suara perempuan lain yang tak asing.

“Hiks.. Nolan, aku hiks hamil,”

Tubuh Nolan membeku, dia menatap Adhya yang memucat kaget juga sepertinya melihat ada perempuan tanpa sopan santun masuk begitu saja.

“A-Apa?” lirih Nolan syok.

***

Adhya pergi tanpa peduli Nolan lagi. Dia membiarkan suaminya menyelesaikan tanpa ikut campur.

Adhya menuju rumah yang katanya rumah Ciko. Caca ada di sana bahkan dia tidak tahu Adit juga ada.

“Adhya? Kenapa?” Adit berhenti berbincang dengan Ciko.

“Caca mana?”

“Lantai dua, pintu ketiga.” jawab Ciko datar.

Adhya pun pergi bergegas. Membiarkan Adit melanjutkan percakapan seriusnya dengan Ciko.

Ciko datar saja, dia sungguh tidak memiliki dendam. Dia hanya terobsesi ingin memiliki Caca sampai nekad. Kenapa tidak ada yang percaya.

“Gue ga suka semenggebu ini sama Azura. Dia cuma sahabat yang kita sayang, gue mungkin belum paham sama perasaan hari itu.” Ciko begitu malas menjelaskannya.

Dia sungguh bukan karena Azura. Dia sudah lama melupakannya. Hanya Caca, terus Caca yang dia lihat lewat informasi yang selalu Andi berikan.

Dari mereka kuliah, bahkan bekerja di kantor yang Ciko ambil alih itu. Sampai malam itu tiba, Ciko hilang kendali.

Caca terlalu tidak bisa dia lewatkan.

“Gue ga akan egois. Kalau Caca mau lo tanggung jawab, dia terima itu. Gue akan kasih restu, dengan syarat jangan sakitin dia. Kalau mau, sakitin gue aja.”

Ciko mengangguk. “Gue paham. Gue akan bujuk Caca pelan-pelan, gue mau kasih dia kehidupan yang layak, gue ga akan paksa.” janjinya.

Adit berdiri. Dia harus pergi melanjutkan pekerjaannya.

***

Ciko bersandar di dekat pintu kamarnya yang diisi Caca dan Adhya kini. Keduanya tengah berpelukan dan sama terisak.

Ciko tidak heran mendengarnya. Nolan sedang ada masalah, salah satu perempuan yang pernah singgah dan main-main bersama Nolan hamil.

“Karma buaya,” gumam Ciko.

“Tapi kak Nolan yakinin, dia ga mungkin kecolongan, coba percaya dulu, Adhya.. Jangan kabur gini,” tegur Caca dengan isak pelan.

Ciko terdiam. Dia lumayan tahu, Nolan memang selalu sedia payung sebelum hujan. Dia nakal, selalu membawa k*ndom untuk jaga-jaga.

Apa ini jebakan. Bisa jadi. Pikir Ciko acuh tak acuh. Hingga nomor Asing muncul di ponselnya.

Nomor Nolan. Isi pesannya menanyakan Adhya, menjelaskan masalahnya panjang lebar.

“Padahal gue ga mau tahu, kenapa harus jelasin panjang lebar.” gumam Ciko acuh namun memilih tidak diam.

Dia meminta orang suruhannya yang terpercaya menyelidikinya dulu. Siapa tahu memang Nolan melakukan kesalahan dan apes.

***

Adhya melirik Ciko, kata Caca pria itu sangat baik memperlakukannya jadi dia tidak perlu khawatir.

“Gue pulang, Nolan udah nunggu.” Adhya memeluk Caca, lumayan tenang jika sudah bercerita.

“Hm, hati-hati. Semoga masalahnya cepet selesai,”

Adhya mengangguk lalu menatap Ciko yang menatapnya datar. “Kak Ciko, titip Caca.” Adhya mencoba tidak terlalu formal. Toh mereka sudah bukan boss dan pegawai lagi.

Ciko mengangguk. “Sopir akan anter,” balasnya.

Adhya hanya mengangguk, itu permintaan Caca agar Adhya mau di antar oleh sopir Ciko yang pastinya lebih aman.

Adhya pun pulang, dia akan menuruti kata Caca. Tidak boleh kabur, marah atau kecewa dulu. Dia harus menemani Nolan sampai selesai. Apalagi Nolan sudah mengaku tidak pernah meninggalkan benih kecuali pada Adhya.

***

Caca duduk di atas kasur Ciko yang empuk dan luas itu agak canggung. Ciko terlalu menatapnya lekat.

“A-ada apa, kak?” tanya Caca mencicit risih. Apa di wajahnya ada kotoran?

“Mau makan siang? Udah saatnya minum obat.” Ciko menyentuh kening Caca yang hangat berangsur-angsur normal.

Caca menahan nafas sejenak lalu memilih mengangguk. Dia merasa lapar. Dia juga ingin sembuh agar tidak merepotkan banyak orang.

“Adhya bikin bubur,”

Ciko tahu, dia bergerak membuka wadah bubur yang dibawa Adhya.

“Kapan pulang?” tanya Caca mencicit.

“Beres makan obat.” Ciko akan mengantarnya.

***

Caca berdebar pasrah saat Ciko dengan mudah menggendongnya hingga sampai di apartnya. Mata Caca membulat melihat ruangan yang bercat putih lusuh kini berubah menjadi indah banyak bunga pink menghiasi dinding.

Ciko sepertinya tahu. Caca suka warna yang soft dan feminim.

“Suka?” bisik Ciko sambil menurunkan Caca perlahan dan berdiri di kakinya sendiri.

Caca mengangguk pelan, menatap semuanya. Televisi, kulkas, semua barang baru lainnya. Pasti banyak uang dikeluarkan.

“Caca ga tahu balasnya gimana?” gumam Caca yang Ciko tangkap jelas walau suaranya pelan.

“Jangan tolak tawaran 3 bulan, itu bayarannya.”

***

Nolan berjongkok, menunduk menunggu pulangnya Adhya. Di saat dia berjuang ingin anak dan berhasil, kenapa ada masalah begini.

Nolan sampai bertengkar hebat dengan Namira. Dia yakin, hubungan mereka pun sudah cukup lama tidak terjalin. Kehamilan Namira terlalu muda.

Nolan bersumpah tidak berc*nta dengan siapa pun lagi semenjak menikahi Adhya.

“Nolan.” Adhya memanggilnya bergetar sedih.

Nolan mendongak dan berdiri cepat lalu memeluknya. Nolan terus bersumpah, menjelaskan semuanya.

“Kita ke dalem, jangan di sini.”

Nolan mengangsurkan test pack yang Adhya tinggal di kamar mandi lalu menggendongnya.

Adhya hendak menolak di gendong namun memilih menatap yang dia pegang lalu melotot. Pantas moodnya narik turun dahsyat. Ternyata sedang hamil?

“Ha-hamil?” lirih Adhya syok penuh haru.

Nolan mengangguk. Dia sungguh kacau. Dia akan mencari bukti bahwa anak Namira bukan anaknya.

Bersambung… GARA GARA HORMON

Entah sejak kapan, wajah Ciko begitu dekat. Caca tidak berkedip menatap bola matanya yang begitu indah. Ini pertama kalinya.

Caca menahan nafas saat bibir Ciko hinggap di bibirnya. Caca tidak terpejam, dia menatap kedua mata Ciko yang tertutup. Bulu matanya panjang dan lentik. Indah sekali.

Jemari Caca meremas setiap sisi pinggang kaos santai yang dipakai Ciko. Merasakan bibirnya disapu lembut, kepala Ciko bergerak kadang ke kiri, ke kanan.

Caca semakin meremas kaosnya, melirik telinga Ciko yang memerah. Entah kenapa, dia sulit mendorongnya menjauh.

Ciumannya terasa enak walau kian membuatnya sesak. Nafasnya menipis. Caca terpejam lalu terbuka lagi saat Ciko menjauh.

Caca melahap rakus udara, Ciko pun begitu. Keduanya saling menatap, bibir Ciko perlahan naik membentuk senyuman tipis.

Caca melirik bibir basah Ciko lalu naik ke kedua matanya yang tajam namun menyejukan, penuh kasih sayang.

Ciko menyelipkan rambut kecil Caca ke telinganya, mengusap sekilas pipi yang memerah itu.

“Aku pulang,” bisiknya lalu tersenyum tipis dan beranjak.

Caca hanya diam, menatap kepergian Ciko dengan perasaan tak rela ditinggal sendiri? Serius? Caca menggelengkan kepalanya, sepertinya dia sudah gila.

Diakan musuh kakaknya. Belum bisa diyakini baik.

Caca menyentuh bibirnya, rasa ciumannya terus terasa. Membuat jantungnya berdebar. “Caca udah gila kayaknya.” gumamnya lesu.

***

Ciko tersenyum tipis. Menatap perjalanan malam yang terasa indah. Caca tidak menolak ciumannya.

Jantung Ciko menari-nari bahagia dibuatnya. Udara terasa lembut menerpa wajahnya.

Ponsel berdering membuyarkan bayangan ciuman yang beberapa saat lalu terjadi.

Ternyata orang suruhannya. Apa sudah ada kabar pasti tentang benar tidaknya perempuan itu mengandung anak Nolan.

Ciko terlihat serius, auranya jika sedang serius memang tidak main-main.

Di tempat Nolan dan Adhya. Keduanya tengah duduk berpelukan. Lebih tepatnya Nolan memeluk Adhya sangat erat.

“Percayakan, sugar?” bisik Nolan setelah menjelaskan hubungannya dengan Namira yang hanya sebatas kenalan di club.

Untuk saat ini belum.

“Engga.”

Nolan terpejam sekilas, mengurai pelukannya. “Ga ada gitu ucapan nenangin, gue juga kaget, seneng sama sedih, lo hamil tapi astaga..” Nolan mengusap perut Adhya lalu mengecup lehernya.

Adhya memilih diam. Dia masih merasa percaya tidak percaya dengan isi di rahimnya kini.

“Jangan kabur. Gue usahain cepet selesai,” yakin Nolan sambil meraih dagu Adhya agar menatapnya tepat di kedua matanya. “Dengerin ga?” tanyanya agak sedikit kesal.

“Ha?” sahut Adhya terlihat masih dialam kagetnya.

“Astaga.. Sabar.” gumam Nolan dan memilih memeluk Adhya. “Jangan pikirin Naura, eh siapa Namira..”

“Ga. Gue ga mikir soal itu, Nolan. Tapi ini,” Adhya mengusap perut bawahnya. “Serius hamil?” lirihnya.

Adhya sedang mengingat, apa ada perubahan yang dia rasakan? Apa ya?

“Jadi, ga mikirin Namira?” Nolan mengurai pelukannya. Menatap wajah datar Adhya yang terlihat masih bingung itu.

“Engga. Itu urusan lo, nunggu kabar baiknya aja. Semoga bener, kalau pun iya. Terus gimana? Gue hamil juga.” santainya.

Nolan yang jadi bingung. Kenapa Adhya terlihat menyebalkan ya, mending ada drama nangis, marah dari pada begitu.

“Iya sih.. Pokoknya gue akan bikin lo percaya kalau gue ga main ceroboh, dulu..”

Nolan jadi canggung membahas kenakalannya dulu. “Nakal gue udah habis, saatnya gue memperbaiki hidup sama lo, pilihan terakhir gue.” yakinnya.

“Hm, oke.” balas Adhya agak merinding tapi juga suka. Sialan. Nolan ingin menjadi satu-satunya hingga akhir begitu. Di tambah ada anak kelak.

Adhya tidak akan merumitkan keadaan. Dia akan membiarkan Nolan dengan fokus menyelesaikan masalahnya.

“Ciko juga bantu,”

“Kak Ciko?”

“Gue makin iri, lo ga pernah tuh panggil gue dengan sopan, atau sayang kek,”

“Bukan saatnya ngeluh.” tegur Adhya datar.

Nolan pun kicep. “Iya, beres masalah ini, jangan lupa panggil sayang atau Kakak, ayah, papa, daddy pokoknya terserah.” dia peluk lagi Adhya.

***

Azura terengah dan mendesah, naik turun seksi di atas tubuh Adit. Keduanya sama-sama berkeringat. Sama terengah namun Adit kadang melamun.

Dia khawatir dengan keadaan Caca yang kini ada Ciko di sampingnya. Tak hanya itu, Nolan juga sedang ada masalah namun dia tidak bisa membantunya.

Sahabat dekat bukan berarti tahu segalanya sampai ke atas ranjang pun.

“Shh..” desis Adit saat bibir bawahnya digigit dan ditarik Azura. Dia bahkan baru sadar Azura berhenti bergerak.

“Kenapa? Haa..” Azura nemplok di dada bidang Adit yang lembab oleh keringat.

“Engga, lagi mikirin posisi apa lagi,” kekeh Adit lalu membalik Azura.

Azura meredup sedih. Adit masih saja banyak menutupi sesuatu demi dirinya. Itu sungguh mengganggu.

Azura tersenyum sebelum kembali mendesah walau sudah hilang selera.

Adit menciumi leher Azura, meninggalkan banyak jejak di sana dan di dadanya yang besar.

“Kamu kecil, tapi ininya besar.” bisik Adit serak, ndusel di belahannya. Tempat yang sangat Adit sukai.

“Pelan, dit.” lirih Azura.

***

Keesokan paginya. Ciko bertemu Nolan, memberikan bukti yang dia terima dari orang suruhannya. Ciko membayar mahal. Tapi tak apa, semakin cepat selesai, semakin baik juga untuk Caca.

Adhya sahabat yang sangat di sayang Caca. Tidak baik jika Caca terlalu banyak pikiran, apalagi ada anaknya yang sedang tumbuh.

“Thanks, Ko.” Nolan menatap Ciko dewasa yang begitu tenang dan rapih. Uang memang mengubah Ciko. Di tambah mungkin karena jabatannya.

Beda dengan Nolan yang sangat santai, soal penampilan dia tidak peduli. Tampangnya sudah menolong.

“Lo cepet beresin, Caca ga boleh banyak pikiran.” lalu beranjak.

“Lo cinta banget sama Caca?”

Ciko diam sejenak. “Lo pikir sendiri.” lalu Ciko pergi meninggalkan Nolan yang tersenyum senang.

Mungkin kedekatan mereka tidak seperti dulu. Tapi dia cukup senang Ciko mau membantunya. Membayar mahal tanpa pamrih.

Nolan bisa saja melajukan itu sendiri, tapi Ciko bertindak cepat membuatnya berterima kasih untuk itu.

Nolan menatap semua bukti itu. Banyaknya CCTV. Pemeriksaan kandungan Namira yang lengkap.

“Bahkan hampir dua bulan kita ga ketemu, dan lo bilang itu anak gue?” sinis Nolan kesal.

Untung Adhya tidak banyak drama. Pertengkarannya sesaat.

Nolan beranjak tanpa menghabiskan minuman pesanannya. Dia membayar lalu segera menuju Adhya, mengajaknya untuk ikut agar segera selesai.

“Kita harus menikmati kehadiran dia, masalah ini harus selesai sekarang.”

***

Caca membuka mata perlahan, sambil mengumpulkan nyawa lalu mengangkat tatapannya.

Ciko menatapnya datar namun perlahan bibirnya menipis. Senyum tipis terbit menyapa Caca yang langsung mendudukan diri di kasur.

Sejak kapan Ciko masuk.

“Enak tidurnya? Udah jam 9 pagi,” Ciko melirik jam yang membelit lengannya. Bukan kerja, malah asyik memandang Caca yang tidur berjam-jam.

Caca akui, kasur yang diberi Nolan begitu nyaman. Membuatnya tidur tanpa terbangun saking empuk. Rasanya tidur di atas awan. Tidak terasa pegal sama sekali.

Caca mengangguk pelan, menjawab pertanyaan Ciko sebelumnya.

“Saatnya sarapan, minum vitamin.” Ciko mengusap kepala Caca.

Caca mengangguk tanpa bisa membuka suara. Dia canggung tapi anehnya ada setitik senang. Dia tidak sendirian. Apa sekesepian itu?

Ciko tersenyum, perasaannya kembali menghangat. Entah hormon atau apapun itu. Dia sungguh berterima kasih.

Caca begitu manis dengan kepatuhannya.

Ciko mengulurkan tangannya, Caca menatap itu ragu lalu menyambutnya. Ciko genggam dan tuntun Caca menuju meja makan yang memang Ciko beli. Hanya 4 kursi. Tidak seperti di rumahnya yang 15 kursi.

“Bubur toping daging ayam atau daging sapi?” Ciko menarik kursi untuk Caca.

Caca berdebar dan duduk dengan manis. “Ayam.” jawabnya pelan.

Tanpa kata, Ciko membuka bungkusan mahal itu. Dia memesan khusus sarapannya dari chef terkenal langganannya jika sakit.

“Habisin.” Ciko pun menyiapkan obat dari dokter yang diresepkan untuk Caca selama hamil muda.

Terutama obat untuk mual, jangan sampai terlewat.

“Masalah Adhya udah aku beresin, tinggal nunggu kabar dari Nolan.”

Caca tersenyum senang mendengarnya. Tanpa butuh banyak hari. Moodnya langsung membaik.

***

Film menyala, diabaikan oleh dua sejoli yang bergumul di sofa. Caca merasa aneh. Tubuhnya menerima itu dengan berdebar.

Gaun tidurnya sudah naik seperut. Dia begitu sulit mendorong Ciko agar berhenti dan menjauh.

Semua gara-gara film itu. Caca merasa gila di gelitik hormon yang membuatnya menerima semua sapuan lembut.

Tidak! Ini salah.

Caca takut hamil lagi. Oh astaga! Caca langsung tersadar dengan pemikiran bodohnya.

“Engh.. Kak Ciko,” lirihnya. “Caca Haa lagi hamil.” desahnya gelisah.

Ciko sontak berhenti, menatap wajah merah Caca yang cantik. Dia rapihkan lalu mengajak Caca duduk dan memeluknya.

“Maaf, Ca. Aku ga bisa nahan diri.” sesalnya.

KUPU KUPU

“Selesai, sugar!” Nolan berlari cepat mendekati Adhya dan memeluknya. “Kan, dia bohong!” serunya bahagia.

Adhya menatap Nolan yang mengurai pelukan, mencium bibirnya namun Adhya hentikan tidak lama.

“Mana buktinya? Bukan di sogok pake uangkan?” tanyanya penuh selidik.

“Astaga, seburuk itu gue di mata lo, hm?” gemas Nolan sambil menggigit sekilas pipi Adhya.

“Mana sini liat buktinya!” Adhya begitu tidak sabaran.

Nolan membuka map coklat itu. Mengeluarkan semuanya. Adhya begitu serius melihat satu persatu.

“Gimana?”

Adhya menatap Nolan lalu tersenyum. Senyum yang sampai membuat Nolan terpana. Senyum yang begitu indah dan tulus.

“Seneng, akhirnya masalah ini selesai cepet.” Adhya mendekat, memeluk Nolan lebih dulu. “Jangan bikin masalah lagi, gue kasih kepercayaan sekarang..” bisiknya.

Nolan balas memeluk dan mengangguk. “Gue ga akan rusak kepercayaan lo,” janjinya semangat.

Keduanya berciuman, kembali saling memeluk dengan senyum bahagia.

“Udah makan?” Nolan mengurai pelukannya.

“Belum, sayang.” Adhya mengulum senyum geli melihat Nolan yang terdiam sejenak lalu berpaling dengan pipi dan telinganya memerah.

Buaya salting lucu juga ya. Ralat! Mantan buaya.

“Cie, sayang merona,”

Nolan mengulum senyum, menggelikan sekali tingkahnya. Rasa senang begitu membuncah. Nolan alihkan.

Dia berjongkok, mulai mengusap perut Adhya yang atasannya Nolan angkat. Perut Adhya sedikit menonjol.

Ada anaknya di sana.

Tatapan Nolan meredup sedih. Semoga ucapan Namira tidak terwujud. Jangan sampai anaknya menanggung karma.

“Gue ga Ceroboh, Namira. Harusnya lo cari yang masuk akal, gue jelas ga akan diem karena sekarang gue udah ada istri.”

“Lan, gue ga tahu siapa ayahnya, gu-gue..”

“Gue tahu, gue juga sama buruknya dulu. Gue cuma mau lo berhenti tidur sama siapapun yang lo temuin. Lo terlalu murah, Namira..”

“Setelah lo puas dan lo katain gue murah?”

“Gue cuma mau lo sadar. Otak cowok yang bebas itu isinya cuma selangkangan, dia suka manfaatin cewek kayak lo, gampang di ajak tidur, bukan berarti mereka mau jadiin lo istrinya.. Mau tanggung jawab sama anak yang lo kandung. Hanya cuma buat main aja.. Mereka pasti berpikiran yang sama.. Itu bisa aja bukan anaknya, lokan tidur sama banyak cowok,”

Namira mengepalkan tangannya. “Gue di rusak kaum lo juga! Dan di sini gue yang salah?” amuknya.

“Ck! Gue mau lo berhenti dan sadar. Kalau gini siapa yang susah? Lo! Gugurin dia, sama aja lo nanggung sial, beratkan? Jadi berhenti, besarin dia, ada atau tanpa ayahnya. Lo harus tanggung jawab sekali pun lo harus nanggung malu. Waktu lo tidur sama banyak cowok aja ga malu.”

“Lo jahat, lan. Lo ga tolong gue. Gue harap anak lo rasain apa yang gue rasain. Karma itu ada. Lo udah banyak tidurin cewek juga,”

Nolan terdiam. Dia jadi kepikiran, mana sekarang Adhya hamil.

“Gue niat baik, kenapa lo seolah sumpahin anak gue?” kesal Nolan..

“Tanpa ketemu, tanpa gue sumpahin pun gue yakin. Karma pasti ada. Lebih baik lo pergi!”

“Nolan! mikirin apa sih?” Adhya menampar pelan pipi Nolan sampai mengaduh kaget sebenarnya bukan sakit.

“Kenapa?” panik Nolan.

“Tahu ah, bete!” Adhya turun dari pangkuan Nolan.

Nolan yang memancingnya, Nolan yang malah diam ditengah jalan.

Nolan sampai tidak sadar mereka sedang penyatuan di atas sofa saking anteng dengan pikirannya.

“Aduh, sugar!” panggilnya lalu berlari menyusul tanpa peduli miliknya yang keras bergerak menggemaskan.

***

Caca menatap Ciko, dia jadi suka menatap wajahnya yang bersih, manly tapi juga lembut. Berbeda dengan aura saat menjadi boss di kantor.

“Ada apa?” tanya Ciko sambil tersenyum tipis.

Caca terlalu terang-terangan menatapnya, bisa-bisa Ciko hilang kendali dibuatnya. Kedua mata Caca berbinar penasaran dan itu menggemaskan dengan wajahnya yang seperti bayi.

“Engga.” jawab Caca pelan lalu melarikan tatapannya ke televisi lagi.

“Kenapa?” Ciko mengangkat Caca agar duduk bersila menghadapnya. Caca sampai melotot kaget. “Ga mual? Tadi muntah, tapi ga banyak.” dia usap kepala Caca.

Caca jadi seperti kucing lucu. Dia menggeleng dengan menatap Ciko, mengamatinya lagi. Seperti ada magnet yang membuat Caca ingin menatapnya.

“Mau ngobrol?” Ciko mematikan televisi. “Apapun, tanyain.” lanjutnya.

Caca mengerjap gugup. Kini sekitarnya hening. Rasanya Ciko akan tahu kalau jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Ciko bersila juga, mendekat pada Caca membuat jarak mereka tidak terlalu jauh. Caca bisa melihat ada tahi lalat di hidung Ciko. Kecil.

“Ke-kenapa kak Ciko lakuin itu? Caca ga inget apapun, apa Caca beneran mabuk?”

Ciko menatap Caca lekat. Dia harus berbohong lagi. “Hm, kamu paling bercahaya malam itu. Aku udah lama nunggu kamu sampai sebesar sekarang,” dia usap lagi kepala Caca.

Sepertinya Caca suka di usap kepala.

“Nunggu? Buat balas dendam?” Caca mengerjap gugup.

Ciko langsung menggeleng. “Adit, Nolan, juga tahu. Aku hilang kendali sama kamu, aku suka dari lama, dari kita masih sahabatan. Kamu ga inget kalau aku ada di antara Adit sama Nolan?” tanyanya.

Caca menggeleng. Dia terlalu polos saat itu. Terlalu asyik menjalani masa remajanya sampai tidak terlalu ngeh dengan orang di sekitar Adit.

Saat satu rumah baru dia kenal Nolan. Hanya dia yang dia tahu. Atau mungkin Caca hanya lupa saja.

“Aku selalu liat kamu kalau lagi sama Adit, dari jauh emang. Kamu pernah datang ke tongkrongan, minta uang ke Adit,”

Caca tak tahu ada Ciko di antara teman-teman Adit yang saat itu Caca takuti karena sering di goda oleh mereka.

“Lucu, kamu dikepang dua,” Ciko sangat ingat detail semuanya. Saking membekasnya Caca dalam ingatannya.

“Aku udah selama itu suka kamu, Ca.”

Caca berdebar. Apa tidak salah jika dia penasaran? Apa sungguh ini bukan jebakan? Caca takut terjebak dan terluka kelak.

“Kak Ciko masih musuhan sekarang?”

Ciko menggeleng. “Sama Adit? Engga,” jawabnya yakin. “Dia udah kasih restu dengan syarat ga sakitin kamu. Dalam waktu 3 bulan aku harus buat kamu jatuh cinta jugakan.” lanjutnya.

Caca merona. Dia menundukan tatapannya malu. Bagaimana bisa Ciko terang-terangan begitu. Caca takut goyah bahkan sebelum 3 bulan.

Hormonnya sedang tidak baik. Tidak bisa Caca cegah. Disentuh saja dia diam bukannya menolak mengingat Ciko membuatnya hamil.

Caca bahkan bingung, kenapa dia tidak membencinya walau kesal ada saat mengingat dia hamil oleh Ciko.

Caca mendongak lagi. Ciko terus saja menatapnya. Caca menelan ludah. “Aku atau kak Azura. Seandainya pilih, kak Ciko pilih siapa?” tanyanya begitu pelan.

Ciko tersenyum. “Pilih kamu, pastinya.” jawabnya sambil menarik Caca ke pelukannya.

Ciko kembali tersenyum. Caca diam di pelukannya, membiarkan Caca mendengarkan detak jantungnya yang menggila.

***

Adit di sibukan oleh pekerjaannya. Ada kosan Nolan yang terkena masalah. Dua dari beberapa kontrakannya hangus terbakar.

Nolan juga ikut berangkat melihatnya. Membuat dua manusia itu cukup sibuk semingguan ini.

Azura jelas tidak bisa sendiri. Dia ikut dan berdiam diri saja di hotel yang Adit tempati sedangkan Nolan hari ini akan pulang karena sudah meninggalkan Adhya yang sedang hamil muda sendirian hampir seminggu.

Nolan akan mempercayakannya pada Adit.

Nolan pun pulang, cukup lama di perjalanan sampai akhirnya tiba dengan di jemput Adhya. Lucu sekali, wajah sebalnya.

“Ga diangkat! Jarang telepon! Udah tahu lagi mual, kalau denger suara lo ga mual!” omel Adhya.

Nolan segera memeluk Adhya. ” Hm, maaf. Semua udah beres, di urus sama Adit sisanya, kita pulang, kangen-kangenan di rumah..” ajak Nolan sambil terus menenangkan Adhya yang cengeng.

Argh lucu, Nolan tidak bisa menahan kegemasan Adhya yang sedang hamil. Dia akan sering membuat Adhya hamil. HAHAHA

***

“Lagi apa?” tanya Ciko.

Caca sontak melotot kaget, dia sedang tidak memakai apapun. Dia mencari handuk yang mendadak hilang saking panik.

Ciko tetap berjalan, menatap tubuh indah dengan perut bawah yang menonjol itu. Dia meraih handuk yang dicari Caca lalu membelitkannya.

Caca pun berhenti panik. Dia menatap Ciko dengan wajah merah. Nafasnya terengah. Dia malu.

Ciko tersenyum samar melihat tubuh Caca yang dia balut dengan handuk. Wajah bayinya sungguh membuat Ciko gila.

Ciko kecupi bahu basah itu, mengabaikan tetesan air yang berjatuhan dari rambutnya.

“Kenapa mandi jam segini, gerah?” bisik Ciko dengan suara serak.

Caca mendadak bisu, dia meremang merasakan bahu dan tengkuknya di kecupi. Jantung berdebar. Perutnya terasa aneh, banyak sekali kupu-kupu menggeliat.

Bersambung… SEDANG SAMA TERSIKSA

Caca termenung sendirian, televisi di depannya dia abaikan. Dia sedang mengingat kejadian demi kejadian dengan Ciko.

Terakhir kemarin di saat dia sedang mandi. Ciko tidak melakukan hal yang melewati batas, mungkin ingat dia sedang hamil muda makanya berhenti.

Tapi tetap saja, tubuhnya dikecup sampai ke ujung kaki. Dengan bodohnya dia diam dikelabui hormon.

Tubuhnya menginginkan itu walau pikiran berteriak untuk membuatnya berhenti.

Caca merasakan debaran aneh. Apalagi saat Ciko kembali mengucapkan bahwa hanya 3 bulan, beri dia waktu agar Caca membalas perasaannya.

“Aku janji, aku akan selalu ada, setia, sampai akhir. Kamu ga akan sendirian, selama aku hidup.”

Caca tersenyum tipis mengingatnya. Perasaan menghangat. Dia merasa tidak sendirian lagi. Mungkin itu alasannya dia merasa lumayan senang dengan tawaran Ciko.

Senyum Caca luntur, dia merasa mual lagi. Untungnya muntahnya tidak terlalu dahsyat. Mungkin tertolong oleh obat juga.

***

Adit mendekati Azura. Wajah Azura terlihat marah. Seharian ini Adit memang berada diluar, memastikan keadaan Caca.

Caca terlihat kurus, mungkin karena mual muntah yang wajar terjadi saat kehamilan.

“Apa kamu ga bisa liat ponsel?” amuk Azura dengan berkilat cemas.

Azura sungguh takut ditinggal, dia jadi tidak tenang jika tidak mendapat kabar dari Adit. Dia merasa Adit akan pergi darinya.

“Ponsel aku di tas, ga kedengeran mungkin,” Adit tersenyum mendekat, mencoba menenangkan Azura.

“Dari mana? Aku ga suka kamu lama diluar! Aku tahu kamu udah selesai jam 2 siang, kenapa jam 5 sore baru pulang?” Azura tetap terlihat marah hampir menangis.

Adit menggenggam dua jemari bergetar Azura. Mengusapnya. Dia salah, harusnya bilang sejujurnya. Tapi, Azura beberapa hari ini terlalu cemas.

Pikirannya dipenuhi hal-hal negatif sampai Adit harus izin pada Nolan karena tidak bisa turun kelapangan hari itu.

Adit tak tahu apa yang membuat Azura kambuh. Padahal dia sudah 24 jam bersama.

“Ke tempat, Caca.” jawab Adit jujur.

“Harusnya kamu bilang!”

“Kamu selalu mohon buat aku tinggal, aku cuma mau liat Caca, adikku lagi hamil, Ra.” Adit ingin Azura tidak terlalu berpikiran buruk.

“Aku butuh kamu! Apa kamu mulai muak? Harusnya kamu utamain aku! Aku takut kamu pergi, aku sakit! Aku kayak mau mati kalau sendirian, Caca sehat—”

“Apa aku salah mikirin Caca?” Adit terlihat tersulut. Mungkin saking kacau perasaan dan pikirannya.

Di tambah Azura terlalu parah kambuhnya beberapa hari ini. Adit akan membawa Azura ke dokter yang menanganinya selama ini.

“Ga gitu, Dit.” Azura terisak pelan.

“Kamu sekarang jadi marah saat aku urus, Caca! Kamu egois, Ra. Ga mau tahu, aku mau kamu berobat lagi, kamu beberapa hari ini parah! Pikiran kamu terlalu buruk. Padahal aku udah yakin 100% ga akan tinggalin kamu, tapi kamu ga percaya itu!”

Adit beranjak, mendial nomor dokter Azura. Dia takut Azura semakin tak terkendali.

“Aku ga gila! Apa kamu mau aku di kurung di sana lagi? Kamu mau ninggalin aku dengan cara—”

“Aku mau kamu sembuh!” potong Adit menelan kekesalannya. Adit maupun Azura sama menjatuhkan air mata.

“Aku cinta kamu, Ra. Tapi aku butuh bantuan biar kamu sepenuhnya sembuh, aku takut memperparah keadaan kamu, kali ini nurut sama aku. Kamu bukan gila, kamu cuma hilang arah, kamu tersesat di pikiran kamu sendiri, dokter akan bantu kamu sembuh, aku ga akan tinggalin kamu, kamu harus percaya itu.”

Azura terisak pilu, dia meremas rambutnya. Pikirannya memang terlalu berisik, semua terlalu negatif. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.

***

“Azura di rawat dulu, dia kambuh dan lebih parah. Pemicunya setelah menikah dia yakin gue akan selalu ada 24 jam, tapi nyatanya gue kerja, ada banyak masalah diluar rumah, Caca juga harus gue perhatiin,” Adit menjelaskan semuanya pada Nolan.

Dia sedang di tempat Nolan setelah mengantar Azura ke rumah sakit jiwa. Di sana dia di rawat dengan baik, dan sepertinya Azura juga ingin sembuh. Dia terlihat penurut.

“Jadi, maunya Azura lo ga kemana-mana?”

Adit mengangguk. “Dia cemas, takut gue pergi selama gue ga ada di samping dia.” jawabnya.

“Yaampun, Ra. Semua karena keluarganya, dia jadi begitu.” Nolan merasa kasihan. Padahal Azura anak baik, tapi sayang harus memiliki orang tua yang buruk..

“Gue juga butuh perawatan.” Adit ingin jujur saja. “Gue selalu bilang baik padahal ga baik-baik aja. Gue kayak bom waktu yang siap meledak. Makanya gue putusin buat Azura di rawat, gue juga mau mencintai Azura dengan benar. Mau Azura salah gue selalu tutup mata, demi menjaga perasaannya. Kata dokter gue, itu salah. Gue harus memperbaiki komunikasi gue, cara mencintai gue salah,” terangnya.

Nolan hanya diam mendengarkan semuanya. Mereka sama-sama tersakiti selama bersama, walau saling mencintai satu sama lain. Itu yang Nolan tangkap.

Tapi, bukankah mencintai memang begitu. Menyenangkan pasangan walau baginya itu tidak menyenangkan.

Entahlah. Mungkin kasus Adit dan Azura lebih parah. Makanya butuh penanganan serius. Jika itu memang baik untuk keduanya.

***

“Sayang,” panggil Adhya yang sudah dia janjikan pada Nolan.

Nolan tidak mau dipanggil kakak. Daripada baby, honey, dll. Mending sayang, lebih wajar. Makanya Adhya mulai terbiasa beberapa hari ini dengan memanggilnya sayang.

“Hm? Di dapur.” sahut Nolan yang tengah menyeduh teh hangat. Cuaca hari ini sedang dingin.

Berc*nta dengan Adhya belum boleh, makanya cari kehangatan lain.

“Ngapain?” Adhya memeluk Nolan, nemplok di punggungnya.

Nolan tersenyum sambil mengusap lengan yang memeluk perutnya. “Bikin teh hangat, sayang.” jawabnya.

“Kok ga bangunin? Tadi kayak denger ada yang ngobrol, siapa? Siapa yang dateng?” Adhya melepaskan pelukan saat Nolan berbalik.

Nolan kecup pipi Adhya sekilas. “Adit, sebentar kok cuma ngobrol kerjaan.” bohong Nolan.

Adhya mengangguk pelan tanpa bertanya lagi. Dia menghirup teh di tangan Nolan. Wanginya enak.

“Mau? Yuk berdua, duduk di sofa. Dingin lama berdiri di sini,” ajak Nolan sambil merangkulnya untuk duduk di sana.

Adhya mengikutinya. Duduk di antara dua kaki Nolan. Begitu merapat. Ngidamnya selama hamil, tidak ingin jauh dari Nolan..

Nolan membelitkan selimut ke tubuhnya dan Adhya. Keduanya menikmati segelas teh itu dengan nikmat, bergiliran.

“Dingin banget ya cuaca hari ini,” Adhya ndusel, mendekati Nolan kian rapat.

Nolan membenarkan selimut agar menutupi Adhya yang kedinginan. Dia dekatkan segelas teh itu hingga Adhya meneguknya sedikit.

Nolan tersenyum. Dulu musuh sekarang begitu rapat. Tidak mau pisah lama.

“Caca udah di kasih tahu belum? Nanti dia marah kalau tahu dari orang lain, Adit tahu soalnya.”

“Iya! Lupa!” Adhya segera meraih ponsel Nolan yang lebih dekat. Dia membuka aplikasi pesan. “Wow, banyak pesan dari cewek nih, kok ga dibales,” sindirnya.

Nolan malah mengulum senyum, Adhyanya tengah cemburu? Aw gemas sekali.

“Mau langsung blokir tapi lupa, ga tahu dari siapa mereka tahu nomor baru ini, suami kamu tuh terkenal, terima aja, toh ga aku bales, sayang.”

Adhya hanya mendengus dan mengabaikan pesan tidak penting itu. Dia langsung mencari kontak Caca.

Mengirimkan pesan, memberitahu kalau dia Adhya dan tak lupa memberitahu kehamilannya.

“Caca pasti seneng, anaknya nanti bisa jadi temenan, lucu ya..” Adhya kembali bersandar pada Nolan. Gemas sendiri membayangkannya.

Nolan hanya mengangguk menikmti tehnya dan juga wajah bahagia Adhya yang membuatnya jadi tertular.

“Mau berc*nta, kangen. Tapi belum bisa.” keluh Nolan, dia ndusel di bahu Adhya. ” Ciko juga kayaknya lagi sama tersiksa,”

“Iya dong, bagus tersiksa! Terus harus ngelakuin lagi? Nikahin dulu!” seru Adhya kesal.

“Santai, sayang.” Nolan terkekeh melihat Adhya jadi marah-marah. Dia salah bicara.

***

“Aku dateng lagi.” Ciko tersenyum saat Caca membuka pintu. Sebenarnya Ciko bisa saja langsung masuk. Tapi, dia ingin Caca nyaman dengan kehadirannya yang tidak tiba-tiba.

Ciko melihat pipi merah Caca. Semenjak kejadian di kamar mandi, Caca jadi sering tersipu.

“Boleh masuk? Aku bawa makan siang,” Ciko mengangkat bungkusan itu.

Caca mengangguk pelan, membuka lebih lebar pintunya. Ciko pun masuk, menyimpan semua barang bawaannya ke meja makan.

Ciko melirik Caca yang lebih cantik. Mungkin karena pakaian yang dipakainya. Gaun untuk ibu hamil yang dia berikan.

Ciko senang semua pemberiannya Caca pakai. Tanda kalau Caca tidak terlalu membencinyakan?

“Boleh Caca minta cium— p” tiba-tiba keinginan itu menggebu.

Ciko mematung sejenak lalu tanpa kata meraih tengkuk Caca, membingkai sebelah wajahnya dengan tangan satunya lagi.

Caca terhenyak nan berdebar. Ciko begitu rakus memagut bibirnya seolah tidak akan ada hari esok.

Mungkin karena Caca yang duluan minta. Caca terpejam saat merasakan jemari Ciko mulai membelai lengan, pinggang dan menarik punggungnya.

Membuat keduanya merapat, Caca rasanya kewalahan.

“Eng.. Udah.”

Ciuman pun berhenti. Keduanya sama terengah. “Maksud Caca Haa, cium perut. Bayi yang mau, ngidam mungkin.” jelasnya.

Ciko kicep sesaat. Dia terkekeh pelan, merutuki dirinya yang mudah terpancing. Untung Caca tidak mengamuk, menampar atau mendorongnya jauh.

“Maaf.”

Ciko pun berjongkok, mengusap perut Caca yang atasannya dia naikan. Ciko kecupi perut yang agak menonjol itu. Dia usap-usap cukup lama.

Caca berubah sayu, dia meremang. Tubuhnya begitu murahan. Selalu suka disentuh Ciko. Susah sekali menolaknya.

Hingga pada akhirnya Caca berakhir di atas sofa, tubuhnya terpampang dan Ciko kecupi tak terlewatkan.

Ciko pun sudah tidak memakai apapun. Katanya hanya saling menyentuh saja. Caca suka, dia suka setiap sentuhan lembutnya. Bahkan Caca menyentuh Ciko tanpa bisa dia cegah.

“Haa.. Haa..”

Ciko terpejam, mendengar desah Caca membuatnya tidak sabar.

“Aku akan secepatnya nikahin kamu. Ga usah nunggu 3 bulan, ya?”

IZIN MENIKAH

“Caca ga waras!” gumam Caca sambil menjambak rambutnya sendiri. Dia duduk merenung di atas kasur.

Kemarin Ciko tidak melanjutkannya. Mereka kembali berpakaian. Lebih tepatnya Ciko memakaikan lagi pakaiannya.

Caca kemarin mengangguk mengiyakan untuk Ciko menikahinya tanpa menunggu 3 bulan.

“Nikah?” lirih Caca berdebar. Dia gelisah sampai jika tidur selalu saja terbangun. Dia sudah terlanjur mengiyakan.

Bahkan Ciko langsung pergi untuk mengurusnya, dia langsung sibuk dengan seseorang di balik ponsel.

Caca menutup mulutnya. Melotot kaget dengan pemikirannya. “Caca ketemu orang tua kak Ciko dong? Dan kak Adit harus tahukan ya..” Caca mencari ponselnya dengan segera.

Caca segera mengetik pesan, bertanya sibuk atau tidak. Hingga Adit membalas tidak, dia sedang libur bekerja katanya.

Caca menelan ludah gugup. “Bilang langsung keintinya aja,” gumamnya.

Caca tersentak pelan saat bel berbunyi. Apa itu Adit? Atau Ciko?

Caca menyimpan ponselnya lalu membuka pintu. Ternyata Ciko dengan satu kantong plastik berisi makanan.

Caca tersenyum agak tersipu.

“Lagi apa?” tanya Ciko seraya melangkah masuk ke dalam dan Caca menutup pintu.

“La-lagi kirim pesan ke kak Adit, apa itu eum boleh kasih tahu? Apa Caca sama kak Ciko seriusan mau nikah?” Caca mengekor dengan jemari bertautan gugup.

Ciko menyimpan barang bawaan lalu berbalik menatap Caca. Mereka berdiri saling berhadapan, Caca mendongak menatap Ciko.

Ciko mengusap pipi yang bersemu itu sekilas. “Serius, udah bilang ke orang tua.” jawabnya.

Caca menelan ludah. Apa orang tua Ciko setuju? Caca merasa tidak percaya diri. Dia jadi gelisah.

Ciko mengusap bibir Caca yang oleh siempunya digigit gugup. Dia jadi salah fokus dibuatnya.

“Mereka ga jahat, mereka baik. Kamu butuh sosok orang tua? Mereka akan jadi orang tua kamu.”

Caca menundukan tatapan, tiba-tiba tersentuh dan mulai berkaca-kaca. Ciko raih lembut kepalanya, dia usap-usap dengan sayang.

Caca malah tidak bisa menghentikan tangisan harunya.

“Nanti pusing. Udah.” Ciko mengurai, membingkai wajah Caca, menyeka air matanya yang sempat jatuh.

Caca menatap Ciko lekat, semoga dia tidak akan sakit memberikannya kepercayaan.

“Makasih, kak Ciko.” Caca tahu, perbuatan Ciko sangat membuatnya marah, sempat membencinya. Tapi usaha dalam menebus semuanya sungguh membuat Caca terharu.

Ciko tidak lepas tanggung jawab walau Caca tidak tahu niat yang sesungguhnya apa. Caca hanya akan percaya.

“Hm?” Ciko hanya tersenyum dan memeluk kepala Caca lagi, mengusapnya.

Caca merasa nyaman?

***

“Kak Adit..” bisik Caca panik, dia meraih sepatu Ciko dan mendorong Ciko ke kamarnya. Ciko dengan tenang mengikuti ingin Caca.

Caca menyimpan beberapa alat makan. Dia harus meyakinkan Adit, makannya sendirian. Tidak berdua.

Caca memastikan sekali lagi barulah membuka pintu. “Maaf, kak.. Caca di kamar mandi,” lalu membuka pintu lebar.

Adit membawa satu bungkus makanan. “Kakak ke sini anterin ini, sama mau tanya, kenapa pesannya ga dibales lagi, kakak lagi santai serius.” ujarnya.

Caca lupa soal itu. “O-oh, itu..” Caca duduk di depan makanan yang sedikit lagi belum dia habiskan.

“Udah beli makan ternyata, buat malem aja.” kata Adit yang langsung menyimpannya di kulkas.

Dia melirik Caca sekilas. Apa Caca mengganti parfum? Adit memilih mengabaikan itu. Dia duduk di dekat Caca.

“Ada apa?” tanyanya.

Caca menelan ludah, dia jadi gugup sampai dua tangannya dingin dan berkeringat. “Itu kak, Kak Ciko mau ajak nikah Caca dan Caca iyain,” cicitnya di akhir sambil menunduk.

Hening…

Caca menelan ludah. Kenapa Adit diam. Apa dia akan marah?

“Kalau kamu setuju, kakak cuma bisa kasih restu dan do’a, semoga kamu bahagia, Ca.” Adit mengulum senyum, mengusap kepala Caca sekilas hingga Caca mendongak menatapnya.

Caca menatap Adit berkaca-kaca, kenapa waktu begitu cepat. Bersama Adit rasanya jadi singkat. Mereka dulu tidak banyak berpisah seperti sekarang.

Caca tersenyum mekar, begitu tulus. Di samping Adit yang terasa berubah sebagai kakak. Caca tetap menyayanginya.

“Caca seneng, anak di rahim Caca punya ayah,” suara Caca bergetar lirih.

Adit mengangguk, dia akan menganggap apa yang terjadi dengan Ciko hanya masalah anak remaja. Dendam sesaat. Dia akan percaya bahwa Ciko benar mencintai adiknya sampai senekad itu.

“Demi bahagianya kamu, kakak ikut bahagia, Ca.”

Caca memeluk Adit. Dia terisak dipelukannya. Hidupnya dan Adit tidak mudah. Caca akan berusaha tidak merepotkannya. Jika Adit bahagia dengan Azura. Caca juga tidak akan mempermasalahkannya lagi.

Ciko tersenyum samar. Adit tidak egois. Memang harusnya begitu. Ciko sangat tahu, bagaimana selama ini Caca hidup tanpa ada Adit sepenuhnya lagi.

Ciko akan membuat Caca tidak menyesal memilikinya. Dia janji.

***

“Caca nikah sama Ciko? Ini Caca kirim pesan, dia mau dan setuju tanpa paksaan. Caca juga seneng soal kabar aku hamil,” kata Adhya yang bersandar pada Nolan.

Nolan mengunyah mangga yang sudah di kupas dan di potong-potong itu. Dia tersenyum di sela-sela kunyahannya.

“Astaga.. Seneng sih, tapi masih sebel sama kak Ciko,” jujur Adhya antara haru dan kesal.

Nolan menatap Adhya yang terus berceloteh dengan mata berkaca-kaca. Bumil yang cengeng. Manis.

“Anak kita suka nangis ga ya nanti,” kekeh Nolan tiba-tiba menabrak topik.

Adhya menoleh menatap Nolan yang kembali mengunyah santai. “Kenapa? Ga boleh nangis?” amuknya.

Nolan menelan kunyahannya. “Astaga, salah lagi nih? Ga gitu, sayang. Lucu kok, kamu nangis lucu, seriusan.” bujuknya agar tidak marah.

Adhya sedang menyebalkan. Dia pasti mengusirnya atau melarang memeluknya jika sedang marah.

“Aku hiks ga tahu kenapa cengeng heu heu..” isaknya di bantal sofa yang Adhya peluk.

Nolan mengulum senyum geli. Dia hanya menatap sampai Adhya mengangkat wajahnya, dari sedih berubah datar.

“Aku kayak punya anggur, di kulkas yakan?” tanyanya pada Nolan.

Nolan mengangguk, dia melihat anggur saat mengambil mangga. Dia menatap kepergian Adhya.

Tiba-tiba berhenti menangis karena anggur. Lucu bukan. Dia akan semangat membuat anak kedua, tiga dan mungkin jika Adhya mau sebanyak-banyaknya.

“Gemesnya,” gumam Nolan.

Nolan merasa usahanya semakin maju semenjak Adhya hamil. Ada banyak tempat yang dia beli dan mulai dibuat kontrakan lagi.

“Pembawa keberuntungan, nama anaknya lucky, bagus.” Nolan mangut-mangut. “Ciko mau nikahin Caca ya, dia serius juga.” lalu tersenyum. Semoga niat baiknya dilancarkan.

Caca berhak bahagia, hidupnya akan terjamin karena Ciko bukan pria kere. Untung juga bukan om-om perut buncit yang selingkuh dari istrinya.

Nolan lega saat tahu Ciko ayah bayi Caca.

“Ngelamunin apa? Cewekan?” amuk Caca lalu duduk dengan sebal di samping Nolan lagi.

Nolan terbahak pelan. “Apa sih, ga mikirin cewek kecuali kamu, cemburuan ya..” godanya.

“Ck! Ga usah tidur—”

“Ga bisa. Mau peluk, mau n*nen.” potong Nolan yang langsung Adhya timpuk dengan anggur.

***

“Boleh, kata dokter boleh. Malu banget bahas begitu,” dumel Caca begitu pelan sekali. Dia dan Ciko baru pulang memeriksa kandungan.

Kandungannya sehat dan kuat. Jika berhubungan badan pun sudah boleh, tapi tetap saja. Caca mau sesudah menikah.

“Udah siap?” Ciko mengintip Caca di ambang pintu kamarnya.

Malam ini Caca akan dibawa Ciko untuk bertemu orang tuanya. Mereka akan malam bersama.

Caca berdebar dibuatnya. Dia semakin tidak percaya diri walau Ciko menyiapkan gaun indah yang menonjolkan perutnya yang mulai menonjol.

Caca merasa terharu. Ada yang tengah tumbuh berkembang di rahimnya.

Caca tersentak pelan saat Ciko tiba-tiba memeluknya, mengecup bahunya dan meraih dagunya.

Caca terpejam, merasakan sapuan lembut dibibirnya. Tidak lama. Mungkin karena mereka harus segera berangkat.

Bersambung… SPESIAL CACA DAN CIKO

Caca merasa bersyukur tidak perlu menjelaskan atau menjawab soal orang tua. Apa Ciko sudah menceritakan semuanya? Senyum Caca terbit.

Dia menatap sekeliling. Keluarga hangat Ciko. Hanya kedua orang tua dan satu adiknya yang katanya adik angkat.

Tapi wajahnya mirip dengan ibu Ciko.

“Tambah lagi makannya?” Aura tersenyum ramah, menyambut Caca dengan begitu baik.

“Udah cukup, mama..” jawab Caca dengan senyum malu-malu.

“Tambah aja, kak. Ini enak, kesukaannya Anggis,” timpal Anggis sama ramah.

Caca tersenyum kikuk agak panik. Dia tidak bisa makan yang ada bahan wortelnya, dia dari kecil sangat tidak menyukainya.

“Caca ga pernah makan wortel. Dia ga bisa, dari kecil,” Ciko bersuara dengan tenang.

Caca menatapnya agak kaget. Bagaimana bisa Ciko tahu? Ciko balik menatap, mengusap sudut bibir Caca yang ada noda lalu kembali makan.

“Oh sayang banget, tapi ga papa.” balas Anggis.

“Gimana penjelasan dokter?” tanya Andri setelah selesai minum. Sepertinya dia selesai makan makanan sehatnya.

Caca menelan kunyahannya, melirik Ciko yang untungnya Ciko menjawab.

“Baik, mereka sehat, pa.”

Caca melirik sudut bibir Ciko, bekas luka pukulan dari Andri karena saat datang Ciko jujur soal kehamilannya.

Caca sampai ingin pulang karena suasana menegang dan untungnya Aura merelai, membicarakan semuanya dengan kepala dingin.

Pada akhirnya suasana berubah baik. Dia disambut bahagia. Perutnya di usap Aura dan Anggis.

Caca sampai terharu.

“Caca mual parah?” tanya Aura pada Caca.

Caca menggeleng pelan. “Engga ma, ga terlalu karena kak Ciko sering ingetin makan obat mual,” jawabnya begitu pemalu.

Caca masih belum merasa percaya diri. Dia membawa aib, tapi nyatanya mereka menerima. Entah harus bagaimana dia bertingkah.

Dia masih perlu adaptasi dengan kehangatan mereka.

***

“Iya, ini Caca udah pulang kak Adit, di anter sama kak Ciko.” ujar Caca pada Adit di sebrang ponsel.

Hening beberapa saat.

“Gimana keluarga Ciko? Dia baik?” tanya Adit seraya menjauh dari dekat ruangan Azura.

Adit tidak tega melihat Azura dari jauh dengan banyak terdiam, di depannya dokter tengah memeriksa dengan memberikan beberapa pertanyaan yang kadang di jawab kadang tidak.

“Baik, mereka sangat baik.”

Ciko tersenyum samar dengan fokus pada jalanan. Dia merasa beruntung memiliki orang tua yang tidak emosi penuh drama dan tidak menuntun kesetaraan, kelas dan sebagainya.

Bagi mereka, manusia sama. Tidak ada si kaya dan si miskin.

“Iya, kak Adit juga jangan lupa makan,”

“Kasih ke Ciko bisa? Kakak mau ngomong sama dia,”

Caca menatap Ciko. “Kak, kak Adit mau bicara katanya,” ujar Caca mengangsurkan ponsel.

“Deketin sini,” pinta Ciko.

Caca bergerak, mendekatkan ponselnya ke telinga Ciko. Dia menatap jemari sebelahnya yang bebas di genggam Ciko.

“Kenapa?”

“Apa orang tua lo ga tanya soal—”

“Engga. Mereka tahu, gue udah jelasin semuanya dan mereka terima soal itu. Lo tenang aja,” potong Ciko datar.

Caca masih asyik menatap sebelah jemari Ciko yang terus mengusap dan memainkan jemarinya. Geli tapi tidak dia singkirkan.

“Gue titip, Caca.”

“Hm, gue akan jaga dia. Kehilangan dia kayaknya gue bisa gila.”

Caca bersemu lucu. Menjilat bibirnya gugup, tidak berani menatap Ciko yang meliriknya sekilas.

Sambungan pun tak lama terputus. Adit juga harus melanjutkan hal yang tertunda. Menjenguk Azuranya.

Dia dan Azura yang berjuang untuk sembuh dari penyakit mental yang tidak nyaman ini.

Caca kembali duduk namun sebelah tangannya tetap Ciko pegang.

“Kak, duduknya jadi ga nyaman,” keluh Caca karena jadi agak menyamping karena tangannya masih di paha Ciko.

Ciko melepaskannya.

“Nikahnya ga mau besar-besaran, mama kayaknya setuju aja, tapi kalau seandainya udah lahiran, ada resepsi, kamu mau, Ca?” tanya Ciko.

“Ma-mau aja. Ngikut kak Ciko,”

Ciko mengusap pipi Caca sekilas. “Istri yang baik, nurutnya kamu tuh gemes.” lalu tersenyum tipis.

Caca semakin merasakan wajahnya panas.

***

Ciko merangkul Caca, memayunginya agar tidak basah. Caca menghangat, Ciko begitu menjaganya sampai mengorbankan bahunya yang basah.

“Kak Ciko kehujanan.” ujar Caca begitu pelan.

“Yang penting kamu engga.” balas Ciko acuh tak acuh, dia fokus menatap jalananan. Harusnya dia langsung naik ke apartemen Caca bukan mengajak Caca jajan dulu.

Semoga Caca tidak terkena flu. Hujan mendadak deras untung ada satu payung lagi yang belum terjual.

“Dingin?” tanya Ciko memastikan Caca terpayungi dengan benar.

“Engga.” Caca memakai dua jaket. Jaketnya dan Ciko. Membuat Caca berdebar haru.

Ciko bernafas lega karena sebentar lagi akan sampai. Ciko memastikan Caca masuk dulu, dia menutup payung dan menyimpannya asal di dekat kotak surat. Siapa tahu ada yang membutuhkannya.

Barulah Ciko merangkul Caca untuk masuk ke dalam lift. Menatap seluruhnya, Caca tidak terkena basah. Hanya sepatunya.

“Kak Ciko basah,” Caca menunjuk bahu Ciko yang sangat basah.

“Ada baju aku di apart kamu, ga masalah.” singkat Ciko.

Angin dan hujan begitu deras. Semoga dia sehat agar bisa menjaga Caca.

Caca menatap Ciko tidak berpaling, mengerjap beberapa kali. Terus mengamatinya sampai Ciko sadar dan tersenyum.

“Apa? Jangan minta diserang gitu, aku lagi dingin.” bisiknya lalu tersenyum tipis dan merangkul Caca mencari kehangatan. “Dingin, Ca.” lirihnya agar Caca tidak menjauh karena malu dia goda.

***

Caca merebahkan tubuhnya. Selimut tebal membelitnya. Nyaman. Setelah habis satu gelas susu hangat, sikat gigi, cuci muka dan kaki, tangan. Caca memutuskan rebahan.

Hujan begini memang enak tidur.

“Udah mau tidur?” Ciko muncul dengan celana diatas lutut dan kaos tanpa lengan. Menunjukan betapa keren bisepnya.

Caca terdiam mengingat dua lengan itu berada di setiap sisi tubuhnya. Mengukungnya dalam keadaan polos.

Caca menelan ludah.

Ciko terkekeh geli. Dia merangkak lalu duduk di samping Caca yang rebahan. Ciko menatapnya dengan tenang.

Caca sampai lupa wajah sangar Ciko saat menjadi bossnya.

“Ikut tidur boleh? Dingin,” ujarnya pelan nan lembut.

Caca membuka mulut lalu merapatkannya dan mengangguk pelan.

Ciko pun masuk ke dalam selimut tebal itu sambil menarik tubuh Caca agar merapat dengannya.

Caca terpejam geli saat Ciko mengecupi wajahnya lalu ndusel di lehernya dan mengecupinya juga.

Caca menelan ludah.

Ciko pun berhenti. Menatap Caca yang merona. Manis sekali, membuat Ciko menerbitkan senyuman.

“Bayiku,” bisik Ciko sambil menekan hidungnya sekali.

Caca kian bersemu. Dia bukan remaja lagi. Wajahnya memang menipu.

“Caca udah mau punya bayi,” cicitnya.

“Tapi suara, wajah, tingkah kamu ketutup sama aura bayi,” bisik Ciko mengecupi pipi Caca sampai basah.

Caca merem melek. Tidak tahu sejak kapan hubungannya dengan Ciko berubah semakin dekat.

Apa karena mereka akan menikah?

Caca terpejam menikmati bibir Ciko yang dari leher turun ke dadanya. Nafas Caca mulai memberat, Ciko menarik turun belahan piyama itu, bibirnya memutar di sekitar puncaknya yang mengeras lucu.

Ciko membuat Caca tanpa sadar membusung. Hingga tubuhnya tersentak saat mulut Ciko mengulum puncak dadanya bergantian.

Caca membusung gelisah, menggeliat. Suaranya mendesah begitu pelan sampai Ciko mendongak dan tersenyum.

“Suka?” tanyanya serak. Ciko merasa gemas dengan desah halusnya yang manja lirih.

Caca bersemu merah, memalingkan tatapannya malu. Mana wajah Ciko berada di belahannya.

Caca terpejam dan tersentak. Wajahnya terdongak saat Ciko kembali mengulum dan menghisapnya.

“Kak Ciko,” Caca meremas rambut belakang Ciko. Dia menggeliat. “Haa..” rintihnya begitu halus.

Ciko meraih yang sebelahnya. Membuat Caca semakin gelisah. Nafasnya memberat.

Ciko berhenti, dia membungkam bibir Caca yang menggemaskan. Desahnya sungguh mengujinya. Ciko begitu rakus sampai Caca kewalahan.

Pakaian tidur Caca begitu berantakan di acak-acak oleh Ciko.

BAHAGIA

Adhya tersenyum bahagia. Setidaknya untuk saat ini Caca tidak sendirian. Adhya juga melihat ketulusan di kedua mata Ciko.

Dia tengah diperjalanan, pulang dari pernikahan Caca yang sederhana sesuai permintaan Caca.

Untuk resepsi akan dilakukan setelah lahiran atau anaknya cukup besar nanti.

“Seneng, sugar?” Nolan tersenyum melihat mood Adhya. Bahkan sesekali bersenandung.

“Hm, Caca berhak bahagia. Semoga kak Ciko tulus,” jawabnya sambil meraih jemari Nolan dan memainkannya.

Nolan menyetir dengan sebelah tangan, begitu ahli dan keren. Nolan balik genggam jemari Adhya dan mengusapnya.

Semakin hari rasanya semakin lengket. Pacaran setelah menikah ternyata tidak buruk. Nolan sangat menikmati dan menyukainya.

“Mau lanjut jalan aja?” Nolan melirik Adhya sekilas.

Adhya terdiam sejenak lalu mengangguk. “Mau, belanja yuk? Liat peralatan bayi,” ajaknya.

“Oke, kita belanja!” Nolan mengecup punggung tangan Adhya yang masih dia genggam erat jemarinya.

“Asyik, makasih papa sayang..”

“Iya, mama..”

“Ihhh geli banget ya,” Adhya geli sendiri tapi suka, dia berdebar dibuatnya.

“Ga.” balas Nolan sambil mengecup lagi punggung tangannya.

“Merinding, tapi lucu kamu di panggil papa. Btw, sejak kapan kita aku-kamu?” Adhya baru sadar soal itu.

***

Adhya menatap Nolan yang berjongkok membenarkan tali sepatunya, lalu memasangkan topi.

“Lagi terik, pake dulu. Kita jalan dikit ke depan, di sana ada toko peralatan bayi lengkap, abis itu kita ke mall..”

Adhya mengulum senyum. Masih duduk di jok, menyamping menghadap keluar, sedangkan Nolan berjongkok.

“Kok tahu?”

“Aku selalu cari tahu tentang anak, biar ke depannya aku kayak bisa diandalkan,” ujar Nolan sombong lalu terkekeh.

Adhya menghangat. Mantan buaya di depannya sepertinya sungguh-sungguh dan sudah sangat siap memiliki anak.

“Kamu pasti nanti jadi papa keren,” puji Adhya.

Nolan mengulum senyum geli, tumben Adhya memujinya. Tapi, makasih. Dia sangat senang mendengarnya.

“Kamu juga, mama.” Nolan mengecup punggung tangan Adhya lalu berdiri. “Saatnya keluar princess,” lalu tersenyum.

Adhya tersipu.

Keduanya berjalan saling bersisian, jemari bertaut saling menuntun ke tujuan yang sama. Keduanya seperti pasangan yang tengah jatuh cinta. Sepertinya memang begitu.

Adhya mulai menerima, mulai sering menatap Nolan dengan penuh ketertarikan. Apalagi Nolan.

“Mana? Masih jauh?”

“Dikit lagi.”

Keduanya berjalan tanpa bersuara lagi. Hingga toko besar pun mulai terlihat.

“Itu?”

“Hm, besarkan? Kayaknya sih lengkap,” Nolan agak tidak yakin namun melihat betapa besar sepertinya memang cukup lengkap.

“Ihh.. Bagus-bagus,” Adhya tidak sabar untuk segera masuk.

Nolan melepaskan genggaman tangannya, membiarkan Adhya memilih sesuka hati. Nolan pun mulai ikut melihat-lihat.

Bak mandi bayi, peralatan lainnya sedangkan Adhya langsung melipir ke bagian pakaian. Jantung keduanya sama berdebar tidak sabar.

Kehamilan pertamanya itu sungguh dinantikan oleh keduanya.

***

“Mau tinggal sama mama?” tanya Aura seraya mengusap perut Caca yang sedikit lebih terlihat dari saat pertama mereka bertemu.

Caca juga agak gendutan sekarang. Aura lega, anaknya itu sungguh bertanggung jawab dengan yang dia perbuat.

Caca harus menerima yang setimpal dengan pengorbanannya. Anaknya itu sungguh-sungguh gila sepertinya karena cinta.

“Caca sih ngikut kak Ciko, ma.” jawab Caca disertai senyuman tulus.

“Sini aja, sama Anggis,” tambah Anggis.

Caca melirik Ciko disampingnya yang duduk santai. Namun terlihat sekali moodnya baik. Ciko lega dan bahagia karena sudah berhasil menjadikan Caca istrinya.

“Ga, tapi nanti kapan-kapan nginep.” balas Ciko yang membuat Anggis dan Aura mendesah kecewa tapi tidak memaksa.

“Gimana, mual?” Aura bertanya hal lain.

“Engga terlalu, ma. Cuma dikit aja, untungnya ga sampe muntah,” jawab Caca mulai membiasakan diri tidak terlalu canggung dengan mertuanya.

“Papa mana?” tanya Ciko. Setelah selesai acara sederhananya, dia tidak melihatnya lagi.

“Ada meeting dadakan, papa di ruang kerja,” jawab Anggis.

“Kalau gitu kita pamit sekarang, bilangin ke papa maaf ga pamit, takut hujan. Udah gelap di luar,” Ciko beranjak, meraih jemari Caca untuk ikut beranjak.

“Mama boleh tahu apartnya Caca?”

“Engga. Kita langsung pindah ke apartku, ma..” jawab Ciko.

Caca tidak kaget, soalnya kemarin Caca sudah obrolkan dengan Ciko. Caca sih oke saja, jika itu yang terbaik. Katanya tempat kerja Ciko lebih dekat.

Caca jadi kangen kantornya. Dia kangen bekerja juga.

***

“Kenapa?” Ciko mematikan mesin, dia pun turun di susul Caca yang menatap parkiran mewah itu. Sungguh berbeda.

Gedungnya memang mewah. Ini pasti apartemen mahal. Lebih mahal dari miliknya.

Ciko meraih jemari tangan kiri Caca, dia tuntun untuk masuk ke dalam lift dan menuju lantai 5 tempat unit apartemennya berada.

“Semua pakaian udah ada, mama yang bantu beliin, semoga suka.”

Caca mengangguk dan mengulum senyum. “Makasih, kak Ciko.” balasnya.

“Apapun buat kamu,” Ciko membelai sebelai pipi Caca lalu mengecup keningnya.

Ciko merasa mimpi bisa menjadi suami Caca tanpa menunggu 3 bulan lamanya. Dia begitu senang bisa membawanya ke apartemen yang biasanya dingin kesepian. Kini ada Caca disekitarnya.

Caca bersemu salah tingkah. Jantungnya berdebar. Perlakuan Ciko begitu lembut, penuh kasih sayang. Membuat Caca yang sempat membenci perlahan terkikis oleh setiap tingkah baik Ciko.

Ciko datang di saat dia membutuhkannya. Di saat dia merasa putus asa dan hampir hilang arah.

“Kita sampai. Selamat datang, Caca.” Ciko menekan kode dan melebarkan pintunya.

Caca tersenyum tipis lalu melangkah masuk dengan sedikit ragu dan canggung. Wanginya enak, dalamnya begitu luas dan mewah. Uang memang tidak akan bohong.

Pasti Ciko membayar mahal untuk ini.

“Sebelum istirahat, makan dulu.” Ciko merangkul Caca, mengajaknya ke meja makan yang sudah dipenuhi makanan.

Ciko akan memberikan bonus untuk asisten pribadinya. Dia melakukan pekerjaannya dengan baik.

Caca menutup mulutnya sekilas, makanan di depannya terlihat menggiurkan dan makanan kesukaannya.

Keduanya makan, dengan sedikit canda tawa pelan. Caca terlihat lebih bersemangat hari ini. Ciko semakin lega.

“Semoga anakku ga senakal aku waktu kecil, kata mama aku ga bisa diem.”

“Bukannya tanda anak pintar ya?”

Ciko tersenyum. “Makasih. Aku kayaknya emang pinter. Pinter dalam hal apapun, bikin kamu jerit contohnya.” kekehnya pelan.

Caca merasa wajahnya panas. Dia sempat menjerit saat Ciko terus mengulum dadanya hari itu. Dia malu!

Keduanya membersihkan diri. Memakai piyama yang nyaman lalu duduk bersandar di kepala ranjang.

Caca merasa nyaman sekali, kasurnya lebih enak dari kasurnya yang dibelikan Ciko di apartemennya.

“Kamarnya nyaman?”

Caca menatap sekeliling, dulu hitam sekali sekarang campuran hitam putih yang mewah dan elegan.

“Lebih berwarna, waktu itu ga gini.” komentar Caca.

“Jelas berwarna. Ada kamu dihidup aku.” Ciko mendekat, memeluk Caca. Caca bersemu, membalas memeluk Ciko walau agak ragu diawal. Keduanya diam saling menikmti kehangatan.

“Malam ini, boleh, hm?” bisik Ciko. Caca berdebar. Tanpa perlu dijelaskan dia jelas paham arahnya kemana. Caca menelan ludah lalu mengangguk pelan.

Cerita Sex Cara Masturbasi Pakai Sex Toys

Ciko tersenyum, mulai mengecupi kepala, bahu hingga leher Caca dengan begitu perlahan, begitu lembut. Hingga decap ciuman terdengar. Keduanya mulai jauh. Ciko yang lebih aktif memang.

Hingga suara percintaan pun terdengar pelan. Ciko sungguh berhati-hati, perlahan namun pasti. Dia akan memperlakukan Caca dengan baik.

Tidak seperti awal. Ciko terlalu hilang kendali, dia juga cukup marah karena dengan berani Caca berada di club yang berbahaya.

Desah keduanya saling bersahutan. Kulit bertemu kulit. Kehangatan yang melahirkan bulir keringat penuh cinta. Keduanya terlihat sama-sama menginginkan dan menikmati. Caca pada akhirnya menyerah pada kenikmatan itu.