Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Anak Tiri

Anak Tiri

Cerita Sex Anak Tiri – Di usia empat puluh tahun, ia seharusnya sudah menemukan kedamaian, rumah besar, suami yang sibuk, dan status istri yang disegani. Tapi malam-malam sunyi itu justru membukakan pintu pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Tiga anak tiri lelakinya-tinggi, berotot, penuh tenaga, dan masih dipenuhi api muda—mulai mengisi kekosongan yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Awalnya hanya tatapan sekilas, sentuhan tak sengaja di dapur, hembusan napas yang terlalu dekat saat lewat di koridor gelap. Tapi lambat laun, batas itu runtuh.

Sekarang ia ketagihan. Ketagihan pada kekuatan tangan mereka yang mengangkat tubuhnya dengan mudah. Ketagihan pada desahan kasar yang memanggilnya “Bu” dengan nada yang sama sekali tak sopan lagi. Ketagihan pada sensasi dikuasai tiga lelaki muda sekaligus, bergantian, bersama-sama, tanpa ampun—sampai tubuhnya gemetar lemas dan pikirannya kosong.

Ia tahu ini salah. Ia tahu ini bisa menghancurkan segalanya. Tapi setiap kali pintu kamar tertutup dan lampu dimatikan, ia tak lagi peduli.

Karena rasa ketagihan itu sudah lebih kuat daripada rasa bersalah. Dan malam ini… mereka akan datang lagi.

Cerita Dewasa Anak Tiri Ngocoks Malam itu, hampir pukul sembilan, Retno terperanjat ketika suaminya tiba-tiba pulang lebih cepat dari penugasan luar kota yang telah memisahkan mereka lebih dari seminggu. Wajah lelaki berusia 60 tahun itu memancarkan kegembiraan tak biasa, senyumnya seolah menyimpan sebuah cerita yang belum terucap.

“Ada apa, Mas? Senyum terus. aku jadi curiga, lho,” ujar Retno sedikit manja.

“Ada kejutan yang tidak biasa, khusus buatmu,” balas suaminya, suaranya lembut sekaligus penuh rahasia.

Retno mengangkat alis, separuh heran, separuh gemas. “Kejutan apa sih, Mas?”

“Yang akan membuatmu bisa menyalurkan hasrat kerinduan dengan lebih baik, lebih tenang dan lebih dahsyat,” katanya sedikit mendesah, sebelum merangkul istrinya dalam pelukan hangat yang langsung menuntaskan sebagian rindu yang mengendap dengan menciuminya.

Mereka tertawa kecil, saling melepas jarak yang tertumpuk selama hari-hari terpisah itu. Setelah beberapa saat, suaminya menuntun Retno menuju kamar mereka. Setibanya di sana, ia mengeluarkan sesuatu dari tas besarnya. Sebuah benda, dibungkus rapi, diserahkan dengan gerak yang penuh pertimbangan.

Retno terpaku. Ada sesuatu dalam cara suaminya memandang, seakan ia sedang menawarkan lebih dari sekadar hadiah; sebuah kepercayaan, mungkin keberanian untuk membuka percakapan yang selama ini hanya berputar di benak mereka.

“Ini… apa, Mas?” tanyanya pelan.

“Khusus untukmu,” jawab suaminya singkat, namun lembut.

Retno menatap benda itu, lalu menatap suaminya, merasakan campuran haru, malu, dan kehangatan yang meluap bersamaan. Ia menangkap niat baik di balik hadiah itu. Sesuatu yang tidak perlu dijelaskan panjang-lebar, namun ia mengerti arti dan keberanian yang menyertainya.

“Mas… kenapa repot-repot beli yang beginian?” bisiknya, senyumnya muncul tanpa bisa ia tahan.

Suaminya hanya mengusap lembut punggung tangannya. “Papa ingin kamu bahagia. Sesederhana itu.”

“Ini dildo kan?” tanya Retno setengah tak sadar sekedar untuk memastikan.

“Yes!” jawab suaminya pelan sambil tetap terus menyodorkan benda itu, memaksa Retno untuk segera menerimanya.

Retno masih tertegun, tak menduga bahkan masih tak percaya, jika suaminya yang oleh sebagian orang dipanggil Pak Haji, bisa-bisanya memberi hadiah pada istrinya berupa benda yang tak biasa cenderung tak senonoh.

Dengan agak ragu-ragu, Retno pun lantas menerimanya dan ia rasakan teksturnya benar-benar sangat kenyal walau agak dingin. rudal imitasi itu ukurannya jauh lebih besar dan panjang jika dibandingkan dengan milik suaminya. Tentu saja kenyal dan kerasnya pun sangat beda.

“Ini buat apa sih, Mas?” tanya Retno pura-pura polos. Kulit wajahnya semakin terasa panas karena malu dengan kekurangajaran tangannya yang secara tak sadar meremas-remas benda kenyal itu untuk sekadar merasakan tekstur dan kekenyalannya.

Suaminya tetap tersenyum, tidak menjawab pertanyaan istrinya, malah melepas pakaian Retno dengan sangat pelan hingga istrinya benar-benar telanjang bulat. Sementara suaminya tetap mengenakan pakaiannya. Retno lalu diminta rebahan di atas kasur sambil membuka lebar kedua kakinya. Hal yang tak pernah diminta suaminya sebelum ini.

Dengan lembut suaminya menyentuh area paling sensitifnya itu, membuat Retno tersentak kaget sekaligus penasaran. Sejak kapan suaminya berani mengeksplorasi bagian tubuh yang jarang dia sentuh? Namun, Retno menyerah pada gelombang kenikmatan lama yang hilang, memejamkan mata sambil menikmatinya sepenuh hati.

Setelah kelembapan alami muncul, suaminya perlahan memasukkan ujung kepala dildo itu berukuran besar dan panjang itu ke dalam diri istrinya, sekitar setengahnya.

“Maas…” desah Retno tertahan, tubuhnya menggeliat malu-malu karena sensasi yang begitu menggoda. Bentuknya yang gagah memenuhi setiap sudut dengan sempurna, bahkan menyentuh titik terdalam saat didorong masuk hampir seluruhnya.

“Gimana, nyaman dan nikmat kan, Sayang?” tanya suaminya sambil menariknya pelan lalu mendorong kembali. Retno hanya mengangguk kecil, rintihannya lirih karena pikiran campur aduk antara malu, kebingungan, dan gelora yang mendominasi.

Suaminya terus memainkan dildo itu dalam ritme halus, masuk lebih dalam, berputar lembut, lalu hampir keluar, membuat desahan Retno semakin nyaring, nyaris seperti jeritan saat gerakannya semakin intens.

“Coba kamu pegang sendiri,” bisik suaminya, menyerahkan kendali tanpa mencabutnya, sambil melepas pakaiannya sendiri.

Suaminya kembali mengambil alih, sambil mencium dan membelai payudaranya bergantian, serta membimbing tangan Retno ke kejantanan miliknya yang tegang, meski lebih mungil, lebih lembek dan ini sesuatu yang teramat baru bagi keduanya.

Saat Retno hampir mencapai puncak, suaminya cepat mengganti dildo itu dengan rudal aslinya. Sensasi berubah mendadak, ruang terasa lebih longgar, tapi gerakannya yang lincah dan penuh semangat segera membangkitkan kembali api yang cukup lama nyaris padam.

“Ooooo Maaas….” lenguh Retno tak tertahankan saat dalam hitungan berikutnya ia orgasme yang teramat dahsyat, diikuti ejakulasi suaminya dengan ledakan yang melimpah. Keringat membasahi seprai mereka, sesuatu yang pertama kalinya terjadi.

Napas mereka mereda, suaminya berbisik, “Sayang nyaman dan nikmat kan? Kalau Mas tak di rumah dan kamu butuh, gunakan saja itu untuk memuaskan diri. Mas rela, asal jangan ke orang lain, itu haram.”

“Iya, Mas,” jawab Retno pelan, matanya sayu berat. “Nyaman kok,” tambahnya dengan anggukan saat dipeluk erat. Suaminya mencium pipi dan keningnya lembut.

“Tapi kenapa ukurannya sebesar itu? Kayaknya salah ukuran deh, Mas.” gumam Retno halus, sebenarnya ingin bilang agar disesuaikan dengan milik suaminya.

“Tidak salah, Sengaja Mas pilih yang lebih besar dan panjang, biar kamu merasakan sensasi luar biasa dan puas maksimal, terutama saat sendirian,” jawabnya yakin, tanpa ragu.

“Tapi kenapa Mas bisa punya pemikiran sejauh itu?” tanya Retno sambil menatap dalam kedua mata suaminya. Ada kilau aneh di sana, semacam semangat baru yang selama ini jarang tampak.

Suaminya menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Mas juga bingung. Tapi ini sebenarnya berawal dari obrolan beberapa rekan. Mereka banyak yang memberikan dilso pada istrinya. Katanya supaya istri tidak merasa kesepian saat ditinggal suami. Biar rumah tangga mereka tetap aman.”

Retno mengernyit halus. “Memangnya mereka yakin istri-istrinya itu tidak menyimpang hanya karena diberi begituan? Atau malah mereka menuduh istrinya akan menyimpang kalau tidak diberi?”

“Ya, mungkin itu cara mereka mencari rasa aman, Sayang.” Suaminya mencoba terdengar meyakinkan, meski suaranya menyimpan ragu. Ngocoks.com

“Aku rasa itu cara berpikir yang terlalu jauh, Mas,” ujar Retno lembut. “Selama ini aku tidak pernah macam-macam walau tidak punya apa pun, kecuali kamu.”

Suaminya mengangguk pelan. “Mas tahu. Tapi juga banyak dengar kalau masalah rumah tangga muncul karena kebutuhan batin tidak terpenuhi. Mas merasa sering tidak maksimal karena sering tugas keluar kota. Jadi cuma… ikut cara mereka. Supaya kamu tetap merasa dicintai.”

Retno menatapnya lebih lama. “Lalu Mas sendiri kalau lagi dinas gimana? Apa tidak pernah goyah untuk mencari wanita lain?”

Suaminya terkesiap kecil. “Astaghfirullah, tentu tidak. Mas sudah janji pada dirimu sejak awal, tidak akan main-main soal itu. Sejauh ini bisa menjaga diri.”

“Itu sama saja dengan aku, Mas,” jawab Retno tenang. “Tanpa bantuan dildo, aku juga mampu menjaga diri.”

Suaminya tersenyum, sedikit malu. “Iya, Mas percaya. Mas cuma ingin jaga-jaga kalau suatu waktu kamu merasa tidak kuat menunggu. Dan… Mas lihat kamu tampaknya menikmati persetubuhan tadi, hehehe.” Godaannya terdengar ringan, meski membuat Retno tersentak.

“Maaaas!” Retno memukul lengannya pelan sambil menahan rasa malu.

“Gak apa-apa,” ucap suaminya sambil menenangkan. “Manusia wajar ingin merasa terpenuhi. Itu normal.”

Retno mengembuskan napas, masih heran. “Mas kok jadi tahu banyak hal yang tidak pernah Mas pedulikan sebelumnya.”

Suaminya tertawa lirih. “Namanya juga sering dengar obrolan orang. Ternyata banyak pasangan menemukan cara sendiri untuk saling menenangkan. Mas jadi ikut kepikiran begitu. Terlebih lagi Mas kan memang sudah tidak seperkasa dulu…”

Retno mendekat, bersandar di bahunya. “Tapi bagiku, yang terpenting dirimu tetap ada. Selama ini aku sudah merasa cukup.”

Suaminya merangkulnya lembut. “Iya. Dan semua ini sebenarnya hanya Mas lakukan sebagai langkah tambahan, bukan pengganti apa pun. Kalau kamu merasa tak perlu, ya tidak usah dipakai. Mas cuma tidak mau kamu tersakiti karena Mas sering tidak hadir sepenuhnya.”

Retno membalas pelukannya, suaranya merendah. “Dari awal kita sepakat, yang terpenting adalah kedekatan hati. Yang lain hanya pelengkap. Dan sejauh ini kita selalu baik-baik saja.”

Suaminya mengecup kening Retno penuh kehangatan, seakan ingin menutup percakapan itu dengan sesuatu yang lebih lembut daripada kata-kata.

Namun jauh di sudut hatinya, Retno masih merasa ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Ia memilih diam, membiarkan malam bergerak pelan seperti tirai tipis yang menutup ruang penuh tanda tanya.

Hari-hari selanjutnya, dildo pemberian suaminya itu bukan hanya menjadi peneman saat ia ditinggal tugas, tetapi malah berubah menjadi bagian dari kebiasaan baru ketika suaminya pulang Entah mengapa suaminya jadi bersemangat saat membantu Retno mencapai puncak dengan bantuan dildo dan miliknya..

Suaminya seolah menghadirkan perubahan dan nuanasa baru dalam hubungan intim mereka, menghadirkan sesuatu yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan muncul dalam rumah tangga yang sudah berjalan dengan pola yang nyaris baku. Baik walau wakatunya relatif masih baru, sekitar empat tahun.

Beberapa kali Retno mencoba mengingatkannya agar mereka tetap menjaga batas-batas tertentu, terlebih mengingat citra suaminya sebagai sosok yang dikenal religius. Kadang ia menolak secara halus, tetapi suaminya selalu datang dengan cara yang menenangkan, membawa alasan dan rayuan yang membuat keberatan Retno perlahan mereda.

Namun semua itu ternyata tidak bertahan lama. Perlahan, semangat yang dulu menggebu mulai meredup. Retno pun merasakan kejenuhan yang tak bisa lagi ia sembunyikan. Suaminya, yang sebelumnya begitu antusias, mulai tampak kehabisan arah, seakan upayanya untuk memperbarui kedekatan itu justru membuatnya lelah.

Pada akhirnya, dildo itu ditinggalkan dan Retno membuang tanpa banyak kata. Kehidupan ranjang mereka kembali seperti semula, bahkan mulai lebih hambar, seolah jejak perubahan singkat itu malah menyisakan rongga yang tidak mudah diisi kembali. Sudah hampir setahun mereka bahkan nyaris tak pernah melakukannya lagi.

Bersambung… Ruang tamu rumah Bu Vita tampil seperti etalase kenyamanan kelas menengah atas. Sofa krem berlapis kain impor tersusun rapi, bantal-bantalnya terlalu bersih untuk benar-benar dipeluk. AC berdengung lembut, parfum mahal saling bertabrakan, entah mawar, entah vanilla—mencipta aroma campuran yang sulit dikenali.

“Silakan duduk, Bu… eh Bu Rina ya?” suara Bu Vita lembut tapi presisi, seperti tahu persis siapa duduk di mana.

“Iya, Bu. Aduh dingin banget AC-nya,” jawab Bu Rina sambil terkekeh, meski tangannya tak bergerak sedikit pun untuk mencari remote.

Meja panjang di sudut ruangan penuh penganan cantik yang tampak lebih siap difoto daripada dimakan. Kue-kue kecil berjajar rapi, salad buah dalam mangkuk bening, dan termos bermerek yang sengaja diletakkan menghadap pintu.

“Termos barunya ya, Bu Vita?” celetuk seseorang.

Bu Vita tersenyum tipis. “Ah, biasa aja. Anak saya yang maksa.”

Para ibu duduk berkelompok, tas-tas berbaris di samping kursi seperti piala sunyi. Obrolan mengalir ringan namun berkilau.

“Kemarin ke Jepang dingin banget, lho,” kata Bu Maya, nada suaranya seolah menahan detail agar tak terdengar pamer.

“Ih, enak ya… aku mah ke Bandung aja udah bersyukur,” sahut yang lain, tertawa kecil.

“Aduh, sopir baru saya tuh,” lanjut Bu Maya tanpa diminta, “jalannya muter-muter. Katanya GPS-nya ngaco, padahal rumah saya kan tinggal masuk dikit.”

Tawa terdengar terukur, dijaga rapi sesuai citra. Bu Vita bergerak anggun dari satu kelompok ke kelompok lain.

“Makanannya kurang nggak, Bu?”

“Cukup, Bu, lengkap banget.”

“Kalau kurang bilang ya.”

Retno datang belakangan. Begitu ia melangkah masuk, ritme ruangan seperti bergeser satu ketukan. Kursi khusus sudah menunggunya, strategis dan mencolok.

“Oh, Bu Gofur datang,” kata seseorang agak terlalu keras.

“Iya, Bu, sini duduk. Ini memang disiapkan buat Bu Gofur,” sambung yang lain dengan senyum dilebihkan.

Retno membalas dengan anggukan kecil. “Maaf telat, tadi ada sedikit urusan.”

Tasnya sederhana. Justru itu yang membuat beberapa mata tertahan lebih lama. Nama suaminya, dari lingkungan Departemen Agama, melayang-layang tanpa perlu disebut.

“Pak Gofur sehat, Bu?” tanya Bu Vita ramah.

“Alhamdulillah,” jawab Retno singkat.

Percakapan di sekitarnya menyesuaikan arah, topik-topik kecil mendadak digeser ke arah yang lebih “aman”. Tanpa diumumkan, semua paham: arisan hari itu bukan sekadar undian, tapi panggung kecil tempat status dan cerita saling berkilau.

Setelah pengocokan selesai, tepuk tangan menggema.

“Alhamdulillah, rezekinya lancar,” seru seseorang.

“Wah, giliran saya masih lama ya,” sahut yang lain setengah mengeluh, setengah berharap.

Beberapa ibu langsung meraih ponsel.

“Foto dulu, dong.”

“Kirim ke grup ya.”

“Biar update.”

Makan siang datang seperti aba-aba tak tertulis. Para ibu bergerak membentuk gerombolan-gerombolan kecil.

“Eh kita sini aja.”

“Jangan situ, penuh.”

“Ayo gabung.”

Meja makan panjang berubah jadi peta sosial.

Di satu sisi, tawa meledak-ledak.

“Dokter itu mahal, tapi hasilnya kelihatan.”

“Skincare ini katanya dipakai artis, lho.”

“Ih, artis yang mana? Aku nggak kenal.”

Di sisi lain, suara lebih rendah tapi tajam.

“Katanya sih…”

“Ya, tapi jangan bilang-bilang.”

Retno memilih duduk bersama empat ibu senior di pojok dekat jendela.

“Ambil sedikit aja ya, Tante,” kata Bu Ida.

“Iya, Bu,” jawab Retno sambil tersenyum.

“Harga tanah sekarang aneh,” ujar Bu Lela sambil mengaduk sup.

“Naiknya cepat banget, nggak jelas sebabnya.”

“Namanya juga sekarang,” sahut yang lain.

“Anak bungsuku tuh,” lanjut Bu Ida, “terlalu pintar. Malah susah dapat jodoh.”

“Waduh, kebanyakan mikir kali,” timpal Bu Lela.

Tawa kecil terdengar, lalu obrolan meloncat lagi.

“Rumah dinas lama itu masih sering ‘ngingetin’,” kata Bu Ida, suaranya diturunkan.

“Masa sih?”

“Serius. Penghuninya suka dengar suara langkah.”

Retno ikut mencondongkan badan, meski wajahnya tetap netral. Ia lebih banyak mengangguk, tertawa kecil di tempat yang dirasa tepat, tangannya sibuk dengan sendok dan air putih. Ia merasa seperti tamu di negeri asing—paham bahasanya, tapi belum berani bercakap bebas.

Lalu suasana berubah.

Bu Ida mencondongkan badan lebih jauh. “Ngomong-ngomong soal keluarga harmonis,” katanya pelan, “kalian dengar kabar Bu Vivin?” Ngocoks.com

Nama itu jatuh ke meja.

Retno membeku sejenak.

“Bu Vivin? Yang selalu bareng Pak Martin?” tanya seseorang.

“Iya,” jawab Bu Lela cepat. “Katanya sudah masuk gugatan cerai.”

Sendok Retno berhenti di udara.

“Loh, kenapa?”

“Pak Martin itu, katanya sudah loyo,” bisik Bu Lela.

“Bukan cuma capek, benar-benar… ya gitu deh.”

Nada suara mereka campur aduk antara iba dan rasa ingin tahu.

“Yang bikin heboh,” Bu Ida menutup mulut dengan punggung tangan, “Bu Vivin sekarang malah ketagihan… mainan dildo yang dipesan online itu.”

Waktu seperti tersandung. Retno terbatuk kecil. “Uhuk….maaf,” katanya cepat sambil meraih air. Dadanya berdebar tidak sopan.

Para ibu saling pandang. Ada yang menggeleng pelan, ada pula yang mengangkat alis tinggi-tinggi.

“Zaman sekarang ya, aneh-aneh saja padahal mereka kan udah sepuh, Bu Vivin udah mau 55 kan?” gumam seseorang.

“Kasihan juga sebenarnya.”

Retno menunduk, berpura-pura sibuk dengan mangkuknya. Ia tak tahu mana yang lebih mengejutkan: kabar itu sendiri, atau betapa mudahnya cerita sebesar itu diucapkan di meja makan yang masih berbau kuah kaldu.

Arisan bubar tanpa penutup resmi.

“Duluan ya, Bu.”

“Iya, hati-hati.”

“Nanti kita WA-an lagi.”

Para ibu pulang bergelombang. Ada yang masih tertawa di teras, ada yang sudah berbisik di balik pintu mobil. Rumah Bu Vita kembali rapi, tapi sisa-sisa cerita tertinggal di udara, lengket, dan sulit diusir.

Di rumahnya, Retno duduk sendirian lebih lama dari biasanya. Tas arisan masih tergeletak di kursi, belum ia sentuh. Kepalanya penuh. Gosip tentang Bu Vivin berputar-putar tanpa izin, terlalu jelas, terlalu dekat. Setiap potongan cerita terasa seperti cermin buram yang memantulkan sesuatu dari hidupnya sendiri.

Ia menarik napas panjang. Apa yang dialami Bu Vivin, hampir saja menjadi kisahnya. Atau mungkin, sebagian darinya sedang ia jalani. Ingatannya melayang pada sebuah hadiah dari suaminya dulu, diberikan dengan niat baik, mungkin juga dengan rasa bersalah yang tak diucapkan. Benda itu sempat mengisi ruang sunyi yang tak pernah benar-benar ia akui. Nyaris membuatnya lupa diri. Nyaris.

Ia bersyukur sudah membuangnya. Benar-benar membuang dan membakarnya, tanpa menoleh lagi yang tersisa hanya abu. Namun rasa waswas itu tetap ada, tipis tapi tajam, seperti benang halus yang menjerat pikiran. Ia takut pada dirinya sendiri, pada kemungkinan tergoda kembali. Terlebih kini, ketika usia suaminya semakin sepuh, jarak yang dulu hanya samar terasa kian nyata.

Retno menatap ruang tamu yang hening. Tidak ada gosip di sana, tidak ada bisik-bisik, hanya detak jam dinding yang jujur dan tak peduli. Ia menyadari satu hal yang membuat dadanya menghangat sekaligus ciut. Bebas dari benda itu bukan akhir cerita.

Justru mungkin awal dari kewaspadaan baru. Dan di balik ketenangan sore itu, Retno tahu, godaan tak selalu datang dengan wajah asing. Kadang, ia datang membawa nama orang lain, lewat gosip di meja makan, dan menetap diam-diam di hati.

Yang paling membuat Retno heran, sekaligus takut, justru bukan isi gosip itu sendiri, melainkan jalurnya. Bagaimana sesuatu yang sedemikian pribadi, sedemikian tertutup, bisa mengalir mulus dari ruang tidur seseorang hingga mendarat rapi di meja arisan ibu-ibu kompleks. Tanpa tersangkut. Tanpa rem. Seolah dinding rumah tak pernah benar-benar ada.

Ia memejamkan mata, mencoba menelusuri kemungkinan-kemungkinan yang membuat tengkuknya meremang. Apakah dari asisten rumah tangga yang terlalu lama tinggal lalu terlalu banyak bercerita. Atau dari sopir yang menunggu terlalu sabar di garasi sambil mendengar pertengkaran yang tak sengaja bocor.

Bisa juga dari sahabat yang awalnya hanya tempat curhat, lalu satu kalimat itu terlepas, berpindah mulut, membelah diri, beranak-pinak, sampai akhirnya tiba dalam versi yang lebih berani, lebih liar.

Retno menggigit bibir. Di lingkungan ini, reputasi berjalan lebih cepat daripada kebenaran. Yang privat tidak benar-benar privat. Yang rahasia hanya menunggu waktu untuk menemukan panggungnya. Dan ia sadar, gosip Bu Vivin bukan sekadar cerita orang lain. Itu peringatan sunyi. Bahwa hidup yang tampak rapi dari luar bisa saja berlubang di dalam, dan lubang itu, entah bagaimana caranya, selalu berhasil ditemukan orang lain.

Ia menatap sekeliling rumahnya sendiri. Dinding-dindingnya terasa lebih tipis dari biasanya. Retno mendadak berhati-hati pada siapa pun yang pernah ia ajak bicara terlalu jujur, pada kalimat-kalimat yang mungkin dulu ia ucapkan tanpa beban. Ketakutannya kini bergeser. Bukan hanya takut tergoda lagi, tetapi takut suatu hari namanya disebut dalam gosip serupa.

Gosip Bu Vivin tak berhenti di arisan. Ia bocor ke warung, ke kerumunan tukang sayur, diucapkan sambil tertawa ringan seolah tak membawa beban. Retno mendengarnya sekilas demi sekilas, dan setiap kali dadanya mengencang.

Ia mulai menarik diri, rapi dan pelan. Pergaulan dipersempit hanya pada kegiatan resmi kemasyarakatan. Undangan kecil dihindari. Bahkan senam bersama ia tinggalkan, memilih bergerak sendiri di belakang rumah, ditemani tembok dan jemuran.

Namun ketakutannya tak menyusut. Justru mengental. Semakin gosip itu beredar, semakin Retno merasa cerita itu bukan tentang Bu Vivin. Terlalu dekat. Terlalu pas. Seolah gosip itu hanya menumpang nama orang lain, menunggu waktu untuk menyebut namanya sendiri.

Bersambung… Retno duduk sendirian di taman belakang rumahnya. Angin malam mengusap kulitnya pelan, daun jambu bergerak lirih seolah ikut menghela napas panjang bersamanya. Daster tipis yang ia kenakan bergerak ringan terkena angin, jauh dari pakaian yang biasa ia pakai saat di luar rumah atau di acara-acara kantor suaminya.

Di kursi rotan itu, di halaman belakang… ia bisa jadi dirinya sendiri, tanpa topeng, tanpa tuntutan. Ia menatap langit yang bertabur bintang. Dari luar, hidupnya tampak lengkap. Tapi dari dalam… ada kekosongan yang menggigit. Ia mengusap lengan sendiri, berdesir perasaan yang tidak punya nama: campuran kesepian, lelah, dan semacam rindu yang bahkan ia sendiri tak tahu ditujukan untuk siapa.

Di tengah keheningan itu, terdengar suara ranting kecil patah dari arah samping, cukup membuyarkan lamunannya. Retno menoleh. Dari balik pagar tanaman, muncul sosok Egar, pemuda tetangga yang baru pulang main. Egar berusia 20an, tampak setengah lelah, setengah kaget melihat Retno duduk sendirian di luar.

“Oh… malem, Tante,” sapanya pelan sambil mengangguk.

Retno tersenyum tipis. “Malam juga, Gar. Baru pulang kerja?”

“Hmm… iya, Tante ada lembur dikit.” Egar hendak masuk, tapi langkahnya berhenti. Ia menatap Retno sebentar, sekadar satu detik terlalu lama dibanding biasanya.

Retno menegakkan duduknya. Ada sesuatu dalam cara pemuda itu menatapnya. Bukan kurang ajar, bukan iseng, tapi mungkin agak kaget dengan pakaiannya. Sebuah perhatian khusus yang sudah lama tidak Retno terima dari siapa pun.

“Tante nggak kedingina? Dingin loh malam ini?” tanya Egar hati-hati.

Retno mengulas senyum kecil, lembut tapi letih. “Lagi butuh angin segar, sebentar.”

“Pak Haji belum pulang ya, Tante.”

“Biasa dinas luar, Gar.”

Cerita Dewasa Ngentot - Anak Tiri
Egar mengangguk. Ia tampak ragu, tapi akhirnya berkata, “Kalau Tante… butuh teman duduk sebentar, aku bisa temenin, kok.” Ada jeda lima detik. Lima detik di mana Retno merasa dadanya terasa hangat aneh. Bukan menggoda, tapi hangat… dihargai. Lantas dia menepuk bangku di sebelahnya.

“Sini temenin Tante. Anginnya enak, Gar.” Egar mendekat pelan, duduk dengan sopan, menjaga jarak. Tapi kehadirannya saja sudah cukup untuk mengubah suasana.

“Gimana, Tan… hari ini capek?” tanya Egar, ragu-ragu. Retno menatap gelap taman. “Capek… tapi bukan capek badan.”

“Capek hati?” tanya Egar pelan, tapi tepat sasaran.

Retno terkesiap sedikit. Lalu menarik napas panjang, melepaskan beban. “Kamu tahu, Gar…” ucapnya lirih, “rumah ini besar. Tapi kadang rasanya… sesempit-sesempitnya ruang.”

Egar menunduk, suaranya rendah. “Sepi itu gitu, Tan. Kalau datang, nggak lihat umur, nggak lihat rumah, nggak lihat siapa kita.”

Perkataan sederhana itu mengenai di hati Retno. Ia tersenyum getir. Senyum seseorang yang akhirnya ada yang mendengar. “Kamu kok bisa ngomong gitu, Gar?”

Egar mengangkat pundaknya. “Ya… soalnya aku sering sepi juga, Tan.”

Egar terdiam sejenak, lalu menoleh lagi, ragu namun jujur. “Tante… boleh aku nanya sesuatu nggak?”

Retno menoleh, mengangguk pelan. “Nanya apa?”

“Sudah lama sekali, aku ngerasa Tante itu… kayak menarik diri,” katanya memilih kata dengan hati-hati, seolah berjalan di lantai licin. “Maksudku, Tante jarang kelihatan ikut kumpul, jarang keluar, kayak selalu jaga jarak dengan semua warga. Maaf ya kalau salah.”

Retno memejamkan mata sesaat. Pertanyaan itu seperti mengetuk pintu yang sudah lama ia ganjal dengan kursi dari dalam. Ia menarik napas panjang, terasa berat di dada.

“Bukan salah,” katanya pelan. “Kamu nggak salah lihat.” Ia menatap tangannya sendiri. “Tante capek, Gar. Capek harus selalu hati-hati. Capek mikirin omongan orang. Capek nimbang-nimbang mana yang pantas, mana yang bisa bikin salah paham.”

Retno tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip kelelahan daripada bahagia. “Lama-lama… Tante belajar membatasi. Bukan karena mau, tapi karena takut. Takut dibilang macam-macam. Takut nyusahin suami. Takut jadi bahan cerita yang berputar-putar di belakang.”

Ia menelan ludah. “Dan tanpa sadar, batas itu makin sempit. Sampai akhirnya Tante sendiri yang terkurung.”

Egar mendengarkan tanpa menyela. Matanya tidak menghakimi, hanya penuh perhatian. “Berat ya, Tan,” katanya lirih. Ngocoks.com

Retno mengangguk. “Kadang Tante kangen versi diri Tante yang dulu. Yang bisa ketawa keras, yang nggak kebanyakan mikir. Tapi sekarang… rasanya harus selalu rapi, selalu benar. Kalau sendirian begini baru Tante berani bernapas.”

Malam semakin larut dan Retno merasa… tidak sendirian. Angin malam makin pelan, seperti ikut mendengarkan percakapan dua manusia yang jarang benar-benar didengar.

“Gar…” katanya perlahan, “Tante ini kadang merasa… gagal jadi ibu.”

Egar menoleh sedikit. “Kenapa ngomong gitu, Tan?” Retno menarik napas panjang. “Karena anak-anak Tante ikut ayahnya. Orang bilang ibu itu tempat pulang… tapi dua anak Tante pulangnya bukan ke sini, ke ayahnya. Sementara anak-anak Pak Haji juga pulangnya gak ke sini,” ucapnya diikuti tawa sumbang.

“Kadang Tante iri sama ibu yang bisa bangun pagi lihat anaknya sarapan. Kangen suara berantem kecil di rumah. Rumah besar gini… kok sunyi banget, Gar.”

Egar tidak buru-buru menjawab. Dari samping, wajah pemuda itu terlihat lembut, jauh dari kesan cuek yang sering muncul ketika ia mengobrol dengan teman-teman seusianya.

“Tante…” ucapnya hati-hati, “Tante bukan gagal. Kadang hidup… ya muter aja gitu. Ada yang kita mau, tapi nggak bisa kita pegang.”

Retno menatap matanya. Ada sesuatu di tatapan Egar, ketulusan yang membuatnya merasa lebih ringan. “Terima kasih ya… kamu ngomongnya selalu pas.”

Egar tersenyum kecil. “Aku cuma ngomong apa yang aku lihat, Tan. Dan yang aku lihat… Tante tuh orang baik.”

Retno menunduk. Ucapan sederhana itu terasa seperti obat.

“Aku ini, Tan… nggak pernah tahu siapa ibu kandungku.” Retno refleks menoleh.

“Ibuku katanya orang Banglades, aku dilahirkan ketika ayah menjadi TKI di Malaysia,” lanjutnya, “Katanya sempat nikah sama ibuku itu. Tapi ya gitu… nggak pernah jelas. Nggak ada dokumen apa-apa. Waktu aku lahir, dia lamgsung ninggalin ayah karena gak mau dibawa ke Indonesia.”

Egar menarik napas kecil. Tangannya meremas ujung celananya, gugup tapi jujur.

“Aku tumbuh sama ayah dan istri barunya. Ibu tiriku baik sih… tapi ya tetap aja… beda. Ada tembok yang nggak bisa ditembus. Kadang aku bantu mereka jaga toko di pasar kalau bengkel lagi sepi.”

Egar menunduk, tersenyum miris. “Orang-orang suka nanya aku orang India mana. Padahal ya… aku sendiri nggak tahu sebenarnya aku ini siapa.”

Retno merasakan sesuatu bergerak halus di dadanya, bukan iba, tapi semacam rasa ingin merangkul seseorang yang sudah terlalu lama bertahan sendirian dan merindukan ibunya.

“Gar…” katanya pelan, “kamu nggak harus ketawa waktu cerita hal kayak gitu.”

Egar menatapnya sebentar, mata hitamnya jujur. “Kalau aku nggak ketawa, aku pasti nangis, Tan,” katanya ringan namun menyayat. Retno terdiam.

Hening yang jatuh di antara mereka bukan hening asing, lebih seperti dua jiwa yang sama-sama membuka pintu kecil di hatinya dan menemukan seseorang di seberang sana sedang melakukan hal yang sama. Ia mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Egar sebentar, singkat, sopan, tidak berlebihan, sebuah sentuhan yang lebih seperti “aku dengar kamu” daripada apa pun.

“Kamu kuat, Gar,” katanya. “Dan kamu berhak bahagia.” Pemuda itu tersenyum lebih dalam, kali ini tanpa getir.

“Tante juga.” balas Egar.

Untuk pertama kalinya malam itu, keduanya sama-sama merasa tidak sedang berada di dunia yang melawan mereka. Untuk satu momen kecil, yang tersisa hanyalah kehangatan dua manusia yang saling memahami tanpa perlu membuktikan apa-apa.

Percakapan mereka akhirnya mereda ketika jarum jam sudah melewati angka sepuluh. Angin mulai menusuk kulit, dan lampu-lampu rumah tetangga satu per satu padam. Egar menghela napas pelan, lalu berdiri sambil mengambil tas kecilnya.

“Tan, aku balik dulu ya. Besok subuh harus ke pasar dulu, bantu ayah,” katanya sambil tersenyum.

Retno ikut berdiri, meski sebagian hatinya terasa berat. “Iya, Gar. Hati-hati ya.”

“Terima kasih, Tan.” Ia melangkah pergi melalui jalan samping yang memisahkan halaman rumah mereka. Sesekali ia menoleh sekilas sambil tersenyum canggung… lalu menghilang ke arah rumah orang tuanya.

Orang memanggilnya Bu Gofur, Bu Haji, Bu Retno. Tapi yang paling sering dan paling pas di telinganya tetap ‘Tante Retno.’ Ia bahkan suka geli sendiri kalau ada yang memanggilnya ‘Bu Haji’ karena yang berhaji sebenarnya hanya suaminya, jauh sebelum menikah dengannya. Hidup Retno sendiri bukan jalan lurus.

Di usia 35, ia sudah dua kali menjadi pengantin. Pernikahan pertamanya memberinya dua anak sekaligus luka yang tak singkat, suaminya tak pernah bisa setia. Ketika akhirnya berpisah, anak-anak ikut ayahnya karena kondisi ekonomi. Itu bagian paling menyakitkan yang masih terasa sampai sekarang.

Setahun setelah perceraian, ia menikah dengan Haji Gofur, duda 60 tahun dengan empat anak: Ghea, Ganjar, Gerald, dan Gifar. Hanya Gerald yang benar-benar dekat dengannya, bahkan memanggilnya ‘Mama’; sisanya sopan, tapi tetap menjaga jarak, memanggilnya pun ‘Tante.’

Retno bukan perempuan yang terlalu taat dalam beragama, tapi setelah menjadi istri Haji Gofur, ia belajar menyesuaikan diri demi menjaga kehormatan suaminya yang dihormati kolega di Departemen Agama. Hidupnya kini tenang, stabil, dan berkecukupan, sesuatu yang dulu tak pernah ia rasakan. Namun di balik ketenangan itu, ada ruang kosong yang semakin terasa.

Ia berusaha maklum; ia merasa tak pantas menuntut apa-apa lagi. Tapi kebutuhan batin tetap ada, dan semakin hari semakin sulit ia abaikan. Suaminya pun jujur soal kelemahannya, bahkan pernah melontarkan candaan getir tentang dirinya mencari “pelampiasan” asalkan ia tahu.

Kalimat itu justru terasa seperti jebakan, bukan izin.

Bagi Retno, kesetiaan adalah harga diri. Apalagi sebagai istri seorang tokoh bergelar Haji, ia tak mau jadi bahan omongan orang sekompleks atau sekantor suaminya.

Dan begitulah keseharian Retno, hidup di rumah besar yang serba cukup, tapi di dalam dirinya ada kesunyian yang sulit ia isi, sebuah kekosongan yang terus menggaung, tak peduli seberapa keras ia mencoba menahannya.

Bersambung… Pagi itu sebenarnya biasa saja. Matahari baru naik setengah, ayam tetangga masih ribut, dan pasar masih belum sepenuhnya ramai. Tapi buat Retno… rasanya kayak ada sesuatu yang berubah di udara.

Dari jendela lantai duanya, tirai tipis melambai pelan kena angin. Ia hanya bermaksud melihat halaman belakang sebentar, cek tanaman, cek cucian, hal-hal kecil yang biasa ia lakukan sebelum mulai hari. Tapi pandangannya otomatis tertarik pada sosok di bawah seseorang yang mulai sedikit mengganggu pikirannya.

Egar sedang menyapu daun-daun kering di halaman rumahnya. Kaosnya entah di mana, hanya celana pendek lusuh dan bertelanjang kaki, tapi justru itu yang bikin semuanya terasa… terlalu nyata. Kulitnya gelap kecokelatan, otot-ototnya kebentuk karena kerja, bukan gym. Keringatnya mengilap, mengalir turun mengikuti garis tubuh yang dulu tak pernah ia perhatikan sedetail ini.

Jantung Retno berdetak lebih cepat dari seharusnya.

“Kenapa aku jadi begini…” bisiknya sambil menempelkan punggung tangan ke bibir sendiri, seperti hendak menahan sesuatu yang tak seharusnya muncul.

Dulu, Egar cuma anak yang sering main sama Gerald. Remaja polos yang kadang datang ikut makan, nonton bola, atau bantu-bantu kecil di rumah ketika Gerald masih tinggal bersama mereka. Bahkan pernah menginap di kamar Gerald sambil belajar kelompok. Retno ingat, Gerald memperlakukan Egar seperti sepupu jauh, Retno sendiri menilai Egar sebagai sahabat terbaik anak tirinya itu..

Tapi semenjak mereka ngobrol berdua di malam itu, dan pagi ini… entah kenapa cara pndangnya kini mulai berubah. Garis itu sepertinya mulai goyah. Mungkin karena malam itu Egar bercerita panjang, membuka sisi hidup dirinya yang selama ini tak pernah Retno ketahui.

Tentang ibu titinya, ibu kandungnya juga ayah dan kedua adik tirinya.. Tentang bengkel tempatnya bekerja dan tentang beberapa gadis yang berusaha mendekatinya namun selalu dia tolak dengan halus karena tidak percaya diri. Juga tentang hidupnya yang kadang kesepian, kadang sibuk yang sebenarnya tak perlu. Tentang masa kecilnya di Malaysia yang ia sendiri samar-samar mengingatnya.

Retno menelan ludah.

Di bawah sana, Egar berhenti sebentar, mengusap keningnya dengan punggung tangan. Gerakannya tampak natural, nggak dibuat-buat. Dia bahkan nggak sadar sedang diperhatikan.

Retno buru-buru memalingkan wajah, tapi hanya sedetik, karena rasa penasaran menarik kepalanya kembali ke jendela.

Aneh. Retno merasa seperti remaja lagi, yang sembunyi-sembunyi melihat seseorang dari kejauhan. Ada getaran aneh di dadanya. Bukan takut. Bukan salah. Lebih seperti… tersentuh campur deg-degan, nuansa yang jarang ia rasakan sejak lama.

Ia menutup tirai perlahan.

“Sudahlah, Retno… jangan konyol,” gumamnya pada diri sendiri.

Tapi tubuhnya tetap hangat. Dan jantungnya masih belum mau tenang.

Egar selesai menyapu dan berjalan ke arah semak-semak di sudut halaman, tepat di bawah jendela kamar Retno. Ia bergerak santai, sama sekali tidak menoleh ke atas. Jelas ia tidak tahu bahwa ada seseorang yang memperhatikannya dari balik tirai.

Retno semula hanya mengintip sekilas, tapi begitu melihat Egar melangkah ke area itu, tempat yang sering dipakai lelaki kampung untuk buang air kecil kalau lagi buru-buru, hatinya refleks menegang.

“Eh… jangan bilang dia… mau…” Retno menahan napas.

Dan benar saja. Setelah menengok kanan-kiri memastikan tidak ada orang lewat, Egar melakukan hal yang sangat… biasa bagi lelaki yang hidup di kampung, tapi sangat tidak biasa untuk disaksikan secara langsung dari sudut pandang seseorang yang seharusnya tidak melihat.

Ia membungkuk sedikit ke depan, bersiap buang air kecil.

Refleks, Retno menutup mulutnya dengan tangan. Ia sempat memalingkan wajah, tapi… rasa terkejut dan rasa lain yang ia sendiri tak bisa definisikan membuat tubuhnya kaku di tempat. Ngocoks.com

Ia tidak melihat apa-apa secara detail, tirai dan jarak jendela membuat segalanya tertutup bayangan, tapi postur tubuh Egar, kepercayaan dirinya, dan ketidaksadarannya bahwa sedang diperhatikan… justru membuat detak jantung Retno melonjak.

“Astaga… Egar…” gumamnya dengan suara hampir hilang.

Ada sensasi aneh di dada Retno, campuran antara kikuk, canggung, dan sesuatu yang ia tidak berani beri nama. Bukan karena apa yang dilakukan Egar, tapi karena dirinya sendiri… karena ia merasakan sesuatu yang seharusnya tidak terasa.

Ia buru-buru mundur dari jendela, memegang dadanya, mencoba bernapas lebih pelan.

“Retno, kamu itu kenapa…” ucapnya lirih.

Tapi bayangan Egar barusan tetap menempel di kepala, bukan hal yang dia lakukan, tapi cara Egar bergerak… cara ia sama sekali tidak sadar sedang membuka celananya scara natural, Bayangan hitam batang rudal Bangla-nya yang tampak begitu besar dan panjang walau dalam keadaan loyo terlihat sangat nyata. Mengingatkan Retno pada dildo yang pernah menjadi teman akrabnya saat kesepian dulu dan kini sudah dibuangnya.

Retno mundur selangkah dari jendela, punggungnya bersandar dinding kamar yang dingin. Napasnya masih tersengal, tapi bukan karena lelah, malah sebaliknya, ada panas yang merayap dari dada ke perutnya, lambat tapi pasti.

Ia menggigit bibir bawah, mencoba mengusir bayangan itu: siluet gelap rudal Egar begitu jelas. ‘Gila, besar panjang banget, bahkan saat sedang tidak berdiri, Pikiran itu muncul begitu saja, tanpa diundang, membuat pipinya mendadak merah.

Ia berjalan pelan ke cermin kecil di sudut kamar, memandang wajahnya sendiri. Usia 37 garis halus di sudut mata, tapi matanya masih tajam, bibirnya penuh.

“Retno, kamu gila ya?” gumamnya lagi, tapi suaranya tak meyakinkan.

Suaminya, sudah lama tak membuatnya merasa seperti ini, stamina menurun, rutinitas yang hambar. Anak-anak sudah besar, rumah terasa sepi. Egar? Dia bukan lagi anak kecil. Dia lelaki, berdarah Bangladesh dengan darah panas yang terpancar dari setiap gerakannya.

Tiba-tiba, suara langkah di tangga bawah membuatnya tersentak.

Egar? Atau cuma imajinasi? Hatinya berdegup kencang. Ia buru-buru merapikan daster tipisnya yang sedikit tergeser, memperlihatkan lekuk pinggulnya yang masih kencang.

Pintu kamar terbuka pelan dari luar, bukan Egar, tapi Bi Inah yang biasa membantu membersihkan rumhanya pagi-pagi.

“Bu, sarapan sudah siap. Ada Egar juga mau bantu angkat galon,” kata Bi Inah polos.

Retno mengangguk cepat, tapi pikirannya melayang lagi ke halaman belakang.

‘Apa jadinya kalau Egar naik ke sini?’ pikirannya kotor dan tubuhnya bereaksi sendiri, hangat di antara paha.

Retno menelan ludah, memutuskan turun, mungkin bertemu Egar di dapur, bicara biasa, tapi dengan tatapan yang kini berbeda. Garis batas itu semakin tipis, dan Retno tahu, hari ini bukan hari biasa lagi.

Retno turun hendak sarapan. Ia langsung menelan ludah, jantungnya berdebar kencang saat Egar berjalan melewati ambang pintu dapur, masih mengenakan celana pendek kolor. Udara di dapur seolah menipis, dan setiap gerakannya menarik perhatian Retno.

Egar membungkuk untuk mengangkat galon, dan saat itulah, garis batas pandangan Retno melampaui kebiasaan. Siluet rudal Egar yang besar dan panjang terpampang jelas di balik kain tipis celana kolornya.

Bentuknya yang menonjol dan memanjang, bahkan dalam kondisi rileks, membuat napas Retno tertahan. Sebuah getaran aneh menjalari tubuhnya, campuran antara keterkejutan dan daya tarik yang tak terduga.

Retno buru-buru memalingkan wajah, berpura-pura sibuk membolak-balikkan sarapan di piring. Pikirannya kalut. Ini bukan lagi sekadar bayangan samar dari jendela, ini adalah pemandangan yang begitu dekat, begitu nyata.

Aroma keringat Egar yang maskulin, bercampur dengan bau sabun, menusuk indra penciumannya. Ia mencoba menenangkan diri, mengingatkan statusnya sebagai ibu rumah tangga, seorang istri, namun sensasi aneh yang dirasakannya begitu kuat.

Egar sendiri tampak tidak menyadari apa-apa, ia hanya fokus mengangkat galon dan meletakkannya di dispenser.

“Berat juga ya, Tan,” katanya sambil sedikit terengah. Suaranya yang serak dan dalam membuat Retno semakin tak fokus.

Retno hanya bisa bergumam “Iya, Gar,” tanpa berani menoleh lagi.

Retno menunggu hingga suara langkah Egar menghilang di halaman belakang, pintu gerbang berderit pelan menutup. Napasnya yang tertahan sejak tadi baru dilepaskan, tapi panas di tubuhnya justru semakin membara.

Tanpa pikir panjang, ia bergegas naik tangga menuju lantai dua, daster tipisnya menempel lengket di kulit karena keringat halus yang muncul entah dari mana. Kamarnya sudah menanti, ranjang dengan sprei katun putih yang rapi, tirai masih setengah tertutup menyisakan cahaya pagi yang lembut.

Retno merebahkan diri di ranjang, punggungnya menyandar bantal empuk. Tangan kanannya gemetar saat menyusup ke bawah daster, menelusuri paha dalam yang sudah lembab. Mengulang kembali kebiasaan lama, masturbasi. Namun kali tanpa dildo di tangannya, tapi isi kepalanya penuh oleh imajinasi lair oleh dildonya Egar.

“Egar… astaga,” desahnya pelan, mata terpejam rapat.

Bayangan rudal Bangla yang besar dan panjang di balik celana kolor tipis Egar, menonjol tegas dengan gairs urat-uratnya yang samar terlihat sepertinya dia juga sedang berdiri. Retno sangat yakin Egar tak mengenakan sempak di balik kolornya.

“Oooh gede bangeeet Egaaar…” lenguhnya, membayangkan bagaimana nikmatnya jika rudal yang diperkirakan ukurannya mencapai 21+ sentimeter itu menelusup masuk ke dalam dirinya. Jari-jarinya mulai bergerak lincah, menggesek klitoris yang sudah bengkak sensitif, sementara dua jari lainnya menyusup ke dalam yang basah kuyup.

Gerakan tangannya makin cepat, ritmis, mengikuti imajinasi liar, membayangkan Egar di atas tubuhnya, dada bidangnya menekan payudaranya yang montok, pinggulnya mendorong kuat, rudal raksasanya mengisi penuh hingga ke rahimnya.

“Ah… Egar, masukin yang dalam-dalam… gede banget punya kamu,” erangnya tertahan, pinggulnya terangkat sendiri, bokongnya menggeliat di sprei.

Keringat mengalir di lehernya, putingnya mengeras menonjol di balik daster, ia meremas payudara kirinya dengan tangan kiri, mencubit puting hingga sensasi listrik menjalar ke seluruh tubuh.

Puncaknya datang tiba-tiba, tubuhnya menegang kaku, lembah basahnya berdenyut kuat menyemburkan cairan hangat membasahi jari dan sprei.

“Egaaarrr!” erangnya berbisik, menggigit bantal agar tak terdengar Bi Inah di bawah.

Gelombang orgasme bergulung dua kali, tubuhnya kejang pelan, napas tersengal panjang. Ia terbaring lemas, mata setengah terbuka, tapi bayangan Egar masih menari-nari, membuatnya tersenyum nakal.

Retno terkulai lemas di ranjang, tubuhnya basah kuyup keringat, sprei kusut menempel lengket di paha dan pinggulnya. Orgasme yang baru saja mengguncangnya begitu hebat, gelombang kenikmatan yang sudah lama tak ia rasakan.

Bersambung… Setelah selesai berdandan, Retno bergegas ke gym. Awalnya, ia ingin minta Egar mengantar, tapi ia urungkan; takut Egar sibuk janjian teman atau bantu orang tuanya jualan di pasar.

Sepanjang perjalanan, pikiran Retno terperangkap pada Egar. Senjata laras panjangnya yang sempat ia intip, begitu mendebarkan, membuat jantungnya berdegup tak karuan. Ini bukan Retno biasanya, ia tak pernah bergoda pria lain, meski rudal suaminya sudah lama tak disentuhnya.

Sekitar jam sepuluh pagi, ia tiba di gym yang sepi, tertutup rapat untuk Sabtu ini, dibooking Retno dan sebelas sosialita istri-istri pejabat menengah dari berbagai perusahaan. Ia duduk santai di depan kamar ganti, membaca cerita ‘Digilir Suami Orang’ karya Demar di Hinovel, larut dalam petualangan Vina dan Gilang yang panas membara.

“Eh, Bu Gofur udah duluan?” suara Diana mengagetkan, membuat Retno tersentak.

“Hai Din, baru bentar kok. Eh, itu siapa? Gebetan baru?” tanya Retno blak-blakan, mata tertuju pada lelaki muda agak jauh di sana.

“Hehe, bukan. Kevin, keponakan jauh suamiku,” jawab Diana sambil peluk cipika-cipiki Retno.

“Keponakan apaan? Dasar kamu mesum! Hati-hati kena karma, ya!” goda Retno sambil cengengesan.

“Eh, Kevin yang ngejar-ngejar aku, wek!” Diana menjulurkan lidah genit.

“Serah deh. aku ganti baju dulu,” Retno ngeloyor ke kamar ganti, tapi sempat melirik Kevin. Mahasiswa seusia Gifar, anak tirinya, tampan berwajah cerah, tapi Egar lebih gagah, ototnya berwibawa.

‘Kenapa aku bandingin semua cowok sama Egar? Ingat, Retno, kamu udah berumah tangga. Egar tetangga baik, jangan diganggu. Fokus suamimu’ bentaknya dalam hati, dadanya mendadak sesak.

Di geng sosialita, Diana paling muda, paling genit dan paling berani. Sering bawa cowok muda, pamer mesra, lalu ditawarin ke teman-temannya dengan harga. Retno satu-satunya yang belum pernah tergoda dengan dagangan Diana.

Keluar kamar ganti, Retno lihat Diana dan Kevin sedang melakukan pemanasan, tapi lebih mirip rayuan mesra. Matanya membelalak: selangkangan Kevin membuncit mencolok di celana gym ketatnya, bentuk rudal ereksinya jelas terbayang.

Pikiran Retno melayang ke Egar. ‘Begini kah punya dia? Gila, anak muda zaman now rudalnya pada gede semua. Jangan-jangan semua anak tiriku juga…’ Ia telan menudah kering, mata susah terlepas, meski hati menjerit: “Stop, Retno! Kamu sudah gila apa?”

“Hai, sendirian aja, Bu?” Tepukan pundak tiba-tiba membuat Retno loncat. Farah!

“Eh, gak kok, ada Diana sama temennya. Bu Farah kapan dateng?” Retno gelagapan, pipinya memanas.

“Astaga, jangan panggil ‘Ibu’ dong, Ret! Rusak imageku di mata berondong,” Farah kedipkan mata seraya melirik Kevin yang tampak mesra bersama Diana.

“Hehe, maaf Sayang. Lupa kalau kamu masih aduhai penyuka daun muda,” Retno cekikikan.

“Kamu juga suka kan?” goda Farah.

“Enggak!” bantah Retno tegas.

“Ah masa sih, kok dari tadi matamu fokus sekali sama selangkangannya Kevin. Diana malah kamu cuekin tuh,” Farah terus menggoda Retno.

“Hah, fitnah saja kamu, Farah! Hahahaha.” Retno tak bisa lagi mengelak.

“Wajahmu langsung memerah dan tidak bisa bohongi aku lagi, Ret!” timpal Farah sambil mencubit pinggang Retno. Setelah itu mereka pun melanjutkan bincang-bincang kecil sambil sesekali memperhatikan Diana dan Kevin yang tampak makin berani.

Farah adalah istri pejabat sebuah departmen. Usianya sudah kepala empat, enam tahun lebih tua dari Retno, namun ia tidak rela dipanggil ‘Ibu’ saat sedang berkumpul santai dengan gengnya. Farah senantiasa tampil seksi dan agak terbuka pakaiannya hingga tampak lebih muda. Farah dan Diana memang kurang bisa menjaga privasi saat sedang berkumpul dengan para sahabatnya.

“DIANA, KEVIN, SINI!” Tiba-tiba Farah berteriak sambil melambaikan tangannya pada Diana dan Kevin.

Deg!

‘Jantung Retno seketika tersentak. Eh, mau apa sih Bu Farah ini?’ tanya Retno dalam hati, merasa tidak suka dengan sikap Farah. Namun, sebelum ia bisa protes dan mencegahnya, Diana dan Kevin sudah berdiri tepat di depan mereka.

“Bu Gofur, kenalkan ini namanya Kevin.” Diana langsung menyodorkan lelaki muda itu pada Retno.

“Kevin,” sang berondong itu pun tersenyum manis sambil menyelami Retno yang sama sekali tidak bisa menyebutkan namanya.

“Kalau suka, ambil saja, Bu! Gratis kok,” timpal Diana yang sontak membuat wajah Retno merah padam menahan malu dan emosi. Ia tak terima dipermalukan dan dilecehkan seperti itu oleh Diana yang usianya lima tahun di bawahnya dan suaminya pun bawahan Haji Gofur.

Retno segera membalikkan badan hendak masuk kembali ke kamar ganti. “Eh, Bu Gofur mau ke mana? Jangan marah begitu dong, Sayang. Diana kan cuma bercanda!” Farah menahan tangan Retno hingga ia tak jadi melangkah.

“Sudahlah Bu, jangan marah begitu dong. Coba lihat dulu senjatanya Kevin, besar sekali loh, Bu.” Diana sama sekali tak merasa bersalah, ia justru makin gila menggoda Retno sambil mengelus-elus dan meremas selangkangan Kevin yang tampak makin menyembul di balik celana gymnya.

Retno kembali tersentak, berdiri kaku dan melongo tak mampu berkata-kata.

“Cie, cie, cie yang terkesima dan penasaran sama isinya,” timpal Farah sambil menatap wajah Retno yang tegang, lalu ia pun ikut-ikutan meremas dan membelai benda di balik celana Kevin.

“HAH!” Retno kembali menjerit dalam hati, matanya terbelalak besar saat dengan santainya Farah menarik celana Kevin hingga melorot sampai setengah pahanya. Tak ayal, rudal Kevin yang besar dan panjang dalam keadaan ereksi itu seperti meloncat dan langsung ditangkap Farah.

“Gimana, besar dan panjang kan, Ret?” goda Farah, sambil mengayunkan rudal Kevin perlahan di depan mata Retno, seolah ingin memastikan Retno melihat dengan jelas setiap lekuk dan uratnya. Ngocoks.com

Retno melihatnya, merasakan panasnya yang entah mengapa seolah sampai ke dirinya. Kevin hanya tersenyum mesem, raut wajahnya bercampur bangga dan nikmat, saat rudalnya kini tidak hanya digenggam, tetapi juga mulai dimainkan oleh Diana dan Farah secara bergantian.

Mata Retno tak bisa lepas dari pemandangan vulgar itu. Ia melihat bagaimana jemari lentik Diana mulai membelai kepala rudal Kevin, mengusapnya perlahan ke atas dan ke bawah, sementara Farah mendekatkan wajahnya, menghirup aroma maskulin yang menguar.

Diana menunduk, bibirnya sedikit terbuka, dan mulai menjilat perlahan dari pangkal hingga ke ujung, sementara Farah memegang erat pangkal rudal Kevin, mengulumnya dengan sensual, membuat desahan tertahan keluar dari bibir Kevin.

Gerakan mereka sinkron, bergantian menyesap dan melumat, sesekali terdengar decapan basah yang memenuhi ruangan, berpadu dengan erangan Kevin yang semakin tak tertahankan.

Tubuh Retno tiba-tiba terasa begitu lemah, nyaris tak mampu menopang diri. Panas dingin menjalar, mengirimkan gelombang-gelombang aneh ke seluruh sistem sarafnya. Pemandangan itu, meski menjijikkan di satu sisi, tak dapat dipungkiri juga memicu sesuatu yang liar dalam dirinya, memanggil-manggil bayangan Egar yang sejak pagi mengganggu pikirannya.

‘Sialan! Benar-benar tidak punya malu. Menjijikkan sekali kamu, Kevin! Percuma tampan juga kalau hanya jadi gigolo murahan seperti itu!’ maki Retno dalam hati seraya menatap geram wajah Kevin yang menyeringai menahan nikmat karena Farah dan Diana kini sedang bergantian ‘mengoral’ rudalnya.

Tak lama kemudian, Retno tersadar dengan keadaan yang sudah sangat kacau itu. Retno bergegas meninggalkan dua sahabatnya yang sedang berebut rudal Kevin. Ia memutuskan untuk membatalkan gymnya sebelum dipaksa ikut dalam permainan gila dua sahabatnya.

Retno benar-benar merasa sial. Tadi pagi terpaksa melihat rudal Egar yang sangat mendebarkannya. Kini ia dipaksa melihat sesuatu yang benar-benar sangat gila.

Retno segera berkemas, setelah itu tanpa sepatah kata pun meninggalkan Farah dan Diana yang semakin menggila ‘menggumuli’ Kevin di pojokan arena. Ketiganya bahkan sudah dalam keadaan setengah telanjang.

Jadi itu yang mereka sebut kejutan pagi? Pantas saja aku diminta datang lebih cepat! SIALAN! maki Retno dalam hati sambil masuk ke dalam mobilnya.

Cerita Sex Artis Papan Atas

Sesampainya di rumah, Retno langsung membenamkan dirinya di kamar. Meredam segala resah, gelisah, dan gejolak rasa yang berkecamuk. Bayangan rudal Egar terus menari-nari di kelopak matanya, ditambah dengan aksi brutal Farah dan Diana yang ‘mengoral’ rudal Kevin.

Retno merasa mudah melupakan Kevin karena tidak terlalu tertarik dengannya. Status Kevin sebagai gigolo justru telah membuatnya ilfeel, walau tampang dan rudalnya sangat menggiurkan. Retno justru meragukan kemampuannya menepis pesona Egar. Namun demikian, ia tetap bertekad untuk mempertahankan kesetiaannya pada Haji Gofur suami tercintanya.

Bersambung…

Cerita ini kurang lebih ada 20 episode, nantikan kelanjutannya yang akan di update hanya di situs Ngocoks.