
Cerita Sex Keluarga Besar – Cerita ini hanya fiktif belaka murni hasil dari pengembangan fantasy semata tanpa ada keinginan untuk melecehkan dan atau merendahakan suku, ras, dan agama, diharapkan kebijakan dan kedewasaan pembaca, segala sesuatu yang terjadi kemudian diluar tanggung jawab penulis.
Cerita Sex Keluarga Besar Ngocoks Kedatangan Mama mengejutkanku. Karena tidak ada kabar sebelumnya. Setelah mencium tangan dan cipika cipiki, aku langsung bertanya, “Kenapa gak nelepon dulu kalau Mama mau datang?”
“Memangnya gak seneng ya kalau sekali – sekali mama bikin kejutan sama anak mama?” “Bukan begitu. Aku kaget aja tau – tau Mama muncul. Naik apa tadi ke sini Mam?” “Pake kereta api. Dari stasiun ke sini pake taksi.”
“Tapi Mama sehat – sehat aja kan?” “Sehat. Itu mama bawain balado teri medan dan sambel goreng kentang udang kesukaanmu.” “Hehehee… iya… terima kasih Mam. Tapi sebentar… Mama ke sini sama siapa?”
“Sendirian aja.” “Kok gak sama Papa?”
“Ah… papamu lagi main gila sama janda muda. Mana mau dia diajak ke sini. “Ohya, mama pengen nginap di kota ini, biar sekalian bisa jalan – jalan. Tapi mama gak mungkin bisa tidur di sini kan?”
“Iya Mam. Peraturan ibu kos ketat sekali. Gak boleh ada orang luar ikut nginep di sini, meski orang tua sekali pun tidak boleh.”
“Ya udah. Cariin hotel aja yang tidak jauh dari rumah kos ini.” “Memangnya Mama berani tidur sendirian di hotel?” “Takutlah. Kan ada kamu yang bisa nemenin mama selama mama di kota ini.”
“Iya deh. Nanti aku temani. Tapi oleh – olehnya bawa ke hotel aja ya. Biar makan di sana aja.” “Boleh. Mmm… tiap kamar di rumah kos ini dihuni sama dua orang ya?” “Iya Mam. Teman sekamarku baru berangkat kuliah. Dia dapet kuliah sore sampai malam. Aku sih kuliah pagi tadi.”
“Di rumah kos ini ada ceweknya juga?”
“Gak ada Mam. Semuanya cowok. Ibu kos gak mau terima cewek, takut ada yang hamil gak jelas, katanya.”
“Hihihiii… gitu ya. Ayolah sekarang kita cari hotel dulu.”
“Iya, “aku mengangguk sambil mengganti pakaian di depan Mama. “Rencananya mau berapa hari di Jogja Mam?”
“Maunya sih semingguan. Ingin jalan – jalan ke candi Prambanan dan Borobudur, ingin ke keraton. ke pantai Parangtritis dan sebagainya. Makanya cari hotel yang murah aja, biar bisa jalan – jalan sama kamu. Ohya… hari Senin kan tanggal merah. Kamu libur kan?”
“Iya Mam. Jadi sekarang ini long weekend. Sabtu, Minggu dan Senin libur.” “Syukurlah. Mama ingin diantar jalan – jalan, mumpung lagi di Jogja.”
“Iya Mam. Dari Selasa sampai Jumat, kuliahku pagi terus. Jadi Mama bisa istirahat dulu, siangnya aku pulang kuliah langsung ke hotel.”
Beberapa saat kemudian, sebuah taksi membawa kami ke sebuah hotel yang sudah kusebutkan kepada sopir taksi. Hotel melati tiga, tapi fasilitasnya bagus. Ada AC dan air panasnya, karena Mama terbiasa mandi pakai air panas. Kamarnya juga bersih dan serba baru, karena hotelnya juga baru dibuka beberapa bulan yang lalu.
Dan yang lebih penting lagi, hotel ini tidak terlalu jauh dari Malioboro. Jadi kalau Mama mau belanja ke Malioboro, bisa jalan kaki dari hotel juga.
Setelah berada di dalam kamar hotel, aku langsung membuka oleh – oleh dari Mama. Ternyata ada nasi timbelnya juga (nasi yang digulung dengan daun pisang).
“Ayo makan dulu Mam,” ajakku.
“Makanlah. Mama masih kenyang, tadi makan nasi goreng di dalam kereta api,” sahut Mama, “Nanti kita jalan – jalan ke Malioboro ya.”
“Iya Mam,” ucapku yang sudah mulai makan oleh – oleh Mama.
Mama mengeluarkan handuk, sabun, shampoo, odol dan sikat gigi dari dalam tas pakaiannya. “Mama mau mandi dulu ah, “katanya.
“Kalau sudah ada rencana mau tidur di hotel, ngapain bawa handuk dan sabun segala? Kan hotel – hotel selalu menyediakan peralatan mandi Mam,” kataku.
“Ah, mama mah suka risih pakai handuk hotel. Takut pernah dipakai oleh orang yang punya penyakit menular.”
“Kan selalu dicuci bersih sebelum diberikan pada tamu yang baru cek in seperti kita ini Mam.”
“Tetep aja risih. Siapa tau ada bakteri atau virus yang tidak mati di mesin cuci,” sahut Mama yang lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Aku pun melanjutkan makan sampai kenyang. Kemudian cuci tangan di washtafel.
“Booon… !” terdengar suara Mama memanggilku dari kamar mandi. “Ya Mam?” aku menghampiri pintu kamar mandi.
“Tolong ambilin celana corduroy biru tua, baju kaus hitam dan celana dalam dari tas pakaian mama Bon… !”
“Iya Mam,” sahutku sambil bergegas membuka tas pakaian Mama. Untuk mengeluarkan celana corduroy berwarna biru tua, baju kaus berwarna hitam dan celana dalam putih. Kemudian aku melangkah ke pintu kamar mandi sambil menjinjing pakaian Mama itu.
“Ini Mam !” seruku di depan pintu kamar mandi. “Buka aja pintunya, gak dikunci kok,” sahut Mama.
Kubuka pintu kamar mandi lalu masuk ke dalamnya.
Dan… aaah… Mama sedang telanjang bulat dengan badan masih berbusa sabun…!
Biasanya kalau melihat Mama telanjang, aku suka memalingkan muka, karena jengah. Tapi kali ini aku malah terpaku sambil mengamati keindahan tubuh Mama itu. Tubuh yang tinggi langsing, namun dengan toket dan bokong yang besar.
Kemudian Mama membilas busa sabun di tubuhnya dengan pancaran air shower yang mengepulkan uap, karena airnya panas. Sementara aku malah berdiri terus sambil memperhatikan keindahan tubuh Mama yang… gila… kenapa batinku jadi berdesir – desir aneh begini?
Setelah tubuh Mama bersih dari busa sabun, tampak jelas… kemaluan Mama yang berjembut tipis itu… sehingga bentuknya tetap jelas kelihatan.
Lalu… kenapa pula rudalku mendadak ngaceng begini? Apakah aku mendadak jadi anak yang bejat, yang membayangkan “sesuatu” terhadap ibu kandungku sendiri?
Tapi ketika Mama tampak menyadari kehadiranku yang masih memegang pakaian bersihnya ini, aku pun memalingkan muka sambil mengangsurkan pakaian Mama. Tapi Mama malah menghanduki badannya, sementara tanganku masih menggenggam pakaiannya.
Kemudian Mama mengambil pakaiannya dari tanganku.
Aku pun keluar dari kamar mandi. Tanpa kata – kata lagi.
Tapi batinku berkecamuk. Berkemelut yang sulit meredakannya.
Aku berusaha menenangkan diri dengan keluar dari kamar. Dan duduk di kursi depan kamar, sambil memandang pohon sawo yang tampak sudah berbuah tapi masih kecil – kecil itu. Namun batinku tetap dikuasai oleh sesuatu yang sangat merangsang di kamar mandi tadi.
Yang membuatku jadi resah. Berdiri lagi. Jalan – jalan ke depan hotel, balik lagi ke kamar dan merebahkan diri di atas satu – satunya ranjang dalam kamar ini. Sementara Mama sedang menyisir di depan cermin meja rias.
“Kamu ngantuk Bon?” tanya Mama tanpa beranjak dari depan meja rias sederhana itu.
“Iya Mam. Dibius sama nasi tadi.”
“Makanya kalau makan jangan sampai terlalu kenyang. Ya udah… ke Malioboronya nanti malam aja ya.”
“Iya Mam,” sahutku sambil pura – pura terpejam. Padahal aku sedang memperhatikan Mama secara diam – diam. Bahwa Mama melepaskan kembali celana corduroy biru tua dan baju kaus hitamnya. Bahkan behanya pun dilepaskan. Kemudian Mama mengeluarkan kimono berwarna orange dari dalam tas pakaiannya.
Dikenakannya kimono orange itu. Kemudian Mama naik ke atas bed, sambil memeluk bantal guling, membelakangiku.
“Peluk mama Bon. Dulu waktu masih kecil kamu kan seneng banget melukin mama,” kata Mama.
Memang benar kata Mama. Waktu masih kecil, aku senang sekali memeluk Mama sambil memainkan payudaranya yang montok itu. Tapi sejak lulus SMP, aku tak pernah diajak tidur bareng Mama lagi.
Dan kini aku sudah dewasa. Sudah menyelesaikan kuliah, bahkan sedang menyiapkan skripsi. Maka jelaslah aku merasa jengah kalau harus memainkan payudara Mama lagi. Tapi aku tetap memeluk mama dari belakang, seperti yang Mama inginkan.
“Mam… Papa itu main perempuan mana lagi?” tanyaku sambil mendekap pinggang Mama. “Sama janda muda yang sekantor dengannya.” “Papa gak ada bosannya ya nyakitin Mama.”
“Biarin aja Bon,” sahut Mama sambil menggulingkan badannya jadi berhadapan denganku, “Mama malah akan membalas dendam sama Papa dengan cara mama sendiri.”
“Asal jangan pakai kekerasan aja Mam.” “Nggak. Mama mau selingkuh aja. Tapi gak mau selingkuh sama orang luar.” “Lalu mau selingkuh sama siapa Mam?” “Sama kamu. Mau nggak kita kompak untuk membalas perbuatan Papa?” “Maksudnya dengan cara gimana?”
Tiba – tiba Mama membisiki telingaku, “Masa sudah hampir sarjana gak ngerti maksud mama?”
“Hmm… samar – samar Mam. Mau selingkuh denganku maksudnya… mau begituan sama aku gitu?”
“Iya. Mama pengen dientot sama kamu.”
Laksana mendengar ledakan petir di siang bolong, aku ternganga sambil memperhatikan senyum dan tatapan mata Mama yang lain dari biasanya.
“Ayo jangan munafik kamu. Mau nggak berselingkuh sama mama?” tanya Mama sambil menarik ritsleting celana jeansku, lalu menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku. Dan menggenggam rudalku yang memang sudah ngaceng sejak disuruh memeluk Mama tadi.
“Bona…! Sejak kapan rudalmu jadi gede dan panjang begini Bon?” seru Mama seperti kaget.
“Sejak aku dewasa aja Mam. Mama kan suka mandiin aku waktu masih kecil. Setelah aku di SMP, Mama gak pernah mandiin aku lagi.”
“Mmm… rudalmu mantap Bon…!” ucap Mama setengah berbisik, sambil meremas rudalku dengan lembut.
“Hehehee… Mama serius mau dientot sama aku?” tanyaku sambil menurunkan celana jeans sekaligus celana dalamku, sampai terlepas dari sepasasng kakiku.
“Iya. Mama ingin mengobati sakit hati dengan cara mama sendiri. Kamu mau kan?”
“Mau… tapi kalau Mama hamil nanti gimana?”
“Aaaah… itu sih pikirin nanti aja. Jangan dipikirin sekarang,” ucap Mama sambil menanggalkan kimononya, sehingga tinggal celana dalam saja yang masih melekat di badannya. Karena tadi, sebelum mengenakan kimono orange itu Mama sudah menanggalkan behanya.
“Ini beneran Mam?”
“Iyalah. Sejak berangkat dari rumah tadi, mama sudah merencanaklan ini semua. Lagian rudalmu juga udah ngaceng begitu, berarti kamu juga nafsu melihat mama telanjang di kamar mandi tadi kan?”
“Iya mam. Jujur aja, tadi waktu melihat Mama telanjang di kamar mandi, gak sari – sarinya rudalku jadi ngaceng.”
“Berarti kita sama – sama kepengen kan?” cetus Mama sambil mendekatkan wajahnya ke rudalku. Lalu menciumi moncongnya.
Aku bukan lagi lelaki yang masih ingusan dalam soal sex. Masa laluku yang sangat dirahasiakan itu, telah membuatku trampil dalam hal memuasi perempuan. Namun aku masih bersikap pasif dahulu, karena semuanya ini masih membuatku shock. Betapa tidak shock.
Mama adalah ibuku. Nyaris tak dapat dipercaya bahwa Mama ingin dientot olehku, sebagai wujud dari pembalasan terhadap perselingkuhan Papa.
Tapi seperti kata Mama barusan, aku tak boleh munafik. Bukankah aku sangat terangsang waktu melihat Mama telanjang bulat di kamar mandi tadi, sehingga rudalku jadi ngaceng?
Dan kini, Mama bukan cuma menciumi moncong rudalku. Mama juga menjilatinya, bahkan lalu mengulum rudalku dengan binalnya. Maka tanpa keraguan lagi kubalas peruatan Mama itu dengan mempermainkan pentil toketnya.
Tapi semuanya itu kulakukan sambil memejamkan mataku. Karena kalau bertemu pandang dengan Mama, ada perasaan bersalah di dalam hatiku. Itulah sebabnya aku memejamkan mataku sambil meremas toket Mama dan mengemut pentilnya sambil memejamkan mataku. Sambil membayangkan sedang meremas dan mengemut toket dosenku yang seksi itu.
Namun ketika aku masih memejamkan mata, tangan kananku ditarik oleh Mama, lalu diletakkan di permukaan sesuatu yang berambut tipis dan ada celahnya… yang aku yakin bahwa yang kusentuh ini adalah serambi lempit Mama…!
Setelah menyentuh sesuatu yang membangkitkan tanda tanya dan nafsu ini, kubuka mataku. Ternyata Mama sudah menanggalkan celana dalamnya. Dan yang sedang kujamah ini adalah serambi lempitnya…!
Sementara Mama pun sudah menelentang sambil tersenyum manis padaku.
“Ayo mau diapain serambi lempit mama ini Sayang?” tanyanya sambil mengelus – elus rambutku.
“Ma… mau dijilatin seperti dalam film bokep Mam. Boleh?” aku menatap Mama dengan perasaan masih ragu.
“Boleh,” sahut Mama, “jilatinlah sepuasmu. Anggap aja mama ini orang lain. Bukan ibumu. Ayo… jilatinlah serambi lempit mama. “Mama merenggangkan kedua belah paha putih mulusnya sambil tersenyum yang sangat lain dari biasanya.
Kubulatkan hatiku, lalu tengkurap di antara kedua belah paha Mama, dengan wajah berada di atas kemaluan Mama yang jembutnya sangat tipis dan halus itu.
Nafsu birahi sudah semakin menguasai diriku. Sehingga tanpa keraguan lagi kungangakan mulut serambi lempit Mama, sehingga bagian yang berwarna pink itu tampak jelas di mataku. Hmmm… betapa menggiurkannya bagian yang berwarna pink itu.
Maka kujilati bagian yang berwarna pink itu dengan lahap. Membuat Mama mulai menggeliat sambil membelai rambutku yang berada di bawah perutnya.
Begitu lahapnya aku menjilati bagian yang berwarna pink di tempik Mama itu. Sehingga Mama semakin menggeliat – geliat sambil berdesah – desah.
“Booon… ooooohhhhh Boooon… kamu sudah pandai gini jilatin serambi lempit yaaaa… lanjutkan jilatin Booon… itilnya juga jilatin… ini nih itilnyaaaaa… “Mama menunjuk ke bagian yang nyempil sebesar kacang kedelai itu.
Kuikuti keinginan Mama. Kujilati itilnya yang sebesar kacang kedelai itu. Bahkan kusertai dengan isapan – isapan, membuat Mama mulai klepek – klepek.
Bahkan pada suatu saat Mama berkata terengah, “Cu… cukup Bona…! Ma… masukin aja rudalmu Sayaaaang… !”
Tanpa membantah, kuangsurkan moncong rudalku ke mulut serambi lempit Mama.
Mama pun membantu dengan memegangi leher rudalku. Mungkin agar arahnya tepat sasaran. “Iiiih… gedenya rudalmu ini Bon. Gak nyangka rudal anak kesayangan mama sudah sepanjang dan segede ini.”
“Umurku sekarang kan sudah duapuluhtiga tahun Mam.”
“Iya. Tapi rudal papamu aja gak segede dan sepanjang ini Sayang. Ayo dorong… !”
Tanpa mikir lagi kudesakkan rudalku sekuatnya. Dan… langsung melesak masuk ke dalam liang serambi lempit Mama.
Mama seperti menahan nafasnya. Lalu berkata, “Terasa sekali bedanya rudalmu dengan punya papamu. rudalmu jauh lebih gede… pasti jauh lebih enak daripada punya papamu. Ayo entotin Bon.”
Tanpa membantah, aku mulai mengayum rudalku, bermaju mundur di delam liang serambi lempit Mama.
“Mam… uuuugggghhhh… Maaaam… ternyata serambi lempit Mama enak sekali Maaaaam…” ucapku tanpa memperlambat gerakan entotanku.
Mama memeluk leherku, lalu merapatkan pipinya ke pipiku sambil berkata terengah, “Kon… rudalmu juga… enak sekali Sayaaaang… gak nyangka… kita bakal beginian ya…”
“Iii… iyaaaa… yang penting Mama jangan sakit hati lagi sama Papa…”
Pergesekan rudalku dengan dinding liang serambi lempit Mama memang luar biasa nikmatnya. Membuat nafasku jadi berdengus – dengus, diiringi oleh rintihan dan rengekan manja mama yang terdengar sangat erotis di telingaku, “Booonaaaa… aaaaaaahhhh… Booon… aaaaaah… aaaaaaa… aaaaah… entot terus Booon…
Ini luar biasa enaknya Bonaaaa… aaaaa… aaaaah… entoooottt teruussss… entooottttttttt… jangan brenti – brenti… entoooooooottttttt… entoooooottttttt… entooooot Sayaaang… entoooooooootttttttt… aaaaaa… aaaaaah… sambil remes tetek mama Booon… iyaaaa… remes terussss…
Aku semakin bergairah untuk melanjutkan persetubuhan dengan Mama ini. Bahkan ketika mulut Mama ternganga – nganga, kupagut bibir yang sedang ternganga itu. Dan ternyata mama menyambut dengan lumatan binal.
Dekapan Mama di pinggangku pun berubah jadi remasan -remasan di bokongku. Maka aku pun semakin bersemangat untuk menjilati leher mama yang sudah mulai keringatan. Membuat Mama terpejam – pejam dan menahan – nahan nafas.
Tapi aku masih sempat berbisik di dekat telinga mama, “Nanti kalau aku mau ngecrot, lepasin di mana Mam?”
“Di… di dalam… me… serambi lempit mama aja… Sayang. Emangnya ka… kamu udah mau ngecrot?”
“Be… belum Mam. Cuma nanya aja.”
Persetubuhan ini semakin bergairah ketika Mama mulai menggoyang pinggulnya… meliuk – liuk dan menghempas – hempas ke kasur. Sehingga rudalku serasa dibesot – besot oleh dinding liang serambi lempit Mama yang terasa hangat dan licin ini.
Namun tiba – tiba Mama tampak seperti panik, “Bona… Bona! Mama mau lepas… mau lepas… barengin Bon… biar nikmat… mau lepas Bon… mau lepassss… ayo barengin… barengin…”
Aku jadi ikutan panik. Maka kupercepat entotanku dan berusaha ngecrot bareng seperti yang mama inginkan.
Dan akhirnya kutancapkan rudalku di dalam liang serambi lempit Mama, tanpa menggerakkannya lagi. Pada saat itu pula Mama tampak mengejang sambil meremas – remas rambutku, sambil menahan nafasnya dengan mata terpejam erat – erat.
Pada saat itu pula aku sedang melotot sambil merasakan berlompatannya air mani dari moncong rudalku. Crooooootttttt… crooooottttt… crottt… crooottt… crooooooooottttttttt… crot… crooootttt!
Aku terkapar di atas perut Mama. Lalu terkulai lunglai dengan tubuh bermandikan keringat. Seperti Mama juga, yang wajah dan lehernya dibanjiri keringat.
Ketika membuka matanya, Mama tersenyum sambil mencubit pipiku, “Kamu sangat memuaskan Sayaaang… emwuaaaah… emwuaaaaah… !“Mama menciumi sepasang pipiku. Lalu mendorong dadaku, mungkin agar rudalku dicabut dari dalam serambi lempitnya.
Aku lakukan itu. Mencabut rudalku yang sudah lemas ini dari liang serambi lempit Mama.
Namun setelah mencabut rudal, aku tengkurap lagi di antara sepasang paha Mama yang masih renggang jaraknya.
Dengan serius kuperhatikan bentuk serambi lempit Mama yang baru mengalami orgasme itu. Memang benar kata para pakar seks, bahwa serambi lempit yang baru mengalami orgasme akan membuka seperti bunga yang baru mekar. Bahkan labia minoranya pun tampak seperti jengger, mengembang dan menghitam. Tapi bagian dalamnya yang berwarna pink itu justru semakin indah dipandang mata.
“Mau diapain lagi serambi lempit mama Sayang?” tanya mama sambil duduk dan membelai rambutku.
“Seneng ngeliat serambi lempit Mama yang baru orgasme. Jadi seperti bunga mekar,” sahutku.
“Masa sih?! Sebentar… mama mau ke kamar mandi dulu. Pengen kencing.”
Mama turun dari bed dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Aku pun bergegas mengikuti Mama, lalu memperhatikan Mama yang sedang duduk di kloset. “Mau ngapain lagi Sayang?”
“Pengen merhatiin seperti apa bentuk serambi lempit yang sedang kencing Mam.”
“Hihihiii… kamu ada – ada aja. Iya deh… liatin nih, seperti apa serambi lempit mama kalau sedang kencing…” ucapku sambil berjongkok di dekat kloset, dengan pandangan terpusat ke serambi lempit Mama.
Mama tersenyum dan duduk di klosetnya agak mundur, agar aku bisa menyaksikan seperti apa bentuk serambi lempit yang sedang kencing itu. Ngocoks.com
Ssssrrrr… air kencing terpancar dari liang kecil di bagian serambi lempit yang berwarna pink itu. Aku tercengang menyaksikannya. “Waktu aku lahir, keluarnya dari lubang yang berbeda dengan lubang kencing ya Mam,” kataku.
“Ya beda lah. Kamu dikeluarkan dari lubang yang dientot sama kamu tadi,” sahut Mama sambil menyemprotkan air shower untuk menceboki serambi lempitnya.
“Kapan – kapan kalau Mama kencing, aku pengen nyebokin Mama ah…” ucapku sambil berdiri kembali.
“Iya Sayang. Mmm… perutmu masih kenyang kan?”
“Iya, masih kenyang. Emangnya kenapa?”
“Mama sudah kangen sama gudeg Jogja.”
“Ya ayo kuanter. Dekat hotel ini ada warung gudeg yang murah tapi enak. Di Jogja sih jangan asal – asalan beli gudeg di tempat yang ramai sama turis. Salah – salah bisa ditekuk harganya. Mending kalau enak gudegnya. Yang jualan bukan orang Jogja kok.”
“Iya. Ntar mama mau bersih – bersih dulu. Badan mama penuh keringat nih. Lengket – lengket.”
Aku pun kencing dulu di kloset bekas Mama kencing tadi. Kemudian keluar dari kamar mandi. Mengenakan pakaian kembali. Dan duduk di satu – satunya sofa dalam kamar ini.
Sekilas bayangan masa laluku menggelayuti terawanganku. Tentang segala yang pernah terjadi ketika Papa dan Mama masih tinggal di Sleman. Karena pada saat itu Papa masih bekerja di Jogja.
Tapi setelah Papa dimutasikan ke Jabar, semuanya pindah ke Jabar. Hanya aku yang tetap tinggal di Jogja. Di rumah kos milik Bu Artini itu, karena rumah dinas Papa dihuni oleh keluarga lain setelah Papa dipindahkan ke Jabar.
Tentu saja aku takkan dapat melupakan semuanya itu. Berawal dari dalam rumah kami sendiri. Bahwa aku merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara. Ketiga kakakku perempuan semua. Sebut saja Mbak Weni yang tertua, Mbak Rina yang kedua, Mbak Lidya yang ketiga dan aku bernama Bona (disamarkan semua) yang keempat alias anak bungsu.
Beda usia kami hanya setahun – setahun. Lucu ya? Mbak Weni 21 tahun, Mbak Rina 20 tahun, Mbak Lidya 19 tahun dan aku 18 tahun.
Menurut penuturan Mama, sengaja Papa dan Mama “bikin anak” setahun sekali, lalu distop (masuk KB) setelah anaknya 4 orang. Jadi capeknya sekaligus pada waktu kami masih kecil – kecil. Setelah “target”nya terpenuhi (punya anak empat orang), Mama tidak perlu hamil lagi. Cukup dengan mengasuh kami berempat yang perbedaan usianya dekat – dekat ini.
Ketiga kakakku terasa sangat menyangiku sebagai satu – satunya saudara mereka yang cowok. Begitu juga Papa dan Mama selalu memanjakanku. Apa pun yang kuminta, selalu dikasih. Tapi tentu saja permintaanku bukan yang mahal – mahal. Paling juga minta dibeliin sepatu olahraga, minta dibeliin bat pingpong dan bola basket.
Aku dan kakak – kakakku pada kuliah semua, sesuai dengan indoktrinasi dari Papa, bahwa harta itu ada habisnya. Tapi ilmu takkan habis – habis sampai kapan pun.
Aku sendiri kuliah di fakultas pertanian. Karena sejak masih di SMA, aku ingin sekali jadi insinyur pertanian.
Baik Papa mau pun Mama tidak menghalang – halangi pilihanku. Karena semua fakultas itu baik, kata mereka. Begitu pula kakak – kakakku ikut mendukung saja pada pilihanku untuk kuliah di fakultas pertanian.
Di antara kakak – kakakku, Mbak Weni yang paling baik padaku. Dia sering nraktir makan baso, martabak manis, pizza dan sebagainya. Dia memang selalu banyak duit. Tapi aku tidak tahu darimana dia selalu punya duit banyak begitu. Mungkin dari pacarnya atau entah dari mana. Tapi setahuku Mbak Weni tidak punya pacar.
Tapi biarlah, itu urusan pribadinya yang tak perlu kucampuri. Yang jelas aku merasa Mbak Weni selalu mendukungku dalam hal apa pun. Misalnya pada waktu aku sedang mengikuti pertandingan olah raga, baik pertandingan bola basket mau pun tenis meja, Mbak Weni selalu berusaha membawa teman – temannya untuk menjadi suporterku.
Mbak Weni juga selalu membelaku kalau sedang berdebat dengan Mbak Rina mau pun Mbak Lidya.
Tapi sebenarnya aku tak pernah bertengkar dengan ketiga kakakku. Paling hanya berdebat sedikit, lalu ketawa – ketiwi lagi.
Hari demi hari pun berputar terus tanpa terasa.
Sampai pada suatu hari. Papa dan Mama terbang ke Palembang untuk menghadiri pesta pernikahan saudara sepupuku. Ngocoks.com
Mbak Rina pun dibawa, karena dia senang merias pengantin. Maklum Mbak Rina bercita – cita ingin memiliki salon yang besar dan punya cabang di beberapa kota.
Sementara itu
Mbak Lidya sedang study tour ke Jawa Timur, sehingga di rumah hanya ada aku, Mbak Weni dan pembantu yang tiap pagi datang, lalu pulang setelah sore.
Aku bahkan diingatkan oleh Papa, agar jangan meninggalkan rumah kalau tidak ada urusan yang penting. Supaya di rumah kami tetap ada cowoknya.
Namun pada saat inilah mulai terjadinya kisah yang takkan kulupakan di seumur hidupku. Awalnya Mbak Weni berkata padaku, “Bona… rumah ini jadi terasa sepi dan agak menakutkan. Nanti malam tidur di kamarku aja ya.”
“Iya Mbak,” sahutku yang selalu menurut kepada kakak sulungku itu. Karena dia juga selalu berbaik hati padaku.
Setelah mandi sore, aku diajak makan bersama Mbak Weni. Pada saat itu Mbak Atiek, pembantu kami, sudah pulang. Sehingga kami bebas mau ngomong apa saja.
Pada waktu makan sore itulah Mbak Weni menanyakan sesuatu yang tidak biasa ditanyakannya.
“Bona… kamu udah punya pacar belum?” tanyanya. “Belum,” sahutku, “Mbak sendiri udah punya?”
“Dulu waktu masih di SMA sih punya. Sekarang sie gak punya. Pacaran itu buang – buang waktu doang. Teman dekat sih banyak. Tapi gak mau pacaran dulu. Nanti kalau udah sarjana, langsung nyari calon suami aja. Jangan cuma pacaran mulu.”
“Aku juga gitu Mbak. Otak mendingan dipake buat kuliah. Pacaran sih nanti aja kalau udah punya kerja. Pacaran kan butuh biaya juga. Buat traktir makan – makan lah, buat nonton bioskop lah.”
Mbak Weni mengangguk – angguk sambil tersenyum.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, seperti biasa kalau sudah mau tidur, kukenakan celana training dan baju kaus oblong. Lalu masuk ke dalam kamar Mbak Weni.
Kulihat Mbak Weni sedang asyik dengan hapenya. Entah sedang WA sama siapa. Yang jelas dia sering tersenyum sendiri sambil memandang layar hapenya.
Aku pun langsung naik ke atas bednya yang selalu harum parfum mahal. Ini salah satu yang kusukai pada kakak sulungku itu. Kamarnya selalu harum, apalagi tempat tidurnya ini.
Tak lama kemudian Mbak Weni pun mematikan hapenya, lalu men-charge-nya.
Pada saat itu Mbak Weni juga sudah mengenakan dasternya yang berwarna pink polos. Setelah mematikan lampu terang dan menyalakan lampu tidur berwarna biru, dia naik juga ke atas tempat tidurnya.
“Yong… kamu udah pernah ngerasain begituan sama cewek?” tanyanya. “Haa? Belum lah.” “Masa sih?!”
“Sumpah, aku belum pernah begituan. Emangnya kenapa?” “Megang serambi lempit cewek sih pernah kan?” “Belum juga Mbak. Jangankan megang serambi lempit. Megang toket juga belum pernah.”
“Kasian… udah jadi mahasiswa belum pernah ngapa – ngapain. Padahal kamu ini ganteng lho. Tapi kamu gak pernah memanfaatkan kegantenganmu ini ya?”
Bersambung… Aku tidak menanggapi ucapan kakak sulungku itu. Mbak Weni bahkan memeluk pinggangku sambil bertanya setengah berbisik, “Kamu mau nyobain menyetubuhi nggak?”
“Haaa? Sama siapa?” tanyaku kaget. “Sama aku lah. Emangnya sama kucing? Hihihihiii…” “Nggak apa – apa Mbak? Kan Mbak Weni kakakku.” “Nggak apa – apa. Asal bisa nyimpen rahasia aja. Jangan sampai Mama dan saudara – saudara kita tau.”
Sebagai cowok yang baru berumur 18 tahun, tentu saja aku langsung tertarik oleh tawaran Mbak Weni itu. Bahkan pada saat itu juga aku mulai memandang Mbak Weni dari sisi lain. Bukan dari sisi seorang adik kepada kakak kandungnya, melainkan sisi seorang cowok kepada cewek yang cantik dan berperawakan seksi.
“Mau Mbak. Tapi aku belum berpengalaman. Gimana?”
“Gampang soal begituan sie. Dalam semenit dua menit juga bakal langsung pandai,” kata Mbak Weni sambil duduk dan melepaskan daster pink itu lewat kepalanya.
Dan aku cuma bisa terbengong – bengong. Karena Mbak Weni jadi tinggal mengenakan celana dalam saja, sementara toketnya terbuka penuh karena tidak ada beha di balik daster pink itu.
Dengan ragu – ragu kupegang payudara Mbak Weni itu.
Mbak Weni malah mengangsurkan toketnya sambil berkata, “Mau netek kayak bayi? Ayolah… jangan canggung gitu.”
Seperti robot, kulakukan saja apa yang Mbak Weni tawarkan itu. Kukulum pentil toketnya lalu kusedot – sedot seperti bayi yang sedang menetek.
Tapi bukan cuma itu yang bisa kulakukan. Mbak Weni menarik tanganku dan menyelinapkannya ke balik celana dalamnya. Dan langsung menyentuh serambi lempitnya…!
Saat itu aku memang belum pernah menytubuhi perempuan. Tapi nonton film bokep sih sering. Karena itu aku tidak terlalu bingung juga. Aku tahu juga apa yang harus kulakukan ketika keadaan sudah menjadi seperti ini.
Bahwa ketika aku masih asyik menyedot – nyedot dan menjilati puting payudara kakakku, tanganku yang berada di balik celana dalamnya pun mulai asyik mencolek – colek celah kemaluannya yang tidak berjembut dan mulai membasah ini.
Ketika jemariku mulai kuselinapkan ke dalam celah serambi lempit Mbak Weni, kutemukan celah itu basah, hangat dan licin. Nafasku pun semakin tak beraturan.
Tampaknya Mbak Weni menyadari apa yang sedang terjadi pada diriku. Bahwa nafasku sulit diatur lagi.
“Kamu sudah sangat bernafsu ya?” tanya Mbak Weni sambil mengelus rambutku, “Ya udah… kita mulai aja.”
Tanpa canggung Mbak Weni melepaskan celana dalamnya. Lalu celentang dan merenggangkan kedua pahanya, sambil mengelus – elus kemaluannya. “Ayo… lepasin baju dan celanamu…”
Tanpa membantah kulepaskan kaus oblong dan celana trainingku, sehingga aku jadi langsung telanjang, karena setiap mau tidur aku tak pernah memakai celana dalam.
“Anjriiiittttt…! “Mbak Weni tampak kaget. Bangun dan memegang rudalku yang sudah ngaceng berat ini. “Sudah bertahun – tahun kita gak pernah mandi bareng. Tau – tau sekarang rudalmu jadi panjang gede gini Bon. Hihihiii… pasti asyik dientot sama rudal sepanjang dan segede gini sih.”
Aku masih ingat benar, ketika rudal ngacengku menerobos liang serambi lempit Mbak Weni, rasanya tidak terlalu sulit. Berarti Mbak Weni tidak perawan lagi? Entahlah. Yang jelas aku mulai merasakan enaknya liang serambi lempit Mbak Weni ketika rudalku mulai bermaju mundur di dalamnya. Ada rasa geli – geli enak ketika rudalku bergesekan dengan dinding liang serambi lempit Mbak Weni yang terasa bergerinjal – gerinjal empuk, hangat dan licin.
Mbak Weni pun tampak enjoy dengan entotanku. Ia mendekap pinggangku erat – erat sambil berbisik, “rudalmu gede banget Bon. Enak sekali… ayo entot terus… jangan mandeg – mandeg.”
Mbak Weni bertubuh tinggi montok. Dengan bokong dan sepasang toket yang gede. Dan aku sangat menikmati kelebihan – kelebihan kakak sulungku itu.
Mbak Weni sendiri yang mengajariku bagaimana caranya mengemut pentil toket gedenya, menjilati lehernya dan mencium bibirnya. Dalam tempo singkat saja aku mulai mahir memenyetubuhi liang serambi lempit Mbak Weni yang luar biasa enaknya ini.
Mbak Weni pun mulai berdesah – desah dan merintih – rintih perlahan. “Bona… aku jadi semakin sayang padamu Bon… entot terus Bon… entoooot teruuussss… oooooh… rudalmu memang luar biasa enaknya Bon…”
“Tempik Mbak juga enak sekali… luar biasa enaknya Mbak… uuuugggghhh… uuuuughhhh…” sahutku dengan nafas berdengus – dengus, sambil menikmati geli – geli enaknya gesekan antara rudalku dengan dinding liang serambi lempit kakak sulungku.
Itu adalah pertama kalinya aku merasakan nikmatnya memenyetubuhi cewek. Kebetulan saja ceweknya adalah kakak sulungku sendiri yang tubuhnya bahenol itu. Ngocoks.com
Tapi pengalaman pertama ini membuatku sama sekali tidak bisa mengontrol diri. Sehingga hanya belasan menit aku mengayun rudalku, lalu aku seperti merasakan sesuatu yang membuatku panik. “Mbak… ka… kayaknya aku ma… mau jrot nih,” ucapku tergagap.
“Ha?! Ooooh… kamu baru pertama kalinya merasakan menyetubuhi serambi lempit cewek ya. Ayo lepasin di dalam tempikku aja Bon…” sahut Mbak Weni dengan sorot kecewa.
Maka kurasakan semua itu. Sesuatu yang paling nikmat di dunia ini. Bahwa moncong rudalku mengecrot – ngecrotkan air mani di dalam liang tempik kakak sulungku. Crot… croooot… crooooooot… crooooot… croooooooootttt… croooott… crooooooottttttt…!
Aku mendengus – dengus di atas perut Mbak Weni, lalu terkapar dan terkulai lemah.
Mbak Weni menciumi bibirku. Lalu bertanya, “Enak gak serambi lempitku Bon?”
“Enak banget. Tapi cuma bisa sebentar ya Mbak.”
“Biasa kalau pertama kali sih gak bisa bertahan lama – lama. Jangan dicabut dulu rudalnya ya. Mungkin sebentar lagi juga ngaceng kembali.”
“Iya Mbak. Aku kok jadi semakin sayang sama Mbak.”
“Sama. Aku juga makin sayang sama kamu Bon. Tapi ingat… kamu harus bisa merahasiakan semuanya ini ya. Jangan sampai Rina dan Lidya tau. Apalagi Papa dan Mama, sama sekali jangan sampai mencium gelagat semuanya ini.”
“Iya Mbak. Dijamin soal itu sih. Aku pasti akan tutup mulut. Tapi… barusan aku ngecrot di dalam tempik Mbak, apa gak bakal bikin Mbak hamil?”
“Nggak mungkin. Aku kan sudah disuntik kabe. Berapa puluh kali juga kamu ngecrot di dalam tempikku, takkan membuatku hamil.”
“Ogitu ya. Keliatannya Mbak sudah pengalaman ya.”
“Iya. Tapi awas… jangan bilang – bilang sama orang lain. Ini rahasia terbesarku.”
“Iya Mbak, aku bakal tutup mulut. Soal itu kan masalah yang paling pribadi buat Mbak.”
“Hey Bon… rudalmu udah mulai ngaceng lagi nih,” kata Mbak Weni sambil menggerak – gerakkan bokongnya sedemikian rupa, sehingga rudalku terasa seperti sedang disedot – sedot dan digesek – gesek oleh liang serambi lempit kakak sulungku.
Mbak Weni pun memberi instruksi, “Entotin pelan – pelan dulu… jangan sampai lepas… iyaaaa… iyaaaaa… naaaaah… mulai ngaceng bener kan?”
“Iya Mbak… jadi enak lagi Mbak… uuugggh… uuuuggghhh…”
“Ayo entot terus… sekarang sih pasti kamu bisa lama menyetubuhi aku.”
O senangnya hatiku, bisa memenyetubuhi lagi. Bahkan kali ini benar seperti yang dikatakan oleh Mbak Weni. Aku bisa bertahan lama di atas perut kakak sulungku yang baik hati itu.
Keringatku pun sampai bercucuran, karena lebih dari sejam aku mengayun rudalku, namun gejala – gejala mau ngecrot sepertinya masih jauh.
Malam itu bukan cuma dua kali aku memenyetubuhi kakak sulungku. Tengah malam, Mbak Weni seperti yang bernafsu lagi. Dengan binalnya kakak sulungku itu menyelomoti rudalku sampai ngaceng lagi. Saat itu ia memilih untuk bermain di atas. Ia memasukkan rudalku ke dalam liang tempiknya. Kemudian ia yang aktif membesot – besot rudalku, dengan menaik – turunkan bokongnya di atas tubuhku.
Setelah aku ngecrot untuk yang ketiga kalinya, kami tertidur nyenyak sambil berpelukan, dalam keadaan sama – sama telanjang bulat.
Tapi menjelang subuh, kurasakan sesuatu yang bergerak – gerak di batang kemaluanku. Ketika aku membuka mata, ternyata Mbak Weni sedang asyik menyelomoti rudalku, sambil mengurut – urut bagian yang tidak terkulum olehnya.
Karuan saja rudalku jadi ngaceng lagi.
Kemudian Mbak Weni menungging sambil mengajakku bersetubuh lagi, kali ini dalam posisi anjing – anjingan (doggy).
Aku menurut saja. Sambil berlutut dan menghadap ke arah pantat Mbak Weni, kumasukkan rudalku ke dalam liang serambi lempit Mbak Weni. Kemudian kuayun lagi rudalku dalam posisi doggy ini.
Ternyata dalam posisi bagaimana pun gesekan antara rudalku dengan dinding liang serambi lempit kakak sulungku, sama saja enaknya.
Meski masih subuh, keringatku mulai bercucuran, karena cukup lama aku memenyetubuhi kakak sulungku dalam posisi doggy ini.
“K ok malah ngelamun? Katanya mau nganter mama ke warung gudeg itu,” kata Mama membuyarkan terawangan masa laluku. Ternyata Mama sudah selesai berdandan. Mengenakan celana corduroy biru tua dan baju kaus hitam yang tadi tak jadi dikenakannya itu.
“Iya Mam. Aku kan sudah pakai baju. Tinggal berangkat aja,” sahutklu sambil berdiri.
Kemudian kami melangkah menuju warung nasi gudeg itu. Warung yang letaknya tidak jauh dari hotel tempat kami cek in.
Yang paling kusukai di warung ini, gudegnya selalu dengan ayam kampung. Selain itu, di warung ini selalu tersedia emping besar, sebesar piring dan dilipat dua.
“Pernah belasan tahun tinggal di Sleman, belum puas juga makan gudeg Jogja Mam?” ucapku ketika kami mulai menyantap nasi gudeg di warung kecil itu.
“Justru setelah jauh dari Jogja, mama jadi kangen sama gudegnya. Di Subang kan susah nyari gudeg yang seperti ini. Ada juga yang jual gudeg, tapi rasanya tidak seenak di Jogja ini.”
Aku tercenung. Bukan memikirkan ucapan Mama. Tapi teringat lagi betapa seringnya aku masuk ke dalam kamar Mbak Weni setelah Papa, Mama, Mbak Rina dan Mbak Lidya berada di Jogja kembali.
Sampai pada suatu hari, aku baru tiba di depan rumah kos Jono, di Bintaran Wetan. Tiba – tiba pandanganku tertumbuk ke seorang cewek berperawakan tinggi montok. Cewek itu mau masuk ke dalam sebuah sedan bersama seorang lelaki tua yang tidak kukenal. Tapi ceweknya jelas sekali… dia adalah Mbak Weni…
Aku tercengang. Mau memanggil kakak sulungku itu. Tapi Mbak Weni kebetulan melihat kehadiranku juga di depan rumah kos Jono itu. Lalu Mbak Weni mengedipkan sebelah matanya padaku sambil meletakkan telunjuk di depan bibirnya.
Itu isyarat agar aku jangan ribut atau jangan mengluarkan suara. Aku pun terdiam. Lalu kulihat Mbak Weni masuk ke dalam sedan hitam itu. Kemudian sedan hitam itu bergerak menjauh sampai akhirnya hilang dari pandanganku.
Ingin sekali aku memacu motorku untuk mengejar sedan hitam itu. Karena aku ingin tahu siapa lelaki tua yang membawa Mbak Weni itu. Tapi bukankah tadi Mbak Weni mengedipkan sebelah matanya sambil memberi isyarat yang kuartikan menyuruhku diam dan jangan mendekatinya?
Hal itu membuatku gelisah. Sehingga niat untuk menjumpai Jono, sahabatku pun kubatalkan. Aku pun pulang kembali ke Sleman. Dengan pikiran tak menentu.
Apakah Mbak Weni sudah menjadi cewek gak bener dan biasa dibawa oleh bapak – bapak yang ingin bersenang – senang dengan daun muda?
Keesokan harinya barulah aku mengetahui siapa lelaki tua yang membawa Mbak Weni dengan sedan hitamnya itu.
Mbak Weni sengaja mengajakku nongkrong di café. Kemudian memberikan penjelasan padaku,”
“Dia itu calon suamiku Bon. Mungkin bulan depan juga aku akan menikah dengannya, kemudian dibawa pindah ke Jakarta,” ucap Mbak Weni yang sangat mengejutkanku itu.
“Maaf Mbak… lelaki setua itu akan menjadi suami Mbak?” tanyaku bernada complain.
“Why not? Di zaman sekarang menikah dengan lelaki tua sudah tidak aneh lagi. Wanita tua kawin dengan cowok yang masih sangat muda pun banyak,” sahut Mbak Weni sambil tersenyum, “Yang penting masa depanku terjamin.”
Aku tidak berani mendebat ucapan kakak sulungku itu. Tapi aku mulai punya prediksi, bahwa selama ini Mbak Weni selalu banyak uang, tentu berasal dari lelaki tua yang katanya calon suaminya itu.
“Kamu jangan sedih ya Bon, “Mbak Weni menepuk – nepuk punggung tanganku yang berada di atas meja café. “Setelah aku dibawa pindah ke Jakarta pun, kita tetap bisa ketemuan. Mungkin aku yang ke Jogja atau kamu yang ke Jakarta. Terus ketemuan di hotel. Atau langsung datang ke rumahku. Kamu kan adikku.
Wajar kalau adik mendatangi rumah kakaknya kan? Kita tetap bisa melakukannya, karena calon suamiku itu poligami. Aku cuma akan dijadikan istri keempatnya. Jadi dalam sebulan paling juga cuma seminggu dia bersamaku. Tiga minggu bersama ketiga istri lainnya yang dijatah seminggu untuk seorang istrinya.
Aku tidak tertarik pada tawaran itu. Aku malah bertanya soal lain, “Lalu kuliah Mbak nanti gimana?”
“Dilanjutkan di Jakarta kan bisa. Tapi aku kan cewek Bon. Berhenti kuliah juga gak apa – apa. Beda dengan kamu… lanjutkan terus kuliahmu ya Bon. Nanti setelah aku menikah, aku akan selalu transfer duit untuk menutupi kekurangan – kekuranganmu.”
Sebulan kemudian Mbak Weni benar – benar menikah dengan lelaki tua yang lalu kukenal sebagai Bramantio itu. Papa dan Mama pun tidak memperlihatkan sikap menolak. Mereka bahkan tampak merestui pernikahan Mbak Weni dengan lelaki tua yang lalu harus kubiasakan memanggilnya Mas Bram itu.
Janji Mbak Weni pun dipenuhi. Tiap bulan dia mentransfer dana yang cukup besar ke rekening tabunganku. Padahal aku lebih merindukan Mbak Weni. Bukan transferan duitnya.
Ya… aku jadi merasa kehilangan kakak sulungku itu. Kehilangan kakak yang murah hati. Kehilangan penyaluran manakala nafsu birahiku datang menggoda.
“Melamun lagi,” ucap Mama sambil menepuk bahuku setelah selesai makan. Terawanganku pun buyar seketika.
“Bukan melamun… tapi sedang memikirkan skripsi yang sedang kubuat Mam,” sahutku berbohong.
“Baguslah. Kamu harus menyelesaikan kuliahmu. Jangan seperti Weni yang putus kuliah di tengah jalan,” sahut Mama.
Entah kenapa, dengan Mama aku tak mau membahas masalah Mbak Weni. Karena aku memiliki segudang kenangan dengan Mbak Weni, yang tetap kurahasiakan kepada siapa pun.
Bahkan transferan dari Mbak Weni yang selalu kuterima setiap bulan itu pun selalu kurahasiakan. Karena Mbak Weni ingin agar hal itu dirahasiakan.
Setelah berada di dalam kamar hotel lagi, aku bertanya, “Bukannya mau ke Malioboro Mam?”
“Besok lagi aja ah. Sekarang mama pengen kangen – kangenan sama kamu aja. Mumpung mama masih di sini,” sahut Mama sambil melepaskan celana corduroy biru tuanya berikut celana dalamnya sekalian. Lalu Mama menatapku sambil mengusap – usap serambi lempitnya, dengan senyum yang menggoda.
Aku terbengong – bengong. Nafsuku pun bergejolak lagi setelah melihat “tantangan” di depan mataku itu. “Iya deh… aku juga udah kepengen lagi Mam…” ucapku sambil melepaskan celana jeans dan celana dalamku.
Lalu aku naik ke atas bed, sementara Mama sedang melepaskan baju kaus hitam dan beha putih bersihnya. Aku pun melepaskan baju kausku, sehingga kami jadi sama – sama telanjang bulat lagi.
“Jilatin dulu serambi lempit mama Sayang,” kata Mama sambil mengusap – usap serambi lempitnya yang masih “terkatup”, belum kelihatan bagian yang berwarna pinknya.
Aku mengangguk, lalu tengkurap di antara kedua paha Mama yang sudah mengangkang.
Kalau dibandingkan dengan serambi lempit Mbak Weni, memang serambi lempit Mama lebih menggiurkan lagi. Bahkan kalau dirasa – rasakan, serambi lempit Mama sedikit lebih enak daripada serambi lempit Mbak Weni. Bedanya cuma satu, Mbak Weni jauh lebih muda daripada Mama.
Yang sangat menyenangkan, Mama senantiasa mengabulkan keinginanku. Apa pun yang ingin kulakukan, selalu disetujuinya. Karena aku pun sadar bahwa Mama paling menyayangiku, sebagai satu – satunya anak cowok Mama.
Dan kini wajahku sudah berhadapoan dengan kemaluan Mama yang ingin dijilati itu.
Maka kungangakan lagi labia mayora Mama dengan kedua tanganku. Sehingga bagian yang berwarna pink itu terbuka lagi dengan jelasnya.
Aku pun mulai menjilati bagian yang berwarna pink itu dengan lahapnya.
“Iyaaaaa… ooooooh enaknya… iyaaaaa… enak sekali Booon… itilnya jangan lupa ya Sayaaaang… jilatin itilnya juga… aaaa… aaaaaaaah…” desah Mama sambil semakin merentangkan jarak di antara sepasang pahanya.
Aku pun mulai mempraktekkan pengalamanku dengan Mbak Weni dahulu. Kujilati itil Mama disertai dengan isapan – isapan yang agak kuat, sehingga biji itil Mama jadi tampak agak “mancung”. Mama pun senang dan berkata tersendaty – sendat, “Iya… itilnya isep – isep begitu Sayang… enak sekali… iyaaaaa…
Makin lama Mama makin klepek – klepek.
Sampai akhirnya Mama berkata tersendat – sendat, “Suuu… sudaaaah Sayaaaang… serambi lempit mama su… sudah basah sekali… ma… masukin aja rudalmu… sudah becek liang tempik mama niiiiihhhh…”
Kali ini Mama celentang sambil menarik kedua pergelangan kakinya. Sehingga kedua lututnya berada di samping sepasang toket gedenya.
Cepat aku pun meletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit Mama. Lalu kudesakkan rudal ngacengku sekuat tenaga. Dan… bleeessss… langsung amblas sekujur rudalku… bahkan moncongnya langsung menabrak dasar liang serambi lempit Mama…!
Kedua lipatan lutut Mama bertumpu di sepasang bahuku, sehingga aku tidak bisa merapatkan dadaku ke sepasang toket Mama. Tapi biarlah, yang penting aku bisa memenyetubuhi sepuasnya. Dan rudalku bisa langsung menyundul – nyundul dasar liang serambi lempit Mama…!
Wow… ini sesuatu yang baru lagi bagiku. Bahwa dadaku tidak bisa bertempelan dengan sepasang toket Mama, tapi moncong rudalku bisa terus – terusan menggedor dasar liang serambi lempit Mama.
Spontan Mama pun mulai merintih – rintih, “Oooo… oooooohhhhh… Booonaaaa… rudalmu panjang sekali Naaaak… terus – terusan menyundul dasar liang serambi lempit mama saking panjangnya… tapi ini enak sekali Sayaaaang… ayo entooot teruuussss… entooot terusssss… entoooooottttttt… entooootttt …
Memang enak juga memenyetubuhi Mama dalam posisi kedua kaki Mama berada di sepasang bahuku ini. Tapi aku ingin merapatkan dadaku ke toket Mama. Karena itu kusingkirkan kedua kaki Mama dari bahuku, kemudian menghempaskan dadaku ke sepasang otket Mama. Dan langsung kupagut bibir Mama, lalu kami saling lumat dengan lahapnya.
Dalam posisi yang paling klasik ini aku bukan cuma bisa memenyetubuhi sambil mencium bibir Mama, tapi juga bisa meremas toketnya yang masih terasa belum kendor. Terkadang aku menjilati leher jenjangnya disertai dengan gigitan – gigitan kecil, sehingga rintihan dan rengekan Mama mulai berlontaran dari mulutnya, “Boonaaaa…
Aaaaaaaah… kamu kok pandai sekali membuat mama keenakan gini Sayaaaang… ayo entoootttt… entooot teruuuussss Bonaaaa… entooot teruuuuussss… ini luar biasa enaknya… rudalmu memang enak sekali… entot teruuussss… entooooooootttt… entoooooottttt… entooootttt…
Makin lama entotanku makin menggila. Mama pun tidak berdiam seperti gebog pisang. Pinggulnya mulai bergoyang – goyang erotis, meliuk – liuk dan memutar – mutar. Sehingga rudalku seolah perahu yang sedang diombang – ambingkan oleh ombak di tengah samudera.
Iya… rudalku terasa dibesot – besot oleh liang serambi lempit Mama yang licin dan empuk serta hangat ini. Tapi aku tak mau kalah. Kuayun terus rudalku bermaju mundur di dalam liang tempik Mama. Makin lama entotanku makin gencar.
Sehingga pada suatu saat Mama mengerang histeris, “Mama sudah mau lepas Sayaaaang… mau lepas… mau lepas mau lepaaaassssssss… aaaa… aaaa …“
Erangan itunterhenti. Nafasnya pun tertahan, sementara sekujur tubuhnya mengejang tegang… membuatku ingin menikmati indahnya wanita pada waktu orgasme. Kuhentikan dulu entotanku… kubiarkan rudalku menancap di dalam liang serambi lempit Mama, tanpa kugerakkan lagi.
Dan… liang sanggama Mama terasa mengejut – ngejut kencang, disusul dengan gerakan yang memutar seperti spiral… dan membasahnya liang kewanitaan ibuku.
Wow… wow wooow… ini indah dan nikmat sekali…!
Tubuh Mama mengejut… lalu terkulai lunglai di dalam pelukan dan ciuman hangatku di bibirnya.
“Aaaaaaaahhh… luar biasa nikmatnya Sayaaaang…” ucap Mama lirih, dengan wajah memucat. Tapi tak lama kemudian wajah cantik Mama tampak berdarah lagi. Bahkan tampak lebih cantik dari biasanya.
Aku pun mulai mengayun rudalku lagi. Bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Mama yang saudah becek sekali. Sehingga gerakan rudalku menimbulkan bunyi yang craakk crekk… crakkk crekkk… crak crekkk…!
Namun beceknya liang serambi lempit Mama malah menambah gairahku untuk memenyetubuhinya habis – habisan.
Mama seolah ingin habis – habisan menguras kejantananku. Selama Mama di Jogja, tiada siang dan malam yang tanpa seks.
Pada hari Selasa, Mama pulang. Setelah memberiku uang yang cukup banyak.
Menurut pengakuan Mama, bisnisnya malah menghasilkan keuntungan yang jauh lebih banyak daripada gaji dan penghasilan tambahan Papa. Karena itu Mama tak peduli lagi pada uang Papa.
Bahkan Mama merasa Papa bukan suaminya lagi. Tapi Mama tidak pernah minta cerai, demi keempat anaknya yang harus sangat disayanginya.
Hari demi hari pun berputar terus. Sampai pada suatu hari …
“Aku sudah dinyatakan lulus Mbak.”
“Ohya?! Syukurlah. Aku ikut merasa seneng dengernya Bon,” sahut Mbak Artini (yang tadinya kupanggil Ibu, tapi dia inginnya dipanggil Mbak saja, karena usianya memang baru 30 tahunan). Lalu ia menjabat tanganku sambil berkata, “Selamat ya Bon.”
Tak sekadar menjabat tanganku. Ibu kos yang janda muda itu pun mencium pipi kanan dan pipi kiriku.
Lalu ia mengajakku duduk berdampingan di atas sofa. Sikapnya benar – benar berubah. Tadinya cuek, sekarang jadi begitu manis dan murah senyum.
“Kapan diwisuda?” tanyanya sambil memegang tanganku.
“Mungkin dua minggu lagi.”
“Setelah diwisuda kamu mau pulang ke rumah orang tuamu?”
“Mungkin begitu Mbak. Kecuali kalau tiba – tiba dapat kerjaan di Jogja atau di Jateng, mungkin aku akan mengurus kerjaan dulu.”
“Nah… aku punya dua macam kejutan untuk meyatakan ikut senengnya setelah mendengar kelulusanmu.”
“Kejutan apa Mbak? Mau dibikinin nasi tumpeng?”
“Hush… ini yang menyangkut masa depanmu Bon. Kejutan pertama, aku punya kakak yang luar biasa kayanya. Tanahnya sampai puluhan hektar. Itu baru di Jateng. Belum lagi di Jabar dan di Jatim. Dia membutuhkan insinyur pertanian yang baru lulus. Ingin yang fresh from college.”
“Wah… aku langsung tertarik Mbak.”
“Kakakku itu tadinya hidup pas – pasan. Tapi setelah menikah dengan duda tajir, rejekinya mengalir terus. Dan setelah suaminya meninggal, semua tanah milik suaminya itu diwariskan pada kakakku, berdasarkan surat wasiat yang dititipkan kepada penasehat hukumnya. Tapi dalam soal pertanian, kakakku itu masih sangat awam.
“Siap Mbak.”
“Dia ngomongnya tiga bulan yang lalu. Tapi kubilang tunggu dulu, karena ada yang kos di rumahku, sebentar lagi juga selesai kuliahnya. Sebentar, aku mau telepon dia ya,” kata Mbak Artini sambil mengambil handphonenya. Lalu kusaksikan dia menelepon kakaknya itu, karena suaranya dikeluarkan dari speaker hapenya :
“Hallo Ar…”
“Hallo Mbak Lies… mahasiswa fakultas pertanian itu sudah lulus Mbak. Tapi dia mau nunggu diwisuda dulu. Nanti akan kuantar ke rumah Mbak.”
“Syukurlah. Mudah – mudahan dia bisa menjadi orang yang tepat untuk mengelola tanah – tanahku Ar.”
“Iya, mudah – mudahan aja. Orangnya sih kujamin jujur dan rajin Mbak.”
“Iya. Tempo hari juga sudah ada beberapa orang yang melamar, tapi kutolak terus. Karena ingat sama janjimu itu Ar. Ohya, memang harus diantar sama kamu Ar. Kalau gak diantaer, bisa nyasar dia nanti.”
“Iya Mbak. Pasti kuantarkan dia. Segitu aja dulu beritanya ya. Paling lambat tiga minggu lagi juga aku sudah ngantarin dia ke rumah Mbak Lies.”
“Iya, iya. Aku tunggu ya Ar.”
Mbak Artini meletakkan handphonenya di atas meja kecil. “Bona dengar sendiri kan?” tanyanya.
“Iya Mbak. Terima kasih. Kejutan pertama itu sangat berarti bagiku,” sahutku, “Nanti begitu selesai diwisuda, aku akan minta Mbak ngantarin ke kakak Mbak Ar itu. Terus… kejutan yang kedua apa Mbak? Penasaran nih… ada kejutan apa lagi…?”
“Kamu masih ingat waktu baru beberapa bulan kos di sini, aku pernah marahin kamu Bon?”
“Yang mana ya? Ooooh… yang waktu aku meluk Mbak dari belakang di ruang makan itu?”
“Iya. Masih ingat kan?”
“Masih Mbak. Soalnya jujur aja, di mataku Mbak sangat seksi dan menggiurkan. Hehehe… maaf ya Mbak.”
“Gak usah minta maaf. Aku juga mengerti apa yang Bona rasakan saat itu. Tapi aku takut konsentrasi Bona sama kuliah jadi pecah. Terus mikirin aku terus. Itu yang aku tidak mau. Karena aku merasa bertanggungjawab juga kepada orang tuamu. Jangan sampai kuliahmu mogok di tengah jalan gara – gara aku.”
“Iya Mbak.”
Tiba – tiba Mbak Artini melingkarkan lengannya di pinggangku sambil berkata setengah berbisik, “Sekarang sih kamu sudah lulus. Kalau kamu masih menyimpan perasaan itu, akan kulayani dengan sepenuh hatiku Bon.”
“Mbak… betul ini?”
“Betul. Sebenarnya sejak aku marahin kamu itu, diam – diam aku jadi mikirin kamu terus Bon. Terus kamu sendiri gimana? Masih punya keinginan untuk berbagi rasa denganku?”
“Masih Mbak. Lelaki itu kan diucapkan dulu, kemudian menjalar ke hati. Saat itui aku pernah bilang aku suka sama Mbak kan? Tapi memang aku juga takut kalau Mbak anggap aku hanya ingin digratiskan saja biaya kosnya. Makanya aku tak pernah ganggu Mbak lagi.”
“Sekarang Bona mandi dulu ya. Terus perhatikan keadaannya. Kalau teman – tgemanmu gak ada atau sudah pada tidur, nyelundup aja ke kamarku. Aku tungguin di sana. Tapi awas, jangan sampai ada yang tau.”
Aku mau bangkit. Tapi Mbak Artini menahanku sambil berkata, “Sebentar… aku ingin mencium bibirmu dulu Bon… emwuaaaaah… emwuuuuuah…”
“Seger Mbak,” ucapku setelah pelukan Mbak Artini terlepas, “Terima kasih…”
Lalu kutinggalkan ruang tamu rumah Mbak Artini itu dengan semangat yang berkobar – kobar di dalam jiwaku. Rumah pribadi Mbak Artini terpisah dari rumah kos. Tiada yang suka masuk ke dalam rumah pribadi itu, kecuali kalau mau bayar uang kos atau dipanggil oleh Mbak Artini.
Kulihat Amran belum pulang. Atau mungkin juga takkan pulang malam ini, karena teman sekamarku itu sudah punya pacar. Kalau malam Sabtu begini, biasanya sampai larut malam dia tidak pulang. Terkadang dia nginap di rumah pacarnya.
Tapi biarlah. Itu bukan urusanku. Yang penting aku harus mandi sebersih mungkin, karena mau melakukan “sesuatu” dengan Mbak Artini yang sudah lama kudambakan itu.
Ya… aku memang sangat tergiur oleh Mbak Artini yang bertubuh tinggi montok itu. Setiap kali melihat dia, diam – diam rudalku selalu ngaceng. Karena membayangkan betapa menggiurkannya tubuh janda muda itu kalau bisa kutelanjangi di dalam kamar tertutup.
Tapi selama ini aku tetap menahan diri, tidak lagi memperlihatkan ketergiuranku pada tubuh seksi dan wajah manisnya.
Lalu… hari ini tampaknya bintangku sedang terang benderang. Aku bukan hanya ditawari lapangan kerja yang menjanjikan, tapi juga ditawari tubuhnya yang selama ini kugilai…!
Sengaja aku mengenakan pakaian lengkap dengan sepatu karet. Agar waktu kembali ke kamarku nanti, tiada yang mencurigaiku.
Setelah di luar terasa aman, tiada seorang teman pun kelihatan, aku berjalan sambil berusaha tidak menimbulkan bunyi langkah.
Aku masuk ke dalam rumah ibu kos lewat pintu samping, tanpa mencopot sepatuku. Karena kalau sepatuku ditinggalkan di luar, takut kelihatan oleh salah seorang teman kosku.
Mbak Artini menyambutku di ambang pintu kamarnya. Dan berkata perlahan, “Pakai sepatu segala? Kayak mau pergi jauh aja. Hihihiii…”
“Waktu ke kembali ke kamarku kan bisa alesan abis lari pagi Mbak,” sahutku, “Maaf ini sepatuku gak ditinggalin di luar, takut kelihatan temen sepatunya.”
“Iya gak apa – apa,” sahut Mbak Artini sambil meraih pergelangan tanganku ke dalam kamarnya.
Saat itu Mbak Artini mengenakan celana legging dan baju kaus serba hitam. Ditutupi dengan sweater berwarna merah.
Setelah menutup dan menguncikan pintu kamarnya, tiba – tiba Mbak Artini melepaskan celana legging hitamnya. Dan… ternyata tidak ada celana dalam di balik celana legging itu. Sehingga aku bisa langsung melihat kemaluannya yang tembem dan sangat bersih dari jembut itu…!
“Sudah lama kamu menginkan ini kan?” tanyanya sambil mengusap – usap tempik plontosnya, dengan senyum dan tatapan yang sangat menggoda…!
Aku langsung berlutut di depan kaki Mbak Artini, “Duuuh Mbak… mimpi apa aku tadi malam ya… tiba – tiba saja apa yang selama ini kukhayalkan menjadi kenyataan.”
Mbak Artini mengusap – usap rambutku sambil berkata, “Sebenarnya aku juga sudah lama sekali mengkhayalkan semua ini. Tapi aku menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya. Dan sekarang adalah waktu yang tepat itu Bon.”
Aku tak mau berbasa – basi lagi. Kuciumi serambi lempit tembem yang bentuknya sangat indah itu. Tapi hanya sebentar aku menciumi serambi lempit Mbak Artini, karena ia berkata, “Lepasin dulu dong pakaianmu Bon.”
“Siap Mbak,” sahutku sambil berdiri. Lalu kutanggalkan busanaku sehelai demi sehelai. Hanya celana dalam yang kubiarkan masih melekat di tubuhku. Sepatu karet yang sudah kulepaskan, kuletakkan di dekat pintu. Lalu menghampiri Mbak Artini lagi… Mbak Artini yang sudah telanjang bulat…!
Aku terlongong menyaksikan Mbak Artini yang sudah telanjang bulat itu. Tubuhnya tinggi montok, kulitnya putih mulus, wajahnya manis dan menggoda itu.
Aku belum tahu kenapa Mbak Artini bisa menjadi janda. Padahal tubuhnya begitu menggiurkan, dengan bokong dan toket sama – sama gede, dengan wajah manis pula. Lalu kenapa dia bisa bercerai dengan suaminya? Entahlah. Aku tidak perlu menanyakannya. Yang terpenting bagiku sekarang adalah… ingin merasakan nikmatnya menyetubuhi tubuh yang sangat menggiurkan itu…
Tapi tentu saja aku tak boleh bertindak kasar. Aku harus melakukannya dengan step by step.
“Kenapa celana dalamnya gak sekalian dilepasin?” tanya Mbak Artini sambil meraih tanganku agar naik ke atas bednya yang berseprai putih bersih.
Setelah berada di atas bed, kulepaskan celana dalamku.
“Booonaaa…! rudalmu gede dan panjang banget… !” Mbak Artini terperanjat setelah melihat rudalku yang memang ukurannya di atas rata – rata ini. Lalu digenggamnya rudalku yang sudah agak tegang tapi belum ngaceng total ini.
“Sejak menjanda, baru sekali ini aku menyentuh rudal lelaki lagi. Sekalinya ketemu rudal lagi… begini gagahnya… kalau dalam pewayangan mungkin rudalmu ini layak disebut rudal Werkudoro alias Bimo. Hihihihi… kebayang…”
“Kebayang apanya Mbak?” tanyaku sambil tersenyum.
“Kebayang enaknya kalau udah dientotin di dalam tempikku.”
“Tapi aku pengen jilatin tempik Mbak dulu. Boleh?” tanyaku.
Mbak Artini tersenyum sambil mengangguk. Lalu menelentang sambil mengusap – usap tempiknya. “Tentu aja boleh,” ucapnya, “Memang harus dijilatin dulu, biar mudah dimasukin rudalmu nanti.”
Bersambung… Melihat Mbak Artini sudah menelentang sambil menepuk – nepuk dan mengusap – usap serambi lempitnya, aku pun spontan tengkurap di antara sepasang paha putih mulusnya. Sementara wajahku sudah tepat berada di atas serambi lempit Mbak Artini yang luar biasa indahnya itu.
Ya… bentuk serambi lempit Mbak Artini memang lain. Sangat cantik kelihatannya, karena selain tembem, labia mayoranya pun tersembunyi di balik ketembeman bagian luarnya.
Aku merasa beruntung mendapatkan Mbak Artini yang sudah lama kuidam – idamkan itu. Dan aku tak menyangka kalau hatinya pun sudah runtuh, tapi sengaja bertahan agar aku konsentrasi ke kuliahku dulu.
Lalu kungangakan pintu masuk ke surga dunia itu dengan kedua tanganku, sehingga bagian dalam serambi lempitnya yang berwarna pink itu mulai kelihatan. Dan dengan sangat bernafsu kujilati bagian yang berwarna pink itu.
Mbak Artini pun memegangi kepalaku yang berada di bawah perutnya.
Sejenak kuhentikan jilatanku, untuk berkata, “Tempik Mbak luar biasa. Seperti yang masih perawan.”
“Memang masih perawan. Dan aku sudah memutuskan untuk memberikan keperawananku padamu Bon,” sahutnya sambil mengusap – usap rambutku.
“Haaa? Mbak seorang janda muda tapi masih perawan?” tanyaku kaget.
“Ceritanya panjang. Nanti aja jelasinnya. Sekarang lanjutkan licking-nya, Bon.”
“Iya,” sahutku dengan gairah semakin bergejolak. Kemudian kulanjutkan permainan oralku yang sudah terlatih berkat pengaklamanku dengan Mbak Weni dan Mama.
Kujilati bagian yang berwarna pink itu secara intensif. Tak terkecuali, kucari kelentitnya yang bersembunyi di bagian atas kemaluan wanita 30 tahunan yang mengaku masih perawan itu.
Mbak Artini pun mulai menggeliat – geliat sambil meremas – remas kain seprai putih bersih itu.
Aku belum tau benar tidaknya Mbak Artini itu masih perawan. Karena aku bukan seorang dokter. Sehingga belum bisa memastikan kebenaran pengakuannya itu. Tapi perawan atau tidak, bukan masalah penting bagiku. Yang pentging, aku sudah sangat bernafsu, sehingga aku menjilati serambi lempit Mbak Artini dengan sangat bersemangat.
Sampai pada suatu saat terdengar suaranya, “Mungkin sudah cukup basah Bon… masukin aja rudalmu…”
“Iya,” sahutku setelah menjauhkan mulutku dari serambi lempit ibu kosku. Kemudian kuambil tissue dari meja di samping bed, untuk menyeka mulutku yang berlepotan air liurku sendiri. Sementara Mbak Artini sudah merenggangkan kedua pahanya lebar – lebar.
Dengan penuh gairah kuletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempit Mbak Artini yang sudah agak terbuka sedikit itu. Lalu kuarah – arahkan moncong rudalku agar letaknya ngepas.
Kemudian kudorong sekuat tenaga, tapi… malah meleset ke bawah. Kuletakkan lagi moncong rudalku pada posisi yang mungkin lebih tepat. Kemudian kudorong lagi sekuatnya. Lagi – lagi meleset.
Hmmm… gak nyangka akan sesulit ini. Lebih sulit daripada waktu pertama kali mau menyetubuhi Mbak Weni.
Tapi berkat perjuangan dan keuletanku, akhirnya aku berhasil membenamkan rudalku, meski baru sampai lehernya saja.
“Sudah mulai masuk ya,” ucap Mbak Artini sambil merengkuh leherku ke dalam pelukannya. Lalu ia menatapku dengan senyum manis di bibir sensualnya.
“Baru sedikit… sepertinya Mbak memang masih perawan,” sahutku.
“Bukan sepertinya! Aku memang belum pernah disetubuhi lelaki…!” ucap Mbak Artini tajam. Sambil mencubit pipiku. “Disumpah juga aku mau. Bahwa aku masih perawan. Dan Bona adalah lelaki pertamaku.”
“Iya maaf… barusan aku salah ngomong…” sahutku sambil bersiap – siap untuk mendorong rudalku lagi, agar masuk lebih dalam.
Lalu kudesakkan rudal ngacengku sekuatnya. Makin jauh membenam ke dalam liang serambi lempit Mbak Artini.
Maka mulailah aku mengayun rudalku perlahan – lahan. Dalam gerakan pendek – pendek. Di dalam liang serambi lempit ibu kosku yhang luar biasa sempitnya ini.
Namun setelah kuentot secara perlahan dan hati – hati, akhirnya ku berhasil memenyetubuhinya secara normal. Mungkin karena liang serambi lempit Mbak Artini sudah menyesuaikan diri dengan ukuran rudalku.
Mbak Artini pun mulai menggeliat – geliat lagi, diiringi oleh rintihan – rintihannya yang terdengar seperti bisikan – bisikan erotis di telingaku.
“Bona… oooh… Booon… ternyata seperti ini rasanya disetubuhi oleh lelalki ini yaaa… oooo… oooooh… Booonaaaa… aku sudah menjadi milikmu, Sayaaaang…”
Itulah pertama kalinya Mbak Artini memanggilku Sayang. Senang hatiku mendengarnya… mendengar ucapan mesra dari perempuan yang sudah lama kugilai ini.
Sambil tetap memenyetubuhinya, kupagut bibir sensualnya ke dalam ciuman dan lumatanku. Dia pun menyambut dengan lumatan yang lebih hangat lagi, sementara tangannya meremas – remas sepasang bahuku.
“Aku juga sayang sekali sama Mbak,” ucapku setelah ciuman kami terlepas.
“Jadi… Mbak sudah lama jatuh hati padaku?” tanyaku tanpa menghentikan entotanku.
“Jatuh cinta…! Bukan jatuh hati lagi.”
Aku terkejut sehingga lepas kontrol. Dan aku terlalu jauh menarik rudalku, sehingga terlepas dari liang serambi lempit Mbak Artini. Tapi pada saat yang sama, aku jadi bisa melihat darah yang bertetesan dari serambi lempit Mbak Artini… berjatuhan ke atas seprai. Mungkin ada sekitar 1 sendok teh darah yang bertetesan ke kain seprai putih bersih itu.
Inilah untuk pertama kalinya aku menyetubuhi perawan. Lalu kenapa Mbak Artini mengaku janda tapi masih perawan? Soal itu mungkin nanti dia akan menjelaskannya sendiri. Yang penting sekarang, aku harus memasukkan lagi rudalku yang terlepas dari liang surgawi ibu kosku.
“Gak nyangka… Mbak ternyata masih perawan,” ucapku setelah rudalku terbenam lagi seluruhnya di dalam liang kenikmatan ibu kosku.
“Aku dijodohkan dengan seorang cowok. Aku sih menurut saja pada keinginan orang tua. Lalu aku dinikahkan. Gak taunya cowok itu tidak tertarik pada perempuan. Dia hanya menyukai sesama jenis kelaminnya.”
“Gay maksud Mbak?”
“Iya. Aku sudah berusaha untuk merangsangnya dengan berbagai macam cara. Tapi dia tidak terangsang sedikit pun. Makanya aku minta cerai tiga bulan setelah menikah dengan cowok gay itu. Jadi… aku memang janda, tapi masih perawan. Dan sekarang aku berikan keperawananku kepada orang yang kucintai dan bernama Bona ini.
“Iya Sayaaaang, “aku pun membalas dengan kata sayang. Kemudian kucium bibibrnya sambil mengayun rudalku kembali. Bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Mbak Artini yang luar biasa sempitnya ini, “Sekarang aku merasakannya… bahwa aku memang mencintaimu Bon… gak tau diri ya… perempuan sudah usia tigapuluh mencintai anak muda…
“Umurku juga sudah menuju duapuluhempat Mbak. Jadi beda usia kita hanya enam tahun,” sahutku sambil menghentikan ayunan rudalku sejenak. “Kalau soal perasaan, pertama kali aku melihat Mbak, aku langsung tergila – gila sama Mbak. Tapi aku tak mau memaksakan diri. Karena takut disangka ingin digratiskan kosku di sini.
“Kata orang… lelaki mengucapkan cintanya dulu, kemudian masuk ke dalam hati. Kalau perempuan dirasa – rasakan dulu di dalam hati. Lalu kalau sudah mengucapkannya, berarti sudah berada di puncak cintanya Bon.”
Aku mengungkapkan perasaanku dalam sikap dan perilaku. Bukan secara lisan dan gombal – gombalan.
Ketika aku mulai mengayun kembali rudalku, mulutku terus – terusan menciumi bibir sensual Mbak Artini, sebagai perwujudan cintaku padanya. Terkadang lidahku menjilati leher jenjangnya yang sudah mulai keringatan, diiringi dengan gigitan – gigitan kecil.
Dan ini membuatnya merintih – rintih histeris, namun suaranya perlahan sekali. Mungkin karena takut kedengaran oleh anak – anak kos lain.
“Booon… aaaaaa… aaaaah… Booon… aku rasanya seperti me… melayang – layang di langit tinggi Booon… aku makin sayang padamu… makin cinta padamu Booon… ini luar biasa nikmatnya sayaaaaang… aaaaaah… indah sekali Booon…”
Aku tak cuma meniciumi bibir dan menjilati leher jenjangnya. Aku pun mulai mengemut pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas toket kanannya dengan lembut, tidak berani keras – keras meremasnya.
Semakin menggeliat – geliat dan merintih – rintihlah Mbak Artini dibuatnya. Terlebih ketika aku menjilati ketiaknya, disertai dengan gigitan – gigitan kecil pula… semakin menggelinjang – gelinjang pula tubuh seksinya itu.
Bahkan pada suatu saat Mbak Artini seperti panik. “Bon… ini rasanya ada yang mau meluap dari dalam tempikku Booon…” ucapnya dengan tubuh berkelojotan.
“Lepasin aja Mbak. Itu pertanda mau orgasme…” sahutku sambil mempercepat entotanku.
“Iiii… iiiiya Booon… oooo… oooooooooh… aaaaaaa…”
Lalu sekujur tubuh seksi itu mengejang tegang, dengan perut sedikit terangkat ke atas.
Aku pun menghentikan dulu entotanku. Karena ingin menyaksikan dan merasakan sesuatu yang indah. Bahwa liang serambi lempit Mbak Artini mengejut – ngejut, disusul dengan gerakan seperti spiral… sambil meluapkan lendir libidonya, yang membuat liang sanggama Mbak Artini jadi basah sekali.
Lalu nafas Mbak Artini yang tertahan agak lama itu pun dihembuskan, “Aaaaaaah… indah sekali Sayaaaaang…” ucapnya lirih. Namun wajahnya tampak lebih cantik dari biasanya. Mungkin itulah yang disebut aura wanita yang terpancar setelah mengalami orgasme.
Setelah mencium dan melumat bibir Mbak Artini, aku mengusap – usap pipinya yang masih keringatan sambil berkata, “Setelah orgasme, Mbak jadi kelihatan lebih cantik dari biasanya.”
“Masa sih?! Tapi yang jelas aku merasa sudah jadi milikmu seorang.”
“Nanti kalau aku mau ngecrot, lepasin di mana Mbak?”
“Lepasin di dalam serambi lempitku aja.”
“Nggak apa – apa?”
“Maksudnya?”
“Kalau Mbak hamil gak apa – apa?”
“Nggak apa – apa. Aku malah kepengen punya anak darimu. Kalau anaknya cowok, mudah – mudahan seganteng bapaknya.”
“Dan kalau anaknya cewek, mudah – mudahan secantik ibunya.”
Mbak Artini menatapku dengan senyum. Wow… betapa manisnya senyum Mbak Artini itu. Maka kupagut lagi bibibr yang tengah tersenyum itu ke dalam ciuman dan lumatanku. Saat itu aku pun mengayun rudalku kembali. Terasa sekali bedanya. Bahwa tadi liang serambi lempit Mbak Artini terasa sempit sekali. Sekarang jadi agak longgar, karena liang sanggamanya jadi becek.
Tapi hal itu hanya berlangsung beberapa detik. Karena kemudian liang kemaluan Mbak Artini mulai terasa sempit kembali.
Ini luar biasa enaknya. Karena gesekan antara rudalku dengan dinding liang sanggama ibu kosku sangat terasa nikmatnya. Padahal Mbak Artini belum bisa bergoyang pinggul, karena ia baru sekali ini merasakan disetubuhi oleh lelaki.
Tapi aku tidak membutuhkan goyangan. Yang penting aku bisa memenyetubuhi liang serambi lempitnya sepuasku.
Namun aku terlalu menghayati nikmatnya serambi lempit perawan mature ini. Sehingga tak lama kemudian aku mulai memasuki detik – detik krusial. Biasanya kalau sudah begini, aku suka melambatkan entotanku. Tapi kali ini sebaliknya. Aku bahkan mempercepat entotanku. Makin lama makin cepat. Sampai akhirnya kubenamkan batang rudalku sedalam mungkin di dalam liang sanggama Mbak Artini.
Dan pada detik – detik paling nikmat itu aku merasakan rudalku mengejut – ngejut sambil menembak – nembakkan lendir maniku.
Croooottttt… crotttt… crooooootttt… crotttcrottt… croooooooootttttttt… crotttt… crooootttt…!
Aku menggelepar disertai dengusan nafasku. Lalu terkulai di atas perut Mbak Artini.
“Sudah ejakulasi?” tanya Mbak Artini lirih.
“Sudah Mbak Sayaaaang… luar biasa nikmatnya…” sahutku sambil merapatkan pipiku ke pipinya.
Kemudian kucabut rudalku dari lubang tempik Mbak Artini.
Ternyata banyak sekali air mani yang kumuncratkan di dalam tempik ibu kosku. Sehingga tampak air maniku meluap ke luar, mengalir ke arah anus Mbak Artini.
Cepat kuambil kertas tissue basah dari atas meja rias Mbak Artini. Lalu kuseka serambi lempit ibu kosku dengan kertas tissue basah itu.
“Terima kasih, “Mbak Artini duduk sambil memperhatikan darah ytang hampir mengering di kain seprainya, “Berdarah ya?”
“Iya,” sahutku, “darah itu jadi saksi keperawanan Mbak sebelum kusetubuhi tadi. Apakah Mbak menyesal telah memberikan keperawanan Mbak padaku?”
“Masa nyesel? Aku malah bahagia sekali telah didewasakan olehmu,” sahut Mbak Artini yang disusul dengan ciuman mesranya di bibirku, “Mwuuuuaaaaah…”
“Kita harus istirahat dulu selama dua – tiga hari, sampai luka di dalam tempik Mbak benar – benar sembuh. Setelah sembuh, baru kita boleh bersetubuh lagi,” kataku sambil membelai rambut Mbak Artini yang tergerai lepas.
“Iya. Aku mau nurut sama kamu aja Sayang.”
“Nanti kita kalau mau ngobrol, lewat WA aja. Supaya tidak memancing kecurigaan anak – anak kos lain,” kataku.
“Tapi namaku di hapemu kan ada Artini-nya.”
“Gampang, nama Mbak di hapeku akan diganti jadi Hartono. Biar disangka WA dari bapak – bapak.”
“Hiiihiiihiii… iya, iyaaaa. Namamu juga bakal kuganti jadi Bonita. Biar disangka WA dari cewek.”
“Iya… betul itu Mbak.”
Sebenarnya aku ingin sekali tidur bersama Mbak Artini. Tapi demi kenyamanan hati kami, malam itu aku mengendap – endap keluar dari rumah Mbak Artini. Dan masuk ke rumah kos lagi. Kebetulan Amran belum pulang. Mungkin dia nginep di rumah pacarnya.
Sehingga aku bisa tidur nyenyak tanpa perasaan takut atau cemas.
Keesokan harinya aku menghubungi Mama lewat ponsel. Aku menceritakan bahwa aku lulus dan akan diwisuda 2 minggu lagi.
“Mama bahagia sekali mendengar suksesmu Bon,” kata mama di ponselku, “Tapi mungkin mama gak bisa hadir dalam wisudamu. Nanti mama suruh Rina dan Lidya aja yang menghadiri wisudamu ya?”
“Emangnya Mama kenapa?”
“Nanti aja setelah wisudamu selesai, akan mama ceritakan.”
“Papa gimana?”
“Sejak mama pulang dari Jogja sampai hari ini papamu belum muncul juga. Biarlah, mama sudah lupakan papamu. Yang penting, mama sudah punya kamu secara lahir dan batin.”
“Iya Mam. Semoga Mama sehat – sehat aja ya. Soal yang akan menghadiri wisudaku, gak apa diwakili oleh Mbak Rina dan Mbak Lidya juga.”
“Kamu juga Sayang. Semoga sehat selalu yaaa…”
Tiga hari setelah Mbak Artini diperawani olehku, datang WA darinya pas aku sedang di kampus. Isinya :
-Sekarang udah sembuh Bon. Kapan mau “ditengok” lagi?-
Aku mengerti apa yang dimaksud “ditengok” itu. Memang sejak kuambil keperawanannya, Mbak Artini belum pernah kusetubuhi lagi. Dan kini dia sudah kangen pada kejantananku. Ingin “ditengok” lagi. Hahahaaaa…!
Lalu kubalas WA itu dengan :-Iya Mbak. Sekarang aku masih di kampus. Pulangnya sekitar jam 8 malam. Nanti aku langsung aja ke rumah Mbak ya. Pintu untuk jalan rahasia itu jangan dikunci ya-
Lalu datang lagi balasan darinya: -Iya Sayang. Aku tunggu ya. Emwuaaaah …! –
Jam setengah delapan malam aku baru bisa meninggalkan kampus. Dan seperti yang sudah kujanjikan, setibanya di depan rumah Mbak Artini yang berdampingan dengan rumah kos, aku langsung menyelinap ke gang kecil di samping rumah Mbak Artini. Di situ ada pintu besi yang menghadap ke gang.
Pintu itu tidak dikunci seperti yang kuminta. Namun setelah berada di dalam, kukuncikan pintu besi itu. Kemudian masuk ke ruangan tengah, di mana Mbak Artini sudah menungguku dengan senyum manis di bibirnya.
Aku pun memenuhi janjiku. Untuk menyetubuhi Mbak Artini habis – habisan malam itu.
Dan aku semakin yakin betapa mendalamnya cinta Mbak Artini padaku
Sehari menjelang hari wisudaku, Mbak Rina dan Mbak Lidya sudah tiba di Jogja. Bahkan mereka sudah cek in di sebuah hotel bintang lima. Setelah mereka berada di hotel itu, barulah Mbak Rina call ke ponselku.
”Kenapa Mbak gak ngasih tau dulu sebelumnya, supaya aku bisa jemput ke stasiun?” tanyaku di dekat hapeku.
Mbak Rina menjawab, “Jogja kan gak asing lagi bagi kita. Semua anak Papa dan Mama lahir dan dibesarkan di Jogja kan? Lagian kami gak mau ganggu kesibukan.. mu yang sedang mempersiapkan wisuda-an. “
“Aaaah… cuma mau diwisuda kan gak perlu nyiapin apa – apa Mbak. Jubah toga dan topi wisuda kan sudah siap. Kalau mau jadi pengantin, baru sibuk urus sana – sini. Ya udah nanti malam aku akan datang ke hotel. “
“Bukan cuma datang ke hotel. Kamu harus tidur nemenin kami di hotel. Kami kan takut juga tidur berdua sama – sama cewek. Sekalian ingin ngobrol banyak sama kamu Bon. “
“Iya Mbak iyaaa. Jadi besok pergi ke tempat wisuda, start dari hotel aja ya. “
“Iya, begitu lebih bagus Bon. “
Setelah hubungan seluler ditutup, aku bergegas menuju kamar mandi. Dan mandi sebersih mungkin.
Kemudian aku berdandan dengan agak tergesa – gesa.
Sambil menjinjing dua kantong plastik berisi pakaian wisuda dan pakaian resmiku, dengan stelan jas, kemeja putih dan dasi. Juga ada sepatu baru yang akan kupakai di hari wisuda besok.
Sebelum berangkat ke hotel, aku pamitan dulu kepada Mbak Artini. Kujelaskan bahwa aku akan nginap di hotel, tempat kedua kakakku menginap. Dan besok pagi akan langsung menuju gedung tempat diselenggarakannya wisuda angkatanku.
Mbak Artini tampak bersemangat, meski dia tak bisa hadir dalam wisudaku. Karena menurut peraturan, hanya dua orang keluarga yang dibolehkan menghadiri wisudaku. Jadi Mbak Artini harus mengalah, untuk tidak menghadiri wisudaku.
Yang membuatnya bersemangat, adalah bahwa sekitar tiga hari lagi dia akan mengantarkanku ke tempat kakaknya yang suka dipanggil Mbak Lies itu.
Setelah cipika cipiki dengan Mbak Artini, aku pun meninggalkan rumahnya dan berangkat menuju hotel dengan menggunakan taksi. Tidak menggunakan motor gede kesayanganku.
Tak lama kemudian aku pun sudah berada di lantai lima dalam hotel bintang lima itu. Langsung kau mengetuk pintu yang nomornya sesuai dengan keterangan Mbak Rina. Pintu itu pun dibuka. Mbak Lidya yang membukanya, dengan senyum ceria di bibirnya. Lalu kami berpelukan dan cipika – cipiki.
Tapi berbeda dengan biasanya. Kali ini Mbak Lidya tak sekadar mencium sepasang pipiku, tapi juga… bibirku.
Mbak Rina juga sama. Dia menyambutku dengan pelukan hangat, lalu mencium sepasang pipiku dan juga bibirku…!
Tentu saja perasaanku jadi lain. Tapi aku berusaha melupakannya. Dan menganggap bahwa hal itu hanya karena ingin menyatakan kegembiraan mereka atas akan diwisudanya aku besok.
Lalu kami ngobrol ke barat ke timur sebagaimana biasanya kalau kumpul dengan saudara – saudara seperti ini. Termasuk masalah Papa yang tak pulang – pulang ke rumah, juga kami bicarakan.
Aku prihatin juga mendengar cerita tentang Papa itu. Terutama merasa prihatin kepada Mama.
Kedua kakakku itu memang sama bentuknya. Tinggi langsing tapi tidak kurus. Perawakan mereka memang mirip. Tapi ada perbedaan yang menyolok di antara mereka berdua. Kulit Mbak Rina agak gelap, sementara Mbak Lidya putih bersih. Mbak Rina berambut panjang dan hitam warnanya. Sedangkan rambut Mbak Lidya hanya sebatas bahu, diwarnai kecoklatan pula.
Memang Mbak Rina biasa tampil seadanya. Sementara Mbak Lidya agak pesolek.
Tapi setelah makan malam bersama di luar hotel, Mbak Rina dan Mbak Lidya jadi kompak untuk mengutarakan sesuatu padaku, ketika kami sudah berada di dalam hotel lagi. Kami duduk di atas sofa. Aku duduk di tengah, Mbak Rina di sebelah kiriku, Mbak Lidya di sebelah kananku.
Pada saat itulah Mbak Rina tampak serius dan berkata, “Bon… terus terang aja ada sesuatu yang ingin kami minta bantuanmu saat ini. “
“Bantuan masalah apa Mbak?” tanyaku.
“Aku dan Mbak Rina ini masih sama – sama perawan Bon, “Mbak Lidya yang menyahut.
“Lalu?” aku memandang Mbak Lidya, lalu memandang Mbak Rina. Dengan benak penuh tanda tanya.
“Kita kan sesama saudara,” kata Mbak Rina, “Jadi kita ngomong to the point aja ya Bon. “
“Iya… iya…” sahutku.
Mbak Lidya memegang pergelangan tangan kananku sambil berkata, “Kami ingin merasakan seperti apa nikmatnya bersetubuh itu Bon. “
“Haaa?! “aku tersentak. Memandang wajah Mbak Lidya, lalu memandang wajah Mbak Rina di sebelah kiriku.
“Betul Bon,” ucap Mbak Rina, “Kamu pasti mau memberikan apa yang kami inginkan. “
“Iya Bon,” kata Mbak Lidya, “kami akan memasrahkan keperawanan kami kepadamu. “
“Ta… tapi kita kan saudara Mbak,” sahutku rikuh.
“Alaaaa… jangan munafik lah Bon. Kami tau kok apa yang sering kamu lakukan dengan Mbak Weni dahulu. Kalau Mbak Weni sering kamu setubuhi, kenapa kami gak bisa diperlakukan secara adil? “
“Mbak Weni ngomong begitu?” tanyaku dengan perasaan serba salah.
“Kami sering ngintip kamu bersetubuh dengan Mbak Weni dahulu. Mbak Weni sih gak pernah ngomong apa – apa. “
Aku tertunduk dan berkata, “Sebelum bersetubuh denganku, Mbak Weni sudah gak perawan lagi. “
“Nah… apalagi kalau begitu. Mbak Weni yang sudah gak perawan lagi, kamu setubuhi terus – terusan. Sedangkan kami… dijamin masih perawan Bon. “
“Tapi kenapa justru aku yang harus mengambil keperawanan Mbak – Mbak?” tanyaku dengan perasaan yang mulai terpengaruh.
Mbak Lidya yang menyahut, “Kami bukan cewek jelek kan? Dengan gampang kami bisa mengajak cowok mana pun untuk begituan. Tapi kami pikirkan akibatnya kelak. Cowok itu pasti membocorkan rahasia kami kepada teman – temannya. “
“Betul,” kata Mbak Rina, “Kalau dengan saudara, rahasia kami pasti terjamin. Kami yakin kamu takkan mau menceritakannya kepada orang lain. “
“Besok aku kan mau diwisuda,” sahutku mengambang. Karena sebenarnya aku semakin terpengaruh oleh keinginan mereka.
“Diwisuda kan cuma duduk di antrian. Lalu naik ke atas podium setelah tiba giliranmu. Jangan bodoh Bon. Mau dikasih dua perawan malam ini kok malah seperti ogah – ogahan gitu. “
Aku terdiam. Lalu membulatkan tekadku dan berkata tegar, “Oke deh… mau siapa dulu? Mbak Rina dulu atau Mbak Lidya dulu?”
“Siapa pun duluan sama aja. Jadi terserah kamu aja,” sahut Mbak Rina sambil melepaskan gaunnya.
Mbak Lidya pun kompak. Melepaskan celana corduroy coklat tua dan baju kaus coklat mudanya. Sehingga kedua kakakku itu sudah sama – sama tinggal mengenakan celana dalam dan beha.
Beha mereka pun dilepaskan. Sehingga sepasang toket mereka yangberimbang mulai kelihatan. Sama – sama berukuran sedang. Tidak gede, tapi juga tidak kecil.
Dalam keadaan tinggal bercelana dalam begitu, perbedaan Mbak Rina dengan Mbak Lidya mulai kelihatan. Bahwa kulit Mbak Rina lebih gelap daripada kulit Mbak Lidya yang putih bersih. Tapi ukuran badan mereka kelihatannya sama. Tinggi langsing dan serba proporsional ukurannya.
Namun setelah celana dalam mereka dilepaskan, tampak perbedaan yang mencolok. Kemaluan Mbak Rina ada jembutnya, tapi digunting dengan rapi, sehingga bentuk kemaluannya tetap kelihatan jelas. Sedangkan kemaluan Mbak Lidya tercukur bersih.
Entah kenapa aku tertarik untuk mendahulukan Mbak Rina yang kemaluannya berjembut dan kulitnya lebih gelap daripada kulit Mbak Lidya.
Maka kulepaskan busanaku sehelai demi sehelai, kecuali celana dalam yang kubiarkan tetap melekat di tubuhku, aku pun memegang pergelangan tangan Mbak Rina sambil berkata, “Yang paling senior dulu ya. Tapi tentu harus ada foreplay dulu Mbak.”
“Terserah kamu mau pilih siapa,” sahut Mbak Rina, “Tapi apakah kamu bisa dalam semalam mengambil keperawanan kami?”
“Bagaimana nanti aja,” ucapku, “Kalau tidak bisa malam ini, Mbak Lidya kan bisa besok ya?”
“Iya,” sahut Mbak Lidya, “Kami udah bayar hotel ini untuk empat hari kok.”
“Pada banyak duit ya. Sampai cek in di hotel bintang lima untuk selama empat hari.”
“Kami kan udah kerja. Kalau perlu sampai seminggu kami di sini, karena izinnya juga untuk seminggu. Iya kan Mbak?” tanya Mbak Lidya kepada Mbak Rina.
“Iya. Santai aja. Kalau perlu, nginep sebulan juga gakpapa,” sahut Mbak Rina sambil tersenyum.
“Kalau sebulan sih bisa dipecat kita Mbak. Izinnya kan cuma seminggu.”
Aku cuma tersenyum mendengar percakapan kedua kakakku itu. Sementara lenganku sudah melingkar di pinggang Mbak Rina.
Sebenarnya waktu masih kecil kami suka mandi bareng. Tapi saat itu aku tak pernah memperhatikan tubuh telanjang mereka. Lalu setelah aku di SMP, Mama melarang kami mandi bareng lagi. Dan sejak saat itulah aku tak pernah melihat mereka dalam keadaan telanjang lagi.
Dan kini, setelah kami sama – sama dewasa, baru melingkarkan lengan di pinggang Mbak Rina saja… sudah ada getaran – getaran syur di dalam batinku.
Terlebih setelah aku meraih pergelangan tangan Mbak Rina dan sama – sama naik ke atas bed hotel yang cukup besar itu, diam – diam rudalku mulai ngaceng di balik celana dalam yang belum kutanggalkan.
Ketika aku sudah menghimpit Mbak Rina, kulihat sepasang matanya menatapku dengan sorot pasrah. “Kamu nafsu lihat aku telanjang gini?”
“Kalau gak nafsu dari tadi juga aku sudah minggat Mbak,” sahutku.
“Buka dong celana dalammu. Pengen liat rudalmu, udah ngaceng apa belum?”
Aku pun menggulingkan badan ke samping Mbak Rina. Lalu kulepaskan celana dalamku, “Dari tadi juga udah ngaceng Mbak. Tuh liat …“
“Wow! Sekarang jadi gede dan panjang banget Bon. Waktu kita masih sering mandi bareng, rudalmu masih kecil… !” seru Mbak Rina sambil duduk dan memegang rudalku yang memang sudah ngaceng ini.
“Dulu kan masih anak – anak Mbak. Kayak tempik Mbak aja, dulu kan gak ada jembutnya,” sahutku sambil duduk juga sambil mengusap – usap serambi lempit Mbak Rina yang berjembut tapi pendek – pendek dan rapi itu.
“Tempikku gak ono jembute lho, “sela Mbak Lidya sambil mengusap – usap serambi lempitnya.
“Hihihiii… dicukur apa diwaxing tuh?” tanyaku kepada Mbak Lidya.
“Gak diapa – apain,” sahut Mbak Lidya sambil mendelik.
Aku cuma tersenyum. Lalu mendorong kedua toket Mbak Rina agar menelentang lagi. Aku menoleh ke arah Mbak Lidya sambil mencolek serambi lempit gundulnya “Jangan ganggu ya. Nanti setelah Mbak Rina selesai kan giliran Mbak Lidya juga,” kataku.
“Iya… aku cuma mau nonton aja,” ucap Mbak Lidya sambil merebahkan diri, celentang di samping Mbak Rina. Aku menyempatkan diri menciumi serambi lempit Mbak Lidya, kemudian tengkurap di atas perut si item manis berambut panjang (Mbak Rina).
“Foreplay itu perlu, supaya serambi lempit Mbak siap untuk dipenetrasi,” ucapku sambil mempermainkan pentil toket Mbak Rina.
“Iya… lakukanlah apa pun yang menurutmu paling baik.”
“Tapi yang paling enak kalau Mbak nyiapin pil anti hamil. Supaya enak, aku bisa ejakulasi di dalam serambi lempit Mbak.”
“Sudah disiapin Bon. Aku dan Lidya sudah lama mempunyai rencana ini, tapi baru sekarang terlaksananya.”
Aku tersenyum. Lalu merayapkan mulutku dari pipi ke bibir Mbak Rina.
Mbak Rina pun memagut bibirku. Lalu melumatnya sambil memejamkan matanya. Ini membuatku semakin bergairah. Dan berusaha menganggap bahwa Mbak Rina itu bukan kakakku, melainkan seorang cewek yang baru kukenal dan siap untuk kuambil keperawanannya. Maka setelah melepaskan lumatan Mbak Rina, mulutku berpindah ke pentil toket kirinya.
Suhu badan Mbak Rina terasa menghangat. Pertanda bahwa dia sudah mulai horny.
Aku pun tak mau buang – buang waktu lagi. Aku melorot turun, sehingga wajahku berhadapan dengan serambi lempit Mbak Rina yang berjembut pendek – pendek dan rapi itu.
Bentuk serambi lempit kakakku yang item manis itu tampak jelas, karena jembutnya seolah cuma hiasan belaka. Tak ragu pula aku mendorong sepasang paha Mbak Rina agar merenggang jaraknya, lalu mengangakan mulut serambi lempitnya. Hmmm… bagian dalam tempik kakakku yang item manis itu tampak jelas berwarna pink. Dan bagian yang berwarna pink itulah yang menjadi sasaran awal lidahku.
Kujilati bagian dalam tempik kakakku itu, dengan tekad harus membuat liang serambi lempitnya sebasah mungkin, agar mudah diterobos oleh rudalku nanti. Karena itu sambil menjilati bagian yang berwarna pink itu, aku pun berusaha untuk mengalirkan air liurku ke dalamnya.
Aku pun berusaha mencari itilnya. Dan setelah menemukan bagian seupil yang cuma sebesar kacang kedelai itu, aku pun mulai mengintensifkan jilatanku ke situ. Bahkan ketika aku sedang menjilati itilnya ini, kusertai dengan isapan – isapan kuat. Sehingga Mbak Rina mulai terkejang – kejang sambil meremas – remas kain seprai, diiringi oleh desahan dan rintihan perlahannya, “Aaaaaah …
Aku tahu bahwa serambi lempit Mbak Rina sudah basah kuyup oleh air liurku. Namun aku masih terus – terusan menjilati itilnya. Tujuanku adalah ingin agar Mbak Rina orgasme dalam permainan oralku. Karena kalau sudah orgasme, liang serambi lempitnya akan mengembang. Pada saat itu pula aku akan membenamkan rudalku ke dalam liang serambi lempit yang sudah “mekar” itu.
Dan… detik – detik yang ditunggu itu pun datang. Mbak Rina menggeliat dan mengelojot. Lalu menjang tegang sekujur tubuhnya. serambi lempitnya pun terasa bergerak – gerak sedikit. Berarti dia sudah orgasme…!
Lalu dengan sigap kuletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempit Mbak Rina.
Mbak Lidya pun tampak serius memperhatikan semua ini. Sehingga aku ingin iseng juga, untuk menjawil toketnya yang menggantung ke bawah, karena dia setengah tengkurap untuk memperhatikan semua ini.
Setelah merasa moncong rudalku berada di arah yang ngepas, kudorong batang kemaluanku sekuat tenaga. Dan… blesssss… rudal ngacengku membenam sampai lehernya. Kudorong lagi sekuat tehnaga. Blessss… melesak lagi sampai hampir separohnya.
“Udah masuk ya? “Mbak Rina menatapku dengan sorot pasrah.
“Sudah,” sahutku, “Sakit nggak?”
“Nggak. Cuma ada kayak disuntik… tadi… sekarang mah gak lagi…”
Sambil mulai mengayun rudalku perlahan – lahan, kubisiki telinga Mbak Rina, ““Mbak sudah jadi milikku sekarang…”
Dia menyahut terengah, “Bi.. biarin aja… dimiliki oleh adikku sendiri… gakpapa… ooo… ooooh… Booon… ini mulai enak lagiiiii…”
“Sekarang kita mulai bersetubuh Mbak… enak kan?” ucapku sambil agak mempercepat entotanku.
“Eeee… enak sekali Booon… ooooh… ini luar biasa enaknya Booon…”
Sebagai jawaban, kupercepat entotanku sampai kecepatan normal. Memang liang serambi lempit Mbak Rina masih sangat sempit. Sehingga agar entotanku berada di dalam kecepatan standar, lumayan banyak energi yang harus kukerahkan.
Namun aku bukan hanya memenyetubuhi liang serambi lempit sempit Mbak Rina. Aku pun mulai menjilati lehernya yang sudah keringatan, sementara tangan kiriku meremas – remas toket kanannya.
Desahan dan rintihan Mbak Rina pun mulai tak terkendalikan lagi, “Boooon… oooooohhhhh… ini luar biasa enaknya Booon… entot terus Booon… entooot teruuuussss… entoooot… entoooottttt… iyaaaa… iyaaaa… iyaaaa… ooooh… rudalmu enak sekali Boon… entoootttt… entoooootttt…
Pada saat itu pula Mbak Lidya jadi duduk bersila, sambil memperhatikan peristiwa yang sedang terjadi antara aku dan Mbak Rina. Mbak Lidya memperhatikannya dengan serius, sambil mempermainkan pentil toketnya.
Terdorong oleh perasaan kasihan kepada kakak langsungku (tidak terhalang oleh kakak lain), aku pun menyempatkan diri menjulurkan tanganku ke arah serambi lempit Mbak Lidya… lalu kuelus – elus serambi lempit yang bersih dari jembut itu. Aku seolah berkata, sabarlah… nanti tiba giliran serambi lempitmu yang akan kuentot…
Demi Mbak Lidya yang tampak sudah gak sabaran menunggu, kuintensifkan entotanku di dalam liang serambi lempit Mbak Rina yang super sempit tapi sudah licin ini.
Mbak Rina pun semakin menggeliat – geliat sambil merintih – rintih histeris. Terlebih setelah aku menjilati ketiaknya yang harum deodorant, sambil meremas – remas toket kanannya… semakin menggila pula rintihan dan desahan nafas Mbak Rina sibuatnya, “Aaaaa… aaaaah… Boooon… ini luar biasa enaknya Booon…
Aaaaaaah… aaaaaah… entot terus Booon… entot teruuuussss… makin lama makin enak Booon… serasa sedang melayang – layang di langit… aaaaah… aaaa… aaaaahhhh… entot teruis Booon… entot terussss… entoooootttt… entooootttt… ooooooohhhh… enaaaak…
Di tengah riuhnya raungan – raungan histeris Mbak Rina, diam – diam aku menyelidik. Ya… aku akan berusaha bertahan, meski nanti Mbak Rina mencapai orgasmenya, aku tak mau ngecrot cepat – cepat. Karena masih ada Mbak Lidya yang belum kuapa – apain.
Maka aku pun memenyetubuhi Mbak Rina sambil mengatur nafas dan jalan pikiranku. Manakala aku mearasa terlalu enak dan bisa melesat ke arah puncak kenikmatanku, cepat kupelankan entotanku. Pelan sekali. Dan setelah pernafasanku teratur kembali, barulah aku mempercepat kembali entotanku.
Akhirnya Mbak Rina berkelojotan, dengan tubuh sudah bermandikan keringat.
Lalu ia memejamkan mata sambil menahan nafasnya, dengan tubuh mengejang tegang, dengan perut sedikit terangkat ke atas.
Pada saat itulah kubenamkan rudalku sedalam mungkin, sampai moncongnya menyundul dan mendorong dasar liang serambi lempit Mbak Rina.
Lalu… Mbak Rina mengelojot, dengan nafas terhembus kembali… dengan liang serambi lempit berkedut – kedut erotis. Lalu ia terkapar dan terkulai lunglai, sementara rudalku terasa seperti berada di liang yang basah dan hangat.
Kudiamkan rudalku sejenak. Kemudian perlahan – lahan kutarik dari liang serambi lempit Mbak Rina. Kemudian menoleh ke arah Mbak Lidya yang sedang menatapku juga. Dengan sorot nafsu seorang cewek di kala horny.
Sebelum pindah ke atas perut Mbak Lidya, masih sempat kulihat genangan darah di bawah kemaluan Mbak Rina. Darah perawan kakakku yang item manis itu.
“Sama Mbak Rina udahan?” tanya Mbak Lidya ketika aku sudah tengkurap di atas perutnya.
“Iya… dia sudah orgasme,” kataku sambil melirik ke arah Mbak Rina yang tampak seperti terlena tidur, “Mbak udah horny sejak tadi ya?”
“Iya… udah gak sabaran, pengen ngerasain enaknya dientot sama rudalmu,” sahut Mbak Lidya sambil melingkarkan lengannya di leherku. Kemudian mencium dan melumat bibirku dengan penuh kehangatan.
“Dahulu kita cuma bisa cipika – cipiki ya,” ucap Mbak Lidya setengah berbisik, “Sekarang bisa ciuman bibir dengan bibir.”
“Iya. Bahkan sebentar lagi bibirku dengan bibir serambi lempit Mbak juga bakal berciuman.”
“Iya Bon. Aku pengen sekali merasakan enaknya serambi lempit dijilatin.”
“Memangnya Mbak belum pernah merasakannya sama sekali?”
“Ya belum lah. Kalau sudah dijilatin serambi lempit segala, pasti ujung – ujungnya ke entotan. Makanya aku masih perawan sampai detik ini juga. Tapi kalau sama adek sendiri, aku rela menyerahkan keperawananku.”
“Gak punya niat mempertahankannya sampai kawin kelak?”
“Alaaah… Mbak Weni juga gak mempertahankan keperawanannya di masa masih gadis. Sekarang malah hidup senang, karena suaminya tajir walau pun usianya udah tua.”
Aku cuma tersenyum, sambil memainkan pentil toket Mbak Lidya.
Lalu berkata, “Siap – siap Mbak… aku mau jilatin serambi lempit Mbak. Biar rudalku lebih mudah dimasukkannya ke dalam liang serambi lempit Mbak.”
“Iya. Jilatin deh sepuasmu. Pokoknya saat ini semua terserah kamu, karena kamu yang sudah pengalaman dalam soal sex,” sahut Mbak Lidya.
Aku pun melorot turun. Sehingga wajahku langsung berhadapan dengan serambi lempit Mbak Lidya.
Kutepuk – tepuk serambi lempit yang agak tembem dan tanpa jembut sehelai pun itu. Lalu kuciumi serambi lempit itu, sekaligus ingin membuktikan apakah ada aroma yang kurang sedap atau tidak. Kalau ada aroma yang kurang sedap, akan kusuruh cebok dulu sebersih mungkin, agar nyaman menjilatinya.
Tapi ternyata aroma serambi lempit Mbak Lidya sangat natural. Tidak ada aroma yang kurang sedap dari serambi lempit plontosnya itu. Maka kudorong sepasang paha putih mulusnya, agar jaraknya serenggang mungkin. Kemudian dengan kedua tanganku pula kungangakan mulut serambi lempitnya selebar mungkin, sehingga bagian yang berwarna pink itu terbuka lebar.
Lalu dengan penuh gairah ujung lidahku mulai “menari” di permukaan yang lembut, hangat, agak basah dan berwarna pink itu…!
Mbak Lidya agak tersentak. Tapi lalu diam saja ketika aku mulai menjilati bagian yang berwarna pink itu dengan lahap sekali. Mulutku seolah terbenam di permukaan serambi lempit Mbak Lidya, sementara desahan – desahan erotisnya pun mulai terdengar, “Aaaa… aaaaah… Booon… aaaaa… aaaaaahhhhh… aaaaa…
Seperti yang kulakukan kepada Mbak Rina tadi, kali ini pun sama. Sambil menjilati bagian dalam mulut serambi lempit Mbak Lidya ini, kualirkan air liurku sebanyak mungkin ke dalamnya. Kemudian kufokuskan untuk menjilati itilnya yang tampak mengkilap sebesar kacang kedelai itu.
Semakin menggeliat – geliat pula Mbak Lidya dibuatnya. Bahkan kedua tangannya meremas – remas rambutku sambil merintih – rintih histeris, ”Ini lebih enak lagi Booon… ooooo… oooooohhhhh… enak sekali Booon… enak sekaliii… oooooohhhhh… jilatin terus itilnya Boooon… itilnyaaaa… itiiiiilllll …
Dengan penuh semangat kujilati terus itilnya, terkadang disertai isapan – isapan kuat. Sehingga itil Mbak Lidya jadi kelihatan lebih menonjol, jadi agak “mancung”. Sementara air liurku pun semakin banyak kualirkan ke dalam celah serambi lempitnya.
Kali ini aku tak mau menunggu sampai Mbak Lidya orgasme. Karena aku pun tak kuat menahan nafsu lagi, ingin segera melakukan penetrasi.
Maka kujauhkan mulutku dari serambi lempit Mbak Lidya. Kemudian kuletakkan moncong rudalku tepat di bagian yang berwarna pink itu.
Aku masih sempat melirik ke arah Mbak Rina yang tampak masih tepar. Seperti ketiduran sambil membelakangi kami.
Lalu… kudorong rudalku sekuat tenaga. Uuuuuggggggghhhhhh…!
Kepala rudalku mulai masuk dengan sulitnya. Kudorong lagi, dengan mengerahkan segenap tenagaku. Berhasil…! rudalku mulai membenam sampai lehernya. Kudorong lagi sekuat tenaga… uuuughhhhh…! Masuk lagi sampai separohnya…!
“Sudah masuk ya? “tanya Mbak Lidya dengan tatapan pasrah.
“Sudah,” sahutku sambil merapatkan pipiku ke pipinya, “Sekarang Mbak sudah mulai jadi milikku.”
“Milikilah sepuasmu Bona Sayaaaang…” sahut Mbak Lidya sambil mendekap pinggangku erat – erat.
Dengan hati – hati aku mulai menggerakkan rudalku, maju mundur perlahan. Dan berusaha agar jangan sampai terlepas, karena takut sulit membenamkannya lagi.
Mbak Lidya belum orgasme. Sehingga liang serambi lempitnya terasa lebih sempit daripada serambi lempit Mbak Rina tadi.
Namun makin lama liang serambi lempit Mbak Lidya makin menyesuaikan diri dengan ukuran rudalku. Sehingga aku makin lancar memenyetubuhinya, sambil menyedot – nyedot pentil toketnya.
Sambil mengusap – usap rambutku, Mbak Lidya pun mulai merintih – rintih histeris, “Oooo… oooo… ooooohhhh… Boooon… rasanya seperti melayang – layang gini Booon… lu… luar biasa enaknya Booon… rudalmu enak sekali Booon… begini rasanya dientot yaaaaa… oooooh… Booonaaaa…
Aku pun mulai melengkapi entotanku dengan jilatan – jilatan di leher Mbak Lidya yang sudah mulai keringatan. Sementara rudalku mulai bermaju – mundur dalam kecepatan normal.
Semakin menggila jugalah rintihan – rintihan histeris Mbak Lidya dibuatnya. “Booon… kamu benar – benar mampu membuatku nik… nikmaaaat… ooooh… Booonaaaaa… ini luar biasa nikmatnya Booon… entot teruuuussss… entoooootttttttt…”
Sementara itu kulihat Mbak Rina sudah duduk bersila di samping Mbak Lidya, sambil tersenyum – senyum padaku. Mungkin dia terbangun karena mendengar rintihan – rintihan Mbak Lidya yang terlalu keras.
Lalu Mbak Rina menepuk pantatku sambil berkata, “Kalau bisa, setelah dengan Lidya nanti entot aku lagi ya Bon.”
“Iiii… iya Mbaaak…” sahutku dengan gerakan rudal yang semakin lancar memenyetubuhi liang serambi lempit Mbak Lidya…
Permintaan Mbak Rina bahwa ia ingin kusetubuhi lagi setelah persetubuhanku dengan Mbak Lidya ini selesai, adalah permintaan yang harus kukabulkan. Dan itu berarti bahwa aku harus berusaha sekuat tenaga agar jangan ngecrot di dalam serambi lempit Mbak Lidya.
Tapi serambi lempit Mbak Lidya ini… sangat aduhai… terlalu enak buatku. Bahkan mungkin serambi lempit Mbak Lidya ini menempati peringkat pertama di antara perempuan – perempuan yang pernah kuentot…! Liang tempik Mbak Lidya ini paling enak di antara serambi lempit – serambi lempit yang pernah kuentot…!
Ketika aku sedang gencar – gencarnya memenyetubuhi Mbak Lidya, aku tahu bahwa Mbak Lidya sudah orgasme beberapa saatg sebelumnya. Seharusnya cepat kucabut rudalku dari serambi lempit Mbak Lidya, lalu pindah ke serambi lempit Mbak Rina.
Tapi aku sudah telanjur menghayati betapa nikmatnya liang serambi lempit Mbak Lidya ini. Sehingga rudalku tetap gencar memenyetubuhi serambi lempit Mbak Lidya yang aduhai ini. Dan pura – pura tidak tahu bahwa Mbak Lidya sudah orgasme.
Justru setelagh orgasme, liang serambi lempit Mbak Lidya jadi semakin enak rasanya. Masih tetap sempit, tapi jadi licin dan hangat. Sementara Mbak Lidya pun tampak seperti kerasukan, mungkin saking enjoy merasakan nikmatnya entotan rudalku.
“Entot terussss Booon… makin lama makin enak rasanyaaaa… entottt yang lebih kencang Boon… iyaaaa… iyaaaa… gila… luar biasa enaknya Booon… entooottttt… entooooootttt… entoooooootttttt… aaaaaaaa… aaaaah… enaaaak Booon… rudalmu memang luar biasa enaknyaaaa…
Aku tak sekadar memainkan rudalku yang bermaju mundur terus di dalam liang serambi lempit Mbak Lidya. Bibir dan lidahku pun ikut beraksi. Terkadang mencium dan melumat bibir Mbak Lidya, terkadang menjilati lehernya yang sudah dibasahi keringat, disertai dengan gigitan – gigitan kecil.
“Sekalian cupangin leherku Booon… ini nikmat sekali… nikmaaat… “erang Mbak Lidya sambil mendekap pinggangku erat – erat.
Kuikuti saja permintaan kakakku itu. Kusedot – sedot lehernya sekuatku. Sehingga meninggalkan bekas merah kehitaman.
Takut kalau bekas cupanganku jadi masalah, karena besok Mbak Lidya akan menghadiri acara wisudaku, aku hanya berani meninggalkan bekas satu titik saja di leher Mbak Lidya. Kemudian aku mengalihkan aksi mulutku ke toket Mbak Lidya yang masih kencang padat ini. Di badan toket itulah aku mencupanginya.
Namun semua ini terlalu indah bagiku dan juga bagi Mbak Lidya.
Pada suatu saat Mbak Lidya berkelojotan lagi. Kemudian mengejang tegang, dengan perut sedikit terangkat ke atas.
Pada saat itu pula aku tak bisa menahan diri lagi. Kugencarkan entotanku secepat mungkin, kemudian kutancapkan rudalku di dalam liang serambi lempit Mbak Lidya, sampai menyundul dasar liang serambi lempit aduhai itu.
Lalu kami seperti sedang kerasukan. Saling jambak, saling remas seolah – olah ingin menghancurkan tulang di balik daging dan kulit yang kami remas ini.
Sepasang mata indah Mbak Lidya terbeliak. Nafasnya tertahan. Lalu liang serambi lempitnya terasa mengedut – ngedut kencang… disusul dengan gerakan seperti spiral yang seolah tengah meremas rudalku yang sedang gawat juga ini.
Tak kuasa lagi aku menahannya. Moncong rudalku langsung menembak – nembakkan lendir kenikmatanku di dalam liang serambi lempit Mbak Lidya… croooooooootttttttt… crootttttt… crooootttt… crotttcrootttt… crooootttt…!
Aku terkapar di atas perut Mbak Lidya. Lalu terkulai lunglai di puncak kepuasan birahi.
Mbak Lidya pun terkulai lunglai. Memejamkan sepasang mata indahnya, mungkin sedang meresapi nikmat yang baru saja dialaminya.
Meski lemas, kutarik rudalku dari liang serambi lempit Mbak Lidya. Lagi – lagi kusaksikan genangan darah yang sudah mulai mengering di bawah serambi lempit Mbak Lidya.
Dua orang perawan telah kurenggut kesuciannya. Atas kehendak mereka sendiri.
Aku pun turun dari bed menuju kamar mandi. Ternyata Mbak Rina mengikuti langkahku dan ikut masuk ke dalam kamar mandi.
“rudalmu sudah lemas ya Bon,” ucap Mbak Rina sambil memegang rudalku yang masih berlepotan air mani bercampur dengan lendir libido Mbak Lidya.
“Iya Mbak,” sahutku dengan perasaan kasihan juga, karena mungkin dia pikir aku bisa langsung menyetubuhinya setelah selesai dengan Mbak Lidya barusan. Lalu kupeluk leher Mbak Rina sambil berkata, “Sabar ya Mbak. Nanti setelah ngaceng lagi, pasti Mbak yang bakal kuentot.”
“Barusan rudalmu ejakulasi di dalam serambi lempit Lidya?”
“Iya. Gak kuat lagi menahannya.”
Mbak Rina mencium bibirku, lalu berkata setengah berbisik, “Aku juga pengen ngerasain disemprot oleh air manimu Bon.”
“Iya Mbak.”
“Bagaimana nih caranya supaya rudalmu bisa ngaceng lagi?”
“Kalau Mbak mau, oral aja rudalku.”
“Bukan gak mau, tapi belum tau caranya.”
“Sebentar Mbak… aku mau kencing dulu.”
“Aku pengen seperti di bokep yang pernah kutonton. Kencingin serambi lempitku nih,” ucap Mbak Rina sambil meletakkan kedua telapak tangannya di bokong, sekaligus mengangsurkan serambi lempitnya ke dekat rudalku.
Ah, ada – ada aja kakakku yang satu ini. Tapi tanpa membantah kulakukan juga apa yang diminta olehnya itu. Kuarahkan moncong rudalku ke serambi lempit Mbak Rina. Lalu kupancarkan kencingku ke serambi lempit berbulu tipis dan pendek – pendek itu.
“Hihihiiii… air kencingmu panas,” kata Mbak Rina sambil menepuk – nepuk serambi lempitnya yang sudah basah oleh air kencingku, “Kita sekalian mandi aja yuk. Biar bisa saling menyabuni seperti waktu masih anak – anak dahulu. ““
“Boleh. Biar aku bisa nyabunin serambi lempit Mbak, sementara Mbak juga bisa nyabunin rudalku.”
Mbak Rina memegang rudalku yang masihlemas ini sambil berkata, “Waktu masih kecil aku sering nyabunin rudalmu ini. Tapi pada saat itu rudalmu hanya sebesar kelingking. Sekarang rudalmu jadi segede pergelangan tanganku… hihihihiiii…”
“serambi lempit Mbak juga waktu itu belum ada jembutnya. Sekarang kan jadi berjembut.”
“Kamu gak suka kalau aku membiarkan jembutku meski sudah dirapikan gini?”
“Aku sih yang berjembut suka, yang gundul juga suka. Sama aja. Punya kelebihan masing – masing,” sahutku sambil memutar keran shower air hangat.
Air pun memancar dari shower yang berada di atas kepala kami. Memang aku pun merasa perlu mandi, karena badanku penuh dengan keringat bekas “perjuangan” belah duren dua kali tadi.
Lalu kami pun melakukan hal yang sering kami lakukan di masa kecil, yaitu saling mnyabuni. Tapi dengan bentuk fisik dan perasaan yang jauh berbeda. Ketika Mbak Rina sedang menyabuniku, ketika sedang menyabuni rudalku ia berjongkok. Lalu belajar tentang bagaimana caranya felatio (mengoral rudal). Sehingga rudalku mulai membesar…
Ketika giliranku menyabuni sekujur tubuh Mbak Rina, maka setelah dibilas dengan air hangat shower, aku berjongkok di depannya, untuk menjilati serambi lempitnya yang sudah bersih dan harum sabun mandi.
“Duuuh Booon… aku jadi horny berat nih,” ucap Mbak Rina setelah cukup lama aku menjilati serambi lempit dan itilnya.
“Di sana aja yuk…” ucapku sambil menunjuk ke meja washtafel yang bisa diduduki pinggirnya. Meja washtafel yang ditutupi granit coklat itu.
Mbak Rina langsung setuju saja. Ia melangkah duluan ke meja washtafel itu. Kemudian kuatur agar ia duduk di meja washtafel itu, dengan sepasang kaki mengangkang di pinggirannya.
Lalu dengan perjuangan yang lumayan berat, akhirnya aku berhasil membenamkan rudalku, sambil berdiri menghadap kakakku yang sedang duduk mengangkang di pinggiran meja washtafel itu.
Ketika aku mulai memenyetubuhinya, Mbak Rina memegang sepasang bahuku. Sambil berdesah – desah lagi. Tiba – tiba terdengar suara Mbak Lidya di belakangku, “Pantesan hilang… rupanya lagi begituan lagi di sini yaaa?”
Mbak Rina yang menyahut, “Kalau mau joint, mandi dulu sana Lid. Biar bersih dan segar badanmu.”
“Iya Mbak… badanku udah lengket – lengket sama keringat nih. Asyik juga dientot di dalam kamar mandi ya? Bikin aku jadi horny lagi neh… !”
Setelah Mbak Lidya selesai mandi, kami sepakat untuk melanjutkan semuanya ini di luar kamar mandi. Tepatnya di atas sebuah sofa putih.
Di situlah kami habis – habisan melakukannya. Melakukan persetubuhan threesome FFM, yang membuat keringat kami bercucuran kembali.
Namun kami sangat bergairah melakukannya, terutama diriku.
Ya, aku tak usah munafik, bahwa semuanya ini indah sekali. Sebagai pengalaman pertamaku berthreesome.
Nikmat sekali. Karena dengan seenaknya aku bisa memenyetubuhi Mbak Rina, lalu kupindahkan rudalku ke dalam liang serambi lempit Mbak Lidya. Benamkan lagi ke dalam liang serambi lempit Mbak Rina dan begitu seterusnya.
Lewat tengah malam barulah kami tertidur nyenyak.
Bersambung… Dan keesokan harinya aku bisa menghadiri wisudaku secara normal, meski badanku terasa lunglai. Yang paling menyenangkan adalah, aku lulus dengan cumlaude. Membuat kedua kakakku ikut bangga.
Sepulangnya dari gedung yang digunakan untuk upacara wisuda itu, kutraktir kedua kakakku makan di sebuah restoran yang paling kusukai di Tugu Kidul.
Pada saat sedang makan itulah handphoneku berdering. Ketika kulihat di layar ponselku, ternyata Mbak Artini yang nelepon.
Agar leluasa, aku menerima call dari Mbak Artini itu di tempat yang sepi, agak jauh dari kedua kakakku. Lalu :
“Ya Mbak…”
“Maaf kalau mengganggu ya. Acara wisudanya udah selesai belum?”
“Sudah selesai Mbak. Ini lagi makan siang bersama kedua kakakku.”
“Aduh gimana ya… jadi kurang enak nyampaikannya.”
“Ada apa Mbak?”
“Barusan ada telepon dari Mbak Lies. Dia ingin Bona datang hari ini juga ke tempatnya. Karena dia sudah cukup lama menunggu. Jadi kalau serius, dia minta hari ini juga Bona datang ke rumahnya.”
“Diantar sama Mbak kan?”
“Tentu aja.”
“Pakai motor aja ya Mbak.”
“Memang sebaiknya pakai motor. Kalau pakai mobil, jalannya jadi mutar jauh.”
“Oke Mbak. Selesai makan siang, aku akan secepatnya pulang.”
“Terus kedua kakakmu gimana tuh?”
“Biarin aja. Mudah – mudahan mereka mengerti. Karena ini kan masalah pekerjaan yang menentukan masa depanku.”
“Ya syukurlah kalau gitu. Aku mau dandan dulu sambil menunggu Bona pulang.”
“Iya Mbak, silakan.”
Kemudian aku menghampiri kedua kakakku yang sudah selesai makan.
“Aku harus ke luar kota sekarang juga, “laporku.
“Lho ada urusan apa?” tanya Mbak Lidya.
“Urusan pekerjaan. Calon bossku minta ketemu hari ini juga.”
“Apa gak bisa besok lagi? Kamu kan masih capek gitu Bon,” kata Mbak Rina.
“Kalau hari ini aku tidak datang, aku bakal dicoret dari daftar pelamar. Calon bossku sudah menunggu sejak berbulan – bulan yang lalu. Dia akan menempatkanku di perusahaannya setelah diwisuda. Rupanya beliau gak sabar lagi, karena sudah lama menunggu, sejak aku belum bikin skripsi.”
“Ya udah,” kata Mbak Rina, “Karena menyangkut masa depanmu, dahulukan aja urusan kerjamu.”
“Terus kamu mau langsung tinggal di luar kota?” tanya Mbak Lidya.
“Belum tau Mbak. Siapa tau aku bakal ditempatkan di Jabar, bisa dekat nanti sama Mbak Rina dan Mbak Lidya.”
“Ya udah kalau gitu. Makanan ini biar aku yang bayar,” kata Mbak Rina.
“Sudah dibayar sama aku tadi Mbak. Mmm… Mbak Rina dan Mbak Lidya bisa pulang sendiri ke hotel kan?”
“Bisa dong. Kita kan lahir besar di Jogja. Masa gak hafal jalan di sini?”
Begitulah. Akhirnya aku berpisah dengan Mbak Rina dan Mbak Lidya.
Aku pulang ke rumah kos dengan taksi, sementara Mbak Rina dan Mbak Lidya entah mau terus ke mana. Mungkin juga mereka pulang ke hotel, untuk beristirahat setelah kugauli habis – habisan tadi malam.
Mbak Artini menyambutku dengan pelukan dan ciuman mesranya. “Selamat ya atas sudah diwisudanya kekasihku tersayang…” bisiknya.
“Terima kasih Mbak. Ternyata Mbak sudah dandan secantik ini…” sahutku sambil menepuk bokong Mbak Artini yang gede itu, yang selalu mengundang gairahku belakangan ini.
“Aku berdandan untukmu Sayang. Bukan untuk orang lain.”
“Tapi kalau aku ditempatkan di daerah yang jauh dari Jogja gimana? Kita bisa sulit berjumpa dong.”
“Tapi kan ada hari – hari liburnya. Biarin aku yang datang nanti, setelah ditentukan di mana tempat untuk ketemuannya. Ayo kita langsung berangkat aja. Biar hati Mbak Lies tenang.”
“Tanah kakak Mbak itu luas?”
“Bukan luas lagi. Di Jateng, Jabar dan Jatim juga ada. Almarhum suaminya kan tuan tanah.”
“Owh… jadi dia itu janda?”
“Iya. Sama seperti aku. Tapi nasibnya sangat baik. Menikah dengan duda tajir melintir yang sangat mencintainya, meski usianya sudah tua. Setelah suaminya meninggal, tanahnya yang di sana – sini itu jadi milik Mbak Lies.”
“Umur berapa Bu Lies itu?”
“Sepuluh tahun lebih tua dariku.”
“Kok jauh gitu ya beda kakak sama adik?”
“Dia kan kakak sulungku. Dari dia ke aku ada dua orang kakakku.”
“Dari Mbak ke bawah, ada adik?”
“Ada, cuma seorang. Sekarang tinggal di Kalimantan, dengan suaminya. Saudara – saudaraku perempuan semua Bon. Ohya… bawa sekalian pakaianmu Sayang. Siapa tau Mbak Lies nyuruh kamu langsung tinggal di tempatnya.”
“Iya Mbak. Kebetulan aku sjudah menyimpan beberapa stel pakaian dalam ranselku.”
Beberapa saat kemudian Mbak Artini yang mengenakan celana jeans dan baju kaus ditutupi oleh mantel tebal, sudah duduk di belakangku, di atas motor gede kesayanganku yang sudah kupacu menuju ke luar kota. Di atas boncengan motor gedeku ini, Mbak Artini selalu mendekap pinggangku erat – erat, seolah takut jatuh, seolah tak mau berpisah lagi denganku.
Dengan petunjuk dari Mbak Artini, kukemudikan motorku melewati jalan alternatif yang belum diaspal. Tapi menurut Mbak Artini, lewat jalan tikus itulah kami akan cepat sampai. Karena kalau melewati jalan aspal, memutarnya jauh sekali.
Lewat jalan alternatif itu pun, setelah melewati hutan belantara dan pesawahan, tiga jam kami baru tiba di depan rumah calon bossku itu.
Di depan rumah calon bossku itu aku tertegun. Gila, rumah ini di daerah pedesaan. Tapi megahnya luar biasa. Terdiri dari tiga lantai, dengan gaya minimalis.
Memang di zaman sekarang segala hal bisa menyebar sampai ke daerah terpencil sekali pun. Baik budaya, mode, mau pun segala hal yang sedang ngetrend di kota, bisa dengan cepat mengalir ke daerah pinggiran. Terbukti dengan gadis – gadis yang tinggal di kampung ini, kelihatan sudah mengikuti mode zaman now.
Dan rumah calon bossku itu, bukan sekadar besar dan megah, tapi modelnya pun sudah mengikuti perkembangan zaman now. Model minimalis yang tampak sangat kokoh. Dijaga oleh beberapa orang satpam pula.
Pada saat itu kebetulan pintu garasi sedang terbuka, sehingga aku bisa melihat beberapa mobil mahal tersimpan di dalam garasi itu. Bukan hanya satu mobil.
Mbak Artini langsung membawaku ke dalam rumah yang luar biasa megahnya itu.
Lalu memintaku untuk duduk menunggu di ruang tamu dengan furniture serba kekinian ini.
Tak lama kemudian, Mbak Artini muncul, bersama seorang wanita yang usianya kira – kira sebaya dengan Mama. Dan… maaaak… wanita itu tinggi montok… lebih montok daripada Mbak Artini…!
Tapi kuakui bahwa wanita itu berparas cantik, berkulit putih bersih pula. Sementara rambutnya… inilah salah satu tanda bahwa segala jenis model sudah merambah ke pelosok tanah air. Ya, rambut Bu Lies itu dicat jadi kecoklatan (brunette). Tapi beliau tampak pantas saja kelihatannya. Mungkin pada suatu saat aku pun akan menyuruh Mama agar mengecat rambutnya seperti Bu Lies ini.
Wanita itu menatapku dengan sorot tajam, seperti sedang menilai diriku. Tapi aku bersikap biasa – biasa saja. Aku berdiri sambil mengangguk sopan.
“Ini Mbak Lies yang sering kuceritakan itu Bon.”
Dengan agak gugup aku berkata, “Iya… perkenankan saya memperkenalkan diri… nama…”
Belum selesai aku bicara, calon bossku itu memotong, “Namamu Bona kan?”
“Hehe… betul Bu,” sahutku sambil menjabat tangan wanita montok semok itu.
“Jadi gimana wisudanya tadi? Tinggi nilainya?” tanya wanita bernama Lies itu sambil duduk di sofa.
“Alhamdulillah, saya lulus dengan cumlaude Bu,” sahutku.
“Syukurlah. Aku memang butuh insinyur pertanian yang cerdas. Bukan sekadar asal lulus,” ucap Bu Lies.
“Iya Bu.”
Lalu Bu Lies menjelaskan tentang arah agro bisnisnya secara panjang lebar. Dia bukan sekadar tuan tanah biasa, tapi juga bergerak di bidang agro bisnis. Dia menampung sayur – sayuran dan buah – buahan untuk dikirim ke Jakarta.
Tapi tugas utamaku adalah mengelola lahan yang tidak produktif, agar jadi lahan yang menghasilkan.
“Besok pagi deh kita survey lahan – lahan yang tidak produktif itu. Sekarang sudah hampir malam. Ohya… kamar paling depan itu bisa dijadikan kamarmu Bon,” kata Bu Lies.
“Tapi aku mau langsung pulang ke Jogja lagi sekarang Mbak,” ucap Mbak Artini menyela.
Bu Lies menoleh ke arah adiknya, “Minta anter aja sama Pak Karto tuh. Bona takkan bisa ngantger kamu pulang kan?”
“Iya, gakpapa. Minta anter sama Pak Karto aja,” sahut Mbak Artini.
“Kemaren aku transfer ke rekening tabunganmu. Udah diterima kan?”
“Sudah Mbak. Terima kasih ya mbakyuku yang cantik,” sahut Mbak Artini sambil mengecup pipi Bu Lies.
Kemudian Mbak Artini berdiri dan melangkah ke pintu depan. Kulihat di luar ia berbicara dengan seorang lelaki tua. Mungkin itu sopirnya Bu Lies yang bernama Karto itu.
Sesaat berikutnya Mbak Artini kembali ke ruang tamu dan berkata padaku, “Gak apa – apa kan ditinggal sendirian di sini? Aku mau pulang ke Jogja.”
“Iya Mbak. Silakan.”
Mbak Artini menghampiri Bu Lies sambil berkata, “Aku pulang dulu ya Mbak.”
“Iya. Terima kasih sudahnganterin Bona ke sini Ar.”
“Sama – sama Mbak,” sahut Mbak Artini yang lalu cipika – cipiki dengan Bu Lies.
“Jaga diri baik – baik ya Ar,” ucap Bu Lies sambil mengusap – usap rambut Mbak Artini.
Kemudian Mbak Artini melambaikan tangannya ke arahku, “Kalau lagi libur, main ke Jogja ya Bon.”
“Iya Mbak.”
Setelah Mbak Artini berlalu, diantarkan oleh mobil dan sopir Bu Lies, aku masih duduk di ruang tamu sambil menunggu Bu Lies yang masih berdiri di teras depan. Sebenarnya aku ingin mengantarkan Mbak Artini sampai di teras depan. Tapi aku takut kalau hubungan rahasiaku dengan Mbak Artini tercium oleh Bu Lies.
Tak lama kemudian Bu Lies masuk lagi ke ruang tamu sambil berkata, “Ini kamar yang bisa dijadikan kamarmu Bon. Coba ikut sini.”
Spontan aku berdiri sambil menjinjing ranselku, mengikuti Bu Lies yang sudah membuka pintu yang paling depan di rumah megah ini.
Ternyata kamar yang disediakan untukku besar sekali. Ada ruang kerja yang dibatasi oleh partisi kaca blur, ada kamar mandi tersendiri pula.
Yang membuatku agak heran, ada pintu lift segala. Untuk apa lift menuju kamar ini?
Sebelum aku bertanya, Bu Lies menjelaskan: “Nah inilah kamarmu Bon. Ada ruang kerjanya yang dilengkapi oleh komputer dan jaringan internet. Karena kita harus memantau kegiatan di lapangan, baik yang di Jateng, Jabar, Jatim dan juga kegiatan di Jakarta.”
“Iya Bu.”
“Ohya, itu ada pintu lift, langsung menuju kamarku di lantai tiga. Jadi kalau aku mau turun atau naik dan sedang malas pakai tangga, aku pakai lift itu. Nanti kalau kegiatanmu sudah banyak, kalau sekali – sekali ada sesuatu yang emergency, kamu boleh pakai lift itu dan langsung menuju kamarku. Kamu juga jangan kaget kalau tiba – tiba aku muncul di kamar ini.
“Siap Bu.”
“Masalah tugas – tugas dan gajimu, nanti aja kita bahas sambil makan malam ya.”
“Siap Bu.”
“Sekarang mandilah dulu. Peralatan mandi tersedia lengkap di kamar mandi itu. Nanti kalau sudah mandi, kutunggu di ruang makan ya Bon.”
“Iya Bu. Memang badan saya penuh debu bekas di perjalanan menuju ke sini tadi. Jadi perlu mandi dulu. Hehehee…”
“Mandilah. Selesai mandi ditunggu di ruang makan ya Bon.”
“Siap Bu.”
Bu Lies keluar dari kamar yang sudah menjadi kamarku ini. Aku pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Aku memang lupa membawa peralatan mandi, handuk pun tidak bawa. Tapi untunglah semua peralatan mandi tersedia di kamar mandi, semuanya masih baru. Handuk, sabun cair, shampoo, odol dan sikat gigi masih baru semua.
Aku pun buru – buru mandi sebersih mungkin.
Setelah mandi dan mengganti pakaianku dengan pakaian bersih yang kubekal dari rumah kos, aku pun keluar dari kamar. Agak celingukan, karena banyak lorong, sehingga aku tidak tahu harus ke mana untuk menuju ruang makan.
Untung ada pembantu menghampiriku. Langsung kutanya, “Ruang makan di sebelah mana Mbak?”
“Oh… ke sebelah sana Den,” sahutnya sambikl menunjuk ke arah lorong yang di paling kanan.
Aku pun melangkah ke lorong yang ditunjukkan itu. Sampai mentok di ruang makan yang besar ruangannya, serba modern pula furniture dan peralatannya. Rupanya Bu Lies sengaja ingin ditemani makan malam di ruang makan yang super mewah itu.
Pada saat makan itu pula Bu Lies membahas tugas – tugasku dan juga besarnya gaji yang akan kuterima. Nominal gaji yang akan kuterima sangat mengejutkan. Karena menurutku besar sekali. Tapi dengan tenang Bu Lies berkata, “Pokoknya nanti jangan terlalu hitungan dengan tenaga dan pikiran. Karena aku pun tak menghitung – hitung gaji dan penghasilan tambahan untukmu nanti Bon.
“Siap Bu.”
“Pokoknya kalau prestasi kerjamu bagus, aku akan mengangkatmu sebagai tangan kananku.”
“Siap Bu.”
“Jangan terlalu kaku lah. Gak usah manggil boss padaku, jangan pula bilang siap – siap. Karena kita bukan militer, polisi juga bukan. Kamu juga gak usah membahasakan diri saya – sayaan. Larena kata saya itu berasal dari sahaya alias budak. Hamba sahaya itu kan budak. Kamu bukan budak. Pakai kata aku saja, biar lebih akrab kedengarannya ya.
“Siap… eh… iya Bu.”
“Nah sekarang istirahatlah sepuasnya. Karena besok pagi kita akan berjalan menaiki beberapa bukit kepunyaanku.”
“Iya Bu. Terima kasih,” sahutku sambil berdiri, “Selamat malam.”
“Malam,” sahut Bu Lies.
Keesokan paginya, ketika matahari baru saja terbit, Bu Lies sudah menungguku di luar kamarku. Sengaja aku mengenakan sweater biru tuaku, karena kuperkirakan udara di puncak bukit itu bakal dingin. Yang membuatku heran, Bu Lies menutupi seluruh badannya dengan selimut yang tidak tebal.
“Nah bagus kamu pakai sweater begitu. Di puncak bukit itu dingin hawanya.”
“Ibu pakai selimut begitu supaya gak kedinginan?”
“Iya. Kalau udaranya gak dingin, selimutnya bisa dipakai buat duduk – duduk di puncak bukit nanti.”
“Kita mau jalan kaki ke bukit itu Bu?”
“Iya. Itu bukitnya, dari sini juga kelihatan jelas,” kata Bu Lies sambil menunjuk ke bukit yang menjulang tinggi di belakang rumahnya. Ngocoks.com
“Oh, iya… iyaaa… kirain jauh,” sahutku sambil mengikuti Bu Lies yang sudah melangkah ke belakang rumah megahnya.
“Ini sekalian olahraga Bon,” kata Bu Lies di depanku, “Apalagi badanku montok begini. Kalau malas olahraga bisa gendut dan obesitas nanti.”
“Iya Bu.”
Lewat jalan setapak kami mulai menuju bukit itu. Tampaknya luas dan tinggi sekali bukit itu. Tapi dengan senang hati aku mengikuti langkah Bu Lies dari belakangnya.
Setelah tiba di lereng bukit itu, jalan yang harus kami tempuh makin lama makin menanjak. Tapi Bu Lies tidak kelihatan capek. Bahkan pada suatu saat ia melemparkan selimutnya padaku sambil berkata, “Tolong pegangin aja selimutnya Bon. Kayaknya udara sedang tidak terlalu dingin.”
Kutangkap selimut itu. Kulipat dan lalu kugantungkan di bahuku, seperti sedang memakai selendang.
Tapi ketika perhatianku tertuju ke arah Bu Lies… wow… Bu Lies memang memakai sweater juga seperti aku. Tapi bawahannya itu… rok mini yang benar – benar mini… sementara aku berjalan di belakangnya di jalan setapak yang mendaki pula. Ini membuat pemandangan yang luar biasa. Karena terkadang rok mininya itu ditiup angin, sehingga bokong gedenya terbuka penuh, celana dalamnya pun kelihatan jelas.
“Bon… kamu tau Artini pernah dijodohkan dengan seorang cowok, tapi ternyata cowok itu gay?”
“Iiii… iya Bu. Beliau pernah menceritakan soal itu.”
“Kasian adikku itu. STatusnya janda. Padahal masih perawan.”
“Begitu ya Bu?”
“Kamu normal Bon?”
“Maksud Ibu normal apanya?”
“Suka sama cewek, bukan sama sejenis?”
“Owh… iya Bu. Saya… eh… aku normal seratus persen Bu.”
Tiba – tiba Bu Lies mengangkat rok mininya, sehingga bokong dan celana dalamnya terbuka sepenuhnya. “Ayo jawab yang jujur. Kalau melihat pantat begini, kamu nafsu gak?”
“Iii… Ibu sangat seksi… tentu saja aku tergiur Bu… tapi maaf, aku takut disebut lancang dan kurang ajar nanti.”
“Kamu punya pacar nggak?”
“Nggak punya Bu.”
“Masa cowok seganteng kamu gak punya pacar? Jangan – jangan kamu gay juga ya?”
“Amit – amit, aku normal Bu. Hanya saja aku ingin menyelesaikan kuliah dulu, baru kemudian mikirin soal cewek.”
“Masa sih? Terus kamu bisa tergiur melihat pantatku… kok bisa? Aku kan sudah tua. Sedangkan kamu baru duapuluhtiga menuju duapuluhempat tahun kan?”
“Anu Bu… boleh jujur gak?”
“Iya. Harus jujur ngomongnya.”
“Aku ini pengagum wanita setengah baya.”
“Terus… sekarang rudalmu ngaceng nggak?” tanya Bu Lies sambil menghentikan langkahnya.
“Iiii… iya Bu… nga… ngaceng.”
“Coba lihat… sengaceng apa rudalmu.”
Meski ragu – ragu, kulaksanakan juga perintah Bu Lies itu. Kuturunkan ritsleting celana jeansku, lalu kupelorotkan celana jeans berikut celana dalamku, sehingga rudal ngacengku tersembul seperti sedang menunjuk ke arah Bu Lies.
“Woooow! rudalmu segede dan sepanjang ini Bon?! “seru Bu Lies sambil memegang rudalku yang memang sudah ngaceng ini.
Aku tak menyangka semuanya ini akan terjadi begini cepatnya. Tapi aku tetap menggunakan akal sehatku. Kalau bossku menginginkannya, tiada alasan bagiku untuk menolaknya. Lagipula Bu Lies memang seksi habis di mataku.
Selimut itu sudah dihamparkan di atas rerumputan liar di antara pepohonan yang mirip hutan tak terawat ini. Aku disuruh berlutut dengan dada agak rebah ke belakang. “Tak usah telanjang bulat. Dengan begini pun kita bisa melakukannya. Hitung – hitung test aja, apakah kamu lelaki sejati atau sebangsa mantan suami Artini…
Lalu Bu Lies berjongkok sambil menyeret celana dalamnya ke samping. Dia membelakangiku, sehingga kurang jelas seperti apa bentuk serambi lempitnya. Yang jelas, sambil berjongkok dia berhasil membenamkan rudalku ke dalam liang tempiknya. Lalu bokong gede itu naik turun dengan gesitnya, sehingga rudalku terasa dibesot – besot oleh liang licin yang empuk dan hangat.
“Tempikku kepenak mboten?” tanyanya.
“Saestu kepenak Buuu…” sahutku sambil memejamkan mata, karena memang terasa liang tempik Bu Lies itu luar biasa enaknya.
“Ini sekadar tes aja Bon. Kalau kurang puas, nanti lanjutkan di rumah aja ya.”
“Iii… iya Bu.”
“Uedaaan… rudalmu ini gede tenan Bon. Sampai seret gini mainnya.”
“Mungkin karena punya Ibu terlalu kecil, jadi sempit…”
“Hihihihiiii… ini luar biasa enaknya Bon…” ucap Bu Lies ketika ayunan bokongnya mulai menggila. Terkadang kudengar suara desahannya yang aaah oooh… aaah… ooooh…
Sebenarnya ada yang kutakutkan. Takut ada orang lewat lalu memergoki kami sedang beginian.
Untungnya Bu Lies tak kuat lama – lama. Hanya belasan menit dia mengayun bokongnya. Lalu menggelepar dan ambruk.
“Wah, duweku sampun metu Bon. Kamu belum kan?”
“Belum Bu.”
“Nanti lanjutin di rumah ya,” ucap Bu Lies sambil mengangkat bokongnya tinggi – tinggi, sehingga rudalku pun terlepas dari liang serambi lempitnya yang seperti apa bentuknya. Belum jelas. Baru bentuk buah pantat gedenya saja yang jelas di mataku.
Bu Lies membetulkan celana dalamnya yang terseret ke samping. Kemudian duduk di atas selimut yang dihamparkan itu.
Aku pun membetulkan letak celana dalam dan celana jeansku, lalu duduk di samping Bu Lies. “Tau gak, kenapa aku gelis metu mau?”
“Kenapa Bu?”
“Karena sejak suamiku meninggal, baru sekarang aku merasakan lagi enaknya rudal. Apalagi sekalinya ketemu rudal yang panjang gede gitu. Ya cepet keluarlah aku.”
“Iya Bu.”
Kemudian kami membicarakan masalah lahan di bukit dan sekitarnya itu. Memang tampak seperti hutan yang tidak terurus. Dan Bu Lies memasrahkan padaku untuk mengelola bukit itu menjadi lahan yang produktif. Jangan sekadar ditumbuhi oleh pohon kayu murahan dan rumput liar belaka.
Aku menyanggupinya. Untuk mengubah bukit dan lahan di sekitar lerengnya, tanpa mengganggu eko system agar tidak terjadi erosi.
Setelah membahas masalah pendayagunaan lahan tidak produktif itu, kami pun pulang lagi.
Di jalan menuju pulang, masih sempat Bu Lies berkata, “Nanti setelah makan malamn, kuncikan dulu pintu kamarmu. Kemudian naik lift ke lantai tiga ya.”
“Iya Bu.”
“Kamu akan menjadi orang kesayanganku Bon. Kamu sudah siap kusayangi sebagai kekasih tercintaku?”
“Siap Bu.”
“Apakah aku cukup memenuhi syarat untuk dijadikan kekasihmu?”
“Sangat memenuhi syarat. Ibu bukan hanya cantik tapi juga seksi. Kebetulan aku memang pengagum wanita setengah baya pula. Jadi… heheheee… kalau Ibu berkenan, dijadikan suami Ibu pun aku mau.”
“Gak usah jauh – jauh dulu mikirnya. Biar bagaimana aku juga tau diri. Usia kita terlalu jauh bedanya. Yang penting kamu bisa selalu memuasi hasrat birahiku, sudah cukup bagiku.”
“Jadi kita menjalin hubungan rahasia aja Bu?”
“Iya. Kata orang hubungan gelap justru lebih nikmat daripada hubungan suami – istri.”
“Hehehee… iya Bu. Hmmm… gak nyangka bintangku bakal bersinar terang di kampung ini Bu.”
“Nanti malam kuat berapa set main sama aku?”
“Mmm… mungkin sampai tiga atau empat kali bisa Bu.”
“Hihihihi… kebayang tempikku bakal keenakan kalau sering dientot sama rudal panjang gedemu Bon.”
“Iya Bu. Aku juga bakal merem melek kalau sering maen sama Ibu. Heheheee…”
“Tapi ingat Bon… kita harus bermain rapi. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan di luaran.”
“Iya Bu.”
“Kamu tidak perlu terlalu fokus pada diriku. Kalau ada cewek yang cocok dengan seleramu, silakan aja mainkan. Yang penting aku tetap dapet jatah minimal tiga kali seminggu.”
“Heheheee… iya Bu… iyaaa…”
“Ohya, kamu bisa nyetir mobil?”
“Bisa Bu.”
“Punya SIM?”
“Punya Bu. SIM C punya, SIM A juga punya.”
“Baguslah kalau begitu. Kapan – kapan kita tour ke daerah wisata yang indah – indah, kamu yang nyetir mobilku ya.”
“Iya Bu. Aku siap nyetir ke mana aja. Mau ke Jabar atau Jatim juga aku sanggup Bu.”
“Baguslah. Soalnya… entah kenapa ya… begitu ketemu sama kamu, aku langsung punya perasaan sayang padamu Bon.”
“Terima kasih Bu. Aku akan berusaha takkan pernah mengecewakan Ibu dalam hal apa pun.”
“Ingat ya… nanti setelah makan malam masuk ke dalam kamarmu. Tutup dan kunci pintu kamarmu. Kemudian pakai lift naik ke lantai tiga, itu langsung ke dalam kamarku.”
“Iya Bu.”
Beberapa saat kemudian kami tiba di rumah megah itu. Bu Lies masuk lewat pintu belakang, sementara aku masuk lewat pintu depan, kemudian masuk ke dalam kamarku.
Memang agak letih juga sehabis jalan kaki naik dan turun dari bukit itu. Tapi aku menyempatkan diri untuk duduk di belakang meja kerjaku, menyalakan komputer dan meneliti line perusahaan Bu Lies. Tentu saja dengan password yang sudah diberikan oleh Bu Lies, sehingga aku bisa membuka situs punya perusahaan Bu Lies.
Dari lalu lintas keuangannya aku mulai bisa menilai betapa besarnya omzet agro bisnis punya Bu Lies itu. Kelak harus aku yang memeriksa dan mengatur semuanya ini.
Dengan kata lain, usaha Bu Lies itu bukan main – main. Meski beliau tinggal di pedesaan begini, omzet harian perusahaannya sudah milyaran. Bukan hitungan juta lagi.
Tiba – tiba terdengar bunyi ketukan di pintu kamarku. Lalu aku membuka pintu itu. Seorang pembantu membungkuk sopan sambil berkata, “Ibu sudah menunggu di ruang makan, untuk makan siang Den.”
“Oh iya. Terima kasih,” sahutku sambil menutupkan pintu dan melangkah menuju ruang makan.
Di ruang makan Bu Lies sudah menungguku. Senyumnya tampak ceria ketika aku sudah menghampirinya di ruang makan yang segalanya serba mewah itu.
Kemudian aku duduk berhadapan dengan Bu Lies, terbatas oleh meja makan.
“Kepada semua pembantu di sini, aku sudah bilang bahwa Bona itu tangan kananku. Orang kepercayaanku. Makanya mereka pasti takut – takut kalau sudah berhadapan denganmu.”
“Iya Bu. Aku memang sudah siap untuk menjadi tangan kanan Ibu,” sahutku.
“Nggak sia – sia aku menunggu kedatanganmu selama berbulan – bulan. Karena ternyata kamu adalah orang yang kuinginkan dalam segala hal, termasuk dalam masalah pribadiku.”
“Iya Bu. Terima kasih atas kepercayaan Ibu padaku. Semoga aku bisa menjaga kepercayaan Ibu sampai kapan pun.”
“Ohya… kamu harus bisa merencanakan gebrakan baru dalam agro bisnis kita Bon. Jangan sekadar mengandalkan yang sudah berjalan saja.”
“Iya Bu. Maaf… apakah Ibu punya izin impor buah – buahan?”
“Oh… belum punya Bon. Kamju bisa mengurus izinnya kan? Memang bagus tuh. Masayarakat perkotaan kan lebih suka makan buah impor. Boleh direncanakan dan dilaksanakan soal impor itu Bon. Senang aku mendengar idemu itu.”
“Iya Bu. Kita bisa sebar buah – buahan impor itu ke setiap kotabesar di Indonesia.”
“Iya, iya iyaaa… kamu sudah mengobarkan semangat baru di hatiku Bon.”
Kemudian kami makan siang bersama. Sambil makan pun aku mengungkapkan beberapa rencana bisnis yang semuanya disetujui oleh Bu Lies. Namun aku tak bisa mengungkapkan jenis bisnisnya secara mendetail, karena termasuk rahasia perusahaan. Yang jelas, semuanya bisnis legal. Bukan bisnis abu – abu, apalagi bisnis hitam.
Menunggu datangnya malam terasa lama sekali. Padahal aku sudah ingin sekali menggemuli tubuh tinggi montok wanita setengah baya itu.
Namun akhirnya tiba juga saatnya selesai makan malam. Kemudian aku masuk ke dalam kamarku. Menutupkan dan mengunci pintu kamar. Mengganti pakaianku dengan baju dan celana piyama. Berkaca sebentar di depan cermin besar yang tergantung di dinding. Kemudian dengan hanya mengenakan sandal jepit, kupijat tombol lift dan masuk ke dalamnya.
Lift pun melesat ke lantai tiga. Ternyata benar. Pintu lift itu langsung menghubungkanku ke kamar Bu Lies.
Bu Lies yang sudah mengenakan kimono sutera putih, menyhambutku dengan senyum hangat. Memegang kedua pergelangan tanganku sambil berkata, “Kita turunkan dulu isi perut sehabis makan malam barusan ya.”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Harum parfum mahal pun mulai tersiar ke penciumanku. Kemudian tanganku diraih, agar duduk berdampingan di atas sofa putih bersih. Ya… kamar Bu Lies ini serba putih bersih. Lagi – lagi aku menemukan bukti, bahwa orang yang tinggal di pedesaan belum tentu suka warna – warni yang norak.
Namun semuanya tidak kuperhatikan lagi setelah Bu Lies memegang tanganku sambil berkata, “Tadi di puncak bukit kamu ora iso ndelok tempikku toh? Nah sekarang lihatlah sepuasmu. Mau diapain juga silakan.”
Bu Lies merentangkan kedua sisi kimono putihnya sehingga aku bisa menyaksikan dengan jelas. Bahwa Bu Lies tidak mengenakan apa – apa lagi di balik kimono putih itu. Sehingga sepasang toket gedenya terbuka penuh. serambi lempitnya pun tampak jelas di mataku. Tembem dan bersih dari jembut, mirip serambi lempit Mbak Artini…
Nafsu birahiku langsung bergejolak. Dan langsung bersila di atas karpet, di antara kedua kaki Bu Lies yang putih mulus… sambil mendekatkan wajahku ke serambi lempit tembem dan bersih dari jembut, yang tampak seperti sedang tersenyum malu – malu itu…!
Tanpa ragu lagi kuciumi tempik alias serambi lempit alias heunceut alias pepek alias puki alias ketut Bu Lies itu…!
Bu Lies malah mengusap – usap rambutku sambil berkata, “Mau dijilatin juga boleh. Jilatinlah tempikku sepuasmu Bon.”
Bicara begitu Bu Lies sambil memajukan letak bokongnya, sehingga tempik bersih dan tembem itu mendekati mulutku. Maka tanpa basa – basi lagi kungangakan mulut tempik Bu Lies dengan kedua tanganku. Sehingga bagian yang berwarna pink itu terbuka lebar. Bagian itulah yang lalu kujilati dengan lahap. Harum parfum mahal pun semakin tersiar ke penciumanku.
Mungkin sekujur tubuh Bu Lies selalu diharumkan oleh parfum itu. Sehingga tempiknya pun menyiarkan harumnya parfum mahal itu. Ini membuatku semakin bergairah untuk menjilati bagian yang berwarna pink itu. Sementara jempol kiriku mulai menggesek – gesek itilnya yang tampak menonjol “mancung”.
“Booon… oooo… oooohhhh… Booooon… aku makin sayang sama kamu Boooon… sayang sekali Booon… ooooohhhhhh… ooooohhhhh… aku sayang kamu Booon… sayaaaang kaaamuuuu… oooo… oooooooohhhhh… Booonaaaaa… “desahan dan rintihan Bu Lies mulai berhamburan dari mulutnya.
Bahkan beberapa saat kemudian Bu Lies seperti tak kuasa lagi menahan nafsunya. Ia mengusap – usap rambutku sambil berkata terengah, “Suuu… suuudah Booon… ayo kita lanjutkan di bed aja… biar nyaman… udah Booon… aku udah horny berat niiih…”
Kuikuti saja keinginan Bu Lies. Kujauhkan mulutku dari tempiknya, lalu bangkit berdiri dan mengikuti langkah Bu Lies menuju bednya yang serba putih bersih itu.
Di dekat bed itu Bu Lies menanggalkan kimononya. Aku pun cepat menanggalkan baju dan celana piyamakiu. Dan langsung telanjang, karena sengaja aku tidak mengenakan celana dalam sebelum naik ke lantai tiga ini.
Kemudian aku merayap ke atas perut Bu Lies sambil memegangi rudalku yang sudah ngaceng berat ini. Bu Lies pun ikut memegangi leher rudalku dan mencolek – colekkan moncongnya ke mulut tempiknya yang sudah basah oleh air liurku. Kemjudian ia mengedipkan matanya sebagai isyarat agar aku mendorong rudal ngacengku.
Maka kudesakkan rudalku sekuat tenaga. Dan membenam sedikit demi sedikit ke dalam liang serambi lempit Bu Lies… blessssssss… hmmmm… tadi di puncak bukit itu aku tidak begitu merasakan nikmatnya bersetubuh dengan majikanku yang bertubuh tinggi montok dengan bokong dan toket serba gede ini. Tapi sekarang aku benar – benar merasakan enaknya ketika rudalku sudah terbenam seluruhnya ke dalam liang tempik Bu Lies.
Bu Lies pun mengerang histeris, “Sudah masuuuuk semuaaaaa Booon… ooooh… rudalmu memang gede dan panjang banget. Ini sampai mentok di dasar liang tempikku Booon…”
Aku pun mulai mengayun rudalku perlahan – lahan. Dan terasa sekali legitnya liang serambi lempit Bu Lies ini. Sehingga aku pun berkata terengah, “Ta… tadi waktu di bukit… belum terasa enaknya tempik Ibu ini. Ta… tapi sekarang terasa benar… serambi lempit Ibu sangat legit… pasti bakal bikin aku ketagihan kelak…
“Kapan pun kamu mau ngentoit aku, tinggal naik aja ke lantai tiga ini. Kecuali kalau aku lagi datang bulan, pasti harus istirahat dulu,” sahut Bu Lies sambil merangkul leherku ke dalam pelukannya. Kemudian menciumi bibirku dengan lahapnya. Disusul dengan bisikan, “Ayoooo… entotlah aku sepuasmu Bona Sayaaaang …
Tanpa banyak bicara lagi, kupercepat gerakan rudalku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit yang terasa licin tapi legit ini.
Bu Lies pun mulai merintih – rintih histeris, “Aaaaa… aaaaaaah… Booonaaaa… aaaaaah… rudalmu memang luar biasa enaknya Booon… iyaaaaa… iyaaaaa… entot teruuussss booon… entoootttt teruuuusssss… iyaaaa… iyaaaaa… entooootttttttt… entoooooooootttttt… sambil emut pentil tetekku Booon…
Kiyaaaaa… luar biasa enaknya rudalmu ini Booon… aku sudah dua kali menikah… tapi baru sekali ini merasakan enaknya dientooootttt… aaaaa… aaaaaaah… Boooonaaaaa… Booonnnaaaaaa… enaaaak sekali Booon… entoooottttt… entoooottttttt… iyaaaaaaaaa… entoooottttt …
Dalam keadaan seperti ini, aku mulai menyadari salah satu kelebihan perempuan berbokong gede. Ketika aku mulai gencar memenyetubuhi Bu Lies, biji pelerku sama sekali tidak menyentuh kain seprai. Hanya terombang – ambing di depan serambi lempit Bu Lies saja. Ini karena saking gedenya pantat Bu Lies, sehingga pada waktu menelentang, serambi lempitnya berada kurang lebih sejengkal dari kain seprai.
Sementara itu aku pun teringat ucapan para pakar seksuologi. Bahwa dalam hubungan sex itu harus ada “take and give” (menerima dan memberi). Jadi kaum lelaki pun jangan hanya ingin merasakan enaknya saja serambi lempit pasangannya, tapi juga harus berusaha memberi kenikmatan pada pasangannya itu.
Itulah sebabnya, ketika sedang gencar – gencarnya memenyetubuhi tempik Bu Lies, aku pun bukan hanya mengemut dan meremas toket gedenya. Aku pun berusaha “menyempurnakan”nya dengan jilatan – jilatan lahap di lehernya, disertai dengan gigitan – gigitan kecil.
Karuan saja Bu Lies jadi merem melek dibuatnya. Bahkan pada suatu saat jilatanku beralih ke ketiaknya yang tercium harum parfum juga. Maka rintihan – rintihan Bu Lies pun semakin menjadi – jadi dibuatnya, “Booonnnaaaa… oooo… oooooh… Boooon… kamu sangat pandai membuatku keenakaaaaan… iyaaaaaa…
Iyaaaa… entot terus Booon… rudalmu luar biasa enaknya Booonaaaa… entooot teruuuussss… entoooott… sambil jilatin dan gigit – gigit ketekku juga Booon… aaaaaah… ini luar biasa enaknyaaaaaa… luar biaaasaaaaaa… entooot teruuuussss… entoooottttt… entoooottttt… Boooonaaaaaa…
Aku sengaja ingin memperlihatkan keperkasaanku, supaya Bu Lies ketagihan, ingin dientot terus olehku kelak.
Sudah dua kali Bu Lies orgasme. Tapi rudalku masih tangguh. Masih memompa liang serambi lempit legitnya Bu Lies.
Padahal keringatku mulai membasahi tubuhku. Keringat Bu Lies juga sama, tampak membasahi tubuhnya di sana – sini.
Sampai pada suatu saat, Bu Lies berkelojotan sambil mengerang, “Aku mau lepas lagi Bon… bisa dibarengin nggak?”
“Mudah – mudahan bisa Bu,” sahutku sambil mempercepat entotanku. Sambil menyedot – nyedot pentil toket gedenya.
Dan Bu Lies mulai berkelojotan… kemudian mengejang tegang dengan perut agak terangkat ke atas.
Pada saat itulah aku pun menancapkan rudalku di dalam liang serambi lempit Bu Lies. Moncong rudalku sampai menabrak dan mentok di dasar liang tempik wanita setengah baya itu. Lalu liang sanggama Bu Lies terasa berkedut – kedut kencang, diikuti dengan gerakan spontan yang seperti spiral… laksana meremas dan memilin rudalku yang tengah meletuskan lendir kenikmatanku.
Crooot… cooootttt… crooooootttt…
Crooooootttttt… crooooooooottttt… crooootttt…!
Aku menggelepar, lalu terkulai di atas perut Bu Lies.
Bu Lies pun terkulai. Namun sesaat kemudian dia mencium bibirku dengan lahapnya, disusul dengan bisikannya di dekat telingaku, “Terima kasih ya Sayang. Kamu telah memberikan sesuatu yang sangat berarti bagiku. Ini takkan kulupakan sampai kapan pun.”
“Ibu juga telah memberikan sesuatu yang sangat berarti bagiku. Punya panjenengan luar biasa enaknya,” sahutku.
Kemudian kucabut rudalku dari dalam liang tempik Bu Lies.
Bu Lies pun duduk, lalu turun dari bed, “Ayo kalau mau bersih – bersih di kamar mandi, “ajaknya.
Aku pun mengikuti langkah Bu Lies masuk ke dalam kamar mandi pribadinya.
Begitu berada di dalam kamar mandi, Bu Lies langsung duduk di atas kloset. Dan aku berjongkok di depan kloset itu.
“Heh… mau apa kamu malah jongkok di situ Bon?” tanya Bu Lies.
“Pengen liat punya Ibu seperti apa kalau sedang kencing… hehehee…”
“Hihihiiii… ada – ada aja. Iya liatin deh. Sekalian cebokin setelah aku kencing ntar ya.”
“Iya Bu. Mau kok aku nyebokin Ibu.”
“Mau nyebokin apa mau megang – megang tempikku?”
“Hehehee… mau dua – duanya Bu,” sahutku sambil menarik shower dan siap – siap untuk menceboki Bu Lies.
Lalu terdengar bunyi kencing Bu Lies di dalam kloset. Sweerrrr… kecewesssss kecewessss …
Aku pun langsung mendekatkan shower ke tempik Bu Lies, sementara tangan satunya lagi siap untuk menceboki serambi lempit bu boss.
“Baru sekali ini aku ngalami dicebokin sama orang lain. Bona… Bona… kamu mulai jadi tangan kananku luar dalam.”
“Iya. Ibu juga mulai jadi atasan luar dalam.”
Bu Lies bangkit dari kloset, sementara aku justru baru mulai kencing. Kemudian kubasuh rudalku yang masih berlepotan lendir. Pada saat itulah Bu Lies memelukku dari belakang. Sambil berbisik, “Masih kuat main berapa kali lagi?”
“Mungkin tiga kali lagi juga masih kuat Bu. Soalnya p;unya Ibu luar biasa legitnya.”
“Hihihiiii… begitu ya?”
“Iya Bu. Luar biasa enaknya.”
Bu Lies menjawab dengan bisikan di dekat telingaku, “rudalmu juga luar biasa enaknya Sayang.”
Kemudian kami keluar dari kamar mandi, menuju bed kembali. Di situlah Bu Lies meremas – remas rudalku dengan lembut sambil berkata, “Kalau anak muda sih dipegang dan diremas – remas begini juga pasti bisa tegang lagi. Naaaah… sudah ngaceng lagi nih Bon.”
“Iya… mau dilanjutkan Bu?” tanyaku.
“Ayooo… ganti posisi ya. Sekarang main posisi doggy. “Bu Lies menungging di atas bed, sambil menepuk – nepuk bokong gedenya.
Dan… begitulah. Kami bersetubuh lagi dalam posisi doggy.
Tak cuma itu. Setelah malam makin larut, kami bersetubuh lagi untuk ketiga kalinya. Kali ini main posisi WOT. Bu Lies main di atas, aku main di bawah.
Dan aku seolah ingin memperlihatkan keperkasaanku, agar Bu Lies merasa sangat membutuhkanku untuk pemuas nafsu birahinya.
Menjelang subuh, aku menyetubuhi Bu Lies lagi untuk keempat kalinya. Kali ini kembali ke posisi missionary. Aku di atas, Bu Lies di bawah.
Hari demi hari kulalui dengan penuh gairah. Bukan sekadar gairah kerja, tapi juga gairah sex. Karena hari – hari yang kulewati selalu ditemani oleh sex.
Bu Lies pun semakin baik padaku. Transfer demi transfer mengalir ke buku rekening tabunganku. Kalau dihitung secara kasar, saldo rekening tabunganku sudah bisa dipakai untuk membeli mobil baru. Tapi untuk apa beli mobil? Bukankah keenam mobil mahal Bu Lies yang tersimpan di garasi bisa kupakai kapan dan ke mana saja?
Pada suatu hari…
Ketika aku sedang berdiri di halaman rumah Bu Lies, sambil mengamati lucunya ikan – ikan koi berenang di kolam hias, seorang wanita setengah baya bergaun batik tampak menghampiriku, diantarkan oleh seorang satpam.
Setelah dekat dan jelas, aku terkejut karena wanita bergaun batik itu adalah Mama…!
“Bona…! “seru Mama sambil merentangkan kedua tangannya.
“Mama…! “aku pun menghambur ke dalam pelukannya.
Kami cipika – cipiki sambil berpelukan.
Lalu Mama kubawa masuk, langsung ke dalam kamarku.
“Barusan pakai apa Mama ke sini?” tanyaku setelah mengajak Mama duduk berdampingan di atas sofa yang tak jauh dari bedku.
“Pakai ojek. Dari Subang sih pakai Bus. Turun di Solo. Dari Solo pakai ojek ke sini.”
“Capek sekali dong Mama,” ucapku sambil meremas – remas tangan Mama.
“Memang capek sekali Sayang. Tapi karena ada sesuatu yang sangat penting, mama lupain rasa capeknya. Mama ini sedang hamil Sayang.”
“Hamil? Sudah berapa bulan hamilnya?”
“Baru tiga bulan. Belum kelihatan gede ya perut mama?”
“Belum”
“Kamu maskih ingat kan waktu mama ke Jogja dan memadu birahi sama kamu itu tiga bulan yang lalu kan?”
“Ja… jadi… yang di dalam perut Mama itu anakku?”
“Ya iyalah. Anak siapa lagi?”
“Terus kalau ketahuan sama Papa gimana?”
“Mama sudah cerai sama Papa. Vonis di pengadilan baru diputuskan seminggu yang lalu. Jadi… biarin aja Papa tau mama hamil juga gak apa – apa. Karena mama bukan istri dia lagi. Ohya… rumah bossmu ini megah sekali Bon. Kayak istana aja ini sih.”
“Iya Mam. Kebetulan majikanku sangat baik padaku. Dan…”
Belum selesai aku bicara, tiba – tiba terdengar suara Bu Lies di ambang pintu yang tidak kututupkan, “Ada tamu Bon?”
Mama menoleh ke arah Bu Lies yang masih berdiri di ambang pintu. Lalu Mama berseru, “Ini Lies?!”
Bu Lies menghampiri Mama. Dan terbelalak sambil berseru, “Maryani?!”
“Iya Lies… ya Tuhaaan… kita bisa berjumpa lagi setelah lebih dari duapuluh tahun berpisah yaaa?”
“Yani… Yani… gak nyangka kita bisa berjumpa lagi…” ucap Bu Lies sambil mengajak Mama duduk berdampingan di sofa, sementara aku cuma berdiri heran dan bingung. Karena tak mengira kalau Bu Lies kenal sama Mama.
“Syukurlah kamu sekarang sudah sukses begini Lies… kamu majikannya Bona kan?”
“Iya,” sahut Bu Lies, “Panjang ceritanya Yan. Waktu itu aku nekad jadi TKW di Hongkong. Gak taunya aku ditaksir sama orang Indonesia yang sukses di Hongkong. Dia duda aku janda, ya kawinlah kami di Hongkong. Suamiku itu luar biasa tajirnya. Dia dianggap big boss di Hongkong juga. Tapi usianya sudah tua.
Setelah sepuluh tahun kami hidup bersama di Hongkong, akhirnya suamiku mengajak pulang ke Indonesia. Maklum usianya mulai tergolong udzur. Gak taunya setelah berada di tanah air dia jadi sakit – sakitan. Dan akhirnya meninggal sekitar lima tahun yang lalu. Almarhum menitipkan surat wasiat pada penasehat hukumnya.
“Jadi sekarang kamu melanjutkan usaha yang sudah dirintis oleh almarhum suamimu?” tanya Mama.
“Iya. Kalau gak ada peninggalan almarhum, bagaimana bisa aku seperti sekarang ini.”
“Punya anak berapa dari almarhum suamimu itu?”
“Nggak punya. Dia yang mandul Yan. Ohya… bagaimana dengan Fajar? Apakah dia sehat – sehat aja?”
Mama berdiri dan menghampiriku. Lalu memegang bahuku sambil berkata, “Ini Fajar Lies…”
“Haaa? Bona ini Fajar?!” Bu Lies tampak kaget sekali.
“Iya. Ini Fajar… anak kandungmu Lies,” kata Mama yang lalu menoleh padaku sambil berkata, “Bersujudlah di kaki ibu kandungmu Sayang…”
“Ja… jadi?” cetusku bingung dan kaget.
“Bu Lies ini adalah ibu kandungmu Sayang. Waktu kamu masih kecil sekali, hidupnya sengsara sekali. Lalu dia nekad untuk menjadi TKW di Hongkong. Dan kamu diberikan pada mama dengan perjanjian bahwa dia takkan mengganggu gugat dirimu di kemudian hari. Tapi sekarang keadaan ibumu sudah berubah jadi orang sukses.
Aku manjut saja pada suruhan Mama. Lalu berlutut di depan Bu Lies yang ternyata ibu kandungku itu. Kemudian kuciumi kakinya sambil bercucuran air mata. Karena aku sangat sedih menghadapi kenyataan ini. Bagaimana tidak, wanita yang terus – terusan kusetubuhi itu ternyata ibu kandungku…!
Secara gamblang Bu Lies yang ternyata ibu kandungku itu menceritakan asal – usulku yang sebenarnya. Bahwa ayahku bukan lelaki yang bertanggung jawab. Ketika Bu Lies hamil tua, malah minggat dengan seorang cewek muda belia. Dahulu Bu Lies dan Mama tetangga dekat dan masih sama – sama tinggal di Jogja.
Karena itu Bu Lies menyandarkan hidup kepada Mama. Saat itu Mama memang bukan orang tajir, tapi kehidupannya jauh lebih baik daripada Bu Lies. Maka terjadilah perjanjian, bahwa kalau bayinya sudah lahir akan diberikan kepada Mama. Tapi biaya melahirkan dan makan sehari – hari Bu Lies ditanggung oleh Mama.
Lalu lahirlah bayi itu yang lalu diberi nama Fajar oleh Bu Lies. Mama senang sekali karena belum punya anak laki – laki, Mama meminta agar Fajar tetap disusui oleh Bu Lies. Sementara diam – diam Bu Lies mendaftarkan diri untuk menjadi TKW di Hongkong, yang kata orang – orang gede gajinya itu. Bu Lies pun terbang ke Hongkong yang dibiayai oleh yayasan yang biasa merekrut para TKW untuk bekerja di luar negeri.
Setelah setahun tinggal di Hongkong, Bu Lies berjumpa dengan seorang pengusaha asal Indonesia yang sudah sukses di Hongkong. Kebetulan pengusaha asal Indonesia itu baru ditinggal mati oleh istrinya.
Kebetulan pula Bu Lies di masa mudanya memang cantik. Pengusaha tajir melilit itu pun jatuh cinta kepada Bu Lies.
Tanpa memandang usia yang berbeda jauh, Bu Lies pun menerima lamaran pengusaha itu. Lalu mereka menikah di Hongkong. Dan tetap tinggal di sana dengan status yang berbeda. Bu Lies bukan TKW lagi, melainkan sudah jadi istri seorang pengusaha besar.
Sepuluh tahun kemudian, suami Bu Lies mengajak pulang ke Indonesia, karena usianya sudah tua sekali dan tidak sanggup mengembangkan usahanya lagi di Hongkong. Katakanlah dia sudah ingin pensiun dari dunia bisnis. Namun simpanannya di bank sangat banyak. Tanahnya pun di pulau Jawa banyak. Ada yang di Jabar, Jateng dan Jatim.
Setelah berada di tanah air, suami Bu Lies yang sudah tua renta itu pun jadi sering sakit. Dan akhirnya meninggal dunia lima tahun yang lalu. Atas dasar surat wasiat yang ditinggalkan oleh almarhum suami Bu Lies, semua harta dan simpanannya di bank diwariskan kepada Bu Lies semua.
“Begitulah ceritanya,” kata Bu Lies di akhir penuturannya, “Memang setelah berada di tanah air, aku sering ingat pada anakku. Tapi aku ingin jadi orang yang teguh pada perjanjian. Karena pada saat aku memberikan dirimu kepada wanita baik yang jadi Mama angkatmu ini aku sudah menandatangani perjanjian.
Bu Lies yang ternyata ibu kandungku itu menbghela nafas panjang. Lalu melanjutkan, “Untungnya wanita yang kamu panggil Mama ini bijaksana orangnya. Kalau tadi dia tutup mulut, aku takkan menyangka kalau Fajar itu kamu Bon. Aku sangat menghargai kebijaksanaan mamamu ini. Sehingga aku bisa ditertemukan dengan satu – satunya anak kandungku, yakni kamu Bona.
Mama menjawab lirih, “Aku sangat menyayangi Bona laksana sayangnya ibu kepada anak kandungnya. Tapi hubungan darah di antara kalian berdua tak boleh diputuskan begitu saja. Jadi begini saja… Bona tetap manggil Mama padaku, lalu kepada Lies mungkin bagusnya manggil Mamie, supaya tidak tertukar – tukar ya.
“Iya… iyaaa… aku setuju itu,” sahut Bu Lies yang mulai saat ini harus kupanggil Mamie itu.
“Jadi Bona tetap boleh menganggapku mamanya, tapi dia juga haruis menerima bahwa Lies itu mamie kandungnya. Tentang di mana Bona mau tinggal, bebas sajalah. Mau ke rumahku di Subang… pintu rumahku tetap terbuka sampai kapan pun buat Bona. Mau tinggal di sini apalagi, karena dia punya pekerjaan pula di sini kan?
Mamie memegang bahuku sambil bertanya lembut, “Keinginan Bona sendiri bagaimana?”
Spontan kujawab, “Pokoknya aku sayang keduanya, baik kepada Mama mau pun kepada Mamie. Malah semakin menyenangkan karena mulai saat ini aku jadi punya ibu dua orang. Heheheee…”
“Iya… kami berdua sayang kamu Bon,” kata Mamie alias Bu Lies, “Ohya… sekarang Yani mau nginep di sini kan?” Mamie menatap ke arah Mama.
“Sayang sekali… sekarang sih aku gak bisa nginap Lies. Kapan – kapan deh aku sengaja nginap di sini, biar kita bisa ngobrol panjang lebar.”
“Memangnya ke Subang mau naek apa?” tanya Mamie.
“Dari Solo ada bus yang lewat Subang Lies.”
“Mmmm… begini aja,” kata Mamie, “Sekarang anterin Mama ke Subang, ya Bon.”
“Iya Bu, eh Mamie,” sahutku.
“Waduh… dari sini ke Subang itu jauh sekali Lies.”
“Nggak apa – apa. Yang penting Bonanya sanggup kan?” Mamie menoleh padaku.
“Sanggup Mamie.”
“Sebentar… aku mau ngomong dulu sama Bona ya Yan,” kata Mamie.
“Silakan,” sahut Mama.
Lalu Mamie memijat tombol lift sambil memegang pergelangan tanganku. Pintu lift terbuka, aku dan Mamie masuk ke dalamnya. Kemudian lift itu bergerak ke lantai tiga.
Di kamarnya Mamie memegang kedua tanganku sambil berkata, “Ternyata kita ini ibu dan anak kandung Sayang.”
“Iya Mam. Aku kaget sekali mendengar semuanya ini. Sedangkan kita sudah melangkah begitu jauh. Bagaimana ke depannya nanti?”
Mamie ma;lah mencium bibirku. Lalu berkata setengah berbisik, “Takdir juga yang membuat kita harus seperti ini. Biarin aja. Kita lanjutkan aja hubungan rahasia kita. Kamu masih mau melanjutkannya nggak?”
“Mau Mam. Sudah telanjur jauh sih.”
“Bagus. Mamie juga udah telanjur jatuh cinta padamu Sayang. Biarlah kita lanjutkan aja. Tapi awas… Mama jangan sampai tau ya.”
“Iya Mamie.”
“Sekarang antarkan dulu Mama pulang gih. Mumpung masih siang. Pilihlah mobil mana yang mau kamu pakai. Ingat… sekarang semua yang kumiliki adalah milikmu juga, karena kamu satu – satunya anak kandungku.”
“Iya Mam. Tapi Mamie masih bisa hamil kan?”
“Bisalah. Selama belum menopause, berarti perewmpuan itu masih bisa hamil.”
“Lalu kalau Mamie hamil olehku nanti gimana?”
“Justru itu yang mau kubicarakan denganmu. Tapi besok aja setelah kamu pulang dari Subang, kita bicarakan lagi semuanya secara matang yaaa. Mmm… Bona… Bona… ternyata kamu ini anak kandungku… tapi aku telanjur jatuh cinta padamu mmmmmwuaaaaah… “Mamie mencium bibirku. Lalu mengeluarkan dua gepok uang seratusribuan dari brankas.
Diserahkannya uang itu padaku sambil berkata, “Yang seikat kasihkan sama Mama, yang seikat lagi untuk membeli pertamax dan makan di jalan.”
“Iya Mam. Terima kasih. Tapi Mam… masih ada yang kuinginkan,” kataku sambil menyingkapkan daster Mamie, “Pengen megang tempik Mamie dulu ah…”
Mamie melotot, tapi lalu menahan tawanya. Dan dibiarkannya saja kurayapkan tanganku kebvalik celana dalamnya, lalu mengelus – elus tempiknya sebentar.
Kemudian kukeluarkan lagi tanganku dari balik celana dalam Mamie. “Aku pamit dulu ya Mam,” ucapku setelah mencium bibir Mamie dengan kehangatanku.
“Iya… ati – ati di jalan ya Sayang. Gak usah ngebut.”
“Iya Mamie Sayang.”
Kemudian aku dan Mamie masuk ke dalam lift dan turun ke kamarku lagi, di mana Mama masih duduk di sofa kamarku.
“Ayo Mam… sekarang aja pulangnya mumpung masih siang?“tanyaku sambil menyerahkan seikat uang pemberian Mamie, “Ini dari Mamie,” kataku.
“Iiih banyak banget Lies?!”
“Ah ala kadarnya aja Yan. Mohon maaf gak disuguhin makan. Tapi Bona udah dikasih duit tuh buat makan di jalan.”
“Iya, terima kasih ya Lies. Kapan mau maen ke Subang? Aku udah bubar sama suamiku lho.”
“Ohya?! Kenapa?”
“Biasa penyakit laki – laki. Maen gila mulu sama cewek yang jauh lebih muda daripada aku.”
“Begitu ya?! Gak ada mendingnya. Aku pilih yang jauh lebih tua, biar udah kenyang maen perempuan. Tapi ya gitu… gak ditinggal maen gila sama cewek, tapi ditinggal mati Yan.”
“Gak apa – apa. Kita jalanin aja suratan takdir kita masing – masing.”
“Iya, iyaaaa… semoga perjalanannya lancar ya Yan.”
“Iya Lies. Aku pamit ya,” kata Mama sambil cipika – cipiki dengan Mamie.
Beberapa saat kemudian Mama sudah duduk di samping kiriku, dalam sedan Mamie yang sudah kujalankan menuju Solo, kemudian memutar menuju Jogja.
“Bagaimana perasaanmu sekarangf? Bingung atau gimana?” tanya Mama.
“Malah jadi plong. Karena Mama bukan ibu kandungku. Jadi aku bebas melakukan apa pun dengan Mama sekarang kan?”
“Iya. Hihihiiii… pikiranmu kok malah sama dengan pikiran mama.”
“Berarti Mama juga kangen entotanku lagi kan?”
“Iyaaa… lagi hamil gini mama malah pengen begituan mulu.”
“Kalau gitu kita cek in aja di Jogja… di hotel yang kita pakai dahulu itu Mam. Hitung – hitung nostalgia.”
“Iya. Hotel itu sangat bersejarah bagi kita ya.”
“Mmm… Mbak Weni, Mbak Rina dan Mbak Lidya pada tau gak kalau aku ini bukan anak kandung Mama?”
“Nggak ada yang tau. Kan waktu kamu mama terima dari Mamie, mereka masih kecil – kecil. Weni juga baru berumur tiga tahun. Belum ngerti apa – apa.”
“Kalau sudah terbuka gini, apakah mereka bakal dikasihtau atau nggak?”
“Kasihtau aja. Gak apa – apa. Toh hubunganmu dengan mereka bakal tetap baik.”
“Iya. Aku akan tetap menganggap mereka saudara – saudaraku,” sahutku dengan pikiran melayang – layang. Teringat apa yang sudah kulakukan dengan Mbak Weni, dengan Mbak Rina dan Mbak Lidya. Sedan built up Jerman yang kukemudikan ini pun meluncur terus ke arah Jogjakarta.
Bersambung… Setibanya di hotel yang bersejarah bagiku dan bagi Mama, kami mendapatkan kamar paling belakang. Dan gairahku tak terkendalikan lagi. Mungkin karena aku sudah tahu bahwa Mama itu bukan ibu kandungku. Selain daripada itu Mama sedang hamkil, membuatku penuh kepenasaranan. Seperti apa serambi lempit wanita yang sedang hamil itu.
Mama pun tampaknya sudah kangen sekali padaku. Begitu masuk ke dalam kamar hotel, Mama merangkul leherku ke dalam pelukannya. Lalu mencium dan melumat bibirku dengan hangatnya.
Sambil menanggalkan gaun batiknya, Lalu Mama berkata, “Kamu mama urus sejak bayi dengan penuh kasihsayang Bon. Mama sayang sekali padamu, laksana sayangnya seorang ibu kepada anak kandungnya. Tapi sejak kita melakukan semuanya di dalam hotel ini, pandanganku padamu jadi berubah. Laksana memandang seorang pangeran yang datang untuk mengobati luka di hati mama.
“Aku juga sama Mam. Dan sekarang, setelah aku tau Mama bukan ibu kandungku, aku jadi semakin bergairah lagi… terlebvih – lebih setelah mendengar Mama sedang hamil… hihihiiiii… jadi gemes… ingin melihat dan merasakan serambi lempit wanita hamil…”
“Jadi biarkan aja janin di perutku ini tetap tumbuh dan membesar nanti?” tanya Mama sambil melepaskan beha dan celana dalamnya.
“Biarkan saja Mam. Biar nanti aku yang membiayai semuanya. Sekarang statusku kan sudah jelas, sebagai anak tunggal seorang wanita yang berada.”
“Nanti kalau Rina dan Lidya tau, gimana ya?”
“Biarin aja. Kalau perlu, kuhamili juga mereka nanti. Supaya tidak ada yang complain pada kehamilan Mama.”
“Hihihiiii… jadi rame dong rumah di Subang nanti. Ada tiga bayi lahir ke dunia. Memangnya kamu bisa memperlakukan mereka sekehendak hatimu?”
Sambil mengusap – usap perut Mama yang belum kelihatan buncit, aku menyahut, “Bisa Mam. Tapi tentu saja aku takkan sewenang – wenang pada Mbak Rina dan Mbak Lidya. Yang jelas, pada waktu aku diwisuda itu kan mereka datang ke sini.”
“Iya, memang mama yang nyuruh mereka datang untuk menghadiri wisudamu.”
“Nah… mereka ingin merasakan seperti apa rasanya bersetubuh itu. Lalu mereka menyerahkan keperawanan mereka padaku. Tapi jangan marahi mereka nanti ya Mam. Kalau Mama marahi mereka, bisa – bisa minggat mereka nanti dari rumah.”
“Owh… begitu? Mmmm… mama mau pura – pura tidak tau aja soal itu sih.”
“Itu lebih baik Mam. Tapi pada saat itu mereka sudah menyiapkan pil anti hamil segala. Makanya kalau aku mau menghamili mereka, aku akan melarang mereka memakai pil anti hamil lagi.”
“Menurut mama sih, ide menghamili mereka itu kurang tepat Bon. Kalau masalah mama hamil nanti, mama akan berusaha membuat mereka bisa menerima kenyataan ini. Bahwa mereka akan punya adik baru… anakmu ini,” kata Mama sambil mengusap – usap perutnya.
“Iya… makanya nanti Mama jelaskan saja, bahwa aku ini bukan anak Mama. Dan kita sengaja melakukan hubungan badan, sebagai balas dendam kepada Papa yang main gila terus,” ucapku sambil menggerayangi serambi lempit Mama yang selalu membangkitkan kerinduanku.
Aku mengangguk sambil menjauhkan tanganku dari serambi lempit Mama. Kemudian kutanggalkan seluruh benda yang melekat di tubuhku, sampai telanjang bulat seperti Mama.
Lalu aku naik ke atas bed di mana Mama sudah celentang sambil merenggangkan kedua belah pahanya. Tadinya aku ingin mulai dengan menjilati serambi lempitnya yang selalu menggiurkan itu… tembem dan agak ternganga, dengan jengger membuka ke luar pula.
Tapi Mama berkata, “Jangan pake jilat – jilatan serambi lempit segala. Ini udah basah sekali Sayang. Belakangan ini serambi lempit mama memang sering basah, sambil membayangkan dientot sama kamu lagi. Masukkan aja rudalmu langsung Bona Sayang…”
Mendengar ucapan Mama seperti itu, aku pun mengikuti keinginannya. Langsung aku tengkurap sambil mengarahkan moncong rudalku ke mulut tempik Mama. Dan… benar saja. Begitu kudorong rudalku, langsung masuk sekujurnya ke dalam liang serambi lempit Mama tercintaku.
“Tuh kan… langsung ambles semua…” ucap Mama sambil merengkuh leherku ke dalam pelukannya.
“Gak apa – apa perutku menghimpit perut Mama begini?”
“Nggak apa – apa. Masih kecil kok perutnya. Nanti kalau perut mama sudah buncit, tanganmu harus menahan agar perutmu tidak terlalu menghimpit perut mama. Ayo entotin rudalmu Sayang.”
Aku pun mulai memenyetubuhi seperti yang Mama inginkan. Memang becek liang serambi lempit Mama kali ini. Tapi hal ini justru membangkitkan gairahku untuk melampiaskan kekangenanku kepada Mama yang telah merawatku dari bayi hingga dewasa. Bahkan aku sendiri yang dikuliahkan sampai S1. Sementara anak – anak kandungnya sendiri (Mbak Rina dan Mbak Lidya) hanya memiliki ijazah D3.
Karena itu aku ingin sekali membalas kebaikan Mama itu dengan apa pun yang bisa kulakukan.
Mama pun tampak sangat enjoy dengan aksiku kali ini. Mulutku terus – terusan disumpal dengan lumatan hangatnya yang seolah ingin melekatklan bibirnya ke bibirku selama persetubuhan ini berlangsung.
“Bon… kenapa ya kali ini mama merasa lebih enak disetubuhi olehmu? Nih… niiiih… niiiih Booooon… ini mama udah mau lepas Boon… “desis Mama yang sedang merapatkan pipinya ke pipiku.
Lalu Mama berkelojotan. Entotanku pun sengaja kupercepat, untuk menanggapi situasi seperti ini.
“Booonaaaa… aaaaaa… “mulut Mama ternganga. Nafasnya tertahan. Sekujur tubuhnya mengejang. Perutnya agak terangkat. Dan kubiarkan rudalku menancap di dalam liang sanggama Mama. Liang yang lalu terasa berkedut – kedut kencang. Disusul dengan hembusan nafas Mama, “Aaaaaaaah… luar biasa nikmatnya Boooon…
Kutatap wajah cantik Mama yang tampak memancarkan sinarnya yang begitu cemerlang.
“Kok cepat sekali lepasnya Mam?” tanyaku sambil mengusap – usap dahi Mama yang keringatan.
Mama menyahut, “Karena Mama terlalu kangen padamu Sayang. Jadi… entotanmu terasa nikmat sekali. Makanya mama gak bisa bertahan lama. Jangan digerakkan dulu rudalmu ya. Mama ingin menghayati keindahan yang barusan mama rasakan.”
“Iya… santai aja Mam,” sahutku sambil memperhatikan handphoneku di atas meja kecil di samping bed yang tengah kupakai menyetubuhi ibu angkatku ini. Aku berusahamenjangkaunya. Dan berhasil.
Ternyata ada WA dari… Mbak Artini alias tanteku…!
Kubuka WAnya. Isinya singkat sekali*-Sayang… aku kangen sekali padamu Yang… -*
Aku tercenung sesaat. Lalu meletakkan hapeku di bawah bantal. Tanpa kubalas.
Padahal aku sedang berada di Jogja. Kalau aku mau, dalam tempo 15 menit pun aku sudah bisa tiba di rumah Tante Artini. Memang aku harus memprioritaskan wanita yang satu itu. Karena biar bagaimana, akulah yang telah merenggut keperawanannya.
Tapi dia itu adik kandung Mamie. Berarti dia itu tanteku sendiri.
Lalu apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menghentikan hubungan rahasiaku dengan ibu kos yang sudah begitu mencintaiku?
Tidak.
Secara moral aku harus menghentikan hubunganku dengannya. Tapi secara kemanusiaan, aku tak boleh mencampakkannya begitu saja. Aku harus berusaha untuk tetap membahagiakannya. Tapi bagaimana kalau Mamie tahu bahwa aku punya hubungan dengan Mbak Artini? Apakah Mamie takkan marah?
Akhirnya aku mengayun kembali rudalku dengan gerakan yang lumayan cepat. Dan berusaha untuk membuat Mama orgasme lagi. Lalu aku akan berpura – pura ejakulasi pada saat dia orgasme nanti. Agar dia mengira telah terjadi pencapaian puncak kenikmatan secara berbarengan. Kemudian aku akan berpura – puramau ke rumah temanku dulu karena ada urusan “penting”.
Booon… oooh… Boooon… ini sudha mulai enak lagi Saayaaaang… iyaaaa… iyaaaa. entot terus Booon… entot teruuuuussssss… ini luar biasa enaknyaaaaa… aaaaaah… aaaaa… aaaaah… “Mama merintih – rintih sambil berusaha menggoyangkan bokongnya… memutar – mutar dan meliuk – liuk.
Belasan menit semuanya ini berlangsung. Sehingga wajah dan leher Mama mulai mengkilap oleh keringatnya sendiri.
Sampai pada suatu saat, Mama menatapku sambil berkata terengah, “Sayang… ooooh… mama mau lepas lagi Sayaaaang…”
“Iya Mam… barengin ya… aku juga udah mau ngecrot…” ucapku berbohong. Padahal aku masih jauh dari ejakulasi.
Lalu kupercepat entotanku, sementara Mama sudah berkelojotan lagi. Dan akhirnya mengejang tegang. Pada saat yang sama kutancapkan rudalku sedalam mungkin.
Lalu ketika liang serambi lempit Mama berkedut – kedut kencang, aku pun mengejut – ngejutkan rudalku seolah sedang ejakulasi…!
Lalu… aku pura – pura terkulai lemas di atas perut Mama.
“Oooooh… indah sekali…” ucap Mama sambil menciumi bibirku, “Terima kasih ya Sayang.”
Tampaknya Mama tidak menyadari bahwa aku belum ejakulasi.
Lalu kucabut konmtolku dari liang serambi lempit Mama. Kemudian turun dari bed dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi sambil menjinjing pakaianku.
Di kamar mandi aku kencing. Lalu kucuci rudalku yang berlepotan lendir serambi lempit Mama.
Kemudian kukenakan semua pakaianku. Dan keluar dari kamar mandi.
Kulihat Mama masih terkapar celentang di atas bed. Aku pun mengambil hapku dari bawah bantal, sambil berkata, “Mama bisa ditinggal sebentar di sini? Aku ada urusan penting yang harus kuselesaikan di Jogja ini.”
“Iya, selesaikanlah urusanmu dulu Sayang. Mama malah ingin tidur dulu, karena masih terasa capek sekali,” sahut Mama sambil memeluk bantal guling. Dalam keadaan masih telanjang bulat.
Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam sedan punya Mamie, yang sudah kuluncurkan di jalan aspal. Menuju rumah Mbak Artini…!
Mbak Artini yang mengenakan daster berwarna pink, tampak sedang menyiram pot – pot tanaman hias yang berderet di teras depan. Dan terkejut ketika melihatku turun dari mobil di dekat teras itu.
“Bona?!” serunya dengan wajah ceria.
“Iya Tante. Sengaja WAnya tidak kubalas karena tadi aku sedang di jalan menuju ke sini.”
Lalu aku mengikuti Mbak Artini, melangkah masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tamu, Mbak Artini sudah tak kuasa menahan diri. Ia memeluk dan menciumi bibirku. “Aku kangen sekali padamu, Sayang.”
“Sama… aku juga kangen sekali. Hanya waktunya belum ada. Ini juga kebetulan sedang disuruh mengantarkan Mama ke Subang. Makanya kusuruh Mama istirahat dulu di hotel, karena aku ingin menjumpai kekasihku yang jelita dan seksi ini,” sahutku sambil memegang kedua tangan Mbak Artini.
Lalu kami duduk berdampingan di sofa ruang keluarga.
“Mbak sudah mendengar berita dari Bu Lies?”
“Berita apa? Belum ada berita apa – apa Sayang.”
“Ternyata Mbak Ar ini tanteku. Karena aku ini anak kandung Bu Lies yang sekarang harus dipanggil Mamie olehku.”
“Haaaa?! yang bener Sayang…”
“Betul Mbak. Tanyakan saja langsung pada beliau kalau gak percaya sih. Dahulu sebelum terbang ke Hongkong sebagai calon TKW, Mamie pernah memberikan bayi kepada Bu Maryani. Bayi itu sudah diberi nama Fajar. Nah… Fajar itu aku Mbak. Tapi sama Bu Maryani namaku diganti jadi Bona Perdana.”
“Ooooh… iyaaaa… iyaaaa…! Saat itu Mbak Lies masih sengsara hidupnya. Suaminya menghilang pula entah ke mana. Iya, iya… aku masih ingat benar masalah itu Bon.”
“Jadi Mbak ini sebenarnya tanteku. Tapi hal itu jangan dijadikan kendala hubungan di antara kita berdua. Hubungan kita harus jalan terus ya Mbak.”
“Iya sih… oooh… ini bnenar – benar mengejutkan Bon. Tapi aku sudah telanjur cinta berat padamu Sayang. Meski pun kita tidak boleh menikah, tapi hubungan kita harus tetap jalan ya Bonaku Sayang.”
“Iya Mbak. Nanti deh kalau sedang banyak waktu kita rundingkan lagi masalah hubungan kita ini,” ucapku sambil merayapkan tanganku ke balik daster pink Mbak Artini. Sampai menemukan celana dalam. Dan kuselinapkan tanganku ke balik celana dalam itu. Sampai menemukan celah serambi lempit Mbak Artini yang seharusnya kupanggil tantge Artini ini.
“Aaaah… soal panggilan sih jangan dipikirin. Apa aja… mau manggil Mbok juga boleh. Hihihiii…”
“Hush. Masa Mbok? Emangnya Mbak bakul jamu? Kalau kita sedang berdua aja, aku mau akan tetap manggil Mbak aja, tapi kalau ada orang lain mau manggil Tante ya.”
“Iya, iya. Terserah kamu aja Sayang. Yang penting cintaku jangan dicampakkan begitu saja. Bisa bunuh diri aku nanti kalau ditinggalkan olehmu.”
“Gak mungkin Mbak. Biar bagaimana Mbak ini sosok penting bagiku. Pertama, Mbak telah menyerahkan kesucian Mbak padaku. Kedua, aku takkan mungkin berjumpa dengan ibu kandungku kalau tidak ada Mbak.”
“Hmmm… Mbak Lies pasti sayang sekali padamu setelah tau siapa dirimu ya?”
“Iya, beliau sangat sayang padaku Mbak. Tapi nanti kalau ada telepon dari Mamie, jangan bilang Mbak sudah tau dariku. Jangan bilang juga kalau aku datang ke sini. Karena Mamie menyuruhku mengantarkan Mama pulang ke Subang. Bukan untuk menemui Mbak… eh Tante…”
“Hihihiii… jadi aku jatuh cinta pada keponakanku sendiri ya?” ucap Tante Artini sambil mencubit pipiku. Sementara jemariku mulai menyelundup ke dalam celah serambi lempit di balik celana dalam dan daster pinknya, “Ooooh… Booon… kalau sudah dicolok – colok gini aku langsung horny berat Boon…”
“Ayo kita main. rudalku juga udah ngaceng berat nih…” sahutku sambil mengeluarkan tanganku dari balik celana dalam dan daster pinknya.
Tante Artini bangkit berdiri sambil menarik pergelangan tanganku. Lalu mengajakku masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamarnya, Tante Artini melepaskan daster dan behanya. Celana dalamnya pun ditanggalkan. Sehingga tubuh tinggi montoknya menjadi telanjang bulat di depan mataku. Ketelanjangan yang senantiasa menggiurkan dan membangkitkan gairah birahiku.
Aku pun menelanjangi diriku sendiri. Lalu menerkam tubuh putih mulus yang menggiurkan itu, dengan segenap hasrat birahiku.
Untungnya tadi aku berjuang untuk menahan diri agar jangan ejakulasi di dalam serambi lempit Mama. Sehingga persetubuhan dengan Mama tadi bisa kuanggap sebagai foreplay belaka.
Kali ini aku benar – benar akan menyetubuhi Tante Artini dan akan dicrotkan di dalam liang serambi lempitnya yang tetap masih sempit menjepit ini.
Dengan segenap hasrat birahi kuemut pentil toket Tante Artini yang sebelah kiri, sementara tangan kiriku mulai meremas toket kanannya. Suhu badan Tante Artini pun mulai menghangat.
Terlebih setelah mulutku melorot turun ke arah pusar perutnya. Kujilati pusar perutnya sebentar, kemudian melorot turun lagi sampai mulutku berhadapan dengan serambi lempit tembemnya yang sangat indah dan tampak sedang tersenyum manis itu.
Sepasang paha putih mulus itu pun merenggang. Dan dengan lahap kujilati serambi lempit tembem yang bentuknya sangat indah itu.
Tante Artini mulai menggelinjang… menggeliat – geliat erotis, dengan desah – desah nafasnya yang sudah lama kurindukan, “Aaaaaah… Boooon… aku tetap cinta kamu Sayaaaang… berat sekali cintaku ini padamu Bonaaaa… aaaaa… aaaaaah… jangan terlalu lama jilatinnya… aku sudah merindukan rudalmu Sayang…
Aku pun hanya sebentar menjilati serambi lempit dan itil tante Artini. Lalu kuletakkan moncong rudalku di ambang mulut tempik tembemnya. Dan kudorong dengan sekuat tenaga.
Blesssssss… rudalku melesak masuk sedikit demi sedikit ke dalam liang tempik yang luar biasa sempitnya ini.
Sesaat kemudian aku mulai memenyetubuhi tanteku yang usianya cuma beda enam tahun denganku ini.
Rintihan – rintihan histeris Tante Artini p;un mulai berkumandang di dalam kamar ini.
“Booonaaaa saayaaaang… aaaaaaah… aaaaaaa… aaaaaah… Boooonaaaaa… aku makin cinta padamu Sayaaaang… oooooohhhhh… aku sudah sangat merindukan semuanya ini… aaaa… rudalmu selalu membuatku merinding dalam nikmaaaaat… aaaaaaa… aaaaah… entotlah aku sepuasmu sayangkuuuuu…
Untung sekali, setibanya di rumah Mama, di Subang, Mbak Rina dan Mbak Lidya masih berada di kantornya. Sehingga aku tak perlu salah tingkah di depan Mama.
Aku pun langsung meninggalkan Subang, meski Mama menahanku agar menginap dulu di rumahnya. Ya… rumah itu ternyata memang milik Mama. Bukan dibeli dengan uang Papa. Karena itu setelah Papa bercerai dengan Mama, maka Papa lah yang harus angkat kaki dari rumah itu.
Mama memang rajin berbisnis, tak sekadar jadi IRT biasa. Bahkan kata Mama, penghasilan bisnisnya sekarang sudah jauh melampaui gaji dan penghasilan tambahan Papa.
Stamina fisikku masih cukup tangguh untuk nyetir kembali. Karena tadi malam menginap di hotel dan… menyetubuhi Mama sekali lagi. Bahkan dalam ronde kedua itu (diselang 1 ronde dengan Tante Artini), aku sangat lama menyetubuhi Mama. Sehingga Mama berkali – kali orgasme. Kemudian aku benar – benar ngecrot di dalam serambi lempit Mama, bukan berpura – pura lagi.
Karena itu waktu aku meninggalkan Subang, staminaku masih sangat segar.
Tapi jarak dari Subang ke Solo bukan jarak dekat. Sehingga ketika aku tiba di rumah Mamie, hari sudah cukup malam, sekitar jam sepuluh malam.
Mamie tampak senang sekali melihatku sudah pulang.
“Kok cepat sekali pulangnya? Kirain mau nginap di rumah Mama barang seminggu gitu, “sambut Mamie di dalam kamarku. Sambil mendekap pinggangku.
“Gak tau kenapa, rasanya aku gak bisa berjauhan dengan Mamie berlama – lama,” sahutku yang sedikit mengandung gombal.
“Sama… setelah tau bahwa kamu itu anak mamie, malah gak mau pisah lama – lama sama kamu Sayang,” ucap Mamie disusul dengan mendaratkan kecupan hangat di bibirku, “Ayo… sekarang sih mau tidur di kamar mamie juga boleh.”
“Tapi aku mau mandi dulu di kamar Mamie ya,” sahutku.
“Boleh. Apa pun boleh kamu lakukan dan boleh kamu miliki,” ucap Mamie yang disusul dengan bisikan, “Bahkan tempik mamie juga boleh kamu miliki seumur hidup.”
“Hihihihiii… iya Mam. Punya Mamie itu luar biasa enaknya…” sahutku sambil mengikuti langkah Mamie menuju pintu lift. Lalu kami naik ke lantai tiga.
“Kalau kamu mau, tiap malam bobo sama mamie juga boleh. Hitung – hitung kompensasi, karena waktu masih bayi gak pernah bobo sama mamie,” kata Mamie yang malam itu mengenakan kimono sutera berwarna orange dengan bintik – bintik merah bertaburan di sana sini.
“Tapi aku sudah dewasa sekarang Mam. Dua bulan lagi juga usiaku genap duapuluhempat tahun.”
“Kali aja kamu merindukan pelukan ibu sepanjang malam.”
“Tapi setelah dewasa gini, kalau dipeluk Mamie pasti rudalku ngaceng Mam.”
“Ya gak apa – apa. Kalau ngaceng kan tinggal masukin ke dalam tempik mamie. Sekarang ngaceng nggak?”
“Belum. Aku mau mandi dulu ya. Badanku penuh debu di sepanjang jalan dari Subang ke sini tadi.”
“Iya, mandi dulu deh, biar seger badannya.”
Lalu aku masuk ke dalam kamar mandi Mamie yang jauh lebih lengkap daripada kamar mandiku di lantai dasar. Sabun, shampoo dan sebagainya import semua. Ada bathtub segala di dalamnya. Sehingga aku bisa berlama – lama berendam dengan air sabun hangat, sambil menerawang ke mana – mana.
Namun malam itu aku hanya mandi dengan shower air hangat. Menyabuni sekujur tubuhku, lalu membilasnya lagi. Kemudian mengambil handuk baru untuk mengeringkan tubuhku. Dan mengambil kimono putih yang all size dan banyak terlipat di dalam lemari kaca kamar mandi.
Setelah mengenakan kimono itu aku menyisir rambut di depan cermin besar yang menempel di dinding kamar mandi.
Kemudian keluar dari kamar mandi dan melompat ke atas bed, di mana Mamie sedang menelentang sambil nonton televisi yang dipasang di dinding.
“Daripada nonton tivi mendingan nonton bokep Mam,” kataku sambil meletakkan tanganku di atas perut Mamie.
“Memangnya kamu punya filmnya?” tanya Mamie.
“Banyak. Tapi di kamarku. Ambil dulu ya.”
“Iya.”
Lalu aku melangkah ke dalam lift dan meluncur turun ke kamarku.
Kuambil external hardisk 2 Tb, yang isinya beribu – ribu bokep. Lalu aku naik lagi ke lantai tiga, untuk menyambungkan external HD itu ke smart TV Mamie.
“Gak pakai CD player Bon?” tanya Mamie.
“Sudah gak zaman pakai player sekarang sih Mam. Lagian televisi Mamie ini termasuk Smart TV. External HD ini menyimpan ribuan bokep Mam… nanti kalau ada yang menarik, kita praktekkan ya.”
“Iya Sayang,” sahut Mamie lembut. Ngocoks.com
Setelah External HD itu tersambung dengan TV, aku pun mengambil remote control. Dan menyetelkannya ke USB. Setelah tersambung, aku merebahkan diri di samping Mamie.
Video pertama adalah seorang anak muda dan seorang wanita setengah baya yang melakukan hubungan sex outdoor.
“Ini mengingatkan kita ya Mam. Kan untuk pertama kalinya aku merasakan legitnya tempik Mamie di puncak bukit itu kan?” ucapku sambil menyelinapkan tanganku ke balik kimono Mamie. Ternyata Mami tidak memakai celana dalam. Mungkin dia sudah siap untuk berhubungan sex denganku, jadi semuanya dimudahkan.
“Iya… waktu itu mamie sedang horny mulu. Lantas gak kuat lagi menahannya. Duuuh.. Bona Sayang… kalau tempik mamie udah digerayangin gini… mamie suka langsung horny.”
“Kan mau nonton bokep dulu Mam.”
“Biarin aja film itu main, kita juga main yok… mamie sudah kepengen dientot nih sama rudal gedemu…” ucap Mamie sambil melepaskan tali kimonoku, kemudian membuka kimono yang sedang kupakai ini. Sehingga rudalku yang sudah mulai ngaceng ini langsung terbuka.
Dan Mamie langsung memegang rudalku, sambil menjilati moncong dan lehernya. Bahkan lalu mengulumnya dengan lahap. Dan mulai menyelomoti rudalku tak ubahnya anak sedang menyelomoti permen loli.
Tak cuma itu. Mamie pun mengalirkan air liurnya ke badan rudalku, lalu dengan bantuan air liur itu Mamie mengurut – urut badan rudalku yang tidak terkulum oleh mulutnya.
Karuan saja rudalku jadi ngaceng berat. Tapi Mamie tampak masih asyik menyelomoti rudalku. Maka kubiarkan saja Mamie melakukan apa pun yang diinginkannya.
Sampai akhirnya Mamie menelentang sambil berkata, “Ayo… masukin aja rudalmu sekarang. Tempik mamie sudah basah nih.”
Tadinya aku ingin membalas untuk menjilati serambi lempit Mamie juga. Tapi karena kedua paha Mamie sudah direntangkan lebar – lebar, aku pun segera merangkak ke atas perutnya, sambil memegangi leher rudalku. Lalu meletakkan moncongnya di mulut serambi lempit Mamie yang bentuknya mirip – mirip serambi lempit Tante Artini (maklum adik – kakak).
Dan kudorong rudalku dengan sekuat tenaga. Blessssss… menyelundup masuk ke dalam liang serambi lempit Mamie…!
“Adudududuuuuuh… rudalmu memang enak sekali Sayaaaang… sejak aku tau bahwa kamu ini anak kandungku, ini pertama kalinya rudalmu dimasukin ke dalam liang serambi lempit mamie yaaa…”
“Iya Mamieku Sayaaaang,” sahutku sambil mencium bibir Mamie, yang lalu disambutnya dengan lumatan hangat.
“Mwuaaaaaaahhhhh… kamu ini seolah menjelma jadi dua sisi bagi mamie. Sebagai anak semata wayang mamie, sekaligus sebagai suami mamie… aaaaah… kita tak usah bertanya kenapa harus jadi seperti ini… lanjutkan saja hubungan fisik kita seperti ini ya Sayaaang…”
“Iya Mam… kalau hubungan ini dihentikan di tengah jalan, aku bisa murung dan melamun mulu nanti… bahkan mungkin aku akan menjauhi Mamie dengan perasaan bersalah…”
“Kamu tidak bersalah. Kan yang mengawalinya mamie sendiri di puncak bukit itu Sayang. Ayolah… entotkan rudalmu… jangan direndem terus… nanti keburu jadi ager rudalnya… hihihihiiii…”
“Tapi kalau Mamie hamil nanti gimana?” tanyaku sambil mengayun rudalku perlahan – lahan.
“Gak mungkin. Sebelum kita bersetubuh di puncak bukit itu, mamie sudah disuntik oleh dokter. Jangan sampai hamil. Anakku cukup satu saja. Cukup kamu saja seorang. Tapi kamu jangan jadi anak yang manja ya. Jadilah anak yang rajin dan ulet dalam berbisnis. Demi masa depanmu sendiri.”
“Iiii… iya Mamieku…” sahutku yang mulai mempercepat entotanku.
Mamie pun tidak berbicara lagi. Bahkan mulai mendesah dan merintih histeris lagi seperti biasa. “Iyaaaaa… aaaaaah… iyaaaaaa… aaaahhhh… rudalmu ini… luar biasa enaknya sayaaaaang… entot teruuuusssss… entoooot teruuuussss… iyaaaaa… iyaaaaa… entooooooottttt… entoooootttttt …
Enak sekaliiiii… enaaaaaak… iyaaaaaa… entooooootttttt… entooooot… rudalmu enaaaaaak… entoooootttttt… aaaaaah… aaaaaa… aaaaahhh… pentil tetekku sedoooot… sedoooootttt kayak bayi netek… iyaaaaa… iyaaaaaa… entooooottttt… iyaaaaa… aaaaa… aaaaahhh…
Rintihan – rintihan histeris Mamie dibarengi dengan dengus – dengus nafasku. Sementyara entotan rudalku semakin menggila. Seolah mesin pompa yang sedang memompa liang serambi lempit ibu kandungku.
Terkadang mulutku nyungsep di atas toket gedenya, mengemut dan menyedot – nyedot pentilnya. Terkadang menjilati lehernya yang mulai keringatan, disertai gigitan – gigitan kecil yang tidak menyakitkan. Sementara tangan kiriku tetap asyik meremas – remas toket kanan Mamie.
Ketika tangan Mamie terjulur ke bawah kepalanya, kujilati pula ketiaknya yang beraroma parfum mahal. Membuat bokong gede Mamie semakin menggelepar – gelepar, memutar – mutar. meliuk – liuk dan menghempas – hempas. Sehingga rudalku terasa dibesot – besot dan dipilin – pilin oleh liang serambi lempitnya yang licin, empuk tapi legit ini.
Aku sudah hafal bahwa Mamie tidak ingin disetubuhi terlalu lama. Yang penting, pada waktu Mamie sudah mau orgasme, aku pun harus secepatnya berejakulasi. Bahkan kalau bisa, dilepasin bareng – bareng lebih disukainya.
Karena itu, ketika keringatku mulai merembes dari pori – pori kulitku, ketika Mamie mulai berkelojotan, aku pun mempercepat ayunan rudalku.
Maju – mundur – maju – mundur dengan cepat sekali. Sampai akhirnya… ketika sekujur tubuh Mamie mengejang tegang, rudalku pun ditancapkan di dalam liang serambi lempitnya.
Lalu… ketika liang serambi lempit Mamie terasa mengejut – ngejut, rudalku pun mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.
Crrrroooottttt… crooootttttcrottt… croooootttttt… crottttt… crooooottttt… crooootttt…!
Kami sama – sama terkapar sambil berpelukan. Lalu terkulai lunglai di dalam kepuasan sedalam lautan.
“Mamie puas sekali… Terima kasih ya Sayang,” ucap Mamie yang disusul dengan kecupan mesranya di bibirku.
Setelah mencabut rudalku dari liang tempik Mamie, aku merebahkan diri di samping ibuku. Sambil menonton bokep yang masih tayang di layar televisi LED besar itu.
“Ohya… tadi ada tantemu yang dari Kalimantan datang. Dia tidur di kamar yang berdampingan dengan kamarmu.”
“Tante yang mana? Aku kan baru tau Tante Artini doang.”
“Adik – adik mamie ada empat orang. adik yang pertama bernama Surtini, tinggal di Semarang. Adik yang kedua bernama Haryati, tinggal di Surabaya. Adik yang ketiga bernama Artini… mantan ibu kosmu itu. Nah yang sedang nginap di rumah kita itu suka dipanggil Tari. Nama lengkapnya sih Muntari.”
“Jadi… Tante Tari itu adik bungsu Mamie?”
“Iya Sayang. Dia dijadikan istri muda seorang pengusaha batubara yang sudah tua. Tapi nikahnya secara diam – diam. Cuma nikah siri. Setelah sekian lamanya dijadikan istri muda, lama – lama ketahuan oleh istri pertamanya. Lalu Tari terus – terusan diteror oleh istri pertama. Sehingga akhirnya dia minta cerai saja.
“Sudah punya anak berapa orang?”
“Belum punya anak. Untung juga gak punya anak. Jadi gak repot ngurusin anak dalam status jandanya. Usianya masih sangat muda lho. Cuma setahun lebih tua darimu.”
“Jadi umurnya baru duapuluhlima tahun?”
“Iya. Waktu mamie melahirkan kamu, usia Tari baru setahun. Dia kan adik seayah beda ibu.”
“Owh… memangnya ayah Mamie berpoligami?”
“Nggak. Kan nenekmu meninggal duluan. Kemudian kakekmu menikah lagi. Maka lahirlah Tari itu.”
“Jadi… walau pun usianya cuma beda setahun, aku tetap harus manggil Tante padanya?”
“Seharusnya memang begitu. Kata orang – orang tua, kita tidak boleh merusak sirsilah. Status dalam keluarga harus tetap sesuai dengan kedudukannya. Meski usianya lebih muda darimu, tetap saja kamu harus manggil Tante padanya.”
Aku terdiam. Karena tayangan bokep di layar televisi lebih menarik perhatianku. Sepasang manusia tampak sedang bersetubuh di dalam mobil pick up.
Dan… diam – diam rudalku ngaceng lagi.
Untung Mamie pun terangsang oleh adegan di layar televisi itu. Sehingga kami bersetubuh lagi. Tentu dalam durasi yang lebih lama daripada persetubuhan yang pertama tadi…!
Bahkan di ronde kedua ini bermacam – macam posisi kami praktekkan. Sehingga keringat kami bercucuran kembali.
Lebih dari sejam kami melakukannya.
Dan setelah Mamie berkali – kali orgasme, aku pun akhirnya memuntahkan lendir maniku lagi di dalam liang tempik Mamie yang sangat legit itu.
Lalu kami tertidur sambil berpelukan. Dalam keadaan sama – sama telanjang, tapi ditutupi selimut tebal…
Keesokan paginya, setelah mandi bersama Mamie di kamar mandinya, tentu saja sambil saling menyabuni dan bercanda yang mengandung birahi, kami berpakaian lengkap lagi. Aku mengenakan pakaian casual, celana dan baju katun berwarna coklat muda. Mamie mengenakan gaun shanghai dress yang katanya beli di Hongkong waktu suaminya masih hidup, berwarna kuning muda yang tampak serasi sekali dengan kulitnya yang putih bersih.
Kemudian kami turun ke kamarku dan langsung menuju ruang makan untuk menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh pembantu bagian dapur. Cuma makan bubur ayam dengan taburan emping di atasnya, tapi terasa lancar di mulut.
Setelah selesai makan sarapan pagi, Mamie menyuruhku menunggu sebentar di ruang makan, sementara Mamie membuka pintu kamar yang berdampingan dengan kamarku.
Tak lama kemudian Mamie keluar lagi bersama seorang wanita muda bergaun putih bersih yang… aduh maaaak… wanita muda itu luar biasa cantiknya…! Tak kalah cantik dnegan artis – artis yang sering tampil di televisi…!
Sambil memegang pinggang wanita muda berperawakan tinggi langsing itu, Mamie berkata padaku, “Bona… ini adik bungsu mamie yang namanya Tari… meski usianya hanya beda setahun denganmu, kamu harus memanggilnya Tante… ayo kenalan sama tantemu ini…”
Dengan suara setengah berbisik aku langsung menanggapi, “Tante juga cantik sekali, masih sangat muda pula…”
Tante Tari menatapku dengan senyum manis yang aduhai.. dan.. mencium bibirku di depan Mamie…!
Membuatku gelagapan. Tapi kulihat Mamie cuma tersenyum – senyum sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Entah isyarat apa yang Mamie maksud dengan kedipan sebelah matanya itu.
Lalu kami melangkah ke ruang keluarga. Kami duduk berdampingan di sofa panjang berbentuk L yang sudutnya menempel di sudut ruang keluarga itu. Aku duduk diapit oleh Mamie dan Tante Tari yang ternyata ramah sekali itu.
Mamie di sebelah kiriku, Tante Tari di sebelah kananku.
“Biar tantemu ini jangan murung terus, ajak dia main ke tempat yang bisa menghibur hatinya Bon,” kata Mamie.
“Ajak main ke mana Mam?” tanyaku bersemangat.
“Ke mana aja,” sahut Mamie, “Ohya… mamie kan punya tanah di perbatasan Jabar dengan Jateng. Tantemu sudah dua kali diajak ke sana waktu masih gadis dulu. Sedangkan Bona kan belum pernah diajak ke sana. Tanah di perbatasan itu termasuk tugasmu juga untuk mengelolanya nanti kan? Nah… kapan – kapan ajak tantemu ini ke sana.
“Sekarang sih jangan jauh – jauh dulu Mbak. Kalau ke Jogja, aku mau. Pengen beli gaun batik yang bagus kualitasnya, “tanggap Tante Tari.
“Mau ke Jogja sekarang? Boleh,” kataku.
Mamie juga tampak setuju, “Iya… anterin dia ke mana pun yang dia mau. Pokoknya setelah tinggal di rumah ini, dia gak boleh murung lagi. Harus kembali ceria seperti dahulu. Dandan aja dulu sana Tari.”
“Nggak usah,” sahut Tante Tari, “Pakai gaun ini aja gak apa – apa kan?”
“Iya, “Mamie mengangguk, “Pakai gaun itu juga gak apa – apa. Nanti di Jogja beli gaun yang bagus – bagus.”
“Aku juga pakai ini aja,” kataku sambil memegang lengan baju katun coklat mudaku.
Kemudian Mamie bangkit sambil mengedipkan matanya padaku. Isyarat yang satu ini kumengerti. Bahwa aku harus mengikuti langkah Mamie, sementara Tante Tari juga berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.
Mamie mengajakku bicara di dalam kamarku, “Dia itu bawa duit banyak sekali. Mantan suaminya kan petambang batubara yang duitnya berlimpah ruah. Kelihatannya dia suka padamu Bon. Kamu rayu aja dia sampai jatuh hati padamu.”
“Lho… Mamie kok ngomong gitu?” tanyaku heran dan bingung.
“Biar dia kerasan di sini Sayang. Supaya sakit hatinya terobati olehmu. Selain daripada itu… nanti deh mamie bicara panjang lebar denganmu. Tapi masalah rahasia kita jangan sampai dia tau. Kecuali…”
“Kecuali apa?” tanyaku karena Mamie tidak melanjutkan kata – katanya.
“Kecuali kalau kamu sudah mendapatkan dia dan sudah menggaulinya, kita boleh buka kartu.”
“Kok Mamie seperti ngotot begitu, ingin agar dia tetap tinggal di sini?”
“Tari itu punya faktor keberuntungan yang bagus sekali Bon. Mantan suaminya sering bilang gitu dahulu. Bahwa sejak Tari jadi istrinya, usaha mantan suaminya itu langsung meledak – ledak. Lagian Tari takkan menyusahkan kita kok. Duit pemberian mantan suaminya sangat buanyaaak… Kalau dia jatuh ke tangan lelaki yang pemorotan kan bahaya.
“Memangnya Mamie rela kalau dia benar – benar jatuh hati padaku nanti?” tanyaku memancing. Padahal aku sudah setuju dengan keinginan Mamie itu.
“Rela… sangat rela. Asalkan mamie tetap dapat jatah darimu Sayang. Ya udah pergi sana. Mau pakai mobil yang mana terserah kamu.”
“Pakai sedan yang kemaren kupakai nganterin Mama aja.”
“Iya, terserah kamu. Semua mobil di garasi itu kan sudah jadi punyamu juga sekarang.”
Kemudian kami keluar menuju ruang tamu, di mana Tante Tari sudah menunggu sambil menjinjing tas kecilnya.
“Mbak Lies… villa kayu yang berada di dekat Parangtritis itu masih punya Mbak?” tanya Tante Tari pada Mamie.
“Masih, “Mamie mengangguk. Mau ke sana? Silakan aja. Sebentar… kuncinya tak ambil dulu.”
Lalu Mamie bergegas menuju ruang kerjanya. Tak lama kemudian mamie sudah kembali lagi sambil membawa seuntai kunci. Lalu diserahkannya kunci – kunci itu kepada Tante Tari sambil berkata, “Villa itu biasa dibersihkan dan ditata oleh seorang lelaki bernama Sapto. Nanti kalau dia nyamperin, kasihkan duit ini padanya.
Beberapa saat kemudian aku sudah menjalankan sedan hitam built up Germany ini menuju Jogja, tentu harus lewat Solo dulu.
“Sudah punya pacar belum?” tanya Tante Tari sambil memegang tangan kiriku yang nganggur, karena sedannya bisa matic bisa manual juga. Kali ini kuaktifkan maticnya.
“Belum,” sahutku, “Diwisuda juga baru sebulan. Langsung sibuk ngurusin perusahaan Mamie. Jadi… belum sempat nyari calon pacar… apalagi calon istri.”
“Masa sih cowok seganteng kamu gini belum punya pacar?! “tanyanya sambil meremas tangan kiriku dnegan lembut.
“Waktu masih kuliah, aku kan belum dipertemukan dengan Mamie. Pada saat itu aku hanya konsen kuliah aja. Gak mau mikirin cewek.”
“Sayangnya kamu anak kakakku.”
“Memangnya kalau anak kakak kenapa?”
“Gak bisa kawin.”
“Kawin apa nikah?”
“Nikah… hihihihiii… kalau kawin sih boleh – boleh aja.”
“Mau dong kawin sama tante yang cantik begini sih…”
“Kawin apa nikah?”
“Kawin.”
“Kalau gitu sekarang langsung ke jalan menuju Parangtritis aja. Setelah lewat ISI, belok ke kiri. Menuju villa punya mamiemu. Belanja pakaian sih gampang, kapan – kapan juga bisa.”
“Mau ngapain ke villa?”
“Katanya mau kawin. Ya udah kita lakukan di villa aja. Mumpung darahku lagi hangat nih.”
“Serius nih?”
“Tiga rius bukan serius lagi. Aku suka kok punya keponakan ganteng gini,” ucap Tante Tari yang disusul dengan kecupan hangatnya di pipi kiriku.
Sebagai jawaban, kecepatan mobil kukurangi, lalu kubelokkan ke samping kiri, ke bahu jalan. Lalu kuhentikan tanpa mematikan mesinnya.
“Kenapa berhenti?” tanya Tante Tari.
Tante Tari celingukan, “Nanti ada orang liat gak?”
“Kacanya gelap Tante. Dari luar gak bisa melihat ke dalam mobil ini,” sahutku sambil melingkarkan lengan kiriku di leher Tante Tari.
Tante Tari tersenyum. Lalu mendekatkan bibirnya ke bibirku.
Maka kupagut bibir sensual itu. Dan kulumat dengan lahap, membuat sepasang mata bening dan indah itu terpejam.
Lama juga kulumat bibir tanteku yang sangat cantik ini, karena ia pun balas melumat bibirku.
Setelah ciuman dan lumatan itu terlepas, terdengar suara Tante Tari yang belum pantas kupanggil tante itu saking masih mudanya, “Bona…”
“Ya?” sahutku sambil melajukan lagi mobil Mamie yang katanya sudah jadi mobilku juga ini.
“Kayaknya aku jatuh hati dalam pandangan pertama di rumah mamiemu tadi.”
“Nggak ada yang salah kan?”
“Tapi… mungkin kita hanya bisa saling mencintai, tanpa bisa melangkah ke arah yang sah.”
“Kita jalani aja apa yang mungkin terjadi kelak Tante. Jujur, begitu melihat Tante tadi, aku juga seperti Tante. Langsung jatuh hati. Makanya aku kaget ketika Tante mencium bibirku di rumah tadi.”
“Iya… tadi aku sudah gak nahan melihat bagusnya keponakanku. Makanya gak sungkan – sungkan lagi mencium bibirmu di depan mamiemu.”
“Tapi sejak Tante mencium bibirku tadi, aku langsung merasa ingin memiliki Tante.”
“Kamu boleh memiliki aku lahir batin. Tapi kita takkan bisa menikah secara sah Bon. Gak apa – apa kan?”
“Gak apa – apa. Anggap aja kita sedang berada di Eropa, yang bebas melakukan apa saja.”
Tante Tari mengecup p;ipi kiriku lagi, Emwuuuuaaaah… !” disusul dengan ucapan, “Aku gak mau munafik Bon. Detik ini aku merasakan getaran cinta ini. Aku langsung jatuh cinta padamu Bon.”
“Hmmm… si dede langsung bangun nih Tante.”
“Masa?! Pengen lihat yang baru bangun dong,” kata Tante Tari sambil memegang ritsleting celana katunku.
Kubantu dengan menurunkan ritsleting celana katunku. Lalu kupelorotkan celana katunku berikut celana dalamnya sekalian.
“Waaaaw! “pekik Tante Tari sambil menggenggam rudalku yang sudah ngaceng ini, “Gagah bener dedemu ini Booon… ya gede banget ya panjang banget… wahwaaah… bisa klepek – klepek aku kalau dikasih yang segede dan sepanjang ini sih.“
“Memangnya punya mantan suami Tante segede apa?”
“Aaaah, punya dia sih jauh lebih kecil daripada rudalmu ini Bon. Lagian usianya juga sudah hampir enampuluh tahun. Banguninnya susah. Harus dioral dulu.”
“Tapi tentu ada kelebihan dia yang membuat Tante bersedia dijadikan istrinya kan?”
“Kelebihan dia hanya duitnya aja Bon. Dia tak segan – segan menghamburkan duitnya padaku. Itu saja. Yang lainnya sih nol besar.”
“Tapi Tante gak punya anak ya dari dia?”
“Ya itu… dia kan sudah tua. Mungkin spermanya sudah lemah. Makanya gak mampu membuahi telurku.”
“Nanti kubuahi, mudah – mudahan bisa.”
“Mau kok aku dihamili olehmu. Biar kalau lahir anak cowok, pasti ganteng seperti ayahnya,” sahut Tante Tari sambil menciumi puncak rudalku.
“Jangan dioral Tante… !” cegahku.
“Kenapa?”
“Aku kan lagi nyetir. Bisa nabrak mobil orang nanti kalau dioral sekarang.”
“Ooooh iya, iyaaa… aku lupa Bon. Ya udah… sekarang konsen ke setir aja dulu. Nanti kuemut rudalmu di villa.”
“Aku juga mau jilatin puki Tante.”
“Heh… kok kamju bisa bahasa Banjar?”
“Yang jorok – jorok sih bisa. Di Kalimantan rudal itu disebut butuh, kalau serambi lempit disebut puki kan?”
“Iyaaaaaa…”
“Kalau bersetubuh disebut basakian. Cewek cantik disebut galuh bungas, benar kada?”
“Cailaaaa… ternyata kamu bisa ngomong bahasa Banjar juga ya.”
“Ulun masih belajar Tante.”
“Duh… tau ulun segala. Itu bahasa halus. Kan bahasa Banjar juga punya bahasa halus dan kasarnya.”
“Bujurrrrrr…”
“Nah bujur itu kalau dalam bahasa Sunda berarti pantat. Tapi buat bahasa Banjar berarti betul.”
Sedan hitam ini berlari terus di jalan menuju Parangtritis. Seperti petunjuk Tante tari, pada suatu saat sedan ini kubelokkan ke kiri.
Dendang birahi pun mulai berkumandang di dalam batinku.
Lalu terngiang lagi kata- kata mamie di rumah tadi. Berarti kalau terjadi sesuatu di antara aku dengan Tante Tari, adalah atas restu Mamie juga.
Lelaki bernama Sapto itu tampak senang sekali menerima uang dari Tante Tari. Uang gaji untuk tiga bulan ke depan, dari Mamie.
Sementara aku memperhatikan keadaan di sekeliling villa kayu ini.
Villa yang terbuat dari balok – balok kayu glondongan ini dikitari oleh kebun sawo.
Setelah Sapto berlalu, Tante Tari menghampiriku, “Kebun sawo di sekeliling villa ini punya mamiemu semua Bon.”
“Ogitu ya. Aku kan baru dipertemukan dengan Mamie beberapa hari yang lalu. Menginjak villa ini pun baru sekarang,” sahutku.
“Nanti semua harta mamiemu akan menjadi milikmu Bon. Karena anaknya hanya kamu satu – satunya. “
“Aku bahkan harus berjuang untuk mengembangkan harta Mamie. Bukan cuma memilikinya saja. “
“Nanti aku juga mau berinvestasi. Mungkin aku akan menyerahkannya padamu untuk mengelola investasiku agar berkembang step by step. “
“Investasi Tante ingin dikembangkan dalam bentuk apa?”
“Terserah kamu Bon. Kamu tentu lebih tau harus dikembangkan dalam bentuk apa. Aku sih yang penting berkembang tapi aman. “
“Kalau mau aman sih kembangkan dalam dunia properti aja Tante. “
“Properti apa saja contohnya?”
“Misalnya, beli tanah di daerah strategis. Lalu bangun rukpo – ruko. Setelah selesai ya dijual ruko – rukonya. “
“Naaah… boleh tuh. Bikin perumahan juga boleh. “
“Kalau oerumahan harus luas lahannya. Sedangkan di Jogja mau pun di Solo sudah sulit mencari lahan luas – luas Tante. Kalau bangun ruko sih tanah setengah hektar juga bisa dijadikan beberapa buah ruko. Lalu cari lagi lahan lain… itu pun kalau dananya cukup. “
Tante Tari lalu membisikkan jumlah dana yang dimilikiinya. Aku tercengang dibuatnya. Mungkin hampir sama jumlahnya dengan saldo Mamie di bank…!
Tapi aku berusaha untuk bersikap datar – datar saja. Lalu melangkah ke dalam villa kayu itu.
Ternyata di dalam villa itu ditata sedemikian nyamannya sehingga aku tertegun sejenak, karena tak menyangka kalau di dalam villa itu tampak serba mewah, tidak sederhana seperti kelihatan dari luarnya. Di dalam villa kayu itu ada kulkas, televisi, mesin cuci, microwave dan sebagainya. Tentu saja ada listrik yang waktu membiayainya dulu pasti mahal sekali, karena kabelnya harus membentang jauh ke jalan raya.
Namun yang paling kukagumi adalah Tante Tari itu… yang telah menanggalkan gaunnya, meski ada lingerie di balik gaun putih bersih itu.
Lalu sambil bertolak pinggang ia menatapku dan bertanya, “Apakah aku memenuhi syarat untuk dijadikan kekasih tercintamu?”
“Belum kelihatan semuanya. Jadi aku belum bisa menilainya Tan. “
“Nah begitu aja… panggil aku Tan aja, jangan dikengkapkan jadi tante. Karena umurku kan baru duapuluhlima tahun. Belum layak dipanggil tante,” ucapnya sambil duduk di atas sofa bertilamkan kain putih bersih.
“Iya,” sahutku sambil duduk di sampingnya. Ingin melihat dengan jelas ketika ia sudah melepaskan behanya. Tampaklah samar – samar sepasang toket yang tidak besar. Tapi tampak seperti masih kencang sekali. Tak ubahnya toket perawan.
“Toketku kecil kan?” ucapnya sambil menyembulkan toketnya dari belahan lingerienya.
Dengan tangan agak gemetaran, kupegang toket yang diangsurkan padaku itu.
“Segini sih sedang Tante. Masih kencang padat gini… kayak toket ABG yang masih perawan.”
“Sekujur tubuh dan segenap jiwaku akan menjadi milikmu Bon.” ucap Tante Tari sambil menanggalkan lingerienya. Lalu juga celana dalamnya. Tampak sebentuk serambi lempit yang mungil, dengan sedikit jembut pendek – pendek di atasnya, “Tapi lepasin dong pakaianmu. Masa cuma aku yang telanjang sendiri?”
Aku tersenyum sambil melepaskan baju dan celana katunku. Disusul dengan pelepasan celana dalamku.
Tante Tari langsung menyergap rudalku yang sudah agak tegang tapi belum full ngaceng. “Satu – satunya lelaki yang pernah kurasakan rudalnya adalah lelaki tua yang mantan suamiku itu. Sekarang aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih gagah. Orangnya pun ganteng sekali. Hmmm… sekarang sudah boleh kuoral?
“Tadinya justru aku yang ingin mengoral Tante. Soalnya serambi lempit Tante itu… aaah… menggiurkan sekali Tan. “
“Ya udah kalau gitu.. lakukanlah,” ucap Tante Tari sambil melompat ke atas bed. Lalu menelentang sambil mengusap – usap serambi lempitnya yang mungil dan menggiurkan itu.
Aku pun langsung merayap ke antara dua paha putih mulus yang sudah direnggangkan, sampai wajahku berhadapan dengan serambi lempitnya. Lalu kuciumi serambi lempit mungil itu sanbil mengangakannya dengan kedua tanganku, sampai tampak bagian dalamnya yang berwarna pink itu.
Mulailah aku menjilati serambi lempit Tante Tari yang penampilannya seperti gadis belasan tahun itu.
“Aaaaaahhhh… bermimpi pun tidak kalau aku akan mengalami ini semua Bona…” ucap Tante Tari sambil mengusap – usap rambutku.
Dan tubuh indahnya mulai menggeliat – geliat setelah aku mulai gencar menjilati bagian dalam serambi lempitnya yang berwarna pink itu. Terlebih lagi setelah aku menjilati itilnya disertai dengan sedotan – sedotan agak kuat, mendesah dan merintihnya adik bungsu Mamie itu dibuatnya, “Booonaaaaa… aaaaaa… aaaaaah Boooon…
Kamu sudah pandai sekali maen oral… ini luar biasa enaknya Boooon… tapi jangan terlalu lama yaaaa… aku takut keburu orga… Boooon… iyaaaaa… itilnya jilatin dan isep – isep terus Boooon… itilnya ajaaaa… itilnyaaaaa… iyaaaaa… itilnya… itiiiil… aaaaaaah Boooon …
Dengan sigap kutanggapi permintaan Tante Tari itu dengan meletakkan moncong rudalku yang sudah ngaceng berat ini, tepat di mulut serambi lempitnya yang sudah kemerahan.
Dan dengan sekuat tenaga kudesakkan rudalku sampai membenam kepalanya. Kudesakkan laagi sekuat tenaga… blesssss melesak amblas lebih dari separuhnya.
Tante Tari pun merengkuh leherku ke dalam pelukannya, “Maaf ya gak jadi nyepong rudalmu… keburu tak kuat… keburu ingin dientot oleh rudalmu yang panjang gede ini… “
“Nggak apa. Aku lebih suka mengoral daripada dioral,” sahutku sambil mulai mengayun rudal ngacengku perlahan – lahan dulu. Memang sebenarnyalah aku seperti itu. Lebih suka menjilati serambi lempit daripada rudalku diselomoti cewek. Sebabnya, kalau terlalu lama rudalku diselomoti, pada waktunya dientotkan di dalam liang serambi lempit malah gelis metu (cepat keluar).
Dan kini aku sedang mulai menikmati liang serambi lempit Tante tari ini. Gila… sempit sekali liang serambi lempit tanteku ini. Tak kalah sempit dengan liang serambi lempit Tante Artini waktu baru pertama kali kuperawani, tak kalah sempit dengan liang serambi lempit Mbak Rina dan Mbak Lidya waktu aku memecahkan selaput dara mereka.
“serambi lempitnya sempit sekali Tante… gak beda dengan serambi lempit perawan sebelum disetubuhi cowok,” kataku setengah berbisik waktu mulai asyik mengayun rudalku, bemaju – mundur di dalam liang serambi lempit adik bungsu Mamie ini.
“Kan selalu dirawat oleh ramu – ramuan tradisional,” sahut Tante Tari sambil merapatkan pipinya ke pipiku. “Lagian rudalmu ini… kegedean Bon. Tentu aja liang serambi lempit mana pun akan terasa sempit bagimu. Jangan terlalu cepet menyetubuhinya ya… slow aja… biar romantis… “
Tante Tari melanjutkan ucapannya itu dengan mencium bibirku, lalu menyedot lidahku ke dalam mulutnya. Terkadang menyedot bibirku juga, seolah sedang melumatnya. Ini berlangsung lama… lama sekali, sementara liang serambi lempitnya terasa sudah mulai mekar… menyesuaikan diri dengan ukuran rudalku yang memang di atas rata – rata.
O, betapa nikmatnya menyetubuhi adik bungsu Mamie ini…!
Rupanya dia senang “slow motion”, sehingga gesekan demi gesekan di antara alat vital kami lebih bisa dihayati. Gesekan nikmat yang membuat kami serasa tengah berada di kahyangan… seolah tengah berada di surga… surga dunia.
Setelah lumatannya dilepaskan, kualihkan mulutku untuk menjilati leher jenjangnya disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Sementara tanganku pun ikut beraksi. Tangan kiriku meremas – remas toket kanannya, sementara tangan kananku digunakan untuk mengusap – usap rambutnya yang tergerai lepas.
Tante Tari mulai menggeliat – geliat erotis. Desah – desah nafasnya pun mulai terdengar berbaur dengan rintihan – rintihan histerisnya, “Aaaaah… aaaaa… aaaaahhhh… Booon… aaaaaah… ini luar biasa nikmatnya… tak kusangka… bakal menikmati semuanya ini… aku cinta kamu Booon… cintaaaa…
Aaaaaah… rudalmu luar biasa nikmatnyaaaa… entot terusss… perlahan gini aja Boooon… aku ingin menghayati nikmatnya disetubuhi olehmu… aku sayang kamuuuu… cinta kamuuu… Boooonaaaaa… entooootttt terussss… Booonaaa… luar biasa indahnya dunia ini Booon… cintai aku juga ya Bona Sayaaaang…
Kedua tangan Tante Tari pun terkadang meremas – remas kain seprai, di saat lain meremas – remas bahuku, rambutku, tengkukku… dan terkadang mengepak – ngepak kasur, seolah burung patah sayap, ingin terbang tapi tak bisa.
Dalam indahnya menikmati semua ini, terngiang lagi kata – kata Mamie… agar Tante Tari jatuh cinta padaku. Agar hartanya jangan jatuh ke tangan lelaki pemorotan.
Tapi aku melakukan semuanya ini bukan untuk harta. Bukan. Aku hanya ingin menikmati hidup yang “terlambat nakal” ini. Karena semasa masih kuliah, aku tak pernah bertualang dengan siapa pun. Dan kini aku bebas melakukannya dengan wanita pilihanku sendiri… meski dengan keluargaku sendiri.
Sementara itu keringatku mulai bercucuran. Bercampur baur dengan keringat tanteku. Dan manakala keringat sudah membasahi tubuh kami ini, Tante Tari berbisik terengah, “Aku sudah mau lepas… mau orgasme… oooooohhhhh… sekarang percepat entotanmu sayang… aku mau lepas… mau lepasssssssss …
Tante Tari mulai berkelojotan. Aku pun mempercepat entotanku, seolah pelari marathon yang sedang sprint di depan garis finish… dan Tante Tari semakin klepek – klepek… sampai akhirnya menggeliat dan mengejang. Dengan mulut ternganga, dengan mata terpejam dan nafas tertahan.
Pada saat itulah kutancapkan rudalku sedalam mungkin, sampai menabrak dan mentok di dasar liang sanggama Tante Tari …
Pada saat itulah kurasakan sesuatu yang sangat indah. Bahwa liang serambi lempit tanteku berkedut – kedut… empot – empotan seperti pantat ayam waktu ditiupin… mpot mpot mpot… apakah ini yang disebut mpot ayam?
Namun gilanya, aku pun tak dapat bertahan lagi. Tiba – tiba moncong rudalku memuntahkan lendir kenikmatanku… crooootttt… crooootttttt… crooootttttttt… croootttt… crooootttt… crottt… crooootttt…!
Aku menggelepar di atas perut tanteku.
Lalu kami sama – sama terkulai lunglai. Dengan keringat membanjiri tubuh kami.
Ketika kuperhatikan wajah Tante Tari yang sedang menatapku dengan senyum di bibir mungilnya… tampak sekali bedanya. Dia lebih cantik dari sebelumnya. Cantiknya seorang wanita muda yang baru menikmati kepuasan birahi.
Lalu ia mencium bibirku dengan mesranya, disusul dengan bisikan, “Terima kasih Bona Sayaaaang… baru sekali ini aku merasakan puas yang benar – benar puas… barusan kita bareng – bareng lepasnya ya?”
“Iya Tante… gak kuat nahan lagi. serambi lempit Tante terlalu enak sih. “
“Mudah – mudahan aku hamil nanti ya Bon. Soalnya sekarang aku sedang di dalam masa subur. “
“Tante mau punya anak dariku. “
“Sangat mau. Kalau anaknya cowok, biar ganteng seperti ayahnya. “
“Kalau anaknya cewek, biar cantik jelita seperti ibunya. Tapi kita gak boleh menikah.”
“Biar aja. Yang penting aku ingin cinta kita berbunga dan berbuah.”
“Iya Tante,” sahutku sambil mencabut rudalku dari liang serambi lempit tanteku. Kemudian aku turun dari bed sambil mengepal pakaianku. Dan melangkah menuju kamar mandi.
Ternyata kamar mandinya pun tak beda dengan kamar mandi dalam rumah – rumah elit di kota besar. Lengkap dengan bathtubnya segala. Mamie memang punya selera tinggi. Maklum beliau kan belasan tahun hidup di Hongkong bersama seorang pengusaha tajir melilit. Tentu saja seleranya pun tidak murahan.
Lalu entah kenapa, setelah bersih – bersih dan mengenakan pakaian lagi, aku teringat pada Mamie dan ingin meneleponnya. Maka kukeluarkan handphone dari saku celanaku. Kupijit nomor Mamie. Dan :
“Ya sayang… ada apa?”
“Boleh kami nginap di villa kayu Mam?”
“Boleh. Boleh. Usahakan agar dia mencintaimu Sayang. “
“Sudah. “
“Haaa? Sudah?!”
“Iya,” sahutku yang tetap ngomong perlahan. Takut terdengar oleh Tante Tari yang masih terkapar di atas bed itu.
“Hebat. Anak Mamie memang punya daya pesona tinggi. Mamienya aja sampai bertekuk lutut. Jadi maksud sudah itu, sudah kamu gauli?”
“Iya. “
“Hihihiiii… baguusss… berarti dia takkan jatuh ke tangan lelaki yang cuma ingin morotin duitnya. Tau nggak? Duit dia itu lebih banyak daripada duit Mamie Bon. Tapi dia gak ngerti mau diapakan duit sebanyak itu. Makanya nanti kamu arahkan, agar duitnya dikembangkan. Jangan dihabiskan begitu saja.
“Iya Mam. Sudah ya. “
“Iya, iyaaaa… kalau mau nginep di villa kayu itu, ngineplah dengan tenang. Yang penting Mamie juga harus dapet jatah nanti yaaa… emwuaaaah… “
Ketika keluar dari kamar mandi, kulihat Tante Tari sedang rebah miring sambil memeluk bantal guling, dalam keadaan masih telanjang bulat.
Kutepuk – tepuk bokongnya yang proporsional, gede tidak tepos pun tidak.
Tante Tari membalikkan badannya. Membuka kelopak matanya. Menatapku dengan senyum manis di bibir mungilnya. “Udah pakai baju lagi? Belanja di Jogja sih besok lagi aja Bon. Aku masih ingin berlama – lama bersamamu di sini.”
“Iya Tan. Mau nginep juga bisa. Besok atau lusa aja pulangnya.”
“Harus ngomong dulu sama mamiemu. Biar dia nggak merasa cemas.”
“Sudah nelepon barusan. Minta izin mau nginep di sini.”
“Terus mamiemu bilang apa?”
“Ngasih izin. Mau nginep seminggu juga di sini boleh.”
“Hihihiii… asyik dong. Kita bisa memadu cinta sepuasnya di sini. Tapi kalau sudah pulang ke rumah… mati kutu nanti.”
“Kenapa mati kutu? Kamar kita kan berdampingan. Di antara kamar Tante dengan kamarku kan ada pintu. Kunci pintu itu ada padaku. Jadi kapan saja kita bisa melakukannya setelah pulang nanti.”
“Owh… iya ya. Aku pasti ketagihan nanti. Karena baru sekali ini merasakan nikmatnya disetubuhi cowok… yang lebih muda dariku pula cowoknya,” ucap Tante Tari sambil meremas tanganku dengan lembut.
Ketika aku duduk di samping Tante Tari yang maish telanjang, dia bangkit sambil berkata, “Sebentar… mau bersih – bersih dulu Sayang.”
Lalu ia bergegas menuju kamar mandi.
Aku menunggunya sambil duduk bersila di atas bed.
Tak lama kemudian Tante Tari muncul lagi, dengan tubuh dibalut handuk putih yang tersedia di kamar mandi. “Tanah mamiemu di sini cukup luas Bon. Mau sekalian survey?”
“Boleh, “aku mengangguk sambil turun dari bed, “Kita kan mau nginep di sini. Tapi pada gak bawa baju ganti ya?”
“Iya sih. Gak usah nginepo segala deh. Kalau nanti mau menyetubuhi aku lagi kan tinggal buka pintu yang menghubungkan kamarmu dengan kamarku aja.”
“Terus kita mau pulang aja gitu?”
“Ke Jogja dulu. Mau nyari gaun batik yang bagus.”
“Hehehee… percuma aja aku nelepon Mamie tadi, minta izin untuk tidur di sini.”
“Gak percuma lah. Kan nanti malam kita masih bisa main di kamarku,” ucap Tante Tari disusul dengan kecupan hangat di pipiku.
Akhirnya aku setuju untuk pulang dan mampir dulu di Jogja. Sambil berjalan menuju tempat parkir mobilku, Tante Tari menunjukkan dari mana ke mana batas tanah punya Mamie. Semuanya ditanami pohon sawo. Semuanya tampak subur. Jadi kurasa tiada yang perlu direkayasa lagi.
Dalam perjalanan menuju Jogja, Tante Tari berkata, “Bon… meski kita saling mencintai, kita takkan bisa menikah. Tapi aku tidak rela kehilangan kamu. Meski pada suatu saat kamu sudah menikah, hubungan kita harus jalan terus.”
“Aaaah… jangan mikir sejauh itu Tante. Aku sih belum mikir nikah segala. Apalagi sekarang sudah punya Tante Tari, yang cantik dan sulit dicari tandingannya. Mendingan konsen sama Tante aja… tapi itu pun kalau Tante menginginkannya juga.”
“Mungkin aku takkan menikah lagi. Aku akan menganggap kamu aja sebagai suamiku, walau pun kita tidak bisa menikah secara sah.”
“Siap Tante.”
“Siap apa?”
“Siap untuk menjalin hubungan rahasia dengan Tante. Tapi Mamie juga takkan menghalangi hubungan kita Tan.”
“Aku memang paling disayangi di antara adik – adik mamiemu. Tapi dalam masalah hubungan kita, entahlah. Mungkin beliau akan melarang…”
“Nggak mungkin, “sergahku, “Mamie malah menyuruh aku menghibur Tante… biar jangan murung terus katanya.”
“Menghibur kan gak sama dengan mencintai Bon.”
“Lihat aja nanti. Aku akan memperlakukan Tante semesra mungkin di depan Mamie. Kujamin Mamie takkan merintangi.”
“Ohya?! Mudah – mudahan aja seperti itu. Tapi aku butuh rumah pribadi juga Bon.”
“Bisa kucarikan rumah sih. Maju di Solo apa di Jogja?”
“Di mana aja. Yang penting suasananya aman, nyaman dan bebas. Dan yang terpenting, bisa hidup bersama denganmu Bonaku Sayaaang,” ucap Tante Tari yang lagi – lagi disusul dengan kecupan mesranya di pipi kiriku.
“Iya Tan, “cuma itu yang bisa kuucapkan sebagai tanggapan untuk ucapannya.
“Jujur Bon… sebenarnya simpananku di bank lebih besar daripada simpanan mamiemu. Karena aku punya rekening di lima bank. Karena itu aku ingin punya cowok yang kucintai dan bisa dipercaya untuk mengembangkan dana simpananku. Supaya kalau aku punya anak kelak, masa depan anaknya akan terjamin. Dan cowok itu adalah kamu Sayang.
“Iya Tan,” sahutku singkat lagi, karena sedang konsen nyetir.
“Entah kamu itu punya daya pikat yang segitu hebatnya. Sehingga dalam hitungan jam – jaman, aku sudah mencintaimu begini dalamnya.”
“Aku akan merawat cinta Tante itu dengan segala daya dan upaya.”
“Kamu siap untuk punya anak dariku?”
“Siap Tante. Lahirnya seorang anak, bisa memperkuat tali cinta kita.”
“Makanya nanti di rumah, kamu harus rajin menyetubuhi aku selama masa suburku ini. Biar jadi anak… anak kita.”
“Tapi pada waktu hamil, mungkin Tante harus bersembunyi dulu. Jangan ketemu saudara dan siapa pun.”
“Makanya aku minta dicarikan rumah, tujuannya kan untuk itu. Kalau aku hamil di rumahmu kan nggak enak sama mamiemu. Karena dia akan terbebani oleh rahasia pribadiku.”
“Tinggal di kompleks perumahan elit, yang tetangganya pada cuek – cuek mau nggak?”
“Mau. Justru suasana cuek – cuekan gitu yang aku mau. Di mana perumahannya?”
“Di Jogja. Dekat bandara. Tapi harga rumah di sana hitungannya sudah milyar Tan. Enam milyar ke atas.”
“Gakpapa. Justru rumah seperti itu yang kuinginkan. Duapuluh milyar juga gakpapa, asalkan sesuai antara harga dengan kondisinya.”
“Sekarang sih keburu sore. Besok aja lihat – lihat rumah yang mau dijual di kompleks perumahan elit itu ya.”
“Kamu aja sendiri yang surveynya Bon. Kan rumah itu nantinya untuk kita berdua. Kalau kata kamu bagus, ya aku pun pasti menganggap bagus.”
“Tapi lebih enak lagi kalau Tante ikut melihatnya besok.”
“Gak usah Sayang. Aku ingin kamu mengurus semua keperluanku. Pokoknya semua dana simpananku itu akan kuserahkan padamu untuk mengelolanya.”
Ternyata Tante Tari sudah sangat percaya padaku. Sehingga dana sebesar itu pun mau diserahkan padaku untuk mengelolanya.
Pantaslah Mamie berkeras agar bisa merebut hati Tante Tari. Kalau ketemu lelaki yang gak bener, bisa dikuras habis nanti duitnya.
“Ya sudah, kalau Tante akan mempercayakannya semua padaku, nanti smeuanya aku yang ngurus. Tante duduk manis aja.”
“Naaah… itu yang aku mau Sayaaang… “Tante Tari mengusap – usap rambutku dengan lembut, “Pokoknya segala urusan pribadiku akan kuserahkan padamu semua.”
“Tapi kalau harga rumah itu sudah cocok, Tante kan harus menandatangani akte jual belinya di notaris nanti.”
“Kamu aja yang tandatangani. Rumah itu memang untukmu kok.”
“Haaa?!”
“Kenapa seperti kaget? Rumah itu atas namamu nanti. Jadi kalau aku tinggal di sana, aku seolah – olah tinggal di rumah suamiku sendiri.”
Aku cuma nyengir kuda. Tak tahu apa yang harus kukatakan.
“Itu sebagai tanda keseriusan cintaku aja Bon. Kalau aku tidak serius menincintaimu, mana mungkin kuserahkan puki eeeh… serambi lempitku padamu?”
“Iya Tante. Mudah – mudahan aja hubungan kita baik terus ya.”
“Nanti aku akan melakukan RTGS, untuk memindahkan dana dari bank – bank aku ke bank kamu.”
“Sekarang sih udah gak zaman RTGS Tante. Ada yang jauh lebih praktis. Tanpa disulitkan oleh PPATK dan sebagainya.”
“Ya udah. Pakai aja caramu. Yang penting dana dari rekeningku pindahkan ke rekeningmu. Aku sih gak kuatoir – kuatir amat. Mantan suamiku tiap bulan juga transfer nanti. Begitu perjanjiannya sebelum kami bercerai.”
“Kata Mamie, Tante diteror terus oleh istri pertamanya ya?”
“Iya. Soalnya modal awal yang dipakai oleh mantan suamiku adalah duit istri pertamanya. Tapi sebenarnya perusahaan tambangnya itu maju pesat setelah aku dijadikan istri mudanya. Aaaah… sudahlah. Gak perlu ngomongin dia lagi. Suka jengkel jadinya.”
Mendengar hal itu aku pun mengalihkan topik pembicaraan,” Kata Mamie, ibu Tante masih ada ya?”
“Masih ada. Masih seger kok. Usianya kan lebih muda daripada mamiemu.”
“Ohya? Mmm… berarti beliau itu ibu tiri mamie ya?”
“Iya. Tapi ibuku sih gak beda – bredain anak tiri dengan anak kandung.”
“Tinggal di mana dia sekarang?”
“Di Semarang.”
“Setelah kakek meninggal, ibu Tante nikah lagi nggak? Kan masih muda.”
“Nggak mau nikah lagi. Soalnya waktu kakekmu masih ada, dia sangat dimanjakan sama Kakek. Makanya setelah kakekmu meninggal, dia gak mau nikah lagi. Takut gak disayang seperti sama Kakek lagi katanya.”
“Tante juga dimanjakan oleh mantan suami waktu masih di Kalimantan ya.”
“Sangat sangat dimanjakan. Tapi aku merasa hidup dalam kepalsuan. Karena sebenarnya aku tidak mencintainya. Cuma merasa kasihan aja, karena dia sudah habis – habisan untuk memanjakanku. Tapi sudah ah… jangan bahas dia lagi.”
Setibanya di Jogja, kuantar Tante Tari belanja gaun – gaun batik yang katanya sih bagus – bagus. Sementara aku belum bisa membedakan mana batik yang kualitasnya bagus atau tidak. Di mataku batik itu sama saja bagusnya.
Setelah mendapatkan gaun – ghaun batik yang diinginkannya, Tante Tari mengajakku makan malam dulu, karena hari memang sudah jam delapan malam.
Pada saat makan malam itulah aku membuka sesuatu yang ingin kukatakan sejak di villa kayu tadi.
“Tante… aku mau menceritakan suatu rahasia, tapi aku minta Tante janji dulu… janji takkan marah,” kataku.
Tante Tari menatapku dengan sorot menyelidik. Lalu bertanya, “Rahasia soal apa? Sudah punya cewek ya? Nggak… aku takkan marah. Yang penting kamu harus selalu mendampingiku setelah beli rumah nanti.”
“Begini… sebelum berjumpa dengan Mamie, aku kos di rumah Tante Artini.”
“Ohya? Terus di situ kamu punya cewek?”
“Jangan potong dulu dong Tanteku Sayang,” ucapku sambil meremas tangan Tante Tari yang tergeletak di atas meja. “Tante pasti sudah tau bahwa Tante Artini itu pernah menikah dengan lelaki yang dijodohkan oleh almarhum Kakek. Tapi ternyata lelaki itu seorang gay. Kemudian Tante Artini minta cerai. Dan dia menjadi seorang janda dalam keadaan masih perawan.
“Sampai sekarang kamu maih punya hubungan dengan Mbak Ar?”
“Masih Tante. Nah… aku sudah bicara jujur pada Tante. Karena aku tak mau menyembunyikan masalah pribadiku sedikit pun.”
Tante Tari tercenung sejenak. Lalu wajahnya mendadak jadi ceria, seolah menemukan ilham bagus di benaknya. Lalu berkata, “Nggak apa. Aku malah jadi punya teman senasib dan serahasia. Nanti Mbak Ar akan kuajak pindah ke rumah yang akan dibeli itu. Jadi kalau aku hamil, aku punya teman. Hihihiii… biar cepat selesai, sekarang kita ke rumah dia aja yuk.
Aku senang sekali melihat keceriaan Tante Tari itu. Tapi entah bagaimana sikap Tante Artini kalau sudah buka – bukaan dengannya nanti. Mudah – mudahan Tante Artini menerima kenyataan itu dengan “berbesar hati” seperti Tante Tari.
Maka setelah keluar dari rumah makan itu aku arahkan mobilku menuju rumah Tante Artini.
“Tante Ar nasibnya tidak sebaik Tante Tari,” ucapku di belakang setir, “Tante Tari kan jadi janda juga punya dana sedemikian gedenya di bank – bank. Sedangkan Tante Ar, punya rumah kos juga dimodali oleh Mamie.”
“Iya… kasian juga sih Mbak Ar itu. Jadi setelah menjadi janda dia masih tetap perawan?”
“Iya. Kan mantan suaminya gak suka perempuan.”
“Beruntung dong kamu bisa dapetin keperawanan Mbak Ar… hihihiii… kebayang…”
“Iya… jadi janda di usia tigapuluh tahun, masih perawan pula.”
Tante Artini terkejut melihat kedatanganku bersama adik bungsunya. Sementara untuk membuka masalah itu kuserahkan kepada Tante Tari. Karena lidahku terasa kelu untuk menyampaikannya.
Tapi aku merasa beruntung… karena setelah Tante Tari membuka semuanya, Tante Artini tidak kelihatan marah sedikit pun. Dia malah menciumi pipi Tante Tari lalu berkata, “Berarti kita bakal punya teman kalau salah seorang di antara kita hamil nanti ya.”
“Kalau dua – duanya hamil bareng gimana?” tanyaku sambil mencium pipi Tante Artini, lalu mencium pipi Tante Tari juga.
“Biarin aja,” sahut Tante Tari, “kan ada Bona tercinta. Iiiih… aku jadi horny lagi nih…”
“Ya udah… di sini aja mainnya. Kan istanamu baru mau dibeli,” sahut Tante Artini sambil mencium pipi Tante Tari lagi. Lalu kami bertiga ketawa cekikikan sambil melangkah ke dalam kamar tante Artini…
Bersambung… Dengan memiliki Tante Artini dan Tante Tari, aku sudah merasa lengkap. Karena Tante Artini berperawakan tinggi montok, mirip – mirip Mamie, sementara Tante Tari berperawakan tinggi langsing dengan toket sedang – sedang saja. Jadi kalau aku jenuh dengan kemontokan Tante Artini, aku bisa menyalurkan hasrat birahiku kepada tante tari yang berperawakan tinggi langing dan sepasang toket yang sedang – sedang saja tyapi masih sangat kencang dan padat itu. Tapi kini baik Tante Artini mau pun Tante tari sudah sama – sama telanjang bulat di depan mataku. Siapa dulu yang harus kulahap nih? Yang montok dulu atau yang langsing dulu?
Mereka menyerahkan padaku, mau siapa yang akan kuentot duluan. Dengan Tante Tari baru beberapa jam yang lalu aku menyetubuhinya. Sementara dengan Tante Artini, sudah agak lama aku tidak menggaulinya. Lagipula aku ingin agar kekagetannya reda (setelah melihatku membawa Tante Tari berikut penjelasannya), maka akhirnya kuputuskan untuk memenyetubuhi Tante Artini dulu.
“Mulai saat ini Tante jangan minum pil anti hamil lagi ya,” ucapku sambil memainkan pentil toket Tante Artini yang mulai menegang itu.
“Iya,” sahut tante Artini, “kalau ada teman gini, aku ingin hamil. Mumpung usiaku baru tigapuluh.”
“Aku juga ingin cepat hamil,” kata Tante Tari sambil mengusap – usap serambi lempitnya, “Supaya kalau sudah tua kelak, ada yang ngurus.”
“Beruntung kita punya keponakan yang ganteng kayak Bona ini ya Tar.”
“Iya Mbak. Makanya aku butuh cinta dan kasih sayangnya sekaligus jadi sosok yang bisa melindungiku.”
Aku tidak ikut ngomong, karena sedang melorot turun, untuk menjilati serambi lempit Tante Artini. serambi lempit yang terindah di antara serambi lempit – serambi lempit yang pernah kulihat, kusentuh dan kuentot.
Daan kini aku tengah menepuk – nepuk serambi lempit cantik yang seolah tengah tersenyum lucu padaku itu. Puk… puk… puk…!
Lalu kungangakan serambi lempit Tante Artini selebar mungkin. Sehingga bagian yang berwarna pink itu mulai terbuka, seolah menantang lidahku untuk menggasak dan menggeseknya. Ya… aku mulai menjilati bagian yang berwarna pink itu dengan lahap. Namun Tante Tari yang tengah celentang di sebelah kananku tetap mendapat sentuhanku juga.
Dan ketika aku mulai asyik menjilati serambi lempit Tante Artini, jari tengah tangan kananku pun sudah menyelundup ke dalam liang serambi lempit Tante Tari.
Ini terasa asyik sekali, karena aku bisa mainkan dua serambi lempit sekaligus. Dua serambi lempit yang berlainan bentuknya.
Bahkan setelah aku membenamkan rudalku ke dalam serambi lempit Tante Artini, tangan kiriku bisa memegang toket kanan Tante Artini, sementara tangan kananku bisa memegang toket kanan Tante Tari.
Aku pun mulai memenyetubuhi liang serambi lempit Tante Artini yang tak kalah sempitnya dengan liang serambi lempit Tante Tari. Sedangkan tangan kiriku mulai meremas – remas toket kanan Tante Artini, sementara tangan kananku meremas – remas toket kanan Tante Tari.
Aku merasa sedang menikmati dua jenis toket yang berlainan bentuknya. Karena toket Tante Artini lumayan gede, meski tidak segede toket Mamie. Sementara toket Tante Tari termasuk kecil, tapi padat dan kencang sekali.
Sehingga aku jadi sangat bersemangat untuk mengayun rudalku di dalam liang serambi lempit Tante Artini.
Sementara Tante Tari menikmati remasanku di toket kanannya, sambil bermasturbasi dengan menggesek – gesekkan jemarinya ke itilnya sendiri…!
Tante Artini pun mulai mendesah dan menggeliat, lalu merintih – rintih histeris. “Aaaahhh… aaaaa… aaaaaah… Boooonaaaa… aku sudah tergila – gila oleh gesekan rudalmu yang luar biasa enaknya ini Boooon…”
Tante Tari pun mulai mendesah – desah, mungkin akibat masturbasinya yang dilengkapi dengan remasanku di toket kecilnya…!
Maka riuhlah suasana di dalam kamar Tante Artini ini. Bahwa rintihan – rintihan histeris Tante Artini bercampur baur dengan desahan nafas Tante Tari yang semakin gencar menggesek – gesekkan jemari ke itilnya sendiri.
Ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Sampai pada suatu saat Tante Tari memberikan isyarat sambil menunjuk ke serambi lempitnya sendiri. Aku pun merayapkan tanganku ke serambi lempit Tante Tari. Ternyata serambi lempitnya sudah basah sekali.
Aku mengangguk sambil memberi isyarat agar Tante Tari bersabar menunggu.
Untungnya Tante Artini mulai berkelojotan. Lalu mengejang tegang dengan liang serambi lempit berkedut – kedut kencang, pertanda sedang mengalami orgasme.
Aku masih besabar menunggu, sambil tetap memenyetubuhi Tante Artini. Sampai akhirnya Tante Artini sendiri yang memberi isyarat agar aku pindah ke atas tubuh adiknya.
Aku mengangguk. Mencium bibir Tante Artini, kemudian mencabut rudalku dari liang serambi lempitnya. Dan cepat merayap ke atas perut Tante Tari yang menyambutku dengan senyum dan tatapan wanita muda yang sedang horny.
Tanpa banyak langkah lain, aku langsung memasukkan rudalku ke dalam liang serambi lempit Tante Tari yang sudah basah ini. Dan mulai memenyetubuhinya.
Pada saat itulah Tante Tari berkata terengah, “Aku yakin bakal hamil ni Bon… soalnya… ooooh… rudalmu terasa enak sekali… baru dientot sebentar aja udah terasa nikmatnya… semoga aku hamil ya Booon…”
“Iya Tante. Yang penting aku ingin membahagiakan dan melindungi Tante seperti yang Tante inginkan,” sahutku sambil mencium bibirnya dengan hangat. Dan mulai mempercepat entotanku.
Aku yakin bahwa aku bakal kuat bertahan lama menyetubuhi kedua bulekku itu. Karena tadi siang aku baru menyetubuhi Tante Tari. Sehingga sekarang aku seolah sedang memainkan peran di ronde kedua, yang pasti lebih lama durasinya.
Aku punya target, setelah kedua tanteku mencapai orgasme, selanjutnya acara bebas sepuasnya. Tante Artini sudah orgasme. Maka aku akan mengupayakan agar Tante Tari pada saat staminaku masih stabil.
Maka sambil memenyetubuhi serambi lempit Tante Tari, kujilati lehernya dan kuemut pentil toketnya. Bahkan ketiaknya pun kujilati disertai dengan sedotan – sedotan kuat, terkadang disertai gigitan – gigitan kecil.
Maka belasan menit kemudian Tante Tari berkelojotan, lalu mengejang tegang dan… orgasme…!
Lalu aku pindah ke tante Artini lagi. Kali ini kuminta Tante Artini menungging, karena aku ingin melakukan posisi doggy. Tante Artini menurut saja. Ia merangkak, lalu menungging. Dan aku membenamkan batang rudalku ke liang serambi lempit Tante Artini yang masih dalam keadaan agak becek, sehingga rudalku agak mudah mnembenam ke dalam liang tempiknya.
Tante Tari tidak memperturutkan keletihannya. Ia menyaksikanku yang sedang menyetubuhi kakaknya dalam posisi doggi ini sambil tersenyum – senyum. Bahkan ia ikut membantuku, dengan menggerayangi bagian atas, serambi lempit kakaknya. Setelah menemukan itilnya, Tante Tari pun mengelus – elus itil kakaknya itu.
Tentu saja Tante Artini jadi klepek – klepek dibuatnya.
Tapi kali ini aku tak mau menunggu sampai Tante Artini orgasme lagi. Ketika melihat Tante Tari sudah menungging di samping kakaknya, sambil menepuk – nepuk pantatnya sendiri, kucabut rudalku dari liang serambi lempit Tante Artini. Lalu kejebloskan ke dalam liang serambi lempit Tante Tari…!
Kemudian aku mulai dengan keasyikan baru. Berlutut sambil memenyetubuhi serambi lempit Tante Tari yang sedang menungging. Sementara Tante Artini sudah celentang lagi sambil memperhatikan adiknya yang sedang kuentot habis – habisan ini.
Tiba – tiba aku mendapatkan ilham. Tante Artini kuminta agar menelentang dengan serambi lempit berada tepat di bawah mulut Tante Tari. Kemudian Tante Tari kuminta untuk “membantu” agar Tante Artini mencapai orgasme, dengan jalan menjilati serambi lempitnya.
“Hihihihi… kayak di dalam bokep – bokep ya,” sahut Tante Tari. Namun Tante Tari melaksanakan juga apa yang kusarankan. Ia tetap menungging dengan serambi lempit yang sedang kuentot, namun mulutnya langsung menyergap serambi lempit kakaknya. Kemudian menjilatinya dengan lahap.
Sementara aku tetap asyik memenyetubuhi Tante Tari dalam posisi doggy ini.
Ketika giliran Tante Artini yang kuentot dalam posisi doggy, Tante Tari giliran celentang dengan serambi lempit berada di bawah mulut Tante Artini. Kemudian Tante Artini pun menjilati serambi lempit Tante Tari, sementara serambi lempitnya sendiri sedang kuentot.
Banyak… banyak lagi yang kami lakukan malam itu. Sampai akhirnya aku berejakulasi di antara mulut kedua tanteku. Ya… mulut Tante Artini dan Tante tari kubagi secara adil. Crooot ke mulut Tante Artini, lalu croooot ke mulut Tante Tari. Sebgian lagi crot crot croooot di pipi mereka.
Lalu kami bertiga terkapar beberapa saat, dalam keadaan masih telanjang bulat semua.
Setelah bersih – bersih, Tante Tari mengemukakan keinginannya untuk mengajak pindah ke rumah yang akan kucari dan kubeli besok.
“Lalu kos – kosan itu gimana ya?” ucap Tante Artini sambil menunduk.
“Kan rumah kos gak perlu ditunggui tiap hari. Banyak pemilik rumah kois yang rumah pribadinya jauh dari rumah kos itu,” sahut Tante Tari.
“Lalu rumahku ini ditinggalkan begitu saja dalam keadaan terkunci?” tanya Tante Artini.
Aku yang menjawab, “Rombak total rumah ini. Jadikan bangunan yang sesuai dengan mini market. Lalu kontrakkan ke pihak yang berminat untuk membuka minimart di sini. Soal biaya perombakannya biar serahkan kepada Tante Tari saja.”
“Mmm… serahkan sama Bona lah. Kan duitku mau dipegang semuanya oleh Bona,” sahut Tante Tari.
Aku mengangguk sambil berkata, “Iya… aku lupa.”
Tante Tari menepuk lutut Tante Artini sambil berkata, “Kita kan sama – sama memiliki Bona. Dan kalau salah seorang di antara kita hamil, kan ada saudara yang ikut mengurus. Lagian kalau kita di rumah terus juga takkan jenuh, karena ada teman ngobrol yang sama – sama bisa menyimpan rahasia.”
Tante Artini menatap Tante Tari sambil tersenyum. Lalu menyahut, “Iya deh. Aku ikut keinginan adik terseyangku aja.”
“Naaah… begitu dong,” ucap Tante Tari yang disusul dengan kecupan di pipi kakaknya.
Atas desakan Tante Tari, akhirnya Tante Artini mau juga diajak ke rumah Mamie.
Tengah malam kami baru tiba di rumah.
Tante Artini masuk ke kamar di sebelah kamarku, sementara aku mauk ke dalam kamarku sendiri.
Mungkin Mamie sudah tidur. Tapi aku ingin bertemu dengan beliau, untuk melaporkan segala yang telah terjadi di antara aku dan Tante Tari, bahkan juga aku mau melaporkan masalah hubunganku dengan Tante Artini.
Aku memang tak mau menyimpan rahasia apa pun terhadap Mamie.
Lalu aku memijat tombol lift. Setelah pintunya terbuka, aku masik ke dalam lift, menuju lantai tiga.
Setelah berada di lantai tiga, kulihat Mamie sedang tidur celentang dengan daster putih yang tersingkap sampai ke perutnya.
Aaaah… aneh memang. Melihat bagian – bagian terlarang Mamie, selalu saja darahku berdesir. Apakah aku belum kenyang main dengan Tante Tari dan Tante Artini tadi?
Lalu kenapa diam – diam rudalku langsung ngaceng melihat serambi lempit Mamie yang tidak bercelana dalam itu?
Ohya, aku ingat bahwa setiap kali mau tidur, Mamie tak pernah mengenakan celana dalam dan beha. Kalau sudah malam, biasanya Mamie hanya mengenakan kimono atau daster saja, tanpa pakaian dalam lagi di baliknya.
Tanpa berpikir pabnjang lagi kulepaskan segala yang melekat di tubuhku. Lalu dalam keadaan telanjang aku naik ke atas bed Mamie.
Dengan hati – hati kurenggangkan sepasang paha Mamie yang putih mulus dan gempal itu. Tadinya aku ingin menjilati serambi lempit Mamie dulu. Tapi setelah dingangakan, ternyata serambi lempitnya dalam keadaan basah.
Mungkin benar kata orang – orang. Bahwa serambi lempit perempuan montok selalu basah.
Lalu dengan hati – hati kuletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempit Mami. Dan kudorong sekuat tenaga… bleeessss… rudalku mulai menyelundup ke dalam liang kewanitaan Mamie…
“Aaaaaau…! ‘ pekik Mamie sambil melotot, “Ya Tuhan… kamu Sayang? Kirain siapa… !”
Sebagai jawaban kuayun rudalku perlahan – lahan di dalam liang serambi lempit Mamie yang memang basah dan licin ini.
Mamie pun mendekap pinggangku sambil berkata setengah berbisik, “Katanya sudah sama Tari tadi.”
“Aaaah… Mamie tetap akan bersemayam di dalam batinku, sebagai wanita yang paling spesial di dunia ini. Meski pun aku sudah kawin dengan cewek secantik bidadari sekali pun, hubungan rahasia dengan Mamie tak boleh putus.”
Mamie mencium sepasang pipi dan bibirku. Lalu berkata, “Iya Sayang… mamie juga akan selalu menyayangi dan mencintaimu di seumur hidup mamie. Aaaa… aaaaaah… pelan dulu menyetubuhinya Sayaaang… jangan langsung cepat begini…”
Lalu kupelankan kecepatan entotanku.
Mamie pun merapatkan pipinya ke pipiku sambil berkata, “Setelah tau bahwa kamu ini anak kandung Mamie… anehnya… tiap kali bersetubuh sama kamu malah jadi tambah nikmat Sayang…”
“Iya Mam… aku juga begitu. Bahkan ada perasaan takut kalau semua ini dihentikan… pasti aku akan sedih sekali mamieku Sayang… biarkan aja dosanya kita tanggung berdua… karena kita sudah telanjur menikmati hubungan rahasia ini.”
“Tuh tuh tuuuuh… sekarang nikmatnya ini terasa mengalir dari ujung kaki sampai ke ubun – ubun kepala mamie sayang… ooo… oooo… oooooh… sambil emut lagi pentil tetek mamie Bon…”
Kuikuti saja keinginan mamie itu, mengemut pentil toket gedenya sambil memenyetubuhi liang serambi lempitnya secara berirama. rudalku bermaju mundur terus di dalam lubang licin dan hangat Mamie… sretttt… bleessss… srttttt… blessss… srtttt… blesssss… srttttt… blessssssss… srettttt …
Sementara dekapan Mamie di pinggangku makin erat saja rasanya.
Lalu rintihan – rintihan tertahan pun mulai terdengar di telingaku. Lebih mirip bisikan yang hanya aku bisa dengar. “Mamie sayang Bonaaa… ooooh… ternyata kepuasan itu hanya kudapatkan dari anakku sendiri… Booonaaaa… Mamie sangat sayang sama kamu Booon… ayoooo… entot terus Sayaaang…
Entooootttt… entoooootttttttt… aaah… aaaaaaaa… aaaaaaah… makin lama makin enaaaaak… entoooot terusss sayaaang… entoooot serambi lempit mamie sepuasmu… entooooootttt… entoooottttttt… rudalmu luar biasa enaknyaaaa… rudal enaaak… entoooooottttttttt… entttooootttttttt teruuuuuuuussss…
Keringat pun mulai membasahi tubuhku dan tubuh montok Mamie. Karena sudah lama kami melakukan semuanya ini.
Sehingga pada suatu saat Mamie membisiki telingaku dengan suara tersendat, “Sayaang… mamie udah mau lepas… ayo barengin kalau bisa… biar nikmaaaaat…”
Aku berusaha untuk mengikuti keinginan Mamie. Dengan segenap gairah kugencarkan entotanku. Maju mundur dan maju mundur dengan cepatnya di dalam liang serambi lempit Mamie tersayang dan tercinta…!
Mamie pun mulai menggelepar – gelepar. Lalu sekujur tubuhnya mengejang tegang, dengan kedua tangan meremas dan menjambak rambutku, dengan nafas tertahan dan mata terpejam erat – erat.
Dan… wow… aku berhasil melakukan keinginan Mamie. Bahwa ketika liang serambi lempit Mamie mengejut – ngejut, rudalku pun mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.
Crooottttt… croooottttcroootttt… croooottttttt… crooootttttt… crottttt… crooootttt…!
Lalu kami sama – sama terkulai lunglai di pantai teramat indah bernama kepuasan.
Mamie pun mencium bibirku dengan hangatnya. Lalu berkata lirih, “Terima kasih Sayang. Kamu adalah satu – satunya lelaki yang paling memuaskan buat mamie. Dan mamie makin sayang padamu. Sayang sekali… emwuaaaah… “Mamie menutup ucapannya dengan kecupan hangat lagi di bibirku.
Setelah kucabut rudalku dari liang serambi lempit Mamie yang sudah sangat becek itu, Mamie pun bangkit. Duduk sambil menyeka serambi lempitnya dengan kertas tissue basah. “Katanya mau tidur di villa kayu. Kenapa gak jadi?” tanya Mamie.
“Tante Tari ngajak ke rumah Tante Artini,” sahutku, “Lalu Tante Artini dibawa ke sini sekalian.”
“Ohya?! Di bawah ada Artini segala?”
“Iya Mam. Sekalian aku juga mau ngomong soal Tante Artini.”
“Mau ngomong bahwa kamu pernah menggauli dia juga ya?”
“Iiiih… Mamie kok tau aja.”
“Dari awal kamu datang ke sini, mamie liat sikap Artini padamu. Begitu penuh perhatian kelihatannya. Makanya mamie sudah menduga kalau di antara dia dengan kamu pernah terjadi sesuatu.”
“Iya Mam. Awalnya Tante Artini mengaku masih perawan, padahal statusnya janda. Karena itu dia ingin tau seperti apa rasanya bersetubuh itu. Lalu… dia memberikan keperawanannya padaku, Mam.”
“”Berarti dia benar – benar masih perawan saat itu?”
“Iya Mam. Makanya sebelum berjumpa dengan Mamie, aku sudah ada hubungan rahasia dengan Tante Artini. Masalah ini tak mau kurahasiakan kepada Tante Tari.”
“Tari cemburu dan marah?”
“Tidak Mam. Dia malah berniat untuk serumah dengan Tante Artini, supaya kalau Tante Tari hamil, ada yang nemenin ya Tante Artini itu. Aku bahkan disuruh beli rumah untuk Tante Tari, yang nantinya akan dihuni oleh Tante Artini juga. Ohya Mam… seluruh dana kepunyaan Tante Tari akan diserahkan semuanya padaku, supaya aku bisa mengembangkannya.
“Berarti Tari sangat mencintaimu Bon. Tapi ingat… kamu harus tetap jadi manusia jujur. Duit Tari itu jangan dipakai untuk foya – foya. Kasihanilah Tari yang sekarang hidup menjanda.”
“Iya Mam. Aku bahkan berniat untuk mengembangkan dana Tante Tari sebisa mungkin. Ohya Mam… mengenai tugas dari Mamie, aku hanya mau mengurus bisnisnya saja. Tentang masalah pengelolaan tanah – tanah Mamie, nanti aku akan merekrut sarjana pertanian yang seangkatan denganku. Biar dia yang mengurus masalah pertaniannya, sementara aku hanya akan mengurus bisnisnya saja.
Mamie mengangguk dengan senyum. Dan berkata, “Sebenarnya mamie juga merasakan hal seperti itu. Tadinya ingin mengurus tanah – tanah warisan dari almarhum suamiku. Tapi setelah terjun ke dunia agro bisnis, ternyata hasilnya jauh lebih gede daripada bertani. Hihihiii… syukurlah kalau kamu pun sudah sepandangan dengan Mamie.
“Iya Mam. Mungkin nanti aku akan merekrut beberapa teman seangkatanku. Lalu mereka akan dipecah ke masing – masing lokasi tanah punya Mamie. Misalnya yang di Jabar seorang, yang di Jateng seorang dan yang di Jatim seorang.”
“Tanah mamie bukan cuma di pulau Jawa, Sayang. Di Sumatra ada, di Kalimantan ada. Malahan di Papua juga ada… bahkan tanah mamie yang paling luas ya di Papua itu. Berarti kamu harus merekrut paling sedikit enam orang sarjana pertanian. Atau gimana ya kalau tanah – tanah yang di luar Jawa itu dijualin aja?
“Nanti dulu Mam. Harus dipikirkan dulu baik – buruknya. Soalnya tanah itu walau pun dibom takkan habis. Dan harga tanah di negara kita masa depannya sangat baik. Makanya daripada mengoleksi mobil mendingan ngoleksi tanah. Karena harga tanah naik terus, sementara kalau kitabeli mobil, tahun depan pasti akan turun nilainya…
“Iya… kamu betul Bon. Mama seneng mendengar wawasan kamu yang ternyata sudah luas begitu.”
“Iya Mam. Kalau Mamie punya duit yang nganggur, belikan tanah atau rumah aja. Aku punya teman tiga tahun yang lalu beli rumah harganya dua milyar. Sekarang sudah ditawar tujuh milyar gak dilepas Mam. Dalam masa tiga tahun aja perkembangannya sedemikian bagus kalau investasi di bidang properti kan?”
“Oke… dalam soal bisnis, mamie setuju pada pendirian dan wawasanmu. Makanya nanti terserah kamu, harta dan dana mamie itu mau dijadikan apa. Yang penting hasilnya poisitif,” kata Mamkie, “Sekarang mengenai Tari dan Artini itu mau dibagaimanakan? Mamie sih gak mau berpandangan kolot. Pasti kamu membutuhkan perempuan untuk membangkitkan gairah hidup dan bisnismu.
“Iya Mam. Tapi kalau ditinggalkan kasihan Tante tari dan Tante Artini itu. Mereka sudah sangat mencintaiku. Dan bagusnya, mereka bisa kompak. Tidak saling cemburu. Makanya aku akan memperlakukan mereka sebagai istri – istriku, tapi takkan melaksanakan akad nikah secara sah. Ohya… memangnya Mamie gak cemburu kalau mereka kujadikan sebagai wanita simpananku?
“Aku ini kan ibumu Sayang. Kalau kamu punya pacar lalu menikah, misalnya, mamie malah bangga karena anakku sudah ada jodohnya. Tapi hubungan rahasia kita harus berjalan terus… itu saja syaratnya.”
Lalu aku dan Mamie merundingkan banyak hal. Baik tentang bisnis mau pun tentang masalah pribadi kami.
Sampai akhirnya aku tertidur di dalam belaian dan pelukan Mamie.
Keesokan paginya, setelah makan sarapan pagi bersama Mamie, Tante Artini dan Tante Tari, mamie mengajak Tante Artini dan Tante Tari ke lantai tiga, lewat tangga biasa. Karena lift itu seolah jadi rahasiaku dengan Mamie. Aku pun diajak naik ke lantai tiga. Ke ruang keluarga yang sangat jarang dipakai oleh Mamie.
Di situlah Mamie membahas masalah hubunganku dengan kedua tanteku itu.
Mamie berkata, “Aku sudah tahu bahwa di Artini dan Tari sudah menjalin hubungan seperti suami istri dengan Bona. Gak apa – apa. Aku malah merasa jadi ada teman dua orang sekaligus adik – adik kandungku.”
Tante Artini dan Tante Tari saling pandang sambil tersenyum.
“Kalian mengerti apa yang kumaksud teman barusan?” tanya Mamie pada kedua adiknya.
Kedua tanteku saling pandang lagi.
“Begini, “lanjut Mamie, “pada waktu Bona baru datang diantar oleh Artini itu, aku belum tau kalau Bona itu anak kandungku. Artini juga belum tau kan?”
“Njeh Mbak,” sahut Tante Artini.
“Nah pada saat itu, jujur aja… aku melihat kegantengan Bona, sementara aku sendiri sudah lama sekali tidak mendapatkan sentuhan lelaki. Sampai akhirnya kuminta Bona menggauliku. Begitu sering kami melakukannya. Sampai datang ibu angkat Bona sekaligus menjelaskan siapa Bona sebenarnya. Bahwa Bona itu Fajar yang waktu masih bayi merah kuberikan kepada Bu Maryani, ibu angkat Bona itu.
Kedua tanteku saling pandang lagi, dengan sorot wajah semakin serius.
Mamie melanjutkan, “Gilanya, aku sudah telanjur ketagihan. Sehingga setelah aku tau bahwa Bona itu anak kandungku, aku tak bisa menghentikan kegilaan itu. Bona pun sepakat, untuk tetap melanjutkan kebiasaan gila tapi nikmat itu.”
“Nah…” ucap Mamie di ujung pengakuan singkatnya, “sekarang ternyata kalian juga ingin memiliki Bona kan? Gak apa – apa. Kita anggap aja Bona itu sebagai milik kita bertiga. Tapi ingat, masalah ini jangan sampai bocor ke luar. Kita harus pandai – pandai merahasiakannya. Surtini dan Haryati juga jangan sampai tau.
Kemudian Mamie dan kedua adiknya berunding, tentang langkah – langkah selanjutnya, disertai dengan canda tawa.
Aku pun senang mendengarkannya. Tapi aku harus ke Jogja, untuk melihat – lihat rumah yang akan dijual. Untuk Tante Tari itu. Sekalian ingin menjumpai teman seangkatanku yang bernama Charlita, tapi biasa dipanggil Tata itu. Karena aku akan merekrut dia, kalau dia belum mendapatkan lapangan kerja.
Maka aku pamitan kepada Mamie dan kedua adiknya.
“Maju ke mana Bon? “tanya Tante Artini.
“Mau membeli rumah untuk boss muda ini,” kataku sambil menunjuk Tante Tari.
Tante tari pun serasa diingatkan. Lalu ia mengeluarkan sebuah buku cek dari tas kecilnya dan menyerahkannya padaku sambil berkata, “Semua cek yang sebuku ini sudah ditandatangani semua. Nanti tinggal menulis nominal dan tanggal ceknya aja Bon.”
“Iya Tante.”
Sebelum berangkat, aku mencium bibir Mamie, bibir Tante Artini dan bibir Tante Tari.
Tiada rahasia lagi di antara kami berempat. Karena itu aku tidak melakukan cipika – cipiki lagi, melainkan cium bibir mereka satu persatu.
Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di dalam sedan hitam yang sudah menjadi milikku itu, menuju Jogjakarta.
Tadinya aku ingin menuju perumahan elit di dekat bandara itu. Tapi aku ingin mendapatkan kepastian dulu dari Charlita, apakah dia bersedia kurekrut atau tidak. Sayang aku belum punya nomor hapenya. Sehingga aku tidak bisa call dan mengajaknya ketemuan di suatu tempat yang nyaman. Tapi aku masih ingat rumahnya, di daerah Ngadiwinatan, masuk ke dalam gang kecil.
Setibanya di Jogja aku langsung menuju ke arah rumah Tata Charlita.
Setelah memarkir mobil, aku melangkah ke dalam gang kecil yang hanya bisa dilewati motor atau sepeda itu.
Dan… maaaak… kebetulan sekali Tata sedang berdiri di depan rumahnya. Sehingga aku bisa menyapanya langsung, “Tata cantik… lagi ngapain?”
Tata tampak kaget. Memandang ke arahku dan menyahut, “Hai Bona! Tumben maen ke sini. Mau ke rumah siapa?”
“Mau ke rumah kamu. Kok seperti mau pergi?”
“Mmm… iya sih tadinya mau pergi, tapi gak penting – penting amat. Ayo masuk, “Tata membuka pintu pagarnya. Aku pun masuk ke dalam pekarangan yang lebarnya cuma semeter lebih sedikit, mungkin. Kemudian masuk juga ke dalam rumahnya. Ke ruang tamu yang kira – kira hanya berukuran 2 X 2 meter.
“Untung kamu datang hari ini. Kalau besok, aku sudah pulang ke kampung,” kata Tata setelah mempersilakanku duduk di kursi rotan.
“Terus rumah ini mau ditinggalkan kosong?”
“Iya. Rumah ini kembalikan aja kuncinya kepada pemiliknya.”
“Owh… ini bukan rumah kamu?”
“Bukan. Aku cuma ngontrak di sini. Ntar dulu… kayaknya kamu serius Bon. Ada hal yang bisa kubantu?” tanyanya.
“Kamu sudah dapat kerjaan belum?” aku balik bertanya.
“Belum, “Tata menggeleng, “Memangnya kamu mau ngasih kerjaan sama aku?”
“Iya,” sahutku. Kemudian kututurkan maksudku datang ke rumahnya, untuk menempatkannya di salah satu lokasi tanah milik Mamie.
Tata pun mendengarkannya dengan serius.
“Tanahnya di mana saja Bon?”
“Di Jatim ada, di Jateng dan Jabar juga ada. Bahkan di Sumatra, Kalimantan dan Papua juga ada. Terserah kamu, mau pilih yang mana lokasinya.”
“Di Jabarnya sebelah mana?”
“Dekat perbatasan antara Jabar dengan Jateng.”
“Waaah… aku pilih di Jabar aja, biar dekat kampungku.”
“Kampungmu di mana sih?”
“Di Ciamis. “ “Mmmm… pantesan kamu manis. Amis dalam bahasa Sunda berarti manis kan?”
“Iya… hihihiiii… selama kenal denganku, baru sekali ini kamu muji aku manis. Biasanya sih cuek mulu. Sampai aku mikir, jangan – jangan kamu ini LGBT.”
“Hush… aku ini normal Ta. Apa perlu kubuktikan?”
“Hihihiii… gak usah, gak usah… aku percaya deh. Percayaaa… “Tata mengibas – ngibaskan tangannya sambil geleng – geleng kepala.
SLalu aku pamitan, karena mau melihat rumah yang akan dijual di kompleks perumahan elit itu.
Tata mengantarkanku sampai ke mulut gang. Dan tertegun melihat mobilku yang memang bukan mobil murahan ini.
“Pengen ngerasain duduk di mobil mewah gini, “katanya sambil mengusap – usap sedan hitamku.
“Ya ayo kalau mau nyobain sih,” sahutku, “nanti kuanterin ke sini lagi.”
“Mmm.. kalau kamu gak keberatan sih besok pagi kita ke lokasi bareng aja. Tapi aku mau sekalian pulang kampung.”
“Boleh. Besok sekitar jam delapan pagi kita ketemuan di sini. Lalu barengan berangkat ke lokasi. Oke?”
Tata menatapku dengan sorot yang ceria, “Iya deh. Besok aku nongkrong di sini sebelum jam delapan.”
“Iya. Kamu kan bisa sekalian jadi penunjuk jalan. Karena aku sendiri belum pernah menginjak tanah yang harus dibenahi itu.”
“Lho… katanya tanah itu punya ibumu. Kok belum pernah ke sana?” Tata kelihatan bingung.
“Panjang deh ceritanya. Besok aja kuceritain ya. Jam delapan siap ya.”
Kemudian aku meninggalkan Tata, menuju perumahan elit itu.
Tak sulit untuk menjumpai petugas managemen developer perumahan itu. Ada beberapa rumah yang akan dijual, karena angsurannya macet. Setelah memilih – milih, akhirnya aku menentukan rumah yang ada kolam renangnya. Supaya Tante Tari dan Tante Artini bisa berolahraga juga. Selain daripada itu, rumahnya paling besar dan bagus di antara rumah – rumah yang akan dijual ulang oleh pihak managemen.
Kalau membeli rumah baru, sudah sold out semua. Maka terpaksa aku memilih rumah – rumah second tapi kelihatannya masih 100 % baru itu. Harganya pun jauh lebih murah daripada harga baru. Tapi harus dibayar cash, tidak bisa dicicil lagi.
Rumah yang kupilih itu terdiri dari 2 lantai. Di lantai 2 ada 1 kamar. Di lantai dasar ada 3 kamar, ruang tmu, ruang makan, ruang keluarga, kitchen, kamar pembantu dan sebagainya. Kolam renang itu terletak di belakang dan tertutup oleh benteng tembok tinggi, Sehingga dari luar tidak bisa melihat ke kolam renang itu.
Setelah tawar menawar yang cukup alot, akhirnya aku sepakat di harga matinya. Dan langsung kubayar di depan notaris yang langsung hadir di kantor managemen perumahan elit itu. Di zaman sekarang semuanya bisa dimudahkan oleh system. Untuk menandatangani AJB (akte jual beli) pun tak usah pergi ke kantor notaris.
Aku membayarnya dengan selembar cek yang sudah ditandatangani oleh Tante Tari itu. Aku tinggal menulis nominal harga rumah itu dan tanggal dikeluarkannya cek itu. Selesai sudah.
Kemudian aku pulang ke rumah Mamie. Dan melaporkan masalah rumah itu kepada Tante Tari.
Tante Tari dan Tante Artini tampak ceria. Terutama setelah mendengar bahwa rumah itu ada kolam renangnya segala.
“Tapi besok aku belum bisa mengantarkan Tante ke rumah itu. Karena aku mau ke Banjar dulu, ke lokasi tanah milik Mamie. Mungkin sekitar tiga hari lagi kita bisa ke sana, sekalian membeli furniture dan perabotan rumah lainnya. Karena sekarang masih kosong melompong,” kataku kepada Tante Tari.
“Iya, santai aja Bon. Kan kita gak dikejar – kejar waktu. Urus aja dulu tanah mamiemu itu,” sahut Tante Tari.
Mamie memberi petunjuk kepada siapa aku harus menghubungi setelah tiba di lokasi tanah miliknya besok. “Mamie akan nelepon dia besok pagi. Supaya dia mengantarkan kamu ke lokasi dan menunjukkan batas – batas tanah itu,” kata Mamie.
Hari itu kami hanya ngobrol dan istirahat. Tidak ada acara sex. Karena besok pagi aku harus nyetir sendiri ke Banjar, yang jaraknya cukup jauh itu. Kalau ada acara sex, bisa ngantuk waktu nyetir besok.
Keesokan harinya pagi – pagi sekali aku sudah berada di belakang setir sedan hitamku yang sudah kujalankan menuju Solo, kemudian menuju ke arah barat. Menuju Jogja.
Ternyata Charlita sudah menunggu di mulut gang menuju rumah kontrakannya itu.
Dan yang membuatku terlongong adalah pakaiannya itu. Ia mengenakan celana pendek jeans yang sudah compang – camping ujungnya, ada bolong – bolongnya pula, sehingga aku bisa menyaksikan keindahan kaki Charlita yang putih mulus itu. Tapi ke atasnya, entah apa yang dikenakannya, karena ia mengenakan jaket kulit hitam.
Kubuka pintu depan kiri dari dalam, tanpa turun dulu dari mobilku. Charlita pun masuk dengan senyum manis di bibirnya.
“Seksi bener pakaianmu pagi ini,” ucapku setelah Charlita mengenak seatbelt.
“Seksi apa, cuma celana pendek ini yang kamu anggap seksi?”
“Secara keseluruhan kamu tampak seksi Tata.”
“Mmm… thank you…”
“Sudah lama barusan nunggu?”
“Seperempat jam kurang lebih.”
“Katanya mau nyeritain masalah tanah itu. Kenapa kamu yang anak kandung pemilik tanah itu belum pernah datang ke sana?”
“Singkatnya aja, aku baru sebulanan tau bahwa beliau itu ibu kandungku.”
“Wow… gimana ceritanya?”
“Sejak bayi aku dibesarkan sampai dewasa oleh orang tua angkatku. Tadinya kupikir mereka papa dan mama kandungku. Dan kira – kira sebulan yang lalu aku baru dikasih tau bahwa ibu kandungku adalah pemilik tanah yang akan kita tinjau itu.”
“Terus sekarang kamu tinggal bersama ibu kandungmu?”
“Iya.”
“Dari ibu kandungmu punya saudara?”
“Nggak. Aku anak tunggal. makjanya semua harta ibuku diserahkan padaku untuk mengelolanya.”
“Terus kenapa bukan kamu sendiri yang mengelolanya?”
“Aku mau fokus ke agro bisnisnya aja. Sementara tanah – tanah yang bertebaran di sana – sini akan kupercayakan pada orang lain. Seperti sekarang ini, tanah yang di Jabar akan kupercayakan padamu untuk mengelolanya.”
“Bisa lihat denah tanahnya?”
“Ambil aja di laci dashboard tuh.”
Charlita membuka laci dashboard, lelu mengeluarkan gulungan kertas dan memperlihatkannya padaku.”Yang ini?” tanyanya.
“Iya,” sahutku.
Charlita membuka gulungan kertas itu, lalu memperhatikan denah tanah milik Mamie yang di Jabar itu. “Wow… luas sekali tanahmu ini Bon. Tujuhpuluhdua hektar…!”
“Iya, makanya aku hanya bisa mempercayakan kepada insinyur pertanian untuk mengelolanya.”
Sekarang istilah “insinyur pertanian” sedang diperdebatkan, bahkan ada fakultas yang tidak memakai istilah “insinyur” lagi. Tapi pada masa kisah nyata ini terjadi, gelar insinyur pertanian masih digunakan secara sah.
“Mmmm… aku tau letak lokasi ini. Kalau dari sini sebelum Banjar ke sebelah kanan,” kata Charlita.
“Iya,” sahutku, “makanya nanti kamu sekalian jadi penunjuk jalan. Karena aku sama sekali blank di daerah lokasi tanah itu.”
“Ohya, kata kamu kemaren, gajiku dihitung per hektar ya?”
“Iya.”
“Wuiiih… berarti gajiku bakal gede dong…”
“Tapi dengan syarat, pengelolaanmu harus bagus semua.”
“Soal itu sih jangan takut. Aku jamin semuanya akan berubah drastis. Mwuaaaah… “Charlita mengakhiri ucapannya dengan kecupan di pipi kiriku. Membuatku kaget. Karena tak menyangka kalau ia akan seagresif itu.
Tapi lalu kataku, “Kamu cium pipiku… harus tanggung jawab nanti ya.”
“Tanggungjawabnya dengan cara apa?”
“Dengan melanjutkan ke acara yang lebih jauh. Ayooo…”
“Kalau kamu sudah tau siapa aku, pasti kamu takkan bilang gitu.”
“Emangnya kenapa?”
“Di kampus gak ada yang tau kalau aku ini seorang janda Bon.”
“Wah… asyik dong.”
“Kenapa asyik?”
“Kita bisa berbagi rasa, supaya hubungan kita lebih dekat. Jangan cuma antara manager dengan owner.”
“Mmm… gak tau juga. SOalnya selama hidup menjanda, aku tak pernah dekat dengan cowok mana pun.”
“Tapi kalau denganku harus dekat dong. Supaya kamu lebih profesional lagi bekerjanya nanti.”
“Iyalah. Aku mau dekat denganmu, agar masa depanku lebih diperhatikan oleh Boss. Emwuaaaaah… “lagi – lagi Charlita mengakhiri ucapannya dengan kecupan hangat di pipi kiriku.
“Sip deh, “cetusku di belakang setir, “Soal masa depanmu, jangan takut. Pasti akan kuperhatikan. Pokoknya semua orang yang dekat denganku, pasti mandapat jaminan masa depan yang takkan mengecewakan. Yang penting jujur dan ulet.”
“Dan rajin mendekati boss ya… mwuaaaah… mwuaaaah… mwuaaaah… “Charlita mengecup pipi kiriku lagi… tiga kali…!
Charlita telah membuka jalan. Membuatku takkan ragu untuk melangkah lebih jauh lagi.
Maka tangan kiriku pun mulai menangkap lutut kanan Charlita yang terbuka di bawah celana pendek jeansnya.
“Seperti apa ya kamu kalau sudah telanjang?” tanyaku sambil menahan tawa.
“Kan nanti juga bakal kelihatan semua,” sahutnya.
Triiiiing…! rudalku mendadak ngaceng di balik celana jeans dan celana dalamku.
“Itunya dicukur nggak?”
“Apanya yang dicukur?”
“serambi lempitnya.”
“Hihihiiii… cuma digunting dan dirapikan. Nggak pernah dibotakin. Takut kelihatan gersang… malah seperti tahu pecah kebanting. Hihihihiiii…”
“Mmmm… kebayang…”
“Kebayang apa?”
“Kebayang waktu kujilatin.”
“Apanya yang dijilatin?”
“serambi lempitmu.”
“Iiiiihhh… aku langsung horny nih, “cetus Charlita sambil mencubit lengan kiriku.
Pada saat itu mobilku sudah memasuki Gombong.
“Kita makan dulu ya. Aku lapar.”
“Iya Boss. Aku juga lapar. Padahal tadi sudah sarapan pagi.”
Lalu aku mencari rumah makan, entah rtumah makan mana yang enak makanannya. Akhirnya asal – asalan milih saja. Yang penting perut lapar diisi dulu.
Pada waktu sedang makan, sikap Charlita jauh berubah. Jadi begitu jinak dan seolah mau merapat terus padaku.
Sehingga akhirnya aku berkata setengah berbisik, “Bagaimana kalau kita cek in aja di hotel yang ada di sini?”
“Terus meninjau lokasinya kapan?”
Kujawab dengan bisikan, “Sekarang ini dirimu lebih penting daripada penggarapan tanah itu. Meninjau lokasi kan bisa sore atau besok pagi sekalian.”
“Terus mau nginep di hotel nanti malam?”
“Iya… bagaimana?”
“Terserah kamu,” sahut Charlita yang disambung dengan bisikan, “Aku juga lagi horny berat. Tadi ngomongnya menjurus ke sana terus sih.”
“Ya udah. Kalau gak salah di kota kecil ini ada hotel bagus kok.”
“Iya, “Charlita mengangguk sambil tersenyum. Membuatku semakin bergairah untuk merasakan kehangatannya.
Setelah membayar makanan yang kami santap, kujalankan mobilku perlahan – lahan. Menyelidik hotel demi hotel yang kami lewati. Sampai akhirnya kubelokkan mobilku ke pelataran parkir sebuah hotel berbintang, entah bintang tiga entah bintang empat.
Kali ini yang terpenting bagiku adalah menikmati kehangatan Charlita…!
Tampaknya Charlita pun tidak berbasa – basi waktu menyatakan horny tadi. Karena begitu berada di dalam kamar yang sudah kubooking, dia langsung melingkarkan lengannya di leherku, lalu mencium bibirku dengan lahapnya.
“Kamu ini manis sekali Ta,” ucapku setelah melepaskan ciuman dan lumatan Charlita.
“Kamu juga ganteng sekali. Bahkan waktu masih sama – sama kuliah, kamu terkenal sebagai mahasiswa terganteng di kampus.,” sahut Charlita sambil memegang kedua tanganku dengan senyum manisnya yang membuatku terlongong.
Charlita itu bertubuh tinggi langsing. Namun meski belum melihatnya secara terbuka, aku yakin toketnya gede. Sementara bokongnya proporsional, tidak terlalu gede tapi tidak juga kecil tepos. Pasti bentuknya indah sekali setelah telanjang bulat nanti.
“Beneran pengen melihatku telanjang?” tanya Charlita dengan mata bergoyang perlahan.
“Iya,” sahutku, “Makanya aku ngajak cek in ke sini juga karena ingin melihatmu telanjang.”
“Tapi jangan bocorin ke teman – teman nanti. Sejak menjanda, baru sekali ini aku merasa siap untuk diapain juga oleh seorang cowok. Ini karena ingin dekat saja denganmu, karena kamu itu selain bakal jadi bossku… juga ganteng sekali,” ucapnya sambil melepaskan jaket kulitnya. Lalu tampak pakaian di balik jaket kulit itu, bukan blouse tapi sesuatu yang mirip kaus singlet tapi terbuat dari jeans.
“Wooow… toketmu ini indah sekali bentuknya… “cetusku sambil memegang toket gede itu dengan hati – hati, karena tak mau disebut cowok kasar.
“Bona sendiri mau pakaian lengkap terus?” tanyanya sambil mencubit lenganku.
“Pengen liat serambi lempitmu dulu. Hehehee…” sahutku sambil melepaskan jaket dan baju kausku. Pada saat aku melepaskan sepatu dan celana jeansku, Charlita sedang melepaskan celana dalamnya, sehingga telanjang bulatlah teman kuliahku yang sudah sama – sama insinyur pertanian itu.
Ooo… betapa indahnya tubuh Charlita itu… membuatku terbengong – bengong.
Ketika melihat celana dalamku masih melekat di badanku, Charlita berjongkok di depanku sambil menurunkan celana dalamku, sampai terlepas dari sepasang kakiku.
Toiiiiiiing… rudalku langsung bergoyang – goyang dalam keadaan ngaceng berat di depan mata Charlita yang sedang melotot kaget. Dan ia memegangnya sambil berseru perlahan, “Wow… ini rudal manusia apa rudal kuda?”
Charlita tak cuma memegangnya saja. Tapi juga menciumi leher dan moncong rudalku. Bahkan menjilatinya juga dengan tangan agak gemetaran. Ngocoks.com
Tapi aku tidak ingin dioral. Karena dalam suasana nafsu birahiku sedang menggebu – gebu begini, bisa cepat ngecrot kalau dioral oleh teman seangkatanku itu.
Maka kutarik kedua lengan Charlita ke atas, agar dia berdiri dan kudesakkan badannya ke atas bed.
Lalu mulutku langsung menyeruduk ke serambi lempit berjembut pendek – pendek sekali itu, dengan gairah birahi yang semakin menggila.
Kungangakan mulut serambi lempit cantik itu sampai tampak bagian dalamnya yang kemerahan dan mengkilap itu, lalu kujilati bagian kemerahan yang empuk dan hangat itu. Dengan geliat nafsu yang semakin menagih – nagih.
“Booonaaa… aaaaa… aaaa… aaaaahhh… aku serasa bermimpi Bon… bahwa kamu yang dahulu terkenal dingin itu… sekarang begini dekatnya denganku… aaaaaah… kamu pandai sekali menjilati serambi lempit Booon… iaaaa… aaaaaah… aaaaa… aaaaah… Booooo… naaaa… Booo… naaaaaaa…
Bahkan kemudian kugencarkan jilatanku pada itilnya yang tampak menonjol dan agak mengeras itu.
“Aaaaaaa… aaaah… kalau itilku sudah dijilati begini… pasti aku akan cepat basah Booon… tapi… aaaaah… enak sekali Booon… jangan terlalu lama Bon… ini sudah basah sekali… masukin aja rudalmuuuu… pake rudal ajaaa… pake rudal ajaaaaa… !”
Memang celah serambi lempit Charlita dengan cepat sekali basahnya. Sehingga aku pun tak mau buang – buang waktu lagi. Kuletakkan moncong rudalku di celah serambi lempit teman seangkatanku itu. Lalu kudorong sekuatnya. Dan… mulai melesak sampai leher rudalku. Kudorong lagi sekuatnya… ya… sekuatnya… blesssss…
Charlita pun mendesis, “Anjriiiiitttt… rudalmu terasa seret gini masuknya… oooohhhh… mimpi apa aku semalam ya? Aaaa… aaa… aaaaaah… aaaaaa…”
Charlita terdiam ketika rudalku mulai kuayun di dalam liang serambi lempitnya yang sudah sangat licin ini. Cuma memeluk leherku yang ia lakukan, sambil mengangkat kedua kakinya… lalu sepasang kaki putih mulus itu melingkari pinggangku.
Sambil meremas sepasang toket yang bulat – bulat seperti buah melon itu, aku pun langsung mmepercepat entotanku sampai batas kecepatan standar.
Charlita pun memagut bibirku ke dalam lumatan hangatnya.
Aku tak mempedulikan itu. Biarlah dia melumat bibir dan terkadang menyedot lidahku ke dalam mulutnya, sementara aku mulai asyik merasakan nikmatnya liang serambi lempit Charlita yang sempit tapi licin ini.
Setelah ciuman dan lumatannya terlepas, giliran mulutku yang beraksi. Menjilati leher jenjangnya yang mulai keringatan, sementara tangan kiriku asyik meremas – remas toket kanannya yang masih kenyal padat ini.
Charlita pun mulai merengek p- rengek erotis, “Entot terus sepuasmu Booon… rudalmu luar biasa… membuatku seperti melayang – layang gini… entottt terussss… entoooottttt… entoooooootttt… iyaaaaa.. iyaaaa… aaaaaa… aaaaah… entooootttt… tubuhku sudah menjadi milikmu sekarang Bon…
Rintihan dan rengekan manja Charlita berbaur dengan dengus – dengus nafasku. Begitu lama aku melakukannya. Sampai pada suatu saat terdengar suara Charlita terengah, “Bona… aku… aku sudah mau lepassss… aaaaaaaah… entot terusss Booon… aku mau lepas…”
“Lepasin aja… aku seneng menikmati cewek yang sedang orgasme…” sahutku sambil mempercepat entotanku.
Charlita pun berkelojotan. Lalu mengejang sambil memejamkan matanya, dengan nafas tertahan. Aku pun sudah menancapkan rudalku sedalam mungkin, sampai terasa sudah menabrak dasar liang serambi lempit Charlita. Lalu kudiamkan rudalku, sambil merasakan kedat – kedut liang serambi lempit teman seangkatanku itu.
Lalu tubuh Charlita melemas. Matanya pun terbuka. Menatapku dengan sorot jinak. Dan berkata lirih, “Terima kasih Bon. Sudah lima tahun aku tak pernah disentuh cowok. Sekalinya nemu, terlalu enak. Sehingga aku gak kuat nahan lama – lama.”
“Sejak kapan kamu jadi janda?” tanyaku tiba – tiba kepo.
“Sebelum jadi mahasiswi aku sudah janda.”
“Ohya? Memangnya umur berapa kamu kawin?”
“Begitu tamat SMA aku dikawinkan sama orang tuaku, karena kuatir hubungan dengan pacar terlihat rapat sekali. Tapi usia perkawinanku hanya berlangsung setahun. Aku tidak kuat lagi jadi istrinya.”
“Emangnya kenapa mantan suamimu itu?”
“KDRT terus. Pencemburu pula. Kalau sudah ngamuk, aku babak belur dibuatnya.”
“Hmm… seharusnya seorang suami melindungi istrinya ya.”
“Iya… tapi sudahlah. Aku sudah move on kok. Apalagi sekarang… seandainya aku masih gadis sih pasti aku minta kawin sama kamu.”
“Kan ini juga lagi kawin.”
“Iiiiih… ayo lanjutin lagi. Kamu belum ngecrot kan?”
“Belum. Masih jauh.”
“Ya udah… entotin lagi,” kata Charlita sambil menepuk – nepuk pantatku yang sejak tadi dipeganginya.
Aku tersenyum. Lalu melanjutkan lagi entotanku yang terhenti beberapa menit barusan.
“serambi lempitmu enak sekali,” ucapku sambil mengayun rudalku dalam gerakan perlahan di dalam liang serambi lempit Charlita yang terasa becek karena habis orgasme tadi.
“Enak apa? Becek gini dibilang enak, “Charlita mendelik.
“Becek lantaran abis orgasme justru aku suka,” sahutku sambil menjilati ketiak Charlita yang harum deodorant.
“Hihihihiiii… dijilatin ketek gini sih aku gak nahan… geli sekali Bon… geli… geliiiiii… aaa… aaaaaaaaah Bonaaaa… geli tapi enak Bon… aaaaaah… iya… jilatin terus deh ketekku… aaaaah… aaaaah… enak Bon… aaaah… gak lama juga bakalan lepas lagi kalau gini sih…
Sambil menjilati ketiak Charlita, aku pun mempercepat entotanku. Seolah mesin pompa yang sedang bekerja… maju mundur dan maju mundur terus di dalam liang serambi lempit Charlita.
Banyak lagi yang bisa dilakukan oleh mulutku. Terkadang kujilati leher jenjangnya yang sudah basah oleh keringat. di saat lain kujilati telinganya, kelopak matanya, pentil toketnya. Bahkan terkadang kusedot – sedot pentil toketnya yang tegang itu. Sementara moncong rudalku terus – terusan menyundul – nyundul dasar liang serambi lempit Charlita.
Aku memang ingin memperlihatkan keperkasaanku. Charlita sampai orgasme dan orgasme dan orgasme lagi… sementara aku masih bertahan di atas perutnya. Padahal keringat sudah membanjiri tubuhku.
Sampai akhirnya, setelah Charlita orgasme lebih dari tiga kali, aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin. Sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.
Crot… croooottttttt… crotcrottttt… croooooootttttt… crooootttttt…!
Aku mengelojot, lalu terkulai di atas perut Charlita.
“Gila… lebih dari sejam kamu menyetubuhi aku… luar biasa…” ucap Charlita sambil memijat hidungku, “tapi kenapa dilepasin di dalam? Nanti kalau aku hamil gimana?”
“Bukannya kepengen merasakan bahagianya p;unya anak?”
“Jangan dulu lah. Kan aku mau ngerjain tanahmu. Kalau perut buncit, gimana bisa bekerja hilir mudik di tanah seluas itu?”
“Yang bekerja kan buruh tani. Kamu kan bertugas untuk mengarahkan dan mengawai aja.”
“Tapi aku belum mau hamil dulu Bon.”
“Iya deh,” kataku sambil mencabut rudalku dari liang serambi lempit Charlita, “aku punya pil kontrasepsi kok. Tenang aja.”
Kemudian kukeluarkan 1 strip pil anti hamil dari dalam dompetku. Kemudian menyerahkannya kepada Charlita.
“Wah… kamu nyiapin pil kontrasepsi segala rupanya,” ucap Charlita dengan wajah ceria lagi. Lalu ditelannya sebutir pil itu, didorong oleh air mineral gelas yang disediakan hotel di meja kecil dekat bed.
“Sekarang masih kuat nyetir untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi?” tanya Charlita.
“Kuat lah. Tapi harus mandi dulu, biar badan seger.”
“Aku juga pengen mandi.”
“Ya ayo kita mandi bareng, laksana pengantin sehabis ewean di malam pertama. Hihihihihiiiii…”
Lalu kami mandi bareng. Sambil saling menyabuni.
Dalam keadaan seperti ini, selalu saja nafsuku bangkit lagi. Charlita juga tahu itu. “Iiiih… rudalmu kok ngaceng lagi Bon?!” ucapnya ketika aku sedang menyabuninya.
“Iya. Pengen dientotin ke serambi lempitmu ini lagi,” sahutku.
“Urus dulu bisnis dong. Kata kamu di lokasi juga ada pondok yang kosong – kosong kan?”
“Iya. Mau berusaha sabar deh. Nanti kalau sudah selesai urus masalah tanah yang harus direhibilitasi itu, kamu akan kuentot sepanjang malam sampai besok pagi. Sanggup?”
Charlita melingkarkan lengannya di leherku. Menatapku sambil tersenyum dan berkata, “Apa pun yang kamu inginkan, pasti kukabulkan. Karena aku sudah menjadi milikmu, Pangeran…”
Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di dalam mobil lagi. Mobil yang kularikan dengan cepat menuju Banjar.
“Kalau aku belum punya calon istri, pasti aku akan menikahimu,” kataku pada suatu saat.
Dengan tenang Charlita menjawab, “Nggak usah dinikahi juga gak apa – apa. Asalkan nasibku diperhatikan aja.”
“Kamu mau kujadikan simpanan?” tanyaku.
“Mau. Jadi simpanan Big Boss kan keren.”
“Emangnya kamu bisa setia padaku walau pun tidak kunikahi?”
“Soal kesetiaan sih jangan diragukan lagi. Bunuh aja aku kalaju sampai aku nyeleweng nanti. Pokoknya aku hanya akan mencintai dirimu seorang di dunia ini.”
“Tapi aku sendiri takkan bisa seperti itu. Cintaku pasti akan terbagi – bagi.”
“Ngak apa – apa. Lelaki kan memang biasa begitu. Beda lagi dengan perempuan.”
Sambil ngobrol begini, tanpa terasa perbatasan Jateng – Jabar pun kami lalui.
Ketika kota Banjar masih jauh, Charlita memperingatkanku, “Kurangi kecepatannya Bon. Sebentar lagi ada belokan ke kanan. Lokasinya terletak di situ.”
Kuikuti petunjuk Charlita. Tak lama kemudian aku sudah membelokkan mobil ke kanan, ke jalan yang belum diaspal.
“Kalau tau begini jalannya, aku pakai jeep tadi,” kataku.
“Jalannya masih tanah. Tapi kan nggak ada batu – batunya Bon.”
“Iya. Tapi kalau hujan pasti becek. Kalau serambi lempitmu yang becek malah enak. Hahahaaaa…”
“Kamu seneng serambi lempit becek ya?”
“Kalau becek setelah orgasme sih suka sekali.”
“Hihihiiii… makanya sering – sering aja kamu bikin aku orga ya.”
“Iya. serambi lempitmu enak kok.”
Tiba – tiba kulihat seorang lelaki setengah baya menyetop mobilku.
Aku pun menghentikan mobilku. Lelaki itu menghampiri mobilku.
Kubuka kaca jendela mobil dan bertanya pada lelaki itu, “Mang Gofur?”
“Iya Den. Ini putra Ibu Boss kan?”
“Iya. Aku anak Bu Lies Mang.”
“Owh… iya… iya… tadi Bu Boss sudah nelepon saya. Beliau bilang putranya akan datang ke sini. Silakan mobilnya diparkir di sana Den,” ucapnya sambil menunjuk ke depan pos keamanan yang tidak ada penjaganya.
Setelah memarkir mobil, aku dan Charlita turun dari mobil. Kemudian mengikuti langkah Mang Gofur ke arah batas tanah punya Mamie.
“Di sini batas baratnya Den,” kata Mang Gofur, “Pokoknya untuk mengetahui batas tanah punya Bu Boss gampang. Karena batasnya ditandai dengan pohon pisang semua.”
“Iya Mang. terima kasih,” sahutku sambil memegang bahu Charlita, “Nanti ibu insinyur ini yang akan memimpin di sini, untuk mengadakan pembaruan tanaman di tanah punya ibuku ini Mang.”
“Oh iya… iyaaaa… sakarang begini keadaannya. Kayak hutan aja Den.”
“Iya. Kalau tanah dibiarkan tidak produktif terus seperti ini, bisa – bisa negara mengambil alih. Karena tanah ini kan harus bayar sewanya ke negara.”
“Iya Den… iyaaa…”
“Kami mau survey dulu ya Mang.”
“Baik Den. Apa saya diperlukan untuk mengantar?”
“Nggak usah Mang. Kan ada denahnya yang dipegang oleh ibu insinyur ini. Ohya, ini ada titipan dari ibuku,” kataku sambil mengeluarkan amplop besar berwarna coklat muda, berisi uang untuk mang Gofur.
Mang Gofur menerima dan membuka amplop besar itu. Lalu berkata, “Waaaah… terima kasih Den. Terima kasiiih…”
Kemudian aku dan Charlita melangkah masuk ke lahan yang sudah seperti hutan ini.
“Mungkin pohon – pohon yang tidak berguna harus ditebang semua nanti,” kata Charlita yang berjalan sambil menggandeng pinggangku.
“Lakukan apa pun yang kamu anggap positif nanti,” sahutku.
Setelah beberapa saat melangkah di atas tanah yang sudah seperti hutan ini, kulihat ada beberapa bangunan seperti perumahan sederhana. Aku pernah mendengar dari Mamie bahwa di lahan ini memang ada perumahan untuk buruh yang sudah ditinggalkan. Ada sebuah mobil pick up tua pula yang sudah tidak dipakai lagi.
“Nanti kalau sudah merekrut buruh tani, rumah – rumah itu bisa direnovasi semua,” kataku.
“Wah bakal banyak proyek dong aku nanti,” sahut Charlita sambil tersenyum.
Kusahut, “Pohon kayu yang ditebangi kan bisa dipakai bahan bangunan atau kayu bakar. Tergantung jenis kayunya, ada yang bisa dijadikan bahan bangunan, ada juga yang hanya layak untuk kayu bakar. Lalu kayunya dijual. Duit hasil penualannya bisa dipakai untuk merenovasi perumahan untuk buruh nanti kan?
“Iya… iya Boss.”
“Terus… di mana kita bisa bersetubuh lagi ya? Apa di atas mobil pick up itu?“
“Iiiih… banyak debu gitu.”
“menyetubuhi sambil berdiri di bawah pohon beringin itu mau?”
“Hihihihiii… ayo deh. Mendingan sambil berdiri daripada di tempat yang banyak debu sih.”
Lalu kami melangkah ke bawah pohon beringin raksasa itu. Dengan nafsu birahi yang mulai berkobar lagi.
Sebenarnya aku merasa letih juga. Habis nyetir dari pinggiran Solo ke Banjar. Lalu bersetubuh di hotel dan di lokasi tanah Mamie sekali lagi. Tapi aku merasa kasihan juga kalau melepaskan Charlita begitu saja tanpa diantarkan ke rumahnya. Terlebih menurut keterangan Charlita, rumahnya hanya sekitar tigapuluh kilometer dari lokasi lahan yang akan digarap dan dipimpin olehnya itu.
Maka kuantarkan juga Charlita ke rumahnya yang memang tidak jauh dari lokasi lahan yang akan dipimpinnya itu.
Dengan kecepatan nyantai, tidak sampai sejam mobilku sudah tiba di depan sebuah rumah mungil, ketika hari sudah mulai gelap.
“Itulah rumahku,” kata Charlita sebelum turun dari mobilku, “Ayo masuk dulu Bon… sekalian kukenalkan pada mamaku. Mau nginep di rumahku juga boleh. Tapi beginilah keadaannya… rumah kecil yang sudah tua pula.”
Aku pun turun dari mobil, mengikuti langkah Charlita menuju teras depan rumahnya, lalu masuk ke dalam.
Seorang wanita setengah baya muncul di ruang tamu.
“Boss… ini Mama,” kata Charlita sambil memegang pinggang ibunya.
“Ini yang Tata bilang teman kuliah yang sekarang jadi boss Tata?” tanya wanita itu sebelum berjabatan tangan denganku.
“Hehehe… nama saya Bona Bu,” ucapku pada waktu berjabatan tangan dengan wanita yang tampak lebih muda daripada Mamie itu, tapi masih kelihatan cantik sekali. Kenapa kecantikannya tidak menurun kepada Charlita ya? Charlita bisa disebut manis, tapi tidak secantik ibunya.
“Hermin…” kata wanita itu waktu berjabatan tangan denganku, “Silakan duduk Nak Bona.”
Aku pun duduk di sofa ruang tamu.
Bu Hermin menoleh kepada Charlita dan berkata, “Tata… tadi ada Yeni ke sini. Dia bilang kalau kamu sudah datang, ditunggu di rumahnya. Penting sekali, katanya.”
“Ohya?! Kalau begitu aku mau ke rumahnya sebentar. Bisa nunggu sebentar di sini?” tanya Charlita padaku.
“Oke, “aku mengangguk.
Charlita masuk ke dalam. Dan keluar lagi sudah mengenakan daster batik. Lalu melangkah keluar dari pintu depan.
“Yeni itu sahabat karib Tata. Dia mau menikah minggu depan. Mungkin ingin dibantu oleh Tata untuk mengurus pernikahannya,” kata Bu Hermin setelah Charlita berlalu.
“Ogitu ya…”
“Tinggalnya di Jogja?”
“Saya tinggal di daerah Solo. Tapi dari Solo juga masih jauh lagi ke utara Bu. Di pedesaan sih.”
“Di pedesaan kalau sudah tajir sih gakpapa. Mmm… sebenarnya lusa mama juga mau ke Jogja,” kata Bu Hermin membahasakan dirinya “mama”.
Dan entah kenapa… diam – diam aku mengagumi ibunya Charlita itu yang begitu cantik, meski usianya tidak muda lagi.
“Ada urusan apa ke Jogja Bu?” tanyaku, tetap memanggil “Bu” padanya.
“Mau belanja. Kan mama suka masukkan pakaian ke pasar dan toko – toko di sini. Belanjanya dari Jogja.”
“O begitu. Di Jogja belanja di mana?”
“Ah, di pasar Beringharjo aja.”
“Padahal saya tau pabrik yang memproduksi pakaian di Jogja. Di situ juga bisa beli secara kodian. Saya yakin harganya lebih murah daripada di pasar.”
“Tapi mama gak tau alamatnya. Lagian mama kalau ke Jogja cuma tau Malioboro dan pasar Beringharjo aja.”
“Kalau gitu biar saya antar aja nanti. Ibu bisa telepon saya kalau sudah tiba di Jogja. Nanti saya jemput Ibu di terminal atau di stasiun kereta api. Gimana?”
“Ngerepotin nggak?”
“Nggak Bu. Saya nyantai kok orangnya. Kita tukaran nomor hape aja sekarang.”
“Boleh… kini nomor mama,” kata Bu Hermin sambil menyebutkan nomor hapenya.
Lalu nomor itu ku-misscall dari hapeku sambil berkata, “Itu nomor saya Bu.”
“Terima kasih sebelumnya ya. Tap;I jangan ngomong – ngomong sama Tata. Takut dia marah karena mama mau ngerepotin bossnya.”
“Iya Bu. Tenang aja Bu. Ohya… nanti di Jogja mau nginep?”
“Tergantung kebutuhannya.. mama kadang suka nginep di Jogja, kadang pulang hari.”
“Kalau nginep di mana?”
“Di losmen yang murah aja, asalkan nggak jauh dari Malioboro.”
“Lusa kalau mau nginep, Ibu akan saya tempatkan di hotel yang bagus dan dekat Malioboro juga.”
“Tuh jadi tambah ngerepotin lagi. Mama gak enak hati jadinya.”
“Nggak ngerepotin Bu. Saya punya jatah hotel gratis. Daripada jatahnya nggak dipakai, kan mendingan digunakan untuk menyamankan hati Ibu,” kataku berbohong. Mana ada hotel mau ngasih gratis padaku yang bukan pejabat ini?
“Panggil mama aja deh. Jangan ibu – ibuan. Nak Bona kan teman Charlita, jadi wajar kalau manggil mama.”
Lalu kami ngbrol. Tentang ayah Charlita yang sudah meninggal lima tahun yang lalu. Tentang kehidupan Mama Hermin yang terpaksa harus nyari duit sendiri semenjak suaminya meninggal.
Banyak lagi yang kami obrolkan. Kami pun bersepakat, bahwa lusa akan berjumpa di Jogja dan akan merahasiakannya kepada Charlita.
Tak lama kemudian Charlita pulang. Laporan kepada ibunya bahwa pada hari Minggu mendatang dia harus jadi penerima tamu di nikahan teman karibnya.
Aku pun pamitan pulang, karena hari sudah semakin malam.
Anehnya, di sepanjang jalan menuju rumah Mamie, terawanganku digelayuti oleh bayang – bayang Mama Hermin terus.
Di mataku, Mama Hermin itu luar biasa cantiknya. Bahkan dibandingkan dengan Charlita pun Mama Hermin jauh lebih cantik. Padahal Charlita jauh lebih muda. Tapi kenapa sosok Mama Hermin jauh lebih menarik bagiku?
Apakah aku ini penggila wanita STW?
Tapi tidak semua wanita STW kugilai. Dan khusus tentang mama Hermin yang tinggi langsing dan berkulit putih mulus itu… memang mengugahkan birahiku.
Lalu bisakah aku memilikinya?
Entahlah.
Yang jelas di belakang setir aku membayangkan Mama Hermin terus. Begitu cantik dan seksinya Mama Hermin di mataku. Tapi mungkinkah aku bisa mendapatkannya?
Entahlah. tadi aku merasa masih gelap. Karena tidak melihat gejala – gejala “khusus” selain keramahan dan murah senyumnya. Dan sikap itu mungkin karena ingin supel saja di mataku sebagai teman anaknya.
Setibanya di rumah, hari sudah lewat tengah malam. Karena itu aku masuk ke dalam kamarku dan langsung tidur nyenyak. Namun gilanya… di dalam tidurku datang mimpi gila itu. Mimpi menyetubuhi Mama Hermin… sehingga waktu bangun paginya, kudapati celanaku basah…!
Usiaku sudah hampir 24 tahun, masih mimpi begituan?!
Selesai sarapan pagi, aku langsung on the road lagi, menuju Jogja. Untuk membeli segala jenis furniture dan perabotan rumah selengkap mungkin. Untuk mengisi rumah baru yang sudah kubayar di perumahan elit itu. Semuanya akan dikirim pagi itu juga ke alamat rumah yang akan dihuni oleh Tante Tari dan Tante Artini itu.
Setelah semuanya dikirim dan dipasang oleh tukangnya masing – masing, aku memikirkannya beberapa saat. Mengingat – ingat apakah masih ada yang kurang?
Setelah merasa sudah lengkap, aku pulang ke rumah Mamie ketika hari sudah jam enam sore. Dan tiba di rumah Mamie jam sembilan malam, karena mampir dulu ke toko peralatan komputer.
Langsung aku laporan kepada Tante Tari. Bahwa rumah itu sudah lengkap perabotannya, termasuk perabotan kitchennya.
“Kalau mau dilihat sekarang aja, karena kalau besok aku akan sibuk seharian mengurus lahan Mamie yang di dekat perbatasan Jabar – Jateng itu.”
“Biar menyenangkan semuanya, tunggu sampai kesibuikanmu reda aja Sayang,” sahut Tante Tari sambil mencium pipiku, “aku gak keburu – buru kok. Di sini malah terasa nyaman bisa kumpul sama saudara – saudara.”
Maka malam itu aku istirahat lagi sepuasnya. Tanpa sex sama sekali. Karena besok pagi aku harus berangkat ke Jogja lagi, untuk menjemput Mama Hermin… kalau dia jadi berangkat ke Jogja.
Agar tidak kesal menunggu call dari Mama Hermin, aku stand by di rumah Tante Tari itu. Rumah yang Tante Tari sendiri belum melihatnya. Dan dibeli atas namaku, seperti yang Tante Tari inginkan.
Dalam masalah duit, mungkin aku kini tergolong sangat jujur. Tak pernah mengganggu hak orang lain. Tapi dalam masalah perempuan, mungkin aku ini termasuk kurang jujur.
Kenapa kuakui bahwa dalam masalah perempuan aku ini kurang jujur?
Karena ketika stand by di rumah Tante Tari itu, terlintas di dalam pikiranku untuk membawa Mama Hermin ke sini. Tanpa harus cek in di hotel segala.
Tapi setelah dipikir – pikir, nantinya malah merepotkanku sendiri. Karena aku harus melenyapkan segala “jejak” Mama Hermin sebelum Tante Tari dibawa ke rumah ini.
Tiba – tiba handphoneku berdering. Ternyata call dari Mama Hermin…!
“Yaaa… selamat pagi Mama…”
“Selamat pagi juga. Sekadar mau laporan, ini mama sudah dekat ke Jogja. Nanti kalau mama nunggu di depan kantor pos aja gimana? Apa gak merepotkan Nak Bona?”
“Iya Mam. Aku akan langsung menuju ke situ sekarang,” sahutku sambil bergegas menghidupkan mesin mobilku dan kupaksakan meluncur menuju kantor pos seperti yang disebut oleh Mama Hermin tadi. Di jalan aku pun menyempatkan diri untuk menghubungi hotel… hotel yang pernah kupakai untuk mengambil keperawanan Mbak Rina dan Mbak Lidya itu.
Tak lama kemudian aku tiba di depan kantor pos.
Ternyata Mama Hermin sudah menungguku dalam pakaian yang aduhai. Celana legging hitam yang ketat dan fullover putih yang ketat ketat juga. Sehingga membuatku terpana sesaat, karena begitu seksinya Mama Hermin di mataku.
Bergegas aku turun dari mobil, untuk membukakan pintu depan kiri. Setelah Mama Hermin duduk di depan kiri, bergegas aku masuk ke belakang setir.
“Agak lama ya nunggu barusan? Maklum jalanan lagi macet,” kataku sambil menjalankan mobilku kembali.
“Gak lama, paling juga sepuluh menitan Nak,” sahut Mama Hermin.
“Panggil namaku langsung aja Ma. Biar lebih akrab.”
“Masa boss anak mama dipanggil nama langsung?”
“Heheheee… jangan mengingat ke sana deh. Sekarang aku mau habiskan waktu khusus untuk Mama. Kalau perlu, sampai besok malam juga boleh.”
“Wah… ngapain lama – lama banget? Rumah nggak ada yang nungguin Nak, eh Bon.”
“Tata sudah berangkat ke Banjar?”
“Sudah, kemaren. Dia kelihatan sangat bersemangat mendapatkan pekerjaan dari Bona itu.”
“Mmm… barusan aku sampai bengong melihat Mama berdiri di depan kantor pos.”
“Kenapa?”
“Mama kelihatan cantik sekali. Kenapa kecantikan Mama tidak menurun ke Charlita ya?”
“Ah… Bona bisa aja. Masa sudah tua dibilang cantik.”
“Aku bicara sejujurnya lho. Kalau dibandingkan dengan Mama, Charlita itu kalah jauh.”
“Tata kan menuruni tampang ayahnya.”
“O, pantesan. Makanya waktu aku sedang berada di rumah Mama, aku mikir… kenapa kecantikan Mama gak nurun pada Charlita ya?”
“Mmm… Bona juga ganteng sekali kok.”
“Berarti nyambung dong. Yang ganteng harus sama yang cantik.”
“Masa sih?! Mama kan udah tua Bon.”
“Boleh aku terus terang?”
“Soal apa?”
“Aku ini pengagum wanita setengah baya seperti Mama ini.”
Tiba – tiba Mama Hermin memegang tangan kiriku sambil berkata, “Yang bener nih. Jangan bikin mama ge – er dong…”
“Aku serius Mama. Nanti di pusat penjualan pakaian itu, silakan Mama ambil semua pakaian yang diperkirakan laku. Aku yang akan bayar semuanya. Hitung – hitung ngasih modal aja sama Mama.”
“Duh duh duuuh… kalau modal sih memang mama kekurangan Bon. Terima kasih sebelumnya ya. Terus setelah belanja di pusatnya itu ke mana mama mau dibawa?”
“Ke hotel bintang lima seperti yang kukatakan di rumah Mama.”
“Terus sekarang mau ke mana?”
“Ke pusat penjualan pakaian yang biasa disebut factory outlet itu Mama.”
Tiba – tiba Mama Hermin mendekatkan mulutnya ke telingaku. Dan berbisik, “Ke hotel aja dulu. Biar mama tenang belanjanya nanti. Kalau perlu, besok pagi aja belanjanya. Supaya mama bisa mikir dulu, jenis apa saja yang sekira laku dijual di kampung mama nanti.”
“Itu lebih baik Mam,” ucapku sambil membelokkan arah mobil menuju hotel bintang lima itu.
“Tapi jangan ngomong apa – apa sama Tata nanti ya Bon.”
“Iya Mam. Soal itu sih dijamin bakal ditutup rapat – rapat kepada siapa pun.”
Tak lama kemudian, aku dan Mama Hermin sudah berada di dalam lift yang mengantarkan kami ke lantai lima. Mama Hermin terus – terusan menatapku dengan senyum manisnya.
Senyum manis itu pun tersungging lagi di bibir sensual Mama Hermin ketika kami sudah berada di dalam kamar yang sudah kubooking.
Lalu kami duduk berdampingan di sofa yang tak jauh dari bed.
“Mama tau gak? Sepulangnya dari rumah Mama… aku sampai mimpiin Mama lho,” kataku sambil memegang tangan Mama.
“Mimpiin apa?”
“Mimpiin begituan sama Mama. Besoknya… celanaku basah. Hihihihiii…”
“Mama akan wujudkan mimpi itu. Karena mama juga kagum berat sama Bona sejak pertama kali melihat boss Tata ini. Tapi mama kan tau diri, usia mama gak muda lagi. Makanya disimpan aja perasaan itu di dalam hati.”
“Jadi Mama sudah membayangkan kalau kita bakal sedekat ini?”
“Ada sih bayangan itu… tapi samar – samar. Karena mama pikir cuma khayalan yang gak tau diri. Masa cowok seganteng dan semuda ini mau sama mama…”
“Yang samar – samar itu sekarang sudah jadi jelas ya Mam,” ucapku sambil melingkarkan lengan di leher Mama Hermin.
Seperti tahu apa yang kuinginkan, Mama Hermin mendekatkan bibirnya ke bibirku, dengan tatapan sepasang mata bening yang indah dari jarak sangat dekat sekali pun. Aku menanggapinya cuma dengan senyum, karena ingin tahu apakah dia seagresif anaknya atau tidak. Ternyata dia memagut bibirku sambil memeluk leherku.
Maka aku pun ingin lebih agresif lagi, karena semuanya ini sudah terbayangkan sejak dua malam yang lalu. Dengan menyelundupkan tanganku ke balik celana legging ketatnya. Mama Hermin reaktif juga. Menyadari aku sulit memasukkan tangan ke balik celana leggingnya, maka celana legging itu pu dipelorotkan sampai ke lututnya, sehingga dengan mudah aku menyelundupkan tanganku ke balik celana dalam putih bersihnya.
Maka dengan penuh gairah kucolek – colek belahan serambi lempit yang masih bersembunyi di balik celana dalamnya itu.
Mama Hermin pun memagut dan melumat bibirku lagi, lebih lahap dari sebelumnya. Bahkan pada suatu saat ia berbisik, “Pindah ke atas tempat tidur aja yuk…”
Aku mengangguk dan mengeluarkan tanganku dari balik celana dalamnya. Lalu membantu Mama Hermin melepaskan celana leggingnya. Bahkan aku pula yang melepaskan celana dalam putihnya. Sehingga tampaklah serambi lempitnya yang bersih dari jembut itu, seolah menantangku untuk menjilatinya. Tapi aku hanya menciuminya sebentar, karena Mama hermin mau melangkah ke bed.
Di pinggiran bed ia melepaskan fullover dan beha serba putihnya. Sehingga tampaklah sepasang toketnya yang tak kalah gede daripada toket Charlita…!
Apakah semuanya ini terlalu cepat bagiku? Tidak. Aku bahkan pernah punya pengalaman yang lebih cepat lagi dahulu, ketika aku masih tinggal bersama Papa dan Mama angkatku di Jogja. Dengan seorang wanita yang mengantarkan seorang pembantu untuk bekerja di rumah kami. Setelah kuperhatikan, wanita itu memang manis sekali.
Maka kutawarkan jasaku untuk mengantarkannya pulang ke kampungnya di sekitar Jatingaleh Semarang. Wanita itu tampak senang. Lalu nemplok di boncengan motorku. Dan kuantarkan ke arah Semarang. Namun di Ungaran aku mengajaknya untuk mandi air panas mineral. Ia pun setuju. Dan di dalam kamar mandi air panas itu aku langsung bisa memenyetubuhinya…
Jadi aku tidak menganggap Mama Hermin ini terlalu cepat untuk melangkah sejauh ini. Aku malah butuh waktu dua malam untuk mencapai semuanya ini.
Tidak terlalu cepat untuk menanggalkan pakaianku sehelai demi sehelai, tinggal celana dalam saja yang kubiarkan tetap melekat di tubuhku. Lalu merayap ke atas tubuh Mama Hermin yang sudah celentang dalam keadaan sudah telanjang bulat itu.
Mama Hermin pun menyambutku dengan senyum manisnya. Lalu membiarkanku memegang sepasang toket gedenya yang ternyata belum kendor. Masih kenyal dan padat. Tak kalah dengan toket putrinya.
Namun tujuan utamaku dalam foreplay ini adalah ingin menjilati serambi lempitnya yang gundul bersih itu. Maka aku pun langsung melorot turun, sampai wajahku berhadapan dengan serambi lempit Mama Hermin. Pada saat yang sama Mama Hermin pun merenggangkan sepasang paha putih mulusnya, seolah mengandung ucapan “silakan jilatin serambi lempitku sepuasmu”.
Ketika ujung lidahku mulai menyapu – nyapu bibir luar (labia mayora), Mama Hermin agak tersentak. Tapi sepasang paha putih mulusnya semakin direnggangkan, sementara kedua tanganku sudah mengangakan mulut serambi lempitnya, sehingga bagian dalamnya yang berwarna pink itu ternganga lebar di depan mataku. Bagian yang berwarna pink itulah kujilati habis – habisan, sehingga Mama Hermin mulai menggeliat – geliat dengan nafas berdesah – desah.
Di mataku, Mama Hermin ini dari ujung kaki sampai ujung rambutnya tiada celanya. Tubuh yang tinggi langsing tapi tidak kurus. Toket dan bokongnya gede. Kulitnya putih mulus. Wajahnya pun sangat cantik. Sehingga aku menganggap Mama Hermin ini harus mendapat prioritas kedua setelah Mamie. Ya, biar aku beristrikan perempuan secantik bidadari pun, Mamie tetap menjadi sosok yang paling menggiurkan dan paling kuutamakan.
Tapi dalam hal kecantikan, semuanya kalah oleh Mamie Hermin ini. Selain cantik dia bertubuh seksi dan sangat menggiurkan…!
Dan kini aku sedang menjilati serambi lempitnya yang beraroma khas. Mungkin dia rajin minum ramuan tradisional, khusus untuk mengharumkan kemaluan wanita. Sehingga aku jadi begini lahap menjilati serambi lempit tembemnya.
Namun menjilati serambi lempit bukanlah tujuan utamaku. Cunnilingus hanya sebagian dari foreplay. Maka ketika rudalku sudah sangat ngaceng dan ingin segera dijebloskan ke liang serambi lempit Mama Hermin, aku pun melepaskan celana dalamku.
Mama Hermin spontan duduk sambil memegang rudalku, “Astagaaaa… ini rudal manusia apa rudal kuda?! Wadududuuuh… mama sampai merinding nih. Gak nyangka Bona punya meriam sepanjang dan segede ini.”
“Kenapa merinding? Takut?” tanyaku.
“Merinding karena membayangkan nikmatnya kalau sudah dimainkan di dalam serambi lempit mama…! “Mama Hermin menelentang lagi, sambil mengusap – usap serambi lempitnya yang sudah basah kuyup oleh air liurku, bercampur dengan lendir libidonya, mungkin.
Pada saat yang sama, kuletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit Mama Hermin. Lalu kudorong sekuat tenaga… blessssssss… amblas hampir separohnya… diiringi ringisan Mama Hermin, “Ooooohhhhh… masuuuuuuk… gede banget… oooo… ooooohhh…”
Tercapai juga yang kubayangkan dalam dua hari belakangan ini. Bahwa rudalku membenam terus… sampai cukup jaraknya untuk mulai kuayun perlahan – lahan. Tubuh menggiurkan itu pun mulai menggeletar – geletar, dalam amukan birahiku yang seolah tengah merayap cepat menuju lereng surgawi… untuk merayap terus menuju puncaknya.
Ayunan rudalku pun seakan ingin memamerkan keperkasaanku, yang selama ini belum pernah mengecewakan. Dan kepak – kepak sepasang tangan wanita setengah baya itu mulai mengusutkan kain seprai putih yang berkali – kali diremasnya.
Aku pun mulai melengkapinya. Ketika rudalku mulai gencar memenyetubuhi liang serambi lempit Mama Hermin, mulutku pun tak sekadar mencium dan melumat bibir sensualnya. terkadang nyungsep di leher jenjangnya, untuk menjilatinya dengan lahap, disertai gigitan – gigitan lembut.
Ini membuatnya mulai merintih dan mendesah, sambil mempererat dekapannya di pinggangku.
“Aaaaaaahhh… Bonaaaa.. ini luar biasa Booon… luar biasa indahnya… lakukan apa pun yang Bona inginkan pada diri mama… entot terus Booon… rudal Bona luar biasa enaknya… terasa sekali gesekannya… pasti akan membuat mama ketagihan nanti… aaa… aaaaaahhhh… aaaa… aaaaaahhhh…
Aku harus mengakui bahwa Mama Hermin ini wanita tercantik di antara sekian banyak wanita yang telah kugauli. Namun aku tak mau mengatakannya secara lisan. Aku hanya ingin membuatnya klepek – klepek dalam entotan rudalku yang mulai kupercepat, bermaju mundur di dalam liang serambi lempitnya yang sangat legit ini.
Mama Hermin pun mulai atraktif. Bokong gedenya mulai menggeol – geol tak ubahnya kocokan telor manual. Memutar – mutar dan meliuk – liuk. Tekadang menghempas – hempas ke atas kasur, sehingga itilnya bergesekan dengan badan rudalku.
Memang luar biasa nikmatnya geolan pantat Mama Hermin ini. rudalku terasa dibesot – besot dan diremas – remas oleh liang serambi lempitnya. Namun karena itilnya terus – terusan bergesekan dengan rudalku, maka tak lama kemudian terdengar rengekan histerisnya. “Booo… Boooonaaaa… mama maaaaauuuu lepassss…
Mama Hermin berkelojotan dengan nafas tersendat – sendat. Dengan tangan meremas – remas bahuku. Dan akhirnya mengejang tegang, dengan perut agak terangkat, dengan nafas tertahan, mulut ternganga dan mata terpejam.
Aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin, sampai mentok di dasar liang serambi lempitnya.
Lalu liang serambi lempit legit ini terasa seperti ular yang tengah bergerak melilit batang rudalku. Membuat mataku terpejam, dalam nikmat.
“Aaaaaaaaahhhhh… “Mama Hermin menghembuskan nafasnya setelah tertahan beberapa detik. Lalu sekujur tubuhnya melemas. Sementara wajahnya tampak seolah bersinar, seolah memancarkan aura kecantikannya yang menimbulkan rasa sayang di dalam hatiku.
Kuusap – usap pipi Mama Hermin yang keringatan. Lalu kucium bibirnya mesra. Dan berbisik, “Sudah orgasme Mam?”
Mama Hermin membuka kelopak matanya. Menatapku dengan sorot seperti baru bangun tidur, Dan memelukku erat – erat sambil menyahut, “Sudah Sayang… terima kasih. Setelah bertahun – tahun puasa, ternyata mama masih punya kesempatan merasakan nikmatnya digauli lelaki… semuda dan seganteng ini pula…
Aku tersenyum. Mengecup bibir sensualnya lagi. Lalu mengayun rudalku lagi, di dalam liang serambi lempit yang terasa becek. Sehinga terdengar bunyi unik dari serambi lempit Mama Hermin. Stttt… crekkkk… srttttttttt… crekkkk… stttt… crekkkkkkkkk… stttt… crekkkkkkk…
“Jadi becek mama jadi becek ya?” bisiknya sambil mendekap pinggangku lagi.
“Biar aja. Aku justru seneng serambi lempit becek yang baru orgasme gini,” sahutku tanpa menghentikan entotanku.
Mama Hermin tersenyum manis. Lalu mengusap – usap rambutku sambil berkata perlahan, “Sepertinya mama mulai mencintai Bona…”
“Kita rawat aja cintanya…”
“Terus, kalau mama kangen sama Bona gimana?”
“Ketemuan aja,” sahutku sambil melambatkan ayunan rudalku, “Mama belanja ke Jogja berapa hari sekali?”
“Biasanya sih seminggu sekali.”
“Nah… sedikitnya seminggu sekali aku bisa menyetubuhi serambi lempit Mama yang legit ini,” ucapku sambil mulai mempercepat lagi entotanku.
Mama Hermin pun terdiam. Dan menggeliat – geliat lagi.
Mungkin fisiknya sudah pulih, sehingga bisa merasakan lagi nikmatnya gesekan rudalku yang memang berukuran di atas rata – rata ini, mungkin.
Lalu aku merasa seolah sedang melayang – layang di langit tinggi. Langit yang ketujuh kata para pujangga. Langit yang bertaburkan bunga – bunga surgawi, diiringi dentang – denting gamelan kahyangan.
Pergesekan antara kulit zakar dengan dinding liang kewanitaan wanita setengah baya itu memang membuatku lupa segalanya. Aku hanya merasa bahwa rongga di hatiku sudah bertambah satu nama lagi. Hermin jelita yang membuatku lupa daratan.
Keringat pun mulai membanjiri tubuh kami. Padahal kami sedang bergelut di dalam ruangan berAC dingin sekali.
Mama Hermin pun sudah orgasme lagi. Namun aku tetap memenyetubuhinya dengan gairah birahi yang semakin indah… semakin nikmat.
Sampai akhirnya aku merasakan sesuatu. Bahwa aku hampir mencapai puncak kenikmatan itu, yang kebetulan berbarengan dengan orgasme ketiga mama Hermin.
Pada detik – detik indah itulah kami seolah sepasang manusia kerasukan. Saling cengkram sekuatnya, saling remas sebisanya.
Kemudian meriam pusakaku menembak – nembakkan peluru lendirnya di dalam liang serambi lempit ibunya Charlita itu. Crotcroooot… croooottttt.. crottt… croooottt… crooootttt…!
Lalu kami terkapar di pantai yang sangat indah, bernama kepuasan…
**Ang waktu berputar dengan cepatnya…
Tanpa terasa 6 bulan sudah berlalu. Dalam tempo setengah tahun itu banyak yang sudah terjadi.
Mama Hermin tidak mengedarkan pakaian ke pasar dan toko – toko lagi. Karena sudah punya toko sendiri. Toko yang tak kalah bagus daripada FO – FO di kota besar. Pakaian yang dijual pun bukan pakaian kodian lagi, melainkan pakaian yang mengikuti trend masa kini.
Mama Hermin pun tak lagi harus belanja secara rutin ke Jogja, karena ada supplier dari Bandung yang datang sendiri untuk menyimpan pakaian model terbaru. Memang dalam soal mode, Bandung selalu ngetop. Setiap hari selalu muncul model baru, yang belum ada di kota lain.
Dengan sendirinya Mama Hermin pun berubah penampilannya. Menyesuaikan diri dengan pakaian yang dijualnya. Hal itu membuatku bangga. Karena Mama Hermin jadi tampak semakin cantik di balik pakaian yang sesuai dengannya.
Tentu saja aku ikut berperan untuk memajukan usaha Mama Hermin itu. Karena aku selalu mentransfer dana untuk mengembangkan usahanya.
Namun hubunganku dengan Mama Hermin tetap dirahasiakan. Karena kami berusaha agar Charlita jangan sampai tahu. Maka semua kemasjuan yang telah dicapai oleh Mama hermin itu seolah berasal dari perjuangannya sendiri. Padahal aku berada di belakangnya.
Sementara itu insinyur pertanian untuk memimpin di lahan Mamie di Jatim dan Jateng sudah ada. Di Jatim dipegang oleh Yuniar, teman seangkatanku yang kebetulan lahir dan dibesarkan di Jatim, meski aslinya orang Sumatra. Lahan yang di Jateng, dipegang oleh teman seangkatanku yang biasa kupanggil Joko.
Kantor untuk urusan agro bisnis tetap di tempat yang tak jauh dari rumah Mamie. Tapi di Jogja aku buka kantor baru, untuk mengurus bisnis yang berasal dari dana Tante Tari. Kantor pusat urusan lahan – lahan Mamie baik yang di Jawa mau pun di luar Jawa, disatukan di kantor ini. Agar aku mudah mengurusnya kalau ada yang harus diselesaikan.
Kantor ini dibeli dengan dana Tante Tari 90% dan dana Mamie 10%. Karena urusan lahan – lahan Mamie hanya menggunakan satu ruangan. Itu pun ruangan kerjaku, karena aku tak membutuhkan asisten lagi untuk urusan lahan – lahan Mamie itu.
Sedangkan untuk urusan bisnis yang Tante Tari serahkan sepenuhnya padaku, membutuhkan sembilan ruangan, karena bisnisnya bermacam – macam (yang tak perlu dibuka satu persatu). Tentu saja aku yang memimpin semuanya itu.
Lalu bagaimana dengan ibu angkatku yang sejak kecil kupanggil Mama itu?
Nasib kandungannya ternyata malang sekali. Karena ketika kandungannya baru berusia 7 bulan, bayi di dalam perut Mama itu dinyatakan sudah meninggal, kata dokter yang merawatnya. Sehingga bayi yang sudah meninggal itu harus dikeluarkan. Untungnya Mama hanya diberi suntikan agar mulas – mulas. Kemudian bayi laki – laki yang tidak bernyawa lagi itu lahir, tanpa harus dioperasi dan sebagainya.
Aku bisa memaklumi hal itu, karena usia Mama memang sudah di atas 40 tahun. Tentu tidak mudah untuk hamil dan melahirkan di usia yang sudah tidak muda lagi itu.
Sementara itu, Mbak Rina dan Mbak Lidya sudah pada menikah. Dengan sendirinya mereka dibawa oleh suaminya masing – masing. Sehingga Mama tinggal sendirian di rumahnya yang di Subang itu.
Hal itu kusampaikan kepada Mamie. Bahwa Mama di Subang tinggal sendirian, karena anak – anaknya sudah pada kawin dan dibawa oleh suaminya masing – masing. Tentu saja masalah kehamilan Mama itu tidak kuceritakan kepada Mamie.
Maka Mamie berkata, “Kasihan juga ya. Biar bagaimana dia sangat berjasa pada kita. Kalau tidak ada dia, mamie takkan bisa terbang ke Hongkong saat itu, takkan berjumpa dengan pengusaha besar yang lalu menjadi suami mamie itu. Mama angkatmu yang membiayai kelahiranmu. Lalu merawatmu sejak bayi merah sampai dewasa.
Aku setuju kepada saran Mamie. Soal rumah, aku sudah membeli rumah di kompleks perumahan kelas menengah. Bukan di kompleks perumahan yang sudah dijadikan tempat tinggal Tante Tari dan Tante Artini itu. Aku membeli rumah itu untuk diriku sendiri. Karena terkadang aku merasa letih kalau harus pulang ke rumah Mamie.
Setelah mendengar saran Mamie, aku merencanakan rumah itu untuk tempat tinggal Mama.
Keesokan harinya aku menelepon Mama dari kantorku. Lalu :
“Hallo Sayang? Apa kabar? Sehat – sehat saja kan?”
“Sehat Mam. Mama sendiri gimana? Aku ingat terus nih sama Mama.”
“Mama juga sehat Sayang.”
“Mbak Rina dan Mbak Lidya suka nengok Mama nggak?”
“Rina kan dibawa pindah ke Palembang. Sedangkan Lidya pindah ke Jakarta. Sampai saat ini mereka belum ada yang nengokin mama, Sayang.”
“Kalau gitu Mama pindah ke Jogja aja ya. Rumah untuk Mama sudah kusediakan. Lumayan bagus kok rumahnya.”
“Mama kan punya usaha di Subang ini Sayang. Usaha mama justru sedang berkembang pesat sekarang ini. Bagaimana bisa mama tinggal di Jogja? Kalau mama kangen sama kamu, biarlah mama yang pergi ke Jogja. Tapi mama gak bisa menetap di Jogja, Bona Sayang…”
“Yaaahhh… Mama sih gitu. Padahal aku sudah berunding sama Mamie. Bahkan Mamie juga yang nyuruh aku beli rumah untuk Mama.”
“Iya. Terima kasih atas perhatian kamu dan mamiemu itu. Tapi mama bener – bener gak bisa ninggalin Subang Sayang.”
Aku pun memutar kata – kata yang intinya ingin agar Mama menetap di Jogja, tapi hasilnya nihil. Mama tetap tak mau pindah ke Jogja. Meski Mama merasakan kesepian di Subang, Mama akan memaksakan diri untuk terbiasa dengan suasana sepi itu.
Bersambung… Sehingga akhirnya aku menyerah. Kalau ingin memperlihatkan rasa sayangku padanya, mungkin harus transfer duit aja sebulan sekali. Tak ada jalan lain, karena kalau aku diminta pindah ke Subang pun takkan bisa.
Karena itu rumah yang akan direlakan untuk tempat tinggal Mama, akhirnya kupakai sendiri. Karena menurut seorang pakar bisnis, tiap pelaku bisnis harus menyediakan waktu sedikitnya 1 atau 2 jam untuk menyendiri dan merenungkan segala langkah bisnisnya, tanpa gangguan apa pun.
Sementara itu baik Tante Tari mau pun Tante Artini belum ada yang hamil. Padahal aku sudah “serajin mungkin” menggauli mereka. Bahkan aku dan Tante Tari pernah memeriksakan diri ke dokter. Jawaban dari dokter itu, “Dua – duanya normal. Sabar aja ya.”
Begitulah secara singkat tentang segala yang telah terjadi pada diriku dan orang – orang yang dekat denganku selama 6 bulan itu.
Sampai pada suatu hari…
Siang itu aku mau meninggalkan kantor, karena ada sesuatu yang harus kuurus di tempat lain. Namun ketika aku baru tiba di ambang pintu ruang kerjaku, tampak seorang gadis berkulit putih bersih dan berperawakan tinggi langsing tapi padat dan berisi, mengenakan celana dan baju yang sama – sama terbuat dari bahan blue jeans.
Ternyata dia Yuniar, teman seangkatanku yang kutugaskan untuk mengelola lahan Mamie yang di Jatim itu.
“Selamat pagi Boss,” ucap Yuniar sambil menjabat tanganku dengan sikap agak formal.
“Wow… kirain siapa, “sambutku sambil memeluk pinggang Yuniar, lalu cipika – cipiki dengannya. “Setelah tinggal di Jatim lagi, kamu jadi tambah cantik Yun.”
“Masa sih?! “Yuniar tersipu, “Tapi aku sedang ada masalah Boss.”
“Mmm… ayo duduk dululah,” kataku sambil menuntun Yuniar ke ruang tamu.
“Ada masalah apa?” tanyaku setelah Yuniar duduk di sofa ruang tamu kantor.
“Aku melarikan diri nih dari rumah ortu.”
“Ohya? Emangnya ada apa?”
“Mau dijodohin sama lelaki yang sudah tua. Cuma mau dijadiin bini muda pula. Gila kan?”
“Hahahahaa… kalau kaya raya kan nggak apa – apa.”
“Aaah… cuma punya mobil satu. Di zaman sekarang tukang bikin tempe juga bisa beli mobil lebih dari satu.”
“Terus… kamu tinggalkan tugasmu di lahan yang kupercayakan padamu?”
“Sudah ditanami bibit semua secara teratur sekali. Sekarang tinggal bersihkan rumput liarnya doang Boss. Pekerjaan itu kan bisa diberikan kepada buruh. Sekarang aku membutuhkan perlindunganmu Bon,” ucap Yuniar yang tiba – tiba menangis terisak – isak sambil memeluk dan merapatkan wajahnya ke dadaku.
Aku pun mengusap – usap punggungnya sambil berkata lembut, “Tiada masalah yang bisa diselesaikan dengan menangis. Coba katakan apa yang bisa kubantu agar kamu bisa merasa tenang dan nyaman?”
“Tolong sembunyikan aku Bon. Aku takut dipaksa pulang lalu dikawinkan dengan lelaki yang lebih pantas jadi ayahku itu… hikssss… hiksss…”
Aku berpikir sejenak. Dan langsung memutuskan untuk menyembunyikan Yuniar di rumah yang tadinya untuk tempat tinggal Mama itu. Tapi aku lalu teringat sesuatu. Maka kataku, “Kalau aku menyembunyikan kamu, aku bisa dituduh menculik anak orang. Itu bisa dipidana, Yun.”
“Aku bilang kantor pusatku di Jakarta. Bukan di Jogja. Jadi seandainya orang tuaku melapor kepada polisi pun, pasti aku akan dilacak di Jakarta. Bukan di Jogja. Lagian, seandainya pun aku ketahuan, aku akan membelamu habis – habisan nanti. Yang penting aku sembunyikan Bona yang baik… hiks…”
Tanpa berpikir panjang lagi, Yuniar kubawa ke rumah itu. Rumah yang di sana sini sedang diperbaiki oleh pemilik lamanya, tapi banyak yang belum selesai renovasinya. Sementara aku pun belum sempat memanggil tukang bangunan untuk melanjutkan renovasi yang belum selesai itu.
Tapi di bagian dalamnya, rumah itu bagus dan bersih. Furniture dan perabotan rumahnya pun sudah lengkap. Sehingga Yuniar langsung merasa nyaman setelah berada di dalam rumah itu.
“Di rumah ini Bona tinggal sendirian?” tanyanya sambil mengamati keadaan di dalam rumah ini.
“Iya,” sahutku, “Tapi seringnya aku tidur di rumah mamieku, agak jauh dari Solo, di pedesaan.”
“Aaah… kalau tinggal sendirian di rumah segede ini, aku takut Bon. Terutama pada waktu malam. Kalau siang – siang sih gak apa – apa,” ucap Yuniar sambil memegang kedua pergelangan tanganku, sambil menatapku dengan sorot memohon.
“Nanti kupertimbangkan dulu ya. Sekarang mandi dulu gih sana. Perjalanan dari Jatim ke sini kan jauh. Pasti banyak debu yang menempel di tubuhmu.”
“Mumpung Bona sedang ada di sini, temenin aku mandi sekalian yuk.”
“Mmmm?! Memang aku juga belum mandi sore nih.”
“Ya ayolah temenin aku mandi.”
“Nanti kalau aku tergiur melihatmu telanjang gimana?”
“Apa pun yang Bona inginkan dariku, akan kuberikan. Asalkan aku disembunyikan dan dilindungi di sini.”
“Serius nih?”
“Sangat serius,” sahutnya sambil mengangguk dan tersenyum manis sekali.
Sebenarnya Yuniar jarang sekali tersenyum. Sikapnya sering kelihatan formal. Tapi justru itulah yang kusukai, sehingga aku menempatkannya di Jawa Timur.
Ya, Yuniar tidak pernah sembarangan tersenyum, apalagi tertawa. Dengan kata lain, dia sosok berwibawa di mataku, sehingga kuanggap cocok untuk menjadi pemimpin di lahan Mamie yang di Jatim itu.
Dan kini Yuniar sudah mengikuti langkahku, masuk ke dalam kamar mandi ysng sudah ditata secara modern, namun tidak semewah kamar mandi rumah Mamie atau rumah Tante Tari.
Di dalam kamar mandi, Yuniar melepaskan busananya sehelai demi sehelai. Sehingga tinggal beha dan celana dalam saja yang masih melekat di badannya. Sementara aku sendiri sudah tinggal mengenakan celana dalam saja, karena sudah mau mandi juga. Dan setelah melepaskan behanya, Yuniar menutupi sepasang toketnya dengan kedua telapak tangannya sambil tersipu – sipu malu.
Namun aku menepiskan kedua tangannya itu, sehingga sepasang toketnya pun tampak di mataku. Dan… aduh maaaak… toket Yuniar ternyata gede… tak kalah indah dengan toket Charlita…!
Hasratku mendadak bangkit. Ketika Yuniar sedang melepaskan celana dalamnya, aku melangkah ke belakangnya. Lalu menggenggam kedua toketnya dengan kedua tanganku sambil berkata, “Gak nyangka toketmu luar biasa indahnya…”
Yuniar tidak menyahut. Sementara celana dalamnya sudah dilepaskan dari kakinya. Sehingga aku memindahkan tanganku ke bawah perutnya, ingin memegang sesuatu yang belum kelihatan karena aku masih berdiri di belakangnya.
Kusentuh rambut pendek – pendek sekali di bawah perut Yuniar. Kompak dengan Charlita, sama – sama berjembut tapi digunting rapi dengan model “cepak”.
“Katanya mau mandi…” ucap Yuniar tanpa menoleh padaku.
Tak kujawab. Bahkan bertanya, “Ini jembutnya dicukur di mana? Di salon?”
“Aaaah… guntingin sendiri aja. Masa ke salon cuma buat nyukur jembut.”
“Zaman sekarang kan musim di-waxing.”
“Iya sering denger. Malah sekarang ada yang baru lagi, pakai laser. Gak ada kerjaan, jembut – jembut aja diurusin.”
“Sepertinya kamu masih perawan Yun.”
“Ya iyalah. Bona lihat sendiri waktu masih kuliah, kapan aku suka dekat dengan cowok?”
“Kebayang enaknya… “gumamku.
“Apanya yang enak?”
“serambi lempitmu ini… pasti enak sekali… masih perawan pula.”
“Iiih… kirain apaan…”
Aku ketawa kecil sambil melepaskan celana dalamku. Kemudian memutar keran shower air hangat.
Shower di atas kepala kami pun memancarkan air hangat ke kepala dan tubuh kami.
Yuniar berkali – kali memandang serius ke arah rudalku yang sudah ngaceng ini. Bahkan lalu seperti penasaran, digenggamnya rudal ngacengku sambil bertanya, “Nanti malam mau nemenin aku di sini kan?”
“Upahin sama serambi lempitmu ya,” sahutku bercanda.
“Sekujur tubuhku akan kupasrahkan padamu, asalkan kehadiranku di sini dirahasiakan dan dilindungi. Daripada dijadikan mangsa lelaki tua itu, mendingan kukasihkan pada teman lamaku yang sekarang sudah jadi bossku ini,” kata Yuniar sambil mendekap pinggangku, sehingga rudalku terasa bertempelan dengan serambi lempitnya.
Setelah selesai mandi, kubawa Yuniar ke dalam kamar yang biasa kupakai.
Kebetulan aku punya burger yang kusimpan di dalam kulkas. Lalu kukeluarkan burger – burger itu dan kupanaskan di dalam microwave. Seolah memberi contoh kepada Yuniar, bagaimana caranya kalau dia sedang lapar nanti. Karena di kamarku ada kulkas dan microwave. Di dalam kulkas pun banyak makanan dan soft drink yang bisa dinikmati pada saat lapar dan malas ke luar rumah.
Yuniar tampak senang melihat fasilitas sederhana yang bisa dimanfaatkan dalam masa persembunyiannya.
“Kalau berduaan terus begini, pasti akhirnya akan terjadi sesuatu di antara kita,” kataku sambil rebahan setelah menyantap burger bersama Yuniar.
Yuniar yang sudah mengenakan kimono wetlook putih, merebahkan diri di sampingku. Dan menyahut, “Aku sudah siap untuk diapakan juga. Bahkan untuk hamil pun aku siap.”
“Wah, jangan hamil dulu.”
“Kenapa?”
“Kalau kamu hamil, aku harus menikahimu. Sedangkan aku sudah punya calon istri,” ucapku berbohong. Padahal aku belum tahu siapa yang akan kujadikan calon istriku.
“Nikah siri kan bisa. Pokoknya dijadikan simpananmu juga aku mau.”
“Terus pekerjaanmu gimana? Mau resign?”
Yuniar menghela nafas panjang. Lalu berkata lirih, “Sebenarnya aku sangat mencintai tugas yang diberikan padaku itu. Apalagi sekarang, tanah ibumu itu sudah tertata dengan rapi. Dalam tempo singkat saja akan kelihatan menghijau. Sekarang sudah mulai musim hujan pula. Tanpa disirami pun pepohonan yang kutanam akan berkembang subur.
“Kalau kamu mengaku sudah punya pacar, orang tuamu bisa menerima?”
“Entahlah. Otakku masih blank. Tapi kalau mengaku sedang hamil, mungkin mereka akan menerima.”
Sebenarnya aku sudah semakin tertarik pada Yuniar, karena setelah diperhatikan dari dekat, dia itu cantik. Tapi aku belum bisa memutuskan apa – apa sebelum membuktikan keperawanannya.
Hal ini penting. Meski aku tidak perjaka lagi, tapi lelaki itu bersifat “membuang”. Sementara wanita bersifat “menyimpan”. Karena itu tidak mengherankan kalau ada kata – kata mutirara yang berbunyi
“Lelaki berbuat nista seribu kali, dunia masih tersenyum. Tapi wanita berbuat nista sekali saja, dunia akan menangis dibuatnya”.
Ya… karena wanita bersifat “menyimpan” itu.
Dan kini aku ingin membuktikan siapa sebenarnya Yuniar ini. Dia memang teman seangkatan denganku. Tapi aku belum tahu banyak mengenai kepribadiannya.
“Seandainya aku menjadi milikmu, aku merasa bangga, meski tidak menikah secara sah,” kata Yuniar pada suatu saat, sambil memegang tanganku dan meremasnya dengan lembut. Saat itu aku pun mengenakan kimono, yang terbuat dari bahan handuk berwarna biru muda.
“Kenapa merasa bangga meski cuma kujadikan simpanan?” tanyaku sambil merayapkan tanganku ke balik kimono Yuniar yang aku tahu tidak mengenakan beha maupun CD di balik kimono
“Aku mau jujur ya,” ucapnya sambil menatap langit – langit kamarku, “Sebenarnya sejak kita masih sama – sama kuliah, aku sudah punya perasaan suka padamu Bon.”
“Ohya?” cetusku pada saat tanganku mulai menyentuh jembut Yuniar.
“Iya. Tapi kamu kan seperti tidak mau didekati cewek. Mungkin karena sudah punya calon istri itu.”
“Terus?”
Yuniar malah memejamkan matanya sambil berkata, “Ooooh Bona… kalau serambi lempitku dijamah dan dicolek – colek gini… aku jadi pengen merasakan di… disetubuhi olehmu…”
“Kan memang juga aku akan menyetubuhimu. Tapi kalau rudalkju langsung dimasukkan ke dalam tempikmu, pasti kamu kesakitan. Makanya harus pelan – pelan dulu,” ucapku sambil melepaskan tali kimono Yuniar dan merentangkan kedua sisinya, sehingga bagian depan tubuh teman seangkatanku itu terbuka sepenuhnya.
Aku berpikir sesaat. Kemudian turun dari bed, mengambil lotion dari atas meja kertjaku. Dan kembali lagi ke arah Yuniar.
“Buat apa lotion itu Bon?” tanya Yuniar sambil menanggalkan kimononya.
“Buat pelumas… supaya liang serambi lempitmu licin,” sahutku sambil mendekatkan lotion itu ke serambi lempit Yuniar yang sudah celentang lagi.
“serambi lempitmu banyak jembutnya. Kalau dicukur habis atau digunting pendek – pendek, dijilatin dulu juga bisa,” kataku sambil menyemprotkan lotion itu ke serambi lempit Yuniar.
“Kalau mau plontos, besok deh kucukur habis jembutnya,” ucap Yuniar sambil tersenyum.
“Kamu kalau sedang tersenyum, kelihatan cantiknya. Kenapa sih kamu jarang sekali tersenyum?” tanyaku.
“Gak tau Bon… sejak kecil aku terbiasa serius. Jadi nyaris gak ada yang bisa membuatku tersenyum, apalagi ketawa. Tapi untuk Bona… akan kuusahakan sering tersenyum deh,” sahutnya sambil tersenyum manis. Manis sekali senyum Yuniar itu.
“Naaah… kalau begitu kan kelihatan sekali cantiknya kamu ini,” ucapku yang kulanjutkan dengan menyemprotkan lotion sebanyak mungkin ke serambi lempit Yuniar. Bahkan celah menuju lubang sanggamanya pun kusemprot dengan lotion sebanyak mungkin.
Dalam tempo singkat aku yakin bahwa serambi lempit Yuniar sudah siap untuk dipenetrasi oleh rudalku yang sudah ngaceng berat ini.
Lalu kudorong sepasang paha Yun agar merenggang selebar mungkin. setelah mengusap – usap serambi lempitnya, agar lotion merata di setiap yang akan dimasuki rudalku, maka kuletakkan moncong rudalku tepat di belahan serambi lempitnya yang kelihatan sudah merah itu. Tanganku juga ikut campur meraba – raba serambi lempit bagian dalam Yun.
Lalu aku mengumpulkan tenaga dengan menarik nafas panjang beberapa kali. Dan kudorong rudalku sekuat tenaga. Langsung masuk sedikit demi sedikit…!
Aku pun merapatkan dadaku ke dada Yuniar. Yang disambutnya dengan pelukan di leherku diiringi bisikan, “Kalau Bona tau… sudah lama aku memimpikan hal ini Bon…”
Lalu dipagutnya bibirku ke dalam lumatannya, sementara rudalku mulai kugerakkan sedikit demi sedikit, dengan hati – hati pula agar jangan sampai terlepas dari liang serambi lempit Yun yang luar biasa sempit menjepitnya ini.
Awalnya gerakan rudalku terasa seret sekali. Tapi lama – lama liang sempit itu menyesuaikan diri dengan ukuran rudalku, sehingga aku pun mulai lancar memenyetubuhinya.
“Bona… oooh… obsesiku jadi kenyataan… luar biasa indahnya Boon… sekarang sekujur tubuh dan batinku sudah menjadi milikmu Bona… oooooh… Booonaaa… ini luar biasa indahnya Booon…”
Mulutku pun mulai aktif menjilati lehernya disertai gigitan – gigitan kecil yang tidak menyakitkan. Sehingga Yun semakin menggeliat, mendesah dan merintih – rintih histeris, “Booonaaaa… aaaaa… ssuuuhhhh… faaahhhh… Booonaaaa… ternyata lu… luar biasa indahnya sssseee… semua ini Booon…
Aaa… aku… aku… mencintaimu Booon… jangan buang aku nanti ya Booon… aku cinta kamuuu… cintaaaa Booon… cintaaaa kamuuuu… sudah bertahun – tahun aku kagum padamu… dan sekarang bukan kagum lagi… sekarang aku cintaaaa… cinta padamu Booon… dengan segenap jiwakuuuu… dijadikan budak cintamu juga aku maaaauuuu …
Aku mendengarkan semua ocehan histerisnya itu. Namun mulutku sedang berpindah sasaran. Mengemut pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas toket kanannya.
Yuniar pun semakin klepek – klepek dibuatnya. Terlebih ketika aku mencium bibirnya, Yun langsung melumat bibirku dengan lahapnya.
Diam – diam aku membanding – bandingkan Yuniar dengan perempuan – perempuan lain yang pernah kugauli. Dan aku yakin… bahwa Yuniar ini yang paling enak di antara semua perempuan yang pernah kugauli. Sehingga aku merasa harus menyayanginya. Dan harus mempertimbangkan ke depannya kelak. Bukan sekadar melampiaskan nafsu birahi semata.
Dan… pada waktu aku sedang gencar – gencarnya memenyetubuhi, aku menarik rudalku sampai terlepas. “Uff… lepasss… gak disengaja,” ucapku pura – pura tak sengaja mencabut rudalku. Padahal aku ingin menyelidik sesuatu di bawah serambi lempit Yuniar. Darah perawan itu… Ya… setelah menyaksikan darah perawan itu, perasaanku jadi semakin luluh.
Kemudian kubenamkan lagi rudalku ke dalam liang serambi lempit Yuniar yang luar biasa enaknya ini.
“Kamu benar – benar masih perawan sebelum kumasukkan rudalku ke dalam liang serambi lempitmu,” ucapku sambil merapatkan pipiku ke pipi Yuniar.
“Ya iyalah… pacaran aja aku belum pernah. Mana bisa hilang virginitasku…” sahut Yuniar disusul dengan ciuman mesranya di bibirku. “Ini juga kalau bukan sama Bona sih takkan kuserahkan kesucianku.”
“Memangnya aku sebegitu istimewanya bagimu Sayang?” tanyaku sambil mencolek bibirnya yang sebenarnya sensual itu.
“Sangat penting… karena baru sekali ini aku merasakan cinta. Jadi… Bona adalah cinta pertamaku… semoga jadi cinta terakhir juga… ooooo… oooooohhhhh… Boooon… ini jadi enak lagi… ooooo… ooooooh…” ucapan Yuniar dilanjutkan dengan rintihan – rintihan histerisnya, karena rudalku sudah mulai memenyetubuhi liang serambi lempitnya lagi.
Mulutku pun mulai beraksi. Ketika tangan Yuniar direntangkan, kuserudukkan mulutku ke ketiaknya. Lalu menjilati ketiak yang harum deodorant itu, disertai dengan gigitan – gigitan kecil dan sedotan – sedotan kuat.
Yuniar pun semakin menggelepar – gelepar bersama rengekan dan rintihan histerisnya. “booon… ooooohhhhh… Boooon makin lama makin indah dan nikmat Booon… mungkin inilah yang disebut surga dunia Booon… oooo… ooooohhhhh… Boooon…”
“Ya, kita memang sedang berada di surga dunia Sayang,” sahutku terengah, tanpa menghentikan entotanku.
“Oooo… oooo… oooooh… benarkah Bona sayang padaku?”
Kucium bibir sensual Yuniar, lalu berkata terengah, “Aku… harus… menyayangi dsn melindungi cewek yang… telah menyerahkan kesuciannya padaku…”
“Ooooh… aku bahagia sekali mendengarnya…” ucap Yuniar disusul dengan ciumannya yang bertubi – tubi di pipi dan di bibirku.
Aku pun menggencarkan entotanku kembali. Maju mundur dan maju mundur terus di dalam jepitan liang serambi lempit Yuniar yang luar biasa sempitnya ini.
Aku bisa memperpanjang durasi entotanku. Tapi aku tak mau menyiksa Yuniar yang baru sekali ini merasakan disetubuhi. Karena itu ketika Yuniar berkelojotan sambil mendesah – desah… aku pun semakin mempercepat entotanku, dengan tujuan agar ejakulasiku berbarengan dengan orgasmenya Yuniar.
Maka pada suatu saat, ketika Yuniar mengejang tegang, rudalku pun menancap di liang serambi lempitya tanpa kugerakkan lagi.
Lalu kami seperti kerasukan. Saling cengkram dan saling remas dengan nafas sama – sama tertahan.
Lalu nafasku berdengus – dengus dengan rudal mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku di dalam liang serambi lempit Yuniar yang juga tengah berkedut – kedut.
Croooottttt… crottt… crooootttt… croootttttt… crotttttt… croooooootttt… crooootttt…!
Kami pun terkapar dengan tubuh bermandikan keringat.
Lalu sama – sama terkulai di pantai kepuasan.
Ketika malam semakin larut, Yuniar merengek ingin disetubuhi sekali lagi. Aku pun mengabulkannya. Karena nafsuku memang sudah bangkit lagi.
Tapi dalam ronde kedua ini durasiku lumayan panjang. Sehingga Yuniar lebih dari dua kali orgasme. setelah dia tampak kepayahan, barulah aku berejakulasi.
Setelah bersih – bersih di kamar mandi, kami pun tertidur nyenyak sambil berpelukan.
Esoknya aku bangun kesiangan.
Ketika aku terbangun, aku tertegun melihat Yuniar sudah berubah 180 derajat. Memang dia masih mengenakan baju kaus dan celana pendek yang serba biru muda. Baju dan celana pendek yang dikenakannya waktu tidur semalam. Tapi wajahnya sudah bermake-up, meski cuma make-up tipis. Bibir sensualnya pun sudah dipolesi lipstick, juga cuma polesan tipis.
“Nah… kalau sedang tersenyum begitu, kamu cantik sekali Yun, “pujiku sambil membiarkan bibir sensualnya mencium sepasang pipiku.
“Sebenarnya aku ini anak broken home sejak ibuku meninggal dunia, pada waktu usiaku baru sepuluh tahun. Kemudian ayahku menikah lagi dengan seorang gadis yang usianya hanya lebih tua enam tahun dariku. Mungkin sejak saat itulah aku sangat jarang tersenyum,” kata Yuniar sambil menunduk.
“Berarti sekarang ibu tirimu baru berusia tigapuluh tahun?” tanggapku.
“Iya.”
“Apakah ibu tirimu galak seperti anjing boxer?” tanyaku.
“Galak sih nggak. Mmm… dia baik kok. Bahkan terkadang dia lebih baik daripada Papa. Tapi sebaik – baiknya ibu tiri, tentu takkan sebaik ibu kandung. Yah, minimal aku tidak bisa merasakan lagi pelukan hangat seorang ibu…”
Lalu Yuniar menceritakan pengalaman masa kecilnya. Bahwa ketika pulang dari sekolah, ia ikut ke rumah temannya. Begitu temannya tiba di rumah, temannya disambut dengan pelukan dan ciuman ibunya. Sering Yuniar melihat temannya diperlakukan sepoerti itu oleh ibunya. Sementara Yuniar sendiri?
Yuniar tidak pernah dimarahi apalagi dipukul oleh ibu tirinya. Tapi Yuniar tidak pernah dipeluk dan diciumi seperti perlakuan ibu kandung terhadap teman Yuniar itu. Padahal waktu ibu kandungnya masih hidup, Yuniar selalu disambut dengan pelukan dan ciuman sayang juga, seperti temannya itu.
Itulah sebabnya Yuniar menganggap sebaik – baiknya ibu tiri, takkan sebaik ibu kandung.
Selain daripada itu, ada hal yang tidak disukai oleh Yuniar. Pada waktu ibunya masih hidup, ayah Yuniar selalu dominan sebagai pemimpin di rumahnya. Tapi setelah ibunya meninggal dan ayahnya kawin lagi, keadaan menjadi sebaliknya. Ibu tirinya yang kelihatan berkuasa di rumahnya. Dalam hal apa pun ayahnya selalu mengalah.
Semua itu diamati oleh Yuniar sejak kecil sampai dewasa.
“Mungkin hal itulah yang membuatku jarang tersenyum, apalagi ketawa,” ucap Yuniar di akhir penuturannya. “Tapi sejak saat ini aku akan berusaha berubah, karena aku sudah jadi milikmu… cowok yang kudambakan sejak semester pertama waktu masih kuliah dahulu.”
“Apakah kamu merasa bahagia setelah menjadi milikku sekarang.” tanyaku sambil mendekap pinggang Yuniar.
“Sangat bahagia. Nih lihat… apa yang Bona inginkan sudah kulakukan,” kata Yuniar sambil melepaskan celana pendeknya. Lalu berlutut di lantai sambil melepaskan celana dalamnya.
‘Sudah bersih sekarang kan?” Yuniar menatapku dengan senyum manis. Sementara aku terlongong setelah memperhatikan serambi lempitnya yang sudah bersih dari jembut. Bersih sekali.
“Hahahaaaa… “aku tergelak – gelak ketawa, sambil mendekap pinggangnya. Lalu mengangkatnya ke atas bed.
“Kalau sudah bersih begini, enak jilatinnya,” kataku sambil mengusap – usap serambi lempit Yuniar yang sudah bersih plontos itu. “Tapi aku mau mandi dulu ya. Kamu sudah mandi?”
“Sudah dari tadi, begitu bangun langsung mandi. Ohya… itu ada toaster dan rotinya juga. Mau dibikinin roti bakar buat sarapan?”
“Boleh,” sahutku, “tapi yang terpenting harus ada kopi. Kopi hitam aja, jangan pakai apa – apa lagi.”
“Gula sih pakai kali ya?”
“Jangan. Aku senang kopi pahit Sayang.”
“Mmmm… bahagianya hatiku kalau sudah dipanggil sayang sama kamu Bon… “Yuniar memejamkan matanya sambil mengelus – elus telapak tanganku.
“Ya udah aku mau mandi dulu ya,” ucapku sambil turun dari bed.
“Iya, aku mau nyiapkan sarapan buat pangeranku,” sahut Yuniar sambil turun dari bed juga.
Sementara aku langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Pada waktu sedang mandi, aku memikirkan masalah Yuniar itu. Sebenarnya dia sudah memenuhi kriteriaku untuk menjadi calon istriku. Terlebih lagi kalau aku mengingat pepatah, “Carilah pasangan yang mencintaimu, jangan hanya sekadar yang kamu cintai…”
Dan aku percaya bahwa Yuniar sangat mencintaiku. Tapi aku tak mau terburu – buru. Aku belum tahu karakter dia yang sebenarnya. Latar belakang keluarganya pun harus kuselidik dahulu lebih jauh. Karena sekalinya aku melangkah maju, pantang untuk surut lagi ke balakang.
Selesai mandi dan berpakaian casual, aku duduk di atas sofa ruang keluarga. Karena roti bakar keju dan secangkir kopi panas sudah dihidangkan di situ.
Tak lama kemudian Yuniar pun muncul dan duduk merapat ke samping kiriku, dengan senyum manis di bibir sensualnya lagi. Mungkin dia sedang melatih untuk tersenyum terus manakala berdekatan denganku.
Lalu ia merapatkan pipi kanannya ke pipi kiriku, sambil berkata setengah berbisik, “Abis sarapan, main lagi ya.”
“Main apa? Pengen dientot lagi?” tanyaku sambil menggelitik pinggangnya.
“Iya. Kan jembutku sudah dicukur abis. Harus dicobain apa bedanya berjembut dengan tidak.”
“Buatku sih yang berjembut dan yang botak punya kelebihan masing – masing. Jadi… sama aja enaknya.”
“Pasti ada bedanya lah.”
“Mmm… kalau digundulin, memang enak ngejilatinnya. Kalau gondrong kan bisa ada jembut bisa nyangkut di gigi.”
“Hihihiiii… pengen nyobain kayak apa sih serambi lempit dijilatin…”
“Dahulu orang bule banyak yang pelihara anjing, lalu dilatih untuk menjilati serambi lempit majikannya. Tapi sekarang manusia yang jilatin serambi lempit,” kataku sambil menarik pinggang Yuniar, agar dia duduk di atas kedua pahaku.
Setelah Yun duduk di atas pangkuan, tanganku langsung menyelinap ke balik celana pendeknya yang longgar dan… langsung menyentuh serambi lempitnya yang baru habis dicukur itu.
“Bekas kemaren sore, sakit nggak?” tanyaku.
“Nggak, “Yuniar menggeleng.
“Hebat. Kamu memang bukan cewek cengeng.”
Lalu aku bangkit sambil membopong tubuh Yuniar, menuju ke dalam kamar.
Ketika aku mulai menjilati serambi lempitnya, Yuniar pun mulai menggeliat – geliat. Sambil meremas – remas kain seprai yang baru diganti olehnya dengan kain seprai bersih pada waktu aku sedang mandi tadi.
Terlebih ketika aku mulai menjilati itilnya, Yuniar pun mulai mengusap – usap rambutku sambil mendesah – desah, “Booon… aaaaaa… aaaaah… Booon… dijilatin gini… fantastis sekali Booon… sama aja enaknya dengan dientot… aaaaa… aaaaah… Booonaaaa… aku… aku jadi semakin dalam mencintaimu Booon …
Aku semakin gencar menjilati itilnya sambil sesekali kusedot – sedot bagian yang cuma sebesar kacang kedelai itu.
“Adududuuuuhhh… Boooon… kok rasanya aku… aku mau orgasme Booon… gimana Boon?’ ri ntih Yuniar pada suatu saat.
“Lepasin aja… kalau mau orgasme… lepasiiin…” ucapku sambil menghentikan jilatanku. Tapi lalu menjilati itilnya kembali lebih lahap… juga kusedot – sedot, sampai itilnya kelihatan agak “mancung”.
“Boonaaaaa… Bonaaaaa… aaaaaaaaah… Booonaaaa… “Yuniar serambi lempitik – mekik tertahan, sambil mengepak – ngepak kasur, seperti burung patah sayapnya, ingin terbang tapi tak bisa.
Yuniaar berkelojotan. Sampai akhirnya ia mengejang tegang. Pada saat yang sama, kubenamkan rudal ngacengku ke dalam liang serambi lempitnya… blesssss… aku memang ingin merasakan nikmatnya menghayati liang serambi lempit yang sedang orgasme.
Pada saat itulah Yuniar meremas p- remas bahuku sambil menahan nafasnya. Kemudian kurasakan liang serambi lempitnya berkedut – kedut erotis. Nikmat… nikmat sekali merasakan liang serambi lempit yang tengah bergerak – gerak spontan seperti ini.
“Oooooh… Booonaaaa… kok baru dijilatin aja luar biasa enaknya Bon…”
“Terus, gak pengen dientot sama rudalku?” tanyaku sambil mempermainkan pentil toket Yuniar.
“Maaauuu… tapi sebentar… istirahat dulu… masih pada ngilu – ngilu nih… mmm… sekujur tubuhku sudah menjadi milikmu… hatiku juga sudah menjadi milikmu. Tapi… bisakah Bona menjadi milikku?”
“Bisa… tapi aku punya banyak perempuan yang menyangkut bisnisku. Sehingga aku harus membagi waktu dengan semuanya.” Ngocoks.com
“Perempuan menyangkut bisnismu?”
“Iya. Aku takkan seperti ini kalau tidak ada mereka. Kamu mengerti apa maksudku kan?”
“Iya, iya, iyaaa… gak apa – apa. Aku hanya ingin nikah siri denganmu, lalu hamil… aaaah… betapa bahagianya hatiku kalau bisa mengandung anakmu kelak.”
“Bisa… itu bisa. Memangnya kamu sudah siap untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu?”
“Kalau sama kamu… aku sangat siap menjadi seorang istri Bon.”
“Meski pun kamu bukan satu – satunya istriku?”
“Iya. Yang penting aku bisa ikut memilikimu seumur hidupku…”
Tiba – tiba handphone Yuniar berdering, sehingga memutuskan percakapan kami berdua.
Dengan susah payah Yuniar meraih hanphone yang tergeletak di atas meja kecil dekat bed, sementara rudalku masih menancap di liang serambi lempitnya dan belum digerakkan sama sekali.
Begitu melihat layar ponselnya, Yuniar berseru perlahan, “Dari Mama…!”
“Dari mama tirimu?” tanyaku.
“Iya. Gimana ya? Angkat jangan?” tanya Yuniar tampak bimbang.
“Terima aja. Keluarin suaranya biar aku bisa ikut dengar,” kataku, “Bilang aja kamu sedang bersama calon suamimu.”
Sambil celentang, dengan serambi lempit masih menjepit konyolku, Yuniar membuka call dari ibu tirinya itu.
“Hallo Mam…”
“Yun… kamu sebenarnya di mana sekarang?”
“Jauh dari kampung Mam.”
“Iya di mana? Kamu gak sayang ya sama mama dan papamu? Sekarang Papa sakit tuh, gara – gara kamu kabur dari rumah.”
“Iya, tapi kalau Papa dan Mama berkeras mau menjodohkanku dengan lelaki tua bangka itu, aku takkan mau pulang. anggap aja aku sudah mati Mam.”
“Sayang… kamu gak boleh ngomong gitu. Soal rencana perjodohanmu itu, biar nanti mama yang desak Papa supaya jangan memaksamu. Sekarang katakan dong, di mana kamu berada? Mama akan menyusulmu, karena mama kuatir… takut terjadi apa – apa padamu.”
“Aku di rumah calon suamiku Mam.”
“Calon suami siapa? Kok tiba – tiba kamu mengaku punya calon suami segala?”
“Iya Mam. Dia siap untuk menikah denganku, asalkan lewat nikah siri dulu. Karena dia juga sudah dijodohkan oleh orang tuanya, tapi dia inginnya menikah denganku.”
“Kalau mama boleh tau, siapa calon suamimu itu? Apa pekerjaannya?”
“Dia bossku Mam. Pemilik perkebunan yang sedang kugarap itu.”
“Ohya?! Bisa mama ngomong sama dia sekarang?”
Yuniar menatapku sambil memberi isyarat, seolah bertanya apakah aku mau menerima keinginan mama tirinyua untuk berbicara denganku?
Aku mengangguk sambil menengadahkan telapak tanganku. Yuniar pun meletakkan hapenya di telapak tanganku. Lalu aku berkata di dekat handphone Yuniar, “Selamat pagi Bu.”
“Pagi. Maaf ya… apa benar yang berbicara ini pemilik perkebunan tempat Yuniar bekerja?”
“Betul. Ada yang bisa kubantu?”
“Anda kan tadinya teman kuliah Yuniar. Betul?”
“Betul.”
“Bisakah Anda menjawab secara gentleman, di mana sekarang Anda dan Yuniar berada?”
“Di Jogja Bu.”
“Bisa aku ke tempat Anda untuk menemui Yuniar besok?”
“Kalau niat Ibu baik, silakan. Kami akan menerima kedatangan Ibu dengan kedua tangan terbuka.”
“Tentu aja dengan niat baik. Besok aku akan ke Jogja. Bisa Anda dan Yuniar menjemput di stasiun kereta api?”
“Bisa. Telepon aja kalau keretanya sudah dekat Jogja.”
Sepertinya aku sudah bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Yuniar. Tapi Yuniar malah menatap langit – langit kamar sambil berkata, “Kalau mau jemput ke stasiun, bisa Bona sendiri aja yang jemput?”
“Lho kenapa gitu?” tanyaku heran.
“Aku takut Papa datang… bawa teman – temannya yang biasa mendukung di belakang. Lalu aku dibawa dengan paksa ke Madiun. Kalau bisa, aku sih dimunculkan setelah keadaan benar – benar udah clear aja Bon.”
“Kalau mau clear sekali, kamu ngumpet di kantorku aja. Di ruang kerjaku ada bed dan kamar mandi segala. Gimana?” tanyaku.
“Iya, itu lebih baik. Nanti kalau sudah benar – benar clear, call aku aja. Dan aku akan secepatnya ke sini.”
“Iya. Nanti bilang aja kamu lagi ada tugas yang harus diselesaikan dulu di luar kota. Terus kasihkan nomor hapeku ke ibu tirimu. Ohya… nama ibu tirimu itu siapa?”
“Fience. Kalau Papa sih manggilnya Fien aja.”
Obrolan serius itu, membuat rudalku melemas sendiri di dalam liang serambi lempit Yuniar. Tapi kupaksakan juga agar ngaceng kembali.
Memang berhasil tegang dan siap tempur lagi. Tapi suasana perasaan masih galau, sehingga aku tidak bisa menikmati persetubuhan ini secara sempurna.
Biarlah, yang penting sudah ngecrot. Lalu aku turun dari tempat tidur, dengan pikiran masih bercampur aduk.
Keesokan harinya, pagi – pagi sekali Yuniar mendapat call dari ibu tirinya, mengatakan bahwa sang Ibu Tiri sudah berada di jalan menuju Jogja. Pada saat itulah Youniar berkata, bahwa ada masalah pekerjaan yang mendadak dan membuatnya harus ke luar kota. Lalu nanti yang akan menjemput ke stasiun adalah aku.
Kemudian kuantarkan Yuniar ke kantor.
“Nah di balik partisi itu ada bed buat istirahat. Kamar mandi dan toilet juga ada. Kalau mau makan, suruh pelayan kantor menyediakannya,” kataku setelah berada di ruang kerjaku.
“Bona mau pergi sendirian ke stasiun?”
“Aku akan bawa beberapa orang petugas security. Tapi mereka pakai mobil lain. Mereka hanya ditugaskan mengawal di stasiun aja. Kalau kelihatan aman, mereka akan kusuruh meninggallkan stasiun lagi.”
Setelah berunding sebentar dengan Yuniar, aku pun kembali ke sedan hitamku dan menjalankannya ke arah stasiun Tugu. Diikuti oleh mobil security di belakang.
Seolah mau “show of force”, sengaja aku membawa 12 orang security berseragam hitam – hitam semua. Jadi seandainya ayah Yuniar datang dan membawa teman – temannya, aku pun sudah siap dengan membawa “pasukan”ku.
Tapi ternyata semuanya itu seperti komedi belaka. Karena kebetulan penumpang yang keluar dari pintu kedatangan hanya beberapa orang. Kebanyakan wanita tua semua. Hanya seorang wanita muda di antara mereka, yang mengenakan blazer dan rok span biru tua, dengan blouse putih di dalamnya. Cocok seperti laporan Yuniar tadi, bahwa ibu tirinya mengenakan blazer dan spanrok biru tua dengan blouse putih di baliknya.
Spontan aku menghampirinya dan bertanya, “Maaf… Ibu Fience?”
“Iya,” sahut wanita 30 tahunan itu sambil tersenyum, “Ini Bona?”
“Betul Bu,” sahutku sambil menjabat dan mencium tangannya, sebagaimana layaknya seorang calon menantu kepada calon mertuanya, meski calon mertua itu terlalu muda.
“Waduuuuh… pantesan Yuniar gak mau dijodohkan. Ternyata pacarnya begini gantengnya… “Bu Fien merangkul dan menciumi sepasang pipiku. Membuatku jadi salah tingkah. Apalagi kalau mengingat adanya para petugas security yang berderet di belakangku.
Kemudian salah seorang petugas security kuperintahkan untuk membawa kopor pakaian yang dibawa oleh ibu tiri Yuniar itu ke dalam bagasi sedan hitamku.
Bu Fience yang berkulit sawomatang dan berbibir sensual itu terlongong melihat para pengawalku dan sikap mereka sedemikian hormatnya padaku.
Namun setelah koper Bu Fience sudah dimasukkan ke dalam bagasi sedan hitamku, kusuruh para petugas security itu kembali ke kantor. Sementara aku membukakan pintu sedan hitamku yang di depan sebelah kiri, kemudian kupersilakan Bu Fience masuk ke dalamnya.
Setelah ibu tiri Yuniar duduk di dalam mobil, bergegas aku masuk ke belakang setir.
Begitu mobil kujalankan, ibu tiri Yuniar itu mulai berkicau. “Pantesan Yuniar dibelain lari dari rumah setelah mendengar akan dijodohkan dengan orang. Ternyata pacarnya ganteng sekali. Hihihihiiii… makanya kamu harus berbaik – baik sama mama ya. Karena papanya Yuniar bisa mama kendalikan. Kata mama hijau, ya hijau pula dia.
“Iya,” sahutku, “aku akan berusaha untuk sebaik mungkin kepada Ibu.”
“Panggil mama aja, jangan ibu – ibuan ah.”
“Iya Mam,” sahutku.
“Duh dipanggil Mam sama kamu… kalau lagi berdua begini sih aku juga mau manggil Pap sama kamu ya Bon.”
“Hahahaaa… ya suka – suka Mama lah,” sahutku dengan perasaan yang ganjil menyelinap ke dalam batinku. “Mama mau makan dulu?”
“Nggak ah masih kenyang. Tadi makan di kereta api. Ohya… Yuniar pulang ke Jogja lagi kapan?”
“Paling juga besok pagi baru pulang mam.”
“Terus di rumah ada siapa aja?”
“Nggak ada siapa – siapa. Rumah itu belum lama kubeli. Sebenarnya rumahku di sebelah utara Solo, masih jauh lagi. Rumah di Jogja sih hanya untuk tempat istirahat aja Mam.”
“Berarti nanti hanya kita berdua aja di rumah itu?”
“Iya Mam. Sampai besok pagi hanya kita berdua di rumah itu.”
“Asyik dong… kamu bisa nemenin mama tidur kan?”
“Takut Mam.”
“Takut apa?”
“Takut nggak kuat nahan nafsu. “ “Hihihihiiii… emwuaaaaah… “Mama Fien ketawa yang berujung dengan kecupan hangat di pipi kiriku, “Memangnya mama masih menarik di matamu?”
“Masih menarik. Mama item manis dan seksi,” sahutku nyeplos begitu saja.
“Syukurlah. Kirain mama gak menarik lagi di mata cowok semuda dan seganteng kamu. Jadi mama bisa menjalankan rencana.”
“Rencana apa?”
“Rencana agar kita kompak. Sementara masalah papanya Yuniar, mama yang jamin. Pernikahan kalian akan berjalan lancar.”
“Tapi aku hanya bisa nikah siri Mam. Soalnya aku…”
“Sudah dijodohkan sama orang tua?” potong Mama Fien, “Kan Yuniar juga udah ngasih tau masalah itu.”
Aku tidak menanggapi karena sedang membelokkan mobil ke depabn garasi rumahku.
“Ini rumahmu?” tanya Mama Fien.
“Iya Mam. Masih banyak yang harus direnovasi, tapi belum sempat.”
“Waaaah… rumah segede dan semegah gini, mau direnovasi apanya lagi?”
“Di lantai dua, direnovasi oleh pemilik lamanya. Belum selesai keburu butuh duit lalu dijualnya padaku. Tapi di lantai bawah sih sudah lumayan rapi.”
Lalu wanita bertubuh tinggi langsing berkulit sawomatang itu masuk ke dalam rumahku.
“Nanti setelah nikah Yuniar akan tinggal di rumah ini?” tanyanya sambil memandang ke sekeliling ruangan demi ruangan yang dilewatinya.
“Proyeknya kan di Jawa Timur. Jadi mungkin hanya hari – hari weekend aja dia bisa tinggal di rumah ini. Nah… ini kamar untuk Mama tempati selama tinggal di Jogja.”
“Berarti kalau mama mau ke sini, harus di hari – hari yang bukan weekend ya. Supaya tidak bentrok waktunya dengan Yuniar. Hihihihiiii… “Mama Fien ketawa cekikikan sambil mendekap pinggangku dari belakang.
Aku semakin mengerti apa yang dipikirkan oleh ibu tiri Yuniar yang manis dan lincah itu.
“Jadi Mama ingin ketemu sama aku secara rutin?”
“Iya… entah kenapa… begitu melihat Bona, mama jadi kesengsem Bon… sambil membayangkan betapa indahnya kalau… ah… malu mengatakannya…”
“Kalau apa Mam?”
“Kalau didekap dan digumuli oleh anak muda seganteng Bona…” sahutnya agak bergetar.
Aku pun berpikir dengan cepat. Bahwa tiada salahnya kalau aku dekat dengan ibu tirinya Yuniar ini, meski mungkin mengandung resiko kalau ketahuan oleh Yuniar nanti.
Dan aku tak mau munafik, bahwa sejak melihatnya di stasiun Tugu tadi, aku sudah tertarik pada Mama Fien ini. Terutama kulitnya yang berwarna kecoklatan itu, memang sudah lama kuidam – idamkan. Karena perempuan – perempuan yang punya hubungan rahasia denganku, termasuk Mama dan Mamie, berkulit putih bersih semua (putih untuk ukuran bangsaku).
“Kalau diizinkan, mama pengen mandi dulu, boleh?”
“Tentu aja boleh. Apa mau kutemani mandinya biar bisa gantian menyabuni.”
“Aaaaaw… ayoooo… justru mama seneng kalau Bona mau mandi bareng… biar bisa saling selidik sekujur tubuh kita… bisa saling menyabuni dan aaaah… ayo Bon… di mana kamar mandinya?”
“Kamar yang kuberikan untuk tempat istirahat Mama itu ada kamar mandinya Mam. Ohya… kopernya ketinggalan di mobil ya. Sebentar… kuambilin dulu… !”
Aku bergegas menuju mobilku, membuka tutup bagasi dan mengeluarkan koper pakaian Mama Fience. Lalu membawanya masuk ke dalam rumah dan menghampiri Mama Fien yang sudah berada di kamar yang sudah kuperuntukkan baginya itu.
“Ini kopernya Mam,” kataku sambil meletakkan koper berwarna orange itu di atas meja kecil yang fiapit oleh dua sofa.
“Oh, iya… terima kasih Bona ganteng,” sahut Mama Fien yang disusul dengan kecupan hangat di pipiku. Maka kali ini aku yang merengkuh lehernya, untuk memagut bibir sensualnya ke dalam ciuman dan lumatan hangatku.
Mama Fien pun bereaksi, dengan meremas – remas bahuku sambil balas melumat bibirku.
“Jadi kita udah sepakat nih?” tanya Mama Fien sambil menanggalkan blazer dan spanroknya yang serba biru tua.
“Bahwa kita akan menjalin hubungan rahasia?”
“Iya… cerdas sekali bossnya Yuniar yang bakal jadi calon mantuku ini,” ucapnya sambil menanggalkan blouse putihnya. Maka tinggal celana dalam dan beha yang serba putih masih melekat di badannya.
Pada saat itulah aku bergerak ke belakang Mama firn, lalu mendekapnya dari belakang. Terasa hangat pinggang ibu tiri Yuniar ini. Tapi tujuanku bukan hanya sekadar ingin mendekap pinggangnya, karena tanganku dengan cepat menyelusup ke balik celana dalam putihnya.
‘Aaaaw… langsung megang tempik… !” seru Mama Fien yang tidak berusaha menepiskan tanganku dari balik celana dalamnya. Berarti dia juga ingin agar aku menyentuh serambi lempitnya yang ternyata tidak berjembut sama – sekali ini.
Yuniar kalah sama ibu tirinya ini. Waktu pertama kali aku menyentuh serambi lempitnya, masih ditumbuhi jembut. Baru besoknyalah jembut itu dicukur bersih.
Rambut di kepalanya pun Yuniar kalah satu langkah. Yuniar masih mempertahankan warna rambut aslinya yang hitam legam. Sementara rambut Mama Fience ini, diselang – seling warna hitam dengan warna cokelat.
“Ayo ah sambil mandi mendingan juga. Nanti di kamar mandi tempik mama mau diapain juga silakan…” kata Mama Fien sambil mengeluarkan tanganku dari balik celana dalamnya. Kemudian ia membuka koper pakaiannya. Dan mengeluarkan peralatan mandinya, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi. sementara aku sudah melepaskan segala yang melekat di tubuhku di luar kamar mandi.
Lalu aku ikut masuk ke dalam kamar mandi yang bersatu dengan kamar tidur untuk ibu tiri Yuniar itu.
Begitu aku masuk ke dalam kamar mandi, Mama Fien langsung memamerkan serambi lempitnya sambil berkata, “Nih tempikku sing arep tak kei karo sampeyan… ‘
“Mboten ngertos Mam. Kulo sanes tiang jawi,” sahutku.
“Nah itu bisa ngomong halus.”
“Yah… belajar sedikit – sedikit, karena aku lahir dan besar di Jogja. Tapi aku memang bukan orang sini Mam.”
“Sama dong. Mama juga bukan orang Jawa. Papa dan almarhumah ibu kandungnya Yuniar juga bukan orang Jawa. Semuanya berasal dari seberang, tapi pada besar di pulau Jawa.”
Pada waktu Mama Fien ngomong itulah, diam – diam kulepaskan celana dalamku. Kemudian kutarik tangan wanita itu dan kutempelkan telapaknya di rudalku yang langsung ngaceng begitu melihat serambi lempit Mama Fien barusan.
“Wooooow…! “Mama Fien memegang rudalku dengan mata terbelalak, “Kok ada ya rudal yang segede dan sepanjang ini…?! Kebayang kalau sudah dimainkan di dalam serambi lempitku nanti… !”
“Ayolah kita mandi. Setelah mandi kita mau ngewe kan?”
“Iya Sayang… iyaaa… hihihiiiii… senengnya hati mama punya calon mantu yang pengertian gini… “Mama Fien memutar kan shower utama yang lalu memancarkan air hangat dari atas kepalanya. Aku pun ikutan berdiri di bawah pancaran air hangat shower, sambil memeluk dan menciumi bibirnya yang benar – benar sensual itu.
Rasanya aku merasa bisa “sambil menyelam minum air”.
Sambil bertualang, akan mendapatkan dukungan Mama Fien untuk dijadikan menantunya kelak.
Dan yang jelas, setelah mandi dan mengeringkan badan kami, Mama Fien duluan keluar dari kamar mandi, dengan hanya membelitkan handuk di tubuh seksinya.
Goresan baru akan mengisi lembaran kehidupanku yhang memang senang bertualang ini…
Mama Fience memang eksotis. Hitam manis dengan bibir yang sensual, membangkitkan gairahku untuk sering – sering mencium bibirnya.
Dan ketika aku yang sudah telanjang lagi ini baru naik ke atas bed, Mama Fien menyambutku dengan rangkulan hangatnya, dengan senyum manis di bibir sensualnya.
Aku pun menerkamnya dengan sepenuh gairahku. Menciumi bibir sensualnya sambil meremas toketnya yang tidak sekencang toket Yuniar, tapi masih sangat enak untuk diremas.
Mama Fien pun mendekap pinggangku erat – erat, seolah takut kalau aku menjauh. Namun target utamaku kali ini adalah ingin menjilati serambi lempitnya yang masih tampak “terkatup” itu. Masalahnya, aku sudah sering menjilati serambi lempit yang putih dan “isian”nya berwarna pink. Dan aku ingin merasakan sejauh apa bedanya dengan serambi lempit wanita yang warna kulitnya lebih gelap daripada kulit Yuniar ini.
Maka tak lama kemudian aku melorot turun. Mengemut pentil toketnya sejenak, lalu melorot lagi untuk menjilati pusar perutnya.
Dan akhirnya mulutku sudah berada tepat di atasa serambi lempitnya yang berwarna lebih gelap namun masih terkatup rapat. Ketika kedua tanganku mengangakan bibir luar serambi lempit Mama Fien, tampak bagian dalamnya seperti merah darah… merah membara yang sangat merangsang birahiku.
Lalu ujung lidahku mulai menjilati bagian yang merah membara itu dengan sepenuh gairah birahiku.
Mama Fien pun mulai menggeliat – geliat sambil meremas – remas kain seprai.
Ini membuatku semakin bergairah, ingin agar mama Fien klepek – klepek, lalu ketagihan dan jadi kompak denganku untuk meluluhkan hati suaminya. Agar menyetujui pernikahan siriku dengan Yuniar.
Jadi, sebenarnya aku melakukan semua ini demi ketenangan Yuniar juga. Agar dia bisa bekerja kembali sebagai manager pelaksana replanting perkebunan di lahan punya Mamie itu.
Dan kini aku sudah fokus untuk menjilati dan menyedot – nyedot itil Mama Fien, membuat wanita hitam manis itu semakin mengeliat – geliat disertai dengan desahan dan rengekan erotisnya, “Aaaa… aaaaah… Booonaaaaa… ini luar biasa enaknya Booon… ternyata kamu jauh lebih pandai daripada papanya Yuniaaar …
Mama Fience sudah bukan perawan lagi. Karena itu aku tak perlu berlama – lama menjilati serambi lempitnya. Yang penting mulut serambi lempitnya sudah basah.
Maka aku pun meletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempit ibu tiri Yuniar itu.
Spontan Mama Fience merenggangkan sepasang pahanya. Sehingga aku pun langsung mendorong rudal ngacengkusekuat mungkin. Dan… rudalku mulai amblas ke dalam liang serambi lempit ibu tiri Yuniar… blessss… disambut dengan rengkuhan di leher dan ciuman yang nyelepot di bibirku.
Aku pun mulai memenyetubuhinya perlahan – lahan dulu… menimbulkan erangan perlahan dari mulut Mama Fience, “Ooooohhhh… akhirnya bisa juga mama merasakan enaknya rudal sekeras dan segede ini… rudal anak muda yang masih sempurna ngacengnya… entotlah selama mungkin ya Booon…”
Sambil meremas toketnya yang berukuran sedang dan masih sangat kenyal untuk kuremas, aku pun mulai mempercepat entotanku. untuk mulai membuktikan bahwa serambi lempit wanita berkulit sawomatang ini legit sekali rasanya.
Mama Fience pun menyambut entotanku dengan goyangan pinggulnya, yang begitu lincah memutar – mutar dan meliuk – liuk. Sehingga rudalku serasa dibesot – besot dan diremas – remas oleh liang serambi lempit legitnya.
“Mama… ughhhh… serambi lempit Mama legit banget…” ucapku terengah.
“rudalmu juga luar biasa enaknya… ereksinya sempurna… maklum rudal anak muda… entot teruys Bon… entooooooottttttt… entoooooottttttt… iyaaaaa… iyaaaaaa… baru sekali ini mama merasakan dientot yang begini enaknya Booon… entoooottttt… entooootttttt…”
Goyangan pinggul Mama Fien pun semakin lincah, memutar – mutrar dan meliuk – liuk. terkadang bokongnya menghempas – hempas ke atas kasur, sehingga itilnya seolah disengaja untuk bergesekan dengan badan rudalku. Dan mungkin memang disengaja. Agar bagian yang terpeka di kemaluannya itu senantiasa bergesekan dengan rudalku.
Namuin hal itu membuatnya cepat orgasme.
Ya, baru belasan menit aku memenyetubuhi liang serambi lempit legit Mama Fien ini, tiba – tiba dia berkelojotan sambil berdesah – desah. Dan… dia mengejang sambil menahan nafasnya, sambil mencengkram sepasang bahuklu dan meremasnya kuat – kuat. Disusul dengan geliat liang serambi lempitnya yang sedang berkedut – kedut kencang, pertanda sedang melepaskan lendir libidonya.
Namun aku seolah tak mau memberi ampun padanya. rudalku tetap kuayun. Maju mundurt dengan gencarnya di dalam liang serambi lempit yang sudah becek itu. Sementara Mama Fience terkapar lunglai, sambil memejamkan matanya. Goyangan pinggulnya pun terhenti beberapa saat.
Namun pada suatu saat Mama Fience membuka kelopak matanya. Sepasang mata bundar bening itu pun menatapku sambil menyunggingkan senyum di bibir sensualnya.
“Mama udah orgasme barusan. Tapi kamu belum apa – apa ya. Ayolah mama ladeni. Sekarang udah hilang ngilu – ngilunya,” kata Mama Fience sambil menggeolkan kembali pantatnya, laksana penari perut dari Timur Tengah yang jauh lebih hot daripada penari di negaraku.
Tapi Mama Fience tidak tahu kemampuanku yang sebenarnya. Dia juga tidak tahu bahwa aku akan memamerkan keperkasaanku yang semoga jauh melebihi lelaki mana pun yang pernah menggaulinya.
Aku memenyetubuhinya habis – habisan. Sampai badanku mulai bercucuran keringat. Mamie Fien orgasme dan orgasme lagi, dalam bermnacam – macam posisi, dengan tubuh yang sudah basah oleh keringatnya bercampur aduk dengan keringatku. Namun aku masih teguh memenyetubuhi ibu tiri Yuniar itu tanpa ampun.
Sampai pada suatu saat, aku mendengar bunyi denting handphoneku… triiiing…!
Aku tahu bahwa itu bunyi WA dari Yuniar. Karena tone notifications-nya kubedakan dengan WA dari yang lain.
Maka aku pun konsentrasi pada legit dan nikmatnya liang serambi lempit Mama Fience meski sudah becek karena sudah berkali – kali orgasme dalam entotanku.
Maka pada suatu saat aku pun mulai tiba di detik – detik krusialku. Dan bertanya, “Lepasin di mana Mam?”
“Udah mau n gecrot? Owhhh… lepasin di dalam aja. Barengion sama mama… ini mama juga udah mau orgasme lagi… ayo barengin Bon… biar nikmat…”
Lalu pinggul Mama Fience pun bergoyang gila – gilaan, untuk menyambut datangnya puncak nikmat yang ingin kami capai secara bersamaan itu.
Ketika puncak nikmat itu kami capai secara bersamaan, kami jadi seperti sepasang manusia yang sedang kerasukan. Mata sama – sama melotot, sambil saling cengkram dan saling remas, seolah ingin saling meremukkan tulang di dalam tuibuh kami.
Lianbg serambi lempit Mama Fien berkedut – kedut lagi, disambut dengan tembakan lendir kenikmatan dari moncong rudalku yhang mengejut – ngejut juga… croooottt… crooottttt… croootttt… crooootttt… crotttt… croooottttt…!
Lalu kami sama – sama terkulai lunglai. Perahu birahi pun terdampar di pantai, bernama pantai kepuasan…
Mama Fien tampak tepar. Seolah tgak peduli lagi apa yang sedang terjadi selanjutnya. Sementara aku sudah sangat penasaran ingin membaca WA dari Yuniar itu.
Setelah mencabut rudalku dari liang serambi lempit Mama Fience, bergegas aku menuju kamar mandi setelah mengambil handphoneku dari atas meja kecil di depan sofa.
Di kamar mandi, sambil kencing kubuka WA dari Yuniar itu. Ternyata isinya agak panjang :- Bona Sayang, bagaimana suasananya? Baik – baik aja? Aku punya saran, agar Mama berpihak kepada kita, gauli aja dia Bon. Kalau sudah kamu gauli, pasti dia akan bergabung dengan kita untuk melunakkan hati Papa. Lagian dia sangat dominan menguasai Papa. Apa pun yang dikatakannya kepada Papa nanti, pasti disetujui oleh Papa. Rayu aja dia Bon. Rayu sampai kamu bisa menggaulinya ya Sayang –
Aku tersenyum sendiri. Ternyata Yuniar punya pikiran yang sama denganku. Tapi aku masih berpura – pura bego. Lalu kubalas WA itu dengan :
– Memangnya kamu tidak cemburu kalau aku sampai bisa menggauli Mama? –
Yuniar :-Nggak Bon. Kita kan punya tujuan untuk melicinkan jalan kita ke depannya –
Aku: -Kalau kelak dia ketagihan gimana?-
Yuniar :- Ya kasih aja. Gakpapa. Demi lancarnya rencana kita, aku harus berkorban kan? –
Aku :- Oke deh. Aku akan berusaha merayunya ya. Mudah – mudahan aja dia mau. Kamu mau pulang kapan? –
Yuiniar: – Terserah instruksi darimu. Kapan pun aku siap pulang, asalkan situasinya sudah aman dan terkendali. Hihihihi… kayak polwan aja –
Aku :- Oke, kalau gitu kamu pulang besok pagi aja ya –
Yuniar :- Siap Boss. Selamat ena – ena sama mama tiriku yang item manis itu yaaa. Aku bakal bangga kalau kamuj berhasil mendapatkan Mrs. V Mama. –
Aku tersenyum sendiri. Karena aku berhasil mengelabuinya. Aku seolah – olah belum menyetubuhi Mama Fien. Padahal sejak dua jam yang lalu aku telah membuat Mama Fien klepek – klepek dan membuatnya berkali – kali serambi lempitik di puncak orgasmenya.
Dan aku menyuruh Yuniar pulang besok pagi, karena aku punya rencana untuk memenyetubuhi Mama Fien menjelang fajar menyingsing nanti…
Tapi ketika aku mendapatkan panggilan dari Tante Tari, aku harus mengesampingkan segalanya. Karena meski pun tidak ada tulisan hitam di atas putih, Tante Tari itu adalah bossku dalam bisnis yang sedang kutekuni sekarang ini.
Karena itu, setelah yakin bahwa di antara Yuniar dan ibu tirinya baik – baik saja, aku pun melarikan mobilku menuju rumah Tante Tari, sambil membawa laporan bulanan dari bank – bank di mana dana Tante Tari kusimpan dan kukembangkan.
Tante Tari senang sekali ketika kuperlihatkan jumlah dana yang mengendap di beberapa bank. Yang nominalnya sudah dua kali nominal saldo awal, yakni ketika Tante Tari menyerahkan semua saldo di 5 bank pilihannya. Berarti dalam setahun aku sudah berhasil meraih 100% keuntungan. Dana Tante Tari sudah jadi dua kali lipat jumlahnya.
“Aku sudah menduga bahwa prestasimu luar biasa. Makanya aku menyerahkan sepenuhnya padamu Bon. Uruslah semuanya, aku sudah seratus persen percaya padamu. Kalau ada keperluan apa – apa, pakailah dana itu. Karena sekarang dana itu sudah milik kita bersama,” kata Tante Tari.
“Iya Tante,” sahutku, “Tapi selama ini Tante kok belum pernah minta duit padaku. Kan Tante juga banyak kebutuhan.”
“Kan aku sudah bilang, bahwa sebelum bercerai, mantan suamiku berjanji untuk tetap mentransfer duit untuk kebutuhanku. Itu akan dilakukannya terus sampai aku menikah lagi. Sampai saat ini aku kan belum menikah secara resmi. Padahal… heheheee… kasitau jangan yaaaa…?”
“Soal apa Tante?” tanyaku heran.
Tante Tari membisiki telingaku, “Kemaren aku memeriksakan diri ke dokter. Hasilnya… aku mulai hamil. Sekarang sudah lima minggu kandungannya.”
“Wooow! Aku bahagia mendengarnya…! “seruku sambil menciumi pipi dan bibir Tante Tari.
“Kamu harus makin sayang padaku ya.”
“Tentu aja.”
“Meski pun sudah kawin dengan Vivi, kamu harus tetap sayang padaku ya. Meski pun Vivi itu cantik sekali. Pasti aku kalah cantik kalau dibandingkan dengan dia sih.”
“Sebentar dulu… Vivi itu siapa? Kok Tante tiba – tiba bicara soal dia mau menikah denganku segala?” tanyaku bingung.
“Lho… memangnya mamiemu belum pernah bicara soal Vivi sama kamu?”
“Belum. Siapa sih Vivi itu Tan?”
“Tante Surtini yang tinggal di Semarang itu sudah kenal kan?”
“Sudah. Tante Surtini sih sudah kenal waktu dia bertamu ke rumah Mamie.”
“Sama Tante Haryati yang tinggal di Surabaya sudah kenal?”
“Belum. Belum pernah ketemu sama Tante Haryati sih. Nanti kapan – kapan aku dan Mamie mau maen ke rumahnya di Surabaya, supaya aku kenal dengan semua adik Mamie. Nanti dulu… kenapa Tante langsung bicara soal Tante Surtini dan Tante Haryati?”
“Vivi itu anak Tante Surtini. Cantik sekali anaknya Bon. Takkan kecewa deh kamu dijodohkan dengan anak Tante Surtini itu. Tapi Vivi masih sekolah, baru naik ke kelas tiga SMA. Umurnya juga baru tujuhbelas tahun. Kalau pun kamu bersedia dijodohkan dengannya, kamu harus mau menunggu dulu sekitar setahun.
Aku sering ngomong kepada Yuniar dan ibu tirinya bahwa aku sudah dijodohkan dengan pilihan ibuku. Padahal saat itu hanya ngomong asal nyeplos saja. Hanya alasan agar aku tidak menikah secara resmi dengan Yuniar dan cukup menikah secara siri saja (secara diam – diam tentunya, tanpa harus mengundang siapa pun).
Tapi mungkin ucapanku tentang “dijodohkan oleh orang tua” itu dicatat oleh malaikat, sebagai doa dari diriku sendiri. Lalu Mamie akan menjodohkanku dengan anak Tante Surtini yang bernama Vivi itu.
Aku jadi penasaran. Maka pada malam itu juga aku pulang ke rumah Mamie, setelah lebih dari sebulan aku tidak pulang – pulang ke rumah beliau.
Seperti biasa, karena tak kutemukan Mamie di lantai dasar, aku naik lift khusus yang menghubungkan kamarku dengan kamar dan ruang keluarga di lantai tiga.
Ketika aku membuka pintu lift, ternyata Mamie sedang berdiri di depan pintu lift. Dalam gaun tidur berwarna merah, sambil tersenyum ceria dan merentangkan kedua tangannya. Aku pun menghambur ke dalam pelukannya.
“Kenapa lama sekali gak pulang – pulang?” tanya Mamie setelah menciumi sepasang pipiku.
“Iya Mam. Banyak sekali yang harus diurus, terutama untuk mnengurus lahan – lahan Mamie itu. Tapi sekarang yang di pulau Jawa dan Sumatra sudah clear. Tinggal yang di Kalimantan dan Papua yang belum diurus.”
“Yang di Papua, kalau ada yang minat sih jual aja Bon. Ngurusnya berat di ongkos berat di tenaga dan waktu juga.”
“Iya Mam. Nanti dicarikan dulu peminatnya, harus yang sudah terbiasa berbisnis di Papua. Ohya Mam… apa benar Mamie mau menjodohkanku dengan anaknya Tante Surti?”
“Siapa yang ngomong? Tari ya.”
“Betul.”
“Mamie memang punya niat mengenalkanmu pada Vivi. Tapi mamie takkan main jodoh – jodohkan seperti di zaman Siti Nurbaya. Kenalan aja dulu. Kalau cocok dengan seleramu, jalanin. Kalau gak cocok ya jangan dipaksain.”
“Tapi Mamie tentu punya alasan kenapa mau menjodohkanku dengan anak Tante Surtini.”
“Tentu ada dasarnya. Mamie ingin agar harta kita tidak jatguh ke orang luar. Lagian Vivi itu cantik sekali Bon. Makanya kapan – kapan kamu main aja dulu ke Semarang. Lihat dulu anaknya.”
“Tante Surti sudah tau kalau Mamie berniat akan menjadikan anaknya sebagai menantu?”
“Tentu aja sudah tau. Tempo hari waktu Surti datang ke sini, mamie sudah berunding dengannya. Tapi dia juga sepoendapat dengan mamie, takkan memaksakan kehendak baik kepada Vivi mau pun kepadamu. Kenalan aja dulu deh. Lagian anaknya juga masih sekolah. Biarkan dia selesaikan dulu SMAnya. Baru kita buat rencana selanjutnya.
“Umurnya berapa tahun sekarang?” tanyaku.
“Sudah hampir delapanbelas tahun.”
“Hampir delapanbelas tahun masih di SMA?”
“Dia itu terlambat dimasukkan ke SD. Karena ayahnya meninggal pada saat Vivi belum sekolah. Kalau nggak salah, umur tujuh tahun baru dimasukkan ke SD.”
“O, pantesan…” ucapku sambil memeluk Mamie dari belakang, “Tapi biarlah soal; itu sih gak usah diseriuskan dulu. Kan anaknya juga masih sekolah. Yang penting… aku udah kangen sama Mamie…”
“Mamie juga udah kangen…” sahut Mamie yang membiarkanku menyelinapkan tangan ke balik celana dalamnya.
“Mamie gak diet lagi ya… perasaan Mamie jadi makin gemuk. Tapi justru seksi di mataku.”
“Kamu belum tau ya kalau Mamie lagi hamil.”
“Haaa?! Mamie lagi hamil?! Berapa bulan?”
“Sudah tiga bulan.”
“Lho… kok Mamie gak cepat ngasih tau aku?” cetusku dengan pikiran melayang – layang ke arah lain. Ke arah Tante Tari yang sedang hamil juga. Bahkan terawanganku jauh ke depan. Bahwa kalau kehamilan Mamie sudah tiga bula, sementara kehamilan Tante Tari baru 5 minggu, berarti kelak Mamie yang akan duluan melahirkan.
“Mamie juga baru tau seminggu yang lalu,” kata Mamie, “Tadinya mamie pikir hanya telat datang bulan biasa. Tapi setelah mamie merasa sering mual – mual, mamie memeriksakan diri ke dokter. Ternyata mamie sedang hamil… jadi perut mamie ini sudah ada janin dari benihmu, Sayang.”
“Iya. Nanti kita atur bagaimana caranya agar Mamie tikdak membuat heboh orang luar. Sembunyi di Jogja aja ya. Gak usah jauh – jauh.”
“Iya, mamie mau mengikuti caramu aja. “
Lalu Mamie melepaskan gaun tidur merahnya, diikuti dengan pelepasan beha dan celana dalamnya yang berwarna merah juga. Kemudian Mamie merebahkan diri di atas bed sambil beretanya, “Mamie masih menarik dalam keadaan sedang hamil begini?”
“Justru Mamie semakin menggiurkan dalam keadaan hamil begini. Ohya… Mamie hamil baru tiga bulan, tapi perutnya keliatan sudah mulai membesar ya Mam?”
“Mamie kan gak hamil juga perutnya agak buncit. Apalagi dalam keadaan hamil begini,” kata Mamie sambil memperhatikanku yuang tenbgah melepaskan segala yang melekatg di tubuhku, sampai telanjang bulat seperti Mamie.
Kemudian aku naik ke atas bed. “Mamie masih boleh disetubuhi kan?”
“Ya masihlah. Dulu waktu kamu masih berada di dalam perut mami juga, sampai usia kandungan mamie delapan bulan, masih digauli oleh ayahmu.”
“Ohya… ayahku itu di mana sekarang Mam?”
“Gak tau. Dengar – dengar sih di Tegal. dekat pantai katanya sih, karena dia jadi nelayan setelah melarikan diri dari Jogja itu.”
“Boleh aku tau siapoa nama ayahku itu Mam?”
“Pramono. Tapi biasa dipanggil Mono aja.”
“Boleh pada suatu saat aku cari dia?”
“Tentu aja boleh. Karena biar bagaimana pun dia itu ayah kandungmu.”
Percakapan tentang ayah kandungku, yang aku belum tahu seperti apa bentuknya, lalu terputus. Karena rudalku sudah melesak masuk ke dalam liang serambi lempit Mamie. Bahkan sesaat kemudian aku mulai memenyetubuhinya, dengan kedua siku menahan tubuhku, agar tidak menggencet perut Mamie yang sedang hamil itu.
“Mam… ooooohhhh… waktu hamil gini tempik Mamie kok malah lebih enak Mam…” ucapku terengah.
“Mungkin sudah diciptakan dari sononya, supaya suami makin rajin menyetubuhi istrinya yang sedang hamil. Makanya kamu harus semakin rajin nyetubuhin mamie ya Bon.”
“Iya Mam… kalau perlu aku akan tidur di sini lagi, supaya gak susah kalau lagi kepengen menyetubuhi Mamie.”
“Nggak harus tidur di sini terus. Kan bisnismu juga harus diurus Sayang. Ooooh… Bona Sayaaang… ini mulai enak Booon… entot terus Sayaaang… luar biasa enaknya niiiihhh…”
Aku sendiri tidak mengerti, kenapa tiap kali menyetubuhi Mamie, aku merasakan nikmat yang luar biasa? Apakah karena dibantu setan?
Entahlah. Yang jelas, dibandingkan dengan cewek yang masih perawan pun, serambi lempit Mamie ini tetap lebih nikmat bagiku.
Ketika aku mulai gencar memenyetubuhinya, aku rasakan liang serambi lempit Mamie memang lain dari yang lain. Rasanya kenyal dan legit, ada gerakan mpot – mpotan pula di dalamnya. Ini yang tidak ada di serambi lempit perempuan – perempuan yang pernah kugauli. Hanya Mamie yang punya mpot ayam begini. Disebvut mpot ayam, karena kalau pantat ayam ditiup, suka mpot – mpotan.
Karena itu setiap kali aku memenyetubuhi Mamie, selalu saja terawanganku dibuat melayang – layang di langit tinggi. Langit yang bertaburkan bunga – bunga surgawi, diiringi bunyi merdu gamelan nirwana.
Kini, dalam keadaan hamil, liang serambi lempit Mamie malah semakin enak saja rasanya. Sepasang toketnya yang lebih gede daripada biasanya, juga semakin enak buat ditepuk – tepuk, diremas – remas dan diemut pentilnya.
“Bonaaaa… aaaaaa… aaaaahhhh… ini luar biasa enaknya Booon… sudah lama kamu nggak menyetubuhi mamie yaaaa… ooooh… Boooon… Boooon… entot terus Booon… tapi jangan terlalu lama ya. Kalau bisa barengin sama mamie ntar… kalau terlalu lama kasihan bayinya digoncang – goncang terus sama rudal ayahnya…
Aku mengiyakan sambil tetap mengayun rudalku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Mamie yang kenyal dan legit ini. Sementara keringat pun mulai membasahi tubuhku, bercampur aduk dengan keringat Mamie.
Sampai pada suatu saat… terdengar bisikan Mamie, “Mamie udah mau keluar… ayo barengin Sayang…”
“Iya Mam,” sahutku sambil memacu rudalku secepat mungkin. Sementara Mamie sudah berkelojotan. Dan akhirnya mengejang tegang.
Tapi aku merasa masih jauh dari ejakulasi. Karena itu aku berpura – pura sedang ngecrot, sambil membenamkan rudalku sedalam mungkin, sambil kukejut – kejutkan seolah – olah sedang ngecrot. Padahal aku bvelum apa – apa.
Liang serambi lempit Mamie pun terasa mengejut – ngejut, sementara liang serambi lempitnya terasa banjir dengan lendir kewanitaannya.
“Duuuuh… luar biasa nikmatnya, “cetus Mamie sambil mengecup bibirku dengan mesra.
Aku malah menyahut lain, “Tante Tari juga sedang hamil Mam.”
“Haaa?! Mmmm… sudah berapa bulan hamilnya?” tanya Mamie yang tampaknya tidak sadar bahwa rudalku dicabut dalam keadaan masih ngaceng.
“Baru lima minggu,” sahutku.
“Artini belum hamil kan?”
“Belum.”
“Kalau begitu, setelah perut mamie mulai membuncit sekali, mamie mau sembunyi di rumah Tari aja. Ayo kita ke rumahnya sekarang Bon.”
“Nggak terlalu malam Mam?”
“Kalau buat orang lain memang sudah malam benar. Tapi kita kanb keluarga. Bukan orang jauh. Ayo kita ke rumah Tari sekarang Bon.”
“Baik Mam. Sebentar, mau pipis dan bersih – bersih dulu,” sahutku sambil bergegas menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, aku sudah melarikan mobil ke arah Jogja. Dengan Mamie yang duduk di samping kiriku.
“Bagaimana perasaan Mamie setelah tahu bahwa Mamie sedang mengandung?” tanyaku di tengah kegelapan malam.
“Bahagia. Karena sebenarnya sejak mamie tinggal di Hongkong, mamie ingin sekali punya anak lagi. Tapi mantan suami almarhum memang mandul. Dia sudah nikah kedua kalinya waktu dengan mamie itu. Dari perkawinan pertamanya pun tidak punya anak. Baru sekarang mamie bisa punya anak.”
“Nanti aku bakal punya anak dua orang secara bverturut – turut. Dari Mamike dan dari Tante Tari.”
“Kalau Artini hamil juga, berarti anakmu bakal jadi tiga orang.”
“Kalau Tante Artini hamil juga, siapa yang bakal ngurus Mamie dan Tante Tari?”
“Sebenarnya gampang soal itu sih. Nanti kita kan bisa menggaji zuster. Buat ngurus mamie seorang, buat ngurus Tari seorang.”
“Iya sih. Yapi harus memilih zuster yang bisa menyimpan rahasia kita Mam.”
“Iya. Dengan gaji yang lebih besar daripada gaji perawat pada umumnya, mereka akan bisa menyimpan rahasia kita Bon. Lagian kehamilan seperti yang mamie alami ini, bukan masalah aneh lagi di zaman sekarang.”
“Mam… sebenarnya tadi aku belum ngecrot. Aku terpaksa berpura – pura, m karena takut membuat Mamie tersiksa.”
“Ohya?! Kamu nakal ya… berarti sekaranmg masih ngaceng?” tanya Mamie sambil menarik ritsleting celana jeansku, lalu menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku dan menjamah rudalku yang memang masih ngaceng ini.
“Hihihiii… beneran masih ngaceng nih. Kasian anak mamie… jadi tadi saking sayangnya sama mamie, kamu dibela – belain gak sampai ngecrot?”
“Heheheee… iya Mam. Aku kan gak tega kalau Mamie merasa tersiksa tadi.”
“Ya udah… nanti kita lanjutkan di rumah Tari aja ya. Biar kamu puas, sekalian Tari juga kita ajak main threesome.”
“Iya Mam.”
“Ohya… bukan hanya threesome, kan ada Artini juga. Jadi bisa foursome. Mampu kamu bikin orgasme tiga orang?”
“Tadi sebelum pulang aku sempat ke rumah Tante Tari dulu. Tante Artini lagi pulang dulu ke rumahnya yang akan dijadikan supermarket Mam.”
“Owh… iya ya. Mamie juga belum sempat nengok kegiatan Artini setelah rumahnya dirombak atas dukungan Tari ya. Tapi kalau rumah dan rumah kos itu sih mamie yang modalin.”
“Iya Mam. Tante Artini pernah cerita soal itu. Makanya dia sangat patuh sama Mamie.”
“Ya harus patuh lah. Kalau orang tua sudah tiada, adik harus patuh kepada kakak. Makanya tarti juga patuh sama Mamie, walaupun dia sudah tajir melintir gitu.”
“Tante Tari juga pernah cerita, katanya Mamie paling sayang sama dia. Makanya dia juga sangat sayang kepada Mamie.”
Beberapa saat kemudian mobilku sudah memasuki pekarangan rumah Tante tari. Mamie menelepon sebelum turun dari mobil, “Tari… ini aku di depan rumahmu.”
Kemudian pintui depan dibuka oleh Tante tari sendiri. Dan tampak sumringah ketika melihat kami datang. Dia memeluk Mamie sambil cipika – cipiki. Dan tanpa canggung dia pun cipika – cipiki yang dilanjutkan dengan ciuman mesra di bibirku.
“Kamu cuma sendirian sekarang?” tanya Mamie kepada adiknya.
“Ada pembantu dua orang,” sahut Tante Tari, “Tapi jam segini udah pada ngorok Mbak. Di depan juga ada satpam yang jagain. Mungkin karena melihat mobil Bona, mereka gak mau nyamperin, takut merasa terganggu Bonanya.”
Kemudian Tante Tari mengajak kami ke ruang keluarga yang sudah ditata sedemikikan mewahnya.
“Kamu gak kaget didatangi malam – malam gini?” tanya Mamie yang duduk berdampingan dengan Tante Tari.
Sambil mengusap – usap tangamn Mamie, Tante tari menjawab, “Nggak. Masa didatangi keluarga pakai kaget segala. Mbak dan Bona mau pada nemenin aku kan?”. Mamie membelai rambut Tante Tari, lalu berkata, “Begini… Bona bilang kamu mulai hamil ya?”
“Iya Mbak. Sudah bertahun – tahun aku ingin hamil. Tapi ternyata baru sekarang bisanya.”
“Aku juga sama,” kata Mamie sambil mengusap – usap perutnya sendiri, “Kandunganku malah lebih tua daripada kandunganmu. Jadi kalau sama – sama lancar, aku bakal duluan melahirkan anak Bona nanti. “Ohya?! Kalau begitu, Mbak tinggal di sini aja sampai bayinya lahir. Supaya aku ada temen.”
Cerita Sex Meluluhkan Hati Ibu
“Memang tujuanku juga begitu Sayang. Begitu denger kamu hamil, aku langsung ingin tinggal di sini, tapi nanti kalau perutku sudah gede. Makanya malem – malem juga maksain dateng ke sini. Lagian Bona udah kangen juga sama kamu katanya.”
“Tadi siang Bona kan baru ke sini,” kata Tante Tari sambil tersenyum padaku.
“Memang ke sini, tapi gak ngapa – ngapain… karena keburu dengar aku mau dijodohkan itu. Jadi penasaran, ingin dengar dari mulut Mamie langsung.”
“Ya udah… nanti Bona kita keroyok, biar dia puas ya,” kata Mamie sambil menepuk lutut Tante Tari. Tante Tari pun mengangguk sambil tersenyum.