
Bagaimana jadinya jika kita berpacaran dengan seorang hantu wanita perawan?
Dimian Damatha Mckenzie, seorang mahasiswa semester akhir universitas ternama di Amerika harus menghadapi kejadian-kejadian supranatural dalam hidupnya. Hari-harinya selalu ia habiskan dengan makhluk-makhluk tak kasat mata.
Sampai akhirnya dia bertemu seorang hantu cantik yang berhasil meruntuhkan dinding pertahanan hatinya. Akankah mereka dapat bersatu di tengah perbedaan dunia yang nyata dan maya?
Novel Ghost Virgin Woman Ngocoks Ghost Virgin Woman – Di anugrahi kelebihan oleh Tuhan itu merupakan sesuatu yang luar biasa. Tapi tidak untuk seorang Dimian. Bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata merupakan sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Jika kelebihan ini bukan karena keturunan, mungkin ia memilih tak ingin memilikinya sama sekali.
Di jauhi semua orang? Itu sudah hal biasa baginya. Orang-orang menganggapnya gila, aneh, dan lainnya. Itulah sebabnya mengapa dia menjadi seorang yang penyendiri dan pendiam. Apalagi setelah kepergian kedua orang tuanya 15 tahun lalu, masih menyisakan luka yang mendalam baginya.
Dan jangan remehkan kemampuan otak yang penyendiri. Dimian terkenal dengan kecerdasannya yang berbeda dari mahasiswa lainnya. Beberapa beasiswa dan penghargaan telah berhasil ia capai.
“Ah, ayolah, aku sedang tidak ingin bermain-main hari ini,”
Plakkk!!
Sebuah roh berubah menjadi abu dan pergi ke tempat seharusnya.
Dimian tidak hanya bisa melihat hantu, tapi dia juga bisa menyentuh bahkan mengirim mereka ke tempat yang seharusnya mereka berada, surga atau neraka.
“Dimi, kau sibuk?” seorang wanita berpenampilan feminim duduk di sebelahnya.
Dimian menoleh ke arah gadis itu, Felicia. Dia adalah wanita yang akhir-akhir ini Dimian taksir. Selain karena kecantikannya, Felicia juga termasuk mahasiswi yang cukup cerdas.
Keduanya menjadi sangat dekat dan akrab setelah dosen mereka memberikan tugas dan membagi kelompok.
“Fe-felicia, tidak, aku tidak sibuk.” Dimian sedikit gugup sambil tersenyum dan meletakkan buku yang sedang di bacanya.
“Baguslah, bagaimana kalau kita mengerjakan tugas kelompok kita?” ucap Felicia sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
“Ah, sungguh cantik wanita ini. Kulit putih yang bersinar, bibir pink merekah yang indah dan rambut pirang yang di gerai dan terkena terpaan angin membuat kecantikannya terlihat lebih sempurna.” batinku sambil memperhatikan wanita itu.
Tiba-tiba sebuah lambaian tangan membuyarkan lamunanku.
“Dimi, are you okay?” tanyanya sambil memandang lekat wajahku.
Buru-buru ku kembalikan pikiranku dan fokus kepada pertanyaan yang Felicia ucapkan.
“Ehem, I’m okay.” Mengalihkan pandangan ke arah lain.
Felicia mengangguk mengerti.
Aku bisa gila jika terus berada di samping wanita ini. Aura yang di pancarkannya benar-benar membuatku semakin ingin memilikinya. Tapi aku sadar, sebagai wanita yang menjadi primadona universitas, Felicia bukanlah wanita yang mudah bersanding dengan siapa saja. Apalagi dengan seorang seperti ku, yang berpenampilan sederhana dan bertempat tinggal di sebuah apartemen berukuran sedang.
Ku hapus jauh-jauh pikiran untuk mendapatkan Felicia. Karena tujuan ku masuk ke universitas ini adalah untuk mendapatkan nilai yang maksimal dan mendapatkan pekerjaan yang layak, bukan mencari cinta.
Kembali ku pasang wajah dingin tanpa ekspresi yang selalu aku tunjukkan ke semua orang.
“Dim, bisakah kita mengerjakannya di cafe atau di tempat lainnya, udara di sini sangat panas?!” ucapnya sambil mengibas-ngibaskan tangan ke lehernya.
Yaps, saat ini negeri Paman Sam memang tengah dalam musim panas. Semua orang pergi ke pantai untuk menikmati musim ini, entah itu untuk berjemur, bermain air, atau yang lainnya. Tapi tidak untukku, aku memilih musim panas untuk mengambil kuliah, dan musim dingin untuk beristirahat. Sejak kecil aku sudah tidak tahan dengan udara dingin, itu membuat ku sakit.
Aku berpikir sejenak memikirkan ucapan Felicia. Tentu aku tak tega melihatnya kepanasan seperti itu. Tapi aku tak dapat menuruti kata-katanya. Aku harus segera mungkin menjauhi Felicia dan menjaga hatiku agar tak terlalu dalam mencintainya.
“I’m sorry, aku ada kuliah hari ini. Lain kali saja kita mengerjakan tugas itu,” ucapku datar.
Felicia mengerucutkan bibirnya. Mungkin dia kesal dengan keputusan ku. Setidaknya itu yang ku lihat dari raut wajahnya.
Ku ambil ransel dan buku ku lalu berdiri hendak meninggalkan Felicia.
“Aku harus pergi, lain kali saja kita mengerjakan tugas itu. Lagi pula, Mr Kevin memberikan kita waktu 1 bulan untuk menyelesaikannya.” ucap ku, lalu pergi meninggalkan Felicia yang tengah duduk di kursi taman di samping universitas sendirian.
Kematian bukanlah hal yang diinginkan setiap orang, apalagi jika kau menjadi seorang hantu dan berkeliaran tanpa tujuan.
Mysha Caroline Addison, seorang hantu wanita perawan, berambut coklat kepirang-pirangan, tinggi semampai dan kulit yang putih bersih. Harus merasakan hal yang tak pernah terpikirkan dalam hidupnya. Menjadi seorang hantu bukanlah tujuan akhir dari hidupnya.
Lulus universitas dengan nilai baik, lalu mendapatkan pekerjaan dan menikah adalah impiannya. Kini angan itu harus ia kubur dalam-dalam. Tujuannya saat ini adalah pergi ke tempat seharusnya dia berada dan hidup dengan damai.
“Kau harus segera mencari laki-laki dengan energi positif yang cukup untuk membuatmu pergi ke surga secepatnya,” ucap seorang hantu pengantin wanita bertubuh gemuk di hadapannya sambil lahap menyantap makanannya.
Mysha berpikir sejenak. Akan sulit mendapatkan laki-laki yang memiliki energi positif yang cukup besar.
“Aku tidak tahu, apa aku bisa mendapatkan energi itu secepatnya? Bahkan aku sudah mencarinya selama 5 tahun,”
“Kau pasti bisa, Mys. Hanya itu cara yang membuatmu bisa pergi ke tempat yang seharusnya kau berada,” ucap Nathalie, hantu wanita berumur sekitar 30-an yang menjadi sahabat Mysha semenjak ia menjadi hantu.
Mysha tampak menimbang-nimbang ucapan Nathalie. Ia bahkan telah mencari laki-laki dengan energi positif itu selama 5 tahun semenjak kematiannya.
***
Kau tak pernah tahu rasanya hidup dalam kehampaan, tanpa keluarga, teman dan sahabat. Dari sana aku mulai berpikir, bahwa semesta tak berpihak pernah kepadaku. Bahkan yang lebih buruk dari itu, aku bahkan tak ingat bagaimana aku mati.
Ah, miris sekali bukan? Tapi aku bersyukur, aku mati bukan menjadi roh jahat yang menyimpan dendam kepada siapa pun.
Aku berjalan tanpa arah di tengah keramaian kota. Walau ramai, aku masih bisa merasakan bahwa aku tetap sendiri. Orang-orang berjalan melewati ku begitu saja, menganggap ku seolah-olah aku tak ada.
“Hei? Aku disini, para hantu hidup berdampingan dengan kalian.” ucap ku sambil melambai pada 2 orang pejalan kaki yang tengah asik mengobrol.
Ah, bodohnya aku, mereka bahkan tak bisa mendengar ku bicara. Aku berjalan dengan lesu, sampai sebuah tarikan energi kuat dari arah berlawanan berhasil membuat ku mendongkak.
Ku balikkan tubuh ku dan menatap laki-laki dengan ransel di punggungnya itu. Tubuhnya memancarkan aura positif yang selama ini aku cari.
“Benarkah dia?” ucapku sambil membulatkan mata.
Dengan rasa penasaran yang besar, ku putuskan untuk mengikutinya.
Laki-laki itu memasuki sebuah kompleks apartemen sederhana.
Hari yang cukup melelahkan. Aku pulang ke apartemen ku dengan berjalan kaki, karena memang jarak dari universitas ke tempat tinggal ku cukup dekat.
Tiba-tiba ku rasakan desiran halus di tubuhku. Tentu ini merupakan hal yang biasa bagi seorang anak indigo seperti ku. Perasaan itu terus mengikuti sampai aku telah sampai di apartemen ku. Ku putar bola mataku malas, seorang hantu tengah mengikuti ku.
“Apa hidup ku cukup menarik sampai-sampai kau mengikuti ku sampai ke sini?” ucapku dengan nada sedikit berteriak.
Aku terperangah mendengar ucapan laki-laki itu. Apa dia bisa melihat ku?
Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya dan menatap lekat wajahku. Aku balas menatap manik mata coklat gelap itu dengan seksama.
Kedua netra itu saling mengunci satu sama lain.
“Oh my God, seksi sekali pria ini.” batinku saat melihat kancing kemejanya terbuka di bagian atas dan menampakkan dada atletisnya.
“Ah, mungkinkah aku dapat menyentuhnya dan mendapatkannya seutuhnya sekarang?” batinku sambil senyum-senyum sendiri membayangkan bisa melihat tubuh itu secara langsung.
“Astaga, apa yang ku lakukan?” Aku menepuk-nepuk pipiku agar tak menghayal lebih jauh.
“A-apa yang di pikirkan hantu itu?” Aku mengernyit heran saat melihat dia senyum-senyum sendiri.
“CK!” Aku memutar bola mataku malas. Benar-benar hantu gila.
“Hei, kenapa kau menguntit ku?” tanyaku yang penasaran.
Dia tampak salah tingkah saat ku tanyakan hal itu.
“A-apa? Aku tak menguntit mu,” elaknya sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Lucu sekali dia berkata seperti itu. Jelas-jelas dia menguntit ku. Ah, tapi saat ini aku sedang tak ingin berdebat dengan hantu. Jadi, ku putuskan untuk mengakhirinya.
“Baiklah,” aku berbalik dan hendak masuk ke dalam apartemen ku, tapi dia seperti menahan ku.
“Apa?” Aku menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya. Sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu.
Dia tampak berpikir sejenak. Ku tatap intens wajah semu kemerahan itu.
“Cantik,” pikir ku sambil tersenyum. “Sebelumnya aku tak pernah bertemu dengan hantu secantik dia,”
Aku membelalakkan mata. “Astaga, apa yang ku pikirkan?”
“Emm … A-aku perlu bantuan mu,” tiba-tiba ucapannya mengembalikan fokus ku.
Aku mengangkat sebelah alis ku. Apa maksudnya bantuan? Bukankah hantu tidak memiliki masalah? Ah, sungguh tak ada waktu untuk memikirkan masalah orang lain. Masalah ku saja sudah cukup banyak.
“Aku tak ada waktu,” aku berbalik dan hendak membuka pintu, tapi dia tiba-tiba berada di dekat ku dan menahan tangan ku.
Sontak aku membelalakkan mata dan menatap ke arah tangan yang sedang di pegangi olehnya.
“Ma-maaf,” ucapnya kaku sambil melepaskan tangannya.
Aku menatapnya tajam sedangkan dia hanya tersenyum kaku. Lucu memang. Dalam hati aku tersenyum geli melihat tingkahnya.
Lalu aku masuk ke dalam apartemen ku dan menghiraukannya.
Bukan hantu namanya jika tidak tiba-tiba muncul dan mengagetkan seseorang. Begitu juga yang dilakukan oleh hantu wanita itu.
“A-apa yang kau lakukan di apartemen ku?” tanyaku saat melihat dia sudah ada di dalam apartemen.
“Aku mohon, bantu aku!” ucapnya dengan nada memohon.
“Tidak!” ucapku datar kemudian berlalu dari hadapannya.
“Arrghhh, menyebalkan sekali pria ini. Ingin rasanya ku hajar wajahnya lalu ku lipat-lipat dan ku makan saat jam makan malam nanti,” batinku kesal sambil mengacak-acak rambut.
Tapi, aku harus tetap optimis dan bersabar.
“Keep smile, Mys!” gumam ku sambil tersenyum terpaksa.
Lalu aku mencari pria itu.
“Hei, pria menyebalkan where are you?” teriakku sambil membuka semua pintu di apartemen kecil itu.
Tiba-tiba ku dengar suara gemericik air dari sebuah pintu berwarna biru tosca.
“Mungkinkah laki-laki itu sedang mandi?” tanya batinku.
Lalu aku menempelkan telingaku ke pintu itu dan fokus mendengarkan suara gemericik air. Aku mendengarkan dengan seksama suara itu. Hingga suara gemericik itu tak lagi terdengar.
Tanpa ku sadari ternyata pintu itu sudah terbuka lebar dan menampakkan sosok tinggi tegap dibaliknya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
“Apa yang kau lakukan, hah?” tanyanya dengan tubuh yang sedikit basah.
Sontak aku mengembalikan posisi tubuhku dan berdiri kaku.
“Oh my God, seksi sekali pria ini. Tubuh atletisnya benar-benar membuatku semakin ingin menyentuhnya dan merasakan malam yang panas bersama.” ucap batinku sambil menatapnya tanpa berkedip.
Tiba-tiba sebuah lambaian tangan membuyarkan lamunanku.
“A-aku tak melakukan apapun,” mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Astaga, ini benar-benar gila. Kenapa aku harus melakukan hal bodoh seperti itu?” batinku sambil menepuk-nepuk dahi ku pelan.
Aku tertawa geli melihat tingkah wanita itu yang seperti ketahuan mencuri sesuatu. Di lihat dari cara berdirinya, dia sepertinya sangat gugup dan tak nyaman melihat ku bertelanjang dada seperti ini.
Aku lalu bergegas menuju kamarku untuk memakai baju.
“Hhuftt …”
Akhirnya aku bisa bernapas lega melihat laki-laki itu pergi ke kamarnya. Mengapa otakku selalu di penuhi oleh pikiran-pikiran yang menjijikan seperti itu? Apa ini akibat aku mati dalam keadaan masih perawan? Astaga, jika itu benar, aku benar-benar merasa 2 kali lebih menyesal karena sudah mati dalam keadaan seperti ini.
Aku menatap sekeliling ruangan ini. “Cukup rapi,” ucapku sambil mengangguk-angguk kagum.
Sambil menunggunya selesai memakai pakaiannya, ku putuskan untuk melihat-lihat ruangan itu.
Ku lihat sebuah album foto yang tergeletak di atas meja di depan sebuah tv berukuran sedang. Ku buka album itu perlahan.
Aku tertawa geli saat melihat sebuah foto yang menampilkan seorang bocah laki-laki dengan memakai pakaian ala superhero sedang tersenyum lebar.
“Mungkinkah pria itu?” pikirku.
Lalu kubuka lembar berikutnya dan kembali tertawa geli melihat foto-foto masa kecil yang ku pikir pria menyebalkan tadi.
Sampai di penghujung album. Aku melihat bocah itu sedang tertawa bahagia bersama 2 orang paruh baya. Yang ku tebak mereka adalah orang tuanya. Tiba-tiba aku teringat kedua orang tua ku yang entah siapa dan dimana. Ku usap foto wajah kedua paruh baya itu perlahan.
Tak terasa bulir air mataku jatuh. Membayangkan betapa bahagianya jika aku masih hidup dan tertawa bersama kedua orang tuaku. Sungguh, menjadi hantu bukanlah keinginan ku.
“Sepertinya kau menyukai foto itu,” tiba-tiba terdengar suara bariton yang mengagetkan ku. Sontak aku menghapus air mataku kasar.
Pria itu lalu duduk di sampingku dan menatapku heran. “Apa kau menangis? Ku kira menjadi hantu itu menyenangkan,” ketusnya santai.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. “Hantu juga punya perasaan,” balasku jutek.
Ku dengar dia hanya terkekeh kecil melihat tingkah ku yang mungkin menurutnya lucu, tapi sebenarnya menurutku tidak.
“Hei, kenapa kau masih di apartemen ku?” tanyanya.
Tentu pertanyaan itu membuat ku salah tingkah lagi. Benar, apa yang ku lakukan di apartemen seorang pria? Rasanya seperti wanita murahan saja. Tapi bukan itu, tentu saja aku ingin meminta bantuan pada pria menyebalkan ini.
“Sudah ku bilang, aku membutuhkan bantuan mu!” ucapku kesal.
“Kau pikir apartemen ku ini kantor polisi, hah?”
Aarrgghh, kenapa dia menyebalkan sekali?
“Aku ini hantu, kau pikir polisi-polisi itu bisa melihat ku, hah?” balasku yang tak kalah nyolot.
Dia berpikir sejenak lalu menatap ku tajam. Kali ini aku tak mau kalah, aku balik menatapnya tajam.
“Jangan menatapku seperti itu!” tegasnya.
Aku memutar bola mataku malas. “Kau yang memulainya duluan, tuan yang menyebalkan,” ucapku dengan nada meledek.
“Kenapa kau tak mencari laki-laki lain untuk kau ganggu? Kenapa harus aku?” bentaknya.
Sungguh, aku bukanlah tipe hantu yang suka di bentak-bentak. Aku sudah tidak tahan lagi menghadapi laki-laki ini. Sebaiknya aku mencari pria lain yang memiliki energi positif yang ku butuhkan dari pada dengan pria menyebalkan ini.
“Baik, aku pergi! Dasar pria menyebalkan,” umpat ku sambil bangkit dan hendak pergi dari apartemen itu.
Tiba-tiba aku tersandung kakinya yang entah sejak kapan ada di sana. Tapi untungnya pria itu menangkap ku dan sedikit memelukku. Aku membulatkan mataku dan menatap manik mata coklat itu. Alhasil kedua mata kami saling bertatapan tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulut kami.
Bersambung… Brukkk…
“Akhh…” suara ringisan seseorang yang kesakitan.
Yaps, siapa lagi kalau bukan Mysha yang terjatuh.
“Astaga, apa yang ku lakukan? Kenapa aku harus menahannya? Bodoh … Bodoh … Bodoh …” umpat ku dalam hati.
“Dan, apa ini? Kenapa dadaku harus dag-dig-dug tak karuan?” Aku memegangi dadaku yang berdegup kencang.
Akh, rasanya semua tulang punggung ku patah. Ini akibat ulah dari laki-laki menyebalkan ini. Kenapa dia harus menahan ku lalu menjatuhkannya? Menyebalkan memang.
Lihat muka konyolnya itu. Ingin rasanya ku hajar dan ku pelintir hingga kecil.
Dimian tampak salah tingkah atas perbuatannya. Sedikit terbesit dalam hatinya ia merasa bersalah.
Mysha lalu bangkit dan menatap Dimian dengan wajah kesal. Dimian mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia merasa tak kuasa melihat mata bulat yang marah itu, namun menggemaskan.
“Jangan salah paham, aku tak bermaksud apa-apa dengan mu.” ucap Dimian santai.
“Terserah apa katamu, kau memang laki-laki yang paling menyebalkan yang pernah ku temui.” ucap Mysha sambil membuang muka.
Dimian lalu membalikkan pandangannya dan menatap wanita yang sedang marah kepadanya itu. Dalam hatinya ia tersenyum geli. Mysha masih tampak terlihat cantik walau sedang marah.
“Aku pergi,” ucap Mysha lalu menghilang dari hadapan Dimian.
Dimian tampak tak rela Mysha harus pergi sekarang. Dirinya masih benar-benar merasa bersalah. Tapi, mau bagaimana lagi, Mysha sudah pergi. Ia kembali merutuki kebodohan dirinya.
Aku berjalan dengan perasaan kesal sambil sesekali menghentak-hentakkan kakiku dan menendang kerikil.
“Kenapa aku harus bertemu dengan laki-laki yang menyebalkan seperti dia? Aarrgghh…” Aku mengacak-acak rambut ku kesal.
“Tapi, dia cukup tampan,” ucapku sambil tersenyum kecil membayangkan tubuh dan wajah pria tadi yang lumayan seksi.
“Astaga, apa yang ku lakukan?” Aku merutuki mulutku yang tiba-tiba berucap menjijikan seperti itu.
Aku duduk termangu di atas sebuah kursi taman, memikirkan kemana lagi aku harus mencari pria dengan energi positif yang ku butuhkan. Aku tak mungkin kembali ke pria yang menyebalkan tadi.
Aku menghela nafas ku panjang.
Apa yang harus lakukan? Aku bahkan tak mengetahui namanya.
Aarrrggghh.. kenapa perasaan ku jadi sangat tak menentu seperti ini. Aku bahkan baru bertemu dengannya beberapa jam yang lalu, dan dia sudah membuat otak dan pikiran ku menjadi konyol seperti ini.
“Sadar, Dimi! Dia hanya seorang hantu,” Aku menepuk-nepuk pipiku kasar.
“Akh,” Aku meringis saat merasakan sakit di pipiku.
Mungkin segelas wine akan menghilangkan dia dari pikiranku.
Lalu aku membuka sebuah lemari kecil dan mengambil sebotol minuman wine dari sana. Setidaknya itu membuatku sedikit merasa lebih baik.
“Kak, mana mungkin aku bisa kembali kepada laki-laki menyebalkan itu. Sedikit pun aku tak menyukainya,” ucap Mysha dengan nada kesal.
Nathalie menghela nafasnya panjang. “Mysh, tak ada cara lain. Kau harus melakukannya. Waktu mu tidak banyak, kau tahu?”
Mysha memasang raut wajah sedih dan putus asa. Memang benar apa yang di katakan oleh Nathalie. Waktunya tak lagi banyak, dia harus segera mencari energi positif yang dia butuhkan sebelum dia menjadi roh jahat dan melukai orang-orang. Tapi dimana? Harus kemana?
Tak ada cara lain. Mysha harus kembali kepada laki-laki yang ia anggap sebagai seorang yang menyebalkan, siapa lagi kalau bukan Dimian.
Keesokan harinya, Dimian berjalan memasuki lingkungan universitas. Sesekali matanya tampak mencari-cari sesuatu, Mysha. Hantu wanita itu benar-benar telah meracuni pikiran seorang Dimian. Selain rasa bersalah yang terus menghantui, Dimian juga merasa penasaran dengan hantu itu.
Dimian menarik nafasnya panjang saat tak menemukan Mysha, lalu duduk di sebuah kursi taman dan membuka sebuah buku. Matanya fokus membaca setiap aksara yang tertera di sana, tapi pikirannya masih memikirkan Mysha. Hal itu membuat Dimian mengusap wajahnya frustasi.
“Kenapa harus hantu itu?” gumam Dimian.
Dimian melirik jam yang melingkar di tangannya, sudah hampir pukul 9, itu artinya kelas pertama akan segera di mulai. Ia lalu meraih ransel dan bukunya dan pergi menghadiri kelas.
Mysha datang kembali ke apartemen Dimian. Ia membuka setiap pintu kamar di ruangan itu, mencari-cari Dimian. Tapi sayang, Dimian tak ada di sana. Mysha mengerucutkan bibirnya dan duduk di sebuah sofa di depan tv.
“Dimana pria itu?” gumam Mysha.
Mysha melihat sebuah arsip bertuliskan nama sebuah universitas ternama di Amerika. Bibirnya tersenyum lebar, ia pikir Dimian berkuliah di sana. Lalu ia segera pergi ke tempat itu.
Tak butuh waktu lama, Mysha sudah sampai di universitas Dimian. Matanya mencari-cari sosok yang ia cari, Dimian. Ia masih tak menemukannya. Lalu Mysha memutuskan untuk melihat-lihat universitas itu sambil mencari Dimian.
Jam 10:30, Dimian telah selesai dengan kelasnya. Seperti biasa, ia menuju taman untuk membaca sebuah buku sambil menunggu kelas berikutnya, tak lupa ia memasangkan sebuah headphone ke telinganya.
Mysha berjalan hampir putus asa, Universitas itu sangatlah luas. Akan sulit mencari seorang pria di tengah ribuan mahasiswa di kampus ini.
“Aarrgghh… Ya ampun, kaki ku benar-benar lelah,” ucap Mysha sambil duduk di sebuah kursi taman dan meluruskan kakinya yang pegal.
“Apa mungkin pria itu tidak berkuliah di universitas ini?” pikir Mysha.
“Aargghhhh … ” Mysha menggeleng-gelengkan kepalanya kesal, dia pikir dia hanya membuang-buang waktu saja.
“Baiklah, aku akan menunggunya di rumah,” ucap Mysha semangat. Dan dengan sekejap sudah meninggalkan universitas itu dan menuju apartemen Dimian.
Sore harinya, Dimian pulang ke apartemennya. Ia di kejutkan oleh seorang wanita cantik tengah tidur di sofa kesayangannya.
“Siapa dia?” gumamnya sambil berjalan ke arah wanita itu.
Dimian memperhatikan dengan seksama, memastikan dia adalah manusia atau hantu.
Mysha menggeliat kecil sambil menguap.
“Hoaamm..”
Dimian terkejut, ternyata gadis itu adalah hantu yang sudah meluluhlantakkan hati dan pikirannya akhir-akhir ini. Aneh memang, mengapa hantu itu kembali lagi ke apartemennya.
Dimian tersenyum kecil melihat posisi tidur lucu wanita itu yang seperti anak kecil.
“Astaga, kenapa aku senyum-senyum begini?” Dimian lalu memasang wajah dinginnya kembali.
Dimian menepuk-nepuk pipi Mysha. Seketika Mysha terbangun.
“Astaga,” Mysha membelalakkan matanya saat melihat Dimian ada di hadapannya.
“Apa yang kau lakukan di apartemen ku?” tanya Dimian.
Mysha sedikit gugup. “A-aku … Tidak ada,” ucap Mysha sambil memposisikan dirinya untuk duduk dan tersenyum terpaksa.
Dimian memutar bola matanya malas. “Lalu kenapa kau kembali ke apartemen ku?”
Deg!
Kata-kata itu membuat Mysha memutar otaknya. “A-aku …” Mysha berpikir sejenak. Haruskah ia mengungkapkannya sekarang?
“E-engh…”
Dimian menatap Mysha intens.
“A-aku membutuhkan bantuan mu,” ucap Mysha.
Dimian kembali mengangkat alisnya sebelah.
Mysha menghela nafasnya panjang. “Aku mohon, lakukan itu denganku.”
Deg!
Dimian yang mengerti dengan ucapan Mysha sontak terkejut. Melakukan hal itu bersama hantu? Itu benar-benar hal gila.
Mysha menatap Dimian dengan perasaan penuh permohonan. Sedangkan Dimian menatap Mysha dengan wajah bingung.
“A-apa kau gila? Melakukan itu bersama hantu?” ucap Dimian dengan raut wajah tak percaya.
Mysha mengangguk ragu.
“Aku bahkan belum tahu namamu dan kau sudah mengajakku untuk melakukan hal seperti itu? Kau demam?” Dimian meletakkan tangannya di dahi Mysha.
Mysha mengerucutkan bibirnya kesal, lalu menepis tangan Dimian. “Aku tidak demam. Aku benar-benar harus melakukannya dengan mu,”
Dimian berdecak kesal dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Ya, ya, please, aku mohon!” Mysha mengedip-ngedipkan matanya dan memasang wajah baby face.
Dimian beralih menatap Mysha. Ah, sungguh sangat menggemaskan. Ingin rasanya Dimian mencubit pipi wanita di sampingnya. Sesaat Dimian terpaku dengan wajah imut Mysha.
“Sadar, Dimi! Dia hanya seorang hantu,” ucap batin Dimian.
Dimian mengedipkan matanya kaku.
“Ehem, aku tidak bisa,” ucap Dimian datar.
Mysha memasang raut wajah cemberut.
“Kenapa? Karena aku seorang hantu?” Mysha sedikit menaikkan nada bicaranya.
Dimian menatap sesaat mata coklat itu. Sangat memabukkan.
“Ya, karena kau hantu,” Dimian bangkit dari duduknya.
Mysha merasa sedih mendengar ucapan Dimian. Dirinya memang seorang hantu, dan itu bukan keinginannya. Mysha hanya ingin pergi ke tempat yang seharusnya dia berada dan hidup damai. Tapi kenapa itu sangat sulit sekali untuknya?
Mysha terisak memikirkan nasibnya. Akankah ia menjadi roh jahat untuk selamanya dan melukai orang-orang? Sungguh, Mysha tak ingin itu terjadi.
“Aku tahu ini gila, tapi hanya kau yang bisa melihat ku dan kamu pria yang selama ini aku cari. Kau memiliki energi positif yang aku butuhkan. Please, bantu aku! Bantu aku untuk pergi ke tempat yang seharusnya aku berada, bukan di sini. Aku sungguh tak menyukai menjadi hantu,” Mysha masih terisak.
Dimian yang mendengarnya menjadi tak tega. Apakah dirinya harus membantu hantu itu? Tapi, melakukan hubungan intim bersama hantu? Sungguh, itu di luar logikanya.
“Aku bahkan tak mengetahui keluarga ku dan bagaimana aku mati,” ucap Mysha sendu sambil menghapus air matanya.
Dimian semakin serba salah. Di satu sisi, batinnya merasa kasihan kepada hantu itu. Tetapi, logikanya menolak.
“Aargghhhh.. ini sangat membingungkan,” batin Dimian.
Dimian kembali duduk di samping Mysha. Ia sangat benci melihat air mata seorang gadis terjatuh, itu mengingatkan dirinya kepada sosok ibunya yang telah pergi. Dimian meraih sapu tangan dari dalam sakunya.
“Hapus air matamu! Aku membencinya,” ucap Dimian dingin tapi terselip rasa perhatian dari kata-katanya itu.
Mysha tak menghiraukan ucapan Dimian dan masih terisak sambil tertunduk dan memainkan jarinya.
Dimian yang merasa perkataannya tak di gubris oleh Mysha, tiba-tiba meraih wajah Mysha agar menghadapnya. Sontak hal itu membuat Mysha terkejut.
Dimian menyeka sisa air mata yang jatuh dari pelupuk mata Mysha. Mysha menatap wajah dingin Dimian yang masih terlihat tampan, rasa dag-dig-dug di dadanya semakin menjadi-jadi. Hidung yang mancung, rahang yang bersikut, alis tebal menghiasi sorot mata tajam Dimian, tak lupa bibir tipis dan seksi menambah ketampanan seorang Dimian.
Dimian juga menatap manik mata coklat Mysha. Gadis di depannya benar-benar membuatnya tergila-gila. Ia tak pernah bertemu dengan gadis secantik Mysha. Andai Mysha bukan seorang hantu, mungkin dirinya bertekad untuk menikahinya.
Tiba-tiba Dimian tersadar dengan hal yang dilakukannya. Segera saja ia melepaskan tangannya dari wajah Mysha. Dimian menjadi salah tingkah, begitu juga dengan Mysha.
“Hapus air matamu!” ucap Dimian sambil memberikan sapu tangannya. Matanya ia alihkan ke arah lain.
Mysha menatap wajah Dimian yang terlihat sedikit kikuk. Lalu ia mengambil sapu tangan itu dan menyeka air matanya.
“Siapa namamu?” tanya Dimian penasaran.
Mysha tersenyum manis. “Mysha Caroline Addison,” ucap Mysha.
Dimian mengangguk-angguk mengerti. “Nama yang bagus,” ucap Dimian spontan, dengan cepat ia menutup mulutnya yang tidak sopan itu.
Mysha yang mendengarnya, menatap tak percaya pria di sampingnya. Benarkah laki-laki menyebalkan dan dingin itu baru saja memujinya?
“Bodoh, kenapa aku mengucapkan itu,” batin Dimian merutuki kebodohannya.
“Te-terima kasih,” ucap Mysha sambil tersenyum manis.
“Astaga, lihat senyumannya! Wanita ini benar-benar membuatku semakin konyol,” batin Dimian.
“Kau baik?” tanya Mysha karena Dimian menatapnya dengan tatapan aneh.
Dimian mengangguk-angguk ragu. “Dan … Kenapa dadaku harus berdegup kencang seperti ini?” batinnya.
“Jadi … Apa kau bisa membantuku? tanya Mysha.
Ucapan Mysha membuyarkan lamunan Dimian. Dimian berpikir sejenak. “Apa tidak ada cara lain selain harus melakukan hubungan itu?”
Mysha berpikir sejenak. Ia teringat ucapan Nathalie, sebenarnya dia bisa pergi ke tempat itu dengan beberapa cara. Tetapi, melakukan hubungan intim bersama dengan manusia yang memiliki energi positif besar, itu cara yang ampuh.
“Tapi, itu cara yang paling baik,” ucap Mysha.
“Oh, ayolah. Pasti ada cara lain, aku yakin,”
Mysha kembali berpikir. “Sebenarnya masih ada cara yang lain, tapi aku tak yakin itu bisa,”
“Apa?” tanya Dimian penasaran.
“Dengan mencari tahu penyebab kematian ku. Dengan itu, arwahku mungkin tak lagi merasa penasaran,” tutur Mysha.
Dimian membelalakkan matanya. Tentu itu bukanlah hal yang mudah. Dia bukan seorang polisi apalagi detektif. Kematian Mysha pasti sudah lama terjadi.
“A-apa? Yang benar saja,” ucap Dimian.
“Aku mohon, itu cara kedua yang paling ampuh.” Mysha menatap Dimian dengan penuh permohonan.
Dimian menatap manik mata coklat Mysha. Mysha benar-benar membutuhkan bantuannya. Ia mengerti perasaan Mysha.
“Baiklah, aku akan melakukannya,” ucap Dimian yang langsung membuat Mysha tersenyum bahagia.
“Benarkah?” tanya Mysha dengan mata yang berbinar. Akhirnya ia akan segera pergi ke tempat yang damai.
Dimian mengangguk dan membalas senyuman Mysha.
“Terima kasih,” Mysha sangat antusias dan bahagia. Sebuah senyuman manis terus menghiasi wajah cantiknya.
Dimian tersenyum kecil dalam hatinya, saat melihat wanita di sampingnya tampak bahagia.
Bersambung… “Dor …!” Tiba-tiba Mysha muncul di hadapan Dimian. Sontak hal itu membuat Dimian kaget.
“Kenapa kau selalu muncul tiba-tiba seperti itu?” tanya Dimian yang kesal sambil memegangi dadanya.
Mysha hanya tersenyum kecil. “Maaf,” ucapnya.
Dimian tak menghiraukan ucapan Mysha dan melanjutkan perjalanannya.
“Dimi, kau mau kemana?” tanya Mysha sambil mensejajarkan langkahnya dengan Dimian.
“Toko,” ucap Dimian datar sambil tetap berjalan.
Mysha mengangguk mengerti dan ikut berjalan di samping Dimian. Senyum bahagia terus terukir di bibir Mysha.
Dimian memasuki sebuah super market diikuti oleh Mysha di sampingnya.
“Dimi, bolehkah aku membeli sesuatu di sini?” tanya Mysha semangat.
“Tentu saja …,” Dimian tersenyum manis.
Mysha tersenyum lebar saat mendengar ucapan Dimian.
“Asal kau bukan hantu,” tambah Dimian, lalu berjalan di depan Mysha.
Tentu saja hal itu membuat senyuman Mysha seketika pudar, terganti oleh raut wajah cemberut yang menggemaskan.
“Aargghhhh ….” Mysha mengacak rambutnya kesal. Lalu berjalan menyusul Dimian.
Dimian mengambil sebuah troli dan menuju tempat perlengkapan mandi. Ia membeli beberapa sabun mandi, pasta gigi dan yang lainnya untuk persediaan selama 1 bulan.
Tiba-tiba Mysha kembali muncul di hadapannya.
“Wah, harumnya,” ucap Mysha dengan mata yang berbinar sambil mencium aroma mawar dari sebuah sabun mandi.
Dimian menatap Mysha heran. “Ada apa dengannya?” pikir Dimian sambil mengernyit.
“Dimi, bolehkah aku membeli ini?” Mysha menunjukkan sebuah sabun mandi berwarna pink dengan aroma mawar yang elegan.
Dimian membelalakkan matanya. Apa yang akan di katakan oleh kasir saat melihat sebuah sabun mandi berwarna pink tergeletak di troli seorang pria? Pasti itu sangat memalukan.
“Tidak!” tegas Dimian sambil hendak pergi. Tapi Mysha menahannya.
“Dimi, please! Aku mohon, ya, ya,” Mysha mengedip-ngedipkan matanya sambil memasang wajah baby face.
Sungguh, Dimian sangat membenci wajah itu. Karena itu membuat hati dan pikirannya bergejolak tak menentu.
Dimian membuang nafasnya kasar. “Baiklah,” Dimian mengambil sabun yang sedang di pegang oleh Mysha dan di masukkan ke dalam troli.
Mysha tersenyum bahagia. Ini mandi pertamanya setelah 5 tahun terakhir.
Keduanya lalu melanjutkan berbelanja ria. Sambil sesekali Dimian melemparkan sebuah barang kepada Mysha karena ia selay membuatnya kesal. Mysha tak masalah akan hal itu, justru dia semakin puas menggoda Dimian.
Beberapa orang yang melihatnya, menyangka Dimian adalah orang gila. Bagaimana tidak? Dimian berbicara sendiri dan berlari-lari sendirian seperti orang gila.
Dimian menghiraukan tatapan orang-orang di sekitarnya yang menatapnya aneh. Karena kenyataannya dia tak sendirian, ada Mysha bersamanya.
“Kau yakin akan membeli ini?” tanya seorang kasir saat melihat sebuah sabun mandi berwarna pink, pasta gigi pink, lengkap dengan sikat giginya pula berwarna pink.
Dimian mengangguk sambil tersenyum lebar.
Kasir itu menatap Dimian heran, kemudian mengecek semua belanjaan Dimian untuk di hitung.
Setelah ia membayar semua belanjaannya. Dimian pergi meninggalkan super market itu dengan menenteng sebuah kresek berisi belanjaannya.
“Yeay, akhirnya aku akan mandi,” ucap Mysha bersemangat dan tersenyum lebar.
“Tunggu! Apa sebelumnya kau tak pernah mandi?” selidik Dimian.
Mysha tersenyum kikuk. “I-iya. Bahkan aku tak punya tempat tinggal,” ujar Mysha sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Dimian menggeleng-gelengkan kepalanya.
Seketika Mysha terpikirkan sesuatu. “Jadi, apa boleh aku tinggal di apartemen mu?” tanya Mysha bersemangat.
Dimian membulatkan matanya. Tinggal bersama seorang wanita? Itu tak pernah terpikirkan olehnya. Walaupun dia seorang hantu, tapi tetap saja Mysha adalah seorang perempuan.
“Kau benar-benar hantu yang merepotkan,” ujar Dimian lalu pergi meninggalkan Mysha.
Mysha menghentakan kakinya kesal. Dimian selalu saja mengucapkan dirinya adalah seorang hantu.
Tiba-tiba semilir angin membuat bulu kuduk Mysha berdiri. Rasa was-was merasuki jiwa Mysha. Mysha menatap sekeliling. Jalan sepi dan sedikit remang, menambah aura ketakutan saat itu.
Sesosok makhluk bermata merah menyala, dengan rambut gimbal acak-acakan sedang mengintai Mysha dari kejauhan. Suara Geraman makhluk asing itu membuat dada Mysha berdegup kencang.
Mysha merasakan kehadiran sosok itu. Sosok yang selama ini selalu mengejarnya untuk mendapatkan energi positif yang dimiliki oleh Mysha. Saat Mysha ingin berteriak, sosok itu langsung muncul di hadapannya.
Dengan kepala berlenggak-lenggok siap untuk menangkapnya serta cara berjalan yang sedikit gontai. Mysha semakin ketakutan saat mahkluk itu semakin mendekatinya. Mysha mundur beberapa langkah.
Dengan sekejap makhluk itu terbang dan mencekik leher Mysha. Mysha tak sanggup menatap mata merah penuh kebencian itu. Ia memilih untuk memejamkan matanya dan bertahan sebisa mungkin.
Mahkluk itu mulai menghisap seluruh energi positif yang di miliki oleh Mysha, tentu Mysha merasakan nyeri yang teramat pada tubuhnya. Mungkin inilah akhirnya, dia akan menjadi seorang roh jahat dan melukai orang-orang tak berdosa. Tiba-tiba,
Bukkk…
Dimian datang menarik makhluk itu dan memukulnya. Seketika Mysha terlepas dari cengkram mahkluk menyeramkan itu dan terkulai lemas.
Mahkluk itu menyerang Dimian berkali-kali, hingga Dimian hampir kewalahan menghadapinya. Tak jarang hantu itu berhasil mencengkram leher Dimian dan menghisap energi positif yang dimilikinya. Tapi untungnya, Dimian berhasil terlepas.
Dimian membacakan sebuah doa dan mantra yang diberikan oleh kakeknya dahulu. Perlahan-lahan, makhluk itu melebur menjadi sebuah abu dan pergi menuju tempat yang seharusnya.
Dengan nafas yang ngos-ngosan, Dimian menghampiri Mysha yang tergeletak di atas trotoar jalan.
Dimian memangku kepala Mysha ke pahanya, lalu menepuk-nepuk pipi Mysha pelan.
“Mysh, bangun!” pinta Dimian.
Dimian mulai khawatir karena Mysha tak menggubris perkataannya.
Dengan segera, ia menggendong Mysha menuju apartemennya.
Dimian mengompres dahi Mysha yang sedikit demam, terlihat dari wajah Mysha yang sedikit memerah. Ia lalu menyelimutinya di atas sebuah sofa empuk. Rasa khawatir terus menerus menghantui pikiran Dimian.
Dimian menatap wajah Mysha dengan perasaan bersalah. Jika dia tak meninggalkan Mysha sendirian saat itu, mungkin ini tak akan terjadi.
Dimian menghela nafasnya panjang. Lalu membiarkan Mysha untuk beristirahat.
Mysha membuka matanya berat. Tangannya memegangi kepalanya yang sakit.
“Aish, sakit sekali.” ringisnya sambil duduk di pinggiran sofa.
Matanya membulat saat matahari sudah bersinar sempurna.
“Astaga, kenapa aku bisa ada di sini? Dimana Dimian?” batinnya sambil menatap sekeliling.
“Oh my God, bukanya tadi malam aku pingsan? Arrghhh … Bodohnya! Pasti Dimian yang menggendong ku ke sini,” mengacak-acak rambutnya kesal.
Mysha menatap pintu kamar Dimian. “Pasti Dimian sudah pergi kuliah,” batin Mysha.
“Baiklah, aku akan menyusulnya!” ucap Mysha semangat.
Lalu dengan sekejap mata, Mysha sudah menghilang dari tempatnya.
“Dimi, bagaimana dengan yang ini?” tanya seorang wanita berambut pirang lurus dan sedikit ikal di bagian ujungnya.
Dimian melihat ke arah soal yang di tunjukkan oleh Felicia. Saat ini Dimian dan Felicia tengah mengerjakan tugas yang di berikan oleh dosennya.
Dengan kemampuan otak yang cerdas, Dimian mengerjakan soal-soal itu dengan sangat mudah. Hal itu membuat senyum merekah di bibir manis Felicia. Ia bersyukur bisa satu kelompok bersama Dimian.
Mata Dimian tak pernah lepas menatap wajah cantik Felicia dari samping. Hati dan pikirannya terus memuji ciptaan Tuhan yang paling indah ini.
Mysha berjalan dengan riang menyusuri setiap koridor universitas itu. Matanya mencari-cari sosok Dimian. Tak jarang ia iseng bertanya kepada salah satu mahasiswa dan mahasiswi yang ia lewati. Walau hal itu sia-sia, karena mereka tak dapat melihat kehadiran Mysha.
“Hai, nama ku Mysha. Kau tau dimana Dimian?” tanya Mysha pada salah seorang mahasiswi yang tengah membaca buku.
Mahasiswi itu tak memberikan respon apapun. Hal itu membuat Mysha berdecak kesal.
Mysha kembali berjalan dan bertanya kepada semua orang, walau hal itu amat sia-sia. Hingga suatu ketika.
“Hai, nama ku Mysha. Kau tau dimana Dimian?” tanya Mysha kembali dengan lesu.
Laki-laki berkacamata bulat dan rambut coklat yang di belah di bagian tengah itu menoleh ke arah Mysha. Sontak hal itu membuat Mysha kaget. Apakah pria itu dapat melihatnya? Oh, sungguh bahagia akhirnya ada orang yang bisa melihatnya.
“A-apa kau bisa melihat ku?” tanya Mysha dengan raut wajah bahagia.
Pria itu tak menjawab pertanyaannya dan semakin menatap Mysha intens. Mysha tampak kebingungan. Apa yang terjadi dengan pria itu?
Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Mysha. Hal itu membuat Mysha merasa kikuk dan mengernyit.
“Apa yang akan dia lakukan?” batin Mysha.
Tiba-tiba,
Plakkk!!!
Pria itu menangkap nyamuk yang berada tepat di depan wajah Mysha. Mysha membelalakkan matanya. Ternyata pria itu sama sekali tak melihatnya.
Laki-laki itu tersenyum puas saat di tangannya ada bangkai nyamuk yang sedari tadi mengganggunya.
Mysha berdecak kesal dan memukul kepala pria itu. Alhasil pria itu sedikit terpelanting.
“Menyebalkan.” umpat Mysha sambil berlalu dari hadapan pria tadi.
Pria itu tampak menoleh kanan dan kiri, mencari-cari siapa yang telah memukulnya. Tapi di sana tak ada siapa-siapa, hanya ada dirinya. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri sempurna.
“Ha-hantu …!” teriak laki-laki itu sambil lari terbirit-birit.
Mysha menoleh ke arah laki-laki tadi.
“Memang, aku memang hantu. Apa itu masalah untukmu?” teriak Mysha kesal.
“Aarrgghh …” Mysha mengacak-acak rambutnya frustasi lalu kembali berjalan mencari Dimian.
“Aish, harus kemana lagi aku mencari pria itu?” ucap Mysha sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit.
Tiba-tiba Mysha melihat Dimian dari kejauhan. Hatinya merasa senang, akhirnya dia menemukannya. Mysha mempercepat langkahnya menuju Dimian. Tapi baru beberapa langkah saja, ia kembali menghentikannya.
“Tunggu! Siapa wanita yang bersama Dimian itu?” batin Mysha saat melihat Felicia berjalan bersama Dimian.
Entah kenapa, dadanya terasa sesak melihat hal itu. Apalagi saat melihat Dimian sepertinya tampak bahagia di samping wanita itu. Tak mungkin ia mencintai Dimian.
“Ingat, Mysh! Dimian hanya membantumu mencari misteri kematian mu. Setelah itu, semuanya berlalu seperti tak terjadi apa-apa.” ucap Mysha menyemangati sambil menepuk-nepuk pipinya.
Mysha kembali berjalan menghampiri Dimian dengan senyum riangnya.
“Hai, Dimi?” sapa Mysha yang muncul di belakang Felicia.
Dimian membulatkan matanya dan terkejut dengan kehadiran Mysha.
“Apa yang kau lakukan di sini?” ucap Dimian tanpa suara. Tapi gerak bibirnya dapat di mengerti oleh Mysha.
Mysha tertawa kecil. “Tidak ada, aku hanya mengingatkan mu kalau hari ini kita akan pergi ke kantor polisi untuk mencari tahu penyebab kematian ku.” ucap Mysha santai.
Dimian memutar bola matanya malas. Tak diingatkan pun dirinya masih ingat dengan janji yang ia buat beberapa hari yang lalu.
“Pergi!” ucap Dimian masih tanpa suara.
Mysha menggeleng cepat dan duduk santai di samping Felicia yang tengah sibuk mengerjakan tugas.
“Ahh, udaranya segar sekali,” ucap Mysha sambil menarik nafasnya dalam-dalam.
Dimian yang melihatnya semakin merasa kesal. Menurutnya Mysha sangat mengganggu momen-momen kebersamaan dengan Felicia.
“Mysha, pergi!” ucap Dimian tanpa suara dengan raut wajah kesal.
Mysha tak menghiraukan ucapan Dimian dan semakin santai menikmati suasana taman itu.
Dimian semakin merasa kesal dengan tingkah mysha. Ia lalu mencari-cari sesuatu untuk di lemparkan kepada Mysha. Gotcha! Sebuah pena.
Tuk!
Pulpen itu mendarat keras tepat di kepala Mysha. Alhasil Mysha sedikit meringis.
“Kenapa kau melempar penanya?” tanya Felicia sambil mendongak menatap Dimian bingung.
Dimian terkejut dengan ucapan Felicia. Alhasil dia tersenyum kikuk dan menebarkan senyum konyol di wajahnya.
“Nothing … Ah, pena itu sudah kehabisan tintanya. Jadi, aku buang saja.” ucap Dimian berbohong.
Mysha yang melihat hal itu tertawa terbahak-bahak. Dimian tampak konyol menurutnya.
Felicia mempercayai ucap Dimian dan kembali mengerjakan tugasnya.
Dimian menatap Mysha dengan tatapan tajam. Sedangkan Mysha masih tertawa geli.
“Pergi!” Dimian memberikan isyarat untuk pergi.
“Tidak akan!” balas Mysha sambil menjulurkan lidahnya.
“Aarrgghh ….” Dimian mengacak-acak rambutnya kesal.
Bersambung… “Mysha Caroline Addison, anak sulung dari pemilik perusahaan Addison corps?” tanya seorang detektif terkenal yang menyelidiki kasus kematian seseorang di kota Florida.
Sesaat, Dimian menatap Mysha di sampingnya. “Benar?” bisik Dimian.
Mysha hanya mengangkat bahunya. Ia sama sekali tak mengingat kejadian di masa lalunya itu.
Dimian menghela nafasnya panjang. Akan sulit menyelediki kasus yang tak memiliki titik terang sedikit pun.
“Bisa kau tunjukkan fotonya?” pinta Dimian pada detektif itu.
Detektif itu membuka beberapa berkas 5 tahun lalu.
“Ini!” ucap detektif sambil menunjukkan foto Mysha yang sedang memakai seragam sekolah dan tersenyum manis.
“Ya, itu aku.” ucap Mysha girang sambil menunjuk ke arah fotonya.
“Bagaimana dengan kasusnya?” tanya Dimian sambil meraih foto itu dan melihatnya. Dimian tampak mengulum senyum saat melihat sebuah senyuman polos yang di perlihatkan di wajah Mysha, sangat menggemaskan.
Mysha yang menyadari hal itu, langsung mengerucutkan bibirnya kesal. Dimian seperti mengejeknya.
Bukk!!
Mysha memukul kepala Dimian, alhasil Dimian sedikit terpelanting. Sontak hal itu membuat Dimian merasa bingung dan menatap Mysha bertanya-tanya.
“Ada apa?” bisik Dimian.
“Menyebalkan!” umpat Mysha sambil bersidekap.
Dimian terkekeh geli melihat tingkah Mysha. Ia tak menyadari bahwa detektif itu tengah menatapnya bingung dan aneh.
“Are you okay?” tanya detektif itu memastikan.
Sontak hal itu membuat Dimian salah tingkah.
“Y-yes,” Dimian kembali menatap detektif itu.
“J-jadi bagaimana dengan kasusnya?” tanya Dimian mengembalikan topik.
“Kasus itu sudah lama di tutup. Karena, baik dari pihak kami maupun kepolisian, tidak pernah menemukan titik terang dari kasus ini. Kemungkinan besar, penjahat itu membawa kabur Mysha ke luar negeri.” tutur detektif itu.
Dimian dan Mysha sama-sama membelalakkan matanya. Pantas saja roh Mysha tak pernah kembali ke tempat yang seharusnya. Karena memang kematiannya tidak wajar dan kasusnya tak pernah selesai.
“Lalu, apakah masih ada kemungkinan kalau Mysha masih hidup?” tanya Dimian penasaran.
Detektif itu menghela nafasnya sesaat. “Entahlah, saat itu Mysha di bawa kabur dari rumah sakit dalam keadaan sangat kritis. Penjagaan kami sangat lemah waktu itu,” ujar detektif.
Dimian mengangguk-angguk mengerti. Mysha tak kuasa untuk menahan tangisnya. Beberapa bulir air mata jatuh di pipi mulusnya. Dimian yang melihatnya tentu merasa iba. Ingin rasanya ia memeluk Mysha sesaat untuk menenangkan hatinya.
“Lalu, apa penyebab penjahat itu menginginkan Mysha?” tanya Dimian.
“Mysha memiliki chip komputer yang di dalamnya terdapat beberapa proyek teknologi ilegal terbesar di dunia. Teknologi itu sangat berbahaya jika sampai jatuh ke tangan orang yang salah.” jelas detektif.
Dimian mengangkat sebelah alisnya. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang di ucapkan detektif itu.
“Teknologi itu bisa menghancurkan 3 sampai 4 negara hanya dalam waktu beberapa detik saja,” sambung detektif.
Dimian membelalakkan matanya. “Lalu, dimana sekarang chip itu berada?” tanya Dimian.
Detektif itu menghela nafasnya kembali. “Soal itu … hanya Mysha yang mengetahuinya. Itu sebabnya, Mysha menjadi sasaran berikutnya atas kejahatan mereka.”
“Berikutnya? Apa itu artinya sebelum-sebelumnya juga sudah ada korban?” tanya Dimian yang semakin tertarik dengan kasus ini.
“Tentu saja, sir Arnold Schwarzenegger, pemilik pertama dari chip itu. Dia mati mengenaskan di rumahnya akibat serangan jantung. Tapi, hasil otopsi dari pihak rumah sakit menyatakan, tak ada tanda-tanda bahwa sir Arnold memiliki riwayat penyakit jantung. Dan kemungkinan besar ia di bunuh.” ujar detektif sambil menunjukkan foto seorang laki-laki setengah baya.
“Berikutnya, Gerald Ford, asisten dari sir Arnold yang di titipi chip itu. Ia di bunuh di sebuah kota kecil di Las Vegas. Begitu seterusnya sampai berakhir kepada Mysha. Tapi untungnya, saat itu pihak kami sudah melakukan pengawasan terhadap Mysha.
Karena mereka menaruh kecurigaan besar kepada Mysha setelah terbunuhnya detektif Steve di salah satu kamar mandi umum dan saat itu hanya ada Mysha disana. Jadi, kemungkinan besar chip itu berada pada Mysha.” tutur detektif dan dibalas anggukan mengerti dari Dimian.
“Dan lagi, Mysha adalah satu-satunya saksi atas terbunuhnya detektif Steve oleh penjahat kelas internasional itu.” sambung detektif.
“Lalu mengapa Mysha sampai kritis?” tanya Dimian.
“Saat itu … Mysha sedang berjalan di salah satu jalan menuju toko buku. Dan sepertinya penjahat-penjahat itu sudah mengetahui keberadaan chip itu. Mereka sudah mengintai Mysha dari beberapa hari terakhir.
Pihak kami pun tak tinggal diam, kami sengaja membiarkan Mysha berjalan sendirian di tempat itu untuk memancing penjahat itu keluar.
Tapi sayang, penjahat itu terlalu licik dan mempunyai strategi yang baik. Dengan cepat, sebuah mobil sport berkecepatan tinggi menabrak Mysha dengan sekali kedipan mata saja. Kami benar-benar merasa bersalah saat itu. Lantas kami langsung membawa Mysha ke rumah sakit terdekat.
Mysha berada dalam kondisi kritis beberapa hari itu. Sampai hari itu kami kecolongan kembali, penjahat itu mematikan seluruh CCTV yang berada di rumah sakit dan menyuntikkan obat tidur kepada seluruh penjaga Mysha.
Mereka sangat licik, mereka menyamar sebagai dokter dan seorang perawat. Dan dengan mudah dapat keluar masuk rumah sakit bahkan membawa Mysha pergi.” jelas detektif.
Dimian menghela nafasnya panjang. Sedangkan Mysha dengan mata yang berkaca-kaca, ia masih mencoba bertahan dan mendengarkan ucapan detektif itu.
Dimian lalu bertanya tentang hal yang lainnya mengenai Mysha dan teknologi hebat itu.
Mysha berjalan murung di samping Dimian. Sesekali ia menendang kerikil kecil sembarangan. Dimian yang menyadari hal itu. Memutar otaknya, bagaimana cara membuat Mysha tersenyum kembali?
“Umm … Kau mau es krim?” tanya Dimian saat melihat sebuah toko es krim di sebrang jalan.
Mysha mendongkakkan kepalanya, lalu menggeleng pelan. Sungguh, ia tak ingin sebuah es krim atau apa pun saat ini. Ucapan detektif tadi benar-benar membuatnya merasa sedih. Orang-orang tak mengetahui jasadnya dimana bahkan dirinya sendiri pun tak mengetahuinya. Ia ingin pergi ke tempat seharusnya ia berada, bukan di sini, bergentayangan tak punya tujuan.
Tiba-tiba Dimian berlari ke sebuah toko boneka. Tentu saja hal itu membuat Mysha mengerucutkan bibirnya kesal, Dimian meninggalkannya? Aarrgghh … Menyebalkan. Mysha lalu duduk di sebuah kursi di samping trotoar jalan. Pikirannya masih terfokus pada kematiannya.
Tiba-tiba Dimian datang dengan tangan yang ia simpan di belakang.
“Hei, tak ada gunanya kau terus murung seperti itu,” ketus Dimian yang berdiri di depan Mysha.
Sontak Mysha mendongkakkan kepalanya.
Dimian lalu menunjukkan sebuah boneka kucing putih lucu. Mysha bergantian menatap boneka itu dan wajah Dimian. Pikirannya bertanya-tanya, apa maksud Dimian?
“Untukmu!” ucap Dimian sambil duduk di samping Mysha dan menyerahkan boneka itu.
Mysha tersenyum manis. Dimian sangat romantis menurutnya.
“Kau tau kenapa aku memberikan boneka kucing itu?” tanya Dimian.
Mysha menggeleng cepat sambil memperhatikan boneka itu dan tersenyum lebar.
“Karena sejatinya kucing selau memberikan kebahagiaan di dalam sebuah keluarga,” ujar Dimian.
Mysha yang mendengar ucapan Dimian langsung tersenyum lebar. Itu artinya dirinya memberikan kebahagiaan bagi Dimian?
“Ah, tentu saja, karena aku memang selalu membawa kebahagiaan bagi semua orang,” ucap Mysha sombong.
“Tapi, tetap saja. Kucing itu menyebalkan saat sudah mengambil makanan kita tanpa izin, dan jangan lupakan soal cakarannya yang menyakitkan.” ujar Dimian sambil terkekeh kecil.
Mysha langsung membulatkan matanya saat mendengarkan ucapan Dimian. Dia pikir Dimian romantis, tapi tetap saja Dimian masih menyebalkan.
“Aarrgg … Aaargg …” Dimian mempergakan bagaimana kucing mencakar sambil tersenyum puas.
Mysha yang menatap Dimian dengan wajah kesal. Ia menggigit bibir bawahnya dan siap untuk memukul Dimian.
“Sini, biar aku tunjukkan bagaimana kucing mencakar!” ucap Mysha sambil hendak mencakar Dimian. Tapi Dimian buru-buru mengelak dan lari sambil tetap tertawa. Sontak Mysha pun ikut berlari mengejar Dimian yang menyebalkan itu.
“Dimi!” ucap Mysha sambil melihat hamparan langit cerah dan di tangannya terdapat sebuah es krim rasa moccha.
“Hemm,” balas Dimian mengalihkan pandangannya
“Jika aku pergi nanti, Aku ingin menjadi awan putih di bawah sinar matahari.” ucap Mysha sambil menerawang jauh.
Dimian mengangkat sebelah alisnya. “Why?”
“Yang meski tak kau minta, diam-diam melindungimu dari terik matahari dan menyaksikan mu bahagia bersama istri dan anak-anak mu kelak.” Mysha tersenyum manis, matanya masih asik memandangi langit siang itu.
Dimian yang mendengar ucapan Mysha sontak terkejut. Ia tak pernah membayangkan bahwa suatu saat dirinya dan Mysha akan berpisah. Mysha benar-benar telah mencuri hatinya. Ia ingin Mysha yang berada di sampingnya, bukan orang lain. Tapi apalah daya, dunianya dan dunia Mysha telah berbeda. Mereka tak mungkin bersatu.
Dimian menundukkan kepalanya memikirkan itu semua. Ia harus menyiapkan diri agar bisa siap untuk kehilangan Mysha. Tapi mungkin itu akan sulit.
“Aku akan membantumu menyelesaikan kasus kematian mu!” ucap Dimian. Walau dalam hatinya ia tak ingin melakukan itu, karena jika kasus itu telah terungkap, maka Mysha akan pergi meninggalkannya. Tapi ia tak bisa bersikap egois seperti itu, ia harus memikirkan kebahagiaan Mysha pula. Ia yakin, Mysha merasa sedih dan tersiksa saat menjadi hantu.
Mysha mengalihkan pandangannya menatap Dimian, lalu tersenyum manis.
“Terima kasih,” ujar Mysha lembut.
Dimian kembali menundukkan wajahnya. Ini benar-benar sulit? Apa dia bisa melakukannya? Hidup tanpa Mysha di sisinya? Hantu itu benar-benar telah mencuri hati seorang Dimian.
“Ahh … Akhirnya,” Mysha merebahkan tubuhnya di atas sebuah sofa di apartemen Dimian.
Dimian menatap sesaat Mysha dan tersenyum kecil.
“Kau mau makan apa?” tanya Dimian sambil membuka lemari kecil berisi bahan makanan.
Mysha bangkit dan berpikir sejenak. “Hmm … Terserah kau saja, aku selalu menyukai masakan mu,” ucap Mysha lalu kembali tidur di sofa itu.
Dimian hanya tersenyum dan mulai mengambil beberapa bahan makanan untuk kemudian memasaknya.
Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit-an saja. Beberapa makanan sudah tersaji di sebuah meja makan. Dimian memang pandai memasak sejak dari kecil, tentu saja ibunya yang mengajarkannya.
Mysha masih terlelap dalam tidurnya setelah asik menonton sebuah film di laptop Dimian. Mungkin karena ia juga terlalu kelelahan.
Dimian tersenyum kecil saat melihat wajah damai Mysha dalam tidurnya. Hatinya merasa tak tega untuk membangunkannya. Tapi, Mysha belum makan apapun seharian ini kecuali mungkin es krim yang di belinya saat tadi.
“Mysh!” panggil Dimian sambil menepuk pelan pipi Mysha.
Mysha tak merespon ucapan Dimian dan masih tertidur.
“Astaga, dia benar-benar terlelap.” gumam Dimian.
“Mysh … Bangun!” Dimian kembali menepuk-nepuk pipi Mysha.
Mysha hanya menggeliat kecil dan malah mendengkur lembut. Dimian tersenyum geli melihat hal itu. Andai Mysha adalah seorang manusia, mungkin dia akan memotretnya dan menyebarkannya di akun media sosialnya.
“Mysha!” panggil Dimian.
Mysha masih tak memberikan respon.
Dimian menghela nafasnya panjang. “Baiklah, aku akan makan terlebih dahulu!” ucap Dimian sambil bangkit.
Tapi tiba-tiba Mysha menarik tangannya. Dimian kehilangan keseimbangan karena kakinya kurang bertumpu pada lantai. Alhasil Dimian terjatuh di atas tubuh Mysha dan bibirnya dan Mysha bersatu. Dimian membulatkan matanya dan terkejut. Ini adalah pertama kalinya Dimian mencium seorang wanita.
Sesaat Dimian terpaku dan menatap wajah Mysha yang tengah damai tertidur. Hatinya benar-benar merasa tenang. Sedangkan Mysha tak menyadari hal ini.
Bersambung… Tiba-tiba Mysha membuka matanya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Dimian berada di atasnya dengan bibir yang menempel pada bibirnya.
“Astaga, Dimian! Apa yang kau lakukan?”
Brukkk!!
Mysha mendorong tubuh Dimian dengan keras. Hingga membuat sang empu terjatuh dan meringis kesakitan.
“Ahss ….”
“A-astaga, ma-maafkan aku, Dim!” ucap Mysha yang merasa bersalah sambil menutup mulutnya menggunakan tangan.
“Aahss ….” Dimian berusaha bangkit sambil memegangi pinggangnya.
“Dimi, kau baik?” tanya Mysha ragu.
“Menurutmu?” Dimian berjalan menuju dapurnya sambil memegangi pinggangnya yang sakit.
Mysha tahu bahwa Dimian sebenarnya tidak baik-baik saja.
“Astaga, apa yang harus aku lakukan? Dimian pasti marah kepada ku.” batin Mysha kalang kabut sambil mengigit jarinya.
Tetapi, tiba-tiba ia tersipu saat mengingat kejadian tadi. Rasa hangat dan kenyal masih terasa membekas di bibirnya. Dimian menciumnya? Ahh, seperti mimpi saja.
“Tapi, apa maksudnya? Apakah Dimian mencintaiku?” pikir Mysha.
Seketika pipi Mysha merah merona memikirkan hal itu. Tapi, ia kembali kepada kenyataan.
“Apa yang ku pikirkan? Sadarlah!” Mysha menepuk-nepuk pipinya. Mana mungkin Dimian mencintainya, sedangkan dirinya hanya seorang hantu.
“Apa yang dia lakukan? Padahal dia yang menarik ku, mengapa aku harus di tendang?” batin Dimian kesal karena merasa tak bersalah.
Ia kembali teringat tentang Mysha yang belum makan apapun seharian ini. Apakah dia harus kembali ke ruang tamu tadi dan tersenyum konyol seolah-olah tak terjadi apapun? Tidak! Itu gila. Dimian tak ingin melakukannya.
“Aarrgghh ….” Dimian mengacak-acak rambutnya frustasi. Pikiran tentang bibir manis Mysha masih membekas dalam ingatannya. Mysha telah mengambil first kiss-nya, padahal ia dengan susah payah telah menjaganya untuk istrinya suatu saat.
Tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkannya.
“Dimi?” panggil Mysha dengan suara pelan.
Dimian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Mysha melihat Dimian memalingkan wajahnya, seperti tak ingin melihatnya. Dimian sepertinya masih merasa kesal kepadanya.
“Ma-maaf!” ucap Mysha pelan sambil menunduk.
Mysha memang bersalah menurutnya. Tetapi dia sudah menyadarinya. Mungkin, memaafkannya lebih baik. Dimian menghela nafasnya panjang lalu beralih menatap Mysha.
“Makanlah! Aku sudah menyiapkannya untukmu,”
Mysha mendongkakkan kepalanya. Apakah Dimian memaafkannya? Seketika sebuah senyuman manis tampak di wajahnya.
Dengan cepat, Mysha lalu duduk di depan Dimian. Sudah tersaji beberapa makanan lezat di atas meja makan. Mysha menatap binar makanan itu, beberapa kali ia harus menelan salivanya.
Dimian yang melihatnya tampak mengulum senyum. Sepertinya Mysha sangat lapar.
“Makan!” ujar Dimian sambil menyerahkan sebuah piring.
Mysha dengan senang hati menerima piring itu dan memulai memakan makanannya.
Seorang laki-laki berambut hitam legam yang di tutupi oleh topi, sorot mata tajam membunuh, dan bibir tipis yang seksi, baru saja turun dari pesawat.
Ia sudah tak asing lagi dengan suasana negeri Paman Sam ini. Tempat ini adalah tempat dimana semua asa dan harapannya pupus seketika. Rasa dendam dalam hatinya terus membelenggu hingga bertahun-tahun lamanya.
“Akhirnya, aku menemukan mu!” Seringai iblis terpoles jelas dalam wajah tampannya yang tertutupi oleh masker hitam.
Lalu ia berjalan keluar dari bandara itu menuju tempat tujuannya.
“Ya ampun … Aku kenyang sekali,” ucap Mysha sambil menepuk-nepuk perutnya dan menyenderkan tubuhnya ke kursi.
Dimian hanya tersenyum kecil sambil membereskan piring-piring kotor. Dimian lalu mencuci piring-piring itu dengan cekatan. Karena memang ia sudah terbiasa melakukannya.
“Dimi, aku benar-benar lelah, aku ingin tidur.” Mysha bangkit dari duduknya dan menuju sofa.
Dimian hanya mengangguk dan menoleh sesaat.
Mysha merebahkan tubuhnya di atas sofa. Dan tak lama kemudian ia tertidur kembali.
Dimian telah selesai dengan pekerjaan dapurnya. Saat memasuki ruang tamu, ia menggeleng dan tersenyum geli. Mysha sudah kembali tertidur?
Dimian lalu pergi mengambil sebuah selimut dan menyelimuti tubuh Mysha.
“Kau hantu yang paling menyebalkan yang pernah ku temui,” ucap Dimian sambil memperhatikan wajah Mysha dan tersenyum kecil.
***
Esok harinya. Dimian sudah berada di kampusnya dan seperti biasa sedang mengerjakan tugas bersama Felicia.
“Dimi,” Mysha tiba-tiba muncul di samping Dimian. Seketika raut wajahnya berubah saat melihat Felicia sedang bersama Dimian. Entah kenapa, hatinya merasa cemburu.
Dimian mendongkakkan kepalanya dan sedikit tersenyum, lalu kembali pada tugasnya.
“Dimi, dia pacar mu, ya?” tanya Mysha sambil menatap sinis Felicia.
Seketika ucapan Mysha membuat Dimian tersedak.
“Uhukk ….”
Felicia menatap Dimian dengan perasaan bingung.
“Kenapa?” tanya Felicia.
“Ti-tidak,” Dimian sedikit gugup.
Felicia kembali mengerjakan tugasnya. Sedangkan Dimian menatap tajam Mysha yang pura-pura tak berdosa.
“Pergi!” bisik Dimian.
Mysha membulatkan matanya. “A-apa salahku? Aarrgghh …” Mysha memutar bola matanya malas.
Ia benar-benar merasa kesal kepada Dimian. Dimian lebih membela gadis itu dari pada dirinya.
Dengan sekejap mata, Mysha menghilang dari tempat itu. Dimian merasa heran, tak biasanya Mysha bersikap seperti itu. Biasanya dia selalu bersikukuh mengganggunya dan Felicia, tapi sekarang? Ah, sudahlah itu tak penting.
Mysha berjalan malas dengan perasaan kesal. Ia terus mengumpat dalam hatinya.
“Lalu, apa maksudnya dia mencium ku kemarin? Lalu menyelimuti ku tadi malam, hah? Aarrgghh … Benar-benar menyebalkan. Aku pikir dia menyukaiku.” ucap Mysha sambil sedikit mengacak rambutnya.
Ssrrtttt …
Tiba-tiba ia merasa di tarik oleh suatu energi misterius yang melewatinya. Langsung saja ia menghentikan langkahnya dan berbalik melihat siapa yang baru melewatinya. Seorang pria misterius bertopi hitam berjalan menjauhinya. Mysha menatap penasaran laki-laki itu. Siapa dia?
“Dimana dia?” gumam Dimian saat tak mendapati Mysha ada di apartemennya.
“Apa dia masih marah?” Dimian menyimpan tasnya di atas sofa tempat Mysha biasa duduk.
Dimian menghela nafas, “seperti anak kecil saja,” gumam Dimian sambil menggelengkan kepalanya, lalu pergi membersihkan tubuhnya.
Pukul 21:00, Mysha tak kunjung datang ke apartemen Dimian. Dimian merasa khawatir dan heran. Mysha biasanya tak pernah se-marah ini padanya.
Dimian sesekali menoleh ke arah pintu, berharap Mysha pulang. Apartemennya terasa sepi saat tak ada lagi omelan-omelan kecil yang di lontarkan oleh Mysha.
“Aarrgghh … Kenapa dia belum pulang?” ucap Dimian sambil menatap pintu itu. Perasaannya sangat khawatir, takut terjadi sesuatu kepadanya.
“Se-marah itukah dia?” gumam Dimian sambil mengernyit.
“Kenapa Mysha harus marah? Atau … Mungkin dia cemburu?” batin Dimian.
“Tidak … Tidak … Mana mungkin dia cemburu,” Dimian menggeleng-gelengkan kepalanya, kembali ke kenyataan bahwa Mysha hanya seorang hantu.
“Aish … Harus kemana aku pergi? Apartemen Dimian? … Aaarghh ….” Mysha mengacak-acak rambutnya kesal sambil duduk di sebuah kursi taman.
Banyak orang-orang berlalu lalang di hadapannya. Tapi tak ada seorang pun yang menyadari Mysha ada di sana. Hidupnya benar-benar kesepian, hanya Dimian yang bisa melihatnya. Dan sekarang? Dimian tak lagi bersamanya.
“Kenapa aku harus kembali ke apartemennya sedangkan dia sedikit pun tak peduli padaku?” ucap Mysha kesal dan melipat tangannya di dada.
Tiba-tiba seorang perempuan muda duduk di sebelah Mysha.
“Hei, kau! Kau tak melihatku bukan?” ucap Mysha pada perempuan di sampingnya.
Perempuan itu sama sekali tidak mendengar bahkan melihat Mysha.
Mysha tertunduk sedih. “Bahkan mereka tak mengerti perasaanku. Bahkan Dimian pun tak mengerti dan hanya menganggap ku seorang hantu,” lirih Mysha sambil terisak.
“Aku mengerti perasaan mu.” Tiba-tiba suara bariton seorang laki-laki mengejutkannya. Suara itu mirip seperti Dimian. Mungkinkah Dimian ada disini? Seketika Mysha menghapus air matanya dan mendongkak.
Mysha mengernyit saat melihat laki-laki di hadapannya ternyata bukan Dimian. Sedikit terbesit rasa kecewa dalam hatinya. Tapi, siapa laki-laki ini? Wajahnya mirip sekali dengan Dimian, hanya saja warna rambutnya sedikit berbeda, hitam legam.
Laki-laki itu lalu duduk di samping Mysha. “Bukankah kau Mysha?” tanya laki-laki misterius itu.
“Apa ini? Bahkan dia mengenali ku dan bisa melihat ku? Sebenarnya siapa dia? Ataukah Dimian mempunyai seorang kembaran?” batin Mysha sambil menatap laki-laki di sampingnya heran.
Laki-laki itu tersenyum kecil dan memutar bola matanya malas.
“Perkenalkan, namaku Damian Damatha Mckenzie.” ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah.
Seketika Mysha membulatkan matanya. Bahkan namanya pun hampir sama dengan Dimian. Dan senyumannya, sangat mirip sekali dengan Dimian. Hanya saja, Damian lebih ramah dan murah senyum daripada Dimian yang dingin dan cuek.
Mysha mengerjap-ngerjapkan matanya. “Kau bisa melihat ku?” tanya Mysha tak percaya.
Damian memutar bola matanya malas dan menarik uluran tangannya. “Tentu saja,” ucapnya sambil tersenyum.
Ah, sungguh, senyumannya mampu membuat Mysha terpaku dan terpesona. Andai, Dimian sering tersenyum seperti Damian.
“Tunggu! Dimana perempuan yang tadi duduk di sampingku?” tanya Mysha yang tak menyadari kepergian perempuan di sampingnya.
“Hmm, bukankah perempuan itu sudah pergi?”
“Benarkah? Kapan?” tanya Mysha.
“Saat kau menjatuhkan air matamu yang berharga itu,” ucap Damian sambil tersenyum.
Mysha sedikit tersenyum mendengar ucapan Damian.
“Hei, kenapa kau menangis?” tanya Damian penasaran dan menatap Mysha intens.
“Tidak, aku tidak menangis.” bantah Mysha dan berusaha bersikap seperti biasanya, tersenyum dan riang.
Mysha merasakan bahwa yang di sampingnya saat ini bukan Damian tapi Dimian, mungkin begitu harapannya saat ini.
Damian tersenyum kecil, dia tau Mysha sedang berbohong.
“Benarkah?” tanya Damian penuh selidik.
Mysha sedikit gugup saat mata coklat tajam itu menatapnya intens. “I-iya,” Mysha mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Damian mengangguk mengerti. “Baiklah.” ucapnya, lalu menyenderkan tubuhnya di kursi.
Mysha menoleh sesaat pria di sampingnya. Damian sangat mirip sekali dengan Dimian. Bolehkah ia menanyakan hal itu sekarang?
“Ehem,” Mysha sedikit berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.
“Dami, bolehkah aku menanyakan sesuatu?” ucap Mysha malu-malu.
Damian kembali menatap Mysha. “Boleh saja, apa?”
Sungguh, Mysha benci tatapan itu. Itu membuatnya sangat gugup dan jantungnya berdebar-debar. Mysha menghela nafasnya sejenak.
“Apa kau mempunyai kembaran?”tanya Mysha dengan perasaan takut-takut.
Damian sedikit menatap Mysha tajam saat mendengar kata ‘kembaran’.
“Ya, aku punya.” tutur Damian sambil tersenyum.
“Apa aku boleh tahu nama kembaran mu?” tanya Mysha penasaran.
Damian berpikir sejenak. “Dimian Damatha Mckenzie,” ucapnya santai dan berhasil membuat mata Mysha membulat sempurna. Dugaannya benar, Damian adalah kembarannya Dimian. Mengapa mereka tidak hidup bersama? Begitu kira-kira pikiran Mysha.
“Sepertinya kau sangat terkejut, kenapa?” tegur Damian yang melihat Mysha tak berkedip menatapnya.
Mysha mengembalikan pikirannya dan kembali menunduk.
“Tidak, aku tidak apa-apa.” Mysha tersenyum kaku.
Kemudian keduanya larut dalam pembicaraan ringan dan cerita hidup mereka masing-masing. Sesekali Mysha dibuat seperti kepiting rebus oleh Damian, karena ucapan-ucapannya yang terlampau romantis dan sedikit humor.
Pukul 02:00 dini hari. Dimian masih terjaga di atas sofa tempat Mysha biasa tidur. Kantung hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas, rambutnya pun kini terlihat acak-acakan.
“Aarrgghh … Dimana perempuan itu?” ucap Dimian sambil memukul-mukul bantal yang sedang ia peluk. Dirinya benar-benar frustasi menunggu Mysha pulang.
Bersambung… Dimian pergi kuliah dengan kantung mata hitam melekat pada wajahnya. Paginya benar-benar suram.
“Morning, Dimi!” sapa Felicia tersenyum ramah sambil mensejajarkan langkahnya.
Dimian menoleh sesaat wanita di sampingnya. Felicia selalu tampak mempesona dan mementingkan penampilannya.
“Morning,” jawab Dimi dingin.
“Astaga, Dimi. Apa kau tidak tidur semalaman?” tanya Felicia saat melihat kantung mata hitam Dimian.
Dimian kembali menoleh Felicia. “Begitulah,” balas Dimian singkat.
Felicia terus mencari topik pembicaraan. Sepertinya sedikit demi sedikit Felicia menyukai Dimian. Apalagi saat ini mereka sering bersama walau hanya untuk mengerjakan tugas.
“Hmm, kenapa? Kau punya masalah?” tanya Felicia penasaran.
“Ti-tidak.” ucap Dimian berbohong. Padahal dalam pikirannya ia masih berkecamuk tentang Mysha yang tak pulang.
“Lalu?”
Dimian Menghentikan langkahnya. Sungguh, Dimian hanya ingin ketenangan pagi ini. Bukan pertanyaan-pertanyaan yang tak penting.
“Felicia, bisakah kau tak menanyakan hal itu terus?” Dimian berusaha tenang.
“Why?” Felicia mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.
Dimian membuang nafasnya kasar lalu melanjutkan perjalanannya. Rasanya membuang waktu saja jika harus terus menjawab pertanyaan Felicia.
“Rasanya, aku harus pulang saat ini. Terima kasih atas makanan dan tempat tidurnya yang sangat nyaman.” ucap Mysha sambil tersenyum ramah.
Damian yang sedang membersihkan peralatan makan, lantas menoleh ke arah Mysha.
“Secepat itu?” tanya Damian sambil membersihkan tangannya.
Mysha berpikir sejenak. “Ya, kurasa aku harus pulang sekarang.”
Damian mengelap tangannya yang basah. “Ah, baiklah jika itu keputusan mu. Tapi, apakah aku boleh tahu dimana tempat tinggal mu?”
Mysha sedikit kebingungan dengan pertanyaan Damian. Bahkan, dirinya tak punya tempat tinggal sama sekali. Apa yang harus ia katakan? Apartemen Dimian? Tidak-tidak, Mysha masih kesal kepada Dimian. Aha! Tiba-tiba Mysha terpikirkan sesuatu.
“A-aku … Tinggal di sebuah rumah yang bersebelahan dengan kota ini.” ucap Mysha berbohong.
“Benarkah?” selidik Damian.
“Te-tentu,” Mysha sedikit gugup. Karena ia tak terbiasa untuk berbohong.
Damian mengangguk mengerti. “Baiklah, lain kali, aku yang akan mengunjungi mu.” ucap Damian sambil tersenyum manis.
Mysha mengangguk ragu. Ia berharap itu tak akan pernah terjadi.
Mysha berjalan gontai. Harus kemana ia pergi? Bahkan, dirinya tak punya tujuan sama sekali. Ia harus memecahkan misteri kematiannya sebelum ia berubah menjadi roh jahat. Tapi, itu mustahil tanpa bantuan Dimian.
“Aarrgghh ….” Mysha mengacak-acak rambutnya frustasi. Kenapa hidupnya harus serumit ini?
Mysha menghentikan langkahnya saat melihat seorang anak kecil dari golongan hantu tengah memeluk lututnya sambil menangis. Mysha merasa iba saat melihat anak itu. Di usianya yang masih kecil ini, ia harus merasakan rasa kesepian seperti halnya dirinya. Mysha berjalan cepat menuju anak kecil itu.
“Hei, apa yang kau lakukan di sini?” tegur Mysha sambil berjongkok di hadapan anak itu.
Anak itu sontak mengentikan tangisnya dan menatap lekat wajah Mysha, lalu ke arah belakang tubuh Mysha.
Mysha mengernyit saat melihat anak di hadapannya menatapnya dengan tatapan aneh.
“Ada apa?” tanya Mysha dan menoleh ke belakang mengikuti arah tatapan anak itu. Tak ada apapun di sana.
Mysha mengembalikan tatapannya.
“Berhati-hatilah! Sesuatu yang jahat tengah mengintai mu.” ucap anak itu datar dan menatap kosong wajah Mysha.
Mysha mengangkat sebelah alisnya. ‘sesuatu yang jahat?’ apa maksudnya?
Tiba-tiba anak itu menghilang bersama dengan asap yang mengikutinya.
Mysha masih bingung dengan ucapan anak tadi. Mysha memutar otaknya agar dapat mengerti maksud perkataan anak tadi. Tapi, tiba-tiba ia di kejutkan oleh seseorang yang memanggil namanya. Suara itu sudah tak asing lagi di telinganya, Dimian.
“Mysha!” panggil Dimian yang menatap lekat wajah Mysha.
Mysha langsung berbalik dan membalas tatapan Dimian yang menatapnya khawatir.
“Dimian?” ucap Mysha pelan.
Tiba-tiba Dimian berlari ke arah Mysha dan memeluknya. Sontak Mysha terkejut dan membulatkan matanya. Dadanya berdegup kencang seperti hendak keluar saat itu juga. Ini kali pertama ia dipeluk oleh seorang laki-laki.
Dimian melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Mysha. Mysha merasa gugup saat netra coklat tajam itu menatapnya dengan tatapan penuh kekhawatiran.
“Mengapa kau tidak pulang semalaman?” tanya Dimian dingin.
“A-aku … Hanya sedang merasa kesal padamu?” ucap Mysha pelan tapi masih bisa terdengar oleh Dimian.
Dimian mengerti dengan perasaan Mysha, seharusnya ia tak mengusir Mysha saat itu. “Maafkan aku.” lirih Dimian. “Tapi, haruskah kau pergi semalaman dan membuatku khawatir, hah?” bentak Dimian.
Deg!
Dimian khawatir kepadanya? Apakah Dimian memiliki perasaan yang berbeda kepada Mysha? Mysha menatap netra coklat itu penuh tanya.
“Ma-maaf,” ucap Mysha sambil menundukkan wajahnya.
Dimian menghela nafasnya sesaat. Pikiran dan hatinya kini mulai tenang, Mysha sudah ada di hadapannya.
“Baiklah, itu tidak penting. Ayo, pulang!” ajak Dimian sambil menarik tangan Mysha.
Mysha terkejut saat Dimian menggenggam tangannya. Mengapa Dimian menjadi sangat perhatian kepadanya?
“Kau pasti lapar,” ucap Dimian sambil menyiapkan bahan-bahan makanan untuk kemudian di masaknya.
“A-aku tidak lapar,” sergah Mysha. Karena memang ia telah makan di apartemen Damian.
Dimian mengangkat sebelah alisnya. Bukankah Mysha tidak makan apa-apa sejak ia pergi?
“Oh, baiklah. Apa kau sudah makan?” tanya Dimian sambil menutup lemari berisi bahan makanan.
Mysha mengangguk.
“Dimana?” Dimian duduk di depan Mysha sambil menyodorkan makanan ringan.
“Di … Apartemen saudara mu,” ucap Mysha pelan dan takut-takut.
Deg!
Dimian membelalakkan matanya saat mendengar kata ‘saudara’. Seketika ingatan di masa lalunya kembali hadir. Rasa sakit, tangisan, cacian, dan yang lainnya kembali hadir dalam ingatannya. Entahlah, padahal kejadian itu terjadi bertahun-tahun yang lalu. Tapi rasanya masih terasa sesak dan sakit.
Mysha mengernyit saat melihat Dimian seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Dimi, are you okay?” tanya Mysha.
Dimian tersentak dan mengembalikan pikirannya. “Ya, a-aku baik.” Bohong Dimian. Sebenarnya dalam hati dan pikirannya masih terputar masa lalu yang menyeramkan baginya.
Mysha menatap ragu Dimian.
“Baiklah, jika kau sudah makan. Aku akan pergi ke kamar ku,” ucap Dimian datar dan berlalu dari hadapan Mysha.
Mysha kembali mengernyit. Mengapa tiba-tiba sikap Dimian berubah begitu saja? Apakah ada sesuatu yang di sembunyikan dari Mysha? Mysha hanya menggeleng pelan dan duduk di atas sofa kesayangannya.
“Kenapa kau kembali lagi ke kehidupan ku? Apa kau tidak puas menyiksa ku?” batin Dimian sambil memandangi sebuah foto yang di dalamnya terdapat 2 orang anak laki-laki tengah tersenyum bahagia.
Flash back on-
“Kak, jangan! Maafkan aku, hiks ….” Dimian kecil terduduk di pojokan kamar sambil memeluk lututnya.
“Kau … Dasar sialan!” pekik Damian sambil membanting sebuah barang ke arah Dimian.
Damian kecil menjadi sangat tempramental setelah di tinggal oleh kedua orang tuanya dalam kecelakaan maut yang melibatkan Dimian dan kedua orang tuanya. Hanya Dimian yang selamat dari kecelakaan itu, sedangkan kedua orang tuanya meninggal.
Damian kecil menangis histeris setibanya pulang dari tempat les bahasa. Untungnya saat itu dia tidak ikut pergi. Ia menggoyang-goyangkan tubuh kedua orang tuanya, berharap keduanya terbangun dan mengatakan sesuatu kepadanya. Tapi sayang, itu tak terjadi.
Kini, tinggalah Damian dan Dimian kecil melangsungkan hidupnya. Mereka tinggal bersama bibinya. Tapi, perlakuan bibinya itu sangat berbeda kepada keduanya. Dimian selalu di perlakukan istimewa karena ia baik dan penurut. Hal itulah yang membuat Damian menyimpan rasa kebencian dan dendam kepada Dimian, adiknya sendiri.
Damian sering berlaku kasar kepada Dimian. Ia selalu menuduh bahwa penyebab kematian kedua orang tuanya adalah Dimian. Damian masih belum menerima kematian orang-orang yang ia sangat cintai dan berharga dalam hidupnya.
“Damian, apa yang kau lakukan?” Tiba-tiba suara pekikan bibi Ellyn menggema di ruangan itu.
Damian menoleh ke arah suara itu. Dan …
Plakkk!!!
Bibi Ellyn menampar pipi Damian kecil dengan keras.
Dimian yang menyaksikan hal itu, sontak membulatkan matanya. Walau bagaimana pun, Damian adalah kakaknya. Ia hanya mempunyai Damian dalam hidupnya.
“Bi, jangan lakukan itu!” ucap Dimian sambil melindungi kakaknya menggunakan tubuh kecilnya.
Damian menatap tajam bibinya dengan mata yang memerah dan basah akibat menahan tangis dan tangannya memegangi pipinya yang memerah.
“Minggir! Apa yang kau lakukan, sialan?” ucap Damian sambil mendorong tubuh Dimian. Alhasil Dimian terjatuh.
Dimian selalu bersikap baik terhadap kakaknya, bahkan ia beribu-ribu kali meminta maaf kepada kakaknya atas meninggalnya kedua orang tuanya. Padahal ia sama sekali tak melakukan apapun dan tak meningkatnya.
Saat kejadian itu, ia sedang tertidur dan terbangun sudah berada di ruangan bernuansa putih dengan luka di bagian kepalanya. Dengan pandangan yang remang-remang, ia melihat kedua orang tuanya tengah di tutupi oleh kain putih. Dimian kecil yang masih polos itu hanya berpikir, “apa yang di lakukan perawat itu?”. Dan tiba-tiba pandangannya kembali gelap.
Ia terbangun saat merasakan sebuah guncangan terhadap tubuhnya.
“Kau … Dasar! Kau yang menyebabkan kedua orang tua ku meninggal, hah!” bentak Damian sambil berurai air mata.
Dimian yang masih setengah sadar itu hanya menatap kakaknya tak mengerti. Ia lalu melihat beberapa orang berusaha menenangkan Damian dan menjauhkannya dari Dimian.
Beberapa detik kemudian, Dimian meneteskan air matanya. Ia mengerti dengan ucapan Damian, kedua orang tuanya telah meninggal. Hati dan perasaannya hancur. Tapi, ia memilih untuk diam dan merasakan hal itu sendirian. Berbeda dengan Damian yang menjadi sangat tempramental.
-Flash back off-
Dimian tersenyum kecut saaat mengingat kejadian itu,, ia kemudian meletakkan kembali foto itu ke dalam sebuah kardus kecil. Lalu ia mengusap wajahnya kasar. Rasa sesak kembali hadir dalam benaknya. Rasa penyesalan itu kembali menyelimuti pikiran dan hatinya.
“Aarrgghh …”
Buk!!! Pyarrr!!
Dimian menghantam kaca dengan menggunakan tangannya. Darah segar keluar dari ujung jari-jari tangannya.
Mysha tersentak saat mendengar suara hantaman benda keras di ruangan Dimian. Pikirannya langsung tertuju kepada Dimian.
“Dimi, kau baik?” Mysha mengetuk-ngetuk pintu kamar Dimian, memastikan Dimian baik-baik saja.
Dimian mendongkak dan menatap bayangan wajahnya di cermin yang kini sudah retak dan ada sedikit bercak darah di sana.
Mysha yang tak mendapatkan jawaban dari Dimian, langsung masuk ke dalam kamar Dimian karena perasaan khawatir yang menggebu. Ia membelalakkan matanya saat melihat darah mengalir dari sela-sela jari Dimian. Dimian tampak tidak baik, dengan rambut yang acak-acakan dan mata yang memerah.
“Dimi, apa yang kau lakukan?” bentak Mysha sambil berjalan ke arah Dimian yang sedang berdiri di depan cermin.
Dimian membalikkan tubuhnya dan terkejut saat Mysha ada di kamarnya.
Mysha lalu meraih tangan kekar Dimian dan melihat luka di tangannya. Ada beberapa serpihan kaca yang tertancap di sana.
“Ya! Kau … Bodoh! Apa yang kau lakukan, hah? Kau ingin membunuh dirimu sendiri?” bentak Mysha dengan perasaan cemas.
Dimian tak menjawab ucapan Mysha dan malah menatap lekat wajah Mysha yang khawatir. Entah kenapa, hatinya sedikit merasa tenang saat Mysha ada di sisinya.
Tanpa berpikir panjang, Mysha pergi mencari kotak P3K. Dan tak butuh lama, ia telah menemukan kotak itu di dalam sebuah lemari kecil di dekat tv. Dengan segera, Mysha mengambil kotak itu dan kembali ke kamar Dimian.
Ia melihat Dimian kini tengah duduk di tepi kasurnya dengan wajah yang menunduk. Mysha lalu duduk di samping Dimian dan meraih tangannya. Sontak Dimian mendongkakkan wajahnya dan menatap Mysha.
Mysha lalu mengobati tangan Dimian yang terluka. Tatapan Dimian tak pernah lepas dari wajah Mysha yang tengah serius mengobati lukanya. Hati dan pikirannya terasa tenang. Entah perasaan ini datangnya dari mana? Bahwa sekarang, Dimian tak dapat lagi mengelak dan membantah bahwa … Dia mencintai Mysha.
Tiba-tiba Dimian menarik tangan Mysha dan …
Cup!
Dimian mencium bibir Mysha lembut dan lama. Sedangkan Mysha terkejut dan membulatkan matanya.
Bersambung… Dimian lalu melepaskan ciumannya dan menatap lekat wajah Mysha.
“Jangan pernah pergi lagi dariku dan menemui si brengsek itu!” ucap Dimian hampir dengan nada mengancam.
Mysha mengernyit, ‘brengsek?’ apa yang dimaksud Dimian adalah Damian? Mengapa Dimian sepertinya tidak menyukai Damian? Padahal dia adalah saudaranya sendiri.
“Hei! Kau mendengar ku?”
Mysha mengembalikan pikirannya dan mengangguk pelan. Ia masih penasaran, sebenarnya apa yang telah terjadi kepada keduanya?
Mysha kembali teringat akan luka Dimian yang masih belum tertutup sempurna.
“Dimi, tangan mu?” Mysha meraih tangan Dimian dan mengobatinya kembali. Pikirannya masih berkecamuk tentang hubungan Dimian dan Damian.
***
“Kau mengingat sesuatu?” tanya Dimian saat sudah sampai di tempat dimana saat itu Mysha hendak di bunuh.
Mysha mengedarkan pandangannya, mencoba mengingat kejadian 5 tahun yang membuatnya menjadi seperti ini. Nihil, dia tak mengingat apapun.
Mysha menggeleng menyesal. Dimian menghela nafasnya berat dan kembali mencari sesuatu yang mungkin bisa membantu mengembalikan ingatan Mysha.
Dimian berjalan terlebih dahulu di depan Mysha, sedangkan Mysha masih menatap lekat sebuah toko buku tua di sebrang jalan.
“Toko buku sun flower?” gumam Mysha.
Tiba-tiba sesuatu terlintas dalam pikirannya.
-Flash back on-
Toko buku sun flower.
“Anak-anak pasti menyukai buku-buku yang akan aku beli,”
“Aaaaaaa ….”
Brukkk…
Dor … Dor …
“Huek ….”
-flash back off-
Ingatan itu terputar dengan cepat. Mysha meringis dan memegangi kepalanya yang sakit. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan akhirnya Mysha terduduk lemah.
Dimian membalikkan tubuhnya saat menyadari Mysha tak ada di sampingnya. Ia terkejut saat melihat Mysha sudah terduduk lemah di atas trotoar jalan. Ia lalu berlari menuju ke arah Mysha.
“Mys, kau baik?” tanya Dimian khawatir.
Mysha melihat wajah Dimian sekilas. “A-aku tidak tahu. Sepertinya aku mengingat sesuatu,” Mysha masih memegangi kepalanya.
Dimian membulatkan matanya. “Apa?” Dimian penasaran.
“Anak-anak. Aku menyebutkan anak-anak saat sebelum mengalami kecelakaan itu.”
Dimian mengernyitkan dahinya. “Apa kau mengingat yang lainnya?” tanya Dimian.
Mysha kembali berusaha mengingat kejadian itu. Tapi hasilnya nihil, ia tak mengingat apapun.
Mysha menggeleng pelan. Sedangkan Dimian mengusap wajahnya frustasi.
Tiba-tiba Mysha dan Dimian merasakan sesuatu yang sangat menyesakkan dada mereka. Ya, banyak energi negatif yang tiba-tiba menghampiri mereka.
Dimian menyadari hal itu dan segera mengajak Mysha untuk segera pergi.
“Kita harus segera pergi, Mys.” ucap Dimian sambil berusaha membopong tubuh Mysha.
Mysha mengangguk setuju dan berusaha berdiri. Tapi tiba-tiba Dimian merasakan sesuatu yang aneh pada tubuh Mysha. Sontak Dimian menghentikan gerakannya.
“Dimi, ada apa?” Mysha menatap heran Dimian yang melihatnya dengan tatapan aneh.
Dimian tak menggubris ucapan Mysha dan tetap menatap lekat wajah Mysha. Dimian merasa ada sesuatu yang mengikuti Mysha. Tapi anehnya, ia tak bisa melihat makhluk itu.
“Dimi, hey! What happen?” Mysha melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Dimian. Seketika lamunan Dimian buyar.
Dimian mengedip-ngedipkan matanya beberapa saat dan berdehem.
“Ti-tidak ada,” Dimian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Mysha mengernyit heran. Sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Dimian.
“Dimi, kenapa kau sepertinya mempunyai masalah dengan Damian?” Mysha dengan polosnya menanyakan hal itu. Akhir-akhir ini Mysha semakin penasaran dengan hubungan Dimian dan Damian. Dimian sepertinya sangat menutupi hubungan antara dirinya dan kakaknya itu.
Brakk..!!!
Dimian meletakkan buku yang sedang ia pegang di atas meja dengan keras. Sontak Mysha terkejut.
“Bisakah kau tak menanyakan lagi hal itu?” ucap Dimian dingin sambil menatap tajam Mysha.
Mysha hanya diam tak berkedip, menatap Dimian yang tampaknya marah kepadanya. Dan lagi-lagi itu terjadi.
Dimian lalu pergi dari hadapan Mysha yang tak bergeming sedikit pun. Setelah memastikan punggung Dimian menghilang di balik pintu kamar, Mysha menghela nafasnya panjang.
“Aish, dasar pria aneh, menyebalkan!” umpat Mysha sambil mengerucutkan bibirnya.
“Aku mendengarnya, Mysha!” teriak Dimian yang ternyata mendengar ucapan Mysha dari bilik kamarnya.
Sontak Mysha terkejut dan menutup mulutnya menggunakan tangan.
“Ma-maaf, aku hanya bercanda, Dim.” teriak Mysha.
Dimian tak membalas ucapan Mysha.
“Ah, pasti dia semakin marah kepada ku.” Mysha sedikit menyesal mengucapkan hal itu.
Kring … Kring … Kring …
Dering telepon rumah berbunyi nyaring. Dimian yang baru saja selesai dengan mandi malam segera mengangkat telepon itu. Sesaat, ia melirik Mysha yang tengah tertidur pulas di atas sofanya. Ia tersenyum kecil saat melihat wajah polos Mysha yang tengah tertidur dengan damai.
“Hallo?” Dimian mengangkat telepon itu.
” … ”
“Oh, ya. Aku mengingatnya, pak detektif? Ada apa?”
” … ”
“Benarkah?”
” … ”
“Baiklah, aku akan menemuinya.”
” … ”
“Terima kasih, pak.”
Tut …
Telepon pun di matikan oleh Dimian. Dimian lalu berjalan ke arah seorang gadis yang masih terlelap dalam tidurnya, Mysha.
“Kau gadis baik, Mys.” Entah kenapa perasaan dan hatinya merasa iba saat melihat wajah Mysha yang begitu polos. Dan di usianya yang masih muda ini, Mysha harus merasakan sakit saat harus berpisah dengan kedua orang tuanya, teman-teman bahkan kehidupannya. Dimian semakin merasa bersalah saat mengingat kejadian saat ia membentak Mysha siang tadi.
Dimian mengusap sayang pucuk kepala Mysha. Pikiran dan hatinya merasa lebih tenang saat Mysha ada di sampingnya.
“Mys, besok kau akan bertemu orang yang mungkin kau rindukan. Tapi, kau tak mengingatnya. Aku harap kau akan senang melihat mereka.” ucap Dimian sambil menatap wajah Mysha.
“Dimi, kita mau kemana, sih?” tanya Mysha yang berjalan dengan riang di samping Dimian.
“Diamlah! Kau sudah menanyakan itu berkali-kali, Mysha. Apa kau tidak lelah?” ucap Dimian karena merasa risih dengan ucap Mysha yang terus menanyakan hal itu sejak pagi tadi.
Mysha mengerucutkan bibirnya kesal. “Kenapa aku tak boleh mengetahuinya? Kau selalu saja bersikap seperti ini kepada ku. Apa salahnya? Aku hanya ingin tahu,” cerocos Mysha yang merasa kesal dengan pria menyebalkan di sampingnya.
Dimian melirik sesaat gadis di sampingnya. Ia memilih diam dan tak menjawab ucapan Mysha. Karena menurutnya itu percuma, ia sedang malas berdebat di pagi yang cerah ini.
Mysha merasa dirinya tengah di abaikan. Lagi-lagi Dimian membuatnya penasaran setengah mati.
“Ish, menyebalkan. Dimian aneh, dingin, beruang kutub, es batu …,” gumam Mysha dengan perasaan kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Dimian mendengar ucapan Mysha samar-samar karena jarak mereka cukup dekat. Ia tersenyum geli melihat tingkah Mysha yang sepertinya tengah marah kepadanya dan mengumpat tidak jelas.
Dimian lalu menaiki sebuah bus yang menuju pusat kota. Mysha semakin penasaran dengan tujuan Dimian saat ini.
Dimian dengan acuh duduk di samping seorang gadis muda, tanpa memikirkan perasaan Mysha yang menatapnya cemburu. Saat itu hanya tersisa 2 kursi kosong dengan jok yang berbeda dan saling bersebelahan. Mysha mau tidak mau harus duduk di kursi yang bersebelahan dengan Dimian dan di sampingnya ada seorang laki-laki paruh baya.
Wajah Mysha memerah akibat menahan cemburu. Dimian menyadari bahwa Mysha tengah menatapnya kesal, tapi ia memilih untuk tetap bersikap cuek. Sejenak hatinya tersenyum geli melihat wajah Mysha yang seperti kepiting rebus. Tiba-tiba,
Huek …
Laki-laki di samping Mysha memuntahkan isi perutnya ke dalam kantung muntah. Tentu saja hal itu membuat Mysha terkejut dan merasa tidak nyaman.
“Dimian! Ini menjijikan,” Mysha merasa risih duduk di samping laki-laki ini.
Dimian hanya mengangkat bahunya cuek dan menatap lurus ke depan. Dalam hatinya ia benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Mysha yang menurutnya sangat lucu.
Huek …
Laki-laki itu kembali memuntahkan isi perutnya dan hampir mengenai paha Mysha yang tertutup oleh mini dressnya. Sontak Mysha berdiri dan berteriak kesal. Tapi, untungnya tak ada yang mendengarnya kecuali Dimian yang semakin tak tahan menahan tawanya.
“Sir, kau sangat tidak sopan. Kau seharusnya tak perlu naik bus jika kau suka mabuk seperti ini. Ini membuat semua orang yang ada di sini merasa risih dan … Arrghhh, itu menjijikan.” omel Mysha sambil memijit keningnya.
Dimian tampak menahan tawanya. Menurutnya, Mysha percuma mengomel seperti itu. Toh, tak ada yang mendengarnya.
Laki-laki paruh baya itu lalu menyenderkan kepalanya ke jendela dan sepertinya hendak tertidur. Sesaat Mysha melihat Dimian yang sepertinya tengah menahan tawa. Tentu saja hal itu membuat Mysha semakin kesal kepada Dimian.
Mysha memutuskan untuk kembali duduk di samping laki-laki tadi, walau sebenarnya ia malas.
10 menit perjalanan. Mysha merasa bosan dengan perjalanan ini, di tambah dengan pria di sampingnya yang terus saja muntah. Tak jarang Mysha harus berteriak histeris dan berdiri agar menghindari muntahan pria itu.
Mysha menyenderkan tubuhnya ke kursi penumpang. Ini adalah perjalanan paling menyebalkan menurutnya. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela. Menurutnya itu lebih baik daripada harus melihat Dimian duduk di samping wanita itu.
“Sir, I’m sorry. Sepertinya kau sedikit sakit. Jika boleh aku menyarankan, ada sebuah kursi kosong di depan sana. Mungkin kau akan lebih baik jika di sana.”
Mysha mendongkakkan kepalanya tak percaya saat mendengar yang mengucapkan itu adalah Dimian.
Dimian tersenyum ramah sambil menunjuk sebuah kursi kosong di depan. Pria itu membalas senyum tulus Dimian dan berdiri menuju kursi yang di tunjukkan oleh Dimian.
Setelah laki-laki itu pergi, Dimian lalu duduk di samping Mysha. Mysha masih tak percaya dengan apa yang terjadi baru saja. Mysha tanpa mengedip-ngedipkan matanya masih tetap menatap laki-laki di sampingnya.
“Kenapa kau menatap ku seperti itu?” tanya Dimian.
“Dimi, kau benar-benar telah menyelamatkan hidupku. Aku pikir aku akan mati untuk kedua kalinya di bus ini.” Mysha tiba-tiba memeluk erat tubuh Dimian dengan mata yang berbinar bahagia.
Sontak Dimian terkejut atas perlakuan Mysha yang tiba-tiba ini. Perasaannya menjadi sangat tak karuan saat merasakan tubuh Mysha berada sangat dekat dengan tubuhnya. Tapi, tiba-tiba Mysha melepaskannya.
“Astaga, ma-maaf. A-aku terlalu bahagia.” ucap Mysha salah tingkah, lalu memalingkan wajahnya yang kini telah memerah akibat menahan malu. Ia merutuki sikapnya yang menurutnya sangat bodoh, konyol, dan memalukan itu.
“Mysha, kau benar-benar tak tau malu.” gumam Mysha sambil memukul-mukul keningnya.
Dimian terkekeh geli melihat tingkah Mysha yang menjadi salah tingkah itu. Tiba-tiba Dimian menarik tubuh Mysha dan memeluknya dengan erat. Mysha sontak terkejut dan membulatkan matanya.
Dimian tak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapnya aneh.
“Tetaplah seperti ini, aku merasa nyaman saat kau melakukannya.” ucap Dimian lembut sambil tersenyum.
Mysha merasa jantungnya akan melompat saat itu juga. Dimian benar-benar membuatnya terbang saat itu. Dan entah kenapa dirinya pun sebenarnya merasa nyaman dengan perlakuan Dimian yang seperti ini. Andai Dimian melakukannya setiap saat, mungkin Mysha akan menjadi hantu yang paling bahagia di dunia ini.
Bersambung… Mysha tak dapat membendung air matanya lagi. Dirinya benar-benar merasa sedih sekaligus bahagia. Benarkah kedua orang paruh baya di hadapannya ini adalah orang tuanya?
“Mommy, Daddy,” lirih Mysha sambil berusaha mengusap wajah kedua orang tuanya itu.
Dimian tentu merasa iba melihat Mysha seperti itu. Ia kemudian memilih untuk menunduk.
“Anak muda, katakan! Bagaimana kau bisa mengenali anak kami?” tanya Mr. Arnold, ayah Mysha sekaligus pemilik perusahaan Addison corps.
Dimian lalu mendongakkan kepalanya menatap lawan bicaranya itu. Sesaat ia melirik ke arah seorang wanita paruh baya di samping Mr. Arnold, yang ia pikir dia adalah ibunya Mysha.
“D-dia teman ku,” ucap Dimian sambil mengalihkan pandangannya ke arah Mysha yang sedang tertunduk sedih.
Mr. Arnold mengangguk mengerti. “Lalu, kenapa kau sepertinya sangat peduli terhadap Mysha?”
Dimian memutar otaknya, mencari-cari jawaban yang tepat. “A-aku hanya ingin tahu. Aku tertarik dengan kasus itu.”
Mr. Arnold kembali mengangguk-angguk. “Mysha sudah meninggal, kau tak perlu repot-repot untuk mencari tahu kebenaran kasus itu.” ucap Mr. Arnold yang membuat Mysha sontak mendongkak dengan berurai air mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mysha di sini, Dad. Jangan katakan itu! Itu membuatku semakin merasa sakit.” lirih Mysha sambil memegangi dadanya.
Dimian ikut merasa sedih saat melihat Mysha tengah menangis. Ingin rasanya ia memeluk Mysha dan menenangkannya.
“Bagaimana kau tahu Mysha sudah meninggal?” tukas Dimian.
Mr. Arnold memutar bola matanya malas. “Bukankah detektif itu telah menjelaskannya padamu?”
“Ya, itu benar. Tetapi apakah kau sudah melihatnya sendiri bagaimana dan dimana mayat Mysha berada?”
Mr. Arnold menatap Dimian tajam. Tapi itu tak membuat Dimian merasa gentar. Karena ia memang mengatakan hal yang benar. Mengapa orang-orang telah menyebutkan bahwa Mysha telah meninggal sedangkan mereka belum melihat mayat Mysha sama sekali.
“Mysha belum meninggal.” tegas Dimian. Entah kenapa, kata-kata itu spontan keluar dari mulut Dimian. Ia merasakan Mysha sebenarnya masih hidup.
Deg!
Sontak kata-kata itu membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Bagaimana bisa Dimian mengatakan hal itu tanpa adanya bukti yang jelas? Bahkan, detektif terhebat sekali pun angkat tangan terhadap kasus Mysha.
Mr. Arnold tersenyum remeh. Baginya, Dimian hanya seorang pemuda yang masih labil dan tak tau dunia orang dewasa.
“Sebaiknya kau pulang! Selesaikan saja kuliah mu, lalu kau bisa mengungkap misteri kematian Mysha.” ucap Mr. Arnold.
Dimian merasa tak terima dirinya di remehkan seperti itu.
“Aku akan membuktikan bahwa sebenarnya Mysha masih hidup,” tegas Dimian yang berhasil membuat kedua bola mata Mysha membulat sempurna. Dimian tak akan berhasil dengan kasus itu, bahkan Mysha sendiri pun tak mengetahuinya.
“Silahkan, jika kau berhasil dengan kasus itu, aku akan memberikan perusahaan ku kepada mu atau kau bisa meminta apapun yang kau mau,” ucap Mr. Arnold meremehkan Dimian. Karena ia yakin Dimian tak dapat mengungkap misteri kematian Mysha.
Mysha membulatkan matanya dan menatap ayahnya itu. Mysha tak percaya bahwa ayahnya akan memberikan perusahaannya kepada Dimian jika Dimian berhasil mengungkap misteri kematiannya, semudah itu?
Dimian tampak menimbang-nimbang ucapan Mr. Arnold. Sebenarnya ia pun membutuhkan biaya untuk apartemen, kebutuhan hidup dan kuliahnya. Apakah dia harus menerima tawaran Mr. Arnold?
“Bagaimana?” tanya Mr. Arnold dengan senyum arogannya.
Dimian masih tampak berpikir dengan matang. Kasus kematian Mysha bukanlah kasus yang biasa. Sudah banyak detektif hebat yang mencoba mengungkap kasus itu, namun hasilnya selalu nihil. Dan Dimian? Dia hanya seorang mahasiswa semester akhir dengan kelebihan di matanya. Akankah dia bisa mengungkap misteri itu?
“Baiklah, aku setuju.”
Mysha beralih menatap Dimian tak percaya. Mysha menggigit bibir bawahnya dengan mata yang sudah basah. Mysha pikir Dimian melakukan hal itu karena Dimian mencintainya. Tetapi itu salah, Dimian luluh hanya karena harta yang menurutnya tak berarti apa-apa di bandingkan perasaannya.
Mr. Arnold lalu bersalaman dengan Dimian tanda perjanjian itu di setujui.
***
“Ayo kita mencari tahu kasus kematian mu.” ucap Dimian dengan semangat.
Sontak Mysha menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Dimian.
“Kenapa?” tanya Dimian dengan wajah bertanya-tanya.
“Kau tak perlu mencari tahu tentang kasus kematian ku!” Mysha menatap kosong ke depan.
“Why?” Dimian masih menatap Mysha dengan wajah bingung. “Bukankah alasan mu mendekati ku adalah untuk mencari tahu kasus itu?”
Mysha beralih menatap Dimian sendu. “Tidak perlu! Kau hanya menginginkan harta ayah ku bukan?”
Dimian tersenyum kecil. “Tentu saja, aku membutuhkan biaya untuk kuliah ku dan yang lainnya.”
Mysha semakin merasa kesal kepada Dimian. Tak terasa, bulir air matanya kembali menetes. Hal itu membuat Dimian mengernyit.
“Aku membenci mu, Dimian!” Mysha lalu pergi meninggalkan Dimian dan dengan sekejap Mysha sudah menghilang dari pandangan Dimian.
Dimian semakin mengernyit heran, setelah itu dia mengangkat bahunya cuek dan kembali berjalan.
“Mysha!” panggil seseorang yang tak asing lagi di telinga Mysha.
Sontak Mysha menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Damian?” gumam Mysha sambil menyipitkan matanya.
Damian berlari kecil menghampiri Mysha.
“Akhirnya ketemu,” ucap Damian dengan nafas ngos-ngosan.
Mysha mengusap air matanya dan berusaha bersikap seperti biasanya.
“Kenapa?” tanya Mysha.
“Tunggu! Kau menangis?” tanya Damian saat melihat wajah Mysha yang sepertinya tengah tidak dalam keadaan baik.
Mysha tersenyum kaku dan menggeleng. Sungguh, Mysha bukanlah tipe orang yang pandai berakting.
“Kau bohong!” tukas Damian sambil menatap lekat wajah Mysha.
Mysha tertunduk dan kembali menjatuhkan air matanya. Damian lalu memeluk Mysha dengan sayang. Sungguh, Mysha membutuhkan itu saat ini. Mysha menangis tersedu-sedu dalam pelukan Damian. Mengapa hidupnya benar-benar menyedihkan? Mengapa Tuhan terus saja mengujinya? Bahkan, Dimian sekali pun telah menyakiti hatinya.
“Tak apa, menangis saja!” Damian mempererat pelukannya.
Mysha menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan segala kesedihan, amarah, penyesalan dalam hidupnya. Sungguh, tak ada yang mengerti perasaannya saat ini.
***
“Kau pasti lelah, minumlah!” Damian memberikan sebotol air mineral.
Mysha lalu meraih botol itu dan meneguknya habis. Secara kasat mata, air itu masih tersisa penuh dalam botol. Tetapi sebenarnya air itu telah habis di minum oleh Mysha.
“Kau bisa bercerita sekarang?” tanya Damian sambil menatap Mysha penasaran.
Sesaat Mysha mengusap sedikit air yang tersisa di ujung bibir. Ia lalu menarik nafasnya panjang dan menggeleng pelan.
“Entahlah, aku rasa kau tak perlu tahu.” Mysha tersenyum manis.
Damian menghela nafasnya panjang. “Ah, baiklah, Aku mengerti. By the way, aku telah mencari mu kemana-mana.”
“Benarkah?” Mysha menatap Damian tak percaya.
“Ya, sepertinya kau membohongi pria ini.” Damian tertawa kecil.
Mysha menggigit bibir bawahnya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sepertinya ia sudah tertangkap basah.
“Hei, tenanglah! Aku tak apa,” Damian menarik dagu Mysha agar menghadapnya.
Sontak kedua netra mereka bertemu satu sama lain dan saling mengunci. Keduanya hanyut dalam percakapan batin. Entah kenapa, batin Mysha tiba-tiba merasakan hal yang berbeda. Bukan cinta! Tapi sesuatu yang sangat menyakitkan baginya. Tapi apa? Entahlah, Mysha pun tak mengetahuinya.
“Aku tak apa. Tapi, bisakah kau jujur kali ini? Dimana kau tinggal?” ucap Damian lembut dan sedikit ada penekanan.
Mysha mengabaikan batinnya yang masih bertanya-tanya. Apa yang harus ia katakan? Apartemen Dimian? Sepertinya iya, kali ini dia harus berkata jujur.
Damian masih menatap Mysha penuh selidik.
Mysha menelan salivanya sesaat saat melihat mata coklat tajam milik Damian. Dengan sedikit ada rasa ketakutan, Mysha mencoba untuk mengatakannya.
“A-apartemen s-saudara mu,” ucap Mysha pelan.
Sesaat Damian menatap tajam wanita di hadapannya, tapi tiba-tiba ia tersenyum manis.
“Oh, baiklah.” Damian menjauhkan wajahnya dari wajah Mysha dan menyenderkan tubuhnya di bangku itu.
“Tak ada gunanya kau memikirkan sesuatu yang hanya membuatmu sedih.” Damian menatap kosong ke depan.
Mysha beralih menatap Damian bingung.
“Dunia ini luas, Mys. Kau bukan satu-satunya hantu yang bersedih saat ini.” Damian lalu menatap Mysha. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna.
Mysha kembali tertunduk, tak kuasa menatap mata coklat itu. Mata yang hampir sama dengan orang yang sedang ia benci saat ini, Dimian.
“Tak ada gunanya kau menangisi dia terus, sedangkan orang yang kau tangisi saat ini malah tak peduli dengan mu. Bahkan dia sama sekali tak peduli.” Damian tersenyum kecut lalu mengembalikan pandangannya ke depan.
Mysha berpikir keras, mencoba mencerna setiap ucapan Damian yang menurutnya benar.
“Dami?” ucapan Mysha melemah.
“Hmm?” Damian kembali menatap Mysha.
“Bisakah kau membantuku?” Mysha berharap Damian dapat membantunya menyelesaikan kasus kematiannya dan setelah itu, dia bisa pergi ke tempat dimana seharusnya dia berada.
Damian tersenyum tulus. “Tentu, Mys.”
Ah, sungguh. Mysha sangat menyukai senyuman itu. Senyuman yang jarang ia lihat pada wajah seorang Dimian, tapi Mysha dapat melihatnya dalam sosok lain, Damian.
“Apa kau bisa membantuku untuk mencari tahu dimana mayat ku atau tubuh ku berada?” Mysha menatap Damian dengan penuh pengharapan.
Tiba-tiba raut wajah Damian berubah menjadi dingin. Hal itu membuat perasaan Mysha bertanya-tanya. Ada apa dengan Damian? Apakah ucapannya salah?
“Dami … Maaf jika itu merepotkan mu. Aku tak apa, jika kau tak mau membantuku, aku akan mencari lagi orang yang bisa membantu ku.” Mysha putus asa. Lalu hendak pergi meninggalkan Damian.
Tapi tiba-tiba Damian menarik tangan Mysha. Sontak Mysha berbalik dan menatap Damian bingung.
“Aku akan membantumu,” Damian tersenyum tulus dan mengangguk meng-iyakan permintaan Mysha.
Senyum bahagia jelas terukir di bibir manis Mysha. Mysha mengucapkan terima kasih sampai beberapa kali.
“Oh, ya. Apa kau mau tinggal di apartemen ku?” tawar Damian.
Mysha berpikir sejenak. Saat ini dia memang tidak mempunyai tempat tinggal. Apartemen Dimian? Ah, Mysha rasa dia tak akan kembali lagi ke sana.
Mysha mengangguk cepat sambil tersenyum bahagia dan di balas senyuman pula oleh Damian yang juga merasa bahagia.
“Baiklah, ayo pergi. Kau pasti lelah.” Damian mengulurkan tangannya.
Mysha dengan senang hati menerima uluran tangan Damian. Mungkin hari ini dia akan memulai hidup yang baru dari nol.
Bersambung…
“Arrghhh … Kenapa aku melakukannya? Kenapa aku harus menyetujui itu di hadapan Mysha?” Dimian mengacak-acak rambutnya kesal.
Dimian sadar, bahwa yang di lakukannya saat ini adalah salah besar. Mysha pasti sakit hati kepadanya. Lalu, apa yang harus Dimian lakukan? Meminta maaf? Mencari Mysha? Dan membatalkan perjanjian itu? Aargghhhh … Ini sangat membingungkan.
Tiba-tiba Dimian tersentak saat berpikir Mysha sekarang tengah berada bersama saudaranya, Damian. Entahlah, hatinya merasa cemburu.
Buk!
Dimian meninju tembok di hadapannya. “Shit! Ku harap itu tak terjadi, Mys.” Dimian lalu meraih jaketnya dan pergi mencari Mysha.
“Mys, kau menyukainya?” tanya Damian saat melihat Mysha tengah lahap menyantap masakannya.
Tak ada jawaban dari Mysha. Mysha hanya tersenyum dan mengangguk menandakan ia menyukainya.
Damian terkekeh kecil dan duduk di samping Mysha. Sesaat Damian menatap wajah polos Mysha dari samping, dan dengan sekejap raut wajahnya berubah menjadi dingin.
“Dami, boleh aku menanyakan sesuatu?” Tiba-tiba Damian tersentak karena ucapan Mysha.
“Ehem, boleh. Apa?” Damian menyenderkan tubuhnya ke sofa.
“Apa kau dengan Dimian mempunyai masalah? Aku selalu menanyakan hal ini kepadanya, tetapi Dimian tampaknya tidak suka aku menanyakan hal itu.” Mysha menatap Damian dengan penuh pengharapan bahwa Damian akan menceritakannya.
Damian tersenyum miring. Ingatan itu kembali muncul dalam pikirannya.
“Tidak ada, ku rasa aku tak punya masalah dengan Dimian.” Damian tersenyum penuh arti.
“Benarkah? Aku tak yakin. Sepertinya kalian mempunyai masalah,” selidik Mysha.
“Aku serius, Mys. Aku tak punya masalah dengannya,” Damian mencoba meyakinkan Mysha.
“Lalu … Kenapa kau tak mencoba menemui Dimian?”
Damian berpikir sejenak. “Entahlah, mungkin bukan sekarang.”
Mysha sebenarnya masih penasaran dengan hubungan Dimian dan Damian. Tapi, jika ia terus mendebat Damian dengan cara seperti ini. Rasanya percuma saja. Mysha memilih untuk mengangguk mengerti.
“Mys, Mysha!” teriak Dimian. Dimian menatap ke segala arah, berharap bisa menemukan Mysha di sana.
Dimian tak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapnya aneh dan sinis. Baginya, Mysha lebih berarti.
“Aargghhhh … Brengsek, dimana kau menyembunyikannya?” Dimian bergumam sambil meremas rambutnya.
“Aku harap, si brengsek itu tak menyakiti mu, Mys.” batin Dimian, kemudian ia berlari kecil dan kembali meneriaki nama Mysha.
“Mysha!” panggil Damian sambil memakai sweater Hoodie nya.
“Hm?” Mysha mendongkak saat Damian memanggilnya dari arah pintu kamar.
“Aku akan pergi ke toko untuk membeli peralatan mandi. Apa kau bisa menunggu di sini?” tanya Damian dengan senyum ramahnya.
“Baiklah,” Mysha tersenyum sambil mengangguk kecil.
“Good girl! Aku akan pulang pukul 20:00 nanti.”
Mysha mengangguk mengerti. Lalu Damian pergi meninggalkan apartemennya.
Ah, sepertinya Mysha akan menyukai tempat ini. Damian selalu perhatian kepadanya, berbeda dengan Dimian yang selalu bersikap dingin. Entahlah, Mysha hanya nyaman dengan suasana barunya. Walau tak dapat di pungkiri bahwa sebenarnya Mysha merindukan sosok Dimian, laki-laki yang telah mencuri hatinya.
“Mysha!” Dimian tak henti-hentinya meneriaki nama Mysha. Sampai ia tak sadar, dirinya sudah berada jauh dari daerah tempat tinggalnya.
Dari ke jauhan, tampak seorang laki-laki misterius tengah tersenyum miring memperhatikan gerak-gerik Dimian.
Dimian hampir putus asa mencari Mysha, kakinya benar-benar tak sanggup untuk berjalan lagi.
“Mysha! Kamu dimana? Maafkan aku!” teriak Dimian sambil tetap berusaha berjalan walau sedikit tertatih.
Laki-laki misterius itu lalu berjalan melewati Dimian dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celananya.
Deg!
Dimian Menghentikan langkahnya. Kedua tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras dan gemelatuk giginya terdengar jelas. Benarkah dia?
Damian?
Tanpa pikir panjang, Dimian berbalik dan mengejar Damian yang sudah sedikit menjauh.
Dimian menarik sweater milik Damian dengan kasar, hingga membuat Damian berbalik dan …
Buk!
Dimian meninju pelipis saudaranya yang sudah lama hilang dari hidupnya. Alhasil, Damian sedikit terpelanting ke samping. Damian tersenyum remeh. Dengan santai, ia menepis tangan Dimian dari sweaternya.
“Dimana dia, hah?” pekik Dimian di depan wajah Damian.
Damian hanya tersenyum kecil. “Apa maksud mu?” ucap Damian santai, lalu menatap Dimian dingin.
“Dimana kau sembunyikan dia?” Dimian kembali menarik sweater Damian dengan kasar.
“CK!” Damian masih tetap santai dan memutar bola matanya malas.
Dimian semakin tak dapat mengontrol emosinya lagi. Dan dengan cepat, Dimian kembali meninju wajah saudaranya itu.
Darah segar mulai mengalir dari ujung pelipis Damian. Damian sama sekali tak melakukan perlawanan sedikit pun. Hal itu membuat Dimian semakin terpancing emosinya. Dimana Damian yang dulu yang selalu menyiksanya? Mengapa sekarang dia hanya diam dan seolah mengabaikannya?
“Jawab aku brengsek! Dimana kau sembunyikan Mysha?” Dimian sedikit menekankan kata-katanya.
Lagi-lagi Damian tersenyum kecut. “Apa itu penting bagimu?” Damian balik bertanya.
“Tentu saja!” pekik Dimian.
Damian memutar bola matanya malas. “Kau pasti sedang bercanda!” Damian terkekeh kecil.
“Apa maksud mu?” bentak Dimian, semakin mencengkram sweater Damian.
“Kau menyakitinya, kau ingat?” Damian menatap tajam saudaranya.
Seketika cengkraman Dimian melemah. Itu benar, ia telah menyakiti Mysha. Ia tak pernah berpikir perasaan Mysha saat itu, ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Itu sangat egois.
Damian tersenyum menang saat melihat binar saudaranya penuh penyesalan.
“Sekarang, Mysha milik ku. Kau tak akan mendapatkannya kembali.” Damian kembali tersenyum menang dan melepaskan cengkraman tangan saudaranya dengan kasar. Lalu ia pergi meninggalkan Dimian yang sedang berdiri mematung. Benar, dia menyakitinya.
“Maafkan aku, Mys … Tapi, aku tak akan membiarkan si brengsek itu mendapatkan mu. Dia jahat, Mys.” Tangan Dimian mengepal kuat dan siap meninju seseorang yang mengganggunya saat itu.
“Astaga, Dami. Apa yang terjadi pada mu?” Mysha terkejut saat melihat pelipis Damian terluka.
Damian hanya tersenyum dan meletakkan barang belanjaannya di atas meja. “Aku tak apa, Mys.”
“Lalu … Kenapa kau terluka? Kau berkelahi?” selidik Mysha.
Damian terkekeh kecil. “Bisa dikatakan seperti itu,” bohong Damian.
Mysha hampir menganga, lalu ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. “Kenapa?”
Damian berpikir sejenak. “Hmm, aku hanya menolong laki-laki lemah itu dari gangguan para geng motor.” Damian tersenyum kecil.
“Astaga, benarkah?” Kaget Mysha.
Damian mengangguk lalu meninggalkan Mysha menuju kamarnya untuk membersihkan lukanya.
Mysha kembali duduk di atas sofa. Ternyata, selain Damian baik hati, perhatian dan murah senyum, Damian juga seorang yang pemberani. Ah, sepertinya Mysha mulai menyukai pria itu. Tapi, bagaimana dengan Dimian? Masa bodoh dengan Dimian, toh ia tak pernah mencari bahkan peduli dengannya.
Satu Minggu telah berlalu. Dimian hidup tanpa Mysha, begitu juga dengan Mysha. Sebenarnya keduanya merasakan kehilangan satu sama lain. Hanya saja, ego keduanya cukup kuat untuk saling tak mencari. Walaupun begitu, Dimian masih tetap menyelidiki kasus kematian Mysha.
“Mysh!” panggil Damian sambil menggosokkan handuk kecil ke rambutnya.
Mysha tak bergeming dan masih asik menikmati semilir angin sore di jendela apartemen Damian. Damian yang melihatnya hanya tersenyum kecil lalu berjalan menghampiri Mysha.
“Mysha?” panggil Damian, ia sedikit membungkuk karena Mysha sedikit pendek darinya.
Mysha tersentak dan membalikkan tubuhnya. Matanya sama sekali tak berkedip saat melihat laki-laki di hadapannya yang menurutnya sangat seksi dengan rambut yang sedikit basah.
Damian mengangkat sebelah alisnya. Apa ada yang salah dengannya?
“Mysha, kau baik?” Damian mengibaskan tangannya di depan wajah Mysha.
Mysha mengedip-ngedipkan matanya untuk mengembalikan pikirannya. “A-aku baik,” Mysha rasa rona merah mulai menjalar di seluruh wajahnya.
Damian terkekeh geli. “Kau kenapa?” tanya Damian saat menyadari wajah Mysha memerah.
Mysha menggeleng cepat dan membalikkan tubuhnya. Entahlah, dadanya menjadi berdegup kencang.
Damian tersenyum miring lalu pergi meninggalkan Mysha. Sedangkan Mysha hanya dapat menghembuskan nafasnya lega saat mendengar pintu kamar Damian tertutup. Ada apa dengan dirinya? Kenapa akhir-akhir ini dia selalu merasakan perasaan aneh pada Damian? Bukan cinta! Perasaan ini berbeda dengan apa yang ia rasakan pada Dimian.
Dimian berjalan malas, tak ada lagi semangat dalam hidupnya. Ternyata pengaruh Mysha sangat besar di hidupnya. Tingkah konyolnya, omelan-omelan kecil yang selalu di lontarkan oleh Mysha, sungguh membuat Dimian ingin segera bertemu dengan hantu itu. Gila! Ya, Dimian pikir dia sudah gila.
Dimian menghela nafasnya berat. Tiba-tiba langkahnya terhenti dan matanya tertuju pada satu sosok yang tak lain di matanya, Mysha yang sedang berjalan bersama saudaranya, Damian. Ada perasaan bahagia bercampur rasa tak suka saat melihat Mysha dengan Damian. Cemburu? Mungkin itu yang di rasakan Dimian.
Dimian berjalan dengan langkah panjangnya menghampiri Mysha. Dadanya memburu merasakan panas yang tak biasa.
“Mysha?” panggil Dimian dari jarak sedikit jauh.
Sontak Mysha dan Damian menoleh.
“Dimian?” gumam Mysha sambil menyipitkan matanya, memastikan bahwa yang memanggilnya adalah Dimian.
Damian hanya tersenyum sinis menyadari kedatangan saudaranya.
Dimian lalu berlari kecil menuju Mysha. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Damian menggenggam erat tangan Mysha. Mysha pun ikut terkejut saat mendapat perlakuan itu dari Damian, ia mendongak ke atas menatap wajah Damian yang menatap lurus ke depan.
Dimian merasakan sesak di dadanya.
“Ayo pergi!” ajak Damian sambil menarik tangan Mysha dan berjalan.
Mysha menatap tak percaya wajah Damian. Apa maksud Damian melakukan ini kepadanya? Apakah untuk memberikan pelajaran kepada Dimian karena telah menyakitinya?
Dengan terpaksa, Mysha mengikuti langkah Damian. Walau sebenarnya ia merasa berat harus meninggalkan Dimian.
“Mysha! Tunggu!” teriak Dimian.
Damian terus menarik tangan Mysha meninggalkan Dimian.
“Maafkan aku!” teriak Dimian untuk kesekian kalinya.
Mysha Menghentikan langkahnya paksa. Alhasil Damian pun ikut berhenti. Damian menatap wajah Mysha bertanya-tanya.
“Ada apa, Mys?” tanya Damian.
“A-aku pikir aku harus berbicara terlebih dahulu dengan Dimian,” ucap Mysha hati-hati.
Damian menatap tak percaya wajah Mysha. “Untuk apa? Dia telah menyakitimu, kau ingat?”
Mysha berpikir sejenak. Itu benar, Dimian tidak benar-benar peduli padanya, ia hanya menginginkan harta kedua orang tuanya. Tapi, ada hati kecil yang berbicara lain.
“I-iya, tapi …,”
“Sudahlah,” Damian kembali menarik tangan Mysha.
“Mysha, tunggu!” pinta Dimian.
Tiba-tiba Dimian terkejut saat melihat tubuh Mysha di selimuti oleh aura hitam yang lekat. Anehnya, Dimian tak dapat melihat sosok yang mengikuti Mysha. Ini kali pertama Dimian tak dapat melihat sosok makhluk halus yang ada di bumi ini. Sebenarnya sosok apa yang terus mengikuti Mysha, bahkan sepertinya aura itu semakin kuat mengikutinya?
Tunggu!
Aura itu seperti tak asing lagi di matanya. Aura itu aura yang sama yang dahulu pernah mencelakakan kedua orang tuanya.
“A-apa? Kenapa dia bisa ada di sekitar Mysha?” gumam Dimian saat mengingat kejadian kecelakaan kedua orang tuanya yang terjadi di hadapannya itu.
Dimian berpikir keras sambil memejamkan matanya. “Liontin hitam,” tiba-tiba mulutnya mengucapkan hal yang sepertinya tak asing.
“Damian … Ya, hanya dia yang mempunyai liontin itu,” suara aneh tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
Tiba-tiba Dimian tersentak dan membuka matanya. “Apa Damian belum memusnahkan liontin terkutuk itu?” ucap Dimian dengan perasaan marah dan kedua tangan yang mengepal.
“Aargghhhh …,” Dimian mengusap wajahnya kasar lalu berlari mencari Damian dan Mysha yang telah menghilang di antara gedung yang cukup tinggi.
Tentu ia tahu kekuatan besar dan jahat yang akan diberikan oleh liontin itu kepada pemilikanya. Andai saat itu Dimian tak menolak untuk memusnahkan liontin itu dari kakeknya, mungkin Damian tak akan memilikinya saat ini.
Dimian berlari ke sana kemari, mencari-cari Mysha yang pergi bersama Damian. Dalam pikirannya hanya satu, keselamatan Mysha, walau ia tahu Mysha hanyalah seorang hantu. Damian pasti mempunyai rencana untuk mencelakakan Mysha.
Bersambung… “Dami, lepaskan!” Mysha menghentakkan tangannya. Alhasil Damian melepaskan genggaman tangannya.
Damian menatap Mysha bertanya-tanya. “Kenapa?”
“Kenapa kau melakukan itu di depan Dimian?” tanya Mysha to the point.
Damian mendengus dingin dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Kau benar-benar hantu yang sangat polos, Mys.”
Mysha mengernyit heran.
Damian lalu menatap Mysha dingin. “Aku hanya ingin memberikan dia pelajaran,”
Mysha mengerti maksud ucapan Damian. “Ta-tapi, bisakah kita mendengarkan penjelasan Dimian terlebih dahulu?”
“Penjelasan apa?” Tiba-tiba Damian serambi lempitik keras hingga membuat Mysha membulatkan matanya terkejut dan tertunduk ketakutan. Ia tak pernah melihat Damian semarah ini padanya.
“Oh, astaga,” Damian mengusap wajahnya kasar saat melihat Mysha sepertinya terkejut dengan ucapannya.
“Maafkan aku,” tiba-tiba Damian menarik tubuh Mysha ke dalam dekapannya. Sontak Mysha terkejut dan membulatkan matanya.
Tiba-tiba dari arah lain. “Mysha!” Teriak seseorang yang tak lain adalah, Dimian.
Mysha buru-buru melepaskan pelukan Damian dan melihat ke arah Dimian yang melihatnya dengan raut wajah tak suka.
Ada rasa kecewa saat melihat Damian memeluk Mysha. Tapi, keselamatan Mysha menurutnya sangat penting. Dimian berjalan dengan cepat menghampiri Damian, amarahnya sudah di puncak ubun-ubun.
“Damian … Katakan! Kau masih menyimpan liontin itu bukan?” selidik Dimian.
Damian tersenyum miring. Sedangkan Mysha hanya mengernyit bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Dimian.
“Damian, katakan!” Dimian sedikit menaikkan nada bicaranya.
“Liontin apa?” Damian tersenyum remeh.
“Ck,” Dimian berdecak kesal dan memutar bola matanya malas. Ia tahu kembarannya itu sedang berbohong.
“Dimana kau menyembunyikannya brengsek?” pekik Dimian yang telah habis kesabarannya.
Damian tersenyum kecut. “Apa masalahnya dengan mu?”
Tiba-tiba Dimian menarik kerah baju Damian dengan kasar. “Tentu itu masalah bagiku, karena itu menyangkut keselamatan Mysha.”
Mysha yang mendengar namanya disebut semakin tak mengerti dengan perdebatan kedua kakak beradik itu.
“Kau lucu … Bahkan kau telah menyakiti perasaannya,” Damian masih bersikap santai.
Dimian memejamkan matanya dalam-dalam, ia tahu dirinya telah menyakiti Mysha. Tapi, ini bukan waktunya memikirkan hal itu.
“Dimana kau simpan liontin itu? Kenapa kau berbohong kepada keluarga kita?” Tatapan Dimian berubah menjadi dingin.
Damian menatap tajam laki-laki dihadapannya. Aura matanya memancarkan sinar kebencian dan rasa dendam yang belum terpenuhi. Hal itu membuat Dimian mengernyit heran, siapa laki-laki ini? Dia bukan Damian, saudaranya.
Tiba-tiba tubuh Dimian terangkat dan brakk … Dimian terlempar cukup keras ke arah tembok gedung.
Mysha yang melihatnya sontak menjerit histeris. “Dimian!”
Dimian tentu terkejut dengan perlakuan saudaranya. Darimana Damian mempunyai kekuatan itu? Pasti itu efek dari kekuatan liontin terkutuk itu. Dimian berusaha bangkit walau tubuhnya sedikit sakit.
“Ahs …,” ringis Dimian.
Damian tersenyum miring dan berjalan ke arah Dimian. Lalu jongkok di hadapan Dimian yang sedang meringis kesakitan. “Jangan bahas tentang keluarga di hadapan ku! Aku sungguh membencinya.”
Damian pasti belum melupakan kejadian masa lalu itu.
Dimian tak menjawab ucapan saudaranya. Ia tau, dendam dalam hatinya belum hilang begitu saja.
Damian lalu bangkit dan menatap remeh pria yang sedang tersungkur di bawahnya. “Ck … Dasar lemah,” Damian lalu pergi meninggalkan Dimian dan menghampiri Mysha yang sedang menatap keduanya terkejut, ketakutan dan sedih.
“Ayo,” Damian menarik tangan Mysha untuk pergi.
Ada sedikit usaha penolakan yang dilakukan oleh Mysha. Tetapi, cekalan tangan Damian cukup erat di tangannya. Sungguh, hatinya benar-benar merasa sedih saat melihat Dimian sedang meringis kesakitan. Ingin rasanya ia membantu pria yang telah menyakiti hatinya itu. Tapi, apa daya, dia hanya seorang hantu lemah.
Dimian menatap kepergian 2 insan itu. Ia berusaha untuk bangkit. Ini bukan waktunya menyerah. Dimian berjalan mengikuti Mysha dan Damian dari kejauhan.
“Dami, kita akan kemana?” tanya Mysha saat melihat Damian tengah memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.
“Luar negeri,” Damian masih sibuk membereskan barang-barangnya.
Mysha membulatkan matanya. Luar negeri? Kenapa ia harus pergi ke luar negeri?
“D-dami, sepertinya aku tidak akan ikut. Aku akan kembali lagi ke apartemen Dimian saja,” Mysha mundur beberapa langkah dan hendak pergi.
Damian menatap Mysha tajam, lalu bangkit dan berjalan menuju Mysha. “Kau mau kemana, Mys?”
Mysha semakin ketakutan saat Damian berjalan mendekatinya.
“Kau akan ikut dengan ku,” ucap Damian penuh penekanan.
Mysha menelan salivanya dan menggeleng pelan. Mysha berbalik dan hendak menghilang. Tapi aneh, dia tidak bisa pergi dari tempat itu. Apa yang terjadi padanya?
Damian tersenyum miring. “Kau tidak bisa pergi dariku,”
Mysha semakin panik dan berusaha kembali untuk pergi. Tapi lagi-lagi dia gagal.
“D-dami …,” Mysha terbata-bata karena Damian semakin mendekatinya.
“Yes babe,” jawab Damian masih berjalan menuju Mysha dan seringai iblisnya masih menghiasi wajahnya.
Mysha terpojok. Dirinya benar-benar bingung harus melakukan apa.
Kini jarak diantara keduanya hanya tinggal beberapa senti saja. Mysha memejamkan matanya tak kuasa menatap mata tajam Damian.
“Mysha, kau cantik.” Damian membelai wajah Mysha lembut. Hal itu membuat Mysha terkejut. “Saat ini kau seharusnya masih hidup. Tapi, karena kepolosan mu, kau menjadi terjebak dalam kehidupan seorang iblis jahat seperti ku.” Damian menyeringai jahat.
Mysha mengernyitkan dahinya bingung. Ia tak mengerti dengan ucapan Damian. “A-apa maksudmu?” Mysha memberanikan diri membuka suaranya.
“Ck … Kau masih tak mengerti?” Damian menatap wajah Mysha sambil tetap tersenyum evil.
Mysha menggeleng pelan.
Damian terkekeh kecil. Mysha semakin kebingungan dengan sikap Damian yang selalu tiba-tiba berubah. Tiba-tiba Damian menghentikan tawanya dan menatap Mysha dingin.
“Aku yang telah menabrak mu,” ucap Damian dingin.
Mysha membulatkan matanya dan terkejut. Ia tak percaya dengan ucapan Damian. Ternyata, Damian yang ia anggap baik ternyata sebenarnya ia sosok iblis yang bersembunyi di balik topeng malaikat.
Tak terasa bulir air matanya jatuh. Sedangkan Damian masih menatap Mysha dingin.
“Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau merebut hidupku?” lirih Mysha dengan air mata yang telah membasahi pipinya.
Damian mendengus dingin. “Kau ingin tahu?” Damian tersenyum miring.
Mysha tak bergeming, ia hanya memandangi wajah Damian dengan tatapan tak percaya. Ia tak menyangka bahwa Damian yang ia anggap baik, ternyata dia adalah seorang dibalik kesengsaraan Mysha selama 5 tahun ini. Dia yang membuat Mysha harus berpisah dengan keluarga, teman bahkan kehidupannya.
Tiba-tiba Mysha tersentak saat tangan kekar Damian mencengkeram kuat rahangnya.
“Mysha, aku tau kau masih mempunyai benda itu. Dimana kau menyembunyikannya?” gertak Damian.
Mysha memejamkan matanya, tak kuasa menatap mata marah Damian. Sungguh, ia tak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Damian. Benda apa yang dia maksud?
“Katakan!” Damian semakin mencengkram rahang Mysha hingga membuatnya sedikit menggaduh.
“Ahs … Be-benda apa yang kau maksud?” Mysha sedikit terbata.
Damian tersenyum kecut. “Jangan pura-pura tidak tahu, Mys.”
“A-aku benar-benar tidak mengetahuinya,” Mysha mencoba berkata jujur.
“Bohong!” pekik Damian sambil melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.
Mysha sedikit terpelanting ke samping, perlahan ia terduduk dengan air mata yang terus mengalir.
“Kau bohong, Mys.” Damian jongkok di hadapan Mysha seraya menyelipkan anak-anak rambut yang menghalangi wajah Mysha.
“A-aku benar-benar tidak mengetahuinya, Dami,” lirih Mysha sambil tertunduk.
Perlahan wajah Damian berubah menjadi dingin. Tatapannya berubah menjadi tatapan elang yang siap mencengkram dan membunuh mangsanya. Damian lalu berdiri dan berjalan menuju nakasnya.
Mysha yang melihatnya, kemudian memanfaatkan kesempatan ini untuk pergi dari apartemen terkutuk ini. Perlahan Mysha berdiri saat Damian berjalan sedikit menjauh darinya. Dengan hati-hati, tangannya meraih gagang pintu. Kekuatannya sama sekali tak dapat di gunakan.
Damian tentu bukan orang yang bodoh. Ia tersenyum miring saat menyadari Mysha akan kabur dari apartemennya.
Tanpa membalikkan tubuhnya, “tangkap hantu itu!” titah Damian pada sosok makhluk tinggi besar dan mata berwarna merah menyala yang sejak tadi memperhatikan keduanya dari balik lemari.
Sontak Mysha terkejut. Dengan patuh, hantu menyeramkan itu menangkap Mysha. Mysha berusaha memberontak, tetapi tenaganya tidak cukup kuat. Yang ia dapat lakukan hanya menangis. Sedangkan Damian tersenyum puas.
“Dami, aku mohon, lepaskan aku!” pinta Mysha sambil terisak.
Damian kembali berjalan menghampiri Mysha setelah mengambil sesuatu dari atas nakasnya.
“Kau lihat ini!” Damian menunjukkan layar handphonenya kepada Mysha.
Mata Mysha membulat sempurna saat melihat sebuah foto di dalam handphone Damian. Ya, itu dirinya, benar-benar dirinya. Ia masih hidup, tubuhnya masih ada di dunia ini dengan kabel-kabel melekat pada tubuhnya.
Rasa bahagia bercampur sedih terbungkus menjadi satu. Lagi dan lagi, pertanyaan-pertanyaan muncul dalam pikiran Mysha. Kenapa Damian melakukan hal ini? Kenapa Damian menginginkan dirinya? Dan … Dimana tubuhnya sekarang?
“Aku tahu kau terkejut melihat ini. Aku tahu kau bahagia melihat tubuhmu masih ada di bumi ini. Jadi … Jangan buat ini semakin buruk, Mys. Kau hanya perlu mengatakan dimana kau simpan liontin biru itu?” tanya Damian.
Mysha benar-benar tak mengerti bahkan ia tak tahu soal liontin itu. Apakah benar saat ia hidup, dirinya mempunyai liontin yang dikatakan oleh Damian? Jika benar, kenapa Damian sangat menginginkannya?
“Oh, baiklah. Aku akan menjelaskan sedikit tentang liontin itu. Liontin itu akan memberikan kekuatan sangat dahsyat jika aku menggabungkannya dengan liontin hitam ini,” Damian mengangkat liontin hitam pemberian kakeknya dulu.
“Aku akan dengan mudah menguasai dunia dan membalaskan dendam ku kepada orang-orang yang telah menyakiti ku … termasuk Dimian dan bibi Ellyn.” Damian menyeringai jahat sambil memperhatikan liontin itu dan membayangkan kekuatan dahsyat yang akan dia dapatkan jika ia berhasil mendapatkan liontin biru dan menggabungkannya.
Mysha ikut menatap liontin itu. Kini ia mengerti mengapa Damian sangat menginginkan liontin itu.
Damian lalu beralih menatap Mysha, “ramalan mengatakan, kau mempunyainya, Mys.”
Mysha menatap sendu wajah Damian. Ia benar-benar tak mengingat liontin itu, bahkan mungkin ia tak mengetahuinya sama sekali. Mysha menggeleng pelan.
Hal itu membuat Damian semakin naik pitam. “Jangan pura-pura bodoh, Mysha! … Atau aku akan membunuhmu,” tiba-tiba Damian mencekik leher Mysha. Seringai iblis kembali menghiasi wajah Damian. Damian tertawa puas saat melihat Mysha kesakitan. Tiba-tiba …
Brakk!!!
Seseorang mendobrak paksa pintu kamar Damian. Sontak Damian melihat ke arah pintu itu.
Bukk!!
Satu hantaman keras mengenai pelipis Damian. Alhasil Damian terpelanting dan melepaskan cengkeramannya di leher Mysha. Mysha terkulai lemas.
“Hentikan itu, brengsek! Mysha tak bersalah … Itu semua kesalahanku,” bentak Dimian yang ternyata mendengarkan semua perkataan saudaranya dari balik pintu.
Damian menatap tajam wajah Dimian, matanya berubah menjadi merah menyala. Dimian tau, di hadapannya bukanlah Damian. Tapi sosok yang selama ini ada pada liontin terkutuk itu. Ia telah merasuki tubuh Damian, karena Damian sepertinya sudah melakukan perjanjian gaib dengan hantu itu. Setidaknya itu yang dikatakan kakeknya dahulu.
“Ini memang salah mu!” pekik Damian.
“Kau bukan Damian saudara ku, dimana kau sembunyikan dia?” tanya Dimian.
Damian mendengus dingin. “Apa maksudmu? Aku Damian,”
Dimian tahu, makhluk di hadapannya sedang berbohong. “Kembalikan liontin itu!” pinta Dimian sambil mengulurkan tangannya.
Damian tersenyum miring sambil menatap uluran tangan Dimian. Tiba-tiba matanya memancarkan sinar merah menyala. Dengan seketika, tubuh Dimian kembali terangkat dan dengan mudah Damian mencekik leher Dimian.
“Kenapa kau selalu ikut campur dalam urusan ku, sialan?” ucap Damian sambil menatap tajam ke arah Dimian yang sedang kesakitan.
Dimian tak dapat menjawab ucapan saudaranya itu. Tangannya memegangi tangan kekar Damian yang tengah mencengkram erat lehernya.
Mysha yang telah sadar dari pingsannya, tentu terkejut dengan apa yang ia saksikan di hadapannya. Ia memutar otaknya agar Damian berhenti mencekik leher Dimian. karena bisa saja, Dimian mati di tangan kakaknya sendiri. Tiba-tiba Mysha terpikirkan sesuatu,
“Dami, aku mohon hentikan!” teriak Mysha dengan berurai air mata.
Sontak Damian melihat ke arah Mysha.
“A-aku tahu dimana liontin itu berada,” bohong Mysha. Sebenarnya ia tak tahu dimana liontin itu bahkan bentuknya pun ia tak mengetahuinya.
Damian menatap intens manik mata Mysha, mencari-cari kebohongan di sana. Sedangkan Mysha sibuk berdoa kepada Tuhan supaya Damian tak tahu akan sandiwaranya. Mysha tak peduli jika dia tak kembali hidup dan ia harus mati di tangan seorang Damian. Setidaknya dia bisa melihat Dimian tetap hidup dari atas langit sana dan melihatnya bahagia bersama istri dan anak-anaknya kelak.
Damian tersenyum menang. Mysha pikir sandiwaranya berhasil.
“Aku mohon, lepaskan Damian!” lirih Mysha.
“Kau yakin kau tau tempat liontin itu?” Damian memastikan.
Mysha mengangguk. Damian kembali tersenyum menang. Dan …
Brak!!!
Damian melemparkan tubuh Dimian sembarang. Dimian meringis kesakitan.
Damian lalu berjalan ke arah Mysha. Tatapannya benar-benar membuat Mysha bergidik takut.
“Tunjukkan tempat liontin itu berada!” pinta Damian lembut.
Iblis ini benar-benar pandai berakting. Dia terkadang bersikap jahat dan lembut dalam waktu yang singkat.
Mysha berdiri dan mengangguk. Sesaat ia melihat ke arah Dimian yang sedang tersungkur kesakitan. Ini demi kebaikan dirinya dan Dimian. Mysha harus melakukan ini walau ia tahu, bisa saja Damian tak segan-segan membunuhnya sekarang.
Bersambung… “Mys, jangan lakukan!” lirih Dimian saat Mysha dan Damian hendak pergi.
“Diam!” pekik Damian. Dan …
Brakk …
Dimian kembali terlempar ke tembok.
“Dimian …,” pekik Mysha sambil hendak berlari menuju Dimian. Tapi sayang, tangan Mysha kembali di cekal oleh Damian.
“Ayo pergi!” Damian menyeringai licik.
Mysha menatap sendu wajah Damian. Kedua matanya telah basah karena menangis. “D-dami, aku mohon. Aku ingin membantu Dimian mengobati lukanya,” lirih Mysha.
“Aku bilang tidak, Mysha!” tegas Damian sambil menarik tangan Mysha keluar dari kamarnya.
Mysha tak berdaya, mau tidak mau dia harus menuruti perintah Damian.
Dimian menatap kepergian Mysha dan saudaranya itu. Tak ada cara lain, ia harus segera pergi ke apartemennya untuk mencari cara mengalahkan roh jahat itu. Setidaknya kakeknya dahulu pernah menyebutkannya padanya.
“Ahs …,” Dimian mencoba berdiri.
Walau sedikit tertatih dia berusaha berjalan. Ucapan Damian masih terngiang-ngiang di pikirannya, ‘Mysha masih hidup’. Tekadnya kembali naik untuk menyelamatkan hantu yang telah mencuri hatinya itu.
“Aku akan menyelamatkan mu, Mys.” ucap Dimian dengan penuh semangat.
“Cepat tunjukkan tempatnya!” Damian mendorong kasar tubuh Mysha.
Mysha berjalan tanpa arah. Dirinya benar-benar merasa bingung. Harus kemana ia pergi? Ia tak tahu tempat dimana liontin itu berada.
Damian melihat Mysha yang sepertinya tengah berjalan kebingungan, merasa curiga.
“Mysha, berhenti!” pinta Damian.
Alhasil Mysha berhenti dan membalikkan tubuhnya. Dadanya berdegup kencang. Sepertinya Damian sudah mulai curiga dengannya.
Damian berjalan mendekati Mysha. “Kau yakin tahu tempatnya?” suara serak Damian membuat Mysha sedikit bergidik.
Mysha kembali mengangguk ragu.
“Lalu … Kenapa kita hanya berputar-putar saja?”
Ya, itu benar. Mysha dan Damian hanya berjalan memutar selama kurang lebih 2 jam ini.
“A-apa? Ini memang jalan yang benar,” bohong Mysha.
Damian menatap intens manik mata Mysha. Tentu saja ia tahu Mysha sedang berbohong.
Damian tersenyum miring. “Mys, kau pernah mendengar cerita ini?” Damian menyeringai evil dan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi sedikit wajah Mysha.
Dada Mysha semakin berdegup kencang. Ia tahu itu bukanlah cerita yang menarik, seperti kisah Romeo dan Juliet, bukan pula kisah antara Rose dan Jack yang mencintai sehidup semati. Ini hanya kisah mengerikan yang sebentar lagi akan membunuh dirinya.
Mysha menggeleng pelan.
Damian terkekeh kecil. “Ada seekor kucing kecil yang manis dan lugu, dia bermain-main dengan seekor singa yang liar dan jahat tanpa rasa takut. Kau tahu apa yang terjadi?”
Mysha meneguk salivanya, lalu menggeleng pelan.
Damian kembali terkekeh. “Dia tidak sadar bahwa dirinya sedang ada dalam bahaya. Dan akibat dari keluguannya itu … Kucing itu mati di terkam singa jahat yang awalnya dia anggap baik.” Dengan sekejap, raut wajah Damian berubah menjadi dingin.
Mysha sedikit mundur. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Damian adalah dirinya. Ya, Mysha hanya seorang hantu yang polos dan telah masuk ke dalam lingkaran kehidupan seorang iblis bernama Damian.
Damian berjalan mendekati Mysha, seringai iblisnya masih menghiasi wajah tampannya.
“Mysha, kenapa kau berjalan menjauhiku? Apa karena aku telah mengetahui bahwa kau tengah membohongi seorang Damian yang bodoh ini?” Damian tersenyum kecut.
Mysha menggeleng cepat dan semakin berjalan mundur.
“Aku telah memberikan kesempatan itu padamu. Tapi, kenapa kau membohongi ku?” ucap Damian.
Mysha berbalik dan hendak lari dari hadapan Damian. Tetapi apa yang terjadi? Aura jahat kembali mengikat lehernya.
“Kau hendak pergi ke mana, Mys?” ucapan itu lembut, namun begitu mengerikan saat Damian yang mengucapkannya.
Mysha tak mampu menjawab ucapan Damian karena ia tak dapat berbuat apa-apa. Seluruh tubuhnya telah di kelilingi oleh aura jahat dan lehernya kembali di cekik.
“D-dami, aku mohon, le-lepaskan!” pinta Mysha terbata-bata.
“Yes, babe. Setelah kau membohongi ku? … Bermimpi lah,” Damian menarik tubuh Mysha agar mendekat dengannya.
Damian menarik rambut belakang Mysha, dan alhasil Mysha menengadah ke atas. Mysha memejamkan matanya merasakan sakit saat rambutnya di tarik kasar oleh Damian.
“Jangan bermain-main dengan iblis seperti ku, Mys! Kau tahu apa akibatnya jika bermain-main dengan ku?” desis Damian tepat di telinga Mysha.
“Hentikan itu, brengsek!” teriak seseorang dari kejauhan.
Sontak Damian melihat ke arah suara itu. Itu saudaranya, Dimian.
“Lepaskan wanita itu! Dia bukan lawan mu … Aku lawan mu,” Dimian mengeluarkan sebilah pedang pemberian kakeknya dahulu. Ada beberapa tulisan mantra-mantra di atas pedang itu.
Damian tersenyum remeh. Ia berpikir bahwa Dimian bukanlah lawannya.
“Aku tak akan melepaskan wanita ini … Aku tahu kelemahan mu ada pada gadis ini,” Damian tersenyum menang.
Dimian tak bergeming dan masih menatap saudaranya dengan tatapan penuh amarah. “Ya, kelemahan ku ada pada Mysha … Aku sudah terlalu dalam mencintainya,” ucapan itu sontak membuat Mysha membulatkan matanya walau masih dalam kesakitan. Seorang Dimian mencintainya? Apakah itu artinya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan? Ah, sungguh, Mysha begitu sangat bahagia.
Damian tertawa kecil. “Lihat anak kecil ini, apakah dia baru saja mengungkapkan perasaannya?” Damian masih tertawa.
Dimian menatap wajahnya saudaranya dengan raut wajah datar nyaris tanpa ekspresi.
“Kau tidak tahu apa yang sudah ku lakukan pada tubuhnya,” Damian menghentikan tawanya, sedetik kemudian ia kembali menyeringai evil.
Dimian membulatkan matanya, amarahnya benar-benar sudah tak dapat di redam lagi.
“Brengsek!” pekik Dimian. Lalu berlari menuju ke arah Damian dan siap menancapkan pedangnya.
Sreeettt …
Mysha terkejut dan membulatkan matanya.
Dimian menghentikan larinya dengan nafas terengah-engah. Ia tahu dia telah mengalahkan iblis itu, mengingat dia telah berhasil menusuknya tepat di ulu hatinya.
“Tidak semudah itu mengalahkan ku,”
Dimian mendongkakkan kepalanya dan berbalik saat mendengar suara itu. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Damian masih berdiri Kokok tanpa luka sedikit pun.
“Bagaimana bisa?” gumam Dimian sambil menatap tak percaya ke arah Damian.
“Kau benar-benar sudah membuatku marah, Dimi,” Damian menyeringai jahat. “Jaga wanita ini!” Damian menyerahkan Mysha kepada makhluk yang selalu bersamanya. Mysha berusaha memberontak, tapi lagi-lagi ia diikat oleh aura hitam makhluk itu.
Damian berjalan mendekati Dimian.
“Kau tidak bisa terus seperti itu, Damian. Iblis apa yang telah merasuki mu?” ucap Dimian tanpa rasa takut.
“Diam!” pekik Damian. Dan …
Brakk!!!
Dimian kembali terlempar dan tersungkur ke atas tanah.
“Ahs …,” Dimian meringis kesakitan.
“Itulah akibatnya jika kau terus bermain dengan ku,” ucap Damian sambil tersenyum menang.
“Berhentilah menyakiti orang-orang yang tak berdosa, Dami! Ibu dan ayah pasti akan sedih melihat mu seperti ini,” lirih Dimian.
“Jangan bahas tentang itu di hadapan ku, brengsek! Kau yang telah membunuh mereka,” bentak Damian dan kembali melempar Dimian menggunakan kekuatannya.
Sungguh, kata-kata itu masih menyakiti hati Dimian. Bukan ia yang melakukannya. Dia pun sama, ia tak ingin melihat kedua orang tuanya meninggal.
“Terserah apa katamu, Dami. Kau telah berbohong kepada keluarga kita soal liontin itu. Kakek menitipkannya padamu supaya kau menghancurkannya, lalu kenapa kau tak melakukannya?” ujar Dimian.
“Diam!” pekik Damian. Dan …
Brakk!!!
Dimian kembali terlempar.
“Kau ingin tahu kenapa aku tak menuruti ucapan kakek waktu itu, hah?” Damian jongkok di hadapan Dimian yang tersungkur.
Dimian tak bergeming mendengar ucapan saudaranya itu.
“Karena aku ingin membalaskan dendam ku pada orang-orang yang telah menginjak-injak ku waktu itu dan menghinaku sebagai anak aneh,” jelas Damian sambil menyunggingkan senyum jahatnya.
Damian berdiri dan hendak pergi meninggalkan Dimian yang sedang kesakitan.
“Kau tak tahu, Damian. Liontin itu yang telah membunuh ibu dan ayah kita,” teriak Dimian.
Deg!
Damian menghentikan langkahnya.
“Sesaat sebelum kejadian itu terjadi, aku melihat aura hitam dari liontin terkutuk itu menyelimuti mobil yang kami kendarai dan orang itu kendarai, sehingga kami mengalami kecelakaan.” jelas Dimian.
Damian masih berdiri mematung mendengarkan ucapan adiknya itu.
“Saat keadaan ku sudah kembali pulih, aku menceritakan apa yang ku lihat saat itu kepada kakek. Aku terkejut saat kakek mengatakan bahwa saat itu ayah masih menyimpan liontin hitam itu di saku celananya. Liontin itu selalu meminta tumbal, Dami,” Dimian kembali berusaha menjelaskan kejadian yang ia tutupi selama ini.
“Kau tahu apa yang membuat ku sangat sedih? … Ternyata liontin itu mengambil nyawa ayah dan ibu. Aku benar-benar merasa terpuruk saat itu, tapi aku selalu berusaha tetap kuat di hadapan mu dan bibi Ellyn. Aku sangat tidak ingin melihat mu bersedih, Dami,” Dimian tak tahan untuk tidak mengeluarkan air matanya.
Damian yang mendengar penjelasan adiknya itu merasa sedih. Ternyata beban Dimian melebihi darinya. Dimian yang menyaksikan secara langsung kedua orang tuanya meregang nyawa, tentu hal itu seharusnya menjadikan seorang anak menjadi trauma.
Tapi Dimian? Ia sama sekali tak mengalaminya. Ia selalu berusaha tersenyum di hadapan Damian. Walau Damian selalu menyakitinya dengan kata-kata atau bahkan fisiknya.
“Sadarlah, Damian. Aku tau kau sebenarnya baik, hanya saja rasa dendam dalam dirimu tak pernah hilang hingga menjadikan mu seorang iblis seperti ini,” teriak Dimian.
Damian tersenyum miring mendengar ucapan Dimian. Tampaknya iblis dalam tubuhnya benar-benar telah menguasai dirinya. Damian berbalik dan menatap tajam wajah Dimian.
“Kau benar-benar tak layak untuk hidup, Dimi,” Damian mengeluarkan aura kehitamannya dan siap untuk menyerang Dimian. Dan …
Srrtttt …
Untungnya Dimian berhasil menahan serangan Damian menggunakan pedangnya. Hingga terjadilah aksi saling adu kekuatan antara kakak beradik itu.
Keringat mulai bercucuran dari ujung pelipis Dimian, akibat menahan serangan yang diberikan oleh kakaknya itu. Sedangkan Damian hanya tersenyum remeh melihat Dimian yang sepertinya kewalahan menghadapi serangannya.
Dimian sibuk membacakan mantra yang telah diajarkan oleh kakeknya dahulu. Tapi itu tak ada pengaruhnya sedikit pun terhadap Damian.
Sedangkan di tempat lain.
“Mysha,” panggil seseorang yang tak asing lagi di telinga Mysha.
“Nathalie?” Mysha menyipitkan matanya yang telah basah karena air mata.
Nathalie mengangguk. “Aku akan membebaskan mu,” ucap Nathalie pelan.
Mysha menggelengkan kepalanya. “Tidak, Nathalie!” Belum selesai Mysha berbicara, makhluk yang menjaganya sedari tadi muncul di hadapan Nathalie dengan wujud menyeramkan.
Nathalie beringsut mundur dan sedikit ketakutan. Tiba-tiba Nathalie teringat sesuatu. Lantas ia segera memejamkan matanya dan membaca beberapa mantra.
Makhluk itu menyerang Nathalie beberapa kali hingga membuat Nathalie muntah darah. Tapi Nathalie tetap fokus memejamkan matanya.
“Nathalie, apa yang kau lakukan? Please, go away!” pinta Mysha dengan wajah cemas.
Nathalie masih fokus pada apa yang dilakukannya. Dan entah apa yang terjadi, makhluk itu tiba-tiba menggeliat kepanasan dan dengan sekejap ia berubah menjadi abu kemudian menghilang. Mysha yang melihatnya hanya bisa melongo.
Nathalie membuka matanya perlahan saat sudah merasakan ketidakhadiran makhluk itu.
“Nathalie, kau berhasil,” ucap Mysha kegirangan.
Nathalie ikut tersenyum bahagia dan segera membantu Mysha untuk berdiri. Mysha terkejut saat melihat mulut Dimian yang kini sudah di penuhi oleh darah. Damian berkali-kali menyerangnya tepat di bagian dada. Sama halnya dengan Nathalie, ia pun ikut terkejut dengan pertarungan kakak beradik itu.
Mysha hendak berlari menuju Dimian untuk membantunya, tetapi Nathalie menghalanginya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Nathalie.
“A-aku ingin menolong Dimian,” wajah khawatirnya tak dapat di tutupi lagi.
“Dan membunuh Dimian secara perlahan?” ucapan Nathalie mampu membuat Mysha dengan sekejap diam tak bergerak.
“Tak ada cara lain untuk mengalahkan makhluk yang ada pada tubuh Damian, hanya liontin biru itu.” jelas Nathalie.
Mysha tertunduk menyesal dan meneteskan air matanya. Seandainya dia tahu dimana liontin biru itu berada, dan seandainya ia tidak kehilangan ingatannya, mungkin ia akan mengambil liontin itu dan mengakhiri semua ini. Semua ini karena salahnya.
“Liontin itu harus dihancurkan sendiri oleh kekuatan liontin hitam milik Damian, dan masalahnya …,” Nathalie menggantungkan ucapannya dan menatap Mysha menyesal.
Mysha mendongkakkan kepalanya dan menatap Nathalie tak mengerti.
“Liontin itu ada pada dirimu, Mys,” ucap Nathalie yang berhasil membuat Mysha membulatkan kedua matanya.
“A-apa? Bagaimana bisa?” Mysha menatap Nathalie tak percaya.
“Ceritanya panjang, Mysha. Hidup dan mati Dimian hanya ada padamu,” Nathalie menatap sedih wajah sahabatnya itu.
“Apa itu artinya jika aku menyelamatkan Dimian aku akan benar-benar mati?” tanya Mysha menahan air matanya.
Nathalie tak bergeming.
“Jawab aku, Nath!” Mysha menggoyangkan bahu Nathalie.
Nathalie mengangguk lemah.
Mysha menutup mulutnya dengan menggunakan kedua tangannya. Air matanya tak dapat terbendung lagi.
“Semuanya ada padamu, Mys,” Nathalie terisak.
Mysha sesaat melihat ke arah Dimian yang kini sudah mulai melemah dan darah terus mengalir dari mulutnya. Apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus mengorbankan dirinya? Itu artinya dia tak akan pernah bertemu lagi dengan Dimian?
Mysha benar-benar dalam keadaan kebingungan. Mysha memejamkan matanya, menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan. Air mata tak henti-hentinya keluar dari sudut matanya.
“Ini demi kebaikan Dimian dan semua orang,” ucap Mysha.
Nathalie mendongkak mendengar ucapan Mysha.
“M-mysha?” lirih Nathalie.
“Maafkan aku, Nathalie. Dan terima kasih telah membantu ku selama ini, aku harus pergi.” ucap Mysha lalu pergi menuju ke arah Dimian dan Damian.
“Mysha!” panggil Nathalie sambil terisak.
Tekadnya sudah bulat, apapun yang terjadi ini sudah suratan takdir untuknya. Bukankah mimpinya adalah melihat Dimian bahagia bersama dengan istri dan anak-anaknya? Ya, sekarang ia akan melakukannya dan mengakhiri semua ini.
Sesekali Mysha mengusap air matanya saat mengingat hal itu. Jauh dalam lubuk hatinya sebenarnya ia yang ingin berada di samping Dimian dan bahagia bersama. Namun, ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang hantu.
Mysha berlari menuju ke arah kekuatan yang tengah di keluarkan oleh Damian dan segera menghalanginya.
“Mysha!” pekik Dimian saat melihat Mysha tepat berada di hadapannya.
“Brengsek, apa yang kau lakukan wanita bodoh!” umpat Damian dan segera menghentikan serangannya. Tapi anehnya, ia tak dapat menghentikannya. Mysha semakin menarik seluruh kekuatan yang ada pada tubuh Damian.
Mysha menengadah ke langit merasakan sakit yang amat sangat pada tubuhnya.
“Mysha, hentikan! Apa yang kau lakukan?” pekik Dimian sambil mengguncang-guncangkan tubuh Mysha.
Mysha tak menjawab ucapan Dimian dan tetap menarik seluruh kekuatan yang ada pada tubuh Damian.
Damian berteriak-teriak histeris. “A-apa yang terjadi? Hentikan! Hentikan!” teriak Damian sambil memeluk tubuhnya dengan menggunakan tangannya.
“Mysha, aku mohon, hentikan!” lirih Dimian. Dan …
Srrtttt …
Semburan cahaya mengkilap keluar dari tubuh Mysha dan Damian. Damian ambruk ke tanah tak sadarkan diri, begitu juga dengan Mysha.
“Mysha, please wake up!” pinta Dimian sambil memangku kepala Mysha ke pahanya.
Mysha masih memejamkan matanya.
“Mysha!” panggil Dimian sambil terisak dan menggoyangkan tubuh Mysha.
Dimian menempelkan dahinya ke dahi Mysha, air mata terus mengalir membasahi pipinya.
“D-dimi, maafkan aku.” lirih Mysha.
Dimian mengangkat kepalanya saat mendengar suara manis Mysha.
“Tak ada yang perlu di maafkan, Mys.” ucap Dimian sambil mengusap lembut wajah Mysha.
“M-maaf, karena aku telah mencintai mu sejauh ini,” lirih Mysha, kemudian ia terkulai lemas dan perlahan mulai menghilang dari pangkuan Dimian.
“M-mysha, apa yang terjadi?” Dimian terkejut saat tubuh Mysha perlahan menghilang.
“Mysha!” panggil Dimian.
“Mysha, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!” lirih Dimian saat tubuh Mysha benar-benar menghilang tak berbekas.
Dimian tertunduk sedih sambil terisak. “Aku mencintaimu, Mys. Aku sangat-sangat mencintaimu,” lirih Dimian. Air mata ketulusan tak henti-hentinya jatuh.
Bersambung… “Dimi, aku tahu ini berat,” Nathalie menepuk pundak Dimian pelan.
Dimian masih tergugu dalam tangisnya. Hal yang paling ia takutkan dahulu telah terjadi. Mysha benar-benar telah pergi dari hidupnya. Hari-harinya mungkin akan terasa lebih berat.
“Aku gagal,” lirih Dimian.
Nathalie menggelengkan kepalanya. “Kau tak gagal, Dimi … Kau berhasil. Bukankah ini yang diinginkan oleh Mysha? Pergi ke tempat seharusnya dia berada. Mysha sudah pergi, Dimi, Mysha sudah bahagia disana. Kau harus bisa melupakannya,”
“A-aku tak bisa melupakannya, Mysha cinta pertama ku. Dia yang telah membuat hari-hari ku lebih berwarna dari sebelumnya.” Dimian tersenyum miris saat mengingat kembali kejadian-kejadian yang telah dilaluinya bersama Mysha.
Nathalie yang mendengarnya tentu merasa iba. Ia mengerti dengan perasaan Dimian. Memang sulit jika kita kehilangan orang yang sangat cintai. Terlebih orang itu telah memberikan warna baru kepada hidup kita.
Tiba-tiba Dimian berdiri dan menatap dingin saudaranya yang masih tergeletak pingsan. Dimian mendengus dingin dan pergi meninggalkan Damian.
“Dimi, dia saudara mu,” teriak Nathalie.
Dimian menghentikan langkahnya dan tersenyum miring.
“Dia bukan saudara ku.” Dimian menekankan kata-katanya.
“Apa kehilangan Mysha tak membuatmu cukup hancur? … Dan sekarang kau akan kehilangan saudara mu juga? … Dimi, sadarlah! Damian masih saudara mu. Kejadian ini bukan Damian yang melakukannya, tapi roh jahat itu.” Nathalie menatap Dimian penuh pengharapan agar Dimian dapat menerima Damian kembali. “Damian bukan orang jahat, Dimi.” tambah Nathalie.
Dimian memejamkan matanya, mencoba mencerna setiap ucapan Nathalie. ‘jangan sampai kejadian ini mengubahnya menjadi seorang yang jahat’. Dimian menghela nafasnya berat, kemudian berbalik.
“Aku akan membawanya ke apartemen ku,” ucap Dimian sambil berjalan ke arah saudaranya.
Nathalie mengangguk dan tersenyum.
Dimian lalu membopong tubuh Damian ke apartemennya.
***
Dimian dengan sabar mengompres dahi saudaranya yang demam. Wajah Damian memerah akibat suhu panas tubuhnya yang tak kunjung turun. Tak jarang Damian mengigau, menyebut nama ibunya. Hal itu membuat hati nurani Dimian tersentuh, walau masih ada kebencian disana, tapi Damian tetap saudaranya. Mereka pernah tersenyum, tertawa dan bahagia bersama.
Dimian teringat kalau Damian belum makan apapun semenjak dirinya pingsan kemarin. Ia kemudian pergi ke dapur untuk memasak sesuatu.
Damian membuka matanya perlahan. Ia meringis dan memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Tak sengaja dia memegang kompresan yang ada di dahinya. Ia mengernyit, “siapa yang melakukannya? Dan … Dimana ini?”
Dimian telah selesai dengan acara memasaknya. Ia berjalan menuju ruang tamu tempat Damian tertidur dengan nampan berisi sup hangat dan nasi. Ia tak terkejut sama sekali saat melihat Damian sudah bangun, Dimian malah memasang wajah dinginnya.
“Kau sudah bangun?” tanya Dimian dingin sambil meletakkan nampan di atas meja.
“Dimian? Dimana ini?” Damian berusaha bangkit dari tidurnya.
“Apartemen ku,” ucap Dimian nyaris tanpa ekspresi.
Damian mengangkat sebelah alisnya. Ia semakin kebingungan. Seingatnya dia ada di sebuah toko cemilan sehat kesukaannya.
“Kau tak mengingat sesuatu?” Dimian duduk di samping Damian.
“A-aku tidak tahu, aku melihat diriku seperti bukan aku. Terkadang aku tak mengingat kenapa aku bisa sampai di suatu tempat.” tutur Damian sambil memegangi kepalanya.
Dimian mengernyit, wajar saja, dalam tubuh Damian bukan hanya ada dirinya, tapi ada sosok lain.
“Kau tau apa penyebabnya?” tanya Damian yang langsung membuyarkan lamunan Dimian.
Dimian beralih menatap Damian. Dimian menggeleng ragu, ia tak yakin akan menceritakan kejadian buruk ini kepada saudaranya. Biarlah semua ini menjadi kenangan yang ia kubur dan simpan rapat-rapat sendirian.
“Ah, ku pikir kau tahu. Mengingat kau mewarisi ilmu yang diberikan oleh kakek dahulu,” Damian menerawang jauh. “Apa ini untukku?” tanya Damian saat melihat nampan berisi sup dan nasi di hadapannya.
“Iya,” ucap Dimian.
Seketika Damian tersenyum lebar. “Kau memang saudara ku yang paling baik,” Damian lalu mengambil nampan itu dan memakan sup dan nasi yang diberikan oleh Dimian.
Dimian tersenyum tipis, ada rasa bahagia bercampur haru dalam hatinya. Kini saudaranya telah kembali, Damian yang hangat dan penuh kasih sayang yang ia rindukan. Tanpa Dimian sadari, bibirnya tersenyum lebar saat melihat saudaranya makan dengan lahap seperti singa yang tak makan selama 3 bulan.
“Oh, ya, Dimi, kau sudah makan?” tanya Damian.
“Ya, aku sudah,” bohong Dimian. Entahlah, dirinya sedang tidak berselera makan akhir-akhir ini. Kehilangan Mysha membuat ia tak lagi memiliki semangat.
Damian hanya mengangguk-angguk mengerti dan melanjutkan makannya.
“Jadi, selama ini kau berkuliah disini?” tanya Damian dengan mata yang berbinar menatap betapa megahnya universitas tempat Dimian belajar.
“Ya, aku berkuliah disini.” ucap Dimian sambil tersenyum lebar.
“Pasti biayanya sangat mahal, kau punya uang darimana?” selidik Damian mengalihkan pandangannya.
Dimian mendengus dingin dan terkekeh kecil. “Tentu saja aku mengandalkan kemampuan otakku,” ucap Dimian sambil menunjuk ke arah kepalanya.
Damian tersenyum lebar, tentu ia tak meragukan kemampuan otak saudaranya itu. Dimian selalu lebih unggul di pelajaran daripada dirinya.
“Kau selalu membuat keluarga kita bangga,” ucap Damian sambil menepuk-nepuk bahu Dimian.
Dimian hanya tersenyum kecil. “Ayo, aku akan mengajakmu berkeliling,” ucap Dimian sambil berjalan terlebih dahulu. Dan dengan senang hati diikuti oleh Damian.
Beberapa pasang mata tertuju kepada mereka. 2 orang pangeran tampan nampaknya baru saja turun dari khayangan. Bukan hanya karena wajah mereka yang sangat mirip, tetapi senyuman keduanya juga mampu membuat kaum hawa meleleh saat itu juga.
“Dimi!” panggil seorang gadis.
Sontak Dimian dan Damian menoleh. Felicia mengernyitkan dahinya saat melihat laki-laki di samping Dimian sangat mirip sekali dengan Dimian.
“Felicia?” gumam Dimian.
“A-apa yang terjadi?” Felicia menutup mulutnya tak percaya sambil berjalan ke arah keduanya.
Dimian dan Damian terkekeh geli.
“Dim, kenapa wajahnya sangat mirip sekali denganmu?” tunjuk Felicia ke wajah Damian.
Dimian tertawa kecil. “Perkenalkan, dia saudara ku, Damian.”
Damian mengangguk dan mengulurkan tangannya. Felicia masih tak berkedip. Lalu ia membalas uluran tangan Damian.
“Fe-felicia,” ucap Felicia tergagap.
“Maaf aku tak pernah menceritakannya padamu, karena kami memang sudah berpisah sejak kecil,” Dimian tersenyum manis.
Felicia beralih menatap Dimian, “Ti-tidak masalah,” Felicia masih tak percaya. “Oh, ya, sidang skripsi akan di mulai beberapa hari lagi, ku harap kau tak melupakan itu,”
“Aku tidak melupakannya, bahkan aku sudah mempersiapkannya.” Dimian tersenyum tipis.
“Baiklah, semoga kau beruntung, Dimi.” Felicia tersenyum manis. Ah, senyuman itu masih tetap membuat hati Dimian bergetar hebat.
“I-iya, kau pun,” tiba-tiba Dimian sedikit gugup.
Damian yang menyadari hal itu hanya tersenyum geli. Nampaknya saudaranya sedang jatuh cinta.
Felicia pergi setelah berpamitan dan memberikan senyum ramahnya.
“Hei, boy, sepertinya kau sedang jatuh cinta.” Damian menyenggol lengan saudaranya sambil tertawa kecil.
Dimian mengalihkan pandangannya. “A-apa? T-tidak,” bohong Dimian.
Tentu Damian tahu saudaranya tengah berbohong, terlihat dari wajahnya yang memerah.
Ah, sepertinya Dimian mulai kembali ke kehidupan awalnya. Hidup tanpa Mysha.
***
Seminggu telah berlalu, Dimian masih terus berusaha melupakan Mysha. Hingga pada suatu malam.
Damian tengah santai duduk di atas sofa sambil menonton acara televisi. Sedangkan Dimian sedang berada di kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Ia tersenyum tipis, sebuah sabun mandi beraroma mawar masih tergeletak di atas tempat peralatan mandinya. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Mysha.
Dimian mengambil sabun itu dan menghirup aromanya. “Aku merindukanmu, Mys,” gumam Dimian. “Entahlah, apakah Felicia akan menggantikan sosok dirimu di hidup ku? Aku tak yakin,” Dimian tersenyum miris dan meletakkan kembali sabun itu. “Aku harap … Ada keajaiban yang datang kepadaku malam ini,” Dimian menghela nafasnya berat. Lalu ia menyelesaikan acara mandinya.
15 menit telah berlalu, Dimian keluar dari kamar mandi sambil menggosok-gosokkan handuk kecil ke rambutnya. Tampak saudaranya masih asik dengan acara televisi.
“Kabar mengejutkan terjadi hari ini, di kabarkan bahwa putri sulung dari pemilik perusahaan Addison corps yang telah hilang selama bertahun-tahun dan sempat dinyatakan meninggal, telah ditemukan dalam keadaan baik walau masih dalam kondisi lemah.” ucap seorang presenter di televisi.
Dimian yang mendengar nama ‘addison corps’ langsung membulatkan matanya. Dimian menahan tangan Damian yang akan memindahkan acara televisi itu.
“Tunggu!” pinta Dimian.
Damian mengernyitkan dahinya.
“Mysha, orang-orang biasa menyebutnya. Gadis berparas cantik dan dikenal baik hati ini, sempat koma beberapa hari sebelum akhirnya di culik. Sebuah keajaiban, kini dirinya telah ditemukan dalam keadaan masih hidup. Kini Mysha sudah di pindahkan ke sebuah rumah sakit di kota new York,” tambah presenter itu.
“Aku seperti mengingat wanita itu?” ucap Damian.
Tanpa berpikir panjang lagi, Dimian segera berlari menuju ke arah pintu dan menuju rumah sakit yang disebutkan oleh presenter tadi, yang kebetulan tak jauh dari apartemennya. Senyuman bahagia tak henti-hentinya menghiasi wajah tampan Dimian. Siapa lagi kalau bukan penyebabnya, Mysha.
Dengan nafas ngos-ngosan, Dimian berhenti di lobi rumah sakit.
“M-mysha Carolin Addison,” ucap Dimian pada seorang petugas rumah sakit.
Petugas rumah sakit itu mengerti dan tersenyum ramah lalu mengecek komputernya.
“Kamar 302 VVIP lantai 11,” ucap petugas itu.
Tanpa berpikir panjang lagi, Dimian kembali berlari menuju tempat yang disebutkan oleh petugas tadi. Ia memilih tak menggunakan lift karena ia pikir itu terlalu lama, jadi ia memutuskan untuk menaiki tangga darurat. Dirinya benar-benar merasa bahagia, apakah ini sebuah mimpi? Apakah cintanya masih akan tetap tumbuh? Ah, semoga saja.
Dimian menghentikan langkahnya sebentar, sebenarnya kakinya sudah lelah melangkah. Tapi Mysha ada disana, menunggunya. Senyuman bahagia terus terpancar dari wajah Dimian. Ia kembali berlari.
Dan akhirnya, disinilah dia, di depan sebuah pintu berwarna putih bertuliskan nomor 302 atas nama Mysha. Apakah dia yakin dia akan masuk? Apakah Mysha masih mengingatnya? Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di dalam pikiran Dimian. Tapi ia harus yakin, Mysha, cintanya, tak akan pernah salah.
Dimian membuka pintu itu perlahan. Tampak Mr. Arnold dan Margaretha ibunya Mysha tengah saling bercengkrama dengan seorang gadis yang masih terbaring diatas ranjang rumah sakit.
Mr. Arnold dan Margaretha menoleh ke arah Dimian, begitu juga dengan gadis itu.
“D-dimian?” gumam Mysha dengan tatapan tak percaya.
Dimian tak dapat membendung air mata bahagianya lagi, Dimian berlari dan segera memeluk Mysha.
“D-dimian … Hiks …,” Mysha membalas pelukan Dimian.
Dimian semakin erat memeluk Mysha, seolah-olah Mysha akan pergi darinya lagi. Mr. Arnold dan Mrs. Margaretha hanya tersenyum haru dan menatap kedua insan itu bahagia.
“Ja-jangan tinggalkan aku lagi … Hiks …,” Mysha memeluk Dimian erat.
Dimian menggeleng-gelengkan kepalanya, tak dapat dipungkiri bahwa dirinya juga menangis. “Tak akan, Mys… Aku tak akan meninggalkan mu lagi, aku disini, bersama mu,”
Keduanya saling berpelukan, melepas segala kerinduan yang sempat tertunda.
Bersambung… “Dimi, bagaimana kau tau aku masih hidup?” Mysha mendongkakkan kepalanya menatap Dimian yang sedang mendorong kursi rodanya.
Dimian berpikir sejenak. “Um … Tuhan yang memberi tahu ku,” Dimian tersenyum lebar.
“Ish, Dimi, aku serius,” Mysha mengerucutkan bibirnya.
Dimian terkekeh geli lalu berhenti mendorong kursi roda Mysha. Dimian lalu berjalan ke depan Mysha dan jongkok disana.
“Kau tak perlu tahu bagaimana aku menemukan mu, karena yang terpenting … Duniaku kini sudah kembali,” Dimian tersenyum manis.
Mysha yang mengerti dengan apa yang dimaksud Dimian adalah dirinya, Mysha hanya mengulum senyum. Ia rasa pipinya mulai memerah kembali.
“Dimi, kapan wisuda mu akan di laksanakan?” tanya Mysha.
“2 hari lagi, kenapa?”
“Nothing, aku hanya ingin datang ke acara itu.” Mysha tersenyum sambil menerawang jauh.
“Silakan saja kalau kau bisa, karena aku tak akan mengizinkan mu pergi dari tempat ini sebelum kesehatan mu benar-benar pulih,”
Mysha memukul pelan tangan Dimian. “Ish, Dimi, kenapa kau sangat posesif sekali akhir-akhir ini kepada ku?” Mysha mengerucutkan bibirnya kesal.
Dimian berpikir sejenak. “Karena aku mencintaimu,” bisik Dimian.
Mysha tersentak dan tampak mengulum senyum kebahagiaan di sana.
Dimian terkekeh kecil lalu meraih tangan Mysha dan menggenggamnya. Sedangkan Mysha melihat ke arah tangannya yang sedang di genggam oleh Dimian, lalu beralih menatap manik mata Dimian.
Sesaat kedua netra itu saling bertemu dan mengunci.
“Mysha Caroline Addison …,” Dimian semakin menatap intens manik mata Mysha.
Mysha mengernyit heran. “Ya,”
Deg
Deg
Deg
“Will you marry me?” tanya Dimian begitu lembut dan penuh pengharapan.
Deg
Seketika ucapan itu membuat mata Mysha membulat sempurna. Lidahnya seakan keluh tak dapat berkata-kata.
Dimian masih menunggu jawaban dari sang empu, dengan senyuman manis masih menghiasi wajahnya.
“A-aku …,” Mysha menggigit bibir bawahnya.
Ingatan saat Dimian membuat perjanjian dengan ayahnya kembali teringat dalam pikirannya. Dimian tak mencintainya, ia hanya mencintai harta ayahnya.
Mysha memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menimbang-nimbang ucapan Dimian.
“Mys,” raut wajah Dimian tiba-tiba berubah menjadi khawatir.
“A-aku tidak bisa, Dimi,” Mysha melepaskan tangannya.
Dimian menatap Mysha tak percaya. “Kenapa?”
“Kau tak benar-benar mencintai ku,” lirih Mysha.
Dimian mengernyit heran. “Apa maksudmu? Aku mencintaimu, Mys, sangat mencintaimu,”
Tak terasa bulir air mata Mysha jatuh. “Kamu bohong. Perjanjian itu …,”
“Perjanjian itu sudah dibatalkan,” tiba-tiba seseorang muncul dari balik tembok dengan senyum merekah di wajahnya.
“Ayah?” Mysha menatap ayahnya itu.
“Iya, Dimian sudah membatalkan perjanjian itu, bukan begitu Dimian calon menantuku?” Mr. Arnold tertawa kecil dan di balas anggukan kepala dari Dimian sambil tersenyum manis.
“Benarkah?” Mysha menatap tak percaya wajah Dimian.
“Ya, Mysha, aku sudah membatalkan perjanjian itu.” jawab Dimian sambil tersenyum lebar.
Tiba-tiba sebuah senyuman manis merekah di wajah imut Mysha. “Dimian!” Mysha berteriak bahagia dan memeluk Dimian.
“Jadi … Apa itu artinya kau akan menikah dengan ku?” ucap Dimian di tengah pelukannya dengan Mysha.
Mysha melepaskan pelukannya dan menatap Dimian intens.
Mysha mengangguk cepat. “Ya, aku mau.”
Lagi-lagi Dimian tersenyum lebar dan kembali memeluk Mysha. “Terima kasih. I love you,” ucap Dimian lembut.
“I love you more,” balas Mysha.
Sebuah senyum bahagia tak henti-hentinya menghiasi wajah mereka. Begitu juga dengan Mr. Arnold yang menyaksikan kebahagiaan itu.
“Bahkan semesta pun tahu kapan cintanya harus di pertemukan.”
Tamat