Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Gairah Terlarang Dua Mahasiswi di Asrama Putri

Gairah Terlarang Dua Mahasiswi di Asrama Putri

Di asrama putri yang tenang, Elvira dan Alya, dua mahasiswi yang berbagi kamar, menjalani kehidupan kampus yang tampak biasa. Namun, di balik kesibukan kuliah dan rutinitas sehari-hari, tersimpan sebuah rahasia yang tersembunyi di antara dinding-dinding kamar mereka. Elvira, seorang gadis pendiam dan pemalu, menyimpan ketertarikan mendalam pada Alya, teman sekamarnya yang ramah dan terbuka. Hati Elvira berdebar setiap malam saat ia mengamati Alya tidur. Sentuhan halus dan lembut yang tak terduga sering kali muncul sebagai ungkapan rasa kagumnya pada keindahan Alya. Perasaan ini berkembang perlahan, diiringi oleh rasa takut dan kegelisahan yang mendalam, karena Elvira tidak berani membayangkan bagaimana Alya akan bereaksi jika rahasianya terungkap.

Suatu malam, saat Alya tertidur lelap, kegelisahan Elvira mencapai puncaknya. Ia tanpa sadar menyentuh Alya, sebuah tindakan yang terdorong oleh hasrat yang tak terkendali. Betapa terkejutnya Elvira saat Alya terbangun. Namun, reaksi Alya bukan seperti yang dibayangkan Elvira. Alih-alih marah atau menolak, Alya menanggapi dengan cara yang tak terduga dan mengejutkan. Peristiwa malam itu menandai awal dari sebuah perjalanan emosional yang kompleks dan penuh teka-teki, sebuah penjelajahan batin yang menguji batasan persahabatan dan kepercayaan. Kedekatan fisik mereka berkembang menjadi sebuah ikatan yang dalam dan rumit, diwarnai dengan rasa takut, gairah, dan ketidakpastian tentang masa depan hubungan mereka. Bagaimana mereka akan menghadapi tantangan yang muncul dari rahasia yang mereka bagi, dan bagaimana mereka akan mempertahankan keseimbangan antara kehidupan kampus mereka dan hubungan rahasia yang baru terungkap ini, menjadi pertanyaan yang terus membayangi mereka berdua. Semester kedua perkuliahan mereka di Bogor, yang awalnya tampak biasa saja, kini diwarnai oleh dinamika yang tak terduga dan penuh misteri.

Elvira tidak mengenal siapa pun.

Mereka bertemu saat pendaftaran asrama dan ditempatkan di kamar yang sama. Karena Alya juga berasal dari Bekasi, mereka cepat akrab dan lama-kelamaan menjadi sahabat baik.

Elvira melanjutkan belajarnya ditemani radio FM. Siaran ulang sketsa tadi pagi membuat Elvira tersenyum sendiri. Dan tentu saja Elvira menggunakan earphone. Kalau tidak, pasti Alya akan mengomel karena tidak bisa tidur akibat kebisingan.

Asyik menjawab soal, tidak sadar jarum pendek sudah sampai ke angka 2. Elvira menoleh ke kasur Alya. Dia sudah tidur nyenyak. Mungkin sedang bermimpi indah bersama Jungkook, penyanyi favoritnya.

“Sudah waktunya.” Elvira tersenyum.

Lampu dimatikan. Kini kamar mereka hanya diterangi lampu kamar mandi yang kekuningan. Elvira berjalan perlahan mendekati kasur Alya.

Meskipun ini bukan pertama kalinya, hatinya tetap berdebar-debar. Beberapa tetes keringat mulai keluar. Dengan hati-hati Elvira duduk di sebelah Alya. Pinggang Alya dicolek. Tidak ada reaksi. Padahal di situlah bagian yang paling sensitif bagi Alya.

Kemudian Elvira mengangkat sedikit tangan kanan Alya ke atas dan melepaskannya ke bawah. Elvira memperhatikan wajah Alya dengan berdebar-debar.

Tidak ada reaksi.

Yes! Memang sudah pasti tidur nyenyak. Inilah Alya. Kalau sudah tidur, kamar ini terbakar pun dia tidak akan sadar. Susah membangunkan Alya kalau dia sudah tidur nyenyak. Karena inilah, Elvira bebas melakukan apa saja terhadap Alya saat dia tidur.

Ya, Elvira sudah lama mencabuli Alya sejak semester pertama. Dan malam ini entah sudah berapa kali Alya dinodai.

Dengan hati-hati, Elvira berbaring di sebelah Alya. Gerakannya seminimal mungkin. Tubuhnya diiringkan tepat di sisi tubuh montok Alya.

Hnsfff. Aroma lotion krim malam Sofi tercium oleh hidung Elvira. Sedikit bau Coldgate menyelingi aroma harum lotion tadi.

Bau favorit Elvira. Bau yang membangkitkan gairahnya. Bau yang membuat nafsunya semakin bergelora.

Perlahan-lahan Elvira mencium bibir mungil Alya. “Muahhhh.”

Tangan kanannya perlahan memeluk tubuh Alya. Dibiarkan sejenak sambil matanya tajam melihat mata Alya. Masih tertutup rapat.

Kemudian sedikit demi sedikit jari digerakkan ke atas tubuh Alya menuju ke daging pejal di situ. “Alamak. Alya pakai bra pula malam ini,” gumam hatinya. “Mungkin sudah terlalu lelah belajar sampai lupa melepasnya.”

Untungnya bra yang dipakai Alya jenis yang tidak ada kawatnya. Artinya tetap lembut saat diremas. Dengan penuh nafsu, Elvira meremas payudara 34B tersebut. Cukup besar untuk tubuh seorang gadis kecil seperti Alya.

Elvira menikmati payudara itu sepuasnya. Setelah kiri, payudara kanan pula yang diserang. Alya tetap tidak memberikan reaksi meskipun putingnya sudah mulai mengeras. Puting Alya terlihat menonjol meskipun dilapisi bra dan T-shirt.

Namun Elvira menginginkan lebih dari itu. Tangannya turun ke bawah dan menyelinap ke bawah baju Alya. Jari Elvira melewati pusar Alya dan terus ke dada. Tangannya menyelip ke dalam bra yang membalut payudara Alya.

“Hmmph…” erang Alya pelan.

Elvira meremas-remas payudara Alya tanpa lapisan. Memberi lebih sensasi dan membuat nafsunya semakin bergelora.

Kemudian Elvira memijat-mijat manja puting keras Alya bergantian kiri dan kanan. Sebelah tangan lagi mulai menggosok serambi lempitnya sendiri. Lelehan cairan nikmat sudah bisa dirasakan.

Setelah puas meremas, tangannya mencari sasaran berikutnya. Yoga pants yang dipakai Alya menambah kenikmatan Elvira. Elvira mengusap-usap serambi lempit Alya dari luar. Mencari belahan yang tertutup rapat.

Elvira bangun perlahan dan menempatkan posisinya di sebelah kaki Alya. Celana ditarik ke bawah. Dari cahaya redup kamar mandi, samar-samar terlihat celana dalam putih berpolka dot ungu menutupi mahkota wanita Alya.

Elvira mencium belahan serambi lempit Alya. Ada sedikit bercak basah. Mungkin rangsangan saat payudaranya diremas tadi.

Celana dalam dilucuti dan terlihatlah benjolan tembam yang menggoda. Licin. serambi lempit Alya baru saja di-wax minggu lalu. Alya suka serambi lempitnya bersih dan licin. Karena itu wax adalah pilihannya.

Tidak tahan dengan aroma harum, Elvira menjilat belahan serambi lempit itu. Paha Alya yang rapat membuat serambi lempitnya terlihat lebih tembam.

Belahan itu dibuka. Membebaskan klitoris yang tersembunyi di celah serambi lempit. Sedikit menonjol. Alya sudah terangsang! Elvira menjilat sepuasnya karena dia sudah sangat tahu bahwa Alya tidak akan terbangun dari tidurnya. Sudah berbulan-bulan Elvira melakukan perbuatan terkutuk ini terhadap teman sekamarnya.

Beberapa menit kemudian, Elvira bangun lagi dari celah paha Alya. Puas Elvira menjilat serambi lempit tembam tersebut. Berkilat-kilat serambi lempit basah Alya saat dilihat dalam keadaan redup itu. Elvira kembali berbaring di sebelah Alya.

Kali ini giliran dia untuk puas. Kain batik yang diikat rapi itu dilepas lalu dilorot ke bawah, memperlihatkan serambi lempitnya yang sudah banjir. Memang ini pakaian resmi Elvira saat menodai Alya. Atasan putih dan kain batik. Memudahkan pekerjaannya.

serambi lempit Elvira mulai diusap. Jarinya menekan-nekan klitorisnya yang sudah mengembang. Sesekali tubuhnya seperti tersentak kesedapan. Desahan manja keluar dari mulutnya namun agak pelan. Masih berhati-hati agar Alya tidak terbangun.

Jari Elvira meluncur cepat di celah serambi lempitnya. Nikmatnya seakan tidak berujung. Setelah cukup lama menggosok, Elvira meraih tangan kanan Alya dan menempatkan jari runcingnya di serambi lempitnya.

“Ahhhh,” Elvira mendesah.

Terasa lebih nikmat saat tangan orang lain yang menggosok serambi lempit. Meskipun Elvira yang mengendalikan tangan Alya, namun kenikmatan itu tetap dirasakan.

“Hmm. Alyaaa. Enak Alyaaa….” Elvira berbisik pelan sambil berkhayal. Tangan kirinya rakus meremas payudaranya sendiri. Ditarik-tarik puting tegang itu dan dipijat-pijat sepuasnya. Bergantian kiri dan kanan.

Tangan Alya semakin cepat dikendalikan mengikuti irama Elvira menggosok serambi lempitnya. Berdecit-decit suara erotis yang keluar hasil gesekan cairan kenikmatan yang melimpah.

Tak lama lagi, klimaks Elvira akan tiba. Dia memejamkan mata dan membayangkan aksi panasnya bersama Alya.

Semakin cepat gosokan, semakin keras Elvira mengerang. Dia sadar akan hal itu dan segera mengambil bantal peluk Alya lalu menekannya ke wajahnya.

“AHHHHH, DILAAAAAAA!!!! AAARGHHHHHH!!!” Jeritan kuat dilepaskan di balik bantal itu. Tubuh Elvira menggeliat kesedapan. Tangan Alya dilepaskan. Untung ada kain batik yang dilapisi di bawah paha Elvira karena cairan kenikmatannnya memancar seperti air pancuran. Nikmat kali ini terasa berbeda sekali.

Tubuh Elvira terengah-engah mengambil napas. Terasa basah di kepalanya akibat keringat yang keluar saat aksi tadi.

Tiba-tiba…

“Hmm. Elvirass.”

Mata Elvira terbelalak saat namanya dipanggil.

DILA TERBANGUN?

“Elviraaa.”

Mata Elvira terbelalak ketika namanya dipanggil.

DILA TERBANGUN?

Perlahan-lahan Elvira memalingkan wajahnya ke arah Alya. Jantungnya berdebar kencang, rasanya seperti mau copot saat melihat mata Alya terbuka menatap ke atas. Beberapa detik kemudian, mata Alya kembali tertutup.

“Ahhh. Hmmmm.”

Alya mengerang?

Elvira hanya diam terpaku di sebelah Alya, tidak berani bergerak karena takut Alya akan benar-benar terbangun. Namun, dia merasa aneh dengan reaksi Alya tadi. Tidak pernah sebelumnya terjadi hal seperti ini selama dia melecehkan Alya.

Celana dan celana dalam Alya masih melorot di paha. Saat Elvira memperhatikan lebih teliti, terlihat serambi lempitnya seperti mengembang dan mengempis, serta klitorisnya masih keras dan menonjol.

Tiba-tiba Elvira mendapat ide jahat. Dia mengambil ponselnya yang diletakkan di samping dan mulai menekan ikon kamera. Lampu kilat diaktifkan dan diarahkan ke serambi lempit Alya. Tombol rekam ditekan.

Elvira tidak ingin melewatkan kesempatan langka ini. Selama ini, dia tidak pernah merekam perbuatannya yang bejat itu. Tapi kali ini Elvira tidak ingin menyia-nyiakan momen ini. Klitoris Alya berdenyut-denyut dan dia harus merekam momen indah ini.

“Hmmm. Elvirass. Hmmmm.”

Alya mengerang lagi, tapi matanya masih tertutup rapat. Jelas, Alya sedang bermimpi! Tapi kenapa Alya menyebut nama Elvira? Apakah dia sedang bermimpi tentang Elvira?

Tangan Alya tiba-tiba turun ke bawah dan langsung ke area serambi lempitnya. Jarinya menggosok-gosok perlahan celah asmara itu.

Tidak percaya dengan apa yang terjadi, lensa kamera Elvira yang sedang merekam diarahkan ke wajah Alya. Meski cahaya terang dari lampu kilat kamera menyinari wajah Alya, dia tetap tidak terbangun. Bahkan, gosokan tangannya semakin cepat.

Elvira kembali merekam serambi lempit Alya yang sedang digosok itu. Gosokan tangan Alya semakin cepat. Cairan bening keluar dari lubang serambi lempitnya semakin banyak. Tiba-tiba pantat Alya terangkat dan bergetar.

“Ahhhh, Elvirasss! Ahhhh! Sssssss. Ahhhh!”

Alya mencapai klimaks. Beberapa detik pantatnya terangkat-angkat. Terasa sangat dahsyat klimaks yang dialaminya. Entah mimpi apa Alya sehingga dia klimaks begitu. Lebih mengherankan, nama Elvira disebut-sebut.

“Jangan-jangan Alya mimpi aku??”

Keadaan Alya kembali tenang. Tombol ‘stop’ ditekan dan ponsel Elvira diletakkan kembali di sampingnya. Tampak Alya kembali tertidur pulas seperti tidak ada apa-apa yang terjadi.

Elvira mencium bibir Alya dengan hati-hati. Kemudian dia turun ke bawah dan menjilat sisa-sisa cairan nikmat Alya. “Slrpppp. Slrppp. Ahhhh.” Rakus sekali Elvira menjilat sampai kering.

Setelah puas, perlahan-lahan Elvira menarik kembali celana dan celana dalam Alya. Apa yang akan dikatakan Alya nanti saat terbangun dan melihat serambi lempitnya terbuka?

Elvira pun bangun dan turun dari ranjang Alya, menuju ke ranjangnya sendiri. Rasa lelah masih belum hilang. Rasanya tidak percaya dia berkesempatan menyaksikan Alya masturbasi saat tidur. Rekaman videonya pun ada. Nanti dia bisa menonton kembali peristiwa bersejarah itu.

“Hmm. Alya, Alya. Apa sebenarnya yang kau mimpikan tadi? Kau lesbian juga, ya?” Elvira melamun. Tersenyum sendirian membayangkan berbagai hal yang bisa terjadi jika benar Alya adalah seorang lesbian.

Tanpa sadar, Elvira tertidur.

“Elvira! Elvirass! Bangun!”

Elvira terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa berat membuatnya sulit untuk bangun.

“Elvira! Kita sudah terlambat! Kuis lagi setengah jam lagi!”

Mendengar kata ‘kuis’, tubuh Elvira langsung bangkit dari ranjang dan dia segera berlari ke kamar mandi. Alya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Elvira yang terburu-buru itu.

Alya sudah siap-siap sejak pagi. Sebelum Subuh dia sudah bangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa pegal. Seakan-akan baru saja selesai berkebun. Tidak mencurigai apa-apa yang terjadi, Alya memaksakan diri untuk bangun dan mandi.

“Mungkin sudah mau menstruasi, ya? Kalau tidak salah lagi 3-4 hari lagi datang,” bisik Alya sendirian.

Tidak sampai 5 menit, Elvira sudah keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa. Alya hanya tersenyum melihat kelakuan Elvira yang panik itu.

“Itulah. Belajar sampai larut malam. Jam berapa kamu tidur semalam?”

“Jam 2 aku sudah menyerah.”

“Confirm nilai kuismu tinggi hari ini. Hehehe.”

Elvira tersenyum mendengar kata-kata Alya dan langsung mengambil baju kurungnya yang tergantung di pintu lemari. Untung dia sudah menyiapkan setelannya semalam. Ngocoks.com

Tanpa pikir panjang, Elvira langsung melepaskan handuk dari tubuhnya dan tampaklah payudaranya yang berukuran 32B. Tubuhnya tidak terlalu gemuk, juga tidak terlalu kurus. Ukuran payudara Elvira terlihat proporsional di tubuhnya. Pria yang melihat tubuh Elvira pasti tergiur.

Alya hanya memperhatikan tubuh telanjang teman sekamarnya itu. Payudaranya lebih besar dari Elvira tetapi bentuknya tidak sebulat payudara Elvira. Payudara Alya sedikit turun dan berisi ke bawah. Mungkin karena sedikit berat dan besar. Terlebih dengan tubuh kecilnya itu, terasa bebannya membawa dua bukit.

Mata Alya turun ke bagian serambi lempit Elvira. Sedikit berbulu namun rapi. Labia minoranya sedikit keluar, dan agak tembam. Berbeda dengan serambi lempitnya yang lebih kecil. Celahnya selalu tertutup tanpa memperlihatkan bagian mana pun. Tidak ada bulu karena Alya melakukan Brazilian wax setiap dua bulan sekali.

Alya menelan ludah dan merasa ada sesuatu di hatinya. Sadar apa yang terjadi, Alya langsung berpaling dan bangun dari kursi. Dia mencoba menjauhkan pikiran yang bermain di kepalanya.

“Astaghfirullah. Apa yang aku lakukan ini? Aku ini perempuan. Tidak mungkin aku bisa horny melihat tubuh perempuan lain.” Alya menggeleng-gelengkan kepala dan langsung berjalan menuju pintu.

“Elvira, aku tunggu di luar ya? Cepat sedikit!”

“Haaa iya, iya. 5 menit!”

“Ye, ye aja kamu 5 menit. Lebih dari 5 menit aku tinggalin kamu!”

“IYAAA. 5 MENIT!”

Elvira terburu-buru memakai pakaian dalamnya. Bra berwarna merah dengan motif renda, full cup. Celana dalam seamless berwarna senada dengan bra-nya. Kemudian dia mengenakan jubah Princess Cut merah muda yang sudah disetrika. Terakhir, dia mengenakan kerudung shawl berwarna soft orange.

Elvira hanya mengenakan basic foundation dan lip balm di wajahnya. Dia memang simpel, tidak suka memakai make-up berlebihan. Diberi anugerah wajah cantik alami, kulit mulus, memudahkan aktivitas sehari-harinya.

“Okay, ayo!” Ajak Elvira kepada Alya yang sedang melamun di koridor. Aroma wangi Elvira mengejutkan Alya. Harum, tetapi tidak terlalu menyengat. MElvira baunya.

“Wanginya. Mau ke kuliah atau kencan?”

“Eiiii. Nanti kucubit. Ayo dah, katanya sudah terlambat.”

Bersambung… “Arghhh, stres banget aku!” teriak Alya begitu mereka keluar dari kelas. Hanya beberapa orang siswa yang masih di dalam kelas, berbincang mengenai soal kuis yang baru saja selesai.

“Kenapa lagi nih?” tanya Elvira meskipun dia sudah tahu apa yang membuat temannya itu khawatir.

“Ada beberapa soal yang aku nggak bisa jawab tadi. Padahal semalam udah belajar soal itu,” keluh Alya.

“Alaa. Jangan khawatir. InsyaAllah kita bisa lulus,” hibur Elvira sambil menepuk-nepuk bahu Alya perlahan. “Kamu lain lah. Pandai. Aku ini biasa aja,” ujar Alya yang masih khawatir.

“Enggak lah. Jangan risau ya. Yuk, aku traktir cendol favorit kamu di kantin,” ajak Elvira lagi.

“Eh, nggak usah Vir. Aku sebenarnya ada janji sama Irwan habis ini. Dia bilang mau ajak aku ke kota cari barang,” tolak Alya.

“Ohhh… Dating ya?” canda Elvira sambil mencubit pinggang Alya membuat Alya melompat geli.

“Janganlahhh. Jeles ya? Hehehe. Pacar kamu kan jauh di Bekasi sana,” balas Alya menggoda.

“Ishh udahlah. Pergilah. Aku bisa makan sendiri,” jawab Elvira dengan nada merajuk.

“Alaa merajuk deh. Hehe. Oke, aku pergi dulu ya. Byeee!”

“Yaa. Byeee!”

Elvira memerhatikan kawannya itu berjalan pergi. Sudah biasa ditinggalkan sendirian. Meskipun kadang-kadang cemburu, tetapi Elvira sudah terbiasa. Beruntung Alya punya pacar yang selalu ada untuknya. Berbeda dengan Elvira yang menjalani hubungan jarak jauh dengan pacarnya.

Elvira mengambil ponselnya dari dalam tas dan membuka aplikasi WhatsApp. Nama ‘Hubby’ yang tertera di layar ditekan.

Bang. Ayang udah selesai kuis nih. Abang lagi ngapain?

Pesan dikirim. Elvira melanjutkan perjalanannya ke kantin. Perutnya sudah berbunyi sejak tadi. Tidak sempat sarapan pagi tadi karena kesiangan bangun.

Selesai makan, Elvira berjalan pulang menuju asrama. Dalam perjalanan, ponselnya berbunyi menerima notifikasi. Pesan WhatsApp dibuka.

Sorry sayang. Abang baru selesai kelas nih. Jam 12 nanti sampai rumah.

Elvira tersenyum nakal setelah membaca pesan tersebut. Itu tandanya mereka akan punya waktu luang bersama siang ini. Elvira pun membalas pesan tersebut.

Ayang sendirian nanti. Alya keluar sama pacarnya.

Oh ya? Hehe.

Iya sayang.

Hehe. On nggak on?

Elvira menggigit bibirnya membaca pesan terakhir. Lantas dia cepat-cepat membalas.

Jom?

Jommm.

Setibanya di kamar, Elvira langsung membuka tudung dan pakaiannya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kurang dari 15 menit sebelum jam 12 siang. Dia tidak mau terlambat. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama.

Selesai mandi, Elvira mengenakan t-shirt muslimah warna merah jambu berlengan hitam. Skirt hitam panjang juga dikenakan. Dan Elvira tidak memakai apa-apa di balik bajunya itu. Tudung panjangnya dikemas rapi.

Pintu kamar dikunci. Jendela ditutup rapat dan diselak. Elvira menarik kursi dari meja belajar dan diletakkan di sebelah ranjangnya. Laptop dikeluarkan dari lemari dan diletakkan di atas kursi tadi. Laptop diatur menghadap ranjang. Earphone juga sudah dicucukkan.

Setelah semuanya siap, Elvira menyalakan laptop dan membuka aplikasi WhatsApp. Melihat pacarnya sudah ‘online’, Elvira pun menekan ikon video. Beberapa dering kemudian, panggilan video dijawab.

“Abangggg. Hehe.”

“Hai sayang. Cantiknya kamu hari ini.”

“Hehe. Muahhh. Kangen banget sama abang.”

“Iya sayang. Abang juga. Udah lama kita nggak video call, ya?”

“Ya. Sorry ya. Ayang lagi sibuk. Muahhh.”

“Tidak apa sayang. Muahhhh.”

“So?”

“So apa?”

“Alya keluar sama pacarnya. Jam 2 nanti ayang ada kelas.”

“Ohhh sendirian ya sekarang?”

“Iya. Hmmmmm.”

“Hmmm kenapa tuh.”

“Tidak banyak waktu ini. Jangan pura-pura nggak tahu.”

“Hehe. Ya udah. Jommm.”

Elvira berbaring miring menghadap laptopnya. Begitu juga dengan Fahmi. Mereka seakan-akan berbaring bersebelahan. Posisi ini membangkitkan gairah bagi pasangan ini. Tudung panjangnya diselak sedikit ke atas supaya Fahmi bisa melihat payudaranya.

“Itu apa yang menonjol tuh?” tanya Fahmi nakal.

“Hmm mana yang menonjol?” balas Elvira dengan nada nakal.

Puting Elvira yang keras menegak menampakkan tonjolan di dada bajunya. Perlahan-lahan Elvira meremas payudaranya sambil memutar-mutar putingnya.

“Arhhhh. Hmmmm,” erang Elvira.

Di layar video sebelah sana, Fahmi sudah mulai menggosok rudalnya yang menegang di balik boxernya. Terangsang dengan gaya erotis pacarnya yang kini sudah dikuasai nafsu.

Ramasannya bertambah kuat. Kini kedua belah tangan Elvira memijat-mijat putingnya bergantian dengan meremas payudaranya. Mulutnya tidak berhenti mengeluarkan suara erangan.

“Ahhhh abanggg. Ramas payudara ayang please. Hmmm.”

“Iya sayang. Abang ramas nih. Hmmmm.”

“Sayang… Buka dong. Mau lihat payudara itu.”

“Oke abang.”

Baju muslimah yang dipakai Elvira memiliki 3 kancing di tengah. Satu per satu kancing dibuka. Fahmi menunggu dengan nafsu sambil rudalnya digosok cepat di luar boxer. Selesai kancing terbuka, Elvira menyelak bajunya mengeluarkan payudaranya yang montok.

Elvira melanjutkan meremas payudaranya. Terasa lebih nikmat bila tidak dilapisi kain. Putingnya dipencet-pencet kuat. Semakin kuat dipencet, semakin terangsang. Nafsu sudah memuncak. Gairahnya tak lagi bisa ditahan.

“Abanggg. Mau rudalnya.” Tanpa ragu, Fahmi melepas boxernya dan rudalnya pun terdedah.

“Kangen rudal abang. Hmm mau hisap.”

“Hisap aja sayang.”

Fahmi mendekatkan batangnya ke kamera. Kini di layar laptop Elvira tampak batang rudal yang keras. Elvira pun merapatkan mulutnya ke layar dan membuat gerakan menjilat.

“Ahhh sayang. Nikmatnya sayang jilat.”

Lidah Elvira semakin rakus mendengar kata-kata Fahmi. Dijilat-jilat bibirnya atas bawah membayangkan seperti rudal Fahmi berada di dalam mulutnya. Sungguh seksi dan erotis Fahmi melihat gaya Elvira di layarnya. Walaupun hanya secara maya, tetapi kenikmatannya tetap terasa.

Kemudian Elvira kembali berbaring di atas ranjang dengan telentang. Nafasnya pendek. Bukan karena lelah tetapi karena asyiknya melayani nafsu. Dadanya berombak mengikuti irama nafas. Skirtnya ditarik ke atas.

Tampaklah serambi lempit yang mulai berkilat. Kesan cairan gairah yang melimpah saat blowjob maya tadi. Perlahan-lahan alur serambi lempitnya dielus. Jari telunjuknya licin meluncur mengikuti alur. Terasa seperti tersengat saat klitorisnya tersentuh.

“Ahhhhh,” Elvira mendesah manja.

Fahmi di sebelah sana sudah tidak keruan. Tayangan erotis milik pacarnya membuat rudalnya semakin keras. Titik cairan mazi mulai keluar dari ujung kepala rudal. Nikmat.

“Abanggg. Gesek rudal di serambi lempit ayang.”

“Oke sayang.”

Elvira bangun dari pembaringan. Badannya bersandar di dinding dan dia mengangkang di depan laptop. Bibir serambi lempit mulai terbuka menampakkan alur yang basah. Lubangnya terlihat mengembang dan menguncup menahan gairah. Fahmi juga duduk berlutut di depan laptopnya. Seakan-akan posisi missionary.

“Abang gesek ya sayang…”

“Hmmmm…”

Fahmi mulai mengayun ke depan dan ke belakang. Membayangkan batang rudalnya bergesek dengan serambi lempit Elvira. Sementara Elvira mulai menggosok serambi lempitnya ke atas dan bawah. Juga membayangkan jarinya itu sebagai batang rudal Fahmi yang menggesek serambi lempitnya. Suara mereka mulai erangan serentak.

“Ahhh abanggg. Ahhhh.”

“Ahh sayanggg. Basah banget serambi lempit sayang. Ahhhh.”

Gosokan serambi lempit semakin cepat. Berdecit-decit suara erotis keluar dari gesekan cairan mazi yang melimpah. Elvira sudah tidak tertahan lagi. Dia butuh lebih dari itu.

“Abanggg. Masukkan rudal please. Ayang nggak tahan.”

“Hmm. Ok sayang. Abang masuk ya? Sedia?”

Elvira menyelak serambi lempitnya menampakkan lubang, seakan-akan siap menerima tusukan rudal Fahmi.

“Satu… Dua… Tiga… Ahhhhh.”

“AHHHHH.”

Erangan mereka terdengar serentak. Jari tengah Elvira mulai masuk ke dalam lubang serambi lempitnya. Meskipun hanya jari, namun nafsunya membayangkan rudal Fahmi yang memasuki lubang serambi lempitnya.

Pantat Elvira bergerak mengikuti irama ayunan Fahmi. Mereka mendesah bersama-sama.

“Aahhh abang. Abangg. Ahhh. Abanggg.”

“Sayangg. Ahhh. Enaknya lubang ketat sayang ini. Ahhh.”

“Enaknya batang rudal abang. Penuh rasa di dalam sini. Ahhhh.”

Jari mElvira mulai dimasukkan bersama dengan jari tengahnya. Dua jarinya kini mengorek-ngorek lubang serambi lempit. Sesekali dijolok-jolok. Jarinya semakin cepat menusuk lubangnya. Ayunan rudal Fahmi semakin cepat. Elvira hampir mencapai klimaks. Jolokan semakin lama semakin cepat dan ganas.

“ABANGGG. AYANG NAK SAMPAI DAH. AHHHH LAJU LAGIIII!”

Desahan Elvira semakin kuat.

“ABANGG. AHHH. AHHH. AHHHHHHH!”

Pantatnya terangkat tinggi. Paha dikepit. Cairan putih perlahan-lahan keluar dari lubang serambi lempitnya. Air mani mengalir tanda Elvira sudah mencapai klimaks. Napasnya tersengal-sengal. Mata terpejam menikmati nikmat. Fahmi membiarkan sejenak teman wanitanya dibuai nikmat.

Hampir semenit kemudian, paha Elvira terbuka perlahan-lahan. Melekit-lekit serambi lempitnya dengan air maninya sendiri. Matanya mulai terbuka dan melihat ke arah layar. Terlihat Fahmi sedang bersandar sambil menggosok rudalnya.

“Maaf abang. Lama banget ayang klimaks. Kasihan abang nunggu.”

“Tidak apa-apa sayang. Seksi banget kamu kayak gitu.”

“Hehe. Biar ayang puaskan abang sekarang.”

“Ok sayang.”

Elvira bangun dan mengambil bantal peluk di sisi lalu diletakkan di tengah-tengah. Tudungnya dirapikan lagi. Kemudian dia memanjat ke atas bantal peluk itu seakan-akan posisi cowgirl. Roknya ditarik ke belakang supaya serambi lempitnya terlihat. Bajunya ditarik ke atas menampakkan payudaranya. Kemudian Elvira mulai menunggang bantal tersebut.

Terpancing dengan aksi Elvira, nafsu Fahmi mulai bangkit lagi dan dia mempercepat kocokan rudalnya. Tangannya digenggam erat dan ketat. Kocokan demi kocokan dilakukan dan rudalnya semakin mengembang.

Elvira melentik-lentikkan badannya sambil meremas payudara. Layaknya aktris film dewasa, Elvira hanyut dalam perannya. Dia berusaha tampil seksi agar Fahmi lebih terangsang.

“Ohh ya sayang. Cepat lagi henjutnya. Ahhh ahhh.”

“Ya bang. Ahhhh. Ayang lebih cepat lagi ini. Ahhh.”

Pantatnya dihentak-hentak cepat. Payudaranya bergoyang mengikuti irama hentakan. Pemandangan itu membuat Fahmi semakin bergairah dan dia merasa air maninya hampir keluar. Ngocoks.com

“Ahhh sayangg. Sedikit lagi mau keluar. Ahhh.”

“Ok abang. Kasih tahu kalau mau keluar.”

Lancapan semakin cepat. Genggaman diarahkan ke kepala rudal.

“Ahh sayang. Mau keluar.”

Tanpa berpikir panjang, Elvira langsung mendekatkan wajahnya di depan kamera. Membayangkan rudal Fahmi benar-benar di depan wajahnya. Mulut Elvira dibuka lebar.

“Keluarkan di mulut sayang.”

“AHHH. AHHH. AHHHHHHHH.”

Pancutan demi pancutan dilepaskan ke arah kamera laptop. Wajah erotis Elvira terpampang besar di layar laptop Fahmi, menambah kenikmatan pancutan. Bagaimana tidak, wajah cantik seorang muslimah yang memakai hijab panjang, menampilkan ekspresi gairah seperti bintang film dewasa. Fetish yang mengasyikkan bagi Fahmi.

“Banyak banget abang keluarkan?”

“Soalnya sudah lama tidak keluar, sayang. Hehe.”

“Puas nggak? Muahhh.”

“Puas, sayang. Muahhh.”

“Hmm kapan ya kita bisa ketemu?”

“Nanti pas libur kita ketemu ya?”

“Ok bang. Ayang mau siap-siap nih.”

“Ok sayang. Makasih ya.”

“Makasih juga abang. Muahhh. Baiii.”

“Bai sayang. Muahhh.”

Panggilan video dimatikan. Elvira terbaring kelelahan. Sungguh puas rasanya siang itu. Meskipun hanya melalui video, tetapi dia merasa seperti benar-benar baru melakukan seks. Elvira mencapai ponsel di sebelahnya dan melihat jam yang hampir menunjukkan pukul 1. Hampir 1 jam mereka berasmara secara maya.

Elvira memaksa dirinya bangun untuk membersihkan diri. Tidak mau terlambat ke kelas seperti pagi tadi. Lagipula Alya tidak ada untuk mengingatkannya. Kalau dia tertidur, bisa-bisa dia memang terlewat kelas sore nanti.

Fahmi menekan tombol ‘End Call’ di aplikasi WhatsApp di laptopnya. Kemudian kursor diarahkan ke taskbar di bawah. Aplikasi OBS ditekan lalu diarahkan ke tombol ‘Stop Recording’. Rupanya segala aksi mereka tadi sudah direkam sejak awal oleh Fahmi.

Kemudian Fahmi membuka folder Video di laptopnya. Rekaman tadi dipotong dan ditempel ke dalam folder rahasia. Di dalam folder tersebut, terdapat puluhan rekaman dan ratusan gambar milik Elvira tersimpan rapi.

“Bertambah koleksi aku. Hehe,” bisik Fahmi sendirian sambil tersenyum.

Saat tombol ‘kembali’ ditekan, terpapar beberapa puluh folder lagi dengan nama-nama gadis lain selain Elvira.

Bersambung… Di sebuah kamar di lantai 1 gedung kampus, seorang pria sedang asyik menatap layar laptop, memeriksa beberapa dokumen. Sebelumnya, Elvira meminta tolong padanya untuk melihat kertas kerja sambil Elvira keluar membeli minuman.

Sedang asyik membaca butir-butir di dokumen tersebut, matanya tertuju pada taskbar di bagian bawah dan mendapati ada beberapa folder yang terbuka. Entah dari mana datang rasa ingin tahunya, dia pun meninjau folder tersebut. Selain file kerja, ada satu folder yang berisi beberapa album foto.

Timbul rasa nakal untuk memeriksa album tersebut. Siapa tahu dia bisa melihat foto-foto pribadi Elvira. Dia menoleh ke arah pintu. Mungkin Elvira akan lambat tiba di kamar. Lagi pula, layar laptop ini menghadap ke pintu masuk. Kalau Elvira tiba-tiba masuk, dia bisa dengan cepat menutup folder album.

Begitu album pertama dibuka, matanya terbelalak melihat isinya. Tangannya gemetar. Keringat mulai mengalir di kepalanya meskipun ruangan itu dingin.

“GAMBAR BUGIL Elvira??!”

Setiap hari Sabtu, semua mahasiswa di kampus diwajibkan menghadiri kegiatan orgElviraasi. Tidak masalah jenis kegiatan apa pun yang dilakukan mahasiswa asalkan ada catatan agar bisa diberi nilai.

Sebagai sekretaris di Klub Konseling dan Karier (KKK), hari orgElviraasi merupakan hari yang padat. Tidak hanya harus menyusun kegiatan mingguan untuk mahasiswa, tetapi Elvira juga harus merencanakan program besar untuk orgElviraasi. Kampus memberi kelonggaran kepada orgElviraasi apakah ingin mengadakan kamp motivasi, seminar, kunjungan studi, atau program lain.

KKK memutuskan untuk mengadakan kunjungan studi di Kuala Lumpur. Maka dari itu, Elviralah yang paling sibuk di klub mengurus program ini sebagai sekretaris. Klub menunjuk beberapa anggota panitia untuk membantu melancarkan program.

Rizky, teman sejurusan dengan Elvira, juga ikut dalam panitia sebagai AJK Program & Protokol. Dia bertanggung jawab memilih tempat yang akan dikunjungi anggota klub nanti. Jadi Rizky bekerja sama dengan Elvira yang harus menyiapkan semua dokumen untuk dikirim ke tempat yang akan dikunjungi.

Setiap minggu, setelah kegiatan klub selesai, semua panitia mengadakan pertemuan untuk menyampaikan progres. Mengingat hanya tinggal sebulan lagi sebelum program, Elvira dan panitia lain harus lebih teliti dan cermat merencanakan perjalanan mereka.

Setelah 2 jam pertemuan berlangsung, satu per satu panitia pamit pulang. Yang tertinggal hanya Elvira dan Rizky. Mereka harus menyelesaikan surat dan kertas kerja terakhir yang perlu dikirim minggu depan.

Selama 2 bulan, mereka sering menghabiskan waktu bersama dan mulai merasa nyaman satu sama lain. Rizky merasa sangat beruntung bisa mengenal Elvira lebih dekat. Elvira yang terkenal pemalu dan sopan memang menjadi incaran banyak mahasiswa di kampus. Sebab itu, Rizky merasa sangat beruntung bisa bekerja sama dengan Elvira dan mengenal pribadinya lebih dalam.

Meskipun setiap minggu mereka berduaan, tidak pernah terjadi hal di luar batas. Rizky sangat menghormati Elvira yang dianggapnya sangat alim dan berjilbab panjang. Dia sendiri tidak terlalu religius, tetapi tetap menjaga halal haram dan tahu Elvira pun sangat menjaga dirinya.

“Pejal, Elvira mau beli air sebentar ke koperasi. Kamu mau titip apa?” tanya Elvira sambil merapikan meja yang berantakan.

“Hm boleh juga. Belikan saya kopi panas di mesin penjual otomatis sebelah koperasi, bisa?” jawab Rizky yang sebenarnya dari tadi menahan dinginnya AC ruangan.

“Ok. Tunggu sebentar ya? Sambil-sambil tolong lihat kertas kerja ini, siapa tahu ada yang salah,” pinta Elvira. Rizky segera bangun dari kursinya dan menuju ke laptop Elvira di meja. “Ok, no problem.”

Elvira pun keluar dari ruangan, meninggalkan Rizky sendirian. Di luar pintu, Elvira tersenyum nakal. Dalam hatinya berharap rencananya hari ini berhasil.

Sebenarnya sudah lama Elvira merencanakan sesuatu yang nakal. Sejak minggu ke-3, Elvira mulai sadar bahwa Rizky sebenarnya cukup menarik. Tidak terlalu tampan, tetapi tubuhnya cukup kekar dan tinggi. Kulitnya yang sawo matang menambah kesan maskulin. Seringkali Elvira membayangkan rudal Rizky di dalam mulutnya. Dan setiap kali itu pula serambi lempitnya basah.

Sengaja dia membuka folder album pribadinya di laptop itu. Elvira ingin Rizky melihat isi album tersebut dan terangsang padanya. Elvira agak kecewa karena Rizky tidak pernah mengambil kesempatan padanya meskipun mereka sering berduaan. Kali ini, Elvira tidak tahan lagi dan merencanakan sesuatu yang drastis.

Rizky seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Elvira yang berjilbab panjang, cantik, mElvira, dan sopan itu memiliki foto bugil di laptopnya. Berbagai pose menggoda dan vulgar diambil. Rizky semakin berkeringat. Air liurnya ditelan berkali-kali. rudalnya kini keras menegang di balik celananya.

“Fuh, rezeki aku niiii. Tak sangka sundal juga Elvira ini rupanya,” gumam Rizky dalam hati.

Album demi album dibuka. Dari foto di atas ranjang hingga foto di kamar mandi. Close-up lubang serambi lempit, remasan payudara, senggolan jari di dalam serambi lempit, semua jenis gaya ada. Rizky menggosok-gosok rudalnya perlahan. Seakan-akan mau meledak akibat terlalu tegang.

Sedang asyik menikmati foto-foto vulgar itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Terlihat Elvira memasuki ruangan sambil membawa kantong plastik dan secangkir kopi.

Kelabakan, Rizky menutup folder vulgar itu dan membuka kembali dokumen kertas kerja tadi. Berpura-pura bekerja.

“Assalamualaikum. Ini kopi pesananmu, Pejal,” senyum Elvira sambil menyerahkan kopi panas itu kepada Rizky.

“Waalaikumussalam. Ter… terima… terima kasih, Elvira,” jawab Rizky gagap.

Tangannya gemetar menerima kopi. Mulutnya tersenyum kecut. Imej bugil Elvira masih segar dalam ingatannya. Rizky bangun memberi ruang kepada Elvira duduk di tempatnya.

Rizky kini berdiri di sebelah Elvira. Matanya menjilat tubuh Elvira. Kini jilbab panjang Elvira itu tidak lagi mampu menyembunyikan payudaranya. Sebelum ini, Rizky tidak pernah memperhatikan payudara Elvira. Namun kini semuanya seakan terungkap.

Elvira yang duduk di sebelah Rizky mulai menyadari benjolan di celana Rizky. Bibir diketap geram. Ingin sekali dia mencoba memegang benjolan itu. Elvira pun melanjutkan rencananya.

“Sudah periksa dokumen ini?” tanya Elvira sambil mengetik tetikus membuka dokumen.

“Errr… sudah, sudah,” jawab Rizky gagap.

“Tidak ada masalah, ya?” tanya Elvira lagi.

“Insya Allah tidak ada,” jawab Rizky gugup.

Elvira membuka File Explorer di layar dan menekan Quick Access di sebelah kanan atas untuk melihat recent files. Terlihat deretan file foto bugil Elvira di bawah tanda file itu baru diakses.

Mata Rizky terbuntang melihat deretan file itu. Keringatnya mengucur deras. Dia lupa menghapus file di Quick Access! “Matilah aku!” jerit Rizky dalam hati karena ketahuan.

Elvira tertunduk sambil bertanya, “Hmm. Kamu buka file pribadi saya, ya?”

“Bu… buat apa?” jawab Rizky cemas. Ingin rasanya dia melarikan diri sekarang.

“Kamu buka file pribadi saya?” tanya Elvira seraya menoleh ke arah Rizky. Matanya tajam, kening berkerut. Elvira mencoba membuat wajah garang seakan marah dengan perbuatan Rizky.

Rizky melangkah mundur. Kakinya ingin melangkah lari keluar, tapi tidak berdaya. Lututnya gemetar. Rizky mencoba menyangkal, “Ma… mana ada!”

“Kalau begitu, ini apa?” Elvira memegang benjolan keras di celana Rizky. Alangkah terkejutnya dia ketika pen**snya digenggam kuat oleh Elvira.

“Kenapa keras ini?” tanya Elvira lagi sambil menggosok-gosok pen**s Rizky. “Kamu lihat ini tadi?” lanjut Elvira sambil menekap tangannya di payudara. Tersembul dua bukit di balik jilbab panjangnya.

Menyadari pen**s Rizky semakin mengeras, Elvira semakin galak meremas payudaranya.

“Kamu mau saya laporkan ke dosen? Kalau begini, saya rasa mereka lebih percaya saya daripada kamu,” ancam Elvira.

“Ahhh. Hmm, mau… lapor apa?” tanya Rizky yang semakin kehilangan kendali.

“Saya akan beritahu kalau kamu coba mencabul saya,” ujar Elvira sambil menggenggam kuat rudal Rizky.

“Ahhh. Aduh.. Aduh. Jangan.. Jangan lapor!” jawab Rizky pasrah.

“Jadi… Kamu harus ikut kata-kata saya. Oke?” Wajah nakal Elvira tersenyum ceria.

Elvira menuju ke pintu masuk dan mengunci pintu. Sepatu Rizky disembunyikan ke dalam kotak di samping pintu, khawatir kalau ada yang masuk ke ruangan. Elvira lalu kembali ke arah Rizky yang berdiri kaku.

Mata berkedip nakal dan Elvira pun berlutut di depan Rizky. Kancing dibuka dan ritsleting diturunkan lalu celana dilucuti. Elvira mengusap-usap rudal keras yang masih dibalut celana dalam putih.

“Kamu rileks saja, ya?” ujar Elvira sambil menatap mata gugup Rizky. Lalu ditanggalkan celana dalamnya dan terpacaklah rudal keras itu. Bibir Elvira terkepal melihat rudal di depan matanya itu, hampir meleleh air liurnya.

Elvira mulai memegang batang rudal itu dan mengusap perlahan-lahan sambil menghirup aromanya sepuasnya. Dicium-cium rudal itu dari kepala hingga pangkal.

Rizky gemetar menahan kenikmatan. Seakan-akan tidak percaya gadis seayu dan sesopan Elvira sedang berlutut bermain dengan rudalnya. Pertama kali merasakan nikmat tangan seorang gadis memegang kemaluannya. Melancap pun jarang-jarang, hanya ketika tidak mampu menahan nafsu.

Setelah puas mencium dan menghirup, Elvira pun langsung memasukkan rudal ke dalam mulutnya. Rizky melongo, tak menyangka Elvira akan menghisap rudalnya. Suaranya terlepas karena terlalu nikmat, “AHHH. HMMMM~”

Pertama kali juga Rizky merasakan nikmat blowjob. Ratusan kali lebih nikmat dari melancap menggunakan tangan. Lututnya bergoyang-goyang seperti hendak terjatuh. Elvira yang sedang asyik mengulum tidak menghiraukan keadaan Rizky.

“Ahhh, Elvirass. Sssss. Ahhh. Saya… Ahhh. Saya mau terjatuh,” kata Rizky tersekat-sekat.

Awalnya Elvira mengabaikan rayuan Rizky. Dihisap-hisap rudal itu dengan rakus. Saat asyik menghisap, Rizky tiba-tiba hampir terjatuh. Untung dia sempat berpegangan pada meja, sehingga rudalnya terlepas dari mulut Elvira.

“Hmm kan saya sudah bilang. Mau terjatuh,” kata Rizky malu.

“Ish kamu ini. Pergilah duduk di kursi itu. Cepat!” arah Elvira tegas. Nafsu Elvira terganggu.

Begitu Rizky melabuhkan punggungnya, Elvira langsung berlutut di celah kakinya dan mencapai rudal Rizky lalu melanjutkan hisapan. Kali ini lebih rakus. Tangannya mengocok-ngocok batang itu sambil sesekali meremas kantung testis Rizky.

Rizky yang tersandar hanya bisa mendesah, “Elvirasss. Ahhh. Elvirassss enak banget.”

Elvira tidak menghiraukan panggilan Rizky. Rindunya pada rudal dilepaskan sepuasnya. Meski rudal Rizky tidak sepanjang Fahmi, namun ini sudah cukup. rudal tetap rudal. Tangannya memutar-mutar saat mengocok rudal Rizky.

Tangan Rizky mulai memegang kepala Elvira. Dia bisa merasakan rudalnya akan memancurkan benih tak lama lagi. Rizky mencoba mendorong kepala Elvira perlahan, namun Elvira tetap keras kepala tidak mau melepaskan.

“Elvirasss. Ahhhh. Please, Elvirasss. Hmmm ssssss ahhh. Kalau… terus begini… nanti saya… ahhhhh… terpancuttt…” Rizky sudah tidak bisa berbicara dengan lancar. Matanya hampir terpejam karena nikmat, merasa seperti di awang-awang.

Semakin lama Elvira semakin cepat menghisap. Kepala Elvira terangguk-angguk mengerjakan rudal Rizky. rudal semakin mengembang. Dia tahu Rizky akan memancurkan benihnya sebentar lagi. Elvira semakin cepat menghisap sambil tangannya menggoncang dan memutar rudal.

Batang Rizky begitu licin dengan air liur Elvira yang menetes. Rizky sudah tidak tahan lagi. Pantatnya terangkat, mengejutkan Elvira ketika rudal Rizky menujah lebih dalam ke mulutnya.

“AHHHHHHH. ElviraSSS. AHHHHHH!” teriak Rizky sambil memancurkan air maninya ke tenggorokan Elvira. Matanya terpejam, merasakan nikmat klimaks hingga ke kepala. Ngocoks.com

Elvira mencoba menahan semburan air mani Rizky namun tidak mampu. Dilepaskan rudal dari mulutnya, air mani Rizky melimpah ke bibir dan dagu. Elvira cepat-cepat menahan air mani tersebut dengan jari dan memasukkannya kembali ke dalam mulutnya.

Rizky yang sudah membuka mata melihat Elvira yang berada di celah kakinya. Terkejut melihat Elvira menakung air maninya di dalam mulut. Elvira sengaja menunggu Rizky melihatnya begitu, kemudian menelan semuanya dalam sekali telan.

Rizky menggeleng-gelengkan kepala melihat aksi yang baginya menjijikkan namun membuatnya terangsang. Belum sempat dia melepaskan lelah, Elvira kembali mengulum rudalnya yang setengah tegang. Terasa ngilu rudalnya dihisap setelah klimaks.

Elvira menjilat keseluruhan batang Rizky, membersihkan sisa-sisa air mani. Sayang jika dibuang begitu saja. Lagi pula, air mani Rizky sangat kental dan lezat. Mungkin jarang dikeluarkan, pikirnya.

“Ok, sudah,” ujar Elvira tersenyum puas sambil bangun dari berlutut.

“Ermm… Errr… Ok,” jawab Rizky yang masih sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi. Rizky menaikkan kembali celana dalam dan celananya. Tali pinggang dikencangkan dan dia pun bangun dari kursi.

Tiba-tiba Elvira mencium bibirnya lama. Rizky yang tidak pernah mencium siapa pun sebelumnya kaku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Elvira melepaskan bibirnya dan tertawa.

“Kamu belum pernah mencium perempuan, ya?” tanya Elvira.

“Errr… Tidak,” jawab Rizky singkat.

“Jadi tadi juga pertama kali?” tanya Elvira sambil menahan tawa.

“Errr. I.. Iya. Pertama kali,” jawab Rizky sambil menundukkan kepala malu.

“Hehe. Ok lah. Saya pulang dulu, ya?” kata Elvira sambil menutup laptopnya dan memasukkan semua barang ke dalam tas ranselnya. Rizky hanya berdiri melihat Elvira berkemas.

“Ok Pejal, baiii,” Elvira melambai tangan tersenyum dan menuju ke pintu. Sepatu dipakai dan pintu dibuka. Elvira cepat berlalu tanpa sedikit pun menghiraukan Rizky.

“Bye,” jawab Rizky terlambat. Otaknya sedang bercelaru memproses dan memahami apa yang baru saja terjadi. “Mustahil.” Rizky masih belum bisa menerimanya.

Bersambung… Sejak kejadian mengejutkan itu, Rizky semakin malu mendekati Elvira. Setiap kali mereka bertemu, Rizky cepat-cepat mengalihkan pandangan ke tempat lain. Setiap kali melihat wajah Elvira, terbayang peristiwa di ruang operasi klub. Batangnya mengeras di balik celana dalamnya.

“Firs, kenapa si Rizky gelagapan setiap kali lihat kamu?” tanya Alya saat mereka berdua sarapan di kafe.

“Entahlah, Alya. Sejak Sabtu lalu dia jadi aneh,” jawab Elvira yang sengaja merahasiakan kejadian sebenarnya.

“Jangan-jangan dia suka sama kamu?” tebak Alya.

“Hmm, mungkin. Hehe,” jawab Elvira sambil tersenyum.

Setelah selesai sarapan, mereka bergegas ke kelas. Hari itu jadwal mereka sangat padat.

……

“Ahhhhh. Capeknyaaa,” ujar Elvira begitu mereka sampai di kamar.

Elvira langsung menuju lemari dan membuka hijabnya. Alya merebahkan diri di atas kasurnya. Dia membuka hijab sambil berbaring, merasa malas untuk melakukan apa pun.

Saat Alya termenung memandang langit-langit, kepalanya menoleh ke arah Elvira yang sedang berganti pakaian. Elvira membelakangi Alya, jadi Elvira tidak menyadari dirinya diperhatikan.

Gaun abaya yang dikenakan Elvira dilurutkan setelah membuka ritsleting belakang. Di dalamnya, Elvira masih mengenakan kaos dan celana olahraga. Setelah gaun digantung, Elvira mulai melepaskan kaosnya dan hanya mengenakan bra. Kemudian celana olahraga pun dibuka.

Kini Elvira hanya memakai pakaian dalam. Alya yang dari tadi hanya memperhatikan saja tingkah laku Elvira.

“Weh, kamu nggak mau ganti baju?” tanya Elvira yang baru sadar akan gelagat Alya.

“Oh. Err. Nanti aja, Elvira,” jawab Alya sambil mengalihkan pandangan. Dalam hatinya mulai sadar akan apa yang dilakukannya tadi. Kenapa dia ingin melihat perempuan ganti baju, seperti laki-laki genit saja.

Elvira menghampiri Alya dan duduk di kasur. Dia mengenakan singlet polos dan celana pendek. Entah kapan Elvira melepas bra-nya, Alya pun tidak menyadarinya.

Alya menghadap Elvira. Wajahnya tepat di depan payudara Elvira. Matanya sedikit terbelalak melihat puting yang terlihat di balik singlet.

“Eii Elvira. Kenapa nggak pakai bra? Kelihatan putingnya,” ujar Alya sambil menunjuk ke arah payudara Elvira.

“Hehe. Panas. Malas pakai. Lagipula, di kamar ini cuma ada kamu,” jawab Elvira santai.

Alya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Meski di luar sana Elvira terkenal dengan imej alimnya, di dalam kamar ini hanya Alya yang tahu bagaimana Elvira sebenarnya.

Elvira hanya memeriksa ponselnya melihat apakah ada pesan yang masuk. Selain dari Fahmi, ada satu pesan dari Rizky. Elvira membaca satu per satu pesan yang masuk.

Alya dari tadi hanya memandang tubuh Elvira. Elvira sadar teman baiknya memperhatikannya namun tidak menghiraukannya.

“Hmm. Elviras,” panggil Alya tiba-tiba memecah kesunyian.

“Ya, kenapa?” jawab Elvira sambil menatap mata Alya.

“Untung ya kamu.”

“Untung kenapa?”

“Badan kamu seksi. Beda sama aku yang pendek dan nggak punya bentuk,” kata Alya sedikit cemberut.

“Eh, nggak juga. Sama aja kayak kamu. Aku cuma lebih tinggi sedikit,” kata Elvira sambil meletakkan ponselnya di samping.

“Tetap aja. Badan aku nggak seksi. Hmm.” Suaranya semakin pelan.

“Babe, kenapa sih? Ceritain ke aku,” pujuk Elvira yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Alya.

“Hmm. Nggak ada. Pacarku itu,” Alya memulai cerita.

“Kenapa dengan Irwan?” tanya Elvira.

“Minggu lalu aku jalan sama dia, kan? Sebenarnya… Hmm.” Kalimat Alya terhenti.

“Sebenarnya apa?” tanya Elvira yang semakin penasaran.

“Hmm. Kamu janji jangan cerita ke siapa-siapa ya?”

“Ish, iya aku janji. Aku kan sahabat kamu,” janji Elvira sambil merebahkan badannya di sebelah Alya.

Kini mereka berbaring berhadapan. Mata mereka sejajar. Elvira tahu Alya ingin memberitahunya sesuatu yang penting.

“Aku… aku sebenarnya… Hmm. Aku sebenarnya check-in sama Irwan hari itu,” tutur Alya sambil menunduk malu.

“Hah? Serius?” tanya Elvira yang sedikit terkejut.

“Iya, nis. Hmm.”

“Terus kalian ngapain aja?”

“Hmm… Ada…”

“Kalian ngapain?”

“Kami main-main ringan.”

Elvira merasa terangsang mendengar cerita Alya. Dia ingin tahu apa yang terjadi sehingga Alya merasa sedih begitu.

“Aku nggak kasih masuk karena takut. Jadi aku cuma hisap-hisap aja,” cerita Alya malu-malu. Wajahnya kini merah menahan malu.

Elvira hanya diam menunggu Alya menceritakan lebih lanjut.

“Tapi aku nggak bisa hisap. Irwan jadi marah sama aku.”

“Loh, marah gimana?”

“Dia bilang aku nggak bisa memuaskan dia. Ya wajar. Ini pertama kali aku. Mana aku tahu urusan begitu.”

Saat ini, matanya mulai berkaca-kaca. Air matanya ditahan agar tidak keluar.

“Kamu sayang dia nggak?” tanya Elvira tiba-tiba. Alya mengangkat wajahnya perlahan dan air matanya mulai pecah.

“Ya Virrr. Aku sayang banget sama dia,” ujar Alya sambil menangis teresak-esak.

Elvira mencoba memeluk Alya erat-erat. Alya menangis sepuas-puasnya di bahu Elvira. Elvira memberi Alya waktu untuk melepaskan segala perasaan yang dipendam.

Tangannya mengusap-usap punggung Alya, mencoba menenangkan tangisannya. Semakin lama suara tangisan Alya semakin pelan. Setelah reda, Elvira melepaskan pelukannya.

“Babe, sekarang ini apa yang kamu rasakan?” tanya Elvira.

“Rasa apa?” tanya Alya kembali.

“Rasa kamu, marah atau malu karena nggak bisa puaskan Irwan?”

“Hmm. Bercampur aduk, nis. Aku nggak tahu.”

“Kamu sayang banget sama dia? Sanggup lakukan apa saja untuk dia?”

“Ya, nis. Aku sanggup.”

“Aku ajarin kamu mau?”

Terbelalak mata Alya mendengar pertanyaan Elvira.

“Aa… Ajarin? Ajarin gimana?”

Alya bangun dan duduk. Matanya memandang langsung ke mata Elvira, wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan.

“Apa? Ajar apa, Elvira?” tanya Alya sedikit gagap. Pikirannya membayangkan sesuatu yang erotis. Masa Elvira mau mengajar hal-hal seperti itu.

Elvira menarik tangan Alya dan menyuruhnya kembali berbaring menghadapnya. Alya hanya mengikuti.

Kini mereka kembali berhadapan satu sama lain. Wajah Alya mulai merah padam.

“Kamu sayang Irwan kan? Jadi kamu harus tahu apa yang membuatnya bahagia,” Elvira memulai pembicaraan.

“Emm. Aku sayang dia sepenuh hati, Vir,” jawab Alya yakin.

“Jadi, hal yang paling penting, kamu harus bisa memuaskannya,” lanjut Elvira.

“Tapi aku nggak bisa,” ujar Alya kembali murung.

“Makanya aku mau ajarin kamu.”

“Ajarin apa?”

“Ajarin cara memuaskan Irwan.”

Alya masih tidak percaya bahwa kata-kata itu keluar dari mulut sahabat baiknya, seorang gadis muslimah yang selalu menjaga penampilan alim di luar.

“K… Kamu mau… Ajarin gimana?”

“Pertama-tama aku mau ajarin kamu ciuman.”

Elvira mendekatkan wajahnya ke Alya. Keringat mulai membasahi wajah Alya. Hatinya berdebar kencang. Matanya dipejamkan rapat.

Satu tekstur lembut menyentuh bibir Alya. “Chuppp.” Elvira memberikan satu ciuman.

“Irwan pernah cium kamu?”

“Emm. Pernah. Tapi sebentar saja karena dia bilang aku nggak bisa.”

“Kamu bayangin aku Irwan,” kata Elvira lalu mencium bibir Alya lagi. Namun Alya masih kaku.

“Kamu harus buka sedikit mulutmu.”

Elvira menyentuh bibir Alya dan membuka sedikit ruang di antara bibirnya.

“Oke, saat aku cium, muncungin sedikit bibirmu seperti cium pipi,” ajar Elvira.

Bibir mereka bertaut lagi. Kali ini bibir Alya siap menyambut bibir Elvira. Alya mengikuti apa yang diajarkan sahabatnya itu dengan patuh.

Kemudian Elvira mencium bibir atas dan bawah, diikuti oleh Alya. Setelah satu menit berciuman, bibir mereka terlepas.

“Sudah paham?” tanya Elvira kepada Alya yang wajahnya sudah merah padam. Dia hanya mengangguk perlahan.

“Oke sekarang, saat berciuman, keluarkan sedikit lidahmu. Belajar seperti aku.”

Bibir bertaut lagi. Alya mengeluarkan sedikit lidahnya seperti yang disuruh Elvira.

Begitu lidah keluar, Elvira langsung mengulum dan pada saat yang sama, bibir masih berciuman. Kadang dilepaskan lidah, dijilat sedikit bibir bagian dalam.

Kemudian Elvira mengeluarkan lidahnya dan dikulum Alya seperti yang dilakukan Elvira tadi.

Saat itu, terasa seperti ada perasaan menjalar dalam diri Alya. Dia mulai khusyuk berciuman. Suara mereka dilepaskan dengan manja.

“Bisa kan?” tanya Elvira.

“Hmm. Hehe.” Alya tersenyum malu. Seperti anak kecil yang dipuji pandai.

Elvira kembali menyambar bibir Alya dan memegang kepalanya agar ciuman lebih kuat. Nafas Alya mulai tidak teratur.

Begini rasanya nikmat berciuman. Pacarnya yang dulu tidak pernah mengajarkan ciuman seperti ini. Irwan pun tidak mau mengajarinya.

Tiba-tiba badan Alya terpelanting ke belakang. Dia merasakan payudaranya disentuh.

“Aa… Elvirass. Jangan sampai seperti ini…,” ujar Alya kaget.

“Kamu harus bayangin aku ini Irwan. Dia pasti akan melakukan ini nanti.”

“Tapi, nis…”

“Tidak ada tapi-tapi.”

Kali ini Elvira mencium dengan rakus. Alya memejamkan mata ketakutan. Sebenarnya Elvira sudah lama terangsang dan serambi lempitnya sudah basah sejak tadi.

Payudara Alya diraba perlahan. Alya hanya menahan perasaan serba salahnya.

Setelah tidak ada tolakan dari Alya, Elvira mulai meremas payudara perlahan. Alya merasakan sensasi di titik putingnya. Semakin lama semakin menegang di balik baju kurung dan bra.

Alya mencoba fokus pada gerakan bibirnya sementara Elvira mulai menyelinap masuk ke dalam baju dan mencari payudara.

Elvira menyelipkan tangan ke dalam bra Alya dan menggentel puting keras tersebut. Desahan mulai keluar dari mulut Alya.

Alya hanyut dalam gelora nikmat. Tidak lagi memikirkan tentang hubungan sejenis yang terlarang. Nikmat!

Kemudian Alya merasakan ada cairan mengalir di serambi lempitnya. Rasa gatal di klitorisnya. Berdenyut-denyut.

Dia ingin menyentuh serambi lempitnya tetapi Elvira menghalang. Tangan Elvira mulai menjalar ke bagian bawah Alya. Diusap serambi lempitnya dari luar kain. Ngocoks.com

Alya mengerang keras. Tidak pernah ada orang lain menyentuh bagian sulitnya. Padahal sebenarnya sejak lama Elvira sudah menodainya tanpa sadar.

Kain baju kurung Alya disingkap ke atas. Celana dalamnya sudah basah dengan cairan mazi.

Elvira tidak menunggu lama. Tangannya langsung menyelip masuk ke dalam mencari klitoris.

Begitu biji Alya disentuh, badannya menggelinjang seperti terkena sengatan listrik.

Kini tiga titik sensitifnya dimainkan bersamaan. Bibirnya yang dari tadi dicium, putingnya yang digentel tangan kiri Elvira, dan serambi lempitnya yang digosok tangan kanan Elvira.

Kepalanya seperti akan meledak dengan kenikmatan tak terhingga. Semakin lama nafsunya semakin memuncak.

Melihat reaksi Alya yang tidak keruan, Elvira mempercepat lancapannya. Punggung Alya bergetar kesedapan.

Akhirnya klimaks tercapai dan punggungnya terangkat tinggi. Alya menjerit-jerit merasakan klimaks yang belum pernah dirasakannya.

Matanya terpejam. Keningnya berkerut-kerut. Berkali-kali badannya terangkat. Elvira perlahan-lahan melepaskan Alya dan menikmati pemandangan indah di depannya.

Tidak lama kemudian, Alya tertidur tidak sadar. Terlalu lelah.

Elvira hanya tersenyum nakal…

Bersambung… Alya membuka matanya perlahan. Dia tidak sadar kalau dia tertidur lama di atas kasurnya. Pandangannya terpaku ke langit-langit kosong. Antara ingat dan tidak ingat apa yang terjadi tadi. Badannya terasa sedikit pegal. Alya bangun perlahan dan duduk.

Dia tidak tahu sudah jam berapa sekarang. Dia menoleh ke arah jendela. Gelap. Tangannya meraba-raba mencari ponselnya di atas kasur. Begitu ponsel diraih, Alya melihat jam yang tertera di layar. 8.30 malam. Dia pulang ke kamar tadi jam 4.30 sore. Lama sekali dia tertidur.

“Haa, bangun juga kamu,” tegur Elvira yang sedang duduk di meja belajarnya. Lamunan Alya terhenti seketika mendengar suara teman sekamarnya itu.

“Lama banget aku tidur, Vir. Kenapa nggak bangunin aku tadi?” tanya Alya dengan suara lemah.

“Aku lihat kamu capek banget. Nggak tega bangunin. Kasihan,” jawab Elvira.

Alya perlahan-lahan bangun untuk pergi mandi membersihkan diri. Tiba-tiba celah selangkangannya terasa ngilu. Saat disentuh bagian bawahnya itu, barulah Alya teringat apa yang terjadi sebelum dia tidur tadi. Alya segera menoleh ke arah Elvira. Elvira sedang asyik menjawab soal dari buku seperti tidak ada apa-apa yang terjadi.

“Aa… Elviras,” panggil Alya dengan suara terputus-putus.

“Ya, kenapa?” jawab Elvira sambil menoleh ke arah Alya.

“Aa.. ap… Apa yang terjadi tadi?” tanya Alya nekad.

“Alya, kamu mandi dulu, ya. Nanti kita ngobrol,” kata Elvira segera mematikan pembicaraan.

Alya menurut dan bangun mengambil handuknya lalu segera menuju ke kamar mandi.

Begitu terdengar suara air di kamar mandi, Elvira segera merapikan mejanya dan duduk di tepi kasur Alya menunggunya selesai mandi.

Sepuluh menit berlalu. Alya keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Elvira memerhatikan setiap gerak tubuh Alya. Kali ini tidak perlu lagi dia menyembunyikan perlakuannya dari Alya.

“Kenapa kamu lihat aku begitu? Malu, tahu,” ujar Alya yang segera mengenakan singlet dan celana pendek. Pakaian dalam tidak dipakai seperti biasa. Malam hari di kamar, Alya lebih nyaman begitu.

Elvira yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangan, hanya tersenyum. Dia merasa senang karena kali ini secara terang-terangan dia bisa memperhatikan Alya berpakaian.

Setelah selesai semuanya, Alya pun mendekati Elvira dan duduk di sebelahnya. Mata mereka bertemu. Alya segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

Elvira memegang tangan kiri Alya dan mengusapnya perlahan.

“Bagaimana perasaanmu sekarang? Oke?” tanya Elvira memulai pembicaraan.

“Emm. Oke. Tapi badanku sedikit pegal,” jawab Alya kembali menatap mata Elvira.

“Pertama kali ya kamu merasakan begitu?”

“Err. Iya. Belum pernah sebelumnya.”

Wajah Alya mulai merah saat mengingat peristiwa tadi.

“Itu normal. Nanti lama-lama biasa saja tubuhmu.”

“Tapi aku malu, Vir.”

“Malu kenapa?”

“Ya, aku perempuan. Kamu juga…”

“Iya, aku juga perempuan.”

“Tapiii…”

Belum sempat Alya menyelesaikan kalimatnya, Elvira meletakkan jari telunjuknya di bibir Alya.

“Nanti dengan Irwan, lebih malu kan?”

“Emm. Tapi Irwan laki-laki. Pasti malu.”

“Dengan aku kamu nggak perlu malu, Alya. Kita sama-sama perempuan.”

“Hmm…”

Alya kini hanya tertunduk. Tidak tahu apa lagi yang ingin dikatakan. Elvira mengangkat dagu Alya mencoba memujuk.

“Tapi tadi enak nggak?”

“Emm… Se.. enak.”

Elvira tertawa kecil melihat reaksi teman baiknya itu. Jarum halus mulai dicucukkan untuk memujuk Alya.

“Tau juga enak. Hehehe.”

Lidah Alya kelu. Tidak tahu apa yang hendak dibalas.

“Dari mana kamu belajar semua ini, Vir?”

“Adalah. Hehe.”

“Tapi kamu… Kamu terlihat…”

“Terlihat alim?”

Sekali lagi kalimatnya terpotong. Alya mengangguk perlahan. Matanya menatap dalam ke mata Elvira.

“Aku ini tidak sebaik yang kamu kira, Alya,” Elvira memulai cerita.

“Aku memang dari keluarga baik-baik. Ayahku ustaz. Ibuku guru sekolah. Saudara-saudaraku juga semuanya baik-baik.

Tapi, Alya. Mereka tidak tahu kisahku. Apa yang terjadi padaku sejak aku kecil.”

“Kenapa, Vir? Apa yang terjadi?” Alya tertarik dengan cerita Elvira.

“Aku sejak umur 6 tahun sudah dicabul.”

“HAA??? Serius, Vir?”

“Iya. Tetangga aku, umurnya 4 tahun lebih tua dariku. Dulu setiap pulang dari TK, aku menunggu di rumah dia sambil menunggu ibuku pulang sore itu.

Kak Farida namanya. Baik orangnya. Tapi aku tidak tahu kalau semua yang dia lakukan padaku itu tidak benar. Masih kecil, Alya. Mana bisa berpikir.”

Wajah Alya serius mendengar kisah kelam Elvira yang baginya sangat mengejutkan. Alya tidak berani menyela. Wajah Elvira yang tadi ceria kini muram.

“Dia selalu menyuruh aku telanjang saat kami berdua-duaan. Dia juga telanjang. Dia suruh aku meremas payudaranya, menghisap putingnya. Dia kelas 4 SD tapi payudaranya sudah cukup besar bagiku waktu itu.

Aku ingat dia bilang dia sakit, jadi aku harus membantu. Sumpah waktu itu aku ikut saja apa yang dia suruh.”

Air mata mulai menetes dari mata Elvira. Memori pahit yang dialaminya sangat pedih saat diingat kembali.

Mata Alya sudah berkaca. Dia menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia tidak mau menangis di depan Elvira. Dia merasa harus kuat. Elvira membutuhkannya. Lagi pula ini yang ingin dia ketahui tadi.

Elvira mengelap air matanya di pipi dan melanjutkan cerita, “Yang paling menjijikkan saat dia suruh aku menjilat serambi lempitnya.

Hancing, bau. Tapi dia janji mau memberi aku kue coklat. Jadi, aku lakukan saja apa yang dia suruh.

Setelah itu dia mainkan serambi lempitku, menggentel klitoris. Awalnya tidak ada rasa apa-apa. Tapi hampir setiap hari seperti itu, aku mulai merasa enak.

Dia juga suruh aku masukkan pensil ke serambi lempitnya. Untung dia tidak masukkan ke aku juga.”

Tanpa sadar, air mata Alya sudah bercucuran. Tidak menyangka begitu dahsyat penyiksaan yang dilalui Elvira.

“Elvirass,” Alya memeluk erat tubuh Elvira, tidak tahan lagi mendengar ceritanya.

“Maafkan aku, Vir. Aku tidak tahu sampai begini yang kamu alami,” kata Alya sambil menangis di bahu Elvira.

“Tidak apa, Alya. Sudah lama aku pendam cerita ini. Tidak ada seorang pun yang tahu kisahku. Aku lega akhirnya bisa meluapkan ke seseorang,” ujar Elvira sedih.

Pelukan dilepaskan. Alya menghapus air mata Elvira. Elvira juga mengelap air mata Alya dengan ibu jarinya.

“Sekarang dia di mana?”

“Tidak tahu di mana. Waktu dia SMP, dia masuk asrama. Dan setelah itu aku ikut keluargaku pindah karena ibuku dipindahkan ke Bekasi.

Sejak itu aku butuh belaian. Aku jadi ketagihan. Aku mulai belajar melancap. Tapi aku tidak puas.

SMP kelas 1, aku masuk asrama. Di situlah aku mulai aktif dengan hubungan sejenis. Aku menemukan geng yang seperti aku.

Dan kelas 3 SMP, aku mulai punya pacar. Kami berhubungan berkali-kali. Aku yang mengajarinya macam-macam. Aku ketagihan rudal saat itu. Tapi aku masih suka perempuan. Orang menyebutnya ‘Bisex’.”

“Ohh, aku pernah dengar. Tidak menyangka aku ada juga seperti ini,” ujar Alya menggeleng kepala.

“Ada, Alya. Ini di depan kamu contohnya. Hahaha!” Elvira tertawa yang sudah kembali normal.

“Ish, kamu ini Elvira. Bisa-bisanya tertawa. Orang sedang sedih ini,” cemberut Alya.

Suasana berubah menjadi ceria. Elvira pandai mengubah emosinya. Tidak ingin terlalu sedih terbawa kisah lamanya. Hidup harus diteruskan.

“Terima kasih, Alya. Sudah mau mendengar curhatanku,” ucap Elvira senang.

“Aku kan sahabat baikmu. Apa pun masalahnya, ceritain aja ke aku ya?” balas Alya sambil memegang bahu Elvira.

Elvira terharu mendengar kata-kata Alya itu dan mencium pipi Alya sebagai tanda terima kasih.

“Eiii. Kenapa cium-cium pipi orang, nggak malu apa?” kata Alya terkejut dengan ciuman yang diterimanya.

“Kan kamu yang ngajarin aku tadi. Begini nih,” lanjut Alya dan langsung mencium bibir Elvira.

Elvira terkejut dengan tindakan Alya.

“Apa nih? Tadi kamu yang ngajarin. Sekarang malah kamu yang nggak bisa cium?” ujar Alya sambil menantang Elvira.

Tanpa membuang waktu, Elvira menyambar kembali bibir Alya dan mereka tenggelam dalam ciuman yang penuh gairah.

Sejak kejadian hari itu, hubungan Elvira dan Alya semakin erat. Mereka lebih mesra ketika bersama, baik di dalam kamar maupun di luar. Teman-teman mereka tidak mencurigai apa-apa karena mereka memang bersahabat sejak semester pertama.

Dan lumrah bagi perempuan, bermanja-manja antara satu sama lain tidak akan dipandang aneh oleh orang sekeliling. Bahkan terlihat sweet ketika mereka berkelakuan begitu. Jadi, tidak ada masalah bagi mereka untuk lebih mesra.

Alya kini semakin terbuka tentang seks. Walaupun seks sejenis, bagi Alya itu adalah salah satu cabang dalam seks. Meski dia sangat suka disentuh Elvira, perasaannya terhadap laki-laki masih kuat. Mungkin inilah yang disebut biseksual.

Pada suatu pagi, di dalam ruang kuliah, Alya merasa terangsang. Malam sebelumnya mereka sibuk menyiapkan tugas yang diberikan oleh dosen. Karena tugas itu adalah tugas kelompok, beberapa teman mereka juga ikut berkumpul di kamar mereka selama seminggu ini. Hal ini membuat mereka kesulitan untuk saling membelai satu sama lain.

“Psst… Elvirass…,” bisik Alya kepada Elvira yang sedang serius mendengarkan kuliah di sebelahnya.

“Ada apa?” jawab Elvira pelan.

“Basah…,” ujar Alya yang membuat kening Elvira terangkat.

“Ishhh, kita lagi di kelas,” Elvira berbisik lebih dekat, takut teman mereka yang lain mendengar.

“Pleaseeee,” mata Alya dibundarkan secomel mungkin dengan harapan Elvira tergoda.

“Jangan buat masalah, Alya. Pak Ibrahim itu galak,” tegas Elvira yang tidak mau meladeni kelakuan sahabat baiknya itu. Di dalam hatinya campur aduk perasaan bangga dan kesal karena telah mengubah Alya yang polos menjadi gadis yang ketagihan seks.

Tiba-tiba Alya mendorong kursinya dan berdiri sambil mengangkat tangan. “Pak Ibrahim, saya mau izin ke toilet sebentar ya?” ujar Alya sambil menarik lengan Elvira yang masih terkejut dengan permintaan Alya tadi.

“Baik, 5 menit saja,” jawab Pak Ibrahim singkat.

Alya langsung menarik Elvira berdiri dan Elvira pun menurut. Baru beberapa langkah menuju pintu, Pak Ibrahim menegur, “Hai, yang minta izin satu orang, tapi yang pergi dua orang?”

Langkah mereka terhenti. Elvira menelan ludah, gugup. Matanya memandang tepat ke mata Alya, memberi isyarat bahwa dia tidak mau pergi.

“Err, ini urusan perempuan, Pak. Maaf. Elvira harus menemani saya,” alasan Alya.

“Ohh, err oke. Pergilah,” jawab Pak Ibrahim sedikit panik. Dia mengira Alya mungkin sedang datang bulan dan butuh bantuan Elvira.

Dengan cepat mereka berjalan keluar menuju toilet di ujung blok. Alya menoleh ke belakang dan memberikan senyuman nakal kepada Elvira. Elvira hanya menggelengkan kepala, tidak percaya dengan apa yang baru mereka lakukan.

Setibanya di toilet, Alya memeriksa setiap pintu untuk memastikan tidak ada orang di situ. Mereka masuk ke toilet paling ujung dan mengunci pintu.

Kini hanya mereka berdua di ruang sempit itu. Mereka berdiri berhadapan. Nafas mereka sedikit terengah karena berjalan cepat tadi.

Elvira menyandarkan Alya ke dinding. Wajah mereka dirapatkan. Nafas yang tadi cepat karena lelah, kini berubah menjadi nafas penuh gairah. Mata Elvira menatap tajam mata Alya.

Elvira mulai mencium bibir Alya dengan penuh gairah. Alya membalas ciumannya dengan kasar. Dendam selama seminggu dilepaskan di bibir. Suara ciuman mereka sedikit bergema di toilet yang kecil itu.

Alya menjulurkan lidahnya dan disambar Elvira. Lidahnya dihisap sambil tangannya meremas kepala bertudung Alya. Lidah mereka saling bergantian dihisap. Air liur mereka menetes membasahi pipi dan dagu masing-masing.

Kemudian Elvira melepaskan bibir mereka dan turun perlahan ke bagian dada. Payudara Alya diramas di balik hijab shawl yang membalut tubuhnya. Kepala Alya terdongak ke atas menahan gelora nafsu.

Baju kurung Alya disingkap ke atas, memperlihatkan perutnya dan sedikit bra. Elvira menjilat tubuh Alya dari pinggang hingga ke bawah dada. Diulang beberapa kali.

Elvira kemudian berdiri kembali dan memeluk tubuh Alya erat. Bibir mereka bersatu lagi. Kepala Elvira sedikit dimiringkan dan bibir mereka saling menghisap satu sama lain. Sambil tangan mereka menjelajah meraba seluruh tubuh.

Elvira menarik kembali baju kurung Alya ke atas hingga memperlihatkan payudaranya. Elvira menunduk dan mencium pangkal payudara Alya. Dihirup semahunya. Wangi sabun mandi pagi tadi masih tercium meski hari sudah beranjak petang.

Dihirup semahunya payudara Alya tersebut. Kemudian Elvira menarik bra ke bawah dan tersembullah payudara ranum 34B Alya. Elvira langsung menyerang puting yang sudah keras sejak tadi.

Dijilat-jilat puting Alya dan disedot dengan gairah. Alya hanya bisa bersandar dan menikmati lidah Elvira di payudaranya. Puting kiri dan kanan dihisap bergantian. Sambil tangan Elvira meremas kuat payudara.

Elvira mendongak ke atas dan menatap wajah Alya. Elvira menjeling nakal sambil menjilat-jilat puting. Ini membuat Alya semakin berahi. Cairan mazi sudah mengalir di celah paha. Celana dalamnya sudah basah tak mampu menahan cairan yang keluar.

Elvira tidak mau berlama-lama. Sudah 5 menit sejak mereka keluar dari ruang kuliah. Jika terlalu lama, mungkin akan menimbulkan kecurigaan dari Pak Ibrahim.

Rok Alya diturunkan hingga ke lutut. Elvira tidak begitu terkejut melihat celana dalam Alya yang basah. Kain putih tipis yang membalut serambi lempitnya hampir menjadi transparan. Nampak jelas lekuk serambi lempit Alya.

Memang sudah basah banget ini.

Celana dalam ditarik ke bawah. Terlihatlah serambi lempit yang berkilat dengan cairan mazi. Lidah dijulurkan ke klitoris yang membengkak.

“Ssss… Ahhh… Elvirasss…,” desah Alya sambil meremas kepala Elvira yang berada di antara kakinya.

Elvira menjilat-jilat klitoris sambil mengikut alur serambi lempit. Lidahnya ditekan-tekan ke lurah.

Kaki Alya bergetar menahan nikmat dunia yang agung itu. Cairan mazinya semakin deras.

Muka Elvira disembamkan semahunya ke serambi lempit Alya. Lidahnya begitu rakus memainkan peranannya. Dijilat ke atas ke bawah, dengan berbagai ritme. Zigzag, putaran, hisapan kuat di klitoris. Ngocoks.com

Semua teknik jilatan dilakukan demi memuaskan Alya dengan segera. Tangan Elvira turut meremas pantat Alya kuat hingga meninggalkan bekas berwarna merah. Alya sudah tidak keruan. Tangannya memeras putingnya, memberikan dua sensasi di titik gairahnya.

“Aa.. Elvirasss. Si… Sedikit lagi, nis,” bisik Alya terengah.

Elvira menggunakan teknik terakhir di serambi lempit Alya. Bibirnya menyedot klitoris sambil lidah di dalam menggoyang-goyangkan biji Alya. Jarinya menggesek-gesek alur serambi lempit hingga ke lubang pantat.

Semuanya dilakukan bersamaan dan cepat. Mata hitam Alya sudah tidak terlihat lagi. Teknik Elvira begitu hebat hingga pikirannya melayang tinggi.

“Aaahhhh! Elvirassss! Ahhhh!”

Akhirnya Alya mencapai klimaks. Kakinya bergetar menahan gelombang nikmat.

Elvira yang menyadari Alya klimaks menekan lagi wajahnya di antara paha. Kepalanya bergetar mengikuti getaran pantat Alya.

Hampir jatuh Alya ke lantai toilet, namun sempat memegang flush toilet. Dia tidak mau masuk ke kelas dengan rok yang basah.

Setelah beberapa saat klimaks, Elvira melepaskan serambi lempit Alya dan perlahan berdiri.

Elvira langsung menyambar bibir Alya, memberinya rasa cairan mazinya sendiri.

Alya hanya membalas lemah. Terasa asin dan sedikit amis aroma yang dirasakan. Cairan mazinya sendiri, apa yang perlu dijijikkan.

“Sudah puas?” tanya Elvira tersenyum melihat Alya yang masih belum membuka matanya.

Alya membuka matanya dan mengangguk perlahan.

“Mau banget kan? Hehe,” ledek Elvira kepada Alya yang masih belum sepenuhnya sadar.

Elvira memakaikan kembali celana dalam Alya dan merapikan roknya. Hijab pun dikemaskan.

Mereka keluar dari toilet dengan hati-hati. Khawatir ada yang melihat mereka keluar berdua.

Elvira membasuh muka dan berkumur-kumur. Beberapa kali dia berkumur hingga rasa asin di mulutnya hilang.

Setelah semuanya siap, mereka pun bergegas kembali ke ruang kuliah. Khawatir Pak Ibrahim akan memarahi karena waktu yang diambil terlalu lama.

“Terima kasih, Vir. Sayang banget sama kamu. Hehe,” ujar Alya sambil tersenyum.

Bersambung… Saat istirahat di kantin kampus, Alya tampak murung dan tidak ceria seperti biasanya. Sepertinya ada yang mengganggu pikirannya. Makanan disuap perlahan sambil matanya menatap kosong ke arah bihun supnya.

Menyadari hal tersebut, Elvira mencoba bertanya apa yang meresahkan Alya sejak kelas pagi tadi. “Kau kenapa, Alya? Muka kau monyok je. Di kelas Matematika tadi pun kau nggak fokus.”

Alya tersentak dari lamunannya. “Ohh, emm. Nggak ada apa-apa, Vir,” Alya mencoba menghindar dari pertanyaan Elvira.

“Kau sama aku kan udah kayak saudara. Hmm, lebih kayak couple, masalahnya. Hehe. Banyak yang udah kita lakukan bersama. Masa kau nggak mau percaya sama aku? Ceritain dong,” pujuk Elvira.

“Hehe. Iya, iya. Tapi kau jangan ngomong kenceng-kenceng. Nanti orang dengar, apa kata mereka,” Alya tersenyum kelat sambil melihat sekelilingnya.

Elvira mencebikkan bibirnya. Dia tidak sadar kalau tadi bicara agak keras. Alya menunduk sedikit dan mendekatkan kepalanya ke Elvira. Elvira juga menunduk dan siap mendengarkan.

“Tadi Irwan ngechat aku. Dia ngajak ketemuan Minggu ini,” Alya memulai ceritanya.

“Haa, jadi? Kenapa mukanya masam? Harusnya senang mau ketemu pacar,” seloroh Elvira.

“Tapi, pasti dia mau ngajak check-in, Vir. Aku… Aku nggak siap,” ujar Alya gusar.

“Lah, kirain apa tadi. Hehe,” Elvira tertawa kecil, merasa lega dengan masalah Alya itu.

Rupanya, yang mengganggu pikiran Alya sejak tadi adalah soal Irwan. Elvira tahu temannya itu cemas akan hal yang mungkin terjadi nanti. Walaupun sudah seminggu Elvira mengajari Alya tentang seks, tetapi semua itu tidak sama dengan berhubungan dengan lelaki.

Alya mendekatkan mulutnya ke telinga Elvira yang dibalut shawl panjang. Dia berbisik pelan, “Nanti dia pasti minta aku untuk menghisap…”

“Hahahahaa. Aku udah curiga dari awal. Pasti karena itu,” kali ini Elvira tertawa besar dan menutup mulutnya. Alya yang malu dengan reaksi itu pun mencubit pinggang Elvira kuat.

“Eiii, malah ketawa. Orang serius ini!” marah Alya sambil memulas-mulas kulit pinggang Elvira.

“Aduuhhh, sakitlahhhh! Jangan cubit!” tangan Alya ditepis kuat.

“Padan muka!”

Beberapa mahasiswa yang sedang makan di situ melirik ke arah mereka berdua. Tidak tahu apa yang dibicarakan, tetapi suara riuh mereka mengundang rasa kurang nyaman.

“Dah, yuk kita pergi. Malu diliatin orang,” kata Elvira yang mulai merasa canggung dengan orang di sekitar. Alya tidak menghiraukan jelingan orang-orang dan melanjutkan suapan bihunnya tadi.

Melihat Alya yang santai melahap, Elvira menarik tangan Alya kuat dan berdiri meninggalkan meja makan.

“Aku lagi makan nih!” teriak Alya yang terkejut dengan tarikan Elvira.

“Yuk, aku ada rencana buat kamu Minggu ini,” bisik Elvira pelan.

Mendengar ucapan Elvira, Alya tersentak dan segera bangun sambil mengemas barang-barangnya. Elvira sudah pergi meninggalkannya. Cepat-cepat Alya mengejar temannya itu.

“Elvirassss, tunggu lahhhh!”

***

Seperti biasa, hari Sabtu adalah hari pertemuan orgElviraasi. Mengingat semester akan berakhir tidak lama lagi, semua orang sibuk dengan persiapan masing-masing. Begitu juga dengan Klub Konseling dan Karier yang diikuti Elvira.

Minggu ini, para pengurus diminta untuk melakukan persiapan terakhir sebelum hari kunjungan tiba dua minggu lagi. Sebagai sekretaris, Elvira perlu menyiapkan beberapa surat dan mendapatkan konfirmasi dari pihak yang akan dikunjungi.

Ketua dan wakil ketua, bersama para pengurus lainnya, sudah berangkat ke kota sejak pagi untuk membeli kebutuhan. Jadi, hanya Elvira dan Rizky yang tinggal di ruangan operasi untuk melakukan persiapan terakhir dari sisi protokol.

Sejak peristiwa dua minggu lalu, Rizky tidak pernah berbicara dengan Elvira. Meskipun kejadian itu sangat menyenangkan, rasa malu yang lebih besar dan tebal. Rizky masih tidak bisa percaya dengan apa yang terjadi.

Dan sejak hari itu, Rizky sering melancap setiap kali teringat Elvira. Hampir setiap malam, bayangan Elvira muncul di pikirannya. Dari yang jarang melancap, kini dia kecanduan.

Hari ini, dia berdua lagi dengan Elvira di ruangan operasi. Meskipun ruangan ini ber-AC, keringatnya tetap menetes dari kepala. Jantungnya berdebar kencang, pikirannya melayang, membuatnya kehilangan fokus. Semua pekerjaan terasa salah.

Rizky melirik ke arah Elvira yang duduk di depannya. Seperti tidak ada yang pernah terjadi, Elvira hanya memandang layar ponselnya.

Masa pura-pura lupa? Gila apa cewek ini?

Matanya kembali ke layar laptop. Rizky mencoba mengabaikan pikirannya tentang kejadian itu. Dia tidak ingin terlalu berharap. Biarlah yang sudah berlalu. Dia terlalu malu untuk menanyakannya pada Elvira. Takut dicap sebagai maniak seks. Padahal sebenarnya Elviralah yang maniak dalam hal ini.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Rizky segera menoleh ke belakang melihat siapa yang datang. Tampak seorang gadis mungil berdiri di pintu.

“Alyaaa. Masuklahhh!” teriak Elvira mengundang Alya masuk. Elvira pun bangun dan melangkah ke arah Alya, menyuruhnya membuka sepatu dan meletakkannya di rak. Kemudian Elvira menutup rapat pintu dan menguncinya.

Rizky kembali fokus pada pekerjaannya. Kedatangan Alya membuatnya lega karena kini mereka bertiga di ruangan ini. Tidak mungkin kejadian dua minggu lalu terulang. Masa Elvira berani melakukan hal itu kalau ada orang lain di sini?

Itulah yang dia pikirkan.

***

Elvira dan Alya tiba di sebuah pondok dekat kantin. Elvira sengaja membawa Alya ke sana karena pada waktu ini jarang ada mahasiswa yang duduk di sana. Sinar matahari sore menyinari penuh pondok itu membuat suasananya agak panas.

“Elvira, kenapa nongkrong di sini? Panasss!” keluh Alya sambil duduk di sebelah Elvira.

Cerita Dewasa Ngentot - Gairah Terlarang Dua Mahasiswi di Asrama Putri
“Waktu-waktu begini nggak ada orang. Aku ada rencana yang mau aku ceritain ke kamu. Nggak mau orang lain dengar,” jawab Elvira sambil menghadap Alya.

“Rencana apa lagi nih?” Alya masih bingung dengan tujuan mereka ke sini.

Elvira melihat sekeliling sekali lagi untuk memastikan tidak ada siapa pun di sekitar mereka. Rencana yang mau dijelaskan ini tidak boleh diketahui siapa pun. Setelah yakin semuanya aman, Elvira mulai bicara.

“Kamu khawatir tentang Irwan besok, kan?”

“Iya.. Tapi apa hubungannya sama rencanamu?”

“Aku mau ajarin kamu blowjob. Hehe.”

Mata Alya terbelalak mendengar rencana Elvira. Sekali lagi dia terkejut dengan kata-kata Elvira. Kalau sebelumnya Elvira mengajarinya berciuman, hingga hubungan sesama jenis. Tetapi kali ini Elvira mau mengajarinya menghisap rudal laki-laki.

“Kamu jangan main-main, Vir.”

“Aku serius.”

“Kau mana ada rudal?”

“HAHAHAHAHAHAA!!!” Elvira tertawa besar mendengar pertanyaan Alya. Karena tidak ada siapa pun di sana selain mereka, Elvira tertawa keras tanpa rasa malu. Dia menepuk-nepuk lengan Alya sambil tertawa sampai keluar air mata.

Alya hanya menatap tajam ke arah Elvira. Kesal rasanya. Dia serius bertanya, tapi Elvira malah tertawa terbahak-bahak.

“Kau ini Alya, selama ini kau pernah lihat aku punya rudal? Hahahaha,” lanjut Elvira setelah puas tertawa.

“Iya, memang nggak ada. Maksud aku, gimana kamu mau ngajarin?”

“Hehe. Oke, oke. Gini. Besok ada acara persatuan, kan? Kamu datang ke ruangan operasi aku.”

“Buat apa?”

“Mau belajar blowjob nggak?”

Pintu ruangan operasi ditutup. Kunci diputar perlahan agar Rizky tidak mendengar. Elvira mengajak Alya duduk di kursi empuk beroda di sebelah mejanya. Rizky hanya menunduk, tidak memandang ke arah Alya.

Jantungnya yang tadinya berdebar kencang mulai reda. Lega sedikit hatinya karena ada orang lain yang datang ke ruangan ini. Pasti kejadian tempo hari tidak akan terulang.

Elvira duduk di kursinya dan memandang Rizky dengan senyuman nakal. “Rizky, aku ajak teman lepak sini gak apa-apa, kan?”

“Oh, emm, gak apa-apa. Bagus juga. Makin ramai makin seru, kan? Hahahaha!” Rizky mencoba bercanda, tapi tawa sendiri dengan kata-katanya. Tidak lucu, tapi kenapa ketawa besar? Suasana jadi janggal.

Bunyi pendingin ruangan terdengar sayup-sayup. Rizky hanya menatap layar laptopnya dengan bingung. Apa yang dia katakan tadi terasa aneh. Wajahnya merah padam menahan malu. Dia melirik ke arah Alya. Terlihat Alya seakan-akan memberi isyarat kepada Elvira.

Pandangan dialihkan kepada Elvira. Kening Elvira berkerut sambil berbisik-bisik sesuatu kepada Alya. Apa yang mereka bincangkan? Atau menggunjing? Rizky mulai merasa dirinya diomongin.

“Errr, kalian. Kenapa bisik-bisik di depan aku? Aneh dohhh,” ujar Rizky, mengejutkan kedua gadis itu.

“Eh. Haha. Emm, gak ada apa-apa kok. Hehe,” jawab Alya malu.

“Haa, mumpung kau tanya, aku langsung aja deh,” sela Elvira.

Kening Rizky terangkat. “Maksudmu?”

Elvira berdiri dan mendekati Rizky. Alya hanya menunduk. Rizky mulai merasa tidak enak hati. Dadanya tiba-tiba sesak. Seperti ada sesuatu yang tidak beres.

“Hari ini, kami mau servis kau,” kata Elvira santai.

“HAA? Servis apa ini?” Rizky terkejut.

Elvira berdiri tepat di depan Rizky. Pandangannya tajam menatap Rizky dengan nakal. Rizky hanya bersandar menunggu apa yang akan Elvira lakukan. Perlahan-lahan, Elvira duduk berlutut di antara kaki Rizky.

Sambil memegang alat kelamin Rizky yang tersembunyi di balik celana, Elvira berkata, “Mau servis yang ini, hehe.”

Rizky gemetaran menerima rangsangan tiba-tiba itu. Kepalanya menoleh ke arah Alya. Lebih terkejut lagi saat melihat Alya tersenyum nakal. “Aaa. Apa kau mau lakukan, Elvira?”

“Sederhana aja. Biar kami hisap konek kamu. Itu aja,” jawab Elvira.

“Sederhana?! Kamu gila, ya??” balas Rizky gagap.

“Hmm, Rizky. Kamu ini gak tahu bersyukur, ya. Sampai mati hidup lagi pun, kamu gak akan dapat kesempatan kayak gini, tahu?”

Alya hanya memerhatikan Elvira dari samping. Menyaksikan bagaimana Elvira menggunakan kekuatannya sebagai wanita terhadap lelaki yang lemah. Kepalanya menggeleng perlahan melihat reaksi Rizky yang ketakutan.

“Tapi kalau kamu gak mau, kamu bisa keluar. Tapi ingat, sekali kamu melangkah keluar, kami berdua akan melapor ke mentor dan bilang kalau kami dicabul.” Matanya Elvira tajam memberi peringatan.

“Kamu pikir orang akan percaya kalau lelaki macam kamu dicabul perempuan lemah lembut macam aku? Hell no!” tambah Elvira lagi, mencoba menakut-nakuti Rizky.

Dalam beberapa detik, macam-macam visual bermain di pikiran Rizky. Apa nasibnya jika dilaporkan, pandangan orang sekeliling terhadapnya, harus berhenti kuliah, ditangkap polisi dan dipenjara.

Rizky tidak punya pilihan lain. Lagi pula, apa yang bisa dia lakukan sekarang? Berlari minta tolong seperti banci? Atau nikmati saja surga dunia yang terbentang di depannya. Nafasnya ditarik dalam-dalam, dilepaskan perlahan-lahan. Matanya membalas tatapan Elvira.

“Oke, kalau ini yang kalian mau,” jawab Rizky nekad. Elvira tersenyum dan menoleh ke arah Alya. Kepalanya dianggukkan, memberi isyarat kepada Alya untuk mendekat.

“Oke Rizky. Kamu santai aja, oke? Biar kami pinjam sebentar konek kamu. Hehehe,” pujuk Elvira. Rizky hanya diam. Jantungnya berdegup kencang.

Elvira meminta Alya berlutut di sebelahnya. Alya hanya mengikuti. Perasaan gugupnya dikendalikan sebaik mungkin. Seakan tidak percaya rencana gila Elvira berjalan dengan lancar sejauh ini.

“Oke, Alya. Pertama-tama kamu harus berlutut di depan lelaki seperti ini. Pastikan lututmu nyaman. Kalau lantai keras, lapisi dengan bantal atau selimut. Biar gak kesemutan atau pegal,” ujar Elvira seperti seorang guru. Alya hanya mengangguk-angguk.

“Oke, kamu lihat aku dulu, ya?”

“O.. okkk, nis.”

Elvira membuka ikat pinggang Rizky dan kancing celana. Resleting ditarik perlahan. Lalu celana diturunkan hingga ke betis. Celana dalam Rizky tampak membonjol. Koneknya mulai mengeras. Ditambah lagi dengan usapan lembut Elvira yang membuat darah mengalir cepat ke konek.

Celana dalam ditarik ke bawah. Keluarlah konek separa tegang Rizky melambai-lambai ke arah dua gadis di depannya. Elvira menyambut sapaan konek itu dan meremas-remas manja.

Matanya memandang ke atas, bertemu dengan mata Rizky. “Saat kamu mau tegangkan konek, tatap mata dia dengan pandangan nakal,” kata Elvira kepada Alya lalu melanjutkan pekerjaannya.

Tangan Elvira melancap perlahan konek Rizky ke atas dan ke bawah. Kemudian tangannya meremas kantung telur sambil mengurut konek. Kedua-duanya dilakukan bersamaan, membuat Rizky tidak karuan. Koneknya kini sudah keras.

Wajah Elvira mendekat ke konek. Dia mencium ujung kepala berulang kali. Lalu menjilat pangkal konek ke atas hingga ke kepala. Jilatan diulang beberapa kali di bawah, di samping, dan di atas batang.

“Oke, sekarang kamu coba,” Elvira menyerahkan konek Rizky kepada Alya.

Dengan tangan gemetar, Alya menyambut konek itu. Tak pernah sebelumnya memegang batang orang lain selain Irwan. Elvira menggenggam tangan Alya dan menggerakkannya perlahan.

Alyancapkannya konek itu seperti yang dilakukan Elvira tadi. Alya mencoba membiasakan tangannya dengan batang tersebut. Cukup besar jika dibandingkan dengan Irwan. Ketika digenggam, kepala konek Rizky terkeluar sedikit dari genggaman. Berbeda dengan Irwan, jika digenggam benar-benar tidak terlihat.

“Kenapa Alya? Kamu ukur-ukur konek Rizky, ya? Haha.”

“Iya, nis. Lumayan panjang.”

“Aik. Punya Irwan lebih pendek?”

“Pendek sedikit.”

“Aduh. Kalau kamu mau tahu, pacarku punya lebih panjang dari ini, tahu? Hahaha.”

Rizky yang sedang menikmati tangan lembut dua gadis cantik itu tersadar dari lamunan.

Sial betul. Sudah main konekku, tapi bilang punya aku pendek pula.

Alya melanjutkan lancapan. Kali ini telur Rizky diremas juga.

“Iskkkk, pelan-pelan Alya. Sakit kamu pencet telurku!” jerit Rizky kesakitan.

“Err maaf.”

Alya melepaskan telur Rizky dan mulai mencium kepala merah yang mengembang itu. Lalu dijilat-jilat seperti yang dilakukan Elvira.

“Oke, kan? Hehe. Sekarang kamu lihat aku lagi,” kata Elvira yang kembali menggenggam konek Rizky.

Elvira memulai bab selanjutnya. Mulutnya dibuka sedikit lalu kepala konek dimasukkan perlahan dan dihisap keluar. Setelah beberapa kali, Elvira mulai menghisap lebih dalam. Hampir separuh batang Rizky masuk ke dalam mulutnya.

Elvira semakin bernafsu. Tapi dia mencoba menahan syahwatnya dan fokus pada sesi pengajaran Alya.

Jari Elvira melancap batang konek perlahan sambil mulutnya menghisap. Kadang genggamannya diputar-putar di sekitar batang. Setelah beberapa kali menghisap, Elvira menyerahkan batang kepada Alya.

“Oke, sekarang kamu. Tapi hati-hati ya. Jangan sampai kena gigi.”

“Gimana caranya biar gak kena gigi?”

“Buka mulut, jangan cuma buka bibir. Ngangain mulutmu.”

Alya meniru persis apa yang dilakukan Elvira. Seperti murid yang cerdas, Elvira memuji Alya karena cepat menangkap apa yang diajarkan. Alya merasa bangga dan semakin bersemangat. Dia menghisap lagi rudal Rizky dengan penuh tekun.

Kali ini Alya sudah lebih terbiasa dengan batang rudal itu. Sebelumnya, saat Irwan memintanya menghisap, Alya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Seringkali Irwan marah karena kesakitan. Tapi dengan bimbingan Elvira, sekali coba saja sudah berhasil. Rizky sama sekali tidak merasa sakit terkena giginya.

Elvira kemudian mengambil alih tugas menghisap. Air liurnya hampir menetes melihat Alya menikmati rudal itu dengan semangat. Setelah menghisap 2-3 kali, Elvira menyerahkannya kembali kepada Alya. Mereka bergantian menghisap. Ngocoks.com

Rizky sejak tadi sudah tersandar menikmati. Batang rudalnya dihisap bergantian oleh dua gadis. Seorang gadis muslimah berjilbab lebar, seorang lagi gadis genit bertubuh seksi. Ahhh, nikmatnyaaaa~

Sungguh tak terduga, Alya kini menikmati batang rudal seorang laki-laki dengan penuh semangat. Tidak lagi merasa canggung atau bingung harus melakukan apa. Alya menghisap rudal Rizky seperti sudah lama belajar.

Melihat Rizky yang sudah tidak keruan, Elvira pun beralih ke pelajaran terakhir untuk hari itu. Elvira tidak berpikir untuk mengajarkan Alya tentang Deepthroat atau Rim Job. Cukup ajarkan dasar-dasarnya dulu. Mahirkan dasar, baru nanti bisa lanjut ke level berikutnya. Layaknya seorang guru, Elvira berpikir.

“Ok Alya. Sekarang aku mau kamu lancap rudal ini sampai dia ejakulasi. Bisa?”

“Err, bisa kok. Aku coba. Kamu ajarin ya.”

“Kamu cukup goncang kuat-kuat batang ini. Sambil sesekali hisap kepalanya sambil dilancap.”

Alya pun menuruti perintah dan melancapkan rudal Rizky dengan sungguh-sungguh. Kepala rudal juga dihisap untuk menaikkan lagi gairah Rizky. Mata Rizky terpejam menikmati rangsangan hebat dari Alya. Punggungnya terangkat-angkat mengikuti ritme lancapan.

“Ahhhh, sedikit lagi Alya. Ahhh sedikit lagiiii,” Rizky mengerang kuat. Cairan sudah hampir mencapai puncaknya. Alya semakin cepat menggoncang rudal Rizky.

“Fir, pegal, Vir,” keluh Alya.

“Sikit lagi Alya. Dia hampir sampai.”

“Ahhhh, aku mau ejakulasi!” teriak Rizky.

“Ok, kamu masukkan rudal ke dalam mulut. Fahmin air maninya, jangan sampai tertelan. Simpan dalam mulut dulu.”

“AAAAAHHHH!!!” Semburan demi semburan dimuntahkan oleh Rizky. Alya memejamkan matanya. Keningnya berkerut menahan semburan air mani di dalam mulutnya. Tangannya sudah berhenti melancap. Elvira memintanya memerah batang rudal itu sampai keluar semua air mani yang tersisa.

rudal dilepaskan. Alya cepat-cepat menutup mulutnya takut air mani tumpah mengenai jilbab dan bajunya. Dia memandang ke arah Elvira menunggu arahan berikutnya.

“Sekarang telan semua air mani itu,” perintah Elvira. Alya menggeleng cepat-cepat tanda tidak mau. Terasa jijik dengan rasa asin dan pahit cairan putih itu.

“Ish kamu ini. Rugi kalau dibuang. Telan aja,” bujuk Elvira. Sedikit-sedikit Alya mencoba menelan, namun tidak mampu. Kasihan melihat reaksi Alya, Elvira lalu mencium bibir Alya dan mengorek mulutnya dengan lidah. Elvira mengambil sebanyak mungkin air mani di dalam mulut Alya dan menelannya.

Rizky sekali lagi terkejut dengan tindakan Elvira. Bagaimana tidak, seorang gadis muslimah bercumbu dengan seorang gadis lainnya. Seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Padahal Rizky tidak tahu mereka sudah melakukan lebih dari itu.

Elvira pun melepaskan ciumannya dan menelan air mani yang cukup banyak dan pekat itu. Tidak seenak pertama kali dia menelan air mani Rizky.

“Ok Alya? Paham nggak?”

“Pahammmm. Hehe.”

Bersambung… Rizky tersandar di kursi dengan penuh kepuasan. Batangnya mulai mengendur. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya.

Saat ia hendak menaikkan kembali celananya, Elvira menahannya. “Belum selesai, Rizky,” kata Elvira dengan senyum nakal.

Elvira mendekati celah paha Rizky. Tangannya meraih batang yang sudah lembek itu. Diusap-usap perlahan untuk merangsang kembali nafsu Rizky.

Setelah beberapa kali dikocoks, batang itu masih belum terangsang lagi.

“Masak sudah nggak kuat lagi?” tanya Elvira.

“Errr, baru keluar, Vir. Tunggu sebentar.”

“Hmmm, lemahnya.”

Elvira sudah tidak sabar. Sejak tadi ia menahan syahwatnya. Tak mungkin dia melewatkan kesempatan di depan mata ini.

“Haihhh,” Elvira berdiri sambil mengeluh. Betapa tak bergunanya lelaki di depannya itu.

Tudung panjang Elvira disingkap. Dia menyangkut tudungnya ke belakang, memperlihatkan bagian dadanya yang sengaja dibuat menonjol. Rizky terpaku. Matanya tertuju pada dada Elvira yang masih tertutup jubah berwarna krem, menantikan langkah Elvira berikutnya.

Perlahan-lahan Elvira menarik resleting jubahnya. Ditarik hingga ujung atas perut. Kemudian disingkap sedikit menampakkan bra putih. Darah mulai mengalir ke batang Rizky sedikit demi sedikit. Elvira memperhatikan batang Rizky, belum cukup tegang sepenuhnya.

Kali ini bra-nya disingkap ke atas, membebaskan payudaranya yang sedang. Mata Rizky membulat melihat payudara Elvira secara langsung untuk pertama kalinya. Sebelumnya ia hanya melihat foto bugil Elvira di laptopnya.

Puting coklat Elvira digentel perlahan, mencoba menggoda lelaki di depannya. Alya yang sejak tadi duduk di sebelah Elvira hanya melihat aksi temannya itu sambil tersenyum. Tak sabar menunggu apa rencana Elvira selanjutnya. Ia tidak diberitahu tentang hal ini.

Melihat rudal Rizky yang hampir 100% keras, Elvira kembali berlutut di depan Rizky. Batangnya diusap perlahan dan digenggam. Dia mengocok-ngocok batangnya sampai benar-benar keras, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.

Tidak ada lagi foreplay. Elvira langsung menghisap dengan rakus. Tak puas rasanya saat harus berbagi dengan Alya tadi. Kali ini dia ingin menikmati batang itu sendirian. Air liurnya mengalir saat mengulum rudal Rizky. Suara hisapannya semakin lama semakin keras.

Rizky bersandar dengan kepala mendongak ke atas. Rasanya berbeda dari sesi pertama tadi. Kali ini Elvira lebih ganas. Seperti mau tercabut batangnya disedot lidah Elvira. Kepala Elvira terangguk-angguk melayani nafsu.

Sesekali rudal Rizky di-‘deepthroat’ sedalam-dalamnya. Mudah bagi Elvira karena rudal Rizky tidak sepanjang pacarnya. Tidak sampai ke tenggorokan tetapi sudah cukup memuaskan Elvira.

Setelah puas menghisap, Elvira berdiri lagi dan membelakangi Rizky. Rizky menarik napas lega karena mengira Elvira sudah puas dan sesi ini akan berakhir. Dia sudah tidak tahan lagi menanggung malu, dikerjakan oleh dua gadis ini.

Tapi ternyata dugaannya salah. Elvira yang membelakanginya tiba-tiba mengangkat kain jubahnya sampai pinggang. Lalu menonggekkan pantatnya ke arah Rizky. Terkejut dia melihat pantat bulat itu tidak ditutupi celana dalam.

Alya yang sejak tadi asyik memperhatikan tingkah Elvira juga terkejut. Tak menyangka kalau Elvira tidak memakai apa-apa di balik jubahnya. Togel!

Di celah pantat Elvira, terlihat serambi lempitnya yang tebal, basah, dan berkilat. Terlihat cairan bening yang mengalir di sepanjang pahanya. Elvira yang sejak tadi menahan syahwatnya sudah tidak tertahan lagi.

Elvira merapatkan kaki Rizky dan mendekatkan serambi lempitnya ke batang. Tangan kirinya memegang batang Rizky dan menggesek-gesek di sepanjang celah serambi lempitnya. Kepala rudal Rizky sedikit tenggelam di balik belahan serambi lempit tebal itu.

Rizky kaku tidak memberi reaksi. Pikirannya melayang. Dia akan kehilangan keperjakaannya sebentar lagi. Batang rudalnya kini tepat di lubang serambi lempit Elvira. Gesekan tadi berhenti. Elvira merapatkan pantatnya perlahan-lahan, menyasar batang Rizky tepat di lubangnya.

Begitu posisi batang Rizky tepat, Elvira memasukkannya ke dalam lubang serambi lempitnya. Sedikit demi sedikit sampai seluruh batang Rizky tenggelam. “Ahhhhhh,” Elvira mengerang dengan kehadiran batang di dalam serambi lempitnya.

Rizky menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Nikmat sekali rasa lubang serambi lempit Elvira. Ketat tetapi sangat lembut. Tak bisa dibayangkan kenikmatan yang dirasakannya. Maka hilanglah keperjakaannya pada sore itu.

Elvira kini terduduk di atas paha Rizky. Menikmati sejenak batang yang berada di dalam lubangnya. Napas ditarik perlahan, dia bersiap untuk mengenjut. Pantatnya diangkat perlahan dan diturunkan lagi. Diulang-ulang sampai lubangnya merasa nyaman.

Tangan Elvira diletakkan di pahanya. Kali ini dia ingin mengenjut batang Rizky dengan cepat. Dengan segala tenaga yang dia punya, Elvira memulai hentakan dengan cepat.

PAP! PAPP! PAPPP!!

Kuat sekali bunyi lagaan serambi lempit dan rudal Rizky. Cairan mazinya yang deras mengalir makin melancarkan sorongan batang Rizky. Seperti mengikuti irama, pantat Elvira menghentak-hentak kuat batang tanpa rasa belas.

“Ahhh! Ahhh! Ahhhh!!” Elvira mengerang sedikit keras. Rizky juga mengerang pelan menikmati seks pertamanya. Alya pun sudah mulai berair di serambi lempitnya melihat aksi vulgar pasangan di depannya.

Payudara Elvira yang terbuka bergoyang mengikuti irama hentakan. Berguncang ke atas dan ke bawah. Untungnya tidak begitu besar payudaranya. Tidak terasa sakit saat berguncang.

Hentakan serambi lempit makin cepat. Mereka tidak punya banyak waktu lagi. Hampir satu jam rudal Rizky dikerjakan. Khawatir teman-teman klub mereka pulang sebentar lagi.

Tiba-tiba Elvira berhenti. Batang rudal Rizky direndam sejenak. serambi lempit Elvira mengemut-emut kuat dengan cairan putih yang mengalir perlahan. Elvira klimaks untuk pertama kalinya.

Setelah sedikit reda, Elvira bangun berdiri dan berpaling menghadap Rizky. Wajah Rizky yang sedang berkhayal ditatap.

“Tidak guna punya lelaki,” bisik Elvira yang kesal dengan Rizky yang hanya duduk menadah rudal.

Elvira memegang bahu Rizky dan kembali duduk menghadapnya. serambi lempitnya mencari kembali rudal Rizky yang tegak ke atas. Perlahan-lahan dimasukkan kembali ke dalam lubang serambi lempit.

Tangan Elvira memeluk kepala Rizky dan mulai menghenjut. Mulut Elvira didekatkan ke telinga Rizky dan mengeluarkan erangan manja yang vulgar. Rizky semakin bergairah mendengar suara erangan itu.

Kemudian Elvira mencari bibir Rizky dan mencium kasar. Bibir Rizky sedikit kaku tidak tahu bagaimana harus merespons. Namun tak lama kemudian bibirnya mulai mengikuti ritme bibir Elvira.

Lidah Elvira dijulurkan dan seakan mengerti, Rizky menghisap lidah itu. Lembut dan basah rasanya. Kemudian giliran Elvira menyedot lidah Rizky.

Hentakan Elvira kembali difokuskan. Elvira kadang-kadang mengemut manja batang rudal yang berada di dalamnya. Celah paha mereka berdua kini sudah basah dengan cairan mazi bercampur lendir putih Elvira.

“Hisap payudara aku,” perintah Elvira singkat kepada Rizky. Tanpa ragu, Rizky menundukkan kepalanya sedikit dan mencari puting payudara Elvira. Sambil tangannya meremas payudara.

Pertama kali dia memegang payudara seorang perempuan, jika payudara ibunya tidak dihitung. Sungguh tak disangka begitu lembut dan kenyal payudara seorang gadis. Sambil puting dinyonyot, jari-jari Rizky aktif meremas kedua belah payudara Elvira.

Sensasi gairah makin bertambah dirasakan Elvira. Dua titik nikmatnya dirangsang sekaligus. Elvira kini tidak bisa menahan lebih lama lagi.

Elvira melajukan lagi hentakannya. Pantatnya bergerak cepat membalas batang rudal Rizky. Semakin lama semakin cepat.

Akhirnya, Elvira mencapai puncak yang kedua dan tubuhnya melengkung ke depan. Kepalanya didongakkan ke atas dan dia berteriak puas.

“Ahhhhhhhhh!” raung Elvira sambil mengemut batang rudal Rizky sekuat-kuatnya.

“Ahhh Elviras jangan terlalu kuat. Akuuu… Aku mau… Ejakulasi!” Rizky tiba-tiba berteriak.

Elvira terkejut dengan reaksi Rizky dan buru-buru menarik keluar batang Rizky dari serambi lempitnya.

Entah sejak kapan, Elvira tidak sadar kalau Alya ternyata berada di belakangnya sedang berlutut. Alya langsung menyambar batang Rizky dan mengulum.

“Ahh! Ahhhhhh!” Rizky berteriak puas saat semburan spermanya keluar bertubi-tubi. Alya menahan semburan itu dengan mulutnya.

Setelah 7-8 kali semburan, Alya melepaskan rudal Rizky dan mencoba menelan air mani tersebut. Tanpa diduga, Elvira juga mendekat ke Alya dan mencium bibirnya.

Elvira ingin Alya berbagi air mani itu dengannya. Mereka berdua berciuman rakus sambil menelan air mani yang bercampur air liur masing-masing.

Rizky sudah tidak peduli dengan mereka. Dia tenggelam dalam kenikmatan. Matanya terpejam rapat, menikmati sisa-sisa klimaksnya. Batang rudalnya bergoyang-goyang seperti per. Dan semakin lama semakin mengecil.

Elvira dan Alya selesai berbagi nikmat. Mereka berdua bangun dan Elvira merapikan jubah dan jilbabnya. Alya juga merapikan jilbabnya yang miring saat berciuman dengan Elvira tadi.

Rizky? Masih terduduk di kursi dengan mata terpejam. Keningnya berkerut-kerut. rudalnya masih terjuntai lemah. Mereka membiarkan saja keadaan Rizky.

Elvira buru-buru merapikan barang-barangnya dan mengajak Alya segera keluar. Laptopnya dimasukkan ke dalam tas. Alya juga membantu Elvira berkemas dengan tergesa-gesa.

Belum sempat mereka selesai berkemas, tiba-tiba terdengar suara kunci pintu. Mereka berpaling ke arah pintu dengan kaget.

Dan pintu pun terbuka…

***

Elvira dan Alya saling berpandangan. Wajah mereka cemas. Apakah perbuatan mereka hari ini akan ketahuan? Rizky masih tersandar di kursinya, mungkin tertidur.

Dalam beberapa detik itu, Elvira dengan cepat memikirkan cara untuk mengatasi situasi ini. Dia memberi arahan kepada Alya untuk membangunkan Rizky sementara dia akan berhadapan dengan orang yang mau masuk ke ruangan tersebut.

Elvira melangkah cepat ke arah pintu dan melihat siapa yang datang. Ternyata Vania, Wakil Ketua Klub, sedang menunduk membuka sepatunya di depan pintu. Untungnya dia belum sempat melihat ke dalam ruangan.

Alya segera mengguncang badan Rizky untuk membangunkannya. Dia berbisik di telinga Rizky bahwa ada orang datang. Rizky terkejut dan langsung menarik celananya, menutupi rudalnya yang masih lemas.

“Eh, Vania. Cepat banget baliknya?” tegur Elvira sambil menghalangi pandangan Vania di luar pintu.

Vania terkejut sampai terduduk di lantai setelah mendengar suara Elvira. “Lahhhh… Elvirass. Ternyata ada orang. Kupikir ruangan ini kosong,” jawab Vania yang masih terduduk.

“Ada orang. Aku, Rizky, dan Alya, teman sekamarku. Kami lagi menyiapkan yang perlu,” bohong Elvira. Sesekali dia melirik ke belakang memastikan Alya selesai menguruskan Rizky.

Rizky membetulkan posisinya menghadap meja lagi. Kertas-kertas diaturkan kembali, berlagak sibuk. Setelah yakin semuanya beres, Alya mengambil tasnya dan tas Elvira lalu menuju pintu.

“Ok, Vania. Kami mau pergi dulu,” pamit Elvira setelah Alya mencolek dari belakang.

“O.. ok Elviras,” jawab Vania sedikit gagap.

Saat melangkah keluar dari ruangan, Elvira melihat seorang pria berdiri di balik pintu. “Eh, ini siapa lagi?” tanya Elvira terkejut.

“Err, ini… Ini pacar aku, Jasmin,” perkenalkan Vania kepada Elvira. Jasmin hanya menunduk malu.

Elvira melirik ke arah Vania sambil mengangkat alis. Tatapan tajam dan nakal Elvira sepertinya dimengerti Vania. Vania hanya menggigit bibirnya menahan malu.

Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan Vania dan Jasmin yang masih berdiri di depan pintu.

Alya mengikuti Elvira dari belakang. Rasa cemasnya tadi semakin hilang, tapi jantungnya masih berdebar kencang.

“Untung nggak ketahuan, Vir,” bisik Alya setelah mereka jauh dari ruangan.

“Iya, untung Vania buka sepatu dulu. Kalau nggak, pasti ketahuan kita,” kata Elvira yang juga masih deg-degan akibat kejadian tadi.

“Untung juga aku cepat-cepat beres-beres tadi. Dah merasa nggak enak hati sebenarnya,” sambung Elvira.

“Emm, tapi nggak apa-apa, kamu udah puas,” ujar Alya sedikit cemberut.

Elvira melihat wajah temannya yang berjalan sambil menunduk. Dia tahu apa maksud Alya.

Mereka terus menuju ke kamar asrama. Pada hari Sabtu, suasana asrama agak sepi. Banyak mahasiswa yang pulang ke kampung atau pergi jalan-jalan ke kota.

Setibanya di kamar, Elvira mengunci pintu dan menutup tirai. Alya menuju meja dan meletakkan barangnya di kursi. Elvira datang dari belakang dan memeluk Alya.

“Kamu mau aku puaskan, nggak?” bisik Elvira manja di telinga Alya. Alya memalingkan wajahnya dan mencari bibir Elvira. Bibir mereka bertaut.

Cuppp.

“Tentu mau, sayang. Nggak adil kalau cuma kamu yang puas tadi,” ujar Alya sambil kembali mencium bibir Elvira.

Nafsu mereka terangsang oleh ciuman itu. Bibir mereka saling berbalas ciuman yang panas. Tangan Elvira menjalar ke depan mencari payudara Alya yang membusung. Diramas-ramas kedua payudara Alya dengan kasar.

Sisa nikmat Elvira masih terasa sejak serambi lempitnya menelan batang Rizky, sementara Alya sudah basah kuyup sejak tadi akibat foreplay setengah jalan.

Elvira menyelipkan tangan ke dalam baju kurung Alya dan meraba payudaranya. Jari-jari Elvira mencari puting yang keras lalu dipencet-pencet manja. Alya mendesah kesenangan.

Tak lama kemudian, tangan Elvira mulai menjalar ke bawah menuju segitiga nikmat Alya. Tangannya menyelip ke dalam kain dan langsung masuk ke celana dalam. Jarinya merasakan lendir tebal di alur serambi lempitnya.

Dielus-elus manja alur itu sambil jari-jari menggosok klitoris yang sudah membesar. Punggung Alya terangkat-angkat menahan kenikmatan.

“Ahhhh, Elvirasss. Enak, Vir,” bisik Alya merengek manja. Semakin cepat jari Elvira menggosok alur serambi lempitnya mendengar rengekan itu.

“Elvirasss. Ssss.. Ahhh. Aku mau..,” bisik Alya yang sudah tidak keruan.

“Mau apa, sayangggg?” balas Elvira sambil jarinya sibuk menggosok serambi lempitnya.

“Aku mau kamu tusuk aku seperti Rizky tusuk kamu tadi,” pinta Alya.

Elvira terkejut mendengar permintaan kawannya itu lalu menjawab, “Tapi kamu kan masih perawan?” Tangannya terhenti menunggu jawaban Alya.

“Aku rela kehilangan keperawananku dengan jarimu daripada hilang oleh rudal Irwan besok,” jawab Alya pelan.

Alya memutar tubuhnya dan menatap mata Elvira manja. Mata Alya yang sayu bersinar-sinar memohon Elvira.

“Kamu yakin?”

“Iya sayang. Aku mau.”

Elvira tersenyum gembira. Akhirnya dia akan bisa memecahkan keperawanan Alya. Lagi pula Alya yang menginginkannya, dia tidak pernah memaksa sejak pertama kali mereka melakukan hubungan ini. Cukup sekadar bergesekan dari luar.

“Ok, tunggu sebentar,” ujar Elvira sambil menuju lemari pakaiannya. Alya duduk di atas ranjang, menunggu apa yang akan dilakukan Elvira.

Elvira membuka lemari dan mengambil tas kecil yang disimpan di bawah tumpukan pakaian. Tas dibuka dan dia mencapai sebuah botol kecil berwarna biru muda. Ngocoks.com

Setelah itu Elvira menuju ke arah Alya dan menunjukkan botol tersebut. ‘Durex?” tanya Alya sedikit bingung. “Bukannya Durex itu kondom? Kenapa ada botol?”

Elvira tersenyum dan duduk di sebelah Alya. “Ini pelumas. Mereka juga memproduksi ini selain kondom,” jawab Elvira.

“Pelumas ini buat apa?” Alya masih tidak mengerti tujuan Elvira.

“Selain melicinkan lubang serambi lempit, botol ini juga bisa dipakai untuk masturbasi,” jelas Elvira.

Alya masih bingung. Elvira mengabaikan kebingungan kawannya itu dan mencium bibir Alya. Alya menyambut ciuman itu dengan berahi. Mereka kini berbaring di atas ranjang. Elvira berada di atas tubuh Alya sambil meremas payudaranya yang besar.

Mereka tenggelam dalam asmara. Ciuman bertambah rakus dan air liur mereka membasahi pipi dan dagu. Alya juga meremas payudara Elvira yang hanya berlapiskan jubah. Habis miring jilbab mereka akibat bergumul hebat.

Elvira melepaskan bibirnya dan duduk di sebelah Alya. Nafas Alya terengah-engah setelah ciuman rakus dari Elvira. Matanya sayu memandang Elvira yang mulai melepas baju kurung yang dipakai Alya. Alya membantu dengan mengangkat badannya dan meluruskan tangannya ke atas.

Kemudian kainnya juga dilepas dan dibuang ke samping ranjang. Hanya tersisa pakaian dalam. Elvira pun melepas jubahnya dan kini telanjang bulat. Pakaian dalamnya memang tidak dipakai sejak pagi tadi.

Bersambung… Hari yang dinantikan akhirnya tiba. 32 anggota Kelab Konseling berangkat ke Kuala Lumpur selepas Zuhur dengan menaiki bus ekspres sewaan mereka untuk perjalanan selama 4 hari ini.

Semua pelajar perempuan ditempatkan di bagian belakang dan pelajar laki-laki di bagian depan. Dosen pendamping tidak mengizinkan mereka duduk campur untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Mereka berangkat di siang hari agar bisa tiba pada malam hari dan langsung beristirahat di hostel yang sudah dipesan sebelumnya. Kegiatan baru akan dimulai keesokan paginya.

Sebelum naik bus, Vania menemui Elvira dan meminta mereka duduk bersama di dalam bus nanti. Mereka berdua sebenarnya tidak terlalu akrab, hanya bertemu saat hari klub saja. Karena mereka berdua adalah pengurus, jadi seringlah duduk bersama untuk membahas rencana rombongan ini.

Elvira heran kenapa Vania begitu bersikeras ingin duduk bersama. Perjalanan dari Kelantan ke Kuala Lumpur cukup lama, teman duduk di bus sangat penting agar tidak bosan nanti.

Sepanjang perjalanan, Elvira dan Vania hanya berbincang ringan. Sebagian besar waktu mereka hanya diam. Vania sering memandang ke luar jendela seperti sedang memikirkan sesuatu. Elvira yakin ada alasan kenapa Vania berperilaku seperti ini.

Setelah berhenti rehat saat Asar, hampir semua pelajar di bus tertidur kelelahan. Elvira juga ingin memanfaatkan waktu untuk tidur. Baru saja hendak memejamkan mata, tiba-tiba Vania berbisik kepada Elvira, “Elvira. Aku ada sesuatu yang mau diberitahukan.”

Benar dugaan Elvira tadi. Vania pasti ingin mengatakan sesuatu. Dia menoleh ke arah Vania yang tampak gugup. Keningnya diangkat memberi isyarat agar Vania mengungkapkan apa yang ada di hatinya sejak tadi.

“Begini. Aku yang mengurus bagian penempatan. Kita akan sekamar, tahu,” kata Vania.

“Oh ya? Lalu?” tanya Elvira.

“Malam ini, pacarku mau masuk ke kamar kita,” jelas Vania membuat Elvira terkejut.

“Haaa??? Kamu sudah gila, Vania??” bisik Elvira agak keras sambil melirik ke tempat duduk belakang mereka. Untungnya Maya dan Inara sedang tidur nyenyak. Kalau mereka dengar, bisa heboh.

“Tolong, Elvira? Lagi pula…” Vania terhenti di situ.

“Lagi pula apa?” Elvira meminta Vania melanjutkan kalimatnya.

“Aku tahu… Aku tahu apa yang kamu dan Rizky lakukan di ruang operasi hari itu.” Betapa terkejutnya Elvira mengetahui ada orang yang mengetahui rahasia kotornya dengan Rizky.

Namun Elvira tidak mau menunjukkan ketakutannya. Dia tetap tenang. Vania hanya menatap mata Elvira, berharap dia mau menerima rencananya. Elvira tidak punya pilihan. Reputasinya sebagai gadis muslimah akan tercemar jika hal ini diketahui semua orang.

“Siapa lagi yang tahu?” tanya Elvira ingin memastikan.

“Hanya aku dan pacarku saja,” jawab Vania singkat.

“Kamu yakin pacarmu tidak memberitahu orang lain?” Elvira masih khawatir ada laki-laki lain yang mengetahuinya. Laki-laki mana bisa dipercaya sepenuhnya. Pasti ada balasan yang mereka inginkan. Vania mengangguk cepat.

“Emm. Ok. Tapi aku tidak mau ikut campur,” Elvira memberi syarat. Senyum kegembiraan terbit di bibir Vania ketika Elvira setuju memberi mereka ruang.

Elvira kembali memejamkan mata, berpura-pura tidur tanpa memikirkan apa-apa. Tetapi sebenarnya otaknya sibuk memikirkan apa yang akan terjadi malam ini. Vania segera mencapai ponselnya dan mengirim pesan kepada pacarnya.

Sekitar jam 10 malam, semua pelajar berkumpul di lobi hotel dengan wajah yang penat. Perjalanan dari Kelantan ke Kuala Lumpur dengan bus cukup melelahkan dan mereka semua ingin segera beristirahat di kamar. Vania tampak sibuk mengagihkan kunci kamar kepada para pelajar. Elvira hanya duduk menunggu di bangku sekitar lobi hotel.

Setelah sesi pembagian kunci selesai, semua pelajar menuju ke kamar masing-masing. Hotel bintang tiga tersebut tidak terlalu besar. Kamar-kamar mereka cukup berdekatan satu sama lain. Hanya kamar Vania yang agak jauh di dalam dibanding kamar pelajar lain. Tampaknya Vania sudah merencanakan semuanya dengan teliti.

Setibanya di kamar, Elvira dan Vania meletakkan barang masing-masing di lemari yang tersedia. Elvira merebahkan badan di atas ranjang dan memandang sekeliling kamar. Hanya ada satu ranjang berukuran King. Sepertinya mereka harus berbagi ranjang selama 2 malam ini. Kalau mereka melakukan sesuatu, di mana dia harus tidur?

“Elvira, mau mandi dulu nggak?” tanya Vania mengejutkan lamunan Elvira. Elvira hanya memandang ke langit-langit tanpa menoleh ke arah Vania dan bertanya, “Jam berapa pacarmu mau datang?” Vania agak terkejut dengan pertanyaan Elvira yang sangat to the point. Jam di ponsel dilihat, baru jam 10.30 malam. “Mungkin sekitar jam 11.30. Mau tunggu sampai semua orang tidur dulu,” jawab Vania.

Elvira hanya mengangguk paham. Dia punya waktu sekitar satu jam lagi untuk bersiap. Rencananya mau tidur saja di sofa yang terletak di samping balkon. Apa pun yang terjadi malam ini, biarlah Vania dan pacarnya yang tahu. Dia tidak mau ikut campur urusan mereka.

Tudung labuhnya ditanggalkan. Elvira mengambil handuk dan pakaian ganti dari dalam tas lalu menuju kamar mandi. Vania yang sedang duduk di tepi ranjang memperhatikan Elvira. Perasaan berdebarnya semakin kuat. Dia berharap Elvira mau bekerja sama untuk 2 malam ini.

“Err, Elvira. Mau mandi? Bukalah baju di luar. Lagi pula nggak ada orang lain sekarang,” tegur Vania melihat Elvira melangkah ke kamar mandi dengan pakaian lengkap. “Kasihan kamu repot-repot ganti baju di dalam. Nanti basah bajumu,” tambah Vania.

Langkah Elvira terhenti dan dia menjawab, “Oh ya juga. Hehe.” Elvira kembali ke lemari dan melepas jubah serta kain dalamnya. Tubuh Elvira hanya berlapis pakaian dalam berwarna krem. Vania agak tercengang melihat tubuh seksi milik temannya itu. Sungguh menggiurkan dibandingkan tubuhnya yang kurus tidak berisi.

Walaupun ukuran payudara mereka hampir sama, tapi payudara Elvira lebih kencang dan bulat dibandingkan payudaranya yang agak turun.

“Wow, nggak berkedip mata kamu lihat aku? Hehe,” tegur Elvira melihat Vania terpaku melihat free show tadi. Memang sengaja dia berani berbuat begitu, ingin melihat reaksi Vania.

“Errr, nggak ada kok. Kaget aja lihat kamu santai aja bugil. Haha,” jawab Vania malu.

“Eh, belum bugil ini. Masih ada bra dan celana dalam. Mau buka juga?” goda Elvira. Belum sempat Vania menjawab, Elvira melepas kaitan bra-nya dan melorotkannya ke bawah. Payudara kencang Elvira kini bebas. Bulat dan kenyal. Putingnya yang tadi tenggelam kini perlahan mengeras karena kedinginan. Kemudian Elvira melepas celana dalamnya menunjukkan segitiga emasnya. Bersih dan licin tidak berbulu. Agak gemuk dan klitorisnya sedikit menonjol.

“Woiii, sampai bugil pula kamu. Haha. Aku jadi malu lihat kamu,” Vania memejamkan mata dan berpaling. “Alah, apa yang malu? Bukan ada orang lain?” Elvira membalas dengan kata-kata Vania tadi. Sungguh tak disangka gadis selembut Elvira ini ternyata sangat open minded. Muncul kekhawatiran di hatinya jika pacarnya melihat tubuh Elvira yang menggiurkan ini.

Elvira berlalu masuk ke kamar mandi sambil berbugil melintasi Vania. Mata Vania terbuka sedikit mengintip rakannya masuk ke kamar mandi. Setelah pintu ditutup, barulah Vania membuka matanya dan merasa lega. Menyesal pula dia menegur Elvira tadi. Tidak tahu kalau Elvira seberani ini.

Setelah 10 menit berlalu, Elvira keluar berkemban dengan handuknya. Vania sudah siap berkemban untuk mandi juga. Saat dia bangun dari ranjang, Elvira tiba-tiba menarik handuk Vania dan melemparkannya ke lantai. Vania berteriak saat menyadari dirinya bugil di depan Elvira.

“Ahhhh! Elvirass! Apa nii!!!?” jerit Vania sambil tangannya mencoba menutup payudara dan serambi lempitnya. Elvira hanya tertawa melihat reaksi Vania yang kalang kabut. “Nggak adil dong. Kamu udah lihat aku tadi. Sekarang giliran aku. Hehe,” ujar Elvira santai. Vania hanya menunduk malu.

Belum pernah ada orang lain selain pacarnya yang melihat tubuh telanjangnya. Tak disangka seorang gadis muslimah bernama Elvira ini bisa melihat dirinya tanpa sehelai benang pun. Tetapi saat dipikirkan lagi, dia juga sudah melihat Elvira tadi. Jadi tak masalah jika Elvira melihatnya sekarang. Vania berpikir begitu tanpa mengetahui bahwa Elvira sebenarnya seorang biseksual.

Perlahan-lahan Vania melepaskan kedua tangannya. Payudaranya kini terlihat di hadapan Elvira. Elvira menatap kedua payudara milik Vania. Agak kendur tapi masih berisi di bagian bawah. Putingnya menegak ke atas. Puting seperti ini enak dihisap, pikir Elvira.

Kemudian matanya melirik ke bawah, melihat serambi lempit Vania yang tidak tertutup. Elvira mengangkat alis ketika melihat keadaan serambi lempit Vania. Berbulu lebat dan agak gelap di antara pahanya. Alur serambi lempitnya tidak terlihat. Vania tiba-tiba menjadi malu dan menutup serambi lempitnya dengan tangan.

“Emm, jangan lihat seperti itu dong. Malu aku,” ujar Vania lemah. Kepercayaan dirinya seketika jatuh. Bagaimana tidak, serambi lempit Elvira yang sangat bersih jauh berbeda dengan miliknya. Elvira menggelengkan kepala dan tersenyum. Dia mendekati Vania dan berkata, “Malam ini kan spesial. Biar aku bantu bersihkan.”

Vania mengangkat kepalanya memandang Elvira, tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ‘bantu’ itu. Elvira tetap tersenyum saat melihat reaksi Vania. “Ok, kamu mandi dulu. Sebentar lagi aku masuk,” perintah Elvira sambil mendorong Vania masuk ke kamar mandi.

Vania menurut dan mulai mandi. Elvira segera mengambil tasnya dan mengambil sesuatu. Dia menunggu beberapa menit memberi Vania waktu untuk membersihkan diri. Setelah merasa Vania selesai mandi, Elvira mengetuk pintu kamar mandi dan Vania membukanya. “Aku masuk, ya?” Elvira meminta izin dan masuk ke kamar mandi.

“A.. Kamu mau ngapain?” tanya Vania ketakutan. Ada dua gadis telanjang di ruang kecil itu, membuat Vania tidak nyaman.

Elvira mengeluarkan gunting kecil, pisau cukur, dan sebotol krim yang diambil tadi dan menunjukkan kepada Vania. “Ini. Aku mau bantu bersihkan kamu. Harus bersih kalau mau ketemu pacar. Hehe,” Elvira menjelaskan kepada Vania. Vania hanya mengangguk walau ragu-ragu.

Vania diminta duduk di sebelah wastafel dan membuka kangkangnya. Awalnya Vania menolak, tapi Elvira membujuknya dengan mengatakan ini semua untuk kebaikan dirinya dan pacarnya.

Posisi duduk Vania dibetulkan. Elvira membuka lebar kangkang Vania. Vania memejamkan mata rapat-rapat. Otaknya sibuk memproses apa yang sedang terjadi. Tak pernah terbayang dia akan menunjukkan serambi lempitnya kepada perempuan. Mukanya merah padam tak bisa disembunyikan.

Bulu lebat Vania dicoba ditarik perlahan. Elvira mulai memotongnya dengan hati-hati. Vania diam tak bergerak supaya serambi lempitnya tidak terluka.

Setelah bulu ditipiskan, Elvira mengambil pisau cukur dan perlahan menariknya di permukaan serambi lempit Vania. Saat jari Elvira menyelip bibir serambi lempit, Vania merasa sesuatu yang aneh. Sensasi jari lembut seorang gadis memegang serambi lempitnya terasa nyaman.

Vania mengabaikan perasaan itu dan ingin cepat selesai. serambi lempitnya diulik-ulik jari Elvira yang sibuk mencukur bulunya. Cukup lama juga Elvira membersihkan seluruh serambi lempit Vania. Sepertinya Vania tidak pernah mencukur licin serambi lempitnya sendiri.

“Emm. Kamu harus jaga juga bagian pribadi ini. Jangan pakai celana dalam yang lembab. Makanya jadi gelap di area ini,” ajar Elvira kepada Vania. Vania hanya diam karena malu sekali.

“Tak apa. Nanti aku kasih tips merawatnya supaya bersih,” sambung Elvira yang sudah selesai mencukur bulu kawannya itu. Elvira mengambil selang air dan membilas sedikit bagian serambi lempit Vania agar sisa-sisa bulu hilang sepenuhnya.

“Sss. Ahhhh, pelan-pelan dong Elvirasss,” erang Vania tiba-tiba. Elvira sengaja memancurkan sedikit air ke klitoris Vania. Tangannya kemudian menyapu permukaan serambi lempit sambil jarinya menggesek alur serambi lempit Vania.

Melihat reaksi Vania yang tampak menikmati permainan jarinya, Elvira terus menggosok klitoris Vania perlahan. Vania berusaha menutup kangkangnya namun Elvira menahannya. Posisi Vania sangat terbuka sehingga memudahkan Elvira melakukan tugasnya.

Jari Elvira cepat menggosok klitoris dan sambil itu jarinya yang lain menjolok lubang serambi lempit Vania. Masuknya jarinya cukup lancar karena cairan lubrikasi Vania sudah mulai keluar sejak Elvira menggosok klitorisnya tadi.

“Ahhh… Elvirassss. Ssss… Ahhhh… Jangannnn…,” rayu Vania melarang Elvira. Tapi larangannya hanya di mulut. serambi lempitlnya memberikan reaksi berbeda dengan mengemut kuat jari Elvira. Lubang serambi lempit dikorek cepat. Kini dua jari menerobos lubang nikmatnya itu.

“Jangan Virrr… Ahhhh… Nanti aku… Ahhhhh…,” suara Vania tersendat-sendat menahan erangan. Hampir mencapai puncak, Elvira mulai menjilat klitoris Vania sambil menghisap kuat. Jarinya menjolok lebih cepat mengikuti irama jilatannya.

“Aniiisssss… Aku mau sampaiii dahhhh!” teriak Vania keras. Suaranya tidak lagi disimpan, malunya sudah hilang.

“Ahhhhhh!!!” Vania mencapai klimaks dan mengangkat panggulnya tinggi. Pahanya dikempitkan membuat Elvira terperangkap di celah kangkang Vania. Lidah Elvira masih menjilat-jilat serambi lempit dan jarinya dikeluarkan.

Cairan putih pekat mengalir perlahan dari lubang serambi lempit Vania. Cukup banyak juga cairannya sampai mengalir ke lubang anus. Elvira tidak melewatkan kesempatan untuk menjilat cairan pekat itu. Ngocoks.com

Jika Alya klimaks dengan menyemprotkan cairan, Vania berbeda cara klimaksnya. Air mani perempuan sudah lama diidamkan Elvira. Vania tersandar kelelahan. Dadanya naik turun menarik napas terengah-engah.

Pertama kali dia dipuaskan hanya dengan masturbasi. Pacarnya sendiri tidak pernah menjilat serambi lempitnya karena geli. Tetapi Elvira sama sekali tidak peduli dengan keadaan serambi lempitnya yang gelap. Terasa tubuhnya dihargai.

Elvira menjilat habis semua cairan yang mengalir. Lubang serambi lempit Vania kadang-kadang mengemut menahan geli. Kemudian Elvira membersihkan serambi lempit Vania dengan air dan mengelapnya dengan handuk. Lalu dituangkan sedikit krim ‘After Shave’ di sekitar serambi lempit Vania.

“Setelah bercukur, kamu harus oleskan krim ini ya? Supaya tidak gatal-gatal serambi lempitnya,” pesan Elvira kepada Vania yang masih tersandar. Vania hanya mengangguk tanda paham.

Tiba-tiba teleponnya berdering. Vania terbangun dari lamunannya dan bergegas mengambil teleponnya. Elvira keluar mencari baju dan jilbabnya untuk dipakai. Dia tahu itu adalah panggilan dari pacar Vania.

“Sayang, dia sudah hampir sampai. Kamu gimana?” tanya Vania ingin tahu rencana Elvira.

“Aku baring di sofa ini aja. Yuk bantu aku putar sofanya,” jawab Elvira.

Sofa yang terletak di sebelah tempat tidur diputar menghadap balkon, membelakangi tempat tidur. Jadi Elvira akan berbaring di sofa itu sambil melihat ke luar. Mereka juga tidak akan melihat Elvira saat berada di tempat tidur.

Setelah semuanya siap, Vania pun bersiap menyambut pacarnya masuk.

Bersambung… Pintu kamar dibuka perlahan. Vania menjulurkan kepalanya keluar mencari pacarnya, Jasmin. Terlihat Jasmin sedang berdiri di ujung koridor dengan penuh debaran. Begitu melihat Vania memberi isyarat untuk masuk, Jasmin segera menuju ke kamar tersebut.

Mereka memastikan sekeliling koridor aman terlebih dahulu, barulah Jasmin masuk ke dalam kamar hotel Vania. Begitu pintu terkunci, Jasmin langsung merangkul pinggang Vania dan bibir mereka bertaut erat.

Seolah-olah sudah bertahun-tahun tidak bertemu, pelukan mereka sangat erat dan ciuman mereka begitu rakus. Padahal mereka baru saja bertemu sebentar tadi saat pembagian kunci.

“Mmmuahhh… Muahhhhh…,” bunyi ciuman mereka menggema memecah keheningan kamar. Elvira yang sedang berbaring, menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Dia tidak ingin melihat apalagi mendengar suara dua insan yang sedang berasmara. Elvira berusaha sedapat mungkin bersembunyi di balik sofa hotel tersebut.

Vania dan Jasmin berpelukan sambil berjalan menuju tempat tidur. Entah kapan terakhir kali mereka berhubungan, malam itu nafsu mereka dilampiaskan sepuas-puasnya. Langkah mereka terhenti di pinggir tempat tidur.

Saat itu, tangan mereka mulai menjelajahi seluruh tubuh, meraba-raba. Vania mengusap punggung Jasmin hingga ke pinggang. Sasarannya adalah pantat berotot pacarnya yang aktif berolahraga itu.

Pantat Jasmin diramas-ramas dengan kedua tangan. Sementara tangan Jasmin meremas payudara Vania yang hanya berlapis baju tidur satin. Putingnya yang menegang terlihat menonjol menembus kain satin yang licin.

Sesekali Jasmin memencet puting keras itu dan menariknya kuat. Vania kadang harus menolak tangan Jasmin karena merasa kesakitan.

Jasmin bukanlah seseorang yang mahir memuaskan pasangan. Sifatnya yang terburu-buru selalu berakhir dengan ejakulasi dini. Hal ini membuat Vania sering merasa tidak puas karena nafsunya tidak terpenuhi dengan baik.

Namun malam ini mungkin berbeda dari sebelumnya. Mungkin Vania akhirnya dapat menikmati puncak klimaksnya karena mereka berasmara di dalam kamar yang tertutup, tanpa takut terganggu. Jika sebelumnya mereka hanya bisa bersama di dalam mobil, tangga blok, atau kelas kosong, malam ini mereka bisa bersama tanpa tekanan.

Air liur mereka berdua berceceran di pipi masing-masing. Seperti binatang yang kelaparan menikmati makanan. Bunyi ciuman itu membuat Elvira merasa tidak nyaman. Sepanjang pengalamannya dalam dunia seks, dia tidak pernah berciuman seperti itu. Berbeda dengan ciuman penuh gairah, ini lebih mirip ciuman kebulur. Jijik rasanya mendengarnya.

Jasmin melepaskan pelukannya dan meminta Vania membuka bajunya. Perlahan-lahan Vania membuka kancing baju tidur satinnya, sementara Jasmin hanya butuh 5 detik untuk telanjang. Memang terlihat jelas kegelisahannya.

Batang rudalnya cukup panjang dengan kepala yang meruncing. Tersengguk-sengguk menunggu giliran untuk dipuaskan. Jika ada perempuan yang melihat batangnya, pasti air liur mereka akan menetes.

Baru saja Vania menyelipkan bajunya, Jasmin langsung menyerang payudara Vania yang lama diidamkannya. Diramas-ramas kuat sambil menghisap dan menggigit putingnya. Vania mendesah dan menolak kepala Jasmin agar melepaskan payudaranya yang kepedihan.

Vania mulai kehilangan minat dengan perilaku pacarnya itu. Dia pikir malam ini bisa menikmati hubungan seks sepuas-puasnya, namun semua itu hanya angan-angan. Jasmin tetap lelaki yang sama seperti sebelumnya, terburu-buru.

“Cepat, hisap rudal abi,” perintah Jasmin sambil mendorong Vania duduk di tepi tempat tidur. Vania menuruti perintah pacarnya dan mulai memegang batang rudal yang panjang itu. Dia memulai dengan menjilat pangkal rudal Jasmin yang berbulu lebat. Lidahnya dimainkan dari bawah hingga ke atas. Sesekali Vania meludah karena ada bulu yang melekat.

Sudah biasa dengan aroma kuat di sekitar kemaluan Jasmin, Vania melanjutkan hisapannya. Kali ini dia memasukkan batang rudal itu ke dalam mulutnya. Hanya separuh yang bisa ditelannya karena terlalu panjang. Sekitar 7,5 inci ukuran batang rudal Jasmin.

Jasmin merasa tidak puas dengan cara hisapan yang dilakukan pacarnya. Dia lalu memegang belakang kepala Vania dan menekan-nekan rudalnya ke dalam mulut Vania. Ini membuat Vania tersedak dan terbatuk.

Tenggorokannya ditusuk-tusuk rudal Jasmin. Air liurnya menetes menahan dorongan objek tumpul itu di dalam mulutnya.

Vania terpaksa menepuk paha Jasmin memberi isyarat bahwa dia sudah tidak bisa menahan lagi dorongan itu. rudal Jasmin dimuntahkan bersama air liur pekat Vania. Terasa sedikit pusing kepalanya akibat perlakuan kasar pacarnya.

Belum sempat Vania mengatur napas, Jasmin memintanya berbaring di atas tempat tidur empuk itu dan membuka celananya. Dengan sekali tarik, celana Vania dilempar ke samping. Jasmin langsung memanjat tempat tidur dan berlutut di antara kaki Vania.

Tanpa melihat sedikitpun ke arah serambi lempit Vania yang sudah dicukur bersih. Vania menunggu pujian yang didambakannya karena membersihkan serambi lempitnya khusus untuk malam ini. Tapi dia kecewa karena Jasmin tidak menghiraukannya.

rudal digesek-gesek sejenak di alur serambi lempit. Vania berusaha menumpukan gairahnya di serambi lempit agar sedikit basah sehingga proses penetrasi berjalan lancar.

Sayangnya, belum sempat cairan lubrikasinya keluar, Jasmin langsung menembus lubang serambi lempit Vania yang kering itu. Vania menjerit karena tiba-tiba serambi lempitnya dijolok dalam keadaan kering. Pedihnya bukan main.

“Ahhh aduhh abi… Pelan-pelan dong… Ssss aduhhh!” teriak Vania menahan kesakitan. Jasmin yang mengira pacarnya mengerang kesenangan, menambah kecepatan dorongannya. rudal panjangnya menusuk-nusuk dinding serviks Vania.

Air mata Vania menetes karena kesakitan yang luar biasa. Bagaikan diperkosa, perasaan Vania tidak dihiraukan. Jasmin hanya fokus pada rudalnya. Dorongan demi dorongan diberikan. Semakin lama semakin cepat.

“Ahhhh enak babyyyy… Ahhh!” tiba-tiba Jasmin mengeluarkan batang rudalnya dan memancurkan air mani ke perut Vania. Beberapa kali tembakan mengenai payudara dan leher Vania.

Tidak sampai semenit mereka berhubungan, akhirnya Jasmin mencapai klimaks. Namun, semenit nikmat bagi Jasmin bagaikan satu jam siksaan bagi Vania. Vania merasa lega karena semuanya sudah selesai.

Jasmin terbaring di samping Vania mengatur napas. Tidak sesuai dengan tubuh atletiknya, stamina Jasmin saat berhubungan seks sangat lemah.

Mungkin malam ini adalah sesi terlama bagi Jasmin. Sebelumnya hanya beberapa dorongan sudah membuat Jasmin ejakulasi. Vania berpikir Jasmin ingin cepat selesai karena takut ketahuan. Ternyata pacarnya memang lemah tenaga batin.

Vania hanya menatap ke samping, membelakangi Jasmin. Dia tidak sanggup melihat wajah lelaki yang hanya mementingkan diri itu. Perasaan Vania diabaikan. Jasmin tidak pernah bertanya apakah dia puas atau tidak. Yang penting dia ejakulasi. Titik.

“Fuhhh. Enaknya baby.. Ok lah. Abi harus balik ke kamar. Nanti apa kata orang kalau abi tidak ada di kamar malam ini,” ujar Jasmin sambil bangun mencari pakaiannya. Vania hanya diam membisu. Matanya terpejam rapat.

“Eh, tidur pula baby kita ini. Capek ya. Hehe,” kata Jasmin yang sedang bersiap. “Ok baby, selamat malam,” Jasmin berkata dan langsung menuju pintu. Dia pergi tanpa menoleh lagi. Setelah pintu tertutup, barulah Vania membuka matanya dan air matanya berderai.

Teresak-esak tangisan Vania yang masih terbaring telanjang. Elvira yang sedari tadi memperhatikan aksi mereka, bangun menghampiri Vania. Elvira berbaring di samping Vania dan mengusap kepalanya lembut. “Shhh… Jangan nangis sayang. Sabar, ya?” hibur Elvira.

Vania menoleh ke arah Elvira dan berkata, “Kamu lihat semua tadi?” Elvira mengangguk dan Vania menangis semakin keras. Dia berpaling dan memeluk Elvira serta menangis di bahunya. “Huaaaa. Malunya aku… Kamu lihat semuanya…,” teriak Vania.

Elvira membiarkan saja Vania menangis melepaskan semua kesedihannya. Dia tahu Vania butuh waktu. Elvira mengusap-usap punggung Vania, mencoba menenangkan temannya itu.

Mungkin Vania lupa bahwa dia sedang telanjang bulat. Elvira membiarkan payudara Vania menempel di tubuhnya tanpa lapisan. Sekarang bukan waktunya untuk mengambil kesempatan. Elvira hanya bersabar.

Setelah beberapa menit, tangisan Vania mulai reda. Baju Elvira basah oleh air mata Vania yang deras mengalir. Vania semakin lama semakin diam, sesekali tersedu. Ketika Elvira merasa Vania sudah tenang, dia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Vania.

“Dia memang selalu begitu?” tanya Elvira pada Vania yang matanya merah itu. Vania mengangguk pelan, air mata kembali muncul di ujung matanya. “Kasar dan terburu-buru sejak dulu?” lanjut Elvira.

“Hmm. Iya, dia selalu menyuruh aku menghisap lalu menekannya dalam-dalam. Aku sering muntah karenanya. Dia hanya tertawa saja saat aku begitu,” jawab Vania sambil melanjutkan, “Kalau memasukkan juga dia cepat ejakulasi.

Aku pikir karena dia ingin cepat-cepat. Ya, kami sering melakukannya di mobil, tangga blok, tempat-tempat terbuka. Jadi aku pikir dia takut ketahuan makanya dia cepat-cepat ejakulasi. Ternyata…”

“Ternyata dia memang lemah?” seloroh Elvira sambil tersenyum. Vania mengangguk sambil tertawa. Dia sebenarnya tidak tega mengatakan hal itu, tapi Elvira dengan santainya mengatakannya.

“Sebenarnya aku mengintip sedikit tadi. Suaranya aneh. Saat kulihat, hmm… memang kamu tersiksa. Kasihan kamu,” kata Elvira sambil mengelap pipi Vania yang basah. Vania memandang sayu ke arah Elvira, mengiyakan kata-kata Elvira tadi.

“Sebenarnya aku sayang banget sama dia. Meskipun dia sering membuatku sakit, tapi entahlah. Aku tetap sayang,” jelas Vania.

“Tapi bahaya kalau begini, kamu. Ini belum menikah. Kalau sudah menikah nanti bagaimana?” kata Elvira. Vania hanya menunduk diam.

Elvira memegang dagu Vania dan menarik wajahnya mendekat. Sebuah ciuman diberikan di bibir Vania. Vania terkejut dengan perlakuan temannya, tapi dia tidak marah. Melihat tidak ada reaksi penolakan, Elvira mencium lagi bibirnya.

Kali ini bibir Vania membalas ciumannya. Bibir mereka saling bertaut perlahan, bergantian menyerang. Tidak terburu-buru, semuanya dilakukan dengan penuh perasaan.

Vania mulai menikmati ciuman itu. Tidak menyangka akan berciuman dengan perempuan. Dan ternyata jauh lebih nikmat daripada berciuman dengan Jasmin. Vania mulai tenggelam dan khayal. Inilah yang dia butuhkan.

Saat asyik berciuman, Elvira mulai meremas payudara Vania yang terdedah tanpa lapisan. Putingnya mulai tegang setelah digentel Elvira. Mereka terus bercumbu melayani perasaan. Vania merasa sangat tenang dan aman.

Tangan Elvira mulai turun ke lembah nikmat yang sudah basah. Inilah foreplay yang Vania butuhkan. Cairan lubrikasinya mulai membasahi serambi lempitnya yang kering. Ini memudahkan Elvira untuk menggesekkan jarinya sepanjang alur serambi lempit licin Vania.

“Ahhhh…,” desah Vania saat klitorisnya diulik. Elvira memijat lembut klitoris yang mulai bengkak sambil menggosok alur serambi lempitnya. Semakin lama serambi lempitnya semakin berair. Vania sudah tidak tahan lagi.

“Elvirass… Ahhhh… Enaknya kamu mainin,” bisik Vania di telinga Elvira. Bibir mereka tidak lagi bertaut karena Vania tidak dapat menahan nafsunya. Ngocoks.com

Tanpa membuang waktu, Elvira mulai menjolok jari telunjuknya ke dalam lubang serambi lempit Vania. “Ssss… Ahhhh… Elvirasss…,” desah Vania yang semakin girang. Jarinya masuk dengan lancar ke dalam gua nikmat itu. Ruang dalamannya agak longgar mungkin karena baru saja ditusuk rudal panjang Jasmin tadi.

Jari Elvira mulai mengorek lubang serambi lempit dengan cepat. Tepat mengenai titik nikmat Vania. Panggul Vania bergoyang mengikuti irama. Sangat nikmat diperlakukan seperti itu. Vania tenggelam dalam lautan berahi.

Elvira lalu memasukkan jari tengahnya. Kini dua jari memenuhi lubang serambi lempit Vania. Jari-jari itu dibengkokkan lalu ditarik-tarik cepat. Tusukan demi tusukan diberikan. Vania mulai gila. Nikmat ini belum pernah dirasakannya. Lebih enak daripada rudal pacarnya.

“Ahhhh Elvirasss. Kamu ngapain iniiii… Kenapa… Ahhh… Enak bangettt…,” teriak Vania menggila. Kepalanya berpindah-pindah dari kiri ke kanan. Matanya terpejam rapat. Seperti dirasuki, Vania berteriak nikmat, “AHHHHH… AHHHHHHHH!”

Tubuh Vania melambung ke atas mencapai klimaks agungnya. Nikmatnya sampai ke otak. Elvira yang terkejut dengan reaksi Vania cepat-cepat menarik jarinya keluar. Penuh dengan lendir putih yang menempel di kedua jarinya. Lubang Vania juga meleleh dengan cairan yang sama. Elvira memasukkan jarinya ke mulut dan membersihkan cairan itu.

Tubuh Vania masih bergetar-getar, panggulnya terangkat-angkat. Elvira membiarkan temannya menikmati klimaksnya. Cukup lama Vania mencapai klimaks. Sementara menunggu selesai, Elvira beralih ke celah paha Vania dan menjilat air mani yang mengalir ke lubang anus. Vania terkejut menerima kejutan dari Elvira.

Habis licin air mani ditelan Elvira. Betapa senangnya Elvira bisa menikmati air mani perempuan yang sudah lama ia idamkan.

Vania mulai tenang dan matanya masih terpejam. Ketika diamati, ternyata Vania sudah tertidur. Elvira tersenyum melihat Vania lalu mengambil selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Khawatir kedinginan karena AC kamar hotel yang sangat dingin.

Elvira pun berbaring di sebelah Vania dan tidur bersama-samanya.

Bersambung… Bunyi alarm di ponsel Elvira berdering keras. Elvira segera bangkit dari tidurnya dan mematikan alarm yang mengganggu tidurnya. Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Elvira berpaling ke samping dan melihat Vania sedang tidur nyenyak tanpa sehelai benang pun.

Mata Elvira memandang Vania seperti singa yang kelaparan. Sudah lama dia tidak ‘sarapan’ dengan karipap dan pau. Elvira lalu memanjat tubuh Vania dan menyasarkan payudaranya. Puting Vania ditempatkan tepat di lubang hidungnya. “Hnssffff,” Elvira menghirup aroma tubuh Vania. Batang hidungnya bergerak dari leher ke payudara, turun ke perut dan akhirnya ke serambi lempit. Kaki Vania dikangkangkan untuk memudahkan Elvira bekerja.

Di serambi lempit, baunya agak kuat karena Vania tidak membersihkan diri setelah mengeluarkan banyak cairan semalam. Tapi Elvira tidak peduli. Dia mulai menjilat klitoris Vania perlahan. Lidahnya menjilat dari atas ke bawah melalui alur serambi lempit. Elvira menyelak labia Vania, memperlihatkan lubang yang sedikit terbuka. Sambil menyelak labia, Elvira melajukan jilatannya.

Vania mulai merespons meski masih tidur. Pinggangnya bergerak ke kiri dan ke kanan. Punggungnya terangkat sedikit, membuat serambi lempit lebih tinggi dan mulut Elvira tenggelam di celah alur serambi lempit Vania. Desahan mulai keluar dari mulut Vania yang masih bermimpi. Meski punggungnya bergerak, Elvira tetap fokus menjilat serambi lempit itu.

Tiba-tiba, Vania terbangun dan terduduk. Tangannya memegang kepala Elvira dan menekannya kuat pada serambi lempitnya. Vania menekan punggungnya dan mengerang keras, “ARGGHHHHH!!” serambi lempitnya bergetar hebat mencapai klimaks di pagi yang hening itu. Elvira pasrah saat paha Vania mengepit kepalanya. Kemudian Vania kembali terbaring dan melepaskan kepala Elvira. Mulut dan dagu Elvira basah oleh cairan serambi lempit Vania yang melimpah saat klimaks tadi.

“Elvirasss. Haa… Hahhh.. Apa yang kamu lakukan niii… Hahhh… Hahhh.. Pagi-pagi sudah buat aku klimaks,” kata Vania sambil terengah-engah.

“Hehe. Sarapan pagi,” jawab Elvira sambil tersenyum. Elvira lalu melepas pakaiannya dan bertelanjang bulat. Dia memanjat tubuh Vania dan mencium bibirnya. Vania menyambut ciuman itu dengan gairah. Kini dia menyukai bibir seorang perempuan. Bibir mereka saling bertaut, sesekali Elvira menggigit bibir atas Vania, lalu Vania menggigit manja bibir bawah Elvira. Mereka berdua sudah tenggelam dalam gairah.

Elvira kemudian turun sedikit menjilat leher Vania. Dari bawah dagu hingga ke bahu, dia mencium dan menjilat basah. Sementara itu, Elvira merapatkan serambi lempitnya ke paha kiri Vania, menggesek-gesek pelan sambil melanjutkan jilatan di leher.

Elvira kembali ke bibir Vania dan menjulurkan lidahnya. Seperti mengerti, Vania menyedot lidah Elvira yang penuh air liur itu. Setelah itu, lidah mereka saling berlaga, menjilat satu sama lain. Mereka juga bertukar air liur saat asyik berciuman.

Lidah Vania dilepaskan. Elvira turun ke dada Vania dan menggenggam payudara yang melendut ke samping. Kedua payudara Vania kini dalam genggaman Elvira. Putingnya yang keras menonjol di tengah-tengah genggaman. Elvira menjilat puting tersebut kemudian menyedotnya. Puting kiri dan kanan disedot bergantian. Vania mendongak, menikmati lidah Elvira yang bermain di payudaranya.

Setelah itu, Elvira turun ke celah paha Vania dan menguak kakinya lebar. Pahanya diangkat dan dirapatkan ke tubuh, membuat serambi lempitnya terbuka lebar. Elvira menunduk dan mencium serambi lempit Vania. Kelentitnya disedot dan lidah Elvira menjilat alur serambi lempit.

“Ahhh…,” desah Vania saat lidah menyentuh serambi lempitnya. Bibirnya digigit perlahan tanda dia menikmati. Elvira membuka labia serambi lempit Vania dan menjilat lebih cepat. Tangan kirinya memegang paha Vania, sementara tangan kanan meremas payudaranya. Puting Vania dipijat manja, menambah kenikmatan Vania saat dua titik sensualnya dirangsang bersamaan.

Elvira melepaskan mulutnya dari serambi lempit dan mencium serta menjilat punggung Vania. Tangannya menggosok serambi lempit yang sudah basah itu. Elvira melirik ke arah Vania yang terus mendesah manja dengan mata terpejam. Elvira tersenyum dan ingin terus memuaskan temannya yang bergairah itu.

Jari Elvira dijulurkan dan dimasukkan ke dalam lubang serambi lempit Vania. Pelumas alami yang melimpah memudahkan jarinya masuk. “Ahhhh… Emmmm…,” erang Vania saat serambi lempitnya ditusuk. Elvira menjolok lubang serambi lempit itu dengan cepat. Sesekali kelentit Vania juga disedot.

Ketika semakin basah, Elvira memasukkan dua jari. Tidak terlalu ketat. Mungkin rudal Jasmin yang besar sudah sering menerobos lubang serambi lempit Vania. Namun kasihan Vania karena tidak pernah merasakan nikmatnya rudal yang sebenarnya.

Lubang serambi lempit Vania dikorek-korek. Jari Elvira tepat mengenai titik G Vania. Suara erangan Vania semakin keras. “AHHHH… ARGHHHH.. Elviraaaaa… ENAK Virrrr…!” jerit Vania yang sudah tidak bisa mengendalikan nafsunya. Punggungnya terangkat, serambi lempit menekan ke atas. Elvira hampir kehilangan keseimbangan, lalu memegang paha Vania dan melajukan tusukan jarinya. Vania menggeliat kesenangan. Tubuhnya terangkat-angkat menahan asakan dari Elvira.

“ElviraSSS… AKU MAU KELUAR LAGI!” Vania terduduk dan berteriak. Elvira terus menusuk sedalam-dalamnya, dan Vania pun mencapai klimaks untuk kedua kalinya pagi itu. Elvira memperlambat gerakannya, memberi ruang bagi Vania untuk menikmati klimaks. Elvira kemudian menarik jarinya keluar, dan cairan putih mengalir cepat dari lubang serambi lempit Vania.

Elvira tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjilat cairan itu. Dari lubang anus, Elvira menjilat naik hingga ke serambi lempit. Vania kembali terbaring dengan napas terengah-engah. Tidak menyangka pagi ini saja sudah dua kali dia klimaks. Elvira pun berbaring di sebelahnya dan memasukkan jarinya yang berlumuran cairan itu ke dalam mulut Vania. Vania menghisap jari Elvira, membersihkan sisa-sisa cairan kenikmatannya sendiri.

Mereka berciuman sebentar sebelum Elvira mengajak Vania mandi bersama. Aktivitas klub akan dimulai sebentar lagi. Karena waktu yang terbatas, mereka mandi bersama, membersihkan tubuh masing-masing. Setelah salat Subuh, mereka bergegas turun ke lobi dan berkumpul dengan mahasiswa lainnya.

Aktivitas hari itu adalah mengunjungi sebuah universitas di tengah kota. Elvira dan Vania sibuk mengurus tanggung jawab mereka selama kunjungan tersebut. Waktu berlalu cepat dan mereka kembali ke hotel.

Vania memberitahu Elvira bahwa malam ini Jasmin tidak akan datang ke kamarnya. Dia memutuskan untuk tidak bertemu pacarnya lagi setelah kejadian yang cukup mengecewakan semalam. Cukuplah sampai di situ hubungan mereka. Vania sudah kapok diperlakukan seperti hamba.

Elvira yang senang mendengar kabar itu segera menelepon seseorang. Vania mengira Elvira punya urusan penting tentang klub dan membiarkannya sendiri. Elvira meminta Vania kembali ke kamar dan membersihkan diri.

Tak lama kemudian, Elvira masuk ke kamar dan mendapati Vania sedang berbaring hanya dengan memakai bathrobe. Rambutnya diikat dengan handuk untuk mengeringkannya. Elvira lalu meminta izin untuk mandi, meninggalkan Vania sendirian di atas ranjang.

Saat asyik menonton televisi, Vania mendengar pintu kamar diketuk. Vania heran siapa yang datang malam-malam begini. Ketika mengintip melalui lubang di pintu, terlihat seorang pria berambut panjang hingga bahu, berjambang tipis, berdiri di depan pintu.

Vania panik dan memanggil Elvira yang baru saja keluar dari kamar mandi. Reaksi Elvira sangat antusias dan dia berlari menuju pintu.

“Eii Elvira. Kamu cuma pakai handuk. Pria yang ketuk pintu!” Vania memberi peringatan pada Elvira yang ingin membuka pintu. Dia khawatir jika mereka dalam bahaya, apalagi keduanya hanya memakai handuk dan bathrobe.

“Jangan khawatir. Aku punya kejutan buat kamu. Hehehe,” jawab Elvira dengan tenang, lalu membuka pintu. Begitu pintu terbuka, Elvira langsung menarik pria tersebut masuk. Vania yang terkejut berlari dan bersembunyi di kamar mandi.

“Sayangggg!” teriak Elvira begitu pintu tertutup.

“Rindunyaaaa!” Mereka berpelukan seperti kekasih yang sudah lama tidak bertemu.

Ternyata, pria misterius itu adalah pacar Elvira, Fahmi. Sebelumnya, Elvira menelepon Fahmi untuk datang ke kamar mereka. Karena Fahmi tinggal tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap, mudah saja baginya untuk datang.

“Vania! Keluar sini. Ini pacarku,” panggil Elvira kepada Vania yang masih bersembunyi di kamar mandi.

“Ih, malu. Aku belum pakai baju,” jawab Vania dari dalam.

“Ah, nggak usah malu. Sini,” bujuk Elvira. Vania perlahan-lahan keluar dan mendekati mereka berdua.

“Kenalin, ini Fahmi, pacarku,” Elvira memeluk pinggang Fahmi sambil memperkenalkan pacarnya kepada Vania.

“Errr, hai. S.. Saya Sss Vania,” jawab Vania gagap.

Fahmi tersenyum melihat Vania yang malu itu. Lalu dia berkata, “Yuk?”.

“Yuk,” jawab Elvira. Vania yang masih bingung bertanya, “Yuk apa?”

Di lobi hotel, Elvira mencari tempat yang agak tersorok dan menelepon pacarnya.

“Salam, bang. Lagi di mana?”

“Wasalam. Lagi di rumah. Kenapa, sayang?”

“Datanglah ke hotel aku.”

“Eh, kan ada teman kamu tuh. Gimana bisa?”

“Vania oke aja.”

“Serius? Kok bisa dia oke?”

“Hmm, semalam kan mereka ngelakuin ‘proyek’. Tapi pacar dia parah banget, bang.”

“Parah gimana?”

“Dia kasar banget. Terburu-buru juga. Nggak sampai 5 menit udah selesai.”

“Aik? Serius?”

“Iya. Kasihan lihat Vania. Belum apa-apa udah habis. Dia nangis kemarin karena rasanya kayak diperkosa sama pacarnya.”

“Lah, terus gimana dong?”

“Abang datanglah ke sini. Kita main bareng.”

“Bareng?”

“Iya, bareng sama Vania. Threesome.”

“Fuh, abang on aja, hehehe.”

“Wahhh. Senengnya kelihatan?”

“Mana nggak seneng. Lubang baru nih. Hehe.”

“Haa, iya dehh. Jadi datang nggak?”

“Datang. Kasih lokasi. Abang datang.”

Panggilan ditutup dan Elvira segera membuka aplikasi WhatsApp dan mengirimkan lokasi hotel tempatnya menginap. Betapa senangnya Elvira bisa bertemu dengan Fahmi malam ini. Sudah berbulan-bulan lamanya dia tidak pulang ke kampung karena sibuk menguruskan rombongan ini.

Batang terakhir yang dia nikmati hanyalah batang Rizky beberapa minggu lalu. Itu pun hanya sebentar dan Rizky tidak melawan. Dan kejadian lainnya, hanya dia yang memuaskan teman-temannya seperti Alya dan Vania. Elvira sangat membutuhkan Fahmi saat ini. Dia sudah tidak bisa menahan nafsunya lagi.

Elvira lalu berjalan menuju ke kamarnya dengan gembira. Di dalam kepalanya sudah membayangkan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Tidak sabar ingin beraksi bersama pacarnya yang dia tahu sangat ahli dalam memuaskan nafsu perempuan.

Setibanya di kamar, dia mendapati Vania sudah selesai mandi dan sedang terbaring di atas ranjang sambil menonton televisi. Wajahnya tampak sedikit lelah. Wajar saja, pagi-pagi buta tadi dia habis dikerjai dan hari ini penuh dengan aktivitas klub. Habis sudah Vania nanti ketika pacarnya datang.

“Hai Vania. Sudah selesai mandi? Aku mau mandi dulu, ya?” sapa Elvira sambil meletakkan tasnya di lemari.

“Iya, baru aja selesai mandi. Ini lagi keringin rambut sebentar. Kamu mandi dulu aja,” jawab Vania tapi matanya tetap menonton TV.

Elvira segera masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower. Dia tahu Fahmi akan tiba tidak lama lagi. Rumahnya yang terletak di PJ, tidak jauh dari hotel di Kuala Lumpur. Pada malam begini, lalu lintas sepi. Jadi mungkin tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di sini. Paling lama pun 15 menit.

Badannya disabuni dan rambutnya dicuci bersih. Dia ingin tampil wangi di hadapan pacarnya nanti. Setelah selesai semuanya, Elvira mengambil pencukur dan membersihkan bulu-bulu serambi lempitnya yang baru tumbuh tipis. Dia tahu Fahmi suka serambi lempitnya licin. Pasti Fahmi akan teruja dan ‘membalas’ dirinya cukup-cukup malam ini.

Selesai mencukur, Elvira keluar dari kamar mandi dan tiba-tiba Vania memanggilnya, “Elvirass! Ada orang datang! Nggak tahu siapa!” Mendengar itu, Elvira pun berlari menuju pintu dan ingin membuka. Namun dihalangi oleh Vania.

“Eii Elvira. Kamu cuma pakai handuk. Yang datang laki-laki!” teriak Vania yang jelas panik. Elvira mencoba menenangkan temannya itu dengan berkata, “Jangan khawatir. Aku punya kejutan buat kamu. Hehehe.”

Pintu dibuka dan Elvira menarik Fahmi masuk ke dalam kamar hotel mereka. Vania sangat takut dan berlari masuk ke kamar mandi. Pintu kamar mandi ditarik tetapi tidak sepenuhnya, menyisakan sedikit celah untuk mengintip ke luar. Vania melihat Elvira memeluk pria tersebut. Dia merasa aneh, apakah Elvira mengenal pria itu?

“Vania! Keluar sini. Ini pacarku,” panggil Elvira.

“Ih, malu. Aku belum pakai baju,” jawab Vania.

“Ah, nggak usah malu. Sini,” bujuk Elvira. Vania perlahan keluar dan mendekati mereka berdua.

“Kenalin, ini Fahmi, pacarku,” Elvira memeluk pinggang Fahmi sambil memperkenalkan pacarnya kepada Vania. Barulah Vania tahu siapa pria tersebut. Pantas saja Elvira dengan santai membiarkannya masuk.

“Errr, hai. S.. Saya Sss Vania,” jawab Vania gagap. Sudahlah dia tidak memakai jilbab, hanya mengenakan jubah mandi. Di dalamnya tidak ada apa-apa yang menutupi payudara dan serambi lempitnya. Hanya jubah mandi saja.

Vania melihat Fahmi memandangnya sambil tersenyum. Merah mukanya diperhatikan seperti itu oleh seorang pria. Apalagi dengan keadaannya yang terdedah itu. Tiba-tiba Fahmi berkata, “Yuk?” dan Elvira pun menyambut ajakan itu. Vania yang berdiri di situ bingung dan bertanya, “Yuk apa?”

“Kami mau main. Hehe. Mau ikut?” tanya Elvira santai kepada Vania. Terbelalak matanya mendengar ajakan itu. Masa Elvira mau mengajaknya berasmara dengan pacarnya sendiri? Sudah gila agaknya Elvira ini.

“Errrr. T.. Tidak… Tidak apa-apa..,” Vania mulai tertunduk malu dan menolak ajakan Elvira. Dia melanjutkan, “Kkk… Kalian aja… Sa.. Saya duduk di sa… sanaa…” Vania berjalan menuju sofa. Dia akan bersembunyi di balik sofa seperti Elvira kemarin.

Tiba-tiba tangannya ditarik Elvira. “Nggak apa, Vania. Kamu duduk aja di pinggir ranjang. Nggak usah duduk jauh-jauh,” kata Elvira sambil menarik Vania ke pinggir ranjang. Vania yang masih malu hanya mengangguk dan duduk tanpa membantah. Mukanya terasa tebal. Apa yang harus dilakukannya duduk di situ.

Fahmi dan Elvira berpelukan di depan ranjang. Mulut mereka bertemu, berciuman perlahan. Tidak terburu-buru. Mereka tenang mengambil mood untuk bersama. Vania melirik melihat aksi yang baru saja dimulai. Dia agak teruja karena melihat mereka berdua tampak tenang saja.

Lidah mereka saling bertemu. Sambil bibir rapat bertaut, lidah di dalam mulut saling bekerja. Dihisap bergantian sambil menjelajah ke dalam mulut. Langit-langit juga dijilat menambah kegelian. Cukup lama mereka berciuman barulah tangan mereka bergerak meraba badan masing-masing.

Elvira mencengkeram kepala Fahmi dan jarinya meremas-remas rambut panjang itu. Fahmi menggerakkan tangannya ke punggung Elvira menggosok hingga ke bokong. Tubuh Elvira masih dibalut handuk lembap. Fahmi meremas dan memijat bokong yang kencang itu. Mulut mereka masih bertaut tidak terlepas.

Setelah masing-masing sudah bergairah, ciuman pun dilepas. Mulut Fahmi mulai menyerang telinga dan leher. Elvira menggeliat kegelian diserang di bagian sensitifnya. Bau wangi sabun mandi dihidu sedalam-dalamnya menambah gairah Fahmi. “Ermmmm…,” Elvira mendesah pelan.

Tangan Fahmi yang masih di bokong menarik rapat tubuh Elvira ke badannya. Geram dengan tubuh montok pacarnya yang sudah lama tidak digomol. Menempel payudara Elvira yang tersembunyi di balik handuk di dada Fahmi.

Fahmi semakin menunduk dan mulutnya tiba di pangkal dada. Payudara sedang Elvira diramas pelan sebelum membuka simpul handuk. Ngocoks.com

Terlepas handuk Elvira ke lantai dan terlihatlah keindahan payudaranya yang sudah mengeras. Tanpa menunggu, Fahmi langsung memasukkan puting keras Elvira ke dalam mulutnya. Dihisap lembut sambil tangannya meremas kedua payudara itu.

Silih berganti lidahnya menghisap puting Elvira. Sebelah dihisap, sebelah lagi digentel. “Ahhh. Abanggg. Ehmmm..,” Elvira mengerang pelan menerima serangan bertubi-tubi di payudaranya.

Akibat tidak dapat mengontrol keseimbangan badannya, Elvira terduduk di atas ranjang hotel. Namun, Fahmi masih tidak melepaskan payudara Elvira dari mulutnya. Dia mendorong badan Elvira untuk berbaring telentang dan terus mengasaknya.

Elvira mendongak ke atas menikmati permainan dari Fahmi dan matanya tertangkap mata Vania yang asyik melihat mereka. Elvira melemparkan senyuman nakalnya kepada Vania lalu Vania memalingkan mukanya malu.

Setelah puas mengerjakan payudara, Fahmi beralih menurun ke bawah. Hidungnya ditekapkan di perut sambil menurun ke area intim Elvira. Setibanya hidung di serambi lempit, Fahmi menekan wajahnya di belahan alur serambi lempit menyedut aroma yang menggoda.

Cairan serambi lempit yang sudah mengalir sejak tadi berbau sedikit amis. Namun, bau itulah yang semakin menaikkan gairah seorang pria. Lidah Fahmi menjulur ke klitoris yang kian membengkak, menekannya ke atas.

Desahan panjang keluar dari mulut Elvira menandakan kenikmatan yang diterima. Klitorisnya dijilat dan dihisap kuat, sambil Fahmi memainkan ibu jarinya di sepanjang alur serambi lempit. Lelehan cairan dari lubang serambi lempit melancarkan pergerakan jari Fahmi.

Elvira menggeliat kesedapan saat dikerjakan oleh Fahmi. Tangannya meremas kedua payudaranya untuk memaksimalkan rangsangan. Puting ditarik-tarik perlahan. Aksi sensual itu terus disaksikan Vania yang dari tadi matanya tak lepas melihat mereka.

Fahmi melepaskan mulutnya dan mulai memasukkan jarinya ke dalam lubang serambi lempit. Diputar-putarnya jarinya menjelajahi gua nikmat itu. Melihat Elvira yang semakin tenggelam dalam kenikmatan, Fahmi memasukkan lagi satu jarinya dan mengocok serambi lempit Elvira. Suara berdecak memenuhi ruangan hotel itu.

Bersambung… Jari dibengkokkan dan ditarik-tarik di dinding atas lubang serambi lempit, tepat mengenai G-Spot Elvira. Elvira merintih ketika Fahmi semakin laju mengoreknya. Suara berdecak semakin nyaring seiring dengan gerakan jari dan tangan Fahmi.

“Abanggggg… Arghhhhh… Ayanggg mau sampaiii….,” raung Elvira dan badannya terangkat menolak ke atas. Jari dikeluarkan dan terpancutlah cairan serambi lempit Elvira deras ke wajah Fahmi.

Elvira tersengal-sengal mengambil napasnya. Rangsangan dari Fahmi memang luar biasa walau hanya menggunakan jari. Terasa geli serambi lempitnya saat Fahmi mulai menjilat sisa cairan yang masih keluar. Punggungnya bergetar-getar saat dia mencoba menenangkan dirinya.

Mata Vania terbuka lebar melihat temannya mencapai klimaks. Sama seperti yang dialaminya pagi tadi. Pantas saja Elvira bisa memuaskannya hanya dengan jari. Ternyata dia belajar dari pacarnya teknik hebat itu.

Belum sempat Elvira menenangkan diri, Fahmi naik ke ranjang dan berlutut di samping wajah Elvira. Elvira pun mengerti apa yang Fahmi inginkan. Tanpa diperintah, Elvira menopang tubuhnya dengan siku dan membuka celana Fahmi yang masih dipakai. Tali pinggang dilepas dan kancing celana jeans dibuka. Perlahan-lahan Elvira menurunkan resleting lalu melorotkan celana ke bawah. Fahmi membantu dengan mendorong celananya hingga ke kaki.

Tinggal celana dalam yang tersisa. Terlihat jelas tonjolan besar di balik celana dalam biru itu. Vania memperhatikan bahwa tonjolan itu cukup besar. Vania pun tak sabar untuk melihat apa yang ada di dalamnya.

Elvira meraba-raba rudal Fahmi dari luar celana dalam. Jarinya menjelajahi setiap lekuk yang menonjol, memberi gambaran kepada Vania bahwa rudal Fahmi cukup besar. Elvira mencium rudal sepuas-puasnya dan menggigit manja sebelum menarik celana dalam ke bawah.

Terkeluarlah batang rudal Fahmi yang setengah ereksi dari sarangnya. Mata Vania terbelalak melihat ukuran rudal Fahmi. Cukup besar tapi tidak sepanjang Jasmin. Pertama kali dia melihat rudal yang begitu gemuk. Tanpa sadar, air liurnya hampir menetes. Cepat-cepat Vania menelannya.

Elvira mencium-cium rudal Fahmi tanda rindu. Dari pangkal hingga ke kepala. Dicengkeramnya batang itu lalu dikocok perlahan. Dia menjilat kepala rudal Fahmi terlebih dahulu lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Sudah biasa dengan rudal gemuk, Elvira langsung memasukkan hampir separuh. Kemudian Elvira mulai mengulum masuk dan keluar dengan nyaman. Kadang-kadang mulutnya berhenti saat menghisap dan memainkan lidahnya di sekeliling batang.

Kemudian Elvira memasukkan batang rudal Fahmi dengan perlahan, dikemam ketat lalu dilepas dengan cepat. Pup! Berbunyi saat Elvira melepaskan mulutnya. Teknik itu diulang berkali-kali.

Fahmi merasa sangat nikmat saat rudalnya dimainkan oleh Elvira. Secara otomatis panggulnya mengayun mengikuti rangsangan mulut yang diterimanya. Elvira pun menekan panggul Fahmi, memaksa batang rudal masuk lebih dalam. Kali ini seluruh batang Fahmi terbenam di dalam mulut Elvira.

Lalu Fahmi mulai mendayung. Dihenjut mulut Elvira dengan cepat sementara Elvira membuka mulutnya seluas mungkin. Kepalanya ditekan oleh tangan Fahmi agar posisinya tetap tidak berubah.

“Gukk.. gukk.. gukkk..,” suara hentakan terdengar. Sedikit air mata Elvira menetes menahan asakan di mulutnya. Terasa puas saat tenggorokannya dijolok dengan cepat.

Namun, Fahmi tidak cukup puas dengan mulut saja. Dia mengeluarkan batangnya dan mendorong Elvira berbaring. Dia berlutut di antara paha Elvira dan melipat kakinya ke atas. Digesek-gesek terlebih dahulu rudalnya di sepanjang alur serambi lempit.

Elvira menggeleng-gelengkan kepala karena geli saat diperlakukan seperti itu. Tak tahan rasanya, ingin rudal Fahmi segera masuk ke dalam lubangnya. Elvira pun memegang batang rudal dan memandunya masuk. Sedikit demi sedikit kepala rudal Fahmi terbenam. Agak lama mereka tidak bersama, maka terasa sedikit ketat.

Dengan perlahan, Fahmi memasukkan seluruh batangnya ke dalam serambi lempit Elvira. “Ahhhhh abangggg… Urghhhh… Sudah lama tidak merasakan rudal enak iniii…,” ujar Elvira begitu batang itu berendam di dalam lubangnya.

Fahmi menurunkan badannya dan mencium bibir Elvira, membiarkan sejenak rudalnya di dalam lubang. Saat mereka asyik berciuman, Fahmi mulai mendayung. Elvira mengerang sambil dalam ciuman Fahmi. Dia suka diperlakukan seperti itu. Terasa seperti disayangi.

Dayungan semakin cepat. Elvira mulai meracau. Fahmi melepaskan mulut Elvira dan fokus pada dayungan. Dipeluknya kaki Elvira dan dihentakkan rudalnya ke serambi lempit. Posisi itu membuat lubang serambi lempit Elvira semakin ketat. Elvira menjerit saat merasakan lubangnya penuh, dijolok dengan cepat pula.

Sebenarnya Fahmi juga merasakan posisi itu sangat mengasyikkan. Tapi dia harus bertahan dan memuaskan Elvira terlebih dahulu. Lalu dia mempercepat hayunan agar serambi lempit Elvira mendapat lebih banyak rangsangan.

“ABANGGG… ABANGGGGGG… HNNGGHHHHH……,” Fahmi mengeluarkan rudalnya saat Elvira meracau, karena saat itulah Elvira mencapai klimaks dan memancutkan cairan serambi lempitnya. Punggung Elvira bergoyang-goyang mengeluarkan cairan yang begitu banyak. Setelah reda, Fahmi memasukkan kembali rudalnya dan mengayun cepat.

“Ahhhhhhh ahhhhhhrgghhh abangggggg…” jerit Elvira lagi karena merasa sangat geli. Beberapa kali tusukan lagi, cairannya memancut lagi. Fahmi membiarkan Elvira menikmati klimaksnya. Setelah itu dijolok kembali. Semua itu diulang sebanyak lima kali. Dan lima kali juga Elvira memancutkan cairannya.

Vania menggeleng tidak percaya bahwa Elvira bisa klimaks sebanyak itu. Enak banget ya rudal Fahmi? Pikirannya mulai membayangkan rudal gemuk itu menjelajahi serambi lempitnya.

Elvira agak lemah dikerjakan oleh Fahmi. Namun Fahmi masih belum mau berhenti, lalu dia memutar badan Elvira dan mengangkat punggungnya tinggi. Elvira tahu pacarnya ingin doggie. Walaupun lemah, dia tetap menurut dan menungging.

Punggungnya diremas dan ditepuk keras. Elvira menjerit kesakitan, tapi kesakitan yang menggairahkan. Dia pun tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

Fahmi mengarahkan batangnya tepat ke lubang dan menghujamkannya dalam-dalam. “Urghhhhhhh,” erang Elvira sambil mendongakkan kepalanya. Posisinya dekat dengan Vania yang sedang duduk di ujung kasur.

Elvira lalu memandang Vania dengan tatapan penuh khayal dan tersenyum. Vania bisa melihat wajah Elvira yang sangat puas dan lelah. Dia sendiri belum pernah merasakan hal seperti itu.

Sesi doggie dimulai dengan Fahmi yang mulai menghentak cepat ke serambi lempit Elvira. Suaranya lebih nyaring kali ini. Pantat Elvira bergetar menerima hentakan dari Fahmi. Erangan Elvira mengikuti irama hentakan, “Ahhh! Ahhh! Ahhh! Ahhh!”

Cukup lama Fahmi menjolok Elvira dari belakang, Elvira mulai merasa lelah. Tubuhnya seolah ingin rebah. Tapi dia tahu Fahmi belum puas. Elvira harus melayani Fahmi sampai selesai. Elvira meraih tangan Vania dan menggenggamnya. Vania membalas genggaman itu seakan memberi Elvira semangat untuk bertahan.

Melihat Elvira yang semakin lelah, Fahmi merapatkan tubuhnya dan tangan memaut bahu Elvira. Posisi ini membuat batang Fahmi masuk lebih dalam dan Elvira merasa lebih nikmat.

Fahmi menghentak sekuat tenaga dan Elvira meracau. Seperti orang gila, Elvira menjerit sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Mata hitamnya tidak lagi terlihat.

Semakin cepat Fahmi menghentak, semakin kuat Elvira meracau. Lama-kelamaan tubuh Elvira mulai rebah sedikit demi sedikit. Akhirnya, Elvira jatuh terbaring puas. Batang Fahmi terlepas dari lubang serambi lempitnya karena pantat Elvira sudah jatuh ke bawah.

Terlihat cairan dari serambi lempit Elvira mengalir deras, serambi lempitnya terkemut-kemut. Matanya terpejam seperti tertidur kelelahan. Tapi Fahmi tidak berhenti sampai di situ.

Dalam posisi berbaring tengkurap, Fahmi menjolok kembali serambi lempit Elvira yang masih terkemut itu. Pantatnya yang tidak terlalu besar memberi ruang bagi Fahmi untuk menjolok dari tengah.

Mata Elvira terbuka lagi saat merasakan batang masuk ke dalam serambi lempitnya. Fahmi merasakan lubang Elvira lebih ketat dari sebelumnya. Dia pun mendayung cepat dan batangnya hampir mengeluarkan mani.

Fahmi memandang Vania yang kini sangat dekat dan mengangkat alis menegur Vania. Vania yang sudah tidak lagi malu seperti tadi, memberi senyuman nakal kepada Fahmi.

Tak lama kemudian, Fahmi mengeluarkan batangnya dan memancutkan maninya keluar. Sengaja dia mengarahkan batangnya ke arah Vania. Pancutan demi pancutan keluar dan ada yang mengenai Vania. Sangat banyak air yang keluar membuat Vania terkejut.

Setelah semuanya selesai, Fahmi merebahkan tubuhnya di antara Elvira dan Vania. Dia berbaring sambil mengambil napas. Matanya bertemu dengan mata Vania. Vania merasa debaran di dadanya. Dia melihat ke arah Elvira yang sudah tertidur.

“Mau juga?” tanya Fahmi pada Vania.

Anggukan Vania lemah, lebih kepada malu sebenarnya. Seperti kata orang, malu tapi mau. Vag*na-nya sudah banjir sejak tadi menyaksikan permainan Elvira dan Fahmi. Tapi dia menahan diri untuk tidak menggosoknya di depan mereka berdua.

Fahmi yang sedang berbaring menarik kepala Vania mendekat. Bibir mereka bertaut. Vania mulai mengeluarkan desahan syahwatnya. Nafsu yang ditahan dari tadi dilepaskan sepenuhnya di bibir Fahmi.

Posisi Vania yang berada di atas memberinya ruang untuk mendominasi. Kalau selama ini hanya Jasmin yang mengontrol permainan, kali ini Vania mengambil alih. Sudah lama dia mendambakan ciuman penuh berahi tanpa terburu-buru.

Mulutnya dikuncupkan menaut bibir Fahmi yang mengikuti ritme Vania. Berkali-kali bibirnya diasak Vania yang kini berada di bawah kendali nafsu. Seperti orang yang kelaparan, Vania menjilat-jilat bibir Fahmi di luar dan dalam mulut. Fahmi hanya membiarkan dirinya diasak, teringat cerita Elvira tentang bagaimana pacar Vania, Jasmin, yang kasar. Mungkin Vania meniru cara Jasmin berciuman.

Lidah mereka mulai bersatu. Kali ini Fahmi mengambil giliran untuk mengontrol ritme. Yang penting, tenang. Dia mulai menjelajahi mulut Vania dengan lidahnya. Dijilat bagian pipi dalam dan langit-langit mulut. Desahan Vania semakin kencang. Pertama kali dia tenggelam hanya dengan berciuman.

Sedang asyik berciuman, Fahmi mengambil tangan Vania dan mengarahkan ke batang pensnya yang masih lembek. Vania yang paham langsung menggenggam batang pens Fahmi dan menggosok perlahan. Perlahan-lahan pen*s itu mengembang dan membesar. Vania begitu teruja lalu melepaskan ciumannya dan kemudian turun ke bawah.

Sambil menatap batang pens Fahmi, dia mencapai ponselnya di atas meja di sebelah tempat tidur. Fahmi menegakkan ponselnya menggunakan dompet sebagai penopang. Aplikasi kamera dibuka dan tombol rekam ditekan.

Vania tidak menyadari kelakuan Fahmi itu karena sedang terpesona membelai pens besar yang digenggamnya. Batang rudal Fahmi dihirup manja, aroma seks yang masih segar menambah sensasi. Tanpa menunggu lama, Vania langsung menjilat-jilat sekeliling batang itu.

Seperti anak kecil yang mendapatkan es krim, dia menjilat dengan penuh semangat. Air liurnya meleleh membasahi batang pens. Fahmi hanya menyilangkan tangan memangku kepalanya sambil memperhatikan tingkah laku Vania. Biarlah dia menikmati batang pen*s itu sampai puas.

Cukup lama menjilat, Vania siap memasukkan pens ke dalam mulutnya. Matanya memandang Fahmi meminta izin. Fahmi mengangguk tanda memberi izin. Lalu perlahan, Vania membuka mulutnya dan mulai memasukkan batang itu.

Mengingat ukurannya yang besar, cukup sulit bagi Vania untuk membiasakan mulutnya. Batang pens dikeluarkan lagi lalu dimasukkan kembali dengan mulut dibuka lebar-lebar. Penuh mulutnya diisi dengan batang gemuk Fahmi.

Dia mencoba menggerakkan lidahnya tapi tidak bisa. Bagaimana Elvira mampu menelan batang sebesar itu pun dia tidak tahu. Jadi Vania hanya menghisap dengan hati-hati karena takut terkena giginya. Dia selalu dimarahi Jasmin jika giginya terkena batang.

Walaupun kadang-kadang Vania tidak bisa mengontrol giginya, Fahmi tetap tenang dan membiarkan Vania menikmati batangnya. Sedikit ngilu tapi itu bukan masalah besar untuk dimarahi. Lagi pula batangnya besar dan mana-mana perempuan pun pasti sulit untuk menghisapnya. Beda dengan Elvira yang sudah terbiasa dengan batangnya.

Kepala Vania terangguk-angguk menelan batang pen*s Fahmi. Tapi tidak lama karena mulutnya mulai pegal. Dia tak bisa meniru aksi Elvira yang membiarkan mulutnya dijolok cepat. Vania pun melepaskan batang Fahmi dengan air liur yang meleleh banyak.

“Dah pegel ya? Hehe,” Fahmi tertawa kecil melihat wajah Vania yang kelelahan. Lalu dia melanjutkan, “Vania naik atas, yuk.”

“Hah? Naik atas? Gimana caranya?” jawab Vania yang bingung dengan arahan Fahmi.

“Naik aja ke atas saya, buka jubah mandi ini,” perintah Fahmi kepada Vania. Dia menurut perintah dan memanjat tubuh Fahmi.

Pahanya sedikit terdedah tapi tubuhnya masih tertutup rapat dengan jubah mandi. Perlahan-lahan dia membuka simpul tali yang mengikat jubahnya dan membuka sedikit, memperlihatkan bagian tengah tubuhnya.

Seksi dan vulgar aksi yang diperlihatkan Vania. Kain jubah melorot perlahan dan tampaklah payudaranya yang besar. Meski agak melorot, tidak seperti payudara Elvira yang bulat, itu tidak mengurangi selera Fahmi. Baginya payudara tetap payudara apapun bentuknya.

Fahmi mengarahkan Vania mengangkat pantatnya sedikit. Lutut kanannya menyangga tubuhnya dan kaki kiri sedikit terangkat. Posisi pens Fahmi sudah berada di bawah vagna Vania. Pens digesekkan sedikit di sepanjang alur vagna untuk memberi rangsangan. Vania menikmati gesekan itu sambil memperhatikan pen*s Fahmi.

Kemudian perlahan, Fahmi mengarahkan pensnya ke pintu lubang vagna Vania dan menekannya pelan. Vania mendesah saat kepala pens mulai memasuki vagna-nya. Agak sempit terasa dan pedih mulai mencucuk. Tapi dengan bantuan pelumas alami yang keluar, lubang vagna Vania mulai mengembang, memaksa menerima tusukan pens tebal itu.

“Ssss… Ahhhh… Sakit, Fahmi… Ssss…,” Vania mulai mengerang kesakitan. Seperti terkoyak lubang vag*na-nya.

“Sikit lagi, Vania. Sabar, yaa. Biar enak kan,” Fahmi membujuk sambil terus menekan perlahan pen*snya. Semakin lama pensnya semakin tenggelam. Akhirnya Vania menelan seluruh batang pens Fahmi.

“Ahhh… Besar banget ini… Urhhh..”

“Fahmin dulu pen*s ini berendam. Vania stay dulu.”

Terkemut-kemut vagna Vania memerah pens yang bersemayam. Tubuhnya rebah di atas tubuh Fahmi. Kesempatan itu digunakan Fahmi untuk mencium bibir Vania agar gairahnya bangkit lagi. Vania membalas lemah.

Tak lama setelah itu, Vania mulai berhenti mengemut. Rasanya vag*na-nya sudah mulai bisa menerima ukuran baru yang ditelan. Seperti baru saja kehilangan keperawanan, begitu hebat penanganan batang yang baru diterimanya. Meski tidak sepanjang batang Jasmin, tidak sampai pun ke dinding serviksnya, dia tetap merasakan kenikmatannya.

Tubuh Vania mulai diangkat. Tangannya menekan dada Fahmi lalu dia mulai mendayung. Dari perlahan, semakin lama semakin cepat pantat digoyang. Vania mulai menikmati batang pen*s Fahmi. “Ahhhh… Ahhhh… Ahhhh…,” suaranya mulai mengerang kuat. Begitu nikmat posisi yang dilakukan sekarang. G-spotnya tepat kena membuat dirinya hanyut.

Kadang-kadang Vania berhenti menggelek karena klimaks yang datang. Lubangnya mengemut kuat memerah pen*s Fahmi yang masih keras. Setelah reda klimaksnya, dayungannya dilanjutkan lagi.

Berhenti lagi, lalu dilanjutkan. Berkali-kali proses itu terjadi hingga Vania terbaring lemah. Fahmi bisa merasakan lelehan air mani Vania membanjir di celah telurnya.

“Sayang… Ahhh… Ahhhh… Capek. Banyak kali aku keluar,” bisik Vania dengan napas tersengal. Pertama kali dalam hidupnya dia mencapai klimaks berturut-turut seperti ini. Bukan sekali dua, tapi lima kali dia terpancut hanya dengan satu posisi.

Tiba-tiba Fahmi memeluk Vania yang sedang terbaring di atasnya. Fahmi memeluk erat dan mengangkat pantatnya. Tertusuk pens besarnya ke dalam vagna Vania. Vania menjerit keras, “AAHHHH!” Fahmi terus menghentak Vania cepat.

PAPPP!! PAPPP!!! PAPPP!!!

Cepat tusukan pens Fahmi menjolok Vania. Vania hanya bisa menjerit kesedapan sambil dipeluk erat. Vagna yang ketat ditusuk berkali-kali. Kenikmatan yang luar biasa dirasakan Vania. Entah berapa kali dia mencapai klimaks, tapi dia tidak bisa melawan karena tubuhnya terkunci. Siksaan nikmat itu membuat matanya putih.

Elvira yang sejak tadi tidur di sebelah mereka terbangun oleh jeritan Vania. Matanya perlahan terbuka dan melihat ke arah pasangan yang sedang bersatu itu. Dia melihat Vania bersandar di bahu Fahmi sambil tubuhnya berguncang hebat. Wajahnya terlihat sangat lelah menahan asakan dari pacarnya. Tiba-tiba Elvira merasa bangga punya pacar yang hebat di ranjang.

Tujahan Fahmi semakin lama semakin lambat. Dia mulai merasa pegal di pahanya. Bagaimana tidak, dia menghajar serambi lempit Vania dalam posisi telentang, tenaganya mulai habis. Saat batangnya ditarik keluar, air mani Vania yang bertakung di dalam serambi lempitnya berhamburan keluar.

Fahmi mendorong Vania agar berbaring ke samping. Seperti orang mabuk, Vania menikmati klimaksnya sambil tubuhnya bergetar. Elvira memandang Fahmi sambil tersenyum dan bertanya, “Kamu sudah ejakulasi, Bang?” Fahmi menggelengkan kepalanya lalu berlutut di antara kaki Vania. “Aku belum puas,” ujar Fahmi sambil mengangkangkan kaki Vania.

Fahmi memegang lutut Vania dan mengarahkan batangnya ke lubang yang sudah banjir. Tanpa susah payah, batangnya meluncur masuk ke dalam serambi lempit yang hangat itu. Vania tidak mampu lagi mengerang, dia hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Fahmi mulai mengayunkan tubuhnya.

Melihat Vania yang hanya memejamkan mata, Fahmi mengambil ponselnya yang sejak tadi merekam aksi mereka. Dia merekam wajah Vania yang sedang menikmati batangnya. Sesekali kamera diarahkannya ke serambi lempit yang sedang dijolok cepat. Kadang-kadang Fahmi merekam payudara Vania yang bergoyang.

Payudara Vania bergoyang mengikuti irama ayunan Fahmi. Elvira yang tergoda oleh pemandangan itu, langsung menerkam payudara Vania dan menghisap putingnya sambil meremas. Ngocoks.com

Vania tersentak dan mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Saat melihat Elvira sedang menikmati payudaranya, Vania meremas rambut Elvira dengan kuat. Dua titik kenikmatan dimainkan serentak. Tidak tahu bagaimana menjelaskan betapa nikmatnya perasaan itu.

“Ahhhhhh Elvirasss. Jangan… Aku geli…,” Vania mencoba melarang Elvira tetapi tangannya tidak berdaya menolak. Melihat aksi pacarnya yang merangsang Vania, Fahmi mempercepat ayunannya. Semakin geli yang dirasakan Vania. Tidak mampu lagi dia menjerit, tubuhnya melompat ke atas, mencapai klimaks entah untuk yang keberapa kalinya.

Fahmi tidak sempat menahan pantat Vania yang melonjak ke atas. Batangnya terlepas dari lubang serambi lempit. Dia memberi Vania ruang untuk menikmati klimaksnya. Elvira pun melepaskan tangannya dari payudara Vania.

Seperti orang yang kesurupan, tubuh dan kaki Vania melayang ke atas. Hanya kepala dan telapak kaki yang berada di bawah menampung seluruh tubuhnya.

Fahmi dan Elvira terkejut menyaksikan kejadian itu. Belum pernah mereka berdua melihat klimaks yang begitu dahsyat. Apakah Vania sudah mencapai batasnya? Timbul rasa kasihan pada Vania. Masih kuatkah tubuhnya? Mereka beruntung karena Fahmi masih merekam kejadian itu.

Tubuh Vania perlahan-lahan turun setelah klimaksnya reda. Nafasnya tersengal-sengal sambil peluh membasahi tubuhnya. Udara dingin dari AC kamar hotel sudah tidak mampu mendinginkan tubuhnya yang panas. Dengan dada yang masih berombak, Vania langsung tertidur. Fahmi pun menekan tombol stop di ponselnya.

“Aduh, aku belum ejakulasi, Sayang,” keluh Fahmi saat melihat Vania sudah tidak berdaya lagi.

“Ih, tadi kan sudah dengan aku,” jawab Elvira yang terkejut dengan ucapan Fahmi.

“Memang, tapi dengan Vania belum. Hehehe,” Fahmi tertawa nakal.

“Ehhh, beruntung banget dapat dua serambi lempit malam ini, ya kan,” balas Elvira sambil mencubit manja lengan pacarnya.

Fahmi menarik tubuh Elvira dan mencium bibirnya dengan rakus. Elvira pasrah dan meladeni nafsu Fahmi itu. Dia sudah sangat mengenal perangai Fahmi. Selama dia belum ejakulasi 2-3 kali, selama itu pula dia tidak akan puas. Dan mereka pun berasmara sekali lagi.

Bersambung… Elvira menyambut tangan Fahmi yang menarik tubuhnya rapat ke badan. Dengan keduanya melutut di atas kasur, mereka berciuman dengan penuh gairah. Tidak perlu pemanasan lagi, mereka sudah dalam keadaan siap. Batang konek Fahmi yang sejak tadi sudah keras mencucuk perut Elvira.

Setelah beberapa saat berciuman, Fahmi bangun dan turun dari kasur hotel yang sudah berantakan akibat permainan panas mereka sebelumnya. Permukaan kasur dipenuhi dengan tompokan air mazi dan air mani.

Fahmi mengarahkan Elvira untuk menungging menghadapnya yang sudah berdiri di pinggir kasur. Batangnya yang masih tegang meminta untuk dipuaskan. Elvira mengubah posisinya mendekati selangkangan Vania yang masih pingsan tak sadar diri. Dia ingin menjilati serambi lempit basah kawannya itu sambil di-doggy oleh Fahmi dari belakang. Sayang kalau tidak dimanfaatkan hidangan di depan mata.

Tanpa banyak bicara, Fahmi langsung menghunjamkan batangnya ke dalam serambi lempit Elvira. Desahan kenikmatan keluar dari mulut Elvira saat menerima batang gemuk di dalamnya. Untunglah serambi lempitnya masih basah, kalau tidak, pasti sakit sekali tiba-tiba dirodok tanpa pemanasan.

Mulutnya langsung menyambar serambi lempit Vania. Lidahnya bergerak-gerak di klitoris yang sudah menguncup. Vania tidak bereaksi apapun. Ini membuat Elvira semakin semangat menjilatinya, sambil sesekali mendongak karena kenikmatan dijolok cepat oleh Fahmi.

Di belakangnya, Fahmi fokus menghentak batangnya sekuat tenaga karena gairahnya sudah di puncak. Dengan pemandangan indah di depan mata, dia tidak melewatkannya untuk merekam aksi mereka. Jarang sekali bisa mendapatkan shot seindah ini. Seorang gadis dijolok sambil menjilati serambi lempit gadis lain. Ini pasti akan menjadi koleksi berharga.

Elvira berhenti menjilat. Dia merasakan batang Fahmi benar-benar mengembang besar di dalam serambi lempitnya. “Ahhh bangggg… Kenapa niiii.. Ahhhh… Luar biasa malam iniiii… Urghhhh….’” erang Elvira sambil bertanya kepada Fahmi. Sungguh luar biasa penangan pacarnya malam ini. Gairahnya benar-benar berbeda.

Fahmi tetap membisu tidak menjawab pertanyaan Elvira. Dia kini sepenuhnya fokus pada serambi lempit di depannya. Elvira pun mempercepat gerakan lidahnya menjilati serambi lempit Vania dari klitoris hingga ke lubang anus. serambi lempit Vania mulai memberi respon dengan mengencang.

Seperti diundang, jari Elvira mulai menjelajah ke dalam lubang serambi lempit yang sudah dilubangi oleh Fahmi. Elvira mengorek-ngorek lubang dengan dua jarinya sambil ibu jari menggosok klitoris Vania. Vania meronta-ronta menahan kenikmatan meskipun sedang tidur. Pasti dia sedang bermimpi indah sekarang.

Momentum Fahmi semakin cepat. Dia hampir mencapai klimaks. Dia bisa merasakan air maninya hampir keluar. Cepat-cepat Fahmi merangkul tangan kiri Elvira dan menarik tubuhnya ke atas. Tubuh Elvira melengkung saat ditarik seperti itu, membuat serambi lempitnya semakin ketat. Elvira menjerit sekuat mungkin. Dia juga ingin klimaks bersama Fahmi.

“Sayangggg… Abang mau keluarrrr…,” teriak Fahmi yang semakin menggila menghentak batangnya.

“Keluarkan di dalam, bangggg… Keluarkan di dalammmmm!” pinta Elvira tanpa peduli dengan kemungkinan hamil. Dia bisa saja minum pil nanti.

“AHHHHH SAYANGGGG!!!”

Klak!

Tiba-tiba pintu kamar hotel terbuka. Keduanya berpaling serentak ke arah pintu. Elvira tersentak dan langsung bangun. Batang Fahmi yang sedang klimaks terlepas dari serambi lempit Elvira dan memancutkan air mani yang banyak. Fahmi yang juga terkejut tidak bisa menahan air maninya dari terus keluar. Air mani berhamburan ke arah pintu hotel.

“ASTAGHFIRULLAHHHHH! APA KALIAN LAKUKAN?!” teriak Bu Indah, dosen yang mengiringi rombongan klub ini.

Di belakang Bu Indah, Inara ternganga melihat adegan mesum di depannya. Matanya terbeliak melihat batang besar dan tebal milik Fahmi. Pertama kali dia melihat batang seorang lelaki yang asing.

Elvira dengan cepat mengambil handuk yang berserakan di lantai dan membalut tubuh telanjangnya. Fahmi yang sudah selesai memancut, mengenakan boxernya dan mencari kaos yang dilemparnya tadi. Vania diselimuti dengan kain seprai hotel oleh Elvira. Suasana di dalam kamar hotel yang dingin dan berbau seks itu menjadi kacau balau.

Bu Indah menyuruh Inara menutup pintu di belakang mereka. Hanya mereka berdua yang hadir menyerbu kegiatan maksiat yang dilakukan oleh tiga orang muda tersebut. Lalu Bu Indah mendekati mereka dan meminta Elvira dan Fahmi duduk di tepi kasur dan kursi. Suasana hening sejenak.

“Elvira, saya tidak menyangka perangai kamu seperti ini,” Bu Indah memulai bicara. “Kamu kan seorang yang alim, berjilbab lebar lagi. Tapi kenapa jadi seperti ini?” tanyanya kepada Elvira yang menunduk merenung lantai. Wajahnya memerah saat menerima pertanyaan pedas itu.

Jantungnya berdebar-debar seakan mau meledak. Keringat dingin muncul di dahinya, gemetar dengan situasi ini. Ini pertama kali Elvira tertangkap basah dengan kegiatannya. Lidahnya kelu, tidak mampu berbicara. Tidak pernah terlintas hal seperti ini akan terjadi.

Berbeda dengan Fahmi yang masih bisa tenang. Ini juga pertama kali baginya, tetapi dia pandai membaca situasi. Dia melihat hanya ada seorang dosen dan seorang pelajar yang hadir ke kamar mereka. Tidak ada pihak berwenang atau penegak moral. Pasti hal ini belum diketahui oleh siapa pun selain mereka berdua.

Inara mendekati Vania yang masih tidur dan belum sadar akan kejadian ini. Dia mencoba menggoyang tubuh Vania tetapi tidak ada respon. Bu Indah heran dengan keadaan Vania dan bertanya, “Vania kenapa? Kalian kasih obat?”

Tersentak Elvira mendengar pertanyaan Bu Indah dan cepat-cepat menafikan hal itu.

“Ehh, nggak, nggak. Dia… Emm…”

“Dia apa?!” belum sempat Elvira menghabiskan kalimatnya, Bu Indah memotong.

“Dia… Dia baru selesai… main. Dia nggak kuat bangun,” jawab Elvira dengan gugup.

Bu Indah menggelengkan kepalanya. Sulit baginya memproses apa yang sedang terjadi. Mungkin untuk Vania, dia tidak begitu terkejut karena Vania memang pelajar yang bermasalah dan sudah lama menjadi perhatian para dosen. Pacarnya juga seorang pelajar yang liar. Tidak berlebihan jika dikatakan pasangan ini sudah beberapa kali terlanjur.

Yang membuat pikirannya hampir tidak waras adalah melihat dengan mata kepala sendiri seorang gadis muslimah yang terkenal dengan kesopanannya, selalu menjaga adab dan tertib, serta selalu berpakaian sopan, melakukan hal terkeji dan terkutuk seperti ini.

“Saya butuh penjelasan!” suara Bu Indah mulai nyaring dan tegas. Elvira terkejut dan mencoba memberikan penjelasan, tetapi lidahnya masih kelu. Fahmi yang menyadari Elvira terlalu takut mencoba mengambil alih tugas memberi penjelasan.

“Saya yang merencanakan semua ini, Bu. Elvira dan Vania tidak salah,” ujar Fahmi dengan tenang, mencoba untuk tidak menampakkan wajah gelisah.

“Tidak peduli siapa yang merencanakan, ini tetap salah!” Bu Indah tetap bersikeras.

Suara nyaring Bu Indah sedikit banyak mengganggu tidur nyenyak Vania. Dia mulai menggeliat dan mulutnya bergumam mengigau. Bu Indah melirik ke arah Inara dan memberi isyarat untuk membangunkan Vania. Inara kembali mengguncang badan Vania kuat-kuat untuk membangunkannya.

Perlahan-lahan mata Vania terbuka. Saat menyadari kehadiran Inara di sisinya, Vania terloncat dan segera duduk. Selimut yang tadi membalut tubuhnya terlepas, memperlihatkan payudaranya yang layu. Dengan cepat dia menarik kembali selimut ke atas. Saat memalingkan kepalanya ke kanan, sekali lagi dia terkejut dan wajahnya memerah panas.

“HAHH!! Bu… Bu… Bu Indah!” Vania gagap ketika melihat sosok yang sangat dikenalnya berdiri di hadapannya. Tenggorokannya tersendat meskipun dia mencoba menelan ludah sebanyak mungkin. Berbagai hal menerpa pikirannya, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

Bu Indah melanjutkan, “Sekarang ini, Elvira dan Vania di bawah pengawasan saya. Dan kalian berdua sudah melakukan kesalahan besar. Hal ini bisa membuat kalian dikeluarkan dari kampus!”

Mata Vania dan Elvira terbuka lebar mendengar kata ‘dikeluarkan’. Apa yang akan terjadi jika mereka dikeluarkan nanti? Apa kata orang tua mereka? Bagaimana reaksi orang di sekitar ketika mengetahui kejadian ini? Bagaimana mereka bisa melanjutkan hidup seperti biasa setelah ini?

1001 pertanyaan bermain di pikiran mereka. Mereka tidak mampu memikirkan semua itu. Tubuh mereka terasa lemas memikirkan masa depan yang kini gelap. Vania terbaring sambil mencengkeram kepalanya dan meremas rambut.

Elvira mulai terisak-isak menangis. Kepalanya tertunduk ke bawah. Tidak berani menunjukkan wajahnya, apalagi menatap mata Bu Indah. Malu. Sangat malu.

Bu Indah membiarkan mereka sejenak mencerna ucapannya tadi. Memang, tidak ada hukuman lain yang bisa diberikan kepada mereka. Setidaknya, dia tidak melibatkan pihak berwenang dalam kasus ini.

Jika tidak, besok pasti akan heboh dengan berita ini dan pihak kampus pastinya akan kecewa karena tidak bisa mengendalikan mahasiswanya dengan baik. Reputasinya sebagai dosen yang baik juga pasti akan jatuh.

“Begini,” Fahmi menyela, “Elvira dan Vania akan sangat malu jika Bu Indah melaporkan ini ke pihak kampus. Dan imej Bu Indah juga akan tercemar akibat kejadian ini.”

“Kenapa saya yang harus terseret?” tanya Bu Indah heran.

“Iya, seharusnya Bu Indah yang menjaga semua mahasiswa di sini. Hal ini tidak akan terjadi jika Bu Indah sendiri yang mengawasi, kan?” Fahmi bertanya pada Bu Indah yang masih kebingungan.

“Err, iya. Tapi sekarang ini saya yang menangkap kalian semua,” jawab Bu Indah.

“Dan siapa yang memberi tahu Bu Indah?” tanya Fahmi lagi.

“Hm, Inara yang memberitahu saya tentang ini,” jawab Bu Indah seraya memandang Inara yang berdiri di sebelah tempat tidur. “Err, saya mendengar percakapan Elvira tadi di lobi. Dan saya pun melaporkan kepada Bu Indah,” ujar Inara.

“Lihat? Ini pun berkat laporan dari mahasiswanya. Kalau tidak, Bu Indah tidak akan tahu, kan?” Fahmi melemparkan pertanyaan dengan senyum sinis. Sekarang situasi sudah berubah. Fahmi sengaja memprovokasi Bu Indah agar kesalahan ini juga diletakkan pada bahunya. Ini akan memberi Elvira dan Vania kesempatan untuk melepaskan diri.

“Itu tidak akan berpengaruh pada saya. Kalian tetap melakukan kesalahan besar!” Bu Indah mulai marah karena tiba-tiba dia disalahkan. Padahal mereka bertiga yang berzina.

“Ok. Kalau begitu saya akan laporkan juga kepada pihak kampus bahwa Bu Indah mengabaikan tanggung jawab sebagai penanggung jawab mahasiswa,” ancam Fahmi.

“Ta… Tapi…,” gagap Bu Indah yang sudah termakan oleh kata-kata Fahmi.

Fahmi melanjutkan, “Jadi saya rasa, hanya ada satu pilihan sekarang ini. Elvira dan Vania akan berhenti dari kampus, dan Bu Indah akan melupakan kejadian malam ini. Mereka berdua menerima hukuman mereka, tetapi tidak akan mendapat malu dan aib mereka tetap terjaga. Bu Indah juga dapat mempertahankan reputasinya di kampus.”

Mereka semua saling memandang. Semuanya sedang mencoba memahami usulan Fahmi dengan teliti. Hal ini perlu dipikirkan dengan matang.

“Win-win solution, right?” tambah Fahmi memecah kesunyian.

Bu Indah memeluk tubuhnya sambil memijat kepalanya yang mulai pusing. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Fahmi. Dia sendiri membiarkan mahasiswanya membuat keputusan, dan melepaskan mereka dengan bebas. Dia juga akan dikenakan tindakan disiplin akibat kelalaiannya. Jika pihak berwenang tahu tentang ini, kampus akan sangat malu.

Bu Indah berpikir lama. Elvira sudah berhenti menangis dan masih memikirkan solusi terbaik. Vania hanya termenung memandang satu sudut, tidak berkelip, juga memikirkan jalan terbaik.

“Baiklah,” Bu Indah bersuara. “Saya rasa itu satu-satunya jalan penyelesaian. Sekarang saya ingin kalian semua bertobat, insaf dengan perbuatan kalian. Semoga semua ini ada hikmahnya. Dan kamu, siapa namamu?”

“Fahmi.”

“Ok, Fahmi. Saya ingin kamu keluar dari kamar ini. Tinggalkan mereka dan jangan datang lagi.”

“Baik, Bu.”

“Ok, bubar.”

Bu Indah terus melangkah keluar meninggalkan mereka di sana. Inara masih di dalam kamar, merasa bersalah dengan apa yang terjadi. “Em, kalian. Saya minta maaf. Tapi saya rasa ini yang seharusnya saya lakukan.”

“Em, tidak apa-apa Inara. Memang salah kami. Kamu tidak salah,” jawab Elvira sambil tersenyum tipis. Dia mencoba mengendalikan emosinya agar tidak marah pada Inara. Tidak ada gunanya lagi untuk dendam. Semua sudah terjadi.

“Ok, lah. Aku mandi sebentar lalu pulang,” ujar Fahmi kepada Elvira dan berlalu ke kamar mandi. Dengan santai Fahmi melepaskan boxernya dan memperlihatkan batangnya yang melentur. Inara yang menyadari hal itu melirik ke arah batang Fahmi. Namun tidak lama karena takut Elvira akan menyadari. Lalu Inara pamit untuk kembali ke kamarnya.

Saat melangkah, tiba-tiba Inara berteriak sambil menginjak kakinya. “Ahhh, air apa ini?!” Kakinya menginjak cairan yang cukup kental. Dia mencolek sedikit dengan jari dan mencium baunya. “Eww, air apa ini? Bau seperti klorin!” jerit Inara jijik.

“Hehe. Itu air mani, Inara. Hehehehe,” kata Elvira sambil tertawa.

“Uwekkk! Jorok banget!” Inara langsung berlari ke kamar mandi, lupa bahwa Fahmi sedang di dalam.

Inara membuka keran di wastafel dan mencuci tangannya. Fahmi yang mendengar suara air mengalir, keluar untuk melihat siapa yang baru saja masuk. Ternyata Inara yang berada di dalam dan sedang sibuk mencuci tangannya.

Fahmi mendapat ide nakal lalu mendekati Inara. Dalam keadaan telanjang dan batangnya yang terus menegang, Fahmi berdiri di sebelah Inara.

“Buat apa tuh?” tanya Fahmi membuat Inara terkejut. Tangannya tidak sengaja menekan keran, membuat air memancar deras. “Ahhhh!!! Baju jadi basah semua!”

“Rileks. Kenapa kaget banget sih? Haha,” kata Fahmi sambil mendekat ke wastafel dan menutup keran air. Jarak mereka sangat dekat hingga batang Fahmi menyentuh tubuh Inara. “Ishhhhh, apa-apaan nih,” marah Inara yang merasa tubuh Fahmi terlalu dekat dengannya. Dia merasakan ada objek keras di perutnya.

Betapa terkejutnya Inara saat melihat batang besar Fahmi menempel di tubuhnya. Namun, dia hanya bisa terdiam dan mulutnya tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Tiba-tiba, Inara memegang batang Fahmi dan menggenggamnya erat, mencoba mengukur kebesarannya. “Gede banget.”

“Mau?” tanya Fahmi sambil tersenyum melihat reaksi Inara yang tidak terduga. Inara langsung melepaskan batang Fahmi dan berlari keluar dari kamar mandi. Sempat dia melirik ke arah Fahmi yang masih di kamar mandi.

Fahmi menyadari pandangan Inara dan membuat isyarat ‘telepon’ di telinganya, memberi tanda untuk menghubunginya jika ingin batang itu lagi. Ngocoks.com

Merah padam wajah Inara melihat isyarat tersebut. Dia berlalu keluar dan meninggalkan kamar Elvira dan Vania. Dan Elvira pun masuk ke kamar mandi menemui pacarnya.

“Ish, sudah seperti ini pun masih sempat, ya?” ujar Elvira.

“Hehe. Coba-coba aja. Eh, sayang oke nggak nih?”

“Hmm, bohong kalau bilang oke. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah kejadian. Terima kasih ya Bang, sudah backup tadi. Aku tahu, itu pilihan terbaik. Terima kasih.”

“Nggak apa-apa sayang. Abang cuma coba-coba aja tadi. Nggak nyangka dia termakan umpan.”

“Pinter juga ya abang. Haha.”

“Biasa lah. Untuk orang yang disayang. Abang nggak mau kamu malu.”

“Terima kasih, Bang.”

Cerita Sex Gadis Bandung

Mereka pun berpelukan. Meski Fahmi sedang telanjang, pelukan itu tidak membangkitkan nafsu mereka. Lebih kepada pelukan untuk melepaskan perasaan yang terpendam. Elvira pasrah dengan apa yang terjadi. Ini semua karena kesalahannya tidak berhati-hati saat menelepon sehingga terdengar oleh Inara.

“Abang mau nomor Inara nggak?” tanya Elvira yang masih dalam pelukan. Fahmi menolak Elvira keheranan. Kenapa Elvira ingin memberikan nomor telepon Inara?

“Aku mau abang kasih pelajaran sedikit ke dia. Hehe,” lanjut Elvira.

Mereka kembali berpelukan dan Fahmi tersenyum nakal.