
Puspaningrum, seorang mahasiswi psikologi semester delapan yang tenang dan pendiam, selalu menemukan kedamaian dalam bunyi hujan. Baginya, kesejukan air hujan selalu membawa kehangatan tersendiri. Ia mengharapkan hal yang sama dalam hubungannya dengan Arya Adiputra, seorang yang pernah ia anggap sebagai jawaban atas doa-doanya. Ia berharap Arya akan menjadi tempat bergantungnya, sebuah pelabuhan aman setelah masa kecil yang diwarnai pertengkaran hebat orang tuanya. Namun, harapan itu pupus. Arya, yang dulunya ia cintai dan hormati, justru menjadi sumber kesedihan baru. Putusnya hubungan mereka terasa sangat mendalam. Kata-kata "Aku ingin kita putus," masih bergema di telinganya, membuatnya bingung dan merasa terpukul. Meskipun ia selalu berusaha menjadi pendamping yang pengertian dan taat, Arya tetap memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dengan alasan kehilangan "semangat" dan "kehangatan" di dalamnya. Puspa merasa kehilangan, bukan hanya kekasih, tetapi juga seseorang yang sangat ia percaya.
Saat itu, Puspa sedang bergegas pulang. Ia tampak ceria, senyum tipis menghiasi wajahnya, saat masuk ke rumah sederhana yang ia tempati bersama ibunya. Ia membawa pulang gula setengah kilogram yang dibeli dari toko dekat kampus. Sebuah panggilan telepon membawanya ke kamarnya, suara dering ponsel memecah kesunyian sore hari. Ia duduk di ranjang kecilnya, menata penampilannya sebentar sebelum menjawab panggilan tersebut, berharap ada sedikit ketenangan yang mampu meredakan perasaannya yang sedang rapuh.
berdehem untuk menetralkan canggung. “Hai, Bii,” sapanya ketika icon warna hijau tergeser.
“Hai,” balas suara bariton di seberang.
“Nunggu lama ya? Sorry, tadi aku lagi disuruh Ibuk beli gula. Ibuk sukanya begitu, tiba-tiba–.”
“It’s okey, aku juga nggak akan lama kok teleponnya.”
Ada secuil rasa sakit yang tak bisa Puspa tutupi. Entah karena laki-laki itu menjanjikan sebuah panggilan yang sebentar atau karena Puspa seakan merasa kehilangan untuk sesuatu yang tak jelas. “Oh, oke,” jawabnya singkat.
Laki-laki yang sedang menghubunginya pagi ini adalah Arya Adiputra, kekasih yang sudah menemani hidupnya selama empat tahun. Laki-laki itu saat ini sedang menempuh pendidikan di Boston. Sudah lebih dari tiga bulan mereka tak pernah berkomunikasi melalui telepon, sesekali pesan Puspa berbalas tapi hanya sebatas sebuah jawaban singkat tak berarti. Puspa selalu berpikir positif, mungkin Arya sedang fokus dengan perkuliahannya di sana.
Tahun ini adalah tahun keempat mereka menjalin kasih dan tahun kedua mereka berjuang dengan jarak. Puspa kuliah di Indonesia sedangkan Arya mengambil kuliah Post Graduate-nya di luar negeri.
Seperti yang sudah bisa ditebak, Arya lahir dari kalangan orang berada dan sangat mampu hanya untuk sekedar menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Tidak seperti Puspa yang lahir dari orangtua dengan tanggungan cicilan setiap bulan ke bulan.
“Sorry, apa aku ganggu?” tanya Arya.
Pertanyaan yang Puspa anggap lucu, karena mereka berdua berada di dalam sebuah hubungan. Seharusnya hal ini bukan gangguan tapi justru keharusan. “Nggak, nggak ganggu kok,” jawab Puspa setelah mampu menguasai diri. “Gimana Bii?”
Bee atau Bii adalah panggilan sayang keduanya. Karena Puspa artinya bunga dan Arya suka memanggilnya dengan panggilan itu.
“Ada satu hal yang ingin aku sampaikan.”
“Apa itu?”
“Aku ingin kita putus.”
Puspa membisu, bingung lebih tepatnya. Hubungan mereka baik-baik saja karena selama ini Puspa cenderung menjadi wanita yang penurut di depan Arya. Arya mengatakan untuk tidak menghubunginya terlebih dulu, ia lakukan. Arya mengatakan untuk tidak memposting atau menunjukan hubungan mereka, Puspa pun menurut.
Selama ini tak pernah sekalipun Puspa menuntut lebih. Bagi Puspa, dengan Arya yang mencintainya itu sudah lebih dari sekedar cukup. “Haha, Mas Arya nge-prank ya?” tawanya lepas. “Ketahuan ih.”
“Aku serius.”
Puspa bisa mendengar dengusan sebal di seberang lalu kembali menajamkan pendengaran ketika tawanya tak mendapat balasan. “Tapi … bukankah selama ini kita baik-baik saja, Bii?” tanya Puspa mulai khawatir.
“Aku merasa hubungan kita hambar, monoton. Maaf Puspa, keputusan saya sudah final.”
Rasa sesak datang bersamaan sakit yang menghantam tepat di relung hati Puspa. Seseorang yang beberapa menit lalu terasa dekat kini benar-benar jauh untuk direngkuh. Arya mengatakan kalimat itu lugas, tak terdengar keraguan di dalamnya.
“Apa aku —ada salah?” tanya Puspa sekali lagi.
“Tidak.”
“Aku kurang apa?”
“Tidak ada.”
“Lalu?”
“Ya itu, aku hanya merasa hubungan ini hambar.”
“Mas Arya bosan sama Puspa?”
Jeda dibiarkan Arya sepi tanpa suara. Helaan nafas terdengar pelan dan berat, Puspa menggigit bibirnya sendiri karena khawatir. Kilasan bayangan masalalu mereka yang indah berebut meminta perhatian lebih. Puspa merindukan Arya-nya. Sangat!
“Iya.”
Tujuh bulan yang lalu Arya sempat kembali ke Indonesia dan laki-laki itu sama sekali tidak berbeda. Arya-nya masih miliknya. Tapi kenapa tiba-tiba dia berubah?
Tahun ini seharusnya menjadi tahun terakhir perjuangan mereka melawan jarak. Tentu Puspa tidak akan serta merta menyerah dengan hubungan keduanya. Puspa tetap akan memperjuangkan hubungan mereka, bukankah begitu seharusnya? “Aku nggak mau,” jawabnya. Dia mencintai Arya, sangat.
“Loh, kalau aku sudah nggak mau sama kamu terus gimana?”
Sakit! Rasanya sakit.
“Mas, Aku cinta sama Mas Arya.”
“Tapi aku enggak, aku udah bosen sama kamu, hubungan kita hambar.”
“Bukankah Mas Arya bisa berjuang lagi? Bukankah itu yang dulu Mas Arya janjikan? Sebuah perjuangan.”
“Sorry aku kalah.”
Kenapa kalimat-kalimat menyakitkan begitu mudah keluar dari bibir yang selama ini selalu mampu menenangkannya? “Aku, —aku sudah memberikan semuanya untuk Mas Arya. Lalu aku harus bagaimana?”
“Kita melakukannya karena mau sama mau, Puspa. Tidak mungkin kamu membelengguku hanya karena sebuah tanggung jawab yang kamu juga melakukan itu tanpa paksaan.”
Kalimat Arya menghentikan isakan tangis Puspa.
“Intinya aku sudah nggak mau sama kamu. Bukankah seharusnya kalimatku sudah jelas?”
“Tapi Puspa nggak mau.”
“Terserah kamu lah! Yang jelas bagiku, kita sudah selesai.”
Beep.
Panggilan itu diputus sepihak. Kisah cinta yang Puspa rajut dalam waktu empat tahun kandas melalui sebuah panggilan telepon mendadak. Secepat itukah dunia memutar takdirnya?
Namun Puspa tak pernah putus asa, ia tetap menghubungi Arya di hari-hari berikutnya. Ia masih ingin berjuang, sesuatu yang selalu digadang-gadangkan Arya selama ini. Setiap hari ia selalu mencoba menghubungi Arya, meskipun dengan itu ia harus merogoh uang yang tidak sedikit.
Setiap hari ia mengirimkan pesan meskipun tak pernah berbalas. Hingga tiga bulan setelahnya, Puspa masih bertahan dengan harapan bahwa Arya hanyalah bosan tapi cinta seharusnya masih dimiliki laki-laki itu.
Sebuah potret yang ia temukan di beranda media sosial Arya menegaskan sesuatu yang ternyata sudah benar-benar hilang. Potret seorang wanita cantik yang berdiri di samping Arya, diantara keluarga yang belum pernah sekalipun Arya kenalkan padanya.
Tubuh itu jelas milik Arya yang biasa memeluknya. Tubuh itu-lah yang dulu selalu bisa melindungi Puspa dari dunia yang seringnya mengecewakan. Dan tubuh itu-lah yang kini justru menciptakan kekecewaan besar dalam hidup Puspa setelahnya.
Laki-laki itu sudah bersama dengan wanita lain. Lalu bagaimana dengan Puspa?
Puspa kehilangan Arya, kehilangan semuanya termasuk dirinya sendiri.
Puspa berlari, mengambil jaket dan helm, mengenakannya sambil lalu. Tidak lupa sepasang kaos tangan dan masker melengkapi penampilannya pagi ini. Ia melihat ke arah jam yang menunjukan pukul setengah delapan pagi, artinya ia memiliki waktu dua puluh sembilan menit untuk sampai di kantornya tepat waktu.
“Brengsek!” umpatnya ketika kakinya menginjak kerikil kecil di depan rumah. Padahal seharusnya kerikil itu tak bersalah, dirinya-lah yang salah karena tak menyapu rumah. “Ya Tuhan, please hari ini baik sama gue doong,” mohonnya lebih ke arah paksaan.
Hari ini adalah hari terakhir masa magang di sebuah perusahaan baru tempatnya bekerja. Dia sudah menghabiskan banyak waktu, tenaga dan pikiran sebagai bentuk perjuangannya selama tiga bulan di perusahaan itu. Setengah jam dari sekarang adalah waktu dimana keputusan akhir nasib hidupnya selama beberapa tahun ke depan. Didepak dan menjadi pengangguran dengan banyak cicilan, atau kontrak satu tahun dengan gaji yang cukup besar.
Jika boleh memilih tentu saja Puspa berharap ia akan mendapatkan opsi kedua. Dia masih punya cicilan rumah yang cukup memusingkan kepala!
Puspa menstater motor bebek butut miliknya yang sudah mulai rewel. Ia sempat menyimpulkan doanya terkabul ketika mesin motornya bisa hidup dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya. Tapi tiba-tiba ia terpaksa menarik kembali kalimat syukur yang baru saja ia ucapkan dalam hati.
Blubub … blubub …
“Ya Tuhaaaaan! Kenapa motor gue harus macet di saat genting seperti sekarang?!” tanyanya marah entah ditujukan untuk siapa. Hampir saja Puspa menangis dan merutuki kesialannya pagi ini, tapi tiba-tiba ia masih teringat dengan beberapa cicilan rumah yang harus ia bayar setiap bulan. Sebuah fakta yang cukup mampu membuat semangatnya kembali membuncah. Dia harus bekerja!
Tangan Puspa mengotak-atik ponsel genggam yang ia rogoh di dalam tas. Masih ada satu-satunya harapan yang bisa Puspa gadang-gadangkan.
“Sesuai aplikasi ya, Teh?”
Abang ojek onlen!
“Ya ya, hayuk Aa. Saya sudah telat,” jawabnya gesit.
Puspa kembali berfikir bahwa Tuhan masih sayang pada dirinya. Abang gojek kali ini sangat mumpuni di dalam bidang salip menyalip. Bahkan helm Puspa sempat tertarik sedikit ke belakang karena terbawa angin saking ngebutnya si Abang gojek. Gila memang! Pembalap Rossi saja lewaaat.
Ciiittzzz.
“Makasih A’,” ucap Puspa. “Saya kasih tips-nya lewat aplikasi ya?”
“Beres bossque, nuhun.”
Puspa berlari memasuki kantor. Ia langsung menuju ke arah ruang SDM yang semalam diinformasikan kepadanya melalui email.
“Hampir telat lo,” bisik Ayuk. Teman Puspa yang sudah lama bekerja di perusahaan AD corporate. Salah satu teman satu fakultas yang memiliki gelar sama, yaitu sarjana psikologi. Teman yang membawanya masuk ke dalam perusahaan ini. Jika tidak ada Ayuk, entah Puspa mengemis pekerjaan kepada siapa.
“Motor gue mogok, setan bener!”
“Ssttt, gue ke depan dulu.”
Mereka berkumpul di sebuah ruangan dengan karyawan magang sebanyak sepuluh orang dari berbagai macam divisi dan penempatan. Informasi yang baru saja Puspa terima, karyawan magang yang dipanggil pagi ini adalah karyawan yang diterima sebagai karyawan kontrak. Puspa bersyukur, ia masuk ke dalam karyawan yang terpanggil.
“Mulai detik ini, setelah kalian menandatangi kontrak dengan AD Corporate maka kalian sudah resmi menjadi salah satu anggota keluarga di perusahaan ini.” Manager SDM kami yang jika tidak salah bernama Pak Dimas. Laki-laki itu menjelaskan beberapa peraturan dan kewajiban yang harus dipatuhi sebagai karyawan. “Kalian siap?”
“Siap Pak,” jawabku pasti.
Sebagai seorang budak corporate yang sudah malang melintang di dunia ketenagakerjaan, semua orang pasti cukup mengenal perusahaan AD Corporate. Perusahaan adidaya yang bergerak di bidang konstruksi dan mesin yang akhir-akhir ini sedang mengembangkan bisnis keuangan dalam investasi. Darimana Puspa tahu? Tentu saja dari Ayuk yang sering sekali mengagung-agungkan tempat kerjanya.
Intinya, Puspa bersyukur diterima di perusahaan ini.
Saat jam makan siang, Puspa dan Ayuk memilih untuk makan siang di kantor. Perusahaannya menyediakan makan siang untuk setiap karyawan tapi juga tidak memaksa karyawan untuk makan makanan yang disediakan. Dengan alasan demi menghemat pengeluaran bulanan, tentu saja Ayuk dan Puspa memilih makan di kantin yang disediakan.
“Pilihan lo tepat buat masuk kesini,” ucap Ayuk disela-sela makan siangnya.
“Gue juga berfikir seperti itu.”
“Gaji gede meskipun baru pegawai kontrak, bonus gede,” tambah Ayuk. “Lo nggak akan pernah menyesal ninggalin kantor lo yang dulu. Gue pastiin itu!”
Entah kenapa kalimat Ayuk membawa beberapa memori buruk Puspa di perusahaan tempat kerjanya sebelumnya. Hampir lima tahun Puspa bekerja di tempat itu, meskipun gajinya tidak terlalu besar tapi dekat dengan rumahnya.
Sebagai seorang wanita yang tinggal sendiri di kota besar, tentu jarak yang dekat cukup bisa dijadikan salah satu alasan memilih tempat kerja. Mungkin karena lebih aman pun juga tidak akan terlalu capek di perjalanan. Setelah ibunya memutuskan untuk menjual rumah mereka yang ada di Jakarta dan memilih tinggal di desa, Puspa membeli sebuah rumah dengan KPR dibantu ibunya dari uang hasil penjualan rumah.
Ayah dan Ibu Puspa bercerai saat Puspa masih SMA. Sekarang ini ayah sudah menikah dan memiliki keluarga barunya sendiri begitupun ibunya.
Lalu Puspa bersama siapa? Hehe, dia sendiri.
“Pulang naik ojek lagi lo?”
“Ya iyalaah, memang mau naik apa?”
“Yaa siapa tahu ada yang jemput.”
“Yaa ada emang, Babang Ojek kan?” tanya Puspa dengan kedipan mata yang dibuat-buat.
“Sialan lo!”
“Hahaha.” Mereka berdua tertawa lepas di tengah kerumunan umat manusia AD Corporate.
Sore harinya Puspa pulang tepat di jam lima sore. Karena jarak kantor yang cukup jauh dengan rumahnya, serta kemacetan yang aduhai dahsyatnya, membuat Puspa baru tiba di rumah ketika adzan Isya’ berkumandang. Ngocoks.com
Wanita itu turun dari motor lalu membeku ketika menemukan sosok yang sangat ia hindari. Sosok yang menjadi alasan utamanya terpaksa hengkang dari perusahaan sebelumnya. “Mas Galih kenapa ke sini?” tanya Puspa tanpa ada nada ramah dalam kalimatnya.
“Puspa, aku minta maaf,” jawab laki-laki itu sambil mencoba meraih tangan Puspa.
“Aku nggak bisa!” Puspa menepis tangan Galih dengan kasar.
“Aku nggak nyangka bisa jadi serumit ini sampai kamu harus resign dan cari tempat kerja baru.”
“Seharusnya Mas Galih sudah bisa memprediksi kalau mulut manusia itu tidak semuanya bisa dijaga.”
“Aku tahu —.”
“Lebih baik Mas Galih pergi,” usir Puspa sekali lagi sebelum kesedihan kembali menguasai.
Sekuat tenaga Puspa mencoba mengais sisa-sisa harapan untuk kembali menjalin sebuah hubungan. Dan Galih adalah pilihannya karena laki-laki itu dianggap baik. Galih laki-laki sabar dan terlihat jarang memiliki teman perempuan.
Sesuatu yang menjadi poin utama Puspa untuk kembali mencoba dekat dengan laki-laki. Terlebih karena desakan umur yang selalu dianggap terlalu tua oleh keluarganya, memaksa Puspa untuk mencoba pelan-pelan kembali membuka hati. Dan ketika ia mencoba kembali membuka hati untuk Galih, Puspa memberanikan diri untuk jujur kepada laki-laki itu tentang kondisinya yang —sudah tidak suci. Sebuah hubungan harus dimulai dari saling terbuka bukan?
Tapi justru desas desus tentang hubungan Galih dan Puspa menjadi perbincangan di tempat kerja mereka berdua.
“Jujur saja waktu itu aku sedikit kecewa. Aku hanya —hanya curhat ke Rio tapi nggak tahu bagaimana bisa tersebar begini,” jelas Galih frustasi. “Aku minta maaf, aku benar-benar menyesal.”
Puspa yang sudah kehilangan kepercayaan sejak dulu semakin tak terselamatkan. Sekuat tenaga ia mencoba kembali membuka hatinya tetapi sekali lagi ia tersakiti. Mungkin takdir sedang tidak mau berbaik hati kepada seorang manusia bernama Puspaningrum. “Apapun alasan Mas Galih, tidak bisa Puspa terima. Lebih baik sekarang Mas Galih pulang karena Puspa mau istirahat.”
“Aku cinta sama kamu, Puspa,” ucap Galih tiba-tiba.
“Mulai detik ini, Puspa tak lagi percaya dengan perasaan itu. Puspa sudah menutupnya erat-erat.”
“Puspa —.”
“Assalamualaikum, hati-hati di jalan, Mas.”
Puspa menutup pintunya dari dalam, membiarkantubuhnya berdiri di balik pintu sejenak untuk menikmati rasa sakit yang sudahterbiasa menghiasi hatinya. Semakin kita dewasa, kita akan semakin mudahmengatakan ‘tidak apa-apa’ untuk sesuatu yang menyakiti. Puspa sudah terbiasa,ia hanya akan membutuhkan waktu sebentar lalu semuanya akan kembali sepertibiasa. Bukan begitu?
Bersambung… Dengan langkah tegap Puspa mengikuti arahan senior divisi yang ditugaskan untuk menemani orientasinya. Mereka berjalan-jalan memutari beberapa bagian kantor yang dianggap penting untuk diketahui karyawan baru, seperti : tempat mesin fotocopy, pengambilan ATK, tempat produksi hingga QC dan beberapa tempat lainnya.
AD Corporate bergerak di bidang produksi sparepart otomotif, properti hingga bisnis Investasi yang kini mulai dirambah para direksi. Sebagai staff HR Puspa tidak terlalu paham dengan produksi, yang perlu ia pahami adalah menghitung kebutuhan karyawan dan memastikan perusahaan mendapatkan karyawan terbaik begitupun sebaliknya.
“Nah, setelah kita berputar-putar akhirnya kita sampai di ruangan kita sendiri. Welcome to Human Resource Departemen, Puspa.”
Semua orang berdiri menyambut puspa di ruangan seluas seratus meter ini. Puspa menemui satu persatu temannya lalu berkenalan, walaupun dia belum tentu bisa mengingat namanya. Entah kenapa Puspa terlalu sulit untuk mengingat nama orang.
Ruangan ini terdiri dari tujuh orang, Puspa masuk ke bagian perekrutan karyawan berbeda dengan Ayuk yang masuk kedalam bagian perhitungan kompensasi dan penilaian kerja. Sedikit kecewa sebenarnya tapi Puspa tetap bersyukur.
“Puspa duduk di paling depan ya,” ucap salah satu senior Puspa yang bernama Mba Dwi.
“Baik, Mba. Terima kasih.”
“Hati-hati lho, Puspa. Kalau duduk paling depan pas ujian nggak bisa nyontek,” celetuk seorang wanita berambut pirang. Di perusahaan ini menjunjung azas kebebasan, jadi kalian bebas datang ke tempat kerja dalam bentuk apapun yang penting masih dalam batas sopan.
“Memangnya Puspa sama kaya lo yang suka nyontek, Sep?” jawab seorang laki-laki yang duduk di samping meja Puspa.
Tawa mengisi ruangan yang tak terlalu besar ini, sesuatu yang membuat Puspa merasa nyaman.
“Gue Raka nggak pakai buming, lo bisa panggil gue Raka saja tanpa embel-embel yang lain,” ucap laki-laki itu memperkenalkan.
“Oh ya, Puspa,” jawabnya canggung. Padahal seharusnya semua orang di sini sudah tahu siapa namanya.
“Kalau malam itu namanya Rara bukan Raka lagi,” ucap wanita berambut kontras tadi. Sekali lagi tawa kembali meramaikan ruangan.
“Sssttt, sudah sudah ayo kembali bekerja,” tegur Mba Dwi yang dituruti semua orang.
Puspa mendudukan tubuhnya di kursi kerja sambil melihat beberapa fasilitas yang bisa ia gunakan. Satu PC keluaran terbaru dengan printer di setiap tiga tempat duduk. Di belakangnya ada almari besi yang cukup untuk menyimpan beberapa berkas.
“Suka kopi? Mau ke pantry dulu?” tawar Raka. “Gue ngantuk nih.”
“Bo—boleh.”
“Sip.”
Raka membawanya ke pantry yang berada tidak jauh dari ruang kerja keduanya. “Sebelumnya kerja di mana?” tanya Raka sambil memasukan kopi ke dalam mesin ekspresso.
“Di Bimatara.”
“Oh, kenapa keluar?”
“Alasan personal.”
“Habis putus cinta?” tanya Raka dengan senyum tengil.
Puspa hanya menggeleng, tak berniat menjelaskan lebih karena itu termasuk kedalam wilayah privasinya.
“Siang ini kita ada rapat dengan petinggi perusahaan, katanya direksi mau menyampaikan langsung beberapa target dan plan kita ke depan. Lo tahu kan perusahaan ini mau membuka pabrik baru di kawasan Cikarang. Lo ikut saja nanti.”
“Boleh Mas?” tanyanya.
“Boleh lah, biar kenal juga sama temen-temen lain di sini,” ucapnya sambil meletakan satu cangkir kopi latte di depan Puspa. “Dan jangan panggil gue Mas! Gue bukan abang lo, panggil nama aja.”
“Hehe ya, Raka.”
“Nah gitu kan keren, gue nggak terlalu tua-tua juga.”
Puspa mengambil kopi yang dibuatkan Raka dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Siangnya seperti yang Raka sampaikan, ada rapat penting dengan direksi khusus untuk bagian HR. Puspa diminta Mbak Dwi untuk ikut, ada Raka dan Ayuk juga di tempat ini. Melihat kursi di sebelah Ayuk kosong, Puspa mempercepat langkahnya dan duduk di samping Ayuk.
“Busyet, kaget gue.”
“Hihi.”
“Gimana lingkungan kerjanya?” tanya Ayuk.
“So far so good.”
“Alhamdulillah, gue ikut seneng.”
“Thank”s.”
Rapat dibuka oleh moderator yang menjabat sebagai CHRO perusahaan (Chief Human Resources Officer) namanya Pak Abat. Semua karyawan mendengarkan dengan seksama beberapa informasi yang disampaikan Pak Abat.
“Siang ini kita cukup beruntung karena direktur utama bisa hadir langsung untuk memberikan arahan. Kami berharap karyawan di sini dapat mendengarkan dengan baik beberapa arahan yang nanti akan disampaikan langsung oleh beliau.”
Seseorang dari belakang tubuh laki-laki itu membisikan sesuatu lalu dibalas Pak Abat dengan anggukan singkat.
“Sepertinya Pak Dir kita sudah datang,” bisik Ayuk.
“Oh.”
“Jangan kaget sama Pak Dir kita.”
“Kenapa?”
“Ganteng, hot daddy anak satu.”
Puspa melepaskan tawa kecil menanggapi Ayuk yang mengatakan kalimat itu sambil merem melek, lalu ia kembali menaruh attensinya ke arah podium. Semua orang melakukan hal yang sama, menyambut kedatangan Direktur Utama AD Corporate.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara derap langkah kaki mendekat mulai terdengar. Sosok laki-laki berjas navy masuk ke dalam ruangan. Laki-laki dengan garis wajah yang amat sangat Puspa kenali. Laki-laki dengan wajah tegas dan rahang kuat yang dulu sering sekali Puspa kagumi dalam diam.
Mata tajam dan aura dominasi yang selalu mampu membuat Puspa berdebar tak karuan. Puspa menelan ludahnya berkali-kali ketika sosok yang selama ini sudah ia kubur dalam-dalam kini berada tepat di depan mata. Setelah lima tahun perpisahan yang hanya melalui panggilan telepon, sosok itu berdiri dengan elegan di hadapan Puspa.
Arya Adiputra.
“Yuk,” panggil Puspa lirih.
“Ya?”
“AD Corporate itu kepanjangannya apa?”
“Adiputra Corporate.”
Goblok! Batin Puspa dalam hati. Bagaimana bisa dia tidak mencari tahu terlebih dahulu tentang nama perusahaan yang ia datangi? Puspa kembali menelan ludahnya, jantungnya berdebar. Ia sangat hafal dengan apa yang terjadi kepadanya siang ini. Puspa meletakan tangannya di bawah meja dan mulai menghitung angka satu sampai seratus untuk mendistraksi kepanikannya.
Deg … deg … deg.
Tapi sepertinya cara itu tidak berhasil. Keringat dingin Puspa mulai bercucuran, badan bergetar bahkan Puspa merasakan nafasnya yang seperti tercekik.
“Kenapa? Lo sakit?” tanya Ayuk khawatir.
“Nggak apa-apa.”
“Lo pucet, Puspa.”
Puspa mulai merasa perutnya mual. Ia segera berdiri dengan wajah tertunduk dan keluar ruangan. Puspa berlari mencari tempat untuknya bersembunyi, tapi yang ia temukan hanyalah sebuah balkon terbengkalai yang terbuka. Puspa mencari tempat lain, ia berlari ke arah toilet terdekat. Ia masuk ke dalam bilik dan duduk disana sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Puspa tidak diinginkan.
Puspa tidak berarti.
Puspa tidak pantas.
Serangan ini kembali datang.
Puspa mengalami serangan panik pertama kali saat kedua orangtuanya bercerai. Ia rutin mendapatkan perawatan dan mulai stabil saat bertemu Arya. Lalu serangan itu kembali muncul saat Puspa kehilangan Arya dan kembali stabil saat ia mulai disibukan dengan pekerjaan.
Sekarang ini serangan itu kembali muncul saat ia melihat sosok sumber sakit hatinya yang teramat besar -Arya Adiputra. Sebuah hubungan yang dianggap Puspa sebagai obat nyatanya justru menjadi pencetus terhebat sakit itu kembali menyerang. Puspa yang ditinggalkan begitu saja dengan sebuah panggilan telepon mendadak tanpa penjelasan, tanpa perasaan.
Lo nggak berharga.
Puspa menutupi kedua telinganya mencoba menghilangkan suara-suara halusinasi yang mampu membuatnya ketakutan.
“Pergi,” ucap Puspa lirih. “Lo nggak nyata!”
Puspa membaca doa dalam hati, berharap sedikit menenangkan perasaannya yang kacau. Meskipun takdir tak selamanya baik, dia masih percaya Tuhan-nya melihat dan mendengar doanya.
Merasa mulai stabil, Puspa memilih untuk berjalan ke ruangan lalu mengambil tas miliknya. “Gue butuh dr. Tesa.” Puspa berjalan keluar bangunan tinggi ini dan bergegas mencari taksi. Ia menyebutkan sebuah klinik tempat dr. Teza praktik pribadi.
Gue akan baik-baik saja.
Gue bahagia dengan diri gw sendiri.
Bisik Puspa berulang kali dalam hati.
“Kontraknya satu tahun dan jika resign sebelum masa kontrak selesai maka akan dikenakan pinalty, Kak.”
“Berapa?” tanya Puspa mencari tahu.
“Jumlah bulan yang ditinggalkan dikali gaji pokok. Kak Puspa kemarin tertulis gaji pokok empat setengah juta ya? Jadi kalau kakak mau resign bulan ini, pinalty-nya sekitar lima puluh empat juta.”
Oke! Puspa menghembuskan nafas beratnya perlahan. Uang lima puluh empat juta bukan uang yang sedikit bagi Puspa, meskipun ia punya tabungan tapi tentu tidak sebanyak itu. “Terima kasih informasinya,” ucap Puspa sambil tersenyum ramah.
Ia permisi keluar dari ruangan lalu berjalan ke arah sisi lain kubikel. Puspa berhenti di balkon yang berada di sisi kanan gedung. Sebuah tempat tersembunyi yang ia temukan saat melarikan diri sari serangan panik, meskipun dia tetap berakhir di toilet karena dianggap lebih tertutup.
Jika diteliti lebih lama sepertinya balkon ini sudah jarang terjamah, sepi dan berantakan. Puspa mendudukan tubuhnya di sebuah kursi usang yang warnanya mulai pudar. Tatapan matanya kosong menatap ke arah jalanan kota Jakarta yang padat dan langit biru yang terlalu jauh untuk digapai.
Kalian belum tentu akan bertemu lagi, dia berada jauh diatasmu Puspa. Akan sangat jarang berinteraksi masalah pekerjaan.
Puspa mengingat kalimat yang disampaikan dr. Tesa, psikiatri yang selama ini selalu membantu Puspa mengatasi masalah panik yang sering menyerang. Seharusnya dia akan mudah menjadi tidak terlihat di hadapan Arya, seharusnya posisi mereka yang jauh berbeda akan mampu menyembunyikan Puspa.
Hanya satu tahun dan Puspa akan kembali mencari pekerjaan lain. Dia tidak mau mengganggu Arya dan keluarganya. Dia tidak mau menganggu kenangan yang sudah ia kunci rapat-rapat di dalam hati.
Hot daddy anak satu.
Puspa memejamkan mata, teringat saat Ayuk mengatakan fakta itu dengan jelas. Arya sudah beristri, tidak seharusnya ia mengusik. Toh, belum tentu juga Arya masih mengingatnya? Puspa tidak cukup berharga untuk diingat sebagai seorang yang layak untuk dikenang. Puspa tersenyum tipis merutuki kebodohannya. Yaa, semuanya akan baik-baik saja. Puspa cukup untuk menjadi tidak terlihat di depan Arya dan semuanya akan baik-baik saja.
Ia berdiri lalu melangkahkan kakinya dengan pasti ke ruang kerjanya.
“Lo kemana saja kemarin?”
Ayuk menarik tubuh Puspa tiba-tiba, membawanya menepi ke sisi kanan lorong yang ia lewati untuk menuntut penjelasan.
“Gue sakit, kemarin gue ke dokter. Sorry.”
“Sakit apa?” tanya Ayuk khawatir.
Puspa menelisik ke arah temannya. Ayuk dan Puspa tidak terlalu dekat sewaktu kuliah, mereka hanya teman biasa. Apakah Ayuk bisa dipercaya? Tentu saja jawabannya tidak.
Tidak ada yang bisa Puspa percaya selain dirinya sendiri. “Sakit asam lambung,” jawabnya bohong.
“Udah baikan sekarang?”
“Lumayan, gue udah dapet obat.”
Ayuk masih menautkan kedua alis sambil menunjukan raut wajah permusuhan. “Lo juga pagi ini nanya tentang pengajuan resign ke Mba Tata! Kenapa sih lo Puspa? Gue udah ngerekomendasiin lo di sini, jangan bikin gue kecewa dengan resign di bulan pertama kontrak.”
Puspa diam mendengarkan celotehan Ayuk yang kemungkinan masih panjang.
“Kalau lo nggak suka kerja di sini kenapa nggak mengundurkan diri waktu magang? Lagian juga pinalty-nya mahal kalau lo keluar sekarang. Dan—.”
“Ssttt! Gue nggak akan resign dan gue masih butuh duit, Ayuuuk. Ayo sekarang kita kerja.”
“Lo bikin gue khawatir tahu nggak sih!”
“Hihi, sorry. Tapi serius, gue masih butuh duit.”
“Iyee.”
“Mau makan siang di kantin kan nanti?” tanya Puspa mengalihkan pembicaraan.
“Iya dong, kite kan cari yang gretongan ya, Sist.”
Mereka berdua tertawa lepas di lorong yang sepi, lalu memutuskan untuk kembali ke kubikel masing-masing.
***
Waktu berlalu terasa cepat, sudah lima hari Puspa bekerja di perusahaan ini. Dan seperti yang Puspa prediksi sebelumnya, hidupnya damai. Dia memang bekerja di satu gedung yang sama dengan Arya tapi tak pernah sekalipun bertemu dengan laki-laki itu.
Sesuatu yang cukup membuatnya lega. Obat yang diberikan dr. Tesa pun tak lagi ia konsumsi. Puspa berharap itu hanyalah sebuah serangan panik sesaat yang tidak membutuhkan terapi lanjutan.
Dia melenggang dengan santai ke arah parkiran bersama teman-temannya. Saling bercerita tentang pekerjaan masing-masing yang melelahkan.
“Bye gais, see you on ugly monday.” Ayuk pamit terlebih dahulu ke arah teman-temannya. Mereka semua berpisah di parkiran.
“Happy weekend.”
“Selamat liburan.”
Puspa hanya menanggapi dengan senyuman sambil sesekali membalas lambaian tangan teman-temannya. Ia memilih segera mendekat ke arah motor bututnya yang tadi pagi harus Puspa syukuri bisa berjalan tanpa hambatan. Ia mengenakan jaket dan peralatan tempur jalanan, lalu memencet tombol starter dengan jempol tangan kanannya.
Blubub … blubub …
Ia mengulangi lagi dan lagi, bahkan hingga percobaan kelima motor itu tak juga kunjung menyala. Astaga. Batin Puspa.
Empat hari Puspa menggunakan ojek online untuk perjalanan ke kantor. Sedangkan motor miliknya terparkir rapi di garasi rumah karena Puspa memang belum sempat membawanya ke bengkel. Lalu pagi tadi ia mencoba peruntungannya dengan menggunakan motor ini, tapi lihatlah apa yang terjadi? Puspa mendengus sebal. Dia harus bagaimana?
“Macet?” Raka muncul tiba-tiba di belakang tubuhnya. Laki-laki itu sudah mengenakan jaket hitam dan tas selempang yang menggantung di dada.
“Iya.”
“Coba gue cek.”
Puspa menjauh dari motor lalu Raka berjongkok di sisi sebelah kiri motor. “Terangin gue pake lampu flash hp.”
Puspa mengikuti instruksi Raka, memberikan penerangan ke arah mesin motor yang sedikit berada di dalam.
“Businya ini mah, udah soak.”
“Gitu ya?”
“Jarang servis kan lo?”
“Iya.”
“Tinggal aja motornya, titipin ke Pak satpam namanya Pak Tejo. Biar dia yang bawa ke bengkel nanti lo kasih aja uang seratus ribu gitu. Senin udah bisa dibawa pulang. Gimana?”
“Emang mau?”
“Mau lah, gue panggilin Pak Tejo.”
Puspa menarik tangan Raka yang hendak pergi lalu melepaskannya dengan cepat ketika tersadar apa yang ia lakukan terlalu berlebihan untuk keduanya. Raka menatap Puspa heran dengan kedua alis menyatu.
“Bukannya lo mau balik? Gue nggak mau ngerepotin,” ucap Puspa tak enak hati mendapatkan bantuan Raka.
“Hey hoy, Puspaningrum. Di parkiran ini cuma ada gue yang bisa nolong lo. Emang lo mau dorong motor sendiri?”
Puspa menggeleng.
“Ya udah dih sini kunci motornya.”
Puspa menunjuk ke arah kunci yang menggantung di motor.
“Oh iya, hehe. Lo tunggu disini.”
Beberapa menit setelahnya Raka datang bersama seorang laki-laki besar berseragam satpam. “Ini motornya Pak,” ucap Raka menunjukan motor Puspa.
“Oh ya siap, Bos.”
“Tolong bawa ke bengkel. Kaya-nya businya butuh ganti. Sekalian servis dah, ya Puspa?”
Puspa yang tiba-tiba dipanggil gelagapan. “I-iya, Pak.”
Raka menengadahkan tangannya ke arah Puspa tapi Puspa tidak paham dan bertanya dengan menggunakan tatapan mata.
“Duit Puspa.”
“Oh iya, tapi gue nggak bawa cash.”
“Astagaa.” Raka mengeluarkan uang lima ratus ribu dari dompetnya dan memberikan uang itu ke Pak Tejo. “Kalau ada kurangnya talangin dulu ya, Pak.” Ngocoks.com
“Oke oke, siap.”
Pak Tejo membawa motor Puspa ke arah parkiran yang dekat dengan pos satpam.
“Mau gue anter pulang?” tanya Raka menawarkan.
“Eh nggak usah. Gue udah cukup ngrepotin lo. Gue naik ojek online aja.”
“Kalau nolong nggak boleh setengah-setengah, Puspa,” ucap Raka sedikit memaksa.
“Rumah gue jauh, Raka.”
“Gue punya jaket tebel, bensin fulltank dan motor yang rajin diservis.”
“Dih ngejek gue lo?”
“Hahaha, ngerasa ya? Ya udah lah, ayook gue anter pulang,” ucap Raka sambil menarik tangan Puspa. “Gue maksa Puspa!”
Mau tidak mau Puspa mengikuti langkah Raka mendekat ke arah motornya. Mereka berhenti di dekat motor cowok dengan bagian belakang yang menukik tajam. “Lo serius kita pakai motor ini?”
“Motor gue satu-satunya cuma ini. Kenapa?”
“Boncengannya terlalu tinggi, Ka,” jawab Puspa tidak nyaman.
“Nggak apa-apa, kan nanti kalau gue kedinginan karena perjalanan jauh lo bisa peluk gue biar anget.”
“Ogah!”
Wajah Raka terlihat kecewa. “Coba naik dulu, kita bisa kok duduk tanpa berdekatan kalau misal itu bikin lo nggak nyaman.”
“Emang bisa?”
“Bisa, paling capek doang kakinya pegel-pegel karena nahan.”
Raka sudah bersiap di atas motor dengan helm fullface miliknya. Dia menyiapkan footstep untuk Puspa naik, lalu wanita itu mengikuti perintah Raka untuk duduk di belakang motornya. “Udah?”
“Ntar dulu,” jawab Puspa sambil memperbaiki posisi duduknya dan memastikan ada jarak di antara mereka berdua. “Udah,” jawabnya setelah merasa siap.
“Lo tetap butuh pegangan, Puspa. Pegang sini.” Raka menarik kedua tangan Puspa dan melingkarkan di perutnya sendiri. “Begini lebih baik.”
Motor mulai melaju membelah jalanan kota Jakarta yang ramai. Sepanjang perjalanan tangan Puspa bertengger manis di tubuh Raka yang asing. Tidak ada perbincangan apapun selama perjalanan, hanya ada suara angin yang membawa rambut Puspa beterbangan kemana-mana.
“Terima kasih,” ucap Puspa setelah sampai di depan garasi rumahnya.
“Okee. Gue langsung balik ya.”
“Iya, hati-hati.”
“Hem, lo masuk rumah dulu gih.”
Puspa mengangguk mengikuti perintah Raka. Kakinya juga terasa tegang karena menahan jarak diantara mereka selama perjalanan.
“Puspa,” panggil Raka tiba-tiba.
Puspa yang merasa namanya dipanggil kembali memutar tubuhnya ke arah Raka.
“Banyak-banyakin senyum, lo cantik kalau tersenyum.”
Raka tersenyum tipis penuh arti sebelum memutargasnya cepat meninggalkan Puspa.
Bersambung… “Satu ice coffe medium, please.”
Puspa membayar dan menunggu kopi yang ia pesan di sudut ruang berdinding kaca. Weekend begitu cepat berlalu, senin yang rempong ada di depan mata. Ia memutuskan membeli ice coffe untuk sekedar membuat matanya tetap terbuka.
Minggu kemarin ia pergi ke rumah ayahnya untuk melepas rindu, tetapi laki-laki itu ternyata sedang berlibur dengan keluarganya. Dan Puspa berakhir dengan liburan yang hanya sekedar di rumah dan membaca buku.
“Ice sepertinya bukan pilihan yang tepat di waktu hujan.”
Puspa mendapatkan pesanannya. “Yaa, negatif x negatif bisa jadi positif, dingin x dingin bisa jadi menghangatkan.”
Barista perempuan yang sudah cukup Puspa kenal terlihat ragu mendengar jawaban Puspa. “Aku tidak berfikir seperti itu,” ucapnya menunjukan ketidaksepakatan dengan kalimat yang baru saja Puspa sampaikan.
“Yaa, aku hanya mengarang bebas. Aku sedang ingin saja,” jawab Puspa sambil menunjukan es kopi dinginnya.
“Oke. Good luck untuk hari ini.”
Puspa mengucapkan terima kasih lalu menyeruput kopi di tangannya sedikit. Ia melangkahkan kakinya ke arah bangunan yang sudah lebih dari tiga bulan ia jadikan tempat mencari rezeki. Ia meletakan payung pada tempatnya lalu membenahi pakaian yang terkena cipratan air hujan. Setelah merasa cukup rapi, Puspa kembali melangkah.
“Sudah berapa persen pembangunan pabrik?”
Suara yang tidak asing terdengar dari arah belakang tubuhnya. Puspa beralih haluan, sedikit berlari cepat ke arah toilet lobby. Ia menyembunyikan tubuhnya di sana, sesuatu yang tidak baik jika dia harus bertemu dengan laki-laki itu.
Kenapa harus mereka berada di tempat yang sama pagi ini? Rutuk Puspa dalam hati. Ia memutar tubuhnya untuk lebih masuk ke dalam. Tapi tiba-tiba …
Buugh.
Suara tangis memenuhi lorong menuju ke arah toilet lobby.
“Maaf,” ucap Puspa.
Ia menemukan seorang anak kecil berusia sekitar lima tahunan menangis sesenggukan. Sialnya, anak kecil itu menangis karena terkena tumpahan es kopi miliknya.
“Hati-hati kalau jalan dong, Mba,” ucap seorang wanita berseragam yang bisa Puspa kenali sebagai pengasuh anak laki-laki itu.
“Maaf,” ucap Puspa sekali lagi. Ia berjongkok di hadapan anak kecil itu sambil membenahi pakaiannya yang terkena tumpahan kopi. “Apa ada yang sakit?”
Anak kecil itu menggeleng, jawaban yang membuat Puspa merasa lega.
“Apa yang terjadi?” Suara yang menjadi penyebab tragedi pelariannya kini justru terdengar jelas di balik tubuh Puspa yang sedang berjongkok. Tubuh Puspa menegang, bersamaan dengan wangi parfum yang mendominasi mengubah situasi menjadi lebih mencekam.
“Papaaaa,” panggil anak kecil itu mendekat.
“Maaf, Pak. Tadi den Axel pipis, lari terus nubruk Mbaknya, terus ketumpahan es kopi.”
Puspa masih membeku, ia hanya mendengarkan setiap percakapan yang terjadi antara laki-laki itu dan pengasuh anaknya. Tubuhnya terlalu sulit untuk merespon kejadian yang begitu cepat pagi ini.
“Bisa kamu ambilkan pakaian ganti Axel?” suara laki-laki itu lagi.
Si pengasuh bayi melihat ke arah Puspa dengan tatapan menusuk. Apa maksudnya? Apa laki-laki itu menyuruhnya?
Puspa tahu ia salah, berlari menghindari sumber suara lalu berakhir bertabrakan dengan seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
“Hey,” panggil pengasuh itu.
Puspa berdiri lalu memutar tubuhnya ke arah sumber suara. Sebisa mungkin ia tetap menundukan kepala, menghindar bersitatap dengan laki-laki itu —lagi.
“Bisa kamu ambilkan pakaian ganti Axel di mobil?” tanya laki-laki itu lagi.
“Baik, Pak,” jawab Puspa. Ia sadar, Arya sudah tahu tentang keberadaannya.
“Oke, nanti bawa ke ruangan saya.”
Puspa melakukan instruksi yang diberikan atasannya. Atasan yang sialnya adalah ayah anak yang ia tabrak dan tertumpah es kopi miliknya! Puspa mencari tahu tentang keberadaan mobil Arya lalu meminta tolong sopir untuk membukakan mobil Arya dan mengambil pakaian ganti bocah kecil tadi.
“Maaf, apakah saya bisa menitipkan pakaian ganti anak Pak Direktur?” tanya Puspa ke arah petugas satpam yang berjaga di depan pintu lift lantai ruangan Arya.
“Mungkin anda bisa menitipkan ke seketaris Pak Arya, namanya Mbak Lita.”
“Oh ya? Dimana saya bisa bertemu Mbak Lita?”
“Jalan lurus nanti belok kanan, mejanya tepat di depan pintu besar ruangan Pak Arya.”
“Baik terima kasih.”
Puspa mengikuti arahan satpam dan senyumnya mengembang saat menemukan seorang wanita berbalut tampilan elegan dengan nametag Nurlita. “Maaf dengan Mba Lita?”
“Iya,” jawab wanita itu sopan.
“Saya mau nitip pakaian ganti anak Pak Direktur,” ucap Puspa sambil menyerahkan pakaian ganti yang ada di tangan kanannya.
“Saya ingin membantu, tapi maaf tadi Pak Arya berpesan agar Mbak-nya sendiri yang mengantar ke ruangan Pak Arya.”
Senyum di bibir Puspa menghilang, bisa Puspa yakini jika Arya benar-benar mengenalinya. Sesuatu yang sangat ia hindari saat ini. Lalu apa yang harus ia lakukan? Rasa sesak dan tidak nyaman memenuhi perasaannya. Puspa tidak mau tapi apa bisa dia menolak? “Maaf, tapi saya tidak bisa.”
Wanita di hadapannya menyangsikan kalimat Puspa. Kedua alisnya mengerut dan saling mendekat penuh tanda tanya. Tentu saja, bagaimana bisa karyawan sekelas Puspa menolak perintah atasan yang berada di atas atas atasnya?
“Saya harus bekerja,” jawab Puspa asal.
“Saya rasa itu bukan sebuah jawaban yang bijak. Anda sudah menumpahkan pakaian ke anak pemilik perusahaan tempat anda bekerja, saya rasa anda perlu minta maaf langsung ke Pak Arya.”
Puspa tahu.
“Yaa, baiklah. Terima kasih.”
Puspa menyeret langkah kakinya ke arah pintu besar yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Pintu berwarna coklat maskulin dengan nama dan posisi yang tercetak jelas di sana. Doa selalu Puspa ucapkan dalam hati, semoga pertemuan ini tidak akan berarti apa-apa untuk keduanya. Puspa menarik nafas panjang sebelum benar-benar mengetuk pintu itu.
“Langsung masuk saja,” ucap Mbak Lita memberi instruksi.
Puspa mengangguk dan memberanikan diri membuka handle pintu yang dingin. Saat memasuki ruangan Arya, aroma maskulin langsung memenuhi indera penciumannya. Wangi musk yang dulu menjadi wangi favorit Puspa. Ruangan kerja Arya luas dengan karpet Turki bergaya klasik yang semakin menambah kesan mahal di setiap sudut-sudut bangunan.
“Saya membawakan pakaian ganti adeknya.” Puspa harus bersyukur ia bisa mengucapkan kalimat itu tanpa terbata meskipun degup jantungnya seakan keluar dari tempatnya.
“Pakaikan, namanya Axel,” jawab Arya. Laki-laki itu duduk di sofa tanpa melihat ke arah Puspa. Tangannya disibukkan dengan beberapa berkas, sedangkan anak kecil yang baru Puspa ketahui namanya Axel duduk di karpet di hadapan Arya sambil bermain mobil-mobilan.
Puspa ingin drama ini segera selesai. Ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Axel. “Hai, apa boleh saya bantu mengganti pakaianmu yang kotor?”
Axel anak yang baik, ia mengangguk memperbolehkan dan berdiri dengan manis di hadapan Puspa. Anak yang memiliki garis wajah sama dengan Arya, bedanya matanya berwarna biru. Indah sekali, batin Puspa. Pasti istri Arya sangat cantik karena Axel begitu sempurna di mata Puspa.
“Thank you,” ucap Axel setelah Puspa selesai mengganti pakaiannya.
“You are welcome,” jawab Puspa lalu Axel melanjutkan aktivitas bermainnya.
Puspa berdiri dan menghadap ke arah Arya yang masih terlihat sibuk. “Saya sudah selesai, Pak. Maaf jika tadi saya tidak hati-hati dan menabrak Tuan muda kecil,” ucap Puspa dengan tersenyum saat matanya menangkap sosok Axel yang melihat ke arahnya. “Saya permisi.”
Arya tidak menjawab, ia masih menautkan matanya ke arah berkas-berkas di meja. Merasa tidak perlu menunggu jawaban, Puspa memutar tubuhnya untuk melangkah pergi.
“Tunggu.” Suara yang mampu menghentikan langkah Puspa. Wanita itu membeku di tempatnya. “Axel, bisa kamu bermain di kamar? Papa mau ngobrol sebentar dengan tante ini.”
“Okee, Axel juga mengantuk, Axel mau bobok dulu ya, Pa.”
“Tentu saja sweetheart.”
Suara pintu kamar pribadi di belakang Puspa terbuka, menegaskan bahwa kali ini hanya ada dia dan Arya di ruangan ini.
“Duduklah.”
Puspa tetap bergeming.
“Bii, duduk.”
Entah kenapa panggilan itu menyesakan dada. Puspa memejamkan mata untuk mengusir semua bayang-bayang kenangan masa lalu yang sudah ia kunci rapat di hatinya. Logika Puspa menolak, ia tetap melangkah menjauh dan berhenti di depan pintu ruang kerja Arya.
Namun sialnya, pintu itu tidak bisa dibuka.
“Aku menguncinya,”ucap Arya. “Duduklah dulu, aku berjanji tidak akan menyakitimu—lagi.”
Puspa pernah berharap Arya adalah jawaban dari setiap doa yang ia langitkan. Sebuah pemberian terindah dari dunia yang seringnya mengecewakan. Tetapi pada akhirnya, laki-laki itu justru menjadi salah satu cobaan dari sekian ujian yang harus Puspa lapangkan. Setelah perceraian orangtua yang diawali dari ratusan pertengkaran hebat di hadapan Puspa, wanita itu kembali dipatahkan oleh seseorang yang seharusnya ia jadikan tumpuan. Arya Adiputra, kekasihnya.
Puspa jatuh, terbuang dan sekali lagi merasa tersisihkan.
Kehidupan Puspa berubah drastis setelah kepergian Arya. Wanita yang dulunya sudah mulai percaya dengan adanya keajaiban, kembali diredam oleh sebuah pengabaian.
Ya, Arya mengabaikan Puspa yang masih berharap besar dengan hubungan mereka. Hingga bertahun-tahun lamanya Puspa masih berharap seorang Arya akan kembali menatap kearahnya seperti dulu, tetapi nyatanya laki-laki itu tak kunjung kembali menoleh.
Arya berjalan lurus tak lagi melihat ke arah Puspa di belakangnya yang memohon laki-laki itu untuk kembali. Arya benar-benar memusnahkan Puspa di dalam setiap poros hidupnya. Tak ada lagi nama Puspaningrum di sana. Sedangkan di hati Puspa masih terdapat nama Arya di mana-mana.
Pagi ini, mereka berdua kembali dipertemukan dalam sebuah fase kehidupan berbeda. Puspa tak lagi berharap, hatinya kosong berantakan. Sedangkan Arya sudah berjalan jauh di depan dengan kehangatan keluarga yang dulu pernah ia janjikan pada Puspa.
Mereka berdua di dalam ruangan yang sama dengan berbagai macam perasaan yang saling mencari perhatian. Puspa duduk dengan canggung dan jari jemari bertaut cemas. Mereka berdua dipisahkan sebuah meja marmer mewah. Puspa duduk di sofa berseberangan dengan Arya yang kini menautkan perhatian penuh ke arah wanita dari masa lalunya.
Sekelibat bayangan kebersamaan mereka hadir dan sekuat tenaga Puspa mencoba menepisnya. “Saya tidak pernah bermaksud mengganggu hidup Pak Arya,” ucap Puspa pertama kali. Ini adalah salah satu bentuk pertahanan diri yang Puspa lakukan.
Sebelum Arya mengeluarkan kalimat yang mungkin bisa kembali merobek hati, Puspa menjelaskan bahwa pertemuan ini hanyalah sebuah ketidaksengajaan. “Bahkan saya sama sekali tidak tahu kalau Pak Arya pemilik perusahaan ini,” tambah Puspa. “Saya —saya sudah berencana resign tapi ternyata pinalty-nya terlalu besar. Saya tidak mampu.”
“Bii—.”
“Nama saya Puspa—, Puspaningrum,” putus Puspa menyela. “Saya tidak akan mengganggu hidup Pak Arya, saya tahu dimana batas saya berada.” Puspa mendominasi, sekuat tenaga mencoba menunjukan betapa dia tidak memiliki maksud terselubung dalam pertemuan ini. Tidak ada lagi yang Puspa harapkan dari seorang Arya Adiputra.
“Aku tidak sedikitpun merasa terganggu, aku—.”
“Saya harus pergi,” putus Puspa sekali lagi sambil berdiri. “Bisa Bapak bukakan pintu untuk saya keluar?”
“Bisa kamu tidak memutus kalimatku, Bii? Dan aku memohon kepadamu untuk tetap duduk, bisa?” Pinta Arya yang lebih layak disebut tuntutan.
Kali ini mata mereka kembali saling tertaut setelah sekian purnama. Puspa menguatkan hatinya untuk menelisik ke arah bola mata yang dulunya dekat namun kini terasa asing. Tak ada lagi perasaan memiliki seperti sebelumnya. Karena bagi Puspa, Arya-nya sudah mati.
“Maaf saya harus bekerja.” Puspa membawa langkahnya ke arah pintu keluar dan semakin mempercepat ketika mendengar suara derap langkah kaki mendekat.
Puspa merasakan tubuhnya ditarik dan dipaksa menghadap ke arah objek yang paling ingin ia hindari. Arya memojokan tubuh Puspa ke pintu. Laki-laki itu kini berjarak sejengkal tepat di depan tubuh Puspa yang membeku.
Puspa memilih mengalihkan tatapannya ketika seakan kembali terperangkap ke dalam manik mata Arya yang memunculkan ribuan kenangan manis mereka berdua —dulu. Mereka berdiri dengan jarak yang begitu dekat, dengan nafas yang saling menderu hebat. “Biarkan —saya, pergi,” mohon Puspa.
Arya meletakan kedua tangannya di samping kanan dan kiri tubuh Puspa. Terdengar jelas tarikan nafas Arya saat mencoba mengatur deru nafasnya sendiri. “Apakah kamu bisa mendengarkanku?” tanya Arya setelahnya.
“Tidak.”
“Kenapa?”
Kenapa? Puspa benar-benar tertarik dengan pertanyaan itu. “Itu adalah pertanyaan yang saya simpan sejak dulu lalu menguap dengan sendirinya karena tak kunjung terjawab.”
“Maksudnya?” tanya Arya tidak paham.
“Kenapa?” ulang Puspa.
“Kenapa apa?”
“Kenapa Pak Arya tidak bisa mendengar permohonan saya untuk tetap tinggal?” tanya Puspa tegas, tepat ke manik mata laki-laki itu. Ngocoks.com
Arya terbungkam! Tak mampu menjawab pertanyaan Puspa yang memukul telak dirinya.
“Maaf Pak Arya, bapak lima menit lagi ada rapat direksi. Terima kasih.” Suara Mbak Lita melalui intercom memberikan jeda diantara keduanya. Puspa kembali menundukan wajahnya sedangkan Arya masih menautkan bola matanya ke arah Puspa. Laki-laki itu terlihat marah, sangat marah untuk alasan yang tidak Puspa ketahui.
“Aku minta maaf,” ucapnya lirih. Kedua tangannya ia tarik kembali sejajar dengan tubuhnya
“Saya mohon untuk membuka kunci pintu.”
“Aku meminta maaf, Bii.”
“Puspa.”
“Yaa Puspa! I already said sorry.”
“Saya tidak bisa memaafkan Bapak. Lebih baik seperti itu, kita tak lagi perlu saling mengungkit masa lalu. Semuanya sudah selesai.”
Beep
“Maaf Pak Arya, sudah waktunya rapat direksi. Bapak sudah ditunggu.”
Kedua tangan Arya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Bibir laki-laki itu mengatup tipis dengan rahang keras menahan emosi. Berbeda dengan Puspa, bibir wanita itu bergetar dengan kedua tangan saling meremas karena takut. Sebuah respon tubuh yang tertangkap mata Arya dengan jelas.
“Pergilah.”
Arya berjalan mendekat ke arah mejanya lalu sedetik kemudian bunyi kunci pintu terbuka. Puspa bergegas keluar dari ruangan yang menyesakkan ini, berjalan cepat ke arah lift yang bisa membawanya menjauh dari Arya. Lift berdenting di lantai empat, Puspa masuk ke dalam toilet dan kembali memeluk tubuhnya sendiri disana.
Semuanya akan baik-baik saja.
Semuanya akan baik-baik saja.
Berulang kali ia mengucapkan kalimat positif untuk dirinya sendiri sambil mengantuk-antukan kepalanya ke tembok toilet yang dingin. Ia berharap masalah dan kesakitan yang ada di otaknya menghilang, bersamaan dengan benturan di kepalanya yang menyakitkan.
Jauh di dalam lubuk hati Puspa bertanya, kapan penderitaannya berakhir?
***
“Apa ini?”
“Hot coffe latte.”
“Untuk?”
“Buat lo.”
“Oh.”
“Sebagai ucapan terima kasih karena sudah nolongin gue waktu motor gue mogok dan karena udah nganterin gue pulang.”
Laki-laki itu menaikan kedua alisnya yang tebal dengan mimik wajah meremehkan. Padahal tangannya mengambil satu cup kopi yang tadi disodorkan Puspa di mejanya. “Cuma dapet ini doang?” tanya Raka.
“Ck, jangan ngelunjak.”
Puspa berjalan memasuki kubikelnya sendiri, meletakan tas lalu duduk dengan anggun seperti tidak terjadi apa-apa di sekian menit kehidupan sebelumnya.
“Traktir gue makan siang,” pinta Raka. Laki-laki itu meletakan kepalanya di pembatas kubikel diantara keduanya. Wajahnya menunjukan sebuah permohonan yang sangat kentara.
“Gue sibuk,” jawab Puspa.
“Habis pulang kerja aja berarti.”
“Gue nggak biasa makan malam.”
“Kita cari cemilan sehat aja kalau gitu.”
“Raka …” panggil Puspa dengan nada memanjang di bagian akhir.
“Iya, Puspa …” jawab Raka dengan nada yang sama.
Raka membawa tangannya mendekat ke wajah Puspa, sesuatu yang memaksa Puspa untuk memundurkan tubuhnya ketika daerah teritorialnya terganggu. Tapi seakan tak mau berhenti, Raka tetap mendekatkan jari telunjuknya ke ujung bibir Puspa lalu menariknya ke atas. “Sumpah lo kalau senyum cantik banget.”
“Bangke!”
“Bhahaha, serius sumpah!”
“Mau apa sih lo muji-muji gue gitu?”
“Makan siang atau makan malam semuanya gue suka.”
“Gue—.”
“Oke makan siang aja ya? Deket-deket kantor, di deket sini ada tempat makan nasi padang murah meriah enak banget. Ntar gue kasih tahu tempatnya.” Raka mengucap kalimat panjang lebar itu sambil menarik tubuhnya.
Puspa hanya bisa menggeleng menanggapi tingkah Raka yang menyebalkan. “Raka sialan.”
“Gue dengeer,” teriak Raka dari dalam kubikelnya.
Puspa tahu, dia sengaja mengatakan itu agar Raka mendengarnya. Puspa kembali mendudukan tubuhnya dan terkesiap ketika melihat wajahnya yang terpantul dari kaca kecil di meja. Sebuah senyum yang jarangPuspa lihat dalam kesehariannya.
Bersambung… Flashback
Seorang gadis berusia remaja terduduk lemas di balik pintu kamarnya yang sempit. Gadis itu masih mengenakan seragam SMA. Ia menutup kedua telinganya ketika suara-suara teriakan di luar tak kunjung berhenti.
“Kenapa kamu selalu menuntutku? Aku capek!”
“Kamu nggak pernah ngertiin aku, Mas!”
“Aku kerja dapat gaji segitu kamu pun tahu, lalu kamu minta apa? Aku sudah ngasih semuanya ke kamu.”
“Tapi itu tidak cukup! Aku sudah bantu ikut jualan, aku sudah ngurus rumah dan kenapa semua kekurangan kamu bebankan ke aku? Biaya sekolah mahal, semua kebutuhan pokok pun juga tidak murah!”
Praaang.
“Aku capek sama kamu!”
“Aku lebih capek, Mas.”
Brak.
Suara pintu ditutup keras menghentikan drama sore ini. Suara teriakan itu berhenti, berganti isakan tangis ibunya yang terdengar lirih. Puspa masih duduk di tempat yang sama dengan tatapan mata gamang dan tubuh yang tak bergerak sedikitpun. Hampir setiap hari suara pertengkaran kedua orangtuanya menghiasi kehidupan Puspa remaja. Gadis yang seharusnya tumbuh dengan kasih sayang terpaksa melihat bagaimana kedua orangtuanya yang hidup untuk saling membenci.
Puspa mendekat ke arah ibunya yang duduk lemas di ruang tengah rumah kecil mereka. Beberapa kali ia menemukan tatapan penuh selidik dari beberapa tetangga yang lewat di depan rumah, entah memang benar-benar lewat atau hanya sekedar ingin tahu. “Bu,” panggil Puspa.
“Bapakmu Ningruum, Bapakmu.”
Puspa duduk di samping ibunya yang menangis. Puspa bingung, apa yang harus ia lakukan? Lama mereka hanya duduk berdua dalam diam, tak ada pergerakan. Puspa duduk di sana sampai tangis ibunya mereda lalu kembali ke kamarnya seperti biasa. Jika pondasinya saja rapuh, kemana Puspa harus mencari perlindungan?
***
“Aw!”
Puspa merasa pusing saat sebuah bola basket terlempar tepat mengenai kepalanya. Wanita itu terjatuh hingga tersungkur karena lemparan yang cukup keras. Beberapa manusia di sana melihat ke arah Puspa kasihan tapi tak ada yang berniat membantu.
“Hey, kamu baik-baik saja?” Seorang mahasiswa laki-laki berpakaian olahraga mendekat. Ia duduk berjongkok di dekat Puspa sambil membantu wanita itu berdiri.
“Saya baik,” jawab Puspa cepat. Ia segera berdiri dan berlari menghindari laki-laki itu meskipun dengan kesakitan karena sikunya yang berdarah terkena batu kerikil.
Dalam langkahnya, Puspa menoleh sekilas untuk melihat ke arah laki-laki itu lagi. Terkesiap, Puspa memutar kepalanya cepat ketika masih menemukan laki-laki itu menatap ke arahnya. Ia bergegas mencari unit kesehatan di kampusnya. Lukanya harus segera dibersihkan agar tidak terinfeksi. “Apa aku boleh meminta obat untuk membersihkan luka ini?” tanyanya ke arah petugas yang sedang berjaga.
Kampus Puspa memiliki satu unit kesehatan yang memiliki bilik-bilik dengan ranjang kecil. Biasanya untuk kasus-kasus sederhana bisa dibantu ditangani di sini atau hanya sekedar untuk penanganan pertama.
Petugas wanita itu menyerahkan satu flabot cairan NaCl dan kasa bersih ke arah Puspa. “Mau dibantu?”
“Tidak perlu,” jawab Puspa tidak mau merepotkan.
Ia masuk ke dalam bilik paling ujung dan mendudukan tubuhnya di ranjang kecil beralaskan kain putih. Puspa membuka cairan NaCl dan menuangkan di tempat yang sudah disediakan. Dengan cukup kesulitan Puspa membersihkan sedikit demi sedikit luka yang ada di sikunya. Sesekali ia terlihat meringis saat kulitnya terasa perih.
“Kamu tidak akan bisa membersihkan lukamu seorang diri.” Laki-laki yang Puspa kenali sebagai orang yang menolongnya berdiri, pun juga kemungkinan besar adalah orang yang mengakibatkan luka itu ada, berjalan mendekat ke arah Puspa. Ia menarik tangan Puspa dan berniat membantu membersihkan lukanya.
“Aku bisa melakukannya sendiri.”
Kalimat Puspa mengudara tanpa balasan. Laki-laki itu tetap mengambil kasa bersih lalu membersihkan siku Puspa yang terluka. “Sakit?” tanyanya.
“Tidak … aw aw.” Puspa meringis saat laki-laki itu sedikit menekan lukanya dengan sengaja.
“Kalau sakit bilang sakit,” ucap laki-laki itu tanpa melihat ke arah Puspa.
Puspa tidak menjawab, membiarkan laki-laki itu melanjutkan kegiatannya membersihkan luka di tangannya. Dari tempatnya duduk Puspa bisa melihat bulu mata laki-laki itu yang lentik, hidung mancung dan rambut yang sedikit ikal di ujung dengan aroma parfum musk yang terkesan mahal.
“Siapa namamu?” tanya laki-laki itu tiba-tiba dan masih tidak mengalihkan objek yang ia tekuni. “Apa kamu bisu?” tanyanya lagi saat menyadari Puspa tidak menjawab pertanyaannya.
“Puspa,” jawab Puspa akhirnya.
“Fakultas?”
“Aku rasa lukaku sudah cukup bersih.” Puspa menarik tangannya tapi kembali tertahan. Laki-laki itu kembali menahan tangan Puspa untuk tetap berada pada tempatnya.
“Kamu dari fakultas mana?” tanya laki-laki itu sekali lagi. Kali ini dengan mata yang beralih menatap ke arah Puspa sebentar lalu kembali fokus ke arah luka.
“Psikologi.”
Laki-laki itu tak merespon lalu membuang beberapa kasa kotor ke tempat sampah. “Sudah bersih.”
“Terima kasih.”
“Kamu tidak bertanya namaku?” tanya laki-laki itu menghentikan langkah Puspa yang hendak keluar bilik. Laki-laki itu berdiri dengan elegan di ujung ranjang, masih ada keringat tipis yang menambah kesan maskulin di tubuh liatnya.
“Untuk apa?”
Laki-laki itu mengedikan bahu. “Aku tidak tahu, biasanya orang lain melakukan itu.”
Puspa malas menanggapi, ia berniat untuk melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan.
“Namaku Arya,” ucap laki-laki itu lagi.
“Terima kasih, Arya.”
“See you soon, Puspa.”
Puspa mengabaikan kalimat Arya, bagaimana bisa laki-laki itu mengatakan dengan jelas seakan mereka akan kembali bertemu suatu saat nanti. Tak mau ambil pusing, Puspa melanjutkan langkahnya ke ruangan yang ingin ia tuju sebelumnya.
Beberapa hari berikutnya berjalan seperti biasa. Puspa belajar lalu pulang dan berdiam diri di kamar. Tidak ada interaksi berarti di rumahnya. Ibunya selalu sibuk bekerja sedangkan ayahnya kini sudah menikah lagi setelah satu tahun perceraian. Kedua orangtua Puspa bercerai saat ia masih SMA. Puspa memilih tinggal bersama ibunya karena tidak mau mengikuti ayahnya yang berpindah kota dan sering berpergian karena pekerjaan.
Sore ini, langit mulai gelap. Puspa mendesah sebal ketika sekali lagi ia harus ketinggalan bis-nya di jam kritis. Belum tentu ada lagi bis yang sejalan ke arah rumahnya lewat di jam enam sore. Pilihan terakhir dia harus naik ojek yang akan menguras kantongnya cukup banyak. “Huft,” gusar Puspa untuk dirinya sendiri.
Sebuah mobil yang cukup mencolok berhenti tepat di depan Puspa. Pintu terbuka dan seorang laki-laki yang bisa ia kenali adalah laki-laki yang membantunya membersihkan lukanya kini berjalan mendekat dengan setelan rapi. Sweater dan celana bahan slim fit melekat di tubuhnya. “Aku anter pulang, boleh?” Arya menawarkan.
“Rumahku jauh.”
“Aku bawa mobil, jarak jauh pun bukan masalah.”
“Maaf, tapi aku tidak bisa.”
Arya terlihat berfikir sebentar, matanya memicing dengan bibir yang ia gigit kecil. Merayu gadis di hadapannya sepertinya tidak akan mudah seperti biasanya. “Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih untukku yang sudah membantu merawat lukamu.”
“Aku tidak pernah memintamu untuk membantuku.”
“Puspa.”
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa kamu terlihat menghindariku? Apa ada yang salah denganku?” tanya Arya dengan kedua tangan terbuka lebar. Ia melihat ke arah dirinya sendiri yang terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada yang salah dalam diri Arya, lalu kenapa Puspa seakan melihatnya seperti orang jahat yang bisa menyakitinya kapan saja?
Puspa hanya menatap laki-laki itu sekilas lalu berniat pergi. Puspa tidak sedikitpun berniat dengan segala jenis hubungan antar manusia selain keluarga terdekatnya, itu pun jarang. Ada terlalu banyak rasa kecewa yang cukup ia jadikan alasan untuk menghindari interaksi rumit antar manusia. Dia kecewa dan terlalu banyak sumber kekecewaan pada dirinya untuk orang lain. Puspa hanya ingin menyimpannya seorang diri. “Aku tidak bisa.” Puspa hanya bisa mengulang jawaban.
“Setidaknya beri kesempatan untukku mengantarkanmu pulang, sekali saja. Lagipula tidak baik jika seorang perempuan pulang malam sendirian pakai ojek. Bagaimana kalau driver-nya jahat?”
“Bagaimana kalau kamu jahat?”
“Kamu bisa membuktikannya dan aku pastikan tidak ada niatan jahat di otakku.”
“Arya …”
Arya tersenyum saat Puspa menyebut namanya untuk pertama kali, sebuah kemajuan menurutnya. Entah kenapa Arya suka dengan suara Puspa saat memanggil namanya. “Ya?”
“Saya ti—.”
“Aku memaksa, masuk ke mobil dengan atau tanpa paksaan, Puspa,” ancam Arya akhirnya. Dia tidak akan membiarkan kesempatan ini terbuang begitu saja. Sebuah kebetulan ia kembali menemukan Puspa di halte saat hendak pulang ke rumah. Seorang wanita yang ia cari selama seminggu belakangan ini. Seorang wanita yang lebih banyak bersembunyi karena Arya hampir saja menyerah mencarinya.
Tak mau memperkeruh suasana, Puspa mengikuti kemauan Arya. Jika dilihat dari penampilannya tentu Arya bukan seperti orang jahat. Lagipula apa yang hendak dicari dari seorang gadis miskin pendiam seperti dirinya? Hanya ada uang lima puluh ribu di dompetnya, nominal yang tidak mungkin cukup hanya sekedar untuk membeli baju Arya.
Laki-laki itu tersenyum puas saat melihat Puspa masuk ke dapam mobilnya dengan suka rela. “Mau makan dulu?” tanya Arya setelah mereka berdua ada di dalam mobil.
“Kamu janji mengantarkanku pulang, hanya pulang.”
“Oke,” jawab Arya menghela nafas kecewa.Dia berharap rumah Puspa jauh agar bisa memberinya waktu sedikit lebih lama untuk berdekatan dengan wanita itu.
Jakarta diguyur hujan sejak dini hari, suasana yang memunculkan dingin dan asing untuk setiap penghuninya. Biasanya Jakarta panas, tak seperti sekarang yang basah dimana-mana. Puspa mendudukan tubuhnya di kursi kayu usang balkon terbengkalai yang sering ia jadikan sebagai tempat pelarian. Matanya tak pernah puas menikmati suasana jalanan kota Jakarta dari titik ini. Terlebih hujan masih mengguyur deras. Puspa sangat menyukai hujan dan suasana setelahnya.
Sebuah tempat makan berwarna abu-abu dengan isi dua roti bakar selai strawberry terletak di samping kanan Puspa. Satu cup es kopi dingin tak lupa menemani paginya. Perusahaan tempatnya bekerja memberikan kelonggaran karyawan untuk mendapatkan sarapan terlebih dahulu. Lamanya perjalanan di Jakarta menjadi alasan kenapa peraturan perusahaan memberikan kelonggaran jam mulai bekerja.
Puspa membuka kotak makan dan memulai sarapannya. Di gigitan pertama roti bakar miliknya, Puspa merasakan kehadiran seseorang selain dirinya di tempat ini. Tak perlu memutar tubuh untuk mengetahui siapa yang datang karena aroma parfum musk yang sudah ia kenali mampu memberikan jawaban.
Laki-laki itu mendudukan tubuhnya di ujung kanan kursi kayu yang kosong tanpa permisi. Ia meletakan satu cup teh panas dengan tali saringan yang menggantung —seperti dulu, Puspa suka es kopi dan Arya menyukai teh hangat. Tidak perlu bertanya darimana Arya tahu Puspa ada di sini. Perusahaan ini miliknya, ada dalam kekuasaannya. Mereka dipisahkan jarak diantara tempat makan dan dua cup minuman. Gemericik air menjadi suara yang paling dominan disini.
“Bagaimana kabar Bapak dan Ibu?” tanya Arya memecah sepi.
Puspa enggan menjawab, ia lebih memilih untuk segera menghabiskan roti bakar miliknya dan pergi.
“Bapak sama Ibu sehat kan?” tanya Arya tak mau berhenti.
“Aku ke Peninggaran (rumah Puspa dulu), tapi kata tetangga kalian sudah menjual rumah dan pindah.”
Hening kembali menjeda ketika kalimat Arya tak berbalas. Puspa mengunci mulutnya rapat dengan tatapan mata menaut ke arah hujan yang deras.
“Masih suka hujan?” tanya Arya lagi. “Masih suka es kopi di saat hujan, kamu tidak berubah, Bii,” ucapnya sambil tersenyum tipis ke arah Puspa. Laki-laki itu memanfaatkan kebisuan Puspa untuk mengamati garis wajah wanita yang tak pernah berubah di hadapannya. Sudah lebih dari lima tahun tapi Puspa masih sama, masih cantik untuk seorang Arya.
Tanpa permisi Arya mengambil satu tangkup roti bakar milik Puspa dan memasukan ke mulutnya. Hanya satu gigitan tapi ribuan kenangan mereka dulu saling berlomba mencuri perhatian. Kenangan yang mampu menghangatkan dalam dinginnya pagi tapi tiba-tiba mencekat ketika kenyataannya kini mereka tak lagi dekat. “Enak,” puji Arya yang sia-sia karena Puspa masih tetap sama.
Tangan Puspa mengambil cup miliknya dan memilih untuk meninggalkan Arya dalam kesepian. Sayangnya, satu-satunya jalan untuk pergi dari tempatnya harus melalui sisi depan Arya yang kosong. Puspa berfikir sebentar lalu memutuskan untuk tetap melangkah ketika tidak ada pilihan lain.
“Bii.” Arya menahan tangan Puspa yang bebas, menggenggamnya sekilas.
Sentuhan fisik pertama kali setelah lima tahun perpisahan membuat setiap nadi di dalam tubuh Puspa menegang. Kulit itu terasa dingin dan asing, sesuatu yang menciptakan desir hebat di hati Puspa yang terbiasa kosong tak ada rasa dan warna.
“Aku mohon untuk tetap seperti ini.”
Puspa mengingat permohonannya dulu yang selalu terabaikan. Ia mengingat dengan sangat detail bagaimana perasaannya dulu saat Arya menolak permintaannya untuk kembali. “Bapak sangat paham semua ini adalah kesalahan.”
Arya meletakan kepalanya di tangan Puspa yang menggantung. Sepersekian detik Puspa merasakan kesedihan Arya yang sampai ke hatinya. Lalu tiba-tiba ingatan Puspa kembali tersentak ketika rasa sakitnya ditinggalkan kembali muncul. Arya tidak mencintainya lagi.
“Tidak ada yang salah jika itu tentangmu, Bii. Tentang kita,” jawab Arya tanpa melepaskan genggamannya. Ngocoks.com
“Bapak sudah —menikah.” Puspa tercekat dengan fakta itu.
Semua sudah berbeda, Arya tak lagi milik Puspa begitu sebaliknya. Dia tidak mau mengusik pernikahan laki-laki itu. Puspa melepaskan tangannya dari genggaman Arya dengan mudah. Seperti itulah laki-laki itu saat melepaskannya dulu, tanpa kata, tanpa penjelasan, Puspa pergi meninggalkan Arya dengan perasaannya sendiri.
Sepanjang perjalanan ke ruangan, hati Puspa tak pernah berhenti berdesir hebat. Efek Arya masih begitu kuat untuk seorang Puspa. Arya adalah cinta pertama Puspa setelah ayahnya, laki-laki yang mematahkan sayapnya, setelah ayahnya juga melakukan hal yang sama. Ia berjalan ke arah kubikel karena waktu sarapan seharusnya sudah selesai. Jika dia terlalu lama, kemungkinan besar ia pasti akan mendapatkan teguran dari Mbak Dwi. Seperti kemarin ketika tragedi menumpahkan kopi ke anak pemilik perusahaan yang memaksa Puspa untuk memulai pekerjaannya sedikit terlambat.
Bola mata Puspa menemukan kehampaan saat melihat kubikel di sisinya yang tak berpenghuni. Ia ingin bertanya kepada teman-teman lainnya karena laki-laki itu jarang terlambat, tapi urung. Tidak ada yang perlu mendapat perhatian lebih termasuk Raka.
“Ada update terbaru ya gais, ini sudah ada rancangan penerimaan karyawan baru. Sepertinya perusahaan benar-benar concern dalam pembangunan pabrik di Cikarang.” Mbak Dwi datang dengan segepok berkas perencanaan rekruitment karyawan.
“Kapan, Mbak?” tanya si rambut kontras yang Puspa ketahui biasa dipanggil Ciput. Kata Raka nama aslinya adalah Putri sedangkan Ciput adalah nama kerennya saja.
“Bulan depan. Akan ada rekruitment di luar kota, mungkin ada yang berniat mendaftarkan diri buat dinas luar nih?”
“Kemana aja?” tanya Laila, dia adalah salah satu karyawan yang hampir mirip dengan Puspa, pendiam. Duduk di paling ujung dekat jendela kaca.
“Jogja, Bandung sama Malang.”
“Wah gue mau yang di Malang.”
“Gue mau yang di Jogja, biar sekalian jalan-jalan.”
Banyak anak-anak yang mendaftarkan diri untuk bisa ikut gabung dinas luar. Karena bisa sekalian jalan-jalan pun juga uang ekstra-nya yang lumayan.
“Puspa mau coba ikut daftar?” tanya Mbak Dwi.
Puspa menggeleng, tempat baru dengan teman-teman dan orang baru bukan menjadi pilihan yang terbaik untuk dirinya saat ini.
“Oke, fiks ya, udah gue list nih,” tanting Mba Dwi.
“Sudah, Mba,” jawab anak-anak serentak.
Puspa mendekati Mba Dwi yang sibuk menulis beberapa pendaftar di mejanya plus kota yang diinginkan. “Raka kemana, Mbak?” tanya Puspa ingin tahu.
“Tadi pagi tiba-tiba izin lagi sakit katanya.”
“Oh,” jawab Puspa singkat.
Raka sakit? Batinnya dalam hati.
“Gimana, Puspa?” tanya Mba Dwi memastikan.
“Nggak apa-apa, Mbak. Cuma nanya aja.” Puspa melanjutkan aktivitas pekerjaannya. Ia mengambil ponsel dan merasa sulit menahan rasa ingin tahunya.
Me : Lo sakit?
Lama pesan itu tak berbalas. Puspa mengabaikan dengan menyibukan diri dalam pekerjaannya yang menggunung di awal minggu. Beberapa menit tidak terdengar ada balasan, hingga Puspa tertarik untuk kembali mengambil ponsel dan mengecek notifikasinya lalu mendesah pelan saat tak menemukan apa-apa di sana.
“Huft.”
Beep.
Raka : Iya.
Me : Sakit apa?
Raka : Kalau mau tahu dateng aja jengukin gue.
Me : Dih! Ogah, ngarep lo.
Raka : Emang! Peka dikit dong.
Puspa tak lagi membalas pesan Raka. Memilih untuk membiarkan dan kembali berkutat dengan beberapa berkas laporan yang harus ia selesaikan hari ini. Tidak ada yang salah jika itu tentangmu, Bii. Tentang kita.
Kenapa kalimat ini terus terulang-ulang di dalam otaknya?
Bersambung… Hujan turun deras. Puspa bermonolog dalam hati ketika sebuah kegundahan hebat sedang melanda. Di sisi lain, Puspa sangat membutuhkan es kopi dingin untuk meningkatkan kadar kafein di dalam darahnya, sedangkan di sisi lainnya dia juga merasa enggan untuk berbasah-basahan di tengah hujan.
Kedai kopi langganannya berada di seberang jalan. Biasanya ia membeli kopi sebelum masuk ke dalam area perusahaan. Tetapi karena waktu absensi sudah sangat mepet, Puspa terpaksa masuk terlebih dahulu untuk absen atau gajinya akan terpotong bulan ini.
Puspa hanya berdiri bimbang di sisi kanan pintu masuk bangunan gedung tempat ia bekerja. Puspa terlalu sulit mengambil keputusan hanya untuk sekedar membeli kopi atau tidak. Dinginnya air hujan yang kemungkinan besar akan membasahi pakaiannya pasti menyiksa pekerjaan Puspa yang berada di bawah pendingin ruangan.
“Ash!” Cipratan air dari sebuah mobil sedan mewah yang berhenti di depan lobby memaksa Puspa untuk memundurkan tubuhnya.
“Mama.”
Suara anak kecil yang bisa Puspa kenali mampu mencuri perhatian manik mata wanita itu. Puspa melihat ke arah seorang wanita cantik yang keluar dari dalam mobil. Wanita berparas blasteran dengan rambut coklat yang tergerai indah. Kulit putih bersih terawat dengan benda-benda yang jelas mahal melekat di tubuhnya. Semua orang termasuk Pak Satpam yang biasa membantu Puspa menunduk hormat ke arah wanita itu.
Jelas wanita itu bukan sembarang orang di perusahaan ini.
“Mama aku mau pergi ke rumah Grandpa.” Tubuh mungil yang beberapa hari lalu ia tumpahi es kopi miliknya sedang bergelayut manja di dalam pelukan wanita itu. “Mamaaa.”
“Ya sayang,” jawab wanita itu lembut.
“Axel mau ke rumah Grandpa,” rengek anak laki-laki itu lagi.
“Nanti, setelah kita mengantar sarapan ini ke Papa ya,” jawab wanita itu sambil menunjukan kotak makan yang ia bawa di tangan kanannya.
Puspa yakin wanita itu adalah istri Arya. Ia menelisik setiap detail pahatan nyaris sempurna di hadapannya. Bibir tipis dengan senyum menawan dan mata indah. Wanita itu seperti kelopak bunga yang sedang mekar, terlalu mudah untuk dikagumi keindahannya.
Sangat sempurna. Batin Puspa.
Puspa melihat ke arah pantulan dirinya sendiri, tidak ada yang menarik. Seorang wanita cupu pendiam dan berpenampilan biasa saja. Wajar jika Arya memilih wanita itu sebagai pendamping hidup. Tentu saja! Semua orang akan mencari kesempurnaan untuk sebuah keseriusan.
Dan Puspa hanyalah kesekian pilihan yang cukup mudah untuk Arya abaikan. Rasanya sakit, tapi Puspa sudah terbiasa. Senyum tipis muncul di wajah oval milik wanita itu. Senyum yang sering ia gunakan untuk membentengi dirinya sendiri.
Ia memilih untuk kembali masuk ke dalam bangunan gedung. Ia melupakan keinginannya tentang kopi. Daripada kafein, Puspa lebih membutuhkan kesendirian saat ini. Ia kembali mendudukan tubuhnya di kursi usang tempat yang sama seperti hari sebelumnya.
Seperti biasa, Puspa memilih tempat ini untuk menghabiskan sarapan. Bedanya, bangku sebelah kanannya kosong. Si empunya sudah kembali diambil oleh seseorang yang memang memilikinya secara mutlak.
Ia mengambil satu tangkup roti isi strawberry lalu kembali tercekat ketika dadanya terasa sesak. Sudah bertahun-tahun kepergian Arya dari hidupnya, kenapa efek kehilangan Arya masih sehebat ini? Tak mau berlarut dalam kesedihan, Puspa mengambil ponsel genggamnya lalu menghubungi salah satu nama di kontak. Layar ponsel itu menampilkan nama ‘ibuk’ dan berdering.
Sudah lebih dari lima kali nada memanggil itu terdengar, akan tetapi panggilan Puspa tak kunjung mendapat jawaban.
“Assalamualaikum, Rum.” Akhirnya, panggilan Puspa terjawab dipercobaan kedua.
Nama Puspa adalah Puspaningrum. Ayah dan Ibunya biasa memanggil Puspa dengan panggilan Ningrum. Tetapi sejak sekolah SMA Puspa lebih sering dipanggil dengan penggalan awal namanya. “Walaikumsalam, Bu. Lagi apa?”
“Biasa toh, jualan. Kenapa?”
“Nggak apa-apa, Bu. Ningrum cuma—.”
“Oh, kalau nggak ada apa-apa kenapa telepon to?”
Apakah harus? tanya Puspa dalam hati. Hampir setiap minggu ia menghubungi ibunya, jika sedang beruntung panggilan itu bisa tersambung, tetapi lebih seringnya panggilan Puspa tak berbalas. “Ningrum —kangen,” jawab Puspa dengan kalimat tersendat.
“Oh, sehat kan?” tanya Ibu Puspa.
“Alhamdulillah, ibu dan bapak juga sehat kan?”
“Sehat, sehat.” Panggilan itu terjeda saat kedatangan seseorang yang mengajak ibunya berbincang. “Sudah dulu ya, Nduk. Ibuk mau jualan sudah banyak yang ngantri.”
“Oh ya bu, maaf—.”
“Assalamualaikum, nanti ibuk telepon lagi.”
Puspa yakin kalimat itu hanya akan menjadi janji palsu yang kesekian kalinya. Sejak pernikahan keduanya, Ibu selalu disibukan dengan keluarga barunya. Seperti Bapak dulu saat menikah lagi. Semua orang sudah memiliki keluarganya sendiri, kebahagiaannya sendiri lalu meninggalkan Puspa sendirian.
***
Satu cup es kopi dingin dengan manis berada di meja Puspa.
“Tadi di anter sama OB, katanya buat lo.” Mbak Dwi yang mengamati kebingungan di wajah Puspa berbicara.
“Dari siapa, Mbak?” tanya Puspa.
“Nggak tahu deh. Tadi nggak bilang soalnya,” jawab Mbak Dwi yang diberi anggukan teman-teman lainnya
“Oh,” jawab Puspa singkat. Ia melihat ke arah meja di sampingnya yang kosong seperti kemarin tapi bedanya ada sebuah tas menggantung di kursi. Mungkin, Raka yang membelikannya es kopi.
“Kangen gue lo, Pus?” Suara di balik tubuh Puspa yang membeku mengagetkannya.
Puspa memutar tubuh lalu menemukan Raka yang berdiri tengil seperti biasa. Laki-laki itu mengenakan kemeja biru muda yang dipadukan sweater hangat. Wajahnya terlihat sumringah meskipun ia baru saja izin sakit satu hari yang lalu.
“Kangen gue? Ngeliatin meja gue sampai gitu amat.”
“Dih, nggak!”
“Pus.”
“Gue bukan kucing!” Puspa berlagak marah dan duduk di mejanya sendiri.
“Susah banget milih nama panggilan buat lo!” Raka mengucap kalimat itu dengan santai dan tanpa berniat pergi dari hadapan Puspa. “Gue panggil ‘Pus’ lo bukan kucing, gue panggil ‘Pa’ lo bukan bokap gue.”
“Puspa. Panggil gue Puspa.”
“Terlalu panjang.”
“Ribet deh lo, Ka,” sewot Puspa. Ia sudah menghidupkan PC-nya dan siap untuk bekerja. Tetapi Raka seakan tidak melihat situasi yang sengaja diciptakan Puspa.
“Gue panggil Ningrum aja, gimana?” tawar Raka.
Ningrum pun sebenarnya namanya. Hanya saja, nama itu biasa digunakan untuk orang-orang terdekat termasuk keluarganya. Tapi Raka bukan termasuk didalamnya. “Terserah,” jawab Puspa akhirnya karena enggan berdebat.
“Oke, Rum.” Raka tersenyum puas saat merasa ide-nya terlalu cemerlang. Laki-laki itu duduk di mejanya sendiri sambil bersiul. Seperti Puspa, Raka sedang bersiap untuk bekerja. Raka terpaksa kembali mengalihkan perhatiannya dari komputer saat tiba-tiba kepala Puspa muncul dari balik pembatas ruangan yang tipis.
“Eh, by the way thanks buat es kopi-nya.”
Raka terlihat berpura-pura bingung. “Kopi?”
“Ini.” Puspa menunjukan kopinya dengan wajah tersenyum ceria. Meskipun ngeselin, setidaknya Raka selalu baik kepadanya.
“Gue nggak beliin kopi.”
“Ya ya ya,” jawab Puspa berpura-pura meng-iya-kan jawaban Raka. Laki-laki itu memang hobby-nya bercanda. Ia kembali mendudukan di kursi lalu menyempatkan untuk menyereput kopinya sedikit. “Ck.” Rasanya benar-benar PAS dengan selera Puspa.
Bagaimana Raka bisa tahu takaran kopi yang Puspasuka?
“Sudah klunting gais.” Ciput menunjukan ponselnya ke arah teman-teman satu ruangan dan disambut hiruk pikuk manusia-manusia lainnya.
“Gajian, gajian,” timpal Mbak Dwi dengan wajah sumringah.
Puspa memeriksa ponselnya sendiri dan tersenyum puas saat melihat notifkasi sms banking yang menunjukan nominal gaji masuk. Ia kembali menekuni PC-nya sebelum tiba-tiba Raka berdiri di depan mejanya dengan wajah muram. “Apa?” tanya Puspa dengan kedua alis mengerut. Wanita itu tetap duduk di kursinya tanpa berniat berdiri untuk menyambut Raka.
“Gue lagi ada masalah.”
“Terus? Gue nggak harus terlibat dalam masalah lo,” jawab Puspa kembali menatap ke layar komputer. Ia membenahi kacamata anti radiasi yang bertengger manis di hidung mungilnya.
“Nyokap tahu kalau gue lagi gajian, terus dia nitip dibeliin kencur.”
Puspa melihat ke arah Raka yang masih tetap dengan kurang ajar berdiri di depannya. Untung teman-teman satu ruangan mereka tidak terlalu ahli mencampuri urusan orang lain. Terlebih, mereka semua sedang tekun dengan ponsel mereka masing-masing. Ada yang sedang bayar paylater, ada yang checkout barang dan ada juga yang transfer orangtuanya di desa.
“Puspaningrum,” panggil Raka lagi dengan penekanan.
“Apa sih?”
“Gue nggak tahu mana kencur, temenin gue belanja bareng,” jelas Raka ketika Puspa tak kunjung paham dengan maksud terselubung dalam hati laki-laki itu.
“Lo bisa nanya ke mbak-mbak di supermarket, Raka.”
“Yaa gue lebih nyamannya nanya sama lo. Lo juga butuh belanja bulanan kan?” Tebakan absurd Raka tidak sia-sia karena Puspa mengangguk. Semua orang pasti memikirkan belanja bulanan di hari gajian tiba. “Makanya, sekalian aja kita belanja bareng.”
“Ya udah, tapi—.”
“Gue udah ada plan! Motor lo ditinggal kantor terus lo gue bonceng sekalian gue anter pulang. Supermarketnya yang deket-deket rumah lo aja biar nggak terlalu capek bawa barang belanjaan,” jelas Raka panjang lebar lalu sedetik kemudian dia menyesal. Seharusnya dia tidak boleh terlalu kelihatan mencolok kalau dia sudah memikirkan plan sejak tadi.
“Yaa gue ngikut aja.”
Beruntungnya Raka, Puspa adalah salah satu wanita ter-tidak peka di muka bumi. Raka yakin wanita itu sama sekali tidak tahu maksud terselubung di balik ajakannya belanja bersama. “Oke deal!”
Sore harinya sepulang kerja, Raka benar-benar tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka berdua berjalan bersama dengan satu trolly belanja. Jika boleh Raka menebak, mereka sudah layaknya sepasang suami istri yang sedang belanja bersama sepulang kerja.
“Kenapa lo senyum-senyum sendiri? Nggak gila kan lo?”
“Dih, kagak! Gue lagi seneng aja habis gajian, gue bingung gimana mau ngabisin duit.”
“Sombong!”
“Haha,” tawa Raka lepas.
Mereka berdua sedang berdiri di depan etalase alat mandi dan beberapa pewangi ruangan. Puspa sedang menimbang-nimbang antara dua parfum pewangi ruangan, satu botol berwarna ungu dengan wangi wild flower dan satu lagi berwarna oranye dengan wangi lemon fresh.
“Gue suka yang buah-buahan, lemon gitu,” ucap Raka yang tiba-tiba muncul di sebelah kanan kepala Puspa. Kedekatan asing yang memaksa Puspa untuk menjauhkan tubuhnya dari Raka.
“Ini bukan buat lo.”
“Yaa gue ngasih tahu aja. Siapa tahu besok kalau kita sudah tinggal di atap yang sama lo perlu tahu apa yang gue suka dan apa yang nggak gue suka. Termasuk parfum ruangan,” jawab Raka dengan kedua alis yang sengaja dia naik turunkan. Jangan lupakan senyum tengil yang selalu memaksa bibir Puspa untuk mengikutinya.
“Gue nggak punya duit lebih,” jawab Puspa dengan wajah datar —seperti biasa.
“Maksud lo?” Kenapa Puspa jadi bahas duit?
“Ya siapa tahu lo mau tinggal seatap sama gue buat jadi tukang kebun atau pembantu di rumah gue. Makanya gue kasih tahu, gue nggak punya budget buat itu.”
Raka ternganga, bibirnya terbuka bulat sempurna. Bukan dia terpukau dengan jawaban Puspa yang (sedikit) lucu, tapi laki-laki itu sangat terkejut ketika bagaimana bisa Puspa mengatakan lelucon dengan wajah datar tanpa ekspresi? Raka mendesah tak percaya.
“Kenapa?” tanya Puspa. Dia sedikit ragu dengan jawaban yang sengaja ia timpali untuk mengimbangi Raka.
“Gue kagum, lo pinter banget menyembunyikan ekspresi wajah, Rum.”
Puspa berfikir dengan kedua bola mata yang berada di ujung kiri atas mata belo-nya. “Emang begitu?”
“Ya.”
“Oh,” jawab Puspa kembali dengan ekspresi datar. Puspa membawa trolly mereka berdua ke arah lain, meninggalkan Raka dengan rasa penasarannya.
“Kenapa lo susah banget buat senyum?” tanya Raka tiba-tiba.
“Hidup gue terlalu sulit buat disenyumin,” jawab Puspa singkat. Wanita itu kali ini sedang memperhatikan beberapa merk shampo yang menarik perhatian.
Raka terhenyak, kejadian apa yang membuat seorang wanita semanis Puspa menjadi tak terbaca? Jika dilihat dari cara Puspa menjawab leluconnya, seharusnya Puspa bukanlah wanita se-pendiam itu.
Raka melepaskan segala pemikirannya tentang Puspa ketika merasa tak kunjung menemukan jawaban. Ia memilih pasta gigi dan sikat gigi lalu meletakannya di trolly. Mereka melanjutkan aktivitas belanja lalu sudah berada di parkiran motor ketika senja menjelang.
“Gue laper. Mau sekalian makan nggak?” tanya Raka.
“Gue makan di rumah aja.” Ngocoks.com
“Lo nggak mau nawarin gue makan di rumah lo?” tanya Raka penuh harap.
Puspa hanya menjawab dengan senyuman dan tetap melanjutkan aktivitasnya memakai jaket. Raka tahu, keinginannya kembali pupus.
“Kenapa lo selalu terlihat takut berinteraksi dengan orang? Bahkan waktu ada tawaran buat dinas luar, lo menolak.” Entah kenapa Raka merasa tidak nyaman dengan keingintahuannya. Puspa seorang wanita yang mampu menarik perhatian Raka di kali pertama pertemuan keduanya.
“Buat apa mengenal banyak orang? Ketika gue bisa hidup dengan diri gue sendiri.”
“Lo tetap butuh orang lain.”
“Gue nggak bilang kalau gue nggak butuh orang lain. Gue hanya —nyaman sama diri gue sendiri.”
“Tapi lo tetap butuh bertemu dengan orang baru, mengenal orang baru dan—.”
“Dan masalah baru, sumber rasa sakit baru. Begitu maksud lo?” tanya Puspa menyela.
Raka diam, melihat ke arah Puspa tajam. Dia sempat berfikir seharusnya parkiran motor bukan tempat yang baik untuk membahas perbincangan serumit ini. Tetapi semuanya sudah terlanjur bukan? “Gue … gue juga orang baru. Tapi lo bisa menerima gue buat masuk ke dalam hidup lo.” Raka menuntut penjelasan.
“Lo yang selalu maksa buat masuk ke dalam hidup gue, Raka. Laki-laki selalu seperti itu. Tapi santai, tameng gue udah lebih mumpuni buat masalah-masalah seperti itu,” jawab Puspa. Wanita itu sudah mengenakan jaket dan helmnya lengkap. “Sudah boleh naik?”
“Oh ya, tentu.” Raka sejenak kehilangan logikanya. Ia menyiapkan footstep untuk Puspa naik lalu mempersilahkan wanita itu duduk di belakangnya.
Motor mulai dihidupkan dan mereka berdua meninggalkan parkiran supermarket. Sepanjang perjalanan hanya ada kebisuan. Raka sibuk dengan pemikirannya sendiri sedangkan Puspa sibuk menikmati beberapa tetes gerimis yang mulai datang. Gerimis datang sebelum mereka sampai di rumah Puspa.
“Rumah gue udah deket, nggak usah pakai jas hujan ya?” pinta Puspa.
“Yaa.”
Puspa memang tidak berniat menggunakan jas hujan. Dia ingin menikmati hujan. Puspa melepaskan helmnya, ia mendongak menanti air hujan membasahi kulit wajahnya. Sudah lama wanita itu tidak bermain hujan.
Seperti dulu saat ia masih kecil, saat kedua orangtuanya masih utuh dan saling mencintai. Manusia selalu seperti itu, kehilangan cinta karena waktu. Itulah sebabnya Puspa sama sekali tidak percaya dengan hal itu lagi. Baginya, hidup dengan dirinya sendiri sudah lebih dari sekedar cukup.
Puspa tidak membutuhkan oranglain termasuk Bapak dan Ibunya, termasuk Arya dan juga Raka.
Bersambung… Puspa hanya diam membisu saat memasuki minibus yang membawa beberapa karyawan termasuk dirinya. Minibus itu hendak membawa Puspa dan teman-temannya yang lain ke Yogyakarta. Ia melihat ke arah Raka yang sedang tersenyum penuh arti, duduk berseberangan di kursi yang sama. Berulangkali ia mencoba memahami jalan pikiran Raka, yang dengan berani memasukan namanya di dalam daftar list dinas luar tanpa persetujuan Puspa. Sesuatu yang memaksa Puspa mendiamkan laki-laki itu sejak informasi itu sampai ke telinganya.
Puspa tidak suka tapi dia tetap harus berangkat ketika Mba Dwi memaksanya ikut.
“Anggep aja healing, Puspa,” bisik Raka lalu Puspa menatapnya marah. “Eh, Ningrum. Eh, suka-suka gue lah ya manggil lo apa.”
Puspa masih mengunci bibir, melihat ke arah depan tanpa berniat menanggapi kalimat-kalimat godaan Raka yang menyebalkan.
“Ck, sorry deh. Gue cuma mau ngajakin lo jalan-jalan doang. Dinas luar itu dijamin mengesankan, nggak ada yang nggak mendaftarkan diri buat ikut kecuali lo.” Raka masih tetap keukeuh bahwa apa yang ia lakukan adalah demi kebaikan Puspa. “Ningruum, lo masih ngambek?”
“Gue nggak suka jalan-jalan, Raka. Gue suka di rumah dan sendiri.”
“Kenapa? Apa enaknya di rumah sendiri?”
Puspa mengetatkan jaket ketika dingin mulai mendominasi. Mereka bersama-sama berangkat dini hari ketika hujan masih sangat deras-derasnya. “Lo nggak akan ngerti.”
Puspa sekuat tenaga mengecilkan suara. Meskipun dia duduk di barisan belakang dan hanya berdua dengan Raka tapi tidak menutup kemungkinan suaranya akan terdengar orang lain. Puspa tidak mau menimbulkan salah persepsi diantara teman-teman lainnya.
Mobil minibus kembali berjalan, dengan Raka dan Puspa yang memilih menyimpan kebisuan. Dia memang terlalu berani memasukan nama Puspa di dalam list dinas luar, padahal mereka tidak sedekat itu. Hanya saja, Raka ingin Puspa melihat dunia tidak hanya dari kacamatanya saja.
Selama perjalanan Puspa memilih duduk di paling ujung kursi dengan Raka yang duduk di seberang lainnya. Mereka berdua seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar, duduk berjauhan. “Kaki lo taruh sini aja kalau capek,” Raka menepuk bagian tengah kursi yang kosong. Kursi ini cukup luas untuk mereka berdua.
“Nggak usah.”
“Kaki lo capek ketekuk terus, Ruum.”
“Gue nggak apa-apa begini,” jawab Puspa menolak.
Setelah hampir dua belas jam perjalanan mereka sampai di Yogyakarta. Kota pelajar yang katanya banyak menyimpan kenangan. Tapi bagi Puspa, kota ini terasa asing. Lama usia Puspa yang menginjak hampir dua puluh tujuh tahun, tidak pernah sekalipun Puspa datang ke kota ini. Semua hidup Puspa ada di Jakarta. Kedua orangtua dari ayah dan ibunya sudah tiada, jadi tidak ada tujuan keduanya pulang ke kampung halaman.
“Gue sudah bilang buat naruh kaki di kursi. Capek kan?” tanya Raka saat melihat Puspa yang memukul-mukul kakinya sendiri.
Mereka berhenti di hotel kawasan malioboro. Beberapa penjual terlihat membuka lapaknya di depan hotel. Ada daster, batik bahkan sampai tas-tas tradisional yang unik. Banyak teman Puspa yang datang mendekat tapi tidak dengan Puspa yang memilih langsung ke kamarnya.
“Lo jadi satu kamar sama Mbak Dwi ya,” ucap salah satu karyawan wanita yang tidak ia kenal. Meskipun semua karyawan datang dari divisi yang sama tapi tugas dan bidang mereka berbeda. Itulah sebabnya banyak manusia-manusia asing disekitar Puspa. Termasuk wanita itu.
Mereka semua tahu Mbak Dwi adalah senior rese yang dihindari untuk tinggal di kamar yang sama. Dan seperti biasa, Puspa selalu mendapatkan yang tidak orang lain inginkan. Seandainya ada Ayuk, pasti hidupnya tidak akan serunyam ini. Wanita itu ikut dinas luar tapi dia mendapatkan kota Malang sebagai tujuannya.
“See? Di awal menginjakkan kaki di tempat ini, gue udah dapet yang nggak enak,” ucap Puspa ke arah Raka saat laki-laki itu mendekat. Raka membawa tas jinjing miliknya dan satu koper kecil milik Puspa.
“Lo terlalu cepat menyimpulkan. Nanti malam kita jalan-jalan, gimana?” tanya Raka menawarkan.
“Gue nggak—.”
“No no, gue bukan menawarkan, gue ganti! Nanti malem lo ikut jalan-jalan sama anak-anak yang lain. Titik!”
***
Puspa baru saja selesai mandi saat Mba Dwi masuk ke dalam kamar. Wanita itu memilih langsung menidurkan tubuhnya di ranjang dekat jendela yang ia pilih. Padahal sebenarnya Puspa yang datang terlebih dahulu, tapi seperti biasa, dia selalu mengalah.
Perusahaan AD coorporate bukan perusahaan kecil, mereka dengan mudah memberikan fasilitas terbaik untuk karyawan yang sedang berdinas di luar kota. Seperti saat ini, Puspa dan teman-temannya mendapatkan satu fasilitas kamar hotel berbintang empat yang dekat dengan area wisata. Sesuatu yang menguntungkan karena mereka bisa mencuri-curi waktu untuk bertamasya di kota Jogja.
“Lo mau pergi, Puspa?” tanya Mbak Dwi dengan mata tertutup dan tubuh yang tidak berubah posisi.
“Iya. Mbak Dwi mau ikut?” tanyanya. Meskipun dalam hati ia menyesali kalimat itu. Bisa saja ia mendapatkan amukan teman-temannya termasuk Raka yang tidak menyukai Mbak Dwi.
“Hehe.” Mbak Dwi justru terkekeh. “Gue di hotel aja. Lo nggak takut dimarahin temen-temen lo karena ngajak gue?” tanyanya sekali lagi.
“Mbak—.”
“Sstt, gue mau tidur aja. Bawain gue jajan apa gitu kalau lo pulang.”
Puspa semakin tidak nyaman. Dia pernah berada di posisi Mbak Dwi, dimana teman-teman yang lain menghindarinya. Bukan karena Puspa yang rese, tapi karena wanita itu dianggap aneh dan pendiam. Tapi itu dulu saat dia kuliah, saat belum dekat dengan Arya yang bisa merubah dunianya seratus delapan puluh derajat.
“Yaa, Mbak. Nanti Puspa bawain jajan.”
Puspa memantaskan penampilannya di depan cermin. Ia mengenakan celana jeans tiga per empat dengan sweater hangat yang melindungi dari dinginnya malam. Rambut yang biasa ia kucir atau dicepol ia biarkan tergerai. Bukan tanpa alasan, tapi karena Puspa baru saja selesai keramas.
Dengan langkah sedikit malas Puspa membawa tubuhnya ke lobby.
“Eh itu Puspa,” celetuk seorang laki-laki yang terlihat dekat dengan Raka. Meskipun jika boleh Puspa beropini, di perusahaan ini tidak ada yang tidak mengenal Raka. Si anak tampan yang humble kepada semua orang termasuk kepada Puspa si pendiam. “Puspa!” teriak Dio.
Oh ya, teman Raka namanya Dio.
Panggilan itu sampai ke telinga Puspa. Ia berjalan mendekat ke arah Raka dan teman-temannya. Hanya ada sekitar lima orang yang ikut. Ada Raka, Dio, Ciput, Puspa dan satu lagi wanita yang tidak Puspa kenal.
“Ayo,” ajak Ciput.
Mereka berlima berjalan ke arah Malioboro melewati nol kilometer dimana banyak para anak muda yang sedang menikmati malam tanpa hujan. Puspa sempat terkejut saat melihat cosplay anime di sekitar jalanan nol kilometer, bahkan sampai ada yang berpura-pura menjadi hantu.
“Sini pegang tangan gue.” Raka menengadahkan tangannya ke arah Puspa sedangkan wanita itu hanya melihat sekilas lalu menatap Raka dengan tatapan penuh tanda tanya. “Lagi rame, gue takut lo ketinggalan.”
“Nggak perlu,” jawab Puspa. Ia memilih untuk berjalan mengikuti anak-anak yang sudah berjalan jauh di depan.
Puspa menikmati setiap moment yang ia dapatkan di tempat ini. Sesuatu yang tidak pernah ia temukan di Jakarta. Suara bunyi seruling dan pengamen-pengamen yang menggunakan angklung sebagai pengiring musiknya. Lama Puspa berdiri melingkar mengikuti penonton lainnya. Hingga ia tersadar saat tidak menemukan Raka ataupun temannya di sekitarnya.
“Raka,” panggilnya lirih. Matanya berlarian saat tidak menemukan Raka di dalam jarak pandangnya. Ia mulai keluar dari lingkaran penonton untuk mencari Raka. “Raka!” panggilnya sekali lagi lebih kencang. Bahkan beberapa pengunjung di tempat ini sempat melihat ke arah Puspa dengan tatapan aneh.
Puspa lupa jalan pulang. Tempat ini asing dan terlalu banyak orang. Bagaimana kalau Puspa kembali ditinggalkan? “Rakaa!” Puspa menangis dengan mata yang tetap mencari tahu keberadaan Raka. Detak jantung Puspa mulai terpacu. Puspa takut!
“Hey.” Sebuah tepukan ringan memutar tubuh Puspa. Ia melihat Raka yang berdiri di hadapannya dengan menenteng bungkusan berwarna putih.
“Lo ninggalin gue?!”
“Gue beli minum. Lo kelihatan asik banget tadi dengerin musiknya,” jawab Raka menjelaskan.
“Lo ninggalin gue, Raka!”
Raka membisu saat melihat kesedihan yang tercetak jelas di wajah Puspa. Wanita itu menangis dengan mata yang ketakutan. Raka bingung! Dia hanya membeli minum sebentar tapi respon Puspa seakan ia baru saja ditinggalkan di tengah Padang pasir yang gersang dan luas (lebay banget si Raka). “Gue nggak ninggalin lo, gue cuma beli minum,” jelas Raka tapi Puspa masih tetap menangis.
Mau tidak mau, Raka meletakan minuman botol yang ia beli lalu menarik tubuh Puspa untuk mendekat. Meskipun Puspa masih marah kepadanya, Raka tetap memeluk tubuh wanita itu yang terlihat rapuh.
“Jangan tinggalin gue tanpa pamit, Raka.”
“Gue nggak akan ninggalin lo lagitanpa pamit, sorry.” Raka mengelus tubuh Puspa yang bergetar. Entahkenapa, pelukan Raka terasa menenangkan bagi seorang Puspa.
Jogja tidak semenyeramkan itu. Dalam tiga hari proses rekruitment di sini, Puspa merasa senang. Meskipun pekerjaan menumpuk tetapi ia menyukainya. Terlebih, Raka selalu membawanya jalan-jalan di malam hari. Mereka pergi ke alun-alun kidul, ke pasar malam bahkan sampai jalan-jalan ke salah satu universitas terkenal di Yogyakarta. Ternyata Raka adalah salah satu alumni universitas di Kota Pelajar ini. Oleh karena itu ia sangat tahu tentang seluk beluk kota Jogja. Pernah suatu malam Raka membawanya ke salah satu lesehan tempat ia biasa makan dulu semasa kuliah.
Mereka membelah jalanan kota Jogja di malam hari, dengan motor yang Raka sewa. Katanya, Raka merindukan Yogyakarta dan semua kenangan masa mudanya disini.
Hari ini adalah hari terakhir proses rekruitment dengan jadwal interview. Ada beberapa petinggi perusahaan yang datang langsung untuk menyeleksi karyawan terpilih. Mulai dari kepala produksi hingga direktur.
“Semua yang lolos udah dateng?” tanya Mbak Dwi.
Puspa mengangguk. “Udah Mbak, ada seratus karyawan. Tempat interview juga sudah siap.”
“Baguslah. Denger-denger Pak Arya juga mau dateng buat interview langsung calon kepala cabang.”
Nama yang terdengar tidak asing. “Siapa Mbak?” tanya Puspa memastikan.
“Pak Arya, CEO.”
“Oh.”
“Lo jangan sampai nggak tahu nama pemilik perusahaan tempat lo kerja, Puspa.”
Wanita itu hanya bisa menelan ludahnya pelan, saat mendengar nama itu kembali disebut. Anggap saja ia melarikan diri dengan berada di Jogja tetapi nyatanya takdir masih ingin bermain-main dengan perasaan wanita itu.
“Puspa,” tegur Mbak Dwi ketika Puspa tidak menanggapi kalimatnya.
“I-iya, Mbak. Puspa akan menghafal nama pemilik perusahaan.”
Mbak Dwi tak menanggapi, wanita itu mendengus ringan lalu meninggalkan Puspa dengan setumpuk berkas yang harus ia siapkan sebelum proses interview. Ia melihat jam menunjukan pukul delapan pagi sedangkan interview dimulai jam sepuluh nanti. Masih ada waktu untuk Puspa menyiapkan semuanya.
Tempat rekruitment pagi ini di salah satu ballroom hotel tempat mereka menginap. Sesuatu yang memudahkan tim untuk menyiapkan segalanya dengan matang. Ada sekitar lima bilik yang disediakan masing-masing interviewer dengan satu kursi di depannya. Puspa meletakan satu bendel berkas calon karyawan, satu bendel berkas penilaian dan pensil. Bilik pertama sampai dengan bilik keempat bisa Puspa lalui dengan lancar. Tapi di bilik ke lima, Puspa terpaksa menahan langkahnya saat menemukan sosok Arya yang sedang duduk di sana.
Laki-laki itu benar-benar datang.
Arya duduk membelakangi tubuh Puspa. Laki-laki itu terlihat sedang asik bermain dengan ponselnya.
Setelah mampu menguasai diri, Puspa meneruskan langkahnya untuk melakukan hal yang sama dengan di bilik-bilik sebelumnya. Ia meletakan beberapa keperluan berkas di meja. Merasa lengkap, Puspa memilih segera keluar.
“Boleh aku minta tolong?” tanya Arya tiba-tiba.
Sebagai seorang karyawan yang baik, Puspa kembali mendekat. Tidak mungkin ia mengabaikan permintaan seorang pemilik perusahaan.
“Tolong rautkan pensil ini,” pintanya.
Puspa melihat ke arah pensil yang berada di dalam genggaman Arya. Dia masih ingat jelas ketika tangannya menyiapkan semua berkas dan meraut semua pensil, termasuk pensil yang ada di dalam genggaman tangan Arya saat ini. “Baik,” jawab Puspa tak mau mendebat.
Wanita itu berdiri di samping Arya dengan memutar-mutarkan pensil di dalam pengraut. Gerakan tangan itu berhenti saat mendengar bunyi kursi bergeser. Arya berdiri lalu mendekat ke arahnya.
“Tumben kamu mengikuti kegiatan di luar kota?” tanya Arya. “Bertemu orang baru, tempat baru,” selidik Arya ingin tahu. “Bii,” panggil Arya yang selalu mampu menciptakan gemuruh hebat di dada Puspa. “Kenapa?”
“Saya tidak harus menjawab pertanyaan Bapak.”
“Apakah karena laki-laki itu?” tanya Arya to the point. Laki-laki berjas navy itu melihat ke arah Puspa dengan tatapan tajam. Entah apa yang disembunyikan di dalam kepalanya. Otak Arya terlalu rumit untuk diurai.
Puspa yang merasa Arya terlalu mencampuri urusan pribadinya terganggu. Ia membalas tatapan Arya tegas, sekuat mungkin mencoba berpura-pura kuat dihadapan laki-laki yang jelas masih memenuhi setiap sudut ruang di hatinya. Tatapan melawan Puspa membuat Arya semakin terlihat marah.
“Kamu dekat dengan laki-laki itu?” tanya Arya lagi.
Puspa jelas tahu siapa yang dimaksud Arya. Otaknya hanya menemukan satu nama yang akhir-akhir ini selalu bersamanya. “Bapak terlalu mencampuri urusan pribadi karyawan.”
Laki-laki itu tersenyum tipis dengan tatapan yang tak sedikitpun beralih dari wajah Puspa. “Aku bisa memecatnya jika mendapati ada karyawan yang berhubungan di divisi sama.”
“Bapak tidak berhak.”
“Tapi aku sangat bisa melakukannya, Bii.”
Puspa sadar! Arya sangat bisa melakukan itu dengan kekuasaannya. Mata mereka tertaut dan Puspa memilih mengalihkan pandangannya saat dirinya semakin masuk ke dalam manik mata Arya yang menyesatkan. Tangannya segera kembali menyelesaikan tugasnya dengan tergesa-gesa, tapi ..
“Aw.”
Pengarut itu terbuka lalu menggores jari Puspa hingga berdarah. Wanita itu segera berlari ke toilet terdekat untuk membersihkan lukanya. Ia meletakan jarinya di bawah pancuran air wastafel yang deras. Rasa perih yang ia rasakan ditangannya sama sekali tidak sebanding dengan apa yang ia rasakan di hatinya.
Kenapa Arya masih mencampuri kehidupan pribadinya? Kenapa laki-laki itu masih terlihat peduli?
Pintu toilet terbuka kasar. Arya masuk dengan tatapan penuh ancaman lalu mengunci pintu dari dalam.
“Keluar,” usir Puspa. Ia takut kembali kalah. “Aku bilang keluar!”
Arya menarik tangan Puspa paksa, lalu meletakannya di bawah pancuran air. Sekuat tenaga Puspa menolak, tapi ia tahu ia akan selalu kalah jika berhadapan dengan Arya. Laki-laki arogan yang selalu memaksakan keinginannya. Tangan laki-laki itu membersihkan luka Puspa lalu menekan dengan tissue kain miliknya agar perdarahan berhenti.
“Saya bisa melakukannya sendiri,” tolak Puspa, masih dengan kalimat sopan. “Arya aku bisa melakukannya sendiri!” teriak Puspa marah.
Laki-laki itu tak merespon bentakan Puspa yang sangat mengganggu. Setelah perdarahan di jari Puspa berhenti baru ia mengalihkan perhatiannya ke arah wanita yang baru saja meneriakinya dengan nada tinggi. Sesuatu yang tidak pernah Puspa lakukan dulu.
Arya mengikis jarak penuh ancaman. Kesabarannya sudah habis. “Keluarkan semua amarahmu, Bii. Marah sama aku! Pukul aku atau apapun itu agar aku sedikit merasa lebih baik!” Arya mengambil tangan Puspa lalu menamparkan ke arah pipinya sendiri. Ngocoks.com
Puspa mencoba menarik tangannya tapi Arya kembali mengakuisisi pergerakannya. Arya menamparkan tangan Puspa ke pipinya berkali-kali. Tetapi setelah semua itu terjadi, tidak ada yang berubah. Puspa masih terlihat membencinya dan Arya? Bisa gila!
“Pukul aku, Bii. Pukul aku! Kamu berhak marah! Kamu berhak memukulku,” ucap Arya dengan dada bergetar hebat. Nafasnya tersengal dengan dada bergemuruh menahan amarah.
Satu hantaman cukup kuat berhenti di tembok sisi kanan Puspa yang kosong. Sesuatu yang membuat nyali Puspa menciut. Puspa menarik kembali tangannya, menggenggamnya erat. Puspa takut, Arya terlihat sangat marah untuk sesuatu yang tak bisa Puspa pahami.
“Aku bisa gila dengan perasaan bersalah yang ada disini,” tunjuk Arya ke arah dadanya. “Aku bisa gila bila terus melihatmu dengan—!”
“Oh, apa aku mengganggumu? Begitu?” tanya Puspa memastikan. “Apa kamu merasa jijik melihatku?” tanya Puspa mencoba berani meskipun dengan air mata yang jatuh tanpa bisa Puspa cegah.
Sebenci itukah Arya kepadanya? Sebegitu tidak inginkah laki-laki itu melihatnya?
Arya semakin mengikis jarak, ia mencengkeram tubuh Puspa yang ringkih di hadapannya.
“Jika keberadaanku mengganggumu, aku akan pergi,” ucap wanita itu dengan bibir bergetar menahan tangis. Puspa melepaskan cengkeraman tangan Arya dengan paksa lalu melangkahkan kakinya untuk pergi.
Tapi tiba-tiba tarikan tangan yang cukup kuat memaksa tubuh Puspa untuk kembali berdiri di tempatnya semula. “Tidak, tidak. Bukan begitu maksudku, Bii. Maksudku—.”
“Saya harus keluar, proses interview sebentar lagi mulai.”
“Jangan memotong kalimatku!” Arya kembali menarik tubuh Puspa untuk berada di depannya. “Bii.”
“Nama saya Pus—.”
Arya mencium bibir Puspa tiba-tiba dan mendadak, sesuatu yang dengan begitu mudah mencuri logika Puspa. Wanita itu terkejut, kedua matanya terbelalak saat melihat wajah Arya yang begitu dekat di depan matanya. Ciuman itu awalnya begitu ringan dan penuh rasa. Sentuhan yang mampu menarik semua kenangan yang sudah lama Puspa kubur di dalam hati.
Kedua tangan Puspa mencoba menahan tubuh Arya yang semakin mendekat. Ia pun mencoba melepaskan tautan bibir Arya yang semakin menjadi. “Le—pas.” Puspa terengah saat Arya menjelajah semakin dalam.
Bunyi bibir Arya yang menyecap mendominasi ruangan yang sepi. Hanya ada suara geraman milik Arya dan suara tertahan dari Puspa yang meronta untuk dilepaskan.
“Arya! Le —.”
Arya kembali membungkam bibir Puspa dengan bibirnya. Ia menahan kedua tangan Puspa di atas tubuh wanita itu ketika Puspa masih saja terus melawan. Tangannya mencengkeram rahang wanita itu dan mengunci tatapan Puspa ke arahnya. “Kita belum berakhir, Puspa! Belum sama sekali.”
Bersambung… Flashback
Satu cup teh hangat Arya genggam kuat. Dia tersenyum tipis saat melihat siluet tubuh Puspa yang duduk seperti terakhir kali ia lihat melalui kamera CCTV di ruangannya. Dengan langkah tegap Arya berjalan mendekat lalu meletakan cup teh hangatnya di ruang kosong diantara mereka berdua. Senyumnya tak bisa terbendung saat melihat kedua cup milik mereka berdua saling bersisihan.
Dengan berani Arya mendudukan tubuhnya di sisi kanan kursi kayu usang yang sama dengan wanita itu. Ia menjeda, mengikuti arah mata Puspa melihat kota Jakarta yang ramai. Jakarta masih sama, masih basah di mana-mana dengan hujan yang mengguyur sejak pagi. Arya memilih untuk mengunci bibirnya, menahan untuk tak bersuara. Ada begitu banyak yang bisa ia ceritakan mesti tanpa suara. Ada begitu banyak moment yang ia tangkap meskipun mereka berdua saling membisu. “Bagaimana kabar Bapak dan Ibu?” tanya Arya setelah mencoba sekuat tenaga untuk tetap diam.
Puspa enggan menjawab, matanya tak sedikitpun melihat ke arah Arya yang menatapnya intens.
“Bapak sama Ibu sehat kan?” tanyanya lagi. “Aku ke Peninggaran (rumah Puspa dulu), tapi kata tetangga kalian sudah menjual rumah dan pindah.”
Arya kembali mengingat kenangan saat pertama kali mengetahui rumah Puspa tak lagi berpenghuni. Seperti sebuah rasa yang sebelumnya penuh lalu tiba-tiba kosong. Arya benar-benar kehilangan Puspa-nya. “Masih suka hujan? Masih suka es kopi di saat hujan. Kamu tidak berubah, Bii.”
Masih teringat jelas rekaman kebiasaan Puspa dulu di otak Arya. Es kopi dingin yang masih Arya ingat dengan detail setiap takarannya. Kata Puspa, tidak ada yang bisa membuat es kopi seenak Arya.
Ia memanfaatkan kebisuan Puspa untuk mengamati garis wajah wanita itu yang tak pernah berubah. Sudah lebih dari lima tahun tapi Puspa masih sama, masih sangat cantik untuk seorang Arya.
Arya membuka kotak makan milik Puspa dan tersenyum sumringah saat melihat ada roti isi strawberry yang masih tersisa di sana. Dulu, Puspa sering menyiapkan bekal untuk mereka berdua. Arya suka roti selai coklat sedangkan Puspa menyukai selai strawberry. Tanpa dipersilahkan Arya mengambil roti itu dan memakannya. “Enak,” puji Arya sia-sia karena Puspa masih tetap mempertahankan hening.
Wanita itu berdiri, terlihat berniat pergi padahal Arya masih menginginkan moment ini berhenti sesaat.
“Bii.” Arya memberanikan diri menahan tangan Puspa. Sebuah sentuhan kulit pertama kali setelah lima tahun perpisahan keduanya. Arya tahu ia kalah! Sentuhan itu mampu menyulut kenangan yang tak pernah mampu ia ikhlaskan. “Aku mohon untuk tetap seperti ini.”
Arya tahu permohonannya saat ini terdengar egois. Dulu, dia yang meninggalkan wanita itu tanpa penjelasan. Dulu, dia yang mengabaikan permohonan Puspa untuk tetap tinggal.
“Bapak sangat paham semua ini adalah kesalahan.”
Arya tak mendengar! Dengan hati-hati, laki-laki itu tetap melanjutkan niatnya meletakan kepalanya di tangan Puspa yang menggantung. Mencoba membagi gundah yang selama ini ia rasakan seorang diri. Meskipun Arya tahu, Puspa tidak akan memahami perasaannya.
“Tidak ada yang salah jika itu tentangmu, Bii. Tentang kita.”
“Bapak sudah—menikah.”
Sebuah fakta yang selalu membungkam sisi Arya yang tak pernah tersentuh siapapun. Fakta yang memaksa Arya melepaskan dengan mudah tautan jari Puspa saat wanita itu pergi.
***
Mobil Land Cruiser keluaran terbaru berhenti di sebuah rumah mewah kawasan Jakarta Barat. Seorang laki-laki berjas hitam elegan keluar dari dalamnya. Sesekali laki-laki itu melihat ke arah ponsel miliknya yang masih saja berdering selepas jam kerja, lalu kembali memasukannya ke dalam kantong ketika merasa panggilan itu tidak terlalu penting.
“Minggu depan proses recruitment di Yogyakarta, Malang dan Bandung akan dimulai. Sudah ada beberapa calon karyawan yang mendaftar, saya rasa kinerja HRD kita sudah cukup baik.” Anton, seketaris Arya yang selalu mengikuti kemanapun laki-laki itu pergi.
“Bagus, selalu pantau berjalannya proses recruitment karena Pabrik di Cikarang sudah sembilan puluh persen jadi,” jawabnya. “Bulan depan semuanya akan dimulai, Ton.”
“Siap, Bos.”
Arya melangkah ke dalam rumah dan berhenti ketika melihat sosok anak laki-laki mungil yang berlari ke arahnya.
“Papaaaa.” Teriak seorang bocah laki-laki yang terlihat baru saja selesai mandi.
“Woo, jagoan Papa sudah mandi?” tanyanya sambil mencium pipi Axel dengan gemas.
“Udaaah dong.”
“Pantesan wangi, nggak bau acem lagi.”
Arya menggendong Axel dalam pelukan lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Setiap langkah Arya mendengarkan dengan seksama celoteh Axel yang sedang menceritakan aktivitasnya hari ini. Sesekali Arya memberi tanggapan lalu mencium pipi anak kecil itu lagi.
“Sudah pulang, Mas?” Seorang wanita cantik berwajah blasteran dengan dress rumahan muncul dari balik pintu dapur. Tangannya masih terlihat kotor karena ia sedang memasak untuk makan malam. Ngocoks.com
“Hem. Masak apa?” tanya Arya sambil melepaskan Axel yang ingin bermain bersama pengasuhnya.
“Ayam rica-rica.”
“Kelihatannya enak,” puji Arya.
“Enak doong, buatan Ivy pasti enak.”
“Percayaa, Princess.”
Arya mengamati Ivy yang sedang mencuci potongan ayam. Livylia atau biasa dipanggil Arya dengan panggilan Ivy adalah seorang perempuan yang ia nikahi lima tahun silam. Tangan wanita itu terlihat cekatan memasak untuk makan malam. Ada ayam, lengkuas, bawang merah dan putih serta beberapa bumbu dapur yang tak bisa Arya pahami.
“Kenapa?” tanya Ivy ingin tahu.
“Nggak apa-apa.”
“Are you okey?”
“Aku baik,” jawab Arya. “Aku mau mandi dulu.”
Ivy mengangguk sambil memberikan anggukan untuk mempersilahkan Arya mandi. “Eh, Mas!” panggil Ivy tiba-tiba.
“Ya?” Arya menghentikan langkahnya di tangga kedua. Ia berdiri dengan tampan meskipun lelah selepas bekerja, memutar tubuh ke arah istrinya sambil memasukan tangan kanannya ke dalam saku celana.
Sesuatu yang selalu membuat Ivy jatuh cinta setiap hari. “Nanti Mama Runi mau mampir kesini buat makan malam bareng.”
“Heem, ya. Aku akan siap sebelum jam tujuh.”
Ivy memberikan kedua jempolnya tanda setuju.
Arya berjalan ke arah lantai dua di mana kamarnya berada. Ia mendudukan tubuhnya di ujung ranjang ketika rasa kosong mendominasi hatinya hampir setiap hari sejak lima tahun yang lalu. Dan hari ini dengan lancangnya ia kembali menemui Puspa di balkon terbengkalai perusahaan miliknya, seorang wanita yang di masa lalunya ia sakiti dengan sangat.
Mata Arya memejam kuat ketika mengingat apa yang terjadi pagi tadi. Sekuat tenaga Arya tak ingin mengusik kehidupan Puspa lagi tapi nyatanya Arya kalah. Dia kalah dengan perasaannya sendiri.
Ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya dengan air hangat untuk melepaskan semua ketegangan yang ada di dalamnya. Arya mengingat jelas garis wajah yang tadi sempat ia rekam di dalam otaknya. Garis wajah yang sudah hampir memudar karena perpisahan keduanya lima tahun yang lalu. “Fuck!”
Cermin di hadapan Arya hancur berantakan terkena pukulan kuat tangan Arya. Darah terlihat di sana dengan kepingan-kepingan kaca yang memantulkan wajah kacau penghuninya.
“Kamu kenapa, Mas?” tanya Ivy khawatir. Wanita itu sudah menunggu Arya di kamarnya. “Astaga kenapa tanganmu bisa berdarah? Kacanya pecah?” Ivy terkejut saat mendapati darah yang menetes di tangan Arya. Ia menarik tangan Arya dan memperhatikan beberapa kulit yang terluka akibat pecahan kaca.
“Hanya sedikit, aku bisa membersihkannya sendiri,” jawab Arya sambil menarik tangannya dari genggaman Ivy.
Wanita itu bergegas mengambil handuk kecil lalu menarik tubuh Arya untuk duduk di sisi ranjang. Dengan telaten Ivy membersihkan pecahan kaca dari tangan Arya lalu menekan darah untuk menghentikan perdarahan. “Kamu kenapa?” tanya Ivy yang duduk berjongkok di depan Arya sambil menekan tangan laki-laki itu. “Kalau ada masalah itu cerita, Mas. Kenapa?” tanyanya sekali lagi.
“Aku minta maaf.”
“Untuk?”
“I found her, Vy,” ucap Arya dengan kesedihan yang begitu kentara.
Ivy hanya bisa mentatap manik mata Arya dengansendu. Keterkejutan dan kesedihan datang bersama dalam satu waktu, begitu banyak hingga Ivy nyaris gontai. Jika Arya sudah menemukan wanita itu, bagaimana dengan dirinya nanti?
Flashback
“Maaa…” panggil seorang gadis cantik dengan rambut yang tersanggul indah. Ada hiasan bunga berwarna putih mewah di rambutnya yang semakin menambah kecantikan gadis berlesung pipi itu.
“Ya sayang?”
“Ivy tidak mau pakai dress ini,” sebalnya sambil menunjukan sebuah dress panjang yang ia jinjing di tangan kanannya.
“Dress itu cantik, Vy.” Seorang wanita dengan wajah keibuan mendekat. Namanya Mama Runi. Wanita itu tersenyum hangat menanggapi tingkah anak perempuan satu-satunya yang masih bersikap sangat kekanak-kanakan. Jika tidak suka, Ivy akan memberontak, dan jika ingin, Ivy akan selalu berusaha mendapatkan apa yang ia mau.
“Tapi ini sangat kekanak-kanakan, Ma. Ivy sudah dewasa.”
“Usiamu masih belum 20 tahun, Ivy.”
“Tapi pokoknya Ivy nggak mau pakai dress ini.”
Wanita itu melangkah pergi. Ia berjalan memasuki ruang walk in closet kamarnya lalu mencoba mencari gaun pilihannya sendiri. Matanya berbanding lurus dengan tangannya yang bergerak lincah, hingga pada akhirnya gerakan itu berhenti saat menemukan sebuah dress berwarna soft pink dengan belahan dada rendah favoritnya. “Perfect,” ucapnya.
“Daddy-mu tidak akan setuju kamu mengenakan dress ini,” ucap Mama Runi saat memasuki kamar.
“Daddy tidak akan pernah menolak keinginan Ivy,” jawabnya percaya diri.
Malam ini, ia pergi bersama dengan kedua orangtuanya ke sebuah pesta. Dan seperti yang Ivy ucapkan sebelumnya, ia berhasil pergi dengan memakai dress pilihannya sendiri. Pesta ini digelar dengan tujuan mempertemukan para pelaku bisnis untuk saling menjalin relasi. Seperti biasa, Ivy selalu bosan. Ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk makan ataupun sekedar mendengarkan musik. Biasanya pesta pengusaha akan mengundang penyanyi besar tanah air.
“Ivy.”
Suara lembut yang sangat ia kenali menarik perhatian Ivy dari rak makanan. Mamanya mendekat dengan senyum yang selalu mampu membuat Ivy merasa aman. “Kamu di panggil Daddy-mu.”
“Ivy lagi makan, Ma,” jawab Ivy menolak. Tangannya hendak mengambil pastry dengan selai strawberry diatasnya yang terlihat menarik, tapi pergerakan itu terhenti saat tangan Mama Runi menahannya.
“Sebentar saja,” paksa Mamanya.
Malas berdebat di depan umum, Ivy mengikuti tarikan tangan Mama Runi. Wanita itu membawanya kembali mendekat ke meja mereka, tetapi meja itu kini tak lagi hanya milik kedua orangtuanya. Daddy Miller duduk dengan beberapa orang yang tidak Ivy kenal. Ada sepasang suami istri seumuran mama dan daddy-nya, dan seorang laki-laki yang duduk sedikit menjauh dari meja.
“Ini Livylia, putri kami satu-satunya,” ucap Mama Runi memperkenalkan. “Sayang, kenalan dulu sama Om Brama dan Tante Anjani.”
“Malem Om, Tante. Saya Livylia, biasa di panggil Ivy.” Kalimat itu keluar tanpa hambatan. Seperti biasa karena Ivy sudah sangat terbiasa memperkenalkan diri di depan rekan bisnis papanya. Hanya bedanya, kali ini wanita itu terlihat tertarik dengan seorang laki-laki yang duduk diantara kedua orang itu.
“Hai Ivy, senang bisa berkenalan denganmu,” jawab Tante Anjani. “Oh ya, kenalkan ini Arya. Dia anak kami satu-satunya yang nantinya akan meneruskan perusahaan Adiputra.”
Laki-laki yang disebut namanya itu hanya tersenyum sopan dan semakin membuat Ivy penasaran. Seperti sebuah magnet, Ivy merasa jatuh ke dalam manik mata laki-laki itu yang setajam elang tapi terasa lembut secara bersamaan.
“Wah sudah kelihatan aura-nya,” puji Mama Runi. “Sangat berkharisma.”
“Terima kasih Tante,” jawab laki-laki itu.
“Arya tahun ini akan berangkat ke Boston untuk meneruskan Postgraduate-nya.” Ny. Anjani menyombongkan anaknya, wajar! Tempat ini dan pertemuan ini tujuannya memang untuk saling menunjukkan diri.
“Oh ya? Keren,” jawab Mama Runi. “Ivy baru mau mengambil graduate-nya di Co—.”
“Boston juga,” jawab Ivy cepat. Jawaban singkat yang mampu memutar wajah Mama Runi dan Mr. Miller bersamaan.
“Ya, Boston?” Pernyatan Mama Runi yang lebih pantas disebut sebuah pertanyaan. Mama Runi melihat ke arah Ivy dengan kedua alis yang saling mendekat. Ia merasa sangsi dengan jawaban putrinya.
“Yaa, Boston,” jawab Ivy mantap.
Hingga malam menjelang, pesta yang biasanya membosankan menjadi sangat menyenangkan. Ivy merasa betah mencuri pandang ke arah laki-laki yang bernama Arya itu. Banyak laki-laki anak pengusaha yang sering dikenalkan dengan Ivy tapi hanya Arya yang mampu membuat wanita itu tertarik. Biasanya laki-laki akan dengan senang hati membawa Ivy untuk menjauh dari orangtua mereka, berbasa basi dan berbincang ingin mengenal Ivy lebih. Ayolah, siapa yang tidak mengenal Livylia Miller? Anak perempuan satu-satunya seorang investor kaya dari Aussie, memiliki perusahaan eksport import dan tinggal di Indonesia karena menikah dengan seorang wanita beruntung di negara ini.
Tidak ada yang tidak mengenal Ivy di tempat ini, dan seharusnya tidak ada laki-laki yang tidak terpengaruh dengan Livylia termasuk Arya.
“Aku sangat senang bisa berkenalan dengan Tuan Brama dan Ny. Anjani,” ucap Mr. Miller.
“Kami yang lebih beruntung bisa mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan Mr. Miller dan keluarga,” jawab Tn. Brama.
“Yaa, semoga kita bisa bertemu kembali lain kali.”
“Pasti, Mr. Miller.”
Mr. Miller dan keluarga diantar masuk ke dalam mobil oleh Tn. Brama. Mereka kembali berbincang sekilas lalu akhirnya keluarga Miller meninggalkan tempat pesta.
“Boston?” tanya Mama Runi menatap Ivy penuh tanda tanya.
Mr. Miller melakukan hal yang sama. Sedangkan gadis yang mendapatkan tatapan itu berlagak tidak peduli. “Sejak kapan anak kita mau kuliah di Boston, Ma?” tanya Mr. Miller.
“Sejak bertemu dengan keluarga Adiputra tentunya,” jawab Mama Runi menggoda. “Sweethearth,” panggil wanita itu lagi ketika Ivy tidak menanggapi.
“Yes, Ma?”
“Boston?”
“Ya, apa ada yang salah dengan Boston? Bukannya Daddy dan Mama minta Ivy untuk kuliah di sana?” tanya Ivy membela diri.
“Ya, dan dua hari yang lalu kamu menolaknya, katamu kamu sudah berjanji dengan Arjuna untuk kuliah di tempat yang sama.”
“Aku pikir-pikir tidak ada yang salah dengam Boston,” jawab Ivy santai.
Mama Runi menggelengkan kepala lalu menyerah memahami otak rumit anak perempuan satu-satunya. “Anak kita sudah jatuh cinta, Dad,” celetuk Mama Runi yang mendapatkan gelak tawa dari Mr. Miller.
***
Bandara Internasional Logan.
“Mas Aryaa!”
“Ivy!”
“Akhirnya bisa ketemu.”
“Aku sudah di sini dari tadi nunggu, kamu-nya aja yang susah nyarinya.”
“Ck.”
Malam ini, Ivy sampai di Boston. Setelah menyelesaikan berbagai keperluan administrasi pendaftaran, akhirnya wanita itu bisa menyusul pujaan hatinya yang sudah lebih dahulu kuliah di sini. Dengan beberapa pertemuan disengaja akhirnya Ivy bisa mengenal Arya lebih dekat. Dan berkat kuasa Daddy-nya, Ivy bisa memaksa Arya untuk menjadi pengasuhnya di Boston.
Ivy memang cerdas!
“Bagaimana perjalananmu, heh?” tanya Arya dengan senyum menawan. Seperti biasa, laki-laki itu selalu terlihat tampan di hadapan Ivy. Mata coklat gelap dengan rambut tebal sedikit ikal. Bibir tipis yang selalu tersenyum manis. Dan jangan pernah lupakan semua sikap manis yang selalu Arya tunjukan untuk Ivy.
Ivy sering salah tingkah dihadapan Arya.
“Hey,” panggil Arya meminta perhatian Ivy.
“Baik, baik,” jawabnya cepat ketika ia merasa tolol karena terlalu mengagumi Arya. “Makasih udah jemput.”
“Seperti biasa, Princess, kamu selalu bisa memaksaku buat nurut sama semua permintaanmu,” sindirnya. “Kita langsung ke apartement ya? Seperti permintaan Daddy-mu yang nggak mau anak perempuannya seorang diri di Boston. Akhirnya, aku terpaksa jadi bodyguard Ivy di sini.”
“Jadi terpaksa nih?”
“Hahaha, nggak Princess. Ikhlas, aku sudah berjanji akan menjagamu seperti adikku sendiri.”
Ada kalimat yang tidak Ivy sukai disana, tapi Ivy bisa apa? “Kita tinggal di apartement yang sama kan?” tanya Ivy memastikan.
“Ya, tapi unit di lantaiku sudah penuh. Kamu ada di unit lantai di atasku,” jawab Arya sambil memasukan koper-koper Ivy ke mobil.
“Oh oke, nggak apa-apa.”
Tidak apa-apa mereka tinggal di lantai yang berbeda. Yang penting, mereka bisa setiap hari bertemu. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Ivy akan selalu berusaha mendapatkan apa yang gadis itu inginkan termasuk Arya.
Bersambung… Masih Flashback
Hamparan laut dalam gelap malam, hanya ada suara berisik debur ombak yang saling bersahutan. Mata Ivy berlarian mencari sosok yang menjadi alasannya datang ke tempat ini. Sebuah perkemahan yang diadakan oleh teman-teman Arya di kampus. Dan karena sedang tidak ada acara yang ia inginkan di akhir minggu, terpaksa Ivy mengikuti Arya yang memiliki agenda camping bersama teman-temannya.
Ivy mendudukan tubuhnya di kursi samping Arya. Laki-laki yang sedang memetik senar gitar diikuti beberapa teman-teman lainnya bernyanyi.
Arya sangat piawai bermain dengan gitarnya. Sesekali laki-laki itu melihat ke arah Ivy lalu meminta wanita itu untuk ikut bernyanyi bersama.
Beep.
Bii ❤️ Selamat pagi, Bii.
Satu pesan yang terlihat di layar pop up ponsel Arya menarik perhatian Ivy. Ia melihat ke arah laki-laki itu yang masih fokus dengan teman-temannya. Ivy memberanikan diri menekan tombol power agar ponsel itu mati. Ivy tidak suka wanita itu mengganggu kebersamaan mereka.
Ivy tahu tentang seorang wanita dengan nama panggilan ‘Bii’ di layar ponsel Arya. Ia adalah kekasih Arya, mereka sudah memiliki hubungan selama hampir tiga tahun.
Namanya Puspa, seorang wanita yang sedang mengambil gelar sarjana di Universitas yang sama dengan Arya dulu. Darimana Ivy tahu? Tentu saja wanita itu mencari tahu segalanya tentang Arya. Termasuk Puspa dan segala kerumitan hidup di dalamnya.
“Ada apa?” tanya Arya tiba-tiba.
“Nggak apa-apa.”
“Laper?”
Ivy menggeleng.
“Ngantuk?”
Ivy menggeleng sekali lagi.
“Terus?”
“I’m fine. Aku hanya sedang melamun.”
Arya tersenyum, laki-laki itu memusatkan perhatiannya ke arah seorang wanita yang selalu menemaninya akhir-akhir ini. “Aku sudah bilang untuk tidak usah ikut camping. Acara ini sangat bukan ‘kamu’,” ucap Arya.
“Lalu apa yang bisa aku lakukan tanpa kamu di apartement?” tanya Ivy ambigu.
“Kamu bisa nonton ajak teman-temanmu atau shoping? Apapun yang kamu sukai.”
“I don’t have friends,” jawab Ivy. Ia mengambil satu botol minuman yang tidak ia pahami. Tapi tangannya tertahan tangan Arya.
“Ini minuman beralkohol,” larang Arya.
“Aku tidak boleh minum? Usiaku sudah lebih dari dua puluh tahun.”
Arya menggeleng. “Kamu tidak boleh.”
“Please,” mohon Ivy. “Yang penting kita sama-sama tidak mengatakan rahasia ini ke Daddy ku.”
Arya mengambil beberapa botol minuman yang masih penuh di kedua tangannya. “Tidak boleh.”
Laki-laki itu membawa minuman mendekat ke arah teman-temannya. Mereka semua mendapatkan minuman beralkohol kecuali Ivy yang hanya mendapatkan satu botol air mineral. Merasa selalu dianggap anak kecil, Ivy memilih pergi. Arya selalu berlebihan dalam menjaganya.
Ia masuk ke dalam tenda miliknya sendiri lalu menidurkan tubuhnya disana. Otaknya menerawang jauh entah kemana. Hanya ada satu nama di dalam otak wanita cantik itu.
Puspaningrum.
Bagaimana cara Ivy menjauhkan Arya dari wanita itu? Sudah hampir satu tahun Ivy ada di sini dan nama wanita itu tidak bergeser sedikitpun di hati Arya. Bahkan yang Ivy sadari, Arya hanya melihat Ivy sebagai seorang adik kecil yang membutuhkan perlindungan. Tidak lebih. “Brengsek!” umpat Ivy lirih.
Ia memilih untuk mengambil earphone miliknya dan mendengar beberapa lagu kesukaannya.
Wanita itu tertidur dalam waktu yang cukup lama. Ivy mendudukan tubuhnya lalu menggeliat panjang untuk merilekskan tubuhnya yang kaku karena tertidur dalam posisi tengkurap. Ia melihat ke arah jam yang menunjukan pukul dua pagi waktu setempat.
Ivy keluar dan dia mendapati beberapa teman Arya tergeletak di kursi, bahkan sampai tertidur di pasir. Pasti mereka baru saja selesai mabuk-mabukan. Kehidupan luar negeri memang sebebas itu, terlebih untuk anak muda yang memiliki uang seperti Arya dan Ivy.
Mata Ivy terpaut ke arah sosok tubuh yang sedang tertidur tidak jauh dari tempatnya berdiri. Arya duduk di kursi dengan posisi sedikit menelungkup. Ivy mendekat lalu merasakan bau alkohol yang sangat kuat di sekitar tubuh Arya.
Pasti laki-laki itu sedang mabuk. Batin Ivy. Arya, paling tidak kuat dengan alkohol. Laki-laki itu sering meracau jika sedang mabuk, dan melakukan hal-hal absurd seperti bukan dirinya.
Ivy tidak mau Arya sakit. Dengan cuaca sedingin ini, tentu tidak baik bagi Arya yang memiliki riwayat asma menghabiskan malam di luar tenda. Biarkan teman-teman lainnya tidur di luar tapi tentu Ivy tidak akan membiarkan tubuh Arya kedinginan di luar tenda. Ivy membawa tubuh Arya yang besar, ia beruntung karena Arya masih sedikit sadar dan mau ikut melangkah untuk mempermudah jalan mereka berdua.
“Hai adik kecilku,” sapa Arya dengan kalimat serak.
Berapa minuman yang laki-laki itu tenggak? Jika dia sudah sadar, Ivy tidak akan segan untuk memukulkan botol itu ke kepala Arya.
“Ah, jika melihatmu di sekitarku, aku —jadi sangat merindukan Puspaku.”
Kalimat Arya menghentikan langkah Ivy. Ia melihat ke wajah Arya yang tersenyum sambil menerawang entah kemana. Jelas laki-laki itu sedang membayangkan kekasihnya, dan Ivy sangat tidak menyukai hal itu.
“Aku sangat merindukannya, kamu tahu? Aku sangat ingin memeluk tubuh wanita itu sekarang ini.”
Ingin sekali Ivy menyumpal bibir Arya dengan tangannya. Sekuat tenaga Ivy mencoba membantu Arya untuk masuk ke dalam tenda. Ia menidurkan tubuh Arya ke kasur matras tapi karena berat tubuh Arya yang besar, Ivy kehilangan keseimbangan dan justru ikut jatuh ke dalam pelukan hangat seorang Arya.
Laki-laki itu melingkarkan tubuhnya ke tubuh mungil Ivy yang membeku. Ketika menengadahkan kepalanya, moment di sekitarnya terasa berhenti. Mata Ivy terpaut ke arah wajah Arya yang tersenyum dengan mata terpejam. Moment yang jarang terjadi, Ivy bisa mengamati Arya dari jarak dekat.
“Aku mencintaimu, Bii.”
“Aku mencintaimu, Arya.”
Laki-laki itu tersenyum meremehkan padahal matanya tertutup sempurna. “Kamu tidak lebih dari adik kecilku. Dulu … aku sangat menginginkan seorang adik perempuan, dan aku mendapatkannya darimu.”
Dengan sekuat tenaga Ivy melepaskan diri. Ia berniat melangkah pergi, rasa sakit luar biasa ia rasakan di hatinya. Ivy tidak suka ketika hal yang dia inginkan tidak bisa ia dapatkan. Ini bukan tentang obsesi tapi jelas Ivy sudah jatuh cinta kepada sosok Arya, dan ingin memiliki Arya untuk dirinya sendiri.
Kamu bisa memilikinya.
Ivy melihat ke arah Arya yang masih meracau, Ivy tahu … laki-laki itu akan mudah menyerah dengan logikanya saat mabuk. Masih ada satu kesempatan. Ivy mendekat lalu dengan berani mendudukan tubuhnya di atas tubuh Arya yang telentang. Anggap saja Ivy sudah kehilangan logika dan akal!
Laki-laki itu terkejut, tapi dengan cepat Ivy meletakan kedua tangannya merangkum wajah Arya untuk menghadapnya. “Aku bukan adik kecilmu.” Ivy mencium bibir Arya semampunya. Meskipun ia tidak pernah melakukan ini, tapi nalurinya yang menuntun setiap gerakan lembut bibir Ivy. Arya sempat menolak tapi dengan mudah Ivy memaksa tubuh Arya yang gontai untuk tetap berada di bawahnya.
“Vy, kamu—, Stop!” cegah Arya. Logikanya sudah rusak akibat minuman yang baru saja ia tenggak.
Lebih lebih dari satu tahun dia tidak bertemu dengan kekasihnya. Dan malam ini, seorang wanita dengan tubuh indah berada di hadapan Arya menawarkan diri. “Ivy, stop,” geram Arya sekali lagi saat Ivy mulai menciumi lehernya.
Laki-laki itu menghargai Ivy sebagai wanita terhormat, menjaga wanita itu seperti adiknya sendiri. Ia bergerak dan mendorong tubuh Ivy pelan agar wanita itu menjauh, tapi sepertinya, usahanya terlalu mustahil dilakukan saat tubuhnya lemah. “Aku tidak bisa, Vy, aku mohon, lebih baik—.”
Ivy menempatkan tubuhnya di bagian bawah tubuh Arya. “Livyliaaa!” bentak Arya marah, ia mendorong tubuh Ivy kasar hingga wanita itu nyaris terjungkal.
Ivy menyelesaikan apa yang ingin ia lakukan, lalu berdiri menantang. Jari jemarinya melepas satu persatu pakaian yang menutupi tubuhnya. “Aku tidak akan melepaskan Mas Arya malam ini.”
“Fuck!” Marah Arya kasar lebih untuk dirinya sendiri!
Arya … kalah.
“Arya tidak bisa.”
Satu tamparan kuat mendarat di pipi Arya. Laki-laki itu berdiri dengan kaku di depan papanya di ruang tengah apartement miliknya di Boston. “Jangan jadi goblok, Arya.”
“Arya tidak bisa, Pa,” keukeuh Arya.
“Karena wanita itu?” tanya Tn. Brama marah. Kedua matanya menyorotkan amarah yang sangat besar kepada anak laki-laki satu-satunya yang selama ini selalu bisa ia andalkan. Tn. Brama langsung mendapatkan penerbangan di hari pertama saat mendapatkan kabar kehamilan Ivy dan … penolakan Arya.
“Namanya Puspa,” jawab Arya.
Arya berdiri dengan kepala yang sengaja ia tundukan. Dia sangat menyesal tapi bukan berarti dia harus mengorbankan sisa hidupnya bersama dengan seorang wanita yang sama sekali tidak ia cintai. Dia menjaga dirinya dan juga perasaan Ivy nanti.
“Papa tidak peduli! Lepaskan wanita itu!” tuntut Tn. Brama.
“Berapa kali pun Papa meminta, Arya tetap akan selalu memiliki jawaban yang sama jika itu tentang Puspa.”
Tn. Brama mengambil kertas kosong di hadapannya lalu meremasnya tepat di depan mata Arya. “Aku bisa menghancurkan wanita itu seperti kertas ini,” ancam Tn. Brama. “Lepaskan dia.”
Arya takut! Tentu saja papanya bisa menyingkirkan hidup Puspa dengan sangat mudah. Terlebih jika ada nama keluarga Miller dibelakangnya. “Arya ti—.”
Brak!
“Jangan membantahku, Arya! Kamu tahu siapa Livylia? Siapa nama Miller dibelakangnya? Mereka bisa menghancurkan perusahaan yang sudah kakekmu rintis dari nol dengan sangat mudah. Hancur! Dan itu semua hanya bisa terjadi jika kamu melihat tubuhku terbujur kaku.”
“Pa…”
“Berfikirlah dengan benar sebelum kamu bertindak,” ucap Tn. Brama lalu duduk di kursinya. Seperti sebuah tamparan hebat disematkan kearah keluarga Adiputra saat mendengar kabar ini. Bagaimana bisa Arya tidak mau bertanggung jawab dengan darah dagingnya sendiri? “Keluarga Miller menginginkan pernikahan setelah anak itu lahir. Jangan pernah lepaskan pandanganmu dari Ivy.”
Arya hanya diam membisu, tidak mengiyakan. Otaknya sibuk mencari jalan keluar yang sekuat tenaga ia cari tetapi nyatanya tetap tidak ia temukan. “Arya tidak mencintai Ivy.”
“Apa menurutmu Papa menikahi mamamu karena cinta?” tanya Tn. Brama. “Jawabannya adalah tidak! Tapi buktinya ada kamu, kita bahagia hidup di dalam keluarga ini.”
Arya diam mendengarkan. Ngocoks.com
“Dan apakah kamu membutuhkan cinta untuk membuat janin tumbuh di dalam perut Ivy?” tambah Tn. Brama.
“Itu sebuah kesalahan.”
“Tidak butuh cinta dalam rumah tangga, Arya! Yang kamu butuhkan hanya komitmen dan kerjasama. Cinta akan menghilang bersama waktu, dan Papa pastikan apa yang kamu rasakan kepada wanita itu akan hilang saat kamu memulai kehidupanmu bersama Ivy.”
Arya memejamkan matanya kuat saat merasa tak ada lagi pintu keluar untuknya. Tapi melepaskan Puspa tidak akan semudah itu. Wanita itu sudah menjadi bagian dalam hidup Arya. Ia jadikan tumpuan selama ini. Lalu bagaimana ia harus mengatakan sebuah perpisahan yang sama sekali tidak ada di dalam rencananya bersama Puspa? “Pa —,” panggil Arya lirih.
Satu tetes air mata tak lagi bisa tertahan ketika rasa kehilangan begitu kuat meskipun perpisahan belum terucap. Dada Arya sesak, hanya sekedar untuk bernafas normal. Ia membayangkan bagaimana hidupnya nanti tanpa wanita itu? Bagaimana bisa Arya bertahan saat wanita itu-lah selalu bisa ia jadikan sandaran?
“Yaa?”
“Apakah tidak ada jalan keluar lain?” tanyanya. Ia menatap papanya dengan sebuah permohonan tanpa ucapan. Papanya adalah benteng terakhir yang bisa menyelematkan hidup Arya saat ini.
Tn. Brama menggeleng. “Tidak ada, Nak. Maafkan papamu. Aku tidak bisa membantumu.”
Isakan Arya pecah! Laki-laki itu meluruhkan tubuhnya di lantai marmer yang dingin. Ia menumpahkan segala perasaannya di sana. Meratapi kisah cinta yang selalu ia sematkan dalam hidupnya.
“Arya dan Puspa sudah mati. Mulai detik ini, mulai hidup barumu bersama Ivy. Masa depanmu ada bersamanya,” ucap Tn. Brama penuh penekanan.
Tn. Brama memeluk tubuh Arya untuk memberikan kekuatan. Dia memahami perasaan putranya. Jelas ia bisa melihat ketertarikan Ivy kepada Arya di detik pertama pertemuan keduanya. Dan melihat bagaimana wanita itu yang selalu mencoba mendekati Arya, Tn. Brama tahu, kehamilan Ivy tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab Arya.
Laki-laki itu memilih berdiri saat merasa apa yang ingin ia sampaikan sudah terucap. Ada rasa sakit yang ia rasakan saat melihat anaknya terluka. Tapi ketika suratan takdir itu sudah tertulis, apa yang bisa manusia bisa lakukan selain menjalaninya?
Tn. Brama melangkah pergi meninggalkan Arya dengan keputusasaannya seorang diri. “Beri kesempatan kepada Arya,” ucap Arya yang menghentikan langkah Tn. Brama.
“Untuk?”
“Mengucapkan sebuah kata perpisahan.”
“Ambil waktumu sebelum pernikahan itu terjadi. Tetapi setelahnya, kamu harus benar-benar melepaskan wanita itu termasuk kenangan kalian.”
Tn. Brama melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Arya di dalam ruang apartemennya.
“Bagaimana?” tanya seorang laki-laki yang sudah menunggu Tn. Brama di depan pintu.
“Aku sudah berusaha semampuku.”
“Perusahaan kalian ada di tangan Arya. Semua keputusannya akan sangat berpengaruh besar dalam kehidupan kalian kedepannya.”
“Saya sudah berusaha, Mr. Miller.”
***
Ivy berdiri canggung saat mendengar pintu terbuka. Ia melihat Arya yang masuk ke dalam apartement. Dengan pasti Ivy tahu Arya sudah melihatnya, tapi laki-laki itu memilih mengabaikan Ivy. “Mas,” panggilnya.
Arya melepaskan sepatunya lalu berganti dengan sandal rumah. Ia berjalan dengan gontai dan duduk di sofa berseberangan dengan wanita itu.
“Mas, bagaimana?” tanya Ivy.
“Kamu tahu aku tidak pernah mencintaimu,” jujur Arya.
Sakit memang! Tapi Ivy yakin ia bisa menaklukan hati Arya jika laki-laki itu sudah benar-benar menjadi miliknya. Jika sudah tidak ada lagi nama Puspaningrum di dalam hidup Arya. “Kita bisa mencoba, Mas. Setidaknya, demi anak kita.”
Ivy tahu laki-laki itu tersentuh saat mendengar bayi yang berada di dalam kandungannya. Ivy sadar ia jahat, tapi demi cintanya ia merasa harus untuk melakukan ini.
“Aku menghormatimu sebagai perempuan, Ivy. Dan aku menyayangimu seperti saudaraku sendiri. Tidak akan ada namamu di hatiku,” ucap Arya dengan menunjuk ke arah dadanya sendiri. “Apapun keputusanmu saat ini akan sangat berpengaruh besar dalam kehidupan kita nantinya.”
Ivy menatap mata Arya, mendengar setiap ucapan yang disampaikan laki-laki itu.
“Sebuah pernikahan adalah dua manusia yang menyatu. Tanpa cinta, semuanya akan terasa hambar.”
“Mas Arya bisa mencoba?”
Arya memejamkan matanya kuat, sekelibat bayangan Puspa yang sedang tersenyum ceria semakin membuat Arya merasa bersalah. Seharusnya Arya menjadi obat bukan justru menjadi sumber kesakitan Puspa.
“Mas Arya bisa mencoba?” tanya Ivy sekali lagi. “Sebuah pernikahan bisa dipupuk dengan adanya komitmen dan tanggung jawab. Jika Mas Arya bisa memastikan bahwa wanita satu-satunya yang ada didalam hidup Mas Arya hanya Ivy. Ivy mau menjadi istri Mas Arya dan berusaha menjadi Ibu yang baik untuk anak kita.”
Arya masih tercekat. Ia tidak mampu untuk sekedar berkata ‘ya’ seperti rencananya sebelumnya.
“Mas … bagaimana?”
Jeda cukup lama dibiarkan Arya tanpa jawaban. Ia melihat seorang wanita yang duduk dengan wajah berbinar di hadapannya. Apakah benar wanita itu adalah takdirnya? Masa depannya? Rasa ngilu di hati Arya kembali terasa saat menyadari bahwa tidak ada lagi nama Puspa di masa depannya.
“Mas…”
“Aku akan berusaha,” jawab Arya lirih. “Tapi aku memperingatkanmu, Vy. Hal yang didapat dengan cara yang tidak baik … tidak akan pernah berakhir dengan baik.”
Wanita itu mendekatkan tubuhnya lalu memeluk Arya. “Aku mengambil resiko itu, Mas. Terima kasih.”
“Aku minta satu hal.”
“Apa itu?”
Arya menelan ludahnya kesulitan. “Aku ingin kamu memberiku waktu sampai pernikahan itu terjadi.”
“Waktu?”
“Waktu untukku dan Puspa. Waktu untuk perpisahan.”
“Tentu saja.”
Bersambung… Tujuh bulan sebelum perpisahan, Arya kembali ke Indonesia.
Bandara Internasional Soekarno – Hatta
Seorang laki-laki berparas rupawan berjalan dengan menarik kopernya dalam diam. Sesekali ia melihat ke arah ponsel yang menunjukan pesan kekasihnya. Menunggu kabar jawaban di mana wanita itu menunggu.
Bii ❤️ Aku menunggu di outlet kopi.
Laki-laki itu tersenyum, lalu melangkahkan kakinya menuju tempat yang sudah ia tahu di mana letaknya. Senyum itu semakin lebar dengan mata yang memancarkan kerinduan besar saat melihat seorang wanita bersurai panjang duduk membelakangi tubuhnya. Wanita itu mengenakan sweater kebesaran berwarna hijau tua dengan sebuah novel di tangan. Tidak lupa satu cup es kopi dingin menemani kesendiriannya.
Tanpa permisi, Arya mencuri ciuman dari pipi kekasihnya.
“Bii, malu ih,” tegur Puspa. Wanita itu mengedarkan pandangan dan bersyukur saat tidak mendapati perhatian pengunjung lain.
Arya tahu, Puspanya seorang gadis pemalu. Wanita cenderung tertutup yang tidak suka berinteraksi dengan banyak orang. Itulah sebabnya selama ini Arya selalu menutupi hubungan keduanya dari orang lain, ia tidak ingin privasi kekasihnya terganggu. Terlebih, Arya adalah seseorang yang banyak dikenal orang.
“Aku sangat merindukanmu,” ucap Arya yang ikut duduk di kursi sebelah Puspa. Tangannya mencari tangan Puspa untuk digenggam dengan erat, berharap wanita itu merasakan besarnya rasa cinta seorang Arya untuknya.
“Ck! Gombal,” jawab Puspa malu-malu.
“Aku serius, Bii.”
“Haha iya, iyaa. I miss you too,” jawab Puspa akhirnya.
“Kita langsung pergi aja, kemana gitu.”
“Tumben? Biasanya mau pulang ke rumah dulu? Nggak ditunggu keluarga?”
“Nope. Waktuku pulang saat ini hanya untuk Puspa.”
Kalimat Arya mampu menarik perhatian Puspa. “Serius?”
“Yaa. Ayo, aku ingin membawamu ke suatu tempat,” ajak Arya sambil sedikit menarik tangan Puspa.
Wanita itu bergegas mengambil barang-barangnya dan memasukan ke dalam tas. Ia mengikuti langkah kemana Arya membawanya pergi. Sepanjang jalan, Arya tidak sekalipun melepaskan genggamannya dari tangan Puspa. Sesuatu yang membuat perasaan Puspa berbunga-bunga. Dia sangat mencintai Arya-nya begitupun sebaliknya.
“Kita mau kemana?” tanya Puspa saat mereka sudah berada di dalam mobil milik Arya.
Laki-laki itu meminta asisten papanya menyiapkan mobil untuk mereka berdua. Sesuatu yang cukup membuat Puspa terkejut. Tidak biasanya keluarga Arya ikut terlibat dalam acara mereka.
“Rahasia. Lihat saja nanti. Ratu gue tinggal duduk manis di dalam mobil, panglima Arya akan membawa Ratu jalan-jalan.”
“Haha,” tawa Puspa renyah.
Mobil membelah jalanan kota Jakarta yang ramai. Puspa menikmati perjalanan saat hujan mulai turun dengan derasnya. Mata wanita itu menikmati setiap buliran-buliran air hujan yang menetes di kaca mobil. Semua itu tak pernah lepas dari pengamatan Arya. Laki-laki yang seakan sedang merekam wajah dan kenangan Puspa sebanyak-banyaknya. Ia akan menyimpan semua kenangan itu jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Semua rekaman tentang Puspa akan ia buka sewaktu-waktu saat laki-laki itu sedang merindukan wanita itu suatu saat nanti.
“Kenapa hujan selalu indah?” tanya Puspa tiba-tiba.
“Mmm, sorry. Aku nggak bisa jawab sepertinya.”
“Karena sepi tak lagi ada. Ramai, banyak dan hujan selalu membawa suasana baru yang biasanya indah.”
“Seperti kamu, indah.”
“Haha,” tawa Puspa lagi.
Arya mengerutkan kedua alisnya saat mendengar tawa Puspa yang lepas. Bukannya malu-malu, tapi Puspa justru terlihat menyangsikan kalimat Arya sebelumnya.
“Kamu kenapa sih, Bii? Sumpah nggak pantes banget kamu ngomong kaya gitu.”
Arya mengedikan bahunya, laki-laki itu tersenyum. Tangan kirinya menggenggam tangan Puspa lagi sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengendalikan kemudi. Arya beruntung karena jalanan sudah mulai sepi dan landai.
Ada ribuan rasa yang berkecamuk tapi sekuat tenaga Arya menutupi kesedihannya di hadapan Puspa. Moment ini akan Arya ciptakan sebagai kenangan manis keduanya. Sedikit egois memang, karena Arya sudah berencana untuk meninggalkan Puspa. Tapi, tak ada lagi yang bisa Arya lakukan selain menciptakan kenangan indah di hari-hari terakhir pertemuan mereka.
Arya berharap, Puspa akan selalu mengingat tentang dirinya. Arya berharap, rindu ini tidak akan hanya dia yang merasakan nantinya.
Mobil masih saja berjalan tanpa Puspa ketahui arahnya. Wanita itu bahkan sempat tertidur dan bangun, lalu melihat ke arah jam di ponselnya yang menunjukan angka lima sore. Artinya mereka sudah melakukan perjalanan lebih dari lima jam tapi Arya tak kunjung menepikan mobil.
“Kita mau kemana, Bii?” Puspa mulai mempertanyakan tujuan mereka berdua.
“Jauh.”
“Jauh? Kemana? Aku nggak bawa baju lho.”
“Jauh banget, aku mau ngajakin kamu melarikan diri.”
“Ck, melarikan diri dari siapa?” tanya Puspa berdecak pura-pura. “Mau kemana?” tanya Puspa sekali lagi.
“Lihat saja nanti, yang pasti jauh.”
“Hah? Jangan ngaco deh, aku nggak bawa baju ganti.” Puspa terkejut. Kepulangan Arya yang begitu mendadak sudah cukup membuat wanita itu kelimpungan. Lalu tiba-tiba, sekarang laki-laki itu mengajaknya ke sebuah tempat yang cukup jauh dan Puspa tidak tahu itu dimana?
“Nanti bisa beli.”
“Mas..”
“Aku cuma mau memiliki waktu yang berkualitas sebelum kembali ke Boston.”
Puspa hanya bisa menghela nafas menanggapi sikap Arya yang pemaksa. Laki-laki itu memang sering seperti itu, tak bisa ditebak.
Saat senja menyapa, mereka sudah sampai disebuah pantai terpencil di Jawa Tengah. Pantai pasir putih dengan pemandangan asri menjadi tempat pelarian keduanya. Arya sedang memasang tenda saat Puspa meletakan satu cup pop*ie panas di atas pasir.
“Aku lapar.”
“Sorry, aku lupa kalau kita butuh makan. Aku terlalu antusias datang ke tempat ini bersamamu.”
Arya meletakan peralatannya lalu ikut duduk di samping Puspa. Mereka menikmati senja dengan satu cup mie buatan Puspa.
“Katanya, senja itu indah karena menyimpan kenangan,” ucap Puspa sambil tersenyum tipis.
Puspa menikmati senja, Puspa suka hujan tapi senja bukan suatu pemandangan yang mudah untuk dilewatkan.
“Senja itu selalu cantik karena dia selalu di atas bersama langit, tak bisa digenggam apalagi dimiliki,” jawab Arya.
Seperti senja, Puspa itu indah tapi sulit untuk Arya genggam. Takdir tidak berkata ‘mudah’ untuk hubungan Arya dan Puspa. Sebuah pertemuan itu memiliki banyak makna, terkadang ia ditakdirkan untuk tetap tinggal atau hanya sekedar singgah lalu terlepas untuk menjadi kenangan. “Bii,” panggil Arya.
“Hem.” Puspa tak mengalihkan tatapannya dari langit.
“Kamu tahu aku sangat mencintaimu.”
“Kamu juga tahu aku mencintaimu lebih.”
Arya menangkup wajah Puspa dan menatapnya. Ia menelisik setiap ukiran wajah Puspa, mencoba mengingat-ingat dengan detail agar wajah itu tak pernah hilang dari ingtannya. Arya mendekat lalu menyapu lembut bibir Puspa yang manis. Begitu banyak perasaan yang muncul silih berganti, banyak alasan yang memaksa Arya untuk tetap tinggal tapi ia tak bisa melepaskan sebuah tanggung jawab yang besar di pundaknya.
Rasanya sesak, sakit dan hancur secara bersamaan.
Arya memagut dengan rapuh, mencoba mencari kekuatan dari bibir yang sudah lama ia rindukan. Tapi nyatanya, ciuman itu justru semakin membuat Arya berantakan. Ngocoks.com
Senja dan pantai. Perpaduan romantis untuk mengakhiri sesuatu yang seharusnya indah.
***
Bandara International Soekarno – Hatta.
Sudah lima hari sejak kepulangan Arya, laki-laki itu menepati janjinya untuk selalu bersama Puspa. Malam ini, Arya kembali ke Boston setelah mereka berdua melewati malam-malam yang menyenangkan sebelumnya. Hanya mereka berdua, tidak ada lainnya.
Arya dan Puspa duduk di kursi tunggu, dengan tangan yang saling menggenggam. Sepanjang perjalanan di mobil hingga saat ini Arya selalu menggenggam tangan Puspa. Jikapun terlepas, laki-laki itu akan selalu menunjukan wajah penuh ketidakrelaan.
Arya melihat ke arah Puspa yang sedang membaca ponselnya sambil menunggu jam keberangkatan Arya ke Boston.
Sudah lima hari mereka bersama dan bagi Arya itu semua tidak pernah cukup. Ia melihat ke arah tautan genggaman tangan keduanya, melihat dengan jelas seakan itu adalah genggaman tangan yang terakhir kali untuk Puspa-nya.
Setelah melewati pintu masuk pesawat, mulai detik itu juga ia berjanji untuk melangkah kedepan. Ada Ivy dan anaknya yang sedang menunggu sambutan tangannya. Ada keluarga yang sedang mempertaruhkan kehidupannya di dalam diri Arya.
“Kenapa?” tanya Puspa saat melihat Arya yang memperhatikannya.
“Kamu cantik,” puji Arya. Puspa-nya memang selalu cantik di mata Arya.
“Aku tahu.”
“Aku boleh minta satu hal?” tanya Arya.
“Banyak juga nggak apa-apa.”
“Cukup satu … aku ingin kamu bahagia.”
Puspa melepaskan tautan tangan keduanya, ia merangkum wajah Arya untuk menatap langsung ke manik mata laki-laki itu. Ada rasa yang sampai ke dalam hati Puspa tapi ia mengabaikannya. “Aku bahagia bersamamu.”
“Aku ingin kamu bisa bahagia dengan dirimu sendiri.”
Puspa meragukan kalimat Arya, ia hendak menjawab tapi kalimat Puspa tertahan saat pengumuman keberangkatan pesawat Arya terdengar.
“Berjanjilah,” pinta Arya.
Puspa hanya bisa menggeleng tidak paham.
“Berjanjilah untuk selalu bisa bahagia.”
“Bii.”
“Please, janji sama aku biar aku bisa kembali ke Boston dengan tenang,” pinta Arya sekali lagi.
“Biii,” panggil Arya lagi saat panggilan penumpang kedua terdengar.
“Aku janji akan selalu bahagia,” ucap Puspa akhirnya.
Arya tersenyum lega, ia mencium kening Puspa lama dan dalam, seakan ciuman itu adalah ciuman terakhir yang ia berikan untuk Puspa-nya. “Terima kasih, Puspa-ku. Aku mencintaimu.”
Arya berdiri tegap dan langkah pasti memasuki pintu keberangkatan internasional. Ia melihat ke arah Puspa sekilas lalu kembali memutar tubuhnya ke depan. Ia tak lagi menoleh kebelakang begitupun seterusnya. Arya berjalan lurus ke depan meninggalkan Puspa dan semua kenangannya. Arya tak lagi menjawab pesan dari Puspa. Dengan pelan-pelan ia melepaskan Puspa dan mengakhiri hubungan mereka di hari pernikahannya dan Ivy.
Selamat tinggal, Puspa.
Satu nama yang akan selalu menempati ruangtersembunyi di dalam hati Arya.
Anton meletakan satu amplop berwarna coklat di meja Arya. Laki-laki yang sekaligus menjabat sebagai sahabat itu duduk dengan santai di kursi depan meja. Ia mengambil permen lalu memasukan ke dalam mulut sebelum bersuara.
“Gue sudah mengingatkan tentang hal ini, kebiasaan ini tidak baik.”
“Gue tahu,” jawab Arya. Meskipun sudah diperingatkan, laki-laki itu tetap mengambil amplop di meja lalu membukanya.
Ada beberapa potret seorang wanita yang akhir-akhir ini menjadi tugas Anton untuk mengikutinya. Seorang wanita dari masa lalunya yang kembali datang. Takdir memang tidak serta merta menjadi baik kepada Arya.
“Potret itu tidak akan menjadi baik buat lo. Percaya sama gue, Boss,” tambah Anton. Laki-laki itu akan melepaskan topengnya sebagai kaki tangan Arya dan berubah menjadi sahabat saat mereka hanya berdua.
Arya menggenggam potret itu dengan kuat seakan ingin menghancurkannya dalam satu remasan tangan. Ia melihat dengan jelas tawa manis Puspa yang dulu hanya untuknya. Wanita itu bisa tersenyum bahagia bersama laki-laki yang jelas mengharapkan tujuan lain dengan wanita yang masih menempati hatinya.
Bodoh memang! Meskipun Arya sudah berusaha, tapi ia tidak pernah merasa mampu untuk mengikhlaskan Puspa. “Gue ke Jogja,” putusnya.
“Serius?”
“Sangat.”
“Arya, lo punya anak dan istri.”
“Ivy seharusnya sadar, dia tahu di mana tempatnya. Sejak Puspa menginjakan kakinya di kantor ini, gue yakin ada maksud di pertemuan kita. Mungkin, takdir gue memang Puspa, Ton.”
Arya mengingat jelas saat pertama kali ia melihat Puspa duduk di hall perusahaannya sebagai karyawan baru. Mungkin bagi Puspa pertemuan keduanya terjadi saat acara sosialisasi rekruitment besar-besaran AD corporate, padahal sebenarnya Arya sudah menemukan Puspa jauh sebelum hal itu terjadi.
“Mungkin juga pertemuan kalian hanya untuk menyelesaikan sesuatu yang belum benar-benar selesai.”
Anton tahu ia salah berucap saat Arya melihatnya dengan tatapan menusuk. Tapi seharusnya apa yang dia ucapkan bisa jadi benar bukan?
“Dia masih milik gue, hati ini masih miliknya,” ucap Arya final.
“Lo sudah punya Ivy.”
“Fuck off!” teriak Arya dengan sebuah buku yang terlempar ke arah Anton. Sedangkan yang mendapatkan amarah Arya hanya bisa terkekeh mendapati sahabatnya yang belum bisa move on.
“Sehebat apa Puspa sampai bisa membuat seorang Arya menjadi gila?”
Arya mendudukan tubuhnya dengan nafas terengah. Ia (masih) menatap Anton dengan tatapan tidak suka. “Dia … a part of me.”
“Yah, bisa gue lihat seberapa spesial-nya Puspa untuk Arya. Tapi kalau boleh gue memberi saran sebagai sahabat, lebih baik lo berhenti buat kembali masuk ke dalam kehidupan wanita itu. Atau itu akan menghancurkan diri lo sendiri … dan dia tentunya.”
Arya tetap memutuskan untuk datang ke Jogja dengan segala alasan yang sengaja dia buat. Entah kenapa, masih ada rasa tidak rela yang teramat besar saat Arya melihat Puspa bersama laki-laki lain.
Pagi ini, Arya menunggu di sebuah bilik yang sudah disediakan. Ia menunggu sambil melihat pesan dari Ivy yang mengirimkan potret Axel sehabis mandi. Anak itu, adalah salah satu anugrah dari sekian banyak ujian yang diberikan kepada Arya.
Tak lama menunggu, sosok yang menjadi alasannya datang ke tempat ini akhirnya muncul. Dengan telaten Puspa menyiapkan satu persatu berkas yang ia butuhkan untuk proses interview di meja Arya.
“Boleh aku minta tolong?” pinta Arya. “Tolong rautkan pensil ini.”
Arya sadar permintaan itu terlalu mengada-ngada. Pensil yang ada di dalam genggamannya jelas terlihat sudah layak pakai.
“Baik.”
Arya beruntung Puspa tidak membantah. Meskipun dengan wajah malas, Puspa tetap mendekat. Tanpa ucapan ia melaksanakan tugas yang diberikan Arya kepadanya.
Perasaan Arya berkecamuk, ia melihat Puspa dengan intens. Sekelibat bayangan Puspa bersama dengan laki-laki itu kembali memunculkan rasa yang seharusnya ia musnahkan sejak dulu.
Arya bisa melihat gerakan tangan yang sempat berhenti saat Arya berdiri. Wanita itu terlihat mempercepat gerakannya seakan menganggap Arya adalah ancaman.
Dan Arya tidak suka itu!
“Tumben kamu mengikuti kegiatan diluar kota?” sindirnya. “Bertemu orang baru, tempat baru.” Sangat bukan Puspa. “Bii,” panggil Arya lagi saat ia tidak mendengar sebuah jawaban. “Kenapa?”
“Saya tidak harus menjawab pertanyaan Bapak.”
Jawaban Puspa semakin membuat Arya marah. Ia mencengkeram tangannya sendiri dengan erat, menahan rasa cemburu yang membakar hatinya pelan-pelan.
“Apakah karena laki-laki itu?” tanya Arya to the point. Arya tidak perlu lagi menjelaskan siapa yang ia maksud, pasti dengan jelas Puspa sudah paham siapa yang Arya maksud.
Wanita itu membalas tatapan Arya dengan tegas, seakan sedang menunjukan bahwa apa yang Arya ucapkan sebelumnya adalah benar.
“Kamu dekat dengan laki-laki itu?” tanyanya menuntut.
“Bapak terlalu mencampuri urusan pribadi karyawan.”
Arya tersenyum menyeringai mendengar jawaban Puspa. “Aku bisa memecatnya jika mendapati ada karyawan yang saling berhubungan dalam divisi yang sama.”
“Bapak tidak berhak.”
“Tapi aku sangat bisa melakukannya, Bii,” ucap Arya bukan sebagai ancaman karena dia pasti akan melakukan hal itu.
Puspa tak lagi menjawab, lebih memilih segera menyelesaikan tugasnya. Mungkin efek Arya yang terlalu besar hingga membuat Puspa ceroboh dan justru melukai tangan wanita itu sendiri.
Puspa pergi dan tentu saja Arya tidak akan mudah melepaskan wanita itu —lagi.
“Keluar,” usir Puspa. “Aku bilang keluar!”
Arya menulikan pendengarannya, ia menarik tangan Puspa untuk membersihkan luka Puspa. Seperti saat pertama kali mereka bertemu dulu, Arya dengan telaten menekan luka lalu membersihkan dengan tissue kain miliknya.
“Saya bisa melakukannya sendiri. Arya aku bisa melakukannya sendiri!” teriak Puspa marah.
Arya mengikis jarak penuh ancaman. Kesabarannya sudah habis! Sejak Puspa menginjakkan kakinya di perusahaan, Arya tahu hidupnya tidak akan mudah. Hidup Arya sebelumnya sudah sulit lalu saat melihat Puspa hidupnya semakin hancur berantakan.
Hal yang paling diinginkan Arya adalah Puspa, tapi jelas wanita itu adalah sesuatu yang akan menyakiti keluarganya.
“Keluarkan semua amarahmu, Bii. Marah sama aku! Pukul aku atau apapun itu agar aku sedikit merasa lebih baik!”
Arya mengambil tangan Puspa lalu menamparkan ke arah pipinya sendiri.
Arya menamparkan tangan Puspa ke pipinya berkali-kali. Tetapi setelah semua itu terjadi, tidak ada yang berubah. Puspa masih terlihat membencinya dan Arya bisa gila melihat itu!
“Pukul aku, Bii. Pukul aku! Kamu berhak marah! Kamu berhak memukulku,” ucap Arya dengan dada bergetar hebat. Nafasnya tersengal dan dada bergemuruh menahan amarah.
Sebuah hantaman cukup kuat berhenti di tembok sisi kanan Puspa yang kosong saat Arya merasa putus asa. Lalu ia menyesal saat melihat Puspa dengan mata terpejam karena takut.
“Aku bisa gila dengan perasaan bersalah yang ada disini,” ucap Arya menurunkan nada suaranya. “Aku bisa gila bila terus melihatmu dengan —!”
“Oh, apa aku mengganggumu? Begitu?” tanya Puspa memastikan. “Apa kamu merasa jijik melihatku?”
Arya tidak suka Puspa memutuskan kalimatnya yang belum selesai lalu membuat sebuah kesimpulan bodoh!
Ia semakin mengikis jarak. Arya mencengkeram tubuh Puspa yang ringkih di hadapannya. Ia ingin menunjukan apa yang ia rasakan meski tanpa suara. Ia ingin Puspa menemukan cinta dan keputusasaan di matanya.
“Jika keberadaanku mengganggumu, aku akan pergi,” ucap wanita itu dengan bibir bergetar.
Tidak, tidak! Bukan itu yang Arya inginkan. Jika Puspa kembali menghilang dari hadapannya, mungkin Arya akan menjadi benar-benar gila.
“Tidak, tidak. Bukan begitu maksudku, Bii. Maksudku —.”
“Saya harus keluar, proses interview sebentar lagi mulai.”
“Jangan memotong kalimatku!” Arya kembali menarik tubuh Puspa untuk berada di depannya. “Bii.”
“Nama saya Pus—.”
Arya mencium bibir Puspa tiba-tiba dan mendadak, sesuatu yang memang sudah sangat ia inginkan saat mereka duduk berdua di dalam ruangan yang sama di kantornya. Arya mencium dan menuntut sesuatu untuk segera dilepaskan. Ada begitu banyak emosi yang Arya keluarkan melalui ciumannya.
Kedua tangan Puspa mencoba menahan tubuh Arya yang semakin mendekat. Ia pun mencoba melepaskan tautan bibirnya yang semakin menuntut. “Le—pas.” Puspa terengah saat Arya menjelajah semakin dalam.
Bunyi bibir Arya yang menyecap mendominasi ruangan yang sepi. Hanya ada suara geraman milik Arya dan suara tertahan dari Puspa yang meronta untuk dilepaskan.
“Arya! Le —.” Arya kembali membungkam bibir Puspa dengan bibirnya. Ia menahan kedua tangan Puspa di atas tubuh wanita itu ketika Puspa masih saja terus melawan.
Tangannya mencengkeram rahang wanita itu dan mengunci tatapan Puspa ke arahnya. “Kita belum berakhir, Puspa! Belum sama sekali.”
Hingga pada titik dimana Arya kembali menemukan wajah Ivy dan Axel di sela-sela logikanya yang menghilang. Lalu merasa bodoh ketika disaat bersamaan ia menyadari bahwa apa yang ia lakukan hanyalah akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri dan wanita di hadapannya.
“Maaf,” ucap Arya lirih. Ia menyembunyikan wajahnya di dalam ceruk leher Puspa yang menegang. Ia menghirup wangi tubuh Puspa sebanyak-banyaknya. “Aku minta maaf —sangat,” ucapnya sekali lagi. Ada tetes airmata yang mengalir di ujung bola matanya. Tapi dengan cepat ia sapu dengan tangannya sebelum kembali berdiri dengan canggung di hadapan Puspa.
“Aku—.”
“Saya tahu ini hanyalah sebuah kesalahan. Seperti kita dulu, semuanya hanyalah bentuk sebuah kesalahan.”
Ada luka yang ternganga lebar di hati Arya saat Puspa mengatakan kalimat itu. Saat wanita yang dicintainya menganggap bahwa hubungan keduanya hanyalah bentuk dari sebuah kesalahan.
“Saya harap kita tidak akan pernah bertemu lagi.”
Mata Arya terpejam kuat. Ia membiarkan Puspa yang pergi begitu saja dari hadapannya, lalu meluruhkan tubuhnya saat bunyi pintu tertutup dari luar.
“Gue sudah bilang, nggak baik buat kalian untuk kembali bertemu.”
Bersambung… Satu pesan yang cukup membuat Puspa harus membacanya berulang kali. Sebuah ajakan makan siang bersama dari orang yang jelas-jelas duduk berdekatan dengan dirinya.
Raka. Nanti siang kita makan di luar, gue yang traktir.
Me : Tumben.
Tidak ada lagi jawaban dari manusia di samping Puspa lalu ia kembali berkutat dengan beberapa pekerjaan yang masih menumpuk.
Sudah satu minggu sejak kepergiannya ke Jogja, sejak pertemuan mengejutkannya dengan Arya. Laki-laki itu tak lagi menampakan batang hidungnya, bahkan saat waktu sarapan tiba Arya tak pernah lagi menemani Puspa di balkon. Mungkin Arya benar-benar menyesali perbuatannya.
Ya, tentu saja! Laki-laki itu tidak mungkin menukar kehidupannya yang sempurna hanya demi bersama Puspa.
Jam menunjukan pukul duebelas siang, sudah waktunya makan siang untuk kalangan budak corporate seperti Puspa. Ia melihat Raka yang keluar terlebih dahulu lalu satu pesan ia terima saat laki-laki itu sudah menghilang dari ruangan.
Raka: Gue tunggu di depan outlet kopi. Gue udah bawain helm lo.
Puspa membaca pesan itu lalu mengambil jaketnya untuk menemui Raka. “Mbak Dwi, gue izin makan siang di luar ya,” ucap Puspa.
Mbak Dwi melihat Puspa yang sudah berdiri dengan menenteng tas dan jaketnya.
“Janji nggak lama kok, jam satu sudah sampai kantor,” tambah Puspa.
“Oke,” jawab Mbak Dwi singkat.
Puspa berjalan ke luar kantor. Ia sedikit berlari karena tak ingin Raka terlalu lama menunggu. Raka kalau ngomel sudah melebihi emak-emak yang sedang berada di fase pra-menopause. Galak!
“Lama,” kesal Raka saat melihat wanita yang ia tunggu datang.
“Izin dulu sama Mbak Dwi.”
“Dia bukan bos, Puspa. Yang penting kita balik tepat waktu.”
“Iya, iya. Daripada ngomel mending kita jalan deh, Ka.”
Raka menyiapkan footstep untuk Puspa naik lalu menjalankan motornya saat wanita itu sudah siap.
Perjalanan keduanya tidak lama, Raka membawa Puspa ke warung nasi padang terdekat dari kantor. Kata Raka ini adalah warung padang terenak yang pernah ia makan. Apalagi, harganya juga tidak terlalu mahal.
Raka menyerahkan satu bungkus kopi ke arah Puspa saat mereka sudah duduk di meja.
“Tadi nunggu tuan putri yang lama gue sempetin beli kopi. Kaya-nya lo tadi belum minum kopi.”
“Cie, perhatian banget sih lo.” Puspa mengambil bungkusan itu dengan wajah ceria.
“Emang! Lo-nya aja yang nggak peka.”
Puspa membuka kopinya lalu menatap Raka dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Kenapa?” tanya Raka.
“Kok latte?”
“Biar ada manis-manisnya. Hidup itu harus banyak rasa. Nggak suka?” tanya Raka.
“Suka kok,” jawab Puspa akhirnya. Meskipun sedikit terpaksa hanya karena demi menghargai Raka yang sudah membelikannya kopi. Karena sebenarnya, Puspa mengharapkan es kopi hitam seperti sebelumnya.
Mereka mengambil makanan masing-masing lalu melanjutkan makan dalam diam. Setelah selesai makan, Raka meminta untuk tinggal sebentar.
“Ada yang mau gue omongin.”
“Apa?” tanya Puspa.
Wanita itu memoleskan lipstik tipis karena setelah makan biasanya lipstik di bibirnya akan memudar. Kata Mbak Dwi, karena mereka bekerja di perusahaan besar dan bisa bertemu dengan banyak orang, semua karyawan harus tetap tampil cantik tapi tidak boleh berlebihan.
Kegiatan itu tak luput dari perhatian Raka.
“Apa, Raka? Kok lo malah ngeliatin gue lipstikan. Mau?” tawarnya sambil mendekatkan lipstik ke arah Raka.
“Najis!”
“Haha.”
Raka masih terdiam hingga Puspa menyelesaikan kegiatannya. “Gue mau pindah ke Cikarang.”
“Pindah? Maksud lo?” tanya Puspa terkejut.
“Minggu depan gue dipindah ke Pabrik di Cikarang dengan tawaran gaji lebih besar dari di sini, dan gue terima.”
Puspa sempat terpaku, merasa ada yang janggal dengan kepindahan Raka yang tiba-tiba. Ia menduga siapa dalang di balik kepindahan Raka ke Cikarang. Meskipun itu atas persetujuan Raka sendiri tapi Puspa bisa menebak semua ini hanyalah keinginan Arya. Laki-laki itu tidak pernah mengancam tapi akan selalu benar-benar menyingkirkan apa yang tidak ia sukai.
Tapi kenapa Arya tidak suka kepada Raka?
“Rum!” tegur Raka.
“Eh, ya? Sorry.”
“Gue mau pindah,” jelasnya lagi padahal Puspa sudah paham dengan kabar itu.
“Iya, terus?”
“Lo nggak sedih gitu? Atau ngerasa kangen, nggak rela mungkin?” tanya Raka benar-benar ingin tahu.
“Ya sedih, nggak ada lagi yang beliin gue kopi. Atau nraktir gue nasi padang.”
“Ningruum..”
“Ya, Rakaa..”
“Gue serius.”
“Ya gue juga serius. Emang gue harus gimana? Kan lo sendiri juga yang mau dipindah kesana.”
“Yaa kalau gue sih pasti kangen sama lo, meskipun sepertinya gue sendiri yang merasakan itu.”
Puspa tak menjawab, hanya tersenyum.
“Kalau lo kangen bilang ya, gue pasti dateng buat jemput lo. Ya meskipun nggak tiap hari juga sih. Lo tahu rumah gue di Bekasi, muter banget kalau harus kesini.”
“Yaa, kalau kangen gue pasti bilang.”
Raka tersenyum lega. “Lo baik-baik aja kan gue tinggal?”
“Baik.”
“Ningrum.”
“Ya Raka?”
“Kenapa gue nggak rela ninggalin lo sendiri di sini? Gue ngerasa butuh ngelindungin lo dari sesuatu yang nggak gue pahami itu apa.”
Puspa menautkan matanya ke arah Raka. Ia tersenyum tipis saat melihat raut wajah Raka yang tidak rela dengan kepindahannya.
“Gue baik, gue bisa jaga diri,” ucap Puspa.
“Kalau ada sesuatu yang bikin lo nggak nyaman, lo bilang gue ya?” pinta Raka. Tangannya hendak menggenggam tangan Puspa yang ada di meja tapi wanita itu menolak dan berakhir dengan Raka yang hanya menggenggam tangannya sendiri.
“Gue pasti cerita.”
“Good, baguslah,” jawab Raka sedikit merasa kecewa. “Tapi … kalau gue kangen, gue boleh maen ke rumah lo kan?”
Puspa mengangguk cepat. “Lo boleh maen ke rumah asal nggak minta gue masakin. Lo tahu sendiri gue kalau pulang kerja capek jadi seringnya langsung tidur. Kalau weekend gue seringnya baca novel.”
Entah kenapa, tanpa Puspa sadari ia mudah sekali berbincang banyak bersama Raka. Ia lupa bahwa Raka termasuk ke dalam spesies manusia yang tentu saja bisa menimbulkan kesakitan lainnya seperti hal-nya orang lain.
“Iyee, iyee. Oh ya, jangan lupa motor lo rajin-rajin di service biar nggak mogok lagi. Kalau sampai mogok atau ada kesulitan lain lo bisa panggil Pak Tejo, doi sudah gue kondisikan.”
“Hahaha, yaa yaa, Mr. Bossy.”
“Gue serius, Ningrum. Jujurly, gue nggak tega banget ninggalin lo.”
“Yaa udah, jangan tinggalin kalau gitu,” jawab Puspa menantang. Wanita itu tersenyum sambil melihat Raka dengan mata genit yang di buat-buat.
“Gue seriusin bener, lari lo!” jawab Raka dengan sedikit gertakan.
Raka tersenyum tipis sambil menimbang apa yang akan ia lakukan kepada wanita di hadapannya. Ingin sekali Raka mencubit pipi Puspa dengan gemas atau menarik Puspa ke toilet lalu menciumnya dengan brutal.
Tapi kedua option itu tidak diambil Raka.
Laki-laki itu hanya bisa melihat Puspa dengan gregetan tanpa bisa melakukan apapun.
Poor Raka!
“Lebih baik kita balik atau nanti dapat omelan dari Mbak Dwi,” putus Puspa. Ia membereskan barang-barang miliknya lalu memasukannya ke dalam tas.
Puspa melenggang meninggalkan Raka terlebih dahulu. Ia jalan di depan lalu tiba-tiba Raka datang dari belakang dan langsung melingkarkan tangannya di leher Puspa.
“Awas lo ya,” ancam Raka.
Raka menarik wajah Puspa lalu menggigit ringan pipi wanita itu.
“Dih, zizik gue. Lepaaassin!” teriak Puspa yang berbanding terbalik dengan tawanya yang terdengar lepas.
“Awas aja lo kalau ngegodain gue lagi! Gue …”
“Gue … apa?”
“Au ah! Balik yuk, gerah!”
“Hahaha.” Puspa kembali tertawa lepas, seakan lupa bahwa hal ini adalah hal tersulit yang ia lakukan sebelumnya.
Sebagai anak perempuan satu-satunya pesohor bisnis investasi, Livylia atau biasa dipanggil dengan Ivy selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Kata Mama Runi, Ivy adalah anugrah dari Tuhan untuk kedua orangtuanya. Berbagai macam keluarga Miller lakukan untuk mendapatkan anak, mulai dari inseminasi buatan, bayi tabung bahkan sampi mencari penemuan terbaru dari dunia medis tak kunjung membuat Runi hamil.
Hingga di titik putus asa keduanya, tiba-tiba Ivy kecil tumbuh di dalam rahim Runi.
Kebahagiaan besar datang, Ivy adalah sumbernya. Begitu besarnya perjuangan untuk mendapatkan Ivy membuat kedua orangtuanya lupa, mempunyai anak bukan hanya tentang memberikan segalanya. Tapi juga harus menjadikannya seorang manusia yang memiliki rasa.
Ivy tidak pernah kekurangan satu apapun. Hidupnya serba berkecukupan dan tak mengenal rasa sakit. Ada Daddy-nya yang akan selalu berada di depan Ivy. Ngocoks.com
“Sudah tidur, Bik?”
Ivy berdiri di pinggir pintu kamar Axel. Dia baru saja selesai makan malam, seorang diri karena suaminya belum juga muncul. Katanya, Arya sedang ada perjalanan dinas ke luar kota.
“Sudah, Bu.”
“Bagus, aku mau ke kamar dulu.”
“Nggih, Bu.”
Axel sudah tidur di kamar terpisah dengan penjagaan dari Bik Tini yang tidur di kamar sebelahnya. Ivy sendiri tidur di kamar utama yang berada di lantai dua. Meskipun barang-barang suaminya ada di kamar ini, tapi mereka jarang menghabiskan malam bersama. Hanya sesekali jika Ivy sudah menjatuhkan harga dirinya dan meminta berbagi ranjang terlebih dahulu. Tetapi setelah semuanya terjadi, suaminya akan kembali menghilang.
Kamarnya selalu sepi, dingin dan tak memiliki kenangan apapun diantara dia dan Arya. Ada sesal yang bersirobok di dalam hatinya mendapati keluarganya yang rapuh, berlubang disana-sini. Tapi karena ini sudah menjadi keputusannya, Ivy tetap melangkah teguh. Sering sekali Ivy menertawakan dirinya sendiri, sudah lima tahun tidak ada Puspa dalam hidup Arya tapi nyatanya tetap tidak ada namanya di dalam hati suaminya.
Ya, Ivy sudah memastikan itu. Puspa tidak ada lagi, ia sengaja meminta orangnya untuk menawar rumah ibu Puspa dengan harga yang jauh lebih tinggi dari pasaran hanya agar Arya kehilangan jejak wanita itu.
Setiap Arya mencari pesuruh untuk mencari Puspa, dengan mudah Ivy menggagalkannya.
Tragis memang hidup Ivy!
Malam ini, ia memilih menyindiri di balkon kamar dengan satu bungkus rokok yang terbuka. Ia mengambil satu putung rokok lalu menyelipkan diantara kedua bibirnya.
“Ini tidak baik.” Arya muncul dari balik pintu kamar lalu mengambil rokok itu dan membuangnya asal.
Tak habis akal, Ivy kembali mengambil satu putung rokok dan Arya kembali membuangnya beserta satu bungkus rokok yang berada di meja. “Tumben pulang,” sindirnya.
“Aku kangen Axel.”
Sakit! Axel-lah yang menjadi senjata utamanya untuk mempertahankan Arya di sisinya. Laki-laki itu sangat menyayangi anaknya tapi tidak dengan dirinya.
Arya berjalan masuk lalu membuka jas dan meletakannya di box loundry. “Besok Axel aku bawa ke kantor ya?” ucap Arya meminta izin.
“Nggak sekalian istrinya dibawa ke kantor?”
“Nanti kamu bosan.”
“Aku tidak bosan.”
“Vy …”
“Apa karena ada wanita itu di sana?” tanya Ivy menantang.
Sejak beberapa hari yang lalu Arya mengatakan bahwa ia menemukan Pupsa, Ivy dengan cepat mencari tahu dimana wanita itu berada. Dan begitu indahnya takdir Arya dan Puspa, wanita itu datang ke perusahaan Arya dengan sendirinya. Ivy sempat menduga Puspa sengaja tapi orang kepercayaannya memastikan bahwa itu semua tidak ada unsur kesengajaan. Kenapa takdir tidak pernah mempermudah jalan ceritanya?
“Tidak usah membahas itu lagi.”
“Mas Arya masih mencintai Puspa?” tanya Ivy. Ia duduk di hadapan Arya yang sedang berdiri melepas pakaiannya.
“Aku mau mandi.”
Ivy menarik tangan Arya yang hendak pergi, ia memaksa laki-laki itu untuk tetap berdiri di depannya.
“Apa lagi?” tanya Arya lemah.
“Mas Arya masih cinta sama wanita itu? Masih berharap sama wanita itu?” Ada kemarahan yang kentara, cemburu dan rasa tidak rela. Sekarang ini, Arya bukan hanya tentang cintanya. Tapi tentang keluarga, ayah dari anaknya, suaminya!
“Aku sudah mengatakan sejak awal, kamu tidak akan pernah mendapatkan cinta dariku, Vy. Kamu sudah mendapatkanku, bukankah ini maumu?”
“Aku mau cinta dari Mas Arya.”
“Aku sudah mengatakan dari awal aku tidak bisa. Perasaan tidak bisa dibentuk sesuai kemauanmu!” Kalimat Arya cukup meninggi di bagian akhir. Lalu ia menyesal setelahnya karena sudah membentak. Semarah-marahnya Arya kepada Ivy, dia tetap menjaga perasaan wanita itu. Ivy istrinya, seorang wanita yang ia jaga seperti adiknya sendiri. Arya menyayangi Ivy sebagai seorang perempuan, seperti ia menjaga ibunya. Dan ia semakin merasa kacau saat menyadari dia tak bisa menjaga Puspa.
“Tapi, Mas Arya sudah berjanji untuk berusaha.” Ada satu tetes air mata yang tak bisa Ivy bendung. Seumur hidupnya, sesuatu yang sangat ia inginkan hanyalah Arya. Dan sesuatu yang benar-benar menyakitinya memiliki nama yang sama.
“Apa menurutmu selama ini aku tidak berusaha? I’m trying, Vy! Aku selalu berusaha, bahkan jika itu harus menghancurkanku, aku tetap mencoba. Demi kamu, demi keluarga kita, demi Axel!” Kemarahan itu semakin tersulut, Arya lelah dengan takdirnya. Ia lelah untuk berpura-pura tidak apa-apa di hadapan semua orang yang seharusnya menjadi tempat pelepas penatnya.
“Jika kamu ingin semuanya baik-baik saja, aku mohon jangan menuntut,” pinta Arya. Ia menarik tubuh istrinya untuk mendekat. “Aku minta maaf sudah membentakmu.”
“Hikz.”
“Vy, jangan menangis. Aku paling tidak suka melihatmu menangis.”
“Aku takut kehilangan Mas Arya, aku takut Axel kehilangan ayahnya.”
Ivy memeluk tubuh Arya ketakutan, sedangkan laki-laki itu hanya bisa membalas pelukan Ivy dengan perasaan berkecamuk di dalam dada. Arya menengadahkan kepalanya mengusir gusar, mencoba sekuat tenaga untuk tetap bernafas normal meskipun rasa di dadanya meletup tak karuan. “Aku mau mandi,” ucap Arya sambil mencoba melepaskan pelukan Ivy.
“Kita mandi bareng, Mas,” tawar Ivy.
“Vy, aku capek.”
“Please, katanya Mas Arya mau mencoba.”
“Ivy.”
Ivy menarik tangan Arya untuk mengikutinya. Tak bisa menolak, Arya mengikuti langkah Ivy masuk ke dalam kamar mandi. Dengan cekatan Ivy menyiapkan air hangat di bath up. “Mandi air hangat bisa melemaskan otot-otot yang tegang,” ucap wanita itu sambil tersenyum. “Biar nggak capek lagi.”
Setelah menyiapkan semuanya, Ivy membantu Arya melepaskan pakaiannya satu persatu. Ia meminta Arya untuk masuk terlebih dahulu lalu ikut melepaskan pakaiannya sendiri sebelum ikut masuk ke dalam bath up yang sama dengan suaminya. “Vy,” tegur Arya saat tangan Ivy bergerak turun.
“Ivy cuma mau mijit, biar Mas Arya nggak capek lagi.”
Arya tahu itu hanya tipu muslihat istrinya. Ia memejamkan mata saat tangan Ivy bergerak memijit tubuhnya. Tapi jelas itu hanya di awal, karena setelahnya tangan Ivy bergerak lincah di bagian tubuh sensitive milik Arya. “Vy,” panggil Arya dengan geraman.
“Ivy mau Mas Arya malam ini,” ucap Ivy menuntut pasti.
Arya memejamkan mata, mempersilahkan apa yangdiinginkan istrinya pada tubuhnya. Tubuh Arya memang milik istrinya, tapi hatinya tidak. Hanya ada satu nama yang memiliki hatinya. Satu nama yang selalu Arya sebut dengan sebuah permohonan maaf tanpa kata.
Bersambung… Time flies.
Puspa merasa tenang dengan kehidupannya saat ini. Bekerja, tidur, baca novel dan bekerja lagi. Tak ada yang perlu ditakuti, tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Arya tak lagi menemuinya dan Raka sudah tak duduk di samping tempat duduknya. Seperti inilah kehidupan yang diinginkan Puspa. Landai tak ada masalah, kuncinya hanya satu : Puspa hanya perlu menghindari berinteraksi di luar pekerjaan dengan orang lain.
Meskipun, ada setitik rindu yang Puspa rasakan untuk Raka. Biasanya laki-laki itu yang sering memberi warna dalam hidupnya, warna yang sangat dihindari Puspa karena sewaktu-waktu orang yang sama bisa merebutnya kembali.
“Hari ini ikut gue meeting, ya?” titah Mbak Dwi.
“Gue, Mbak?” tanya Puspa ragu sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
“Iya, kenapa?”
“Kenapa nggak yang lain? Yang lebih senior gitu, gue baru—.”
“Gue males ribet sama mereka, lo tahu kan banyak yang nggak suka sama gue karena di anggap ribet termasuk Raka.” Mbak Dwi mengucap kalimat itu dengan cepat tanpa berniat memberikan jeda kepada Puspa untuk menjawab. “Nanti jam satu.”
“Ya, Mbak,” jawab Puspa akhirnya. Dia malas mendebat.
Puspa mendengar bunyi notifikasi pesan masuk di ponselnya, lalu senyumnya merekah membaca baitan pesan yang dikirim Raka, meskipun berbanding terbalik dengan pesan yang ia balas untuk laki-laki itu.
Raka : Selamat bekerja Tuan Putri.
Me : Basi lo!
Raka : Gue akan ngulang2 terus kalimat ini sampai lo sadar kalau gue serius. Gue kangen sama Ningrum.
Puspa malas menjawab, ia lebih memilih meletakan ponselnya di meja lalu menyiapkan beberapa berkas yang dibutuhkan Mbak Dwi untuk meeting siang nanti.
Sial sedang menyambut Puspa, ia tidak menanyakan dengan siapa meeting siang ini. Dan saat derap langkah kaki mendekat ke dalam ruangan, Puspa tak lagi bisa keluar melarikan diri. Ia melihat mata Arya yang terkesiap saat bertemu dengan bola matanya, namun dengan cepat laki-laki itu mengalihkan perhatiannya ke tempat lain.
“Saya tidak punya waktu banyak, bisa segera dimulai saja presentasinya.” Arya bertitah yang langsung diikuti seluruh peserta rapat.
Semua orang di ruangan ini memperhatikan presentasi yang dipaparkan bagian HRD. Selama rapat Puspa mencuri pandang ke arah Arya yang menautkan perhatian penuh ke arah depan. Laki-laki itu sama sekali tidak melihat ke arahnya. Lalu Puspa merasa bodoh, kenapa harus ia berharap Arya melihatnya?
Setelah selesai Arya mengomentari sekilas presentasi hari ini dan lalu langsung berniat pergi.
Jika tidak salah menduga, Arya terlihat tidak nyaman. Seperti yang Puspa kira sebelumnya, mungkin Arya menyesal dengan pertemuan terakhir mereka dan merasa tidak enak hati karena harus bertemu dengannya lagi. Seharusnya, Puspa-lah yang merasa tidak enak hati karena tempat ini memang bukan tempatnya. Seharusnya Puspa tidak ada disini.
Sebelum acara ditutup, ada sedikit penyampaian dari tim HRD. Namun tiba-tiba …
Arya jatuh. Laki-laki itu terlihat kesakitan sambil memegangi dadanya yang sesak. Puspa tahu, Arya memiliki riwayat asma. Biasanya ia menyimpan inhaler di tas kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. Arya melihatnya dengan tatapan mata meminta pertolongan. Kemana laki-laki yang biasa bersama Arya? Puspa menyapu ruangan tapi tak menemukan laki-laki itu disini.
“Pak Arya!” panggil Mbak Lita. Ia duduk di samping Arya terlihat kebingungan. Mungkin wanita itu juga tidak tahu jika Arya memiliki riwayat asma dan saat ini sedang terkena serangan. “Panggil satpam, panggil Anton atau siapapun itu,” titah Mbak Lita ke semua karyawan yang ada di ruangan sama. Mereka semua berdiri disekitar Arya padahal seharusnya hal itu tidak boleh dilakukan.
“Anton! Anton!” teriak Mbak Lita bingung.
Puspa memang membenci laki-laki itu, tapi membiarkan Arya kesakitan pun juga tak membuatnya merasa lebih baik. Jauh di lubuk hati Puspa yang paling dalam, dia menyayangi Arya dan tidak ingin terjadi sesuatu yang membahayakannya.
Setelah memupuk keberanian, Puspa berlari mendekat lalu mendudukan tubuhnya di samping Arya. Dengan cekatan tangan wanita itu mengambil inhaler yang ada di tas Arya, lalu menyiapkan obat yang biasanya sudah terpasang disana. Puspa mendudukan tubuh Arya, menahannya di pangkuan dan meletakan kepala Arya di bahunya. Ia membantu Arya memasukan inhaler ke mulut lalu menyemprotkan obatnya. “Tahan dulu,” tutur Puspa. Wanita itu menghitung sampai sepuluh detik agar obat masuk ke dalam paru-paru. “Aku semprot lagi ya,” ucap Puspa meminta persetujuan.
Arya mengangguk, tangan kirinya berada di atas tangan Puspa yang sedang menggenggam inhaler sedangkan tangan kanannya memegang kuat tangan Puspa lainnya. Puspa sering membantu Arya dulu, saat laki-laki itu mendapatkan serangan asma. Dan saat ini pun, semuanya masih tersimpan jelas di kepalanya.
“Sekali lagi,” ucap Puspa dan Arya mengangguk setuju. “Tahan dulu.”
Arya mengikuti setiap instruksi yang dititahkan Puspa kepadanya. Semua itu terekam dengan jelas oleh semua karyawan yang hadir termasuk Mbak Dwi dan Mbak Lita. Anton datang setelahnya dan meminta karyawan lain untuk keluar ruangan. “Sudah enakan?” tanya Puspa.
Arya menggeleng.
“Masih mau disemprot lagi?”
“Cukup,” jawab Arya sambil memejamkan mata.
Mereka tidak sadar bahwa posisi mereka saat ini … begitu dekat, intens dan intim. Arya terkapar di lantai dengan tubuh bagian atas bersandar di dada Puspa yang duduk di belakang laki-laki itu. Tangan kiri Puspa saat ini memeluk kepala Arya yang masih terpejam dan terlihat tidak nyaman. Sedangkan tangan lainnya digenggam erat tangan Arya seperti meminta kekuatan.
Puspa mengusap pipi Arya dengan lembut seperti yang ia lakukan dulu saat laki-laki itu terkena serangan asma. Biasanya hal ini bisa mengurangi kecemasan yang bisa memperparah serangan. “Masih sesak?” tanya Puspa sekali lagi.
“Sudah lumayan.”
Arya membuka mata, terpaku melihat wajah Puspa yang begitu dekat di depan matanya. Jeda dibiarkan sejenak, saat Arya melihat tatapan mata Puspa yang tak menyimpan benci. Wanita itu melihat ke arah Arya dengan khawatir, —seperti dulu. Jika boleh sebentar saja Arya ingin moment ini berhenti sesaat. Dia ingin kembali merasakan rasanya jadi Arya yang (sangat) dicintai Puspa-nya.
Namun harapan Arya pupus, ketika tiba-tiba wanita itu menjauhkan tubuhnya. Puspa berdiri dan terlihat canggung menatap ke arah Mbak Lita dan laki-laki bernama Anton.
“Terima kasih, Puspa,” ucap Anton.
Mbak Lita dan Puspa sendiri sedikit terkejut laki-laki itu tahu namanya.
“Yaa, terima kasih kembali. Saya senang bisa membantu Pak Arya. Saya pernah memiliki pengalaman merawat seseorang yang memiliki riwayat asma,” jelasnya tidak mau terlihat khawatir dengan Arya.
“Siapa?” tanya Arya lemah. “Siapa yang memiliki riwayat asma?”
Puspa membeku, otaknya bingung menjawab pertanyaan Arya yang seharusnya mudah.
“Siapa, Puspa?” Arya menuntut.
“Seseorang yang berada di masa lalu saya.”
“Apakah orang itu tak lagi penting buatmu?” tanya Arya.
“Pak Arya,” panggil Anton memperingatkan. Dia tidak mau Arya kehilangan logika. Ada Lita disini yang mengenal Ivy. Tidak baik jika sampai hubungan keduanya yang sebenarnya tidak ada apa-apa, jadi diketahui orang lain.
Arya berdiri merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.
“Orang itu penting buat saya. Sejak dulu sampai sekarang,” jawab Puspa akhirnya. Ada keinginan kuat di dalam hati Puspa untuk menanyakan alasan Arya menciumnya, alasan Arya kembali mendekat, alasan dulu dia pergi begitu saja. Banyak sekali yang ingin Puspa tanyakan kepada Arya.
“Lalu?”
“Lalu apa?” tanya Puspa.
“Lalu jika dia masih menjadi orang yang penting, kenapa sekarang tak lagi sama?”
“Laki-laki itu yang memilih pergi meninggalkan saya.”
“Berikan salamku kepada orang yang memiliki takdir yang sama denganku itu. Kalau boleh aku menyarankan, beri kesempatan kepadanya untuk menjelaskan,” ucap Arya kemudian berlalu pergi.
Anton mengikuti Arya dibelakangnya, sedangkan Mbak Lita lebih memilih berdiri dengan canggung di samping Puspa. “Kamu baik-baik saja?” tanya Mbak Lita. Ngocoks.com
“Saya baik.”
“Puspa,” panggil Mbak Lita menghentikan langkah Puspa. Ada jeda sebentar yang dibiarkan keduanya hening tanpa suara. “Seharusnya aku tidak ikut campur. Selama aku bekerja dengan Pak Arya, aku tidak pernah melihat laki-laki itu menatap seseorang dengan begitu … dalam. Bukankah lebih baik kalian berbicara?”
Puspa tak menanggapi lalu memilih untuk meninggalkan ruangan meeting dengan perasaan tak menentu. Ia masuk ke dalam toilet yang sepi dan mendudukan tubuhnya disana. Tatapan mata Arya yang sendu, kedekatan mereka yang masih jelas terasa nyata. Puspa berusaha menetralkan perasaanya sendiri dari rasa yang tak ia pahami.
Dia membenci Arya, tetapi kenapa perasaan Arya terasa begitu nyata?
Bapak : Besok minggu datang ke rumah. Mentari ulang tahun.
Puspa tersenyum ceria saat melihat pesan di ponselnya. Setelah cukup lama menunggu akhirnya ia bisa bertemu dengan ayah. Ayah Puspa bekerja sebagai seorang distributor makanan beku, laki-laki itu sering bekerja di jalan dan jarang berada di rumah. Oleh sebab itu, Puspa hanya akan berkunjung saat ayahnya ada di rumah.
Me : Ningrum akan datang.
Pagi harinya Puspa menyiapkan segalanya dengan sempurna, ia sudah membelikan sebuah tas sekolah berwarna pink untuk Mentari, adik tirinya yang lucu. Sebelum jam enam pagi Puspa hendak berangkat, rencananya ia akan pergi ke Bandung menggunakan kereta.
Pintu di ketuk dari luar. Puspa sempat menajamkan pendengarannya untuk memastikan tamu yang datang. Jarang sekali ada yang bertamu di rumah Puspa. Dia tidak punya teman atau pun sahabat. Paling ada beberapa tetangga yang cukup ia kenal, tapi itu pun tidak lebih dari jumlah jari di tangannya.
Puspa yakin ketukan itu ada di pintu rumahnya. Puspa melangkah untuk membukakan pintu dengan menghela nafas dalam sebelumnya. Saat membuka pintu, Puspa terkejut dengan kehadiran tamu tak diundang yang berdiri di depan rumahnya.
“Gue udah sering bilang kalau gue kangen sama Ningrum.”
“Raka?”
“Nama gue masih sama.”
“Ngapain lo disini?” tanya Puspa. Ia terlalu terkejut melihat tubuh Raka yang berdiri di depan rumahnya di pagi hari.
“Mau ngajakin lo jalan,” jawabnya enteng.
Tanpa dipersilahkan laki-laki itu masuk ke dalam rumah Puspa lalu mendudukan tubuhnya di sofa kecil depan TV. Seperti perumahan minimalis pada umumnya, rumah Puspa hanya terdiri dari ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang tengah dengan dua kamar tidur dan satu dapur yang berada di luar bagian belakang.
Raka melihat satu tas jinjing cukup besar tergeletak di sofa. Lalu matanya menatap Puspa penuh tanda tanya.
“Apa?” tanya Puspa bingung.
“Lo mau pergi?”
“Iyaa.”
“Kemana?”
“Ke rumah bokap gue.”
“Gue anter,” putus Raka. Dia tidak rela hari minggu-nya berakhir tidak dengan Puspa.
“Nggak! Jauh. Bokap gue tinggal di Bandung.”
“Gue bawa mobil kok,” jawabnya menuntut persetujuan. Raka punya mobil, meskipun ia beli second tapi masih berfungsi dengan baik karena rajin di service.
“Raka …”
“Gue jauh-jauh dari Bekasi lho, Rum. Gue udah kangen banget sama lo. Gue anter, ya?” Raka adalah salah satu makhluk ter-santai yang pernah Puspa temui di bumi. Dengan gamblang laki-laki itu menunjukan perasaannya kepada Puspa.
“Nggak.”
“Yes?”
“Nggak.”
“Yes?”
Puspa menghela nafasnya berat, lalu merutuki takdirnya yang selalu dikelilingi manusia-manusia pemaksa seperti laki-laki di hadapannya. “Terserah.”
“Yes!!” Kalimat ini bukan lagi dengan tanda tanya persetujuan, tapi Raka mengucapkannya dengan tangan yang mengepal ke udara seakan sedang berselebrasi saat mendapatkan persetujuan Puspa.
“Silahkan Tuan Putri, lebih baik kita berangkat sekarang.”
Mereka berdua berjalan ke luar bersama dengan Puspa yang terlebih dahulu memastikan satu persatu pintu dan jendela rumahnya sudah terkunci.
“Mobil gue bekas tapi rajin di service jadi gue pastiin aman di perjalanan.”
Puspa duduk di samping Raka dengan beberapa barang ia letakan di kursi belakang. “Motor lo kemana?” tanya Puspa.
“Service dong! Motor lo udah di service?”
“Udah.”
“Di mana?”
“Gue minta tolong Pak Tejo, gue nggak tahu tempat service deket rumah.”
“Waah, dah sohib lo sekarang sama si doi?”
Puspa hanya tersenyum.
“Terus lo besok berangkatnya gimana?” tanya Raka masih berusaha membuka percakapan dengan si irit bicara bernama Puspa.
“Pakai ojek online.”
“Gue anter.”
“Jangan ngaco! Lo dari Bekasi terus kesini terus—.”
“Gue bisa tidur di sini, kan?” putus Raka yang hanya mendapatkan tatapan maut dari Puspa. “Bercanda, Ningrum. Hidup lo kaku banget dah.”
Raka tak lagi berbicara, ia memilih menghidupkan mobil dan mulai membawa mobilnya ke arah Bandung. Perjalanan mereka kali ini ramai karena hujan datang dengan deras. Sepanjang perjalanan sesekali mereka berbincang tapi tidak banyak karena Puspa lebih suka menikmati hujan dan entah kenapa Raka menyukai pemandanganan itu. “Pulang dari Bandung kita mampir ke pantai, gimana?” tanya Raka memecah sepi.
“Gue nggak suka pantai.”
“Seriously? Ayolah Puspa, tidak ada yang tidak suka pantai.”
“Ada —gue.”
“Kenapa?”
“Tidak perlu ada alasan untuk tidak menyukai sesuatu,” jawab Puspa.
“Lo pasti punya kenangan buruk di pantai.”
Katanya, senja itu indah karena menyimpan kenangan.
Senja itu selalu cantik karena dia selalu di atas bersama langit, tak bisa digenggam apalagi dimiliki.
“Gue terlalu banyak menyimpan kenangan buruk dimanapun, itulah sebabnya gue cuma suka di rumah.”
“Ningrum,” panggil Raka pelan tapi dengan nada penekanan yang lembut. “Semua orang punya masa lalu yang buruk.”
“Gue tahu.”
“Mungkin lo bisa cerita ke gue, tentang masa lalu lo.”
Puspa menggeleng. Raka hanyalah seorang manusia yang menuntut masuk ke dalam hidupnya. Dia tidak percaya Raka, tidak juga memiliki keinginan lain dengan Raka. Bagi Puspa, Raka hanyalah manusia yang nantinya juga akan pergi meninggalkannya. Seperti kedua orangtuanya, seperti Arya.
“Orangtua gue bercerai, bokap gue selingkuh di depan mata gue sendiri,” ucap Raka tiba-tiba.
Kalimat Raka mampu menarik perhatian Puspa. Wanita itu menelisik ke arah Raka yang mampu menceritakan masa lalu buruknya itu dengan wajah biasa saja tanpa kesedihan.
“Bokap dan nyokap bercerai saat gue masih usia … sepuluh tahun mungkin, waktu gue masih SD. Gue dan adik ikut nyokap, abang ikut bokap. Sekarang dia jadi dokter dengan segala kekayaan dari bokap.”
Puspa mendengarkan.
“Sedangkan kehidupan nyokap jauh dari kata cukup. Kita berjuang dari nol hingga sampai detik ini kita bisa makan tanpa perlu ngutang. Gue benar-benar dididik tanggung jawab dari kecil, sampai saat ini pun gue sudah menjadi kepala keluarga buat adik sama nyokap gue.”
Raka bercerita banyak, tak merasa canggung untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi yang sangat tidak pantas untuk dibanggakan. “Tapi gue tetap bersyukur, gue bahagia punya mereka.”
“Tapi tidak ada yang bisa disyukuri dari hidup gue, Raka.”
“Lo pernah diucapkan ‘selamat ulang tahun semoga panjang umur’ dari bokap lo?”
Puspa tak tahu kemana arah pertanyaan Raka. Wanita itu terlihat berfikir sebelum kembali membuka suara. “Pe—pernah.”
“Gue nggak pernah mendapatkannya.”
Puspa membisu, menyerap makna di balik kalimat Raka yang menyakitkan.
“See? Terkadang apa yang lo miliki itu adalah hal yang paling diinginkan orang lain. Terkadang apa yang lo anggap simpel itu belum tentu dimiliki orang lain. Lo punya rumah itu adalah hal yang paling diinginkan orang yang ngontrak. Lo punya kedua orangtua lengkap, meskipun bercerai tapi lo masih bisa melihatnya sewaktu-waktu, lo masih bisa denger suaranya. Dan itu adalah hal yang paling diinginkan dari anak yang orangtuanya sudah meninggal.”
Raka benar.
“Masalah itu pasti ada, lo mungkin hancur berantakan. Tapi inget, akan selalu ada hal yang bisa disyukuri dalam hidup lo. Termasuk gue! Gue yakin lo pasti bersyukur banget ada Raka di dalam hidup lo.” Raka mengucapkan kalimat itu dengan santai dan penuh percaya diri.
“Najis!”
“Bhahaha, jangan terlalu spaneng Puspa,” ucap Raka sambil mengacak-acak rambut Puspa dengan gemas.
Wanita itu ikut tersenyum lalu memukul bahu Raka dengan sebal. Sedangkan yang dipukul hanya bisa senyum-senyum penuh makna. “Gue punya kenangan buruk karena ditinggalkan. Bapak dan ibu gue sering bertengkar di depan mata gue langsung. Gue bahkan terdaftar menjadi salah satu pasien di klinik psikiatri.”
Puspa melihat ke arah Raka yang tak merubah raut wajahnya.
“Kenapa?” tanya Raka saat melihat Puspa yang melihatnya dengan intens.
“Gue sakit jiwa!”
“Gue pun kalau ke dokter jiwa belum tentu sehat. Lo malah lebih preventif dulu datang ke psikiatri.”
“Raka.”
“Yaa?”
“Gue wanita rusak.”
“Hahaha, sama. Mungkin itu alasan kita bertemu. Kita adalah dua manusia rusak yang dipertemukan untuk saling melengkapi.”
Bersambung… Jam setengah sebelas siang Raka dan Puspa sudah sampai di rumah Ayah Puspa di Bandung. Mereka sempat berhenti untuk sarapan karena Raka mengeluh lapar, ditambah Puspa yang salah memberikan arahan membuat mereka sedikit terlambat sampai di rumah.
Wanita memang paling tidak bisa diandalkan untuk membaca ‘map’.
Acara ulang tahun dimulai jam sembilan pagi. Jadi, saat mereka berdua datang sudah banyak anak kecil yang berkumpul di rumah.
“Teteeeh,” panggil Mentari. Adik kecil-nya itu cukup dekat dengan Puspa, beberapa kali mereka sempat bertemu dan bermain bersama. Meskipun tidak lama tapi Puspa bersyukur Mentari mengingatnya.
“Hai, selamat ulang tahun Princess.”
“Terima kasih, Teteh.”
“Sami-sami.”
“Nduk, tadi macet?” Ayah Puspa muncul dari dalam rumah, ia menyambut tangan Puspa yang menciumnya lalu sedikit terkejut saat melihat laki-laki yang berdiri di belakang tubuh Puspa.
“Nggak macet, cuma tadi sedikit nyasar soalnya Puspa sudah jarang kesini.”
“Ini siapa?” tanya ayah Puspa yang justru tak menanggapi kalimat anaknya. Mata laki-laki itu terkunci ke arah Raka yang berdiri dengan canggung di belakang tubuh Puspa.
“Saya Raka.”
“Temen?”
“Calon, Pak,” jawab Raka.
Puspa melihat Raka dengan tatapan tidak suka. Protes dengan jawaban Raka yang seenaknya sendiri.
“Calon pacar.” Raka menambahkan dengan nada bercanda, seperti seorang Raka yang begitu percaya diri. Tapi sayangnya, ayah Puspa tak menanggapi dan berakhir dengan Raka yang jadi salah tingkah sendiri.
Ternyata tidak hanya Puspa yang kaku tapi ayahnya pun terlihat sulit menerima orang baru.
“Ayo masuk, Nduk,” ucapnya mempersilahkan tapi hanya nama Puspa yang disebut.
Hingga siang menjelang acara ulang tahun berjalan lancar. Raka hanya duduk dari jauh melihat Puspa yang ikut dilibatkan dalam acara. Meskipun Puspa adalah wanita yang jarang tersenyum, tapi saat berada disekitar keluarganya wanita itu seakan menjadi sosok yang berbeda.
Senyum ceria dengan mata bulat yang memancarkan kebahagiaan.
Mata Raka tertaut ke senyum Puspa yang lebar. Wanita itu sesekali tersenyum ke arahnya dan Raka membalasnya. Detik terasa begitu lambat berjalan saat Raka menikmati wajah Puspa yang tertawa ceria. Sangat jarang Raka mendapati senyum Puspa seperti sekarang ini.
“Namanya siapa tadi?” Ayah Puspa tiba-tiba duduk di samping Raka, membuat laki-laki itu malu. Pasti ayah Puspa mendapati dirinya yang sedang mengamati anaknya diam-diam.
“Saya, Raka,” jawabnya.
“Sudah berapa lama kenal?”
“Hampir tiga bulan.”
“Baru ya, kenal dimana?” Seperti ayah pada umumnya, ayah Puspa mulai banyak bertanya. Suasana yang sebelumnya hangat berubah menjadi mencekam.
“Kita bekerja di kantor yang sama.”
“Oh,” jawab laki-laki itu singkat. “Rumahnya dimana?”
“Saya di Bekasi, Pak.”
“Tinggal sama keluarga?”
“Saya tinggal sama ibu dan dua adik perempuan.”
“Ayah?”
“Ayah dan ibu sudah bercerai,” jawab Raka dengan tetap mempertahankan garis bibirnya ke atas. “Bapak, namanya siapa Pak? Maaf saya belum sempat bertanya ke Puspa,” tanya Raka untuk menghentikan proses interview satu arah yang terasa mencekat tenggorokannya.
“Saya Andang.”
“Oh ya, Pak Andang.”
Mereka berdua kembali diam, entah kenapa ada sedikit rasa canggung yang sangat kentara. Raka yang biasanya dengan begitu mudah dekat dengan orang baru berasa menjadi amatiran. Kicep!
“Saya menyayangi Ningrum —sangat,” ucap Pak Andang tiba-tiba dan pelan tapi bermakna dalam.
Oke, semua orang tahu. Dari cara melihat Pak Andang ke Puspa tentu menunjukkan kasih sayang yang besar seorang ayah untuk anaknya.
“Saya tidak akan pernah membiarkan Ningrum tersakiti —lagi,” tambahnya.
Ada sebuah perbincangan yang ingin dibuka Pak Andang dan Raka menyambutnya. Laki-laki itu memposisikan duduknya menghadap ke arah Pak Andang dengan kedua tangan yang terbuka lebar. “Saya berjanji tidak akan menyakiti Puspa.”
Pak Andang tersenyum meremehkan. “Dulu sudah ada yang pernah mengatakan hal itu ke saya dan bodohnya saya percaya.” Pak Andang berucap dengan mata yang menatap jauh ke masa lalu. “Lalu laki-laki itu tidak menepati janjinya. Dia justru membuat anakku semakin hancur.”
Raka menghela nafas dalam saat merasa perbincangan siang ini semakin berat. Ada rasa sakit yang tercetak jelas di dalam raut wajah laki-laki paruh baya di hadapannya ini.
“Saya adalah laki-laki pertama yang menyakiti Ningrum dan laki-laki itu benar-benar menyempurnakan rasa sakit yang dirasakan anakku,” jelas Pak Andang dengan rasa sedih yang terlihat nyata. Laki-laki itu sekarang menatap lurus ke arah Puspa yang sedang bercanda dengan Mentari. “Saya pernah berharap, Ningrum akan mendapat pasangan yang melengkapinya. Tidak seperti ayahnya yang … egois.”
“Ningrum pasti akan mendapatkan laki-laki yang bisa membahagiakannya.”
Pak Andang menggeleng ringan, ia mengalihkan tatapan dari arah Puspa ke Raka. “Itu tidak akan mudah. Wanita itu … terlalu sulit untuk kembali membuka hatinya.”
Raka ingat dengan Puspa yang tidak menyukai pantai. Tentang kenangan buruk dan semua sisi lain yang coba Puspa tutupi dengan penarikan diri. Ada rasa ingin tahu di hati Raka tapi ada rasa yang lebih dominan dibanding rasa ingin tahunya, rasa yang mulai Raka sadari secara nyata.
Dia jatuh cinta pada wanita bernama Puspa dengan segala retakan yang ada didalamnya.
“Jangan sakiti hati anakku. Jika tidak berniat serius, saya sebagai ayah memohon dengan sangat untuk segera pergi. Karena rasa sakit yang Ningrum alami akan sampai ke sini,” tunjuk Pak Andang ke arah dadanya. “Tidak ada rasa sakit melebihi rasa sakit seorang ayah yang melihat anaknya hancur karena dirinya sendiri dan laki-laki yang sudah ia percaya.”
Setelah acara selesai, Raka dan Puspa kembali ke Jakarta menjelang senja. Mereka jalan setelah selesai makan bersama keluarga Puspa.
“Kenapa?” tanya Puspa tiba-tiba.
“Kenapa apanya?”
“Tumben Raka diem, biasanya nyerocos bercerita banyak.”
“Gue lagi pengen diem.”
“Hahaha, lo nggak pantes.”
“Gue lagi mikir,” ucap Raka dengan mata yang menunjukan wajah berfikir serius.
“Mikir apa?”
“Ntar juga lo tahu.”
Puspa tak mau menanggapi, wanita itu lebih memilih menikmati pemandangan asri melalui jendela sebelah kiri. Hujan sudah reda menyisakan sepi dimana-mana.
Puspa menegakan tubuhnya saat tiba-tiba mobil Raka berhenti di tepi jalan. “Kok berhenti?”
“Mampir sebentar.”
Puspa keluar dari mobil dan matanya langsung dimanjakan pemandangan kota Bandung dari tempatnya berdiri saat ini.
“Sudah pernah kesini?” tanya Raka.
Puspa menggeleng dan tak mengalihkan perhatiannya dari arah pemandangan kota di bawahnya yang penuh dengan cahaya. Tempat ini sepi dan sejuk, apalagi hujan baru saja turun menambah suasana menjadi dingin yang syahdu.
“Tadi gue lagi mikir mau bawa Ningrum kemana dan tempat ini adalah pilihan gue.”
Puspa tersenyum sambil menunjukan kedua jempol tangannya ke arah Raka. “Bagus.”
“Dibanding pantai, gue lebih memilih membuat kenangan yang baru buat lo, buat kita.”
Puspa menatap Raka dengan kedua alis berkerut. “Gue nggak paham sama apa yang lo omongin.”
“Gue cinta sama lo, Puspaningrum.”
Kalimat yang baru saja Raka ucapkan mampu membuat tubuh Puspa menegang. Sebagai seorang wanita yang menghindari sebuah masalah, kata ‘cinta’ seperti sebuah mantra terkutuk yang tak boleh disebut disekitarnya. “Gue nggak percaya sama cinta.”
“Kita nikah.”
“Gue juga nggak percaya pernikahan. Kita berdua berdiri disini sebagai korban dari pernikahan yang katanya dianggap sakral tapi nyatanya banyak yang menghancurkannya sendiri.”
“Setidaknya kita bisa mencoba.”
“Gue nggak bisa.”
“Kenapa?” tanya Raka sambil menahan tangan Puspa yang berniat pergi.
“Gue pernah percaya, tapi kepercayaan gue dihancurkan begitu saja.”
“Apa yang terjadi di masalalu lo?” tanya Raka menuntut penjelasan. “Lo nggak akan pernah bisa membuka hati kalau belum selesai sama masa lalu, Puspa.”
Puspa menengadahkan kepalanya saat merasa apa yang diucapkan Raka adalah benar. Ada begitu banyak pertanyaan di otak Puspa untuk Arya. Ada begitu banyak rasa yang ingin ia sampaikan kepada laki-laki itu. Ada rasa tertahan yang selalu menghantui kehidupan Puspa setelah Arya pergi.
Raka menarik tangan Puspa lalu menggenggamnya. Ia merangkum wajah wanita itu untuk melihat ke arahnya. Ia ingin Puspa melihat ke dalam matanya. Ia ingin Puspa menemukan keseriusan di dalamnya. “Kita berhak bahagia, Puspa. Gue mau ngebuat lo bahagia.”
Puspa tak bergeming.
“Selesaikan dulu masa lalu lo dan kita mulai kehidupan kita sendiri.”
“Raka, please.” Puspa menolak, ia menarik tangannya dari genggaman tangan Raka.
“Puspa, gue mohon. Kasih kesempatan ke gue buat ngebuktiin kalau apa yang gue rasain ke lo itu nyata dan serius.”
“Gue nggak bisa.”
Raka tahu, Puspa akan semakin menolak jika Raka menuntut. “Oke, sorry kalau gue terlalu memaksa. Gue cuma pengen bisa menjadi salah satu alasan lo bahagia.”
“Gue sudah bahagia sama diri gue sendiri.”
“Lo nggak bahagia! Kita manusia, makhluk psikososial yang butuh pasangan.”
“Raka …”
“Selesaikan masa lalu lo, Puspa. Atau lo nggak akan pernah mendapatkan masa depan.”
Dalam hidup, Ivy selalu diajarkan dengan kata perjuangan dari Daddy-nya. Perjuangan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Perjuangan untuk mempertahankan apa yang ia miliki. Sebagai anak perempuan satu-satunya, Daddy selalu menyebut Ivy adalah segalanya, sumber kehidupan dan anugrah untuk kedua orangtuanya. Kasih sayang yang teramat besar dari Mr. Miller membuat Ivy tak pernah mengenal rasa takut.
Yang Ivy tahu, di dalam hidup kita tidak boleh menjadi lemah atau kita akan menjadi tertindas.
Pagi ini, dengan keberanian dan harapan besar Ivy kembali melakukan sesuatu yang dulu pernah ia jadikan alasan. Sudah lebih dari satu bulan ia belum mendapatkan tamu bulanannya. Ada harapan besar kali ini ia bisa kembali mempertahankan keluarganya, kembali mempertahankan Arya disisinya.
Ivy tahu dia sangat menyedihkan. Tapi jika perlu, demi Arya dia akan melakukan hal ini -lagi dan lagi.
Tangan Ivy bergetar saat mengambil test pack yang ia letakan di wastafel kamar mandi. Dan senyumnya tercetak lebar saat mendapati alat itu menunjukan dua garis yang menandakan ada sebuah kehidupan baru di dalam perutnya. Anak Arya di dalamnya.
Detik pertama ia mengetahui hal itu, Ivy berniat ke rumah sakit untuk memastikan kehamilannya dan datang menemui Arya.
“Sayaaang,” panggilnya.
Arya duduk di kursi dengan beberapa berkas di meja. Laki-laki itu tersenyum tipis saat mendapati istrinya yang tiba-tiba berada di kantornya. Tanpa dipersilahkan, Ivy mendudukan tubuhnya di pangkuan Arya dengan manja, lalu melingkarkan tangan di leher suaminya. Arya sempat menolak dan menjauhkan tubuh Ivy, namun tentu saja wanita itu tidak menyerah.
“Sepertinya ada yang sedang bahagia,” ucap Arya menebak. Tidak bisa ditutupi garis wajah kebahagiaan yang tercetak jelas di raut wajah istrinya. Wanita itu tak berhenti mengulum senyum di hadapan Arya yang semakin menambah kecantikannya.
Semua orang tahu, Ivy cantik dengan segala kelebihan fisik yang ia miliki.
“Aku ingin memberimu sesuatu,” ucap Ivy sambil meletakan sesuatu di meja Arya.
Arya menaikan kedua alisnya, sedikit terkejut Ivy memberikan hadiah tidak di hari ulang tahun atau hari spesial keduanya. “Aku sedang tidak berulang tahun,” jawab Arya. Ngocoks.com
“Tidak perlu ulang tahun untuk memberikan kado kepada orang tersayang.”
“Oh .. oke.”
Ivy meletakan sebuah kotak berwarna coklat tua dengan pita merah muda. Merasa tertarik, Arya membuka kotak itu lalu seketika tubuhnya membeku saat melihat satu alat yang ia pahami fungsinya dan sebuah potret hitam putih kecil yang tidak Arya pahami gambarnya. Tapi, jelas Arya tahu dengan maksud semua ini. Dulu, potret hitam putih dan alat ini yang mampu membuat kehidupannya berubah drastis.
“Aku hamil, empat minggu,” jelas Ivy tanpa perlu diminta.
Arya masih tak berekspresi, di sisi lain dia bahagia karena akan mendapatkan seorang anak yang bisa melengkapi kehidupannya, tapi di sisi lain, Arya merasa dunia semakin menutup rapat kesempatan untuk bersama Puspa. Arya sudah benar-benar kehilangan Puspa. Atau sebenarnya kesempatan itu sudah benar-benar hilang sejak dulu? Hanya Arya saja yang bodoh karena masih berharap.
Mungkin benar apa yang Anton katakan, pertemuan ini hanya untuk menyelesaikan apa yang belum selesai.
“Mas, kok kamu nggak kelihatan bahagia?”
Arya tersenyum. “Aku bahagia, terima kasih.”
Ivy mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Arya yang sangat ia rindukan. Wanita itu semakin menyamankan duduknya dengan meletakan kakinya di samping kanan dan kiri tubuh Arya. “Ivy, ini di kantor,” cegah Arya.
“Nggak apa-apa, kan bisa di kunci.”
“Aku tidak nyaman.” Arya mendorong pelan tubuh Ivy untuk berdiri lalu menarik wanita itu ke sofa. Meskipun dengan cemberut, Ivy tetap menurut.
“Aku ingin merayakan kehamilan kita,” ucap Ivy saat mereka berdua sudah duduk di sofa.
“Apapun itu aku setuju.”
“Aku ingin membagikan makan siang untuk karyawan di kantor ini, khusus pegawai office. Tidak sampai ke bagian produksi karena itu akan sangat banyak dan merepotkan,” tambahnya. “Aku akan minta tolong Lita untuk menghandle-nya.”
Arya paham dengan maksud lain dari keinginan Ivy saat ini. Dan seperti memang benar-benar sudah mengikhlaskan, Arya tak mau mendebat. Dia hanya berharap semoga Tuhan memberikan kesempatan kepada Arya untuk menjelaskan tentang semuanya. Meskipun Puspa tak lagi miliknya, setidaknya wanita itu mendapatkan apa yang sudah menjadi hak-nya yaitu penjelasan.
“Bagaimana?” tanya Ivy memastikan.
“Aku sudah mengatakan, apapun itu aku setuju.” Arya jarang menolak keinginan Ivy. Seperti robot, kehidupan Arya tak memiliki warna. Warna itu sudah menghilang sejak ia kehilangan Puspa-nya.
“Terima kasih,” ucap Ivy lalu mengecup pipi Arya sekilas.
Wanita itu benar-benar melakukan apa yang ia inginkan atau sebenarnya Ivy sudah menyiapkan hal itu sebelum meminta persetujuan Arya.
Seperti yang Ivy harapkan, kabar kehamilannya sampai ke telinga Puspa. Satu kotak makan dengan gambar steak di atasnya menjadi menu makan siang karyawan kantor. Dari tempat dan aromanya, Puspa tahu makanan ini bukan makanan murahan.
Ada sebuah kertas dengan tulisan ucapan syukur yang sangat menyesakan dada.
Selamat menikmati dari kami yang sedang berbahagia menanti kehadiran anak kedua.
Arya & Ivy
Lalu apa maksud ciuman Arya waktu itu? Maksud kesedihan yang bisa Puspa rasakan sampai ke hatinya. Puspa membenci Arya dan juga membenci dirinya sendiri yang tetap merasakan sakit hati saat ia mendapatkan kabar kehamilan istri Arya. Tak mau menambah sesak, Puspa memilih membuang kotak makan itu ke tempat sampah.
Selesaikan masa lalu lo, Puspa. Atau lo nggak akan pernah mendapatkan masa depan.
Apa itu harus?
Sekuat tenaga Puspa mencoba mengalihkan perhatiannya dari hal ini, dari Arya dan semua perasaannya. Tapi seperti sebuah ilmu pasti, kalimat Raka selalu terngiang di kepalanya. Hingga beberapa hari berikutnya Puspa akhirnya menberanikan diri untuk berdiri di lantai ini dengan canggung.
Dia merasa harus untuk menyelesaikan perasaannya. Dia merasa harus mendapatkan sebuah penjelasan.
“Puspa, ada yang bisa kubantu?” tawar Mbak Lita. Wanita itu tersenyum ramah ke arah Puspa.
“Apa Pak Arya ada di ruangan, Mbak?”
“Ada, tapi beliau sedang ada meeting kecil dengan staff finance.”
“Oh, lama?”
“Aku rasa tidak, kamu bisa menunggu di depan ruangannya. Aku akan menyampaikan kepada Pak Arya tentang kedatanganmu.”
“Terima kasih.” Puspa mendudukan tubuhnya di sofa depan khusus tamu. Ruangan cukup luas dengan beberapa majalah dan minuman ringan yang tersedia di meja.
Mbak Lita masuk ke dalam ruangan Arya dan tak lama setelahnya Mbak Lita keluar bersama dengan beberapa orang lainnya. “Kamu boleh masuk, Puspa.”
“Terima kasih.”
Sebelum benar-benar membuka pintu, Puspa mengucapkan berbagai macam jenis doa untuk menguatkan langkahnya. Tapi di langkah pertamanya memasuki ruangan ini, Puspa tahu kalau dia (masih) kalah.
“Masuklah, Bii,” sambut Arya. Laki-laki itu berdiri dengan jas yang sudah ia lepaskan, menyisakan kemeja berwarna putih dan inner berwarna biru tua yang mencetak tubuh liatnya dengan jelas. “Duduklah,” ucap Arya mempersilahkan.
“Maaf saya mengganggu, Pak Arya. Saya hanya akan sebentar.”
Arya tak menjawab, laki-laki itu memilih untuk menetralkan degup jantungnya sendiri. Ada keterkejutan besar saat Lita mengatakan Puspa ingin bertemu dengannya. Senang, sedih dan hancur datang di waktu bersamaan. “Katakan apa yang ingin kamu sampaikan.”
“Pertama, saya ingin mengucapkan selamat atas kehamilan kedua istri Pak Arya.”
Saat kalimat itu terucap, Arya sudah seperti kehilangan nafasnya. Tercekat, ketika fakta yang sudah sampai ke semua orang itu benar-benar mendapatkan apa yang ia tuju.
“Kenapa Pak Arya mencium saya waktu itu?” tanya Puspa cepat. Dia tak mau kembali mundur untuk mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan yang ada di kepalanya.
“Apa aku perlu menjawab pertanyaanmu?” tanya Arya balik.
“Yaa, perlu.”
“Aku berharap kamu merasakan perasaanku tanpa perlu kujelaskan, nyatanya kamu tidak.”
“Saya bukan cenayang yang bisa mengetahui dalam hati orang lain. Saya berharap besar Bapak menjelaskan alasan di balik perlakuan Bapak selama ini, agar semuanya menjadi jelas.”
Arya mengalihkan tatapannya dari Puspa, ia mencari objek lain selain wanita yang ingin ia dekap dengan erat. Lama mereka berdua terdiam, Puspa memberikan waktu sepenuhnya kepada Arya. “Kalau aku mengatakan karena aku masih mencintaimu, apa kamu percaya?”
Puspa diam, cenderung menakutkan. Tanpa permisi, wanita itu memilih berdiri dan berniat meninggalkan ruangan ini. Arya yang hendak mengejar kembali tertahan karena suara dering ponselnya yang menampilkan nama Ivy.
Dia ingin mengabaikan, tapi kenangan dimana ia pernah mengabaikan telfon dari Ivy dan berakhir dengan wanita itu harus mendapatkan perawatan di rumah sakit karena pendarahan mengurungkan niat Arya.
Arya hanya bisa melihat tubuh Puspa yang menghilang dari ruangannya.
Bersambung… Kalau aku mengatakan karena aku masih mencintaimu, apa kamu percaya?
Dalam setiap langkah kaki Puspa, kalimat itu terngiang seakan tak mau lepas dari otaknya. Arya yang mengucapkan dengan wajah frustasi penuh tekanan. Arya yang mengucapkan dengan mata yang menunjukan keteguhan. Semua itu terekam jelas di kepala Puspa.
Selama ini Puspa selalu menanamkan di hatinya bahwa Arya sudah menghianati cintanya, meninggalkannya demi wanita lain yang lebih sempurna. Tapi sekarang, Puspa mulai meragu alasan dibalik kepergian Arya.
Benarkah selama ini hanya dirinya yang tersakiti?
Ada sesak yang berkumpul di dada, tak sedikitpun terjeda meskipun sekuat tenaga Puspa mencoba untuk tidak mempercayai kalimat Arya. Nyatanya kalimat itu adalah kalimat yang masih sangat ia harapkan untuk kembali terdengar.
“Semua itu hanyalah kebohongan,” batin Puspa lirih. Ia mencoba mengusir kebodohannya saat mulai terpengaruh dengan kalimat yang baru saja Arya ucapkan.
Puspa menatap pantulan dirinya sendiri di depan kaca wastafel toilet. Seorang wanita biasa dengan rambut kucir kuda polos. Seorang anak yang tumbuh dari keluarga yang tak utuh. Sampai kapanpun Puspa tak akan pernah sebanding dengan Arya.
Setelah ia meninggalkan ruang kerja Arya, Puspa memilih melarikan diri ke toilet, seperti biasa. Puspa membasuh wajahnya dan mengambil waktu sebanyak-banyaknya untuk mengembalikan logikanya yang menguap saat mendengar ucapan cinta dari Arya.
Derap langkah mendekat memaksa Puspa memejamkan matanya kuat-kuat. Dan saat mata itu terbuka, ia menemukan sosok Arya yang sudah berdiri di balik tubuhnya.
“Aku mencintaimu, sejak dulu sampai sekarang,” ucap Arya dengan mata mereka yang tertaut melalui kaca wastafel. “Kamu adalah wanita yang tak pernah tergeser sedikitpun di sini,” tunjuk Arya ke dadanya.
Puspa tidak percaya! Jika cinta tak bisa membuat Arya bertahan di sisinya, maka semua yang keluar dari bibir laki-laki itu hanyalah kebohongan belaka. “Kenapa kamu masih berniat menyakitiku? Kenapa kamu tak pernah puas memberikan harapan kepadaku?!” Puspa mulai kehilangan akal. Ia marah dan benci kepada Arya dan dirinya sendiri yang masih saja lemah.
“Aku tahu kamu tidak akan pernah percaya dengan ucapanku, Bii,” jawab Arya kecewa. Arya menghela nafasnya berat sambil tersenyum palsu yang terasa menyakitkan bagi siapapun yang melihatnya.
Puspa memutar tubuhnya untuk menatap ke arah Arya langsung. Ada buncah rasa yang luar biasa menyiksa saat melihat laki-laki itu kembali berdiri di hadapannya dengan kalimat cinta. Lima tahun Puspa memupus harapan untuk mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya untuk Arya. Lima tahun Puspa mencoba membunuh rasa sakit yang selalu menghantuinya. “Kamu tidak menjawab pertanyaanku,” ucap Puspa lirih.
“Aku sudah mengatakan aku mencintaimu! Aku hampir mati, gila karenamu! Bagaimana aku bisa menyakitimu jika air matamu itu menyiksaku!” Arya berteriak lalu menendang dengan keras tempat sampah yang ada di sudut ruangan hingga jatuh berserakan.
Arya melepaskan emosi yang bersirobok di dalam hati. Ia lalu mendekat, mengikis jarak ke arah wanita yang masih terkejut dengan semua yang terjadi begitu banyak dan cepat. Arya merangkum wajah Puspa dan memaksa wanita itu untuk melihat ke arahnya. “Aku mencintaimu, Puspa. Aku mencintaimu!” ucap Arya dengan sorot mata tajam dan otot-otot yang tercetak jelas di kulitnya. Ada rasa kecewa dan marah saat Puspa tak mempercayainya.
“Kenapa?” tanya Puspa tercekat. “Kenapa kamu meninggalkanku jika … kamu mencintaiku?” Setelah lima tahun ia menyimpan pertanyaan itu seorang diri, akhirnya siang ini ia mampu bertanya langsung ke sumber kesakitannya.
“Karena aku pengecut,” jawab Arya lirih. “Aku pengecut karena tak berani menunjukan kesalahanku. Aku tak ingin kamu membenciku karena pengkhianatan, aku mau kamu merindukanku yang meninggalkanmu tanpa penjelasan. Aku takut kehilangan cintamu jika kamu tahu … aku —aku sudah menghamili wanita lain saat masih menjalin hubungan denganmu.”
Rasa sakit yang sebelumnya mulai terbiasa kini kembali bermunculan dengan rasa sakit yang asing. Hati Puspa tercubit banyak, ngilu dan sesak. Meskipun mereka sudah tidak berada di dalam sebuah hubungan, fakta Arya menghamili wanita lain saat bersamanya semakin menghancurkan Puspa.
“Aku mabuk, Ivy telanjang di depanku dan aku kalah.”
Sebuah tamparan Arya dapatkan di pipi kanannya.
“Kamu egois!” ucap Puspa. Satu tamparan kembali ia dapatkan di sisi lainnya. “Selama lima tahun aku menunggu penjelasan darimu. Selama bertahun-tahun aku menunggumu kembali melihatku, tapi yang aku dapatkan justru kamu yang sudah melangkah jauh meninggalkanku.” Puspa mengungkapkan apa yang selama ini tersimpan di hatinya.
“Aku minta maaf.”
“Aku membencimu.”
Puspa melepaskan diri dari kungkungan Arya tapi laki-laki itu kembali menahan tubuhnya untuk tetap berada pada tempatnya. Arya kembali memojokan tubuh Puspa ke dinding, lalu mengunci tubuh wanita itu disana. “Bukan hanya kamu yang tersakiti, Bii. Aku —aku tidak pernah merasa hidup sejak kehilanganmu.”
“Bohong! Aku tidak akan percaya lagi dengan setiap kata-katamu.”
“Itu fakta, aku membenci takdirku! Aku membencimu yang bisa tertawa lepas bersama laki-laki lain sedangkan aku harus terpuruk di dalam sebuah keluarga yang tak ada cinta di dalamnya. Hidupku hambar tanpa kamu, aku —.”
“Arya, lepaskan aku.” Jarak mereka terlalu dekat, bahkan Puspa mampu merasakan deru nafas Arya yang hebat.
“Katakan apa yang harus aku lakukan? Katakan apa yang harus aku lakukan dengan perasaanku?!” tanya Arya menuntut dengan menekankan setiap kalimat demi kalimat. “Aku meninggalkan diriku seutuhnya pada dirimu, Bii.”
Tangan Arya menahan kedua tangan Puspa di dada. Laki-laki itu berharap Puspa merasakan kejujurannya, merasakan cintanya yang masih sama. Ada tetes air mata Arya yang jatuh membasahi pipi. Hal yang memaksa Puspa untuk melakukan yang sama. Ia lelah untuk berpura-pura kuat. Mereka berdua lelah untuk berpura-pura bisa. “Bagaimana aku bisa hidup jika bahagiaku kamu?” tanya Arya dengan mengusap pipi Puspa lembut.
Laki-laki itu terlihat begitu berhati-hati mengusap wajah Puspa, seakan wajah itu mudah retak dengan sentuhannya. Ia menyatukan keningnya dengan kening Puspa. Ia berharap bisa membagi kesedihan yang selama ini ia rasakan seorang diri. “Aku tahu aku salah, aku pengecut. Aku menjaga semua-nya tapi lupa caranya menjaga diriku sendiri,” tambah Arya dengan isakan yang semakin menjadi. “Bii, katakan aku harus bagaimana? I need you, Bii.”
Tangis Arya pecah, ia mendudukan tubuhnya di hadapan Puspa yang membeku. Laki-laki itu memeluk tubuh Puspa dengan kuat, seakan takut wanita itu kembali meninggalkannya sendirian.
“Arya …”
“Aku mohon biarkan seperti ini —sebentar saja.”
Lama mereka terdiam dalam keheningan. Satu-satunya suara yang mendominasi ruangan ini hanyalah isakan Arya yang terasa menyesakkan bersamaan dengan isakan Puspa yang rapuh.
“Saat kamu memutuskan hubungan kita melalui panggilan telepon, aku bingung, tak percaya. Bagaimana bisa seseorang yang dulunya dekat bisa semudah itu melepas?” ucap Puspa memecah sepi.
“Satu bulan pertama aku masih terus menghubungimu, tiga bulan berikutnya aku mulai takut kehilanganmu. Dan saat aku menemukan potret dirimu bersama wanita lain, mulai detik itu juga aku sadar bahwa aku sudah benar-benar kehilangan Arya-ku. Tumpuanku selama ini saat orangtuaku sibuk dengan kehidupannya masing-masing.” Puspa bermonolog, tak berminat membuka sebuah percakapan.
“Aku selalu bertanya, salahku dimana? Apa aku pernah membuatmu marah? Apa aku tidak baik? Apa aku kurang cantik? Apa … aku kurang sepadan? Semua prasangkaku selalu berujung pada diriku yang masih belum cukup pantas untuk bersanding denganmu.”
“Kamu—.”
“Aku belum selesai,” ucap Puspa menghentikan kalimat Arya yang seharusnya panjang. “Sampai saat pertama kali pertemuan kita, aku sadar diri bahwa memang kita tak akan pernah sebanding. Kamu terlalu tinggi di atas dengan kehangatan keluarga yang dulu pernah aku idam-idamkan.”
“Dulu hanya ada kamu di masa depanku, Bii,” putus Arya menjeda. “Hanya ada kamu.”
Puspa membawa tubuh Arya berdiri. Mereka sempat berbicara melalui mata yang saling menatap —lama. Puspa menelisik garis wajah Arya yang begitu dekat, raut wajah yang menunjukan kerapuhan dengan air mata yang membasahi. Puspa menarik kepala Arya mendekat dan tangis keduanya pecah saat semua perasaan berkecamuk di dalam dada.
“Aku adalah laki-laki pengecut yang bersembunyi di balik kebahagiaan palsu. Aku hancur, Bii.”
Ruangan berukuran dua puluh meter ini menjadi tempat pelarian Puspa dan Arya. Tempat mereka bersembunyi dari dunia yang menyakitkan. Puspa sempat meminta untuk pergi tapi Arya menginginkan untuk tetap tinggal. Ada Anton yang berjaga di luar, Arya memastikan tempat ini aman.
Arya dan Puspa duduk di lantai dengan saling menyimpan suara. Tak ada kalimat terucap, hanya Puspa yang duduk dengan tatapan kosong ke arah atap, sedangkan Arya yang duduk membisu sambil menundukan wajah. Mereka mencoba menyembunyikan perasaan masing-masing, dari dunia yang seringnya menghakimi.
“Aryaa,” panggil Puspa.
“Hem.”
“Rasa ini salah.”
“Aku tahu,” jawab Arya.
“Boleh aku meminta sesuatu kepadamu?”
“Apapun itu akan kuberikan.”
“Jangan pernah meninggalkan keluargamu demi aku,” ucap Puspa akhirnya. Lama ia berfikir dalam diam. Mencoba mencari bayangan kehidupannya kedepan setelah tahu fakta yang selama ini Arya tutupi.
“Tumbuh di dalam keluarga yang hancur itu tidak mudah,” tambah Puspa. “Kita memang sudah berantakan tapi ada dua manusia suci yang menggantungkan hidupnya pada dirimu. Dan kamu, masih bisa membuat hidup mereka utuh.”
Arya tersenyum tipis, ada rasa kecewa yang terlihat jelas di bola matanya. “Aku tahu kamu akan mengatakan ini.” Ngocoks.com
Pandangan Puspa teralihkan dari atap yang kosong ke arah Arya yang masih dengan arah pandang yang sama dengan sebelumnya.
“Aku tahu kamu akan memintaku untuk tetap bertanggung jawab kepada Ivy dan anak kami.”
“Hidup di keluarga yang bercerai itu sulit. Kamu akan selalu merasa sendiri, tak ada rumah yang menunggumu. Aku yakin kamu tidak ingin anakmu merasakan apa yang aku rasakan selama ini.”
“Bii…”
“Kamu harus bahagia dengan keluargamu,” ucap Puspa memotong kalimat Arya. “Istrimu dan yang terpenting adalah anak-anakmu. Mereka masih memiliki masa depan yang putih dan kamu harus menciptakan banyak warna disana.”
“Lalu bagaimana dengan perasaanku?”
“Perasaan itu akan menghilang dengan berjalannya waktu.”
“Benar begitu? Kamu bisa? Lalu bagaimana denganmu?”
“Aku baik,” jawab Puspa sedikit ragu.
“Kamu … serius dengan laki-laki itu?” Arya ingin mendengar jawaban ‘tidak’. Arya ingin mendengar bahwa perasaan Puspa masih miliknya.
“Yaa, aku mulai terbiasa dengannya. Dia -mungkin, bisa menjadi ‘rumahku’, rumah yang menungguku.”
Arya mendesah kasar, melepaskan ketegangan saat mendengar kalimat itu diucapkan Puspa dengan penuh ketegasan tanpa ragu. “Kamu mencintainya?” tanya Arya.
“Mungkin, Raka … laki-laki baik.”
Arya kembali memejamkan matanya, dia menyesali rasa ingin tahu-nya yang justru menyakiti dirinya sendiri.
“Kamu harus bahagia bersama keluargamu,” tambah Puspa. “Kamu pasti bisa.”
“Kamu bisa bahagia, belum tentu orang lain bisa melakukannya.” Arya berdiri, rasa sakit saat mendengar jawaban Puspa membuat Arya lemah. Lebih baik ia pergi dan mengakhiri perbincangan siang ini.
“Aku memaafkanmu. Demi kita, cobalah berbahagia dengan keluargamu, mereka membutuhkanmu.”
Kalimat Puspa tak berbalas karena Arya lebih memilih mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Apakah benar pertemuan ini hanya untuk mengakhiri? Apakah bisa Arya mengikhlaskan cintanya?
“Mas,” panggil Puspa lagi.
“Aku sudah mengatakan, apapun mau-mu itu akan kulakukan,” ucap Arya akhirnya. Laki-laki itu menghembuskan nafas berat saat sesak memenuhi dada. Dia berdiri dengan pasti di hadapan wanita yang selalu bisa menjadi poros dunianya. “Aku akan melepaskanmu, Bii. Kamu juga berhak untuk bahagia. Seperti janjimu dulu saat kita berpisah di bandara, kamu berjanji untuk bisa bahagia.” Kalimat Arya mulai pasti, apapun keputusan Puspa ia akan menerimanya.
Puspa membalas tatapan Arya yang sendu. Sekali lagi, ia terpaksa harus mengikhlaskan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Meskipun, dia sudah kehilangan Arya sejak dulu, tapi rasa sakit ini masih sama.
“Yaa, aku akan bahagia,” janji Puspa meyakinkan. Wanita itu berucap dengan bibir bergetar menahan tangis.
“Beri aku pelukan untuk terakhir kalinya,” mohon Arya.
Arya menarik tubuh Puspa untuk mendekat lalu mendekapnya kuat. Mereka kembali berpelukan dengan saling melafalkan banyak doa dalam hati untuk kebahagiaan masing-masing. “Kamu harus bahagia,” ucap Arya.
“Kamu juga —kita pasti bisa bahagia dengan kehidupan kita masing-masing,” jawab Puspa dengan tercekat.
Arya melepaskan pelukan mereka pertama kali sebelum perasaannya kembali menyerah. Ia mengecup kening Puspa sekilas. “Aku kembali, jaga dirimu baik-baik.”
Puspa menggenggam tangan Arya lalu melepaskan sedikit demi sedikit tautan itu. Seperti malam yang kehilangan cahayanya, Puspa kembali meredup meskipun sebelumnya tak bercahaya. Puspa kembali kehilangan cintanya, kembali kehilangan Arya untuk kedua kalinya.
***
Apa yang kamu harapkan dari rasa sakit? Pembelajaran? Kesengsaraan? Atau harapan? Puspa mendapatkan semuanya. Wanita itu mendapatkan pembelajaran tentang rasa ikhlas, kesengsaraan karena kembali kehilangan dan harapan karena ia yakin ia masih bisa menulis banyak cerita di kehidupannya selanjutnya.
Seperti sekarang, saat mata Puspa menemukan sosok Raka yang duduk di motornya. Laki-laki itu masih mengenakan helm full face miliknya dengan tangan yang bermain dengan ponselnya.
Tak menunggu lama, ponsel Puspa berdering. Tanpa melihat, Puspa tahu ponsel itu berdering karena laki-laki yang duduk di atas motor itu.
“Hey,” panggil Puspa.
“Lah? Udah disini. Gue telepon,” ucap Raka sambil menunjukan layar ponselnya.
“Gue tahu.”
“Terus?”
“Gue udah di luar jadi nggak perlu gue terima.”
“Dih, jahat. Mau pulang bareng?” tawar Raka.
“Lo udah disini, nggak mungkin gue nolak.”
“Hehe, lo tahu aja kalau ini adalah salah satu strategi. Kalau nawarin dulu, lo pasti nolak,” jawab Raka sambil menyiapkan footstep untuk Puspa.
“Kenapa lo selalu nyiapin footstep buat gue?” tanya Puspa saat wanita itu sudah berada di atas motor.
“Seharusnya lo nggak perlu nanya,” jawab Raka. Ia menarik tangan Puspa untuk melingkarkan di perutnya. “Biar nggak jatoh di tengah jalan.”
Raka memutar gas lalu membawa Puspa membelah jalanan kota Jakarta yang ramai seperti hatinya. Banyak rasa yang bergejolak di dalam dada Raka. Raka memang aneh, padahal mereka baru bertemu tiga hari yang lalu, tapi Raka sudah sangat merindukan Puspa. Perjalanan jauh tak menjadi hambatan untuk Raka selagi ia bisa kembali bertemu dengan Puspa.
Perasaan Raka semakin riuh saat tiba-tiba Puspa meletakan kepalanya di bahunya. Hangat. Laki-laki itu tersenyum tipis saat matanya mendapati tangan Puspa yang melingkar dengan manis di perutnya. Raka memberanikan diri menggenggam tangan itu dan ia semakin bahagia saat tidak mendapatkan penolakan.
“Mau makan dulu?” tawar Raka.
“Boleh.”
“Mau makan apa?”
“Apapun itu aku mau.”
“Mau main dulu sehabis makan?”
“Boleh.”
“Mau jadi pacarku?” tanya Raka tiba-tiba. Ia hanya sedang mencari peruntungan dari Puspa yang sepertinya sedang bahagia dan mengucapkan kata ‘boleh’ untuk setiap tawarannya.
Ia tak mendapatkan jawaban dari wanita itu, tapi yang ia rasakan adalah pelukan di pinggangnya yang semakin mengerat.
“Gue cinta sama lo, Ningrum. Gue akan mengulang-ulang sampai lo percaya,” ucap Raka meskipun dia harus sedikit berteriak agar kalimatnya terdengar.
“Gue percaya,” jawab Puspa.
“Apaa?” tanya Raka. Jujur saja, suara Puspa terdengar lirih.
“Gue percaya kalau lo cinta sama gue,” ucap Puspa sambil berteriak.
Kalimat yang mampu membuat bibir Raka tertarik keatas dengan lebar. Mulai detik ini, ia akan berusaha memberikan banyak warna di dalam kehidupan Puspa.
Bersambung… Rumah itu pelindung. Tempat melepaskan lelah. Tempat dimana kita menemukan rasa aman. Rumah melindungi kita dari dinginnya malam, dari panasnya siang. Rumah adalah tempat dimana kita bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu mendengar penghakiman dari orang lain.
Seperti itulah rumah yang Arya harapkan. Tempatnya melepas semua topeng manis dari dunia yang seringnya tak sejalan. Ia membutuhkan rumah yang benar-benar bisa menjadi tempatnya pulang.
“Lo bener,” ucap Arya. Ia meletakan satu gelas kosong yang sudah ia tenggak isinya sampai tandas. “Gue sudah benar-benar kehilangan Puspa. Pertemuan ini hanya untuk mengakhiri hubungan kami yang masih belum benar-benar selesai.”
“Kalian sudah memiliki kehidupan masing-masing, Arya. Jangan di usik, lebih baik kalian mencoba mencari kebahagiaan dalam kehidupan kalian saat ini. Jangan mengenang kebahagiaan yang sudah berada di masa lalu karena itu akan ngebuat lo nggak bisa merasakan kebahagiaan yang ada saat ini,” jawab Anton.
Sepulang kerja ia terpaksa menuruti keinginan Arya yang memintanya untuk ditemani ‘minum’. Saat penat atau sedang benar-benar merasa tumpul dengan kehidupannya, Arya lebih sering melepaskan kesedihannya dengan minuman keras. Tidak sampai mabuk, Arya hanya ingin sedikit menghangatkan badan saja.
Dan seperti biasa, Anton akan selalu berusaha menjadi pendengar yang baik untuk sahabatnya.
“Gue akan belajar mengikhlaskan semuanya.”
“Lo pasti bisa, Bos. Lo punya Ivy yang cinta sama lo, Axel yang merupakan duplikasi diri lo seutuhnya dan bayi yang saat ini ada di dalam kandungan Ivy. Hidup lo sempurna kalau lo bersyukur.”
Arya memejamkan matanya mengusir penat. Semakin jauh melangkah ia semakin kehilangan sosok Puspa di belakangnya. Dia berbohong saat mengatakan akan memulai kehidupan barunya dengan Ivy sewaktu memasuki pintu keberangkatan Bandara. Nyatanya, Arya masih selalu dibayangi kehidupannya dengan Puspa. Lalu sekarang, saat kata ‘memaafkan’ terucap dari bibir wanita itu, apakah perasaannya serta merta berubah?
“Kalau gue tetap nggak bisa gimana, Ton?” tanya Arya khawatir.
“Hidup bukan hanya tentang cinta, Arya. Hidup juga tentang cara mengikhlaskan dan menciptakan kebahagiaan lo sendiri. Meskipun itu mungkin nggak akan sesempurna kebahagiaan lo bersama, Puspa. Tapi gue yakin, akan selalu ada yang bisa disyukuri dalam hidup lo saat ini.”
“Yaaa, gue akan belajar semuanya dari awal,” putus Arya.
Sekitar pukul sepuluh malam Arya sudah sampai di rumahnya. Saat melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang ia rasakan hanyalah sepi dan dingin. Ia langsung menuju kamar utama, kamar dimana Ivy biasa tidur di dalamnya.
“Mas,” panggil wanita itu saat mendengar pintu terbuka.
“Heem. Belum tidur?”
“Sudah.” Ivy mendudukan tubuhnya sambil mengucek kedua matanya. Mata Ivy terlihat lelah dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Benar kata Anton, pulang dan disambut dengan pemandangan lucu seperti saat ini seharusnya sudah bisa membuat Arya bersyukur dengan hidupnya.
“Kamu tidur lagi saja, ini sudah malam.”
“Mas Arya mau disiapin air hangat?” tawarnya.
“Aku bisa menyiapkannya sendiri.”
Ivy tetap berdiri berniat melayani suaminya. Tidak biasanya Arya masuk ke kamar ini, laki-laki itu lebih sering menghabiskan waktunya di kamar tamu atau ruang kerja.
“Kamu tidur, aku bisa menyiapkannya sendiri,” titah Arya. Ada trenyuh di hatinya melihat Ivy yang selalu berusaha melayaninya dengan baik meskipun wanita itu terlahir menjadi seorang Tuan Putri. Sesuatu yang selama ini tak pernah ia perhatikan karena hidupnya selalu dibayang-bayangi kisah masa lalunya.
Seperti tak mau mendengar perintah suaminya, Ivy tetap melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Namun di langkah keduanya, tubuh Ivy tertahan karena tautan tangan Arya yang menghentikannya.
Arya mengikis jarak lalu memeluk tubuh wanita itu dari belakang. “Terima kasih,” ucap Arya.
“Mas Arya mabuk?”
“Terima kasih karena selalu melayaniku. Menjadi istri yang baik dan ibu yang luar biasa.”
“Mas Arya pasti lagi mabuk.” Ivy hendak memutar tubuhnya tapi Arya benar-benar menahan tubuh itu untuk tetap berdiri pada tempatnya.
“Kamu cinta sama aku?” tanya Arya tiba-tiba.
“Seharusnya Mas Arya nggak perlu nanya itu.”
Arya menguatkan pelukannya, ia meletakan kepalanya di bahu Ivy yang terbuka. Lama Arya membisu dan Ivy seakan sedang memberikan waktu sepenuhnya kepada Arya. “Awal aku melihatmu, kamu tidak lebih dari seorang gadis kecil lucu yang selalu meminta perhatian. Aku sempat sebal, tapi lambat laun aku mulai menyayangimu —seperti adikku sendiri.”
“Mas …”
“Sebentar saja, dengarkan aku,” mohon Arya. “Aku ingin menjagamu, menjadi seorang laki-laki yang berdiri di depanmu saat ada laki-laki iseng yang mencoba menggodamu. Bahkan, aku ingin ikut menyeleksi laki-laki yang mungkin akan menjadi pacarmu,” ucap Arya dengan tersenyum tipis saat mengingat keposesifannya kepada Ivy dulu.
“Lalu saat aku tahu kamu hamil karena ulahku, aku merasa sangat kecewa dengan diriku sendiri. Seharusnya aku menjagamu, bukan justru merusak hidupmu. Kamu masih memiliki masa depan yang panjang di depan sana.”
“Tapi Ivy mau.”
“Hal tersulit dari pernikahan ini bukan hanya tentang masa laluku, tapi juga tentang merubah caraku melihatmu. Dari seorang gadis kecil yang kusayangi seperti adiku sendiri menjadi pasangan hidup untuk berbagi.”
“Mas Arya cinta sama Ivy?”
“Kalau kamu bertanya saat ini, aku akan dengan mudah menjawab tidak,” jawab Arya. Laki-laki itu kini membawa tubuh Ivy untuk menghadapnya, ia merangkum wajah wanita itu untuk menatapnya. “Tapi jika kamu bertanya satu tahun kemudian, dua tahun atau sampai tahun-tahun berikutnya aku belum tentu menjawab dengan jawaban yang sama.”
“Apa yang ingin Mas Arya sampaikan? Mas Arya tahu otakku kecil, terlalu sulit memahami maksud kalimat Mas Arya yang rumit.”
“Ivy …”
“Yaa? Aku disini dari tadi.”
“Apakah kamu bisa mengajariku cara mencintaimu?”
Ivy mematung dengan bibir yang terbuka lebar. Selama hidup pernikahannya dengan Arya tak sekalipun keduanya membahas tentang cinta. Arya selalu sibuk bekerja dan akan sibuk mencari alasan untuk menghindari Ivy saat berada di rumah. Lalu tiba-tiba malam ini ia mengatakan kalimat cinta?
“Mas Arya minum berapa gelas?”
“Aku serius,” ucap Arya meyakinkan.
“Aku juga serius, pasti Mas Arya akan menyesal esok hari,” jawab Ivy. Ia melepaskan tangan Arya dari tubuhnya lalu merangkum wajah laki-laki itu sedikit kasar untuk menyadarkan Arya.
“Lebih baik Mas Arya tunggu duduk manis, Ivy akan menyiapkan air hangat untuk Mas Arya mandi.”
Ivy kembali hendak melangkah ke kamar mandi tapi justru tangannya ditarik Arya dalam satu kali hentakan. Arya mencium bibir Ivy, lembut dan ringan. Ciuman pertama mereka berdua yang dimulai oleh Arya. “Aku berjanji akan belajar untuk mencintaimu, untuk hidup di dalam keluarga kecil kita,” janji Arya.
“Mas Arya sudah pernah mengatakan hal itu. Tapi nyatanya berulang kali Mas Arya tetap mengatakan tak pernah ada Ivy di sini,” tunjuk Ivy ke dada Arya.
“Aku minta maaf. Bisa kita memulainya dari awal?”
“Kenapa?” tanya Ivy ingin tahu. Sebuah keterkejutan yang amat besar saat tiba-tiba Arya berubah dalam waktu 1×12 jam. Tadi pagi, laki-laki itu masih terlihat menghindarinya. Lalu bagaimana bisa seorang manusia tiba-tiba berubah dalam waktu sesingkat itu? Padahal Ivy sudah menunggu perubahan itu selama lebih dari lima tahun.
“Aku sudah benar-benar menyelesaikan masa laluku.”
Masih tentang Puspa. Batin Ivy.
“Aku ingin memulai kehidupan baruku bersama kalian,” ucap Arya sambil mengusap perut Ivy dengan lembut.
Laki-laki itu kembali mendekatkan tubuh mereka dan memberikan pelukan terhangatnya. Ada begitu pertanyaan yang bersirobok di dalam kepala Ivy. Apa yang terjadi dengan suaminya hari ini?
Jika ini masih tentang Puspa, Ivy akan memulai kembali perjuangannya. Arya sudah membuka hatinya dan kali ini adalah kesempatan terbaik Ivy untuk benar-benar menyingkirkan wanita itu.
Tidak akan ada Puspa lagi di dalam hidup Arya dan Ivy akan memastikan hal itu.
“Pokoknya, Ivy nggak mau ada pengganggu di dalam rumah tangga Ivy, Dad.”
“Apapun itu akan Daddy lakukan untuk kebahagiaanmu.”
“Thank you, Dad. I love you.”
Beep.
Seperti angin segar yang berhembus saat Arya memintanya untuk memulai kembali hubungan mereka. Selama lima tahun pernikahan keduanya, ucapan Arya semalam adalah sesuatu yang sangat Ivy harapkan selama ini.
Arya yang mau belajar membuka hati untuknya. Ivy sangat bahagia, hingga nyaris tak pernah melepas senyum dari wajah cantiknya.
“Mau kemana?” tanya Arya saat melihat istrinya sudah berdandan cantik di pagi hari.
“Ke rumah Mama Runi, lagian aku juga mau ngapain di rumah kalau kamu mau pergi dengan membawa Axel?”
Seperti hari Sabtu pagi pada umumnya, Arya biasanya memiliki janji bermain golf dengan beberapa partner bisnis. Kadang laki-laki itu pergi bersama Daddy Miller atau juga Papa Brama. Sebagai Ayah yang baik, Arya juga sering membawa Axel pergi dengannya. Kata Arya, dia ingin memiliki waktu yang berkualitas dengan anaknya.
“Kamu bisa ikut dengan kita, kalau mau,” ucap Arya.
Ivy tersenyum simpul saat mendengar kalimat Arya. Tidak biasanya laki-laki itu memberikan tawaran untuk mengajaknya pergi bersama. Mungkin ini adalah salah satu bukti bahwa apa yang Arya ucapkan semalam benar-benar ia lakukan.
“Mmm, aku ingin ikut tapi aku sudah ada janji dengan Mama.”
“Baiklah, nanti aku jemput di rumah Mama lalu kita makan malam di luar. Bagaimana?” tawar Arya.
Ivy mengangguk senang, ia memberikan pelukan terhangatnya untuk suaminya. “Mau banget.”
“Oke, kita pergi dulu,” pamit Arya sambil mencium bibir Ivy sekilas.
Jika ditanya rentang skala kebahagiaan dari nilai nol sampai sepuluh, maka letak kebahagiaan Ivy saat ini ada di angka seratus. Ivy sangat bahagia, hingga kadang ia terlupa jika ada seseorang yang bisa merebut kebahagiaan ini sewaktu-waktu.
Pagi ini, Ivy berdiri disini untuk kembali memperjuangkan kebahagiaan dan keutuhan keluarganya. Salah satu caranya adalah dengan mendatangi rumah Puspa. Tidak ada yang salah dari seorang istri yang menegur seorang wanita yang memiliki resiko besar menjadi pengganggu dalam rumah tangganya. Benar bukan?
“Hai, apa ada waktu?”
Ivy berdiri di depan pintu rumah Puspa dengan penuh percaya diri. Sebelum ke rumah Mama Runi, ia menyempatkan untuk singgah menemui Puspa. Ngocoks.com
“Maaf kalau aku mengganggu hari liburmu,” tambah wanita itu lagi. “Apa aku boleh masuk?”
Keterkejutan di wajah Puspa tidak berlangsung lama. Wanita itu membuka pintu rumahnya lebar dan mempersilahkan Ivy masuk. Meskipun mereka tidak saling mengenal tapi Puspa tahu siapa wanita cantik yang berdiri di hadapannya saat ini.
Wanita dengan rambut panjang tergerai yang bergelombang di bagian bawah dan mata tajam yang memancarkan keanggunan. Istri Arya memang memiliki fisik yang nyaris sempurna.
“Silahkan masuk.”
Ivy mendudukan tubuhnya di sofa tanpa perlu diminta. Mata wanita itu memindai setiap detail rumah Puspa dari balik bulu mata lentiknya. Sesuatu yang membuat Puspa merasa tidak nyaman.
Puspa duduk di depan Ivy, sebagai tuan rumah yang baik seharusnya Puspa menawarkan minuman tapi ada harapan besar di hatinya wanita itu tidak bertahan lama di rumahnya.
Puspa sudah memutuskan untuk menutup lembaran kisahnya bersama Arya. Dan kedatangan Ivy tidak ada di dalam rencananya.
“Apa Mas Arya pernah kesini?” tanyanya.
Pertanyaan Ivy terlalu menghakimi menurut Puspa. Sebagai seorang istri apakah ia tidak percaya dengan suaminya?
“Pak Arya tidak pernah datang ke rumah ini.”
“Benarkah?” tanya Ivy dengan nada meragu. “Kita semua tahu Puspa, bagaimana situasi yang kita hadapi saat ini.”
“Situasi seperti apa? Maaf, saya kurang paham.”
Ivy tersenyum tipis dengan wajah meremehkan. Wanita itu juga mengeluarkan tawa ringan sumbang sambil mengalihkan pandangannya dari arah Puspa.
“Aku tidak sebodoh itu untuk kalian bohongi,” ucap Ivy serius. Kali ini ia berkata dengan manik mata tajam dan bibir yang mengatup kuat. “Puspa, meskipun kamu dan Mas Arya masih memiliki keterikatan di masa lalu tapi sekarang bagiku kamu tetaplah pengganggu dalam rumah tangga kami.”
Puspa menggeleng merasa tidak terima. Bahkan air matanya pun belum mengering menangisi takdirnya yang menyedihkan, lalu tiba-tiba wanita ini berdiri di hadapannya dengan asumsinya sendiri yang memojokan.
“Kamu perempuan, Puspa. Seharusnya kamu sadar untuk tidak menyakiti hati seorang istri yang sedang hamil dan seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dari ayahnya. Jangan menjadi egois.”
Ada rasa tidak terima bersikokol di dalam hati Puspa. Siapa yang menyakiti siapa? Siapa yang lebih egois dalam masalah ini.
“Meskipun dulu aku pernah melakukan kesalahan dengan Mas Arya, bukan berarti itu bisa dijadikan pembenaran untuk posisimu saat ini,” cerca wanita itu lagi. “Aku ingin kamu meninggalkan Mas Arya. Aku ingin kamu pergi dari Jakarta, pergi dari kami.”
Selama hidupnya, Puspa lebih banyak menekan perasaan ketimbang memaksakan orang lain untuk mengikuti pola pikirnya. Puspa banyak diam, dia malas berdebat. Bagi Puspa, menjelaskan sebuah masalah dengan orang yang memiliki sudut pandang berbeda dengannya itu percuma.
Tapi sekarang ini, Puspa merasa harus untuk mempertahankan harga dirinya.
“Aku akan pergi, bukan karenamu atau karena Arya. Tapi lebih karena demi menyelamatkan diriku sendiri.”
Ivy menegakan tubuhnya canggung, tidak menduga bahwa mengusir Puspa bisa semudah itu. Seharusnya dia tidak perlu melibatkan Daddy-nya dalam masalah ini.
“Aku tidak ingin menjadi egois, maka aku memaafkan Mas Arya dan melepaskan laki-laki itu agar tetap bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah ia lakukan,” jelas Puspa dengan senyum tipis yang tegas.
“Hidup dari keluarga bercerai, aku paham bahwa hidup itu bukan hanya tentang diriku tapi juga tentang perasaan orang lain. Aku pernah bertanya kepada Tuhan, kenapa harus orangtuaku bercerai? Lalu waktu menjawab, karena mereka lebih bahagia ketika berpisah. Mulai detik itu aku merasa menjadi manusia paling egois jika memaksa kedua orangtuaku untuk tetap bersama. Sedangkan kebersamaan mereka hanya untuk saling menyakiti.”
Ada bogam besar yang memukul telak di relung hati Ivy. Sesuatu yang awalnya sudah terbentuk tekad yang bulat, kini justru menciut saat apa yang ia dengar adalah sebuah rasa lain yang tak pernah ada di dalam otaknya.
Apakah selama ini, Ivy yang egois karena memaksa Arya untuk tetap berada di sampingnya?
“Kamu terlalu banyak bicara,” jawab Ivy menutupi kesakitan di dalam hatinya.
“Aku minta maaf. Jika keinginanmu kesini untuk mengusirku, aku pastikan akan pergi. Tapi aku ingin kamu berjanji satu hal kepadaku agar aku bisa pergi dengan ikhlas.”
“Apa itu?”
“Aku ingin kamu membahagiakan Mas Arya,” ucap Puspa dengan manik mata mengikat ke arah lawan bicaranya. “Aku mengenal Mas Arya sebagai laki-laki yang memiliki segala kemewahan tapi selalu haus dengan kasih sayang.”
“Dia selalu menginginkan rumah yang benar-benar bisa menjadi ‘rumahnya’,” jelas Puspa lagi. “Bagaimana Ivy, apakah kamu bisa berjanji untuk membahagiakan Mas Arya? Dan menjadi ‘rumah’ untuknya?” tanya Puspa sekali lagi.
Apakah Mas Arya bisa bahagia bersamaku? Apakah aku benar-benar ‘rumah’ yang di harapkan laki-laki itu? Banyak pertanyaan justru muncul di dalam otak cantik Ivy. Jika selama ini keberadaan Mas Arya hanya sebagai bentuk tanggung jawab, apakah laki-laki itu bisa bahagia bersamanya?
Pertanyaan Puspa seharusnya mudah ia jawab dengan cepat karena tentu saja Ivy akan selalu berusaha membahagiakan Arya. Tapi Ivy ragu, apakah Arya bisa benar-benar bahagia bersamanya?
***
“Apa Ivy jahat, Ma?”
“Apa Ivy egois?”
“Sweatheart,” panggil Mama Runi. “Kamu hanya belum paham.”
“Tapi Ivy sudah benar-benar menjadi seorang penjahat diantara Mas Arya dan wanita itu, Ma.”
Isakan Ivy semakin menjadi, ia menatap ke arah Mama Runi dengan tatapan sendu. Setelah menemui Puspa, bukan ketenangan yang ia dapatkan. Justru Ivy menjadi ragu tentang apa yang sedang ia perjuangkan?
Apakah ini tentang keluarganya? Cintanya? Atau hanya tentang keegoisannya saja?
“Sayang.” Mama Runi menarik tubuh Ivy mendekat. Anak perempuan satu-satunya itu tiba-tiba datang ke rumahnya dalam keadaan kacau. Tangis yang menderu dengan bibir yang bergetar hebat. Lalu sebuah cerita tentang awal hubungannya bersama Arya mengalir dengan lancar dari bibir gadis mungilnya itu, hingga tentang seorang wanita bernama Puspa. Wanita yang menjadi korban keegoisan Ivy si gadis kecilnya.
“Apa Ivy jahat?”
“Mungkin. Tapi semua orang pernah menjadi jahat, Sayang. Yang terpenting kamu bisa memperbaiki semuanya.”
“Ivy harus bagaimana, Ma? Ivy mencintai Mas Arya, Ivy ingin mempertahankan keluarga Ivy. Tapi kenapa semuanya terasa salah?”
“Ada apa ini?” Suara lain di ruangan ini tiba-tiba muncul.
Mr. Miller berdiri di ujung pintu taman belakang rumahnya sambil menatap marah ke arah dua wanita yang sangat berarti di dalam hidupnya sedang menangis.
“Apa ini tentang Arya?” tanya Mr. Miller menduga.
“Dad, ini —.”
“Daddy pastikan tidak akan ada pengganggu dalam rumah tangga kalian,” ucap Mr. Miller lalu melangkah pergi.
“Dad … Daddy, tunggu! Dengarkan Ivy.”
Mr. Miller mengabaikan Ivy yang berteriak menyusulnya. Laki-laki itu kembali masuk ke dalam mobil untuk menyelesaikan apa yang harus ia selesaikan dengan segera.
“Dad! Ini tidak seperti yang Daddy pikirkan,” teriak Ivy. Wanita itu mengetuk kaca pintu mobil agar Daddy-nya mau membukakan pintu dan mendengar penjelasan. Tapi seperti sedang menulikan pendengarannya, mobil tetap berjalan meninggalkan pelataran rumah.
“Bersihkan wanita itu, tak bersisa,” titah Mr. Miller melalui panggilan telefon.
Tidak ada yang boleh menyakiti Ivy-nya. Tidak boleh ada yang merebut kebahagiaan anaknya.
Bersambung… Malam tanpa bintang selepas hujan di tengah indahnya taman kota. Puspa duduk di salah satu bangku yang sedikit basah, dia memutar-mutar es teh yang tadi dia beli dengan tatapan mata kosong.
Setelah pertemuannya pagi tadi dengan istri Arya, Puspa merasa harus segera memutuskan sesuatu agar semuanya tak semakin bertambah rumit.
“Satu cilok pedas tanpa kecap sesuai permintaan Ningrum.”
Raka duduk di sampingnya. Mereka berdua sedang menikmati weekend dengan menghabiskan waktunya di taman dekat rumah Puspa. Raka terkejut saat tiba-tiba Puspa menghubunginya dan meminta untuk ditemani. Biasanya wanita itu sering menolak ajakan Raka, tapi malam ini Puspa yang tiba-tiba memintanya sendiri. “Ciloknya enak?” tanya Raka.
“Ck.”
“Kok nggak dijawab?”
“Semua cilok rasanya sama aja.”
“Dih, ada yang beda. Coba kalau lo mau main ke rumah gue, cilok buatan nyokap gue nggak ada duanya,” ucap Raka menggebu, sekaligus ada maksud lain di balik kalimat itu.
Puspa hanya mendengus sebal. Wanita itu memilih untuk kembali menancapkan lidi ke adonan tepung bulat miliknya dan memakannya langsung dalam satu kali suapan.
“Pelan-pelan, gue nggak minta.”
“Guuwhee lhaapheer —.”
“Telen dulu, Ningruum,” titah Raka.
Puspa menuruti kalimat Raka, ia menelan makanan di mulutnya lalu kembali memusatkan perhatian ke arah laki-laki itu. “Gue laper.”
“Makanya lo mau aja gue per-istri, biar bisa gue kasih makan tiap hari.”
“Lo bilang gitu udah kaya kucing aja gue.”
“Hahaha.” Raka mengacak-acak rambut Puspa yang rapi, sesuatu yang mulai ia sukai akhir-akhir ini.
Lama mereka kembali termenung dalam diam. Puspa dan Raka memilih menikmati cilok sambil melihat beberapa anak muda yang mulai berdatangan. Seperti Raka dan Puspa, kebanyakan mereka hanya ingin melepas lelah, mencari makanan ringan atau hanya ingin sekedar mengurai sepi.
“Rakaa,” panggil Puspa lirih.
“Hmm..”
“Gue mau resign.”
Tubuh Raka menunjukan keterkejutan, tapi laki-laki itu memilih tetap diam untuk mendengarkan penjelasan Puspa. Raka meletakan plastik berisi cilok yang hanya tinggal dua biji di ujung kursi dan menautkan perhatiannya penuh ke arah Puspa.
“Ini tentang masa lalu gue yang harus segera diselesaikan, seperti apa yang lo bilang. Dan keluar dari perusahaan AD Corporate adalah salah satu cara yang gue lakuin buat itu.”
Raka mendengar, duduk sambil meletakan kedua tangan di pangkuannya sendiri.
“Gue yakin ada banyak pertanyaan di otak lo. Tapi sementara ini, hanya itu yang bisa gue share ke lo. Suatu saat gue pasti bisa cerita lebih.”
Bagi Raka, Puspa yang terbuka kepadanya sudah lebih dari sekedar cukup untuk memulai kehidupan barunya bersama wanita itu. Dia tidak akan menuntut lebih. “Okeey, terus apa yang akan lo lakuin selanjutnya?” tanya Raka.
“Gue mau pindah ke Bandung, dekat sama rumah Bapak. Gue mau merintis usaha gue sendiri, kedai kopi.”
Raka cukup terpukau dengan jawaban Puspa. Ternyata di dalam otak serumit itu terbesit pemikiran cemerlang untuk memulai usahanya sendiri.
“Gimana menurut lo?” tanya Puspa meminta pertimbangan.
“Keren.”
“Serius?”
“He’eh, tidak ada pekerjaan yang lebih nikmat dari bekerja sesuai dengan kesukaan lo sendiri. Lo suka kopi, gue yakin pasti lo sukses dengan itu.”
Senyum di wajah Puspa terbit dengan sempurna mendengar jawaban Raka yang mendukungnya.
“Tapi nanti kita akan lebih sulit buat ketemu.” Tetapi Raka akan selalu mengungkapkan apa yang ada di dalam otaknya.
“Dua orang yang ditakdirkan terikat akan tetap dekat meskipun tidak saling melihat.”
“Ruum, kita sudah sama-sama dewasa. Lo pasti sadar kalau apa yang gue inginkan dari kita adalah sebuah pernikahan.”
Puspa mengangguk. “Beri gue waktu, Raka.”
“I will. Gue akan titipkan hati gue disini,” ucap Raka sambil menunjuk ke arah dada Puspa.
“Kalau ternyata gue tidak bisa menjaganya, bagaimana?”
“Mmm, sedih pasti. Tapi apapun itu yang penting bagi gue adalah kebahagiaan Ningrum.”
“Terima kasih,” ucap Puspa tulus. “Bener apa yang lo bilang, mengenal Raka adalah hal yang harus disyukuri dalam hidup gue.”
“Peres lo, Ningrum.”
“Hahahah, seriusaan.”
Puspa mengamati Raka yang tiba-tiba terlihat tidak nyaman. Laki-laki itu tertangkap mata sering melihat ke arah belakang tubuhnya lalu mengedarkan pandangan kemana-mana. “Kenapa?” tanya Puspa.
“Kenapa apa?”
“Lo kaya aneh. Kenapa? Ada mantan lo disini? Apa ada cewek lo?”
“Ck, cewek gue lagi makan malam,” jawab Raka santai.
“Kok nggak ditemenin?” Ada nada sebal di dalam kalimat Puspa. Wanita itu memasang wajah cemberut dengan pandangan yang ia alihkan dari sosok Raka.
“Gue temenin kok,” jawabnya lagi.
“Kan lo ada di sini.”
“Cewek gue lagi makan malam pakai cilok.” Seperti biasa, Raka mengucapkan kalimat itu dengan senyum tengil dan alis mata yang naik turun.
“Najis.”
“Nojas najis, suatu hari kesengsem juga lo sama gue.”
“Eh eh, kok berdiri?” tanya Puspa tidak terima saat melihat Raka yang tiba-tiba berdiri dari duduknya. “Gue masih pengen disini.”
“Kita pulang aja yuk. Gue temenin makan cilok-nya di rumah,” pinta Raka sambil menarik tangan wanita itu untuk mengikutinya.
“Tapi gue masih pengen disini, Raka.”
“Kita pulang,” jawab Raka tegas. Laki-laki itu kembali menyapu pandangannya ke mana-mana.
“Gue ada di hadapan lo, Raka.”
“Gue nggak nyari lo. Sekarang lebih baik kita pulang.”
Raka benar-benar serius. Laki-laki itu memaksa Puspa untuk ikut berjalan di sampingnya. Mereka bergandengan tangan sepanjang jalan, sesuatu yang terasa asing untuk Puspa tapi genggaman Raka terasa begitu menghangatkan.
Raka menyiapkan footstep untuk Puspa sebelum menghidupkan motor. Lalu mulai membawa motornya kembali menuju rumah Puspa. Taman kota ini tak jauh dari rumah Puspa. Mereka sengaja memilih tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah karena mengingat esok hari bernama senin.
“Rum,” panggil Raka di tengah perjalanan pulang.
“Yaa?”
“Lo punya musuh?” tanyanya.
“Musuh? Apaan sih, Ka?” tanya Puspa bingung.
“Abaikan,” putus Raka. Laki-laki itu memilih untuk menaikan kecepatan motornya saat merasa ada sebuah mobil yang mengikuti mereka terus menerus.
Sejak berada di taman, Raka selalu menemukan pandangan orang yang mencurigakan ke arah Puspa. Sebagai seseorang yang cukup dekat dengan Puspa, ia tahu ada yang sedang mengamati mereka berdua sejak mereka meninggalkan rumah Puspa sore tadi.
Raka semakin mempercepat motornya untuk menghilangkan jejak dari mobil yang terus menerus membuntutinya.
“Rakaa, hati-hati,” tegur Puspa saat motor Raka mulai melaju kencang.
Raka kembali melihat ke arah belakang, kali ini ada mobil yang berbeda berjalan mendekat dengan cepat ke arahnya. Raka menukik tajam untuk memutar arah tapi tiba-tiba mobil itu justru berhenti tepat di depan motor Raka.
Seseorang dari dalam mobil keluar dengan tergesa. Laki-laki itu berhenti tepat di depan motor Raka.
Terkadang Raka merasa sangat mengenal Puspa dengan baik, tapi beberapa kali Raka merasa dia tidak mengenal Puspa sama sekali. Ada begitu banyak rahasia yang ada di dalam otak wanita itu, termasuk laki-laki yang saat ini berdiri di depannya dengan tatapan khawatir.
“Kita harus pergi,” ucap laki-laki itu.
Bagaimana Puspa bisa mengenal Pak Arya?
“Sorry, gue harus bawa Puspa pergi dari sini,” tambah laki-laki itu lebih ditujukan ke arah Raka.
“Aku nggak bisa pergi sama kamu,” putus Puspa. Wanita itu dengan berani menolak tegas ajakan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
“Puspa, aku mohon. Ikut aku, kamu ada dalam bahaya.”
Interaksi di hadapan Raka saat ini menciptakan asumsi besar di otaknya bahwa ada sesuatu diantara Puspa dan Pak Arya. Sesuatu yang membuat Puspa memutuskan resign demi benar-benar menyelesaikan masa lalunya.
Apakah Pak Arya adalah seseorang dari masa lalu Puspa?
Raka melihat seorang laki-laki yang sering bersama Arya ikut keluar dari mobil. Laki-laki itu menggenggam sebuah pistol untuk berjaga-jaga.
“B 121 xxx,” ucap Raka.
Anton melihat ke arah Raka bingung.
“Gue terakhir lihat mobil itu di pertigaan kedua sebelum ini. Gue lihat mobil itu pertama kali saat kita keluar dari rumah Puspa.”
Itulah alasan yang membuat Raka memaksa Puspa untuk segera pulang saat mereka berada di taman. Ia merasa ada yang membuntuti keduanya.
“Kita harus segera pergi,” paksa Anton. Mereka harus segera masuk ke dalam mobil sebelum sesuatu yang besar terjadi.
“Gue nggak mau pergi,” ucap Puspa lagi. Ia melihat ke arah Raka dengan sebuah permohonan yang kentara. Akan ada hal yang tidak baik jika Puspa ikut pergi bersama Arya. Ada sesuatu yang tidak bisa ia atur sesuai keinginannya, yaitu perasaannya sendiri. “Gue nggak mau,” ucap Puspa lagi.
“Lo harus pergi, ikut Pak Arya,” perintah Raka. Satu-satunya yang bisa menyelematkan Puspa saat ini hanyalah laki-laki itu. Meskipun ada perasaan tidak rela jika Puspa pergi bersama Arya.
“Puspa, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu padamu.” Arya ikut menyela.
“Tapi —kamu tahu ini bukan sesuatu yang baik untuk kita,” sanggah Puspa lagi.
“Ini demi nyawamu. Aku mohon, ikut sama aku,” ucap Arya.
Puspa kembali menatap ke arah Raka meminta persetujuan. Sesuatu yang membuat hati Arya berdesir ngilu. Ia memilih memejamkan matanya kuat-kuat karena tak ingin melihat pemandangan menyesakan dada di depan matanya langsung.
“Lo lebih baik pergi sama Pak Arya,” ucap Raka. Bersama dirinya, Puspa belum tentu aman.
“Puspa,” panggil Arya lagi. “Kita pergi?” Arya menengadahkan tangannya meminta sambutan tangan Puspa. Dengan penuh doa, wanita itu menerima uluran tangan Arya yang terbuka.
Rasa hangat yang dulu pernah ada kembali memenuhi hati Puspa saat tangan mereka kembali saling menggenggam. Malam ini, tangan mereka kembali tertaut setelah sebuah perpisahan dan jarak yang menyakitkan untuk keduanya.
Yaa … kembali tertaut!
Minggu pagi adalah hari yang sangat Arya tunggu-tunggu, di hari ini ia bisa menghabiskan waktunya bersama Axel setelah sibuk dengan pekerjaannya. Dan malam nanti, mereka akan pergi bersama dengan Ivy untuk makan malam. Seperti yang Arya ucapkan, dia akan berusaha memulai kembali kehidupannya bersama Ivy.
“Lo pulang dulu aja,” titah Arya ke Anton. Mereka sedang duduk di cafe dekat lapangan golf. Arya sedang menyuapi Axel buah-buahan dan Anton sedang sibuk dengan ponselnya. Ngocoks.com
“Tumben?”
“Gue mau jemput Ivy di rumah orangtuanya terus mau makan malam bersama.”
Senyum Anton memiliki banyak makna, dia ikut bahagia melihat Arya yang perlahan sudah mulai melepas masa lalunya. “Cieee,” goda Anton. “Mungkin lo butuh second honeymoon gitu. Haha.”
“Mungkin lain kali, Ivy lagi hamil muda.”
“Good luck buat lo, Bro. Gue yakin lo akan segera mendapatkan kebahagiaan.”
“Thank’s.”
Bunyi dering ponsel Arya mengalihkan perhatian laki-laki itu dari Axel. Ada nama Ivy di sana, laki-laki itu membersihkan tangannya sebelum mengambil ponsel di meja.
“Mas … Daddy, Daddy marah, aku —.”
“Pelan-pelan, Ivy. Ngomongnya pelan-pelan. Daddy kenapa?”
“Aku di rumah, nangis … lalu tiba-tiba Daddy datang terus marah. Puspa gimana Mas?”
Puspa? Arya benar-benar tidak memahami kalimat istrinya. Ia mulai menegakkan tubuhnya waspada saat nama itu disebut bersama dengan Mr. Miller dari bibir istrinya.
“Daddy kenapa?”
“Puspa dalam bahaya.”
Seketika itu juga Arya berdiri hingga kursi yang ia duduki terjatuh kasar di lantai. Anton yang sedang asik dengan game-nya kaget, ia ikut berdiri saat melihat bos-nya terlihat menyeramkan.
Ada apa? tanya Anton dengan isyarat mata.
“Ivy,” panggil Arya dengan desah frustasi. Dia baru saja hendak melangkah tapi istrinya kembali berulah. “Kenapa lagi?”
“Aku tidak bisa menjelaskan sekarang, Mas. Tapi aku benar-benar memohon untuk melindungi, Puspa. Bawa wanita itu pergi dari sini dan aku akan coba berbicara dengan Daddy.”
Ini tidak lucu! Bagaimana bisa Arya harus membawa Puspa pergi? Sedangkan efek Puspa masih begitu besar untuknya. Arya merasa usahanya akan menjadi percuma jika dia harus kembali dipertemukan dengan Puspa.
Tuhan? Kenapa lagi ini? teriak Arya dalam hati.
“Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu yang membahayakan Puspa,” ucap Ivy lagi dengan isakan yang jelas.
Arya juga tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika itu terjadi. “Aku akan mencari Puspa, bersama Anton,” putus Arya akhirnya.
Dan di sinilah sekarang dia berada, di dalam mobil yang sama dengan wanita yang masih menjadi pemilik hatinya. Bagaimana bisa takdir sehebat itu menulis cerita? Di saat Arya sudah belajar mengikhlaskan, mereka kembali harus berhadapan.
Arya melihat ke arah Puspa yang memojokan tubuhnya di ujung kursi dengan tatapan kosong. “Aku minta maaf karena harus melibatkanmu di dalam masalah keluargaku,” ucap Arya memecah sepi. Anton yang sedang mengemudi pun bisa ikut mendengarkan percakapan ini.
“Ada apa lagi ini?” tanya Puspa lemah.
“Aku juga tidak tahu, Ivy menghubungiku dan mengatakan kamu dalam bahaya. Dia memintaku untuk menyelamatkanmu.”
Puspa tersenyum tipis meragukan, pagi tadi wanita itu mendatanginya dan memintanya untuk pergi. Lalu malam ini tiba-tiba wanita itu berubah mengkhawatirkannya? “Istrimu mendatangiku pagi tadi,” ucap Puspa.
Arya bahkan Anton terkejut mendengar kalimat Puspa. Mereka berdua melihat ke arah Puspa, untuk Anton itu hanya terjadi sebentar karena laki-laki itu harus kembali fokus dengan kemudinya.
“Dia memintaku untuk pergi.”
“Aku —maaf, Puspa. Aku selalu —.”
“Nggak apa-apa,” jawab Puspa dengan senyum tipis, tapi semua orang tahu senyum itu tak sampai ke hatinya. “Wajar jika seorang istri meminta perempuan lain untuk menjauh dari suaminya.”
Arya menelan ludahnya kelu, dia ingin tahu apa saja yang diucapkan Ivy kepada Puspa. Apakah Ivy menyakiti wanita itu? Apakah Puspa semakin membencinya? Dan semua itu hanya berada di otak Arya karena dia tidak memiliki keberanian untuk bertanya.
“Kita mau kemana?” tanya Puspa. Dia tak ingin lagi membahas istri Arya. Dia hanya ingin nyawanya aman dan semua kembali baik-baik saja.
“Ton, kita kemana?” tanya Arya, sebenarnya dia juga bingung dengan rencananya sendiri.
“Gue juga lagi mikir,” jawab laki-laki itu singkat.
Mobil kembali berjalan membelah jalanan kota Jakarta yang ramai. Beberapa menit kemudian Anton menepikan jalan di sebuah stasiun yang terletak di tengah kota.
“Kenapa disini?” tanya Puspa pertama kali.
“Rencana yang ada di otak gue satu-satunya cuma ini, kalian pergi dari Jakarta kalau perlu keluar pulau jawa. Kita nggak tahu seberapa banyak koneksi Miller di sini.”
“Mas,” panggil Puspa tidak terima ke arah Arya. Tapi laki-laki itu justru meminta Puspa untuk diam dulu dan mendengarkan penjelasan Anton.
“Hanya ini satu-satunya jalan, Arya. Hubungi gue setelah dua hari, nanti gue bantu Ivy buat menyelesaikan masalah ini.”
“Anton…”
“Keselamatan Puspa lebih penting saat ini, apa ada yang salah dengan kalimat gue?” putus Anton. Laki-laki itu tidak memiliki solusi lain selain cara ini. Meskipun itu harus kembali mengorbankan perasaan Arya dan Puspa.
“Lo yang bawa Puspa pergi, atau … Raka,” tawar Arya meskipun dia sendiri takut jika hal itu terjadi.
“Gue belum yakin lo juga aman, Arya. Jika sudah berhubungan dengan keluarganya, Miller yang memiliki sifat setan bisa berubah menjadi iblis mematikan.”
Arya masih bingung, matanya berlarian mencari cara untuk terhindar dari situasi yang mungkin akan semakin menyudutkan dia dan Puspa.
“Kalau lo percaya gue atau Raka buat bawa Puspa pergi, it’s oke, gue tinggal jalan sekarang juga,” ucap Anton lagi.
“Oke, gue bawa Puspa pergi,” putus Arya setelah sekian lama menimbang. Tidak ada yang bisa ia percaya untuk menyelamatkan Puspa saat ini selain dirinya sendiri.
“Aku nggak bisa!” Puspa masih menolak. Wanita itu benar-benar tidak mau pergi berdua bersama Arya.
Arya sendiri pun ragu, tapi sama seperti Anton, tidak ada solusi lain selain Arya sendiri yang melindungi Puspa. Arya menarik tubuh Puspa untuk sedikit menjauh dari keramaian saat Anton pergi membeli tiket. “Papa Ivy sangat berbahaya. Kamu bisa terluka,” jelas Arya. Semua kalangan pesohor tahu bagaimana tangan dingin Miller jika keluarganya terusik.
“Kita temui laki-laki itu, kita jelaskan jika tidak ada hubungan apa-apa diantara kita.”
Puspa benar, tetapi kenapa Arya masih saja sakit hati mendengar kalimat itu? “Menurutmu laki-laki itu bisa percaya dan melepasmu begitu saja?”
Puspa tidak tahu!
“Tapi nggak harus juga pergi dari sini,” jawab Puspa kali ini dengan nada yang lebih rendah. Dia mulai bimbang.
“Tidak ada tempat yang aman di Jakarta. Aku harus membawamu pergi dari sini untuk sementara waktu.” Arya mencoba menjelaskan. “Aku janji, sorry maksudku aku akan berusaha untuk tidak melampaui batasku.”
Arya mungkin bisa berjanji, tapi ini bukan hanya tentang laki-laki itu. Tapi juga tentang Puspa yang tidak percaya dengan dirinya sendiri.
Anton sudah mendekat, laki-laki itu menyerahkan dua tiket kereta ke tangan Arya.
“Tiket ke Surabaya. Kalau saran gue pergi ke Bali. Gunakan kendaraan darat. Dua hari lagi lo telepon gue tapi jangan pakai ponsel lo sendiri,” instruksi Anton cepat dan banyak. “Mana ponsel lo?”
Arya menyerahkan ponselnya ke tangan Anton.
“Ponsel lo Puspa,” ucap Anton ke arah Puspa.
“Punya gue juga?” Ada nada tidak terima di kalimat Puspa.
Anton hanya mengangguk mengiyakan. Dengan terpaksa Puspa menyerahkan ponselnya ke tangan Anton.
Anton menyerahkan tas yang biasa ia bawa ke tangan Arya. “Ada uang lima puluh juta, barusan gue ambil, sementara jangan pakai kartu ATM lo dulu, bahaya.”
“Oke.”
“Kalian pergi sekarang,” usir Anton.
“Kita pergi, Puspa,” ajak Arya dengan melihat ke arah Puspa yang (masih) terlihat tidak terima.
Suara panggilan keberangkatan menarik kenangan Arya saat perpisahan keduanya dulu di Bandara. Tapi bedanya, kepergiannya kali ini membawa Puspa pergi. Seperti keinginannya dulu yang sempat ingin membawa Puspa melarikan diri.
“Puspa,” panggil Arya sekali lagi dengan nada penuh tekanan.
Tangannya kembali menengadah untuk meminta Puspa menyambutnya.
“Kita harus segera pergi,” tambah Arya sekali lagi.
Puspa kembali menyambut tangan Arya yang terbuka. Panggilan kedua keberangkatan kereta memaksa keduanya untuk segera masuk ke dalam stasiun.
Arya menarik tubuh Puspa, mereka berdua berlari mengejar kereta dengan tangan yang saling menggenggam.
“Bii, lebih cepat lagi.”
Puspa mempercepat langkahnya. Arya lebih dahulu masuk ke dalam kereta yang sudah berjalan dan menarik tubuh Puspa untuk ikutmasuk bersamanya.
Bersambung… Beberapa penumpang yang sedang beristirahat dalam bis mulai terbangun, kenek berteriak memberitahu bahwa bis sudah sampai di pelabuhan. Seperti yang diinstruksikan Anton, Arya dan Puspa akan ke Bali menggunakan perjalanan darat.
Setelah sampai di Surabaya pagi tadi, keduanya melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi selama delapan jam menggunakan bis. Dan sekarang ini mereka sudah sampai di Pelabuhan Ketapang. Rencananya, mereka akan melintasi samudra menggunakan kapal feri untuk sampai ke Bali. Orang yang bangun pertama kali adalah Arya. Ia mulai membuka matanya yang terasa lengket. Perjalanan mendadak dan berlangsung lama membuat tubuhnya lelah. Ia melihat ke arah Puspa yang tidur di dalam dekapannya.
Pasti wanita itu pun kelelahan hingga tidak sadar menyenderkan tubuhnya ke Arya untuk mendapatkan kenyamanan. “Puspa,” panggil Arya.
Mengenal Puspa sejak dulu, Arya tahu hal tersulit dari seorang Puspa adalah bangun dari tidurnya. Wanita itu pelor, dimana pun tempatnya bisa tertidur dengan mudah tapi sangat sulit untuk dibangunkan. “Kita sudah sampai.” Arya masih mencoba membangunkan Puspa, ia mengusap-usap tubuh Puspa dan memanggil wanita itu lirih.
“Emmmmhh.”
See? Wanita itu bergerak tapi hanya untuk menyamankan tidurnya di dalam pelukan Arya. Puspa semakin melingkarkan tangannya di tubuh Arya untuk mencari kenyamanan. Kepalanya ia masukan ke sela-sela tubuh Arya yang hangat.
Tanpa Arya ketahui, tidur Puspa saat ini adalah tidur terpulasnya dalam lima tahun belakangan ini.
“Kita harus melanjutkan perjalanan ke Bali.”
Saat pertama kali membuka mata, Puspa terkejut mendapati posisi keduanya yang dekat. Ia beranjak duduk, membuat jarak untuk mereka berdua. “Maaf.”
Arya hanya menanggapi dengan tersenyum singkat.
Keluar dari bis, keduanya langsung berjalan menuju pelabuhan dengan beberapa penumpang lainnya yang memiliki tujuan sama. “Ada banyak calo di sekitar sini, mungkin akan sedikit membuatmu tidak nyaman.” Arya menawarkan genggaman tangan agar keduanya tidak terpisah, tapi Puspa menolak.
Arya memilih membeli tiket sendiri lalu mereka berdua masuk ke dalam kapal. Jam enam sore, kapal mulai berlayar. Perjalanan laut keduanya saat ini sekitar dua sampai tiga jam, Puspa tidak memilih tidur. Wanita itu lebih memilih menikmati pemandangan laut dari tempatnya duduk.
“Kamu harus memakai selimutmu, cuacanya dingin,” tegur Arya yang datang sambil membawakan dua cup pop mie panas di tangannya. Laki-laki itu mengatakan tidak ada yang lebih nikmat dari makan mie di tengah lautan.
“Yang punya sakit asma itu kamu. Kalau sampai kambuh, akan sangat merepotkan.”
“Oh, jadi asmaku sangat merepotkan? Pantesan kemarin males-malesan bantuin aku pas serangan.”
“Ck, udah di bantuin juga,” kesal Puspa. “Bilang terima kasih aja enggak.”
“Terima kasih, Puspa,” ucap Arya tulus. “Lebih baik sekarang kamu pakai selimutmu.”
“Kamu yang punya asma, Mas.”
“Kita hanya punya satu selimut, tidak mungkin aku membiarkanmu kedinginan.”
Puspa akhirnya mengalah, menerima selimut yang diberikan Arya untuk menyelimuti tubuhnya. Mereka menghabiskan pop mie dalam diam, lalu membuang mie itu yang tinggal bungkusnya saja.
“Mas,” panggil Puspa setelah mereka berdua kenyang.
Keduanya duduk berseberangan. Arya memejamkan matanya meskipun tidak tidur. Dia hanya sedang mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. “Heemm.” Arya membuka matanya sekilas, menatap Puspa yang sedang mengarahkan perhatiannya ke arah laut.
“Ibuk sudah menikah lagi. Dua tahun setelah kita berpisah, ibuk memutuskan untuk menikah dan tinggal di Desa. Aku kembali sendiri.”
Arya tak menanggapi, seperti dulu Arya hanya mendengar setiap lantunan cerita yang keluar dari bibir kekasihnya. Ngocoks.com
“Awalnya aku benci, kenapa semua orang meninggalkanku? Tapi saat melihat senyum ibuk, senyum yang tak lagi pernah terlihat saat masih bersama bapak atau setelah perceraian dengan bapak. Aku jadi merasa egois jika harus memaksakan ibuk untuk tidak menikah lagi.”
“Dan pas banget waktu itu ada yang membeli rumah ibuk dengan harga tinggi di atas pasaran. Bahkan bisa sampai di pakai buat DP rumah yang kutinggali saat ini, sisanya untuk ibuk bangun rumah di Desa.”
“Maafkan aku, pasti banyak sekali kesedihan yang kamu lewati seorang diri setelah aku pergi.”
Puspa mengangguk dengan bibir bergetar. Lima tahun yang lalu adalah masa tersulit untuknya, dia yang biasanya memiliki tempat untuk melepaskan semua beban hidupnya harus berusaha untuk tetap bertahan seorang diri. “Kamu jahat,” ucap Puspa dengan lelehan air mata yang lancar.
“Aku minta maaf.” Arya pun mengulang-ngulang permintaan maafnya.
“Mas,” panggil Puspa lagi. Kali ini mata wanita itu menaut ke arahnya.
“Aku di sini.”
“Aku takut.”
“Takut apa?” tanya Arya.
Puspa cukup lama diam, sedang menimbang kalimat yang ingin ia ucapkan. “Semuanya … aku takut, takut menjalani hidup sendiri.” Hanya dengan Arya, Puspa bisa mengungkapkan semua rasa, semua yang tak pernah ia keluarkan di dalam otaknya.
“Kamu harus tahu kalau kamu tidak merasakan hal itu seorang diri. Percayalah, aku pun merasakan hal yang sama.” Mata Arya kini sudah terbuka lebar, ia melepas tautan mata keduanya dan memilih melihat ke arah gelapnya malam.
Keduanya kembali hening, hanya ada suara debur ombak dan angin laut yang kencang. Cukup lama, mereka menikmati kesendirian, berbicara dengan diri mereka masing-masing.
“Do you still love’s me?” tanya Arya tiba-tiba.
Arya menunggu dan Puspa mematung. Dalam hidup Puspa lima tahun belakangan ini, kata ‘cinta’ sangatlah haram untuk diucapkan. Tapi melihat Arya yang menunggunya dengan tatapan penuh pengharapan memaksa Puspa untuk menelan ludahnya berkali-kali.
“Abaikan pertanyaanku,” putus Arya akhirnya, karena Puspa yang tak kunjung memberikan jawaban. “Ceritakan hal lain yang kamu lalui tanpa diriku,” pinta Arya. Dia sudah lelah untuk bersedih. Dia berharap kesempatan bersama Puspa saat ini hanya untuk menciptakan kenangan indah.
“Cerita apa?” tanya Puspa.
“Apapun itu.”
“Aku bingung.”
Arya berfikir, mencoba mencari pembahasan yang menarik agar suasana malam ini tidak hanya tentang kesedihan. “Ceritakan tentang bagaimana kamu bisa di AD Corporate.”
“Ah, jangan. Alasan aku berada di perusahaanmu sangat menyakitkan. Aku ingin melupakannya. Mungkin aku akan cerita saat pertemuan kita pertama kali, yang di tempat meeting? Apa kamu sudah melihatku waktu itu?”
Arya menggeleng dengan senyum penuh makna. “Aku sudah melihatmu jauh sebelum pertemuan itu. Aku melihatmu pertama kali saat kamu duduk bersama dengan beberapa karyawan baru di masa pembekalan.”
“You see me?”
“Tentu saja, wanita berkucir kuda yang selalu mampu mencuri perhatianku.”
“Terus? Kamu nggak nyapa aku? Atau apa gitu?”
“Aku pengecut, nggak berani.”
“Jadi pertemuan kita di tempat meeting itu pertemuan kedua kita dong.”
“Untukku itu lebih, karena aku sering melihatmu diam-diam.”
Puspa tertegun mendengar kalimat Arya. Jadi selama ini, laki-laki itu sering melihatnya diam-diam? “Es kopi dingin yang sering diletakan di meja, apakah itu dari kamu?”
“Memang ada yang bisa membuatkan es kopi dingin seenak takaranku?” tanya Arya balik.
Puspa menggeleng.
“Terus? Masih nanya?” tanya Arya memastikan.
Malam ini, ada begitu banyak hal yang mereka sampaikan. Tentang kehidupan lima tahun saat keduanya terpisah jarak dan rasa, dan tentang perasaan yang tersisa.
Malam ini Pak Brama bersama Anton mendatangi kediaman Miller. Ia membawa sekitar tiga pengawal termasuk Anton untuk melindungi dirinya. Miller bisa sewaktu-waktu membunuhnya, tapi demi keselamatan Arya, dia akan mengambil resiko itu. “Maaf aku mengganggumu malam-malam.”
“It’s oke, take your time.”
Mr. Miller duduk di kursi ruang kerja dengan kedua kaki menyilang. Satu putung rokok terselip di sela-sela jemari tangan kekar itu. Asap yang mengepul ke atas menambah kesan bahwa drama yang terjadi saat ini tidaklah main-main.
“Aku yakin kamu sudah paham dengan maksud kedatanganku malam ini.”
“Lebih baik aku mendengar penjelasan darimu langsung untuk lebih jelasnya.”
“Tentu ini tentang Arya, lepaskan dia.”
Mr. Miller terkekeh meremehkan. Dia berdiri untuk mendekat ke arah Pak Brama dan Anton yang berdiri di belakangnya. “Tentu tidak akan semudah itu. Dia menyakiti anakku dengan pergi bersama kekasihnya.”
“Jangan membuat sebuah kesimpulan dari otak Ivy, Miller. Kita semua tahu bagaimana cara putrimu untuk mengikat putraku.”
“Jangan merendahkannya.”
“Dia yang merendahkan dirinya sendiri!”
“Tutup mulutmu, Bramaa!! Kamu tidak tahu siapa lawan yang kamu hadapi saat ini!” marah Mr. Miller tercetak jelas di wajahnya. “Tidak ada yang boleh menyakiti putriku.”
“Sama dengan dirimu, aku sebagai ayah juga tidak akan membiarkan ada orang yang menyakiti anakku,” tegas Pak Brama. “Selama ini ia tersakiti bertahan di samping Ivy. Aku yakin kamu juga sudah tahu tentang fakta ini. Jangan berpura-pura bodoh tentang bagaimana Ivy bisa hamil.”
“Aku menutup mataku untuk melihat bagaimana anakku bisa hamil yang terpenting adalah laki-laki yang melakukannya harus bertanggung jawab.”
“Apa kamu yakin yang harus bertanggung jawab disini hanyalah Arya?” tanya Pak Brama menantang. “Putrimu sudah dewasa untuk mengenal kata pertanggung jawaban.”
Miller tak berniat menanggapi kalimat Tn. Brama.
“Lepaskan anakku, Miller. Atau aku akan menyambut tantangan perangmu.”
“Pergilah, Brama. Aku akan mendapatkan Arya dalam keadaan hidup. Tapi aku tidak berjanji untuk melakukan hal yang sama pada kekasihnya,” ancam Mr. Miller.
“Dia bukan kekasih Arya.”
“Bohong!”
“Ivy yang merebut Arya dari wanita itu.”
“I don’t care!”
Pak Brama menekan perasaan marah di dadanya. Meladeni Miller yang kuat dan angkuh memang tidak akan mudah. “Seperti dirimu yang melindungi Ivy, aku juga akan melindungi Arya dan gadis tidak bersalah yang menjadi korban keegoisan anakmu. Aku akan melindungi mereka hingga titik darah penghabiskanku.”
Pak Brama meninggalkan ruang kerja Mr. Miller. Ia berjalan ke luar rumah dan menghentikan langkahnya saat melihat Ivy dan istri Miller di sana.
“Aku tahu kamu wanita baik,” ucap Pak Brama ke arah Ivy. “Jadilah wanita yang bertanggung jawab untuk setiap tindakan yang sudah kamu lakukan.”
“…”
“Mungkin ayahmu tidak menanamkan hal ini pada dirimu tapi sebagai ayah mertua aku berkewajiban menyampaikan. Setiap perbuatan memiliki konsekuensi, Ivy. Jangan menunggu sampai semuanya semakin bertambah runyam.”
Setelah mengatakan itu, Pak Brama benar-benar pergi meninggalkan kediaman Miller.
***
Di dalam hidup ada begitu banyak penyesalan yang terjadi. Kenapa dulu aku memilih itu? Kenapa dulu aku melakukan itu? Apapun itu selalu berujung dengan, jika waktu dapat diulang lagi aku pasti tidak akan melakukan hal bodoh itu.
Tapi, tidak semua penyesalan berakhir buruk jika kita tidak menyalahkan diri sendiri. Apapun itu, hal pertama yang harus kamu lakukan di saat menyesali sesuatu adalah menerima.
Accepted.
Sebuah penerimaan atas segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita adalah sesuatu yang menurutku, sangat penting.
***
Suara air mengalir di taman belakang rumah menjadi satu-satunya suara yang paling dominan di tempat ini. Sebuah ruangan terbuka yang langsung menghadap ke arah taman di dalam rumah keluarga Miller.
Di rumah orangtuanya, tempat ini adalah tempat yang paling Ivy sukai.
Ivy kecil sering menghabiskan waktunya untuk bermain di taman ini. Sebuah taman berukuran hampir lima puluh meter dengan saung yang terbuat dari bambu di tengahnya. Ivy duduk di saung melihat Mr. Miller yang sedang memberikan makan ikan-ikan di kolam.
“Dad.”
“Hem.”
“Daddy ingat waktu aku meminta Daddy menyingkirkan teman Arjuna?” Ivy duduk menghadap ke arah daddy-nya yang sedang berjongkok di tepi kolam ikan. Arjuna, teman masa kecilnya yang kini memilih enggan kembali memiliki hubungan dengan Livylia.
“He’eh. Kamu menangis berhari-hari hanya karena takut kehilangan Arjuna.”
“Yaa, karena dia-lah sahabatku satu-satunya. Aku takut kehilangannya.”
“Daddy akan selalu memberikan apapun yang kamu inginkan, Sweatheart.” Mata Mr. Miller masih ke arah kolam ikannya, sambil sesekali melemparkan makanan ikan ke kolam.
“Tapi Ivy justru kehilangan Arjuna.”
Manik mata Mr. Miller beralih arah, ia melihat ke arah Livylia yang … terlihat tidak sedang baik-baik saja. “Aku tidak paham dengan arah bicaramu, Vy.”
“Ivy yakin, Daddy akan selalu ada di depan Ivy, menjaga dan melindungi Ivy.”
“Yes, Daddy tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu.”
“Terima kasih, Dad,” jawab Ivy. Wanita itu ikut menjongkokan tubuhnya di samping Mr. Miller. “Tapi, jika Daddy sudah tua dan tak bisa lagi menjaga Ivy, siapa yang akan melakukannya Dad?”
Mr. Miller sempat menghentikan ayunan tangannya yang hendak menyebar makanan ikan, hanya sebentar, karena detik berikutnya laki-laki itu tetap melanjutkan aktivitasnya itu. “Ada Arya, suamimu.”
“Apa ada sebuah kepastian Mas Arya akan melindungi Ivy seperti Daddy melindungi Ivy?”
“Sweatheart, kemana arah bicaramu?” Laki-laki itu mulai terlihat kesal.
“Kenapa Daddy tidak melatih Ivy untuk melindungi diri Ivy sendiri?”
Mr. Miller berdiri dari tempatnya lalu mendudukan tubuhnya di saung tempat Ivy duduk sebelumnya. “Kamu perempuan, seharusnya kamu dilindungi laki-laki.”
“Bagaimana jika Ivy tidak menemukan laki-laki yang melindungi Ivy saat Daddy sudah tidak bisa melakukannya?” tanya Ivy. “Cara terbaik untuk melindungi diri sendiri adalah melatih diri sendiri untuk menjadi kuat, apa Ivy salah?”
Tatapan mata Mr. Miller beralih dari sosok Ivy ke arah langit yang tinggi. Kalimat putri-nya saat ini cukup berpengaruh besar untuknya.
“Dad, bagaimana jika ada seorang perempuan telanjang di hadapan Daddy, lalu Daddy khilaf dan perempuan itu hamil?”
Mr. Miller terkekeh. Ia mencubit pipi Ivy dengan gemas saat putrinya banyak bertanya. “Kamu itu, pertanyaanmu sore ini aneh-aneh.”
“Ivy hanya bertanya. Apa jawaban Daddy?”
“Yaa kalau wanita itu hamil biarkan saja, toh dia sendiri yang telanjang di hadapan Daddy. Tidak mungkin hanya karena seorang wanita hamil, Daddy meninggalkan mamamu. She is my soul, Sweatheart.”
“Mas Arya did it.”
Raut wajah penuh tanda tanya tercetak jelas di wajah Mr. Miller. Laki-laki itu menatap putri kecilnya untuk meminta penjelasan lebih.
“Mas Arya —meninggalkan belahan jiwanya hanya demi menyelamatkan harga diri Ivy, hanya demi memberikan keluarga untuk anaknya,” ucap Ivy dengan terisak. “Ivy salah, Dad. Ivy yang memanfaatkan kelemahan Mas Arya waktu dia mabuk.”
“Sayaang —.”
“Selama ini Mas Arya tersakiti hidup bersama Ivy. Ivy jahat, Dad. Ivy sudah menjadi wanita yang jahat.”
Mr. Miller menarik tubuh putrinya untuk mendekat dan memberikan pelukan seorang ayah untuk Ivy.
“Ivy egois, Ivy mendapatkan semuanya. Orangtua lengkap, kemewahan dan kasih sayang. Tapi Ivy justru merebut satu-satunya yang dimiliki Puspa.” Mata Ivy mencari manik hitam daddy-nya, dengan bibir bergetar wanita itu kembali meminta sebuah permohonan pada daddy yang selalu akan memberikan apa yang ia mau. “Jangan sakiti Puspa lagi, Dad. Lepaskan dia karena dalam masalah ini, Ivy-lah yang menjadi pengacau di dalam hubungan mereka.”
Kalimat Puspa yang menginginkan kebahagiaan Arya di samping kebahagiaannya sendiri menyadarkan Ivy. Bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya tetapi juga tentang orang lain. Ivy mencintai Arya, tapi selama ini ia mengabaikan kebahagiaan laki-laki itu hanya demi menyempurnakan kebahagiaannya.
Apakah ini yang dinamakan cinta? Atau hanya keegoisan?
Arya bukanlah sebuah boneka yang harus ia dapatkan.Laki-laki itu memiliki perasaan yang selama ini Ivy abaikan.
Bersambung… Senja dengan segala keindahannya.
***
Terlalu romantis bagi seorang Puspa saat ia menikmati indahnya senja dari bibir pantai Bali. Mereka sudah berpindah tempat, Arya ingin mengganti suasana setiap hari dan berakhir dengan keduanya yang berpindah dari satu pantai ke pantai lainnya.
Sore ini terasa sangat spesial, langit dan pantai sedang bekerja sama menunjukan pemandangan terindah untuk mereka berdua. Terlebih bagi Puspa, karena ada Arya di sampingnya. Laki-laki yang dulu terlalu sulit untuk ia jangkau kini berada dekat di sisinya.
“Istrimu sangat cantik,” puji Puspa tulus. Sebagai wanita saja dia memuji kecantikan istri Arya. Tentu sebagai seorang lelaki, Arya juga mengakui hal itu. “Kamu pasti sangat beruntung mendapatkan istri seperti Ivy.”
“Hem,” jawab Arya singkat. Dia enggan menanggapi karena saat ini ia hanya ingin membicarakan tentang Puspa, bukan Ivy.
“Dia terlihat sangat mencintaimu.”
“Bii,” tegur Arya lembut. Ia menatap ke arah Puspa dengan tatapan tidak suka.
“Ceritakan bagaimana pertemuan kalian pertama kali.”
“Kamu serius ingin mendengarnya?” Arya menjawab dengan dengusan sebal. Dia sudah menunjukan ketidaktertarikan pada topik yang ingin dibahas Puspa tapi wanita itu seakan tak peduli.
“Tentu saja. Aku butuh itu.”
“Bii.”
“Aku takut berharap.”
“Manusia hidup dengan harapan,” jawab Arya lalu kembali menautkan tatapannya ke arah langit.
“Tapi harapan ini salah.”
“Kamu yang tidak mau berjuang,” kilah Arya menyalahkan.
“Seperti yang kukatakan sebelumnya, hidup sebagai seorang anak dari keluarga tidak utuh itu tidak mudah. Apa kamu yakin siap memberikan keluarga tidak utuh untuk anak-anakmu?”
“Bagaimana denganmu? Apa kamu mulai mencintai laki-laki itu sehingga menolak berjuang denganku?”Arya justru menjawab pertanyaan Puspa dengan pertanyaan lainnya.
“Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, dia —teman yang baik.” Puspa mengingat satu nama yang selalu bertingkah menyebalkan. “Dia banyak bicara dan selalu membuat hidupku penuh warna. Aku tidak pernah merasa bosan bersama Raka.”
Ada senyum yang tercetak jelas di wajah Puspa. Sesuatu yang menghangatkan hati Arya karena ia sadar dirinya tak bisa menciptakan senyum itu nantinya, mungkinkah laki-laki itu adalah takdir Puspa? Dan bukan dirinya.
“Kamu pasti bisa bahagia, Bii,” ucap Arya, terselip doa tulus di dalam hatinya untuk kebahagian wanita itu.
Puspa sudah terlalu lama menderita, jika laki-laki itu bisa membahagiakannya maka Arya akan belajar untuk mengikhlaskan Puspa-nya.
“Aku ingin bermain air,” putus Arya tiba-tiba. Seperti yang ia inginkan sebelumnya, dia hanya ingin menciptakan cerita bahagia di moment ini. Dengan semangat laki-laki itu melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya bagian atas dan berlari masuk ke dalam air. Arya bermain di tengah temaramnya senja. Laki-laki itu tertawa ceria dan meminta Puspa untuk ikut masuk ke dalam air bersamanya. “Ayo, Bii. Kita berenang.”
“Kamu tahu aku nggak bisa berenang.”
“Kamu percaya sama aku?” tanya Arya.
“Nggak!” jawab Puspa cepat dan tertawa setelahnya saat Arya terlihat tidak terima dengan jawabannya.
“Aku tidak peduli.” Arya menarik tubuh Puspa dan menggendong wanita itu di pundaknya dengan mudah.
“Bii, lepasin. Aku takuuut.”
“Hahaha.”
Arya melempar tubuh Puspa ke dalam air. Wanita itu cemberut saat melihat pakaiannya yang basah. “Bii, dingin,” sebal Puspa dengan dilebih-lebihkan. Lalu dengan cepat wanita itu mencipratkan air ke arah Arya untuk membalas dendam.
Arya terkejut dan menyerang balik Puspa. Mereka kembali bermain hingga tak sengaja jatuh bersama ke dalam dinginnya air di bibir pantai. Tubuh mereka berdekatan dengan Arya yang berada di atas Puspa. Deru nafas keduanya memberat saat manik mata beradu saling menyesap rindu. Jika boleh Puspa dan Arya meminta untuk sebentar saja waktu dihentikan dan memberikan waktu keduanya untuk bersama.
Arya memilih berdiri memperlebar jarak sebelum logikanya benar-benar menghilang dan justru kembali menyakiti Puspa. Ia membantu Puspa untuk berdiri dan berniat kembali ke bibir pantai.
Namun, langkah Arya terhenti saat tangan Puspa menahan gerakannya. “Bii,” ucap Arya memperingatkan.
Seperti berada di masa tunggu dimana mereka berdua keluar dari dunia yang selama ini tak pernah memberikan restu. “Do you love me, Bii?” tanya Arya sekali lagi.
Suara bunyi mobil yang berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri mencuri perhatian keduanya. Sebuah mobil sedan berwarna hitam yang terlihat mencolok. Seorang laki-laki keluar dari dalamnya dan berjalan mendekat ke arah Puspa dan Arya. “Liburan telah usai,” ucap laki-laki itu. “Gue harus bawa kalian kembali ke kehidupan kalian masing-masing.”
Anton berdiri dengan gagah di depan Arya dan Puspa.
“Semuanya sudah aman, Ton?”
“Sudah bisa dikondisikan. Lo ditunggu keluarga di Jakarta, Arya. Dan Puspa, gue sudah hubungi Raka kalau kalian pulang hari ini.”
Puspa menghela nafasnya berat, lalu mengangguk dengan senyum yang ia paksakan. “Kita sudah selesai, Bii,” ucap Puspa.
“Yaa,” jawab Arya menguatkan diri.
Malam harinya mereka langsung kembali ke Jakarta menggunakan pesawat. Dengan menyisakan keheningan Arya dan Puspa kembali bersiap. Arya dan Puspa berjalan bergandengan tangan menuruni tangga hotel tempat mereka menginap. Mereka melihat Anton sudah berdiri menanti kedatangan mereka di lobby. “Kamu sudah siap?” tanya Arya.
“Siap tidak siap. Mari kita hadapi saja,” jawab Puspa pasti.
Dini hari mereka sudah sampai di Jakarta. Berjalan menyusuri jalan yang biasanya ramai tapi kini sepi seperti hati Arya dan Puspa. “Kita antar Puspa dulu, Ton.”
“Oke.”
Mobil memutar arah untuk mengantar Puspa ke rumahnya. Selama perjalanan pulang genggaman tangan keduanya tak pernah terlepas. Pemandangan itu tak luput dari pengamatan Anton. Tepat di depan rumah Puspa ia menemukan Raka yang berdiri menunggu wanita itu. “Takdirmu sudah menunggumu,” ucap Arya dengan tersenyum tipis.
“Yaa, terima kasih sudah mengantar,” jawab Puspa lebih ke arah Anton. “Hati-hati di jalan.” Puspa turun dan mobil kembali berjalan ke tujuan.
“Bagaimana?” tanya Anton. “Is everything okey?”
“Nggak akan pernah ada kata baik-baik saja jika itu tentang Puspa, Ton.”
“Kalian sudah mendapatkan waktu kalian, kali ini saatnya lo menghadapi kenyataan. Lo ditunggu Mr. Miller dan Pak Brama di rumah Miller.”
“Sekarang ini juga?”
“Yaa sekarang.”
“Gue capek.”
“Nggak ada alasan, Arya. Lo nggak tahu gimana perjuangan bokap lo, gue dan Ivy di sini untuk kalian.”
Arya malas kembali berdebat, laki-laki itu hanya menatap kosong ke arah jalanan luar melalui kaca jendela mobil yang berjalan. Saat nama Ivy disebut, ia kembali membayangkan wajah wanita itu yang sering menunggunya sepulang kerja. Ivy, seorang wanita yang akan menjadi masa depannya. Seorang wanita yang harus Arya lindungi hingga mereka menua bersama. “Bagaimana kabar Ivy?” tanya Arya.
“Dia baik.”
“Kandungannya?”
“She is fine.”
Disisi lain, Puspa yang menatap Raka saat menunggunya merasa melihat sebuah masa depan di mata laki-laki itu. “Terima kasih sudah menungguku.”
“Aku sudah bilang bahwa aku menitipkan hatiku padamu,” jawab Raka dengan senyumannya yang hangat.
“Ada banyak yang belum aku ceritakan kepadamu. Aku yakin kamu memiliki banyak pertanyaan untukku.”
Raka mengangguk. “Kita memiliki waktu yang banyak untuk saling bercerita. Sampai kita menua bersama.”
“Yaa, tentu saja.”
***
Dalam hidup manusia akan ada banyak manusia datangdan pergi silih berganti. Ada yang memang datang lalu menetap, ada juga yang datang lalu pergi meninggalkan kenangan.
After 2 years.
“Satu es coffe latte dan satu es coklat less sugar.”
“Ada lagi, Kak?”
“Mmm … sudah itu saja.”
“Baik, kami siapkan dulu. Meja nomor berapa?”
“Tiga.”
“Baik, mohon ditunggu.”
Gadis belia dengan tas ransel itu membayar pesanannya lalu kembali duduk di kursinya.
“Satu es kopi latte dan coklat, please.” Puspa berteriak ke arah Ari dan Kinan, dua karyawan yang sudah hampir dua tahun ini membantunya mengurus kedai kopi.
“Siap komandan,” jawab Ari. Ari adalah barista terampil yang dimiliki kedai kopi milik Puspa ini. Puspa beruntung mendapatkan laki-laki itu, karena ia bisa belajar banyak hal tentang kopi dari Ari.
Seperti yang Puspa cita-citakan setelah memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Wanita itu memilih mendirikan sebuah kedai kopi di Bandung. Ia menjual rumahnya di Jakarta dan membeli sebuah rumah yang jadi satu dengan kedai untuk ia berjualan.
Tempat ini strategis, karena selain dekat dengan rumah ayahnya, kedai kopi Puspa pun berada di pinggir jalan menuju tempat wisata terkenal di Dago.
“Teteh, donatnya mau ditaruh dimana?” Mentari muncul dari balik pintu dapur. Selain menyediakan kopi, kedai Puspa juga menyediakan donat dengan berbagai macam toping. Bukan Puspa yang membuat tapi ia memesan dari istri ayahnya. Karena kedai ini cukup ramai, hasilnya bisa digunakan untuk tambahan pendapatan Ibu Mentari.
“Di tata yang rapi di etalase ya, Dek.”
“Siap Teteh.”
Hidup Puspa saat ini sangat lengkap. Ia memiliki dua keluarga, meskipun dulu ia tidak terlalu dekat dengan ibu Mentari tapi seringnya intensitas kerjasama mereka membuat banyak percakapan yang tercipta. Dan ya, Puspa kembali merasakan kehangatan sebuah keluarga. Puspa juga sempat mengunjungi Ibunya di desa. Seperti Ayahnya, kedua orangtua Puspa bahagia dengan cara mereka masing-masing.
Ting.
Puspa kembali berdiri di balik mesin kasir, ia menanti dengan senyum ramah saat ada lagi pengunjung yang datang.
“Selamat siang, Kak. Selamat datang di cafe ‘kenangan’. Mau pesan apa?” tanya Puspa menyambut pembeli dengan ramah.
“Best seller di sini apa, Kak?”
“Kami punya ice coffe huzelnut dan latte, Kakak bisa dapat extra donat jika membeli keduanya.”
“Waah, boleh Kak. Huzelnut satu dan latte satu. Untuk latte-nya bisa dicatat ya, Kak. Aku mau ekspreso-nya 2/6, 3/6 nya susu cair dan lebihnya foam. Boleh ditambah extra foam-nya sedikit saja.”
Puspa menulis setiap detail pesanan yang dipesan. Bekerja dengan pecinta kopi, Puspa sudah terbiasa menyesuaikan selera pelanggan yang berbeda-beda. “Siap, ada tambahan lain?”
“Sudah cukup.”
“Totalnya 70 ribu ya, Kak.”
Pembeli itu memberikan uang seratus ribuan dan Puspa mengembalikan kembalian sesuai yang tertulis di nota. “Terima kasih, mohon ditunggu.”
Puspa kembali meneriakan pesanan dan membantu Kinan mengantar pesanan saat wanita itu terlihat kerepotan. Suara bel berdenting saat ada pelanggan masuk menarik perhatian Puspa. Pintu kembali terbuka, tapi bukan pembeli yang datang.
“A’ Rakaaaa.”
Bukan Puspa yang berteriak, melainkan Mentari. Gadis kecil yang sangat dekat dengan Raka itu berteriak kegirangan saat matanya menemukan sosok Raka. Ia berlari menuju Raka yang membuka kedua tangannya lebar menanti pelukan Mentari. “A’ Raka lama nggak main kesini,” sewot Mentari.
“Maaf, A’ sedikit sibuk akhir-akhir ini,” jawabnya.
Raka membawakan sebuah boneka panda besar untuk Mentari. Gadis kecil itu berlari ke arah dapur untuk menunjukan hadiah dari Raka kepada Ibunya.
“Latte?” tawar Puspa.
“Boleh, Bu Bos.”
“Haha. Tunggu gue di belakang ya.”
“Siap,” jawab Raka.
Puspa menyiapkan pesanan Raka lalu meminta izin untuk menemani tamunya sebentar. Meskipun dia adalah pemilik kedai ini tapi dia tetap memposisikan dirinya sebagai pekerja.
“Gue izin temani Raka bentar ya,” ucap Puspa ke arah Kinan.
“Siap, Mbak. Aman kok.”
“Nanti kalau rame telepon aja, gue bawa hape.”
“Siaaap.”
Puspa membawa satu es kopi latte pesanan Raka dan menemui laki-laki itu di belakang rumah.
Meskipun Puspa membeli tanah yang tidak terlalu luas tapi dia menyisakan sebuah ruang untuk taman di belakang rumahnya. Raka sudah menunggunya, duduk di ayunan yang terbuat dari kayu yang sering mereka gunakan untuk berbincang tentang banyak hal.
“Bagaimana? Semuanya lancar kan?” tanya Puspa membuka perbincangan.
“Lancar. Meskipun gue harus bolak-balik Bandung Jakarta.” Sekedar informasi, Raka menyusul Puspa ke Bandung setelah satu tahun kepindahan Puspa ke kota ini.
“Yang penting lancar.”
“Iyaa.” Raka menyerahkan sesuatu ke tangan Puspa dan wanita itu menerima dengan senyum lebar.
“Akhirnya gue dapet juga.”
“Lo adalah orang pertama yang gue kasih ini.”
“Ouuuch, gue tersanjung banget. Selamat yaa, akhirnya apa yang lo perjuangin bisa lo dapetin juga.”
“Heem, karena gue udah mutusin buat berjuang.”
“Haha, iyaa iyaa.”
Puspa membuka pemberian Raka. Dia melihat dengan jelas tertulis nama Raka disana yang bersanding dengan nama seorang wanita yang bukan dirinya.
The Wedding Raka & Arini
Meskipun sempat merasa tidak nyaman saat mengetahui Raka pindah ke Bandung demi dirinya, tapi melihat laki-laki itu mendapatkan jodohnya disini, Puspa merasa lega.
Setelah hampir satu tahun ia berusaha, nyatanya nama Raka tak bisa sedikitpun menggeser nama seseorang di dalam hatinya. Dengan berat, Puspa memilih untuk melepaskan Raka, agar laki-laki itu bisa menemukan seseorang yang bisa menjadi belahan jiwanya.
Dan saat ini, Puspa bisa bernafas lega ketika Raka sudah menemukan ‘rumah’ yang benar-benar menjadi ‘rumahnya’.
“Gue ikut seneng lo mau nikah, Ka.”
“Thank’s. Meskipun gue udah nikah, gue akan tetep jadi temen lo.”
“Yaa, tentu saja,” jawab Puspa bohong. Melihat latar belakang keduanya yang pernah dekat, tentu bukan sesuatu hal yang baik jika mereka masih sering bertemu meskipun hanya sebagai teman. Raka punya Arini yang harus dijaga perasaannya.
“Gue langsungan ya. Arini nunggu di rumah soalnya. Habis ini kita mau nyari seserahan.”
“Okee, thank’s udah nyempetin mampir. Mentari dari kemarin nanyain lo terus.”
“Haha, yaa. Kapan-kapan gue kesini lagi ajak Arini.”
“Gue tunggu.”
Puspa mengantar Raka kembali ke mobilnya sambil berbincang banyak hal. Seperti biasa, seorang Raka tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Satu langkah mendekati mobil, Raka memutar tubuhnya cepat hingga mengejutkan Puspa.
“Gue nggak tahu lo pengen denger ini atau nggak. Tapi sumpah! Gue nggak bisa buat nggak ngomong ke lo.”
Puspa mengerutkan kedua alisnya saat mendengar kalimat Raka yang membingungkan. “Apaan sih, Ka?” tanya Puspa bingung.
Raka memejamkan matanya terlihat kesulitan, membuat Puspa bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang ingin dikatakan laki-laki itu.
“Rakaa,” tegur Puspa saat laki-laki itu justru membisu.
“Gue denger Pak Arya cerai, lebih dari satu tahun yang lalu,” ucap Raka cepat tanpa jeda.
Setelah sekian purnama Puspa mencoba menenggelamkan nama Arya dari setiap sendi-sendi kehidupannya. Saat nama itu kembali disebut, ada kerapuhan yang tak bisa Puspa tutup-tutupi. Puspa memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain selain Raka. Ia tidak ingin perasaan yang selama ini ia tutupi dari dunia kembali terlihat.
“Sorry, Puspa. Gue ngomong ini sebagai sahabat. Please, jangan sembunyi dari perasaan lo terus menerus karena itu sangat menyakitkan.”
Puspa diam, tetap berusaha mendengarkan, meskipun jauh di lubuk hati-nya yang terdalam, dia enggan mendengar nama itu kembali disebut.
“Lo sulit menerima perasaan lo yang masih cinta sama laki-laki itu tapi nggak bisa juga menerima orang baru.”
“Raka, gue mohon untuk nggak usah bahas dia lagi.”
“Kenapa?”
“Gue nggak bisa,” jawab Puspa lemah.
“Karena? Apa karena lo masih cinta sama laki-laki itu, Puspa?”
Sialnya apa yang Raka ucapkan itu benar. “Terus gue harus gimana, Raka?”
“Berjuang buat cinta kalian, dia sudah bercerai.”
“Informasi yang lo dapetin belum tentu benar.”
Masih ada kemungkinan informasi yang didapatkan Raka itu tidak benar. Masih ada kemungkinan Arya saat ini sedang bercengkerama dengan keluarganya. Puspa tak ingin berharap karena harapan itu yang nanti akan kembali menyakitinya.
“Lo bisa cari tahu,” ucap Raka masih keukeuh.
“Kalau yang gue dapatkan dia sudah bahagia dengan keluarganya gimana? Kalau dia sudah ngelupain gue? Kalau sudah tidak ada lagi cinta buat gue?” Kali ini tetes airmata Puspa kembali mengalir dari matanya yang sendu. Dia lelah untuk terus berharap dan hancur karena harapannya.
“Tapi masih ada kemungkinan kalau informasi yang gue dapatkan itu benar. Masih ada kemungkinan kalau laki-laki itu punya perasaan yang sama dengan yang lo miliki. Masih ada kemungkinan laki-laki itu masih berjuang buat lo, Puspa.”
“Raka—.”
“Gue nggak bisa lama-lama karena Arini nungguin di rumah,” putus Raka. “Sebagai sahabat gue cuma pengen lo bahagia, Puspa.”
“Gue tahu.”
“Bahagia itu dikejar, diperjuangkan. Bukan didapat begitu saja.”
Benar begitu?
Puspa kecil pernah bertanya kepada ayah, tentang makna sebuah keluarga. Dan ayah menjawab, keluarga adalah tempat dimana kita bisa berlindung dari ketidaknyamanan dunia. Jika keluarga tidak memiliki fungsi itu, lalu apa kita menyebutnya?
Mungkin itu ujian, jawab ayah Puspa.
Dan setelahnya, keluarga yang ia miliki, satu-satunya tempatnya berlindung tak lagi berdiri tegak. Rumah Puspa roboh, meninggalkan Puspa yang kesepian di dalamnya.
Ada banyak hal yang Puspa lalui tapi ia bersyukur karena masih bisa berdiri menatap dunia dengan kedua kakinya sendiri.
Malam ini, Puspa dewasa duduk di ayunan kayu belakang rumahnya yang memiliki dua muka. Bisa melihat kedepan dan juga memiliki dudukan untuk melihat pemandangan dari arah belakang.
Puspa melihat ke arah belakang rumah yang sedang menampilkan kelap kelip lampu kota dari jarak jauh.
Setiap malam, ia sering menghabiskan waktunya di sini jika kedainya sudah tutup. Kadang, Puspa merasa kesepian. Dia butuh ramainya lampu kota untuk sekedar menunjukan bahwa dia tidak sendiri di bumi ini.
Puspa menyeruput es kopi dingin mililknya saat merasakan kehadiran seseorang selain dirinya di taman ini. Meskipun membelakangi, tapi dari aroma parfum yang masih teringat dengan jelas di otak Puspa menciptakan sebuah kecanggungan di tubuhnya. Ada debar tak menentu hanya dengan menyapu aroma parfum yang sangat ia kenal itu.
Malam memang dingin dengan detak jantung Puspa yang semakin berdebar cepat saat merasakan langkah kaki mendekat.
Puspa menghembuskan nafas dalam lalu mengeluarkannya dengan pasrah. Dia menanti apapun yang akan ia hadapi malam ini.
Saat laki-laki itu sudah mendudukan tubuhnya di ruang tersisa ujung kursi ayunan, Puspa semakin merasa tercekat. Arya duduk dengan begitu menawan, mengenakan pakaian kasual dan sweater yang terlihat hangat.
Lama menjeda, keduanya tak ada yang berniat membuka suara. Mereka berdua memilih untuk menikmati pemandangan kota Bandung dengan bunyi angin yang mendesau dari balik pepohonan.
“Aku minta maaf karena masih terus ingin menemuimu.” Arya memulai pembicaraan meskipun Puspa tidak mempersilahkan.
“Aku memang se-tidak tahu diri itu karena tetap menunjukan batang hidungku di hidupmu.”
Puspa tak berniat menanggapi, wanita itu hanya sesekali menyesap es kopinya yang sebenarnya sudah tandas sejak tadi.
“Aku sudah mencoba, sesuai keinginanmu. Aku belajar untuk hidup di dalam keluarga kecilku, tapi nyatanya sulit. Aku tetap kalah.”
“Aku tak pernah sedikitpun mencari tahu tentangmu, tapi pada akhirnya aku tetap memutuskan untuk melepaskan keluargaku. Bukan hanya aku, Ivy pun melakukan hal yang sama. Sejak kejadian dua tahun lalu ia mengalami keguguran, dan setelahnya wanita itu berubah menghindariku dan berakhir dengan kami yang tak lagi bisa berjalan berdampingan. Aku sudah bercerai dari Ivy.”
Meskipun kalimat yang Arya ucapkan sangat berpengaruh besar, tapi Puspa membiarkan Arya mengucapkan apa yang ingin ia sampaikan. Tak ada interupsi sedikitpun dari Puspa karena wanita itu hanya berniat mendengarkan.
“Kamu tidak perlu khawatir dengan Axel. Kami berjanji untuk tetap menjadi sebuah keluarga yang utuh untuk Axel.” Ngocoks.com
“Bii,” panggil Arya saat tak mendengar satu kalimat pun dari bibir wanita itu. Arya menelisik ke arah wanita yang masih mengunci bibirnya rapat-rapat. Puspa bahkan sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari arah kota Bandung.
“Aku tahu, aku memang tidak tahu diri karena masih mengharapkanmu. Setelah perceraian terjadi, aku mulai membenahi diriku sendiri, lalu mulai mencari keberadaanmu. Saat mendapatkan kabar pernikahan Raka, rasanya masih tetap sama, sakit. Maaf jika kemudian aku senang, saat mendengar jika mempelai wanita-nya bukanlah dirimu.”
“Kamu belum menjawab pertanyaan yang sudah aku tanyakan berulang kali. Apa kamu masih mencintaiku, Bii?”
Bibir Puspa masih tak mau menjawab. Memaksa Arya mengurungkan niatnya untuk berbicara banyak. Mungkin kedatangannya saat ini begitu mendadak dan tiba-tiba, Puspa belum siap untuk bertemu dengannya. Tentu saja, ditinggalkan berulang kali tidak akan semudah itu untuk dilupakan. Tapi sebagai laki-laki, Arya memiliki waktu seumur hidup untuk menunjukan keseriusan cintanya kepada Puspa.
“Maaf jika aku mengganggumu, aku tahu kedatanganku begitu tiba-tiba.”
Arya meletakan satu kotak cincin berwarna merah di ayunan. Meskipun tak melihat, Arya yakin Puspa tahu ia meletakan benda itu di sana. “Aku pergi, jangan terlalu lama di luar rumah. Udara sedang dingin-dinginnya.”
“Selamat malam.” Arya melangkahkan kakinya meninggalkan Puspa. Ia berjalan lemah saat pertemuan pertamanya dengan Puspa tidak terlalu bermakna. Ia menghela nafas berat sebelum kembali memaksakan kakinya untuk melangkah pergi.
“Kenapa baru pulang sekarang?”
Arya mematung, sedikit sangsi pertanyaan Puspa diarahkan untuk dirinya. Tapi, di taman ini hanya ada dia dan Puspa. Tidak mungkin kan Puspa bertanya kepada hantu? Dia bukan cenayang setahu Arya. “Aku?” tanya Arya memastikan sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
“Hem.”
“Kamu tahu, —tidak mudah untukku bisa berdiri di sini sekarang ini.”
“Kenapa lama?” tanya Puspa masih dengan pertanyaan yang sama.
“Aku memang lelet, nggak peka. Aku memang tidak tahu diri, pokoknya semua aku yang salah. Karena aku bodoh, karena aku —banyak. Ada banyak kekuranganku, Bii.” Arya kembali mendekat, laki-laki itu mendudukan tubuhnya di depan Puspa dengan tatapan penuh harap. “Bii, kasih kesempatan untuk kita.”
“Kamu yakin?”
“Sangat,” jawab Arya pasti.
“Mungkin aku akan menjadi pasangan yang sangat posesif nantinya. Aku nggak mau lagi berjauhan, aku nggak mau lagi ada jarak.”
“Okee, aku akan selalu berada di rumah setelah bekerja. Aku tetep boleh kerja, kan? Kita butuh uang untuk hidup. Mungkin aku hanya akan keluar rumah untuk berolahraga, lari atau gym. Kalau tidak boleh pun aku bisa membuat tempat olahraga sendiri di rumah.”
“Aku mungkin akan sering ikut ke kantor.”
“Nggak apa-apa. Aku siap membawamu kemanapun aku pergi. Kalau dinas luar kamu juga boleh ikut biar aku bisa membawamu melihat dunia luar.”
“Aku mungkin akan menjadi wanita yang cemburuan dan tidak mudah percaya.”
“Aku pun akan begitu, cemburuan. Dan jika kamu tidak percaya aku akan selalu menjelaskan terus dan terus sampai kamu percaya,” jawab Arya menggebu. “Bii, kamu masih cinta sama aku?”
“Bodoh! Harusnya kamu nggak perlu nanya.”
“Aku cuma mau dengar dari bibirmu sendiri, Bii.”
Puspa merangkum wajah Arya, ia menariknya untuk mendekat. “Aku cinta sama kamu, Arya Adiputra. Aku cinta sama kamu dari dulu sampai detik ini, sampai nanti kamu akan selalu ada di dalam hatiku.”
Cerita Sex Pengalaman Ternikmat
Senyum ceria terbit di wajah Arya yang tegas. Ia melakukan hal yang sama dengan apa yang Puspa lakukan. Tapi bukan hanya merangkum, laki-laki itu kini juga menautkan bibir keduanya untuk melekat. Di bawah sinar bulan purnama mereka kembali dipersatukan setelah sekian lama menyimpan rasa. Puspa dan Arya semakin mengikis jarak saat rasa yang menggebu membuncah di dalam hati.
“Kamu mau nikah sama aku, Bii? Tapi aku seorang duda anak satu, gimana?”
“Aku mau.”
Arya kembali mencium bibir Puspa dengan tekanan. Ia mencium dengan hangat dan senyum yang terbentuk di sela-sela ciuman keduanya. “Aku bahagiaa, sangat,” ucap Arya.
“Aku juga bahagia.”
“I love you, Bii.”
“I love you too.”
***
Seberapa jauh jarakmu pergi, kamu tetap akan melangkah pulang ke rumah. Langkah, tak akan pernah salah berjalan menuju rumah. Bagi Arya, Puspa adalah rumahnya. Ia menemukan ketenangan dan kehangatan di sana. Sedangkan bagi Puspa, Arya adalah rumahnya. Rumah yang memberikan perlindungan saat dunianya sedang tidak baik-baik saja, rumah tempatnya pulang saat kedua orangtuanya memilih membangun ‘rumah’ mereka masing-masing.
“Kamu yang kusebut rumah. Terima kasih karena tetap bertahan sampai sejauh ini.”
***END***