
Cerita ini hanya fiktif belaka murni hasil dari pengembangan fantasy semata tanpa ada keinginan untuk melecehkan dan atau merendahakan suku, ras, dan agama, diharapkan kebijakan dan kedewasaan pembaca, segala sesuatu yang terjadi kemudian diluar tanggung jawab penulis.
Diharapkan bagi anak kecil bijak dalam memilih cerita cerita yang ada di situs ini agar meninggalkan halaman ini jika umur dibawah 21 tahun kebawah, resiko ditanggung sendiri.
Novel Toxic Relationship – Olin adalah seorang remaja yang baru saja lulus dari pendidikannya. Usia Olin yang terbilang cukup muda kini sudah mulai memasuki dunia kerja. Olin berkerja sebagai waiters di salah satu cafe Bandung. Hidup nya selalu berjalan monoton sampai ia bertemu dengan lelaki tampan yang membangunkan hasrat cintanya.
Olin menghela nafas untuk kesekian kali sambil memegang lap kering di tangan kiri. Matanya tertutup lalu terbuka lagi beberapa kali menahan rasa kantuk yang menerjang di siang hari. Dirinya sudah diam begitu lama menunggu seorang pelanggan yang tak kunjung datang membuatnya bosan karena harus seperti ini setiap hari.
Jam dinding terus berdetak hingga menunjukan pukul 4 sore, sudah waktunya para remaja pulang sekolah. Olin menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa kantuk lalu meregangkan otot-otot nya yang hampir membeku karena duduk terlalu lama.
Kakinya berjalan kearah salah-satu meja sambil membawa lap untuk membersihkan meja tersebut, ia tahu bahwa cafe akan mulai ramai jika sore hari tiba. Tangannya sibuk mengelap beberapa meja sambil melantunkan melodi dari bibir kecilnya.
Novel Toxic Relationship Ngocoks Gerakan terhenti ketika pintu cafe terbuka menandakan seorang pelanggan datang. Olin membeku melihat paras tampan seorang pelanggan pertamanya itu, dengan lengan baju terlipat sampai siku, rambut yang sudah sedikit berantakan menimbulkan kesan tampan darinya.
“cakep gini bininya seberuntung apa ya?” gumam Olin sambil terus memperhatikan lelaki yang berjalan melewati. Olin menggelengkan kepalanya lagi untuk kembali fokus pada pekerjaan. Kakinya berjalan kearah kasir untuk melayani pria tampan itu.
“Silahkan ka, boleh saya bantu. Mau pesan apa? ” ucap Olin sambil tersenyum ramah. pria itu tampak berpikir saat melihat menu. Olin yang memperhatikan pun sangat takjub melihat manusia sempurna di hadapannya.
“Ice americano saja satu, lalu saya ingin sweet cake juga. ” pria itu membaca salah satu menu sambil mengucapkan keinginan nya.
“Baik kak, untuk sweet cake nya mau yang mana ya? ”
“yang mana saja, anda yang memilih” ucap pria itu dengan sorot mata dingin.
‘eh’ Olin terdiam sejenak tidak mengerti Lalu dengan cepat menganggukan kepalanya menanggapi pria tersebut.
“Satu ice americano dengan sweet cake. Untuk total hanya tuju puluh ribu saja kak. Mau bayar tunai atau qris?” Olin menyebutkan kembali pesana pria tersebut sambil menyodorkan papan qris yang biasa dipakai orang-orang berbelanja pada jaman ini.
Pria tersebut mengeluarkan hp nya lalu menge-scan qris dan menunjukan bahwa ia telah selesai melakukan pembayaran virtual.
“Baik, pesanan saya Terima. Nanti saya antarkan pada meja kaka, Terimakasih telah datang! ” Olin tersenyum ramah yang dibalas anggukan oleh pria itu.
Pandangan Olin tidak bisa berhenti memperhatikan punggung lebar berjalan menjauhi kasir. Pria itu memilih salah satu meja dekat jendela menghadap jalan raya.
Tak memperdulikan sekitarnya, pria itu membuka laptop dan mulai menyibukan diri pada dunianya. Olin memukul kepalanya sendiri karena sangat tidak fokus, kakinya berjalan ke dapur memberitahukan pesanan kepada salah satu teman kitchen.
10 menit berlalu.
Olin tersenyum kecil sambil terus memperhatikan pria yang sedang berkutat dengan laptop sebelum seseorang menepuk pundaknya.
“Kesambet lu liatin suami orang begitu. ” Ucap rekan kerja nya sambil memberikan nampan berisikan pesanan pria tersebut.
Olin terkekeh kecil “Siapa tau masih lajang ka! ” Ucapnya membuat takjub dengan kelakuan waiters barunya ini.
Olin berjalan kearah pria tersebut dan menyimpan pesanannya dengan lembut. “Di nikmati ya kak. Selamat berkerja. ” dengan bibir yang tak bisa tersenyum Olin kembali ke meja kasir untuk melayani pengunjung lain yang mulai berdatangan.
4 jam telah berlalu, kini sudah menunjukan pukul 8 malam. Para pelanggan satu-persatu pergi meninggalkan cafe, hanya saja tersisa beberapa anak muda dan pria tadi yang masih sibuk dengan laptopnya enggan untuk pergi. Olin melihat kearah jam yang ada di pergelangan tangannya sambil mendesah pelan.
Seharusnya cafe ditutup pukul 8 malam tapi karena masih ada yang sibuk dengan urusan nya, Olin putuskan untuk menunggu satu jam lebih lama.
1 jam telah berlalu namun pria itu masih diam tak berkutik fokus pada laptopnya. Karena malas menunggu lebih lama, Olin berjalan kearah pria tersebut dan tersenyum ramah.
“Hallo kak, ini waktunya cafe kami tutup.”
pria tersebut menoleh menatap wajah Manis Olin dan beralih menatap jam yang berada dipergelangan tangan nya.
“Duh, maaf mbak saya lupa waktu karena terlalu fokus pada pekerjaan saya. ” Pria tersebut merasa sungkan sambil sibuk membereskan barang-barang.
Olin menggeleng ramah “tidak apa-apa kak, silahkan datang kembali besok” Ucap Olin yang dibalas anggukan dari pria tersebut. Olin pergi mengambil tas nya dan segera bergegas untuk pulang.
***
Kruukkk
“akhh, lapar.. ” Olin memegang perut nya sambil mengaduh kecil, jam sudah menunjukan pukul 10 malam, dimana ia belum makan sama sekali sejak tadi sore. Sambil terus berjalan, Olin melihat sebuah Minimarket yang terletak tak jauh dari tempat ia berjalan. Dengan sigap Olin berjalan mendekati minimarket tersebut berencana membeli sesuatu untuk makan malam nya.
“silahkan kak. ”
Olin tersenyum ramah saat memasuki minimarket tersebut, kaki nya terus berjalan sambil terus berpikir apa yang harus ia makan malam ini. Setelah lama berputar, Olin memutuskan untuk membeli mie instan dan beberapa cemilan kecil untuk malam ini.
“total nya jadi enam puluh lima ribu kak. ” Ucap kasir tersebut saat sudah selesai menghitung belanjaan. Olin membuka hp nya dan siap untuk men-scan qris yang tersedia. Namun aktifitasnya terhentikan saat ia melihat saldo yang tersisa hanya lima puluh ribu saja.
“duh!” Ia memukul kening sendiri menyadari bahwa kemarin sudah membeli beberapa makanan dan belum sempat mengisi ulang saldonya. Olin memeriksa kedua saku celananya berharap ada uang cash yang lupa ia simpan. Tetapi nihil, Ia jarang sekali membawa uang cash karena alasan tertentu.
“Mba saya ga bawa uang cash, saldo saya pun sisa lima puluh ribu saja, ini boleh di simpan beberapa kan ya makan-”
“Masukan ke tagihan saya saja. ” Seorang pria tiba-tiba memotong perkataan Olin sambil menyodorkan satu buah air putih. Olin membalikan tubuh melihat siapa yang berada di belakang dia. Matanya melotot menatap wajah tampan yang ia lihat beberapa menit terakhir di tempat kerja. Dengan malu ia menundukan kepala nya.
Sang kasir mengangguk dan mulai menghitung. “jadi dua puluh ribu kak. ” Pria tersebut memberika satu lembar uang cash bernominal dua puluh ribu. Saat pria tersebut berjalan keluar, Olin menarik ujung lengan baju nya yang terlipat.
“Terimakasih kak. Besok kalau kakak datang lagi ke cafe, saya ganti yang hari ini. ” Olin menunduk malu.
Tak ada respon sama sekali. Olin memberanikan diri mengangkat kepalanya. Pria tersebut menautkan kedua alis terlihat bingung.
“Saya pegawai cafe tadi sore kak. ” Jelas Olin menyadari pria tersebut lupa dengan wajahnya.
“Sama-sama. Tidak usah di ganti, lagipula besok saya tidak ke sana karena ada urusan penting.”
“oh, kalau begitu boleh minta nomor nya? biar saya transfer saja? ”
Tidak ada respon lagi, pria tersebut mengambil handphonenya yang berdering dan pergi meninggalkan Olin yang kebingungan.
“apasi anjir, mboh ah mau makan. Laperrr gue. ”
***
Hari ini hari Sabtu. Olin sudah sedari tadi menunggu kehadiran pria tampan yang membantu nya kemarin membeli makanan, tetapi nihil. Benar saja kata pria itu bahwa ia tidak akan datang.
“ini gue emang mau bayar ya anjir, bukan modus. ” gumam Olin sembari menguap.
Setelah lama menunggu, malam pun telah tiba kembali. Olin melepas rompi dan bersiap untuk pulang. Jalan yang ramai oleh hilir anak muda dan tua yang sedang pergi jalan-jalan pada malam minggu sangat memenuhi beberapa toko disana.
Olin menghela napas dan membuka hpnya berniat untuk memesan makanan melalui apk online karena ia malas mengantri. Saat asik memilih pesanan, tak sengaja ia menabrak sesuatu yang besar.
“awhh!! ” desisnya.
“kamu? ” suara berat seorang pria yang ia kenal kemarin kembali terdengar. Olin tersenyum lega.
“Kaka! akhirnya ketemu!! Ini saya mau ngasih uang yang kemarin, terimakasih ya! ” ucap Olin antusias sambil menggerogoh saku milik nya.
“pftt, sudah saya katakan tidak perlu. Tapi terimakasih kembali karena sudah membayarnya. Saya ambil ini” pria itu terkekeh mengambil uang yang Olin berikan. Olin yang pertama kali melihat manusia setampan itu tertawa tepat di hadapannya, langsung membuat hatinya berdebar dengan pipi yang merah malu.
Pria yang menyadari pipi Olin memerah pun menahan tawa lagi dan berdeham kecil. “ekhem, ada apa? Sudah selesai kan? ” tanya nya sambil terus menatap ke arah Olin.
“eh.. iya udah! makasih ya kak sekali lagi, jangan lupa besok mampir!! ” Olin menyadarkan diri nya dan pergi melalui pria tersebut yang masih menahan tawa atas tingkah aneh Olin.
Saya mengambil uang yang di berikan wanita muda di hadapan saya sambil menahan tawa karena wajah nya yang lucu. “ekhem, ada apa? sudah selesai kan? ” tanya saya memastikan sambil terus memperhatikan wajah nya yang terus memerah.
“eh.. iya udah! makasih ya kak sekali lagi, jangan lupa besok mampir!! ” Alis ku terangkat satu memperhatikan wanita tersebut jalan dengan cepat dan tertawa lepas saat sudah tidak terlihat lagi barang hidung nya.
“lucu juga anak kecil” gumam saya sambil membuka handphone dan melanjutkan aktifitas yang tertunda tadi.
“anjrit anjrit cakep banget cok, kok bisa cakep gitu. Gila istrinya pasti beruntung banget!! kalau gua istrinya, pasti abis tiap hari gua terkam tu om-om. ” Olin mengoceh sendiri sambil terus memegangi pipinya yang memerah tadi.
“sumpah beneran gila gua, apa jadi selingkuhan nya aja kali ya? ” lanjut Olin.
“Olinnn!!! ” teriak seorang wanita yang berlari ke arah Olin sambil melambaikan tangannya.
Olin membalas sapaan tersebut dan tersenyum ramah “haiiiii nida! tumben ga sama helin?” tanya Olin kepada sahabat nya itu.
“gue kan mau nge-date” nida membalas pertanyaan Olin dengan genit. Olin tertawa kencang.
“HAHAHHA? ih parah banget ga bilang bilanggg mau nge-date!!! sama siapa dah? ”
“nanti deh gue ceritain, lu mau kemana? baru balik kerja? ” Nida melihat Olin dari atas sampai bawah sambil bedecak kesal.
“cih, iri banget gue liat nya. Kok ada manusia secantik lu sih?” lanjut nya.
“cantik sih, ga laku tapi. ”
Nida tertawa keras mendengar sahabat nya itu “pepet suami orang aja. ”
“emang mau!”
plak!!
“gila, dah ah gue mau berangkat dulu! keburu telat. Daaa cinta muahh”
“sukses deh lu, jangan kebanyakan ilfeel nanti jomblo kaya gua! daaa” Ucap Olin yang dibalas dengan juluran dari nida. sumber Ngocoks.com
Jam berdering berkali-kali tak membuat Olin berkutik. Matanya masih tertutup rapat asik bergelut dengan selimut, ditemani suara kicauan burung pagi hari semakin membuatnya tak berniat untuk bangun. Hari ini bukan jadwal ia untuk masuk karena adanya pembagian shift perminggunya.
Saya pegawai cafe tadi sore kak. ” Jelas Olin menyadari pria tersebut lupa dengan wajah nya.
“Sama-sama. Tidak usah di ganti, lagipula besok saya tidak ke sana karena ada urusan penting.”
“oh, kalau begitu boleh minta nomor nya? biar saya transfer saja? ”
“FAK, kok mimpiin tu om-om si akhhh. ” matanya terbuka lebar saat suatu adegan dua hari lalu terputar oleh otaknya. Sungguh memalukan “dia nyangka gue manusia murahan ga ya minta minta no cowo? tapi kan buat tf, kayanya ngga deh? tapi-ARGHHH” Olin teriak prustasi.
“Yaudah lahh! Mending gue mandi, waktunya me time gurllsss~”
Lembar demi lembar telah ia baca sesekali tangan nya bergerak untuk menyesap susu coklat hangat. Olin mengambil handphone lalu menghentikan lagu yang terputar pada playlist favorite, netranya menatap sekeliling cafe yang ia datangi.Ia berjalan kearah kasir berencana membeli beberapa kue untuk menemaninya.
Brughh
“Shitt, panas!” Olin dikejutkan oleh seorang anak kecil yang sedang membawa sebuah minuman menabrak dirinya yang sedang berjalan. Tumpahan kecil tak sengaja mengenai sepatunya, Olin tersenyum sabar mengingat hanya seorang anak kecil yang menabrak nya.
“teteh, maaf. Aku nda sengaja” cicitnya.
Olin mengacak rambut anak tersebut gemas, “it’s okay sayang, lain kali jangan berlarian di tempat seperti ini ya cantik? apalagi kamu membawa sesuatu di tangan” Ucap Olin dengan senyum yang masih tercetak pada wajah cantiknya. Anak kecil tersebut mengangguk dan berjalan dengan hati-hati.
Olin mendesah pelan mengingat ini sepatu baru yang Ia beli di pasar kamis kemarin, dan sekarang telah kotor terkena noda minuman. Sebelum noda tersebut menempel, ia bergegas pergi ke toilet untuk membersihkan nya.
“semoga toilet nya ga penuh deh, nanti keburu kering lagi. ” Pintu toilet dibuka, matanya melotot saat melihat seorang pria tengah berdiri di depan salah satu pintu.
“WOY! NGAPAIN DI TOILET WANITA? ” Olin berlari kecil memukul punggung pria tersebut dengan keras.
“Aduh, shhh” pria tersebut membalikan tubuhnya menatap wanita yang tak asing.
Olin membelalakan matanya untuk kedua kali “KAKA? ”
Bersambung… Mobil berjalan melaju dengan kecepatan sedang, tangan mengangkat telepon yang berasal dari sepupu jauhnya.
“Ka Ehan? masih jauh ya? ” tanya seorang gadis yang baru saja turun dari pesawat.
“Tunggu saya, sebentar lagi sampai.”
tut..
Pria yang bernama Reyhan tersebut menginjakan kakinya pada pedal gas membuat mobil berjalan lebih kencang. Setelah lama menempuh perjalanan ke bandara, Reyhan melihat seorang gadis seusia tidak jauh darinya sedang menunggu jemputan.
“Rahma, Kemarilah! ” panggil Reyhan sambil melambaikan tangan membuat gadis itu berlari kecil dan langsung memeluknya.
“KA EHAN! huaa aku kangen banget! ”
“sama saya?” Tnyanya jahil.
“sama keluarga aku la, wle!” Reyhan mengacak rambut Rahma gemas.
Rahma adalah sepupu jauh Reyhan yang sedang melakukan kuliah di salah-satu universitas negara jepang. Setelah bertahun tahun tidak pulang, dirinya baru selesai menyelesaikan pendidikan tersebut dan balik ke Indonesia untuk mengunjungi keluarga.
Hubungan Reyhan dengan Rahma tidak jauh hanya sekedar sepupu saja. Reyhan sangat menyayangi sepupunya itu seperti adiknya sendiri. Rahma terkadang sangat manja kepada Reyhan karena dirinya juga sama, menganggap pria itu adalah Kaka kandungnya.
Reyhan membuka pintu mobil. “masuklah”
Rahma mengangguk dan masuk kedalam mobil disusul oleh Reyhan.
“Ka Ehan, kita ke cafe yang aku suka itu yuk? aku kangen makan kue yang mereka buat. ”
Reyhan menoleh kearah Rahma sekilas lalu mengubah arah google Maps yang tadi menuju rumah menjadi menuju salah satu cafe.
***
Setelah memesan beberapa yang Rahma inginkan, Reyhan menuju kearah meja lalu terduduk di hadapan Rahma.
“Gimana kuliahnya? ” Tanya Reyhan memecahkan keheningan.
Rahma mengalihkan pandangan nya dari handphone yang ia genggam. “Pusing! Tapi aman kok kak hehe”
Reyhan mengangguk-anggukan kepalanya singkat saat mendapat jawaban dari Rahma. Mulutnya terbuka, kembali bertanya “Sampai kapan disini?”
Rahma mendelik malas “Kok kaya ngusir gitu si ka?! ”
“hanya bertanya” Ucap Reyhan sembari tertawa kecil.
“cuman seminggu, aku masih ada tugas yang belum selesai. Ah malas sekali” Rahma meyimpan kepalanya pada kedua tangan yang berada di atas meja.
“A-ah.. kak! ” Tangannya beralih memegang perut.
Reyhan yang mendengar ringisan sepupunya itu langsung panik “Ada apa, Rahma?”
“Kaka, perut aku sakit. Aku mita tolong beliin pembalut ya? nanti anterin ke kamar mandi.”
“Kamu sedang datang bulan? ” Tanya Reyhan yang dibalas anggukan.
“Ya sudah, tunggu saya.” Lanjutnya
Reyhan melangkahkan kaki ke minimarket terdekat, Tangannya dengan cepat mengambil beberapa pembalut yang tersedia dan langsung membayar.
Dengan ragu, dirinya masuk kedalam toilet wanita untuk mencari keberadaan sepupunya itu.
“Rahma? ” Panggil Reyhan sedikit berteriak.
“WOY! NGAPAIN DI TOILET WANITA? ” teriakan menyahuti dari belakang dan langsung memukul Reyhan dengan keras.
“Aduh, shhh” Reyhan meringis dan membalikan tubuhnya menatap wanita yang tak asing.
“Kaka?! ” Reyhan terkejut melihat wanita yang ia kenal beberapa hari lalu.
“KAKA MESUM YA?! ” Lanjutnya masih berteriak. Reyhan membekap Mulut Wanita tersebut agar memelankan suaranya.
“Mpphhh kkhhaka leppasshh”
Salah satu pintu terbuka memperlihatkan wajah Rahma yang kebingungan.
“Kaka? ada apa? mana pembalut aku? ” Tanyanya masih dengan raut wajah bingung.
Wanita tadi berhenti memberontak dan terlihat masih berpikir membuat wajah cantik itu menjadi gemas. Reyhan menahan tawa.
“Oh, kaka lagi bantuin istrinya ya? duh saya ada telepon, maaf ya ka! ” Wanita tersebut tergesa-gesa segera keluar dari toilet.
Rahma yang tidak mengerti masih memasang wajah bingung nya meminta penjelasan. “tadi dia sangka saya mesum. ” Ucap Reyhan sambil tertawa kecil.
“Nih pembalut kamu. Saya tidak tahu yang mana, jadi pakai saja yang ada. Saya keluar dulu. ” Lanjut Reyhan pergi meninggalkan Rahma dan mencari wanita tadi.
***
“Tai, malu banget tai tai tai. ” Olin memukul kepalanya sendiri prustasi atas tindakan asal tadi.
“Tapi gak salah kan?! Siapa yang ‘ga salah sangka’ coba! liat om-om ada di dalam toilet wanita! ” Bela dirinya.
“Om-om? ”
“Astaga! ” Olin terkejut mendengar suara berasal yang berasal dari belakang punggungnya.
“Saya yang kamu maksud ‘om-om’ itu? ” lanjut pria tersebut.
“b-bukan kak, kakak salah denger. Eh itu istri kakak! ” Olin membereskan barang barangnya dan bersiap untuk kabur karena malu.
Pria tersebut membalikan tubuhnya menoleh kearah toilet yang sepi, ia berdecak. Tangan Olin yang hendak melarikan diri dengan cepat ia tahan.
“Saya belum menikah. Dan nama saya Reyhan, stop panggil saya om. ” Jelasnya
Olin mengigit bibir merasa malu, dirinya salah sangka lagi! “O-oh iya kak Reyhan. Maaf saya selalu salah sangka” Ucap Olin melepaskan gengaman Reyhan.
“It’s okay. Yang kamu lihat tadi adalah sepupu saya.”
“Saya ga mau kamu salah paham. ” Lanjutnya.
Olin menyerengitkan kedua alisnya bingung “kenapa? ”
Reyhan mengedikan bahunya acuh.
drrtt.. drttt…
Handphone yang Reyhan pegang bergetar menandakan ada telepon. Reyhan mengangkat tangan melihat siapa yang tengah menelepon dirinya. Tanpa berlama-lama ia mengangkat panggilan yang berasal dari bunda.
“Hallo bunda? ” Reyhan berjalan membalikan tubuhnya memunggungi Olin yang masih kebingungan. Olin mengangkat bahunya acuh, ia mengambil tasnya tadi yang masih berada di atas meja dan pergi berlari sambil mengendap-endap agar tidak ketahuan pria itu.
“… ”
“iya bunda, sebentar lagi saya sampai. Anaknya masih di toilet. ” Reyhan membalikan tubuh, terlihat punggung Olin yang sedang berlari kecil meninggalkan dirinya.
“pfttt, lucu sekali. ”
“siapa yang lucu? ” sambung bunda masih mendengarkan anaknya.
“eh, ga ada bunda. Rahma sudah keluar, sampai nanti. ”
Tut… sambungan terputus, Rahma berjalan kearahnya “Kaka tadi siapa? ”
“bukan siapa-siapa, ayo! bunda sudah menunggu. ” Rahma mengangguk antusias.
***
“kenapa ketemu mulu tu om-om si anjir, kaya dunia tuh sempit kali ya. ” Olin melihat kearah sepatunya yang masih kotor karena belum sempat di bersihkan tadi.
Ia mengambil tisu basah yang selalu tersedia di sakunya. Dengan malas ia berjongkok dan mulai membersihkan kotoran yang masih menempel. Saat asik, terdengar suara yang tidak asing baginya.
Olin medonggak melihat asal suara tersebut yang tak jauh dari tempat ia berjongkok. Emosinya memuncak ketika melihat pria yang ia kenal sebagai ayahnya berjalan dengan seorang wanita selingkuhan dua tahun lalu. Dengan emosi penuh Olin berlari dan langsung menarik keras rambut wanita tersebut.
“AKH… ADUH BEB.. ”
“BEB? YAH! AKU KIRA AYAH SUDAH BERUBAH! ” Olin berteriak sambil terus menarik rambut wanita tersebut. Ayah Olin yang kaget melihat putrinya menyerang wanita sebelahnya pun menampar pipi Olin sehingga tarikannya terlepas.
PLAK!
Olin memegang pipinya dengan mata memerah menahan emosi yang semakin tinggi dan rasa sedih menjadi campur aduk bagi dirinya. Selama Ia hidup, Meskipun keluarganya yang tidak akur, Olin tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari kedua orang tuanya. Namun kini, ia benar-benar kecewa dengan ayahnya.
“Ayah nampar aku? ” tanya Olin dengan mata memerah menahan segala rasa sakit dihati maupun pipinya. Marco menatap anak sewata wayang nya dengan perasaan bersalah.
“Sayang, ayah minta maaf, ayah gak bermaksud untuk tampar kamu. Ayah gak senga-”
“Ayah, aku benci sama ayah. ” potong Olin, matanya menoleh kearah wanita tua yang sedang tersenyum licik.
“Dasar jalang murahan, lihat saja nanti. ” lanjut Olin.
“Olin!” Ayah berteriak sekali lagi membuat hatinya semakin nyeri. Olin menggeleng tak percaya.
“Kalian berdua sialan! i’m so fucking hate you dad! ” putus Olin lalu berlari meninggalkan mereka berdua.
***
Olin meneguk gelas terakhir, ia menatap sekeling menikmati suasana ricuh yang membuat kepalanya semakin pusing. Kesadaran sedikit demi sedikit menghilang akibat dari pengaruh alkohol yang ia minum.
Karena sudah tak tahan, Olin menelungkupkan kepalanya pada kedua lipatan tangan yang berada diatas meja. sebuah tangan mendarat di bahu Olin dan menepuknya pelan. “Nona? ”
“Eughh.. ” Olin menggeliat kecil. dengan setengah kesadaran, matanya melihat pria tampan yang selama ini mengganggu pikirannya.
“Om mesum! ” Teriak Olin sumringah melihat keberadaan Reyhan. Dengan cepat ia membungkam mulut kecil Olin dengan tangannya dan tertawa kecil.
“Stop panggil saya mesum, anak kecil! ” Reyhan menyudahi tawanya dan kembali fokus memperhatikan kondisi Olin yang sudah berantakan. Tak berpikir jauh, Olin tiba-tiba mengalungkan tangannya pada dada bidang Reyhan. Memeluk erat pria itu.
Reyhan terkejut atas perlakuan Olin tiba-tiba, ia membalas pelukan wanita kecil tersebut sembari mengelus punggungnya lembut. Lagi-lagi dirinya terkejut dengan gerakan basah di area leher, Reyhan menyadari lidah wanita ini bermain di lehernya.
Sebagai pria normal, nafas Reyhan berubah menjadi memburu, nafsunya seketika naik merasakan gerakan sensual yang terus saja bermain di lehernya. sumber Ngocoks.com
“Mhhh.. ” lenguhan kecil keluar dari mulut Reyhan, jakun nya naik turun menahan hawa nafsu yang semakin memuncak. Sebelum ia merasa lebih jauh, Reyhan menarik Olin agar melepaskan pelukannya.
“Nona? kamu mabuk? ” Tanya Reyhan dengan suara berat.
“Nona? nama akuu Olin hihi” Olin tersenyum riang, kesadarannya benar-benar hilang tertelan alkohol.
“Saya antarkan kamu pulang, dimana alamat mu? ” Tanya Reyhan memperhatikan Olin yang masih tersenyum seperti anak kecil. Ia tak menggubrisnya. Merasa di acuhkan oleh Olin, Reyhan segera menggendong dan menjauhkannya dari keramaian club malam ini.
“Om, mau kemana? ” Racau Olin menyadari dirinya tengah berada pada gendongan Reyhan.
***
Pintu mobil terbuka, Reyhan medudukan Wanita tersebut pada kursi mobilnya.
“Om, aku mau dibawa kemana? ” Racaunya lagi. Reyhan memasangkan seatbelt dengan lembut.
“Ke apart saya. ”
Bersambung… “Om, aku mau dibawa kemana? ” Racau nya lagi. Reyhan memasangkan seatbelt dengan lembut.
“Ke apart saya. ”
***
Olin memukul punggung Reyhan memberontak tidak nyaman berada pada gendongan Reyhan. Pintu apartemen terbuka, masih berada pada gendongan, Reyhan melangkah kearah kamar utama yang biasa ia gunakan untuk tidur, di turunkannya Olin dengan perlahan.
Olin memberontak kecil, lalu berdiri diatas kasur sembari berkacak pinggang. Reyhan mengerenyitkan dahinya bingung.
“Ada apa? ” Tanya Reyhan heran.
“Heh om-om! wajah mu itu jangan belagu deh!! kenapa bisa tampan gitu sih?! ” Olin berhenti sejenak.
“Aku kan jadi suka” lanjut nya meracau, Olin terduduk lemas. Reyhan yang mendengar ocehan Olin tertawa keras. Ia mensejajarkan wajahnya. Jarak yang tersisa hanya beberapa senti saja, mata Reyhan menatap lekat wajah Olin. Senyuman kecil muncul
“Cantik.”
Cup!!
Matanya Reyhan terbuka kaget, bibirnya baru saja bersentuhan dengan bibir ranum milik Olin, ia merasakan sengatan listrik menjalar pada tubuhnya.
“hehehe, makasih om! ” Olin tertawa.
Reyhan mengatur nafas, pikirannya melayang. Satu persatu ide gila muncul dari benaknya, fantasi liar yang Reyhan miliki mulai tidak terkendali. Wanita ini sungguh menggoda imannya.
Olin menjatuhkan tubuhnya dengan posisi terlentang, rok pendek yang ia kenakan tersingkap membuat Reyhan kembali menelan saliva. Tangan Reyhan mengambil selimut yang teletak tidak jauh dari kasur, perlahan ia menyelimuti tubuh kecil Olin. Reyhan mendudukan bokongnya pada kursi yang berada di dekat kasur.
“Gila.” Tangan Reyhan sibuk memijat pelipis dengan mata tertutup. Ia menghela nafas berkali-kali menetralkan suhu tubuhnya yang sudah panas. Ia tidak mau mengambil resiko dengan melakukan hal tidak senonoh pada wanita yang baru beberapa kali ditemui.
Kedua kakinya terasa kaku seperti ada yang sedang menaikinya, Ia perlahan membuka mata, Reyhan menahan nafas melihat wanita yang baru saja ia selimuti kini telah berada pada pangkuannya. Bukan turun suhu tubuh, kini ia merasakan tegang di area bawahnya karena terduduki oleh wanita cantik ini.
“Olin? Ada apa manis? kembalilah tidur. ” Tutur Reyhan mengusap surai rambut Olin lembut.
Olin menggelengkan kepalanya “Nda mau. ” tolak Olin memanyunkan bibir kesal.
Reyhan tertawa melihat ekspresi lucu Olin, Ia kembali menahan nafas ketika Olin bergerak membenarkan posisinya yang berada pada pangkuan. Pegerakannya otomatis menimbulkan gesekan secara tidak langsung pada miliknya.
“Eughh, Olin diamlah. ” Titah Reyhan berusaha menahan hasratnya yang sudah meledak. Olin menatap Reyhan dalam, Ia tersenyum manis memperlihatkan giginya, tangan Olin melingkar memeluk dada bidang Reyhan dan tertidur pulas pada pangkuan.
Menyadari Olin tengah tertidur, Reyhan menghela nafas lega. Setidaknya wanita ini tidak memancingnya lagi. Reyhan menggendong kembali Olin dan memindahkannya ke tempat semula, dengan perlahan Ia menarik kembali selimut agar menutupi tubuh kecil wanitanya.
Ya. dipikiran Reyhan saat ini, ia sangat ingin mengenal wanita ini lebih dalam.
Setelah memastikan Olin merasa nyaman, Ia segera beranjak menuju toilet untuk melepaskan hasratnya yang sudah tak tertahan sedari tadi.
“Ahh, fuck! dasar nakal. ”
***
Cahaya pagi menembus melalui jendela kamar yang sangat asing.
“Anjrit, dimana ini? ”
Matanya melebar teringat bahwa dirinya tengah meminum alkohol sendirian, Ia mengingat kembali kejadian setelahnya. Namun nihil, ingatan nya menghilang secara tiba-tiba. Ia tidak tahu dimana dirinya berada saat ini. Dengan cepat ia menoleh kearah tubuhnya yang masih terbalut pakaian kemarin. Olin menghela nafas lega, dirinya masih lengkap mengenakan pakaian.
“Makanlah buah ini agar pengar mu hilang. ” Reyhan datang membawakan beberapa buah yang telah ia kupas dan menaruhnya diatas nakas.
“WAH? KOK ADA OM? SAYA DIMANA?” Olin berteriak panik ketika melihat wajah pria yang akhir-akhir ini ditemuinya.
“OM CABU-”
“Tenang saja, kamu tidak saya apa-apakan kemarin malam. ” Potong Reyhan sembari mendudukan bokongnya pada kursi didekat kasur.
Olin menyipitkan mata meminta penjelasan pada pria dihadapannya ini. Reyhan yang melihat itu berdeham singkat. “Saya sudah bertanya alamat kamu, tetapi kamu sudah mabuk berat. Daripada saya tinggalkan kamu disana dengan orang-orang asing, saya bawa kamu kesini. ” Jelasnya santai.
“Om juga orang asing. ”
Reyhan mengangkat bahunya acuh “Setidaknya saya tidak melakukan apa-apa padamu. ”
Olin masih menyipitkan matanya tidak percaya pada pria dihadapannya itu. Reyhan tertawa melihat wajah Olin yang masih meragukannya. “I swear babe, Sepertinya kamu tidak ingat apa yang kamu lakukan kepadaku tadi malam. ” Ucap Reyhan masih berusaha meyakinkan Olin.
“Aku ngapain?” Tanyanya pada diri sendiri.
Mata Olin tertutup berusaha mengingat apa yang telah ia lakukan, nafasnya terhenti ketika sebuah ingatan pendek muncul dimana ia sedang memeluk Reyhan. Reyhan yang menyadari Olin terlihat kaget kembali tertawa kecil. Olin membuka matanya perlahan menatap Reyhan malu.
“Om maaf aku ga sengaja peluk om, maaf ya om” Jelas Olin merasa bersalah telah memeluknya. Reyhan menegakan tubuhnya, tatapan yang ia layangkan menjadi serius.
“Kamu hanya mengingat itu? ”
Olin mengangguk, wajah polosnya kembali bingung. “Emang ada apa lagi om? aku ga inget”
Reyhan bangkit dari duduknya, ia melangkah mendekat kearah Olin yang sedang duduk di kasur. Reyhan membungkukan tubuhnya sejajar dengan wajah Olin, dengan perlahan ia memajukan wajahnya mendekat. Olin menahan nafas, jantungnya berdetak tak karuan. Reyhan menatap lekat membuat Olin menutup matanya gugup. Ingatan singkat kembali muncul ketika ia sedang mengecup bibir milik pria tampan ini.
Olin menarik nafas kaget, wajahnya menjadi panas, Ia merasakan pipinya pasti memerah. Reyhan yang melihat perubahan tersebut tersenyum miring. Ia menarik wajahnya kembali dan berdiri tegak.
Ia membuka matanya perlahan menatap wajah pria tampan di hadapan nya. “Sekarang jelaskan, kenapa kamu menjilat dan memainkan lidah mu pada leher saya? ”
Olin membelalakan matanya kaget. “HAH? ”
Reyhan mengangkat sebelah alisnya “Kamu masih belum ingat? ” Tanyanya sembari tersenyum licik.
“Om, duh gimana ya.. Aku bener-bener ga inget tentang itu semalam, aku cuman inget meluk om sama cium om doang”
“Pfttt, baiklah. Makan buah itu lalu pergi mandi. Setelah selesai datang keruang tamu. Saya akan memasak untuk sarapan. ” Ucap Reyhan pergi meninggalkan Olin yang masih memerah karena malu.
***
Olin masuk kedalam kamar mandi yang berada pada kamar Reyhan, ia terkejut melihat sepasang dress cantik, sikat gigi berwarna pink yang masih baru, dan beberapa dalaman berbagai macam ukuran tersedia.
“Anjirt, kaya pengantin baru aja gue. ” Ia membuka baju dan mulai membersihkan tubuhnya.
“Serius gue jilat tu leher om-om? anjir kenapa jilatnya waktu mabuk, gue kan ga inget! sayang banget. ” Gumamnya sambil asik memakai sabun.
“Gila, gue jadi sange bayangin nya cok. ” Ia menutup mata sejenak, tangan kanan Olin meremas salah-satu payudara miliknya. Ia medesah kecil memilin puting yang telah mengeras memikirkan fantasi gila.
“Ahh.. Reyhan..” Ia tidak bisa menahan desahannya sendiri. matanya semakin sayu, bagian bawah Olin terasa berkedut memikirkan bagaimana Ia bersetubuh dengan Reyhan. sumber Ngocoks.com
Ia menggulung lengan bajunya dan mulai menyalakan kompor. Dengan lihai, Reyhan mulai memasak sebuah menu simple pagi hari untuk ia makan bersama wanitanya. Setelah selesai, ia menaruh piring berisikan makanan yang telah ia buat pada meja yang tersedia.
Reyhan mengerogoh saku mencari handphone, Ia berdecak kesal. Rupanya Ia melupakan handphone-nya saat sedang menyimpan buah untuk Olin di nakas tadi.
Reyhan melangkahkan menuju kamar, dibukanya pintu yang langsung tertuju pada nakas, saat tengah berjalan mendekat telinga Reyhan menangkap sebuah suara desahan yang berasal dari kamar mandi. Ia membelokan kakinya yang tadi menuju nakas menjadi kearah kamar mandi. Reyhan menempelkan kupingnya pada pintu kamar mandi yang tidak kedap suara itu.
“Ahh.. Reyhan..”
***
Pintu kamar mandi terbuka, Olin telah selesai membersihkan tubuhnya. Kini Ia mengenakan dress yang telah tersedia. Kakinya melangkah keluar dari kamar mandi, Ia melihat seorang pria yang tengah duduk sambil memainkan handphone-nya.
“Jadi yang cabul disini, saya atau kamu? ” Tanyanya menatap Olin dengan senyum licik.
Bersambung… Pintu kamar mandi terbuka, Olin telah selesai membersihkan tubuhnya. Kini Ia mengenakan dress yang telah tersedia. Kakinya melangkah keluar dari kamar mandi, Ia melihat seorang pria tengah duduk sambil memainkan handphone nya.
“jadi yang cabul disini, saya atau kamu? ” tanyanya menatap Olin dengan senyum licik.
“e-eh om, ngapain disini?”
Reyhan bangkit dari duduknya menghampiri Olin yang tengah berdiri kaku. Dari jarak dekat Reyhan menghirup aroma sabun yang Olin pakai. Matanya menatap sayu, tangan Reyhan terangkat mengelus wajah manis Olin dengan lembut.
“Om? ” panggil Olin, Ia merasa gugup setengah mati oleh perlakuan Reyhan saat ini. Tangan Reyhan masih terus mengelus wajah Olin, elusan nya turun menuju leher. Olin merasakan nafas Reyhan semakin berat, tubuhnya kaku merasakan gerakan sensual tangan Reyhan yang berada pada leher jenjang nya.
“Om, ada apa?” Olin melepaskan tangan Reyhan pada lehernya dan bergerak mundur. Reyhan memasukan kedua tangan nya pada saku celana dan terus maju menghampiri Olin. Olin terus mundur sampai akhirnya punggung Ia bertubrukan dengan tembok di belakang nya.
Reyhan menyunggingkan senyum licik “saya dengar kamu mendesahkan nama saya. ” Reyhan terus berjalan maju.
“Coba ulangi lagi, saya ingin mendengarnya langsung” Kini Reyhan sudah berada pada tepat dihadapan nya.
Reyhan memajukan wajahnya mendekat, lidah nya terjulur menjilat leher seperti yang Olin lakukan padanya malam tadi.
“shh ahh omm” Ia mendesah merasakan gerakan sensual Reyhan yang sedang menjilati leher jenjang Olin. Otaknya berhenti berputar, Ia bimbang harus menikmati sentuhan pria ini atau memberontak.
Reyhan terkekeh kecil saat Olin kembali mengeluarkan suara indahnya. “Panggil nama saya seperti saat kamu mastrubasi tadi, sayang. ” titah Reyhan kembali menjilat, sesekali menggigit pelan leher Olin. Olin menahan desahan nya, Ia tidak bisa berpikir apa yang harus dilakukan sekarang, dirinya ikut terbawa suasana panas.
Reyhan gemas karena wanita ini sedari tadi menahan diri agar tidak mengeluarkan suara, Ia mengecup-kecup leher Olin sembari tangan nya meremas dan menampar bokong sintal Olin.
“Mhhh Ahhh! Reyhan Ahh”
“Pftt, gadis pintar”Tangan Reyhan turun mengelus paha Olin, gerakan lembutnya sungguh membuat Olin terjebak dalam kenikmatan. Ia terus masuk dan mengelus paha dalam Olin. perlahan elusan terus naik menyentuh serambi lempit yang masih terbalut dalaman.
“Ahh” nafas Olin tersenggal-sengal saat dirasakan tangan nakal Reyhan mengusap pelan serambi lempit basahnya.
“Becek sekali, cabul. ” Reyhan menghetikan aktifitasnya dan mundur beberapa langkah. Ia berbalik membelakangi Olin hendak pergi keluar kamar, namun Olin dengan cepat menarik lengan Reyhan dan membawanya ke kasur. Ia tertawa kecil, mendorong Reyhan terjatuh diatas kasur. Nafsunya telah memuncak namun pria di hadapan ini tiba-tiba menghentikan aktifitasnya. Olin merasa tertantang saat ini.
“Wow, wow. Hold on sweetheart, apa yang kamu lakukan? ” Reyhan terkejut dengan tindakan tiba-tiba Olin. Ia kini memposisikan dirinya terlentang, dengan kedua tangan yang menyila, menopang kepala memperhatikan apa yang akan Olin lakukan setelahnya.
Olin menaiki tubuh Reyhan, tangan nya secara trampil membuka kancing baju Reyhan satu persatu. Setelah selesai, tangan nya beralih mengelus benda menonjol yang sedari tadi menarik perhatian nya. Reyhan menutup mata ketika Olin mengelus pelan rudal miliknya.
“Udah tegang daritadi ternyata om, kenapa ga di lanjut aja? ” tantang Olin.
Dibuka nya resleting celana Reyhan, Olin menundukan wajahnya sejajar dengan rudal besar yang masih terbalut celana dalam, Ia menjulurkan lidah dan menjilat rudal Reyhan perlahan.
“nghh” desahan berat keluar membuat Olin semakin bersemangat.
Olin membuka celana dalam Reyhan perlahan, kemudian tangan nya memegang rudal berukuran 23cm itu. Mulutnya mengangga melihat ukuran tidak wajar rudal pria di bawahnya ini. Dirinya semakin di buru nafsu. Tanpa meminta persetujuan dari Reyhan, Olin segera memasukan rudal tersebut kedalam mulutnya, lidah Olin didalam sana bermain dengan urat-urat besar rudal Reyhan. Reyhan yang merasakan rudalnya tengah dipijat oleh Olin hanya bisa mendesah nikmat. Ia menyukai permainan wanita ini.
“Arghh babe mhhh, jangan dihisap ahhhh ngilu sayangghh shhh” Olin memaju mundur kan kepalanya terus menghisap rudal besar Reyhan dengan rakus, tangan nya yang sedaritadi diam, kini mulai mengocok setengah batang yang tak muat di mulutnya. sesekali Ia melepas hisapan dan beralih memainkan twins ball milik Reyhan yang menggoda. Olin kembali memasukan rudal nya kedalam mulut dan menggerakan nya secara perlahan membuat Reyhan tersiksa.
“Arrghhhh, pleasee i wanna cum mmmhh Aahhh pleasee percepatlah kuluman mu ahhhhh” Tak tahan dengan pergerakan lambat Olin, Tangan yang bertumpu menyilang di belakang kepalanya kini mengambil alih pergerakan Olin, Kedua tangan Reyhan memegang kepala Olin, Reyhan mengerahkan tenaga nya dengan menghentak kan rudal kepada mulut Olin dengan cepat sehingga tercetak jelas tonjolan kepala rudal di tenggorokan Olin.
“mhhpphh slurppp khhh grock grock” Reyhan terus menghujamkan rudal nya pada mulut Olin membuat sang empu tersedak, namun Ia tak perduli. Kini Ia hanya ingin segera mencapai pelepasan nya.
“Ahhhhh babe shhhh i wanna cumhmm shhhh Arghhhhh pleaasseee babeee ARGHHH” Reyhan menghetakan rudalnya keras pada mulut Olin. Dirasakan rudal Reyhan membesar, cairan manis dan hangat memenuhi mulutnya.
Olin melepaskan kuluman rudal Reyhan sambil menjulurkan lidah memperlihatkan cairan yang berada pada lidahnya kepada Reyhan yang masih tersengal-sengal. Ia lalu menelan cairan manis tersebut dengan gerakan sensual, lidahnya menjilat sisa-sisa cairan kental milik Reyhan yang berada pada jari-jari tangannya. Olin tersenyum licik.
“peju om enak, Olin suka ahhh”
Tubuh Reyhan seperti tersengat, rudal yang baru saja mengeluarkan cairan kini menjadi tegang kembali melihat kelakuan binal wanita diatas tubuhnya ini.
Olin membuka dress dan dalaman yang Ia kenakan. Kini mereka sudah bertelanjang bulat tampa sehelai benang pun. Reyhan melihat tubuh cantik Olin kembali merasakan sengatan listrik pada tubuhnya. Ia menelan ludah beberapa kali.
“Om, Olin boleh gesekin serambi lempit Olin ke sini kan? ” Olin mengelus otot perut Reyhan, Ia memaju mundurkan tubuhnya sehingga serambi lempit milik Olin bergesekan dengan six pack Reyhan. Tak kuat dengan kelakuan Olin, Reyhan menahan pundak Olin dan menjatuhkan nya pada kasur, kini Ia sudah berada diatas Olin, mengukung Olin dengan kedua tangannya.
Olin menatap mata sayu Reyhan, nafas berat menyapu wajah Olin karena jarak yang begitu dekat antara wajahnya dengan wajah Reyhan.
“boleh saya mencium mu? ” tanya Reyhan membuat Olin salah tingkah ditanya seperti itu.
Olin menggangguk setuju sebagai jawaban, Bibir keduanya mulai mendekat, Reyhan mecium lembut bibir ranum Olin, melumatnya secara perlahan sedangkan Olin membalas apa yang Reyhan lakukan, tangannya mulai melingkar pada kepala Reyhan. Ia membuka mulutnya memberikan akses untuk mereka berdua memainkan lidah nya.
Bagian lain Reyhan tak hanya diam, tangan nya kini turun mengelus dua buah gundukan kembar secara bergantian, di lepaskan nya kegiatan mangut-memangut, kini bibirnya menelusuri leher jenjang Olin dan terus turun hingga sejajar dengan payudara Olin. Reyhan menelan ludah nya merasa sangat tergiur melihat dua buah dada Olin yang begitu cantik, Tanpa ragu Ia langsung mengulum payudara Olin.
“mhhh gelihhh shh Reyyyhh Ahh” Olin mendesah nikmat. Reyhan terus saja memainkan lidahnya sambil sesekali menggigit puting kecil yang sudah tegang itu, sedangkan payudara satunya tidak luput dari genggaman tangan Reyhan, Ia memilin puting tersebut sambil sesekali menariknya pelan mambuat Olin merasakan sengatan listrik menjalar di seluruh tubuhnya.
“Akhh Reyhh mmmhh janghhann dii gihhihtt”
“kenapa? ga suka saya mainin gini puting nya hum? ga suka saya jilat begini?” tanya Reyhan sambil terus memaikan puting Olin yang sudah kemerahan.
Olin menggeleng “sukaahh Ahh”
Reyhan tersenyum simpul, ia melepas kuluman nya pada payudara Olin, lidahnya menjulur mengusap perut hingga kini wajahnya berhadapan dengan serambi lempit Olin yang sudah sangat basah. Ia tediam memperhatikan serambi lempit cantik Olin, Reyhan membuka gelambir gemuk serambi lempit Olin menggunakan kedua ibu jarinya. Ia terus memperhatikan serambi lempit basah Olin dengan lendir yang sedaritadi menetes.
“Om jangan di liatin, Olin malu. ” Olin menutup serambi lempit nya dengan satu tangan menghalangi pemandangan indah Reyhan. Reyhan menyingkirkan tangan Olin lembut.
“Cantik begini masa malu? saya suka lihat nya. ” Tanpa pikir panjang, Reyhan mulai memasukan satu jarinya pada lubang serambi lempit Olin yang masih tertutup rapat.
“shit, hanya satu jari saja, saya sudah merasa sesak” Reyhan menambah satu jarinya, Ia mulai menggerakan kedua jarinya yang berada pada serambi lempit sempit Olin. Olin terus bergeliat geli merasakan benda asing memasuki kemaluan nya untuk pertama kali, rasa perih namun nikmat bercampur menjadi satu membuat Olin mendesah nikmat.
“Ahhh jahann di gituhin serambi lempithh aku nyaah Shhh” Olin menggigit bibir bawahnya menahan rasa geli karena ulah Reyhan yang kini mulai memposisikan jari dengan gaya menggunting merenggangkan lubang Olin, ibu jarinya yang tidak tinggal diam dan mulai menekan klitoris, mengusaknya dengan cepat.
“mhhhh Reyhhhann Ahhh gelihhh” Olin melenguh saat kini kedua jari Reyhan mulai bergerak maju mundur mengocok serambi lempit Olin, gerakannya semakin cepat membuat serambi lempit Olin berkedut dan lendir yang terus meleber semakin membuat Reyhan dengan leluasa merusak serambi lempit Olin. Ia merasakan serambi lempit Olin mengetat seperti menyedot jarinya masuk ketika sedang mengorek seisi serambi lempit.
Olin merengek ketika dirinya mempercepat tempo kocokan pada serambi lempit Olin.
“Ahhhhh Reyhan akuuuh mhh mau keluashhh ”
Drettttt.. Dreettt..
handphone milik Olin yang terletak di atas nakas bedering menandakan sebuah telepon masuk. Tangan kanan Reyhan yang menganggur mencoba untuk meraih handphone Olin, Ia menekan tombol hijau yang berarti panggilan saat ini tengah berlangsung.
“tahanlah, ada yang ingin berbicara dengan mu” Ucap Reyhan membisikan tepat di telinga Olin.
Olin mengambil alih handpone dengan tangan bergetar. Bukannya menyudahi aktifitas tadi, Reyhan malah semakin cepat mengocok serambi lempit Olin dengan kasar.
“halo Ahhhh ada apa nid shhh Ahhh” Olin menutup mulutnya menggunakan lengan lain untuk menyamarkan desahan ulah Reyhan. Ia menatap kearah Reyhan yang tengah tersenyum puas sambil terus mengobok-obok serambi lempit Olin
“ngapain lu anjrit kok desah? ” tanya nida
“gak mhhh apa apAhhh” dirinya prustasi, kini Ia merasakan klitorisnya di usak habis-habisan oleh Reyhan.
“bohong anjirt lagi ngewe ya? ” tanya nida penasaran, sahabat nya ini memang selalu berbicara blak-blakan, tak heran Ia sering mengatakan hal-hal aneh seperti itu.
“AHHH” Olin menjerit ketika sebuah benda basah menyentuh klitorisnya menjilat serambi lempit Olin. Reyhan tetawa kecil melihat Olin mengigit bibir bawah menahan desahan yang hampir saja lolos akibat ulahnya yang tiba tiba menjilat serambi lempit cantik itu. sumber Ngocoks.com
“LO NGAPAIN? ” teriak nida di seberang sana khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
“Kaki gue kepentok, gue gak mhh apaa apAhh” Olin menatap Reyhan dengan tatapan memohon, tubuhnya bergerak tak karuan menandakan Ia akan segera keluar. Reyhan mengambil handphone yang masih berada pada telinga Olin dan langsung mematikan nya. Ia terus mengocok serambi lempit Olin dengan ibu jari yang masih mengucek klitoris Olin mengunakan kukunya.
CPLAK CPLAK CPLAK
Suara basah serambi lempit Olin terdengar nyaring saat Reyhan terus menabrak-nabraknya dengan cepat membuat Olin semakin menggelinjang hebat.
“ReyyyhhAhhh Akuu mauuu shhh keluARHHHHHH AHHH AHHHHHH MMMHHH”
currrr currrr currrr currrr
serambi lempit Olin memuncratkan cairan bening tanpa henti langsung mengenai wajah Reyhan. Ia tersenyum puas melihat serambi lempit merekah milik Olin mengeluarkan cairan yang ia nanti-nanti. Reyhan memajukan wajahnya menjilat bersih sisa cairan yang berada pada serambi lempit dan paha Olin. Olin yang sudah tidak ada tenaga hanya terkulai lemas atas pelepasannya.
Ketika matanya hendak tertutup, Ia merasakan benda tumpul mencoba untuk masuk pada serambi lempitnya yang baru saja melakukan pelepasan.
“Aaaaaahhh jangganhhh dulu mhhh masih ngiluuuh shhh ReyhAhhhn”
Bersambung… Kedua tangan Reyhan menahan paha Olin agar tetap terbuka, ia tak menghiraukan Olin yang menggeliat kesana-kemari. Reyhan memasukan rudal nya perlahan sambil terus melengguh kecil, dirasakan sebuah dinding tebal menghalangi rudal nya masuk.
Reyhan menghentakan sedikit rudalnya mencoba menerobos dinding tersebut. Olin berteriak keras saat merasa dinding rahim nya sobek akibat ulah rudal besar milik Reyhan.
“ARGHH SAKITT OM” Mata Olin berkaca-kaca. Reyhan yang menyadari telah menyakiti Olin, mendekatkan wajahnya dan mulai mencium bibir Olin dengan lembut. Air mata Olin menetes mengenai bibir mereka yang sedang menyatu.
Ia melirik kebawah, Reyhan dapat melihat darah keperawanan milik Olin menetes membasahi paha dan rudal miliknya yang tengah tertanam.
Reyhan terus melumat bibir Olin dengan penuh nafsu, perlahan ia menggerakan rudalnya masuk. Olin melepaskan tautan bibir mereka dan menggeleng pelan sambil terus menahan tangisnya.
“Jangan dulu, masih perih”
Reyhan mengangguk, tangan nya kembali mengelus kedua payudara Olin lembut sesekali meremasnya pelan mengalihkan rasa sakit. Ia menjilat satu payudara dengan satu tangan sibuk memilin puting Olin.
Gerakan nya terhenti, mata Reyhan tertutup merasakan rudalnya tengah dipijat oleh serambi lempit sempit Olin, Ia melanjutkan kembali mengulum payudara Olin sembari menggerakan pinggulnya maju perlahan.
“Mhhhh bentarr sakiitthh ahhh” Reyhan melepas kuluman nya pada payudara Olin, ia menegakan tubuhnya, kedua tangan Reyhan menahan paha Olin, membukanya lebar agar tidak menghalangi. Reyhan menatap wajah kesakitan Olin, ia melengguh kembali merasakan rudalnya diremas oleh serambi lempit Olin, ia merasa sesak tak tahan ingin merasakan lebih.
“Tahan. Kalau masih sakit, cakar saja punggung saya. ”
Pinggul Reyhan bergerak maju mundur menghujam serambi lempit Olin perlahan, semakin lama hujaman nya semakin cepat menghentak-hentakan serambi lempit Olin dengan ritme semakin meningkat.
“Ahhh ahhhh niikkmaathh Aahh rudal omm besarin banget ahh, serambi lempit Olinnh sakit Mmhh Ahh, omhhh shhh”
“ughhh shhh serambi lempit kamu sempit sekali Ahhhh” Sempit dan sesak membuat pergerakan nya terbatas, rudal Reyhan terasa dicengkram kuat oleh serambi lempit Olin yang terus saja menghisapnya. Reyhan mendesah, kepalanya pening merasakan nikmat pada rudalnya saat ini.
“pelannninn Ahhrrrhh reeyyghhan ughh perrihh, janganh cepatt cepAhhhh mhh” Rintihan Olin justru membuat Reyhan terus menghujam serambi lempit Olin. Hentakan nya kian meningkat lebih cepat seperti akan merobeknya.
Olin terus meracau, mendesah, merengek menikmati kemaluan nya di rusak oleh pria tampan ini, dirinya tidak bisa berpikir jernih lagi, saat ini pikiran nya hanya tertuju pada rudal besar Reyhan yang sedang menggaulinya. Ia mengencangkan otot serambi lempitnya membuat Reyhan kembali mengerang keras.
“Argghhh sialan enak sekali mhhh, jepit terus sayangg ahh”
Olin memejamkan mata merasa serambi lempit nya benar-benar dirusak habis oleh rudal besar Reyhan.
Reyhan kembali mencodongkan tubuhnya mensejajarkan dengan kedua buah payudara Olin dan mengigitnya tanpa mengurangi tempo rudalnya yang sedang menghujam serambi lempit Olin.
“Akhhhhh! omhhh.. perrihh Ahh..” Puting nya digigit keras oleh Reyhan membuat Olin serambi lempitik kesakitan. Akan tetapi itu justru membuat Reyhan tertawa puas. Kini ia kembali tegak, kedua tangan nya memeras payudara Olin sebagai pegangan.
Reyhan yang tak tahan karena rudalnya sedari tadi telah menghantam titik nikmat Olin, Ia mengerang keras hampir mendapat pelepasan nya. Olin terus mengetatkan serambi lempit membuat rudal Reyhan semakin masuk kedalam. Urat-urat rudal Reyhan terasa sangat nikmat ketika bergesekan pada dalam serambi lempitnya.
“Ommhh aahhhh shhh mau pipishh.. mhhh”
“tahan” Reyhan terus menghujam rudalnya cepat dengan tangan yang terus meremas keras payudara Olin.
Olin yang merasa tersiksa karena harus menahan pelepasan nya agar bisa keluar bersama pun memejamkan mata sembari terus mendesah keras.
“Reyhhannn.. ga kuaatthh… Ahhhh mhhh… pengenhh dipejuinnhh Ahhh.. Reyhhannh”
Kata-kata nakal yang keluar dari bibir cantik itu membuat tubuh Reyhan tersengat. Dengan nafas memburu dan nafsu semakin tinggi, Reyhan menarik setengah rudalnya dari serambi lempit Olin dan menghentakan dengan keras hingga ujung rudal Reyhan menghantam rahim nya berulang kali.
Ia tidak bisa menahan lebih lama lagi pun memuncratkan spermanya didalam rahim berbarengan dengan cairan nikmat milik Olin.
“ARGHHH fuckkhh, mhhhhh Ahhhhh… ” Reyhan meremas rambutnya sendiri merasa prustasi ketika serambi lempit Olin terus menghisap seluruh spermanya.
“mhhhhhh shhh…penuh..” Olin memejamkan mata, tubuhnya menggelinjang hebat, Ia merasakan rahimnya terisi penuh oleh sperma hangat milik Reyhan.
Tubuh Reyhan ambruk memeluk tubuh Olin dengan kepala yang ia letakan pada kedua belah payudara Olin. Deru nafas keduanya tak beraturan, Reyhan engan menarik rudalnya keluar karena ia ingin serambi lempit Olin menampung seluruh sperma nya seolah tak mengijinkan setetes pun keluar dari serambi lempit Olin. Reyhan menggerakan pinggulnya kembali masuk lebih dalam, menghetakan nya lagi.
“ahhhh.. udahh om.. ”
Reyhan tertawa kecil, keduanya perlahan menutup mata dan mulai tertidur dengan rudal yang masih tertanam.
***
Drrrtttt.. drtttt..
Olin menggeliat, tangan nya meraba nakas mengambil handphone nya. Namun ternyata suara tersebut bukan berasal dari handphone milik Olin. Matanya melihat kearah jam yang berada pada layar handphone.
Dirinya melonjak kaget karena benda pipih yang Ia genggam telah menunjukan pukul 3 sore. Dirinya telah melewatkan kerja part-time hari ini.
Olin menundukan kepala, lagi lagi ia terkejut melihat dirinya yang sudah memakai baju hitam polos milik seorang pria.
Ingatan nya kembali terputar saat ia tengah mendesahkan nama Reyhan. Pipi Olin memerah kembali, ia menjambak rambutnya. sumber Ngocoks.com
“Gila gua gila gua gilaa. ” Rutuk Olin pada dirinya sendiri. Matanya melihat sekeliling kamar mencari keberadaan pria yang telah bersetubuh dengan nya. Tidak menemukan siapapun, Olin turun dari kasur. Kakinya melangkah keluar dari kamar mencari keberadaan Reyhan.
Pipinya memerah kembali setiap teringat kejadian tadi pagi. Netranya menangkap keberadaan Reyhan yang sedang sibuk menyiapkan peratalatan makan, ia mendekat dengan malu-malu. Reyhan tersadar dengan langkah kaki yang mendekatinya, ia mengangkat kepala dan menatap kearah pemilik. Reyhan pun tersenyum kecil.
“kemari dan makanlah, kita belum makan apa-apa. ” Reyhan menarik kursi dan mulai mendudukan bokong nya.
Olin pun mendekat, Ia ikut menarik kursi dan mulai mendudukan bokong nya bersebrangan dengan Reyhan.
“Om, tadi pagi.. ”
“lupakan saja dan cepat habiskan makanan mu. ” Potong Reyhan tidak menatap Olin sama sekali.
Olin mengerutkan kening nya bingung.
“Bawa barang-barang mu dan tinggal bersamaku. ”
“kenapa? ”
Reyhan mengeluarkan handphone nya pada saku celana, sebuah video terputar. Terlihat rekaman dirinya dengan pria ini tengah melakukan hubungan intim. Olin terdiam kaku, tangan nya ingin mengambil handphone tersebut namun Ia kalah cepat dengan Reyhan. Reyhan tertawa licik sambil memasukan kembali handphone nya.
“tenang saja, ini tidak akan saya sebar jika kamu menuruti perintah saya. ”
Bersambung… “Maksud om? ”
Reyhan mengedikkan bahunya acuh “Kamu mengerti maksud saya. Cepat habiskan makananmu, saya tunggu di mobil.”
Tidak ada percakapan lagi, Olin segera menghabiskan makanan nya dan pergi ikut mengejar Reyhan ke parkiran.
***
Mobil melaju sedang, sudah beberapa menit mereka diam tanpa ada yang membuka suara, keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Reyhan yang sedang fokus menyetir dan Olin yang sedang larut dalam pikiran nya.
Olin berdeham kecil “Om? ” panggil nya tidak mengalihkan pandangan dari jalan raya di depan.
Reyhan melirik sekilas lalu kembali fokus menyetir “ada apa? ” tanya nya.
“Om punya hp dua kah?”
“huh?” Reyhan mengerutkan kening nya sesekali melirik Olin yang berada disamping nya.
“Aku tadi mikir om gimana rekam nya, kan hp om masih di kamar”
“Apa yang saya dapatkan jika saya beritahu mu? ”
Olin mengalihkan pandangan nya pada kaca disamping. Reyhan menahan tawa nya geli melihat Olin kesal.
***
“Kamu tinggal sendiri?” Tanya Reyhan ketika sudah sampai didepan rumah Olin.
“Ga mau kasih tau. ” Reyhan mengangkat satu alisnya lalu tertawa kecil.
“Baiklah, segera masuk saya akan tunggu disini. ”
Olin tidak menjawab pria tersebut, ia langsung pergi meninggalkan Reyhan dengan kesal.
***
Olin membuka pintu kamar, ia menghentakan kakinya sembari sibuk mencari dimana koper yang ia letakan terakhir kali pindah ke rumah ini.
Tangan nya sibuk melipat beberapa baju yang akan ia bawa, dirinya berencana hanya akan membawa setengah bajunya untuk sekarang.
“Dasar gila, orang asing mana yang tiba-tiba ngajakin serumah. ”
“Mana Laki-laki! ” kini ia beralih melipat beberapa dalaman, sembari memilih yang masih terlihat bagus. Matanya melotot tersadar apa yang ia lakukan.
“Ngapain gua milih-milih???” Olin menggelengkan kepalanya, tetapi Ia tetap lanjut memilih dalaman tersebut.
Gerakan nya terhenti, Pikiran nya berputar kembali pada awal ia keluar dari kamar mandi apartemen Reyhan menggunakan dress, ia baru tersadar pria tersebut sudah memegang dua handphone dan menyimpannya satu dengan camera menghadap pada kegiatan mereka.
Olin menutup mulutnya kaget. “Gila, emang di rencanain anjir. Tapi tadi di rekaman gua nya cantik banget co, kaya artis bokep yang bohai-bohai” Olin berlari kecil menghampiri kaca melikuk-likuk kan tubuh nya centil.
“Asu cakep gini gua, pantes si om nafsu bener. ”
Ia berjalan kembali kearah kasur dan merebahkan tubuh nya. “sebenernya gua kaget sih tu om ganteng tiba-tiba ngerekam terus nyuruh tinggal bareng, tapi wajah cakep gitu siapa yang mau nolak anjir, mana rudal nya gede, kebayang tiap malem ngewe nih gua. ” Olin menggelengkan kepalanya lagi untuk menyadarkan lalu ia memukul kepalanya sendiri.
“Gua udah gila suer deh! ”
***
“Lama sekali. ” Ketus Reyhan melihat Olin berjalan dengan tangan menggiring koper.
Olin mendelikan matanya masih kesal, “Sabar kek om, orang banyak baju nya! ”
Reyhan membukakan bagasi mobil dan menyimpan koper yang Olin bawa, lalu dirinya berjalan santai. Dengan inisiatif Ia membukakan pintu untuk Olin dan menyimpan satu tangan lain nya pada atap pintu agar Olin tidak terbentur.
Olin yang menyadari itu, hatinya berdebar kencang. Namun, karena ia masih kesal pada pria dihadapan nya ini. Olin langsung masuk kedalam tanpa mengucapkan apapun dan terduduk manis.
Reyhan menjalankan mobil nya dengan kecepatan sedang, dengan lihai ia menyetir menggunakan satu tangan dengan satu tangan lain nya ia letakan diatas pahanya sendiri.
Olin yang sedari tadi memperhatikan tangan Reyhan, meneguk ludah nya kasar. Ia teringat bagaimana tangan berurat itu mengusak habis dirinya. Tanpa sadar Ia mengambil tangan Reyhan dan menyimpan nya pada paha Olin.
Tubuh Reyhan seperti tersengat, kaget dengan tindakan Olin yang selalu tiba-tiba. Ia menoleh sekilas pada tangannya yang kini berada pada paha wanita ini. Olin yang tersadar langsung menepis tangan Reyhan.
“Woy om cabul! ” Olin mengalihkan pandangan menatap kaca disamping. ‘gila, gua gilaaaaa’
Olin menahan nafasnya ketika melihat tangan Reyhan kembali mendarat pada paha nya. Pipi Olin memerah merasakan hangat yang berasal dari tangan pria tersebut menjalar ke tubuhnya.
“Suka saya pegang-pegang gini? ” Reyhan mengelus pelan paha dalam Olin dengan pandangan yang masih fokus mengemudikan mobil tersebut.
“Om jangan cabul ya! ”
“Saya sedari tadi diam. Kamu yang selalu memulai duluan, Olin. ” Kini Reyhan menggerakan jarinya memutar pelan menimbulkan rasa geli. Olin menepis tangan Reyhan menghentikan aktifitas pria tersebut.
Reyhan terkekeh, kedua tangan nya kini berpegang pada stir, ia membelokan kemudi nya memasuki area pembelanjaan. Olin mengerutkan kening, bingung. Seolah mengerti, Reyhan menunjuk minimarket tersebut dengan dagu nya.
“Kita belanja untuk besok sarapan, bahan2 di rumah saya sudah habis. ” lanjut Reyhan sembari sibuk memarkirkan mobilnya.
Olin mengangguk sekilas, ia tersenyum tipis. Pipinya memerah kembali ‘gua kaya pasutri aja, belanja bareng paksu’ batin nya.
***
Sayuran yang nampak segar sangat menggugah selera Olin, ia membolak-balikan sayuran tersebut melihat mana yang harus ia beli. Namun, belum selesai ia melihat, sayuran tadi sudah berada pada tangan Reyhan dan memasukan nya pada keranjang. Olin mengedikan bahunya acuh.
Reyhan terlihat sangat ahli dalam memilih beberapa bahan mentah tersebut, ia terlihat sangat sempurna dengan wajah nya yang terlihat serius memilih, Olin mendesah kecil merasa senang karena ia akan menjalani hari-harinya dengan melihat wajah tampan.
“Om-”
“Olin, stop panggil saya om. Saya hanya 5 tahun lebih tua dari mu.” Reyhan berdecak sebal karena dari awal bertemu dirinya selalu dipanggil om.
“Emang om tau aku umur berapa? ” Ia berkacak pinggang sambil memincingkan matanya menatap Reyhan.
“24 tahun, terlihat pada belakang case handphone mu. ” Reyhan menunjuk handphone yang Olin pegang.
“Kepo! fakta nya kan om lebih tua dari aku, ya aku panggil om lahhh! ”
“Lebih baik kamu panggil saya mas mulai dari sekarang. ”
“M-mas? ” Olin terbata, ia menundukan kepalanya menahan senyum.
“Kok kaya beres nikah sih” gumam Olin. Reyhan yang mendengar pun hanya tertawa kecil.
“kalau begitu, kita nikah saja. ” Reyhan berjalan meninggalkan Olin dengan pipi yang sudah sangat memerah.
“Om eh Mass!!! serius? ” Olin berlari menyusul Reyhan.
***
Olin memasuki apartemen Reyhan, ia merebahkan kembali tubuhnya pada sofa yang tersedia. Matanya menatap kearah Reyhan yang sedang sibuk menata sayuran yang sudah mereka beli tadi. sumber Ngocoks.com
“Mas, aku penasaran”
Reyhan menoleh kearah Olin, menunggu lanjutan dari wanita tersebut.
“Kita itu apa? ” Olin merubah posisinya menjadi duduk sambil terus menatap Reyhan dengan kedua tangan menompang dagu.
Reyhan menghentikan aktifitas nya dan berjalan santai dengan kedua tangan yang ia masukan pada saku celana. Reyhan berhenti di hadapan Olin, ia membukukan tubuh nya agar sejajar dengan Olin.
Cupp
Olin mebelalakan matanya kaget, ia menutup bibirnya dengan cepat.
“Menurutmu, kita itu apa? ” Tanya Reyhan masih dengan jarak dekat, matanya menatap lekat Olin sambil tersenyum licik.
“p-pacar? ”
Reyhan menggeleng kecil “Saya tidak suka berpacaran. ” Ia menarik tangan Olin yang sedang menutupi mulutnya sendiri. Dengan cepat Ia mencium bibir tersebut dengan rakus.
Bersambung… Hari demi hari terus berlanjut. Sudah sebulan dirinya tinggal bersama pria ini. Kini hubungan mereka semakin membaik seiring berjalannya waktu. Reyhan selalu memperhatikan dan menjaga Olin, begitupun sebaliknya.
Seperti sepasang kekasih, mereka selalu menghabiskan waktu bersama, saling mendekatkan diri mengenal lebih dalam satu sama lain. Tak jarang keduanya merasakan hati yang bedebar karena cinta yang muncul.
Meskipun sudah seperti layaknya sepasang kekasih, hubungan keduanya masih tidak ada kejelasan apapun. Bagi Reyhan maupun Olin sendiri, mereka tidak memusingkan statusnya. ‘Biarlah mengalir seperti air’ begitu kata Reyhan.
***
Dibawah langit senja, seorang pria tengah sibuk bermain laptop sembari temani suara gemuruh ombak menenangkan hati. Dua hari telah berlalu, dirinya sangat merindukan wanitanya.
Reyhan berdeham kecil, tangan yang sedaritadi sibuk memainkan keyboard kini beralih mengambil handphone pada saku celananya. Ibu jari terus bergerak mencari nama yang dirindukan.
Ia mengangkat handphone dan menempelkan pada telinga menunggu Olin menjawab. Hening, hanya ada suara angin dan ombak yang saling beradu. Reyhan berdecak kesal, saat ini ia benar-benar sangat merindukan wanitanya.
***
Olin membenarkan rompi yang ia pakai. Matanya terus menoleh kearah jam dinding yang tak jauh dari pandangan. Sudah satu jam berlalu sejak ia men-charger handpone-nya yang mati, Olin menghela nafas panjang.
“Kenapa mbak? kalau lagi banyak masalah jangan dibawa ke tempat kerja dong! ” ucap salah satu pelanggan yang sedang mengerogoh dompetnya untuk membayar.
Olin menggaruk tengkuk yang tidak gatal “Iya maaf ya kak, saya terima uangnya. Silahkan duduk dan menunggu makanan datang! ”
Hari ini sangat panjang, ia sudah berdiri sejak tadi melayani pelanggan yang tak habis habis. Ia terpaksa harus melayani dengan senyum lebar meskipun hatinya kesal menunggu Reyhan yang tak kerap mengabarinya dari kemarin malam.
Satu jam telah berlalu, dalam diri bersorak senang, tetapi wajahnya masih menunjukan kekesalan karena masih banyak pelanggan yang sedang mengantri.
“Silahkan, mau pesan apa? ” Ucap Olin tanpa mengalihkan pandangan yang tengah sibuk membenarkan uang receh untuk kembalian.
“Pesan kamu boleh? ”
Kegiatannya terhenti, semburat merah muncul di kedua pipi Olin saat mendengar suara yang ia rindukan dua hari ini.
“MAS-”
“sttt, kecilkan suara mu babe. ”
“wopss, mau pesan apa mas? ” Senyum yang terus merekah tak pudar dari wajah Olin, dirinya sangat senang melihat Reyhan.
“Pesan kamu, sudah saya katakan diawal. ” Ucap Reyhan dengan nada iseng.
“Mas, yang bener ish. Lihat belakang kamu ngantri itu! ” Olin mengerucutkan bibirnya sembari menahan senyum salah tingkah.
“pftt, seperti biasa. Untuk cake, kamu yang pilihkan. ” Kekeh Reyhan, tangannya bergerak mengacak rambut Olin gemas.
***
Reyhan membenarkan kacamata, matanya fokus melihat beberapa data yang tertunda. Helaan nafas terdengar beberapa kali, dengan lihai jarinya menari kesana-kemari mengetik.
Reyhan mengalihkan perhatiannya kepada jam tangan yang melingkar pada pegelangan tangan. Sekarang sudah menunjukan pukul 8 malam. Cafe yang semula ramai oleh pengunjung, kini hanya tersisa dirinya saja.
Reyhan mengedarkan pandangan mencari sosok wanita miliknya. Terlihat Olin tengah sibuk mengikat rambut, mata Olin menatap kearah Reyhan. Ia mengedipkan sebelah matanya membuat Reyhan tertawa kecil.
Setelah selesai dengan semua pekerjaan, Olin berjalan mendekati Reyhan. Dirinya berlari kecil, lalu memeluk pria tersebut.
“Kangenn” Ucap Olin dengan suara manja khas anak kecil.
“Sudah selesai, sayang?” Tanya Reyhan, ia mengelus halus punggung Olin.
Terasa dalam pelukan Olin mengangguk kecil, Reyhan mencium puncak kepala Olin lembut.
“Kalau begitu, ayo kita pulang. ”
Olin melepaskan pelukan nya, tangannya bersila menatap Reyhan kesal. “Kamu ga kangen aku mas? ”
Reyhan tertawa “Loh, siapa bilang? ”
“Itu aku nya ga di bales kangen juga. ”
“Mas mengajak kamu pulang, karena mas kangen sama kamu. ” Jelas Reyhan mengelus pipi Olin.
Olin berjinjit dan memajukan dirinya mendekati telinga Reyhan. “Kangen sama aku, atau kangen didudukin aku mas? ” Bisik Olin, lidahnya terjulur mejilat daun telinga Reyhan.
Reyhan menghela nafas berat.
“Kita bisa main disini loh, mas. ” Bisiknya lagi, Ia meniup telinga Reyhan menimbulkan geli pada sang empu.
Reyhan menelan ludah, dirinya berdeham kecil. Telinga Reyhan memerah padam mendengar suara nakal Olin yang tengah menggoda nya. Reyhan memegang tengkuk Olin lembut dan tersenyum remeh.
“Dasar lonte. ” Bisiknya.
Reyhan menggendong Olin, tangan nya melesak masuk kedalam baju, mengelus punggung halus Olin. Bibir keduanya kini telah bertaut, Reyhan menyesap bibir ranum Olin dengan kasar, merasakan bertapa manisnya bibir Olin.
Olin kewalahan, ia tak pernah bisa mengimbangi ciuman Reyhan yang begitu kasar dan terburu-buru. Ia hanya mengikuti nalurinya dengan mengalungkan tangan pada leher Reyhan membiarkan pria ini menjamah seluruh permukaan bibir.
Reyhan melumat habis bibir Olin, Olin membuka mulutnya membiarkan Reyhan mengakses lebih jauh. Lidah Reyhan menari dalam rongga mulut Olin, mengabsen satu persatu gigi Olin.
Olin melengguh kecil, tangan nya menekan kepala Reyhan agar memperdalam ciumannya. Semakin panas ciuman mereka, Reyhan mulai membuka pengait bra yang Olin pakai. Kakinya melangkah kearah toilet tanpa melepaskan ciuman mereka.
Ia masuk kedalam salah satu bilik toilet, kemudian mendudukan dirinya diatas closet. Olin memukul pelan dada bidang Reyhan mengisyaratkan bahwa Ia telah kehabisan nafas. Reyhan yang mengerti pun melepaskan ciumannya.
Ia menatap sayu Olin. Tatapannya turun kepada bibir merah yang telah membengkak akibat ulahnya. Ia mengecup bibir tersebut dengan gemas.
Tangan Reyhan yang sedang melingkar pada pinggang Olin pun kini bergerak mulai mengelus kembali punggung yang telah terbebas dari kaitan bra.
Tangannya terus bergerak maju mengelus buah dada kembar Olin yang masih terhalang bra. Reyhan meremas kedua dada Olin sembari terus memperhatikan mimik wajah Olin yang kenikmatan.
Olin menutup matanya malu karena terus ditatap oleh Reyhan, dirinya merasa sangat panas. serambi lempitnya mulai berkedut, ia menggesekan pada tonjolan Reyhan yang tengah diduduki.
“ngghhhh.. shhhh.. ” desah Olin terus tak bisa diam, terus menggoyangkan pinggulnya.
Reyhan terus menatap Olin sembari tersenyum, Ia merasakan sesak pada celananya. Reyhan menikmati mimik wajah kenikmatan Olin sembari terkekeh setiap kali Olin menyebut namanya dalam desahan.
“OLINNN” Suara teriakan terdengar dari luar toilet, Olin mematung.
Reyhan terlihat santai, ia tidak menghentikan aktifitas memainkan dadanya. Olin menggeliat, Ia memberontak kecil.
“Mas bentar, ada yang panggil aku” Ucapnya melepaskan tangan Reyhan yang sedang meremas dadanya.
Reyhan terkekeh melihat wajah panik Olin, Ia melepaskan tangan, membiarkan Olin turun dari pangkuan.
“OLINNN, UDAH PULANG KAH? ” teriak terdengar lagi, mencari sosok rekan kerja terakhir kali Ia lihat sebelum pulang.
“BELUM, BENTAR TEH INI LAGI BENERIN RAMBUT. ” balas Olin membenarkan pakaiannya yang telah kusut. Telah selesai, Olin keluar dari toilet meninggalkan Reyhan yang sedang menyilangkan tangan santai, bersedekap.
“Olin, tadi teteh kan nitipin hp ke Olin, ada dimana deh? lupa teteh tadi ketinggalan. ” Ucap rekan kerjanya saat melihat Olin keluar dari toilet. ceritasex.site
Olin mengangguk-anggukan kepalanya, ia melewati cika berjalan kearah tempat dimana menyimpan handphone rekan kerjanya itu. sumber Ngocoks.com “Ini teh, tadi Olin simpen disini.” Ucap Olin memberikan handphone milik Cika.
Cika mengambil handphone-Nya “Makasih ya Lin. ”
“Oh iya, masih ada pelanggan bukan? itu di depan ada tas laptop. Punya siapa? ” Ucapnya lagi sembari sibuk mengotak-atik handphone nya.
“Iya masih ada teh, tadi orang nya nitip bentar mau ke minimarket. Ini Olin juga lagi nungguin pemiliknya. ” Jawab Olin mengarang.
“Mau teteh temenin? ”
Olin membelalakan mata lalu menggeleng dengan cepat. “Gausah teh. ” Ia melihat kearah handphone yang Cika genggam.
“Tuh liat udah malem teh, Olin nunggu sendiri, toh bentar lagi kok! teteh pulangg aja. ” Ucap Olin menunjuk kearah handphone yang Cika genggam.
“Yaudah atuh teteh pulang ya, gapapa kamu serius? ” Tanyanya tak tega meninggalkan Olin.
“Serius teh! ”
“Kalau kamu pulang tutup yang bener ya pintu nya. Teteh pamit, daa” Ucap Cika pergi meninggalkan Olin.
Olin menggangguk sembari melambaikan tangan. Setelah melihat Rekan kerjanya pergi, Ia menghela nafas lega.
Terdengar pintu toilet terbuka, memperlihatkan Reyhan yang sedang berdiri sembari mengangkat halisnya. Olin menarik lengan Reyhan.
“Mas kita main di rumah aja ah. ” Langkanya tergesa-gesa menuju meja Reyhan tadi.
“Main di rumah atau main di mobil? ”
Bersambung… Reyhan memasukan Olin yang berada pada gendongannya ke dalam mobil, kemudian ia pun ikut duduk di samping Olin. Olin menatap Reyhan yang sedang sibuk menggerogoh laci mobil. Matanya membelalak kaget melihat sebuah benda kecil pada genggaman.
“Mas, kamu dapet darimana itu? kok bawa yang begituan? jangan pake itu ya? ” Tanya Olin dengan cepat, ia menatap ngeri kearah vibrator yang sedang Reyhan genggam.
Reyhan menguraikan kabel vibrator tersebut, tangannya mengutak-atik remot kecil yang tersambung. Getaran kecil mulai terlihat, ia menatap kearah Olin menyeringai. “Ada apa? kamu takut? tadi katanya ingin bermain di mobil? ”
Olin menggigit bibirnya gugup, yang ia maksud adalah bermain biasa tanpa menggunakan toy sex, ia terlalu takut untuk mencoba alat tersebut karena melihat beberapa aktor favoritnya menangis ketika menggunakan alat itu.
“takut mas, kayanya itu sakit.. ” Ucap Olin menggelengkan kepalanya pelan.
Reyhan tertawa, ia menarik kaki kedua kaki Olin maju menghadap ke arahnya, lalu kedua tangan Reyhan melebarkan kaki Olin. Kini posisi kaki Olin sudah terbuka lebar dengan rok tersingkap ke belakang memperlihatkan celana dalamnya yang sudah basah. Kedua tangan Olin bergerak menutup serambi lempitnya malu.
Reyhan menyingkirkan tangan Olin, ia meneguk ludahnya kasar, tangannya bergerak mengelus serambi lempit Olin yang masih terbalut celana dalam. Ia mulai menggerakan jarinya turun naik, memutar dan sesekali menusuk pelan lubang yang sudah basah.
“Emhhmm.. Mass gehlli.. ” Desah Olin menutup matanya menahan nikmat karena ulah Reyhan.
Tak sabar ingin memainkan lebih serambi lempit cantik Olin, Reyhan mulai membuka celana dalam dan rok yang Olin kenakan tersebut, lalu menariknya agar terlepas dari kedua kaki Olin.
Ia kembali menelan ludah tergiur untuk menjilat lendir-lendir yang menetes tanpa henti, namun ia ingin mempermainkan Olin dengan mainan yang baru saja ia beli pada online shop.
Reyhan mengelus serambi lempit Olin dan sesekali menamparnya menimbulkan rasa perih nan nikmat bagi Olin. Mendapat perlakuan kasar dari Reyhan, serambi lempit yang seakan haus dengan kenikmatan mulai kembang kempis tak karuan.
Reyhan mengambil vibrator, tangannya mengutak-atik kembali remot kecil yang terhubung, getaran kecil pun terlihat. Salah satu sudut bibir Reyhan terangkat, tersenyum licik. Tangannya kembali menahan kedua paha Olin agar tetap terbuka lebar.
“serambi lempit murah, sudah ga sabar di masukan bukan sampai kedutan begini? cuih” Reyhan meludah pada serambi lempit Olin.
serambi lempit Olin semakin basah lantaran mendengar kata-kata frontal Reyhan yang merendahkannya, ia menjerit ketika sebuah benda kecil kini sudah masuk bersarang pada serambi lempitnya. Ia merasakan benda tersebut bergerak kecil mengusak serambi lempitnya. Olin menggigit bibir menikmati sensasi asing yang baru pertama kali ia rasakan.
“Tahan pelepasan mu sampai Mas ijinkan. ” Reyhan memasang shealbet-nya dan mulai menarik kemudi, menjalankan mobil.
Olin menahan serambi lempit nya yang terus merasa sensitif seakan ingin melepaskan hasratnya sekarang saat mendengar perintah Reyhan. Pria tersebut tahu betul bahwa dirinya lemah terhadap perintah, namun ia malah sengaja membuat dirinya tersiksa sekarang. Vibrator dengan getaran berubah-ubah, sejenak pelan kemudian menjadi cepat, betul-betul menyiksa dirinya.
“masshhh.. smmhh… mauu pipissshh” desah Olin dengan jari kaki yang menekuk menahan pelepasan. Dirinya terus saja bergerak resah menunggu perintah dari Reyhan.
Reyhan mengambil remot vibrator disamping menggunakan satu tangan sedangkan tangan lainnya tetap memegang setir. Ia menekan salah satu fitur pada remot vibrator tersebut.
“ARGHH, m-maassshh saakiiithh ahh”
“Sakit atau enak sayang? ” tanya Reyhan sambil tersenyum remeh menatap jalanan.
Olin mengeliat hebat merasakan serambi lempitnya di usak habis-habisan oleh benda kecil ini, getaran yang Reyhan berikan semakin cepat membuat sang empu menjerit merasakan nikmat dan rasa perih yang menyatu.
“Punya mulut itu di pakai untuk bicara, bukan hanya untuk mendesah. ” Tegas Reyhan merasa pertanyaannya tidak mendapat jawaban apapun dari Olin. Ia melirik kembali kearah Olin.
“eughhh.. shh enaakhh.. ahh masshh pelaninn.. mhhh.. perrihh”
Reyhan mengambil kembali vibrator tersebut dan mengaturnya pada getaran sedang. “Enak serambi lempit nya di sumpel pakai mainan? ” tanya Reyhan saat melihat Olin menutup mata sambil menggigit bibirnya menahan desah.
Olin menggeleng kecil, kepalanya pening menahan pelepasan yang ia ingin keluarkan sedaritadi. “Enakhh pake rudal masshh Ahhhhh.. pengenhh keluaarhh please mhh.. ”
“Tahan.” Tangan Reyhan bergerak memutar lagu, ia membuka laci mobil dan mengambil satu permen batang. Dengan santai Reyhan memakan permen tersebut sambil terus mengemudi tanpa menghiraukan Olin yang merengek terus-menerus meminta keluar.
Beberapa menit berlalu, Olin masih terus merengek. Kini matanya sudah basah menangis, ia benar-benar ingin keluar saat ini. Tak tahan lagi dengan perintah Reyhan, tubuhnya menggelinjang tak karuan. Desahnya semakin nyaring bercampur dengan nafas yang memburu.
CURRRR CURHHH CURRRH
Suara air yang deras mengucur bersamaan dengan teriakan nikmat dari Olin, tubuhnya terkulai lemas setelah mendapat pelepasan. sumber Ngocoks.com
Reyhan membanting setir ke samping memberhentikan mobil sejenak, netranya menatap kearah Olin yang sedang terpejam lemas. Reyhan mencengkram kuat kemudi mobil menahan amarah. Tangannya bergerak mengambil vibrator yang masih tertanam pada serambi lempit Olin dengan kasar. Olin membuka matanya, ia bergetar takut melihat Reyhan yang sedang menatap serius kearahnya.
“Maaf mas, aku ga tahan.. ” cicit Olin mengigit bibir bawah.
Sebulan tinggal bersama Reyhan membuat dirinya memahami akan sifat-sifat yang di miliki Reyhan. Salah-satunya adalah seperti saat ini, amarah yang bisa saja memuncak jika ia tidak menuruti perintahnya.
Reyhan masih menatap Olin sambil otaknya memikirkan suatu ide gila. Ia mengambil permen batang yang berada pada mulutnya, permen yang masih bulat sempurna kini ia arahkan pada serambi lempit Olin yang terus berkedut.
Olin memundurkan tubuhnya perlahan sembari menggeleng kecil menolak ide tersebut. Tidak peduli dengan penolakan Olin, ia melebarkan gelambir gemuk serambi lempit yang masih teramat sensitif.
Ia mengesekan permen tersebut turun naik membuat Olin bergelinjang kembali merasakan geli. Reyhan membuang nafas berat nya, mengalihkan sejenak pandangan pada jendela di samping.
“Sial, cantik banget serambi lempitnya. Pasti manis kalau saya jilat sekarang. ” Batin Reyhan tak tahan ingin menjilat serambi lempit Olin yang berkilat akibat dari lelehan permen dan lendir sisa-sisa pelepasan. Ia menggeleng keras, pandangannya kembali menatap kearah serambi lempit Olin, kini ia menusukkan permen tersebut masuk ke dalam serambi lempit.
“Aaahhkkk.. masshh masihh ngilu ahhhh.. jangan di masukhhinn eummhh.. ” Kepalanya menonggak, menabrak jendela di belakang akibat Permen yang kini melesat masuk ke dalam dirinya.
“Pakai ini sampai apart. ” ucap Reyhan kembali mengemudikan mobil tanpa menghiraukan Olin yang sibuk dengan permen yang tertanam serambi lempitnya.
***
Reyhan keluar dari mobil, ia berjalan pada sisi satunya sembari membuka jas yang ia pakai. Reyhan membuka pintu mobil, ia membungkukan tubuhnya, jas yang sudah terlepas tadi, kemudian ia kenakan untuk menutupi bagian bawah Olin yang sudah terlepas. Reyhan menggendong Olin dengan sigap membawanya ke dalam.
“Mas tidak sabar jilat permen yang ada di dalam serambi lempit kamu. ”
Bersambung… Suara langkah kaki berjalan memasuki kamar, Reyhan merebahkan tubuh Olin yang berada pada gendongannya. Ia melepas jam yang melingkar di pergelangan tangan, lalu menggulung lengan kemeja dengan tatapan yang masih tertuju pada wanita yang sedang menatapnya juga.
“Ngangkang.” titah Reyhan yang kini menggulung lengan kemeja satunya lagi.
Jantung Olin berdetak tak karuan, tubuhnya yang masih lemas pun terasa kembali panas mendengar suara Reyhan yang semakin berat karena nafsu tertahan sedari tadi.
Olin membuka kedua kakinya dengan tangan menutupi serambi lempit. Ia merasakan gesekan permen yang masih tertanam pada dirinya, Olin melengguh merasakan cairan lendir yang terus saja menetes. Dengan perasaan tak tenang, ia menunggu tindakan selanjutnya dari Reyhan.
Reyhan menatap remeh serambi lempit yang tertutupi kedua tangan Olin, dirinya kini sedang sibuk membuka satu persatu kancing kemeja, lalu ia melepaskan kemejanya perlahan memperlihatkan tubuh ramping dengan otot yang tercetak jelas. Ia mencondongkan tubuh kemudian berjongkok pas dihadapan area favorite-nya.
“Buka.” titah Reyhan lagi sembari menepis kedua tangan Olin yang masih menutupi serambi lempit cantiknya.
Olin selalu terpana melihat tubuh indah lawan jenis, ia merasakan aliran darah mengalir deras dalam dirinya. Olin meringis kecil, perlahan ia membuka kedua tangannya memperlihatkan serambi lempit gemuk yang sudah memerah dengan batang permen yang masih tertanam pun bergerak-gerak karena ulah serambi lempitnya.
“Pftt..” Reyhan memalingkan wajah, ia tertawa kecil lalu kembali menatap serambi lempit Olin.
“Lihat tubuh mas jadi kedutan lagi serambi lempit nya? enak ga kedutan sambil disumpel permen gitu? ” Tanya Reyhan, tangannya kini bergerak memainkan batang permen perlahan.
Olin melengguh kembali merasakan pergerakan kecil menggesek dinding serambi lempitnya. “Masshh.. Ahhhh.. ”
“Kenapa sayang? ada apa hum? ” Tanya Reyhan dengan bibir yang masih tersenyum lebar memperlihatkan gigi.
“Mhhh.. tolonggggghhh” Nafasnya memburu, kepalanya bergerak resah kesana-kemari merasakan permen yang terus saja mengusak serambi lempitnya dengan tempo yang semakin cepat.
“Tolong apa sayangg? yang jelas coba kalau bicara. ” Tanyanya lagi mempermainkan wanita yang sedang ia kerjai, Reyhan menjilat bibirnya sendiri melihat permen yang sedang keluar-masuk dalam serambi lempit Olin dengan lendir mengkilat tak berhenti menetes.
“JilAaahhh.. tolonghh jilatthh.. Mhhh sshhhh.. ” Rengek Olin.
“As you wish. ” Ia menarik kasar permen yang sudah terlihat mengecil karena terlalu lama bersarang pada serambi lempit Olin lalu memasukan kembali permen tersebut pada mulut Olin yang terbuka, mendesahkan namanya.
Reyhan kembali menjilat bibirnya, ia memajukan wajahnya yang kini sudah berada tepat pada serambi lempit Olin. Indra penciumannya menangkap aroma melon sisa permen tadi, ia menutup mata sambil terus menghirup aroma tersebut.
Tangannya menampar pelan serambi lempit Olin. Ia menyentuh menggunakan ujung jarinya, mencolek lendir yang terus berjatuhan. Lidah Reyhan terjulur, ia menyesap jarinya sendiri dengan jakunnya bergerak naik turun menelan savila.
“Manis.” Tak pakai lama, ia kembali menjulurkan lidahnya lagi untuk menyapa klitoris yang sedaritadi ia inginkan.
Reyhan melumat rakus klitoris Olin seperti saat ia melumat bibir Olin, namun kali ini objeknya adalah serambi lempit. Rasa manis dari permen terus menyapa lidah Reyhan yang membuat dirinya semakin rakus, suara mengecap yang keluar menandakan bahwa dirinya menikmati serambi lempit cantik sang wanita.
“Sshhhh… mhhhh… Masss eyyhhhh… Ahhhh… makan terushh serambi lempit Olin mhhh.. ” Olin mencengkram rambut Reyhan mendorongnya agar semakin dalam menjilat serambi lempitnya. Reyhan memundurkan tubuhnya, ia menatap sebentar kearah Olin yang terus saja mendesah, lalu tertawa remeh.
“Dasar lacur. ” Ia membenamkan kembali wajahnya mengigit klitoris kaku yang mencuat.
“AKHHH.. mashh… Perhhhihh… ”
Reyhan tertawa kembali, ia melamot keseluruhan serambi lempit Olin dengan rakus.
Elelelel slrpppp slrpppp
lidahnya bergerak kesana-kemari membuat Olin bergetar terus mendesahkan namanya saat Reyhan menjadikan santapannya di bawah sana. Olin berusaha meronta menjepit kepala Reyhan yang langsung ditahan kedua tangan Reyhan agar tetap mengangkang. Rontaan yang di keluarkan Olin membuat dirinya tertantang dan semakin rakus menjilati serambi lempit Olin.
“serambi lempit kamu enak sekali sayang, rugi orang-orang gabisa kokop serambi lempit kamu seperti mas, cuih. ” Racau Reyhan menampar kemudian meludahi serambi lempit Olin.
Reyhan kembali menghisap serambi lempit Olin, lidah tak bertulangnya kini menusuk-nusuk masuk kedalam lubang Olin dengan ibu jari dan mulai mengucek klitoris cepat, membuat Olin semakin bergetar menikmati permainan Reyhan, tubuhnya hanya bisa bergelinjang saat Reyhan semakin rakus dibawah sana.
serambi lempitnya terus berkedut merasakan respon dari mulut dan ibu jari Reyhan tak henti mengerjai miliknya. Lubang Olin kembang-kempis mempersilahkan lidah Reyhan yang terus saja menusuk ingin masuk kedalam.
“Mashh… mau dudukihhnn wajah kamu… emhhhh… Olin mau keluAahhh.. ”
Reyhan merasakan rudalnya semakin sesak di bawah sana saat mendengar permintaan nakal yang keluar dari bibir manis Olin, ia berhenti sejenak lalu melepas pangutannya dan merebahkan diri bertukar posisi, membiarkan Olin bangun kemudian menaiki wajahnya langsung mengangkang diatas wajah Reyhan yang sudah terlentang.
“Shit, cantik sekali serambi lempit kamu sayang. ” Puji Reyhan disuguhi pemandangan indah tepat di hadapannya.
Tak lama mendarat, Olin melengguh saat lidah tak bertulang Reyhan kembali menyambut serambi lempitnya, menjilat-jilat rakus membuat kepala Olin pening merasakan nikmat luar biasa yang Reyhan berikan.
Olin mengigit bibir bawahnya sesekali menahan desahan tak terkontrol keluar dari mulut, Reyhan terus menjilati rakus serambi lempit Olin, satu tangannya dibawah sana kini membuka kaitan celana agar rudalnya tidak terlalu sesak.
Ia memegang kedua paha Olin mencengkramnya erat sambil sesekali menampar pantat Olin membuat sang empu mendesah. Ia mengetatkan serambi lempitnya saat Reyhan terus menjilati miliknya dengan rakus.
Olin bergetar menandakan bahwa dirinya akan mencapai puncak, Reyhan yang mengerti pun langsung mengigit kecil klitoris Olin hingga membuat pemiliknya bergelinjang hebat memuncratkan squirting.
“MASHHH.. AHHHH…. ”
CURRHHHH CURRHH CURRHHHH
Jakun Reyhan turun naik menelan seluruh pelepasan tanpa sisa, wajah nya basah penuh dengan sisa-sisa cairan serambi lempit Olin.
Olin terguling kesamping, ia terkulai lemas. Nafasnya memburu dengan serambi lempit yang masih berkedut. Reyhan bangun, menggetarkan tubuhnya duduk di pinggiran kasur.
“Kita belum selesai, kemarilah. ” Titah Reyhan.
Olin mengangguk lemas, dirinya merangkak dari kasur kemudian berjongkok tepat dihadapan selangkangan Reyhan. Telapak tangannya mengusak cenala milik Reyhan sambil mengurut rudal bengkok Reyhan akibat masih terhalang celana. Jarinya bergerak akan membuka resleting celana, namun di tahan oleh sang empu.
“Gunakan gigi mu. ” Titah Reyhan yang langsung di angguki Olin, ia memajukan wajahnya lalu mengigit resleting celana Reyhan, menariknya turun.
Reyhan menutup mata, rudalnya semakin mengeras melihat Olin. Ia memundurkan tubuh atasnya dengan kedua tangan menahan sebagai tumpuan. Setelah terbuka sempurna, Olin melepaskan celana Reyhan dengan cepat, tangan Olin kini mengelus pelan rudal Reyhan yang masih terbalut celana dalam. Meskipun masih terbalut celana dalam, ukuran rudal Reyhan yang besar sudah tercetak jelas menonjolkan urat-urat di baliknya.
Olin mengelus batang kaku milik Reyhan yang masih terbalut celana dalam membuat kain tersebut bergesekan dengan rudal miliknya.
“mmmhh.. ” leguhan terdengar, Reyhan mengadahkan kepala keatas menikmati sentuhan halus tangan Olin. Suhu tubuh Reyhan memanas, pikirannya melayang habis diburu nafsu. Seolah kosong, dirinya tidak bisa memikirkan apapun saat ini.
Reyhan membuka mata, tiba-tiba saja dirinya mengingat bahwa belum selesai dengan pekerjaan kantor karena terburu-buru ingin bertemu sang wanitanya. Ia mendesah berat, merasa kesal. Olin yang mendengar desahan tak enak dari Reyhan pun terhenti sejenak dari aktifitas menjilat rudal. Ia mengernyitkan alisnya seolah bertanya apa yang terjadi.
“Tugas kantor belum mas selesaikan, besok pagi harus segera dikirim. ” Jawab Reyhan mengerti arti dari mimik wajah kebingungan Olin. sumber Ngocoks.com
Olin melihat rudal Reyhan yang masih keras, ia menarik celana dalam Reyhan dan mengeluarkan isinya. rudal Reyhan keluar dengan tegak mengacung, kepala rudal yang memerah dan urat-urat tebal yang sangat kaku membuat Olin tertawa.
“rudal kamu aja udah keras gini mas, mau di-stop sampai sini aja? ” Ujar Olin, tangannya mengelus ujung kepala rudal Reyhan yang sudah mengeluarkan beberapa cairan precum.
Reyhan mengangguk, dirinya terpaksa menghentikan aktivitas saat ini dan harus fokus pada pekerjaan, tidak ada waktu lagi jika harus menundanya sampai besok. “Kamu tidur saja, mas selesaikan dulu sedikit lagi. ” Ucap Reyhan sedikit kesal.
“Tapi ini gimana? ” Kini tangan Olin menggenggam batang rudal Reyhan sembari mengocoknya naik-turun dengan perlahan.
Reyhan memejamkan kembali matanya, tidak bisa menolak sentuhan Olin saat ini, namun dirinya juga tidak bisa mengabaikan begitu saja pekerjaan kantor.
“Gimana kalau mas fokus sama kerjaan yang tertunda dan aku dibawah puasin rudal mas?”
“mau coba disepongin waktu kerja ga? ” sarannya lagi dengan senyum nakal.
Bersambung… Seolah tersengat listrik, rudal Reyhan mengeluarkan kembali precum saat mendengar saran dari Olin. Pikirannya melayang memikirankan bertapa panas mereka jika bermain di meja kerja miliknya. Namun ia langsung menepis pikiran tersebut, ia tahu dirinya tidak akan bisa fokus pada pekerjaan jika rudalnya dipermainkan oleh Olin.
Helaan nafas berat keluar, Reyhan memegang kedua pundak Olin menyuruhnya berdiri. Ia mengambil selimut diatas kasur dan membelitkan pada pinggangnya sendiri.
“Kita lanjut saja nanti, Mas tidak bisa fokus jika menuruti saran darimu. Tidurlah duluan. ” Ucap Reyhan mengelus pipi Olin lembut, lalu mencium puncak kepala Olin. Ia tersenyum kecil sebelum melangkahkan kaki pada meja kerja yang tak jauh letaknya dari kasur mereka.
Olin mengerucutkan bibir, sedih. Ia menaiki kasur lalu membuka kakinya lebar. “Mas, emang ga mau masukin? ” Tanya Olin sembari memainkan serambi lempitnya sendiri dengan nakal berusaha menggoda Reyhan yang tengah duduk didepan laptop.
Reyhan menoleh, ia menghela nafas kembali. Tak munafik, dirinya saat ini benar-benar ingin menggauli Olin hingga pingsan, tapi ia sungguh harus menyelesaikan pekerjaannya.
“Olin, tolong ya? mas selesaikan ini dulu sebentar sayang. ”
Olin berdecak kesal mendengar namanya keluar dari mulut Reyhan yang berarti ia sedang menegaskan apa yang ia ucapkan pada Olin. Kedua kakinya menutup lalu ia turun dari kasur lalu berjalan kearah lemari untuk mengambil baju tidurnya.
“Yaudah, gimana mas aja! ” Ketus Olin yang sudah kembali merebahkan dirinya membelakangi Reyhan.
***
Tiga jam telah berlalu, Olin meregangkan tubuh yang kaku, sudah kedua kali matanya terbuka dan dua kali juga Olin mendesah prustasi saat melihat Reyhan yang masih sibuk berkutat dengan laptop-nya.
“Mas, udah tiga jam kamu di situ loh.. ” Rengek Olin menggulingkan tubuhnya kesana-kemari pada kasur. Ia masih kesal dengan Reyhan yang belum selesai dengan pekerjaannya.
Reyhan menatap sebentar kearah Olin, ia tidak menghiraukannya dan melanjutkan kembali fokus pada laptop.
“Mass.. ini udah jam dua pagi, ayo boboo..” Rengeknya lagi, kini ia sudah berubah posisi menjadi tengkurap dengan kedua tangan menompang dagunya.
“Sebentar ya sayang, sedikit lagi mas selesai. ”
“Aaaaa, mas dari tadi bilang gitu-gitu terus, tapi apa? bohong kan! kita aja ga jadi main tadi! ” Olin menelungkupkan kepalanya.
Mendengar Olin yang terus menerus merengek sedaritadi membuat Reyhan tertawa kecil, ia juga sangat kesal aktifitas panasnya terhentikan karena pekerjaan sialan ini. rudalnya yang tadi berdiri tegak kini sudah kembali tidur lantaran terlalu fokus menyelesaikan pekerjaan yang tak kunjung selesai.
Suara langkah kaki mendekat kearah Olin, Reyhan berjongkok mensejajarkan posisi. Olin merasakan sesuatu mengelus kepalanya lembut, dalam diam ia menyunggingkan senyumnya mendapat perlakuan manis pria tersebut.
“Sayang, maaf mas benar-benar lupa pada kerjaan ini karena terlalu rindu kamu. Nanti kita lanjut ya? sekarang kamu kembalilah tidur. Jika sudah selesai, mas akan ikut menyusul. ” Reyhan melirik kearah nakas melihat kalender.
“Setelah tugas yang mas kerjakan sekarang selesai, mas akan mengambil cuti liburan selama seminggu. ”
Olin mendonggakkan kepalanya menatap wajah Reyhan, ia memundurkan wajahnya sedikit, gugup karena terlalu dekat.
“Serius mas?! ” Tanya Olin dengan mata berbinar, antusias. Namun tak selang lama ia kembali bersedih.
“Mas akan coba meminta cuti juga pada tempat kerjamu. ” Mimik wajah Olin tak berubah, ia masih sedih. Reyhan yang mengerti langsung mengangkat wajah Olin agar menatap kearahnya.
“Mas yang akan bicara, tenang saja. ” Ucap Reyhan tersenyum manis. Lagi dan lagi, dirinya selalu terpana akan ketampanan pria tak berstatus di hadapannya ini.
Olin membalas senyum Reyhan, ia mengangkat tangannya dan mengacungkan jari kelingking “Janji?! ”
Reyhan menganggukkan kepalanya sembari menautkan kelingkingnya pada kelingking Olin kemudian tangan satunya dengan iseng menoel hidung mancung Olin gemas. “Tentu saja. ”
Sudah satu jam berlalu, Reyhan melihat jam yang sudah menunjukan pukul tiga pagi. Akhirnya pekerjaan tadi telah selesai sepuluh menit lalu, ia menyenderkan punggungnya dengan kepala mengadah pada atas kursi. Tangannya bergerak memijat kening yang terasa sakit akibat terlalu lama menatap layar laptop. Dirasa punggungnya sudah terlalu pegal duduk, ia meregangkan tubuhnya kemudian berjalan kearah Olin yang sudah tertidur pulas.
Perlahan dirinya ikut menaiki kasur dan merebahkan tubuhnya disamping Olin, Reyhan memiringkan tubuhnya menatap Olin yang tengah tertidur dengan posisi terlentang. Ia memajukan wajahnya mencium pipi Olin dengan hati-hati takut membangunkan, lalu dirinya ikut tertidur pulas menyusul dalam mimpi dengan lengan memeluk tubuh kecil Olin.
***
Reyhan membuka kedua mata, tubuhnya bergerak meregangkan otot. Cahaya matahari sudah menembus masuk kedalam kamarnya, padahal sekarang baru pukul 8 dini hari, tetapi matahari sudah terasa panas.
Ia memindahkan tangan Olin yang menindih perutnya dengan perlahan takut membuat sang empu terbangun. Kakinya berjalan menuju jendela dan menarik tirai agar menghalangi sinar tersebut pada wajah Olin yang terlihat lelah lantaran menunggunya.
Telah selesai, ia berjalan menuju lemari dan mengambil kaus putih oblong dengan celana pendek, lalu pergi meninggalkan kamar untuk membuat sarapan. Ia akan memasak Makanan favorite Olin sebagai permintaan maaf karena menghentikan aktifitas panas mereka tadi malam.
Reyhan memasak omelet yang telah ia kuasai resepnya. Saat sedang sibuk mengocok telur, dirasakan tangan melingkar pada pinggangnya.
“Kok bangun cantik? kembalilah tidur, mas tahu kamu masih mengantuk. ” Tanya Reyhan tersenyum sembari terus fokus memasak. Ia merasakan gelengan kepala Olin pada punggungnya.
“Daripada ngocok telur, mending mas yang aku kocokin. ” Ucap Olin yang kini sudah tepat berada pada telinga Reyhan membuat sang empu merasa kembali terpancing mengingat semalam dirinya sama sekali belum mendapatkan apa-apa.
Reyhan menghentikan kocokan telurnya, ia menyimpan wadah berisikan telur tersebut lalu berbalik menghadap Olin. Bibirnya tersenyum lebar menatap tubuh Olin yang ternyata sudah tak terbalut apapun.
“Sengaja naked gitu supaya mas sange? ” Tanya Reyhan dengan tatapan laparnya.
Olin cekikikan melihat mimik wajah Reyhan yang sudah terpancing karena tubuh cantiknya. Ia memang sudah merencanakan ini karena kemarin malam tidak jadi bermain, jadi ia akan menggoda Reyhan.
Tangan Reyhan yang semula berada pada pinggangnya kini naik mengusap puncak kepala Olin lalu menekannya, menyuruh Olin berjongkok.
“Keluarkan lidahmu. ” Titah Reyhan mencengkram rahang Olin. Olin yang suka diperlakukan kasar jika sedang bermain pun menurutinya.
Grockk Errhhh Mhhhhh Erhhhh
Reyhan memasukan ketiga jarinya pada mulut Olin membuat dirinya tersedak. Reyhan menggerakan jarinya keluar masuk mulut Olin dengan kasar membuat savila Olin berjatuhan.
“Mulut haus rudal, dasar lonte. ” Reyhan memasukan jarinya lebih dalam hingga menyentuh tenggorokan. Olin sangat menyukai ketika kata-kata kasar dan merendahkan dirinya keluar dari mulut Reyhan. Itu membuat dirinya semakin gila terbakar oleh nafsu.
Olin kembali tersedak, matanya kini berair.
“Mentokin seperti ini lalu telan peju mas. Jika ada yang kamu muntahin, mas akan beri kamu hukuman. ” Lanjut Reyhan yang dibalas anggukan dari Olin.
“Jawab lonte, kerjaan desah terus giliran ditanya tidak bisa menjawab. ”
“Iyakhhhh mas.. ” Jawab Olin yang kesulitan karena jari Reyhan yang berada pada tenggorokannya.
Saat menarik jarinya keluar, savila Olin berjatuhan. Ia menjulurkan lidahnya dengan mata yang berair dan hidung memerah membuat rudal Reyhan mengeras, ia membuka celananya dan mengeluarkan rudal yang sudah berdiri tegak.
Tanpa aba-aba Reyhan mencengkram rambut Olin membenamkan wajah wanita tersebut pada selangkangannya, membuat Olin menghirup aroma jantan rudal Reyhan.
“Ahhh.. Enak wangi rudal mas sayang? ”
“Umhh… enak masshh. ” Jawab Olin, ia meremas rudal Reyhan yang sudah sangat tegang dan mengeluarkan precumnya.
Olin meludahi rudal Reyhan lalu mengocoknya menggunakan telapak tangan secara perlahan. Reyhan memejamkan mata, ia mengadahkan kepala menikmati sentuhan Olin pada rudalnya.
“Shhh.. Ahh kulum cepat mhh.. ” Titah Reyhan kembali mencengkram rambut Olin dan memaksanya agar segera mengulum rudalnya yang sudah keras.
Olin langsung melahap habis rudal Reyhan, ia menjilat habis batang rudal Reyhan membuat sang empu menggerang nikmat.
“Look at me babe Ahhh.. Fuck.. ” Olin menatap Reyhan sembari terus menggerakan lidahnya pada batang rudal Reyhan. Ia menikmati wajah sange pria tersebut, Olin mengeluarkan rudal Reyhan lalu melahap kembali kepala rudal tersebut. Lidahnya kini menari diatas kepala rudal Reyhan, memutari, menjilati lubang kencing pria tersebut. Sesekali Olin menggigit pelan dan menghisapnya dengan kencang.
Kepala Olin turun naik dengan rudal Reyhan yang timbul dan tenggelam dimulut kecil Olin. Reyhan menjilat bibirnya lalu mendonggakkan kepala menikmati setiap hisapan yang Olin berikan. Ia merasakan rudalnya dijepit kuat oleh tenggorokan Olin, terasa hangat dan sempit.
Kedua tangan Reyhan memegang kepala Olin, Ia mengambil alih permainan. Dengan cepat, Reyhan mengeluarkan masukan rudalnya seperti sedang menggauli serambi lempit Olin. Ia menghentakan rudalnya pada tenggorokan Olin dengan keras membuat Olin kembali tersedak. Wajahnya memerah berusaha tetap bernafas.
“Shhhhh… Aaahhhh.. sialann Ahhh.. mulut kamu memang pantas untuk ngulum rudal mas sayang Ahhh.. dasar lacur enak sekali mulutnya Mhhh.. ”
“Ummhh… errkkhhh… Mmhhh! ”
rudal keras Reyhan mengoyak habis tenggorokannya membuat Olin kesulitan. Ia ingin menangis sekarang melihat Reyhan dengan kesetanan menggauli mulutnya sesuka hati tanpa memperdulikan Olin.
“Arghhhh… Fuckk… mhhh Enak sekali sayang Ahhh.. mas akan keluar Ahhh..”
Olin merasakan rudal Reyhan semakin membesar memenuhi mulut. Rahangnya perih seakan dapat robek kapan saja menerima sodokkan cepat Reyhan. Ia memejamkan matanya.
“Shit, look at me perek Ahhhh… buka matamu! Mhhh.. ”
Olin membuka kembali matanya, ia menatap Reyhan dengan air mata dan liur yang sudah menetes.
“Mas keluaAhhhh sayanggg ARRGGHHH… SHHHH… ” Ia menghentakan rudalnya dengan kuat pada tenggorokan Olin. rudal Reyhan berkedut serta panas memuncratkan semua pejunya. Ia menarik keluar dari mulut Olin sembari melengguh merasakan geli yang masih menjalar setelah pelepasan.
“Telan semua. ” Titahnya yang langsung dituruti oleh Olin. Namun dirinya tidak menelan semua cairan milik Reyhan.
Olin mengeluarkan lidahnya membiarkan cairan milik Reyhan berjatuhan.
Reyhan mengerutkan keningnya, ia tersenyum licik.
“Malah nantangin, lonte seperti kamu memang pantasnya diberi hukuman. Kemari kamu sayang! ”
Reyhan menggendong Olin dan mendudukannya pada meja makan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Ngangkang yang lebar. ” Titah Reyhan sebelum dirinya berjalan ketempat semula untuk mengambil Wortel yang sudah ia kupas dan cuci bersih.
Olin melebarkan kakinya menuruti apa yang di perintahkan pria tersebut. Ia mendengar Reyhan besenandung mendekatinya sembari mengenggam beberapa wortel pada satu tangan sedangkan tangan lain membuka kaus oblong miliknya dan melempar asal.
“Mas, buat apa itu?” Tanya Olin, ia perlahan menutup kedua kakinya, takut.
“Ngangkang! ” Ucap Reyhan dengan tegas membuat Olin kembali mengurungkan niatnya.
Kini Reyhan sudah berada tepat dihadapan Olin, ia mengelus klitoris Olin menggunakan jempolnya secara memutar. sesekali ia menekan lubang kawin wanita tersebut yang sudah becek karena lendirnya sendiri.
Reyhan mengarahkan wortel tersebut pada lubang serambi lempit Olin, perlahan ia memasukan wortel dengan mudah karena cairan serambi lempit yang sudah menetes.
Satu batang wortel sudah masuk setengah. Tak puas jika hanya satu, Reyhan kembali memasukan dua wortel pada lubang serambi lempit Olin membuat sang empu meringis kesakitan.
“Sempitghh Ahhhh… Sakit mashhh emmmhh.. ” Desah Olin saat ketiga wortel sudah bersarang pada serambi lempitnya.
Reyhan menekan tiga wortel tersebut secara bersamaan agar memasuki serambi lempit Olin lebih dalam.
“ARGHHH.. MASSS… nghhhh.. sakithhh.. ”
“Hukuman mana yang ga sakit? ” Balas Reyhan, ia tertawa puas melihat serambi lempit Olin yang kini semakin memerah telah berisikan tiga wortel.
“Gerakan menggunakan tangan mu sendiri, jangan berhenti sampai mas kembali. ” Titah Reyhan yang balas anggukkan kepala dari Olin.
Reyhan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar dengan cepat, ia mengambil handphone yang berada pada meja kerja lalu kembali ke dapur.
Ia tersenyum puas melihat Olin yang menuruti permintaannya. Reyhan membuka aplikasi camera pada layar handphone-nya lalu mengarahkan lensa pada serambi lempit dengan wortel yang keluar masuk ulah Olin sendiri.
“Enak sayang di kobelin wortel? ” Tanya Reyhan sembari mengarahkan lensanya pada wajah Olin yang sedang mendesah nikmat.
“Ga enak masshhh.. mhhh enak rudal mAaashhh… eughh.. ” Balas Olin mengigit bibirnya.
Reyhan tertawa kembali. “Tidak enak tetapi wajahmu berkata lain, seperti lacur haus rudal. ”
“Mhhhh.. mauuu rudal mAshhhh… ”
“Mau apa sayangg? ” Tanya Reyhan kembali.
“Mau rudal mashhh mmhhh… ini ga enakk.. ” Ucap Olin, serambi lempitnya terasa kurang puas bermain sendiri dengan tangannya. Ia sudah tenggelam dengan nafsu gilanya sendiri.
Reyhan kini maju perlahan dengan handphone kini mengarah pada dua payudara Olin yang menganggur. Ia memainkan satu payudara Olin dengan tangan kanan sedangkan tangan satunya sibuk merekam.
Reyhan meremas buah dada Olin dengan keras membuat sang empu kembali berteriak karena terasa ngilu.
“Aaaarhhh… jangan mashhh.. perihhhh mhh.. ”
Reyhan mematikan camera lalu menyimpan handphone-nya. Ia kini mencondongkan tubuh sejajar dengan payudara satunya. Tanpa aba-aba, Reyhan langsung mengigit puting keras Olin gemas yang membuat Olin kembali berteriak ngilu.
“MAshhhh Ahhhh…. PleAshhhh mmmhh.. ”
Reyhan tersenyum, baginya teriakan Olin adalah suatu hal yang sangat ia sukai. Ia ingin membuat Olin terus berteriak dibawah kendalinya.
Cukup dengan kedua payudara Olin, kini Reyhan menatap wortel yang masih keluar masuk dari lubang serambi lempit cantik. Ia menepis lengan Olin yang sedang menggerakannya, lalu menarik ketiga wortel itu sedikit kasar membuat serambi lempit Olin terasa perih.
Reyhan menatap ketiga wortel yang sudah sangat basah ulah cairan serambi lempit Olin, ia membuang dua wortel tersebut. Belum puas memberi hukuman, ia mulai mengarahkan wortel satunya pada lubang anus Olin.
“Masshh… Ahhhh… JangAAHHHH.. ”
teriakan Olin membesar ketika Reyhan memasukan rudalnya pada serambi lempit Olin dengan satu hentakan, berbarengan dengan wortel yang sudah masuk pada anus Olin. Tubuh Olin terisi penuh oleh dua benda tumpul membuat dirinya semakin sensitif.
“Ughhh.. shhhh..” Reyhan melengguh ketika rudalnya terasa seperti dihisap habis oleh serambi lempit Olin. Ia merasa rudalnya bisa saja putus karena terlalu ketat.
“Hisap terus sayangg.. Ahh ketat sekali… Mmhhh”
“Mashh penuh Ahhh… ”
Tak lama berdiam menyesuaikan, Reyhan mulai menggerakan batang rudalnya secara bertahap. Ia menggerakannya perlahan sembari saling menautkan bibir satu sama lain. Bukan hanya memangut, mereka bermain lidah dengan rakus menukar saliva. Tangan Reyhan yang tak bisa diam, keduanya meremas payudara Olin secara bersamaan. Olin yang diberi nikmat pada seluruh tubuhnya hanya bisa mendesah pasrah, Olin menikmati seluruh sentuhan pria tanpa status yang kini sedang menggarap tubuhnya.
Seperti pelacur pada malam hari, ia melepaskan tautan bibirnya dan mendesah menikmati penyatuan saat Reyhan dengan kasar terus mempercepat pergerakan rudal yang menumbuk rahimnya.
“SHHHH pelaanhhh pelann mashh.. Ahhh.. ” Nikmat sekaligus ngilu yang menghantar tubuhnya saat dua lubang miliknya terisi penuh membuat Olin tak berhenti menyampaikan rasa puasnya kepada rudal milik Reyhan dan wortel yang tertanam sepenuhnya.
Bak tersengat listrik di kala kepala rudal menumbuk titik nikmatnya, tanpa pengaman karet, membuat urat-urat Reyhan dengan jelas bergesekan pada dinding serambi lempit menghadirkan candu membuatnya hilang kontrol.
PLOKKH PLOKHHH PLOKHHH PLOOKHH
Bunyi semakin nyaring, saling beradu dengan desah keduanya yang menikmati persatuan. Reyhan mendorong Olin berbaring yang tadi semula tengah terduduk diatas meja. Dengan peluh yang bercucuran, Reyhan kembali mengambil handphone dengan rudal yang masih terus bergerak didalam serambi lempit Olin. Ia membuka camera dan langsung mangambil foto rudalnya yang tertanam habis dilahap serambi lempit Olin, telah puas dengan jepretannya ia kembali menyimpan handphone.
Tangan yang sudah terlepas dari kedua payudara Olin dan kini sedang menganggur, Ia langsung menyimpan tangannya di atas perut Olin dan menekannya, sedangkan tangan lain ia gunakan untuk memainkan klitoris merekah milik Olin cepat tidak beraturan dengan rudal yang terus keluar masuk tanpa ampun.
“Mashh.. jangan dikucekhhhinn.. Nanti akuu mau pipishh Ahhhh… ”
Racauan dari Olin ternyata membuat Reyhan semakin nafsu. Ia semakin bersemangat memilin klitoris sesekali ia menampar dan mengusaknya tak karuan dengan tangan kasar Reyhan. Olin bergelinjang merasakan seluruh rangsangan pada tubuhnya, belum lagi rudal yang terus saja menumbuk titik nikmat dengan kasar membuat ia meracau lebih keras menyalurkan kepuasan kemampuan bermain Reyhan.
Tubuh Olin semakin bergerak tak karuan, dengan felling, Reyhan menekan perut Olin dengan kuat dan mempercepat tumbukan rudalnya.
“massshh mau keluARRRRHHHH MAS… PELANIN AHHHH MAU PIPISSHHH AAAAAHHHH… ”
CURRRR CURRHH CURRRRRRHHH CURRRHH
Lubang urethra milik Olin langsung memuncratkan squirt, derasnya yang mengalir seperti air mancur jelas membasahi tubuh kekar Reyhan. Reyhan tersenyum puas melihat air nikmat Olin membasahi tubuhnya. Ia semakin bersemangat mengejar pelepasan yang belum datang.
Reyhan terus mengeluar masukan rudalnya dengan kasar tanpa peduli Olin setengah mati bergelinjang tak henti-henti memyemburkan squirt-nya, membuat rudal Reyhan semakin terjepit oleh dinding serambi lempit yang dihujaminya.
“Sial legit sekali Ahhhhh… Keluarin semua sayang pipisnya mhhh…”
Olin kewalahan karena Reyhan yang terus saja menghantam serambi lempitnya tanpa ampun.
CLOOOKHH CLOKHH CLOOKK
Bunyi licin sisa cairan Olin membuat suara nyaring penyatuan tersebut, Reyhan memegang pinggul Olin. Ia menggerakan pinggulnya lebih keras. Reyhan menutup dan membuka matanya menikmati serambi lempit Olin yang terasa sangat sempit karena sensitif setelah pelepasannya.
“Fuckkhh.. Ketatin lagi shhh.. serambi lempit lacur enak sekali Aahhhh. ”
Reyhan sama sekali tidak berbohong dengan kenikmatan yang Olin berikan saat ini, Olin sengaja mengembang-kempiskan serambi lempitnya agar Reyhan segera mencapai nikmat. serambi lempitnya terasa kebas karena terlalu lama dihantam kuat oleh rudal besar yang tak kunjung memuncratkan cairan nikmatnya.
“Aaahhh.. Masshh rudal kamu enak banget, mau di pejuin tiap hari ahhh.. Mau di hamilin rudal kamu Ahhh.. ” Racau Olin berniat agar Reyhan semakin panas. Benar saja kini rudal Reyhan mulai membesar dengan urat yang berkedut menggesek serambi lempitnya.
Reyhan mencengkram kuat pinggul Olin dan menariknya dengan keras membuat hentakan keras menghantam rahim Olin.
“AARRRHHHHHHH… SSSHHHHHH… ” Reyhan mengerang nikmat saat cairan sperma miliknya memenuhi rahim Olin.
Olin menutup mata merasakan cairan hangat pelepasan Reyhan, ia merasakan rudal Reyhan yang terus berkedut didalam serambi lempitnya. Reyhan masih mengerang merasakan cairan lain yang akan keluar didalam perut Olin.
Reyhan mengenjang, otot perutnya membentuk sempurna, ia mengeluarkan cairan hangat, air seni yang memenuhi perut Olin. Mata Olin membelalak merasakan perut yang penuh seakan ingin meledak, ia merasakan geli dan hangat menyerang secara bersamaan. Tubuh Olin bergelinjang kembali saat Reyhan menekan perut Olin dengan sengaja membuat Olin kembali mengeluarkan squirt-nya untuk kedua kali.
Reyhan mengeluarkan rudal, cairan seni miliknya keluar bersamaan dengan cairan Olin yang tak kunjung berhenti. Pemandangan indah air mancur tersebut membuat Reyhan berjongkok mensejajarkan wajahnya pada serambi lempit cantik Olin dan langsung melahap serambi lempit tersebut yang terus saja mengeluarkan cairan nikmat.
Tak puas hanya satu ronde saja, Reyhan kembali berdiri ia kini menggendong Olin seperti koala. Dengan posisinya saat ini, ia kembali memasukan rudalnya dan berjalan pelan menuju sofa pada ruang tamunya. sensasi rudal dan wortel yang menancap pada diri Olin, membuat Olin memejamkan mata.
Olin yang lemas hanya pasrah dengan nafas memburunya, ia merasakan ngilu dan kebas akibat rudal yang kembali memasuki serambi lempitnya. sumber Ngocoks.com
“Mhhh… lanjut di sofa sayangg shhh.. ” Reyhan terus berjalan sambil menggerakan pinggul Olin naik turun.
Telah sampai, Reyhan mendudukan bokongnya pada sofa. Dengan posisi Olin menduduki rudalnya membuat batang milik Reyhan menancap lebih dalam pada serambi lempit Olin. Reyhan melengguh nikmat berkebalikan dengan Olin yang meringis ngilu.
Tanpa menunggu Olin menyesuaikan posisi, Reyhan langsung menggerakan pinggul Olin dengan cepat. Olin merasa dirinya tak kuat mengimbangi gesekan pada anus dan serambi lempitnya yang masih sensitif membuat Olin memejamkan mata, pingsan.
Tak memperdulikan wanita yang pingsan pada pangkuannya, Reyhan terus menggerakan dengan kasar pinggul Olin seperti kesetanan. Ia melepas rudal dan wortel yang ada dalam diri Olin. Lalu memasukan kembali rudalnya pada lubang anus milik Olin yang sebelumnya tertanam wortel. Sedangkan wortel yang tidak berguna itu ia lemparkan asal.
“Shittt… lebih sempit.. ahhhh… ” Ia menggerakan kembali pinggul Olin dengan cepat, himpitan pada anus Olin kini membuat rudalnya kembali menggila ingin mengeluarkan pelepasannya untuk ketiga kali.
Reyhan menggerang keras merasakan cairannya kembali keluar memenuhi lubang anus Olin.
“ARGHHHHH… SHHHHHHHH…. ”
rudalnya berkedut dengan cairan miliknya yang luber dari anus Olin karena terlalu penuh. Ia melihat Olin yang tengah pingsan lalu tertawa.
“Sial, saya terlalu berlebihan. ”
###
Duh bangke, panas ga? next main dimana lagi ya?
Bersambung… Olin mengerjapkan matanya, satu tangan refleks memegang kepala yang terasa pening. Ia melihat kearah kaca yang menghadap padanya, Olin sudah berada diatas kasur dengan menggunakan kaus pink tipis, rambut yang masih setengah basah dan harum sabun yang berasal dari tubuhnya.
Ia tersenyum tipis saat matanya beralih pada pintu kamar mandi yang tertutup. Terdegar suara gemericik air mengalir, Olin memejamkan matanya berusaha mengingat kejadian sebelum dirinya tidur.
“Gila, dasar hyper. Aduh pantat gue sakit deh. ” Decak Olin saat teringat ia pingsan karena pria itu mengerjai tubuhnya terlalu berlebihan.
Ting tong
Tersadarkan oleh suara nyaring bel apartemen, Olin segera turun dari kasur dan pergi melihat siapa yang berkunjung siang bolong begini.
Tangan Olin bergerak membuka pintu, terlihat sebuah kotak kecil. Olin membungkukkan tubuhnya lalu mengambil kotak tersebut sembari melihat keterangan yang berada diatasnya.
“Sampai juga! ” Girang Olin saat melihat namanya tertera disana. Ia memasukan paket tersebut kedalam bajunya dan berlari menuju lemari baju untuk menyimpan kotak paket tersebut.
“Sedang apa sayang? ”
Harum shampo tak asing lolos masuk kedalam indra penciumannya, tangan dingin nan besar melingkar pada pinggang, memeluk dirinya.
Olin tersentak kaget, membuat Reyhan menyatukan alisnya heran. Ia membalikan tubuh Olin agar menghadap kearahnya.
“Ada apa? ” Tanya Reyhan, tangan yang semula berada pada pinggang ramping Olin kini sudah beralih menangkup kedua pipi gembul Olin.
Olin menggeleng sebagai jawaban, dirinya kembali berbalik kearah lemari dan sibuk mencari baju.
“Mas, kita makan diluar yuk? ” Ajak Olin ketika tengah memilih baju yang cocok dipakai siang bolong ini.
Reyhan memeluk Olin lebih erat. Ia menyimpan kepalanya pada tengkuk leher Olin, menghirup wangi Olin yang memabukan. Perlahan Reyhan menyesapnya membuat Olin melengguh kecil.
“Mas lupa tadi pagi kita tidak jadi sarapan. ”
Reyhan melepas pelukannya lalu mengambil kaus hitam polos dan memakainya.
“Mas tunggu dimobil, take ur time sayang. ” Ucap Reyhan, ia mencium kening Olin sebelum kakinya pergi melangkah meninggalkan wanita cantik tersebut.
***
Olin membuka pintu mobil, dirinya masuk kedalam mobil perlahan ketika melihat Reyhan tengah tertidur pulas. Olin melihat jam yang melingkar ditangannya, pantas saja Reyhan tertidur. Ia membuat pria itu menunggu hampir dua jam karena sibuk memilih baju dan merapihkan rambut.
Sembari menunggu Reyhan bangun, Olin membuka tas kecilnya dan mengeluarkan benda kecil pewarna bibir, liptint.
“Sayangg, sudah selesai? ”
Suara serak dan berat terdengar, Olin menoleh lalu menggangguk sekilas.
“U look so pretty sayangg. ” Reyhan mencubit pipi Olin gemas yang langsung ditepis sang empu.
“Mas ih baru make up-an, ini tuh sejam tau! ” Kesal Olin membuat gelak tawa Reyhan terdengar renyah.
Pria itu semakin gemas melihat Olin kesal, ia memajukan tubuhnya lalu mencium pipi Olin bertubi-tubi.
“MAAASSSS no pleasseee aaa.. aku nangis nih! ” Rengek Olin yang kembali dibalas tawa oleh Reyhan.
“Maaf sayang, kamu cantik sekali.” Reyhan memundurkan tubuhnya lalu menyalakan mesin mobil.
“Makan apa kita hari ini? ” Tanya Reyhan sibuk.
“Terserah.”
“Baso mau, sayang? ”
“Gamau, ga mood yang kuah. ”
“Pizza? ”
“Gamau, pengen nasi. ”
“Nasi goreng? ”
“Bisa buat sendiri itu mah! ”
Reyhan menghela nafas, ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu menoleh kearah Olin.
“Terus maunya makan apa cantikku? ” Tanyanya kembali dengan tatapan mata lembut. Ia tersenyum kecil sembari mengangkat satu alisnya.
Olin memalingkan wajahnya, ia menatap kearah jendela. Bibirnya terangkat, tersenyum malu mendengar nada bicara Reyhan yang sangat lembut dan ditatap seperti itu oleh Reyhan. Jujur saja ia ingin mencium Reyhan sekarang juga.
“Makan kamu! ” Balas Olin membuat Reyhan kembali menautkan kedua alisnya.
“Wow, ayo makan tubuh mas nih. ” Reyhan berancang-ancang membuka kaus hitam polosnya namun degan cepat Olin mencegahnya.
“Ih mas!”
Reyhan tertawa kecil, ia menatap Olin kembali dengan mata sendu sembari menunggu jawaban keluar dari bibir cantik Olin.
“Padang, aku mau nasi padang. ”
“Baik, kita jalan sayangg. ” Reyhan kembali mengemudikan mobilnya. Ia bersenandung pelan menikmati lagu yang terputar.
“Tadi ada tamu, sayang? ” Reyhan bertanya lagi, tanpa mengalihkan pandangannya pada jalanan.
“Paket aku mas. ” Balas Olin singkat.
“Kamu membeli apa? ” Tanyanya lagi, sungguh bawel pikir Olin.
“Skincare aku mas ih, nanya terus kaya dora! ” Ketus Olin membuat Reyhan kembali tertawa. Baginya membuat Olin kesal adalah hal yang menyenangkan, itu merupakan hobi baru Reyhan.
***
Reyhan memarkirkan mobilnya. Ia membuka pintu lalu turun dari mobil. Kakinya berjalan kearah pintu Olin lalu membukanya perlahan.
“Pakai ini, panas. ” Ia memberikan topi pink milik Olin lalu tangan Reyhan menghalangi pada atas pintu mobil agar Olin tidak terbentur saat turun.
Olin tersenyum mendapat perlakuan manis pria tanpa status dihadapannya ini. “Makasih mas. ” Ucap Olin yang dibalas senyuman kembali oleh Reyhan.
“OLIN! ” Nanya dipanggil keras membuat Olin dan Reyhan menoleh kearah sumber suara.
Terlihat seorang lelaki tengah berjalan mendekat sembari tertawa antusias.
“Olin ya? wah iya Olin! Apakabar? ” Tanyanya menghiraukan Reyhan yang berada tepat disamping Olin.
“Hai Bagas! Ih udah gede aja ya lu! ” Balas Olin tak kalah antusias, ia menepuk pelan pundak lelaki yang bernama Bagas tersebut.
Reyhan Berdeham kecil lalu memalingkan wajahnya malas.
“Yaiyalah udah gede, masa kecil mulu! Gua baik, gila cakep banget ya lu sekarang, dulu culun banget! ”
“His enak aja, culun gini juga lu dulu suka-”
Reyhan kembali berdeham membuat Olin menggantungkan kalimatnya.
Bagas tertawa mengingat bertapa kecilnya dulu wanita dihadapannya ini.
“Ini siapa Ol?” Tanya Bagas ketika sadar akan pria yang tengah berdiri disamping Olin.
Reyhan memeluk pinggang Olin namun dengan cepat langsung dilepaskan Olin.
“Temen gue, kenalin Reyhan.” Ucap Olin, Reyhan mengeraskan rahangnya kesal. Ia menatap tajam kearah Bagas yang tengah tersenyum kepadanya.
“Bagas om. ” Bagas mengulurkan tangan lalu menariknya kembali karena tidak disambut oleh Reyhan.
“Kalau gitu gua masuk ya ol, udah laper nih! ”
“Mau makan bareng aja, Agas? ” Tawar Olin membuat Reyhan menunduk mendekati telinga Olin, berbisik.
“Mas lapar, sayang. ” Ucap Reyhan dengan suara dingin dan penekanan disetiap kata.
“Gih Bagas masuk aja, gue sama Reyhan nyusul hehehe” Ralat Olin gugup yang langsung diangguki antusias oleh Bagas.
***
Olin dan Reyhan memasuki restoran padang terkenal yang sering mereka kunjungi. Dengan harganya yang terbilang cukup mahal, namun sepadan dengan citra rasa yang enak dan pas dilidah keduanya.
Lelaki yang tadi mereka temui melambaikan tangan dan menyuruh Olin mendekat agar bergabung pada meja kosong. Olin membalas lambaian tangan Bagas dan menggeleng pelan.
“Mas, duduk dimana? ” Tanya Olin. Ia mendengkus pelan tak mendapat jawaban dari pira tersebut. Alhasil Olin hanya mengikuti langkah lebar Reyhan.
Reyhan menarik kursi untuk Olin, ia menahan senyumnya lalu mendudukan bokong pada kursi tersebut. Sedangkan Reyhan menarik kursi dan duduk dihadapan Olin.
“Mas marah? ” Tanya Olin, namun Reyhan tetap bungkam tak menjawab.
Reyhan mengangkat tangannya lalu seorang pegawai datang dan menawarkan menu.
Olin menyimpan kepalanya pada lipatan kedua tangan, menunggu Reyhan selesai memesan.
“Mas marah? ” Tanyanya lagi ketika Reyhan sudah selesai berbicara pada pegawai tersebut.
“Kita bicarakan dirumah. ”
“Gak mau.. mas marah ya?” Cicit Olin, ia memanyunkan bibirnya sedih.
Reyhan menghela nafas panjang, ia tersenyum kecil.
“Tadi siapa, sayang? ” Tanya Reyhan lembut.
“Mantan aku di SMK mas”
“Berapa tahun? ”
“Tiga, kita pacaran dari kelas dua SMP terus aku ikut dia masuk SMK dan kita putus waktu kelas tiga SMK” Jelas Olin.
“Tidak usah dijelaskan. ” Balas Reyhan ketus.
Makan sudah datang, memang Reyhan tidak meminta semua hidangan datang seperti Orang-orang. Ia hanya memesan yang biasa mereka makan setiap kesini. Lebih simple dan mudah menurutnya.
Reyhan mengambil sendok dan garpu lalu mengelapnya menggunakan tisu sebelum diberikan kepada Olin.
“Makanlah, habiskan. ” Titah Reyhan yang langsung diangguki Olin.
***
“Mas marah bukan sih? kok akunya didiemin terus?! ” Olin berjalan setengah berlari menyamakan langkahnya dengan Reyhan.
Reyhan membuka pintu apartemen tanpa menjawab pertanyaan Olin.
“Mas ihh!! kenapa sih?! ” Teriak Olin kesal. Reyhan mengambil kursi meja makan lalu membalikannya agar menghadap Olin yang tengah berdiri.
Reyhan mendudukan bokongnya, ia menyilangkan tangan pada dadanya.
“Kenapa tadi dilepas tangan mas saat akan memeluk pinggangmu? ” Tanya Reyhan dengan mata tajam menatap Olin.
Olin menelan saliva, gugup. “Ya kan ada temen aku mas.. ”
“Mantan maksudmu? ”
“I-iya itu, emang kenapa sih mas? kamu marah gitu doang?! ” Olin bercekak pinggang.
“Iya mas marah, kenapa kamu bilang kita hanya teman? ” Tanyanya kembali.
“Kan mas yang bilang sendiri! kita gak pacaran dan mas gak kasih aku. Kita udah ngewe setiap hari, aku selalu nanya tentang hubungan kita. Tapi apa? mas selalu bilang kita cuman teman! Mas bilang kita gak ada hubungan apa-apa. Salah mas? ”
Reyhan memejamkan matanya, ia mengeraskan rahang kesal. Memang benar apa yang Olin katakan namun entah mengapa ia merasa kesal saat ini. sumber Ngocoks.com
Olin berlari kearah gudang. Reyhan membuka matanya menatap Olin penuh tanya. Beberapa menit kemudian Olin kembali dengan tangan memegang tali. Reyhan mengerutkan keningnya bingung.
Mata Olin memerah, air terus jatuh dari matanya. Sungguh ia sangat kesal sekarang. Reyhan merasakan dadanya nyeri melihat Olin menangis karena dirinya. Olin mendekat melewati Reyhan dan berjalan kearah belakang kursi yang pria itu duduki.
Ia menarik kedua tangan Reyhan kebelakang kursi lalu mengikatnya menggunakan tali yang ia bawa.
“Kamu mau apa? ” Tanya Reyhan masih dengan nada dinginnya.
Olin tak menjawab, ia kini berlari kecil menuju kamar untuk mengambil kotak paket yang ia simpan pada lemari. Sebelumnya Olin berbohong tentang isi yang berada dalam kotak paket tersebut. Bukan skincare yang berada didalamnya, melainkan toy sex rudal plug stainless steel yang ia beli dua hari lalu.
Tadinya Olin akan menggunakan alat tersebut nanti untuk mempermainkan rudal Reyhan, namun ia sedang kesal sekarang dan ide menarik yang muncul, ia akan menggunakannya sekarang
Tadinya Olin akan menggunakan alat tersebut nanti untuk mempermainkan rudal Reyhan, namun ia sedang kesal sekarang dan ide menarik yang muncul, ia akan menggunakannya sekarang.
Olin mengeluarkan alat tersebut dan menunjukannya pada Reyhan. Reyhan kaget melihat isi kotak paket tersebut. Ia bergerak panik, dirinya berusaha keras melepaskan ikatan tangan dibelakang kursi. Namun nihil, usaha Reyhan sia-sia karena ikatan itu terlalu keras.
Keringat dingin mulai keluar, dirinya bukan anak polos yang tidak mengerti apa alat yang kini berada pada Olin, ia tahu persis alat tersebut dan menyeramkan membayangkan alat tersebut masuk kedalam rudalnya.
“Olin, lepaskan! ”
“Diem mas, aku kesel sama kamu! Nikmatin permainan aku, aku yang mimpin sekarang”
###
Gua juga bayanginnya ngilu cok, tapi enak kayanya
Bersambung… Nafas Reyhan memburu dengan keringat yang tak henti berjatuhan. Bukan karena takut oleh wanitanya, Ia sedang berusaha mati-matian menahan buncahan dalam hati karena terlalu senang diperlakukan seperti ini.
Reyhan bukan pria polos yang tidak tahu apa alat yang berada pada tangan Olin, ia benar-benar penasaran dengan alat tersebut. Dirinya sering kali melihat pada sebuah situs web orang-orang menggunakan benda panjang itu, sungguh membuatnya penasaran.
“Lepaskan ini Olin. ” Ucap Reyhan kembali.
Olin tidak menghiraukan titah Reyhan, kini dirinya sudah bersimpuh, tangan Olin mengelus tonjolan besar yang sudah terasa keras dibalik celana Reyhan.
“Katanya ga mau, tapi kok keras? Kamu masokis ya mas? ” Olin mengelap pipinya yang basah sisa air mata tadi. Ia berusaha membuka kancing celana Reyhan dengan satu tangan.
“Diam dan lepaskan ikatan ini. ” Titahnya berpura-pura menolak.
Olin memajukan kepala mendekat pada kancing celana Reyhan yang telah terbuka. Tanpa titah dari Reyhan, Olin dengan nakal mengigit resleting dan menariknya menggunakan gigi.
Reyhan menahan nafas, aliran darah mengalir cepat membuat kepala terasa pening. Terlihat kedua telinga Reyhan yang sudah memerah menandakan pria ini mulai terpancing hasratnya. Olin tertawa simpul
“Lepasin gimana? rudal kamu udah sange mas. ” Ucap Olin frontal sembari mengedipkan matanya nakal, membuat rudal Reyhan semakin keras.
Resleting dan kancing cenala Reyhan telah terbuka sempurna, Olin memandangi gundukan rudal masih terbalut celana dalam bewarna abu yang sudah basah karena precum. Olin menundukkan kembali kepalanya, ia menempelkan wajahnya pada gundukan rudal Reyhan untuk menghirup aroma kejantanan pria dihadapannya, sangat membuat dirinya mabuk.
“Aku suka harum rudal kamu mas. ” Olin menghirup kembali rudal Reyhan yang membuat sang empu mengadahkan kepalanya, mendesah berat.
Ting tong
Suara bel terdengar namun Olin tidak menghentikan aktifitasnya, begitupun Reyhan. Dirinya sudah terlanjur terbakar oleh hawa nafsu.
Tangan Olin kini mulai bergerak mengelus rudal Reyhan. Ia menarik celana dalam Reyhan perlahan lalu mengeluarkan rudal yang langsung berdiri tegak, mengacung tinggi meminta kepuasan.
Olin menelan savilanya, tampilan rudal yang besar dan berurat tak pernah gagal membuat dirinya takjub. Ia sangat tergiur dengan rudal cantik milik pria tanpa status dihadapannya ini.
Ting tongg
Bel kembali berbunyi, keduanya sama sekali tak perduli. Bunyi Bel yang menandakan ada orang diluar sana malah semakin membuat Reyhan tertantang. rudalnya terus berkedut tegak kesana-kemari tanpa sentuhan apapun dari Olin.
Tangan Olin perlahan memegang rudal Reyhan, ia mengurutnya sembari sesekali mengocok rudal yang sudah keras itu.
“Arghghhh.. shhh.. ” Reyhan mengerang merasakan hangat dan lembutnya telapak tangan Olin menyentuh rudalnya yang sudah sensitif.
“Mas rudal kamu cantik banget, Aku suka. ”
Tubuh Reyhan kembali terasa seperti tersengat listrik saat rudalnya mendapat pujian.
“Jilat ujungnya Olin, mhhhh.. ” Seolah lupa dirinya sedang jual-mahal dengan wanita dihadapannya ini, Ia benar-benar menginginkan lebih.
“Kenapa mas? mau apa? ” Jari Olin menekan pelan lubang rudal Reyhan yang sedaritadi mengeluarkan precum lalu ia memutar jarinya perlahan membuat Reyhan mengerang prustasi.
“Tolong jilat ujung rudal mas, sayang. ”
Olin tersenyum penuh kemenangan, ia suka melihat Reyhan memohon dibawah kendalinya seperti ini. Tanpa aba-aba, Olin mengeluarkan lidahnya lalu menjilat lubang rudal Reyhan. Lidah Olin bermain memutari ujung kepala rudal Reyhan sensual sembari sesekali ia mendongak untuk melihat ekspresi pria itu.
Ting tongg
Tiga kali Bel berbunyi dan tidak ada jawaban sama sekali, karena sedang sibuk mengejar hasrat masing-masing, membuat teriakan keras seorang perempuan terdengar nyaring.
“Reyhan, Ini bunda. Kamu tidak ada dirumah? ”
Tubuh Reyhan membeku begitupun Olin. Keduanya saling bertatapan. Tak ada lagi suara yang terdengar, hening.
Suara pin keamanan apartemen Reyhan berbunyi menandakan seseorang sedang berusaha membuka apartemennya.
Reyhan membelalakan mata, panik. Tidak mungkin bunda melihat anaknya sedang diikat oleh wanita dengan celana terbuka seperti ini. Olin memasukan kembali rudal keras Reyhan secara paksa pada celana dalam yang belum terlepas dari kaki pria itu.
Ia menutup resleting dengan cepat tanpa mengancingkannya terlebih dahulu. Reyhan kembali mengerang lantaran rudalnya yang terasa sesak kembali masuk pada celana.
Tet tet tet
Suara pintu keamanan Reyhan berbunyi kembali menandakan orang tersebut salah memasukan pin keamanan, namun Maria sang bunda tidak pantang menyerah dan terus memasukan sandi yang beliau ingat saat bermain ke apartemen putranya ini.
Olin bangun dari jongkoknya, ia memutari Reyhan lalu berusaha membuka tali yang mengikat kedua tangan Reyhan.
“Cepat Olin. ” Ucap Reyhan geram saat Olin belum selesai juga membuka tali itu sedangkan Bel terus berbunyi nyaring lantaran maria masih salah juga memasukan pin.
Olin berdecak kesal, ia mengikatnya sangat keras. “Bentar mas, susah ini. ”
Tittt…
Ikatan terlepas, Reyhan dengan cepat berdiri lalu menyimpan tali pada kursi yang ia duduki tadi. Ia membalikan kursi tersebut membenarkan posisi. Nafas keduanya memburu namun Reyhan masih bisa menyembuhkan mimik wajah terkejut miliknya. Berbanding terbalik dengan Olin yang masih memasang wajah panik.
“Loh, bunda kira kamu tidak ada dirumah nak? ” Maria membuka pintu, ia melangkahkan kaki mendekati anak semata wayangnya itu.
“Bunda, kok tidak mengabari Rey terlebih dahulu? ” Reyhan tak menjawab pertanyaan Maria. Ia berjalan menghampiri Maria lalu memeluk wanita tua tersebut singkat.
“Bunda tadi kekantor kamu. Tapi kata sekertaris kamu, kamu sedang cuti. Jadi bunda datang kesini untuk kasih ini. ” Jelas Maria mengangkat tangannya yang sedang memegang tas kotak berisikan makanan ia buat dirumah. Maria tersenyum sembari matanya menoleh sesekali pada wanita yang sedang bernafas dengan terburu-buru.
“Siapa wanita dibelakang mu nak? ”
Reyhan menoleh kebelakang, Olin yang sedari tadi memperlihatkan interaksi ibu dan anak itu seketika mematung saat keduanya menatap kearahnya. Ia tersenyum kikuk.
“Wanita Rey bunda, Rey akan menikah. ”
Olin membelalakan matanya, ia menatap wanita dihadapan Reyhan yang tak jauh mirip dengan ekspresi wajahnya sekarang, terkejut. sumber Ngocoks.com
Maria memberikan tas berisikan makanan yang ia bawa pada tangan Reyhan lalu berjalan sedikit berlari menghampiri Olin yang masih menutup mulutnya kaget.
“Nak, nama kamu siapa? Astaga cantik sekali.. ” Maria tak tersenyum sumringah. Kedua tangannya menggenggam tangan Olin lembut.
Akhirnya anak satu-satunya ini kini sudah memiliki wanita yang akan menjadi masa depannya. Sungguh momen yang ia tunggu- tunggu sejak lama. Maria sangat menginginkan melihat anaknya ini berdiri menggandeng seorang wanita.
Tetapi terasa mustahil karena anaknya sama sekali tidak perduli pada wanita diluar sana dan hanya fokus pada pekerjaan saja. Itulah mengapa ia sangat senang mendengar putranya akan menikahi seorang gadis manis ini.
Olin menetralkan mimik wajah terkejutnya, ia membalas senyum Maria tak kalah lebar. “Saya Ol-”
“Olin namanya bun. ” Belum beres Olin berbicara, ucapannya terpotong oleh Reyhan. Ia berjalan mendekat, matanya menatap Olin dengan sayu.
“Saya akan menikahi kamu, Olin. ”
Bersambung… Disinilah ia berada, memandangi tubuh rampingnya yang terbalut dress putih indah. Olin masih tidak menyangka bahwa ia akan menikah diumurnya yang masih terbilang muda.
Pipinya memerah saat mengingat pria yang melamarnya dengan blak-blakan dua hari lalu. Memang sangat tidak romantis, tetapi hatinya bedetak sangat kencang melihat keseriusan Reyhan.
“Diem please hati gue, murahan banget jedug-jedug terus. ”
Olin menggelengkan kepalanya berusaha kembali fokus mengancingi dress pengantin. Olin berdecak kesal, sudah hampir lima menit dirinya berusaha namun tangannya sama sekali tidak sampai pada kancing kedua teratas.
“Mas, boleh tolong aku ga? ”
Reyhan yang semula duduk menunggu calon istrinya itu, langsung bangkit menghampiri ruang ganti yang tak jauh jaraknya.
“kenapa sayang? Apa ada masalah? ” Tanya Reyhan lembut, ia menempelkan telinganya pada pintu ruang ganti yang tertutup, menunggu jawaban.
“Tolong kancingin baju aku. ” Bisik Olin
Reyhan tersenyum, ia tahu calon istrinya ini sedang malu. Sikap Olin dua hari ini mendadak menjadi sangat menggemaskan. Mulai dari pipinya dan telinga yang memerah, selalu menundukan kepala saat berbicara.
Dirinya terkadang merasa ingin menerkam wanita itu, namun tidak bisa karena kini mereka berpindah sementara ke kediaman orang tuanya untuk mempersiapkan acara pernikahan minggu depan.
“Apa? suara kamu tidak terdengar. Coba ulang sayang, tolong apa? ” Tanya Reyhan menahan senyumnya.
“Tolong kancingin baju aku mas, susah. ” Ucap Olin kembali berbisik.
“Tidak terdengar sayangg, tolong apa? ” Tanyanya lagi ingin menggoda wanita itu.
Olin bedecak kesal, ia membuka pintu lalu dengan cepat menarik lengan Reyhan untuk masuk kedalam.
Reyhan menaikan kedua alisnya, ia terkekeh geli. “Kenapa sayangg? ”
“Ih, tolong aku mas! ” Olin berbalik memunggungi Reyhan, ia menggulung rambut panjangnya, takut menghalangi.
Reyhan mengerti apa maksud Olin namun dirinya masih ingin sedikit menggoda Olin lagi. Ia memajukan wajahnya lalu mencium punggung polos Olin yang masih terbuka lebar lantaran belum semua kancing baju terpasang.
Olin meringis pelan merasakan perlakuan nakal pria dibelakangnya.
Kini Reyhan menciumi pundak dan naik pada leher jenjang Olin sembari sesekali menyesap dan mengigit kecil leher Olin membuat sang empu meringis kembali.
“Shhh.. massh stop, kita lagi diluarhh.. ”
Reyhan tertawa kecil, ia tak memberhentikan aksinya mendapat perintah tersebut namun malah semakin nakal dengan tangan yang mengelus pantat sintal milik Olin.
“Noo.. mass emhhhh.. ” Olin memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan nakal yang kini sudah berada pada perutnya mengelus lembut dengan gerakan memutar.
Olin terus mendesah kecil menyebut nama pria yang sedang mengerayangi tubuhnya sekarang. Reyhan yang menikmati namanya dipanggil dengan sensual pun ikut menikmatinya.
“Mashh eyyi… emmmhh.. ” Racau Olin terbuai sentuhan.
Reyhan menghentikan aktivitasnya membuat Olin mengerutkan kening bingung.
“Kok berhenti mas? ” Tanya Olin membalikan tubuhnya menghadap Reyhan.
Reyhan mengangkat kedua alisnya lalu tersenyum licik. “Apa yang kamu inginkan sudah selesai, mas sudah selesai mengancingi bajumu. ”
Olin membalikkan tubuhnya kembali memunggungi Reyhan, ia menutup matanya dengan kedua tangan, malu. Benar, ia meminta untuk dikancingkan baju, tetapi apa yang ia harapkan?
“Aduh co, gue ga sadar udah beres. Malah keenakan ni badan malu banget coy.. ” Olin membatin, ia merutuki dirinya yang masih menginginkan sentuhan nakal Reyhan lebih lanjut.
“Ingin lagi memang? ” Reyhan melingkarkan lengannya pada pinggang Olin, memeluk wanita yang akan menjadi istrinya beberapa hari lagi.
“Ingin disentuh lagi? seperti ini? ” Tanyanya lagi, lengan yang semula hanya memeluk pinggang ramping Olin kini mulai mengelus perut Olin.
Olin memejamkan matanya, ia kembali meringis pelan merasakan sentuhan Reyhan yang langsung menyengat tubuhnya.
Reyhan tertawa, ia melepaskan pelukannya lalu mengacak rambut Olin gemas. “Dasar nakal, Mendesahlah dirumah nanti. Mas akan pergi membawa dress indah lainnya. Kamu terlihat tidak nyaman dengan dress ini. ”
“Mas yang nakal ya! ” Ujar Olin tak Terima menarik lengan Reyhan yang hendak keluar dari ruangan.
“Tapi kamu menikmatinya sayangg.. ” Balas Reyhan membuat wajah Olin semakin memerah malu. Reyhan kembali tertawa kecil.
“Tunggulah, lepas saja dress itu dan pakai yang mas bawa. ” Reyhan membuka kembali kancing yang ia pasang sebelumnya lalu pergi mencari baju yang lebih nyaman dipakai calon istrinya itu.
Olin menutup wajahnya, ia berjongkok. Kakinya lemas, antara salting dan malu.
“Nakal banget ih, tapi sweet.. tau aja dia kalau baju ini sedikit bikin sesak. ” Tak lama berguman sendiri, pintu kembali terdengar ketukan.
“Sayang, pilih salah-satu dari dress yang mas bawa. Sepertinya ini lebih nyaman dan mudah. ”
Olin membuka pintu, ia membawa beberapa dress cantik yang Reyhan pilih dengan menundukan kepalanya karena masih terasa panas pada wajahnya.
“Makasih mas. ” Ucapnya lalu menutup kembali pintu tersebut.
Reyhan tersenyum geli, benar-benar menggemaskan wanitanya ini. Ia kembali melangkahkan kakinya pada sofa yang tak jauh berada didepan ruang ganti tersebut lalu membuka handphone-nya sembari menunggu Olin keluar.
***
Beberapa menit berlalu, suara pintu terbuka. Olin keluar dengan dress pertamanya. Reyhan menutup handphone, matanya tak berkedip sama sekali melihat kecantikan wanita dihadapannya yang kini sedang bereputar pelan menampilkan dress cantik pilihannya.
“Mas, gimana? ”
“Mas, gimana? ”
“Sayang, bagimana jika kita menikah sekarang? kamu cantik sekali. ”
“Ih apasi mas, bagus ga? aku coba yang lain ya? ”
Reyhan mengangguk “Tapi mas rasa ini sudah cocok. Benar-benar cantik. ”
“Liat dulu yang lain mas. ” Olin kembali masuk kedalam ruang ganti.
***
“Mas, bagaimana? ”
Olin berputar memperlihatkan dress kedua, ia menyukai desain ini. Terlihat simple dan Indah menurutnya. Ia tidak menyangkal selera Reyhan yang sangat baik.
Reyhan menelan savilanya, ia bangkit dari duduk menghampiri Olin yang tengah berputar pelan
Reyhan menelan savilanya, ia bangkit dari duduk menghampiri Olin yang tengah berputar pelan.
“Cantik sekali sayang, astaga mas benar-benar terpukau. ” Puji Reyhan membuat Olin menyunggingkan senyumnya.
“Aku suka dress ini mas, tapi ada satu lagi yang cantik. Aku coba sekai lagi ya? ”
Reyhan menganggukkan kepalanya. Olin kembali masuk kedalam ruang ganti untuk mencoba satu baju tersisa pilihan Reyhan.
***
Olin keluar kembali, Reyhan terdiam
Olin keluar kembali, Reyhan terdiam.
“Mas? ” Panggil Olin membuyarkan lamunan Reyhan yang tengah memperhatikan tubuhnya.
“Cantik sekali.. ” Puji Reyhan.
Olin memutar bola matanya malas “Kenapa semuanya kamu sebut cantik sih mas? ”
“Karena kamu yang pakai. ”
Blushhh
Wajah Olin memerah, bibirnya menahan senyum dengan jantung yang terus berdetak kencang mendengar jawaban Reyhan.
Dengan cepat dirinya berbalik memunggungi Reyhan menyembunyikan wajah merahnya itu. Reyhan yang menyadari itu sangat cepat, tersenyum kecil.
Kaki Reyhan berjalan lebih dekat, lalu ia memajukan wajahnya tepat berada disamping telinga Olin dan berbisik. “Saya lebih suka dress kedua, terlihat indah dan sangat sexy. ” Ucapnya dengan pelan.
Olin tak menjawab bisikan Reyhan, ia langsung berjalan menuju ruang ganti, hatinya akan meledak sekarang juga. Ia tidak tahan dengan wajahnya yang panas.
Reyhan yang melihat itu tertawa keras, sangat menggemaskan. Ia tak sabar untuk menikahi wanita tersebut, ia ingin menjadikan Olin miliknya sampai ajal mau memisahkan.
***
“Bunda, Olin membawa cake! ” Olin berteriak sembari mengangkat cake yang ia bawa.
“Bunda tidak ada, beliau pergi bersama ayah. Mungkin akan pulang larut malam. ” Jawab Reyhan, ia menyimpan dress yang baru saja dibeli pada meja ruang keluarga.
“Kemana emang mas? tadi ngabarin kamu waktu kita dibutik? ” Tanya Olin berbalik menghadap Reyhan yang sedang sibuk membuka sepatu dan menggantinya menggunakan sandal rumah.
“Iya, mereka ke acara rekan kerja ayah. ” Reyhan mengambil sepasang sandal lalu berjalan mendekati Olin.
“Loh kamu ngga ikut dong? kan anaknya? “Tanyanya lagi.
Reyhan menggelengkan kepala, ia membungkukan tubuhnya berjongkok tepat dihadapan Olin. ” Tidak, mas sudah izin pada ayah untuk tidak ikut acara tersebut. ” ia menyimpan sendal tadi.
Tangan Reyhan terulur memasangkan sepasang sandal dengan lembut pada kedua kaki Olin lalu kembali berdiri. Matanya menatap Olin dalam, ia tersenyum.
“Waktu denganmu lebih penting. ” Lanjutnya.
Jantung Olin berdetak kencang, dengan cepat ia memalingkan wajahnya kesamping. “Bangke, bahaya banget. ” Batin Olin.
“Mas akan pergi mandi, kamu istirahatlah terlebih dahulu. ” Ucap Reyhan, ia membawa cake yang ada ditangan Olin lalu Reyhan membuka cardingan Olin pakai dan menyimpannya pada gantungan baju dekat pintu masuk. Telah selesai, ia melangkahkan kakinya kedapur.
Olin mengangguk, dirinya mendudukan bokong pada sofa dan mengambil remote control berencana untuk menonton sebentar.
Mata Olin berbinar melihat Reyhan mendekatinya membawa beberapa strawberry lalu meletakannya pada meja ruang keluarga. Cerita ini dipublish oleh situs Ngocoks.com
“Makan ini, tunggu mas selesai mandi.” Ujar Reyhan yang dibalas anggukan antusias dari Olin.
Olin memperhatikan punggung Reyhan yang terus menjauh dan akhirnya menghilang masuk kedalam kamar. Matanya beralih pada strawberry merah yang berada dihadapannya. Ia mengambil beberapa strawberry dan mulai mengotak-atik remote control untuk melihat drama favoritnya.
Dua puluh lima menit berlalu, Reyhan kembali dengan rambut yang masih setengah basah. Ia mendudukan bokongnya dilantai depan sofa yang Olin tempati. Reyhan menyender pada sofa dan meletakan kepalanya pada kaki Olin membuat sang empu meringis merasakan dingin.
“Rambut kamu masih basah mas, sini aku keringin. ” Olin mengambil handuk kecil yang Reyhan pegang. Ia mulai menggosok rambut Reyhan perlahan, aroma shampo menusuk hidungnya, sangat harum.
“Kamu lapar sayang? ingin makan sesuatu untuk menunggu makanan datang? ” Tanya Reyhan memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut lengan Olin yang sedang membantu mengeringkan rambutnya.
Olin mengangguk, “Aku pengen yang manis deh. Di kulkas masih ada ice yang kamu beli kemarin mas? “Tanyanya mengingat kemarin mereka membeli beberapa ice cream.
Reyhan memegang lengan Olin yang sedang menggosok rambutnya, lalu berdiri berjalan kearah kulkas. Ia membawa satu ice cream lalu duduk kembali, namun kini ia duduk disamping Olin.
“Makasih mas! ”
Reyhan memundurkan lengannya ketika Olin hendak mengambil ice cream yang ada digenggamannya.
Olin menyatukan kedua alis bingung.
“rudal mas juga ingin dikulum kamu.” Ucap Reyhan frontal.
“Tiba-tiba banget mas? ” Tanya Olin kaget.
Novel Permainan Gila
Reyhan mengangguk “Kangen, mas sange sejak dibutik tadi. Tubuh kamu sangat indah dan menggoda…” Suara Reyhan terdengar lebih berat menandakan nafsunya yang sudah mulai naik.
Reyhan menoleh kearah jam yang menunjukan pukul tujuh malam. Mengingat kini rumah orangtuanya sepi dan perkiraan mereka akan pulang larut malam, Reyhan bangun dari sofa, berdiri menghadap Olin.
Ia mulai membuka celana pendek menampilkan kejantanan sudah berdiri tegak, lalu Reyhan menyodorkannya berbarengan dengan ice cream yang ia pegang kepada mulut Olin. “Mas membawa satu ice cream, tetapi mas mempunyai Ice cream lainya. Jadi, makanlah secara bersamaan sayang.”