Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Dynasty Warrior

Dynasty Warrior

Cerita Sex Dynasty Warrior – Cerita ini berdasar dari game Dynasty Warrior, jadi kalau gak pernah main game ini jangan dibaca yah, ntar bikin pusyink, cerita ini lumayan loh, bisa buat pelajaran sejarah Cina.

Namaku adalah Diao Chan, aku adalah anak dari Wang Yun yang merupakan seorang ahli pikir yang sangat pintar. Sejak kecil aku menjadi pusat perhatian di sekolah karena wajahku yang luar biasa cantik. Aku terus belajar agar aku bisa menyaingi kepintaran ayahku.

Umur 19 tahun aku menyelesaikan sekolahku dan belajar sedikit bela diri karena sangat penting bagiku yang memiliki wajah yang cantik untuk bisa membela diri jika ada laki-laki hidung belang yang menggodaku.

Bersamaan dengan lulusnya aku dari sekolah, ayahku, Wang Yun, menjadi anak buah dari Dong Zhuo yang merupakan raja yang sedang dalam masa keemasannya. Dong Zhuo sering dipanggil ‘Raja Babi’ karena dia memang mempunyai hidung besar, wajah yang jelek, dan perut yang buncit, ditambah lagi sifatnya yang rakus, aku rasa sebutan itu memang cocok untuknya.

Cerita Sex Dynasty Warrior Ngocoks Terdengar kabar kalau para raja-raja dari daerah lain berencana untuk menghancurkan kekuasaan tirani Dong Zhuo, mendengar hal ini, Dong Zhuo langsung merekrut Lu Bu dengan imbalan Red Hare, kuda yang bisa lari sejauh 500 km dalam sehari.

Keesokan harinya, tentara sekutu yang terdiri dari Liu Bei dan saudara-saudara angkatnya, keluarga Sun, Cao Cao dan pasukannya, serta Yuan Shao sebagai pemimpin tentara sekutu sudah mulai bergerak menuju Lou Yang.

Dong Zhuo langsung menyuruh Hua Xiong menghadang tentara sekutu, sementara Lu Bu menunggu di Hulao Gate untuk menghancurkan sisanya. Aku jadi penasaran bagaimana rupa Lu Bu, yang menurut rumor Lu Bu adalah orang terkuat di Cina dan bisa mengalahkan 5000 orang jika dia sudah mulai bergerak.

Aku menunggu di depan gerbang kota supaya aku bisa melihatnya. Beberapa Perwira sudah melewatiku dan aku belum melihat kuda berwarna merah yang disebut-sebut sebagai Red Hare itu.

Akhirnya, aku melihat seorang perwira menaiki kuda merah mendekati pintu gerbang. Orang itu sangat gagah dan besar, wajahnya juga tampan, dia melemparkan senyuman kepadaku, aku memberikan senyuman juga kepadanya, dalam waktu yang cepat aku tau kalau dia adalah Lu Bu.

Setelah melihatnya, aku langsung pulang sambil bertanya-tanya apakah rudalnya cukup besar dibanding badannya yang gagah itu dan aku pun mulai membayangkan bagaimana kalau Lu Bu telanjang.

Tak lama kemudian, ayah pulang dan membawa kabar kalau pasukan Dong Zhuo dipukul mundur oleh tentara sekutu bahkan Hua Xiong tewas dalam pertempuran dan Lu Bu berhasil dipukul mundur oleh kerja sama Guan Yu, Zhang Fei, dan Liu Bei.

Karena terdesak, Dong Zhuo memerintahkan semua bawahannya untuk memindahkan kekuasaan pasukannya ke kota Chang An dan menyuruh Lu Bu untuk mengambil semua harta dari penduduk Luo Yang dan membakar Luo Yang.

Dong Zhuo berhasil memindahkan kekuasaannya ke Chang An dan memukul mundur pasukan Cao Cao yang mengejarnya dengan serangan penyergapan dari Xu Rong yang akhirnya terbunuh juga.

Takut tak ada kesempatan lagi, pasukan sekutu mulai merencanakan untuk menghancurkan pasukan Dong Zhuo dari dalam. Ayahku yang mulai benci kepada Dong Zhuo mengirim pesan kepada Yuan Shao kalau dia setuju untuk membantu pasuka sekutu.

Ayahku memikirkan bagaimana caranya membunuh Dong Zhuo, akhirnya dia mendapat ide untuk menggunakan anak angkat Dong Zhuo yaitu Lu Bu. Ayahku menyuruh aku untuk mendekati Dong Zhuo dan Lu Bu.

“Diao Chan, anakku, apa kau benar ingin melakukan ini?”.

“ya ayah, aku akan melakukan apapun demi kedamaian negeri ini”.

“tapi, apa kau yakin bisa mendekati keduanya?”.

“serahkan saja padaku, ayah, aku sangat ahli dalam hal menggoda”.

“baik, kalau begitu”. Keesokan harinya, ayah dipanggil ke istana untuk diberi tugas.

“wah, kebetulan sekali, aku akan perkenalkan kau pada Dong Zhuo”, kata ayah kepadaku.

“baik, kalau begitu aku akan memakai pakaian yang bagus”. Aku langsung memakai pakaian yang biasa kupakai untuk menari yang tentunya sangat menggoda.

Kami berdua langsung pergi ke istana, ternyata Dong Zhuo bukan memanggil ayahku untuk tugas tapi untuk mengajak semua bawahannya berpesta karena dia bisa selamat dari serangan pasukan sekutu.

“Baginda Dong Zhuo, perkenalkan ini anakku”.

“wow, cantik sekali, siapa namanya?”.

“namanya adalah Diao Chan”, jawab ayahku sambil menarik tanganku.

“perkenalkan Baginda, namaku adalah Diao Chan, suatu kehormatan bisa bertemu dengan Baginda”.

“gwa,,ha,,,haa,,,haa,,, kau sangat cantik sekali”.

“terima kasih, tuan”.

“wanita cantik sepertimu pasti pintar menari, ya kan?”.

“tentu bisa Baginda, itu adalah keahlianku”. Aku langsung menuju ke tengah-tengah ruangan, dimana semua perwira duduk di sekeliling dan sambil minum-minum, dan kulihat Lu Bu juga ada, dia memperhatikanku tanpa berkedip sekalipun, mungkin karena melihat kecantikan wajahku dan kulitku yang putih mulus.

Aku bergerak mengikuti irama dengan lemah gemulai karena aku memang ahli dalam hal menari, tepuk tangan pun mengikuti irama gerakanku, sedangkan Dong Zhuo menatap setiap gerakanku dengan pandangan penuh hawa nafsu.

Aku tau itu, karena setiap lelaki hidung belang seperti Dong Zhuo pasti akan menatapku seperti itu. Setelah 15 menit aku menari, akhirnya Dong Zhuo menghentikan pestanya dan menyuruh para perwira untuk pulang ke rumah masing-masing termasuk ayahku.

Ketika aku akan pulang dengan ayahku, Dong Zhuo menghentikanku dan menyuruhku untuk tinggal sebentar sementara ayahku disuruh pulang olehnya.

“belum apa-apa, udah kena perangkap gue”, kataku dalam hati.

“Diao Chan, kemari sebentar”. Aku pun mendekatinya yang sedang duduk di singgasananya sambil memegang segelas minuman.

“ada apa, Baginda?”. Tiba-tiba saja dia langsung memeluk pinggangku dan menarik tubuhku ke arahnya dan dia langsung menciumi perutku yang masih terbalut baju.

“aahh,, Baginda,, jangan,,”.

“tenang saja, cantik, disini hanya ada kita berdua”. Dong Zhuo langsung membuang gelas yang ada di tangannya, kemudian dia meremas-remas payudaraku dengan kedua tangannya yang besar itu.

“aahh,,mmhhh,,”, desahku.

“hmm,,, toketmu sangat kencang dan kenyal, aku jadi ingin melihat secara langsung”.

“jangan,, Baginda”.

“ayo, sekarang buka bajumu”.

“jangan,,,Baginda”.

“ayo !!!”. Sebenarnya, aku mau membuka baju untuk kesuksesan misiku tapi aku pura-pura tidak mau supaya rencanaku tidak terbongkar.

Dengan pura-pura menangis, aku membuka pakaianku sedangkan Dong Zhuo hanya menatap setiap gerakanku dan sambil tersenyum licik. Tak lama kemudian, aku sudah telanjang di hadapan lelaki yang bukan suamiku.

Tubuhku yang putih mulus tanpa cacat sedikitpun, payudaraku yang berukuran 34B yang kencang dan kenyal, juga serambi lempit yang masih merah merekah, ditambah dengan putingku yang masih berwarna merah muda menandakan kalau aku sama sekali belum pernah disentuh lelaki.

“gwa,,haha,,, tubuhmu seindah wajahmu”.

“terima kasih, Baginda”. Dong Zhuo langsung mencium bibir mungilku yang kuoles dengan lipstik berwarna pink. Aku jijik menerima ciumannya itu karena nafasnya yang bau, tapi demi kesuksesan misiku, aku harus menahannya.

Sementara Dong Zhuo melumat bibirku, tangan kirinya meremas-remas kedua payudaraku secara bergantian, dan tangan kanannya meremas-remas bongkahan pantatku yang kencang dan kenyal.

Aku mulai terbiasa dengan lumatan Dong Zhuo terhadap bibirku dan mulai membalas ciumannya dan juga memainkan lidahku sehingga lidah kami saling membelit. Setelah puas melumat bibirku, Dong Zhuo melepaskan ciumannya.

“bibir kamu lembut sekali”. Belum sempat aku berbicara, dia sudah menurunkan kepalanya sehingga sekarang wajahnya tepat berada di depan payudaraku, dan dia langsung menjilati kedua putingku, aku merasakan sensasi yang belum pernah kurasakan selama ini.

Aku merasa geli dan nikmat secara bersamaan, aku sangat bingung karena baru kali ini, aku merasakan hal seperti ini. Sementara kedua tangannya meremas-remas bongkahan pantatku, dia tetap menjilati, menggigit-gigit, serta menarik-narik kedua putingku secara bergantian.

Tidak hanya putingku saja, setiap senti dari payudaraku dijilati olehnya sampai kedua buah payudaraku basah dan berlumuran air liurnya. Puas dia melahap payudaraku, dia menurunkan wajahnya ke serambi lempitku.

“ho,,ho,,hoho,,, sungguh serambi lempit yang menggugah selera”. Tanpa membuang waktu, Dong Zhuo langsung menyapu di sekitar bibir serambi lempitku dengan lidahnya, sama seperti sebelumnya sensasi yang kudapat dari sapuan lidah Dong Zhuo baru kali ini kurasakan, lalu dia membuka bibir serambi lempitku dengan 2 jarinya sehingga terlihatlah klitorisku dan lubang serambi lempitku yang berwarna merah merekah.

Dong Zhuo kini mulai menjilati bibir serambi lempit bagian dalamku, dan kadang-kadang dia menyentil-nyentilkan lidahnya ke klitorisku sehingga aku merasakan ada sengatan listrik di sekitar tubuhku.

“aahhh,,,mmhhh,,,baagiinndaaa,,,ooohhh !!!”, teriakku ketika aku merasakan ada yang ingin meledak di dalam tubuhku.

Tiba-tiba aku merasakan badanku ringan sekali seperti bulu dan aku merasa kalau ada yang mengalir keluar dari serambi lempitku dan Dong Zhuo langsung menyeruput cairan yang keluar dari serambi lempitku seperti orang kehausan karena dia malah berjongkok di bawahku sehingga dia benar-benar di bawahku yang sedang berdiri dan dia membenamkan kepalanya ke selangkanganku, aku menjepit kepalanya dengan kedua pahaku seolah aku tak ingin Dong Zhuo menghentikan sapuan lidahnya.

“sllurrpp,,,sluurrpp”, bunyi yang muncul ketika dia tak henti-hentinya menyeruput cairanku, sementara aku hanya bisa membuka mulutku tanpa mengeluarkan suara karena tenagaku habis oleh suatu kenikmatan yang belum pernah kurasakan selama ini.

“hmmm,, cairanmu manis sekali,, aku sangat suka”. Lalu dia menggendong tubuhku yang sangat mungil jika dibandingkan dengan tubuhnya yang gendut dan besar itu.

Dia membawa tubuhku yang sudah kelelahan ke kamarnya, ternyata kamarnya sangat indah, tidak seperti pemiliknya.

“apakah aku akan kehilangan kesucianku malam ini?”, tanyaku dalam hati.

“tapi, tak apalah, demi kedamaian negeri ini”, tambahku dalam hati untuk menguatkan diri. Dong Zhuo menaruh tubuhku di ranjangnya yang berselimutkan sprei berwarna putih sehingga tubuhku seperti menyatu dengan ranjang Dong Zhuo karena warna kulitku putih mulus sama dengan sprei.

Dong Zhuo mulai melepaskan bajunya satu per satu sehingga tak lama kemudian, terlihatlah olehku, tubuhnya yang gendut, menjijikan, dan penuh bulu itu, tapi aku lumayan takjub melihat benda yang tergantung di selangkangannya itu, meskipun tidak terlalu panjang, tapi aku duga diameter rudalnya sekitar 10 cm, dan bulu kemaluan yang menghias di atas rudalnya itu sangat lebat.

“ayo cantik, aku ingin merasakan hangatnya tubuhmu”, kata Dong Zhuo sambil naik ke atas ranjang. Dia tidur disampingku dan menyuruhku untuk menaiki tubuhnya dan menduduki wajahnya yang brewokan itu. Rupanya, dia masih ketagihan dengan cairanku yang katanya sangat manis.

Aku heran apakah dia tidak kesulitan bernafas jika kepalanya kuapit dengan kedua pahaku, tapi apa peduliku yang penting jilatannya bisa memberikan kenikmatan yang tiada tara kepadaku.

“mmhh,,mmahh,,”, desahku pelan menerima setiap jilatannya. Aku hanya bisa duduk manis di atas kepala Dong Zhuo dan kadang-kadang aku menggerakkan pinggulku ke depan dan ke belakang sehingga serambi lempitku bergesek-gesekkan dengan jenggotnya menambah sensasi nikmat sekaligus geli, dan tak lama kemudian tubuhku mengejang hebat seperti sebelumnya dan cairanku mengalir lebih deras dari sebelumnya dan tentu saja Dong Zhuo yang tepat berada di bawah serambi lempitku langsung membuka mulutnya untuk menerima cairanku.

Cairanku tidak tertelan semua olehnya, tapi ada juga yang membasahi wajahnya. Setelah itu, aku langsung disuruh bangun dan menjilati wajahnya yang berlumuran cairanku sendiri. Aneh rasanya merasakan cairanku dan ditambah baru kali ini aku merasakan cairan serambi lempit dan itu punyaku sendiri. Rasanya agak sedikit asin, tapi gurih seperti santan, dan juga ada rasa manis sedikit.

“bagaimana Diao Chan, apakah cairanmu manis?”.

“ya, baginda, cairanku manis sekali”.

“gwa,,haa,,,haha,,, kalau begitu sekarang giliranmu untuk menjilat”.

“tapi, baginda, aku tidak tau bagaimana caranya menjilati rudal seorang pria”.

“oh, jadi kamu sama sekali belum pernah disentuh lelaki mana pun?”.

“benar, baginda”.

“hwa,,haha,,,haha,, bagus sekali, berarti aku yang akan mengambil kesucianmu”.

“untuk baginda, semuanya akan kuberikan”.

“bagus,,bagus !! karena kau adalah gadis penurut, maka akan kuajari bagaimana caranya memuaskan seorang pria”.

“mohon bantuannya, baginda”.

“baiklah, pertama-tama, buka mulutmu dan tuntun rudalku ke dalam mulutmu yang mungil itu”. Kali ini aku tidak berpura-pura karena baru kali ini aku melihat kemaluan seorang pria selain punya ayahku karena aku dan ayahku sering mandi bersama, antara ayah dan anak tentunya.

Aku memegang batang rudalnya yang besar itu dan mulai memasukkan kepala rudalnya ke dalam mulutku yang mungil.

Untuk memasukkan kepala rudalnya saja aku harus membuka mulutku lebar-lebar, setelah kepala rudalnya sudah berada di dalam mulutku, Dong Zhuo langsung menggerakkan pinggulnya maju sehingga rudalnya terdorong masuk ke dalam mulutku dan membuatku gelagapan karena rudalnya yang begitu besar.

Aku belum terbiasa, tapi ida sudah mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga rudalnya keluar masuk, rasanya aku ingin muntah.

Dia memegangi kepalaku, oleh karena itu aku hanya bisa menahan mati-matian agar tidak tersedak sampai-sampai ada satu atau dua butir air mata keluar dari sudut mataku. Lalu dia mencabut rudalnya dari mulutku sehingga aku bisa bernafas dengan normal lagi.

“nah, cantik, sekarang jilati rudalku”. Aku menggenggam rudalnya dengan tangan kananku sementara tangan kiriku meremas-remas buah zakarnya, lalu aku mulai telusuri sejengkal demi sejengkal rudalnya dengan lidahku. Aku melakukannya seperti orang yang sudah ahli padahal baru kali ini, aku menjilati rudal laki-laki.

“oohh,,,aahh,,kamu memang diciptakan untuk memuaskan pria,, kulumanmu sangat nikmat”. Aku juga bingung kenapa aku sangat lihai melakukan ini. Aku gerakkan lidahku naik-turun dan memutari batang rudalnya itu membuat Dong Zhuo menggeliat keenakan apalagi aku juga memijiti buah zakarnya dengan tangan kiriku secara lembut.

“cukup,,cukup,, bidadariku,, aku juga ingin merasakan kehangatan serambi lempitmu”. Lalu Dong Zhuo menyuruhku tidur terlentang dan membentangkan kakiku lebar-lebar sehingga kini serambi lempitku yang merah merekah dan sudah basah akibat cairanku sendiri terlihat jelas di hadapannya seolah menantangnya untuk segera menembus masuk ke dalam serambi lempitku.

Tanpa membuang kesempatan yang telah ada di depan mata, Dong Zhuo langsung mengangkat kakiku ke bahunya dan mengelus-eluskan kepala rudalnya di belahan bibir serambi lempitku membuat birahiku semakin memuncak sehingga tanpa sadar aku mengucapkan kata-kata yang tak biasa kuucapkan.

“oohh,,,baginda,,,ayo,, cepat masukkan rudalmu,,, aku sudah gak tahan !!!”.

“ho,,ho,,rupanya kamu sudah tidak sabar ya,,ha,,haha,,,”.

Tiba-tiba dia langsung menghujamkan rudalnya yang besar itu ke dalam serambi lempitku yang benar-benar masih sangat rapat sehingga rasa sakit langsung terasa di sekujur tubuhku terutama di bagian selangkanganku.

“aawwww,,,oowwwwhhh”teriakku kencang, mungkin terdengar ke seluruh pelosok istana. Tanpa memperdulikanku, Dong Zhuo mulai menggerakkan rudalnya keluar masuk dengan cepat, darah keperawananku langsung sedikit meleleh keluar dari sela-sela serambi lempitku menandakan kalau aku sudah tidak perawan lagi.

Setiap hujaman rudal Dong Zhuo membuat sakit yang luar biasa, tapi Dong Zhuo tetap saja menghujamkan rudalnya keluar masuk serambi lempitku dengan penuh nafsu.

Tapi lama kelamaan, rasa sakit itu hilang dan berganti rasa nikmat sehingga yang tadinya aku berteriak kesakitan sekarang aku malah mendesah keenakan. rudal Dong Zhuo terasa sesak di dalam serambi lempitku yang msih sangat sempit sehingga setiap hujaman rudalnya bergesekan dengan dinding serambi lempitku yang semakin menambah rasa nikmat yang kurasakan.

Aku merasakan sebuah tekanan dari dalam tubuhku seoerti ingin keluar, rupanya tubuhku mengejang lebih hebat daripada sebelumnya dan ketika itu cairanku langsung mengalir keluar, tapi tertahan rudal Dong Zhuo yang sedang tertanam di serambi lempitku sehingga bunyi kecipak air setiap kali dia memompa rudalnya ke dalam serambi lempitku.

20 menit sudah ‘si babi’ Dong Zhuo menikmati tubuh ranumku yang belum disentuh lelaki manapun. Aku berpikir betapa beruntungnya ‘si babi’ ini, andaikan saja aku bisa melihat kepalanya lepas dari lehernya yang gemuk itu, tapi aku harus sabar karena semua harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak ketahuan oleh penasehat raja yaitu Li Ru yang sangat pintar itu.

Ketika aku sedang berpikir, tiba-tiba Dong Zhuo mempercepat frekuensi genjotannya, aku tidak tau apa sebabnya karena aku memang belum pernah melakukannya. Ngocoks.com

Selang beberapa menit kemudian, aku merasakan rudal Dong Zhuo berdenyut-denyut di dalam serambi lempitku dan akhirnya kurasakan ada yang menyembur ke dalam serambi lempitku dan terasa hangat sekali. Setelah kira-kira 3 kali semburan, Dong Zhuo terlihat kelelahan dan mencabut rudalnya lalu langsung tidur terlentang di sebelahku.

“aaahh,,, tubuhmu memang nikmat”. Aku hanya tersenyum ke arahnya yang sudah mulai menutup matanya akibat mabuk dan kelelahan.

Setelah beberapa menit aku menunggu dan berpura-pura tidur, aku membuka mataku dan dia sudah tertidur pulas sampai mendengkur seperti babi. Aku langsung melepaskan pelukannya, lalu aku melihat ke arah selangkanganku dan kutemukan cairan merah muda yang bercampur dari cairan serambi lempitku, sperma ‘si babi’ berengsek, dan juga DARAH KESUCIANKU.

Aku menangis, mengapa aku harus memberikan kesucianku kepada orang yang menjijikan seperti Dong Zhuo, tapi aku terus berpikir kalau Dong Zhuo nanti akan terbunuh oleh lelaki impianku yaitu Lu Bu, dengan berpikir seperti itu, aku jadi tegar kembali sehingga aku memutuskan untuk pulang dan mulai mengatur rencana yang kedua dengan ayahku yaitu menggoda Lu Bu.

Aku segera ke kamar mandi yang ada di kamar Dong Zhuo untuk membersihkan sisa-sisa cairan yang masih ada di serambi lempitku, aku menyemprotkan air ke serambi lempitku. Setelah serambi lempitku bersih kembali, aku mengeringkan daerah selangkanganku dengan handuk yang ada, entah itu punya siapa.

Setelah daerah selangkanganku sudah bersih dan kering kembali, aku bergegas ke ruang perjamuan karena disanalah bajuku tertinggal. Untungnya, tidak ada orang, jika ada, melihatku yang telanjang bulat, pasti aku langsung diperkosa.

Bersambung… Dengan gerakan cepat aku mengambil bajuku dan memakainya kembali, dan menyelinap keluar lewat jalan rahasia yang telah ditunjukkan oleh ayahku sebelumnya sehingga aku bisa keluar dari istana tanpa terlihat siapapun.

Ketika aku sedang berjalan, aku melihat sesosok orang yang gagah sedang berada di atas gerbang istana. Aku tidak menghiraukan bayangan itu karena harus cepat-cepat sampai ke rumah, tapi tiba-tiba bayangan itu sudah ada di depanku dan menunjukku dengan senjatanya.

“siapa kau?”.

“aa,,kkuu,,,Diao Chan”.

“oh, ternyata kau Diao Chan”. Lalu akhirnya terlihat jelas olehku kalau bayangan itu adalah Lu Bu.

“tuan Lu Bu, aku sangat senang bertemu denganmu”.

“aku juga, tapi kenapa selarut ini kau ada di jalanan?”.

“aku habis dari istana, tuan sendiri?”.

“oh, aku sedang berpatroli malam”.

“eee,, apa tuan tidak mengantuk jam segini?”.

“tidak, aku baru bisa mengantuk jika aku sudah benar-benar lelah”.

“oh, begitu,, ee, tuan, aku senang sekali mengobrol dengan tuan, tapi aku harus pulang”.

“oh, kalau begitu, biar kuantar”.

“terima kasih, tuan Lu Bu”.

Lalu aku dan Lu Bu berjalan bersama-sama dan diterangi oleh cahaya bulan purnama, suasana yang sangat romantis, apalagi aku ditemani lelaki yang paling kukagumi.

“ee, Diao Chan,, apa kau sudah menikah?”.

“belum tuan,, memang kenapa?”.

“aa,,kkk,,,uuu,,,”.

“ada apa, tuan?”. Aku sedikit tertawa karena tidak disangka jendral yang paling ditakuti di seluruh pelosok Cina ternyata gugup jika berhadapan dengan seorang wanita.

“akku,,sukkkaa,,, padamu”.

“apakah itu benar, tuan Lu Bu?”.

“bbennar,,”.

“tapi rasanya aku tidak pantas”.

“kenapa?”.

“karena tuan adalah jendral yang paling terhormat dan paling kuat sedangkan aku hanyalah wanita lemah yang tidak ada artinya”.

“tapi aku sangat mencintaimu,, Diao Chan”. Ketika itu kami sudah sampai di depan rumahku.

“dan satu masalah lagi, tuan Lu Bu”.

“apa itu?”.

“aku sudah tidak perawan lagi”.

“hah?! wanita terhormat sepertimu sudah tidak suci lagi ?!”.

“bukan begitu tuan, keperawananku bukan kuberikan pada orang dengan suka rela tapi direbut paksa oleh seseorang”.

“APA?! siapa orang itu,, biar aku cincang”.

“orang itu adalah baginda Dong Zhuo”.

“APA?!! baiklah kalau begitu, dia akan kubunuh malam ini juga”.

“tunggu, tuan Lu Bu, jika kau pergi sekarang kau pasti akan terbunuh”.

“tidak mungkin, aku adalah orang yang paling kuat di negeri ini”.

“tuan Lu Bu, dengarkan aku dulu !!”, seruku sambil memegang erat tangannya dengan kedua tanganku.

“tuan Lu Bu, apa kau mencintaiku meskipun aku sudah tidak suci lagi?”.

“ya,, Diao Chan sayang,, aku menyayangimu melebihi diriku sendiri”.

“kalau begitu, masuklah ke dalam rumahku dan kita akan membuat rencana pembunuhan Dong Zhuo dengan ayahku”. Ngocoks.com

“baiklah”. Lalu di dalam rumah, aku, Lu Bu, dan ayahku merencanakan pembunuhan Dong Zhuo yang akan dilakukan malam besok karena besok malam direncakan hampir 3/4 perwira yang ada di kota akan pergi menahan serangan dari pasukan sekutu yang tentunya sudah direncanakan pasukan sekutu dengan ayahku.

Karena di rumah itu hanya ada ayahku dan Lu Bu orang yang paling kucintai, aku memutuskan untuk melepaskan pakaianku di depan mereka sehingga tubuh putih mulusku yang sudah tidak terbalut apa-apa terpampang jelas di hadapan mereka berdua.

“Diao Chan,, apa yang kau lakukan ?!”, tanya Lu Bu keheranan.

“ini adalah bukti cintaku padamu, mulai malam ini dan selanjutnya, tubuhku hanyalah milikmu seorang”.

“ttaapiii,,,”.

“apa kau tidak ingin menjadikanku istrimu?”.

“mmaauu,,”.

“yaudah, kalau begitu, mulai malam ini, kau berhak memiliki tubuhku,, bagaimana ayah?”.

“terserah padamu, anakku yang cantik”. Melihat ekspresi wajah Lu Bu yang masih keheranan dan kebingungan karena aku telanjang di hadapannya, aku pun mengambil inisiatif untuk mendekati tubuhnya yang besar dan gagah itu.

“ayolah calon suamiku,, apa kau tidak ingin menyentuhku”, kataku sambil meletakkan tangan kekarnya ke payudara kananku. Akhirnya dengan insting laki-lakinya, dia mulai menggerakkan tangannya meremas-remas payudaraku.

“aahh,,ohhh,,,benar,,,begitu,,tuanku,,”.

Merasa sudah tidak canggung lagi, Lu Bu kini meremas-remas payudaraku dengan kedua tangannya, dan semua ini terjadi tepat di hadapan ayahku yang hanya tersenyum melihat anaknya yang sudah dewasa dan bisa menggoda pria.

Ketika Lu Bu akan menjilat payudaraku, aku terpaksa menghentikannya karena aku tak mau tubuhku yang habis dijilati oleh Dong Zhuo kuberikan ke orang yang paling kucintai, aku mau memberikan tubuhku yang segar dan wangi ke Lu Bu.

“eiiit,,tuan Lu Bu,, nanti dulu,, biarkan aku mandi agar aku wangi kembali”.

“baiklah kalau begitu”, kemudian dia pun langsung menggendongku dengan mudah seolah-olah aku hanyalah sekarung kapas saja baginya. Sesampainya kami di kamarku, Lu Bu mendirikanku.

“nah, tuan Lu Bu, sekarang kamu tunggu dulu disini, biar aku mandi dulu”.

“baiklah sayangku”.

Aku menuju kamar mandi sementara Lu Bu menunggu di ranjang sambil tidur terlentang. Aku membilas tubuhku dan mengolesi tubuh putihku dengan sabun khusus milikku. Setelah tubuhku sudah tertutup sabun semua, aku membilas tubuhku lagi dengan air.

Lalu aku mengeringkan tubuhku yang sudah wangi dan segar kembali dengan handukku. Setelah tubuhku sudah benar-benar bersih dan kering, aku keluar dari kamar mandi. Ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat Lu Bu sama sekali tidak mengedipkan matanya dan terus memandang tubuhku dari rambut sampai kakiku yang tidak terbalut apa-apa.

“kenapa, tuan Lu Bu, tubuhku tidak bagus ya?”.

“tidak,,tubuhmu sangat bagus,, aku jadi ragu apakah aku pantas menerima kehangatan tubuhmu”.

“tenang saja, tuan Lu Bu adalah orang yang paling pantas merasakan hangatnya tubuhku”.

Aku berjalan mendekati Lu Bu yang sedang tiduran di ranjangku, meskipun sedang dalam posisi relax, tapi Lu Bu kelihatannya sangat tegang, mungkin dikarenakan aku yang mendekatinya tanpa memakai sehelai benangpun.

Ketika aku sudah sampai di sampingnya, aku mengelus-elus wajahnya dengan tanganku yang sangat halus agar dia tidak tegang, dan dia pun mengelus-elus pipiku. Tiba-tiba dia menarik tubuhku dengan lembut ke arahnya lalu dia mulai mencium bibirku, beda sekali rasanya ketika berciuman dengan Dong Zhuo.

Ciuman Lu Bu benar-benar terasa lembut, dan Lu Bu membiarkanku yang memainkan lidahku di dalam rongga mulutnya, ciuman kami sangat mesra hingga aku tak sadar kalau kami sudah berciuman hampir lebih dari 8 menit, ketika aku melepaskan ciumanku, terlihat ludah kami saling menyatu.

“tuan Lu Bu, mari kubukakan pakaianmu”.

“tidak usah Diao Chan, biar aku yang buka sendiri”. Lu Bu membuka baju perangnya sehingga dia tinggal memakai kaos dalam dan juga celana bahan yang panjang, setelah itu dia membuka semuanya sehingga tinggal celana dalamnya saja yang melekat di tubuhnya yang besar dan gagah itu.

“tuan Lu Bu, biarkan aku yang membuka celana dalammu”. Lalu aku berjongkok di hadapannya sehingga kini wajahku berada tepat di depan tonjolan besar yang menonjol di celana dalamnya.

Hatiku jadi deg-degan karena melihat tonjolan yang besar di bailk celana dalamnya itu dan akhirnya aku bisa melihat rudal Lu Bu yang selama ini hanya kubayangkan secara langsung. Ketika celana dalamnya sudah kuturunkan, rudalnya langsung menyembul keluar sampai menyentuh daguku.

“wow, gede banget, bisa mati keenakan nih gua”, kataku dalam hati.

“kenapa, Diao Chan?”.

“ah, enggak tuan”.

Aku benar-benar takjub melihat rudal Lu Bu yang mempunyai panjang 22cm dan berdiameter 9 cm. Oleh karena itu, aku sudah tidak sabar ingin mencicipi rudal Lu Bu itu, aku mulai dengan menaiki tubuhnya dan mengambil posisi 69 agar kami berdua bisa saling mencicipi.

Lu Bu memulai dengan menjilati daerah sekitar bibir serambi lempitku sementara jari telunjuk tangan kanannya bergerak naik turun di belahan bibir serambi lempitku membuat birahiku menjadi tinggi dalam waktu sebentar saja, lalu setelah daerah selangkanganku sudah basah, Lu Bu mulai membuka bibir serambi lempitku dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.

Setelah bibir serambi lempitku sudah terbuka sehingga bagian dalam serambi lempitku bisa dilihat olehnya dengan jelas, dan dia langsung menyerbu klitorisku dengan lidahnya membuat tubuhku merinding merasakan geli dan nikmat yang amat sangat, puas dengan menyentil-nyentil klitorisku dengan lidahnya, Lu Bu mulai memasukkan lidahnya ke dalam lubang serambi lempitku dan menjilati dinding serambi lempitku.

Sementara Lu Bu asyik melahap serambi lempitku, aku juga memulai gerakanku, aku kecup ujung kepala rudal milik Lu Bu yang besar itu dan menyentil lubang kencingnya dengan lidahku membuat pemiliknya menggeliat, lalu aku mulai masukkan kepala rudalnya ke dalam mulutku, ternyata hanya untuk memasukkan kepalanya saja, aku harus sekuat tenaga karena bibirku yang mungil tidak bisa terbuka cukup lebar untuk menerima rudal perkasa milik Lu Bu, akhirnya aku menyerah karena rudal Lu Bu hanya 1/4nya saja yang bisa kupaksakan masuk ke dalam mulutku.

Aku keluarkan lagi rudalnya dan kujilati naik-turun dan memutar mulai dari ujung kepala rudalnya sampai ke buah zakarnya sampai rudalnya benar-benar basah akibat air liurku, aku tau kalau Lu Bu merasa keenakan karena dia sangat semangat sekali melahap serambi lempitku yang terhidang di depan wajahnya.

Ketika sedang asyik menikmati ‘lolipop’ milik Lu Bu, tiba-tiba tubuhku mengejang hebat yang menandakan aku mengalami orgasme karena jilatan-jilatan Lu Bu. Tentu saja, Lu Bu tidak membuang-buang waktu dan meminum semua cairan serambi lempitku yang memang mengalir tepat ke wajahnya yang memang ada di depan serambi lempitku.

Setelah cairanku sudah diminum habis, aku langsung memutar badanku sehingga wajah kami saling bertemu, aku langsung melumat bibirnya yang masih ada sisa-sisa cairan serambi lempitku sehingga aku bisa merasakan betapa lezatnya cairanku sendiri.

“ayo,, tuan Lu Bu,, aku sudah tak sabar ingin merasakan kejantananmu”.

“baiklah, sayangku,, tapi jika kamu merasa sakit, bilang saja”.

“baik,, sayangku”. Kami berputar sehingga sekarang aku yang berada di bawah dan Lu Bu berada di atasku. Aku membuka kakiku lebar-lebar dan melingkarkan kakiku pada pinggang kekasihku. Dia meletakkan kepala rudalnya di depan lubang serambi lempitku.

“tahan ya,,sayang”. Lalu dia mulai memasukkan kepala rudalnya ke dalam serambi lempitku secara perlahan dan sangat lembut. Rasanya seperti ada sebuah benda besar yang masuk ke dalam tubuhku dan terasa sesak sekali sampai-sampai aku tidak bisa bernafas.

Tapi, karena Lu Bu memasukkan rudalnya secara perlahan dan lembut, rasa sakitnya tidak terlalu membuatku tersiksa meskipun masih ada sedikit rasa terbakar di daerah selangkanganku. Selama masa ‘penetrasi’, Lu Bu melumat bibirku serta kadang-kadang meremas-remas dan menjilati kedua putingku secara bergantian agar rasa sakitnya tidak terlalu terasa olehku.

Tak terasa, kini 3/4 rudalnya sudah berada di dalam serambi lempitku dan itu sudah mentok, Lu Bu sama sekali tidak menggerakkan pinggulnya, mungkin dia ingin agar aku terbiasa dahulu.

Setelah sekitar 5 menit, Lu Bu mulai memompa rudalnya keluar masuk serambi lempitku, aku masih merasakan rasa pedih setiap kali Lu Bu memompa rudalnya masuk ke dalam serambi lempitku tapi akhirnya rasa pedih itu lama kelamaan berubah menjadi rasa nikmat yang membuatku seolah terbang ke angkasa. Lu Bu mulai mempercepat frekuensi genjotannya.

“aaahh,,,mmhh,,,oohhh,,terruusss,,,tuankuuu”, desahanku menerima serangan rudalnya yang keluar masuk serambi lempitku.

Sudah 15 menit dia mengenjot serambi lempitku tapi, dia sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan orgasme, malah dia meminta berganti posisi dengan posisi dia berdiri sementara aku digendongnya dan kakiku melingkar di pinggangnya dan tanganku melingkar di lehernya.

Sambil terus menggenjot serambi lempitku, Lu Bu melumat bibirku dengan penuh nafsu sekaligus mesra. Payudaraku berguncang naik-turun sesuai dengan irama. 15 menit dia menghujamkan rudalnya itu ke dalam serambi lempitku, dia juga belum menandakan tanda-tanda akan orgasme sementara aku sudah di ambang batas orgasmeku yang ke tiga.

“aahh,,,oohhh”, desahku kencang ketika aku mencapai orgasme yang kudapat setelah orgasme kedua ketika posisi kami masih tidur di kasur. Lu Bu meminta untuk berganti posisi lagi dan kini ia memintaku untuk naik ke atasnya yang sudah tidur lagi di ranjang.

Aku langsung menaiki tubuhnya dan menempatkan tubuhku di atas rudalnya yang mengacung tegak ke arah serambi lempitku, lalu aku menurunkan tubuhku perlahan karena takut terasa sakit lagi, tapi aku salah, kali ini rudal Lu Bu melesat degan mudah masuk ke dalam serambi lempitku, mungkin karena serambi lempitku yang sudah banjir akibat caoranku sendiri.

Ketika rudal Lu Bu sudah masuk 3/4 ke dalam serambi lempitku, aku mulai menggerakkan tubuhku naik turun sementara Lu Bu meremas-remas payudaraku dengan kedua tangannya.

Karena aku sudah tidak punya tenaga lagi, aku berhenti menggerakkan tubuhku naik turun di menit ke 8, lalu kini Lu Bu yang menggerakkan tubuhnya naik turun sehingga tubuhku juga naik turun sesuai dengan irama.

Dalam keadaan seperti ini, aku mengalami orgasme untuk yang keempat kalinya sehingga serambi lempitku benar-benar sangat becek oleh cairanku sendiri yang menimbulkan suara kecipak air yang sangat kencang setiap kali Lu Bu mnghujamkan rudalnya ke dalam serambi lempitku.

Sudah 45 menit, Lu Bu menggarapku tapi dia sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda orgasme sedangkan aku sendiri sudah kehabisan tenaga akibat 4 kali orgamse, ternyata Lu Bu tidak hanya hebat di medan perang tapi dia juga sangat hebat bertempur di ranjang.

Lu Bu tau kalau aku sudah kehabisan tenaga, maka dari itu dia menyuruhku terlentang kemudian dia mengangkat kakiku dan mendorong kakiku sehingga kakiku berada di samping kanan dan kiri kepalaku. Dalam posisi ini, aku merasakan rudalnya benar-benar masuk ke dalam serambi lempitku dibandingkan dengan posisi-posisi sebelumnya.

Lu Bu masih memompa serambi lempitku dengan penuh semangat dan tidak kelelahan sama sekali, sementara aku sudah mati-matian agar aku tidak pingsan.

Akhirnya sekitar 15 menit kemudian, aku merasakan rudalnya berdenyut-denyut yang menandakan akan orgasme dan aku juga akan mengalami orgasme juga.

Aku menahan orgasmeku agar bisa bersamaan dengan Lu Bu, tak lama kemudian Lu Bu mendesah.

“aaakkhhh,,,,Diao Chan”. Dan akhirnya aku merasakan semburan sperma yang hangat menyemprot ke dalam serambi lempitku, bersamaan dengan itu aku menlepaskan orgasme yang sudah lama kutahan sehingga kami berdua mencapai puncak dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Diao Chan,, terima kasih,, aku sangat mencintaimu”.

“aku juga sangat mencintaimu, Lu Bu”. Lalu kami berdua pun tidur dengan saling memeluk.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lu Bu sudah berangkat lagi ke istana sementara aku masih tidur. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku sehingga aku bangun.

“siapa,,hhooaahhmm?”, tanyaku sambil menguap.

“ini ayah”.

“sebentar yah”. Lalu aku membuka pintu tanpa memakai sehelai benang pun.

“ada apa, ayah?”.

“Li Ru menyadari rencana kita”.

“apa?!!!”.

“tapi Li Ru sudah dibunuh oleh Dong Zhuo karena Li Ru menyarankan untuk menyerahkanmu pada Lu Bu, untungnya Dong Zhuo terlalu sombong sehingga dia tidak mendengarkan nasihat Li Ru dan malah membunuhnya”.

“untung saja,,,”, kataku lega. Lalu ayahku melihat ke arah serambi lempitku yang masih ada sisa sperma Lu Bu yang sudah mengering.

“hhmm,, rupanya Lu Bu sudah menanamkan benihnya ke dalam tubuhmu ya?”.

“ya,, ayah,, mudah-mudahan aku hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki sekuat Lu Bu”.

“sekarang kamu mandi sana, kita akan pergi ke istana lagi, agar Dong Zhuo tidak curiga”.

“baik,,ayah”. Tidak ada kejadian istimewa yang terjadi, paling-paling Dong Zhuo meremas-remas payudaraku. Malam harinya, seperti yang direncanakan,aku mengajak Dong Zhuo untuk bersetubuh di kamar Dong Zhuo dimana Lu Bu telah menyelinap dan sedang bersembunyi.

Aku membuka bajuku di hadapan Dong Zhuo sehingga tubuhku yang putih mulus bisa dilihat secara jelas oleh Dong Zhuo untuk kedua kalinya. Ngocoks.com

“oohh, Diao Chan,, tubuhmu memang sangat indah”, katanya sambil mendekatkan tangannya untuk meremas payudaraku.

“eiitt,, tunggu baginda”, kataku sambil melangkah mundur.

“ada apa, bidadariku?”.

“selamat tinggal, babi sialan”, balasku sambil menggoyang-goyangkan dadaku sehingga payudaraku berayun ke kanan dan ke kiri.

“APA KAU BILANG?!!”. Dan Lu Bu muncul di belakang Dong Zhuo.

Cerita Dewasa Ngentot - Dynasty Warrior
“slaashhh,,,”, terpotonglah kepala Dong Zhuo dari lehernya, tapi tangannya memegang gelas sehingga menimbulkan bunyi berisik dan para penjaga yang ada di depan pintu kamar langsung masuk ke dalam kamar dan menemukan Dong Zhuo yang sudah tak ada kepalnya, Lu Bu yang memegang senjata berlumuran darah, dan aku yang telanjang bermandikan darah yang berasal dari cipratan darah leher Dong Zhuo.

“tuan Lu Bu,, kau harus lari !!!”.

“tidak, Diao Chan, aku akan melindungimu !!”.

“kau harus lari tuanku, jika tidak pasti nanti kau akan dihukum mati !!”.

“tidak tanpamu, Diao Chan”.

“dengar tuanku, jika kau mencintaiku, kau harus lari, tolonglah tuanku”. Lu Bu menatap mataku dalam-dalam.

“baiklah, Diao Chan, aku akan kembali untuk menyelamatkanmu”.

Lu Bu langsung menembus keluar dengan mudah sementara aku ditangkap oleh para prajurit pengawal istana, dan ayahku juga langsung ditangkap malam itu, dan langsung dipenggal kepalanya di tempat. Sementara itu, aku di penjara tanpa mengetahui ayah sudah terbunuh oleh penerus Dong Zhuo yaitu Li Jue.

Melihat tubuhku yang putih mulus tanpa memakai sehelai benangpun, para penjaga penjara membawaku keluar untuk diperkosa beramai-ramai dengan seluruh pasukan karena kapan lagi bisa menyetubuhi 1 dari empat orang tercantik sepanjang masa di Cina yaitu aku.

Ketika semua prajurit sudah berkumpul sekitar 1000 orang dan semuanya sudah melepaskan celana mereka dan menatapku dengan nafsu binatang buas. Tapi, ketika salah satu mereka akan memasukkan rudal mereka ke dalam serambi lempitku, tiba-tiba Lu Bu dan temannya yaitu Zhang Liao datang dan membunuh semua prajurit yang ada di situ hanya dalam waktu 3 menit.

Kemudian aku menaiki Red Hare bersama Lu Bu sementara Zhang Liao mengikuti kami di belakang, kami bertiga menembus gerbang dan berhasil keluar dari Chang An. dan langsung lari ke Hulao Gate.

Keesokan harinya, ternyata para pengikut Dong Zhuo seperti Song Xian, Gao Shun, Zang Ba, dan lain-lain datang ke Hulao Gate untuk menjadi bawahan Lu Bu, dengan jumlah perwira dan jumlah prajurit yang cukup aku dan Lu Bu mendirikan kelompok petualang untuk memulai pasukan sendiri, akhirnya aku bisa berperang dan melihat kekuatan kekasihku dengan mata kepalaku sendiri.

Bersambung… Setelah semua pasukan dan jendralnya sudah cukup, kami pun sudah siap-siap untuk mengambil sebuah kota untuk pasukan sang pujaan hatiku yaitu Lu Bu.

Tak kusangka, ada seorang jendral yang tak kuduga akan bergabung dengan pasukan kami yaitu Chen Gong, salah satu ahli pikir yang merupakan penasihat dari pasukan Cao Cao. Alasan dia bergabung dengan kami yaitu dia melihat kekejaman Cao Cao sehingga dia jadi benci sekali dengan Cao Cao.

“tuan Lu Bu,,saya punya gagasan bagus !”.

“cepat katakanlah, Chen Gong”.

“bagaimana kita ambil kota Pu Yang dari Cao Cao”.

“baiklah, ayo kita ambil Pu Yang”. Lalu kita berangkat menuju Pu Yang dengan jumlah jendral dan pasukan yang seadanya.

Ternyata, dewi fortuna memihak pada kami, Cao Cao dan sebagian besar pasukan dan jendralnya sedang pergi memerangi Tao Qian karena salah satu jendral dari pasukan Tao Qian telah membunuh ayah Cao Cao sehingga membuat Cao Cao marah besar dan langsung mendeklarasikan Tao Qian sebagai musuhnya.

Cao Cao yang sangat marah menyerang pasukan Tao Qian dengan kekuatan penuh sehingga hanya tinggal beberapa ribu pasukan dan sedikit perwira yang menjaga Pu Yang.

Dengan kekuatan berperang seperti Lu Bu, Zhang Liao, Gao Shun dan lain-lain, kami dengan mudah menyerang hingga ke gerbang kota. Tiba-tiba gerbang terbuka dan ada seseorang disana, namanya Cheng Miao.

Rupanya dia adalah salah satu perwira pasukan Cao Cao dan ingin berkhianat dan menjadi bawahan Lu Bu. Karena pengkhianatan Cheng Miao, kami dengan mudah mengambil Pu Yang. Malam harinya, kami semua mengadakan pesta karena keberhasilan kami merebut Pu Yang, dan tentunya setelah pesta aku dan Lu Bu pergi ke kediaman Lu Bu di Pu Yang yang baru dibelinya.

“Lu Bu, akhirnya kita punya kota sendiri untuk diperintah”.

“benar sekali, Diao Chan, aku senang sekali”.

“kalau begitu mari kita rayakan, malam ini akan aku berikan sesuatu yang spesial”.

“apa itu, Diao Chan?”.

“kamu akan kuperbolehkan untuk menikmati lubang anusku”.

“tapi apa kamu yakin? apa nanti kamu tidak takut terluka?”.

“tidak apa-apa, untukmu segalanya akan kuberikan”.

“baik, kalau kamu mau”. Lalu kami membuka baju masing-masing, setelah itu kami berdua telanjang bulat tanpa tertutup sehelai benangpun, aku mendekati Lu Bu dan memeluk Lu Bu dan dia juga memeluk tubuhku yang sangat kecil dibandingkan tubuhnya.

Lalu aku digendong dan dibawa ke ranjang, setelah sampai di tepi ranjang, aku ditaruh secara perlahan olehnya. Tapi aku menyuruhnya untuk tiduran karena aku ingin berada di atas tubuhnya, aku menaiki tubuhnya dan langsung mencium bibirnya dan melumat bibirnya, tapi kali ini aku biarkan dia yang memainkan lidahnya di dalam rongga mulutku.

Tubuhku yang panas selama kami berciuman menandakan kalau aku sudah mulai terangsang, setelah puas berciuman, aku melepaskan ciumanku terhadapnya dan merayap lebih ke atas sehingga kini payudaraku tepat berada di wajah Lu Bu.

“ayo,,Lu Bu, perah aku seperti sapi perah”. Lu Bu mulai dengan membenamkan wajahnya, dia geleng-gelengkan kepalanya sehingga rambutnya bergesekan dengan kedua putingku yang sangat membangkitkan gairahku.

Putingku yang berwarna pink kini sudah mengeras dan mengacung tegak seperti minta dihisap, Lu Bu tau keinginanku, dia langsung memegang payudara kananku dan memasukkan putingku ke dalam mulutnya, dia mulai menghisap putingku dengan lembut, dia mainkan putingku dengan lidahnya sementara tangan kirinya meremas-remas payudara kiriku secara perlahan tapi pasti.

Rangsangan yang dilakukan Lu Bu terhadapku dengan cara memainkan payudaraku membuat serambi lempitku jadi agak sedikit basah. Lu Bu menyuruhku untuk memutar badan sehingga sekarang aku bisa memakan ‘lolipop’ kesukaanku yaitu rudal Lu Bu dan serambi lempitku terhidang di depan wajah Lu Bu.

Kami pun saling memulai menjilati, tapi Lu Bu kini memegangi pantatku dengan kedua tangannya seolah tak mau serambi lempitku bergerak, dan dia pun membenamkan wajahnya dalam-dalam ke daerah selangkanganku untuk menikmati serambi lempitku yang lezat.

Aku pun tidak mau kalah, aku mainkan kemampuan lidahku yang masih pas-pasan dalam mengolah rudal di dalam mulut, karena itu, aku selalu berusaha untuk mengembangkan kemampuanku dalam hal memainkan rudal laki-laki dengan lidahku agar aku bisa membuat Lu Bu keenakan.

Jilatan Lu Bu yang menyapu serambi lempitku membuatku tak tahan lagi menahan kenikmatan yang kurasakan sehingga aku pun melepaskan orgasmeku yang pertama di wajah Lu Bu seperti sebelumnya sehingga cairanku langsung mengalir turun ke wajah Lu Bu, tapi wajah Lu Bu sama sekali tidak kena oleh cairanku karena Lu Bu langsung membuka mulutnya lebar-lebar dan langsung menelan semua cairanku yang memang sangat disukainya.

Setelah dia sudah meminum habis cairanku, kami istirahat dulu untuk mengambil nafas karena nafasku terengah-engah akibat orgasme tadi. Ngocoks.com

Selama mengambil nafas, aku memijat-mijat rudal Lu Bu dengan keduat tanganku yang halus mulai dari kepala rudalnya sampai ke buah zakarnya.

Sementara di bawah sana, sambil membiarkanku untuk mengatur nafas, Lu Bu membelai pantatku yang seperti buah peach dan merupakan pemandangan paling indah bagi laki-laki di seluruh pelosok negeri Cina. Setelah nafasku sudah mulai teratur, aku memutar badanku lagi sehingga wajah kami saling berhadapan lagi, aku menciumnya dan dia membalas ciumanku, lalu aku bangkit dan mengajak Lu Bu ke dinding terdekat.

Di dekat dinding, aku menaruh tanganku di dinding dan bertumpu pada kedua tanganku, Lu Bu mengerti keinginanku, dia mulai mempersiapkan ‘senjata’nya itu dan mulai mengelus-eluskan rudalnya di belahan pantatku membuatku semakin tak sabar merasakan betapa nikmatnya jika benda itu menerobos masuk ke dalam lubang pantatku.

“tahan ya, Diao Chanku”.

“iya, Lu Bu,,”. Lalu dia menempatkan rudalnya di depan lubang pantatku.

“baiklah, ayo kita mulai”.

“jangan ragu-ragu, sayangku”. Lu Bu memajukan pinggulnya dengan sangat perlahan sehingga rudalnya memasuki lubang anusku dengan sangat lembut, tapi tetap saja, rudal Lu Bu terlalu besar untuk lubang anusku yang sama sekali belum pernah diterobos oleh rudal laki-laki sehingga aku spontan berteriak ketika kepala rudalnya mencoba menerobos masuk anusku.

“aaaaawwww,,,,”, teriakku tapi agak pelan karena sebenarnya tidak terlalu pedih melainkan hanya terasa ngilu saja.

“maafkan aku, Diao Chan”.

“tunggu, Lu Bu,,”, kataku sambil menahan rudalnya dengan tangan kananku karena dia berniat menarik keluar kepala rudalnya dari dalam anusku.

“jangan dicabut, Lu Bu”.

“tapi, kamu kesakitan”.

“tidak apa-apa, sayang, nanti aku juga akan merasa nikmat”.

“jadi, aku boleh melanjutkannya?”.

“bukannya boleh, tapi harus karena aku ingin menyerahkan pantatku yang masih perawan kepadamu”.

“terima kasih, cintaku”. Dengan semangat dariku, dia berusaha untuk memasukkan rudalnya lebih dalam ke dalam anusku.

Tapi, dia tetap memajukan pinggulnya dengan perlahan karena dia tidak ingin membuatku kesakitan. Setiap senti demi senti mengakibatkan rasa ngilu yang amat sangat tapi urat-urat yang ada di rudalnya membuat aku merasakan sensasi nikmat dibalik rasa ngilu yang kurasakan.

Tak disangka, akhirnya rudal Lu Bu bisa masuk ke dalam lubang anusku meski hanya setengahnya saja, tapi bisa membuat nafasku tersengal-sengal karena menahan rasa ngilu.

Aku meminta untuk istirahat agar aku bisa mengatur nafasku yang tersengal-sengal, selama aku mengatur nafas, Lu Bu meremas-remas kedua buah payudaraku dengan kedua tangannya agar aku merasa nyaman. Setelah nafasku sudah kembali normal, rasa ngilu itu juga sudah hilang dan mulai muncul rasa nikmat sedikit demi sedikit.

“ayo, kita mulai, Lu Bu”.

“baiklah”. Dengan izin dariku, dia pun mulai menggenjot anusku dalam tempo yang sangat lambat sehingga aku merasakan sedikit ngilu dan rasa nikmat yang semakin bertambah.

Seiring dengan berjalannya waktu, rasa ngilu itu pun kini benar-benar sudah menghilang dan rasa nikmat sekarang lebih dominan sehingga kini aku malah meminta Lu Bu untuk menggenjot lebih kuat dan cepat dari sebelumnya.

Aku menolehkan kepalaku agar dia bisa melumat bibir mungilku, tanpa kusuruh lagi dia langsung melumat habis bibirku. Tekhnik menggenjotnya bermacam-macam kadang-kadang dia memasukkan rudalnya dengan cepat lalu menariknya secara perlahan, atau sebaliknya, dan kadang dia sedikit memutar-mutar seperti gerakan mengulek sehingga aku benar-benar tidak tahan lagi dan segera melepaskan gelombang orgasmeku sehingga cairanku melelh keluar dan mengalir perlahan ke pahaku dan ada juga yang langsung menetes ke lantai.

Tiba-tiba Lu Bu mengangkat tubuhku dengan rudalnya masih tertancap di dalam anusku sehingga aku diangkat dalam keadaan aku masih membelakanginya.

Lalu dia tiduran sambil masih mengangkatku, memang kekasihku ini sangat perkasa, setelah dia tidur terlentang dan aku masih menduduki rudalnya juga masih membelakanginya, tanpa disuruh lagi aku langsung bergerak naik turun.

Agar lebih terasa lagi, aku memutar badanku 360 derajat secara perlahan, karena aku memutar badanku, Lu Bu mendesah karena dia merasakan rudalnya seperti diplintir dengan lubang anusku

“ohhh,,,aahhhh”, desah Lu Bu. Karena 3 kali berputar rasanya aku pusing juga, jadi aku memutuskan untuk berhenti dan menggerakkan tubuhku naik turun lagi. Jika dihitung-hitung kami sudah bersetubuh selama hampir 45 menit, yang sebentar lagi kira-kira 15 menit lagi Lu Bu akan orgasme sementara aku sudah 4 kali orgasme.

Aku meminta untuk berganti posisi sehingga sekarang aku membelakanginya yang biasa disebut dengan posisi doggy style, dengan posisi seperti ini rudal Lu Bu terasa semakin masuk ke dalam anusku daripada sebelumnya.

Dia terus memompa rudalnya dengan kuat ke dalam anusku sambil kedua tangannya meremas-remas kedua buah payudaraku. Akhirnya setelah 15 menit kemudian, Lu Bu mencapai orgasmenya dan menyemburkan spermanya yang hangat ke dalam anusku.

“aahhh,,,Diao Chan,, kau memang hebat”.

“kau juga sangat perkasa”. Aku berguling sehingga Lu Bu berada di bawah dan aku berada di atas, kami saling melumat bibir sampai kami berdua tertidur dengan rudal Lu Bu yang masih tertanam di anusku.

Aku bangun dari tempat tidur dan menemukan kalau tubuhku sudah diselimuti sementara Lu Bu sudah tidak ada di disampingku. Aku langsung bangkit dari tempat tidur, tapi aku sangat kaget ketika ternyata di depan pintu kamar ada seorang gadis muda yang cantik tapi berpakaian layaknya seorang jendral.

“akh,, siapa kamu?”.

“maafkan aku membuatmu kaget, perkenalkan,, aku Lu Lingqi”.

“Lu Lingqi??”.

“sepertinya,, kamu adalah calon ibu tiriku”.

“calon ibu tiri,, jadi kamu,,,”.

“ya, aku adalah anak kandung Lu Bu dari ibuku yang bernama putri Yan”.

“oo, jadi kamu adalah anak dari istri Lu Bu yang pertama?”.

“ya, tapi ibuku sudah meninggal”.

“oh, maaf, aku tidak tau”.

“tidak apa-apa, tapi ngomong-ngomong dimana ayah?”.

“aku juga gak tau, tadi aku bangun, Lu Bu sudah tidak ada”.

“oh, begitu, bagaimana kalau kita mencari ayah Lu Bu bersama-sama”.

“baik, kalau begitu, aku mandi dulu”. Setelah aku mandi dan berpakaian kembali, aku dan Lu Lingqi keluar dari rumah dan berjalan ke arah istana Pu Yang, tapi aku melihat para tentara berlarian menuju gerbang kota dan juga berberapa jendral mengendarai kudanya dengan cepat menuju gerbang. Aku dan Lu Lingqi memutuskan untuk bergegas menuju gerbang untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Rupanya, pasukan Cao Cao telah kembali dan sedang menyerang kota kami. Lu Bu terlihat disana dengan menunggangi kudanya yaitu Red Hare bersiap-siap di depan gerbang, selain Lu Bu aku juga melihat Chen Gong yang berbicara kepada Lu Bu. Ngocoks.com

Tapi Lu Bu sepertinya tidak menghiraukan Chen Gong dan langsung memacu kudanya dengan kencang ke luar Pu Yang. Lu Bu menantang jenderal-jenderal Cao Cao untuk duel dengannya, ada beberapa orang yang menerima tantangan duel dari Lu Bu tapi semuanya berakhir dengan kematian kecuali Xu Zhu, salah satu jenderal Cao Cao yang berhasil melarikan diri dengan sisa-sisa tenaganya.

Melihat orang sekuat Xu Zhu dikalahkan, pasukan Cao Cao langsung menjadi ketakutan akan dibunuh oleh Lu Bu, oleh karena itu, Cao Cao terpaksa mundur ke kotanya yang lain yaitu Chen Liu, yang tidak jauh dari Pu Yang. Kami selamat dari serangan Cao Cao hari itu, semua karena kehebatan Lu Bu.

Selama beberapa hari, Cao Cao tidak menyerang kami sehingga pasukan Lu Bu bisa hidup tenang dan damai untuk sementara, tentu saja setiap malam aku dan Lu Bu saling melepaskan hasrat sementara Lu Lingqi setiap malam, siang, dan pagi terus menerus berlatih karena dia ingin seperti Lu Bu.

Akhirnya Cao Cao menyerang Pu Yang lagi, tapi kali ini benar-benar dengan kekuatan penuh apalagi dia sudah menguasai kota Lou Yang dan Xu Chang sehingga pasukannya bertambah dengan jumlah yang sangat banyak.

Cao Cao menyerang Pu Yang dengan membawa sekitar 10000 prajurit dan jenderal-jenderal kuat seperti Cao Ren, Xiahou Dun, Xiahou Yuan, dan Xu Zhu. Sedangkan kami hanya punya 3000 prajurit, menghadapi masalah ini, Chen Gong memanggil semua jenderal ke istana termasuk aku dan Lu Lingqi.

“Baginda Lu Bu,, bagaimana tindakan kita?”, tanya Gao Shun”.

“ya apalagi,, mari kita serang mereka”.

“tunggu, tuan Lu Bu, lebih baik kita pikirkan dulu”, sela Chen Gong

“ah, terlalu lama berpikir, kita akan kalah”.

“tapi, tuan, Cao Cao benar-benar menyerang dengan kekuatan penuh, dan kali ini pasukannya sedang dalam semangat yang tinggi karena mereka baru saja merebut kota Lou Yang dan Xu Chang, jadi mereka tidak akan ketakutan meskipun tuan Lu Bu yang maju”.

“jadi, apa yang harus kita lakukan?”.

“lebih baik kita tinggalkan kota ini dan menuju daerah Liu Bei yang menghormati kita”.

“iya tuan Lu Bu, lebih baik kita melarikan diri untuk bertarung esok hari daripada kita harus mati sekarang”, sambungku.

“baiklah kalau begitu, persiapkan diri kalian untuk melarikan diri”.

“untuk memastikan semuanya selamat, aku sudah persiapkan jebakan di gerbang kota agar Cao Cao terhadang”, kata Chen Gong

“baiklah, ayo kita berangkat”. Lalu kami berangkat dengan Lu Bu dan Gao Shun di depan barisan untuk menghabisi jika ada musuh. Zhang Liao dan Lu Lingqi berada di belakang untuk berjaga-jaga jika ada pasukan Cao Cao yang mengejar sementara aku, para pasukan dan perwira yang lain berada di tengah barisan.

Akhirnya kami sampai di Xiao Pei yang merupakan kota kekuasaan Liu Bei. Ternyata Liu Bei adalah orang yang benar-benar bijaksana dan baik sehingga aku menghormatinya dan mengaguminya. Liu Bei menerima kedatangan kami dengan sangat baik, bahkan kami diberikan Xiao Pei sementara Liu Bei memerintah di kotanya yang satu lagi yaitu Xia Pi.

Tapi Lu Bu tidak terlalu senang diberikan kota kecil seperti Xiao Pei sehingga dia meminta keada Liu Bei untuk bertukar kota, Liu Bei menolaknya karena saudara seperjuangannya yaitu Zhang Fei dan Guan Yu menolak mentah-mentah permintaan Lu Bu.

Lu Bu kesal, tapi untungnya ada aku yang menemaninya ke Xia Pi sehingga aku bisa membuatnya tenang dan mau pulang ke Xiao Pei. Beberapa hari kemudian, Liu Bei menyerang kota Yuan Shu yaitu Ru Nan, mendengar hal ini, Chen Gong menyarankan untuk mengambil Xia Pi sementara Liu Bei sedang pergi.

Pada hari itu juga, kami menyerang kota Xia Pi dan merebutnya dengan mudah karena benar-benar tidak ada yang menjaganya. Mendengar hal ini melalui mata-matanya, Liu Bei membatalkan pergi berperang melawan Yuan Shu dan kembali ke Xia Pi menemukan Lu Bu sudah menguasai Xia Pi.

“hei Lu Bu, dasar tidak tau berterima kasih kau !!!”, seru Zhang Fei.

“tenang Zhang Fei”, kata Liu Bei sambil menghadang Zhang Fei.

“maafkan saudaraku, tuan Lu Bu”, tambah Liu Bei.

“ayolah, Liu Bei, pasti kau tau orang hebat sepertiku tidak pantas diberikan kota yang kecil seperti Xiao Pei”.

“baiklah, kalau begitu, tuan Lu Bu, kami serahkan Xia Pi dan kami akan pindah ke Xiao Pei”.

“haha,,,haha,,,bagus,, kau benar-benar orang yang baik”. Keesokan harinya Liu Bei dan pasukannya pindah ke Xiao Pei.

Setelah beberapa hari, Liu Bei dan Yuan Shu menyatakan perang, keduanya meminta pasukan kami sebagai bala bantuan. Tapi Lu Bu bingung, karena keduanya adalah teman, oleh karena itu dia memutuskan untuk mengadakan sebuah perjanjian.

Perjanjiannya yaitu jika Lu Bu bisa memanah senjatanya yang dia tancapkan di tanah dengan jarak 5 km maka kedua pasukan itu harus berdamai. Dan.,,, Lu Bu berhasil memanah senjatanya pada jarak yang sangat jauh itu sampai-sampai Liu Bei dan Yuan Shu mengatakan Lu Bu bukan manusia melainkan dewa perang.

2 bulan pun berlalu sejak kejadian itu dan kami memerintah dengan damai. Tapi tiba-tiba Liu Bei menyatakan perang dan membentuk persekutuan dengan Cao Cao, dan kabarnya mereka akan menyerang dengan lebih dari 25000 pasukan. Mendengar hal ini, pasukan Lu Bu ketakutan, tapi hanya aku, Lu Bu, Zhang Liao, Lu Lingqi, Gao Shun, dan Chen Gong saja yang tidak takut. Akhirnya datanglah pasukan Cao Cao dan Liu Bei menyerang Xia Pi.

Semua jendral ikut bertarung termasuk aku, untungnya aku belajar caranya berperang selagi aku bersekolah, tapi aku tidak ingin melihat pertumpahan darah sehingga aku memakai senjata yang biasa kupakai untuk menari.

Bersambung…

Semuanya berjalan dengan lancar karena strategi dari Chen Gong tapi keadaan berbalik ketika Hou Cheng, Song Xian, dan Wei Xu berkhianat dan mencuri kuda Lu Bu dan diserahkan kepada Cao Cao karena itu kami kalah telak dan semua pasukan mati sementara para jenderal ditangkap termasuk aku.

“Cao Cao lepaskan aku, tali ini terlalu kencang !!” seru Lu Bu.

“hmmh,, tali ini pantas untuk binatang buas sepertimu”, balas Cao Cao.

“penggal dia”, tambah Cao Cao.

“tunggu,, tidakkah kau ingin memiliki jenderal terkuat di Cina”.

“hmmh,, kau mengkhianati ayah angkatmu dan juga Dong Zhuo, tidak mungkin kau tidak mengkhianatiku juga, jadi buat apa kau menjadi jendralku”.

“tidak,,,Cao Cao,,,aakkhhh”, bersamaan dengan itu Lu Bu dipenggal kepalanya di tempat di depan kedua mataku.

Kemudian Cao Cao menuju Chen Gong.

“Chen Gong,,, Chen Gong,, kau adalah penasihatku yang pintar, kenapa kau tidak gabung bersamaku lagi seperti masa-masa dulu”.

“bunuhlah aku saja, Cao Cao, aku tidak sudi menjadi bawahanmu lagi”.

“baiklah kalau begitu”. Maka Chen Gong dibunuh, setelah itu Cao Cao mendekati Zhang Liao.

“lakukan apa yang harus kau lakukan”, kata Zhang Liao.

“hmm,, bunuh dia”.

“tunggu baginda Cao Cao”, sela Guo Jia.

“ada apa Guo Jia?”.

“tuan Zhang Liao adalah orang yang mempunyai harga diri yang besar dan beliau juga sangat setia”.

“kalau begitu,, Zhang Liao,, maukah kamu menjadi bawahanku?”.

“hanya dengan satu syarat”.

“apa itu?”.

“kau tidak boleh membunuh Diao Chan dan juga Lu Lingqi”.

“baiklah kalau begitu”. Akhirnya Zhang Liao dan jendral yang lain menjadi bawahan Cao Cao sementara aku dan Lu Lingqi tidak bersedia menjadi bawahannya dan dijadikan tawanan oleh Cao Cao.

Aku dan Lu lingqi ditempatkan di penjara Chen Liu yang dijaga oleh 500 pasukan dan 1 jenderal yaitu Xu Zhu. Mempunyai tawanan yang begitu cantik dan seksi seperti aku dan Lu Linqi, Xu Zhu tertarik untuk mencicipi kehangatan tubuh mulusku dan tubuh Lu Lingqi. Akhirnya karena sudah tidak tahan, Xu Zhu membawaku dan Lu Lingqi ke kamarnya pada malam hari.

“hmm,, kalian berdua sangat cantik”.

“mau apa kau?”, tanyaku.

“aku ingin merasakan tubuh kalian”.

“APA?!”, seru Lu Lingqi.

“tidak akan”, tambahku.

“oh, kalian pasti akan ketagihan”. Lalu dia memberikan minuman kepadaku dan Lu Lingqi, dengan terpaksa kami meminumnya. Setelah beberapa detik kami meminum minuman yang diberikan Xu Zhu tadi, aku merasakan tubuhku menjadi panas dan daerah selangkanganku gatal seperti ingin disentuh. juga putingku terasa mengeras.

Aku sadar kalau aku dan Lu Lingqi diracuni obat perangsang karena aku tau kalau aku sedang dalam keadaan terangsang. Tanpa sadar, aku membuka bajuku sendiri sampai tidak ada sehelai benang lagi yang menutupi tubuhku.

Xu Zhu mendekatiku yang sudah telanjang bulat, karena sudah dikuasai nafsu birahi yang mengambil kesadaranku, aku mendekati Xu Zhu dan langsung mencium mulutnya.

Aku lumat bibirnya, kumainkan lidahku dengan sangat bersemangat di dalam rongga mulutnya, dan dia pun membalas ciumanku. Ternyata Lu Lingqi sedang asyik memainkan serambi lempitnya sendiri sambil duduk di tepi ranjang dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya asik menari-menari diatas payudaranya sendiri.

Aku agak kesusahan mencium Xu Zhu karena perutnya yang sangat gendut itu, karena itu dia membuka bajunya sendiri sementara aku mendekati Lu Lingqi, aku langsung melahap payudaranya yang berukuran 34B itu, sama seperti aku. Tidak tahan melihat puting Lu Lingqi yang masih berwarna merah muda, aku langsung masukkan ke dalam mulutku dan kumainkan dengan mulutku membuat Lu Lingqi mendesah.

“aahh,,,mmhhh,,,,”.

“hei,,hei,,hei,,,sepertinya kalian mulai tanpa aku ya!”, seru Xu Zhu. Dia mendekati kami berdua yang sedang dalam mabuk nafsu. Dia duduk di antara kami berdua, karena kami berdua sudah diberi obat perangsang, ketika kami melihat rudal gemuk Xu Zhu, kami langsung menyerbunya. Xu Zhu pun langsung tidur dengan posisi kakinya menggantung di tepi ranjang. Sementara kami, langsung berebutan menjilati rudal Xu Zhu yang sudah mulai bangun itu.

rudal Xu Zhu tidak terlalu panjang hanya 13 cm saja, tapi karena dia gemuk jadi diameter rudalnya juga gemuk yaitu 10 cm sama seperti punya Lu Bu. Aku jilati kepala rudalnya sementara Lu Lingqi menelusuri batang rudal Xu Zhu dengan lidahnya sehingga Xu Zhu mendesah menerima jilatan di sekujur rudalnya oleh 2 wanita cantik.

Kami menjilatinya dengan penuh semangat, dan kadang-kadang juga kami berciuman dan saling bertukar air liur dan kemudian menjilati rudal Xu Zhu lagi. Ngocoks.com

Setelah rudal Xu Zhu sudah basah kuyup oleh air liur kami mulai dari kepala rudalnya, batang, buah zakar, sampai ke rambut kemaluannya, kami pun dengan serempak naik ke ranjang untuk menjilati wajahnya yang seperti orang dungu itu. Kami menjilati semua yang ada di wajahnya termasuk lubang telinganya dan hidungnya.

Dan kadang-kadang kami berusaha memasukkan lidah kami ke dalam mulutnya secara bersamaan sehingga air liur kami bertiga saling bercampur. Lalu kami sudah tidak tahan lagi dan ingin merasakan hujaman rudalnya jadi kami saling berebut untuk menaiki badannya, tapi Xu Zhu menghentikan kami dan menyuruh kami untuk diam sejenak sementara dia membetulkan posisinya sendiri sehingga kakinya tidak menggantung di tepi ranjang lagi.

Setelah itu, aku memberikan kesempatan kepada Lu Lingqi untuk mencoba terlebih dahulu sedangkan aku menaiki wajah Xu Zhu, rupanya Lu Lingqi sudah tidak perawan lagi, aku bisa tau karena selain tak ada darah yang keluar dari serambi lempitnya, dia sepertinya sudah lihai dalam memasukkan rudal ke dalam serambi lempitnya. Setiap senti rudal Xu Zhu menerobos masuk ke dalam serambi lempitnya, dia mendesah.

“aahhh,,,,oohhhh,,,,yeeaaahhh”. Dan akhirnya tak beberapa lama kemudian, rudal Xu zhu sudah amblas ditelan oleh serambi lempit Lu Lingqi, setelah beberapa detik Lu Lingqi diam mengambil nafas, dia pin mulai bergerak naik turun.

Sementara itu, pahaku sudah menjepit kepala Xu Zhu yang besar itu dan serambi lempitku terhidang tepat di depan wajahnya sehingga dia tidak buang-buang waktu lagi dan mulai menjilati serambi lempitku yang harum itu.

“mmmmm,,,mmmmm”, desahku lembut menerima setiap jilatan Xu Zhu yang sedang menyapu bibir serambi lempitku, dia pegangi pinggulku seolah aku tak boleh mengangkat tubuhku sedikitpun dari wajahnya.

Aku saling berhadapan-hadapan dengan Lu Lingqi yang sedang asyik menggoyangkan dan menaik-turunkan tubuhnya, karena itu aku bisa melihat ekspresi wajahnya yang terlihat menikmati setiap momennya.

Tiba-tiba dibawah sana, Xu Zhu menemuka klitorisku sehingga dia langsung memainkan klitorisku itu dengan menyentil-nyentilkan lidahnya yang membuatku semakin kejang-kejang saja.

Lalu kemudian Lu Lingqi tiba-tiba agak memajukan tubuhnya ke arahku sehingga kini Xu Zhu yang bekerja, Lu Lingqi melumat bibirku, aku pun langsung membalas ciumannya sehingga kami berciuman dengan sangat mesra.

Ketika sedang fokus berciuman dengan Lu Lingqi, tiba-tiba tubuhku mengejang hebat yang menandakan aku akan orgasme, dan tak lama kemudian, aku orgasme diikuti dengan desahanku.

“ooohhh,,,,”.

“slluurrpp,,,slluurrpp”, bunyi yang muncuk ketika Xu Zhu langsung menyeruput cairanku tanpa bernafas. Otomatis, cairanku langsung habis dengan sedotannya yang seperti itu. Ketika itu juga, Lu Lingqi melepaskan ciumannya terhadapku dan dia mendesah kencang.

“aaaahhh,,,,ooohhhhh”, suara desahan Lu Lingqi. Rupanya dia mencapai orgasmenya yang hampir bersamaan denganku. Setelah kami berdua mengalami orgasme, Xu Zhu menepuk-nepuk pahaku, aku langsung bangkit dan duduk di dadanya yang besar itu.

“sekarang gantian”, perintah Xu Zhu. Mendengar hal itu, Lu Lingqi mengeluarkan rudal Xu Zhu dari serambi lempitnya. Aku bisa melihat rudal Xu Zhu yang berkilauan karena cairan dari serambi lempit Lu Lingqi. Aku jadi penasaran bagaimana rasanya cairan serambi lempit dari seorang anak jendral yang hebat.

Kini, Lu Lingqi sudah duduk di atas wajah Xu Zhu, sementara aku masih duduk di samping, lalu aku mulai mendekati rudal Xu Zhu yang berkilauan itu, aku dekatkan mulutku ke batang rudal Xu Zhu untuk merasakan hal baru yaitu mencicipi cairan serambi lempit gadis lain.

Aku julurkan lidahku dan mulai menjilati batang rudal Xu Zhu. Tak kusangka meskipun rasanya tak semanis cairanku, tapi cairan Lu Lingqi lebih gurih dibandingkan denganku sehingga yang tadinya aku agak grogi mencicipi cairan Lu Lingqi yang menyelimuti rudal Xu Zhu,

Sekarang aku malah menjilati rudal Xu Zhu seperti orang kelaparan karena aku ingin merasakan lebih dan lebih lagi cairan Lu Lingqi yang sangat gurih itu dan aku berniat untuk mendapatkannya dari sumbernya langsung sehabis memuaskan Xu Zhu.

Setelah aku menjilati semua cairan Lu Lingqi yang menyelubungi rudal Xu Zhu hingga tak bersisa, aku pun langsung berdiri dan bersiap-siap memasukkan rudal gemuk itu ke dalam serambi lempitku yang sudah tak tahan ingin di’njos’.

Aku masukkan perlahan tapi pasti agar aku bisa menikmatinya, sementara Xu Zhu sudah mulai menjilati serambi lempit yang disuguhkan di hadapannya, aku tau karena aku melihat Lu Lingqi sudah menggigit bibirnya menahan kenikmatan yang dia dapatkan dari jilatan-jilatan Xu Zhu terhadap serambi lempitnya.

Aku mulai menggoyangkan pinggulku sehingga Xu Zhu mulai merasakan betapa hebatnya goyanganku. Hanya beberapa menit saja, kurasakan rudal Xu Zhu sudah berdenyut-denyut di dalam serambi lempitku. Lalu aku mengangkat badanku dan begitu juga Lu Lingqi, lalu kami berdua mulai bekerja sama menjilati rudal Xu Zhu.

Setelah 3 menit kami menjilati batang rudal Xu Zhu hingga rudalnya berkilauan lagi, tapi kali ini karena air liur kami. Dengan keputusan bersama aku dan Lu Lingqi saling mendekatkan payudara kami sehingga menjepit rudal Xu Zhu yang berada di tengah payudara kami.

Kami saling tekan-menekan payudara kami sehingga rudal Xu Zhu tergencet oleh payudara kami dan juga puting kami saling bertemu yang menimbulkan sensasi geli yang nikmat. Karena kekenyalan dan kehangatan payudara kami, akhirnya 5 menit kemudian Xu Zhu menyemburkan larva putihnya itu sehingga spermanya berlumuran di payudara kami dan juga wajah kami.

“terima kasih, 2 bidadariku yang cantik, sekarang bersihkan diri kalian sendiri karena aku mau makan”. Kami melepaskan gencetan payudara kami terhadap rudalnya, dan Xu Zhu langsung bangun kemudian memakai baju dan keluar dari kamar.

Aku memang berniat untuk menjilati sperma di wajah dan payudara Lu Lingqi, tapi tak kusangka malah Lu Lingqi menjilati wajahku lebih dahulu. Karena itu, aku pun melakukan hal yang sama terhadapnya secara bergantian.

Lalu ketika wajah kami sudah bersih kembali, Lu Lingqi tidak membuang-buang waktu, dia langsung menurunkan wajahnya sehingga kini payudaraku tepat berada di depan wajahnya.

Dan sudah diduga, dia langsung menjilati seluruh permukaan kedua buah payudaraku yang putih mulus itu sehingga payudaraku yang tadinya belepotan dengan sperma menjadi bersih kembali.

Sekarang tiba giliranku, aku telusuri setiap jengkal payudaranya bahkan sampai ke pangkal dan bagian bawah payudaranya.

Setelah payudaranya sudah bersih, aku tidak mau keduluan lagi, maka dari itu aku mendorongnya dengan perlahan sehingga dia tidur terlentang di atas ranjang, lalu aku langsung tidur di atasnya dengan posisi terbalik sehingga dia bisa menjilati serambi lempitku dan keinginanku juga bisa kucapai yaitu mencicipi lagi cairan serambi lempit Lu Lingqi yang gurih langsung dari sumbernya.

Aku langsung memulai gerakanku dengan menjilati bibir luar dari serambi lempit Lu Lingqi, sambil aku menjilatinya, aku membuka dengan perlahan bibir serambi lempitnya dengan kedua jariku sehingga kini aku bisa melihat bagian dalam serambi lempitnya dan juga klitorisnya, tanpa berpikir lagi, aku langsung permainkan klitorisnya dengan lidahku yang membuatnya semakin bersemangat menjilati serambi lempitku. Tanpa sadar kami saling berlomba untuk membuat orgasme terlebih dahulu.

Karena kenikmatan jilatan Lu Lingqi terhadap serambi lempitku semakin terasa saja, akupun tidak mau kalah, aku benamkan kepalaku di selangkangan Lu Lingqi lebih dalam lagi dan memasukkan lidahku ke dalam serambi lempitnya dengan sangat dalam untuk menjilati bagian dalam serambi lempitnya karena dia akan lebih cepat orgasme dibandingkan denganku karena dia hanya menjilati belahan bibir serambi lempitku saja.

Benar saja, setelah lebih dari 6 menit kami saling menjilati serambi lempit, aku merasakan tubuh Lu Lingqi sangat tegang dan akhirnya. Ngocoks.com

“mmmmhhh,,aaahhhh,,”, desahnya dengan lembut. Akhirnya aku mendapatkan hadiah yang kuinginkan, maka dari itu aku pun tak menyia-nyiakan dan menyeruput habis cairannya. Sangat gurih, sampai aku ketagihan dan ingin merasakannya lagi, tapi tiba-tiba orgasme melandaku dan cairan cinta mengucur deras ke arah mulut Lu Lingqi yang sudah menanti.

Setelah itu, karena lelah aku memutuskan untuk menggulingkan tubuhku ke samping dan memutar tubuhku sehingga kini aku saling berhadapan-hadapan dengan Lu Lingqi. Mataku sudah terasa berat, dan kulihat mata Lu Lingqi juga sudah sayup-sayup. Kami saling berpelukan hingga akhirnya kami tertidur.

Begitulah kami melewati hari-hari sebagai tawanan di Chen Liu, bahkan kami tidak dikurung lagi di penjara, tapi kami dikurung di kediaman Xu Zhu. Beberapa hari kemudian, Cao Cao dan jendral-jendralnya datang ke Chen Liu. Yang kudengar pasukan Cao Cao menyatakan perang kepada pasukan Liu Bei.

Dibandingkan dengan pasukan Cao Cao yang sudah sangat besar, pasukan Liu Bei kalah hanya dalam beberapa hari, dan Liu Bei dan Zhang Fei berhasil kabur ke daerah kekuasaan Yuan Shao sementara Guan Yu masih melindungi kastil Xia Pi untuk memberikan waktu untuk kabur bagi Liu Bei dan semua bawahannya.

“Guan Yu, menyerahlah kepadaku !!!”, seru Cao Cao

“bermimpilah Cao Cao, aku tidak akan mengkhianati saudaraku”.

“tapi, bagaimana kau bisa bertemu dengan Liu Bei jika kau mati disini?”.

“….”.

“bukalah Guan Yu”.

“baiklah, aku akan menyerah kepadamu dengan syarat”.

“apa itu Guan Yu?”.

“Jika aku mengetahui keberadaan Liu Bei, kau harus melepaskanku sebagai bawahanmu dan membiarkanku kembali ke Liu Bei, meskipun dia 150 km jauhnya”.

“….baiklah”.

“Cao Cao, apa yang kau pikirkan?”, tanya Xiahou Dun

“Dun, kau tidak akan mengerti betapa berharganya Guan Yu untuk dijadikan sebagai bawahan meskipun cuma sementara”.

“,,,,aku tidak mengerti jalan pikiranmu”.

“hahaha,,,”.

“Guan Yu, tunggu apa lagi, buka gerbangnya”.

“…”.

“baiklah, kalau kau belum yakin aku akan memberikanmu hadiah”.

“…”.

“aku akan memberikanmu Red Hare dan juga dua gadis cantik untuk menjadi istrimu yaitu Diao Chan dan anak Lu Bu, Lu Lingqi”.

“bbaiklah”, kata Guan Yu. Begitulah, sekarang aku sudah berpindah tangan lagi, tapi Guan Yu tidak seperti lelaki lain, dia memperlakukan aku seperti kakaknya dan Lu Lingqi seperti anaknya sehingga dia sama sekali tidak ada niat untuk mencicipi tubuh indahku dan juga Lu Lingqi. 5 bulan berlalu, dan kini Cao Cao yang berambisius ingin menguasai daerah He Bei yang dikuasai oleh Yuan Shao.

Maka dari itu, Cao Cao menyatakan perang terhadap Yuan Shao dan sebaliknya. Setelah beberapa peperangan, akhirnya tibalah pertarungan dua pasukan super saat itu tepatnya di area Guan Du. Aku mendengar kabar bahwa Song Xian dan Wei Xu yang dulunya bawahan Lu Bu mati dibunuh oleh Wen Chou dan Yan Liang, tapi keduanya akhirnya dibunuh oleh Guan Yu dengan sekali tebasan.

Dalam pertarungan itu Guan Yu melihat Liu Bei, maka dari itu dia langsung mundur. Setelah perang itu berkakhir, Guan Yu meminta untuk bertemu Cao Cao untuk menagih janjinya, tapi karena tidak mau kehilangan jenderal yang berharga, Cao Cao pura-pura sibuk dan tidak bisa bertemu. Guan Yu menebas beberapa prajurit ketika keluar istana dan bertarung dengan Xiahou Dun, akhirnya Cao Cao keluar juga.

“Guan Yu, dasar tidak tau berterima kasih kau!!!”, seru Xiahou Dun.

“tenang Xiahou Dun, ini semua salahku”.

“tapi, Cao Cao, dia telah membunuh banyak penjaga istana kita”.

“hmm,, baiklah, Guan Yu, sesuai janjiku, kau boleh pergi ke saudaramu”.

“terima kasih, tuan Cao Cao, suatu hari pasti akan ku balas kebaikanmu”, balas Guan Yu. Dengan izin Cao Cao, Guan Yu membawa Red Hare serta aku dan Lu Lingqi pergi menemui Liu Bei yang ada di daerah He Bei. Di jalan Guan Yu bertemu dengan Zhang Fei.

“mau apa kau kemari, dasar kau, ****** pengikut Cao Cao”.

“tunggu, dengarkan dulu Zhang Fei”. Tapi Zhang Fei sudah melayangkan tebasan ke Guan Yu, untungnya dia bisa menangkis serangan Zhang Fei sementara aku dan Lu Lingqi hanya melihat dari belakang Guan Yu. Tiba-tiba ada pasukan Cao Cao menyerang.

“Cao Cao, pasti kau yang membawa mereka”.

“tunggu dulu dengarkan aku, percayalah padaku saudaraku, aku tidak akan mengkhianatimu dan juga Liu Bei”.

“benar, tuan Zhang Fei, tuan Guan Yu kesini untuk bergabung lagi dengan kalian”, tambahku.

“sudah Zhang Fei lebih baik kita tembus mereka dulu dan cari Liu Bei”.

Kami pun dengan mudah menembus barisan musuh karena ada Guan Yu dan Zhang Fei. Akhirnya, kami bertemu Liu Bei di tengah perjalanan. Begitu bertemu, kami pun langsung pergi dari daerah He Bei dan menuju ke daerah Cao Cao, tapi tujuan kami yaitu Ru Nan, kota yang belum dikuasai oleh Cao Cao.

Cerita Sex Pubertas Dini

Di Ru Nan, kami bertemu dengan Zhao Yun, Zhou Cang, dan lainnya yang setia menunggu kedatangan Liu Bei untuk menjadi bawahan Liu Bei. Kami berhasil lari ke Xin Ye dan pasukan Liu Bei terus memerangi Cao Cao hingga menjadi pasukan yang besar, dan menyaingi pasukan Cao Cao dan Sun Quan.

Sedangkan aku tetap di pasukan Liu Bei dan menikah dengan Ma Chao, sementara Lu Lingqi menikah dengan Zhao Yun dan menjadi salah satu jendral yang berharga karena kehebatannya dalam bertarung seperti ayahnya Lu Bu. Yah, itulah kisahku, aku dengan setia ikut berperang melawan pasukan Cao Cao dan juga Sun Quan sampai akhir hayatku.