
Cerita Sex Cinta Bersemi Kembali – Wafatnya Papa menyusul Mama yang sudah meninggal setahun sebelumnya, membuatku jadi sebatangkara di Bangkok ini.
Meski aku sangat sedih, tapi aku berusaha untuk bersikap tenang. Karena aku ini seorang lelaki, yang pantang mengobral air mata dalam keadaan bagaimana pun.
Dan yang sangat mengejutkan adalah keterangan Mr. Liauw, notaris kepercayaan Papa. Mr. Liauw lahir dan besar di Indonesia. Karena itu beliau fasih berbahasa Indonesia ketika memberikan surat wasiat dari Papa almarhum.
Donny anakku tersayang.
Cerita Sex Cinta Bersemi Kembali Ngocoks Surat wasiat ini sengaja papa titipkan pada Mr. Liauw, untuk diserahkan padamu seandainya papa sudah meninggalkan dunia ini.
***
Ada 2 (dua) perkara penting yang harus kamu ketahui, anakku.
1. Bahwa kamu sebenarnya bukan anak papa dan mama. Kami mengadopsimu pada waktu umurmu baru 6 (enam) bulan dari Indonesia, ketika kami sedang berada di Indonesia.
Papa dan mama memang asli orang Indonesia. Itulah sebabnya dalam keseharian kami membiasakan berbicara bahasa Indonesia, supaya tidak lupa kepada tanah air kita.
Di Indonesia, papa punya sahabat karib bernama Rosadi. Alamat lengkapnya ada di Mr. Liauw. Jadi nanti, setelah papa tiada, kamu boleh mendatangi kedua orang tua kandungmu, kalau mereka masih hidup.
Kamu boleh menetap di Indonesia atau pun di Bangkok. Itu semua terserah padamu. Karena kamu sudah mulai dewasa, sehingga tentu saja kamu bisa memilih sendiri mana yang terbaik bagi dirimu dan masa depanmu.
2. Meski pun kamu bukan anak kandung papa dan mama, kami menyayangi dirimu seperti anak kandung kami sendiri. Tentu kamu pun bisa merasakannya selama ini, betapa besarnya rasa kasih sayang kami kepadamu, Nak.
Sebagai tanda sayangnya papa padamu, segala harta benda milik papa, akan menjadi milikmu. Termasuk perusahaan papa di Bangkok dan di Singapore, juga simpanan papa di bank, semuanya papa wariskan padamu, anakku.
Mintalah bantuan Mr. Liauw untuk mengurus semuanya nanti.
Semoga kamu jadi orang sukses, ya anakku.
***
Semua itu membuatku bingung sendiri. Soalnya sejak masih bayi aku dirawat oleh Papa dan Mama yang begitu sayangnya padaku. Lalu seperti apa orang tua kandungku di Indonesia? Orang tua yang belum pernah kuingat wajahnya itu?
Berdasarkan surat wasiat dari Papa almarhum (yang ternyata ayah angkatku), aku pun terbang ke Indonesia yang sejak ingat belum pernah kuinjak itu.
Setibanya di Jakarta, kusewa taksi untuk mengantarkanku ke alamat yang diberikan oleh Mr. Liauw, di sebuah kota di Jawa Barat.
Ternyata tidak sulit menemukan alamat rumah orang tua kandungku itu. Tanpa bertanya kepada siapa – siapa, sopir taksi berhasil mencapai alamat rumah yang diberikan oleh Mr. Liauw itu. Sebuah rumah sederhana, tapi letaknya di pinggir jalan besar.
Dengan jantung berdebar – debar aku turun dari taksi, lalu melangkah ke pintu depan rumah itu. Sementara sopir taksi kusuruh menunggu dulu, siapa tahu aku salah alamat atau orang tuaku sudah pindah ke rumah lain.
Setelah aku mengetuk pintu depan rumah itu, seorang wanita 40 tahunan membuka pintu itu. Spontan aku bertanya kepada wanita yang belum kukenal itu. “Apakah ini rumah Pak Rosadi?”
“Betul, “wanita setengah baya yang masih tampak cantik itu mengangguk, “Adek siapa ya?”
“Aku Donny yang diadopsi oleh Pak Margono dari Bangkok. Tapi menurut surat wasiat almarhum Pak Margono, aku ini anak kandung Bapak dan Ibu Rosadi, yang alamatnya kudapatkan dari notaris di Bangkok,” sahutku dengan hati bertanya – tanya, siapa wanita cantik ini?
Tiba – tiba wanita itu memelukku sambil serambi lempitik, “Ya Tuhaaaaan! Ini Donny? Aku ini ibumu, Dooon… !”
Wanita yang mengaku sebagai ibuku itu menangis terisak – isak sambil memelukku di ambang pintu depan, kemudian membawaku masuk ke dalam rumah sederhana itu.
Sebelum masuk ke dalam rumah itu, aku masih sempat menggapaikan tanganku pada sopir taksi yang menunggu di mobilnya. Sopir itu pun bergegas menghampiriku.
“Tolong angkut semua barangku yang di bagasi dan di jok belakang Pak,” ucapku.
“Siap Boss,” sahut sopir taksi yang lalu balik lagi ke mobilnya untuk mengerjakan perintahku.
Sementara aku diajak duduk berdampingan dengan wanita yang mengaku sebagai ibu kandungku itu. Dengan sikap canggung aku bertanya, “Aku harus manggil apa sama Ibu?”
“Saudara -saudaramu memanggil bunda semua. Jadi kamu juga manggil Bunda aja.”
“Iya Bunda. Eh… ayah dan saudara – saudaraku semua pada ke mana? Kok rumah ini terasa sepi sekali?”
“Ayah sudah meninggal enam bulan yang lalu. Kakakmu ada tiga termasuk saudara kembarmu. Yang paling gede bernama Siska, yang nomor dua bernama Nenden dan saudara kembarmu bernama Donna.”
“Haaa?! Aku punya saudara kembar?” “Iya. Saudara kembarmu itu Donna namanya.”
Sopir taksi meletakkan barang – barangku di ruang depan. Setelah mendapatkan bayaran dariku, dia pun berlalu.
“Terus pada ke mana saudara – saudaraku sekarang?” tanyaku.
“Siska dan Nenden sudah pada punya suami. Jadi mereka tinggal di rumahnya masing – masing. Kalau Donna sedang bekerja,” sahut Bunda.
“Donna bekerja sebagai apa?”
“Cuma jadi pelayan toko pakaian.”
“Besar gajinya Bun?” tanyaku. Entah kenapa aku tiba-tiba saja merasa perlu memikirkan nasib saudara kembarku yang aku belum tahu seperti apa bentuknya itu.
“Ah… namanya juga pelayan. Gajinya hanya sesuai dengan UMR saja. Ohya… bagaimana kabar Bapak dan Ibu Margono? Sehat – sehat aja?”
“Dua – duanya sudah meninggal. Mama meninggal setahun yang lalu, Papa meninggal belum lama ini. Aku juga bisa ke sini setelah masa berkabung sudah lewat.”
“Innalillahi… gak nyangka mereka bakal pendek umur ya. Tapi mereka menyayangimu kan?”
“Sangat menyayangiku Bunda. Bahkan semua harta peninggalan Papa, seratus persen diwariskan padaku.”
“Syukurlah. Kalau begitu kamu harus pandai – pandai mengatur harta warisan itu. Jangan dihambur – hamburkan gak keruan.”
“Aku takkan mengganggu harta warisan itu. Bahkan ingin mengembangkan perusahaan peninggalan Papa itu. Ohya, bagaimana ceritanya sehingga aku bisa jadi anak angkat mendiang Papa dan Mama?”
“Pak Margono itu teman karib ayahmu Don. Tapi dia termasuk paling sukses di antara ayahmu dan teman – teman lainnya. Sejak masih muda sekali Pak Margono sudah tinggal di Bangkok. Kabarnya dia punya perusahaan di Thailand. Nah… pada saat bunda baru melahirkanmu dan Donna, kebetulan Pak Margono dan istrinya sedang berlibur di kota ini.
“Terus?”
“Bunda minta agar menunggu dulu sampai kamu berusia enam bulan, supaya aman dibawa naik pesawat terbang. Ya begitulah… setelah kamu genap berumur enam bulan, Pak Margono dan istrinya datang lagi. Untuk membawamu ke Bangkok.”
“Tapi Ayah atau Bunda sama sekali tak pernah menengokku ke Bangkok. Apakah Bunda sudah melupakanku sebagai anak kandung Bunda?”
“Bukan begitu Don. Ayah dan Bunda hanya ingin menjaga perasaan Pak Margono dan istrinya. Lagian mereka berjanji untuk menyayangimu seperti anak kandung mereka sendiri. Tapi Bunda yakin, pada suatu saat kamu akan mengetahui rahasia sirsilahmu. Dan akan berjumpa lagi dengan bunda. Terbukti sekarang kamu datang juga kan?
Bunda lalu memelukku erat – erat. Mencium pipi kanan dan pipi kiriku, seperti biasanya seorang ibu kepada anaknya.
Tapi entah kenapa, perasaanku masih mengambang. Mungkin juga batinku masih kaget, karena tiba – tiba saja aku berhadapan dengan wanita yang cantik itu sebagai ibu kandungku. Perasaanku yang masih floating inilah yang menyebabkanku masih jengah ketika Bunda mencium pipi kanan dan pipi kiriku.
Walau pun begitu, aku tidak mau bersikap canggung. Lalu kubongkar isi kotak besar berisi oleh – oleh itu. “Ini oleh – oleh dari Bangkok buat Bunda dan saudara – saudaraku semua. Nanti Bunda aja yang mengatur untuk siapa – siapanya.”
“Waaaah… ini barang – barang mahal semua Don. Saudara – saudaramu pasti pada senang melihat dan memiliki hiasan dinding yang beraneka ragam ini. Pada umumnya berbentuk gajah ya?”
“Iya. Kan lambang kerajaan Thailand itu gajah putih Bun.”
Tiba – tiba terdengar suara cewek di ambang pintu depan, “Ada tamu dari mana Bunda?”
“Donna! Lihat ini siapa?” sahut Bunda sambil menggandeng pinggangku. “Siapa Bun?” tanya cewek berparas cantik dan berperawakan tinggi langsing itu sambil memandangku.
“Nah… selama ini bunda merahasiakan hal ini. Sebenarnya kamu punya saudara kembar bernama Donny ini, Sayang.”
“Haaa?! Saudara kembar? Serius Bun?” cewek yang katanya saudara kembarku itu menatapku dengan sorot heran.
“Sangat serius,” sahut Bunda, “Kalau Siska dan Nenden sudah tau rahasia ini. Tapi kamu baru sekarang bunda kasihtau, Donna. Ayo peluk saudara kembarmu ini.”
Donna menghampiriku dengan sikap canggung. Lalu memeluk pinggangku. Sementara aku pun memegang sepasang bahunya, untuk mencium pipi kanan dan pipi kirinya. Juga dengan sikap canggung.
Kemudian Bunda menjelaskan riwayatku yang sejak kecil diadopsi oleh sahabat ayahku yaitu lelaki yang kupanggil Papa dan istrinya yang tadinya kukira ibu kandungku itu. Bunda juga bercerita bahwa keadaan Pak Margono tidak seperti ayah kami. Pak Margono itu seorang pengusaha kaya raya dan berdomisili di Bangkok.
Donna mendengarkan penuturan Bunda dengan sikap serius.
Setelah Bunda selesai menuturkan riwayatku, Donna menggenggam tanganku sambil ketawa – ketiwi, “Hihihihhiiiii… asyiiiik… ternyata aku punya saudara kembar yang tampan dan imut – imut ini…! Berarti kapan – kapan aku bisa diajak ke Bangkok dong, “Donna mengguncang – guncang tanganku.
Aku cuma mengangguk sambil tersenyum. Kemudian kutepuk bahu Donna sambil berkata, “Sekarang pilih dulu tuh oleh – oleh dari Bangkok. Mana yang kamu suka, ambillah. Tapi sisakan buat Kak Siska dan Kak Nenden.”
“Haaa?! Ada oleh – oleh dari Bangkok? Hihihihiii… !” Dona melompat ke arah kotak besar berisi oleh – oleh dari Bangkok itu.
“Oleh – olehnya gak ada parfum?” tanya Bunda.
“Ada Bunda,” sahutku, “Itu yang dikotak kecil ada beberapa botol parfum dari Eropa,” sahutku sambil menunjuk ke kotak kecil yang diletakkan di atas meja kecil dekat kotak besar itu. Kotak berisi 10 botol parfum yang beraneka merk, tapi semuanya buatan Eropa.
Donna mengambil patung gajah yang terbuat dari perak, mengambil kalung emas dengan liontin berbentuk gajah juga dan sebotol parfum.
“Cuma itu? Kan masih banyak yang lain,” kataku sambil menghampiri Donna yang baru mengambil sebotol parfum pilihannya.
“Nanti aja setelah saudara – saudara punya pilihan masing – masing, aku sih sisanya aja. Yang penting nanti traktir aku nonton bioskop ya.”
“Boleh. Aku memang ingin mengenal jalan – jalan di kota ini. Soalnya sejak bayi sampai sekarang, aku baru sekarang menginjak kota ini. Tapi aku harus mandi dulu. Keringat Bangkok masih melekat di badanku.”
“Emangnya Bangkok itu panas udaranya?” “Sangat. Jauh lebih panas dari kota ini.” “Ya udah… kamu mandi duluan gih. Setelah kamu mandi, aku giliran berikutnya.” “Giliran? Kamar mandinya cuma satu?” tanyaku setengah berbisik. “Iya, “Donna mengangguk, “Mudah – mudahan Boss dari Bangkok mau merenovasi rumah yang sudah sangat ketinggalan zaman ini.
Lalu aku menghampiri Bunda. “Bun… kamarku di mana nih?” tanyaku.
Bunda menyahut, “Kamar tidur di rumah ini hanya ada dua. Kamu pilih aja sendiri, mau tidur sama bunda apa sama Donna?”
“Di kamar Bunda aja ya. Aku kan sejak kecil sampai dewasa belum pernah merasakan tidur dalam pelukan ibu kandungku.”
“Iya. Bawalah kopermu ke kamar bunda, yang itu tuh kamarnya,” sahut Bunda sambil menunjuk ke pintu kamar yang tertutup.
Setelah berada di dalam kamar Bunda, aku mengernyitkan keningku. Karena kulihat ada lemari kaca yang isinya botol – botol minuman keras yang isinya sudah kosong semua.
Apakah Bunda sengaja mengumpulkan botol – botol itu untuk koleksi ataukah Bunda seorang peminum? Atau mungkinkah almarhum ayahku yang peminum dan botol – botolnya dikumpulkan oleh Bunda sebagai koleksi pribadinya? Entahlah. Mendingan aku mandi dulu, karena sebentar lagi mau diajak Donna nonton bioskop.
Ternyata kamar mandi pun hanya satu – satunya, terletak di bagian paling belakang rumah ini. Kamar mandi yang sangat ketinggalan zaman. Dengan bak mandi dan gayung plastik. Mungkin di zaman kolonial Belanda kamar mandi seperti ini sudah termasuk “maju”. Tapi untuk abad milenial ini… aaaah… kasian Bunda dan saudara kembarku.
Lalu diam – diam ada tekad di dalam hatiku, untuk merenovasi rumah ini sampai benar – benar layak dan tidak ketinggalan zaman.
Kemudian aku mandi sebersih mungkin.
Ketika aku keluar dari kamar mandi, ternyata Donna sudah menungguku di luar.
Ketika berpapasan denganku, Donna berkata, “Senang aku punya saudara kembar tampan gini, “diasusul dengan kecupannya di pipiku.
“Aku juga senang punya saudara kembar cantik gini,” sahutku sambil balas mengecup pipinya juga.
Kemudian Donna masuk ke dalam kamar mandi, sementara aku balik ke kamar Bunda.
Ketika aku sedang berdandan, terdengar suara Bunda di ambang pintu, “Mau nonton bioskop sama Donna?”
“Iya,” sahutku, “Bunda mau ikut?” “Nggak ah. Bunda sih cukup dengan nonton tivi aja hiburannya.” “Ohya Bun… bagaimana kalau rumah ini direnovasi?” “Kamu mau nyediain biayanya?” “Iya. Soal biayanya biar aku sendiri yang menanggungnya.” “Kalau ada duitnya sih mendingan beli tanah kosong di sebelah itu. Kebetulan pemiliknya meninggal, lalu mau dijual murah oleh anaknya.”
“Memang sih mendingan bangun rumah baru. Di sini harga tanah murah Bun?” “Ya nggak semahal di pusat kota lah. Di sini kan sudah dekat ke batas kota.” “Bunda sudah tau harga dan luas tanah di sebelah itu?” “Lumayan luas. Limaribu meter. Setengah hektar lah. Soal harganya besok bunda mau tanyain ke orangnya.”
“Iya,” sahutku singkat, karena mendengar langkah Donna mendekati pintu kamar Bunda ini. “Donny… udah siap?” tanya Donna di ambang pintu.
“Udah,” sahutku, lalu menghampiri Bunda, “Aku mau pergi dulu Bun,” kataku yang lalu mencium tangan Bunda disusul dengan cipika – cipiki dengan beliau. Seperti yang biasa kulakukan kepada Mama almarhumah di Bangkok dahulu.
“Pulangnya beliin oleh – oleh ya,” kata Bunda di ambang pintu depan. “Mau dibeliin apa?” tanya Donna. “Apa aja. Pizza boleh, martabak manis juga boleh,” sahut Bunda.
Lalu aku dan Donna melangkah ke pinggir jalan. Kebetulan ada taksi mau lewat, dicegat oleh Donna. Kami pun masuk ke dalam taksi itu. Duduk berdampingan di seat belakang.
Donna menyebut tujuan kami kepada sopir taksi. Maka taksi itu pun mulai meluncur di kegelapan malam.
“Bagaimana perasaanmu setelah berjumpa dengan Bunda dan aku?” tanya Donna sambil menyandarkan kepalanya di bahuku dan memegang tangan kiriku yang tersimpan di atas lutut.
“Aku masih canggung, karena tidak menyangka kalau ibu kandungku itu Bunda. Tadinya kukira diriku ini anak tunggal Bapak dan Ibu Margono di Bangkok,” sahutku.
“Aku juga kaget, karena baru tau tadi, bahwa aku punya saudara kembar, cowok pula.” “Iya Donna. Semoga kita bisa rukun sampai tua ya.” “Iya. Umurku dan umurmu berarti sama – sama duapuluh tahun ya?” “Iya… hehehee… namanya juga anak kembar, pasti dilahirkan di hari, tanggal, bulan dan tahun yang sama.”
“Terus… kamu sudah bisa adaptasi dengan suasana baru ini? Bahwa Bunda itu ibu kandungmu dan aku ini saudara kembarmu?”
“Masih agak sulit adaptasinya. Waktu cium pipi Mama tadi aja terasa rikuh. Seolah – olah bukan mencium pipi ibu kandungku sendiri.”
Donna menanggapi dengan bisikan, “Sama aku juga… waktu cium pipi kamu di depan pintu kamar mandi, rasanya seperti nyium pipi pacar… hihihi…”
“Ogitu ya?”
“Kamu pernah dengar cerita tentang anak kembar yang berbeda jenis kelaminnya, lalu dipisahkan waktu kecil dan dijodohkan setelah mereka dewasa?”
“Ohya?”
“Iya. Pokoknya tradisi itu pernah ada di salah satu daerah di negara kita. Mereka menganggap kalau anak kembar itu berbeda jenis kelaminnya, berarti jodoh mereka sudah dibawa dari perut ibunya. Karena itu pada waktu masih kecil mereka dipisahkan, setelah dewasa dinikahkan.”
“Oh, begitu ya? Aku malah baru dengar kalau di negara kita pernah ada tradisi seperti itu.”
Tiba – tiba Donna membisiki telingaku, “Kalau kita dijodohkan, kamu mau?”
Aku menatap wajah saudara kembarku di keremangan malam. Tapi sebelum sempat kujawab, taksi sudah berhenti di parkiran sebuah mall yang ada gedung bioskopnya.
Aku yang baru menginjak kota ini masih kebingungan. Karena itu kuberikan uang secukupnya kepada Donna untuk membeli tiket bioskop. sumber Ngocoks.com
Tak lama kemudian, Donna kembali lagi dengan wajah masam. “Kehabisan tiket. Cuma bisa yang midnight. Gak apa – apa?”
“Berarti masih lama dong menunggunya.” “Sekarang baru jam delapan. Berarti tiga jam setengah lagi baru bisa nonton,” sahut Donna. “Ya udah, beli aja tiketnya. Sambil menunggu, kita kan bisa ngobrol di café atau resto.”
Donna kembali lagi ke loket penjualan tiket. Beberapa saat kemudian dia sudah menghampiriku lagi.
“Dapet?” “Dapet tapi maksa dulu. Karena seharusnya untuk yang midnight dijual sejam sebelum film diputar.”
Lalu kami menuju sebuah resto di dalam kompleks mall itu, yang kata Donna enak – enak masakannya.
Di dalam resto itu kami memilih bagian sudut yang terlihat sepi, agar bisa ngobrol leluasa. Walau pun begitu, kami bicara perlahan – lahan, agar tidak terdengar oleh orang lain.
Aku dan Donna duduk berdampingan. Donna duduk di samping kiriku, sehingga ia bisa memegang tangan kiriku sambil berkata perlahan, “Tadi pertanyaan di dalam mobil belum kamu jawab.”
“Pertanyaan tentang apa?” tanyaku pura – pura lupa. Padahal aku sedang memikirkan jawabannya. “Kalau kita dijodohkan, kamu mau?” “Kenapa tidak? Kamu cantik dan seksi, Donna.”
Donna menghela nafas. Lalu membisiki telingaku, “Sayangnya aku tidak perawan lagi Donny.”
“Baguslah. Jadi kita bisa ML tanpa harus memikirkan perkawinan aneh itu.” “Gila… !” Donna menepuk punggung tangan kiriku.
“Soalnya kalau ketahuan oleh penghulu bahwa kita ini saudara kembar, belum tentu penghulu mau menikahkan kita.”
Bersambung… Tiba – tiba Donna mengalihkan topik pembicaraan, “Tadi kamu memilih untuk tidur bersama Bunda. Kenapa gak milih tidur sama aku saudara kembarmu ini?”
“Soalnya sejak kecil sampai dewasa, aku selalu tidur bersama ibu angkatku di Bangkok. Makanya aku ingin merasakan tidur dalam pelukan ibu kandungku sekarang.”
“Tapi Bunda itu peminum lho.” “Haaa? Maksudmu minum minuman beralkohol?”
“Iya, “Donna mengangguk, “Sejak Ayah meninggal, Bunda jadi peminum alkohol. Duit dari Kak Siska dan Kak Nenden habis dibelikan minuman mulu.”
“Pantesan tadi di dalam kamarnya banyak botol minuman. Kenapa kamu gak berusaha nyadarkan Bunda?“
“Wah, udah sering nyadarin Bunda. Tapi kata – kataku gak pernah digubris. Barangkali nanti kamu bisa ngasih saran sedikit – sedikit setelah dekat dengan Bunda. Soalnya alkohol itu kan berbahaya bagi Bunda sendiri.”
“Iya… nanti aku akan berusaha menyadarkannya. Tapi biasanya seorang alcoholic itu sulit disadarkan. Mungkin harus sering dibawa ke tempat yang tidak ada penjual minuman keras…”
Makanan yang kami pesan sudah dihidangkan. Lalu kami makan bersama.
“Kamu kok bisa kehilangan virginitasmu, sama siapa?” tanyaku perlahan.
“Sama pacar brengsek. Setelah mendapatkan semuanya, dia menghilang entah ke mana. Kamu sendiri di Bangkok gimana? Punya pacar?”
“Males nyari cewek di Bangkok. Hampir separohnya cewek di sana hasil transgender. Jadi kalau kurang cermat malah bisa dapetin cowok yang sudah ganti kelamin. Hihihihi…”
“Tapi kamu tentu udah punya pengalaman sama cewek kan?”
“Pengalaman apa?”
Donna menjawabnya dengan bisikan di telingaku, “Pengalaman bersetubuh dengan perempuan.”
“Pernah, tapi belum sering.”
“Sama orang sana?”
“Bukan, “aku menggeleng, “sama turis dari Indonesia.”
“Cantik?”
“Mmm… cantikan kamu. Mudaan kamu juga.”
“Ohya?!”
“Punya suami. Tapi waktu tour ke sana gak sama lakinya.”
“Owh… ceritanya main sama binor.”
“Apa itu binor?”
“Bini orang.”
“Hihihiiii… iya… “aku hampir tersedak, karena ketawa waktu makan.
Namun diam – diam aku teringat kembali segala yang pernah terjadi di Bangkok. Sesuatu yang takkan pernah kulupakan di seumur hidupku. Cerita tentang turis barusan sebenarnya cuma bullshit. Sebenarnya pengalamanku dengan perempuan bukan dengan turis.
Ya… aku masih ingat semuanya itu. Bahwa aku sejak kecil sampai besar aku sangat dimanjakan oleh Pak Margono dan istrinya, yang saat itu kusangka orang tua kandungku. Dan sejak ingat aku memanggil mereka Papa dan Mama. Sejak ingat pula aku selalu tidur bersama mereka. Terutama dengan Mama, karena Papa sering berada di Singapore, untuk mengurus perusahaannya yang ada di sana.
Mama bahkan selalu memandikanku sejak aku mulai ingat semuanya sampai sekarang. Setelah aku berusia 15 tahun, barulah aku mandi sendiri, tidak dimandikan oleh Mama lagi. Tapi kalau tidur selalu dengan Mama. Kalau Papa sedang berada di Bangkok, barulah aku tidur di kamarku sendiri.
Aku sangat dimanjakan oleh Papa dan Mama. Apa pun permintaanku pasti dikabulkan. Mungkin itulah yang menyebabkanku lambat dewasa.
Buktinya, pada saat usiaku sudah 18 tahun, ketika kampusku sedang liburan dan ketika Papa sedang berada di Singapore, aku masih minta dimandikan oleh Mama.
“Mama… pengen dimandiin sama Mama,” ucapku dengan nada manja.
“Kok tumben, udah tiga tahun bisa mandi sendiri, sekarang kok tiba – tiba mau dimandiin sama mama?” tanya Mama sambil tersenyum.
“Kangen aja sama kasih sayang Mama waktu ngemandiin aku. “ “Ya udah. Kebetulan mama juga belum mandi sore.”
Lalu aku dan Mama masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam bedroom Mama.
Sebenarnya kamar Papa dan kamar Mama itu terpisah. Karena kamar Papa ada ruang kerjanya, sementara kamar mama ada ruang rias dan lemari pakaian yang berderet di dinding. Kamar mandi Papa pun terpisah dengan kamar mandi Mama. Maklum kalau wanita suka berlama – lama di kamar mandi, jadi di kamar Papa pun disediakan kamar mandi sendiri.
Setelah berada di dalam kamar mandi Mama, aku langsung menelanjangi diriku sendiri. Sewmentara Mama pun melepaskan gaun rumah (housecoat), beha dan celana dalamnya. Ini adalah pertama kalinya Mama telanjang bulat pada waktu mau memandikanku. Mungkin karena beliau pun mau mandi juga.
Memang ada desir aneh di dada dan benakku melihat Mama dalam keadaan tewlanjang bulat begitu. Namun ternyata Mama pun tampak heran memandang ke arah rudalku.
“Donny… dalam tiga tahun ini rudalmu jadi segede dan sepanjang ini?” ucap Mama sambil memegang rudalku.
“Kan sekarang aku sudah gede Mam.”
“Sudah gede tapi masih mau disuapin dan dimandiin sama mama ya?”
“Kan aku ingin tau apakah Mama masih sayang sama aku nggak?”
Mama menciumi pipiku, lalu berkata, “Sampai kapan pun rasa sayang mama takkan pernah pudar, Sayang.”
Lalu Mama mengambil shower manual dan memancarkan air hangatnya ke tubuhku. Dan mulai menyabuniku dari kepala sampai ke kakiku. Tapi entah kenapa, ketika Mama menyabuni batang kemaluanku, begitu lama Mama menyabuninya. Sehingga diam – diam batang kemaluanku jadi ngaceng.
“Wow… dalam keadaan ngaceng gini rudalmu jadi lebih gede dan lebih panjang, Don,” kata Mama sambil mengocok rudalku dibantu oleh air sabun.
“Iya Mam. Kata teman – teman, kalau rudal sedang ngaceng gini lalu dimasukin ke dalam serambi lempit, rasanya enak sekali. Betul Mam?”
“Iya, betul. Memangnya kamu belum pernah menyetubuhi perempuan?”
“Belum, “aku menggeleng, “Kan kata Mama perempuan di Thailand ini hampir setengahnya berasal dari transgender. Lagian kata Mama juga di sini banyak sekali perempuan yang menderita HIV.”
“Iya. Apalagi di pantai Pattaya. Gudangnya HIV di Asia. Makanya harus hati – hati, jangan sembarangan main perempuan di sini.”
“Iya Mam. Main perempuan sih nanti aja kalau kebetulan kita pulang ke Indonesia.”
“Di mana pun kamu berada, jangan pernah menyentuh pelacur ya. Kalau pacaran dengan cewek baik – baik sih nggak apa – apa.”
“Iya Mama. Aku takkan sembarangan bergaul di Thailand ini. Tapi nanti Mama ajarin bagaimana cara untuk menyetubuhi perempuan ya Mam.”
“Haaa?! Mmm… ya udah, sekarang selesaikan dulu mandinya. Setelah mandi, kita malam ya Sayang.”
Setelah mandi, Mama menemaniku makan malam di ruang makan. Dua orang pembantu menghidangkan makanan di meja makan dan menunggu kami makan untuk menyediakan yang kurang.
Semua wanita yang bekerja di rumah ini berasal dari Indonesia. Karena hanya orang Indonesia yang paling mengerti apa yang diinginkan oleh aku dan kedua orang tuaku.
Pekerjaan mereka dibagi – bagi sesuai dengan bakat mereka sendiri. Ada tukang masak, tukang bersih – bersih rumah, tukang cuci pakaian, tukang merapikan taman kecil di pekarangan rumah dan sebagainya. Semuanya berasal dari tanah air kami.
Papa, Mama dan aku masih berkewarganegaraan Indonesia. Tapi kami punya izin stay permanent di Thailand dan di Singapore. Mungkin izin itu diberikan karena Papa tergolong pengusaha besar.
Setelah selesai makan malam, aku ngobrol dulu dengan Mama di ruang keluarga, sambil nonton televisi.
Setelah aku mulai menguap -nguap, Mama mengajakku tidur di kamarnya.
Di dalam kamar Mama itulah aku membicarakan hal yang belum selesai di kamar mandi tadi.
“Mam… kenapa ya waktu melihat Mama telanjang di kamar mandi tadi, rudalku jadi ngaceng?” tanyaku blak – blakan.
“Masa?! Sekarang lagi ngaceng nggak?” Mama balik bertanya.
“Nggak,” sahutku sambil memegang rudalku di balik celana piyamaku.
Lalu Mama menanggalkan kimono dan celana dalamnya, jadi telanjang bulat, karena Mama biasanya tak pernah mengenakan bra kalau mau tidur. “Nah… sekarang Mama telanjang lagi… rudalmu ngaceng lagi nggak?”
“Ngaceng lagi Mam… lihat tuh…” sahutku sambil menurunkan celana piyamaku dan langsung memamerkan rudalku yang langsung ngaceng setelah melihat Mama telanjang.
Mama yang masih telanjang tampak serius memperhatikan rudalku yang sudah ngaceng ini. Lalu meraih tanganku ke atas bed.
“Ini normal – normal aja Don,” kata Mama mendorong dadaku agar celentang. Kemudian Mama menarik celana piyamaku sampai terlepas dari kedua kakiku.
Tangan Mama beralih ke rudalku. Menggenggamnya dengan tangan kiri dan mengelus – elus moncongnya dengan tangan kanan. “Kamu sudah pernah merasakan ejakulasi nggak?”
“Mmm… pernah. Tapi waktu tidur. Waktu itu aku bermimpi yang aneh, sampai akhirnya aku terbangun dan ternyata celanaku basah Mam.”
“Waktu itu kamu mimpi apa?”
“Mimpi diajak bersetubuh sama Mama.”
“Ohya?! Serius?”
“Iya Mam.”
“Berarti kamu ngefans berat sama mama, sampai kebawa – bawa mimpi segala.”
“Ya iyalah. Di dunia ini Mamalah yang paling kucintai dan kusayangi.”
“Sering kamu mimpi bersetubuh sama mama?”
“Mmm… tiga atau empat kali gitu.”
“Lalu kamu ejakulasi terus setiap dapet mimpi seperti itu?”
“Iya Mam.”
“Kasian anak mama ini… rupanya diam – diam kamu mengagumi mama ya?”
“Iya Mam.”
“Mmm… emangnya mama ini cantik di matamu?”
“Di mataku, Mama paling cantik di dunia ini.”
Lalu Mama menghimpitku. Mencium bibirku dengan hangatnya, disusul dengan bisikan, “Di mata mama, kamu juga cowok yang paling tampan di dunia ini.”
Aku agak bingung pada mulanya. Karena ini pertama kalinya Mama mencium bibirku, dengan sikap yang lain dari biasanya pula. Tapi jujur, aku suka dengan sikap dan perilaku Mama seperti ini.
“Kamu ingin agar mimpi – mimpimu itu diwujudkan dalam kenyataan?” tanya Mama yang sudah melorot turun dan memegangi rudal ngacengku lagi.
“Mau Mam… mauuu… !” sahutku spontan.
“Mimpi – mimpimu akan mama wujudkan. Tapi ingat… ini sangat rahasia ya. Orang lain jangan sampai tau. Papa juga jangan sampai tau.”
“Iya Mam. Aku janji akan merahasiakannya kepada siapa pun.”
“Sekarang kamu diam aja ya. Mama akan melakukan sesuatu untukmu. Jangan bersuara keras – keras, takut kedengaran sama orang di luar.”
“Iya Mam,” sahutku dengan suara dipelankan.
Mama pun mulai menjilati moncong dan leher rudalku. Membuat nafasku tertahan – tahan karena merasakan geli – geli enak. Terlebih lagi ketika Mama mengulum rudalku, sambil mengurut – urut batangnya yang tidak terkulum olehnya.
Aku pun merintih perlahan, “Mama… aaaaa… aaaaah… Mamaaa… iii… ini renak sekali Mam… ooooooooh… Mamaaa… aku sayang Mamaaa… aku makin sayang sama Mamaaa… oooooooh…”
“Mama juga sangat sayang sama kamu, makanya mama mau menyerahkan kehormatan mama padamu, saking sayangnya mama padamu,” sahut Mama sambil berjongkok di atas rudalku, sementara sepasang kakinya berada di kanan kiri pinggulku.
Aku tetap celentang sambil memperhatikan semuanya. Bahwa Mama memegang rudalku yang moncongnya ditempelkan ke mulut kemaluan Mama yang berjembut sangat tipis itu (sehingga bentuk kemaluannya tetap jelas di mataku).
Kemudian Mama menurunkan pinggulnya, sehingga moncong rudalku mulai membenam ke dalam liang kewanitaan Mama.
Begitu jelas di mataku. Bahwa serambi lempit Mama menurun terus, sementara rudalku makin dalam “tenggelam” ke dalam liang serambi lempit Mama. Srrrr… blesssssss… batang kemaluanku amblas semua ke dalam liang kemaluan Mama.
Kemudian Mama mulai menaik turunkan serambi lempitnya, sehingga batang kemaluanku digesek – gesek oleh dinding liang serambi lempit Mama yang empuk, licin dan hangat.
Aku pun mulai merintih keenakan, “Mama… ooooh… ini enak banget Maaaam…”
Sementara Mama pun memejamkan matanya sambil mendesah – desah, “Aaaaahhhh… aaaahhh… aaaaaahhh… aaaaaaahhhhhhhh… aaaaahhhhh… aaaaah… aaaaah… Dooon… mama sayang kamu Dooon… sayang kamuuuuu… Doooon… aaaaah… Dooon… mama sayang kamuuuu Dooon… Doooon… aaaaaahhhh …
Namun pada suatu saat Mama menarik jauh – jauh serambi lempitnya, sehingga rudalku terlepas dari liang serambi lempitnya. Kemjudian Mama menelentang sambil berkata, “Ayo lanjutkan lagi. Masukkan rudalmu ke sini,” kata mama sambil mengusap – usap serambi lempitnya.
Aku pun mengikuti apa yang Mama suruh. Kuletakkan rudalku di mulut kemaluan Mama. Dan Mama memegang leher rudalku sambil meletakkan moncongnya pada arah yang tepat. Lalu mama memberi isyarat, “Ayo dorong… yang kuat…”
Aku pun mendorong rudalku sekuatnya seperti yang Mama suruh. Dan… rudalku membenam amblas ke dalam liang serambi lempit Mama… blesssssskkkkkkk…!
“Nah sekarang entotin rudalnya… tapi pelan – pelan dulu… jangan sampai lepas dari serambi lempit mama… ayo test dulu…” kata Mama sambil merenggangkan sepasang pahanya yang putih mulus itu.
Aku memang baru sekali ini merasakan rudal dimainkan di dalam liang serambi lempit. Tapi aku sudah sering melihat film/video dewasa. Karena itu, ketika aku “ditugaskan” untuk beraksi, hanya beberapa detik saja aku sudah mengerti apa yang harus kulakukan.
Ya, aku langsung lancar memenyetubuhi Mama. Sehingga Mama pun membisiki telingaku, “Kamu pinter Sayang… ayo entot terus serambi lempit mama… entot terusssss… jangan brenti – brenti… oooo… ooooh… Dooon… entot teruuuussssss… entoooottttt… entoooootttt… rudalmu enak sekali Dooon…
Sebenarnya aku pun sedang merasakan enaknya liang serambi lempit Mama, yang membuat rudalku geli – geli enak. Tapi aku lebih suka mendengar rintihan Mama, yang tampak begitu keenakan merasakan entotan batang kemaluanku.
Mama pun mulai menjilati leherku disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Membuatku serasa makin melayang – layang di langit tinggi… langit ketujuh yang biasa disebut langit surgawi juga.
Pada saat lain Mama minta agar aku meniru apa yang dilakukannya barusan. Dengan senang hati aku pun mulai menjilati leher Mama yang senantiasa harum parfum mahal, juga disertai dengan gigitan – gigitan kecil seperti yang Mama lakukan padaku tadi.
Namun pada suatu saat aku merasakan sesuatu yang “lain”… liang serambi lempit Mama begitu nikmatnya… bahkan terlalu nikmat bagiku, sehingga akhirnya aku menggelepar, lalu membenamkan rudalku sedalam mungkin di dalam liang serambi lempit Mama.
Crooootttt… croooottttttt… crottt… croooottttt… crottt… crooootttt…!
Spermaku pun bermuncratan dari moncong rudalku. Lalu aku terkulai di dalam pelukan Mama.
Setelah ejakulasi, ada perasaan bersalah di dalam hatiku. Serasa telah menganiaya Mama. Tapi bukankah tadi mama pun menikmatinya?
Ya… bahkan setelah belasan menit beristirahat, Mama menggenggam rudalku. Lalu menyelomotinya lagi dengan lahap dan binalnya. rudalku yang sudah lemas pun sedikit demi sedikit menegang kembali. Dan akhirnya ngaceng total lagi…!
Pada saat berikutnya, Mama menelentang sambil berkata, “Ayo Don. Entot mama lagi. Biar kamu tambah pinter kalau sudah punya istri kelak.”
Aku tidak langsung menyetubuhi Mama, karena mulai asyik untuk mengelus – elus serambi lempitnya yang berjembut sangat tipis itu. Bahkan lalu kataku, “Aku sering nonton film dewasa yang suka menjilati kemaluan perempuannya. Ajarin aku bagaimana caranya menjilati serambi lempit ya Mam…”
“Besok aja. Jembutnya harus dicukur dulu, biar enak jilatinnya,” sahut Mama, “Sekarang masukin lagi aja rudalmu. Mama udah kepengen lagi, Sayang.”
Terpaksa kuikuti keinginan Mama. Kubenamkan lagi rudal ngacengku ke dalam liang serambi lempit Mama yang aku sudah tahu “jalannya”.
Lalu mulailah aku berpush up lagi di atas perut Mama… mulailah aku merasakan nikmatnya bersetubuh yang sering dikatakan sebagai nikmatnya surga dunia ini.
Hai… kok malah ngelamun terus?” Donna menepuk bahuku, membuatku kaget dan membuyarkan terawangan masa laluku.
“Memang banyak yang sedang kupikirkan,” sahutku sambil meringis.
“Udah waktunya masuk Don. Seperempat jam lagi juga filmnya diputar.”
“Ya udah masuki aja,” sahutku sambil memanggil waiter restoran sambil memberi kode bill. Waiter itu pun menghampiri sambil membawa baki kecil beserta bon yang harus kubayar.
Beberapa saat kemudian aku dan Donna sudah berada di dalam gedung bioskop.
Kami kebagian kursi yang paling belakang. Kebetulan jajaran kursi paling belakang ini hanya kami berdua isinya. Sehingga setelah lampu gedung bioskop dimatikan, Donna bebas menempelkan pipinya ke pipiku, sambil meremas – remas tanganku. Dan bahkan ia membisiki telingaku, “Kita harus kompak terus sampai tua kelak, ya Don.
“Iya Don. Hihihihi… kalau Bunda manggil Don aja, pasti kita sama – sama nengok ya.”
“Iya. Tapi itu juga salah satu tanda bahwa kita ini kompak.”
Kujawab dengan bisikan, “Kalau kompak, boleh dong aku nyobain punyamu.”
Donna menyahut dengan bisikan juga, “Sekarang sih aku lagi mens. Nanti kalau udah bersih, aku kasih. Asalkan jangan bikin aku hamil.”
Kuremas tangan Donna sambil berbisik, “Janji ya.”
“Iya. Tapi kalau udah dikasih, ajak aku main ke Bangkok ya.”
“Iya. Soal gampang itu sih. Perusahaan warisan dari almarhum Papa angkatku bukan hanya di Bangkok. Di Singapore juga ada.”
Lalu obrolan kami terputus, karena layar putih sudah menyuguhkan ceritanya, bukan sekadar memperlihatkan deretan nama – nama pemainnya lagi.
Tadi pada waktu aku sedang menerawang di resto itu, Donna kusuruh membelikan pizza dan martabak manis pesanan Bunda. Dan Donna membelinya dua – dua. Dua pizza dan dua martabak manis. Sambil nonton, kuambil pizzanya sepotong. Untuk menghilangkan ketegangan film horror yang tengah kami tonton. Donna juga sama, mengambilnya sepotong, lalu menyantapnya.
Setelah filmnya the end, barulah kami terbebas dari ketegangan itu.
Lalu kami pun pulang dengan menggunakan taksi. Di dalam taksi pun Donna memperlihatkan sikap romantisnya padaku. Tapi karena dia sedang menstruasi, aku pun tidak melangkah terlalu jauh. Hanya membiarkan pipi kami bertempelan sambil saling remas tangan.
“Aku ingin beli mobil. Tapi susahnya aku belum hafal jalan – jalan di kota ini. Bisa – bisa malah nyasar terus. Berarti aku harus punya sopir juga,” kataku.
“Aku aja sopirnya,” sahut Donna.
“Emangnya kamu bisa nyetir?”
“Bisa. SIM juga udah punya.”
“Besok bisa antar aku nyari mobil?”
“Bisa. Kebetulan besok aku kebagian jatah libur.”
“Besok kan bukan hari Minggu, bukan pula tanggal merah. Kok bisa libur?”
“Jatah libur di tempat kerjaku digilir. Tidak selalu hari Minggu. Karena hari Minggu tokonya tetap buka. Jadi kalau minggu ini aku kebagian jatah libur hari Selasa, minggu depan bisa Rabu, bisa Kamis atau hari apa aja, tergantung jadwal libur masing – masing.”
“Resign aja deh dari tempat kerjamu.”
“Lho… terus aku mau kerja apa?”
“Kalau kamu mau, jagain aja galleryku yang di Singapore.”
“Gallery apa?”
“Gallery lukisan, patung dan berbagai hiasan dinding yang terbuat dari kayu jati diukir. Semuanya asli dari Indonesia.”
“Gajinya gede dong.”
“Pasti jauh lebih gede daripada gajimu sekarang.”
“Tapi… di Singapore hawanya panas ya?”
“Panaslah. Malah lebih panas dari Jakarta. Di Bangkok juga udaranya panas. Kalau mau yang udaranya dingin, harus di Thailand utara.”
“Kamu buka perusahaan di kota ini aja Don. Soalnya kalau aku pindah ke Singapore, kasian Bunda, gak ada temannya. Lagian aku sendiri suka gak kerasan tinggal di tempat yang panas. Badan keringatan mulu. Sehari bisa dua atau tiga kali ganti pakaian.”
“Aku memang ingin juga buka usaha di sini. Tapi harus dipikirkan dulu apa jenis usahanya.”
“Bagaimana kalau buka pabrik mainan anak – anak? Pemasarannya pasti lancar terus.”
“Usulmu boleh juga. Tapi aku ingin memproduksi sesuatu yang bisa diekspor ke Singapore dan Thailand. Supaya aku bisa jadi eksportir sekaligus importir.”
“Maksudmu eksportir sekaligus importir gimana?”
“Barang yang diekspor ke Singapore dan Thailand, importirnya perusahaanku juga di sana. Jadi nggak usah nyari lagi importir di Singapore dan Bangkok. Tapi itu baru rencana. Soalnya aku ingin melakukan survey dulu apa kira – kira yang laku dijual di Singapore dan Thailand.”
Tak lama kemudian taksi yang kami tumpangi tiba di depan rumah Bunda.
Setelah membayar taksi, Donna mengeluarkan kunci cadangan yang dibekalnya tadi. Kemudian kunci cadangan itu dipakai untuk membuka pintu depan. Kami pun masuk. Sementara Bunda tidak kelihatan. Mungkin sudah tidur. Padahal aku membawa oleh – oleh pizza dan martabak manis sesuai dengan permintaannya.
“Mungkin Mama sudah tidur. Mungkin juga sedang teler. Aku udah ngantuk berat,” ucap Donna perlahan, sambil mendekap pinggangku.
Aku cuma tersenyum mendengar kata – kata saudara kembarku itu. Tapi ia mengangsurkan bibirnya ke dekat bibirku sambil bergumam, “Cium bibirku dulu sebelum tidur.”
Aku pun melingkarkan lenganku di lehernya, lalu mencium bibirnya dengan ketat. Sementara Donna memejamkan matanya, seolah sangat menikmati ciumanku.
“Oke good night Brother,” ucap Donna setelah bibirnya kulepaskan.
“Sleep tight and have a nice dream. Good night Sista,” sahutku.
Pizza dan martabak manis kuletakkan di atas meja ruang makan, kemudian kubuka pintu kamar Bunda.
Dan… apa yang kulihat? Bunda sedang menelungkup di atas ranjang, dalam keadaan… telanjang bulat…!
Sedangkan udara di kamar sempit ini bau alkohol yang sangat menyengat di hidung.
Persis seperti dugaan Donna, bahwa Bunda sedang teler.
Cepat kulepaskan sepatu dan kaus kakiku. Kulepaskan juga celana dan baju kausku. Lalu kuganti dengan celana pendek dan kaus oblong serba putih.
“Bunda… !” panggilku perlahan sambil menggoyangkan bokongnya yang tidak tertutup apa – apa. Bahkan kemaluan Bunda pun tampak karena kaki kirinya terjuntai ke lantai, sementara kaki kanannya berada di atas kasur bertilamkan kain seprai lusuh.
Lalu… setan dari mana yang membuat rudalku ini tiba – tiba menegang ini?
Entahlah. Tapi aku berusaha untuk membantu Bunda, minimal agar posisi badannya jangan “kacau” begini.
Maka kugulingkan badan Bunda sampai menelentang di tengah ranjang besi jadul itu.
Pemandangan yang kusaksikan malah lebih parah lagi. Dalam keadaan celentang, Bunda begitu menggiurkan kelihatannya. Badannya yang putih mulus, wajahnya yang lebih cantik daripada wajah Mama almarhumah membuat batinku berdesir – desir.
Tadi waktu bersama Donna, sebenarnya nafsuku sudah terpancing dan membutuhkan penyaluran. Lalu kini aku melihat Bunda dalam keadaan seperti itu pula. Sedangkan aku baru siang tadi tahu bahwa wanita cantik itu ibu kandungku.
Dalam perasaan bingung, kukunci pintu keluar, lalu melepaskan segala yang melekat di tubuhku. Biarlah… kalau Bunda menanyakan kenapa aku telanjang, akan kujawab karena dia juga telanjang.
Kemudian aku naik ke atas ranjang tua ini. Merebahkan diri di samping Bunda, sambil meletakkan tanganku di atas payudaranya. Namun sesaat kemudian tanganku merayap ke perutnya… bahkan lalu kuletakkan di atas kemaluan Bunda yang jembutnya lebat sekali itu, sambil sesekali memperhatikan reaksi Bunda.
Tiba – tiba Bunda duduk dengan mata tetap terpejam. Lalu meraba – raba lenganku, dadaku, perutku dan batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini.
“Ini Donny?” tanya Bunda dengan mata terbuka tapi pandangannya tampak kosong.
“Iya Bun… pizza dan martabaknya kuletakkan di atas meja makan,” sahutku.
“Aaah… besok aja makannya… rudalmu ini lebih penting… gede sekali ya rudalmu ini… pasti enak kalau dientotin ke serambi lempitku… hihihiii… daku udah lama gak ngerasain enaknya rudal Bang… masukin aja rudalmu ini ke serambi lempitku Bang… ayo… jangan ngulur waktu… nanti kereta apinya keburu berangkat…
Aku tahu bahwa Bunda adalah ibu kandungku. Tapi aku baru mengenalnya tadi siang. Sehingga perasaanku tidak seperti layaknya seorang anak dengan ibunya. Bunda masih terasa asing dalam perasaanku. Dan malam ini, aku hanya merasakan nafsuku menggelegak setelah tanganku ditarik, sehingga tubuh telanjangku terhempas ke atas tubuh telanjang Bunda.
Terlebih lagi setelah Bunda memegangi rudalku lalu mencolek – colekkan moncongnya ke belahan kemaluannya yang dikelilingi jembut tebal itu. Membuatku agak merinding, karena sadar bahwa beliau adalah ibu kandungku. Bahkan aku mencoba menyadarkannya, “Bunda… apakah Bunda lupa bahwa aku ini anak kandung Bunda?
Tapi Bunda malah menjawab, “Ayo dorong… nanti kamu akan merasakan di dunia ini tak ada serambi lempit yang seenak serambi lempitku… dorooooong… !”
Ucapan itu disertai dengan hembusan nafasnya yang berbau alkohol menyengat. Lalu ia meraih botol gepeng yang terbuat dari stainless stell. Dan meneguk isinya. Mungkin botol gepeng yang terbuat dari logam itu senantiasa ditaroh di bawah kain seprai lusuhnya.
Aku pun tak banyak bicara lagi. Karena percuma berdebat dengan orang yang sedang mabuk begitu. Kuikuti saja perintahnya, kudorong batang kemaluanku sekuatnya. Dan membenam sedikit demi sedikit. sampai masuk separohnya.
Maka mulailah aku mengayun tongkat kejantananku pelan – pelan. Gila… sudah punya anak empat, namun liang serambi lempit Bunda ini bukan main sempit dan legitnya…!
Dan mulailah Bunda mendesah – desah dibarengi celotehan ngaconya, “Aaaaa… aaaaahhh… aaaaaa… aaaaah… rudalmu enaaak Bang… eh… kamu Donny kan… iyaaa… entot terus Dooooon… iyaaaaa… entooootttt… edaaaaan… rudalmu gede gini… nurun sama siapa sih Dooon…
Makin lama entotanku makin lancar. Dan gilanya, liang serambi lempit Bunda ini memang paling enak di antara serambi lempit – serambi lempit yang pernah kuentot. Rasanya sempit dan legit sekali… sehingga batang kemaluanku seolah diisap – isap oleh liang senggamanya…!
Sambil memenyetubuhinya, mulut dan tanganku pun beraksi. Kuselomoti dan kuisap – isap pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas toket kanannya yang kenyal dan masih nyaman buat diremas – remas.
Bunda pun semakin menggeliat – geliat dengan mata merem melek. Mata yang sudah merah sekali, mungkin karena kebanyakan minum alkohol.
Bahkan pada suatu saat Bunda merintih, “Ooooooo… ooooooh… mau lepas nih… mau lepasssssss…”
Bunda seperti menahan nafas, sementara tubuhnya mengejang tegang. Tapi aku tak menghentikan entotanku. Bahkan semakin menggencarkannya.
Lalu Bunda mengelojot dan terkulai lemas. Bahkan kelihatannya seperti ketiduran.
Melihat Bunda kelihatan tepar begitu, aku pun jadi ingin secepatnya berejakulasi.
Dan belasan menit kemudian aku berhasil meraih puncak kenikmatanku. Kubenamkan rudalku sedalam mungkin, tanpa kugerakkan lagi. Lalu terasa moncong rudalku menyemprot – nyemprotkan sperma di dalam liang kewanitaan Bunda.
Croooootttttt… crottt… crot… croooootttttttt… crot… croooooootttt…!
Aku terkapar di atas perut Bunda. Kemudian kucabut batang kemaluanku dari liang serambi lempit Bunda. Dan merebahkan diri ke samping ibu kandungku itu.
Sementara Bunda sreperti tidak tahu lagi apa yang barusan terjadi pada dirinya. Beliau benar – benar tertidur dengan nyenyaknya.
Aku pun enggan memungut pakaianku, lalu ikutan tertidur sambil memeluk Bunda. Dalam keadaan sama – sama telanjang bulat.
Esok paginya, aku terbangun dan melihat Bunda sedang bersolek di depan meja rias jadulnya. Beliau sudah mengenakan salah satu kimono oleh – olehku dari Bangkok. Tidak telanjang lagi seperti tadi malam.
Ketika aku mengenakan celana pendek putihku, Bunda menoleh sambil berkata, “Pizza dan martabak kirimanmu tadi malam sudah bunda makan Don. Walau pun dingin tetap masih enak.”
“Iya Bun,” sahutku sambil melangkah ke belakangnya. Dan melingkarkan kedua lenganku di lehernya sambil berkata, “Maafkan aku ya Bun… tadi malam Bunda memaksaku… sehingga aku me… menyetubuhi Bunda.”
Bunda menoleh padaku. Menatapku dengan senyum seperti yang dipaksakan. Lalu menghela nafas, “Yaaahhhh… biarlah… gak apa – apa. Daripada bunda dipuasi oleh laki – laki yang cuma ingin merusak, mendingan dipuasin olehmu.”
“Bunda sama sekali tidak sadar bahwa tadi malam kita telah melakukannya…” tanyaku sambil membelai rambut Bunda yang kelimis. Mungkin karena baru dikeramas.
“Antara sadar dengan tidak,” sahut Bunda, “Terus gimana rasanya? serambi lempit bunda enak nggak?” “Sangat – sangat enak sekali,” sahutku sambil membungkuk dan mengecup pipi Bunda, “Cuma sayangnya mulut Bunda berbau alkohol yang sangat menyengat.”
“Sejak ayahmu meninggal, bunda merasa sangat kehilangan. Karena tiada lagi yang mencintai dan memanjakan bunda. Sejak saat itulah bunda jadi peminum Don.”
“Aku siap untuk mencintai dan memanjakan Bunda seperti cinta dan kasih sayang Ayah almarhum. Asalkan Bunda berhenti minum minuman keras,” ucapku yang disusul dengan kecupan hangat di pipinya lagi.
Bunda berdiri menghadap padaku yang masih bertelanjang dada ini. Lalu mengusap – usap pipiku sambil berkata, “Wajahmu sangat mirip ayahmu di masa mudanya, Don.”
“Masa?! Kalau begitu jadikanlah aku sebagai pengganti Ayah almarhum. Tapi Bunda harus berjanji takkan minum alkohol lagi.”
“Donny Sayang… nafsu bunda ini gede sekali. Memangnya kamu bisa menggantikan ayahmu untuk menggauli bunda dua hari sekali?”
“Berarti aku harus pindah ke sini dong.”
“Soal itu sih nanti kita pikirkan lagi sematang mungkin. Ohya… tadi kamu bilang serambi lempit bunda enak sekali. Betul?” Bunda mengajakku duduk di pinggiran ranjang jadulnya.
“Betul, “aku mengangguk jujur, “Legit sekali. Pokoknya enak deh. “.
“Kalau begitu, cobain deh sekali lagi sekarang. Bunda kan abis mandi dan keramas. Pasti gak bau alkohol lagi.”
Bunda menanggalkan kimononya. Dan ada sesuatu yang membuatku tercengang. Kemaluan Bunda itu… tidak ada jembutnya lagi…! sumber Ngocoks.com
“Dicukur habis, Bun?” tanyaku sambil mengusap – usap serambi lempit bunda yang sudah botak plontos itu. “Iya. Biasanya pun suka dicukur. Tadi malam sih kebetulan aja udah lebih dari sebulan tidak dicukur.” “Kalau sudah bersih begini, pasti enak jilatinnya,” ucapku.
“Memang harus dijilatin dulu, biar gak sakit waktu rudalmu dimasukkan ke sini. rudalmu itu gede banget sih,” sahut Bunda sambil menelentang dan merfenggangkan sepasang paha putih mulusnya.
“Aku belum mandi Bun.” “Biarin aja. Mandinya nanti aja setelah selesai menyetubuhi bunda. Ayo jilatin dulu serambi lempit bunda Don.”
Aku pun menanggalkan kembali celana pendek putihku. Lalu menelungkup di antara sepasang paha Bunda yang direntangkan lebar – lebar. Dengan wajah berada di atas serambi lempit bunda yang sudah bersih dari jembut itu.
Kujamah serambi lempit plontos itu dan kungangakan sepasang bibir luarnya lebar – lebar, sampai kelihatan jelas bagian dalamnya yang berwarna pink itu. Di bagian yang berwarna pink itulah ujung lidahku menari – nari dengan lincahnya, membuat nafas Bunda berdesah – desah histeris dan erotis.
Terlebih setelah kutemukan kelentitnya, lalu kujilati juga disertai isapan – isapan kuat, sehingga bagian peka yang cuma sebesar kacang kedelai itu tampak menonjol dan mengeras. Pada saat menjilati kelentitnya itulah jari tengah tangan kananku sengaja kuselundupkan ke dalam celah kemaluannya. Lalu digerak – gerakkan maju mundur, laksana rudal sedang memenyetubuhi.
Karuan saja Bunda semakin klepek – klepek dibuatnya, sementara liang serambi lempitnya terasa mulai basah.
Aku pun tidak menunggu instruksi lagi, karena nafsuku sudah sulit dikendalikan. Lalu aku merayap ke atas perut Bunda, sambil meletakkan moncong rudalku pas di ambang mulut serambi lempit ibuku.
Blesssssss… batang kemaluanku membenam lebih dari separohnya, disambut dengan rengkuhan Bunda di leherku, disusul dengan ciumannya di bibirku yang lalu berubah menjadi lumatan hangat. Sementara aku mulai mengayun rudalku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Bunda yang sangat legit tapi licin ini.
“Oooooh… Donny… sekarang bunda seratus persen sadar nih… sekarang bunda merasakan kelebihanmu ini… rudalmu memang enak sekali Don… jauh lebih enak daripada punya ayahmu… ayo puasi bunda Doooon…”
Bersambung… Aku langsung teringat pada ajaran Mama yang sering disampaikannya padaku. Bahwa untuk memuasi perempuan, jangan mengandalkan rudal belaka. Tangan dan mulut pun harus beraksi pada bagian – bagian peka di tubuh perempuan. Lalu Mama memberitahu di mana saja titik – titik peka itu. Kini semuanya akan kupraktekkan pada Bunda. Ketika entotanku mulai lancar, kujilati leher Bunda disertai gigitan -gigitan kecil, sementara tangan kiriku mulai meremas – remas toket kanannya. Dan tangan kananku menggaruk – garuk pinggang kiri Bunda.
“Donny Sayaaaang… oooooh… Doooon… ini luar biasa enaknya Dooon… enaaaak Dooon… oooooh… oooo… oooooh… Dooon… Dooon… entot terus Dooon… entooot teruuuuussssssss… entoooot… entoooooooootttttt …!”
Tiba – tiba aku teringat pada Donna. Aku takut Donna sudah bangun dan mendengar rintihan Bunda yang mulai tak terkendali itu. Maka kusumpal mulut Bunda dengan ciuman dan lumatan hangatku. Sementara rudalku semakin gencar memenyetubuhi liang serambi lempit legitnya.
Demikian gencarnya rudalku memenyetubuhi liang serambi lempit Bunda, sehingga menimbulkan bunyi unik yang berasal dari serambi lempit Bunda. Bunyi crak crek crak crek crak crek secara berirama.
Sementara Bunda hanya bisa berdesah – desah, karena mulutnya terus – terusan kusumpal dengan ciuman dan lumatanku.
Cukup lama aku menyetubuhi ibu kandungku yang lebih cantik daripada ibu angkatku itu. Sehingga keringatku pun mulai membasahi tubuhku, bercampur aduk dengan keringat Bunda.
Smpai pada suatu saat Bunda berbisik terengah, “Don… lepasin bareng -bareng yuk… biar nikmat…”
“Bu… Bunda su… sudah mau lepas?” tanyaku terengah pula.
“Iya Sayaaaang… ayo… lepasin bareng – bareng…” sahut Bunda sambil menggoyang pinggulnya habis – habisan. Seolah memaksa rudalku agar segera ngecrot.
Aku pun memacu batang kemaluanku, memenyetubuhi liang serambi lempit Bunda habis – habisan.
Sampai akhirnya kami seperti sepasang manjusia yang sedang kerasukan. Bunda menjambak rambutku sambil mengejang tegang, sementara aku pun meremas sepasang toketnya kuat – kuat. Dan terjadilah sesuatu yang luar biasa indah dan nikmatnya ini.
Bahwa liang serambi lempit Bunda laksana seekor ular yang tengah membelit dan memilin batang kemaluanku, disusul dengan kedutan -kedutannya yang sangat terasa olehku… sementara moncong rudalku pun tengah memuntahkan air maniku.
Crooootttt… crooooooottttttt… crotcrottt… croooot… crooooooootttt…!
Aku mengelojot, lalu terkulai dalam dekapan Bunda.
Kemudian terdengar bisikan Bunda, “Luar biasa nikmatnya, Sayang… belum pernah Bunda merasakan nikmatnya disetubuhi seperti sekarang ini…”
Ketika Bunda mengenakan celana dalamnya kembali, Bunda bertanya, “Di rumah orang tua angkatmu ada pegawai yang bernama Reni?”
Aku tersentak mendengar nama itu ditanyakan. “Reni yang suaminya kerja di Arab?”
“Iya, “Bunda mengangguk, “Reni itu adik bungsu bunda. Tapi asal – usulmu tak pernah dibuka padanya. Takut bikin kacau di Bangkok nantinya. Sekarang dia masih kerja di rumah peninggalan papa angkatmu?”
“Masih. Aku yang mempertahankannya. Karena dia trampil sekali dalam masak -memasaknya.”
“Iya. Dia memang jago masak sejak masih berumur belasan taun. Makanya ketika Pak Margono datang ke sini dan minta dicarikan orang yang pandai masak, bunda langsung ajukan dia. Setelah tau bahwa Reni itu adik bunda, Pak Margono minta agar masalah asal – usulmu jangan dibuka kepada Reni.”
“Selama ini aku manggil Mbak padanya. Ternyata dia itu tanteku ya.”
“Iya. Tante kontan. Karena dia itu adik kandung bunda.”
“Kalau begitu nanti jabatannya akan kunaikkan Bun. Jangan sekadar jadi juru masak doang.”
“Iya, atur – aturlah soal itu sih. Dahulu dia pernah nelepon bunda. Katanya mau bercerai dengan suaminya. Karena dia mendengar berita bahwa suaminya kawin lagi dengan TKW asal Indonesia di Arab.”
Sebenarnya aku sudah tahu soal itu. Tapi aku cuma mengangguk – angguk saja di depan Bunda. Tidak mau berkomentar sepatah kata pun.
Aku bahkan membelokkannya ke topik lain, “Mengenai tanah kosong di sebelah itu, kalau bisa sih tanyakan hari ini juga Bun. Supaya kalau aku kembali ke Bangkok, sudah ada kepastian.”
“Iya, iyaaa… sekarang kamu ikut bunda aja ke rumahnya yok. Biar kamu bisa tawar – menawar langsung dengan pemiliknya.”
“Aku sudah janjian sama Donna mau beli mobil hari ini Bunda. Bisa kan Bunda sendiri yang menanyakan dan tawar – menawar dengan pemiliknya?”
“O, kamu mau beli mobil segala? Memangnya kamu mau menetap di sini terus?”
“Belum tau juga. Tapi aku ingin agar di sini ada mobil yang bisa kupakai pada waktu aku sedang berada di sini. Kalau aku sedang berada di Bangkok sih, biarin aja dipakai sama Donna. Bahkan aku punya rencana mau buka perusahaan di sini. Tentu Donna yang akan kuangkat sebagai wakilku di perusahaan itu.
“Bagus lah. Masa depan Donna perlu kamu pikirkan Don.”
“Iya Bun. Masa saudara kembarku dibiarkan cuma jadi pelayan toko.”
Tak lama kemudian kudengar suara Donna memanggilku dari luar kamar Bunda, “Donny …!”
“Yaaa… !” sahutku sambil membuka pintu kamar Bunda.
Donna tampak sudah berdandan, mengenakan gaun oleh – olehku dari Bangkok. Gaun putih dengan garis – garis berkelok – kelok berwarna – warni nuansa biru tua dan biru muda. Hmmm… secara jujure harus kuakui, Donna itu… cantik sekali…!
“Jadi mau nyari mobil sekarang?” tanyanya.
“Jadi lah. Kamu udah siap?”
“Udah dari tadi siap. Nungguin kamu gak keluar – keluar sampai pegel.”
“Hahahaaa… kalau gitu aku mau mandi dulu yaaa…” ucapku sambil bergegas menuju kamar mandi yang letaknya di belakang itu.
Pada waktu sedang mandi, aku teringat lagi kata – kata Bunda tadi. Bahwa Reni yang biasa kupanggil Mbak itu ternyata tanteku. Dan kalau dibanding – bandingkan sekarang, setelah aku lihat bentuk ibu kandungku yang sebenarnya, memang Tante Reni itu banyak kemiripannya dengan Bunda.
Pada waktu aku sudah duduk di dalam taksi bersama Donna pun, ingatanku tentang Mbak Reni alias Tante Reni itu menggelayuti terawanganku terus.
Tapi Donna membisiki telingaku, “Tadi malam dan tadi pagi ngapain aja sama Bunda?”
Aku berusaha tenang dan menjawab, “Gak ngapa – ngapain.”
“Bo’ong, “Donna menepuk lututku, “Emangnya aku anak kecil?”
“Maksudmu?” aku pura – pura tak mengerti maksud ucapan saudara kembarku.
Donna menjawab dengan bisikan lagi, “Kamu menyetubuhi Bunda kan?”
Aku merasa kalah oleh ucapan Donna itu. Lalu aku menghela nafas disusul dengan jawaban, “Aku hanya berusaha untuk menghentikan kebiasaan Bunda minum – minum itu. Dan menurut pengakuan Bunda, kebiasaan minum itu setelah ayah kita meninggal.”
“Memang benar, “Donna mengangguk, “Sejak ayah kita meninggal, Bunda jadi sangat kehilangan. Kerjanya cuma bermurung – murung dan mengalirkan air mata. Lalu Bunda memilih jalan salah itu. Berusaha melupakan Ayah dengan cara minum minuman beralkohol.”
“Mudah – mudahan aja aku bisa menghentikan kebiasaan yang membahayakan dirinya sendiri itu,” kataku sambil memegang tangan Donna yang terasa hangat.
Lalu Donna berbisik lagi*(takut kedengaran sopir taksi)*, “Jadi benar kan kamu sudah menyetubuhi Mama tadi malam dan tadi pagi? Jujur aja jawabnya. Aku juga ikut mendukung kok kalau kamu berusaha menghentikan kebiasaan buruk Bunda dengan cara seperti itu.”
“Iya, “aku mengangguk sambil mempererat peganganku pada tangan saudara kembarku, “Tadi malam malah dia yang memaksaku. Tapi tadi pagi… mau sama mau.”
“Mudah – mudahan Bunda bisa menghentikan kebiasaan berbahayanya dengan cara seperti itu,” kata Donna yang dilanjutkan dengan bisikan, “Terus jatahku kapan dikasihnya?”
“Kamu kan lagi M,” sahutku perlahan.
“Kemaren sore memang masih ada flex. Tapi sekarang sudah bersih.”
“Ya udah, setelah dapat mobil nanti, kita chek in ke hotel aja. Biar tenang.”
“Ohya… bossku orang kaya raya. Tapi dia gak mau beli mobil baru. Dia selalu beli mobil second yang masih bagus. Dia bilang, beli mobil baru itu rugi. Kalau dijual lagi pasti jatuh harganya, jauh lebih rendah dari harga belinya.”
“Ya udah… aku juga mau beli yang second aja. Kamu tau tempat yang jual mobil second?”
“Tau. Ada showroom yang bagus. Meski yang dijual hanya mobil – mobil second, tapi semuanya mobil terawat dan mulus.”
“Setelah dibayar, bisa langsung dibawa mobilnya kan?”
“Bisa.”
“Ya udah… kita ke showroom itu aja.”
Kemudian Donna memberitahu sopir taksi, agar mengubah arahnya menuju showroom yang Donna tahu itu.
Showroom itu memang bagus seperti Donna bilang tadi. Mobil – mobil yang dijualnya bukan mobil – mobil murah, tapi harganya sangat murah menurutku. Lalu kupilih sedan matic 2400 cc berwarna merah metalic.
“Kenapa pilih yang warna merah gitu? Masa cowok pakai mobil merah?” tegur Donna setengah berbisik.
Sambil memegang bahu Donna aku menjawab, “Mobil itu kan buatmu, Donna. Aku hanya akan minta diantar – antar kalau sedang berada di sini aja. Kalau aku sudah pulang ke Thailand, masa mobil itu harus kubawa ke sana?”
“Haaaa?!” Donna terbelalak girang, “Jadi mobil itu untukku?”
“Iyaaa Sayang… aku tak mau saudara kembarku terlalu senjang dengan keadaanku.“
Lalu Donna melakukan test drive di jalan aspal. Setengah jam kemudian sudah kembali lagi ke showroom itu. Dan aku memberikan sehelai cek dari sebuah bank internasional, yang baik di Thailand mau pun di Indonesia ada cabangnya.
Setelah clear, bahwa cek yang kuberikan itu bukan cek kosong, sedan merah metalic itu pun dijalankan oleh Donna di jalan aspal. Dan aku duduk di samping kirinya.
Aku mengajak Donna untuk makan siang di restoran yang harus dia pilih. Donna pun mengemudikan sedan itu menuju ke restoran pilihannya.
Setelah makan siang di restoran kitu, Donna mengarahkan mobilnya menuju hotel yang katanya terletak di luar kota.
“Donny… jangan marah ya… sebenarnya dari tadi malam pun aku tidak sedang menstruasi. Sejak lima hari yang lalu aku bersih dari mens. Tapi tadi malam aku harus mempertimbangkan dulu ajakanmu. Dan sekarang hatiku sudah bulat untuk menyerahkannya padamu,” kata Donna di belakang setirnya.
“Iya dong,” sahutku, “Masa orang lain dikasih, sementara aku tidak dikasih?”
“Soal itu pun harus kubikin clear. Yang membuatku tidak perawan lagi bukan cowok.”
“Haaa?! Lalu yang membuatmu tidak perawan lagi itu cewek?”
“Iya… pakai strapon. Tapi kami bukan lesbian. Hanya ingin merasakan aja sensasi bersetubuh itu seperti apa. Lalu gantian pakai strapon untuk saling memuasi.”
“Lalu dengan cowok sudah pernah juga?”
“Swear…! “Donna mengangkat dua jari kirinya, “Aku belum pernah merasakan disetubuhi cowok. Sama sekali belum pernah. serambi lempitku dijamah tangan cowok pun belum pernah.”
“Lalu sejak kapan kamu hentikan kebiasaan pakai strapon itu dengan temanmu?”
“Itu hanya terjadi lima kali saja. Kemudian kami berpisah, karena temanku itu pindah ke Kalimantan. Sejak saat itu aku tak pernah menyentuh strapon lagi.”
Lalju kataku, “Jadi kalau aku menyetubuhi kamu di hotel nanti, berarti…”
“… Berarti untuk pertama kalinya serambi lempitku dientot oleh rudal yang sebenarnya. Untuk pertama kalinya aku disetubuhi oleh cowok, “potong Donna.
Kubelai rambut Donna sambil berkata lembut, “Aku akan ikut bertanggung jawab pada masa depanmu, Sayang.”
“Terima kasih Donny. Pantesan ada yang menjodohkan saudara kembar yang berlainan jenis kelamin ya. Aku aja sekarang merasa seperti sedang bersama kekasih tercinta. Bukan seperti sedang bersama saudara.”
“Perasaanku juga seperti itu. Soalnya hampir duapuluh tahun kita dipisahkan, sekalinya ketemu seperti bukan dengan saudara. Bahkan dengan Bunda pun seperti itu.”
“Ohya… tadi dengan Bunda kesepakatannya gimana?”
“Bunda bersedia menghentikan kebiasaan minumnya kalau aku mmenggaulinya dua hari sekali. Tapi semua ini harus dirahasiakan Donna. Jangan sampai orang luar tau.”
“Ya iyalah. Rahasia ibu kandung kita kan rahasia kita juga. Tapi kalau Bunda minta jatah dua hari sekali, berarti kamu harus stay di sini dong.”
“Bisa aja sih. Makanya tanah di sebelah rumah itu mau kubeli. Lalu nanti akan kubangun rumah yang layak. Minimal tiap kamar harus ada kamar mandinya masing – masing. Harus ada AC, kulkas, mesin cuci dan aaaah… banyak lagi yang harus dipasang di rumah baru itu nanti. Ohya… kamu tau pemborong bangunan yang tinggal di kota ini?
“Tau. Pemborong bangunan yang biasa dipakai oleh bossku.”
“Baguslah kalau begitu. Nanti kalau tanahnya sudah kubeli, tolong panggilkan pemborong itu ya.”
“Siap Boss,” sahut Donna sambil tersenyum. Sementara aku yang sejak tadi memperhatikan cara Donna menyetir mobil, hasilnya memuaskan. Cara mengemudikannya cukup halus. Sehingga aku merasa nyaman disopiri oleh saudara kembarku itu.
Tak lama kemudian sedan merah metalic itu Donna belokkan ke halaman sebuah hotel yang letaknya belasan kilometer di luar kota.
Memang nyaman posisi hotel itu. Berada di antara kebun buah – buahan dan hutan pinus, dengan pemandangan indah di sekitarnya. Hawanya pun sejuk sekali, sehingga tanpa AC pun takkan merasa kepanasan.
Tapi kamar yang kami dapatkan di lantai lima, tetap aja memakai AC. Mungkin untuk zaman sekarang ini AC sudah menjadi kebutuhan umum, di mana pun letaknya. Baik di daerah dingin apalagi di daerah panas.
Begitu masuk ke kamar di lantai lima ini, Donna langsung berdiri terpaku di belakang dinding kaca dengan view hutan pinus berbukit – bukit. Aku pun mendekap pinggangnya dari belakang. “Indah sekali pemandangannya ya,” sahutku sambil menciumi tengkuknya.
“Iya…” sahut Donna hampir tak terdengar.
Tapi lebih indah lagi perasaanku saat ini… karena sedang bersama cewek cantik yang akan segera kumiliki…”
Donna memutar badannya jadi berhadapan denganku. Lalu merengkuh leherku ke dalam pelukannya. “Kamu juga tampan sekali Don…” ucapnya, yang dilanjutkan dengan ciuman mesranya di bibirku.
“Terus perasaanmu padaku saat ini bagaimana?”
“Semalaman aku memikirkan soal itu. Sampai akhirnya aku mengambil kesimpulan tenjtang perasaanku sendiri. Aku mencintaimu Don. Cinta seorang cewek kepada cowok idamannya. Bukan seperti cinta kepada saudara.”
“Aneh ya. Perasaanku juga begitu. Tapi bagaimana dengan Bunda? Apakah kamu takkan merasa cemburu kalau kamu tau aku sedang menggauli Bunda?”
“Kalau kamu dengan perempuan lain, pasti aku cemburu. Tapi kalau dengan Bunda lain lagi masalahnya. Kita kan sama – sama menyayangi Bunda. Jadi biarlah kamu dijadikan obat baginya. Obat kerinduannya kepada Ayah sekaligus obat untuk menghentikan kebiasaan minumnya. Aku malah berharap, semoga Bunda benar – benar bisa menghentikan kebiasaan yang membahayakan dirinya sendiri itu.
Aku tidak menanggapi ucapan saudara kembarku itu. Aku bahkan mendesaknya ke pinggiran bed, sampai ia menelentang dan terhimpit olehku. Di situlah kuciumi bibirnya sepuasku. Di situlah kami saling lumat dan tukaran air liur tanpa merasa jijik sedikit pun.
Dan setelah ciuman kami terlepas, Donna mendorong dadaku sambil berkata, “Aku mau lepasin gaun dulu. Biar jangan kusut nanti.”
Kemudian ia turun dan berdiri dekat bed sambil berusaha melepaskan kancing gaun yang berada di tengkuknya. Aku punturun untuk membantu melepaskan kancing yang berada di bagian tengkuk Dona. Begitu kancing terlepas, gaun itu langsung jatuh ke lantai. Kubantu juga mengambil gaun itu dan menggantungkannya di kapstok.
Di dekat kapstok itu kulepaskan celana denim dan baju kaus hitamku. Kemudian sepatu dan kaus kaki pun kulepaskan. Setelah tinggal celana dalam yang masih melekat di badanku, kuhampiri Donna kembali, yang tinggal mengenakan bra dan celana dalam dan duduk di pinggiran bed sambil melayangkan tatapan teduh serta senyum manisnya padaku.
Aku pun memegang kancing beha yang berada di punggungnya sambil berkata, “Behanya lepasin ya. Biar tidak menutupi pandangan.”
Donna cuma tersenyum dan tidak menjawab sepatah kata pun. Setelah beha itu ditanggalkan, aku termangu menyaksikan indahnya payudara saudara kembarku itu. Tidak terlalu kecil, namun juga tidak terlalu besar. Yang membuatku terpesona adalah sepasang pentilnya itu… masih mengacung ke depan. Dan ketika tanganku menyentuh payudara berukuran sedang itu, terasa masih sangat padat dan kenyal.
Lalu kudorong dada Donna sampai celentang kembali di atas bed berkain seprai putih bersih itu. Kemudian dengan sepenuh gairah kuemut puting payudara kirinya, sementara tangan kiriku meremas payudara kanannya dengan lembut sekali, karena takut merusak payudara yang masih begini padat dan kencangnya.
Donna diam saja kuperlakukan seperti ini. Namun suhu badannya terasa mulai menghangat, sebagai pertanda sudah mulai horny. Aku pun melorot turun. Menjilati pusar perutnya sambil menurunkancelana dalamnya sedikit demi sedikit.
Setelah celana dalam itu kulepaskan, lagi – lagi aku terlongong menyaksikan betapa indahnya bentuk bagian yang di bawah perut Donna itu. Sebentuk kemaluan perempuan yang begitu putih dan mulusnya, serta jelas sekali garis – garisnya. Garis lipatan dengan kedua pangkal pahanya dan garis lurus dari atas ke bawah, yang menyembunyikan bagian dalam serambi lempitnya.
Dalam keadaan telanjang bulat seperti itu, bentuk tubuh Donna pun semakin jelas di mataku. Tinggi langsing tapi tidak kurus, sementara kulitnya putih mulus… mulus sekali, tiada noda sebesar semut pun. Dan yang paling mengagumkan, tuibuh Donna itu agak mengkilap, pertanda padatnya tubuh saudara kembarku ini.
Dan kini pandanganku terpusat ke serambi lempit tembemnya. serambi lempit yang bibir luarnya mulai kungangakan selebar mungkin, sehingga bagian yang berwarna pink itu mulai kelihatan jelas.
Donna terdiam pasrah. Tapi begitu lidahku mendarat di bagian yang berwarna pink itu, terasa tubuhnya mengejut sedikit. Namun setelah lidahku mulai menari – nari di permukaan berwarna pink itu, Donna cuma mengelus – elus rambutku yang berada di bawah perutnya. Terkadang kudengar desahannya juga.
Namun ketika mulutku mulai terpusat di permukaan kelentitnya, Donna mulai menggeliat – geliat sambil meremas – remas rambutku. Lidahku menjilati kelentitnya yang sesekali kusedot – sedot juga. Dan Donna semakin klepek – klepek setelah jari tengah kananku mulai ikut campur. Menyelundup ke dalam celah serambi lempitnya, lalu kumaju – mundurkan seperti gerakan rudal sedang memenyetubuhi liang serambi lempit, sementara mulutku mulai mengisap – isap kelentitnya dengan agak kuat…
Dalam tempo singkat saja terasa liang serambi lempitnya mulai membasah… makin lama makin basah… sehingga akhirnya kulepaskan celana dalamku. Lalu kuletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit Donna, sambil mendorong kedua pahanya agar direnggangkan selebar mungkin.
Setelah semuanya sudah pada posisinya, termasuk posisi moncong rudalku yang sudah berada di ambang mulut serambi lempit Donna, aku pun mendorong rudal ngacengku sekuat tenaga.
Tapi “tembakanku” meleset. rudalku malah membelok ke bawah, ke arah kasur. Namun aku takkan pernah menyerah dalam hal yang satu ini. Lewat “perjuangan” yang gigih, akhirnya rudalku menyeruduk masuk ke dalam liang serambi lempit Dona.
Blesssssssss…!
Masuk kurang dari separohnya…!
Sungguh tak kuduga kalau serambi lempit Donna masih sangat fresh, laksana serambi lempit perawan saja*(tapi saat itu aku belum pernah merasakan serambi lempit perawan).*
Lalu aku mulai mengayun rudalku perlahan – lahan, dalam jarak pendek – pendek dulu, karena rudalku belum dalam benar membenamnya.
Donna menyambutku dengan dekapan erat di pinggangku, disusul dengan bisikan, “Aku semakin mencintaimu Donny Sayaaang…”
Sebagai jawaban, kukepit sepasang pipi Donna dengan sepasang telapak tanganku. Lalu kuciumi bibir dan puncak hidung mancungnya. “Perasaanku juga sama, Sayang,” sahutku yang masih perlahan menggerakkan rudalku.
Namun sesaat kemudian rudalku mulai lancar bermaju – mundur di dalam liang serambi lempit Donna yang sangat sempit tapi mulai licin ini.
Donna pun mulai merintih – rintih histeris tapi erotis, “Dooon… oooooh… Dooon… oooooh… ternyata rudalmu enak sekali Dooon… ooooh… ooooh… Doooon… entot terus Dooon… ini luar biasa enaknya…”
rudalku jadi seperti gerakan pompa manual. Masuk – keluar – masuk – keluar – masuk – keluar – masuuuuk – keluaaaar – dan begitu seterusnya.
Pada saat enaka – enaknya memenyetubuhi liang serambi lempit saudara kembarku ini, kata – kata ibu angkatku terngiang lagi di telingaku. Bahwa seorang lelaki harus bisa memuaskan pasangan seksualnya dengan cara apa pun. Termasuk dengan menyentuh titik – titik sensitif di tubuh perempuan.
Dan aku sudah hafal benar soal yang satu itu. Maka ketika aku sedang asyik – asyiknya memenyetubuhi serambi lempit Donna, kujilati lehernya disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Di saat lain kuemut pentil toketnya yang satu, sementara tanganku meremas toket yang satu lagi. Bahkan pada suatu saat aku gencar menggenjot batang kemaluanku sambil menjilati ketiak Donna yang kiri, kemudian kujilati ketiak Donna yang kanan, juga disertai dengan gigitan – gigitan kecil.
Maka Donna pun tampak sangat menikmati aksiku yang “lengkap” ini.
Rintihan dan rengekan manjanya pun berkumandang lagi di kamar hotel yang terletak di lantai lima ini.
“Dooonny… oooo… ooooh Dooonny… makin lama makin enak saja rasanya Dooon… oooooh… gak mnyangka aku akan merasakan semuanya ini darimu Dooon… aku semakin cinta padamu Dooon… cintaaaaa… aku cintaaaa kamuuu… !”
Di saat lain ia mengerang dengan mata terpejam – pejam, “Dooon… entot terus Dooon… ooooh… entotanmu ini… bikin aku gila padamu Dooon… ayo cintaaaa… entot aku sepuasmu, Cintaaaaa… entooooooot terusssss cintaaaaaaa… entoooottt cintaaaaa… ooooohhhh… enoooot ciiintaaaa… entoooooootttt!
Memang diam – diam aku sudah sangat mencintai Donna. Sehingga setiap gesekan antara fisikku dengan fisik Donna, terasa sangat nikmaaaaat…!
Sementara itu keringatku sudah bercucuran. Sebagian berjatuhan di kain seprai, sebagian berjatuhan di dada, leher dan wajah Donna. Sehingga kadang – kadang Donna memejamkan matanya erat – erat, karena ada keringatku yang menetes ke matanya.
Sementara aku masih sangat asyik memenyetubuhi Donna sambil mendaratkan mulutku di lehernya, di ketiaknya dan terutama di pentil toketnya. Terkadang kusedot pentil toket Donna sekuatnya, sehingga begitu sedotanku dilepaskan, pentil toket Donna semakin mancung saja.
Namun pada suatu saat Donna berkelojotan sambil berkata terengah, “Aku… aku mau lepas Dooon…”
Spontan kusahut, “Ayo… barengin… !”
Lalu kupacu ayunan rudalku seolah pelari marathon yang sudah dekat dengan garis finish. Entotanku semakin gencar, semakin kencang dan… akhirnya terasa liang serambi lempit Donna berkedut – kedut kencang. Pada saat yang sama kubenamkan rudalku sedalam mungkin. Lalu kubiarkan menancap di dalam liang senggama Donna, tanpa kugerakkan lagi.
Disusul dengan berlompatannya air mani dari moncong rudalku, menembak – nembak dasar liang serambi lempit saudara kembarku.
Kami sama – sama mengelojot, lalu sama – sama terdampar di pantai kepuasan.
Setewlah mencium bibir dan sepasang pipi Donna, kucabut rudalku daei jepitan liang kemaluan saudara kembarku. Lalu turun dari bed.
“Mau ke mana?” tanya Donna dengan nada yang seolah takut kutinggalkan.
“Mau kencing.”
“Ikuuut… aku juga mau pipis.”
“Ayo, “aku mengangguk sambil tersenyum, “sekalian pengen lihat seperti apa bentuk serambi lempitmu pada waktu sedang kencing.”
“Aaah… kamu… !” Donna mencubit pinggangku. Lalu mengikuti langkahku ke dalam kamar mandi.
“Heheheee… aku mau kencing di kloset ini. Mana bisa kamu liat serambi lempitku qwaktu kencing?” ucap Donna sambil duduk di kloset duduk. Lalu terdengar suara air memancar dari serambi lempit saudara kembarku… werrrr …
Aku malah terkesiap. Dan teringat lagi kata – kata Bunda tadi pagi. Tentang adik bungsu Bunda yang bernama Reni itu.
Betapa tidak… aku masih ingat semuanya, tentang sosok perempuan cantik bernama Reni itu.
Tentu saja aku masih ingat semuanya. Bahwa di sore menjelang malam itu aku sedang nafsu terus. Sayangnya Papa sedang berada di Bangkok. Sehingga aku tidak bisa mengajak Mama bersetubuh. Tapi rudalku ngaceng terus. Lalu otakku berputar – putar mencari jalan.
Akhirnya pilihanku jatuh kepada Mbak Reni, juru masak yang berkulit putih bersih dan berparas cantik itu.
Ketika melihat Mbak Reni sendirian di kitchen, aku memberikan lima lembar uang pecahan 1000 THB (Thailand Baht). (Saat itu kurs 1 baht sama dengan 460 rupiah. Jadi 5000 baht sama dengan Rp. 2.300.000.-).
“Buat apa uang ini Den?” tanya Mbak Reni.
“Buat Mbak. Anggap aja bonus dariku.”
“Oh… terima kasih Den.”
“Tapi nanti masuk ke kamarku, ya Mbak.”
“Mau ngapain Den?”
“Cuma mau ngajak ngobrol. Ada yang mau kubicarakan, penting sekali.”
“Iya Den.”
“Tapi jangan kelihatan orang lain ya. Masuk aja diam – diam ke dalam kamarku. Pintunya takkan kukunci.”
“Iya Den. Sekarang saya mau mandi dulu. Sehabis mandi nanti saya ke kamar Den Donny.”
“Iya, aku tunggu di kamarku ya Mbak.”
“Iya Den.”
Lalu aku masuk ke dalam kamarku dan menyiapkan uang 10.000 baht lagi, yang kumasukkan ke dalam amplop. Uang ini baru akan kuberikan kalau Mbak Reni bersedia kusetubuhi. Kalau tidak mau, ya sudah… dia hanya mendapatkan 5000 baht itu saja.
Amplop berisi uang itu kusimpan di dalam laci meja tulisku, lalu menunggu masuknya Mbak Reni yang sekarang sedang mandi dulu.
Seperti biasa, kalau sudah malam aku selalu mengenakan baju dan celana piyama. Terkadang juga suka mengenakan kimpono pria.
Sejam kemudian, pintu kamarku dibuka dari luar. Tampak Mbak Reni dalam dasternya yang berwarna hijau pucuk daun polos, masuk ke dalam kamarku. Kemudian menutupkan kembali pintu itu.
Menurutku Mbak Reni adalah pegawai yang tercantik di rumah besar ini. Makanya pilihanku jatuh padanya.
“Ada apa Den nyuruh saya ke sini?” tanya Mbak Reni setelah kusuruh duduk di sofa dekat bedku.
“Ini Mbak,” sahutku sambil menurunkan celana piyamaku dan menyembulkan rudalku yang sedang ngaceng, “rudalku ini ngaceng terus Mbak… apa Mbak bisa bantu aku supaya nggak ngaceng lagi?”
“Den…! “seru Mbak Reni perlahan, “Ti… titit Den Donny gede banget… !”
“Eeee… pertanyaanku bukan gede kecilnya rudalku. Pertanyaanku bagaimana caranya supaya rudalku ini bisa lemas lagi?”
“Ber… berarti Den Donny harus menyetubuhi saya sampai ngecrot. Kalau sudah ngecrot pasti nggak ngaceng lagi.”
“Nah maksudku juga begitu.”
“Tapi saya kan punya suami Den. Kalau Lili, Mita dan Nora masih lajang tuh.”
“Iiiih… gak mau. Makanya aku milih Mbak Reni tau gak?” tanyaku sambil duduk di samping Mbak Reni.
“Emangnya kenapa memilih saya Den?”
“Karena Mbak Reni paling cantik di antara semua perempuan yang bekerja di rumah ini.”
“Terima kasih. Tapi saya punya suami Den. Saya belum pernah selingkuh.”
“Suami Mbak Reni kerja di Arab kan?”
“Iya. Dia jadi TKI di Arab, saya jadi TKW di sini.”
“Berarti takkan ketahuan juga sama suami Mbak. Dari Arab ke Bangkok kan sangat jauh Mbak.”
Mbak Reni tertunduk membisu. Entah sedang berpikir entah akan menolak.
Maka kupegang bahu perempuan 25 tahunan itu sambil berkata, “Pokoknya kalau Mbak kabulkan permintaanku, pasti aku akan menyayangi Mbak nanti.”
Dia masih tetap membisu. Aku pun jadi tak sabaran. Maka kuselusupkan tangan kiriku ke balik daster bagian dadanya, sampai menyentuh payudaranya yang terasa kenyal dan hangat. Rupanya dia seperti Mama, kalau sudah malam tidak suka mengenakan beha. Sehingga tangan kiriku bisa lanbgsung memegang payudaranya.
Ternyata dia tidak meronta. Bahkan berkata setengah berbisik, “Jangan sampai orang – orang tau nanti, ya Den.”
“Iya dong. Aku kan nggak pernah ngomong kalau gak ada yang penting – penting amat sih,” sahutku sambil merayapkan tangan kananku ke paha Mbak Reni di balik dasternya. Merayap terus sampai ke pangkalnya, sampai menyentuh celana dalamnya. Sementara tangan kiriku mulai meremas – remas payudara di balik dasternya juga.
Tiba – tiba Mbak Reni mencium bibirku dengan hangatnya. Pada saat yang sama aku sudah menyentuh kemaluannya yang ternyata bersih dari jembut alias plontos.
Ketika aku mulai menyelundupkan jari tengahku ke dalam celah serambi lempitnya, ciuman Mbak Reni pun semakin ketat, seolah tak mau melepaskan lagi bibirku.
Kemudian terdengar bisikannya, “Den… kalau sudah dibeginiin saya suka langsung horny… ayo Den… masukin aja tititnya ke serambi lempit saya…”
Aku mengangguk sambil melepaskan kedua tanganku dari daster jurumasak cantik itu. Kemudian kukuncikan dulu pintu kamarku dan meraih pergelangan tangan Mbak Reni agar naik ke atas bed. Di situlah Mbak Reni menanggalkan dasternya tanpa kuminta. Sementara aku pun melepaskan baju dan celana piyamaku. Dia pun melepaskan celana dalamnya, sehingga kami berdua jadi sama – sama telanjang bulat.
Dengan segenap gairah muda aku merayap ke atas perut Mbak Reni. Dan ketika wajahku berada di atas wajah cantiknya, Mbak Reni merengkuh leherku ke dalam pelukannya. Lalu kupagut bibir sensualnya yang tipis merekah itu.
Dalam keadaan sama – sama telanjang bulat begini, ketika dadaku menghimpit dadanya, dengan sendirinya batang kemaluanku bertempelan dengan serambi lempit Mbak Reni. Mungkin hal inilah yang membuatnya semakin bernafsu untuk merasakan kejantananku.
Bahkan pada suatu saat ia merenggangkan kedua pahanya sambil memegangi leher rudalku. Dan mencolek – colekkan moncong rudalku ke mulut serambi lempitnya yang mulai membasah. Sampai pada suatu saat, ia membisiki telingaku, “Silakan dorong tititnya Den.”
Aku pun mengikuti bisikannya. Kudorong rudalku sekuatnya, sementara dua jari tangan Mbak Reni tetap mengepit batang kemaluanku. Mungkin agar arahnya tidak salah.
Lalu… perlahan – lahan rudalku mulai melesak ke dalam liang serambi lempit Mbak Reni.
“Oooooh… masuk Deeen… do… dorong terus… Deeen…”
Sebenarnya tanpa dikasih instruksi pun aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Karena Mama sudah mengajarkan segalanya dalam soal sex.
Namun ada sesuatu yang membuatku kagum kepada Mbak Reni ini. Bahwa selain wajahnya cantik, liang serambi lempitnya ini… sempit sekali…!
Sehingga aku harus bersabar. Setelah rudalku masuk lebih dari setengahnya, aku mulai mengayun tongkat kejantananku ini dengan gerakan perlahan dan pendek – pendek. Dengan hati – hati sekali, karena takut terlepas lagi dari liang sempit dan hangat ini.
Namun makin lama gerakan rudalku makin lancar, karena liang serambi lempit Mbak Reni makin lama makin licin dan basah. Dengan sendirinya aku semakin enjoy memenyetubuhinya.
Tapi pada suatu saat Mbak Reni berbisik terengah di dekat telingaku, “Nanti jangan dilepasin di dalam, ya Den.”
“Terus, harus dilepasin di mana?” tanyaku sambil menghentikan entotanku sejenak.
“Di dalam mulut saya aja. Biar saya telan sperma Den Donny semuanya.”
“Bakal ditelan semua? Gak jijik?”
“Nggak Den. Demi cinta saya kepada Den Donny.”
“Ohya?! Mbak mencintaiku?”
“Sejak awal melihat Den Donny, hati saya sudah jatuh hati. Tapi saya tau diri, tau siapa saya dan siapa Den Donny.”
Aku terharu mendengar ucapan Mbak Reni itu. Lalu kucium bibirnya, disusul dengan ucapan, “Aku pun menaruh hati kepada Mbak. Hanya saja aku tak berani memperlihatkan perasaanku di depan orang banyhak. Takut dimarahi oleh Papa dan Mama. Tapi percayalah Mbak… aku akan memnyayangi Mbak sampai kapan pun.
“Kecuali apa Den?”
“Kecuali kalau aku sudah berdiri sendiri.”
“Terima kasih Den. Mulai saat ini Den Donny akan saya anggap sebagai suami saya sendiri. Dan saya akan setia kepada Den Donny.”
“Terus, suami Mbak mau diapain?”
“Saya mendengar dari teman yang kerja di Arab dan kenal dengan suami saya. Teman saya itu kirim laporan… bahwa suami saya sudah kawin lagi dengan TKW asal Indonesia juga. Karena itu saya akan minta cerai saja. Biarlah saya menjadi milik Den Donny saja, meski sulit untuk menjadi istri Den Donny secara resmi.
“Kalau kawinnya di Indonesia, mungkin tuntutan cerainya harus diurus di Indonesia juga.”
“Iya Den. Nanti kalau saya dapat cuti, saya akan urus semuanya di Indonesia.”
Aku mengangguk perlahan. Lalu melanjutkan aksiku di atas perut Mbak Reni. Memaju -mundurkan rudalku kembali, laksana gerakan pompa manual.
Mbak Reni pun mjulai merintih – rintih perlahan, setengah berbisik. “Den… ini luar biasa enaknya Deeen… saya semakin mencintai Den Donny… ooooh Deeen… genjot terus Deeen… nikmat sekali… oooooh… oooooh… oooo… ooooooohhhhhhh…”
“serambi lempit Mbak juga… luar biasa sempitnya, kayak serambi lempit gadis aja…” sahutku tanpa menghentikan entotanku.
“Sa… saya kan belum pernah hamil dan melahirkan Den… “Nanti hamil dariku aja ya Mbak…” “Lalu… saya mau tinggal di mana?” “Tenang aja. Nanti aku yang akan menanggungnya semua…”
“Iya Deeen… ooooohhhhh… kayaknya saya udah mau lepas Deeen… titit Den Donny terlalu enak sih Deeen…”
Dengan Mama, aku terbiasa untuk melepasnya bareng – bareng. Karena itu yang paling nikmat, katanya. Makanya begitu mendengar Mbak Reni sudah mau lepas, aku pun mempercepat gerakan rudalku… makin lama makin cepat… sampai akhirnya kami ambruk bersama. Bahwa pada saat Mbak Reni mencapai orgasmenya, rudalku pun tengah memuntahkan air maniku.
Croooot… crotcrot… croooootttt… cret… croooooottttt… crooooooootttt…!
“Kok jadinya dilepasin di dalam Den?” tanya Mbak Reni setelah menyadari bahwa aku ngecrot di dalam serambi lempitnya.
“Kan biar bisa hamil.”
Mbak Reni mencolek hidungku sambil berdesis, “Nakal… tapi biarin deh. Semoga aja saya benar – benar hamil.”
Tapi dalam kenyataannya Mbak Reni tidak hamil – hamil juga. Padahal sejak peristiwa indah itu kami sering melakukannya di hari – hari berikutnya.
Apalagi setelah Mama meninggal akibat serangan jantung, semakin leluasa pula aku melakukannya dnegan Mbak Reni. Karena Papa lebih sering berada di Singapore, sehingga aku leluasa menyekap Mbak Reni di dalam kamarku.
Dan setelah Papa meninggal ketika sedang dirawat di Bumrungrad International Hospital, juga akibat penyhakit jantung yang dideritanya, aku jadi penguasa muda di rumah megah ini. Karena surat wasiat yang disimpan di notaris Mr. Liauw sudah dibacakan. Dan semua harta benda peninggalan Papa diwariskan padaku.
Aku pun cepat mengambil kebijakan. Bahwa semua pegawai yang bekerja di rumahku, harus tetap bekerja seperti biasa. Begitu pula karyawan dan karyawati yang bekerja di perusahaan peninggalan Papa, tidak kurombak sedikit pun.
Aku pun tetap kuliah di Chulalongkorn University, dengan target harus secepatnya menyelesaikan S1-ku.
Dan ketika aku berada di rumah Bunda ini, sebenarnya kampusku sedang liburan panjang, selama sebulan.
Tiba – tiba pintu kamar mandi dibuka. Donna berdiri di ambang pintu itu sambil menegurku, “Kok lama sekali di kamar mandinya?”
Kehadiran Donna membuyarkan terawanganku tentang Mbak Reni. Ya… Mbak Reni yang ternyata adik kandung Bunda dan harus kupanggil Tante itu.
“Barusan e’e dulu,” sahutku sambil tersenyum.
“Kirain pingsan,” ucap Donna sambil mencolek hidungku.
“Kok sudah pakai gaun lagi? Udah mau pulang?” tanyaku sambil memp[erhatikan Donna yang sudah berpakaian lengkap lagi.
“Iya,” sahut Donna, “Kan kamu harus nyediain energi buat gaulin Bunda. Biar dia jangan mabok lagi.”
Mendengar ucapan Donna itu aku jadi terharu. Lalu kucium bibirnya disusul dengan bisikan, “Kamu bukan cuma cantik, tapi juga bijaksana. Kita memang harus berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan kebiasaan Bunda minum minuman keras.”
Beberapa saat kemudian, Donna sudah berada di belakang setir mobilnya lagi, keluar dari area parkir hotel itu.
“Kalau aku hamil nanti biarin aja ya Don,” kata Donna setelah mobilnya berada di atas jalan aspal.
“Iya, biarin aja,” sahutku, “Kalau perutmu mulai membesar, kan bisa kusembunyikan di tempat yang aman.”
“Aku sangat terkesan dengan semua yang telah terjadi di hotel tadi. Dan semakin yakin bahwa aku benar – benar mencintaimu Donny.”
“Sama. Aku juga mencintaimu, Beib,” sahutku sambil mengelus rambut Donna yang tergerai sebatas bahu.
“Mmmm… untuk pertama kalinya aku dipanggil Beib oleh seorang cowok, “Donna tampak tersenyum sambil mengemudikan mobilnya, “Aku juga mau panggil Honey aja ah sama kamu.”
“Atur – atur aja deh. Yang jelas kita sudah menjadi sepasang kekasih yang saling cinta mencintai.”
“Terima kasih Honey. Sekarang ini aku merasa sangat bahagiaaa…”
Sedan yang Donna kemudikan meluncur terus di atas jalan aspal.
Sampai akhirnya berhenti di depan rumah jadul itu.
Setelah kami turun dari mobil, Donna tertegun sambil memperhatikan sepasang sepatu wanita yang tergeletak di dekat pintu depan. “Ada tamu. Siapa ya?”
Setelah membuka pintu, Donna berseru, “Teh Siska !”
Donna menghambur ke dalam pelukan seorang wanita muda yang cantik, yang usianya kira – kira sebaya dengan Mbak Reni alias Tante Reni.
Wanita yang dipanggil Teh Siska itu cipika – cipiki dengan Donna. Lalu menoleh ke arahku, “Ini Donny?”
“Iya, “aku mengangguk sambil menghampiri wanita muda itu, “Ini Teh Siska?”
Terdengar suara Bunda, “Iya Don. Itu kakak sulungmu… !”
Aku pun spontan mencium tangan Teh Siska, kakak sulungku yang baru kali ini berjumpa denganku.
Teh Siska langsung memeluk dan mencium kedua pipiku. Bahkan entah disengaja atau tidak, ia mencium bibirmku juga, meski cuma sepintas…!
“Donny… Donny… setelah dewasa kamu jadi tampan gini Don !” ucap Teh Siska sambil mengepit sepasang pipiku dengan kedua telapak tangannya. Lalu menciumi dahi, hidung dan… bibirku lagi…!
Apakah di keluargaku sudah terbiasa main cipok bibir begini? Entahlah. Yang jelas, kalau tidak ada Bunda dan Donna, pasti aku sudah “menanggapinya” dengan caraku sendiri.
Tiba – tiba Donna berkata kepada Bunda, “Bun…! Lihat tuh di depan. Aku dapet hadiah mobil dari Donny, Bun.”
“Masa?! “seru Bunda dengan sorot ceria. Lalu beliau melangkah ke depan bersama Donna. Sementara Teh Siska masih mendekapku erat – erat. Bahkan ia berkata setengah berbisik, “Nanti main ke rumahku ya.”
“Iya Teh, “aku mengangguk.
Dan… Teh Siska mencium bibirku lagi. Kali ini aku berani “menanggapinya”, karena Bunda dan Donna sedang berada di luar rumah, untuk memperhatikan sedan yang kuhadiahkan untuk Donna.
Bahkan tak lama kemudian terdengar bunyi mesin sedan Donna dihidupkan dan suara itu menjauh. Mungkin Bunda ingin nyoba numpang di mobil Donna.
Maka saat itu pula aku menanggapi ciuman Teh Siska dengan lumatan, seperti sedang mencium kekasih tercinta.
Dan tampaknya Teh Siska sangat menikmati lumatanku. Dekapannya semakin erat, ciumannya pun semakin nyelepot (lengket dan seperti disedot).
Dan setelah ciuman itu terlepas, Teh Siska meraih tanganku untuk duduk berdampingan di atas sofa jadul yang sudah robek kulitnya di sana – sini.
“Kamu setelah dewasa jadi tampan sekali Don. Kalau bukan saudara, pasti aku jatuh cinta padamu.”
“Teh Siska juga cantik sekali. Dan aku tidak merasa berdekatan dengan saudara, karena baru sekali ini akju melihat Teteh.”
“Terus kamu merasa sedang berdekatan dengan siapa?”
“Hihihi… gak taju juga. Mungkin merasa sedang berdekatan dengan seorang kekasih. Apalagi barusan kita kan ciuman bibir segala.”
“Begitu ya? Mmm… nanti malam ke rumahku ya. Ini alamatnya,” kata Teh Siska sambil mengeluarkan secarik kertas dari tas kecilnya. Lalu menulis alamat rumahnya.
Setelah menyerahkan kertas bertuliskan alamat rumahnya, Teh Siska berkata, “Kalau mau ke rumahku, jangan sama Donna. Pakai taksi aja.”
“Ya,” sahutku sambil memasukkan kertas itu ke dalam dompetku. “Suami Teh Siska kok gak diajak ke sini?”
“Aku gak punya suami Don. Udah bercerai dua tahun yang lalu.” “Ohya? Punya anak berapa?” “Cuma seorang. Tapi dibawa oleh mantan suamiku.” “Berarti Teteh kesepian dong.” “Iyaaa… makanya nanti malam ke rumahku ya.” “Mau disuguhin apa?” “Apa juga yang kamu mau, disuguhin deh. Kamu mau disuguhin apa?”
Aku menjawabnya dnegan bisikan, “Pengen disuguhin yang di bawah perut Teteh.”
Tadinya kupikir bisikanku akan membuat Teh Siska terkejut. Tapi ternyata tidak. Dia malah meremas tanganku sambil menjawab, “Iya… nanti aku kasih. Sampai kamu puas.”
Mendengar jawaban itu aku jadi sangat bersemangat. Lalu kulingkarkan lenganku di leher Teh Siska. Dan kupagut bibir tipis merekahnya ke dalam ciuman dan lumatanku. Teh Siska pun menyambutnya dengan lumatan pula. Bahkan ia lebih lahap melumat bibir dan menyedot lidahku…!
Lalu kami tukaran nomor hape. Dan tak lama kemudian Bunda dan Donna sudah pulang lagi.
“Sedan Donna nyaman sekali ditumpanginya. Serasa diam di tempat saking halusnya,” kata Bunda.
Teh Siska pun keluar dari rumah, untuk melihat sedan Donna yang kata Bunda nyaman sekali itu.
“Memang sedan mahal itu sih. Beruntung kamu punya saudara yang baik hati,” kata Teh Skiska sambil menepuk bahu Donna.
Kemudian Teh Siska pamitan pulang.
Malamnya, aku bilang kepada Bunda bahwa ada teman dari Thailand yang sedang berada di kota ini. Dan aku akan menjumpainya di hotel tempat dia menginap.
“Mau nginap?” tanya Bunda.
“Nggak tau, lihat situasinya aja nanti.” “Kenapa gak minta dianter aja sama Donna?”
“Nggak usahlah. Soalnya kasian Donna kalau kemalaman pulangnya nanti. Apalagi kalau harus menginap.”
Donna pun mendengarkan pembicaraanku dengan Bunda.
Donna bertanya, “Temannya cewek apa cowok?”
Sahutku, “Cowok lah. Aku gak punya teman cewek di Thailand. Takut cewek hasil transgender. Hihihihiii…”
“Beneran gak mau dianter sama aku?” tanya Donna.
“Nggak usah. Kalau melihat kita bawa mobil, nanti temanku bisa seenaknya minta diantar ke sana ke sini.”
“Iya juga ya. Lagian kalau kalian ngobrol, pasti aku cuma cengo. Apalagi kalau pakai bahasa Thai. Bisa mati kutu aku dengarnya.”
Dalam taksi menuju alamat rumah Teh Siska, aku teringat lagi kepada Mbak Reni alias Tante Reni. Karena itu aku meneleponnya. Lalu terdengar suara wanita muda yang sudah seperti istriku itu :
“Hallo… !” “Pasti bingung ya?! Ini Donny Mbak.” “Den Donny?! Oh… pantesan nomornya plus enamdua. Nomor Indonesia ya.” “Iya Mbak. Gimana sehat – sehat aja?” “Sehat. Den Donny juga sehat?” “Sehat Cinta. Tapi seharusnya aku memanggil Tante kepada Mbak.” “Emangnya saya sudah setua itu sampai harus dipanggil tante segala?” “Kenal nggak sama wanita bernama Ami yang suaminya bernama Rosadi dan sudah meninggal?”
“Itu kan nama kakak saya Den.” “Aku ini anak Bu Ami dan almarhum Pak Rosadi. Berarti Mbak ini tanteku kan?” “Haaa?!”
“Kalau nggak percaya, silakan aja telepon ibuku nanti. Jadi mulai saat ini gak usah manggil aku Den lagi. Panggil namaku aja Tante.”
“Tapi… Pak Margono almarhum dan istrinya almarhumah itu…”
“Ternyata mereka orang tua angkatku Tante. Mereka memang bersahabat dengan Ayah almarhum. Makanya ketika Pak Margono membutuhkan jurumasak, kan ibuku yang mengajukannya kepada almarhum kan?”
“Iya betul itu. Betul sekali.”
“Bunda sengaja merahasiakan asal – usulku kepada Tante. Karena Pak Margono memang melarangnya buka rahasia. Rahasia bahwa sebenarnya aku ini anak Rosadi dan Ami. Bahwa aku ini anak kakak kandung Tante Reni. Sekarang setelah Papa dan Mama tiada, barulah semuanya kini terbuka. Bahkan di dalam surat wasiatnya, Papa mempersilakanku mencari orang tua kandjungku.
“Iya… iya… tapi… hubungan kita gimana seterusnya?”
“Tenang aja Tante. Liburanku hanya sebulan. Setelah berada di Bangkok lagi, nanti kita atur semuanya. Pokoknya Tante Reni harus tetap menjadi milikku.”
“Iya Do… Donny… aku… aku cinta kamu… di dunia ini hanya Donny yang kucintai, Sayang.” “Jaga diri baik – baik selama aku masih di Indonesia, ya Sayaaaang…”
“Donny juga… jaga diri baik – baik yaaa. Aku terlalu mencintaimu Dooon… Ohya… nanti kutelepon ibumu ya.”
“Silakan. Biar Tante yakin bahwa aku ini keponakan Tante.”
“Hihihiii… jadi malu. Ternyata selama ini aku mencintai keponakanku sendiri. Sudah sangat jauh pula langkah kita…”
“Gak usah mikir ke sana. Yang jelas sejak awal aku berjumpa denganmu, aku sudah terpesona melihat kecantikanmu. Sampai kapan pun aku akan tetap menyayangi Tante Reni.”
Tak lama kemudian taksi yang kutumpangi sudah tiba di depan rumah Teh Siska. Rumah yang bergaya masa kini. Rumah bergaya minimalis yang cukup cantik dan artistik penataan pekarangan depannya.
Tanpa kuketuk pun pintu depan itu langsung dibuka setelah aku berada di teras depan.
Teh Siska yang malam itu mengenakan daster dari bahan wetlook biru tua polos dan ketat, membuat aku semakin menyadari bahwa kakak sulungku itu berperawakan tinggi montok dan berkulit putih bersih seperti kulit Bunda.
“Ayo masuk Don, “sambut Teh Siska sambil memegang pergelangan tanganku dan menuntunku ke dalam rumahnya. Setelah aku berada di ruang tamu, Teh Siska menguncikan pintu depan. Lalu menutupkan semua tirai yang ada di ruang tamu itu.
“Aku bangga punya adik setampan kamu,” ucap Teh Siska ketika aku sudah duduk berdampingan dengannya di atas sofa putih yang lumayan mewah kelihatannya.
“Aku juga bangga punya kakak secantik Teteh. Tapi kita baru berjumpa sekarang setelah sekian lamanya dipisahkan. Sejak masih bayi aku sudah bersama orang tua angkat. Sehingga begitu berjumpa dengan Teh Siska yang sexy abis ini, aku merasa seolah berjumpa dengan orang asing tapi sangat menggiurkan…
“Sama aku juga begitu. Kalau ketemu di jalan sih pasti aku takkan mengenali siapa dirimu. Mungkin aku cuma bisa menelan air liur karena melihat anak muda yang segini tampannya. Dan…” sumber Ngocoks.com
Teh Siska tidak bisa melanjutkan kata – katanya, karena aku sudah memagut bibirnya, lalu mencium dan melumat bibir sensual tipis merekah itu. Teh Siska pun menyambut ciuman dan lumatanku dengan pelukan hangatnya di leherku. Sementara telapak tangan kananku mulai kuletakkan di lututnya. Lalu kuselundupkan ke balik dasternya menuju paha hangatnya yang terasa licin dan hangat.
Kancing – kancing daster yang Teh Siska kenakan berderet di bagian depannya. Pada waktu aku sedang, melumat bibirnya ini, Teh Siska melepaskan kancing – kancing dastern pada bagian dadanya, sehingga payudaranya yang tak berbeha itu mulai nongol. Mulutku pun pindah sasaran. Dari bibir ke pentil toketnya yang nyembul darei belahan daster bagian dadanya.
Sementara tangan kananku sudah berada di pangkal paha kakak sulungku. Lalu kutemukan kenyataan yang sangat menyenangkan. Bahwa ternyata Teh Siska tidak mengenakan celana dalam dan bra di balik dasternya itu. Mungkin semuanya itu sudah disiapkan untuk menyambut kedatangan “Sang Pangeran” dari negeri antah berantah…
Dan jari tangan kananku yang sangat beruntung kini, langsung menyentuh kemaluan kakak sulungku yang ternyata celahnya sudah agak basah dan licin ini. Di situlah jemariku mulai bermain, mencolek – colek dan menyodok -nyodok. Sementara mulutku tetap asyik menyedot – nyedot dan menjilati pentil toketnya yang sudah menegang ini.
Tubuh Teh Siskia pun menghangat. Pertanda sudah horny. Aku pun sama. rudalku yang masih tersembunyi di balik celana demnim dan celana dalamku, sudah sangat ngaceng. Seolah menuntut agar segera dijebloskan ke dalam liang serambi lempit yang sedang kupermainkan ini.
Tiba – tiba kulepaskan emutanku dari pentil toket Teh Siska, tangan kananku pun kukeluarkan dari balik dasternya. Kemudian aku bersila di lantai, di antara kedua kaki Teh Siska yang sejak tadi direnggangkan jaraknya. Tampaknya Teh Siska mengerti apa yang akan kulakukan. Ia menyingkapkan dasternya sampai ke perutnya, sehingga aku bisa menyaksikan betapa tembem dan menggiurkannya kemaluan kakak sulungku ini.
Tanpa basa – basi lagi kuserudukkan mulutku ke serambi lempit Teh Siska, lalu kujilati mulut serambi lempitnya yang sudah ternganga itu, karena kedua pahanya sudah direntangkan lebar – lebar.
“Ooooh… Dooooon… sudah lama sekali aku tidak merasakan semuanya ini… aku memang membutuhkan sentuhan lelaki Dooon… jilatin itilnya sekalian Doon… biar cepat basah… iyaaaa… itilnya itu jilatin teruuus Dooonny…”
Tapi sesaat kemudian Teh Siska menjauhkan kepalaku dari serambi lempitnya, sambil berkata, “Di kamarku aja yuk, biar aman dan nyaman.”
Aku menurut saja, mengikuti langkah Teh Siska ke dalam kamarnya. Keadaan di dalam kamar Teh Siska cukup nyaman. Bed dan perabotan lainnya serba up to date. Mungkin Teh Siska punya penghasilan yang cukup besar sehingga bisa membeli segalanya yang serba kekinian.
Bersambung… Aku pun bertekad untuk mengupgrade Bunda, agar tinggal di rumah yang layak, perabotannya pun harus serba layak. Bukan sekadar kekinian belaka. Bahkan aku bisa mendatangkan furniture yang serba Made In Thailand nanti dengan mudahnya.
Begitu tiba di dalam mkamarnya, Teh Siska langsung melepaskan dasternya, sehingga tiada sehelai benang pun menutupi tubuhnya kini. Kemudian ia menelentang di atas bed berkain seprai putih bersih itu. Membuatku terlongong, karena tubuh montok berpinggang ramping itu sangat menggiurkan…!
Aku pun melepaskan celana jeans dan baju kausku. Hanya celana dalam yang masih kubiarkan melekat di tempatnya. Lalu naik ke atas bed.
“Kenapa celana dalamnya tidak dilepaskan sekalian?” tanya Teh Siska sambil menurunkan celana dalamku, sampai terlepas dari kedua kakiku.
Dan… Teh Siska memegang kedua belah pipinya sambil berseru, “O my God! rudalmu gede banget Don…!”
Kepalangan rudalku sudah tersembul dan memang sudah ngaceng sejak di ruang tamu tadi, dengan sikap manja seorang adik ke kakaknya, kuangsurkan rudalku dan kucolek – colekkan moncongnya ke pipi Teh Siska.
Tapi Teh Siska tidak marah. Ia bahkan tersenyum sambil menangkap rudalku. Lalu moncongnya diciumi crupppp… crupppp… crupppph…!
Tak cuma diciumi. Teh Siska bahkan menjilati moncong dan leher rudalku. Lalu happpphhh… dikulumnya rudalku dengan lahapnya. Kemudian diselomotinya seperti anak kecil sedang menyelomoti permen loli atau es lilin. Sementara bagian yang tidak terkulum diurut – urut oleh tangannya, dilicinkan oleh air liurnya yang mengalir ke badan rudalku …
Lama juga Teh Siska menyelomorti rudalku, sampai akhirnya ia melepaskannya dari mulutnya sambil berkata, “Gila… sampai terasa sesak di mulutku juga… ayo masukin aja ke serambi lempitku Don …”
Kemudian Teh Siska menelentang dengan kedua kaki mengangkang, sambil mengusap – usap serambi lempit botak licinnya, dengan senyum yang sangat mengundang.
Dengan sepenuh gairah aku pun merayap ke atas perutnya sambil memegangi rudal ngacengku, yang moncongnya kuletakkan tepat di mulut serambi lempit yang menganga dan berwarna pink itu.
Dengan sekali dorong sekuatnya, rudalku mulai melesak masuk ke dalam serambi lempit tembem itu… blessssss…!
Teh Siska pun meraih kedua bahuku sehingga dadaku terhempas ke sepasang toket gedenya. “Kamu satu – satunya adikku yang cowok. Ternyata rudalmu segini gedenya… beruntung istrimu kelak… bisa dientot sama rudal yang sangat gede dan panjang gini. Beruntung juga aku ngajak kamu ke sini tadi… ayo mainkan rudalmu Don…
Aku pun mulai mengayun rudalku di dalam liang serambi lempit Teh Siska yang sudah basah licin dan hangat ini. Maklum tadi sudah kujilati dan kualiri air liurku.
Dalam tempo singkat entotanku mulai lancar, diiringi desahan dan rintihan kakak sulung yang baru tadi sore kukenal wajahnya ini. “Doooon… oooo… oooooooh dooon… gilaaaaa… sekalinya dapet rudal segini panjang gedenya… enak banget Dooon… yang luar biasa, panjangnya rudalmu ini, sampai terus – terusan mentok di dasar liang serambi lempitku…
Naaaaah… naaaaah… ini nikmat sekali Dooon… entot sampai ke dasarnya terussss Dooon… naaaaah… naaaaah… ooooo… oooooh… nikmat sekali Donny… entooooottttt sampai ke dasarnya lagi… naaaah… oooooooh… luar biasa enaknya Dooon… ooooh… entot terus Dooon… entoooot terusss…
Aku memang merasakannya juga. Bahwa moncong rudalku selalu menyundul dasar liang serambi lempit Teh Siska pada saat sedang kudorong. Dan hal itu rupanya membuat kakak sulungku keenakan.
Dan saking enaknya, tak lama kemudian Teh Siska klepek – klepek seperti mau orgasme. Tapi aku masih asyik – asyiknya mengayun batang kemaluanku.
Lagian waktu aku menyetrubuhi kakak sulungku ini, merupakan persetubuhan yang ketiga buatku. Tadi pagi menyetubuhi Bunda, tadi siang menyetubuhi Donna dan kini menyetubuhi Teh Siska. Maka dengan sendirinya durasi menyetubuhiku jadi lebih lama dari biasanya.
Teh Siska memang mulai berkelojotan… lalu mengejang tegang sambil menahan nafasnya. Dan… “Aaaaaaaaahhhhh… aku udah lepas Dooon…”
Teh Siska mengelojot lagi, lalu terhempas lemas.
Aku sudah sering merasakan hal yang seperti ini, baik dengan Mama mau pun dengan Tante Reni. Karena itu kudiamkan dulu rudalku di dalam liang serambi lempit Teh Siska, sambil memperhatikan aura kecantikan kakak sulungku ini. Memang Teh Siska tidak kalah cantik dari Donna. Bentuk tubuhnya pun berbeda dengan tubuh Donna.
Mereka punya kelebihan masing – masing yang sulit mengatakannya. Barangkali kalu kuambil kesimpulan, Donna itu laksana princess yang cantik jelita, sementara Teh Siska itu sexy habis. Dan aku sangat tergiur oleh keseksian kakak sulungku ini.
Lalu kenapa Teh Siska bisa bercerai dengan suaminya? Entahlah.
Yang jelas, setelah Teh Siska tampak bergairah lagi, aku pun mengayun batang kemaluanku kembali. Liang serambi lempit Teh Siska jadi terasa becek, pasti karena baru mengalami orgasme. Tapi aku justru suka memenyetubuhi serambi lempit yang baru orgasme begini. Karena aku merasa tak punya beban, karena pasangan seksualku sudah mencapai kepuasannya.
Karena liang serambi lempit TGeh Siska sudah becek, dengan sendirinya batang kemaluanku sangat lancar memenyetubuhinya. Moncong rudalku pun terus – terusan ”menabrak” dasar liang serambi lempit Teh Siska.
Dan… bokong gede itu pun mulai bergoyang – goyang erotis, mungkin untuk mengimbangi genjotan rudalku yang mulai gencar dan keras ini. Aku pun tak mau kalah. Ketika sedang asyik – asyiknya memenyetubuhi liang serambi lempit Teh Siska yang mulai terasa sempit lagi ini (tidak becek lagi), aku pun mulai menyedot – nyedot dan menjilati pentil toket gedenya.
Oooo… betapa nikmartnya menyetubuhi kakak sulungku yang tinggi montok ini…!
Terlebih setelah merasakan nikmatnya goyanjgan bokong gede Teh Siska, yang membuat rudalku terbawa meliuk – liuk dan menghempas – hempas. Yang membuat rudalku laksana dibesot – besot dan diremas – remas oleh liang serambi lempit kakak sulungku ini.
Tak salah kalau orang menyebut hubungan sex itu laksana surga dunia indah dan nikmatnya.
Prtarungan rudalku dengan liang serambi lempit Teh Siska makin lama makin seru. Bokong gedenya sudah digoyang meliuk – liuk, memutar – mutar dan menghempas – hempas dengan lincahnya, namun rudalku masih sangat tangguh menghadapinya. Bahkan untuk kedua kalinya Teh Siska mengelojot dan mengejang lagi, lalu terdengar desahannya, “Aaaaaaaahhhhh…
Ucapan itu dilanjutkan dengan ciuman hangatnya di bibirku. Mungkin sebagai tanda terimakasihnya karena telah kubuat puas batinnya.
Namun aku masih belum apa – apa. Kuayun lagi rudalku yang masih sangat tangguh ini, setelah melihat Teh Siska sudah pulih lagi semangatnya.
“Tukar posisi yuk,” ucapnya pada suatu saat.
“Boleh. Mau posisi gimana?”
“Doggy aja,” sahut Teh Siska sambil tersenyum.
Kuikuti saja apa yang diinginkannya. Ketika dia sudah merangkak sambil menunggingkan bokong gedenya tinggi – tinggi, aku pun berlutut sambil mengarahkan rudalku ke arah serambi lempitnya yang tampak sepenuhnya dari arah belakang ini. Lalu kudorong dan masuk dengan mudahnya ke dalam liang serambi lempit Teh Siska yang sudah becek lagi untuk kedua kalinya ini.
Iseng – iseng kutampar buah pantatnya yang kanan dan yang kiri, plak… plaaakkk! Lalu berkomentar, “Bokong Teteh gede banget. Jadi pengen gigit saking gemesnya.”
Teh Siska menyahut, “Gigit aja kalau bisa sih, hihihi…”
“Nggak ah. Nggak tega nyakitin kakak kandungku sendiri.”
“Tapi kalau ditampar – tampar kayak barusan boleh juga tuh Don. Aku seneng kok dientot sambil ditamparin pantat sampai merah sekali… sampai seperti bekas kerokan… ayo cobain sekarang… entot sambil tamparin pantatku sampai merah kebiru – biruan… ayooo… mau direndem terus rudalmu?”
Aku tersenyum sambil mulai mengayun batang kemaluanku, bermaju – mundur di dalam liang serambi lempit Teh Siska yang becek ini. Lalu sambil berlutut dan memenyetubuhinya ini, aku mengikuti permintaan kakakku barusan. Bahwa aku harus menampar – nampar buah pantatnya sampai merah kebiru – biruan seperti bekas kerokan.
Maka mulailah aku memenyetubuhinya sambil menampar – nampar sepasang buah pantatnya… plaaaak… plaaaaaak… plaaaaak… plaaaaaaak…!
Rasanya aku sudah cukup kuat menampar – nampar buah pantat Teh Siska yang gede dan padat kencang ini. Tapi ternyata Teh Siska complain, “Kurang kuat Don… jangan ragu gitu… anggap aja kamu sedang menempelengin musuhmu… !”
Mendengar protes kakak sulungku itu aku pun mulai mengemplangi sepasang buah pantat Teh Siska dengan sekuat tenaga.
“Nah gitu… tamparin terus sekuat tenaga Dooon… enak tuh…”
Aku heran, karena baru sekali ini menyetubuhi perempuan yang ingin sambil ditempelengin pantatnya begini. Tapi aku pernah membaca di sebuah majalah internasional, tentang wanita yang senang disakiti pada waktu disetubuhi. Ada yang ingin dientot sambil dicupang lehernya, ada yang ingin diremas toketnya sekuat tenaga dan banyak lagi.
Apakah Teh Siska juga tergolong perempuan yang seperti itu? Entahlah. Sang Waktu yang akan menjawabnya nanti.
Yang jelas bunyi – bunyi unik berkumandang di dalam kamar Teh Siska ini. Bunyi crak crek seperti bunyi telor sedang dikocok datang dari rudalku yang sedang menggenjot liang serambi lempit beceknya Teh Siska, bercampur dengan bunyi plak – plok yang datang dari tamparan – tamparanku di sepasang buah pantat kakak sulungku itu.
Crakkkk… crekkkk… crakkkk… crekkkk… crakkkk… crekkk…!
Plaaaak… plooooookkkkk… plaaaaaak… plokkkkkk… plaaaaakkkkk… plooookkkkk…!
Namun makin lama lendir di dalam liang serambi lempit Teh Siska mulai berkurang, sehingga tidak terdengar bunyi crak – crek lagi. Sementara telapak tanganku pun mulai terasa panas akibat menempelengi buah pantat Teh Siska terus – menerus. Namun hasilnya sudah kelihatan. Sepasang buah pantat Teh Siska sudah merah kebiru – biruan seperti yang diinginkannya.
Aku lalu teringat kepada Mbak Reni alias Tante Reni, yang suka ingin kelentitnya dielus – elus oleh jariku pada waktu disetubuhi dalam posisi doggy seperti ini. Maka kedua tanganku pun seolah mendekap bokong Teh Siska, namun sebenarnya tanganku sedang berusaha mencapai serambi lempit kakakku. Dan akhir kutemukan kelentit yang akan kuelus – elus sambil ditekan agar lebih terasa.
Ya… jari tangan kananku dan jari tangan kiriku seolah berebut untuk mengelus – elus kelentit Teh Siska.
Lalu… Teh Siska mulai merengek – rengek keenakan, “Duuududuuuuuh… Dooon… ini enak sekali Dooon… elus terus itilku Dooon… enak Dooon… enaaaaak… elus terus itilku… itilkuuu… iiiitiiiiiillll… itilnya elus teruuuuusssss… itilnyaaaa… itilnyaaaaaa… !”
Keringatku sudah bercucuran. Namun aku tetap giat memenyetubuhi liang serambi lempit Teh Siska sambil mengelus – elus kelentitnya.
Tiba – tiba Teh Siska serambi lempitik perlahan, “Oooo… oooooooh Doooon… !“Lalu ia ambruk ke atas kasur, sehingga batang kemaluanku terlepas dari liang serambi lempitnya.
“Kenapa? Orgasme lagi Teh?” tanyaku heran.
“Iya,” sahut Teh Siska sambil menelentang kembali, “Permainanmu luar biasa enaknya sih… bikin aku orgasme berkali – kali. Baru sekali ini aku mengalami orgasme sampai tiga kali, sementara kamu belum ngecrot juga.”
“Baguslah… aku kan ingin membuat Teteh puas,” kataku sambil merayap ke atas perutnya lagi.
“Iya, terima kasih Donny Sayaaang… emwuaaaaaah…” ucap Teh Siska yang dilanjutkan dengan kecupan hangatnya di bibirku, “Gak nyangka adikku setampan dan sejantan ini. Kamu memang luar biasa perkasanya Don.”
Sebagai jawaban, kudorong rudalku yang moncongnya sudah menempel di ambang mulut serambi lempit Teh Siska. Blesssss… melesak amblas sampai ke dasar liang serambi lempit Teh Siska yang sudah becek lagi ini.
Kali ini aku ingin secepatnya ejakulasi, kalau bisa. Karena kasihan kepada Teh Siska yang kelihatan mulai kepayahan.
Tapi dugaanku meleset. Karena aku mulai memenyetubuhinya lagi sambil menjilati lehernya disertai dengan gigitan – gigitan kecil, Teh Siska mendekap pinggangku erat – erat sambil berkata, “Cupangin leherku Don… cupangin yang banyaaaak…”
Aku sudah punya pengalaman di Bangkok. Pengalaman nyupangin leher Tante Reni seperti yang diinginkannya.
Maka sambil memenyetubuhi liang serambi lempit beceknya Teh Siska dengan gencar, kusedot lehernya kuat – kuat, berulang – ulang di satu titik, sampai meninggalkan bekas merah kehitaman sebesar uang koin. Kemudian pindah lagi ke titik lain, mencupangnya lagi dan begitu seterusnya. Sampai meninggalkan totol – totol merah kehitaman beberapa titik di leher Teh Siska.
Dan setiap kali aku sedang mencupangi lehernya, Teh Siska memejamkan matanya erat – erat, namun dengan senyum manis di lehernya. Seolah sedang menghayati suatu kenikmatan yang tiada taranya.
Sementara itu liang serambi lempit Teh Siska tidak becek lagi. Mulai sempit menjepit lagi. Dan terdengar suaranya terengah, “Terusin cupangin lagi lehernya Dooon… aku senang sekali dicupangin leher dan tetekku.”
“Lehernya sudah lebih dari enam cupangan Teh,” sahutku sambil menghentikan entotanku, “Besok Teteh harus membelitkan selendang di leher, kalau tidak mau kelihatan lehernya banyak bekas cupangan.”
“Sekarang pindah ke tetekku… cupangin juga. Kalau sedang mencupangi tetek kananku, tetek kiriku harus diremas sekuatnya… biar rasanya lebih mantap, “pintanya.
Aku memang gemas menyaksikan gedenya toket kakak sulungku yang menggiurkan itu. Ingin meremasnya sekuatku. Namun takut menyakitinya.
Tapi kali ini dia sendiri yang memintaku untuk meremas toket yang satu pada waktu sedang mencupangi toket yang satu lagi.
Maka kulakukan juga apa yang dimintanya itu. Diawali dengan meremas toket kanannya sekuiat mungkin, waktu aku sedang mencupangi toket kirinya. Kemudian kuremas juga toket kirinya sekuat tenaga, pada waktu aku sedang mencupangi toket kanannya. Begitu terus yang kulakukan sambil memenyetubuhi liang serambi lempitnya yang sudah legit kembali ini.
Dan Teh Siska semakin terpejam – pejam dengan bibir tersenyum – senyum.
Setelah cukup banyak totol – totol merah kehitaman di sepasang toket gede Teh Siska, aku pun menghentikan aksi mencupangi toketnya itu.
Namun masih ada lagi permintaannya: “Sekarang remaslah kedua tetekku sekuat tenagamu, Sayang…”
Aku terheran – heran. Karena kebiasaan menyakiti diri sendiri itu tidak pernah kudapatkan pada perempuan lain. Bunda juga tidak seperti itu. Tapi anak sulung Bunda ini lain dari yang lain.
Namun kulakukan juga permintaannya. Kjuremas – remas sepasang toketnya sekuat tenaga. Sampai ia terpejam – pejam lagi seperti tadi.
“Oooooh… enak sekali Sayang… enaaaak… “rengeknya sambil mendekap pinggangku erat – erat. Sementara sekujur tubuhnya sudah dibanjiri keringat. Seperti tubuhku juga, yang sudah dibanjiri keringat.
Dan pada suatu saat… aku tiba pada titik krusial. Sepertinya sudah mau berejakulasi. Tapi sengaja kuhentikan entotanku. Hanya meremas – remas toket Teh Siska yang kulakukan.
Dan akhirnya Teh Siska merengek, “Dooon… entot lagi… entoooot… aku mau lepas lagi Dooon…”
Inilah detik – detik yang kuinginkan. Detik – detik membarengkan ejakulasiku dengan orgasmenya Teh Siska.
Maka kuayun lagi rudalku yang sudah di ambang kegawatan ini. Sementara Teh Siska sudah mengejang tegang, sambil menjambak – jambak rambutku.
Lalu kubenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin, sampai mentok di dasar liang serambi lempit kakak sulungku. Kubiarkan rudalku menancap dan mendorong dasar liang sanggama Teh Siska.
Pada saat itulah kurasakan gerakan liang serambi lempit Teh Siska dengan jelas. Gerakan yang seperti spiral membelit dan meremas rudalku… diiringi dengan kedutan – kedutan kencang… bersamaan dengan mengejut – ngejutnya rudalku yang sedang memuntahkan air mani.
Crooot… crot… croooooooootttttttt… crotcrot… crooootttt… crooooooootttt…!
Disusul dengan erangan Teh Siska, “Oooooohhhh… nikmatnya orgasmeku… ditemani oleh semprotan air manimu Doooon… nikmat sekaliiii…”
Lalu ia menciumi bibirku dengan lahapnya. Sementara aku masih terkulai lemas di atas perutnya.
Setelah mencabut batang kemaluanku dari liang serambi lempit Teh Siska, aku menggulingkan tubuhku, menelentang di samping kakak sulungku. “Teteh ikut program KB?” tanyaku.
“Nggak. Kalau janda ikut KB, berarti ada tujuan gak bener,” sahutnya sambil mengusap – usap dadaku.
“Nanti kalau hamil gimana?”
“Biar aja. Anakku kan dibawa oleh mantan suamiku. Jadi aku ingin hamil lagi.”
“Tapi kita kan gak bisa menikah secara sah, karena kita ini saudara kandung.”
“Memangnya siapa yang ngajak kamu nikah? Biar aja anak kita lahir tanpa perkawinan kita. Yang penting kamu harus ikut menyayangi anak kita nanti ya.”
“Soal itu sih pasti,” sahutku dalam perasaan bingung. Karena belum terbayang apa yang mesti kulakukan kalau Teh Siska mengandung benih dariku.
Tapi biarlah. What ever will be, will be. Apa yang akan terjadi, terjadilah.
Lalu aku tertidur dalam pelukan Teh Siska… dalam keadaan sama – sama telanjang bulat.
Esok paginya aku terbangun agak kesiangan. Sementara Teh Siska sudah tidak di sisiku lagi. Namun terdengar bunyi minyak mendidih. Mungkin Teh Siska sedang memasak sesuatu untuk makan pagi. Aku pun turun dari bed dan melangkah ke kamar mandi pribadi kakak sulungku. Kamar mandi yang sudah ditata serba kekinian.
Kemudian aku mandi sebersih mungkin.
Tak lama kemudian, aku sudah mengenakan pakaianku dan menyisir rambutku. Lalu aku keluar dari kamar Teh Siska, menuju datangnya bunyi minyak mendidih itu.
Ternyata Teh Siska memangf sedang masak di dapurnya yang sudah ditata secara modern pula. Rumah kakak sulungku ini samngat jauh berbeda dengan rumah Bunda. Membuatku tekadku semakin kuat. Untuk meng – upgrade rumah Bunda secara layak.
“Lagi masak apa Teh?” tanyaku sambil mendekap pinggang Teh Siska dari belakang. Saat itu Teh Siska mengenakan kimono sutera putih bersih.
“Lagi bikin nasi kuning. Ini goreng ayam untuk lauknya. Di Thailand ada nasi kuning?“
“Ada. Nasi kuning di Thailand disebut Khao Mok Gai. Di rumah orang tua angkatku juga sering bikin nasi kuning Indonesia.”
“Apa bedanya nasi kuning Thailand dengan nasi kuning Indonesia?”
“Hampir sama saja. Cuma bedanya kalau nasi kuning Indonesia cukup ramai lauk pauknya, sedangkan nasi kuning Thailand hanya mengandalkan ayam goreng dan kuah sup.”
“Pakai kuah sup segala?”
“Iya. Kalau kita beli nasi kuning di sana, pasti penjualnya nanya… Au nam sup? Artinya mau pakai kuah sup? Kalau tidak suka, kita jawab… Mai au nam sup kha. Artinya, tidak pakai kuah sup.”
“Begitu ya. Tapi di Indonesia juga ada nasi kuning Manado yang berbeda lauk pauknya kalau dibandingkan dengan nasi kuning di pulau Jawa. Nasi kuning Manado menggunakan ikan laut yang diiris kecil – kecil dan ditumis sebagai lauknya.”
“Iya. Kuliner di negara kita memang sangat beraneka ragam,” sahutku sambil menoleh ke arah lain. Ternyata Teh Siska sudah memasak sambal goreng tempe, dadar telur yang sudah diiris tipis – tipis dan sebagainya. Selera makanku pun jadi bangkit.
Pada waktu sedang makan nasi kuning buatan Teh Siska, aku berkata, “Bekas cupangan di leher dan toket Teteh banyak banget.”
“Biarin aja. Biar begitu melihat bayanganku di cermin, aku pasti ingat kamu,” sahut Teh Siska.
“Paling lama juga dalam tiga hari bekas cupangnya hilang. Berarti tiga hari lagi Teteh takkan ingat aku lagi ya?”
“Gak gitulah. Kamu akan mendapat tempat istimewa di seumur hidupku. Lagian kamu kan adikku. Hubungan kakak dengan adik kandung takkan pernah bisa putus. Meski pun aku punya suami lagi, hubungan kita harus tetap berjalan… tapi kalau aku sudah bersuami, hubungan kita harus secara rahasia aja,” sahut Teh Siska, “Ohya…
“Iya. Nanti sebelum pulang ke Bangkok, pasti aku akan mengunjungi rumahnya. Teh Nenden itu adik Teh Siska kan?”
“Iya. Aku kan anak sulung. Mana ada si sulung punya kakak?”
“Kata Bunda, suami Teh Nenden itu seorang dokter ya?”
“Iya. Suaminya dokter spesialis bedah yang sukses dan terkenal. Tapi usianya sudah tua. Tigapuluh tahun lebih tua dari Nenden.”
“Memangnya usia Teh Nenden sekarang berapa tahun?”
“Nenden usianya dua tahun lebih muda dariku. Jadi sekarang usianya duapuluhtiga tahun,” sahut Teh Siska.
“Berarti usia suaminya limapuluhtiga?”
“Ya, segitulah kira – kira.”
“Teh Nenden sudah punya anak?”
“Belum. Padahal dia sudah tiga tahun menjadi istri dokter itu.”
“Berarti dia kawin waktu usianya seumuran aku dan Donna sekarang?”
“Iya. Waktu Nenden kawin dengan dokter itu, usianya baru duapuluh tahun. Suaminya sudah limapuluh tahun.”
“Mungkin waktu menikah dengan Teh Nenden, dokter itu duda ya?”
“Iya. Sebelum kawin dengan Nenden, dokter itu sudah duda beranak cewek dua orang. Istri dokter itu sudah meninggal sebelum berjumpa dengan Nenden.”
“Jadi sekarang Teh Nenden punya anak tiri dua orang ya.”
“Iya. Tapi kedua anak tirinya sudah pada punya suami, jadi gak ada yang tinggal di rumah Nenden.”
Tiba – tiba handphoneku berdering. Cepat kukeluarkan hapeku dari saku celanaku.
“Sttt… dari Bunda… !” kataku sambil meletakkan telunjuk di depan mulutku.
Teh Siska mengangguk – angguk. Dia sudah tahu kalau aku mengaku akan menjumpai temanku yang datang dari Thailand. Bukan mau menginap di rumah Teh Siska.
“Hallo Bunda…”
“Don… pemilik tanah itu sudah setuju pada tawaran Bunda. Jadi harganya diturunkan seratus juta. Dia nanya, kapan mau transaksinya?”
“Oke Bunda. Sekarang juga aku pulang. Transaksinya di notaris aja.”
“Iya. Bunda tunggu ya.”
“Iya Bun.”
Setelah hubungan seluler dengan Bunda ditutup, teh Siska bertanya, “Mau transaksi apa pakai notaris segala?”
“Mau beli tanah kosong yang di samping rumah Bunda itu.”
“Wow…! Kalau gak salah tanah di samping rumah Bunda itu setengah hektar luasnya ya.”
‘Iya. Aku mau pulang dulu ya Teh,” kataku sambil berdiri.
Teh Siska pun berdiri dan memeluk leherku. “Selama masih liburan di kota ini, kamu harus sering ke sini ya Don,” ucap Teh Siska seperti berat melepaskanku.
“Iya Teh… aku pasti kangen terus sama Teteh,”
“Kangen sama aku apa sama serambi lempitku?”
“Kangen sama dua – duanya. Heheheee…”
Teh Siska mencium bibirku berulang – ulang. Lalu mengantarkanku hingga ke pintu pagarnya. Sampai aku mendapatkan taksi yang melewati jalan di depan rumah kakak sulungku itu.
Setelah berada di dalam taksi, aku masih sempat melambaikan tangan ke arah Teh Siska. Ia pun tampak melambaikan tangan juga, dengan wajah yang kelihatan sedih. Seolah tak ingin ditinggalkan olehku.
Namun di dalam hati aku berjanji akan sering mengunjungi rumah Teh Siska secara rahasia. Tanpa diketahui oleh Bunda dan Donna.
Setibanya di rumah Bunda, mataku mencari – cari mobil Donna. Tapi tidak ada.
Bunda pun muncul di ruang tengah yang tampak sudah dibereskan, tidak berantakan seperti kemaren.
“Donna ke mana Bun?” tanyaku.
“Ke tempat kerjanya, tapi mau resign seperti yang kamu anjurkan. Bukan mau kerja,” sahut Bunda sambil memegang tanganku, “Selain itu, Donna juga mau menemui pemborong yang akan membangun di tanah kosong itu.
“Oh iya. Berarti Donna sangat mendengarkan pesanku.”
“Donna kelihatan bahagia sekali setelah dibelikan mobil olehmu Don.”
“Iya Bun. Nanti kalau tanah itu sedang dibangun, biar Donna kujadikan pengawas aja. Setiap membutuhkan uang untuk pemborong itu, akan kutransfer lewat rekening tabungan Donna aja. Tapi sebelum pulang ke Bangkok pasti aku titip uang juga sama Donna, untuk biaya pembangunan di tanah itu.”
“Iya… bunda senang sekali karena kedatanganmu membawa angin segar bagi bunda dan Donna.”
“Tapi Bunda masih minum – minum?”
“Nggak Sayang. Bunda berusaha mengikuti saranmu. Lihat aja keadaan di dalam kamar bunda. Botol – botol minuman beralkohol sudah tidak ada satu pun.”
“Syukurlah Bunda. Senang aku mendengarnya. Kan aku ingin agar Bunda tetap sehat dan seksi…” ucapku sambil mencium bibir Bunda.
“Iya… iya… mmm… temanmu sudah pulang ke Thailand?”
“Belum. Dia ingin bareng sama aku pulangnya nanti.”
“Dia teman kuliahmu?”
“Iya. Jadi dia ingin menghabiskan masa liburannya di Indonesia. Lalu kembali ke Bangkok bareng sama aku,” kataku berbohong. Sengaja aku menciptakan kebohongan itu, agar kalau aku pergi ke rumah Teh Siska nanti, alasannya akan menemui teman dari Thailand itu.
“Sekarang mau ke rumah pemilik tanah itu?” tanyaku.
“Iya, mumpung belum siang benar. Supaya kantor notarisnya belum tutup.”
“Don…” kata Bunda sambil memegang tanganku, “Nanti pulang dari notaris, ajak bunda ke hotel ya.”
“Mau ngapain? Bunda udah kangen ya?”
“Iya, “Bunda mengangguk sambil tersenyum, “Tapi Bunda ingin melakukannya di tempat yang tenang dan nyaman.”
“Iya deh,” sahutku. Untung tadi pagi aku tidak menyetubuhi Teh Siska lagi. Kalau aku menyetubuhinya, pasti aku akan kepayahan membangunkan tongkat kejantananku hari ini.
Tak lama kemudian aku dan Bunda berjalan kaki menuju rumah pemilik tanah kosong itu. Ternyata rumahnya tidak jauh dari tanah yang mau dijual itu.
Pemilik tanah itu masih muda, sekitar 30 tahunan, mengenalkan namanya sebagai Wondo. Dia bahkan menawarkan rumahnya juga yang berdampingan dengan tanah kosong itu, agar dibeli olehku, karena dia mau pindah ke kampung halamannya di Madiun.
Aku pun tertarik, karena rumah itu sudah bergaya kekinian, seperti rumah Teh Siska. Lalu kutanya berapa harganya. Ternyata rumah itu ditawarkan dengan harga yang sangat murah menurutku. Tapi aku berusaha menawarnya dulu. Setelah bernegosiasi yang agak alot, akhirnya dia menyetujui tawaranku.
Bunda hanya ikut dengar saja, tidak berkomentar sepatah kata pun. Dan tampak senang setelah mendengar bahwa aku dan pemilik tanah itu sudah deal untuk membeli tanah kosong dan rumahnya yang lumayan besar dan berbentuk minimalis itu.
Kemudian kami berangkat menuju notaris. Aku dan Bunda menggunakan taksi, sementara Pak Wondo menggunakan motornya.
Kebetulan di notaris sedang tidak ada klien, sehingga dengan cepat transaksi kami diurus oleh sang Notaris.
Untuk membayar nominal yang sudah kami sepakati, kuberikan selembar cek dari sebuah bank internasional, yang baik di Bangkok mau pun di kota ini ada cabangnya. Lalu notaris itu meminta klarifikasi dari bank yang bersangkutan dulu.
Setelah clear, transaksi pun dianggap selesai. Notaris itu memberikan akte jual beli kepadaku, yang langsung kuserahkan kepada Bunda. Akte jual beli itu pun atas nama Bunda semua. Aku memang ingin Bunda besar hatinya. Maka setelah tanah itu dibangun, aku akan menyerahkan segalanya kepada Bunda.
Sertifikat tanah dan rumah itu kuserahkan kepada notaris, agar dia mengurus balik namanya ke kantor BPN.
Kemudian aku berjabatan tangan dengan Pak Wondo, sebagai tanda sudah selesainya transaksi itu. Pak Wondo hanya minta waktu seminggu untuk beres – beres barangnya yang akan diangkut ke Madiun. Kebetulan kalau seminggu lagi aku pun masih berada di Indonesia, jadi bisa membenahi rumah yang kubeli dari Pak Wondo itu, kemudian kubelikan furniture dan perabotan selengkapnya, lalu Bunda akan kuminta pindah ke rumah itu, karena rumah jadul Bunda akan kurobohkan untuk dibangun yang benar – benar baru.
Hmmm… sudah sejauh itu rencanaku…!
Setelah keluar dari kantor notaris itu, aku searching dulu di google lewat handphoneku. Searching hotel di kota ini. Pada saat itu belum ada system booking lewat internet. Jadi aku hanya searching nama dan alamat hotelnya saja. Lalu kupilih sebuah hotel bintang lima, yang akan kusampaikan kepada sopir taksi nanti.
Setelah mendapatkan taksi, kuperlihatkan nama dan alamat hotel itu dari handphoneku. Sopir taksi itu pun mengangguk, lalu menjalankan taksinya. Membawaku bersama Bunda ke hotel seperti yang Bunda inginkan.
Waktu berada di dalam taksi itulah aku jadi teringat cerita legenda Sangkuriang yang pernah kubaca dari kumpulan cerita rakyat Indonesia. Aku masih ingat benar bahwa Sangkuriang yang sudah terlalu lama meninggalkan ibunya, begitu berjumpa lagi dengan ibunya sudah lupa bahwa Dayang Sumbi itu ibu kandungnya.
Mereka saling jatuh cinta. Tapi ketika membelai rambut Sangkuriang, Dayang Sumbi melihat bekas luka di kepala Sangkalalana. Sehingga Dayang Sumbi teringat pada anaknya yang pernah dilempar oleh “cukil” (semacam senduk) nasi dan mengakibatkan luka dan berdarah – darah di kepalanya. Lalu Dayang Sumbi bertanya siapa sebenarnya nama asli Sangkalalana itu.
Akhirnya Sangkalalana mengakui bahwa namanya adalah Sangkuriang. Tapi sejak diusir oleh ibunya karena telah membunuh si Tumang, anjing yang dibawa berburu yang sebenarnya ayah Sangkuriang, maka Sangkuriang pun membuang nama aslinya dan mengganti jadi Sangkalalana.
Dayang Sumbi kager dan bicara terus terang bahwa Sangkuriang itu anak kandungnya. Tapi Sangkuriang tidak percaya, karena kalau masih ada pastilah ibunya sudah sangat tua. Sedangkan Dayang Sumbi masih kelihatan muda dan sangat cantik.
Akhirnya Dayang Sumbi menyatakan bersedia menjadi istri Sangkuriang asalkan bisa mewujudkan permintaannya, asalkan bisa mewujudkan danau dalam semalam dan sebuah perahu untuk mengarungi danau itu.
Konon Sangkuriang meminta bantuan para siluman untuk mewujudkan permintaan ibunya itu.
Malam itu Dayang Sumbi terkaget – kaget ketika menyaksikan danau itu sudah hampir selesai. Maka dicarinya akal. Lalu Dayang Sumbi meminta bantuan kepada teman teman sekampungnya untuk memukul lesung beramai – ramai. Ayam – ayam jantan pun kaget mendengar suara lesung dipukul – pukul itu. Lalu semua ayam jantan di kampung itu pada berkokok.
Dayang Sumbi menghampiri Sangkuriang sambil bedrseru, “Sangkuriang! Kamu gagal memenuhi permintaanku. Dengarlah suara ayam – ayam berkokok itu. Pertanda hari sudah hampir pagi! Bukankah kamu sudah berjanji akan mewujudkan permintaanku sebelum fajar menyingsing?”
Sangkuriang kaget dan berusaha untuk menangkap ibunya. Tapi Dayang Sumbi menghilang dan konon menjelma jadi Gunung Putri. Sementara Sangkuriang geram sekali atas kegagalannya sendiri. Maka perahu yang sudah disiapkan oleh para siluman itu pun ditendangnya sampai jatuh menelungkup. Maka perahu besar itu pun menelungkup dan menjelma jadi Gunung Tangkuban Perahu
(Tangkuban = telungkup).
Aku teringat cerita rakyat Priangan itu karena aku merasa bisa mengalahkan Sangkuriang yang gagal mendapatkan ibu kandungnya. Karena aku sudah berhasil mendapatkan ibu kandungku…!
Apakah kemenanganku ini sebagai suatu keberhasilan atau suatu kejahanaman?
Entahlah. Yang jelas di kamar hotel bintang lima ini kuperhatikan Bunda yang memang cantik sekali. Terlebih lagi setelah telanjang bulat di depan mataku. Dalam khayalanku, Bunda seolah bidadari yang turun dari langit, khusus untuk menyenangkan dan membahagiakan hatiku.
Aku malah sering berpikir bahwa mungkin saja aku ini reinkarnasi dari Sangkuriang, yang gagal di masa lalu, kemudian harus berhasil di masa kini. Hahahaaa… itu hanya khayalanku semata.
Dan yang jelas, kini aku ingin mewujudkan kebahagiaan Bunda yang merasa sangat kehilangan setelah Ayah meninggal. Ingin mewujudkan kenikmatan dan keupasan untuk diriku sendiri pula.
Tapi lain Teh Siska lain Bunda. Meski Teh Siska itu sama – sama anak kandung Bunda, namun Bunda tidak mau diperlakukan keras olehku. Terbukti pada waktu aku bergumul dengan Bunda dalam keadaan sama – sama telanjang bulat, kucoba meremas toket Bunda agak keras. ternyata Bunda langsung merintih, “Duuuuh…
“Heheheheee… gemes sih sama toket Bunda yang tetap mulus walau pun sudah melahirkan empat anak,” sahutku.
“Mungkin karena Bunda sering senam dahulu. Sejak jadi peminum Bunda gak pernah senam lagi.”
“Bunda Sayang… kalau Bunda menghentikan minum minuman keras, Bunda akan jadi lebih sehat. Tubuh Bunda pun pasti lebih berisi, takkan ada yang kendor lagi. Pokoknya kalau Bunda menyetop kebiasaan minum itu, pasti Bunda bakal semakin seksi.”
Lalu kami bergumul di atas bed hotel five star itu. Terkadang aku di atas, terkadang Bunda yang di atas. Sampai pada suatu saat, batang kemaluanku sudah membenam ke dalam liang serambi lempit Bunda kandungku.
Bunda pun menyambutku dengan dekapan erat di pinggangku, sambil berkata, “Kamu memang seolah paket lengkap. Wajahmu tampan, bentuk tubuhmu seksi, rudalmu pun gede dan panjang banget. Kalau sudah punya istri, pasti istrimu merem – melek terus olehmu.”
“Aku takkan mau kawin dulu ah. Aku ingin membahagiakan hati Bunda dulu.”
Bunda pun mencium bibirku. Pada saat aku mulai mengayun rudalku, Bunda menyambutku dengan goyang pinggulnya yang sangat erotis. Meliuk – liuk, memutar – mutar dan menghempas – hempas. Membuat batang kemaluanku terombang – ambing mengikuti gerakan serambi lempit Bundaku tercinta …
Tidak terlalu berlebihan kalau aku mengatakan bahwa Bunda seolah bidadari yang diturunkan dari langit, untuk mengucurkan kenikmatan bagiku. Bidadari yang harus kuperlakukan secara halus dan lemah lembut.
Itulah sebabnya aku pun sengaja melambatkan ayunan rudalku di dalam jepitan liang kemaluan Bunda yang luar biasa enaknya ini. Terlebih setelah mendengar bisikannya, bahwa ia ingin menghayati gerakan demi gerakan batang kemaluanku dan ingin meresapi nikmatnya gesekan rudalku dengan liang sanggamanya.
Setelah gerakan maju mundurnya rudalku dilambatkan, Bunda kelihatan sangat menikmatinya. Terlebih setelah mulutku beraksi untuk menjilati lehernya disertai dengan gigitan – gigitan kecil… Bunda mulai merintih – rintih histeris, “Dooon… oooooh… terima kasih Dooon… bunda seperti dilahirkan kembali untuk menikmati keindahan ini…
Dan ketika kedua lengan Bunda terjulur ke atas, aku pun menjilati ketiaknya yang harum parfum oleh – olehku dari Bangkok. Dengan lahap aku menjilati ketiak Bunda yang sebelah kanan mau pun yang sebelah kiri. Dan Bunda semakin menggeliat – geliat. Mungkin karena merasakan geli – geli enak dari dua arah.
Aku pun mulai tahu bahwa Bunda lebih menyukai posisi missionary atau MOT (man on top) daripada posisi lainnya. Karena posisi MOT ini bisa saling peluk. bisa saling cum dan sebagainya. Perutnya pun bisa bertempelan dengan perutku, demikian juga toketnya bisa bertempelan dengan dadaku. Sementara aku pun bisa memenyetubuhinya sambil ngemut pentil toketnya, sambil menjilati leher dan ketiaknya, bisa pula menjilati telinganya.
Dan ketika aku sudah lama memenyetubuhi liang serambi lempit Bunda yang terasa legit menjepit, Bunda pun mulai merintih – rintih histeris sebagai indikator dari kenikmatan yang tengah dirasakannya.
“Dooon… kamu seolah titisan ayahmu… yang datang pas bunda membutuhkannya… kamu tak cuma mendatangkan kepuasan, tapi juga kebahagiaan Dooon… ooooh… setiap gesekan rudalmu dengan serambi lempit bunda ini… ooooh… nikmat sekali sayang… nikmat yang mengalir dari ujung kaki sampai ubun – ubun di kepala bunda…
Rintihan Bunda itu diiringi oleh dengus – dengus nafasku di atas wajah cantiknya yang mulai keringatan. Diiringi cintaku sebagai anak kandungnya sekaligus lelaki yang mencintainya… dengan segenap jiwa ragaku…!
Bunda pun seperti ingin menciptakan hal – hal yang membuatku nikmat. Tak sekadar menggoyang – goyangkan pinggulnya, yang membuat rudalku serasa dibesot – besot dan dipilin – pilin oleh dinding liang serambi lempit legitnya. Tapi juga melakukan hal seperti yang kulakukan padanya. Menjilati leherku yang sudah keringatan, menjilati ketiakku yang bebulu lebat dan melumat bibirku dengan hangatnya.
Tubuh kami pun mulai bermandikan keringat, sebagai indikator hubungan sex yang sempurna. Karena orang bilang, hubungan sex tanpa keringat, perlu dipertanyakan di mana letak kesalahan dan kekurangannya.
Sampai akhirnya Bunda berbisik terengah, “Donny… bunda udah hampir lepas… barengin yuk lepasinnya… biar lebih nikmat dan mengesankan… ooooh… Dooon… !”
Mama almarhumah telah banyak melatihku tentang bagaimana cara untuk memuaskan wanita menjelang orgasmenya. Maka aku pun mempercepat entotanku. Maju mundur maju mundur maju mundur maju mundur maju mundur… sampai akhirnya kutancapkan rudalku sedalam mungkin, sampai mentok di dasar liang serambi lempit Bunda…
Tanpa digerakkan lagi. Padsa saat itulah kurasakan sesuatu yang luar biasa nikmatnya. Bahwa liang serambi lempit bunda seolah meremas – remas rudalku, dibarengi dengan kedutan – kedutan erotisnya. Ditingkah dengan kejutan – kejutan batang kemaluanku yang tengah memuntahkan air maniku… crottt… croooottttt …
Tubuhku mengejut – ngejut di atas perut Bunda yang tengah mengejang… lalu kami saling rfemas… saling lumat di puncak kenikmatan yang sedang kami alami ini… ooo… indahnya surga dunia ini…!
Lalu kami sama – sama terkulai lemas. Dengan mata sama – sama terpejam, seolah sama -sama menghayati nikmat dan kepuasan yang baru saja kami alami.
Kemudian kami tertidur sekitar dua jam, sambil berpelukan dalam keadaan sama – sama telanjang.
Aku terbangunkan oleh dering handphoneku, yang ternyata call dari Donna. Lalu :
“Hallo Donna… ada apa?”
“Lagi di mana Don?”
“Lagi ngurus transaksi tanah dan rumah Pak Wondo itu.”
“Ohya?! Rumahnya dibeli juga?”
“Iya. Pak Wondo mau pindah ke kampung halamannya sendiri. Dalam seminggu pun rumahnya bisa kita tempati.”
“Wooow… rumahnya bagus tuh.”
“Iya, tapi harus diberesin dan dicat dulu, supaya kelihatan seperti rumah baru.”
“Aku sudah resign dari toko itu Don. Pemborong yang kamu inginkan juga bakal datang besok pagi, sekalian dengan arsiteknya.”
“Bagus itu. Jadi nanti selama tanah kosong itu sedang dibangun, kamu harus jadi pengawasnya.”
“Siap Boss. Eeeeh… ada tamu Don. Udah dulu ya.”
“Iya.”
Setelah hubungan seluler ditutup, aku turun dari bed. Untuk mandi dan keramas sebersih mungkin. Bunda malah sudah duluan mandi dan mengenakan gaunnya kembali.
Ketika kami pulang, tampak seorang wanita setengah baya sedang duduk di ruang depan, ditemani oleh Donna yang sudah datang duluan.
“Siapa itu Bun? Teh Nenden?” tanyaku kepada Bunda yang melangkah di depanku.
“Iiih… bukan…! Itu sih adik bunda, namanya Ratih. Ayo salaman sama tantemu itu Don.”
Aku mengangguk, lalu mencium tangan wanita yang kata Bunda bernama Ratih itu.
“Jadi Donny sudah sebesar dan setampan ini Teh?” tanya wanita setengah baya itu sambil menoleh kepada Bunda. Sementara kedua tanganku masih dipegang oleh wanita bernama ratih dan kata Bunda adalah adiknya itu.
“Iya… baru tiga hari dia ada di sini,” sahut Bunda
Lalu wanita cantik itu menatapku dengan tatapan bersorot terharu. Dan ia memelukku. Menciumi pipi kanan dan pipi kiriku. Donny… Donny… Kamu sangat mirip ayahmu Don,” ucapnya dengan mata berlinang – linang air mata, “aku jadi ingat pada waktu dibawa ke Bangkok, kamu masih bayi, masih menyusu kepada bundamu.
“Duapuluh tahun, Tante. Sudah dewasa kan?”
“Iya. Aku bersukur masih punya umur buat lihat kamu lagi, Don.”
“Iya Tante. Aku juga senang bisa bertemu dengan keluarga dekat begini.”
Setelah sama – sama duduk bersama Tante Ratih, Bunda dan Donna, aku bertanya kepada Bunda, “Bun… sebenarnya saudara kandung Bunda itu berapa orang?”
Banyak Don,” sahut Bunda, “kakak bunda ada dua, laki – laki semua. Namanya Jaka dan Sambas. Tapi mereka jauh – jauh. Kang Jaka di Kalimantan, Kang Sambas di Papua. Kemudian adik bunda perempuan semua. Ratih ini, lalu Dina… Santi dan Reni yang di Bangkok itu.”
“Owh banyak juga saudara kandung Bunda ya?”
“Saudara kandung ayahmu juga banyak, tapi tidak sebanyak saudara kandung Bunda,” kata Bunda, “Ayahmu itu anak sulung. Punya adik laki – laki seorang, Zulkifli namanya. Kemudian adik perempuannya tiga orang, namanya Neni, Tita dan Yani.”
“Jadi Bunda punya enam orang saudara dan Ayah… mmm… punya empat saudara ya.”
“Iya, bunda tujuh bersaudara, kalau ayah lima bersaudara.”
“Saudara Bunda jauh – jauh rumahnya?” tanyaku.
“Hanya yang laki – laki pada jauh di seberang lautan. Yang perempuan sih dekat -dekat.
Di luar kota juga hanya belasan kilometer dari sini. Nanti akan Bunda kumpulkan adik – adik bunda di sini, setelah rumah Pak Wondo itu kita tempati. Tapi kalau kakak – kakak bunda sih sulit diajak ngumpul, karena rumah mereka di seberang lautan semua.”
Aku cuma mengangguk – angguk kecil.
Kemudian kami terpecah menjadi dua bagian. Bunda ngobrol dengan Tante Ratih di ruang tamu, sementara aku ngobrol dengan Donna di ruang makan.
“Nanti anter aku ke toko buku ya,” kataku.
“Mau nyari buku apa?”
“Mau nyari majalah tentang design bangunan rumah. Untuk semacam referensi aja. Untuk renovasi rumah Pak Wondo dan bangunan di tanah kosong itu.”
“Kalau majalah yang begituan sih mendingan beli di pasar loak. Banyak penjual buku dan majalah bekas di sana.”
“Boleh. Ke pasar loak iya, ke toko buku juga iya.”
“Memangnya tanah kosong itu mau dibuat apa?”
“Belum punya rencana yang pasti. Aku sih ingin membangun sesuatu yang bisa dijadikan tempat usaha Bunda dan kamu. Jadi nanti kamu dan Bunda harus sama – sama punya penghasilan tetap dari bangunan itu.”
“Tapi kalau buka usaha kan harus ada modalnya.”
“Iya. Nanti aku yang modalin. Asal serius aja kamunya.”
“Sip deh kalau gitu sih.”
Tiba – tiba Donna berbisik di dekat tleingaku, “Tadi kamu abis maen ya sama Bunda?”
“Kok kamu bisa punya sangkaan gitu?”
“Kelihatan Bunda pucat gitu… berarti abis orga.”
Akhirnya aku mengangguk, “Memang betul.”
Donna berbisik lagi, “Padahal aku lagi kepengen banget. Kepengen orgasme… tapi rudalmu pasti udah kecapean ya?”
“Nanti kujilatin aja sampai orga. Mau?”
“Mau banget. Makanya sekarang aja kita pergi nyari majalah itu yuk.”
“Mau maennya di mana? Sabar aja deh. Nanti malam kujilatin sampai orga.”
“Di hotel yang tempo hari lagi aja.”
Aku tercenung sesaat. Tadi aku baru pakai hotel untuk menggauli Bunda. Masa sekarang harus cek in ke hotel lagi?
Tapi demi saudara kembarku tercinta, biarlah kululuskan saja keinginan Donna itu.
Dan aku tertawa sendiri, karena dalam beberapa hari ini hidupku seolah hanya untuk sex, sex dan sex terus.
Tapi usiaku baru duapuluh tahun. Mumpung masih muda. Apa salahnya kalau aku beraksi dari atas perut yang satu ke atas perut lainnya tiap hari?
Pada waktu pamitan kepada Tante Ratih dan Bunda, Tante Ratih berkata, “Minta nomor hapemu Don. SIapa tau nanti ada perlu sama kamu.”
Lalu kuberikan dua nomor hapeku. Nomor seluler di Indonesia dan di Thailand.
“Yang diawali dengan plus enamenam, berarti nomorku yang di Bangkok, Tante,” kataku setelah tukaran nomor hape dengan Tante Ratih.
“Kapan pulang lagi ke Bangkok?” tanya Tante Ratih.
“Sekitar tiga mingguan lagi. Soalnya sebelum liburanku habis, aku harus sudah ada di Bangkok lagi.”
“Maen dong ke rumahku… mumpung Donny masih di sini,”
Seminggu kemudian …
Pak Wondo menepati janjinya. Tepat seminggu kemudian rumahnya sudah dikosongkan. Ia pun pamitan padaku dan pada Bunda, karena hari itu ia akan berangkat ke Madiun, sebagai pilihan untuk dijadikan tempat tinggalnya.
Langkah yang ditempuh oleh Pak Wondo itu seolah menjadi inspirasi bagiku. Bahwa kemungkinan besar aku pun harus mengikuti langkahnya. Bahwa rumah – rumah dan perusahaan di Bangkok harus dijual semua. Hanya rumah dan perusahaan yang di Singapore akan kupertahankan, karena setelah kuanalisa sepintas lalu, prospek bisnis yang di Singapore sangat bagus.
Pemborong yang sudah siap untuk memborong bangunan di lahan kosong dan pembenahan dan pengecatan ulang rumah yang kubeli dari Pak Wondo itu pun segera bekerja. Mendahulukan pembenahan dan memperbaiki kerusakan – kerusakan rumah dari Pak Wondo itu. Kemudian mengecat ulang, sampai tampak seperti rumah baru.
Pada saat sedang sibuk itulah aku menerima sms dari Teh Siska (pada waktu itu WA belum populer di negaraku ini). Isi sms dari Teh Siska itu begini :
– Donny ke rumah sekarang ya. Penting banget. Sendirian aja, jangan sama Donna-.
Kubalas dengan sms lagi, singkat saja, -Oke Tetehku Sayang-.
Aku lalu pamitan kepada Bunda, dengan alasan yang sama seperti tempo hari: Mau menemui temanku yang dari Thailand…!
Lalu kucegat taksi yang lewat di depan rumah Bunda.
Aku sudah menghafal jalan menuju rumah Teh Siska itu, sehingga tak mungkin salah arah.
Setibanya di depan rumah Teh Siska, kulihat ada sedan putih diparkir di pekarangan rumah itu. Mobil siapa ya?
Pintu depan pun dibuka oleh Teh Siska yang hanya mengenakan kimono hitam saat itu. Sangat kontras warnanya dengan kulit Teh Siska yang putih bersih.
Yang membuatku tertegun adalah hadirnya seorang wanita yang tampak masih sangat muda, lebih muda daripada Teh Siska, dengan tinggi badan yang lebih tinggi daripada tinggi badanku (tinggi badanku 175cm).
Teh Siska memegang pinggang wanita cantik bertubuh tinggi sekali itu sambil berkata, “Nah… ini kakakmu juga Don… belum pernah kenalan ya?”.
Aku menatap wanita muda itu sambil bertanya, “Ini Teh Nenden?”
“Iya… aku Nenden Don,” sahut wanita itu sambil merangkul leherku dan menciumi pipi kanan – kiriku, “Kita ini saudara kandung tapi baru sekarang kenalan ya?”
“Iya,” sahutku, “Teh Nenden tinggi sekali… memang tingginya berapa Teh?”
“Seratusdelapanpuluh sentimeter,” sahut Teh Nenden sambil tersenyum.
“Wow, cocok buat jadi pemain basket,” sahutku.
Teh Siska nimbrung, “Waktu masih di SMA, Nenden memang pemain basket Don.”
Lalu pikiran ngeresku timbul: Kalau dapet perempuan tinggi begini, pasti “medan”nya ljuas banget. Kalau orang pendek sih sejengkal dari pusar perut, langsung menyentuh serambi lempit. Kalau yang tinggi begini, bisa dua jengkal baru ketemu serambi lempit. Hahahahaaaaa…!
Setelah Teh Siska duduk berdampingan dengan Teh Nenden di satu sofa, sementara aku duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka, Teh Siska berkata, “Makanya aku minta Donny segera datang, karena adik tersayangku ini mau minta tolong padamu Don.”
“Minta tolong apa Teh?” tanyaku sambil menatap wajah cantik Teh Nenden.
Teh Siska yang menjawab, “Minta tolong dihamilin sama Donny.”
“Ohya?! “aku tersenyum sambil menatap; wajah Teh Nenden lagi.
Teh Nenden tersipu malu. Tapi dia mengangguk perlahan sambil berkata, “Teh Siska memang benar Don. Bisa kan Don? Kebetulan aku sekarang sedang masa subur.”
Aku berpikir sejenak. Lalu berkata, “Boleh. Tapki Teh Siska jangan nonton dulu. Biar aku dan Teh Nenden melakukannya dengan tenang dan nyaman.”
“Oke… kalian boleh melakukannya dengan tenang dan nyaman. Ayo masuk aja ke kamarku… udah diberesin dan dibersihin kok kamarnya. Sudah disemprot pewangi ruangan juga. Biar kalian romantis melakukannya. Semoga Donny benar – benar bisa membuat Nenden hamil ya.”
“Sip dah !” sahutku sambil mengacungkan jempolku, lalu berdiri dan mengikuti langkah Teh Nenden ke dalam kamar Teh Siska.
“Kunciin aja pintu kamarnya… !” seru Teh Siska.
“Iyaaa…” sahut Teh Nenden yang lalu benar – benar menguncikan pintu kamar Teh Siska setelah aku dan Teh Nenden berada di dalam kamar yang terawat rapi dan bersih itu.
Begitu berada di dalam kamar, kudekap pinggang Teh Nenden yang lebih tinggi 5 centimeter dariku itu. “Kalau ketemu di jalan, pasti kita gak saling kenal ya Teh.”
“Iya,” sahut Teh Nenden yang pada saat itu mengenakan gaun panjang berwarna biru langit yang hampir menyentuh lantai saking panjangnya. Kepalanya pun ditutup oleh selendang putih. “Kalau ketemu di jalan sebelum dikenalkan gini, pasti aku cuma menelan ludah, karena bertemu dengan cowok yang tampan gini.
“Waktu aku baru lahir, Teh Nenden juga masih kecil sekali kan?”
“Waktu kamu lahir, aku baru berumur tiga tahun. Mana ingat kejadian waktu usia segitu?”
“Untungnya Teh Nenden cantik. Tinggi badannya international size pula,” kataku sambil mempererat dekapanku dari belakang kakak langsungku itu.
“Kata Teh Siska senjatamu juga international size.”
“Teh Siska ngomong gitu?”
“Iya. Makanya aku juga jadi penasaran… sekalian pengen hamil,” sahut Teh Nenden sambil melepaskan kerudung putih tipisnya. Lalu memutar badannya, jadi berhadapan denganku. Sambil agak membungkuk Teh Nenden merapatkan hidungnya ke hidungku. Tersiar hawa harum dari mulutnya, yang lalu merapatkan bibirnya ke bibirku.
“Selama ini aku merasa sebagai orang paling tinggi di antara orang – orang yang kukenal. Tapi setelah bersama dengan Teteh, aku merasa pendek.”
“Suamiku lebih pendek lagi. Tinggi badannya cuma seratusenampuluh. Kamu sih lumayan tinggi Don,” sahut Teh Nenden sambil duduk di pinggiran bed, sambil melepaskan kancing gaun yang berderet di bagian depannya satu persatu. Kemudian ia melepaskan gaun itu, sehingga tubuh putih mulusnya mulai kelihatan.
Teh Nenden melebihi saudara – saudaraku yang lain. Kulitnya lebih putih daripada Donna dan Teh Siska. Tinggi badannya pun lebih tinggi daripada Donna dan Teh Siska. Bahkan wajahnya pun sedikit lebih cantik daripada Donna dan Teh Siska.
“Buka dong pakaianmu. Masa mau buang – buang waktu? Kita kan berada di kamar Teh Siska,” kata Teh Nenden yang tinggal mengenakan bra dan celana dalam.
Tanpa membantah, kutanggalkan baju kaus dan celana denim serba hitam ini. Sementara Teh Nenden sudah melepaskan behanya, sehingga sepasang payudaranya yang tampak masih fresh itu, seolah menantangku untuk meremasnya.
Dalam keadaan sama – sama tinggal mengenakan celana dalam, aku pun melompat ke atas bed dan menghimpit sepasang toket fresh-nya dengan dadaku.
Sebenarnya aku sedang “mengukur” badan Teh Nenden dengan badanku sendiri, apakah pada saat menyetubuhinya nanti takkan ada kesenjangan ukuran badan?
Tapi ternyata hanya kaki Teh Nenden yang lebih panjang dari kakiku. Dalam keadaan berhimpitan begini, ukuran Teh Nenden sama saja dengan perempuan – perempuan lain. Dari pinggul ke atas tidak ada perbedaan dengan badanku.
Karena itu aku mulai merasa nyaman. Dan mulai menggeluti bibir sensualnya dengan bibirku.
Kemudian Teh Nenden duduk sambil memegangi celana dalamku sambil berkata, “Penasaran ingin lihat bentuk rudalmu yang kata Teh Siska international size itu.”
Kubiarkan saja Teh Nenden menarik memelorotkan celana dalamku sampai terlepas dari kakiku. Dan ia terbelalak sambil memegang batang kemaluanku yang memang sudah ngaceng berat ini (maklum Bunda sudah tiga hari menstruasi, sementara Donna sedang kurang sehat).
“O my God !” seru Teh Nenden sambil mengepit batang kemaluanku dengan kedua telapak tangannya yang terasa halus dan hangat, “Ini rudal manusia apa rudal kuda sih?! Hihihihi… kebayang kalau sudah dimasukin ke dalam serambi lempitku… !”
“Buka juga dong celana dalam Teteh, biar aku tau seperti apa serambi lempit Teteh itu,” ucapku sambil menunjuk ke arah celana dalam Teh Nenden.
Teh Nenden menciumi “topi baja” rudalku, lalu menanggalkan celana dalamnya sambil tersenyum – senyum sendiri.
Begitu celana dalamnya terlepas, Teh Nenden langsung menelentang sambil mengusap – usap serambi lempitnya yang sangat bersih dari jembut, bahkan tampak mengkilap saking licinnya.
Spontan aku menelungkup dengan wajah berada tepat di atas kemaluan kakak kandungku. “Wah… serambi lempit tembem dan bersih begini sih pasti enak ngejilatinnya Teh.”
“Memang harus dijilatin dulu sebelum dimasukin rudal segede gitu sih. Kalau gak dijilatin dulu pasti sakit waktu penetrasinya,” sahut Teh Nenden sambil merentangkan kedua belah paha putih mulusnya.
“Ini diapain serambi lempitnya sampai licin begini Teh? Diwaxing?” tanyaku sambil mengusap – usap serambi lempit Teh Nenden.
“Pakai obat perontok rambut. Diwaxing sih kapok. Pedih sekali. Lagian diwaxing sih bisa tumbuh lagi jembutnya, hanya lebih lama tumbuhnya lagi, karena dicabut dengan akar – akarnya.”
Begitu tembemnya serambi lempit Teh Nenden ini, sehingga bibir luarnya tersembunyi oleh ketembemannya. Karena itu kungangakan serambi lempit kakak langsungku itu, karena ingin tahu seperti apa “dalemannya”.
Setelah serambi lempit Teh Nenden kungangakan dengan kedua tanganku… hmmm… bagian dalamnya benar – benar berwarna pink, karena kulit Teh Nenden memang putih sekali, kayak cewek bule.
“Ayo jilatin Don. Jangan dipelototin doang… !” ucap Teh Nenden sambil membelai rambutku yang sudah berada di bawah perutnya.
Sebenarnya aku sedang menilai – nilai betapa sempurnanya Teh Nenden ini (sempurna untuk ukuran manusia biasa). Tubuh yang tinggi semampai, kulit yang putih bersih, wajah yang cantik dan serambi lempit yang tembem bersih ini… aaaah… seandainya kelak aku punya istri sesempurna Teh Nenden ini…!
Namun terawanganku dikejutkan oleh “perintah” kakak kandungku itu. Maka dengan sangat bergairah kujilati bagian dalam serambi lempitnya yang berwarna pink itu. Begitu lahap aku menjilatinya, sehingga aku tak mau menyisakan semua bagian yang terjangkau oleh lidahku. Demikian pula kelentitnya, mulai kujilati secara massive.
Bahkan aku menggunakan ujung jari tangan kiriku untuk mengelus – elus kelentit Teh Nenden, sementara jari tangan kanan kuselundupkan ke dalam liang serambi lempit Teh Nenden yang terasa kecil sekali ini.
Sampai pada suatu saat Teh Nenden berkata terengah, “Cukup Don… uidah basah sekali nih… masukin aja rudalmu.”
“Instruksi” seperti itulah yang kutunggu. Karena air liurku memang sudah membasahi liang serambi lempit Teh Nenden, bercampur dengan lendir libidonya sendiri. Maka setelah mendengar perintah itu, aku langsung merayap ke atas perut Teh Nenden sambil meletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempit kakak kandungku.
Sepasang paha Teh Nenden pun direntangkan lebar – lebar, seolah mengucapkan selamat datang pada alat kejantananku untuk memasuki gerbang surgawinya.
Dan… aku pun mendorong batang kemaluanku sekuat tenaga. Berhasil…! Melesak sedikit demi sedikit sampai lebih dari separohnya.
“Oooooohhh… terasa sekali gedenya punyamu Dooon… “rintih Teh Nenden dengan mata menatapku sambil meringis.
“Soalnya lubang serambi lempit Teteh sempit sekali… sampai kayak serambi lempit perawan gini saking sempitnya…” sahutku sambil mulai mengayun batang kemaluanku perlahan – lahan dulu. Setelah terasa agak lancar, barulah kugenjot rudalku dalam kecepatan normal.
Teh Nenden pun merengkuh leherku ke dalam pelukannya. Lalu menciumi sepasang pipiku, berlanjut mencium bibirku dengan hangatnya. rudalku pun mulai lancar memenyetubuhi liang serambi lempitnya yang sempit menjepit tapi sudah licin dan hangat ini.
Mulutku pun menemani aksi rudalku, dengan mengemut pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas toket kanannya. Hal ini kulakukan dengan lembut. Tapi Teh Nenden tampak menikmatinya.
Rintihan – rintihan erotisnya mulai terdengar. Rintihan yang dilontarkan perlahan, mungkin karena takut terdengar oleh Teh Siska di luar kamar sana. “Donny… edaaaan… rudalmu enak banget Dooon… entotanmu serasa mengalir dari ujung kaki sampai ke kepalaku Dooon… iyaaaaa Doooon… entot terus Dooon…
Rintihan itu seolah bisak, karena perlahan sekali. Namun pinggul Teh Nenden mulai bergoyang – goyang erotis sekali. Meliuk – liuk dan menghempas – hempas seolah membentuk angka 8. Sehinggga rudalku serasa dibesot – besot dan diremas – remas oleh liang serambi lempit sempit menjepitnya. Ini membuatku edan eling.
Maka aku pun melawannya. Dengan mempergencar entotanku. Membuat batang kemaluanku makin cepat bermaju – mundur di dalam jepitan liang sempit yang licin dan hangat itu. sumber Ngocoks.com
Rintihan – rintihan erotis Teh Nenden pun semakin menjadi – jadi. Tapi suaranya tetap perlahan – lahan, setengah berbisik. “Doon… enak sekali Dooon… oooooh… aku bakal ketagihan dientot ssama kamu Doooon… ayo entot terus Dooon… entot terusssssss… entotttt… entooootttttttt…
Entooooottttttt… entoooottttttttt… entooooottttt… entot terussss… Doooon… rudalmu enak Dooon… kontooool… kontooool enak… ooooh… Dooonnnnn. jangan brenti – brenti Dooon… entooot teruuuuusssssssss… entooooot… entotttttttt… iyaaaaaaa… iyaaaa… enaaaak Dooooon…
Cukup lama semua ini terjadi. Mulutku pun pindah sasaran. Menjilati leher Teh Nenden yang sudah keringatan, disertai dengan gigitan – gigitan kecil… membuat Teh Nenden terpejam – pejam sambil memegang sepasang bahuku disertai dengan remasan – remasan lembut. Bahkan sepasang ketiaknya pun tak lepas dari jilatan dan gigitan -gigitan kecilku.
Kelihatannya Teh Nenden sangat enjoy dengan aksiku yang “lengkap” kini.
Sehingga pada suatu saat Teh Nenden berbisik terengah di dekat telingaku, “Don… aku sudah mau lepas. Bisa dibarengin nggak?”
Mengingat Teh Nenden membutuhkan spermaku, spontan permintaannya itu kuiyakan.
Lalu kuintensifkan entotanku, sementara Teh Nenden mulai menggeliat – geliat erotis. Bahkan lalu mengelojot – ngelojot seperti sedang sekarat. Aku pun semakin cepat memenyetubuhinya, dengan harapan ingin secepatnya ejakulasi.
Dan akhirnya aku berhasil mencapai tujuan utama itu. Ketika Teh Nenden mengejang tegang, aku pun sedang menancapkan batang kemaluanku sedalam mungkin, tanpa menggerakkannya lagi.
Lalu sekujur liang kemaluan Teh Nenden bergerak – gerak erotis, seperti spiral yang tengah membelit batang kemaluanku, disusul dengan kedutan – kedutan kencang yang terasa nikmat sekali. Pada saat itu pula moncong rudalku memuntah – muntahkan sperma yang sedang dibutuhkan oleh Teh Nenden.
Crrroottttt… crooooooootttt… crooooooottttt… crotcrot… crooootttt…!
Aku berkelojot di atas perut kakakku. Lalu terkulai lemas, seperti kakakku yang juga terkapar lemas di bawah himpitanku.
“Terima kasih Don… mudah – mudahan benihmu bisa membuahi telurku ya,” ucap Teh Nenden lirih.
“Erima kasih juga telah diberi kesempatan menikmati serambi lempit Teteh yang luar biasa enaknya,” sahutku disusul dengan kecupan mesra di bibir sensualnya.
Keringat pun semakin membanjir di tubuh kami …
Bersambung… Setelah batang kemaluanku dicabut dari liang serambi lempit Teh Nenden: “Nanti kasih alamatmu di Bangkok ya Don. Siapa tau pesiar ke sana, sekaligus ketemuan denganmu.”
“Iya Teh,” sahutku sambil turun dari bed. Lalu melangkah ke pintu dan membuka kuncinya. sekaligus membuka pintunya.
“Kok cepet banget? Udahan?” tanya Teh Siska di ambang pintu kamarnya.
“Udah. Kan harus mengimbangi orgasmenya Teh Nenden,” sahutku setengah berbisik. Sementara Teh Nenden masih terkapar di atas bed, dalam keadaan masih telanjang bulat.
Teh Siska berbisik di dekat telingaku, “Sttt… masih kuat menyetubuhi aku?”
Aku tidak menjawab.
“Aaaah… anak muda yang baru duapuluh tahunan sih pasti bisa. Iya nggak?”
Aku mengangguk sambil meraih pergelangan tangan Teh Siska ke dalam kamarnya.
Tentu saja aku masih mampu menyetubuhi Teh Siska. Karena kebetulan sudah tiga hari aku tidak menyetubuhi siapa – siapa. Karena Bunda sedang mens, Donna pun sedang demam flu.
Ketika Teh Siska naik ke atas bednya, Teh Nenden masih tengkurap dalam keadaan telanjang bulat. Mungkin Teh Nenden dalam keadaan tepar sehabis orgasme tadi. Sehingga dia tidak melihat bahwa Teh Siska yang montok itu sudah menelanjangi diri kemudian memegang batang kemaluanku tanpa banyak bicara lagi.
Tampaknya Teh Siska sudah benar – benar kangen padaku, karena sejak langkah pertamaku bersamanya tempo hari, baru sekarang aku mengunjungi rumahnya lagi. Kekangenannya itu dicurahkan dengan mengoral rudalku yang masih lemas ini. memang tidak perlu lama – lama mengoral rudalku yang masih full strong ini.
Hanya beberapa menit Teh Siska mainkan mulutnya, rudalku pun mulai ngaceng lagi. “Hmm… kamu memang masih sangat muda. Makanya diemut sebentar juga udah ngaceng lagi,” kata Teh Siska sambil menciumi puncak rudalku. Lalu menelentang di samping Teh Nenden yang masih telungkup dan tampaknya ketiduran itu.
Aku merayap ke antara kedua belah paha Teh Siska yang sudah direntangkan lebar – lebar. Lalu kuselundupkan jari tengahku ke dalam liang serambi lempitnya. ternyata sudah basah sekali. Mungkin sejak aku menyetubuhi Teh Nenden, diam – diam Teh Siska sudah bermasturbasi di luar kamarnya ini.
Maka tanpa basa – basi lagi kubenamkan rudalku ke dalam liang serambi lempit Teh Siska, yang disambut dengan pelukan Teh Siska di leherku. “Permainan yang kedua biasanya lebih lama daripada permainan pertama kan?” bisik Teh Siska di dekat telingaku.
“Biasanya begitu,” sahutku.
Lalu Teh Siska berbisik lagi di dekat telingaku, “Nenden sangat membutuhkan spermamu. Jadi nanti kamu boleh ngecrot di serambi lempitnya. Yang penting puasi aku dulu seperti yang tempo hari.”
“Iya Teh,” sahutku sambil mulai mengayun rudalku yang sudah sepenuhnya berada di dalam “genggaman” liang serambi lempit Teh Siska.
Tanpa peduli lagi dengan Teh Nenden yang tampaknya ketiduran itu, Teh Siska mulai merintih – rintih, “Aaaa… aaaaaa… aaaaaah… rudalmu memang luar biasa enaknya Dooon… membuatku jadi ketagihan… aaaa… aaaaaaa… aaaaahhhhh… aaaa… aaaaahhh… entot teruusss Dooon… entottttt…
Begitu bisingnya rintihan Teh Siska, sehingga Teh Nenden terbangun. Lalu duduk bersila di dekat Teh Siska, sambil memperhatikan apa yang sedang terjadi di antara aku dengan kakaknya.
Sesaat kemudian, ketika aku sedang gencar – gencarnya memenyetubuhi Teh Siska, Teh Nenden pun merebahkan diri lagi. Celentang di samping Teh Siska, sambil memegang dan meremas tanganku yang tak jauh dari tangannya.
Mungkin Teh Nenden sudah horny lagi melihat kakaknya sedang menikmati entotanku. Maka sambil memenyetubuhi Teh Siska, kusempatkan menjulurkan tanganku ke… serambi lempit Teh Nenden…!
Tidak terlalu sulit mencapai kemaluan kakak kandungku yang tinggi badannya luar biasa untuk ukuran wanita itu. Dan tampaknya Teh Nenden sangat enjoy ketika jemariku mulai menyelusup ke dalam liang serambi lempitnya, tanpa menghentikan entotanku di liang serambi lempit Teh Siska.
“Cupangin lagi leherku Dooon…” bisik Teh Siska pada suatu saat.
Kuikuti saja permintaan Teh Siska itu. Lagian apa susahnya nyupangin leher? Cuma harus menyedot – nyedotnya sekuat mungkin, sampai meninggalkan bekas merah menghitam seperti bekas kerokan.
Sambil nyhupangin leher Teh Siska, aku tetap memenyetubuhinya dengan gencar. Sementara tangan kananku tetap menggerayangi serambi lempit Teh Nenden. Hmmm… rasanya aku seoleh sedang berada di surga dunia. Surga yang mengucurkan 1001 kenikmatan.
Teh Siska sudah menyadari kalau tangan kananku sedang menyodok – nyodok liang serambi lempit Teh Nenden. Lalu Teh Siska menarik tangan kiriku dan menempelkan di permukaan toket kanannya.
Aku pun mengerti apa yang harus kulakukan. Bahwa aku harus meremas toket kanan Teh Siska sekuat mungkin, karena memang begitu selera seksnya.
Mungkin Teh Siska sudah sangat horny sebelum kusetubuhi ini, sehingga baru belasan menit aku memenyetubuhinya, tiba – tiba dia berkelojotan. Lalu mengejang sambil menahan nafasnya. Dan akhirnya Teh Siska menghempaskan bokongnya sambil merintih lirih, “Aaaaaah… aku sudah lepas Don…”
Entah kenapa, aku justru senang mengetahui Teh Siska sudah orgasme. karena aku kasihan kepada Teh Nenden yang tampak sudah horny lagi itu. Maka kutarik rudalku dari liang serambi lempit Teh Siska, lalu secepatnya pindah ke atas perut Teh Nenden.
Dengan mudahnya aku membenamkan batang kemaluanku ke dalam liang serambi lempit Teh Nenden, karena ia sudah orgasme tadi. Sehingga liang serambi lempitnya jadi terasa mengembang.
Dan aku bisa langsung beraksi. Mengayun batang kemaluanku yang sudah berada di dalam liang serambi lempit Teh Nenden.
Teh Nenden pun mulai merintih – rintih erotis lagi. “Don… Teh Siska benar… rudalmu ini kok luar biasa enaknya gini ya? Ayo Don… setubuhi aku sepuasmu. Mumpung kamu belum pulang ke Bangkok… iyaaaaaaa… iyaaaaaa… entot aku terus Don… entooot teruuuuusss… entooooooottttttt…
Tiba – tiba terdengar suara Teh Siska yang sedang telungkup sambil bertopang dagu di dekat bahu Teh Nenden. “Bener kan? rudal Donny memang luar biasa enaknya kan?”
“Iiii… iya Teh… enak sekaliiii… oooooooh… belum pernah aku merasakan disetubuhi yang seenak iniiii…” sahut Teh Nenden yang sudah mulai menggoyang – goyangkan pinggulnya. Memutar – mutar… meliuk – liuk… menghempas – hempas… Semua itu ia lakukan dengan lincah sekali. Sehingga terasa benar betapa batang kemaluanku serasa dibesot – besot dan diremas – remas oleh liang serambi lempit Teh Nenden.
Tapi aku tak maju mengalah. Aku bahkan semakin gencar memenyetubuhinya. Sambil mengemut pentil toketnya yang masih fresh itu. Terkadang menjilati lehernya. Telinganya dan bahkan ketiaknya pun tak luput dari jilatan dan gigitan – gigitan kecilku.
Cukup lama aku melakukan semuanya ini. Sehingga keringatku mulai bercucuran, bercampur aduk dengan keringat Teh Nenden yang terus – terusan merintih – rintih histeris dan erotis kedengarannya.
“Donny… aaaaaa… aaaaaaah… rudalmu enak sekali Doooon… entot terusssss… entoooot teruuuusssss… entooooot… entoooooootttt… iyaaaaaa… iyaaaaaaaa… iyaaaaaaa… entooootttttttt… entoooootttt… aaaaa… aaaaah… gak nyangka rudal adikku segede dan seenak iniiii…
Tapi beberapa saat kemudian Teh Nenden sudah klepek – klepek lagi sambil membisiki telingaku, “Aku udah mau lepas lagi Don. Barengin lagi ya. Biar jadi anak.”
Sebenarnya aku masih kuat bertahan. Tapi untuk apa diperlambat kalau memang Teh Nenden membutuhkan secepatnya?
Maka kupercepat entotanku, sambil menciumi bibir Teh Nenden. Makin lama makin cepat dan akhirnya… ketika Teh Nenden mengejang tegang lagi… aku pun menancapkan batang kemaluanku, tanpa kugerakkan lagi.
“Aaaaaaaah… “Teh Nenden melepaskan nafasnya yang barusan tertahan selama 2-3 detik. Bersamaan dengan kedat – kedut liang serambi lempitnya secara spontan. Disusul oleh tembakan – tembakan sperma dari moncong rudalku. Crooootttt… crotttttt… crot… croooottttt… crot… crooootttt …
“Terima kasih ya Don. Mudah – mudahan spermamu berhasil membuahi telurku,” kata Teh Nenden sambil mengecup bibirku.
Beberapa saat kemudian aku sudah meninggalkan rumah Teh Nenden. Meninggalkan kedua kakak kandungku itu.
Sebenarnya mereka menahanku, agar aku jangan pulang dulu. Tapi aku menolak keinginan mereka, karena di rumah Bunda sedang sibuk bongkar – bongkar. Tak enak rasanya meninggalkan Bunda dan Donna yang sedang sibuk begitu.
Rumah yang kubeli dari Pak Wondo itu sudah selesai dipugar. Hanya membutuhkan lima hari untuk memugarnya, karena pemborong yang dipanggil Pak Husen itu membawa anak buahnya cukup banyak.
Rumah itu terdiri dari 3 kamar yang masing – masing ada kamar mandinya. Sudah menggunakan shower dan water heater pula. Takkan mandi pakai gayung plastik lagi. Shower dan water heater itu aku yang membelikannya. Furniture dan perabotan lainnya sudah lengkap semua. Aku juga yang membelikan semuanya itu, dari toko furniturew dan toko alat – alat electric yang kata Donna paling elit di kota ini.
Jadi, Bunda tak usah mencuci pakai tangan lagi, karena sudah disediakan mesin cuci olehku. Setiap kamar pun kupasangi AC, supaya sejuk dan selalu bersih udaranya. Dapurnya pun sudah ditata sedemikian rupa, sehingga mirip kitchen di rumah orang – orang berada. Kitchen itu kusatukan dengan ruang makan, supaya mudah menyajikan makanan yang baru dimasak.
Di ruang tamu, ruang keluarga dan di setiap kamar sudah dipasangi sofa putih semua, masing – masing 1 set. Di setiap kamar dipasangi TV LED kecil.. Sementara di ruang keluarga dipasangi TV LED layar lebar.
Banyak lagi yang telah kusediakan di rumah ini. Pokoknya sekarang rumah ini jauh lebih keren daripada rumah Teh Siska.
Di belakang rumah ini ada tanah kosong, hanya ditumbuhi rumput gajah. Kelak, kalau Bunda dan Donna kerasan tinggal di rumah ini, akan kubuat kolam renang di halaman belakang itu. Tapi itu nanti saja, kalau pembangunan di tanah kosong seluas 5000 meter persegi itu selesai.
Atas usul Bunda dan Donna, bangunan yang baru akan dimulai membangunnya itu, akan digunakan untuk membuka usaha kuliner. Kelak namanya entah café, resto atau apa pun terserah mereka. Yang jelas bangunan itu harus disesuaikan dengan tujuan penggunaannya kelak.
Yang sangat menyenangkan hatiku, adalah bahwa Bunda benar – benar menghentikan kebiasaan minum minuman kerasnya. Semoga hal itu membuatnya lebih sehat dan segar kelak.
Aku mau berbuat apa saja asalkan Bunda tidak minum minuman beralkohol lagi.
Rumah lama Bunda sebenarnya hanya terhalang oleh tanah kosong yang luasnya 5000 meter persegi itu. Seandainya tidak ada tanah kosong yang sudah mulai diratakan dan dipadatkan itu, maka rumah Bunda akan berdampingan dengan rumah yang sudah kubeli dari Pak Wondo itu.
Tanah itu sangat bagus bentuknya. Ukurannya 60 X 83.50 meter. Kebetulan yang 83,50 meter itu mukanya (yang menghadap ke jalan). Jadi bisa menyediakan lahan parkir yang lumayan nantinya.
Sepulangnya dari rumah Teh Siska, aku menuju tanah kosong yang sudah diratakan dan dibuat lubang – lubang untuk tiang – tiang beton nantinya. Sebenarnya Pak Husen menawarkan untuk membangun dengan konstruksi baja. Tapi aku menolaknya. Karena bangunan dengan konstruksi baja, menghilangkan unsur keindahannya.
“Selamat sore Boss,” ucap Pak Husen sambil menghampiriku yang baru muncul di tanah yang akan dibangun itu.
“Sore,” sahutku sambil mengangguk dan tersenyum, “Kebetulan Pak Husen datang nih. Anu Pak… bagaimana kalau bangunan kolam renang di belakang rumah yang baru direnovasi itu dibangun mulai besok?”
“Bisa,” sahut Pak Husen. “Tapi mengganggu pembangunan di sini gak?”
“Nggak Boss. Yang bikin kolam renang kan harus ahlinya. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan pembangunan di sini.”
“Pembangunan kolam renang harus oleh ahlinya?”
“Iya. Kolam renang kan harus ada bagian untuk menyaring airnya, agar jangan sampai keruh. Pemasukan dan pembuangan airnya juga harus lancar, supaya air di kolam renangnya tetap bening, meski pun tersinari matahari terus.”
“Oh iya… air yang disinari matahari bisa cepat tumbuh lumut ya.”
“Iya Boss.”
“Ya udah kalau gitu, besok mulai aja bangun kolam renangnya. Gambar designnya sudah saya kasih kan?”
“Sudah Boss.”
Tiba – tiba handphoneku berdering. Kuambil dari saku celaqna jeansku. Haaa?! Dari Mr. Liauw, notaris kepercayaan Papa itu? Ada apa ya?
“Selamat sore Oom Liauw.” “Sore juga. Dengan Boss Donny sendiri ya?” “Betul Oom. Ada yang bisa dibantu?” “Begini Boss… kapan mau pulang ke Bangkok?” “Masih lama Oom. Sekitar tiga mingguan lagi. Emangnya kenapa?” “Apa nggak bisa pulang dulu barang sehari, lalu balik lagi ke Indonesia?” “Ada yang sangat penting?” “Betul. Ini menyangkut asset peninggalan Pak Margono almarhum.” “Oke, kalau begitu besok saya terbang ke Bangkok.” “Terima kasih Boss. Hati saya tenang kalau Boss mau pulang dulu besok sih.”
Setelah hubungan seluler dengan Mr. Liauw ditutup, aku tercenung sendiri. Ada apa ya? Kenapa aku harus buru – buru pulang dulu ke Bangkok?
Mr. Liauw memang notaris sekaligus orang kepercayaan Papa almarhum. Karena Mr. Liauw itu lahir dan besar di Indonesia. Selain daripada itu, Mr. Liauw itu sangat jujur, kata almarhum Papa. Karena itu banyak rahasia perusahaan dan pribadi Papa yang dipegang oleh Mr. Liauw.
Keesokan paginya aku sudah melayang di angkasa, di dalam pesawat yang akan membawaku ke Bangkok.
Sdetibanya di rumah megah peninggalan almarhum Papa ini, Tante Reni menyambutku dengan riang sekali. Tanpa ragu lagi dia masuk ke dalam kamarku dan langsung menghambur ke dalam pelukanku.
“Apa kabar Tante?” tanyaku setelah mencium bibir tante Reni berulang – ulang.
“Hanya kangen dan kangen yang ada di dalam hatiku Den… eeeh… Don.”
“Bagaimana perasaan Tante setelah mendapat penjelasan dari Bunda bahwa aku ini benar – benar keponakan Tante?”
“Ya bikin gede hatiku, Sayang.”
“Aku juga senang sekali setelah mengetahui bahwa Mbak Reni ini sebenarnya Tante Reni. Karena Tante Reni ini adik bungsu Bunda.”
“Iya. Rasanya derajatku jadi naik… tapi bagaimana dengan hubungan kita nanti ya?”
“Tetap harus berlanjut. Tapi harus dirahasiakan kepada keluarga kita.”
“Iya.”
“Tapi… sebentar lagi akan ada notaris datang. Bisa disiapkan minuman dan snack untuk menyuguhinya?”
“Bisa bossku… keponakanku… sayangku… cintaku…!” sahut Tante Reni sambil menciumi kedua belah pipiku.
Tidak lama kemudian Mr. Liauw datang sesuai janji lewat handphone setibanya aku di bandara tadi.
Mr. Liauw kuterima di ruang kerja yang dahulu biasa dipakai sebagai ruang kerja Papa almarhum.
Begitu duduk di ruang kerja Papa, Mr. Liauw berkata, “Maaf saya mengganggu Boss, sehingga harus buru – buru pulang dari Indonesia. Soalnya saya takut menyampaikan pesan lisan kepada saya pada waktu Pak Margono masih ada. Pesan itu sangat rahasia, katanya. Tapi saya sampai lupa menyampaikan pesan itu.
“Apa isi pesannya Oom?” tanyaku tak sabaran.
“Almarhum bilang, bahwa kalau beliau sudah tiada, ada surat – surat penting di safe deposit box, yang nomor kuncinya sudah dikasih tau kepada Boss. Betul kan almarhum sudah ngasih tau nomor kunci brankas itu?”
“Iya, “aku mengangguk.
“Terus… semua surat – surat penting dalam brankas itu diwariskan kepada Boss.”
“Iya… iya… terus apa lagi pesannya?”
“Nanti kalau ada kesulitan mengurus surat – surat penting ini, Boss disuruh menghubungi orang ini di Jakarta,” kata Mr. Liauw sambil menyerahkan secarik kartu nama.
Kubaca nama yang tertera berikut alamat orang di kartu nama itu. Mrs. Tania berikut alamat lengkap rumah dan kantornya di Jakarta.
“Mungkin orang ini termasuk kepercayaan Papa juga ya Oom?” kataku sambil memasukkan kartu nama itu ke dalam dompetku.
“Pasti. Almarhum Pak Margono tidak pernah menyerahkan hal – hal penting kepada orang yang belum menjadi kepercayaannya.”
Tak lama kemudian Tante Reni datang dan meletakkan snack berikut dua gelas lemon tea di atas meja di depan sofa yang sedang diduduki oleh Mr. Liauw, sementara aku duduk di depannya, dibatasi oleh meja kecil yang 100% terbuat dari kaca tebal itu.
“Silakan diminum Oom,” kataku sambil meraih gelas yang berada di dekatku.
“Terima kasih,” sahut Mr. Liauw sambil meraih gelas lemon tea yang berada di dekatnya.
“Oom… sebenarnya saya mau pindah ke Indonesia saja,” kataku ketika Mr. Liauw sedang menikmati lemon tea dan snack yang terhidang di depannya.
“Terus kuliah Boss bagaimana nanti?”
“Kuliah di Indonesia aja. Soalnya ada beberapa alasan kuat yang membuat saya harus tinggal di Indonesia. Oom bisa kan mencarikan orang yang mampu membeli semua asset saya di Bangkok dan di Chiang Mai?”
“Mau dijual semua? Tidak sayang kah?” Mr. Liauw menatapku dengan sorot seius.
“Sayang sih sayang. Tapi uang hasil penjualannya kan bakal saya pakai usaha di Indonesia nantinya.”
“Semuanya mau dijual?”
“Iya perusahaan peninggalan Papa dan rumah rumah di Bangkok akan saya jual semua, kecuali rumah yang ini dan yang di Khao Yai, akan saya pertahankan. Takkan dijual.”
“Kalau tekadnya memang sudah bulat, nanti akan saya carikan calon buyernya.”
“Silakan. Sukur – sukur kalau Oom sudah menemukan buyernya sebelum saya pulang ke Indonesia lagi.”
“Mau berapa lama di sini sekarang?”
“Paling juga sepuluh hari lagi saya akan kembali ke Indonesia, kemudian akan tinggal di sana selama berbulan – bulan. Karena ada yang sedang saya bangun di sana.”
“Asset – asset yang di Singapore bagaimana?”
“Yang di Singapore semuanya akan saya pertahankan. Karena prospek masa depannya sangat bagus.”
Sebelum Mr. Liauw pulang, aku masih sempat berjanji akan memberitahu apa isi surat – surat penting yang tersimpan di dalam brankas itu. Soalnya aku masih capek setelah menempuh penerbangan menuju Bangkok ini. Sedangkan aku tahu di mana letak brankas itu. Di dalam bunker yang letaknya tepat di bawah tempat tidur almarhum Papa.
Tapi setelah Mr. Liauw pulang, kupaksakan juga untuk memeriksa apa isi brankas itu. Settelah berada di dalam kamar Papa, aku langsung menuju bed yang ada roda kecil di bawahnya. Ini menguntungkan, karena aku tak usah menguras tenaga uintuk mendorong bed itu, sampai pintu bunkernya tidak terhalangi lagi dan bisa dibuka (setelah nomor rahasianya kupijit – pijit).
Kemudian pintu bunker yang terbuat dari besi itu kubuka. Aku pun turun ke dalam bunker itu. Puluhan koper bertumpuk di dalam bunker itu, sementara brankasnya nyempil di sudut.
Dahulu aku memang tahu bahwa brankas itu ada isinya. Tapi hanya beberapoa buah map yang tidak menarik hatiku. Sehingga aku tak pernah bertanya kepada Papa tentang isi map – map itu apa saja. Juga koper – koper itu tak pernah kutanya apa isinya. Aku hanya berpikir, mungkin isinya cuma pakaian yang sudah tidak terpakai lagi.
Tapi sebelum membuka brankas itu aku iseng membuka salah satu koper itu.
Astagaaaa…! Koper itu penuh dengan uang dollar Amerika pecahan 100 USD!
Tanganku sampai gemetaran pada waktu menyentuh uang di dalam koper itu.
Tapi koper itu kututup dan kusimpan di tempat semula. Dengan pikiran gembira bercampur bingung. Gila… uang sebanyak itu mau diapain? Entahlah. Aku belum bisa memikirkannya.
Lalu kubuka brankas itu setelah memutar nomor rahasianya yang masih tetap kuingat. Masih seperti dahulu. Isinya cuma beberapa buah map. Maka kukeluarkan semua map itu. Dan kulihat satu persatu. Ternyata isinya sertifikat – sertifikat rumah di Indonesia semua. 2 rumah di Jakarta, 3 rumah di Bandung, 2 rumah di Jogja, 1 rumah di Semarang dan 5 rumah berikut sebuah perusahaan yang masih berjalan di Surabaya, 1 villa di Puncak dan 1 villa di Batu Malang.
Yang mengharukan adalah surat dari Papa yang kutemukan dari brankas itu. Isinya.
Donny Anakku Sayang,
Waktu kamu membaca surat ini, mungkin papa sudah tiada, menyusul Mama di alam abadi.
_
Perlu kamu ketahui, bahwa baik papa mau pun Mama sudah tidak punya sanak saudara lagi. Sehingga papa putuskan untuk mewariskan semua harta benda papa kepadamu, anakku.
Di dalam surat wasiat yang papa titipkan ke notaris Liauw, sudah papa jelaskan bahwa sebenarnya kamu bukan anak kandung papa dan Mama Tapi kami menyayangimu lebih dari kepada anak kandung kami sendiri.
Karena itu papa tidak ingin melihatmu sengsara setelah papa tinggalkan. Karena itu, semua uang dollar yang ada di dalam 47 buah koper itu pun papa wariskan kepadamu. Semoga kamu bisa memanfaatkannya sebaik mungkin. Kalau bisa, kembangkanlah uang itu dengan cara yang terbaik bagimu kelak.
Papa ingin agar semua harta benda yang diwariskan padamu itu digunakan untuk kebaikan dan masa depanmu. Jadilah orang yang lebih sukses daripada papa, ya anakku.
_
Margono
Setelah membaca surat dari Papa almarhum, air mataku tak tertahankan lagi, mengucur dengan derasnya. Semuanya terbayang lagi di mataku. Termasuk skandalku dengan Mama, yang seakan membuatku jadi oposisi Papa.
Lalu aku bergumam di dalam bunker itu. “Pesan Papa akan kulaksanakan sebaik – baiknya. Semoga Papa dan Mama beristirahat dengan tenang di alam kekal sana.”
Setelah menutupkan brankas dan mengambil semua map berisi surat – surat penting itu, aku pun naik ke atas lagi. Kututup dan kukuncikan kembali pintu bunker. Kemudian kudorong bed yang dahulu biasa dipakai tidur oleh Papa almarhum. Kemudian meletakkan map – map itu di ruang kerja. Dan masuk ke dalam kamarku.
Tak lama kemudian pintu kamarku diketuk dari luar.
Kujawab, “Masuk aja, gak dikunci.”
Ternyata Tante Reni yang membuka pintu dan bedrdiri di ambangnya. “Makan siang sudah disiapkan di ruang makan, Sayang.”
“Iya Tante. Aku memang lapar nih,” sahutku sambil mengganti pakaianku dengan baju dan celana piyama.
Di ruang makan, sikap Tante Reni masih seperti dulu. Berdiri di belakang kursiku, untuk menyiapkan sesuatu yang kurang bagiku.
“Tante duduk aja, jangan seperti dulu lagi,” ucapku sambil menarik kursi yang di samping kursiku, “Sekalian temani aku makan ya.”
Sambil tersenyum Tante Reni duduk juga di kursi itu.
Tapi Tante Reni tetap menyeduk nasi untuk piringku, lalu meletakkan piring berisi nasi itu di depanku.
“Itu sayur lodeh ya?”
“Iya. Mau?”
“Mau,” sahutku.
Tante Reni pun menyeduk sayur lodeh itu ke dalam mangkok kecil. Lalu medletakkan mangkok itu di dekat piringku. Lalu aku minta goreng ikan laut dan sambal. Tante Reni pun meladeniku lagi.
“Gak enak diladeni sama tanteku sendiri,” kataku sambil menepuk pantat Tante Reni.
“Kan Donny sudah kuanggap sebagai suamiku sendiri. Wajar kalau istri meladeni suami kan?”
“Surat perceraian dengan suami Tante sudah datang?” tanyaku sambil mulai makan.
“Sudah. baru datang kemaren,” sahut Tante Reni sambil mulai makan juga, menemaniku.
“Orang – orang yang kerja di sini sudah tau kalau Tante ini tanteku?”
“Belum. Nanti Donny aja yang jelasinnya.”
“Orang Indonesia yang bekerja di sini tinggal berapa orang?”
“Masih lengkap seperti dulu. Selain aku, ada Lili… Mita… Nora… Wati dan Ica. Laki – lakinya Taufik dan Banu. Itu saja.”
Setelah selesai makan, aku berkata kepada Tante Reni, “Bisa panggil pegawai yang perempuan saja, tapi semuanya harus hadir di sini.”
“Iya… sebentar ya… mau ta kumpulin dulu.”
Kemudian semua “karyawati” dikumpulkan di ruang makan. Mereka berdiri sambil menundukkan kepala semua. Kusebutkan bahwa sebenarnya Tante Reni itu adik bungsu ibu kandungku. Kusebutkan juga bahwa rumah ini akan dijual (padahal tidak akan kujual sampai kapan pun). Namun mereka semua bisa memilih, apakah mau kupindahkan ke Khao Yai yang udaranya sejuk itu, tidak seperti Bangkok yang panasnya melebihi Jakarta, atau mau dipindahkan ke Surabaya, atau mau resign saja.
Ternyata mereka memilih dipindahkan ke Surabaya saja, karena mereka lebih suka tinggal di tanah air, dengan gaji tetap sama dengan gaji di Bangkok.
Sementara Tante Reni kuputuskan untuk tinggal di Jakarta, agar tidak terlalu jauh dariku.
Setelah semua pegawai wanita dibubarkan, kupanggil pegawai – pegawai pria yang hanya dua orang itu. Semua pegawai di rumah peninggalan Papa ini berasal dari Indonesia, termasuk yang prianya.
Taufik dan Banu, demikian nama kedua pegawai pria itu, kuberitahu bahwa mereka ditugaskan untuk menjaga dan membersihkan rumah peninggalan Papa ini, sementara pegawai wanita akan dipindahkan ke Indonesia semua. Karena tidak efisien lagi kalau mereka tetap dipekerjakan di rumah ini, yang tiada kegiatan seperti waktu masih ada Papa dan Mama dahulu.
Kedua pegawai pria itu pun tidak membantah. Dan menyatakan siap setia kepadaku sebagai satu – satunya ahli waris Papa dalam surat wasiat yang ditinggalkannya.
Kemudian kedua pegawai pria itu kupersilakan kembali ke tempatnya masing – masing.
Tinggallah aku dan Tante Reni yang masih berada di ruang makan itu.
Kemudian kuajak Tante Reni ikut ke kamarku.
“Kangen sama aku nggak?” tanyaku setelah berada di dalam kamarku.
“Banget kangennya,” sahut Tante Reni yang saat itu hanya mengenakan gaun batik Thailand yang terbuat dari kain goyang dan tipis.
“Tapi Tante besok harus terbang ke Jakarta dan menetap di sana secara permanen.”
“Iya, “Tante Reni mengangguk, “Kalau Donny mau pindah ke Indonesia, aku juga takkan kuat pisah terlalu lama dengan Donny.”
“Sekarang masih ikut KB?” tanyaku sambil menarik tangan Tante Reni dan mendudukkannya di pangkuanku.
“Masih, “Tante Reni mengangguk di pangkuanku, “Kan surat cerainya juga baru diterima kemaren. Nanti aja setelah berada di Indoinesia, baru dilepas spiralnya. Gak apa – apa kan?”
“Iya. Bagaimana baiknya aja,” sahutku sambil merayapkan tanganku ke balik gaun batik Thailandnya. Begitu tanganku berada di pangkal pahanya, aku langsung menyelinapkan tanganku ke balik celana dalamnya. Dan langsung menjamah kemaluannya yang sudah sangat kurindukan.
“Di Indonesia sudah ketemu dengan kakak – kakakku?” tanya Tante Reni tanpa mempedulikan tanganku yang sedang mengelus – elus serambi lempitnya.
“Baru ketemu dengan Tante Ratih doang. Kalau dengan saudara – saudara kandungku sih sudah ketemu semua. Teh Siska, Teh Nenden dan Donna, saudara kembarku.”
“Dengan saudara yang seayah beda ibu sudah ketemu?”
“Haaa?! Memangnya almarhum Ayah punya istri berapa?”
“Istrinya dua orang. Dan bunda Donny istri kedua.”
“Owh… gitu ya? Berarti aku punya saudara seayah berlainan ibu dong.”
“Punya, tiga orang. Cewek semua. Umurnya di atas Siska dan Nenden. Namanya sudah pada lupa, karena aku baru ketemu satu kali dengan mereka.”
“Baru tau sekarang kalau Ayah punya istri lain selain Bunda.”
“Aku tau istri tuanya Kang Rosadi ketika mau minta uang jajan padanya. Karena Ayah Donny sangat pemurah, bahkan tergolong royal. Sehingga sampai tua pun dia tidak kaya – kaya, karena royalnya itu…”
“Tapi aku harus ketemu dengan mereka. Karena mereka itu kakak – kakakku.”
“Iya. Kakak seayah. Bahkan Donny punya hak wali kepada mereka. Oooo… ooooh… Dooon… kalau serambi lempitku sudah dipegang – pegang gini… aku jadi horny nih…”
Tante Reni terasa sekali sangat mencintaiku. Setelah menelanjangi dirinya, dengan hati – hati ia menanggalkan baju dan celana piyamaku. Sehingga aku langsung telanjang bulat, karena sengaja aku tidak mengenakan celana dalam saat itu, supaya “instant”. Dan kekangenannya ditumpahkan dengan meraihku ke atas bed, lalu mendorong dadaku agar celentang. Mulutnya pun langsung menyergap rudalkuyang sudah dipegangnya dengan segenap kehangatannya.
Begitu trampilnya Tante Reni mengoral rudalku, mengulum dan menggelutkan lidahnya di moncong dan leher rudalku, sementara tangannya pun aktif mengurut – urut batang kemaluanku yang tidak terkulum olehnya, dibantu oleh air liur yang dialirkan dari mulutnya.
Lalu Tante Reni berlutut, dengan kedua lutut berada di kanan kiri, dengan kemaluan yang berada di atas rudal ngacengku. Sambil memegang rudalku, Tante Reni menurunkan serambi lempitnya perlahan – lahan. Dan perlahan – lahan pula rudalku menyeruak ke dalam liang serambi lempit tanteku. Masih susah juga masuknya. Tapi Tante Reni memaksakan serambi lempitnya untuk “menelan” batang kemaluanku.
Tante Reni pun menjatuhkan dadanya ke atas dadaku. Yang kusambut dengan pelukan di lehernya, ditanggapi dengan ciuman mesranya di bibirku. Lalu Tante Reni sendiri yang mengayun serambi lempitnya, seolah dia yang sedang memenyetubuhiku. Karena memang demikian kenyataannya. bahwa aku hanya mendiamkan rudalku, tapi bisa keluar masuk di dalam cengkraman liang serambi lempit tanteku yang aduhai itu.
Memang kalau dipikir – pikir serambi lempit perempuan – perempuan yang berasal dari keluarga Bunda ini hampir sama rasanya. Hanya kesannya yang berlainan.
Seperti serambi lempit Tante Reni ini, terasa mirip – mirip serambi lempit Teh Nenden. Sempit dan legit tapi cepat terlicinkan oleh lendir libidonya sendiri.
Lebih dari seperempat jam Tante Reni menyetubuhiku dalam posisi WOT ini. Sampai akhirnya ia keletihan sendiri, lalu menggulingkan badannya sambil mendekap pinggangku, jadi celentang, sementara rudalku masih tetap berada di dalam liang serambi lempitnya.
Kini giliranku untuk beraksi. Mengayun rudalku dengan gencarnya, karena liang serambi lempit Tante Reni sudah basah. Mungkin barusan dia sudah orgasme tapi tidak mau memberitahu padaku karena malu, mungkin.
Sebenarnya aku juga sudah sangat kangen pada Tante Reni yang sebelumnya selalu kupanggil Mbak karena belum tahu bahwa dia itu adik bungsu Bunda. Tante Reni yang tadinya begitu mengabdi padaku. Dan sekarang pun tetap menganggapku sebagai kekasih tercintanya.
Itulah sebabnya aku habis – habisan memenyetubuhinya sambil mengemut pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas toket kanannya. Membuat Tante Reni semakin bersemamngat menggoyang pinggulnya ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah. Meliuk – liuk dan menghempas – hempas. Bahkan ketika aku menyedot – nyedot lehernya kuat – kuat, sehingga meninggalkan bekas merah kebiruan, dia tidak caomplain sepatah kata pun.
Rintihan demi rintihannya pun mulai berlontaran tanpa terkendali lagi.
“Don… oooooh… Dooooon… aku cinta padamu Doooon… aku tak mau berpisah lagi dengan, mu Sayaaaang… aku sudah telanjur mencintaimu Dooonny… ooooh… Donny… entot terus Dooon… entooooooot… dentooooot… iyaaaaaa… iyaaaaaaa… iyaaaaaaaa… Doooon… rudalmu bikin aku gilaaaaaaaaa…
Kamarku memang kedap suara sejak dahulu. Karena aku serinbg menyetelkan musik keras – keras dan tak mau ditegur oleh Papa almarhum. Karena itu aku tak kuatir dengan rintihan – rintihan Tante Reni yang makin lama makin menjadi – jadi.
Namun pada suatu saat dia merintih terengah, “Barengin Doon… aku mau lepas Don… ayo barengin Dooon…”
Aku mencoba mengikuti keinginan Tante Reni, meski masih asyik dan ingin berlama – lama memenyetubuhinya.
Lalu kupercepat entotanku agar aku lebih cepat ejakulasi seperti yang diinginkannya. Berhasil… Ketik Tante Reni klapak – klepek lalu mengejang tegang, kutancapkan rudalku sedalam mungkin di dalam liang sanggama Tante Reni. Pada saat itu pula liang sanggama Tante Reni terasa seperti memilin – milin batang kemaluanku, lalu terasa mengejut – ngejut kencang…
Kami sama – sama terkapar lemas. Disusul dengan ciuman mesra Tante Reni. Dan ucapan lirihnya, “Kemaren aku kuatir sekali… takut Donny akan menghindariku setelah tau aku ini adik bundamu.”
“Aku tidak sejahat itu Tante,” sahutku sambil mencabut batang kemaluanku dari liang serambi lempit tanteku.
Kemudian kami mandi bareng. Membuat terawanganku melayang – layang ke masa laluku. Masa ketika Mama masih hidup. Yang selalu memanjakanku pada waktu memandikanku. Bahkan akhirnya kewanitaan Mama pun diserahkan padaku.
Aaaah… aku sedih sekali kalau ingat smeuanya itu. Karena tak kusangka kalau ibu angkat yang sangat menyayangiku itu akan cepat pergi untuk selama – lamanya.
“Tante besok ke Jakarta ya,” kataku ketika Tante Reni sedang menyabuniku.
“Apa pun yang Donny minta, akan kulaksanakan,” sahut Tante Reni, “Tapi apa yang harus kulakukan di Jakarta nanti?”
“Papa mewariskan dua buah rumah di Jakarta. Nanti akan kuberikan alamat – alamatnya. Yang satu di daerah Kebayoran Baru, yang satu lagi di daerah Menteng. Untuk itu, Tante harus menemui yang dikuasakan oleh Papa untuk mengurus dan menjaga rumah – rumah itu. Bilang aja Tante diutus oleh anak tunggal Pak Margono.
“Jadi tugasku apa?” tanya Tante Reni.
“Tante pilih di antara kedua rumah itu, mana yang lebih nyaman untuk Tante tinggali. Maka kelak rumah itu adalah tempat tinggal Tante. Dan aku memang akan pindah ke Indonesia,” ucapku yang mulai gantian menyabuni tubuh seksi tanteku, “Jadi kita akan tetap sering berjumpa setelah Tante tinggal di Jakarta nanti.
“Iya, iya… mmm… Donny akan tinggal di rumah yang kupilih itu juga?”
“Aku akan tinggal di rumah Bunda. Karena ingin memantau Bunda terus. Takut beliau jadi peminum lagi. Tapi usahaku akan dipusatkan di Jakarta nantinya. Jadi kita tetap akan sering ketemuan.”
“Bunda masih suka minum?”
“Pada waktu aku baru datang, masih. Tapi setelah kubujuk – bujuk, lalu berhenti. Sekarang Donna yang kusuruh mengawasi Bunda terus.”
“Rumah bundamu itu harusnya direnovasi Don.”
“Rumah itu sudah ditinggalkan. Sekarang Bunda tinggal di rumah Pak Wondo, yang punya tanah kosong di samping rumah Bunda itu. Tanah kosongnya pun sudah kubeli dan mulai dibangun.”
“Owh… syukurlah. Kasian Teh Ami itu… setelah ditinggal suami malah tenggelam dalam minuman keras. Sehingga rumah tuanya tidak terurus.”
“Tante manggil Teh Ami ya sama Bunda?”
“Iya.”
Pada saat itu tangan bersabun cairku sudah tiba di kemaluan Tante Reni. Dengan nakal aku menyabuninya, sambil memasukkan jemariku ke dalam liang serambi lempit tanteku. Dan… diam – diam rudalku mulai menegang lagi perlahan – lahan tapi pasti.
Maka pada suatu saat kudesakkan Tante Reni ke dinding kamar mandi, lalu kusabuni lagi serambi lempitnya agar licin liangnya. Lalu kuletakkan moncong rudalku di permukaan serambi lempitnya. Tante Reni pun membantu memegangi leher rudalku, agar arahnya tepat.
Lalu… bleeesssssssss… batang kemaluanku membenam lagi ke dalam liang serambi lempit tanteku.
“Udah kangen ya menyetubuhi sambil berdiri gini?” ucap Tante Reni sambil mendekap pinggangku erat – erat.
“Iya… menyetubuhi sambil berdiri gini suka mendatangkan sensasi yang lebih indah,” sahutku sambil mulai mengayun rudalku.
Lagi – lagi kunikmati gesekan – gesekan syur antara batang kemaluanku dengan dinding liang sanggama Tante Reni.
Tapi belasan menit kemudian bokong Tante Reni kuangkat… lalu kubawa ke dalam kamarku dan kulanjutkan memenyetubuhinya di atas bed.
Semua ini kulakukan agar aku terkesan sedang merayakan semacam farewell party*(pesta perpisahan)*. Karena besok pagi ia harus terbang ke Indonesia.
Dan esok paginya, ketika hari masih gelap menjelang subuh, Tante Reni berangkat menuju bandara, dengan menggunakan taksi. Tentu saja setelah aku membekali uang yang cukup banyak. Cukup untuk hidup di Jakarta selama berbulan – bulan.
Empat jam setelah Tante Reni berangkat, aku menelepon bank internasional yang cabangnya ada di Indonesia. Bank yang sudah puluhan tahun digunakan oleh almarhum Papa. Aku meminta jasa security bank itu untuk mengangkut koper – koper berisi USdollar yang tersimpan di bunker itu, karena merasa lebih aman dan praktis untuk menyimpannya di bank.
Pegawai bank pun ikut bersama petugas security dan menghitung jumlah uang di setiap koper itu. Kemudian semua uang dollar itu dimasukkan ke dalam mobil security yang cukup luas boxnya. Sampai tengah hari barulah tugas mereka selesai.
Sejam kemudian datang telepon dari bank, yang menerangkan bahwa semua uang US dollar itu sudah masuk ke dalam rekening pribadiku. Jumlahnya sangat banyak. Kalau dirupiahkan lebih dari 2T.
Aku pun merasa lega, karena merasa sudah mengamankan uang peninggalan Papa itu. Di dalam kamar Papa aku menatap lukisan foto Papa yang masih tetap tergantung di dinding kamar almarhum. Di depan foto itu aku bergumam, “Papa… uang peninggalan Papa sudah diamankan. Supaya aku bisa berbisnis di tanah air kita nanti.
Tiba – tiba handphoneku berdering. Ketika kulihat layar hapeku, ternyata dari Mr. Liauw. Maka tanpa diminta pun aku melaporkan penemuanku di dalam brankas itu, yang isinya sertifikat – sertifikat beberapa rumah di Indonesia. Tapi 47 koper yang berisi dollar itu tidak kulaporkan.
“Baguslah kalau begitu. Nanti silakan Boss urus segala sesuatunya dengan Mrs. Tania di Jakarta. Tapi sekarang ini saya mau melaporkan masalah lain. Nanti sore akan datang seorang calon buyer yang akan menjadi calon pembeli segala asset Boss di Bangkok dan di Choiang Mai itu. Namanya Mrs. Sheila. Dia istri seorang pengusaha besar dari kota Khon Kaen.
“O begitu? Oom mau mendampingi dia nanti sore?” tanyaku.
“Tidak. Kebetulan saya ada masalah klien yang harus diurus sore ini. Jadi silakan saja berhubungan langsung dengan Mrs. Sheila nanti. Kan nanti juga perjanjian jual belinya akan diurus oleh saya juga. Kebetulan Mrs. Sheila itu sudah lama menjadi klien saya juga,” sahut Mr. Liauw di hapeku.
“Dia akan datang ke rumah saya kan?”
“Betul. Makanya dia memilih di luar jam kerja. Kalau negosiasinya di rumah kan bisa dilakukan secara familiar.”
“Oke deh. Saya tunggu kedatangannya. Terima kasih Oom Liauw.”
“Sama – sama. Semoga negosiasinya lancar ya.”
Setelah hubungan seluler dengan Mr. Liauw ditutup, aku jadi teringat pada Tante Reni yang sudah berangkat sejak tadi subuh. Ada perasaan cemas juga di hatiku, sehingga kuambil lagi handphoneku dan kupijat nomor handphone Tante Reni.
“Hallo?” “Tante sudah mendarat di SoekarnoHatta kan?” “Sudah. Ini malah sudah tiba di kantor Mrs. Tania.” “Kalau belum bisa masuk ke dalam salah satu rumah, nginep di hotel aja dulu.”
“Kayaknya gak usah Don. Ibu Tania itu kelihatannya sangat baik dan ramah. Sebentar lagi beliau mau mengantarkanku ke rumah – rumah yang sesuai dengan fofocopy sertifikatnya.”
“Sambil bawa – bawa tas pakaian kan?”
“Iyalah. Gak apa – apa. Tas pakaiannya kecil kok. Aku kan nggak bawa banyak pakaian. Nanti beli aja di Jakarta. Dollar pemberian Donny kan sangat banyak.”
“Iya Tante. Jaga diri baik – baik ya.”
“Iya Don. Juga Donny… jaga diri baik – baik ya Sayang.”
Setelah menutup hubungan selulerku dengan Tante Reni, aku menyetelkan musik instrumental di dalam ruang kerja yang dahulu dijadikan ruang kerja Papa. Volumenya perlahan sekali, asal terdengar di telingaku saja.
Sorenya, tamu itu benar – benar datang. Tadinya kupikir calon buyer itu sudah tua, karena mendengar suaminya sudah meninggal seperti Mr. Liauw di telepon tadi.
Tapi ternyata yang mengaku bernama Sheila itu seorang perempuan muda. Paling juga usianya baru 30an.
“Saya kira ownernya sudah tua, ternyata malah jauh lebih muda daripada saya ya?” ucap Mrs. Sheila wsktu baru duduk di sofa ruang tamu.
“Saya juga nyangka calon buyernya sudah tua. Karena Mr. Liauw bilang calon buyernya sudah tiga tahun ditinggal meninggal oleh suaminya. Ternyata Ibu Sheila masih sangat muda. Paling juga baru duapuluhlimaan ya Bu?”
“Hush… umur saya sudah tigapuluhsatu Dek. Mmm… gak apa – apa kan panggil Adek sama Anda?”
“Gak apa – apa. Manggil nama langsung juga gak apa – apa Bu.”
“Sepertinya lebih menyenangkan kalau dipanggil Teteh atau Kak atau Mbak gitu. Biar jangan terlalu formal ngobrolnya.”
“Ibu aslinya dari Indonesia sebelah mana?”
“Saya orang Jabar Dek.”
“Kalau gitu saya panggil Teteh aja ya. Kebetulan saya juga orang Jabar. Cuma sejak bayi sampai dewasa di Bangkok ini. Baru satu kali pulang ke Indonesia, malah gak tau jalan. Untung ada saudara kembar saya yang jadi penunjuknya.”
“Punya saudara klembar segala? Lucu dong kalau jalan barengan.”
“Saudara kembar saya cewqek Bu eh Teh. Kalau jalan barengan malah disangka sama pacar.”
“Hihihiiii… saudara kembarnya pasti cantik ya. Soalnya Dek Donny juga tampan gitu.”
“Iyualah kalau cowok gak mungkin dibilang cantik. Malah Teteh yang cantik di mata saya.”
“Ohya?! Terima kasih, “perempuan yang kupanggil Teh Sheila itu tersenyum manis. Manis sekali. Membuatku salah tingkah, soalnya sikap permpuan 31 tahun itu seolah mengundangku. Tapi kutindas pikiran ngeresku, karena kali ini tamuku adalah tamu bisnis. Bukan tamu pribadi.
Untungnya dia mulai menyadari maksud kedatangannya ke rumahku ini. “Kemaren, begitu mendengar kabar dari Mr. Liauw, konsultan saya langsung mengobservasi asset – asset Dek Donny di Bangkok dan di Chiang Mai, termasuk dua perusahaan yang ada di kedua kota itu. Jadi… mau dibuka dalam harga berapa Dek?
Aku tercenung sejenak. Lalu kujawab harga keseluruhan asset yang mau dijual itu.
Sebenarnya harga itu masih bisa ditawar. Dan aku menunggu berapa dia mau menawarnya. Kalau rasional, akau kulepas semua asset yang sudah ditawarkan itu.
Tapi Teh Sheila malah bertanya soal lain, “Dek Donny sudah punya istri?”
“Belum Teh. Masih kuliah sih.”
Tiba – tiba Teh Sheila berdiri dan menjabat tanganku, “Oke… saya akan beli sesuai dengan harga yang Dek Donny minta tadi. Tapi ada syaratnya.”
“Apa syaratnya Teh?” tanyaku rikuh, karena tanganku masih digenggamnya. Bahkan ujung telunjukknya mengorek – ngorek telapak tanganku, membuatku geli.
“Dek Donny harus jadi pacar rahasia saya. Oke?”
Aku terkejut. Karena tak menyangka kalau wanita tinggi langsing berwajah cantik itu ingin jadi pacar gelapku…!
“Syarat yang sangat menyenangkan. Tapi seminggu lagi juga saya mau pulang ke Indoinesia Teh.”
“Gak apa – apa. Saya juga lebih sering tinggal di Indonesia,” sahut wanita muda bernama Sheila itu sambil memasukkan tangan ke dalam tas yang dibawanya. Lalu dia mengeluarkan tiga ikat US dollar pecahan 100 USD dari dalam tasnya. Lalu menyerahkan ketiga ikat uang dollar Amerika itu padaku, “Ini sebagai tanda jadi saja.
Kuterima uang 30.000 USD itu dengan perasaan seolah bermimpi. Uang yang kalau kurupiahkan lebih dari 400 juta rupiah itu, bukan uang sedikit. Tapi dia hanya menganggapnya sebagai tanda jadi atau tanda keseriusan. Bahwa wanita muda itu langsung menyetujui harga yang kuajukan, tanpa menawar lagi. Syaratnya…
Yang jelas aku menulis tanda terima di sehelai kwitansi. Karena yang diberikannya bukan uang sedikit. Kemudian kuserahkan kwitansi itu padanya.
Wanita muda itu memasukkan tanda terima dariku ke dalam tasnya. Lalu menghampiriku dan berbisik di dekat telingaku, “Terus… bisa sekarang langsung kencan?”
“Boleh,” sahutku sambil mengangguk.
“Mau di hotel atau di villa?”
“Di sini juga bisa,” sahutku sambil menunjuk ke pintu kamarku yang tepat berada di samping ruang tamu itu, “Security lebih terjamin.”
Mata bening indah Teh Sheila seolah memancarkan sinar kebahagiannya. Lalu ia berdiri sambil berkata perlahan, “Oke.”
Aku pun melangkah dan membuka pintu kamarku sambil bergaya ala bellboy di hotel – hotel berbintang lima, “Silakan masuk Madame…”
Kemudian ia masuk ke dalam kamarku yang lebih mewah daripada kamar hotel five star. Sejak Papa meninggal aku memang mengupgrade kamarku sedemikian rupa, sampai benar – benar layak untuk kamar seorang eksekutif muda.
Begitu masuk ke dalam kamarku, yang pintunya sudah kututup dan kukuncikan, Teh Sheila menghampiriku, sehingga harum parfum mahalnya tersiar ke penciumanku. Ia melingkarkan lengannya di leherku sambil bergumam perlahan, “Sejak suami saya meninggal, baru kali ini saya mderasa benar – benar terpesona oleh daya tarik seorang lelaki muda.
Lalu dengan hangatnya ia mencium bibirku, yang kusambut dengan lumatan hangat pula.
Akutidak mau hypokrit*(munafik).*
Sejak melihatnya pertama kali tadi, aku sudah merasa tertarik dan tergiur oleh kecantikan dan keseksian wanita muda bernama Sheila ini. Tapi tadi aku merasa akan bernegosiasi tentang asset – asset yang akan kujual. Dengan kata lain, aku sedang berbisnis. Dan masalah bisnis tak boleh dicampur adukkan dengan masalah pribadi, begitu salah satu wejangan Papa almarhum.
Maka aku pun laksana “pucuk dicinta ulam tiba”. Aku pun bisa “sambil menyelam minum air”.
Dan aku tahu benar apa yang harus kulakukan dalam suasana seperti ini. Kulepaskan kancing – kancing yang berderet di bagian depan gaunnya yang gemerlapan itu. Sementara Teh Sheila cuma menatapku dengan senyum manisnya yang kian memancing. Lalu ia sendiri yang menanggalkan gaun gemerlapan itu. Dan menggantungkannya di kapstok.
Dalam keadaan tinggal mengenakan bra dan CD, gila… begitu putih dan mulusnya tubuh wanita muda bernama Sheila itu… mengingatkanku kepada Teh Nenden yang kulitnya seputih kulit Teh Sheila ini. Tapi soal postur, Teh Sheila tidak setinggi Teh Nenden.
“Serius ingin jadi pacar saya?” tanyaku sambil memegang kedua pergelangan tangan wanita muda itu.
“Setiap pelaku bisnis harus selalu serius dalam melontarkan setiap ucapannya,” sahut Teh Sheila sambil berjongkok, untuk melepaskan kancing logam dan ritsleting celana denimku. Lalu menurunkan celanaku sampai terlepas dari sepasang kakiku. Kemeja tangan pendekku pun dia yang melepaskannya.
“Body yang atletis… perut yang sixpack… sexy sekali,” ucapnya sambil mengusap – usap dadaku, lalu menepuk – nepuk perutku perlahan.
“Saya merasa seperti tengah bermimpi,” ucapku pada saat tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuhku. Sementara wanita itu sudah melepaskan behanya, sehingga keadaannya jadi sama denganku. Sama – sama tinggal mengenakan celana dalam.
“Kenapa? Karena saya yang cantik dan seksi ini menembak duluan?” tanya wanita muda itu sambil meraihku ke atas bed.
“Lebih dari itu. Teteh seolah bidadari yang turun dari langit untuk menaburkan bunga – bunga surgawi di alam birahi saya…” sahutku bernada gombal.
Tapi Teh Sheila justru tersenyum, sambil melingkarkan lengannya di leherku. Dan menyahut, “Ternyata Dek Donny puitis juga ya… membuat hati saya semakin runtuh di kaki pesona Dek Donny…”
Ucapan itu disusul dengan pagutannya di bibirku, yang kusambut dengan lumatan sepenuh gairahku. Sebenarnya hatiku juga sudah runtuh dalam pesonanya, tapi aku tak mau mengatakannya secara lisan.
Dan ketika kami masih saling lumat, tanganku sudah menyelundup ke balik celana dalamnya. Dan menemukan sebentuk kemaluan yang bersih dari rambut… menemukan celah yang mulai membasah, menghangat dan licin…!
Aku memang tak menyangka akan mengalami peristiwa indah ini. Dan tongkat kejantananku langsung ngaceng berat. Tapi aku harus menahan diri, jangan langsung penetrasi. Karena aku ingin mengulur keindahan ini sejauh mungkin.
Mulai dengan menciumi lehernya yang harum dan hangat, dilanjutkan dengan mencelucupi puting payudaranya yang tegang, sementara tanganku mulai meremas payudara satunya lagi… payudara yang terawat sehingga masih sangat kencang. Tubuh wanita itu pun semakin hangat saja rasanya.
Lalu aku melorot turun… menjilati pusar perutnya sambil menurunkan celana dalamnya yang tipis transparan… dan tampaklah sebentuk serambi lempit yang begitu indah di mataku. serambi lempit yang sudah agak menganga, seolah menantang mulutku agar menggasaknya…!
Sementara wanita jelita bertubuh tinggi langsing tapi padat ini merenggangkan jarak di antara kedua belah pahanya, seolah mengerti apa yang akan kulakukan.
Dan aku mulai melakukannya. Menjilati serambi lempit yang sudah kungangakan ini. Menjilati bagian dalam serambi lempit berwarna pink ini, sementara ujung jari tangan kiriku mengelus – elus kelentitnya yang dengan mudah kutemukan.
Wanita kaya raya yang jelita itu mulai menggeliat – geliat sambil meremas -remas sepasang bahuku, meremas – remas kain seprai dan meremas – remas rambutku. Hal itu justru membuatku semakin bergairah untuk menggencarkan jilatan dan elusanku di kelentitnya.
Sehingga dalam tempo singkat saja serambi lempit Teh Sheila sudah basah kuyup oleh air liurku.
Lalu terdengar suara wanita itu yang mulai memperlihatkan jati dirinya, “Cukup Deeek… masukkan aja rudalnya…”
Tanpa banyak bicara lagi aku berlutut sambil melepaskan celana dalamku. Lalu memegang batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini dan mengarahkan moncongnya ke permukaan mulut serambi lempit wanita muda itu.
“Wow…! rudal Dek Donny sepanjang dan segede gitu?!” seru Teh Sheila yang baru melihat bentuk senjata pusakaku ini.
Aku cuma tersenyum dan mengangguk. Lalu mendorong rudalku sekuat tenaga.
Leeephhh… hanya masuk kepalanya saja. Kudorong lagi… hanya masuk sampai leher rudalku.
“Gila… udah dijilatin sampai basah juga masih seret gini masuknya Dek…” ucap Teh Sheila sambil merentangkan sepasang pahanya semakin lebar, mungkin agar rudalku bisa masuk dengan lancar.
“Liang serambi lempit Teteh sempit sekali, kayak yang belum pernah melahirkan,” sahutku setelah berhasil membenamkan rudalku hampir separohnya.
“Me… memang belum pernah melahirkan… almarhum suami saya kan sudah tua… sudah gak ada benihnya lagi…”
Aku tidak menanggapinya lagi, karena aku sudah mulai mengayun rudalku, perlahan – lahan tapi pasti… bahwa makin lama rudalku makin dalam masuknya pada waktu kudorong.
Akhirnya aku bisa mengayun rudalku dengan lancar, karena liang serambi lempit Teh Sheila sudah beradaptasi dengan ukuran batang kemaluanku, dibantu pula dengan lendir libidonya yang semakin banyak membasahi dinding liang serambi lempitnya.
Entotanku yang mulai lancar ini mulai diiringi rintihan – rintihan histeris dan erotis Teh Sheila. “Deeeek… oooo… ooooh… Deeeek… ba… baru sekali ini saya merasakan rudal segede dan sepanjang punya Dek Donny… ooo… ooooh… ini… lu… luar biasa enaknya Deeeek… oooooh Deeeeek…
Suara rintihan itu perlahan sekali. Mungkin dia takut kalau suaranya terdengar ke luar.
Karena itu aku menghentikan entotanku sejenak sambil berkata, “Lontarkan saja rintihan erotis TGeteh sekuatnya… jangan takut, kamar ini kedap suara. Walau pun Teteh menjerit – jerit, takkan terdengar ke luar… !’
Kemudian kulanjutkan entotanku yang semakin lama semakin massive ini.
Teh Sheila pun mulai menggoyang – goyangkan pinggulnya dengan gerakan yang erotis dan syur. Sementara rintihan – rintihan erotisnya pun semakin keras dan menjadi – jadi. Suaranya tidak ditahan – tahan seperti tadi lagi.
“Ayo entot teruuus Deeeeek… eeentoooot teruuuuussssss… ini luar biasa enaknyaaaa… enaknyaaaaaaaa… entoooootttt… entoooootttttttt… iyaaaaaaaa… iyaaaaaaaa… entooot teruuuusssssssss… entoooootttt… iyaaaa… iyaaaaaa… ooo… oooooohhhhhhhh… enaknyaaaaaaa…
Rintihan dan desahan nafas teh Sheila membuatku semakin bergairah untuk memenyetubuhinya habis – habisan. Sementara mulutku pun mulai beraksi. Mulai menjilati leher jenjangnya disertai dengan gigitan – gigitan kecil… membuat sepasang mata bundar bening itu merem melek.
Entah kenapa, kali ini aku menyetubuhi perempuan dengan tekad ingin membuatnya puas… puas sekali. karena mengingat dia sudah sekian lamanya menjanda. Selain daripada itu, mungkin di lain waktu aku membutuhkan dirinya sebagai relasi bisnisku.
Maka ketika ia mulai kelojotan pada saat aku sedang menjilati ketiaknya yang harum, aku pun menggencarkan entotanku dengan satu tujuan: Ingin berejakulasi bersamaan dengan detik – detik orgasmenya.
Ternyata aku berhasil mencapai titik puncak itu secara bersamaan.
Kami jadi seperti sepasang manusia yang sedang kerasukan. Mulut Teh Sheila ternganga pada saat sekujur tubuhnya mengejang tegang, sambil mencengkram bsepasang bahuku kuat – kuat seakan ingin meremukkan tulang – tulang bahuku. Aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin, sambil meremas sepasang toket yang sangat terawat dan masih sangat kencang ini.
Lalu… moncong rudalku menembak – nembakkan pejuhku di dalam liang serambi lempit Teh Sheila. Crooot… crot… croooooooottttttt… croooooooootttt… crotcrottt… croootttttt… crooootttt…!
Tekadku dari tadi, adalah ingin menciptakan kepuasan yang sepuas – puasnya bagi wanita muda bernama Sheila dan kusebut Teh Sheila itu. Karena itu aku berusaha untuk membangkitkan gairahku sendiri. dibantu dengan oral sex yang dilakukan Teh Sheila terhadap rudalku.
Lalu terjadilah hubungan sex yang kedua bersama calon buyer asset – assetku yang di Bangkok dan di Chiang Mai itu. Tentu di dalam ronde kedua durasinya jauh lebih lama. Sehingga kami sama – sama bersimbah keringat.
Lalu kami capai titik puncak secara bersamaan lagi, ketika Teh Sheila mencapai orgasme yang kelima, sementara aku berejakulasi untuk kedua kalinya.
“Nanti kita sama – sama pikirkan sematang mungkin Teh. Sekarang kita kan belum tau sifat masing – masing.”
“Saya juga tidak mau terburu – buru. Tapi saya ini wanita Dek. Wanita itu sifatnya menerima, bukan memilih. Tapi saya ingin mengurangi keraguan Dek Donny terhadap saya. Karena itu seandainya Dek Donny mau menikahi saya secara sah, saya siap.”
“Iya,” sahutku, “kalau menjadi pacar rahasia Teteh, saya siap. Tapi kalau untuk menikah secara sah, kita harus pertimbangkan dulu sematang mungkin.”
“Oke… sekarang kita mandi bareng yuk, “ajak Teh Sheila sambil duduk di pinggiran bedku. “Ayo… pengen nyabunin serambi lempit Teteh.. hehehee…”
“Saya juga pengen nyabunin rudal Adek… hihihihiii…” sahutnya sambil menepuk – nepuk rudalku yang sudah terkulai lemas ini.
Lalu kami masuk ke dalam kamar mandi, dalam keadaan sama – sama telanjang bulat. Di dalam kamar mandiku inilah kami saling sabun menyabuni. Dia menyabuni sekujur tubuhku baik bagian punggung mau pun bagian depanku. Aku pun menyabuni sekujur tubuh Teh Sheila baik bagian depan mau pun bagian belakangnya.
Dan… pada saat menyabuni bagian belakang tubuh wanita itulah aku melihat sesuatu yang sejak tadi tidak kelihatan, karena tertutup oleh rambutnya. Dan kini rambutnya digulubng dan diikat ke atas, seperti sanggul. Sehingga aku bisa melihat tatoo kecil di belikat kanannya. Ya, cuma tatoo kecil berbentuk tulisan dan sdetangkai bunga mawar merah.
Setelah melihat tatoo kecil itu aku bertanya dari belakang Teh Sheila, “Nama lengkap Teteh, Sheila Ros? Ros kan berarti bunga mawar.”
“Ros itu singkatan dari nama ayah saya Dek.”
“Coba saya tebak… nama ayah Teteh Rosando… Rosihan… Ros…”
“… Rosadi !” potong Teh Sheila ketika aku belum selesai menebak – nebak.
“Rosadi?” tanyaku agak kaget. Tapi kekagetanku kutindas dengan pikiran… aaah… orang bernama Rosadi kan banyak. Bukan hanya ayahku belaka…!
Lalu kami menyelesaikan mandi kami.
Aku pun tidak terlalu memikirkan masalah nama ayah Teh Sheila itu lagi.
Tapi setelah sama – sama mengenakan pakaian kembali, aku teringat beberapa foto almarhum ayahku yang dikirim dari handphone Donna. Lalu kukeluarkan handphone dari saku celana denimku.
Iseng kubuka foto – foto ayahku itu. Dan kuperlihatkan kepada Teh Sheila sambil bertanya, “Apakah Teteh kenal dengan orang di foto ini?”
Teh Sheila menatap foto di layar handphoneku sambil menyipitkan matanya.
“Lho… ini seperti foto ayah saya Dek… “gumamnya. “Coba buka foto – foto lainnya. Kan banyak tuh foto bapak itu,” sahutku.
Teh Sheila mengikuti saranku. Membuka foto – foto Ayah almarhum yang cukup banyak kudapatkan dari handphone Donna.
“Dek Donny…! Ini foto – foto ayah saya…! Dari mana Dek Donny dapatkan foto – foto almarhum ayah saya ini?”
GIliran aku yang kaget. Benar – benar kaget. Tapi aku berusaha menjawab pertanyaan Teh Sheila itu, “Saya anak Pak Rosadi dari istri keduanya, Teh.”
“Iya saya tau, almarhum Ayah memang punya istri muda yang bernama Bu Ami.”
“Betul. Bu Ami itu ibu kandung saya Teh… !”
Teh Sheila terbelalak sambil serambi lempitik, “O my Gooood…! Jadi kalau begitu Dek Donny ini adek saya yang seayah berlainan ibu. Begitu kan?”
“Teh Sheila adalah kakak seayahku. Hmmm… dunia ini terkadang kecil sekali ya Teh?” ucapku sambil meremas tangan Teh Sheila.
“Iya. Kita ini kakak – beradik seayah berlainan ibu, berasal dari Jabar kok baru dipertemukan sekarang di negara yang jauh dari negara kita ya? Memang dunia ini terkadang terasa kecil Dek.”
“Kalau Teteh menikah lagi, saya malah punya hak sebagai walinya kan?”
“Ya iyalah. Karena kalau dilengkapkan, nama kita sama – sama Bin Rosadi. Dek Donny Bin Rosadi, saya Binti Rosadi. Jadi Dek Donny punya hak wali atas diri saya.” sumber Ngocoks.com
“Iya. Berarti kita memang tidak bisa menikah Teh.” “Iya. Tapi sudah kepalangan basah gini, saya ingin hubungan kita tetap dilanjutkan sampai kapan pun, tapi jangan sampai diketahui keluarga kita.”
“Iya Teh. Sebenarnya saya juga sudah merasakan getaran cinta di hati saya. Tapi sekarang sudah jelas kalau kita takkan bisa menikah secara sah.”
“Gak apa – apa. Tapi saya mohon, Dek Donny jangan putuskan hubungan kita ini, ya Dek. Soalnya saya sudah telanjur mencintai Dek Donny. Meski ternyata kita ini kakak beradik seayah, saya akan tetap mencintai Dek Donny…”
“Iya Teh. Saya juga sudah telanjur mencintai Teteh. Saya juga ingin melanjutkan hubungan ini sampai kapan pun.”
“Terimakasih Dek. Hmm… pantesan begitu berjumpa dengan Dek Donny tadi, hati saya bergetar lain dari biasanya. Padahal mungkin getaran batin dari hubungam sedarah kita…” ucap Teh Sheila dengan mata berlinang – linang.
“Terus masalah asset – asset yang mau dibeli oleh Teteh itu masih tetap akan diselesaikan besok di kantor Mr. Liauw?”
“Ooo… soal itu sih tetap jalan. Besok transaksinya di kantor Mr. Liauw. Atau kalau ingin lebih akurat lagi, transaksinya di bank saja, karena nominalnya sangat besar, jadi harus lewat RTGS.
“(RTGS = Real Time Gross Settlement / transfer berulang – ulang dalam sehari)
“Iya. Yang penting Mr. Liauw harus hadir, sebagai saksi utama dalam transaksi besok. Soalnya dia notaris kepercayaan almarhum Papa.”
Teh Sheila bertanya, kenapa ada Papa dan ada Ayah? Siapa yang dimaksud Papa olehku itu. Maka kuterangkanlah semuanya.
Bahwa aku sejak bayi diadopsi oleh Pak Margono dan istrinya, yang lalu kusebut Papa dan Mama. Kujelaskan juga seluk beluk kehidupanku di Bangkok yang sangat disayang dan dimanjakan oleh kedua orang tua angkatku itu.
Bersambung… Kemudian Teh Sheila pun menuturkan riwayat hidupnya. Bahwa dia dinikahi oleh seorang pengusaha yang asli Thailand selatan, yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Waktu menikah dengan Teh Sheila, lelaki Thailand itu berstatus duda beranak dua orang, setelah bertahun – tahun ditinggal mati oleh istrinya. “Kira – kira suami saya almarhum nasibnya sama dengan Dek Donny. DIa diangkat anak oleh suami – istri dari Timur Tengah yang kebetulan tidak punya anak. Orang tua anbagkatnya itu kaya raya, karena punya pertambangan minyak bumi. Setelah kedua orang tua angkatnya meninggal, suamiku mendapat warisan yang cukup banyak berdasarkan surat wasiat juga.
“Tapi warisan yang cukup banyak itu dikembangkan oleh suami saya di Thailand ini, karena kampung halamannya di Thailand selatan. Ternyata almarhum sukses mengembangkan harfta warisan itu, sehingga dia tergolong taipan yang sangat disegani di negara ini, “lanjut Teh Sheila.
“Saya sendiri mendapat pesan terakhir darfi suami saya sebelum meninggal, bahwa saya harus mengembangkan usahanya di Thailand ini. Jangan mengadu untung di negara orang. Itulah sebabnya saya berminat untuk membeli asset – asset Dek Donny.”
“Ohya Dek… saya biasa dipanggil nama saja oleh adik – adik kandung saya. Dek Donny juga panggil nama saya aja langsung, gak usah pakai Teteh – Tetehan,” kata Teh Sheila lagi.
“Kalau begitu, panggil nama saya aja langfsung, gak usah pakai adek – adekan. Biar lebih dekat. Juga istilah saya, mendingan kita ganti dengan istilah aku aja ya. Biar lebih akrab.”
“Oke, “Sheila mengangguk, “Saya… eh aku setuju Don.”
“Nah… nyebut nama langsung gitu, terasa lebih dekat… lebih romantis. Kita kan sudah melakukan hubungan seperti suami – istri. Masa masih panggil Dek padaku?”
“Hihihihi… iya. Tapi Don… sekadar ngasih tgau aja, sekarang ini aku sedang berada di dalam masa subur. Aku malah berharfap hubungan yang kita lakjukan tadi bisa membuatku hamil. Gak apa – apa kan?”
“Gak apa – apa. Tapi kita gak bisa menikah secara sah. Gimana?”
“Biar aja. Aku malah mungkin takkan menikah seumur hidup, karena aku sudah menjadi milik Donny.”
Aku terharu mendengar ucapan kakak seayahku itu. Lalu kubelai rambutnya sambil berkata, “Semoga kita tetap saling mencintai sampai masa tua kita kelak ya.”
“Iya. Walau pun aku tidak bisa menikah dengan Donny, aku akan tetap mencintai dan menyayangi Donny sampai kapan pun… selama hayat masih dikandung badan.”
“Yep… artinya kita saat ini berjanji untuk tetap saling mencintai di seumur hidup kita, meski kita tak bisa menikah secara sah.”
“Iya aku berjanji untuk itu. Untuk tetap mencintai dan menyayangimu di seumur hidupku Don.”
“Aku juga berjanji untuk tetap mencintai dan menyayangimu di seumur hidupku, Sheila Sayang…”
“Ooooh… Donny… coba sebut lagi kata Sayang itu… rasanya tembus ke hatiku…”
“Sheila Sayaaaang… aku berjanji untuk tetap mencintai dan menyayangimu di seumur hidupku, Cintaaaaa…” sahutku sambil membelai rambut Sheila.
Sheila sangat terpengaruh oleh kata Sayang dan Cinta yang kulontarkan. Sheila pun menanggapinya dengan ciuman mesra di bibirku. Lalu terdengar bisikannya di dekat telingaku, “Terima kasih Sayang. Saat ini hatiku sangat bahagiaaaaa…”
Beberapa saat kemudian Sheila bertanya, “Kapan rencanamu pulang ke Indonesia?”
“Setelah transaksi kita selesai,” sahutku.
“Berarti paling lambat lusa juga sudah terbang ke Jakarta?”
“Iya… begitulah.”
“Aku ikut, boleh nggak? Aku berat berpisah denganmu Honey.”
“Di kampung halaman aku sedang sibuk membangun café yang akan dikelola oleh ibu dan saudara kembarku. Nanti kalau aku sudah punya waktu luang, aku akan menelpon Sheila, agar terbang ke Jakarta… untuk melanjutkan langkah – langkah kita, ya Sayang.”
“Begitu ya. Tapi aku kan bisa tinggal di hotel. Jadi setelah kesibukan Donny selesai, temani aku di hotel.”
“Kalau memaksakan diri di tengah kesibukan, aku takut nantinya malah sama – sama kecewa.”
Sheila tercenung. Lalu berkata lirih, “Tapi nanti setelah berada di Indonesia, harus sering – sering call aku ya Honey.”
“Iya.”
“Apalagi kalau aku hamil, pasti maunya deketan terus sama Donny nanti.”
“Kalau hamil sih aku juga pasti sering datang ke Bangkok. Di rumah ini kita kan bebas melakukan apa saja.”
“Di rumahku juga bebas melakukan apa aja. Nanti kukasih alamat lengkap rumahku yang di Bangkok ini ya.”
“Iya.”
Setelah Sheila pulang ke rumahnya, entah kenapa… ada perasaan sepi yang mencengkram batinku. Aku harus mengakui bahwa pertemuan singkat dengan kakak seayahku itu telah meninggalkan bekas yang mendalam di hatiku.
Apakah aku benar – benar telah mencintai wanita yang usianya lebih tua dariku itu? Entahlah. Yang jelas aku sendiri merasa berat untuk berjauhan dengannya.
Transaksi itu berjalan mulus. Hanya 4 jam aku dan Sheila berada di bank, disaksikan oleh Mr. Liauw, selesailah transaksi yang jumlahnya melebihi dollar dari koper – koper di dalam bunker kamar Papa itu.
Aku dan Sheila merahasiakan hubungan keluarga di antara kami berdua kepada siapa pun yang berada di Thailand ini. Sehingga Mr. Liauw meminta aku dan Sheila berjabatan tangan, tanda sudah selesainya RTGS dari perusahaan Sheila ke rekening pribadiku. Kuikuti saja saran Mr. Liauw itu, untuk berjabatan tangan dengan Sheila seolah kami bukan kakak adik.
Setelah keluar dari bank, Sheila masih sempat berbisik padaku, “Tolong carikan rumah yang tidak terlalu jauh dari rumahmu nanti ya. Kalau sudah ada, tell me by phone. Dan aku akan mentransfer dananya ke rekeningmu, Honey.”
“Oke,” sahutku sambil mengangguk. Kemudian kami berpisah di depan bank internasional itu, Sheila masuk ke dalam mobilnya yang disopiri oleh orang Thailand, sementara aku masuk ke dalam mobil peninggalan Papa yang kukemudikan sendiri.
Aku sudah merasa lega, karena uang dollar peninggalan Papa sudah masuk ke rekeningku, sementara hasil penjualan asset – asset itu pun sudah masuk ke dalam rekeningku. Sehingga boleh dibilang rekeningku gendut sekali kini.
Lalu mau kuapakan duit yang sangat banyak itu?
Entahlah. Aku belum punya rencana yang matang. Sementara bangunan untuk usaha kuliner Bunda dan Donna itu kecil sekali dibandingkan dengan besarnya dana yang tersimpan di rekening pribadiku..
Setibanya di rumah megah peninggalan Papa yang akan tetap kupertahankan itu, kukumpulkan pegawai – pegawai wanita. Kuberitah bahwa mereka tetap akan ditempatkan di ditu dulu, sambil menunggu pembangunan café di kotaku selesai. Karena mereka akan dijadikan waiters di café itu, dengan gaji tetap setara dengan gaji mereka di Bangkok.
Mereka cuma mengikuti arahanku saja.
Lalu aku mandi sebersih mungkin. Dan dua jam kemudian aku sudah berada di dalam pesawat terbang yang akan membawaku ke Singapore.
Setibanya di bandara Changi Singapore (saat itu belum ada Jewel Changi Airport), aku menggunakan taksi menuju Lavender Street dan chek in di sebuah hotel kecil langgananku. Memang hotel ini bukan hotel besar, tapi terasa nyaman. Karena kalau mau makan tinggal nyebrang jalan saja, ada food market di situ, yang makanannya murah – murah.
Sekarang aku sudah berada di level menengah ke atas, bahkan mungkin tergolong level atas, mengingat saldo di rekeningku sedemikian gendutnya. Tapi aku tak mau kelihatan orang kaya. Karena itu aku tidak mau menginap di hotel five star, karena aku tahu di Singapore ini serba mahal. Dan aku tidak mau menghambur – hamburkan uang peninggalan Papa hanya untuk sekadar kesenangan sesaat.
Di hotel kecil ini kusimpan tas pakaianku, lalu menyebrang jalan menuju food market itu. Ada penjual fishcake yang besar – besar di situ, yang paling kusukai. Cukup beli dua buah saja, perutku sudah terasa kenyang. Minumnya cuma Coffee O (istilah kopi pahit di Singapore).
Yang lucu di foodmarket ini aku sering mendengar kata “aaaa” di ujung kalimat yang diucapkannya. Misalnya kalau bertanya seperti ini, “How are you aaa?” atau “Smoking no good aaa”.
Hahahaaa… Chinese Singapore sama lucunya dengan orang India kalau ngomong bahasa Inggris, yang aksennya terdengar khas, dengan kepala digoyang – goyang pula.
Setelah menghabiskan fishcake dan kopi O, aku mencegat taksi menuju gallery peninggalan Papa, yang sekarang sudah menjadi milikku.
Setelah Papa meninggal, aku baru satu kali mendatangi gallery yang cukup besar ini. Dan kini adalah kunjungan yang kedua.
Gallery ini selalu banyak pengunjung dan pembelinya. Tapi ada sesuatu yang menarik bagiku, yang kini sudah kutemukan di antara sekian banyak pegawai gallery ini.
Yang menarik adalah sosok cewek bernama Adelita, yang usianya baru 22 tahun itu (hanya 2 tahun lebih tua dariku). Di mataku Adelita itu cantik sekaligus manis. Terutama kalau sudah tersenyum, lesung pipitnya selalu menghiasi sepasang pipinya itu. Adelita yang biasa dipanggil Adel itu orang Indonesia, karena pegawai di gallery ini orang Indonesia semua.
“Apa kabar Del?” tanyaku.
“Baik Boss,” sahutnya sambil tersenyum. Lagi – lagi lesung pipitnya tampak menghiasi sepasang pipi yang putih agak kemerahan itu (dimerahkan oleh make up).
Aku sadar bahwa Adelita seperti caper padaku pada kunjungan pertamaku sebulan yang lalu. Kini pun ia tampak seperti ingin eksis di mataku.
“Kalau Boss sudah datang ke sini, rasanya suasana gallery ini jadi seger,” ucapnya sambil tersipu.
“Lebih seger lagi kalau kamu menemaniku di hotel nanti malam,” sahutku membuatnya agak tersentak. Lalu kelihatan seperti berpikir.
“Mmm… kapan Boss pulang ke Bangkok?” ia menatapku dengan bola mata bergoyang perlahan.
“Sekarang pulangnya ke Jakarta, bukan ke Bangkok lagi,” sahutku sambil memegang tangannya yang diletakkan di atas kaca etalase.
“Duh jadi pengen mudik. Soalnya sudah dua tahun gak pernah mudik.”
“Mudik itu apa?” tanyaku.
“Pulang kampung. Hihihiiii…”
“Ooo… aku kan lahir besar di Bangkok. Makanya banyak kata – kata dalam bahasa Indonesia yang belum kukenal.”
“Iya. Mungkin di Bangkok hanya diajari bahasa baku oleh orang tua Boss ya.”
“Ya begitulah,” sahutku sambil terus – terusan memperhatikan wajah Adelita yang jauh di atas rata – rata menurutku, “Jadi sekarang ada keinginan mudik?”
“Ada sih. Tapi entah bakal dikasih ijin atau tidak sama Bu Yeyen. Lagian belum punya buat tiket pesawatnya.”
“Lho… gajimu dipakai apa aja?”
“Kan tiap bulan juga transfer ke orang tua Boss. Maklumlah, sekarang saya jadi tulang punggung keluarga,” sahutnya sambil menunduk.
Aku mengangguk – angguk lalu berkata, “Ya udah kalau kamu ingin pulang, bareng aja sama aku besok pagi. Soal ijin dari Bu Yeyen, biar aku yang akan mintakan ijinnya.”
“Siap Boss, siap…”
“Jadi nanti malam kamu ke hotelku aja ya. Ini alamatnya,” kataku sambil memberikan kartu nama hotel yang tadi kuambil dari front desk.
Adelita menjemput kartu nama itu dan membacanya sambil berkata, “Di Lavender street ya Boss? Dekat Lavender street sih. Pake taksi setengah jam juga nyampe.”
“Bisa kan langsung ke hotel itu? Biar besok pagi bisa langsung ke airport,” kataku.
“Maaf Boss… tiket pesawatnya mau dibeliin sama Boss?”
“Ya iyalah. Bu Yeyen ke mana? Kok dari tadi gak kelihatan.”
“Lagi ngecek barang yang baru datang di gudang Boss.”
“Owh, pantesan dari tadi gak kelihatan batang hidungnya.”
“Jadi… nanti saya harus ikutan nginep di hotel Boss?”
“Iya. Mau pisah kamar denganku boleh. Sekamar denganku juga gak apa – apa. Bednya ada dua kok.”
“Mmm… bagaimana baiknya menurut Boss aja.”
“Kalau menurutku sih mendingan sekamar. Biar bisa ngobrol dulu sebelum tidur.”
“Iya Boss. Tapi saya mau ngambil pakaian dulu dari wisma.”
“Oke,” sahutku, “Tapi gak usah ngomong – ngomong sama Bu Yeyen kalau kamu mau nginap di hotelku ya.”
“Siap Boss.”
Kemudian aku melangkah ke belakang, menuju gudang gallery ini.
Di dalam gudang tampak Bu Yeyen, manager gallery ini, yang tampak sedang menghitung hiasan dinding berupa ukiran – ukiran dari kayu jati.
Barang – barang yang dijual di gallery ini hampir 100% didatangkan dari Indonesia, berupa barang hasil pengrajin di tanah airku. Dan kelihatannya barang – barang hasil pengrajin Indonesia itu laku keras di gallery ini. Mayoritas pembelinya pun turis bule atau dari China dan Jepang.
Bu Yeyen tampak asyik menghitung barang – barang seni di depan matanya, sehingga tidak menyadari kehadiranku yang datang dari belakangnya.
Maka tangan nakalku pun menepuk bokong gedenya dengan sedikit remasan, “Hallo Bu Yeyen… !” sapaku.
Bu Yeyen terkejut dan menoleh ke arahku. “Eeeh… Boss… kirain siapa… hihihii… apa kabar Boss?” tanyanya dengan sikap sopan tapi centil.
“Baik – baik aja. Bagaimana perkembangan gallery ini?”
“Omzetnya meningkat terus Boss. Makanya volume impor dari Indonesia pun naik duapuluhlima persen. Maaf, gak enak ngomong di gudang gini. Mari ke ruang tamu Boss.”
Aku mengangguk, lalu mengikuti langkah Bu Yeyen menuju ruang tamu.
Sesaat kemudian aku sudah duduk di sofa ruang tamu. Bu Yeyen duduk di depanku.
Aku menepuk kulit sofa yang sedang kududuki sambil berkata, “Sini dong duduknya. Gak usah terlalu formal seperti dengan Papa almarhum. Sama aku sih santai aja.”
“Iya,” sahut Bu Yeyen sambil berdiri, lalu pindah duduknya ke sebelah kiriku.
“Bu Yeyen kelihatannya tambah seksi aja sih?” ucapku sambil memegang lututnya yang terbuka di bawah spanroknya. Saat itu Bu Yeyen mengenakan blazer dan spanrok serba abu – abu, dengan blouse putih bersih.
“Hihihihi… Boss bisa aja. Saya kan sudah tua Boss,” sahutnya tersipu, tapi tetap dengan sikap centil.
“Aaah… tua gimana? Emang usia Bu Yeyen sekarang berapa?”
“Tigapuluhlima Boss.”
“Tigapuluhlima sih belum tua Bu. Masih bisa hamil kan?”
“Ya masih Boss. Hihihiii… emangnya Boss mau hamilin saya?”
Aku agak tersentak mendengar pertanyaan frontal itu. Tapi aku punya naluri cepat tanggap. “Boleh… emangnya Bu Yeyen gak punyua suami?”
“Sejak bekerja di gallery ini, saya sudah janda Boss.”
“Ohya? Anaknya berapa orang?”
“Dua orang Boss. Tapi kedua – duanya dibawa sama mantan suami.”
“Kalau Bu Yeyen janda sih, boleh dong aku mengisi masa kesepiannya,” ucapku sambil berusaha menyelinapkan tanganku ke balik spanrok abu – abu manager gallery ini.
“Boleh banget kalau Boss sih yang menghangatkan kesepian saya,” ucapnya sambil merenggangkan pahanya, seolah mempersilakan tanganku menyelundup lebih jauh ke dalam.
Meski agak susah, karena ia mengenakan spanrok dengan belahan di sebelah kanannya, namun tanganku berhasil juga menyelinap ke balik celana dalamnya. Dan menemukan kemaluan yang berjembut tipis, tipis sekali.
Bu Yeyen terengah, lalu berbisik ke telingaku, “Mendingan di sana Boss, supaya lebih bebas, “ia menunjuk ke sebuah pintu yang aku tahu sebagai ruang istirahat Papa kalau sedang berada di Singapore. Bahkan Papa suka tidur di situ.
“Iya,” sahutku sambil mengeluarkan tanganku dari balik celana dalam Bu Yeyen. Lalu kami melangkah ke dalam kamar yang sering Papa pakai dahulu.
Setelah kami berada di dalam kamar yang kualitasnya tak kalah dengan kamar hotel five star, Bu Yeyen menutupkan pintu kembali sekaligus menguncikannya. “Gak nyangka Boss mau juga menghangati saya yang sudah lima tahun menjanda ini,” ucapnya sambil melepaskan blazer abu – abunya, lalu menggantungkannya di kapstok.
Aku pun berdiri di belakangnya sambil berbisik, “Boss yang bijaksana kan punya kewajiban untuk membantu anak buahnya yang punya masalah.”
“Sekalian sambil menyelam minum air ya Boss,” ucapnya sambil melepaskan blouse putihnya.
“Begitulah kira – kira,” sahutku sambil membantu membuka kancing beha Bu Yeyen yang terletak di punggungnya.
Beha itu pun dilepaskan oleh pemiliknya. Sementara aku masih berada di belakang wanita setengah baya itu. Tapi lewat cermin besar di depan Bu Yeyen, aku bisa melihat gedenya sepasang toket manager gallery ini. Maka dari belakang Bu Yeyen aku memeluknya, dengan kedua tangan memegang sepasang toket gedenya.
“Apa pun yang Boss mau, pasti saya kasih,” sahut Bu Yeyen sambil menurunkan spanrok dan melepaskannya. Lalu ia memutar badannya, jadi berhadapan denganku, dalam keadaan tinggal bercelana dalam saja. Wooow… memang seksi sekali manager galleryku itu. Toket yang gede, pinggang yang ramping dan bokong yang gede sekali.
Dengan telaten Bu Yeyen melepaskan kancing kemeja tangan pendekku satu persatu, kemudian melepaskan dan menggantungkannya di kapstok. Lalu ia berjongkok di depanku, sambil menurunkan ritsleting celana corduroyku sekalian melepaskannya dari kedua kakiku.
Tak cuma itu. Ia juga menurunkan celana dalamku sekalian melepaskannya dari kedua kakiku. Dan… ia terbelalak sambil memegang batang kemaluanku yang sudah mulai ngaceng ini. “Ooooh…! Punya Boss ini… luar biasa gede dan panjangnya…!” ucapnya perlahan.
Aku pun menelentang di atas bed, sambil membiarkan Bu Yeyen memegang batang kemaluanku disertai dengan remasan perlahan.
Lalu… tanpa kusuruh poun Bu Yeyen memasukkan setengah dari batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Dan terasalah betapa binal lidahnya menggeluti rudalku yang berada di dalam mulutnya. Sementara tangannya memegang batang kemaluanku yang tidak terkulum oleh mulutnya.
Permainan felatio “(wanita mengoral rudal)” pun dimulai. Air liurnya dialirkan ke batang kemaluanku yang tak terkulum olehnya, lalu dijadikan pelicin untuk mengurut – urut batang kemaluanku, sementara moncong dan leher rudalku digeluti oleh bibir dan lidahnya.
Tentu saja aksi Bu Yeyen itu membuat rudalku semakin ngaceng… ceng ceng ceng.
Dengan tangan kanan kanan tetap memegang rudalku yang sedang diselomotinya, tangan kirinya pun digunakan untuk melepaskan celana dalamnya. Dan tanpa membuang – buang waktu lagi Bu Yeyen berlutut dengab kedua lutut berada di kanan – kiri pinggulku, sementara serambi lempitnya tepat berada di atas rudalku.
Lalu pinggulnya diturunkan sambil tetap memegang batang kemaluanku yang sudah diarahkan ke sasaran utamanya.
Blessssss… batang kemaluanku mulai menyeruak ke dalam liang serambi lempit berjembut tipis dan jarang itu.
Lalu pinggul Bu Yeyen mulai naik turun perlahan – lahan, sehingga rudalku jadi maju – mundur di dalam liang serambi lempitnya yang terasa empuk – empuk legit ini.
Tapi sebenarnya aku kurang suka dengan posisi WOT ini, karena menurutku banyak kekurangannya. Karena itu aku hanya membiarkan Bu Yeyen beraksi belasan menit saja di atas rudalku. Lalu aku mengajaknya berubah ke posisi missionary.
Bu Yeyen pun setuju. Ia langsung menelentang di atas bed, sehingga rudalku terlepas dari liang serambi lempitnya.
Bu Yeyen merentangkan sepasang pahanya lebar – lebar ketika aku sudah meletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempit wanita setengah baya itu.
Dan kudorong rudalku sekuat tenaga… blesssss… melesak masuk lagi ke dalam liang serambi lempit Bu Yeyen yang berperawakan seksi habis itu.
Aku pun menjatuhkan dadaku ke atas sepasang toket gede Bu Yeyen, sambil bertanya, “Dulu Papa pernah menyetubuhi Bu Yeyen juga?”
“Iiiih… nggak pernah Boss. Pak Margono almarhum sangat cuek orangnya. Setelah istrinya meninggal juga tetap cuek. Gak pernah bercanda atau mengganggu cewek mana pun.”
“Nggak seperti aku ya?”
“Hehehee… iya… putra Pak Margono ini memang supel sih. Nggak banyak sikap protokoler. Jadi anak buah Boss pun pada suka.”
Aku tiddak menanggapinya. karena aku mulai memenyetubuhinya, dengan gerakan yang langsung cepat. Soalnya aku ingat bahwa sebentar lagi gallery bakal tutup. Karena itu aku berusaha untuk ejakulasi sebelum jam tutup gallery.
Bu Yeyen pun menanggapi aksiku dengan menggoyang pinggulnya, memutar – mutar, meliuk – liuk dan menghempas – hempas ke atas kasur. Sehingga rudalku terasa dibesot – besot dan diremas – remas oleh dinding liang serambi lempit Bu Yeyen yang terasa bergerinjal -gerinjal ini. Hmmm… luar biasa nikmatnya…!
Aku pun memenyetubuhinya sambil meremas – remas toket kanannya dengan tangan kiriku, sementara mulutku asyik mengemut pentil toket kirinya. Hal Ini membuat goyangan pinggul Bu Yeyen semakin menjadi – jadi.
Hampir setengah jam aku menyetubuhi manager galleryku itu. Sampai akhirnya Bu Yeyen merintih di dekat telingaku, “Boss… dudududuuuuh… saya mau lepas Bossssss.. oooohhhhh… oooo… ooooooh…”
Aku pun semakin mempercepat entotanku. Maju mundur maju mundur maju mundur maju… sampai akhirnya kubenamkan rudalku sedalam mungkin, sampai mentok di dasar liang serambi lempit Bu Yeyen.
Pada saat itu pula sekujur tubuh Bu Yeyen mengejang tegang, sementara liang serambi lempitnya terasa seperti belitan ular yang seolah ingin menghancurkan rudalku. Disusul dengan kedat – kedut kencang di dasar liang serambi lempitnya. Disusul dengan tembakan air maniku secara beruntun… crotttt… croooot… croooottttt…
Sebelum meninggalkan kamar yang tadinya selalu dijadikan tempat istirahat Papa itu, Bu Yeyen memelukku dari belakang, sambil berkata setengah berbisik, “Gairah saya sudah lama terpenjara dan seolah mati. Tapi sekarang saya merasakannya kembali. Boss telah menghidupkan kembali gairah saya. Terima kasih Boss.
Sebenarnya aku sedang memikirkan Adelita yang sudah kujanjikan akan kuajak terbang bersama ke negara kami. tapi aku tak mau mengecewakan Bu Yeyen, karena dia termasuk orang kubutuhkan di dalam bisnisku. Lagipula tubuh seksinya itu, mungkin akan sering kubutuhkan untuk “refreshing”.
Karena itu aku memutar badanku jadi berhadapan dengan wanita setengah baya itu. Lalu kucium bibirnya dengan lembut. “Terima kasih Bu Yeyen. Apa yang telah terjadi barusan, takkan terlupakan. Aku akan sering – sering ke Singapore untuk merasakan legitnya yang satu ini,” kataku sambil mengusap – usap serambi lempitnya yang masih belum tertutupi celana dalam.
Bu Yeyen tersenyum ceria.
Lalu kataku, “Ohya… Adelita itu akan ikut ke Indonesia, karena kampungnya tidak jauh dari kotaku. Menurut pengakuannya, sudah dua tahun dia tidak pulang kampung. Berapa lama dia mendapat izin cuti?”
“Kalau Boss yang bawa, masa cutinya terserah Boss. Memang kasian juga dia itu. Kerjanya rajin dan teliti. Saking tekunnya bekerja, sampai lupa pulang. Kapan Boss mau terbang ke Indonesia?”
“Mungkin besok, mungkin juga lusa,” sahutku.
“Iya… silakan aja Adelita diajak terbang bersama Boss. Supaya dia bisa menikmati terbang gratis. Hihihiii…”
Lalu Bu Yeyen mengenakan pakaiannya kembali, sementara aku keluar dari kamar itu, mencari Adelita di gallery. Setelah kelihatan dia masih berada di tempat semula, aku menghampirinya dan berkata perlahan, “Nanti bilang aja sama Bu Yeyen bahwa kampungmu sangat dekat dengan tempat tinggalku ya.”
“Iya Boss. Emangnya Boss sudah ngasih tau Bu Yeyen?”
“Sudah. Dan kamu dikasih izin cuti.”
“Maaf… berapa hari izin cuti saya Boss?”
“Bu Yeyen menyerahkan padaku tentang masa cutimu itu. Jadi tenang aja ya. Nanti aku yang menentukan semuanya.”
“Siap Boss.”
Kemudian kuberikan uang 50 dollar Singapore padanya sambil berkata, “Ini untuk taksi menuju hotelku nanti ya.”
“Siap Boss. Terima kasih,” sahut Adelita sambil tersenyum manis. Hmmm… manis sekali senyum Adelita itu…!
Lalu aku meninggalkan galleryku.
Sebenarnya aku ingin mengunjungi pabrik peninggalan Papa di Singapore ini. Tapi hari sudah mulai malam, sehingga kubatalkan niat itu dan pulang ke hotel dengan taksi.
Di dalam hotel, aku mandi sebersih mungkin. Sambil membayangkan apa yang sudah terjadi dengan Bu Yeyen dan apa yang akan terjadi dengan Adelita nanti. Setelah mandi kupakai baju dan celana piyamaku, tanpa mengenakan celana dalam. Lalu menunggu datangnya Adelita yang terasa lama sekali.
Sampai pada suatu saat…
Seorang bellboy mengantarkan Adelita ke kamarku. Kuberi bellboy itu tip, 3 keping uang coin pecahan 2 dollar Singapore (SD).
“Thank you,” ucap bellboy itu. Aku mengangguk sambil tersenyum. Di dalam hati aku berkata, tumben ngomong thank you bukan thank you aaa… hahahaaaaaaaa…!
Setelah bellboy itu berlalu, kututupkan kembali pintu sekaligus menguncinya. Lalu menghampiri Adelita yang sudah duduk di satu – satunya sofa dan berada di dekat jendela.
Lalu aku duduk di sebelah kanan Adelita, yang pada saat itu mengenakan celana jeans dengan baju kaus berwarna hitam. Sambil melingkarkan lengan kiriku ke pinggangnya. “Kamu punya perasaan khusus padaku ya …” ucapku perlahan.
Adelita tersipu dan menyahut dengan suara nyaris tak terdengar, “Kok Boss bisa tau?!”
“Feelingku tajam Del. Coba ngomong deh sejujurnya, apa yang kamu rasakan?”
“Saya memang punya perasaan lain pada Boss… tapi saya tau diri… tau siapa saya dan siapa Boss,” sahut Adelita sambil menundukkan kepala.
“Yang jelas dong ngomongnya. Perasaanmu padaku itu bagaimana sebenarnya?” tanyaku sambil membelai rambutnya.
“Sa… saya suka sekali sama Boss… hati saya seperti sudah bertekuk lutut di bawah daya pesona Boss. Mohon Boss jangan marah ya…”
Sebagai jawaban, kurapatkan pipiku ke pipi Adelita. Sambil berkata, “Kalau kamu membenciku, mungkin aku marah. Tapi kalau kamu suka, masa aku marah padamu?”
Lalu Adelita menatapku dengan sorot ragu, namun senyum manis berlesung pipitnya menghiasi wajah cantiknya kembali.
“Kamu pernah pacaran berapa kali selama ini?” tanyaku.
“Ah, cuma cinta monyet waktu masih di SMP dan SMA, Boss.”
“Umurmu sekarang berapa tahun?”
“Sembilanbelas Boss. Setelah lulus SMA saya kan dipekerjakan di gallery punya Boss.”
“Lalu sudah punya pengalaman dengan cowok?”
“Maaf… pengalaman apa maksudnya?”
“Pengalaman dalam soal sex?”
“Iiiih… saya sih dicium bibir juga belum pernah. Kalau dicium pipi memang pernah. Tapi kalau cowoknya minta cium bibir, selalu saya tolak.”
“Kenapa nolak cium bibir?”
“Karena kata Mamah, kalau ciuman bibir itu pasti menjalar ke mana – mana. Jadi Mamah melarang saya ciuman bibir, supaya bisa menjaga kehormatan, katanya.”
“Hebat. Berarti kamu masih perawan?”
“Masih Boss.”
“Boleh kubuktikan?”
“Silakan. Asalkan saya jangan disia – siakan sesudahnya.”
“Iya… sekarang mandi dulu gih. Aku mau ke luar dulu sebentar.”
“Iya Boss.”
“Nanti setelah mandi, ganti pakaiannya dengan gaun rumah… bawa daster nggak?”
“Bawa Boss.”
Kemudian aku keluiar dari kamar dan menuju front office sambil melambaikan tangan ke seorang bellboy.
Setelah bellboy itu mendekat, aku berkata padanya, “I need birth control tablets and massage lotions. Can you buy it at the pharmacy?”
(Saya membutuhkan tablet KB dan lotion pijat. Bisakah kamu membelinya di apotek?)
Bellboy itu mengangguk sopan sambil menyahut, “Yes, young master I can buy it. “(Ya, tuan muda saya bisa membelinya).
Kemudian kuberikan selembar uang pecahan 50 dollar Singapore.
Bellboy itu pergi ke luar hotel, sementara aku duduk di lobby sambil baca – baca koran Singapore. Sampai bellboy itu datang lagi sambil membawa kantong plastik kecil berisi pesananku. Setelah memberi tip10 dollar Singapore kepada bellboy itu, aku pun kembali lagi ke dalam kamarku.
Terdengar bunyi pancaran air dari kamar mandi. Adelita benar – benar sedang mandi. Aku pun duduk di sofa yang cuma satu (bukan 1 set) ini
(Maklum bukan hotel five star).
Yang membuatku nyaman, di sekitar hotel ini banyak makanan murah meriah. Ada food market yang berada di seberang jalan hotel, ada pula kedai nasi muslim yang sejajar dengan hotel. Dan yang jelas suasananya tidak berisik seperti di Orchard Road.
Tak lama kemudian Adelita muncul dari dalam kamar mandi, mengenakan daster satin putih yang agak pendek, sehingga sebagian paha putih mulusnya tampak di mataku.
Dengan sejujurnya aku menilai di dalam hati, bahwa Adelita adalah cewek tercantik di antara sekian banyak cewek yang pernah kukenal…!
Tapi aku tidak mengucapkannya secara lisan. Aku hanya berkata, “Nah… kalau udah mandi seger kan?”
“Iya Boss,” sahutnya sambil tersenyum.
“Ayo duduk di sini lagi,” kataku sambil menepuk kulit sofa yang kududuki. Adelita pun duduk di samping kiriku.
Lalu kulingkarkan lengan kiriku sambil mendekatkan mulutku ke bibirnya, “Kalau aku ingin mencium bibirmu boleh nggak?”
“Kalau buat Boss sih mau ngapain juga boleh, asalkan jangan menyakiti hati saya aja.”
“Kamu nyadar gak, kenapa aku mengajakmu ke sini dan memintakan izin sama Bu Yeyen segala untuk cutimu selama dua minggu?”
“Saya tidak berani menebak – nebak Boss. Takut salah tebak.”
Sambil memegang tangannya erat – erat, aku berkata, “Kalau gitu dengarin ya… aku mengajakmu ke sini dan mengajakmu terbang ke Indonesia, karena apa? Karena aku suka padamu, Del.”
“Boss… ooooh… rasanya ucapan Boss barusan masuk ke hati saya… terima kasih Boss. Saya sangat bahagia mendengarnya…” ucap Adelita sambil memegangi dadanya. “Silakan cium bibir saya Boss… karena saya juga ingin merasakan bagaimana rasanya dicium oleh sosok yang belakangan ini sudah menjadi idola saya.
Aku tersenyum dan tidak menganggap lebay pada ucapan Adel itu. Lalu kupagut bibir sensualnya ke dalam ciuman dan lumatanku, sambil melingkarkan lengan kiriku di lehernya, sementara tangan kananku memegang lututnya yang terbuka di bawah daster putihnya.
Sebenarnya ada rasa penasaran di dalam hatiku. Penasaran ingin membuktikan apakah dia benar – benar masih perawan atau tidak. Tapi aku belum pernah mendapatkan sasaran yang masih perawan. Sehingga aku jadi kebingungan sendiri tentang bagaimana cara untuk memulainya?
Aku pun takkan terlalu memaksakan diri untuk membuktikan keperawanan Adelita. Aku ingin ingin semuanya mengalir tanpa memaksakan kehendakku. Maklum, beberapa saat yang lalu aku baru saja menyetubuhi Bu Yeyen yang bodynya amat seksi itu.
Tapi tangan nakalku mulai gatal ketika aku masih melumat bibir Adelita ini. Tangan nakalku mulai memegang lututnya lalu merayap ke arah pahanya. Adelita tidak meronta sedikit pun. Bahkan mendekap pinggangku erat – erat, dengan mata terpejam.
Ketika tanganku sudah berada di balik celana dalamnya pun, dia tidak meronta atau pun menepiskan tanganku. Sepasang mata indahnya pun tetap terpejam.
Aku hanya mengusap – usap permjukaan serambi lempitnya yang bersih licin, tak terasa menyentuh bulu jembut sama sekali. Lalu melepaskan ciumanku dan berbisik, “Kalau tidak keberatan, lepaskan dastermu, Del.”
Adelita membuka kelopak matanya. Menatapkju dengan sorot pasrah. Lalu melepaskan dasternya lewat kepalanya. Sehingga bentuk tubuhnya sangat jelas di mataku. Tubuh yang tinggi semampai dengan kulit kuning langsat yang sangat mulus dan wajah jelita berlesung pipit di kedua pipinya.
Lalu… tubuh mulus yang tinggal mengenakan beha dan celana dalam serba putih itu kuangkat dan kubopong ke arah bed. Lalu kuletakkan di atas bed dengan hati – hati.
“Bolleh aku membuktikan perawan tidaknya kamu Del?” tanyaku sambil duduk di sisi Adelita yang terlentang pasrah.
“Silakan aja Boss.”
“Kamu takkan menyesal setelah tidak perawan lagi nanti?” tanyaku sambil mengusap – usap perutnya yang kempis, tidak buncit.
“Tidak. Bahkan saya akan bangga karena yang mengambil kesucian saya adalah orang yang sangat saya kagumi… ‘
“Kalau begitu aku akan membuktikannya ya. Dan itu berarti, aku akan menyetubuhimu Del. Apakah kamu sudah siap?”
‘Siap Boss. Silakan aja lakukan apa yang terbaik bagi Boss dan terbaik pula bagi saya.”
Lalu aku membuka kancing beha Adelita yang terletak di punggungnya, lalu Adelita sendiri yang melepaskan beha itu. Dilanjutkan dengan melepaskan celana dalamnya. “Hmmm… tubuhmu indah sekali Del. Setelah terbukti kamu perawan, kamu akan menjadi milikku nanti.”
‘Iya Boss… saya akan semakin bangga kalau punya kesempatan untuk menjadi milik Boss,” sahutnya bernada pasrah.
Benarkah Adelita sampai sejauh itu mengagumiku, sehingga dia akan merasa bangga kalau aku mengambil keperawanannya (kalau ia memang masih perawan)?
Entahlah. Tapi kalau ia bertanya padaku dan aku harus menjawabnya secara jujur, sesungguhnyalah aku pun akan merasa bangga seandainya Adelita menjadi milikku. Tapi aku tidak mengucapkannya. Cukup menyimpannya saja di dalam hati. bahwa kalau dia benar -benar perawan, aku akan memelihara, melindungi, memanjakan dan menata masa depannya.
Maka aku pun tak buang – buang waktu lagi. Kulepaskan baju dan celana dalamku, sehingga aku pun telanjang bulat seperti Adelita.
Adelita tampak seperti gentar menyaksikanku sudah sama – sama telanjang seperti dia. Namun aku berusaha mengusir kegentarannya dengan merayap ke atas tubuhnya, lalu menghimpitnya sambil mencium bibirnya dengan segenap kemedsraan yang kumiliki.
“Boss… saya seperti tengah bermimpi… “gumam Adelita pada saat aku sedang mengemut pentil toketnya yang masih sangat kencang, sambil membelai rambutnya dengan lembut.
Aku tahu betul bahwa dalam suasana yang krusial seperti ini, aku harus bersikap selembut mungkin padanya.
Kemudian aku melorot turun, untuk menjilati pusar perutnya… lalu melorot lagi sehingga wajahku sudah berhadapan dengan serambi lempitnya yang cuma tampak seperti garis lurus dari atas ke bawah. Karena ketembeman serambi lempitnya menutup bibir luar serambi lempitnya itu.
Lalu kukuakkan “garis lurus” itu dengan kedua tanganku. Sehingga serambi lempitnya jadi ternganga dan bagian dalamnya yang merah muda itu pun tampak di mataku.
Lalu lidahku pun mulai beraksi. Menjilati bagian dalam yang kemerahan itu.
Adelita tersentak pada awalnya. Tapi lalu terdiam setelah aku menggencarkan jilatanku. Bahkan ia mulai menggeliat – geliat erotis, seperti ular yang terinjak kepalanya…
Bahkan ketika aku mulai grencar menjilati kelentitnya, geliat – geliat erotisnya pun mulai diiringi desah – desah nafasnya, “Aaaaaa… aaaaaaaahhhh… aaaaaa… aaaaahhhh… aaaaaa… aaaaaahhhh… aaaaaaa… aaaaaaaaahhhh…”
Sambil menjilati celah kewanitaannya, aku perhatikan benar “keadaan” di dalam kemaluannya yang sulit untuk dilihat tanp[a lampu senter. Tapi jelas terlihat bahwa liangnya itu sangat kecil. Jelas harus dibantu oleh lotion yang tadi dibelikan oleh bellboy hotel ini.
Ketika aku mengalirkan lotion ke dalam celah kemaluannya, Adelita hanya menatapku dengan sorot pasrah. “Lotion ini untuk melicinkan, supaya tidak sakit,” kataku.
Adelita cuma tersenyum dan membiarkanku membuat celah kemaluannya digenangi lotion.
Begitu pula pada waktu aku merenggangkan kedua paha mulusnya, Adelita menurut saja. Membuatku semakin nyaman untuk meletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempitnya yang sudah basah oleh lotion dan air liurku.
Lalu aku mendorong batang kemaluanku… tapi meleset ke bawah. Sehingga aku harus membetulkan letak awalnya. Kudorong lagi, meleset lagi.
Kutambah lotion lagi agar memudahkan rudalku membenam ke dalam liang serambi lempit yang sangat sempit itu.
Kuletakkan lagi moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit yang sudah sangat mengkilap dan basah oleh lotion itu. Lalu kudorong lagi sekuatg tenaga… iyaaaaaaaaa… mulai masuk sedikit… kudesakkan lagi sekuatnya… makin dalam masuknya… hampir setengahnya masuk.
Aku pun menghempaskan diri ke atas perut dan dada Adelita. “Sakit?” tanyaku perlahan.
“Nggak,” sahutnya sambil melingkarkan lengannya di leherku, “Boleh cium bibir Boss?”
“Tentu aja boleh,” sahutku sambil menggerak – gerakkan rudalku perlahan – lahan.
Adelita pun mencium bibirku dengan kaku awalnya. Tapi setelah aku melumat bibirnya, ia pun balas melumat bibirku. Sementara rudalku makin lama makin lancar memenyetubuhi liang serambi lempit Adelita, meski liangnya terasa sempit sekali. Aku malah menilai bahwa liang serambi lempit Adelita ini paling sempit di antara liang – liang sanggama yang pernah kusetubuhi.
Adelita pun mulai memberanikan diri untuk mendekap pinggangku erat – erat. Sementara tubuhnya terkadang mengejang, terkadang mengendur.
Desahan erotisnya pun mulai berkumandang di dalam kamar hotel ini, “Bossss… aaaa… aaaaaah… Boss… aaaaaahhhhhhh… Boss… aaaaaaaaa… Bosss… Bosss… aaaaa… aaaaaah… Bosssss…”
Kupelankan dulu entotanku sambil berbisik di telinga Adelita, “Sakit nggak?”
“Ta… tadi sakit sedikit… tapi sekarang nggak sakit lagi… malah eee… enak sekali Boss… rasanya… seperti… seperti melayang – layang gini sa… saking enaknya Boss… aaaaa… aaaaaah… kita… kita ini… se… sedang bersetubuh?”
“Iya…” sahutku sambil mempercepat entotanku. Tapi aku tidak bisa “tancap gas”, karena sempitnya liang kemaluan Adelita ini.
Sementara rintihan – rintihan histeris Adelita makin menjadi – jadi, “Boooossss… ooooh… Boooosssss… oooooooh… Boooosssssss… iiiiniiiii… lu… luar biasa enaknyaaaaa Bossss… eeeenaaaak Bossss… sangat enaaaaaak… sangat enaaaak… ooooh… Bossss… Boooosssssss…
Aku pun mulai melengkapi persetubuhan ini, dengan jilatan – jilatan di lehernya yang mulai keringatan, meski AC di kamar hotel ini terasa dingin sekali. Maka kedua tangan Adelita mulai mengepak – ngepak kasur. Seolah burung yang patah sayapnya, yang ingin terbang tapi tak bisa.
Terkadang aku pun mengemut pentil toketnya, sementara tanganku meremas toket yang satunya lagi. Sepasang mata bening Adelita pun semakin merem melek dibuatnya.
Dan ketika aku menjilati ketiaknya, Adelita tampak kaget. Pasti karena tidak menduga kalau aku akan menjilati ketiaknya segala. Begitu pula pada waktu aku menjilati telinganya, Adelita tersentak, tapi lalu membiarkanku melakukan apa pun yang kuinginkan.
Cukup lama aku melakukan semuanya ini. Sehingga keringatku pun mulai berjatuhan. Sebagian berjatuhan ke kain seprai, sebagian lagi berjatuhan ke leher, ke wajah dan ke dada Adelita.
Sampai pada suatu saat, Adelita berkelojotan sambil memejamkan matanya. Pada saat itulah aku pun mempercepat ayunan rudalku.
Sebenarnya aku bisa memperlama durasi menyetubuhiku. karena persetubuhan dengan Adelita adalah persetubuhan yang kedua bagiku hari ini. Karena beberapa saat yang lalu aku sudah menyetubuhi Bu Yeyen pula di galleryku.
Tapi aku sadar bahwa Adelita jangan sampai merasa tersiksa kalau aku terlalu lama menyetubuhinya. Karena itu aku menargetkan untuk ngecrot berbarengan dengan orgasme Adelita.
Karena itu aku dengan cepatnya berkonsentrasi, tentang betapa nikmatnya liang serambi lempit yang masih sangat – sangat sempit ini. Maka ketika sekujur tubuh Adelita mengejang tegang, Aku pun menancapkan batang kemaluanku sedalam mungkin, sambil meremas sepasang toket yang masih sangat kencang ini.
Kurasakan betapa liang sanggama Adelita berkejut – kejut, berbarengan dengan meletusnya lendir mani dari moncong rudalku.
Croot… crooooottttttt… crooooottttttt… crotcrot… crooooot… cret… crooooooootttt…!
Kami sama – sama terkapar dan terkulai lemas.
Namun sesaat kemudian kucabut batang kemaluanku dari liang serambi lempit Adelita. Lalu aku mengamati serambi lempit tembem yang bersih dari jembut itu. Tampak ada darah mengalir dari serambi lempitnya dan menetes – netes ke kain seprai.
Hmmm… Adelita benar – benar masih perawan sebelum kusetubuhi tadi.
Dan aku merasa terharu bercampur rasa hormat pada Adelita. Karena di zaman yang sudah edan ini, masih ada cewek yang masih perawan.
Lalu kucium bibir Adelita disusul dengan bisikan, “Kamu memang masih perawan sebelum kusetubuhi tadi, Sayang.”
Adelita menatapku dengan senyum di bibirnya. Lalu menyahut, “Merasakan ciuman di bibir saja baru sekarang saya merasakannya. Apalagi disetubuhi seperti barusan.”
“Kamu tidak menyesal karena keperawananmu sudah kuambil?” tanyaku sambil mengusap – usap pipinya yang masih keringatan.
“Kalau sama orang lain pasti menyesal. Tapi karena yang mengambilnya Boss, saya tidak menyesal sedikit pun.”
“Syukurlah. Mulai saat ini, kalau kita sedang berduaan begini, jangan manggil boss lagi padaku ya.”
“Lalu saya harus manggil apa?”
“Panggil Bang aja. Karena usiamu lebih muda setahun dariku.”
“Iya Boss, eh Bang. Tapi kalau di depan sesama pegawai di gallery, saya akan tetap memanggil Boss.”
“Ya… kalau di depan pegawai atau manager sih manggil boss juga gak apa – apa.”
“Ohya Bang… apakah persetubuhan barusan bisa membuat saya hamil?”
“Bisa hamil, bisa juuga tidak. Tapi aku sudah membelikan pil anti hamil,” kataku sambil menyerahkan pil kontrasepsi yang dibelikan oleh bellboy tadi. “Baca dulu aturan pakainya.”
“Iya Boss. Kalau bisa sih jangan hamil dulu. Supaya saya bisa tetap bekerja di gallery.”
Aku cuma tersenyum mendengarkan ucapan Adelita itu. Karena aku sudah punya rencana untuk menaikkan derajatnya, lebih tinggi daripada sekadar jadi pegawai galleryku.
“Bang… apakah saya boleh untuk tetap mencintai Abang?” tanya Adelita sambil meletakkan tangannya di atas perutku.
“Tentu saja boleh. Bahkan harus tetap mencintaiku, tetap setia padaku. Karena aku pun mencintaimu, Sayang…”
“Ooooh Bang… benarkah kata – kata Abang itu?”
“Iya Sayang,” sahutku sambil meraih kepala Adelita agar terletak di atas dadaku.
Dua hari kemudian…
Kedatanganku di rumah yang dibeli dari Pak Wondo dan sudah direnovasi ini, disambut dengan peluk cium Bunda. Terasa sekali betapa Bunda merindukanku, padahal cuma beberapa hari aku berada di luar negeri.
“Donna ke mana Bun?” tanyaku.
“Lagi ngawasin pembangunan café itu. Sejak kamu terbang ke Bangkok, dia tak pernah ke mana – mana selain mengawasi orang – orang kerja,” kata Bunda sambil menarik tanganku mengajak masuk ke dalam rumahnya, “sebentar… ada yang mau bunda omongin.”
“Mau ngomong soal apa Bun?” tanyaku sambil duduk di sofa baru yang sudah diletakkan di kamar Bunda.
Bunda duduk di samping kiriku. Memegang tanganku sambil berkata, “Ternyata Donna tau kelakuan kita, terutama pada waktu pertama kalinya kamu gauli Bunda…”
“Terus?”
“Donna tidak mendakwa bunda. Bahkan akhirnya dia mengakui bahwa kamu sering menggaulinya juga. Betul kan?”
Dengan perasaan berat akhirnya aku menjawab, “Betul Bunda. Tapi Donna sudah tidak perawan lagi sebelum kugauli juga.”
“Memang siapa yang pertama menggauli dia?”
“Katanya sih pakai strapon… itu yang membuat keperawanannya hilang.”
“Strapon? Apa itu strapon?”
Untuk menjawabnya, kujelaskan apa itu strapon. Dildo yang menggunakan ikat pinggang dan posisinya seolah tumbuh dari kemaluan perempuan. Karena biasanya yang memakai strapon itu perempuan dengan perempuan lagi.
Bunda cuma mengangguk – angguk waktu mendengarkan penjelasanku.
Setelah menerangkan masalah strapon itu, aku bertanya, “Terus selanjutnya gimana Bun?”
Bunda menyahut, “Bunda dan Donna sudah sepakat untuk memiliki kamu secara bersama dan tidak boleh saling ganggu. Jadi kalau kamu sedang berada di kamar Bunda, Donna tidak akan mengganggu. begitu pula kalau kamu sedang berada di kamar Donna, bunda takkan mengganggu. Karena itu kami putuskan kamarmu terletak di tengah, di antara kamar bunda dan kamar Donna.
“Gak apa – apa. Malah bagus kalau begitu sih. Sekali – sekali Bunda dan Donna bisa kugauli bersamaan.”
“Threesome maksudmu?”
“Iya. Itu Bunda tau. Emangnya Bunda pernah dithreesome sama dua cowok sekaligus?”
“Iiih… gak pernah. Bunda cuma baca – baca aja diu majalah wanita.”
“Threesome itu ada dua macam Bun. Ada FFM dan MMF. Kalau FFM, perempuannya dua orang, cowoknya seorang. Kalau MMF sebaliknya, cowoknya dua orang ceweknya seorang.”
Saat itu Bunda mengenakan daster kirimanku dari Thailand tempo hari. Dan Bunda duduknya mengangkang, sehingga ketika tanganku dirayapkan ke balik daster itu, aku bisa menyentuh langsung serambi lempit Bunda yang ternyata tak bercelana dalam.
“Ini dari tadi pagi gak pake celana dalam Bun?” tanyaku sambil mengelus – elusmulut serambi lempit Bunda.
“Eeeeh, barusan aja pas lagi pipis dengar suara kamu. makanya celana dalam kebasahan sama air cebok. Bunda tinggalin aja di kamar mandi.”
Aku tersenyum. Lalu berbisik ke telinga Bunda, “Udah kangen sama rudalku nggak?”
“Kangen banget Sayuang. Tapi kamu kan baru datang. pasti capek abis terbang dari Bangkok ke sini.”
“Ohya Bun… ada oleh – oleh tuh dari Singapore. Aku kan mampir ke Singapore dulu, meninjau perusahaan – perusahaan peninggalan Papa di Singapore.”
“Terus kapan kamu mau pulang ke Bangkok lagi?”
“Aku mau menetap di sini aja Bun. Perusahaan – perusahaan yang di Bangkok sudah kujual. Duitnya buat modal usaha di sini aja. Biar dekat Bunda terus,” kataku sambil menciumi pipi Bunda.
“Donny… bunda senang sekali mendengar berita itu. kalau kamu di sini, bunda takkan kesepian lagi. Lagian… hihihi… kalau bunda lagi kepengen, kamu kan bisa ngasih.”
Tak lama kemudian terdengar suara Donna di ambang pintu kamar Bjunda ini, “Dooon! Udah lama datang?”
Aku berdiri dan menyahut, “Baru sepuluh menitan.”
Dona memburuku. Memelukku dengan eratnya. Aku pun tak ragu untuk mencium bibirnya di depan Bunda. karena menurut keterangan Bunda tadi, tiada lagi rahasia di antara aku, Bunda dan Donna.
“Aku kangen banget samna kamju iiih…” ucap Donna setelah ciumanku terlepas.
“Aku juga kangen sama Bunda dan kamu,” sahutku. “Tapi sekarang anter aku beli mobil dulu. Ke showroom yang dahulu aja.”
“Haa?! Mau beli mobil lagi? Kan mobilku juga jarang dipakai,” kata Donna.
“Mobilmu ya mobilku. Tapi aku butuh mobil satu lagi. karena aku akan menetap di sini. Kuliah pun akan kumulai lagi di kota ini.”
“Asyiiik !” Donna berjingkrak – jingkrak di depanku. Membuat Bunda tersenyum – senyum.
Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di dalam mobil Donna yang ia sendiri mengemudikannya.
“Kata Bunda, sudah tercapai konsensus di antara Bunda dengan kamu. Betul?” tanyaku setelah mobil Donna berada di atas jalan aspal.
“Soal hubunganku denganmu dan soal hubungan Bunda denganmu?” Donna balik bertanya di belakang setirnya.
“Iya. Kenapa bisa jadi semulus itu perundingannya?”
“Awalnya perdebatan, bukan perundingan. Tapi lalu tercapai kesepakatan, bahwa kamu milik Bunda sekaligus milikku juga.”
“Iya Bunda sudah ngomong soal itu. Tapi kenapa bisa jadi seperti itu kesepakatannya?”
“Tadinya nadaku seolah mendakwa Bunda. Tapi aku lalu merasa kasihan kepada Bunda yang kelihatan seperti merasa bersalah. Akhirnya aku buka kartuku sendiri, agar Bunda tidak merasa sendirian saja yang bersalah. Nah… lalu kami bisa ketawa – ketiwi dan mengatur semuanya itu.”
Aku tersenyum sendiri mendengar penuturan Donna itu. Sambil membayangkan bahwa Donna dan Bunda akan berduet seperti Teh Nenden dan Teh Siska.
“Mungkin nanti malam jatah Bunda dulu ya,” kata Donna.
“Kalau tidur, pasti di kamar Bunda. Nggak tau soal perjatahan sih. Soalnya aku masih letih Beib,” sahutku.
“Pasti masih jet lag lah. Kalau mau menetap di sini sih santai aja Don. Yang penting Bunda tuh… harus dipuasi. Supaya kebiasaan minumnya gak kambuh lagi.”
“Selama aku di luar, Bunda benar – benar sudah berhenti minum?”
“Iya. Tampaknya Bunda sudah tak mau menyentuh minuman beralkohol lagi. Sikap dan perilakunya juga berubah. Jadi periang dan suka bersenandung mengikuti musik jadul yang disetelkannya.”
“Wajahnya juga kelihatan sudah berdarah lagi. Padahal baru dua mingguan dia berhenti minum kan?”
“Iya. Bunda sudah berubah jadi wanita normal seperti dahulu lagi. Terlebih setelah menempati rumah baru yang segalanya sudah diupgrade begitu, Bunda jadi seneng bersih – bersih dan nata – nata. Ohya… kemaren Tante Santi dan Tante Dina datang tuh.”
“Ohya?! Mereka itu kakaknya Tante Reni kan?”
“Iya. Tante Reni kan adik Bunda yang paling bungsu.”
“Urut – urutannya gimana sih? Setelah Bunda, adik langsung Bunda itu siapa?”
“Urut – urutannya begini… adik langsung Bunda itu Oom Jaka yang di Kalimantan. Lalu Oom Sambas yang di Papua. Setelah itu Tante Ratih. Adik langsung Tante Ratih itu Tante Dina, kemudian Tante Santi. Bungsunya Tante Reni.”
“Kalau saudara – saudara kandung Ayah siapa aja?”
“Adik langsung Ayah itu Oom Zulkifli. Lalu Tante Neni, Tante Tita dan Tante Yani.”
“Kamu sering berjumpa dengan saudara – saudara Ayah?”
“Setelah Ayah meninggal, gak pernah berjumpa lagi dengan mereka. Tapi aku punya alamat mereka semua. Sekarang kan sudah punya mobil. Kapan – kapan kita harus menyempatkan diri bersilaturahmi ke rumah saudara – saudara Ayah ya.”
“Iya,” sahutku datar. Namun sebenarnya aku tengah menerawang ke satu sosok baru, Adelita.
Aku dan Adelita berpisah di bandara SoekarnoHatta setelah mendapatkan alamat rumah Adelita di kampungnya. Dan aku berjanji akan datang ke rumahnya seminggu kemudian.
Itu pula sebabnya aku mau membeli mobil lagi. Kali ini untuk kepentingan pribadiku sendiri.
Pilihanku jatuh pada sebuah jeep yang masih sangat mulus dan meyakinkan. Grand Cherokee 5000 cc, berwarna hijau army. Mungkin mobil ini dijual oleh pemiliknya, karena boros bbm. Maklum mobil 5000 cc. Tapi aku justru menyukainya, karena setelah test drive terasa benar tenaganya besar dan reaksinya spontan.
Konon di Amerika mobil ini biasa dipakai oleh para petani. Maklum petani di Amerika bukan seperti petani di negara kita. Tanah garapannya bisa ribuan hektar. Sehingga membutuhkan mobil yang tangguh dan bertenaga gede.
Aku merasa bahwa showroom menjual mobil second itu dengan harga yang sangat murah. Harga barunya mungkin bisa dua kali lipat harga second ini, bahkan bisa juga lebih mahal daripada itu.
Donna pun senang melihatku memilih jeep matic built up Amerika yang joint dengan pabrik mobil dari Jerman itu.
“Kamu akan kelihatan lebih macho dengan mobil keren ini,” ucap Donna setengah berbisik.
Aku menyahut perlahan, “Hmmm… mobil kan harus disesuaikan dengan jenis kelamin pemiliknya, Beib.”
Setelah membayar mobil itu dengan US dollar, aku mengajak Donna makan di restoran pilihannya.
Di restoran itu aku membuka percakapan, “Besok aku mau menghapalkan jalan di kota ini.”
“Sendirian? Awas nyasar.”
“Kan pakai GPS., Sayang. “(pada saat itu pembimbing dan petunjuk jalan baru ada GPS. Belum ada WAZE dan sebagainya).
“Oh iya yaaa. By the way, kita mau langsung pulang atau mau ke mana dulu setelah selesai makan entar?” tanya Donna.
“Langsung pulang aja. Badanku masih letih. Maunya sih dipijitin dulu sama kamu di rumah nanti,” sahutku.
Donna tersenyum dan menjawab dengan bisikan di dekat telingaku, “Mau dipijatin pake serambi lempit?”
Aku ketawa kecil sambil berkata, “Boleh juga sih…”
“Tapi nanti malam giliran Bunda dulu deh. Ohya, kalau mau langsung pulang, beliin lasagna, kesenangan Bunda. Di sini lasagnanya paling enak.”
“Iya, beliin aja.”
Lalu Donna pesan lasagna 3 porsi. Mungkin maksudnya untuk Bunda dan kami berdua nanti.
Setelah selesai makan, kami berpisah di parkiran restoran itu. Donna masuk ke sedannya sambil menjinjing kantong plastik berisi lasagna itu, sementara aku naik ke mobilku sendiri.
Setibanya di rumah, Donna menyerahkan oleh – oleh dari restoran itu kepada Bunda.
“Wow…! Banyak sekali belinya? Padahal satu cup juga cukup,” kata Bunda.
“Sengaja belinya tiga. Kalau Bunda cukup satu cup, biar aku dan Donny yang makan sisanya,” sahut Donna yang lalu melangkah ke dalam kamarnya. Tinggal aku dan Bunda yang masih berada di ruang makan.
Aku pun melangkah ke belakang kursi yang sedang diduduki oleh Bunda. Lalu mmegang sepasang bahu Bunda sambil berbisik ke telinganya, “Bunda sudah kangen sama rudalku kan?”
Bunda menoleh ke arahku, “Kangen sih kangen, tapi bunda lagi mens Sayang. Sama Donna aja dulu puas – puasin. Nanti setelah bunda bersih, baru dengan bunda lagi. Tapi ingat… Donna harus dikasih pil anti hamil. Supaya bebas dari masalah yang bisa menggemparkan keluarga besar kita nanti.”
“Mmm… sayang ya… tadinya aku justru ingin habis – habisan sama Bunda malam ini. Besok istirahat. Lusa baru mau sama Donna,” kataku sambil melangkah ke kamar tengah yang sudah menjadi kamarku. Kuambil seikat uang dolar Amerika dari dalam tas pakaianku. Aku memang mengambil belasan ikat uang dolar Amerika dari salah satu koper di dalam bunker peninggalan Papa, untuk kebutuhan sehari – hariku.
Seikat uang pecahan 100 USD itu kumasukkan ke dalam saku jaket kulitku yang belum dilepaskan. Lalu melangkah ke dalam kamar Donna.
Kulihat Donna sedang mengenakan kimononya. Kimono yang terbuat dari bahan wetlook biru ultramarine, sehingga kontras sekali dengan kulit Donna yang putih mulus.
“Pejamkan matamu. Aku mau ngasih kejutan,” kataku.
Donna menurut saja. Memejamkan matanya sambil meletakkan kedua tangannya di sepasang bahuku. Kukeluarkan seikat uang pecahan 100 USD itu dari saku jaket kulitku.
Lalu kutarik tangan kanan Donna dari bahuku, sambil membuka telapak tangannya. Dan segepok uang dolar Amerika pecahan USD 100 itu kuletakkan di telapak tangan kanan Donna sambil berkata, “Bukalah matamu sekarang…
Donna membuka matanya dan langsung menatap ke arah uang dolar yang berada di tangan kanannya. “Woooow! Dolar Amerika?!” serunya. sumber Ngocoks.com
“Iya. Itu semua sepuluhribu dolar. Tinggal hitung, kalau dirupiahkan berapa?”
“Hihihihiii… asyiiiik… tabunganku akan semakin banyak,” ucap Donna sambil mengecup pipiku. Lalu menepuk – nepuk uang hadiah dariku itu, kemudian menciuminya dan memasukkannya ke dalam laci lemari pakaiannya.
Aku cuma tersenyum melihat ucapan dan perilaku saudara kembarku itu.
“Ada kejutan lain,” kataku, “Bunda sedang mens. Jadi mempersilakanku untuk bersamamu sampai Bunda bersih.”
“Ohya?! Biasanya Bunda kalau mens bisa sampai sepuluh hari. Berarti… selama Bunda belum bersih, kamu akan menyetubuhi aku terus kan?”
“Mungkin aku besok akan ke luar kota. Mau nyari sesuatu.”
“Sesuatu apa?”
“Kalau aku bilang sesuatu, berarti masih kurahasiakan. Ohya, kolam renang yang di belakang itu nantinya akan dinaungi oleh bangunan di atasnya Don.”
“Mau bikin bangunan apa di atas kolam renang itu?”
“Aku mau bikin semacam ruang kerja. Supaya orang – orang yang tidak terlalu penting, tak usah dipertemukan denganku. Biarlah aku konsentrasi di ruang kerjaku nanti.”
“Aku juga gak boleh masuk ke ruang kerjamu?”
“Kalau kamu dan Bunda sih lain. Kapan pun boleh menjumpaiku di ruang kerja itu.”
Ketika aku sudah menelungkup di bed dan sudah mengganti pakaianku dengan baju dan celana piyama, Donna pun masuk ke dalam ke dalam kamarku.
“Kamu beneran letih ya. Mau dipijitin?”
“Iya Don… pijatlah sebisanya. Badanku pegel – pegel gini…”
Donna menurut saja. Memijati telapak kakiku, lalu betisku dan… aku terlelap tidur.
Keesokan paginya aku baru terbangun dan menyadari bahwa tadi malam Donna memijatiku dan membuatku ketiduran. Entah karena pijatannya enak, entah karena aku sudah letih sekali.
Lalu aku pun masuk ke dalam kamar mandiku. Kamar mandi yang sudah dipasangi shower dan water heater, tidak pakai gayung plastik seperti di rumah lama Bunda yang sudah dibumi ratakan untuk mini mart itu.
Lalu aku bersiap untuk berangkat. Mencari – cari Donna tidak kelihatan.
“Donna ke mana Bun?” tanyaku.
“Biasa… lagi ngawasin yang sedang membangun café itu,” sahut Bunda.
“Dia disiplin juga ya. Selalu mengikuti perintahku.”
“Iya. Makanya kalau kamu punya perusahaan di kota ini, jadikanlah Donna sebagai tangan kananmu. dia itu rajin, setia dan jujur.”
“Iya Bun. Sedang dipikirkan dulu mau usaha apa di sini. Aku pergi dulu ya Bun.”
“Mau ke mana Don?”
“Mau ngapalin jalan di kota ini.”
“Nggak mau sarapan dulu?”
“Nggak usahlah. Nanti nyari jajanan di jalan aja.”
Aku memang ingin menghapalkan jalan di kota ini, dengan batuan GPS tentunya. Ta[I baru saja beberapa meter mobilku menginjak jalan aspal, tiba – tiba handphoneku berdering.
Ternyata dari Tante Ratih. Lalu :
“Hallo Tante… apa kabar?”
“Sehat. Donny sudah ada pulang dari Bangkok?”
“Sudah Tante.”
“Tempo hari tante ke rumahmu yang keren itu. Tapi kata bundamu sedang di Bangkok.”
“Iya sih. Tante ada perlu sama aku?”
“Iya Don. Kalau ada waktu sih main dong ke rumah tante…”
“Ini lagi di jalan. Sekarang juga mau ke rumah Tante. Tapi mau sarapan dulu, mau nyari nasi kuning dulu.”
“Nasi kuning sih di depan rumah tante juga ada yang jual. Sarapannya di sini aja Don.”
“Oke deh… kalau gitu mau langsung ke rumah Tante aja.”
“Alamatnya sudah tante kasih kan?”
“Iya. Ini sudah ada. Dari batas kota ke barat terus ya.”
“Iya. Nanti kalau pas lewat pintu kereta api belok ke kanan. Jalannya agak kecil, tapi masuk mobil kok. Truk juga bisa masuk.”
“Iya Tante.”
Berkat bantuan GPS, aku bisa mencapai rumah Tante Ratih dengan lancar. Rumah yang mungil namun ditata dengan apik dan artistik. Ada lantai tembok pula di sampingnya, untuk memarkir mobilku.
Ketika aku turun dari mobil, Tante Ratih pun muncul di pintu depan, dalam kimono putih yang terbuat dari bahan handuk. Gila… adik Bunda yang satu ini, yang montok dan putih bersih ini, tampak seksi sekali di mataku…! Montok tapi proporsional. Bukan gendut.
Bersambung… Tapi aku pura – pura tidak melihat keseksiannya itu, lalu bersikap sopan sebagaimana lazimnya seseorang yhang sedang berhadapan dengan tantenya. Kucium tangan Tante Ratih, yang dibalas dengan cipika – cipiki olehnya. Lalu wanita 35 tahunan itu mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Langsung membawaku ke ruang makan. Karena nasi kuning dan lauk pauknya sudah terhidang di atas meja makan.
“Heheheee… aku jadi makin lapar lihat nasi kuning dan goreng ayam ini Tante,” kataku sambil duduk di salah satu kursi makan.
“Ayolah makan… gak nyangka bisa ketemu kamu lagi Don. Tante kan tau waktu kamu masih bayi, tau – tau menghilang begitu aja. Ternyata kamu diadopsi sama sahabat ayahmu ya? Dan sekarang tau – tau sudah gede dan tampan gini,” ucap Tante Ratih sambil mencolek pipiku.
“Iya Tante. Makanya aku merasa asing dengan keluarga di sini. Sama Bunda aja kebingungan awalnya. Beneran ini ibuku? Begitu yang terpikir olehku waktu baru berjumpa dengan beliau.”
“Dengan bundamu aja merasa seperti orang asing, apa lagi dengan tante dong.”
“Iya,” sahutku.
“Ayo makan nasi kuningnya, mumpung masih hangat, “Tante Ratih mendekatkan piring berisi nasi kuning, “Ini goreng ayam kampung Don. Bukan ayam broiler. Makanlah sepuasnya.”
“Tante gak nemenin?”
“Tante sih udah sarapan tadi. Masih kenyang. Ayolah makan… tante temenin ngobrol aja.”
Aku mengangguk, sambil mulai menyantap nasi kuning yang disuguhkan oleh Tante Ratih.
“Kok sepi rumahnya Tante? Pada ke mana anak – anak Tante?” tanyaku.
“Anak tante cuma seorang. Dia lagi kerja di pabrik dan tinggal di mess yang disediakan oleh pabrik itu. Yah… tante kan gak punya duit buat biayain kuliah. Makanya sedih juga sih, tamat SMA malah jadi buruh pabrik.”
“Anaknya cowok apa cewek?”
“Cewek. Makanya tante ingin minta tolong sama Donny, kalau bisa sih ajak kerja di Bangkok aja. Kan Reni juga kerja di rumah Donny ya?”
Aku tidak mau memberitahu bahwa Tante Reni sebenarnya sudah kutempatkan di Jakarta. Aku malah membahas masalah lain, “Aku kan mau menetap di sini. Ingin dekat sama Bunda dan keluarga besar Bunda di sini.”
“Lho… kamu kan masih kuliah di Bangkok?”
“Kuliahnya mau ditinggalin dulu. Nanti kuliah di sini juga gak apa – apa. Yang penting aku ingin belajar nyari duit di sini. Ohya… suami Tante ke mana?”
“Wah… sudah lama dia sih menghilang dari peredaran. Awalnya kerja di Jambi, di kebun kelapa sawit. Terus ada kabar kerja di Malaysia. Sampai sekarang gak pernah ngabarin apa – apa ke sini.”
“Sudah berapa lama dia meninggalkan rumah ini?”
“Sudah tujuh tahun. Waktu dia pergi, rumah ini masih gubuk. Ini sih dibangun dengan hasil keringat tante sendiri.”
“Wah… tujuh tahun pisah gitu apa gak renyem Tan?”
“Idiiih… renyem apanya?”
“Itunya… hihihihiiii… akhhhhhh !” aku ketawa sambil makan sampai tersedak. Buru – buru kuminum teh hangat yang disuguhkan oleh tanteku.
Di luar dugaan, Tante Ratih membisiki telingaku, “Emangnya kalau renyem, kamu mau garukin?”
Aku menoleh ke arah Tante Ratih yang duduk di sampingku. Sambil mengatur pernafasan, agar jangan tersedak lagi. Lalu kataku, “Mau banget Tante… garukin wanita seseksi Tante sih siapa juga pasti mau…”
Tante Ratih mengusap – usap celana jeansku pada bagian paha, sambil berkata perlahan, “Main sama cowok semuda kamu sih kebayang… masih seger segalanya.”
Dan gilanya… tangan Tante Ratih lalu bergerak ke ritsleting celana jeansku. Di situ tangannya meraba – raba. Sampai akhirnya memijit – mijit celana jeansku tepat pada bagian rudalku…!
“Aku juga kebayang… kalau main sama wanita seseksi Tante… pasti bakal mengesankan,” kataku.
“Serius Don?” tanya Tante Ratih dnegan tangan berusaha menurunkan ritsleting celana jeansku.
Kutatap wajah cantik adik kandung Bunda itu, sambil mengangguk dan membuka gesper ikat pinggangku, lalu sekalian menurunkan ritsleting celana jeansku.
Tangan Tante Ratih pun menyelinap ke balik celana jeansku, langsung menyelinap pula ke balik celana dalamku. Dan… menyentuh batang kemaluanku yang sudah mulai ngaceng ini…!
“Aduuuh… rudalmu gede banget Don… udah ngaceng pula… !” seru Tante Ratih setengah berbisik.
“Mungkin karena Tante terlalu menggiurkan di mataku,” sahutku sambil menyelinapkan tangan kananku ke balik kimono yang terbuka dan mempertontonkan paha putih mulusnya. Lalu… pada saat Tante ratih meremas – remas batang kemaluanku yang semakin ngaceng ini, tanganku pun sudah menyelinap ke balik celana dalam Tante Ratih.
“serambi lempitnya gundul Tan…”
“Iya… kalau jembutnya dibiarin gondrong, suka risih pada waktu keringatan.”
“Kebayang enaknya serambi lempit Tante ini…” ucapku sambil mencari – cari kelentitnya yang masih tertutup celana dalam ini.
“Turunin dulu isi perutnya. Biar jangan sembelit,” kata Tante Ratih sambil mengelus – elus moncong rudalku yang juga masih tertutup celana dalam.
Namun setelah jemariku menemukan kelentitnya dan mulai menggesek – geseknya, justru Tante Ratih yang tak sabaran lagi. “Di kamar tante aja yuk, biar lebih nyaman, “ajaknya dengan nada tergesa – gesa.
“Iya…” sahutku sambil mengeluarkan tanganku dari balik celana dalam Tante Ratih. Sementara Tante Ratih pun melepaskan tangannya dari balik celana dalamku.
“Nasi kuningnya nggak dihabisin dulu?” tanya Tante Ratih sambil berdiri.
Kujawab sambil memeluknya dari belakang, “serambi lempit Tante jauh lebih penting daripada nasi kuning,” bisikku.
Tante Ratih pun ketawa centil sambil melangkah ke pintu kamarnya. Aku pun mengikutinya dari belakang.
Setelah berada di dalam kamarnya, Tante Ratih menutupkan jendela kacanya, lalu menarik gordinnya sampai tertutup total. Sehingga kamar adik Bunda ini jadi remang – remang. Terlebih setelah pintunya ditutup dan dikuncikan, jadi lebih gelap lagi.
Lalu udara di kamar manjadi terang kembali setelah Tante Ratih menyalakan lampu.
Dan… Tante Ratih memijit hidungku sambil berkata, “Setelah gede kamu jadi tampan sekali gini Don. Kalau bukan keponakan, mau deh jadi istri kamu.”
Aku cuma tersenyum, sambil melepaskan celana jeans dan celana dalamku yang sudah turun ke paha. Tinggal baju kaus biru langit yang masih melekat di tubuhku. Sementara Tante Ratih sudah melepaskan kimono putihnya. Lalu memegang batang kemaluanku yang sudah sangat ngaceng dan siap tempur ini.
“Hihihiii… kebayang mantapnya dientot sama rudal segede dan sepanjang ini sih…” ucapnya sambil menimang – nimang dan mengelus – elus rudalku.
Lalu ia melepaskan beha dan celana dalamnya, sehingga tubuh indah itu jadi telanjang bulat. Mungkin di antara adik – adik Bunda, Tante Ratih ini yang paling seksi. Karena tubuhnya serba terawat. Toketnya agak gede tapi tidak terlalu gede, sehingga bentuknya masih tampak indah, tidak turun “ngaplek” ke bawah.
Aku pun menanggalkan kaus biru langitku sebagai benda terakhir yang masih melekat di tubuhku. Sehingga aku jadi telanjang juga seperti Tante Ratih.
Seperti tak sabaran lagi, Tante Ratih menarikku ke atas ranjang besinya setelah aku telanjang. Lalu kami bergumul dengan gairah yang sama – sama hangat.
Kadang aku berada di bawah, diciumi oleh Tante Ratih dengan lahapnya. Bukan hanya bibir yang dicium dan dilumat olehnya, melainkan leherku juga dicelucup dan dijilati oleh lidahnya. Bahkan pentil dadaku yang cuma sebesar kacang hijau ini pun disedot – sedot olehnya. Terkadang aku berada di atas, menghimpit Tante Ratih sambil meremas sepasang toketnya yang memang masih lumayan kencang, pertanda rajin merawatnya.
Tadinya aku ingin menjilati serambi lempitnya yang tembem dan agak ternganga itu. Namun Tante Ratih mendahuluiku. Mengemut rudalku dengan lahapnya, sambil mengurut – urut badan rudalku yang tidak terkulum.
Dan setelah batang kemaluanku basah kuyup oleh air liurnya, cepat Tante ratih bertindak. Menempelkan moncong rudalku di mulut serambi lempitnya, kemudian serambi lempit tembem itu turun… mendesak moncong rudalku yang lalu membenam ke dalam liang sanggamanya yang hangat dan licin ini.
Tante Ratih pun menjatuhkan dadanya ke atas dadaku, dengan serambi lempit yang sudah “menelan” sekujur batang kemaluanku.
Lalu mulailah ia mengayun serambi lempitnya, up and down, membuat batang kemaluanku keluar – masuk di dalam liang serambi lempitnya yang licin tapi menjepit ini. Sementara kedua tanganku mulai beraksi. Terkadang mendekap pinggangnya erat – erat, terkadang meremas kedua buah pantatnya yang gede tapi kencang padat. Mulutku pun bisa beraksi untuk menjilasti leher jenjangnya yang mulai keringatan.
Makin lama liang serambi lempit Tante Ratih makin gencar mengocok batang kemaluanku, diiringi desah – desah nafasnya yang makin lama makin menggila.
“Doooon… aaaaa… aaaahhhh… Dooooon… aaaaah… Doooon… aaaa… Dooonnnn… aaaaaaah… Doooon… aaaaah… Doooon…”
Tante Ratih laksana singa betina yang kelaparan. Gerakan dan goyangan tubuhnya begitu agresif. Begitu pula pada saat ia sudah berada di bawah sementara aku berada di atas, tubuhnya tak pernah diam pada waktu giliran beraksi di atas perutnya.
Pinggul Tante Ratih mulai bergoyamng edan – edanan. Bergoyang ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah, memutar – mutar dan meliuk – liuk, lalu menghempas – hempas ke kasur, sehingga batang kemaluanku terasa dibsot – besot dan diremas – remas oleh liang serambi lempitnya yang licin dan “hidup” ini.
Sebagai tanggapan, kugenjot rudalku habis – habisan. Bermaju – mundur di dalam jepitan liang serambi lempit yang terasa “sangat hidup” ini (karena ada semacam kedutan – kedutan kencang di dalamnya).
Maka rintihan – rintihan histeris dan erotis tanteku pun semakin menjadi – jadi dan mungkin sudah di luar kesadarannya lagi.
“Dooonnnn… oooo ooooooh… Doooon… rudalmu kok enak sekali Dooooon… entot terus Doooon… entoooot teruuuussss… iyaaaa… iyaa… entoooottttttttt Doooon… entoooootttt… edaaaaan… ini enak bangeeeeet… entotttt Dooooooon… enoooooootttt …
Keringat sudah mulai membasahi tubuhku, leher Tante Ratih dan bahkan toketnya pun mulai dibasahi keringatku.
Sementara aku semakin gencar menjilati lehernya disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Bahkan ketiaknya pun tak luput dari jilatan dan gigitan – gigitanku, sementara tangan kiriku semakin asyik meremas – remas toketnya.
Sampailah pada suatu saat krusial dalam persetubuhan ini…
Ketika Tante Ratih sedang berkelojotan, aku pun sedang tancap gas… memenyetubuhinya dengan gerakan yang makin lama makin cepat. Lalu… ketika Tante Ratih sedang mengejang tegang, dengan perut sedikit terangkat ke atas, pada saat itu kurasakan rudalku seperti diremas oleh liang serambi lempitnya. Disusul dengan kejutan – kejutan kencang di liang kenikmatan tanteku ini.
Aku menggelepar di atas perut Tante Ratih. Lalu terkulai lemas di dalam dekapannya.
Amu sangat memuaskan Don,” ucap Tante Ratih ketika aku sudah menelentang di sampingnya, “Baru sekali ini tante merasakan nikmatnya digauli pria.”
Tadinya kupikir Tante ratih akan memaksaku untuk menyetubuhinya lagi, mengingat betapa agresifnya dia tadi. Tapi ternyata tidak.
Tante Ratih bahkan bertanya, “Kamu mau jadi menantu tante?”
“Haaa?! Kan kita sudah melakukannya Tante. Masa aku mau dijodohkan pula dengan anak Tante?” aku balik bertanya.
“Nggak apa – apa. Hubungan kita kan hubungan rahasia. Walau pun Donny sudah jadi menantu tante, kita kan tetap bisa melakukannya. Asal rapi aja merahasiakannya.”
Bayangan wajah Adelita mendadak muncul di dalam terawanganku. Terlebih lagi setelah aku mendapatkan sms darinya yang berbunyi, -Aku jadi gak bisa tidur Bang. Ingat Abang terus. Kapan Abang mau ke kampungku?-
Dalam keadaan masih telanjang bulat, Tante Ratih membuka pintu lemari pakaiannya. Lalu mengeluarkan sebuah buku album foto. “Imey itu cantik lho. Nih lihat foto – fotonya,” kata Tante Ratih sambil membuka album fotonya, lalu menyerahkan album itu padaku, dalam keadaan masih terbuka.
“Nah ini Imey… ini juga… ini juga… bagaimana? Cantik kan?” Tante Ratih menepuk bahuku.
“Memang cantik, Tante. Tapi apakah boleh aku menikah dengan anak Tante yang namanya… mmm Imey ini?”
“Boleh. Kawin dengan saudara sepupu tidak dilarang. Kalau tante kawin denganmu jelas dilarang.”
“Barusan kita kan kawin Tante…” sahutku sambil mencolek perut tante Ratih yang masih telanjang.
Tante Ratih tersipu, “Iya.. iya… menikah maksudnya, bukan kawin. Ohya… itu foto – foto Imey sekitar dua tahun yang lalu. Sekarang sih lebih cantik lagi. Tante mau telepon dia ya, biar bisa pulang dulu dan berjumpa denganmu.”
“Boleh juga. Dengan saudara kan harus dibanyakin silaturahmi, biar jangan mati obor. Apalagi aku dengan Imey kan belum pernah bertemu muka. Kalau ketemu di jalan, pasti saling gak kenal,” sahutku yang merasa bersemangat juga untuk dipertemukan dengan cewek yang bernama Imey itu.
Lalu Tante Ratih mengenakan pakaian dalam dan kimononya kembali. Mengambil handphonenya dan memijat nomor anaknya. Lalu :
“Hallo Mey – – – lagi kerja apa lagi istirahat di mess? – – – Ohya – – – baguslah – – – sekarang ke rumah ya – – – hmm? Nanti aja di rumah disampeinnya. Iya – – – iyaaaa.”
Kemudian Tante Ratih menyimpan kembali handphonenya di atas meja rias.
“Dia segera datang ke sini. Ayo pakai lagi semua pakaiannya. Rambutnya juga sisir, jangan berantakan gitu.”
Aku pun mengenakan semua pakaianku, menyisir rambutku dan keluar dari kamar Tante Ratih. Duduk di atas sofa ruang tamu sambil memperhatikan ke depan.
Tante Ratih pun muncul, dengan mengenakan housecoat panjang, tidak mengenakan kimono lagi.
“Imey takkan lama – lama, karena akan kebagian kerja shift kedua jam empat sore. Jadi jam dua sudah harus pulang lagi ke mess.”
“Ini kan baru jam sepuluh pagi,” sahutku.
“Iya… nanti jam dua kita bisa main lagi, setelah Imey pulang,” kata Tante Ratih sambil menghampiri sofaku dan mencium pipiku.
“Belum kenyang?”
“Belum. Hihihiiiii… “Tante Ratih ketawa centil.
Aku cuma tersenyum – senyum. Padahal yang berada di balik celana dalamku sudah celingukan lagi… hahahahaaa…!
Sejam kemudian terdengar suara motor memasuki pekarangan rumah Tante Ratih.
“Nah… itu motor Imey,” kata Tante Ratih sambil melangkah ke pintu depan dan membuka pintu itu.
“Ada siapa Mah?” tanya cewek bernama Imey itu sambil menunjuk ke arah mobilku yang terparkir di samping rumah Tante Ratih.
“Itu… ada saudara sepupumu,” sahut Tante Ratih sambil mengajak anaknya masuk ke dalam.
“Saudara sepupu?” Imey tampak heran, mungkin karena baru sekali ini berjumpa denganku.
Aku pun terpana ketika ia berdiri di depanku, karena cantiknya itu… ooo my God… dia memang cantik sekali. Kalau kubandingkan dengan Adelita, kuanggap Imey ini sama cantiknya. Kalau Adelita kuberi nilai 9, maka Imey pun layak kuberi nilai 9… Perawakannya sama, cantiknya sama, hanya bedanya mata Imey itu sipit, sehingga kalau sepintas lalu bisa disangka amoy…
“Dia ini Donny… saudara kembar Donna,” kata Tante Ratih pada waktu Imey mau menjabat tanganku.
“Owh… yang tinggal di Bangkok itu?” tanya Imey waktu berjabatan tangan denganku.
“Iya… tapi sekarang sih udah pindah ke sini,” sahutku.
“Wow, asyik dong. Bisa diajak jalan – jalan di hari libur,” kata Imey yang belum melepaskan tanganku dari genggamannya, “Jadi aku harus manggil apa sama dia Mah?”
“Umur kalian hanya beda sebulan. Makanya saling panggil nama aja. Atau kalau mau mengikuti sirsilah, Imey harfus manggil Kang sama Donny. Karena Donny itu anak kakak mamah,” sahut Tante Ratih.
“Nggak usah pakai Kang Kung King Kong deh, kita saling panggil nama aja ya,” ucapku kepada Imey.
“Iya, “Imey mengangguk sambil melepaskan tanganku dari genggamannya, “Sama Donna juga aku saling panggil nama aja.”
Lalu kami duduk di sofa yang berbeda. Imey duduk di samping ibunya, aku duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka.
Tante Ratih berkata, “Orang tua angkat Donny sudah pada meninggal. Makanya Donny putuskan untuk tinggal bersama ibunya. Rumah Uwa Ami sekarang sudah keren banget Mey. Donny yang merombaknya. Bahkan sekarang tanah kosong di samping rumah Uwa Ami itu sedang dibangun untuk dijadikan café, yang akan dikelola oleh Donna dan ibunya.
“Wah asyik dong. Aku bisa kerja di café itu nanti?” tanya Imey sambil menatapku dengan senyum.
“Bukan cuma kerja di café, mamah malah ingin agar Donny jadi calon suamimu. Imey mau kan dijadikan calon istrinya?”
Imey menatapku tersipu – sipu, “Mamah main jodohin aja. Emangnya Donny mau sama aku?” taanyanya.
“Nah Don… gimana? Donny mau dijadikan calon suami Imey?”
Kujawab dengan tegar, “Siap Tante. Tapi untuk sementara pacaran aja dulu, karena aku harus kuliah dari awal lagi di sini. Nanti kalau sudah es – satu, baru bisa menikah. Itu pun jangan dulu ngomong apa – apa sama Bunda dan Donna. Kita diam – diam aja dulu, biar jangan bikin heboh keluarga.”
“Iya, “Tante Ratih mengangguk, “Terus gimana dengan pekerjaan Imey? Apakah dia mau dibiarkan tetap bekerja di pabrik?”
“Aku mau buka perusahaan di sini. Nanti Imey kerja di perusahaanku aja. Tapi perusahaannya belum dibentuk. Jadi… untuk sementara biar Imey kerja di pabrik dulu. Setelah perusahaanku terbentuk, dia bisa langsung pindah ke perusahaanku. Tentang gajinya jangan takut, pasti jauh lebih besar daripada di pabrik yang hanya mengandalkan UMR sebagai patokannya…
SAku memang sangat lama menyetubuhi Tante Ratih di ronde kedua ini. Maklum namanya juga ronde kedua, tentu saja durasinya lebih lama daripada ronde pertama. Tapi Tante Ratih takkan tahu bahwa di ronde kedua ini aku melakukannya dengan terawangan melayang ke mana – mana. Terutama teringat pada Adelita yang sudah berulang – ulang mengirimkan sms, berisi kerinduannya padaku yang teramat sangat.
Esok paginya, aku melarikan mobilku menuju ke arah timur, ke luar kota. Untuk mendatangi rumah Adelita yang letaknya cukup jauh dari kotaku, sekitar 120 kilometer jauhnya.
Untuk mencapai alamat rumah Adelita tidak mudah. Karena setelah melewati kilometer 100, maka 20 kilometer berikutnya harus melewati jalan yang belum diaspal. Lubang – lubang berlumpur pun harus kulewati. Tapi aku tetap bersemangat untuk berjumpa dengan Adelita yang sudah sangat kurindukan itu, sekaligus untuk memenuhi janjiku bakal mengunjungi rumahnya.
Akhirnya aku tiba di depan sebuah rumah potongan zaman kolonial Belanda, tapi tampak megah sekali. Bahkan mungkin rumah itu paling megah di antara rumah – rumah di kampung ini. Apakah ini rumah orang tua Adelita?
Tanpa ragu aku mengetuk pintu depan rumah tempo doeloe ini.
Lalu muncul seorang wanita kebule – bulean tapi mengenakan hijab dan jubah muslimah putih bersih. Wanita setengah baya yang cantik dan kebule – bulean itu menyapaku, “Mau ketemu siapa dek?”
Spontan aku bertanya, “Apakah di sini rumah Adelita?”
“Oh, iya. Apakah Adek ini bossnya Lita di Singapore yang bernama Donny itu?” tanyanya dengan sikap berubah, jadi sangat ramah.
“Betul Bu, “aku mengangguk, “Apakah Ibu ini mamanya Adelita?”
“Iya. Silakan masuk Dek,” kata wanita setengah baya itu sambil membuka pintu rumahnya semakin lebar.
Aku pun dipersilakan duduk di salah satu kursi ukiran kayu jati, yang joknya terasa menggunakan pegas. Mungkin umur kursi yang kududuki ini sudah seratus tahunan, tapi tampak sangat terawat.
Wanita berhijab yang cantik rupawan itu pun duduk di kursi yang berhadapan dengan kursiku, dibatasi oleh meja kecil yang bundar dan kakinya berukir pula.
“Lita sedang belanja ke kota. Baru saja berangkat. Apa Dek Donny bersedia menunggunya?”
“Nggak apa – apa bu. Biar saya tunggu aja sampai dia pulang.”
“Tapi masih lama lho Lita pulangnya. Biasanya kalau belanja ke kota, bisa tiga atau empat jam baru pulang.”
“O, begitu ya? Mmm… pake apa dia perginya Bu?”
“Pake angkutan umum Dek. Lita kan belum punya motor. Biasanya anak sebaya dia pada pake motor di sini.”
“Kalau Lita mau, dia bisa beli motor – motor aja sih. Tapi dia kan tinggal di Singapore selama ini. Ohya… Ibu tau ke mana tujuan Lita belanjanya?”
“Tau Dek. Dia selalu belanja di toko langganan saya.”
“Kalau begitu, Ibu bersedia ikut saya menyusul Lita, supaya dia tidak kelamaan pulangnya?”
“Mmmm… boleh deh,” sahut wanita itu sambil bangkit dari kursinya, “Dek Donny udah gak sabar lagi ingin bertemu dengan Lita ya?”
“Hehehee… iya Bu.”
“Saya sih gak usah ganti baju dulu. Yang dipakai ini juga masih bersih kan?”
“Iya Bu. Masih bersih. Pokoknya meski berhijab, Ibu tetap kelihatan cantik.”
“Masa?” wanita itu mencubit pipiku tanpa ragu.
Meski rikuh kujawab juga, “Betul Bu. Pantesan Adelita cantik. Pastui menurun dari mamanya, ya Bu.”
“Mungkin,” sahut mamanya Adelita tampak bangga.
Beberapa saat kemudian wanita berhijab yang tampak kebule – bulean itu sudah duduk di sebelah kiriku, dalam mobil yang sudah kujalankan kembali di atas jalan yang banyak lubang berlumpurnya.
“Maaf Bu, kalau boleh taju, Ibu ini asli mana? Dari Eropa atau Amerika?” tanyaku di belakang setirku. “Saya asli Lebanon Dek.”
“Ooo… kalau Lebanon sih berarti Arab juga ya Bu.”
“Iya.”
“Jadi Adelita itu berdarah campuran Indonesia – Lebanon ya.”
Pikirku, pantesan Adelita cantik sekali.
Tapi aku tidak mengatakan hal itu. Aku malah menanyakan hal lain, “Ibu kan sudah jadi WNI ya?”
“Sejak lahir saya sudah WNI. Karena saya dilahirkan di sini. Sebelum saya lahir, orang tua saya sudah jadi WNI.”
“Bagaimana ceritanya sehingga orang tua Ibu bisa tinggal di Indonesia, lalu menjadi WNI?”
“Waktu itu orang tua saya sengaja mengungsi ke Indonesia. Karena di Lebanon sedang terjadi perang besar – besaran. Lalu mereka merasa kerasan tinggal di Indonesia, kemudian mendaftar untuk menjadi WNI. Cukup lama prosesnya, sampai lebih dari sepuluh tahun, barulah mereka menerima surat kewarganegaraannya.
“Waktu masih muda, Ibu pasti cantik sekali,” ucapku nyelonong ke lain arah. Bahkan dengan pikiran ngeres pula. Membayangkan jika dia telanjang bulat seperti apa ya?
Tapi pikiran itu cepat kutepiskan, karena aku sudah berniat menikahi Adelita. Masa calon mertuaku mau dijahilin pula?
“Ya jelas cantik lah,” sahutnya, “Sekarang juga masih cantik kan?”
Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Lalu mengangguk, “Iya. Saya mau jujur aja, Ibu ini cantik sekali. Kalau bukan mamanya Adelita sih pasti udah saya godain.”
“Hihihihiii… “wanita itu ketawa sambil menggenggam tangan kiriku, “Seneng sama wanita setengah baya ya?”
Aku mengangguk. Lalu spontan teringat Mama almarhumah, teringat Bunda, teringat Tante Ratih dan wanita – wanita setengah baya lain yang pernah hadir dalam kehidupanku.
Bagiku, wanita setengah baya itu punya greget tersendiri. Tidak bisa disamakan dengan cewek muda belia.
“Nanti bisa – bisa Dek Donny bakal ngintipin saya juga dong,” kata mamanya Adelita, lagi – lagi sambil menggenggam dan meremas – remas tanganku.
Aku jadi keceplosan. Sahutku, “Nggak usah nanti, sekarang juga ingin ngintip. Tapi gimana caranya? Pakaian Ibu sangat tertutup begitu…”
“Serius?” tanyanya sambil merapatkan pipi kanannya ke pipi kiriku.
“Sangat serius Bu,” sahutku yang dengan spontan mengecup pipi kanannya itu.
“Kalau gitu putar balik aja. Gak usah ngejar Lita. Biarkan dia belanja dengan tenang dan pulang pada waktunya.”
“Jadi…?!”
“Mumpung saya lagi ngebet sama Dik Donny, mendingan balik lagi ke rumah saya. Nanti saya bikin Dek Donny takkan bisa melupakan saya.”
Penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh wanita setengah baya yang cantik itu, aku pun memutar mobilku yang kebetulan belum jauh meninggalkan rumah wanita itu.
“Kalau boleh tau, nama asli Ibu apa?”
“Nama saya Faizah, pakai husup z jangan pakai J. Faizah itu artinya berjaya. Tapi almarhum ayah Lita suka manggil saya Zah saja.”
Aku cuma mengangguk – angguk, sambil menghafalkan namanya, Faizah… Faizah… Faizah.
Dan… waktu menyetir kembali ke rumah wanita itu, rudalku mulai ngaceng seolah minta “sesuatu”.
Setibanya di rumah bergaya zaman kolonial Belanda itu, Bu Faizah langsung membawaku ke dalam. “Itu kamar Adelita…” ucapnya sambil menunjuk ke pintu di sebelah kiriku. “Dan itu kamar saya,” ucapnya sambil menunjuk pintu kamar yang berada di sebelah kanannya.
Pintu yang di sebelah kanan kami itu dibuka. Lalu Bu Faizah menarik lenganku, mengajak masuk ke dalam. Setelah aku berada di dalam kamar yang tercium harum parfum khas timur tengah, Bu Faizah menguncikan pintu itu. Pada waktu dia sedang menguncikan pintu itu, aku pun mendekapnya dari belakang sambil berbisik ke dekat telinganya, “Bu Faizah punya daya pesona yang luar biasa.
Bu Faizah memutar badannya jadi berhadapan denganku, “Dek Donny juga punya daya pesona yang luar biasa. Saya belum pernah mendekati teman Adelita, apalagi menggodanya. Tapi Dek Donny ini seolah memancarkan aura yang bisa memikat hati perempuan mana pun.”
Ucapan itu dilanjutkan dengan pagutan di bibirku, yang kusambut dengan lumatan, dibalas dengan lumatannya pula.
Ini memang aneh tapi nyata. Bahwa setiap berdekatan dengan wanita setengah baya, selalu saja nafsuku bergejolak. Apalagi dengan wanita setengah baya yang cantik dan seolah memancarkan daya pesonanya seperti Bu Faizah ini.
Lalu terdengar bisikan Bu Faizah di dekat telingaku, “Dek Donny ingin agar jubah putih ini dilepaskan ya?”
“Iya Bu… dari tadi saya membayangkan seperti apa indahnya tubuh Bu Faizah kalau jubah putih dan jilbabnya sudah dilepaskan,” sahutku jujur.
Bu Faizah mengangguk sambil tersenyum. Sambil melepaskan jilbab dari kepalanya, sehingga rambutnya yang hitam legam dan agak ikal itu terurai lepas sam\pai punggungnya. Baju jubah putih bersihnyha pun ditanggalkan
Wow… betapa indahnya tubuh perempuan yang kutaksir usianya kepala empat itu. Tubuh yang sangat putih dan mulus itu benar – benar mirip bentuk guitar Spanyol. Ke atas tegap, dengan payudara yang pasti montok di balik behanya, dengan pinggang ramping dan bokong gede yang… aaaah… tubuh yang tinggal mengenakan beha dan celana dalam serba hitam itu teramat sangat menggiurkan…
Tanpa basa basi lagi aku pun menanggalkan celana jeans dan baju kausku. Tinggal celana dalam yang kubiarkan masih melekat di tubuhku.
Aku pun berdiri di depannya, namun kedua tanganku bergerak ke punggungnya, karena ingin melepaskan kancing behanya, sekaligus ingin menyaksikan seperti apa bentuk toket gedenya itu…
Sepasang toket Bu Faizah memang gede, tapi tidak terlalu gede. Sehingga bentuknya masih membusung ke depan, tidak menggantung ke bawah.
Bu Faizah pun langsung meraihku ke atas ranjang besinya yang berkasur konvensional (kasur yang diisi kapuk biasa). Tak cuma meraih ke atas ranjangnya, dia pun langsung memagut bibirku ke dalam lumatan lahapnya, seolah kafilah dahaga yang menemukan oase, lalu minum sepuasnya. Setelah ciuman dan lumatannya terlepas, aku pun melorot turun sedikit, karena ingin mengemut pentil toketnya yang terasa menegang ini (pertanda horny-nya seorang perempuan).
Namun sambil mengemut pentil toket gedenya, tanganku pun merayap ke bawah. Berusaha menyhelinapkan tanganku ke balik celana dalamnya, karena sudah penasaran sepoerti apa bentuk kemaluan wanita berdarah Lebanon ini. Dan aku sudah menduga bahwa kemaluannya pasti berjembut tebal sekali, seperti ramburt di kepalanya yang begitu tebal dan hitamnya.
Tapi ternyata aku salah duga. Begitu tanganku berada di balik celana dalam hitamnya, aku langsung menyentuh permukaan serambi lempit yang licin plontos, alias bersih dari jembut…!
Dan ini membuatku makin bersemangat karena sudah kebayang enaknya menjilati serambi lempit timur tengah ini.
Tampaknya nafsu Bu Faizah besar sekali. Begitu jemariku menggerayangi serambi lempit plontos di balik celana dalamnya, ia buru – buru melepaskan celana dalam hitam itu. Lalu menerkamku dengan ciuman panasnya di sana – sini. Di bibirku, di leherku di dadaku, di ketiakku di perutku dan bahkan dengan sigap ia melepaskan celana dalamku.
Seperti harimau betina yang sedang naik birahi, ia genggam batang kemaluanku dengan kedua tangannya. Lalu menjilati puncaknya, lehernya dan… happpp… ia masukkan rudalku ke dalam mulutnya… lalu menyelomotinya dengan lahapnya, seolah mahluk lapar menemukan makanan lezat yang sangat disukainya.
Dan gilanya, selomotan wanita timur tengah itu begitu trampilnya, sehingga aku jadi terpejam – pejam dalam nikmat yang luar biasa…!
Oooo… baru sekali ini aku menemukan wanita yang begini agresifnya, sehingga aku pun seperti ditantang untuk mengimbanginya dengan serangan yang yang lebih agresif lagi…!
Aku tak mau ejakulasi dini dalam mulut mamanya Adelita ini. Lalu kutarik rudalku dari dalam mulut wanita setengah baya itu. Kini giliranku untuk “menyerang”nya. Dengan lumatan lahap di bibir sensualnya. Dengan jilatan bercampur dengan gigitan – gigitan kecil di lehernya yang jenjang dan hangat itu.
Dan desahan – desahan histerisnya mulai terdengar, “Aaaaaah… aaaaaah… Donny… aaaaah… Dooon… aaaaaahhhhh… Doooon… aaaahhhhhhhh… Dooon… aaaahhhh… aaaahhhhhhh… Dooooooonnnn… !”
Sepasang mata bundar beningnya pun merem melek… terlebih lagi ketika aku menyedot – nyedot pentil toket gedenya yang satu dan meremas toket yang satunya lagi… ia semakin gedebak – gedebuk seperti ayam jago yang sedang bertarung di arena adu ayam…!
Cepat aku melorot turun. Dan langsung berhadapan dengan serambi lempit tembemnya yang bersih dari bulu. Ia pun merenggangkan sepasang pahanya, seolah memberi keleluasaan padaku untuk melakukan apa pun pada kemaluannya yang menyiarkan harum wewangian timur tengah ini.
Lalu kujilati mulut serambi lempitnya yang agak ternganga itu dengan lahap sekali. Ia pun mulai menggeliat – geliat sambil berdesah – desah lagi. Terlebih setelah jemariku ikut campur pada aksi cunnilingus ini, dengan mengelus – elus kelentitnya yang tampak lebih gede daripada kelentit bangsaku.
“Oooooohhhhh… ooooh… Doooooon… Dooooooon… Doooonny… Doooon… Dooooonnnn… oooohhhh… Doooooon… Doooonnnn… Doooon… oooohhhhhh… Doooooon… Doooon… Dooooon… oooohhh… !”
Berhamburan lagi desahan – desahan erotisnya itu, sementara ketika kucelupkan jari tengahku ke dalam liang serambi lempitnya, aku menganggap liang serambi lempitnya sudah siap untuk dipenetrasi.
Maka dengan sigap kuletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempitnya yang sudah basah itu, lalu kudorong sekuat tenaga… dan blessss… langsung amblas seluruhnya di dalam liang serambi lempit wanita timur tengah itu…!
Dan ia menyambutku dengan merengkuh leherku ke dalam pelukan hangatnya… disusul dengan lumatan binalnya di bibirku.
Aku pun tak mau mengulur waktu lagi. rudal ngacengku mulai memenyetubuhi liang serambi lempit wanita setengah baya itu, dengan gerakan yang langsung lancar jaya… disambut dengan gerakan pinggulnya yang mirip gelombang samudera menuju pantai. Mirip penari perut yang sedang beraksi di atas panggung.
Gila… liang serambi lempit Bu Faizah ini luar biasa enaknya. Tidak terlalu sempit, namun legit sekali. Dan liang serambi lempit wanita timur tengah ini tiada hentinya bergerak – gerak seperti gerakan pinggul penari belly dance yang tengah beraksi di panggung pertunjukan.
Ketika aku mulai massive memenyetubuhinya, rintihan – rintihan histerisnya pun mulai berlontaran dari mulutnya, “Doooon… ooooohhhh… saya sudah terlalu lama tidak merasakan… eeee… enaknya rudal… sekalinya dapet, panjang gede gini… oooooh… Dooooon… entotlah serambi lempit saya sepuasnya Doooon …
serambi lempitnya pun tiada hentinya bergerak – gerak laksana gelombang ombak yang tengah berkejaran menuju pantai.
Sementara mulutku mulai beraksi, untuk menjilati lehernya yang mulai berkeringat, disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Dan wanita setengah baya itu seperti sangat menikmatinya. Terlebih lagi ketika aku menjilati dan menggigit – gigit ketiak kirinya sambil meremas -remas toket kanannya, ia tampak terlena – lena dalam arus birahi yang semakin menjadi – jadi ini.
Cukup lama semua keindahan dan kenikmatan ini terjadi.
Sampai pada suatu saat… wanita setengah baya itu bverkelojotan sambil memelukku erat -erat.
Sebenarnya aku bisa menahan diri agar jangan ejakulasi dulu. Tapi aku teringat pada Adelita, yang mungkin sebentar lagi akan datang… maka kuupayakan agar bisa mencapai puncak nikmat secara bersamaan.
Lalu… ketika ia masih berkelojotan, aku pun mempercepat entotanku. Maju mundur dan maju mundur terus dengan cepatnya.
Sehingga akhirnya kami tiba di titik puncak dari segala nikmatnya persetubuhan ini.
Dan wow… liang serambi lempit wanita timur tengah itu terasa bergerak – gerak reflex seperti gerakan pinggulnya tadi. Disusul dengan kedutan – kedutan kencang… disusul dengan bermuncratannya air mani dari moncong rudalku.
Croooootttt… crooooootttt… crotcrot… crooooootttt… croooooootttt… crooootttt… croooottttttt… crottt…!
Kami sama – sama terkapar dan terkulai lemas. Dengan keringat membasahi tubuh kami.
Sesaat kemudian, kucabut rudal lemasku dari liang serambi lempit Bu Faizah. Kemudian wanita setengah baya itu berkata lirih, “Sudah bertahun – tahun tidak merasakan sentuhan lelaki. Sekalinya mendapatkan, luar biasa nikmatnya. Terima kasih ya.”
Ucapan itu diikuti dengan kecupan hangatnya di bibir dan di sepasang pipiku.
Kuperhatikan tubuh mulus wanita setengah baya berwajah jelita itu sambil berkata, “Nanti setelah Adelita menjadi istri saya, pasti dia akan saya bawa ke kota saya. Ibu ikut aja ya,” kataku sambil mengusap – usap perut Bu Faizah yang masih keringatan.
“Iya. Terus pekerjaan Lita di Singapore bagaimana?” tanyanya.
“Untuk sementara ini biarkan aja dia tetap bekerja di Singapore. Karena saya butuh waktu beberapa bulan untuk mempersiapkan segalanya. Nanti Lita akan saya tempatkan di perusahaan yang baru akan dibuka sebulan lagi di kota saya.”
“Berarti beberapa hari lagi Lita akan kembali ke Singapore?”
“Iya. Dia sangat dibutuhkan di Singapore.”
“Wah… kalau Lita sudah di Singapore, sering – sering main ke sini ya. Karena saya pasti kangen terus sama Dek Donny.”
“Saya juga pasti kangen sama serambi lempit legit ini,” sahutku sambil menepuk – nepuk serambi lempit Bu Fauziah yang sedang menelentang ini. Plok… plok… plok plok…
Mamanya Adelita tersenyum manis.
“Tapi Adelita jangan sampai tau ya,” ucapnya.
“Iya,” sahutku sambil mengangguk.
Bu Fauziah turun dari ranjang besi itu. Lalu mengeluarkan dua handuk bersih dari dalam lemarinya. Yang satu diserahkan padaku, yang satu lagi dibelitkan ke badannya. Dan mengajakku ke kamar mandi yang berdampingan dengan kamarnya.
Beberapa saat kemudian aku dan Bu Faizah sudah duduk di ruang keluarga, berdampingan di atas sebuah sofa jadul tapi masih enak untuk diduduki.
Sambil menunggu Adelita datang, tiap sebentar Bu Faizah melingkarkan lengannya di leherku, lalu menciumi bibirku dengan hangatnya. Seolah gairahnya takkan pernah pudar meski sudah kusetubuhi juga.
Meski sudah mengenakan baju jubah putihnya kembali, aku pun memanfaatkan waktu luang ini dengan menyelinapkan tanganku ke jubah putih itu. Karena aku tahu kalau Bu Faizah tidak mengenakan celana dalam saat itu.
Dan sambil mengelus – elus serambi lempitnya, aku bertanya, “Bu Faizah di sini hanya tinggal berdua dengan Adelita?”
“Iya.”
“Terus kalau Adelita di Singapore, ibu sendirian aja di rumah segede ini?”
“Kalau Lita di Singapore sih ada pembantu yang nginap di sini. Sekarang kebetulan aja pembantunya sedang pulang dulu ke kampungnya.”
“Owh. Tapi di sini kelihatannya aman ya?”
“Sangat aman,” sahut Bu Faizah, “Di kampung ini tidak pernah ada pencurian. Pergaulannya pun seperti dengan saudara.”
“Ibu kerasan tinggal di sini ya?”
“Yaaahhh… mau bagaimana lagi? Rumah ini kan peninggalan ayah Adelita. Saya tidak tega meninggalkannya begitu saja. Kecuali kalau sudah ada tempat yang lebih baik, saya mau aja diajak pindah.”
Tiba – tiba Bu Faizah berkata setengah berbisik, “Itu Lita datang… !”
Aku pun buru – buru mengeluarkan tanganku dari balik jubah putih Bu Faizah. Lalu melangkah ke ruang tamu. Pendengaran Bu Faizah tajam juga. Adelita benar – benar sudah datang. Sedang melangkah di pekarangan depan sambil melihat – lihat mobilku. Cepat aku menyambutnya di ambang pintu depan.
Adelita terbelalak setelah melihatku sedang berdiri di ambang pintu depan. “Bang Donny …!” serunya sambil menghambur ke dalam pelukanku.
Saat itu hari mulai remang – remang… mulai menuju malam.
Di ruang tamu, Adelita merangkul dan menciumi bibirku dengan pelukan yang terasa erat sekali. Tanpa mempedulikan ibunya yang hadir juga di ruang tamu itu.
Lalu terdengar suara Bu Faizah, “Bawa ke dalam kamarmu, Lit. Biar puas kangen -kangenannya…!”
Adelita menoleh ke arah ibunya sambil tersenyum. Lalu menarik tanganku ke arah kamarnya. Aku pun sempat menoleh ke arah Bu Faizah tanpa sepengetahuan anaknya. Lalu mengedipkan sebelah mataku, yang disambut dengan senyum wanita setengah baya itu. Kemudian mengikuti langkah Adelita ke dalam kamarnya.
Tapi setelah berada di dalam kamarnya, Adelita tercenung. Seperti memikirkan sesuatu yang serius.
“Kamu kenapa Del? Kok tiba – tiba seperti yang mikirin sesuatu?” tanyaku sambil membelai rambutnya.
“Gak ada apa – apa. Cuma aku… sedang menstruasi Bang.”
“Ohya?! Gak apa – apa. Tujuanku datang ke sini kan bukan sekadar ingin menyetubuhi kamu.”
“Bang… padahal kalau bisa sih deketin Umi gih…”
“Kamu manggil Umi pada ibumu?”
“Iya. Aku kasihan sama Umi Bang… udah belasan taun dia hidup menjanda… padahal kelihatannya dia masih kuat hasratnya untuk merasakan sentuhan lelaki. Soalnya aku sering mergokin dia sedang masturbasi.”
“Terus?”
“Kalau Abang gak keberatan sih dekatin dia sampai dapat itunya. Aku ingin sekali dia puas dan bahagia Bang.”
“Kamu serius Del?”
“Sangat serius Bang.”
“Emangnya kamu takkan cemburu kalau aku sampai begituan sama Umimu?”
“Nggak. Umi sudah terlalu banyak berkorban demi aku. Tapi aku tak pernah berkorban apa – apa untuknya. Karena itu wajar kalau aku membagi Abang dengannya. Abang adalah milikku yang paling berharga.”
Aku termangu mendengar kata – kata Adelita itu.
“Lagian aku juga tak mau mengecewakan Abang. Sekarang aku sedang mens. Silakan Abang salurkan ke Umi gih.”
“Kalau dia gak mau gimana?”
“Kalau gak mau sih jangan dipaksa bang. Tapi masa sih Umi menolak Abang? Abang ini tampan sekali. Masih sangat muda pula.”
“Mmmm begini aja… kamu harus pura – pura tidur karena kecapean ya. Kalau Umimu tau kamu lagi tidur, mungkin dia mau. Tapi kalau tau kamu tidak sedang tidur, mungkin juga dia takkan mau. Karena malu sama kamu mungkin.”
“Iya… iyaaa… bilangin aja aku sakit kepala karena sedang mens lalu tidur nyenyak sekali gitu.”
“Ohya… kamu sudah laporan sama umimu bahwa kamu sudah kuperawani di Singapore?”
“Iya sudah. Untungnya Umi tidak marah. Malah ingin segera mendapat kepastian dari Abang mengenai hubungan kita selanjutnya. Ya udah… buruan samperin Umi Bang. Aku mau pura- pura tidur.”
“Iya deh. Aku mau mencobanya ya… mudah – mudahan aja dia mau… ohya… kalau aku sukses, mungkin nanti aku mau tidur sama Umi semalaman ya,” kataku
“Iya silakan. Itu lebih baik. Kalau Abang tidur bersamaku, malah takut tercium bau anyir nanti, karena aku lagi mens.,” sahut Adelita sambil menarik selimutnya sampai menutupi sekujur tubuhnya dari ujung kaki sampai kepalanya.
Di dalam hati aku ketawa sendiri. Karena aku yakin akan mendapatkan Bu Faizah, bahkan sebenarnya kalau aku bisa memenyetubuhi Bu Faizah lagi, berarti aku akan menyetubuhinya untuk kedua kalinya. Tapi Adelita pasti mengira kalau aku baru mau berusaha PDKT pada uminya.
Di luar kamar Adelita aku celingukan ke sekitarku. Bu Faizah tidak kelihatan. Mungkin sedang tiduran di kamarnya, karena hari sudah mulai malam.
Perlahan kubuka pintu kamar Bu Faizah sambil mengintip ke dalam. Tampak Bu Faizah sedang berbaring membelakangi pintu, dalam kimono putihnya, tidak mengenakan baju jubah putih dan jilbab lagi.
Lalu kenapa sikut Bu Faizah itu bergerak – gerak terus? Apakah ia sedang merasakan sesuatu atau sedang… bermasturbasi?
Dengan sangat perlahan aku mengendap – endap masuk ke dalam kamar Bu Faizah. Kebetulan ia sedang rebah miring dan membelakangiku. Dan… wow… ia memang sedang bermasturbasi. Mungkin tadi, waktu aku memainkan serambi lempitnya di balik baju jubah putihnya itu, dia jadi horny lagi. Dan sekarang dia sedang bermasturbasi sambil membayangkan sedang dientot olehku?
Dengan gerakan yang cepat dan tepat, aku menerkam Bu Faizah dari belakang. Lalu dengan cepatnya ttanganku menggantikan tangan yang sedang dipakai masturbasi itu.
“Don… Donny…! “Bu Faizah serambi lempitik perlahan sambil meronta dan menepiskan tanganku yang baru saja menyentuh serambi lempit di balik kimononya.
“Kenapa Umi cantik?” ucapku sambil meendekap Pinggang Bu Faizah yang sudah duduk sambil mendelik.
“Kalau kelihatan sama Lita nanti gimana?” ucapnya setengah berbisik.
“Adelita sedang tidur nyenyak, karena kecapean habis belanja tadi,” sahutku sambil turun dari ranjang besi Bu Faizah, lalu menutupkan pintu kamarnya yang masih belum tertutup rapat, sekaligus menguncikannya. Lalku melangkah ke arah ranjang besi itu sambil melepaskan baju kausku. Di dekat ranjang besi itu kutanggalkan celana jeans dan celana dalamku juga, supaya Bu Faizah melihat bahwa batang kemaluanku ini sudah siap tempur, sudah ngaceng berat…
Memang sejak membayangkan bakal memenyetubuhi wanita timur tengah ini tadi, rudalku spontan bereaksi dan ereksi.
“Beneran Lita udah bobo?” tanya Bu Faizah setengah berbisik, sambil memegangi batang kemaluanku yang sudah keras ini.
“Kalau gak percaya, silakan buktikan sendiri sana,” sahutku sambil menarik kimono wanita itu sampai terlepas dari tubuhnya.
Lalu kuterkam tubuh telanjang kitu dengan sepenuh gairah birahiku.
Bu Faizah pun menyambut terkamanku dengan gumulan agresifnya. Melumat bibirku dengan hangatgnya, meremas batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini, kemudian meletakkan moncongnya di mulut serambi lempitnya sambil berkata, “serambi lempit saya udah basah. Langsung masukin aja rudalnya yaaa…”
Benar saja. Begitu kudorong rudal ngacengku dengan sekuat tenaga, blllllesssssss… langsung amblas seluruhnya ke dalam liang serambi lempit calon mertuaku yang berdarah timur tengah ini.
Lalu aku pun mulai mengayun rudalku dalam permainan surgawi yang membuatku ketagihan ini.
Bu Faizah pun memamerkan keagresifannya lagi. Menggoyang pinggulnya dengan ayunan maju mundur seperti gerakan ombak bergulung – gulung menuju pantai.
Oooo… betapa nikmatnya menyetubuhi wanita berdarah Lebanon ini…
Bu Faizah yang selanjutnya kupanggil Umi itu, memang wanita yang luar biasa dan sangat memuaskan di atas ranjang. sehingga aku berniat untuk tetap menjalin hubungan dengannya, meski sudah menikahi anaknya sekali pun.
Ketika ayunan rudalku semakin kupergencar, rintihan demi rintihan Umi pun terdengar lagi, tapi dia berusaha mengecilkan “volume suara”nya. Rintihan – rintihannya seolah cuma bisikan di dekat telingaku.
“Doooon… semua ini luar biasa Doon… eeeeeh… entot terus Dooon… ooooooh… rudal Donny luar biasa enaknyaaaa… entot terusssss… entooooottttt… iyaaaaaaaa… iyaaaa… iyaaaa… iyaaaaaaaa… iyaaaaaa… oooo… oooo. oooobh Dooon enaaaak… enaaaak sekali rudalnyaaaaaaaa…
Rintihan – rintihan tertahan itu membuatku semakin bersemangat menyetubuhi Umi. Terutama karena goyang gelombang pinggulnya luar biasa enaknya.
Bahkan pada suatu saat, Umi berkelojotan lagi. “Maaa… mau lepas Dooon… barengin lagi Dooon…” ucapnya setengah berbisik.
Tapi mana mungkin aku ngecrot secepat itu. Masalahnya, ini adalah persetubuhan yang kedua bagiku. Dengan sendirinya durasi entotanku pun jadi jauh lebih lama. karena itu aku tetapo menggenjot batang kemaluanku, tanpa mempedulikan Umi yang sudah berkelojotan, kemudian mengejang tegang… dan akhirnya terkulai lemas.
Umi sudah orgasme. Tapi aku belum apa – apa. aku masih tetap menggenjot batang kemaluanku di dalam serambi lempit Umi yang sudah basah sekali ini.
Bahkan basah licinnya liang serambi lempit Umi ini membuatku semakin lancar menggenjot batang kemaluanku, tak ubahnya pebalap sepeda yang sedang menggenjot pedalnya.
Umi pun tak mau kalah. Dia semakin gila – gilaan mengayun pinggulnya dalam bentuk gelombang ombak menuju pantai. Padahal tubuhnya sudah bermandikan keringat, sementara keringat di tubuhku sendiri lebih basah lagi.
Sampai pada suatu saat terdengar lagi bisikan terengah Umi, “Dooon.. aaaa… aaaaah… ini mau lepas lagi Dooon…”
Lalu Umi berkelojotan sambil mencengkram sepasang bahuku. Pada saati itulah kuayun rudalku segencar mungkin. Karena aku pun sudah berada di titik krusial. Titik menjelang tibanya puncak kenikmatanku.
Lalu… ketika sekujur tubuh Umi mengejang tegang, sementara liang serambi lempitnya terasa bergerak – gerak erotis, pada saat itu pula kubenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin.
Lalu… berlompatanlah air mani dari moncong rudalku.
Croooottttt… crot… crottt… croooottttttt… cret… crooootttttttt…!
Lalu aku pun terkulai di atas perut Umi. Sementara wanita setengah baya yang jelita itu pun terkapar lemas dengan kedua tangan direntangkan lebar – lebar.
Aku pun merebahkan diri di sampingnya. Sambil mempermainkan toketnya yang masih berbentuk indah itu.
“Ya udah… kembali ke kamar Lita gih. Takut dia bangun, nanti nyari – nyari,” kata Umi Faizah.
“Mau tidur sama Umi ah,” sahutku, “mau melukin Umi sepanjang malam.”
“Iiiih jangan, Sayang. Nanti Lita bisa ngamuk. Cepetan balik ke kamar Lita gih.”
“Nggak mau. Kan aku ke sini juga atas permintaan Lita.”
“Permintaan Lita gimana?”
Sebagai jawaban, kuceritakan semua yang telah dibicarakan oleh Adelita tadi. Bahwa Adelita merasa kasihan karena uminya tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun setelah suaminya meninggal. Bahwa Adelita telah merasakan betapa uminya sudah banyak berkorban untuknya, tapi Adelita belum pernah berkorban apa pun untuk uminya.
“Iiii… ini serius Don?” tanya Umi Faizah sambil duduk bersila di atas kasur.
“Serius Umi,” sahutku, “Kalau Umi gak percaya, tanyakan aja sendiri ke Lita sana.”
“Nggak ah. Malu…”
“Kenapa harus malu? Persetubuhan kita yang pertama tadi, Lita memang tidak tahu. tapi yang kedua barusan, memang atas permintaan Adelita yang ingin membahagiakan Umi.”
“Tapi rencana kalian untuk menikah tetap jalan kan?”
“Tetap jalan lah. Aku gak bentrok kok sama Lita. Aku malah seneng membayangkan kalau sudah kawin sama Lita… istriku seolah dua orang. Lita dan Umi. ‘
“Iya Don… terus terang aja, hati umi ini sudah Donny miliki, sejak di dalam mobil donny tadi. jadi mulai sekarang, kapan pun Donny menginginkan umi, akan umi ladeni. Demi Donny tercinta…” ucap Umi Faizah yang dilanjutkan dengan kecup mesranya di bibirku.
Lalu… kami tertidur sambil berpelukan. Dalam keadaan sama – sama telanjang bulat, tapi ditutupi oleh selimut tebal.
Esoknya, ketika hari masih gelap menjelang subuh, aku merasa ada yang membuat kepala rudalku geli – geli tapi enak. Ketika kubuka mataku, ternyata Umi Faizah yang tengah mengoral rudalku. Spontan alat kejantananku ini bangkit sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ngaceng berat…!
Rupanya Umi ingin memanfaatkan sisa waktu sebelum matahari menampakkan diri, dengan main di atas (WOT), yang kuladeni aja dengan sepenuh gairahku yang spontan bangkit ini.
Namun hanya belasan menit Umi main di atas, lalu ambruk di atas perutku. Dia sudah orgasme lagi…!
Lalu kami lanjutkan dalam posisi missionary yang suka disebut juga sebagai posisi konservatif alias MOT (man on top).
Nikmat juga memenyetubuhi Umi di hari menjelang subuh ini.
Bahkan ketika entotanku diperlambat, karena ingin mencium bibir sensual Umi Faizah, aku membisiki telinganya, “Umi… persetubuhan dengan Umi ini luar biasa enaknya. Fantastis dan sensasional.”
“Sama Don. Umi juga merasakan begitu. Bahkan waktu ayah Lita masih ada, umi belum pernah merasakan disetubuhi senikmat ini. Donny tau apa sebabnya? Karena umi melakukannya dengan cinta di hati umi.” Ucapan itu Umi lanjutkan dengan kecupan hangatnya di bibirku dan di sepasang pipiku.
Lalu ia menggoyangkan bokong gedenya kembali, sementara aku pun mulai menggencarkan kembali entotanku di hari menjelang subuh ini.
Sampai fajar menyingsing, bahkan sampai mentari muncul di ufuk timur, kami belum selesai melakukan hubungan sex yang sangat nikmat ini.
Sampai akhirnya… ketika Umi berkelojotan lagi untuk yang kesekian kalinya, aku pun menancapkan batang kemaluanku di dalam liang surgawi Umi Faizah.
Lalu terasa liang serambi lempit Umi berkejut – kejut kencang, sementara moncong rudalku pun sedang menembak – nembakkan pejuhnya.
Crooottttt… crotttt… crooootttttt… crooot… croooottt… crooootttttt…!
Lalu kami terkapar sambil berciuman… dan akhirnya terkulai lemas, namun ciuman kami belum dilepaskan…!
Ketika aku masih berbaring di ranjang besi itu, sementara Umi sedang bersih – bersih di kamar mandi, terdengar pintu diketuk dari luar. Dalam keadaan telanjang aku melangkah ke pintu dan membukanya.
Yang mengetuk itu tak lain dari Adelita. “Bagaimana? Sukses?” tanyanya sambil memperhatikanku yang masih telanjang bulat.
Aku mengangguk sambil mengacungkan jempolku.
Adelita memelukku sambil berbisik, “Terima kasih ya Bang. Semoga semangat dan gairah Umi timbul kembali.”
Tak lama kemudian Umi muncul dari kamar mandi, dalam keadaan cuma dibelit handuk dari toket sampai ke pahanya.
Adelita menghambur ke dalam pelukan Umi. Lalu menciumi pipi sepasang pipi Umi. Lalu berkata, “Aku bahagia karena Umi telah bersedia meladeni pangeranku tercinta.”
“Iya,” sahut Umi salah tingkah, “Maafkan umi ya Lit. Umi memang sudah terlalu lama tidak merasakan sentuhan lelaki. Jadi… semuanya terjadilah…”
“Gak perlu minta maaf Umi. Kan aku yang meminta Bang Donny untuk melakukannya, sekaligus untuk membangkitkan semangat hidup Umi.”
Umi Faizah menciumi pipi Adelita sambil berkata, “Umi makin sayang padamju, Lit.”
Aku cuma bisa tersenyum mendengarkan percakapan mereka. Lalu berkata kepada Adelita, “Cepat mandi gih. Aku akan membawamu ke kotaku. Umi juga harus ikut.”
“Siap Bang,” sahut Adelita sambil bersikap tegak, seperti sikap bawahan kepada komandannya.
Beberapa saat kemudian, setelah sarapan pagi dengan nasi goreng buatan Adelita, aku membawa ibu dan anaknya itu di dalam mobilku menuju kotaku.
Aku memang punya peninggalan Papa di kotaku, berupa dua rumah besar. Yang satu akan kujadikan tempat tinggal Adelita dan Umi (kalau beliau bersedia). Sedangkan yang satu lagi terlalu besar untuk rumah tinggal, karena tadinya pun dipakai untuk kantor Papa almarhum. Jadi bangunan itu pun kurenovasi sedemikian rupa, sehingga cocok untuk dijadikan kantor perusahaanku kelak.
Setibanya di kotaku, Umi dan Adelita kubawa ke rumah megah yang akan dijadikan tempatg tinggalku bersama mereka kelak (kalau aku sudah menikah dengan Adelita).
Rumah itu sudah lengkap dengan perabotannya yang serba mewah. Sehingga aku tak perlu menambahkan apa – apa lagi.
“Nah di sinilah kamu akan kutempatkan nanti setelah menikah,” kataku sambil menepuk bahu Adelita.
“Luar biasa… besar dan megah sekali rumah ini Bang,” sahut Adelita sambil memegang lenganku.
“Senang dengan rumah ini?” tanyaku.
“Tentu aja senang Bang. Bermimpi pun tidak pernah kalau Abang akan menempatkanku di rumah semegah dan se, eah ini. Perabotannya pun kelihatan serba impor ya Bang.”
“Iya, “aku mengangguk. Lalu menoleh ke arah Umi, “Bagaimana? Umi juga mau tinggal di rumah ini kan?”
“Tentu aja mau Don. Ini sih seperti rumah pejabat tinggi saking megah dan besarnya. Mmm… orang tua Donny tinggal di kota ini juga kan?”
“Iya.”
‘Tapi sekarang Donny masih tinggal bersama orang tua kan?”
“Betul Umi. Tinggal Bunda yang masih ada. Kalau ayah sudah meninggal. Nanti setelah melihat kantor perusahaan yang sebulan lagi akan dibuka, Umi dan Lita akan kubawa ke rumah ibuku. Supaya Bunda kenal dengan calon mantu dan besannya.”
“Mudah – mudahan aja ibu Donny setuju untuk menjadikan adelita sebagai calon menantunya ya.”
Setelah mereka puas melihat – lihat rumah itu, baik yang di lantai dasar mau pun di lantai dua, aku membawa mereka ke bangunan yang belum selesai direnovasinya. Bangunan yang kelak akan dijadikan kantor perusahaanku.
“Umi sih kalau disuruh pindah sekarang juga ke rumah itu, mau Don,” kata Umi dalam perjalanan dari rumah menuju calon kantorku itu.
“Nanti kalau Lita sudah ke Singapore lagi, Umi bisa tinggal di rumah itu,” sahutku.
Adelita menoleh ke belakang sambil berkata, “Biar Umi bisa berbulan madu sama Bang Donny. Hihihihiii…”
“Tapi Lita ghak keberatan kan kalau Umi tinggal di rumah itu setelah Lita ke Singapore lagi.”
“Sangat boleh. Biar Umi belajar jadi mertua orang tajir,” sahut Adelita, “Lagian aku merasa kasihan kalau Umi di kampung terus.”
“Lalu kapan kamu mau pulang ke Singapore?” tanyaku.
“Lho… kan Bu Yeyen bilang Bang Donny yang menentukan kapan aku harus kembali ke Singapore.”
“Aku sih inginnya kamu bersih dulu… biar aku bisa merasakan sesuatu darimu.”
“Iya Bang. Baru keluar kemaren… biasanya sih antara sepuluh harian aku mens.”
“Ya udah. Berarti kamu boleh kembali ke Singapore duapuluh hari lagi. Oke?”
“Siap Bang.”
Tak lama kemudian kami tiba di bangunan tiga lantai yang akan kujadikan kantor perusahaanku itu. “Nah… itu kantormu nanti, kalau akte pendirian perusahaannya sudah terbit. Aku sebagai owner hanya akan menjadi komisaris. Sementara kedudukan direktur akan kuserahkan padamu Lit.”
Adelita tersentak kaget. “Aku mau dijadikan direktur?”
“Iya, “aku mengangguk, “Emangnya kenapa? Nggak mau?”
“Bukan nggak mau. Tapi kira – kira aku mampu nggak ya jadi direktur perusahaan gede gitu. Kan baru lihat bangunan untuk kantornya pun sudah kebayang bakal gedenya perusahaan Abang itu.”
“Kan aku yang bakal ngatur semuanya nanti. Walau pun kedudukanku sebagai komisaris, dalam prakteknya aku yang akan membimbing dan mendampingi kamu nati Sayang. Pokoknya nanti di Singapore beli buku – buku tentang managemen dan leadership sebanyak mungkin. Lalu pelajari buku – buku itu sampai benar – benar menguasainya.
“Iya Bang. Tapi bimbing aku nanti sampai mampu menguasainya ya.”
“Iya. Aku juga mau kuliah lagi di sini. Karena bisa malu kalau anak buahku banyak yang sudah sarjana, sementara aku belum jadi sarjana.”
Ketika mobilku sudah meninggalkan bangunan untuk kantor perusahaanku itu, tiba – tiba handphoneku berdering. Kulihat siapa yang call, ternyata dari Bunda.
“Hallo Bunda Sayang…”
“Kamu di mana Don? Kok tadi malam gak pulang. Bikin bunda cemas dan gelisah.”
“Ini Bunda… aku nginap di rumah calon istriku. Sekarang juga mau dibawa ke rumah, agar Bunda bisa berkenalan sama calon istri dan calon besan Bunda. Siapin makanan yang enak – enak ya Bun.”
“Ntar… ntar… calon istri? Kok…”
“Nanti aja jelasinnya di rumah ya Bun. Soalnya aku lagi nyetir nih.”
“Iya, iyaaa…”
Setelah hubungan seluler ditutup, aku melarikan mobilku dalam kecepatan tinggi. karena tak sabar, ingin segera mempertemukan Adelita dan Umi kepada Bunda.
Mudah -mudahan saja Bunda tidak merintangi niat baikku. Karena sebagai manusia normal, aku harus punya istri. sedangkan perempuan – perempuan yang hadir dalam kehidupanku, hampir semuanya takkan bisa kunikahi secara sah. sumber Ngocoks.com
Setelah tiba di depan rumah baru kami yang dibeli dari Pak Wondo itu, Umi dan Adelita pun turun dari mobilku. Lalu mereka mengikuti langkahku menuju ke dalam rumahku.
“Bundaaaaaaa… ini kami dataaaang… “seruku setelah berada di dalam rumah.
Bunda pun muncul dan memperhatikan Adelita yang sedang mencium tangan Bunda. “Ini calon istrimu Don? Cantik sekali,” kata Bunda sambil mengelus rambut Adelita.
Tapi ketika bertemu pandang dengan Umi, Bunda terbelalak. Umi pun terbelalak.
“Faizah …?!” seru Bunda.
“Teh Ami?!” seru Umi Faizah sambil menghambur ke dalam pelukan Bunda. Lalu mereka sama – sama menangis.
Aku dan Adelita saling pandang. Dan sama – sama tidak mengerti. Kenapa Bunda bisa tahu nama Umi dan kenapa Umi bisa tahu nama Bunda?!
Setelah Bunda dan Umi Faizah duduk berdampingan sambil menyeka air mata mereka, aku bertanya, “Bunda… ini bagaimamna ceritanya? Kok Bunda bisa kenal dengan Umi Faizah?”
“Donny… suami Faizah ini adalah adik kandung ayahmu,” sahut Bunda. Lalu Bunda menoleh ke arah Umi Faizah, “Gadis cantik itu anak dari Zulkifli?”
“Iya Teh. Saya kawin kan cuma satu kali. Sejak Kang Zul meninggal sampai sekarang, saya tidak kawin lagi.”
“Nah Donny… dengar baik – baik,” kata Bunda, “Cewek itu anak pamanmu almarhum. Namanya Zulkifli. Dan Zulkifli itu adik kandung ayahmu… satu -satunya adik lelaki almarhum ayahmu. Jadi cewek itu… eh siama namamu Nak?” tanya Bunda kepada Adelita.
“Nama saya Adelita. Panggil Lita aja Tante.” “Lita… mmm… panggil uwa aja ya, jangan pake tante – tantean.” “Iya… hehehee…”
“Jadi…” kata Bunda lagi, “Donny dan Lita ini saudara sepupu. Lita harus manggil Kang sama Donny, karena ayah Donny ini abang kandung ayah Lita.”
“Iya Wa,” sahut Adelita.
“Tapi aku boleh kan menikah dengan Adelita? Maksudku apakah menikah dengan saudara sepupu itu tidak dilarang oleh agama kita?”
“Boleh, boleh, “Bunda mengangguk – angguk. Membuat dadaku plong kembali.
Tapi… diam -diam ada chat dari Imey. Isinya, “Don… kapan kita ketemuan?”
Spontan kujawab*, “Sebentar ya. Aku lagi meeting. “*
Bersambung… Tak lama kemudian Donna muncul diruang tamu. “Wah ada tamu… eeee Tante Faizah ya?” serunya sambil mencium tangan Umi, kemudian cipika – cipiki.
“Nah… Donna ini saudara kembarnya Donny Zah,” kata Bunda sambil menguisap – usap tangan Umi.
“Owh… sekarang saya jadi ingat semuanya. Donny ini diadopsi oleh sahabat Kang Rosadi yang pengusaha tajir dan menetap di Bangkok itu kan?” tanya Umi kepada Bunda.
“Betul. Orang tua angkat Donny itu sudah pada meninggal. Lalu harta mereka diwariskan kepada Donny semua, berdasarkan surat wasiat dari ayah angkat Donny,” sahut Bunda.
“Ohya… kamu kok bisa ketemu sama Lita ini di mana Don?” tanya Bunda.
“Di Singapore Bun. Dia kan bekerja di salah satu perusahaanku yang di Singapore. Kalau perusahaan yang di Bangkok sudah kujual semua, tinggal rumah saja yang akan tetap kupertahankan. Dan ternyata yang membeli asset – assetku di Bangkok itu anak Ayah dari istri pertamanya.”
“Wah… terkadang dunia ini terasa kecil sekali ya. Saking kecilnya, Donny bisa ketemu sama Lita kok malah di Singapore. Padahal kalian itu satu kakek dan satu nenek dari pihak ayahmu Don,” kata Bunda.
“Lalu gimana nih? Bunda setuju kalau Adelita ini kujadikan calon istriku?”
“Setuju. Setuju banget,” sahut Bunda.
“Tante Faizah aslinya dari Lebanon kan?” tanya Donna kepada Umi.
“Betul, “Umi mengangguk sambil tersenyum.
“Hebat dong Donny… punya calon istri berdarah campuran Indonesia – Lebanon,” kata Donna bernada memuji. Tapi aku tidak tahu apakah ucapan Donna itu datang dari hati tulusnya atau sebenarnya cemburu? Entahlah. Yang jelas, biar bagaimana pun Donna takkan bisa kujadikan istri.
Kemudian Bunda mempersilakan Umi dan Adelita unrtuk makan bersama di ruang makan. Aku pun ikut masuk ke ruang makan, di mana makanan sudah dihidangkan di atas meja makan.
“Kok masakan Padang semua. siapa yang masak Don?” tanyaku kepada Donna.
Donna nyengir dan menyahut, “Yang masak ya warung nasi Padang lah.”
“Ohooo… kirain kamu yang masak.”
Lalu kami makan bersama. Donna duduk di sebelah kananku, Adelita duduk di sebelah kiriku. Bunda dan Umi duduk di depan kami, terbatas meja makan.
Dua jam kemudian mobilku sudah kupacu menuju kampung Adelita kembali. Dengan hati yang tenang dan nyaman. Karena tiada rahasia lagi tentang hubunganku dengan Adelita.
Hari pun mulai malam ketika mobilku sudah memasuki pekarangan rumah Umi Faizah.
Setelah berada di dalam rumah tua yang masih kokoh dan terawat itu, Adelita berkata kepada ibunya, “Aku pengen lihat Umi main sama Bang Donny. Biar bisa belajar tentang soal yang satu itu. Biar nanti kalau udah jadi istri Bang Donny, aku bisa meladeninya dengan baik.”
“Iiiih kamu ada – ada aja Lit. Kalau ditonton sama kamu, malah umi jadi salah tingkah nanti,” sahut Umi sambil menoleh padaku dengan senyum di bibir sensualnya.
Aku pun memegang tangan Adelita sambil berkata, “Pada waktu foreplay kamu jangan masuk dulu. Tapi pintu kamarnya takkan dikunci. Nanti setelah kami benar – benar main, kamu boleh masuk, ya Sayang.”
Ucapan itu kulanjutkan dengan kecupan mesra di bibir Adelita.
“Iya deh… umi setuju,” kata Umi Faizah.
Lalu Umi masuk ke dalam kamarnya, sementara Adelita menarik tanganku ke dalam kamarnya. Di situ ia membisiki telingaku, “Bang… maafkan aku ya. Aku sudah membohongi Abang… supaya Abang dan Umi lancar melaksanakan skenarioku.”
“Maksudmu berbohong dalam soal apa nih?” tanyaku.
“Sebenarnya aku gak lagi mens.”
“Ohya?! Kalau begitu sekarang aku bisa main dong sama kamu.”
“Iya. Tapi di kamar Umi aja ya. Biar seru…” sahut Adelita sambil menggelitik pinggangku, “Ayo Abang duluan aja masuk ke kamar Umi. Aku mau ganti baju dan bersih – bersih dulu.”
Aku mengangguk, “Iya… tapi kamu jangan masuk dulu ya. Biarf Umi tidak salah tingkah dipelototin olehmu nanti.”
“Iya… iyaa…”
Lalu aku keluar dari kamar Adelita dan masuk ke dalam kamar Umi.
Kulihat Umi sedang melepas baju jubah hitam dan jilbabnya yang berwarna hitam juga. Ketika dia sudah tinggal mengenakan beha dan celana dalam, aku menyergapnya dari belakang. Dengan dekapan erat di pinggang Umi.
“Donny gak capek seharian nyetir terus tadi?” tanya Umi sambil melepaskan baju kausku.
“Nggak Umi,” sahutku, “Soalnya Umi sangat menggiurkan. Membuatku lupa segalanya,” sahutku pada saat Umi sedang menurunkan celana jeansku sampai terlepas dari kedua kakiku.
“Donny juga bukan sekadarf tampan, tapi juga seksi,” kata Umi sambil memelorotkan celana dalamku sampai terlepas dari kedua kakiku. Lalu menarik tanganku ke arah ranjang besinya.
Di atas ranjang besi itulah Umi melepaskan beha dan celana dalamnya. Kemudian menggumuliku dengan segala kehangatan dan kebinalannya.
Aku pun tak mau kalah. Kugumuli Umi dengan segenap gairah birahiku yang sudah berkobar kembali ini. Bahkan pada suatu saat, wajahku sudah berhadapan dengan kemaluan Umi yang luar biasa enaknya ini.
Ketika aku mulai menjilati serambi lempitnya dengan lahap sekali, Umi mulai menggeliat – geliat sambil meremas – remas rambutku yang berada di bawah perutnya.
“Aaaaahhhh… Dooooon… Dony pandai benar jilatin serambi lempit sih… enak sekali Doooon… “rintih Umi sambil meremas – remas rambutku terus.
Terlebih lagi setelah aku memusatkan jilatanku di kelentitnya yang agak besar itu (sebesar kacang kedelai), Umi semakin klepek – klepek dibuatnya. Dan ketika jari tengahku dijebloskan ke dalam liang serambi lempitnya, ternyata sudah basah sekali. Ini salah satu yang menyenangkan dari Umi. serambi lempitnya cepat basah, mungkin karena birahinya gampang dibangkitkan.
“Umi mau posisi doggy?” tanyaku.
“Iya,” sahut Umi, “Ayahnya Lita dulu paling seneng posisi ini. Donny seneng nggak?”
“Aku sih semua posisi seneng. Apalagi sama Umi yang serambi lempitnya enak banget,” sahutku sambil menepuk – nepuk pantat gede wanita setengah baya itu.
Lalu… sambil berlutut kubenamkan rudal ngacengku ke dalam liang serambi lempit Umi.
Terdengar nafas Umi, “Aaaaaaahhhhh…”
Lalu, sambil menumpukan kedua tanganku ke bokong gede Umi, aku pun mulai memompakan batang kemaluanku di dalam liang serambi lempit yang legit dan seolah menyedot – nyedot ini.
Pada saat itulah Adelita muncul, melangkah masuk ke dalam kamar ibunya ini. Ia mengenakan kimono yang terbuat dari bahan handuk putih polos. Tapi setelah berada di dalam kamar Umi, Adelita melepaskan kimono itu, sehingga tubuhnyha langsung telanjang bulat. Lalu Adelita naik ke atas ranjang besi ibunya sambil berkata, “Kirain masih pemanasan, ternyata sudah mulai main ya?
“Iiii… iyaaa…” sahut Umi yang sedang kuentot dalam posisi doggy ini.
“Umi,” kataku, “Adelita berbohong tuh. Ternyata dia gak lagi mens…! Dia cuma ingin menyenangkan Umi, lalu pura – pura lagi mens segala.”
“Oh ya udah… jadi malam ini kita senangkan Donny ya Lit.”
“Iya Umi… ini yang disebut posisi doggy ya Umi?”
“Iya Sayang. Supaya tidak membosankan, semua posisi boleh dicoba.”
Adelita cuma termangu melihat ibunya sedang kuentot ini. Sambil mengusap – usap serambi lempitnya sendiri. Mungkin Adelita terangsang juga melihat aku sedang memenyetubuhi ibunya ini.
Sesaat kemudian, Adelita bahkan berlutut di samping kananku, sambil mengusap – usap serambi lempitnya. Aku pun mengerti apa tujuannya mendekatiku dalam suasana seperti ini. maka sambil tetap memenyetubuhi Umi, tangan kananku mngelus -elus serambi lempit Adelita yang terasa hangat ini, sementara tangan kiriku bertumpu ke buah pantat gede Umi.
Ini memang menimbulkan sensasi tersendiri, karena aku sedang menikmati dua serambi lempit sekaligus. Memenyetubuhi serambi lempit Umi sambil mengelus – elus dan menyodok – nyodok serambi lempit Adelita dengan jari tengahku.
Cukup lama aku melakukan ini semua. Sementara Umi tidak membatasi suara rintihannya lagi. Dilepoaskannya rintihan – rintihan histerisnya, meski Adelita ikut mendengarkannya.
“Dooon… duuuh Doooon… rudalmu luar biasa enaknya Dooon… entot terusss Dooon… entoooooltttt… entoooooootttt… aaaaa… iyaaaaa… iyaaaa… entooottttttttt… entoooooootttt…”
Sementara serambi lempit Adelita pun sudah basah sekali, karena kusodok – sodok terus dengan jari tengahku.
Akhirnya Umi ambruk disertai pekik tertahannya, “Aaaaa… aaaahhhh… !”
Aku mengerti bahwa Umi sudah orgasme. Batang kemaluanku pun terlepas dari liang serambi lempitnya, karena Umi ambruk tengkurap di atas kasur.
Dengan sigap aku cepat berganti haluan. mendorong dada Adelita sampai celentang. Lalu kurenggangkan sepasang paha putih mulusnya, sambil meletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempit Adelita yang tampak kemerahan. Dan… kudorong rudalku sekuat tenaga… blesssss… baru masuk sedikit, maklum serambi lempit Adelita baru “dipakai” lima kali waktu masih berada di Singapore tempo hari.
Kudorong lagi rudal ngacengku sampai masuk setengahnya.
Dan mulailah aku memenyetubuhinya perlahan – lahan, dalam jarak pendek – pendek dulu.
Setelah liang serambi lempit Adelita mulai beradaptasi dengan ukuran rudalku, mulailah aku memenyetubuhinya secara normal, sambil menlumat bibirnya yang ternganga terus.
Sesaat kemudian, Adelita pun mulai merintih – rintih, “Baaaaang… duuuuuh… Baaaaang… di Indonesia baru sekali ini Abang menyetubuhiku lagi, ya Bang… oooooh… ini luar biasa enaknya Baaaaang… Bang Donny… aku sangat mencintaimu Baaaaaaang… ooooooo… oooooh Baaaaang…”
Sementara Umi Faizah mulai celentang sambil mengusap – usap serambi lempit tembemnya. Seolah menantangku, bahwa Umi siap untuk dientot lagi …!
Tapi tentu saja aku harus “menyelesaikan” Adelita dulu. Kalau Adelita sudah orgasme, baru rudalku bisa pindah ke serambi lempit Umi lagi.
Selanjutnya aku mulai gencar memenyetubuhi serambi lempit Adelita, sambil menjilati leher jenjangnya, disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Di saat lain, jilatan dan gigitan kecilku pindah ke ketiak Adelita yang menyiarkan harum deodorant mahal (mungkin dibekalnya dari Singapore).
Waktu gencar – gencarnya memenyetubuhi Adelita, aku masih sempat juga menepuk – nepuk serambi lempit tembem Umi Faizah yang menelentang di samping anaknya. Terkadang kusodok – sodok juga liang serambi lempit Umi dengan dua jari tangan kananku, jari tengah dan telunjukku. Liang serambi lempit yang sudah becek itu malah lancar saja disodok – sodok dengan dua jari tanganku.
Adelita memang belum banyak mengenal sex. Sehingga belum tahu juga bagaimana caranya untuk mengulur kedatangan orgasmenya. Baru belassan menit aku menyetubuhinya, Adelita sudah berkelojotan. Lalu mengejang tegang. Dan terasalah kedutan – kedutan liang serambi lempitnya, disusul dengan membanjirnya lendir libidonya, membasahi liang serambi lempitnya yang sudah merekah laksana bunga mekar.
Ketika Adelita sudah terkapar lemah lunglai, aku segera pindah ke atas perut Umi yang masih tersenyum – senyum centil sambil mengusap – usap serambi lempit tembemnya.
Umi menyambut “kembali”nya aku dengan merentangkan sepasang pahanya lebar – lebar. Aku pun meletakkan “topi baja”ku tepat di mulut serambi lempitnya yang ternganga dan kemerahan itu. Lalu kudorong dan… bleeessssssss… melesak amblas ke dalam liang serambi lempit Umi Faizah yang masih basah licin ini.
Umi pun menyambutku dengan peljukan hangatnya di leherku. Lalu menempelkan sepasang bibir sensualnya di bibirku, disusul dengan lumatan dan isapannya yang berlangsung lama sekali. Sehingga ketika aku mulai memenyetubuhi serambi lempit aduhainya, bibirku seolah direkat oleh sepasang bibir dan lidah Umi yang tak mau melepaskannya.
Umi memperlihatkan agresifitasnya lagi. Mulai mengayun pinggulnya lagi, dalam bentuk gelombang lautan di tengah samudera, terkadang dalam bentuk ombak bergulung – gulung menuju pantai.
Goyangannya ini mirip gerakan pinggul perempuan Arab yang tengah menarikan belly dance. Karena perutnya pun bergetar – getar erotis, membuatku semakin bersemangat untuk memenyetubuhinya habis – habisan.
Lalu… rintihan – rintihan erotisnya berlontaran lagi dari mulut Umi. “Dooon… aaaaah… Dooon… aaaaaaaahhhhh… Doooon… rudalmu memang luar biasa Doooon… luar biasa enaknyaaaaa… entottt terusssssss Dooon… entoooooooot teruuuuussssssss… entoooooootttth …
Terlebih setelah aku menjilati leher jenjangnya yang sudah keringatan dan harum parfum khas timur tengah, semakin menggila juga rintihan – rintihannya. Bahkan ketika aku berusah mencupang lehernya, Umi malah mendekap kepalaku, seolah jangan dilepas lagi cupanganku ini.
Mungkin Umi senang kalau lehernya disedot sekuat tenaga, sampai menimbulkan bekas merah kehitaman ini.
Karena Umi menghendakinya, maka aku pun tak canggung – canggung lagi untuk menyedot – nyedot lehernya sekuat mungkin, sehingga meninggalkan totol – totol merah kehitaman sebesar uang logam limaratusan. Sudah lebih dari lima totol membekas di lehernya.
Lalu aku pindah untuk mencupangi toket gedenya. Juga Umi tampak suka sekali. Sehingga bekas totol – totol merah itu bukan hanya di lehernya saja, melainkan juga di sepasang toket gedenya…!
Tampaknya Adelita sudah duduk sambil tersenyum – senyum menyaksikan perbuatanku “ngerjain” uminya.
Begitu lama aku melakukan semuanya ini. Sehingga akhirnya Umi kelojotan lagi, dengan mata terp[ejam – pejam. Lalu ia mengejang tegang, dengan perut sedikit terangkat… disusul dengan gerakan liang serambi lempitnya yang seolah seekor ular yang tengah membelit batang kemaluanku, disusul dengan kedutan – kedutan yang mengiringi meluapnya lendir libido, membuat liang kemaluan Umi jadi semakin becek.
Cepat aku pindah lagi ke atas perut Adelita. Memenyetubuhinya lagi dengan gairah birahi yang belum mereda.
Dan akhirnya aku memuntahkan air maniku di dalam liang serambi lempit Adelita.
Crotttt… crooooooootttt… crooootttttttt… crotttt… croooottttttt… crotttt… crooootttt…!
Lalu kami terdampar di pantai kepuasan.
Dan akhirnya kami bertiga tertidur pulas, dalam keadaan masih telanjang semua.
Esok paginya, setelah mandi aku bersiap – siap untuk pulang ke kotaku.
Tapi Umi mencegahku, “Nanti… jangan pulang dulu. Umi mau masakin makanan khas Lebanon deh buat Donny.”
Aku mengangguk, sambil ingin tahu juga seperti apa masakan Lebanon yang sedang dimasak oleh Umi itu.
Adelita pun tampak ikut membantu uminya di dapur.
Maka sambil menunggu masakan Lebanon siap, aku rebahan di atas dipan kayu jati beralaskan tikar, di teras depan rumah Umi.
Baru saja beberapa menit aku rebahan di atas dipan kayu jati itu, tiba – tiba tampak seorang wanita tinggi montok melangkah di pekarangan depan dan menghampiriku sambil mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum…”
Aku spontan bangkit dan menyahut, “Alaikum salam.”
Lalu aku turun dari dipan kayu jati itu dan berseru ke dalam, “Lita… ada tamu nih… !”
“Yaaa…” sahut Adelita dari dalam rumah.
Lalu Adelita muncul dan berseru, “Tante Neni… !”
Adelita mencium tangan wanita tinggi montok itu, lalu cipika – cipiki.
Lalu Adelita menoleh padaku, “Bang kenalin nih, Tante Neni… adik ayahku, berarti adik ayah Abang juga.”
“Lho… ini siapa Lit?” tanya wanita yang kira – kira sebaya dengan Umi itu, sambil menunjuk padaku yang sudah berdiri di depannya.
Adelita menyahut, “Ini… anak Uwa Rosadi, Tante.”
“Ya Tuhaaaan! Kamu anak Kang Rosadi?” seru wanita yang dipanggil Tante Neni itu. Sambil mengelus – elus rambutku. Aku pun mencium tangannya, lalu membiarkan wanita itu mencium pipi kanan dan pipi kiriku.
“Siapa namamu Nak?” tanya wanita yang ternyata tanteku itu.
“Donny Tante,” sahutku.
Adelita menambahkan, “Dia anak kembar Uwa Rosadi yang diadopsi oleh pengusaha dari Bangkok itu, Tante.”
“Ooooh… iya… iyaaaa…! Saudara kembarnya yang bernama Donna itu kan?”
“Betul Tante,” sahutku dengan sikap sopan.
Tante Neni geleng – geleng kepala sambil berdecak – decak, “Cek… cek… cek…! Waktu masih bayi kamu kan diadopsi oleh sahabat ayahmu, Don. Sekarang tau – tau sudah gede gini. Masya Allooooh…”
“Umi mana?” tanya Tante Neni kepada Adelita.
“Ada. Lagi masak di dapur,” sahut Adelita, “silakan masuk ke dalam Tante.”
Tante Neni masuk ke dalam. Lalu terdengar suara Umi sedang ngobrol dengan Tante Neni di dapur. Sementara aku mengajak Adelita ke dalam kamarnya. Kukeluarkan amplop besar dari dalam tasku. Amplop yang sudah berisi segepok uang dollar Amerika pecahan 100 USD.
“Ini uang untuk dibagi dua dengan Umi nanti, ya Sayang,” kataku sambil menyerahkan amplop coklat muda berisi segepok uang dollar Amerika itu.
Adelita melihat isi amplop itu lalu berkata, “Bang… ini uangnya banyak banget?!”
“Nggak apa – apa. kamu kan pasti banyak kebutuhan selama di sini. Umi juga mungkin membutuhkanduit itu. Nanti tukarin dulu duitnya di money changer kalau mau dibelanjakan ya.”
“Ya Bang. terima kasiiih…” sahut Adelita dilanjutkan dengan ciuman mesranya di bibir dan di sepasang pipiku.
Setelah menyimpan amplop berisi uang itu, Adelita berkata, “Aku mau bantuin Umi dulu di dapur ya Bang.”
Aku mengangguk. Lalu keluar lagi dari kamar Adelita. Duduk – duduk lagi di atas dipan jati itu. Sambil memperhatikan keadaan di sekitar rumah bergaya zaman kolonial Belanda ini.
Sepi sekali suasananya. Hanya sesekali ada motor yang melintas. Tidak ada satu pun mobil yang lewat.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana kalau aku harus tinggal di kampung sesunyi dan selengang ini.
Tiba – tiba Adelita muncul di ambang pintu, “Bang mari kita makan berjamaah. “ajaknya.
Aku pun berdiri, lalu mengikuti Adelita menuju ke ruang makan.
“Ayo Don makan dulu, biar jangan jajan di jalan nanti,” kata Umi sambil menunjuk ke makanan Lebanon hasil masakannya.
“Ini apa Umi?” tanyaku ke wadah persegi panjang. Isinya seperti nasi, tapi dicampur entah dengan apa. Hanya ada taburan seledri di atasnya.
“Ini nasi pilaf. Nasi yang sudah diaduk dengan bihun,” sahutnya. “Kalau ini namanya kefta, terbuat dari daging kambing muda yang dicincang lalu diaduk dengan bumbu.” Umi menunjuk ke gumpalan daging cincang yang ditusuk oleh tusukan sate, tapi tiap tusuk hanya ada segumpal daging cincang sebesar telor bebek, yang tampaknya dimatangkan dengan arang membara seperti sate.
“Masakan Lebanon sebenarnya banyak. Tapi di sini sulit mencari bahannya. Nah… kita makan seadanya aja ya,” kata Umi.
Aku langsung mengambil daging cincang yang ditusuk oleh tusukan sate itu, sudah gak tahan ingin mencobanya. Ternyata enak sekali.
“Wah… kefta ini enak sekali Umi,” kataku sambil meletakkan sisa gigitanku di piring. Lalu mengambil nasi pilaf yang dicampur merata dengan bihun itu. Dan mulai makan bersama.
“Nanti kalau Donny menikah dengan Lita, umi akan masakin bermacam – macam masakan Lebanon. Kan teman umi yang berasal dari Lebanon banyak juga. mereka semua sudah pada jadi warganegara Indonesia,” kata Umi sambil menuangkan nasi pilaf ke piringnya.
Buatku, sebenarnya makanan yang kami santap ini termasuk amat sederhana. Makan nasi pilaf hanya dedngan satu macam teman nasinya, ya kefta ini. Soalnya aku sejak kecil dibiasakan makan dengan banyak teman nasinya, waktu aku masih tinggal di Bangkok.
Tapi untuk menyenangkan Umi, berkali – kali kukatakan enak, enak dan enak. Biar Umi merasa senang dan bahagia. Bahkan kalau tidak ada Tante Neni, mungkin aku akan berkata, enak Umi… tapi lebih enak serambi lempit Umi…! Hahahahaaaa…!
Pada waktu aku masih makan, Adelita berkata padaku, “Bang… rumah Tante Neni ini searah dengan jalan pulang Abang nanti. Bisa kan beliau numpang sama Abang?”
“Boleh,” sahutku sambil melirik ke tanteku yang berperawakan seksi abis itu.
Hmmm… apakah aku ini benar – benar berjiwa incest, sehingga aku selalu tergiur oleh famili dekatku sendiri? Enyahlah. Yang jelas pada waktu makan bersama ini, pikiranku ngeres terus. Malah bertanya – tanya di dalam hati, seperti apa ya Tante Neni yang tinggi montok itu kalau sudah telanjang bulat di depan mataku?
Padahal jelas Tante Neni itu adik kandung ayahku almarhum. Tapi mungkin karena sejak bayi sampai dewasa aku tidak pernah berjumpa dengan keluarga Bunda mau pun dengan keluarga almarhum Ayah. Sehingga begitu bertemu, aku merasa seperti berjumpa dengan orang asing.
Beberapa saat kemudian, seperti yang sudah diminta Adelita, Tante Neni sudah duduk di sebelah kiriku, dalam mobil yang sudah kuhidupkan mesnnya. Sementara Umi dan Adelita berdiri di samping kanan mobilku.
“Ati – ati di jalan ya Bang,” kata Adelita sambil memegangi pintu di sebeah kananku, yang jendelanya masih terbuka.
Umi pin berkata, “Sering – sering datang ke sini ya Don.”
Aku cuma mengangguk sambil kiss bye (cium jauh). Kemudian mobilku meninggalkan pekarangan rumah bergaya zaman kolonial Belanda itu. Umi dan Adelita melambaikan tangannya, yang kubalas dengan lambaian tangan juga. Lalu jendela kaca ditutup semua setelah menyalakan AC. Dan mobilku mulai menginjak jalanan berluibang penuh lumpur sejauh 20 kilometer.
“Namanya jodoh begitu ya Don. Dengan Lita malah pertama kalinya berjumpa malah di Singapore,” ucap Tante Neni yang saat itu mengenakan gaun hitam yang terbuat dari sutera hitam polos, dengan manik – manik di sekitar lehernya. Berbeda dengan Umi yang senantiasa memakai baju jubah dan berjilbab, Tante Neni inki tidak mengenakan hijab dan baju muslimah.
“Iya Tante,” sahutku.
“Terus kawinnya kapan?” tanyanya.
“Masih lama Tante. Masih banyak yang harus diurus. Lita juga masih dipertahankan untuk tetap bekerja di Singapore,” sahutku.
“Iya. Donny juga harus belajar dulu dong… belajar menggauli istri, supaya istrinya puas. Hihihiii…”
“Hehehee… iya Tante. Emangnya Tante mau ngajarin aku?”
“Hihihihiiii… Donny… ada – ada aja. Masa mau diajarin sama tantemu sendiri?”
“Tapi… aku mau diajarin kalau sama Tante sih. Soalnya Tante… seksi banget sih.”
“Masa sih?!” cetus Tante Neni bernada senang mendengar pujianku. Mudah – mudahan umpan pancingku mendapat hasil…!
“Serius Tante. Tadi begitu melihat Tante… wow… ada wanita seseksi itu… siapa ya? Eeeeh… ternyata Tante adik kandung Ayah.”
“Iya. Ayahmu kan punya adik empat. Yang adik langsung, ya ayah Lita itu. Kemudian dari ayah Lita ke tante. Dari tante ke Tante Tita, lalu yang bungsu Tante Yani.”
“Iya Tante,” sahutku.
Mobilku tidak bisa bergerak cepat, karena banyak lubang yang harus dihindari, kalau bisa. Kalau tidak bisa, ya hajar saja. Karena mobilku tidak bisa berlari cepat, aku jadi sempat memegang paha Tante Neni yang masih tertutup gaun sutedra hitamnya. Sambil berkata, “Ya Tante yaaa… ajarin aku please…
Tante Neni terdiam. Lalu bertanya dengan nada serius, “Mau kapan belajarnya?”
“Sekarang aja. Mumpung kita lagi sama – sama gini,” sahutku sambil memijat – mijat paha gempal yang sedang kupegang, tapi belum bisa memegang langsung, baru sebatas memegang terhalang oleh gaunnya.
“Ya udah. Nanti aja di rumah tante ya.”
“Emangnya di rumah Tante gak ada orang lain?”
“Ada. Pembantu.”
“Emangnya Tante gak punya suami?”
“Nasib tante sama dengan ibunya Lita. Suami tante sudah meninggal dua tahun yang lalu.”
“Owh. Tante punya anak?”
“Punya tiga orang. Cowok dua orang, cewek seorang. Tapi mereka pada jauh. Yang cowok ada yang di Medan, ada yang di Surabaya. Yang cewek di Jakarta.”
“Pada kerja semua?”
“Yang cowok sih iya. Pada kerja. Kalau yang cewek masih kuliah di Jakarta.”
“Terus Tannte sendirian terus di rumah?”
“Kan ada pembantu yang nginep di rumah.”
Lalu kami terdiam sejenak.
Tapi tangan Tante Neni tidak diam. Tangannya merayap ke arah ritsleting celana jeansku, sambil berkata, “Kayak gimana sih rudal cowok yang harus diajarin ini.”
Meski Tante Neni baru memegang ritsleting celana jeansku, si johny langsung bereaksi. Jadi menegang dengan cepatnya. Dan ketika berhasil menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku, rudalku sudah benar – benar ngaceng.
“Waaaaw…! “pekik Tante Neni, “Segede dan sepanjang ini rudalmu Don…! Sudah ngaceng pula… !”
“Soalnya udah ngebayangin dijeblosin ke dalam serambi lempit Tante. Hihihiiiii… jangan marah tante ya.”
“Masa sih? Emangnya tante ini seperti apa di dalam pandangan Donny?”
“Pokoknya Tante sangat menggiurkan di mataku.”
Tante Neni tampak senang mendengar ucapanku. Lalu ia menarik gaunnya ke perutnya, sisusul dengan penurunan celana dalamnya sampai di lutut. Dan menarik tangan kiriku, lalu menempelkannya di permukaan serambi lempitnya yang bersih dari jembut, sehingga terasa benar tembemnya serambi lempit Tante Neni ini. Jauh lebih tembem daripada serambi lempit Umi.
“Waaaah… Tante… nanti mau dikasihin sama aku serambi lempit Tante ini?” tanyaku sambil mengusap – usap permukaan serambi lempit Tante Neni.
“Iya. Nanti tante kasih sama Donny… sampai benar – benar puas.”
“Hahaaayyyy! Mimpi apa aku tadi malam ya? Tau – tau bakal ketiban rejeki nomplok !”
“Tapi rahasiakan ya Don. Jangan sampai Lita tau.”
“Tentu aja harus kurahasiakan Tante. Percaya deh, mulutku bukan ember bocor,” sahutku sambil tetap anteng menggerayangi serambi lempit Tante Neni, karena belum bisa tancap gas di atas jalan yang berlubang – lubang penuh lumpur ini.
Namun tak lama kemudian mobilku sudah dekat dengan jalan aspal yang mulus. Tante Neni pun tgahu itu. Lalu ia menjauhkan tanganku dari serambi lempitnya. Kemudian ditariknya celana dalamnya ke tempat semula. Tapi gaunnya masih tersingkap sampai perutnya. Sehingga paha gempal dan putih mulusnya seolah dipamerkan padaku.
Di dalam hati, aku berkata, untung tadi pagi aku gak menyetubuhi Umi dan Adelita lagi. Sehingga aku punya power sekarang, buat menyetubuhi tanteku yang tinggi montok ini. Bahkan mungkin aku mampu menyetubuhinya dua atau tiga set nanti. Pokoknya aku akan menyetubuhinya sepuasku, seperti yang dia katakan tadi.
Tak lama kemudian mobilku sudah menginjak jalan aspal. Sehingga aku bisa melarikan mobilku dengan kecepatan tinggi. Tapi aku tidak mau ngebut, karena takut SIM internasionalku dicabut oleh polisi.
Begitu mobilku berada di atas jalan aspal, Tante Neni berkata, “Dari sini rumah tante hanya duapuluhdua kilometer Don. Kalau jalanan sepi gini sih gak sampai setengah jam juga nyampe.”
“Iya Tante. Aku udah gak sabar nih. Pengen merasakan indahnya menggumuli Tante yang seksi abis gitu.”
“Tante juga udah horny Don. Udah kebayang digumulin sama cowok tampan dan masih sangat muda seperti Donny. rudalnya gagah pula… ya gede ya panjang… hmmm kebayang…”
Meski sedang melarikan mobil dalam kecepatan yang lumayan tinggi, aku masih sempat menggerfakkan tangan kiriku yang nganggur (karena mobilku matic), untuk merayapi poaha Tante Neni yang dipamerkan terus itu. Terasa padat sintal paha Tante Neni ini.
Namun pada suatu saat Tante Neni menepiskan tangan kiriku, lalu menurunkan kembali gaun hitamnya, untuk menutupi sepasang kakinya yang indah dan membangkitkan nafsu birahiku itu.
“Rumah tante sudah dekat Don,” kata Tante Neni, “Setelah billboard reklame itu cuma dua rumah lagi… rumah tante yang ketiga setelah reklame susu murni itu.”
Mendengar ucpaan Tante Neni itu kupelankan kecepatan mobilku. Papan reklame itu pun sudah terlewat. Kemudian Tante Neni menyuruhku membelokkan mobil ke pekarangan rumah yang tidak terlalu besar, tapi tampak artistik bentuknya, dengan gaya yang sedang ngetrend di masa kini, gaya minimalis.
Mobilku bisa dimasukkan ke pekarangannya, lalu kuhentikan di depan pavilyun seperti yang disarankan oleh Tante Neni.
Tante Neni turun duluan, lalu membuka kunci pavilyun itu sambil melambaikan tangannya padaku.
Aku pun turun dari mobil, lalu masuk ke dalam pavilyun seperti yang diminta oleh Tante Neni.
Lalu Tante Neni berkata, “Lihat ya… itu kan ada pintu. Nah… pintu itu sebenarnya menuju ke kamar tante. Nanti tante buka pintu itu dari sana. Donny masuk aja ke kamar tante kalau pintunya sudah dibuka. Kita harus agak rahasia – rahasiaan. Takut si bibi tau, entar nafsu pula setelah melihat tante bawa cowok setampan ini.
Aku cuma mengangguk – angguk sambil tersenyum.
“Tunggu sebentar ya, tante mau masuk ke rumah dulu,” kata Tante Neni sambil melangkah ke luar lagi, ke depan mobilku. Lalu kututupkan pintu pavilyun dari dalam, sekaligus menguncikannya, sambil menunggu pintu menuju kamar Tante Neni itu dibuka.
Tak lama kemudian pintu itu dibuka oleh Tante Neni dan menyuruhku masuk ke kamarnya lewat pintu itu.
“Nanti malam tidur di sini aja ya. Biar bisa abis -abisan sama tante nanti malam,” kata Tante Neni sambil melepaskan gaunnya, lalu menggantinya dengan kimono berwarna orange.
“Boleh, “aku mengangguk.
“Nah… kalau begitu tante akan mengijinkan si bibi pulang sekarang. Karena nanti malam tante ada yang jagain… keponakan yang tampan ini,” ucapnya sambil mengecup pipiku.
Agak lama Tante Neni meninggalkanku. Sayup – sayup kudengar suara Tante Neni berbicara dengan seorang wanita. Pasti itu suara pembantunya.
Aku pun duduk di sofa berwarna coklat tua, sebagai satu – satu nya sofa yang berada di dalam kamar Tante Neni ini.
Akhirnya Tante Neni muncul dan menghampiriku, “Sekarang aman sudah. Dia sudah pulang ke kampungnya. Besok sore baru kembali lagi ke sini,” kata Tante Neni.
“Kenapa Tante seperti takut benar sama pembantu?” tanyaku.
Tante Neni menjawab, “Bukan takut. Tante hanya menghindari tersebarnya gossip mengenai diri tante. Soalnya si bibi itu paling suka nyebar gosip yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Sedangkan tante di daerah ini terkenal sebagai wanita yang baik dan disegani.”
“Owh begitu ya. Aku juga menganggap Tante sebagai wanita baik dan… menggiurkan,” sahutku sambil berdiri dan merangkul pinggang Tante Neni ke dalam dekapanku.
Tante Neni tersenyum dengan wajah cantiknya yang dekat sekali dengan wajahku. Lalu semakin dekat, sehingga pori – pori kulit wajahnya kelihatan jelas di mataku. Dan akhirnya tiada batas lagi ketika ia memagut bibirku ke dalam ciuman dan lumatan hangatnya…!
Cukup lama Tante Neni melumat bibirku, sampai akhirnya ia menarik badanku menuju bed lebarnya. Di situlah ia melepaskan kimono, bra dan celana dalamnya. Lalu menelungkup di atas bed, seolah ingin memamerkan betapa gedenya bokong tanteku itu.
Aku pun menghampirinya, lalu menepuk – nepuh kedua buah pantatnya yang gede itu sambil berkata, “Pantat Tante gede banget.”
Yang cuma dijawab dengan ketawa centil tanteku itu. Sementara aku berpikirf, Tante Neni berbokong gede banget gitu, pasti enak kalau kuentot dengan posisi doggy…!
Tapi Tante Neni lalu menelentang di atas bed sambil mengusap – usap serambi lempit tembem itu dengan tangan kanannya dan meremas – remas toket dengan tangan kirinya, dengan senyum yang sangat menggoda.
“Tante nggak percaya kalau kamu belum pengalaman dalam soal perempuan. Bahkan mungkin kamu sudah lebih berpengalaman daripada tante, karena duitmu yang berlimpah ruah, membuatmu bisa melakukan apa saja,” kata Tante Neni ketika aku sedang melepaskan baju kaus, celana jeans dan celana dalamku.
“Pokoknya yang terpenting bisa merasakan serambi lempit tembem yang sangat indah dan menggiurkan ini,” kataku sambil menepuk – nepuk serambi lempit Tante Neni.
Tante Neni pun merentangkan kedua paha putih gempalnya, seolah memberitahu bahwa ia ingin serambi lempitnya kujilati.
Dan memang mulutku langsung menyeruduk serambi lempitnya tanpa banyak basa – basi lagi. Lalu menjilati mulut serambi lempitnya yang agak ternganga karena kedua pahanya dipentang lebar sekali. sementara jemari tangan kiriku langsung menggesek – gesek kelentitnya yang lebih kecil daripada itil Umi Faizah.
“Oooo… ooooooh… dari cara menjilati serambi lempit aja udah keliatan… kamu udah pandai mengoral serambi lempit Don… ooooohhhh… luar biasa enaknya… elus terus itil tante Don… oooooohhhh… enak sekali… Dooonny…”
Dalam tempo singkat saja liang serambi lempit Tante Neni terasa sudah basah sekali. Sehingga aku pun tak mau mengulur waktu lagi.
Aku merayap ke atas perutnya yang kempes, meski tubuhnya montok. Lalu kuletakkan moncong rudalku yang lalu dipegangi pula oleh Tante Neni, untuk menempatkan pada “sasaran tembak” yang tepat.
Lalu dengan sekuat tenaga kudorong rudalku… dan… blessss… terbenam amblas ke dalam liang serambi lempit yang empuk dan hangat ini…!
Tante Neni menyambutku dengan merengkuh leherku ke dalam pelukan hangatnya, sambil berkata setengah berbisik, “rudalmu gede banget Don… pasti mantep digenjot sama rudal segede dan sepanjang ini sih. Ayo entot sepuasmu Don… mau sepuluh set juga ta ladeni. Hihihiiiii…”
Sambil mulai memenyetubuhinya, kusahut, “Wow… ternyata serambi lempit Tante legit begini ya?”
“Legit? Emangnya dodol?!”
“Heheheee… serambi lempit Tante sih jauh lebih enak daripada dodol,” sahutku yang kulanjutkan dengan menjilati leher Tante Neni disertai dengan gigitan – gigitan kecil, sementara entotanku mulai kugencarkan.
“rudalmu juga luar biasa enaknya Don,” ucap tante Neni, “Ooooh… Dooon… kalau begini sih tante pasti ketagihan sama kamu nanti.”
“Gampang Tante… kalau kangen sama aku tinggal call aja nanti… duuuh… serambi lempit tante ini enak banget…” ucapku terengah sambil meremas toket gedenya Tante Neni. Dan… diam – diam aku membuktikan suatu reaksi… bahwa setiap kali kusentuh ketiaknya, Tante neni mengejut – ngejut. Mungkin ketiak Tante Neni ini termasuk sangat peka baginya.
Dan aku paling suka mengeksplore bagian peka di tubuh pasangan seksualku. Maka ketika entotanku mulai gencar, kujilati ketiak kiri Tante Neni sambil meremas toket kanannya.
Benar saja. Ternyata ketiak Tante Neni merupakan bagian yang sangat peka di tubuhnya. Begitu aku menjilati ketiaknya, Tante Neni langsung menggeliat – geliat sambvil berdesah dan merintih erotis, “Ooooo… oooo… oooooohhhhh… Dooooon… oooooooh… ini luar biasa enaknya Doooon… entoooot teruuuusssss…
Tante Neni gedebak gedebuk terus sambil mencengkram sepasang bahuku kuat – kuat, seolah mau meremukkan tulang – tulangnya.
Terlebih setelah kedua tanganku sibuk meremas – remas dan mempermainkan pentil toket gedenya… bahkan terkadang kutepuk – tepuk toket yang lebih gede daripada buah pepaya itu.
Di saat lain kugigit – gigit ketiak tanteku yang memang menggiurkan ini. Terkadang juga kujilati dan kusedot – sedot ketiak yang mulai membasah dan memancarkan aroma yang merangsang nafsuku ini.
Namun pada suatu saat Tante Neni berkelojot – kelojot sambil memejamkan matanya erat – erat. Hmmm… pasti dia mau orgasme. Maka kupercepat entotanku sambil merfemas – remas toket gedenya sekuatku. Tante Neni tak peduli dengan remasanku di toketnya. Ia bahkan serambi lempitik lirih, “Dooooonnnnniiii…
Tante Neni menggelepar, lalu mengejang tegang… tegang sekali. Lalu terasa liang serambi lempitnya berkejut – kejut indah… membuatku ingin menikmatinya dengan mendiamkan batang kemaluanku tertanam di dalam liang serambi lempit yang empuk tapi legit ini.
“Aaaaaaaaaahhhhhhh… “akhirnya Tante Neni menghembuskan nafasnya yang tertahan selkama beberapa detik itu.
“Kenapa tante? Sudah orgasme ya?”
Tante Neni merangkul leherku ke dalam pelukannya. Lalu menyahut, “Iya Sayaaaang… luar biasa nikmatnya… terima kasih yaaa… “disusul dengan ciuman ketatnya di bibirku “… mwuuuuuaaaaah… !”
Aku tunggu beberapa detik, sampai muka pucat Tante Neni berdarah lagi.
Lalu aku melanjutkannya dengan entotan perlahan. Terasa liang serambi lempit Tante Neni jadi becek. Tapi itu adalah becek sehabis orgasme. Dan aku suka serambi lempit yangf bcek paska orgasme begini. Karena aku merasa telah memperoleh kemenangan, bisa membuat Tante Neni orgasme dan serambi lempitnya menjadi becek.
Tante Neni pun menyadari hal ini. Ia bertanya setengah berbisik, “Becek ya Don? Mau dikeringkan dulu serambi lempitnya biar jangan becek?”
“Iiiih… jangan Tante. Aku malah seneng menyetubuhi serambi lempit yang sudah becek setelah orgasme gini… biarin aja…” sahutku terengah, karena sudah mulai mempercepat entotanku…
Café itu sudah mulai dibuka. Di hari grand opening saja café itu tampak ramai sekali. Bunda dan Donna jadi sibuk mengelola café itu. Dengan penuh semangat kelihatannya. Dan aku senang menyaksikan semuanya itu.
Namun ketika Bunda dan Donna sedang sibuk – sibuknya, aku teringat seseorang yang seolah terabaikan olehku. Anak Tante Ratih yang bernama Imey itu. Aku ingin mengajaknya pergi ke suatu tempat yang sepi dan nyaman.
Tapi apakah aku sudah bertekad mau menikahinya?
Tidak.
Setelah dipikir – pikir, aku akan menunda segala rencana pernikahanku. Karena usiaku pun baru akan menginjak 21 tahun. Aku bisa saja menyetubuhi cewek mana pun. Tapi untuk menikah secara resmi, nanti dulu. Mungkin kalau usiaku sudah benar – benar dewasa, barulah aku akan menikah secara resmi.
Lagian kalau pun aku harus menikah nanti, aku tak mau menikah dengan cewek yang masih ada hubungan keluarga denganku. Kalau menikah dengan familiku sendiri, akan terkesan bahwa aku sudah tidak laku lagi, sehingga harus menikah dengan familiku sendiri. Baik Adelita mau pun Imey kan masih famili dekat denganku.
Kalaulah mereka ingin kecipratan hartaku, baik… akan kulimpahi mereka dengan harta. Tapi jangan ingin menikah secara sah denganku. Karena calon istriku haruslah cewek yang tiada hubungan darah denganku. Bahkan menurut teori, perkawinan antar famili dekat itu punya resiko akan melahirkan anak yang cacat.
Selain daripada itu, aku punya rencana lain yang masih kusimpan di dalam hatiku. Bahwa aku ingin agar Donna menikah duluan, barulah aku akan menikah belakangan.
Lalu bagaimana dengan Adelita?
Aku akan menempatkannya di perusahaanku dan meningkatkan taraf kehidupannya. Tapi soal menikah, harus kupikirkan dulu matang – matang.
Lalu bagaimana dengan anak Tante Ratih yang sudah “ditawarkan” untuk dijadikan istriku itu?
Inilah anehnya. Bahwa ketika aku sudah merencanakan untuk mengajak Imey jalan – jalan ke tempat yang tenhang dan romantis, tiba – tiba handphoneku berdering.
Kulihat yang call nomor yang tidak kukenal. Biasanya aku tak pernah mengangkat nomor yang tidak kukenal, karena di zaman sekarang ada saja yang diam – diam mau menipu lewat hape. Tapi kali ini kuangkat juga call itu.
“Hallo…”
“Hallo… ini Donny kan?”
“Iya. Ini dengan siapa ya?”
“Aku Gandhi Don…!”
“Gandhi Bangkok?”
“Iya.”
“Kok kamu pakai nomor Indonesia?”
“Aku memang sedang berada di kotamu Don.”
“Ohya?! Di mana? Di hotel?”
“Bukan. Aku kan punya tante di kota ini. Adikku juga tinggal di rumah tanteku ini, karena dia kuliah di kota ini.”
“Ya udah… kirimkan aja alamat lengkapnya. Aku segera meluncur ke sana.”
“Oke… !”
Lalu alamat lengkap rumah yang ditumpangi oleh Gandhi itu dismskan.
Ini benar – benar kejutan. Bahwa sahabatku dari Bangkok tiba – tiba berada di kota ini.
Gandhi memang sahabat baikku sejak kecil. Karena orang tuanya pun tinggal dan punya usaha di Bangkok. Sebagai sesama orang Indonesia, aku dan Gandhi lalu menjadi sahabat, meski kuliahnya beda universitas denganku.
Tak lama kemudian aku sudah berada di dalam mobilku yang telah menginjak jalan aspal, menuju alamat rumah yang dismskan oleh Gandhi.
Sekarang aku sudah mulai hafal jalan – jalan di kota ini, karena sering berkeliling dan menghafalkan jalan – jalannya. Memang terdengar aneh juga bahwa aku di usia yang hampir 21 tahun ini baru hafal jalan di kota kelahiranku ini. Maklum sejak bayi sampai dewasa aku tinggal di Bangkok, sehingga aku merasa asing di kota kelahiranku sendiri.
Alamat yang tercantum di sms dari Gandhi itu ternyata sebuah rumah yang cukup megah. Aku pun turun dari mobil, menghampiri seporang wanita setengah baya yang tengah menyirami pot – pot bunga di pekarangan rumahnya. Melihat dari housecoat yang dikenakannya, aku yakin wanita itu bukan pembantu. Karena bahan housecoatnya pun terlihat mahal.
Maka dengan sopan aku berkata dari belakangnya, “Selamat sore Bu.”
Wanita itu tampak agak kaget. Menoleh padaku dan menyahut, “Sore… ooooh… ini sahabat Gandhi yang dari Bangkok ya?”
“Betul Bu. Saya Donny, sahabat Gandhi di Bangkok. Tapi sekarang sudah jadi orang sini,” sahutku sambil menjabat tangan wanita separoh baya yang cantik itu.
“Iya, iya… ayo masuk Don,” ucap wanita itu ramah sambil mendahuluiku melangkah ke dalam rumah megahnya.
Di dalam rumahnya wanita itu berseru, “Gandhi…! Ini temanmu datang…!”
Terdengar sahutan Gandhi dari lantai atas, “Iya Tante… !”
Kemudian terdengar bunyi langkah dari lantai atas menuju tangga dan muncullah Gandhi, sahabat karibku. “Hahahahaaa…! Akhirnya kita ketemu lagi di sini ya?” sambutnya sambil menghambur ke dalam pelukanku. Disusul dengan tepukan – tepukan Gandhi di punggungku.
Kemudian Gandhi mengajakku duduk di ruang tamu. “Tante Sin… ini sahabat karibku yang dari Bangkok tapi kelahiran kota ini.”
Wanita yang dipanggil Tante Sin itu tersenyum dan menyahut, “Iya barusan sudah berkenalan sama tante.”
Kemudian wanita itu masuk ke dalam.
“Dalam rangka apa kamu ke Indonesia Dhi?” tanyaku setelah duduk di sofa ruang tamu.
“Nengok adikku. Sekalian ingin jalan – jalan aja di kota kelahiranmu ini.”
“Kamu kelahiran Semarang kan?”
“Iya. Tapi sama seperti kamu, sejak kecil sudah dibawa ke Bangkok. Sementara adikku tinggal di sini,” sahut Gandhi yang dilanjutkan dengan bisikan, “tanteku kan gak punya anak. Makanya dia maksa ingin merawat dan membesarkan adikku.”
“Ogitu…”
“Nah… itu adikku, baru pulang kuliah,” kata Gandhi sambil menunjuk ke luar. Di mana seorang gadis tampak berjalan di teras depan dan masuk ke dalam.
“Tri… sini… ini sahabatku yang sama – sama tinggal di Bangkok,” kata Gandhi kepada adiknya.
Gadis itu menghampiri Gandhi, lalu menoleh padaku.
Oooo… maaaak! Cantik sekali adik Gandhi itu…!
Memang seperti pepatah China, setinggi – tingginya gunung, pasti ada gunung lain yang lebih tinggi. Kalau kusinonimkan, secantik – cantiknya perempuan pasti ada yang lebih cantik lagi. Ya… tadinya aku merasa Adelita dan Imey sebagai cewek tercantik di mataku. Ternyata adik Gandhi itu… lebih cantik lagi…
Ketika ia berjabatan tangan denganku, adik Gandhi itu menyebutkan namanya, “Gayatri…”
Ooo, pantesan dipanggil Tri… rupanya nama adik Gandhi itu Gayatri.
“Nama ayahku kan Gunadi,” kata Gandhi, “karena itu anak – anaknya berawal dengan hurup G semua. Gandhi, Gayatri dan Galia.”
“Ooo, begitu ya?” sahutku sambil menoleh ke arah Gayatri, “Sudah semester berapa kuliahnya?”
“Baru semester dua Bang,” sahut gayatri dengan senyum manis. Hmm… gak nyangka Gandhi punya adik secantik dan seimut itu. Ramah dan murah senyum pula.
Lalu otakku menghitung dengan cepat. Dan mengambil kesimpulan bahwa usia Gayatri itu delapanbelas tahunan. Otakku pun cepat mengatur rencana. Bahwa seandainya Gayatri bisa kujadikan pacarku, maka Donna akan kujodohkan dengan Gandhi. Hahaha… belum apa – apa sudah punya niat “barter” segala.
Lalu kami bertiga ngobrol ke barat ke timur, sampai akhirnya Gayatri berkata kepada abangnya, “Mas Gandhi… kita nonton yuk. Ada film yang lagi ngetop tuh.”
“Boleh, “Gandhi mengangguk, “Gimana Don? Kamu mau kan nonton bioskop? Mumpung kita masih sama – sama di Indonesia.”
“Ayo…” sahutku sambil mengangguk.
“Kalau gitu, aku mau mandi dulu ya Mas,” kata Gayatri kepada Gandhi.
“Iya. Tapi mandinya jangan pake lama.”
“Nggak lah… eeeh… Tante Sin mau diajak juga?” tanya Gayatri kepada kakaknya.
“Nggak usah lah. Kita bertiga aja. Acara anak muda…”
Beberapa saat kemudian, aku dan Gandhi bersama adiknya sudah berada di dalam mobilku menuju mall yang ada gedung teaternya, yang pernah dimasuki olehku bersama Donna waktu aku baru tiba di kota ini dahulu.
Dari dalam gedung teater inilah aku merasa mulai melangkah di alam baru. Bahwa Gayatri duduk diapit oleh Gandhi di sebelah kirinya, sementara aku di sebelah kanannya. Ketika lampu sudah dipadamkan, tangan kiriku memberanikan diri memegang tangan kanan Gayatri. Mudah – mudahan saja dia tidak menepiskan peganganku.
Ternyata… Gayatri malah meremas tanganku dengan hangat dan lembut. Bahkan ketika remasan tangannya terhenti, aku menjauhkan tanganku dari tangannya. Tapi justru Gayatri yang menarik tanganku pada tempat semula, pada tangan kursi yang kami duduki. Lalu… ia meremas tanganku lagi di kegelapan gedung yang sedang memutar film ini.
Akibatnya, sedikit pun aku tak memperhatikan jalannya kisah di film yang sedang kami tonton kitu. Aku lebih memikirkan indahnya remasa tangan lembut dan hangat Gayatri ini.
Sampai film tamat, aku tidak mengerti apa yang barusan dipertunjukkan di layar putih itu. Lalu aku mengajak mereka makan malam di resto yang ada di dalam kompleks mall itu juga.
Di dalam resto itu, setiap kali aku menatap Gayatri, ia menanggapinya dengan senyum tersipu – sipu.
Dan kebetulan Gandhi mau ke toilet dulu, sehingga aku punya kesempatan untuk mengatakannya, “Tri… sudah punya pacar belum?”
“Belum, “Gayatri menggeleng.
“Kalau begitu aku mau jujur ya… aku suka kamu Tri. Mungkin terlalu cepat aku mengatakannya. Tapi aku takut keduluan sama cowok lain.”
“Jadi ceritanya love at first sight nih?” tanya Gayatri dengan senyum manisnya lagi.
“Iya,” sahutku, “Bisa dijawab sebelum Gandhi keluar dari toilet?”
Gayatri tertunduk sejenak. Lalu menyahut tenang, “Kalau untuk hubungan serius, aku mau. Tapi kalau sekadar pacar – pacaran aja sih gak mau.”
“Tentu saja aku serius Tri. Jujur… belum pernah aku seperti ini. Langsung jatuh hati pada pandangan pertama.”
“Memangnya Bang Donny belum punya pacar?” tanyanya.
“Kalau sudah punya, tentu aku takkan nembak kamu Tri.”
Gayatri tersenyum lagi. Membuat hatiku berbunga – bunga lagi.
“Oke… oke. Jadi sekarang kita jadian ya,” ucapku sambil memegang tangan Gayatri.
Adik Gandhi itu menatapku dengan senyum manis lagi. Lalu mengangguk perlahan.
Tak lama kemudian Gandhi muncul lagi, hampir bersamaan dengan datangnya para waiters yang akan menghidangkan makanan pesanan kami.
“Jadi mau berapa lama kamu tinggal di Indonesia, Dhi?” tanyaku ketika waiters tengah meletakkan makanan pesanan kami di atas meja makan.
Gandhi menjawab, “Sekarang kan hari Selasa ya. Hari Kamis juga aku akan pulang lagi ke Bangkok.”
“Sudah beli tiket pesawatnya?”
“Belum. Besok aja,” sahut Gandhi.
Lalu kukeluarkan uang dollar Amerika pecahan 100 USD dua puluh lembar. Kuberikan semuanya kepada Gandhi sambil berkata, “Ini untuk nambah – nambah beli tiket.”
“Wow… ini sih dipakai buat tiket pulang pergi juga masih banyak lebihnya Don. Thanks ya.”
“Sama – sama. Aku juga bulan dep[an mau ke Bangkok. Mau nengok rumah dan para karyawan yang ditinggalkan.”
“Ajak tuh Gayatri sekalian.”
“Kalau dia mau… boleh aja. Sudah sering ke Bangkok kan?” tanyaku kepada gayatri.
“Baru tiga kali. Aku sih ingin ke Singapore,” sahut Gayatri.
“Pulang dari Bangkok pasti aku mampir di Singapore dulu, karena ada perusahaan juga di sana,” sahutku.
“Donny sih perusahaannya di mana – mana Tri,” kata Gandhi kepada adiknya, “Di Thailand ada, di Singapore juga ada.”
“Yang di Thailand sudah dijual semua Dhi,” timpalku, “Tinggal rumah danb gallery aja yang tidak dijual.”
“Di Singapore ada berapa perusahaan?” tanya Gandhi.
“Hanya dua. Kan yang lain – lainnya sengaja kujual, untuk hijrah ke sini. Ke kota kelahiranku ini,” sahutku.
Lalu kami makan bersama.
Pada saat itu Gayatri duduk berdampingan dengan Gandhi. Sementara aku duduk di depan mereka, terbatas oleh meja restoran. Pada waktu makan itulah Gayatri berkali – kali menatapku dengan senyum manisnya yang seolah memancarkan cahaya gemilang dari sepasang bibirnya. Dan aku jadi salah tingkah, karena masih takut – takut kelihatan oleh Gandhi.
Pada waktu makan bersama itulah Gandhi berkata kepada adiknya, “Donny itu sahabat karibku di Bangkok. Tapi jangan samakan dia denganku. Dia itu pebisnis kelas internasional, sementara aku masih anak kuliahan semata.”
Aku jadi salah tingkah juga mendengar Gandhi mempromosikan diriku. Maka kataku, “Gak usah terlalu berlebihanlah menyanjung diriku Dhi.”
“Kenyataannya memang begitu kok. Hahahaaaa. Donny memang selalu merendah Tri. Dia tak pernah pamer kepada siapa pun. Tapi aku tau benar siapa dia, karena dia itu sahabat karibku.”
Gayatri hanya mengangguk – angguk sambil tersenyum.
“Gandhi… aku mau terus terang padamu ya,” kataku.
“Terus terang tentang masalah apa?”
“Mmm… aku sudah janjian sama Gayatri.”
“Ha?! Kapan jadiannya? “Gandhi terbelalak seperti kaget dan heran.
“Barusan, ketika kamu sedang di toilet.”
“Bener Tri?” Gandhi menoleh kepada adiknya.
Gayatri mengangguk sambil tersenyum..
“Syukurlah, “Gandhi mengelus – elus rambut adiknya. lalu menoleh padaku, “Kamu bisa bikin serangan kilat begitu Don?! Ditinggal ke toilet sebentar saja tau – tau sudah jadian sama adikku.”
“Memang sengaja, aku nembak Gayatri di belakangmu. Supaya Gayatri menerimaku dengan hati yang tulus. Kalau di depanmu, bisa timbul kesan dipaksa olehmu untuk menerimaku.”
“Ooo, aku gak pernah maksa adikku. Apalagi dalam masalah pribadi begitu. Aku sih berusaha demokratis saja. Kecuali kalau adikku berada di dalam bahaya, baru aku akan melindunginya.”
“Jadi kamu sudah merestui hubunganku dengan Gayatri?” tanyaku.
“Iya… aku merestui kalian berdua. Aku malah merasa bebanku jadi berkurang. Karena aku bisa menitipkan adikku padamu. Menitipkan dalam segalanya.”
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
Dua hari kemudian, aku dan Gayatri mengantarkan Gandhi ke Bandara Soetta. Dan menunggu sampai Gandhi masuk ke pintu keberangkatan internasional.
Di dalam mobilku, waktu pergi ke bandara, Gayatri duduk di belakang. Gandhi duduk di sampingku. Pada waktu meninggalkan bandara, Gayatri duduk di sampingku. Hanya berdua saja dengannya.
Inilah detik – detik yang menyenangkan bagiku. Detik – detik yang membuat batinku berbunga – bunga. Terlebih setelah berada di jalan tol, Gayatri mulai menyandarkan kepalanya ke bahu kiriku. Sehingga dunia ini seolah milik kami berdua saja.
Biasanya kalau sudah dekat dengan cewek begini, otakku langsung ngeres. Berpikir ke arah seksual. Membayangkan seperti apa cewek itu kalau sudah kutelanjangi.
Tapi kali ini tidak. Dengan duduknya Gayatri di sampingku saja, aku sudah merasa bahagia. Tanpa memikirkan masalah seks sedikit pun.
Terlebih ketika Gayatri mencium pipiku pada saat aku sedang konsen mengemudikan mobilku. Pada saat itulah kupinggirkan mobilku sampai di bahu jalan, menyalakan lampu hazard dan menghentikannya. Hanya untuk mencium bibir Gayatri untuk pertama kalinya…!
Lalu aku berkata sambil meremas tangan halus dan hangatnya, “Aku bahagia sekali Tri. Karena aku telah menemukan cewek yang kucari selama ini.”
“Sama Bang,” sahutnya perlahan, “aku juga merasa bahagia karena telah menjadi cewek Bang Donny.”
Tak lama kemudian aku pun mulai menjalankan lagi mobilku.
“Kita cari makan dulu di kota ya. Perutku lapar,” kataku.
“Hihihi… iya Bang. Aku juga lapar.”
“Gayatri mau makan apa sekarang?”
“Aku sih gak fanatik sama makanan Bang. Mau masaskan Jawa boleh, masakan Padang boleh. Chinese food juga boleh, asalkan yang halal.”
“Ohya Tri… kalau dilihat dari wajah, kulit dan postur, kamu kelihatan kebule – bulean gitu. Apakah ada turunan bule?”
“Mamaku memang campuran Indo dengan Belgia Bang.”
“Ohya? Pantesan kamu cantik sekali Tri,” kataku.
“Di mana – mana juga cewek sih cantik. Gak mungkin ganteng kan?”
“Tapi jujur aja, kamu adalah cewek tercantik di antara cewek – cewek yang pernah kukenal. Ohya… berarti Gandhi juga ada turunan Indo-Belgia? Kok Gandhi gak kelihatan unsur bulenya?”
“Mas Gandhi itu kakak seayah beda ibu Bang. Ibu Mas Gandhi meninggal beberapa saat setelah melahirkan Mas Gandhi. Kemudian Papa menikah lagi dengan mamaku. Punya anak lagi, aku dan Galia, adikku.”
“Ooo… begitu. Aku sering main dengan Gandhi di Bangkok. Tapi aku belum pernah ketemu sama papa dan mamamu Tri.”
“Nanti kalau aku ikut ke Bangkok, pasti Bang Donny ketemu dengan Papa dan Mama.”
“Kalau Tante Sin itu keluarga dari papamu atau mamamu?”
“Tante Sin itu adik kandung Mama.”
“Berarti dia Indo Belgia juga kan?”
“Iya Bang. Kasian Tante Sin itu. Tidak punya anak, makanya dia maksa agar aku tinggal bersamanya sejak kecil. “Dan aku diperlakukan dengan sangat baik olehnya. Seperti perlakuan ibu kepada anak kandungnya saja.”
“Suaminya ke mana?”
“Suaminya meninggal dunia dua tahun yang lalu. Sudah tua sih. Tapi kaya raya.”
Tak lama kemudian aku membelokkan mobilku ke pekarangan sebuah rumah makan tradisional Jawa. Untuk menyesuaikan dengan Gayatri yang ada darah Jawa dari papanya.
Kemudian kami makan siang di rumah makan itu.
Setelah selesai makan, kubawa Gayatri ke sebuah toko perhiasan yang sangat terkenal di Jakarta. Di situlah kubelikan cincin emas putih bertatahkan berlian berbentuk icon love.
Setelah ada yang ngepas di jari manis Gayatri, aku berkata, “Ini adalah tanda keseriusanku padamu, Sayang.”
Gayatri tersipu dan menyahut, “Terima kasih Bang… cincinnya mahal sekali. Lebih mahal dari harga mobil…”
“Dirimu jauh lebih mahal lagi di hatiku. Aku bahkan merasa dirimu adalah sosok yang paling berharga di dalam hatiku, Beib…”
“Aku juga sangat mencintai Bang Donny,” sahut Gayatri yang disusul dengan kecupan mesranya di bibirku. Tanpa mempedulikan bahwa saat itu kami sedang berada di dalam toko perhiasan.
Begitulah… aku menganggap hubunganku dengan Gayatri merupakan hubungan yang positif. Tanpa mengumbar nafsu birahi. Dan aku cukup bahagia dengan hanya melihat wajah cantiknya. Kemudian memegang tangan halus dan hangatnya. Disusul dengan kecupan mesra di bibir tipis merekahnya.
Mungkin inilah yang disebut cinta sejati. Cinta tanpa dikuasai nafsu sex.
Dan aku bertekad, hanya akan melakukan semuanya di malam pertama pernikahanku dengannya kelak.
Tapi benarkah aku sudah “sesuci” itu, sehingga aku seolah tak peduli lagi pada masalah sex?
Hahahaaa… tidak juga.
Setelah mengantarkan Gayatri ke rumahnya, aku langsung pulang ke rumah Bunda ketika jam tanganku sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Café sudah tutup. Bunda pun tampak baru pulang.
“Mana Donna Bun?” tanyaku.
“Sudah tidur,” sahut Bunda, “Kecapean dia. Tadi banyak sekali yang makan di café kita.”
Lalu kupeluk Bunda dari belakang sambil berbisik, “Bunda kecapean juga?”
“Ya begitulah,” sahut Bunda.
“Padahal aku kangen sama serambi lempit Bunda…” bisikku.
“Hihihi… sama dong, bunda juga kangen. Tapi Bunda mau mandi dulu ya.”
“Aku juga mau mandi. Ini baru pulang dari Jakarta Bun. Abis nganterin teman dari Bangkok ke Bandara Soetta. Mandi bareng aja ya.”
Bunda menarik pergelangan tanganku ke arah kamar mandi, “Ayolah mandi bareng sama bunda. Udah lama gak ngerasain disabunin sama kamu, Sayang.”
Di dalam kamar mandi Bunda langsung menelanjangi dirinya. Aku pun sama, melepaskan segala yang melekat di tubuhku. Lalu memeluk Bunda dari belakang, sambil berkata setengah berbisik, “Walau pun aku sudah punya istri kelak, hubungan rahasia kita harus tetap berjalan ya Bun.”
Bunda menyahut, “Iya. Kalau bunda sih jelas takkan mau kawin lai. Jadi satu – satu orang yang bisa meredakan godaan birahi bunda hanya kamu Sayang.”
Pada waktu memeluk Bunda dari belakang inilah tangan kananku mulai merayap ke bawah perut Bunda, sementara tangan kiriku naik ke arah toketnya.
“Terus rencana pernikahanmu dengan anak Oom Zulkifli itu kapan?” tanya Bunda.
“Takkan ada pernikahan dengan siapa pun yang ada hubungan famili dengan kita. Kalau sudah waktunya menikah, aku hanya mau menikah dengan cewek yang tidak ada hubungan darah dengan kita.”
“Ohya? Jadi Adelita mau dijadikan apa?”
“Jadikan simpanan aja sih boleh. Tapi nikah secara resmi aku gak mau Bun. Lagian umurku sekarang baru mau menginjak duapuluhsatu tahun. Nanti aja nikah sih sembilan atau sepuluh tahun lagi.”
“Mmm… sebenarnya bunda juga setuju kalau kamju tidak menikah dengan cewek yang ada hnubungan darah dengan kita. Kesannya seperti gak laku sama orang luar.”
“Lagian menurut para ahli, perkawinan dengan famili dekat itu tidak baik Bun. Bisa menghasilkan keturunan yang cacat.”
“Iya. Dulu bunda juga pernah baca masalah itu. Jadi, pasangan yang ada hubungan darahnya, bisa sama – sama muncul kekurangannya. Sehingga bisa menghasilkan anak yang memiliki kekurangan yang lebih dominan. Syukurlah kalau kamu sudah punya pendirian seperti itu.”
“Iya Bunda,” sahutku yang mulai asyik menyelusup – nyelusupkan jari tangan kananku ke dalam liang kewanitaan Bunda.
“Don…”
“Ya?”
“Udah lama juga kamu gak nyetubuhin bunda ya?”
“Perasaan sih seminggu yang lalu aku masih sempat menyetubuhi Bunda.”
“Oh iya ya. Seminggu serasa tujuh bulan Don.”
“Kalau Bunda ingin kuentot tiap hari, kitanya harus diam di tempat yang terpencil dari kesibukan dong.”
“Terus yang ngurusin café siapa? Tapi gak apa – apa deh seminggu sekali juga. Yang penting bunda dapet jatah darimu secara tyeratur. Karena nafsu bunda ini gede Don.”
Lalu keran shower utama diputar. Air hangat pun memancar dari atas kepala kami. Setelah kepala dan tubuh kami basah, shower dimatikan lagi. Karena kami akan gantian menyabuni. Awalnya Bunda yang menyabuni tubuhku. Kemudian aku yang menyabuni tubuh indah ibu kandungku yang cantik itu.
Pada waktu menyabuni Bunda ini, yang paling menyenangkan adalah waktu menyabuni serambi lempitnya yang tembem dan selalu bersih dari jembut ini. Bahkan tak dapat kupungkiri, bahwa setiap kali aku sedang menyabuni serambi lempit Bunda, pastilah batang kemaluanku langsung “hidup”. Membesar dan menegang.
Biasanya Bunda kurang suka diajak bersetubuh sambil berdiri di kamar mandi. Tapi kali ini beda dari biasanya. Ketika aku masih asyik menyabuni serambi lempitnya, Bunda memegang batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini. Lalu Bunda mundur sampai punggungnya merapat ke dinding. Lalu berkata, “Ayo masukin rudalmu Don…
Bunda menarik rudalku ke arah serambi lempitnya. Aku menurut saja, melingkarkan lenganku di leher Bunda, sementara Bunda sedang mengarah – arahkan moncong rudalku ke mulut serambi lempitnya.
Setelah mendapat isyarat dari Bunda, kudorong rudalku sekuatnya. Dan… blesssss… langsung melesak ke dalam liang serambi lempit Bunda yang sangat licin oleh air sabun yang belum dibilas itu.
Sebelum mengayun batang kemaluanku, masih sempat aku membisiki Bunda, “Mau nyobain rudal bule nggak Bun?”
“Haaa?! rudal bule?!”
“Iya. Aku punya teman bule dua orang. Dua – duanya ganteng Bun. Tampang mereka mirip aktor – aktor dari Hollywood deh.”
“Memang kamu sudah bosan sama Bunda, sampai mau ngajak orang bule segala buat menyetubuhi bunda?”
“Bukan gitu Bun. Jujur, aku merasa memperlakukan Bunda secara kurang adil. Aku kan sudah cus sana cus sini, sementara Bunda hanya digauli olehku saja seorang. Coba di rumah ini aja, aku bisa menyetubuhi dua orang. Bunda dan Donna. Sedangkan Bunda kan hanya disetubuhi olehku seorang. Gak adil kan?”
“Ah, sudahlah jangan berpikiran seperti kitu Don. Bunda sih digauli sama kamu seminggu sekali juga sudah puas.”
“Kali aja Bunda ingin mencoba dithreesome atau difoursome. Dientot sama dua orang pasti lebih puas daripada dientot oleh seorang doang Bun. Kebetulan teman – temanku yang bule itu pada seneng sama perempuan setengah baya.”
“Threesome kayak yang di film – film bokep itu?”
“Iya. Bahkan kalau Bunda mau, digangbang juga bisa.”
“Gangbang itu apa Don?”
“Diantre sama cowok lebih dari tiga orang.”
“Iiiihhh… dengernya juga merinding. Udah ah… jangan ngomong kitu lagi. Ayo entotin rudalmu… jangan direndem terus.”
Aku pun mulai memenyetubuhi Bunda sambil berdiri dan memeluk lehernya, sementara Bunda mendekap pinggangku erat – erat.
Namun gilanya, ketika aku sedang asyik – asyiknya memenyetubuhi Bunda sambil berdiri begini, aku malah membayangkan tengah memenyetubuhi Gayatri…!
Tidak! Itu bayangan yang keliru! Aku takkan mengganggu kehormatan Gayatri sebelum dia menjadi istriku yang sah. Dan itu masih lama… sampai Gayatri menggondol S1-nya baru akan menikahinya.
Sementara itu Bunda mulai meringis – ringis. Dan akhirnya berkata, “Lanjutin di atas tempat tidur aja yok. Sambil berdiri begini pegel kaki bunda, Don.”
“Tapi kita kan harus menyelesaikan mandi dulu Bun.”
“Iya,” sahut Bunda sambil memutar keran di warna merah (tanda untuk air panas).
Lalu kami sama – sama membilas tubuh kami sampai bersih dari busa sabun.
AHari demi hari pun berputar dengan cepatnya. Sampai pada suatu sore …
Sore itu aku menerima WA yang agak mengejutkan dari Gayatri. Isinya :- Bang Donny, maafkan aku ya. Aku mendadak harus berangkat ke Semarang karena kakak Papa sakit keras. Aku panik, jadi tidak sempat lagi ngasih tau dan minta ijin pada Bang Donny tercinta. Kalau ada waktu main ke rumah Bang. Kasian Tante Sin sendirian di rumah. Kalau ada teman ngobrol kan bisa hangat suasananya. Syukur – syukur kalau Bang Donny bisa nginep di rumah selama aku di Semarang. Doakan budeku sembuh ya Bang.
Aku sangat mencintaimu,
Gayatri –
Setelah mandi, aku pun berangkat ke rumah Tante Sin (yang kata Gayatri bernama Cynthia tapi lalu biasa dipanggil Sin saja oleh saudara – saudaranya).
Sebelum menuju rumah Tante Sin, aku menyempatkan dulu membeli oleh – oleh untuk tantenya Gayatri itu. Aku sudah mendengar dari Gayatri, bahwa Tante Sin hanya menyukai makanan yang asin – asin, tidak terlalu suka kue – kue yang manis. Karena itu kubelikan beberapa buah burger dan dua buah pizza. Barulah kemudian kutujukan mobilku ke arah rumah Tante Sin.
Hari sudah mulai gelap ketika mobilku berhenti tepat di depan rumah megah Tante Sin.
Pintu pagar besi pun terkunci. Untung ada bel di tiang tembok pintu besi itu. Kupijat tombol bel itu.
Tak lama kemudian pintu depan terbuka. Dan terdengar suara Tante Sin, “Siapa?”
“Donny Tante,” sahutku.
“Oooh… iya… iyaaa… sebentar yaaa…” sahut Tante Sin yang lalu muncul di pintju depan itu, kemudian melangkah ke pintu pagar sambil membawa serangkai anak kunci.
Lalu dibukanya kunci pintu pagar itu dan membukakan pintunya.
“Selamat malam Tante… sudah tidur?”
“Belum lah. Masa jam tujuh sudah tidur. Ayo masuk Don,” sahut Tante Sin yang saat itu mengenakan daster putih bersih namun kelihatan tipis sekali.
“Iya Tante. Sebentar… ada yang mau diambil dulu dari mobil,” kataku sambil balik lagi ke mobil, untuk mengeluarkan dua kantong plastik berisi beberapa burger dan dua kotak pizza. sumber Ngocoks.com
“Apa ini? Lho… kok repot – repot Don. Hihihiii… Donny tau aja tante suka makanan yang tidak manis begini. Terimakasih yaaa emwuaaaah…” ucap Tante Sin waktu kedua kantong plastik itu kuserahkan padanya, disusul dengan kecupan hangatnya di pipiku
“Kan Gayatri yang ngasih tau,” sahutku agak jengah. Karena kecupannya di pipiku barusan.
“Gayatri udah ngasih tau kalau dia ke Semarang kan?” tanya Tante Sin setelah mempersilakanku duduk di ruang tamu.
“Sudah Tante,” sahutku sambil duduk di sofa ruang tamu.
“Apa dia bilang?”
“Kakak papanya sakit keras. Aku disuruh nengokin Tante, kasian Tante sendirian di rumah, katanya.”
“Iya,” sahut Tante Sin sambil duduk di sampingku di atas sofa yang kududuki. Harum parfum pun tersiar ke penciumanku. Aneh memang… suasana di rumah ini jadi terasa lain bagiku. “Tidur aja di sini ya Don. Biar tante gak kesepian.”
“Iya Tante… Gayatri juga nyuruh aku tidur di sini sampai dia pulang dari Semarang nanti.”
“Baguslah, Gayatri selalu tau pikiran dan perasaan tante. Kalau gitu masukin aja mobilnya ke garasi Don. Biar aman.”
“Iya Tante.”
Aku sudah sering bertamu ke rumah Tante Sin ini. Tapi hanya sebatas duduk di ruang tamu bersama Gayatri. Baru sekali inilah aku masuk ke dalam garasinya. Baru pertama kali ini pula aku melihat sebuah sedan sport built up Jerman berwarna silver di dalam garasi. Ternyata selera Tante Sin tinggi juga rupanya.
Setelah memasukkan mobilku ke dalam garasi yang cukup luas itu, aku diajak duduk di ruang keluarga. “Mau minum kopi?” tanya Tante Sin.
“Boleh Tante.”
“Mau apa? Americano atau espresso?”
“Kalau boleh minta double espresso aja Tante. Wah, ada coffee maker juga rupanya.”
“Iya. Almarhum suami tante kan suka minum kopi, tapi gak mau kopi tubruk. Harus pakai coffee maker terus,” sahut Tante Sin sambil melangkah ke arah coffee maker yang terletak di sudut ruang keluarga.
Tak lama kemudian Tante Sin sudah menghampiriku lagi dengan secangkir espresso yang kuminta. “Ayo diminum… tante juga mau menikmati oleh – oleh Donny nih,” kata Tante Sin sambil mengeluarkan sebuah burger dari kantongnya. “Yang lainnya mau disimpan di kulkas, untuk dihangatkan besok pagi pakai microwave.
“Iya Tante,” sahutku sambil memperhatikan perabotan yang ada di ruang keluarga ini. Membuatku serasa diilhami, untuk memiliki rumah sendiri yang dibangun dari awal sekali, dengan bentuk minimalis seperti kebanyakan rumah masa kini di negara ini. Lalu furniture dan perabotan lainnya harus mengikuti perkembangan zaman, seperti perabotan di dalam rumah Tante Sin ini.
Setelah menghabiskan burgernya, Tante Sin memegang pergelangan tganganku sambil berkata, “Sini yuk…”
Aku pun berdiri dan mengikuti langkah Tante Sin, yang ternyata membawaku ke dalam kamarnya. Kamar yang serba cantik dan kekinian. Lalu Tante Sin menunjuk ke arah dua bed yang berdampingan di dalam kamar itu. Dan berkata sambil menunjuk ke arah salah satu bed, “Nanti Donny tidur di situ ya. Tante di bed yang satunya lagi.
“Nggak… apa – apa Tante? Maksudku… tidur sekamar de… dengan Tante?” tanyaku gagap.
“Nggak apa – apa. Gayatri juga suka tidur di situ, biar ada temen ngobrol menjelang tidur,” sahut Tante Sin dengan senyum yang beda dari biasanya. Senyum yang sangat menggoda.
Tapi aku malah takut. Takut akibatnya nanti.
Bersambung… Memang Tante Sin cantik. Tubuhnya pun nyaris sempurna. Tinggi tegap, dengan dada membusung (mungkin karena toketnya tergolong large), bokongnya pun gede. Tapi pinggangnya kecil, mungkin karena rajin merawat badannya dengan olahraga dan minum obat khusus untuk memelihara keindahan tubuhnya. Dan yang jelas, kulitnya putih sekali, maklum dia wanita Indo – Belgia. Kalau Tante Sin dibanding – bandingkan dengan Gayatri, mungkin Gayatri menang cantik dan jauh lebih muda. Tapi soal bentuk tubuh dan putihnya kulit, Tante Sin menang.
Lalu kami duduk di ruang keluarga lagi. Tante Sin pun duduk merapat di sebelah kiriku lagi. harum parfumnya berkesiweran di penciumanku. Membuatku bingung campur takut. Takut kalah salah jalan, lalu mengakibatkan rusaknya hubunganku dengan Gayatri. Masalahnya, mencari cewek secantik Gayatri itu susah sekali.
Memang aku tahu bahwa sejak aku sering bertamu ke rumah Tante Sin ini, aku sering melihat tatapan dan senyuman yang “menjurus” padaku. Tapi biasanya aku suka pura – pura tidak melihat apa – apa. Karena aku mendatangi rumah ini untuk Gayatri. Bukan untuk yang lain – lain.
“Donny serius sama Gayatri?” tanya wanita Indo – Belgia itu pada suatu saat.
“Sangat serius Tante.”
“Syukurlah. Gayatri itu sama sekali belum pernah pacaran lho.”
“Iya, dia bilang juga begitu.”
“Terus… sudah ngapain aja sama dia?”
“Ngapain gimana Tante?”
“Maksudnya, apakah hubungan kalian sudah melewati batas nggak?”
“Owh… gak pernah Tante. Paling juga sekadar kissing aja.”
“Baguslah. Tapi tante yakin, Donny terpaksa harus menindas perasaan ke sana kan?”
“Maksud Tante?”
“Kalau Donny cowok normal, pasti membayangkan nikmatnya ML sama Gayatri kan?”
“Aku normal tante. Tapi aku selalu mengusir pikiran sejauh itu.”
“Tapi kamu pasti tersiksa dengan menindas desir nafsumu kan?”
“Yaaa… begitulah Tante. Tapi demi kesucian cinta kami, aku fine – fine aja tuh.”
“Tante punya jalan agar kamu lebih fine lagi.”
“Maksud Tante?”
“Kalau kamu pacaran sama Gayatri, lalu nafsumu bergejolak… salurkan aja sama tante. Jadi misalnya kamu apel sama Gayatri malam hari, besoknya kalau Gayatri sedang kuliah, kamu datang aja ke sini. Biar tante redakan nafsu birahimu.”
“Hihihiii… solusinya kok aneh Tante?”
“Apanya yang aneh? Kamu tentu butuh penyaluran. Sementara tante juga sudah bertahun – tahun tidak disentuh lelaki. Kalau kamu bukan cowok munafik, kamu harus mengakui bahwa saat ini kita saling membutuhkan toh?”
“Tapi aku taku Tante…”
“Takut apa?”
“Takut hubunganku dengan Gayatri jadi rusak nanti.”
“Permainannya harus rapi dong. Kita mesti pandai merahasiakannya, jangan sampai Gayatri tau,” kata Tante Sin sambil memegang ritsleting celana jeansku.
“Hihihiii… Tante…! Mau ngapain?” ucapku sambil berusaha menepiskan tangan Tante Sin. Tapi tangan wanita itu bersikeras ingin menurunkan ritsleting celana jeansku.
Maka akhirnya aku cuma terdiam. Bahkan dengan perasaan ingin tahu, apa yang diinginkan oleh Tante Sin itu sebenarnya. Aku jadi serba salah ketika batang kemaluanku disentuh dan digenggam oleh tangan wanita 35 tahunan itu (kata Gayatri). Dan Tante Sin berseru tertahan, “Wooow… rudalmu luar biasa gede dan panjangnya Dooon…! Tante jadi langsung horny niii…”
Tak cuma menggenggamnya. Tante Sin pun menurunkan celana jeans sekaligus dengan celana dalamku. Sehingga batang kemaluanku yang baru menegang ini terbuka penuh di mata adik mamanya Gayatri itu.
Sungguh, dalam keadaan seperti ini, aku benar – benar tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Karena pada dasarnya aku tak mau menyakiti hati siapa pun. Apalagi menyakiti hati Tante Sin yang sudah lama memperlihatkan rasa sukanya padaku, meski belum pernah diucapkan secara lisan. Masalah utamanya, Tante Sin itu pengganti mamanya Gayatri yang berada di Bangkok.
Tapi… apa yang Tante Sin lakukan selanjutnya? Ia merangkak di atas sofa, dengan mulut “menangkap” rudalku…!
Ya… ia mengulum dan menyelomoti rudalku dengan binalnya, membuatku terhenyak, “Tante…!”
Sebagai jawaban, Tante Sin yang sedang menungging di sebelah kanannku, menarik tangan kananku ke arah bokongnya, sementara tangan satunya lagi dipakai untuk menyingkapkan daster putihnya, sehingga aku langsung bisa menyaksikan bahwa Tante Sin tidak mengenakan celana dalam. Sementara tanganku langsung ditempelkan di belahan pantat gedenya…
Spontan aku lupa segalanya, karena telapak tanganku sedang menempel di antara anus dengan kemaluan Tante Sin.
Tentu aku tahu apa yang harus kulakukan kalau tanganku sudah memegang kemaluan yang bersih dari jembut begini. Kuelus – elus kewmaluan yang terasa masih segar ini. Belum lembek, karena usia Tante Sin baru 35 tahunan. Sementara Tante Sin semakin giat menyelomoti rudalku sambil mengalirkan air liurnya ke badan rudalku yang tidak terkulum olehnya.
Aku benar – benar sudah lupa segalanya. Karena selomotan Tante Sin begitu cermat dan trampilnya, sehingga dalam tempo singkat saja batgang kemaluanku sudah ngaceng berat. Sementara tanganku semakin asyik memainkan kemaluan Tante Sin yang belum kelihatan di depan mataku, karena memainkannya dari atas bokong gedenya.
Beberapa saat kemudian Tante Sin melepaskan selomotannya. Lalu melepaskan cela na jeans dan celana dalamku, lalu melepaskan dasternya sendiri. Jadi langsung telanjang bulat, karena ternyata di balik daster putih itu tidak ada beha mau pun celana dalam.
Dalam keadaan telanjang bulat itulah Tante Sin duduk di sofa sambil mengangkangkan kedua belah paha putih mulusnya.
Dan aku semakin lupa daratan. Setelah menanggalkan baju kausku, sebagai satu – satunya benda yang masih melekat di tubuhku, aku duduk di atas karpet, di antara sepasang paha Tante Sin yang dipentang lebar – lebar itu. Biarlah… aku cuma berharap semoga tidak terjadi apa – apa dalam hubunganku dengan Gayatri kelak.
Kini giliranku untuk mengoral kemaluan Tante Sin yang setelah diamati dari dekat, betapa indah dan menggiurkannya. Tanpa berpikir panjang lebar lagi kungangakan dan kujilati kemaluan wanita Indo – Belgia yang tembem dan masih kelihatan rapat itu.
“Oooooh… Doooonny… akhirnya impianku mulai jadi kenyataan…! Lakukanlah apa pun yang ingin kamu lakukan, Sayang, “desis Tante Sin sambil mengusap – usap rambutku yang berada di bawah perutnya.
Aku pun semakin bersemangat untuk menjilati serambi lempitnya secara habis – habisan. Tante Sin pun merebahkan diri dengan bokong berada di pinggiran sofa. Sehingga serambi lempitnya jadi maju ke depan, memudahkanku untuk menjilatinya.
Dan aku tak cuma menjilati serambi lempit wanita 35 tahunan itu. Jemariku pun ikut bermain, untuk mengelus – elus kelentitnya, sementara jari tangan satunya lagi kuselundupkan ke dalam liang serambi lempitnya lalu digerak – gerakkan di situ.
Karuan saja Tante Sin jadi mendesah – desah sambil meremas – remas rambutku. Bahkan pada suatu saat ia berkata lirih, “Sudah Don… masukin aja rudalmu Sayang… tante udah ingin merasakan nikmatnya dientot oleh rudal panjang gede itu.”
Tanpa banyak cing – cong lagi, sambil berdiri membungkuk kuletakkan kepala rudalku di ambang mulut serambi lempit Tante Sin yang putih dan sudah kemerahan itu.
Lalu kudesakkan rudal ngacengku sekuat tenaga… uuuuughhhhh… melesak separohnya blessss …!
Tante Sin ternganga, “Ooooooooohhhhhhh… rudalmu gede banget Don… ini terasa sekali bedanya…”
Aku tidak menyahut, karena mulai asyik mengayun rudalku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Tante Sin.
Lalu kenapa gairahku jadi begini menggebu – gebunya? Mungkin karena pengalaman pertamaku dalam masalah seksual, adalah dengan Mama almarhumah. Ibu angkat yang dahulu kukira ibu kandungku itu telah memberiku kenikmatan demi kenikmatan. Untuk yang pertama kalinya aku merasakan nikmatnya liang kewanitaan seorang perempuan, adalah dengan Mama.
Kali ini pun aku merasakan itu. Bahwa menyetubuhi wanita yang usianya jauh lebih tua dariku itu adalah luar biasa nikmatnya.
Tapi pada suatu saat Tante Sin berkata, “Don… pindah ke kamar tante aja yuk…”
“Ayo…”
“Tapi kalau bisa jangan dicabut rudalnya Don. Tante ingin rudalmu tetap berada di dalam serambi lempitku. Tapi tante ingin pindah ke kamar. Gimana?”
“Iya,” kataku sambil menarik kedua tangan Tante Sin. Dan meletakkannya di tengkukku. Lalu kuangkat bokong gede wanita itu sambil berdiri tegak. Sambil memeluk pinggang Tante Sin, aku melangkah menuju kamarnya yang telah ditunjukkan tadi.
Lalu kurebahkan dia dengan hati – hati, karena dia ingin agar rudalku jangan sampai terlepas dari liang serambi lempitnya. Setelah Tante Sin celentang di atas bed, kami bergerak sedikit demi sedikit, menuju bagian tengah bed luas itu.
Dalam posisi klasik (missionary) ini, aku mulai mengayun rudalku kembali. Tante Sin pun menyambutku dengan rengkuhan hangat di leherku, kemudian ia menciumi bibirku disusul dengan ucapan lirihnya, “Sejak pertama melihatmu, tante sudah jatuh hati Don. Karena kamu ini tampan sekali. Akhirnya impianku jadi kenyataan sekarang…
“Iya Tante,” sahutku sambil menghentikan entotanku sejenak, “Aku akan menggauli Tante kapan pun Tante mau. Tapi aku mohon, agar hubunganku dengan Gayatri tetap utuh.”
“Soal itu sih dijamin Don. Kalau sedang ada dia, kita harus jauh – jauh aja. Jangan memperlihatkan bahwa kita punya hubungan. Ayo entot lagi…!”
Aku mulai mengayun batang kemaluanku lagi perlahan, sambil berkata terengah, “Tante… uuuugggh… serambi lempit Tante ini… enak sekali… masih sempit sekali… legit pula… oooooohhhh…”
“Tante kan belum pernah melahirkan Don. Tentu aja masihb sempit. Tapi… rudalmu juga sangat enak Donny… tante pasti bakal ketagihan nanti…”
“Gampang soal itu sih… uuuuuggggh… nanti kita bisa ketemuan di tempat lain. Jangan di sini. Takut kepergok sama Gayatri… oooooohhhh… Tante… oooooh… serambi lempit Tante ini luar biasa enaknyaaaaa…”
Lalu tiada kata – kata lagi yang terlontar dari mulut kami. Hanya desahan nafas dan rengekan erotis Tante Sin yang terdengar, berbaur dengan dengus – dengus nafasku sendiri.
Lama hal ini terjadi. Sementara aku mulai melengkapi aksiku. Karena aku pernah membaca topik tentang kejantanan seorang lelaki. Bahwa lelaki jantan itu antara lain harus pandai memuasi pasangan seksualnya.
Itulah sebabnya aku mulai menjilati leher jenjang Tante Sin, disertai gigitan – gigitan kecil, sementara batang kemaluanku semakin gencar memenyetubuhi liang serambi lempitnya.
Sehingga Tante Sin mulai merintih – rintih histeris yang terdengar sangat erotis di telingaku.
“Donny… oooooohhhhh… ini adalah persetubuhan yang paling nikmat dalam hidup tante… oooooh… ooooo… oooooohhhhh… tante sayang kamu Doooon… sayang sekaliiii… oooooohhhhh… entot terusss Dooon… entoooot teruuuuussss… entooooottttt… entooootttt …
Aku semakin bergairah setelah mendengar erangan dan rintihan histeris Tante Sin itu. Aksiku bukan hanya memenyetubuhi liang serambi lempitnya, tapi juga mulutku “membantu” di sisi lain. Setelah puas menjilati dan mengigit – gigit leher jenjangnya, mulutku berpindah sasaran. Untuk mengemut puting payudara kirinya, sementara tangan kiriku digunakan untuk meremas – remas payudara kanannya.
Semakin merintih – rintih lagi Tante Sin dibuatnya.
“Ooooo… ooooh… Doooon… Dooon… tante sudah runtuh di kakimu, sayaaaang… tante yakin, ini adalah cintaaaaa… tante cinta kamu Doooon… aaaaaah… entot terussss… entoootttt… iyaaaaa… iyaaaaa… cintaaaaa… tante cinta Donny…”
Ketika tangan Tante Sin terjulur ke atas kepalanya, kulihat ketiak kirinya terbuka. Maka dengan sigap kujilati ketiak yang bersih dan harum parfum itu, sementara tangan kiriku memainkan puting payudara kanannya.
Tante Sin pun semakin klepek – klepek disertai erangan – erangan erotisnya, “Doooon… oooo… oooooh Dooooon… ini luar biasa enaknya Doooon… ta… tapi tante udah mau orgasme Dooon… mau lepasssssss… !”
Tante Sin berkelojotan, lalu mengejang tegang… dengan perut sedikit terangkat ke atas… aku pun menancapkan batang kemaluanku, tanpa menggerakkannya lagi. Karena ingin menikmati indahnya liang kewanitaan Tante Sin pada waktu orgasme.
Ya… aku merasakannya. Liang serambi lempit Tante Sin terasa mengejut – ngejut, lalu bergerak seperti ular sanca membelit mangsanya.
Pada saat itu tante Sin terpejam sambil menahan nafasnya.
Lalu… nafasnya dihembuskan “Aaaaaaaaaahhhhh…”
Aku yang masih mendiamkan batang kemaluanku, membiarkan Tante Sin mencium dan melumat bibirku. Disusul dengan bisikannya, “Terima kasih Sayang…”
“Sama – sama Tante,” sahutku sambil mengecup sepasang pipinya, “Nanti kalau aku mau ejakulasi, lepasin di mana?”
“Di dalam aja, biar nikmat merasakan semburan air manimu Sayang.”
“Tante ikut kabe?”
“Nggak.”
“Nanti kalau hamil gimana?”
“Biarin aja. Malah tante pengen sekali hamil, mumpung umur tante baru tigapuluhlima. Kalau sudah lewat empatpuluh sih mungkin susah hamil.”
“Nanti kalau Gayatri tau gimana?”
“Tenang aja Don. Tante tau bagaimana cara menyembunyikannya nanti. Ohya… Donny belum ngecrot kan?”
“Belum Tante.”
“Ayo lanjutin lagi. Tante udah pulih lagi nih.”
“Iya Tante,” sahutku sambil mengayun batang kemaluanku kembali.
rudalmu panjang sekali Don. Sampai terasa mentok – mentok di dasar liang serambi lempit tante.”
“Terus kenapa? Sakit?” tanyaku sambil memperlambat entotanku.
Tante Sin merangkul leherku sambil berkata setengah berbisik, “Iiiih… justru enak sekali Sayaaang…” Ucapan itu disusul dengan ciumannya yang seolah lengket di bibirku.
Aku pun menggencarkan entotanku kembali. Karena liang kewanitaan Tante Sin terasa jadi agak becek, sehingga gerakan batang kemaluanku jadi lancar. Lancar sekali.
Setelah ciuman Tante Sin terlepas, terasa serambi lempitnya bergerak – gerak, mengikuti gerakan pinggulnya. Tapi gerakannya hanya membuat serambi lempit Tante Sin mendongak dan menunduk. Ini effektif sekali, membuat kelentitnya bergesekan dengan batang kemaluanku terus menerus.
Aku yang sudah mulai tahu di mana titik – titik peka di tubuh tantenya Gayatri itu, lalu melengkapi entotanku dengan jilatan lahap di lehernya yang sudfah keringatan dan memancarkan aroma keringat bercampur harumnya parfum mahal yang dipakainya. Aroma yang justru sangat merangsangku untuk menjilati lebih lahap lagi.
Sementara tanganku pun mulai meremas – remas toket kanannya yang masih lumayan kencang, meski tidak sekencang payudara Gayatri.
Tante Sin pun mulai merintih – rintih histeris lagi, “Dooon… oooo… oooooohhh… Dooon… Doooon… tante cinta dan sayang sekali sama kamu Doooon… tante belum pernah merasakan cinta yang sedahsyat ini pada lelaki lain Dooon… cintaaaa… bener – bener cintaaa… ayo entot terus Sayaaaaaang…
Mendengar rintihan Tante Sin yang makin lama makin keras dan histeris itu, aku pun semakin bersemangat untuk “menggedor – gedor” dasar liang serambi lempitnya yang terus – terusan disundul oleh puncak batang kemaluanku.
Sehingga akhirnya Tante Sin berkelojotan lagi. Lalu ia mengejang dengan perut agak terangkat ke atas… pertanda sedang mengalami orgasme.
Tapi aku tak mempedulikannya. Karena aku pun sedang nikmat – nikmatnya merasakan licin dan legitnya liang serambi lempit wanoita Indo – Belgia ini. Bahkan mulutku semakin merajalela menyedot – nyedot pentil toketnya, menjilati ketiaknya dan membuat keringatnya tertelan terus olehku, tanpa rasa jijik sedikit pun.
Aku memang sudah tahu trik untuk memperpanjang durasi entotanku. Bahwa ketika aku sedang menyetubuhi pasangan seksualku, pikiranku sengaja ditujukan ke arah sesuatu yang memusingkanku. Ke masalah bisnis yang belum selesai, misalnya. Sehingga dengan sendirinya nikmatnya pergesekan batang kemaluanku dengan dinding liang kewanitaan Tante Sin terlupakan.
Hasilnya selalu saja bagus. Bahwa setelah sekian lamanya aku memenyetubuhi liang serambi lempitnya, Tante Sin sudah tiga kali orgasme. Tapi aku masih terlalu tangguh untuk diruntuhkan olehnya.
Sementara keringatku sudah mulai membanjir juga. Bercampur aduk dengan keringat Tante Sin. Tanpa kupedulikan.
Bahkan kini giliran Tante Sin yang menjilati leherku, membuat semuanya semakin nikmat dan semakin nikmat saja rasanya.
Karena merasa sudah sangat lelah, akhirnya aku putuskan untuk menuju puncak kenikmatanku sendiri. “Aaa… aku su… sudah ma… mau ngecrot Tante…” ucapku terengah.
Tante Sin spontan menyahut, “Iya Sayang… tante juga sudah mau lepas lagi… ayo barengin Cintaaaaa…”
Lalu kami seperti sepasang manusia yang sedang kerasukan. Tante Sin menjambak rambutku seolah ingin mencabut sampai ke akar – akarnya, sementara aku meremas sepasang payudaranya sekuatnya… dan batang kemaluanku pun kutancapkan sedalam mungkin, sampai terasa mentok di dasar liang serambi lempit Tante Sin.
Pada saat itulah terjadi sesuatu yang indah… indah sekali. Bahwa ketika liang serambi lempit Tante Sin berkedut – kedut kencang, rudalku pun mengejut – ngejut sambil menembak – nembakkan air maniku di dasar liang serambi lempit Tante Sin… crooooottttttt… croootttttttt… crooootttttt… crooottttt…
Lalu kami sama – sama terkapar dan akhirnya terkulai lunglai di pantai kepuasan yang indah dan sangat mengesankan.
Setelah batang kemaluanku terlepas dari liang serambi lempit tante Sin, terdengar ia bertanya, “Kamu pakai obat kuat apa Sayang?”
Kujawab dengan senyum, “Tidak memakai obat apa pun. Manusia semuda aku belum saatnya mengenal obat – obatan Tante.”
“Kamu luar biasa Sayang. Aku sampai tak bisa menghitung lagi berapa kali merasakan orgasme tadi. Mungkin itu yang disebut multi orgasme. Terima kasih Don. Kamu sudah memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi tante,” ucapnya, disusul dengan ciuman hangatnya di bibirku.
Aku pun turun dari bed, melangkah ke arah kamar mandi. Untuk kencing dan membersihkan batang kemaluanku. Tante Sin pun mengikutiku dari belakang. Di dalam kamar mandi ia menunjuk ke lemari kaca yang berisi handuk – handuk dan beberapa helai kimono putih yang terlipat rapi. “Itu handuk baru semua. Kimononya juga baru – baru.
“Iya Tante. Terima kasih.”
Akhirnya aku jadi sekalian mandi di bawah pancaran air hangat shower. Tante Sin mandi juga bersamaku. Bahkan dengan telaten ia menyabuni tubuhku, membuatku teringat kepaada Mama almarhumah, yang dahulu rajin memandikanku sejak kecil sampai dewasa. Entah kenapa aku jadi teringat mama pada saat sedang mandi ini.
Karena aku sudah merasakan betapa besar kasih sayang Mama kepadaku, laksana kasih sayang seorang ibu kepada anak kandungnya. Dan semasa Mama masih hidup, aku tak menyangka bahwa beliau itu ibu angkatku. Bergitu juga Papa, kusangka ayah kandungku. Tapi ternyata mereka oranbg tua angkat yang demikian baiknya kepadaku.
Setelah mandi dan mengeringkan tubuh dengan handuk, kukenakan salah satu kimono yang kuambil dari lemari kaca itu.
Sekeluarnya dari kamar aku langsung menuju meja rias, untuk menyisir rambutku yang acak – acakan, bekas dijambak – jambak oleh Tante Sin tadi.
Aku tertegun. Karena lelaki di foto itu adalah… Papa almarhum…! Ya… aku yakin benar itu foto Papa, terlebih setelah memperhatikan dahinya yang ada dua buah tahi lalatnya… itu pasti Papa…!
“Itu foto Tante dengan siapa?” tanyaku sambil menunjuk ke arah foto itu dan berusaha untuk menenangkan diriku sendiri yang mendadak jadi galau tak karuan ini.
“Itu suami tante. Tapi tante hanya jadi istri mudanya. Nikahnya pun hanya nikah siri.”
“Siapa namanya Tante?”
“Namanya Margono. Dia seorang konglomerat yang sukses di Thailand. Meski tante hanya dinikahi secara siri, dia sangat baik pada tante.”
Aku terdiam setelah mendengar nama Papa disebut oleh Tante Sin. Jadi rupanya Papa punya istri muda di Indonesia. Pantasan Papa sering menghilang dari Bangkok, dengan alasan sedang mengurus perusahaannya yang di Singapura. Mungkin pada saat itu Papa sedang asyhik – asyikan dengan Tante Sin di Indonesia.
Pantaslah Tante Sin kelihatan tajir, punya rumah semegah ini, punya sedan sport segala. Bahkan mungkin banyak harta Papa yang dialirkan ke tangan wanita Indo – Belgia ini.
Tapi aku berusaha menenangkan dkiri. Dan berusaha menilai semuanya itu dengan sebijak mungkin, sambil berusaha untuk tetap positive thinking.
Mungkin Papa ingin punya anak yang tidak didapatkannya dari Mama. Namun ternyata dari Tante Sin pun tidak didapatkannya.
“Ayah Gayatri bisa berada di Bangkok pun berkat kebaikan almarhum suamiku itu Don. Ayah Gayatri diberikan modal untuk usaha di Bangkok. Dan sekarang keadaannya jadi lumayan baik lah,” kata Tante Sin lagi.
Aku jadi teringat Gandhi. Dia tak pernah bercerita tentang masalah itu. Mungkin semua itu dirahasiakan oleh ayah Gandhi yang sekaligus ayah Gayatri, karena ibu Gayatri adalah kakak istri muda Papa yang dirahasiakan (mekanya Papa hanya berani nikah siri dengan Tante Sin).
Aku memang bersahabat dengan Gandhi sejak kecil. Tapi Gandhi tak pernah tahu nama Papa. Aku puntak tahu nama ayah Gandhi.
Hmmm… aku jadi merasa bersalah kepada Papa, karena telah mengambil kehormatan mantan istri mudanya ini. Tapi kenapa aku harus merasa bersalah? Bukankah kistri resmi Papa yang biasa kupanggil Mama pun sudah sering kugauli?
Aku berusaha untuk tutup mulut dahulu. Belum mau mengungkap bahwa aku ini anak Pak Margono yang ada di foto itu. Tapi aku setengah memaksa Tante Sin “jalan – jalan” untuk mencari udara segar di luar, meski hari sudah malam (sedangkan malam lebih banyak co2-nya daripada oksigennya). Tapi sebenarnya aku ingin mengajak Tante Sin ke rumah peninggalan almarhum Papa itu.
“Lho kok berhenti di rumah ini?” tanya Tante Sin setelah mobilku dihentikan di depan rumah peninggalan Papa itu. Seorang satpam pun muncul dan segera membuka pintu menuju garasi, sekaligus membuka pintu garasinya. Aku pun langsung memasukkan mobilku ke dalam garasi.
“Don… apa gak salah nih? Rumah ini dahulu tempat tinggal almarhum suami tante…”
“Justru aku sengaja mengajak Tante ke sini, supaya semuanya menjadi jelas,” sahutku sambil menuntun Tante Sin ke ruang keluarga. Lalu kutunjuk lukisan besar Papa dan Mama itu sambil berkata, “Mereka adalah Papa dan Mamaku, Tante.”
“Haaa?! “Tante Sin terkejut dan menatapku dengan sorot seperti tidak percaya pada pengakuanku, “Tapi menurut pengakuannya, Pak Margono itu tidak punya anak dari istri pertamanya. Lalu almarhum berusaha mendapatkannya dari tante. Tapi gagal juga. Bagaimana mungkin Donny bisa mengaku sebagai anaknya?
“Aku anak angkatnya Tante. Tapi aku juga baru tahu bahwa aku ini anak angkatnya, justru setelah Papa meninggal. Tapi aku tetap merasakan mereka seperti ayah dan ibu kandungku. Karena telah merawatku sejak bayi sampai dewasa dengamn penuh kasih sayang. Bahkan almarhum Papa meninggalkan surat wasiat di notarisnya, yang menyatakan bahwa aku adalah yang berhak memiliki seluruh harta peninggalannya.
“Iya…” kata Tante Sin sambil memelukku dari belakang, “tante juga akan menganggapmu sebagai reinkarnasi Pak Margono, Sayang.”
Kemudian kuajak Tante Sin ke ruang tamu, di mana ada sebuah foto besar yang digantungkan di dinding ruang tamu. Foto Papa yang sendirian.
Lalu aku menatap foto itu sambil berkata seolah – oleh sedang berhadapan dengan Papa, “Papa… aku merasa seperti dibimbing oleh roh Papa untuk berjumpa dengan Tante Sin ini, untuk menyayangi dan melindunginya. Baik… aku akan melindungi dan menyayangi istri mudamu ini, Papa. Semoga arwah Papa tenang di alam kekal.
Dan… diam – diam air mataku mengalir ke pipiku. Tante Sin juga tahu, lalu mengambil kertas tissue dari tas kecilnya untuk menyeka airmataku.
Sambil mendekap pinggangku, Tante Sin berkata lembut, “Mungkin benar. Arwah papamu ingin agar tante dilindungi dan disayangi oleh anak tercintanya.”
Aku cuma tersenyum getir. Karena teringat lagi segala kebaikan Papa dan Mama, yang memperlakukanku sebagai anak kandung mereka. Bahkan aku diperlakukan sebagai ahli waris tunggal, sebagai penerus kerajaan bisnisnya di Thailand dan di Singapura. Bahkan terakhir aku mendapatkan berita lagi dari Mr. Liauw, bahwa bisnis almarhum Papa masih banyak yang baru ketahuan olehnya, antara lain di Hongkong dan di Nederland.
Tadinya aku ingin mengajak Tante Sin tidur di rumah peninggalan Papa itu. Tapi Tante Sin tidak mau. Karena suasana di rumah itu malah membuatnya sedih, katanya. Maka akhirnya kami pulang ke rumah Tante Sin lagi.
Setibanya di rumah Tante Sin, foto Papa dan Tante Sin di atas cermin meja rias itu pun diturunkan. Lalu Tante Sin menyimpannya di laci lemari pakaian sambil berkata, “Tante menganggap kamu sebagai reinkarnasi almarhum suami tante. Karena itu tante akan mulai move on sejak malam ini. Dan akan menganggapmu sebagai pengganti Pak Margono.
Kemudian kami tertidur sambil berpelukan.
Setelah mengetahui bahwa aku ini anak angkat Papa dan Mama, gairah Tante Sin tidak memudar. Bahkan semakin menggebu – gebu, karena yakin bahwa aku diarahkan oleh arwah Papa untuk melindungi dan menyayanginya.
Maka hari – hari berada di rumah Tante Sin, adalah hari – hari yang selalu dihangatkan oleh gairah seksual kami berdua. Tiada hari tanpa hubungan seks, sampai saatnya Gayatri pulang.
Gayatri tidak pulang sendirian. Ia bersama lelaki yang sebaya dengan Papa almarhum dan wanita yang kutaksir berusia empatpuluh tahunan. Mereka adalah Pak Gunadi dan istrinya, ayah dan ibu kandung Gayatri…!
Berita dari Gayatri cukup menyenangkan. Karena ternyata budenya yang sakit keras itu sudah sembuh kembali. Kedua orang tua Gayatri pun datang ke Semarang, untuk ikut mengurus perawatan bude Gayatri, sampai akhirnya sembuh kembali.
Kemudian kedua orang tua Gayatri itu fokus padaku.
“Nak Donny ini teman karib Gandhi kan?” tanya Pak Gunadi.
“Iya Oom,” sahutku sopan.
Tiba – tiba Tante Sin nyeletuk, “Donny ini anak tunggal almarhum Pak Margono, Mas.”
“Haaa?! “Pak Gunadi tampak kaget, “Tapi setahu kami, almarhum Pak Margono tidak punya anak.”
Tante Sin yang menjawab, “Dia anak angkat yang diadopsi sejak masih bayi. Dan setelah Pak margono meninggal, notarisnya menyerahkan surat wasiat, bahwa Donny ini satu – satunya pihak yang berhak untuk memiliki selurfuh harta Pak Margono.”
Sikap ayah Gayatri langsung berubah jadi mencair. Bahkan seperti berhadapan dengan atasannya, “Gandhi tidak pernah cerita kalau Nak Donny ini anak Pak Margono.”
“Almarhum Papa kan sibuk terus Oom. Makanya Gandhi tidak pernah bertemu dengan Papa. Saya pun baru sekali ini berjumpa dengan Oom.”
“Berarti Nak Donny ini sekarang jadi boss saya ya.”
“Jangan ngomong gitu Oom. Perusahaan – perusahaan di Thailand sudah dijualin. Hanya perusahaan properti yang masih tetap dipertahankan.”
“Justru perusahaan saya bergerak di bidang properti, Nak Donny. Jadi mulai saat ini saya harus manggil Big Boss dong sama Nak Donny.”
“Wah… jangan bikin saya nggak enak ah. Saya kan pacar Gayatri. Masa Oom manggil boss sama pacar anak Oom.”
“Iya, soal itu sih saya sudah dengar dari Gayatri. Kalau saya sih terserah Gayatri sendiri yang akan menjalaninya. Orang tua kan tinggal merestui saja apa pun yang akan dilakukan oleh anaknya.”
“Terimakasih Oom.”
Setelah ngobrol banyak dengan Pak Gunadi dan istrinya, Gayatri mengajakku ke atas, ke dalam kamarnya.
Ini untuk pertama kalinya aku masuk ke dalam kamar Gayatri. Begitu berada di dalam kamarnya, Gayatri memeluk dan menciumiku disusul dengan ucapan, “Berapa hari aku gak ketemu sama Abang, kangennya setengah mati.”
“Sama… aku juga. Tapi gak enak ada orang tuamu di bawah, kalau mau kangen – kangenan mending ke rumahku aja sekalian yuk,” sahutku.
“Ke rumah ibu Bang Donny?”
“Bukan, ke rumahku sendiri. Biar tenang kita berduaan aja. Kamu masih capek gak?”
“Nggak lah Bang. Naik pesawat kan cuma sejam tadi.”
Beberapa saat kemudian Gayatri sudah berada di dalam mobilku, menuju ke rumah peninggalan Papa itu.
“Bang… kalau Papa angkat Abang itu almarhum suami Tante Sin, berarti Abang ini anak tiri Tante Sin ya?”
“Iya. Dunia ini jadi terasa kecil bagiku. Ternyata kamu juga anak Pak Gunadi, yang dibawa ke Bangkok oleh almarhum Papa. Tapi aku baru ketemu papamu tadi.”
“Selama aku di Semarang, Abang tidur di kamar Tante Sin?”
Aku terhenyak. Pertanyaan yang Gayatri lontarkan itu tentu ada dasarnya. Sehingga aku tidak berani menjawabnya.
“Kalau Abang tidur di kamar Tante Sin, aku malah senang Bang. Apalagi kalau terjadi sesuatu dengan Tante Sin yang sudah lama tidak mendapatkan sentuhan lelaki, aku lebih senang lagi. Karena Tante Sin itu sangat menyayangiku sejak kecil sampai umurku delapanbelas tahun begini. Aku ingin membalas kebaikannya dengan apa pun caranya.
“Aku gak ngerti ke mana tujuan kata – katamu itu Tri,” sahutku pura – pura dungu.
“Aku sengaja meminta Abang tinggal di rumah Tante Sin selama aku di Semarang, memang ada maksudnya Bang. Supaya Tante Sin ditemani oleh cowok setampan Abang. Bahkan kalau terjadi sesuatu yang jauh, justru itu yang kuharapkan.”
“Terjadi sesuatu itu apa?” tanyaku masih berpura – pura bodoh.
“Abang menyetubuhi Tante Sin. Itu yang kuharapkan.”
“Kamu ini cewek cuckold atau gimana sih? Memangnya kamu gak cemburu kalau aku sampai menyetubuhi tantemu?”
“Kalau sama cewek lain, aku pasti cemburu. Tapi kalau dengan Tante Sin, aku benar – benar ikhlas Bang. Bahkan aku merasa bahagia sekali kalau bisa membahagiakan Tante Sin dengan cara apa pun. Karena aku terlalu banyak berhutang budi padanya Bang.”
Pembicaraan itu terputus, karena aku sudah tiba di rumah peninggalan almarhum Papa itu.
Seperti biasa, dua orang satpam membuka pintu menuju ke teras depan dan pintu menuju ke arah garasi.
Aku langsung memasukkan mobilku ke dalam garasi.
“Wow… tadinya kuanggap rumah Tante Sin paling megah. Tapi ternyata rumah Abang ini jauh lebih megah lagi,” ucap Gayatri setelah turun dari mobilku.
“Ini salah satu rumah peninggalan Papa angkatku,” sahutku sambil menggandeng pinggang Gayatri menuju ruang keluarga.
“Kapan – kapan aku ingin ketemu juga sama ibu kandung Bang Donny.”
“Iya. Nanti kuajak kamu ke rumah Bunda. Tapi dia sibuk ngurus café bersama saudara kembarku.”
“Haaa?! Bang Donny punya saudara kembar?” tanya Gayatri yang memang belum pernah dikasih tahu bahwa aku punya saudara kembar.
“Iya. Saudara kembarku cewek, namanya Donna.”
“Hihihi… lucu… namanya deket banget. Donny dan Donna. Tapi anak kembar memang suka begitu ya. Namanya suka berdekatan juga,” kata Gayatri sambil duduk di sofa ruang keluarga. Sambil memandang ke arah lukisan besar itu. Lukisan Papa dan Mama itu.
“Itu foto Papa dan Mama angkatg Abang ya?”
“Iya. Sama dengan foto yang ada di kamar Tante Sin kan?” ucapku keceplosan. Mengatakan foto di dalam kamar Tante Sin, sama saja dengan mengakui bahwa aku pernah berada di dalam kamar wanita Indo – Belgia itu.
“Jadi Abang sudah tau seluk beluk kamar Tante Sin kan?”
“Iya… kamu gak marah kan?”
“Nggak. Asalkan Abang bicara sejujur mungkin, sedikit pun aku takkan marah. Tapi kalau Abang membohongiku, pasti aku akan marah.”
Aku terdiam dan tak tahu lagi apa yang harus kukatakan.
“Abang sudah menggauli Tante Sin kan?” tanya Gayatri sambil memegang tanganku. Mengingatkanku waktu dia meremas – remas tanganku di gedung bioskop itu..
“Kalau kamu berjanji takkan marah, aku akan membuka semuanya.”
“Iya, iyaaaa… aku janji takkan marah, asal Abang bicara sejujur mungkin.”
Meski ragu, kubuka juga rahasia itu, “Mmmm… Tante Sin memang mendesak… ingin kugauli. Sehingga aku merasa kasihan juga padanya. Jadi… akhirnya kugauli juga tantemu itu Sayang.”
Di luar dugaanku, Gayatri bahkan mencium pipiku disusul dengan ucapan, “TGerima kasih Bang. Memang itu yang kuinginkan, makanya aku meminta Abang temani Tante Sin sampai aku pulang dari Semarang.”
“Jadi kamu gak marah?”
“Tidak. Aku malah seneng mendengarnya.”
“Aaah… bohong. Pasti kamu marah, tapi disimpan saja kemarahannya di dalam hati.”
“Nggak Bang. Aku nggak marah. Makanya aku minta Abang menemani Tante Sin selama aku di Semarang, karena aku menginginkan hal itu. Tapi aku tidak berani mengatakannya kepada Abang di WA saat itu.”
“Tapi aku gak yakin kalau kamu gak marah,” kataku, “Mungkin kamu sengaja menjebakku di rjumah Tante Sin. Menjebak untuk menguji kesetiaanku padamu.”
“Gak Bang. Aku sama sekali tidak berniat menjebak Abang segala. Kalau Abang masih tidak percaya, ambillah keperawananku sekarang juga. Supaya Abang yakin bahwa aku memang mengharapkan Tante Sin digauli Bang.”
“Memangnya kamu sudah kepengen ngerasain enaknya disetubuhi?” tanyaku sambil melingkarkan lengan kiriku di pinggang Gayatri yang duduk di sebelah kiriku.
Gayatri menatapku. Lalu mengangguk sambil tersenyum malu – malu. Dan berkata perlahan, “Aku sih sekalian ingin membuktikan aja pada Abang. Bahwa aku serius pada Abang, tapi tidak main – main dalam masalah Tante Sin itu.”
“Terus, kalau kamu hamil nanti gimana?”
“Kalau bisa sih jangan hamil dulu Bang. Tapi kalau memang harus hamil, ya hamil aja. Asalkan Abang cepat – cepat menikahiku.”
“Kita masih terlalu muda untuk menikah Sayang. Bisa deh gak hamil. Aku menyimpan pil anti hamil. Ayo ke kamarku,” ajakku sambil berdiri dan menarik pergelangan tangan Gayatri, yang saat itu mengenakan celana beludru biru tua dengan blouse putih. Sengaja aku mengajaknya ke kamar, karena pakaian Gayatri itu, pasti menyulitkan kalau tidak dilepaskan dulu.
Sebenarnya aku agak kurang tega mengambil keperawanan Gayatri. Karena meski bentuk fisik dan tampang Gayatri kebule – bulean, namun sikap dan perilakunya begitu anggun dan penyabar. Namun karena dia sendiri ingin menyerahkan keperawanannya, aku jadi laksana seekor kucing. Kalau sudah diiming – imingi seekor ikan, pastilah kutangkap.
“Biar jangan ribet, mending lepasin dulu celana panjang dan blousenya,” kataku setelah berada di dalam kamar utama rumah megah ini.
Aku memang ingin menciptakan kesan, bahwa kuambil keperawanan Gayatri atas kehendaknya sendiri. Karena itu biarlah dia menelanjangi dirinya sendiri.
Namun dengan tenang Gayatri melepaskan celana beludru biru tua dan blouse putihnya, kemudian djuduk di solfa kamar utama ini.
Aku pun menanggalkan busanaku sehelai demi sehelai, tinggal celana dalam yang kubiarkan melekat di tubuhku.
Lalu duduk di samping Gayatri yang tinggal mengenakan beha dan celana dalam itu.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” bisikku sambil melepaskan kancing kait beha yang terletak di punggungnya.
“Hihihihi… degdegan Bang…” sahutnya sambil melepaskan beha yang kancingnya sudah kulepaskan. Kecil toket Gayatri itu. Jangan
Dsibandingkan dnegan toket Tante Sin yang gede gitu.
Tapi aku senang – senang saja. Karena Gayatri lebih cantik daripada Tante Sin. Itulah sebabnya kalau aku membanding – bandingkan Gayatri dengan Tante Sin, soal kecantikan wajah dan putihnya kulit, Gayatri menang. Tapi kalau soal body, Tante Sin menang.
Tapi tak usahlah mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan mereka. Bukankah baik Tante Sin mau pun Gayatri akan tetap menjadi milikku?
Ketika aku memegang toketnya, Gayatri berkata tersipu, “Kecil ya Bang toketku. Gak kayak toket Tante Sin.”
“Biarin aja. Aku jatuh cinta padamu bukan karena memandang toket,” sahutku, “Lagian toket kecil begini ada keuntungannya.”
“Apa keuntungannya?” tanya Gayatri.
“Biasanya toket kecil begini, sampai tua pun tetap awet. Tidak terjuntai ke bawah. Lagian toket kecil begini enak megangnya. Bisa tergenggam dengan satu tgangan begini,” sahutku sambil menggenggam toket kirinya, sementara tangan kananku mulai menyelinap ke balik celana dalamnya.
Inilah pertama kalinya aku menyentuh kemaluan Gayatri. Yang membuat wajah cantiknya mulai kemerahan. “Harus dilepasin ya Bang celana dalamnya?” tanyanya terdengar lugu.
“Iya… itu lebih baik,” jawabku dengan senang hati. Karena sudah ingin melihat seperti apa bentuk kemaluan pacar tercintaku itu.
Tanpa memandang ke arahku, Gayatri melepaskan celana dalamnya. Sehingga aku dibuat ternganga setelah menyaksikan indahnya bentuk kemaluan kekasihku itu. Kemaluan yang tembem dan bersih dari rambut. Mulut serambi lempitnya terkatup rapat, sehingga yang tampak seperti garis lurus dari atas ke bawah.
Dan aku ingin menikmatinya seleluasa mungkin. Karena itu kuangkat dan kubopong tubuh Gayatri, lalu kuletakkan di atas bed dengan hati – hati.
“Kemaluanmu indah sekali Sayang,” ucapku sambil menelungkup di antara kedua paha putih mulus Gayatri, sambil mengusap – usap permukaan serambi lempit tembem yang tampak rapat dan belum kelihatan bagian dalamnya itu.
Ketika wajahku berada di atas kemaluan Gayatri sambil mengangakan mulut serambi lempitnya, ia hanya mengelus – elus rambutku yang berada di bawah perutnya. Sementara aku sedang tepukau menyaksikan bagian dalam serambi lempitnya yang berwarna pink itu.
Tentu saja aku langsung menjilati bagian dalam serambi lempit gayatri yang berwarna pink itu.
Gayatri seperti kaget pada awalnya. Tapi lalu menyadari apa yang sedang kulakukan. Lalu ia cuma terdiam sambil meremas – remas kain seprai.
Ketika aku mulai gencar menjilati kemaluannya, Gayatri mulai berdesah – desah sambil mengusap – usap rambutku. Terlebih setelah aku menemukan kelentitnya dan lalu menjilatinya disertai dengan isapan – isapan kuat, Gayatri pun mulai menggeliat – geliat sambil merintih – rintih erotis. “Baaaang… aaaaaaaah…
Baaaang… aaaaah… be… begini rasanya ya… rasanya serambi lempit dijilati… Baaaang… aaaaaaah… baaaang… aku memang sudah menjadi milikmu Baaang… lakukanlah apa yang Abang mau… karena Abang sudah memilikiku seutuhnya Baaaang… aaaaaa… aaaaaah… Baaaang… aku sangat mencintaimu Baaaang…
Bahkan ketika aku semakin intensif menjilati dan menyedot – nyedot kelentitnya, Gayatri mulai merengak manja, “Adudududuuuuuhhhh… Baaaang… rasanya serambi lempitku mau ambrolllll…”
Kuhentikan jilatanku sejenak, “Itu pertanda mau orgasme Sayang. Lepasin saja semuanya, supaya liang serambi lempitmu mengembang dan lancar waktu penetrasi nanti,” kataku. Lalu kulanjutkan menjilati kelentit Gayatri lagi.
“Iiii… iya Baaang… ooooo… ooooh… Abaaaaaaaang… “pekik Gayatri sambil mengelojot, lalu mengejang tegang… tegang sekali…!
Tampak Gayatri menahan nafas. Dan mulut serambi lempitnya terasa berkedut – kedut. Aku pun menghentikan jilatanku. Dan cepat melepaskan celana dalamku, karena akan mulai melakukan penetrasi.
Kemudian aku mulai “berjuang” untuk membenamkan batang kemaluanku ke dalam liang serambi lempit Gayatri. Memang tidak mudah. Padahal Gayatri sudah merentangkan kedua belah pahanya selebar mungkin. Dan membantuku juga memasukkan rudalku ke dalam liang serambi lempitnya, dengan memegangi batang kemaluanku berkali – kali.
Setelah hampir setengah jam aku berusaha memasukkan rudalku ke dalam liang serambi lempit Gayatri yang sangat – sangat sempit itu, akhirnya aku berhasil juga membenamkannya sedikit demi sedikit, sampai masuk hampir setengahnya.
Aku pun menghempaskan dadaku ke atas dada Gayatri, yang disambut dengan rangkulannya di leherku. “Udah masuk ya Bang…” ucapnya setengah berbisik.
“Iya,” sahutku, “Sakit?”
“Sedikit. Gak apa – apa…”
Lalu aku mulai mengayun batang kemaluanku perlahan – lahan. Dengan hati – hati, karena takut lepas lagi.
“Aaaa… aaaaah… Bang… aaah… “rintih Gayatri perlahan.
“Makin sakit?” tanyaku sambil menghentikan entotan pelanku sejenak.
“Nggak. Justru… eeee… enak sekali Bang…”
“Kalau sakit sedikit tahan ya…”
“Iya Bang… lanjutin aja. Enak kok… pantesan Tante Sin minta diginiin sama Abang… ““Udah… jangan bahas Tante Sin dong Sayang,” ucapku yang disusul dengan kecupan mesraku di bibir hangatnya.
Kemudian aku mulai memaju – mundurkan rudalku kembali. Terasa sekali sempitnya liang kemaluan Gayatri ini. Tapi justru nikmat sekali rasanya. Terlebih lagi setelah aku bisa mendorong rudalku sampai menyentuh liang serambi lempitnya… lalu sedikit demi sedikit liang kewanitaan Gayatri mulai beradaptasi dengan ukuran batang kemaluanku…
Gayatri pun mulai merintih – rintih perlahan, “Bang… enak Bang… ooohhh… Bang… aku sudah benar – benar jadi milikmu Bang… ooooh… Baaaang… aku semakin cinta padamu Baaang… cintaaaaa… cinta sekaliiii… oooooh… makin lama makin enak Baaaang… makin enak… makin enaaaak …
“Inilah yang namanya surga dunia, Sayang…”
“Iya Bang… enak sekali Baaaang… mainkan terus rudal Abang… oooooh… enaaaak Baaang… enaaaaak… “rintih Gayatri semakin menjadi – jadi, sambil mendekap pinggangku erat – erat. Terkadang disusul dengan ciuman mesranya di bibirku, lalu menatap wajahku dari jarak yang sangat dekat, lalu merapatkan pipinya ke pipiku, disusul dengan bisikan, “Sekujur tubuhku sudah menjadi milik Abang sekarang…
Kata orang – orang, menyetubuhi cewek yang kita cintai akan jauh lebih nikmat daripada menyetubuhi cewek yang cuma dijadikan penyhaluran nafsu birahi. Kini aku telah membuktikannya. Bahwa setiap sentuhanku di salah satu bagian tubuh Gayatri, seolah menggetarkan batinku… yang membuatku serasa melayang – layang di langit tinggi…
Ketika entotanku mulai gencar, aku pun melengkapinya dengan jilatan dan gigitan – gigitan kecilku di leher jenjang Gayatri yang mulai keringatan. Hal itu membuat Gayatri merem – melek. Terkadang ia menahan nafasnya sambil menggeliat, terkadang juga merintih – rintih histeris yang terdengar sangat erotis di telingaku.
“Baaang… rudal Abang ini enak sekali Baaaang… entot terus Baaaaang… entot teruuusss… entoootttt… entoooootttt… Abaaaaaang… aku cinta padamu Baaaang… aku cinta Abaaaang… cinta sekali Baaaaang… aku ingin cinta pertama ini sekaligus cinta yang terakhir juga Baaaang …
Gayatri memang sudah berkali – kali mengungkapkan hal itu. Bahwa cintanya padaku adalah cinta pertamanya. Dan ia ingin agar cinta pertamanya sekaligus menjadi cinta terakhirnya. Mungkin hal itu pula yang membuatku bertekad untuk membahagiakannya dengan caraku sendiri.
Sebenarnya aku bisa memperlambat durasi persetubuhanku dengan Gayatri. Tapi aku tak mau menyiksanya, karena dia baru sekali ini merasakan disetubuhi. Karena itu aku mulai mengamatinya, kapan dia mau orgasme. Dan pada saat itu pula aku akan mencapai puncak kenikmatanku bersama – sama orgasmenya Gayatri.
Tapi kelihatannya Gayatri masih sangat menikmati entotanku. Terlebih ketika aku mengemut pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas – remas toket kanannya yang tergenggam penuh oleh telapak tangan kiriku ini. Semakin menggila juga lah rintihan – rintihan histeris cewek yang punya campuran darah Belgia itu.
Namun beberapa saat kemudian Gayatri mulai berkelojotan… lalu sekujur tubuhnya mengejang tegang… nafasnya pun tertahan…!
Pada saat itulah aku mempercepat gerakan rudalku, sampai akhirnya kutancapkan dengan moncong rudal menyundul dasar liang serambi lempit Gayatri.
Lalu kurasakan sesuatu yang sangat indah dan nikmat itu. Bahwa liang serambi lempit Gayatri terasa berkedut – kedut kencang, tepat pada saat rudalku pun sedang mengejut – ngejut sambil memuntahkan lahar lendirnya… crooooottttt… crotcrotttt… crooooootttt… croooooootttttt… crottt… crooootttt …
Kami sama – sama menggelepar, lalu sama – sama terkulai lunglai.
Ketika batang kemaluanku dicabut dari liang serambi lempit Gayatri, darah perawan yang tergenang di bawah kemaluan Gayatri menjadi saksi. Bahwa ia masih suci sebelum kusetubuhi tadi. Aku menaruh rasa hormat dan terharu dibuatnya. Bahwa di zaman now, di mana anak – anak cewek yang masih duduk di bangku SMP pun sudah banyak yang kehilangan kegadisannya, sementara Gayatri yang punya campuran darah Belgia juga itu justru masih perawan.
Namun aku segera ingat sesuatu. Aku melangkah ke lemari kecil yang tergantung di dinding, lemari obat – obatan. Kukeluarkan dua strip pil kontrasepsi dan kuserahkan pada Gayatri. “Ini obat anti hamil. Baca saja aturan pakainya,” kataku.
“Iya Bang. Terima kasih. Memang sebaiknya aku jangan hamil djulu sebelum kita resmi jadi suami istri ya Bang,” sahut Gayatri.
“Iya, sebaiknya begitu,” ucapku yang disusul dengan ciuman mesraku di bibir Gayatri.
“Bang… kain seprainya harus diganti nih… ada darahnya… !”
“Di lemari itu ada tumpukan kain seprai. Silakan aja pilih mau pakai yang mana sebagai gantinya,” kataku sambil menunjuk ke lemari jati berukir di dekat washtafel.
Lalu kami masuk ke kamar mandi untuk bersih – bersih.
Dan ternyata beberapa saat kemudian kami bergairah kembali untuk melakukan hubungan seksual ronde kedua, yang kami lakukan dalam bermacam – macam posisi. Agar Gayatri mulai faham tentang posisi – posisi seks.
Dua hari kemudian… jam delapan pagi aku sudah berada di kantorku. Kantor peninggalan Papa, yang pernah dijadikan kantor pusat perusahaannya dahulu, tapi kemudian Papa dan Mama hengkang ke Bangkok dan justru sukses besar di sana.
Sebelum kupakai, bangunan ini kurang terawat. Tapi setelah aku tempati untuk perusahaanku sendiri, bangunan ini kurenovasi sekujurnya sampai kelihatan seolah bangunan baru.
Bahkan di belakang kantorku masih ada lahan yang cukup luas. Di tanah kosong itulah kubangun gedung yang cuma 3 lantai. Di situ pulalah ruang kerjaku, di lantai pertama. Kalau dibandingkan dengan bangunan kantor lama, bangunan baru ini cuma bangunan kecil. Mungkin lebih mirip bangunan rumah biasa. Tapi bangunan ini dijaga ketat oleh bagian security, karena aku sebagai orang nomor satu di perusahaan.
Lantai kedua lebih tepat disebut sebagai rumah tinggalku juga. Karena di lantai dua ada dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang keluarga dan satu ruang makan bersatu dengan kitchen.
Lantai tiga hanya merupakan satu ruangan luas, yang kujadikan sebagai meeting room. Untuk mencapai meeting room itu ada tangga dari luar, supaya peserta meeting tidak usah melewati ruang kerja dan rfuang pribadiku di lantai dua.
Di lantai tiga itulah aku akan membiasakan diri untuk melaksanakan briefing kepada para manager dan stafnya. Tapi sejauh ini aku belum pernah mengadakan briefing. Karena manager – managernya pun belum lengkap. Bahkan direktur utamanya pun belum ada. Karena sebagai owner aku tidak boleh menjadi dirut.
Pernah aku berpikir untuk merekrut Donna sebagai dirut perusahaanku. Tapi Donna sudah kelihatan enjoy mengurus café bersama Bunda. Lagian Donna terlalu muda untuk kujadikan dirut. Aku harus mencari sosok yang berusia 37 tahun ke atas untuk kujadikan dirut. Tentu saja harus sudah S2, minimal (padahal aku sendiri S1 saja belum).
Ketika aku sedang menerawang di ruang kerjaku, tiba – tiba interphone berdering, lalu terdengar suara petugas security, “Maaf Big Boss… ada tamu wanita, katanya dari Bangkok.”
“Antarkan aja ke ruang kerjaku,” sahutku dengan perasaan kaget dan bingung. Wanita dari Bangkok? Siapa? Apakah Teh Sheila? Mungkinkah dia datang tanpa memberitahu dulu padaku?
Tak lama kemudian petugas security mengantarkan seorang wanita tinggi montok, mengenakan gaun span berwarna biru ultramarine.
Maaaak… itu ibunya Gayatri yang katanya sih bernama Agatha…!
“Heheheee… Tante… kirain siapa. Dari mana Tante tau alamat kantorku ini?”
“Dari Gayatri,” sahut wanita empatpuluh tahunan yang masih tampak cantik itu.
Lalu aku mencium tangannya, disusul dengan cipika – cipiki sengan calon ibu mertuaku itu. “Sama Oom?” tanyaku.
“Nggak. Dia sudah pulang ke Bangkok tadi subuh.”
“Ohya? Kok buru – buru amat? Terus Tante sendirian aja ke sini?”
“Iya. Gayatri kan lagi kuliah. Sin lagi belanja pula. Makanya ke sini aja sendiri pake taksi.”
“Silakan duduk Tante,” kataku sambil melangkah duluan ke ruang tamu.
“Tante ada yang mau diomongin sama Donny. Tapi sifatnya sangat rahasia. Apakah bisa ngobrolnya di tempat yang tidak sibuk dengan urusan kantor?” tanya Tante Agatha sambil melirik ke arah sekretarisku yang sedang mengetik di keyboard komputer.
“Mmm… di lantai dua bisa Tante. Di situ suasananya sama aja dengan di rumah. Ayo kita ke sana.”
“Gak akan ada orang lain yang masuk ke sana?” tanyanya.
“Owh… gak akan ada yang berani Tante. Di lantai dua kan seolah rumah juga bagiku. Mari kita ke sana,” kataku sambil menunjuk ke tangga yang menuju lantai dua, “Tapi maaf nih… di sini tidak seperti di kantor yang di depan yang sudah ada lift. Di sini sih harus pakai langkah kaki Tante.”
“Nggak apa – apa. Punya kaki kan harus dipakai melangkah. Jangan terlalu dimanjakan,” sahutnya sambil melangkah duluan di depanku, menaiki tangga menuju ke lantai dua, lantai yang ditata seperti berada di dalam rumah.
Begitu masuk ke lantai dua, ibunya Agatha berseru sambil memegangi sepasang pipinya, “Wooow…! Ini sih lebih megah dan nyaman dari suiteroom di hotel – hotel five star. Kacanya pakai sunblast pula ya?”
“Iya Tante. Dari luar hanya bisa melihat gambar yang menempel di kaca itu. Tapi tidak bisa melihat ke dalam. Sedangkan kita bisa melihat ke luar dengan jelas,” sahutku.
“Nah,” kataku lagi, Mau di mana ngobrolnya? Di sini aman dan nyaman Tante. Tidak mungkin ada orang bisa masuk ke sini, karena pintu keluar sudah tgerkunci secara automatis. APa harus di dalam kamar curhatnya?”
“Haa?! Iya… mendingan juga di dalam kamar Don. Biar tante merasa tenang membiacarakan masalahnya,” sahut Tante Agatha yang tadinya mau duduk di ruang keluarga, tapi tidak jadi. Dan menghampiriku yang sedang membuka pintu kamar utama.
“Wah… wah wah… kamarnya luas begini, perabotannya serba mewah pula. Kalau tau gitu, kemaren nginap di sini aja,” kata Tante Agatha setelah berada di dalam kamar utama.
Di kamar utama itu juga ada satu set sofa putih bersih. Dan di sofa itulah kupersilakan calon mertuaku duduk. Kalau sudah jadi menantunya, pasti aku akan memanggilnya Mama seperti panggilan Gayatri kepada ibunya ini. Tapi aku tetap memanggilnya Tante karena belum resmi menjadi menantunya. Bahkan melamar secara resmi pun belum dilaksanakan.
Aku duluan duduk di sofa, Tante Agatha pun duduk di sampingku.
“Apa masalahnya Tante? Apakah ada yang bisa kubantu?” tanyaku.
“Begini,” kata Tante Agatha sambil menunduk, “Sebenarnya ayah Gayatri itu sedang menemui kesulitan dalam masalah keuangan. Sehingga kalau tidak ada yang menolong, perusahaannya bakal bangkrut.”
Kemudian secara panjang lebar Tante Agatha menceritakan kesulitan – kesulitan yang tengah dihadapi oleh suaminya. Kesimpulannya, ayah Gayatri ditipu di Bangkok, sehingga harus menanggung kerugian moral mau pun material.
Aku ikut prihatin mendengar penuturan mamanya Gayatri itu.
Penuturan Tante Agatha berakhir dengan permintaan bantuannya padaku. Mau pinjam uang, untuk mengatasi kebangkrutan perusahaan suaminya.
Setelah berpikir beberapa saat, aku bertanya, “Berapa uang yang dibutuhkan untuk menolong Oom Gunadi agar perusahaannya sehat kembali?”
Tante Agatha menyebutkan jumlah uang yang dibutuhkannya dengan sikap malu – malu.
Mungkin jumlah uang yang dibutuhkan itu cukup bvesar bagi Tante Agatha dan suaminya. Tapi menurutku tidak seberapa.
Aku lalu bangkit dari sofa menuju meja tulis di sudut kamarku. Lalu kukeluarkan buku cek dan kutulisi empat helai cek yang kalau dijumlahkan nominalnya lebih besar daripada nominal yang disebutkan oleh Tante Agatha barusan.
Tante Agatha pun berdiri, tapi tidak menjauhi sofa yang tadi didudukinya, dengan sikap tampak tegang.
Lalu kuserahkan keempat helai cek itu kepada Tante Agatha sambil berkata, “Ini empat helai cek yang bisa Tante cairkan di Bangkok nanti. Sengaja tanggalnya belum ditulis, silakan tulis oleh Tante saja di Bangkok nanti. Sesuai dengan kebutuhan yang paling mendesak.”
Aku pun menyerahkan sebuah amplop untuk menyimpan keempat lembar cek itu nanti.
Tante Agatha membaca keempat lembar cek itu selembar demi selembar. Dia melotot. Dan memasukkan keempat helai cek itu ke dalam amplop yang kukasih. Meletakkan amplop itu di dalam tas kecilnya, lalu memburu dan memelukku, “Terima kasih Dooon… terima kasiiiih…” ucapan itu disusul dengan ciumannya yang bertubi – tubi di sepasang pipiku, bahkan terakhir dia mencium bibirku sambil memelukku erat – erat.
Tentu saja aku kaget dan jadi salah tingkah, karena Tante Agatha mencium bibirku sedemikian lengketnya, sehingga tanpa kusengaja aku pun memegang bokongnya yang gede dan terasa belum lembek itu.
Tak cuma itu. Karena Tante Agatha belum melepaskan ciumannya, bahkan melumat bibirku dengan hangatnya, aku pun mulai memberanikan diri meremas pantat gedenya yang masih padat kencang itu…!
Tiba – tiba Tante Agatha melepaskan ciumannya, disusul dengan sesuatu yang membuatku terbelalak. Bahwa ibunya Gayatri yang lebih cantik dan lebih seksi daripada Tante Sin itu, melepaskan gaun biru ultramarine-nya…!
Aku cuma bisa terlongong, seperti orang begok. Menyaksikan Tante Agatha yang tinggal mengenakan beha dan celana dalam
Di rumah Tante Sin kemaren, aku tidak berani menatap muka Oom Gunadi mau pun istrinya. Aku hanya berani bicara sambil menundukkan kepala, karena ingin terkesan bahwa aku ini punya sopan santun manakala berhadapan dengan orang yang lebih tua. Karena itu sedikit pun aku tak punya penilaian terhadap mamanya Gayatri ini.
Tapi kini, suasana serba memungkinkan. Aku mulai berani memperhatikan wanita 40 tahunan itu. Dan aku tahu bahwa usia 40 tahun itu tidak bisa disebut tua. Bahkan sedang – sedangnya memancarkan pesona yang seolah mengandung daya magnetis.
Tante Agatha itu tak kalah cantik daripada Gayatri. Bahkan kalau dibandingkan dengan Tante Sin, mamanya Gayatri ini menang cantik dan menang seksinya…!
Ya… Tante Agatha lebih cantik daripada Tante Sin.
Dan kini wanita setengah baya yang demikian cantik dan seksinya itu sedang berdiri di depanku, dengan hanya mengenakan behas dan celana dalam saja. Apakah aku benar – benar tidak sedang bermimpi?
Ketika aku masih berdiri bingung, Tante Agatha malah memelukku lagi. Mendaratkan ciuman lengketnya lagi. Sehingga lagi – lagi kedua tanganku seolah reflex memegang kedua buah pantat gedenya…!
“Tante memang sudah horny sejak masih berada di rumah Sin tadi. Makanya tante minta diajak ke tempat yang tidak bisa hadir orang lain, ya karenma tante ingin menikmati semuanya bersamamu Sayang,” ucap Tante Agatha setengah berbisik. Sambil membuka kancing jasku. Kemudian melepaskan jas itu dan melemparkannya ke atas sofa.
“Tante… apakah hubunganku dengan Gayatri takkan rusak nanti?” tanyaku pada saat batinku limbung. Masalahnya… aku memang pengagum wanita setengah baya. Apalagi wanita setengah bayanya secantik dan seseksi mamanya Gayatri ini.
“Donny harus merahasiakannya dong sama Gayatri. Bisa kan merahasiakannya?”
“Mmm… bisa Tante… mmmm… aku merasa seperti sedang bermimpi Tante.”
Tante Agatha malah mengepit sepasang pipiku dengan kedua telapak tangannya. Dan berkata, “Donny bukan cuma tampan, tapi punya daya pesona yang luar biasa. Maka pantaslah kalau Gayatri kasmaran padamu. Jangankan Gayatri, tante aja yang punya suami langsung kepincut begitu melihat Donny kemarin.”
Tante Agatha mengakhiri kata – katanya dengan membelakangiku. Lalu berkata, “Tolong buka kancing beha tante Don.”
Kuikuti permintaan calon mertuaku, untuk melepaskan kancing kait behanya di bagian punggungnya. Tapi begitu kancing beha itu terlepas, tangan kananku ditarik ke depan ditempelkan ke perutnya yang terasa padat kencang. Sedangkan tangen kiriku ditarik ke arah payudaranya, yang behanya sudah terlepas yang sebelah kiri.
Hmmm. aku tahu apa maksud mamanya Gayatri ini. Bahwa aku yang sedang menghadap ke punggungnya, harus menyelinapkan tanganku ke balik lingkaran elastis celana dalamnya. Kepalangan gila, kupegang toket kirinya dengan tangan kkiriku, sementara tangan kananku diselundupkan ke balik celana dalam Tante Agatha…
“Bagaimana? Tetek tante masih padat kencang kan?” tanya Tante Agatha tanpa menoleh ke arahku.
“Iiii… iya Tante. Dan… serambi lempit Tante ini… ooooh… tembem sekali…”
“Kayak bapauw kan? Hihihihiiii…”
“Iya Tante… ihihiii…”
“serambi lempit ini untuk calon mantu tante yang tampan rupawan dan baik hati.”
“Iii… iya Tante. Mudah – mudahan saja takkan merusak hubunganku dengan Gayatri nanti.”
“Nggak lah. Asal pandai – pandai aja kita merahasiakannya. Buka dong celananya. Tante juga tinggal pake celana dalam yang isinya lagi Donny pegang nih.”
“Iya Tante,” sahutku sambil menarik kedua tanganku dari toket dan serambi lempit calon mertuaku.
Kemudian kulepaskan celana panjangku dan kulemparkan ke atas jas dan dasiku yang bertumpuk di atas sofa. Gaun dan beha Tante Agatha pun bertumpuk di situ.
Dengan cepat otakku berputar. Mau nunggu apa lagi? Bukankah aku ini pengagum dan penggemar wanita setengah baya? Bukankah sekarang ada sasaran meski dia itu calon mertuaku?
Wajahnya cantik sekali. Tubuh putihnya pun begitu terawat, tidak kelihatan seperti yang sudah berusia 40 tahun. Dan sekali lagi, usia 40 tahun itu belum tua. Bagiku, usia di atas 50 tahun barulah bisa disebut tua.
Maka ketika sudah sama – sama tinggal mengenakan celana dalam, kugandeng pinggang mamanya Gayatri itu untuk melangkah ke arah bed. Dengan tekad, tak mau jadi lelaki pasif lagi, karena pada dasarnya aku tak pernah pasif terhadap wanita setengah baya. Apalagi yang bernilai di atas 85 seperti Tante Agatha itu…
Maka setelah berada di atas bed, kuterkam dan kugumuli wanita cantik nan penuh pesona itu. Ia pun menyambut dengan gumulan hangat. Membuatku terkadang berada di atas, di saat lain berada di bawah.
Genderang birahi sudah ditabuh. Terompet asmara pun sudah ditiup. Sampai pada suatu saat, celana dalamku ditarik olehnya. Disusul dengan pekik perlahannya, “Doooon…! rudalmu ini… luar biasa gagahnya…!”
Lalu ia menyerangku dengan ciuman dan jilatan di leher dan puncak rudalku. Membuatku terpejam – pejam dalam nikmat. Terlebih setelah ia mengulum dan menggelutkan lidah di dalam mulutnya, rudalku yhang sudah ngaceng ini jadi semakin tak sabaran lagi rasanya. Tapi kubiarkan dia berbuat sekehendak hatinya.
Namun setelah puas menyelomot dan menurut – urut batang kemaluanku, dia langsung celentang sambil melepaskan celana dalamnya. “Punya tante sih jangan dijilatin ya. Soalnya punya tante sudah basah. Kalau terlalu becek, gak bisa menikmati gesekan rudalmu yang panjang gede itu.”
“Langsung masukin aja Tante?” tanyaku sambil mengusap – usap serambi lempit Tante Agatha yang bersih plontos itu.
“Iya Sayang… masukkanlah… tante udah horny berat nih…” sahutnya sambil merentangkan sepasang paha putih mulusnya.
Maka tanpa buang – buang waktu lagi, kuletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit Tante Agatha yang sudah ternganga kemerahan itu. Lalu kudesakkan batang kemaluanku sekuat mungkin. Dan… melesak masuk sedikit demi sedikit.
Pada saat itulah Tante Agatha menarik sepasang bahuku, sehingga dadaku terhempas ke atas sepasang toketnya yang berukuran agak montok (tapi tidak segede toket Umi Faizah dan Tante Neni). “Oooooooh… masuk Doooon… “cetus Tante Agatha dengan mata terpejam.
Setelah rudalku membenam lebih dari separohnya, aku pun mulai mengayun batang kemaluanku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Tante Agatha.
Tante Agatha menyambut entotanku dengan merengkuh leherku ke dalam pelukannya, disusul dengan ciuman dan lumatannya yang membuatku semakin bersemangat untuk menggencarkan entotanku.
Tapi ketika ayunan rudalku bergerak cepat, Tante Agatha menepuk – nepuk pipiku sambil berkata terengah, “Pelan aja dulu Sayang. Tante ingin menghayati gesekan rudalmu dengan liang serambi lempitku… naaaaah… segitu aja… kalau perlahan – lahan terasa semakin indah…”
Kuturuti saja permintaan calon mertuaku itu. Mungkin dia senang dengan hal – hal yang beraroma romantis. Kuatur gerakan rudalku sampai kecepatan normal, tidak terlalu cepat tidak pula terlalu lambat. Sementara mulutku mulai beraksi, untuk mencelucupi puting payudara kirinya, sementara tangan kiriku meremas – remas payudara kanannya.
Pinggul Tante Agatha pun mulai bergoyang seperti gelombang ombak di laut yang sedang berkejaran menuju pantai. Membuat kemaluannya terkadang menengadah, terkadang menunduk… mendongak lagi… menukik lagi. Ini adalah goyangan yang efektif. Karena clitorisnya jadi sering bergesekan dengan badan rudalku.
Desahan dan rintihan Tante Agatha pun mulai berlontaran dari mjulutnya, “Aaaaaaa… aaaaaah… Doooon… sebenarnya tante… sudah… sudah lama sekali tidak digauli oleh papanya Gayatri… hampir lima tahun batin tante menderita… dan sekarang… tante mendapatgkannya dari calon mantu yang baik hati ini…
“Me… memangnya Oom im… impoten?” tanyaku terengah – engah.
“Iya Don… sudah hampir lima tahun rudalnya tak bisa ereksi lagi… sejak dia menderita diabetes… aaaaah… entot terus Dooon… sekarang boleh dicepetin Sayaaaang…”
Aku tak mau membahas masalah Oom Gunadi itu lebih jauh. Dan sesuai dengan permintaan Tante Agatha, aku pun mulai menggencarkan entotanku. Sambil menjilati leher jenjangnya yang sudah mulai keringatan, disertai dengan gigitan – gigitan kecil.
“Aaaaaaaa… aaaaah… Doooon… rudalmu enak sekali Doooon… entot terus Dooon… entooot teruuuussssssss… iyaaaaa… iyaaaaa… entooooottttt… enntooottttttt… entooooooootttt… iyaaaaaaa… iyaaaa… iyaaaa… “rintih Tante Agatha yang tampak semakin menikmati aksiku.
Ketika lengannya terpentang seperti disalib, aku pun menyerudukkan mulutku ke ketiaknya. Lalu menjilati ketiak harum deodorant mahalnya.
Makin klepek – klepek juga Tante Agatha dibuatnya.
“Oooo… ooooo… oooooh Dooonny… kamu sudah pandai menyentuh setiap lekuk peka Dooon… belajar dari mana?”
“Dari buku Tante… ooooohhhh… serambi lempit Tante luar biasa enaknya Tanteeee…” sahutku mulai ngawur juga seperti dia.
Kini gencarnya entotanku disambut dengan goyangan pinggul Tante Agatha yang mulai menggila. Tak cuma seperti ombak bergulung menuju pantai, tapi memutar – mutar dan meliuk liuk. Sehingga rudalku diombang – ambingkan sesuai dengan gerakan pinggul Tante Agatha. terkadang tertarik ke kanan, terkadang tertarik ka kanan, ke atas dan ke bawah.
Sementara keringat mulai membasahi tubuh kami. Tapi kami tak mempedulikan hal kecil itu. Aku semakin gencar memenyetubuhinya, sementara goyangan pinggul Tante Agatha pun semakin menggila.
Sampai pada suatu saat, terdengar suara Tante Agatha terengah, “Dooon… tante mau lepas Dooon… barengin Dooon… biar nikmaaaat…”
“Lepasin… di dalam?” tanyaku terengah pula.
“Iyaaaaaa…” sahutnya dengan goyangan pinggulnya yang semakin menggila.
Sebenarnya aku masih bisa bertahan. Tapi aku ingin menciptakan kepuasan bagi calon mertuaku.
Maka kupercepat entotanku. Makin cepat. Makin cepat. Sementara Tante Agatha mulai berkelojotan. Lalu mengejang tegang, dengan perut agak terangkat ke atas, dengan nafas yang tertahan. Pada saat itu pula kutancapkan rudalku di dalam liang serambi lempit Tante Agatha. Tanpa digerakkan lagi.
Lalu kami seperti sepasang manusia yang sedang kerasukan. Kami saling cengkram dengan kuatnya. Disusul dengan berkedut – kedutnya liang serambi lempit wanita setengah baya itu, dibalas dengan mengejut – ngejutnya batang kemaluanku… sementara moncongnya menembak – nembakkan lendir kenikmatanku. Croooottttt…
Tapi ada hal kecil yang terjadi. Bahwa ketika moncong rudalku mau memuntahkan air mani, aku mendadak seperti kaget sendiri, karena aku menyadari siapa yang sedang kusetubuhi ini. Maka kutarik penkisku, sehingga “tembakan”nya di mulut serambi lempit Tante Agatha. Maka melelehlah air maniku ke luar. Mengalir dari mulut serambi lempit Tante Agatha.
“Hihihiiii… kamu ngasih creampie sama tante Don?!” ucap Tante Agatha sambil mencubit lenganku.
“Nggak sengaja, Tante. Maaf…” sahutku tersipu.
Kemudian Tante Agatha mengajak mandi bareng di kamar mandi yang bersatu dengan kamar utama itu.
Entah kenapa, aku jadi langsung merasa dekat dengan calon mertuaku itu. Bahkan diam – diam Tante Agatha kuanggap sebagai kekasih baruku. Bukan lagi cuma calon mertuaku. Bahkan setelah tubuh kami dibasahi oleh pancaran air hangat shower, aku menyabuni sekujur tubuh Tante Agatha dengan telaten.
Pada waktu tubuh mulusnya sedang ku kusabuni itulah Tante Agatha berkata, “Sejak tadi malam tante sudah membayangkan nikmatnya disetubuhi olehmu, Sayang. Jadi jangan pikir kalau tante mengajakmu bersetubuh karena dipinjami duit sebesar itu. Walau pun tidak dikasih cek itu, tante tetap akan mengajakmu bersetubuh.
“Uang itu bukan pinjaman Tante,” sahutku sambil menyabuni bagian depan tubuh calon mertuaku.
“Jadi?” Tante Agatha menatapku dengan sorot serius.
“Jadi tak usah dikembalikan. Mudah – mudahan aja dengan dana yang kuhibahkan itu perusahaan Oom Gunadi sehat kembali.”
“O my God! Kamu memang sangat baik Don. Terima kasih yaaa…” ucap Tante Agatha sambil memeluk dan menciumiku dengan tubuh yang sama – sama penuh dengan busa sabun.
“Tante juga sangat baik. Sehingga aku dikasih sesuatu yang sangat indah tadi.”
“Soal itu sih berarti kita memang saling membutuhkan Don. Malah yang duluan kepengen kan tante sendiri. Aaah… kapan kamu mau balik ke Bangkok lagi?”
“Aku mau stay di Indonesia Tante. Ke Bangkok hanya sekali – sekali saja, karena masih ada perusahaan dan rumah yang belum dijual.”
“Jangan dijual Don. Siapa tau nanti kamu jadi ingin tinggal di Bangkok lagi.”
“Sebenarnya ada dua perusahaan peninggalan Papa yang takkan kujual. Begitu juga rumah itu, takkan kujual. Karena sejak bayi sampai dewasa aku tinggal di rumah itu.”
“Donny punya niat untuk menikah dengan Gayatri kan?”
“Iya Tante.”
“Terus kalau sudah menikah, mau tetap tinggal di Indonesia?”
“Betul.”
“Padahal kalau Donny stay di Bangkok lagi, kita bisa sering ketemuan.”
“Kalau mau ketemuan denganku sih gampang. Tante bisa terbang sendirian ke sini. Tapi Gayatri dan Tante Sin jangan dikasih tau. Setelah kita puas barulah mereka dikasihtau. Pura – pura baru tiba di kota ini, gitu.”
“Iya. Pasti nanti tante kangen terus sama kamu Don.”
“Tante… aku mau berterus terang ya. Aku memang pengagum wanita setengah baya. karena itu aku merasa senang sekali bisa memiliki tubuh Tante.”
“Bukan hanya tubuh. Batinku juga sudah kamu miliki sejak hari ini Sayang,” ucap Tante Agatha yang disusul dengan ciuman mesra lagi di bibirku. “Tapi… haiii… rudalmu udah ngaceng lagi Dooon… !”
“Iya Tante… aku sudah kepengen lagi nih…” sahutku sambil meraba – raba serambi lempit Tante Agatha yang masih berlepotan air dan busa sabun shower.
“Nanti setelah bersetubuh, pasti keringatan lagi. Harus mandi lagi. Di sini aja ya,” ucap Tante Agatha dengan senyum sumringah. Mungkin dia senang juga melihatku sudah bernafsu lagi.
Lalu Tante Agatha melangkah ke depan washtafel. Bak washtafel itu terletak di atas meja batu. Bak lonjong washtafel berada di sebelah kiri meja batu itu. Sementara di sebelah kanan washtafel itu kosong dan lumayan panjang, untuk rebahan pun bisa. Sebenarnya bagian yang kosong itu untuk menyimpan pakaian kotor sebelum dicuci.
“Iya Tante… bisa… bisa…” kataku dengan penuh semangat.
Kebetulan tinggi meja batu itu sejajar dengan rudalku, sehingga aku bisa berdiri sambil mengarahkan moncong rudalku ke serambi lempit calon ibu mertuaku yang sudah menganga kemerahan itu. Tapi begitu aku merapat ke depan kemaluan Tante Agatha, kedua kaki wanita setengah baya jelita itu diletakkan di atas bahuku sambil berkata, “Ayo…
“Nama panggilan Tante apa?”
“Atha,” sahut wanita Indo – Belgia itu sambil memegang rudal ngacengku, lalu mencolek- colekkan moncong rudalku ke mulut serambi lempitnya. Lalu rudalku dibenamkan sedikit ke mulut serambi lempitnya. Sehingga aku tinggal mendorongnya saja.
Dan aku memang melakukan hal itu. Mendesakkan rudalku yang kepalanya sudah nyungsep di celah serambi lempit Tante Agatha.
“Ooooohhh… sudah masuk lagi Sayaaaang… “rintih Tante Agatha sambil bersandar ke dinding, sementara kedua lipatan lututnya sudah berada di atas sepasang bahuku.
Lalu… sambil berdiri aku mulai memenyetubuhinya dengan sepenuh gairahku.
Bahkan sepasang paha Tante Agatha kudorong sampai kedua lututnya berada di atas sepasang toket wanita Indo – Belgia itu.
Tante Agatha pun mengerti apa yang kuinginkan. Sepasang tangannya menarik lipatan lututnya, agar kedua lututnya tetap beraa di sebelah sepasang toketnya, tanpa harus kudorong pahanya.
Walau pun begitu aku masih bisa memegang sepasang toket Tante Agatha yang masih enak buat diremas – remas itu.
Lebih dari setengah jam aku memenyetubuhi Tante Agatha sambil berdiri begini. Memang benar seperti yang dikatakan olehnya tadi, bahwa dalam persetubuhan yang kedua ini keringat kami membanjir lagi.
Rintihan – rintihan hoisteris Tante Agatha pun berhamburan lagi dari mulut sensualnya. “Doooonnnn… oooooh Doooon… gak nyangka tante akan mendapatkan rudal muda yang masih begini gagahnya… ereksinya pun sempurna… setelah Donny menikah dengan Gayatri nanti, tante akan tinggal bersama kalian ya Doon…
rudalku pun tetap memompa liang serambi lempit calon mertuaku yang Indo – Belgia itu. Sampai akhirnya meletus di dalam liang serambi lempit Tante Agatha, bersamaan dengan orgasmenya wanita setengah baya itu.
Pelayan sudah menghidangkan makanan di ruang makan yang bersatu dengan kitchen itu. Maka kuajak Tante Agatha untuk makan bersama.
“Nanti kalau sudah nikah, Gayatri mau diajak pindah ke sini?” tanya tante Agatha setelah duduk di kursi makan, berhadapan denganku terbatas, meja makan. sumber Ngocoks.com
“Ya dibawa ke rumahku Tante. Tapi nanti bagaimana baiknya aja. Aku juga harus mendengar apa yang diinginkan oleh Gayatri.”
Lalu kami mulai makan.
“Tante ikut program KB di Bangkok?”
“Nggak,” sahut Tante Agatha sambil tersenyum.
“Wah… kalau hamil gimana?”
“Nggak apa – apa.”
“Tapi kalau ketahuan sama Oom Gunadi, pasti beliau bakalan murka.”
“Nggak mungkin marah. Tante kan pernah minta cerai setahun yang lalu. Karena papanya Gayatri sudah bertahun – tahun tidak bisa memberikan nafkah batin lagi pada tante.”
“Terus?”
“Dia malah menangis. Minta agar tante jangan meninggalkannya. Kemudian dia mempersilakan tante berselingkuh dengan lelaki lain, sampai hamkil pun tidak apa – apa. Asalkan tante jangan minta cerai darinya.”
“Kasian…”
“Iya. Tante juga jadi kasihan sama dia. Makanya tante menguatkan diri untuk tetap hidup bersamanya. Tapi tante pun tak pernah berselingkuh di belakang dia. baru sekali ini tante berselingkuh sama calon mantu yang ternyata sangat memuaskan…”
“Terus… kalau tante hamil nanti gimana? Tante masih bisa hamil kan?”
“Tentu saja bisa. Selama belum menopause, semua perempuan masih dimungkinkan hamil. Tante kan baru empatpuluh tahun. Teman tante yang usianya empatpuluhtujuh saja masih bisa punya anak lagi kok.”
“Terus kalau Tante hamil nanti gimana?”
“Tante malah senang. Mudah – mudahan tante bisa hamil anak laki – laki darimu, biar tampan seperti ayahnya. Tante kan punya anak tiga orang, perempuan semua. Belum ada cowoknya.”
“Tiga orang? Bukannya adik perempuan Gayatri cuma seorang?”
“Kan sebelum menikah dengan papanya Gayatri, tante sudah punya anak perempuan seorang. Papanya Gayatri juga sudah punya anak seorang, ya Gandhi itu.”
“Owh… aku hanya dengar bahwa adik Gayatri bernama Galia.”
“Iya. Itu anak dari Oom Gunadi. Anak dari suami pertama tante bernama Liza. Nama lengkapnya Elizabeth.”
“Kata Gandhi, Galia itu tinggal di Bangkok. Terus Liza tinggal di Bangkok juga?”
“Nggak. Liza itu tinggal di Jakarta. Ohya, kalau bisa sih tempatkan Liza di perusahaanmu Don. Sekarang dia sudah kerja, tapi gajinya kecil sekali. Ohya… hampir saja tante lupa. Liza mau menemui tante di rumah Sin hari ini. Mungkin sekarang masih di jalan.”
“Suruh aja dia ke sini Tante. Usianya berapa tahun?”
“Duapuluhsatu.”
“Berarti pendidikannya…”
“Sudah de-tiga.”
“De-tiga dari jurusan apa?”
“Dari akademi sekretaris.”
“Mmmm… ya sudah. Kalau begitu suruh aja dia ke sini. Aku membutuhkan beberapa tenaga yang kursinya masih kosong. Maklum kantor perusahaanku ini baru dibuka dua bulan yang lalu.”
“Iya. Tante call aja Liza ya,” kata Tante Agatha sambil mengeluarkan handphone dari tas kecilnya.
“Silakan,” sahutku.
Lalu Tante Agatha menelepon anak sulungnya yang bernama Liza Elizabeth itu. Entah apa yang mereka bicarakan, karena menggunakan bahasa Belanda campur – campur bahasa Perancis.
Bersambung… Setelah selesai menelepon anaknya, Tante Agatha kuajak pindah ke sofa di ruang keluarga. di situlah Tante Agatha berkata padaku, “Masih di luar kota. Mungkin sejam lagi juga tiba di sini.” “Ngomongnya campur – campur gitu. Ada bahasa Belanda, ada bahasa Perancis terkadang pake bahasa Jerman,” sahutku.
“Iya. Di Belgia kan ada tiga bahasa resmi. Bahasa Belanda, Perancis dan Jerman. Tapi yang tinggal di Brussel pada berbahasa Perancis. Liza lebih terbiasa menggunakan bahasa Belanda, karena ayahnya asli Belanda.”
“Berarti darah Indonesianya cuma duapuluhlima persen dong. Kan ayahnya Belanda, ibunya Indo – Belgia.”
“Iya. Tapi dia lahir dan besar di Jakarta.”
“Ayahnya masih ada?”
“Masih. Kami bercerai pada saat Liza masih balita. Lalu ayahnya kembali ke Nederland.”
“Tapi dia fasih berbahasa Indonesia kan?”
“Tentu aja. Dia kan lahir dan besar di Jakarta.”
“Di Jakarta dia bekerja sebagai sekretaris?”
“Justru itu… dia tamatan akademi sekretaris, tapi bekerja sebagai staf admin biasa. Karena di perusahaan itu sudah ada sekretaris.”
“Di sini juga sudah ada sekretaris Tante. Tapi nanti bisa saja kutukar posisinya, asalkan Liza mampu jadi sekretaris komisaris utama. Sekretaris lama akan kupindahkan menjadi sekretaris dirut.”
“Silakan atur – atur aja deh sama Donny. Tapi sama Liza jangan memperlihatkan sikap mesra sama tante ya,” ucapnya yang disusul dengan ciuman mesranya di bibirku.
“Tapi sebelum dia datang boleh aja kan aku bermesraan dulu sama Tante,” sahutku sambil menyelinapkan tanganku ke balik gaun biru ultramarinenya.
“Emangnya Donny masih belum kenyang?”
“Belum,” sahutku sambil menyelinapkan tanganku ke balik celana dalamnya. Dan mulai menggerayangi serambi lempit tembemnya lagi.
“Ayo dong ke kamar lagi. Jangan di sini,” bisik Tante Agatha.
Dan… begitulah… menemukan wanita yang cocok dengan kriteriaku… aku jadi laksana kafilah dahaga di padang pasir. Sekalinya menemukan oase, minum sebanyak mungkin.
Di dalam kamar utama, kubenamkan lagi batang kemaluanku ke dalam liang serambi lempit calon ibu mertuaku yang cantik dan sangat seksi itu.
“Jangan lebih dari sejam ya Sayang. Takut Liza keburu datang,” bisik Tante Agatha ketika batang kemaluanku sudah melesak amblas ke dalam liang serambi lempit yang sangat lezat itu.
“Iya mertuaku sayaaaang,” sahutku yang kususul dengan ciuman hangat di bibir sensualnya, sambil mulai mengayun batang kemaluanku perlahan – lahan dahulu.
“Ooo… ooo… oooooohhhhh… mulai enak lagi Dooon… ayo entot sepuasmu Sayaaaang… rudalmu luar biasa enaknyaaaaaa… entooot teruuuuusssss… ooooohhhhh… kalau sudah nikah sama Gayatri, Donny harus tetap rajin menyetubuhi tante yaaaa…”
“Tentu aja Tante… serambi lempit legit begini takkan kulupakan seumur hidupku…” kataku sambil menghentikan entotanku dulu, “Tante pindah aja ke Indonesia, ke kota ini.”
“Kenapa?”
“Biar aku bisa menyetubuhi Tante sesering mungkin.”
“Terus tante mau tinggal di mana? Di rumah Sin bareng – bareng Gayatri?”
“Nanti kusediakan rumah, khusus buat Tante.”
“Kalau dikasih bisnis, tante mau. Biar ada alasan sama papanya Gayatri.”
“Boleh. Nanti kusediakan lahan bisnis buat tante di kota ini.”
“Don… sebenarnya tante juga ingin dekat selalu denganmu. Karena baru kamulah yang terasa sangat memuaskan di ranjang. Tante bahkan ingin sekali dihamili olehmu Sayang.”
“Aku juga merasakan hal yang sama. Tante memenuhi semua kriteriaku. Ya cantik, ya seksi, ya legit serambi lempitnya… setengah baya pula.”
“Usia setengah baya termasuk kriteriamu?”
“Betul Tante. Kalau belum ada janji dengan Gayatri, pasti aku akan mengejar Tante ke mana pun, sampai dapat.”
“Donny Sayang… sebenarnya tante juga sudah mulai mencintaimu. Kamu malah melebihi kriteria tante. Lebih dalam segalanya. Ya tampan, ya masih sangat muda, memuaskan di ranjang, baik hati pula.”
Lalu Tante Agatha mencium bibirku dilanjutkan dengan saling lumat. Terkadang lidahku disedot ke dalam mulutnya lalu digeluti oleh lidahnya. Aku pun melakukan hal yang sama ketika lidahnya terjulur, kusedot dan kumainkan di dalam mulutku. Sementara batang kemaluanku pun mulai diayun lagi… maju mundur lagi di dalam liang serambi lempit Tante Agatha yang luar biasa enaknya ini.
“Ayo Don… entot tante sepuasmu… tapi ingat… jangan sampai Liza keburu datang nanti… iyaaaa… entot yang kencang juga boleh… yang penting jangan terlalu lama… iyaaaa… iyaaaa… ooooh Dooonny… rudalmu memang luar biasa enaknya Doooon… entoottttt… entooootttttt… fuck me harder please…
Aku memang tidak mau berlama – lama, karena aku juga takut kalau Liza keburu datang. Tapi ketika aku ingin ngecrot secepatnya, malah sulit ngecrot.
Setelah hampir sejam aku menyetubuhi Tante Agatha, barulah aku bisa ngecrot di dalam liang serambi lempit Tante Agatha untuk yang ketiga kalinya, setelah Tante Agatha orgasme dua kali lagi.
Kemudian kami bergegas menuju kamar mandi untuk bersih – bersih. Dan kami kenakan lagi pakaian kami. Kemudian menyisir rambut di depan cermin meja rias.
Setelah merapikan pakaian dan rambut, kami turun ke lantai satu.
Hanya beberapa menit setelah tiba di ruang kerjaku, seorang petugas security mengantarkan seorang gadis bule berambut pirang. “Itu dia Liza,” kata Tante Agatha sambil bangkit dari kursi tamu di samping ruang kerjaku.
Aku terkaget – kaget dibuatnya. Kalau tadi persetubuhan kami terlambat lima menit saja, pastilah Liza harus menungguku di lantai satu. Menungguku yang sedang memenyetubuhi ibunya…!
“Ini pacar Gayatri, Liz,” kata Tante Agatha sambil menunjuk ke arahku, “Dia ini anak tunggal Mr. Margono yang pernah kuceritakan dahulu. Sekarang Mr. Margono sudah meninggal dan dia yang melanjutkan semua perusahaannya.”
Liza menjabat tanganku sambil tersenyum manis. Manis sekali senyum cewek bule berambut pirang itu…!
“Tepat seperti dugaanku, Liza ini tujuhpuluih lima persen bule ya Tante,” kataku setelah berjabatan tangan dengan anak sulung Tante Agatha.”
“Iya… malah gak kelihatan Indonesianya. Dia seperti seratus persen bule kan?” tanya sahut Tante Agatha.
Aku menatap wajah Liza yang masih berdiri sopan di depanku. Memang Liza tampak 100% bule… cantik pula, tak kalah cantik dari ibunya. “Iya Tante,” sahutku sambil tersenyum. Liza tersipu, lalu duduk di samping ibunya.
“Mbak Wien… tolong mintakan minuman ke kitchen,” kataku kepada Mbak Wien, sekretarisku yang usianya kira – kira sebaya dengan Tante Agatha itu.
“Siap Big Boss, “Mbak Wien berdiri lalu melangkah ke luar.
Kemudian aku berunding dengan Tante Agatha dan Liza Elizabeth. Tentang job yang akan diberikan pada Liza. Sebagai sekretaris komisaris utama. Sementara Mbak Mbak Wien akan kutugaskan sebagai sekretaris dirut. Tentu saja dengan gaji yang jauh lebih besar daripada gaji Liza di Jakarta.
Liza tampak bersemangat pada awalnya. “Tapi, di mana aku tinggal nanti Mam?” tanya Liza kepada ibunya, “Kalau di rumah Tante Sin aku gak mau.”
Tante Agatha menoleh padaku, “Liza pernah bentrok sama Sin. Makanya dia tidak mau tinggal di rumah Sin. Bagaimana tuh Don?” tanyanya.
Gamp[ang soal itu sih. Di belakang ada rumah kosong yang siap untuk ditinggali. Jarak dari rumah itu ke sini hanya beberapa puluh meter saja. Jadi kalau mau ngantor gampang. Tinggal melangkah beberapa menit saja. Tak usah pakai kendaraan lagi. Mau dilihat rumahnya?”
Liza berdiri sambil berkata, “Siap Big Boss.”
“Hahahaaa… kalau tidak di depan karyawan lain, gak usah manggil boss,” kataku, “Panggil namaku juga boleh. Kita kan sebaya. Sama – sama duapuluhsatu taun kan?”
“Nggak enak dong manggil nama sama Big Boss,” sahut Liza.
“Aku sih bukan orang yang gila hormat,” kataku sambil berdiri, “Ayo kita lihat rumahnya Liz. Tante juga ikut aja, gak jauh kok dari sini rumahnya.”
Memang rumah itu tidak jauh dari kantorku. Sebenarnya ada lima buah rumah yang kubangun di tanah kosong peninggalan almarhum Papa. Tujuanku, untuk karyawan yang menduduki jabatan penting di perusahaanku nanti. Supaya gampang memanggilnya kalau ada masalah perusahaan yang emergency.
Kelima rumah itu bukan rumah mewah. Tapi bentuknya cantik semua, bergaya minimalis, masing – masing terdiri dari satu kamar tidur yang bersatu dengan kamar mandi, satu ruang tamu, satu ruang makan, satu kamar berukuran kecil untuk pembokat, satu dapur dan kamar mandi di luar kamar tidur (untuk tamu dan pembokat yang mau mandi atau buang air).
Untuk Liza, sengaja kupilih yang plus. Yang ada tambahan kamar tidurnya, jadi dua kamar tidur dan satu kamar untuk pembokat.
Tante Agatha dan anak sulungnya tampak senang melihat rumah yang kusediakan untuk tempat tinggal Liza itu.
“Tapi nanti gak usah ngasihtau Sin dan Gayatri ya Don,” kata Tante Agatha setengah berbisik padaku, “Soalnya ya itu.. Sin pernah bentrok sama Liza. Entah urusan apa yang bikin mereka bentrok. Tapi kelihatannya Liza marah sekali sama Sin.”
“Iya Tante. Aku takkan ngomong kalau Liza sudah kurekrut ke perusahaanku,” sahutku. Lalu aku menoleh ke arah Liza, “Bagaimana? Senang dengan rumah ini?”
“Seneng banget,” sahut Liza.
“Sekarang mau langsung ditempati?” tanyaku.
“Jangan dulu. Nanti malam harus kerja lembur. Sekalian mau pamitan sama temen – temen.”
“Wah… sekarang sudah sore. Emangnya sempet nyampe Jakarta sebelum jam overtime?”
“Iya ya… pasti terlambat sih. Tapi biarin aja, kan mau resign,” sahut Liza.
“Kalau gitu kuanterin aja ke Jakarta ya,” kataku.
“Haaa…?! Big Boss mau nganterin aku ke Jakarta? Kalau berkenan sih ya tentu aja aku mau… mau banget,” wajah cantik Liza tampak ceria.
“Iya, “aku mengangguk, “Boleh ya Tante kuanterin Liza ke Jakarta?” aku menoleh ke arah Tante Agatha.
“Boleh. Tapi tante gak bisa ikut. Mau kembali ke rumah Sin. Takut mereka cemas karena aku terlalu lama meninggalkan rumah Sin.”
“Gak usah ngomong ketemuan sama aku ya Mam,” kata Liza kepada ibunya.
“Iya iya, “Tante Agatha mengangguk – angguk sambil tersenyum…
Beberapa saat kemudian Liza Elizabeth sudah duduk di sampingku, dalam mobil yang kusetir sendiri. Setelah berkali – kali aku meminta agar Liza jangan memanggilku Big Boss jika sedang berduaan begini, kecuali kalau di depan karyawan – karyawanku, akhirnya mau juga dia menyebut namaku langsung.
Bahkan aku merasa bahwa Liza itu punya perasaan yang “khusus” padaku, tapi belum berani mengucapkannya, mungkin.
“Di Jakarta tinggal di rumah siapa?” tanyaku pada suatu saat.
“Di rumah kos – kosan,” sahut Liza.
“Kamu kan bakal resign dari tempat kerjamu. Lalu kenapa sekarang ngeyel mau kembali ke Jakarta?”
“Aku punya jutang ke kantin. Harus dibayar dulu. Aku juga harus pamitan dulu kepada teman – temanku. Pakaianku juga kan harus dibawa. Masa mau ditinggal begitu aja di rumah kos? Lagian bulan ini aku belum bayar sewaan kamarnya. Harus dibayar dulu kan? Masa mau meninggalkan tanggungjawab.”
“Betul juga sih.”
Hening sesaat.
Lalu terdengar suara Liza lagi,” Kata Mama. Mr. Margono itu punya pesawat jet pribadi segala. Berarti sekarang punya Donny dong pesawatnya.”
“Iya. Ada dua buah pesawatnya. Tapi dua – duanya sudah kujual,” sahutku.
“Lho kenapa?”
“Punya pesawat terbang itu suatu pemborosan. Biaya parkir di hanggar bandara mahal sekali. Gaji piulot dan pramugari juga harus dipikirkan kan?”
“Tapi kan keren Don. Ke mana – mana bisa pakai pesawat jet pribadi.”
“Justru aku tak ingin kelihatan keren. Aku ingin menerapkan pola hidup sederhana. Makanya mobil ini pun kubeli dari showroom mobil second. Bukan mobil baru. Makanya jangan manggil Big Boss kalau sedang berduaan begini. Aku tak mau kelihatan sebagai pewaris harta Mr. Margono.”
Tiba – tiba Liza menempelkan pipinya di bahuku sambil berkata, “Lantas… aku harus manggil Honey atau Sayang atau apa?”
Hmmm… ini adalah indikator awal yang cukup jelas. Bahwa Liza itu punya perasaan khusus padaku.
“Terserah kamu mau manggil apa. Asal jangan manggil Big Boss aja. Kecuali kalau di kantor nanti.”
“Mmm… pacaran sama Gayatri sudah berapa lama?”
“Sudah enam bulanan.”
“Donny serius sama dia? Maksudku punya niat menikah dengan Gayatri?”
“Iya.”
“Padahal harusnya kakak Gayatri yang Donny jadikan calon istri.”
“Maksudmu… seharusnya aku jadi pacarmu, gitu?”
“Iya. Aku kan kakaknya. Kalau Gayatri duluan menikah, berarti dia melangkahiku.”
“Bicara lebih jelas lagi dong. Liza maunya gimana?”
“Yah… cowok kan bisa punya pacar lebih dari seorang. Aku mau kok dijadikan pacar Donny juga.”
“Karena apa? Karena aku banyak duit?”
“Bukan iiih… aku bukan cewek matre.”
“Lalu apa sebabnya Liza bisa punya pikiran begitu?”
“Aku mau jujur ya Don. Tapi jangan diketawain.”
“Silakan bicara sejujurnya. Aku paling suka cewek yang jujur.”
“Begitu melihat Donny tadi, aku langsung jatuh hati Don.”
“Ohya?”
“Iya. Donny tampan sekali sih. Lagian Donny punya daya pesona yang begitu kuat. Sehingga cewek mana pun bisa jatuh hati sama Donny.”
“Kamu juga sangat cantik Liz.”
“Jadi? Aku diterima nih ceritanya?”
“Iya. Tapi aku tak mau meninggalkan Gayatri.”
“Aku juga tidak ingin hubungan Donny dengan Gayatri putus. By the way, apa kelebihan Gayatri sehingga Donny bisa jatuh cinta padanya?”
“Gayatri itu cantik dan penyabar. Perilakunya selalu santun. Dan… dia masih seratus persen perawan.”
“Aku juga masih perawan Don. Mau dibuktikan juga silakan. Asal jangan seperti makan tebu aja… habis manis sepah dibuang.”
“Aku tidak sejahat dan sekejam itu Liz,” kataku sambil membelokkan mobilku ke rest area yang tampaknya sepi sekali itu. Setelah mengisi pertamax, kuparkir mobilku di depan sebuah rumah makan minang.
“Makan dulu yok. Bisa makan nasi padang kan?”
“Bisa banget. Aku malah suka sekali makan nasi padang. Ada pedasnya, tapi tidak gila – gilaan pedasnya.”
Di dalam rumah makan padang itu obrolan kami dilanjutkan. Sambil menyantap masakan padang yang sudah lengkap dihidangkan di atas meja. Seperti biasa ciri khas rumah makan padang, semua teman nasi yang ada dihidangkan di atas meja.
“Kenapa Liza musuhan sama Tante Sin?” tanyaku sambil mulai makan.
“Bukan musuhan. Dahulu aku pernah mendamprat dia habis – habisan,” sahut Liza.
“Dia godain pacarku. Tapi kejadiannya udah lama, waktu aku masih di SMA. Pacaran cinta monyet lah.”
Aku terhenyak mendengar pengakuan Liza itu. Karena kalau kejadian itu pada saat Liza masih duduk di bangku SMA, berarti Papa masih ada. Dan pada waktu Papa masih ada, Tante Sin bisa mewnggoda pacar Liza? Apakah seperti ketika Tante Sin menggodaku?
Tapi sudahlah. Itu bukan urusanku. Lagian kejadiannya juga sudah lama.
“Sejak saat itu aku gak mau lagi mengunjungi rumah Tante Sin,” kata Liza.
“Sampai sekarang masih dendam sama Tante Sin?”
“Nggak sih. Udah gak marah. Cuma gak enak aja bertamu ke rumah dia, padahal dahulu pernah kudamprat abis – abisan.”
“Makanya kalau mau marah sama saudara, pikirin dulu mateng – mateng. Kalau masih ditahan, ngomong baek – baek aja,” kataku.
“Siap Honey,” ucap Liza sambil tersenyum manis. Oh… senyumnya itu… membuat pikiranku melayang ke mana – mana.
Jujur, aku tergoda. Mudah sekali aku tergoda oleh wajah cantik dan senyum manis cewek bule itu. Tapi aku pun harus berpikir sejauh mungkin. Apakah Gayatri takkan merasa disakiti kalau aku mengadakan hubungan dengan kakak seibu beda ayahnya itu?
Dan biasanya, kalau aku sudah tertarik pada seorang cewek, langsung kuperjuangkan untuk menyetubuhinya. Tapi aku baru habis -habisan dengan Tante Agatha di private room kantorku. Sampai tiga ronde pula.
Masih punya powerkah aku sekarang? Jangan – jangan rudalku tak bisa ereksi nanti.
Tapi oooii maaaak… diam – diam si johni sudah celingukan di balik celanaku. Karena aku membayangkan seperti apa tubuh Liza kalau sudah ditelanjangi nanti.
Dari luar pun aku bisa menilai seperti apa kira – kira tubuh Liza yang bule total itu. Tubuhnya yang tinggi dan agak montok, dengan dada membusung dan bokong membusung pula… pasti jauh beda dengan Gayatri. Aku yakin toket Liza agak gedean. Pinggangnya pun tidak kecil seperti pinggang Gayatri.
Dan kalau tidak salah, seandainya aku berpolygami… dua orang cewek kakak beradik, bisa dinikahi dua – duanya.
Hmmm… selalu saja aku berpikir melesat jauh, selalu saja aku punya jalan tol untuk meraih tubuh yang seksi seperti Liza Elizabeth itu.
“Kok jadi bengong? Inget sama Gayatri ya?” tanya Liza sambil menatapku dengan sorot sayu. Maaak… kesayuan mata Liza itu seolah mengajak tidur bersamaku…!
Kujawab, “Nggak, aku sedang mikir… Gayatri itu adik seibu beda ayah kan?”
“Iya.”
“Terus dengan Gandhi…”
“Kalau Gandhi kan saudara tiri. Karena beda ayah beda ibu.”
“Begitu ya.”
“Iya. Karena sebelum menikah dengan Mama, Papa Gunadi itu sudah punya anak, ya Gandhi itu. Mama pun sudah punya anak, ya aku ini.”
“Iya… iya… “aku mengangguk – angguk. Lalu memanggil pelayan untuk menghitung makanan yang sudah kami santap.
Setelah membayar makanan yang kami santap, kami pun masuk ke dalam mobil kembali. Hari pun sudah mulai gelap. Sehingga aku hanya menghidupkan mesin mobilku, tanpa menjalankannya.
“Kaca mobilnya gelap sekali ya,” ucap Liza setelah memasangkan seat belt.
“Iya. Kita mau ngapain juga takkan terlihat dari luar,” sahutku sambil menunggu reaksi Liza.
Ternyata Liza memang bereaksi. Seat beltnya dilepaskan kembali, kemudian merangkul leherku dan memagut bibirku ke dalam ciuman hangatnya. Agak lama dia melengketkan bibirnya di bibirku. Aku pun membalasnya dengan lumatan lahap.
“Oooohhhh… maaf ya… aku jadi lancang…” ucap Liza setelah ciumannya terlepas, “Soalnya udah gemes, dari tadi pengen nyium bibir Donny…”
“Bagaimana kalau kita chek in aja ke hotel di Jakarta nanti? Soal kerja lembur, telepon aja atasanmu. Bilang aja terus terang mau resign gitu.”
“Terus di hotel mau ngapain? Mau buktiin keperawananku?”
“Iya,” sahutku tegar,” Ucapanmu tadi serius kan?”
“Ucapan yang mana?”
“Yang bilang siap untuk dibuktikan keperawananmu.”
“Serius. Asalkan Donny jangan membuatku habis manis sepah dibuang.”
“Kalau kamu masih perawan… aku akan serius menjalin hubungan denganmu.”
“Terus Gayatri mau diapain?”
“Kelak kamu dan Gayatri akan kujadikan istriku dua – duanya. Tapi jangan terburu – buru. Karena aku ingin kamu dan Gayatri menerima kenyataan itu secara damai – damai aja.”
“Jadi untuk sementara hubungan kita harus dirahasiakan dulu kan?”
“Iya. Pokoknya kamu akan kujadikan sekretaris pribadiku. Ke mana pun aku pergi, kamu harus ikut.”
“Siap Big Boss. Tapi… kalau aku hamil nanti gimana?”
“Soal itu sih jangan takut. Aku membawa pil kontrasepsi, agar kamu jangan hamil dulu.”
“Sip deh kalau gitu sih. Oke… aku sekarang juga mau nelepon atasanku ya.”
“Silakan,” sahutku. Lalu turun dulu dari mobil, agar Liza bicara leluasa dengan atasannya. Sekalian menyalakan rokok dan menikmati asapnya di depan mobilku.
Beberapa menit kemudian terdengar suara Liza, “Sudah Don… !”
“Gimana? Bisa selesai lewat handphone aja?” tanyaku.
“Iya. Aku sekalian nitip bayarin utangku di kantin kantor. Lagian untuk bulan ini aku belum terima gaji. Masa gak bisa diselesaikan oleh gajiku nanti.”
Sambil menjalankan mobilku kembali, kusahut, “Soal itu sih bukan masalah gede. Kalau perlu nanti transfer aja duit ke kantin.”
“Hihihiii… ibu kantinku gak ngerti transfer – transferan. Tabungan aja gak punya. Gimana mau main transfer sama dia?”
“Kan bisa nitip transfer sama teman yang bisa dipercaya.”
“Iya. Nanti kutransfer ke sahabatku aja. Terus… kita mau langsung cek in nih?”
“Iya. Are you ready for fucking?”
“Yes Sir! I’m ready Sir!!“ sahut Liza dengan nada seorang bawahan kepada atasannya. Membuatku tersenyum. Sambil membayangkan segala yang bakal terjadi nanti.
Lalu Liza menyandarkan kepalanya di bahuku sambil berkata, “Tapi aku sa, ma sekali belum punya pengalaman dalam soal seks. Jadi tolong ajarin nanti ya Don.“
“Alaaa… soal itu sih gampang. Nanti kamu tinggal celentang, rudalku dimasukkan ke dalam serambi lempitmu, lalu kuentot samp[ai ngecrot crot crottttt…“
“Hihihihiii. Donny kok mendadak vulgar gitu ngomongnya… !” cetus Liza sambil mencubit lengan kiriku.
“Para pakar seks bilang, sewaktu akan atau sedang berhubungan seks, ngomonglah sejorok mungkin. Jangan terlalu formal. Karena omongan jorok atau cabul itu justru akan menambah gairah.”
“O begitu ya. Mmm… aku juga mau ngomong jorok ah… mmm… kalau rudal Donny dimasukkan ke dalam liang serambi lempitku, sakit nggak Don?”
“Nanti serambi lempitmu akan kujilatin dulu sampai benar – benar basah, untuk mempermudah masuknya rudalku ke dalam serambi lempitmu.”
“serambi lempitku mau dijilatin dulu? Seperti dalam film bokep ya?”
“Iya. Kamu sering nonton bokep kan?”
“Sering sih nggak. Takut terangsang sih. Cuma pernah empat atau lima kali nonton dari hape temen.”
Sejam kemudian, mobilku sudah keluar dari pintu tol ke arah Senayan.
“Sebenarnya aku punya dua rumah di Jakarta. Tapi pasti harus bersih – bersih dulu, karena rumah yang sudah lama ditinggalkan. Makanya mending cek in di hotel aja.”
“Iya, terserah kamu aja, Cinta,” sahut Liza yang disusul dengan kecupan hangatnya di pipi kiriku, emwuaaaah…!
“Kamu serius cinta sama aku?” tanyaku.
“Ya seriuslah. Kalau gak cinta, masa aku mau dibawa ke hotel segala. Apalagi sudah jelas rencananya… mau buktiin virgin gaknya serambi lempitku kan?”
Aku ketawa kecil mendengar jawaban yang blak – blakan itu.
Beberapa saat kemudian, mobilku sudah memasuki pelataran parkir sebuah hotel bintang lima plus satu diamond, sementara jam tanganku sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Setelah cek in, aku dan Liza melangkah ke arah pintu lift, sambil membawa kartu electronic key pintu kamar di lantai 16.
Begitu berada di dalam kamar yang telah dibooking itu, Liza melingkarkan lengannya di leherku. Menatapku dengan senyum manisnya dan berkata perlahan, “Sekujur tubuh dan jiwaku akan menjadi milikmu. Aku hanya mohon, jangan sia – siakan cintaku nanti ya Honey…”
Aku cuma mengangguk sambil tersenyum. Liza pun memagut bibirku ke dalam ciuman mesranya. “Tapi aku mau mandi dulu Don. Boleh?”
“Sama,” sahutku, “Aku juga harus mandi dulu biar bersih dan segar badannya. Mandi bareng aja yuk. Biar jadi kenangan indah kelak.”
Liza menatapku dengan sorot ragu. “Mmmm… ayo deh… kan waktu membuktikan virginitasku harus telanjang juga. Hihihiii… ini pertama kalinya aku mau mandi bareng cowok.”
Setibanya di kamar mandi, Liza menanggalkan gaun orangenya, lalu gaun itu digantungkan di kapstok kamar mandi. Mulailah tampak betapa indahnya tubuh Liza itu. Tinggi langsing dan agak montok. Setelah ia melepaskan behanya, tampaklah sepasang toket indah berukuran sedang, tidak semontok dugaan semulaku.
Aku memenangkan diriku sendiri dengan melepaskan celana jeans dan baju kaus casualku. Lalu kulepaskan juga celana dalamku.
Dan ketika kami berhadapan, kami saling pandang. Saling meengamati dari ujung kaki sampai kepala. Lalu kami sama – sama tertunduk. Seperti tidak tahu apa yang harus kami lakukan.
Terdengar suara Liza, “Jantungku berdegup kencang Don…”
“Kenapa? Takut?” tanyaku sambil memeluknya dari belakang. Dengan tangan kiri membekap toket kirinya, sementara tangan kananku membekap serambi lempit tembemnya.
“Don ..” ucapnya.
“Hmm?”
“Apakah Donny mencitaiku?”
“Kalau tidak cinta, ngapain aku mau memecahkan keperawananmu segala?”
“Aku memang turunan bule dari Papa dan Indo Belgia dari Mama. Tapi jiwaku tidak seperti cewek – cewek bule di negaranya, yang mengobral serambi lempit kepada cowok yang hanya ingin iseng semata. Karena itu sampai saat ini aku bisa mempertahankan kesucianku. Karena aku hanya mau memberikan kesucianku pada cowok yang benar – benar kucintai dan jelas masa depannya.
“Iya. Tenang aja. Aku akan membujuk Gayatri pelan – pelan. Agar dia rela dipoligami. Bahkan mungkin saja dia senang kalau kubilang bahwa aku akan mengawinimu juga Liz,” kataku, sementgara jemari tangan kananku sedang mencari – cari letak clitoris Liza. Dan setelah ketemu, kuelus – elus kelentit cewek bule berambut brunette itu (yang tadinya kusangka pirang, setelah dilihat dari dekat rambutnya tidak pirang benar, cuma brunette/kecoklatan).
Terasa tubuh Liza bergetar setelah jemariku mengelus – elus kelentitnya ini.
“Dududuuuuh Dooon… mandi dulu yooook… nanti kalau udah mandi sih mau ngapain juga silakan, “Liza meronta, lalu menghampiri kran shower. Dan memutarnya ke titik merah. Air hangat pun terpancar dari shower di atas kepala kami.
Kemudian kami agak menjauh dari siraman air shower, untuk menyabuni tubuh kami. Tepatnya saling menyabuni. Karena aku dengan senang hati menyabuni sekujur tubuh bule yang terasa masih fresh di sana – sini ini. Sementara Liza pun menyabuni tubuhku dengan telaten. Bahkan ketika tangannya akan menyabuni rudalku yang sudah ngaceng berat ini, “Ini kan yang mau dimasukin ke dalam serambi lempitku?
Aku pun menyabuni serambi lempit Liza sambil berkata, “Iya… nanti rudalku bakal dimasukin ke sini…”
“Hihihihiii… kebayaaang…”
“Kebayang apa?”
“Pokoknya kebayang kayak di film bokep. Tapi aku kan belum pernah ngerasain. Gak tau bakal gimana jadinya nanti.”
Sambil berdiri di bawah pancaran air hangat shower, untuk membilas busa sabun di tubuh kami, aku berkata, “Pokoknya Liza takkan kusakiti. Bahkan sebaliknya… akan kuajak terbang ke langit imajinasi seks nanti…”
“Iya… aku sudah ingin merasakannya,” sahut Liza sambil meraih salah satu handuk putih yang disediakan oleh hotel five star plus diamond one itu.
Kemudian Liza menghanduki sekujur tubuhnya. Begitu pula aku, menghanduki tubuhku sampai kering. Kemudian membelitkan handuk itu di badanku.
Liza pun melakukan hal yang sama. Setelah mengeringkan badan dan rambutnya, handuk putih itu dibelitkan di tubuhnya, dari toket sampai pahanya. Kemudian dia memegang lenganku, keluar dari kamar mandi menuju bedroom.
Yang menyenangkan pada Liza ini aalah sifat periangnya itu. Dia murah senyum dan tawa. Sikapnya selalu open minded. Sehingga aku menilai dia bakal membawa keceriaan selalu kelak.
Ketika sudah berada di atas bed, dengan ketawa kecil Liza melepaskan belitan handukku. Kemudian melemparkan handuk itu ke atas sofa. Aku pun membalasnya, dengan menarik handuk yang membelit di tubuhnya, kemudian melemparkannya ke atas sofa juga.
Dalam keadaan sudah telanjang, Liza bergerak cepat, menjauhiku sambil ketawa cekikikan. Tapi setelah tertangkap tangannya, ia langsung memelukku, menciumi pipi dan bibirku. Lalu berkata setengah berbisik, “Jujur, baru sekali ini aku jatuh cinta sedemikian cepatnya… dan langsung mendalam…”
Kusahut, “Aku suka kamu… suka senyum manismu… tawa riangmu dan… serambi lempit tembem ini… hihihiiii…”
Akhirnya Liza menelentang dengan kedua tangan direntangkan lebar – lebar sambil berkata lirih, “Silakan pangeranku… sekujur tubuhku sudah menjadi milikmu…”
Aku pun tak mau pasif lagi, karena aku yakin bahwa rudalku bakal mampu (setelah tadi siang main tiga ronde dengan mamanya Liza). Lalu aku merayap ke atas perutnya, untuk mencelucupi puting payudaranya yang begitu indah di mataku.
Memang tubuh Liza proporsional. Tubuhnya tidak bisa dibilang kurus, tidak pula chubby. Toketnya tidak kecil, tapi tidak juga gede. Bokongnya pun tidak kecil, tapi tidak juga semok. Segalanya berukuran sedang, berukuran ideal.
Dan ketika aku sedang mencelucupi puting payudara kirinya, tangan kiriku pun beraksi untuk meremas toket kanannya. Suhu badan Liza pun terasa meningkat, jadi hangat. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Karena tujuan utamaku ingin menjilati kemaluannya sampai basah kuyup, agar memudahkan rudalku untuk melakukan penetrasi.
Karena itu aku mulai melorot, untuk menjilati pusar perutnya. Itu pun tidak lama kulakukan. Lalu aku melorot lagi sampai wajahku berhadapan dengan kemaluan Liza yang sangat indah ini. Indah karena tembem dan rapat. Tidak berjengger seperti cewek bule pada umumnya.
Liza memang putih bule kulitnya. Wajahnya pun wajah cewek bule. Tapi serambi lempitnya… serambi lempit bangsaku. Tidak ada jengger yang nongol ke luar seperti serambi lempit cewek – cewek bule…!
Setelah merenggangkan sepasang paha putih mulusnya, aku pun mengangakan kemaluan Liza dengan kedua tanganku, sehingga bagian dalamnya yang berwarna pink itu pun terbuka lebar… mengkilap dan tampak licin. Di bagian yang berwarna pink itulah ujung lidahku mulai menari – nari… menyapu – nyapu dengan lahapnya.
“Hihihiiii… geli… geli tapi… enaaak… hihihiii… “Liza menggeliat – geliat sambil meremas – remas kain seprai yang bercorak itu.
Sambil menjilati serambi lempit Liza, diam – diam aku pun mengamati bentuk bagian dalam serambi lempit kakak seibu Gayatri itu. Sehingga aku yakin bahwa Liza masih perawan.
Lalu kujilati lagi serambi lempit yang masih sangat rapat itu sampai basah kuyup. Clitorisnya pun tak kulewatkan, kujilati dan kusedot – sedot sebisaku. Sehingga terasa serambi lempit Liza sudah cukup basah.
Maka tanpa buang – buang waktu lagi kujauhkan mulutku dari kemaluan Liza. Kemudian kuarahkan agar pahanya diusahakan agar tetap merenggang sejauh mungkin. Liza pun mengikuti arahanku.
Kemudian kuletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempitnya. Dengan cermat sekali, agar jangan salah arah.
Lalu kudorong rudal ngacengku sekuat tenaga. Sulit masuknya. Kudorong lagi… belum berhasil… kudorong lagi… belum membenam juga.
Kukumpulkan tenagaku untuk mendorong rudalku lebih kuat lagi.
Dengan bersusah payah, akhirnya kepala rudalku berhasil membenam ke dalam celah kewanitaan Liza.
Dengan sekuat tenaga kudorong lagi prenisku… membenam sampai lehernya… aku pun menarik nafas panjang dulu… kemudian kudorong lagi rudalku sekuatnya… ughhh… sekuatnya… ughhh… sekuatnya… sampai masuk separohnya…!
Aku pun merapatkan dadaku ke dada Liza, yang disambut dengan pelukan Liza di leherku, “Sudah masuk Bang?”
“Sudah. Kok manggil Bang?”
“Kan usia Donny dua bulan lebih tua dariku. Jadi akju mau manggil Bang aja ya. Kalau nyebut nama langsung takut kebiasaan. Nanti kalau Bang Donny jadi suamiku gimana? Buat orang barat sih gak apa – apa manggil nama sama suami. Tapi aku kan WNI. Aku gak mau manggil nama langsung pada suami.”
“Owh… ya udah. Biar kompak juga sama Gayatri yang manggil bang padaku.”
Kemudian aku mulai mengayun rudalku perlahan – lahan, di dalam liang kemaluan yang luar biasa sempitnya ini.
Namun beberapa menit kemudian, liang sanggama Liza mulai beradaptasi dengan ukuran batang kemaluanku. Sehingga aku mulai lancar memenyetubuhinya.
“Ooooo… oooooohhhh Baaaang… iiii… inii enak sekali… oooooh rasanya sampai seperti melayang – layang gini Baaaang… enak Baaaaang…”
“Uhhh… Gak sakit?” tanyaku.
“Tadi pas baru dimasukin memang agak sakit sedikit. Tapi sekarang tinggal enaknya doang Bang… lanjutin Baaaang… ternyata dientot rudal Bang Donny ini enak sekali Baaaang…”
“serambi lempitmu juga enak sekali Sayang.”
“Ooooh… hatiku bahagia sekali dipanggil Sayang sama Abang… karena aku benar p- benar mencintai Abang… oooo… oooooohhhhh… enak Baaang… entoot teruuus Baaaang… entooot terus… iyaaaa… iyaaaaa… iyaaaaaa…”
Ayunan rudalku memang mulai lancar. Sehingga aku bisa memenyetubuhi Liza dalam kecepatan normal.
Liza pun merintih dan merintih terus. Rintihan yang terdengar erotis di telingaku.
Diam – diam aku memperhatikan rudalku yang sedang maju mundur di dalam liang serambi lempit Liza. Ternyata ada garis – garis merah darah di rudalku. Berarti Liza memang masih perawan sebelum kupenetrasi tadi.
Padahal sebenarnya baik masih perawan atau pun tidak, Liza tetap akan kunikahi kelak. Karena aku membutuhkan tangan kanan di perusahaanku nanti. Kalau sudah menjadi istriku, Liza pasti bisa all out bekerja di perusahaanku nanti.
Liza merintih – rintih terus pada saat aku semakin intensif memenyetubuhinya. “Bang Dooon… oooooh… ini makin lama makin enak Baaaang… ooooh… makin enak bang… makin enaaaak… entot terus Bang… entooootttt… entoooooootttttt…”
Ketika aku mulai menggencarkan entotanku, Liza pun semakin menggeliat – geliat. Terlebih setelah tangan dan mulutku mulai beraksi. Dengan mengemut pentil toket kirinya, sementara tangan kiriku meremas toketnya yang terasa ngepas sekali rasanya… ngepas enaknya buat diremas.
Lalu mulutku berpindah sasaran. Menjilati lehernya yang sudah mulai keringatan, disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Rintihan – rintihan histerinya pun semakin menjadi – jadi. “Baaaang… ooooohhhhh… Baaaaaang… makin lama makin enak Baaaang… aku cinta padamu Bang… sangat cintaaaaa…
Bahkan beberapa saat berikutnya Liza mulai berkelojotan sambil berucap terengah, “Adudududuuuuuhhh… Baaaang… Baaaang… ini… serambi lempitku serasa mau ambrol Baaaang… tapi enak sekali… Baaaang…”
Melihat gelagatnya aku pun mengerti apa yang akan terjadi. Aku menjawabnya dengan, “Itu pertanda mau orgasme Sayang… ayoooo… luapkan saja orgasmenya… ayooo sayaaang…”
Kugencarkan entotanku secepat mungkin sampai akhirnya kubenamkan rudalku sedalam mungkin, tanpa menggerakkannya lagi, karena Liza sedang mengejang tegang. Liza melotot seperti melihat hantu, lalu terpejam erat – erat dengan mulut ternganga.
Aku merasakan sesuatu yang indah ini. Bahwa ketika nafas Liza tertahan dengan sekujur tubuh mengejang, liang serambi lempitnya terasa berkedut – kedut kencang. sumber Ngocoks.com
Lalu Liza melepaskan nafasnya yang tertahan 2 – 3 detik… dan terkulai lunglai, disusul dengan lenguhannya, “Oooh… indah sekali Baaang… terima kasih yaaaa…”
Aku sadar bahwa persetubuhan ini merupakan persetubuhan yang keempat hari ini. Karena tadi siang aku habis menyetubuhi Tante Agatha sampai 3 ronde. Maka wajar kalau durasi entotanku bakal lama sekali.
Karena itu. setelah Liza tampak berdarah lagi, aku pun mencabut batang kemaluanku. Kemudian kulihat genangan darah sebesar coin di kain seprai tepat di bawah kemaluan Liza.
Itu darah perawan Liza, sebagai saksi bahwa sebelum kuterobos oleh batang kemaluanku tadi, Liza masih suci.
Maka dengan segala hormat di dalam batinku, bibir Liza kuciumi bertubi – tubi, disusul dengan ucapan, “Tadi kamu masih perawan, sebelum keperawananmu itu diberikan padaku. Mulai detik ini aku benar – benar mencintaimu Sayang.”
Liza menatapku dengan sorot mata yang berbinar – binar, “Terima kasih Bang. Berarti aku tidak bertepuk sebelah tangan…”
“Aku hanya minta agar Liza kompak dengan Gayatri nanti ya. Karena aku akan mencintai kalian berdua sebagai calon istriku.”
“Iya Bang. Aku dengan Gayatri tak pernah bentrok kok. Malah waktu dia masih kecil, akulah yang suka mengasuhnya.”
“Tapi aku belum ejakulasi, Sayang… kita lanjutkan masih kuat?”
“Boleh.”
“Mau coba ganti posisi?”
“Terserah Abang. Aku kan belum berpengalaman.”
Lalu kuajak melanjutkan persetubuhan ini dalam posisi doggy. Liza menurut saja. Lalu kuperagakan bagaimana caranya merangkak dan menungging, sementara aku akan memenyetubuhinya sambil berlutut di hadapan bokongnya yang ditunggingkan itu.
Liza menurut saja. Dan setelah ia menungging di atas kasur, aku pun berlutut di depan sepasang buah pantatnya yang elok sekali bentuknya. Tidak terlalu besar, tapi juga tidak kecil. Bentuk yang ideal – proporsional.
Lalu kubenamkan batang kemaluanku ke dalam liang serambi lempit yang nyempil di antara kedua pangkal pahanya itu. Sekarang tidak terlalu sulit melakukan penetrasi, karena Liza baru habis orgasme, sehingga liang serambi lempitnya masih basah dan licin.
Kemudian… sambil memegang kedua buah pantat Liza, aku pun mulai memenyetubuhinya lagi.
Dalam posisi doggy pun Liza tampak enjoy dengan entotanku. Terlebih setelah aku memenyetubuhinya sambil menepuk – nepuk buah pantatnya yang indah itu.
Lalu terdengar suara Liza yang sedang menungging sambil memegang bantal yang berada di bawah dagunya, “Baaang… ooooooh… dalam posisi ini pun enaaaak… memang lain – lain enaknya dengan posisi yang tadi… tepukin pantatku terus Baaang… agak keras juga gak apa – apa… !”
Kulakukan apa yang diinginkan oleh Liza itu. Kutepuk – tepuk bokongnya dengan tepukan lebih keras, sementara rudalku semakin gencar memenyetubuhi liang serambi lempitnya yang sempit tapi licin dan hangat ini. Plakkkk… plokkkk… plakkk… ploookkkk… plakkkk… plokkkk…
Sementara pergesekan antara batang kemaluanku dengan dinding liang serambi lempit Liza yang sudah basah kuyup itu pun menimbulkan bunyi unik… crekkkk… srtttt… crekkkk… sretttt… creekkkk… srtttt…
Sebenarnya aku masih bisa bertahan lebih lama lagi. Tapi aku merasa kasihan kepada Liza. Maklum dia baru kali ini merasakan disetubuhi. Karena itu aku menunggu detik – detik klimaks Liza untuk kedua kalinya, lalu aku akan berusaha untuk berejakulasi berbarengan dengan orgasmenya Liza.
Memang lebih mudah untuk mempercepat durasi entotanku daripada memperlambatnya. Ketika Liza terasa sudah klepek – klepek lagi, aku pun berada di detik – detik yang krusial, karena aku sengaja memikirkan yang indah – indah saja.
Akhirnya, ketika Liza menggelepardan ambruk, aku berusaha agar batang kemaluanku tidak terlepas dari serambi lempitnya.
Pada saat itulah kami mencapai puncak nikmat secara berbvarengan.
Croooottttt… croooootttt… crot… crotttt… croooottttttt… crot… croooootttttttt…!
Lalu kami sama – sama terkapar di pantai kepuasan.
Liza bahkan tampak seprfti sedang tidur paska orgasmenya itu. Biarlah, aku takkan mengganggunya. Aku turun dari bed lalu bergegas menuju kamar mandi. Untuk kencing dan membasuh alat vitalku yang berlepotan dengan lendir.
Ketika aku kembali lagi ke bedroom, kulihat Liza masih terbaring dengan mata terpejam. Aku tersenyum sendiri melihat cewek bule itu tampak tepar.
Bersambung… Dengan perasaan terharu kukecup bibir Liza disusul dengan bisikan, “Telan dulu pil kontrasepsinya nih.”
“Iya Cinta…” sahutnya dengan suara lirih. Lalu mengeluarkan sebutir pil kontrasepsi dari blisternya. Dan menelannya, didorong oleh air mineral yang kuberikan.
“Gimana perasaanmu sekarang?” tanyaku sambil mengusap – usap pipinya yang terasa masih keringatan.
“Makin mencintai Abang,” sahutnya sambil bangkit, “Aku mau mandi dulu ah. Badanku lengket – lengket gini sama keringat.”
“Silakan. Aku sih udah barusan.” “Abang barusan mandi?” “Nggak. Cuma dilap pakai handuk basah aja. Mandi mulu, takut luntur…” “Hihihiii… Abang bisa aja. Pakai luntur segala. Apanya yang bisa luntur? Tampannya?” “Iya… hahaahaa…”
Lalu Liza turun dari bed dan melangkah gontai ke arah kamar mandi. Sementara aku mengeluarkan celana pendek dan baju kaus serba hitam dari dalam tas pakaianku. Lalu mengenakannya.
Keesokan paginya, kuantar Liza ke rumah kosnya. Untuk mengambil pakaian dan barang – barangnya. Sambil pamitan kepada ibu kos, sekaligus menyelesaikan uang kos yang belum dibayar. Tentu saja dengan bantuan dariku.
Liza sudah bertekad bulat untuk meninggalkan Jakarta dan pindah ke kotaku. Untuk bekerja di perusahaanku, sambil mempersiapkan diri untuk menjadi calon pendamping hidupku.
Setibanya di kotaku, Liza tidak langsung dibawa ke rumah yang disediakan untuknya di belakang kantor perusahaanku itu, melainkan kubawa ke rumah peninggalan almarhum Papa itu.
Rumah itu senantiasa dijaga oleh satpam dan dilayani oleh pembantu. Sehingga aku tenang meninggalkan Liza sendirian di rumah itu.
Sementara itu aku harus memutasikan dulu Mbak Wien, sekretarisku.
Aku tidak mau memutasikan Mbak Wien dengan meninggalkan perasaan sakit di hatinya. Tapi aku harus menempatkan Liza sebagai sekretaris pribadiku.
Karena itu aku harus berusaha “menjinakkan” wanita 38 tahun yang berbadan tinggi montok dan berkulit kuning langsat itu.
Dan aku tahu cara yang paling jitu untuk menjinakkan janda setengah baya yang manis dan murah senyum itu.
Maka keesokan harinya lagi, aku memanggil Mbak Wien ke lantai dua. Ini adalah pertama kalinya Mbak Wien menginjak lantai dua, karena dia tahu kalau lantai dua itu adalah lantai pribadiku.
Di lantai dua, Mbak Wien kuterima di ruang tamu. Seperti biasa, sikapnya selalu hormat padaku. Dia hanya menunduk di sofa, sementara aku duduk di depannya.
“Begini,” kataku membuka pembicaraan, “Dua hari lagi akan kedudukan direktur utama akan dijabat oleh Ibu Kaila. Tentu saja dia harus didampingi oleh sekretaris yang sudah menguasai seluk beluk perusahaan ini. Dan satu – satunya orang yang cocok untuk mendampingi beliau, adalah Mbak. Jadi Mbak Wien mulai besok akan menjadi sekretaris dirut.
“Siap, bersedia Big Boss.”
“Tapi sudah pasti menjadi sekretaris dirut akan lebih sibuk nanti Mbak.”
“Siap. Saya memang suka pada kesibukan.”
“Nah… inilah yang aku suka pada Mbak. Senantiasa easy going. Tidak pernah ada complain masalah tugas,” kataku sambil berdiri, lalu duduk di samping kanan Mbak Wien. “Setelah bertugas menjadi sekretaris dirut, secara diam – diam Mbak juga harus bisa jadi pengawas. Kalau ada kebijaksanaan yang kurang tepat, Mbak harus melapor padaku.
“Siap.”
Tiba – tiba kupegang tangan kanannya, “Sebelum Mbak bertugas sebagai sekretaris dirut… aku ingin berterus terang pada Mbak… bahwa aku ini pengagum wanita setengah baya seperti Mbak ini.”
“Ma… masa sih?” Mbak Wien mengerling sambil tersenyum malu – malu.
“Serius Mbak. Sejak Mbak Wien menjadi sekretarisku, diam – diam aku sering mengamati Mbak. Pokoknya aku suka sama Mbak,” ucapku sambil mencium tangannya yang sedang kupegang ini.
“Ra… rasanya saya seperti sedang bermimpi. Masa Big Boss yang tampan dan masih sangat muda ini bisa suka sama saya yang jauh lebih tua.”
“Kan udah kuakui tadi, bahw aku ini pengagum wanita setengah baya. Jadi… sebelum Mbak menjadi sekretaris dirut, aku ingin melakukan sesuatu sebagai pegangan bahwa Mbak akan menjadi orang kepercayaanku nanti. Mbak tau kan kenapa aku ingin bicara di lantai dua yang merupakan lantai pribadiku?”
“Samar – samar Big Boss. Takut salah prediksi.”
“Di situ ada kamar Mbak,” kataku sambil menunjuk ke arah pintu kamar utama, “kita akan melakukannya di sana. Deal?”
“Hihihiii… saya jadi merinding Boss.”
“Kenapa merinding? Ngeri?”
“Bukan ngeri. Saya… saya kan sudah tiga tahun hidup menjanda. Dan sekarang… aaah… saya mau mengikuti apa kata Big Boss aja deh.”
“Nah begitu dong,” kataku perlahan, disusul dengan pagutan di bibir Mbak Wien.
Ternyata Mbak Wien menyambut dengan melumat bibirku, dengan suhu badan yang mulai menghangat.
Memang aku selalu mudah mendapatkan wanita. Apalagi Mbak Wien ini anak buahku langsung. Dan dengan kepala tertunduk ia mengikuti langkahku, masuk ke dalam kamar utama yang tiga hari lalu kujadikan tempat untuk menggumuli calon ibu mertuaku.
Dan kini Mbak Wien pasrah saja ketika aku melepaskan blazer putihnya.
“Maaf Big Boss… ini serius? Saya serasa kurang percaya pada pendengaran saya bahwa saya diinginkan oleh Big Boss yang masih sangat muda begini.”
“Pokoknya Mbak ini manis dan seksi di mataku. Sudah lama aku menginginkan ini. Tapi baru sekaranglah saat yang kurasa paling tepat,” sahutku sambil memperhatikan Mbak Wien yang sedang mencopoti kancing – kancing blouse abu – abu mudanya.
Aku pun melepaskan jas dan dasiku. Kemudian melepaskan kemeja tangan panjangku dan menggantungkan semuanya di kapstok. Kemudian sambil duduk di pinggiran bed kulepaskan sepatu dan kaus kakiku. Disusul dengan pelepasan celana panjangku.
Sementara Mbak Wien sudah melepaskan blouse dan spanrok putihnya. Sehingga tinggal beha dan celana dalam serba putih yang masih melekat di tubuh montok berkulit kuning langsat itu.
Aku sendiri tinggal mengenakan celana dalam. Dan langsung meraih Mbak Wien ke atas bed. Mbak Wien pun menelungkup, seolah memintaku agar melepaskan kancing behanya sekaligus memamerkan bokongnya yang… gede banget…!
Maka kutepuk – tepuk bokong gede itu… plakkk… plakkk… plakkk… sambil berkata, “Ini antara lain yang aku suka sama Mbak.”
“Hihihihiii… ternyata Big Boss suka bokong gede ya…” ucapnya sambil membiarkanku melepaskan kancing kait behanya.
Kemudian Mbak Wien menelentang sambil melepaskan behanya. Sepasang toket berukuran sedang terpampang di depan mataku. Toket yang kupegang dan terasa masih lumayan kencang padat. Belum kempes. Belum kendor.
“Toketnya seperti belum pernah menyusui,” ucapku sambil meremas toket Mbak Wien.
“Saya memang belum punya anak, Boss.”
“Ohya?! Asyik dong… serambi lempitnya pasti masih mrepet rapet.”
“Hihihi… gak tau. Nanti kan Boss akan merasakannya sendiri.”
“Sebentar… mau kuukur dulu ya,” kataku sambil menarik celana dalam Mbak Wien sampai terlepas dari sepasang kakinya. Kemudian kulepaskan celana dalamku sendiri. Dan kupukul – pukulkan rudal ngacengku ke serambi lempit Mbak Wien yang bersih dari jembut.
Yang mengagumkan lagi pada diri Mbak Wien itu, adalah pinggangnya yang kecil ramping, meski bokongnya gede sekali.
Dan.. Mbak Wien terperanjat setelah melihat rudalku. Lalu spontan bangkit dan memegang rudalku sambil berkata, ““Big Boss…! Wow… punya Boss segini gede dan panjangnya…!”
“Kenapa? Takut sama rudal gede?”
“Takut ketagihan, hihihiiii…” sahut Mbak Wien disusul dengan ciuman dan jilatannya di leher dan kepala rudalku.
“Nanti setelah Mbak jadi sekretarfis dirut, hubungan kita malah akan semakin dekat. Kalau aku lagi kepengen, pasti Mbak akan diuajak ke kamar ini. Kalau Mbak yang merasa kangen, tinggal kirim sms atau WA aja. Pasti kuladeni.”
“Pasti saya bakal sering kangen. Hmmm… mimpi aja belum pernah. Gak taunya bisa sedekat ini sama Big Boss.”
“Kalau sedang berduaan gini sih panggil nama aja, gak usah boss – bossan.”
“Gak berani ah manggil nama langsung. Kan biar bagaimana Big Boss orang nomor satu di perusahaan ini.”
“Tapi hubungan kita jadi kaku kalau manggil Big Boss dalam suasana seperti sekarang ini.”
“Manggil Mas aja ya. Biar sama yang jauh lebih muda manggil Mas juga, sebagai tanda menghormati.”
“Bolehlah panggil Mas, meski aku bukan orang Jawa.”
Mbak Wien tidak menyahut lagi, karena mulai memasukkan rudal ngacengku ke dalam mulutnya. Lalu terasa ia mulai mempermainkan lidah di dalam mulutnya. Membuatku menahan – nahan nafas juga. Karena ternyata Mbak Wien pandai sekali mengoral rudalku.
Namun pada dasarnya aku ini senang menjilati serambi lempit, tapi kurang suka rudalku dioral pasangan seksualku. Karena kalau kelamaan dioral seperti ini, bisa cepat ejakulasi pada saat memenyetubuhi liang serambi lempitnya nanti.
Tampaknya Mbak Wien juga sama. Ketika aku menarik rudalku dari dalam mulutnya, lalu mendekatkan mulutku ke serambi lempitnya, Mbak Wien mencegahku, “Jangan dijilatin Mas. serambi lempit saya udah basah. Keburu horny sih. Nanti malah jadi gak bisa merasakan montoknya rudal Mas.”
“Oke deh,” sahutku sambil berlutut dan meletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempit tembem wanita 38 tahunan itu.
Mbak Wien pun merenggangkan kedua belah pahanya sambil memegangi leher rudalku. Lalu mencolek – colekkannya ke mulut serambi lempitnya.
Kemudian ia memberi isyarat, pertanda arah moncong rudalku sudah tepat.
Maka kudesakkan tongkat kejantananku sekuat tenaga. Dan… sedikit demi sedikit membenam ke dalam liang serambi lempit Mbak Wien.
Mbak Wien pun memejamkan matanya sambil menlontarkan suara, “Ooooo… oooo… oooooohhhh… masuk Massss… terasa sekali gedenya punya Mas Ini… seret sekali… luar biasa Masss…”
“Mbak sekarang mau ngapain?” tanyaku bercanda, setelah batang kemaluanku masuk lebih dari separohnya.
“Mau dientot sama punya Mas.”
“Punyaku? Telunjukku?”
“Sama titit Mas… hihihiii…”
“Titit sih buat anak kecil. Kalau punyaku apa namanya dalam bahasa keseharian?”
“Sama… ko… rudal Mas… hihihihihiiii…”
“Kalau punya Mbak di dalam bahasa daerah Mbak sendiri disebut apa?”
“Tempik Mas.”
“Jadi apa jelasnya yang mau kita lakukan ini?”
“Tempik saya mau dientot sama rudal Mas Donny… hihihihiii… maaf saya jadi kasar ngomongnya. “ Pada saat itulah aku mulai mengayun batang kemaluanku, bermaju mundur di dalam liang serambi lempit Mbak Wien.
Wanita separoh baya itu pun mulai mendesah dan mengerang perahan, “Maaaas… ooooh… Maaassss… oooooh… rudal Mas ini… oooooh… terasa sekali gesekannya Maaaas… eeee… enak sekali Maaaassss…”
Ternyata Mbak Wien tak kalah atraktif jika dibandingkan dengan Tante Agatha sekali pun. Begitu batang kemaluanku memenyetubuhi liang serambi lempitnya, bokong gede Mbvak Wien mulai bergoyang memutar – mutar, meliuk -liuk dan menghempas – hempas. Sehingga batang kemaluanku laksana kapal laut yang diombang – ambingkan ombak di tengah samudera.
Tapi kalau diibaratkan kapal laut, batang kemaluanku laksana kapal perang, bukan sekadar kapal pencari ikan. Maka ombak sedahsyat apa pun kuhadapi dengan teguh.
Alat kejantananku selalu siap untuk mendobrak ayunan bokong gede Mbak Wien.
Akibatnya malah rintihan Mbak Wien semakin menggila, “Maaaasss… oooo… oooooohhhhh… Maaaasss… selama menjanda saya baru sekali ini mendapatkan sentuhan pria… ooooh… ini luar biasa nikmatnya Maaaaasss… luar biasaaaa… silakan entot sekehendak hati Mas… entot yang kencang juga silakan…
Aku mulai mengerti bahwa Mbak Wien ini senang dientot dengan pola hardcore. Karena itu kuayun batang kemaluanku sekeras mungkin, sehingga moncong rudalku terus – terusan menyundul dasar liang serambi lempit Mbak Wien.
Sementara itu mulutku pun mulai beraksi. Ketika tangan kiriku sedang asyik meremas – remas toket kanannya, mulutku bersarang di leher Mbak Wien, untuk menjilatinya disertai dengan gigitan – gigitan kecil.
“Duuuh… ini lebih enak lagi Massss… “rintih Mbak Win ketika jilatanku di lehernya mulai kugencarkan, “Cupangin sebanyak mungkin juga silakan Masss… cupangin dong Maaasss…”
“Nan.. nanti ada bekasnya… gakpapa?” tanyaku tanpa menghentikan entotan hardcoreku.
“Nggak apa – apa Maaaas… saya kan bawa syal… nanti leher saya bisa ditutupi… cupangin Massss… sebanyak mungkin… biar saya pulang membawa kenang – kenangan indah di leher sayaaaa…”
Mungkin Mbak Wien menganggap peristiwa yang sedang terjadi ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Bahwa seorang big boss yang masih sangat muda “berkenan” menyetubuhinya. Sehingga dia ingin ditbuatkan kenang – kenangan segala di lehernya.
Tanpa buang – buang waktu, aku lakukan itu. Kusedot – sedot leher jenjang Mbak Wien dengan sedotan yang sangat kuat. Sehingga dalam tempo singkat saja leher wanita separoh baya itu bertotol – totol merah kehitaman, semerah bekas kerokan.
Mbak Wien terpejam – pejam sambil tersenyum. Seperti sedang menikmati cupangan – cupanganku di lehernya.
Dan ketika bibirku menggamit bibir sensualnya, Mbak Wien menyhambut dengan lumatgan dan isapannya. Terutama ketika aku menjulurkan lidah, dia menyedotnya ke dalam mulutnya. Kemudian menggelutkan lidahnya dengan lidahku. Maka begitu juga ketika ia menjulurkan lidahnya, cepat kusedot ke dalam mulutku.
Diam – diam aku pun mulai meghayati persetubuhan yang tengah terjadi ini. Tak kuduga sebelumnya, ternyata Mbak Wien ini luar biasa enaknya. Enak serambi lempitnya, enak goyangan bokong gedenya dan enak segalanya. Berarti satu nama lagi harus kucatat di dalam hatiku. Satu nama yang harus kupertahankan hubungankju dengannya.
Maka semakin gencar juga aku memenyetubuhi serambi lempit Mbak Wien, sementara tangan berpindah – pindah sasaran terus. Bahkan pada suatu saat tangan kiriku asyik meremas – remas toket kanannya lagi, sementara mulutku nyungsep di ketiak Mbak Wien yang harum deodorant impor. Kujilati ketiak yang sudah basah oleh keringat itu, sementara tangan kiriku makin asyik meremas – remas buah dada kirinya.
“Adududduuuuh… Massss… Massss… sa… saya mau lepas nih Massss… “Mbak Wien menatapku dengan sorot panik.
“Mau orgasme? Ayo lepasin aja sampai tuntas,” sahutku yang kulanjutkan dengan mencium dan melumat bibir Mbak Wien, sambil menggencarkan entotanku… makin cepat dan makin cepat… sampai akhirnya kutancapkan batang kemaluanku di dalam liang serambi lempit Mbak Wien yang sedang menggeliat dan berkedut – kedut erotis.
Mbak Wien masih kejang… kemudian melepaskan nafasnya yang tertahan beberapa detik, “Aaaaaah… luar biasa nikmatnya… terima kasih Mas… indah sekali …”
Aku belum apa – apa. Tapi kubiarkan rudalku “direndam” di dalam liang serambi lempit yang terasa sudah basah dan hangat ini.
“Mas belum ejakulasi?” tanya Mbak Wien lirih.
“Belum,” sahutku sambil memperhatikan sepasang pipi Mbak Wien yang mengkilap oleh keringatnya. Memang benar kata orang. Wanita yang habis orgasme suka terbit aura kecantikannya.
“Mau ganti posisi Mas?” tanya Mbak Wien sambil mengendurkan dekapannya di pinggangku.
“Boleh,” sahutku, “menyetubuhi perempuan berbokong gede seperti Mbak sih enaknya main di posisi doggy.”
“Hihihiii… Mas belum nikah tapi udah banyak pengalaman ya, “cetus Mbak Wien sambil tersenyum.
“Iya… tapi aku hanya mau menyetubuhi perempuan baik – baik. Kalau perempuan gak bener sih takut bekal HIV di badannya,” sahutku sambil mencabut rudalku dari liang serambi lempit Mbak Wien.
Dengan sigap Mbak Wien merangkak dan menunggingkan bokong gedenya.
Wow… bentuk bokong sekretarisku itu menggiurkan sekali…!
Ambil mengusap – usap serambi lempit tembemnya yang muncul di antara kedua pangkal pahanya. Lalu… dengan mudahnya aku bisa membenamkan batang kemaluanku… blessss… langsung masuk semuanya.
Sambil berpegangan pada kedua buah pantat Mbak Wien, aku pun mulai mengayun rudalku di dalam liang serambi lempit yang lumayan becek itu. Sambil menampar – nampar bokong gede Mbak Wien… plak… plak… plakkk… plakkk… plakkkkkk…!
Spontan terdengar suara Mbak Wien, “Iiii… iyaa Mas… dikemplangin gitu pantatnya… enak Masss… kemplangin aja sekuatnya Masss…”
Kuikuti saja apa yang diinginkan oleh Mbak Wien. Karena hubungan sex itu harus mengandung “take and give”. Maka kutampar – tampar bokong kanan dan kiri yang gede sekali itu… sehingga dalam tempo singkat saja buah pantat Mbak Wien mulai merah. Makin lama makin merah.
Tapi Mbak Wien tidak mengeluh kesakitan. Bahkan suara rintihan erotisnya mulai riuh lagi, “Aaaaaa… aaaaahhhhh… aaaaaa… aaaaaah… entot terus Massss… sambil kemplangin pantat saya Massss… ooooohhhh… Maaaassss… enak sekali Massss… entot teruys Masss… entooot… kemplangin teruuuussss…
Aku pun sangat menikmati persetubuhan dalam posisi doggy ini. Sehingga tubuhku mulai bermandikan keringat. Karena selain memenyetubuhi, aku pun terus – terusan mengemplangi buah pantat Mbak Wien. Dan itu membutuhkan tenaga. Bahkan kedua telapak tanganku mulai terasa panas, sehingga akhirnya aku hanya berpegangan di pinggang ramping Mbak Wien, sambil menggencarkan entotanku.
Tapi semua itu tidak berlangsung lama. Karena Mbak Wien ambruk telungkup tiba – tiba… sehingga batang kemaluanku terlepas dari liang serambi lempitnya. Rupanya dia orgasme lagi…!
Mbak Wien pun mengakuinya. Bahwa ia orgasme lagi. Kemudian meminta untuk melanjutkannya dalam posisi missionary lagi.
Maka dalam posisi MOT (Man On Top), kubenamkan lagi rudalku dengan mudahnya ke dalam liang serambi lempit Mbak Wien yang semakin becek ini. Lalu kuentot lagi wanita separuh baya yang manis dan seksi itu.
Lebih dari setengah jam aku memenyetubuhi Mbak Wien. Maka keringatku pun semakin membanjir. Bercampur aduk dengan keringat janda tanpa anak itu.
Sampai pada suatu saat aku mulai merasa sudah berada di detik – detik krusial. Maka kubisiki telinga Mbak Wien, “Aku sudah mau ngecrot Mbak… lepasin di mana?”
Spontan Mbak Wien menyahut, “Di dalam tempik saya aja Mas. Saya juga mau lepas lagi… barengin aja yuuuk…”
“Iyaaaaa…” ucapku sambil mempercepat gerakan entotanku. Maju mundur maju mundur dan maju mundur dengan cepatnya.
Sampai pada suatu saat, ketika Mbak Wien sedang terkejang – kejang sambil mendekap pinggangku erat – erat, aku pun sedang menancapkan batang kemaluanku sedalam mungkin, sambil memeluk leher Mbak Wien yang sudah basah oleh keringat itu.
Lalu… liang serambi lempit Mbak Wien menggeliat dan berkedut – kedut lagi, bertepatan dengan saat rudalku mengejut – ngejut sambil menembak – nembakkan lendir maniku.
Croooottttt… croooottttt… crotttcrootttt… crooooootttt… crooootttt… crooootttttt…!
Kami sama – sama terkapar di puncak kenikmatan dan kepuasan. Lalu sama – sama terkulai lunglai. Dengan batang kemaluan masih menancap di dalam liang serambi lempit Mbak Wien yang semakin becek.
Tiba – tiba handphoneku yang kuletakkan di atas meja kecil berdenting. Pertanda ada WA masuk. Kucabut batang kemaluanku dari liang serambi lempit Mbak Wien dan kubuka WA yang masuk itu.
Ternyata dari Tante Agatha yang isinya :- Donny Sayang, tante sudah mencairkan semua cek itu di Bangkok. Papanya Gayatri tampak gembira sekali, karena bisa terhindar dari kebangkrutan perusahaannya. Dia juga mengijinkan tante untuk tinggal dan berbisnis di Indonesia. Tunggu aja tanggal mainnya ya Sayaaaang. Cinta dan kasih sayangku untukmu seorang.
-Oke. Kutunggu-
Balasku singkat. Karena takut kalau chat dariku terpantau oleh ayahnya Gayatri.
Chat itu membuatku tercenung sesaat. Memikirkan bagaimana cara mengaturnya kalau Tante Agatha telah berada di kotaku ini. Membuatku teringat pada Cici Mei Hwa, broker properti yang sudah janjian mau menemuiku hari ini.
Setelah meletakkan kembali hapeku di atas meja kecil, aku melangkah ke kamar mandi, untuk kencing dan bersih – bersih. Kemudian keluar lagi dari kamar mandi, memperhatikan Mbak Wien yang masih menelungkup di atas bed.
Kutepuk pantat gede sekretarisku itu sambil berkata, “Tepar nih yeee…”
Mbak Wien bergerak menelentang. Lalu duduk bersila.
“Mas… kalau saya hamil nanti gimana?”
“Ya rawat aja kehamilannya sebaik – baiknya. Aku yang akan membiayainya. Emang kenapa?”
“Saya bercerai dengan suami, saking inginnya punya anak. Karena saya sudah memeriksakan diri ke dokter. Dan dokter bilang, saya ini normal. Tapi setelah perkawinan kami bertahun – tahun, tidak juga bisa hamil. Makanya kami bercerai secara baik – baik. Mantan suami saya malah sudah menikah lagi dua tahun yang lalu.
Aku jadi ingat Teh Nenden, kakak kandungku yang tinggi badannya 180 centimeter itu (5 centimeter lebih tinggi dariku). Ya… aku masih ingat benar bahwa setelah aku “rajin” menyetubuhinya, Teh Nenden memberitahuku lewat hape. Bahwa dia mulai hamil. Bahkan berbulan – bulan kemudian Teh Nenden meneleponku lagi, “Anakmu sudah lahir Don.
Aku menghela nafas. Karena sampai saat ini aku belum pernah ketemu lagi dengan Teh Nenden. Tapi biarlah, semoga dia dan anak dariku itu sehat – sehat saja. Karena aku merasa berada di dalam kedudukan yang serba salah. Datang ke rumahnya tidak berani, meski aku sudah rindu juga kepada Teh Nenden.
“Kok malah jadi ngelamun Mas?” tanya Mbak Wien membuyarkan terawanganku. Lalu ia memegang batang kemaluanku sambil bertanya, “Mas masih mau menyetubuhi saya?”
“Bukannya gak mau. Tapi sebentar lagi bakal datang orang properti. Jadi sebaiknya Mbak bebenah dulu di ruang kerja sekretaris dirut. Soalnya mungkin saja calon dirut itu besok juga bakal datang.”
“Siap Mas. Ruang kerja saya berdampingan dengan ruang kerja dirut di lantai empat kan?”
“Iya. Mandi dulu gih. Biar seger badannya. Mandi di situ aja,” kataku sambil menunjuk ke pintu kamar mandi, “Handuk – handuk baru ada di situ. Ambil saja satu buat Mbak. Ohya… tunggu sebentar…”
Aku melangkah menuju meja tulkis di sudut kamar utama ini. Kuambil segepok uang dari laci meja tulisku. Lalu kumasukkan ke dalam amplop besar. Dan kuberikan amplop itu kepada Mbak Wien sambil berkata, “Ini buat beli baju baru ya Mbak.”
“Hihihihiii… terimakasih Mas Boss.”
“Kita harus tetap menjalin hubungan rahasia, ya Mbak. Untuk itu, Mbak akan mendapat uang belanja dariku, di luar gaji dari perusahaan.”
“Siap Mas…”
“Sebenarnya aku sudah punya calon istri. Karena itu aku takkan bisa menikahi Mbak.”
“Gak apa – apa Mas. Dijadikan simpanan Mas juga saya mau. Bahkan mengandung anak Mas juga saya mau.”
“Iya… sekarang mandi dulu gih. Biar tambah cantik dan segar.”
“Iya, iya…” sahut Mbak Wien sambil memasukkan amplop berisi uang itu ke dalam tas kecilnya. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.
Seorang wanita setengah baya, mengenakan sweater merah dan celana legging hitam memasuki ruang kerjaku, diantar oleh petugas security. Dia adalah Mei Hwa yang biasa kupanggil Cici saja, mengingat usianya yang sudah 40 tahunan, jauh lebih tua dariku. Tapi kalau dilihat secara seksama sekali pun orang yang belum kenal dia takkan menyangka kalau usianya sudah 40 tahun.
Cici Mei Hwa aktif sebagai broker properti yang independen (berdiri sendiri, tidak berlindung pada corporation mana pun). Dia baru saja berhasil menjual rumah yang super besar padaku, di atas tanah seluas 5000 meter persegi (setengah hektar). Rumah tiga lantai yang dikelilingi oleh taman dan lapangan rumput untuk bermain anak – anak itu, tadinya kubeli untuk Gayatri dan Mamanya (Tante Agatha).
Waktu selesai melakukan transaksi rumah super besar itulah Mei Hwa menawarkan sesuatu padaku. Menyarankan agar aku menjadi seorang developer. Sedangkan tanahnya bisa beli lewat dia. Tapi aku belum memutuskan apa – apa saat itu. Dan menyarankan agar hal itu dirundingkan di kantorku pada hari ini. Ya, Cici Mei Hwa datang ke ruang kerjaku ini adalah untuk melanjutkan pembicaraan dua minggu yang lalu itu.
Setelah duduk di ruang tamu, Cici Mei Hwa mengeluarkan berkas fotocopy surat – surat dan gambar tanah yang akan dijual itu sambil berkata, “Ini letaknya sekitar limabelas kilometer dari batas kota, “katanya, “Luas keseluruhan duaratuslimapuluh hektar Boss. Jadi, bisa dibikin perumahan besar, dengan view yang sangat indah di sekitarnya.
“Almarhum papaku juga usahanya antara lain jadi developer di Thailand, Ci,” kataku.
“Nah kalau gitu kan hitung – hitung mengikuti jejak papanya Boss.”
“Tanah seluas itu berapa harga per meternya?”
“Saya mau kasih harga mati aja ya.”
“Silakan.”
Kemudian wanita berdarah chinese itu menyebutkan harga yang luar biasa murahnya menurutku. Tapi sebagai seorang pebisnis, aku tidak memperlihatkan kekagetanku.
“Mungkin harus disurvey dulu ke lokasi ya?” ucapku sambil melirik ke arah jam tanganku yang menunjukkan pukul sebelas siang.
“Boleh,” sahut Cici Mei Hwa, “Saya siap untuk mengantarkan Boss ke lokasi. Makanya saya pakai sepatu kayak gini. Gak jauh kok, tidak sampai limabelas kilometer dari batas kota. Dari sini sejam juga nyampe. Tapi kalau bisa bawa jaket Boss. Di sana udaranya dingin.”
“Oke. Jaket sih ada tuh menggantung di kapstok. Ohya, Cici pakai apa ke sini?”
“Pake taksi Boss. Belum punya mobil sih.”
“Terus duit profit dari properti dipakai apa aja?”
“Cuma buat makan dan biaya rumah sakit suami Boss.”
“Lho… suaminya sakit apa?”
“Kena stroke berat. Sudah enam bulan di rumah sakit, sampai sekarang masih dalam kondisi koma.”
“Ohya?! Yang nunggu di rumah sakit siapa? Anak Cici?”
“Hehehe… saya belum punya anak Boss.”
Aku terlongong. Masalahnya sudah lama aku menyimpan perasaan suka menyaksikan keseharian Cici Mei Hwa yang senantiasa rapi dalam berpakaian, tidak berlebihan dalam memake up wajahnya, sehingga tampak kharismatik di mataku.
Dan… diam – diam otak kotorku membayangkan, seperti apa ya rasanya Cici Mei Hwa ini? Seperti apa bentuk tubuhnya kalau sudah telanjang bulat di depan mataku?
Hahahaaa…!
Ketika dia sudah berada di dalam mobilku yang kukemudikan ke arah luar kota, pikiran itu tetap saja bersemayam di dalam benakku. Bahkan makin lama makin ngeres.
“Jadi Cici belum pernah melahirkan?” tanyaku di belakang setir.
“Belum Boss,” sahut Cici Mei Hwa yang duduk di samping kiriku.
“Terus suaminya sudah enam bulan koma?”
“Iya Boss. Kalau secara akal sehat sih sudah hopeless.”
“Santai aja Ci,” kataku sambil memegang tangan kanannya, “aku siap kok memberi nafkah batin sama Cici kalau suaminya sudah hopeless gitu.”
“Hihihihiii… kayak yang iya aja Big Boss bisa memberi nafkah batin pada saya yang sudah tua ini.”
“Ci… aku pengagum wanita setengah baya kok. Cici belum tua lho. Kalau sudah menopause, baru bisa disebuit tua.”
“Masih jauh menopause sih. Paling cepat juga limabelas tahun lagi.”
“Berarti libido Cici masih normal kan?
“Masih lah,” sahutnya sambil balas meremas tangan kiriku, “Tapi hari ini masih ngedrop libidonya.”
“Kenapa?”
“Lagi merah. Mungkin dua hari lagi baru bersih.”
“Hahahaaaa… gak apa – apa Ci. Yang penting aku booking dulu dari sekarang ya,” ucapku dengan senyum getir.
“Saya nggak pernah selingkuh lho.”
“SIM Ci.”
“SIM apa? SIM A apa C?”
“Selingkuh Itu Mengesankan.”
“Hihihiii… Boss bisa bercanda juga ya.”
“Kalau dengan wanita cantik aku suka bercanda.”
“Boss ini punya daya tarik yang luar biasa. Baru sekali ini saya tergoda oleh cowok yang bukan suami saya.”
“Masa sih?”
“Berani sumpah, biasanya saya selalu profesional Boss. Gak pernah mikir macem – macem. Tapi sayang sekarang saya belum bersih.”
“Sekarang kan hari Senin. Berarti Rabu udah bersih?” tanyaku.
“Mudah – mudahan… tapi yang sudah pasti benar – benar bersih sih Kamis.”
“Kalau gitu kita ketemuan hari Kamis aja ya. Di rumah yang baru kubeli dari Cici itu.”
“Iya.”
Mobilku meluncur terus ke luar kota.
“Nanti kalau tanah yang mau dilihat itu deal, Boss mau turun sendiri sebagai leadernya?”
“Cici mau kalau jadi leadernya?”
“Mungkin bagusnya adek saya, karena dia sudah S2 manajemen. Kalau saya kuliah juga DO. Karena keburu jadi IRT.”
“Cici punya adek juga?”
“Punya, ya itu yang saya tawarkan untuk membantu Boss memimpin perusahaan developer. Adek saya cantik lho. Nanti Boss malah kepincut sama dia.”
“Umurnya berapa tahun?”
“Mmm… duapuluhtujuh.”
“Duapuluhtujuh tahun udah S2 ya.”
“Iya. Tekun sih Lingling itu.”
“Lingling?! Namanya?”
“Iya. Nama adik saya itu Lingling.”
“Tapi aku sukanya sama wanita setengah baya seperti Cici ini.”
“Hihihi… yang bener?!”
“Bener Ci.”
“Maaf… di depan belok ke kiri Boss.”
“Iya,” sahutku sambil mengurangi kecepatan mobilku. Kemudian belok ke kiri seperti yang diarahkan oleh Cici Mei Hwa. Mobilku mulai menginjak jalan yang belum diaspal. Masih berbatu – batu kerikil. Suasananya pun sepi sekali. Tidak kelihatan orang atau pun kendaraan lewat.
“Nah di sebelah kanan itu… yang ada pohon pisangnya itu mulai masuk perbatasan tanahnya Boss. Terus ke atas, lumayan jauh.”
“Wah… sebagian besar masih hutan gitu ya Ci,” kataku sambil menghentikan mobilku. Karena makin ke dalam makin banyak batu – batu besarnya.
“Iya. Makanya mau dijual dengan harga yang sangat murah juga, karena masih banyak pohon – pohonnya. Itu pohon – pohon kayu bagus Boss. Bukan hutan sembarang hutan. Kayunya bisa dimanfaatkan untuk bahan bangunan nantinya. Mau turun ke luar?”
“Gak usah. Nanti aja menjelang transaksi kita survey secara teliti. Surveynya harus dibantu oleh orang teknik sipil.”
“Boss… tanah yang mau dijual ini sudah ada master plannya. Ijin – ijin pun sudah lengkap. Makanya kalau Boss gak mau pusing lagi, tinggal jalanin master plan yang sudah ada aja.”
“Emang tadinya mau dibuat apa?”
“Perumahan juga. Ada rencana untuk bikin sekolah dari SD sampai SMA. Ada rencana bangun ruko – ruko juga. Pokoknya seolah bakal jadi kota kecil yang mandiri Boss.”
“Lalu kenapa gak dilanjutkan rencananya?”
“Keburu bangkrut perusahaannya Boss. Orangnya juga sudah pindah ke luar negeri.”
“Orang Indonesia?”
“Iya.”
“Terus siapa pemilik tanah itu sekarang?”
“Masih punya dia. Tapi sudah dikuasakan kepada saya untuk menjualnya.”
“Surat – surat aslinya ada sama Cici?”
“Iya Boss. Semuanya ada sama saya. Surat kuasanya juga dibuat di notaris. Jadi nanti Boss seolah mau transaksi dengan saya aja.”
“Sudah lama surat kuasa itu dibuat?”
“Kurang lebih tiga bulan yang lalu. Masih berlaku kok. Surat kuasa itu berlaku selama setahun.”
“Jadi nanti transaksinya di notaris itu juga?”
“Betul Boss.”
“Fee yang akan Cici dapatkan pasti banyak sekali ya?”
“Cuma dua persen Boss. Fee dari jual beli tanah mana bisa gede – gede?!”
“Dua persen dari transaksi milyaran kan jadi gede juga. Ayo kita turun Ci,” kataku sambil turun dari mobil dan bergegas membukakan pintu kiri depan, untuk membantu turunnya Cici Mei Hwa, karena mobilku lumayan tinggi, takut dia jatuh pula nanti.
Tapi pada waktu Cici Mei Hwa mau turun, aku sekaligus mendekap pinggangnya, lalu mengangkatnya sambil mendorong pintu mobilku dengan kakiku, sampai tertutup lagi. Sementara Cici Mei Hwa masih terangkat dengan dekapanku di pinggangnya.
Dan… begitu dia kuturunkan, bibirnya langsung menyergap bibirku.
Ternyata dia agresif juga. Atau hanya padaku dia berperilaku agresif? Entahlah.
Yang jelas kubalas ciumannya itu dengan lumatan. Tapi aku tak berani berlama – lama melumat bibirnya, karena takut ada orang lewat nanti.
Lalu kami melangkah ke arah hutan pohon kayu rasamala itu.
Sebenarnya aku juga tidak tahu untuk apa aku memasuki hutan pepohonan kayu yang katanya termasuk bagus buat bangunan itu. Mungkin aku hanya ingin melakukan sesuatu dengan Cici Mei Hwa. Tapi bukankah dia sedang menstruasi?
Ya, kalau sekadar memeluk dan menciuminya, kan bisa saja.
Dan setelah berada di tengah hutan yang lengang itu, aku pun mendekapnya dari belakang. “Udah gak sabar nunggu Cici bersih.”
“Lusa pasti saya kasih Boss. Tapi tanah ini pasti jadi dibeli oleh Boss kan?”
“Harganya benar – benar sudah mati segitu?” tanyaku sambil menyelinapkan tanganku ke balik mantel merahnya… menyelinap terus sampai menemukan payudaranya yang tidak besar tapi hangat sekali.
Tapi sesaat kemudian dia menepiskan tanganku dari balik behanya, “Sebentar Boss… saya mau pipis dulu… dingin sekali sih udaranya kan?”
“Iya. Aku juga mau pipis,” sahutku, sambil mengikuti langkah Cici Mei Hwa menuju bukit yang tidak terlalu tinggi. Bukit itu gundul, tidak ada pepohonan besar, hanya ditumbuhi oleh rerumputan liar.
Celana legging hitam itu pun dipelorotkan. Cici Mei Hwa mengeluarkan softex dari balik celana dalamnya, “Tuh lihat, takut Boss nyangka saya bohong, saya pakai ini karena sedang mens.”
“Tapi penutup datang bulannya bersih Ci? Gak kelihatan ada darahnya setitik pun,” kataku.
Dia memperhatikan softex itu dengan seksama sambil bergumam, “Iya sih… apa mungkin sudah bersih mulai hari ini ya?”
Aku jadi semakin bersemangat. Kusembulkan batang kemaluanku, lalu kencing sambil membelakangi wanita yang tampak seperti di bawah 30 tahunan itu. Setelah kencing, kudekatkan rudalku yang agak ngaceng tapi belum ereksi total itu ke dekat Cici Mei Hwa yang sedang kencing sambil berjongkok.
“Hahahaaa… berarti nasibku bagus kan Ci. Sekarang rudalku bisa dimasukkan ke dalam serambi lempit Cici kan?”
“O my God!! rudal Boss luar biasa panjang dan gedenya gini… !” serunya sambil memegangi rudalku dengan tangan agak gemetaran. Sementara aku mengamati serambi lempitnya yang berjembut agak lebat itu.
“Iya Ci… gimana? Kita ngewe aja di sini sekarang?”
“Jangan di sini Boss. Memang di sini sepi sekali. Tapi kadang – kadang suka ada orang yang melintas ke sini. Ada juga yang suka menyabit rumput untuk makanan kambing atau kerbau di sini.”
“Kalau gitu di rumah yang baru kubeli dari Cici aja yuk.”
“Nah… kalau di sana sih boleh. Tempatnya nyaman dan serba mewah lah.”
“Sekarang kita langsung menuju ke sana yuk.”
“Emangnya Boss sudah puas melihat lokasi untuk perumahan ini?”
“Puas deh. Lokasinya indah sekali. Tapi nanti harus banyak yang diratakan tanahnya.”
“Zaman sekarang perumahan elit malah banyak yang berbukit – bukit tanahnya Boss. Malah banyak rumah mewah yang letaknya di pinggir tebing, lalu membuat lantai pertama di bawah, sekalian untuk menikmati keindahan di luarnya.”
“Iya. Nanti aku mau konsultasi dulu dengan arsiteknya.”
Lalu kami menuruni bukit itu sambil bergandengan. Lenganku melingkar di pinggangnya, lengan Cici Mei Hwa pun melingkar di pinggangku.
Rumah yang kubeli lewat Cici Mei Hwa itu besar sekali. Dibandingkan dengan rumah peninggalan almarhum Papa di Bangkok juga masih besaran rumah ini. Rumah ini terdiri dari tiga lantai. Berdiri di atas tanah 5000 meter persegi. Dan tanah seluas itu hampir habis oleh bangunan rumahnya. Tak cuma itu, di belakang rumah besar ini ada tanah kosong seluas 1 hektar yang ikut dijualkan oleh Cici Mei Hwa juga.
Rumah besar itu memang miring sekali harganya. Karena Cici Mei Hwa mendapatkan penawaran dari bank yang menyita rumah yang lengkap dengan segala peralatannya tersebut. Menurut keterangan Cici Mei Hwa, rumah tersebut disita dari seorang pengusaha besar yang macet kreditnya selama bertahun – tahun. Dengan sendirinya aku membeli rumah tersebut dengan harga lelang.
Tadinya aku ingin menyediakan rumah ini untuk Gayatri dan mamanya (Tante Agatha). Tapi setelah aku memiliki hubungan dengan Liza, pikiranku jadi penuh keraguan. Biarlah rumah besar itu akan kujadikan semacam investasi saja. Untuk apa – apanya, nanti saja kupikirkan lagi.
Memang membingungkan punya rumah yang terlalu besar begitu. Kamarnya saja ada 14 buah. Di lantai dasar ada 6 kamar. Di lantai dua, 4 kamar, di lantai tiga empat kamar.
Kalau aku punya anak selusin, barulah rumah itu akan kujadikan tempat tinggalku.
Belum lagi tanah yang di sehektar di belakangnya itu. Mau dijadikan apa?
Entahlah.
Yang jelas aku sedang berada di jalan menuju rumah besar itu, sambil membawa Cici Mei Hwa di dalam mobilku.
Tiga orang pembantu yang dahulu dipekerjakan oleh majikan lama mereka, kurekrut lagi. Mereka hanya ditugaskan untuk membersihkan dan membereskan rumah besar itu, masing – masing satu lantai. Sementara di luar rumah pun harus selalu dibersihkan oleh mereka bertiga.
Cici Mei Hwa kubawa langsung ke lantai tiga, agar lebih nyaman dan tidak ada gangguan.
“Rumah ini mau diapakan nantinya Boss?” tanya Cici Mei Hwa setelah berada di kamar pilihanku pada lantai tiga.
“Untuk sementara hanya akan kuanggap sebagai investasi saja. Belum ada rencana apa – apa,” sahutku sambil memeluk wanita setengah baya yang kelihatan masih sangat muda itu.
“Maaf Boss, boleh saya ke kamar mandi dulu sebentar?”
“Mau ngapain? Kedinginan lagi dan mau pipis lagi?”
“Ingin yakin dulu bahwa saya sudah bersih. Takut diem – diem ada flex darah lagi.”
“Oh, iya iyaaa. Silakan.”
Cici Mei Hwa pun masuk ke dalam kamar mandi. Tiba – tiba handphoneku berdering. Haaaa…! Dari Teh Sheila… kakak seayahku yang telah membeli sebagian besar asset almarhum Papa di Thailand itu…!
“Sehat. Donny kok lama banget gak ke Bangkok lagi?”
“Aku masih sibuk melanjutkan beberapa perusahaan ayah angkatku di Indonesia Teh. Ohya… apakah Teteh masih berminat untuk membeli rumah di Indonesia?”
“Iyalah. Aku kan ingin juga punya asset di tanah air.”
“Nah… kebetulan Teh. Ini ada rumah yang megah dan besar sekali. Tanahnya pun limabelasribu meter persegi.”
“Wow…! Bagus itu. Aku sekalian ingin buka perusahaan juga di tanah air. Coba fotoin setiap bagian pentingnya ya Don. Sekaligus cantumkan harganya. Kalau cocok, aku akan secepatnya terbang ke tanah air. Sekaligus ingin ketemuan sama Donny. Emangnya Donny gak kangen sama aku?”
“Kangen sekali Teh. Nanti kalau kita ketemu lagi, habisin perasaan kangen kita ya.”
“Iya Don. Aku malah ingin sekali hamil sama Donny. Tempo hari gak jadi skih. Padahal saat itu aku sedang berada di masa subur.”
“Para suami istri yang tiap hari hidup bersama juga kan gak langsung hamil semua. Ada juga yang terlambat… setelah beberapa tahun menikah, baru bisa punya anak.”
“Iya sih. Oke… kirimin foto – foto rumah itu, ya Don. Ini aku mau terima tamu bisnis dulu.”
“Iya Teh. Semoga bisnisnya sukses terus yaaa…”
“Amiiiin…”
Baru saja hubungan seluler dengan kakak seayahku itu ditutup. Datang lagi call dari… Imey…!
Kasihan juga anak Tante Ratih yang sudah dijodoh – jodohkan denganku itu. Dia sering nelepon dan menanyakan kapan bisa ketemuan. Tapki jawabanku cuma ntar… ntar… aku masih sibuk. Padahal apa salahnya kalau kuajak saja ketemuan di suatu tempat.
Lalu :
“Hallo Mey? Apa kabar?”
“Sakit.”
“Sakit apa?”
“Sakit hati. Aku sangat ingin ketemu, tapi Donny sibuk terus.”
“Memang begitulah keadaanku Mey. Aku kan sedang mengurus perusahaan baru. Nanti kalau sudah tiba saatnya, pasti aku akan datang untuk menjemputmu.”
“Kalau aku datang ke kantor Donny boleh nggak?”
“Sekarang aku sedang berada di luar kota Sayang. Nanti kalau sudah pulang akan kukasihtau.”
Setwlah hubungan seluler dengan Imey ditutup, aku jadi tersenyum sendiri. Rasanya belakangan ini aku sibuk ngurusin serambi lempit mulu. Tapi gak apalah. Mumpung masih muda. Yang penting bisnis jangan diterlantarkan.
Cici Mei Hwa pun muncul dari kamar mandi.
“Memang saya sudah bersih Boss,” kata wanita setengah baya bermata sipit itu.
“Sukurlah, “sambutku sambil meraih pinggangnya ke arah sofa. Lalu kududukkan dia di atas pangkuanku.
Tentu saja bukan sekadar mendudukkannya di atas pangkuanku. Karena aku pun muilai melepaskan baju sweater merahnya. Sehingga kelihatan bahwa di balik sweater merah itu masih ada kaus singlet wanita. Dan kaus singlet itu pun kulepaskan, sehingga tinggal beha putih yang masih melekat di dadanya.
Meski beha itu belum dilepaskan, aku sudah bisa melihat bahwa payudaranya kecil. Untuk membuktikannya, kulepaskan juga beha putih itu.
“Hihihi… toket saya kecil Boss. Kalau toket adikku memang gede tuh,” ucapnya sambil tersenyum malu – malu.
“Toket kecil gini malah enak menggenggamnya. Dengan satu tangan saja bisa tergenggam semua,” sahutku sambil mengenggam toket kirinya.
Mei Hwa pun menyergap bibirku ke dalam ciuman ketat dan hangatnya. Sementara tanganku sudah berpindah tempat, menyelusupp ke balik celana leggingnya, untuk meremas bokongnya yang lumayan gede. Lalu menyelusup lagi ke balik celana dalamnya, sampai menemukan “sesuatu” yang berambut lebat. Mencari – cari di antara kerimbunan jembut itu, sampai menemukan celahnya yang hangat dan agak basah serta licin.
Jemariku menyelidik sampai masuk ke dalam liangnya… hmmm… jemariku menemukan liang yang masih kecil. Maklum dia belum pernah melahirkan.
Mei Hwa tetap asyik melumat bibirku. Tapi tangannya pun ikut beraksi. Menarik ritsleting celana panjangku. Lalu menyelundup ke balik celana dalamku. Menggenggam batang kemaluanku yang masih agak lemas ini. Namun berkat remasan lembutnya, rudalku pun mulai ngaceng. Bahkan sudah siap tempur.
Lalu terdengar suara Mei Hwa, “Sudah ngaceng nih. Masukin aja rudalnya Boss. Saya sudah horny berat…”
“Ayo, di sana aja,” sahutku sambil menunjuk ke arah bed.
Mei Hwa mengangguk. Lalu mengikuti langkahku menuju bed. Di situlah ia melepaskan celana legging hitam dan celana dalam putihnya. Sehingga jadi telanjang bulat di depan mataku.
Aku pun menanggalkan busanaku sehelai demi sehelai sampai benar – benar telanjang bulat, seperti Mei Hwa.
Sesaat kuperhatikan tubuh Mei Hwa yang langsing tapi berbokong gede itu. Lalu kuterkam dia dengan penuh nafsu.
Mei Hwa menyambutku dengan ciuman dan lumatan hangat di bibirku. Dengan lengan melingkari leherku. Sementara aku mulai giat mencolek – colekkan moncong rudalku di mulut serambi lempit Mei Hwa yang terintangi jembutnya ini. Namun akhirnya aku menemukan celah serambi lempitnya. Dan kudorong rudalku sekuat tenaga.
Akhirnya rudalku berhasil menerobos liang serambi lempit wanita setengah baya itu.
Blesssssssss… melesak masuk ke dalam liang sempit tapi sudah licin ini.
Mei Hwa menatapku dengan sorot jinak. Dan berkata, “Gak nyangka Boss mau sama saya yang sudah tua ini.”
“Aku ini penggemar wanita setengah baya Ci. Apalagi kalau wanitanya secantik Cici ini,” sahutku sambil mengayun rudalku perlahan – lahan. Makin lama makin cepat, sampai pada kecepatan normal.
“Dudududuuuuuuh… Booossss… rudal Boss ini bukan hanya gede tapi juga panjang sekali. Sampai terasa nyundul – nyundul dasar liang serambi lempit saya Boss…”
Mata Mei Hwa kadang terbeliak kadang ter[ejam erat – erat. Sementara mulutnya tiada henti merintih dan mendesah. “Booossss… ooo… ooooohhhhhhh Bosss… ini entotan paling enak di sepanjang hidupku Bosss… rudal Boss luar biasa enaknyaaaa… entot terus Bosss… entoooottttt… entooooootttttt…
Terlebih ketika mulutku mulai beraksi untuk menjilati lehernya, menciumi bibirnya, meremas toket dan mengemut pentilnya sementara entotanku semakin kugencarkan. Semakin meraung – raung pula Mei Hwa dibuatnya.
“Bosss… makin lama makin enak Bosssss… entot terus Bossss… ooooh… gilaaaa… ini enak banget Bosss… entooot teruuusss… entooootttt… entooooottttt… entoooottttttt Bosss… entoooooootttttttt… !”
Ketika tangannya terjulur ke atas kepalanya, aku pun memagut ketiaknya, lalu menjilatinya disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Sehingga Mei Hwa semakin klepek – klepek dibuatnya.
Namun kali ini aku melihat gelagatnya berbeda. Gelagat Mei Hwa akan mencapai orgasme. Mei Hwa berkelojotan dengan rintihan panik, “Boss… saaaa… sayaaaa… mau lepas Bossssss… Bosssss…”
Aku tetap gencar memenyetubuhinya. Bahkan ketika tubuh Mei Hwa mengejang tegang, aku tetap memenyetubuhinya dengan gencar.
Mei Hwa menekan pantatku agar jangan bergerak dulu, “Stop dulu Boss… saya ma… mau lepas neeeehhhh… aaaa… aaaaaaahhhhhh…”
Mei Hwa menggelepar dan melenguh… lalu terkulai lunglai. Dengan keringat membasahi tubuh dan leher serta pipinya.
“Sudah orgasme?” tanyaku sambil mengelus rambut Mei Hwa.
“Iya… sudah lama serambi lempit saya nganggur. Sekalinya dapet yang enak banget… terima kasih Boss… indah sekali…”
Aku cuma tersenyum dan membiarkan Mei Hwa menciumi sepasang pipiku.
Tapi aku belum apa – apa.
Maka kulanjutkan lagi ayunan rudalku. Bermaju mundur di dalam liang serambi lempit yang sudah becek ini.
Tapi aku pun tidak berniat untuk menyiksa Mei Hwa. Karena mungkin fisiknya tidak siap untuk kuentot secara berkepanjangan. Maka diam – diam aku mulai berkonsentrasi pada enaknya serambi lempit wanita setengah baya yang serambi lempitnya sudah becek ini. Kugencarkan entotanku sambil menciumi bibirnya, menjilati leher jenjangnya diiringi dengan gigitan – gigitan kecil.
Keringat pun mulai membasahi tubuh kami. Dalam gairah yang makin lama makin menggila.
Agak lama kulakukan semuanya ini. Bahkan terkadang mulutku nyungsep di puncak toketnya, untuk mengulum dan menyedot – nyedot pentilnya.
Lalu… ketika Mei Hwa mulai berkelojotan, aku pun menggencarkan entotanku dalam kecepatan tinggi. Dan ketika Mei Hwa mengejang tegang, aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin, tanpa menggerakkannya lagi.
Pada saat itulah Mei Hwa menahan nafasnya, dengan mata terpejam erat – erat. Sedetik kemudian terasa liang serambi lempitnya berkedut – kedut kencang lagi. Pada saat itu pula rudalku mengejut – ngejut diiringi dengus – dengus nafasku di puncak kenikmatanku… crottttt… crooootttttttt… croootcrooottt…
Kami sama – sama menggelepar, lalu sama – sama terkapar di pantai kepuasan. Dengan keringat semakin membanjir.
Namun semuanya itu seolah pembukaan saja. Seolah awal dari sesuatu yang baru. Karena keesokan harinya Mei Hwa datang ke kantorku bersama seorang cewek tinggi tegap, berkulit putih kekuningan dan berwajah… ya cantik ya manis sekali…!
Apakah aku ini ditakdirkan berbakat untuk mengoleksi perempuan – perempuan cantik? Entahlah. Yang jelas cewek itu diperkenalkan oleh Mei Hwa sebagai adiknya itu. Adik kandungnya yang bernama Lingling dan sudah S2 di bidang managemen serta siap untuk memimpin perusahaan developerku itu.
Memang kemaren Mei Hwa berkata, bahwa sebagai perempuan bersuami, ia takkan mungkin bisa menghabiskan waktunya untuk meladeniku. Biar bagaimana Mei Hwa senantiasa berharap agar suaminya sembuh lagi seperti sediakala, meski sekarang masih dalam keadaan koma. Sedangkan adiknya kebetulan masih menganggur, masih lajang pula.
Tidak berlebihan kalau aku menilai Lingling itu ya cantik ya manis dan seksi pula…!
Sehingga kalau dibandingkan dengan Gayatri dan Liza sekali pun, Lingling bisa kuanggap sejajarf dengan kedua cewek yang akan kujkadikan istriku itu. Bahkan kalau sedang tersenyum, lesung pipit di sepasang pipinya itu membuat Lingling punya nilai plus.
Dan yang jelas pendidikannya sesuai dengan keinginanku. Usianya pun masih tergolong muda sekali. Baru 24 tahun tapi sudah S2. Hanya 3 tahun lebih tua dariku, tapi dia sudah S2, sementara aku… S1 pun belum.
Tapi banyak orang bilang, sebagai owner suatu perusahaan, pendidikanku takkan dihitung orang. Seperti ada seorang kopral yang bernasib baik dan memiliki sebuah perusahaan besar, namun kepala bagian security-nya seorang pensiunan kolonel. Di situlah uang mengalahkan segalanya.
Maka aku pun tak ragu menyebut nama langsung kepada adik Mei Hwa itu :
“Jadi Lingling siap untuk memimpin sebuah perusahaan developer?” tanyaku.
“Siap Boss,” sahutnya sopan dan manis.
“Sebagai langkah awal, aku akan membangun perumahan di atas tanah duaratuslimapuluh hektar yang segera dibeli lewat Cici Mei Hwa. Jadi ada imbas positif juga kepada Cici Mei Hwa. Bahwa Cici akan mendapatkan fee dari penjualan tanah di luar kota itu kan?” ucapku sambil menoleh kepada Mei Hwa yang duduk di samping Lingling.
“Betul Boss,” sahut Mei Hwa, “Lalu adik saya pun takkan nganggur lagi.”
“Maaf… nanti kantornya di mana Boss?” tanya Lingling.
“Nantinya bikin kantor managemen di lokasi perumahannya saja langsung. Tapi sebelum kantor itu selesai dibangun, ngantor di sini aja. Di depan kan masih banyak ruangan kosong. Silakan aja pakai sesuai kebutuhan.”
Lingling mengangguk – angguk. Dengan senyum manis dihiasi lesung pipitnya lagi. Wow… Cici Mei Hwa memang bukan hanya pandai dalam memasarkan rumah dan tanah, tapi juga pandai menjodohkan orang. Karena aku langsung merasa cocok dengan Lingling itu. Tinggal menunggu orangnya saja, apakah dia juga suka padaku atau tidak.
Tiba – tiba Cici Mei Hwa berkata, “Maaf Boss. Saya harus ke rumah sakit dulu, karena sudah ditunggu oleh dokter yang merawat suami saya. Katanya sih ada hal penting yang mau disampaikan kepada saya. Soal Lingling silakan saja Boss rundingkan segalanya dengan dia sekarang. Soal tanah yang sudah disurvey itu, saya siap untuk melakukan transaksi di notaris.
“Iya. Terimakasih Ci ya,” sahutku.
Setelah Mei Hwa berlalu, aku mengajak Lingling pindah ke lantai dua. Lantai pribadiku.
Lingling menurut saja. Mengikuti langkahku menuju ke lantai dua.
Setibanya di family room, kupersilakan Lingling duduk di sofa. Aku pun duduk di sampingnya sambil berkata, “Soal job selesai sudah.”
Kemudian kusebutkan nominal gaji yang akan diterimanya sebagai direktur perusahaan developer itu. Pasti dia kaget karena aku akan menggajinya lebih dari gaji – gaji direktur pada umumnya.
“Selain daripada itu, Lingling akan mendapatkan mobil inventaris nanti. Kalau soal rumah, Ling masih tinggal bersama orang tua kan?” sumber Ngocoks.com
“Betul Boss. Jadi saya akan mendapat mobil inventaris pula? Terima kasih Boss. Saya memang sangat membutuhkan kendaraan. Terutama untuk mobilitas menuju lokasi proyek itu.”
“Sudah tau di mana letak lokasinya?”
“Baru dengar saja dari Cici Hwa.”
“Nanti kita tinjau lokasinya ya. Tapi selain masalah job, aku mau bicarakan masalah pribadi nih. Soalnya Ci Mei Hwa sudah banyak bicara mengenai Lingling.”
“Iya. Cici juga sudah banyak bicara mengenai Boss.”
“Apa aja yang dikatakannya kepada Lingling?”
“Hihihiii… malu nyebutinnya.”
“Kok malu? Katakan aja sejelasnya. Biar aku pun akan menanggapinya secara jelas dan terperinci.”
“Anu… Cici mau men… menjodohkan saya dengan Boss.”
“Dan setelah kita berjumpa begini, Lingling setuju?”
“Saya orang chinese yang gak punya Boss. Yang hidup serba pas – pasan.”
“Aku tidak mengharapkan harta Lingling serupiah pun. Dan yang jelas, begitu melihat Lingling tadi, aku langsung merasa cocok. Lingling memenuhi kriteria yang kuinginkan.”
Lingling menatapku dengan senyum manis dengan lesung pipit di sepasang pipinya. “Saya juga merasakan hal itu Boss,” ucapnya perlahan.
Lega hatiku mendengar ucapan Lingling itu. Lalu kupegang tangannya sambil berkata, “Jadi selain Lingling akan kuangkat sebagai direktur perusahaan developer itu, mulai sekarang kita jadian, oke?”
Lingling mengangguk sambil tersenyum. Lagi – lagi hatiku bergetar melihat senyum manisnya itu.
“Ohya… mengenai agama Lingling bagaimana? Bisa melebur dengan agamaku kan?”
“Saya kan belum punya agama. Cuma mengikuti tradisi chinese aja Boss.”
“Confucius?”
“Betul. Menurut saya Confucius itu bukan agama. Hanya melanjutkan tradisi nenek moyang saja.”
“Jadi Lingling bersedia menjadi mualaf?”
“Bersedia,” sahut Lingling sambil mengangguk.
“Kalau begitu, masalah pribadi kita kuanggap sudah sukses dalam tempo yang sesingkat – singkatnya.”
“Hihihiii… sesingkat – singkatnya. Kayak teks proklamasi aja.”
“Jujur, begitu melihat Lingling tadi, aku merasa harus secepatnya memiliki dirimu yang cantik sekaligus manis ini,” ucapku sambil meremas tangan Lingling yang halus dan hangat.
“Boss juga tampan sekali…”
Tiba – tiba pertanyaanku nyelonong ke sisi lain, “Sudah punya pengalaman berhubungan dengan cowok?”
“Sama sekali belum pernah Boss. Soalnya saya takut salah pilih. Baru sekali inilah saya merasa yakin dan nyaman, bahwa saya tak salah pilih.”
“Jadi Lingling masih perawan?”
“Ya iyalah. Soalnya saya masih sangat tradisional Boss. Menurut orang – orang tua, seorang gadis yang tidak perawan lagi lalu menikjah dengan seorang pria, maka di surga dia takkan dipersatukan dengan suaminya. Karena itu saya takut sekali melakukan hal – hal yang menyimpang dari tradisi tionghoa.”
Dunia dan alam pikiranku seolah tengah dialihkan ke satu titik, lalu melupakan yang lain untuk sementara.
Aku pun seolah digugahkan untuk memiliki mobil yang nyaman, jangan sekadar untuk gagah – gagahan. Tapi aku tetap memilih showroom mobil second yang dahulu kupilih untuk membeli jeep 5000 cc itu.
Kali ini pilihanku jatuh pada sebuah sedan built up Jerman. Dengan harga lebih murah 50%…! Padahal sedan hitam itu baru dipakai tiga bulan, sudah dijual lagi.
Aku merasa beruntung mendapatkan sedan yang masih 99% baru dengan harga setengah dari harga barunya itu.
Bersambung… Sebenarnya aku mampu membeli mobil termahal di dunia sekali pun. Tapi aku ingat indoktrinasi dari almarhum Papa angkatku. Bahwa hidup ini jangan terlalu menonjolkan diri, lebih baik hidup sederhana agar hal – hal positif berdatangan sendiri kelak. Lewat biro jasa aku pun berhasil membeli rumah di Singapura. Karena aku malas tinggal di apartment.
Padahal punya rumah pribadi di Singapura sudah merupakan suatu kemewahan. Karena pada umumnya orang lebih memilih tinggal di apartment.
Aku memang punya rencana untuk memfokuskan usahaku di Singapura. Sebagian untuk meneruskan perusahaan – perusahaan peninggalan Papa, sebagian lagi untuk membuka jalan bagi perusahaan baru yang sudah kubentuk belakangan ini.
Namun di balik itu semua, ada sesuatu yang jauh lebih kupentingkan. Tentang Lingling yang cantik dan manis dan seksi dan berpendidikan tinggi itu.
Lingling yang sudah sering kuajak jalan – jalan atau makan – makan. Tapi kubiarkan dulu dia membenahi kantornya yang untuk sementara menggunakan ruangan p- ruangan kosong di kantor perusahaanku. Kelak kalau perusahaan developer itu sudah berkembang, aku akan membangun kantor khusus yang dipimpin oleh si cantik Lingling.
Sampai pada suatu saat… ketika Lingling sedang duduk di sebelah kiriku, dalam sedan hitam baruku, aku berkata, “Bagaimana perasaanmu setelah jadian denganku Ling?”
“Nyaman sekali Boss.”
“Lingling… sudah berkali – kali aku minta agar jangan manggil boss lagi padaku. Kalau sedang berduaan begini, panggil namaku aja langsung.”
“Biar gimana aku ini kan masih anak buah Boss. Karena itu aku tetap tak berani manggil nama langsung. Kesannya seperti lancang pada majikanku sendiri,” sahut Lingling sambil tersenyum.
“Kalau sedang ada orang lain, boleh Lingling panggil boss padaku. Tapi kalau sedang berduaan begini, panggil namaku aja, please…”
“Iya deh. Aku akan membiasakan manggil Donny aja ya.”
“Nah begitu dong. Jadi rasanya lebih mesra. Tidak terikat masalah status job kita masing – masing.”
“Tapi biar lebih mesra lagi, kenapa janji Donny belum ditepati juga?”
“Lho janji yang mana?”
“Janji untuk membuktikan keperawanankju. Kan biar hati Donny makin yakin bahwa aku ini hanya akan memasrahkan kesucianku pada Donny, sebagai tanda cintaku pada Donny. Yang penting aku jangan habis manis sepah dibuang aja.”
“Lalu kenapa Lingling yakin bahwa aku akan mempertanggungjawabkan semuanya kelak?”
“Karena aku percaya, Donny ini orang baik dan bertanggungjawab.”
“Jadi Lingling memang sudah ingin dieksekusi?”
“Hihihiii… istilahnya dieksekusi… kayak orang mau dihukum mati aja.”
“Lho… dalam bisnis juga ada istilah eksekusi kan? Di dalam bisnis, istilah eksekusi itu positif artinya.. Misalnya mau mengeksekusi lahan yang akan dibeli, mengeksekusi pabrik yang akan dibeli dan sebgaainya.”
“Iya deh. Eksekusilah aku please… biar Donny tidak meragukan lagi diriku.”
Tadinya aku akan mengajak Lingling ke lokasi lahan yang sudah kubeli itu. Lahan untuk proyek perumahan itu. Tapi setelah mendengar keinginan Lingling, kubelokkan sedan hitamku ke arah lain. Menuju villa yang baru dibeli sebulan yang lalu itu.
Uniknya villa itu berada di pinggir tebing yang sangat curam, sementara bagian daratannya kebun buah – buahan yang sangat lebat dan rimbun. Maka setibanya di villa itu, Lingling langsung memelukku dari belakang sambil berbisik, “Sepi dan romantis sekali villa ini, Sayang.”
“Iya,” sahutku, “mau membuktikan keperawananmu di luar juga bisa tuh. Takkan ada seorang pun melihatnya.”
“Hihihi… jangan outdoor dong Sayang. Di dalam aja, biar tenang melakukannya.”
“Tapi aku ingin melihatmu telanjang di sini. Mau kan?”
“Malu Sayang. Aku kan belum pernah telanjang di depan siapa pun kecuali di depan kedua orang tuaku.”
“Nanti di dalam kamar juga kan bakal telanjang. Apa salahnya kalau kamu telanjang dulu di sini, lalu kita masuk ke dalam. Coba buktikan deh bahwa Linglingku akan selalu mengikuti keinginanku.”
“Apakah semua cowok keinginannya suka yang aneh – aneh gitu?” tanya Lingling dengan nada bingung.
“Entahlah. Yang jelas aku ingin melihatmu telanjang di luar sini. Coba perhatikan tuh keadaan di sekeliling kita. Ke sebelah selatan, jurang terjal. Ke utara, barat dan timur kebun buah – buahan semua. Kebun itu pun milikku semua. So… siapa yang berani masuk ke sini?”
“Oke deh. Demi Donny tercinta aku akan melakukannya. Sedikit demi sedikit dulu ya, “Lingling melepaskan beha dari balik blouse putihnya, tanpa melepaskan gaunnya. Kemudian ia menanggalkan spanroknya yang juga putih bersih.
Dalam keadaan tinggal mengenakan blouse putih dan celana dalam yang juga putih, Lingling berjongkok sambil menurunkan ritsleting blouse putihnya, sehingga sepasang toket gedenya kelihatan jelas. Lalu ia berjongkok di depanku sambil berkata, “Toketku kegedean gak sayang?”
“Ngepas dengan kriteriaku Ling,” sahutku sambil menyaksikan sepasang toket gede yang tergantung indah di belahan blousenya itu.
Aku belum pernah menyentuh sepasang toket gede yang luar biasa indahnya itu.
Kemudian Lingling melepaskan blouse dan celana dalamnya yang serba putih itu, sambil merangkak di atas batang pohon yang sudah dijadikan asesori villa ini. Dalam keadaan telanjang bulat.
“O my God! Tubuhmu indah sekali Cinta,” ucapku sambil memegang pergelangan tangan Lingling, kemudian membawanya masuk ke dalam villa.
Langsung membawanya ke dalam kamar. Karena aku ingin agar dia merasa nyaman senyaman mungkin pada waktu aku mengkesekusinya.
Dengan sikap canggung Lingling duduk di pinggiran bed, memandangku yang tengah menanggalkan busanaku sehelai demi sehelai, sampai tinggal celana dalam yang kubiarkan masih melekat di tubuhku.
Dalam beberapa hari ini hubunganku dengan Lingling memang semakin dekat. Tapi aku hanya pernah mencium pipi dan bibirnya saja. Tak pernah lebih dari itu. Maka kini, ketika ia sudah telanjang bulat seperti itu, adalah suatu kejutan yang membangkitkan hasrat birahiku, tentu saja.
Padahal di dalam hati aku sudah bertekad, perawan atau tidak perawan lagi, Lingling tetap harus menjadi salah seorang pendamping hidupku. Namun tentu saja kalau ia masih perawan, jauh lebih baik lagi.
“Rasanya seperti mimpi… tiba-tiba kamu minta dientot…” ucapku sambil naik ke atas bed, tepatnya ke atas perut Lingling yang sudah seperti Hawa waktu pertama kalinya diturunkan ke dunia.
“Minta dibuktikan kesucianku, bukan minta dientot Don,” sahut Lingling sambil mencubit perutku.
“Iya, tapi cara membuktikannya yang memang harus lewat disetubuhi Sayang.”
“Iya deh terserah Donny aja. Boss kan selalu benar,” ucap Lingling sambil mendekap pinggangku erat – erat.
“Hihihiii… jangan suka cemberut gitu Sayang. Cantiknya jadi pudar nanti. Keep smile for me. Karena kalau kamu tersenyum, aku merasa seakan sedang melihat Dewi Kwan Im turun ke dunia.”
“Aku bangga bisa menjadi kekasih Donny. Dan ingin agar kita berdua menjadi suatu kesatuan yang tak terpisahkan lagi,” ucapnya dengan senyum manis. Senyum yang selalu menggetarkan sekujur batinku.
Dan aku jadi bingung sendiri, harus mulai dari mana. Karena tadinya aku belum pernah menyentuh payudaranya sekali pun. Lalu kini, tiba – tiba Lingling dalam keadaan telanjang bulat dan bersikap pasrah sekali.
“Aku tak mau kehilangan senyum manismu,” sahutku disusul dengan ciuman mesra di bibirnya. Yang disambutnya dengan lumatan hangat. Membuatku serasa melayang entah ke mana. Mungkin inilah surga terindahku di dunia ini. Surga yang membuatku tidak ragu untuk menciumi dan menjilati telapak kakinya beberapa saat berikutnya.
Lingling cuma terdiam pasrah. Begitu juga ketika aku mulai menjilati betisnya yang laksana padi membunting… menjilati pahanya yang begitu mulus dan licinnya… kemudian merayap ke selangkangan dan berpusat di kemaluannya yang tercukur bersih, bersih sekali.
Jujur, jantungku berdegup lebih kencang daripada biasanya ketika aku mulai menjilati serambi lempitnya yang sudah kungangakan selebar mungkin. Lalu tubuh indahnya mulai menggeliat perlahan, diiringi desahan – desahan erotisnya.
Begitu lahap aku menjilati bagian dalam kemaluannya yang berwarna pink itu. Bahkan setelah menemukan kelentitnya, kufokuskan untuk menjilati bagian yang sebesar kacang kedelai yang mengkilap itu.
Sementara desahan dan geliatan Lingling semakin menjadi – jadi. Tapi suaranya perlahan sekali, sehingga tidak menimbulkan suasana berisik di dalam kamar ini.
Cukup lama aku melakukan semua ini. Tentu saja dengan berusaha untuk mengalirkan air liurku sebanyak mungkin, agar liang serambi lempitnya basah sekali. Untuk mempermudah jalannya penetrasi nanti.
Sampai pada suatu saat, ketika aku mau melakukan penetrasi, Liling menurut saja ketika kedua paha putih mulusnya kurenggangkabn selebar mungkin. Kemudian kuletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempit Lingling yang sudah basah kuyup itu.
Tapi, jujur saja, ternyata mengambil keperawanan Lingling tak semudah biasanya. Bahkan boleh kukatakan, inilah “perjuangan menembus selaput perawan” yang paling sulit bagiku selama ini. Lebih dari setengah jam aku berusaha dengan segala cara, namun hasilnya masih nol. Moncong rudalku meleset berkali – kali, sehingga aku jadi keringatan sendiri dibuatnya.
Namun dengan tekad yang kuat, akhirnya sedikit demi sedikit batang kemaluanku mulai menembus liang perawan Lingling.
“Udah masuk?” tanya Lingling perlahan.
“Sudah Sayang,” sahutku dilanjutkan dengan kecupan mesra di bibir sensualnya.
Bahkan beberapa saat kemudian aku mulai bisa mengayun batang kemaluanku di dalam liang serambi lempit Lingling yang luar biasa sempitnya ini.
Desahan perlahan Lingling pun mulai terdengar, “Aaaaa… aaaaah… aaaa… aaaah… aaaaaa… aaaaaah… aa… aaku benar – benar sudah menjadi milik Donny… aaa… aaaah…”
Aku masih sempat menyahutnya dengan bisikan di dekat telinganya, “Aku bangga bisa memiliki dirimu Ling… aku makin cinta padamu…”
“Aku juga… makin cinta padamu Don… oooohhhh… oooohhhh… rasanya seperti melayang – layang Dooon… Dooon… Doooon… aku cinta Donny… cinta sekali… ooooh…”
Wajar kalau Lingling mendesah dan merintih makin kerap, karena aku merasa liang serambi lempitnya sudah beradaptasi dengan ukuran rudalku. Sehingga aku bisa mempercepat entotanku sampai pada batas standar. Batas normal. Bukan seperti kecepatan entotan di bokep – bokep yang terkadang membuatku heran dan bertanya – tanya, “Apa enaknya menyetubuhi dengan kecepatan seperti mesin pompa begitu?
Aku selalu ingin melengkapi entotanku dengan aksi tangan dan mulutku. Itulah sebabnya aku mulai mengemut pentil toket Lingling yang sebelah kiri, sementara tangan kiriku mulai meremas toket gedenya yang sebelah kanan. Sementara entotanku tetap bergerak dalam kecepatan normal.
Karuan saja Lingling makin mendesah dan merintih. Tapi tetap dengan suara terkendali. Hanya terdengar laksana bisikan, “Doooon… ooooohhhh… makin lama makin enak Cintaaaa… rasanya semakin melayang – layang gini… saking enaknya Cintaaaa… ooooh… aku mencintaimu dengan segenap jiwaku Dooon…
Setelah puas meremas dan mengemut pentil toket Lingling yang lumayan gede itu, mulutku lalu nyungsep di leher jenjangnya.
Kujilati leher Lingling yang mulai keringatan itu, disertai dengan gigitan – gigitan kecil yang takkan menyakitkan. Ini membuat Lingling makin terlena. Rintihan – rintihan histerisnya terhenti sesaat. Lalu cuma desahan nafasnya yang terdengar, “Aaaaa… aaaaaaah… aaaaaa… aaaaah… aaaaa …
Sesaat kemudian, ketika tangan Lingling berada di dekat kepalanya, kujilati pula ketiaknya yang harum deodorant. Disertai dengan gigitan – gigitan kecil. Bahkan terkadang disertai dengan sedotan – sedotan seperti ingin mencupang ketiak harumnya.
Lingling pun semakin klepek – klepek dibuatnya.
Bahkan pada suatu saat ia menatapku sambil berkata lirih, “Dooon… rasanya seperti ada yang mau keluar di dalam serambi lempitku… oooh Doooon… ada yang mau keluar… !”
Lingling berkelojotan. Tapi aku malah mempercepat entotanku sambil berkata terengah, “Itu tanda mau orgasme… lepasin aja Sayaaaang…”
Kelojotan Lingling terhenti. Lalu sekujur tubuhnya mengejang tegang. Sepasang matanya pun terpejam. Nafasnya tertahan.
Pada saat itu pula kutancapkan batang kemaluanku di dalam liang serambi lempit Lingling yang terasa sedang berkedut – kedut kencang.
Pada saat yang sama moncong rudalku pun menembak – nembakkan lendir kenikmatanku. Crooootttt… crottt… croooottttt… crotcroootttttt… crooootttttt…!
Liang serambi lempit Lingling terlalu nikmat buatku. Sementara aku sudah agak lama tidak pernah bersetubuh dengan siapa pun. Sehingga aku tak bisa menahan ejakulasiku lebih lama lagi. Itu pun masih untung, bisa melepasnya berbarengan dengan orgasme Lingling.
Seperti biasa, setelah mencabut batang kemaluanku, kuamati darah di bawah serambi lempit Lingling yang tergenang di kain seprai. Benar – benar perawan Lingling itu sebelum kupenetrasi tadi.
Ini sangat kuhormati. Bahwa di usia 24 tahun Lingling masih mampu mempertahankan keperawanannya. Hal ini sesuatu yang langka di zaman sekarang.
Karena itu aku sangat menghormati keteguhan Lingling, dengan kecupan mesra… mesra sekali di bibir sensualnya. “Terima kasih Sayang. Aku sudah membuktikan kesucianmu. Hal ini sangat kuhormati dan kucintai,” ucapku setengah berbisik.
Aku memang sudah menjelaskan kepada Lingling, bahwa targetku akan memiliki istri 4 orang. Dan dua orang sudah siap untuk kuperistrikan, Liza dan Gayatri.
Lingling menerima kenyataan itu dengan tulus. Dan siap untuk menjadi mualaf, lalu menjadi istri ketigaku.
Lingling juga sudah tahu bahwa calon istri pertama dan keduaku adalah kakak beradik.
Sehingga Lingling mengajukan usul agar aku menikahi adiknya yang baru tamat SMA, untuk dijadikan istri keempatku. “Biar aku juga punya saudara sebagai sesama istri Boss,” kata Lingling saat itu.
“Jangan ah. Biar pendidikannya dilanjutkan dulu. Masa baru tamat SMA mau kawin?”
Ternyata punya banyak cewek juga bukannya membangkitkan semangat baru. Aku malah bingung sendiri, cewek mana yang akan kujadikan istri? Gayatri atau Liza atau Adelita atau Lingling atau siapa?
Berhari – hari aku memikirkan semuanya itu. Dan selama itu pula aku tidak menyentuh cewek mana pun. Karena gairah birahiku sedang menurun.
Walau pun begitu, aku selalu mentransfer dana buat mereka semua secara rutin tiap bulan. Dalam jumlah yang banyak pula. Agar mereka tidak kekurangan untuk kehidupan sehari – harinya.
Aku memang seperti kehilangan nafsuku untuk menggauli siapa pun, kecuali Bunda dan Donna yang secara rutin kugauli. Sementara yang lain – lain kubiarkan saja. Yang penting merekma jangan kekuarangan uang.
Satu – satunya jalan untuk mengobati perasaan galau ini adalah dengan berkonsentrasi ke arah bisnisku yang kelihatannya mengalami kemajuan pesat ini. Terutama bisnis di luar negeri. Tapi aku hanya memantaunya lewat internet. Karena yang aktif di luar negeri adalah orang – orang kepercayaan Papa almarhum, yang kini kupertahankan menjadi orang – orang kepercayaanku.
Dan pada masa galau inilah tiba – tiba aku menerima telepon dari Umi. Ya, tentu saja hanya ada satu orang yang kupanggil Umi, yaitu Umi Faizah. Ibunya Adelita.
Lalu :
Aku: “Hallo Umi… apa kabar? Umi sehat – sehat aja kan?”
Umi: “Sehat Sayang. Umi lagi ada di kotamu nih.”
Aku: “Haaa? Di mana Umi sekarang?”
Umi: “Di rumah adikku Sayang. Ke sini ya. Nanti kusmskan alamat lengkapnya.”
Aku: “Iya Umi. Setelah baca alamat lengkapnya, aku akan ke situ sekarang.”
Lalu kuterima sms berisi alamat lengkap rumah yang sedang Umi singgahi sekarang. Aku mengerutkan dahiku, karena alamat rumah itu berada di daerah paling elit di kotaku. Daerah yang harga tanahnya pun sudah selangit mahalnya.
Sesaat kemudian aku sudah berada di dalam sedan baruku, sedan putih bersih yang harganya biasa – biasa saja. Karena aku tak mau menonjolkan diri. Tak mau disebut orang kaya, apalagi disebut konglomerat muda. Aku selalu menghindari istilah – istilah yang akan dicatat oleh orang – orang pajak. Lagian bisnisku mayoritas di luar negeri.
Aku kalau sedang sehat lahir batin, suka menggunakan Grand Cherokee. Tapi kalau sedang galau selalu kugunakan sedan putih ini. Karena terasa lebih nyaman buat badanku. Suspensinya lebih lembut, tidak bikin sakit pinggang.
Aku memang sudah lama berniat mengunjungi rumah Umi di kampung yang tenang dan nyaman itu. Karena aku sudah kangen pada bodynya yang semok dan serambi lempitnya yang tembem. Tapi kegiatan bisnisku tidak memungkinkanku untuk meninggalkan kantorku terlalu jauh. Karena aku harus memantau terus laporan dari oprang – orang kepercayaanku di luar negeri.
Bahkan belakangan ini aku sedang mematangkan rencana untuk meluaskan bisnisku ke beberapa negara di Eropa. Tapi baru rencana. Jadi tidaknya, sang waktu yang akan menjawabnya kelak.
Beberapa saat kemudian sedan putihku sudah memasuki pekarangan luas sebuah rumah megah. Aku semakin yakin, pemilik rumah ini pasti orang tajir melintir.
Begitu sedanku terparkir, kutelepon Umi. Mengatakan bahwa aku sudah berada di depan rumah dengan memakai sedan putih.
Sesaat kemudian Umi muncul dari ambang pintu depan.
Di depan satpam yang menjaga rumah itu, kucium tangan Umi, lalu cipika – cipiki dengannya.
Kemudian dibawanya aku ke ruang keluarga yang lengang.
Aku duduk di sofa ruang keluarga. Umi pun duduk di sampingku.
“Ini rumah siapa Umi?” tanyaku.
“Rumah salah satu adik kandungku Don,” sahut Umi, “Dia membutuhkan pertolonganmu. Mudah – mudahan kamu berhasil menolongnya. Ketika masih remaja, dia bermukim di Lebanon. Lalu menikah dengan orang Austria tapi seagama dengan kita. Dia dibawa ke Austria oleh suaminya. Dan sekarang dia ingin beristirahat di sini.
“Lalu apa yang bisa kutolong olehku Umi?”
Umi menjawabnya dengan bisikan di telinganya, “Hamili dia Don.”
“Haaa?!” aku terperanjat.
Umi membisiki telingaku lagi, “Mau dikasih serambi lempit yang masih merepet rapet, masa Donny mau nolak?”
Aku menjawabnya dengan bisikan lagi, “Sttt… aku justru udah kangen sama serambi lempit Umi.”
Umi mencubit perutku sambil berkata perlahan, “Umi mah gampang. Disekap sebulan juga sama kamu gak apa – apa Sayang. Tapi tolong dulu adikku itu Don.”
“Tapi aku gak bisa berbahasa Arab, Umi.”
“Dia bisa bahasa Indonesia dengan baik kok. Kan dia lahir besar di Indonesia. Setelah remaja baru pindah ke Lebanon. Ingin mendapatkan jodoh orang kaya katanya. Dia berhasil mendapatkannya, tapi setelah lima tahun jadi istri orang Austria itu, sampai sekarang belum punya anak juga.”
“Sekarang mana orangnya?”
“Lagi mandi. Sebentar lagi juga pasti muncul ke sini.”
“Umi sudah bilang sama dia bahwa Umi akan mempertemukannya denganku?”
“Sudah. Pokoknya Donny sih tinggal nunggangi dia aja nanti. Hihihihiii… ohya… terimakasih ya, Adelita laporan bahwa dia sudah dibelikan rumah di Singapura. Sudah diangkat menjadi general manager pula, katanya.”
“Iya Umi. Aku memang kebingungan. Karena banyhak yang bvilang kalau aku dilarang menikah dengannya. Karena ayahnya adik ayahku. Jadi aku ini malah punya hak wali untuknya. Makanya sampai sekarang jadi bingung Umi.”
“Gak dinikahi juga gak apa – apa. Asalkan masa depannya terjamin Don.”
“Kalau masa depan sih sekarang juga sudah terjamin Umi. Karena dengan kedudukannya yang sekarang, dia punya gaji dan profit yang cukup besar.”
Tak lama kemudian muncul seorang wanita muda, mungkin usianya pun hanya selisih beberapa tahun denganku. Tapi yang membuatku bengong adalah bodynya itu. Lebih semok daripada Umi… Dan yang menyolok, pakaiannya tidak seperti Umi yang selalu berhijab. Tapi wanita muda itu mengenakan kerudung pun tidak.
“Wow… ada tamu…” ucapnya sambil tersenyum. Memang cantik orangnya sih. “Ini Donny itu Kak?”
“Iya. Tadinya dia mau menikah dengan Adelita. Tapi ternyata tidak dibolehkan, karena ayahnya dengan ayah Adelita kakak beradik kandung.”
Aku pun berdiri dan menjabat tangan wanita muda yang tampangnya memang kearab – araban itu.
“Zaina,” ucapnya memperkenalkan namanya.
“Donny,” sahutku.
Terdengar suara Umi di belakangku, “Zaina itu artinya sangat cantik Don. Adikku memang cantik kan?”
“Iya, “aku mengangguk, “Sangat cantik.”
Lalu aku duduk di sofa. Adik Umi yang bernama Zaina pun duduk di sampingku. Sambil memegang – megang lututku. “Donny juga tampan sekali. Boleh aku tahu umur Donny sekarang berapa?”
“Duapuluhdua.”
“Aku duapuluhempat tahun Don.”
Untuk menyenangkan hatinya aku menanggapi, “Tapi kelihatannya seperti di bawah duapuluh tahun.”
“Masa sih?!” cetusnya dengan senyum manis di bibibrnya.
Tiba – tiba terdengar suara Umi di belakangku, “Zaina… supaya leluasa mendingan bawa aja Donny ke kamarmu. Aku malah mau ke mall dulu, mau belanja oleh – oleh untuk pulang besok.”
“Pakai apa ke mall Umi?” tanyaku.
“Pakai mobil dan sopir Zaina aja,” kata Umi.
“Iya silakan,” ucap Zaina. Lalu Ia memegang pergelangan tanganku sambil berkata, “Ngobrolnya di kamarku aja yuk. Biar lebih bebas dan leluasa.”
Aku mengikutinya saja. Dan aku sendiri heran, kenapa aku jadi langsung tergiur menyaksikan body adik Umi ini? Entahlah. Mungkin karena pada dasarnya aku ini suka pada perempuan montok seperti Zaina ini.
“Katanya Donny ini anak Kang Rosadi ya?” tanya Zaina setelah kami berada di dalam kamarnya yang luas dan disekat – sekat oleh partisi kaca tebal, “Aku waktu masih kecil sering ketemu sama ayahmui Don.”
“Aku malah gak pernah lihat muka Ayah. Karena sejak bayi merah sudah diadopsi oleh Papa Margono, yang lalu membawa dan membesarkanku di Bangkok.”
“Iya, masalah itu pernah dengar dari Kak Faizah. Donny diadopsi oleh orang terkaya di antara orang – orang Indonesia yang bemukim di Bangkok ya.”
“Iya, tapi beliau sudah meninggal. Makanya aku ke Indonesia, untuk mencari ibu kandungku, berdasarkan surat wasiat dari Almarhum Papa Margono.”
Lalu hening sejenak.
“Don… kita saling panggil nama aja ya. Karena usia kita kan cuma beda dua tahun. Kamu kan udah tau, namaku Zaina. Kamu panggil aku Ina aja ya. Itu nama kecilku.”
“Iya,” sahutku sambvil duduk di sofa mahal dalam kamar Zaina.
Zaina pun lalu melepaskan gaun coklat mudanya, sehingga tinggal lingerie, sehingga sepintas pun tampak bahwa ia tidak mengenakan bra di balik lingerie tipis transparant berwarna pink itu. Bahkan kelihatan jelas, ada sepasang toket gede di balik lingerie itu.
“Kakakku sudah menceritakan apa maksudnya memanggil Donny kan?” tanyanya sambil memeghang tanganku dan meremasnya dengan lembut.
“Sudah. Dia minta tolong untuk menghamilimu. Tapi menghamili itu bukan perkara mudah Zain… eeeh… Ina… harus tekun… bukan sekadar satu kali ML.”
“Iya. Besok kakakku pulang ke kampungnya. Tapi Donny bisa datang lagi ke sini. Mau tiap hari juga boleh.”
“Aku kan punya kesibukan juga In.”
“Sempatkan ke sini sejam aja bisa kan? Pokoknya kalau aku hamil, rumah ini beserta semua isinya akan kuhadiahkan untuk Donny.”
Kalau orang lain mungkin akan melompat kaget. Karena kutaksir rumah beserta segala isinya ini akan laku dijual 50 milyar lebih. Tapi aku cuma tersenyum. Karena kalau aku mau, membeli 100 rumah senilai dengan rumah Zaina ini pun aku mampu. Maka kataku, “Lupakan masalah hadiah rumah segala. Aku mau melakukannya bukanm atas dasar ingin memiliki rumah ini.
Lalu atas dasar apa Donny mau melakukannya?”
“Karena Zaina sangat seksi di mataku.”
“Terima kasih Don… emwuaaaah…” ucap Zaina sambil mengecup bibirku dengan hangatnya.
“Di sana aja yok,” ujarnya sambil menunjuk ke bed luas tak jauh dari sofa yang kami duduki.
Zaina jadi tampak bersemangat sekali setelah mendengar “pengakuanku” bahwa dia sangat seksi di mataku. Tapi memang itu pengakuan yang sejujurnya dariku. Bahwa aku yang sedang berada di titik jenuh, seolah tak punya gairah lagi untuk menggauli siapa pun di dalam lingkaran kehidupanku. Tapi sewtelah menyaksikan bentuk fisik Zaina itu…
Terlebih ketika Zaina memamerkan keseksian bokongnya yang begitu gede… sehingga aku langsung membayangkan betapa nikmatnya kalau aku menyetubuhinya dalam posisi doggy. Bisa menyetubuhi sambil spanking…!
Tapi Zaina sudah menelentang sambil melepaskan lingerie dan… celana dalamnya.
Dan… sebentuk kemaluan wanita yang bersih dari rambut, yang nyaris tertutupi oleh kegempalan pangkal pahanya, tampak seperti sesuatu yang cantik dan lucu, seolah tersenyum padaku. Membuatku tak sabar lagi. Membuatku menelanjangi diriku sendiri, lalu merayap ke atas perut yang serba empuk… laksana merayap ke atas kasur surgawi yang sudah terhampar untukku.
Aku tidak pasif lagi, karena nafsuku sudah mulai menggelegak. Kupagut bibir sensual wanita muda yang memang cantik sekali seperti kata Umi tadi. Lalu kulumat bibirnya sambil meremas toket gedenya yang empuk dan kenyal tapi masih cukup indah untuk diremas dengan lembut ini. Sementara rudalku terasa bertempelan dengan serambi lempitnya yang terasa hangat ini.
Zaina pun menyambut lumatanku dengan lumatan pula. Menyedot lidahku ke dalam mulutnya, lalu menggeluti lidahku dengan lidahnya. Sementara tangannya terasa memegang rudalku yang sudah ngaceng berat ini.
“rudalmu international size Don… ereksinya pun sempurna. Punya suamiku kalah kalau dibandingkan dengan punya Donny ini,” ucapnya setelah melepaskan bibir dan lidahku dari mulutnya.
Aku tidak menanggapinya, karena sudah ingin melorot turun ke bawah perutnya.
Dan ketika wajahku sudah berhadapan dengan serambi lempitnya, spontan bibirku merapat ke serambi lempit imut – imut dan harum ini. Lalu menjilatinya dengan lahap… lahap sekali… laksana kafilah di tengah padang pasir menemukan oase, lalu minum sepuas mungkin… karena memang sudah berhari – hari aku tidak menikmati serambi lempit siapa pun.
Begitu gencarnya aku menjilati celah serambi lempitnya yang ternganga. Dengan nafsu semakin menggebu – gebu… kelentitnya pun tak lepas dari jilatanku, bahkan di bagian yang nyempil sebesar kacang kedelai ini kusertai dengan isapan – isapan kuat. Tentu saja secara spontan kualirkan air liurku ke dalam celah serambi lempit tembemnya itu.
Zaina pun semakin merenggangkan jarak sepasang paha gempalnya, sambil mengejang – ngejang… sambil meremas – remas bahuku dengan kuatnya.
Desahan – desahan nafasnya pun mulai terdengar.
Setelah serambi lempitnya terasa cukup basah, aku pun berlutut sambil memukul – mukulkan rudalku ke permukaan serambi lempit yang sudah ternganga kemerahan itu. Lalu kucolek – colekkan moncong rudalku ke celah serambi lempit Zaina, sambil mencari – cari arah yang tepat untuk dipenetrasi. Dan setelah merasa cukup tepat arahnya, kudoirong rudalku sekuat tenaga.
Zaina pun memegang sepasang pangkal lenganku ketika aku mulai mengayun rudal ngacengku dengan gerakan pelan – pelan dulu. Makin lama makin kupercepat, sampai pada kecepatan normal.
Desahan dan rointihannya pun mulai terdengar perlahan tapi jelas, “Dooon… oooooohhhh… ini enak sekali Dooon… semoga jadi anak ya Dooon… aaaaah… Dooonny… ini enak Dooon… oooohhhh… Dooony… aaaah… aaaaaaaah… entot lebih keras lagi Doooon… iyaaaaa… iyaaaaaa…
Aku pun mengikuti keinginannya, agar entotanku lebih keras. Sehingga dalam tempo singkat keringatku mulai bercucuran. Begitu juga Zaina, keringatnya mulai membasahi leher dan wajahnya. Bercampur aduk dengan keringatku. Namun aku tak peduli dengan hal kecil ini. Aku malah melakukan sesuatu yang belakangan ini kusukai.
Ini membuat Zaina semakin klepek – klepek. Sekujur tubuhnya bergeliang – geliut, seperti ular terinjak kepalanya. Bahkan beberapa saat kemudian terdengar suaranya di dekat telingaku, “Doooon… ooooooh… aku udah mau orga Dooon… oooooh… cepetkan entotnya Dooon… ooooohhh… aaaaaaah …
Lalu sekujur tubuh gempal sintal itu mengejang. Aku pun langsung membenamkan rudalku sedalam mungkin, karena ingin menikmati indahnya detik – detik pada saat pasangan seksualku orgasme.
Lalu… liang serambi lempit perempuan timur tengah itu terasa bergerak – gerak reflex. Duuuh… indahnya menikmati detik – detik beraroma surgawi ini…!
Kubiarkan dulu wanita timur tengah itu terkapar lemas dengan wajah pucat pasi. Namun kemudian kulihat wajahnya kemerahan lagi. Pada saat itulah kulanjutkan lagi entotanku yang belum selesai ini.
Mata Zaina terbuka lagi. Dan bertanya, “Mau nyobain posisi doggy?”
Aku pun menghentikan entotanku, “Hehehee… Zaina tau aja posisi kesukaanku,” ucapku sambil mencabut rudalku dari liang serambi lempit tembem itu.
Kemudian Zaina menungging sambil menepuk – nepuk bokong gedenya sendiri.
“Boleh sambil spanking kan?” tanyaku sambil berusaha membenamkan rudalku sambil berlutut di depan bokong guedeee itu.
“Iya boleh. Aku malah seneng sambil dikemplangin pantat gitu. Sampai merah sekali juga boleh… ooooohhh… sudah masuk lagi Doooon… rudalmu kok enak banget siiih?!”
Dengan mudahnya rudalku memang sudah amblas ke dalam liang serambi lempit yang sudah terasa becek itu.
Lalu mulailah aku memenyetubuhinya sambil mengemplangi sepasang buah pantat yang luar biasa gedenya itu.
Plllllaaaaakhhh… plooooookhhh… plaaaakkkkk… plooookkkk… plaaaaaakkkkk… ploooook… plaaaaak… ploooookkkk… plaaaakkkk…
Sementara itu gesekan antara rudalku dengan liang serambi lempit Zaina yang becek itu menimbulkan bunyi khas… crrrreeeekkk… sreetttttt… creeeek… sreeeet… crekkkkkk… sretttt… creeeekkkkkkk… sretttt…
Pantat gede yang kukemplangi terus itu mulai tampak merah – merah. Tapi aku tetap mengemplanginya dengan gairah yang semakin menggebu – gebu.
Memang nafsuku sedang agak aneh. Memenyetubuhi Zaina ini rasanya seperti menghadapi dua atau tiga cewek sekaligus. Sehingga keringat pun semakin membanjiri tubuhku. Namun aku tetap asyik memenyetubuhinya dari belakang.
Tiba – tiba Zaina berkata, “Don… posisi missionary lagi aja Don. Soalnya aku sudah hampir orgasme lagi. Kalau bisa sih barengin sekalian ya.”
“Iya,” sahutku. Meski sebenarnya aku masih ingin berlama – lama menikmati pulennya liang serambi lempit wanita timur tengah yang lahir besar di nusantara itu.
Lalu kucabut rudalku dari liang serambi lempitnya. Zaina pun cepat menelentang sambil mengangkangkan kedua pahanya lebar – lebar.
Lalu… kujebloskan lagi rudalku ke dalam liang serambi lempit yang gurih dan legit itu.
Zaina menyambutku dengan pelukan dan bisikan, “Barengin ya… biar enak dan jadi anak…”
Aku mengiyakan saja. Sambil mengayun rudalku seolah sedang memompa liang serambi lempit wanita timur tengah itu. Sengaja kucepatkan dan kukeraskan gerakan rudalku, laksana gerkaan hardcore di bokep – bokep.
Saking keras dan cepatnya gerakan rudalku ini, sampai terdengar bunyi plak – plok plak – plok – plak – plok… itu bunyi kantung berisi biji pelerku yang sedang menepok – nepok mulut anus Zaina.
Zaina pun merintih dan mendesah erotis lagi. “Aaaaaah… Dooooon… aaaaaah… aaaaah… baru sekali ini aku merasakan rudal yang segini enaknya… entot terus Dooon… aku sudah hampir orgasme lagi… ooooooohhhhh… barengin yaa… barengiiin… iya Dooon… iyaaaaa… aku mau orga lagiiii …
Sebagai reaksi, aku pun mempercepat entotanku… menggenjot liang serambi lempit Zaina habis – habisan. Lalu ketika wanita timur tengah itu mulai mengejang sambil menahan nafasnya, aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin, sampai menabrak dasar liang serambi lempitnya.
Detik – detik terindah itu pun terjadi. Bahwa ketika liang serambi lempit Zaina bergerak – gerak reflex… mengejut dan memutar seperti spiral… dibalas dengan kejutan – kejutan rudalku yang tengah memuntahkan lendir kenikmatanku.
Crrrreeeettttt… croooootttt… croooottttt… crotttt… crooootttttttt… creettttttt… crooootttttttt…!
Terasa banyak sekali air maniku yang termuntahkan di dalam liang serambi lempit Zaina. Maklum sudah lebih dari sebulan aku disubukkan oleh bisnisku dan tidak menyetubuhi siapa pun.
“Jangan dicabut dulu Don,” ucap Zaina setengah berbisik. “Biar meresap ke dalam rahimku. Duuuh… banyak sekali spermamu yaaa…”
“Sudah lebih dari sebulan aku tidak menyetubuhi siapa pun.”
“Bagus itu. Sekarang aku sedang dalam masa subur pula. Semoga aku hamil ya.”
“Iya. Nanti anakku dibawa jauh ke Austria… hahahaaa…”
“Aku bakal sering datang ke sini. Kan ada bisnis di Surabaya dan di kota ini.”
“Ohya?! Hebat dong Zaina jadi wanita karier.”
“Begini Don… nanti seandainya kamu berhasil membuahiku, aku akan secepatnya terbang ke Austria. Di sana aku akan mengajak suamiku menggauliku. Supaya anak kita disangka anak dia.”
“Suami Zaina asli orang Austria?”
“Bukan. Dia berdarah Turki, tapi berkewarganegaraan Austria.”
“Seandainya dia minta test DNA gimana?”
“Kalau dia nyuruh test DNA segala, berarti dia sudah mencurigaiku. Kalau dia marah – marah, aku akan minta cerai aja dan langsung pulang ke Indonesia. Karena aku merasa tanah airku di sini. Bukan di Lebanon.”
“Lalu bagaimana dengan bisnisnya? Punya suami Zaina kan?”
“Bukan. Dia pegawai departemen perindustrian. Kalau di sini sih PNS lah. Bisnis itu semuanya bisnisku. Bukan bisnis dia.”
“Jadi kalau sampai terjadi perceraian, Zaina bisa langsung hengkang ke Indonesia ya?”
“Iya. Cuman sayangnya pusat bisnisku di Vienna, Austria. Kalau meninggalkan Austria entah bagaimana cara mengelolanya nanti. Di sini Vienna suka disebut Wina.”
“Tergantung siapa dulu yang nyebutinnya. Kalau wawasannya lokal, pasti nyebut Wina… bisa tertukar sama nama penyanyi dangdut. Hahahahaaaa…”
“Iya. Kalau bangsa kita mau tour ke Yunani, terus beli tiketnya di Eropa, bisa bingung nanti penjual tiketnya. Yunani… Yunani… mana ada bangsa lain menyebut Yunani untuk Greece.”
“Seperti menyebut Mesir untuk Egypt… Belanda untuk Nederland… kok jauh bener bedanya ya.”
Ketika hari sudah mulai remang – remang menuju malam, aku pun meninggalkan rumah Zaina. Dan berjanji akan datang lagi dua hari kemudian.
Aku pun menujukan sedan putihku ke rumah Bunda. Karena aku sudah kangen… kangen sekali kepada Bunda yang sudah agak lama tidak berjumpa denganku.
Setibanya di rumah Bunda, hari sudah semakin malam, karena tadi mengisi perut dulu disebuah café yang menyediakan nasi gorewng juga.
Aku langsung mencari Bunda ke kamarnya. Kebetulan Bunda baru selesai mandi dan sedang menggosok – gosok rambutnya dengan handuk.
“Keramas nih yeee…” ucapku sambil memeluk Bunda dari belakang.
“Iya. Bunda kan baru bersih mens. Makanya keramas,” sahutnya.
“Asyik dong… berarti sekarang serambi lempit Bunda sedang enak – enaknya.”
“Iya. Kamu kangen pengen numpakin bunda yang udah lama gak ditengok ya?”
“Iya Bun. Kangen berat. Café siapa yang nungguin?”
“Donna lah, siapa lagi kalau bukan dia. Kan tugas Bunda dari pagi sampai sore. Donna giliran dari sore sampai café tutup.”
“Dia tetap semangat nungguin cafe ya Bun,” ucapku masih memeluk Bunda dari belakang, tapi tanganku sudah kuselinapkan ke balik daster Bunda. Dan langsung menyentuh serambi lempit Bunda, karena seperti biasa, kalau sudah dekat waktunya tidur Bunda tak pernah mengenakan celana dalam mau pun beha. Ini membuatku semakin bernafsu untuk mencolek – colek dan mencolok – colok serambi lempit bunda yang selalu bersih dari jembut.
Meski aku berada di belakang Bunda, tapi aku sudah hafal di titik mana kelentitnya berada. Titik yang terpeka itulah yang digesek – gesek oleh jemariku.
Aneh memang. Tadi siang sampai sore aku habis – habisan menyetubuhi wanita muda montok dari Lebanon bernama Zaina itu. Tapi setelah berdekatan dengan Bunda, terlebih setelah menggerayangi serambi lempitnya begini, nafsuku jadi bergejolak lagi.
Mungkin “lesu darah”ku sudah sembuh lagi. Mungkin gara – gara mendapatkan Zaina yang montok sekali itu.
Tadi dengan Zaina aku hanya satu kali ngecrot. Tidak mau “nambuah sapiriang”. Karena dengan Zaina ada tujuan, ingin menghamilinya. Bukan sekadar melampiaskan nafsu syahwat.
Setelah berada di rumah Bunda inilah aku bisa disebut ingin melampiaskan nafsu syahwat semata. Karena tujuannya memang sekadar ingin “mengenyangkan” si johni, yang belum kenyang di rumah Zaina.
Lalu terdengar suara Bunda, “Dooon… kalau itil bunda udah digesek – gesek gini, pasti bunda langsung horny.”
Lalu Bunda melepaskan dasternya dan menarik pergelangan tanganku ke arah bednya.
Aku pun naik ke atas bed sambil melepaskan seluruh busanaku, lalu merayap ke atas perut Bunda yang sudah celentang dengan senyum beraroma birahi di bibirnya.
Tanpa kesulitan aku pun membenamkan rudalku ke dalam liang serambi lempit Bunda. Ya… Bunda senengnya begini. Tidak suka main jilat serambi lempit sebelumnya, karena “lezatnya” rudalku jadiu kurang terasa kalau dibikin basah kuyup dulu serambi lempitnya.
“Ooooohhh… udah masuk Don, “rintih Bunda setengah berdesah “Kamu sudah punya banyak cewek, tapi sama bunda tetap mau ya?”
Kusahut, “Bunda sayang… memang aku punya cewek banyak. Tapi biar bagaimana, Bunda jua yang paling mengesankan bagiku.”
Lalu aku mulai mengayun rudalku di dalam liang serambi lempit bunda yang sudah licin tapi belum becek.
Maka Bunda pun mulai menggeol – geolkan bokong gedenya, meliuk – liuk dan menghempas – hempas. Membuat rudalku dibesot – besot dan dipilin – pilin oleh liang serambi lempitnya yang licin dan hangat ini.
Kalau dipikir – pikir, agak merinding juga aku dibuatnya. Dahulu, waktu aku dilahirkan, sekujur tubuh dan kepalaku dikeluarkan lewat liang serambi lempit Bunda ini. Dan sekarang hanya rudalku yang maju – mundur di dalam liang sanggama ini.
Tapi anehnya, ingatan itu malah membuatku semakin bersemangat untuk menyetubuhi Bunda dan Donna secara rutin.
Meski tadi siang sampai sore aku “disekap” di dalam kamar Zaina, kini aku masih mampu memenyetubuhi Bunda dengan keyakinan bahwa aku akan sangat lama menyetubuhi Bunda ini.
Tapi ketika aku sedang asyik – asyiknya memenyetubuhi Bunda, tiba – tiba terdengar suara Donna dari ambang pintu kamar Bunda yang lupa menguncinya. “Waaaah… malam weekend begini memang harus ada acara hot wikwik… kok aku gak diajak sih?”
Aku menoleh ke arah Donna yang masih mengenakan baju seragam café. blousedan sok serba putih, dengan blazer merah dengan logo café di dadanya. “Mandi dan ganti baju dulu. Nanti gabung aja ke sini.”
“Siap Boss. Aku mau mandi di kamar mandi Bunda aja ah. Memang badanku penuh keringat nih,” sahut Donna yang langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi Bunda.
Aku pun melanjutkan aksiku, menggenjot batang kemaluanku yang sedang “memompa” liang serambi lempit Bunda.
Bunda pun bereaksi dengan menggeol – geolkan lagi pantat gedenya. Demikian pandainya Bunda mengarahkan goyangan pinggulnya, dengan gerakan meliuk – liuk dan menghempas – hempas, sehingga pada wqaktu serambi lempitnya menukik, selalu bergesekan dengan rudalku. Hal ini menyebabkan Bunda cepat “selesai”. Bunda berkelojotan, lalu mengejang tegang di puncak orgasmenya.
Detik – detik terindah itu dirasakian oleh batang kemaluanku yang seolah dililit oleh ular, disusul oleh kedutan – kedutan kencang di dasar liang serambi lempit Bunda.
“Aaaaaaaaahhhh…” desah Bunda setelah puncak orgasmenya tercapai.
Pada saat yang sama Donna pun muncul dari kamar mandi, dengan hanya melilitkan handuk dibadannya, yang menutupi dari dada sampai ke pahanya. Tapi aku yakin di balik handuk itu Donna tidak mengenakan bra mau pun celana dalam.
Aku pun mencabgut rudalku dari liang serambi lempit Bunda, karena beliau sudah terkapar lemas sambil memejamkan matanya.
Pada saat itulah Donna naik ke atas bed sambil melepaskan belitan handuknya.
Donna langsung telanjang bulat. Dan aku tercengang karena menyaksikan sesuatu yang berbeda dengan biasanya.
Ternyata Donna selalu berusaha untuk mengikuti apa pun yang kuinginkan. Donna selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dalam pertemuanku dengan Donna sebelumnya, kukatakan bahwa aku sudah mulai jenuh dengan serambi lempit botak dan botak lagi.
Dan kini sesuatu yang berbeda telah tampak di mataku. Bahwa serambi lempit Donna jadi berjembut. Jadi trendnya seperti terbalik. serambi lempit Bunda dicukur gundul, sementara serambi lempit Donna malah berjembut.
Sebenarnya aku akan menyetubuhi Donna dio samping Bunda yang sudah tertidur. Tapi sesaat kemudian Bunda membuka matanya dan berkata, “Donna… di kamarmu aja gih. Biar bunda nyenyak tidurnya. Nanti subuh kan mau belanja ke pasar.”
“Iya Bun,” sahut Donna sambil memberi isyarat padaku agar pindah ke dalam kamarnya.
Aku mengangguk. Tapi aku mencium bibir Bunda dulu, disusul dengan bisikan, “Aku mau ke kamar Donna dulu. Tapi nanti tidurnya sama Bunda di sini ya. Udah kangen bobo dalam pelukan Bunda.”
Bunda mengusap – usap rambutku sambil menyahut, “Nanti subuh bunda mau belanja ke pasar, untuk kebutuhan café. Kalau bunda kurang tidur, bisa sakit nanti. Bobo sama Donna aja ya Sayang.”
“Iya deh,” jawabku sambil menepuk – nepuk serambi lempit bunda yang masih telanjang. Lalu keluar dari kamar bunda sambil meraih pakaianku dan kubawa ke kamar Donna.
Pakaian itu kuilemparkan ke atas lemari pendek, lalu memperhatikan Donna yang sudah berada di atas bed dalam keadaan telanjang seperti aku.
Tadi aku sudah habis – habisan menyetubuhi Bunda. Tapi aku belum ejakulasi. Karena itu tentu saja “si dede” masih ngaceng dan menuntut dientotkan lagi di dalam liang serambi lempit.
“Kamu masih ikutan kabe Don?” tanyaku sambil naik ke atas bed.
“Masih lah.”
“Gak pengen punya anak dariku?” tanyhaku sambil mengusap – usap jembut Donna.
“Jangan dong. Kita memang incester. Tapi kita hidup di tengah masyarakat yang masih konservatif. Lagian kalau aku punya anak darimu, lantas setelah besar anaknya bertanya siapa ayahnya… pasti bingung aku menjawabnya kan?”
“Iya, kamu benar juga. Terus langkah kita selanjutnya bagaimana? Hubungan kita tetap akan berjalan seperti ini?”
“Mmm… pasti akhirnya kita harus kawin dengan orang lain. Tapi meski kamu sudah punya istri dan aku pun sudah punya suami, aku ingin agar hubungan rahasia kita tetap berjalan seperti biasa.”
“Oke. Kalau begitu aku setuju. Hmmm… padahal di salah satu provinsi di negara kita ada tradisi yang unik. Kalau anak kembar berlainan jenis kelamin, salah satu anaknya diberikan kepada orang lain. Tapi setelah besar dinikahkan, karena sudah membawa jodoh dari lahir katanya. Tapi gak tau apakah sekarang tradisi itu masih dilakukan atau sudah ditinggalkan.
“Iya, aku juga pernah dengar cerita tentang tradisi itu. Jodohnya sudah ada sejak kedua anak kembar itu masih dalam perut ibu mereka. Kalau di sini ada tradisi seperti itu, pasti kita sudah menjadi suami istri ya.”
Sambil menmyelusupkan jari ke dalam liang serambi lempit Donna, aku berkata, “Kalau sekadar ingin menikah, di louar negeri juga bisa kita lakukan. Tapi waktu pulang ke sini, malah bisa bikin heboh nanti. Ohya… kamu kan di café terus. Apakah ada cowok yang ngeceng kamu?”
“Ada yang serius sama aku. Dia seorang duda yang baru ditinggal mati oleh istrinya. Dia seorang pengusaha tajir. Terlihat dari mobil yang biasa dipakai pun mobil yang harganya milyaran.”
“Nah bagus itu. Terima aja cintanya, kan kita bisa tetap berhubungan secara rahasia.”
“Sudah tua Don,” sahut Donna, “Umurnya sudah limapuluh lebih.”
“Gak apa. Malah bagus kalau sudah tua. Dia bakal menerima kamu apa adanya.”
“Maksudmu apa adanya dalam hal apa?”
“Kamu kan gak perawan lagi. Kalau lelaki yang sudah berumur, pasti mau menerima kamu apa adanya.”
“Dia orang Belanda Don. DIa memang sudah jadi WNI, karena istrinya almarhumah orang Indonesia. Tapi agamanya… dia bukan mualaf Don.”
“Coba aja bujuk agar menjadi mualaf. Siapa tau dia mau.”
“Sudah kubilang begitu. Dia mau memikirkan dulu katanya. Eeeh… kamu mau kuoral?”
“Nggak ah. Aku waktu sama Bunda tadi kan belum ngecrot. Masih ngaceng gini ngapain dioral segala? Aku justru ingin jilatin serambi lempitmu. Pengen tau bagaimana rasanya menjilati serambi lempit berjembut begini.”
“Ya udah… jilatin deh serambi lempitku,” ucap Donna sambil celentang dan mengangkang.
Aku tersenyum sambil melorot turun dan berhenti setelah wajahku berada di atas serambi lempit Donna yang kini berjembut.
Kuusap – usap dan kusibakkan jembut Donna agar menjauh dari bagian yang akan kujilati. “serambi lempitmu harum gini. Pakai parfum apa?” tanyaku, “Harumnya unik gini… seperti aroma pegunungan.”
“Pakai ramuan therapy. Kalau pakai parfum sih bisa panas serambi lempitku,” sahut Donna.
“Ooo… pantesan. Tapi mantap harumnya Don. Kamu boleh pakai terus ramuan itu.”
“Iya Donny sayang… apa pun akan kulakukan demi cintaku padamu.”
Lalu aku tidak bicara lagi, karena lidah dan bibirku mulai “sibuk” menjilati serambi lempit saudara kembarku. Semua bagian yang terjangkau oleh lidah, kujilati dengan lahap. Lahap sekali. Memang harum udara pegunungan yang begini natural membuatku sangat bersemangat untuk menjilati serambi lempit Donna.
Bahkan pada suatu saat, kuemut kelentitnya. Kujilat – jilat dan kuisap – isap dengan kuatnya.
Donna pun menggeliat – geliat sambil, meremas – remas rambutku. “Dooon… dudududuuuuh… kalau itilku yang dijilatin begini… aku pasti orgasme… aaaaaah… Doooon… aaaaaah… aku bisa cepat lepas Dooon… aaaaaaah… Doooniiii… jangan nakal gini dong… aku… aku mau lepasssssss…
Donna mengejang tegang, sementara akku malah semakin lahap menjilati kelentitnya, sambil memasukkan dua jari tanganku ke dalam liang serambi lempitnya pula.
Dan… jari tanganku bisa merasakan liang serambi lempit Donna mengejut – ngejut… disusul dengan basahnya liang sanggama saudara kembarku ini.
Donna terkulai lemas. Pada saat itulah kubenamkan rudalku ke dalam liang serambi lempitnya. Blessssss… rudalku bisa dengan mudah memasuki liang kemaluan saudara kembarku, karena dia baru mengalami orgasme.
Donna mendekapku erat – erat sambil berkata setengah berbisik, “Jangan dientotin dulu Sayang… aku baru orgasme… masih ngilu – ngilu.”
Kuikuti saja permintaannya. Kurendam rudalku di dalam liang serambi lempit Donna yang terasa hangat dan sangat basah ini.
“Enak orgasmenya barusan?” bisikku sambil merapatkan pipiku ke pipi Donna.
“Ya enaklah. Masa orgasme gak enak. Kamu nakal iiih… belum apa – apa aku udah orgasme jadinya.”
“Santai aja Sayang. Kan biasa juga kamu suka dua atau tiga kali orgasme kalau kusetubuhi.”
“Iya sih… mmm… ayo entotin Don. Sekarang udah hilang ngilu – ngilunya.”
Sesuai dengan permintaan Donna, aku pun mulai mengayun rudalku di dalam liang serambi lempit saudara kembarku.
Donna pun mulai mendesah – desah sambil menciumi bibirku bertubi – tubi.
Menyetubuhi Bunda dan Donna seolah sudah menjadi kewajibanku, untuk memberikan nafkah batin kepada mereka. Aku tak pernah memikirkan bagaimana seandainya Bunda menikah lagi dengan lelaki lain kelak. Juga tak pernah memikirkan hal yang sama pada diri Donna. Biarlah semua mengalir saja seperti air dari mata air yang mengalir terus ke muara.
Dan ketika aku sedang menyetubuhi Donna ini, aku mengherani diriku sendiri. Kenapa aku seolah kehilangan gairah untuk menggauli Gayatri, Liza dan Lingling? Tapi kenapa pada waktu menyetubuhi Donna ini aku merasa begini bergairahnya? Apakah pada dasarnya aku sudah menjadi incester?
Entahlah. Yang jelas pada waktu rudalku sedang menggenjot liang serambi lempit saudara kembarku ini, aku merasa benar – benar bebas menyetubuhinya.
Terlebih ketika Donna membisiki telingaku, “Donny… setiap kali dientot sama kamu, rasanya aku seperti sedang berada di surga… surga dunia. Rasanya di dunia ini hanya ada kita bertiga. Aku, kamu dan Bunda.”
Aku cuma tersenyum. Lalu menggencarkan entotanku sambil meremas toket kanannya dengan tangan kiriku, sementara mulutku sudah nyungsep di lehernya. Untuk menjilati leher jenjangnya, disertai gigitan – gigitan kecil yang tidak menyakitkan.
Donna memang paling suka diperlakukan seperti ini. Dientot habis – habisan sambil dijilati lehernya dan diremas – remas toketnya.
“Donniiii… ooooohhhhh… ini makin enak aja Dooon… bisa – bisa aku orgasme lagi nantiiii… “rintih sambil meremas – remas bahuku. Terkadang dia meremas – remas rambutku juga. Dan di saat lain dia meremas – remas bokongku. Sehingga aku semakin bergairah untuk memenyetubuhinya habis – habisan.
Tubuhku pun mulai bersimbah keringat yang bercamnpur aduk dengan keringat Donna.
Tapi tiba – tiba Donna mengelojot, dengan perut agak terangkat ke atas dia pun mengejang. Sehingga aku semakin mempercepat entotanku. Karena aku pun sudah mau ejakulasi.
Lalu kurasakan nikmatnya mencapai titik puncak keindahan secara berbarengan ini. Bahwa aku dan Donna seolah sedang kerasukan. Kami saling remas dan saling lumat bibir. sumber Ngocoks.com
Pada detik – detik terindah itulah terasa liang serambi lempit Donna berkedut – kedut kencang… pada saat yang sama rudalku pun mengejut – ngejut sambil melepaskanlendir pejuhku… jrooooooooottttttt… jrootttt… jroooottttttttt… jrooooootttt… jroootttt jrottttt… jrooootttt…
Setelah melepaskan ciumannya, Donna berkata lirih, “Terima kasih Don. Luar biasa nikmatnya.” Setelah mencabut rudalku dari liang serambi lempit Donna, kukecup pipinya, lalu berbisik, “Bobolah sekarang ya Sayang. Besok kan harus jaga café.”
“Iya Don. Terimakasih yaaa…” sahut Donna sambil memeluk bantal guling dan memejamkan matanya.
Aku keluar dari kamar Donna dan masuk ke dalam kamarku. Langsung masuk ke dalam kamar mandi pribadiku. Lalu mandi dengan air hangat shower sampai bersih dari keringat bekas menyetubuhi Bunda dan Donna tadi.
Selesai mandi, kuambil kimono yang terbuat dari bahan handuk putih yang masih bersih. Lalu kukenakan. Tapi sesuai dengan ucapanku tadi, aku tidak tidur di kamarku. Aku ingin tidur di kamar Bunda. Entah kenapa, kalau tidur sambil dipeluk oleh Bunda itu rasanya nyaman sekali.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Hari demi hari berjalan dengan cepatnya, tanpa bisa dimundurkan. Sampai pada suatu hari terjadi sesuatu yang mengejutkan.
Aku tidak menyangka sedikit pun kalau hal itu akan terjadi.
Ya… pada suatu pagi aku mendapat call dari Tante Sin.
“Don… ini bagaimana nih… Gayatri muntah – muntah terus… dan aku yakin dia sedang hamil… !” kata Tante Sin di ujung sana.
“Hamil?! Sejak kapan dia kelihatan hamilnya?” tanyaku.
“Gak tau. Pokoknya Donny ke sini aja ya. Nanti bawa dia ke dokter biar jelas semuanya.”
Dengan perasaan kaget dan heran aku mengeluarkan sedan putihku. Lalu kujalankan ke arah rumah Tante Sin yang sudah lebih dari tiga bulan tidak kukunnjungi. Berarti aku pun sudah lebih dari tiga bulan tidak berjumpa dengan Gayatri.
Setibanya di rumah Tante Sin, aku langsung naik ke lantai dua. Ke pintu kamar Gayatri.
Kulihat Gayatri sedang menelungkup sambil menangis terisak – isak.
Kupegang dan kugoyahkan betis Gayatri. “Kenapa Tri? Kamu kena muntaber atau gimana?” tanyaku.
“Gak tau. Pokoknya aku mual – mual terus belakangan ini.”
“Kalau begitu ayo kita ke dokter sekarang. Biar semuanya menjadi jelas.”
Gayatri turun dari bednya dengan wajah dan rambut lusuh. Lalu keluar dari kamarnya sambil kupegangi pergelangan tangannya.
Gayatri menurut saja kubawa ke dokter langgananku. Seorang dokter wanita. Aku pun ikut masuk ke dalam ruang praktek dokter itu. Gayatri pun dibawa masuk ke balik partisi kain putih, sementara aku duduk di depan meja kerja dokter yang sudah kenal baik denganku itu.
Bersambung… Aku mendengar banyak tanya jawab antara dokter itu dengan Gayatri. Dan yang sangat mengejutkan adalah ketika dokter itu duduk kembali di kursinya sambil berkata p;adaku, “Dia hamil sudah empat minggu Don.” “Empat minggu?!” seruku tertahan.
“Iya. Kenapa Don?”
“Gak kenapa – kenapa Dok. Cuma kaget aja.”
Aku bilang gak kenapa – kenapa pada dokter wanita berwajah ayu dan anggun itu. Tapi masalah “empat minggu” itu serasa mau meledak dari dalam dadaku setelah berada di mobil kembali untuk mengantarkan Gayatri beli obat resep dokter.
Dari apotek menuju tempat tinggal Gayatri, aku tak bisa lagi menahan amarah yang serasa mau meledak ini.
“Siapa yang melakukannya Tri?” tanyaku.
Gayatri cuma menunduk sambil mendekap dadanya sendiri.
“Jawab aja sejujurnya. Kamu kan selalu jujur biasanya juga, “desakku.
Gayatri tetap membisu.
“Kamu sengaja tidak mau mengatakannya karena ingin melindungi cowok itu? Atau aku harus menyelidikinya sendiri ke tempat semua pergauloanmu, baik yang di rumah mau pun yang di kampus,” kataku lagi.
“Aku lupa minum pil anti hamil, makanya kebobolan.”
“Yang aku tanya siapa cowok yang telah menghamilimu itu? Yang pasti bukan aku! Hampir empat bulan aku sibuk terus sehingga gak sempat menjumpaimu. Sedangkan kehamilanmu berumur baru empat minggu. Berarti perbujatanmu dengan cowok itu di sekitar sebulan belakangan ini. Atau mungkin sebelumnya juga sering melakukannya, tapi terjaga oleh pil kontrasepsi.
“Aku mau sejujurnya bicara. Yang melakukannya teman kuliahku. Yang pertama kali, aku diperkosa olehnya. Tapi selanjutnya memang suka sama suka, karena aku merasa sudah kepalangan basah. Sekarang terserah Bang Donny. mau bunuh aku pun silakan. Aku sudah pasrah.”
“Aku pengusaha, bukan pembunuh. Aku hanya akan memberi keputusan yang tidak merugikan siapa pun. Hubungan kita putus sampai di sini. Dengan sendirinya dengan Liza pun aku putuskan. Karena aku takkan mengenal Liza kalau aku tak mengenalmu.”
Gayatri menangis terisak – isak. Biasanya hatiku luluh kalau menyaksikan cewek menangis. Tapi kali ini tidak. Aku bahkan membayangkan seperti apa kejadiannya yang tidak aku saksikan itu. Kejadian persetubuhan antara Gayatri dengan teman kuliahnya itu.
Ketika aku masuk ke dalam tempat tinggal Gayatri, Tante Sin seperti penasaran. “Bagaimana hasil pemeriksaan dokter Don?” tanyanya.
“Dia memang hamil. Baru empat minggu kehamilannya. Jelas bukan aku yang merlakukannya. Karena lebih dari tiga bulan aku tak pernah berjumpa dengan dia. Jadi… ini terakhir kalinya aku menginjak rumah Tante. Maafkan aku kalau selama ini melakukan kesalahan kepada Tante ya.”
“Ja… jadi siapa yang menghamilinya?” tanya Tante Sin.
“Tanyakan aja sendiri padanya Tante. Aku mohon pamit ya.”
Lalu kutinggalkan rumah Tante Sin. Dengan kobaran amarah yang belum reda bahkan semakin menjadi – jadi setibanya di rumahku.
Jadi… seperti itu kelakuan cewek yang sangat kusayang dan kupercayai dan tadinya akan kujadikan istri pertama itu?!
Tapi aku lalu mengatur nafas. Dan bermeditasi di dalam kamarku.
Esoknya aku berusaha memetik hikmah dari semua ini. Bahwa aku mendadak kehilangan gairah birahi selama berbulan – bulan, ternyata ada kekuatan tak terkalahkan untuk membuka rahasia Gayatri, bahwa diam – diam dia sering melakukan keserongan di belakangku. Kalau aku terus – terusan menggaulinya selama empat bulan belakangan ini, pasti aku takkan bisa membongkar rahasia itu.
Pantaslah orang- orang tua suka memberi wejangan, bahwa mencari calon istri itu harus mencermati dulu babat bibit dan bobotnya. Salah satunya adalah apa dan siapa orang tua dan keluarga besarnya.
Sedangkan Gayatri? Ibunya (Tante Agatha) seperti itu, tantenya (Tante Sin) seperti itu. Maka tidak terlalu mengherankan kalau Gayatri pun seperti itu. Karena buah itu takkan jatuh jauh dari pohonnya.
Sekarang mataku sudah terbuka. Dan selanjutnya aku harus waspada, jangan cepat percaya pada siapa pun. Kecuali kalau aku ini seorang lelaki cuckold… hahahaaa…!
Lalu calon istriku yang belum ternoda itu adalah Lingling. Semoga saja dia tidak seperti Gayatri. Kalau pun Lingling seperti Gayatri, ya sudahlah. Mungkin aku akan mencari calon istri di dalam keluarga besarku saja. Bukankah sejak pertama merasakannya dengan Mama angkatku sudah ada jiwa incest di dalam jiwaku ini?
Tiba – tiba aku teringat Imey, anak Tante Ratih yang digadang – gadang hendak dijodohkan denganku itu.
Aku memang selalu mentransfer dana pada rekening tabungannya, dalam jumlah yang tak sedikit pula. Karena ia sudah resign dari pabrik, atas anjuranku. Tapi aku baru satu kali saja berjumpa dengan dia di rumah ibunya yang adik Bunda itu. Sejak saat itu aku tak pernah berjumpa lagi dengannya, namun aku selalu mentransfer dana padanya, sebagai tanda keseriusanku.
Aku serasa mendapatkan ilham baru. Kemudian kupijat nomor ponsel Imey.
Mungkin anak Tante Ratih bernama Imey itu kaget, karena tiba – tiba saja aku menghubunginya lewat ponselku.
“Kok tumben duluan call? Biasanya kan harus aku dulu yang call.”
“Segala sesuatu ada waktunya. Kan ada yang bilang, sesuatu akan menjadi indah pada waktunya. Nah sekarang aku mau jemput ke rumahmu, gimana?”
“Mau ngajak ke mana?”
“Pengen ke pantai. Kamu mau kan diajak ke pantai Pangandaran?”
“Duh… aku seneng banget dengernya juga. Karena aku paling suka wisata ke pantai. Tapi Mama lagi di Surabaya Don. Di rumah gak ada siapa – siapa. Mendingan juga Kang Donny nemenin aku di rumah aja.”
“Ngajak aku nginep di rumahmu?”
“Iya, nginep juga boleh. Sampai Mama pulang dari Surabaya juga boleh. Aku sudah dapat ijin khusus kok dari Mama, kalau Kang Donny bertamu dan menginap di rumah, dibolehkan menginap.”
“Oke. Dalam sejam aku akan merapat ke rumahmu ya.”
“Silakan. Aku tunggu ya Kang.”
Aku pun langsung mandi sebersih mungkin. Sehingga badanku jadi terasa segar sekali.
Beberapa saat kemudian aku sudah melarikan sedan putihku. Menuju rumah Tante Ratih.
Rumah Tante Ratih tidak ada garasinya. Tapi aku bisa memarkir mobilku di pekarangannya yang lumayan luas. Imey pun muncul dan menghampiri mobilku.
“Mobilnya diganti?” tanyanya setelah bersalaman dan cipika – cipiki denganku.
“Ditambah, bukan diganti,” sahutku sambil tersenyum.
“Oh iya… aku lupa siapa Kang Donny ini… hihihiii… ayo masuk,” ucapnya sambil melangkah ke teras depan dan masuk ke dalam rumahnya.
“Lho… rumah ini sudah dirombak ya,” ucapku sambil melangkah terus ke ruang keluarga. Sambil memperhatikan dindingnya yang sudah dilukis sekujurnya. Lukisan seperti ombak dalam warna hitam abu – abu dan putih. Sungguh bagus nuansa dan coretannya.
“Iya… kan aku sudah resign dari pabrik. Daripada nganggur, kulukis aja dindingnya seperti ini. kamarku pindah ke belakang, ke tanah kosong itu. Bangunan kamar baruku dan semuanya ini dibiayai oleh transfer dari Kang Donny.”
“Jadi dinding ini Imey sendiri yang melukisnya?”
“Iya… hitung – hitung menyalurkan bakat terpendam aja Kang. Sekalian mengobati kangennya aku menunggu kedatangan Kang Donny yang lebih dari setahun gak muncul – muncul.”
Kudekap pinggang Imey dari belakang, “Ternyata kamu punya bakat melukis ya. Coretannya pun halus begitu. Mmm… aku kagum sama coretan di dinding itu, Mey. Coba lihat kamar barumu seperti apa?”
Dengan sikap manja Imey menuntunku menuju kamar barunya.
Kamar baru Imey ternyata lumayan modern, dengan peralatan serba kekinian. Kamar mandinya sudah menggunakan shower model baru, yang besar dan terbuat dari stainless steel, bahkan ada bathtub segala.
“Nanti kita mandi bareng di sini ya,” ucapku sambil meraih lehernya ke dalam pelukanku. Lalu kucium bibirnya dengan mesra. “Janjinya mau dilaksanakan sekarang kan?”
“Janji apa?” tanyanya. Aku yakin dia pura – pura tidak ingat janjinya yang p[ernah disampaikan lewat WA. Janji untuk membuktikan keperawanannya.
“Janji untuk membuktikan yang satu ini,” sahutku sambil menepuk bagian di bawah perutnya yang masih tertutup daster putihnya.
“Sekarang? Siang – siang gini?” tanyanya lagi.
“Iya. Mendingan juga siang, biar lekuk – lekuk tubuhmu jelas semuanya di mataku. Nanti malam sih bisa aja untuk ronde kedua dan ketiga.”
“Hihihiii… aku dengar pengantin di malam pertama sampai ada yang delapan kali ya.”
“Kita sih gak usah begitu. Santai aja. Paling juga tiga atau empat kali,” ucapku sambil melepaskan kancing – kancing daster putih Imey yang berderet di depan dari atas ke bawah.
“Gak mau dibikinin kopi dulu Kang?”
“Mmmm… boleh juga deh. Tapi jangan pakai gula ya.”
“Kopi pahit?”
“Iya. Kalau kopi, aku suka yang pahit. Tapi kalau cewek, aku suka yang manis. Kayak Imey.”
Imey tersenyum sambil merapatkan dadanya ke dadaku, “Kalau manis, sun bibirku lagi dong,” ujarnya dengan bola mata bergoyang perlahan.
Spontan kucium bibir Imey dengan kehangatan batinku. Ewuaaaaaaaaahhhhh…!
“Makaciiii…” ucap Imey setelah ciumanklu terlepas. Lalu bergegas ia keluar dari kamarnya.
Aku pun duduk di atas sofa merah dalam kamar Imey. Mungkin sofa inilah yang termasuk barang lama. Sementara yang lain – lainnya barang baru semua.
Senang hatiku, karena dana yang kutransfer dijadikan untuk membeli barang – barang baru. Kamarnya pun membangun baru, yang katanya dibiayai oleh duit dariku semua.
Aku dengan Imey memang selalu aktif berkomunikasi di WA. Bahkan sudah sangat “jauh” pembicaraannya. Termasuk mengorek pengakuan tentang keperawanannya. Di WA pun dia berjanji akan memberikan keperawanannya padaku, asalkan aku menikahinya kelak. Tapi di darat, inilah perjumpaanku yang kedua kalinya. Yang pertama, waktu diklenalkan oleh mamanya (Tante Ratih).
Aku pun sudah meminta nomor rekening tabungannya di bank. Dan tiap tanggal muda aku selalu mentransfer dana ke rekening tabungannya. Dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada gajinya semasa masih bekerja di pabrik.
Sebenarnya aku diam – diam sedang membangun 4 pabrik. Semuanya dibangun di luar kota, tapi tak jauh dari kotaku. Letaknya terpencar dan berjauhan satu sama lain. Karena aku tetap ingin menyembunyikan identitasku yang sebenarnya. Kalau keempat pabrik itu berdekatan, terlalu mencolok. Pasti namaku jadi bahan gunjingan orang, meski gunjingannya positif.
Lalu untuk apa aku membangun empat pabrik itu? Aku sedang menyiapkan untuk diberikan kepada empat orang istriku, jika aku sudah menikah kelak.
Tapi sekarang, nama Gayatri dan Liza sudah kucoret dari daftar calon istri – istriku. Tinggal Lingling yang masih teguh akan kujadikan calon istri. Karena selkama ini aku tak pernah dikecewakan oleh sikap dan perilakuku.
Tak lama kemudian Imey muncul lagi dengan secangkir kopi panas dan sepiring croissant di atas piring yang semuanya itu diletakkan di atas baki.
Lalu didekatkannya secangkir kopi dan sepiring croissant itu ke depanku.
“Sebenarnya ada urusan apa mamamu ke Surabaya Mey?” tanyaku sambil menarik pergelangan tangan Imey agar duduk di samping kiriku.
“Ngurusin Tante Santi.”
“Emangnya ada apa dengan Tante Santi?”
“Dia cerai sama suaminya. Tante Santi kan deketnya sama Mama. Makanya mama dipanggil.”
“Untuk merujukkan kembali?”
“Bukan. Tante Santi justru yang mengajukan tuntutan cerainya juga. Dia ingin pindah ke sini. Makanya minta dijemput sama Mama.”
“Kapan mamamu berangkat?”
“Tadi subuh. Pakai kereta api. Mama kan takut naek pesawat terbang. Jadi sekarang mungkin masih di jalan. Belum sampai Surabaya. Padahal kalau pakai pesawat sih sejam setengah juga nyampe.”
Aku tidak menjawab, karena lengan kiriku mulai melingkari pinggang Imey, sementara tangan kananku mulai menyelinap ke balik daster putihnya. Ketika tanganku sudah tiba di celana dalamnya, Imey malah merenggangkan sepasang paha putih mulusnya. Seolah mempersilakanku untuk menggerayangi “sesuatu” yang berada di balik celana dalam itu.
Dan… ketika tanganku sudah menyelinap ke balik celana dalamnya, kusentuh serambi lempit berjembut. Tapi jembutnya sudah tergunting rapi. Lagipula jembutnya jarang dan halus sekali.
Terasa suhu badan Imey menghangat ketika aku sudah menyentuh serambi lempitnya. Bahkan ia bertanya setengah berbisik, “Aku harus telanjang?”
“Ya iyalah,” sahutku, “Biar leluasa kita melakukannya Sayang…”
“Sebentar… keluarin dulu tangannya,” kata Imey sambil menarik tanganku yang sudah berada di balik celana dalamnya.
Setelah kukeluarkan tanganku dari balik celana dalamnya, Imey berkata, “Sebenarnya aku degdegan banget Kang. Tapi aku tak mau mengingkari janjiku yang pernah kuketik di WA tempo hari. Tapi aku minta Kang Donny juga mau berjanji untuk menikahiku nanti ya.”
“Iya. Tapi Imey akan kujadikan istri keempat. Istri termuda. Soalnya aku sudah punya tiga calon istri. Gak apa – apa kan?”
Imey tercengang dan berucap, “Wow… Kang Donny maju poligami?”
Imey tertunduk sejenak. Lalu berkata, “Gak apa – apa deh. Istri termuda sih biasanya dimanja kan?”
“Walau pun bukan dijadikan istri termuda, kamu ini saudara sepupuku Mey. Kakek nenekmu dari Tante Ratih, adalah kakek – nenekku dari Bunda. Tentu saja aku akan memanjakanmu dalam batas yang wajar.”
Imey mengangguk angguk sambil tersenyum manis. Lalu melepaskan daster putihnya, sehingga tinggal bra dan celana dalam yang masih melekat di badannya. Aku pun berdiri dan melangkah ke belakang Imey, “Pakaian dalammu biar aku yang melepaskannya,” kataku.
“Silakan, “Imey mengangguk.
Lalu akulah yang melepaskan beha mau pun celana dalamnya, sehingga tubuh telanjang yang sangat mulus dan seksi itu sudah terpamerkan di depan mataku.
Ooooh… betapa bodohnya aku selama ini. Tubuh sebegini mulusnya dan wajah sebegini cantiknya kuabaikan gara -[ gara Gayatri jahanam itu…!
Menyaksikan Imey sudah telanjang bulat, aku pun melepaskan busanaku sehelai demi sehelai, hanya celana dalam yang kubiarkan tetap melekat pada tempatnya. Aku pernah membaca bahwa lelaki paling sexy di mata wanita, adalah ketika masih mengenakan celana dalam. Bukan telanjang bulat. Jadi sebaiknya lelaki hanya telanjang pada waktu mau melakukan penetrasi.
Kemudian kuraih Imey ke atas bednya.
“Nama lengkap Imey apa sih?” tanyaku sambil menghimpit dadanya dengan dadaku.
“Imelda,” sahutnya, “Waktu masih kecil aku dipanggil Imel, tapi lidahku masih sulit menyebut Imel, lalu aku sendiri yang membahasakan namaku jadi Imey.”
“Sekarang kan sudah dewasa. Lebih keren Imel. Jadi mulai saat ini aku akan memanggilmu Imel aja ya,” kataku.
“Iya, terserah Kang Donny,” sahut Imey yang mulai saat ini akan kupanggil Imel, sesuai dengan nama lengkapnya Imelda.
Sebenarnya ada alasan kuat kenapa aku ingin mengubah nama Imey menjadi Imel. Karena aku memiliki “taman” yang namanya Mey Hwa dan biasa dipanggil Meymey terkadang dipanggil Imey juga. Karena itu supaya tidak rancu, kuubah saja nama Imey menjadi Imel.
Namun masalah nama itu tak lagi dibicarakan, karena aku sudah mulai menelungkupi Imel sambil memagut bibirnya ke dalam ciuman dan lumatanku. Awalnya Imel seperti kebingungan maenanggapi lumatanku. Mungkin pengakuannya benar. Bahwa pada waktu masih pacaran dahulu, hanya sebatas cipika – cipiki saja yang dilakukannya.
Karena itu aku tak terlalu menharap “tanggapan” Imel dalam soal kissing ini. Lagian sesaat kemudian aku mulai giat meremas toket kanannya sambil mengemut pentil toket kirinya. Sehingga suhu badan Imel pun makin menghangat saja rasanya.
Mungkin detik – detik paling mendebarkan bagi Imel, adalah ketika aku sudah melorot turun, sehingga wajahku jadi berhadapan dengan kemaluannya yang berjembut tapi tergunting rapi. Sehingga aku yakin takkan ada kendala bagiku untuk menjilati serambi lempit saudara sepupuku ini.
Lalu kungangakan serambi lempit Imel, sehingga bagian dalamnya yang berwarna pink itu tampak jelas di mataku. Bahkan kelentitnya pun tampak jelas, berada di bagian paling atas dalam “kompleks” kemaluan Imel ini. Pada saat inilah kuperhatikan bagian dalam serambi lempit Imel. Sambil membandingkan dengan foto – foto serambi lempit perawan (virgin serambi lempit) yang sering kulihat dari situs kesehatan.
Dan… aku sudah yakin bahwa Imel memang masih perawan. Tinggal 1 hal lagi saja yang belum kubuktikan… darah perawannya.
Setelah mendorong kedua belah paha Imel agar terbuka wilayah “operasi”ku, aku pun mulai menyapu – nyapukan ujung lidahku di celah yang sudah kungangakan dan berwarna pink itu.
Imel tersentak dan bersuara, “Dududuuuuh… serambi lempitku diapain Kang?”
Aku pun menghentikan jilatanku, untuk menjawab pertanyaan lugu Imel itu. “DIjilatin. Supaya basah dan licin. Agar tidak sakit pada waktu rudalku dimasukkan ke dalam serambi lempitmu Sayang.”
“Owh… memangnya Kang Donny gak jijik jilatin serambi lempitku?”
“Kalau cinta sudah melekat, tai ayam juga rasa coklat Neng,” sahutku sambil menepuk – nepuk paha Imel.
Lalu Imel terdiam. Aku pun melanjutkan aksi oralku.
Imel pun terdiam pasrah. Tapi lalu ia menggeliat – geliat sambil memegangi sepasang bahuku. “Kaaaaang… oooooh… oooooohhhhh… Kang… rasanya kok kayak melayang – layang gini Kaaaaang… tapi… ini luar biasa enaknya Kaaaang… adudududuuuuh… apalagi kalau itilku dijilatin gini Kaaaang…
Aku memang semakin gencar mengoral serambi lempit Imel. Bukan cuma menjilati bagian yang berwarna pink itu, tapi juga kelentitnya kujilati dan kuisap – isap.
Aku pun emngalirkan air liurku sebanyak mungkin ke dalam celah serambi lempit Imel yang kemerahan itu.
Imel mendesah, merengek, menggeliat dan terkejang – kejang terus. Sampai akhirnya aku merasa sudah cukup banyak kualirkan air liurku ke dalam serambi lempit saudara sepupuku itu.
Dan akhirnya, kulepaskan celana dalamku. Sehingga rudalku yang sudah ngaceng berat ini tak tertutup apa – apa lagi.
Lalu kuletakkan moncong rudalku dengan cermat, pas di mulut liang sanggama Imel yang masih “malu – malu” (masih rapat dan seperti tersenyum).
Lalu dengan hati – hati namun disertai tenaga full, kudorong rudalku.
Jam terbangku dalam memasukkan kontoil kepada serambi lempit perawan memang sudah tinggi. Sehingga terasa kepala rudalku sudah membenam.
Baru “topi baja”nya saja.
Lalu kudorong lagi sekuatnhya. Uggggh… memang sempit sekali. Tapi aku berhasil memasukkan sampai lehernya.
Aku pun menghempaskan dadaku ke dada Imel.
“Udah masuk ya?” tanya Imel nyaris tak terdengar.
“Udah… tapi baru sedikit,” sahutku disusul dengan dorongan rudalku kembali dengan tenaga full lagi. Aaaaaaaaah… sedikit demi sedikit rudalku pun masuk setengahnya.
Lalu seperti biasa kutarik batang kemaluanku perlahan – lahan dan hati – hati, agar jangan sampai terlepas karena susah lagi masukinnya di liang serambi lempit sesempit ini.
Lalu kudorong lagi sambil mendesak agar masuk lebih dalam. Tarik lagi perlahan, dorong lagi semakin dalam, tarik lagi perlahan dan dorong lagi semakin dalam.
Akhirnya liang serambi lempit Imel terasa sudah bisa beradaptasi dengan ukuran rudalku.
Imel pun mulai mendekap pinggangku erat – erat. Sambil menggeliat – geliat dan merintih – rintih histeris. “Kaaaaang… oooo… oooo… oooooohhhhh Kang Donny… aaaaaaah Kaaaaang… begini ya rasanya bersetubuh inmi Kaaaang… oooooh…”
“Sakit nggak?” tanyaku yang masih memenyetubuhinya perlahan – lahan.
“Tadi ada sedikit… kayak digigit semut doang. Sekarang malah luar biasa enaknya Kaaaang…”
“Kita ini lagi apa?” tanyaku.
“ML,” sahutnya.
“Dalam bahasa sundanya apa?”
“Eeee… eweaaaan… aaaaah Kang Donny… jadi aja aku keceplosan ngomong kasar…”
“Kalau lagi beginian memang harus ngomong jorok sekali – sekali. Biar tambah merangsang eweannya.”
“Masa sih?”
“Iya. Kalau pakai bahasa halus terus, malah bikin kita cepat jenuh.”
“menyetubuhi juga berasal dari bahasa sunda ya Kang.”
“Iya. Asal katanya ngentod. Tapi karena banyak yang merasa kesulitan menyebut kata yang hurup akhirnya hurup D, maka jadi aja disebut menyetubuhi. Seperti nekad malah disebut nekat. Tekad jadi tekat. Adududuuuuuh… heunceut Imel enak sekali Meeel…”
“Hihihihi… rudal Kang Donny juga enak sekali… bikin geli – geli enak begini…”
Lalu aku mulai serius menggenjot rudalku keluar masuk di dalam liang serambi lempit Imel yang luar biasa sempitnya ini.
Tak cuma memenyetubuhi liang serambi lempitnya. Aku pun menciumi bibirnya, menjilati lehernya, mengemut pentil toket kirinya sambil meremas toket kanannya yang lumayan gede ini. Sehingga Imel semakin menggeliat – geliat sambil merintih – rintih perlahan, “Kaaaang… ooooohhhh… Kaaaaang… oooooohhhh… Kaaaaang …
Ooooooohhhhh… Kaaaaaang… ooooh… makin lama… makin enak Kaaaang… ooooh… Kang Donny… cintaku padamu semakin dalam Kaaaang… aku lama – lama tidak dijumpai lagi Kang… aku mau hidup di samping Kang Donny terusssss… ooooh Kaaaang… ini luar biasa enaknya Kaaaaang… aaaaaahhh…
Meski suaranya tertahan – tahan, aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Bahkan ketika keringhatku mulai menetes – netes, karena sudah cukup lama menyetubuhi saudara sepupuku ini… tiba – tiba ia berkelojotan, dengan mata melotot seperti panik. Aku pun mempercepat entotanku… makin lama makin cepat…
Lalu detik – detik paling indah pun kunikmati… bahwa ketika liang serambi lempit sempit Imel berkedut – kedut perlahan, rudalku pun mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir surgawiku… croootttt… croooottttt… croooottttcrotttt… crooootttttttt… crotttcrottttt… crooootttttt…
Aku memang tidak seperti biasanya, buru – buru ejakulasi. Karena aku tak mau menyiksa Imel terlalu lama. Selain daripada itu, aku pun ingin melihat darah perawan Imel.
Maka setelah mencabut rudalku darilianr serambi lempit Imel, kulihatgenangan darah sebanyak 1 sendok teh di bawah serambi lempit Imel.
“Masih perawan kan aku?” ucap Imel sambil bangkit dan tahu kalau aku sedang memperhatikan darah perawannya.
“Iya Sayang,” sahutku sambil membelai rambut Imel, “Kamu memang masih perawan sebelum kusetubuhi tadi. Tapi sekarang bukan perawan lagi kan?”
“Iya, kan sudah kupersembahkan buat Kang Donny tercinta. Ohya… Kang… kudengar dari teman – temanku, pengantin di malam pertama itu bisa sampai delapan kali bersetubuh. Betul begitu Kang?”
“Ah… itu sih terlalu berlebihan. Kita jangan ikut – ikutan seperti itu. serambi lempitmu kan harus dijaga dan dirawat. Jangan dirusak. Biar awet… sampai tua masih enak rasanya.”
“Kalau terlalu sering bersetubuh itu bisa merusak juga ya Kang.”
“Begini,” sahutku, “sekarang aja kamu bisa rasakan sendiri, ada darah dari dalam serambi lempitmu kan? Itu berarti ada luka di dalam serambi lempitmu. Meski bukan luka yang parah, kalau digasak untuk bersetubuh dan bersetubuh lagi, bisa tambah melebar lukanya kan? Bisa juga terjadi infeksi yang lalu menimbulkan keputihan dan sebagainya.
“Iya ya.”
“Nah… aku ingin agar serambi lempitmu tetap sehat dan enak. Karena itu aku harus bersabar menunggu sampai luka itu kering dan siap untuk dientot lagi.”
“Biasanya berapa hari luka ini kering dan ready for use lagi Kang?”
“Dalam tiga atau empat hari juga sembuh Mel. Kita ambil yang terbaik aja ya. Mmm… sekitar lima hari lagi kita lakukan lagi untuk yang kedua kalinya.”
“Iya Kang. Aku sih mau ambil jalan yang paling sehat aja.”
“Ohya… ada obat yang harus diminum,” ucapku sambil mengeluarkan dompetku dari saku jaket kulitku. Kemudian kukeluarkan 1 strip pil kontrasepsi. Dan kuserahkan kepada Imel.
“Apa ini Kang?”
“Baca aja di keterangan dan aturan pakainya.”
Imel membaca keterangan pil kontrasepsi itu di secarik kertas yang ada di dalam kotak tipisnya. “Ini obat anti hamil Kang,” ucapnya sambil membaca terus kertas dari pabrik obat yang mengeluakran pil kontrasepsi itu.
“Iya. Meski kita sudah nikah, aku sih ingin agar Imel jangan hamil dulu. Supaya leluasa untuk bergerak dan bekerja. Sekalian biar panjang bulan madunya.”
“Iya Kang… aku sih mau ikuti aturan Kang Donny aja. Mmm… ini harus segera diminum ya Kang.”
“Iya, “aku mengangguk sambil melangkah ke dalam kamar mandi. Cuma ingin kencing sekalian mencuci alat vitalku yang berlepotan spermaku sendiri, bercampur dengan lendir dari serambi lempit Imel.
Setelah kencing dan membersihkan alat kejantanan, aku pun keluar lagi. Tampak Imel sedang minum pil itu.
“Ohya… pabrik bekas tempat kerjamu itu memproduksi apa Mel?”
“Pabrik garment Kang. Produksinya ya pakaian semua.”
“Mmmm… kalau Imel diserahi jabatan untuk memimpin sebuah pabrik garment baru, sanggup?”
“Sangguplah. Ilmunya sudah tersimpan di otakku dari A sampai Z, Kang.”
Aku mengangguk – angguk sambil berpikir.
“Mmmm… kita keluar dulu yok. Nyari makanan.”
“Kang Donny lapar?”
“Iya… biasanya kalau sudah begituan suka lapar.”
“DI sini juga ada makanan. Tapi malu menyuguhkannya sama Kang Donny. Karena teman nasinya sederhana sekali. Cuma sop kacang merah dan peyek.”
“Aku suka kok sop kacvang merah. Tapi aku mau mengajakmu keluar untuk memperlihatkan sesuatu. Ayo kita mandi dulu, untuk membersihkan keringat. Biar makannya nikmat nanti.”
“Ayo, “Imel mengangguk sambil tersenyum manis.
Kemudian kami mandi bersama. Saling menyabuni secara bergantian dan sebagainya. Tapi aku berusaha untuk tidak melakukan apa pun kecuali mandi sebersih mungkin.
Beberapa saat kemudian Imel sudah berada di dalam mobilku, yang kutujukan ke arah barat.
Aku akan memperlihatkan salah satu pabrik yang baru selesai dibangun itu, yang letaknya di sebelah barat kotaku. Karena rumah Imel berada di daerah barat kotaku, maka aku pun akan menyerahkan pabrik yang disebelah barat kotaku, agak keluar kota sedikit. Supaya Imel tidak merasa kejauhan dari rumahnya kelak.
“Imel bisa nyetir mobil?” tanyaku ketika sedan putihku sudah melewati batas kota.
“Bisa,” sahut Imel, “tinggal melancarkan aja. Emangnya kenapa? Mau disuruh nyetir mobil ini?”
“Hanya ingin tau aja. Memang cewek zaman sekarang harus pandai nyetir. Jangan terlalu mengandalkan sopir.”
“Iya sih. Jangan kayak aku. Ke mana – mana cuma pakai motor.”
“Gampang, kalau soal mobil sih nanti kubelikan. Tapi di rumahmu belum ada garasi ya?”
“Iya sih. Padahal di sebelah kanan rumah ada tanah kosong, yang tadi dipakai parkir mobil ini.”
“Punya mobil harus punya garasi. Jadi sebelum ada mobilnya, bangun dulu garasinya. Nanti kutransfer duit untuk membangun garasinya.”
“Kang Donny serius nih?” tanya Imel sambil memegang pergelangan tangan kiriku.
“Aku gak pernah bercanda dalam masalah penting Mel,” sahutku sambil membelokkan sedan putihku ke pabrik yang sudah selesai dibangun itu.
“Kang… bangunan itu seperti pabrik baru ya?”
“Iya. Pabrik garment yang akan kamu pimpin nanti.”
“Haaaa?! Waahh… rasa ngimpi ngedengarnya juga.”
Seorang satpam menghampiri mobilku yang sudah diparkir di halaman depan pabrik itu. Setelah aku turun dari mobil, ia terkejut dan langsung bersikap tegak sambil berkata, “Selamat sore Big Boss.”
Aku mengangguk sambil tersenyum, sementara Imel sudah berdiri di sampingku.
“Instalasi listrik sudah dipasang semua?” tanyaku kepada satpam itu.
“Belum Big Boss. Kata instalatur, pemasangan instalasi sebaiknya dilakukan setelah mesin – mesinnya ada. Supaya instalasinya bisa mengikuti kebutuhan mesin – mesinnya.”
Sambil berjalan mengelilingi pabrik yang belum aktif itu, aku bertanya kepada Imel yang berjalan di sampingku, “Masih ingat mesin apa saja yang dibutuhkan untuk sebuah pabrik garment?”
“Masih ingat smeuanya. Tapi di pabrik tempatku bekerja itu, mesin – mesin gedenya hanya mesin tenun. Untuk membuat tekstil yang akan dijadikan bahan pakaian. Supaya pabrik bisa mengeluarkan pakaian dengan bahan dan corak yang belum ada di pasaran. Lalu yang sangat banyak sih mesin jahit Kang.”
“Jadi mayoritas buruhnya tukang jahit ya?”
“Iya. Yang mengoperasikan mesin tenun sih hanya duapuluh orang. Tukang jahitnya sampai ratusan.”
“Besar mana pabrik ini ini dengan pabrik bekas tempatmu bekerja?”
“Jauh besaran dan megahan bangunan pabrik ini Kang.”
“Di sini nanti kamu akan kujadikan direktur utamanya.”
“Wow! Aku dahulu di bagian produksi Kang. Kalau dijadikan dirut… mampu gak ya?”
“Nanti aku bimbing terus,” ucapku, “sebagai seorang dirut, kamu cukup duduk manis di ruang kerjamu. Yang bekerja kan manager – manager.”
“Iya… iyaaa…”
“Sebagai seorang dirut, tentu saja kamu harus punya mobil. Masa dirut cuma naik motor bebek. Tapi bangun dulu garasinya ya. Nanti dananya akan kutransfer.”
Imel memeluk lengan kiriku sambil merapatkan kepalanya ke bahuku, “Ini benar – benar surprise buatku Kang. Aku gak nyangka sedikit pun kalau akan mendapat anugerah setionggi ini. Terima kasih Kang. Aku akan laksanakan apa pun yang diminta oleh Kang Donny.”
“Beli buku – buku tentang managemen dan leadership sebanyak mungkin ya Mel. Lalu pelajari semua buku – buku itu.”
“Siap Kang. Aku memang harus banyak menimba ilmu secara informal. Jangan sampai kalah sama manager – manager nanti.”
Beberapa saat berikutnya, aku dan Imel sudah berada di dalam restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari bangunan pabrik yang akan kuserahkan kepada Imel untuk memimpinnya itu.
“Nanti aku akan memasang iklan. Untuk mencari beberapa orang calon manager. Kalau buruh biasa sih pasang iklannya setelah pabrik siap untuk beroperasi aja,” kataku sambil menyantap makanan yang sudah dihidangkan.
“Iya Kang.”
“Ohya… kamu kan punya bakat melujkis juga. Nanti bakatmu bisa disalurkan untuk membuat design kain bahan pakaiannya.”
“Iya Kang. Aku punya koleksi majalah impor. Majalah yang berisi tentang corak tekstil. Tadinya aku kan ingin kuliah di seni rupa. Tapi keburu jadi buruh pabrik. Hihihiiii…”
“Sekarang amu harus menyiapkan mental dan fisik untuk menjadi seorang pemimpin. Karena nanti kamu bukan hanya akan menjadi buruh biasa.”
“Iya Kang. Mudah – mudahan aku mampu melaksanakan amanat dari Kang Donny.”
Beberapa hari kemudian aku menerima panggilan Donna di ponselku.
“Donny lagi di mana sekarang?”
“Di rumah peninggalan Papa angkatku. Kenapa Donna?”
“Ini ada Tante Santi yang baru bercerai dengan suaminya. Dia ingin bekerja Sayang.”
“Tempatkan aja di cafému. Kasih gaji yang lebih dari semestinya.”
“Dia S2 manajemen Don. Kasian dong. Masa es-dua dijadikan waiter atau kasir di café?!”
“Es-dua?!”
“Iya.”
“Kalau gitu bawa aja ke rumahku sekarang. Aku lagi ribet nih.”
“”Aku juga lagi sibuk di café. Biar nanti kucariin taksi aja. Kan dia bisa pergi sendiri. Bukan anak kecil kok.”
“Ya udah terserah kamu. Alamatku aja kasih sama dia.”
Setelah hubungan seluler ditutup, aku memanggil Bi Inah, pembokatku.
Setelah Bi Inah muncul, aku berkata, “Bi… beresin dan bersihin kamar yang di lantai tiga ya.”
“Siap Den. Mau ada tamu?”
“Iya. Tanteku dari Surabaya mungkin akan tinggal di sini selama beberapa hari.”
“Owh… iya Den. Saya mau bersihkan kamar yang di lantai tiga Den,” ucap Bi Inah sambil bergegas meninggalkan ruang kerjaku.
Sebenarnya aku sedang memantau perkembangan usahaku di luar negeri dari laptopku. Tapi konsentrasiku jadi buyar, karena akan datangnya tamu, adik Bunda yang bernama Santi itu.
Sebenarnya aku sudah pernah ketemu dengan Tante Santi di rumah Bunda. Tapi kali ini mungkin kedatangannya termasuk penting bagiku. Karena kudengar dari Donna tadi, Tante Santi itu sudah S2 di bidang manajemen pula. Bukankah aku membutuhkan assisten untuk mendampingi Bu Kaila?
Aku masih ingat benar, Bu Kaila yang saat itu sudah kutempatkan sebagai dirut di perusahaanku, mendatangi ruang kerjaku yang terpisah dari kantor. Saat itu Bu Kaila berkata padaku, “Makin lama perusahaan ini makin sibuk Boss. Mungkin saya membutuhkan seorang wakil yang sudah S2 di bidang manajemen. Supaya semua masalah bisa ditangani dengan cepat.
Dan aku masih ingat benar, bahwa aku sudah menunggu lama untuk mendapatkan kesempatan berbicara empat mata ini. Kalau kuhitung – hiotung, Bu Kaila sudah setahun menjabat dirut di perusahaanku.
Dan sejak awal berjumpa, aku sudah tergiur oleh bentuk tubuhnya. Tapi aku sangat berhati – hati, karena dia sangat kubutuhkan di perusahaan. Prestasinya memang sangat gemilang, sehingga dalam tempo setahun dia sudah membuat perusahaanku jadi berkembang dengan pesatnya.
Aku juga tahu bahwa dia sudah punya suami. Terkadang suaminya bahkan suka mengantarkan Bu Kaila pagi – pagi. Tapi suaminya tidak pernah menjemput pada waktu Bu Kaila sudah mau pulang.
Kesimpulannya, aku tidak boleh memperlakukan Bu Kaila seperti yang sering kulakukan kepada perempuan lain. Karena kalau dia merajuk, bisa gawat perusahaanku nanti.
“Soal wakil dirut sih nanti saja kita pikirkan Bu. Karena aku sudah punya calonnya. Tapi harus kuuji dahulu kemampuan dan terutama kejujurannya,” ucapku.
“Bagus itu Boss. Kalau saya sendiri yang mengajukan calonnya, takut dianggap mau KKN,” sahut Bu Kaila, masih dalam sikap formal. Seperti tidak ada celah untuk memancingnya.
Tapi aku tak kehilangan akal. Lalu kataku, “Aku percaya kok sama Bu Kaila. Prestasi Ibu sangat brilliant di mataku. Tapi sekarang aku ingin membahas sesuatu yang sangat pribadi sifatnya.”
“Masalah apa Boss?”
“Masalah Bu Kaila dan aku.”
“Maksudnya?” wanita 35 tahunan itu tampak bingung.
“Aku ingin mempererat hubungan baik di antara kita berdua. Supaya owner dan dirut kompak… sesolid – solidnya.”
“Dengan cara apa supaya owner dan dirut ini kompak dan solid Boss?”
“Aku mau nanya dulu. Secara pribadi, Bu Kaila memandang perlakuanku kepada bawahan seperti apa? Coba jawab sejujur mungkin, agar aku bisa self observasi.”
“Mmm… Boss masih sangat muda tapi bijaksana. Yang saya rasakan sih, selama saya memimpin perusahaan ini, Boss belum pernah memarahi saya satu kali pun. Sehingga saya merasa nyaman bekerja di sini.”
“Lalu secara fisik, dalam pandangan Bu Kaila aku ini seperti apa?”
“Boss masih sangat muda. Tampan dan baik hati,” sahutnya dengan senyum di bibir sensualnya.
“Di mataku, Bu Kaila ini manis dan seksi sekali.”
“Aaaah… masa sih Boss… “Bu Kaila tersipu – sipu.
“Beruntung suami Ibu, karena memiliki Ibu yang… hmmm… takkan pernah membosankan. Mmm… boleh aku bicara terus terang tentang apa yang pernah kualami dan menyangkut tentang Bu Kaila?” tanyaku.
Bu Kaila mengangguk sambil tersneyum.
Lalu aku berkata dengan suara agak dipelankan, “Bu… belakangan ini sudah lebih dari tiga kali aku mimpi bersama Bu Kaila. Sehingga aku bingung sendiri. Kenapa aku harus bermimpi tentang wanita yang sudah punya suami ya,” ucapku mengada – ada alias ngarang. Karena sebenarnya aku tak pernah bermimpi tentang dia.
Tapi Bu Kaila menyahut serius, “Masa sih Boss? Kok sama dengan mimpi saya ya?”
“Bu Kaila pernah mengalami mimpi bersamaku?”
“Iya Bos. Tapi cuma satu kali. Tidak sering seperti Boss.”
“Tapi minimal Bu Kaila pernah mimpiin aku kan?”
“Iya… mimpinya gak tau diri. Masa mimpiin Big Boss?! Maafkan mimpi saya ya Boss.”
“Gak ada yang perlu dimaafkan. Aku justru merasa ada kesamaan di dalam mimpi kita. Karena itu aku ingin mewujudkan mimpi itu dalam kenyataan.”
“Maaf Boss… memangnya mimpi Boss seperti apa?”
“Mimpi saling bagi rasa, bagi keindahan dan kenikmatan sebagaimana wajarnya seorang lelaki dengan seorang wanita. Bu Kaila sendiri seperti apa mimpinya?”
“Saya… hanya mimpi dicium oleh Boss… maaf…”
“Ya sudahlah kita wujudkan saja mimpi kita dalam kenyataan. Oke?”
“Tapi Boss… saya kan punya suami. Sedangkan suami saya sangat ketat menjaga saya dari segala kemungkinan. Kalau pulang telat sejam aja, pasti banyak pertanyaan ini – itu. Apalagi kalau semalaman…”
“Kalau nyari – nyari tempat dulu, tentu aja bakal lama. Mmm… Bu Kaila tau keadaan di lantai dua?”
“Belum tau Boss, “Bu Kaila menggeleng, “Saya hanya tau lantai tiga itu sering dipakai meeting room. Tapi kalau lantai dua kan ada tulisan private room dan dilarang masuk.”
“Ayolah kalau begitu Bu Kaila ikut aku ke lantai dua. Biar tau yang dimaksud private room itu bagaimana.”
Lalu aku berdiri dan melangkah ke arah tangga yang letaknya di belakang ruang kerjaku. Bu Kaila pun mengikutiku dari belakang.
Seperti yang sudah kuterangkan dahulu, lantai dua ini memang kujadikan rumah pribadiku. Ada ruangan yang luas yang sering kugunakan untuk fitness, ada kamar besar yang tak kalah lengkap seperti di rumah peninggalan almarhum Papa angkatku tercinta, bahkan ada kitchennya sekaligus ruang makanku.
“Seperti di dalam rumah Boss…” ucap Bu Kaila di sampingku.
Aku pun memberanikan diri melingkarkan lenganku di pinggang wanita yang sangat menggiurkan di mataku ini. “Di sini bisa kita bisa mewujudkan mimpi kita pada jam makan siang seperti sekarang ini. Tak usah sampai menghabiskan waktu semalaman. Bagaimana?”
Bu Kaila menatapku dengan sorot pasrah. “Iya. Saya mau ikut aja sama apa yang Boss pandang terbaik untuk kita berdua…” sahutnya perlahan, dengan suara agak bergetar.
“Senang hatiku Bu. Berarti kita berdua akan selalu kompak dan solid,” ucapku sambil melingkarkan lenganku di lehernya. Lalu memagut bibir sensualnya ke dalam ciuman dan lumatanku.
Awalnya Bu Kaila hanya mendiamkan bibirnya kulumat dengan segenap kehangatanku. Tapi beberapa detik kemudian ia mulai membalas lumatanku dengan lumatan pula. Bahkan kedua lengannya mendekap pinggangku erat – erat, sementara suhu badannya terasa mulai menghangat.
Mencari perempuan untuk dijadikan pelampiasan hasrat biologisku tidaklah sulit bagiku. Namun aku hanya mau melakukannya pada perempuan yang butuh sedikit perjuangan untuk mendapatkannya. Seperti pada Bu Kaila ini, yang lebih dari setahun aku mempertimbangkannya. Lebih dari setahun aku mencoba untuk mengalihkan perhatianku kepada perempuan lain.
Karena tadinya aku takut kalau Bu Kaila 100% setia kepada suaminya. Lalu kalau aku terlalu mendesaknya, bisa saja dia menyatakan resign dari perusahaanku. Sedangkan aku melihat banyak sekali unsur positif dari sosok wanita yang 13 tahun lebih tua dariku itu, terutama dalam mengembangkan salah satu perusahaanku.
Aku menuntun Bu Kaila ke dalam kamarku. Lalu mengajaknya duduk di sofa. Dan di sofa itulah Bu Kaila tidak sungkan – sungkan lagi untuk menyingkapkan gaunnya, untuk memamerkan pahanya yang putih mulus, sampai ke pangkalnya.
“Saya tidak pernah berselingkuh. Tapi sekarang saya menyerah…” ucapnya ketika aku mulai mengusap – usap pahanya yang terasa licin saking mulusnya. Bahkan tanganku mulai menyelinap ke balik celana dalamnya yang putih bersih itu. Srekkk… tanganku menyentuh jembut lebat di balik celana dalam putih itu.
“Kalau aku kan masih bujangan Bu. Jadi aku bebas melakukan apa pun tanpa dikejar rasa cemas.”
“Mbak Liza itu calon istri Boss?”
“Belum pasti Bu. Makanya dia kumutasikan ke luar kota, karena aku masih sangsi pada masa depanku bersamanya. Eeeeh… aku manggil Mbak aja ya… supaya tidak terlalu formal.”
“Iya… manggil nama langsung juga gak apa – apa. Saya kan bakal jadi milik Boss…”
“Manggil nama langsung sih gak boleh. Aku kan harus menghormati kedudukan Ibu… eh… Mbak sebagai direktur utama di perusahaan ini,” ucapku sambil menyelinapkan jari tanganku ke dalam liang serambi lempit berjembut dan masih bersembunyi di balik celana dalam itu.
“Dududuuuuh… Bosss… kalau sudah dibeginiin saya suka langsung horny berat…” ucap Mbak Kaila setengah berbisik.
Spontan kukeluarkan tanganku dari balik celana dalamnya. “Ayo kita buka – bukaan deh,” ucapku sambil melepaskan jas dan dasiku. Lalu menggantungkannya di kapstok.
Pada saat yang sama Bu Kaila pun melepaskan gaun putih bercorak kembang berwarna warni itu.
Telapak tanganku mulai mengusap – usap paha Mbak Kaila. Sambil merasakan liucin dan mulusnya paha putih wanita 35 tahunan itu. Pada saat yang sama Mbak Kaila pun memegang batang kemaluanku sambil bertanya, “Boleh saya emut punya Boss ini?”
“Iya,” sahutku sambil menelentang dan menunggu aksi Mbak Kaila.
Mbak Kaila pun tengkurap di antara sepasang pahaku yang kurentangkan. Lalu dengan cekatan ia mengulum rudalku. Lalu bibir sensual itupun naik turun, sehingga rudalku dibikin keluar masuk di dalam mulutnya.
Tiada kata – kata lagi yang terlontar dari mulut kami. Mulut dan tangan Mbak Kaila sedang asyik mengoral rudalku. Sementara aku pun sedang asyik mengelus – elus serambi lempit Mbak Kaila yang berjembut tapi tergunting dengan rapi itu.
Setelah batang kemaluanku benar – benar tegang, tadinya aku ingin menjilati serambi lempit Mbak Kaila. Tapi ia sudah berjongkok sambil meletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempitnya. Lalu ia menurunkan badannya. Sehingga… blesssss… rudalku pun masuk ke dalam liang serambi lempit wanita setengah baya yang tubuhnya masih kencang padat itu.
“Maaf ya Boss… saya main di atas…” ucap Mbak Kaila sambil menatapku dengan sorot sayu. Sorot mata wanita yang sudah dilanda horny berat.
“Iya… kita ganti – ganti posisi aja nanti ya Mbak,” sahutku.
Mbak Kaila pun mulai beraksi. Laksana wanita yang sedang menunggang kuda, bokongnya naik turun dengan gencarnya. Dengan sendirinya rudalku pun dibesot – besot terus oleh liang serambi lempitnya yang terasa empuk tapi legit.
Dalam posisi WOT begini, aku pun bisa meremas – remas sepasang toketnya yangberukuran sedang, kecil tidak gede pun tidak.
Namun seperti biasa, menurut pengalamanku wanita yang main di atas seperti ini takkan bisa bertahan lama. Karena moncong rudalku selalu menyundul – nyundul dasar liang serambi lempitnya. Karena “daleman” serambi lempit Mbak Kaila turun semua.
Maka dalam tempo belasan menit saja dia suah ah – eh – oh. Lalu ambruk ke dalam dekapanku.
“Kenapa? Udah orgasme Mbak?” bisikku.
“Iii… iya Boss. Punya Boss terlalu enak sih. Ereksinya sempurna sekali,” sahutnya.
Aku tidak menanggapinya. Lalu kami menggulingkan badan kami dengan hati – hati, agar rudalku tetap tertanam, di dalam liang serambi lempit Mbak Kaila.
Setelah posisi kami berbalik, aku di atas dan Mbak Kaila di bawah, aku masih sempat membisikinya, “serambi lempit Mbak enak sekali. Legit dan kenyal.”
Mbak Kaila tersenyum dan menyahut, “Punya Boss juga luar biasa enaknya. Bikin saya gak tahan lama barusan, saking enaknya.”
Lalu aku mulai mengayun batang kemaluanku di dalam liang serambi lempit Mbak Kaila yang semakin licin tapi belum becek, meski dia baru orgasme tadi.
Ketika entotanku masih pelan – pelan, Mbak Kaila berkata setengah berbisik, “Boss… saya sudah kepalangan basah. Karena itu saya siap meladeni Boss kapan pun Boss inginkan…”
“Iya,” sahutku, “serambi lempit Mbak ini luar biasa enaknya. Jadi di hari – hari mendatang, kita bisa melakukannya di sini pada jam makan siang seperti sekarang…”
“Siap Boss… ooooooohhhh… ini mulai enak lagi Bossssss… oooohhhh… ooooohhhh… luar biasa enaknya punya Boss ini… oooooohhhhh… aaaaaah… saya bakal ketagihan kalau begini sih Bosssss…” ucap Mbak Kaila sambil menggeol – geolkan bokong gedenya. Memutar – mutar, meliuk – liuk dan menghempas – hempas.
Mbak Kaila pun merintih terus dengan mata kadang terpejam kadang melotot. Terlebih lagi setelah kulengkapi aksiku dengan menjilati lehernya disertai dengan gigitan – gigitan lembut. Sementara tanganku ikut beraksi juga untuk meremas toket Mbak Kaila dan mengelus – elus pentilnya. Maka Mbak Kaila pun semakin klepek – klepek saja dibuatnya.
Mulutnya meringis – ringis. Tapi geolan pantatnya semakin menjadi – jadi. Ia senang sekali menukikkan serambi lempitnya sambil menghempaskan bokongnya ke atas kasur. Dengan gerakan ini, kelentitnya terus – terusan bergesekan dengan rudalku.
Terus terang saja, aku sangat menikmati persetubuhanku dengan Mbak Kaila ini. Sehingga kalau aku tidak menahan diri, mungkin bisa ngecrot sebelum waktunya. Tapi aku berusaha menahannya dengan caraku sendiri. Dengan membayangkan yang aneh – anah dan buruk – buruk. Agar jangan sampai mendahului Mbak Kaila.
Aku pun memutar otak. Lalu mengajaknya posisi miring. Dia pun langsung miring ke kiri. Sementara aku memasukkan rudalku dari belakangnya. Targetku tetap liang serambi lempit, karena aku belum dan takkan pernah memasukkan rudalku ke dalam anus alias lubang e’e. Tuhan telah menciptakan serambi lempit, untuk berpasangan dengan rudal.
Agar aku leluasa memenyetubuhinya, Mbak Kaila sengaja mengangkat paha kanannya tinggi – tinggi, sambil dipegang oleh tangannya agar tetap terangkat seperti itu. Sehingga aku semakin bersemangat memenyetubuhi liang serambi lempit wanita yang berasal dari seberang lautan itu.
Keringat pun sudah mulai membanjir. Bercampur baur dengan keringat Mbak Kaila.
Akibat berubah posisi ini, ejakulasiku jadi menjauh lagi. Sehingga aku mengajaknya melakukan posisi doggy lalu kembali ke posisi missionary lagi.
Di posisi konservatif ini Mbak Kaila berkelojotan. Aku pun menggencarkan entotanku.
Dan… ketika Mbak Kaila sedang mengejang tegang… aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin. Moncongnya sampai menyundul dasar liang serambi lempit Mbak Kaila.
Pada saat itulah kami saling cengkram dan saling remas di puncak kenikmatan surga dunia ini.
Liang serambi lempit Mbak Kaila terasa empot – empotan seperti dubur ayam ketika ditiupin. Pada saat yang sama rudalku pun mengejut – ngejut sambil melepaskan lahar lendirnya.
Crooottttt… crotttt… croootttt… crotttttt… crootttt… croooottttttt…!
Lalu kami terkapar di pantai kepuasan kami.
Terawanganku tentang Mbak Kaila buyar ketika kudengar pintu diketuk. Kulihat seorang satpam mengantarkan seorang wanita muda. “Buka aja gak di kunci !” seruku.
Pintu depan pun dibuka. “Ini ada tamu Boss,” ucap satpam itu.
“Iya terimakasih,” sahutku sambil melangkah ke arah pintu depan yang sudah terbuka. Untuk menyambut kedatangan wanita anggun itu yang tak lain dari Tante Santi.
Satpam itu pun berlalu, meninggalkanku dan Tante Santi yang saling pandang dari jarak dekat. Lalu saling peluk dengan ketatnya.
“Tante makin cantik aja sih,” ucapku sambil mencium sepasang pipinya.
“Makin cantik apa? Buktinya aku sekarang diceraikan oleh suamiku,” sahutnya sambil menatapku dengan mata berkaca – kaca.
“Lupakan aja semua itu. Setelah berada di sini, Tante menjadi tanggung jawabku,” ucapku sambil melingkarkan lenganku di pinggang Tante Santi dan melangkah menuju ruang keluarga.
“Biii… !” seruku.
“Iya Deeen…”
Setelah Bi Inah muncul aku menyuruhnya mengangkat barang barang bawaan Tante Santi ke kamar di lantai tiga yang baru diberesin olehnya tadi.
Lalu aku mengajak duduk berdampingan di sofa ruang keluarga.
“Kenapa Tante bisa bercerai dengan Oom Sanda?” tanyaku.
“Sandi bukan Sanda.”
“Oh iya… lupa… hihihiii…”
“Dia itu jealouser Don. Aku sudah gak kuat dicemburuin terus. Makanya mending jadi janda aja. Biar bebas melakukan apa pun.”
“Iya… mumpung Tante masih muda.”
“Umurku sudah duapuluhsembilan tahun Don.”
“Duapuluhsembilan kan tergolong muda Tante.”
“Terus aku mau ditempatkan di mana? Kata Donna, pasti Donny bisa menempatkan aku.”
“Tenang Tante. Perusahaanku banyak. Kalau mau ditempatkan di luar negeri juga bisa.”
“Kalau ada sih yang di kota ini aja Don. Biar dekat sama keluarga. Ada bundamu, ada Ceu Ratih, ada Donny Donna dan banyak lagi.”
“Tante es-duanya di bidang apa?”
“Marketing.”
“Wow… bagus tuh. Donna salah nyebut di telepon tadi. Dia bilang es-dua Tante di bidang manajemen. Waktu di Surabaya Tante kerja di mana dan di bagian apa?”
“DI pabrik pakaian… garment factory lah kerennya sih.”
“Di bagian apa?”
“Inilah yang paling menjengkelkan. Aku kan orang marketing. Tapi malah ditempatkan dijadikan manager personalia.” sumber Ngocoks.com “Hahahaaa… manager personalia atau HRD harusnya kan dijabat sama psikolog. Minimal sarjana psikologi lah.”
“Iya. Tapi aku malah dijadikan manager personalia. Sementara manager marketingnya dipegang oleh orang asing. Terpaksa nelan ludah deh. Soalnya aku kan orang pribumi.”
“Emang perusahaannya punya WNA?”
“Iya. Makanya bagian yang penting – penting dipegang oleh WNA semua. Yang pribumi sih cuma bagian – bagian yang kurang penting.”
“Tante masih capek nggak? Kalau gak capek, aku akan membawa Tante ke tempat di mana aku akan menempatkan Tante nanti.”
“Gak cape kok aku Don. Tadi kan cuma pake taksi dari rumah bundamu ke sini. Masa capek?!”
“Kalau gitu, ayo kita berangkat.”
“Aku mau ganti baju dulu Don. Pengen pakai celana jeans aja. Pakai gaun gini ribet.”
“Wah, tas dan barang – barang Tante sudah disimpan di lantai tiga. Ayo ikut aku Tan,” ucapku sambil menuntun Tante Santi menuju tangga.
“Gila rumahmu ini Don. Luar biasa megah dan mewahnya,” ucap Tante Santi waktu melangkah di belakangku yang sedang menaiki tangga berlapiskan karpet abu – abu.
“Ini rumah peninggalan almarhum Papa angkatku Tante,” sahutku.
“Oooo… pantesan. Kata bundamu, seluruh harta papa angkatmu diwariskan padamu ya?”
“Iya Tante. Papa dan Mama angkatku sangat sayang padaku. Tapi pada saat itu aku mengira mereka orang tua kandungku. Ternyata bukan.”
“Itu semua sudah menjadi suratan takdirmu Don. Kamu ditakdirkan untuk menjadi orang tajir melintir. Tinggal istri aja yang kamu belum punya.”
“Hahahaaa… usiaku baru duapuluhdua tahun Tante. Santai aja. Aku gak mau buru – buru kawin.”
“Kawin apa nikah?” tanya Tante Santi sambil menggelitik pinggangku dari belakang.
“Kawin sih sering. Sama Tante aja yang belum pernah. Hihihiiii…” ucapku yang sudah tiba di depan pintu kamar di lantai tiga. Pintu kamar yang kusediakan unmtuk Tante Santi.
Tiba – tiba Tante Santi memelukku dari belakang, sambil membisiki telingaku, “Memangnya kamu mau nyobain serambi lempitku?”
“Kalau dikasih sih mau,” ucapku sambil membuka pintu itu dan mengajak Tante Santi ke dalam kamar untuknya.
“Kamu kan keponakanku Don.”
“Apa salahnya? Mumpung Tante lagi menjanda, kan boleh kita saling bagi rasa…”
Belum habis kata – kataku, Tante Santi memotong, “Ayolah… sapa takut?!”
Bersambung… Aku terkejut juga karena Tante Santi begitu spontan menyambut pancinganku. “Sekarang?” tanyaku sambil memeluknya.
“Iya… “Tante Santi mengangguk dengan senyum manis di bibirnya.
Spontan juga kupagut bibir sensual itu ke dalam ciuman hangatku. Dan Tante Santi menyambut dengan dekapan erat di pinggangku.
“Tadinya aku mau mengajak ke bangunan di mana Tante akan ditempatkan,” kataku setelah ciumanku terlepas.
“Hari kan masih siang. Nanti bisa setelah kita ngemprut dulu,” sahut Tante Santi sambil menanggalkan gaun kuning mudanya yang bercorak bintang bintang putih. Ternyata behanya pun terbuat dari bahan yang sama dengan gaunnya. Namun dia mengenakan celana pendek berwarna light ochre. Mungkin di balik celana pendek itu masih ada celana dalam yang bahannya sama dengan beha dan gaunnya.
Namun ketika celana pendek itu dilepaskan… aku langsung melihat bentuk kemaluan tanteku yang berjembut lebat. Ini suatu kebetulan. Bahwa aku sudah keseringan menyetubuhi perempuan berserambi lempit gundul dan gundul terus. Sesekali aku ingin menikmati serambi lempit yang berjembut, sebagai pertanda serambi lempit dewasa.
Ya… mungkin jembut itulah indikator alami bahwa pemilik serambi lempitnya sudah mulai akil balig. Sementara yang belum berjembut, berarti masih di bawah umur.
Ketika Tante Santi sedang melepaskan behanya, aku pun cepat menelanjangi diriku, lalu menerkam tubuh seksi tanteku.
Tante Santi pun menyambut terkamanku dengan ciuman dan lumatan hangat di bibirku. Dengan dekapan erat di pinggangku. Lalu kami bergumul mesra di atas bed. Terkadang aku di atas, tapi terkadang Tante Santi yang berada di atas.
Yang paling mengasyikkan dalam foreplay ini adalah ketika aku mencium bibir Tante Santi, dengan tangan kiri digunakan untuk memainkan pentil toket kanannya, sementara jemari tangan kanan kuselundupkan ke dalam liang serambi lempitnya yang sudah agak basah dan licin serta hangat.
Indah sekali rasanya menggerak – gerakkan jari tengah dan telunjukku di dalam liang serambi lempit tanteku, yang makin lama makin basah.
Tadinya aku ingin menjilati serambi lempit Tante Santi yang berjembut itu. Tapi keburu terdengar suaranya, “Ayo masukin aja rudalmu Don… aku sudah horny berat nih.”
Aku selalu berusaha untuk mengabulkan keinginan pasangan seksual mana pun. Karena aku memegang prinsip bahwa di dalam hubungan seks itu harus selalu ada
Take and give.
Dan tadi, diam – diam kutest kebenaran ucapan temanku yang sudah kuanggap sebagai pakar menyetubuhi itu. Bahwa kalau telapak tangan didekatkan ke tubuh wanita yang akan disetubuhi, terasa menyiarkan hawa hangat, berarti perempuan itu pasti enak serambi lempitnya.
Tadi telapak tanganku memang merasakan pancaran hawa hangat dari tubuh Tante Santi. Maka kini aku ingin membuktikannya. Tanpa proses oral – oralan, kuletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit tanteku.
Tante Santi cukup tanggap. Dia memegang leher rudalku, lalu moncongnya dicolek – colekkan ke belahan serambi lempitnya yang licin dan hangat. Sampai akhirnya ia menemukan arah yang tepat. Lalu ia memberi isyarat agar aku mendorong rudalku.
Kulakukan itu. Kudorong rudalku sekuat mungkin. Dan… rudalku mulai melesak ke dalam liang serambi lempit berjembut itu, sedikit demi sedikit sampai mmbenam hampir separohnya.
Maka mulailah aku mengayun rudalku, seolah memompa liang serambi lempit tanteku yang ternyata… enak sekali! legit tapi licin dan sangat terasa bergerinjal – gerinjal dinding liang serambi lempitnya…!
“Ughhhhh… serambi lempit Tante enak sekali…” ucapku terengah ketika entotanku masih pelan – pelan.
Tante Santi menyahut, “rudalmu juga luar biasa enaknya Don… aku bisa ketagihan nanti… gimana?”
Kuhentikan dulu entotanku. Dan berkata, “Ya udah… nanti Tante jadi simpananku aja ya. Karena kalau menikah, pasti gak bisa. Tante akan kuberikan jabatan tertinggi di sebuah pabrik baru nanti. Asalkan Tante setia padaku. Kalau sampai nyeleweng, jabatan itu akan kucopot, diganti oleh orang yang lebih setia padaku.
“Terus aku tinggal di mana? Di sini?”
“Ada rumah yang tak begitu jauh dari pabrik baru itu. Rumah yang akan selalu dijaga petugas security, karena rumah itu adalah tempat tinggal direktur utama.”
“Jadi aku ini akan diangkat menjadi dirut?”
“Iya. Tante sanggup memegang jabatan dirut?”
“Sanggup Boss,” sahut Tante Santi yang diikuti dengan kecupan mesranya di bibirku. Dan setelah mengecup bibirku, Tante Santi menepuk – nepuk punggungku sambil berkata, “Sekarang entot serambi lempitku sepuasmu, Sayang… !”
Aku pun mulai mengayun kembali batang kemaluanku. Pelan – pelan dulu, makin lama makin cepat.
Tante Santi pun mulai mengayun pinggulnya… meliuk -liuk, memutar – mutar dan menghempas – hempas.
serambi lempit Tante Santi memang luar biasa enaknya. Gesekan dinding liang mewmeknya dengan rudalku terasa sekali. Membuat mataku sering terpejam dalam nikmat yang sulit diucapkan dengan kata – kata belaka.
Lalu aku pun mengimbanginya. Dengan menjilati lehernya disertai dengan gigitan – gigitan lembut, sementara entotanku semakin kugencarkan.
Desahan dan rintihan histeris Tante Santi pun mulai berkumandang di kamar lantai tiga ini. “Doooon… ooooohhhh… Doooon… aaaaaa… aaaaaaah… rudalmu memang luar biasa Doooooon… luar biasa enaknya… entot terus Dooooooniiiiiiii… luar biasa enaknyaaaa… ooooh… Doooniiiii…
Aku pun menikmatinya. Menikmati sedapnya liang serambi lempit Tante Santi. Yang membuatku berdengus – dengus dengan mata sering terpejam. Namun aku tetap “rajin” menjilati leher Tante Santi. Terkadang aku alihkan mulutku ke pentil toket kirinya, untuk mengemut dan mengisap – isap, sementara tangan kiriku sibuk meremas – remas toket kanannya.
Pada saat lain, mulutku nyungsep di ketiak kirinya. Kujilati ketiak kirinya dengan gigitan dan sedotan yang cukup kuat, sementara tangan kananku tetap meremas – remas toket kanannya.
Cukup lama aku melakukan semuanya ini. Sementara Tante Santi tetap menggeol -geolkan pinggulnya sedemikian rupa, sehingga kelentitnya terus – terusan bergesekan dengan batang kemaluanku.
Akibatnya… pada suatu saat Tante Santi berkelojotan. Pertanda akan mencapai orgasme. Aku pun tak mau menunda – nunda ejakulasiku. Karena sebentar lagi aku akan mengajak tanteku ke suatu tempat, di mana salah satu pabrik baruku sudah selesai dan siap beroperasi, karena mesin – esinnya pun sudah datang dan dipasang di tempat yang sudah ditentukan.
Maka ketika Tante Santi mulai berkelojotan, aku pun menggencarkan entotanku. Demikian cepat dan kerasnya, sehingga terdengar bunyi plak… plaaaakkk… plakkk… plaaaaakkk…! Itulah suara pelerku yang menepuk – nepuk bagian bawah kemaluan Tante Santi.
Dan ketika Tante Santi mengejang tegang, dengan perut sedikit terangkat… aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin, sehingga moncong rudalku terasa mentok di dasar liang serambi lempit tanteku.
Pada saat itulah kami laksana sepasang manusia yang sedang kerasukan. Kami saling cengkram dan saling remas sekuatnya, dengan mata sama – sama terpejam.
Kemudian detrik – detik terindah ini pun terjadi. Terasa liang serambi lempit Tante Santi berkedut – kedut, sementara rudalku pun mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.
Crooottttttt… crooootttt… croooootttt… croooottttt… crootttt… croooottt…!
Lalu kami sama – sama terkapar, dengan tubuh bermandikan keringat.
Mata Tante Santi masih terpejam. Dan ketika mata bening itu terbuka, ia menatapku disertai senyum bernafaskan kehangatan dan kepuassan. “Terima kasih Don… ini persetubuhan terindah di dalam hidupku.”
Aku jawab dengan ciuman mesra di bibirnya. Kemudian kucabut rudalku dari dalam serambi lempit tanteku.
“Mandi bareng yuk,” ajakku sambil menarik pergelangan tangan Tante Santi.
“Iya, badan penuh keringat gini sih harus mandi,” sahut Tante Santi sambil mengikuti langkahku menuju kamar mandi di lantai tiga itu.
Beberapa saat kemudian Tante Santi sudah duduk di dalam sedan putihku, yang sedang kularikan menuju arah timur.
Tante Santi memang akan kuserahi jabatan dirut di pabrikku yang letaknya di luar kota, di sebelah timur kotaku. Jadi berlawanan arah dengan pabrik yang sudah kuserahkan kepada Imel untuk memimpinnya.
Rencanaku memang bukan mau memberikan perusahaan – perusahaan itu kepada siapa pun. Aku hanya akan merekrut orang – orang tersayang untuk memimpin dan mengelolanya.
Tante Santi terbengong – bengong setelah tiba di pabrik baru yang sudah lengkap dan siap beroperasi itu. Karena menurutnya, sudah sesuai benar dengan kebutuhannya.
Begitu juga rumah inventaris itu.
Di rumah inventaris dirut itu Tante Santi berkata, “Rasanya seperti bermimpi menyaksikan semuanya ini Don. Semuanya di luar dugaanku dan bahkan lebih bagus daripada pabrik tempatku bekerja di Surabaya itu.”
“Memang sudah nasib Tante yang bagus. Kalau Tante tidak bercerai dan tidak menemuiku, mungkin kedudukan dirut itu akan kuserahkan kepada orang lain,” sahutku.
“Iya, jadi sekarang gak ada lagi penyesalan karena telah bercerai dengan dia.”
“Ohya… Tante punya anak berapa orang?”
“Tak seorang pun. Aku belum pernah hamil Don.”
“Lho… siapa yang mandul? Tante apa Oom Sandi?”
“Gak tau. Kami sama – sama takut memeriksakan diri ke dokter. Takut mendengar hasil pemeriksaannya.”
“Mudah – mudahan aja dia yang mandul.”
“Supaya apa?”
“Supaya Tante bisa hamil olehku.
Tante Santi tersenyum. Lalu mencium pipiku, disusul dengan bisikan, “Mudah – mudahan aja aku bisa dihamili olehmu Sayang. Waktu digauli olehmu tadi, luar biasa enaknya. Semoga saja itu pertanda aku akan hamil olehmu. Karena sekarang ini aku sedang berada di masa subur.”
“Ogitu ya… semoga saja prediksi Tante bakal menjadi kenyataan.”
“Tapi seandainya aku hamil, bundamu dan seluruh keluarga kita jangan ada yang tau.”
“Iya Tante. Tenang aja.”
Di dalam mobil yang telah meninggalkan rumah inventaris dirut itu, aku berpikir bahwa Tante Santi memang layak mendapatkan semuanya itu. Alasannya simple saja. Bahwa… serambi lempitnya enak sekali…!
“Tante siap untuk menjadi simpananku kan?”
“Siap Boss.”
“Tapi awas… meski kita tak mungkin menikah secara sah, Tante jangan coba – coba selingkuh dariku.”
“Soal ityu sih kujamin Don. Aku bukan peselingkuh. Waktu masih jadi istri Sandi pun belum pernah selingkuh. Dianya aja cemburuan terus. Dan sekarang, aku sudah menjadi milikmu. Hal itu sudah merupakan tingkat tertinggi dalam kehidupanku. Takkan ada lelaki lain di hatiku kecuali dirimu Sayang,” ucap Tante Santi sambil mengecup pipi kiriku.
Sedan putihku meluncur terus di tengah kepadatan lalu lintas di kotaku.
Entah kenapa, aku merasa bahagia sekali bisa memiliki Tante Santi itu. Apakah ini pertanda cinta yang sudah tumbuh dan berkembang di dalam jiwaku?
Entahlah.
Yang jelas, beberapa hari kemudian kami sudah memasang iklan di sebuah suratkabar lokal, untuk merekrut buruh biasa dan para manager, sesuai dengan kebutuhan.
Tante Santi pun sudah tinggal di rumah inventaris dirut itu.
Setelah selesai menempatkan dan mengurus Tante Santi, aku pun pulang ke rumah Bunda. Memang hampir tiap malam aku menyetubuhi Tante Santi selama ini. Tapi rasa kangenku pada Bunda makin lama makin menjadi – jadi.
Biar bagaimana, tubuh Bunda adalah yang terindah bagi jiwaku. Karena Bunda mampu menyejukkan hatiku setiap kali batinku digoda nafsu.
“Bagaimana Santi sudah ditempatkan di perusahaanmu?” tanya Bunda ketika aku baru muncul di kamarnya, pada saat jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
“Sudah,” sahutku sambil mendekap pinggang Bunda dari belakang dan berusaha menyelinapkan tanganku lewat dasternya yang sudah kusingkapkan dari belakang.
“Bunda lagi datang bulan Sayang,” ucap Bunda sambil menepiskan tanganku dari balik dasternya.
“Ziaaaah… aku lagi kangen banget sama Bunda. Beneran Bunda lagi merah?” tanyaku dalam kekecewaan.
“Bener. Sejak kemaren datangnya, sekarang lagi banyak – banyaknya. Sama Dina aja gih. Temui dia di kamar tamu.”
“Tante Dina kakaknya Tante Santi?” tanyaku.
“Iya. Dia juga ingin ditempatkan seperti Santi. Temui dia gih. Mudah – mudahan aja belum tidur. Kalau Donna sih dari tadi juga sudah nyenyak tidur,” ucap Bunda.
Tanpa membantah, aku mengangguk. Lalu keluar dari kamar Bunda, menuju pintu kamar tamu.
Ketika aku membuka pintu kamar tamu ini, yang ternyata tidak dikunci, tampak Tante Dina sedang duduk di sofa sambil nonton televisi kecil di depannya.
“Belum tidur Tante?” sapaku sambil menghampiri adik Bunda itu.
Tante Dina terkejut dan menoleh, “Eee… Donny…! Jam segini baru pulang?” ucapnya sambil berdiri. Lalu kucium tangannya, disusul dengan cipika – cipiki sebagaimana biasanya kalau berttemu dengan tante – tanteku.
Dan pada waktu cipika – cipiki inilah aku merasakan sesuatu yang istimewa dari adik Bunda ini. Karena pada waktu cipika – cipiki, aku memeluknya erat -erat. Sehingga aku merasakan betapa pepal padatnya tubuh tanteku yang satu ini.
“Tante gak sama Oom Marta?” tanyaku setelah duduk berdampingan di satu – satunya sofa yang ada di kamar tamu itu.
“Oom Marta sudah mati …!” sahut Tante Dina dengan suara bernada geram.
“Lho… mati kenapa? Kecelakaan atau…”
“Mati di hatiku,” ucap Tante Dina memotong.
“Ooo… berarti dia masih hidup, tapi sudah mati di hati Tante?”
“Iya, “Tante Dina mengangguk sambil tersenyum getir, “dia lebih suka sama pelayan toko daripada sama aku. Nyebelin kan?”
“Jadi dia selingkuh sama pelayan toko?”
“Iya. Mending kalau pelayan toko itu cantik. Wajahnya aja kayak… aaaah… pokoknya jelek dah.”
“Kan rumput di pekarangan rumah tetangga suka tampak lebih hijau daripada di pekarangan rumah sendiri Tante.”
“Hmmm… “Tante Dina tersenyum sinis.
“Jadi sekarang status Tante janda?” tanyaku sambil menggelitik pinggangnya.
“Iya… sekarang sih aku bebas mau ngapain juga,” sahutnya sambil merapatkan pipinya yang hangat ke pipiku.
Aku semakin terpancing, ingin merasakan tanteku yang satu ini. Tanteku yang bertoket gede, berbokong semok, berkacamata tapi tampak anggun itu. Maka sambil memegang pergelangan tangannya, aku berkata, “Ngobrolnya di kamarku aja yuk.”
“Emangnya kalau di sini kenapa?”
“Di sini gak ada AC nya. Tivinya juga kecil.”
“Takut dimarahi bundamu.”
“Dijamin Bunda takkan marah. Apa pun yang kulakukan, Bunda tak pernah marah.”
“Iya sih. Kamu kan seolah anak yang hilang, lalu tiba – tiba muncul setelah dewasa dan ganteng gini. Jadi tulang punggung keluarga pula. Pastilah kamu sangat dimanjakan oleh bundamu…” ucap Tante Dina sambil berdiri. Lalu mengikuti langkahku keluar dari kamar tamu menuju kamarku.
Setelah berada di dalam kamarku, Tante Dina menoleh ke sekeliling kamarku sambil menggeleng – geleng dengan senyum di bibirnya. Setelah pintu kamarku ditutup dan dikuncikan, aku mendekap pinggang Tante Dina dari belakang sambil berbisik ke dekat telinganya, “Di sini Tante berteriak setinggi langit pun takkan terdengar apa – apa keluar.
Tante Dina memutar badannya, jadi berhadapan denganku, “Setelah ngobrolnya selesai, aku harus balik lagi ke kamar tadi?”
“Nggak. Tante gak keberatan menemaniku bobo di sini kan?”
“Bundamu kalau tau aku tidur di sini gak bakalan marah?” tanyanya dengan sorot ragu.
“Bunda subuh juga sudah sibuk belanja ke pasar. Donna pun sibuk menata café dengan pegawai café. Tengah hari Bunda baru bisa meninggalkan café. Sementara Donna sampai malam nongkrong id café terus. Santai aja Tante,” sahutku. Tapi aku tak berani bilang bahwa aku menemui Tante Dina adalah atas saran Bunda.
Lalu Tantge Dina duduk di sofa, berdampingan denganku. Dan berkata, “Ohya Don… Santi kan sudah ditempatkan di perusahaanmu. Aku juga kasih kerjaan dong. Tapi aku cuma punya ijazah es-satu. Gak seperti Santi yang sudah es-dua.”
“Tante Santi sudah kutempatkan sebagai dirut di salah satu perusahaanku. Gak apa – apa kalau Tante kutermpatkan sebagai wakil dirut?”
“Gak apa – apa. Meski Santi itu adikku, tapi aku juga tau diri. Dia kan sudah es-dua. Wajar kalau aku jadi wakilnya.”
“Jadi masalah kerjaan selesai. Sekarang aku ingin melenyapkan kepenasarananku,” ucapku sambil menyelinapkan tanganku ke balik baju kausnya. Dan yakin bahwa dia tak mengenakan beha karena kedua pentilnya membayang dari luar.
Dan aku mulai memegang toket gedenya yang terasa masih kencang, seperti belum pernah menyusui anak.
Ketika aku mulai asyik mengelus – elus pentil toketnya yang masih tertutupi baju kausnya, Tante Dina bertanya perlahan, “Toketku masih kenceng kan?”
“Iya Tante. Seperti belum pernah netekin bayi,” sahutku.
“Aku memang belum punya anak Don.”
“Wah asyik dong. Berarti anunya masih sempit.”
“Anunya apa? serambi lempit? Ya jelaslah masih sempit, karena belum pernah dilewati kepala bayi,” sahut Tante Dina sambil menarik zipper celana corduroy biru tuaku, lalu menyelinapkan tangannya ke balik celana dalamku. “Wow… rudalmu gede gini Don… aaaah… bikin aku horny aja…”
“Aku juga udah lama tergiur sama Tante. Baru sekarang bakal kesampaian kayaknya.”
“Ayo deh. Sebagai tanda terimakasihku padamu, apa pun keinginanmu akan kuladeni,” sahut Tante Dina sambil melepaskan baju kaus dan celana pendeknya.
Lalu tubuh seksi Tante Dina yang anggun itu pun telanjang bulat di hadapanku kini. Sepasang toket gedenya… bokong semoknya… bahkan serambi lempitnya yang tercukur bersih itu sudah terpampang di depan mataku.
Oooo… betapa menggiurkannya adik kandung Bunda yang satu itu…!
Tante Dina dan Tante Santi kakak beradik langsung (tidak terhalang saudara lain). Tapi bentuk mereka sangat berbeda. Tante Santi berperawakan tinggi langsing, sementara Tante Dina berperawakan tinggi semok, tapi tidak gendut. Yang paling menyolok adalah perbedaan kemaluan mereka. Tante Santi memelihara jembut, sementara serambi lempit Tante Dina dicukur bersih.
Dan kini Tante Dina yang anggun tapi seksi itu sudah telanjang bulat di depan mataku.
Spontan aku pun menelanjangi diriku sendiri. Lalu meraih Tante Dina ke atas bedku.
“Aku gak mau munafik Don. Aku memang sedang sangat membutuhkan sentuhan lelaki. Apalagi disentuh oleh cowok semuda dan setampan kamu. Ditambah lagi dengan perasaan berterimakasih telah dijanjikan untuk jadi wakil Santi.”
“Tante Dina dan Tante Santi selain akan menduduki jabatan yang sudah disebutkan tadi, aku akan menjadikan Tante sebagai simpananku ya.”
“Whatever lah… apa pun yang kamu inginkan, akan kulaksanakan.”
Ucapan Tante Dina itu terputus, karena aku sudah menghimpitnya. Lalu mencium dan melumat bibir sensualnya. Setelah ciuman dan lumatanku terlepas, aku berkata, “Oom Marta itu lelaki terbodoh di dunia. Istri seanggun dan seseksi begini disia – siakan.”
“Biarin aja. Aku kan punya keponakan yang ganteng dan baik hati ini,” sahut Tante Dina sambil menepuk – nepuk pipiku perlahan.
Kemudian aku melorot turun. Ingin segera menyentuh serambi lempitnya.
Setelah wajahku berada tepat di atas serambi lempit Tante Dina, aku agak terngengang. Karena kelentitnya tampak jelas sekali, menonjol di bagian atas serambi lempit tembem dan bersih itu.
Kuelus – elus kelentit Tante Dina dengan ujung jariku sambil berkata, “Clitorisnya menonjol sekali Tante.”
“Iya Don. Kalau aku sedang horny berat, itilku suka muncul sendiri,” sahut Tante Dina.
“Jadi mudah menyentuhnya…” ucapku sambil menjulurkan lidahku. Lalu kujilati kelentit Tante Dina itu dengan lahap. Sehingga Tante Dina mulai mengejang – ngejang sambil meremas – remas rambutku.
“Oooo… oooooh… Doooonnniiii… langsung dijilatin itilnya… ooooohhhh… bisa – bisa aku orgasme duluan Dooon… “rengek Tante Dina tersendat – sendat.
“Nggak apa Tante. Kalau sudah orgasme, liang serambi lempitnya jadi licin dan becek. Aku malah suka kok serambi lempit becek sehabis orgasme. Jadi lain rasanya.”
Tapi aku tak cuma menjilati dan mengisap – isap kelentit Tante Dina. Jari tengahku pun kuselundupkan liang serambi lempitnya. Sehingga aku bisa membayangkan “rasa” kemaluan tanteku yang anggun dan seksi ini. Pasti kenyal dan legit. Kalau diibaratkan nasi sih, pasti pulen rasanya.
Karena itu aku tak mau berlama – lama menjilati kelentit yang menonjol dan mengkilap itu. Lalu aku merayap ke atas perut Tante Dina sambil memegang leher rudalku yang sudah kuarahkan moncongnya ke mulut serambi lempit Tante Dina.
Tante Dina pun merenggangkan sepasang pahaku, sambil ikut memegangi leher rudalku. Lalu moncongnya dicolek- colekkan ke belahan serambi lempitnya. Setelah dianggap pas arahnya, dia memberi isyarat agar aku mendorong batang kemaluanku yang sudah ngaceng berat ini.
Aku pun mendesakkan rudalku sekuatg tenaga. Dan melesak separuhnya… blessssss… diiringi desah nafas Tante Dina… “Aaaaaaaah… gede banget rudalmu Dooon… sampe terasa bener melesak masuknya gini… oooooh… ““
“Ayo sekarang sih mau jerit – jerit sekuatnya juga gak apa – apa Tante. Takkan terdengar ke luar…” sahutku sambil mulai mengayun rudalku, maju – mundur di dalam liang serambi lempit Tante Dina yang sesuai dengan prediksiku. Legit, kenyal dan hangat.
“Donny… ooooh… Doooon… ooooooh… Doooon… edaaan… ini luar biasa enaknya Dooon… oooooh… gak nyangka kamu punya rudal segede dan sepanjang ini Doooon… adudududuuuuuh enaknyaaaa… ayoooo Dooon… entotlah sepuasmu…”
Aku pun berusaha menyahut meski terengah – engah, “Mem… serambi lempit Tante juga edan… gu… gurih dan legit sekali Tanteee… ugh…”
Aku tidak gombal. Di antara semua wanita setengah baya, Bunda menempati peringkat pertama. Peringkat kedua diduduki oleh Tante Santi dan Tante Dina.
serambi lempit Tante Santi dan Tante Dina beda – beda rasanya. Beda – beda pula keistimewaannya. Maka kalau Tante Santi kuberi nilai 9, maka Tante Dina pun mendapatkan nilai 9 juga.
Kalau mereka mau, aku akan menjadikan mereka perempuan simpananku, dua – duanya, meski mereka tante – tanteku sendiri. Dengan sendirinya level kehidupan mereka harus ditingkatkan ke level yang layak.
Kepuasan seksual mereka pun harus kuutamakan.
Itulah sebabnya aku memenyetubuhi Tante Dina dengan upaya se-perfect mungkin. Agar dia merasa puas dan jangan sampai mencari kepuasan dengan cowok lain.
Pada waktu entotanku digencarkan, mulut dan tanganku pun ikut beraksi. Mulut digunakan untuk menjilati leher jenjangnya, disertai dengan gigitan – gigitan kecil, sementara tanganku meremas toket gedenya yang masih padat kencang dan mulus sekali itu.
Di saat lain aku menjilati daun telinganya, namun tangan kiriku tetap meremas toket gedenya. Bahkan ketika aku mengemut pentil toket kirinya, tangan kiriku tetap meremas – remas toket kanannya.
Ketika tangan kanannya berada di samping kepalanya, kujilati pula ketiak kanannya, sementara yang kuremas jadi toket kirinya.
Tampaknya hal ini membuat Tante Dina lupa daratan. Sehingga desahan dan rintihannya sem, akin menjadi – jadi. “Donny… oooohhhhh… Dooooon… belum pernah aku merasakan disetubuhi seenak ini Dooon… ooooohhhh… ini luar biasa enaknya Dooooonnnn… ooooohhhhh… oooooohhhhh… Dooooniiiiii…
Tante Dina tak cuma bisa merintih dan merengek. Dia juga bisa mengayun bokong semoknya, memutar – mutar, meliuk – liuk, menghempas – hempas sambil menukik sedemikian rupa, sehingga kelentitnya bisa bergesekan dengan batang kemaluanku. Ini membuatku semakin bersemangat. Bahkan menargetkan untuk mencapai puncak nikmat bersamaan.
Keringatku pun mulai bercucuran. Bercampur aduk dengan keringat Tante Dina. Sampai pada suatu saat, ketika Tante Dina berkelojotan dengan nafas terengah – engah, aku pun mempercepat entotanku.
Sampai pada suatu detik… sekujur tubuh Tante Dina mengejang tegang, aku pun membenamkan batang kemaluanku sedalam mungkin, sampai mentok di dasar liang serambi lempit tanteku.
Pada saat itulah kurasakan sesauatu yang teramat indah. Bahwa liang serambi lempit Tante Dina berkedut – kedut kencang, Disusul dengan membasahnya liang serambi lempit legit itu. Pada saat yang sama rudalku pun mengejut – ngejut, sambil memuntahkan lendir kenikmatanku yang bertubi – tubi… crooottttt… crooottttttttt…
Aku sengaja mempercepat ejakulasiku, karena badanku sudah lumayan letih bekas kegiatan tadi siang seharian. Selain daripada itu aku akan membawa Tante Dina ke rumah yang sudah ditempati oleh Tante Santi itu besok pagi. Kebetulan besok hari Sabtu. Berarti Tante Santi bakal ada di rumah.
Esok paginya aku mengajak Tante Dina ikut denganku, untuk menuju rumah inventaris dirut yang sudah ditempati oleh Tante Santi itu.
Tentu saja Tante Santi terheran – heran ketika melihatku datang bersama kakaknya yang hanya lebih tua setahun darinya itu.
“Kok bisa bawa orang Cikampek Boss?” tanya Tante Santi sambil memeluk kakaknya tapi menoleh ke arahku. Lalu Tante Santi mencium sepasang pipi Tante Dina. Dan mengajaknya masuk ke dalam.
Aku pun masuk ke dalam rumah inventaris dirut itu.
“Soal apa tuh?”
“Pertama, soal bisnisnya dulu ya. Tante Dina sudah kuputuskan untuk menjadi wakil dirut. Apakah Tante Santi tidak keberatan?” tanyaku sambil mencolek bibir Tante Santi.
“Haaa?! Syukurlah. Aku senang. Senang sekali Don. Karena Ceu Dina sarjana ekonomi juga. Selain daripada itu, Ceu Dina kan kakak kandungku,” ucap Tante Santi dengan wajah ceria.
“Baguslah. Tante Dina memang sudah menerima keputusanku ini. SUdah siap menjadi wakil Tante Santi, meski pun Tante Santi ini adik Tante Dina,” kataku, “Tante Dina pun sudah kuputuskan untuk tinggal di sini. Agar Tante Santi tidak merasa kesepian tinggal sendirian di sini.”
“Asyiiiik… !” seru Tante Santi tampak gembira sekali, “Lalu masalah kedua itu apa Don?”
Baik Tante Dina mau pun Tante Santi tampak kaget mendengar pengakuanku itu. Tapi mereka saling pandang. Dan akhirnya sama – sama tersenyum.
“Jadi kita berdua harus meladeni Big Boss bernama Donny ini ya Ceu,” ucap Tante Santi kepada kakaknya.
Tante Dina mengangguk – angguk sambil tersenyum. Lalu mencium pipi kananku. Tante Santi pun tak mau kalah. Ia mencium pipi kiriku.
“Tante sudah tau masalah yang dialami oleh Tante Dina dengan Oom Marta?” tanyaku sambil menepuk lutut Tante Santi.
“Sudah. Kan Ceu Dina pernah curhat by phone, bahwa dia ingin bercerai dengan Kang Marta. Terus bagaimana lanjutannya Ceu? Jadi bercerai?”
“Jadi. Sudah diputuskan di pengadilan,” sahut Tante Dina.
“Jadi kita senasib semua ya Ceu. Kita dan saudara – saudara perempuan kita jadi janda semua ya.”
“Iya,” sahut Tante Dina, “Takdirnya memang harus begini. Mau diapain lagi.”
Aku terhenyak mendengar ucapan mereka itu. Karena memang benar. Bunda, Tante Ratih, Tante Dina dan Tante Santi sudah menjadi janda semua.
Lalu aku pun melingkarkan lengan kananku di pinggang Tante Dina. Dan melingkarkan lengan kiriku di pinggang Tante Santi. Sambil berkata, “Tenang saja. Karena Tante Dina dan Tante Santi mendapat tempat yang istimewa di hatiku.”
Tante Dina mengecup pipi kananku, Tante Santi mengecup pipi kiriku.
Lalu Tante Santi bertanya, “Terus kita mau weekend di mana nih?”
“Mendingan istirahat di rumahku aja yok. Pergi jauh – jauh lagi males. Nanti aja kalau ada liburan panjang kita tour agak jauh. Mau ke Bangkok bisa, ke Singapura juga bisa,” sahutku.
“Maksudnya mau istirahat di rumah bundamu?” tanya Tante Dina.
“Bukan Ceu. Rumah Donny jauh lebih gede dan megah sekali,” sahut Tante Santi.
“Ayo… mau weekend di rumahku aja? Tapi pembantu lagi cuti. Jadi kita harus belanja makanan dulu untuk…”
Belum lagi selesai aku bicara, tiba – tiba handphoneku berdering. Ternyata dari Bunda.
Cepat kuterima call dari bundaku tercinta itu :
“Hallo Bun… ada apa?”
“Oom Jaka sakit keras tuh. Kebetulan Dina dan Santi juga lagi kumpul sama kamu kan?”
“Iya. Tante Dina dan Tante Santi bersamaku saat ini.”
“Mereka tau tuh rumah Oom Jaka. Sebaiknya pada ke sana semuanya. Bunda juga mau ke sana bersama Donna.”
“Iya Bun. Kami akan ke sana sekarang.”
Setelah hubungan seluler ditutup, aku berkata, “Oom Jaka sakit keras. Bunda menyuruh kita semua ke rumahnya. Di mana sih rumah Oom Jaka itu?”
“Di Sumedang… lewat Sumedang sedikit maksudku,” sahut Tante Dina.
“Gimana? Kita mau ke sana sekaranhg?”
“Ya ayo… kita memang harus menengoknya kalau Kang Jaka sakit keras ya Ceu?” ucap Tante Santi sambil menoleh ke arah Tante Dina.
“Iya, iyaaa…”
“Bunda sama Donna juga mau ke sana,” ucapku.
Beberapa saat kemudian, sedan putihku sudah kularikan lagi di atas jalan aspal. Sebenarnya aku sedang malas nyetir ke luar kota. Tapi kuusir kemalasanku, mengingat salah seorang adik Bunda sedang dalam masalah.
Untungnya jalan menuju Sumedang sedang lengang. Padahal biasanya suka macet parah.
Hanya dibutuhkan waktu sejam setengah untuk tiba di tempat yang dituju, lewat Sumedang ke arah Cirebon
(Mengingatkanku kepada Umi Faizah).
Rumah Oom Jaka memang di pinggir jalan raya Sumedang – Cirebon. Jadi tidak sulit mencapainya. Tapi kulihat ada bendera kuning yang terbuat dari kertas di kanan kiri rumah yang dituju itu.
“Waaah… sudah ada bendera kuning… jangan – jangan…” ucap Tante Dina yang tergopoh – gopoh memasuki pekarangan rumah Oom Jaka.
Tante Santi pun tergopoh – gopoh mengikuti kakaknya, masuk ke dalam rumah itu.
Aku pun bergegas mengikuti mereka.
Lalu terdengar jeritan Tante Santi, “Kang Jakaaaaaa… !!!”
Ternyata adik langsung Bunda (tidak terhalang adik lain) itu sudah meninjggal. Berarti kami terlambat datangnya. Apalagi Bunda dan Donna yang baru tiba sejam kemudian.
Tante Ratih pun datang bersama Bunda, karena dijemput oleh Donna katanya. Sementara Imel tidak ikut karena sedang kurang enak badan, kata Tante Ratih.
Oom Sambas dan istrinya pun tidak hadir, karena rumahnya jauh di seberang lautan. Mungkin juga akan datang besok atau hari lainnya.
Kami semua berduka dan ikut mengantar sampai ke pekuburan di mana jenazah Oom Jaka dimakamkan.
Waktu jenazah Oom Jaka dimakamkan, aku tercenung dan memikirkan semuanya ini. Bahwa jodoh dan kematian termasuk rahasia Tuhan. Tiada seorang pun tahu kapan akan mati. Tapi kematian adalah jatah yang paling adil buat semua mahluk bernyawa di muka bumi ini. Dari gelandangan sampai kepala negara, takkan bisa menghindar dari kematian.
Hari demi hari berputar terus, tanpa bisa direm apalagi dihentikan.
Sampai pada suatu hari…
Ketika aku sedang berada di ruang kerja kantorku, seorang petugas security mengantarkan tamu yang katanya dari Bangkok. Aku tercengang. Karena aku tahu benar siapa wanita 35 tahunan itu.
“Tante Huan?” sapaku serasa bermimpi melihat sahabat almarhum Papa angkatku telah berdiri di ruang kerjaku.
“Iya… untung masih ingat,” sahutnya.
Spontan kucium tangannya, dilanjutkan dengan cipika – cipiki.
“Tentu saja masih ingat. Tapi dari siapa Tante tau alamat kantorku ini?” tanyaku.
“Dari Mr. Liauw. Dia bilang di dalam bisnis kamu lebih ekspansif daripada almarhum papamu. Benarkah begitu?” tanyanya setelah duduk berdampingan denganku di sofa ruang tamuku.
“Di Thailand betul. Awalnya beberapa asset Papa kujual. Tapi setahun kemudian aku menyesali hal itu. Lalu kukembangkan usaha Papa di Chiangmai habis – habisan. Itu saja.”
“Tapi Mr. Liauw bilang, kamu juga telah mengembangkan sayap ke Australia dan Eropa,”
“Iya sih. Tapi bisnisku ke Eropa hanya jadi broker doang. Apa yang dibutuhkan di sana, kucari sumbernya di sini. Lalu kuekspor ke sana. Jadi bukan produksiku sendiri.”
“Tapi kesimpulannya bisnismu sekarang lebih luas daripada bisnis papamu kan?”
“Iya Tante. Tapi mayoritas bisnisku dipusatkan di Singapura. Di Indonesia sih kecil – kecilan aja. Soalnya aku males kalau dianggap nomor sekian terkaya di sini.”
“Iya… iya. Papamu dahulu juga begitu. Bisnisnya dipusatkan di Thailand dan di Singapore. Alasannya sama seperti Donny. Nah… sekarang aku justru ingin menawarkan investasi Don. Mmm… aku kan punya casino di Macau dan di perbatasan antara Thailand dan Kamboja,” kata wanita Chinese yang lahir besar di Indonesia kemudian menetap di Bangkok, karena usahanya dikembangkan di sana.
“Jadi Tante ingin mengalirkan dana dari casino ke usaha legal di sini, begitu?” tanyaku.
“Iya Don,” sahut Tante Huan. Lalu dia mengatakan jumlah uang yang bisa diinvestasikan padaku. Jumlah yang sangat besar. Maklum uang hasil dari casino bisa meledak – ledak jumlahnya. Kalau hanya untuk membeli pesawat jet pribadi saja sih, bisa disediakan dari hasil satu malam saja.
Tapi aku merasa sudah terlalu banyak dana yang sedang kuputar di dalam bisnis – bisnisku. Aku tidak membutuhkan lagi suntikan dana dari mana pun.
Karena itu aku hanya terdiam setelah mendengar nominal dana yang akan diserahkan untuk dikelola olehku.
Lalu Tante Huan berkata lagi, “Terus terang, hasil dari casino sangat meyakinkan. Seolah air terjun yang menggelontor terus dengan hebatnya. Tapi biar bagaimana usaha dalam perjudian tetap gambling sifatnya. Bisa saja pada suatu saat casino – casinoku mengalami kebangkrutan secara tiba – tiba, meski pun aku sama sekali tidak mengharapkannya.
Aku masih belum mau menanggapi penawaran dana yang sangat besar itu. Karena belum bisa membayangkan bagaimana sibuknya aku mengurus dana sebesar itu nanti.
“Aku takkan seperti para funder yang ingin mengeruk keuntungan sebanyak – banyaknya dari dana yang ditanamkan Don. Aku akan puas dengan hanya menerima tigapuluh persen dari profit. Bahkan ditambah dengan bonus… kamu masih ingat peristiwa di dalam kamarmu dahulu?”
Aku terkejut mendengar pertanyaan itu. Karena aku masih ingat benar, pada saat usiaku masih di bawah umur itu. Pada saat itu Tante Huan sedang menunggu Papa dan Mama yang lagi pada keluar. Lalu Tante Huan nyelonong ke dalam kamarku.
Ya, aku masih ingat benar semujanya. Bahwa Tante Huan mencium bibirku sambil memelujk leherku. Spontan aku menanggapinya secara grasak – grusuk. Maklum aku masih ABG.
Namun ketika aku berusaha menyelinapkan tanganku ke balik celana dalamnya, Tante Huan mendorong dadaku sambil berkata, “Jangan aaah… kamu belum dewasa. Nanti kalau kamu sudah dewasa sih pasti aku kasih.”
Ya… tentu saja aku masih ingat “peristiwa” yang Tante Huan tanyakan itu.
“Ya, aku masih ingat peristiwa itu. Peristiwa yang membuatku sangat penasaran,” ucapku.
“Saat itu aku tidak mau ngasih, karena kamu masih di bawah umur. Lagian saat itu aku kan masih punya suami. Kalau sekarang… Donny sudah dewasa, aku pun sudah menjadi janda.”
“Tante bercerai dengan suami Tante?”
“Dia meninggal setahun yang lalu. Maklum dia sudah tua dan sakit – sakitan terus setelah usianya melewati enampuluhan.”
“Jadi…?”
“Jadi aku akan kasih semua yang ada di tubuhku, asalkan danaku diterima olehmu, dengan pembagian tujuhpuluh – tigapuluh. Kamu mendapatkan tujuhpuluh persen, aku cukup tigapuluh persen saja. Yang penting aman dan saling menguntungkan.”
Tentu saja pembagian keuntungan yang ditawarkan oleh Tante Huan itu sangat menguntungkan. Karena biasanya pembagian keuntungan antara funder dan pengelola itu fifty – fifty. Bahkan ada funder yang lebih “kejam” lagi, minta bagian enampuluh persen, sementara pengelola hanya kebagian empatpuluh persen.
Tapi bagiku kalimat “aku akan kasih semua yang ada di tubuhku” itu jauh lebih menarik daripada masalah dana yang ditawarkannya.
Tante Huan memang membuatku penasaran selama bertahun – tahun. Aku masih ingat benar, dahulu… ketika usiaku masih tergolong ABG… ketika tanganku sudah menyentuh celana dalamnya, gairahku melonjak – lonjak. Karena saat itu aku sudah banyak pengalaman dengan Mama angkatku almarhumah. Tapi tanganku ditepiskan, dadaku pun didorong.
Dan kini ia menilaiku sudah cukup dewasa, pada saat dia sudah menjanda pula.
“Ya udah… aku sepakat untuk menerima investasi Tante,” kataku sambil memegang tangan Tante Huan dan meremasnya dengan lembut, “Tapi bonusnya mau diambil sekarang.”
Tante Hua tersenyum manis. Hmm… senyum manisnya itu pula yang sangat kusukai dahulu.
“Mau di mana? Mau check in ke hotel atau mau di villa?” tanya Tante Huan sambil balas meremas tanganku, dengan pipi yang dirapatkan ke pipiku.
“Kita lanjutkan ngobrolnya di lantai dua yok,” sahutku sambil menunjuk ke tangga yang berada di depan ruang tamu itu.
Tante Huan mengangguk. Lalu mengikuti langkahku menuju tangga berkarpet abu – abu itu. Bahkan ia melangkah sambil memelukku dari belakang…
Aku ingin ketawa mendengar ucapannya tadi. Bahwa ia akan “menghadiahkan” tubuhnya sebagai “bonus”, seandainya aku menerima investasinya. Seolah – olah ia ingin berbaik hati padaku.
Padahal aku masih ingat benar, bahwa dahulu waktu masih sama – sama bermukim di Bangkok, dia nyelonong ke dalam kamarku, lalu mencium bibirku dengan lahapnya. Padahal tadinya aku tak punya pikiran apa – apa padanya, mengingat Tante Huan itu teman bisnis Papa angkatku.
Tapi aku pun mengakui secara jujur. Bahwa rasa penasaranku menggila, karena aku ingin “menuntaskan” pelukanku ke arah hubungan sex. Sesuatu yang tidak ia bnerikan saat itu, mengingat aku dianggap masih di bawah umur. Padahal saat itu aku sudah menjadi cowok yang terlatih, berkat “bimbingan” Mama angkatku.
Tapi biarlah, aku takkan memasalahkan siapa sebenarnya yang “membutuhkan” pada saat ini. Yang jelas Tante Huan itu bagian dari masa laluku, yang kini sudah berada di dalam genggamanku.
DI lantai dua yang memang seolah menjadi rumah pribadiku, Tante Huan tercengang. Lalu berkata, “Wow…! Kantor ini ternyata ada private roomnya yang lebih dari sekadar suite room di hotel – hotel ya.”
Aku memeluknya dari belakang, “Apakah di sini layak untuk dijadikan tempat bercinta bagi seorang taipan dari Bangkok?”
“Hihihi… Donny lebih pantas menyandang gelar taipan. Karena jaringan bisnis Donny sudah berkembang ke mana – mana. Sedangkan aku… hanya mengandalkan duit judi,” sahut Tante Huan.
Aku masih berdiri di belakang Tante Huan. Namun tangan kananku sudah bergerak ke bawah perutnya, setelah menyingkapkan gaunnya dengan tangan kiriku.
Aku jadi ingat lagi peristiwa beberapa tahun yang lalu di Bangkok itu. Bahwa ketika tanganku sudah menyentuh celana dalam Tante Huan, tiba – tiba dia menepiskan tanganku, lalu mendorongku sambil berkata, “Jangan… jangan…”
Tapi kini, ketika tangan kananku leluasa saja menyelinap ke balik celana dalamnya. Dan… aduhai… aku menyentuh jembi yang luar biasa lebatnya…!
Kebetulan belakangan ini aku suka juga pada serambi lempit berjembvut lebat begini.
“Tante… sebelum kita lanjutkan semua ini, aku ingin pengakuan Tante sejujurnya. Apa sebabnya dahulu tante menolakku menyentuh serambi lempit Tante? padahal saat itu Tante sendiri yang mewnyergap dan menciumiku di dalam kamarku kan? Berarti Tante sudah duluan suka sama aku.”
“Jujur… saat itu aku takut ketahuan sama papamu. Kan almarhum itu rekan bisnis sekaligus bossku. Karena beliau jauh lebih tajir daripada aku. Makanya aku jadi takut… takut ketahuan dan takut dianggap merusak anak di bawah umur. Makanya aku terpaksa menolakmu. Padahal saat itu aku sudah mulai horny Don.
“Ya iyalah. Aku jadi sering masturbasi sambil membayangkan Tante.”
“Hihihiiii… sama Don. Aku juga sering masturbasi sambil membayangkan Donny yang pada saat itu sedang – sedangnya fresh dan cute,” sahut Tante Huan yang lalu memutar badannya jadi berhadapan denganku. Kemudian ia menanggalkan gaunnya, sehingga tubuh seksinya tinggal ditutupi oleh pakaian dalam yang sangat tipis dan transparant.
Dalam keadaan yang sangat menggiurkan itu, Tante Huan duduk di atas sofa. “Bagaimana? Apakah aku masih menarik di mata Donny?” tanyanya sambil menanggalkan penutup payudaranya yang tidak bisa disebut beha itu, karena sangat tipis dan transparantnya.
Aku berlutut di depan sofa itu, sambil mengusap – usap paha putih mulusnya. “Sangat menarik dan menggiurkan. Aku serasa bernostalgia, karena akan mendapatkan sesuatu yang tidak tercapai di masa remajaku.”
Tante Huan tersenyum sambil melepaskan penutup kemaluannya yang tidak bisa disebut celana dalam juga. Karena waktu masih mengenakan benda transparant itu mataku bisa melahap bentuk kemaluan berjembut tebal itu.
“Donny masih berpakaian lengkap begitu. Sedangkan aku sudah telanjang begini,” ucap Tante Huan sambil melepaskan dasi dan jasku.
Selanjutnya aku sendiri yang melepaskan celana panjang dan kemejaku. Sehingga tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuhku. Lalu kurentangkan kedua tanganku sambil tersenyum.
Tante Huan pun menghambur ke dalam pelukanku.
Ooo, aku seolah kembali ke masa laluku. Masa ketika masih dimanjakan oleh Papa dan Mama angkatku. Masa ketika Tante Huan masih sangat muda dan mencium bibirku dengan lahapnya, tapi lalu terputus di tengah jalan ketika aku ingin beranjak ke kebutuhan biologisku.
Tapi kini aku bisa membopong tubuh sexy yang sudah telanjang bulat itu ke atas bed. Lalu menggumulinya dengan segenap kehangatanku.
Semuanya kulakukan sampai Tante Huan benar – benar siap untuk melakukan sesuatu yang sudah bertahun – tahun kudambakan.
Dan… manakala tombak kejantananku menerobos celah surgawi di bawah perut Tante Huan, terdengar suara terengah, “Doooonny… ooooohhhh… gak nyangka rudalmu segede dan sepanjang ini…”
Lalu aku leluasa memenyetubuhinya sambil meremas payudara besarnya, sambil menjilati lehernya, sambil melumat bibirnya, sambil mengemut pentil toketnya… bahkan ketiaknya pun kujilati dan kusedot – sedot dengan segenap gairahku.
Tante Huan pun menggeliat dan mengelojot… meremas – remas bahu dan rambutku… diiringi rintihan – rintihan histerisnya yang berkepanjangan.
“Oooohhhh… Doooonnniiiii… ooooohhhhhh… ini… luar biasa enaknya Dooon… ini pertama kalinya aku merasakan disetubuhi yang sefantastis ini… oooohhhhh… Dooonnniiii… entotlah aku sepuasmu Dooon… aku sjudah menjadi milikmu sekarang Dooon… ooooohhhhh… entooot teruuus Doooniiii…
Aku memang lebih garang daripada biasanya. Terkadang kusedot leher Tante Huan sampai mereh kehitaman. Tapi Tante Huan justru senang dengan perlakuanku padanya. “Iya Dooon… cupangin leherku sampai hitam juga gak apa – apa. Sampai berdarah pun gak apa – apa. Enak Dooon… enaaaaak… “rengeknya sambil memejamkan sepasang mata sipitnya.
Bahkan ketika kami melakukannya dalam posisi doggy, Tante Huan minta agar aku melakukan spanking pada pantatnya.
Aku tak menyangka kalau Tante Huan suka pada sex yang hardcore. Tapi kulakukan juga permintaannya. Aku berlutut sambil memenyetubuhi Tante Huan yang sedang menungging, sambil mengemplangi sepasang buah pantatnya.
Plaaaaak… plooookkkk… plaaaaakkkkk… plooooookkkk… plaaaakkkkkk… ploooookkkk… plaaaaaaakkkkkk…!
Sementara rudalku menggenjot liangserambi lempitnya yang sudah becek ini, karena dia sudah dua kali orgasme waktu masih dalam posisi missionary tadi.
Maka bunyi kemplangan – kemplanganku di pantat Tante Huan, diiringi oleh bunyi unik dari arah serambi lempitnya yang tengah kuentot habis – habisan. Crekkkk… setttt… crekkk… sreeeeetttt… crekkkk… srettttt… crokkkkk… sretttttt… creeekkkk… sttttt… crokkkkk…! Tante Huan memang senang hardcore. Tapi dia cepat orgasme. Sementara kejantananku sedang garang – garangnya. Mungkin pada dasarnya aku senang hardcore juga. Sehingga ketika mendapatkan paassangan seksual yang laksana seekor harfimau betina ini, aku pun seolah menjelma jadi seekor harimau jantan yang sangat garang.
Aku tak bisa menghitung lagi berapa kali Tante Huan menikmati orgasmenya. Mungkin inilah yang disebut multi orgasme. Sedangkan aku, belum ejakulasi juga. Padahal tubuhku sudah bermandikan keringat. Tante Huan pun sama, sudah bermandikan keringat yang bercampur baur dengan keringatku.
Sampai pada suatu saat Tante Huan bertanya terengah, “Ooooh… Donny.. pa… pakai obat apa sih Don? Kok gak… gak ejakulasi juga? Pakai viagra ya?”
“Aku gak pernah pakai obat apa pun Tante. Aku kan masih muda. Belum membutuhkan obat – obatan seperti itu,” sahutku, “Tante mau istirahat dulu?”
“Iya Don. Keringatku sampai sudah mengering lagi di badanku. Enaknya sih mandi dulu,” sahutnya.
“Ayo kalau mau mandi dulu sih,” sahutku sambil melepaskan rudalku dari liang “cipet” Tante Huan.
Lalu dalam keadaan sama – sama telanjang kami melangkah ke kamar mandi.
Air hangat shower pun memancar dari atas kepala kami. Membuat sekujur tubuh kami basah. Hal ini malah membuat suasana semakin romantis, terutama karena aku belum ejakulasi.
Setelah menyabuni dan membilas tubuh kami, Tante Huan tampak segar kembali. Ia mendekap pinggangku di bawah pancaran air hangat shpwer sambil berkata, “Sekarang aku sudah siap lagi melayani kehebatanmu, Tuan Donny…”
“Berapa kali orgasme tadi?”
“Gak kehitung lagi saking lupa daratannya… yang jelas sering orgasmenya… baru sekali ini aku merasakan berkali – kali orgasme seperti tadi.”
Jemariku pun mulai menggerayangi liang serambi lempit Tante Huan. “Masih kuat berapa lama kuentot lagi serambi lempit Tante ini?”
“Sampai Donny puas saja. Hmmm… Donny sudah gak sabar lagi ya?”
Aku tidak langsung menjawab, karena sedang berusaha memasukkan rudalku ke dalam serambi lempit Tante Huan sambil berdiri di kamar mandi.
Dan ketika Tante Huan sudah tersandar di dinding kamar mandi, sementara rudalku sudah amblas ke dalam serambi lempitnya, kidung biarhi pun berkumandang lagi. Dengan denting – denting sakral bertaburkan bunga – bunga surgawi.
O, betapa nikmatnya memenyetubuhi wanita yang bertahun – tahun membuatku penasaran ini.
Tante Huan melingkarkan kedua lengannya di leherku, sementara aku semakin gencar memenyetubuhinya sambil mendekap pinggangnya.
Meski persetubuhan ini dilakukan sambil berdiri di kamar mandi, Tante Huan tetap merintih dan mendesah. ciuman hangatnya pun mendarat di bibirku bertubi – tubi.
Sementara rudalku semakin mengganas… seolah memompa liang serambi lempit berjembut lebat itu.
Meski baru saja selesai mandi, kini keirngat kami mengucur lagi dengan derasnya.
Sampai pada suatu saat, aku berbisik terengah, “Lepasin di mana Tante?”
“Sudah mau ejakulasi?” Tante Huan balik bertanya.
“Iyaaaa…” sahutku.
‘Di dalam mulutku aja Don. Aku ingin meminum sperma Donny, sebagai tanda mendalamnya perasaanku pada Donny…”
“Iiiiyaaaaa… ini udah mau meletussss…” ucapku sambil mencabut rudalku dari liang serambi lempit Tante Huan.
Spontan Tante Huan berjongkok di depanku dan langsung memasukkan rudalku ke dalam mulutnya. Disusul dengan urutan – urutan di badan rudalku dan isapan serta selomotannya.
Tak kiuasa lagi aku menahannya. Maka meletuslah lahar kenikmatanku di dalam mulut Tante Huan: Croootttt… croooottttt… crottt… crooootttt… crotttt… crottttttt… crooootttt…!
Tante Huan benar – benar menelan spermaku sampai habis, tak disisakan setetes pun…! Tentu saja aku terharu dibuatnya. Karena Tante Huan bukan wanita sembarangan. dia orang tajir melilit yang menjadi rekan bisnis Papa almarhum.
Tante Huan berdiri lagi sambil mendekapku dan berkata, “Ini pertama kalinya aku bisa orgasme berulang – ulang. Pertama kalinya bersetubuh sambil berdiri. Dan pertama kalinya menelan sperma lelaki.”
“Terima kasih Tante,” sahutku, “Semua yang telah terjadi memang mengesankan sekali.”
“Dan hubungan kita harus berlanjut terus Don.”
“Oke, “aku mengangguk sambil memutar kran shower. Air hangat pun memancar lagi dari shower di atas kepala kami.
Ya, kami harus mandi lagi, karena tubuh kami sudah keringatan kembali.
Setelah mandi, kami berpakaian kembali. Kemudian melanjutkan perundingan masalah bisnis di ruang tamu.
Kedatangan Tante Huan memang tak pernah kuduga sebelumnya. Tahu – tahu dia mau menginvestasikan uangnya sekaligus mau menginvestasikan… serambi lempitnya…!
Hidupku memang banyak kejutannya. Ada saja suatu hal yang tak pernah terpikirkan lalu datang secara tiba – tiba.
Seperti pada suatu hari…
Ketika petugas security mengantarkan seorang tamu, seorang wanita muda yang mengenakan gaun katun abu – abu polos itu, aku tercengang. Karena aku masih ingat bahwa wanita muda itu istri almarhum Oom Jaka.
Aku bangkit dari kursi kerjaku dan menyapanya, “Tante Marsha?”
Wanita muda yuang cantik dan berperawakan agak montok tapi tidak gendut itu mengangguk dengan senyum manis. Maka kucium tangannya, lalu cipika – cipiki dengannya.
Aku masih ingat benar, bahwa sebelum 40 hari meninggalnya Oom Jaka, aku sengaja datang sendiri ke rumah mendiang adik Bunda itu. Untuk menyerahkan amplop berisi uang dan dua dus besar kue – kue. Untuk membantu tahlilan 40 harian meninggalnya Oom Jaka. Saat itu Tanhte Marsha sendiri yang menerimanya.
Dan sekarang dia benar – benar datang ke kantorku.
Karena dia itu mantan istri pamanku, maka kuajak dia ke lantai dua. Ke private room. Karena aku tahu pasti dia akan menceritakan kesulitannya. Dan akan meminta bantuanku.
Di lantai dua kuajak Tante Marsha duduk di sofa ruang keluarga.
Aku duduk di depan sofa yang diduduki oleh Tante Marsha.
“Bagaimana? Tante datang ke sini tentu ada yang perlu kubantu kan?” tanyaku dengan nada sopan, karena biar bagaimana pun dia pernah menjadi istri pamanku.
Tante Marsha menatapku. Lalu menunduk dan menangis terisak – isak, “Iya Don… hiks… sejak Oom Jaka meninggal… aku… hiks… aku jadi seperti layang – layang putus talinya… tak tau lagi harus bagaimana… hikssss…”
Melihat dia menangis, aku pun langsung pindah ke sofa yang didudukinya. Lalu memndekap bahunya sambil berkata, “Tenang Tante… tenang. Aku akan membantu Tante. Kalau memang ada kesulitan, katakan saja padaku.”
Tante Marsha membenamkan mukanya ke dadaku sambil berkata terputus – putus, “Oom Jaka meninggalkan hutang yang cukup banyak. Mereka pada nagih pdaku. Sedangkan aku… mau bayar dari mana uangnya? Waktu tahlilan empatpuluh harinya juga kalau gak ada bantuan dari Donny takkan bisa tahlilan.”
“Berapa jumlah hutangnya semua?” tanyaku sambil menyeka air matanya dengan kertas tissue dari meja kecil di depanku.
“Enambelasjuta,” sahutnya.
Ah… kusangka hutangnya itu milyaran. Ternyata “hanya” enambelasjuta rupiah.
“Tante punya rekening tabungan?” tanyaku.
“Boro – boro punya tabungan Don… hiks… “Tante Marsha membenamkan dadanya lagi ke dadaku.
Dan gilanya… otakku jadi ngeres. Karena waktu memeluk dan mengusap – usap rambutnya ini, terasa benar padat kencangnya tubuh Tante Marsha ini. Tapi aku mau mengambil uang cash dari dalam kamarku. Maka kataku, “Tunggu sebentar ya.”
Aku berdiri dan melangkah ke dalam kamarku. Lalu kubuka brankas dan termenung sejenak. Akhirnya kuambil tiga ikat uang seratusribuan dan kumasukkan ke dalam amplop besar berwarna drill. Lalu aku kembali lagi ke ruang keluarga dan duduk di samping Tante Marsha lagi.
Kuberikan amplop berisi uang 30 juta itu kepada Tante Marsha sambil berkata, “Ini uang untuk membayar hutang – hutang almarhum. Sisanya pakai aja buat keperluan Tante sehari – hari.” sumber Ngocoks.com
Tante Marsha membuka amplop itu dan melihat isinya. “Banyak sekali Don. Aku hanya butuh enambelas juta.”
“Iya, sisanya untuk kebutuhan sehari – hari Tante dan anak – anak.”
“Aku belum punya anak Don,” ucapnya sambil memasukkan amplop berisi uang itu ke dalam tas kecilnya.
“Ohya?! Oom Jaka tidak meninggalkan keturunan sama sekali?”
“Waktu almarhum menikah denganku, statusnya sudah duda. Punya anak sih, tapi dari istri pertamanya yang sudah diceraikan. Denganku sama sekali belum menghasilkan keturunan.”
“Lalu… berapa lama Tante menjadi istri almarhum?”
“Baru dua tahun. Waktu menikah dengannya, usiaku baru duapuluhdua tahun, sedangkan almarhum sudah berusia empatpuluhan saat itu.”
“Jadi Tante sekarang baru berumur duapuluhempat tahun?”
“Iya Don. Makanya kalau bisa sih, aku mau bekerja saja di perusahaan Donny. Karena gak mungkin aku bolak – balik ke sini untuk terus – terusan minta bantuan sama Donny,” ucapnya dengan nada memohon.
“Mau bekerja di bagian apa Tan?”
“Bagian apa aja. Bagian cleaning service juga mau.”
“Hush… masa Tante secantik ini mau bekerja di bagian cleaning service?!” ucapku sambil memegang dan meremas tangannya yang hangat dan halus.
“Daripada nganggur… bagian apa juga aku bersedia Don.”
Bersambung… Aku tercenung sesaat. Ada yang ingin kukatakan tapi takut terjadi salah faham. Sampai akhirnya aku nekad berkata, “Tante akan kutempatkan di bagian yang sangat istimewa.” “Di bagian apa?” tanyanya dengan sorot ragu.
Sebagai jawaban, aku berbisik di dekat telinganya, “Tante bersedia menjadi kekasih rahasiaku?”
Tante Marsha tersentak. Menatapku dengan bola mata bergoyang perlahan. “Donny serius?”
“Sangat serius Tante. Tapi hubungan kita takkan bisa berlanjut ke perkawinan secara sah. Karena kalau sampai kita menikah, pasti keluargaku akan heboh. Tapi Tante akan kuperlakukan seperti istriku. Akan mendapatkan rumah, nafkah lahir – batin secara teratur. Bahkan kalau Tante sampai hamil pun aku siap menyediakan bekal untuk masa depan anaknya.
“Sekarang umur Donny berapa? Belum duapuluh tahun kan?”
“Sudah duapuluhdua… sebulan lagi juga sudah duapuluh tiga. Tante hanya setahun lebih tua dariku.”
Wajah Tante Marsha mendadak berubah ceria. Ia memegang tanganku sambil berkata, “Gak nyangka aku akan merasakan kebahaghiaan setelah sekian lamanya tenggelam dalam kesedihan dan kegelapan Don. Tapi jangan manggil tante lagi dong padaku ya. Panggil aja Marsha… karena aku juga tujuh bulan lagi baru genap duapuluhempat tahun.
“Iya… mulai saat ini aku akan memanggil Marsha… Marshaku…” ucapku.
“Dan mulai saat ini aku menjadi milik Donny… Donnyku…” kata Marsha sambil menatapku dengan sorot cerah. Membuatnya semakin cantik di mataku.
Maka tanpa basa – basi lagi kupagut bibir mungil sensualnya. Marsha pun melingkarkan lengannya di leherku. Dan balas melumat bibirku dengan penuh kehangatan.
Setelah lumatan kami terlepas, aku berkata setengah berbisik, “Di kamarku aja yuk. Biar lebih nyaman.”
Marsha mengangguk. Lalu kutuntun dia ke dalam kamarku. Setelah menutup dan menguncikan pintu, aku duduk di sofa kamar pribadiku sambil menarik pergelangan tangan Marsha. Dan kuletakkan bokongnya di atas kedua pahaku. Setelah ia duduk di atas pangkuanku, lenganku pun kulingkarkan di pinggangnya. Sambil bertanya, “Gimana perasaan Marshaku sekarang?
Marsha menggeleng, Malah sebaliknya. Seperti sedang bermimpi. Karena tak menyangka akan disukai oleh Donnyku…”
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanyaku sambil mempererat dekapanku.
“Terserah Donnyku. Apa pun yang diinginkan oleh Donnyku akan kuikuti,” sahutnya sambil merapatkan pipinya ke pipiku.
“Apakah tidak terlalu dini kalau kita melakukan bersebadan sekarang?” tanyaku sambil mengusap – usap paha putih mulusnya.
“Nggak, “Marsha menggeleng, “Aku malah sudah setahun lebih tidak pernah merasakannya.”
Tanganku menyelusup ke balik gaun katun Marsha sampai pangkal pahanya yang terasa hangat. “Aku sih pada waktu Marsha sedang nangis tadi juga udah mulai kepengen…”
“Ya udah lakukan aja sekarang. Aku siap melayanimu kok Donnyku Sayang…”
Sebenarnya tanganku sudah menyelinap ke balik celana dalamnya. Tapi kukeluarkan lagi sambil berkata, “Silakan buka busanamu… aku ingin tau bentuk tubuh wanita yang sudah menjadi milikku.”
Marsha mengangguk. Lalu turun dari pangkuanku. Kemudian berdiri di depanku sambil melepaskan gaun dan sepatunya. Sehingga tinggal beha dan celana dalam serba putih yang masih melekat di tuibuhnya.
“Boleh aku pipis dulu? ACnya dingin sekali, jadi aja pengen pipis, “katanya, yang kujawab dengan anggukan kepala dan senyum di bibir.
Bergegas Marsha masuk ke kamar mandi. Meninggalkanku dengan terawangan baru. Bahwa di mataku, Marsha itu nyaris sempurna. Atau bisa juga kukatakan sempurna untuk ukuran manusia biasa.
Aku tak menyangka semua ini. Bahwa Oom Jaka akan “mewariskan” istrinya yang masih muda itu padaku.
Ketika Marsha muncul dari kamar mandi, aku menyambutnya dengan ucapan, “Pakaian dalamnya biar aku yang buka Sayang. “Ini pertama kalinya aku menyebut kata Sayang padanya.
Marsha menurut saja. Ia duduk di sampingku dengan sikap manja yang gemesin. Bahkan lalu ia merebahkan kepalanya di atas pangkuanku. Sehingga aku bisa mengamati kecantikannya dari jarak yang sangat dekat.
“Telungkup dulu Sayang… aku mau melepaskan kancing behamu.” ucapku.
Marsha pun menelungkup dengan wajah di atas kedua pahaku. Lalu kulepaskan kancing kait beha putihnya. Marsha celentang lagi dan tetap meletakkan kepalanya di atas sepasang pahaku.
Lalu kelepaskan behanya.
Sepasang toket yang sangat indah pun terbuka di depan mataku. Toket yang tidak terlalu gede, tapi tidak pula kecil. Sangat proporsional. Sesuai dengan bentuk tubuhnya yang tinggi padat. Tidak kurus, tidak pula gemuk.
Tapi yang membuatku tercengang adalah ketika kuturunkan celana dalamnya, kemudian Marsha sendiri yang melepaskannya.
Wow… sebentuk kemaluan yang indah sudah terbuka di depan mataku. Kemaluan yang bersih dari jembut dengan bentuk yang begitu eloknya.
Sehingga aku tak sabaran lagi. Lalu mengangkat tubuh yang sempurna itu (untuk ukuran manusia biasa) dan meletakkannya dengan hati – hati di atas bed.
Aku pun menelanjangi diriku sendiri. Kemudian merayap ke atas perut Marsha yang sudah telanjang bulat itu.
Marsha menyambut kehadiranku di atas dadanya dengan senyum manis di bibirnya.
Aku pun langsung mencium bibir sensualnya itu, dengan gairah dan hasrat sepenuh hati.
Dan ketika kusentuh payudaranya, ternyata payudara Marsha masih kencang dan padat. Sehingga aku makin mengaguminya dan semakin bulat tekadku untuk memiliki dan merawatnya. Bukan sekadar mau melampiaskan nafsu birahi belaka.
Ada perasaan penasaran di dalam hatiku, ingin segera tahu seperti apa rasanya serambi lempit mungil dan imut – imut itu.
Sehingga aku pun agak buru – buru melorot turun, sehingga wajahku berada tepat di atas serambi lempit Marsha.
Kuusap – usap serambi lempit imut itu dengan lembut. Kemudian kuciumi dan kungangakan. Dan memperhatikannya dengan teliti. Aku heran ketika mengamati keadaan di dalam serambi lempit Marsha itu. Kenapa kelihatannya seperti masih perawan?
Ah, mungkin aku salah lihat. Masa Marsha yang sudah janda itu masih perawan?
Meski benakku masih menyimpan tanda tanya, kujilati serambi lempit Marsha dengan lahap. Sehingga ia mulai menggeliat dan menahan – nahan nafasnya.
Aku bukan hanya menjilati bagian dalam serambi lempitnya yang berwarna pink itu. Kelentitnya pun mulai kujilati secara intensif, disertai dengan isapan – isapan, yang membuat tubuh Marsha terkejang – kejang. Tentu saja aku melakukan semuanya ini sambil mengalirkan air li9urku sebanyak mungkin ke bagian dalam serambi lempitnya.
Cukup lama kulakukan semuanya ini.
Dan setelah merasa cukup banyak air liurku membasahi bagian dalam serambi lempit Marsha, akhirnya aku pun merangkak ke atas tubuhnya, sambil memegang leher rudalku, yang moncongnya sudah kuletakkan di ambang mulut serambi lempit Marsha.
Kemudian kudorong rudalku sekuat tenaga.
Tapi… sttttt… moncong rudalku “terpeleset” ke bawah. Sehingga harus kubetulkan letaknya agar pas menuju liang sanggamanya. Kemudian kudorong lagi sekuatnya.
Gila… meleset lagi…!
Betulkan lagi letak moncong rudalku. Dorong lagi sekuatnya.
Meleset lagi…!
Gemas juga aku dibuatnya. Kudorong sepasang paha Marsha selebar mungkin. Lalu kuletakkan lagi moncongnya di tempat yang kuanggap sangat tepat. Kemudian aku mengumpulkan tenagaku untuk mendorong lagi rudal ngacengku dengan kekuatan full.
Naaaah… kini mulai masuk kepala dan lehernya…!
Aku pun menghempaskan dadaku ke atas dada bertoket indah ini. Dan mengumpulkan tenaga untuk mendorong rudalku kembali. Sambil memegang sepasang toket yang berukuran medium ini, kudorong kembali rudalku sekuat tenaga.
Berhasil masuk separohnya. Dan… liang serambi lempit Marsha luar biasa sempitnya. Bahkan lebih sempit daripada liang serambi lempit perawan yang pernah kuambil perawannya.
Hal ini membuat benakku menyimpan tanda tanya yang lebih besar. Tapi aku takkan menanyakan apa – apa padanya. Kini aku mulai menarik rudalku perlahan – lahan. Kemudian mendorongnya lagi sampai masuk lebih dalam dari tadi. Tarik lagi perlahan – lahan… dorong lagi semakin dalam… tarik lagi perlahan – lahan, dorong lagi semakin dalam.
Dengan tekun kulakukan hal ini. Sampai liang serambi lempit super sempit ini bisa beradaptasi dengan ukuran batang kemaluanku.
Dan setelah liang serambi lempit Marsha benar – benar beradaptasi dengan ukuran rudalku, aku mulai memenyetubuhinya dengan gerakan perlahan dulu. Marsha pun mulai menggeliat – geliat sambil menahan – nahan nafasnya. Terkadang ia menatapku dengan senyum pasrah. Kemudian membiarkan bibirku menggeluti bibirnya.
Sampai pada suatu saat, aku mengangkat badanku dengan kedua tangan menahan tubuhku. Karena aku ingin melihat rudalku sendiri yang sedang keluar – masuk liang serambi lempit super sempit itu.
Ada darah di rudalku…!
Berarti Marsha masih perawan…!
Tapi mungkinkah kenyataan ini? Haruskah aku menanyakannya kepada Marsha?
Entahlah. Sekarang waktunya untuk memenyetubuhi Marsha. Bukan untuk bertanya jawab.
Karena itu dengan sepenuh gairah dan perasaan, aku mulai memenyetubuhi serambi lempit Marsha dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu cepat, tidak pula terlalu perlahan.
Terasa sekali batang kemaluanku maju – mundur di dalam liang yang super sempit dan… luar biasa enaknya…!
Marsha mulai menggeliat dan mengejang. Dengan kedua tangan meremas – remas kain seprai. Rintihan histerisnya pun mulai terdengar.
Doooon… ooooo… ooooohhhhh… Dooooniiii… ini… ini luar biasa enaknya Doooon… ooooh… Dooooniiiii… enak sekali Dooon… ooooohhhhh… belum pernah aku merasakan yang seenak ini Doooon… ooooohhhhh… Dooooniiiiii ini luar biasa enaknya Dooooon… ooooh… Doooon… Doooon …
Rintihan dan rengekan manja Marsha makin lama makin menjadi – jadi.
“Dooon… ooo… oooohhhh… Doooon… aku seperti melayang – layang gini Dooon… oooooh… Doooon… yang seperti ini belum pernah kurasakan sebelumnya… dan ooooh… Dooooniiiii… ini indah dan nikmat sekali Doooon…”
Bahkan setelah lebih dari setengah jam aku menyetubuhinya, Marsha mulai berkelojotan. Pasti dia mau orgasme. Aku pun tak mau kenikmatannya berubah menjadi siksaan. Karena itu aku pun menggencarkan entotanku.
Dan… manakala Marsha mengejang tegang, dengan perut agaj terangkat ke atas, aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin… sampai terasda mentok di dasar liang serambi lempit Marsha.
Lalu terjadilah sesuatu yang teramat indah. Bahwa liang serambi lempit Marsha berkedut – kedut kencang, bersamaan dengan mengejut – ngejutnya rudalku yang tengah memuntahkan lendir kenikmatanku.
Croootttt… croootttt… croooooooootttttt… crottttt… crooootttt… crottttt… crooootttttt…!
Kami sama – sama terkapar dan terkulai.
Tapi aku ingin segera membuktikan darah yang kulihat membalut rudalku waktu sedang memenyetubuhi Marsha. Maka kucabut rudalku dan langsung menyelidiki “keadaan” di bawah serambi lempit Marsha. Ternyata memang ada genangan dan percikan darah yang sudah mengering di kain seprai, persis di bawah kemaluan Marsha.
“Marshaku Sayang… aku bingung nih…” ucapku.
Spontan Marsha duduk. “Bingung kenapa Don?”
“Sebelum kusetubuhi tadi, Marsha masih perawan.”
“Ohya?! Mungkin aja. Karena almarhum tak pernah berhasil memasukkan rudalnya ke dalam serambi lempitku,” ucap Marsha.
“Sebelum menikah denganku, almarhum sudah mengidap DM.”
“Diabetes melitus maksudnya?”
“Iya. Penyakit itu juga yang merenggut nyawanya.”
“Coba jelasin sedetail mungkin. Apa sebenarnya yang pernah Marsha alami selama menjadi istrinya?”
Marsha pun menjelaskan secara mendetail seperti yang kuminta. Bahwa rudal almarhum Oom Jaka tidak pernah sempurna ereksinya. Lalu dicarinya akal. rudal almarhum hanya dijepit oleh kedua pangkal paha Marsha yang sudah dilumuri lotion. Lalu rudal almarhum diayun dalam jepitan pangkal paha Marsha yang sudah dilicinkan oleh lotion.
“Aku masih awam dalam masalah sex. Karena itu aku mengira keperawananku sudah hilang dengan sendirinya. Tapi… ternyata aku masih perawan tadi ya …” ucapnya sambil memperhatikan darah yang sudah mengering di kain seprai itu, “Pantesan tadi pada awalnya ada rasa sakit sedikit… tapi lalu rasa sakit itu hilang setelah rudal Donny memenyetubuhi liang serambi lempitku.
Aku pun melingkarkan lenganku di leher Marsha sambil berkata, “Tapi keperawananmu sudah kuambil Sayang. Apakah Marsha menyesal?”
“Nggak lah. Aku malah merasa bahagia karena telah menyerahkannya kepada cowok yang kucintai. Entah kenapa, sejak dibawa ke lantai dua ini, aku sudah jatuh cinta padamu Don. Dan ketika Donny menyetubuhiku tadi, cinta ini semakin mendalam. Aku… aku sangat mencintaimu Don…”
Lalu kupagut bibir yang agak ternganga itu dengan mesra… mesra sekali. Karena sebenarnya hatiku pun merasa bahagia atas semua yang telah terjadi ini.
Setelah ciumanku terurai, kupegang kedua tangan Marsha sambil berkata, “Aku pun merasa bahagia karena telah memilikimu. Mmm… karena ada luka akibat robeknya jangat perawanmu, aku takkan menyetubuhimu dulu selama tiga – empat hari. Nanti setelah luka di dalam serambi lempitmu sembuh, barulah aku akan menyetubuhimu lagi.
Marsha mengangguk sambil tersenyum manis. Manis sekali senyum wanita muda yang ternyata masih suci sebelum kusetubuhi tadi.
“Sekarang Marsha tinggal sama siapa di rumah?” tanyaku.
“Dengan ibuku. Tadinya dia tinggal di kampung. Tapi setelah Oom Jaka meninggal, dia tinggal di rumahku. Mungkin agar aku tidak kesepian tinggal sendiri.”
“Rumah itu sudah milik sendiri?”
“Bukan. Itu rumah kontrakan. Almarhum mengontrak rumah itu selama dua tahun. Tiga bulan lagi juga masa kontraknya habis.”
“Terus tadinya rencana Marsha bagaimana setelah kontrakannya habis? Mau diperpanjang?”
“Punya duit dari mana buat memperpanjang kontrakan rumah itu? Yah, tadinya sih kalau kontrakannya sudah habis mau pulang aja ke kampung. Ke rumah ibuku.”
Aku lalu teringat ke sebuah rumah yang tadinya akan kuberikan kepada Gayatri. Tapi karena hubunganku dengan Gayatri sudah diputuskan, apa salahnya kalau kuberikan kepada Marsha? Ya… Marsha berhak untuk mendapatkan rumah itu. Karena hatiku merasa bahagia setelah memilikinya dalam tempo sesingkat ini.
Maka setelah sama – sama mandi dan berkeramas, kuajak Marsha ke luar.
Sebelum menuju rumah yang akan kuberikan padanya itu, kubawa dulu Marsha ke factory outlet langgananku. Kubelikan beberapa helai gaun yang layak dipakai oleh Marsha. Kubelikan juga celana jeans, celana corduroy dan celana katun nbeserta baju – baju kausnya. Tak lupa, Marsha pun kubelikan beha dan celana dalam bermerk paling terkenal di seantero jagat ini.
Kemudian kubawa Marsha ke rumah yang akan kuberikan itu. Sebuah rumah yang lumayan megah. Rumah yang terdiri dari 2 lantai, berbentuk kotak minimalis. Di lantai bawah ada dua kamar tidur, di lantai dua pun ada kamar dua buah. Tentu saja kitchen, ruang tamu, ruang makan dan ruang keluarganya ada. Perabotannya pun sudah lengkap.
Tentu saja Marsha terkejut dan gembira sekali mendapatkan rumah yang cukup besar untuk ukuran keluarga kecil itu.
Bertubi – tubi Marsha mendaratkan ciumannya di pipi dan bibirku. Ucapan terima kasih pun berkali – kali ia ucapkan.
Setelah lonjakan kegembiraannya mereda, ia bertanya, “Bolehkah ibuku dibawa ke sini Sayang?”
“Tentu saja boleh. Malah aku senang kalau Marsha ada teman di sini. Nanti akan kucarikan pembantu juga. Karewna Marsha akan kuaktifkan di perusahaanku. Ohya, pendidikan terakhir Marsha sampai mana?”
“Cuma D3 di bidang kesekretarisan.”
“Oke. Kalau begitu Marsha akan kujadikan sekretaris pribadiku nanti ya. SUpaya mata Marsha terbuka… bahwa dunia ini luas sekali.”
“Iya Sayang. Aku sih dijadikan apa pun siap. Asalkan jangan disuruh menghentikan cintaku padamu.”
“Oooo… kalau yang satu itu takkan mungkin terjadi. Ayo sekarang kita jemput ibumu ke Sumedang.”
“Sebentar… aku ingin pakai gaun baruku dulu. Boleh?”
“Tentu aja boleh. Ayo gantilah pakaianmu di kamar mana akan dipilih sebagai kamarmu Sayang?”
“Kamar itu aja. Kelihatannya paling lengkap fiurniturenya kan?”
“Iya. Itu memang kamar utama. Pakailah gaun termahal dari FO tadi ya Sayang.”
“Iya Donnyku Sayang, “Marsha menjinjing beberapa kantong plastik berisi pakaian dari FO langgananku tadi. Lalu masuk ke dalam kamar paling depan, yang Marsha pilih sebagai kamarnya. Aku pun mengikutinya dari belakang, karena ingin menyaksikan seperti apa bentuk Marsha setelah mengenakan gaun termahal di FO langgananku itu.
Marsha tahu bahwa aku sudah berada di dalam kamar utama itu. Tapi tanpa keraguan dia menelanjangi dirinya, kemudian mengenakan beha dan celana dalam baru yang harganya sulit dijangkau oleh golongan menengah ke bawah itu.
“Donny akan sering nginap di sini nanti kan?” tanya Marsha setelah mengenakan beha dan celana dalam baru itu.
Aku bergerak ke belakangnya. Lalu memeluknya dari belakang sambil berkata, “Tentu saja Sayang. Setelah luka di dalam serambi lempitmu benar – benar sembuh, aku akan sering ngionap di sini. Tapi tentu tak bisa tiap hari aku menginap di sini, karena pekerjaanku bertumpuk terus, terkadang sampai larut malam aku masih bergelut dengan komputerku.
“Iya Sayang… soal itu sih aku mengerti. Sangat mengerti.”
“Sekarang serambi lempitmu masih terasa perih kan?”
“Iya… rada perih sedikit. rudalmu kegedean kali… hihihihiii…”
“Emangnya rudal almarhum seperti apa?”
“Jauh lebih kecil daripada rudal Donny. Gak bisa ereksi sempurna pula. Hanya tegak tali… tegang tapi terkulai. Akibat penyakitnya itu. Punya Donny kan ereksinya sempurna. Keras sekali. Makanya gak terlalu sulit memasuki liang serambi lempitku yang masih perawan juga. Kudengare orang lain suka kesulitan di malam pertamanya.
Kemudian Marsha mengenakan gaun yang kuanjurkan untuk dipakai itu. Gaun sutra berwarna hijau tosca polos, tanpa corak secuwilku. Tapi gaun itu memang gaun impor. Sehingga setelah mengenakan gaun itu, Marsha jadi tampak lebih cantik.
“Hmmm… Marsha jadi makin cantik dalam balutan gaun baru ini. Aku bangga memilikimu Sayang,” ucapku disusul dengan kecupan mesra di bibirnya. “Tapi ada yang lupa tadi ya… aku lupa membelikan sepatu untukmu.”
“Ah, jangan dipikirkan Don. Sepatu kan bisa kapan – kapan lagi belinya. Pakaian aja sudah berjuta – juta tadi belinya. Bikin aku malu sama Donny.”
“Kubelikan gaun dengan pabriknya sekali pun, nilai Marsha jauh lebih mahal di hatiku,” sahutku yang kususul dengan ciuman hangat di pipinya.
Hari mulai malam ketika sedan putihku sudah kularikan menuju Sumedang. Tapi belum malam benar. Ketika sedan putihku tiba di depan rumah Marsha, jam tanganku baru menunjukkan pukul 20.30.
Setelah Marsha mengetuk pintu sambil berseru, “Buuu… !”, pintu pun dibuka oleh seorang wanita setengah baya. Ternyata ibunya Marsha masih kelihatan muda. Pasti dia kawin dini dengan ayah Marsha dahulu.
“Ini anak teh Ami Bu,” kata Marsha setelah masuk ke dalam rumah sederhana itu.
“Oh… iya… iya… kan waktu Jaka meninggal juga datang, lalu ibunya datang beberapa saat kemudian,” sahut wanita setengah baya yang masih memancarkan paaras eloknya itu.
Aku pun lalu mencium tangan ibunya Marsha, yang dilanjutkan dengan cipika – cipiki.
“Siapa namamu Nak?” tanya ibunya Marsha.
“Donny Bu.”
“Sekarang Ibu ganti pakaian dulu. Kami akan membawa Ibu ke suatu tempat yang luar biasa nyamannya,” kata Marsha sambil memegang bahu ibunya.
“Malam – malam begini mau piknik?”
“Bukan mau piknik Bu. Mauj memperlihatkan sesuatu yang… ah… nanti aja jelasinnya. Biar jadi kejutan buat Ibu. Sekarang ganti baju dulu. Sekalian bawa baju untuk ganti Bu. Karena kita akan menginap di sana.”
“Iya, iyaaa…” sahut wanita setengah baya itu sambil melangkah ke dalam.
“Ibumu masih muda sekali,” ucapku sambil menepuk tangan Marsha yang sudah sama – sama duduk di ruang tamu.
“Ibu melahirkanku pada waktu usianya baru enambelas tahun. Maklum Ibu tinggal di kampung. Umur limabelas juga sudah dikawinkan.”
“Berarti sekarang umur Ibu baru empatpuluhan.”
“Tigapuluhsembilan menuju empatpuluh.”
“Pantasan kelihatannya masih muda sekali.”
Pantaslah Marsha cantik, karena ibunya juga cantik. Membuatku teringat ucapan orang – orang tua, bahwa “buah jatuh takkan jauh dari pohonnya”.
Beberapa saat kemudian, ibunya Marsha sudah muncul dengan mengenakan baju jubah hitam, dengan hijab hitam pula. Tapi dalam pakaian muslimah itu ibunya Marsha malah kelihatan lebih cantik lagi. Membuatkuj teringat pada Gayatri dan ibunya (Tante Agatha).
Kami bertiga pun berangkat
Beberapa saat kemudian, Marsha dan ibunya sudah berada di dalam sedan putihku, yang sudah kujalankan kembali menuju kotaku. Marsha duduk di samping kiriku, ibunya duduk di belakang.
“Nama Ibu siapa?” tanyaku pada suatu saat kepada Marsha.
“Eti…” sahut Marsha, “lengkapnya sih Eti Rohaeti.”
“Antik namanya ya.”
“Iya… nama jadul,” sahut Marsha sambil menoleh ke belakang dan berkata kepada ibunya, “Bu… aku dan Donny sudah saling mencintai. Gak apa – apa kan?”
“Gak apa – apa. Malah bagus. Daripada kelamaan menjanda, bisa menimbulkan banyak fitnah.”
“Maksudku… aku kan mantan istri pamannya. Gak apa – apa?”
“Gak apa – apa. Setahu ibu sih yang dilarang itu mengawini mantan istri ayah atau mantan suami ibu. Kalau mantan istri paman sih tidak ada ketentuannya. Apalagi Jaka itu kan paman dari pihak ibunya Donny.”
Tanpa keraguan, meski di belakang ada ibunya, Marsha mengecup pipi kiriku sambil berkata setengah berbisik, “Dengar sendiri kan apa kata Ibu barusan?”
Aku cuma tersenyum.
Sedan putihku meluncur terus di tengah kegelapan malam.
Jalanan yang lengang membuatku bisa lebih cepat mencapai rumah yang sudah kuberikan kepada Marsha itu.
Bu Eti turun dari sedan putihku sambil celingukan. “Wah… rumah ini megah sekali Sha. Rumah punya siapa ini Sha?” tanya Bu Eti kepada anaknya.
Aku yang menjawab, “Rumah ini punya Marsha Bu.”
Bu Eti terbelalak. Mengguncang bahu Marsha sambil bertanya, “Beneran ini rumahmu Sha?”
“Iya Bu. Dan Ibu harus tinggal di sini juga. Karena aku kesepian kalau harus tinggal sendirian di rumah sebesar ini.”
Marsha mengantar ibunya untuk mengitari setiap penjuru rumah baru ini. Sementara aku duduk saja di ruang keluarga, sambil merasakan letihnya bekas nyetir tadi.
Tak lama kemudian Marsha muncul tanpa ibunya.
“Ibu pengen di kamar lantai dua Don. Dia seneng sekali di situ.”
“Iya biarin aja. Malah bagus. Di lantai bawah ada yang nunggu, di lantai atas juga ada yang nunggu. Biar selalu bersih .”
“Ibu sih rajin Don. Pasti lantai dua dibikin bersih dan mengkilap nanti. Coba samperin dulu Ibu gih. Aku mau ganti baju dulu, sekalian mau masak air. Donny mau bikin minuman apa?”
“Di kitchen ada kulkas. Di situ banyak soft drink botol dan kaleng. Gak usah masak air segala. Kalau mau minum yang panas, kan ada dispencer.”
“Oh iyaaa… aku mau ganti baju dulu ya,” ucap Marsha sambil melangkah ke dalam kamar utama, “Samperin Ibu dulu di atas Don. Biar dia ngerasa sudah diijinkan oleh Donny untuk menempati kamar di lantai dua itu.”
“Rumah ini sudah menjadi milikmu Sayang. Jadi kalau mau melakukan apa pun tak usah minta izin lagi dariku,” ucapku. Tapi aku melangkah juga ke tangga menuju lantai atas.
Di lantai dua ada dua kamar juga seperti di bawah. Kulihat kamar di paling pinggir menyala lampunya. Berarti Bu Eti memilih kamar yang jendelanya menghadap ke arah jalan. Mungkin supaya bisa memandang keramaian lalu lintas manusia dan kendaraan di siang hari.
Kubuka pintu kamar itu. Mungkin Bu Eti sedang memindahkan pakaiannya dari tas pakaian ke lemari yang masih kosong itu.
Tapi apa yang kulihat? Ibunya Marsha itu sedang rebahan, dengan hanya mengenakan lingerie. Kaki kirinyha terselonjor, tapi kaki kanannya menekuk dengan telapak kaki menginjak kasur sementara lututnya terlipat seperti sedang berjongkok. Masalahnya… paha dan betisnya begitu putih… begitu mulus…
Oi Maaak… apa yang sedang terjadi di dalam batinku ini? Kenapa rudalku langsung ngaceng menyaksikan pemandangan yang sangat indah itu? Aku pun iseng melangkah ke depannya, karena Bu Eti membelakangi pintu yang kumasuki barusan. Dan… edaaaan… apa yang kulihat benar – benar membuatku tergetar hebat.
Apakah dia biasa tidur tanpa celana dalam atau bagaimana?
Aku berusaha menindas segala hal yang bisa merusak suasana ini. Lalu aku keluar lagi dari kamar di lantai dua itu. Dan menuju kamar Marsha lagi di lantai bawah.
Kulihat Marsha sudah mengenakan kimono putih. Aku pun berusaha untuk melupakan apa yang sudah kulihat di lantai dua barusan.
“Ibu sudah tidur nyenyak di atas,” ucapku sambil merebahkan diri di atas bed.
“Udah tidur? Hmm… Ibu memang terbiasa tidur setelah sholat isya. Tapi jam tiga atau setengah empat sudah bangun lagi biasanya sih. Donnyku mau tidur di sini sekarang kan?”
“Nggak. Aku mau tidur di rumah Bunda. Besok pagi aku ke sini, sekalian jemput Marsha untuk mulai bekerja di kantorku.”
“Aku mulai bekerja besok pagi?”
“Selama sebulan ikut training dulu. Besok ada sekretaris senior yang akan melatih Marsha. Sekretaris senior itu bernama Wien. Aku biasa memanggilnya Mbak Wien. Dia itu sekretaris dirut. Dan nanti, kalau sudah aktif, kedudukan Marsha lebih tinggi dan lebih santai daripada dia. Karen dia itu sekretaris dirut, sementara Marsha akan menjadi sekretaris komut.
“Iya, aku mengerti Don.”
“Tapi meski pun akan menduduki jabatan yang lebih tinggi dari Mbak Wien, Marsha harus mengikuti pelatihannya dengan patuh dan disiplin ya.”
“Siap Bossku…”
“Sekarang aku mau pulang dul;u. Jangan lupa kunci semua pintu keluar. Tapi gak usah takut, di sini sangat aman. Karena senantiasa dijaga oleh satpam.”
Tak lama kemudian aku sudah berada di dalam sedan putihku, meninggalkan rumah Marsha, menuju rumah Bunda.
Jujur… sejak melihat paha putih mulus ibunya Marsha tadi, aku terangsang sekali. Tapi aku tak mau merusak suasana yang sudah kuatur sedemikian rapinya.
Tapi hasrat biologisku harus disalurkan kepada… Bunda…!
Untung aku punya ibu kandung yang selalu mengerti keinginanku, termasuk dalam masalah sex.
Hari memang sudah larut malam ketika aku tiba di rujmah Bunda. Dan aku selalu membekal kunci cadangan untuk membuka pintu garasi. Dari garasi aku bisa masuk ke kamar Bunda tanpa harus membuka kunci lain lagi.
Kebetulan Bunda baru selesai mandi ketika aku masuk ke dalam kamarnya.
“Tengah malam gini kok mandi Bun?” sambutku sambil memeluk Bunda yang cuma melilitkan handuk di badannya.
“Tadi café ramai sekali. Sampai jam duabelas malam baru bubar. Ada anak orang gedean ulang tahun,” sahut Bunda, “Makanya malam – malam juga bunda mandi, supaya gak bau keringat dan bumbu masakan.”
“Berarti sekalian nyediain serambi lempit bersih dong buat anak kesayangan Bunda ini,” sahutku sambil melepaskan handuk itu dari tubuh Bunda. Dan Bunda tersayang itu pun langsung telanjang bulat di depan mataku.
“Hmmm… udah kangen ya sama serambi lempit bunda,” ucap Bunda sambil memijat hidungku.
“Iya Bun… dari tadi siang aku inget terus sama Bunda,” sahutku sambil memeluk Bunda dari belakang, sambil merayapkan tanganku ke bawah perutnya pula. “Wow… serambi lempit Bunda baru dicukur nih… asyiiiik… bisa nyaman menjilatinya… !”
Bunda merayap ke atas bed, lalu celentang sambil berkata, “Jilatin deh serambi lempit bunda sepuasmu Sayang.”
“Sebentar… pintunya harus dikunci dulu. Biar Donna jangan nyelonong ke sini. Aku cuma ingin menyetubuhi Bunda malam ini,” ucapku sambil bergerak ke arah pintu, lalu menguncinya.
“Donna gak bakalan ganggu kita. Dia kan lagi mens.”
“Ohya?! Baguslah… aku memang ingin konsentrasi sama Bunda aja malam ini,” sahutku sambil melepaskan segala yang melekat di tubuhku. Setelah telanjang aku pun melompat ke atas bed Bunda. Menghimpit Bunda yang sudah celentang pasrah.
Aku mulai dengan mencium bibir Bunda. Kemudian mengemut pentil toket kirinya sambil meremas toket kanannya.
Lalu melorot turun sampai wajahku berhadapan langsung dengan serambi lempit Bunda yang baru dicukur bersih itu.
Dengan lahap kujilati serambi lempit Bunda yang sudah dingangakan oleh Bunda sendiri, sementara jari tengahku pun diselusupkan ke dalam liang serambi lempit Bunda. Untuk mengotak – atik di dalam liang serambi lempit Bunda.
Tak cuma itu. Aku pun melanjutkannya dengan menjilati kelentit Bunda sambil sesekali mengisapnya kuat – kuat, sehingga kelentit Bunda jadi tampak agak “mancung”.
Bunda menggeliat – gliat dan mendesah – desah sambil mengusap – usap rambutku. Entah seperti apa pikiran Bunda dalam saat – saat seperti ini. Tapi Bunda takkan tahu bahwa sekali ini aku sedang membayangkan sedang siap – siap untuk menyetubuhi ibunya Marsha…!
Ya… jujur saja. Kali ini aku tidak benar – benar kangen sama Bunda. Aku hanya ingin menyalurkan nafsuku yang tersekap di dalam jiwaku ini. Menyalurkan keringinanku untuk menggaul;I perempuan setengah baya. Karena aku selalu mendapatkan kepuasan plus setiap kali menyetubuhi wanita setengah baya.
Aku sudah hafal “jalan” menuju liang sanggama Bunda. Maka ketika aku mendorong rudalku yang sudah ngaceng berat ini… rudalku langsung amblas ke dalam liang serambi lempit Bunda… bleeessss…!
Lalu mulailah aku mengayun rudalku, yang bisa langsung dalam kecepatan normal. Karena aku sudah hafal seluk – beluk serambi lempit Bunda.
Seperti biasa, rintihan – rintihan bunda mulai terdengar. Tapi Bunda sudah bisa mengontrol diri. Rintihannya seolah bisikan di telingaku. Tidak pernah meraung – raung keras.
“Aaaaah… Doooon… aaaaah… Dooooniiii… aaaaaah… Dooooon… bunda tak bisa lagi ditinggalkan terlalu lama olehmu Sayang… karena kamu selalu membuat bunda puas… ooooohhhh… entot terus Dooon… iyaaaa… iyaaaaaa… iyaaaaaaa… iiiiyaaaaaa… entot terus Sayaaaang… entooooot …
Aku sendiri memang sedang sangat bergairah untuk memenyetubuhi Bunda. Karena diam – diam aku sedang membayangkan sesuatu… membayangkan sedang memenyetubuhi serambi lempit ibunya Marsha yang berjembut tebal itu…!
Aku hanya ingin menyalurkan hasrat biologisku. Karena itu, ketika Bunda berkata “nanti lepasin bareng ya, biar nikmat”, aku mengiyakan saja.
Memang malam ini aku ingin menyalurkan nafsu birahiku. Tapi bukan ingin berlama – lama menyalurkannya.
Maka ketika Bunda mulai berkelojotan, aku pun menggencarkan entotanku. Tak ubahnya pebalap sepeda yang sedang melakukan sprint ketika garis finisdh sudah tampak di mata mereka.
Kuentot liang serambi lempit Bunda segencar mungkin. Lalu ketika Bunda mengejang tegang, aku p[un menancapkan rudalku sedalam mungkin, sehingga moncong rudalku mentok di dasar liang mserambi lempit Bunda.
Pada saat itulah aku dan Bunda sama – sama menahan nafas. Lalu detik – detik terindah itu pun terjadi. Bahwa ketika liang serambi lempit Bunda berkedut – kedut kencang, rudalku pun mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir surgawiku.
Jrottttttt… jrooootttt… crettt… jropooootttttt… jrottttt… jrooootttt… jrooootttt…!
Kami pun terkapar dan terkulai lemas di pantai kepuasan.
Lalu tertidur dengan nyenyaknya, dalam keadaan sama – sama telanjang bulat.
Esok paginya aku terbangun sambil menggeliat. Bunda tidak ada lagi di atas bednya. Mungkin dia sudah berangkat ke pasar untuk belanja kebutuhan café.
Aku pun turun dari bed, langsung masuk ke kamar mandi Bunda. Dan mandi sebersih mungkin.
Selesai mandi kupakai pakaian formal yang kuambil dari kamarku. Karena aku mau ke kantor, tapi mau menjemput Marsha dulu di rumah yang sudah kuhibahkan padanya itu.
Bunda pun muncul dari belakang, sambil membawa sepiring toaster (roti bakar) isi daging. Bunda sudah tahu benar kesukaanku, roti bakar isi daging, tapi jangan pakai daging kornet. Kecuali kalau kornet impor. Karena kornet lokal tak ada yang enak. Dagingnya pun malah dihancurin begitu. Sementara kalau kornet impor, digodognya mnenggunakan susu murni.
Karena itu Bunda suka pakai daging cincang yang ditumis sendiri, untuk isi roti bakarku.
Kopi yang digunakan pun bukan kopi biasa, tapi kopi arabica Aceh Gayo, yang menurutku paling enak di dunia (asalkan jangan beli merk asal – asalan).
Setelah menghabiskan roti bakar dan kopi panas, aku pun pamitan pada Bunda untuk berangkat ke kantor. Aku tidak menyampaikan kata sepatah pun mengenai mantan istri Oom Jaka itu. Karena aku ingin merahasiakannya.
Kemudian aku menjemput Marsha di rumahnya.
Bu Eti mengantarkan kepergian anaknya sampai pintu pagar. “Pulangnya kirimin oleh – oleh yaaa, “serunya yang dijawab dengan anggukan kepala Marsha.
Setelah mobilku bergerak, aku berkata, “Nanti waktu Marshaku training, aku akan membelikan pakaian buat Ibu.”
“Nggak usah terlalu ngerepotin Don,” sahut Marsha.
“Di rumah Ibu gak pernah pakai jilbab kan?” tanyaku.
“Nggak. Dia hanya pakai jilbab kalau mau bepergian aja,” sahut Marsha.
“Aku ingin beliin daster, kimono dan sebagainya. Pokoknya untuk sehari – hari di rumah aja. Tapi kalau pakaian untuk bepergian, nanti Ibu akan kuajak serta. Biar beliau memilih sendiri pakaian yang disenanginya.”
“Oleh – oleh untuk Ibu sih cukup aneh kedengarannya.”
“Memangnya apa yang paling disenanginya?”
“Main PS. dia sering asyik sendiri di rumah sambil main PS.”
“Hahahaaa… masa sih?!”
“Serius. Coba nanti beliin DVD game untuk PS yang baru, pasti dia senang sekali.”
“Tapi sekarang kan Ibu gak bawa PS playernya.”
“Iya. Mungkin disangkanya hanya semalam dua malam dibawa ke sini. Padahal sekalian dibawa pindah.”
“Nanti deh kubeliin PS playernya.”
“Dia sih gak usah yang canggih – canggih Don. Dibeliin PS satu juga senang.”
“Hush… PS sekarang kan sudah PS empat. Masa masih mau beli PS satu?”
“Takutnya kalau terlalu canggih, Ibu malah kesulitan mainkannya. Maksimal PS dua aja deh.”
“Memangnya masih ada toko yang jual PS dua?”
“Nggak tau. Gak pernah lihat – lihat ke toko yang jual PS sih. Aku malah gak suka main PS. Abisin waktu doang.”
“By the way… serambi lempitnya masih terasa perih gak?”
“Sudah agak mendingan. Mungkin besok sih sembuh total. Kenapa? Donny udah gak sabar ya… pengen ML lagi denganku?”
“Gak sih. Aku ingin mengutamakan kesembuhan lukanya dulu.”
Tak lama kemudian sedan putihku sudah tiba di tempat parkir khusus buatku di parkiran kantorku. Di sini hanya 2 mobil yang boleh parkir. Mobil komut dan mobil dirut.
Lewat interphone kupanggil sekretaris dirut agar menghadap ke ruang kerjaku. sumber Ngocoks.com
Sebelum Mbak Wien datang, aku sudah bilang pada Marsha, bahwa dia akan kusebut sebagai saudara sepupuku. Marsha mengangguk dan mengerti, bahwa di dalam suatu kantor suka banyak hal – hal yang harus disamarkan.
Tak lama kemudian, Mbak Wien muncul. Dengan tatapan dan senyum yang menggoda. Aku tahu apa maksud senyum yang seperti itu. Karena ia seolah sudah menjadi haremku. Dan belakangan ini sudah cukup lama aku tidak menggaulinya.
Tapi saat itu ada Marsha yang sedang ke toilet. Maka cepat kuletakkan telunjuk di bibirku. Dan cepat berkata, “Ada saudara sepupuku yang akan kuangkat sebagai sekretarisku sendiri. Dia sudah D3 kesekretarisan. Tapi tolong training dia ya Mbak. Karena dia belum pernah bekerja di mana pun.”
“Ogitu. Siap Boss.”
“Orangnya sedang di toilet sebentar.”
“Iya, “Mbak Wien mengangguk dengan sikap formal lagi, “Ohya… terimakasih transfer yang kemaren Boss.”
Aku cuma menjawab dengan anggukan kepala, karena Marsha sudah keburu muncul dari toilet.
“Nah ini saudara sepupuku Mbak. Namanya Marsha.”
Spontan Mbak Wien berdiri, lalu menjabat tangan Marsha sambil menyebutkan namanya, “Wien.”
Marsha pun menyebutkan namanya, meski sudah kusebutkan barusan.
“Saudara sepupu Big Boss cantik sekali. Bisa jadi primadona kantor ini nanti,” ucap Mbak Wien sambil memegang kedua tangan Marsha.
“Ah Mbak bisa aja, “Marsha tersipu.
“Kira – kira trainingnya berapa hari Mbak?” tanyaku.
“Tergantung daya tangkap Dek Marshanya Boss. Kalau daya tangkapnya bagus, seminggu juga selesai. Dia sudah D3 kesekretarisan kan,” sahut Mbak Wien.
“Nggak usah keburu – buru. Santai aja,” ucapku, “Pokoknya training sampai benar p- benar matang. Karena nantinya akan mengerjakan tugas – tugas besar.”
“Siap Big Boss,” sahut Mbak Wien dengan sikap formal.
“Sama Bu Kaila laporkan aja, Mbak Wien mendapat tugas untuk melatih calon sekretaris pribadiku,” ucapku.
“Siap,” sahut Mbak Wien.
Lalu aku memegang bahu Marsha sambil berkata, “Aku mau mencari barang – barang untuk Ibu. Jangan pulang dulu sebelum aku datang ya.”
“Iya,” sahut Marsha sambil mengangguk.
Kemudian aku meninggalkan mereka. Mengambil tas kerjaku dan menuju tempat parkir mobilku.
Sesuai dengan rencana, kubelikan beberapa helai gaun tidur, kimono dan sebagainya di FO langgananku. Semuanya untuk ibunya Marsha. Semuanya kubayar dengan janji kalau ukurannya tidak cocok akan segera ditukarkan lagi.
Setelah meninggalkan FO itu, aku mengarahkan sedan putihku ke daerah toko – toko elektronik. Untuk membeli PS4 dan dvd – dvdnya.
Kemudian kuarahkan sedan putihku menuju rumah Marsha.
Aku ingin memberi kejutan kepada Bu Eti. Karena itu kubuka kunci pintu samping dengan kunci cadangan yang ada padaku. Lalu aku mencari – cari Bu Eti di lantai bawah. Tidak ada.
Maka aku pun menaiki tangga menuju lantai dua, sambil menjinjing kantong – kantong plastik berisi oleh – oleh untuk ibunya Marsha. Aku berjalan mengendap – endap ke pintu kamar yang paling depan itu. Lalu kubuka pintu itu perlahan – lahan.
Dan… apa yang kulihat? Lebih hot daripada yang kulihat kemaren… ibunya Marsha menelentang dalam keadan telanjang bulat, sambil bermasturbasi…!
Dia tidak menyadari kehadiranku, karena ia sedang menelentang sambil memejamkan matanya, sementara aku datang dari arah kepalanya. Maka perlahan – lahan kuletakkan kantong – kantong plastik itu di lantai dekat bed. Lalu dengan mengendap – endap aku melangkah ke arah samping tubuh telanjang bulat itu.
Bu Eti memang tidak secantik Marsha. Tapi dia memang eksotis. rudalku pun spontan ngaceng setelah menyaksikan apa yang sedang dilakukan oleh ibunya Marsha itu.
Dan… aku nekad… memegang tangannya yang sedang mencolok – colok liang serambi lempit berjembut lebat itu.
Bu Eti membuka matanya dan spontan serambi lempitik, “Aaaaaaaaawwww… !”
Bersambung… “Tenang Bu. Aku tidak heran melihat Ibu bermasturbasi. Karena Ibu masih muda. Tentu masih normal… masih membutuhkan sentuhan lelaki…” ucapku sambil mencium pipinya yang terasa hangat. “Iiii… ibu… ma… mau pakai baju dulu Don… oooohhhh… “Bu Eti meronta.
Tapi aku cepat menghimpitnya sambil berkata, “Sama aku mendingan terbuka aja Bu. Santai aja. Aku justru suka sekali melihat Ibu telanjang begini. Dan menurutku, Ibu masih sangat normal… masih membutuhkan sentuhan lawan jenis…”
“Tapi… Marsha mana?”
“Marsha sedang latihan kesekretarisan di kantorku. Dia kan bakal dijadikan sekretaris Bu. Tenang aja… Marsha takkan pulang sebelum aku menjemputnya ke kantor nanti sore.”
“Terus ibu harus gimana sekarang? Ooooh… ibu jadi malu sama Donny,” Ucap Bu Eti sambil menutupi muka dengan kedua tangannya.
“Kalau begitu, aku juga mau telanjang ya. Biar Ibu gak merasa malu lagi,” ucapku sambil turun dari bed untuk melepaskan sepatu, kaus kaki dan seluruh busanaku.
Dalam keadaan telanjang bulat, dengan rudal sudah ngaceng pula, aku merentangkan kedua tanganku sambil berkata, “Sekarang aku juga sudah telanjang, seperti Ibu. Jadi gak usah ada perasaan malu lagi di antara kita kan Bu?”
Bu Eti tercengang, dengan pandangan terpusat ke batang kemaluanku yang memang sudah ngaceng sejak tadi.
“Iii… ini Donny mau apa?”
“Ibu jangan munafik. Ibu membutuhkan sentuhan lelaki kan?”
Seperti terhipnotis, Bu Eti mengangguk perlahan.
“Nah aku sengaja datang sendirian ke sini, karena ada dua hal. Yang pertama, aku sangat terangsang waktu Ibu baru datang tadi malam. Ibu mengenakan lingeri putih dan tak mengenakan celana dalam waktu tidur tadi malam kan?”
“Kok Donny bisa tau?”
“Tadinya ada sesuatu yang mau kubicarakan dengan Ibu. Tapi Ibu sudah tidur tanpa mengenakan celana dalam. Sehingga aku cukup lama menyaksikan betapa merangsangnya serambi lempit Ibu itu. Itulah sebabnya aku datang ke sini. Sekalian mengantarkan baju – baju baru untuk di rumah dan juga PS, yang kata Marsha kegemaran Ibu.
“Ja… jadi… “Bu Eti tak bisa melanjutkan kata – katanya karena aku sudah melompat ke atas bed, lalu menghimpitnya sambil berkata, “Kita tidak usah munafik Bu. Kita saling membutuhkan. Ibu membutuhkan lelaki segar, aku pun sudah tergiur oleh Ibu yang begini eksotik di mataku.”
“Jadi Do… Donny mau… mau…”
“Iya… mau menggauli Ibu. Itu pun kalau Ibu bersedia kugauli. Kalau tidak mau, aku takkan memaksa.”
“Ta… tapi… Donny kan calon suami Marsha.”
“Iya… orang bilang kalau kawin dengan seorang perempuan, harus kawin juga dengan keluarganya. Hihihihiiii… iya kan Bu?”
“Marsha itu cantik Don. Masa mau ngegares ibu juga?”
“Marsha memang cantik. Tapi Ibu jauh lebih seksi di mataku,” sahutku sambil meremas payudara Bu Eti pelan – pelan.
“Ibu sih mau aja digauli olehmu. Tapi bagaimana kalau Marsha sampai tau nanti?”
“Itu urusanku Bu. Marsha itu sudah siap untuk mengikuti apa pun yang akan kulakukan.”
“Iyalah… Marsha pasti manut sama Donny, karena Donny sangat tampan begini…”
“Jadi Ibu sudah sepakat untuk kugauli sekarang?”
“Terserah Donny aja. Ibu mau mengikuti keinginan Donny aja, seperti Marsha manut pada Donny.”
“Mmmm… aku senang sekali mendengar kesediaan Ibu yang semalaman tadi terbayang – bayang terus di pelupuk mataku,” ucapku yang disusul dengan ciuman hangat di bibir Bu Eti yang sensual itu.
Bu Eti memejamkan matanya sambil mendekap pinggangku. Bahkan sesaat kemudian ia melumat bibirku dengan hangatnya.
“Rasanya seperti bermimpi. Karena tak menyangka sedikit pun kalau Donny mau sama Ibu.”
“Jangan suka rendah diri Bu. Ibu ini sangat eksotis dan seksi sekali di mataku. Karena itu aku sengaja meninggalkan Marsha di kantor, karena ingin mewujudkan lamunanku… untuk memiliki Ibu…” ucapku yang kususul dengan mengulum pentil toket kiri Bu Eti dan meremas toket kanannya.
Lalu, tanpa mempedulikan betapa lebatnya jembut Bu Eti, aku melorot turun dan langsung menyibakkan jembut tebal itu, kemudian menjilati bagian dalam serambi lempitnya yang ternganga kemerahan itu.
“Oooohhh… Donny… kalau tau akan dijilatin begini, pasti ibu cukur serambi lempitnya tadi…” ucap Bu Eti.
Kuhentikan jilatanku untuk menjawabnya, “Gak apa Bu. Terkadang serambi lempit berjembut begini justru membangkitkan gairahku.”
Lalu kujilati lagi serambi lempit ibunya Marsha ini. Membuat wanita setengah baya itu menggeliat – geliat, sambil meremas – remas bahuku.
Aku tahu bahwa Bu Eti sudah dikuasai nafsu, karena setiap titik sensitifnya sudah kusentuh.
Kini tiba saatnya untuk mengeksekusinya. Tanpa sikap malu – malu lagi Bu Eti merentangkan kedua belah pahanya ketika moncong rudalku sudah kuletakkan pada titik yang kuanggap pas.
Lalu tanpa basa basi lagi kudorong rudalku sekuat tenaga. dan… melesak amblas ke dalam liang serambi lempit yang ternyata sangat licin itu.
Bu Eti pun langsung mendekapku sambil merengek, “Aaaaaaa… aaaaaahhhhhh… masuuuk Doooon…”
Dalam keadaan seperti ini, aku tidak sungkan – sungkan lagi untuk melingkarkan lengan kananku di lehernya. Kemudian mencium dan melumat bibirnya dengan segenap kehangatanku, sementara tangan kiriku meremas toket kanannya dengan lembut. rudalku pun mulai kuayun perlahan – lahan dulu. Karena ada juga wanita yang lebih suka dientot secara pelan – pelan.
Ternyata Bu Eti pun termasuk wanita yang seperti itu.
“Iyaaaa… pelan – pelan aja dulu Dooon… supaya ibu bisa meresapi nikmatnya gesekan rudalmu dengan liang serambi lempitku… oooh… ini luar biasa nikmatnya Dooon… sudah bertahun – tahun serambi lempitku tidak dimasuki alat vital lelaki… sekalinya merasakan lagi… panjang dan gede banget pula rudalmu Dooon…
“Gampang Bu. Besok juga bisa lagi beginian. Sementara Marsha sibuk di kantor, aku kan bisa menyetubuhi Ibu lagi di sini…”
“Adudududuuuuh Doooon… ini makin lama makin enak Dooon… tapi jangan dicepetin menyetubuhinya yaaaaa… lebih enak pelan – pelan begini… terasa mengalir nikmatnya… dari ujung kaki ke ubun – ubun ibuuuu…”
Karena entotanku pelan – pelan, aku jadi bisa sambil berkata, “Nanti aku akan merasa punya istri dua orang di rumah ini. Marsha dan Ibu. Hal itu akan membuatku awet dengan Marsha nanti.”
“Iiii… iya Dooon.”
“Pokoknya aku sayang sama Marsha, sayang pula sama Ibu…”
“Iii… iya Dooon. Ibu juga sayang sama Donny… dudududuuuuuh… ini semakin enak Dooon… iyaaaaaaa… entot terus Doooon… sangat enaaaaaak…”
Sementara itu, mulut dan tanganku pun ikut beraksi. Menjilati leher Bu Eti disertai dengan gigitan – gigitan kecil dan isapan – isapan perlahan. Sedangkan tanganku bergantian meremas toketnya. Kalau aku sedang menjilati lehernya yang sebelah kanan, maka toket kirinya yang kuremas – remas. Dan kalau aku menjilati lehernya yang sebelah kiri, toket kanannya lah yang kuremas dan kumainkan pentilnya.
Karuan saja Bu Eti semakin klepek – klepek.
Terlebih lagi setelah aku menjilati ketiaknya sambil meremas – remas toketnya, Bu Eti gedebak – gedebuk. “Doooniii… edaaaaan… ini semakin luar biasa enaknya Dooon… sambil menahan geli ketek ibu yang kamu jilatin… jadi semakin enak… ooooohhhhh… geli – geli enak Dooon… ta… tapi…
Bu Eti berkelojotan, aku pun mempercepat entotanku. Dan ketika ia mengjang tegang, kutancapkan rudalku sedalam mungkin, sampai menyundul dasar liang serambi lempitnya. Tapi aku belum mau ejakulasi. Aku hanya ingin menikmati indahnya mnemek yang sedang orgasme.
Sedetik kemudian kurasakan liang serambi lempit Bu Eti berkedut – kedut kencang. Lalu sekujur liang serambi lempitnya bergerak memutar seperti spiral, seolah ada ular yang melilit rudalku di dalam liang surgawi Bu Eti.
Aku pun terpejam dalam nikmat yang sulit diungkapkan dengan kata – kata belaka.
Lalu Bu Eti terkapar dalam himpitan dan pelukanku.
Sesaat kemudian ia membuka matanya. Mencium bibirku dan berkata lirih, “Terima kasih Don. Ini sesuatu yang sangat berarti bagi ibu.”
“Sesuatu yang sangat berarti pula bagiku Bu. Aku jadi benar – benar sayang kepada Ibu sekarang,” sahutku yang kuikuti dengan ciuman hangat di bibir sensualnya.
“Ibu juga jadi sayang padamu Don. Sangat – sangat sayaaaaang,” ucapnya sambil mendekap pinggangku erat – erat.
Setelah wajah Bu Eti kemerahan lagi, aku pun mulai mengayun kembali batang kemaluanku.
“Tadi belum ngecrot?” tanya Bu Eti dengan sorot heran.
“Belum Bu. Kenapa? Ibu sudah kepayahan?”
“Kepayahan sih nggak. Ayo ganti posisi sekalian. Mau posisi nungging?”
Mau… mau Bu… !” sahutku sambil mencabut rudalku dari liang serambi lempit ibunya Marsha.
Bu Eti pun spontan menelungkup dan menunggingkan bokongnya sampai menekuk sekali, sehingga serambi lempitnya seperti tengadah kalau dilihat dari belakang.
Aku pun cepat berlutut dan meletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit yang kelihatan full dari arah belakang ini. Lalu kudesakkan rudalku dan… blessss… langsung melesak ke dalam liang serambi lempit yang masih basah sekali itu (karena habis orgasme barusan).
Permainan surgawi pun terulang lagi. Kali ini dalam posisi yang biasa disebut doggy.
Dengan sepenuh gairah kuentot liang serambi lempit Bu Eti sambil berpegangan ke bokong semoknya.
Bu Eti pun mendesah – desah lagi. Bahkan lebih dari seperempat jam kemujdian ia orgasme lagi untuk kedua kalinya. Kemudian ia ingin main di atas. Kukabulkan saja keinginannya untuk bermain dalam posisi WOT.
Kali ini lebih parah lagi. Baru sekitar sepuluh menitan dia sudah orgasme lagi untuk ketiga kalinya.
Akhirnya kami lanjutkan dalam posisi missionary lagi.
Aku sudah tidak menunggu Bu Eti orgasme lagi, karena ia sudah tiga kali orgasme. Kali ini aku memenyetubuhinya seolah untuk kepuasanku sendiri. Karena itu aku memenyetubuhinya dengan gencar… gencar sekali… dengan harapan agar secepatnya ejakulasi.
Tapi sebelum aku mencapai ejakulasi, Bu Eti sudah berkelojotan lagi. Dan berucap terengah bahwa ia akan “lepas” lagi untuk keempat kalinya.
Aku punn semakin menggencarkan entotanku, dengan harapan agar ejakulasiku meletus bertepatan dengan orgasme Bu Eti yang keempat.
Dan… aku berhasil menciptakannya. Bahwa ketika Bu Eti mengejaqng tegang, sementara liang serambi lempitnya berkedut – kedut lagi, rudalku pun mengejut – ngejut sambil memuntahkan lendir kenikmatanku.
Crottttt… croooootttttt… crotttt… croooottttttttt… crottt… croooooooottttttt… crooootttttttt…!
Aku terkulai di atas tubuh Bu Eti yang terkulai juga.
Setelah melepaskan rudalku dari liang serambi lempit ibunya Marsha, aku mengusap – usap pipinya sambil berkata, “Yang telah terjadi barusan, sangat mewngesankan Bu. Karena itu mulai saat ini bukan hanya Marsha yang akan menjadi tanggung jawabku. Ibu juga akan menjadi tanggung jawabku.”
Bu Eti bangkit. Mencium sepasang pipiku dan menyahut, “Terimakasih Donny Sayang… ibu bahagia sekali mendengarnya.”
“Ohya… itu baju – baju buat Ibu, mau dicobain satu persatu?”
“Mendingan kita mandi dulu Don. Badan penuh keringat gini gak enak nyobain baju baru. Nanti kerinhgatnya pindah ke baju – baju baru itu.”
Aku mengangguk. Lalu mengikuti Bu Eti masuk ke kamar mandi, dalam keadaan sama – sama telanjang.
Jam setengah tiga sore kutinggalkan rumah yang sudah menjadi milik Marsha itu, menuju kantorku untuk menjemput Marsha.
Ternyata Marsha sudah menungguku di ruang tamu komut yang berdampingan dengan ruang kerjaku.
“Udah lama nunggu?” tanyaku setelah mengecup bibir Marsha.
“Baru sepuluh menitan,” sahutnya.
“Udah makan belum?”
“Udah. Tadi diajak makan oleh Mbak Wien di kantin. Enak – enak makanannya ya.”
“Aku malah belum pernah makan di kantin.”
“Kenapa?”
“Kasihan sama karyawan. Kalau melihat aku jadi kelihatan tegang semua. Makanya aku suka makan di sini aja, Suka beli makanannya dari rumah makan di seberang kantor itu. Lalu dibawa ke sini dan dimakan di sini. Ohya, bagaimana trainingnya tadi?”
“Menyenangkan Don. Mbak Wien pandai membimbingku. Segala yang diajarkannya cepat kumengerti.”
“Syukurlah kalau gitu. Ayo kita pulang sekarang.”
“Iya,” sahut Marsha sambil berdiri dan mengikuti langkahku menuju tempat parkir mobilku.
Setelah Marsha duduk di samping kiriku dalam molbil yang sudah kugerakkan keluar dari halaman kantor, kudengar suaranya, “Jadi tadi ke rumah?”
“Jadi. Kubelikan beberapa helai gaun tidur, kimono dan pakaian dalam. PS juga kubelikan. Tapi PS 1 dan PS2 gak ada yang baru. Semuanya second. Makanya kubelikan aja PS4. Mudah – mudahan Ibu jadi kerasan tinggal bersamamu, karena ada mainan yang bikin dia asyik.”
“Wah… seneng dong Ibu dibeliin PS4.”
“Sebenarnya PS5 juga sudah diproduksi, tapi belum beredar di negara kita.”
“Tau gak kenapa Ibu seneng main PS?”
Aku cuma menggelengkan kepala.
“Malu aku menceritakannya.”
“Kenapa malu? Kayak ngomong sama siapa aja.”
“Begini… aku sering mergokin Ibu sedang bermasturbasi. Hampir tiap malam dia bermasturbasi di dalam kamarnya.”
“Ohya?!” aku pura – pura kaget. Padahal tadi pagi juga aku melihat Bu Eti sedang bermasturbasi di dalam kamar di lantai dua itu.
“Serius. Mungkin Ibu itu seorang wanita yang gede nafsunya. Wajar juga sih. Karena Ibu menjadi janda sejak aku masih di SD.”
“Terus… apa hubungannya dengan PS?”
“Aku gak suka Ibu punya kebiasaan seperti itu. Takut lama kelamaan jadi rusak jiwanya. Karena itu sengaja kubelikan PS, karena Ibu seneng main game. Sejak zaman ada teris, Ibu suka mainin berjam – jam.”
“Lalu setelah dibelikan PS, Ibu tidak pernah melakukan masturbasi lagi?”
“Entahlah. Yang jelas aku tak pernah memergokinya lagi. Tapi entahlah kalau aku sedang tak ada di rumah. Hanya saja kelihatannya perhatian Ibu jadi teralihkan ke PS. Tadi setelah dikirim PS apa Ibu langsung main PS?”
“Nggak, “aku menggeleng, “Ibu lebih suka nyobain baju – baju baru itu.”
“Donny Sayang… aku mau minta tolong sama Donny… tapi takut Donnynya marah.”
“Mau minta tolong apa?”
“Janji dulu Donny takkan marah.”
“Iya… aku janji, apa pun yang Marsha katakan, aku takkan marah.”
“Kalau Donny mau melakukannya… pasti jiwa Ibu takkan resah lagi. Pasti semangat hidupnya bangkit kembali.”
“Maksudnya, aku harus melakukan apa?”
Meski tidak ada orang ketiga di dalam mobilku, Marsha menjawab pertanyaanku dengan bisikan di dekat telingaku, “Setubuhi Ibu Don, please… biar jiwanya tenang, biar semangat hidupnya bangkit…”
“Haaa?! Kamu kok mendadak ngaco gitu Sha?”
“Aku serius Sayang. Aku ingin Ibu tenang, nyaman dan bahagia.”
Sebenarnya batinku melonjak girang mendengar “permintaan tolong” itu. Tapi aku masih bersandiwara. Pura – pura bingung pada saran Marsha itu. “Terus… cintaku harus dialihkan ke Ibu?!” tanyaku.
“Bukan begitu. Aku hanya ingin membahagiakan Ibu, tapi Donny jangan meninggalkan aku. Aku sih inginnya begini… anggap aja Donny punya duja wanita simpanan di rumah. Aku dan Ibu.”
“Memangnya Marsha takkan merasa cemburu kalau saranjmu itu kulaksanakan?”
“Kalau dengan orang lain, pasti aku cemburu. Tapi kalau dengan Ibu, aku takkan cemburu. Aku malah akan merasa bahagia kalau melihat Ibu bahagia dan bangkit lagi semangat hidupnya.”
Aku terdiam di belakang setir mobilku. Seolah konsen ke jalan saja. Padahal aku sedang berpikir tentang apa yang harus kukatakan kepada Marsha dengan usul yang sebenarnya membuat hatiku menari – nari dalam nafas kegembiraan.
“Bagaimana?” tanya Marsha bernada mendesak.
“Nantilah… akan kupikirkan dulu.”
“Jangan dipikirkan terlalu lama Sayanhg,” ucap Marsha sambil merapatkan pipi kanannya ke pipi kiriku, “Aku sih maunya nanti malam aja laksanakan. Maaf ya aku jadi mendesak ginmi sama Donny.”
“Nanti malam? Jangan nanti malam ah. Besok malam aja ya Sayang,” sahutku. Tentu saja aku harus menolak untuk menggauli Bu Eti nanti malam, karena tadi aku kan baru menggaulinya.
“Deal !” suara Marsha terdengar bersemangat. Besok malam kan malam Sabtu. Berarti malam weekend. Lusa hari libur… semoga saja luka di serambi lempitku udah benar – benar sembuh. Supaya Donny bisa menyetubuhiku lagi.”
“Skenarionya gimana besok itu? Marsha mau ikut bareng sama Ibu?”
“Jangan seperti itu skenarionya. Besok malam Donny sama Ibu aja berduaan di atas. Pada Ibu bilang aja aku sudah tidur nyenyak.”
“Jadi besok malam aku harus tidur sama Ibu semalam suntuk?”
“Iya gak apa – apa. Terserah situasi dan kondisinya aja.”
“Lalu… apakah aku harus ngomong terus terang bahwa aku disuruh oleh Marsha untuk menggauli beliau?”
“Terserah Donny mau bilang gimana. Yang penting Donny harus berhasil menggauli Ibu. Maaf ya Don, aku bukannya lancang dan berani nyuruh Big Bossku. Aku hanya minta tolong, please.”
“Kalau Ibu menolak gimana?” aku tetap bersandiwara. Pura – pura belum melakukan apa pun dengan ibunya Marsha.
“Gak mungkin. Masa menolak lelaki setampan dan semuda Donny?”
Setibanya di depan rumah Marsha, aku tidak mampir dulu. Langsung pulang ke rumah peninggalan almarhum Papa. Karena aku takut Bu Eti kelihatan “beda” waktu berhadapan denganku di depan Marsha. Kalau Sabtu lusa sih gak apa – apa Bu Eti memperlihatkan sikap mesra padaku di depan Marsha juga.
Keesokan harinya, kujemput lagi Marsha ke rumahnya. Kali ini pun aku cuma menunggu di mobil, karena masih takut – takut bertemu muka dengan Bu Eti di depan Marsha. Seperti kemaren, Marsha mengikuti training lagi, dibimbing oleh Mbak Wien.
Sorenya aku mengajak Marsha ke toko sepatu yang paling terkenal di kotaku.
Di toko sepatu itu Marsha kubelikan tiga pasang sepatu. Hanya sepasang yang high heels, yang dua pasang sepatu biasa. Tapi ketiga pasang sepatu itu branded semua.
Kemudian kami makan malam dulu di sebuah restoran. Pada waktu makan malam itulah aku berkata kepada Marsha, “Ingat ya… aku akan mengikuti permintaanmu. Tapi Marsha harus berjanji bahwa hubungan kita takkan retak karenanya.”
Marsha tersenyum manis dan menyahut, “Hubungan kita malah akan semakin mesra nanti Sayang. Karena aku akan merasa bahagia kalau bisa membuat Ibu bahagia.”
Aku pun memesan makanan untuk take away. Untuk ibunya Marsha.
Kami tiba di rumah Marsha ketika hari mulai malam. Aku pun langsung mandi di kamar mandi pribadi Marsha. Agar fisikku benar – benar fresh di kamar Bu Eti nanti.
Setelah mandi, kukenakan baju dan celana piyama yang kubekal dari rumahku. Tanpa celana dalam, supaya “gampang” di kamar Bu Eti nanti.
Sebelum meninggalkan kamar Marsha, kusempatkan mencium bibir Marsha dengan semesra mungkin. Kemudian aku berbisik ke telinganya, “Mudah – mudahan Ibu takkan menolakku ya. Kalau aku berlama – lama di kamarnya, berarti aku sukses. Oke?”
“Iya Sayang,” sahut Marsha sambil menggelitik pinggangku.
Kemudian aku keluar dari kamar Marsha, menuju kamar Bu Eti di lantai dua.
Bu Eti tampak kaget ketika aku membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam, lalu kututup dan kukuncikan pintu itu.
“Don… kenapa ke sini?” tanya Bu Eti yang saat itu mengenakan kimono sutra putih pemberian dariku kemaren.
“Tenang aja Bu…” sahutku sambil mendekap pinggangnya, “Marsha sudah tidur nyenyak. Karena tadi dia letih mengikuti training seharian.”
“Nanti kalau dia nyari Donny ke sini bagaimana?”
“Aku yang akan bertanggungjawab. Bilang aja Ibu dipaksa olehku,” ucapku sambil menyelinapkan tanganku ke balik kimono sutra putih itu. Dan… ternyata serambi lempit Bu Eti sudah dicukur bersih …!
“Jembutnya dicukur Bu?”
“Iya. Kemaren dicukur setelah Donny pulang,” sahut Bu Eti sambil tersenyum.
Kemudian kulepaskan ikatan tali kimono putih itu. Sehingga Bu Eti langsung telanjang bulat, karena dia tidak mengenakan beha mau pun celana dalam di balik kimononya.
Aku pun melepaskan baju dan celana piyamaku. Dan meraih Bu Eti ke atas bednya, dalam keadaan sudah sama – sama telanjang bulat.
Bu Etri terasa agak gemetaran ketika kutelungkupi di atas bednya. Bahkan ia berkata, “Takut Marsha tiba – tiba datang ke sini.”
“Bu… sekarang ini aku akan menggauli Ibu, justru atas permintaan Marsha kemaren,” sahutku sambil memegang toketnya yang tidak besar tapi juga tidak kecil.
“Maksudnya?” Bu Eti menatapku dengan sorot ragu.
“Marsha sangat menyayangi Ibu. Dia ingin agar Ibu bahagia dan semangat hidup Ibu bangkit kembali. Dia juga tau bahwa pada dasarnya Ibu masih membutuhkan sentuhan lelaki. Karena itu aku diminta untuk menggauli Ibu. Bahkan aku diijinkan untuk tidur di sini semalam suntuk.”
“Donny serius?”
“Ludahi muka aku kalau aku ngarang.”
“Lalu… apakah Donny bilang bahwa ibu sudah disetubuhi kemaren?”
“Nggak. Aku malah berpura – pura takut kalau Ibu menolakku. Tapi Marsha memaksaku. Saking inginnya melihat Ibu bahagia. Marsha bilang, anggap saja aku punya dua wanita simpanan d rumah ini. Marsha dan Ibu.”
“Oh… Marsha… anak semata wayangku… gak nyangka sejauh itu dia ingin membahagiakan ibu.”
“Udah… ngobrolnya nanti aja. Sekarang Ibu boleh serambi lempitik – mekik sekeras mungkin waktu kuentot nanti. mJangan takut sama Marsha… semuanya ini justru atas kehendak dia sendiri…” ucapku sambil meremas – remas toket Bu Eti.
Kemudian aku langsung melorot turun, karena ingin melihat serambi lempitnya yang sudah dicukur plontos itu.
Memang ada beberapa helai rambut pendek yang belum tercukur. Biar saja. Nanti aku akan membantunya untuk mencukur jembut yang belum tercukur itu. Tapi yang jelas kulihat serambi lempit Bu Eti ada jenggernya. Dan aku justru suka pada serambi lempit berjengger begini. Karena pada waktu “dipakai” jadi “ramai”… ada yang ikutan mencolek – colek pangkal rudalku.
Lalu kungangakan serambi lempit Bu Eti ini, disusul dengan jilatanku di bagian dalam yang berwarna kemerahan itu.
Bu Eti pun mulai menggeliat dan mendesah. Terlebih lagi setelah aku menjilati kelentitnya secara intensif, rintihannya mulai terdengar, “Donny Sayaaaang… ooooohhhh… jilatin terus itilnya Dooon… ini enak sekali… itilnya aja Sayaaaang… itilnyaaaaa… itiiiiiil…”
Namun aku tidak ingin membuat liang serambi lempit Bu Eti langsung becek. Karena itu aku menghentikan permainan oralku dan langsung membenamkan batang kemaluanku ke dalam liang serambi lempit yang empuk – empuk kenyal tapi legit ini… blessssssss… masuk amblas seluruhnya…!
Dengan penuh kehangatan Bu Eti pun memeluk dan menciumi bibirku.
Aku pun mulai memenyetubuhinya dengan gerakan pelan – pelan. Karena aku sudah tahu bahwa dia lebih suka kalau dientot pelan – pelan. Supaya bisa menghayati nikmatnya pergesekan rudalku dengan liang serambi lempitnya.
Mudah – mudahan Bu Eti merasa bahagia dan bangkit kembali semangat hidupnya, seperti yang diinginkan oleh Marsha.
Ketika rudalku mulai lancar memenyetubuhi liang serambi lempit Bu Eti, masih sempat aku membisiki telinga ibunya Marsha itu, “serambi lempit Ibu luar biasa legitnya. Karena itu aku ingin memiliki Ibu seumur hidupku.”
Bu Eti tersenyum dan menyahut bercampur desahan, “Aaaaaaa… aaaaaaahhhh… rudal Donny jugaaaaa… luar biasa nikmatnyaaaaa… ibu berjanji takkan menikah lagiiii… biar ibu jadi simpanan Donny aja seumur hidupppp… aaaaaaaah… aaaaaaah… ini luar biasa nikmatnya Doooon… serasa tengah berada di surgaaaaaa …
Lalu bokong semok Bu Eti mulai bergoyang erotis. Memutar – mutar, meliuk – liuk dan menghempas – hempas. Pada waktu bokongnya terangkat lalu menghempas itu, serambi lempitnya jadi menukik, sehingga kelentitnya bergesekan dengan batang kemaluanku.
Hal itu terus – terusan terjadi. Membuatku yakin bahwa sebentar lagi juga Bu Eti akan menikmati orgasme pertamanya.
Benar saja. Baru belasan menit aku menyetubuhinya, Bu Eti mulai berkelojotan. Lalu mengejang teganhg… tegang sekali. Aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin. Sampai terasa menyundul dasar liang serambi lempit ibunya Marsha itu.
Lalu detik – detik indah itu pun terjadi. Liang serambi lempit yang licin tapi legit ini terasa berkedut – kedut, disausul gerakan seperti spral yang seolah mau memuntahkan rudalku. Tapi tentu saja rudalku tidak termuntahkan. Karena aku mendesakkan rudalku sekuat mungkin sampai mentok di dasar liang serambi lempit Bu Eti.
Pada saat itulh aku teringat sesuatu yang kubekal dari rumahku tadi, yang kini tersimpan di saku baju piyamaku. Kebetulan baju piyamaku tergeletak tidak jauh dariku. Sehingga ketika Bu Eti sedang terkapar dengan mata terpejam, diam – diam kuambil sesuatu itu. Sebuah vibrator sebesar telur puyuh. Lalu kucabut rudalku perlahan – lahan.
Wanita setengah baya yang seksi abis itu tidak menyadari apa yang tengah kulakukan. Pada saat itulah kubenamkan lagi rudalku ke dalam liang serambi lempit Bu Eti, sehingga moncong rudalku mendorong vibrator itu. Pada saat iktulah kupijat tombol di kotak kecil yang sedang kupegang. Dan vibrator mini itu pun bergetar kencang, sampai terasa menggetarkan moncong rudalku juga …
Bu Eti terkejut dan bergumam, “Adududududududuuuuh… ini apa yang bergetar di dalam serambi lempitku Don? Apa iniiiiiiii?”
“rudalku yang bergetar Bu… santai aja… nanti Ibu akan mengalami squirt yang belum pernah Ibu rasakan…” sahutku sambil mendorong rudalku lebih dalam lagi. Sehingga vibrator itu berada di dasar liang serambi lempit ibunya Marsha.
“Adududuuuuh… alalalaaaaah… adududuuuhhhh… alaaalaaalaaaaaah… ini… ter… terlalu enak Don… adudududuuuuh… alalalaaaaah… adududuuuuh… alalaaalaaaah… adudududuuuh Doooon… alalalaaaaah Dooon… adududuuuuh Doooon…”
Bu Eti tergetar – getar, mungkin saking nikmatnya. Tapi aku sendiri merasakan yang sama. Getaran vibrator yang bertempelan dengan moncong rudalku, memang terlalu enak. Bahkan jangan – jangan aku bakal ejakulasi dini.
Karena itu secepatnya kucabut rudalku, sementara vibrator itu masih berada di dalam serambi lempit Bu Eti.
Dan… tiba – tiba Bu Eti mengejang dengan perut sedikit terangkat. Lalu srrrr… cairan putih bening menyembur dari serambi lempit Bu Eti…!
Takut dipersalahkan, aku pun cepat mencabut kabel vibrator itu. Lalu ketika Bu Eti terkapar dengan wajah pucat pasiu, cepat kumasukkan kembali vibrator itu ke saku baju piyamaku.
Tanpa peduli kain seprai yang basah akibat squirting Bu Eti tadi, aku merayap lagi ke atas perut Bu Eti yang tampak masih terkapar dengan wajah masih pucat pasi. Lalu ketika aku memagut bibirnya ke dalam lumatan penuh nafsu, ia membuka mata beningnya… menatapku dengan sorot sejuk.
Setelah lumatanku terlepas, ia berkata dengan suara terdengar merdu di telingaku, “Terima kasih Don. Yang barusan benar – benar luar biasa. Donny telah membawaku tamasya ke surga dunia…”
“Tapi masih kuat untuk melanjutkannya kan? Aku belum ngecrot Bu Eti Sayang…” bisikku disusul dengan ciuman mesra lagi di pipinya.
“Sampai pagi pun ibu masih siap untuk meladenimu Sayang…” sahutnya dengan dekapan erat di pinggangku.
“Tapi aku ingin melanjutkannya di bawah… di ruang makan… supaya gak jenuh.”
“Di ruang makan? Nanti kalau Marsha bangun gimana?”
“Biar aja bangun. Biar dia menyaksikan bahwa aku sudah melaksanakan permintaannya.”
“Tapi ibu malu… Marsha kan anak ibu…”
“Ayolah… jangan pake malu – malu. Lagian Marsha pasti sudah nyenyak sekali tidurnya. Aku ingin sesuatu yang baru. Ingin menyetubuhi Ibu di atas meja makan.”
“Hihihiii… Donny sih ada – ada aja… “Bu Eti akhirnya bangkit juga. Mengenakan kimononya sambil menungguku mengenakan baju piyamaku. Tapi celana piyamaku hanya kukepal dan dibawa turun ke lantai bawah… ke ruang makan.
“Ibu celentang di atas meja makan ini. Aku akan memenyetubuhi sambil berdiri di lantai,” ucapku sambil menunjuk ke meja makan.
Bu Eti naik ke meja makan, lalu celentang di situ sambil melepaskan ikatan tali kimononya. Kutarik kedua kakinya, agar bokongnya berada di pinggiran meja makan.
Meski aku tahu bahwa liang serambi lempit Bu Eti sudah basah, tapi setelah kimononya dilepaskan, aku jadi ingin menjilati serambi lempitnya lagi. Maka kutarik kursi makan ke depan kedua kaki Bu Eti yang tergantung di pinggiran meja makan. Lalu aku duduk di kursi itu, sehingga wajahku berhadapan dengan serambi lempit Bu Eti yang sudah tidak dihalangi oleh jembut lagi itu.
Awalnya kujilati jengger yang muncul dari dalam serambi lempitnya itu. Menyenangkan juga menjilati serambi lempit berjengger ini rasanya. Kemudian kungangakan serambi lempit Bu Eti dengan kedua tanganku. Dan kujilati bagian dalamnya yang berwarna pink itu, sementara kedua tanganku terjulur ke arah sepasang toketnya yang masih lumayan kenyal dan agak kencang.
Ini merupakan hal yang mengasyikkan juga. Bisa duduk di kursi makan sambil menjilati serambi lempit Bu Eti, sambil meremas – remas sepasang toketnya pula.
Setelah puas menjilati serambi lempit Bu Eti, aku pun berdiri sambil memegang rudalku yang masih ngaceng berat ini. Namun diam – diam tangan kiriku memegang handphone dan mengirim WA untuk Marsha. Isinya, “Aku menyetubuhi Ibu di ruang makan. Ke sini !”
Kemudian hapeku dimasukkan lagi ke dalam saku baju piyama yang sudah kulepaskan.
Sebelum rudalku dimasukkan, kupukul – pukulkan dulu rudal ngacengku ke permukaan serambi lempit Bu Eti. Lalu kuarahkan moncongnya ke belahan serambi lempit yang sudah ternganga kemerahan itu. Dan sekali dorong rudalku langsung ambles seluruhnya ke dalam liang serambi lempit yang empuk – empuk kenyal dan sangat mengesankan itu.
Moncong rudalku mentok di dasar liang serambi lempit ibunya Marsha.
“Aaaaaaaaahhhhh… sampai terasa menyundul gini Dooon…” ucap Bu Eti dengan mata terbeliak. Tapi lalu terpejam erat – erat ketika aku sudah mulai memenyetubuhinya, sementara jemariku mencari – cari kelentitnya. Dan setelah kelentitnya kutemukan, ujung jariku menggesek – geseknya dengan agak kuat.
Karuan saja Bu Eti mulai merintih – rintih histeris lagi, “Oooooohhhhh… Dooooonnniiiii… ooooooooohhhhh… rudal Donny memang luar biasaaaaa… enak sekali… sambil gesek terus itilnya Dooon… itilnyaaaaa…”
Pada saat itulah kulihat Marsha keluar dari kamarnya dan sedang melangkah ke dekat kepala ibunya. Tapi Bu Eti belum sadar kalau Marsha sedang tersenyum – senyum di dekat kepalanya.
“Doooonnnniiiii… ini luar biasa enaknya Doooon… itilnya gesek terus Doooon… ooooohhhhh… ibu jadi makin sayang sama kamu Doooon… entropt terus sambil gesek – gesek itilnyaaa… itilnyaaaa… itiiiiilllll…”
“serambi lempit Ibu juga luar biasa enaknya Bu,” ucapku tanpa menghentikan entotanku. Sementara Marsha agak menjauh dari kepala ibunya. Mungkin agar jangan kelihatan oleh Bu Eti bahwa Marsha sudah hadir di ruang makan ini. Agar jangan mengganggu kenikmatan yang tengah dirasakan oleh sang Ibu.
Bahkan lalu Marsha duduk di sofa, dengan pandangan tetap tertuju ke meja makan, ke arah ibunya yang sedang menikmati entotan dan gesekan itilnya.
Ternyata Marsha bukan sekadar ingin menyaksikan persetubuhanku dengan ibunya. Marsha pun duduk menyandar di sofa sambil membuka belahan kimononya, kemudian mengelus – elus serambi lempitnya sendiri…!
Aku hanya bisa menebak – nebak apa yang sedang Marsha pikirkan pada waktu ia mengelus – elus serambi lempitnya sendiri sambil memandang ke arahku yang tengah menyetubuhi ibunya ini.
Tapi aku yakin Marsha sedang amat terangsang menyaksikan aku yang sedang berdiri sambil memenyetubuhi serambi lempit ibunya ini. Karena itu aku akan berusaha jangan sampai ngecrot di dalam liang serambi lempit Bu Eti, karena aku harus menyetubuhi Marsha setelah Bu Eti orgasme nanti.
Karena itu aku semakin intensif menggesek – gesek kelentit Bu Eti ketika sedang memenyetubuhinya ini.
Maka rintihan histeris Bu Eti pun semakin menggila dibuatnya, “Doooniiii… kibu sayang kamu Doooon… ini luar biasa enaknya… entot terussss… sambil gesek terus itilnya Sayaaaang… itilnyaaaaa… itttiiiiillllnyaaaa… iyaaaaa… iyaaaaa… ooooh Doonnniiii… belum pernah ibu merasakan segini enaknya waktu disetubuhi…
Kuikuti saja keinginan Bu Eti itu. Kutekan itilnya kuat – kuat, lalu kuputar – putar uijung jariku yang sedang menekan itilnya ini.
Dan tiba – tiba sekujur tubuh Bu Eti mengejang tegang. Tapi aku tidak cepat menghentikan entotanku. Aku tetap menggenjot rudalku dalam kecepatan tinggi. Sampai akhirnya kurasakan liang serambi lempit Bu Eti mengejut – ngejut. Lalu kuhentikan entotanku sambil memandang Marsha dan berkata, “Marsha Sayang… permintaanmu sudah kulaksanakan…
Bu Eti terkejut, “Ada Marsha?” cetusnya sambil menoleh ke arah Marsha yang sudah melangkah menghampiri meja makan. sumber Ngocoks.com
Bu Eti sadar bahwa rudalku masih berada di dalam liang serambi lempitnya. Tapi ia lalu memegang tangan Marsha sambil berkata lirih, “Marsha Sayang… maafkan ibumu ini yaaa… ibu seolah sudah mencuri milikmu yang paling berharga darimu…”
Marsha malah mencium pipi ibunya, lalu berkata perlahan, “Ibu tidak usah minta maaf dariku, karena aku yang meminta Donny untuk menggauli Ibu… supaya semangat Ibu bangkit lagi secara normal… dan mulai saat ini, aku ijinkan Donny menggauli Ibu kapan pun Ibu dan Donny merasa membutuhkannya.”
“Sekarang giliran Marsha…” ucapku sambil mencabut rudalku dari liang serambi lempit Bu Eti.
Marsha menghampiriku. Mencium bibirku dengan mesra. Lalu berucap perlahan, “Lukaku memang sudah sembuh. Aku jadi terangsang melihat Donny menyetubuhi Ibu tadi. Tapi aku ingin di atas meja ini juga, seperti Ibu tadi.”
Bu Eti turun dari meja dan bertanya, “Luka apa Sha?”
Aku yang menjawab, “Jujur, aku baru satu kali menyetubuhi Marsha. Ternyata dia masih perawan Bu.”
“Haaa?! Masih perawan? Jadi selama ini Jaka ngapain aja sama kamu Sha?”
“Punya almarhum gak pernah bisa ngaceng sempurna Bu. Jadi selama aku jadi istrinya, hanya digesek – gesek dalam jepitan pahaku aja. Sementara keperawananku tetap utuh.”
“Kok bisa kamu bertahan dengan almarhum selama dua tahun?” tanya Bu Eti.
“Yah… mungkin jalannya harus seperti ini. Kalau aku bercerai dengan almarhum, pasti aku takkan pernah bertemu dengan Donny… dan sekarang DOnnylah yang menjamin masa depanku… dan masa depan Ibu juga,” ucap Marsha sambil melepaskan kimononya. Kemudian naik ke atas meja makan. Dan menelentang di situ, dengan bokong berada di pinggiran meja, sementara kedua kakinya terjuntai ke lantai.
Bu Eti menggantikan tempat Marsha. Dia duduk di sofa bekas Marsha tadi, sambil memandang ke arah meja makan.
Aku sudah duduk di kursi, di antara kedua belah paha Marsha yang direntangkan. Dengan penuh gairah kuciumi serambi lempit Marsha yang bersih dari jembut ini.
Memang setelah diamati, serambi lempit Marsha pun berjengger, tapi hanya muncul sedikit jenggernya. Menurut para pakar, tidak semua serambi lempit gadis itu berjengger. Tapi banyak juga yang berjengger, meski masih perawan. Mujngkmin hal itu tergantung keturunan dari sananya. Buktinya serambi lempit Bunda dan Donna tidak berjengger, meski sudah tidak perawan lagi.
Dan sambil duduk di kursi makan, aku mulai menjilati serambi lempit Marsha. Seperti yang kulakukan kepada Bu Eti, aku pun melakukannya kepada putrinya. Menggesek – gesek kelentit Marsha dengan ujung jariku, sementara lidahku melahap bagian dalam yang berwarna pink itu.
Tentu saja kualirkan air liurku sebanyak mungkin, karena liang serambi lempit Marsha baru dipakai satu kali waktu keperawanannya kuambil. Pasti masih super sempit. Tidak bisa disamakan dengan liang serambi lempit ibunya.
Setelah celah serambi lempitnya kuanggap cukup basah, aku pun berdiri sambil meletakkan moncong rudalku di mulut serambi lempit Marsha.
Lalu kudorong rudalku sekuat mungkin. Hmmm… kali ini tidak sesulit yang pertama tempo hari. Kepala rudalku mulai melesak masuk ke arah yang tepat. Kudorong lagi sekuatnya… masuk lagi lebih dalam… kudorong lagi kuat – kuat… membenam lagi rudalku hampir separohnya.
Maka mulailah aku mengayun rudalku perlahan – lahan sambil menyentuhkan ujung jariku ke kelentitnya yang tampak nyempil dan mengkilap.
Dan… ketika aku mulai mempercepat entotanku, ujung jariku pun semakin gencar menggesek – gesek kelentitnya, seperti yang kulakukan pada Bu Eti tadi.
Bersambung… Pada saat itulah Bu Eti yang sudah mengenakan kimononya lagi menghampiri kami. Dia berdiri di pinggir meja makan sambil memegang sepasang toket anaknya. Bahkan kemudian ia menyelomoti pentil toket Marsha dengan gaya lesbian yang sedang mencumbu pasangan seksualnya. Menyaksikan perbuatan Bu Eti itu, aku semakin bergairah untuk memenyetubuhi Marsha habis – habisan, sambil menggesek – gesek itilnya dengan ujung jariku.
Marsha pun mulai mendesah dan merintih, “Doooon… oooooo… oooooh… ini lebih enak daripada yang tempo hari Doooon… oooooohhhhhhh… Dooooooniiiiii… ooooooh… Ibuuuuuuu… ini luar biasa enaknyaaaaa… Doooooooonnnnn… entot terus Doooon… ooooh… aaaah… aaaaaah…
Cukup lama aku memenyetubuhi Marsha sambil berdiri di dekat meja makan itu. Tubuhku pun mulai dibanjiri keringat. Tubuh Marsha pun sudah mengkilap karena dibasahi keringatnya juga. Sementara Bu Eti tetap “tekun” menyelomoti pentil toket anaknya.
Kali ini aku tak mau menunda – nunda ejakulasi lagi. Karena fisikku mulai terasa letih.
Maka ketika Marsha sudah mulai berkelojotan, kupercepat entotanku. Dan ketika ia mengejang tegang, dengan liang serambi lempit berkedut – kedut, aku pun menancapkan rudalku sedalam mungkin. Dengan keinginan berejakulasi di dalam liang serambi lempit Marsha.
Tapi apa daya… rudalku tetap tegar dan tak mau ejakulasi. Maka aku pun mengayun kembali rudalku di dalam liang serambi lempit Marsha yang semakin licin ini.
Sampai pada suatu saat aku berkata terengah, “Sekarang aku mau ngecrot nih Sayang…”
Tiba – tiba Bu Eti bergegas menghampiriku sambil menunjuk ke mulutnya sendiri yang ternganga. Aku mengerti apa maksudnya. Bahwa aku diminta memuntahkan pejuhku di dalam mulutnya. Maka aku pun mengangguk sambil mencabut rudalku, sementara Bu Eti sudah berjongkok di depanku.
Bu Eti menangkap rudalku, lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Terasa rudalku disedot – sedot dengan kuatnya.
Dan… lendir kenikmatanku pun berlompatan di dalam mulut Bu Eti.
Crooottttt… crottttt… croooottttt… crottt… crooootttt… crettt… croooottttt…!
Dengan lahap Bu Eti menelan spermaku sampai habis. Glek… glekkk…!
Ternyata Marsha sudah duduk sambil menyaksikan perbuatan ibunya. Marsha tersenyum – senyum, lalu turun dari meja sambil memegang pergelangan tangan ibunya. “Sekarang Ibu harus tidur di kamarku ya,” ucap Marsha sambil tersenyum.
Bu Eti berdiri dan menyahut, “Nanti kamu terganggu Sha.”
“Nggak. Justru aku senang kalau tidur ditemani Ibu dan Donny. Pokoknya mulai saat ini, kalau Donny mau nginap di sini, Ibu harus tidur di kamarku,” ucap Marsha sambil menuntun tangan ibunya ke dalam kamarnya.
Aku pun mengambil baju dan celana piyamaku, mengikuti mereka ke dalam kamar Marsha.
Dalam keadaan masih telanjang, aku pun naik ke atas bed Marsha.
“Kita harus memanjakan Donny Bu… kita harus mengapit dia sampai bobo nanti,” ucap Marsha sambil merebahkan diri di sebelah kananku, sementara Bu Eti merebahkan diri di sebelah kiriku sambil melepaskan kimononya kembali.
“Bagaimana perasaan Donny sekarang?” tanya Marsha sambil mengusap – usap dada telanjangku.
“Sangat mengesankan,” sahutku, “Ini pengalaman pertama di dalam hidupku.”
Bu Eti malah memegang rudalku yang sudah lemas sambil, bertanya, “Masih kuat main lagi?”
“Masih. Dua-tiga kali lagi juga masih kuat,” sahutku sambil meraba – raba serambi lempit Bu Eti dangan tangan kiriku. Dan menggerayangi serambi lempit Marsha dengan tangan kananku.
Bu Eti bangkit. duduk di dekat panggulku, sambil mendekatkan mulutnya ke rudalku yang masih lemas ini. Lalu mengulum rudalku tanpa ragu – ragu lagi, meski Marsha berada di sebelah kananku.
Marsha pun duduk. Memperhatikan perilaku ibunya dengan serius. Mungkin dia sedang belajar bagaimana cara mengoral lelaki secara benar.
Bu Eti memang sudah tinggi jam terbangnya dalam hal mengoral lawan jenisnya. Ia menyelomoti leher dan moncong rudalku sambil mengalirkan air liurnya ke badan rudalku yang lalu dijadikan pelumas untuk mengurut – urutnya.
Tak lama kemudian, perasaan letih pun kulupakan. Karena rudalku sudah ngaceng lagi sebagai “hasil” felatio Bu Eti.
Lalu aku memegang tangan Marsha sambil berkata, “Aku mau main sama Ibu dulu, ya Sayang.”
“Iya, “Marsha mengangguk sambil tersenyum, “Nanti setelah selesai sama Ibu, main sama aku juga ya.”
“Oke,” ucapku sambil bangkit dan mencium pipi Marsha. Kemudian merayap ke atas perut Bu Eti yang sudah celentang sambil merenggangkan kedua belah pahanya.
Kemudian kuletakkan moncong rudalku di ambang mulut serambi lempit Bu Eti, disusul dengan dorongan yang kuat dan… blessssss… langsung membenam seluruhnya, karena liang serambi lempitnya masih basah dan licin sekali.
Kembali aku bertamasya ke surga dunia. Memenyetubuhi Bu Eti dengan sepenuh gairahku. Sementara Marsha menyaksikan tontonan gratis ini, sambil mengelus-elus serambi lempitnya.
Bagiku, ini adalah ronde kedua. Tentu saja durasi entotanku jauh lebih lama dari yang pertama.
Rintihan – rintihan histeris Bu Eti pun berkumandang lagi di dalam kamar ini.
Sementara Marsha sujdah celentang sambil mengusap – usap serambi lempitnya.
Belasan menit kemudian, aku sudah berada di atas perut Marsha untuk menyetubuhinya lagi.
Begitulah… secara bergiliran kusetubuhi mereka, sampai lewat tengah malam.
Dan aku merasa suasana ini memang sangat menyenangkan. Sehingga aklu berjanji di dalam hati, untukk membahagiakan mereka berdua.
Sebulan kemudian…
Seperti yang sudah kuterangkan sebelumnya, kehidupanku selalu penuh dengan kejutan. Kebetulan kejutannya selalu menyenangkan.
Seperti yang terjadi pada suatu hari…
Aku bangun lebih siang dari biasanya. Karena hari ini hari Sabtu. Aku memang ingin beristirahat sepuasnya, agar keletihan bekas kesibukan di hari – hari kerja sirna.
Setelah mandi, aku membuat kopiku sendiri di coffee makerku. Seperti biasa kuset espresso double shot. Kemudian kubawa cangkir kecilku yang sudah berisi espresso tanpa gula itu ke ruang keluarga.
Bi Inah menghampiriku dan berkata sopan, “Maaf Den Boss… di luar ada tamu wanita muda sudah menunggu dari tadi. Satpam belum mengijinkannya masuk.”
Setelah meneguk kopi yang masih panas, aku berdiri dengan tanda tanya di benakku. Tamu siapa gerangan pagi – pagi sudah datang ke sini?
Seorang wanita muda berkulit putih bersih dan bertubuh tinggi montok, langsung berdiri karena aku menyapanya, “Siapa ya?”
Salah seorang satpam melangkah ke arahku. Tapi aku mengibaskan tanganku agar dia tidak mendekat.
“Ini Donny? Anak almarhum Kang Rosadi?” wanita itu balik bertanya.
“Betul, “aku mengangguk dengan perasaan heran karena dia bisa tahu nama almarhum ayah segala.
Tiba – tiba wanita itu memegang kedua tanganku, “Donny… aku Tita dari Serang. Aku ini adik kandung ayahmu Don.”
Tentu saja aku kaget setelah mendengar siapa wanita muda yang cantik itu. Spontan aku mencium tangannya sambil berkata, “Maaf… aku sudah sering dengar nama Tante. Tapi baru sekali ini berjumpa.”
Wanita itu memelukku erat – erat sambil bercucuran air mata. “Donny… Donny… aku jadi ingat almarhum ayahmu Don. Tapi ibumu masih ada kan?”
“Masih Tante… mari masuk ke dalam,” sahutku sambil memegang pergelangan Tante Tita dan menuntunnya ke dalam rumah.
Kupersilakan Tante Tita duduk di sofa ruang tamu. Aku pun duduk di samping kanannya. Sambil tetap memegang pergelangan tangannya.
“Dari siapa Tante tau alamat rumahku?”
“Dari Teh Faizah, istri Kang Zulkifli.”
“Ooo… dari Umi Faizah.”
“Iya. Dia bilang kalau mau datang ke rumah Donny harus pagi – pagi benar. Karena kalau sudah keburu berangkat ke kantor, susah ketemunya.”
“Iya Tante. Seneng aku bisa ketemu sama tanteku yang cantik ini,” sahutku sambil meremas tangan Tante Tita.
“Syukurlah kalau masih kelihatan cantik sih. Sekarang aku kan sudah gembrot gini.”
“Tante agak montok. Gak gembrot ah. Sedeng segini sih… sedeng – sedengnya seksi.”
“Hmmm… udah hafal sama perempuan seksi ya?” Tante Tita memijat hidungku, “Aku sengaja datang ke sini untuk urusan bisnis Don.”
“Bisnis apa?” tanyaku.
Tante Tita mengeluarkan sebuah map dari tasnya sambil berkata, “Aku punya beberapa bidang tanah di kota ini, yang mau dijual. Semuanya peninggalan almarhum suamiku.”
“Almarhum?! Memangnya suami Tante sudah meninggal?” tanyaku sambil membuka map plastik tebal itu.
“Iya. Almarhum meninggalkan beberapa bidang tanah yang lumayan banyak. Bertebaran di beberapa kota. Tapi aku hanya membawa SHM yang di kota ini aja. Semua sudah atas namaku. Tanah yang di kota lain akan kujual juga, kalau Donny berminat. Semuanya di Jawa Barat.”
Setelah mengamati beberapa fotocopy SHM itu aku lumayan kaget. Karena semuanya berada di lokasi strategis, luas – luas pula. Dan memang semuanya atas nama Tita Sarita.
“Almarhum suami Tante tuan tanah ya,” ucapku sambil menyimpan kembali fotocopy – fotocopy sertifikat hak milik itu ke dalam mapnya.
“Almarhum senang membeli tanah di sana – sini. Karena tanah itu walau pun dibom takkan hilang katanya,” sahut Tante Tita.
“Sebentar Tante…” ucapku sambil berdiri. Lalu melangkah ke ruanmg kerjaku yang berdampingan dengan kamarku.
Kubuka laptop dan kuamati salah satu fileku. File yang berisi harga pasaran tanah di setiap area yang ada di kota ini. Kututup laptop itu dan kubawa ke ruang tamu.
“Tadi ada tujuh lokasi ya Tante. Mau dijual berapa semua?” tanyaku langsung serius.
Tante Tita menyebutkan jumlah harga dari ketujuh bidang tanah itu.
Aku pun menghitung dengan kalkulator, disesuaikan dengan harga pasaran ketujuh bidang tanah itu. Memang setiap lokasi berbeda pasarannya dengan lokasi lain. Dan ketujuh bidang tanah yang akan dijual itu terletak di daerah termahal harga pasaran tanahnya.
Setelah menjumlahkan harga pasaran ketujuh bidang tanah itu, aku mengangguk -angguk. Karena harga yang ditawarkan oleh Tante Tita jauh lebih murah dari harga pasarannya. Hal ini membuatku bersemangat. Karena belakangan ini aku sedang mengikuti jejak usaha Papa almarhum, yakni bisnis properti.
“Serifikat aslinya tidak disimpan di bank?” tanyaku.
“Nggak. Aku gak pernah nyekolahin rumah atau pun tanah di bank Don.”
Aku tersenyum mendengar istilah “nyekolahin” itu, yang berarti menjadikan agunan untuk sejumlah pinjaman ke bank.
“Bagus. Istilah kredit harus diucapkan hutang oleh hati kita. Hutang yang berbunga pula. Ohya ada bangunan di atas tanah – tanah itu?”
“Tidak ada. Semuanya dipagar, supaya jangan ada gangguan.”
“Pakai apa tadi Tante ke sini?”
“Pakai travel. Terus disambung dengan taksi.”
“Kalau gitu aku ingin survey ke semua lokasi tanah yang mau dijual itu.”
“Boleh. Sekarang juga bisa.”
“Iya deh. Mumpung hari libur.”
Beberapa saat kemudian Tante Tita sudah berada di dalam sedan putihku yang mulai bergerak di atas jalan aspal.
“Dengan adik – adik ayah Donny, udah ketemu dengan siapa aja?” tanya Tante Tita yang duduk di samping kiriku.
“Baru dengan istrinya Oom Zulkifli dan Tante Neni. Sekarang dengan Tante Tita.”
“Berarti masih ada tiga orang lagi yang belum pernah juimpa denganmu.”
“Iya. Dengan Tante Maryani belum pernah ketemu kan?”
“Iya, belum. Tante Maryani itu adik langsung dari Tante Neni kan?”
“Iya. Oom Zulkifli almarhum, Tante Nenny, Tante Maryani dan aku itu adik kandung ayahmu yang seayah dan seibu. Tapi setelah kakekmu meninggal, ibuku alias nenekmu menikah lagi. Dan punya anak dua orang. Ika dan Hera.”
“Wah… kalau nama Ika dan Hera baru dengar sekarang Tante.”
“Carilah nanti. Donny sebagai pihak yang lebih muda, harus mendahului untuk menjumpai mereka, untuk memperkenalkan diri dan bersilaturahmi. Alamat mereka akan kukasih semua nanti.”
“Iya Tante.”
“Kudengar Donny menerima warisan yang luar biasa gedenya dari ayah angkatmu ya?”
“Kira – kira begitulah.”
“Kamu paling beruntung di antara anak – anak ayahmu. Tapi kamu juga harus tahu, bahwa ayahmu punya istri lagi. Punya anak pula dua orang. Mungkin ibumu belum tau sampai sekarang. Hanya keluarga almarhum Kang Rosadi yang tahu.”
“Ohya?! Berarti aku punya dua saudara tiri?”
“Saudara seayah, bukan saudara tiri. Nanti kukasih alamatnya juga. Tapi jangan bilang – bilang sama ibumu. Nanti dia marah sama aku dan saudara – saudaraku, karena dianggap sekongkol dengan ayahmu.”
“Iya. Aku takkan bilang apa – apa sama Bunda. Ohya Tante… kalau aku boleh tau, usia Tante Sekarang berapa?”
“Tigapuluhtiga,” sahut Tante Tita.
“Haaa?! Tante kok kelihatan muda sekali. Tadinya aku mikir usia Tante di bawah duapuluhlima.”
“Terima kasih. Terus… dalam pandanganmu aku ini bagaimana?”
“Cantik dan seksi. Kalau bukan tanteku sendiri, pasti aku akan berusaha mendapatkan Tante.”
Tante Tita tersenyum manis. Manis sekali senyum adik ayahku itu…
Tiba – tiba Tante Tita merapatkan pipi kanannya ke pipi kiriku sambil berkata, “Kalau Donny membeli tanah – tanahku yang ada di kota ini, aku akan ngasih bonus nanti.”
“Apa bonusnya?” tanyaku.
Di luar dugaan, Tante Tita menjawab dengan bisikan, “Bonusnya sekujur tubuhku… boleh kamu miliki kalau memang kamu suka padaku. Mumpung aku masih menjanda.”
“Asyiiiiiik… terima kasih Tante! “seruku girang, “Soal tanah, kalau semuanya sesuai dengan sertifikatnya, pasti kubeli semua. Tapi aku minta harganya diturunin sedikit.”
“Ya udah. Kuturunkan harganya sepuluh persen. Cukup bagus discount-nya kan?”
“Deal Tante. Tapi… kalau mau langsung transaksi, sertifikat aslinya harus diambil dulu. Kan kita akan transaksi di notaris.”
“Ini semua SHM aslinya kubawa Don.”
“Wow… nekad banget Tante ini. SHM aslinya dibawa. Kalau hilang di jalan gimana?”
“Makanya dalam perjalanan tas ini kupeluk terus.”
Ketujuh bidang tanah itu hanya membutuhkan survey selama dua jam. Karena letaknya berdekatan, di daerah utara semua. Dan aku merasa beruntung, karena ketujuh bidang tanah itu bisa dibangun kelak, mengingat letaknya strategis semua. Harganya pun murah, di bawah harga pasaran semua.
“Hari belum siang, baru jam sebelas. Mau langsung ke notaris sekarang?” tanyaku setelah selesai men-survey ketujuh bidang tanah itu.
“Ya kalau kamu udah siap, aku malah senang.”
“Nanti Tante nginap di rumahkuj aja semalam ya. Kan aku udah gak sabar untuk mendapatkan bonus yang Tante janjikan.”
“Jangankan semalam, mau seminggu atau sebulan juga aku mau Don. Tapi kamu harus bisa merahasiakannya ya. Jangan sampai ada keluarga kita yang tau.”
“Kalau begitu, sebulan aja Tante nginap di rumahku.”
“Iya… sekalian mau nyari celah bisnis di kota ini. Berarti… bisa tiap malam kamu tiarap di atas perutku nanti. Tapi setelah transaksi, antar aku beli pakaian dulu ya. Karena baju ganti cuma kubawa satu stel.”
“Iya Tante… hahahaaaa… bintangku lagi terang nih. Bakal dapat wanita yang seksi abissss… !””
“Kamu juga tampan sekali Don, makanya aku juga punya perasaan beda waktu berjumpa di rumahmu tadi,” ucap Tante Tita yang disusul dengan kecupan hangat di pipi kiriku. Dan berbisik, “Kalau gak tampan gini sih aku juga belum tentu mau ngasih bonus.”
“Terimakasih Tante. Ohya… Tante punya anak berapa?”
“Cuma seorang, anak cowok. Baru delapan tahun umurnya. Sebenarnya aku ingin punya anak kedua setelah anakku besar. Tapi… suamiku keburu kena serangan jantung dan meninggal di rumah sakit.”
“Nanti anak kedua dariku aja Tante.”
“Boleh… kalau aku mengandung anakmu, pasti tampan anaknya kalau cowok.”
“Kalau cewek, pasti cantik… secantik ibunya.”
“Mmmm… bagusnya sih tanahku yang di kota – kota lain beli semua olehmu Don.”
“Semuanya di dalam kota?”
“Ya, semuanya terletak di dalam kota. Lokasinya strategis semua pula. Almarhum suamiku males ngoleksi mobil. Karena mobil itu harganya makin lama makin turun. Itulah sebabnya di rumah cuma ada satu mobil tua. Makanya aku males makainya ke sini, takut mogok di jalan.”
“Tapi dalam mengoleksi tanah, almarhum sangat bersemangat ya?”
“Iya. DIa bilang kalau rumah atau tanah, pasti naik terus harganya. Gak kayak mobil, belinya semilyar… lima tahun kemudian paling juga laku duaratus juta.”
“Berarti prinsip almarhum suami Tante sama dengan prinsipku. Makanya aku gak mau beli mobil yang super mahal. Puas – puasin sama mobil murah ini aja.”
“Gila! Mobil ini sih bukan mobil murah Don. Malah biasa dipakai sama pejabat tinggi mobil begini sih.”
“Iya, tapi yang sepuluh kali lebih mahal dari mobil ini ada. Bahkan yang duapuluh kali lebih mahal juga ada.”
“Buat apa mobil mahal – mahal banget. Sekarang kan setiap kota di pulau Jawa ini gak bisa bebas dari kemacetan. Kalau sedang macet, mobil duapuluh milyar juga bisa disalip sama angkot butut.”
“Heheheee… iya Tante.”
Kebetulan kantor notaris langgananku masih buka. Sehingga aku bisa menyelesaikan transaksi dengan Tante Tita.
Dana pembayaran tanah dari rekeningku bisa langsung pindah ke rekening Tante Tita, tanpa menunggu lama – lama. Hanya sejam proses transaksi itu selesai.
“Uangnya mau dipakai apa Tante?” tanyaku pada waktu sedan putihku sudah meninggalkan kantor notaris itu.
“Aku sih ingin punya usaha di kota ini. Aku kan dilahirkan di sini. Makanya aku ingin pindah ke kampung halamanku sendiri.”
“Nanti setelah beli pakaian, Tante akan kuajak ke salah satu kegiatan bisnisku.”
“Iya Don. Sekarang aku kan gak punya suami. Jadi aku harus berjuang sendiri, terutama untuk masa depan anakku.”
“Tante sudah punya rumah di kota ini?”
“Belum. Dulu ada peninggalan ibuku… mmm… nenekmu, tapi dijual dan duitnya dibagikan secara adil padaku dan saudara – saudaraku. Nggak seberapa sih bagianku. Karena anak perempuan hanya dapat setengah bagian dari anak laki – laki. Ohya, nanti bisa cariin rumah yang akan dijual untuk tempat tinggalku?
“Tinggal di rumahku juga bisa Tante.”
“Nggak enak ah. Kan aku juga mau membawa anakku segala. Kasian selama ini dia tinggal di rumah nenek dari pihak ayahnya.”
“Mmm… kalau mau nyari rumah juga bisa. Besok akan kuantarkan Tante ke rumah yang mau dijual itu.”
“Iya, “Tante Tita mengangguk.
Sedan putihku pun berhenti di pinggir jalan yang dianggap lahan parkir. Tepat di depan FO langgananku.
Di dalam factory outlet itu Tante Tita tampak bersemangat sekali melihat beberapa jenis pakaian wanita yang disukainya. Sementara aku menghampiri kasir sambil berkata perlahan, “Nanti kalau wanita itu mau membayar, bilang aja sudah dibayar olehku. Ini ATMnya. Jangan terima duit atau pun kartu kredit dari dia.
“Siap Boss,” sahut kasir wanita yang sudah hafal padaku itu.
Tante Tita mengambil beberapa helai gaun, celana jeans, baju – baju kaus, kemudian membawanya ke kasir.
Ketika Tante Tita membuka tasnya, entah mau mengambil uang, atau ATM atau kartu kredit, kupegang pergelangan tangannya sambil berkata, “Sudah kubayar Tante.”
“Ohya?! “Tante Tita terlongng, “Kok dibayarin sih? Malu – maluin… aku ngambil banyak tuh pakaiannya, malah dibayarin.”
“Nggak apa Tante. Wajar seorang keponakan beliin pakaian untuk tantenya,” ucapku.
Tante Tita lalu berbisik di dekat telingaku, “Sttt… tapi tantenya mau ditidurin sama ponakannya ya…”
“Hahahaaaa… itu kan saling mengisi dan saling berbagi rasa Tante.”
Beberapa saat kemudian Tante Tita sudah berada di dalam sedan putihku lagi. Meluncur ke arah luar kota sebelah barat. Setelah melewati batas kota, kubelokkan ke kiri, menuju pabrik yang sudah kuserahkan untuk dipimpin oleh Imel itu.
Pabrik itu sudah berjalan dan berproduksi. Buruhnya pun lumayan banyak, sekitar limaratusan.
Tapi ketika aku tiba di salah satu pabrikku itu, Imel sudah pulang. Sehingga aku hanya diantar oleh Bu Sanah, manager produksi.
Tante Tita tampak memperhatikan ruang produksi dengan serius. Kegiatan buruh yang kebagian shift sore itu pun diperhatikannya dengan seksama.
“Sebenarnya pabrikku ada empat. Tapi yang sudah berjalan baru dua. Yang di sini dipimpin oleh saudara sepupuku. Sedangkan yang satu lagi dipimpin oleh tanteku dari pihak Bunda semua.”
“Untuk memiliki pabrik baru yang sudah lengkap segalanya, dibutuhkan biaya berapa Don?”
Aku berpikir sejenak. Lalu menyebutkan nominal dana yang dibutuhkan untuk memiliki sebuah pabrik baru seperti pabrik di barat batas kota ini.
“Wah… berarti semua tanah peninggalan almarhum suamiku harus dijual semua Don.”
“Santai aja Tante. Nanti pikirkan matang – matang dulu. Kalau mau pabriok yang sudah jadi, tinggal membeli mesin – mesinnya, aku masih punya dua lagi yang belum diaktifkan.”
“Tapi aku sih maunya duduk manis aja. Biarin yang ngurusnya orang lain.”
“Soal itu sih gampang Tante. Kalau sudah siap mau dioperasikan pabriknya, tinggal pasang iklan di media cetak dan elektronik.”
“Iklan mengenai apa?”
“Mengenai dibutuhkannya tenaga untuk direktur danb manager – manager. Memang pemilik perusahaan tidak boleh jadi dirfektur. Jadi kedudukan tante nanti sebagai komisaris utama atau presiden komisaris dan sebagainya. Soal istilah kedudukan sih bagaimana maunya kita aja.”
“Iya iya iyaaa… nanti kan Donny bisa mengatur semuanya itu.”
“Bisa Tante.”
Pada waktu mau meninggalkan pabrik, hari sudah mulai malam. Dan… Tante Tita menggandeng pinggangku erat – erat. Apakah dia takut karena hari mulai gelap, atukah dia memang sudah membayangkan bakal terjadi “sesuatu” denganku?
Entahlah. Yang jelas ketika sudah berada di dalam mobil yang mesinnya belum kuhidupkan, Tante Tita melingkarkan lengannya di leherku. Sambil berdesis, “Don… cium bibirku Don…”
Keadaan di dalam ruang parkir itu memang sudah gelap. Lagian kaca mobilku gelap semua. Maka tanpa ragu sedikit pun kupagut bibir sensual tanteku yang bertubuh montok, berkulit putih bersih, berwajah cantik dan seksi abis itu… emwuuuuaaaaah…!
“Terima kasih Sayang,” ucap Tante Tita setelah ciumanku terlepas. Disusul dengan kecupan hangatnya di pipi kliriku.
Kemudian kuhidupkan mesin mobilku, yang lalu kugerakkan ke luar lewat pintu gerbang. Dua orang satpam menghampiriku, “Selamat malam Big Boss…!” ucap mereka serempak. Yang kubalas dengan senyum dan anggukan.
Tak lama kemudian sedan putihku sudah meluncur di jalan aspal yang sudah diterangi lampu – lampu penerangan.
“Ohya Tante… aku pernah berjumpa dengan perempuan di Bangkok, bernama Sheila. Dia mengaku anak Ayah almarhum juga. Menurut keterangan dia sih, dia terlahir dari istri pertama Ayah. Sedangkan Bunda itu istri kedua. Apa betul begitu?”
“Betul Don. Aku lupa menceritakannya,” sahut Tante Tita, “Memang ayahmu itu punya istri tiga orang. Sheila itu anak dari istri pertamanya. Itu sih menikah secara sah menurut negara. Dengan ibumu juga menikah secara sah. Tapi dengan istri ketiganya, ayahmu mjenikah secara diam – diam. Cuma menikah siri.
“Jadi benar Sheila itu kakak seayahku ya.”
“Betul. Tapi seingatku, Sheila itu masih punya adik dua orang. Semuanya cewek. Satu – satunya anak cowok dari Kang Rosadi itu hanya kamu Don. Makanya aku juga heran ketika mendengar kamu malah dikasihkan kepada temannya yang orang Indonesia tapi jadi pengusaha yang sukses di Bangkok itu.”
“Terus… dari istri ketiga juga cewek dua – duanya?
“Iya, namanya Ranti dan Amel. Mereka masih remaja, karena ayahmu menikah dengan istri ketiganya itu pun setelah kamu diadopsi oleh pengusaha dari Bangkok itu. Ohya… istri ketiga ayahmu itu bernama Neneng. Tapi ingat… masalah Bu Neneng dan kedua anaknya itu jangan bilang – bilang sama bundamu ya.
“Iya Tante. Tapi aku secara pribadi akan mencari Ranti dan Amel itu, karena mereka kan adik – adik seayahku.”
“Iya. Bahkan kalau mereka mau menikah, kamu punya hak untuk menjadi wali mereka.”
“Iya, iya… sekarang kita makan malam dulu ya Tante.”
“Iya Don. Aku lapar nih. Tadi siang kan cuma makan sate ayam dengan lontong di depan kantor notaris.”
“Tenang Tante. Di restoran ini mau makan apa pun pasti ada,” ucapku sambil membelokkan mobilku ke pelataran parkir sebuah restoran.
“Wah makanan orang bule semua di sini ya?” cetus Tante Tita setelah membaca daftar menu restoran itu.
“Iya Tante. Gak apa kan?”
“Gak apa – apa. Aku malah seneng makan steak dan lamb chop. Pesan juga makanan untuk dibawa pulang ya…” ucap Tante Tita sambil melanjutkannya dengan berbisik di telingaku, “Kalau sudah begituan suka lapar kan?”
“Hihihiii… iya, iya Tante,” sahutku sambil menahan tawa. Lalu aku berbisik juga ke dekat telinganya, “Udah gakj sabar, ingin lihat Tante telanjang.”
Tante Tita mencubit perutku, “Emangnya harus telanjang di sini?!”
“Bukan di sini Tante. Bukan,” sahutku sambil menahan sakit dicubit perut.
“Sabar ya Don. Aku kan mau sebulan tinggal di rumahmu. Nanti kamu boleh melahapku sekenyangnya. Mau tiap malem juga oke,” ucap Tante Tita setengah berbisik.
Makanan pesanan kami diantarkan oleh dua orang waiters. Aku pun memesan beef burger 6 buah dan 3 spaghetti bolognese untuk dibawa pulang.
“Spaghetti-nya dua juga cukup,” ucap Tante Tita.
“Iya, yang satu untuk pembokat. Kasian kalau kita makan sesuatu sementara dia cuma bisa cengo sambil nelan ludah.”
“Oh iya, iya… ternyata kamu boss yang baik hati Don.”
Setelah selesai makan, kami kembali ke mobil sambil menjinjing kantong plastik berisi makanan untuk disantap di rumah nanti.
Ketika tiba di rumah, jam tanganku sudah menunjukkan pukul 21.30.
“Mau tidur di lantai tiga atau di kamarku?” tanyaku sambil melingkarkan lenganku di pinggang Tante Tita.
“Kalau boleh sih di kamarmu aja Don,” sahut Tante Tita sambil mengecup bibirku.
Aku mengangguk dan menggandeng lengan tanteku, masuk ke dalam kamarku yang sudah mengalami perubahan drastis sejak setahun belakangan ini. Cerita ini dipublish oleh situs Ngocoks.com
Kamarku diperlebar ke sebelah timur. Ditambah dengan ruang kerja, ruang makan pribadi, kitchen kecil, kolam renang dan taman yang lumayan luas. Bahkan ada air terjun dan gua buatan segala. Apa pun yang kuinginkan tetap memungkinkan. Karena rumah peninggalan almarhum Papa angkatku ini memiliki tanah kosong hampir 1 hektar.
Maka kini kamarku seolah rumah di dalam rumah. Karena kalau aku mau makan, misalnya, tak usah keluar dari kamarku. Bisa makan di dalam ruang makan pribadiku. Kolam renang pun bukan kolam renang biasa. Karena kalau aku ingin berenang di kolam air panas, aku bisa membuang air dinginnya. Lalu kualirkan air panas yang suhunya bisa kuatur sendiri.
“Wuiiih… rumahmu benar – benar mewah Don. Kamarmu saja luasnya sama dengan ukuran rumah biasa. Masih muda sudah punya rumah yang seperti istana ini,” ucap Tante Tita setelah berada di pinggir kolam renangku.
“Ini kan rumah peninggalan papa angkatku Tante. Aku hanya merenovasi sedikit – sedikit.”
“Liat kolam renang jadi ingin nyemplung. Tapi sudah malam begini, pasti aku menggigil kedinginan nanti.”
“Airnya bisa diganti sama air panas Tante.”
“Wah enak dong. Tapi… aku gak bawa baju renang.”
“Telanjang aja. Takkan ada yang bisa mengintip ke sini kok. Kan di sekeliling rumah ini tanahku semua. Siapa pula yang berani ganggu Tante di sini,” ucapku sambil memijat tombol di tiang samping kolam renang.
Tombol untuk membuang air kolam. Tapi supaya cepat aku hanya membuang setengahnya saja. Kemudian kualirkan air panas ke kolam renang itu. Kucoba mencelupkan tanganku ke dalam kolam renang yang airnya sudah hangat sekali itu.
“Ayo buka pakaian Tante. Airnya sudah hangat nih. Tante takkan kedinginan.”
“Donny udah gak sabar, ingin lihat aku telanjang ya?”
“Iya Tante… please…”
Tante Tita berdiri di depanku sambil melucuti pakaiannya sehelai demi sehelai. Sampai benar – benar telanjang bulat.
“O my God…! Tubuh tante mulus dan menggiurkan sekali…” ucapku sambil mendekap tubuh telanjang yang agak montok dan sangat mulus itu. Lalu kukecup bibirnya dengan sepenuh gairahku.
Tapi hanya sebentar Tante Tita membiarkan bibirnya kucium. Karena ia langsung menceburkan diri ke kolam yang airnya sudah hangat sekali itu.
Aku pun tak mau kalah. Kutanggalkan semua yang melekat di tubuhku. Lalu mencebur ke dalam kolam renang berisi air hangat itu.
Kelihatannya Tante Tita sudah sangat pandai berenang dan menyelam. Sehingga aku agak susah mengejarnya. Tapi pada suatu saat aku berhasil juga menangkap kakinya, kemudian memeluknya di dalam bagian kolam yang kedalamannya hanya 1,5 meter (bagian lain kedalamannya 2,5 meter).
Cerita Sex Balas Dendam
Buat suhu yang meminta daftar sirsilah keluarga besar Donny :
Pak Rosadi menikah dengan Hanah (istri pertamanya), punya anak Sheila, Rita dan Mutiara. Ibunya Donny (Bu Ami) adalah istri keduanya. Punya anak Siska, Nenden, Donny dan Donna.
Dari Bu Neneng (istri ketiga) punya anak bernama Ranti dan Amel. Adik – adik Pak Rosadi: Zulkifli, Neni, Maryani dan Tita.
Ibunya Pak Rosadi setelah ditinggal mati oleh suaminya, menikah lagi dengan lelaki lain dan memperoleh anak Ika dan Hera (adik – adik seibu Pak Rosadi).