Bunda Maya

Folder Bunda - Blog Cerita Dewasa Ngentot Yang Selalu Update Cerita Ngentot Terbaru Setiap Hari..

Balas Dendam

Balas Dendam

Cerita Sex Balas Dendam – Aku dimarahi. Dibentak, bahkan aku ditampar, ketika aku ketahuan diperkosa oleh Pakde ku. Aku tidak bisa menjaga diri. Aku tak mampu menolak. Aku selalu tidak senonoh berpakaian.

Sejuta kesalahanku yang benar-benar membuatku menangis sedih. Aku dipaksa diam, tak boleh menceritakan aib keluar. Aku yang diperkosa oleh Pakde ku, malah aku yang dimarahi.

Semua memarahiku. Ayahku, ibuku, kakekku, nenekku dan mungkin, kalau seduni atau, semua manusia di dunia ini akan membarahiku. Biadab!!! Makiku sendiri dalam hati. Di kamar, aku hanya bisa menangis. Selain menahankan sakit di serambi lempitku, aku juga harus menahan sakit di hatiku. Bajingan !!!

Saat itu mulai datang rasa dendam di hatiku. Aku suka uring-uringan. Dalam usiaku 14 tahun, aku sudah mengerti dendam. Ya.. dendam, itu saja. Lama kelamaan, peristiwa itu diam begitu saja. Pakdeku tak berani datang lagi ke rumah.

Cerita Sex Balas Dendam Ngocoks Aku kembali ikut ayah dan ibuku ke ladang, ke sawah, ke kebun karet dan kemana saja aku disuruh, aku tetap mau dan tidak membantah. Dalam hatiku, tunggu, aku akan balas dendam. Akan kulampiaskan dendamku pada semuanya.

Dua bulan kejadian itu semakin menjadi biasa, seperti tidak ada laki yang mengungkitnya. Aku hanya diawasi dari jauh. Dan aku juga memang tidak mau dekat dengan laki-laki mana pun, seperti apa yang ayah dan ibu takutkan, aku tak boleh dekat dengan laki-laki manapun kecuali abangku dan adikku.

Aku boleh dekat hanya dengan Peklek ku yang berusia 20 tahun dan kakinya kecil sebelah dan dia sejak kecil ikut dengan ayah dan ibuku. Aku memiliki empat orang abang dan satu kakak serta satu adik laki-laki persis di bawahku dan satu adik perempuan paling bungsu.

Perlu sobat Ngocokers ketahui bahwa Abangku yang paling tua itu  bernama Mansur. Usianya 25 tahun belum menikah. Dia selalu mendapat tugas menjaga delapan ekor kerbau dan harus dimandikan setiap sore sebelum dikandangkan.

Di daerah kami, kamu hampir semua masyarakatnya hanya memakan kerbau, karena sejak zaman dulu sapi tidak menjadi makanan kami. Aku mulai diperintahkan ikut Mansur ngangon dan ikut memandikan kerbau. Kami berbasah ria di sungai kecil.

Aku selalu melihat abangku Mansur melirik selangkanganku, karena rokku yang tipis dan tua basah kutup. Celana dalamku membayang. Mampu kau, bisik hatiku. Aku akan menggodamu, batinku pula.

Sambil menyirami kerbau, abangku bertanya, apakah waktu diperkosa itu sakit atau enak. Aku bilang sangat enak dan nikmat. Pakde juga sangat nikmat. Aku tahu, abangku ini belum pernah bersetubuh denga siapapun juga.

Dengan hati-hati dia memohon, dan sangat rahasia, kalau memang enak dan nikmat, bagaimana kalau kita lakukan secara diam-diam. Dan kita menjaga rahasia ini dengan baik,” bisiknya saat aku menggosok punggung kerbau.

Dia juga menyenggol tetekku. Dalam hatiku, perangkapku sudah mengena. Padahal ketika itu (kutulis cerita ini, setelah enam tahun kemudian) usiaku baru 14 tahun. Aku tersenyum genit dan mengangguk.

Abangku menambatkan kerbau ke tepian sungai dan aku memintanya untuk ke semak pohon gelegah (seperti tebu) di tepi sungai yang rimbun. Begitu abangku datang, aku langsung mengelus-elus rudalnya. Kuminta dia duduk di batu pinggir sungai setelah membuka celananya.

serambi lempitku yang juga sudah berlendir, merasakan ingin juga dimasuki. Aku kangkangi Bang Mansur dan kutuntun rudalnya memasuki serambi lempitku. Aku mengoyangnya dengan cepat sembari melihat situasi di siang bolong itu.

Kulepas tetekku dan kuminta dia isap-isap. Baru beberapa kali aku menggoyangnya, dia sudah orgasme. Padahal aku baru saja mulai menikmatinya. Langsung dia kumaki.

“Masih muda, tapi Pakde jauh lebih hebat,” kataku mengecilkan dirinya. Dia kuyu dan meminta maaf. Aku kembali bermain dengan kerbauku. Dua puluh menit kemudian kupangil lagi Bang Mansur ke gelegah dan aku elus-elus rudalnya. Kuminta dia mengisapi tetekku dan mengelus-elusnya.

Setelah aku mau merasakan orgasme, kuminta dia kembali duduk di atas batu dan aku kembali mengangkanginya, langsung kumasukkan rudalnya ke serambi lempitku dan aku mengoyangnya dengan penuh konsentrasi sampai aku pun orgasme.

Tak lama, Bang Mansur pun orgasme pula. Tapi dia belum tahu, kalau aku sudah orgasme lebih dulu. Kembali dia kumaki. “Kok cepat amat sih?” kataku setengah membentak pura pura kesal. Kembali dia meminta maaf.

Penggembala lainnya sudah pada menyeret kerbaunya pulang ke kandang. Kami masih menyirami kerbau kami agar bersih, agar tak dimarahi ayah. Satu persatu kerbau kami tuntun ke atas dan mengikatnya. Tinggal satu lagi. Suara azan sudah terdengar, keadan sudah lengang.

Kembali kuelus-elus rudal Bang Mansur dan dia tegang kembali. Aku menunggingkan tubuhku dan kuminta dia mencucuknya dari belakang. Aku merasakan nikmat luar biasa sampai aku cepat orgasme, tapi aku sembunyikan orgasmeku.

Akhirnya Bang Mansur juga orgasme. Sejak saat itu, Bang Mansur kujadikan budak. Apa saja yang kusuruh dia mau melakukannya. Hinga aku hanya formalitas saja ikut menggembala.

Sebenarnya Bang Mansur sendirian yang bekerja, mulai dari menjaga, menyabit rumput, memandikan kerbau. Setelah semua selesai, aku memberinya hadiah menyetubuhi sekali.

Lama-lama Bang Mansur sudah mampu menahan emosinya, hingga permainan kami sudah sama-sama menimati. Kami selalu melihat situasi dan kami selalu melakukan persetubuhan jika ada kesempatan dan luang.

Saat ke delapan kerbau kami merumput, kami duduk di bawah pohon rindang. Abangku tiduran berbantalkan batu. Ada semak setinggi dengkul mengelilingi, hingga jika tidur tidak akan kelihatan. Aku membuka celana dalamku dan menyelipkannya di pepohonan.

Langsung kukangkangi Bang Mansur. Kurapatkan serambi lempitku ke mulutnya. Aku minta dia menjilatinya. Mulanya aBang Mansur tak setuju. Kuhadir dan kubentak dia.

“Mau enggak?” ancamku. Akhirnya dia melakukan juga. Aku menikmatinya, ketika Pakde menjilati serambi lempitku. Semua yang dilakukan Pakde aku praktekkan pada Bang Mansur. Aku merasa nikmat sekali. Kuelus rudal bang Mansur, ternyata sudah tegang.

Begitu aku orgasme, kuberikan dia hadiah. Kulepas celananya dan kumasukkan rudalnya ke serambi lempitku. Aku cepat memutar pantatku dan menarik cucuk rudalnyadi dalam serambi lempitku sampai akhirnya dia muncrat.

Aku cepat ke tepi kali dan mencuci serambi lempitku dan kencing. Bang Mansur menyusulku, setelah aku siap cebok. Dia juga mencuci rudalnya dan kencing. Aku tersenyum dan Bang Mansur juga tersenyum.

Kini aku yang tiduran sampai pulas, sementara bang Mansur menyabit rumput yang nanti dinaikkan ke punggung kerbau untuk dibawa pulang ke kandang. Bila telah petang Bang Mansut memandikan delapan ekor kebau plus tiga di antaranya sedang bunting di sungai, sementaraaku hanya duduk di tepi sungai mengawasinya.

Aku sealu mengatakan letih dan capek, setelah bersetubuh. Aku tak mau capek. Kalau aku capek, besok atau lusa aku tak bisa bersetubuh lagi. Bang Mansur pun rela mengerjakan semuanya sendirian.

Padi sudah bunting. Abangku harus bekerja di kebun karet bersama bapakku, sedang ibuku tetap berjualan di pasar. Untuk mengawasiku, diperintahkan adikku bernama Tono berusia setahun di bawahku, yakni 13 tahun.

Jika aku berhasil menggodanya, tingga tiga abangku yang harus kugoda. Agar mereka semua bisa kuperbudak untuk melepaskan dendamku.

Kebun karet kami hanya berkisar 500 meter dari kampung. Hanya saja kebun karet itu letaknya di selatan, sedang sawah kami letaknya di Timut. Sedangkan ladang tanah darat, letaknya di Utara. Dari kampung semua tempat berkisar 500 meter sampai 600 meter.

Hanya pasar tempat ibuku berjualan letaknya hampir 1 kilo meter. Kami hanya ditugasi mengangon dua ekor kerbau sembari ami harus mengusir burung dari dangau bersama adikku Tono. Dia sudah bersunat. Dan tingginya melebihi tingi tubuhku.

Sebagai adikku yang bungsu dan aku satu-satunya perempuan, dia memang sngat dimanja oleh semuanya, terlebih olehku. Tapi dia suka nakal. Terkadang aku yag mengerjakan pekerjaannya, sementara dia pergi bermain bola dengan teman-temannya.

Tapi kali ini, dia harus aku berikan pelajaran. Pokoknya semua isi keluarga harus mampu kuperdaya. Terlalu sakit bagiku yang diperkosa, justru aku yang dipersalahkan dan tidak boleh melaporkan kepada siapapun, karena harus menjaga aib keluarga.

Setelah menambatkan kerbau tak jauh dari sawah, agar kerbau tidak memakan padi yang sedang bunting bahkan ada sebagian yang sudah keluar dari perutnya, kami duduk mengawasinya dan mengawasi burung dari atas dangau.

Aku selalu memepetnya dan mulai menempelkan tetekku pada tubuhnya. Aku sengaja duduk mengangkang dan memperlihatkan pahaku dan celana dalamku antara kelihatan dan tidak.

Aku ajak dia bercerita semabri mengusir burung-burung. Mulai dari cerita sepak bola sampai kepada cerita Bik Warni yang pernah sekali kupergoki, ketika adikku mengintipnya mandi.

“Waktu itu Bik Warni mandinga telanjang Ton?” tanya. Dia menceritakan kalau Bik Warni teteknya besar sekali. Memangh benar, mungkin di kempung kami tetek Bik Warni dan Tetek Supiyah yang terbesar.

“Rambut itunya lebat, enggak,” tanya terkikikan seakan malu-malu. Tono mulai bercerita tentang Bik Warni. Kemudian dia juga dia bercerita, kalau Bik Warni bersetubuh dengan suaminya dan diintip.

Kalau di mandi dan diintip oleh Tono dan dua orang teman-temannya, Bik Warni tersenyu saja. Dia tahu siapa yang mengintip, tapi membiarkannya saja. Aku mulai memancing dengan pertanyaan, menurutnya bagaimana tetekku.

“Pasti lebih kecil.” katanya. “Kamu kalau dikasi kesempatan mau enggak mengisap tetek Bik Warni yang besar itu,” pancingku. Tono terkekeh sembari mengsir burung. Burung-burung yang diusir pun bertebangan.

“Mana mungkin dia menyuruh kami megisap teteknya.” Tono menjawab sekenanya. “Kalau senadainya di suruh, mau enggak?” tanyaku. Lagi-lagi Tono terkekeh. Bercerita seperti itu, sesekali Tono memegang burungnya. Mungkin dia sudah terpengaruh. Aku mulai memancing lagi.

“Kalau tetek ku, kalau aku suruh kamu mengisapnya, kamu mau enggak, Ton?” kataku. Dia melihatku,. Dadaku berdebar-debar menunggu jawabannya. Tono kemudian menunduk dan tidak menjawab.

“Hayo dijawab dong, masak ditanya aja kamu enggak mau jawab. nanti aku tak mau lagi bermain dengan kamu,” kataku seolah merajuk. Tono tetap tak menjawab. KUtarik kaos ku ke atas dan aku memang tidak pakai BH. Kuperlihatkan tetekku pada Tono.

“Ini Ton, ayo dong…” kataku. Tono hanya melihatnya saja dan tersenyum. Aku melirik celananya yang sudah mulai menyalah.. Kuraih tangannya dan kuarahkan ke tetekku agar dia mengelusnya. Uh… tangan itu menempel di tetekku.

“Di eleus-elus,” kataku. Tono melakukannya dan aku menjadi birahi dibuatnya. Burung-burung sesekali kami usir. Tono juga tidak perhatian lagi kepada burung-burung. Kutarik tengkuknya dan mengarahkan bibirnya ke tetekku yag mungil dan kenyal.

“Diisap, dik,” kataku. Tono mulai mengisapnya perlahan-lahan. Aku semakin merasakan nikmat. Aku menidurkan tubuhk dan meminta tono mengisapnya dari atas. Tono pun melakukannya.

Aku juga meraba-raba burungnya. Kumasukkan tanganku ke dalam celananya dan mengelus burunga yang semakin mengeras. Smapai akhirnya aku memegang kuat kepalanya dan aku pun orgasme.

Aku kembali mengsir burung. Tono mulai memindahkan kerbau dan mengarit rumput seadanya. Setelah mahgrib kami pulang ke rumah. Kami tersenyum-senyum saja. Besok paginya kami pergi lagi ke sawah mengsuir burung dan membawa dua ekor kerbau.

Kami kembali melakukannya. Sampai pada hari ke empat, Tono yang melakukannya sendiri tanpa permintaanku. KUlayani saja permintaannya. Hari berikutnya, Tono bercerita bagaimana Bik Warni disetubuhi oleh suaminya.

Aku hanya mendengar saja tak memberikan respons apa-apa. Hanya tanganku saja sebelah menerik-narik tali pengusir burung dan sebelah lagi mengelus-elus burungnya. Dua burung sekaligus. Satu burung-burung yang bisa terbang yag satunya lagi burung yang bisa mengeras.

“Kita seperti Bik Warni, yuk…” katanya. Aku diam tak menjawab. Ketiga kali dia mengajak, aku merebahkan tuuhku di lantai dangau yang berdinding itu. AKu menutup mataku berpura-pura keletihan.

Hanya beberapa detik menunggu, Tono mulai menyingkap rokku dan menurunkan celanaku. Aku diam saja. Kuintip dari sudut mataku, Tono melepaskan celananya. Saat itu perlahan kukangkangkan kedua kakiku. Tono mencelupkan burungnya ke serambi lempitku.

Berkali-kali tak bisa masuk, karean dia tak tahu lubangnya. Kuangkat sedikit pantatku dan saat Tono persis burungnya di lubangku, kucangkat pantatku sampai kepala burungnya memasuki lubangku. Saat itu Tono langsung menekannya dan menindihku.

“Kok.. kamu berbia\uat ini pada kakakmu, dik?” tanya ku pura-pura, tapi nadaku tidak marah. Seakan heran saja. Tono nampaknya sudah tak perdulu dan terus menekan burungnya memasuki serambi lempitku. Kudiamkan saja.

Kemudian secara laruirah atau memang karean mengintip, Tono mulai mencucuk cabut burungnya dalam serambi lempitku. Tak lama dia melenguh dan menekan kuta tubuhku. Saat itu kulingkarkan kedua kakiku ke pingangnya agar dia tak mencabutnya.

AKu merasakan semprotan spemanya dalam lubangku dan aku menjepit pinggangnya dengan kuat di pinggangnya, baru kulepas setelah aku juga melepas nikmatku.. Perlahan aku merasakan burungnya keluar dari lubangku. sumber Ngocoks.com

Cepat Tono memakai celananya dan aku duduk termenung. Dia lari ke kerbau dan memindahkannya dan kemudian menyabit rumput. Pulangnya kami sama-sama diam. Aku tak mau menegurnya seakan marah.

Besok paginya kami sama-sama diam ketika menyeret kerbau kami ke sawah dan menambatkannya di tempat lainpula. Dari atas dangau dia sendiri yang berteriak-teriak mengusir burung, sementaraaku hanya menarik-narik tali saja. Kupancing lagi dengan dengan memperlihatkan celan dalamku. AKu tau matanya terus menerus meliriknya.

“Kayak kemarin lagi yuk…” suaranya perlahan. Aku diam saja. Aku hanya menolehnya sejenak saja. “Kayak kemarin dong,” katanya lagi. Aku diam. Smapai akhuirnya atu ditariknya untuk rebah. Kau sudah kena, pikirku. Aku diam.

Tono menyingkap rokku dan melepas celana dalamku. Kemudia menusukku dan kami bersetubuh. AKhirnya kamu melakukannya secara teruatur tiap hari sekali. Tono mulai kuperintah. Mengatakan aku letih terus menerus disetubuhinya.

Aku mau memandikan kerbau, tapi aku tak mau lagi disetubuhi, kataku. Atau kulaporkan pada ayah dan ibu, kalau kamu juga telah memperkosaku, ancamku. Kulihat wajahnya pucat. Akhirnya dia mnegerjakan semua pekerjaan. Aku hanya tinggal menarik-narik tali saja. Tono juga yang berteriak-teriak mengusir burung.

Terkadang kami melakukannya dimana ada kesempatan. Tapi aku tetap berusaha tidak meminta. Jika aku ingin, aku sengaja memancingnya dan jika burungnya sudah mengeras dia pasti meminta bahkan memaksa. AKu pun pura-pura mau, padahal aku memang juga mau.

Bersambung… Setelah abangku yang nomro dua dan adikku, aku akan melampiaskan dendamku pada abangku yang paling tua. Namanya Nasrun 25 tahun, bertubuh tinggi berotot, hitam legam dan kuat.

Dia temperamental dan suka marah, bahkan pernah menamparku beberapa kali jika aku salah, walau aku adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga kami.

Aku diperkosa, bukan kemauanku. Bahkan sampai tiga kali. Justyru aku yang diminta diam dan dimarahi habis-habisan. Semua menyalahkan aku dan aku tak boleh bicara soal ini, karean ini adalah aib keluarga.

Panen sudah usai. Kini sawah, akan dikeringkan dan akan dibabat, lalu akan dibuatkan bedengan, akan ditanami kedelai, agar nanti sawah jadi subur lagi saat menanam padi.

Harus kerja keras, karean ayahku sebagai orang terkaya di desa kami ingin terus menambah lahan perladangan. Banyak sudah lahan orang lain yang kepepet dibelinya. Katanya untuk diwariskan kepada kami anak-anaknya dan cucunya nanti.

Soal membabat, Abang Nasrun ahlinya. Aku ditugasi membantunya, untuk membawakan makan siang sepulangku sekolah dan menyerakkan batang padi yang sudah dibabat, agar kering dan nantinya akan dibakar, agar bias menjadi pupuk.

Sengaja aku tidak memakai BH. Aku pakai baju kaos oblong yang tipis dan rok kembang dan aku tidak memakai celana dalam. Abangku yang galak ini, harus kutaklukkan. Aku akan menggodanya, biar semuanya tuntas.

Aku melayaninya makan siang. Au sengaja menunduk agar tetekku yang ranum kelihatan. Saat makan aku sengaja menyibakkan rokku seaakan tidak sengaja sampai pangkal pahaku kelihatan.

Sembari makan, aku dengan hati-hati meliriknya. Hmmm… matanya mulai melirik pahaku dan bayangan tetekku di kaos oblong yang tipis.

Kususun pirng dan rantang bekas makanan ke lantai dangau. Aku melihat seekor tikus mulai mendekat, mau memakani sisa makanan kami. Otak berpikir keras. Tikus ini akan kumanfaatkan.

Benar saja, begitu tikus mendekat, aku menjerit dan menghambur ke pangkuan Nasrun dan memeluknya kuat-kuat. Kurapatkan buah dadaku ke dadanya yang tak memakai baju dan baru kering keringatnya.

Kupeluk tubuhnya dan kutempelkan wajahku ke lehernya, seakan aku ketakutan. Nasru mulau mengelus punggungku dengan lembut.

“Udah jangan takut. Kan ada aku Mas mu,” katanya lembut seakan melindungiku. Aku sudah merasakan kemaluannya yang keras di balik celana pendeknya. Dia mau turun mengisur tikus itu, tapi aku tak mau turun dari pangkuannya, seakan aku ketakutan sekali.

AKhirnya dia mengambil kayu dan masih mengendongku dia mengusir tikus. “Sudah,” katanya. Tapi aku tak mau turun, sepertinya aku trauma. Dia mengelus punggungku. Saat itu sebelah tanganku menaikkan kaos oblongku ke atas dari depan dengan hati-hati, agar dia tak mengetahuinya.

Perutku dan perutnya mulai berlaga. Kulit kami sudah saling gesek. Aku merasakan rudalnya semakin mengeras. Tangannya sudah menyelusup ke bali kaosku yang mengelus kulit punggungku.

Perlahan dengan hati-hati aku menaikkan bajuku bagian depan semakin tingi. AKhirnya buah dadaku sudah berlaga dengan dadanya. Aku merasakan nafasnya semakin memburu. Dia mulai mengelus tetekku. AKu priotes.

“Mas… jangan. Nanti diilihat orang. Malu Mas,” kataku. “Udah, kamu diam saja,” katanya setengah membentak. Aku pura-pura menolak. Aku ditidurkannya di atas lantai dangau yang tingi itu.

Ditariknya baju kaosku ke atas dan mulai menjilati dan mengisapi tetekku. Mampus kau, bisik hatiku. Aku ingin buktikan, kalau sebenarnya seisi rumahku, tidak ada yang benar, semua akan menyetubuhi diriku.

“Maaasss…” kataku dalam desah seakan aku memprotes. Eh… malah dia makin galak dan ganas. Tangannya mulai meraba serambi lempitku yang tidak memakai celana dalam.

“Mas… aku enggak mau Mas. Aku ini adikmu, adik kesayanganmu..” kataku merintih pura-pura, padahal aku sudah benar-benar basah. Dilepasnya celana pendeknya dan aku melihat rudalnya yang hitam besar, panjang berurat dank eras.

Di kangkanginya kedua kakiku dan dia berada di antara kakiku. Dia menuntun rudalku ke dalam serambi lempitku. Saat ujungnya sudah menempel di serambi lempitku, aku protes lagi.

“Mas… jangan Mas… nantui ketahuan. Aku dimarahai lagi….” Kataku seperti mau menangis. Dan…

rudalnya sudah menembus serambi lempitku dan ujungnya sudah menelusuri serambi lempitku yang terdalam. Mulutnya terus mengisap tetekku dan sebelah tangannya mengelusnya dan sebelah tangannya yang lain menekan di lantas menyimbangkan dirinya.

“Mas… bagaimana ini…?” protesku. Dia malah beringas dan semakin menggila. Aku meremas punggungnya seakan protes, padahal aku ingin memeluknya. Dia pun terus menutupu mulutku dengan bibirnya dan mengisapi bibirku.

Kocokannya pada serambi lempitku benar-benar semakin cepat dan aku tak mau kehilangan momen itu. Aku tak mau dia puas sendiri. Aku megejarnya dengan berpura-opura protes, aku menggoyang-goyang pantatku, sampai akhirnya aku melepaskan nimatku, sebelum dia lebih dulu.

Setelah beberapa kali aku melepas nikmatku, aku seperti diam kayak orang tak bertnaga. Memang aku sudah kehabisan tenaga, karena aku menggoyangnya dengan pura-pura protes. Lalu Nasrun pun menembakkan spermanya dalam rahimku beberapa kali semabri memelukku kuat sekali. Nafasnya terengah-engah.

Aku menangis pura-pura, tapi air mataku memelh juga. Kututuip serambi lempitku pakai rok ku. Dan diasegera memakai celananya.

“Di… kamu gak boleh bilang siapa-siapa, ya…” katanya membujuk. Aku diam dan membelakanginya seakan marah besar. Dalam hatiku, sudah kau puaskan dirimu, lalu kau minta aku diam. Diam lagi… diam lagi!. Saat dia ke kali kecil mencuci rudalnya, aku duduk. Saat dia datang, aku pura-pura termenung.

“Sudah dik… kita kerja lagi yuk. Supaya orang gak suriga,” katanya dan menaik tanganku dengan lembut. Aku diam saja dan mengikut. Dia mulai lagi membabat dan aku menyerakkan batang padi dengan merasa dalam diam. Aku berusasha tidak jauh darinya, agar ketika aku membungkuk, dia tetap melihat tetekku menggantung dari leher baju kaos ku yang lebah.

“Tetekmu bagus, dik…” katanya seakan berbisik. AKu diam saja. Dalam hatiku, biat kau tahu, siapa aku. “Udah, kalau panas dan capek, sana ke gubuk, biar nanti Mas yang kerjai sendiri,” katanya. Mampus kau. Kau akan kuperbudak lagi, bisik hatiku.

Aku melepaskan batang-batang padi dan pergi ke gubuk. Aku monum dan merebahkan diriku. Dari sela-sela dinding tepas (Bambu yang dianyam) aku melihat dia mulai mendekati gubuk. Kusingkap rokku ke atas, hanya sedikit menutupi serambi lempitku saja. Aku pura-pura tidur lelap. Dia menaiki tangga dangau dan langsug mendekatiku.

“Kau tidur?” sapanya lembut. Aku pura-pura terjaga. “Capek Mas. Mas sih… menyetubuhinya kuat banget,” kataku seperti sedih. Dia pun mendekat dan langsug mencioum bibirku.

Dia meminta aku mengeluarkan lidahku dan kuturuti. Di elus-elusnya serambi lempitku dan aku tetap protes. Tapi kali ini dengan paksa dia kangkangkan kedua kakiku dan menjilati serambi lempitku yang basah dan belum aku cuci. Pasti dia menjilati spermanya sendiri.

Paling banyak spermanya yang keluar, karena aku tadi terkencing . Rakus sekali dia. Akhirnya aku merasa sampai pada nikmatku, aku menjepit kepalanya dengan keduka pahanya dengan gaya protes lalu melepaskan nikmatku.

“Maaass… jangan,” kataku. Kurenggangkan kembali kedua kakiku dan menarik rambutnya sebagai protesku, padahal aku melarang, karena aku sudah merasa sangat geli.

Dia buka kembali pahaku dan dilepaskannya celanaanya dan kembali dia masukkan rudalnya ke dalam serambi lempitku. Genjotannya semakin keras saja dan pelukannya semakin erat saja. Aku merasakan rudalnya demikian penuh dalam serambi lempitku.

Dia pun akhirnya melepaskan spermanya beberapa kali dalam serambi lempitku. Dia cium pipiku. Sejak itu, kami selalu melakukannya. Bahkan aku katakana kepadnya, kalau kami pacaran. Dia setuju, kalau akulah pacarnya.

Cerita Dewasa Ngentot - Balas Dendam
Lagi-lagi hatiku berkata:” Mampus kau!” Kami selalu berdua membuat bedengan dan selalu melakukan persetubuhan. Kalau aku mau mau menolongnya, aku menolongnya, kalau tidak, aku duduk saja di dangau. Kubiarkan dia bekerja sendirian.

Adaq satu lagi janji kami. Jika mau bersetubuh, dia harus memuaskan aku dulu, dengan menjilati serambi lempitku, megisapi tetekku, bahka menjilati lubang duburku. Dan itu dia lakukan dengan senang hati.

Sampai suatu hari, aku mengatakan, aku hamil. Dia terkejut sekali. Aku ancam dia, kalau tak mau kulaporkan pada ayah dan ibu serta semua orang, dia tak boleh menyuruhku apa saja dan wajib membelaku. Dia setuju.

Setelah abangku yang nomor dua dan adik bungsuku, kini akumendapat kesempatan dengan ayahku. Inilah saatnya aku akan melampiaskan dendamku pada ayahku. Aku berjanji dan bersumpah, akan menjadikan mereka semua keluarga ku yang laki-laki akan menjadi budakku.

Agar mereka tau, betapa sakit hatiku yang diperkosa, malah aku yang diminta diam dan boleh melaporkan kejadian kepada siapapun juga.

Ayah telah berhasil dengan cita-citanya. Kini ayah telah membeli sebuah kebun di hulu desa, berkisar 25 kilometer dari desa kami. Pelit, ayah tak mau mengupahkan pekerjaan itu kepada orang lain. Dia harus mengerjakan sendiri.

Abangku, mulai menyadap karet berdua. Adik laki-lakiku mengangon sapid an ibu berjualan di pasar. Aku mendapat tugas untuk menemani ayah ke lading baru untuk ditebas untuk kebun kopi. Sebuah gubuk sudah berdiri di sana.

Aku diminta untuk menemani ayah selama tiga malam. Setelah sadapan karet selesai dan ibu ada kelonggaran, aku akan digantikan oleh ibu. Aku ikut ayah naik sepeda. Semua orang terkagum-kagum pada ayah yang menjadi orang terkaya di desa kami.

Semua anak-anaknya manut padanya. Ayahku juga bangga sekali. Begitu sampai di perladangan baru, kami mulai memasuki gubuk. Aku mendapat tugas untuk menanak nasi dan rebusan sayur serta menjerang air untuk kopi ayah. Aku mulai melancarkan aksiku, seperti kepada abang-abang dan adikku.

Kulepas bra yang kupakai dan celana dalamku. Aku sengaja memakai rok longgarku. Kuhidangkan nasi di teras gubuk di ketinggian dengan angina yang berhembus kencang.

Baju kaos tipis yang kupakai membuat pentil tetekku transparan. Kami duduk di lantai tanah dengan berkembang tikar seadanya. Aku sengaja mengambil posisi duduk di depan ayahku. Pahaku yang putih mulus mulai kuperlihatkan.

Aku sengaja duduk sembarangan, antara kelihatan bagian serambi lempitku dan tidak. Ayahku makan dengan lahapnya. Aku juga makan dengan lahap. Kusodorkan kopi panas pada ayah selesai dia makan dan aku meneruskan makanku.

Angin kencang mengangkat rok ku yang kembang hingga serambi lempitku sedikit tersingkap dan cepat kututup. serambi lempit yang belum berbulu itu, membuat ayah sempat meliriknya. Dadaku berdegup kencang. Ayah kulihat diam tanpa bereaksi. Aku meneruskan makanku. Jelas kulihat mataayah, mul;aimelirik-lirik. Aku diam saja seakan tidak tahu.

Seusai aku makan, aku mengambili piring kotor dan akan mencucinya. Aku sengaja jongkok mengangkang. Saat itu aku tahu, serambi lempitku jelas terlihat ayah. Aku melihat matanya melirik ke selangkanganku. Aku diam saja, lagi-lagi seakan tidak tahu.

“Sudah nanti saja nyuci piring. Kamu duduk di sini saja dulu,” kata ayah. Hatiku bersorak. Semoga ayah tidak marah. Aku sengaja duduk di sampingnya dan aku pun bermanja. Aku ngelendot pada ayahku.

Kurapatkan buah dadaku ke punggungnya. Waktu aku duduk, aku mengangkat kakiku sebelah, hinga rok ku melorot ke pahaku. Pahaku yang mulus putih itu kelihatan jelas. Ayah memeluk bahuku. Aku pun memeluk pinggang ayah dan merapatkan tetekku ke dekat dadanya, seakan aku bermanja.

“Kamu cantik sekali nDuk…” katanya. “Kalau aku cantik, kenapa ayah marah padaku,” kataku bermanja. “Soalnya, kenapa kamu mau diperkosa Paklek mu?” kata ayah. “Namanya diperkosa, ayah. AKu menolak, tapi aku tidak kuat menolak…” kataku bersedih.

Tanpa sengaja, aku menjatuhkan tangan. Kuperlihatkan, kalau aku benar-benar tidak sengaja. Kemaluan ayahku tersentuh tanganku.

“Hi… ini apa? Apa ayahamembawa kayu dalam celana?” kataku seakan lugu. Ayahku tersenyum. Ayah mengatakan itu bukan kayu. Aku pun pura-pura bertanya lugu. Kalau bukan akyu apa, kok keras? Ayah hanya tersenyum.

“Boleh aku melihatnya, ayah?” kataku memberanikan diri. Lagi-lagi ayah tersenyum. Dalam hatiku, aku akan berhasil memperdaya ayahku. Tanpa menunggu jawabannya, aku memagang rudal menegang itu dari luar.

“Hii… kayak ular, yah?” kataku pura-pura lugu. “Ya… memang ular,” kata ayahku. Aku pura pura melompat ketakutan. Ayah tersenyum. Aku kembali jongkok dan berhadapan dengan ayah. Aku memasukkan tanganku ke dalam celana pendek ayah dan memegang rudal ayahku.

“Boleh aku melihatnya, Yah?” kataku penuh keluguan. Ayah diam. Aku menarik celana ayahku sampai melorot sampai aku melihat rudal ayahku yang tegang. sumber Ngocoks.com

TIba-tiba saja saya ayah merengkuhku. Ditariknya tubuhku dan dibawanya tubuhku merapat ke tubuhnya. Kedua kakiku mengangkangi kedua kakinya. Aku dipeluknya. Ayah meraba-raba serambi lempitku.

“Kenapa ayaha berbuat seperti ini?” tanyaku pura-pura lugu, seakan tidak mengerti. Ayahku tidak menjawab. Dia terus menarik tubuhku semakin merapat ke tubuhnya. Perlahan dia arahkan rudalnyamenempel di serambi lempitku. Dia tekan ke atas rudalnya sampai memasuki serambi lempitku.

“Yah… sakit…” kataku berpura-puramerintih. Ayah tidak menjawab. “Tak mau Yah… sakit…” kataku dalam rintih kepura-puraan. serambi lempitku memang belum beasah, hingga sedikit sakit dan kesat. Ayahku terus memaksakan kontiolnya memasuki serambi lempitku. Aku meneteskan air mata keperihan serambi lempitku yang masih kering dipaksa dimasuki rudalayah yang besar dan panjang.

“Sakit Yah…” rintihku. Ayahku diam saja. Terus dimasukkannya rudalnya ke dalam serambi lempitku. Sampai akhirnya semuanya sudah masuk dan rasa perihnya sudah berkurang dan kemudian hilang.

“Yah… kenapa ayah buat aku seperti ini?” tanyaku dalam isak tangis yang kubuat. Lagi-lagi ayah diam. Dia terus memelukku dan mengelus-elus punggungku. serambi lempitku sudah basah. Keluarmasuk rudal ayahku semakin cepat dan aku memeluk ayahku, ayahku juga memelukku dengan kuat.

Aku tahu, sebentarlagi ayah orgasme. Aku tidak mau sia-sia. Aku terus mengarahkan rudalnya menyentuh klentitku saat ayah mengoyangnya. AKu tak mau kehilangan kenikmatanku dan aku cepatkan kenikmatanku harus tercapai.

Akhirnya aku mjencapainya juga. Tak lama ayahpun orgasme. Ayah memelukku dengan kuat sembari mendengus-dengus. Lalu ayah mencium pipiku dan berkata:” “Tak boleh cerita kepada siapapun.” Aku pura-pura menangis. Ayah membujukku.

Aku mencuci piring, kemudian aku memasuki gubuk dan tidur. Aku tak mau membantu ayah dengan alasan aku letih. Saat aku tertidur aku sejenak dan mendengar langkah kaki mendekati gubuk, aku mengintip dari sela-sela mataku yang tertutup sarung.

Aku melihat ayah mendekatiku. Membuka rok ku, kemudian menjiolati serambi lempitku. Diangkatnya baju kaos oblongku, lalu dijilatinya tetekku, kemudian serambi lempitku dan aku menggeliat.

Ayah tak membuang waktu, langsung mengangkangkan kedua pahaku dan menyetubuhi ku. Aku pura-pura terbangun setelah aku basah dan mulai memeluk ayahku.

Sejak itu, sampai tiga hari yang dijanjikan, setiap hari kami melakukan persetubuhan dengan ayahku. AKu pun tak malu-malu lagi dan takberpura-pura lagi. Bahkan ada dua hari, kami melakukan persetubuhan sampai dua tiga kali.

Saatayah duduk, aku meminta untuk disetubuhi, sampai aku tau ayah sangatletih sekali. Aku tak memikirkan dia letaih. Yang penting aku nikmat dan dendamku terlampiaskan.

Saat ayah membabat di pucak, aku mendatanginya dan menariknya, lalu melepaskan celananya, kemudian mengelus rudalnya. Ayah yang mau marah, aku pelototi dan aku tak peduli. Begitu rudal ayah tegang.

Aku menariknya ke tanah dan merebahkannya, lalau aku tunggani dari atas dan memasukkan rudalnya ke serambi lempitku dan mengoyangnya da ri atas sampai aku puas. Aku tak perduli ayahku puas atau tidak

Bersambung… Setelah ayahku, habis kusiksa dengan kenikmatannya sendiri selama empat hari. ibuku pun datangmengantikan aku. Ibu yang mengantarkannya adalah abangku Nasrun.

Ibu berganti dengan diriku. Kii aku yang kembali di boncengan ibuku. Dalam perjalanan waktu aku duduk di booncengan, kakaku Nasrun mulai merayuku, mengajakku ke kebun karet dulu. Aku mengerti maksudnya, kenapa aku tidak dibawa langsung ke rumah.

Aku tahu kakaku Nasrun ingin menyetubuhiku di gubuk di kebun karet. Kami pun sampai, dengan langsung kakakku Nasrun menyetubuhiku tanpa ba-bi-bu.. Setelah spermanya keluar, aku dibawanya ke rumah.

Setiba di rumah, aku langsung mandi dan menyiapkan makanan. Katanya aku harus mengantarkan nasi ke kakaku yang tertua. Aku mengantarnya, kemudian di gubuk sawah kami, kakaku tertua merayuku lagi.

Aku bilag aku mau, asal dia menjilati dulu serambi lempitku. Kakaku menyanggupinya. Langsung aku ke gubuk dan mengangkangkan kedua kakiku yang memang kusengaja tanpa kolor.

Selesai dia menyetubuhiku dengan rakus, aku kembali ke rumah dengan alasan aku mau tidur, karena lelah. Di rumah aku hanya melihat adikku yang terkecil sedangkan Paklek-ku yang berumur 20 tahun bernama Diman, sedang merumput.

Walau kakinya kecil sebelah, dia seorang yang rajin dan hanya taman SMP saja. Di rumah hanya ada adikku yang laki-lakiku. Dia tersenyum melihat kehadiranku.

“mBak… aku….” katanya mendekatiku. “Apa, terus terang saja. Apa kamu mau menyetubuhi mBak?” tanyaku terus terang.

Adikku tersenyum. Melihat senyumnya akau sudah mengerti. Saat dia mendekatiku, langsung dia kupeluk dan kucium bibirnya. Aku mengajarinya berciuman, seperti yang pernah kulihat di video porno. Kami pun akhirnya bersetubuh.

LIma hari ibu di ladang baru bersama ayah, secara bergantian dua kakak dan satu adik laki-laki menyetubuhiku. Sepertinya bagi mereka tidak ada beban. Enak saja, padahal dulu mereka begitu jijik, begitu aku dimarahi ayah dan ibu, semasa aku diperkosa oleh Pakde.

Bahkan dua abangku, ikut-ikutan memarahiku. Adikku satu laki-laki dan satu perempuan hanya diam saja. Paklek ku justru sedih dan menangis, melihat aku dimarahi.

Akhirnya ayahku pulang bersama ibu ke rumah. Malamnya kami kumpul. Siap makan malam, aku dibantu adikku menyuci piring dan menyiapkan segalanya.

Sejak itu kakakku yang tua dan kakaku yang nomor dua meneruskan pekerjan membuka ladang baru. Ibu terus berjualan di pasar. Adik laku-lakiku dan adik perempuanku membantu sana-sini. Paklek tetap dengan tugasnya merumput sedaya mampunya.

Aku tetap mendapat tugas mengantar nasi buat ayah di sawah yang sedang ditanami kacang kuning. Tentu saja aku selalu melakukan persetubuhan dengan ayahku. Jika ayah letih, aku tetap memaksa.

Dua minggu kemudian aku mendatangi ayah di sawah dan aku menyampaikan, kalau aku hamil. Ayah terkejut sekali dan wajahnya memucat.

“Aku yakin ini adalah anak ayah,” kataku pasti, walau sebenarnya aku tidak hamil sama sekali. Ayah terduduk lesu. “Lalu bagaimana?” kata ayah bingung. Aku senang sekali melihat dirinya bingung. “Nikahi aku, Yah,” kataku ketus. Ayah semakin pucat. Dia orang ternama di desa kami, harus menikahi anak gadisnya sendiri yang berumur 15 tahun.

“Tak mungkin,” kata ayah. Aku memaksanya. Ayah menangis dan meminta maaf kepadaku. Kami diam sesaat. “Kalau tidak, aku akan menggugurkan kehamilanku. Ada bidan di kota yang mau menggugurkan kandunganku.

Aku butuh biaya dan kalau kandunganku sudah gugur, aku mau sekolah SMA di kota,” kataku. Langsung wajah ayahku cerah dan langsung dia menyetujuinya, asal aku menjaga rahasia dengan ketat. Anjing, bisik hatiku. Aku jelaskan kalau biayanya Rp 15 juta. Ayah aterkejut.

“Kalau tidak, ayah harus menikahi aku,” jkataku sembari menangis. Akhirnya ayah setuju. Selain uang Rp. 15 juta dia akan mengontrakkan rumah kecil buatku, dan membiayai sekolahku. Setiap bulan ayah akan mengirimkan uang Rp 1 juta buatku, walau teman-teman hanya membutuhkan biaya Rp 500.000,-

Aku meilhat ayah pontang panting mencari uang dan membujuk ibu agar mengizinkan aku sekolah di kota, karean semua isi keluarga mengatahui otakku yang paling cerdas.

Aku menemui juga kakaku yang tua dan yang nomor dua. Tentu saja secara terpisah. Mereka juga sangat terkejut saat aku minta mereka nikahi. Akhirnya, aku minta mereka mencarikan uang untuk aku menggugurkan kandunganku seberapa saja.

Kemudian aku minta secara diam-diam mereka harus mengirimkan aku uang setiap bulan Rp. 300.000,-. AKu tak mau tau bagaimana caranya. Mereka setuju dan akan bekerja keras, serta mencari kerjat ambahan untuk itu. Mampus kamu, batinku lagi.

Adikku aku temui lagi dan aku menceritakan hal yang sama. Adikku justru menangis, saat aku mengatakan aku harus menggugurkannya kalau aku tak ada uang untuk menggugurkan kandunganku.

“Jangan mBak. Jangan digugurkan, kan dia anakku, anak kita,” katanya sendu. Dalam hatiku, dari semua manusia di rumahku, adikku yang bungsulah yang terbaik dari mereka.

Semua setuju aku menggugurkan kandunganku, kecuali adikku si Tono yang bungsu. Aku memeluknya dan menciumnya. Akhirnya aku tau dialah satu-satunya manusia yang paling mencintaiku.

Setelah uang diperoleh, aku mengusulkan kepada ayah dan ibu serta seisi rumah, agar aku ditemani oleh Tono adikku di kota, dengan alasan dia sudah bisa menjagaku dan otaknya juga tergolong pintar. Bujuk rayuku diterima oleh semuanya.

Aku dan Tono diantar ke kota. Aku masuk SMA dan tono pindah kelas dua SMP. Kami satu rumah di rumah BTN yang dibeli ibu, type 36 yang belum dikembangkan. Semua peralatan dapur, kamar dua buah yang kecil, dua buah meja belajar dan segala keperluan sudah terpenuhi.

Aku bilang pada ayah, aku tak mau dijenguk oleh siapapun keuclai oleh ibu dan adikku yang perempuan. Ayah langsung menyetujui.

Aku dan Tono pun hiodup serumah. Dia senang sekali, terlebih setelah tinggal kami berdua di rumah aku mengatakan kebohonganku padanya.

“Kalau begitu, kitapacaran saja ya mBak,” katanya dengan tulus. Kutatap wajahnya yang lugu dan tulus. Aku mengangguk. “Jadi mBak mulai sekarang jadi pacar Tono?” tanyanya. “Ya. Kamu adalah adikku dan pacarku juga.” “Bagaimana kalau kita menikah saja?” tanya Tono. Aku mengangguk.

Kami pun duduk berdua dan berhadap-hadapan. Aku menyalaminya dan Tono pun mengucapkan:” AKu terima nikahmu mBak dengan mas kawin… dia rogph sakunya dan mengeluarkan uang Rp. 2000,- lalu menyerahkanya padaku :”Kontan!” Kami tersenyum dan berpelukan lalu berciuman.

Aku bersama Paklek (adik ayah) yang pincang tinggal bersama. Ayah dan ibu menempatkan Paklek agar Paklek bisa menjagaku. Aku masuk kelas 1 SMK (SMEA) agar mudah mencari kerja nanti, jika sudah tamat.

Di depan rumah mungil type 36 hang belum di kembangkan itu, Paklek jualan rokok dan jualan jajanan anak-anak. Ada juga jual sabutm, sikat gigi dan sebagainya, untuk masyarakat di komplek itu.

Setiap bulan ayahku datang bergantian dengan kakaku yang tertua atau ibuku atau kakakku yang nomor dua mengantar uang belanja kami. Bila kakakku yang tertuadatang aku jelas meminta tagihan tambahan uang, demikian juga bila kakakku yang nomor dua datang.

Aku bisa hidup agak lumayan. Aku membeli pakaian dan segala kebuituhanku. Seusai belajar megerjakan PR, aku duduk nonton TV 17 Inc yang mempersembahkan lagu-lagu masa kini. Paklek duduk disampingku.

Kaki kirinya yang sedikit lebih kecil karean folio, suka mengajari aku belajar. Wajahnya tampan dan bersih, karean Paklek memang seorang pembersih. Dia suka membantuku ntuk mencuci pakaianku bahkan menyetrikanya. AKu sayang padanya.

“Di sini kamu mulai senang, ya…” katanya perlahan dan lembut. “Kenapa, Paklek…” aku kembali bertanya sembari menonton TV. “Kalau di desa, kamu selalu tertekan dan harus melayani kakak-kakakmu,” katanya lembut juga.

“Melayani bagaimana, Paklek,” tanyaku dengan dada bergemuruh. “Ya… Paklek mengetahui semuanya. Dua kakakmu selalu menyetubuhi dirimu,” katanya seperti terdengar dan tidak. Berarti Paklek mengetahui semuanya, pikirku.

“Apa lagi yang Peklek tau?” tanyaku ingin tau pula. “Yah… hanya itu,” katanya. Apakah dia berbohong atau tidak. Apakah dia tahu juga aku disetubuhi oleh ayah, tapi rasanya tak mungkin. Dengan adikku? Oh…

Aku diam saja. Mataku tetap menonton TV. Aku terbayang pada ayahku, kedua kakakku dan adikku yang menyetubuhiku. Bayangan itu membuatku jadi gelisah. Apa sebenarnya aku ini, kok terbayang saja, tiba-tiba aku jadi kepingin ditiduri oleh laki-laki.

Bagaimana dengan Paklek? Apakah Paklek bisa meniduri seorang perempuan? Apakah kakinya yang kecil sebelah itu, mampu menyetubuhi perempuan? Aku jadi ingin tau. Aku pun merapatkan dudukku pada Paklek. Uh… Paklek tersenyum.

“Kamu harus percaya Paklek. Paklek tidak akan memberitahu siapa-siapa. Pakelek kasihanpadamu. Paklek akan menjagamu di sini, : katanya.

“Kalau aku butuh ditiduri, apakah Paklek kasihan juga padaku?” tanyaku memancing. serambi lempitku sudah kemut-kemut. Paklek tak menjawab. Matanya justru tertuju ke TV. AKu meraba rudalnya dari luar celananya. Uh.. ternyata rudal Paklek sudah tegang. Dan aku yakin rudal itu sangat besar.

“Paklek, dia sudah tegang,” kataku. Paklek diam saja bahkan tubuhnya terasa padaku, gemetaran. Cepat kulepaskan pakaianku dan aku telanjang bulat di hadapannya. Kusodorkan pentil tetekku untuk diisapnya.

Paklek sepertinya diam. Kupaksa pentil tetekku ke celah bibirnya. Perlahan Paklek mengisapnya dengan gemetaran. Bergantian pentil tetekku kusodorkan. Akhirnya Paklek mengisapnya dan mengelus-elus yang sebelah lagi.

Aku membuka celananya dan semuapakaiannya. Kuseret dia memasuki kamar tidurnya yang bersih, karena dia memang pembersih. Kutelentangkan dia di atas tempat tidur dan aku menaiki tubuhnya.

Kutuntun rudalnya menusuk serambi lempitku dan aku mulai menggoyangnya dari atas. rudal itu keluar masuk dan melepaskan spermanya. Mulai sejak uitu, kami selalu melakukan persetubuhan.

Bulan ketiga ayahku datangt mengantar uang belanja. Saat itu Paklek sedang belanja ke grosir untuka membeli kebutuah dagangannya. Langsung ayahku merenggut tubuhku ke dalam kamar dan mencumbuku.

Ayah yang sudah terbiasa dan berpengalaman, memang seorang laki-laki perkasa. Dia mampu menyetubuhiku lebih dari setengah jam. AKu benar-benar selalu puas oleh perlakukan ayahku. Dari laki-laki yang mkenyetubuhiku, hanya ayah yangbenar-benar membuat aku puas dan nikmat.

Sejak itu, setiap kali ayah datang ke kota membawa uang bulanan kami dan tentu saja, kalau ayah yang datang, selalu saja uang bulanan diberikan dua bahkan tiga kali lipat dari jumlah yang seharusnya. Ayah berahasia memberiku uang dan katanya aku semakin cantik selama di kota.

Ayah, abangku setiap kali datang, selalu mintajatah untuk menyetubuhiku dan aku merasa senang. Selain nikmat, aku juga dapat uang tambahan yang lumayan besar sampai aku diam-diam bisamembeli kalung mas, cincin dan sebagainya dan selalu kusembunyikan di dalam lemari pakaianku.

Selain itu, tentunya Pakelk pun semakin pintar saja dan mampu memuaskan aku. Jika pikiranku buntu mengerjakan PR, aku selalu bercumbu dan bersetubuh dengan Paklek, membuat otakku jadi lancar. Anehnya aku tidak hamil-hamil.

Setelah tujuh bulan aku di kota, ayah datang membawa uang dan menyetubuhiku. Selesai bersetubuh aku bilang pada ayah, kalau aku hamil lagi. Ayah terkejut.

“Kenapabisa hamil, nDuk?” ayah bertanya lembut. “Tak aperlu aku jawab, Yah. Ayah pasti tau jawabannya, kenapa aku hamil.” kataku. Ayah menunduk. “Lalu bagaimana?” tanyaayah.

“Aku terpaksa menggugurkan lagi, Yah. Menggugurkan itu sangat sakit sekali, seperti mau mati rasanya,” kataku. Ayah terdiam dan menunduk. Cerita ini dipublish oleh situs Ngocoks.com

“Berapa biayanya?” tanya ayahku. Kalau masih muda bisa berkisar Rp. 3,5 juta. Tapi ini sudah masuk lebih 4 bulan yah,” kataku. Ayahku terdiam. Diaberjanji secepatnya akan datang membawa uang.

Tiga hari kemudian ayah datang membawaku uang Rp. 5 juta. Aku pura-pura menangis. Ayah pun cepat-cepat pergi sembari berkata:” Cepat kamu gugurkan dan jaga rahasia. Jangan sampai ada yang tau.”

Setelah ayah pergi, aku memaki. Dasarmau enaknya saja, bathinku. Mampus kau, bisik hatiku lagi. Kusimpan uang itu dalam bentuk perhiasan dan masuk dalam tabunganku. AKu juga sudah membeli HP.

Ketika kakaku yang sulung datang, aku juga mengatakan demikian dan dia pusing. Pokoknya aku tak mau tau, harus ada dalam tiga hari, ancamku. Akhirnya dia pulang dan tepat tiga hari dia menyerahkan padaku uang Rp. 3 juta.

Aku tak perduli dia dapat dari mana. Hal serupa juga berlaku pada kakaku nomor dua. Dalam waktu empat hari dia menyerahkan uang Rp. 2,7 juta. Aku tersenyum. Sementara dengan Paklekku aku memberikan yang terbaik untuknya. Tidak tergesa-gesa.

Aku tamat SMK. Aku minta kuliah di kota. Mulanya ayah keberatan. Aku mengancam. Bagaimana ayah bisa menyetubuhiku kalau aku tak kuliah.

Akhirnya ayahku setuju dan ibuku sangat bangga padaku, ada anaknya sekolah tinggi dan nanti kerja di bank. Pikirku, apa kalau kerja di bank itu punya uang banyak, walau isi bank banyak uang?

Kakaku yang nomor dua dan yang sulung jarang sekali menyetubuhiku. Mungkin sudah kapok. Kalau pun mereka menyetubuhiku, mereka sudah pakai kondom. Kurang ajar. Tapi ayahku tidak. Dia tetap menyetyubuhiku dengan telanjang tanpa kondom.

Cerita Sex Nyai Menggetarkan Iman

Gak enak katanya. Selama SMK aku sudah minta empat kali uang mengugurkan. Selama mahasiswa semester satu sudah dua kali. Entah darimana saja uang ayah, aku juga tidak tau.

“Kalau kamu bukan anakku, nDuk, aku akan menikahi kamu.” kata ayah. AKu diam saja. Ayah kulihat sudah benar-benar jatuh cinta padaku. Dalam hatiku akumemaki. Dulu dia sangat marah padaku, saat Pakde memperkosaku, kini dia yang ketagihan mau menyetubuhiku.

Bahkan ada-ada saja alasannya pada ibu, untuk ke kota agar bisa menyetubuhiku,. Dia siap mengeluarkan uang berjuta-juta untuk biaya menggugurkan, walau sebenarnya aku tidak pernah mengugurkan. Aku malah takut, bagaimana kalau aku menikah nanti, apakah aku bisa punya anak atau tidak.